Perempuan Kampung Karampuang ( Juara 1

)
Desember 19th, 2008 by Emil Akbar Malam ini purnama sedang penuh. Bulan benderang begitu bundar. Bercahaya menyinari seperti lindungan ibu dalam dekapan yang menjelma dewi malam dan aku memperoleh restu di wajahnya yang bulat. Membuat langit hitam tak begitu gelap. Dalam rindang hutan pekat melarut lewat hembusan angin yang dingin. Bukan gulita sebab mataku masih bisa melihat. Hanya lindap dan kudapati kunang-kunang berkerlip, mengganti bintang yang tiada. Aku menantimu di batas Dusun Karampuang. Kau belum juga muncul padahal aku sudah lama menunggu di sini. Aku takut dan cemas. Itu sebabnya mataku terpaku pada ujung aspal yang menghilang seperti ingin menerobos malam yang teduh, mencari bayanganmu yang berkelebat, dan sesekali aku menengok ke belakang membaca situasi. Rustam, tahukah kau? Di dalam sana, sunyi bukan berarti tidak ada bunyi walau tadi mereka sembunyi karena aku tak peduli. Bunyi hewan malam, nyanyian serangga, suara berdesis-desis yang bukan ular, kicau kao-kao yang mengerikan di rimbun daun di dalam hutan yang senyap, berbondong-bondong mengerubungi telingaku. Berdenting serupa dawai, mengalun dan merambati udara, dan bakal meninggalkan luka di hatiku bila kau tidak jadi menjemputku malam ini. Maka hadirlah di ujung jalan itu seperti dilahirkan oleh kabut yang merayap. Jangan sampai aku menjadi batu di sini karena gigil atau habis karena dimakan angin dan kau harus tahu jiwaku mulai beku meski sebenarnya kepalaku ingin meledak karena bosan. Aku tidak mungkin kembali setelah ingkar. ”Sepertinya lelaki itu tidak akan datang.” Seseorang memegang bahuku dari belakang. Aku tersentak kaget dan terlonjak bangkit dari tugu batu yang kududuki. Aku gemetar gugup mengetahui siapa yang menegur. ”La Gole! Sedang apa kau di sini? Kau mengikutiku?” Sontak aku menjauhinya. ”Jubaedah, pulanglah sebelum terlambat. Masih ada kesempatan dan aku akan membantumu,” ujarnya sembari duduk di tugu batu yang kutinggalkan. Dalam gelap aku tahu ia menatapku tajam, seruncing jarum yang pernah menusuk tanganku. Batinku tertohok mengingat ia adalah mata-mata Puang Gella, pemangku yang sering menghukum bila ada orang yang melanggar di kawasan dusun, meski ia temanku sejak kecil dan beberapa waktu silam aku menyimpan hati untuknya. Namun ia menunjukkan sikap yang tidak kusuka. Ia bukan lelaki tangguh, pengecut yang tidak berani mengajakku kawin lari. ”Benar kau akan menolongku?” tanyaku pura-pura ragu. ”Kau tidak percaya padaku?” La Gole menghampiriku begitu dekat hingga bisa kuhirup bau badannya yang belum disentuh sungai. Aroma napasnya purba. ”Baiklah kalau begitu. Ijinkan aku menunggu Rustam sebentar lagi,” pintaku. Lalu kedua kakiku tak mau diam karena gelisah. ”Jika dia tidak muncul?” ”Kau boleh membawaku pulang!” jawabku sedikit kesal. ”Sepakat.” Agak lama kami saling diam seolah jiwa kami raib meninggalkan raga yang kikuk, menguak hutan dengan lesat untuk menemukanmu dengan tujuan yang berbeda. Kuperhatikan La Gole sedang duduk bersila sambil mempermainkan parang bersarung yang biasanya terlilit di pinggangnya. Tidak kutahu apa maksudnya, tapi membuatku bergidik membayangkan kulitmu robek dan menumpahkan darah jika badik itu keluar dari sarangnya. Kau pasti akan kalah sebab La Gole bekerja dengan otot sedangkan kau lebih suka berpikir. ”Apa yang kalian lakukan jika sudah bertemu? Apakah kau akan lari dengannya?” La Gole mengajukan tanya yang menyelidik, memecah hening. Posisi duduknya sudah berubah, satu kakinya berdiri dengan lutut menekuk. ”Tidak melakukan apa-apa. Aku hanya mau mengatakan sesuatu?” balasku berbohong sebab ia sudah curiga.

”Apa itu?” ”Kau tidak perlu tahu. Kenapa kau bertanya-tanya?” ”Ingin tahu saja. Bagaimanakah perasaanmu padanya?” ”Itu bukan urusanmu!” teriakku nyaris menuding, membuatnya bungkam. Aku berbalik arah membelakanginya menahan amarah, antara jengkel dan putus asa. Kusandarkan kepalaku pada pohon yang tak bisa kurangkul. Aku mencabut-cabuti kulit keringnya yang berlumut dan memang sudah terkelupas, membuang geram. Mataku terasa panas bagai diperciki biji lombok. Pedih memerih. Sekarang aku tidak ingin kau datang sebab itu akan mengantarkan nyawamu. Namun aku juga butuh kau datang membawaku pergi dari sini, jangan biarkan aku berkalung rantai. Aku tidak mau menjadi perawan tua! Bagaimana ini? Aku galau. Tetapi tunggu. Mataku yang melirik menangkap bayangan sekilas, bersijingkat dan menunduk mirip gerak-gerik babi hutan, berpindah dengan cepat ke semak-semak. Apakah itu kau? Tidak sebentar aku terpana, dadaku berdesir dengan degupnya. Aku merasakan firasat tak baik. Aku mesti bersiasat. ”Aku menyerah. Seperti katamu, Rustam tidak datang. Mari pulang.” Sebisa mungkin kukulum senyum ini dan menampakkan muka murung agar tidak ketahuan, supaya kau dapat mengikutiku dari jarak jauh. Aku akan mengecohkan perhatiannya. ”Aku masih setia menemanimu menunggu jika kau mau?” Aku tahu ia mengejekku. ”Tidak usah! Barangkali dia pecundang yang lebih darimu.” ”Bagus kalau kau sadar. Orang kota memang tidak bisa dipegang janjinya!” timpalnya tak mau kalah. Aku tidak lagi menyahut dan berjalan lebih dulu. Rustam, susul aku di puncak bukit! *** Jubaedah, kau adalah gadis sunyi. Semerbak harum bunga desa, wangi menebarkan angan di setiap kepala jantan muda sepertiku. Aku menemukanmu bagai mutiara diantara ribuan kerikil bebatuan yang terserak di tepi kali. Namun ada yang hilang di wajahmu yang bulat langsat. Laksana embun pagi yang tak ada lagi, saat matahari tak bisa lagi disebut mentari. Aku seperti pangeran yang menemukan bidadari. Di batas Dusun Karampuang jalanan beraspal terputus seperti lorong buntu. Terdapat daun kelapa yang diikat merintang di atas jalan. Mobil dinas kuparkir di luar kawasan adat karena dilarang masuk. Lagi pula hanya ada jalan setapak yang sempit. Tanahnya berdebu di musim kemarau dan licin berlumpur di musim penghujan. Banyak bebatuan. Di hari-hari biasa dusun ini begitu sepi bak kampung yang bisu. Awal bulan November aku kembali. Aku sudah menjadi pegawai negeri di kabupaten. Setahun yang lalu aku datang di kampung ini untuk menyusun skripsiku mengenai adat Karampuang. Setelah lulus kuliah tak mampu kutahan hasrat hatiku, ingin kembali menggapaimu. Masihkah kau menjadi perawan suci yang tidak boleh dijamah? Kutinggalkan semua yang berbau teknologi dan barang yang terkesan mewah di mobil sebelum memasuki kawasan adat yang dikeramatkan ini, lantaran pamali. Menurut keyakinan orang sini, segala yang datang dari luar lebih banyak merusak dan akan mengubah tatanan tradisi yang mereka jaga selama berabad-abad, turun temurun. Itu sebabnya aliran listrik tidak bisa masuk karena kaum adat menolak. Sungguh dilema, mengingat aku memegang proyek dari Pemda untuk menjadikan Karampuang tempat wisata, yang mungkin bakal melunturkan kebiasaan dan kepercayaan penduduk di dusun ini meski dengan maksud memberdayakan masyarakat. Aku masih terkenang ketika pertama kali datang di kampung ini. Aku disambut dengan ramah. Tidak kurang isi baki sudah ditambah, belum setengah isi gelas sudah diimbuh. Aku yang mengetuk pintu bukanlah orang lain, malah dianggap keluarga sendiri. Sebab mereka memandang tamu itu membawa rezeki. Saat itu aku menumpang tidur di rumah ayahmu di luar kawasan adat, di dusun tetangga. Lantaran aku butuh listrik buat menyalakan laptopku, menulis hasil riset yang kudapat. Pernah aku menginap di rumah seorang warga. Alat penerangnya berupa lampu minyak yang mereka sebut sulo. Semalam suntuk aku menulis di lembar kertas. Pulang pagi-pagi. Kau berada di depan pintu. Tergelak tawamu melihatku. Suaramu renyah.

”Ada yang lucu?” Kau tidak menjawab tapi memberikan isyarat. Kau pegang hidungmu yang mungil dan bangir. Aku mengikuti. Astaga, cuping hidungku dipenuhi asap hitam. Aku lekas pergi ke belakang membasuh muka. Seminggu dalam sebulan, kita bertemu. Kau melepas masa haidmu di rumah. Parasmu demikian sendu seperti tidak terima seperti terpaksa, saat kau mengatakan sedang menuntut ilmu untuk kelak menjadi seorang sanro di rumah adat Karampuang. Rumah panggung yang merupakan simbol sosok perempuan. Dari jauh kediaman yang sakral itu memang tampak anggun. Atapnya dari anyaman daun nyiur berbentuk segitiga sama kaki. Tangganya terletak di tengah di kolong rumah. ”Tangga naik ke dalam rumah adalah kelamin perempuan,” jelas La Gole, temanmu. Ia pemandu yang baik, meladeni keingintahuanku dan bahkan memuntahkan semua yang ia tahu. Pemuda yang bersemangat meski entah kenapa diam-diam ia sering menatapku dengan pandangan menghunus seperti tidak suka seperti menaruh curiga. Ia membicarakan tubuh perempuan dengan sangat biasa. Membuka pintunya pun harus ditolak ke atas biar bergeser. Aku menebak pasti ini selaput dara kemaluan, sebab dibutuhkan sedikit usaha untuk membukanya. Ada batu bundar yang menindih. ”Arah dapur adalah rahim. Dan dua dapur di belakang itu adalah buah dada sebagai sumber kehidupan.” Rumah ini tak bersekat, hanya ruang. Lantai dan dinding terbuat dari bambu. Ada loteng yang lumayan luas seperti layak untuk dijadikan kamar, tempat persimpanan kebutuhan pokok terutama padi. Bahkan ada padi yang berumur seabad. ”Semua warga sehabis panen tanpa diminta menyimpan sebagian padinya di sini untuk digunakan bersama jika terjadi gagal panen. Padi ini tidak boleh di jual.” Aku ingin sekali mengabadikan apa yang aku lihat. Namun lelaki yang terbiasa bertelanjang dada saat bekerja di sawah ini melarangku dengan tegas. Badannya yang berotot dengan kulit secoklat kayu itu langsung tegap menantang. ”Jangan coba-coba bawa kamera. Itu kesepakatan kita dari awal. Boleh jadi kau yang melanggar, kami sekampung yang kena malapetaka. Kalau kau mau lama di sini hormati adat kami!” Belum sempat aku minta maaf, La Gole sudah berlalu. Kulihat punggungnya digerogoti jamur, bercak-bercak putih. Ketika kuceritakan penjelasan La Gole kepadamu, kau tersenyum simpul membenarkan. Pipimu merona seperti lembayung yang memerah bagai senja yang membakar langit. Aku jatuh hati. Upacara Mappugau Sihanua sepertinya sudah dimulai. Selama tujuh hari tujuh malam. Aku berjalan santai menikmati pagi yang mau pergi. Sepanjang jalan yang berkelok kulewati rumah penduduk yang kadang saling berjauhan. Tak jarang aku berpapasan dengan warga yang masih kukenal. Di kiri kanan diselingi tanaman sayuran, pohon pisang, pohon kopi dan pohon kakao, serta hamparan sawah yang tidak rata, berundak-undak dengan garis pematang meliuk, sejauh mata memandang. Ada sumur tua berdinding susunan batu, aku menyebutnya kolam karena dangkal. Bila airnya lagi penuh, penduduk memandikan anaknya dan bayi yang baru lahir, biar mendapat berkah. Air mengalir khas pegunungan terdengar jernih menggelitik kesegaran. Hutan lebat dan belukar liar tampak rimbun di puncak bukit, hijau nian seperti belum pernah disinggahi. Jubaedah, secantik apa kau sekarang? *** Lelaki itu masih gagah. Badannya berisi dan kulitnya bersih seperti pasir laut, seperti belum pernah dicubit matahari. Kini aku yakin kau makin terpikat, melirik pakaiannya yang sewarna kulit sapi. Lelaki idaman yang menggiurkan bunga desa sepertimu. Dan aku terhempas ibarat hati yang terbuang. Sebab cintaku sedang cemburu. Ah, lelaki bernama Rustam itu terlalu mau tahu tentang adat kita dan ia sebarkan ke mana-mana. Aku tidak menyukainya karena itu, dan sebab ia mencuri hatimu dariku. Lebih dari itu, ia juga mencuci otakmu hingga pikiranmu telah kota walau disebabkan juga karena kau pernah sekolah sampai SMA di kabupaten. Kau pernah menjadi guru di dusun sebelah, mengajari kami baca tulis di usia kami yang sudah berkumis.

Kabarnya, Rustam akan mendirikan pasar rakyat dan penginapan di sekitar kampung ini. Makin ramai saja orang datang ke sini. Melihat kami sebagai tontonan. Melihat upacara kami sebagai pesta. Oh, Karampuang bagaimana nasibmu nanti? Ketika kebiasaan orang kota meracuni adat kami, menjarah apa yang kami jaga, yang kami miliki. Aku ingin sekali mengumpat, mereka tidak beradab karena mereka biadab! Mungkin kelak tidak ada lagi yang namanya gotong royong. Seperti yang pernah dihimbau orang dulu, ”Hai sekalian anakku, kasih mengasihilah, rebah saling membangkitkan, hanyut saling mendamparkan, berkata saling mengiyakan, dan berbuat saling bantulah. Khilaf saling mengingatkan, satu kata dengan perbuatan, bagaimana di dalam begitu pula di luar, tegakkanlah yang keramat, sandarkanlah yang tabu, dan dudukkanlah yang makruh.” Sekarang banyak yang mengerjakan sawah dengan cara bagi hasil, tidak lagi yang punya hajat memberi makan untuk disantap bersama. Begitu pula saat membangun rumah, menggunakan tenaga upah. Mengumpulkan puingpuing harta sehingga saling mencekik. Serakah sehingga saling menutup pintu. Oh, Tomatoa! Hanya kamu yang murni. Kami akan teguh, tidak akan memasang paku tetap memakai tali rotan untuk menyusun kerangkamu. Mengganti tiangmu yang lapuk dengan menebang pohon bertuah di rimba melalui upacara madduik, menarik kayu bersama di hutan, wujud satu rasa. Tidak dipikul, sebab dipundak tanda mau menang sendiri. Oh, Tomatoa, kamu perempuan luhur yang kami puja. Dan kau, Jubaedah adalah perempuan Kampung Karampuang yang dijunjung. Darahmu adalah darah To Manurung. Mulia atas nama adat. Dan adat mengajarkanku tentang hidup, tidak mungkin kukhianati. Aku mencintaimu sebagaimana aku memegang adat. Disela itu terselip keinginan, yakni memilikimu yang tak boleh. Mencintai dan menginginkan itu serupa tapi tidak sama. Mengertikah, kau? *** Aku bukanlah Maryam dan kenapa pula sejarah harus berulang? Tuhan, bolehkah aku mengeluh sebab sudah lama aku berpeluh? Aku tidak bangga dilahirkan sebagai makkunrai, perempuan. Tubuhku menyiksaku. Aku dibelenggu. Ayah dan Ibu yang berbuat, mengapa aku yang harus jadi tumbal? Apakah memang dibutuhkan orang lain untuk menebus dosa? Lantas, salahkah mereka? Kau bisikkan di telinga Arung, tetua adat kami yang jarang bicara itu, untuk menentukan garis hidupku yang mesti kujalani. Menjadi perempuan suci, perempuan yang terkunci supaya tetap perawan. Jangan sampai sesuatu yang asing menyelinap masuk sebab akan melunturkan tradisi. Titah yang tak terbantahkan kecuali kalau aku cacat moral. Karena nanti warga juga yang akan memilih. Dan Ayah, Ibu, tak pernah membelaku. Ia wafat dengan patuh meski ia tak patut dipanggil Ayah, sebab tak pernah risau atau tak mau tahu jeritan hati anak gadisnya. Ayah memilih diam sampai ia menutup usia. Ayah hanya melihatku tumbuh. Dan aku memilih, berontak seperti ibu. Ibu yang mati karena melahirkanku. Ibu yang kawin dengan kaum pendatang dan dikucilkan di desa tetangga. Ibu yang dipaksa bernazar, jika bayinya perempuan akan diambil sebagai penggantinya. Dan Kau, Tuhan, mengabulkannya… Tetapi tidak! Sebagai anak aku merasa berkewajiban melanjutkan perjuangannya. Memang Puang Sanro telah renta, sudah layak istirahat. Perlu diganti. Tetapi mengapa harus aku? Tidak bolehkah orang lain? Aku selalu ingin bertanya kepada Puang Sanro tapi aku urung dalam hati, apakah ia memendam apa yang aku pendam? Ah, tentu tidak. Sebab aku tahu dari orang-orang, Puang Sanro adalah perempuan yang tidak laku. ”Dalam darahmu mengalir darah To Manurung, Anakku. Ikutilah takdirmu sebagaimana air yang mengalir,” ucapnya bernasihat ketika aku sedang malas meramu obat. ”Betapa menyenangkannya membantu orang, Anakku. Itu akan membuatmu menjadi ada,” lanjutnya berpesan di hari yang lain saat aku enggan mempelajari mantra-mantra. Ketika menolong, haruskah berkorban? Cukup! Aku tak mau mendengar lagi. Aku mau tuli saja, sambil dalam benak ini bertekad, aku akan melawan arus. Aku mesti berupaya meski tangis mendahului. Ya, sebab aku hanyalah perempuan biasa meski aku adalah perempuan yang cantik. Kusadari itu karena banyak yang merayuku semasa SMA dulu. Tapi aku tak hanyut. Aku mesti hati-hati meniti sebelum salah melangkah. Maka kutambatkan cintaku pada sahabat kecilku, La Gole. Aku sering memperhatikannya sampai-sampai aku tak sadar tubuhnya telah perkasa. Jika kami sedang berjalan beriringan aku senantiasa mendongak untuk melihatnya berbicara. Telingaku akan mendengar suara beratnya yang menentramkan. Andaikan aku dipeluk, pasti aku akan tenggelam dalam bahunya yang lebar. Saat kulit cokelat legamnya berkeringat, aku mencium bau khas manusia. Pernah juga ia menggenggam tanganku erat, sesaat tapi kurasakan kehangatan yang kokoh hingga jiwaku

sikapnya terlalu lugu tak sebanding dengan badannya yang garang.” “Tidak bisa.” ”Lalu kau mau kita menunggu di sini sampai pagi?” ”Mungkin. Ternyata di atas sini tidak terlalu gelap seperti temaram. Bukan salahmu. kau ada hati denganku?” “Ya. Cukup lama hingga rindu mendera.” Aku gigit jari.” ”Aku tidak perlu membuktikannya karena cinta soal hati.” kataku setelah ia agak menjauh.” . asal bersamamu. makam nenek moyang kami yang luhur. Lepas maghrib.” “Tidak. kita terjebak di sini. Hadir dengan senyumnya yang menawan memberi harapan.” ”Bagiku tidak. mencari cara agar aku tidak terlacak sudah kabur. Dan tentu saja ia hangat. lelaki itu memang baik tapi aku harus pamit mengejarmu. Banyak peti batu berundak-undak di tempat ini. Sementara jarum-jarum langit masih menyerbu. Ia lapar dan aku haus. Kulitnya harum dan langsat sepertiku. Hanya lidahku yang belum menafsirkan apa-apa. Aku sayang kamu. dan itu cukup buatku. Lalu muncul dia. ”La Gole. di bawah sana begitu rawan. mengguyur deras. Obor La Gole yang menuntun jalan juga telah redup. Kau segera memelukku. Karena aku. antara panas dan lembap.” ”Wisuda aku menjadi perempuan seutuhnya. Ada senter di tanganmu.” “Sekarang aku siap membawamu pergi. La Gole mencegat dan mengancamku sebelum masuk desa. Berangkat diam-diam. aku meminta sesuatu. Rustam. di hubungan kami yang sempat terjeda. Mengaburkan cahaya ibu di atas sana hingga buram. Kini malam sungguh malam karena awan yang menenteng air berlayar di langit kelam. “Maafkan aku. bukan satu tubuh.” “Aku tidak punya kampung selain dusun ini.” La Gole pergi menengok. Rustam. Angin bertiup meliuk sangat kencang. ”Kau tunggu di sini sebentar.” “Kalau begitu bawa aku pergi dari sini. Paling tidak aku dapat melihat bayanganmu. “Jangan Lama.” “Ah. Kerap kubayangkan bila kami menyatu tak ada yang tahu bahwa kami berdua. pelita rumah penduduk memang sudah padam. Lelaki dari kota. jatuh merintik terdengar menitik dan menerabas. Tanah ini adalah orangtuaku. Namun ia tidak punya nyali. Di sini kita aman.” “Tinggal di hutan pun tak apa.melambung.” ”Apa itu? Akan kupenuhi. Jangan sekarang. malam ini juga. Kau basah kuyup sama denganku oleh derai hujan. kau sudah berada di puncak bukit itu. Hujan mengejarku seperti mengutuk. kendati sesekali terjungkal karena kesandung akar pohon yang mencuat. Aku berlari dengan kain terangkat mengangkangi tanah yang kupijak. Aku kecewa dan patah hati. Kami tiba di sekitar rumah adat Karampuang.” “Tak apa. Kau bohong! Aku membencimu. pura-pura khawatir. kau tidak mencintaiku sebab cinta itu perlu bukti. datang tidak tepat waktu. Ah.

Mukanya murka. Semua makhluk punya mata. berkeliaran seperti ingin mencari ayahnya. Dan sudah kuduga. Aku adalah hikayat perempuan tanpa biduk yang terdampar setelah lelah mengarungi duka. lebih senang keluyuran atau suka berkumpul. Kelak. Masih memegang adat kuno dan alergi dengan teknologi. Arung: ketua adat atau raja yang jarang bicara tapi sekali bicara adalah tuah yang tak terbantahkan. Aku mendorongmu supaya terhindar dan langsung melindungimu. Aku ingin perbuatan ini sakral seperti kematian. anak kita yang mengembala ternak. La Gole muncul menaruh mata badik di lehermu. begitu pun bulan berlalu. dan tahun terus bertambah. Kau memandikan bayi kita di sumur tua yang berkah itu supaya kelak menjadi anak yang patuh. . Hidup matinya Karampuang ada di tangannya. kau dianggap tidak pernah ada. Jubaedah sudah melakukan lebih dari itu. Gella: pemangku yang melaksanakan hukum yang berlaku di Karampuang. Sejak peristiwa malam itu. Aku membajak sawah. Ah. menanam dan menuai padi. maka rentan berbuat dosa. ”Bangsat kau. Melihat dunia luar dengan muka gembira. Seandainya saja kau tahu angan-anganku yang sederhana ini. aku rebah menerimamu. Di gubuk tua itu. Aku merintih dalam amuk saat kau menyuruh Rustam hengkang dari kampung ini tanpa dijera. 270908 (Kutulis ketika merindukan kampung halaman) Catatan: Karampuang: dusun yang terletak di puncak bukit 1000 meter dari permukaan laut. Melelehkan kebekuan dan meruntuhkan kekakuan. Hingga pada suatu pagi. *** Puang Sanro pernah meramalkan. sebetulnya aku ingin menabur benih di pucukmu yang kuncup. Berlari lincah. Kau dikurung di rumah adat Karampuang di atas loteng untuk dikuduskan kembali entah sampai kapan. Kau telah mendurhakai tanah keramat ini. tempat biasanya sesajian di letakkan. Lantaran nista mengusik siapa pun sebab baunya tercium tajam. Rinai-rinai bersenandung seperti berkisah. Aku gigil oleh getar.” ucapku setelah usai. Kulempar lelaki durjana itu dengan sekepal batu hingga ia tersungkur. Kubunuh kau!” ”Berani menyentuhnya. lalu bangkit tersaruk-saruk. Sulawesi Selatan. namamu tak pernah lagi disebut nyaris dilupakan. Rumah adatnya menyimbolkan sosok perempuan yang harus dijaga kehormatannya. turun dari tangga rumah adat Karampuang bagai baru dilahirkan. ketika birahi yang terpendam peka pada setiap ransangan. *** Depok. Hari berganti. Di kejauhan terlihat obor berkeliaran serupa kunang-kunang. Rustam. tujuh hari tujuh malam. muncul begitu saja. Tidak seorang pun diperkenankan menemuimu dan tak ada yang tahu bagaimana rupamu sekarang. Puang: kata sandang untuk orang yang dituakan atau yang dihormati. ”Terima kasih. berhamburan karena ulah kita. Kau telah haram di hatiku yang meradang. Dan kau. di Desa Tompobulu kecamatan Bulupoddo kabupaten Sinjai. aku lompat dalam jurang. darah dagingku. Kita berjalan mundur menuju tebing.Apakah rasa sakit itu? Bila hasrat terjerembap. Dan segalanya sirna saat kudapati pakaianmu berceceran ke mana-mana. Tak perlu airmata sebab akan kutanggung semuanya. Mappugau Sihanua: Setiap tahun di pekan pertama bulan November diadakan pesta sebelum bercocok tanam setelah menikmati panen melimpah sebagai tanda syukur. Sesajen yang baru tadi siang. Jika perempuan tidak kembali ke dapur.” Kau mengancam dan aku masih hirau. Senang mengintip yang terlarang. kami dikejutkan oleh kehadiran seorang bocah yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Kini aku luka dan hina. wajahmu yang bersinar dalam balutan pakaian putih yang menyejukkan hari-hariku kala memandangmu telah berubah busuk bagai bangkai. sadarkah kau? Argh! Jubaedah. Di tanahmu yang subur bakal tumbuh tanaman berbuah. yang tak mungkin terwujud. dan kau datang membawa makanan.

menggurat menjadi lekat di kulit Ibu yang sekat oleh keringat. Reaksi ereksi itu seperti permulaan arena balapan. Tomatoa: nama rumah adat Karampuang. Ibu kembali menunggu. Aku makan dari wanita yang kemudian kukenal dengan sebutan ibu. Gerakan-gerakan yang ia ciptakan membuat salah satu bagian tubuhnya menegang. Entah yang mana ibuku. Aku sudah tidak sabar untuk mengabarinya bahwa ia telah berhasil menciptakan bibit manusia. Aku menunduk malu. xxxxx Malam pertama bersama Ibu. bahwa aku begitu bangga. Nyawa seorang pria yang menabuhi seorang wanita bernyawa dengan sperma. di dalam liang hangat. penuh rasa lega akhirnya aku tiba. Aku mengalahkan berjuta ekor dan kepala lainnya yang datang mencari Ibu. aku baru saja bersenyawa dengan tubuh Ibu. To Manurung: nenek moyang orang Karampuang berwujud perempuan. Siapa bilang kami bernyawa setelah salah satu dari kami mempunyai rupa? Kami telah bernyawa dari sejak kami menjadi sperma. Pintu diketuk. tumpahan-tumpahan makhluk seperti aku membasahi muka Ibu. kami berkebut-kebutan. walau belum mempunyai mulut dan bibir untuk tersenyum. mencuat. Aku melihat Ibu duduk di atas sebuah kursi memanjang dengan bantal yang kenyal. mana mungkin kami punya tenaga untuk mencapai indung telur wanita. sebelum salah satu dari kami berhenti sesaat. Lelahku akhirnya terbalas juga. Pantaslah Bapakku tidak bisa munafik untuk tidak tertarik. laki-laki itu semakin panas. aku sudah tertawa. Meninggalkan rupa lama yang dulu hanya berbentuk ekor dan kepala. Reaksi itu menimbulkan ereksi. Bagian tubuh itu. Ia seakan memberi pertanda pada kami untuk siap-siap beraksi. Ada apa dengan Ibu? Ibu. Tapi ini satu-satunya caraku untuk memberi tahu Ibu bahwa aku bukan bayang. Kami mencari tempat terhangat. malam keduaku bersama Ibu. Kalau kami tak bernyawa. Tapi sambungan hidupku berada pada wanita. . perawakannya tak beraturan. Apakah Ibu menunggu Bapakku? Aku belum tahu. Aku Malang. persis seperti tempatku dulu di tubuh Bapak. Malam ini Ibu terlihat begitu cantik. muncul. aku belum tahu. Dia bukan Bapak. Saat ini. Lalu. tempat laki-laki itu singgah sesaat sebelum air maninya muncrat. Tidak tahukah Ibu. Ibu memberiku makan dari darah yang mengandung sari yang dipompa dari jantung melalui aorta. tangan. Tidak tahukah Ibu. Mungkin saja dia bapaknya Ibu. Malam ini. Ibu bangkit dan berjalan secara perlahan. Membentuk sel baru yang menyatu. Wajahnya rupawan. kaki. Nyawa pertamaku dari seorang pria. Aku mulai tumbuh dan tak lama lagi akan membuat pergolakan rasa yang perlahan akan membuat Ibu tahu bahwa aku ada.Sanro: pemimpin spritual di setiap prosesi adat yang harus dijabat oleh perempuan atau lebih tepatya disebut dukun. Seorang lelaki bertubuh tambun dengan perut menyembul. Aku lemas. Bapakku Jahanam Bukan Kepalang ( juara 2 ) Desember 30th. Aku ingat saat dulu berkejar-kejaran dengan teman-teman. Aku makan dengan rakus. Teganya Ibu mengkhianati Bapakku. Mereka tidak berlarian. Ibuku Jalang. Aku minum karena selalu haus. Penuh ketegangan. Aku juara. Tapi. Ia mempesona setiap perempuan. Bukan aku tak sayang. xxxxx Aku ingin bertemu Bapak. Lelaki itu membolak-balik iIu seperti barbeque di arang kayu. tidak! Ia menyentuh Ibu dengan gerakan yang sama sekali tak malu-malu. seperti bendera yang turun di arena balapan. dia bukan Bapakku. Bukan seperti lelaki yang datang ini. yang sebentar kemudian akan memunculkan pertanda. Bapak bereaksi. seperti aku. Ibu dan lelaki itu saling beradu. Apakah kali ini lagilagi lelaki buncit yang memberi malu. Ibu benar-benar bersifat magnetik. Kami menunggu dalam deru erangan. Wajah dan penampilannya menunjukkan seperti itu. Aku juga masih ingat. sesama teman sperma yang dimuntahkan dari penis manusia. Bapakku tampan. untuk mengelus. Aku ingin cepat mempunyai muka. menendang bahkan menerajang. atau sesungguhnya Bapak yang ditunggu? Aku belum juga tahu. Ia seperti menunggu. Tapi. Aku tahu persis siapa Bapak. mati di jalan karena mereka berlari terlalu pelan atau kalah dalam himpit-himpitan jutaan teman yang berkejar-kejaran mencari tempat buat makan. Aku diam berhari-hari di tubuh Bapak sebelum akhirnya bertemu Ibu. Aku ingat ketika Bapak berlaku seperti itu pada Ibu. 2008 by Rien Al Anshari Aku dibentuk dari dua nyawa yang terpisah. Ibu yang mengharapkan kehadiranku atau Ibu yang menganggapku hanya sebagai benalu.

kali ini dia membuatku mabuk. Tapi tak lagi makan dengan lahap. Bercanda. Bapakku memang tampan dan rupawan. Aku marah pada keluarbiasaan Ibu. Lantas tertawa-tawa. gerakan jumpalitan. Aku tumbuh karena aku memang tumbuh dan waktu perlahan membuatku begitu. Ibu menenggaknya. Tapi tak lagi minum dengan harap. Masih. Ia menyebut-nyebut aku si tolol yang dungu. Menciptakan bunyi yang membuat tubuh tanpa kepalaku pusing dan pening. berguncang dan seakan tak berhenti bergetar. walaupun belum sepenuhnya memiliki jari jemari. Tahukah Ibu bahwa aku mani yang menang lomba lari terpanjang seantero bumi? Bukan salahku kalau aku kemudian menghuni tempat ini. Terus kugetar-getarkan tubuhku untuk membuatnya terhuyung. Matilah kalian sebelum sampai lebih dalam di rahim Ibu. megah dan nyaman. Tapi Ibu tak pernah lagi bertemu Bapak. Aku memang tolol dan dungu. akhirnya keluar. Ibu masih belum tahu keberadaanku. Ia ditemani segelas minuman. bahwa aku ada. Sudah kukatakan. sehingga aku bisa mengenal wajah seorang Bapak yang kutunggu kedatangannya. membuat Ibu mabuk kepayang. Dan aku menerjang. Ia memuntahkan isi perut yang ia kandung. Dunia yang sesungguhnya memang pengap. Ibu tidur dengan laki-laki. bukan lagi keanehan. Tapi. Benda itu berbentuk kertas tipis memanjang secarik. Gerakan jumpalitan hingga ledakan tumpahan air kemaluan. Ini tempatku. Ia diam. Itu semua karena Ibu. Lompat-lompatan. hingga ledakan tumpahan air kemaluan yang bukan lagi keanehan. Ia duduk dan berbicara terlebih dulu. Berjalan bolak-balik mondar-mandir sambil menggenggam benda itu dan berpikir. Menunggu Bapakku. Luar biasa menggoda. ia mampu memikat perempuan. Ia meliriknya. Aku tak pantas diperlakukan seperti ini. Apakah ia Bapak? Bukan. Ia sendirian. Ia pun meminum minuman yang diminum Ibu. Ibu bertemu laki-laki. Aku sudah memiliki tangan dan kaki. Lalu ia menyatukan tubuhnya dan tubuh Ibu seperti anjing. Minuman itu memabukkan. Tapi Bapakku berkulit kecokelatan. tidak Ibu lalui bersama Bapak. Suara desah Ibu terpecah melengking. Aku ingin Ibu dengar. Tidak seperti lelaki tambun tak tahu malu yang langsung menyentuh Ibu tanpa ragu. Bajunya. Aku ingin tetap terjaga. Walau tak punya kaki tangan aku menendang. Wajahnya panik. Aku kecewa pada gaya hidupnya. Makhluk-makhluk yang dulunya seperti aku. Tapi aku tak gentar. berhentilah kau berharap. Aku tetap minum. ari-ari kembaran. Ari-ari. Beberapa menit kemudian aku merasakan sesuatu yang tak nyaman. silih berganti. Aku tetap makan. Sebentar lagi aku akan membuat kulit Ibu meretas. Lalu ia mengambil sesuatu dalam sebuah kotak yang berbungkus plastik. “Bangsat! xxxxx Aku semakin besar kini. Lalu berbaring dan membuka baju. Ia lelah karena harus memuntahkan makanannya keluar. Aku berteman dengan benda yang kemudian kukenal dengan sebutan. nanar. Aku tak urung. Aku gemetar. ia memaki. Wajahnya tampan dengan senyum yang sangat memikat. “Hey Jabang Bayi. Dengan bola mata yang terbuka lebar. Tapi tidak sepenuhnya sendirian. Tumpahan-tumpahan itu berlalu bersama waktu. Dan Ibu bukan lagi sadar. Aku ingin bersamanya ketika ia bersama siapa saja. Aku nyata. Ibuku mengamat-amati benda itu. Tubuhku yang belum sepenuhnya terbentuk ini terasa berputar-putar. Menunggu dalam bimbang. Ibu bercinta dengan laki-laki. Kemudian mereka datang dan pergi. Sekian hari sekian waktu Ibu selalu bersama laki-laki. Aku bibit manusia buah bercinta dengan pria yang belum kujumpa. Lelaki bertubuh tinggi dengan kulit putih sangat terawat. dengan gerakan yang membuat lelaki itu bersimpuh layu. sementara ari-ari tak berhenti mencaci maki. Lelaki itu datang menjenguk Ibu. Oh Ibu. Ibu tersandar. Aku seperti tak berhenti meratapi diri. Dan baju Ibu. Luar biasa sempurna. hari ketujuh bersama Ibu. Aku ingin Ibu gentar. Minuman itu begitu elegan dalam gelas kaca dengan kaki panjang menawan. Ia menaiki Ibu yang tengah terbaring. . xxxxx Dan aku masih menunggu. Pantas saja seorang Ibu terjerat. Desah-desahan. Dan hari ini. Ia berdiri. Ibu mencampuri laki-laki. tapi juga akan membesar. Sudah tidak kusisakan lagi sedikitpun tempat untuk kalian menyatu. Ia masih sibuk dengan dirinya yang luar biasa. Kemudian ia menduduki kloset dan mengencinginya. Mereka seperti lahar yang mencahar karena panas bergejolak yang membakar. Luar biasa bercinta. Laki-laki manapun takluk dan bertekuk lutut padanya.Ibu menunggu di dalam sebuah ruangan luas. yang datang lagi-lagi lelaki. Dunia tempat Ibu berpijak. Aku ingin Ibu sadar. Ibu meraung. Aku sudah tiba lebih dulu.” “Masa bodoh dengan dunia di luar sana. lompat-lompatan. Kalau kau tak tau caranya bertahan kau bisa megap-megap. Aku putus asa pada sikapnya.

Sesaat kemudian ia menoleh.” “Ibumu pelacur. Lelaki itu menarik tubuh Ibu dan mencengkramkan kedua tangannya ke leher jenjang Ibu. Dan ia berhak tahu bahwa aku ada juga karena dia. aku ikutan. Entah laki-laki mana lagi aku sudah tak mau tahu. makhluk malang. Aku menutup mukaku dengan kedua tangan yang baru terbentuk seakan menahan malu.” “Dia jelas-jelas lupa saat ia masih menjadi sperma. Lelaki itu Bapak kita. Tak seperti biasa. Ia mengisi udara paru-paruku dengan asap yang membuatku jengap. Ia tak memakai bawahan. Perempuan itu pun tak tahu siapa yang telah mencampurinya. Ari-ari. Wajahnya memikat setiap perempuan dan kulitnya kecokelatan. ia terlihat kusut masai dengan rambut berantakan tergerai-gerai. Bahkan ketika lelaki yang kusebut Bapak itu menunggangi Ibu seperti binatang.” “Karena Ibumu jalang. Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah cacian meskipun ia begitu kenikmatan. dan diam saja. Kulit muka yang sepertinya berewokan meninggalkan bekas cukuran yang terlihat jantan.” “Diamlah. Itu Bapakku. Tangannya memegang sepuntung rokok yang abunya sudah bertumpuk menunggu jatuh. Begitukah Bapakku saat membuat aku.Aku disuruh lari. Tidur dengan laki-laki yang datang dan berlalu. Dunia sudah membuat ia lupa asal mula. Ibuku tetap diam. Aku tersekat. Ia juga tidak seperti lelaki menarik yang memulai percintaan dengan candaan menggelitik. Lelaki yang kusebut Bapak itu kemudian bergerak ke depan Ibu yang masih melihat hujan. Ia sungguh laki-laki yang menawan. Malam ini. Mereka balapan. xxxxx Malam ini ia kembali menunggu. Seorang laki-laki tiba-tiba datang. Bapak kita. Ibu tak terpekik walau setengah mati ia tercekik. bisa kurasa bahwa di luar sana sedang hujan. Teman-teman berkejar-kejaran. Ia merobek pakaian Ibu sampai tak satupun tersisa.” “Kenapa ia takkan memberi tahunya. Ari-ari. Bapak tidak mencium Ibu dengan hangat. Hinanya aku. Ia Ibu yang hanya menganggapku benalu.” “Aku takkan bisa tenang. Ia tetap akan diam. Dan ia Bapakku. aku lari.” “Dan aku anak pelacur yang vaginanya selalu menjadi tempat bercampur. aku memimpin di depan. Bapakku memaki. Dunia kehidupan yang berbeda. hanya mengenakan celana dalam berwarna hitam. Laki-laki itu berperawakan tinggi. kata mereka. Kau tendang seperti apapun ia takkan memberitahunya. Jadi memberi tahu laki-laki itu hanya akan sia-sia dan merusak acara bercinta mereka.” Ibuku benar-benar tak punya belas kasihan. Ibu dan menghujaninya dengan tamparan. lihat siapa yang datang.” “Tenanglah. Aku akan menendang perut Ibu sebagai pertanda agar ia tahu. hingga akhirnya aku tiba dalam rahim seorang perempuan.” Lelaki yang kusebut-sebut Bapak tidak langsung menyentuh Ibu. Ibu terkesan pasrah dan melemah. seperti lelaki tambun yang penuh nafsu. kau Jabang Bayi tolol. Ibu masih tak membuat gerakan. Ia tampan dan rupawan. Tubuhnya hanya terbalut kaos singlet berwarna putih. Kakinya bertekuk dan ia peluk. Ia diam seribu bahasa. Dia memang selalu seperti itu. Dan dari dalam sini. Bapakku semakin membabi buta. Ibuku tak cantik. Aku ingin ia memberi tahu Bapak bahwa kita ada. Ibu masih tak melawan. Perempuan yang tak berperasaan. ia menamparnya. Mereka tak saling berteguran. Ia duduk di sisi jendela di atas sebuah sofa berlengan. Ibu benar-benar tak pernah menginginkanku. Ibu pun diam. Hal yang sudah lama kutunggu berjumpa dengan Bapak tidak seperti apa yang menjadi pengharapan rindu. Ia tak hanya membuatku mabuk dengan minuman. Asap yang ia hirup dan ia jadikan oksigen sampingannya untuk bernafas menjadi racun yang membekas. Jabang Bayi bodoh. Bapak tidak memeluk Ibu . “Ari-ari.” “Aku benci Ibu.

Kau tetap berhak melihat dunia. Ibuku jalang. Ibu. karena aku sudah menjadi bagian dari mereka. Hanya saja.05 a. Ari-ari. tubuh Ibu. yang akan kembali membuatku berjuang dan berkejar-kejaran dalam himpitan. menerjang guncangan yang menarikku juga menarik ari-ari kembaran. Aku dagingmu. tak lagi bernafas. Argh! Aku penat. Ia seperti pawang yang menunggangi binatang yang telah terlebih dulu di cucuk lubang hidungnya. Aku bukan hanya makhluk berekor dan berkepala yang tumpah di muka wanita. Aku darah. Jadilah aku hasil hubungan yang penuh malu. Ibu Bapak tak menginginkanku.dalam dekap. Ibuku perempuan laknat. lalu dibuang sia-sia. apa aku akan melupakan saat-saat ini ketika aku seutuhnya menjadi manusia sejati?” “Maaf Jabang Bayi. Ari-ari kembaranku benar. dan aku memiliki hak seperti para manusia. Tidak ingatkah perjuanganmu untuk sampai ke tempat ini?” “Percuma saja. Benda tak berharga yang keberadaannya hanya menyesakkan dunia. Sungguh aku tak percaya bahwa Ibu benar-benar tega. Tanpa sadar aku terisak. Bapakku jahanam bukan kepalang. menjadi setengah manusia yang sudah memiliki kepala sesungguhnya kepala. di kasur. persis seperti mata Ibu saat baru menyadari keberadaanku. Aku berhak hidup dan melihat dunia. Ari-ari dan aku saling berpegangan. zygot. melawan. Pontianak. Mudah-mudahan aku sampai pada perempuan yang menanti kedatanganku. meronta. Tidak ada juga udara yang mampu kuhirup untuk membakar tenaga. Ia pelacur profesional. Aku sudah hidup dan bernyawa. Aku bagian tubuhmu. “Ari-ari. Dan tak lagi membekaskan memori masa lalu asal muasalmu. 17 December 2008: 03. Aku tak mau mati di sini. menjadi zygot. Aku sudah menjadi setengah manusia. embrio. Hanya perasaan marah yang bergejolak dan tergelak-gelak seperti lava. Jabang Bayi. Bukan Ibu yang hanya menganggapku sebagai benalu. ia mencekiknya. Bapak tidak bercinta dengan Ibu penuh dengan rasa. Mataku terbuka lebar. Walau setengah manusia. Ari-ariku sudah tak lagi berbicara. setengah manusia yang tak pernah menjadi manusia 45 Responses to “Aku Malang. saling berpelukan. Ia melayani laki-laki manapun yang tak ia kenal. Sampailah ia bertemu Bapak yang tak kalah nakal. Ibu. Aku sudah tak mampu lagi meronta. Aku hanya berharap untuk diberi lagi kesempatan menjadi mani pada laki-laki. Ibuku benar-benar perempuan binal. Ari-ari.” Dan aku lemas. walau ia fana. Tenaga yang kami miliki sungguh tak sebanding dengan kekuatan angin maha dahsyat yang menyedot kami. Ari-ari? Kenapa?” Belum sempat ari-ariku menjawab. Wahai Ibu. aku sudah merasakan guncangan hebat bergetar dalam ruang sempit di sekelilingku. Ibuku Jalang.” “Bodohnya kau. “Kalau saja kau ingat seluruh perjuanganmu mencapai tempat di rahimmu. Aku bergerak. aku rasa kau tidak akan pernah muncul di dunia untuk menghirup udara?” “Kenapa. Sekarang kau membuangku seakan aku sampah. Lelaki itu tak akan pernah tahu bahwa aku dulu adalah benda berekor dan berkepala yang ada di tubuhnya. Aku malang. dalam tangisan yang rasanya sesak. xxxxx “Aku seakan tak punya harapan hidup. ia memakinya. Untuk sperma. nanar. kau pasti tak akan melakukan ini semua.” Aku terdiam sejenak. Bapakku Jahanam .” “Persetan dengan mereka. Dan ini adalah perpisahan. Perjuangan sampai ke tempat ini sangat berharga.m. Aku manusia. teganya kau padaku. menjadi embrio. Bapakku lelaki bangsat. di lantai. dan kini melebur dalam tubuh pelacur. dunia menggerus ingatanmu.

Seketika tembok ini menyiratkan hawa perasaan hangat manusia. mengambil sebatang rokok dari saku kemeja dan meletakkannya bersama korek api di atas tangan itu. Semakin lama aku semakin tertarik untuk membawa setiap tulisan-tulisan ini ke dalam ruang perenunganku. Dan lihatlah kerelaan mereka menyodorkan wajahnya untuk dijadikan kanvas yang merekam sidik jari riwayat sifat tolol dan kekanak-kanakan manusia melalui goresan tinta tak bertanggungjawab. Samarnya suara tikus yang mencicit jauh di sana. Kesedihan. Dan kekalahan akan datang kepada mereka yang berani menanggung rasa nyeri. Semilir angin dingin menerobos melalui ventilasi menyebarkan rasa kantuk berkali-kali. sebuah tangan manusia terjulur dengan telapak tangan menengadah ke arak mukaku. sedikit kemarahan. . menambah sempurnanya suasana tenang yang mengiringi parade ritual sakit perut yang kualami. Ditulis dengan warna gelap. Kini aku merasa sedikit malu dengan tembok-tembok ini yang mengepungku seakan sedang menghakimi aku atas semuanya yang telah mereka alami. begitu baris akhirnya berbunyi. dan saling menjatuhkan. ’Yang terakhir mati adalah harapan’. namun sisa batang rokok yang terbakar ini menahanku untuk menikmati kesendirian dari dalam bilik sempit ini barang sejenak. yang tampak menikmati bau pekat di dalam ruangan menyedihkan ini bersama-sama. Aku tak ingat bahwa ada seseorang di bilik sebelah. Tidak ada yang melebihi kesetiaan mereka dalam mendengarkan setiap keluhan para penyendiri yang tak berdaya. Seperti melihat sejarah kehidupan manusia yang pertama ditoreh lewat lukisan-lukisan di dalam gua-gua purba yang gelap dan tanpa kusadari bahwa jarak waktu yang ditempuh dari jaman itu hingga sekarang adalah bukti jalur perkembangan hidup umat manusia yang telah begitu panjang teraspal. Dilapisi oleh warna merah yang menyerupai darah dan goresan tegas membentuk tiap hurufnya. Tampak jelas di mataku sekumpulan emosi yang tersurat dengan lantangnya menyuarakan batin yang selalu berteriak. sudah itu mati’ tulisan itu berkata. aku dibangunkan oleh rasa terkejut. Aku memperhatikan dengan mata yang sombong kepada setiap coretan di sisi kanan tembok tempatku duduk. Betapa mereka telah meredam isak tangis para manusia kesepian dan menjaga setiap aduannya untuk tidak keluar dari ruangan ini. Mereka tak mampu menyembunyikan lukanya yang terkelupas oleh roda waktu dan tangan-tangan jahil yang telah merampas keperawanannya yang putih. siap ataupun tidak. Sebuah kutipan milik seorang penyair besar yang tampak telah merasuki jiwa si penulis. Empat sisi tembok putih menatapku dengan wajah yang pucat. di celah antara tembok dan lantai toilet. Dalam keheningan yang membius. Api rokok terpejam dan menyala mengikuti irama denyut jantung. rasa pasrah. harapan kosong dan tentunya perasaan kecewa adalah tema yang menumpuk pada sastra tembok ruang WC ini. Kesendirian memang selalu terasa dingin seperti sebuah rumah kosong dimana kepulanganku dari keramaian dan berisiknya suara manusia dan keangkuhan wajah kota besar. Karya seni ini mengundang jiwa pengamatku untuk menelusurinya satu persatu. aku mendapati segenggam kebenaran yang coba dipancarkan oleh tulisan-tulisan itu. ”Boleh minta rokok?” telapak tangan kemerahan itu berkata. ’Sekali berarti. Tak banyak yang kulakukan. ’Aku mau hidup seribu tahun lagi’ tulisan lain tak jauh dari yang pertama bersandar dengan berhiaskan gambar kawat berduri di sekitarnya dan tiga buah tanda seru di belakangnya. ini adalah saatsaat yang indah untuk memikirkan diri sendiri dan menolak segala hal lain yang masuk ke dalam otak. Rasa kecewa terekam jelas lewat kata-katanya. Betapa aku telah mencapai suatu tingkat kenyamanan yang membuai dengan duduk di sini sambil merasakan bokongku berkarat perlahan-lahan. saling menyisihkan. ”Ambil saja. Betapa hidup tak ubahnya semacam arena perang untuk saling mengungguli. Lima detik kemudian aku bereaksi. Ketidakpedulian menyelimuti diriku. Begitu banyak hal yang telah mereka lalui dan ribuan wajah yang telah mereka lindungi. Walau sebenarnya perutku yang melilit itu sudah tenggelam di dasar WC beberapa menit yang lalu. Tetesan dan rembesan air mata yang jatuh dari langit mewarnai umur tembok-tembok ini lewat garis-garis kecokelatan yang merambat pelan dari atap menuju basahnya lantai keramik. Ratusan kata terangkai dalam warna-warni yang tersusun dengan berantakan dan saling bertautan membentuk lukisan abstrak di atas alas yang pasrah. Lima baris puisi terpampang di atas tembok yang sama. disambut dengan pintu-pintu yang terbuka lebar. Dari bawah tembok sastra ini. Sedikit demi sedikit semuanya merambat ke dalam diriku dan dalam hati kecilku. Entah apa yang dipikirkan oleh lalat-lalat kecil yang terbang mengitari lampu redup di atas kepalaku. 2008 by Arki Atsema Toilet begitu sunyi malam ini. selain melubangi paru-paruku lewat setiap tarikan napas dan memandangi sekelompok lalat yang tampak malu-malu untuk menyapaku.Di Dalam Toilet.” seruku. di Atas Kloset ( Juara 3 ) Juni 4th. benci. air mata.

Ia diam tidak menjawab.” Dan tangan itu menghilang lalu tak lama kemudian suara percik api bergema memadati ruangan.” serunya dengan cepat. Aku hampir membuka mulut saat suara yang dingin itu datang. tapi sekarang dia kembali mengunci mulutnya rapat-rapat. seperti memikirkan jawaban yang akan keluar dari mulutnya. Aku memilih tenggelam dalam keheningan yang ia ciptakan. Aku tidak akan makan lagi di sini. Tadi dia yang pertama mengajakku bicara. Apa mungkin aku mengajukan pertanyaan yang salah? Atau bisa jadi dia ini adalah seorang yang pendiam dan malu-malu. atau tepatnya seorang remaja tanggung.mungkin ratusan cabe merah dan kerabatnya. Maka aku memulai dengan mengajukan pertanyaan yang paling mudah. Asal kau tahu. apa yang barusan kau makan?” aku mencoba membuka percakapan lagi.” ia berkata untuk yang kedua kalinya.” Dahiku berkerut.” ”Restoran sinting. aku . ”Terima kasih. Aku hanya menghabiskan rokokku di sini. Hanya duduk-duduk di atas kloset porselen warna putih yang keras. hanya duduk-duduk sepertiku. Dari suaranya. Sepertinya dia juga tidak melakukan apa-apa di ruangannya. ”Makan?” ”Ya. walau bagaimanapun juga aku berusaha memikirkan kata-kata yang tepat untuk memulai sebuah pembicaraan yang dapat memecahkan keheningan yang mengganggu ini.” Sedikit aneh. ”lebih enak kalau kita tidak saling kenal nama masingmasing.”Oh terima kasih. aku bingung dengan orang ini. ”Apa yang akan kita bicarakan?” aku bertanya. bahkan untuk orang sepertiku. Dalam situasi sekarang. Rokokku sudah setengahnya terbakar. Seseorang ada di sebelahku. ”Sama-sama. Salah satu dari kita harus memulai percakapan. ”Siapa Namamu?” ”Tidak perlu tahu nama saya. Untung saja restoran ini juga punya toilet. Jangan-jangan kau juga makan udang bakar itu?” Aku tidak yakin tapi sepertinya aku mendengar sekilas suaranya bergema mengucapkan ’Eeeee…’ yang panjang. Restoran ini memang membuatku mual. Lalat-lalat telah pergi entah kemana.” ”Oh. Kita bisa sedikit mengobrol kalau begitu. aku adalah tipe orang yang hanya bisa menunggu.” ”Baguslah. dan entah mengapa aku merasa sedikit canggung dengan kehadirannya.” Gelombang hening berkeliaran di dalam toilet. Dahsyat sekali. Kali ini aku tidak mencoba mengajaknya bicara.” ”Boleh. Hembusan napasnya terdengar amat jelas di kedua telinga. ”Kau sedang sibuk?” ”Maksudnya?” ”Apakah aku mengganggu kegiatanmu di sana?” ”Oh tidak. aku menebak-nebak bahwa dia seorang anak lelaki seusia remaja. Aku tak bisa menahan perutku yang melilit. Entahlah. Tangan kirinya muncul lagi dari celah bawah sambil menggenggam korek api gas warna hijau yang tadi kuberikan padanya. Detak jarum jam tanganku adalah satu-satunya suara yang kudengar. Dan kini kami berdua kembali diam dengan tenang. ”Jadi. Yang jelas perutku terbakar. begitu pikirku. untuk mengobrol dengan seseorang tak dikenal di dalam toilet yang wujudnya terhalang oleh tipisnya tembok pembatas. aku berada di sini gara-gara udang bakar sialan yang disajikan dengan….

”Ya.” Mulutku seperti ditampar. sama seperti kelakuan remaja aneh lainnya.” serunya dengan nada pelan. untuk karya seni sebagus ini.” jeda kembali terulang. aku tak tahu harus memanggilnya apa. dan. Latar belakang seniku adalah mencoret foto muka presiden di ruang kelas sekolah dasarku dulu.suaranya sedikit serak kali ini.” aku berbohong lagi. sangat tak tahu malu apabila hanya dipajang di dinding WC yang jorok ini. Ada kekuatan sastra di dalamnya. ”Tapi aku tidak alergi dengan pedas.”. Aku menghirup dan menghembuskan asap rokok dengan keras. Inikah yang terjadi pada remaja jaman sekarang? Masuk ke restoran hanya untuk menikmati nyamannya kloset sambil mungkin berpikir tentang masa depannya? ”Kalau begitu kamu kenal dengan orang tak tahu malu yang mencoret-coret dinding di dalam sini?” Pertanyaan basa-basi. Aku yakin bahwa ia masuk ke restoran ini tanpa memesan apapun. ”Ingin bicara denganku kan?” Aku tak sabar menunggu. alasanku ke sini bukan karena sakit perut atau apalah. tanpa sepengetahuanku. dengan coretan sebesar ini. Dia tertawa kecil. mengunci diri di dalamnya dan melakukan ritual. Dilihat dari isi tulisan dan . mungkin juga tanpa menoleh sedikitpun pada pelayan atau hanya sekedar duduk-duduk sebentar di kursi. Tanya saja lalat-lalat ini.” ”Oh ya?” ”Tentu saja. dan tanpa basa-basi langsung mengajakku bicara seolah-olah aku ini temannya.” Biar kuanalisis sebentar. atau di tembok kota sekalian biar orang-orang bisa melihatnya. cuma…. “satu-satunya makanan yang pernah kumakan di restoran ini adalah sup ayam.” aku tak tahu apa yang sedang kukatakan.” ia terkesan berhati-hati dalam menyusun setiap kalimatnya. ”Yaa. sebanyak ini. Lalat-lalat kembali berputar-putar di sekitar lampu dengan kesetanan. sedikit menyejukkan di telingaku.” semoga ia tidak menangkap irama kepanikanku. Tapi setidaknya setengah dari daya tarik corat-coret ini memang berhasil menarik perhatianku.” Tentu saja. ”Oh ya? Untuk apa?” ”Menurutmu?” Menurutku karena kau adalah anak iseng yang tidak punya hal bermanfaat lain yang bisa dikerjakan selain menginap semalaman di dalam toilet ini.” tiba-tiba ia bicara. ”maksud saya. siapa yang tidak akan memperhatikannya. ”Sup ayam. tanpa suara. Tanpa perkenalan. Satu-satunya ritual yang kukenal yang pantas dilakukan di toilet adalah ritual yang baru saja kujalani beberapa menit yang lalu dengan susah payah. Kehebohan terjadi di dalam otakku untuk mencari kalimat yang tepat untuk menanggapi pernyataannya tadi. ”Oh ya?” ”Ya. Dan memang rasanya agak pedas. ”aku orangnya. sengaja membuat sedikit keributan. Tak disangka ada juga orang seperti anda yang memperhatikannya. tanpa jabat tangan – kecuali dengan sebatang rokok dan korek api yang kuberikan padanya – dan tanpa nama sama sekali. Bahkan asap rokokku ikut merasakan kalang-kabut. Anak ini datang ke toilet serba putih ini. Maksudku. Menghabiskan sedikit waktuku. Seharusnya kau bisa lebih menghargai seni dengan menaruhnya di tempat-tempat yang pantas. Aku tak peduli siapa yang melakukannya. ”semacam duduk-duduk di tempatmu berada sekarang. melainkan langsung meluncur menuju toilet ini.merindukan suara bising sayap mereka. Sepertinya aku telah berhasil membawa pembicaraan ini ke arah yang lebih baik. ”Wow! Bagus kalau begitu. Hampir setiap malam aku datang ke sini. Aku punya latar belakang seni dan aku tahu apa yang sedang kukatakan. Kamu pikir aku rela menghabiskan waktu lebih lama di dalam sini kalau bukan karena ingin menikmati coretan-coretan ini. ”Ritual yang kumaksud adalah mencoret-coret dinding ruanganmu itu. bisa dibilang ini seperti sebuah ritual buatku.

lebih menonjolkan sisi gelap manusia. kita adalah orang yang sama. “Ya. Kalimat itu akan kutulis di tembok malam ini. lebih kelam.” “Serius? Kau berkelahi dengan Gandhi? Siapa yang menang?” “Aku lupa. Hanya saja ini lebih… mmm…katakanlah. ini adalah semacam cara anak muda jaman sekarang dalam mengekspresikan sesuatu. Itu yang akan kulakukan kalau menjadi Gandhi. mungkin sedang mengolah setiap kata yang ia dengar di suatu tempat di kepalanya.” Gemeretak tembakau yang terbakar terdengar nyaring dari tempat ia berada.” ia memberikan penekanan dan menambahkan unsur melodramatis dalam kalimatnya. dan sebuah ledakan dengan gradasi warna merah yang indah . seakanakan kau memang mengalaminya sendiri. aku tak yakin. Barangkali hingga membusuk. ia akan berubah menjadi seorang maniak yang mencintai perang. Aku hanya membenci semua hal dan ingin sekali berdiri di puncak bumi ini dan memarahi semua orang-orang yang pernah kukenal. di akhirat ia mengajak para malaikat untuk bertarung dengannya sebagai kekesalan atas emosinya yang tak tersalurkan di dunia.” Kali ini aku yang terdiam. lebih seperti perasaan kesepian. Seharusnya dia memang jadi ahli berkelahi.” “Entahlah. ”Itu akan menjadi tontonan yang paling menarik di akhirat. aku memang…memang menuliskan semua yang kurasakan di sana.” “Hebat.” serunya dengan nada yang semakin muram. perempuan kerdil yang menangis.aku mengira bahwa dinding ini adalah bagian dari buku hariannya yang diisi oleh keluhan atau semacam curahan perasaan untuk seseorang yang bisa dibilang sangat kesepian. Masa remajaku juga diisi oleh rasa kesal.” ”Menurutmu siapa yang paling cocok untuk melawan Gandhi?” ”Mmm…siapa ya? Mmm…Adolf Hitler!” ”Brillian! Bayangkan bagaimana ia mencabuti kumisnya satu persatu.” . atau…yah tak tahulah…tapi kau telah menggambarkan perasaan-perasaan tersebut dengan baik. Aku menolehkan mukaku ke arah biliknya. Bagiku itu cukup masuk akal. Atau mungkin saja saat ini. Namun semuanya akan berubah. seakan-akan tidak ada hal benar yang dapat dilihat oleh matamu di dunia ini. ”Ide yang bagus. ”Mmm…menurutku. lebih gelap. Aku akan menghajar para malaikat.seperti seorang anak yang gantung diri.” ”Ya mungkin saja. Aku bertaruh bahkan seorang Gandhi pun akan memiliki keinginan untuk membunuh bila ia tahu apa yang kurasakan. Jangan terlalu disesali. Persis seperti kesan yang kutangkap sebelumnya bahwa orang ini adalah seorang pendiam yang gemar memendam api dan membiarkannya menjalar di dalam hati. “tapi selama kau bisa memanfaatkannya dengan baik. dan kita bukan orang yang sama. kau bisa menemukan apa yang kaucari selama ini. Tapi aku membuat hidungnya berdarah. “Ya. Aku lelah ditertawakan. Aku pernah bermimpi sedang berkelahi dengan Gandhi dan itu membuatku senang. “Remaja adalah tingkat paling rapuh dalam riwayat hidup manusia. Ia kembali mengatupkan mulutnya setelah mendengar pendapatku. Orang seperti dia memang kadang sulit untuk ditebak. ya kan? Seperti coretan-coretan lain yang sering kulihat di tembok-tembok pinggir jalan.” ia setengah berteriak. kau benar. Rokok di tangan kananku mulai memendek dan aku mulai bosan berada di sini.gambar-gambarnya . karenanya aku memilih untuk berhati-hati. Gandhi sang Gladiator mengalahkan Hitler si Pecundang!” Kami berdua tertawa.” rasa simpati mulai merangkak keluar dari kepalaku. “Semua yang kurasakan hampir tiap hari. Kadang aku berpikir bila Gandhi diberi kesempatan kedua untuk hidup lagi.

Suara-suaranya yang tadi keluar seperti terhisap ke dalam lubang air di lantai basah. Yang pertama terbesit adalah aku tak ingin terjebak di dalam mobilku dan segera berlari mencari tempat perlindungan yang aman. bahkan kelakuannyapun sangat kelewatan. tapi aku terdorong untuk mengakhiri perbincangan ini dengan baik. aku harus…harus pulang.” “Oke. Waktuku telah usai. Maaf kalau aku menyinggung perasaanmu. itu adalah kalimat pertama yang kucoret di dalam toilet ini. kira-kira berapa menit waktu yang kaubutuhkan untuk keluar dari restoran ini?” “Maksudmu?” “Ya.”Asalkan kau senang Kawan.” “Pilihan yang bagus. orang yang selama ini tertindas oleh egonya. ”Eeee….” ”Bukan begitu. kau tahu maksudku. Kau mau pergi?” “Ya. aku tak keberatan. Aku tidak bermaksud un…” ”Ah tidak apa-apa.” Tat tit tat teet toot tit tut. lebih baik berikan aku kebenaran!’. aku….” ”Maksudmu kau yang menjadi Gandhi mengalahkan bapakmu si Hitler itu?” Ia kembali membisu.” “Oh ya. ”Kau tahu di mana kau akan menemukan aku. selalu menuntutku untuk begini-begitu dan tak pernah sama sekali mendengarkan apa yang kumau. Keriangan yang menyeruak sekarang terpendam di dasar bumi. Kalimat yang sangat provokatif. sebelum kau pergi. Ini terlalu singkat untuk disebut gempa bumi. dan keadilan. seperti suara yang timbul ketika aku menuliskan pesan singkat di handphone. Tanpa pikir panjang aku melompat keluar dari mobilku. aku pergi Kawan. kepercayaan.” “Kuanggap itu 10 menit.” “Mmm…mungkin sekitar 5 menit. aku mengutipnya dari seorang penyair. Aku tak berani mengucapkan apa-apa. Dia orang yang kubenci.” Aku mengetuk kepalan tangan kananku pada pintu biliknya dan pergi melenggang dari ruangan itu. rokok telah kubuang dan kuinjak. Mungkin kita akan bertemu lagi suatu saat.” “Ya. uang. sekarang yang kuinginkan adalah pergi dari tempat ini dan mengucapkan salam perpisahan pada tamu tak terlihat ini.12.dari tadi aku tertarik dengan tulisanmu yang berbunyi ‘Daripada cinta. Aku bermaksud untuk pura-pura tidak mendengar dan menyelinap keluar. Sekedar informasi. maukah kau melihat tulisanku sekali lagi. aku menyukainya. tepat sekitar 10 menit dari saat aku meninggalkan toilet itu ketika dalam kegelapan malam yang beku. dan memberitahuku kata-kata apa yang kausuka dari sana?” “Mmm…. Diriku berada di ambang kepanikan dan terus memastikan diri bahwa aku masih .tidak. alasannya adalah aku mengenal seseorang yang wajahnya mirip seperti Hitler. ”Baiklah.aku hanya menebak saja. ”Bagaimana kau tahu kalau dia adalah ayahku?” Suaranya terdengar pelan. Suara riuh manusia berceceran memenuhi udara pengap ini. aku merasakan permukaan jalan bergerak-gerak seperti ada sesuatu sedang menjalar di dalamnya. Aku hanya membayangkan si Hitler itu akhirnya dikalahkan oleh sosok Gandhi. karena getaran tersebut hanya berlangsung kira-kira 2 detik dan disertai oleh suara berdebum yang memekakkan telinga.” *** Jam digital di mobilku menunjukkan pukul 21. Dari dalam biliknya terdengar suara tombol-tombol yang ditekan. tapi sebelumnya. popularitas.

Aku hanya terpana. yang menurutku sendiri tidaklah bengkok. asal muasal suara keras tersebut. Aku pikir dengan hilangnya satu anggota keluarga. Ini hari kedua aku bebas. aku dan Emakku. Semur Jengkol. Aku ceritakan pada Rani tentang Sardi. Ibu memasak semur jengkol khusus untuk Abang. Asap hitam mengepul menjangkau bulan yang sedang terang benderang. tetapi Emak hanya menggeleng. Aku ingin cepat-cepat pulang dan bertanya pada Emak perihal perubahan itu. “Ibu sakit. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Tidak seperti biasanya. Masalah yang sama.” Seketika itu nafsu makanku lenyap. Lagi-lagi. Tetapi yang jelas. oranye. . Rani malah menangis sesenggukan. dan Nasi Uduk Januari 7th. Mahkota emas sang raja yang berkilauan. Pernah suatu ketika Sardi bertanya perihal perubahan itu. perubahan Emak dan perasaanku.” Demi Emak. Menurut Sardi. sudah rejekinya. Rani. wajah iblis sedang memancarkan senyum manisnya. entah meratapi nasib. Dan disitulah aku menatap pemandangan indah yang bersinar di kedua bola mataku yang menciut. “Sudah kau bawa ke dokter?” “Belum. lagi-lagi kami bersama. Emakku yang penyayang tidak lagi menangisi kepergianku. 2008 by bidari Untuk kesekian kalinya kami hanya diam. Aku berpikir bahwa ini adalah bukti bahwa Emak masih sayang padaku. Dia membawakanku semur jengkol dan nasi uduk buatan Emak. Semoga kau bertemu Gandhi di sana. Sejak aku mendengar cerita Sardi itu. Nanti malam dia pulang bawa uang. Di dipan reot depan rumah kami ini. dan rasanya aku hanya dapat membayangkan momen terakhirku di toilet itu dengan jelas. datang menjenguk. Sebulan sebelum pembebasanku. Api dalam kobaran yang besar menari-nari dengan gemulai dan tak menghiraukan suara teriak yang menghampirinya. Sardi sedang tidak ada di rumah. Restoran telah menyatu dalam gradasi warna merah. Sekotak berlian itu sudah kubagi-bagi hasil penjualannya dengan Bakir. Sudah dua hari ini. Ibu menitip pesan untuk Abang. Aku menoleh ke belakang. adik pertamaku. Sudah terbukti. diam tak bergerak. aku seperti melihat sosok teman toilet misteriusku itu terbang lepas menuju angkasa sambil membawa kesendiriannya dalam keabadian. ”Selamat jalan. ‘Katakan pada Salim untuk banyak-banyak berdoa. Aku sendiri sebenarnya penasaran. Aku jadi begitu rindu pada Emak. Aku makan lahap sekali waktu itu. adikku yang nomer dua. Emak lebih banyak diam. Kepergiannya tentu bukanlah ke Cirebon. Biarlah. Seperti biasa. Emak tidak lagi menangis. Tidak ada satu pun dari kami yang boleh mencicipinya. Aku berikan bagianku pada Sardi. tempat persembunyian itu pastilah aman. Entah mengapa. Sudah lewat dua puluh menit kami terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Sardi dengan sigap mengatur penyimpanan dan pengeluaran.“ Ah. Tetapi ternyata belum cukup. Bang. Entah merenung. Tak butuh waktu lama bagiku untuk menerka bahwa bom telah meledakkan restoran udang bakar pedas itu. Hanya itu yang terus berdengung di pikiranku sekarang. pantulan sekumpulan bunga matahari yang berbaris di taman. Aku berpikir Emak sudah tidak sayang lagi padaku. Mengantar barang ke Cirebon. entah bersyukur. akan berkurang juga beban hidup. Dan saat aku menengadahkan wajahku ke langit. Hasil curianku yang terakhir lumayan besar. Aku sendiri tidak tahu di mana. Aneh. Di luar dugaanku. menerangi sudut kota dengan kemegahan tak terucapkan. Restoran itu kini terbakar. Mungkin saja Emak sudah habis akal meluruskan jalanku. aku sempat dua hari tidak bisa tidur. dan kuning.’ Ibu rindu pada Abang. Aku ingin memastikan bahwa Emak tetap sayang padaku. dia tidak dipenjara. Sejak saat itu aku jadi sering melamun. sejak aku kembali dipenjara untuk yang ke tujuh kalinya.berdiri memijak tanah. Emak tidak lagi menangis dan tidak lagi meratapi pilihanku. Semur dan nasi yang biasanya tandas itu kubiarkan saja dikerubungi lalat.

Dia bertanya tentang perubahanku yang drastis. tapi…memangnya boleh berdoa minta yang muluk-muluk gitu?“ “Muluk-muluk bagaimana? Minta kaya? Ya bolehlah. Asal bisa makan. adikku yang bersih itu. Aku terharu.”. Nanti malam Sardi akan pulang membawa uang untuk kalian. tidur gratis. Pri. bahwa keadaan Supri jauh lebih parah dariku. Hari-hariku kuisi dengan melamun. Karena tidak berhasil. Bagus lah. “Ya Tuhan Emakku sakit. bayar sekolahnya Sardi dan Rani dan Emakku tidak sakit. itu sudah bagus. “Abang baik-baiklah. Katanya. “Aku sedang bingung. Aku sedih sekali. Pri. dan berbagai variasi lain sesuai kebutuhan.“ “Bagus apanya? Aku tidak mengerti harus berdoa dengan model apa lagi. “Semoga kali ini tidak gagal. Aku merasa dia orang yang baik dan bisa dipercaya.” “Kenapa? Sebentar lagi kau kan bebas. Apalagi sejak dia belajar sholat tiga bulan yang lalu. ”Ya Allah semoga hari ini aku dapat tangkapan besar. kau tenang saja. Aku seperti kehilangan teman berbagi. minum. Oke lah. Hukumannya kali ini bukan yang pertama. Ngirit kok terus. teman satu sel.“ “Mungkin doa yang lain. Aku terus memikirkan katakata Emak. tetapi juga mbegal dan membunuh. Meminta kelancaran. Ingat pesan Emak ya. aku dan Supri menjadi akrab. Bangsat seperti itu memang layak menerimanya. . Sebulan lagi aku datang menjemput Abang. Yah. Aku meminta kepada Tuhan agar melancarkan usahaku.”. hah?” “Memangnya kau tidak berdoa untuk minta kaya?” “Hahaha…ngarang!!! Aku ini orang biasa. aku akan berdoa minta kaya kalau begitu.“ “Eh. Dia tidak hanya mencuri. aku kehilangan Supri. Sebelum pulang. kupeluk dia dan kucium keningnya. memperhatikan keadaanku. Makan. Dia begitu percaya padaku dan tidak pernah sekalipun membantahku. Dia memintaku banyak-banyak berdoa.“Sudahlah. Aku tidak mengerti apa maksud Emak. Biar sesekali bisa merasakan makan di restoran. tetapi yang paling lama. Kami sering ngobrol masalah ini itu. Rani sangat baik.” “Bukan masalah itu. Radang paru-paru yang menggerogoti tubuhnya sudah tidak mau toleran. Apa kau pikir aku ini kaya. menggangguk saja. Aku kan selalu berdoa setiap kali melancarkan aksi. ’Banyak-banyaklah berdoa’. Jangan lupa kau belikan obat untuk Emak. Supri. Seminggu sebelum hari bebasku. Baru aku tahu. aku selalu berdoa. dia terlihat lebih menyenangkan. Aku merasa baik-baik saja hidup di penjara ini.” Sejak percakapan itu.“ “Ooo…gitu ya. Dia meninggal. aku tidak lupa berdoa. Dia membunuh laki-laki itu karena alasan balas dendam. Lha apa kau pikir aku mencuri untuk beli mobil? Ngimpi!!! Itu mah pejabat!!!“ “Hahaha…ada-ada saja kau. Lim. Aku bingung memikirkan nasehat Emakku. itu basi.” Rani.“ “Ooo. korban terakhirnya dia bunuh dengan terencana. Mengapa Emak menyuruhku banyak-banyak berdoa. laki-laki itu membunuh istrinya.“ Sepeninggal Rani. Sebelum melakukan aksiku. Laki-laki itu berusaha memperkosa istrinya. Impas. trus mau bagaimana? Sudah mencuri saja masih tetap melarat.” “Hahaha…ada-ada saja kau ini.”. aku butuh uang. kebisuanku semakin menjadi.” “Lha.“ “Doa yang lain bagaimana maksudmu? Doa supaya cepat bebas dari penjara? Ah. anggap saja pengiritan. Seingatku.

aku membaca buku itu hingga selesai. Selama seminggu menunggu sisa waktuku. Seperti biasanya. ternyata perasa. perasaan. Seperti memohon restu darinya. Mana Emak tahu tentang puisi. Aku membaca buku itu layaknya membaca kehidupan. ’Jika aku ini tidak lebih dari setumpuk kotoran Jika aku ini tidak lebih dari seonggok daging Jika aku ini tidak lebih dari pengacau Kenapa tidak Kau matikan saja aku sekarang Bukankah Kau Maha Segala Apalah sulitnya mematikan aku Tinggal kau tiup saja Kun faya kun.” Aku mencoba memahami hubungan antara doa.Tidak banyak barang peninggalan Supri. Yang Emak tahu. Buku catatan itu jauh lebih menarik. Supri yang pembunuh. Lim. Emakmu ini tidak pernah sekolah. Lim. Lim. Buatlah hidupnya tenang. Kulipat bagian-bagian yang menarik perhatianku dan kubaca lagi dua – tiga kali. Di buku itu kujumpai puisi di sana sini.” . ‘Benar kata Emakmu. apa hubungan semua itu? Emak tahu?” “Lim. dan pikirannya. Aku takjub. “Mak. Entah mengapa aku merasa wajib menyimpan buku itu. Kau memang harus banyak-banyak berdoa. Lalu kutempelkan di dahiku. Kau orang baik. buku itu adalah warisan Supri untukku. Demi menemukan jawaban itu. Emak minta agar hidup kita tenang. Di sana. Semuanya nampak jelas dan nyata. hanya sebuah buku catatan kusam dan beberapa lembar foto usang. begitu kata ustad Jika memang masih Kau ijinkan aku hidup Berilah aku kebebasan Jangan Kau tipu aku dengan uang Dan jangan Kau tipu aku dengan foya Tolonglah… Sekali ini saja Beri aku ini hidup yang berarti Cukup sekali’ Aku meminta ijin kepada kepala untuk memiliki buku itu. Karena memang aku tidak kenal mereka. Lanjutan dari obrolan yang terputus. Fotofoto itu tidak menarik perhatianku. Aku mencoba mengerti kata-kata terakhir Supri waktu itu. Kuceritakan pada Emak semua hal yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini. Sepertinya. Satu yang menarik perhatianku adalah ratapannya pada Tuhan. hari pertama bebas aku langsung menemui Emak. Pantas kalau Emakmu begitu sayang padamu. Dan kamu tidak dipenjara lagi. Supri menuliskan semua keluh kesah.“ “Apa Emak berdoa setiap hari? Emak meminta apa?” “Yang biasa saja. Emak dan tenang. berdoa itu penting. kucium tangan kanannya bolak-balik. Sardi dan Rani lulus sekolah.

lagi-lagi kata tenang. Lampu di kamarku masih menyala. Emak malah takut kena yang aneh-aneh. Telingaku bisa langsung setajam kuping kelinci serupa antena mendapatkan sinyal yang diinginkan. akan kujelaskan padamu bagaimana caranya aku bisa naik ke atas sana. bahwa keinginan yang sederhana tidaklah sederhana pada pelaksanaannya. . Kutindih buku tulis dengan pena. Dulu. Lalu aku? Apa yang kulakukan? Tidak banyak. Malam belumlah terlalu larut.” “Buat apa. Di Atas Kamar di Bawah Atap Desember 12th. Senang sekali mendengar suara di bawah sana. Ah. Kan biar bisa makan di restoran. Ototku yang tidak berotot menjadi kejang karena tertarik. Jari-jarinya saling merekat dan menekuk bagai mencengkeram. Sedang mengerjakan PR. Kadang mereka tidak tahu waktu. Sardi masih harus bersepeda ke sana ke mari mengantar koran dan Rani masih harus mencuci pakaian tetangga. Anak-anak yang tadi main gundu. mengganti celana dengan sarung. lagi-lagi aku jadi teringat Supri. Lim? Biar bisa gegayaan seperti orang-orang? Tidak usah. makan semur jengkol. tapi tetap saja gerakanku menimbulkan suara. Demi melihat senyum Emakku. Doa Emak dikabulkan saja. Pagi-pagi buta Emakku masih harus bangun untuk membuat gorengan. Tetapi setidaknya aku berusaha untuk tidak kembali ke penjara. Kumatikan lampu dan gelap seketika. Mak. Kawan. Sudah tenang. Kalo kaya. *** Mula-mula kusingkirkan segala alat tulis dan kupastikan meja belajar mampu menahan berat badanku saat aku menginjaknya. mereka mengeluarkan suara berbisik-bisik. Apalagi bagi Tuhan yang Maha Kuasa. Seperti menguji kepekaan telingaku. dan nasi uduk lebih sering. Seperti malam ini. Samar terdengar bagai menembus dinding kamarku. Emak dan tenang. 2008 by Emil Akbar Aku selalu berada di atas kamar di bawah atap ketika malam datang. Enak kan. aku mengira mereka sedang bercanda atau tengah bertengkar dan tidak mau diketahui orang lain. kita tidak usah repot cari uang untuk bayar sekolah dan makan tiap hari. Namun aku yakin tak kan terdengar sampai di seberang sana.“ Ah. Sebab jantungku seperti berhenti berdetak saking cepatnya memacu. makan semur jengkol dan nasi uduk lebih sering. Permintaan Emak memang sangat sederhana. Aku dan Emak masih belum beranjak dari dipan. Kamu tahu kan tempatnya? Itu di loteng! Hampir tiap hari aku naik dan berdiam diri di sudut atas kamar itu. Pastilah mudah.“ “Ah. Bukan untuk merubah wajahku. Aku masih belum begitu memahami hubungan doa. sudah lah. Kutarik napas sejenak. Dadaku bergemuruh bagai amuk badai menghancurkan segala pertahanan diri. Wajahnya sehabis wudhu terlihat lebih tenang. Tidak usah neko-neko. Kemudian secara perlahan telapak kaki kananku menginjak gagang pintu sehingga terdorong ke bawah. tetapi agar aku bisa melihat senyum Emakku. Lalu kuangkat kaki kiri menapaki pinggir meja dan kaki kanan setelahnya untuk menjaga keseimbangan. Sementara tungkai kaki kiriku terayun-ayun mengambil ancang-ancang. Tak satu pun soal bisa kujawab. Sebisa mungkin tanpa bunyi. kita boleh berdoa minta jadi orang kaya. Aku menyerah. Walau begitu aku tetap harus hati-hati. Kenapa Emak tidak minta jadi orang kaya? Kata Supri. Lim. meski kecil. mengganggu konsentrasiku belajar. saat bisikan itu dibarengi dengan bunyi berderit-derit. Sekali-sekali gitu. Emak. Aku belum tidur. Menggelitik gendang telingaku. jernih tanpa gangguan. Pintu tidak terbuka lantaran sudah kukunci. Kedua tanganku menggenggam kosen pintu yang berbentuk kotak-kotak dan tak berkaca. Mungkin memang sudah waktunya untukku belajar sholat seperti dia. Kakiku yang menginjak udara itu melayang ke atas dan hinggap di balok kosen paling bawah. Tetapi aku menyadari. Gayaku mirip dengan pemanjat tebing. mulai berlari pulang ke rumah masing-masing. Membuat suara serangga malam di luar rumah tidak terdengar. Aku berdiri tegap serupa hantu yang ingin mengusik.“Oh. Lamat-lamat terdengar suara adzan dari musholla di gang sebelah. Namun sekarang aku tahu apa yang mereka lakukan.“ “Lim. Emak sudah senang kok.

aku takut sebab mengira ada pencuri yang mau masuk rumah atau ada setan di luar sana ingin mengambilku. Tapi aku tetap mau pulang. Aku ngeri membayangkan bila itu terjadi. Ada pipa kabel listrik tak sengaja kusentuh. mirip tripleks. *** Malam itu aku pulang larut malam. Sekarang aku berada di atas kamar. Besok mungkin Ibu akan marah dan mengingatkanku lagi. Lubang hidungku kemasukan debu. Ibu tidak mencariku. Akhirnya aku pulang sendiri. Dulu. penopang atap rumah. Yang aku takutkan anjing mulai menggonggong. dan itu sangat mengganggu. Akan kuceritakan. Jangan sampai aku terpeleset dan mengenai lantai loteng yang rapuh dan mudah pecah itu. Belum pernah aku bermalam di rumah orang tanpa Ibu. Kukoyak sarang labalaba itu menjadi helai-helai yang berjatuhan.Badanku mulai merayap seperti cicak raksasa menggerayangi dinding di keremangan malam. aku jongkok membungkuk mendekap lutut. Sedang direnovasi menjadi rumah batu. Pondasinya telah dibangun. yang tidak mengenakkan pandangan kala mendongak. Di bawahku adalah langit-langit ruang tamu. Kukumpulkan dan kuremas kemudian kujadikan bola-bola kecil lalu membuangnya begitu saja. Lantaran bayanganku terlihat memanjang. Seperti aku takut tercebur ke dalam sungai karena tidak bisa berenang. membentuk kerangka atap. Dulu. Kini aku baru tahu kalau itu adalah proses seng kembali ke ukuran semula setelah siang tadi memuai karena dipanggang panasnya matahari. Aku bakal dibangunkan dan orangtuanya akan bilang pada Ibuku. Kuhela napas berkali-kali mengeluarkannya. Mereka menyarankan sebaiknya aku menginap saja. Di salah satu sudut atas kamar inilah aku termangu memandang perbuatan Ibu dan Bapak. supaya tidak terantuk atap seng yang akan menimbulkan bunyi gaduh. Ibu selalu mengingatkan agar jangan pernah memegang pipa tersebut. aku pelan-pelan melongokkan kepala dan menariknya kembali jika terlalu menjulur ke depan. Aku berjalan merangkak serupa hewan berkaki empat. Biasanya Ibu mematikan hubungan listrik tiap kali aku membersihkan loteng ini yang dipenuhi sarang laba-laba. Tapi aku tak peduli. Agak berisik. Suara napas memburu di bawah sana melecut semangatku untuk segera mendekat. Hanya lampu di kamar ibu yang menyala di dalam rumah. terbuat dari adonan kertas basah yang dicetak. Tangan kananku menggapai permukaan tembok yang kasar. Biasanya mereka beranggapan bahwa ada tikus berkeliaran di atas sini. Aku berjalan menyamping sambil tetap duduk mendekap lutut dengan kepala tertunduk. Saat aku masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Kawan. Tempat tinggalku masih rumah panggung yang hampir roboh waktu itu. Kuhirup bau pengap. jadi aku aman. Mataku tak berkedip dan menatap nanar seiring dengan debar yang bergenderang seperti ada gendang ditabuh di dadaku. tidak terlalu terang tapi cukup membuat benda-benda yang diterpa cahayanya memiliki bayang-bayang. beberapa ruangan memang belum mempunyai plafon. Aku berlari dan berhenti setelah sampai di kolong rumah. Ibarat Kabut tebal menghalangi melihat jalan di depan. Anehnya. Aku meringkuk sebentar di balik balok paling besar. khawatir aku kesetrum. video game. Sering tanpa bisa kucegah. udara agak panas. Sarang laba-laba mulai menghadang ketika aku menerobos paksa. Di bawah sana sendu yang temaram. seperti batang pohon yang dijadikan jembatan untuk meniti. Aku melangkah dengan cara merunduk menuju balok yang rebah. Sekarang aku telah tiba di tujuan. dia punya mainan baru. Aku pamit saat temanku itu sudah mengantuk. menimbulkan gelap yang terlihat. Lupa waktu saking asyiknya bermain di rumah teman. Sesekali memang terdengar gemeretak seng seperti ada orang yang berjalan di atasnya. yang tak semestinya kualami. kami bertetangga sebelah rumah. membuatku gerah sehingga keringat membasahi bajuku. kusapu cepat karena lengket dan terasa gatal seperti kalau aku kegelian. Bahkan banyak yang tersangkut di sela-sela jari. serpihan tembok berjatuhan seperti rintik hujan menyentuh bebatuan. pagi-pagi benar baru pulang. Rumah ini beratap seng. Juga melekat di bajuku dan susah sekali menghilangkannya seperti noda yang membandel. Tadi pagi Ibu menyuruhku membersihkannya dengan sapu lidi tapi tidak kulaksanakan karena asyik bermain di rumah teman. Saat sarang laba-laba itu membalut wajahku. Kuberanikan diri karena jaraknya dekat. Kecuali ruang tamu. Ada juga balok yang melintang dan membujur. terletak di tengah rumah yang merupakan pusat dari balok yang bertebaran. Sering begitu sejak pertama kali aku melihat adegan ini. Asal kamu mau menyimak dengan baik pengalamanku yang pahit. Mungkin sebentar lagi hujan. . Setelah jeda sesaat aku kembali berdiri. Setelah aku sampai di tempat bertemunya atap seng dengan tembok. termasuk kamarku dan kamar Ibu.

Padahal dia tahu ada orang yang sedang mandi. mencabut rasa kantuk. Mereka hanya mengira aku tidak dibukain pintu. Sementara aku tergugu. dan dia masuk ke kamar mandi tanpa keraguan sedikit pun. Aku ingin marah entah kepada siapa. yang mungkin tidak ada obatnya. Bahkan tak jarang suaranya hilang berganti desah bagai kehilangan napas. Karena tak lama. Aku kembali ke rumah tetanggaku. tenggorokanku tersumbat. Peluhnya masih tertinggal di badanku. Aku menggigit kain bantal. Dia kenakan kembali pakaianku sebelum berbalik membelakangiku. Merasuk ke telingaku menimbulkan kesan yang dalam. Awalnya aku menyukainya karena baik padaku dan sering mengajakku jalanjalan mampir ke rumah temannya.Aku lewat belakang. bergemelutuk bagai menahan gigil. Kakak temanku berbaring di sampingku tapi juga tidak tidur. Mengguyur kelamnya malam. Dia melucuti baju dan melorotkan celanaku. Aku disuruh cuci kaki sebelum masuk kamarnya. Aku hanya mematung. Terkadang mengejan seperti orang buang air. Lalu dia menyandarkan punggungnya di pintu kamar mandi hingga tertutup rapat. Ketika dia melenguh yang paling aku ingat adalah. mungkin aku dapat menyimak dengan jelas suara mereka yang mengerang disela bunyi ranjang yang bergoyang. Aku pernah mendengar suara yang sama pada lelaki yang berbeda. Tapi sayup masih bisa kudengar rintihan Ibu yang seperti disakiti. Menyingkirkan dengan kaki. nyenyak sekali. Di luar sana kudengar Ibu berteriak memanggilku pulang dan dibalas oleh ibu temanku bahwa aku sudah tidur. Matanya merah. Kurasakan napasnya memburu. Aku melihat situasi dalam rumah melalui lubang di papan. Dia melarangku bilang-bilang! *** “Awas kamu Anto!” . Satu-satu kemudian menderas. Aku merasa basah. Aku masih tetap duduk memeluk lutut dan membeku. mataku membelalak dan berair yang bermuara di pelupuk. Aku takut sekali. Istirahat sebentar di serambi. Kawan. Dia membalikkan badanku lalu menindihnya. Tubuhku bergetar menahan debar. Aku berbaring gelisah. Aku tak mampu menyimpan rahasia ini. hanya kutahan dengan ember berisi pakaian kotor yang terendam. tapi tetap saja menyisakan cela untuk melongok ke dalam. Mereka seperti bayi raksasa. *** Lamunanku buyar ketika kudengar hujan turun memukul-mukul atap rumah. Dia menarikku berlutut di hadapannya. Ini rahasiaku. tempat aku memasukkan tangan untuk membuka palang pintu belakang. Begitulah. Sejak itu aku tahu masa kecilku telah hilang. Andaikan aku di bawah ranjang. sampai kakak temanku itu habis tenaga. Sementara orangtuaku belum pulang dari pasar. Meraung serupa singa yang terluka. Sakit. Semuanya sudah tidur kecuali ibu dan kakak temanku. Dan apa yang aku saksikan. Apakah lelaki itu tidak mendengar gemericik air yang bersimbah-simbah? Tentu aku kaget dan hanya bisa terhenyak serta gugup. Berteriak seperti lolongan panjang tapi tertahan. Adegan itu masih terbayang. menunduk hampir menangis. mengendap-ngendap menaiki tangga kayu. jadi kuceritakan saja padamu. Namun itu hanyalah awal. Timba di tanganku jatuh berdentang menimbulkan gaung yang lama. Leherku terasa kering seperti dihisap. perih. belum cukup umur bagi seorang bocah yang baru saja pandai membaca. hampir lepas dari engselnya. Beberapa kali kupejamkan mata tetapi aku tidak bisa tidur. Padahal. aku sedang dibekuk tak berdaya. tangannya meraba-raba tubuhku dan menyergapku dari belakang. Di mulutnya terkulum sebatang rokok yang membara dan asapnya mengepul ke manamana. tapi aku harus merasakan lagi luka. berharap bisa menghilangkan nyeri. merangkulku bagai memapah orang yang terjatuh dan lututnya lecet. Kemudian pamanku itu kencing seolah-olah dia menganggapku tidak ada di sampingnya yang tengah telanjang bulat. Ibu temanku menyuruh kakak lelakinya yang sudah SMA mengajakku masuk. Perasaanku belum sembuh waktu itu. Kugigit satu persatu jari-jari tanganku. Mengajariku merokok di pangkal paha. gigiku saling beradu. Tapi sore itu mengubah segalanya. Adik lelaki bapak yang masih bujangan. Pamanku itu numpang tinggal sebagai tamu hanya beberapa hari sebelum pergi meninggalkan benci di hatiku. ember berisi cucian menjauh darinya. Setelah itu dia mengancamku. Mataku membelalak tak berkedip mengamati tingkah laku orangtuaku. Mendengkur. Aku menuruni tangga dengan perasaan hancur. Bapak lain lagi. Saat aku mandi tanpa menutup rapat pintu kamar mandi karena rusak. Mulutku terkatup rapat. Temanku sudah tidur di kamar orangtuanya. Akan kusimpan baik-baik. Kembali berlari membawa hatiku yang kalut.

Menolak badanku seperti mendorong ke atas. Januari. Merek apa saja. debu berhamburan bagai ketombe yang berjatuhan. Dari jarak dua meter tempat aku duduk. Di luar. Telentang membuat perutku kembang-kempis. aku ketahuan. hanya menundukkan kepala karena merasa bersalah. Aku merinding menahan kencing. Entah di mana mata Ibu hingga bisa melihatku. Baru kusadari nyamuk berdengung menyerbu telingaku. Berharap dan berjanji dalam hati akan membereskan semuanya tanpa bekas. sementara Ibu bosan menunggu. diteguk dan diletakkan kembali. Terima kasih! Doamu terkabul. Kalau bisa aku ingin menggulung tubuhku sekecil mungkin. tanpa jejak. kita langsung ke rumah Pak Mantri. hujan makin turun deras. Belum sempat aku menarik napas ketika keseimbanganku goyah. Aku baru tersadar ketika wewangian itu dikalahkan oleh bau badanku sendiri. Lekas aku beringsut dari pembaringan. Kasur busa itu menggeliat seperti tidak mau ditimpa. Ya. Suara gelas terisi air. Aku menghirup udara banyak-banyak dan menghela habis-habisan. Sedikit kupejamkan mata. tadi aku berada di atas sana. Dengan langkah tergesa-gesa aku berbalik ke jalur yang menuju kamarku. Keluar dari kamar.Juni 2008 Hipotesis Sebuah Parfum September 25th. Gerakanku tidak terkontrol saking paniknya. Kurasa ada seekor laba-laba kecil hinggap di leherku. Jika Ibu tahu aku mengunci kamar berarti ia tidak salah lihat. Sangat wangi. mengganti pakaian. Aku menempelkan pantatku di permukaan tembok sambil menjulurkan kedua kakiku ke bawah. parfumnya—entah merek apa—tercium. Terdengar gemericik air di kamar mandi. Tubuhku terhempas dalam. hari pertama kamu libur nanti. Pikirku. Barangkali dendam gara-gara rumahnya kuberantas. “Kapan kamu libur?” Aku tidak menjawab. Laki-laki jetset penganut kapitalisme. Aku juga heran. melompat ke arah kasur busa yang tak jauh dari situ. tulang belakang melengkung. membawa perasaan cemas. Kedua tanganku silih berganti memegang balok di atasku. Ketika bangun pagi aku merasa mataku sembab dan agak bengkak. Buru-buru aku balik ke tempat tidur. Lega tapi resah tak mau pergi dari hatiku. Ibu sudah menghadang dan bertanya. Astaga. Dengan sigap aku membalikkan badan menghadap tembok dan tepat saat itu kakiku yang satu lagi bertumpu pada pinggir meja belajar. Kamu sudah kelas satu SMP. badan ini mesti diubah komposisi wewangiannya. Memeluk bantal erat-erat.Kawan. Saat menegakkan badan sedikit kepalaku tertumbuk balok. Untungnya bukan seng sehingga suaranya teredam meski sakitnya serupa disengat lebah. Aku menunggu supaya tidak dihakimi malam ini. Aku cuma ingin menghargai diri sendiri. . Kawan. Kuatur napas biar berirama kembali. kutepis dengan cepat seperti memukul kulit. Naluriku tersentak. kok bisa sampai lupa! Sudah waktunya kamu disunat!” Aku menganggap itu adalah hukuman buatku dan tanpa kusadari di hadapanku bukan lagi Ibu melainkan Bapak yang sedang berkacak pinggang. bukan untuk menggaet perempuan dan berbeda dengan teman-teman aktivis lainnya. Perlahan tapi pasti salah satu kakiku menjangkau gagang pintu. Kunikmati wewangian itu agak lama. Terpaksa aku harus terjun. Aku dihantui bayang-bayang akan apa yang bakal terjadi besok? Barangkali orangtuaku terlalu lelah buat membentakku malam ini atau mereka cuma menasehatiku untuk tidak mengulanginya lagi? Mungkin juga hal ini tabu untuk dibicarakan dan mereka sedang berunding? Kali ini aku tidak mendengar apa-apa selain gemuruh hujan. Doakan aku. Pintu kamar Ibu terbuka. Posisiku seperti udang. Depok. asalkan wangi. Aku gerah sekali. Biasanya aku tidak pernah mengunci kamar di malam hari. lebih karena bau parfumnya. Kuacak-acak rambutku. Bukan karena ketampanan laki-laki bangsawan itu. hendak turun. Sejak itu aku ingin beli parfum. menjaga keseimbangan. Yang jelas mereka tetap melanjutkan. “Baiklah. kenapa kali ini aku terkesima. tapi aku mesti beranjak dari persembunyianku ini sebelum mereka melabrak kamarku untuk memastikan aku tertidur lelap. 2008 by andika destika khagen Entah kenapa aku bertemu dengan Satria tadi pagi.

Toh. bau amis berganti menjadi aroma terapi. Parfum ini harus dinikmati semua orang—minimal warga kampus ini. “Tak apalah menyisihkan sedikit uang untuk menghargai diri sendiri. Dari tatal ke tatal. dunia memang butuh aroma mengganti bau amis darah yang tiap hari keluar dari perut ibu pertiwi.” Oh. mengeluarkan pujiannya. Kupilih aroma terapi. sabun mandi saja sudah terasa cukup membasuh badan lusuh ini. Pikirku. Senyumku lebih mengembang. wajah. Aku bangga membuat dunia menjadi wangi. dan Rini. Itu yang baru saja kukenali.” Auraku sedikit bertambah. Dari ujung ke ujung. memang ada yang berbeda dari parfum. Parfum di sana tentu lebih harum daripada yang dijual di swalayanswalayan yang hanya untuk kaum konsumerisme kelas menengah ke bawah. kenapa tidak semua orang sadar akan wewangian? Wajar saja Bidin jadi Walikota. Untuk itulah. wajar adanya dan kami tak pernah mempermasalahkannya. Rasanya. Inikah alasan orang-orang pakai parfum? Parfum. Atau mungkin juga dibeli pada paranormal. kasiatnya lebih manjur daripada yang dijual dipasaran.” Tiga orang yang berpapasan. Pelajaran itu kudapat dari Satria.” Setiap senyum kuanggap kasiat parfum. . parfum. Kesadaran akan wangi benar-benar harus ditanamkan. Siapa lagi yang akan memujiku? Aku rindu pujian sebanyak mugkin untuk meyakinkan pada dunia bahwa wangi itu penting. Tapi sayang. Mereka mesti diberi penyadaran bahwa parfum itu penting. mereka tidak berkata. rasanya terasa cukup membuatku lebih menikmati hari. “Rambutmu rapi. Atau setidaknya lagi teman-teman diskusi. Di antara puluhan yang berjejer di rak swalayan. dan senyumku. Bau parfum ini sama halnya dengan sedikit demokrasi yang dirindukan warga Pakistan pasca tertembaknya Benazhir Bhutto. Wangi atau tidak hanya sebuah perumpamaan dan bentukan sosial dari keadaan. Parfum harga tujuh ribu saja rasanya sudah cukup untuk mahasiswa yang tak pernah punya anggaran membeli parfum. Bukankah tidak ada orang yang suka dengan bau amis? Tak apalah. Aku pikir. cuma aroma terapi yang membuat hidungku merasa nyaman. Biasanya. orang yang kuhadapi tiap hari hanya itu-itu saja: Sardi. Itulah bau terindah yang selalu kami hirup. Satria tak lagi jadi bahan diskusi kami. Tidak semua orang yang bisa membeli parfum pada paranormal. Dibeli di Jerman atau Amerika. “Aku telah menghargai diri sendiri di antara orang-orang yang selalu memikirkan orang lain. Pikiranku sedikit keliru. Rinto. “Senyummu indah Kus. Rusni. Menarik lawan jenis dengan parfum memang bukan hal yang biasa lagi. Diolah sendiri. Setidaknya. Pertama kalinya. Kami tak pernah menghiraukannya. parfum bukan menjadi kebutuhan pokok. Bau keringat yang diberikan Tuhan harus dilawan dengan aroma terapi. Ia tentu pakai parfum yang harum dengan harga yang sama dengan uang kuliahku dua semester.Ini pertama kali aku punya keinginan beli parfum. Ia jadi pahlawan sekarang. Ah. Bau amis ketiak dan keringat menjadi satu membentuk aroma yang tidak sedap. Bau badan mereka. Mereka biasanya menawarkan parfum dengan aroma yang berbeda. Tujuh ribu rupiah. Pasar selalu memberikan kemudahan bagi penganut konsumerisme. Biayanya lebih besar daripada membeli parfum buatan Jerman atau Amerika. tak ada yang bisa membedakannya. Kus. Parfum Walikota tentu tak bisa aku beli dengan alat tukar yang hanya berjumlah tujuh lembar uang kertas bergambar Kapiten Pattimura. oh. harga sebuah parfum (aku belum mampu membedakan antara parfum dengan splash cologne. aku baru saja tersentak. Katanya. Parfum hanya pantas dimiliki bagi mereka yang berpasangan. Tak ada rasanya orang yang berani duduk di dekat pasangannya dalam keadaan amis. setiap yang wangi adalah parfum). Parfum ini telah menular ke rambut. Aku merasa beruntung bertemu Satria tadi pagi. termasuk juga aku. bahkan bau keringat pun tak ada lagi orang yang menghargainya! Tapi. Kelebihannya mungkin terletak pada wangi natural yang ditawarkan. Lima kali semprot. dari ketiak sampai buah baju. Parfum ini membuat orang-orang menyapaku. Aroma terapi menyebar ke seluruh penjuru sampai sudut yang tak terhingga.” Tak mahal harga untuk sebuah parfum. *** Inilah langkah terindah yang pernah kuayunkan. “Bau keringatmu berbeda hari ini.

meskipun ia seorang yang harusnya bisa dipercaya. berlawanan dilihat. Apalagi yang kuharapkan dari parfum? Semuanya terlihat begitu sempurna. astaga. Aku menikmatinya. Tentu ia tidak sedang bercanda. Kus. Aku ngeri membayangkan Walikota yang menggunakan parfum yang dibeli dari Jerman dan Amerika. tapi kebutuhan. Menghabiskan uang dengan hal. Ustadz Hamzah juga bilang sepatuku baru. Tak ada lagi keburukan yang akan menganga karena semuanya ditutupi dengan bau parfum. senyum. Jika keadaannya setelah ia pakai parfum. Pelbagai keanehan muncul. Benar-benar tidak bisa diterima. Isinya masih banyak. Pantaslah banyak orang yang membeli parfum sampai ke luar negeri. “Celanamu baru.” Apakah parfum ini menular juga ke celanaku? Roni. bau yang busuk tetap akan tercium. Kus. Aku teringat Satria. dan senyum yang kusam menjadi mengembang. Kenapa tidak ada yang bisa membedakan antara dua hal yang jelas berbeda? Sepatu ini jelas sudah lusuh. dan sepatunya? Tentu jauh lebih bagus dari yang sekarang dikenakannya. ”Kau begitu berbeda hari ini. Tidak sempat pula kiranya untuk beli celana baru. Sepatu lusuh saja terlihat baru. Untuk beli parfum saja aku harus rela mengorbankan makan siang. ini jelas tidak benar. setelah berpapasan dengan Rudi. adalah barang konsumtif dengan harga tak terkira—mungkin juga tak terjangkau. Kus. Celanamu beli di mana?” Aku tersentak dan harus terima dengan perubahan yang serba tidak jelas ini. Kelewatan. Baru dan usang tak ada yang bisa membedakan. Setiap senyum kuanggap kasiat parfum. Cuma lima kali semprot di setiap sisi yang dirasa perlu. Seharusnya aku bangga dengan keadaan ini. jelas nyata. bagaimana orang melihat baju. Bagaimana dengan sepatu baru? Tentu orang akan memandang new baru atau double baru. dua bulan baru parfum itu akan habis digunakan. jika aku pakai. Gawatnya. Semua yang lusuh kelihatan baru. Bagus dan buruk tak jelas lagi mana batasnya. Untuk pertama kalinya Suci membagi senyumnya kepada orang yang tak pantas menerima senyuman. Semakin menakjubkan. seorang gadis berkepala batu hari ini mencair. Nalarku berjalan. rambut yang tidak berminyak kelihatan rapi. Apakah mereka semua sudah gila? Hipotesis ini begitu membingungkan. Tapi. Luar biasa.” . bahkan tidak bisa membedakan celana yang baru dan usang. bila dibandingkan dengan kaum duafa. Walau belum tentu nyata. Hipotesis ini benar-benar membingungkan. Semua benda yang menggantung di leher. Betapa kasiat ini tak pernah diduga sebelumnya! Keterkejutanku berikutnya terus bertambah. Inilah sebenarnya yang diharapkan dari parfum: sebuah kamuflase akan tampilan bentuk. Semua yang ada. Bau badan bukan kodrat. setidaknya untuk mengurangi bau amis. Hidung-hidung itu punya kesimpulan yang sama: parfum di badanku begitu menggoda dengan aroma terapi. tapi tidak dengan sepatu. Sama halnya dengan kenikmatan orang-orang pada umumnya akan tampilan bentuk. Hidung-hidung manusia ditusuk seperti kerbau. parfum ini ternyata membuat dunia menjadi absurd. Tiga lobang menganga di sisi kiri dan di depan. Bahkan Suci. apalagi berdusta. Wewangian ini begitu sempurna. Kapan kamu beli?” Apalagi ini? Hey. tak ada yang sadar bahwa yang dilihat tidak seperti yang sedang aku pakai! Aku teringat akan kemunculan parfum ini ketika keluar dari toko. Tapi apakah bau amis mesti ditutupi? Bukankah ada pepatah mengatakan ”Sampai manapun. semua orang bilang sepatuku baru. Sepertinya tubuhku tak lagi mutlak menjadi milik pribadi. terpakai di badan. Kenapa Rudi bilang baru? Sedikit pun tidak ada tanda-tanda sepatu ini baru. Aku mulai curiga pada parfum ini. Bagaimana dengan orang yang tak pakai parfum? Aku hanya mampu mengatakan bahwa parfum itu penting. Kodrat dan kebutuhan mesti diletakkan pada tempat yang semestinya. dan diletakkan di dekat kaki. Apalagi melihat senyum Suci.Diskusi dengan bau badan amis tak lagi menarik bagiku. Orang yang bilang sepatu yang aku pakai baru. Parfum ini ternyata jauh lebih membingungkan. perlu diragukan otak yang sedang dibawanya. “Sepatumu bagus. *** Lima semprot parfum beraroma terapi ini membuatku tak habis pikir. tak pernah terpikirkan untuk menggunakannya. Lagi-lagi parfum ini mempesona. yang baru saja menyapa.

“Kau tetap bau keringat. parfum itu mesti dibuang. Tangisan siapa? Aku atau ibuku? Aku sudah berhenti menangis. Aku tidak akan terima ini. Tujuh lembar uang yang bergambar Kapiten Pattimura. Tapi yang jelas pintu kamar terbuka. juga di sini. Hipotesisku baru saja selesai: wangi parfum membuat orang lupa akan sepatu buntut! Oh. Begitulah huruf-huruf yang tertulis. “Yang berubah pada dirimu adalah. ia hanya bilang. Suara-suara bernada tinggi yang menakutkan. Suara yang kemudian berlanjut kepada tangisan. sejak lima semprotan aroma terapi tadi pagi. Kus?” Ini keterlaluan. ke mana hilangnya parfum yang kutaruh tadi pagi di atas meja?*** Ibu dan Anak Januari 28th. Atau seperti sebuah monumen. tidak lagi bau keringat. Di buang sejauh-jauhnya sampai tidak terlihat oleh Tuhan sekalipun.” Tidak ada yang berubah. Kos-kampus-sekre tempat diskusi adalah tempat yang tak berubah kulalui dari waktu ke waktu. aku bingung dengan kata makna. Setidaknya. “Bau keringatmu berbeda hari ini. Ketika kutanyakan pada Rini. sepatu. “Aku baru saja melihat kau di Pasar Raya.” Parfum ini harus segera dibumi hanguskan.Pertentangan antara kebutuhan dan keinginan berkecamuk. Sepertinya tiga tahun. Kus. keinginan tentu tak tega memperbiarkan bau busuk mengotori udara yang tak lagi bersih. aku menangis. Satu di tempat penuh kebohongan. Aku berada di pangkuan ibuku. dikembalikan lagi ke swalayan. Hari-hariku dihabiskan hanya di kampus ini. Atau mungkin sedang berbaring. bahkan tubuhku sudah diduplikasi oleh parfum ini. Tapi aku masih belum bisa membaca. Tampak sebuah jembatan. Dikubur sedalam-dalamnya sampai di bawah tanah yang tidak terjangkau oleh cacing. Aku sedang duduk di tempat tidur. dan senyummu begitu indah. Apakah aku menangis ketika itu? Mungkin. Iya. karna hari ini berbeda dari waktu yang sebelumnya. Tunggu. Tampak ibuku berurai air mata. Ia mencium pipiku. Suara tangan ayahku yang menyentuh pipi ibuku. Kus. Plak.” Tak ada lagi ampun. tidak ke mana-mana. “Aku selalu di sini Rinto. Aku masih mengingatnya dengan jelas. Aku tak bisa menjelaskannnya. Oh. . baju. Dua tahun. Aku tak pernah kemana-mana. “Dari mana saja kau. Terdengar suara-suara bernada tinggi. Rinto. Suara tamparan itu. Rinto melihatku di pasar. S-E-M-A-R-A-N-G. Di lain hal. kau serba baru sekarang. Sampai sekarang. Menangis karena apa? Lapar? Popok yang belum diganti? Haus? Atau aku hanya ingin mengeluarkan air mata saja? Tapi sepertinya aku menangis karena suara-suara itu. Aku lupa lagi. tidak bisa diganti dengan ketidakbenaran yang diciptakan oleh parfum ini. Suara-suara dari kedua orang tuaku. Aku berada di dalam suatu kendaraan panjang dengan kursi-kursi ganda di setiap sisinya. tidak pernah ada yang bilang. ah. 2008 by Anekdot Entah berapa umurku saat itu. Kalau bisa. Dua tempat ini begitu berbeda sangat. Aku melihat keluar jendela. “Kau jelas mengada-ada. Rasanya tidak berlebihan.” Sebenarnya hanya itu yang kuharapkan dari tadi pagi. Tak seorang pun yang tahu aku pakai parfum. * Di mana aku? Aku berada dalam kebingungan. Suara-suara yang belum bisa kumengerti kata-katanya. Ibuku tersenyum kepadaku. tetap bau keringat dan amis. Mari kita mulai saja diskusi ini. Tapi. Kebutuhan mengatakan bahwa tak perlu ada parfum toh tujuannya mengaburkan makna yang sebenarnya.” Aku mulai tidak tahan lagi dengan perlakuan parfum ini. satu lagi di lingkungan akademis. Celana. Atau mungkin tiga tahun. yang seharusnya digunakan untuk makan siang. Tampaknya aku baru terbangun dari tidur lelap yang panjang.

Itu yang aku rasakan untuk pertama kali ketika keluar dari kendaraan itu. lelaki yang bukan ayahku. Tampak ibuku menyesal. Ibuku sedang menangis di antara orang-orang itu. Entah sejak kapan aku jadi suka merasa gelisah dan depresi tanpa alasan yang jelas. Raut muka mereka tampak sayang. Lelaki itu. Lelaki itu cukup baik kepadaku. Tamparan itu. dua orang yang dipanggil mama dan papa oleh ibuku. Rasa sakit itu kembali menyerang. Aku masih belum tahu akan melanjutkan SMP ke mana. Aku disuruh menetapkan keputusanku sendiri. Aku menyadari bahwa aku sudah tidak tinggal di kamar itu lagi. Lelaki itu memanggil nama ibuku. di mana kau berada saat menstruasi pertamaku? * Seperti de ja vu. Ayah. Panas. Dan ibuku juga tampak gembira. Mereka berdua saling menghampiri. Mengapa aku sekarang tinggal di sini? Ayah sebetulnya tidak terlalu setuju aku tinggal dengan Ua di Jakarta. Rasa sakit yang tidak tanggung-tanggung pada bagian perut dan payudara. Aku sering menemukan diriku di tempat yang asing dan baru. Ketika itu namanya masih Ebtanas. Dia membelikanku boneka. Udara Jakarta yang panas dan gerah membuat keringatku semakin berceceran. Kenapa? Apakah aku merepotkan ibu? Apakah ibu tidak mau mengurusku? Apakah aku menjadi benalu dalam kehidupanmu? Rasa sakit itu semakin merajalela. Apa yang telah dia lakukan dan apa yang telah dia jalani. Aku juga sebenarnya tidak terlalu antusias. * Aku sudah lebih dari dua tahun tinggal di rumah Ua. Ibuku menyahut. Aku bingung.Kendaraan itu berhenti. dan lega. Seorang anak berumur 11 tahun disuruh memilih jalan hidupnya sendiri. Mereka semua sedang mengelilingi ibuku. Tidak seperti biasanya. Mereka tampak sedang berbicara pada saat yang hampir bersamaan. Suara mereka mengisyaratkan rasa kesal dan menyesal. Tampak seorang lelaki yang berjalan menuju ibuku. Cuaca panas yang gerah. Kepalaku mulai terasa pening dan pusing. Ibu? Ibu kan yang tampaknya benar-benar ingin aku tinggal dengan Ua. Tampak dari muka mereka suatu perasaan senang dapat bertemu. Kalau tidak salah badanku menjadi merah karena gatal. Lelaki ini baik kepadaku. Baru beberapa tahun kemudian aku akan tahu tentang arti dari semua ini. Hanya di tempat dan suasana yang berbeda. kesal. Kepada orang yang sama. Entah sejak kapan keringatku jadi bau. Ini kehendakmu kan. Dia juga sering memberiku permen dan coklat. Sudah berapa lama aku tinggal di kamar ini? * Wajah-wajah dari orang-orang yang kukenal. Kadang-kadang suka teringat wajah ayahku. seorang wanita dan seorang lelaki yang mukanya mirip dengan ibu. Entah berapa lama aku tinggal di kamar itu. Kenapa ibuku sampai lari dan kenapa ibuku ditemukan kembali. Para penumpang mulai keluar melalui pintu. Udara yang panas dan gerah membuatku tidak betah. Oleh orang yang sama. Termasuk ibu dan aku. Orang tuaku mengatakan bahwa itu terserah kepadaku. Apakah tetap di Jakarta atau kembali ke Bandung. Ibu. Mungkin aku kangen kepadanya tapi sepertinya tidak juga. Dia sering mengajak aku dan ibuku berjalan-jalan. . Ayahku juga terlihat menyesal.

Orang-orang melihat kejadian itu. Itu yang kuinginkan. Aku melihatnya dari kaca mobil ayahku. Emosi macam apa yang kurasakan saat itu. Pasti dia terlihat cantik sekali. Kepuasan itu semakin besar karena seseorang. Orang itu tidak datang. * Sepasang sepatu yang asing tampak di depan pintu. Aku tidak membencimu tapi aku tidak bisa menemukan alasan untuk menyayangimu. * Sudah kesekian kali telepon berdering. Aku membayangkannya dalam baju kebaya. apa yang telah kau lakukan hingga suamimu marah besar? Aku tidak tahu harus berpihak ke mana. sedih. Aku teringat pada ibuku. Entah apa yang kurasakan saat itu. Setelah itu aku tidak bisa merasakan apa-apa. Aku melangkah masuk ke dalam rumah. Aku kesal. Masa di mana emosi dan mental ditantang. Orang itu tidak suka dengan calon suamiku. Aku tahu alasan dia menelepon. Aku membayangkan pernikahannya. Ayahku menyeret ibuku keluar dari mobil seorang laki-laki teman kerjanya. Sembilan bulan. Di tempat umum. Tubuhnya yang menghampiri lelaki itu. Aku akhirnya mengangkatnya juga. Ibu. dan malu. Aku tidak merasakan apa-apa. Aku membuatnya menangis. Apakah itu cukup? Apakah itu satu-satunya alasan? * Pernikahan yang sederhana dan simpel. Sekarang sudah menikah lagi. Orang itu bersikeras bahwa aku tidak boleh menikahinya. atau kesenangan. Mereka menengokkan kepala kepadaku. Vas itu pecah berantakan. Muka ibuku yang panik. Aku sedang dalam masa pubertas. kemarahan. Itu yang kurasakan. Aku tidak tahu harus berpihak ke mana. . Orang itu mengatakan bahwa itu semua demi kepentinganku. Kepuasan. Aku lempar vas itu ke lelaki bajingan di depanku. Mungkin memang masa putih-abu adalah masa pemberontakan. Suara nenekku terdengar tua di telingaku. Aku hanya seorang anak ABG. Wanita itu baru resmi bercerai dengan ayahku dua minggu yang lalu. Penolakanmu semakin memuaskanku. Mungkin aku memang seorang wanita liar. kesedihan. Ayahku tampak menjelaskan permasalahannya. Tampaknya dia menjadi tidak sadarkan diri. Beberapa jam yang lalu ibuku baru menikah. Terdengar juga suara lelaki asing. Nasihat-nasihat nenekku terdengar hampa.Dago. kenapa kau tega sekali kepada ibu? Ibu. Muka ibuku yang tidak bisa aku definisikan. bingung. Kulihat dari jendela dua manusia sedang ngobrol dengan santai sambil sesekali bercanda. Terdengar suara ibuku dari dalam rumah. Sikap seolah-olah kau peduli semakin memuaskanku. Aku merasa hampa. Aku tidak tahu. Atau lebih tepatnya seorang remaja liar. Aku tidak menaruh perhatian satu persen pun pada omongan wanita tua itu. Tepat mengenai kepalanya. Tanpa pikir panjang aku ambil vas bunga di meja. Aku menyebutnya dengan berbagai macam nama. Aku memang tidak mengundangnya. Aku bentak-bentak dia. Ayahku ditenangkan oleh seorang tukang baso. Setengah jam yang lalu ibuku menelepon. Menyayangi seorang ibu seperti seharusnya seorang anak. Ayah. Orang itu mengatakan bahwa aku tidak akan bahagia.

Mempunyai arti yang sama dengan kata karma tapi tetap saja aku tidak percaya dengan kata itu. Luar dan dalam. Jangan sampai kamu melalui apa yang kulalui. Aku tidak merasakan cinta seorang suami. Wanita tua itu tersenyum padaku. Hatinya adalah aku. Sudah berapa lama aku tidak mencium tangan itu. Ternyata aku hanya memainkan diriku sendiri. Entah sudah berapa lama aku tidak menangis selama ini. Buah hatiku adalah reinkarnasi diriku. Aku mempermainkan hidupku sendiri. Buah hati. Ibu. Seorang wanita tua membukanya. Sudah berapa lama aku tidak berbicara dengannya? Karma… . Pada akhirnya aku dapat mengerti. Sudah delapan belas tahun. Tapi sesungguhnya tidak ada yang bisa kukenang. Aku hanya percaya bahwa segala sesuatu yang kita lakukan pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal. Kata itu muncul kembali dalam benakku. Aku tersenyum kembali padanya. Aku hanya ingin merasa puas. Wanita itu memang benar. Sudah berapa lama aku tidak berjumpa dengan ibuku. aku berdiri di depan pintu kayu besar rumah itu. * Cimindi. Rumah itu adalah rumah yang paling strategis di dunia. Like mother like daughter. Aku menggosok debu pada foto pernikahanku. Aku tidak berhak merasa marah atau tidak senang dengan pilihan hidupnya. jalan raya. Sudah berapa lama aku tidak membaui tangan itu. Pasar. Siang hari. Aku hanya ingin membalasnya. Aku mendekatinya dan mencium tangannya. Jasadnya adalah aku. Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Di tengah kebisingan dunia. sejak kapan aku harus mendengarkanmu?! * Hidup adalah alunan waktu yang tidak akan pernah kembali lagi. Rumah itu terletak di tengah semuanya. Tepat delapan belas tahun yang lalu. Rumah bekas jaman penjajahan Belanda yang tidak terawat. Apa yang kurasakan? Aku tdak merasakan apa-apa. Karma. Aku mengetuk pintunya dan mengucapkan salam. stasiun kereta api. Setiap orang mempunyai jalan hidupnya masingmasing. Aku mengakuinya. Tahun-tahun yang kulewati dalam kekangan komitmen palsu ini terasa hampa dan menyebalkan. Dari awal aku memang tahu kalau wanita itu benar. dan bandar udara.Jangan sampai kamu merasakan apa yang kurasakan. Ketika aku melihatnya aku melihat diriku sendiri. Bagaimana menyebutnya? Karma? Aku tidak percaya dengan kata itu. Aku melihat foto pernikahanku. Kukenang saat itu. Aku hanya kecewa tapi sekarang aku dapat mengerti. Aku tidak percaya kalau kau mengatakan itu. Kulit tembok yang warna aslinya putih sudah mengelupas di mana-mana. Ibuku mempunyai jalan hidupnya sendiri yang dia pilih dengan segala macam pertimbangan. Pada akhirnya aku mengerti.

Hingga tak kukenal lagi kesedihan. Lalu dibawanya aku ke Vat Xieng Gneun. Sayang tak pernah ada bila tak ada uang. Dijualnya aku disana. ‘Sayang’ memang benar-benar melimpah ruah di tempat ini walau hanya sebatas katakata. istilah sulit. Berakhir di ujung dagu. Tanktop dan rok mini tipisku serasa bagai gumpalan selimut bulu domba.Ibu. Paru-paruku rasanya belum setengah terisi. tapi waktu Ibu menyiksaku dengan kasih sayangnya. Belum lama kulitku terkena udara. Paman tak salah. Aku akan dilimpahinya dengan banyak kasih sayang. Senyum segera lenyap dari wajah Thailand. Pamanku bilang. sengak bau alkohol.” tolakku. hawa salju. Semua itu membuatku harus berkorban demi kasih sayang kepada keluarga. Ayah tak membelaku tapi membelaiku dengan sumpah serapah. Uh! hari masih terlalu pagi untuk masuk kamar lagi. Kebebasan udara belum lama kuhirup penuh-penuh. Atau demi apa aku tak paham. Aku bangun jam empat sore. Secepat kilat berubah jadi cibiran akibat penolakanku. atau kehitam-hitaman tercemar eyes shadow? Airmata tawaku kehitam-hitaman. Rokokku baru setengah kuhisap. Tiap malam mengucur deras dari sudut mataku sebanyak botol Lau Lao yang kutengak. Santaisantai berdandan mematut-matut wajah di potongan cermin retak. Sisi barat kota Vientiane. Karena aku sendiripun tak tahu dimana letak airmata kesedihanku. Seperti juga yang terjadi padamu Thailand! Sayangmu itu dalam semenit telah berubah jadi ludah yang jatuh ke tanah kotor. Keluasan langit malam ini baru saja kurasakan. bagaimana ibu dulu menghadapiku? TAMAT Perempuan Tepi Mekong Oktober 7th. Minuman keras itu menjaga tawa dan kegembiraanku setiap hari. Bagian kota yang lain sudah sepi seperti pemakaman Prancis yang megah dengan nisan berpilar pualam. Bisa juga untuk menambah modal berjudi Paman. Tamu Asia tak menyenangkan. Baru setengah jam aku berdiri di depan klub ini. 2008 by radiani Ayolah! Coba kau cari di mana airmata kesedihanku tersimpan! Kau tak kan pernah menemukannya. “Chau sa bai dee bor? (Apa kabarmu baik saja)” Oley pengemudi tuk-tuk tertampan di sepanjang Vat Xieng Gneun. Satu-satunya bagian kota yang selau ramai dengan kehidupan malam. menanyakan kabarku hari ini. Ayahku bilang. Rewel dan banyak tuntutan. Seumur hidupku tak kurasakan airmata kesedihan. uangnya lebih banyak. Sambil sesekali melempar pandang ke televisi yang siarannya tak kumengerti. karena sebagai petani kecil penghasilannya juga kecil. Tak pernah kurasakan hangatnya tetesan mengalir hangat merambati pipiku. Huh! Sayang katamu? Sudah lama kata itu jadi hantu buatku. Penyiar berwajah cantik itu berkali-kali bicara dengan bahasa tingkat tinggi. aku anak kesayangannya. Seperti apa warnanya? Berkilauankah bagai bulir permata menggelinding dari mata. ia sayang aku. Ibu memukul karena kehabisan pangan. Lagipula aku lebih senang melayani tamu bule atau negro. Kalau airmata tawa aku punya berliter-liter. atau memukul kakiku dengan tongkat. Ibuku bilang. “Bor! Bor! ( Tidak! Tidak!). Membuatku semakin yakin bahwa sayang yang sebenarnya tak pernah ada di muka bumi ini. bahasa orang terpelajar. ia adalah dewa penyelamatku. Sungguh sayang yang menyakitkan. Sapaan itu adalah ajakan untukku. “Sabai dee. phii huk! ( Apa kabar sayang!)” Seorang Thailand menyapaku. Lau Lao selalu menguatkan hari-hariku di sudut kota Vientiane yang ramai ini. Paman hanya memanfaatkan kesempatan melihat kemiskinan. masih malas untuk kembali ke ranjang. Atau aku terlahir dengan hati batu. Ayah marah karena tak tahu cara untuk menambah penghasilan. . Apa demi adikadikku yang berjumlah lima orang? Atau untuk Ayah yang tak mampu bertanggung jawab. Murah meriah bertebaran di mana-mana. Sebuah jalan di tepian Mekong. Mungkin hanya sekedar mengendorkan saraf Ibu. Tanpa dijelaskan dulu kenapa sayangnya diwujudkan dengan menampar pipiku. Tapi ia memukuliku sebagai ungkapan sayangnya. Minuman alkohol kelas rakyat khas Laos itu menghangatkan tubuhku dari terpaan angin sungai Mekong. Menakutkan! Aku sering kecewa karena percaya pada kata itu. Cuh! Dia meludah di hadapanku. yang selalu menegang bila melihat adik-adikku berebut makanan. Airmataku hilang tiap bulirannya melayang entah ke alam apa.

seperti seorang super hero yang muncul dari langit dan membawaku terbang ke angkasa. Hatiku mengeligis pedih. Kurasa itu perlu dibuktikan lebuh dulu. Aku tak mau kehilangan senyumku hanya karena cinta Oley. Bukankah seharusnya ia cemburu? Bila ia memang punya cinta untukku. Pelanggan akan memberi uang lebih. Perasaan yang ditimbulkan tatapan mata Oley “Thuppy. “Jadi seperti apa cintamu itu? serasa apa sayangmu itu? Oh. Dan yang tiga bulan itu merenggut semua senyum Kova. Karena tanpa senyum aku tak bisa menyambung hidupku. Aku harus selalu tersenyum karena senyum adalah bagian dari pekerjaanku. Saat menatap Oley yang termangu di belakang kemudi tuktuk terbungkus asap rokok. Aku tak tahu Oley. karena terlihat kaku. Bisa-bisa senyumku tak laku malam ini. selamat tiggal Thuppy. Dengan kesederhanaan. Tapi tetap saja bisa digunakan walau pasangannya tak ada. Aku tak tahan melihat senyuman di bibirmu Thuppy. Kompak dengan mataku. Senyum model apapun itu. Mata uang negeri manapun. Senyumku adalah hidupku. tak lengkap bila salah satu tak ada. Tapi aku dan kau seperti Laos dan Thailand. atau tidak keduanya sekaligus. aku menemukannya terselip di bawah pintu. Sekarang tanpa mariyuana Kova teronggok lemas tak berdaya. Uh! Kenapa tak kau tonjok saja negro mata keranjang ini! Bawa aku lari dengan tuk-tukmu. Entah dengan cara apa. Malam ini pun dia hanya memandang saja ketika aku sengaja lewat di depan tuk-tuknya mangkal. Begitu dekat tapi tetap saja di seberang. Aku selalu tersenyum. Pada kenyataanya aku terlalu pengecut. Sendok bisa digunakan tanpa garpu begitu pula sebaliknya. Kata orang mata tak bisa bebohong. Tapi tak sedikit pun aku memberinya kesempatan untuk berkata lebih dari itu. Seandainya aku bukan pelacur dan Oley bukan penjaja mariyuana yang berkedok supir tuk-tuk. Hanya tipis terbatasi Mekong. Hanya desah sawah.” Selembar kertas terjatuh dari tanganku. Oley melambaikan tangan dengan wajah sendu. Apalagi pernyataan cintanya. Maafkan aku Thuppy. Tapi mataku bekerja sama dengan bibirku adalah pembohong yang ulung. aku cinta padamu). derai sungai. Kami pasti bisa membentuk keluarga kecil yang tenang. Oley sampai hari ini aku hanya mendengarnya terucap dari mulutmu saja. Tatapan mata Oley sering membuatku beku. Mereka membohongi semua orang dengan senyum dan kerling. Perkawinan seorang pelacur dan penjaja mariyuana tak akan berjalan lancar. Tanganku bergetar tak sanggup menyangga beban yang tertulis di atasnya. atau bath. Bibir ini sekarang sudah jadi mesin senyum saja. ketika hari teriris sepi di sudut tikungan jalan. dolar. akan kusambar tubuhmu. Tapi aku terlalu mencintaimu. Senyumku untuk setiap lembaran kip. Cinta dan cemburu seperti sendok garpu. ketika telentang di hadapan lelaki hidung belang. setiap aku digandeng lelaki untuk diajak kencan. Aku tak bisa menyikapimu seperti semua laki-laki itu. koi hak choi ( Thuppy.” “La kon Oley! ( Sampai jumpa Oley). Tatapan mata Oley selalu membuatku bergetar. . Bukan karena aku tak suka tapi karena keberadaan Oley yang begitu dekat membuatku salah tingkah. Perkawinan Jay dan Kova hanya berjalan tiga bulan. Kubawa ke sarangku di puncak tebing curam yang tak terjangkau mahluk apapun. aku jadi tak bisa menjajakan senyumku dengan baik. Kami pasti sudah beranak dua tahun ini. Ketika sedang duduk menunggu pelanggan. hatiku kaku-kaku tak bisa bergerak bila Oley berkata begitu. Senyum manis yang mengundang. Aku ini perempuan yang harus selalu tersenyum. berisik jengkerik yang memenuhi hari-hari. Senyum tak boleh lepas dari bibirku. bila aku lebih banyak memberinya senyuman. senyum nakal dengan sedikit godaan. atau senyum puas sesaat sesudah melayani. Membohongi hatiku yang selalu merasa muram. Andai aku tak terdampar di jalan kelam ini. aku sadar akan perasaan yang sedang tumbuh di hatiku. Betapa aku ingin juga meikmati senyummu seperti banyak laki-laki lain. Seandainya aku elang. Senyumku yang palsu untuk setiap kata sayang yag juga palsu itu. Tak kuberikan sedikitpun kesempatan pada diriku untuk mendengar lebih dari itu. Aku tak mau itu terjadi padaku. Tanpa kemeriahan yang memabukkan seperti di jalan ini. Kata cinta itu telah begitu banyak meluncur dari mulut Oley.” jawabku sambil mengalihkan pandang. Bisa cinta atau cemburu saja. Hanya ada kau dan aku. Senyumku untuk setiap kata sayang yang terucap.” Aku mengusirnya. Sambil menyandarkan kepala pada bahu seorang negro kupandang wajahnya yang tampak pasrah. Dan Oley masih menggarap ladang orang tuanya di Luang Prabang.“Dee Chai (Baik saja).

Kenapa tidak langsung ke menu utama saja. Memang sering kali kulihat mobilnya terparkir di depan fitness center di samping sekolah. Apapun yang terjadi aku selalu tersenyum. kadang ke kiri. Perilaku gelisahnya sama persis dengan sewaktu dia ada di aula tadi: pantat digeser-geserkannya. Membosankan. ke depan. Rambut panjangnya yang tergerai berayun-ayun mengikuti langkahnya yang tergesa. Senyumku menghambatnya.Oley Membaca surat Oley. Kalau tidak menunduk berlagak mencari-cari sesuatu dari dalam tas kulit merk luar negerinya. dan dia yang duduk dengan gelisah di deretan kursi tunggu yang kosong. Aku terpaksa mengangguk (sok) ramah padanya ketika tatapan kami bertemu. Cobalah kau cari dimana airmata kesedihanku tersimpan. Paparan yang terlalu panjang dan terlalu lebar. Sebentar kemudian diturunkannya. sehingga si pantat bisa berbentuk sedemikian rupa. Sekedar untuk menyembunyikan seringai yang terlanjur muncul di ujung bibirku. Merambat ke atas ke arah kepala. Dagunya mendongak setiap kali mata kami bersitatap. Ganti kaki kirinya yang disilangkan ke kaki kanannya. pantat itu bukan hanya didapatnya melulu melalui latihan-latihan di fitness center itu. Dengan enggan. Aku ini perempuan yang selalu terseyum. kembali berlagak serius mendengarkan paparan kepala sekolah mengenai pencapaian-pencapaian sekolah kami di tahun ajaran ini. Tapi terhenti sampai di leher saja. kaki ditopangkan bergantian kalau tidak diketuk-ketukan di lantai. ke belakang. Begitu seterusnya. Bolak-balik diangkatnya tangannya untuk menengok jam berlapis emas putih di pergelangan tangannya itu. Maklum harga seperangkat make up yang dikenakannya setara dengan sebulan gajiku sebagai guru di sini. tapi berusaha tetap terlihat elegan. maupun jam tangan yang berkali-kali ditengoknya. dia pun mengambil tempat duduk di kursi pojok barisan depan. Entah apa yang sudah dijejalkannya di dalam sana. Akibatnya leherku terasa tercekik. dia sangat gelisah. Tentu saja keringat itu tak akan melunturkan riasannya. Pantat yang terlalu kencang untuk perempuan yang sudah tiga kali melahirkan. Beban ribuan ton rupanya menimpa dadanya yang penuh (terlalu penuh juga untuk ukuran perempuan yang sudah tiga kali melahirkan?). Matanya berkeliling mencari-cari tempat duduk yang kosong. Padahal sudah ada jam tergantung di dinding aula. Dari tempatku duduk sebagai notulen. Tak mungkin ditemukan. gerak-geriknya terbaca jelas. Sementara itu kepalanya terus berkeliling. Sesaat kemudian aku berpaling. Aku yang sedang melayani Bu Mira. Seakan dia ingin memastikan kalau jarum jam dinding itu sudah berputar sebagaimana seharusnya. Sekilas dapat kulihat setitik keringat meluncur di dahinya yang putih mulus. Sangat jelas. Hendak menuju mata. 2008 by birulangit Diam-diam aku memerhatikannya sedari tadi. Sesekali dihelanya nafasnya. Aku sudah tak sabar. pandangan berkeliling atau menunduk berlagak mencari-cari sesuatu dalam tas. pengambilan rapor. Karena sekarang aku yakin aku tak memilikinya. Kini benar-benar kunampakkan seringaianku. Kini kedua kaki langsingnya sedang mengetuk-ngetuk lantai tanpa irama. Sedari tadi dia tidak tenang. Dia membalasku dengan anggukan dan senyuman teramat tipis sembari dengan angkuh mengangkat dagunya. Sesaat dia berhenti di ambang aula. Bahkan orang bodoh pun tahu. Kadang ke kanan. Untung saja bunyi ketukan sandalnya tertelan gemuruh suara orang-orang berbisik di aula ini. Bahkan ketika kulihat mayat Oley terapung-apung di Mekong. ada rasa panas yang keluar dari dada. Sebentar kaki kanannya disilangkan ke kaki kirinya. Tapi aku curiga. Aku sempat khawatir kalaukalau celananya yang berbahan halus dan mahal itu akan sobek karena bergesekan dengan kursi yang didudukinya. Jauh dari orang tua murid yang lain. Hanya kursi di barisan depan yang masih tersisa. tanpa usaha untuk menutupinya lagi. Rapor November 11th. Dasar angkuh! . Dia baru tiba saat pembawa acara baru saja selesai membacakan agenda pertemuan hari ini. Digeser-gesernya duduknya. **** Tinggal kami bertiga di ruang kelas ini. Seperti ada bara di bawah pantatnya yang menggunung itu. Aku tetap tersenyum.

Bu. pembicaraan bisa melebar sampai ke manamana. Nilai-nilainya selalu di bawah teman-temannya. Bu. kutukku. . Kalau sebenarnya dia tidak bisa macam-macam denganku. dan beberapa lembar pengumuman yang akan kuberikan kepadanya. Dari lima belas muridku. “Aduh. biasa aja! Terima kasih banyak Bu. Hanya saja. Di sinilah ajang pembuktianku bahwa aku bukan orang sembarangan. “Mari Bu. sudah membimbing Rachel. Tangan yang pernah melemparkan kertas ulangan anaknya ke mukaku. sudah banyak merepotkan!” “Tidak apa-apa. Bu!” “Ah. guru yang kurang perhatian. lalu dikeluarkannya sebuah bungkusan dari dalam tasnya. para orang tua dipersilakan masuk ke ruang kelas anak mereka masing-masing untuk menerima pembagian rapor. anak Bu Mira. Selain bingkisanbingkisan itu ada beberapa amplop di dalam laci mejaku. apa gerangan yang dibawa oleh perempuan yang kini sedang melangkah menghampiriku ini. memang berkebutuhan khusus. Seperti aku ini hantu baginya. Maaf. “Selamat pagi. “Terima kasih. Mati kau. Dalam hatiku tertawa. silakan duduk!” Tanpa sepatah kata dia hanya tersenyum tipis. Hal yang tidak perlu kulakukan sebenarnya. Untuk penilaian-penilaiannya padaku: guru konvensional. Ardian. Semoga suka!” Tangannya mengangsurkan sebuah kotak kecil yang terbungkus kertas kado bergambar kartun Naruto. Setelah pertemuan di aula selesai. “terima kasih banyak lho. karena dia mewarisi kecantikan ibunya. saat dia mencercaku. Biar saja. Bu. Tidak hanya itu. saya permisi!” Bu Mira beranjak keluar ruang kelas. “Mari. memang kusengaja. sudah menjadi tugas saya!” Jawaban ini sudah secara mekanis keluar dari mulutku setiap semesternya. Sebenarnya kesempatan ini sudah kutunggu-tunggu. Dimasukkannya rapor. Bu!” Kataku sambil menjabat tangannya yang dingin. Sebagian masa depan anaknya aku yang menentukan. Belum lagi jika kebetulan sang orang tua murid memang suka ngobrol. aku memang sengaja berlama-lama berbincang dengan setiap orang tua murid. dan lain-lain. anaknya. Aku bilang pantas saja. Sedangkan sudut mataku mencuri-curi pandang wajah cemasnya.Aku tahu dia sedang memakiku habis-habisan dalam hatinya. Bahwa aku punya kekuasaan. Muka putihnya bersemu merah. Kutumpukkan berkas-berkas yang akan kuberikan padanya di sudut meja. Aku berlagak sibuk menyiapkan rapor. “Ibu ini bisa aja!” Bu Mira tertawa panjang. Kujelaskan sampai sedetail-detailnya perkembangan anak mereka selama satu tahun ajaran ini. guru pilih kasih. Bukan senyum sinis seperti yang beberapa kali dilemparkannya padaku. sembari berkata kalau percuma saja bayar mahal-mahal kalau lagi-lagi dapat nilai lima puluh. Dan kira-kira sejak dua jam yang lalu dia sudah duduk di sini menunggu giliran kupanggil menghadapku untuk mendapatkan rapor anaknya. Senyum bernada segan. Perkembangan setiap anak didik sudah tercantum dalam rapor khusus kami yang berupa laporan narasi deskriptif. Salam buat Rachel!” Kutumpukkan bingkisan dari Bu Mira di atas bingkisan-bingkisan orang tua murid sebelumnya. duduk di hadapanku. anaknya memang nomor absen terakhir. tapi yang seperti ini orang tua murid suka. Seperti yang sedang kulakukan dengan Bu Mira ini. agaknya dia juga mulai sadar kalau kelakuannya padaku selama ini bisa saja membuatku mengurangi nilai-nilai anaknya. laporan perkembangan. Gombal sekali memang. “Rachel sendiri yang memilih. malah merepotkan!” kataku berbasa-basi. Aku baru sampai nomor absent empat belas. Pembalasan dendamku untuk perempuan berpantat terlalu kencang dan berdada terlalu penuh yang angkuh ini. dan beberapa lembar pengumuman ke dalam tas. Bu Mira bercerita kalau Rachel baru saja menjadi juara satu lomba wajah fotogenik. Jadi bukan salahku jika sampai saat ini dia belum juga kupanggil. Wajahnya yang pucat. Setelah parcel segede gunungnya yang kukembalikan seminggu yang lalu! Hari gini menyogok guru agar mau mengatrol nilai! Rupanya dia sudah merasa rapor anaknya bakalan jelek. Bu. Hatiku bertanya-tanya. Gangguan konsentrasinya membuatnya sulit mengikuti pelajaran. Rachel. laporan perkembangan. Tanganku menjadi ikut basah oleh keringat di telapak tangannya.

Bahasa Indonesia. Bu. “O ya. Senyumku semakin lebar. Kubuka rapor Ardi.” jawabnya tanpa bisa mengatasi kegugupannya. Dia tidak tahu di mana dia akan menaruh mukanya jika anaknya lagi-lagi tidak naik kelas. Biar kunikmati dulu penderitaannya ini. Bahasa Indonesia. Ke mana gerangan dongakan dagunya yang angkuh itu? Ho ho. Bu Lily?” Wajahnya terlihat sangat memelas. Bu. Layaknya pengemis yang sudah tiga hari tidak makan memohon sedekah saja.” . Bu? Benar-benar tidak bisa ditolong?” Kalau teringat bagaimana dia mengangkat dagunya. siang ini aku merasa menjadi Tuhan. Bu. Matematika. Bu. IPA. Matanya berkaca-kaca. Setengah mati aku berusaha menyembunyikan tawaku. Teringat aku bagaimana dia meneleponku malam-malam. Bu. Seperti tidak ada lagi darah yang mengalir di pembuluh darahnya. Bu.” Padahal mana ada sekolah mengatur perihal itu. Semoga Ibu maklum. betapa aku rindu! Kuambil tumpukan berkas di sudut meja. sungguh nikmat! “Seperti yang Ibu ketahui sebelumnya. Bu. Seperti habis kecopetan uang semilyar! Dia membolak-balik halaman rapor anaknya. Mohon maaf sebelumnya. “Semester ini Bu. ekspresinya kali ini tampak begitu menggelikan. Nikmat. bagaimana Ardian. tak menyangka. Kini tidak kututup-tutupi.” Dia melongo. Di sekolah Ardian yang dulu diperbolehkan.” Kalimatku menggantung. Tapi aku tidak juga jatuh iba. Bu. “Tidak naik. Bu? Bisa tidak naik ke kelas tiga?” Pertanyaannya lebih terdengar sebagai ratapan. IPS. IPS. hanya untuk menanyakan keberadaan pensil atau penghapus anaknya yang hilang.” Sengaja aku berhenti untuk memandang wajahnya. IPS. Macam pejabat saja. Sebagian sudah sampai di pipinya. Bahasa Indonesia. dan SBK ada di bawah KKM. Seperti ketika dia memohonku untuk melupakan apa yang pernah dilakukannya padaku. “Ja … jadi … Bu?” Kini aku ingin tertawa. “Semester satu juga ada lima mata pelajaran yang di bawah KKM. Semata-mata karena dia takut sakit hatiku akan mempengaruhi nilai rapor anaknya. Ataupun ketika seminggu yang lalu dia memohonku “kebijaksanaanku” untuk menaikkan anaknya. Tapi tetap saja kita mengacu pada peraturan dinas pendidikan. “Tidak apa-apa. Jadi ada lima mata pelajaran yang ada di bawah KKM …. Wajahnya seperti orang yang sudah mati saja. Berkas-berkasnya masih di tanganku. dan SBK …. sekolah kita memang berbeda dengan sekolah yang lain. Bukannya apa-apa. tanpa ucapan selamat malam. “Masih naik. Lagi-lagi dalam hatiku tertawa. dan SBK …. karena kita pakai kurikulum nasional. PKn.” sengaja kuberi penekanan.“Pagi …. Mengiba-iba meminta maaf. Saya tidak berani melanggarnya. Sejak kepindahan Ardi awal semester dua ini. Dari segi metode maupun substansi pembelajarannya. Manusia di hadapanku ini semakin terlihat mengenaskan. Bu …. saya sudah berusaha sebaik mungkin membimbing Ardi …. nilai Ardi kurang memuaskan. Butir-butir keringat meluncur di dahinya. tapi setelah dirata-rata.” Dia menelan ludah sebentar. Sengaja tidak segera kuserahkan kepadanya. Aih. Saya tidak tahu ada peraturan seperti itu di sini. dilarang menerima gratifikasi. Sebagai syarat kenaikan kelas. Seperti yang Ibu lihat di sini. Saya hanya bermaksud mengucapkan terima kasih saja. “Agama. aih. Ada kemungkinan dia sudah akan pingsan dulu sebelum aku menyelesaikan penjelasanku ini. Walau mepet …. Mungkin Ibu juga sudah tahu. Kubuka halaman sebelumnya. Bahagianya. “Ja … jadi … bagaimana. IPA. “Mohon maaf. Matematika. “Lima. “Ibu. Bibirnya gemetar.” Kutunjuk dengan jariku. Aku tersenyum. Kemarin terpaksa saya mengembalikan bingkisan Ibu. Peraturan sekolah melarang guru menerima bingkisan dari orang tua murid sebelum rapor dibagikan. ternyata hanya empat mata pelajaran saja yang di bawah KKM. pagi Bu. rata-rata nilai rapor siswa semester satu dan dua tidak boleh lebih dari. IPA.” Matanya nanar menatap angka-angka itu. “empat mata pelajaran yang di bawah KKM…” Akhir kalimatku kembali menggantung. Berkas-berkasnya masih kutahan. “O ya. Lebar. Berbeda dari sekolah Ardi sebelumnya. rapor semester satu.” Tangannya sampai gemetar menerima buku rapor ini. Saya yang minta maaf. Matematika. ya?” Suaranya tersendat di kerongkongan. Kuhadapkan ke arahnya. “Lima mata pelajaran.

Itu saja cukup.’ Aku sendirian. kulit coklat mengkilat memakai jubah kulit kijang. “Syukurlah!” Aku manusia biasa. seperti seribu kunang-kunang beterbangan mengitarinya. Sisiknya besar-besar bertumpuk. Bahwa yang membangunnya adalah lelaki yang dijanjikan akan datang dan membawa keagungan. tak ada suara manusia terdengar. benar! Tepat sekali! Inilah menara Ka Borak. Walaupun hal itu sebenarnya sangat mudah bagiku. simbol keagungan suku Mota. Matahari baru mengintip dari celah bukit. Kalian ditakdirkan menjadi pasukan pemersatu suku-suku Mota yang terpencar. menara Ka Borak. detak jantung seseorang seakan tertangkap telinga orang di sebelahnya. menyaksikan menara Ka Borak yang selama sembilan bulan ini dengan susah mereka buat-dirikan. 1320 jenis kepalan tangan mengacung ke angkasa. bukti penguasa Tanah Mota yang dinanti!” Seorang sepuh di antara kerumunan bersuara. Dendamku sudah terbalaskan. di depan kalian telah tegak bukti yang dikabarkan dalam Ketab Se Lambok. Sudahlah. Menara itu. “Wahai orang Mota. Dentamnya menggema mengatasi kegaduhan orang-orang. Menara yang membuktikan bahwa pendirinya adalah penguasa sejati atas Tanah Mota. “Ini seperti dalam mimpi para peramal. Aku sudah sangat puas melihat perempuan berpantat dan berdada terlalu bulat yang angkuh itu hampir mati ketakutan. Tapi aku juga masih punya nurani. aku paham makna dari kata-kata bijak ini. Bukti kekuasaan atas Tanah Mota. Sedangkan monster-monster laut dan serigala separuh gurita mengintai-ngintai hendak menerkam saat aku lengah. Menara besar dari dua kayu ulin yang disambung berukir ular gato menelan matahari. naik ke mimbar. “Syukurlah!” Dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Aku pun pantas membencinya. menggumpal ke dalam satu . Aku menjadi orang asing. Penuh dengan ukiran ular Gato yang meliukliuk. Seketika tanah lapang itu jatuh sepi. 1320 macam semangat melebur menjadi satu ambisi kolektif. Semua itu. Tenang sekali. melintasi terumbu karang berbisa yang meracuni tiap helaan nafas yang makin tinggal sisa. suku Mota Pesisir. Sinarnya hangat sedikit. Dialah Se Moljo Banahung. dan. 2008 by catur amrullah Aku seperti seorang terusir yang menyusuri dasar lautan seorang diri. 1320 manusia itu. Seorang lelaki tinggi besar. Berdiri dengan keyakinan dan pemikiran yang tidak sejalan bukan hanya dengan orang-orang kebanyakan. Dunia akan memakluminya. Kalianlah penggenggam masa depan itu. berbicara pada orang-orang tapi suaraku hanya memantul kembali dan hilang.Seketika wajahnya menjadi bercahaya. The Tower of Ka Borak Desember 26th. dan anggun. Kicau burung di pohon riuh menanti. persaksikanlah. tapi bahkan bertentangan dengan Se Moljo Banahung. Aku tercekam oleh pikiranku sendiri. Tongkat kayu setiginya dihentaknya beberapa kali ke lantai mimbar. bahwa pendirinya adalah lelaki darah murni yang akan meletakkan suku Mota Pedalaman. Hitam berkilau karena embun yang berkelip dilanun semburat matahari melamur seluruh tubuhnya. Semua mata terpacak pada sosok menggetarkan yang tegak menjulang di ujung timur lapangan. menara Ka Borak. kepala suku kami. karena aku punya harga diri. “Syukurlah!” Dia mendekap rapor anaknya dalam dadanya yang terlalu penuh itu. Kita adalah penguasa Tanah Mota!” pekik semangat Se Moljo Banahung menggema-gema dalam tempurung kepala tiap orang yang hadir di situ. ‫פּ‬ Ratusan orang berkumpul di tanah lapang. Berbinar-binar. kalian adalah darah murni suku Mota. serentak pekik gegap gempita membahana dari mereka itu. Di depan menara. pemimpin spiritual sekaligus penentu jalan hidup kami. Wahai orang Mota Pedalaman. suku Mota Pedalaman. Kelengangan yang mistis menyelisik di tiap-tiap tubuh. Suaranya yang parau hilang tenggelam dalam kegaduhan massa. Tidak mungkin aku mengubah angka-angka itu. Semua mata tertuju pada lelaki di atas mimbar itu. dibangun sebuah mimbar besar. dan suku Mota Tanah Batu berada di bawah tongkat kekuasaannya. Tidak akan ada seorang pun yang bertanya mengapa anak itu tinggal kelas. menara Ka Borak yang kita dirikan ini menjadi saksi atas kejayaan yang dijanjikan itu. 1320 warga suku berkumpul di sini. aku menyimpan dendam. ‘sendirian dalam keramaian adalah ancaman. seperti ada suatu komando bawah sadar yang amat kuat mengendalikan mereka semua. Dan mulai detik itu. tinggi. melata dan melingkar. “Hidup Se Moljo Banahung! Hidup Se Moljo Banahung!” 1320 macam suara memekik satu kalimat yang sama. menelan matahari. ketua suku kami.

menghampar pantai berbatu dan berpasir hitam seperti lumpur. akan menundukkan matahari!” Pekik gelora semangat perebutan kekuasaan berkobar menggelegak. kita. Di sekeliling kami. Di bawah tebing itu. denting suara pahat besi menghantam batu cadas memecah ketenangan pantai. dan sebuah palu. Symbol kejayaan dan kekuasaan. suku Mota Pedalaman. menghadang dentaman gelombang dan badai yang menyerbu dari tengah laut sana. aku tergetar menyaksikan semua prosesi ini. simbol atas kedatangan sang pemimpin yang dinanti. akan sampailah ke pantai dengan hamparan pasir putihnya. Sebelum hari itu. Merentang sepanjang bibir pantai. Di barisan belakang. Kesepuluh orang itu. dan ribuan lagi lainnya. membawa kita pada sebuah lereng yang landai. hampir setahun penuh. sembilan hari lalu. “Sedangkan siapapun itu yang menolak dan menentang kekuasaan kita yang agung ini. Aku berkeringat dingin. Harimau dan serigala bersijingkat kabur ke pelosok-pelosok hutan. 500 pahat telah rusak dan remuk. Tangan-tangan terkepal diangkat tinggi-tinggi ke angkasa. di belakang jajaran rumah panggung. bahwa mereka kini harus tunduk patuh di bawah tongkat kekuasaan suku Mota Pedalaman. suku Mota Pedalaman telah-dengan sepihak-menetapkan ketunggalan kekuasaannya atas dua suku Mota lainnya. Dengan ini. sebagaimana tercantum dalam Ketab Se Lambok. Angin berembus kencang di sini. tidak akan mendiamkannya begitu saja. tanpa kenal lelah bekerja dari pagi hingga sore. mengabarkan bahwa pemimpin tunggal telah tiba. maka tiada lain pilihan. terlentang jalan setapak yang panjang berkelok menyusur di antara pohon-pohon besar berusia ratusan tahun. bukannya ikut larut dalam badai semangat yang dahsyat. Menara Ka Borak telah membius meraka. Burung-burung beterbangan ketakutan. sebuah menara berukirkan ular gato menelan matahari yang menjadi bukti bahwa pendirinya adalah suku yang berhak memerintah dua suku Mota lainnya. Bukan hanya itu. mengukir suatu rupa yang luar biasa.. akan tercecer di tiap jengkal Tanah Mota!” ‫פּ‬ Semakin membuncah semangat di sekelilingku. Tahukah kalian jawaban bagi pembangkang? Yaitu…. kita akan mengirim utusan pada suku Mota Pesisir dan Tanah Batu. Mereka. aus karena gesekan gelombang selama masa berjuta tahun. Sejarah yang mungkin tak termaafkan. menyelisik antara debur ombak di bongkahan batu. “Mereka takkan berhenti. kitab spiritual suku Mota. Ular gato menelan matahari. Menjadi saksi dari tiap perahu nelayan yang karam diamuk lanun ditelan topan. Masing-masing menggenggam sebuah pahat besi terkuat yang ada.” Suara lantang Se Moljo Banahung tenggelam dalam gemuruh suara warga sukunya. takkan terbendung oleh apapun. Menyiratkan tekad dan ambisi yang membuncah. Berjalab lurus menyeberang lembah. ‘hidup Se Moljo Banahung!’ Nyaring mendebarkan jantung. mengukir suatu simbol paling sakral yang tercantum dalam Ketab Se Lambok. Dalam gemuruh euphoria kekuasaan dan kemenangan yang menari-nari di pelupuk mata. hijau bergelombang oleh rumputan yang digoyang angin. kita juga akan menundukkan suku-suku lain di sekitaran Tanah Mota. dan darah…. para pemahat terbaik suku Mota Pesisir. terus menurun. Kera berlompatan dari cabang ke cabang. tak bisa ditawartawar. Di ujung barat lapangan. jangkang. Nun di hujung barat sana. kerang. 467 palu pun patah. luas membentang.. takkan bisa dicegah. Di sebelah tenggara. batas bentangan laut lepas. Suku Mota Pedalaman telah berhasil menegakkan menara Ka Borak. berputar-putar mengelilingi punggung gunung. semakin terkucil aku dalam sudut takut dan khawatir yang kian runcing. tebing batu cadas memagar. atau mungkin yang ‘kan paling diagungkan oleh mereka. seperti yang dijanjikan dalam Ketab Se Lambok. Ujung bajumu akan berkibar-kibar semarak dibuatnya. seakan tak bertepi. pekik lantang Se Moljo Banahung merengkah: “Mulai besok. berhamburan kacau balau dari dahan tempatnya bertengger. Mengema menggetarkan tanah dan batang pohonan. mengabarkan pada semua bahwa kekuatan dan penguasa baru telah datang. . Di depanmu. Batu-batu yang menjadi rumah bagi tiram. Kaki tebing itu menceruk jauh kedalam. Aku tak bisa bersuara.tekad yang amat keras. luas membentang. jalan setapak itu menurun. kepala suku Mota Pesisir. tapi terjebak di suatu sudut yang penuh dengan ketakutan dan kekhawatiran. Tebing cadas yang telah tegak sedari jutaan tahun lalu. Rumah-rumah dari jalinan batang bambu berderet rapi. sekeras menara Ka Borak dari kayu bullin yang tegak di depan mereka. terus ke barat. menara Ka Borak. Tiga puluh orang bergelantungan di dinding tebing batu cadas dengan tubuh terikat tali dari atas. menjadi candi dari tiap perpindahan generasi manusia yang hidup si situ. hutan rimbun mengitari dengan amat rapatnya. Di ujungnya. Dan kita. atas instruksi Se Moljo Mapadong. Sedikit demi sedikit memahat tebing batu cadas. Kumandang semangat 546 warga suku Mota Pedalaman menggentarkan nyali tiap penghuni hutan. menghampar padang rumput amat luas terbentang. terjadi di situ. warna biru terhampar di bawah cakrawala.

“…lima lautan telah kita jelajah. liar. Ular gato yang besar. Aku tak berkedip.” Se Moljo Mapadong berorasi di hadapan mereka. “Mota Pedalaman telah membangun menara Ka Borak. mengukirnya. hanya desah nafas berat yang makin mengerikan dia jawabkan. “Badai dan topan samudera tak kuasa membunuh kita! Gelombang dan pasang kita taklukkan! Di setiap pantai ada jejak kaki kita. tiada kukira Paman!…” . berukir ular gato yang tengah menelan matahari. ini salah! Lakukanlah sesuatu!” Lelaki tua di sebelahku itu hanya diam. Mota Pesisir rampung mengukir Ka Borak di dinding tebing batu cadas. Dan sekarang. Di depannya. Paman. Beban berat yang hampir dua tahun ini dia tanggungkan sampai sudah pada titik kulminasinya. di atas sebuah batu karang hitam persegi sebesar kerbau. meliuk-liuk. “Ya. dan jelas sekali ada selendang gelisah yang melingkari suara beratnya itu. Semua nafas tertahan-tahan. Angin yang berputar-putar menerbangkan daunan gugur juga helai rambutku. ramalan Ketab Se Lambok telah kita wujudkan. kekuasaan dan kekuatan yang dijanjikan telah datang ke suku kita. tiada kukira engkau akan sebenar ini Paman. keduanya mengklaim sebagai sang Pemimpin yang dinanti. Lima belas bulan lalu. tak ada sisa lagi yang belum kita datangi. kekuatan kita terkhabar kesetiap penjuru Tanah Mota. meliuk-liuk tak terbendung. pun manusia. semua orang suku Mota Pesisir berkumpul di depan tebing batu cadas itu. menggiring potongn-potongan awan ke batas cakrawala. pada tebing cadas. menara Ka Borak. keras menghantam tebing cadas dan berulang-ulang menggema. Mereka membuat kubus-kubus batu raksasa. Pundaknya makin jatuh. Di kejauhan. tak kuiura Paman. kepiting. Larut dalam keterpesonaan. menatap-sepertinya-jemari kakinya yang tersembunyi dalam pekatnya malam tengah hutan. Ah. hitam gelap penuh misteri. panjang. kerang. dipatuk burung dibawa kepulau-pulau di seberang sana. Menara Ka Borak paman. tak kukira engkau akan sebenar ini. menyusunnya. Melonjak-lonjak kegirangan. tak bisa ditawar lagi!” Suaraku lirih bersama hembus perih. mulutnya menganga lebar. Orang-orang terbius oleh semacam zat adiktif kekuasaan yang mengerikan. terlempar jauh-jauh ke tengah samudera tak bertepi. engkau tahu bahwa itu adalah awal dari kebinasaan kita. ketika Mota Tanah Batu mulai menggergaji batu pertama menara Ka Borak. batu. disusun setingngi 22 depa. Semuanya takzim. menjadikannya ancaman bagi yang lain. Samudera di belakang punggung orang-orang itu seakan membeku disihir aura magis menara luar biasa itu.Sembilan hari yang lalu. 1543 orang. Di depan mereka. Dari tadi dia hanya menunduk. dan.” Paman bertanya. burung hantu menangis sendu. gelombang. 124 kubus batu. masing-masing suku Mota punya Ka Borak!” Tak ada jawaban. “…Menara Kaborak telah kita buat. “Bagaimana dengan Mota Tanah Batu? Bukankah Ka Borak telah mereka dirikan jauh hari sebelum kita dan sebelum Mota Pesisir. Dua tahun dia berusaha menjelaskan bahwa pendirian menara Ka Borak hanya akan mengundang kehancuran Tanah Mota. Semua yang di situ berseru serempak: “Tidak ada! Suku Mota Pesisir terkuat! Se Moljo Mapadong terkuat!” Gemuruh ini hampir-hampir membenamkan pantai berbatu itu. melesat jauh ke tengah samudera membentuk gelombang-gelombang ambisi. Mereka menatap takzim tebing cadas yang kini tak lagi polos. angin. menatap bulan sabit seperti anak kecil lagi sakit. Menyembunyikan dalam malam. semenjak lima belas bulan lalu mereka telah menggergaji bukit batu putih. menelan matahari. menempatkan aku sendiri termangu di bawah pohon randu di belakang rumah. “Ah. gelap yang senantiasa datang pada tiap penghujung senja. kemenangan dan kemulyaan telah masuk pintu-pintu rumah kita!!!” “Hidup Se Moljo Mapadong! Hidup Se Moljo Mapadong! Hidup…” “…dan kita akan taklukkan seluruh Tanah Mota! Semua akan kita kuasai! Semua akan tunduk! Akan kita miliki! Semua…” ‫פּ‬ Sorak sorai 1543 orang Mota Pesisir terbang membubung ke angkasa. gelap yang menekan dan mnyelubung. Berteriak-teriak kalap. Seekor ular gato raksasa melata dengan ganas. kepalanya tunduk seakan bertengger di atasnya hantu keputusasaan. “Ini salah! Tidak boleh begini kita berada Paman. dan sembilan hari yang lalu. Dibawa angin ke buritan tiap perahu yang tengah berlayar. maka siapa lagi yang lebih kuat dari kita?” Suara menggelegarnya bependar-pendar memantul terbentur hamparan tebing cadas. menara Ka Borak diam membeku.

Setiap suku mengaku yang paling benar. begitu aku menyerahkan surat dari Se Moljo . mengabarkan keberadaan menara Ka Borak di tanah mereka. jiwanya tertekan sungguh. Tapi itu kejadian entah berapa ratus tahun yang lampau anakku. tak sanggup meneruskan ketakutanku. jika berani menentang. Menara yang berpahatkan ular gato sedang menelan matahari. tidak segan-segan perang penaklukan akan di gelar di atas Tanah Mota. jadilah suku Mota Pesisir. Sejak kecil aku telah hidup dengannya. tentu saja mereka membawa Ketab Se Lambok. Ya.Aku diam lagi. meminta ketaatan dan ketundukan kita. Masing-masing pimpinan dari suku tersebut mengklaim dirinya sebagai lelaki darah murni seperti yang dijanjikan dalam Ketab Se Lambok. dalam waktu yang bersamaan. tenggorokanmu pahit. taatilah dia. memimpin dua suku Mota lainnya dan menguasai suku-suku kecil lain. dan. Tangannya mengambil sesuatu dari sebelahnya. “Apa kau sudah faham sekarang anakku mengapa menara Ka Borak berdiri di masing-masing suku?” Aku mengangguk. Maka ikutilah dia. “Anakku. nafsu kekuasaan telah tersulut terbakar. Sekali kau mencicipi. yang meracuni siapa saja yang mencicipinya!” Aku kaget. Mengajak warga suku berperang bukanlah cara yang tepat jika ingin mendapatkan dukungan penuh dari mereka. berhati-hatilah. Akulah sang penguasa tunggal Tanah Mota! Akulah sang pemersatu! Akulah raja kalian! Dan suku-suku lainnya harus tunduk taat. Beliau memegangnya erat. dan kau langsung tergeletak tanpa sempat beranjak dari tempatmu berada saat itu. tanah leluhur kita. Di dalamnya tertulis bahwa ketika suku Mota menjadi tubuh yang terpisah. “Besok kau akan menjalankan tugas terberat dalam hidupmu. “Anakku. Kekuasaan mengumpan dan meracuni siapapun itu anakku. kekuasaan adalah sari pati jubok. dan.” Paman kembali diam. menara Ka Borak. para pemimpin suku itu butuh legitimasi sakral. Masing-masing suku Mota ingin menjadi penguasa tunggal Tanah Mota. Sampai baru kemudian. aku harus mempertaruhkan nyawaku untuk kegilaan pemimpin kami. alangkah bodohnya. “Menara Ka Borak. sepi sekali. Sebagian yang lain pergi ke pelosok hutan. Masing-masing suku Mota bertambah besar. Masing-masing mereka berjanji akan terus menjaga persaudaraan. sari patu jubok itu menampakkan dirinya dalam wujud yang paling menakutkan. juga orang-orang fanatik lainnya. tak berani menjawab. lemah semilir suaranya. karena lelaki yang mendirikan menara Ka Borak adalah orang yang di tangannya persatuan tubuh suku Mota tergenggam. Sebagian pergi ke pesisir. Kemana burung hantu? Jangkrik pun bungkam. kau tahu apa sebenarnya menara Ka Borak itu anakku?” Aku hanya diam. awalnya orang-orang Mota tinggal di Tanah Batu. Anehnya. Hitam tiap halamannya. terus dan terus tak terkendali menjilati sari itu. saling melindungi. perutmu panas. solusi itu ternyata ada di dalam Ketab Se Lambok. itu kejadian saat kakekku masih belia.” Paman bicara. seakan ia bisa melarikan diri dari tangannya. menyamakan simbol suci itu dengan tanaman beracun paling mematikan di hutan ini. tanpa ada yang menyadarinya sebelumnya. Dan. Bisa saja hal ini terjadi.” Paman membuka Ketab Se Lambok. bersaing. dan besok akan meminta yang seluas hutan. Dan. tak terbayang paman akan mengumpamakan menara Ka Borak sebagai saripati jubok bagi manusia. Darah akan dialirkan di padang-padang sunyi tiap penjuru Tanah Mota yang suci. hal itu sudah termaktub dalam Ketab Se Lambok. setelah terlambat. alangkah bodohnya manusia itu!” Paman tampak amat sedih. hingga nanti hanya kematianlah yang akan memotong nafsu serakahnya. Sebuah kitab yang dalam keremangan tampak amat tua tapi amat kuatnya aura sakralnya. kau tahu bibirmu membiru. Dan sekarang. dua puluh enam tahun lalu. Aduhai Anakku. menara Ka Borak. dan pernah saling serbu. kau tak bisa berhenti. tiap-tiap suku Mota memiliki menara Ka Borak. tapi kini. Dan kini. semenjak orang tuaku mati jatuh kejurang. menjerit-jerit kesepian. seorang lelaki darah murni akan muncul demi menegakkan menara Ka Borak. serigala melolong-lolong. dia juga adalah sari pati jubok. “Begitu seseorang mencicipi kekuasaan selebar daun. Kau tentu tahu Mota Pesisir telah mengirim utusannya kepada kita empat hari yang lalu. jadilah suku Mota Pedalaman. Gambaran kehancuran suku-suku Mota dalam perang saudara yang dahsyat dengan amat nyata berkilatan dalam kegelapan malam yang melingkupi tubuh kami. Tentu dia menghawatirkan aku dengan amat sangat. tentu saja. dia akan menuntut yang sebesar batang pohon. Dan kenyataanya kini. Lalu mereka berpencar setelah jumlah mereka semakin banyak. “kekuasaan itu seperti sari pati jubok. berebut pengaruh. malah kita yang mengirim utusan pada mereka untuk meminta hal yang mereka tuntut dari kita. lalu di pelosok hutan yang jauh merusuk ke dalam. tulisannya tersembunyi dalam gelap pekatnya malam. butuh stempel perijinan suci yang akan dijalankan mati-matian oleh tiap warga sukunya. Aku tertegun.

orang-orang yang masih waras dalam lautan kegilaan ini. sebuah pengorbanan. Menara Ka Borak bukanlah suatu bangunan seperti yang kau lihat. Kami tahu. Dan mulai detik itu. Sebab nama saya Vaginalia. Sedangkan monster-monster laut dan serigala separuh gurita mengintai-ngintai hendak menerkam sasat aku lengah. tombak. orang-orang yang tiada ambisi dengan segala macam penaklukan. karena apa yang kami yakini adalah apa yang para Se Moljo perintahkan untuk kami yakini.Banahung pada Se Moljo Mapadong. untuk orang seperti aku dan Paman. berdiri tegak menara Ka Borak menyongsong langit. “Kalau demikian Paman. beterbangan ke angkasa.’ Aku sendirian. . Tubuh tak berdaya inipun perlahan terasinkan oleh dahsyatnya garam air laut. Di sebelah timur. tapi kitalah yang salah memahami kitab itu. Tangan kiri membawa perisai. Kami seperti tersesat di lautan. mereka lupa jati dirinya! Mereka menyangkal bukti kebenaran menara Ka Borak. kami pun sama gilanya dengan mereka. (atau malah) menertawakan nama saya. “…suku Mota Pedalaman dan Pesisir telah berkhianat! Mereka membelakangi isi Ketab Se Lambok. lalu perahu bocor. tapi ia adalah perlambang dari suatu perjuangan suci menyatukan Mota yang terberai. Perang yang hakikinya bukan milik kami pun ahirnya dengan membabi buta kami mamah masukkan ke dalam jiwa. ini bukan perang kami. melintasi terumbu karang berbisa yang meracuni tiap helaan nafas yang makin tinggal sisa. kepala suku kami. kami tenggelam dan mati sia-sia. bukan pula perang warga suku Mota lainnya. tapi tuntutan ketaklukan. tidak demikian anakku. Asli dari akte lahir. Silahkan kalau kamu mau tertawa. bukan menjatuhkan korban dari tubuh yang telah luka! Bukan Anakku. Karena bukannya surat pernyataan ketundukan yang kubawa. ‘sendirian dalam keramaian adalah ancaman. bukan perang kami para warga suku Mota Pedalaman. Dan yang menyedihkan. Kami tidak ada urusan dengan kekuasaan! Kami tidak ada perlu dengan pengaruh dan perluasan wilayah. Apa kau pikir menara Ka Borak adalah suatu menara seperti yang kalian pikirkan? Tidakkah kau mengerti bahwa itu hanyalah suatu perlambang?” “Membangun menara menunjukkan pada suatu usaha tanpa henti yang amat melelahkan. Pengorbanan apakah itu Anakku? Yaitu pengorbanan kebanggaan diri demi mempersatukan tubuh yang terberai. semuanya berubah menjadi dilema yang menyakitkan. tersusun dari 124 kubus batu. Tangan kanan mereka ada yang mengenggam parang. bukan! Ini adalah ambisi jahat mereka. Jadi sudah biasa kalau kamu mengernyitkan dahi. Dan kami. karena kami tidak boleh berpendapat. Perang akan segera dimulai. tapi racunnya turut serta dalam aliran darah kami. Siapkah kalian untuk menjalankan tugas mulia ini? Melaksanakan perang yang akan membimbing kita pada jalan menuju kemulyaan dan kejayaan?” Gemuruh manusia membahana. pada ahirnya. Dan. serta merta akan memenggal kepalaku begitu selesai membaca isinya. semua manusia suku Mota kini masing-masing punya perang untuk dituntaskan. hukuman bagi pembangkang akan di jatuhkan. dan pendulum berkepala besi berduri. ambisi para Se Moljo beserta para pembantu setianya. Berdiri dengan keyakinan dan pemikiran yang tidak sejalan bukan hanya dengan orang-orang kenanyakan tapi bahkan bertentangan dengan Se Moljo Banahung. berbicara pada orang-orang tapi suaraku hanya memantul kembali dan hilang. Mata mereka tajam menatap ke depan. apakah Ketab Se Lambok telah membohongi kita semua? Telah menggiring kita yang mensucikannya ke dalam jurang kematian?” “Tidak anakku. aku paham makna dari kata-kata bijak ini. Brondong. Di sudut sana. perlahan-lahan. Toh sudah biasa. Dan. 2008 by prince-adi Saya sudah sering dihina dan terhina. Aku menjadi orang asing. ‫פּ‬ Beratus-ratus lelaki bertubuh kekar dan legam berbaris tegak. Aku seperti seorang terusir yang menyusuri dasar lautan seorang diri. hari ini. Aku tercekam oleh pikiranku sendiri. hingga tubuh ini kemudian bukan tubuh kami lagi. 10 Mei 2008 Vaginalia Oktober 9th. Debu putih membubung tinggi. mempertanyakan. terjebak dalam perangkap racun sari pati jubok yang mereka jilati siang malam.” ‫פּ‬ Ini bukan perangku. Maka. murni pemberian kedua orang tua saya. matahari menerangi dataran batu yang amat luas ini. kami tidak pernah turut mencicipi sari pati jubok itu.

Saya jijik. Karena itu kamu. Orang yang terpuji. limapuluh ribu semalam. Nama kamu Muhammad. Nama yang bagus. dengan harga berapapun yang kamu beri. kamu mendadak muncul di depan pintu kostan saya. Kamu selalu sabar menemani saya meski mereka masih menatap curiga. Itu untuk kelas biasa. Saya ingin katakan jangan. dan dia memaki saya. juga nama nabi yang paling diagungkan. menenangkan hati saya. Dan kamu ungkapkan cinta. Saya mulai menangis. Padahal saya benar-benar tak mau dibeli. . Pernah saya ditawar dua juta untuk sebuah malam bersama dengannya. mendambakan laki-laki baik-baik. Terlebih kamu mengatakan cinta. kamu mau duduk di samping saya. Saya sudah cukup senang dengan keberadaan kamu sebagai teman saya.Kamu mengenalkan namamu sebagai Muhammad. Sama saja dengan menyekutukan Tuhan. Sebab saya juga perempuan baik-baik. Sebab itulah saya percaya sama kamu. Saya hanya mampu memejamkan mata. Padahal hujan sedang deras. Tergantung jaminan kepuasan yang diberikan. mendapat sesuatu yang bernama ‘Syafa’at’ di kehidupan akhirat. Sebab saya tahu ini dosa. Sampai bulan kedua. Diteladani banyak manusia. Nama kamu Muhammad. Mau berbicara dengan saya meski tatapan curiga mengarah ke arah kita berdua. Saya tidak menolak. Saya justru senang.” katamu sambil tersenyum merekah. nama organnya wanita. saya tidak seperti itu. ***** Saya cantik. Sebab kamu teman pertama saya. Saya wanita baik-baik. satu buat saya. Yang dijuluki Al-Amin. “Saya yang traktir. Bisa juga sampai ratusan juta. Tapi sekali lagi. Sebab nama saya Vaginalia. saya punya harga diri. Malam itu saya membiarkan kamu mencium bibir saya. Sebab sebelumnya kamu memasangkan cincin di jari saya. dan berjanji akan menikahi saya. Sementara bibirmu terus melumat bibir saya. Tidak seperti laki-laki pada umumnya yang menilai saya dengan harga. Tapi saya bahagia. Sebab saya tahu bahwa zinah adalah dosa besar. Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa ketika tanganmu mulai menelusup di balik kemeja saya. Saya suka perilakumu terhadap saya. ***** Saya masih perawan. Saya takut. Sebab namamu itu. Barang yang sudah banyak diobral murah. Mengatakan saya hanya jual mahal. Saya jatuh cinta sama kamu. katamu. Saya bahagia. Mimpi yang menjadi nyata. Mendekati saya dengan alasan nafsu saja. Tapi kamu terlalu mempesona. Meski saya miskin. itu pertama kalinya tangan saya digenggam laki-laki. kembali mengatakan cinta. Kamu tahu. Nama kamu Muhammad. Belum waktunya. dan agung. Tapi apa saya pantas untuk mencintai dan dicintai? Saya tidak berharap lebih. Mendambakan laki-laki yang baik-baik. Satu bulan. belum kawin. Memesan dua mangkok bakso. Dan segalanya telah berubah menjadi kamu. Toh saya cukup bahagia dengan berpegangan tangan. Saya benar-benar tersinggung. Sebab saya tak mau macam-macam. Dan kamu memanggil saya “Va”. membuat saya tidak berdaya. Nama kamu Muhammad. artinya dapat dipercaya. Benar-benar takut. Dua bulan. Belum sempat saya ambilkan handuk. Saya benci. Saya tidak mau. Vagina. Sebab katanya akan mendapat pahala jika saya memuji namanya. Mengelus tubuh saya. Sejak itu kita pacaran. Kamu basah kuyup. Orang-orang seringkali merendahkan harga diri saya sebab nama saya Vaginalia. satu buat kamu. Saya tampar dia. tapi bibir saya kamu bungkam begitu nakalnya. termasuk saya. kamu sudah memegang tangan saya. Kamu menemani saya duduk di sebuah kantin. tapi kamu dengan hebatnya kembali mengatakan cinta. Kita masih hanya berpegangan tangan.

di keramaian. Sedangkan saya lebih memilih menghujatmu. Tidakkah kamu mengerti? Bibir Februari 13th. laki-laki itu menggelengkan kepalanya dengan heran. ***** Kamu tahu dimana saya berada saat ini? Penjara! Saya membunuhi Muhammad. Orang yang terpuji. melaknatmu. ***** Bulan keenam kamu mengatakan perpisahan. Tapi mungkin setan-setan yang kegirangan memujimu. Bukankah bibir itu yang dikulumnya tanpa puas ketika gairah-gairah mereka memuncak di malam-malam penuh gelegak yang mereka reguk bersama-sama. Padahal kita sudah pernah bercinta dengan dosa. Sebab saya tahu. Akhirnya kamu mengatakan bosan kepada saya. satu per satu. tidak pernah berhenti melingkar-lingkarkan jerat di dalam kepalanya. saya percaya kamu akan menikahi saya. untung dan rugi. tanpa bisa lagi memikirkan bahwa kita adalah pendosa yang tidak akan diterima ibadahnya. berkali-kali. . Tapi lagi-lagi kamu memeluk saya. atau di tempat remang-remang yang menjajakan kebahagiaan. seperti angin. Dan lagi-lagi saya menyebut Muhammad. merekahnya ketika minum kopi dan mengintipkan gigi putih yang sangat cocok untuk iklan pasta gigi ketika mengigit sepotong kue. Cara bibir itu bergerak saat bicara. Di jalan. Kata-katamu selalu saja asing bagi telingaku. namun selalu saja keluar dengan wajar dari bibirmu. sudut-sudutnya yang naik turun tergantung emosi pemiliknya. ia menemukan dirinya merasa sangat asing. Dan neraka balasannya. Tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Tak tertinggal suatu apapun kecuali membawa debu melekat pada tubuh saya. namun tidak tahu lagi karena apa dan dimana. Kamu benar-benar pergi meninggalkan saya.” kata perempuan itu kepada laki-laki yang duduk berhadapan dengannya.” Dan bibir itu sangat manis bentuknya. Padahal nama kamu Muhammad. Dan saya hanya bisa tertawa.” Laki-laki itu mengangkat pandangannya dari merenungi asap-asap tipis yang keluar dari mug-nya dan menatap perempuan itu. “Atau setidaknya kita pernah yakin tentang hal itu. Saya ingin menolak. Tapi kamu tetap tak menggubris itu semua. Benar-benar ingin menolak. tanpa malu. “Mungkin aku memang tidak penah mampu untuk mengerti kamu. Sebab namu kamu Muhammad. namun tidak lagi menimbulkan rasa ingin. 2008 by Ge “Sepertinya kita pernah bersebelahan jiwa. saya tidak lagi perawan. Tapi saya akhirnya sadar. hanya sepotong kayu imitasi yang dinamakan coffee table dan dua mug gemuk kopi hangat masih berasap menjembatani ruang antara mereka berdua dari kursinya masing-masing. siang dan malam. Sebab ia orang yang terpuji. Tertawa akan kebodohan saya mempercayai kamu selama ini. merindukan Muhammad yang pernah saya puji. berjanji menikahi saya. Menyaksikan kamu tanpa busana. Saya mencari Muhammad. Sebab nama kamu Muhammad. Mungkin otakku yang bebal. Tapi kamu begitu pintar untuk memancing hasrat saya keluar. Ditariknya nafas dalam-dalam lalu menjawab. Yang pernah begitu saya teladani. dan pagi lagi. begitu pula saya.Tiba-tiba hari telah pagi. Mengapa semuanya saat ini rasa-rasanya tidak pernah benar-benar terjadi tak dapat dimengerti oleh pikirannya yang biasanya jago mengkalkulasi rumusan-rumusan jual-beli. Ada bercak darah di sana. Saya menangis. mengecup kening saya. Beberapa putaran musim yang lalu bukankah hanya bibir itu yang ada dalam ingatannya sepanjang pagi. Ah. ***** Berkali-kali setelah itu kamu melakukan hal yang sama. Saya percaya. Ia merasa seperti orang mabuk. sia-sia saya melakukan itu. Muhammad mana saja yang matanya belingsatan melihat kecantikan saya.

tajam sekali. “Sudah. kalau kamu mau kita pergi makan berduaan saja sekarang. “Apa yang sebenarnya terjadi?” Bibir itu kembali menyadarkannya dari kenangan yang sempat menyerempet ingatannya tadi. Siapa lagi? Pasti ada perempuan itu. Laki-laki itu tanpa sadar merasa bergidik.“Apa yang sudah terjadi?” Bibir itu bergerak turun seirama dengan ekspresi di wajahnya yang bebas jerawat. tapi memang iya Wulan ada. laki-laki itu kemudian berlatih untuk diam sejenak sebelum menjawab segala sesuatu yang keluar dari bibir itu. lebih dan lebih banyak lagi hamburan kata-kata yang sangking terlampau banyak tidak dapat dicerna oleh otaknya dengan baik dan kepalanya kemudian akan menjadi seperti sebuah komputer yang cupu. “Lho. betapapun manis dan lembutnya terdengar di telinga. “Ya sudah. Atau. bebas komedo. tapi kan kamu bisa menawarkannya kepadaku. pening dan gelisah setiap melihat bibir itu. yang janda cantik itu!” “Ya iyalah. waktu aku telpon katamu kamu tidak suka masakan Itali dan kamu ada janji dengan teman-temanmu mau shopping. “Sudah makan ya?” tanya bibir itu. Maka. pokoknya semuanya. Ya. .” “Aku memang tidak suka. Atau. seperti pedang dan berkilau-kilau karena lipgloss-nya. Angki juga.” jawab laki-laki itu seraya mencoba mencium kemanisannya. bukan. Kemudian ia jadi sering merasa mual. lho… Apa-apaan sih kamu? Jangan cemburu yang tidak-tidak dong. Jadi aku kira kamu pasti tidak mau ikut. Dan laki-laki itu memang sedang mencoba menebak apakah pertanyaan yang barusan keluar dari bibir itu adalah sebuah pertanyaan sungguhan ataukah jebakan seperti yang seringkali terjadi dalam pembicaraan mereka. Laki-laki itu mengangkat bahu. Aku sudah bilang akan makan dengan rekan-rekan kerjaku. Jeffry juga. Maka malam itu kemudian menjadi malam yang sangat dingin. supaya kamu bisa main mata dengan leluasa. bebas kerut-merut dan halus rupawan itu. tidak mampu memproses data lalu macet.” Hm. ciumannya pun membentur gunung batu yang menjulang tinggi dan menukik tajam di sudut-sudut dan lekuk-lekuk bibir itu. karena dia tidak pandai menyusun kalimat di depan bibir itu. Mau kan?” “Jangan merubah pembicaraan! Kamu makan-makan dengan siapa-siapa saja tadi?” “Lho…ya dengan teman-teman kantor. seakan mencoba menebak sesuatu. lebih. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana menjawabnya. laki-laki itu garuk-garuk kepala. bila ia tidak yakin pada jawabannya maka dia akan membisu seribu bahasa. dia. iya kan?” “Sebal aku! Itu sebabnya kamu tidak mau aku ikut.” “Pasti ada dia!” Bibir itu melancip. Perempuan itu melihat bagaimana bekas suaminya menggelengkan kepala dengan cara yang sangat khas.” “Pasti! Makanya aku tidak diajak!” Jelas sekali tuduhan dan tudingan tersirat dari bibir itu. lebih tepatnya dia takut mengucapkan lebih banyak katakata karena akan berarti lebih banyak lagi kesalahan yang dapat saja dilakukannya menurut logika bibir itu yang mengakibatkan bibir itu akan mengeluarkan lebih. iya kan?!?!” “Lho. Kok jadi menakutkan sekali? “Dia siapa sih?” “Pura-pura tidak mengerti. maksudku bukan janda cantiknya. hang. hampir-hampir membekukan. “Kok nggak ngajak-ngajak?” Bibir itu menurun membentuk kurva setengah lingkaran dan lampu merah di kepala laki-laki itu mulai berkedip-kedip.” “Perempuan yang mana lagi?” “Wulan. Asep juga. karena dua tambah dua tidak selalu menjadi empat dalam kalkulasi pemikiran otak yang terletak dua jengkal saja jauhnya dari bibir itu.

bukan itu. kita ada di tempat umum. Kenapa kamu justru ingkar janji! Kenapa justru memilih untuk bersama dia daripada aku?” Banyaknya pertanyaan yang meluncur sekaligus dari bibir itu membuat mantan suaminya merasa tegang sekali. amboi…betapa manis sesungguhnya memang bibir itu dari jarak aman ini. tanggung. merobek-robek seperti cakar. begitu? Kalau berselingkuh itu tidak memalukan ya!” .” “Kamu hanya bisa bilang bukan itu. katanya perlahan. dan menusuk-nusuk seperti sembilu? Tidak mungkin kan rasa-rasanya. menghindar terus!” Dan kepala laki-laki itu semakin pusing jadinya. begitu enak untuk dinikmati.” bibir itu bergerak naik. membentuk sebuah senyum sinis. Laki-laki itu merasa tidak memiliki jawaban yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan itu dan ia pun tidak dapat mendeteksi mana yang aman untuk dijawab dan mana yang adalah ranjau darat yang bila diinjak akan mengakibatkan ledakan yang dahsyat dan menghancurkannya berkeping-keping. Ada beberapa yang bahkan nampak sekali sangat tertarik dengan gerak-gerik bibir itu. apalagi karena beberapa orang di meja sebelah mulai tertarik ikut mendengarkan percakapan mereka yang saat ini lebih mirip sebuah monolog dari bibir itu. karena setelah berpikir begitu keras memang hanya itu saja yang terbayang-bayang di kepalanya. bahkan lebih terbius. Mencium. tidak ada perempuan lain yang mampu mencintai kamu seperti aku mencintai kamu. Itulah yang ingin sekali ditemukannya pada bibir itu. “Pelankan sedikit suaramu. karena selalu saja ia mendapatkan dirinya dan harga dirinya kemudian terkapar di suatu tempat dan waktu yang membingungkan. Dasar pengecut! Dia memaki dirinya sendiri. karena dia sadar dia memang merasa sangat kecut sekali. “Kamu malu karena suaraku keras. menghormati aku.” “Aahhh. mendebarkan sanubari. menyejukkan hati. bagaimana mungkin bibir secantik itu bisa melukai seperti pedang. bukan itu. “Kamu kenapa sih? Selalu saja begitu kalau diajak bicara serius! Selalu pura-pura sakit kepala.” “Jadi? Lebih seksi?” Lelaki itu menatap bibir bekas isterinya dan melihat.” “Lebih pandai mencium?” “Bukan itu. Menyapa. karena getar-getar bibir itu membuatnya tidak tega untuk berdiam diri lebih lama lagi. Dia memijat-mijat pelipis kirinya yang berdenyut-denyut. “Mungkin karena bibirmu. “Bibirku? Apa yang salah dengan bibirku! Aku pikir kamu menyukai bibirku! Memangnya bibirnya lebih indah dari bibirku?” “Bukan begitu maksudku. Tidak dapat disalahkan. Dan tertawa. “jadi kamu malu ya?’ bisikannya mengejek. tidak akan pernah menyakiti aku. dulupun dia merasa seperti itu. ia tidak memiliki keinginan untuk lebih mendekat atau melakukan apapun dengan bibir itu. lebih tergila-gila. “Bukan itu. membuat matahari bersinar lebih lembut saat siang terik. seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang! Apa sih maksudnya! Kenapa berbicara dengan kamu selalu saja membosankan!” “Maaf…” Bibir itu merapat. dan rasa-rasanya tidak mungkin ada yang lebih lembut lagi dari bibir itu yang rasanya seperti gulali ketika disentuh. Ah! Pusing jadinya. pikir laki-laki itu. Bibir seperti itu gunanya untuk tersenyum. bahkan lebih menegangkan daripada dimarahi oleh atasannya di kantor. mengelus-elus kerinduan. dan katamu sendiri.” katanya akhirnya. Aku kan tidak menanyakan hal yang sulit atau terlampau mustahil untuk dijawab! Aku hanya ingin kamu jujur! JUJUR! Bukannya jadi pengecut terus. “Kenapa harus minta maaf? Kamu menyesal karena berselingkuh kan? Padahal kamu pernah berjanji bahwa kamu akan selalu mencintai aku. “Ehemm…” Laki-laki itu membersihkan tenggorokannya yang mendadak rasanya tercekat oleh serpihan-serpihan kerikil yang masuk entah dari mana.Entahlah.

juga sebuah dekik yang timbul tenggelam di sebelah kiri bibir itu. Kasihan. satu saat ditarik ke sana dan dilain saat ke sini. Bisa kan?” Bibir itu bergerak seakan hendak melakukan sesuatu lalu tiba-tiba saja tidak jadi melakukannya.” “Lalu. yang sudah lama tidak mampir di hatinya. boleh aku bicara?” Laki-laki itu menepikan mobil.” “Tapi…” “Biarkan aku bicara dulu. di bibirmu aku menemukan cinta. laki-laki itu terkejut. matanya beralih memandang jalan di depannya. karena. demi merekahnya senyum. sangat. yang membuat jantungku berdebar-debar melaju ditengah kemacetan jalan saat pulang kerja sehingga rasanya semakin tersiksa karena aku ingin sekali segera pulang agar dapat mengecup sudut-sudutnya. Ya. dan kekenyalan bibir itu yang begitu nyata. Di lekuk-lekuk senyummu ada semangat dan kekuatanku untuk meraih masa depan. “Sebaiknya kamu pulang. berbanyak kepala langsung menoleh ke meja mereka dan laki-laki itu menemukan dirinya menjadi pusat perhatian. Kamu memang ahlinya! Selalu saja begini ini. luarbiasa.Suara yang keluar dari bibir itu berdentum keras sekali sangat mengejutkan. lekukan atasnya yang sensual dan sempurna. apa yang dirasakannya saat dihempas-hempas begitu rupa oleh pemiliknya. seakan memang seluruh semesta mempersiapkan tempat dan ruang untuk mereka saat itu. Digandengnya bekas isterinya ke luar dari tempat minum kopi itu.” Tiba-tiba saja dia menemukan dirinya bisa berbicara tegas. dan kamu mencoba mendengarkan? Lagipula. sangat kasihan kepada bibir itu. aku kasihan dengan bibirmu. dan di kepala laki-laki itu timbul pertanyaan. Bibir itu sekarang berguncangguncang. bukankah kamu selalu berkata ingin ada jawaban? Boleh kan aku mencoba menjawab. bagaimana mungkin dia pernah mencium bibir yang seperti itu di suatu masa yang rasanya sudah berabad-abad yang lampau? Bagaimana caranya bertahan tetap waras berhadapan dengan bibir itu selama lima tahun hidup pernikahan mereka? Saat bibir itu mencang-mencong di hadapannya dia tidak lagi mampu mencerna kata-kata yang mengucur begitu deras dari bibir itu. “Aku pernah mencintaimu. apakah itu sebuah isakan? Dia merasa diterobos oleh rasa kasihan. mengapa…” . mata-mata para perempuan mendelik dan beberapa laki-laki agak salah tingkah sementara yang sebagian malah tersenyum mencemooh. untuk laki-laki itu. sangat. “Jawaaaaaab!” Tiba-tiba saja dinding pelindung anti-suaranya pecah berantakan. Atau lebih tepatnya. Kalau saja dia bisa bertanya langsung kepada bibir itu. aku memang mencintai bibir itu. apakah bibir itu sendiri tidak pernah merasa lelah? Dalam hati laki-laki itu mempertanyakan. Dia bahkan tidak lagi dapat mendengar suara apapun! Secara naluriah. Bahwa aku sungguh-sungguh jatuh cinta dan mencintaimu ketika kita menikah. laki-laki itu menutup indera pendengarannya dan menyisakan visualisasi dari drama yang terjadi di depan matanya ini. Aku bahkan mau mempertaruhkan hidupku demi bibir itu. jalan lengang. Ya. tapi gulali yang mulai meleleh karena dibiarkan terlalu lama di bawah matahari. “Ssstt…” Serba salah laki-laki itu menengok ke kiri dan ke kanan. Kepala perempuan itu mengangguk. begitu elastisnya bibir itu sehingga tidak jadi masalah ditarik ke kiri atau ke kanan.” “Bagus! Pergi saja sana! Melarikan diri. dan kegairahan. Tapi. mencong ke atas atau ke bawah. sambil berpikir. bila di matamu aku bisa berkaca dan menemukan diriku. “Bibirmu. Kamu tahu itu. kalau dieksploitasi terus-menerus. “Sebaiknya aku pergi saja karena ternyata kamu masih terlalu emosi. dan dengan takjub menemukan tidak ada perlawanan dari bibir itu maupun anggota-anggota tubuh yang lainnya. kapan semuanya akan berakhir ya? Konsentrasinya pada bibir itu membuatnya mampu menangkap garis-garis halus di bibir itu. Tiba-tiba saja dia merasa sangat. “itulah masalah kita. “Jadi. dan derai tawa. Bibir itu perlu istirahat juga dan memberikan kesempatan kepada telinga untuk bisa mendengar suara lain selain suara-suara milikimu sendiri. saat ini. tidak bertanggungjawab!” Bibir itu bergerak turun naik ke kiri dan ke kanan. ayo aku antar. Saat itu dia merasa berhadapan bukan lagi dengan pedang. warna lembut lipstick yang masih melekat dengan sangat apik yang nampaknya tidak akan berguguran walau terguncang-guncang.” kata lelaki itu sambil menatap jalan di depan kemudi.

dan aku sudah menemukannya. Aku memang bersalah. “Sungguh. Aku minta maaf. aku mencari kedamaian di bibir yang lain. “Kita sudah pergi terlalu jauh dan kehilangan jalan pulang. Mengapa? Karena aku tidak lagi menemukan debaran-debaran jantung ketika berhadapan dengan bibirmu. Atau dua-duanya.” “Seandainya kita lebih mudah saling mengerti?” “Kita akan lebih banyak berciuman. “Kita sudah benar-benar gagal bukan?” perempuan itu berbisik. mengapa? Aku sendiri heran. Namun nampaknya dosaku sudah terlampau besar. Aku bahkan sering berharap terjebak saja terus di tengah-tengah kemacetan. ketika dirabanya sakunya itu. dan matanya berkaca-kaca. Oh. “Masih ingat? Dulu kau pernah bilang bibirku rasanya seperti es krim vanila dan lembut seperti gulali. aku jatuh. Aku memang pengecut. ada sebutir bening jatuh diujung bibir itu. sebuah senyum rawan menggantung di bibirnya.” Laki-laki itu menatap perempuan cantik di sampingnya. Mereka sudah sampai di persimpangan tempat dia dan pemilik bibir manis itu harus berpisah. dan lelaki itu mengusapnya lembut dengan jari telunjuknya. Aku mengaku kalah. dan aku tidak punya keberanian atau kemampuan untuk mempertahankan apa yang memang tidak kamu anggap perlu untuk dipertahankan lagi… Maafkan aku. mengapa tidak? Mungkin dengan begitu kamu akan merasa puas. mengapa semakin lama aku malah semakin menikmati jam-jam lemburku dan mengharapkan waktu-waktu kerja menjadi lebih panjang. Laki-laki itu mengangguk.” “Kalau kita lebih banyak berciuman?” “Kita akan lebih mudah bergandengan. Tetapi sedetik saja pada saat ini. merasa menang. menahan diri. dan godaan yang datang. menjadi sebuah jalan alternatif bagiku.” Ah.Laki-laki itu memberi isyarat dengan tangannya. atau malam-malam kita yang terlalu banyak diisi dengan kebekuan. Akhirnya. sudah penuh. tidak pernah selintaspun. Yang pasti. Karena itu adalah pertanyaan yang sama yang diajukannya berulang-ulang kepada dirinya sendiri. setiap kali aku memandangmu dan bibirmu mulai berbicara. pada mulanya. “Ya. berselingkuh. ada air yang membuat matanya berkaca-kaca. Bekas isterinya mengangguk. . kamu yang menginginkannya. terisi dengan cinta untuk sebuah bibir yang lain. Aku tidak pernah menghendaki kita berpisah. bibirnya terbuka sedikit. Mungkin imanku yang tidak kuat. ingin sekali disimpannya tetes bening itu di dalam sakunya. bukan lagi seperti kupu-kupu yang naik turun tetapi lebih mirip sengatan sekawanan lebah yang menyerang lambungku. tidak punya peluang. betapa terlambatnya. manis sekaligus sangat pahit. bukan madu yang keluar namun begitu banyak dakwaan yang. yang aku dengar hanya bergodam-godam palu kecurigaan dan tuduhan yang pada mulanya aku tidak mengerti dari mana asalnya. karena begitu bibirmu terbuka. yang pada awalnya sama sekali tidak punya arti. “Seandainya aku lebih banyak mendengarkan?’’ “Aku akan lebih mudah berbicara. Namun kemudian. Aku tidak pernah berniat mengkhianati. dan bekas isterinya menggigit bawah bibirnya.” “Kalau kita lebih mudah bergandengan?” “Kita tidak akan pernah terlalu mudah untuk saling melepaskan. tidak berdasar. “Lalu mengapa kita bercerai?” Laki-laki itu menebak dengan tepat. Namun. Bahkan tidak berani mengecup bibirmu saat aku sangat ingin melakukannya karena aku takut lidahku tidak mampu merasakan rasa yang lain selain rasa pahit” Laki-laki itu mengedipkan matanya. Kuakui bahwa aku lelah dihukum untuk sebuah kesalahan yang tidak aku lakukan. Jakarta 24 Juni 2003. Karena aku tidak mampu pulang.” kata perempuan itu lirih. yang aku rasakan adalah rasa mulas di perutku. masa-masa yang sangat indah di sebuah waktu yang berbeda dan begitu jauh. bahwa aku memang suami kalahan. aku berpikir.” Perempuan itu menatap laki-laki itu dengan pandangan yang berbeda. Ia menghela nafas dalam diam.” “Kalau kau lebih mudah berbicara?” “Kau akan lebih mudah mendengarkan dan kita akan lebih mudah saling mengerti.

Semenjak aku diasuhnya sedari kecil. ia dianggap sukses di dunia dan akhirat. jadilah ia menganggur di rumah. Apa gerangan yang mau dibicarakan? Ini agak sulit karena aku sedang mengemban tugas sebagai pembicara seminar yang akan dilaksanakan besok di kampus. Jogja. Dia sudah kebelet nikah namun tidak sampai hati melangkah mendahuluiku. Bapakku orang terhormat. Apa yang akan dibicarakan Bapak? Tentang pernikahankah? Karena aku sudah termasuk telat untuk menikah dan begitu gencarnya Orangtua beserta adik-adikku membujukku untuk mencari belahan jiwa. Nomor ponsel dan nomor telepon Ibu kost-ku sudah ada di tangan Bapak.” begitu kata salah satu temanku yang menjabat sebagai wakil ketua panitia. Yang terakhir ini agak kuragukan karena Bapak orang sukses dan terhormat. Kuliahnya sudah selesai dan belum punya pekerjaan. Tapi aku tetap merasa kurang. Banyak majelis-majelis mengharap kedatangannya untuk sekadar memberikan sambutan atau ceramah pendek. aku memang tidak pandai bersyukur. Tumben sekali Bapak berkomunikasi dengan cara seperti ini belum lagi isi pesannya yang benar-benar menyita perhatianku sepanjang hari ini. Ataukah Bapak jatuh miskin di luar sepengetahuanku lalu akan menyuruhku berhenti kuliah? Tapi toh meski selama ini ongkos kuliah ditransfer Bapak. Wajahnya menunjukkan bahwa dia sedang berpikir keras tentang suatu hal dan bayang-bayang keraguan muncul timbul tenggelam. Aku merasa bersalah juga tapi aku akan menikah setelah selesai kuliah. Bapak mau bicara. Hanya itu isi surat yang kuterima tadi pagi. bertitel kyai. toh mereka semua senang aku pulang. Tak apa. aku merasa bisa terus sekolah dengan upah kerja part time atau dengan belajar lebih rajin agar dapat beasiswa. aku bisa mengenali tulisan Bapak yang khas. Setelah mengurus tiket yang agak bermasalah. Ia pendakwah yang gigih. Rupanya beliau tidak memberitahu yang lain bahwa aku disuruhnya pulang. Yang paling kesal adalah adikku si Nuning. Saking dihormatinya. apalagi di akhirat. Hati-hati nanti di jalan. ia dimintai ‘doa’ oleh orang-orang yang datang dari luar kota. Kuhubungi teman-teman sesama panitia dan mereka semua pengertian. punya banyak koneksi. Akhirnya aku lelah berpikir yang tidak-tidak dan memutuskan mengepak koper sore ini lalu berangkat nanti malam. kecuali Bapak. Aku tak habis pikir mengapa Bapak tidak menelepon saja. Kulihat Bapak hanya diam saja menyambut kepulanganku. aku berusaha menyingkirkan semua pikiran-pikiran aneh tentang apa yang akan dibicarakan Bapak. pulang. Namun rasa penasaran yang sangat menyelimuti otakku sedemikian rupa. aku mengenalnya sebagai orang yang sangat taat beribadah dan selalu membangunkanku saat sepertiga malam untuk salat tahajud yang kemudian menjadi rutinitasku dalam keseharian. Umurku 28 tahun dan aku memang kurang laku di mata kaum hawa walau banyak orang bilang wajahku termasuk lumayan. Bapakku tidak bisa menerima dan menganggap hal itu syirik. Terbersit niatku untuk menunda kepulangan sampai tanggung jawabku itu selesai. Ia mengirim surat dengan kertas dan amplop kelas atas serta prangko kilat namun isinya hanya lima kata itu saja. Meski surat itu tanpa tanda tangannya. Di dunia sebagai orang baik dan rezeki dicukupi. 2008 by piko aguno Gi. akhirnya aku kembali terbang ke kota kelahiranku. “Tidak masalah.Bukan Ismail Desember 10th. Hampir-hampir orang lain berani bertaruh manusia macam itu bakal masuk surga. aku penggantinya. Atau mungkin tentang warisan? Mungkin Bapak sedang sakit keras baru-baru ini dan merasa akan meninggalkan dunia fana ini sehingga merasa perlu membicarakan warisan hartanya yang melimpah. kaya raya. Aku memutuskan untuk lanjut ke S2 jadi tidak ada waktu untuk menikah. dan disegani siapa pun yang mengenalnya. Pendek kata. Benar-benar surat yang simpel namun juga mengusik hatiku. Namun begitulah Bapakku. Aku bukan anak-anak yang mau menjadi benalu bagi Bapak. Meski sulit. Ia bisa diasumsikan sebagaimana orang-orang melihat seorang manusia yang sempurna akhlak dan materi. Keluargaku kaget melihatku pulang. Ia bilang ia bukan dukun yang bisa dimintai hal-hal . Tulisannya miring bersambung dan banyak hiasan di huruf G dan B besar.

membiarkan rokoknya memendek digerogoti ulat api di ujung. Aku setuju saja. “Kamu percaya sama Bapak?” tanyanya.. “Bapak tidak percaya kamu percaya sama Bapak” Aku jadi bingung. apalagi bertemu Tuhan. “Saya percaya Bapak. memandang langit-langit.” Agak menyesal kukatakan ini.” ujar Bapak tanpa ekspresi. Apa wujudnya? Aku tak boleh bertanya demikian. “Yah. “Terus?” tanyaku. tegas. Tuhan menyuruh Bapak menyembelih anak Bapak sendiri. Ia berbicara panjang lebar dan tak ada hentinya kecuali mungkin aku menyelanya. Bapak hanya menatap kosong ke langit-langit rumah. Setelahnya Bapak menyalakan rokoknya dan mengepulkan keras-keras. Aku tidak percaya sedikit pun tapi aku diam saja. ‘Diam itu emas’ rupanya benar-benar menjadi prinsip hidupnya. sebenarnya apa yang mau dibicarakan sampai saya harus pulang?” Bapak mengisap rokoknya dalam-dalam.seperti itu. Pantatku jadi sakit karena terlompat. Akhirnya kami shalat berjamaah sekidmat mungkin. keluarga sejahtera. Harta banyak. .” “Tapi Pak… bagaimana mungkin? Itu kan cuma mimpi. Bapak tidak bisa mengelak. Ia mengajakku bicara empat mata berhadap-hadapan.” Bapak terdiam agak lama dan menciptakan keheningan yang janggal di antara kami. Rupanya tidak cukup hanya dibalas dengan ibadah dan rasa syukur kepada Tuhan. Aku tidak mengeluh kali ini meski aku benci sekali asap rokok. Tuhan menguji sejauh mana Bapak bisa bersabar atas apa yang Tuhan minta.” jawabku ragu. “Eh. Bapak sangat pendiam. Aku jadi jenuh dengan perkataannya yang panjang lebar dan tak biasa.” Aku tersontak kaget. jadi kutunggu dengan tidur yang lelap hingga tiba-tiba ia membangunkanku sepertiga malam untuk salat tahajud. Mana mungkin? Pasti Bapak mengada-ngada. “Astagfirullah! Apa nggak salah dengar?” Bapak mengangkat tangannya agar aku jangan menyela.” Ia terbatuk karena asap rokoknya sendiri lalu melanjutkan. aku agak heran juga. Bapak harus memenuhinya. kedudukan terhormat.” kataku spontan. “Seperti halnya Nabi Ibrahim. Aku disuruhnya pulang hanya untuk mendengar celotehan yang sudah sering kudengar di masa kecil. Hanya asap rokoknya yang bergerak kesana kemari di antara kami. Ia mengusir dengan halus tamu-tamunya saat itu. tidak mengerti apa maksud Bapak bertanya begitu. Untuk kedua kalinya aku terlonjak. Dengan agak kurang sopan aku menyela. Karena setiba di rumah Bapak hanya diam saja. Bapak hanya bicara bila benar-benar perlu jadi kebanyakan mulutnya hanya digunakan untuk tersenyum menanggapi perkataan orang lain. Mengalami mimpi bertemu Rasulullah saja sudah merupakan karunia luar biasa dan diperuntukkan hanya kepada hamba-hamba Allah yang tertentu. Begitu bangga dan bersyukurnya aku mempunyai Bapak seperti beliau. “Pak. seolah berusaha memancing komunikasi kami berdua. seolah itu hisapan yang terakhir. “Bapak yakin kamu anak shaleh dan selalu ingat bahwa Tuhan itu ada. Selama ini Bapak hidup tanpa hambatan yang berarti. “Pasti Tuhan sedang menguji keikhlasan Bapak dalam beribadah. Lalu ia berkata tibatiba.ya. Darinya mengalir nasihat-nasihat kehidupan juga kisah-kisah para nabi.. “Dua hari yang lalu Bapak bermimpi bertemu Tuhan. “Apakah kamu percaya sama Bapak?” tanyanya.

Dikepulkannya asap rokok menjadi lingkaran-lingkaran asap yang menawan. Lagipula kamulah yang Bapak rasa paling bisa menerima tugas ini dengan lapang dada. Seolah-olah malaikat Jibril masuk ke dalam mimpi Bapak lalu mengajak Bapak ke depan arsy Tuhan di langit ke tujuh. Allah Maha Berdiri Sendiri. “Tapi Bapak bukan Nabi. ” Lapang dada! Ah. Allah tidak butuh sesuatu pada mahluknya.” “Tapi mengapa Tuhan memberikan tugas itu kepada Bapak kalau Bapak manusia biasa. “Tapi Pak…. Dan Bapak sendiri. Mau kuceritakan?” Aku menggeleng lemah. Maha Besar.” Bapak tertawa terkekeh-kekeh mendengar perkataanku. “Apa kamu percaya selama ini Bapak beribadah bukan atas dasar riya? Tidak untuk menarik perhatian orang lain supaya jatuh hormat pada Bapak?” tanya Bapak. Ini sudah kelewat batas.” kataku mengalah. mimpi dari setan. Dan Bapak pun menerima hal yang serupa. Dari Allah. Untuk apa Tuhan meminta hal seperti itu kepada mahluk ciptaan-Nya? Ini menyalahi Asma’ul Husna. aku juga—semua—hanya manusia biasa. Perhatianku teralih namun sekejap kembali pada tempatnya. sedikit nyengir mau minta maaf. Kuraba dadaku. “Le. bukannya Nabi atau bahkan orang saleh?” “Kamu menilai Bapak bukan orang saleh?” tanya Bapakku agak keras lalu kemudian ia jadi salah tingkah begitu juga aku. Perjalanan yang panjang. Aku takut tiba-tiba ia mengaku-ngaku diutus sebagai Nabi. Aku jadi malu di hadapannya.” Bapak tersinggung. Muhammad adalah Nabi terakhir. apapun caranya. Melelahkan tapi asyik.” Telingaku serasa terkulai. aku masih ingin hidup seribu tahun lagi. Tapi saya tidak tahu apakah Bapak bisa menentukan mimpi itu dari Tuhan atau dari setan. Hanya kamu sendiri yang laki-laki. Bapak mengangguk takzim. bukan halusinasi.“Begitulah Tuhan menyampaikan kepadaku. Bapak bukan Nabi tapi hanya manusia biasa yang dikaruniai hidayah-Nya sehingga bisa seperti sekarang. Aku merasa akan kalah. Bisa jadi ia akan punya pengikut seperti halnya Ahmadiyah. Mimpi dari Allah. Yang terakhir semacam tidur lelap karena kekenyangan. “Ya… tentu. Perintah Allah. ia mengencerkan tenggorokannya sambi berpaling dariku. Ini bisa menjadi aib keluarga dan aku bakal malu berat. “Bapak yakin kalau Bapak disuruh nyembelih anak sendiri?” tanyaku takut-takut. . dan mimpi biasa. “Sebenarnya bisa saja Bapak memilih satu di antara adik-adikmu tapi adikmu perempuan semua. Bapak memperlihatkan mimik tersinggung lagi. “Lalu bagaimana dengan Nabi Ibrahim? Mengapa Tuhan meminta hal seperti itu kepada Nabi-Nya? Itulah Ibadah. Bapak yakin sekali mimpi ini dari Tuhan. Aku harus menyadarkan Bapak. Tapi aku kaget hal-hal yang merusak aqidah seperti ini menyentuh Bapak. Bapak orang saleh. Rasanya sesak dan perutku mulas sekali.” “Saya kira mimpi itu ada tiga. Maksudnya mimpi yang nyata. “Memang.” kataku tegas. Bapak orangnya tidak tega melukai mahluk Tuhan yang namanya perempuan.” “Tapi bagaimana Bapak yakin Bapak mimpi begitu? Mungkin hanya halusinasi—” “Bukan. Ini benar-benar mimpi. Manusialah yang selalu butuh Allah untuk bisa hidup meski mereka tidak pernah menyadarinya.

Pak. Kalau kambing sih. Ini edan. Dalam kisah Nabi Ibrahim.” Jantungku berdegup dan bisa kurasakan wajahku memucat meski aku tidak bisa melihatnya. Itulah bedanya. Bapak cuma minta kesediaanmu untuk Bapak sembelih. sadar…” “Dengar dulu—. bukan kamu. “Ini bukan sensasi. Sedangkan aku tidak ikhlas.” “Uh oh.” “Kamu jangan ngeyel. Bukankah Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang? Allah akan menggantikan dirimu dengan seekor kambing gemuk yang nanti kita jadikan gulai untuk dimakan sekeluarga.” kata Bapak seraya mematikan rokoknya yang sudah pendek sekali. bukan gitu Pak. “Ha. Saat pisau yang tajam bersentuhan dengan kulit lehermu.” kataku gemetar. jangan dilakukan.” “Harus. Aku akan diuji apakah aku sanggup menyembelih anakku sendiri atas dasar perintah Tuhan. makan. Entah kamu ikhlas atau tidak Bapak peduli apa? Tuhan tidak menitipkan pesan apa pun untuk kamu.” “Tidak! Saya tidak mau. Lebih baik sudahi saja. Rupanya sikap takabur sudah menggerogoti otak kanan Bapak sehingga penuh dengan khayalan seperti ini. putranya Ismail ikhlas untuk disembelih. “No…no…no… Aku masih ingin hidup.” .” kataku marah.” “Oh… saya tidak bersedia. Pak. Keikhlasanku diuji ketika detik-detik terakhir aku memutuskan urat-uratmumu. tentu saja berbeda. Saya mau tidur dulu. “Ah.” “Salah.” “Saya tidak mau. Bapak tidak punya kendala. “Bapak mau melakukan tugas itu malam ini. Saya cuma…” “Tapi Bapak harus melaksakannya” “Pak…” “Malam ini.” elakku.” “Tidak mau. Ini misi Tuhan.“Begitulah. Sadar. itu sama saja. Pak. masak.” “Cukup!” “Ini ibadah. ini pembunuhan.” Bapak menahanku. “Bapak memaksa.” Bapak ikut marah Hilang sudah rasa hormatku pada Bapak. Tole. “Tunggu dulu! Bapak jangan bikin sensasi. Kamu harus—. Tinggal tebas. dari Allah..” “Kalau begitu beli saja kambing lalu sembelih. Berarti acara sembelihan Bapak jadi tidak afdhal dong. Tole… Kamu tidak akan mati.” “Wah. ” “Aku tidak ikhlas.ha…ha… Yang diuji itu Bapakmu ini.

aku bukan Ismail. Akhirnya Bapak dideportasi dari rumah dan diungsikan ke Rumah Sakit Jiwa. mengajak-ajak dalam kebajikan. menduga-duga mungkin mimpi itu benar dari Tuhan dan aku memang harus disembelihnya. Bapak bersikap seperti orang normal bahkan kelewat saleh. kali ini. Keluarga dan tetanggaku menyelamatkanku tepat pada waktunya. Aku sudah diwisuda. Ia percaya bukan karena ia bodoh tapi karena imannya yang terang benderang. Apakah ini berarti aku mengabaikan Tuhan? Jika Bapak memang benar bermimpi demikian dan mimpi itu memang dari Tuhan maka aku orang yang berdosa. Aku membayar mahal seorang psikiater profesional untuk mengawasinya namun laporan setiap bulannya tidak banyak mengalami kemajuan. bekerja. Pisau itu sudah terasah tajam dan mengkilap menyilaukan mataku. Yang jelas. Tapi pastinya Ibu dan adik-adikku tidak akan menerimanya lagi. Bapak masih selalu berpuasa Senin Kamis dan masih melantunkan ayat Al Quran dengan fasih. Bapak berdiri.” “Bapak sudah keblinger!” “Meski dengan kekerasan. . Untuk beberapa waktu. Lalu bagaimana dengan Ismail putra Ibrahim? Mengapa ia tidak ragu bahwa mimpi ayahnya dari Tuhan? Mengapa ia mau menerimanya begitu saja? Karena ia punya iman yang kuat. Meski demikian orang-orang yang dulu mengenal Bapak masih menaruh hormat pada keluargaku. Ia percaya ayahnya selalu beribadah dengan ikhlas kepada Tuhan. mengucapkan basmalah. jangan Pak! Gila!” Akhirnya sambil tersenyum tulus Bapak mengeluarkan pisau besar semacam parang dari balik sarungnya. Si psikiater curiga itu hanya akal-akalan agar dia dinyatakan sembuh namun niat untuk membunuhku masih ada. Ia percaya mimpi ayahnya itu tidak salah. Setiap sepertiga malam ia selalu shalat sampai subuh. Juga mendakwahi setiap pasien di sana. Bagaimanapun juga. orang-orang zaman sekarang takkan bisa menerima. Aku juga ragu mimpi Bapak tidak relevan untuk zaman sekarang. Aku jadi bimbang sendiri. Ia percaya bahwa Tuhan itu ada. menikah dan kini tinggal bersama ibuku yang kecewa berat Bapak jadi gila.“Kita bakal dapat pahala. Kata si psikiater. yang tentu saja takkan berhasil. keluargaku menjadi bahan gunjingan di masyarakat. Nuning juga sudah menikah dan tinggal di rumah suaminya. Aku menjadi merasa bersalah pada Bapak. Sungguh aku merasa menjadi manusia paling berdosa dan tak punya iman sama sekali. lho.” “Tiidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!” Tapi itu sudah berlalu satu tahun yang lalu. “Sini kamu. Sejenak timbul niat untuk memulangkan Bapak karena mungkin Bapak memang tidak gila. dan bersiap-siap memegang leherku. Aku hampir lengah. Siapapun itu. Mungkin trauma mengingat-ingat bagaimana Bapak mengejarku di jalanan dengan pisau besar terasah tajam dan mengkilat sambil bertakbir.” “Aduh. Aku ragu jika Bapak tidak gila. Dan hal penting kedua ialah ia ikhlas untuk disembelih.