Perempuan Kampung Karampuang ( Juara 1

)
Desember 19th, 2008 by Emil Akbar Malam ini purnama sedang penuh. Bulan benderang begitu bundar. Bercahaya menyinari seperti lindungan ibu dalam dekapan yang menjelma dewi malam dan aku memperoleh restu di wajahnya yang bulat. Membuat langit hitam tak begitu gelap. Dalam rindang hutan pekat melarut lewat hembusan angin yang dingin. Bukan gulita sebab mataku masih bisa melihat. Hanya lindap dan kudapati kunang-kunang berkerlip, mengganti bintang yang tiada. Aku menantimu di batas Dusun Karampuang. Kau belum juga muncul padahal aku sudah lama menunggu di sini. Aku takut dan cemas. Itu sebabnya mataku terpaku pada ujung aspal yang menghilang seperti ingin menerobos malam yang teduh, mencari bayanganmu yang berkelebat, dan sesekali aku menengok ke belakang membaca situasi. Rustam, tahukah kau? Di dalam sana, sunyi bukan berarti tidak ada bunyi walau tadi mereka sembunyi karena aku tak peduli. Bunyi hewan malam, nyanyian serangga, suara berdesis-desis yang bukan ular, kicau kao-kao yang mengerikan di rimbun daun di dalam hutan yang senyap, berbondong-bondong mengerubungi telingaku. Berdenting serupa dawai, mengalun dan merambati udara, dan bakal meninggalkan luka di hatiku bila kau tidak jadi menjemputku malam ini. Maka hadirlah di ujung jalan itu seperti dilahirkan oleh kabut yang merayap. Jangan sampai aku menjadi batu di sini karena gigil atau habis karena dimakan angin dan kau harus tahu jiwaku mulai beku meski sebenarnya kepalaku ingin meledak karena bosan. Aku tidak mungkin kembali setelah ingkar. ”Sepertinya lelaki itu tidak akan datang.” Seseorang memegang bahuku dari belakang. Aku tersentak kaget dan terlonjak bangkit dari tugu batu yang kududuki. Aku gemetar gugup mengetahui siapa yang menegur. ”La Gole! Sedang apa kau di sini? Kau mengikutiku?” Sontak aku menjauhinya. ”Jubaedah, pulanglah sebelum terlambat. Masih ada kesempatan dan aku akan membantumu,” ujarnya sembari duduk di tugu batu yang kutinggalkan. Dalam gelap aku tahu ia menatapku tajam, seruncing jarum yang pernah menusuk tanganku. Batinku tertohok mengingat ia adalah mata-mata Puang Gella, pemangku yang sering menghukum bila ada orang yang melanggar di kawasan dusun, meski ia temanku sejak kecil dan beberapa waktu silam aku menyimpan hati untuknya. Namun ia menunjukkan sikap yang tidak kusuka. Ia bukan lelaki tangguh, pengecut yang tidak berani mengajakku kawin lari. ”Benar kau akan menolongku?” tanyaku pura-pura ragu. ”Kau tidak percaya padaku?” La Gole menghampiriku begitu dekat hingga bisa kuhirup bau badannya yang belum disentuh sungai. Aroma napasnya purba. ”Baiklah kalau begitu. Ijinkan aku menunggu Rustam sebentar lagi,” pintaku. Lalu kedua kakiku tak mau diam karena gelisah. ”Jika dia tidak muncul?” ”Kau boleh membawaku pulang!” jawabku sedikit kesal. ”Sepakat.” Agak lama kami saling diam seolah jiwa kami raib meninggalkan raga yang kikuk, menguak hutan dengan lesat untuk menemukanmu dengan tujuan yang berbeda. Kuperhatikan La Gole sedang duduk bersila sambil mempermainkan parang bersarung yang biasanya terlilit di pinggangnya. Tidak kutahu apa maksudnya, tapi membuatku bergidik membayangkan kulitmu robek dan menumpahkan darah jika badik itu keluar dari sarangnya. Kau pasti akan kalah sebab La Gole bekerja dengan otot sedangkan kau lebih suka berpikir. ”Apa yang kalian lakukan jika sudah bertemu? Apakah kau akan lari dengannya?” La Gole mengajukan tanya yang menyelidik, memecah hening. Posisi duduknya sudah berubah, satu kakinya berdiri dengan lutut menekuk. ”Tidak melakukan apa-apa. Aku hanya mau mengatakan sesuatu?” balasku berbohong sebab ia sudah curiga.

”Apa itu?” ”Kau tidak perlu tahu. Kenapa kau bertanya-tanya?” ”Ingin tahu saja. Bagaimanakah perasaanmu padanya?” ”Itu bukan urusanmu!” teriakku nyaris menuding, membuatnya bungkam. Aku berbalik arah membelakanginya menahan amarah, antara jengkel dan putus asa. Kusandarkan kepalaku pada pohon yang tak bisa kurangkul. Aku mencabut-cabuti kulit keringnya yang berlumut dan memang sudah terkelupas, membuang geram. Mataku terasa panas bagai diperciki biji lombok. Pedih memerih. Sekarang aku tidak ingin kau datang sebab itu akan mengantarkan nyawamu. Namun aku juga butuh kau datang membawaku pergi dari sini, jangan biarkan aku berkalung rantai. Aku tidak mau menjadi perawan tua! Bagaimana ini? Aku galau. Tetapi tunggu. Mataku yang melirik menangkap bayangan sekilas, bersijingkat dan menunduk mirip gerak-gerik babi hutan, berpindah dengan cepat ke semak-semak. Apakah itu kau? Tidak sebentar aku terpana, dadaku berdesir dengan degupnya. Aku merasakan firasat tak baik. Aku mesti bersiasat. ”Aku menyerah. Seperti katamu, Rustam tidak datang. Mari pulang.” Sebisa mungkin kukulum senyum ini dan menampakkan muka murung agar tidak ketahuan, supaya kau dapat mengikutiku dari jarak jauh. Aku akan mengecohkan perhatiannya. ”Aku masih setia menemanimu menunggu jika kau mau?” Aku tahu ia mengejekku. ”Tidak usah! Barangkali dia pecundang yang lebih darimu.” ”Bagus kalau kau sadar. Orang kota memang tidak bisa dipegang janjinya!” timpalnya tak mau kalah. Aku tidak lagi menyahut dan berjalan lebih dulu. Rustam, susul aku di puncak bukit! *** Jubaedah, kau adalah gadis sunyi. Semerbak harum bunga desa, wangi menebarkan angan di setiap kepala jantan muda sepertiku. Aku menemukanmu bagai mutiara diantara ribuan kerikil bebatuan yang terserak di tepi kali. Namun ada yang hilang di wajahmu yang bulat langsat. Laksana embun pagi yang tak ada lagi, saat matahari tak bisa lagi disebut mentari. Aku seperti pangeran yang menemukan bidadari. Di batas Dusun Karampuang jalanan beraspal terputus seperti lorong buntu. Terdapat daun kelapa yang diikat merintang di atas jalan. Mobil dinas kuparkir di luar kawasan adat karena dilarang masuk. Lagi pula hanya ada jalan setapak yang sempit. Tanahnya berdebu di musim kemarau dan licin berlumpur di musim penghujan. Banyak bebatuan. Di hari-hari biasa dusun ini begitu sepi bak kampung yang bisu. Awal bulan November aku kembali. Aku sudah menjadi pegawai negeri di kabupaten. Setahun yang lalu aku datang di kampung ini untuk menyusun skripsiku mengenai adat Karampuang. Setelah lulus kuliah tak mampu kutahan hasrat hatiku, ingin kembali menggapaimu. Masihkah kau menjadi perawan suci yang tidak boleh dijamah? Kutinggalkan semua yang berbau teknologi dan barang yang terkesan mewah di mobil sebelum memasuki kawasan adat yang dikeramatkan ini, lantaran pamali. Menurut keyakinan orang sini, segala yang datang dari luar lebih banyak merusak dan akan mengubah tatanan tradisi yang mereka jaga selama berabad-abad, turun temurun. Itu sebabnya aliran listrik tidak bisa masuk karena kaum adat menolak. Sungguh dilema, mengingat aku memegang proyek dari Pemda untuk menjadikan Karampuang tempat wisata, yang mungkin bakal melunturkan kebiasaan dan kepercayaan penduduk di dusun ini meski dengan maksud memberdayakan masyarakat. Aku masih terkenang ketika pertama kali datang di kampung ini. Aku disambut dengan ramah. Tidak kurang isi baki sudah ditambah, belum setengah isi gelas sudah diimbuh. Aku yang mengetuk pintu bukanlah orang lain, malah dianggap keluarga sendiri. Sebab mereka memandang tamu itu membawa rezeki. Saat itu aku menumpang tidur di rumah ayahmu di luar kawasan adat, di dusun tetangga. Lantaran aku butuh listrik buat menyalakan laptopku, menulis hasil riset yang kudapat. Pernah aku menginap di rumah seorang warga. Alat penerangnya berupa lampu minyak yang mereka sebut sulo. Semalam suntuk aku menulis di lembar kertas. Pulang pagi-pagi. Kau berada di depan pintu. Tergelak tawamu melihatku. Suaramu renyah.

”Ada yang lucu?” Kau tidak menjawab tapi memberikan isyarat. Kau pegang hidungmu yang mungil dan bangir. Aku mengikuti. Astaga, cuping hidungku dipenuhi asap hitam. Aku lekas pergi ke belakang membasuh muka. Seminggu dalam sebulan, kita bertemu. Kau melepas masa haidmu di rumah. Parasmu demikian sendu seperti tidak terima seperti terpaksa, saat kau mengatakan sedang menuntut ilmu untuk kelak menjadi seorang sanro di rumah adat Karampuang. Rumah panggung yang merupakan simbol sosok perempuan. Dari jauh kediaman yang sakral itu memang tampak anggun. Atapnya dari anyaman daun nyiur berbentuk segitiga sama kaki. Tangganya terletak di tengah di kolong rumah. ”Tangga naik ke dalam rumah adalah kelamin perempuan,” jelas La Gole, temanmu. Ia pemandu yang baik, meladeni keingintahuanku dan bahkan memuntahkan semua yang ia tahu. Pemuda yang bersemangat meski entah kenapa diam-diam ia sering menatapku dengan pandangan menghunus seperti tidak suka seperti menaruh curiga. Ia membicarakan tubuh perempuan dengan sangat biasa. Membuka pintunya pun harus ditolak ke atas biar bergeser. Aku menebak pasti ini selaput dara kemaluan, sebab dibutuhkan sedikit usaha untuk membukanya. Ada batu bundar yang menindih. ”Arah dapur adalah rahim. Dan dua dapur di belakang itu adalah buah dada sebagai sumber kehidupan.” Rumah ini tak bersekat, hanya ruang. Lantai dan dinding terbuat dari bambu. Ada loteng yang lumayan luas seperti layak untuk dijadikan kamar, tempat persimpanan kebutuhan pokok terutama padi. Bahkan ada padi yang berumur seabad. ”Semua warga sehabis panen tanpa diminta menyimpan sebagian padinya di sini untuk digunakan bersama jika terjadi gagal panen. Padi ini tidak boleh di jual.” Aku ingin sekali mengabadikan apa yang aku lihat. Namun lelaki yang terbiasa bertelanjang dada saat bekerja di sawah ini melarangku dengan tegas. Badannya yang berotot dengan kulit secoklat kayu itu langsung tegap menantang. ”Jangan coba-coba bawa kamera. Itu kesepakatan kita dari awal. Boleh jadi kau yang melanggar, kami sekampung yang kena malapetaka. Kalau kau mau lama di sini hormati adat kami!” Belum sempat aku minta maaf, La Gole sudah berlalu. Kulihat punggungnya digerogoti jamur, bercak-bercak putih. Ketika kuceritakan penjelasan La Gole kepadamu, kau tersenyum simpul membenarkan. Pipimu merona seperti lembayung yang memerah bagai senja yang membakar langit. Aku jatuh hati. Upacara Mappugau Sihanua sepertinya sudah dimulai. Selama tujuh hari tujuh malam. Aku berjalan santai menikmati pagi yang mau pergi. Sepanjang jalan yang berkelok kulewati rumah penduduk yang kadang saling berjauhan. Tak jarang aku berpapasan dengan warga yang masih kukenal. Di kiri kanan diselingi tanaman sayuran, pohon pisang, pohon kopi dan pohon kakao, serta hamparan sawah yang tidak rata, berundak-undak dengan garis pematang meliuk, sejauh mata memandang. Ada sumur tua berdinding susunan batu, aku menyebutnya kolam karena dangkal. Bila airnya lagi penuh, penduduk memandikan anaknya dan bayi yang baru lahir, biar mendapat berkah. Air mengalir khas pegunungan terdengar jernih menggelitik kesegaran. Hutan lebat dan belukar liar tampak rimbun di puncak bukit, hijau nian seperti belum pernah disinggahi. Jubaedah, secantik apa kau sekarang? *** Lelaki itu masih gagah. Badannya berisi dan kulitnya bersih seperti pasir laut, seperti belum pernah dicubit matahari. Kini aku yakin kau makin terpikat, melirik pakaiannya yang sewarna kulit sapi. Lelaki idaman yang menggiurkan bunga desa sepertimu. Dan aku terhempas ibarat hati yang terbuang. Sebab cintaku sedang cemburu. Ah, lelaki bernama Rustam itu terlalu mau tahu tentang adat kita dan ia sebarkan ke mana-mana. Aku tidak menyukainya karena itu, dan sebab ia mencuri hatimu dariku. Lebih dari itu, ia juga mencuci otakmu hingga pikiranmu telah kota walau disebabkan juga karena kau pernah sekolah sampai SMA di kabupaten. Kau pernah menjadi guru di dusun sebelah, mengajari kami baca tulis di usia kami yang sudah berkumis.

Kabarnya, Rustam akan mendirikan pasar rakyat dan penginapan di sekitar kampung ini. Makin ramai saja orang datang ke sini. Melihat kami sebagai tontonan. Melihat upacara kami sebagai pesta. Oh, Karampuang bagaimana nasibmu nanti? Ketika kebiasaan orang kota meracuni adat kami, menjarah apa yang kami jaga, yang kami miliki. Aku ingin sekali mengumpat, mereka tidak beradab karena mereka biadab! Mungkin kelak tidak ada lagi yang namanya gotong royong. Seperti yang pernah dihimbau orang dulu, ”Hai sekalian anakku, kasih mengasihilah, rebah saling membangkitkan, hanyut saling mendamparkan, berkata saling mengiyakan, dan berbuat saling bantulah. Khilaf saling mengingatkan, satu kata dengan perbuatan, bagaimana di dalam begitu pula di luar, tegakkanlah yang keramat, sandarkanlah yang tabu, dan dudukkanlah yang makruh.” Sekarang banyak yang mengerjakan sawah dengan cara bagi hasil, tidak lagi yang punya hajat memberi makan untuk disantap bersama. Begitu pula saat membangun rumah, menggunakan tenaga upah. Mengumpulkan puingpuing harta sehingga saling mencekik. Serakah sehingga saling menutup pintu. Oh, Tomatoa! Hanya kamu yang murni. Kami akan teguh, tidak akan memasang paku tetap memakai tali rotan untuk menyusun kerangkamu. Mengganti tiangmu yang lapuk dengan menebang pohon bertuah di rimba melalui upacara madduik, menarik kayu bersama di hutan, wujud satu rasa. Tidak dipikul, sebab dipundak tanda mau menang sendiri. Oh, Tomatoa, kamu perempuan luhur yang kami puja. Dan kau, Jubaedah adalah perempuan Kampung Karampuang yang dijunjung. Darahmu adalah darah To Manurung. Mulia atas nama adat. Dan adat mengajarkanku tentang hidup, tidak mungkin kukhianati. Aku mencintaimu sebagaimana aku memegang adat. Disela itu terselip keinginan, yakni memilikimu yang tak boleh. Mencintai dan menginginkan itu serupa tapi tidak sama. Mengertikah, kau? *** Aku bukanlah Maryam dan kenapa pula sejarah harus berulang? Tuhan, bolehkah aku mengeluh sebab sudah lama aku berpeluh? Aku tidak bangga dilahirkan sebagai makkunrai, perempuan. Tubuhku menyiksaku. Aku dibelenggu. Ayah dan Ibu yang berbuat, mengapa aku yang harus jadi tumbal? Apakah memang dibutuhkan orang lain untuk menebus dosa? Lantas, salahkah mereka? Kau bisikkan di telinga Arung, tetua adat kami yang jarang bicara itu, untuk menentukan garis hidupku yang mesti kujalani. Menjadi perempuan suci, perempuan yang terkunci supaya tetap perawan. Jangan sampai sesuatu yang asing menyelinap masuk sebab akan melunturkan tradisi. Titah yang tak terbantahkan kecuali kalau aku cacat moral. Karena nanti warga juga yang akan memilih. Dan Ayah, Ibu, tak pernah membelaku. Ia wafat dengan patuh meski ia tak patut dipanggil Ayah, sebab tak pernah risau atau tak mau tahu jeritan hati anak gadisnya. Ayah memilih diam sampai ia menutup usia. Ayah hanya melihatku tumbuh. Dan aku memilih, berontak seperti ibu. Ibu yang mati karena melahirkanku. Ibu yang kawin dengan kaum pendatang dan dikucilkan di desa tetangga. Ibu yang dipaksa bernazar, jika bayinya perempuan akan diambil sebagai penggantinya. Dan Kau, Tuhan, mengabulkannya… Tetapi tidak! Sebagai anak aku merasa berkewajiban melanjutkan perjuangannya. Memang Puang Sanro telah renta, sudah layak istirahat. Perlu diganti. Tetapi mengapa harus aku? Tidak bolehkah orang lain? Aku selalu ingin bertanya kepada Puang Sanro tapi aku urung dalam hati, apakah ia memendam apa yang aku pendam? Ah, tentu tidak. Sebab aku tahu dari orang-orang, Puang Sanro adalah perempuan yang tidak laku. ”Dalam darahmu mengalir darah To Manurung, Anakku. Ikutilah takdirmu sebagaimana air yang mengalir,” ucapnya bernasihat ketika aku sedang malas meramu obat. ”Betapa menyenangkannya membantu orang, Anakku. Itu akan membuatmu menjadi ada,” lanjutnya berpesan di hari yang lain saat aku enggan mempelajari mantra-mantra. Ketika menolong, haruskah berkorban? Cukup! Aku tak mau mendengar lagi. Aku mau tuli saja, sambil dalam benak ini bertekad, aku akan melawan arus. Aku mesti berupaya meski tangis mendahului. Ya, sebab aku hanyalah perempuan biasa meski aku adalah perempuan yang cantik. Kusadari itu karena banyak yang merayuku semasa SMA dulu. Tapi aku tak hanyut. Aku mesti hati-hati meniti sebelum salah melangkah. Maka kutambatkan cintaku pada sahabat kecilku, La Gole. Aku sering memperhatikannya sampai-sampai aku tak sadar tubuhnya telah perkasa. Jika kami sedang berjalan beriringan aku senantiasa mendongak untuk melihatnya berbicara. Telingaku akan mendengar suara beratnya yang menentramkan. Andaikan aku dipeluk, pasti aku akan tenggelam dalam bahunya yang lebar. Saat kulit cokelat legamnya berkeringat, aku mencium bau khas manusia. Pernah juga ia menggenggam tanganku erat, sesaat tapi kurasakan kehangatan yang kokoh hingga jiwaku

Kau segera memelukku. kau ada hati denganku?” “Ya. kau tidak mencintaiku sebab cinta itu perlu bukti.” “Aku tidak punya kampung selain dusun ini. ”La Gole. dan itu cukup buatku. Kami tiba di sekitar rumah adat Karampuang. kendati sesekali terjungkal karena kesandung akar pohon yang mencuat. asal bersamamu. Aku kecewa dan patah hati. Kulitnya harum dan langsat sepertiku.” “Tidak.melambung. Aku berlari dengan kain terangkat mengangkangi tanah yang kupijak. “Maafkan aku. Sementara jarum-jarum langit masih menyerbu. Jangan sekarang. mengguyur deras.” “Ah.” “Tinggal di hutan pun tak apa. mencari cara agar aku tidak terlacak sudah kabur. La Gole mencegat dan mengancamku sebelum masuk desa. Kau bohong! Aku membencimu. Dan tentu saja ia hangat. Ada senter di tanganmu.” . “Jangan Lama. Ah. Bukan salahmu.” “Tidak bisa. Kini malam sungguh malam karena awan yang menenteng air berlayar di langit kelam. Cukup lama hingga rindu mendera. Lelaki dari kota. kita terjebak di sini. Aku sayang kamu.” Aku gigit jari. di bawah sana begitu rawan.” ”Bagiku tidak. Berangkat diam-diam. Ia lapar dan aku haus. Rustam. Obor La Gole yang menuntun jalan juga telah redup.” kataku setelah ia agak menjauh. ”Kau tunggu di sini sebentar. aku meminta sesuatu. Hadir dengan senyumnya yang menawan memberi harapan. bukan satu tubuh. Kau basah kuyup sama denganku oleh derai hujan. Lepas maghrib. pelita rumah penduduk memang sudah padam. lelaki itu memang baik tapi aku harus pamit mengejarmu. Namun ia tidak punya nyali. pura-pura khawatir.” ”Wisuda aku menjadi perempuan seutuhnya. Ternyata di atas sini tidak terlalu gelap seperti temaram. datang tidak tepat waktu.” ”Lalu kau mau kita menunggu di sini sampai pagi?” ”Mungkin. Angin bertiup meliuk sangat kencang. kau sudah berada di puncak bukit itu.” ”Apa itu? Akan kupenuhi. Tanah ini adalah orangtuaku. Mengaburkan cahaya ibu di atas sana hingga buram. Rustam. Kerap kubayangkan bila kami menyatu tak ada yang tahu bahwa kami berdua.” “Sekarang aku siap membawamu pergi. Banyak peti batu berundak-undak di tempat ini.” La Gole pergi menengok.” ”Aku tidak perlu membuktikannya karena cinta soal hati.” “Tak apa. Di sini kita aman. sikapnya terlalu lugu tak sebanding dengan badannya yang garang. antara panas dan lembap. Hujan mengejarku seperti mengutuk. Karena aku. Hanya lidahku yang belum menafsirkan apa-apa. malam ini juga. di hubungan kami yang sempat terjeda. jatuh merintik terdengar menitik dan menerabas. Lalu muncul dia.” “Kalau begitu bawa aku pergi dari sini. makam nenek moyang kami yang luhur. Paling tidak aku dapat melihat bayanganmu.

270908 (Kutulis ketika merindukan kampung halaman) Catatan: Karampuang: dusun yang terletak di puncak bukit 1000 meter dari permukaan laut. Senang mengintip yang terlarang. Ah. Kau telah haram di hatiku yang meradang. Masih memegang adat kuno dan alergi dengan teknologi. ketika birahi yang terpendam peka pada setiap ransangan. Di gubuk tua itu. Gella: pemangku yang melaksanakan hukum yang berlaku di Karampuang. Jubaedah sudah melakukan lebih dari itu. ”Terima kasih. kau dianggap tidak pernah ada. turun dari tangga rumah adat Karampuang bagai baru dilahirkan. Dan sudah kuduga. menanam dan menuai padi. namamu tak pernah lagi disebut nyaris dilupakan. lalu bangkit tersaruk-saruk. Hari berganti. di Desa Tompobulu kecamatan Bulupoddo kabupaten Sinjai. Melelehkan kebekuan dan meruntuhkan kekakuan. muncul begitu saja. La Gole muncul menaruh mata badik di lehermu. Rustam. . Tak perlu airmata sebab akan kutanggung semuanya.” Kau mengancam dan aku masih hirau. tempat biasanya sesajian di letakkan. maka rentan berbuat dosa. *** Depok. sadarkah kau? Argh! Jubaedah. Jika perempuan tidak kembali ke dapur. lebih senang keluyuran atau suka berkumpul. Puang: kata sandang untuk orang yang dituakan atau yang dihormati. Aku ingin perbuatan ini sakral seperti kematian. dan kau datang membawa makanan. Di tanahmu yang subur bakal tumbuh tanaman berbuah.Apakah rasa sakit itu? Bila hasrat terjerembap. Lantaran nista mengusik siapa pun sebab baunya tercium tajam. Aku adalah hikayat perempuan tanpa biduk yang terdampar setelah lelah mengarungi duka. Aku gigil oleh getar. Kau memandikan bayi kita di sumur tua yang berkah itu supaya kelak menjadi anak yang patuh. Arung: ketua adat atau raja yang jarang bicara tapi sekali bicara adalah tuah yang tak terbantahkan. Kelak. berkeliaran seperti ingin mencari ayahnya. Seandainya saja kau tahu angan-anganku yang sederhana ini. aku lompat dalam jurang. Rumah adatnya menyimbolkan sosok perempuan yang harus dijaga kehormatannya. Semua makhluk punya mata. dan tahun terus bertambah. Dan kau. Kulempar lelaki durjana itu dengan sekepal batu hingga ia tersungkur. Aku merintih dalam amuk saat kau menyuruh Rustam hengkang dari kampung ini tanpa dijera. *** Puang Sanro pernah meramalkan. Hingga pada suatu pagi. wajahmu yang bersinar dalam balutan pakaian putih yang menyejukkan hari-hariku kala memandangmu telah berubah busuk bagai bangkai. Aku mendorongmu supaya terhindar dan langsung melindungimu. Sesajen yang baru tadi siang. berhamburan karena ulah kita. Mappugau Sihanua: Setiap tahun di pekan pertama bulan November diadakan pesta sebelum bercocok tanam setelah menikmati panen melimpah sebagai tanda syukur. Sulawesi Selatan. Tidak seorang pun diperkenankan menemuimu dan tak ada yang tahu bagaimana rupamu sekarang. Kubunuh kau!” ”Berani menyentuhnya. yang tak mungkin terwujud. Di kejauhan terlihat obor berkeliaran serupa kunang-kunang.” ucapku setelah usai. begitu pun bulan berlalu. Mukanya murka. Kita berjalan mundur menuju tebing. Melihat dunia luar dengan muka gembira. Kau telah mendurhakai tanah keramat ini. Kau dikurung di rumah adat Karampuang di atas loteng untuk dikuduskan kembali entah sampai kapan. anak kita yang mengembala ternak. ”Bangsat kau. Rinai-rinai bersenandung seperti berkisah. kami dikejutkan oleh kehadiran seorang bocah yang belum pernah kami lihat sebelumnya. sebetulnya aku ingin menabur benih di pucukmu yang kuncup. aku rebah menerimamu. tujuh hari tujuh malam. Kini aku luka dan hina. darah dagingku. Hidup matinya Karampuang ada di tangannya. Dan segalanya sirna saat kudapati pakaianmu berceceran ke mana-mana. Aku membajak sawah. Sejak peristiwa malam itu. Berlari lincah.

bahwa aku begitu bangga. Wajah dan penampilannya menunjukkan seperti itu. Aku makan dengan rakus. Aku ingat ketika Bapak berlaku seperti itu pada Ibu. menendang bahkan menerajang. Aku juara. Aku diam berhari-hari di tubuh Bapak sebelum akhirnya bertemu Ibu. Reaksi ereksi itu seperti permulaan arena balapan. Aku ingin cepat mempunyai muka. tempat laki-laki itu singgah sesaat sebelum air maninya muncrat. Bukan seperti lelaki yang datang ini. Apakah Ibu menunggu Bapakku? Aku belum tahu. Mungkin saja dia bapaknya Ibu. Aku menunduk malu. yang sebentar kemudian akan memunculkan pertanda. Bapak bereaksi. Nyawa seorang pria yang menabuhi seorang wanita bernyawa dengan sperma. Aku tahu persis siapa Bapak. Aku minum karena selalu haus. Bapakku tampan. menggurat menjadi lekat di kulit Ibu yang sekat oleh keringat. Aku sudah tidak sabar untuk mengabarinya bahwa ia telah berhasil menciptakan bibit manusia. Ia mempesona setiap perempuan. perawakannya tak beraturan. Wajahnya rupawan. Ibu bangkit dan berjalan secara perlahan. Bukan aku tak sayang. Kami mencari tempat terhangat. di dalam liang hangat. Kalau kami tak bernyawa. muncul. Aku lemas. Nyawa pertamaku dari seorang pria. Gerakan-gerakan yang ia ciptakan membuat salah satu bagian tubuhnya menegang. laki-laki itu semakin panas. tangan. Aku mengalahkan berjuta ekor dan kepala lainnya yang datang mencari Ibu. Tapi. Pintu diketuk. penuh rasa lega akhirnya aku tiba. Saat ini. Tidak tahukah Ibu. Entah yang mana ibuku. kaki. Bapakku Jahanam Bukan Kepalang ( juara 2 ) Desember 30th. Tapi. Kami menunggu dalam deru erangan. dia bukan Bapakku. mana mungkin kami punya tenaga untuk mencapai indung telur wanita. sesama teman sperma yang dimuntahkan dari penis manusia. aku baru saja bersenyawa dengan tubuh Ibu. sebelum salah satu dari kami berhenti sesaat. Tidak tahukah Ibu. 2008 by Rien Al Anshari Aku dibentuk dari dua nyawa yang terpisah. aku sudah tertawa. Meninggalkan rupa lama yang dulu hanya berbentuk ekor dan kepala. Ibu benar-benar bersifat magnetik. Lelahku akhirnya terbalas juga. walau belum mempunyai mulut dan bibir untuk tersenyum. tumpahan-tumpahan makhluk seperti aku membasahi muka Ibu. malam keduaku bersama Ibu. Ada apa dengan Ibu? Ibu. Tapi sambungan hidupku berada pada wanita. tidak! Ia menyentuh Ibu dengan gerakan yang sama sekali tak malu-malu. Reaksi itu menimbulkan ereksi. Penuh ketegangan. mencuat. Ibu kembali menunggu. Teganya Ibu mengkhianati Bapakku. Ibu dan lelaki itu saling beradu. Ibu memberiku makan dari darah yang mengandung sari yang dipompa dari jantung melalui aorta. Ia seakan memberi pertanda pada kami untuk siap-siap beraksi. Aku ingat saat dulu berkejar-kejaran dengan teman-teman. Malam ini Ibu terlihat begitu cantik. xxxxx Malam pertama bersama Ibu. Ibuku Jalang. xxxxx Aku ingin bertemu Bapak. seperti bendera yang turun di arena balapan. Ia seperti menunggu. Malam ini. Aku Malang.Sanro: pemimpin spritual di setiap prosesi adat yang harus dijabat oleh perempuan atau lebih tepatya disebut dukun. Tomatoa: nama rumah adat Karampuang. Tapi ini satu-satunya caraku untuk memberi tahu Ibu bahwa aku bukan bayang. To Manurung: nenek moyang orang Karampuang berwujud perempuan. Dia bukan Bapak. . kami berkebut-kebutan. Pantaslah Bapakku tidak bisa munafik untuk tidak tertarik. Apakah kali ini lagilagi lelaki buncit yang memberi malu. seperti aku. untuk mengelus. Lalu. Aku makan dari wanita yang kemudian kukenal dengan sebutan ibu. mati di jalan karena mereka berlari terlalu pelan atau kalah dalam himpit-himpitan jutaan teman yang berkejar-kejaran mencari tempat buat makan. Mereka tidak berlarian. Siapa bilang kami bernyawa setelah salah satu dari kami mempunyai rupa? Kami telah bernyawa dari sejak kami menjadi sperma. aku belum tahu. Aku mulai tumbuh dan tak lama lagi akan membuat pergolakan rasa yang perlahan akan membuat Ibu tahu bahwa aku ada. Bagian tubuh itu. Lelaki itu membolak-balik iIu seperti barbeque di arang kayu. Membentuk sel baru yang menyatu. Aku melihat Ibu duduk di atas sebuah kursi memanjang dengan bantal yang kenyal. Ibu yang mengharapkan kehadiranku atau Ibu yang menganggapku hanya sebagai benalu. Seorang lelaki bertubuh tambun dengan perut menyembul. Aku juga masih ingat. persis seperti tempatku dulu di tubuh Bapak. atau sesungguhnya Bapak yang ditunggu? Aku belum juga tahu.

Ibu bercinta dengan laki-laki. Lompat-lompatan. Tidak seperti lelaki tambun tak tahu malu yang langsung menyentuh Ibu tanpa ragu. Oh Ibu. . Ini tempatku. ia mampu memikat perempuan. Aku tak urung. Lelaki bertubuh tinggi dengan kulit putih sangat terawat. Aku seperti tak berhenti meratapi diri. Ia diam. Sudah kukatakan. Ibu meraung. Ia masih sibuk dengan dirinya yang luar biasa. Ia pun meminum minuman yang diminum Ibu. akhirnya keluar. megah dan nyaman. Ari-ari. Menciptakan bunyi yang membuat tubuh tanpa kepalaku pusing dan pening. Aku gemetar. Ia menyebut-nyebut aku si tolol yang dungu. Ia menaiki Ibu yang tengah terbaring. Menunggu Bapakku. Dan baju Ibu. Tapi Ibu tak pernah lagi bertemu Bapak. Aku tetap makan. Apakah ia Bapak? Bukan. Ibu tidur dengan laki-laki. Ibu tersandar. Ibu masih belum tahu keberadaanku. Ia duduk dan berbicara terlebih dulu. Benda itu berbentuk kertas tipis memanjang secarik. Pantas saja seorang Ibu terjerat. Aku tumbuh karena aku memang tumbuh dan waktu perlahan membuatku begitu. Aku ingin Ibu gentar. Walau tak punya kaki tangan aku menendang. Aku ingin tetap terjaga. Aku ingin Ibu sadar. gerakan jumpalitan. Kemudian ia menduduki kloset dan mengencinginya. Dengan bola mata yang terbuka lebar. Ia berdiri. lompat-lompatan. Aku kecewa pada gaya hidupnya. Masih. Makhluk-makhluk yang dulunya seperti aku. “Bangsat! xxxxx Aku semakin besar kini. bukan lagi keanehan. Ibu mencampuri laki-laki. silih berganti. Desah-desahan. membuat Ibu mabuk kepayang. Bajunya. hingga ledakan tumpahan air kemaluan yang bukan lagi keanehan. Gerakan jumpalitan hingga ledakan tumpahan air kemaluan. Laki-laki manapun takluk dan bertekuk lutut padanya. tidak Ibu lalui bersama Bapak. Minuman itu memabukkan.” “Masa bodoh dengan dunia di luar sana. Mereka seperti lahar yang mencahar karena panas bergejolak yang membakar. Aku berteman dengan benda yang kemudian kukenal dengan sebutan. Berjalan bolak-balik mondar-mandir sambil menggenggam benda itu dan berpikir. Wajahnya panik. nanar. xxxxx Dan aku masih menunggu. Tumpahan-tumpahan itu berlalu bersama waktu. hari ketujuh bersama Ibu. Bercanda. Ibu menenggaknya. Aku sudah tiba lebih dulu. Tapi tidak sepenuhnya sendirian. Dunia tempat Ibu berpijak. Aku tetap minum. Lantas tertawa-tawa. Suara desah Ibu terpecah melengking. walaupun belum sepenuhnya memiliki jari jemari. Aku tak pantas diperlakukan seperti ini. Dan aku menerjang. Tahukah Ibu bahwa aku mani yang menang lomba lari terpanjang seantero bumi? Bukan salahku kalau aku kemudian menghuni tempat ini. Minuman itu begitu elegan dalam gelas kaca dengan kaki panjang menawan. bahwa aku ada. Dunia yang sesungguhnya memang pengap. Ia lelah karena harus memuntahkan makanannya keluar. Lalu ia mengambil sesuatu dalam sebuah kotak yang berbungkus plastik. Kemudian mereka datang dan pergi. berguncang dan seakan tak berhenti bergetar. Lelaki itu datang menjenguk Ibu. Terus kugetar-getarkan tubuhku untuk membuatnya terhuyung. kali ini dia membuatku mabuk. tapi juga akan membesar. Sudah tidak kusisakan lagi sedikitpun tempat untuk kalian menyatu. Beberapa menit kemudian aku merasakan sesuatu yang tak nyaman. Aku sudah memiliki tangan dan kaki. Aku marah pada keluarbiasaan Ibu. sehingga aku bisa mengenal wajah seorang Bapak yang kutunggu kedatangannya. “Hey Jabang Bayi. Ibuku mengamat-amati benda itu. Wajahnya tampan dengan senyum yang sangat memikat. Luar biasa menggoda. ia memaki. Tapi Bapakku berkulit kecokelatan.Ibu menunggu di dalam sebuah ruangan luas. Itu semua karena Ibu. yang datang lagi-lagi lelaki. Bapakku memang tampan dan rupawan. Tapi. sementara ari-ari tak berhenti mencaci maki. Dan hari ini. Tubuhku yang belum sepenuhnya terbentuk ini terasa berputar-putar. Aku nyata. Sebentar lagi aku akan membuat kulit Ibu meretas. Aku ingin bersamanya ketika ia bersama siapa saja. ari-ari kembaran. Kalau kau tak tau caranya bertahan kau bisa megap-megap. Aku putus asa pada sikapnya. berhentilah kau berharap. Matilah kalian sebelum sampai lebih dalam di rahim Ibu. Aku ingin Ibu dengar. Luar biasa sempurna. dengan gerakan yang membuat lelaki itu bersimpuh layu. Dan Ibu bukan lagi sadar. Lalu berbaring dan membuka baju. Ibu bertemu laki-laki. Luar biasa bercinta. Lalu ia menyatukan tubuhnya dan tubuh Ibu seperti anjing. Aku memang tolol dan dungu. Menunggu dalam bimbang. Ia meliriknya. Tapi aku tak gentar. Ia ditemani segelas minuman. Aku bibit manusia buah bercinta dengan pria yang belum kujumpa. Ia sendirian. Sekian hari sekian waktu Ibu selalu bersama laki-laki. Tapi tak lagi makan dengan lahap. Tapi tak lagi minum dengan harap. Ia memuntahkan isi perut yang ia kandung.

” “Karena Ibumu jalang. Aku tersekat. Kulit muka yang sepertinya berewokan meninggalkan bekas cukuran yang terlihat jantan. Ia sungguh laki-laki yang menawan. Bapak tidak mencium Ibu dengan hangat. aku lari. makhluk malang. Dan dari dalam sini. Ibuku tetap diam. aku memimpin di depan. Kau tendang seperti apapun ia takkan memberitahunya. Ia mengisi udara paru-paruku dengan asap yang membuatku jengap. Entah laki-laki mana lagi aku sudah tak mau tahu. Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah cacian meskipun ia begitu kenikmatan. Tidur dengan laki-laki yang datang dan berlalu. Perempuan itu pun tak tahu siapa yang telah mencampurinya. Lelaki itu Bapak kita. lihat siapa yang datang.” “Ibumu pelacur. Lelaki itu menarik tubuh Ibu dan mencengkramkan kedua tangannya ke leher jenjang Ibu. hanya mengenakan celana dalam berwarna hitam. Ia tetap akan diam. Jabang Bayi bodoh. aku ikutan. Dunia kehidupan yang berbeda.” “Dia jelas-jelas lupa saat ia masih menjadi sperma.” “Aku takkan bisa tenang. Ia merobek pakaian Ibu sampai tak satupun tersisa. Dia memang selalu seperti itu.” “Kenapa ia takkan memberi tahunya. Ari-ari. Ibu dan menghujaninya dengan tamparan. Bapak tidak memeluk Ibu . Ari-ari. Tangannya memegang sepuntung rokok yang abunya sudah bertumpuk menunggu jatuh. Seorang laki-laki tiba-tiba datang.” “Aku benci Ibu. “Ari-ari. Tak seperti biasa. ia menamparnya. Perempuan yang tak berperasaan. Itu Bapakku. Ia Ibu yang hanya menganggapku benalu. Ia tak hanya membuatku mabuk dengan minuman.” Lelaki yang kusebut-sebut Bapak tidak langsung menyentuh Ibu. Wajahnya memikat setiap perempuan dan kulitnya kecokelatan. Dan ia berhak tahu bahwa aku ada juga karena dia. xxxxx Malam ini ia kembali menunggu. dan diam saja. Aku ingin ia memberi tahu Bapak bahwa kita ada. Bapak kita. ia terlihat kusut masai dengan rambut berantakan tergerai-gerai.” “Tenanglah. kau Jabang Bayi tolol.Aku disuruh lari.” Ibuku benar-benar tak punya belas kasihan. Kakinya bertekuk dan ia peluk. Teman-teman berkejar-kejaran. Ia juga tidak seperti lelaki menarik yang memulai percintaan dengan candaan menggelitik. Begitukah Bapakku saat membuat aku. Mereka balapan. Hinanya aku. Ibu terkesan pasrah dan melemah. Ibu tak terpekik walau setengah mati ia tercekik. Ibuku tak cantik. Dunia sudah membuat ia lupa asal mula. Ibu pun diam. Laki-laki itu berperawakan tinggi. Lelaki yang kusebut Bapak itu kemudian bergerak ke depan Ibu yang masih melihat hujan. Bapakku memaki. bisa kurasa bahwa di luar sana sedang hujan. Ia diam seribu bahasa. Ia duduk di sisi jendela di atas sebuah sofa berlengan.” “Diamlah. Ibu masih tak membuat gerakan. hingga akhirnya aku tiba dalam rahim seorang perempuan. Tubuhnya hanya terbalut kaos singlet berwarna putih. Bapakku semakin membabi buta. Bahkan ketika lelaki yang kusebut Bapak itu menunggangi Ibu seperti binatang. Ibu masih tak melawan. kata mereka. Ia tampan dan rupawan. Jadi memberi tahu laki-laki itu hanya akan sia-sia dan merusak acara bercinta mereka.” “Dan aku anak pelacur yang vaginanya selalu menjadi tempat bercampur. Aku akan menendang perut Ibu sebagai pertanda agar ia tahu. Ia tak memakai bawahan. Ibu benar-benar tak pernah menginginkanku. Dan ia Bapakku. Hal yang sudah lama kutunggu berjumpa dengan Bapak tidak seperti apa yang menjadi pengharapan rindu. Mereka tak saling berteguran. Malam ini. Asap yang ia hirup dan ia jadikan oksigen sampingannya untuk bernafas menjadi racun yang membekas. Sesaat kemudian ia menoleh. seperti lelaki tambun yang penuh nafsu. Aku menutup mukaku dengan kedua tangan yang baru terbentuk seakan menahan malu.

Ibuku Jalang. Ibu. persis seperti mata Ibu saat baru menyadari keberadaanku. teganya kau padaku. aku rasa kau tidak akan pernah muncul di dunia untuk menghirup udara?” “Kenapa. Ia seperti pawang yang menunggangi binatang yang telah terlebih dulu di cucuk lubang hidungnya. aku sudah merasakan guncangan hebat bergetar dalam ruang sempit di sekelilingku. dan kini melebur dalam tubuh pelacur.m. lalu dibuang sia-sia. Bapakku lelaki bangsat. melawan. setengah manusia yang tak pernah menjadi manusia 45 Responses to “Aku Malang. Tidak ada juga udara yang mampu kuhirup untuk membakar tenaga.” “Persetan dengan mereka. Ibuku benar-benar perempuan binal. walau ia fana. Ari-ari dan aku saling berpegangan. Untuk sperma.” Dan aku lemas. “Kalau saja kau ingat seluruh perjuanganmu mencapai tempat di rahimmu. tubuh Ibu. Tanpa sadar aku terisak. Jadilah aku hasil hubungan yang penuh malu. Bapak tidak bercinta dengan Ibu penuh dengan rasa. Dan tak lagi membekaskan memori masa lalu asal muasalmu. Argh! Aku penat. Dan ini adalah perpisahan. menjadi zygot. meronta. Bapakku jahanam bukan kepalang.dalam dekap. Perjuangan sampai ke tempat ini sangat berharga. Walau setengah manusia. xxxxx “Aku seakan tak punya harapan hidup. di kasur. Aku hanya berharap untuk diberi lagi kesempatan menjadi mani pada laki-laki.” “Bodohnya kau. Bukan Ibu yang hanya menganggapku sebagai benalu. Wahai Ibu. Hanya perasaan marah yang bergejolak dan tergelak-gelak seperti lava. dalam tangisan yang rasanya sesak. Sampailah ia bertemu Bapak yang tak kalah nakal. Ibu. Ari-ari. Sungguh aku tak percaya bahwa Ibu benar-benar tega. Aku bukan hanya makhluk berekor dan berkepala yang tumpah di muka wanita. dunia menggerus ingatanmu. Aku darah. Jabang Bayi. Aku malang. Aku bergerak. Benda tak berharga yang keberadaannya hanya menyesakkan dunia. di lantai. Aku dagingmu.05 a. Aku berhak hidup dan melihat dunia. Aku tak mau mati di sini. Ari-ari kembaranku benar. Ari-ariku sudah tak lagi berbicara. Ia melayani laki-laki manapun yang tak ia kenal. Ibu Bapak tak menginginkanku. Lelaki itu tak akan pernah tahu bahwa aku dulu adalah benda berekor dan berkepala yang ada di tubuhnya. Aku bagian tubuhmu. Ari-ari. menjadi setengah manusia yang sudah memiliki kepala sesungguhnya kepala. karena aku sudah menjadi bagian dari mereka. dan aku memiliki hak seperti para manusia. kau pasti tak akan melakukan ini semua. Hanya saja. Sekarang kau membuangku seakan aku sampah. Mudah-mudahan aku sampai pada perempuan yang menanti kedatanganku. Tenaga yang kami miliki sungguh tak sebanding dengan kekuatan angin maha dahsyat yang menyedot kami. Aku sudah hidup dan bernyawa. ia mencekiknya.” Aku terdiam sejenak. tak lagi bernafas. menjadi embrio. Tidak ingatkah perjuanganmu untuk sampai ke tempat ini?” “Percuma saja. Ibuku jalang. ia memakinya. yang akan kembali membuatku berjuang dan berkejar-kejaran dalam himpitan. Aku sudah menjadi setengah manusia. Kau tetap berhak melihat dunia. menerjang guncangan yang menarikku juga menarik ari-ari kembaran. saling berpelukan. Pontianak. zygot. Aku sudah tak mampu lagi meronta. Aku manusia. Ibuku perempuan laknat. Ia pelacur profesional. “Ari-ari. Mataku terbuka lebar. 17 December 2008: 03. embrio. apa aku akan melupakan saat-saat ini ketika aku seutuhnya menjadi manusia sejati?” “Maaf Jabang Bayi. nanar. Bapakku Jahanam . Ari-ari? Kenapa?” Belum sempat ari-ariku menjawab.

selain melubangi paru-paruku lewat setiap tarikan napas dan memandangi sekelompok lalat yang tampak malu-malu untuk menyapaku. Tampak jelas di mataku sekumpulan emosi yang tersurat dengan lantangnya menyuarakan batin yang selalu berteriak. mengambil sebatang rokok dari saku kemeja dan meletakkannya bersama korek api di atas tangan itu. sudah itu mati’ tulisan itu berkata. air mata. Dilapisi oleh warna merah yang menyerupai darah dan goresan tegas membentuk tiap hurufnya. Tetesan dan rembesan air mata yang jatuh dari langit mewarnai umur tembok-tembok ini lewat garis-garis kecokelatan yang merambat pelan dari atap menuju basahnya lantai keramik.Di Dalam Toilet. Kini aku merasa sedikit malu dengan tembok-tembok ini yang mengepungku seakan sedang menghakimi aku atas semuanya yang telah mereka alami. 2008 by Arki Atsema Toilet begitu sunyi malam ini. Ratusan kata terangkai dalam warna-warni yang tersusun dengan berantakan dan saling bertautan membentuk lukisan abstrak di atas alas yang pasrah. sebuah tangan manusia terjulur dengan telapak tangan menengadah ke arak mukaku. ”Ambil saja. begitu baris akhirnya berbunyi. Semilir angin dingin menerobos melalui ventilasi menyebarkan rasa kantuk berkali-kali. Api rokok terpejam dan menyala mengikuti irama denyut jantung. dan saling menjatuhkan. Lima detik kemudian aku bereaksi. rasa pasrah. harapan kosong dan tentunya perasaan kecewa adalah tema yang menumpuk pada sastra tembok ruang WC ini. Karya seni ini mengundang jiwa pengamatku untuk menelusurinya satu persatu. saling menyisihkan. . Tidak ada yang melebihi kesetiaan mereka dalam mendengarkan setiap keluhan para penyendiri yang tak berdaya. aku dibangunkan oleh rasa terkejut. ’Sekali berarti. Ketidakpedulian menyelimuti diriku. yang tampak menikmati bau pekat di dalam ruangan menyedihkan ini bersama-sama. namun sisa batang rokok yang terbakar ini menahanku untuk menikmati kesendirian dari dalam bilik sempit ini barang sejenak. Mereka tak mampu menyembunyikan lukanya yang terkelupas oleh roda waktu dan tangan-tangan jahil yang telah merampas keperawanannya yang putih. Betapa aku telah mencapai suatu tingkat kenyamanan yang membuai dengan duduk di sini sambil merasakan bokongku berkarat perlahan-lahan. Dari bawah tembok sastra ini. Tak banyak yang kulakukan. Walau sebenarnya perutku yang melilit itu sudah tenggelam di dasar WC beberapa menit yang lalu. Seketika tembok ini menyiratkan hawa perasaan hangat manusia. Dalam keheningan yang membius. ”Boleh minta rokok?” telapak tangan kemerahan itu berkata. Sebuah kutipan milik seorang penyair besar yang tampak telah merasuki jiwa si penulis. Kesedihan. Lima baris puisi terpampang di atas tembok yang sama. Aku memperhatikan dengan mata yang sombong kepada setiap coretan di sisi kanan tembok tempatku duduk. Rasa kecewa terekam jelas lewat kata-katanya. Dan kekalahan akan datang kepada mereka yang berani menanggung rasa nyeri. benci. Betapa mereka telah meredam isak tangis para manusia kesepian dan menjaga setiap aduannya untuk tidak keluar dari ruangan ini. sedikit kemarahan. Dan lihatlah kerelaan mereka menyodorkan wajahnya untuk dijadikan kanvas yang merekam sidik jari riwayat sifat tolol dan kekanak-kanakan manusia melalui goresan tinta tak bertanggungjawab. Kesendirian memang selalu terasa dingin seperti sebuah rumah kosong dimana kepulanganku dari keramaian dan berisiknya suara manusia dan keangkuhan wajah kota besar. Ditulis dengan warna gelap. ’Yang terakhir mati adalah harapan’. ini adalah saatsaat yang indah untuk memikirkan diri sendiri dan menolak segala hal lain yang masuk ke dalam otak. siap ataupun tidak. Empat sisi tembok putih menatapku dengan wajah yang pucat. disambut dengan pintu-pintu yang terbuka lebar. di Atas Kloset ( Juara 3 ) Juni 4th. menambah sempurnanya suasana tenang yang mengiringi parade ritual sakit perut yang kualami. Entah apa yang dipikirkan oleh lalat-lalat kecil yang terbang mengitari lampu redup di atas kepalaku. di celah antara tembok dan lantai toilet.” seruku. ’Aku mau hidup seribu tahun lagi’ tulisan lain tak jauh dari yang pertama bersandar dengan berhiaskan gambar kawat berduri di sekitarnya dan tiga buah tanda seru di belakangnya. aku mendapati segenggam kebenaran yang coba dipancarkan oleh tulisan-tulisan itu. Samarnya suara tikus yang mencicit jauh di sana. Betapa hidup tak ubahnya semacam arena perang untuk saling mengungguli. Sedikit demi sedikit semuanya merambat ke dalam diriku dan dalam hati kecilku. Begitu banyak hal yang telah mereka lalui dan ribuan wajah yang telah mereka lindungi. Semakin lama aku semakin tertarik untuk membawa setiap tulisan-tulisan ini ke dalam ruang perenunganku. Seperti melihat sejarah kehidupan manusia yang pertama ditoreh lewat lukisan-lukisan di dalam gua-gua purba yang gelap dan tanpa kusadari bahwa jarak waktu yang ditempuh dari jaman itu hingga sekarang adalah bukti jalur perkembangan hidup umat manusia yang telah begitu panjang teraspal. Aku tak ingat bahwa ada seseorang di bilik sebelah.

aku .” Dahiku berkerut. dan entah mengapa aku merasa sedikit canggung dengan kehadirannya. Aku memilih tenggelam dalam keheningan yang ia ciptakan. Lalat-lalat telah pergi entah kemana. ”Sama-sama. ”Jadi. Tangan kirinya muncul lagi dari celah bawah sambil menggenggam korek api gas warna hijau yang tadi kuberikan padanya.” ”Baguslah. Rokokku sudah setengahnya terbakar.” serunya dengan cepat. Dahsyat sekali. ”Terima kasih. bahkan untuk orang sepertiku. Maka aku memulai dengan mengajukan pertanyaan yang paling mudah. ”Kau sedang sibuk?” ”Maksudnya?” ”Apakah aku mengganggu kegiatanmu di sana?” ”Oh tidak. Restoran ini memang membuatku mual. aku berada di sini gara-gara udang bakar sialan yang disajikan dengan…. hanya duduk-duduk sepertiku. aku menebak-nebak bahwa dia seorang anak lelaki seusia remaja. ”Siapa Namamu?” ”Tidak perlu tahu nama saya. Salah satu dari kita harus memulai percakapan. Seseorang ada di sebelahku. Jangan-jangan kau juga makan udang bakar itu?” Aku tidak yakin tapi sepertinya aku mendengar sekilas suaranya bergema mengucapkan ’Eeeee…’ yang panjang. walau bagaimanapun juga aku berusaha memikirkan kata-kata yang tepat untuk memulai sebuah pembicaraan yang dapat memecahkan keheningan yang mengganggu ini. atau tepatnya seorang remaja tanggung. Dan kini kami berdua kembali diam dengan tenang. seperti memikirkan jawaban yang akan keluar dari mulutnya.” ”Oh.” Gelombang hening berkeliaran di dalam toilet. aku adalah tipe orang yang hanya bisa menunggu. Untung saja restoran ini juga punya toilet.” ia berkata untuk yang kedua kalinya. begitu pikirku. Detak jarum jam tanganku adalah satu-satunya suara yang kudengar. Hanya duduk-duduk di atas kloset porselen warna putih yang keras. Yang jelas perutku terbakar. aku bingung dengan orang ini. untuk mengobrol dengan seseorang tak dikenal di dalam toilet yang wujudnya terhalang oleh tipisnya tembok pembatas.mungkin ratusan cabe merah dan kerabatnya. Entahlah. Sepertinya dia juga tidak melakukan apa-apa di ruangannya. Kali ini aku tidak mencoba mengajaknya bicara. Dalam situasi sekarang.” ”Restoran sinting. ”Apa yang akan kita bicarakan?” aku bertanya. Ia diam tidak menjawab. Aku tak bisa menahan perutku yang melilit.” Dan tangan itu menghilang lalu tak lama kemudian suara percik api bergema memadati ruangan. Aku tidak akan makan lagi di sini.” ”Boleh. Apa mungkin aku mengajukan pertanyaan yang salah? Atau bisa jadi dia ini adalah seorang yang pendiam dan malu-malu.” Sedikit aneh. Tadi dia yang pertama mengajakku bicara. tapi sekarang dia kembali mengunci mulutnya rapat-rapat. ”lebih enak kalau kita tidak saling kenal nama masingmasing. ”Makan?” ”Ya. apa yang barusan kau makan?” aku mencoba membuka percakapan lagi. Aku hanya menghabiskan rokokku di sini. Hembusan napasnya terdengar amat jelas di kedua telinga. Asal kau tahu. Dari suaranya. Kita bisa sedikit mengobrol kalau begitu. Aku hampir membuka mulut saat suara yang dingin itu datang.”Oh terima kasih.

”Ya. mungkin juga tanpa menoleh sedikitpun pada pelayan atau hanya sekedar duduk-duduk sebentar di kursi. ”Sup ayam. Tak disangka ada juga orang seperti anda yang memperhatikannya. Hampir setiap malam aku datang ke sini. ”aku orangnya. Aku yakin bahwa ia masuk ke restoran ini tanpa memesan apapun.” aku berbohong lagi. tanpa sepengetahuanku. Dan memang rasanya agak pedas. dan. Kehebohan terjadi di dalam otakku untuk mencari kalimat yang tepat untuk menanggapi pernyataannya tadi. aku tak tahu harus memanggilnya apa. bisa dibilang ini seperti sebuah ritual buatku. ”semacam duduk-duduk di tempatmu berada sekarang. “satu-satunya makanan yang pernah kumakan di restoran ini adalah sup ayam. ”Oh ya?” ”Ya. Dilihat dari isi tulisan dan . Aku tak peduli siapa yang melakukannya. Latar belakang seniku adalah mencoret foto muka presiden di ruang kelas sekolah dasarku dulu. ”Wow! Bagus kalau begitu. Maksudku.” ”Oh ya?” ”Tentu saja. untuk karya seni sebagus ini. Dia tertawa kecil. tanpa suara. ”Ingin bicara denganku kan?” Aku tak sabar menunggu. alasanku ke sini bukan karena sakit perut atau apalah.” Mulutku seperti ditampar.” tiba-tiba ia bicara. Anak ini datang ke toilet serba putih ini. dengan coretan sebesar ini. Kamu pikir aku rela menghabiskan waktu lebih lama di dalam sini kalau bukan karena ingin menikmati coretan-coretan ini. sedikit menyejukkan di telingaku. tanpa jabat tangan – kecuali dengan sebatang rokok dan korek api yang kuberikan padanya – dan tanpa nama sama sekali.” semoga ia tidak menangkap irama kepanikanku.” Biar kuanalisis sebentar.” Tentu saja. Tanya saja lalat-lalat ini. Lalat-lalat kembali berputar-putar di sekitar lampu dengan kesetanan.merindukan suara bising sayap mereka. atau di tembok kota sekalian biar orang-orang bisa melihatnya. Tanpa perkenalan. sama seperti kelakuan remaja aneh lainnya. Sepertinya aku telah berhasil membawa pembicaraan ini ke arah yang lebih baik. Ada kekuatan sastra di dalamnya. Tapi setidaknya setengah dari daya tarik corat-coret ini memang berhasil menarik perhatianku. ”Tapi aku tidak alergi dengan pedas. ”maksud saya. dan tanpa basa-basi langsung mengajakku bicara seolah-olah aku ini temannya. Satu-satunya ritual yang kukenal yang pantas dilakukan di toilet adalah ritual yang baru saja kujalani beberapa menit yang lalu dengan susah payah. ”Ritual yang kumaksud adalah mencoret-coret dinding ruanganmu itu. siapa yang tidak akan memperhatikannya. cuma….” aku tak tahu apa yang sedang kukatakan. sengaja membuat sedikit keributan.”. Aku menghirup dan menghembuskan asap rokok dengan keras. ”Yaa. Seharusnya kau bisa lebih menghargai seni dengan menaruhnya di tempat-tempat yang pantas. sebanyak ini. Menghabiskan sedikit waktuku.” serunya dengan nada pelan.” ia terkesan berhati-hati dalam menyusun setiap kalimatnya. Inikah yang terjadi pada remaja jaman sekarang? Masuk ke restoran hanya untuk menikmati nyamannya kloset sambil mungkin berpikir tentang masa depannya? ”Kalau begitu kamu kenal dengan orang tak tahu malu yang mencoret-coret dinding di dalam sini?” Pertanyaan basa-basi. Aku punya latar belakang seni dan aku tahu apa yang sedang kukatakan. ”Oh ya? Untuk apa?” ”Menurutmu?” Menurutku karena kau adalah anak iseng yang tidak punya hal bermanfaat lain yang bisa dikerjakan selain menginap semalaman di dalam toilet ini. sangat tak tahu malu apabila hanya dipajang di dinding WC yang jorok ini. mengunci diri di dalamnya dan melakukan ritual.suaranya sedikit serak kali ini.” jeda kembali terulang. Bahkan asap rokokku ikut merasakan kalang-kabut. melainkan langsung meluncur menuju toilet ini.

” Gemeretak tembakau yang terbakar terdengar nyaring dari tempat ia berada. Persis seperti kesan yang kutangkap sebelumnya bahwa orang ini adalah seorang pendiam yang gemar memendam api dan membiarkannya menjalar di dalam hati. Aku bertaruh bahkan seorang Gandhi pun akan memiliki keinginan untuk membunuh bila ia tahu apa yang kurasakan. Jangan terlalu disesali. ia akan berubah menjadi seorang maniak yang mencintai perang.seperti seorang anak yang gantung diri. lebih gelap. “Ya. Aku menolehkan mukaku ke arah biliknya. karenanya aku memilih untuk berhati-hati.” serunya dengan nada yang semakin muram. lebih seperti perasaan kesepian.” rasa simpati mulai merangkak keluar dari kepalaku. dan kita bukan orang yang sama. ini adalah semacam cara anak muda jaman sekarang dalam mengekspresikan sesuatu.gambar-gambarnya . ”Mmm…menurutku. lebih kelam.” ia setengah berteriak. perempuan kerdil yang menangis. Ia kembali mengatupkan mulutnya setelah mendengar pendapatku. atau…yah tak tahulah…tapi kau telah menggambarkan perasaan-perasaan tersebut dengan baik. seakan-akan tidak ada hal benar yang dapat dilihat oleh matamu di dunia ini. di akhirat ia mengajak para malaikat untuk bertarung dengannya sebagai kekesalan atas emosinya yang tak tersalurkan di dunia. Aku hanya membenci semua hal dan ingin sekali berdiri di puncak bumi ini dan memarahi semua orang-orang yang pernah kukenal. lebih menonjolkan sisi gelap manusia. Aku akan menghajar para malaikat. kau bisa menemukan apa yang kaucari selama ini. “tapi selama kau bisa memanfaatkannya dengan baik. ”Itu akan menjadi tontonan yang paling menarik di akhirat. Barangkali hingga membusuk. Aku lelah ditertawakan.” “Entahlah. kau benar.” . Kadang aku berpikir bila Gandhi diberi kesempatan kedua untuk hidup lagi.” ”Ya mungkin saja. Tapi aku membuat hidungnya berdarah. Orang seperti dia memang kadang sulit untuk ditebak. “Semua yang kurasakan hampir tiap hari. ”Ide yang bagus. kita adalah orang yang sama. Rokok di tangan kananku mulai memendek dan aku mulai bosan berada di sini. Bagiku itu cukup masuk akal. Masa remajaku juga diisi oleh rasa kesal. Gandhi sang Gladiator mengalahkan Hitler si Pecundang!” Kami berdua tertawa. seakanakan kau memang mengalaminya sendiri. aku tak yakin.” Kali ini aku yang terdiam. Atau mungkin saja saat ini. “Ya. ya kan? Seperti coretan-coretan lain yang sering kulihat di tembok-tembok pinggir jalan.” ia memberikan penekanan dan menambahkan unsur melodramatis dalam kalimatnya. mungkin sedang mengolah setiap kata yang ia dengar di suatu tempat di kepalanya. “Remaja adalah tingkat paling rapuh dalam riwayat hidup manusia. Itu yang akan kulakukan kalau menjadi Gandhi.” “Hebat. Hanya saja ini lebih… mmm…katakanlah. Namun semuanya akan berubah.aku mengira bahwa dinding ini adalah bagian dari buku hariannya yang diisi oleh keluhan atau semacam curahan perasaan untuk seseorang yang bisa dibilang sangat kesepian. Aku pernah bermimpi sedang berkelahi dengan Gandhi dan itu membuatku senang.” “Serius? Kau berkelahi dengan Gandhi? Siapa yang menang?” “Aku lupa. Kalimat itu akan kutulis di tembok malam ini. Seharusnya dia memang jadi ahli berkelahi. aku memang…memang menuliskan semua yang kurasakan di sana.” ”Menurutmu siapa yang paling cocok untuk melawan Gandhi?” ”Mmm…siapa ya? Mmm…Adolf Hitler!” ”Brillian! Bayangkan bagaimana ia mencabuti kumisnya satu persatu. dan sebuah ledakan dengan gradasi warna merah yang indah .

selalu menuntutku untuk begini-begitu dan tak pernah sama sekali mendengarkan apa yang kumau. Mungkin kita akan bertemu lagi suatu saat. seperti suara yang timbul ketika aku menuliskan pesan singkat di handphone. dan keadilan. Waktuku telah usai. maukah kau melihat tulisanku sekali lagi.” ”Maksudmu kau yang menjadi Gandhi mengalahkan bapakmu si Hitler itu?” Ia kembali membisu. Diriku berada di ambang kepanikan dan terus memastikan diri bahwa aku masih . Ini terlalu singkat untuk disebut gempa bumi.” *** Jam digital di mobilku menunjukkan pukul 21.12. Suara-suaranya yang tadi keluar seperti terhisap ke dalam lubang air di lantai basah. Kau mau pergi?” “Ya. Kalimat yang sangat provokatif. bahkan kelakuannyapun sangat kelewatan. ”Bagaimana kau tahu kalau dia adalah ayahku?” Suaranya terdengar pelan. ”Baiklah. aku pergi Kawan. Dia orang yang kubenci. aku harus…harus pulang. orang yang selama ini tertindas oleh egonya. Aku tidak bermaksud un…” ”Ah tidak apa-apa. sekarang yang kuinginkan adalah pergi dari tempat ini dan mengucapkan salam perpisahan pada tamu tak terlihat ini. Maaf kalau aku menyinggung perasaanmu.” Tat tit tat teet toot tit tut.”Asalkan kau senang Kawan.tidak. Aku tak berani mengucapkan apa-apa. tapi sebelumnya. Suara riuh manusia berceceran memenuhi udara pengap ini. kau tahu maksudku. Tanpa pikir panjang aku melompat keluar dari mobilku.dari tadi aku tertarik dengan tulisanmu yang berbunyi ‘Daripada cinta. kira-kira berapa menit waktu yang kaubutuhkan untuk keluar dari restoran ini?” “Maksudmu?” “Ya. Aku hanya membayangkan si Hitler itu akhirnya dikalahkan oleh sosok Gandhi. popularitas.” “Kuanggap itu 10 menit. Sekedar informasi.” “Mmm…mungkin sekitar 5 menit.” “Pilihan yang bagus. ”Eeee…. lebih baik berikan aku kebenaran!’. aku mengutipnya dari seorang penyair. itu adalah kalimat pertama yang kucoret di dalam toilet ini. tepat sekitar 10 menit dari saat aku meninggalkan toilet itu ketika dalam kegelapan malam yang beku. dan memberitahuku kata-kata apa yang kausuka dari sana?” “Mmm…. ”Kau tahu di mana kau akan menemukan aku. Aku bermaksud untuk pura-pura tidak mendengar dan menyelinap keluar.aku hanya menebak saja.” “Ya.” “Oke.” Aku mengetuk kepalan tangan kananku pada pintu biliknya dan pergi melenggang dari ruangan itu. tapi aku terdorong untuk mengakhiri perbincangan ini dengan baik. alasannya adalah aku mengenal seseorang yang wajahnya mirip seperti Hitler. aku tak keberatan. kepercayaan. Keriangan yang menyeruak sekarang terpendam di dasar bumi. karena getaran tersebut hanya berlangsung kira-kira 2 detik dan disertai oleh suara berdebum yang memekakkan telinga. uang.” “Oh ya. Yang pertama terbesit adalah aku tak ingin terjebak di dalam mobilku dan segera berlari mencari tempat perlindungan yang aman. aku menyukainya. Dari dalam biliknya terdengar suara tombol-tombol yang ditekan. aku merasakan permukaan jalan bergerak-gerak seperti ada sesuatu sedang menjalar di dalamnya. rokok telah kubuang dan kuinjak.” ”Bukan begitu. aku…. sebelum kau pergi.

tetapi Emak hanya menggeleng. Sudah dua hari ini. Sudah terbukti. Emak lebih banyak diam. Dan disitulah aku menatap pemandangan indah yang bersinar di kedua bola mataku yang menciut. Dia membawakanku semur jengkol dan nasi uduk buatan Emak. Ibu menitip pesan untuk Abang. dan Nasi Uduk Januari 7th. wajah iblis sedang memancarkan senyum manisnya. Aku pikir dengan hilangnya satu anggota keluarga. Aku hanya terpana. ”Selamat jalan. tempat persembunyian itu pastilah aman. aku dan Emakku. Api dalam kobaran yang besar menari-nari dengan gemulai dan tak menghiraukan suara teriak yang menghampirinya. Sejak aku mendengar cerita Sardi itu. lagi-lagi kami bersama. Aku sendiri sebenarnya penasaran. dia tidak dipenjara. datang menjenguk. “Ibu sakit. Emak tidak lagi menangis. Aku berpikir bahwa ini adalah bukti bahwa Emak masih sayang padaku. Semur dan nasi yang biasanya tandas itu kubiarkan saja dikerubungi lalat. Lagi-lagi. Aku menoleh ke belakang. Mungkin saja Emak sudah habis akal meluruskan jalanku.“ Ah. Tetapi ternyata belum cukup. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Tidak ada satu pun dari kami yang boleh mencicipinya. Entah merenung. Aku makan lahap sekali waktu itu. Aneh. adik pertamaku. Asap hitam mengepul menjangkau bulan yang sedang terang benderang.berdiri memijak tanah. Mahkota emas sang raja yang berkilauan. Di dipan reot depan rumah kami ini. Emak tidak lagi menangis dan tidak lagi meratapi pilihanku. asal muasal suara keras tersebut. Semur Jengkol. Ibu memasak semur jengkol khusus untuk Abang. Hanya itu yang terus berdengung di pikiranku sekarang. . 2008 by bidari Untuk kesekian kalinya kami hanya diam. menerangi sudut kota dengan kemegahan tak terucapkan.” Demi Emak. Aku berikan bagianku pada Sardi. Aku ceritakan pada Rani tentang Sardi. dan rasanya aku hanya dapat membayangkan momen terakhirku di toilet itu dengan jelas. Semoga kau bertemu Gandhi di sana. Emakku yang penyayang tidak lagi menangisi kepergianku. Hasil curianku yang terakhir lumayan besar. Biarlah. Kepergiannya tentu bukanlah ke Cirebon. adikku yang nomer dua.” Seketika itu nafsu makanku lenyap. Pernah suatu ketika Sardi bertanya perihal perubahan itu. entah bersyukur. Ini hari kedua aku bebas. Masalah yang sama. yang menurutku sendiri tidaklah bengkok. Sekotak berlian itu sudah kubagi-bagi hasil penjualannya dengan Bakir. ‘Katakan pada Salim untuk banyak-banyak berdoa.’ Ibu rindu pada Abang. Bang. Sardi sedang tidak ada di rumah. perubahan Emak dan perasaanku. Menurut Sardi. Rani malah menangis sesenggukan. “Sudah kau bawa ke dokter?” “Belum. Aku ingin memastikan bahwa Emak tetap sayang padaku. Aku sendiri tidak tahu di mana. sudah rejekinya. Rani. Tetapi yang jelas. aku seperti melihat sosok teman toilet misteriusku itu terbang lepas menuju angkasa sambil membawa kesendiriannya dalam keabadian. Di luar dugaanku. Restoran telah menyatu dalam gradasi warna merah. Dan saat aku menengadahkan wajahku ke langit. oranye. Sardi dengan sigap mengatur penyimpanan dan pengeluaran. Sebulan sebelum pembebasanku. Tidak seperti biasanya. Sejak saat itu aku jadi sering melamun. Tak butuh waktu lama bagiku untuk menerka bahwa bom telah meledakkan restoran udang bakar pedas itu. Restoran itu kini terbakar. diam tak bergerak. sejak aku kembali dipenjara untuk yang ke tujuh kalinya. Seperti biasa. Entah mengapa. Aku jadi begitu rindu pada Emak. Mengantar barang ke Cirebon. Aku berpikir Emak sudah tidak sayang lagi padaku. Sudah lewat dua puluh menit kami terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. akan berkurang juga beban hidup. entah meratapi nasib. pantulan sekumpulan bunga matahari yang berbaris di taman. Aku ingin cepat-cepat pulang dan bertanya pada Emak perihal perubahan itu. Nanti malam dia pulang bawa uang. aku sempat dua hari tidak bisa tidur. dan kuning.

anggap saja pengiritan. Dia bertanya tentang perubahanku yang drastis.” “Bukan masalah itu.”.“ “Ooo…gitu ya. tapi…memangnya boleh berdoa minta yang muluk-muluk gitu?“ “Muluk-muluk bagaimana? Minta kaya? Ya bolehlah. Mengapa Emak menyuruhku banyak-banyak berdoa. Seminggu sebelum hari bebasku. Sebelum pulang. aku selalu berdoa.” “Hahaha…ada-ada saja kau ini. Kami sering ngobrol masalah ini itu. Apa kau pikir aku ini kaya. Biar sesekali bisa merasakan makan di restoran.“ “Ooo. aku dan Supri menjadi akrab. Hari-hariku kuisi dengan melamun.“ “Bagus apanya? Aku tidak mengerti harus berdoa dengan model apa lagi. ”Ya Allah semoga hari ini aku dapat tangkapan besar. Seingatku. Pri. Aku sedih sekali. minum. Meminta kelancaran. Aku terus memikirkan katakata Emak.” Rani. Supri. Dia begitu percaya padaku dan tidak pernah sekalipun membantahku. Bangsat seperti itu memang layak menerimanya. Rani sangat baik. adikku yang bersih itu. laki-laki itu membunuh istrinya. Dia memintaku banyak-banyak berdoa. Katanya.“ “Doa yang lain bagaimana maksudmu? Doa supaya cepat bebas dari penjara? Ah. tetapi juga mbegal dan membunuh. “Abang baik-baiklah. trus mau bagaimana? Sudah mencuri saja masih tetap melarat. aku tidak lupa berdoa. dia terlihat lebih menyenangkan. Impas. Ingat pesan Emak ya. Aku merasa baik-baik saja hidup di penjara ini. Apalagi sejak dia belajar sholat tiga bulan yang lalu. Aku seperti kehilangan teman berbagi. ’Banyak-banyaklah berdoa’. Lim. Hukumannya kali ini bukan yang pertama. “Aku sedang bingung. kebisuanku semakin menjadi. Sebelum melakukan aksiku. Baru aku tahu.”. Radang paru-paru yang menggerogoti tubuhnya sudah tidak mau toleran. aku kehilangan Supri. menggangguk saja. Makan. Aku tidak mengerti apa maksud Emak. kupeluk dia dan kucium keningnya. Aku kan selalu berdoa setiap kali melancarkan aksi. dan berbagai variasi lain sesuai kebutuhan. Aku merasa dia orang yang baik dan bisa dipercaya. Oke lah. itu basi. aku butuh uang. Sebulan lagi aku datang menjemput Abang. Asal bisa makan. Aku terharu. korban terakhirnya dia bunuh dengan terencana. itu sudah bagus. Dia meninggal. Jangan lupa kau belikan obat untuk Emak.” “Lha. aku akan berdoa minta kaya kalau begitu. Aku bingung memikirkan nasehat Emakku. Dia membunuh laki-laki itu karena alasan balas dendam. Karena tidak berhasil. bayar sekolahnya Sardi dan Rani dan Emakku tidak sakit.“ Sepeninggal Rani. . tidur gratis. Nanti malam Sardi akan pulang membawa uang untuk kalian. tetapi yang paling lama. “Ya Tuhan Emakku sakit. Pri. hah?” “Memangnya kau tidak berdoa untuk minta kaya?” “Hahaha…ngarang!!! Aku ini orang biasa.” Sejak percakapan itu. Laki-laki itu berusaha memperkosa istrinya. Yah.“Sudahlah.”.“ “Eh. Dia tidak hanya mencuri. Ngirit kok terus. Bagus lah. bahwa keadaan Supri jauh lebih parah dariku.“ “Mungkin doa yang lain. “Semoga kali ini tidak gagal. Lha apa kau pikir aku mencuri untuk beli mobil? Ngimpi!!! Itu mah pejabat!!!“ “Hahaha…ada-ada saja kau. Aku meminta kepada Tuhan agar melancarkan usahaku. teman satu sel.” “Kenapa? Sebentar lagi kau kan bebas. memperhatikan keadaanku. kau tenang saja.

Seperti biasanya. hari pertama bebas aku langsung menemui Emak. Sardi dan Rani lulus sekolah. Kuceritakan pada Emak semua hal yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini. Emak dan tenang. Kulipat bagian-bagian yang menarik perhatianku dan kubaca lagi dua – tiga kali. Lim. Buatlah hidupnya tenang. Karena memang aku tidak kenal mereka. ternyata perasa. Entah mengapa aku merasa wajib menyimpan buku itu. buku itu adalah warisan Supri untukku.” . Yang Emak tahu. Supri yang pembunuh. Aku membaca buku itu layaknya membaca kehidupan. perasaan. Di buku itu kujumpai puisi di sana sini. Lim. berdoa itu penting. Lanjutan dari obrolan yang terputus.Tidak banyak barang peninggalan Supri. Emak minta agar hidup kita tenang.“ “Apa Emak berdoa setiap hari? Emak meminta apa?” “Yang biasa saja. Selama seminggu menunggu sisa waktuku. dan pikirannya. Di sana. kucium tangan kanannya bolak-balik. Lim. begitu kata ustad Jika memang masih Kau ijinkan aku hidup Berilah aku kebebasan Jangan Kau tipu aku dengan uang Dan jangan Kau tipu aku dengan foya Tolonglah… Sekali ini saja Beri aku ini hidup yang berarti Cukup sekali’ Aku meminta ijin kepada kepala untuk memiliki buku itu. Lalu kutempelkan di dahiku. ‘Benar kata Emakmu. Supri menuliskan semua keluh kesah. apa hubungan semua itu? Emak tahu?” “Lim.” Aku mencoba memahami hubungan antara doa. Satu yang menarik perhatianku adalah ratapannya pada Tuhan. Semuanya nampak jelas dan nyata. Aku mencoba mengerti kata-kata terakhir Supri waktu itu. hanya sebuah buku catatan kusam dan beberapa lembar foto usang. ’Jika aku ini tidak lebih dari setumpuk kotoran Jika aku ini tidak lebih dari seonggok daging Jika aku ini tidak lebih dari pengacau Kenapa tidak Kau matikan saja aku sekarang Bukankah Kau Maha Segala Apalah sulitnya mematikan aku Tinggal kau tiup saja Kun faya kun. Emakmu ini tidak pernah sekolah. Kau orang baik. Aku takjub. aku membaca buku itu hingga selesai. Dan kamu tidak dipenjara lagi. Kau memang harus banyak-banyak berdoa. Buku catatan itu jauh lebih menarik. Sepertinya. Pantas kalau Emakmu begitu sayang padamu. “Mak. Seperti memohon restu darinya. Demi menemukan jawaban itu. Mana Emak tahu tentang puisi. Fotofoto itu tidak menarik perhatianku.

mulai berlari pulang ke rumah masing-masing. lagi-lagi kata tenang. makan semur jengkol dan nasi uduk lebih sering. Telingaku bisa langsung setajam kuping kelinci serupa antena mendapatkan sinyal yang diinginkan. meski kecil. Mak. . Namun sekarang aku tahu apa yang mereka lakukan. aku mengira mereka sedang bercanda atau tengah bertengkar dan tidak mau diketahui orang lain. Dulu. lagi-lagi aku jadi teringat Supri. Kalo kaya. Lim. Anak-anak yang tadi main gundu.” “Buat apa. Kakiku yang menginjak udara itu melayang ke atas dan hinggap di balok kosen paling bawah. Kenapa Emak tidak minta jadi orang kaya? Kata Supri. Kan biar bisa makan di restoran. Senang sekali mendengar suara di bawah sana. Kutindih buku tulis dengan pena. Pagi-pagi buta Emakku masih harus bangun untuk membuat gorengan. Walau begitu aku tetap harus hati-hati. Membuat suara serangga malam di luar rumah tidak terdengar. Wajahnya sehabis wudhu terlihat lebih tenang. Kadang mereka tidak tahu waktu. jernih tanpa gangguan. Samar terdengar bagai menembus dinding kamarku.“ Ah.“ “Ah. akan kujelaskan padamu bagaimana caranya aku bisa naik ke atas sana. Tidak usah neko-neko. dan nasi uduk lebih sering. Menggelitik gendang telingaku. Emak malah takut kena yang aneh-aneh. Permintaan Emak memang sangat sederhana. bahwa keinginan yang sederhana tidaklah sederhana pada pelaksanaannya. mereka mengeluarkan suara berbisik-bisik. Tetapi aku menyadari. Ah. Lim? Biar bisa gegayaan seperti orang-orang? Tidak usah. Lampu di kamarku masih menyala. Mungkin memang sudah waktunya untukku belajar sholat seperti dia. Kutarik napas sejenak. Tetapi setidaknya aku berusaha untuk tidak kembali ke penjara. Lalu aku? Apa yang kulakukan? Tidak banyak. Emak dan tenang. mengganggu konsentrasiku belajar. Seperti malam ini. 2008 by Emil Akbar Aku selalu berada di atas kamar di bawah atap ketika malam datang. Kamu tahu kan tempatnya? Itu di loteng! Hampir tiap hari aku naik dan berdiam diri di sudut atas kamar itu. kita tidak usah repot cari uang untuk bayar sekolah dan makan tiap hari. Sekali-sekali gitu. makan semur jengkol. saat bisikan itu dibarengi dengan bunyi berderit-derit. Aku masih belum begitu memahami hubungan doa. Emak. tetapi agar aku bisa melihat senyum Emakku. Ototku yang tidak berotot menjadi kejang karena tertarik. tapi tetap saja gerakanku menimbulkan suara. Jari-jarinya saling merekat dan menekuk bagai mencengkeram. Aku berdiri tegap serupa hantu yang ingin mengusik. Aku dan Emak masih belum beranjak dari dipan. mengganti celana dengan sarung. Malam belumlah terlalu larut. Di Atas Kamar di Bawah Atap Desember 12th. Gayaku mirip dengan pemanjat tebing. Kemudian secara perlahan telapak kaki kananku menginjak gagang pintu sehingga terdorong ke bawah. *** Mula-mula kusingkirkan segala alat tulis dan kupastikan meja belajar mampu menahan berat badanku saat aku menginjaknya. Aku menyerah. Kedua tanganku menggenggam kosen pintu yang berbentuk kotak-kotak dan tak berkaca. Sebisa mungkin tanpa bunyi. Tak satu pun soal bisa kujawab. Apalagi bagi Tuhan yang Maha Kuasa. kita boleh berdoa minta jadi orang kaya. Demi melihat senyum Emakku. Aku belum tidur. Dadaku bergemuruh bagai amuk badai menghancurkan segala pertahanan diri. Kumatikan lampu dan gelap seketika. Enak kan. Seperti menguji kepekaan telingaku.“Oh. Bukan untuk merubah wajahku. Pintu tidak terbuka lantaran sudah kukunci. Doa Emak dikabulkan saja. Namun aku yakin tak kan terdengar sampai di seberang sana. Sementara tungkai kaki kiriku terayun-ayun mengambil ancang-ancang. Lamat-lamat terdengar suara adzan dari musholla di gang sebelah. Kawan.“ “Lim. Sedang mengerjakan PR. Sudah tenang. Sebab jantungku seperti berhenti berdetak saking cepatnya memacu. Lalu kuangkat kaki kiri menapaki pinggir meja dan kaki kanan setelahnya untuk menjaga keseimbangan. Pastilah mudah. sudah lah. Sardi masih harus bersepeda ke sana ke mari mengantar koran dan Rani masih harus mencuci pakaian tetangga. Emak sudah senang kok.

Besok mungkin Ibu akan marah dan mengingatkanku lagi. Suara napas memburu di bawah sana melecut semangatku untuk segera mendekat. Lantaran bayanganku terlihat memanjang. kami bertetangga sebelah rumah.Badanku mulai merayap seperti cicak raksasa menggerayangi dinding di keremangan malam. Ada juga balok yang melintang dan membujur. penopang atap rumah. Tadi pagi Ibu menyuruhku membersihkannya dengan sapu lidi tapi tidak kulaksanakan karena asyik bermain di rumah teman. Aku berlari dan berhenti setelah sampai di kolong rumah. Di salah satu sudut atas kamar inilah aku termangu memandang perbuatan Ibu dan Bapak. Bahkan banyak yang tersangkut di sela-sela jari. Anehnya. seperti batang pohon yang dijadikan jembatan untuk meniti. terletak di tengah rumah yang merupakan pusat dari balok yang bertebaran. Hanya lampu di kamar ibu yang menyala di dalam rumah. Kini aku baru tahu kalau itu adalah proses seng kembali ke ukuran semula setelah siang tadi memuai karena dipanggang panasnya matahari. jadi aku aman. udara agak panas. Yang aku takutkan anjing mulai menggonggong. Mereka menyarankan sebaiknya aku menginap saja. Di bawah sana sendu yang temaram. yang tak semestinya kualami. termasuk kamarku dan kamar Ibu. Biasanya Ibu mematikan hubungan listrik tiap kali aku membersihkan loteng ini yang dipenuhi sarang laba-laba. Akhirnya aku pulang sendiri. Saat sarang laba-laba itu membalut wajahku. Asal kamu mau menyimak dengan baik pengalamanku yang pahit. Sekarang aku telah tiba di tujuan. dia punya mainan baru. membentuk kerangka atap. Jangan sampai aku terpeleset dan mengenai lantai loteng yang rapuh dan mudah pecah itu. Kuhirup bau pengap. Sarang laba-laba mulai menghadang ketika aku menerobos paksa. aku jongkok membungkuk mendekap lutut. serpihan tembok berjatuhan seperti rintik hujan menyentuh bebatuan. Ibu selalu mengingatkan agar jangan pernah memegang pipa tersebut. Tapi aku tetap mau pulang. Tapi aku tak peduli. yang tidak mengenakkan pandangan kala mendongak. Aku ngeri membayangkan bila itu terjadi. Belum pernah aku bermalam di rumah orang tanpa Ibu. Sekarang aku berada di atas kamar. Sedang direnovasi menjadi rumah batu. Biasanya mereka beranggapan bahwa ada tikus berkeliaran di atas sini. . beberapa ruangan memang belum mempunyai plafon. Kukoyak sarang labalaba itu menjadi helai-helai yang berjatuhan. Aku berjalan menyamping sambil tetap duduk mendekap lutut dengan kepala tertunduk. Saat aku masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. tidak terlalu terang tapi cukup membuat benda-benda yang diterpa cahayanya memiliki bayang-bayang. Pondasinya telah dibangun. video game. Di bawahku adalah langit-langit ruang tamu. Sesekali memang terdengar gemeretak seng seperti ada orang yang berjalan di atasnya. khawatir aku kesetrum. dan itu sangat mengganggu. Sering tanpa bisa kucegah. Setelah jeda sesaat aku kembali berdiri. Agak berisik. Kuberanikan diri karena jaraknya dekat. Seperti aku takut tercebur ke dalam sungai karena tidak bisa berenang. Tangan kananku menggapai permukaan tembok yang kasar. Aku bakal dibangunkan dan orangtuanya akan bilang pada Ibuku. aku takut sebab mengira ada pencuri yang mau masuk rumah atau ada setan di luar sana ingin mengambilku. pagi-pagi benar baru pulang. Aku pamit saat temanku itu sudah mengantuk. membuatku gerah sehingga keringat membasahi bajuku. Aku berjalan merangkak serupa hewan berkaki empat. aku pelan-pelan melongokkan kepala dan menariknya kembali jika terlalu menjulur ke depan. kusapu cepat karena lengket dan terasa gatal seperti kalau aku kegelian. menimbulkan gelap yang terlihat. Juga melekat di bajuku dan susah sekali menghilangkannya seperti noda yang membandel. Kawan. Aku melangkah dengan cara merunduk menuju balok yang rebah. Ibu tidak mencariku. Mataku tak berkedip dan menatap nanar seiring dengan debar yang bergenderang seperti ada gendang ditabuh di dadaku. Sering begitu sejak pertama kali aku melihat adegan ini. Setelah aku sampai di tempat bertemunya atap seng dengan tembok. Dulu. *** Malam itu aku pulang larut malam. Lupa waktu saking asyiknya bermain di rumah teman. Tempat tinggalku masih rumah panggung yang hampir roboh waktu itu. Dulu. Ada pipa kabel listrik tak sengaja kusentuh. Kuhela napas berkali-kali mengeluarkannya. Aku meringkuk sebentar di balik balok paling besar. terbuat dari adonan kertas basah yang dicetak. mirip tripleks. Kukumpulkan dan kuremas kemudian kujadikan bola-bola kecil lalu membuangnya begitu saja. supaya tidak terantuk atap seng yang akan menimbulkan bunyi gaduh. Lubang hidungku kemasukan debu. Mungkin sebentar lagi hujan. Akan kuceritakan. Kecuali ruang tamu. Ibarat Kabut tebal menghalangi melihat jalan di depan. Rumah ini beratap seng.

Bapak lain lagi. Kawan. Awalnya aku menyukainya karena baik padaku dan sering mengajakku jalanjalan mampir ke rumah temannya. Namun itu hanyalah awal. Di luar sana kudengar Ibu berteriak memanggilku pulang dan dibalas oleh ibu temanku bahwa aku sudah tidur. Dia kenakan kembali pakaianku sebelum berbalik membelakangiku. tapi aku harus merasakan lagi luka. Mulutku terkatup rapat. Karena tak lama. Timba di tanganku jatuh berdentang menimbulkan gaung yang lama. Kugigit satu persatu jari-jari tanganku. Aku tak mampu menyimpan rahasia ini. Sakit. Ibu temanku menyuruh kakak lelakinya yang sudah SMA mengajakku masuk. Beberapa kali kupejamkan mata tetapi aku tidak bisa tidur. Setelah itu dia mengancamku. Apakah lelaki itu tidak mendengar gemericik air yang bersimbah-simbah? Tentu aku kaget dan hanya bisa terhenyak serta gugup. dan dia masuk ke kamar mandi tanpa keraguan sedikit pun. Padahal. Merasuk ke telingaku menimbulkan kesan yang dalam. Aku hanya mematung. Aku melihat situasi dalam rumah melalui lubang di papan. aku sedang dibekuk tak berdaya. Aku masih tetap duduk memeluk lutut dan membeku. Sejak itu aku tahu masa kecilku telah hilang. Satu-satu kemudian menderas. Kemudian pamanku itu kencing seolah-olah dia menganggapku tidak ada di sampingnya yang tengah telanjang bulat. Terkadang mengejan seperti orang buang air. Leherku terasa kering seperti dihisap. Begitulah. Perasaanku belum sembuh waktu itu. Menyingkirkan dengan kaki. gigiku saling beradu. Aku ingin marah entah kepada siapa. Andaikan aku di bawah ranjang. Aku merasa basah. Mereka hanya mengira aku tidak dibukain pintu. Aku menuruni tangga dengan perasaan hancur. Mengguyur kelamnya malam. tapi tetap saja menyisakan cela untuk melongok ke dalam. Dia melarangku bilang-bilang! *** “Awas kamu Anto!” . Aku pernah mendengar suara yang sama pada lelaki yang berbeda. Kakak temanku berbaring di sampingku tapi juga tidak tidur. yang mungkin tidak ada obatnya. tempat aku memasukkan tangan untuk membuka palang pintu belakang. Tapi sayup masih bisa kudengar rintihan Ibu yang seperti disakiti. Dia membalikkan badanku lalu menindihnya. merangkulku bagai memapah orang yang terjatuh dan lututnya lecet. mencabut rasa kantuk. Berteriak seperti lolongan panjang tapi tertahan. hanya kutahan dengan ember berisi pakaian kotor yang terendam. Temanku sudah tidur di kamar orangtuanya. Matanya merah. Peluhnya masih tertinggal di badanku. tangannya meraba-raba tubuhku dan menyergapku dari belakang. jadi kuceritakan saja padamu. Sementara aku tergugu. Mataku membelalak tak berkedip mengamati tingkah laku orangtuaku. tenggorokanku tersumbat. menunduk hampir menangis. perih. Dia melucuti baju dan melorotkan celanaku. Istirahat sebentar di serambi. Ketika dia melenguh yang paling aku ingat adalah. belum cukup umur bagi seorang bocah yang baru saja pandai membaca. mungkin aku dapat menyimak dengan jelas suara mereka yang mengerang disela bunyi ranjang yang bergoyang. Tapi sore itu mengubah segalanya. Aku kembali ke rumah tetanggaku. Akan kusimpan baik-baik. Ini rahasiaku. Meraung serupa singa yang terluka. Mengajariku merokok di pangkal paha. Aku berbaring gelisah. Pamanku itu numpang tinggal sebagai tamu hanya beberapa hari sebelum pergi meninggalkan benci di hatiku. sampai kakak temanku itu habis tenaga. Tubuhku bergetar menahan debar. Kurasakan napasnya memburu. Mereka seperti bayi raksasa. Bahkan tak jarang suaranya hilang berganti desah bagai kehilangan napas. Aku disuruh cuci kaki sebelum masuk kamarnya. Semuanya sudah tidur kecuali ibu dan kakak temanku. nyenyak sekali. Aku menggigit kain bantal. Mendengkur. bergemelutuk bagai menahan gigil. ember berisi cucian menjauh darinya. mataku membelalak dan berair yang bermuara di pelupuk. berharap bisa menghilangkan nyeri.Aku lewat belakang. Kembali berlari membawa hatiku yang kalut. Dan apa yang aku saksikan. Lalu dia menyandarkan punggungnya di pintu kamar mandi hingga tertutup rapat. Adegan itu masih terbayang. hampir lepas dari engselnya. Adik lelaki bapak yang masih bujangan. Aku takut sekali. mengendap-ngendap menaiki tangga kayu. *** Lamunanku buyar ketika kudengar hujan turun memukul-mukul atap rumah. Di mulutnya terkulum sebatang rokok yang membara dan asapnya mengepul ke manamana. Saat aku mandi tanpa menutup rapat pintu kamar mandi karena rusak. Dia menarikku berlutut di hadapannya. Padahal dia tahu ada orang yang sedang mandi. Sementara orangtuaku belum pulang dari pasar.

Astaga. diteguk dan diletakkan kembali. Posisiku seperti udang. “Kapan kamu libur?” Aku tidak menjawab. Saat menegakkan badan sedikit kepalaku tertumbuk balok.Juni 2008 Hipotesis Sebuah Parfum September 25th. Perlahan tapi pasti salah satu kakiku menjangkau gagang pintu. membawa perasaan cemas. Bukan karena ketampanan laki-laki bangsawan itu. Barangkali dendam gara-gara rumahnya kuberantas. Tubuhku terhempas dalam. hanya menundukkan kepala karena merasa bersalah. Aku cuma ingin menghargai diri sendiri. Ketika bangun pagi aku merasa mataku sembab dan agak bengkak. Dengan langkah tergesa-gesa aku berbalik ke jalur yang menuju kamarku. Memeluk bantal erat-erat. Menolak badanku seperti mendorong ke atas. hari pertama kamu libur nanti. Biasanya aku tidak pernah mengunci kamar di malam hari. Yang jelas mereka tetap melanjutkan. Terdengar gemericik air di kamar mandi. Ibu sudah menghadang dan bertanya. Doakan aku. Gerakanku tidak terkontrol saking paniknya. Aku merinding menahan kencing. Dengan sigap aku membalikkan badan menghadap tembok dan tepat saat itu kakiku yang satu lagi bertumpu pada pinggir meja belajar. Kuacak-acak rambutku. Laki-laki jetset penganut kapitalisme. Merek apa saja. Dari jarak dua meter tempat aku duduk. Aku menghirup udara banyak-banyak dan menghela habis-habisan. tulang belakang melengkung. Buru-buru aku balik ke tempat tidur. Kuatur napas biar berirama kembali. bukan untuk menggaet perempuan dan berbeda dengan teman-teman aktivis lainnya. menjaga keseimbangan.Kawan. Lekas aku beringsut dari pembaringan. sementara Ibu bosan menunggu. Entah di mana mata Ibu hingga bisa melihatku. Ya. Terpaksa aku harus terjun. Sejak itu aku ingin beli parfum. Di luar. Telentang membuat perutku kembang-kempis. Januari. kita langsung ke rumah Pak Mantri. Kalau bisa aku ingin menggulung tubuhku sekecil mungkin. tadi aku berada di atas sana. Baru kusadari nyamuk berdengung menyerbu telingaku. aku ketahuan. Kunikmati wewangian itu agak lama. Jika Ibu tahu aku mengunci kamar berarti ia tidak salah lihat. lebih karena bau parfumnya. Sedikit kupejamkan mata. 2008 by andika destika khagen Entah kenapa aku bertemu dengan Satria tadi pagi. Pikirku. Aku gerah sekali. melompat ke arah kasur busa yang tak jauh dari situ. hujan makin turun deras. Untungnya bukan seng sehingga suaranya teredam meski sakitnya serupa disengat lebah. mengganti pakaian. Keluar dari kamar. kutepis dengan cepat seperti memukul kulit. Belum sempat aku menarik napas ketika keseimbanganku goyah. parfumnya—entah merek apa—tercium. Kamu sudah kelas satu SMP. debu berhamburan bagai ketombe yang berjatuhan. Pintu kamar Ibu terbuka. badan ini mesti diubah komposisi wewangiannya. Naluriku tersentak. Aku baru tersadar ketika wewangian itu dikalahkan oleh bau badanku sendiri. . Aku dihantui bayang-bayang akan apa yang bakal terjadi besok? Barangkali orangtuaku terlalu lelah buat membentakku malam ini atau mereka cuma menasehatiku untuk tidak mengulanginya lagi? Mungkin juga hal ini tabu untuk dibicarakan dan mereka sedang berunding? Kali ini aku tidak mendengar apa-apa selain gemuruh hujan. Depok. Kedua tanganku silih berganti memegang balok di atasku. hendak turun. Kawan. Aku menunggu supaya tidak dihakimi malam ini. Berharap dan berjanji dalam hati akan membereskan semuanya tanpa bekas. Sangat wangi. kok bisa sampai lupa! Sudah waktunya kamu disunat!” Aku menganggap itu adalah hukuman buatku dan tanpa kusadari di hadapanku bukan lagi Ibu melainkan Bapak yang sedang berkacak pinggang. asalkan wangi. tanpa jejak. Kasur busa itu menggeliat seperti tidak mau ditimpa. kenapa kali ini aku terkesima. Aku juga heran. “Baiklah. Suara gelas terisi air. Lega tapi resah tak mau pergi dari hatiku. Aku menempelkan pantatku di permukaan tembok sambil menjulurkan kedua kakiku ke bawah. Kurasa ada seekor laba-laba kecil hinggap di leherku. Terima kasih! Doamu terkabul. tapi aku mesti beranjak dari persembunyianku ini sebelum mereka melabrak kamarku untuk memastikan aku tertidur lelap.

Atau mungkin juga dibeli pada paranormal. bau amis berganti menjadi aroma terapi. orang yang kuhadapi tiap hari hanya itu-itu saja: Sardi. Dari ujung ke ujung. Siapa lagi yang akan memujiku? Aku rindu pujian sebanyak mugkin untuk meyakinkan pada dunia bahwa wangi itu penting. mereka tidak berkata. mengeluarkan pujiannya. Kupilih aroma terapi. Mereka biasanya menawarkan parfum dengan aroma yang berbeda. Kami tak pernah menghiraukannya. dunia memang butuh aroma mengganti bau amis darah yang tiap hari keluar dari perut ibu pertiwi. Di antara puluhan yang berjejer di rak swalayan. Parfum hanya pantas dimiliki bagi mereka yang berpasangan. . Katanya.” Tiga orang yang berpapasan. Satria tak lagi jadi bahan diskusi kami. Dari tatal ke tatal. Atau setidaknya lagi teman-teman diskusi. Bau keringat yang diberikan Tuhan harus dilawan dengan aroma terapi. memang ada yang berbeda dari parfum. Pertama kalinya. Inikah alasan orang-orang pakai parfum? Parfum. Bau badan mereka. dari ketiak sampai buah baju. Biayanya lebih besar daripada membeli parfum buatan Jerman atau Amerika. Parfum ini membuat orang-orang menyapaku. dan Rini. Senyumku lebih mengembang. parfum. Tak ada rasanya orang yang berani duduk di dekat pasangannya dalam keadaan amis. harga sebuah parfum (aku belum mampu membedakan antara parfum dengan splash cologne. kasiatnya lebih manjur daripada yang dijual dipasaran. termasuk juga aku. rasanya terasa cukup membuatku lebih menikmati hari. cuma aroma terapi yang membuat hidungku merasa nyaman. Dibeli di Jerman atau Amerika. “Senyummu indah Kus. Setidaknya. Rinto. Rusni. wajah. Wangi atau tidak hanya sebuah perumpamaan dan bentukan sosial dari keadaan. Aku pikir.” Setiap senyum kuanggap kasiat parfum. Untuk itulah. dan senyumku. kenapa tidak semua orang sadar akan wewangian? Wajar saja Bidin jadi Walikota. “Aku telah menghargai diri sendiri di antara orang-orang yang selalu memikirkan orang lain. tak ada yang bisa membedakannya. Toh.” Oh.” Tak mahal harga untuk sebuah parfum. Parfum Walikota tentu tak bisa aku beli dengan alat tukar yang hanya berjumlah tujuh lembar uang kertas bergambar Kapiten Pattimura. sabun mandi saja sudah terasa cukup membasuh badan lusuh ini. Bau parfum ini sama halnya dengan sedikit demokrasi yang dirindukan warga Pakistan pasca tertembaknya Benazhir Bhutto. oh. Biasanya. *** Inilah langkah terindah yang pernah kuayunkan. “Bau keringatmu berbeda hari ini. Tapi sayang. Ah. Diolah sendiri. Rasanya. Parfum harga tujuh ribu saja rasanya sudah cukup untuk mahasiswa yang tak pernah punya anggaran membeli parfum. aku baru saja tersentak. Ia jadi pahlawan sekarang.Ini pertama kali aku punya keinginan beli parfum. Itu yang baru saja kukenali. setiap yang wangi adalah parfum). Pikiranku sedikit keliru. bahkan bau keringat pun tak ada lagi orang yang menghargainya! Tapi. Kus. Pelajaran itu kudapat dari Satria. Kesadaran akan wangi benar-benar harus ditanamkan. Aku merasa beruntung bertemu Satria tadi pagi. Lima kali semprot. Ia tentu pakai parfum yang harum dengan harga yang sama dengan uang kuliahku dua semester. Bukankah tidak ada orang yang suka dengan bau amis? Tak apalah. Pikirku. Menarik lawan jenis dengan parfum memang bukan hal yang biasa lagi. Pasar selalu memberikan kemudahan bagi penganut konsumerisme. “Rambutmu rapi. Itulah bau terindah yang selalu kami hirup. Parfum di sana tentu lebih harum daripada yang dijual di swalayanswalayan yang hanya untuk kaum konsumerisme kelas menengah ke bawah. Kelebihannya mungkin terletak pada wangi natural yang ditawarkan. Parfum ini harus dinikmati semua orang—minimal warga kampus ini. Tujuh ribu rupiah. wajar adanya dan kami tak pernah mempermasalahkannya.” Auraku sedikit bertambah. “Tak apalah menyisihkan sedikit uang untuk menghargai diri sendiri. Bau amis ketiak dan keringat menjadi satu membentuk aroma yang tidak sedap. parfum bukan menjadi kebutuhan pokok. Mereka mesti diberi penyadaran bahwa parfum itu penting. Aroma terapi menyebar ke seluruh penjuru sampai sudut yang tak terhingga. Aku bangga membuat dunia menjadi wangi. Tidak semua orang yang bisa membeli parfum pada paranormal. Parfum ini telah menular ke rambut.

Seharusnya aku bangga dengan keadaan ini. Lagi-lagi parfum ini mempesona. dan diletakkan di dekat kaki. bagaimana orang melihat baju. meskipun ia seorang yang harusnya bisa dipercaya. senyum. Untuk pertama kalinya Suci membagi senyumnya kepada orang yang tak pantas menerima senyuman.” . yang baru saja menyapa. Untuk beli parfum saja aku harus rela mengorbankan makan siang. Isinya masih banyak. semua orang bilang sepatuku baru. Apakah mereka semua sudah gila? Hipotesis ini begitu membingungkan. “Celanamu baru. ”Kau begitu berbeda hari ini. dan sepatunya? Tentu jauh lebih bagus dari yang sekarang dikenakannya. Bagaimana dengan sepatu baru? Tentu orang akan memandang new baru atau double baru. setelah berpapasan dengan Rudi. Cuma lima kali semprot di setiap sisi yang dirasa perlu. Kus. Setiap senyum kuanggap kasiat parfum. Hidung-hidung manusia ditusuk seperti kerbau. Kapan kamu beli?” Apalagi ini? Hey. Bagaimana dengan orang yang tak pakai parfum? Aku hanya mampu mengatakan bahwa parfum itu penting. Nalarku berjalan. Walau belum tentu nyata. jika aku pakai. Tiga lobang menganga di sisi kiri dan di depan. Jika keadaannya setelah ia pakai parfum. Menghabiskan uang dengan hal. adalah barang konsumtif dengan harga tak terkira—mungkin juga tak terjangkau. dua bulan baru parfum itu akan habis digunakan. dan senyum yang kusam menjadi mengembang. Sama halnya dengan kenikmatan orang-orang pada umumnya akan tampilan bentuk. bila dibandingkan dengan kaum duafa. Wewangian ini begitu sempurna. *** Lima semprot parfum beraroma terapi ini membuatku tak habis pikir. Apalagi melihat senyum Suci. Orang yang bilang sepatu yang aku pakai baru. Apalagi yang kuharapkan dari parfum? Semuanya terlihat begitu sempurna. Tak ada lagi keburukan yang akan menganga karena semuanya ditutupi dengan bau parfum. perlu diragukan otak yang sedang dibawanya. Kodrat dan kebutuhan mesti diletakkan pada tempat yang semestinya.” Apakah parfum ini menular juga ke celanaku? Roni. apalagi berdusta.Diskusi dengan bau badan amis tak lagi menarik bagiku. Semua benda yang menggantung di leher. berlawanan dilihat. Parfum ini ternyata jauh lebih membingungkan. Bahkan Suci. Tidak sempat pula kiranya untuk beli celana baru. tak pernah terpikirkan untuk menggunakannya. Hipotesis ini benar-benar membingungkan. Tentu ia tidak sedang bercanda. Baru dan usang tak ada yang bisa membedakan. Sepatu lusuh saja terlihat baru. astaga. Betapa kasiat ini tak pernah diduga sebelumnya! Keterkejutanku berikutnya terus bertambah. Pantaslah banyak orang yang membeli parfum sampai ke luar negeri. Aku menikmatinya. Bau badan bukan kodrat. Ustadz Hamzah juga bilang sepatuku baru. Gawatnya. rambut yang tidak berminyak kelihatan rapi. Tapi. Sepertinya tubuhku tak lagi mutlak menjadi milik pribadi. tapi tidak dengan sepatu. seorang gadis berkepala batu hari ini mencair. Inilah sebenarnya yang diharapkan dari parfum: sebuah kamuflase akan tampilan bentuk. Aku ngeri membayangkan Walikota yang menggunakan parfum yang dibeli dari Jerman dan Amerika. Luar biasa. “Sepatumu bagus. jelas nyata. Celanamu beli di mana?” Aku tersentak dan harus terima dengan perubahan yang serba tidak jelas ini. bau yang busuk tetap akan tercium. Kus. Semua yang lusuh kelihatan baru. Benar-benar tidak bisa diterima. Hidung-hidung itu punya kesimpulan yang sama: parfum di badanku begitu menggoda dengan aroma terapi. Bagus dan buruk tak jelas lagi mana batasnya. Kus. terpakai di badan. setidaknya untuk mengurangi bau amis. bahkan tidak bisa membedakan celana yang baru dan usang. Kenapa Rudi bilang baru? Sedikit pun tidak ada tanda-tanda sepatu ini baru. Semua yang ada. Aku mulai curiga pada parfum ini. tak ada yang sadar bahwa yang dilihat tidak seperti yang sedang aku pakai! Aku teringat akan kemunculan parfum ini ketika keluar dari toko. Aku teringat Satria. parfum ini ternyata membuat dunia menjadi absurd. ini jelas tidak benar. Pelbagai keanehan muncul. Kelewatan. Kenapa tidak ada yang bisa membedakan antara dua hal yang jelas berbeda? Sepatu ini jelas sudah lusuh. Semakin menakjubkan. tapi kebutuhan. Tapi apakah bau amis mesti ditutupi? Bukankah ada pepatah mengatakan ”Sampai manapun.

dikembalikan lagi ke swalayan. Suara-suara yang belum bisa kumengerti kata-katanya. Aku lupa lagi. Aku tak bisa menjelaskannnya. Aku berada di pangkuan ibuku. Di buang sejauh-jauhnya sampai tidak terlihat oleh Tuhan sekalipun. Suara tangan ayahku yang menyentuh pipi ibuku. “Yang berubah pada dirimu adalah. Mari kita mulai saja diskusi ini. Iya. dan senyummu begitu indah. Plak. ah. Celana. tidak bisa diganti dengan ketidakbenaran yang diciptakan oleh parfum ini. aku bingung dengan kata makna. Atau mungkin tiga tahun. Kebutuhan mengatakan bahwa tak perlu ada parfum toh tujuannya mengaburkan makna yang sebenarnya. “Aku selalu di sini Rinto. tidak pernah ada yang bilang. Di lain hal. karna hari ini berbeda dari waktu yang sebelumnya. Aku masih mengingatnya dengan jelas. “Dari mana saja kau. Tapi. Sampai sekarang. Oh. tidak lagi bau keringat. sepatu. aku menangis. kau serba baru sekarang. Tangisan siapa? Aku atau ibuku? Aku sudah berhenti menangis. parfum itu mesti dibuang. Tapi aku masih belum bisa membaca. keinginan tentu tak tega memperbiarkan bau busuk mengotori udara yang tak lagi bersih. tidak ke mana-mana. Aku sedang duduk di tempat tidur. tetap bau keringat dan amis. satu lagi di lingkungan akademis.” Tak ada lagi ampun. “Kau tetap bau keringat. Ibuku tersenyum kepadaku. Begitulah huruf-huruf yang tertulis. ia hanya bilang. Satu di tempat penuh kebohongan. Terdengar suara-suara bernada tinggi. Dua tahun. Suara-suara dari kedua orang tuaku. S-E-M-A-R-A-N-G. * Di mana aku? Aku berada dalam kebingungan. Dikubur sedalam-dalamnya sampai di bawah tanah yang tidak terjangkau oleh cacing. Hipotesisku baru saja selesai: wangi parfum membuat orang lupa akan sepatu buntut! Oh. Tapi yang jelas pintu kamar terbuka. “Bau keringatmu berbeda hari ini. Suara tamparan itu. sejak lima semprotan aroma terapi tadi pagi. Rasanya tidak berlebihan. 2008 by Anekdot Entah berapa umurku saat itu. Tampak ibuku berurai air mata. Setidaknya. Tampaknya aku baru terbangun dari tidur lelap yang panjang. Aku berada di dalam suatu kendaraan panjang dengan kursi-kursi ganda di setiap sisinya. juga di sini. Menangis karena apa? Lapar? Popok yang belum diganti? Haus? Atau aku hanya ingin mengeluarkan air mata saja? Tapi sepertinya aku menangis karena suara-suara itu. Dua tempat ini begitu berbeda sangat. “Aku baru saja melihat kau di Pasar Raya.” Sebenarnya hanya itu yang kuharapkan dari tadi pagi. Atau mungkin sedang berbaring. . Rinto. Kus. Suara-suara bernada tinggi yang menakutkan. Rinto melihatku di pasar. Kalau bisa. Atau seperti sebuah monumen. Tunggu. Tampak sebuah jembatan. Aku tidak akan terima ini. Ia mencium pipiku. bahkan tubuhku sudah diduplikasi oleh parfum ini. Sepertinya tiga tahun. “Kau jelas mengada-ada. Kus?” Ini keterlaluan. Kus. yang seharusnya digunakan untuk makan siang.” Tidak ada yang berubah.Pertentangan antara kebutuhan dan keinginan berkecamuk.” Aku mulai tidak tahan lagi dengan perlakuan parfum ini. Tujuh lembar uang yang bergambar Kapiten Pattimura. Apakah aku menangis ketika itu? Mungkin. Aku melihat keluar jendela. baju. Aku tak pernah kemana-mana. Ketika kutanyakan pada Rini. Hari-hariku dihabiskan hanya di kampus ini. Tak seorang pun yang tahu aku pakai parfum.” Parfum ini harus segera dibumi hanguskan. ke mana hilangnya parfum yang kutaruh tadi pagi di atas meja?*** Ibu dan Anak Januari 28th. Kos-kampus-sekre tempat diskusi adalah tempat yang tak berubah kulalui dari waktu ke waktu. Suara yang kemudian berlanjut kepada tangisan.

Kepada orang yang sama. Apakah tetap di Jakarta atau kembali ke Bandung. Udara yang panas dan gerah membuatku tidak betah. Baru beberapa tahun kemudian aku akan tahu tentang arti dari semua ini. Hanya di tempat dan suasana yang berbeda. dua orang yang dipanggil mama dan papa oleh ibuku. Tampak seorang lelaki yang berjalan menuju ibuku. Lelaki ini baik kepadaku. Mereka tampak sedang berbicara pada saat yang hampir bersamaan. Ibu? Ibu kan yang tampaknya benar-benar ingin aku tinggal dengan Ua. Tampak dari muka mereka suatu perasaan senang dapat bertemu. Ini kehendakmu kan. Dan ibuku juga tampak gembira. Suara mereka mengisyaratkan rasa kesal dan menyesal. Dia sering mengajak aku dan ibuku berjalan-jalan. Oleh orang yang sama. Entah berapa lama aku tinggal di kamar itu. Aku bingung. Seorang anak berumur 11 tahun disuruh memilih jalan hidupnya sendiri. Ayahku juga terlihat menyesal. Ibuku menyahut. Tamparan itu. Kenapa? Apakah aku merepotkan ibu? Apakah ibu tidak mau mengurusku? Apakah aku menjadi benalu dalam kehidupanmu? Rasa sakit itu semakin merajalela. * Aku sudah lebih dari dua tahun tinggal di rumah Ua. Aku sering menemukan diriku di tempat yang asing dan baru. Entah sejak kapan aku jadi suka merasa gelisah dan depresi tanpa alasan yang jelas. lelaki yang bukan ayahku. Kalau tidak salah badanku menjadi merah karena gatal. Orang tuaku mengatakan bahwa itu terserah kepadaku. Kepalaku mulai terasa pening dan pusing. Panas. Mengapa aku sekarang tinggal di sini? Ayah sebetulnya tidak terlalu setuju aku tinggal dengan Ua di Jakarta. Kenapa ibuku sampai lari dan kenapa ibuku ditemukan kembali. Mereka semua sedang mengelilingi ibuku. Dia juga sering memberiku permen dan coklat. Aku masih belum tahu akan melanjutkan SMP ke mana. Aku menyadari bahwa aku sudah tidak tinggal di kamar itu lagi. Para penumpang mulai keluar melalui pintu. Raut muka mereka tampak sayang. Mungkin aku kangen kepadanya tapi sepertinya tidak juga. Tampak ibuku menyesal. . Ibu. Udara Jakarta yang panas dan gerah membuat keringatku semakin berceceran. Cuaca panas yang gerah. Sudah berapa lama aku tinggal di kamar ini? * Wajah-wajah dari orang-orang yang kukenal. Ketika itu namanya masih Ebtanas. di mana kau berada saat menstruasi pertamaku? * Seperti de ja vu. Entah sejak kapan keringatku jadi bau. Lelaki itu memanggil nama ibuku. Termasuk ibu dan aku. Lelaki itu.Kendaraan itu berhenti. Rasa sakit yang tidak tanggung-tanggung pada bagian perut dan payudara. Itu yang aku rasakan untuk pertama kali ketika keluar dari kendaraan itu. Dia membelikanku boneka. Rasa sakit itu kembali menyerang. Ayah. Mereka berdua saling menghampiri. Ibuku sedang menangis di antara orang-orang itu. Kadang-kadang suka teringat wajah ayahku. Tidak seperti biasanya. Apa yang telah dia lakukan dan apa yang telah dia jalani. Aku disuruh menetapkan keputusanku sendiri. dan lega. Aku juga sebenarnya tidak terlalu antusias. Lelaki itu cukup baik kepadaku. kesal. seorang wanita dan seorang lelaki yang mukanya mirip dengan ibu.

Aku tidak tahu harus berpihak ke mana. Muka ibuku yang tidak bisa aku definisikan. Aku tidak membencimu tapi aku tidak bisa menemukan alasan untuk menyayangimu. Aku melihatnya dari kaca mobil ayahku. Mereka menengokkan kepala kepadaku. Terdengar juga suara lelaki asing. Aku kesal. Aku menyebutnya dengan berbagai macam nama. Suara nenekku terdengar tua di telingaku. Pasti dia terlihat cantik sekali.Dago. Orang itu mengatakan bahwa itu semua demi kepentinganku. apa yang telah kau lakukan hingga suamimu marah besar? Aku tidak tahu harus berpihak ke mana. Wanita itu baru resmi bercerai dengan ayahku dua minggu yang lalu. Ayahku tampak menjelaskan permasalahannya. Aku bentak-bentak dia. Aku membuatnya menangis. * Sepasang sepatu yang asing tampak di depan pintu. Orang itu mengatakan bahwa aku tidak akan bahagia. Aku membayangkan pernikahannya. Penolakanmu semakin memuaskanku. Aku merasa hampa. Ayah. Sembilan bulan. Setengah jam yang lalu ibuku menelepon. Entah apa yang kurasakan saat itu. Aku membayangkannya dalam baju kebaya. Muka ibuku yang panik. kemarahan. Masa di mana emosi dan mental ditantang. * Sudah kesekian kali telepon berdering. Apakah itu cukup? Apakah itu satu-satunya alasan? * Pernikahan yang sederhana dan simpel. Tampaknya dia menjadi tidak sadarkan diri. Sekarang sudah menikah lagi. Aku tidak menaruh perhatian satu persen pun pada omongan wanita tua itu. Tepat mengenai kepalanya. kesedihan. kenapa kau tega sekali kepada ibu? Ibu. Aku melangkah masuk ke dalam rumah. Ayahku menyeret ibuku keluar dari mobil seorang laki-laki teman kerjanya. Orang-orang melihat kejadian itu. Aku memang tidak mengundangnya. Tubuhnya yang menghampiri lelaki itu. . Menyayangi seorang ibu seperti seharusnya seorang anak. Orang itu tidak suka dengan calon suamiku. Aku sedang dalam masa pubertas. Di tempat umum. Itu yang kurasakan. Kulihat dari jendela dua manusia sedang ngobrol dengan santai sambil sesekali bercanda. sedih. Beberapa jam yang lalu ibuku baru menikah. bingung. Aku akhirnya mengangkatnya juga. Aku tidak tahu. atau kesenangan. Aku tidak merasakan apa-apa. Kepuasan itu semakin besar karena seseorang. Itu yang kuinginkan. Tanpa pikir panjang aku ambil vas bunga di meja. Vas itu pecah berantakan. Nasihat-nasihat nenekku terdengar hampa. Mungkin memang masa putih-abu adalah masa pemberontakan. Emosi macam apa yang kurasakan saat itu. Mungkin aku memang seorang wanita liar. Aku tahu alasan dia menelepon. Setelah itu aku tidak bisa merasakan apa-apa. Orang itu bersikeras bahwa aku tidak boleh menikahinya. Orang itu tidak datang. Sikap seolah-olah kau peduli semakin memuaskanku. Ayahku ditenangkan oleh seorang tukang baso. Aku lempar vas itu ke lelaki bajingan di depanku. Aku teringat pada ibuku. Aku hanya seorang anak ABG. dan malu. Kepuasan. Terdengar suara ibuku dari dalam rumah. Ibu. Atau lebih tepatnya seorang remaja liar.

Setiap orang mempunyai jalan hidupnya masingmasing. Sudah berapa lama aku tidak mencium tangan itu. Dari awal aku memang tahu kalau wanita itu benar. Pasar. Di tengah kebisingan dunia. Wanita tua itu tersenyum padaku. Pada akhirnya aku dapat mengerti. stasiun kereta api. Rumah itu terletak di tengah semuanya. Tahun-tahun yang kulewati dalam kekangan komitmen palsu ini terasa hampa dan menyebalkan. Ibu.Jangan sampai kamu merasakan apa yang kurasakan. jalan raya. dan bandar udara. Karma. Bagaimana menyebutnya? Karma? Aku tidak percaya dengan kata itu. Aku tidak merasakan cinta seorang suami. sejak kapan aku harus mendengarkanmu?! * Hidup adalah alunan waktu yang tidak akan pernah kembali lagi. Kata itu muncul kembali dalam benakku. Siang hari. aku berdiri di depan pintu kayu besar rumah itu. Ternyata aku hanya memainkan diriku sendiri. Buah hati. Sudah berapa lama aku tidak berbicara dengannya? Karma… . Aku melihat foto pernikahanku. Jasadnya adalah aku. Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Tepat delapan belas tahun yang lalu. Kulit tembok yang warna aslinya putih sudah mengelupas di mana-mana. Seorang wanita tua membukanya. * Cimindi. Like mother like daughter. Luar dan dalam. Ibuku mempunyai jalan hidupnya sendiri yang dia pilih dengan segala macam pertimbangan. Aku mendekatinya dan mencium tangannya. Pada akhirnya aku mengerti. Aku hanya kecewa tapi sekarang aku dapat mengerti. Jangan sampai kamu melalui apa yang kulalui. Aku hanya percaya bahwa segala sesuatu yang kita lakukan pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal. Mempunyai arti yang sama dengan kata karma tapi tetap saja aku tidak percaya dengan kata itu. Ketika aku melihatnya aku melihat diriku sendiri. Rumah bekas jaman penjajahan Belanda yang tidak terawat. Aku tersenyum kembali padanya. Apa yang kurasakan? Aku tdak merasakan apa-apa. Kukenang saat itu. Tapi sesungguhnya tidak ada yang bisa kukenang. Rumah itu adalah rumah yang paling strategis di dunia. Hatinya adalah aku. Sudah berapa lama aku tidak berjumpa dengan ibuku. Wanita itu memang benar. Aku mengakuinya. Aku tidak percaya kalau kau mengatakan itu. Sudah berapa lama aku tidak membaui tangan itu. Sudah delapan belas tahun. Buah hatiku adalah reinkarnasi diriku. Aku tidak berhak merasa marah atau tidak senang dengan pilihan hidupnya. Aku menggosok debu pada foto pernikahanku. Aku hanya ingin membalasnya. Aku mempermainkan hidupku sendiri. Aku mengetuk pintunya dan mengucapkan salam. Aku hanya ingin merasa puas. Entah sudah berapa lama aku tidak menangis selama ini.

Paman tak salah. atau kehitam-hitaman tercemar eyes shadow? Airmata tawaku kehitam-hitaman. Aku akan dilimpahinya dengan banyak kasih sayang. Minuman alkohol kelas rakyat khas Laos itu menghangatkan tubuhku dari terpaan angin sungai Mekong.Ibu. Aku bangun jam empat sore. Airmataku hilang tiap bulirannya melayang entah ke alam apa. Dijualnya aku disana. Penyiar berwajah cantik itu berkali-kali bicara dengan bahasa tingkat tinggi. ia adalah dewa penyelamatku. Ibuku bilang. Rokokku baru setengah kuhisap. Tapi ia memukuliku sebagai ungkapan sayangnya. hawa salju. Rewel dan banyak tuntutan. Paman hanya memanfaatkan kesempatan melihat kemiskinan. aku anak kesayangannya. “Chau sa bai dee bor? (Apa kabarmu baik saja)” Oley pengemudi tuk-tuk tertampan di sepanjang Vat Xieng Gneun. Bisa juga untuk menambah modal berjudi Paman. Kalau airmata tawa aku punya berliter-liter. Ayah tak membelaku tapi membelaiku dengan sumpah serapah. Tak pernah kurasakan hangatnya tetesan mengalir hangat merambati pipiku. Sebuah jalan di tepian Mekong. Minuman keras itu menjaga tawa dan kegembiraanku setiap hari. Seperti apa warnanya? Berkilauankah bagai bulir permata menggelinding dari mata. Secepat kilat berubah jadi cibiran akibat penolakanku. Semua itu membuatku harus berkorban demi kasih sayang kepada keluarga. Sapaan itu adalah ajakan untukku. Pamanku bilang. tapi waktu Ibu menyiksaku dengan kasih sayangnya. Apa demi adikadikku yang berjumlah lima orang? Atau untuk Ayah yang tak mampu bertanggung jawab. Atau demi apa aku tak paham.” tolakku. Tiap malam mengucur deras dari sudut mataku sebanyak botol Lau Lao yang kutengak. Lau Lao selalu menguatkan hari-hariku di sudut kota Vientiane yang ramai ini. Sambil sesekali melempar pandang ke televisi yang siarannya tak kumengerti. Atau aku terlahir dengan hati batu. atau memukul kakiku dengan tongkat. . ia sayang aku. Sungguh sayang yang menyakitkan. Tanktop dan rok mini tipisku serasa bagai gumpalan selimut bulu domba. Membuatku semakin yakin bahwa sayang yang sebenarnya tak pernah ada di muka bumi ini. Mungkin hanya sekedar mengendorkan saraf Ibu. yang selalu menegang bila melihat adik-adikku berebut makanan. Ayahku bilang. Sayang tak pernah ada bila tak ada uang. phii huk! ( Apa kabar sayang!)” Seorang Thailand menyapaku. uangnya lebih banyak. Bagian kota yang lain sudah sepi seperti pemakaman Prancis yang megah dengan nisan berpilar pualam. Seperti juga yang terjadi padamu Thailand! Sayangmu itu dalam semenit telah berubah jadi ludah yang jatuh ke tanah kotor. Keluasan langit malam ini baru saja kurasakan. Berakhir di ujung dagu. Tamu Asia tak menyenangkan. masih malas untuk kembali ke ranjang. Ibu memukul karena kehabisan pangan. Tanpa dijelaskan dulu kenapa sayangnya diwujudkan dengan menampar pipiku. “Sabai dee. Satu-satunya bagian kota yang selau ramai dengan kehidupan malam. Karena aku sendiripun tak tahu dimana letak airmata kesedihanku. Menakutkan! Aku sering kecewa karena percaya pada kata itu. Sisi barat kota Vientiane. sengak bau alkohol. Hingga tak kukenal lagi kesedihan. Uh! hari masih terlalu pagi untuk masuk kamar lagi. menanyakan kabarku hari ini. “Bor! Bor! ( Tidak! Tidak!). bahasa orang terpelajar. karena sebagai petani kecil penghasilannya juga kecil. Kebebasan udara belum lama kuhirup penuh-penuh. Senyum segera lenyap dari wajah Thailand. Paru-paruku rasanya belum setengah terisi. Lagipula aku lebih senang melayani tamu bule atau negro. Seumur hidupku tak kurasakan airmata kesedihan. Murah meriah bertebaran di mana-mana. Cuh! Dia meludah di hadapanku. ‘Sayang’ memang benar-benar melimpah ruah di tempat ini walau hanya sebatas katakata. Lalu dibawanya aku ke Vat Xieng Gneun. Baru setengah jam aku berdiri di depan klub ini. Ayah marah karena tak tahu cara untuk menambah penghasilan. istilah sulit. Belum lama kulitku terkena udara. Huh! Sayang katamu? Sudah lama kata itu jadi hantu buatku. bagaimana ibu dulu menghadapiku? TAMAT Perempuan Tepi Mekong Oktober 7th. 2008 by radiani Ayolah! Coba kau cari di mana airmata kesedihanku tersimpan! Kau tak kan pernah menemukannya. Santaisantai berdandan mematut-matut wajah di potongan cermin retak.

Hatiku mengeligis pedih. Karena tanpa senyum aku tak bisa menyambung hidupku. aku jadi tak bisa menjajakan senyumku dengan baik. Dan yang tiga bulan itu merenggut semua senyum Kova. Tapi tetap saja bisa digunakan walau pasangannya tak ada. Entah dengan cara apa. Maafkan aku Thuppy. Aku tak mau kehilangan senyumku hanya karena cinta Oley. Senyumku untuk setiap kata sayang yang terucap. Kata cinta itu telah begitu banyak meluncur dari mulut Oley.” Selembar kertas terjatuh dari tanganku. Kami pasti sudah beranak dua tahun ini.” Aku mengusirnya. Tak kuberikan sedikitpun kesempatan pada diriku untuk mendengar lebih dari itu. Aku tak bisa menyikapimu seperti semua laki-laki itu. Hanya desah sawah. Senyum tak boleh lepas dari bibirku. Seandainya aku elang. Seandainya aku bukan pelacur dan Oley bukan penjaja mariyuana yang berkedok supir tuk-tuk.“Dee Chai (Baik saja). Andai aku tak terdampar di jalan kelam ini. Tapi tak sedikit pun aku memberinya kesempatan untuk berkata lebih dari itu. Mata uang negeri manapun. karena terlihat kaku. hatiku kaku-kaku tak bisa bergerak bila Oley berkata begitu. Tapi aku terlalu mencintaimu. atau senyum puas sesaat sesudah melayani. Bisa cinta atau cemburu saja. koi hak choi ( Thuppy. Oley sampai hari ini aku hanya mendengarnya terucap dari mulutmu saja. Perkawinan seorang pelacur dan penjaja mariyuana tak akan berjalan lancar. Aku tak tahu Oley. selamat tiggal Thuppy. Bukankah seharusnya ia cemburu? Bila ia memang punya cinta untukku. Tatapan mata Oley selalu membuatku bergetar. Aku ini perempuan yang harus selalu tersenyum. Malam ini pun dia hanya memandang saja ketika aku sengaja lewat di depan tuk-tuknya mangkal. Kata orang mata tak bisa bebohong. dolar. Senyumku untuk setiap lembaran kip. aku menemukannya terselip di bawah pintu. derai sungai. Sendok bisa digunakan tanpa garpu begitu pula sebaliknya. Dengan kesederhanaan. bila aku lebih banyak memberinya senyuman.” “La kon Oley! ( Sampai jumpa Oley). Senyumku yang palsu untuk setiap kata sayang yag juga palsu itu. Oley melambaikan tangan dengan wajah sendu. Senyum manis yang mengundang. Saat menatap Oley yang termangu di belakang kemudi tuktuk terbungkus asap rokok. ketika telentang di hadapan lelaki hidung belang. Aku tak mau itu terjadi padaku. Sekarang tanpa mariyuana Kova teronggok lemas tak berdaya. Tapi aku dan kau seperti Laos dan Thailand. Perkawinan Jay dan Kova hanya berjalan tiga bulan. Aku tak tahan melihat senyuman di bibirmu Thuppy. Ketika sedang duduk menunggu pelanggan. ketika hari teriris sepi di sudut tikungan jalan. Aku harus selalu tersenyum karena senyum adalah bagian dari pekerjaanku. Bibir ini sekarang sudah jadi mesin senyum saja. Kompak dengan mataku. Kurasa itu perlu dibuktikan lebuh dulu. Mereka membohongi semua orang dengan senyum dan kerling. . Cinta dan cemburu seperti sendok garpu. Senyumku adalah hidupku. Hanya tipis terbatasi Mekong. atau bath. Kubawa ke sarangku di puncak tebing curam yang tak terjangkau mahluk apapun. Bisa-bisa senyumku tak laku malam ini. Apalagi pernyataan cintanya. Senyum model apapun itu. atau tidak keduanya sekaligus. Sambil menyandarkan kepala pada bahu seorang negro kupandang wajahnya yang tampak pasrah. tak lengkap bila salah satu tak ada. akan kusambar tubuhmu. Tatapan mata Oley sering membuatku beku. Tanpa kemeriahan yang memabukkan seperti di jalan ini. Pelanggan akan memberi uang lebih. berisik jengkerik yang memenuhi hari-hari. senyum nakal dengan sedikit godaan. “Jadi seperti apa cintamu itu? serasa apa sayangmu itu? Oh. aku sadar akan perasaan yang sedang tumbuh di hatiku. seperti seorang super hero yang muncul dari langit dan membawaku terbang ke angkasa. Begitu dekat tapi tetap saja di seberang. Aku selalu tersenyum. Tanganku bergetar tak sanggup menyangga beban yang tertulis di atasnya. Bukan karena aku tak suka tapi karena keberadaan Oley yang begitu dekat membuatku salah tingkah. Betapa aku ingin juga meikmati senyummu seperti banyak laki-laki lain. aku cinta padamu). Membohongi hatiku yang selalu merasa muram.” jawabku sambil mengalihkan pandang. Tapi mataku bekerja sama dengan bibirku adalah pembohong yang ulung. setiap aku digandeng lelaki untuk diajak kencan. Pada kenyataanya aku terlalu pengecut. Perasaan yang ditimbulkan tatapan mata Oley “Thuppy. Dan Oley masih menggarap ladang orang tuanya di Luang Prabang. Kami pasti bisa membentuk keluarga kecil yang tenang. Hanya ada kau dan aku. Uh! Kenapa tak kau tonjok saja negro mata keranjang ini! Bawa aku lari dengan tuk-tukmu.

Hanya kursi di barisan depan yang masih tersisa.Oley Membaca surat Oley. Sebentar kemudian diturunkannya. Ganti kaki kirinya yang disilangkan ke kaki kanannya. Seakan dia ingin memastikan kalau jarum jam dinding itu sudah berputar sebagaimana seharusnya. Dasar angkuh! . tapi berusaha tetap terlihat elegan. kadang ke kiri. Beban ribuan ton rupanya menimpa dadanya yang penuh (terlalu penuh juga untuk ukuran perempuan yang sudah tiga kali melahirkan?). Jauh dari orang tua murid yang lain. Sesaat kemudian aku berpaling. Tapi terhenti sampai di leher saja. Aku yang sedang melayani Bu Mira. Rambut panjangnya yang tergerai berayun-ayun mengikuti langkahnya yang tergesa. Dia membalasku dengan anggukan dan senyuman teramat tipis sembari dengan angkuh mengangkat dagunya. pandangan berkeliling atau menunduk berlagak mencari-cari sesuatu dalam tas. Matanya berkeliling mencari-cari tempat duduk yang kosong. Akibatnya leherku terasa tercekik. Pantat yang terlalu kencang untuk perempuan yang sudah tiga kali melahirkan. Tentu saja keringat itu tak akan melunturkan riasannya. Bahkan orang bodoh pun tahu. Sebentar kaki kanannya disilangkan ke kaki kirinya. **** Tinggal kami bertiga di ruang kelas ini. Sementara itu kepalanya terus berkeliling. Dari tempatku duduk sebagai notulen. Sangat jelas. pantat itu bukan hanya didapatnya melulu melalui latihan-latihan di fitness center itu. Sedari tadi dia tidak tenang. kembali berlagak serius mendengarkan paparan kepala sekolah mengenai pencapaian-pencapaian sekolah kami di tahun ajaran ini. Aku sempat khawatir kalaukalau celananya yang berbahan halus dan mahal itu akan sobek karena bergesekan dengan kursi yang didudukinya. Apapun yang terjadi aku selalu tersenyum. Bolak-balik diangkatnya tangannya untuk menengok jam berlapis emas putih di pergelangan tangannya itu. kaki ditopangkan bergantian kalau tidak diketuk-ketukan di lantai. Merambat ke atas ke arah kepala. Kadang ke kanan. Maklum harga seperangkat make up yang dikenakannya setara dengan sebulan gajiku sebagai guru di sini. Kalau tidak menunduk berlagak mencari-cari sesuatu dari dalam tas kulit merk luar negerinya. Digeser-gesernya duduknya. maupun jam tangan yang berkali-kali ditengoknya. Hendak menuju mata. Kini kedua kaki langsingnya sedang mengetuk-ngetuk lantai tanpa irama. Sekedar untuk menyembunyikan seringai yang terlanjur muncul di ujung bibirku. Paparan yang terlalu panjang dan terlalu lebar. ke depan. Aku tetap tersenyum. Membosankan. Aku terpaksa mengangguk (sok) ramah padanya ketika tatapan kami bertemu. tanpa usaha untuk menutupinya lagi. Tak mungkin ditemukan. dia pun mengambil tempat duduk di kursi pojok barisan depan. Entah apa yang sudah dijejalkannya di dalam sana. Seperti ada bara di bawah pantatnya yang menggunung itu. sehingga si pantat bisa berbentuk sedemikian rupa. Sesaat dia berhenti di ambang aula. Kenapa tidak langsung ke menu utama saja. Untung saja bunyi ketukan sandalnya tertelan gemuruh suara orang-orang berbisik di aula ini. Dengan enggan. Dia baru tiba saat pembawa acara baru saja selesai membacakan agenda pertemuan hari ini. Cobalah kau cari dimana airmata kesedihanku tersimpan. dia sangat gelisah. pengambilan rapor. Perilaku gelisahnya sama persis dengan sewaktu dia ada di aula tadi: pantat digeser-geserkannya. Senyumku menghambatnya. Aku sudah tak sabar. Bahkan ketika kulihat mayat Oley terapung-apung di Mekong. Padahal sudah ada jam tergantung di dinding aula. dan dia yang duduk dengan gelisah di deretan kursi tunggu yang kosong. ke belakang. Begitu seterusnya. Aku ini perempuan yang selalu terseyum. Memang sering kali kulihat mobilnya terparkir di depan fitness center di samping sekolah. Sekilas dapat kulihat setitik keringat meluncur di dahinya yang putih mulus. 2008 by birulangit Diam-diam aku memerhatikannya sedari tadi. Karena sekarang aku yakin aku tak memilikinya. Kini benar-benar kunampakkan seringaianku. Rapor November 11th. Tapi aku curiga. Sesekali dihelanya nafasnya. Dagunya mendongak setiap kali mata kami bersitatap. gerak-geriknya terbaca jelas. ada rasa panas yang keluar dari dada.

malah merepotkan!” kataku berbasa-basi. Dan kira-kira sejak dua jam yang lalu dia sudah duduk di sini menunggu giliran kupanggil menghadapku untuk mendapatkan rapor anaknya. silakan duduk!” Tanpa sepatah kata dia hanya tersenyum tipis. saat dia mencercaku. Bahwa aku punya kekuasaan. pembicaraan bisa melebar sampai ke manamana. Sebagian masa depan anaknya aku yang menentukan. Dimasukkannya rapor. Semoga suka!” Tangannya mengangsurkan sebuah kotak kecil yang terbungkus kertas kado bergambar kartun Naruto. “Aduh. Sedangkan sudut mataku mencuri-curi pandang wajah cemasnya. laporan perkembangan. Dalam hatiku tertawa. Hatiku bertanya-tanya. kutukku. Kalau sebenarnya dia tidak bisa macam-macam denganku. Nilai-nilainya selalu di bawah teman-temannya. apa gerangan yang dibawa oleh perempuan yang kini sedang melangkah menghampiriku ini. para orang tua dipersilakan masuk ke ruang kelas anak mereka masing-masing untuk menerima pembagian rapor. “Terima kasih. Muka putihnya bersemu merah. Belum lagi jika kebetulan sang orang tua murid memang suka ngobrol. saya permisi!” Bu Mira beranjak keluar ruang kelas. tapi yang seperti ini orang tua murid suka.Aku tahu dia sedang memakiku habis-habisan dalam hatinya. Ardian. Bu!” Kataku sambil menjabat tangannya yang dingin. guru pilih kasih. Perkembangan setiap anak didik sudah tercantum dalam rapor khusus kami yang berupa laporan narasi deskriptif. “Selamat pagi. sudah banyak merepotkan!” “Tidak apa-apa. Seperti aku ini hantu baginya. Kujelaskan sampai sedetail-detailnya perkembangan anak mereka selama satu tahun ajaran ini. . sudah membimbing Rachel. Gombal sekali memang. Seperti yang sedang kulakukan dengan Bu Mira ini. Tidak hanya itu. Mati kau. Selain bingkisanbingkisan itu ada beberapa amplop di dalam laci mejaku. Jadi bukan salahku jika sampai saat ini dia belum juga kupanggil. “Ibu ini bisa aja!” Bu Mira tertawa panjang. Dari lima belas muridku. Bu. anaknya memang nomor absen terakhir. memang kusengaja. Pembalasan dendamku untuk perempuan berpantat terlalu kencang dan berdada terlalu penuh yang angkuh ini. guru yang kurang perhatian. biasa aja! Terima kasih banyak Bu. lalu dikeluarkannya sebuah bungkusan dari dalam tasnya. Di sinilah ajang pembuktianku bahwa aku bukan orang sembarangan. aku memang sengaja berlama-lama berbincang dengan setiap orang tua murid. Hanya saja. Rachel. duduk di hadapanku. Bu!” “Ah. anak Bu Mira. karena dia mewarisi kecantikan ibunya. Aku baru sampai nomor absent empat belas. Setelah pertemuan di aula selesai. Bu. Sebenarnya kesempatan ini sudah kutunggu-tunggu. dan beberapa lembar pengumuman ke dalam tas. “Mari. Tanganku menjadi ikut basah oleh keringat di telapak tangannya. Tangan yang pernah melemparkan kertas ulangan anaknya ke mukaku. “terima kasih banyak lho. laporan perkembangan. sudah menjadi tugas saya!” Jawaban ini sudah secara mekanis keluar dari mulutku setiap semesternya. “Rachel sendiri yang memilih. Wajahnya yang pucat. sembari berkata kalau percuma saja bayar mahal-mahal kalau lagi-lagi dapat nilai lima puluh. anaknya. memang berkebutuhan khusus. Bu Mira bercerita kalau Rachel baru saja menjadi juara satu lomba wajah fotogenik. Setelah parcel segede gunungnya yang kukembalikan seminggu yang lalu! Hari gini menyogok guru agar mau mengatrol nilai! Rupanya dia sudah merasa rapor anaknya bakalan jelek. Bukan senyum sinis seperti yang beberapa kali dilemparkannya padaku. Senyum bernada segan. Aku berlagak sibuk menyiapkan rapor. Hal yang tidak perlu kulakukan sebenarnya. Aku bilang pantas saja. Biar saja. Bu. “Mari Bu. agaknya dia juga mulai sadar kalau kelakuannya padaku selama ini bisa saja membuatku mengurangi nilai-nilai anaknya. dan lain-lain. Kutumpukkan berkas-berkas yang akan kuberikan padanya di sudut meja. dan beberapa lembar pengumuman yang akan kuberikan kepadanya. Salam buat Rachel!” Kutumpukkan bingkisan dari Bu Mira di atas bingkisan-bingkisan orang tua murid sebelumnya. Gangguan konsentrasinya membuatnya sulit mengikuti pelajaran. Untuk penilaian-penilaiannya padaku: guru konvensional. Bu. Maaf.

“Lima. Bahasa Indonesia.” . Bu. betapa aku rindu! Kuambil tumpukan berkas di sudut meja. Saya tidak tahu ada peraturan seperti itu di sini. karena kita pakai kurikulum nasional. Lebar. Sejak kepindahan Ardi awal semester dua ini. ternyata hanya empat mata pelajaran saja yang di bawah KKM. “Masih naik.” Tangannya sampai gemetar menerima buku rapor ini. Saya tidak berani melanggarnya. Bu? Bisa tidak naik ke kelas tiga?” Pertanyaannya lebih terdengar sebagai ratapan. “O ya. Bu. Seperti ketika dia memohonku untuk melupakan apa yang pernah dilakukannya padaku. Bu. Seperti habis kecopetan uang semilyar! Dia membolak-balik halaman rapor anaknya. pagi Bu.” Sengaja aku berhenti untuk memandang wajahnya. Bahasa Indonesia. rata-rata nilai rapor siswa semester satu dan dua tidak boleh lebih dari. Walau mepet …. Matematika. “Ja … jadi … bagaimana.” Dia menelan ludah sebentar. Lagi-lagi dalam hatiku tertawa. Manusia di hadapanku ini semakin terlihat mengenaskan. Kini tidak kututup-tutupi. ya?” Suaranya tersendat di kerongkongan. Berkas-berkasnya masih kutahan. Aku tersenyum. saya sudah berusaha sebaik mungkin membimbing Ardi …. Mohon maaf sebelumnya. Macam pejabat saja. Bu …. Mungkin Ibu juga sudah tahu. Bu. Semoga Ibu maklum. Bahagianya. Tapi tetap saja kita mengacu pada peraturan dinas pendidikan. “empat mata pelajaran yang di bawah KKM…” Akhir kalimatku kembali menggantung. Kemarin terpaksa saya mengembalikan bingkisan Ibu. Sengaja tidak segera kuserahkan kepadanya.” Matanya nanar menatap angka-angka itu. Matanya berkaca-kaca. “Mohon maaf. Tapi aku tidak juga jatuh iba. Bu. Jadi ada lima mata pelajaran yang ada di bawah KKM …. “Tidak apa-apa. Bu? Benar-benar tidak bisa ditolong?” Kalau teringat bagaimana dia mengangkat dagunya. Saya hanya bermaksud mengucapkan terima kasih saja. Kuhadapkan ke arahnya. Bu Lily?” Wajahnya terlihat sangat memelas.” Kalimatku menggantung.“Pagi …. siang ini aku merasa menjadi Tuhan. Setengah mati aku berusaha menyembunyikan tawaku. Bu. Matematika. Nikmat. dilarang menerima gratifikasi.” jawabnya tanpa bisa mengatasi kegugupannya. Dari segi metode maupun substansi pembelajarannya. tanpa ucapan selamat malam. “Semester satu juga ada lima mata pelajaran yang di bawah KKM. Kubuka rapor Ardi. IPA. Saya yang minta maaf. Seperti yang Ibu lihat di sini. Biar kunikmati dulu penderitaannya ini.” sengaja kuberi penekanan. Bu. Ada kemungkinan dia sudah akan pingsan dulu sebelum aku menyelesaikan penjelasanku ini. rapor semester satu.” Dia melongo. “Tidak naik. hanya untuk menanyakan keberadaan pensil atau penghapus anaknya yang hilang. sungguh nikmat! “Seperti yang Ibu ketahui sebelumnya. Layaknya pengemis yang sudah tiga hari tidak makan memohon sedekah saja. “Ibu. Matematika. Bahasa Indonesia. IPA. aih.” Kutunjuk dengan jariku. Ataupun ketika seminggu yang lalu dia memohonku “kebijaksanaanku” untuk menaikkan anaknya. PKn. Dia tidak tahu di mana dia akan menaruh mukanya jika anaknya lagi-lagi tidak naik kelas. IPS. dan SBK ada di bawah KKM. IPS. Sebagian sudah sampai di pipinya. Seperti tidak ada lagi darah yang mengalir di pembuluh darahnya. Butir-butir keringat meluncur di dahinya. Kubuka halaman sebelumnya. IPA. “Agama. Ke mana gerangan dongakan dagunya yang angkuh itu? Ho ho. tak menyangka. IPS. “O ya. dan SBK …. Bibirnya gemetar. Peraturan sekolah melarang guru menerima bingkisan dari orang tua murid sebelum rapor dibagikan. dan SBK …. Mengiba-iba meminta maaf. bagaimana Ardian. Di sekolah Ardian yang dulu diperbolehkan. sekolah kita memang berbeda dengan sekolah yang lain. “Lima mata pelajaran. nilai Ardi kurang memuaskan. ekspresinya kali ini tampak begitu menggelikan. “Semester ini Bu. Senyumku semakin lebar. Bu. Semata-mata karena dia takut sakit hatiku akan mempengaruhi nilai rapor anaknya. “Ja … jadi … Bu?” Kini aku ingin tertawa. Aih. Teringat aku bagaimana dia meneleponku malam-malam. Berbeda dari sekolah Ardi sebelumnya.” Padahal mana ada sekolah mengatur perihal itu. Sebagai syarat kenaikan kelas. Wajahnya seperti orang yang sudah mati saja. tapi setelah dirata-rata. Bukannya apa-apa. Berkas-berkasnya masih di tanganku.

bahwa pendirinya adalah lelaki darah murni yang akan meletakkan suku Mota Pedalaman. menara Ka Borak. Semua mata terpacak pada sosok menggetarkan yang tegak menjulang di ujung timur lapangan. Semua mata tertuju pada lelaki di atas mimbar itu. dan. suku Mota Pedalaman. Aku menjadi orang asing. Sisiknya besar-besar bertumpuk. Kalian ditakdirkan menjadi pasukan pemersatu suku-suku Mota yang terpencar. Tidak akan ada seorang pun yang bertanya mengapa anak itu tinggal kelas. suku Mota Pesisir. Bahwa yang membangunnya adalah lelaki yang dijanjikan akan datang dan membawa keagungan. aku paham makna dari kata-kata bijak ini. menyaksikan menara Ka Borak yang selama sembilan bulan ini dengan susah mereka buat-dirikan. simbol keagungan suku Mota. Suaranya yang parau hilang tenggelam dalam kegaduhan massa. ‘sendirian dalam keramaian adalah ancaman. Tongkat kayu setiginya dihentaknya beberapa kali ke lantai mimbar. Aku tercekam oleh pikiranku sendiri.Seketika wajahnya menjadi bercahaya. Menara yang membuktikan bahwa pendirinya adalah penguasa sejati atas Tanah Mota. seperti ada suatu komando bawah sadar yang amat kuat mengendalikan mereka semua. Menara itu. Bukti kekuasaan atas Tanah Mota. Kicau burung di pohon riuh menanti. naik ke mimbar. benar! Tepat sekali! Inilah menara Ka Borak. persaksikanlah. melata dan melingkar. Walaupun hal itu sebenarnya sangat mudah bagiku. 1320 warga suku berkumpul di sini. detak jantung seseorang seakan tertangkap telinga orang di sebelahnya. Sinarnya hangat sedikit. berbicara pada orang-orang tapi suaraku hanya memantul kembali dan hilang. Aku sudah sangat puas melihat perempuan berpantat dan berdada terlalu bulat yang angkuh itu hampir mati ketakutan. 1320 macam semangat melebur menjadi satu ambisi kolektif. tinggi. Menara besar dari dua kayu ulin yang disambung berukir ular gato menelan matahari. Tapi aku juga masih punya nurani. Kalianlah penggenggam masa depan itu. Itu saja cukup. Dendamku sudah terbalaskan. di depan kalian telah tegak bukti yang dikabarkan dalam Ketab Se Lambok. Wahai orang Mota Pedalaman. “Wahai orang Mota. dibangun sebuah mimbar besar. 2008 by catur amrullah Aku seperti seorang terusir yang menyusuri dasar lautan seorang diri. Seorang lelaki tinggi besar. Berdiri dengan keyakinan dan pemikiran yang tidak sejalan bukan hanya dengan orang-orang kebanyakan. tapi bahkan bertentangan dengan Se Moljo Banahung. kulit coklat mengkilat memakai jubah kulit kijang. “Hidup Se Moljo Banahung! Hidup Se Moljo Banahung!” 1320 macam suara memekik satu kalimat yang sama. 1320 jenis kepalan tangan mengacung ke angkasa. melintasi terumbu karang berbisa yang meracuni tiap helaan nafas yang makin tinggal sisa. ketua suku kami. Sedangkan monster-monster laut dan serigala separuh gurita mengintai-ngintai hendak menerkam saat aku lengah. Di depan menara. “Syukurlah!” Dia mendekap rapor anaknya dalam dadanya yang terlalu penuh itu. Berbinar-binar. bukti penguasa Tanah Mota yang dinanti!” Seorang sepuh di antara kerumunan bersuara. menggumpal ke dalam satu . “Syukurlah!” Dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. tak ada suara manusia terdengar. aku menyimpan dendam. ‫פּ‬ Ratusan orang berkumpul di tanah lapang. dan suku Mota Tanah Batu berada di bawah tongkat kekuasaannya. menelan matahari. Hitam berkilau karena embun yang berkelip dilanun semburat matahari melamur seluruh tubuhnya. Penuh dengan ukiran ular Gato yang meliukliuk. “Ini seperti dalam mimpi para peramal. Tenang sekali. Dentamnya menggema mengatasi kegaduhan orang-orang. 1320 manusia itu. karena aku punya harga diri. Dunia akan memakluminya. Semua itu. dan anggun. pemimpin spiritual sekaligus penentu jalan hidup kami. Aku pun pantas membencinya. Dan mulai detik itu. Dialah Se Moljo Banahung. menara Ka Borak yang kita dirikan ini menjadi saksi atas kejayaan yang dijanjikan itu. The Tower of Ka Borak Desember 26th. menara Ka Borak. kepala suku kami. Kita adalah penguasa Tanah Mota!” pekik semangat Se Moljo Banahung menggema-gema dalam tempurung kepala tiap orang yang hadir di situ. Sudahlah. “Syukurlah!” Aku manusia biasa. Matahari baru mengintip dari celah bukit. Kelengangan yang mistis menyelisik di tiap-tiap tubuh. serentak pekik gegap gempita membahana dari mereka itu. Tidak mungkin aku mengubah angka-angka itu. Seketika tanah lapang itu jatuh sepi.’ Aku sendirian. seperti seribu kunang-kunang beterbangan mengitarinya. kalian adalah darah murni suku Mota.

. Tahukah kalian jawaban bagi pembangkang? Yaitu….. dan ribuan lagi lainnya. jalan setapak itu menurun. Aku berkeringat dingin. kita akan mengirim utusan pada suku Mota Pesisir dan Tanah Batu. tidak akan mendiamkannya begitu saja. dan sebuah palu. kepala suku Mota Pesisir. mengabarkan bahwa pemimpin tunggal telah tiba. atas instruksi Se Moljo Mapadong. mengukir suatu simbol paling sakral yang tercantum dalam Ketab Se Lambok. berputar-putar mengelilingi punggung gunung. tebing batu cadas memagar. suku Mota Pedalaman. atau mungkin yang ‘kan paling diagungkan oleh mereka. Ujung bajumu akan berkibar-kibar semarak dibuatnya. mengukir suatu rupa yang luar biasa. . membawa kita pada sebuah lereng yang landai. mengabarkan pada semua bahwa kekuatan dan penguasa baru telah datang. hutan rimbun mengitari dengan amat rapatnya. Mereka. para pemahat terbaik suku Mota Pesisir. maka tiada lain pilihan. Di sebelah tenggara.” Suara lantang Se Moljo Banahung tenggelam dalam gemuruh suara warga sukunya. Angin berembus kencang di sini. Nun di hujung barat sana. Mengema menggetarkan tanah dan batang pohonan. Sedikit demi sedikit memahat tebing batu cadas. sekeras menara Ka Borak dari kayu bullin yang tegak di depan mereka. denting suara pahat besi menghantam batu cadas memecah ketenangan pantai. Bukan hanya itu. sebuah menara berukirkan ular gato menelan matahari yang menjadi bukti bahwa pendirinya adalah suku yang berhak memerintah dua suku Mota lainnya. kita. Symbol kejayaan dan kekuasaan. bukannya ikut larut dalam badai semangat yang dahsyat. seakan tak bertepi. aku tergetar menyaksikan semua prosesi ini. suku Mota Pedalaman telah-dengan sepihak-menetapkan ketunggalan kekuasaannya atas dua suku Mota lainnya. ‘hidup Se Moljo Banahung!’ Nyaring mendebarkan jantung. di belakang jajaran rumah panggung. warna biru terhampar di bawah cakrawala. menyelisik antara debur ombak di bongkahan batu. Di bawah tebing itu. Tangan-tangan terkepal diangkat tinggi-tinggi ke angkasa. menghampar pantai berbatu dan berpasir hitam seperti lumpur. “Mereka takkan berhenti. menghadang dentaman gelombang dan badai yang menyerbu dari tengah laut sana. luas membentang. Sejarah yang mungkin tak termaafkan. sembilan hari lalu. aus karena gesekan gelombang selama masa berjuta tahun. Burung-burung beterbangan ketakutan. seperti yang dijanjikan dalam Ketab Se Lambok. Masing-masing menggenggam sebuah pahat besi terkuat yang ada. akan menundukkan matahari!” Pekik gelora semangat perebutan kekuasaan berkobar menggelegak. menghampar padang rumput amat luas terbentang. kita juga akan menundukkan suku-suku lain di sekitaran Tanah Mota. kitab spiritual suku Mota. Batu-batu yang menjadi rumah bagi tiram. Menara Ka Borak telah membius meraka. Di ujung barat lapangan. Rumah-rumah dari jalinan batang bambu berderet rapi. terus menurun. simbol atas kedatangan sang pemimpin yang dinanti. sebagaimana tercantum dalam Ketab Se Lambok. takkan terbendung oleh apapun. Di sekeliling kami. Menyiratkan tekad dan ambisi yang membuncah. tak bisa ditawartawar. semakin terkucil aku dalam sudut takut dan khawatir yang kian runcing. Kumandang semangat 546 warga suku Mota Pedalaman menggentarkan nyali tiap penghuni hutan. Ular gato menelan matahari. Suku Mota Pedalaman telah berhasil menegakkan menara Ka Borak. terlentang jalan setapak yang panjang berkelok menyusur di antara pohon-pohon besar berusia ratusan tahun. Kesepuluh orang itu. hijau bergelombang oleh rumputan yang digoyang angin. Kaki tebing itu menceruk jauh kedalam. akan sampailah ke pantai dengan hamparan pasir putihnya. pekik lantang Se Moljo Banahung merengkah: “Mulai besok. luas membentang. berhamburan kacau balau dari dahan tempatnya bertengger. 467 palu pun patah. “Sedangkan siapapun itu yang menolak dan menentang kekuasaan kita yang agung ini. bahwa mereka kini harus tunduk patuh di bawah tongkat kekuasaan suku Mota Pedalaman. Merentang sepanjang bibir pantai. 500 pahat telah rusak dan remuk. menara Ka Borak. tapi terjebak di suatu sudut yang penuh dengan ketakutan dan kekhawatiran. Menjadi saksi dari tiap perahu nelayan yang karam diamuk lanun ditelan topan. hampir setahun penuh. akan tercecer di tiap jengkal Tanah Mota!” ‫פּ‬ Semakin membuncah semangat di sekelilingku. tanpa kenal lelah bekerja dari pagi hingga sore.tekad yang amat keras. Tebing cadas yang telah tegak sedari jutaan tahun lalu. Berjalab lurus menyeberang lembah. Kera berlompatan dari cabang ke cabang. dan darah…. Harimau dan serigala bersijingkat kabur ke pelosok-pelosok hutan. Di barisan belakang. Di ujungnya. jangkang. Sebelum hari itu. menjadi candi dari tiap perpindahan generasi manusia yang hidup si situ. terus ke barat. Dengan ini. Aku tak bisa bersuara. takkan bisa dicegah. Tiga puluh orang bergelantungan di dinding tebing batu cadas dengan tubuh terikat tali dari atas. batas bentangan laut lepas. Dalam gemuruh euphoria kekuasaan dan kemenangan yang menari-nari di pelupuk mata. Dan kita. kerang. terjadi di situ. Di depanmu.

“Badai dan topan samudera tak kuasa membunuh kita! Gelombang dan pasang kita taklukkan! Di setiap pantai ada jejak kaki kita. Semuanya takzim. ini salah! Lakukanlah sesuatu!” Lelaki tua di sebelahku itu hanya diam. Semua yang di situ berseru serempak: “Tidak ada! Suku Mota Pesisir terkuat! Se Moljo Mapadong terkuat!” Gemuruh ini hampir-hampir membenamkan pantai berbatu itu. Beban berat yang hampir dua tahun ini dia tanggungkan sampai sudah pada titik kulminasinya. Seekor ular gato raksasa melata dengan ganas. “Ini salah! Tidak boleh begini kita berada Paman. batu. Di depan mereka. Dibawa angin ke buritan tiap perahu yang tengah berlayar. “Mota Pedalaman telah membangun menara Ka Borak. gelap yang senantiasa datang pada tiap penghujung senja. ramalan Ketab Se Lambok telah kita wujudkan. di atas sebuah batu karang hitam persegi sebesar kerbau. keduanya mengklaim sebagai sang Pemimpin yang dinanti. Di depannya. tak kukira engkau akan sebenar ini. menggiring potongn-potongan awan ke batas cakrawala. kepalanya tunduk seakan bertengger di atasnya hantu keputusasaan.” Paman bertanya. pada tebing cadas. tak kuiura Paman. meliuk-liuk. Ah. gelombang. melesat jauh ke tengah samudera membentuk gelombang-gelombang ambisi.” Se Moljo Mapadong berorasi di hadapan mereka. Berteriak-teriak kalap. hanya desah nafas berat yang makin mengerikan dia jawabkan. engkau tahu bahwa itu adalah awal dari kebinasaan kita. tiada kukira engkau akan sebenar ini Paman. disusun setingngi 22 depa. menempatkan aku sendiri termangu di bawah pohon randu di belakang rumah. mengukirnya. kerang. liar. terlempar jauh-jauh ke tengah samudera tak bertepi. semua orang suku Mota Pesisir berkumpul di depan tebing batu cadas itu. dipatuk burung dibawa kepulau-pulau di seberang sana. tak ada sisa lagi yang belum kita datangi. burung hantu menangis sendu. meliuk-liuk tak terbendung. kepiting. masing-masing suku Mota punya Ka Borak!” Tak ada jawaban. keras menghantam tebing cadas dan berulang-ulang menggema. Mota Pesisir rampung mengukir Ka Borak di dinding tebing batu cadas. angin. menyusunnya. Mereka menatap takzim tebing cadas yang kini tak lagi polos. Larut dalam keterpesonaan. Di kejauhan. Menara Ka Borak paman. 124 kubus batu. pun manusia. Semua nafas tertahan-tahan. kemenangan dan kemulyaan telah masuk pintu-pintu rumah kita!!!” “Hidup Se Moljo Mapadong! Hidup Se Moljo Mapadong! Hidup…” “…dan kita akan taklukkan seluruh Tanah Mota! Semua akan kita kuasai! Semua akan tunduk! Akan kita miliki! Semua…” ‫פּ‬ Sorak sorai 1543 orang Mota Pesisir terbang membubung ke angkasa. Angin yang berputar-putar menerbangkan daunan gugur juga helai rambutku. menelan matahari. semenjak lima belas bulan lalu mereka telah menggergaji bukit batu putih. Paman. Orang-orang terbius oleh semacam zat adiktif kekuasaan yang mengerikan. Menyembunyikan dalam malam.Sembilan hari yang lalu. Samudera di belakang punggung orang-orang itu seakan membeku disihir aura magis menara luar biasa itu. 1543 orang. maka siapa lagi yang lebih kuat dari kita?” Suara menggelegarnya bependar-pendar memantul terbentur hamparan tebing cadas. Dan sekarang. Melonjak-lonjak kegirangan. kekuasaan dan kekuatan yang dijanjikan telah datang ke suku kita. menara Ka Borak. Dua tahun dia berusaha menjelaskan bahwa pendirian menara Ka Borak hanya akan mengundang kehancuran Tanah Mota. dan. “…Menara Kaborak telah kita buat. Lima belas bulan lalu. Mereka membuat kubus-kubus batu raksasa. ketika Mota Tanah Batu mulai menggergaji batu pertama menara Ka Borak. dan sembilan hari yang lalu. “Ah. dan jelas sekali ada selendang gelisah yang melingkari suara beratnya itu. Ular gato yang besar. “Ya. menara Ka Borak diam membeku. Dari tadi dia hanya menunduk. tiada kukira Paman!…” . berukir ular gato yang tengah menelan matahari. “…lima lautan telah kita jelajah. kekuatan kita terkhabar kesetiap penjuru Tanah Mota. Pundaknya makin jatuh. tak bisa ditawar lagi!” Suaraku lirih bersama hembus perih. hitam gelap penuh misteri. menjadikannya ancaman bagi yang lain. Aku tak berkedip. menatap bulan sabit seperti anak kecil lagi sakit. menatap-sepertinya-jemari kakinya yang tersembunyi dalam pekatnya malam tengah hutan. mulutnya menganga lebar. gelap yang menekan dan mnyelubung. panjang. “Bagaimana dengan Mota Tanah Batu? Bukankah Ka Borak telah mereka dirikan jauh hari sebelum kita dan sebelum Mota Pesisir.

dan kau langsung tergeletak tanpa sempat beranjak dari tempatmu berada saat itu. Tapi itu kejadian entah berapa ratus tahun yang lampau anakku. “Menara Ka Borak. seakan ia bisa melarikan diri dari tangannya. Dan kini. Dan. tiap-tiap suku Mota memiliki menara Ka Borak. lalu di pelosok hutan yang jauh merusuk ke dalam. juga orang-orang fanatik lainnya. terus dan terus tak terkendali menjilati sari itu. begitu aku menyerahkan surat dari Se Moljo . Dan sekarang. Aku tertegun. tentu saja mereka membawa Ketab Se Lambok. para pemimpin suku itu butuh legitimasi sakral. hingga nanti hanya kematianlah yang akan memotong nafsu serakahnya. bersaing. jadilah suku Mota Pesisir. awalnya orang-orang Mota tinggal di Tanah Batu. semenjak orang tuaku mati jatuh kejurang. Kemana burung hantu? Jangkrik pun bungkam. hal itu sudah termaktub dalam Ketab Se Lambok. Sebagian pergi ke pesisir. Sampai baru kemudian.” Paman kembali diam. Masing-masing suku Mota bertambah besar. nafsu kekuasaan telah tersulut terbakar. jadilah suku Mota Pedalaman. dan. taatilah dia. Maka ikutilah dia. Dan kenyataanya kini. dan besok akan meminta yang seluas hutan. Ya. kau tahu bibirmu membiru. berebut pengaruh. dia akan menuntut yang sebesar batang pohon. Sebagian yang lain pergi ke pelosok hutan. tak terbayang paman akan mengumpamakan menara Ka Borak sebagai saripati jubok bagi manusia. menjerit-jerit kesepian. alangkah bodohnya.Aku diam lagi. “Apa kau sudah faham sekarang anakku mengapa menara Ka Borak berdiri di masing-masing suku?” Aku mengangguk. dalam waktu yang bersamaan. “Besok kau akan menjalankan tugas terberat dalam hidupmu. setelah terlambat. Di dalamnya tertulis bahwa ketika suku Mota menjadi tubuh yang terpisah. sari patu jubok itu menampakkan dirinya dalam wujud yang paling menakutkan. lemah semilir suaranya. dua puluh enam tahun lalu. tak sanggup meneruskan ketakutanku. dan pernah saling serbu. kau tak bisa berhenti. jiwanya tertekan sungguh. sepi sekali. kau tahu apa sebenarnya menara Ka Borak itu anakku?” Aku hanya diam. kekuasaan adalah sari pati jubok. serigala melolong-lolong. malah kita yang mengirim utusan pada mereka untuk meminta hal yang mereka tuntut dari kita. Gambaran kehancuran suku-suku Mota dalam perang saudara yang dahsyat dengan amat nyata berkilatan dalam kegelapan malam yang melingkupi tubuh kami. menara Ka Borak. aku harus mempertaruhkan nyawaku untuk kegilaan pemimpin kami. yang meracuni siapa saja yang mencicipinya!” Aku kaget. “Anakku. Hitam tiap halamannya. Aduhai Anakku. Tentu dia menghawatirkan aku dengan amat sangat. meminta ketaatan dan ketundukan kita. menyamakan simbol suci itu dengan tanaman beracun paling mematikan di hutan ini. “Begitu seseorang mencicipi kekuasaan selebar daun. tak berani menjawab. memimpin dua suku Mota lainnya dan menguasai suku-suku kecil lain. Sebuah kitab yang dalam keremangan tampak amat tua tapi amat kuatnya aura sakralnya. tanpa ada yang menyadarinya sebelumnya. karena lelaki yang mendirikan menara Ka Borak adalah orang yang di tangannya persatuan tubuh suku Mota tergenggam. solusi itu ternyata ada di dalam Ketab Se Lambok. jika berani menentang. seorang lelaki darah murni akan muncul demi menegakkan menara Ka Borak. Sejak kecil aku telah hidup dengannya. tenggorokanmu pahit. dia juga adalah sari pati jubok. “kekuasaan itu seperti sari pati jubok. mengabarkan keberadaan menara Ka Borak di tanah mereka. berhati-hatilah. Akulah sang penguasa tunggal Tanah Mota! Akulah sang pemersatu! Akulah raja kalian! Dan suku-suku lainnya harus tunduk taat. butuh stempel perijinan suci yang akan dijalankan mati-matian oleh tiap warga sukunya. tentu saja. alangkah bodohnya manusia itu!” Paman tampak amat sedih. dan. menara Ka Borak.” Paman membuka Ketab Se Lambok. Mengajak warga suku berperang bukanlah cara yang tepat jika ingin mendapatkan dukungan penuh dari mereka. perutmu panas. Bisa saja hal ini terjadi. “Anakku. saling melindungi. tulisannya tersembunyi dalam gelap pekatnya malam. Darah akan dialirkan di padang-padang sunyi tiap penjuru Tanah Mota yang suci. tidak segan-segan perang penaklukan akan di gelar di atas Tanah Mota. Tangannya mengambil sesuatu dari sebelahnya. tanah leluhur kita. Anehnya. Masing-masing mereka berjanji akan terus menjaga persaudaraan.” Paman bicara. Dan. Masing-masing suku Mota ingin menjadi penguasa tunggal Tanah Mota. Setiap suku mengaku yang paling benar. itu kejadian saat kakekku masih belia. Kau tentu tahu Mota Pesisir telah mengirim utusannya kepada kita empat hari yang lalu. Lalu mereka berpencar setelah jumlah mereka semakin banyak. Masing-masing pimpinan dari suku tersebut mengklaim dirinya sebagai lelaki darah murni seperti yang dijanjikan dalam Ketab Se Lambok. Kekuasaan mengumpan dan meracuni siapapun itu anakku. Menara yang berpahatkan ular gato sedang menelan matahari. Beliau memegangnya erat. Sekali kau mencicipi. tapi kini.

’ Aku sendirian. pada ahirnya. Aku seperti seorang terusir yang menyusuri dasar lautan seorang diri. Maka. Asli dari akte lahir. bukan pula perang warga suku Mota lainnya. Dan. Kami seperti tersesat di lautan. Berdiri dengan keyakinan dan pemikiran yang tidak sejalan bukan hanya dengan orang-orang kenanyakan tapi bahkan bertentangan dengan Se Moljo Banahung. Aku menjadi orang asing. tersusun dari 124 kubus batu. tidak demikian anakku. beterbangan ke angkasa. Tangan kiri membawa perisai. tapi tuntutan ketaklukan. Di sebelah timur. ‘sendirian dalam keramaian adalah ancaman.” ‫פּ‬ Ini bukan perangku. mempertanyakan. berbicara pada orang-orang tapi suaraku hanya memantul kembali dan hilang. Kami tahu. orang-orang yang masih waras dalam lautan kegilaan ini. Brondong. karena apa yang kami yakini adalah apa yang para Se Moljo perintahkan untuk kami yakini. Pengorbanan apakah itu Anakku? Yaitu pengorbanan kebanggaan diri demi mempersatukan tubuh yang terberai. sebuah pengorbanan. Jadi sudah biasa kalau kamu mengernyitkan dahi. hingga tubuh ini kemudian bukan tubuh kami lagi. tapi ia adalah perlambang dari suatu perjuangan suci menyatukan Mota yang terberai. Menara Ka Borak bukanlah suatu bangunan seperti yang kau lihat. kami tenggelam dan mati sia-sia. Sebab nama saya Vaginalia. Sedangkan monster-monster laut dan serigala separuh gurita mengintai-ngintai hendak menerkam sasat aku lengah. kami pun sama gilanya dengan mereka. matahari menerangi dataran batu yang amat luas ini. tapi kitalah yang salah memahami kitab itu. kami tidak pernah turut mencicipi sari pati jubok itu. aku paham makna dari kata-kata bijak ini. melintasi terumbu karang berbisa yang meracuni tiap helaan nafas yang makin tinggal sisa. Dan mulai detik itu. ambisi para Se Moljo beserta para pembantu setianya. ‫פּ‬ Beratus-ratus lelaki bertubuh kekar dan legam berbaris tegak. Di sudut sana. bukan! Ini adalah ambisi jahat mereka. Debu putih membubung tinggi. Apa kau pikir menara Ka Borak adalah suatu menara seperti yang kalian pikirkan? Tidakkah kau mengerti bahwa itu hanyalah suatu perlambang?” “Membangun menara menunjukkan pada suatu usaha tanpa henti yang amat melelahkan. Dan yang menyedihkan. perlahan-lahan. Dan. mereka lupa jati dirinya! Mereka menyangkal bukti kebenaran menara Ka Borak. bukan perang kami para warga suku Mota Pedalaman. dan pendulum berkepala besi berduri. berdiri tegak menara Ka Borak menyongsong langit. apakah Ketab Se Lambok telah membohongi kita semua? Telah menggiring kita yang mensucikannya ke dalam jurang kematian?” “Tidak anakku. Aku tercekam oleh pikiranku sendiri. serta merta akan memenggal kepalaku begitu selesai membaca isinya. 10 Mei 2008 Vaginalia Oktober 9th. Perang akan segera dimulai.Banahung pada Se Moljo Mapadong. terjebak dalam perangkap racun sari pati jubok yang mereka jilati siang malam. karena kami tidak boleh berpendapat. “…suku Mota Pedalaman dan Pesisir telah berkhianat! Mereka membelakangi isi Ketab Se Lambok. lalu perahu bocor. ini bukan perang kami. Siapkah kalian untuk menjalankan tugas mulia ini? Melaksanakan perang yang akan membimbing kita pada jalan menuju kemulyaan dan kejayaan?” Gemuruh manusia membahana. hukuman bagi pembangkang akan di jatuhkan. “Kalau demikian Paman. kepala suku kami. semua manusia suku Mota kini masing-masing punya perang untuk dituntaskan. Tangan kanan mereka ada yang mengenggam parang. Perang yang hakikinya bukan milik kami pun ahirnya dengan membabi buta kami mamah masukkan ke dalam jiwa. hari ini. Mata mereka tajam menatap ke depan. . bukan menjatuhkan korban dari tubuh yang telah luka! Bukan Anakku. tombak. Toh sudah biasa. Tubuh tak berdaya inipun perlahan terasinkan oleh dahsyatnya garam air laut. (atau malah) menertawakan nama saya. murni pemberian kedua orang tua saya. semuanya berubah menjadi dilema yang menyakitkan. Karena bukannya surat pernyataan ketundukan yang kubawa. Silahkan kalau kamu mau tertawa. Kami tidak ada urusan dengan kekuasaan! Kami tidak ada perlu dengan pengaruh dan perluasan wilayah. orang-orang yang tiada ambisi dengan segala macam penaklukan. tapi racunnya turut serta dalam aliran darah kami. untuk orang seperti aku dan Paman. Dan kami. 2008 by prince-adi Saya sudah sering dihina dan terhina.

Saya hanya mampu memejamkan mata. Sama saja dengan menyekutukan Tuhan. Memesan dua mangkok bakso. Saya tidak menolak. artinya dapat dipercaya. Kamu tahu. Saya suka perilakumu terhadap saya. satu buat kamu. Toh saya cukup bahagia dengan berpegangan tangan. kamu mendadak muncul di depan pintu kostan saya. Belum sempat saya ambilkan handuk. limapuluh ribu semalam. Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa ketika tanganmu mulai menelusup di balik kemeja saya. membuat saya tidak berdaya. ***** Saya cantik. Belum waktunya. Padahal saya benar-benar tak mau dibeli. Sejak itu kita pacaran. itu pertama kalinya tangan saya digenggam laki-laki. Nama kamu Muhammad. Dua bulan. Sementara bibirmu terus melumat bibir saya. Barang yang sudah banyak diobral murah. nama organnya wanita. Padahal hujan sedang deras. Tidak seperti laki-laki pada umumnya yang menilai saya dengan harga. Kamu basah kuyup. Malam itu saya membiarkan kamu mencium bibir saya. Saya justru senang. Benar-benar takut. Saya jatuh cinta sama kamu. Orang yang terpuji. Karena itu kamu. Pernah saya ditawar dua juta untuk sebuah malam bersama dengannya. dan berjanji akan menikahi saya. Tapi apa saya pantas untuk mencintai dan dicintai? Saya tidak berharap lebih. Terlebih kamu mengatakan cinta. Satu bulan. kamu mau duduk di samping saya. Nama yang bagus. Mengatakan saya hanya jual mahal. saya tidak seperti itu. Dan kamu memanggil saya “Va”. Sebab nama saya Vaginalia. Yang dijuluki Al-Amin. Nama kamu Muhammad. Tapi saya bahagia. Nama kamu Muhammad. Orang-orang seringkali merendahkan harga diri saya sebab nama saya Vaginalia. Tapi kamu terlalu mempesona. Sampai bulan kedua. Mendambakan laki-laki yang baik-baik. “Saya yang traktir.” katamu sambil tersenyum merekah. Diteladani banyak manusia. belum kawin. dan agung. Saya tampar dia. Bisa juga sampai ratusan juta. Sebab namamu itu. Sebab itulah saya percaya sama kamu. Dan segalanya telah berubah menjadi kamu. tapi bibir saya kamu bungkam begitu nakalnya. Mengelus tubuh saya. Sebab saya tahu ini dosa. Kamu selalu sabar menemani saya meski mereka masih menatap curiga. Sebab kamu teman pertama saya. kembali mengatakan cinta. Mau berbicara dengan saya meski tatapan curiga mengarah ke arah kita berdua. Saya jijik. Saya sudah cukup senang dengan keberadaan kamu sebagai teman saya. Sebab saya tahu bahwa zinah adalah dosa besar. Nama kamu Muhammad. mendapat sesuatu yang bernama ‘Syafa’at’ di kehidupan akhirat. juga nama nabi yang paling diagungkan. katamu. Vagina. Saya benar-benar tersinggung. Mendekati saya dengan alasan nafsu saja. Itu untuk kelas biasa. satu buat saya. Dan kamu ungkapkan cinta. Tergantung jaminan kepuasan yang diberikan. Sebab katanya akan mendapat pahala jika saya memuji namanya. Mimpi yang menjadi nyata. Saya takut. Saya mulai menangis. kamu sudah memegang tangan saya. dan dia memaki saya. termasuk saya. saya punya harga diri. Saya bahagia. Sebab sebelumnya kamu memasangkan cincin di jari saya. Kita masih hanya berpegangan tangan.Kamu mengenalkan namamu sebagai Muhammad. Kamu menemani saya duduk di sebuah kantin. Saya tidak mau. mendambakan laki-laki baik-baik. Saya benci. . menenangkan hati saya. Meski saya miskin. Sebab saya juga perempuan baik-baik. tapi kamu dengan hebatnya kembali mengatakan cinta. dengan harga berapapun yang kamu beri. Saya ingin katakan jangan. Tapi sekali lagi. ***** Saya masih perawan. Sebab saya tak mau macam-macam. Saya wanita baik-baik.

satu per satu. laki-laki itu menggelengkan kepalanya dengan heran. Tertawa akan kebodohan saya mempercayai kamu selama ini. tidak pernah berhenti melingkar-lingkarkan jerat di dalam kepalanya. di keramaian. Mungkin otakku yang bebal.” Laki-laki itu mengangkat pandangannya dari merenungi asap-asap tipis yang keluar dari mug-nya dan menatap perempuan itu. Akhirnya kamu mengatakan bosan kepada saya. Dan saya hanya bisa tertawa. merindukan Muhammad yang pernah saya puji. Orang yang terpuji. Dan lagi-lagi saya menyebut Muhammad. Sebab saya tahu. siang dan malam. Ia merasa seperti orang mabuk. mengecup kening saya. ia menemukan dirinya merasa sangat asing. Mengapa semuanya saat ini rasa-rasanya tidak pernah benar-benar terjadi tak dapat dimengerti oleh pikirannya yang biasanya jago mengkalkulasi rumusan-rumusan jual-beli. saya percaya kamu akan menikahi saya. tanpa malu. Saya percaya. Kamu benar-benar pergi meninggalkan saya. berjanji menikahi saya.” kata perempuan itu kepada laki-laki yang duduk berhadapan dengannya. Muhammad mana saja yang matanya belingsatan melihat kecantikan saya. melaknatmu. “Atau setidaknya kita pernah yakin tentang hal itu. Tapi lagi-lagi kamu memeluk saya. Sebab namu kamu Muhammad. “Mungkin aku memang tidak penah mampu untuk mengerti kamu. dan pagi lagi. namun selalu saja keluar dengan wajar dari bibirmu. berkali-kali. seperti angin. . Padahal kita sudah pernah bercinta dengan dosa. Yang pernah begitu saya teladani.Tiba-tiba hari telah pagi. hanya sepotong kayu imitasi yang dinamakan coffee table dan dua mug gemuk kopi hangat masih berasap menjembatani ruang antara mereka berdua dari kursinya masing-masing. Tak tertinggal suatu apapun kecuali membawa debu melekat pada tubuh saya. Ditariknya nafas dalam-dalam lalu menjawab. Kata-katamu selalu saja asing bagi telingaku. sia-sia saya melakukan itu. Tapi kamu begitu pintar untuk memancing hasrat saya keluar. ***** Kamu tahu dimana saya berada saat ini? Penjara! Saya membunuhi Muhammad. Sebab nama kamu Muhammad. Bukankah bibir itu yang dikulumnya tanpa puas ketika gairah-gairah mereka memuncak di malam-malam penuh gelegak yang mereka reguk bersama-sama.” Dan bibir itu sangat manis bentuknya. begitu pula saya. namun tidak lagi menimbulkan rasa ingin. Sebab ia orang yang terpuji. sudut-sudutnya yang naik turun tergantung emosi pemiliknya. Menyaksikan kamu tanpa busana. Ada bercak darah di sana. ***** Bulan keenam kamu mengatakan perpisahan. ***** Berkali-kali setelah itu kamu melakukan hal yang sama. Di jalan. tanpa bisa lagi memikirkan bahwa kita adalah pendosa yang tidak akan diterima ibadahnya. Beberapa putaran musim yang lalu bukankah hanya bibir itu yang ada dalam ingatannya sepanjang pagi. Saya menangis. Cara bibir itu bergerak saat bicara. Saya ingin menolak. 2008 by Ge “Sepertinya kita pernah bersebelahan jiwa. untung dan rugi. atau di tempat remang-remang yang menjajakan kebahagiaan. Tidakkah kamu mengerti? Bibir Februari 13th. Padahal nama kamu Muhammad. Saya mencari Muhammad. Sedangkan saya lebih memilih menghujatmu. Benar-benar ingin menolak. Tapi mungkin setan-setan yang kegirangan memujimu. saya tidak lagi perawan. Ah. Dan neraka balasannya. namun tidak tahu lagi karena apa dan dimana. Tapi kamu tetap tak menggubris itu semua. Tapi saya akhirnya sadar. Tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. merekahnya ketika minum kopi dan mengintipkan gigi putih yang sangat cocok untuk iklan pasta gigi ketika mengigit sepotong kue.

kalau kamu mau kita pergi makan berduaan saja sekarang.” “Aku memang tidak suka. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana menjawabnya. hang. maksudku bukan janda cantiknya. Angki juga.” “Pasti ada dia!” Bibir itu melancip. Asep juga. Jeffry juga. tajam sekali. laki-laki itu kemudian berlatih untuk diam sejenak sebelum menjawab segala sesuatu yang keluar dari bibir itu. karena dua tambah dua tidak selalu menjadi empat dalam kalkulasi pemikiran otak yang terletak dua jengkal saja jauhnya dari bibir itu. dia. Laki-laki itu tanpa sadar merasa bergidik. Atau. “Ya sudah. laki-laki itu garuk-garuk kepala. pening dan gelisah setiap melihat bibir itu.” jawab laki-laki itu seraya mencoba mencium kemanisannya. tapi kan kamu bisa menawarkannya kepadaku. Mau kan?” “Jangan merubah pembicaraan! Kamu makan-makan dengan siapa-siapa saja tadi?” “Lho…ya dengan teman-teman kantor. lebih tepatnya dia takut mengucapkan lebih banyak katakata karena akan berarti lebih banyak lagi kesalahan yang dapat saja dilakukannya menurut logika bibir itu yang mengakibatkan bibir itu akan mengeluarkan lebih. “Apa yang sebenarnya terjadi?” Bibir itu kembali menyadarkannya dari kenangan yang sempat menyerempet ingatannya tadi. bukan. Maka. iya kan?!?!” “Lho. bila ia tidak yakin pada jawabannya maka dia akan membisu seribu bahasa.“Apa yang sudah terjadi?” Bibir itu bergerak turun seirama dengan ekspresi di wajahnya yang bebas jerawat. supaya kamu bisa main mata dengan leluasa. seakan mencoba menebak sesuatu. Kok jadi menakutkan sekali? “Dia siapa sih?” “Pura-pura tidak mengerti. Kemudian ia jadi sering merasa mual. lebih. pokoknya semuanya. tapi memang iya Wulan ada. ciumannya pun membentur gunung batu yang menjulang tinggi dan menukik tajam di sudut-sudut dan lekuk-lekuk bibir itu. Maka malam itu kemudian menjadi malam yang sangat dingin.” “Perempuan yang mana lagi?” “Wulan. tidak mampu memproses data lalu macet. karena dia tidak pandai menyusun kalimat di depan bibir itu. lho… Apa-apaan sih kamu? Jangan cemburu yang tidak-tidak dong. bebas kerut-merut dan halus rupawan itu. lebih dan lebih banyak lagi hamburan kata-kata yang sangking terlampau banyak tidak dapat dicerna oleh otaknya dengan baik dan kepalanya kemudian akan menjadi seperti sebuah komputer yang cupu. “Kok nggak ngajak-ngajak?” Bibir itu menurun membentuk kurva setengah lingkaran dan lampu merah di kepala laki-laki itu mulai berkedip-kedip. Ya. Dan laki-laki itu memang sedang mencoba menebak apakah pertanyaan yang barusan keluar dari bibir itu adalah sebuah pertanyaan sungguhan ataukah jebakan seperti yang seringkali terjadi dalam pembicaraan mereka. Siapa lagi? Pasti ada perempuan itu. betapapun manis dan lembutnya terdengar di telinga.” Hm. . iya kan?” “Sebal aku! Itu sebabnya kamu tidak mau aku ikut. Laki-laki itu mengangkat bahu. Jadi aku kira kamu pasti tidak mau ikut. Perempuan itu melihat bagaimana bekas suaminya menggelengkan kepala dengan cara yang sangat khas. “Sudah makan ya?” tanya bibir itu. waktu aku telpon katamu kamu tidak suka masakan Itali dan kamu ada janji dengan teman-temanmu mau shopping. hampir-hampir membekukan. “Sudah. “Lho. yang janda cantik itu!” “Ya iyalah.” “Pasti! Makanya aku tidak diajak!” Jelas sekali tuduhan dan tudingan tersirat dari bibir itu. Atau. Aku sudah bilang akan makan dengan rekan-rekan kerjaku. seperti pedang dan berkilau-kilau karena lipgloss-nya. bebas komedo.

mendebarkan sanubari. kita ada di tempat umum. “Bibirku? Apa yang salah dengan bibirku! Aku pikir kamu menyukai bibirku! Memangnya bibirnya lebih indah dari bibirku?” “Bukan begitu maksudku. Itulah yang ingin sekali ditemukannya pada bibir itu. Laki-laki itu merasa tidak memiliki jawaban yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan itu dan ia pun tidak dapat mendeteksi mana yang aman untuk dijawab dan mana yang adalah ranjau darat yang bila diinjak akan mengakibatkan ledakan yang dahsyat dan menghancurkannya berkeping-keping. dan katamu sendiri.” “Jadi? Lebih seksi?” Lelaki itu menatap bibir bekas isterinya dan melihat. Kenapa kamu justru ingkar janji! Kenapa justru memilih untuk bersama dia daripada aku?” Banyaknya pertanyaan yang meluncur sekaligus dari bibir itu membuat mantan suaminya merasa tegang sekali. tanggung. karena dia sadar dia memang merasa sangat kecut sekali.” katanya akhirnya. “jadi kamu malu ya?’ bisikannya mengejek. dan rasa-rasanya tidak mungkin ada yang lebih lembut lagi dari bibir itu yang rasanya seperti gulali ketika disentuh. Ada beberapa yang bahkan nampak sekali sangat tertarik dengan gerak-gerik bibir itu. “Kamu kenapa sih? Selalu saja begitu kalau diajak bicara serius! Selalu pura-pura sakit kepala. membentuk sebuah senyum sinis. pikir laki-laki itu. karena getar-getar bibir itu membuatnya tidak tega untuk berdiam diri lebih lama lagi. Menyapa. dan menusuk-nusuk seperti sembilu? Tidak mungkin kan rasa-rasanya. amboi…betapa manis sesungguhnya memang bibir itu dari jarak aman ini. “Ehemm…” Laki-laki itu membersihkan tenggorokannya yang mendadak rasanya tercekat oleh serpihan-serpihan kerikil yang masuk entah dari mana. Mencium. Ah! Pusing jadinya. Aku kan tidak menanyakan hal yang sulit atau terlampau mustahil untuk dijawab! Aku hanya ingin kamu jujur! JUJUR! Bukannya jadi pengecut terus. tidak ada perempuan lain yang mampu mencintai kamu seperti aku mencintai kamu.” “Lebih pandai mencium?” “Bukan itu. karena selalu saja ia mendapatkan dirinya dan harga dirinya kemudian terkapar di suatu tempat dan waktu yang membingungkan. merobek-robek seperti cakar. bagaimana mungkin bibir secantik itu bisa melukai seperti pedang. lebih tergila-gila. begitu enak untuk dinikmati. membuat matahari bersinar lebih lembut saat siang terik. mengelus-elus kerinduan. menyejukkan hati. Dasar pengecut! Dia memaki dirinya sendiri. apalagi karena beberapa orang di meja sebelah mulai tertarik ikut mendengarkan percakapan mereka yang saat ini lebih mirip sebuah monolog dari bibir itu. bukan itu. Tidak dapat disalahkan. tidak akan pernah menyakiti aku. menghormati aku. dulupun dia merasa seperti itu. bahkan lebih terbius. Dia memijat-mijat pelipis kirinya yang berdenyut-denyut. “Kenapa harus minta maaf? Kamu menyesal karena berselingkuh kan? Padahal kamu pernah berjanji bahwa kamu akan selalu mencintai aku.Entahlah. Bibir seperti itu gunanya untuk tersenyum. bukan itu. Dan tertawa.” “Kamu hanya bisa bilang bukan itu. “Pelankan sedikit suaramu. “Bukan itu. seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang! Apa sih maksudnya! Kenapa berbicara dengan kamu selalu saja membosankan!” “Maaf…” Bibir itu merapat.” “Aahhh. bahkan lebih menegangkan daripada dimarahi oleh atasannya di kantor. “Mungkin karena bibirmu. katanya perlahan.” bibir itu bergerak naik. begitu? Kalau berselingkuh itu tidak memalukan ya!” . “Kamu malu karena suaraku keras. menghindar terus!” Dan kepala laki-laki itu semakin pusing jadinya. karena setelah berpikir begitu keras memang hanya itu saja yang terbayang-bayang di kepalanya. ia tidak memiliki keinginan untuk lebih mendekat atau melakukan apapun dengan bibir itu.

Ya. Kamu memang ahlinya! Selalu saja begini ini. dan dengan takjub menemukan tidak ada perlawanan dari bibir itu maupun anggota-anggota tubuh yang lainnya. ayo aku antar. “itulah masalah kita. sambil berpikir. apa yang dirasakannya saat dihempas-hempas begitu rupa oleh pemiliknya. Tapi. tidak bertanggungjawab!” Bibir itu bergerak turun naik ke kiri dan ke kanan.Suara yang keluar dari bibir itu berdentum keras sekali sangat mengejutkan.” “Bagus! Pergi saja sana! Melarikan diri. dan di kepala laki-laki itu timbul pertanyaan. dan derai tawa. “Jawaaaaaab!” Tiba-tiba saja dinding pelindung anti-suaranya pecah berantakan.” “Tapi…” “Biarkan aku bicara dulu. Kamu tahu itu. “Ssstt…” Serba salah laki-laki itu menengok ke kiri dan ke kanan. saat ini.” kata lelaki itu sambil menatap jalan di depan kemudi. kalau dieksploitasi terus-menerus. apakah bibir itu sendiri tidak pernah merasa lelah? Dalam hati laki-laki itu mempertanyakan. Bisa kan?” Bibir itu bergerak seakan hendak melakukan sesuatu lalu tiba-tiba saja tidak jadi melakukannya. bagaimana mungkin dia pernah mencium bibir yang seperti itu di suatu masa yang rasanya sudah berabad-abad yang lampau? Bagaimana caranya bertahan tetap waras berhadapan dengan bibir itu selama lima tahun hidup pernikahan mereka? Saat bibir itu mencang-mencong di hadapannya dia tidak lagi mampu mencerna kata-kata yang mengucur begitu deras dari bibir itu. Di lekuk-lekuk senyummu ada semangat dan kekuatanku untuk meraih masa depan. laki-laki itu terkejut. Bibir itu perlu istirahat juga dan memberikan kesempatan kepada telinga untuk bisa mendengar suara lain selain suara-suara milikimu sendiri. yang sudah lama tidak mampir di hatinya. Bibir itu sekarang berguncangguncang. untuk laki-laki itu. karena. “Sebaiknya aku pergi saja karena ternyata kamu masih terlalu emosi. demi merekahnya senyum. di bibirmu aku menemukan cinta. bukankah kamu selalu berkata ingin ada jawaban? Boleh kan aku mencoba menjawab. Ya. Kasihan. Aku bahkan mau mempertaruhkan hidupku demi bibir itu.” Tiba-tiba saja dia menemukan dirinya bisa berbicara tegas. dan kamu mencoba mendengarkan? Lagipula. mencong ke atas atau ke bawah. laki-laki itu menutup indera pendengarannya dan menyisakan visualisasi dari drama yang terjadi di depan matanya ini. “Sebaiknya kamu pulang. mata-mata para perempuan mendelik dan beberapa laki-laki agak salah tingkah sementara yang sebagian malah tersenyum mencemooh. Kepala perempuan itu mengangguk. satu saat ditarik ke sana dan dilain saat ke sini. seakan memang seluruh semesta mempersiapkan tempat dan ruang untuk mereka saat itu. begitu elastisnya bibir itu sehingga tidak jadi masalah ditarik ke kiri atau ke kanan. apakah itu sebuah isakan? Dia merasa diterobos oleh rasa kasihan. Tiba-tiba saja dia merasa sangat. berbanyak kepala langsung menoleh ke meja mereka dan laki-laki itu menemukan dirinya menjadi pusat perhatian. kapan semuanya akan berakhir ya? Konsentrasinya pada bibir itu membuatnya mampu menangkap garis-garis halus di bibir itu. aku memang mencintai bibir itu. tapi gulali yang mulai meleleh karena dibiarkan terlalu lama di bawah matahari. Atau lebih tepatnya. aku kasihan dengan bibirmu. “Bibirmu. mengapa…” . lekukan atasnya yang sensual dan sempurna. Dia bahkan tidak lagi dapat mendengar suara apapun! Secara naluriah. “Aku pernah mencintaimu. boleh aku bicara?” Laki-laki itu menepikan mobil. Saat itu dia merasa berhadapan bukan lagi dengan pedang. jalan lengang. dan kegairahan. juga sebuah dekik yang timbul tenggelam di sebelah kiri bibir itu. sangat. “Jadi.” “Lalu. Digandengnya bekas isterinya ke luar dari tempat minum kopi itu. luarbiasa. Bahwa aku sungguh-sungguh jatuh cinta dan mencintaimu ketika kita menikah. yang membuat jantungku berdebar-debar melaju ditengah kemacetan jalan saat pulang kerja sehingga rasanya semakin tersiksa karena aku ingin sekali segera pulang agar dapat mengecup sudut-sudutnya. matanya beralih memandang jalan di depannya. sangat. sangat kasihan kepada bibir itu. warna lembut lipstick yang masih melekat dengan sangat apik yang nampaknya tidak akan berguguran walau terguncang-guncang. Kalau saja dia bisa bertanya langsung kepada bibir itu. bila di matamu aku bisa berkaca dan menemukan diriku. dan kekenyalan bibir itu yang begitu nyata.

Aku memang pengecut. . mengapa semakin lama aku malah semakin menikmati jam-jam lemburku dan mengharapkan waktu-waktu kerja menjadi lebih panjang. Akhirnya. Namun kemudian. Aku tidak pernah berniat mengkhianati. dan matanya berkaca-kaca. atau malam-malam kita yang terlalu banyak diisi dengan kebekuan.” “Kalau kita lebih banyak berciuman?” “Kita akan lebih mudah bergandengan. Ia menghela nafas dalam diam. “Kita sudah benar-benar gagal bukan?” perempuan itu berbisik. mengapa? Aku sendiri heran. Oh. aku mencari kedamaian di bibir yang lain. menjadi sebuah jalan alternatif bagiku.” Laki-laki itu menatap perempuan cantik di sampingnya. setiap kali aku memandangmu dan bibirmu mulai berbicara. terisi dengan cinta untuk sebuah bibir yang lain. Aku tidak pernah menghendaki kita berpisah. ada air yang membuat matanya berkaca-kaca. aku berpikir. “Kita sudah pergi terlalu jauh dan kehilangan jalan pulang.” “Kalau kita lebih mudah bergandengan?” “Kita tidak akan pernah terlalu mudah untuk saling melepaskan. dan lelaki itu mengusapnya lembut dengan jari telunjuknya. Yang pasti. manis sekaligus sangat pahit. dan godaan yang datang.” Ah.” Perempuan itu menatap laki-laki itu dengan pandangan yang berbeda. merasa menang. yang aku rasakan adalah rasa mulas di perutku. yang aku dengar hanya bergodam-godam palu kecurigaan dan tuduhan yang pada mulanya aku tidak mengerti dari mana asalnya.” kata perempuan itu lirih. Karena aku tidak mampu pulang. Aku bahkan sering berharap terjebak saja terus di tengah-tengah kemacetan. ketika dirabanya sakunya itu. Mengapa? Karena aku tidak lagi menemukan debaran-debaran jantung ketika berhadapan dengan bibirmu. ingin sekali disimpannya tetes bening itu di dalam sakunya. Aku memang bersalah. Laki-laki itu mengangguk. “Lalu mengapa kita bercerai?” Laki-laki itu menebak dengan tepat. Karena itu adalah pertanyaan yang sama yang diajukannya berulang-ulang kepada dirinya sendiri. Atau dua-duanya. Namun. bukan lagi seperti kupu-kupu yang naik turun tetapi lebih mirip sengatan sekawanan lebah yang menyerang lambungku. ada sebutir bening jatuh diujung bibir itu. Namun nampaknya dosaku sudah terlampau besar. berselingkuh. tidak pernah selintaspun. Aku minta maaf. “Masih ingat? Dulu kau pernah bilang bibirku rasanya seperti es krim vanila dan lembut seperti gulali. bukan madu yang keluar namun begitu banyak dakwaan yang. dan aku tidak punya keberanian atau kemampuan untuk mempertahankan apa yang memang tidak kamu anggap perlu untuk dipertahankan lagi… Maafkan aku. tidak punya peluang. dan aku sudah menemukannya. tidak berdasar. sudah penuh. Jakarta 24 Juni 2003. “Sungguh.” “Seandainya kita lebih mudah saling mengerti?” “Kita akan lebih banyak berciuman. mengapa tidak? Mungkin dengan begitu kamu akan merasa puas. Mereka sudah sampai di persimpangan tempat dia dan pemilik bibir manis itu harus berpisah. menahan diri. Aku mengaku kalah. “Seandainya aku lebih banyak mendengarkan?’’ “Aku akan lebih mudah berbicara. bahwa aku memang suami kalahan. kamu yang menginginkannya. yang pada awalnya sama sekali tidak punya arti. Tetapi sedetik saja pada saat ini.Laki-laki itu memberi isyarat dengan tangannya.” “Kalau kau lebih mudah berbicara?” “Kau akan lebih mudah mendengarkan dan kita akan lebih mudah saling mengerti. Mungkin imanku yang tidak kuat. masa-masa yang sangat indah di sebuah waktu yang berbeda dan begitu jauh. aku jatuh. karena begitu bibirmu terbuka. bibirnya terbuka sedikit. pada mulanya. dan bekas isterinya menggigit bawah bibirnya. sebuah senyum rawan menggantung di bibirnya. Kuakui bahwa aku lelah dihukum untuk sebuah kesalahan yang tidak aku lakukan. “Ya. betapa terlambatnya. Bahkan tidak berani mengecup bibirmu saat aku sangat ingin melakukannya karena aku takut lidahku tidak mampu merasakan rasa yang lain selain rasa pahit” Laki-laki itu mengedipkan matanya. Bekas isterinya mengangguk.

Kulihat Bapak hanya diam saja menyambut kepulanganku. Aku bukan anak-anak yang mau menjadi benalu bagi Bapak. Tapi aku tetap merasa kurang. kecuali Bapak. Ia bisa diasumsikan sebagaimana orang-orang melihat seorang manusia yang sempurna akhlak dan materi. aku berusaha menyingkirkan semua pikiran-pikiran aneh tentang apa yang akan dibicarakan Bapak. aku merasa bisa terus sekolah dengan upah kerja part time atau dengan belajar lebih rajin agar dapat beasiswa. Hanya itu isi surat yang kuterima tadi pagi. Jogja. Setelah mengurus tiket yang agak bermasalah. punya banyak koneksi. “Tidak masalah. Aku merasa bersalah juga tapi aku akan menikah setelah selesai kuliah. aku bisa mengenali tulisan Bapak yang khas. Hampir-hampir orang lain berani bertaruh manusia macam itu bakal masuk surga. Ataukah Bapak jatuh miskin di luar sepengetahuanku lalu akan menyuruhku berhenti kuliah? Tapi toh meski selama ini ongkos kuliah ditransfer Bapak. aku mengenalnya sebagai orang yang sangat taat beribadah dan selalu membangunkanku saat sepertiga malam untuk salat tahajud yang kemudian menjadi rutinitasku dalam keseharian. Nomor ponsel dan nomor telepon Ibu kost-ku sudah ada di tangan Bapak.” begitu kata salah satu temanku yang menjabat sebagai wakil ketua panitia. apalagi di akhirat. Aku memutuskan untuk lanjut ke S2 jadi tidak ada waktu untuk menikah. Meski sulit. Apa gerangan yang mau dibicarakan? Ini agak sulit karena aku sedang mengemban tugas sebagai pembicara seminar yang akan dilaksanakan besok di kampus. Bapak mau bicara. Di dunia sebagai orang baik dan rezeki dicukupi. aku penggantinya. Keluargaku kaget melihatku pulang. Benar-benar surat yang simpel namun juga mengusik hatiku. Hati-hati nanti di jalan. Tulisannya miring bersambung dan banyak hiasan di huruf G dan B besar. Umurku 28 tahun dan aku memang kurang laku di mata kaum hawa walau banyak orang bilang wajahku termasuk lumayan. Meski surat itu tanpa tanda tangannya. Ia pendakwah yang gigih. ia dimintai ‘doa’ oleh orang-orang yang datang dari luar kota. akhirnya aku kembali terbang ke kota kelahiranku. Kuliahnya sudah selesai dan belum punya pekerjaan. Namun rasa penasaran yang sangat menyelimuti otakku sedemikian rupa. Bapakku tidak bisa menerima dan menganggap hal itu syirik. jadilah ia menganggur di rumah. Ia bilang ia bukan dukun yang bisa dimintai hal-hal . Banyak majelis-majelis mengharap kedatangannya untuk sekadar memberikan sambutan atau ceramah pendek. aku memang tidak pandai bersyukur. Ia mengirim surat dengan kertas dan amplop kelas atas serta prangko kilat namun isinya hanya lima kata itu saja. Aku tak habis pikir mengapa Bapak tidak menelepon saja. bertitel kyai. Terbersit niatku untuk menunda kepulangan sampai tanggung jawabku itu selesai. 2008 by piko aguno Gi. Tak apa. Akhirnya aku lelah berpikir yang tidak-tidak dan memutuskan mengepak koper sore ini lalu berangkat nanti malam. Apa yang akan dibicarakan Bapak? Tentang pernikahankah? Karena aku sudah termasuk telat untuk menikah dan begitu gencarnya Orangtua beserta adik-adikku membujukku untuk mencari belahan jiwa. Pendek kata.Bukan Ismail Desember 10th. Rupanya beliau tidak memberitahu yang lain bahwa aku disuruhnya pulang. Yang terakhir ini agak kuragukan karena Bapak orang sukses dan terhormat. Tumben sekali Bapak berkomunikasi dengan cara seperti ini belum lagi isi pesannya yang benar-benar menyita perhatianku sepanjang hari ini. Namun begitulah Bapakku. Semenjak aku diasuhnya sedari kecil. Dia sudah kebelet nikah namun tidak sampai hati melangkah mendahuluiku. toh mereka semua senang aku pulang. Saking dihormatinya. Yang paling kesal adalah adikku si Nuning. Atau mungkin tentang warisan? Mungkin Bapak sedang sakit keras baru-baru ini dan merasa akan meninggalkan dunia fana ini sehingga merasa perlu membicarakan warisan hartanya yang melimpah. Bapakku orang terhormat. dan disegani siapa pun yang mengenalnya. pulang. kaya raya. Kuhubungi teman-teman sesama panitia dan mereka semua pengertian. Wajahnya menunjukkan bahwa dia sedang berpikir keras tentang suatu hal dan bayang-bayang keraguan muncul timbul tenggelam. ia dianggap sukses di dunia dan akhirat.

“Eh. Aku setuju saja. kedudukan terhormat. Aku tidak mengeluh kali ini meski aku benci sekali asap rokok.” jawabku ragu.” kataku spontan. “Seperti halnya Nabi Ibrahim. Dengan agak kurang sopan aku menyela. Lalu ia berkata tibatiba. ‘Diam itu emas’ rupanya benar-benar menjadi prinsip hidupnya. Aku disuruhnya pulang hanya untuk mendengar celotehan yang sudah sering kudengar di masa kecil. “Terus?” tanyaku. Darinya mengalir nasihat-nasihat kehidupan juga kisah-kisah para nabi.” Ia terbatuk karena asap rokoknya sendiri lalu melanjutkan. “Apakah kamu percaya sama Bapak?” tanyanya. “Astagfirullah! Apa nggak salah dengar?” Bapak mengangkat tangannya agar aku jangan menyela. Bapak hanya bicara bila benar-benar perlu jadi kebanyakan mulutnya hanya digunakan untuk tersenyum menanggapi perkataan orang lain.” Bapak terdiam agak lama dan menciptakan keheningan yang janggal di antara kami. Bapak sangat pendiam. Setelahnya Bapak menyalakan rokoknya dan mengepulkan keras-keras. “Saya percaya Bapak. aku agak heran juga. “Bapak yakin kamu anak shaleh dan selalu ingat bahwa Tuhan itu ada. Mana mungkin? Pasti Bapak mengada-ngada. memandang langit-langit. “Bapak tidak percaya kamu percaya sama Bapak” Aku jadi bingung. “Pasti Tuhan sedang menguji keikhlasan Bapak dalam beribadah.. apalagi bertemu Tuhan. Bapak harus memenuhinya. Tuhan menguji sejauh mana Bapak bisa bersabar atas apa yang Tuhan minta. “Dua hari yang lalu Bapak bermimpi bertemu Tuhan. Apa wujudnya? Aku tak boleh bertanya demikian. seolah itu hisapan yang terakhir. Ia mengusir dengan halus tamu-tamunya saat itu.” Aku tersontak kaget. Ia berbicara panjang lebar dan tak ada hentinya kecuali mungkin aku menyelanya. Selama ini Bapak hidup tanpa hambatan yang berarti. seolah berusaha memancing komunikasi kami berdua. jadi kutunggu dengan tidur yang lelap hingga tiba-tiba ia membangunkanku sepertiga malam untuk salat tahajud..” ujar Bapak tanpa ekspresi. membiarkan rokoknya memendek digerogoti ulat api di ujung. “Pak. Tuhan menyuruh Bapak menyembelih anak Bapak sendiri. Aku jadi jenuh dengan perkataannya yang panjang lebar dan tak biasa.ya. Begitu bangga dan bersyukurnya aku mempunyai Bapak seperti beliau. “Kamu percaya sama Bapak?” tanyanya. Ia mengajakku bicara empat mata berhadap-hadapan.seperti itu. Bapak tidak bisa mengelak. sebenarnya apa yang mau dibicarakan sampai saya harus pulang?” Bapak mengisap rokoknya dalam-dalam. Harta banyak. Bapak hanya menatap kosong ke langit-langit rumah. tegas. Rupanya tidak cukup hanya dibalas dengan ibadah dan rasa syukur kepada Tuhan. Pantatku jadi sakit karena terlompat.” “Tapi Pak… bagaimana mungkin? Itu kan cuma mimpi. “Yah. tidak mengerti apa maksud Bapak bertanya begitu. keluarga sejahtera.” Agak menyesal kukatakan ini. Hanya asap rokoknya yang bergerak kesana kemari di antara kami. Akhirnya kami shalat berjamaah sekidmat mungkin. Untuk kedua kalinya aku terlonjak. Mengalami mimpi bertemu Rasulullah saja sudah merupakan karunia luar biasa dan diperuntukkan hanya kepada hamba-hamba Allah yang tertentu. Aku tidak percaya sedikit pun tapi aku diam saja. Karena setiba di rumah Bapak hanya diam saja. .

Dan Bapak pun menerima hal yang serupa. Perhatianku teralih namun sekejap kembali pada tempatnya. “Tapi Bapak bukan Nabi. “Memang. Lagipula kamulah yang Bapak rasa paling bisa menerima tugas ini dengan lapang dada. Mimpi dari Allah. Tapi saya tidak tahu apakah Bapak bisa menentukan mimpi itu dari Tuhan atau dari setan. aku masih ingin hidup seribu tahun lagi. Aku harus menyadarkan Bapak. Hanya kamu sendiri yang laki-laki. bukannya Nabi atau bahkan orang saleh?” “Kamu menilai Bapak bukan orang saleh?” tanya Bapakku agak keras lalu kemudian ia jadi salah tingkah begitu juga aku.” kataku tegas. Melelahkan tapi asyik. Bapak mengangguk takzim. sedikit nyengir mau minta maaf. dan mimpi biasa. Bapak bukan Nabi tapi hanya manusia biasa yang dikaruniai hidayah-Nya sehingga bisa seperti sekarang.” Bapak tertawa terkekeh-kekeh mendengar perkataanku. Ini benar-benar mimpi. Muhammad adalah Nabi terakhir. Yang terakhir semacam tidur lelap karena kekenyangan. Aku merasa akan kalah. “Lalu bagaimana dengan Nabi Ibrahim? Mengapa Tuhan meminta hal seperti itu kepada Nabi-Nya? Itulah Ibadah. Bapak orang saleh. “Apa kamu percaya selama ini Bapak beribadah bukan atas dasar riya? Tidak untuk menarik perhatian orang lain supaya jatuh hormat pada Bapak?” tanya Bapak. Perintah Allah. Dari Allah.“Begitulah Tuhan menyampaikan kepadaku. ia mengencerkan tenggorokannya sambi berpaling dariku. Dan Bapak sendiri.” kataku mengalah. Tapi aku kaget hal-hal yang merusak aqidah seperti ini menyentuh Bapak. Bisa jadi ia akan punya pengikut seperti halnya Ahmadiyah. Ini sudah kelewat batas.” “Tapi mengapa Tuhan memberikan tugas itu kepada Bapak kalau Bapak manusia biasa. Mau kuceritakan?” Aku menggeleng lemah. Allah Maha Berdiri Sendiri. Bapak orangnya tidak tega melukai mahluk Tuhan yang namanya perempuan. Seolah-olah malaikat Jibril masuk ke dalam mimpi Bapak lalu mengajak Bapak ke depan arsy Tuhan di langit ke tujuh. mimpi dari setan. Aku takut tiba-tiba ia mengaku-ngaku diutus sebagai Nabi.” “Saya kira mimpi itu ada tiga. . Ini bisa menjadi aib keluarga dan aku bakal malu berat. bukan halusinasi. Allah tidak butuh sesuatu pada mahluknya. Aku jadi malu di hadapannya. “Tapi Pak….” Bapak tersinggung. Perjalanan yang panjang. “Bapak yakin kalau Bapak disuruh nyembelih anak sendiri?” tanyaku takut-takut. Manusialah yang selalu butuh Allah untuk bisa hidup meski mereka tidak pernah menyadarinya. Bapak yakin sekali mimpi ini dari Tuhan. Maksudnya mimpi yang nyata. Maha Besar. Rasanya sesak dan perutku mulas sekali. apapun caranya. Kuraba dadaku. ” Lapang dada! Ah. “Sebenarnya bisa saja Bapak memilih satu di antara adik-adikmu tapi adikmu perempuan semua. “Ya… tentu. Untuk apa Tuhan meminta hal seperti itu kepada mahluk ciptaan-Nya? Ini menyalahi Asma’ul Husna. aku juga—semua—hanya manusia biasa. “Le.” “Tapi bagaimana Bapak yakin Bapak mimpi begitu? Mungkin hanya halusinasi—” “Bukan.” Telingaku serasa terkulai. Bapak memperlihatkan mimik tersinggung lagi. Dikepulkannya asap rokok menjadi lingkaran-lingkaran asap yang menawan.

” “Salah. Ini edan. tentu saja berbeda. Bapak tidak punya kendala. Bukankah Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang? Allah akan menggantikan dirimu dengan seekor kambing gemuk yang nanti kita jadikan gulai untuk dimakan sekeluarga. “Bapak memaksa. Ini misi Tuhan. Tole. “Tunggu dulu! Bapak jangan bikin sensasi..” “Harus.” “Kalau begitu beli saja kambing lalu sembelih. “Ah. ini pembunuhan. Pak.” “Cukup!” “Ini ibadah. Entah kamu ikhlas atau tidak Bapak peduli apa? Tuhan tidak menitipkan pesan apa pun untuk kamu. “No…no…no… Aku masih ingin hidup.” kata Bapak seraya mematikan rokoknya yang sudah pendek sekali.“Begitulah.” “Wah. Sadar. bukan gitu Pak. Itulah bedanya. Saya cuma…” “Tapi Bapak harus melaksakannya” “Pak…” “Malam ini. Keikhlasanku diuji ketika detik-detik terakhir aku memutuskan urat-uratmumu. Bapak cuma minta kesediaanmu untuk Bapak sembelih. Saat pisau yang tajam bersentuhan dengan kulit lehermu. Rupanya sikap takabur sudah menggerogoti otak kanan Bapak sehingga penuh dengan khayalan seperti ini. Aku akan diuji apakah aku sanggup menyembelih anakku sendiri atas dasar perintah Tuhan. Tole… Kamu tidak akan mati.” “Oh… saya tidak bersedia. Saya mau tidur dulu.” Jantungku berdegup dan bisa kurasakan wajahku memucat meski aku tidak bisa melihatnya. Kamu harus—.” “Uh oh. makan. Kalau kambing sih.” “Tidak mau. sadar…” “Dengar dulu—. Pak. “Bapak mau melakukan tugas itu malam ini. “Ha.” “Saya tidak mau. Tinggal tebas.” “Kamu jangan ngeyel. “Ini bukan sensasi. Pak.” “Tidak! Saya tidak mau.” kataku marah. masak.” Bapak menahanku. putranya Ismail ikhlas untuk disembelih. Lebih baik sudahi saja. itu sama saja.ha…ha… Yang diuji itu Bapakmu ini.” .” kataku gemetar. dari Allah.” elakku. Sedangkan aku tidak ikhlas. Dalam kisah Nabi Ibrahim. ” “Aku tidak ikhlas. jangan dilakukan.” Bapak ikut marah Hilang sudah rasa hormatku pada Bapak. Berarti acara sembelihan Bapak jadi tidak afdhal dong. bukan kamu.

Tapi pastinya Ibu dan adik-adikku tidak akan menerimanya lagi. jangan Pak! Gila!” Akhirnya sambil tersenyum tulus Bapak mengeluarkan pisau besar semacam parang dari balik sarungnya. Bapak bersikap seperti orang normal bahkan kelewat saleh. Juga mendakwahi setiap pasien di sana. Bagaimanapun juga. bekerja. Ia percaya mimpi ayahnya itu tidak salah. lho. mengajak-ajak dalam kebajikan. Untuk beberapa waktu. Dan hal penting kedua ialah ia ikhlas untuk disembelih. aku bukan Ismail. Sungguh aku merasa menjadi manusia paling berdosa dan tak punya iman sama sekali. dan bersiap-siap memegang leherku. Yang jelas. Pisau itu sudah terasah tajam dan mengkilap menyilaukan mataku. Lalu bagaimana dengan Ismail putra Ibrahim? Mengapa ia tidak ragu bahwa mimpi ayahnya dari Tuhan? Mengapa ia mau menerimanya begitu saja? Karena ia punya iman yang kuat. Keluarga dan tetanggaku menyelamatkanku tepat pada waktunya. Apakah ini berarti aku mengabaikan Tuhan? Jika Bapak memang benar bermimpi demikian dan mimpi itu memang dari Tuhan maka aku orang yang berdosa. Setiap sepertiga malam ia selalu shalat sampai subuh. Kata si psikiater. Aku menjadi merasa bersalah pada Bapak. Aku juga ragu mimpi Bapak tidak relevan untuk zaman sekarang. Meski demikian orang-orang yang dulu mengenal Bapak masih menaruh hormat pada keluargaku.” “Aduh. Ia percaya ayahnya selalu beribadah dengan ikhlas kepada Tuhan. Ia percaya bukan karena ia bodoh tapi karena imannya yang terang benderang. Akhirnya Bapak dideportasi dari rumah dan diungsikan ke Rumah Sakit Jiwa. menduga-duga mungkin mimpi itu benar dari Tuhan dan aku memang harus disembelihnya. menikah dan kini tinggal bersama ibuku yang kecewa berat Bapak jadi gila.” “Tiidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!” Tapi itu sudah berlalu satu tahun yang lalu.“Kita bakal dapat pahala. Bapak berdiri. Sejenak timbul niat untuk memulangkan Bapak karena mungkin Bapak memang tidak gila. orang-orang zaman sekarang takkan bisa menerima. Nuning juga sudah menikah dan tinggal di rumah suaminya. Aku ragu jika Bapak tidak gila. Si psikiater curiga itu hanya akal-akalan agar dia dinyatakan sembuh namun niat untuk membunuhku masih ada. keluargaku menjadi bahan gunjingan di masyarakat. “Sini kamu. yang tentu saja takkan berhasil. Bapak masih selalu berpuasa Senin Kamis dan masih melantunkan ayat Al Quran dengan fasih. . Siapapun itu. Ia percaya bahwa Tuhan itu ada. mengucapkan basmalah. Aku membayar mahal seorang psikiater profesional untuk mengawasinya namun laporan setiap bulannya tidak banyak mengalami kemajuan.” “Bapak sudah keblinger!” “Meski dengan kekerasan. kali ini. Aku hampir lengah. Aku sudah diwisuda. Aku jadi bimbang sendiri. Mungkin trauma mengingat-ingat bagaimana Bapak mengejarku di jalanan dengan pisau besar terasah tajam dan mengkilat sambil bertakbir.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful