P. 1
Kajian Yuridis Penertiban Dan an Tanah Terlantar Serta Pengenaan

Kajian Yuridis Penertiban Dan an Tanah Terlantar Serta Pengenaan

|Views: 316|Likes:
Published by ekongalam

More info:

Published by: ekongalam on May 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/01/2014

pdf

text

original

Kajian Yuridis Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar Serta Pengenaan Jenis dan Tarif PNBP Yang Berlaku

Pada BPN Dalam Upaya Pelaksanaan Kewenangan Daerah Di Bidang Pertanahan1
Oleh Sarjita, S.H., M. Hum.2 Pendahuluan
Tanah tidak langsung memberikan kemakmuran, tetapi pembangunan (development) yang dilakukan di atas tanah tersebut-lah yang langsung memberikan kemakmuran. Istilah pembangunan merupakan terjemahan dari kata development, adalah kata benda netral dan digunakan dalam menjelaskan proses dan/atau usaha untuk meningkatkan kehidupan ekonomi, politik, budaya, insfrastruktur masyarakat, dan sebagainya. Namun, kata pembangunan dapat dijuga dimaknai sebagai salah satu discourse, suatu pendirian atau paham, ideologi dan/atau teori tentang perubahan sosial, seperti sosialisme, dependensia, ataupun teori lain. Dalam perkembangannya pembangunan sebagai sebuah teori, akhirnya telah bergeser dan berubah menjadi suatu pendekatan dan ideologi, bahkan menjadi suatu paradigma3 (paradigm) kacamata atau alat pandang dalam perubahan sosial. Dalam ilmu sosial menurut Habermas,4 paradigma dibedakan menjadi tiga, yaitu: Pertama, instrumental knowledge dimana ilmu pengetahuan lebih dimaksudkan sebagai alat untuk menaklukan dan mendominasi objeknya; Kedua, hermeneutic knowledge atau paradigma interpretative, ilmu pengetahuan dimaksudkan untuk memahami suatu objek secara sungguh-sungguh (eksploratif). Didasarkan pada tradisi filsafat phenomenology dan hermeneutics, yaitu biarkan fakta bicara atas nama dirinya sendiri. Ketiga, paradigma kritik atau critical/emancipator knowledge. Ilmu pengetahuan tidak boleh dan tidak mungkin bersifat netral, akan tetapi memperjuangkan pendekatan yang bersifat holistik, serta menghindari cara berpikir deterministic dan reduksionistik. Mengkaji suatu fenomena sosial, misalnya terkait dengan regulasi tanah terlantar serta persoalan yang menyertainya dalam semangat era reformasi, pembaruan UU Nomor 5 Tahun 1960 (UUPA) beserta peraturan pelaksanaannya yang sekarang sedang dan akan berproses merupakan sebuah keniscayaan. Upaya-upaya tersebut merupakan realisasi dari prinsip-prinsip yang terkandung dalam Ketetapan MPR RI Nomor IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria Dan Pengelolaan Sumber Daya Alam. Ketetapan MPR RI di atas, merupakan suatu proses dalam rangka mewujudkan keadilan sosial yang secara konstitusinal diamanatkan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, yaitu tanah untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Apabila dicermati secara seksama, kelahiran Ketetapan MPR tersebut, juga didasarkan pada suatu keyakinan bahwa dalam pengelolaan SDA yang berlangsung selama ini telah menimbulkan penurunan kualitas lingkungan, ketimpangan struktur penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatannnya serta menimbulkan berbagai konflik. Kondisi dan situasi tersebut, terjadi dikarenakan secara realitas pembentukan berbagai peraturan perundang-undangan yang bersifat sektoral dilahirkan dengan tidak berlandaskan pada prinsip-prinsip UUPA. Bahkan dalam perkembangannya
Makalah Disampaikan Pada Diskusi Implementasi PP Nomor 11 dan PP Nomor 13 Tahun 2010 Di Kabupaten Sleman, Op Room Kabupaten Sleman: 8 April 2010. 2 S.H., M. Hum. Lektor (Pembina IV/a) pada Jurusan Manajemen Pertanahan Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN), Yogyakarta. 3 “a world view, a general perspective, a way of breaking down the complexity of the real world”. Konstelasi teori, pertanyaan, pendekatan, serta prosedur yang dipergunakan oleh suatu nilai dan tema pemikiran. Konstelasi dikembangkan dalam rangka memahami kondisi sejarah dan keadaan social, untuk memberikan kerangka konsepsi dalam member makna realitas social. Paradigma merupakan tempat kita berpijak dalam melihat suatu realitas. Pemahaman mengenai paradigma memberikan kemampuan kita untuk membentuk apa yang kita lihat, bagaimana cara kita melihat sesuatu, apa yang kita anggap masalah, apa masalah yang kita anggap bermanfaat untuk dipecahkan serta apa metode yang akan digunakan dalam meneliti dan berbuat. Patton (1975) dalam Mansour Fakih, (2001), Runtuhnya Teori Pembangunan Dan Globalisasi, Yogyakarta, INSIST PRESS: 19. 4 Ibid: 23-29.
1

1

2) tatanan kehidupan bersama yang lebih berkeadilan dalam kaitannya dengan pemanfaatan. pencarian makna lebih dalam hendaknya menjadi ukuran baru dalam menjalankan hukum dan bernegara hukum. semangat. strategi radikal tersebut tidak menguntungkan. Hal yang sama pula terjadi dengan dibatalkannya UU BHP oleh Mahkamah Konstitusi. ELSAM: 33. Brighten Press: 3-4 7 Ada beberapa alas an mengapa Orde Baru semakin menjauh dari UUPA. 8 Rule Breaking. tanah mengalami pergeseran nilai. Hukum hendaknya dijalankan tidak menurut prinsip logika saja. Masing-masing fihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum didorong untuk selalu bertanya kepada hati nurani tentang makna hukum yang lebih dalam. mempergunakan kecerdasan spiritual untuk bangun dari keterpurukan hukum memberikan pesan peting bagi kita untuk berani mencari jalan baru (rule breaking) dan tidak membiarkan diri terkekang oleh cara lama. yaitu: Pertama.5 Prinsip-prinsip dalam Ketetapan MPR RI tersebut di atas. (1996). kebangsaan dan kenegaraan Indonesia dengan memberikan akses seluas-luasnya pada generasi akan dating pada sumber-sumber ekonomi masyarakat-tanah. sejatinya telah tercermin dalam semangat utama dan prinsip UUPA (UU No. Kemudian jika kita menengok sejarah pada masa Orde Baru7. dan proses pengelolaan pertanahan di seluruh tanah air. Kedua. 5 Tahun 1960) yang populis. bahwa Pertanahan harus berkontribusi secara nyata untuk: 1) meningkatkan kesejahteraan rakyat dan melahirkan sumber-sumber baru kemakmuran rakyat. Kedua. Tanah Sebagai Komoditas. menjalankan hukum yang lama dan tradisional yang jelas-jelas lebih banyak melukai rasa keadilan. yaitu dari tanah yang dikelola bersama. Ketiga. Paradgma Sosiologis Dan Implikasinya Terhadap Pengembangan Ilmu Hukum Dan Penegakan Hukum (Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Bidang Sosiologi hukum FH Universitas Diponegoro. pada awal Orba ada consensus di antara pendukungnya tentang perlunya stabilitasi. akan tetapi juga dirasakan dengan melibatkan hati nurani. di mana tanah tidak lagi semata-mata bernilai uang menjadi asset komoditi yang bisa diperdagangkan. Para aktor globalisasi secara langsung ataupun secara terselubung berusaha mendesakan berbagai kepentingan agar pembaruan UUPA itu dapat memperlicin kapitalisme global. Jakarta. program. Tanah yang memiliki karakter sosial telah dirubah menjadi masuk dalam skema pasar tanah. Berkat kejelihan para Hakim Di Mahkamah Konstitusi yang melihat tidak hanya saja dengan pemikiran yang jernih. kita dihadapkan pula pada era globalisasi. rehabilitasi dan pembangunan ekonomi gaya kapitalis. dan acuan dari setiap kebijakan. dan objek spekulasi bagi orang yang mempunyai uang banyak. 18 Pebruari 2006): 33). kepedulian dan keterlibatan (compassion) kepada kelompok yang lemah. (2006). Angkatan darat menganggap bahwa Landreform yang disponsori golongan kiri apada awal 1960-an dapat mengancam pengendaliannya atas beberapa perkebunan milik Negara. dilihat dari segi ekonomi. Satjipto Rahardjo dalam Yusriyadi.kedudukan UUPA didegradasi menjadi undang-undang yang bersifat sektoral yang hanya mengatur masalah pertanahan. 6 Joyo Winoto. dan proses-proses penyelenggaraan pertanahan di tanah air.. Bogor. Sementara itu.). yaitu Pertama. pikiran. Pertanahan Dan Keagrariaan Nasional (Sambutan Kepala BPN RI pada Hari Agraria Nasional 2006 (24 September 2006). maka ketentuan dimaksud akhirnya telah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi. Menurut Joyo Winoto6 prinsip-prinisp tersebut harus kita internalisasikan dalam batin. penguasaan dan pemilikan tanah. tatanan pelaksanaan pembangunan. dan 4) menciptakan tatanah kehidupan bersama secara harmonis dengan mengatasi berbagai sengketa dan konflik pertanahan di seluruh tanah air dan menata sistem pengelolaan yang tidak lagi melahirkan sengketa dan konflik di kemudian hari. Empat prinsip tersebut adalah. Kondisi tersebut mengakibatkan hak-hak rakyat atas tanah terpangkas untuk kepentingan investor sehingga membuahkan kemiskinan dan rakyat termarjinalkan. 5 2 . (Tidak dipublikasikan). Ketiga. tetapi dengan perasaan. yang memiliki nilai ekonomis. meskipun sudah berlangsung pada era Reformasi. Di sini Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili UU BHP telah mencari dan menempuh jalan baru (rule breaking) sebagaimana dikemukakan oleh Satjipto Rahardjo.8 Sarjita. sebagai contoh substansi di bidang investasi yang tertuang dalam Pasal 21-22 UU Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal terulang kembali pola tatanan masa Orde Baru. penggunaan. Sehubungan dengan hal tersebut BPN-RI menetapkan 11 agenda dan dinternasilisasikan ke dalam empat prinsip untuk diposisikan sebagai jiwa. Kajian Kritis Atas Kebijakan Pertanahan Orba. 11 November 2008). (Endang Suhendar dan Ifdal Kasim. (2006). Semarang. 3) menjamin keberlanjutan sistem kemasyarakatan. Penyelesaian Sengketa Pertanahan Dalam Era Otda (Disampaikan pada Workshop Penguatan SDM Pemkab Sleman.

Jakarta. maka prinsip fungsi sosial terhadap hak milik atas tanah menurut UUPA bercorak “dwitunggal”. Regulasi Kebijakan Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 secara konstitusional telah mengamanatkan bahwa “Bumi. 3) azas demokrasi. jika secara nyata ditemukan pelanggaran dari prinsip fungsi sosial. dilaksanakan dalam rangka tercapainya kepastian huku dan perlindungan Sudjito. Bahkan menegasikan atau peniadaan hak bagi salah satunya adalah kedzaliman. 12 M. harus dipahami secara hati-hati dan benar. (2002). bersifat kedwitunggalan yang tidak dapat dipisahkan. bahwa pada setiap individu ada hak. Dari sisi kaidah agama maupun kaidah sosial telah mengajarkan. Namun demikian. Sementara Maria S. BPN No. seharusnya tetap dijaga keberadaannya. (1985). PT. Konsekuensi lebih lanjut. agar tidak terjebak atau dipersamakan dengan paham sosialis yang menyatakan bahwa semua hak atas tanah adalah fungsi sosial. yaitu tanah diterlantarkan atau (ada unsur kesengajaan untuk menelantarkan) tanah. 11 Sarjita. Pustaka LP3ES: 186. menurut Sudjito10. menurut Sunarjati Hartono. maka dalam pelaksanaan hak milik atas tanah harus memperhatikan empat azas. Sedangkan untuk memberi isi dan ukuran dari fungsi sosial. tanpa memperhatikan kepentingan sosial atau lingkungannya. Kompas: 42. dan 4) azas adil dan merata. Global Visindo Consultant: 1. yaitu: 1) azas manfaat. CV. Bahkan sang Pencipta-pun juga ada hak. maka hak atas tanah tersebut kembali kepada hak menguasai dari Negara. Implementasi azas tersebut. 24 Tahun 2002). Sumardjono. Dengan kata lain.11 Notonagoro dalam M.: 3. Yogyakarta.12 menggunakan istilah bahwa untuk menyelaraskan dua kepentingan yang ada dalam masyarakat tersebut. air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”.W. Dengan demikian pemegang hak atas tanah tidak hanya mempunyai hak untuk menggunakan tanah yang dikuasai-nya tetapi juga berkewajiban menggunakan tanahnya sedemikian rupa sehingga baik secara langsung dan tidak langsung memenuhi kepentingan umum. (1980). Sudjito.9 Sebagai individu. Majalah Ilmiah Widya Bhumi Tahun 2007: 2. Gadjah Mada University Press: 61. Jakarta. Jakarta. sekaligus fungsi sosial. pemilikan. sehingga tanahnya menjadi tanah Negara. Rajawali: 32. Kep. Ka. sudah benar dan spantasnyalah jika setiap WNI diberikan hak atas tanah (Hak Milik) maupun hak-hak yang lainnya. dan kepentingan masyarakat di sisi yang lain. Yogyakarta.15 yaitu apabila kewajiban ini diabaikan Negara berwenang untuk membatalkan hak. Program Redistribusi Tanah Di Indonesia Suatu Sarana Ke Arah Pemecahan Masalah Penguasaan Tanah Dan Pemilikan Tanah. (2001). dalam Pasal 2 disebutkan bahwa Pembaruan Agraria mencakup suatu proses yang berkesinambungan berkenaan dengan penataan kembali penguasaan. CV. Ibid. 13 Maria S. Fungsi Sosial Hak Atas Tanah. Proses Terjadinya UUPA. Kesemuannya harus dipenuhi dan diselaraskan. 9 10 3 . bahwa Pemerintah secara moral mempunyai kewajiban untuk menjaga keseimbangan antara dua kepentingan yang bersifat antinomi. semua hak atas tanah harus mempunyai fungsi individu/pribadi. Politik Hukum Di Indonesia. Mahfud MD (1998).14 Pernyataan lebih ekstrim lagi dikemukakan oleh Ari Sukanti Hutagalung. tidaklah dibenarkan hak atas tanah tersebut dalam penggunaannnya hanya diorientasikan untuk kepentingan pribadinya (si empunya hak). 14 Iman Sutiknjo. 2) azas usaha bersama dan kekeluargaan. yaitu antara kepentingan individu di satu sisi. 15 Arie Sukanti Hutagalung . Ketetapan MPR RI Nomor IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria Dan Pengelolaan Sumber Daya Alam. Pada orang lainpun ada hak. Kebijakan Pertanahan Antara Regulasi Dan Implementasi.Penerapan Azas Fungsi Sosial Pemahaman dan keyakinan akan sifat dan hakikat manusia sebagai makluk individu dan sekaligus makluk sosial. penggunaan dan pemanfaatan sumberdaya agria. Penerapan prinsip bahwa tanah mempunyai fungsi sosial mengandung suatu maksud. Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar (PP Nomor 36 Tahun 1998 Jo.W Sumardjono13 menekankan bahwa hubungan atau relasi antara orang perorangan dan masyarakat dalam kaitannya dengan tanah. Mahfud MD.

(2004). Eka Jaya. disebutkan bahwa melaksanakan fungsi sosial. perencanaan. dan tidak dimanfaatkan sesuai dengan sifat dan tujuan pemberian haknya. Kewajiban memelihara tanah tidak hanya menjadi beban pemilik atau pemegang hak semata.hukum serta keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. tanah tersebut selama 3 (tiga) tahun atau lebih tidak dimanfaatkan sejak tanggal pemberian hak diterbitkan. HGU. apalagi kalau hal itu menimbulkan kerugian bagi masyarakat. sebagai Lahan Cadangan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Demikian pula dalam Pasal 4 huruf h. melainkan menjadi beban pula dari setiap orang. Lebih lanjut dalam Penjelasan Pasal 29 UU tersebut. Pasal 29 ayat (3) menyatakan bahwa tanah terlantar merupakan salah satu objek penyiapan lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 149. Peraturan Pemerintah Nomor 40 tahun 1996 tentang HGU. Undang Undang Nomor 5 Tahun 1960 atau sering disebut dengan UUPA (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104. apabila: a. agar bertambah kesuburannya serta dicegah kerusakannya. Angka Romawi II Angka 4 UUPA. tanah tersebut diberikan hak atas tanahnya tetapi sebagian atau seluruhnya tidak diusahakan. perencanaan. kelestarian dan fungsi ekojologis sesuai dengan kondisi sosial budaya setempat. menyatakan Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota…meliputi: a. dinyatakan bahwa Untuk keperluan pengembangan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Rumusan Pasal tersebut mendapat penjelasan dalam Penjelasan Umum. 16 4 . maka hak atas tanah hapus dengan sendirinya apabila tanahnya diterlantarkan. Pasal 14.16 Undang Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 149. Penggunaan tanah harus disesuaikan dengan keadaannya dan sifat dari pada haknya. Ketentuan Pasal 13 UU Nomor 32 Tahun 2004. tetapi miskin dan memiliki keterbatasan akses terhadap factor-faktor produksi sehingga menelantarkan tanahnya. atau dasar penguasaan atas tanah yang tidak diusahakan. Jakarta. TLN Nomor 4437). Hak Pengelolaan. menyatakan bahwa “Semua hak atas tanah mempunyai fungsi sosial”. yaitu hak atas tanah apapun yang ada pada seseorang tidaklah dapat dibenarkan. 2) Pasal 34 huruf e: HGU. menyatakan bahwa Urusan Wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah provinsi… meliputi: a. pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/kota. pemanfaatan dan pengawasan tata ruang. HGB. tidak dipergunakan. CV. TLN Nomor 5068). TLN Nomor 3643). atau tidak dimanfaatkan sesuai dengan keadaannya atau sifat dan tujuan pemberian hak atau dasar penguasaannya. … k. 2043). … k. Undang Undang RI Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerag Dan Undang Undang RI Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. perencanaan dan pengendalian pembangunan. pelayanan pertanahan. b. TLN No. atau b. maka semua hak atas tanah harus dipelihara baik-baik. Kemudian jika dikaitkan antara ketentuan Pasal 6 dengan Pasal 15 UUPA. Pasal 29 ayat (4): Tanah terlantar dapat dialihfungsikan menjadi lahan Pertanian pangan Berkelanjutan. pada Pasal 6. Hak Pakai. pemanfaatan dan pengawasan ruang. bahwa tanahnya akan dipergunakan atau tidak dipergunakan semata-mata untuk kepentingan pribadinya. Tentang hapusnya sesuatu hak Anonim. Oleh karena itu. tidak dipergunakan. badan hukum atau instansi yang mempunyai suatu hubungan hukum dengan tanah. TLN Nomor 5068). Dalam Pasal 1 butir 22 disebutkan bahwa tanah terlantar adalah tanah yang sudah diberikan hak oleh Negara berupa HM. masyarakat berperan dalam pengawasan tanah terlantar dengan melaporkan pemanfaatan lahan yang dinilai diterlantarkan untuk diusulkan sebagai LCPPB. pengambilalihan dapat dilakukan oleh Negara tanpa kompensasi dan selanjutnya dijadikan objek reforma agraria untuk didistribusikan kepada petani tanpa lahan atau berlahan sempit yang dapat memanfaatkannya untuk lahan pertanian Pangan Pokok. Sehubungan dengan itu. 3) Pasal 40 huruf e: HGB. hingga bermanfaat bagi baik kesejahteraan dan kebahagiaan yang mempunyainya maupun bermanfaat pula bagi masyarakat dan Negara. Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125. Sebagaimana diatur dalam: 1) Pasal 27 huruf a angka 3: Hak Milik. HGB dan Hak Pakai Atas Tanah (Tambahan Lembaran Negara Tahun 1996 No. perencanaan dan pengendalian pembangunan. Pemerintah dan Pemerintah Daerah berkewajiban memberikan perlindungan dan pemberdayaan serta insentif yang sesuai kepada petani yang memiliki hak atas tanah yang ingin memanfaatkan tanahnya untuk pertanian Pangan Pokok. b. 58.

seperti diatur dalam Pasal 17 ayat (1) huruf e: HGU. BPN Nomor 24 Tahun 2002 tentang Ketentuan Pelaksanaan PP Nomor 36 Tahun 1998 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar. tanah Negara.. izin mendirikan bangunan. Yang dimaksud pengertian ruang dalam PP tersebut adalah meliputi: a) ruang darat. RTRW Kabupaten. Fokus Media: 215-226. TLN Nomor 4385). serta ganti Kerugian tanah Kelebihan Maksimum dan Tanah Absente. Rencana Tata Ruang Pulau/Kepulauan. BPN ini dalam Pasal 28 telah menyatakan tidak berlaku Keputusan Ka. Pemerintahan Daerah Provinsi. Peraturan Ka. pertanahan. dilakukan melalui instrumen berupa pengaturan zonasi. …. dalam Pasal 19 PP tersebut menyatakan mencabut dan menyatakan tidak berlaku PP Nomor 36 Tahun 1998 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar serta peraturan pelaksanaannya. Pasal 7 ayat (1) Terhadap tanah-tanah tersebut di atas. Perencanaan Penggunaan Tanah Wilayah Kabupaten/Kota. Ayat (3) Pedoman. Dalam Pasal 7 disebutkan bahwa Urusan wajib sebagaimana dimaksud dlam Pasal 6 meliputi: a. c. Anonim. Kemudian untuk pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang. menyatakan bahwa Kebijakan Penatagunaan tanah diselenggarakan terhadap: a. RTRW Kota. RTR Kawasan Perdesaan. standar dan kriteria teknis tersebut. b) ruang laut. TLN Nomor 5098). 6) Penetapan Tanah Ulayat. perizinan. 5). pendidikan. RTR Kawasan Agropolitan. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 2010 Nomor 21. Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Rencana Rinci Tata Ruang. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 3 Tahun 1998 tentang Pemanfaatan Tanah Kosong Untuk Tanaman Pangan.atas tanah.. PP ini lahir untuk melaksanakan ketentuan Pasal 16 ayat (2) UU Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Peraturan Kepala BPN RI Nomor 4 Tahun 2010 tentang Tata Cara Penertiban Tanah Terlantar. serta e. Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Pasal 35 ayat (1) huruf: HGB. melakukan kegiatan. Pemerintahan Daerah Provinsi Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. dan Pasal 55 ayat (1) huruf e: Hak Pakai. b. (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 82.4737). dijabarkan lebih lanjut oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dengan kondisi wilayah masing-masing. termasuk ruang di dalam tubuh bumi sebagai satu kesatuan wilayah tempat manusia dan makluk lain hidup. 8) Ijin Membuka Tanah (tugas perbantuan/medebewind). Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2010 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar (LN Tahun 2010 Nomor 16. Rencana tata Ruang Kawasan Strategis. standar dan kriteria teknis yang ditetapkan oleh Pemerintah. Bandung. Dalam PP tersebut juga dilakukan pengaturan mengenai Penyusunan dan Penetapan RTRW Nasional. TLN No. penggunaan dan pemanfaatan tanahnya harus sesuai dengan RTRW. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Pertanahan sebagaimaa tercantum dalam Lampiran I meliputi:17 1) Izin Lokasi. 2) Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Penetapan Subjek dan Objek Redistribusi Tanah. Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. izin lain berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. 17 5 . 9). RTR Kawasan Perkotaan. pemberian insentif dan disinsentif dan pengenaan sanksi. Khusus untuk Pedoman Penyusunan RTRW Kabupaten diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16/PRT/W/2009 tertanggal 27 Juli 2009. Peraturan Pemerintah Nomor 16 tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 45. TLN Nomor 5103). izin penggunaan pemanfaatan tanah. Izin dalam lingkup pemanfaatan dapat diberikan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota berupa: a. UU tersebut dalam perkembangannya berdasarkan ketentuapn Pasal 79 UU Nomor 26 Tahun 2007dinyatakan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. dstnya. Ayat (4) Penggunaan tanah yang tidak sesuai dengan RTRW tidak dapat diperluas atau dikembangkan penggunaannya. (2007). ayat (2) Kesesuaian penggunaan dan pemanfaatan tanah terhadap RTRW ditentukan berdasarkan pedoman. 7) Pemanfaatan dan Penyelesaian Masalah Tanah Kosong. dan memelihara kelangsungan hidupnya. izin lokasi. b. Pasal 6 PP tersebut. dan d. izin prinsip. dan c) ruang udara. 4) Penyelesaian Masalah Ganti Kerugian dan Santunan Tanah Untuk Pembangunan. RTRW Provinsi. r. 3) Penyelesaian Sengketa Tanah garapan. c. bidangbidang tanah yang sudah ada haknya baik yang sudah atau belum terdfatar. tanah ulayat masyarakat hukum adat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Namun secara politis sebenarnya ada tujuan yang lebih besar dan luas serta strategis dengan diterbitkannya PP Nomor 11 Tahun 2010 yaitu untuk menunjang keberhasilan pelaksanaan Program Pembaruan Agraria Nasional (PPAN). dan/atau dalam izin/keputusan/surat lainnya dari pejabat yang berwenang. d. Kedua. 4 Mei 2009): 7.Profil PP Nomor 11 Tahun 2010 tentang P2T2 a. juga telah diterbitkan SK Kepala BPN tentang Penetapan sebagai Tanah Terlantar. Di mana tanah terlantar telah ditetapkan sebgai salah satu objek Reforma Agraria18 di samping tanah Negara Bekas Hak Barat dan/atau Swapradja dan tanah Negara lainnya. Pengertian tanah terlantar dapat diketahui dalam Peraturan Kepala BPN RI Nomor 4 Tahun 2010. tidak dipergunakan atau c. tanah terlantar secara fisik dan Kedua. dapat diketemukan dalam Penjelasan Pasal 2 PP Nomor 11 Tahun 2010.19 yaitu Pertama. apabila tanah tersebut di samping memenuhi kriteria tanah secara fisik. Sehubungan dengan pengertian tanah terlantar ini. serta Tanah Negara Bekas Kawasan Hutan. Baik dalam Ketentuan Umum Pasal 1 yang biasanya menjelaskan istilah yang digunakan pada Pasal-pasal berikutnya. 19 Tanah Terlantar secara fisik (didasarkan pada kondisi lapang). atau dasar penguasaan atas tanah yang tidak diusahakan. Sarjita. surat keputusan pemberian hak. Instrumen regulasi berupa peraturan perundang-undangan yang telah ada yaitu PP Nomor 36 Tahun 1998 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar beserta peraturan pelaksanaannya tidak dapat lagi dijadikan acuan penyelesaian penertiban dan pendayagunaan tanah terlantar. tidak diusahakan. HGU. atau ctidak dipergunakan. b. atau pihak yang telah memperoleh dasar penguasaan atas tanah [izin/keputusan/surat dari pejabat yang berwenang yang menjadi dasar penguasaan atas tanah] tetapi belum memperoleh hak atas tanah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. d. tidak diusahakan. sifat dan tujuan daripada haknya. Ibid: 8-9 18 6 . tanah terlantar secara yuridis. Tanah Terlantar secara Yuridis. pemegang Hak Pengelolaan. ekonomi. Tantangam RA Di Kawasan Timur Indonesia (Makalah disampaikan pada Seminar Lingkar Belajar RA (LIBRA) Kerjasama STPN-Fakultas Ekonomi Universitas Satya Wacana Salatiga. Sarjita. tanah yang ada dasar penguasaannya apabila tanahnya: a. yaitu tanah yang diterlantarkan oleh pemegang hak atas tanah [HM. HP]. yaitu pada Pasal 1 butir 6: tanah yang sudah diberikan hak oleh Negara berupa HM. Penjelasan secara lebih dalam mengenai pengertian tanah terlantar. surat keputusan pelepasan kawasan hutan. Pertama. yaitu apabila tanahnya: a. Sebagai perbandingan pengertian tanah terlantar dapat dilihat pada Pasal 1 butir 5 PP Nomor 36 tahun 1998 yang telah dicabut. Hak Pakai dan Hak Pengelolaan. Dasar Pertimbangan Penerbitan PP Nomor 11 Tahun 2010 Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2010 diterbitkan berdasarkan pertimbangan utama. HGB. b. bahwa kondisi penelantaran tanah semakin menimbulkan kesenjangan sosial. tanah Negara bekas HGU dan HGB yang telah berakhir jangka waktu berlakunya hak dan tidak diperpanjang. atau tidak dimanfaatkan sesuai dengan keadaannnya atau sifat dan tujuan pemberian hak atau dasar penguasaannya. tidak dimohon hak. dan kesejahteraan rakyat serta menurunkan kualitas lingkungan. penulis dapat membedakan menjadi dua. Pengertian Tanah Terlantar Dalam PP ini tidak diatur secara jelas rumusan apa itu pengertian tanah terlantar. Jika tanahnya tidak dimanfaatkan atau dibiarkan dalam keadaan tidak digunakan sesuai keadaan. tidak dipergunakan. HGU. HGB. tidak dimanfaatkan sesuai dengan keadaan atau sifat dan tujuan haknya. atau tidak dimanfaatkan sesuai dengan persyaratan atau ketentuan yang ditetapkan dalam iizin lokasi.

dapat ditarik kesimpulan. tanah-tanah bukan pihak lain yang dikelola dan dipelihara/dirawat dengan dana dari isntansi Pemerintah. atau memanfaatkan. Dengan demikian. mempergunakan. tanah-tanah bukan pihak lain dan yang telah dikuasai secara fisik ileh instansi pemerintah. karena keterbatasan anggaran Negara/daerah untuk mengusahakan. Sedangkan tanah yang tidak termasuk asset Pemerintah. maka perlu dijadikan asset Pemerintah dan diajukan permohonan hak atas tanahnya kepada Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota setempat. (2005). Pemegang haknya memiliki kemampuan secara ekonomi dan/atau Instansi Pemerintah (Pusat/Daerah) memiliki cukup anggaran untuk mengusahakan. Yang berupa tanah menurut ketentuan Pasal 49 UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara harus disertipikatkan atas nama pemerintah RI/Pemerintah Daerah yang bersangkutan. Hak atas tanah perseorangan yang berupa HM atau HGB tersebut tidak sengaja tidak dipergunakan sesuai keadaan atau sifat dan tujuan pemberian haknya karena pemegang hak tidak memiliki kemampuan segi ekonomi untuk mengusahakan. Yang termasuk dalam pengertian tanah asset pemerintah/pemerintah daerah adalah a. Jika berstatus tanah Negara. Yogyakarta. atau sering dipakai istilah “tanah dalam penguasaan”. Terhadap tanah yang demikian perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Dengan memperhatikan bahwa uraian tersebut di atas. maka akan meningkat statusnya yang semula bukan merupakan objek tanah terlantar. mempergunakan. dan 2) Tanah yang dikuasai pemerintah baik secara langsung maupun tidak langsung dan sudah berstatus maupun belum berstatus Barang Milik Negara/Daerah yang tidak sengaja tidak dipergunakan sesuai dengan keadaan atau sifat dan tujuan pemberian haknya. PP Nomor 38 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas PP Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. Kemudian dalam Pasal 3 dirumuskan kriteria tanah yang tidak termasuk objek penertiban tanah terlantar. atau memanfaatkan. atau memanfaatkan tanah sesuai keadaan atau sifat dan tujuan pemberian haknya.c. c. baik yang sudah ada sertipikatnya maupun yang belum ada sertipikatn tanahnya. yaitu tanah kepunyaan pihak lain yang dikuasai atau dimanfaatkan/digunakan oleh instansi Pemerintah. Tanah Asset Pemerintah. Kriteria Objek Tanah Terlantar PP Nomor 11 Tahun 2010 yang baru ini ditentukan objek tanah terlantar sebagaimana diatur dalam Pasal 2. akan menjadi objek penertiban tanah terlantar. e. apakah status tanahnya berstatus tanah Negara atau tanah hak. Tanah-tanah bukan pihak lain yang telah terdaftar dalam Daftar Inventaris Instansi Pemerintah yang bersangkutan. Tanahtanah sebagaimana tersebut pada huruf a s/d b dan c. yaitu: 1) Tanah HM atau HGB atas nama perseorangan yang secara tidak sengaja tidak dipergunakan sesuai dengan keadaan atau sifat dan tujuan pemberian haknya. Pelaksanaan Urusan Pertanahan Dalam Era otonomi Daerah. Sarjita. d. tanah yang secara fisik dikuasai atau digunakan/dimanfaatkan oleh pihak lain berdasarkan hubungan hukum yang dibuat antara pihak lain dengan instansi Pemerintah dimaksud. 20 7 . mempergunakan. Tugujogja Pustaka: 41-42. maka yang termasuk objek tanah terlantar: 1) Tanah HGU baik yang subjeknya Perseorangan maupun Badan Hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia. apabila tanah HM atau HGB perseorangan atau tanah yang dikuasai Pemerintah (tanah Asset Pemerintah)20 tersebut. 2) Tanah Hak Pakai. Kemudian untuk pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah pengaturanya dilakukan dengan PP Nomor 6 Tahun 2006 Jo. b. Sedangkan khusus Tanah yang dikuasai Pemerintah (tanah asset Pemerintah) tidak sengaja tidak dipergunakan sesuai dengan keadaan atau sifat dan tujuan pemberian haknya.

Hal ini perlu kami kemukakan karena secara riil di lapang besar kemungkinan ditemukan tanah yang terindikasi terlantar status tanahnya termasuk sebagaimana diuraikan di atas. dipergunakan atau dimanfaatkan sesuai dengan keadaan atau sifat dan tujuan pemberian haknya. 7) Tanah-tanah yang dikuasai oleh pihak yang telah memperoleh dasar penguasaan atas tanah [izin/keputusan/surat dari pejabat yang berwenang yang menjadi dasar penguasaan atas tanah] tetapi belum memperoleh hak atas tanah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berkaitan dengan pembahasan tentang objek tanah terlantar ini. tanah hak ulayat masyarakat hukum adat. Nomor dan Tanggal. 6) Tanah Hak Pengelolaan. alamat pemegang hak atas tanah. 2) pengelompokan data tanah yang terindikasi terlantar dilakukan menurut wilayah kabupaten/kota. 5) Tanah Yang dikuasai Pemerintah (Tanah asset Pemerintah) dan mempunyai cukup anggaran untuk mengusahakan. serta berakhirnya sertipikat. Inventarisasi Tanah Yang Terindikasi Terlantar Inventarisasi tanah terindikasi terlantar dilakukan oleh Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi berdasarkan informasi yang diperoleh dari hasil pemantauan lapnagan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota atau dari hasil laporan Dinas/instansi lainnya. dan jenis hak/dasar penguasaan. laporan tertulis dari masyarakat. bagimana dengan status tanah asset Pemerintah Desa yang sering disebut dengan istilah Tanah Kas Desa (TKD). luas dan penggunaan tanah. d. Inventarisasi tanah terindikasi terlantar dilaksanakan melalui: 1) pengumpulan data mengenai tanah yang terindikasi terlantar yang meliputi data tekstual (nama. tanggal keputusan pemberian hak atas tanah. 3) mengadministrasikan data hasil inventarisasi tanah terindikasi terlantar secara tertib dalam basis data untuk keperluan pelaporan bahan analsisi dan penentuan tindakan selanjutnya. dan tanah Negara. Pemegang hak berkewajiban melaporkan penggunaan dan pemanfaatan tanah sesuai dengan keputusan pemberian hak atas tanah atau dasar penguasaan atas tanah dari pejabat yang berwenang. atau para pemegang hak. dikarenakan tanah dihalang-halangi oleh pihak lain atau tanah masih dalam sengketa/perkara baik yang belum atau yang sudah diajukan melalui gugatan di Pengadilan. menggunakan dan memanfaatkan tanah akan tetapi dengan sengaja tidak mempergunakan tanah sesuai dengan keadaan atau sifat dan tujuan pemberian haknya. 4) Tanah Hak Guna Bangunan (HGB) yang pemegang haknya berupa Badan Hukum (Perseroan Terbatas).3) Tanah Hak Guna Bangunan (HGB) yang pemegang haknya perorangan dan mempunyai kemampuan dari segi ekonomi untuk mengusahakan. tanah yang secara tidak sengaja tidak diusahakan. menggunakan dan memanfaatkan tanah akan tetapi dengan sengaja tidak mempergunakan tanah sesuai dengan keadaan atau sifat dan tujuan pemberian haknya. serta luas tanah yang terindikasi terlantar) dan data spasial (data grafis berupa peta yang dilengkapi dengan koordinat posisi bidang tanah yang terindikasi terlantar). masih harus diperjelas/dipertegas. 8 . letak tanah.

Kepala Kantor Wilayah menyusun dan menetapkan target yang akan dilakukan identifikasi dan penelitian terhadap tanah yang terindikasi terlantar. keputusan/surat dasar penguasaan atas tanah dari pejabat yang berwenang terhitung sejak berakhirnya dasar penguasaan tersebut. 4) Melaksanakan pemeriksaan fisik berupa letak batas. dan tahapan penggunaan dan pemanfaatan tanah pada saat permohonan hak atas tanah diajukan oleh pemohon. Setelah diperoleh data hasil identifikasi. Identifikasi dan Penelitian Tanah Yang Terindikasi Terlantar Tanah yang terindikasi terlantar berdasarkan hasil inventarisasi dan telah ditetapkan sebagai target. HGU. meliputi: 1) Verifikasi data fisik dan data yuridis (jenis hak dan letak tanah). Penetapan taget didasarkan pada pertimbangan lamanya tanah tersebut diterlantarkan dan/atau luas tanah yang terindikasi terlantar. 3) Meminta keterangan dari pemegang hak atas tanah atau pihak lain yang terkait. kesesuaian dengan hak yang diberikan. 2) Pengecekan buku tanah dan/atau warkah dan dokumen lainnya untuk mengetahui keberadaan pembebanan. openggunaan dan pemanfaatan tanah dengan menggunakan teknologi yang ada. dan kesesuaian dengan tata ruang. Penyiapan data tanah yang terindikasi terlantar dengan melakukan penelitian administrasi dan penelitian lapang fisik tanah. 6) Membuat analisis penyebab terjadinya tanah terlantar. dilakukan identifikasi dari aspek administrasi dan dilakukan penelitian lapang (fisik tanah) oleh Panitia C yang dibentuk dan ditetapkan oleh Kepala Kantor Wilayah BPn Provinsi Identifikasi dan penelitian aspek administrasi serta penelitian lapang dilakukan terhadap tanah: 1) HM. 2) Tanah yang telah diperoleh dasar penguasaaannya (izin. Data dan informasi yang diperlukan dari tanah yang terindikasi terlantar. HGB. 5) Melaksanakan ploting letak penggunaan dan pemanfaatan tanah pada peta pertanahan berdasartkan hasil pemeriksaan fisik. f. 7) Menyusun laporan hasil identifikasi dan penelitian. antara lain menyangkut permasalahan-permasalahan penyebab terjadinya tanah terlantar. Hak Pakai terhitung mulai 3 (tiga) tahun sejak diterbitkan sertipikat hak atas tanahnya. rencana. apabila pemegang hak atas tanah/kuasanya/wakilnya tidak memberikan data dan informasi atau tidak ditempat atau tidak dapat dihubungi.e. adalah suatu kepanitiaan yang dibentuk oleh Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi dengan susunan keanggotaan sebagai berikut: 9 . maka identifikasi dan penelitian tetap dilaksanakan dengan cara lain untuk memperoleh data. Pembentukan dan Susunan Panitia C Panitia C. termasuk data.

3) Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota. 3) Meminta keterangan ddari pemegang hak atas tanah atau pihak lain yang terkait. dan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota sebagai Anggota. 2) Mengecek buku tanah dan/atau warkah tanah dan dokumen lainnya untuk mengetahui keberadaan pembebabanan. 5) Ploting letak penggunaan dan pemanfaatan tanah pada peta pertanahan. Tugas dan fungsi Panitia C adalah: 1) Melakukan verifikasi data fisik dan data yuridis. menggunakan tanahnya sesuai keadaannya atau menurut sifat dan tujuan pemberian haknya atau sesuai izin/keputusan/surat sebagai dasar penguasaannya.1) Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi sebagai Ketua. maka Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi memberitahukan dan sekaligus memberikan Peringatan Tertulis I kepada Pemegang Hak. Dinas/Instasni Kabupaten/Kota yang berkaitan dengan peruntukan tanah. sita jaminan dan lain sebagainya. 2) Kepala Bidang Pengendalian Pertanahan Dan Pemberdayaan Tanah sebagai Sekretaris. Dinas/Instansi Provinsi yang berkaitan dengan peruntukan tanah. dan kemudian diputuskan dalam Sidang Panitia C terdapat tanah terlantar yang kemudian dituangkan dalam Berita Acara Sidang Panitia C. dan pemegang hak atau pihak lain harus member keterangan atau menyampaikan data yang diperlukan. Tahapan Peringatan Pertama Jangka Waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal Keterangan 1) Dalam Surat peringatan disbutkan hal-hal secara kongkret yang harus dilakukan oleh Pemegang HAT dan 10 . 8) Melaksanakan sidang Panitia C untuk membahas dan memberikan saran pertimbangan kepada Kakanwil BPN Provinsi dalam rangka mengambil tindakan penertiban tanah terlantar. Secara garis besar tahapan peringatan tertulis kepada Pemegang Hak Atas Tanah dilakukan sebagai berikut: No 1. agar dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkannya Surat Peringatan. 9) Membuat dan menandatangani Beria Acara Sidang Panitia g. Peringatan dan Pemberitahuan Kepada pemegang Hak Atas Tanah Terhadap tanah yang terindikasi terlantar setelah dilakukan identifikasi dan penelitian oleh Panitia C. . termasuk data. rencana dan tahapan penggunaan dan pemanfaatan tanah saat dijaukan permohonan hak atas tanahnya. 7) Menyusun hasil laporan identifikasi dan penelitian. 6) Membuat analisis penyebab terjadinya tanah terlantar. 4) Pemeriksaan fisik dengan menggunakan teknologi yang ada.

2) Berdasarkan evaluasi data terhadap Surat Peringatan I. 2) Apabila Pemegang Hak Atas Tanah tetap tidak melaksanakan substansi (isi) Peringatan Ke-III. maka Kakanwil BPN Provinsi mengusulkan kepada Kepala BPN RI untuk ditetapkan tanah tersebut sebagai tanah terlantar.penerbitan Surat Peringatan I sanksi yang dapat dijatuhkan apabila pemegang HAT tidak mengindahkan atau melaksanakan Peringatan ybs. yaitu ditetapkannya tanah yang bersangkutan sebagai tanah terlantar. maka surat periingatan diberitahukan juga kepada Pemegang Hak Tanggungan 3) Pemegang HAT wajib menyampaikan laporan kemajuan penggunaan. Peringatan Kedua 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Surat Peringatan II 1) Kakanwil BPN Provinsi melakukan pemantauan terhadap laporan kemajuan penggunaan dan pemanfaatan tanah dari Pemegang HAT. 2) Dalam hal tanah yang digunakan tidak sesuai dengan sifat dan tujuan pemberian haknya. pada Peringatan Ke-II disebutkan kembali mengenai tindakan konkret dan sanksi yg dapat dijatuhkan kepada Pemegang HAT yg tidak mengindahkan/melaksanakan isi Surat Peringatan 3. pemegang HAT harus mengajukan permohonan perubahan hak atas tanah kepada Kepala Kantor Pertanahan setempat sesuai peraturan yang berlaku. Peringatan Ketiga 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Surat Peringatan III 1) Berdasarkan Peringatan I. 3) Tanah yang diusulkan untuk ditetapkan sebagai tanah terlantar. Surat Peringatan Kakanwil BPN Provinsi Ke III yang tidak diindahkan atau tidak dilaksanakan oleh Pemegang HAT. Konsekuensi hukumnya. antara lain: 1) Mengusahakan. tukar menukar. Sedangkan sanksi yang dapat dijatuhkan. 2. pemanfaatan tanah setiap 2 (dua) minggu kepada Kakanwil BPN dengan tembusan Kepala Kantor Pertanahan Kab/Kota setempat. II dan III Kakanwil BPN Provinsi melaporkan kepada Kepala BPN RI. dan tanahnya ditegaskan dikuasai langsung oleh Negara. 2) Dalam hal tanah yang di terbitkan Surat Peringatan dibebani dengan Hak Tanggungan. menggunakan dan memanfaatkan tanahnya sesuai dengan izin/keputusan/surat dari pejabat yang berwenang. putus hubungan hukum. Tindakan konkret yang wajib dilakukan oleh pemegang hak atas tanah. yang sekaligus hapus haknya. dinyatakan dalam keadaan status quo sejak tanggal pengusulan sampai diterbitkannya SK penetapan Tanah Terlantar. kemudian oleh Kakanwil BPN Provinsi diusulkan 11 . menggunakan dan memanfaatkan tanah sesuai keadaan dan sifat serta tujuan pemberian haknya. dsbnya). 3) Mengajukan permohonan hak untuk dasar penguasaan atas tanah mengusahakan. maka terhadap tanah yang bersangkutan tidak dapat dilakukan perbuatan hukum (jual beli.

kepada Kepala BPN RI. dan selanjutnya klepada bekas pemegang HAT diberikan kembali sebagian tanah yang benar-benar diusahakan/dimanfaatkan atau dipergunakan sesuai keputusdan pemberian haknya. SK Diberlakukan hanya terhadap tanah yang diterlantarkan dan selanjutnya Pemegang HAT mengajukan permohonan revisi luas bidang tanah hak tersebut dan biaya revisi menjadi beban Pemegang HAT. 12 . b) masih ada tanah yang belum diusahakan sesuai SK atau dasar penguasaannnya. Kepala Kantor Pertanahan Kab/Kota setempat wajib mencoret sertipikat hak atas tanah dan/atau sertipikat HT dari Daftar Umum dan Daftar Isian lainnya dalam Tata Usaha Pendaftaran Tanah. h. yaitu: No Persentase dari Luas Riil Tanah yang diterlantarkan (%) SK Penetapan Tanah Terlantar Keterangan 1. 4. atau Bekas Pemegang HAT. d) tidak ada tindak lanjut penyelesaian pembangunan. dan bekas pemegang dasar penguasaan mengajukan permohonan hak atas tanah sesuai dengan peraturan perundang-undangan atas bidang tanah yang benar-benar diusahakan. 100 % 2. Apabila memenuhi kriteria sebagai berikut: a) tidak menggunakan dan menafaatkan tanahnya sesuai dengan sifat dan tujuan pemberian haknya. ≤ 25 % SK Penetapan Tanah Terlantar yang telah diberikan dasar penguasaan (Izin/Keputusan/Surat dari pejabat yang berwenang). Penetapan Tanah Terlantar Oleh Kepala BPN RI Penetapan tanah ditetapkan sebagai tanah terlantar berdasarkan pertimbangan persentase (%) dari luas tanah yang secara riil diterlantarkan. SK Kepala BPN RI tentang Penetapan Tanah Sebagai Tanah Terlantar disampaikan kepada Pemgang HAT. < 25 % ≤ 100 % SK diberlakukan terhadap seluruh hamparan tanah yang diterlantarkan SK diberlakukan terhadap seluruh hamparan tanah yang diterlantarkan. 3. Kepala Kantor Pertanahan serta Instansi terkait. atau f) belum mengajukan permohonan hak atas tanah apabila dasar penguasaan tanah masih berdasarkan Izin/Keputusan/Surat dari pejabat yang berwenang. e) penggunaan tanah tidak sesuai dengan SK atau dasar penguasaan tanah. Kakanwil BPN Provinsi. untuk ditetapkan sebagai tanah terlantar. dengan tembusan kepada Gubernur. serta mengumumkan di Surat Kabar 1 (satu) kali dalam waktu sebulan setelah dikeluarkannya SK Kepala BPN yang menyatakan bahwa sertipikat tersebut tidak berlaku. dipergunakan atau dimanfaatkan sesuai Izin/Keputusan/surat yang telah ditetapkan oleh Pejabat yang berwenang. 5. c) masih ada tanah yang penggunannya tidak sesuai dengan SK atau dasar penguasaannya. 6. dan Pemegang HT apabila tanah ybs dibebani dengan HT. Bupati/Walikota. melalui prosedur permohonan HAT atas beban biaya pemohon.

sebagaimana telah diuraikan di muka. menata kehidupan masyarakat yang lebih baik berkeadilan (equity). kebangsaan dan kenegaraan Indonesia dan penggunaan/pemanfaatan tanah dan factor-faktor produksi lainya secara optimal (efficiency). Sedangkan penataan asset dan penataan akses (Acces Reform)22 masyarakat terhadap tanah Negara bekas tanah terlantar dilakukan melalui distribusi dan redistribusi tanah Negara. penggunaan dan pemanfaatan sumberdaya agrarian. (Joyo Winoto. bahwa Pemerintah Kabupaten/Kota secara hukum telah dan sedang mengemban amanah untuk menyelenggarakan kewenangan di bidang pertanahan.Tanah yang telah ditetapkan sebagai tanah terlantar. (2007). Pemberdayaan Tanah Negara Bekas Tanah Terlantar Terhadap tanah Negara bekastanah terlantar. (Psl 13 ayat (2) PP No. penyelesaian sengketa tanah (harmony) kemasyarakatan. Opcit. pemilikan. maka benda-benda di atasnya tidak lagi menjadi miliknya dan dikuasai langsung oleh Negara. meningkatkan keberlanjutan (sustainability) sistem kemasyarakatan. Ada delapan kewenangan di bidang pertanahan yang didesentralisasikan dan satu kewenangan yang ditugas 21 Reforma Agraria merupakan suatu proses yang berkesinambungan berkenaan dengan penataan kembali penguasaan. didayagunakan untuk kepentingan masyarakat dan Negara melalui Reforma Agraria21 dan Program Strategis Negara serta untuk Cadangan Negara lainnya. (Sarjita. distribusi dan pemasaran hasil serta dukungan lainya.: 8). RA ini bertujuan untuk menciptakan sumber-sumber kesejahteraan masyarakat yang berbasis agrarian (walfare). dukungan permodalan. dalam waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak ditetapkannya SK Penetapan sebagai tanah terlantar.) 22 Antara lain dilakukan melalui penyediaan infrastruktur dan sarana produksi. (Pasal 13 ayat (1) PP No. Jakarta. pembinaan dan bimbingan teknis kepada penerima manfaat. Beberapa Permasalahan Yang Timbul Dan Peran Pemda Kabupaten/Kota Dalam Pelaksanaan P2T2 Sesuai kewenangan yang dipunyai oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Bidang Pertanahan sebagaimana di tetapkan dalam PP Nomor 38 Tahun 2007. dilaksanakan dalam rangka tercapainya kepastian perlindungan hukum serta keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. Badan Pertanahan Nasional RI. Reforma Agraria Mandat Politik Konstitusi Dan Hukum Dalam Rangka Mewujudkan Tanah Untuk Keadilan Dan Kesejahteraan Rakyat. 13 . 11 Tahun 2010 i. Jika bekas Pemegang HAT tidak memenuhi kewajiban sebagaimana tersebut pada angka 6 di atas. 11 Tahun 2010 7. wajib dikosongkan oleh bekas Pemegang HAT atas benda-benda di atasnya dengan beban biaya yang bersangkutan.

jika salah satu pihak tidak memenuhi isi perjanjian. Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum. tetapi oleh PP tersebut tidak dijadikan sebagai objek identifikasi tanah terlantar. khususnya yang bukan tugas perbantuan (medebewind) secara hukum berdasarkan PP Nomor 38 tahun 2007 telah menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota. Dengan demikian. masih ada beberapa kewenangan yang belum dapat dilaksanakan/tertangani secara baik dan utuh. Hasil pelaksanaan inventarisasi dan identifikasi tersebut. 2) Penetapan bidang-bidang tanah sebagai tanah kosong yang dapat digunakan untuk tanaman pangan semusim bersama dengan pihak lain berdasarkan perjanjian (sewa menyewa. Karena Data informasi tanah yang terindikasi terlantar dapat berasal dari laporan dari Dinas/Kantor Pemerintah Daerah. Adapun substansi pengaturanya dituangkan dalam bentuk Peraturan Bupati tentang Kebijakan Pemanfaatan dan Penyelesaian Tanah Kosong. Tanah Asset Pemerintah yang dikarenakan keterbatasan anggaran tidak sengaja dan tidak diusahakan. tanah Negara. serta Tanah HM atau HGB atas nama perseorangan yang secara tidak sengaja tidak dipergunakan sesuai dengan keadaan atau sifat dan tujuan pemberian haknya sehingga tidak dijadikan/dikecualikan sebagai objek identifikasi tanah terlantar. pada akhirnya dapat dijadikan embrio atau cikal bakal basis data tanah di wilayah Kabupaten yang besar kemungkinan termasuk indikasi tanah terlantar. dari implementasi PP Nomor 11 Tahun 2010 muncul beberapa permasalahan. Dituangkan dalam bentuk kegiatan: 1) inventarisasi dan identifikasi tanah kosong untuk pemanfaatan tanaman pangan semusim. antara lain: a. Masih terdapat beberapa objek dari tanah yang terindikasi terlantar.perbantuan (medebewind). Melihat peluang yang ada. 4) Melakukasn fasilitasi perjanjian kerjasama antara Pemegang Hak Atas tanah dengan Pihak yang akan memanfaatkan tanah kosong tersebut dihadapan dan diketahui Kepala Desa/Lurah dan dikuatkan oleh Camat setempat. 5) serta Penanganan masalah yang timbul dalam pemanfaatan tanah kosong. 3) Penetapan pihak-pihak yang memerlukan tanah untuk tanaman pangan semusim dengan menguatamakan masyarakat setempat. namun dalam perkembangannya belum semua Pemerintah Kabupaten/Kota telah melaksanakan kewenangan tersebut. Pemerintah Daerah yang dalam hal ini adalah Dinas Pengendalian Pertanahan Daerah (DPPD) dapat segera menangkap peluang tersebut untuk dijadikan sebagai objek dari kewenangan Pemda Kabupaten di Bidang Pertanahan khususnya berkaitan dengan Pemanfaatan dan Penyelesaian Masalah Tanah Kosong. Tentunya luas ruang lingkup/cakupannya disamping tanah-tanah yang menjadi objek penertiban tanah terlantar. Terhadap persoalan tersebut. bagi hasil. 14 . Sebagai contoh. Sebagai contoh. terhadap status tanah yang merupakan asset Pemerintah Desa yang berupa Tanah Kas Desa (TKD). baru dapat menyelenggarakan kewenangan Izin Lokasi. Namun secara kelembagaan/institusi sudah menunjukan suatu keberhasilan/kemajuan yang semula dari Perangkat Organisasi yang berbentuk Badan Pengendalian Pertanahan Daerah (BPPD) sekarang telah meningkat menjadi Dinas Pengendalian Pertanahan Daerah (DPPD). termasuk juga tanah-tanah asset Pemda yang diperoleh atau berasal dari Fasum/Fasos Pengembang Perumahan yang telah diserahkan kepada Pemda sebagaimana diatur dengan Permedagri Nomor 9 Tahun 2009. dipergunakan dan dimanfaatkan sesuai sifat dan tujuan pemberian haknya. pada Pemerintah Kabupaten Sleman dengan Struktur Organisasi Dinas Pengendalian Pertanahan Daerah yang dibentuk berdasarkan Perda Kabupaten Sleman Nomor 9 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah Pemerintah Kabupaten Sleman tertanggal 4 Agustus 2009. dan Perencanaan Penggunaan Tanah Wilayah Kabupaten/Kota. Kewenagan tersebut di atas. kontrak dan/atau kerjasama operasional).

Dengan demikian perlu segera dikeluarkan kebijakan dari Kepala BPN agar penertiban tanah terlantar dapat segera diselenggarakan. Ayat (4) menyatakan jika bekas pemegang Hak Guna Bangunan lalai dalam memenuhi kewajiban (membongkar bangunan dan benda-benda yang ada di atasnya dan menyerahkannya kepada Negara dalam keadaan kosong selambat-lambatnya dalam waktu satu tahun sejak hapusnya HGB). dipergunakan. dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak ditetapkannya keputusan penetapan tanah terlantar. bukan merupakan perbuatan hukum melainkan karena peristiwa hukum (pewarisan). Pengaturan substansi kedua regulasi antara PP Nomor 11 Tahun 2010 dengan PP Nomor 40 Tahun 1996 tersebut menjadi kontra produktif. maka kepada bekas pemegang hak diberikan ganti rugi yang bentuk dan jumlahnya diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden. Selanjutnya dalam Pasal 13 ayat (1): Tanah yang ditetapkan sebagai tanah terlantar. kerjasama pemanfaatan. Selama tanah yang terindikasi terlantar diusulkan oleh Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi kepada Kepala BPN. pinjam pakai. Masalah hak keperdataan dari bekas pemegang hak atas tanah yang tanahnya ditetapkan sebagai tanah terlantar. Pasal 9 ayat (2) PP Nomor 11 Tahun 2010 menyebutkan bahwa Dalam hal tanah yang akan ditetapkan sebagai tanah terlantar merupakan tanah hak (HM. Hal tersebut dapat dilakukan mengingat asset Pemerintah/Pemerintah Daerah tersebut. Keberadaan Panitia C yang tugas dan fungsinya melakukan identifikasi dan penelitian lapang (fisik Tanah) yang terindikasi terlantar. Pemerintah Daerah melalui DPPD dapat melakukan fasilitasi dan pemberian saran serta masukan kepada Pengelola Asset Barang Milik Daerah untuk diberdayakan sesuai mekanisme dalam PP Nomor 6 Tahun 2006 Jo. HG. dan Tim Peneliti Tanah untuk dapat bekerja secara maksimal harus didukung oleh tersedianya dana untuk operasional. Bagaimana jika hal tersebut. Upaya fasilitasi oleh DPPD tersebut dapat diberlakukan terhadap pula terhadap tanah-tanah milik Pemerintah dan Pemerintah Desa yang ada di wilayah Kabupaten Sleman c. 15 . Hak Pakai) penetapan tanah terlantar memuat juga penetapan haspusnya hak atas tanah. yang menyatakan bahwa Dalam hal bangunan dan benda-benda masih diperlukan. tentunya tidak digunakan untuk pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya. sekaligus memutuskan hubungan hukum serta ditegaskan sebagai tanah yang dikuasai langsung oleh Negara. yaitu melalui pola pemanfaatan yang berupa sewa. dan bangun guna serah dan bangun serah guna. maka status tanah tidak dapat dilakukan perbuatan hukum alias status quo. dimanfaatkan karena keterbatasan anggaran yang tersedia pada APBN/APBD yang bersangkutan. Terhadap tanah asset Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang tidak dengan sengaja. tidak diusahakan. Mengingat bahwa hak atas tanah dapat beralih dan dialihkan. Dengan demikian. e. d. PP Nomor 38 Tahun 2008.. sebagaimana Kepanitian yang lain di bidang Pertanahan.b. wajib dikosongkan oleh bekas Pemegang Hak Atas Benda-benda di atasnya dengan beban biaya yang bersangkutan. dalam PP Nomor 13 Tahun 2010 tentang Jenis dan Tarif PNBP Yang Berlaku Pada BPN ternyata belum mengakomodasi kebutuhan Panitia C. maka bangunan dan benda-benda yang ada di atasnya bekas HGB itu dibongkar oleh Pemerintah tas biaya bekas pemegang HGB. besar kemungkinan sampai terjadi tanah asset Pemerintah Daerah menjadi tanah yang terindikasi terlantar sangat kecil. Tentunya dana operasional Panitia C. seperti Panitia Pemeriksaan Tanah A dan Panitia Pemeriksaan Tanah B. Kemudian jika dikaitkan dengan ketentuan Pasal 37 ayat (2) serta ayat (4) PP Nomor 40 tahun 1996. Perbuatan hukum termasuk pada peralihan hak karena dialihkan ada kesengajaan dari Pemegang haknya. Sehubungan hal tersebut. tidak mungkin dikenakan/dibebankan pada Pemegang Hak Atas Tanah. Petugas Konstatasi.

itian tidak dilakukan berdasarkan AAUPB atau tahapannya besar kemungkinan bertentangan atau tidak sejalan dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. (1985). Reforma Agraria Mandat Politik Konstitusi Dan Hukum Dalam Rangka Mewujudkan Tanah Untuk Keadilan Dan Kesejahteraan Rakyat. Gadjah Mada University Press Joyo Winoto. Peran Pemerintah Daerah dengan kewenangan yang dimiliki olehnya di bidang pertanahan. (2006). Pemerintahan Daerah Provinsi Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Jakarta. Program Redistribusi Tanah Di Indonesia Suatu Sarana Ke Arah Pemecahan Masalah Penguasaan Tanah Dan Pemilikan Tanah. Rajawali Endang Suhendar dan Ifdal Kasim. Dalam penetapan tanah sebagai tanah terlantar oleh Kepala BPN-RI yang dituangkan dalam bentuk SK Penetapan merupakan salah satu bentuk produk hukum dari Keputusan Tata Usaha Negara yang dapat menjadi Objek Gugatan di PTUN. Dengan demikian efektifitas (keberlakuan) Substansi PP Nomor 11 Tahun 2010 akan diuji oleh Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara sengketa TUN. rawan terjadinya gugatan produk hukum berupa SK Penetapan sebagai Tanah Terlantar di Pengadilan Tata Usaha Negara. Penutup Dari beberapa uraian di atas. kriteria tanah diindikasikan sebagai tanah terlantar yang disebabkan karena tanah dalam sengketa/perkara. (1996). Jakarta. Jika dalam pelaksanaan identifikasi dan penel. Proses Terjadinya UUPA. Bogor. antara lain objeknya yang masih sangat terbatas. belum menampung peralihan hak dikarenakan peristiwa hukum. (2007). Regulasi substansi penertiban Tanah terlantar masih terdapat beberapa persoalan. (2007). (1980). Fokus Media Arie Sukanti Hutagalung . serta pengaturan biaya operasional Panitia C yang belum diatur dalam PP Nomor 13 Tahun 2010. dapat disimpulkan. CV. Jakarta. Bandung. Kajian Kritis Atas Kebijakan Pertanahan Orba. Brighten Press Joyo Winoto. Daftar Pustaka Anonim. Pertanahan Dan Keagrariaan Nasional (Sambutan Kepala BPN RI pada Hari Agraria Nasional 2006 (24 September 2006). dapat dioptimalkan untuk bersinergi dalam pelaksanaan penertiban tanah terlantar dengan cara melakukan inventarisasi dan identifikasi pemanfaatan tanah kosong yang dapat digunakan sebagai basis data awal pendataan tanah terlantar di wilayah Kabupaten/Kota. bahwa secara politis pertimbangan dikeluarkannya PP Nomor 10 Tahun2010 difokuskan untuk menunjang keberhasilan Reforma Agraria. Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. maka akan rawan terjadinya Gugatan di PTUN. masalah hak keperdataan bekas pemegang hak atas tanah. Tanah Sebagai Komoditas.f. ELSAM Iman Sutiknjo. Badan Pertanahan Nasional RI 16 . Yogyakarta. dimana tanah terlantar nmerupakan salah satu objeknya.

Global Visindo Consultant -----------------. Yogyakarta. (2006). PT. (2002). Runtuhnya Teori Pembangunan Dan Globalisasi. (2008). Yogyakarta. Mahfud MD (1998). 24 Tahun 2002). Sumardjono. Jakarta. INSIST PRESS Maria S. Tanah Terlantar Asas dan Pembaharuan Konsep Menuju Penertiban. Paradgma Sosiologis Dan Implikasinya Terhadap Pengembangan Ilmu Hukum Dan Penegakan Hukum (Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Bidang Sosiologi hukum FH Universitas Diponegoro. CV. 18 Pebruari 2006): 17 . 11 November 2008). Jakarta. Pelaksanaan Urusan Pertanahan Dalam Era otonomi Daerah. 4 Mei 2009 (Tidak dipublikasikan). Kep. Majalah Ilmiah Widya Bhumi September Tahun 2007 Suhariningsih. Fungsi Sosial Hak Atas Tanah. Sudjito. Tantangam RA Di Kawasan Timur Indonesia (Makalah disampaikan pada Seminar Lingkar Belajar RA (LIBRA) Kerjasama STPN-Fakultas Ekonomi Universitas Satya Wacana Salatiga.W. Yogyakarta. Jakarta. Kompas: M. Ka. Pustaka LP3ES: Sarjita. (2009). (2009).Mansour Fakih. Politik Hukum Di Indonesia. (2001). Semarang. BPN No. (Tidak dipublikasikan). Penyelesaian Sengketa Pertanahan Dalam Era Otda (Disampaikan pada Workshop Penguatan SDM Pemkab Sleman. . (2005). Kebijakan Pertanahan Antara Regulasi Dan Implementasi. Tugujogja Pustaka -----------------.. ----------------. Prestasi Pustaka. Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar (PP Nomor 36 Tahun 1998 Jo. (2001). Yusriyadi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->