P. 1
IPS_kelas_VIII_smt_1

IPS_kelas_VIII_smt_1

5.0

|Views: 103,747|Likes:
Published by 12ndhamster

More info:

Published by: 12ndhamster on May 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/17/2013

pdf

text

original

Pada bulan april 1873 Belanda melancarkan serangan pertama dengan

mendaratkan pasukannya sebanyak 2300 orang tentara. Datangnya serangan

Belanda ini dihadapi dengan penuh semangat oleh pasukan Aceh, maka

terjadilah pertempuran yang besar di depan Mesjid Raya Aceh. Dalam

pertempuran tersebut pemimpin pasukan Belanda yaitu Mayor Jenderal Kohler

tewas. Dengan demikian serangan Belanda yang pertama ini mengalami

kegagalan. Pasukan Belanda terpaksa naik kembali ke kapal dan pulang

kembali ke Batavia.

Untuk melemahkan keadaan Aceh, kapal-kapal Belanda berusaha mengepung

Bandar atau Pelabuhan Aceh. Akibat pengepungan tersebut maka perdagangan

Aceh menjadi macet.

Tujuh bulan kemudian yaitu pada bulan Desember 1873, Belanda melancarkan

serangan yang kedua kalinya dengan mengerahkan sekitar 8000 orang pasukan.

129

Jumlah ini hampir tiga kali lipat jumlah pasukan yang digunakan pada serangan pertama.

Hal ini menunjukkan bahwa Aceh tidak bisa dianggap ringan oleh Belanda. Serangan

Belanda yang kedua ini dipimpin oleh Mayor Jenderal Van Swieten.

Dalam serangan yang kedua ini pasukan Belanda berhasil merebut Mesjid Raya Aceh,

kemudian bergerak menyerbu Istana. Akan tetapi Belanda tidak berhasil menawan Sultan.

Sebab Sultan Mahmudsyah beserta keluarganya dan para pengikutnya telah mengungsi ke

Leungbata. Kota Leungbata ini kemudian dijadikan markas besar untuk melanjutkan

perlawanan.

Meskipun Istana telah dikuasai oleh Belanda tetapi

perjuangan rakyat Aceh tidak padam. Perlawanan

selanjutnya dilakukan dengan cara gerilya. Daerah-daerah

yang berada diluar kota, sepenuhnya dikuasai oleh para

gerilyawan. Belanda hanya berkuasa di kota-kota saja.

Dalam melakukan perlawanan, para gerilyawan Aceh

dipimpin oleh Teuku (bangsawan) dan Tengku (Ulama).

Salah seorang ulama yang terkenal memimpin perlawanan

terhadap Belanda ialah Tengku Cik Di Tiro.

Mayor Jenderal Van Swieten kemudian diganti oleh

Jenderal Pel yang sering melakukan serangan keluar kota.

Akan tetapi dalam pertempuran di Tonga, Jenderal Pel tewas.

Dengan demikian sudah dua orang perwira tinggi tentara Belanda yang tewas dalam Perang

Aceh.

Tewasnya dua orang perwira tinggi tentara Belanda merupakan pukulan bagi Belanda.

Oleh karena itu Belanda mengubah siasatnya dengan siasat garis pemusatan atau

Konsentrasi Stelsel. Dengan siasat ini Belanda tidak mengadakan serangan keluar kota

lagi. Pasukan Belanda dipusatkan di benteng-benteng sekitar kota. Mereka hanya bertugas

mempertahankan kota-kota. Bagaimanakah tindakan para gerilyawan Aceh menghadapi

siasat ini?

Menghadapi siasat garis pemusatan, para gerilyawan Aceh makin meningkatkan

perjuangan. Mereka terus menerus menyerbu ke kota. Benteng-benteng Belanda di sekitar

kota terus digempur. Tangsi-tangsi militer Belanda juga terus diserbu. Patroli-patroli

militer Belanda disergap. Jalan raya dan jembatan yang dapat digunakan oleh Belanda pun

di rusak oleh para gerilyawan.

Sementara itu seorang panglima terkenal bernama Teuku Umar memimpin perlawanan di

Pantai Barat. Teuku Umar dan anak buahnya menyerang pos-pos pertahanan Belanda di

daerah barat. Istri Teuku Umar bernama Cut Nyak Dhien juga ikut berjuang. Pemimpin

lainnya yang terkenal ialah Panglima Polim.

Gambar 5.15 Tengku Cik Di Tiro

130

Perhatikan gambar di bawah ini !

Semakin lama Belanda semakin merasa berat menghadapi para gerilyawan Aceh. Perang

Aceh telah berkobar selama 10 tahun. Namun belum ada tanda-tanda bahwa Aceh akan

menyerah. Oleh karena itu para pembesar Belanda mulai memikirkan siasat baru.

Pemerintah Belanda Kemudian menugaskan Dr. Snouck Hurgronye untuk menyelidiki

masyarakat Aceh. Tujuannya ialah untuk mengetahui kelemahan maupun kekuatan Aceh.

Dr. Snouck Hurgronye ialah seorang ahli agama Islam, Hukum Adat dan kehidupan Islam.

Ia datang ke Aceh dengan menyamar sebagai ulama dari Turki dengan nama samaran

Abdulgafar. Kemudian ia menyusup ke dalam masyarakat Aceh dan mengadakan

penyelidikan terhadap masyarakat Aceh. Bagaimanakah hasil penyelidikan Dr. Snouck

Hurgronye?

Atas hasil penyelidikannya Dr. Snouck Hurgronye menyusun sebuah buku dengan judul

De Atjehers. Dalam bukumya itu Dr. Snouck Hurgronye mengusulkan bahwa Aceh harus

ditaklukkan dengan cara kekerasan. Yaitu dengan menyerang dan menggempur pusat-pusat

pertahanan para ulama.

Semula pemerintah Belanda keberatan untuk menerima

usul Dr. Snouck Hurgronye itu. Karena hal ini

memerlukan biaya yang besar. Pemerintah Belanda akan

memerlukan pasukan yang lebih besar dan persenjataan

yang lebih banyak untuk menyerang dan menggempur

pusat-pusat pertahan para ulama.

Sementara itu Gubernur Militer Aceh yaitu Deukerhoff

mengusulkan siasat adu domba. Usul ini diterima oleh

pemerintah Belanda, sebab tidak

banyak makan biaya, maka para pemimpin Belanda

mulai membujuk orang-orang Aceh agar mau bekerja

sama dengan Belanda.

Bagaimanakah sikap pemimpin Aceh menghadapi siasat

ini?

Kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya oleh Teuku Umar. Pada tahun 1893, Teuku

Umar dengan pasukannya menyerah. Ia bersedia bekerja sama dengan Belanda. Maka

iapun diterima dengan gembira oleh Belanda. Kemudian Teuku Umar dijadikan sebagai

Panglima dengan gelar Teuku Johan Pahlawan. Ia diperbolehkan tetap memimpin

pasukannya. Bahkan pasukannya diberi persenjataan lengkap. Akan tetapi pada tahun

Gambar. 5.16 Teuku Umar

Gambar 5.17 Panglima Polim Gambar 5.18 Cut Nyak Dien

Gambar 5.19 Snouk Hurgronye

131

1896, Teuku Umar beserta pasukannya dengan membawa persentjaan dan perbekalan

lengkap kembali memihak para pejuang Aceh.

Bagaimana sikap Belanda menghadapi kenyataan tersebut?

Pemerintah Belanda merasa tertipu. Siasat adu domba yang dijalankan oleh pemerintah

Belanda ternyata telah memukul Belanda sendiri. Gubernur militer Deuckerhoff dianggap

sebagai orang yang harus bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa tersebut. Oleh

karena itu iapun dipecat.

Akhirnya Belanda menyadari bahwa siasat kekerasan

yang diusulkan oleh Dr. Snouck Hurgronye harus

dilaksanakan. Untuk melaksanakan siasat kekerasan

tersebut., kemudian Belanda menugaskan Jenderal Van

Heutsz. Maka ia segera membentuk pasukan anti

gerilya yang disebut pasukan Marsose (Morechuse)

Pada tahun 1899 Belanda mulai mengadakan serangan

secara besar-besaran ke daerah pedalaman. Dalam

melaksanakan siasat kekerasan ini, pasukan Belanda

benar-benar mababi buta, bila mereka menyerang

sebuah kampung, maka semua penduduk yang ada di

kampung tersebut dibinasakan. Rumah-rumah

penduduk dirobohkan atau dibakar. Hal ini

menimbulkan penderitaan rakyat yang tidak ikut

berperang.

Bagaimanakah sikap para pejuang Aceh menghadapi siasat kekerasan ini?

Para pejuang Aceh tidak gentar menghadapi siasat kekerasan ini. Mereka tetap bertahan

dengan gigih. Benteng Kuto Reh yang merupakan pusat pertahanan para pejuang Aceh

dipertahankan mati-matian. Benteng tersebut baru dapat direbut oleh Belanda setelah

semua pejuang Aceh Gugur.

Siasat kekerasan yang dilaksanakan oleh Belanda menyebabkan para gerilyawan Aceh

terdesak. Namun Teuku Umar tetap memimpin perlawanan di Aceh Barat. Tak lama

kemudian dalam suatu pertempuran di Meulaboh, Teuku Umar Gugur, Cut Nyak Dhien

Gambar 5.20

Jenderal Van Heutsz

Gambar 5.21 Jenderal Van Heutz sedang memimpin pasukannya

dalam Perang Aceh

132

melanjutkan perjuangan suaminya bersama-sama pejuang Aceh lainnya. Diantara pejuang

Aceh yang berjuang bersama Cut Nyak Dhien, terdapat seorang pahlawan wanita bernama

Cut Meutia. Cut Nyak Dhien akhirnya tertangkap oleh Belanda dan dibuang ke Sumedang

Jawa Barat, sampai ia wafat di sana.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->