Perempuan Kampung Karampuang ( Juara 1

)
Desember 19th, 2008 by Emil Akbar Malam ini purnama sedang penuh. Bulan benderang begitu bundar. Bercahaya menyinari seperti lindungan ibu dalam dekapan yang menjelma dewi malam dan aku memperoleh restu di wajahnya yang bulat. Membuat langit hitam tak begitu gelap. Dalam rindang hutan pekat melarut lewat hembusan angin yang dingin. Bukan gulita sebab mataku masih bisa melihat. Hanya lindap dan kudapati kunang-kunang berkerlip, mengganti bintang yang tiada. Aku menantimu di batas Dusun Karampuang. Kau belum juga muncul padahal aku sudah lama menunggu di sini. Aku takut dan cemas. Itu sebabnya mataku terpaku pada ujung aspal yang menghilang seperti ingin menerobos malam yang teduh, mencari bayanganmu yang berkelebat, dan sesekali aku menengok ke belakang membaca situasi. Rustam, tahukah kau? Di dalam sana, sunyi bukan berarti tidak ada bunyi walau tadi mereka sembunyi karena aku tak peduli. Bunyi hewan malam, nyanyian serangga, suara berdesis-desis yang bukan ular, kicau kao-kao yang mengerikan di rimbun daun di dalam hutan yang senyap, berbondong-bondong mengerubungi telingaku. Berdenting serupa dawai, mengalun dan merambati udara, dan bakal meninggalkan luka di hatiku bila kau tidak jadi menjemputku malam ini. Maka hadirlah di ujung jalan itu seperti dilahirkan oleh kabut yang merayap. Jangan sampai aku menjadi batu di sini karena gigil atau habis karena dimakan angin dan kau harus tahu jiwaku mulai beku meski sebenarnya kepalaku ingin meledak karena bosan. Aku tidak mungkin kembali setelah ingkar. ”Sepertinya lelaki itu tidak akan datang.” Seseorang memegang bahuku dari belakang. Aku tersentak kaget dan terlonjak bangkit dari tugu batu yang kududuki. Aku gemetar gugup mengetahui siapa yang menegur. ”La Gole! Sedang apa kau di sini? Kau mengikutiku?” Sontak aku menjauhinya. ”Jubaedah, pulanglah sebelum terlambat. Masih ada kesempatan dan aku akan membantumu,” ujarnya sembari duduk di tugu batu yang kutinggalkan. Dalam gelap aku tahu ia menatapku tajam, seruncing jarum yang pernah menusuk tanganku. Batinku tertohok mengingat ia adalah mata-mata Puang Gella, pemangku yang sering menghukum bila ada orang yang melanggar di kawasan dusun, meski ia temanku sejak kecil dan beberapa waktu silam aku menyimpan hati untuknya. Namun ia menunjukkan sikap yang tidak kusuka. Ia bukan lelaki tangguh, pengecut yang tidak berani mengajakku kawin lari. ”Benar kau akan menolongku?” tanyaku pura-pura ragu. ”Kau tidak percaya padaku?” La Gole menghampiriku begitu dekat hingga bisa kuhirup bau badannya yang belum disentuh sungai. Aroma napasnya purba. ”Baiklah kalau begitu. Ijinkan aku menunggu Rustam sebentar lagi,” pintaku. Lalu kedua kakiku tak mau diam karena gelisah. ”Jika dia tidak muncul?” ”Kau boleh membawaku pulang!” jawabku sedikit kesal. ”Sepakat.” Agak lama kami saling diam seolah jiwa kami raib meninggalkan raga yang kikuk, menguak hutan dengan lesat untuk menemukanmu dengan tujuan yang berbeda. Kuperhatikan La Gole sedang duduk bersila sambil mempermainkan parang bersarung yang biasanya terlilit di pinggangnya. Tidak kutahu apa maksudnya, tapi membuatku bergidik membayangkan kulitmu robek dan menumpahkan darah jika badik itu keluar dari sarangnya. Kau pasti akan kalah sebab La Gole bekerja dengan otot sedangkan kau lebih suka berpikir. ”Apa yang kalian lakukan jika sudah bertemu? Apakah kau akan lari dengannya?” La Gole mengajukan tanya yang menyelidik, memecah hening. Posisi duduknya sudah berubah, satu kakinya berdiri dengan lutut menekuk. ”Tidak melakukan apa-apa. Aku hanya mau mengatakan sesuatu?” balasku berbohong sebab ia sudah curiga.

”Apa itu?” ”Kau tidak perlu tahu. Kenapa kau bertanya-tanya?” ”Ingin tahu saja. Bagaimanakah perasaanmu padanya?” ”Itu bukan urusanmu!” teriakku nyaris menuding, membuatnya bungkam. Aku berbalik arah membelakanginya menahan amarah, antara jengkel dan putus asa. Kusandarkan kepalaku pada pohon yang tak bisa kurangkul. Aku mencabut-cabuti kulit keringnya yang berlumut dan memang sudah terkelupas, membuang geram. Mataku terasa panas bagai diperciki biji lombok. Pedih memerih. Sekarang aku tidak ingin kau datang sebab itu akan mengantarkan nyawamu. Namun aku juga butuh kau datang membawaku pergi dari sini, jangan biarkan aku berkalung rantai. Aku tidak mau menjadi perawan tua! Bagaimana ini? Aku galau. Tetapi tunggu. Mataku yang melirik menangkap bayangan sekilas, bersijingkat dan menunduk mirip gerak-gerik babi hutan, berpindah dengan cepat ke semak-semak. Apakah itu kau? Tidak sebentar aku terpana, dadaku berdesir dengan degupnya. Aku merasakan firasat tak baik. Aku mesti bersiasat. ”Aku menyerah. Seperti katamu, Rustam tidak datang. Mari pulang.” Sebisa mungkin kukulum senyum ini dan menampakkan muka murung agar tidak ketahuan, supaya kau dapat mengikutiku dari jarak jauh. Aku akan mengecohkan perhatiannya. ”Aku masih setia menemanimu menunggu jika kau mau?” Aku tahu ia mengejekku. ”Tidak usah! Barangkali dia pecundang yang lebih darimu.” ”Bagus kalau kau sadar. Orang kota memang tidak bisa dipegang janjinya!” timpalnya tak mau kalah. Aku tidak lagi menyahut dan berjalan lebih dulu. Rustam, susul aku di puncak bukit! *** Jubaedah, kau adalah gadis sunyi. Semerbak harum bunga desa, wangi menebarkan angan di setiap kepala jantan muda sepertiku. Aku menemukanmu bagai mutiara diantara ribuan kerikil bebatuan yang terserak di tepi kali. Namun ada yang hilang di wajahmu yang bulat langsat. Laksana embun pagi yang tak ada lagi, saat matahari tak bisa lagi disebut mentari. Aku seperti pangeran yang menemukan bidadari. Di batas Dusun Karampuang jalanan beraspal terputus seperti lorong buntu. Terdapat daun kelapa yang diikat merintang di atas jalan. Mobil dinas kuparkir di luar kawasan adat karena dilarang masuk. Lagi pula hanya ada jalan setapak yang sempit. Tanahnya berdebu di musim kemarau dan licin berlumpur di musim penghujan. Banyak bebatuan. Di hari-hari biasa dusun ini begitu sepi bak kampung yang bisu. Awal bulan November aku kembali. Aku sudah menjadi pegawai negeri di kabupaten. Setahun yang lalu aku datang di kampung ini untuk menyusun skripsiku mengenai adat Karampuang. Setelah lulus kuliah tak mampu kutahan hasrat hatiku, ingin kembali menggapaimu. Masihkah kau menjadi perawan suci yang tidak boleh dijamah? Kutinggalkan semua yang berbau teknologi dan barang yang terkesan mewah di mobil sebelum memasuki kawasan adat yang dikeramatkan ini, lantaran pamali. Menurut keyakinan orang sini, segala yang datang dari luar lebih banyak merusak dan akan mengubah tatanan tradisi yang mereka jaga selama berabad-abad, turun temurun. Itu sebabnya aliran listrik tidak bisa masuk karena kaum adat menolak. Sungguh dilema, mengingat aku memegang proyek dari Pemda untuk menjadikan Karampuang tempat wisata, yang mungkin bakal melunturkan kebiasaan dan kepercayaan penduduk di dusun ini meski dengan maksud memberdayakan masyarakat. Aku masih terkenang ketika pertama kali datang di kampung ini. Aku disambut dengan ramah. Tidak kurang isi baki sudah ditambah, belum setengah isi gelas sudah diimbuh. Aku yang mengetuk pintu bukanlah orang lain, malah dianggap keluarga sendiri. Sebab mereka memandang tamu itu membawa rezeki. Saat itu aku menumpang tidur di rumah ayahmu di luar kawasan adat, di dusun tetangga. Lantaran aku butuh listrik buat menyalakan laptopku, menulis hasil riset yang kudapat. Pernah aku menginap di rumah seorang warga. Alat penerangnya berupa lampu minyak yang mereka sebut sulo. Semalam suntuk aku menulis di lembar kertas. Pulang pagi-pagi. Kau berada di depan pintu. Tergelak tawamu melihatku. Suaramu renyah.

”Ada yang lucu?” Kau tidak menjawab tapi memberikan isyarat. Kau pegang hidungmu yang mungil dan bangir. Aku mengikuti. Astaga, cuping hidungku dipenuhi asap hitam. Aku lekas pergi ke belakang membasuh muka. Seminggu dalam sebulan, kita bertemu. Kau melepas masa haidmu di rumah. Parasmu demikian sendu seperti tidak terima seperti terpaksa, saat kau mengatakan sedang menuntut ilmu untuk kelak menjadi seorang sanro di rumah adat Karampuang. Rumah panggung yang merupakan simbol sosok perempuan. Dari jauh kediaman yang sakral itu memang tampak anggun. Atapnya dari anyaman daun nyiur berbentuk segitiga sama kaki. Tangganya terletak di tengah di kolong rumah. ”Tangga naik ke dalam rumah adalah kelamin perempuan,” jelas La Gole, temanmu. Ia pemandu yang baik, meladeni keingintahuanku dan bahkan memuntahkan semua yang ia tahu. Pemuda yang bersemangat meski entah kenapa diam-diam ia sering menatapku dengan pandangan menghunus seperti tidak suka seperti menaruh curiga. Ia membicarakan tubuh perempuan dengan sangat biasa. Membuka pintunya pun harus ditolak ke atas biar bergeser. Aku menebak pasti ini selaput dara kemaluan, sebab dibutuhkan sedikit usaha untuk membukanya. Ada batu bundar yang menindih. ”Arah dapur adalah rahim. Dan dua dapur di belakang itu adalah buah dada sebagai sumber kehidupan.” Rumah ini tak bersekat, hanya ruang. Lantai dan dinding terbuat dari bambu. Ada loteng yang lumayan luas seperti layak untuk dijadikan kamar, tempat persimpanan kebutuhan pokok terutama padi. Bahkan ada padi yang berumur seabad. ”Semua warga sehabis panen tanpa diminta menyimpan sebagian padinya di sini untuk digunakan bersama jika terjadi gagal panen. Padi ini tidak boleh di jual.” Aku ingin sekali mengabadikan apa yang aku lihat. Namun lelaki yang terbiasa bertelanjang dada saat bekerja di sawah ini melarangku dengan tegas. Badannya yang berotot dengan kulit secoklat kayu itu langsung tegap menantang. ”Jangan coba-coba bawa kamera. Itu kesepakatan kita dari awal. Boleh jadi kau yang melanggar, kami sekampung yang kena malapetaka. Kalau kau mau lama di sini hormati adat kami!” Belum sempat aku minta maaf, La Gole sudah berlalu. Kulihat punggungnya digerogoti jamur, bercak-bercak putih. Ketika kuceritakan penjelasan La Gole kepadamu, kau tersenyum simpul membenarkan. Pipimu merona seperti lembayung yang memerah bagai senja yang membakar langit. Aku jatuh hati. Upacara Mappugau Sihanua sepertinya sudah dimulai. Selama tujuh hari tujuh malam. Aku berjalan santai menikmati pagi yang mau pergi. Sepanjang jalan yang berkelok kulewati rumah penduduk yang kadang saling berjauhan. Tak jarang aku berpapasan dengan warga yang masih kukenal. Di kiri kanan diselingi tanaman sayuran, pohon pisang, pohon kopi dan pohon kakao, serta hamparan sawah yang tidak rata, berundak-undak dengan garis pematang meliuk, sejauh mata memandang. Ada sumur tua berdinding susunan batu, aku menyebutnya kolam karena dangkal. Bila airnya lagi penuh, penduduk memandikan anaknya dan bayi yang baru lahir, biar mendapat berkah. Air mengalir khas pegunungan terdengar jernih menggelitik kesegaran. Hutan lebat dan belukar liar tampak rimbun di puncak bukit, hijau nian seperti belum pernah disinggahi. Jubaedah, secantik apa kau sekarang? *** Lelaki itu masih gagah. Badannya berisi dan kulitnya bersih seperti pasir laut, seperti belum pernah dicubit matahari. Kini aku yakin kau makin terpikat, melirik pakaiannya yang sewarna kulit sapi. Lelaki idaman yang menggiurkan bunga desa sepertimu. Dan aku terhempas ibarat hati yang terbuang. Sebab cintaku sedang cemburu. Ah, lelaki bernama Rustam itu terlalu mau tahu tentang adat kita dan ia sebarkan ke mana-mana. Aku tidak menyukainya karena itu, dan sebab ia mencuri hatimu dariku. Lebih dari itu, ia juga mencuci otakmu hingga pikiranmu telah kota walau disebabkan juga karena kau pernah sekolah sampai SMA di kabupaten. Kau pernah menjadi guru di dusun sebelah, mengajari kami baca tulis di usia kami yang sudah berkumis.

Kabarnya, Rustam akan mendirikan pasar rakyat dan penginapan di sekitar kampung ini. Makin ramai saja orang datang ke sini. Melihat kami sebagai tontonan. Melihat upacara kami sebagai pesta. Oh, Karampuang bagaimana nasibmu nanti? Ketika kebiasaan orang kota meracuni adat kami, menjarah apa yang kami jaga, yang kami miliki. Aku ingin sekali mengumpat, mereka tidak beradab karena mereka biadab! Mungkin kelak tidak ada lagi yang namanya gotong royong. Seperti yang pernah dihimbau orang dulu, ”Hai sekalian anakku, kasih mengasihilah, rebah saling membangkitkan, hanyut saling mendamparkan, berkata saling mengiyakan, dan berbuat saling bantulah. Khilaf saling mengingatkan, satu kata dengan perbuatan, bagaimana di dalam begitu pula di luar, tegakkanlah yang keramat, sandarkanlah yang tabu, dan dudukkanlah yang makruh.” Sekarang banyak yang mengerjakan sawah dengan cara bagi hasil, tidak lagi yang punya hajat memberi makan untuk disantap bersama. Begitu pula saat membangun rumah, menggunakan tenaga upah. Mengumpulkan puingpuing harta sehingga saling mencekik. Serakah sehingga saling menutup pintu. Oh, Tomatoa! Hanya kamu yang murni. Kami akan teguh, tidak akan memasang paku tetap memakai tali rotan untuk menyusun kerangkamu. Mengganti tiangmu yang lapuk dengan menebang pohon bertuah di rimba melalui upacara madduik, menarik kayu bersama di hutan, wujud satu rasa. Tidak dipikul, sebab dipundak tanda mau menang sendiri. Oh, Tomatoa, kamu perempuan luhur yang kami puja. Dan kau, Jubaedah adalah perempuan Kampung Karampuang yang dijunjung. Darahmu adalah darah To Manurung. Mulia atas nama adat. Dan adat mengajarkanku tentang hidup, tidak mungkin kukhianati. Aku mencintaimu sebagaimana aku memegang adat. Disela itu terselip keinginan, yakni memilikimu yang tak boleh. Mencintai dan menginginkan itu serupa tapi tidak sama. Mengertikah, kau? *** Aku bukanlah Maryam dan kenapa pula sejarah harus berulang? Tuhan, bolehkah aku mengeluh sebab sudah lama aku berpeluh? Aku tidak bangga dilahirkan sebagai makkunrai, perempuan. Tubuhku menyiksaku. Aku dibelenggu. Ayah dan Ibu yang berbuat, mengapa aku yang harus jadi tumbal? Apakah memang dibutuhkan orang lain untuk menebus dosa? Lantas, salahkah mereka? Kau bisikkan di telinga Arung, tetua adat kami yang jarang bicara itu, untuk menentukan garis hidupku yang mesti kujalani. Menjadi perempuan suci, perempuan yang terkunci supaya tetap perawan. Jangan sampai sesuatu yang asing menyelinap masuk sebab akan melunturkan tradisi. Titah yang tak terbantahkan kecuali kalau aku cacat moral. Karena nanti warga juga yang akan memilih. Dan Ayah, Ibu, tak pernah membelaku. Ia wafat dengan patuh meski ia tak patut dipanggil Ayah, sebab tak pernah risau atau tak mau tahu jeritan hati anak gadisnya. Ayah memilih diam sampai ia menutup usia. Ayah hanya melihatku tumbuh. Dan aku memilih, berontak seperti ibu. Ibu yang mati karena melahirkanku. Ibu yang kawin dengan kaum pendatang dan dikucilkan di desa tetangga. Ibu yang dipaksa bernazar, jika bayinya perempuan akan diambil sebagai penggantinya. Dan Kau, Tuhan, mengabulkannya… Tetapi tidak! Sebagai anak aku merasa berkewajiban melanjutkan perjuangannya. Memang Puang Sanro telah renta, sudah layak istirahat. Perlu diganti. Tetapi mengapa harus aku? Tidak bolehkah orang lain? Aku selalu ingin bertanya kepada Puang Sanro tapi aku urung dalam hati, apakah ia memendam apa yang aku pendam? Ah, tentu tidak. Sebab aku tahu dari orang-orang, Puang Sanro adalah perempuan yang tidak laku. ”Dalam darahmu mengalir darah To Manurung, Anakku. Ikutilah takdirmu sebagaimana air yang mengalir,” ucapnya bernasihat ketika aku sedang malas meramu obat. ”Betapa menyenangkannya membantu orang, Anakku. Itu akan membuatmu menjadi ada,” lanjutnya berpesan di hari yang lain saat aku enggan mempelajari mantra-mantra. Ketika menolong, haruskah berkorban? Cukup! Aku tak mau mendengar lagi. Aku mau tuli saja, sambil dalam benak ini bertekad, aku akan melawan arus. Aku mesti berupaya meski tangis mendahului. Ya, sebab aku hanyalah perempuan biasa meski aku adalah perempuan yang cantik. Kusadari itu karena banyak yang merayuku semasa SMA dulu. Tapi aku tak hanyut. Aku mesti hati-hati meniti sebelum salah melangkah. Maka kutambatkan cintaku pada sahabat kecilku, La Gole. Aku sering memperhatikannya sampai-sampai aku tak sadar tubuhnya telah perkasa. Jika kami sedang berjalan beriringan aku senantiasa mendongak untuk melihatnya berbicara. Telingaku akan mendengar suara beratnya yang menentramkan. Andaikan aku dipeluk, pasti aku akan tenggelam dalam bahunya yang lebar. Saat kulit cokelat legamnya berkeringat, aku mencium bau khas manusia. Pernah juga ia menggenggam tanganku erat, sesaat tapi kurasakan kehangatan yang kokoh hingga jiwaku

datang tidak tepat waktu. Lalu muncul dia.” “Tidak bisa. Karena aku. Kini malam sungguh malam karena awan yang menenteng air berlayar di langit kelam.” “Kalau begitu bawa aku pergi dari sini. Ada senter di tanganmu. kau ada hati denganku?” “Ya. Paling tidak aku dapat melihat bayanganmu.” Aku gigit jari. Tanah ini adalah orangtuaku. “Maafkan aku. Ternyata di atas sini tidak terlalu gelap seperti temaram. Berangkat diam-diam. di hubungan kami yang sempat terjeda. asal bersamamu.” ”Wisuda aku menjadi perempuan seutuhnya. Cukup lama hingga rindu mendera. Kau bohong! Aku membencimu. Hujan mengejarku seperti mengutuk. aku meminta sesuatu. Jangan sekarang. antara panas dan lembap. kau tidak mencintaiku sebab cinta itu perlu bukti.” ”Apa itu? Akan kupenuhi. Hadir dengan senyumnya yang menawan memberi harapan. Hanya lidahku yang belum menafsirkan apa-apa. jatuh merintik terdengar menitik dan menerabas. Dan tentu saja ia hangat. Kerap kubayangkan bila kami menyatu tak ada yang tahu bahwa kami berdua.melambung. mencari cara agar aku tidak terlacak sudah kabur.” “Tinggal di hutan pun tak apa.” “Tidak. Ia lapar dan aku haus. makam nenek moyang kami yang luhur. ”La Gole. Kau basah kuyup sama denganku oleh derai hujan. kendati sesekali terjungkal karena kesandung akar pohon yang mencuat. Kami tiba di sekitar rumah adat Karampuang. di bawah sana begitu rawan. bukan satu tubuh.” ”Lalu kau mau kita menunggu di sini sampai pagi?” ”Mungkin. “Jangan Lama. dan itu cukup buatku.” “Aku tidak punya kampung selain dusun ini.” ”Bagiku tidak. Sementara jarum-jarum langit masih menyerbu.” kataku setelah ia agak menjauh. Di sini kita aman. Kulitnya harum dan langsat sepertiku. Ah. Lelaki dari kota. ”Kau tunggu di sini sebentar.” “Ah. mengguyur deras. kau sudah berada di puncak bukit itu. La Gole mencegat dan mengancamku sebelum masuk desa. sikapnya terlalu lugu tak sebanding dengan badannya yang garang. Banyak peti batu berundak-undak di tempat ini.” “Sekarang aku siap membawamu pergi. Aku kecewa dan patah hati. lelaki itu memang baik tapi aku harus pamit mengejarmu. Obor La Gole yang menuntun jalan juga telah redup.” ”Aku tidak perlu membuktikannya karena cinta soal hati. Namun ia tidak punya nyali. malam ini juga.” “Tak apa. Aku berlari dengan kain terangkat mengangkangi tanah yang kupijak. Angin bertiup meliuk sangat kencang. Lepas maghrib. Rustam.” . Kau segera memelukku. Aku sayang kamu. Mengaburkan cahaya ibu di atas sana hingga buram. kita terjebak di sini. Bukan salahmu. Rustam. pelita rumah penduduk memang sudah padam.” La Gole pergi menengok. pura-pura khawatir.

Aku mendorongmu supaya terhindar dan langsung melindungimu. di Desa Tompobulu kecamatan Bulupoddo kabupaten Sinjai. Hidup matinya Karampuang ada di tangannya. kami dikejutkan oleh kehadiran seorang bocah yang belum pernah kami lihat sebelumnya. sadarkah kau? Argh! Jubaedah. lebih senang keluyuran atau suka berkumpul. Mappugau Sihanua: Setiap tahun di pekan pertama bulan November diadakan pesta sebelum bercocok tanam setelah menikmati panen melimpah sebagai tanda syukur. Kau telah mendurhakai tanah keramat ini. Aku ingin perbuatan ini sakral seperti kematian. Melihat dunia luar dengan muka gembira. Semua makhluk punya mata. Tidak seorang pun diperkenankan menemuimu dan tak ada yang tahu bagaimana rupamu sekarang. Kau memandikan bayi kita di sumur tua yang berkah itu supaya kelak menjadi anak yang patuh. *** Depok. Sesajen yang baru tadi siang. ”Terima kasih. Hingga pada suatu pagi. Melelehkan kebekuan dan meruntuhkan kekakuan. Dan kau. muncul begitu saja. lalu bangkit tersaruk-saruk. Rumah adatnya menyimbolkan sosok perempuan yang harus dijaga kehormatannya. Gella: pemangku yang melaksanakan hukum yang berlaku di Karampuang. Jubaedah sudah melakukan lebih dari itu. Aku membajak sawah. Seandainya saja kau tahu angan-anganku yang sederhana ini. La Gole muncul menaruh mata badik di lehermu. berkeliaran seperti ingin mencari ayahnya. Aku adalah hikayat perempuan tanpa biduk yang terdampar setelah lelah mengarungi duka. Kubunuh kau!” ”Berani menyentuhnya. darah dagingku.” ucapku setelah usai. Puang: kata sandang untuk orang yang dituakan atau yang dihormati. anak kita yang mengembala ternak. aku rebah menerimamu. Kini aku luka dan hina. Ah. Di tanahmu yang subur bakal tumbuh tanaman berbuah. ketika birahi yang terpendam peka pada setiap ransangan. dan tahun terus bertambah. Dan segalanya sirna saat kudapati pakaianmu berceceran ke mana-mana. Jika perempuan tidak kembali ke dapur. Kau dikurung di rumah adat Karampuang di atas loteng untuk dikuduskan kembali entah sampai kapan. Di gubuk tua itu. ”Bangsat kau. Di kejauhan terlihat obor berkeliaran serupa kunang-kunang.” Kau mengancam dan aku masih hirau. namamu tak pernah lagi disebut nyaris dilupakan. aku lompat dalam jurang. tempat biasanya sesajian di letakkan. 270908 (Kutulis ketika merindukan kampung halaman) Catatan: Karampuang: dusun yang terletak di puncak bukit 1000 meter dari permukaan laut. Dan sudah kuduga. Kau telah haram di hatiku yang meradang. Aku gigil oleh getar. Tak perlu airmata sebab akan kutanggung semuanya. Kita berjalan mundur menuju tebing. Rinai-rinai bersenandung seperti berkisah. Sejak peristiwa malam itu. Sulawesi Selatan. Rustam. Hari berganti. sebetulnya aku ingin menabur benih di pucukmu yang kuncup. kau dianggap tidak pernah ada. *** Puang Sanro pernah meramalkan. Arung: ketua adat atau raja yang jarang bicara tapi sekali bicara adalah tuah yang tak terbantahkan. wajahmu yang bersinar dalam balutan pakaian putih yang menyejukkan hari-hariku kala memandangmu telah berubah busuk bagai bangkai. Lantaran nista mengusik siapa pun sebab baunya tercium tajam.Apakah rasa sakit itu? Bila hasrat terjerembap. . Senang mengintip yang terlarang. turun dari tangga rumah adat Karampuang bagai baru dilahirkan. berhamburan karena ulah kita. Kelak. Aku merintih dalam amuk saat kau menyuruh Rustam hengkang dari kampung ini tanpa dijera. begitu pun bulan berlalu. menanam dan menuai padi. yang tak mungkin terwujud. tujuh hari tujuh malam. maka rentan berbuat dosa. dan kau datang membawa makanan. Kulempar lelaki durjana itu dengan sekepal batu hingga ia tersungkur. Masih memegang adat kuno dan alergi dengan teknologi. Mukanya murka. Berlari lincah.

tumpahan-tumpahan makhluk seperti aku membasahi muka Ibu. menggurat menjadi lekat di kulit Ibu yang sekat oleh keringat. Ibuku Jalang. Bukan seperti lelaki yang datang ini. Bapakku tampan. seperti bendera yang turun di arena balapan. Gerakan-gerakan yang ia ciptakan membuat salah satu bagian tubuhnya menegang. Aku mengalahkan berjuta ekor dan kepala lainnya yang datang mencari Ibu. Wajahnya rupawan. Aku makan dari wanita yang kemudian kukenal dengan sebutan ibu. Tomatoa: nama rumah adat Karampuang. aku sudah tertawa. Ada apa dengan Ibu? Ibu. bahwa aku begitu bangga. aku baru saja bersenyawa dengan tubuh Ibu. untuk mengelus. yang sebentar kemudian akan memunculkan pertanda. Aku makan dengan rakus. Aku menunduk malu. mencuat. Tapi ini satu-satunya caraku untuk memberi tahu Ibu bahwa aku bukan bayang. To Manurung: nenek moyang orang Karampuang berwujud perempuan. Aku mulai tumbuh dan tak lama lagi akan membuat pergolakan rasa yang perlahan akan membuat Ibu tahu bahwa aku ada. Nyawa seorang pria yang menabuhi seorang wanita bernyawa dengan sperma. tangan. muncul. Malam ini Ibu terlihat begitu cantik. Membentuk sel baru yang menyatu. Aku juara. Apakah kali ini lagilagi lelaki buncit yang memberi malu. malam keduaku bersama Ibu. Siapa bilang kami bernyawa setelah salah satu dari kami mempunyai rupa? Kami telah bernyawa dari sejak kami menjadi sperma. mana mungkin kami punya tenaga untuk mencapai indung telur wanita. Aku ingat ketika Bapak berlaku seperti itu pada Ibu. Lelaki itu membolak-balik iIu seperti barbeque di arang kayu. Lelahku akhirnya terbalas juga.Sanro: pemimpin spritual di setiap prosesi adat yang harus dijabat oleh perempuan atau lebih tepatya disebut dukun. Bapakku Jahanam Bukan Kepalang ( juara 2 ) Desember 30th. sebelum salah satu dari kami berhenti sesaat. Tapi sambungan hidupku berada pada wanita. Bukan aku tak sayang. Dia bukan Bapak. Seorang lelaki bertubuh tambun dengan perut menyembul. Aku ingin cepat mempunyai muka. xxxxx Malam pertama bersama Ibu. Pantaslah Bapakku tidak bisa munafik untuk tidak tertarik. perawakannya tak beraturan. laki-laki itu semakin panas. Tapi. Kalau kami tak bernyawa. Aku juga masih ingat. atau sesungguhnya Bapak yang ditunggu? Aku belum juga tahu. . Nyawa pertamaku dari seorang pria. Malam ini. tidak! Ia menyentuh Ibu dengan gerakan yang sama sekali tak malu-malu. Kami mencari tempat terhangat. kami berkebut-kebutan. Apakah Ibu menunggu Bapakku? Aku belum tahu. Saat ini. sesama teman sperma yang dimuntahkan dari penis manusia. Bagian tubuh itu. Ia seakan memberi pertanda pada kami untuk siap-siap beraksi. Penuh ketegangan. dia bukan Bapakku. Aku lemas. Reaksi ereksi itu seperti permulaan arena balapan. di dalam liang hangat. Bapak bereaksi. Reaksi itu menimbulkan ereksi. Ia mempesona setiap perempuan. 2008 by Rien Al Anshari Aku dibentuk dari dua nyawa yang terpisah. aku belum tahu. Aku diam berhari-hari di tubuh Bapak sebelum akhirnya bertemu Ibu. Aku melihat Ibu duduk di atas sebuah kursi memanjang dengan bantal yang kenyal. Aku sudah tidak sabar untuk mengabarinya bahwa ia telah berhasil menciptakan bibit manusia. Aku minum karena selalu haus. Tidak tahukah Ibu. Meninggalkan rupa lama yang dulu hanya berbentuk ekor dan kepala. kaki. persis seperti tempatku dulu di tubuh Bapak. Lalu. Ibu benar-benar bersifat magnetik. Aku tahu persis siapa Bapak. Tidak tahukah Ibu. Wajah dan penampilannya menunjukkan seperti itu. Ibu memberiku makan dari darah yang mengandung sari yang dipompa dari jantung melalui aorta. Ibu kembali menunggu. Teganya Ibu mengkhianati Bapakku. Entah yang mana ibuku. xxxxx Aku ingin bertemu Bapak. Aku Malang. seperti aku. menendang bahkan menerajang. penuh rasa lega akhirnya aku tiba. Kami menunggu dalam deru erangan. Tapi. Aku ingat saat dulu berkejar-kejaran dengan teman-teman. Mereka tidak berlarian. Mungkin saja dia bapaknya Ibu. mati di jalan karena mereka berlari terlalu pelan atau kalah dalam himpit-himpitan jutaan teman yang berkejar-kejaran mencari tempat buat makan. Ibu bangkit dan berjalan secara perlahan. Ibu yang mengharapkan kehadiranku atau Ibu yang menganggapku hanya sebagai benalu. walau belum mempunyai mulut dan bibir untuk tersenyum. tempat laki-laki itu singgah sesaat sebelum air maninya muncrat. Ia seperti menunggu. Pintu diketuk. Ibu dan lelaki itu saling beradu.

Ia duduk dan berbicara terlebih dulu. Tapi. Tapi aku tak gentar. Aku marah pada keluarbiasaan Ibu.Ibu menunggu di dalam sebuah ruangan luas. Dan Ibu bukan lagi sadar. Oh Ibu. Aku sudah memiliki tangan dan kaki. Wajahnya panik. Makhluk-makhluk yang dulunya seperti aku. Itu semua karena Ibu. Dunia tempat Ibu berpijak. Bapakku memang tampan dan rupawan. Lantas tertawa-tawa. Luar biasa sempurna. Ini tempatku. Aku ingin Ibu sadar. Aku berteman dengan benda yang kemudian kukenal dengan sebutan. kali ini dia membuatku mabuk. Wajahnya tampan dengan senyum yang sangat memikat. Lelaki bertubuh tinggi dengan kulit putih sangat terawat. Aku nyata. Dunia yang sesungguhnya memang pengap. Aku putus asa pada sikapnya. Lalu ia menyatukan tubuhnya dan tubuh Ibu seperti anjing. Ibu bercinta dengan laki-laki. . Minuman itu memabukkan. Aku ingin bersamanya ketika ia bersama siapa saja. Sekian hari sekian waktu Ibu selalu bersama laki-laki. Ibu tidur dengan laki-laki. Ia pun meminum minuman yang diminum Ibu. Menciptakan bunyi yang membuat tubuh tanpa kepalaku pusing dan pening. bukan lagi keanehan. Berjalan bolak-balik mondar-mandir sambil menggenggam benda itu dan berpikir. yang datang lagi-lagi lelaki. Sudah tidak kusisakan lagi sedikitpun tempat untuk kalian menyatu. walaupun belum sepenuhnya memiliki jari jemari. Ibu tersandar. nanar. lompat-lompatan. Ia menaiki Ibu yang tengah terbaring. hingga ledakan tumpahan air kemaluan yang bukan lagi keanehan. Sudah kukatakan. silih berganti. Minuman itu begitu elegan dalam gelas kaca dengan kaki panjang menawan. Menunggu dalam bimbang. Tumpahan-tumpahan itu berlalu bersama waktu. berguncang dan seakan tak berhenti bergetar. Apakah ia Bapak? Bukan. Benda itu berbentuk kertas tipis memanjang secarik. Aku sudah tiba lebih dulu. membuat Ibu mabuk kepayang. Tahukah Ibu bahwa aku mani yang menang lomba lari terpanjang seantero bumi? Bukan salahku kalau aku kemudian menghuni tempat ini. Aku tumbuh karena aku memang tumbuh dan waktu perlahan membuatku begitu. dengan gerakan yang membuat lelaki itu bersimpuh layu. Ia meliriknya. akhirnya keluar. Aku gemetar. Lalu berbaring dan membuka baju. Lelaki itu datang menjenguk Ibu. ia memaki. Tapi tidak sepenuhnya sendirian. Aku bibit manusia buah bercinta dengan pria yang belum kujumpa. Pantas saja seorang Ibu terjerat. Tubuhku yang belum sepenuhnya terbentuk ini terasa berputar-putar. Kemudian ia menduduki kloset dan mengencinginya. Lompat-lompatan. Menunggu Bapakku. Terus kugetar-getarkan tubuhku untuk membuatnya terhuyung. sehingga aku bisa mengenal wajah seorang Bapak yang kutunggu kedatangannya. Desah-desahan. Kalau kau tak tau caranya bertahan kau bisa megap-megap. Aku tetap makan. berhentilah kau berharap. Aku tetap minum. Bajunya. Tapi Bapakku berkulit kecokelatan. Ia masih sibuk dengan dirinya yang luar biasa. ari-ari kembaran. Aku ingin tetap terjaga. Ia berdiri. Mereka seperti lahar yang mencahar karena panas bergejolak yang membakar. Beberapa menit kemudian aku merasakan sesuatu yang tak nyaman. Aku tak urung. “Bangsat! xxxxx Aku semakin besar kini. sementara ari-ari tak berhenti mencaci maki. bahwa aku ada. Dengan bola mata yang terbuka lebar. Luar biasa bercinta. Ibu mencampuri laki-laki. Sebentar lagi aku akan membuat kulit Ibu meretas. Ari-ari. tidak Ibu lalui bersama Bapak. Ia menyebut-nyebut aku si tolol yang dungu. megah dan nyaman. Ia memuntahkan isi perut yang ia kandung. Tapi tak lagi minum dengan harap. Ibu menenggaknya. Dan aku menerjang. Dan baju Ibu. Dan hari ini. Aku ingin Ibu dengar. xxxxx Dan aku masih menunggu. Laki-laki manapun takluk dan bertekuk lutut padanya. Kemudian mereka datang dan pergi. Ia sendirian. “Hey Jabang Bayi. Ia lelah karena harus memuntahkan makanannya keluar. Aku kecewa pada gaya hidupnya. Lalu ia mengambil sesuatu dalam sebuah kotak yang berbungkus plastik. Tapi Ibu tak pernah lagi bertemu Bapak. Ibu meraung. Ia diam. Ibuku mengamat-amati benda itu. gerakan jumpalitan. Masih. Ibu bertemu laki-laki. Aku memang tolol dan dungu. ia mampu memikat perempuan. Matilah kalian sebelum sampai lebih dalam di rahim Ibu. Aku ingin Ibu gentar.” “Masa bodoh dengan dunia di luar sana. Tidak seperti lelaki tambun tak tahu malu yang langsung menyentuh Ibu tanpa ragu. Aku tak pantas diperlakukan seperti ini. Gerakan jumpalitan hingga ledakan tumpahan air kemaluan. Luar biasa menggoda. Ia ditemani segelas minuman. Aku seperti tak berhenti meratapi diri. Bercanda. Ibu masih belum tahu keberadaanku. Suara desah Ibu terpecah melengking. Walau tak punya kaki tangan aku menendang. hari ketujuh bersama Ibu. Tapi tak lagi makan dengan lahap. tapi juga akan membesar.

Ibu masih tak melawan.” “Dan aku anak pelacur yang vaginanya selalu menjadi tempat bercampur. Bapakku semakin membabi buta. Asap yang ia hirup dan ia jadikan oksigen sampingannya untuk bernafas menjadi racun yang membekas. Ibu terkesan pasrah dan melemah. Teman-teman berkejar-kejaran. Kau tendang seperti apapun ia takkan memberitahunya. Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah cacian meskipun ia begitu kenikmatan. Tangannya memegang sepuntung rokok yang abunya sudah bertumpuk menunggu jatuh. Ia diam seribu bahasa. Ibu benar-benar tak pernah menginginkanku. Bapakku memaki. Dan ia berhak tahu bahwa aku ada juga karena dia. hingga akhirnya aku tiba dalam rahim seorang perempuan. Hinanya aku. Ia tak hanya membuatku mabuk dengan minuman. Aku tersekat. Begitukah Bapakku saat membuat aku. Lelaki yang kusebut Bapak itu kemudian bergerak ke depan Ibu yang masih melihat hujan. Dan dari dalam sini. Seorang laki-laki tiba-tiba datang. ia menamparnya.” “Kenapa ia takkan memberi tahunya. Hal yang sudah lama kutunggu berjumpa dengan Bapak tidak seperti apa yang menjadi pengharapan rindu. Aku menutup mukaku dengan kedua tangan yang baru terbentuk seakan menahan malu. Ia mengisi udara paru-paruku dengan asap yang membuatku jengap.Aku disuruh lari. hanya mengenakan celana dalam berwarna hitam. Ari-ari.” “Diamlah.” Ibuku benar-benar tak punya belas kasihan. Ia duduk di sisi jendela di atas sebuah sofa berlengan. lihat siapa yang datang. aku lari. Sesaat kemudian ia menoleh. Mereka balapan. aku memimpin di depan.” “Dia jelas-jelas lupa saat ia masih menjadi sperma. Ibuku tak cantik. Malam ini. Lelaki itu menarik tubuh Ibu dan mencengkramkan kedua tangannya ke leher jenjang Ibu. Ia tak memakai bawahan. Tak seperti biasa. xxxxx Malam ini ia kembali menunggu. Bapak tidak memeluk Ibu . Aku ingin ia memberi tahu Bapak bahwa kita ada. Ia tetap akan diam. Dunia kehidupan yang berbeda. Tubuhnya hanya terbalut kaos singlet berwarna putih. Aku akan menendang perut Ibu sebagai pertanda agar ia tahu. Itu Bapakku. Perempuan itu pun tak tahu siapa yang telah mencampurinya. Bapak kita. Ibu tak terpekik walau setengah mati ia tercekik. Ia merobek pakaian Ibu sampai tak satupun tersisa. Ia Ibu yang hanya menganggapku benalu. Ia sungguh laki-laki yang menawan. Mereka tak saling berteguran. Jabang Bayi bodoh. Dan ia Bapakku.” “Ibumu pelacur.” Lelaki yang kusebut-sebut Bapak tidak langsung menyentuh Ibu. Bapak tidak mencium Ibu dengan hangat. Ibuku tetap diam. Ibu pun diam.” “Karena Ibumu jalang. Lelaki itu Bapak kita. Kulit muka yang sepertinya berewokan meninggalkan bekas cukuran yang terlihat jantan.” “Aku benci Ibu. Ibu masih tak membuat gerakan. makhluk malang.” “Tenanglah. Ari-ari. ia terlihat kusut masai dengan rambut berantakan tergerai-gerai. Dia memang selalu seperti itu. aku ikutan. Wajahnya memikat setiap perempuan dan kulitnya kecokelatan. kau Jabang Bayi tolol. Kakinya bertekuk dan ia peluk. Ia tampan dan rupawan. Ia juga tidak seperti lelaki menarik yang memulai percintaan dengan candaan menggelitik. Entah laki-laki mana lagi aku sudah tak mau tahu. Perempuan yang tak berperasaan. Bahkan ketika lelaki yang kusebut Bapak itu menunggangi Ibu seperti binatang.” “Aku takkan bisa tenang. Ibu dan menghujaninya dengan tamparan. Laki-laki itu berperawakan tinggi. Tidur dengan laki-laki yang datang dan berlalu. “Ari-ari. kata mereka. Dunia sudah membuat ia lupa asal mula. Jadi memberi tahu laki-laki itu hanya akan sia-sia dan merusak acara bercinta mereka. bisa kurasa bahwa di luar sana sedang hujan. seperti lelaki tambun yang penuh nafsu. dan diam saja.

Aku manusia. menjadi setengah manusia yang sudah memiliki kepala sesungguhnya kepala.” Aku terdiam sejenak. Wahai Ibu.” Dan aku lemas. Ari-ari dan aku saling berpegangan. yang akan kembali membuatku berjuang dan berkejar-kejaran dalam himpitan. Sekarang kau membuangku seakan aku sampah. “Kalau saja kau ingat seluruh perjuanganmu mencapai tempat di rahimmu. meronta. Tenaga yang kami miliki sungguh tak sebanding dengan kekuatan angin maha dahsyat yang menyedot kami. Dan ini adalah perpisahan. Walau setengah manusia. Kau tetap berhak melihat dunia. Tidak ada juga udara yang mampu kuhirup untuk membakar tenaga.dalam dekap. kau pasti tak akan melakukan ini semua. teganya kau padaku. Bapakku Jahanam . Ibuku benar-benar perempuan binal. Lelaki itu tak akan pernah tahu bahwa aku dulu adalah benda berekor dan berkepala yang ada di tubuhnya. Ari-ari kembaranku benar. Aku sudah tak mampu lagi meronta. walau ia fana. setengah manusia yang tak pernah menjadi manusia 45 Responses to “Aku Malang.” “Persetan dengan mereka. embrio. aku sudah merasakan guncangan hebat bergetar dalam ruang sempit di sekelilingku. di kasur. Ia seperti pawang yang menunggangi binatang yang telah terlebih dulu di cucuk lubang hidungnya. Ibuku jalang. Tanpa sadar aku terisak. Argh! Aku penat. Ari-ariku sudah tak lagi berbicara. Ari-ari. menerjang guncangan yang menarikku juga menarik ari-ari kembaran. melawan. Mataku terbuka lebar. Aku malang. Aku bukan hanya makhluk berekor dan berkepala yang tumpah di muka wanita. Ia melayani laki-laki manapun yang tak ia kenal. Sungguh aku tak percaya bahwa Ibu benar-benar tega. Ibu. Jabang Bayi. Ari-ari. Bapakku jahanam bukan kepalang. dunia menggerus ingatanmu. Mudah-mudahan aku sampai pada perempuan yang menanti kedatanganku. Aku sudah menjadi setengah manusia. Hanya perasaan marah yang bergejolak dan tergelak-gelak seperti lava. lalu dibuang sia-sia. Tidak ingatkah perjuanganmu untuk sampai ke tempat ini?” “Percuma saja. Aku sudah hidup dan bernyawa. menjadi zygot. ia memakinya. 17 December 2008: 03. saling berpelukan. “Ari-ari.” “Bodohnya kau. Bapakku lelaki bangsat. Hanya saja. zygot. Untuk sperma. Ibuku Jalang. Aku berhak hidup dan melihat dunia. Aku tak mau mati di sini. xxxxx “Aku seakan tak punya harapan hidup. dalam tangisan yang rasanya sesak. Aku darah. dan aku memiliki hak seperti para manusia. di lantai. Pontianak. Ari-ari? Kenapa?” Belum sempat ari-ariku menjawab. Ibuku perempuan laknat. Aku dagingmu. nanar. Benda tak berharga yang keberadaannya hanya menyesakkan dunia. Ibu. tubuh Ibu. karena aku sudah menjadi bagian dari mereka. Perjuangan sampai ke tempat ini sangat berharga. tak lagi bernafas.05 a. Aku bagian tubuhmu. Aku hanya berharap untuk diberi lagi kesempatan menjadi mani pada laki-laki. Ia pelacur profesional.m. menjadi embrio. Bapak tidak bercinta dengan Ibu penuh dengan rasa. Sampailah ia bertemu Bapak yang tak kalah nakal. ia mencekiknya. Jadilah aku hasil hubungan yang penuh malu. Dan tak lagi membekaskan memori masa lalu asal muasalmu. Bukan Ibu yang hanya menganggapku sebagai benalu. aku rasa kau tidak akan pernah muncul di dunia untuk menghirup udara?” “Kenapa. Aku bergerak. Ibu Bapak tak menginginkanku. persis seperti mata Ibu saat baru menyadari keberadaanku. dan kini melebur dalam tubuh pelacur. apa aku akan melupakan saat-saat ini ketika aku seutuhnya menjadi manusia sejati?” “Maaf Jabang Bayi.

Karya seni ini mengundang jiwa pengamatku untuk menelusurinya satu persatu. Semilir angin dingin menerobos melalui ventilasi menyebarkan rasa kantuk berkali-kali. Ditulis dengan warna gelap. air mata. Entah apa yang dipikirkan oleh lalat-lalat kecil yang terbang mengitari lampu redup di atas kepalaku. Walau sebenarnya perutku yang melilit itu sudah tenggelam di dasar WC beberapa menit yang lalu. Empat sisi tembok putih menatapku dengan wajah yang pucat. Aku tak ingat bahwa ada seseorang di bilik sebelah. Sebuah kutipan milik seorang penyair besar yang tampak telah merasuki jiwa si penulis. 2008 by Arki Atsema Toilet begitu sunyi malam ini. sudah itu mati’ tulisan itu berkata. Lima baris puisi terpampang di atas tembok yang sama. Lima detik kemudian aku bereaksi. Tidak ada yang melebihi kesetiaan mereka dalam mendengarkan setiap keluhan para penyendiri yang tak berdaya. Dilapisi oleh warna merah yang menyerupai darah dan goresan tegas membentuk tiap hurufnya. harapan kosong dan tentunya perasaan kecewa adalah tema yang menumpuk pada sastra tembok ruang WC ini. Semakin lama aku semakin tertarik untuk membawa setiap tulisan-tulisan ini ke dalam ruang perenunganku. Betapa hidup tak ubahnya semacam arena perang untuk saling mengungguli. sedikit kemarahan. menambah sempurnanya suasana tenang yang mengiringi parade ritual sakit perut yang kualami. ”Ambil saja. Dalam keheningan yang membius.Di Dalam Toilet. ini adalah saatsaat yang indah untuk memikirkan diri sendiri dan menolak segala hal lain yang masuk ke dalam otak. ’Sekali berarti. Begitu banyak hal yang telah mereka lalui dan ribuan wajah yang telah mereka lindungi. Tak banyak yang kulakukan. disambut dengan pintu-pintu yang terbuka lebar. Tampak jelas di mataku sekumpulan emosi yang tersurat dengan lantangnya menyuarakan batin yang selalu berteriak. dan saling menjatuhkan. ’Aku mau hidup seribu tahun lagi’ tulisan lain tak jauh dari yang pertama bersandar dengan berhiaskan gambar kawat berduri di sekitarnya dan tiga buah tanda seru di belakangnya. Dan kekalahan akan datang kepada mereka yang berani menanggung rasa nyeri. Kesedihan. Kini aku merasa sedikit malu dengan tembok-tembok ini yang mengepungku seakan sedang menghakimi aku atas semuanya yang telah mereka alami. Ketidakpedulian menyelimuti diriku. Dan lihatlah kerelaan mereka menyodorkan wajahnya untuk dijadikan kanvas yang merekam sidik jari riwayat sifat tolol dan kekanak-kanakan manusia melalui goresan tinta tak bertanggungjawab. Ratusan kata terangkai dalam warna-warni yang tersusun dengan berantakan dan saling bertautan membentuk lukisan abstrak di atas alas yang pasrah. di celah antara tembok dan lantai toilet. Tetesan dan rembesan air mata yang jatuh dari langit mewarnai umur tembok-tembok ini lewat garis-garis kecokelatan yang merambat pelan dari atap menuju basahnya lantai keramik. siap ataupun tidak. Samarnya suara tikus yang mencicit jauh di sana.” seruku. Seketika tembok ini menyiratkan hawa perasaan hangat manusia. sebuah tangan manusia terjulur dengan telapak tangan menengadah ke arak mukaku. Sedikit demi sedikit semuanya merambat ke dalam diriku dan dalam hati kecilku. rasa pasrah. mengambil sebatang rokok dari saku kemeja dan meletakkannya bersama korek api di atas tangan itu. ’Yang terakhir mati adalah harapan’. Seperti melihat sejarah kehidupan manusia yang pertama ditoreh lewat lukisan-lukisan di dalam gua-gua purba yang gelap dan tanpa kusadari bahwa jarak waktu yang ditempuh dari jaman itu hingga sekarang adalah bukti jalur perkembangan hidup umat manusia yang telah begitu panjang teraspal. . aku mendapati segenggam kebenaran yang coba dipancarkan oleh tulisan-tulisan itu. Aku memperhatikan dengan mata yang sombong kepada setiap coretan di sisi kanan tembok tempatku duduk. Rasa kecewa terekam jelas lewat kata-katanya. Kesendirian memang selalu terasa dingin seperti sebuah rumah kosong dimana kepulanganku dari keramaian dan berisiknya suara manusia dan keangkuhan wajah kota besar. Api rokok terpejam dan menyala mengikuti irama denyut jantung. saling menyisihkan. aku dibangunkan oleh rasa terkejut. benci. selain melubangi paru-paruku lewat setiap tarikan napas dan memandangi sekelompok lalat yang tampak malu-malu untuk menyapaku. begitu baris akhirnya berbunyi. namun sisa batang rokok yang terbakar ini menahanku untuk menikmati kesendirian dari dalam bilik sempit ini barang sejenak. di Atas Kloset ( Juara 3 ) Juni 4th. yang tampak menikmati bau pekat di dalam ruangan menyedihkan ini bersama-sama. Betapa mereka telah meredam isak tangis para manusia kesepian dan menjaga setiap aduannya untuk tidak keluar dari ruangan ini. ”Boleh minta rokok?” telapak tangan kemerahan itu berkata. Betapa aku telah mencapai suatu tingkat kenyamanan yang membuai dengan duduk di sini sambil merasakan bokongku berkarat perlahan-lahan. Dari bawah tembok sastra ini. Mereka tak mampu menyembunyikan lukanya yang terkelupas oleh roda waktu dan tangan-tangan jahil yang telah merampas keperawanannya yang putih.

Detak jarum jam tanganku adalah satu-satunya suara yang kudengar. Salah satu dari kita harus memulai percakapan. Jangan-jangan kau juga makan udang bakar itu?” Aku tidak yakin tapi sepertinya aku mendengar sekilas suaranya bergema mengucapkan ’Eeeee…’ yang panjang.” ”Boleh. ”Kau sedang sibuk?” ”Maksudnya?” ”Apakah aku mengganggu kegiatanmu di sana?” ”Oh tidak. ”lebih enak kalau kita tidak saling kenal nama masingmasing. ”Makan?” ”Ya. ”Terima kasih. aku adalah tipe orang yang hanya bisa menunggu. atau tepatnya seorang remaja tanggung.” Dahiku berkerut. Seseorang ada di sebelahku. Restoran ini memang membuatku mual. Entahlah. begitu pikirku. Dahsyat sekali. Lalat-lalat telah pergi entah kemana. Dari suaranya. aku . Tangan kirinya muncul lagi dari celah bawah sambil menggenggam korek api gas warna hijau yang tadi kuberikan padanya. Hembusan napasnya terdengar amat jelas di kedua telinga. Yang jelas perutku terbakar.mungkin ratusan cabe merah dan kerabatnya. ”Siapa Namamu?” ”Tidak perlu tahu nama saya.”Oh terima kasih. Tadi dia yang pertama mengajakku bicara. aku berada di sini gara-gara udang bakar sialan yang disajikan dengan…. Sepertinya dia juga tidak melakukan apa-apa di ruangannya. Hanya duduk-duduk di atas kloset porselen warna putih yang keras. seperti memikirkan jawaban yang akan keluar dari mulutnya. Aku tak bisa menahan perutku yang melilit. Ia diam tidak menjawab. ”Jadi. Kita bisa sedikit mengobrol kalau begitu. apa yang barusan kau makan?” aku mencoba membuka percakapan lagi. Apa mungkin aku mengajukan pertanyaan yang salah? Atau bisa jadi dia ini adalah seorang yang pendiam dan malu-malu.” Sedikit aneh. walau bagaimanapun juga aku berusaha memikirkan kata-kata yang tepat untuk memulai sebuah pembicaraan yang dapat memecahkan keheningan yang mengganggu ini. tapi sekarang dia kembali mengunci mulutnya rapat-rapat.” ”Oh. hanya duduk-duduk sepertiku. Dalam situasi sekarang.” ia berkata untuk yang kedua kalinya.” serunya dengan cepat. Aku memilih tenggelam dalam keheningan yang ia ciptakan. bahkan untuk orang sepertiku.” ”Restoran sinting. ”Sama-sama. Rokokku sudah setengahnya terbakar. Kali ini aku tidak mencoba mengajaknya bicara. Aku tidak akan makan lagi di sini.” ”Baguslah. untuk mengobrol dengan seseorang tak dikenal di dalam toilet yang wujudnya terhalang oleh tipisnya tembok pembatas. Dan kini kami berdua kembali diam dengan tenang. Asal kau tahu. aku menebak-nebak bahwa dia seorang anak lelaki seusia remaja. Aku hanya menghabiskan rokokku di sini.” Gelombang hening berkeliaran di dalam toilet. aku bingung dengan orang ini. Maka aku memulai dengan mengajukan pertanyaan yang paling mudah.” Dan tangan itu menghilang lalu tak lama kemudian suara percik api bergema memadati ruangan. ”Apa yang akan kita bicarakan?” aku bertanya. dan entah mengapa aku merasa sedikit canggung dengan kehadirannya. Aku hampir membuka mulut saat suara yang dingin itu datang. Untung saja restoran ini juga punya toilet.

Aku punya latar belakang seni dan aku tahu apa yang sedang kukatakan. Dan memang rasanya agak pedas. ”Tapi aku tidak alergi dengan pedas. Tak disangka ada juga orang seperti anda yang memperhatikannya. ”Ya. sama seperti kelakuan remaja aneh lainnya.” ia terkesan berhati-hati dalam menyusun setiap kalimatnya. tanpa jabat tangan – kecuali dengan sebatang rokok dan korek api yang kuberikan padanya – dan tanpa nama sama sekali.” ”Oh ya?” ”Tentu saja. Tapi setidaknya setengah dari daya tarik corat-coret ini memang berhasil menarik perhatianku. ”aku orangnya. Hampir setiap malam aku datang ke sini. Kamu pikir aku rela menghabiskan waktu lebih lama di dalam sini kalau bukan karena ingin menikmati coretan-coretan ini.” semoga ia tidak menangkap irama kepanikanku. ”Ingin bicara denganku kan?” Aku tak sabar menunggu. ”Sup ayam. dan. sangat tak tahu malu apabila hanya dipajang di dinding WC yang jorok ini.suaranya sedikit serak kali ini. ”Wow! Bagus kalau begitu.” Biar kuanalisis sebentar. ”semacam duduk-duduk di tempatmu berada sekarang. tanpa sepengetahuanku. Satu-satunya ritual yang kukenal yang pantas dilakukan di toilet adalah ritual yang baru saja kujalani beberapa menit yang lalu dengan susah payah. bisa dibilang ini seperti sebuah ritual buatku. mungkin juga tanpa menoleh sedikitpun pada pelayan atau hanya sekedar duduk-duduk sebentar di kursi. melainkan langsung meluncur menuju toilet ini. Aku menghirup dan menghembuskan asap rokok dengan keras.”. ”Oh ya? Untuk apa?” ”Menurutmu?” Menurutku karena kau adalah anak iseng yang tidak punya hal bermanfaat lain yang bisa dikerjakan selain menginap semalaman di dalam toilet ini.” tiba-tiba ia bicara. tanpa suara. ”Ritual yang kumaksud adalah mencoret-coret dinding ruanganmu itu. ”Oh ya?” ”Ya. Sepertinya aku telah berhasil membawa pembicaraan ini ke arah yang lebih baik. aku tak tahu harus memanggilnya apa. Inikah yang terjadi pada remaja jaman sekarang? Masuk ke restoran hanya untuk menikmati nyamannya kloset sambil mungkin berpikir tentang masa depannya? ”Kalau begitu kamu kenal dengan orang tak tahu malu yang mencoret-coret dinding di dalam sini?” Pertanyaan basa-basi. untuk karya seni sebagus ini. Ada kekuatan sastra di dalamnya. sedikit menyejukkan di telingaku.” Mulutku seperti ditampar. siapa yang tidak akan memperhatikannya. Tanpa perkenalan. sebanyak ini. Maksudku. mengunci diri di dalamnya dan melakukan ritual. Anak ini datang ke toilet serba putih ini.” jeda kembali terulang. “satu-satunya makanan yang pernah kumakan di restoran ini adalah sup ayam.” aku berbohong lagi. Menghabiskan sedikit waktuku. dan tanpa basa-basi langsung mengajakku bicara seolah-olah aku ini temannya.” aku tak tahu apa yang sedang kukatakan.” Tentu saja. Aku tak peduli siapa yang melakukannya. alasanku ke sini bukan karena sakit perut atau apalah. Tanya saja lalat-lalat ini. atau di tembok kota sekalian biar orang-orang bisa melihatnya.merindukan suara bising sayap mereka.” serunya dengan nada pelan. sengaja membuat sedikit keributan. Seharusnya kau bisa lebih menghargai seni dengan menaruhnya di tempat-tempat yang pantas. ”maksud saya. Aku yakin bahwa ia masuk ke restoran ini tanpa memesan apapun. Bahkan asap rokokku ikut merasakan kalang-kabut. cuma…. Dilihat dari isi tulisan dan . Latar belakang seniku adalah mencoret foto muka presiden di ruang kelas sekolah dasarku dulu. dengan coretan sebesar ini. ”Yaa. Kehebohan terjadi di dalam otakku untuk mencari kalimat yang tepat untuk menanggapi pernyataannya tadi. Dia tertawa kecil. Lalat-lalat kembali berputar-putar di sekitar lampu dengan kesetanan.

dan kita bukan orang yang sama. Tapi aku membuat hidungnya berdarah.” ”Menurutmu siapa yang paling cocok untuk melawan Gandhi?” ”Mmm…siapa ya? Mmm…Adolf Hitler!” ”Brillian! Bayangkan bagaimana ia mencabuti kumisnya satu persatu. Persis seperti kesan yang kutangkap sebelumnya bahwa orang ini adalah seorang pendiam yang gemar memendam api dan membiarkannya menjalar di dalam hati.seperti seorang anak yang gantung diri. lebih kelam.aku mengira bahwa dinding ini adalah bagian dari buku hariannya yang diisi oleh keluhan atau semacam curahan perasaan untuk seseorang yang bisa dibilang sangat kesepian. karenanya aku memilih untuk berhati-hati. kita adalah orang yang sama.gambar-gambarnya . ”Itu akan menjadi tontonan yang paling menarik di akhirat. lebih gelap. Ia kembali mengatupkan mulutnya setelah mendengar pendapatku. Aku hanya membenci semua hal dan ingin sekali berdiri di puncak bumi ini dan memarahi semua orang-orang yang pernah kukenal. ya kan? Seperti coretan-coretan lain yang sering kulihat di tembok-tembok pinggir jalan. Bagiku itu cukup masuk akal. “Ya.” rasa simpati mulai merangkak keluar dari kepalaku. “tapi selama kau bisa memanfaatkannya dengan baik. ini adalah semacam cara anak muda jaman sekarang dalam mengekspresikan sesuatu. Masa remajaku juga diisi oleh rasa kesal. ”Ide yang bagus.” ia setengah berteriak. lebih seperti perasaan kesepian. Aku pernah bermimpi sedang berkelahi dengan Gandhi dan itu membuatku senang. kau bisa menemukan apa yang kaucari selama ini. ”Mmm…menurutku. ia akan berubah menjadi seorang maniak yang mencintai perang. Aku lelah ditertawakan. lebih menonjolkan sisi gelap manusia. Hanya saja ini lebih… mmm…katakanlah.” Gemeretak tembakau yang terbakar terdengar nyaring dari tempat ia berada. Gandhi sang Gladiator mengalahkan Hitler si Pecundang!” Kami berdua tertawa. Kalimat itu akan kutulis di tembok malam ini. Rokok di tangan kananku mulai memendek dan aku mulai bosan berada di sini.” “Serius? Kau berkelahi dengan Gandhi? Siapa yang menang?” “Aku lupa. Namun semuanya akan berubah. Jangan terlalu disesali. aku memang…memang menuliskan semua yang kurasakan di sana. “Remaja adalah tingkat paling rapuh dalam riwayat hidup manusia. “Semua yang kurasakan hampir tiap hari. perempuan kerdil yang menangis. Aku menolehkan mukaku ke arah biliknya.” ”Ya mungkin saja. atau…yah tak tahulah…tapi kau telah menggambarkan perasaan-perasaan tersebut dengan baik. dan sebuah ledakan dengan gradasi warna merah yang indah .” serunya dengan nada yang semakin muram.” ia memberikan penekanan dan menambahkan unsur melodramatis dalam kalimatnya. Aku bertaruh bahkan seorang Gandhi pun akan memiliki keinginan untuk membunuh bila ia tahu apa yang kurasakan. seakan-akan tidak ada hal benar yang dapat dilihat oleh matamu di dunia ini. Kadang aku berpikir bila Gandhi diberi kesempatan kedua untuk hidup lagi. mungkin sedang mengolah setiap kata yang ia dengar di suatu tempat di kepalanya. Itu yang akan kulakukan kalau menjadi Gandhi. di akhirat ia mengajak para malaikat untuk bertarung dengannya sebagai kekesalan atas emosinya yang tak tersalurkan di dunia.” . Seharusnya dia memang jadi ahli berkelahi. Aku akan menghajar para malaikat. “Ya. aku tak yakin. Atau mungkin saja saat ini. kau benar.” Kali ini aku yang terdiam. Orang seperti dia memang kadang sulit untuk ditebak.” “Hebat.” “Entahlah. seakanakan kau memang mengalaminya sendiri. Barangkali hingga membusuk.

lebih baik berikan aku kebenaran!’.” ”Bukan begitu. Aku bermaksud untuk pura-pura tidak mendengar dan menyelinap keluar. tepat sekitar 10 menit dari saat aku meninggalkan toilet itu ketika dalam kegelapan malam yang beku. ”Baiklah. kau tahu maksudku. Dia orang yang kubenci. Kau mau pergi?” “Ya. aku pergi Kawan. Aku hanya membayangkan si Hitler itu akhirnya dikalahkan oleh sosok Gandhi.” “Kuanggap itu 10 menit.” Aku mengetuk kepalan tangan kananku pada pintu biliknya dan pergi melenggang dari ruangan itu.” Tat tit tat teet toot tit tut. Yang pertama terbesit adalah aku tak ingin terjebak di dalam mobilku dan segera berlari mencari tempat perlindungan yang aman. Waktuku telah usai. Mungkin kita akan bertemu lagi suatu saat. Dari dalam biliknya terdengar suara tombol-tombol yang ditekan. ”Eeee…. tapi aku terdorong untuk mengakhiri perbincangan ini dengan baik. Tanpa pikir panjang aku melompat keluar dari mobilku. dan memberitahuku kata-kata apa yang kausuka dari sana?” “Mmm…. Keriangan yang menyeruak sekarang terpendam di dasar bumi. seperti suara yang timbul ketika aku menuliskan pesan singkat di handphone. kira-kira berapa menit waktu yang kaubutuhkan untuk keluar dari restoran ini?” “Maksudmu?” “Ya. dan keadilan.”Asalkan kau senang Kawan.” “Oke.aku hanya menebak saja. uang. Suara riuh manusia berceceran memenuhi udara pengap ini. aku mengutipnya dari seorang penyair. alasannya adalah aku mengenal seseorang yang wajahnya mirip seperti Hitler. rokok telah kubuang dan kuinjak. sebelum kau pergi. Diriku berada di ambang kepanikan dan terus memastikan diri bahwa aku masih .” ”Maksudmu kau yang menjadi Gandhi mengalahkan bapakmu si Hitler itu?” Ia kembali membisu. Suara-suaranya yang tadi keluar seperti terhisap ke dalam lubang air di lantai basah.12.” “Pilihan yang bagus. kepercayaan. aku tak keberatan. tapi sebelumnya. orang yang selama ini tertindas oleh egonya. aku harus…harus pulang. Aku tidak bermaksud un…” ”Ah tidak apa-apa. popularitas. ”Kau tahu di mana kau akan menemukan aku. itu adalah kalimat pertama yang kucoret di dalam toilet ini. sekarang yang kuinginkan adalah pergi dari tempat ini dan mengucapkan salam perpisahan pada tamu tak terlihat ini. Kalimat yang sangat provokatif.dari tadi aku tertarik dengan tulisanmu yang berbunyi ‘Daripada cinta. karena getaran tersebut hanya berlangsung kira-kira 2 detik dan disertai oleh suara berdebum yang memekakkan telinga. Aku tak berani mengucapkan apa-apa.” *** Jam digital di mobilku menunjukkan pukul 21.” “Mmm…mungkin sekitar 5 menit. Maaf kalau aku menyinggung perasaanmu.tidak.” “Oh ya.” “Ya. maukah kau melihat tulisanku sekali lagi. ”Bagaimana kau tahu kalau dia adalah ayahku?” Suaranya terdengar pelan. aku merasakan permukaan jalan bergerak-gerak seperti ada sesuatu sedang menjalar di dalamnya. Ini terlalu singkat untuk disebut gempa bumi. aku menyukainya. bahkan kelakuannyapun sangat kelewatan. selalu menuntutku untuk begini-begitu dan tak pernah sama sekali mendengarkan apa yang kumau. aku…. Sekedar informasi.

Sudah dua hari ini. dan kuning. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Tidak seperti biasanya. Seperti biasa. aku seperti melihat sosok teman toilet misteriusku itu terbang lepas menuju angkasa sambil membawa kesendiriannya dalam keabadian. . Dia membawakanku semur jengkol dan nasi uduk buatan Emak. datang menjenguk. akan berkurang juga beban hidup. diam tak bergerak. Ibu menitip pesan untuk Abang. “Sudah kau bawa ke dokter?” “Belum. Aku berpikir bahwa ini adalah bukti bahwa Emak masih sayang padaku. Di dipan reot depan rumah kami ini. adikku yang nomer dua. Tak butuh waktu lama bagiku untuk menerka bahwa bom telah meledakkan restoran udang bakar pedas itu.” Seketika itu nafsu makanku lenyap. menerangi sudut kota dengan kemegahan tak terucapkan. Aku ingin memastikan bahwa Emak tetap sayang padaku.berdiri memijak tanah. Tetapi yang jelas.“ Ah. Bang. Biarlah. Menurut Sardi. Sardi dengan sigap mengatur penyimpanan dan pengeluaran. ”Selamat jalan. pantulan sekumpulan bunga matahari yang berbaris di taman. Rani malah menangis sesenggukan. Mahkota emas sang raja yang berkilauan. Aku sendiri sebenarnya penasaran. Sardi sedang tidak ada di rumah. sudah rejekinya. Semur dan nasi yang biasanya tandas itu kubiarkan saja dikerubungi lalat. tetapi Emak hanya menggeleng. Lagi-lagi. Sejak aku mendengar cerita Sardi itu. Ibu memasak semur jengkol khusus untuk Abang. tempat persembunyian itu pastilah aman. Sekotak berlian itu sudah kubagi-bagi hasil penjualannya dengan Bakir. ‘Katakan pada Salim untuk banyak-banyak berdoa. sejak aku kembali dipenjara untuk yang ke tujuh kalinya. dan rasanya aku hanya dapat membayangkan momen terakhirku di toilet itu dengan jelas. Aku pikir dengan hilangnya satu anggota keluarga. asal muasal suara keras tersebut. Restoran itu kini terbakar. dia tidak dipenjara. Aku ingin cepat-cepat pulang dan bertanya pada Emak perihal perubahan itu. Entah merenung. aku sempat dua hari tidak bisa tidur. Aneh. Aku berpikir Emak sudah tidak sayang lagi padaku. Rani. Hasil curianku yang terakhir lumayan besar. Pernah suatu ketika Sardi bertanya perihal perubahan itu. oranye. Sejak saat itu aku jadi sering melamun. entah meratapi nasib. adik pertamaku. dan Nasi Uduk Januari 7th. Emak lebih banyak diam. Aku jadi begitu rindu pada Emak. aku dan Emakku. Sebulan sebelum pembebasanku. Tidak ada satu pun dari kami yang boleh mencicipinya. Aku ceritakan pada Rani tentang Sardi. 2008 by bidari Untuk kesekian kalinya kami hanya diam. Aku menoleh ke belakang. Kepergiannya tentu bukanlah ke Cirebon. Api dalam kobaran yang besar menari-nari dengan gemulai dan tak menghiraukan suara teriak yang menghampirinya. Aku hanya terpana. Emak tidak lagi menangis dan tidak lagi meratapi pilihanku. entah bersyukur. Restoran telah menyatu dalam gradasi warna merah. perubahan Emak dan perasaanku. Semur Jengkol. Dan saat aku menengadahkan wajahku ke langit. wajah iblis sedang memancarkan senyum manisnya. Dan disitulah aku menatap pemandangan indah yang bersinar di kedua bola mataku yang menciut. Mengantar barang ke Cirebon.” Demi Emak. Mungkin saja Emak sudah habis akal meluruskan jalanku. Aku berikan bagianku pada Sardi. Emakku yang penyayang tidak lagi menangisi kepergianku. Masalah yang sama. Di luar dugaanku. Hanya itu yang terus berdengung di pikiranku sekarang. Asap hitam mengepul menjangkau bulan yang sedang terang benderang. Entah mengapa. Emak tidak lagi menangis. Aku makan lahap sekali waktu itu. Aku sendiri tidak tahu di mana. Sudah terbukti. Nanti malam dia pulang bawa uang. Tetapi ternyata belum cukup. “Ibu sakit.’ Ibu rindu pada Abang. Ini hari kedua aku bebas. yang menurutku sendiri tidaklah bengkok. lagi-lagi kami bersama. Sudah lewat dua puluh menit kami terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Semoga kau bertemu Gandhi di sana.

”. aku selalu berdoa. Aku merasa dia orang yang baik dan bisa dipercaya. Baru aku tahu. Ingat pesan Emak ya. hah?” “Memangnya kau tidak berdoa untuk minta kaya?” “Hahaha…ngarang!!! Aku ini orang biasa.“ “Eh. anggap saja pengiritan. Dia tidak hanya mencuri. Karena tidak berhasil. Lim. Dia meninggal. kupeluk dia dan kucium keningnya.” Rani. Impas. ’Banyak-banyaklah berdoa’. Nanti malam Sardi akan pulang membawa uang untuk kalian. Lha apa kau pikir aku mencuri untuk beli mobil? Ngimpi!!! Itu mah pejabat!!!“ “Hahaha…ada-ada saja kau. adikku yang bersih itu. “Aku sedang bingung. kau tenang saja. kebisuanku semakin menjadi. aku tidak lupa berdoa. Sebelum pulang. tapi…memangnya boleh berdoa minta yang muluk-muluk gitu?“ “Muluk-muluk bagaimana? Minta kaya? Ya bolehlah. Dia memintaku banyak-banyak berdoa. Apa kau pikir aku ini kaya. Bangsat seperti itu memang layak menerimanya. korban terakhirnya dia bunuh dengan terencana.“ “Ooo…gitu ya. Dia begitu percaya padaku dan tidak pernah sekalipun membantahku.” “Kenapa? Sebentar lagi kau kan bebas. bahwa keadaan Supri jauh lebih parah dariku. Aku terharu. Aku terus memikirkan katakata Emak. Radang paru-paru yang menggerogoti tubuhnya sudah tidak mau toleran. Sebulan lagi aku datang menjemput Abang. Aku seperti kehilangan teman berbagi. Aku sedih sekali.“Sudahlah. Dia bertanya tentang perubahanku yang drastis. itu sudah bagus. ”Ya Allah semoga hari ini aku dapat tangkapan besar. dia terlihat lebih menyenangkan.“ “Bagus apanya? Aku tidak mengerti harus berdoa dengan model apa lagi. “Semoga kali ini tidak gagal. Biar sesekali bisa merasakan makan di restoran. Aku merasa baik-baik saja hidup di penjara ini.“ “Mungkin doa yang lain. Meminta kelancaran. minum. Supri. aku dan Supri menjadi akrab. Katanya. “Abang baik-baiklah.“ “Ooo. dan berbagai variasi lain sesuai kebutuhan. Aku meminta kepada Tuhan agar melancarkan usahaku. Jangan lupa kau belikan obat untuk Emak.”. Makan. Kami sering ngobrol masalah ini itu. tidur gratis. “Ya Tuhan Emakku sakit. Seminggu sebelum hari bebasku. Aku kan selalu berdoa setiap kali melancarkan aksi.” “Hahaha…ada-ada saja kau ini. bayar sekolahnya Sardi dan Rani dan Emakku tidak sakit.” “Bukan masalah itu. menggangguk saja.” Sejak percakapan itu. . Sebelum melakukan aksiku. tetapi juga mbegal dan membunuh.” “Lha. Aku bingung memikirkan nasehat Emakku. Asal bisa makan. trus mau bagaimana? Sudah mencuri saja masih tetap melarat. Hari-hariku kuisi dengan melamun. Oke lah. Ngirit kok terus.“ “Doa yang lain bagaimana maksudmu? Doa supaya cepat bebas dari penjara? Ah. Pri. itu basi. Seingatku. Pri.“ Sepeninggal Rani. Aku tidak mengerti apa maksud Emak. aku kehilangan Supri. Bagus lah. aku butuh uang. Hukumannya kali ini bukan yang pertama. tetapi yang paling lama. Laki-laki itu berusaha memperkosa istrinya. Yah. teman satu sel. laki-laki itu membunuh istrinya. Apalagi sejak dia belajar sholat tiga bulan yang lalu. aku akan berdoa minta kaya kalau begitu.”. memperhatikan keadaanku. Mengapa Emak menyuruhku banyak-banyak berdoa. Rani sangat baik. Dia membunuh laki-laki itu karena alasan balas dendam.

Karena memang aku tidak kenal mereka. Kau memang harus banyak-banyak berdoa. Sardi dan Rani lulus sekolah. apa hubungan semua itu? Emak tahu?” “Lim. Demi menemukan jawaban itu. Aku membaca buku itu layaknya membaca kehidupan. Selama seminggu menunggu sisa waktuku. Dan kamu tidak dipenjara lagi. ternyata perasa. Emakmu ini tidak pernah sekolah. Lim. “Mak. dan pikirannya.” . Supri yang pembunuh. Mana Emak tahu tentang puisi.” Aku mencoba memahami hubungan antara doa.Tidak banyak barang peninggalan Supri. Di buku itu kujumpai puisi di sana sini. Entah mengapa aku merasa wajib menyimpan buku itu. Fotofoto itu tidak menarik perhatianku. Sepertinya. Supri menuliskan semua keluh kesah. Yang Emak tahu. Lalu kutempelkan di dahiku. Buku catatan itu jauh lebih menarik. Lim. Lanjutan dari obrolan yang terputus. Satu yang menarik perhatianku adalah ratapannya pada Tuhan. Kulipat bagian-bagian yang menarik perhatianku dan kubaca lagi dua – tiga kali. berdoa itu penting. Aku mencoba mengerti kata-kata terakhir Supri waktu itu. ‘Benar kata Emakmu. begitu kata ustad Jika memang masih Kau ijinkan aku hidup Berilah aku kebebasan Jangan Kau tipu aku dengan uang Dan jangan Kau tipu aku dengan foya Tolonglah… Sekali ini saja Beri aku ini hidup yang berarti Cukup sekali’ Aku meminta ijin kepada kepala untuk memiliki buku itu. hanya sebuah buku catatan kusam dan beberapa lembar foto usang. Lim. aku membaca buku itu hingga selesai. Emak minta agar hidup kita tenang. Di sana. perasaan. ’Jika aku ini tidak lebih dari setumpuk kotoran Jika aku ini tidak lebih dari seonggok daging Jika aku ini tidak lebih dari pengacau Kenapa tidak Kau matikan saja aku sekarang Bukankah Kau Maha Segala Apalah sulitnya mematikan aku Tinggal kau tiup saja Kun faya kun. buku itu adalah warisan Supri untukku. Emak dan tenang. Kuceritakan pada Emak semua hal yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini. Pantas kalau Emakmu begitu sayang padamu. Kau orang baik. Seperti memohon restu darinya.“ “Apa Emak berdoa setiap hari? Emak meminta apa?” “Yang biasa saja. kucium tangan kanannya bolak-balik. Seperti biasanya. Aku takjub. Semuanya nampak jelas dan nyata. hari pertama bebas aku langsung menemui Emak. Buatlah hidupnya tenang.

Senang sekali mendengar suara di bawah sana. Emak sudah senang kok. kita tidak usah repot cari uang untuk bayar sekolah dan makan tiap hari. lagi-lagi aku jadi teringat Supri. Namun sekarang aku tahu apa yang mereka lakukan. Lampu di kamarku masih menyala. Sementara tungkai kaki kiriku terayun-ayun mengambil ancang-ancang. meski kecil. jernih tanpa gangguan. Pastilah mudah. lagi-lagi kata tenang. Sebab jantungku seperti berhenti berdetak saking cepatnya memacu. Seperti menguji kepekaan telingaku. Walau begitu aku tetap harus hati-hati. Kemudian secara perlahan telapak kaki kananku menginjak gagang pintu sehingga terdorong ke bawah.“ Ah. Aku dan Emak masih belum beranjak dari dipan. Tetapi setidaknya aku berusaha untuk tidak kembali ke penjara. Kamu tahu kan tempatnya? Itu di loteng! Hampir tiap hari aku naik dan berdiam diri di sudut atas kamar itu. Membuat suara serangga malam di luar rumah tidak terdengar. tapi tetap saja gerakanku menimbulkan suara. Kumatikan lampu dan gelap seketika. Wajahnya sehabis wudhu terlihat lebih tenang. Lim. Kakiku yang menginjak udara itu melayang ke atas dan hinggap di balok kosen paling bawah. Lim? Biar bisa gegayaan seperti orang-orang? Tidak usah. Aku berdiri tegap serupa hantu yang ingin mengusik. Aku menyerah. mengganti celana dengan sarung. . makan semur jengkol. akan kujelaskan padamu bagaimana caranya aku bisa naik ke atas sana. saat bisikan itu dibarengi dengan bunyi berderit-derit. Kan biar bisa makan di restoran. Sebisa mungkin tanpa bunyi. Mak. Apalagi bagi Tuhan yang Maha Kuasa. Samar terdengar bagai menembus dinding kamarku. Kutarik napas sejenak. Kadang mereka tidak tahu waktu. Aku belum tidur. Pintu tidak terbuka lantaran sudah kukunci. Jari-jarinya saling merekat dan menekuk bagai mencengkeram. Di Atas Kamar di Bawah Atap Desember 12th. *** Mula-mula kusingkirkan segala alat tulis dan kupastikan meja belajar mampu menahan berat badanku saat aku menginjaknya. Emak malah takut kena yang aneh-aneh. mulai berlari pulang ke rumah masing-masing. 2008 by Emil Akbar Aku selalu berada di atas kamar di bawah atap ketika malam datang. Anak-anak yang tadi main gundu. Aku masih belum begitu memahami hubungan doa. aku mengira mereka sedang bercanda atau tengah bertengkar dan tidak mau diketahui orang lain. Menggelitik gendang telingaku.“ “Ah. Ototku yang tidak berotot menjadi kejang karena tertarik. Kedua tanganku menggenggam kosen pintu yang berbentuk kotak-kotak dan tak berkaca. Telingaku bisa langsung setajam kuping kelinci serupa antena mendapatkan sinyal yang diinginkan. Pagi-pagi buta Emakku masih harus bangun untuk membuat gorengan. Sekali-sekali gitu. Lamat-lamat terdengar suara adzan dari musholla di gang sebelah. Emak dan tenang. Sedang mengerjakan PR.“ “Lim. Gayaku mirip dengan pemanjat tebing. Dulu. mengganggu konsentrasiku belajar. Mungkin memang sudah waktunya untukku belajar sholat seperti dia.“Oh.” “Buat apa. Seperti malam ini. Lalu kuangkat kaki kiri menapaki pinggir meja dan kaki kanan setelahnya untuk menjaga keseimbangan. Demi melihat senyum Emakku. Emak. sudah lah. Ah. bahwa keinginan yang sederhana tidaklah sederhana pada pelaksanaannya. Kawan. mereka mengeluarkan suara berbisik-bisik. Kutindih buku tulis dengan pena. Tak satu pun soal bisa kujawab. Sudah tenang. Namun aku yakin tak kan terdengar sampai di seberang sana. Kalo kaya. Lalu aku? Apa yang kulakukan? Tidak banyak. tetapi agar aku bisa melihat senyum Emakku. Malam belumlah terlalu larut. dan nasi uduk lebih sering. Dadaku bergemuruh bagai amuk badai menghancurkan segala pertahanan diri. Permintaan Emak memang sangat sederhana. Enak kan. Sardi masih harus bersepeda ke sana ke mari mengantar koran dan Rani masih harus mencuci pakaian tetangga. makan semur jengkol dan nasi uduk lebih sering. Bukan untuk merubah wajahku. Tidak usah neko-neko. Kenapa Emak tidak minta jadi orang kaya? Kata Supri. kita boleh berdoa minta jadi orang kaya. Doa Emak dikabulkan saja. Tetapi aku menyadari.

Saat sarang laba-laba itu membalut wajahku. Ada pipa kabel listrik tak sengaja kusentuh. Kuhela napas berkali-kali mengeluarkannya. Jangan sampai aku terpeleset dan mengenai lantai loteng yang rapuh dan mudah pecah itu. Ibarat Kabut tebal menghalangi melihat jalan di depan. Mataku tak berkedip dan menatap nanar seiring dengan debar yang bergenderang seperti ada gendang ditabuh di dadaku. Dulu. Aku melangkah dengan cara merunduk menuju balok yang rebah. Rumah ini beratap seng. Aku berlari dan berhenti setelah sampai di kolong rumah. serpihan tembok berjatuhan seperti rintik hujan menyentuh bebatuan. supaya tidak terantuk atap seng yang akan menimbulkan bunyi gaduh. seperti batang pohon yang dijadikan jembatan untuk meniti. kami bertetangga sebelah rumah. terbuat dari adonan kertas basah yang dicetak. khawatir aku kesetrum. . Kukoyak sarang labalaba itu menjadi helai-helai yang berjatuhan. Aku ngeri membayangkan bila itu terjadi. menimbulkan gelap yang terlihat. Di salah satu sudut atas kamar inilah aku termangu memandang perbuatan Ibu dan Bapak. beberapa ruangan memang belum mempunyai plafon. Sedang direnovasi menjadi rumah batu. Juga melekat di bajuku dan susah sekali menghilangkannya seperti noda yang membandel. Kini aku baru tahu kalau itu adalah proses seng kembali ke ukuran semula setelah siang tadi memuai karena dipanggang panasnya matahari. Kukumpulkan dan kuremas kemudian kujadikan bola-bola kecil lalu membuangnya begitu saja. Biasanya Ibu mematikan hubungan listrik tiap kali aku membersihkan loteng ini yang dipenuhi sarang laba-laba. Aku berjalan menyamping sambil tetap duduk mendekap lutut dengan kepala tertunduk. tidak terlalu terang tapi cukup membuat benda-benda yang diterpa cahayanya memiliki bayang-bayang. Asal kamu mau menyimak dengan baik pengalamanku yang pahit. Aku bakal dibangunkan dan orangtuanya akan bilang pada Ibuku. Aku pamit saat temanku itu sudah mengantuk. Hanya lampu di kamar ibu yang menyala di dalam rumah. Tadi pagi Ibu menyuruhku membersihkannya dengan sapu lidi tapi tidak kulaksanakan karena asyik bermain di rumah teman. penopang atap rumah. termasuk kamarku dan kamar Ibu. udara agak panas. Ada juga balok yang melintang dan membujur. Mereka menyarankan sebaiknya aku menginap saja. Seperti aku takut tercebur ke dalam sungai karena tidak bisa berenang. Anehnya. dan itu sangat mengganggu. aku jongkok membungkuk mendekap lutut. Dulu. terletak di tengah rumah yang merupakan pusat dari balok yang bertebaran. mirip tripleks. Mungkin sebentar lagi hujan. Ibu selalu mengingatkan agar jangan pernah memegang pipa tersebut. Lantaran bayanganku terlihat memanjang. yang tak semestinya kualami. jadi aku aman. Bahkan banyak yang tersangkut di sela-sela jari. Setelah aku sampai di tempat bertemunya atap seng dengan tembok. Kawan. Sekarang aku telah tiba di tujuan. Sering begitu sejak pertama kali aku melihat adegan ini. Lubang hidungku kemasukan debu. aku pelan-pelan melongokkan kepala dan menariknya kembali jika terlalu menjulur ke depan. Aku berjalan merangkak serupa hewan berkaki empat. Besok mungkin Ibu akan marah dan mengingatkanku lagi. *** Malam itu aku pulang larut malam. aku takut sebab mengira ada pencuri yang mau masuk rumah atau ada setan di luar sana ingin mengambilku. Kuhirup bau pengap. video game. kusapu cepat karena lengket dan terasa gatal seperti kalau aku kegelian. Sesekali memang terdengar gemeretak seng seperti ada orang yang berjalan di atasnya. yang tidak mengenakkan pandangan kala mendongak.Badanku mulai merayap seperti cicak raksasa menggerayangi dinding di keremangan malam. dia punya mainan baru. Ibu tidak mencariku. Di bawahku adalah langit-langit ruang tamu. Kuberanikan diri karena jaraknya dekat. Sarang laba-laba mulai menghadang ketika aku menerobos paksa. membuatku gerah sehingga keringat membasahi bajuku. Tapi aku tak peduli. Aku meringkuk sebentar di balik balok paling besar. Suara napas memburu di bawah sana melecut semangatku untuk segera mendekat. Tempat tinggalku masih rumah panggung yang hampir roboh waktu itu. Agak berisik. Yang aku takutkan anjing mulai menggonggong. Tangan kananku menggapai permukaan tembok yang kasar. Pondasinya telah dibangun. Akhirnya aku pulang sendiri. Setelah jeda sesaat aku kembali berdiri. Sekarang aku berada di atas kamar. membentuk kerangka atap. Kecuali ruang tamu. Belum pernah aku bermalam di rumah orang tanpa Ibu. Tapi aku tetap mau pulang. Saat aku masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Akan kuceritakan. Biasanya mereka beranggapan bahwa ada tikus berkeliaran di atas sini. Di bawah sana sendu yang temaram. Sering tanpa bisa kucegah. pagi-pagi benar baru pulang. Lupa waktu saking asyiknya bermain di rumah teman.

Dia melucuti baju dan melorotkan celanaku. tapi tetap saja menyisakan cela untuk melongok ke dalam. Sementara orangtuaku belum pulang dari pasar. Temanku sudah tidur di kamar orangtuanya. Kemudian pamanku itu kencing seolah-olah dia menganggapku tidak ada di sampingnya yang tengah telanjang bulat. Mereka seperti bayi raksasa. perih. Dia kenakan kembali pakaianku sebelum berbalik membelakangiku. Kugigit satu persatu jari-jari tanganku. tapi aku harus merasakan lagi luka. Ini rahasiaku. yang mungkin tidak ada obatnya. Meraung serupa singa yang terluka. Pamanku itu numpang tinggal sebagai tamu hanya beberapa hari sebelum pergi meninggalkan benci di hatiku. Semuanya sudah tidur kecuali ibu dan kakak temanku. Dia membalikkan badanku lalu menindihnya. menunduk hampir menangis. Aku ingin marah entah kepada siapa. Berteriak seperti lolongan panjang tapi tertahan. Ketika dia melenguh yang paling aku ingat adalah. Beberapa kali kupejamkan mata tetapi aku tidak bisa tidur. berharap bisa menghilangkan nyeri. Mulutku terkatup rapat. Padahal dia tahu ada orang yang sedang mandi. hampir lepas dari engselnya. hanya kutahan dengan ember berisi pakaian kotor yang terendam. ember berisi cucian menjauh darinya. Menyingkirkan dengan kaki. mencabut rasa kantuk. Aku tak mampu menyimpan rahasia ini. Adegan itu masih terbayang. Ibu temanku menyuruh kakak lelakinya yang sudah SMA mengajakku masuk. merangkulku bagai memapah orang yang terjatuh dan lututnya lecet. Aku menggigit kain bantal. Aku merasa basah. Bapak lain lagi.Aku lewat belakang. Di luar sana kudengar Ibu berteriak memanggilku pulang dan dibalas oleh ibu temanku bahwa aku sudah tidur. tenggorokanku tersumbat. tangannya meraba-raba tubuhku dan menyergapku dari belakang. Awalnya aku menyukainya karena baik padaku dan sering mengajakku jalanjalan mampir ke rumah temannya. Adik lelaki bapak yang masih bujangan. Sementara aku tergugu. Kakak temanku berbaring di sampingku tapi juga tidak tidur. Leherku terasa kering seperti dihisap. mungkin aku dapat menyimak dengan jelas suara mereka yang mengerang disela bunyi ranjang yang bergoyang. Kurasakan napasnya memburu. Begitulah. Sejak itu aku tahu masa kecilku telah hilang. Merasuk ke telingaku menimbulkan kesan yang dalam. bergemelutuk bagai menahan gigil. gigiku saling beradu. Kembali berlari membawa hatiku yang kalut. Tapi sore itu mengubah segalanya. Namun itu hanyalah awal. *** Lamunanku buyar ketika kudengar hujan turun memukul-mukul atap rumah. Mataku membelalak tak berkedip mengamati tingkah laku orangtuaku. Mereka hanya mengira aku tidak dibukain pintu. Dia melarangku bilang-bilang! *** “Awas kamu Anto!” . Perasaanku belum sembuh waktu itu. Setelah itu dia mengancamku. dan dia masuk ke kamar mandi tanpa keraguan sedikit pun. sampai kakak temanku itu habis tenaga. Saat aku mandi tanpa menutup rapat pintu kamar mandi karena rusak. mengendap-ngendap menaiki tangga kayu. Timba di tanganku jatuh berdentang menimbulkan gaung yang lama. Matanya merah. Padahal. Apakah lelaki itu tidak mendengar gemericik air yang bersimbah-simbah? Tentu aku kaget dan hanya bisa terhenyak serta gugup. belum cukup umur bagi seorang bocah yang baru saja pandai membaca. Kawan. Tapi sayup masih bisa kudengar rintihan Ibu yang seperti disakiti. Dan apa yang aku saksikan. Andaikan aku di bawah ranjang. Satu-satu kemudian menderas. jadi kuceritakan saja padamu. Karena tak lama. tempat aku memasukkan tangan untuk membuka palang pintu belakang. Aku menuruni tangga dengan perasaan hancur. Terkadang mengejan seperti orang buang air. Aku masih tetap duduk memeluk lutut dan membeku. Peluhnya masih tertinggal di badanku. Mengajariku merokok di pangkal paha. Aku berbaring gelisah. Istirahat sebentar di serambi. Aku disuruh cuci kaki sebelum masuk kamarnya. aku sedang dibekuk tak berdaya. Akan kusimpan baik-baik. Lalu dia menyandarkan punggungnya di pintu kamar mandi hingga tertutup rapat. Dia menarikku berlutut di hadapannya. Aku melihat situasi dalam rumah melalui lubang di papan. Sakit. nyenyak sekali. Di mulutnya terkulum sebatang rokok yang membara dan asapnya mengepul ke manamana. Aku takut sekali. mataku membelalak dan berair yang bermuara di pelupuk. Mengguyur kelamnya malam. Aku kembali ke rumah tetanggaku. Aku pernah mendengar suara yang sama pada lelaki yang berbeda. Bahkan tak jarang suaranya hilang berganti desah bagai kehilangan napas. Tubuhku bergetar menahan debar. Mendengkur. Aku hanya mematung.

hujan makin turun deras. Posisiku seperti udang. Telentang membuat perutku kembang-kempis. Aku dihantui bayang-bayang akan apa yang bakal terjadi besok? Barangkali orangtuaku terlalu lelah buat membentakku malam ini atau mereka cuma menasehatiku untuk tidak mengulanginya lagi? Mungkin juga hal ini tabu untuk dibicarakan dan mereka sedang berunding? Kali ini aku tidak mendengar apa-apa selain gemuruh hujan. kita langsung ke rumah Pak Mantri. Keluar dari kamar. Biasanya aku tidak pernah mengunci kamar di malam hari. “Kapan kamu libur?” Aku tidak menjawab. Pikirku. diteguk dan diletakkan kembali. sementara Ibu bosan menunggu. kenapa kali ini aku terkesima. Kamu sudah kelas satu SMP. Lekas aku beringsut dari pembaringan. aku ketahuan. Januari. Aku cuma ingin menghargai diri sendiri. Ya. menjaga keseimbangan. Berharap dan berjanji dalam hati akan membereskan semuanya tanpa bekas. Terima kasih! Doamu terkabul. lebih karena bau parfumnya. hari pertama kamu libur nanti. kutepis dengan cepat seperti memukul kulit. Dengan langkah tergesa-gesa aku berbalik ke jalur yang menuju kamarku. Belum sempat aku menarik napas ketika keseimbanganku goyah. Astaga. Aku menunggu supaya tidak dihakimi malam ini. Jika Ibu tahu aku mengunci kamar berarti ia tidak salah lihat. hendak turun. . tanpa jejak. Aku menghirup udara banyak-banyak dan menghela habis-habisan. badan ini mesti diubah komposisi wewangiannya. “Baiklah. Naluriku tersentak. Yang jelas mereka tetap melanjutkan. Barangkali dendam gara-gara rumahnya kuberantas. Laki-laki jetset penganut kapitalisme. mengganti pakaian. Aku menempelkan pantatku di permukaan tembok sambil menjulurkan kedua kakiku ke bawah. Tubuhku terhempas dalam. Menolak badanku seperti mendorong ke atas. Buru-buru aku balik ke tempat tidur. Kalau bisa aku ingin menggulung tubuhku sekecil mungkin. Aku gerah sekali. Ketika bangun pagi aku merasa mataku sembab dan agak bengkak. Depok. Entah di mana mata Ibu hingga bisa melihatku. 2008 by andika destika khagen Entah kenapa aku bertemu dengan Satria tadi pagi. Gerakanku tidak terkontrol saking paniknya. Di luar. tulang belakang melengkung. asalkan wangi. kok bisa sampai lupa! Sudah waktunya kamu disunat!” Aku menganggap itu adalah hukuman buatku dan tanpa kusadari di hadapanku bukan lagi Ibu melainkan Bapak yang sedang berkacak pinggang. Sedikit kupejamkan mata. Merek apa saja. Kunikmati wewangian itu agak lama. Kurasa ada seekor laba-laba kecil hinggap di leherku. debu berhamburan bagai ketombe yang berjatuhan. Bukan karena ketampanan laki-laki bangsawan itu. Kawan.Juni 2008 Hipotesis Sebuah Parfum September 25th. Perlahan tapi pasti salah satu kakiku menjangkau gagang pintu. Pintu kamar Ibu terbuka. Dengan sigap aku membalikkan badan menghadap tembok dan tepat saat itu kakiku yang satu lagi bertumpu pada pinggir meja belajar. Lega tapi resah tak mau pergi dari hatiku. Saat menegakkan badan sedikit kepalaku tertumbuk balok. bukan untuk menggaet perempuan dan berbeda dengan teman-teman aktivis lainnya. tadi aku berada di atas sana. Sangat wangi. Aku baru tersadar ketika wewangian itu dikalahkan oleh bau badanku sendiri. Kuacak-acak rambutku. melompat ke arah kasur busa yang tak jauh dari situ. Aku merinding menahan kencing. Ibu sudah menghadang dan bertanya. Dari jarak dua meter tempat aku duduk. membawa perasaan cemas. Baru kusadari nyamuk berdengung menyerbu telingaku. Suara gelas terisi air. Sejak itu aku ingin beli parfum. hanya menundukkan kepala karena merasa bersalah. Doakan aku. Terdengar gemericik air di kamar mandi. Terpaksa aku harus terjun. Kuatur napas biar berirama kembali. Untungnya bukan seng sehingga suaranya teredam meski sakitnya serupa disengat lebah. Kasur busa itu menggeliat seperti tidak mau ditimpa. parfumnya—entah merek apa—tercium. Aku juga heran. tapi aku mesti beranjak dari persembunyianku ini sebelum mereka melabrak kamarku untuk memastikan aku tertidur lelap. Kedua tanganku silih berganti memegang balok di atasku.Kawan. Memeluk bantal erat-erat.

oh. Biayanya lebih besar daripada membeli parfum buatan Jerman atau Amerika. Tidak semua orang yang bisa membeli parfum pada paranormal. Dari ujung ke ujung. Toh. orang yang kuhadapi tiap hari hanya itu-itu saja: Sardi. “Rambutmu rapi. Kelebihannya mungkin terletak pada wangi natural yang ditawarkan. memang ada yang berbeda dari parfum. Aroma terapi menyebar ke seluruh penjuru sampai sudut yang tak terhingga. *** Inilah langkah terindah yang pernah kuayunkan. Parfum ini telah menular ke rambut. wajah. .” Tiga orang yang berpapasan. Itu yang baru saja kukenali. Parfum Walikota tentu tak bisa aku beli dengan alat tukar yang hanya berjumlah tujuh lembar uang kertas bergambar Kapiten Pattimura. termasuk juga aku. Inikah alasan orang-orang pakai parfum? Parfum. parfum bukan menjadi kebutuhan pokok.” Auraku sedikit bertambah. Biasanya. Menarik lawan jenis dengan parfum memang bukan hal yang biasa lagi. Aku pikir. Parfum ini harus dinikmati semua orang—minimal warga kampus ini. “Senyummu indah Kus. “Bau keringatmu berbeda hari ini.” Setiap senyum kuanggap kasiat parfum. mengeluarkan pujiannya. Rusni. Mereka biasanya menawarkan parfum dengan aroma yang berbeda. Kupilih aroma terapi. dari ketiak sampai buah baju. Pertama kalinya. bau amis berganti menjadi aroma terapi. Lima kali semprot. rasanya terasa cukup membuatku lebih menikmati hari. Bau amis ketiak dan keringat menjadi satu membentuk aroma yang tidak sedap. dan Rini. Tak ada rasanya orang yang berani duduk di dekat pasangannya dalam keadaan amis. Siapa lagi yang akan memujiku? Aku rindu pujian sebanyak mugkin untuk meyakinkan pada dunia bahwa wangi itu penting. Pikiranku sedikit keliru. Rasanya. Pasar selalu memberikan kemudahan bagi penganut konsumerisme. Satria tak lagi jadi bahan diskusi kami. aku baru saja tersentak. kenapa tidak semua orang sadar akan wewangian? Wajar saja Bidin jadi Walikota. Rinto. Kami tak pernah menghiraukannya. mereka tidak berkata.” Tak mahal harga untuk sebuah parfum. “Tak apalah menyisihkan sedikit uang untuk menghargai diri sendiri. Bukankah tidak ada orang yang suka dengan bau amis? Tak apalah. Diolah sendiri. Tapi sayang. harga sebuah parfum (aku belum mampu membedakan antara parfum dengan splash cologne. Ia tentu pakai parfum yang harum dengan harga yang sama dengan uang kuliahku dua semester. dan senyumku. sabun mandi saja sudah terasa cukup membasuh badan lusuh ini. Mereka mesti diberi penyadaran bahwa parfum itu penting. Parfum ini membuat orang-orang menyapaku. Setidaknya. Atau mungkin juga dibeli pada paranormal. Bau badan mereka. Pikirku. “Aku telah menghargai diri sendiri di antara orang-orang yang selalu memikirkan orang lain. Katanya.” Oh. tak ada yang bisa membedakannya. Parfum harga tujuh ribu saja rasanya sudah cukup untuk mahasiswa yang tak pernah punya anggaran membeli parfum. Pelajaran itu kudapat dari Satria. Aku merasa beruntung bertemu Satria tadi pagi. Bau parfum ini sama halnya dengan sedikit demokrasi yang dirindukan warga Pakistan pasca tertembaknya Benazhir Bhutto. Aku bangga membuat dunia menjadi wangi. Atau setidaknya lagi teman-teman diskusi. Parfum hanya pantas dimiliki bagi mereka yang berpasangan. cuma aroma terapi yang membuat hidungku merasa nyaman. setiap yang wangi adalah parfum). Senyumku lebih mengembang. Ia jadi pahlawan sekarang. Dari tatal ke tatal. Itulah bau terindah yang selalu kami hirup. Di antara puluhan yang berjejer di rak swalayan. kasiatnya lebih manjur daripada yang dijual dipasaran. dunia memang butuh aroma mengganti bau amis darah yang tiap hari keluar dari perut ibu pertiwi. Parfum di sana tentu lebih harum daripada yang dijual di swalayanswalayan yang hanya untuk kaum konsumerisme kelas menengah ke bawah. Tujuh ribu rupiah. Wangi atau tidak hanya sebuah perumpamaan dan bentukan sosial dari keadaan.Ini pertama kali aku punya keinginan beli parfum. wajar adanya dan kami tak pernah mempermasalahkannya. Bau keringat yang diberikan Tuhan harus dilawan dengan aroma terapi. Kesadaran akan wangi benar-benar harus ditanamkan. Untuk itulah. bahkan bau keringat pun tak ada lagi orang yang menghargainya! Tapi. Ah. parfum. Dibeli di Jerman atau Amerika. Kus.

Betapa kasiat ini tak pernah diduga sebelumnya! Keterkejutanku berikutnya terus bertambah. Tentu ia tidak sedang bercanda. terpakai di badan. Lagi-lagi parfum ini mempesona. tapi kebutuhan.” . Semua yang lusuh kelihatan baru.Diskusi dengan bau badan amis tak lagi menarik bagiku. bahkan tidak bisa membedakan celana yang baru dan usang. Apalagi yang kuharapkan dari parfum? Semuanya terlihat begitu sempurna. Kapan kamu beli?” Apalagi ini? Hey. senyum. Tiga lobang menganga di sisi kiri dan di depan. dua bulan baru parfum itu akan habis digunakan. Setiap senyum kuanggap kasiat parfum. Semua yang ada. dan diletakkan di dekat kaki. “Celanamu baru. bau yang busuk tetap akan tercium. semua orang bilang sepatuku baru. Menghabiskan uang dengan hal. Aku teringat Satria.” Apakah parfum ini menular juga ke celanaku? Roni. perlu diragukan otak yang sedang dibawanya. seorang gadis berkepala batu hari ini mencair. tak ada yang sadar bahwa yang dilihat tidak seperti yang sedang aku pakai! Aku teringat akan kemunculan parfum ini ketika keluar dari toko. Tak ada lagi keburukan yang akan menganga karena semuanya ditutupi dengan bau parfum. Kus. Tapi apakah bau amis mesti ditutupi? Bukankah ada pepatah mengatakan ”Sampai manapun. Untuk pertama kalinya Suci membagi senyumnya kepada orang yang tak pantas menerima senyuman. *** Lima semprot parfum beraroma terapi ini membuatku tak habis pikir. Kelewatan. Sepatu lusuh saja terlihat baru. Cuma lima kali semprot di setiap sisi yang dirasa perlu. Bagaimana dengan sepatu baru? Tentu orang akan memandang new baru atau double baru. adalah barang konsumtif dengan harga tak terkira—mungkin juga tak terjangkau. “Sepatumu bagus. meskipun ia seorang yang harusnya bisa dipercaya. Apalagi melihat senyum Suci. Kenapa Rudi bilang baru? Sedikit pun tidak ada tanda-tanda sepatu ini baru. Benar-benar tidak bisa diterima. Kodrat dan kebutuhan mesti diletakkan pada tempat yang semestinya. Untuk beli parfum saja aku harus rela mengorbankan makan siang. Gawatnya. Tidak sempat pula kiranya untuk beli celana baru. Parfum ini ternyata jauh lebih membingungkan. Isinya masih banyak. rambut yang tidak berminyak kelihatan rapi. parfum ini ternyata membuat dunia menjadi absurd. Nalarku berjalan. Semua benda yang menggantung di leher. Sepertinya tubuhku tak lagi mutlak menjadi milik pribadi. Semakin menakjubkan. Inilah sebenarnya yang diharapkan dari parfum: sebuah kamuflase akan tampilan bentuk. Hidung-hidung manusia ditusuk seperti kerbau. Luar biasa. apalagi berdusta. Ustadz Hamzah juga bilang sepatuku baru. yang baru saja menyapa. Pantaslah banyak orang yang membeli parfum sampai ke luar negeri. Apakah mereka semua sudah gila? Hipotesis ini begitu membingungkan. astaga. berlawanan dilihat. Bahkan Suci. setelah berpapasan dengan Rudi. Celanamu beli di mana?” Aku tersentak dan harus terima dengan perubahan yang serba tidak jelas ini. Kus. Bagaimana dengan orang yang tak pakai parfum? Aku hanya mampu mengatakan bahwa parfum itu penting. Jika keadaannya setelah ia pakai parfum. tak pernah terpikirkan untuk menggunakannya. jika aku pakai. bagaimana orang melihat baju. Aku menikmatinya. Tapi. Kus. Hidung-hidung itu punya kesimpulan yang sama: parfum di badanku begitu menggoda dengan aroma terapi. Hipotesis ini benar-benar membingungkan. Bagus dan buruk tak jelas lagi mana batasnya. Aku mulai curiga pada parfum ini. Pelbagai keanehan muncul. Orang yang bilang sepatu yang aku pakai baru. setidaknya untuk mengurangi bau amis. bila dibandingkan dengan kaum duafa. jelas nyata. Seharusnya aku bangga dengan keadaan ini. Sama halnya dengan kenikmatan orang-orang pada umumnya akan tampilan bentuk. dan senyum yang kusam menjadi mengembang. ini jelas tidak benar. ”Kau begitu berbeda hari ini. Aku ngeri membayangkan Walikota yang menggunakan parfum yang dibeli dari Jerman dan Amerika. Baru dan usang tak ada yang bisa membedakan. Walau belum tentu nyata. Bau badan bukan kodrat. tapi tidak dengan sepatu. Kenapa tidak ada yang bisa membedakan antara dua hal yang jelas berbeda? Sepatu ini jelas sudah lusuh. Wewangian ini begitu sempurna. dan sepatunya? Tentu jauh lebih bagus dari yang sekarang dikenakannya.

ah. “Aku baru saja melihat kau di Pasar Raya. Dua tempat ini begitu berbeda sangat. Dua tahun. Aku tak pernah kemana-mana. Celana. Terdengar suara-suara bernada tinggi. Tampak ibuku berurai air mata. Suara tangan ayahku yang menyentuh pipi ibuku. Hari-hariku dihabiskan hanya di kampus ini. “Bau keringatmu berbeda hari ini. tidak bisa diganti dengan ketidakbenaran yang diciptakan oleh parfum ini. Plak. Iya. ia hanya bilang. tidak pernah ada yang bilang. Tunggu. Tangisan siapa? Aku atau ibuku? Aku sudah berhenti menangis.” Aku mulai tidak tahan lagi dengan perlakuan parfum ini. Ibuku tersenyum kepadaku. juga di sini. baju. Kebutuhan mengatakan bahwa tak perlu ada parfum toh tujuannya mengaburkan makna yang sebenarnya. Suara-suara yang belum bisa kumengerti kata-katanya. Suara yang kemudian berlanjut kepada tangisan. tidak ke mana-mana. Tampaknya aku baru terbangun dari tidur lelap yang panjang. Aku melihat keluar jendela. keinginan tentu tak tega memperbiarkan bau busuk mengotori udara yang tak lagi bersih. satu lagi di lingkungan akademis. Suara-suara bernada tinggi yang menakutkan. “Aku selalu di sini Rinto. Oh.Pertentangan antara kebutuhan dan keinginan berkecamuk. Kus?” Ini keterlaluan. . Rinto melihatku di pasar. * Di mana aku? Aku berada dalam kebingungan. Di lain hal. Ketika kutanyakan pada Rini.” Parfum ini harus segera dibumi hanguskan.” Tak ada lagi ampun. S-E-M-A-R-A-N-G. Kos-kampus-sekre tempat diskusi adalah tempat yang tak berubah kulalui dari waktu ke waktu.” Tidak ada yang berubah. Tapi aku masih belum bisa membaca. tetap bau keringat dan amis. Atau mungkin tiga tahun. dikembalikan lagi ke swalayan. Rinto. bahkan tubuhku sudah diduplikasi oleh parfum ini.” Sebenarnya hanya itu yang kuharapkan dari tadi pagi. Aku masih mengingatnya dengan jelas. kau serba baru sekarang. parfum itu mesti dibuang. sepatu. Aku berada di pangkuan ibuku. Satu di tempat penuh kebohongan. Begitulah huruf-huruf yang tertulis. ke mana hilangnya parfum yang kutaruh tadi pagi di atas meja?*** Ibu dan Anak Januari 28th. Mari kita mulai saja diskusi ini. Di buang sejauh-jauhnya sampai tidak terlihat oleh Tuhan sekalipun. Menangis karena apa? Lapar? Popok yang belum diganti? Haus? Atau aku hanya ingin mengeluarkan air mata saja? Tapi sepertinya aku menangis karena suara-suara itu. Suara tamparan itu. yang seharusnya digunakan untuk makan siang. Ia mencium pipiku. Aku lupa lagi. 2008 by Anekdot Entah berapa umurku saat itu. Setidaknya. Atau seperti sebuah monumen. Kus. Aku tak bisa menjelaskannnya. Hipotesisku baru saja selesai: wangi parfum membuat orang lupa akan sepatu buntut! Oh. Tapi. Atau mungkin sedang berbaring. Sampai sekarang. Apakah aku menangis ketika itu? Mungkin. aku menangis. dan senyummu begitu indah. Tak seorang pun yang tahu aku pakai parfum. Aku sedang duduk di tempat tidur. Suara-suara dari kedua orang tuaku. Rasanya tidak berlebihan. Kus. karna hari ini berbeda dari waktu yang sebelumnya. “Dari mana saja kau. Kalau bisa. Sepertinya tiga tahun. “Kau tetap bau keringat. “Yang berubah pada dirimu adalah. Aku berada di dalam suatu kendaraan panjang dengan kursi-kursi ganda di setiap sisinya. tidak lagi bau keringat. Tampak sebuah jembatan. Aku tidak akan terima ini. Tujuh lembar uang yang bergambar Kapiten Pattimura. Dikubur sedalam-dalamnya sampai di bawah tanah yang tidak terjangkau oleh cacing. Tapi yang jelas pintu kamar terbuka. sejak lima semprotan aroma terapi tadi pagi. aku bingung dengan kata makna. “Kau jelas mengada-ada.

Ayahku juga terlihat menyesal. Aku masih belum tahu akan melanjutkan SMP ke mana. Sudah berapa lama aku tinggal di kamar ini? * Wajah-wajah dari orang-orang yang kukenal. Kalau tidak salah badanku menjadi merah karena gatal. Raut muka mereka tampak sayang. Tampak ibuku menyesal. Itu yang aku rasakan untuk pertama kali ketika keluar dari kendaraan itu. Rasa sakit yang tidak tanggung-tanggung pada bagian perut dan payudara. Apa yang telah dia lakukan dan apa yang telah dia jalani. Para penumpang mulai keluar melalui pintu. Hanya di tempat dan suasana yang berbeda. Dia membelikanku boneka. Termasuk ibu dan aku. Ini kehendakmu kan. Rasa sakit itu kembali menyerang. Aku sering menemukan diriku di tempat yang asing dan baru. Dan ibuku juga tampak gembira. Tampak dari muka mereka suatu perasaan senang dapat bertemu. . Mungkin aku kangen kepadanya tapi sepertinya tidak juga. seorang wanita dan seorang lelaki yang mukanya mirip dengan ibu. Mereka berdua saling menghampiri. Aku juga sebenarnya tidak terlalu antusias. Udara Jakarta yang panas dan gerah membuat keringatku semakin berceceran. Ayah. Kepada orang yang sama. dan lega. Kenapa ibuku sampai lari dan kenapa ibuku ditemukan kembali. Dia juga sering memberiku permen dan coklat. Kepalaku mulai terasa pening dan pusing. Aku bingung. Mereka tampak sedang berbicara pada saat yang hampir bersamaan. Mereka semua sedang mengelilingi ibuku. Orang tuaku mengatakan bahwa itu terserah kepadaku. dua orang yang dipanggil mama dan papa oleh ibuku. kesal. Tampak seorang lelaki yang berjalan menuju ibuku. Entah sejak kapan keringatku jadi bau. Lelaki itu memanggil nama ibuku. Aku menyadari bahwa aku sudah tidak tinggal di kamar itu lagi. Cuaca panas yang gerah. Lelaki itu cukup baik kepadaku. Suara mereka mengisyaratkan rasa kesal dan menyesal. Ibuku sedang menangis di antara orang-orang itu. Tidak seperti biasanya. Kenapa? Apakah aku merepotkan ibu? Apakah ibu tidak mau mengurusku? Apakah aku menjadi benalu dalam kehidupanmu? Rasa sakit itu semakin merajalela. Mengapa aku sekarang tinggal di sini? Ayah sebetulnya tidak terlalu setuju aku tinggal dengan Ua di Jakarta. Ibuku menyahut. Ibu. Baru beberapa tahun kemudian aku akan tahu tentang arti dari semua ini. Udara yang panas dan gerah membuatku tidak betah. Entah sejak kapan aku jadi suka merasa gelisah dan depresi tanpa alasan yang jelas. Aku disuruh menetapkan keputusanku sendiri. Lelaki itu. Ibu? Ibu kan yang tampaknya benar-benar ingin aku tinggal dengan Ua.Kendaraan itu berhenti. di mana kau berada saat menstruasi pertamaku? * Seperti de ja vu. Tamparan itu. lelaki yang bukan ayahku. Dia sering mengajak aku dan ibuku berjalan-jalan. Panas. Kadang-kadang suka teringat wajah ayahku. Apakah tetap di Jakarta atau kembali ke Bandung. * Aku sudah lebih dari dua tahun tinggal di rumah Ua. Oleh orang yang sama. Ketika itu namanya masih Ebtanas. Seorang anak berumur 11 tahun disuruh memilih jalan hidupnya sendiri. Lelaki ini baik kepadaku. Entah berapa lama aku tinggal di kamar itu.

Aku tidak merasakan apa-apa. atau kesenangan. Ayahku menyeret ibuku keluar dari mobil seorang laki-laki teman kerjanya. Wanita itu baru resmi bercerai dengan ayahku dua minggu yang lalu. kenapa kau tega sekali kepada ibu? Ibu. dan malu. Menyayangi seorang ibu seperti seharusnya seorang anak. Aku sedang dalam masa pubertas. Entah apa yang kurasakan saat itu. * Sepasang sepatu yang asing tampak di depan pintu. Aku tidak tahu harus berpihak ke mana. Tanpa pikir panjang aku ambil vas bunga di meja. Orang itu mengatakan bahwa aku tidak akan bahagia. Aku melangkah masuk ke dalam rumah. Masa di mana emosi dan mental ditantang. * Sudah kesekian kali telepon berdering. Aku lempar vas itu ke lelaki bajingan di depanku. Aku teringat pada ibuku. Terdengar suara ibuku dari dalam rumah. Orang itu bersikeras bahwa aku tidak boleh menikahinya. Tampaknya dia menjadi tidak sadarkan diri. Setengah jam yang lalu ibuku menelepon. Nasihat-nasihat nenekku terdengar hampa. bingung. Kepuasan. Vas itu pecah berantakan. Tubuhnya yang menghampiri lelaki itu. Itu yang kurasakan. Aku hanya seorang anak ABG. Emosi macam apa yang kurasakan saat itu. Orang itu tidak datang. Muka ibuku yang tidak bisa aku definisikan. Orang itu tidak suka dengan calon suamiku. Ayah. Setelah itu aku tidak bisa merasakan apa-apa. Mungkin aku memang seorang wanita liar. Di tempat umum. Tepat mengenai kepalanya. apa yang telah kau lakukan hingga suamimu marah besar? Aku tidak tahu harus berpihak ke mana. Atau lebih tepatnya seorang remaja liar. Aku menyebutnya dengan berbagai macam nama. Aku melihatnya dari kaca mobil ayahku. Sikap seolah-olah kau peduli semakin memuaskanku. kesedihan. Mungkin memang masa putih-abu adalah masa pemberontakan. kemarahan. sedih. Aku tidak menaruh perhatian satu persen pun pada omongan wanita tua itu. Orang-orang melihat kejadian itu. Itu yang kuinginkan. Aku memang tidak mengundangnya. Pasti dia terlihat cantik sekali. Beberapa jam yang lalu ibuku baru menikah. Terdengar juga suara lelaki asing. Ayahku tampak menjelaskan permasalahannya. Suara nenekku terdengar tua di telingaku. Aku membuatnya menangis. Mereka menengokkan kepala kepadaku. Kepuasan itu semakin besar karena seseorang. Aku tahu alasan dia menelepon. Sekarang sudah menikah lagi. Aku bentak-bentak dia. Aku akhirnya mengangkatnya juga. Aku membayangkannya dalam baju kebaya. Aku kesal. Aku membayangkan pernikahannya. Ibu. Sembilan bulan. Kulihat dari jendela dua manusia sedang ngobrol dengan santai sambil sesekali bercanda. Penolakanmu semakin memuaskanku. . Aku merasa hampa. Ayahku ditenangkan oleh seorang tukang baso. Apakah itu cukup? Apakah itu satu-satunya alasan? * Pernikahan yang sederhana dan simpel. Aku tidak membencimu tapi aku tidak bisa menemukan alasan untuk menyayangimu. Muka ibuku yang panik. Aku tidak tahu.Dago. Orang itu mengatakan bahwa itu semua demi kepentinganku.

Siang hari. Rumah bekas jaman penjajahan Belanda yang tidak terawat. jalan raya. Tahun-tahun yang kulewati dalam kekangan komitmen palsu ini terasa hampa dan menyebalkan. Rumah itu adalah rumah yang paling strategis di dunia. Pada akhirnya aku mengerti. Aku hanya ingin merasa puas. Aku mengetuk pintunya dan mengucapkan salam. stasiun kereta api. Ketika aku melihatnya aku melihat diriku sendiri. Ibu. Aku tidak percaya kalau kau mengatakan itu. Sudah delapan belas tahun. Pada akhirnya aku dapat mengerti. Apa yang kurasakan? Aku tdak merasakan apa-apa. Ibuku mempunyai jalan hidupnya sendiri yang dia pilih dengan segala macam pertimbangan. Wanita itu memang benar. * Cimindi.Jangan sampai kamu merasakan apa yang kurasakan. Aku hanya ingin membalasnya. Entah sudah berapa lama aku tidak menangis selama ini. Tapi sesungguhnya tidak ada yang bisa kukenang. Setiap orang mempunyai jalan hidupnya masingmasing. Sudah berapa lama aku tidak mencium tangan itu. Buah hati. Bagaimana menyebutnya? Karma? Aku tidak percaya dengan kata itu. Like mother like daughter. Sudah berapa lama aku tidak berbicara dengannya? Karma… . Luar dan dalam. Hatinya adalah aku. Aku tersenyum kembali padanya. Pasar. Kulit tembok yang warna aslinya putih sudah mengelupas di mana-mana. aku berdiri di depan pintu kayu besar rumah itu. Seorang wanita tua membukanya. Rumah itu terletak di tengah semuanya. Aku tidak merasakan cinta seorang suami. Jangan sampai kamu melalui apa yang kulalui. Sudah berapa lama aku tidak membaui tangan itu. Tepat delapan belas tahun yang lalu. Aku hanya percaya bahwa segala sesuatu yang kita lakukan pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal. Kukenang saat itu. Aku mempermainkan hidupku sendiri. Aku tidak berhak merasa marah atau tidak senang dengan pilihan hidupnya. Karma. Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Aku melihat foto pernikahanku. Aku mengakuinya. Buah hatiku adalah reinkarnasi diriku. dan bandar udara. Jasadnya adalah aku. Di tengah kebisingan dunia. Dari awal aku memang tahu kalau wanita itu benar. Sudah berapa lama aku tidak berjumpa dengan ibuku. Wanita tua itu tersenyum padaku. Ternyata aku hanya memainkan diriku sendiri. sejak kapan aku harus mendengarkanmu?! * Hidup adalah alunan waktu yang tidak akan pernah kembali lagi. Aku hanya kecewa tapi sekarang aku dapat mengerti. Aku menggosok debu pada foto pernikahanku. Aku mendekatinya dan mencium tangannya. Kata itu muncul kembali dalam benakku. Mempunyai arti yang sama dengan kata karma tapi tetap saja aku tidak percaya dengan kata itu.

. Airmataku hilang tiap bulirannya melayang entah ke alam apa. Baru setengah jam aku berdiri di depan klub ini. phii huk! ( Apa kabar sayang!)” Seorang Thailand menyapaku. “Sabai dee. Ibu memukul karena kehabisan pangan. Berakhir di ujung dagu.Ibu. Semua itu membuatku harus berkorban demi kasih sayang kepada keluarga. Lagipula aku lebih senang melayani tamu bule atau negro. Atau demi apa aku tak paham.” tolakku. sengak bau alkohol. 2008 by radiani Ayolah! Coba kau cari di mana airmata kesedihanku tersimpan! Kau tak kan pernah menemukannya. atau kehitam-hitaman tercemar eyes shadow? Airmata tawaku kehitam-hitaman. istilah sulit. masih malas untuk kembali ke ranjang. Tapi ia memukuliku sebagai ungkapan sayangnya. Belum lama kulitku terkena udara. Atau aku terlahir dengan hati batu. uangnya lebih banyak. “Bor! Bor! ( Tidak! Tidak!). Seperti juga yang terjadi padamu Thailand! Sayangmu itu dalam semenit telah berubah jadi ludah yang jatuh ke tanah kotor. Santaisantai berdandan mematut-matut wajah di potongan cermin retak. Mungkin hanya sekedar mengendorkan saraf Ibu. Seumur hidupku tak kurasakan airmata kesedihan. Murah meriah bertebaran di mana-mana. Sebuah jalan di tepian Mekong. ia sayang aku. Bisa juga untuk menambah modal berjudi Paman. Huh! Sayang katamu? Sudah lama kata itu jadi hantu buatku. menanyakan kabarku hari ini. Karena aku sendiripun tak tahu dimana letak airmata kesedihanku. Sisi barat kota Vientiane. Sapaan itu adalah ajakan untukku. Paman hanya memanfaatkan kesempatan melihat kemiskinan. Apa demi adikadikku yang berjumlah lima orang? Atau untuk Ayah yang tak mampu bertanggung jawab. yang selalu menegang bila melihat adik-adikku berebut makanan. bahasa orang terpelajar. Secepat kilat berubah jadi cibiran akibat penolakanku. aku anak kesayangannya. Rokokku baru setengah kuhisap. Aku bangun jam empat sore. Kalau airmata tawa aku punya berliter-liter. Kebebasan udara belum lama kuhirup penuh-penuh. Tak pernah kurasakan hangatnya tetesan mengalir hangat merambati pipiku. ‘Sayang’ memang benar-benar melimpah ruah di tempat ini walau hanya sebatas katakata. Ayah tak membelaku tapi membelaiku dengan sumpah serapah. Hingga tak kukenal lagi kesedihan. Tanktop dan rok mini tipisku serasa bagai gumpalan selimut bulu domba. Rewel dan banyak tuntutan. Senyum segera lenyap dari wajah Thailand. tapi waktu Ibu menyiksaku dengan kasih sayangnya. Lau Lao selalu menguatkan hari-hariku di sudut kota Vientiane yang ramai ini. Keluasan langit malam ini baru saja kurasakan. Tamu Asia tak menyenangkan. Paman tak salah. Sambil sesekali melempar pandang ke televisi yang siarannya tak kumengerti. Lalu dibawanya aku ke Vat Xieng Gneun. Penyiar berwajah cantik itu berkali-kali bicara dengan bahasa tingkat tinggi. Tanpa dijelaskan dulu kenapa sayangnya diwujudkan dengan menampar pipiku. Satu-satunya bagian kota yang selau ramai dengan kehidupan malam. karena sebagai petani kecil penghasilannya juga kecil. ia adalah dewa penyelamatku. Ayah marah karena tak tahu cara untuk menambah penghasilan. bagaimana ibu dulu menghadapiku? TAMAT Perempuan Tepi Mekong Oktober 7th. Minuman alkohol kelas rakyat khas Laos itu menghangatkan tubuhku dari terpaan angin sungai Mekong. Cuh! Dia meludah di hadapanku. atau memukul kakiku dengan tongkat. Dijualnya aku disana. Membuatku semakin yakin bahwa sayang yang sebenarnya tak pernah ada di muka bumi ini. Tiap malam mengucur deras dari sudut mataku sebanyak botol Lau Lao yang kutengak. Ibuku bilang. Sayang tak pernah ada bila tak ada uang. Menakutkan! Aku sering kecewa karena percaya pada kata itu. Uh! hari masih terlalu pagi untuk masuk kamar lagi. Ayahku bilang. Paru-paruku rasanya belum setengah terisi. hawa salju. Minuman keras itu menjaga tawa dan kegembiraanku setiap hari. Seperti apa warnanya? Berkilauankah bagai bulir permata menggelinding dari mata. Sungguh sayang yang menyakitkan. “Chau sa bai dee bor? (Apa kabarmu baik saja)” Oley pengemudi tuk-tuk tertampan di sepanjang Vat Xieng Gneun. Aku akan dilimpahinya dengan banyak kasih sayang. Bagian kota yang lain sudah sepi seperti pemakaman Prancis yang megah dengan nisan berpilar pualam. Pamanku bilang.

Kata orang mata tak bisa bebohong. Dan Oley masih menggarap ladang orang tuanya di Luang Prabang. Senyum manis yang mengundang. atau senyum puas sesaat sesudah melayani. Sambil menyandarkan kepala pada bahu seorang negro kupandang wajahnya yang tampak pasrah. Aku tak tahan melihat senyuman di bibirmu Thuppy. atau bath. Ketika sedang duduk menunggu pelanggan. selamat tiggal Thuppy. Perkawinan Jay dan Kova hanya berjalan tiga bulan. Kami pasti sudah beranak dua tahun ini.” Selembar kertas terjatuh dari tanganku. bila aku lebih banyak memberinya senyuman. Bisa cinta atau cemburu saja. Membohongi hatiku yang selalu merasa muram. Tapi aku terlalu mencintaimu. Perasaan yang ditimbulkan tatapan mata Oley “Thuppy. Sendok bisa digunakan tanpa garpu begitu pula sebaliknya. aku jadi tak bisa menjajakan senyumku dengan baik. Bisa-bisa senyumku tak laku malam ini. Maafkan aku Thuppy. Tapi aku dan kau seperti Laos dan Thailand. Aku tak mau itu terjadi padaku.” jawabku sambil mengalihkan pandang. Hatiku mengeligis pedih. Aku selalu tersenyum. Senyumku untuk setiap kata sayang yang terucap. Tatapan mata Oley sering membuatku beku. Kompak dengan mataku. Senyumku yang palsu untuk setiap kata sayang yag juga palsu itu. aku menemukannya terselip di bawah pintu. Hanya ada kau dan aku. Pada kenyataanya aku terlalu pengecut. Cinta dan cemburu seperti sendok garpu. Kurasa itu perlu dibuktikan lebuh dulu. . Sekarang tanpa mariyuana Kova teronggok lemas tak berdaya. Tapi tak sedikit pun aku memberinya kesempatan untuk berkata lebih dari itu. Karena tanpa senyum aku tak bisa menyambung hidupku. “Jadi seperti apa cintamu itu? serasa apa sayangmu itu? Oh. Senyumku adalah hidupku. Senyumku untuk setiap lembaran kip. Bibir ini sekarang sudah jadi mesin senyum saja. Bukankah seharusnya ia cemburu? Bila ia memang punya cinta untukku. Tak kuberikan sedikitpun kesempatan pada diriku untuk mendengar lebih dari itu. dolar. Kubawa ke sarangku di puncak tebing curam yang tak terjangkau mahluk apapun. Tatapan mata Oley selalu membuatku bergetar. ketika telentang di hadapan lelaki hidung belang. Seandainya aku bukan pelacur dan Oley bukan penjaja mariyuana yang berkedok supir tuk-tuk. Aku ini perempuan yang harus selalu tersenyum. Aku tak tahu Oley. Uh! Kenapa tak kau tonjok saja negro mata keranjang ini! Bawa aku lari dengan tuk-tukmu. Dan yang tiga bulan itu merenggut semua senyum Kova. Bukan karena aku tak suka tapi karena keberadaan Oley yang begitu dekat membuatku salah tingkah. Andai aku tak terdampar di jalan kelam ini. Senyum model apapun itu. Oley sampai hari ini aku hanya mendengarnya terucap dari mulutmu saja. Dengan kesederhanaan. Aku tak bisa menyikapimu seperti semua laki-laki itu. senyum nakal dengan sedikit godaan. karena terlihat kaku. Hanya desah sawah. Malam ini pun dia hanya memandang saja ketika aku sengaja lewat di depan tuk-tuknya mangkal. Senyum tak boleh lepas dari bibirku. Tapi tetap saja bisa digunakan walau pasangannya tak ada. Tanpa kemeriahan yang memabukkan seperti di jalan ini. berisik jengkerik yang memenuhi hari-hari. koi hak choi ( Thuppy. aku cinta padamu). atau tidak keduanya sekaligus.” “La kon Oley! ( Sampai jumpa Oley). Mereka membohongi semua orang dengan senyum dan kerling. Entah dengan cara apa. Aku tak mau kehilangan senyumku hanya karena cinta Oley. Oley melambaikan tangan dengan wajah sendu. Apalagi pernyataan cintanya. Kami pasti bisa membentuk keluarga kecil yang tenang. derai sungai. ketika hari teriris sepi di sudut tikungan jalan. seperti seorang super hero yang muncul dari langit dan membawaku terbang ke angkasa. aku sadar akan perasaan yang sedang tumbuh di hatiku. Saat menatap Oley yang termangu di belakang kemudi tuktuk terbungkus asap rokok. setiap aku digandeng lelaki untuk diajak kencan. hatiku kaku-kaku tak bisa bergerak bila Oley berkata begitu. Perkawinan seorang pelacur dan penjaja mariyuana tak akan berjalan lancar. akan kusambar tubuhmu. tak lengkap bila salah satu tak ada. Aku harus selalu tersenyum karena senyum adalah bagian dari pekerjaanku.” Aku mengusirnya. Tanganku bergetar tak sanggup menyangga beban yang tertulis di atasnya. Begitu dekat tapi tetap saja di seberang. Betapa aku ingin juga meikmati senyummu seperti banyak laki-laki lain. Mata uang negeri manapun. Kata cinta itu telah begitu banyak meluncur dari mulut Oley. Hanya tipis terbatasi Mekong. Seandainya aku elang. Tapi mataku bekerja sama dengan bibirku adalah pembohong yang ulung.“Dee Chai (Baik saja). Pelanggan akan memberi uang lebih.

pantat itu bukan hanya didapatnya melulu melalui latihan-latihan di fitness center itu. Aku sempat khawatir kalaukalau celananya yang berbahan halus dan mahal itu akan sobek karena bergesekan dengan kursi yang didudukinya. Sangat jelas. Pantat yang terlalu kencang untuk perempuan yang sudah tiga kali melahirkan. Untung saja bunyi ketukan sandalnya tertelan gemuruh suara orang-orang berbisik di aula ini. Dia baru tiba saat pembawa acara baru saja selesai membacakan agenda pertemuan hari ini. Karena sekarang aku yakin aku tak memilikinya. dan dia yang duduk dengan gelisah di deretan kursi tunggu yang kosong. Matanya berkeliling mencari-cari tempat duduk yang kosong. Sesaat kemudian aku berpaling. Kalau tidak menunduk berlagak mencari-cari sesuatu dari dalam tas kulit merk luar negerinya. Sedari tadi dia tidak tenang. Aku terpaksa mengangguk (sok) ramah padanya ketika tatapan kami bertemu. Jauh dari orang tua murid yang lain. Digeser-gesernya duduknya. Ganti kaki kirinya yang disilangkan ke kaki kanannya. Dagunya mendongak setiap kali mata kami bersitatap. Akibatnya leherku terasa tercekik. pengambilan rapor. Hanya kursi di barisan depan yang masih tersisa. Tak mungkin ditemukan. ke depan. Kini kedua kaki langsingnya sedang mengetuk-ngetuk lantai tanpa irama. Bolak-balik diangkatnya tangannya untuk menengok jam berlapis emas putih di pergelangan tangannya itu. Dengan enggan. Memang sering kali kulihat mobilnya terparkir di depan fitness center di samping sekolah. Beban ribuan ton rupanya menimpa dadanya yang penuh (terlalu penuh juga untuk ukuran perempuan yang sudah tiga kali melahirkan?).Oley Membaca surat Oley. Senyumku menghambatnya. Tapi aku curiga. Bahkan orang bodoh pun tahu. Paparan yang terlalu panjang dan terlalu lebar. Sebentar kemudian diturunkannya. Tapi terhenti sampai di leher saja. Rambut panjangnya yang tergerai berayun-ayun mengikuti langkahnya yang tergesa. Seperti ada bara di bawah pantatnya yang menggunung itu. Sekedar untuk menyembunyikan seringai yang terlanjur muncul di ujung bibirku. Aku ini perempuan yang selalu terseyum. maupun jam tangan yang berkali-kali ditengoknya. tanpa usaha untuk menutupinya lagi. dia sangat gelisah. 2008 by birulangit Diam-diam aku memerhatikannya sedari tadi. gerak-geriknya terbaca jelas. Kini benar-benar kunampakkan seringaianku. Bahkan ketika kulihat mayat Oley terapung-apung di Mekong. Kenapa tidak langsung ke menu utama saja. Tentu saja keringat itu tak akan melunturkan riasannya. Perilaku gelisahnya sama persis dengan sewaktu dia ada di aula tadi: pantat digeser-geserkannya. Aku sudah tak sabar. Sekilas dapat kulihat setitik keringat meluncur di dahinya yang putih mulus. kembali berlagak serius mendengarkan paparan kepala sekolah mengenai pencapaian-pencapaian sekolah kami di tahun ajaran ini. Sebentar kaki kanannya disilangkan ke kaki kirinya. Membosankan. Begitu seterusnya. Dasar angkuh! . kaki ditopangkan bergantian kalau tidak diketuk-ketukan di lantai. tapi berusaha tetap terlihat elegan. sehingga si pantat bisa berbentuk sedemikian rupa. Sesekali dihelanya nafasnya. Aku yang sedang melayani Bu Mira. dia pun mengambil tempat duduk di kursi pojok barisan depan. Merambat ke atas ke arah kepala. Kadang ke kanan. Maklum harga seperangkat make up yang dikenakannya setara dengan sebulan gajiku sebagai guru di sini. kadang ke kiri. Aku tetap tersenyum. Dari tempatku duduk sebagai notulen. Padahal sudah ada jam tergantung di dinding aula. **** Tinggal kami bertiga di ruang kelas ini. Apapun yang terjadi aku selalu tersenyum. Seakan dia ingin memastikan kalau jarum jam dinding itu sudah berputar sebagaimana seharusnya. Rapor November 11th. Hendak menuju mata. Dia membalasku dengan anggukan dan senyuman teramat tipis sembari dengan angkuh mengangkat dagunya. ada rasa panas yang keluar dari dada. Sementara itu kepalanya terus berkeliling. pandangan berkeliling atau menunduk berlagak mencari-cari sesuatu dalam tas. Entah apa yang sudah dijejalkannya di dalam sana. Sesaat dia berhenti di ambang aula. Cobalah kau cari dimana airmata kesedihanku tersimpan. ke belakang.

Sebenarnya kesempatan ini sudah kutunggu-tunggu. Hal yang tidak perlu kulakukan sebenarnya. Dan kira-kira sejak dua jam yang lalu dia sudah duduk di sini menunggu giliran kupanggil menghadapku untuk mendapatkan rapor anaknya. Bu Mira bercerita kalau Rachel baru saja menjadi juara satu lomba wajah fotogenik. Sedangkan sudut mataku mencuri-curi pandang wajah cemasnya. sudah banyak merepotkan!” “Tidak apa-apa. Gangguan konsentrasinya membuatnya sulit mengikuti pelajaran. aku memang sengaja berlama-lama berbincang dengan setiap orang tua murid. Pembalasan dendamku untuk perempuan berpantat terlalu kencang dan berdada terlalu penuh yang angkuh ini. Maaf. Bahwa aku punya kekuasaan. Seperti aku ini hantu baginya. “Mari. agaknya dia juga mulai sadar kalau kelakuannya padaku selama ini bisa saja membuatku mengurangi nilai-nilai anaknya. Setelah pertemuan di aula selesai. “Terima kasih. biasa aja! Terima kasih banyak Bu. anaknya memang nomor absen terakhir. Rachel. memang kusengaja. Aku berlagak sibuk menyiapkan rapor. guru yang kurang perhatian. Ardian. Perkembangan setiap anak didik sudah tercantum dalam rapor khusus kami yang berupa laporan narasi deskriptif. Biar saja. Hanya saja. “Selamat pagi. Aku baru sampai nomor absent empat belas. Tanganku menjadi ikut basah oleh keringat di telapak tangannya. Tangan yang pernah melemparkan kertas ulangan anaknya ke mukaku. apa gerangan yang dibawa oleh perempuan yang kini sedang melangkah menghampiriku ini. Kujelaskan sampai sedetail-detailnya perkembangan anak mereka selama satu tahun ajaran ini. “Mari Bu. Nilai-nilainya selalu di bawah teman-temannya. Seperti yang sedang kulakukan dengan Bu Mira ini. saat dia mencercaku. saya permisi!” Bu Mira beranjak keluar ruang kelas. malah merepotkan!” kataku berbasa-basi. sudah menjadi tugas saya!” Jawaban ini sudah secara mekanis keluar dari mulutku setiap semesternya. Bu!” “Ah. sudah membimbing Rachel. memang berkebutuhan khusus. silakan duduk!” Tanpa sepatah kata dia hanya tersenyum tipis. duduk di hadapanku. Salam buat Rachel!” Kutumpukkan bingkisan dari Bu Mira di atas bingkisan-bingkisan orang tua murid sebelumnya. anak Bu Mira. Dari lima belas muridku. “terima kasih banyak lho. tapi yang seperti ini orang tua murid suka. kutukku. pembicaraan bisa melebar sampai ke manamana.Aku tahu dia sedang memakiku habis-habisan dalam hatinya. Semoga suka!” Tangannya mengangsurkan sebuah kotak kecil yang terbungkus kertas kado bergambar kartun Naruto. Dimasukkannya rapor. Bu!” Kataku sambil menjabat tangannya yang dingin. Bu. “Rachel sendiri yang memilih. Jadi bukan salahku jika sampai saat ini dia belum juga kupanggil. Aku bilang pantas saja. dan lain-lain. karena dia mewarisi kecantikan ibunya. sembari berkata kalau percuma saja bayar mahal-mahal kalau lagi-lagi dapat nilai lima puluh. “Aduh. laporan perkembangan. guru pilih kasih. Tidak hanya itu. Untuk penilaian-penilaiannya padaku: guru konvensional. lalu dikeluarkannya sebuah bungkusan dari dalam tasnya. Bu. Senyum bernada segan. Bu. Setelah parcel segede gunungnya yang kukembalikan seminggu yang lalu! Hari gini menyogok guru agar mau mengatrol nilai! Rupanya dia sudah merasa rapor anaknya bakalan jelek. “Ibu ini bisa aja!” Bu Mira tertawa panjang. laporan perkembangan. para orang tua dipersilakan masuk ke ruang kelas anak mereka masing-masing untuk menerima pembagian rapor. dan beberapa lembar pengumuman yang akan kuberikan kepadanya. Muka putihnya bersemu merah. Mati kau. Sebagian masa depan anaknya aku yang menentukan. Di sinilah ajang pembuktianku bahwa aku bukan orang sembarangan. Kalau sebenarnya dia tidak bisa macam-macam denganku. Bukan senyum sinis seperti yang beberapa kali dilemparkannya padaku. Bu. Selain bingkisanbingkisan itu ada beberapa amplop di dalam laci mejaku. Dalam hatiku tertawa. Kutumpukkan berkas-berkas yang akan kuberikan padanya di sudut meja. Belum lagi jika kebetulan sang orang tua murid memang suka ngobrol. Wajahnya yang pucat. . anaknya. Gombal sekali memang. Hatiku bertanya-tanya. dan beberapa lembar pengumuman ke dalam tas.

Bu. Sebagai syarat kenaikan kelas. Butir-butir keringat meluncur di dahinya. “O ya. Saya tidak tahu ada peraturan seperti itu di sini. PKn.” Sengaja aku berhenti untuk memandang wajahnya.” sengaja kuberi penekanan. Kemarin terpaksa saya mengembalikan bingkisan Ibu. Kini tidak kututup-tutupi. Bu? Bisa tidak naik ke kelas tiga?” Pertanyaannya lebih terdengar sebagai ratapan. Lebar.” Padahal mana ada sekolah mengatur perihal itu. “Lima mata pelajaran.” Dia menelan ludah sebentar. Bukannya apa-apa. “Lima. Saya yang minta maaf. Matematika. karena kita pakai kurikulum nasional. Teringat aku bagaimana dia meneleponku malam-malam. Seperti yang Ibu lihat di sini. Bu …. hanya untuk menanyakan keberadaan pensil atau penghapus anaknya yang hilang. tapi setelah dirata-rata. Bahagianya. “Semester ini Bu. Dari segi metode maupun substansi pembelajarannya. ternyata hanya empat mata pelajaran saja yang di bawah KKM. Saya tidak berani melanggarnya. Wajahnya seperti orang yang sudah mati saja. Seperti tidak ada lagi darah yang mengalir di pembuluh darahnya. rata-rata nilai rapor siswa semester satu dan dua tidak boleh lebih dari.“Pagi …. Peraturan sekolah melarang guru menerima bingkisan dari orang tua murid sebelum rapor dibagikan. pagi Bu. “Tidak apa-apa.” jawabnya tanpa bisa mengatasi kegugupannya. “Ja … jadi … Bu?” Kini aku ingin tertawa. “empat mata pelajaran yang di bawah KKM…” Akhir kalimatku kembali menggantung. Berkas-berkasnya masih kutahan. tanpa ucapan selamat malam. tak menyangka. Macam pejabat saja. bagaimana Ardian. Matanya berkaca-kaca. “Ja … jadi … bagaimana. dan SBK …. “Tidak naik.” Kalimatku menggantung.” Dia melongo. saya sudah berusaha sebaik mungkin membimbing Ardi …. Sebagian sudah sampai di pipinya. Matematika. Bu? Benar-benar tidak bisa ditolong?” Kalau teringat bagaimana dia mengangkat dagunya. Bu. Biar kunikmati dulu penderitaannya ini. Manusia di hadapanku ini semakin terlihat mengenaskan. dilarang menerima gratifikasi. Layaknya pengemis yang sudah tiga hari tidak makan memohon sedekah saja. betapa aku rindu! Kuambil tumpukan berkas di sudut meja.” . Semata-mata karena dia takut sakit hatiku akan mempengaruhi nilai rapor anaknya. Jadi ada lima mata pelajaran yang ada di bawah KKM …. Tapi aku tidak juga jatuh iba. Mungkin Ibu juga sudah tahu. IPA. “Agama. Bu. Bibirnya gemetar. Bahasa Indonesia. Matematika. rapor semester satu. Saya hanya bermaksud mengucapkan terima kasih saja. Berkas-berkasnya masih di tanganku.” Kutunjuk dengan jariku. “Mohon maaf. Lagi-lagi dalam hatiku tertawa.” Tangannya sampai gemetar menerima buku rapor ini. Semoga Ibu maklum. Kuhadapkan ke arahnya. Nikmat. Bu Lily?” Wajahnya terlihat sangat memelas. Setengah mati aku berusaha menyembunyikan tawaku. sungguh nikmat! “Seperti yang Ibu ketahui sebelumnya. aih. Bu. Mengiba-iba meminta maaf. ekspresinya kali ini tampak begitu menggelikan. IPA. Bu. Di sekolah Ardian yang dulu diperbolehkan. Kubuka rapor Ardi. “O ya. IPS. siang ini aku merasa menjadi Tuhan. nilai Ardi kurang memuaskan. Tapi tetap saja kita mengacu pada peraturan dinas pendidikan. Bu. “Masih naik. dan SBK …. IPS. Seperti ketika dia memohonku untuk melupakan apa yang pernah dilakukannya padaku. IPA. Aih. Ke mana gerangan dongakan dagunya yang angkuh itu? Ho ho. Bu. dan SBK ada di bawah KKM. Bu. Ataupun ketika seminggu yang lalu dia memohonku “kebijaksanaanku” untuk menaikkan anaknya. Kubuka halaman sebelumnya. Ada kemungkinan dia sudah akan pingsan dulu sebelum aku menyelesaikan penjelasanku ini. “Semester satu juga ada lima mata pelajaran yang di bawah KKM. Aku tersenyum. Sengaja tidak segera kuserahkan kepadanya. ya?” Suaranya tersendat di kerongkongan. Bahasa Indonesia. Sejak kepindahan Ardi awal semester dua ini. IPS. Walau mepet …. Senyumku semakin lebar. sekolah kita memang berbeda dengan sekolah yang lain.” Matanya nanar menatap angka-angka itu. Bahasa Indonesia. Mohon maaf sebelumnya. Dia tidak tahu di mana dia akan menaruh mukanya jika anaknya lagi-lagi tidak naik kelas. Berbeda dari sekolah Ardi sebelumnya. Seperti habis kecopetan uang semilyar! Dia membolak-balik halaman rapor anaknya. “Ibu.

Hitam berkilau karena embun yang berkelip dilanun semburat matahari melamur seluruh tubuhnya. Tongkat kayu setiginya dihentaknya beberapa kali ke lantai mimbar. benar! Tepat sekali! Inilah menara Ka Borak. ‫פּ‬ Ratusan orang berkumpul di tanah lapang. Dentamnya menggema mengatasi kegaduhan orang-orang. Suaranya yang parau hilang tenggelam dalam kegaduhan massa. “Wahai orang Mota. Dialah Se Moljo Banahung. Menara besar dari dua kayu ulin yang disambung berukir ular gato menelan matahari. 1320 macam semangat melebur menjadi satu ambisi kolektif. Sedangkan monster-monster laut dan serigala separuh gurita mengintai-ngintai hendak menerkam saat aku lengah. “Ini seperti dalam mimpi para peramal. Seorang lelaki tinggi besar. persaksikanlah. 1320 warga suku berkumpul di sini. Di depan menara. Menara yang membuktikan bahwa pendirinya adalah penguasa sejati atas Tanah Mota. bukti penguasa Tanah Mota yang dinanti!” Seorang sepuh di antara kerumunan bersuara. Tidak akan ada seorang pun yang bertanya mengapa anak itu tinggal kelas. 2008 by catur amrullah Aku seperti seorang terusir yang menyusuri dasar lautan seorang diri. serentak pekik gegap gempita membahana dari mereka itu. kulit coklat mengkilat memakai jubah kulit kijang. Dunia akan memakluminya. seperti ada suatu komando bawah sadar yang amat kuat mengendalikan mereka semua. simbol keagungan suku Mota. Dendamku sudah terbalaskan. dibangun sebuah mimbar besar. suku Mota Pedalaman. di depan kalian telah tegak bukti yang dikabarkan dalam Ketab Se Lambok. Tenang sekali. Kalian ditakdirkan menjadi pasukan pemersatu suku-suku Mota yang terpencar. “Syukurlah!” Dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Berbinar-binar. Kicau burung di pohon riuh menanti. aku paham makna dari kata-kata bijak ini. “Hidup Se Moljo Banahung! Hidup Se Moljo Banahung!” 1320 macam suara memekik satu kalimat yang sama. Penuh dengan ukiran ular Gato yang meliukliuk. Menara itu. menelan matahari. “Syukurlah!” Aku manusia biasa. ‘sendirian dalam keramaian adalah ancaman. dan suku Mota Tanah Batu berada di bawah tongkat kekuasaannya. Berdiri dengan keyakinan dan pemikiran yang tidak sejalan bukan hanya dengan orang-orang kebanyakan. dan. Aku menjadi orang asing. suku Mota Pesisir. Kita adalah penguasa Tanah Mota!” pekik semangat Se Moljo Banahung menggema-gema dalam tempurung kepala tiap orang yang hadir di situ. Semua itu. menyaksikan menara Ka Borak yang selama sembilan bulan ini dengan susah mereka buat-dirikan. tinggi. Tidak mungkin aku mengubah angka-angka itu. tak ada suara manusia terdengar. menara Ka Borak. Kelengangan yang mistis menyelisik di tiap-tiap tubuh. Sudahlah. Wahai orang Mota Pedalaman. menara Ka Borak yang kita dirikan ini menjadi saksi atas kejayaan yang dijanjikan itu. Semua mata tertuju pada lelaki di atas mimbar itu. Walaupun hal itu sebenarnya sangat mudah bagiku. kepala suku kami. menara Ka Borak. dan anggun. Seketika tanah lapang itu jatuh sepi.’ Aku sendirian. Semua mata terpacak pada sosok menggetarkan yang tegak menjulang di ujung timur lapangan. Aku sudah sangat puas melihat perempuan berpantat dan berdada terlalu bulat yang angkuh itu hampir mati ketakutan. melintasi terumbu karang berbisa yang meracuni tiap helaan nafas yang makin tinggal sisa. Bahwa yang membangunnya adalah lelaki yang dijanjikan akan datang dan membawa keagungan. 1320 jenis kepalan tangan mengacung ke angkasa. karena aku punya harga diri. “Syukurlah!” Dia mendekap rapor anaknya dalam dadanya yang terlalu penuh itu. menggumpal ke dalam satu . Sinarnya hangat sedikit. ketua suku kami. kalian adalah darah murni suku Mota. aku menyimpan dendam. detak jantung seseorang seakan tertangkap telinga orang di sebelahnya. Dan mulai detik itu. Aku pun pantas membencinya. Kalianlah penggenggam masa depan itu. naik ke mimbar. 1320 manusia itu. Bukti kekuasaan atas Tanah Mota. Matahari baru mengintip dari celah bukit. The Tower of Ka Borak Desember 26th. Aku tercekam oleh pikiranku sendiri. berbicara pada orang-orang tapi suaraku hanya memantul kembali dan hilang. Tapi aku juga masih punya nurani. melata dan melingkar. Sisiknya besar-besar bertumpuk.Seketika wajahnya menjadi bercahaya. tapi bahkan bertentangan dengan Se Moljo Banahung. seperti seribu kunang-kunang beterbangan mengitarinya. pemimpin spiritual sekaligus penentu jalan hidup kami. Itu saja cukup. bahwa pendirinya adalah lelaki darah murni yang akan meletakkan suku Mota Pedalaman.

menjadi candi dari tiap perpindahan generasi manusia yang hidup si situ. menghadang dentaman gelombang dan badai yang menyerbu dari tengah laut sana. tapi terjebak di suatu sudut yang penuh dengan ketakutan dan kekhawatiran. Menjadi saksi dari tiap perahu nelayan yang karam diamuk lanun ditelan topan. Di sekeliling kami. menghampar pantai berbatu dan berpasir hitam seperti lumpur. suku Mota Pedalaman telah-dengan sepihak-menetapkan ketunggalan kekuasaannya atas dua suku Mota lainnya. kita akan mengirim utusan pada suku Mota Pesisir dan Tanah Batu. ‘hidup Se Moljo Banahung!’ Nyaring mendebarkan jantung. menyelisik antara debur ombak di bongkahan batu. bahwa mereka kini harus tunduk patuh di bawah tongkat kekuasaan suku Mota Pedalaman. seakan tak bertepi. suku Mota Pedalaman. menara Ka Borak. Tahukah kalian jawaban bagi pembangkang? Yaitu…. sekeras menara Ka Borak dari kayu bullin yang tegak di depan mereka. kita. Tiga puluh orang bergelantungan di dinding tebing batu cadas dengan tubuh terikat tali dari atas. atas instruksi Se Moljo Mapadong. mengukir suatu rupa yang luar biasa. Ular gato menelan matahari. luas membentang. Kumandang semangat 546 warga suku Mota Pedalaman menggentarkan nyali tiap penghuni hutan. menghampar padang rumput amat luas terbentang. Di ujung barat lapangan. luas membentang. Mengema menggetarkan tanah dan batang pohonan. jangkang. takkan terbendung oleh apapun. aus karena gesekan gelombang selama masa berjuta tahun. tebing batu cadas memagar. dan darah…. Dengan ini. Di ujungnya. pekik lantang Se Moljo Banahung merengkah: “Mulai besok. Nun di hujung barat sana. Angin berembus kencang di sini. Symbol kejayaan dan kekuasaan. Di depanmu. “Mereka takkan berhenti. tak bisa ditawartawar. terus ke barat. atau mungkin yang ‘kan paling diagungkan oleh mereka. batas bentangan laut lepas. sebuah menara berukirkan ular gato menelan matahari yang menjadi bukti bahwa pendirinya adalah suku yang berhak memerintah dua suku Mota lainnya. hijau bergelombang oleh rumputan yang digoyang angin. 500 pahat telah rusak dan remuk. sembilan hari lalu. akan sampailah ke pantai dengan hamparan pasir putihnya. sebagaimana tercantum dalam Ketab Se Lambok. Sejarah yang mungkin tak termaafkan. dan ribuan lagi lainnya. seperti yang dijanjikan dalam Ketab Se Lambok. Menyiratkan tekad dan ambisi yang membuncah. kita juga akan menundukkan suku-suku lain di sekitaran Tanah Mota. di belakang jajaran rumah panggung. akan tercecer di tiap jengkal Tanah Mota!” ‫פּ‬ Semakin membuncah semangat di sekelilingku. Tebing cadas yang telah tegak sedari jutaan tahun lalu. kerang. jalan setapak itu menurun. Harimau dan serigala bersijingkat kabur ke pelosok-pelosok hutan. denting suara pahat besi menghantam batu cadas memecah ketenangan pantai. hutan rimbun mengitari dengan amat rapatnya. Dalam gemuruh euphoria kekuasaan dan kemenangan yang menari-nari di pelupuk mata. tidak akan mendiamkannya begitu saja. mengukir suatu simbol paling sakral yang tercantum dalam Ketab Se Lambok.” Suara lantang Se Moljo Banahung tenggelam dalam gemuruh suara warga sukunya. bukannya ikut larut dalam badai semangat yang dahsyat. mengabarkan bahwa pemimpin tunggal telah tiba. berputar-putar mengelilingi punggung gunung. akan menundukkan matahari!” Pekik gelora semangat perebutan kekuasaan berkobar menggelegak. Batu-batu yang menjadi rumah bagi tiram. dan sebuah palu.. Mereka. Kesepuluh orang itu. terjadi di situ. “Sedangkan siapapun itu yang menolak dan menentang kekuasaan kita yang agung ini. para pemahat terbaik suku Mota Pesisir. Kera berlompatan dari cabang ke cabang. Aku berkeringat dingin. kepala suku Mota Pesisir. Masing-masing menggenggam sebuah pahat besi terkuat yang ada. Merentang sepanjang bibir pantai. Aku tak bisa bersuara. terlentang jalan setapak yang panjang berkelok menyusur di antara pohon-pohon besar berusia ratusan tahun. takkan bisa dicegah. 467 palu pun patah.tekad yang amat keras. berhamburan kacau balau dari dahan tempatnya bertengger. maka tiada lain pilihan. Menara Ka Borak telah membius meraka. Rumah-rumah dari jalinan batang bambu berderet rapi. Berjalab lurus menyeberang lembah. . Sedikit demi sedikit memahat tebing batu cadas. Dan kita. Kaki tebing itu menceruk jauh kedalam. simbol atas kedatangan sang pemimpin yang dinanti. Suku Mota Pedalaman telah berhasil menegakkan menara Ka Borak.. aku tergetar menyaksikan semua prosesi ini. membawa kita pada sebuah lereng yang landai. Ujung bajumu akan berkibar-kibar semarak dibuatnya. Di sebelah tenggara. Di bawah tebing itu. hampir setahun penuh. warna biru terhampar di bawah cakrawala. Di barisan belakang. semakin terkucil aku dalam sudut takut dan khawatir yang kian runcing. kitab spiritual suku Mota. Tangan-tangan terkepal diangkat tinggi-tinggi ke angkasa. Burung-burung beterbangan ketakutan. mengabarkan pada semua bahwa kekuatan dan penguasa baru telah datang. terus menurun. tanpa kenal lelah bekerja dari pagi hingga sore. Bukan hanya itu. Sebelum hari itu.

Menyembunyikan dalam malam. “Ya. menatap-sepertinya-jemari kakinya yang tersembunyi dalam pekatnya malam tengah hutan. kepiting. tak kuiura Paman. Melonjak-lonjak kegirangan. “Ah. menempatkan aku sendiri termangu di bawah pohon randu di belakang rumah. Ah. kemenangan dan kemulyaan telah masuk pintu-pintu rumah kita!!!” “Hidup Se Moljo Mapadong! Hidup Se Moljo Mapadong! Hidup…” “…dan kita akan taklukkan seluruh Tanah Mota! Semua akan kita kuasai! Semua akan tunduk! Akan kita miliki! Semua…” ‫פּ‬ Sorak sorai 1543 orang Mota Pesisir terbang membubung ke angkasa. menara Ka Borak diam membeku. disusun setingngi 22 depa. Semuanya takzim. ramalan Ketab Se Lambok telah kita wujudkan. mulutnya menganga lebar. Ular gato yang besar. menyusunnya. Mereka menatap takzim tebing cadas yang kini tak lagi polos. pada tebing cadas. Mereka membuat kubus-kubus batu raksasa. tiada kukira engkau akan sebenar ini Paman. Berteriak-teriak kalap. Lima belas bulan lalu. gelap yang menekan dan mnyelubung. Pundaknya makin jatuh. mengukirnya. melesat jauh ke tengah samudera membentuk gelombang-gelombang ambisi. semenjak lima belas bulan lalu mereka telah menggergaji bukit batu putih. “Mota Pedalaman telah membangun menara Ka Borak. Aku tak berkedip. Semua yang di situ berseru serempak: “Tidak ada! Suku Mota Pesisir terkuat! Se Moljo Mapadong terkuat!” Gemuruh ini hampir-hampir membenamkan pantai berbatu itu. hitam gelap penuh misteri. menatap bulan sabit seperti anak kecil lagi sakit. 1543 orang. kekuatan kita terkhabar kesetiap penjuru Tanah Mota. Di depan mereka. Dibawa angin ke buritan tiap perahu yang tengah berlayar. meliuk-liuk tak terbendung. panjang. tak ada sisa lagi yang belum kita datangi. Dan sekarang. Di depannya. masing-masing suku Mota punya Ka Borak!” Tak ada jawaban. “Badai dan topan samudera tak kuasa membunuh kita! Gelombang dan pasang kita taklukkan! Di setiap pantai ada jejak kaki kita. angin. berukir ular gato yang tengah menelan matahari. liar. tak bisa ditawar lagi!” Suaraku lirih bersama hembus perih.” Se Moljo Mapadong berorasi di hadapan mereka. gelap yang senantiasa datang pada tiap penghujung senja. Menara Ka Borak paman. gelombang. “…lima lautan telah kita jelajah. “Ini salah! Tidak boleh begini kita berada Paman. Di kejauhan.Sembilan hari yang lalu. ketika Mota Tanah Batu mulai menggergaji batu pertama menara Ka Borak. keras menghantam tebing cadas dan berulang-ulang menggema. terlempar jauh-jauh ke tengah samudera tak bertepi. pun manusia. Semua nafas tertahan-tahan. Seekor ular gato raksasa melata dengan ganas. engkau tahu bahwa itu adalah awal dari kebinasaan kita. tiada kukira Paman!…” . Larut dalam keterpesonaan. hanya desah nafas berat yang makin mengerikan dia jawabkan. batu. Beban berat yang hampir dua tahun ini dia tanggungkan sampai sudah pada titik kulminasinya. kepalanya tunduk seakan bertengger di atasnya hantu keputusasaan. Dua tahun dia berusaha menjelaskan bahwa pendirian menara Ka Borak hanya akan mengundang kehancuran Tanah Mota. burung hantu menangis sendu. 124 kubus batu. kerang. menelan matahari. semua orang suku Mota Pesisir berkumpul di depan tebing batu cadas itu. “Bagaimana dengan Mota Tanah Batu? Bukankah Ka Borak telah mereka dirikan jauh hari sebelum kita dan sebelum Mota Pesisir. Paman. dipatuk burung dibawa kepulau-pulau di seberang sana. dan. tak kukira engkau akan sebenar ini.” Paman bertanya. keduanya mengklaim sebagai sang Pemimpin yang dinanti. dan sembilan hari yang lalu. Mota Pesisir rampung mengukir Ka Borak di dinding tebing batu cadas. Samudera di belakang punggung orang-orang itu seakan membeku disihir aura magis menara luar biasa itu. di atas sebuah batu karang hitam persegi sebesar kerbau. Dari tadi dia hanya menunduk. ini salah! Lakukanlah sesuatu!” Lelaki tua di sebelahku itu hanya diam. Orang-orang terbius oleh semacam zat adiktif kekuasaan yang mengerikan. menjadikannya ancaman bagi yang lain. “…Menara Kaborak telah kita buat. menggiring potongn-potongan awan ke batas cakrawala. kekuasaan dan kekuatan yang dijanjikan telah datang ke suku kita. meliuk-liuk. maka siapa lagi yang lebih kuat dari kita?” Suara menggelegarnya bependar-pendar memantul terbentur hamparan tebing cadas. menara Ka Borak. Angin yang berputar-putar menerbangkan daunan gugur juga helai rambutku. dan jelas sekali ada selendang gelisah yang melingkari suara beratnya itu.

memimpin dua suku Mota lainnya dan menguasai suku-suku kecil lain. kau tahu bibirmu membiru. Menara yang berpahatkan ular gato sedang menelan matahari. Kau tentu tahu Mota Pesisir telah mengirim utusannya kepada kita empat hari yang lalu. tanah leluhur kita. kau tak bisa berhenti. nafsu kekuasaan telah tersulut terbakar. Sekali kau mencicipi. serigala melolong-lolong. Maka ikutilah dia. Gambaran kehancuran suku-suku Mota dalam perang saudara yang dahsyat dengan amat nyata berkilatan dalam kegelapan malam yang melingkupi tubuh kami. dia akan menuntut yang sebesar batang pohon. terus dan terus tak terkendali menjilati sari itu. lalu di pelosok hutan yang jauh merusuk ke dalam. Mengajak warga suku berperang bukanlah cara yang tepat jika ingin mendapatkan dukungan penuh dari mereka. awalnya orang-orang Mota tinggal di Tanah Batu. Dan. Dan. solusi itu ternyata ada di dalam Ketab Se Lambok. kekuasaan adalah sari pati jubok. dan pernah saling serbu. Dan kini. perutmu panas. mengabarkan keberadaan menara Ka Borak di tanah mereka. jadilah suku Mota Pedalaman. Akulah sang penguasa tunggal Tanah Mota! Akulah sang pemersatu! Akulah raja kalian! Dan suku-suku lainnya harus tunduk taat. jadilah suku Mota Pesisir. “Apa kau sudah faham sekarang anakku mengapa menara Ka Borak berdiri di masing-masing suku?” Aku mengangguk. berebut pengaruh. Sebagian pergi ke pesisir. Beliau memegangnya erat. jiwanya tertekan sungguh. “Menara Ka Borak. Kekuasaan mengumpan dan meracuni siapapun itu anakku. dalam waktu yang bersamaan. Kemana burung hantu? Jangkrik pun bungkam. sari patu jubok itu menampakkan dirinya dalam wujud yang paling menakutkan. tentu saja. lemah semilir suaranya. karena lelaki yang mendirikan menara Ka Borak adalah orang yang di tangannya persatuan tubuh suku Mota tergenggam. Lalu mereka berpencar setelah jumlah mereka semakin banyak. bersaing. alangkah bodohnya. tak berani menjawab. meminta ketaatan dan ketundukan kita. tentu saja mereka membawa Ketab Se Lambok. “Besok kau akan menjalankan tugas terberat dalam hidupmu. Dan sekarang. butuh stempel perijinan suci yang akan dijalankan mati-matian oleh tiap warga sukunya. Anehnya. menjerit-jerit kesepian. “Anakku. berhati-hatilah. Hitam tiap halamannya. kau tahu apa sebenarnya menara Ka Borak itu anakku?” Aku hanya diam. Tentu dia menghawatirkan aku dengan amat sangat. “kekuasaan itu seperti sari pati jubok. semenjak orang tuaku mati jatuh kejurang. Setiap suku mengaku yang paling benar. hal itu sudah termaktub dalam Ketab Se Lambok. tak terbayang paman akan mengumpamakan menara Ka Borak sebagai saripati jubok bagi manusia.” Paman membuka Ketab Se Lambok.” Paman kembali diam. para pemimpin suku itu butuh legitimasi sakral. Tangannya mengambil sesuatu dari sebelahnya.” Paman bicara. hingga nanti hanya kematianlah yang akan memotong nafsu serakahnya. Masing-masing pimpinan dari suku tersebut mengklaim dirinya sebagai lelaki darah murni seperti yang dijanjikan dalam Ketab Se Lambok. Aduhai Anakku. seorang lelaki darah murni akan muncul demi menegakkan menara Ka Borak. Sampai baru kemudian. Sebuah kitab yang dalam keremangan tampak amat tua tapi amat kuatnya aura sakralnya. Ya. tenggorokanmu pahit. taatilah dia. yang meracuni siapa saja yang mencicipinya!” Aku kaget. dan. menyamakan simbol suci itu dengan tanaman beracun paling mematikan di hutan ini. Aku tertegun. tanpa ada yang menyadarinya sebelumnya. Di dalamnya tertulis bahwa ketika suku Mota menjadi tubuh yang terpisah. saling melindungi. tak sanggup meneruskan ketakutanku. juga orang-orang fanatik lainnya.Aku diam lagi. Dan kenyataanya kini. tapi kini. setelah terlambat. dia juga adalah sari pati jubok. itu kejadian saat kakekku masih belia. tulisannya tersembunyi dalam gelap pekatnya malam. Tapi itu kejadian entah berapa ratus tahun yang lampau anakku. jika berani menentang. Sebagian yang lain pergi ke pelosok hutan. menara Ka Borak. begitu aku menyerahkan surat dari Se Moljo . menara Ka Borak. tidak segan-segan perang penaklukan akan di gelar di atas Tanah Mota. “Begitu seseorang mencicipi kekuasaan selebar daun. aku harus mempertaruhkan nyawaku untuk kegilaan pemimpin kami. alangkah bodohnya manusia itu!” Paman tampak amat sedih. Masing-masing suku Mota ingin menjadi penguasa tunggal Tanah Mota. dan. dan besok akan meminta yang seluas hutan. Bisa saja hal ini terjadi. dan kau langsung tergeletak tanpa sempat beranjak dari tempatmu berada saat itu. tiap-tiap suku Mota memiliki menara Ka Borak. seakan ia bisa melarikan diri dari tangannya. Darah akan dialirkan di padang-padang sunyi tiap penjuru Tanah Mota yang suci. “Anakku. Sejak kecil aku telah hidup dengannya. sepi sekali. Masing-masing suku Mota bertambah besar. Masing-masing mereka berjanji akan terus menjaga persaudaraan. malah kita yang mengirim utusan pada mereka untuk meminta hal yang mereka tuntut dari kita. dua puluh enam tahun lalu.

lalu perahu bocor. bukan pula perang warga suku Mota lainnya. Karena bukannya surat pernyataan ketundukan yang kubawa. hingga tubuh ini kemudian bukan tubuh kami lagi. mempertanyakan.” ‫פּ‬ Ini bukan perangku. (atau malah) menertawakan nama saya.Banahung pada Se Moljo Mapadong. Dan. tapi ia adalah perlambang dari suatu perjuangan suci menyatukan Mota yang terberai. 10 Mei 2008 Vaginalia Oktober 9th. . kami tidak pernah turut mencicipi sari pati jubok itu. semuanya berubah menjadi dilema yang menyakitkan. Kami seperti tersesat di lautan. Sebab nama saya Vaginalia. Aku tercekam oleh pikiranku sendiri. Tangan kiri membawa perisai.’ Aku sendirian. Tubuh tak berdaya inipun perlahan terasinkan oleh dahsyatnya garam air laut. Perang akan segera dimulai. Dan yang menyedihkan. Tangan kanan mereka ada yang mengenggam parang. “…suku Mota Pedalaman dan Pesisir telah berkhianat! Mereka membelakangi isi Ketab Se Lambok. bukan menjatuhkan korban dari tubuh yang telah luka! Bukan Anakku. tapi kitalah yang salah memahami kitab itu. Dan kami. Dan mulai detik itu. tombak. tapi racunnya turut serta dalam aliran darah kami. perlahan-lahan. Toh sudah biasa. bukan! Ini adalah ambisi jahat mereka. aku paham makna dari kata-kata bijak ini. serta merta akan memenggal kepalaku begitu selesai membaca isinya. melintasi terumbu karang berbisa yang meracuni tiap helaan nafas yang makin tinggal sisa. karena apa yang kami yakini adalah apa yang para Se Moljo perintahkan untuk kami yakini. tersusun dari 124 kubus batu. Aku seperti seorang terusir yang menyusuri dasar lautan seorang diri. kepala suku kami. “Kalau demikian Paman. Pengorbanan apakah itu Anakku? Yaitu pengorbanan kebanggaan diri demi mempersatukan tubuh yang terberai. Aku menjadi orang asing. matahari menerangi dataran batu yang amat luas ini. hukuman bagi pembangkang akan di jatuhkan. Kami tidak ada urusan dengan kekuasaan! Kami tidak ada perlu dengan pengaruh dan perluasan wilayah. ambisi para Se Moljo beserta para pembantu setianya. Jadi sudah biasa kalau kamu mengernyitkan dahi. Berdiri dengan keyakinan dan pemikiran yang tidak sejalan bukan hanya dengan orang-orang kenanyakan tapi bahkan bertentangan dengan Se Moljo Banahung. Maka. sebuah pengorbanan. berdiri tegak menara Ka Borak menyongsong langit. hari ini. Debu putih membubung tinggi. Menara Ka Borak bukanlah suatu bangunan seperti yang kau lihat. Apa kau pikir menara Ka Borak adalah suatu menara seperti yang kalian pikirkan? Tidakkah kau mengerti bahwa itu hanyalah suatu perlambang?” “Membangun menara menunjukkan pada suatu usaha tanpa henti yang amat melelahkan. Brondong. Kami tahu. Siapkah kalian untuk menjalankan tugas mulia ini? Melaksanakan perang yang akan membimbing kita pada jalan menuju kemulyaan dan kejayaan?” Gemuruh manusia membahana. Asli dari akte lahir. orang-orang yang tiada ambisi dengan segala macam penaklukan. Di sudut sana. terjebak dalam perangkap racun sari pati jubok yang mereka jilati siang malam. bukan perang kami para warga suku Mota Pedalaman. karena kami tidak boleh berpendapat. ini bukan perang kami. ‫פּ‬ Beratus-ratus lelaki bertubuh kekar dan legam berbaris tegak. berbicara pada orang-orang tapi suaraku hanya memantul kembali dan hilang. kami pun sama gilanya dengan mereka. Di sebelah timur. 2008 by prince-adi Saya sudah sering dihina dan terhina. murni pemberian kedua orang tua saya. Silahkan kalau kamu mau tertawa. Mata mereka tajam menatap ke depan. Dan. apakah Ketab Se Lambok telah membohongi kita semua? Telah menggiring kita yang mensucikannya ke dalam jurang kematian?” “Tidak anakku. kami tenggelam dan mati sia-sia. Perang yang hakikinya bukan milik kami pun ahirnya dengan membabi buta kami mamah masukkan ke dalam jiwa. tidak demikian anakku. beterbangan ke angkasa. tapi tuntutan ketaklukan. pada ahirnya. mereka lupa jati dirinya! Mereka menyangkal bukti kebenaran menara Ka Borak. ‘sendirian dalam keramaian adalah ancaman. untuk orang seperti aku dan Paman. dan pendulum berkepala besi berduri. semua manusia suku Mota kini masing-masing punya perang untuk dituntaskan. Sedangkan monster-monster laut dan serigala separuh gurita mengintai-ngintai hendak menerkam sasat aku lengah. orang-orang yang masih waras dalam lautan kegilaan ini.

Meski saya miskin. tapi bibir saya kamu bungkam begitu nakalnya. Nama kamu Muhammad. Toh saya cukup bahagia dengan berpegangan tangan. Satu bulan. mendapat sesuatu yang bernama ‘Syafa’at’ di kehidupan akhirat. Saya mulai menangis. Kamu tahu. Tapi apa saya pantas untuk mencintai dan dicintai? Saya tidak berharap lebih. Benar-benar takut. Sebab katanya akan mendapat pahala jika saya memuji namanya. saya punya harga diri. dan berjanji akan menikahi saya. Saya bahagia. kamu sudah memegang tangan saya. Nama kamu Muhammad. Sebab itulah saya percaya sama kamu. Sampai bulan kedua. Tidak seperti laki-laki pada umumnya yang menilai saya dengan harga. Nama yang bagus. saya tidak seperti itu. Saya tidak menolak. nama organnya wanita. kamu mau duduk di samping saya. Vagina. Nama kamu Muhammad. limapuluh ribu semalam. Kamu selalu sabar menemani saya meski mereka masih menatap curiga. dan dia memaki saya. Saya wanita baik-baik. Sementara bibirmu terus melumat bibir saya. Dan kamu ungkapkan cinta. Orang yang terpuji. Karena itu kamu. Belum sempat saya ambilkan handuk. Mendekati saya dengan alasan nafsu saja. Saya sudah cukup senang dengan keberadaan kamu sebagai teman saya. Bisa juga sampai ratusan juta. Sejak itu kita pacaran. Pernah saya ditawar dua juta untuk sebuah malam bersama dengannya. Mimpi yang menjadi nyata. Nama kamu Muhammad. Itu untuk kelas biasa. Saya justru senang. membuat saya tidak berdaya. menenangkan hati saya. termasuk saya. Barang yang sudah banyak diobral murah. Sebab sebelumnya kamu memasangkan cincin di jari saya. Saya jatuh cinta sama kamu. Saya hanya mampu memejamkan mata. Sebab saya juga perempuan baik-baik. mendambakan laki-laki baik-baik. artinya dapat dipercaya.” katamu sambil tersenyum merekah. Mau berbicara dengan saya meski tatapan curiga mengarah ke arah kita berdua. Mendambakan laki-laki yang baik-baik. Saya tidak mau. ***** Saya cantik. satu buat saya. Kita masih hanya berpegangan tangan. Saya suka perilakumu terhadap saya. Dua bulan. Tapi saya bahagia. kamu mendadak muncul di depan pintu kostan saya. Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa ketika tanganmu mulai menelusup di balik kemeja saya. juga nama nabi yang paling diagungkan. Sebab kamu teman pertama saya. dan agung. Saya jijik. . Dan kamu memanggil saya “Va”. Malam itu saya membiarkan kamu mencium bibir saya. Kamu menemani saya duduk di sebuah kantin. Mengatakan saya hanya jual mahal. Tapi sekali lagi. kembali mengatakan cinta. itu pertama kalinya tangan saya digenggam laki-laki. Saya benar-benar tersinggung. Sebab saya tak mau macam-macam. Sebab namamu itu. tapi kamu dengan hebatnya kembali mengatakan cinta. Belum waktunya. Sebab saya tahu ini dosa. Kamu basah kuyup. Tapi kamu terlalu mempesona. dengan harga berapapun yang kamu beri.Kamu mengenalkan namamu sebagai Muhammad. Terlebih kamu mengatakan cinta. Orang-orang seringkali merendahkan harga diri saya sebab nama saya Vaginalia. katamu. Sama saja dengan menyekutukan Tuhan. “Saya yang traktir. Tergantung jaminan kepuasan yang diberikan. Saya benci. Dan segalanya telah berubah menjadi kamu. Padahal hujan sedang deras. satu buat kamu. Saya tampar dia. Memesan dua mangkok bakso. Mengelus tubuh saya. Sebab saya tahu bahwa zinah adalah dosa besar. ***** Saya masih perawan. Saya ingin katakan jangan. Padahal saya benar-benar tak mau dibeli. belum kawin. Saya takut. Sebab nama saya Vaginalia. Yang dijuluki Al-Amin. Diteladani banyak manusia.

tanpa malu. Tak tertinggal suatu apapun kecuali membawa debu melekat pada tubuh saya. Cara bibir itu bergerak saat bicara. tidak pernah berhenti melingkar-lingkarkan jerat di dalam kepalanya. seperti angin. Benar-benar ingin menolak. Menyaksikan kamu tanpa busana. Tapi lagi-lagi kamu memeluk saya. Saya percaya. Mengapa semuanya saat ini rasa-rasanya tidak pernah benar-benar terjadi tak dapat dimengerti oleh pikirannya yang biasanya jago mengkalkulasi rumusan-rumusan jual-beli. saya percaya kamu akan menikahi saya. Padahal nama kamu Muhammad.” Dan bibir itu sangat manis bentuknya. Beberapa putaran musim yang lalu bukankah hanya bibir itu yang ada dalam ingatannya sepanjang pagi. satu per satu. Sedangkan saya lebih memilih menghujatmu. namun tidak tahu lagi karena apa dan dimana. Ia merasa seperti orang mabuk. Tapi kamu tetap tak menggubris itu semua. berkali-kali. Tapi saya akhirnya sadar. Dan saya hanya bisa tertawa. sudut-sudutnya yang naik turun tergantung emosi pemiliknya. Sebab ia orang yang terpuji. Ada bercak darah di sana. Kata-katamu selalu saja asing bagi telingaku. Yang pernah begitu saya teladani. . ***** Berkali-kali setelah itu kamu melakukan hal yang sama. Padahal kita sudah pernah bercinta dengan dosa. Dan neraka balasannya. merekahnya ketika minum kopi dan mengintipkan gigi putih yang sangat cocok untuk iklan pasta gigi ketika mengigit sepotong kue. Mungkin otakku yang bebal. Ah.” kata perempuan itu kepada laki-laki yang duduk berhadapan dengannya. di keramaian. Sebab namu kamu Muhammad. sia-sia saya melakukan itu. hanya sepotong kayu imitasi yang dinamakan coffee table dan dua mug gemuk kopi hangat masih berasap menjembatani ruang antara mereka berdua dari kursinya masing-masing. begitu pula saya. berjanji menikahi saya. Sebab nama kamu Muhammad.Tiba-tiba hari telah pagi. melaknatmu. Bukankah bibir itu yang dikulumnya tanpa puas ketika gairah-gairah mereka memuncak di malam-malam penuh gelegak yang mereka reguk bersama-sama. namun tidak lagi menimbulkan rasa ingin. Muhammad mana saja yang matanya belingsatan melihat kecantikan saya. Di jalan. Tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Tapi mungkin setan-setan yang kegirangan memujimu. namun selalu saja keluar dengan wajar dari bibirmu. atau di tempat remang-remang yang menjajakan kebahagiaan. Tapi kamu begitu pintar untuk memancing hasrat saya keluar. 2008 by Ge “Sepertinya kita pernah bersebelahan jiwa. Dan lagi-lagi saya menyebut Muhammad. Saya menangis. untung dan rugi. merindukan Muhammad yang pernah saya puji. Tertawa akan kebodohan saya mempercayai kamu selama ini. Tidakkah kamu mengerti? Bibir Februari 13th. ia menemukan dirinya merasa sangat asing. laki-laki itu menggelengkan kepalanya dengan heran. saya tidak lagi perawan. “Mungkin aku memang tidak penah mampu untuk mengerti kamu. siang dan malam. Saya mencari Muhammad. Ditariknya nafas dalam-dalam lalu menjawab. Akhirnya kamu mengatakan bosan kepada saya. tanpa bisa lagi memikirkan bahwa kita adalah pendosa yang tidak akan diterima ibadahnya. Kamu benar-benar pergi meninggalkan saya. Saya ingin menolak.” Laki-laki itu mengangkat pandangannya dari merenungi asap-asap tipis yang keluar dari mug-nya dan menatap perempuan itu. mengecup kening saya. Sebab saya tahu. Orang yang terpuji. ***** Bulan keenam kamu mengatakan perpisahan. “Atau setidaknya kita pernah yakin tentang hal itu. dan pagi lagi. ***** Kamu tahu dimana saya berada saat ini? Penjara! Saya membunuhi Muhammad.

“Sudah makan ya?” tanya bibir itu. laki-laki itu kemudian berlatih untuk diam sejenak sebelum menjawab segala sesuatu yang keluar dari bibir itu. iya kan?” “Sebal aku! Itu sebabnya kamu tidak mau aku ikut. karena dua tambah dua tidak selalu menjadi empat dalam kalkulasi pemikiran otak yang terletak dua jengkal saja jauhnya dari bibir itu. karena dia tidak pandai menyusun kalimat di depan bibir itu. tajam sekali. kalau kamu mau kita pergi makan berduaan saja sekarang. Laki-laki itu mengangkat bahu.” Hm. pokoknya semuanya. Laki-laki itu tanpa sadar merasa bergidik. laki-laki itu garuk-garuk kepala. lebih. “Kok nggak ngajak-ngajak?” Bibir itu menurun membentuk kurva setengah lingkaran dan lampu merah di kepala laki-laki itu mulai berkedip-kedip. .” “Perempuan yang mana lagi?” “Wulan. lebih dan lebih banyak lagi hamburan kata-kata yang sangking terlampau banyak tidak dapat dicerna oleh otaknya dengan baik dan kepalanya kemudian akan menjadi seperti sebuah komputer yang cupu. Jadi aku kira kamu pasti tidak mau ikut. supaya kamu bisa main mata dengan leluasa. seperti pedang dan berkilau-kilau karena lipgloss-nya. “Lho. Perempuan itu melihat bagaimana bekas suaminya menggelengkan kepala dengan cara yang sangat khas. Maka malam itu kemudian menjadi malam yang sangat dingin. yang janda cantik itu!” “Ya iyalah. Siapa lagi? Pasti ada perempuan itu. lho… Apa-apaan sih kamu? Jangan cemburu yang tidak-tidak dong. Ya. hang. tapi kan kamu bisa menawarkannya kepadaku. pening dan gelisah setiap melihat bibir itu.” “Aku memang tidak suka. Jeffry juga. Kok jadi menakutkan sekali? “Dia siapa sih?” “Pura-pura tidak mengerti. waktu aku telpon katamu kamu tidak suka masakan Itali dan kamu ada janji dengan teman-temanmu mau shopping. iya kan?!?!” “Lho. dia. bebas kerut-merut dan halus rupawan itu. “Apa yang sebenarnya terjadi?” Bibir itu kembali menyadarkannya dari kenangan yang sempat menyerempet ingatannya tadi. Kemudian ia jadi sering merasa mual. lebih tepatnya dia takut mengucapkan lebih banyak katakata karena akan berarti lebih banyak lagi kesalahan yang dapat saja dilakukannya menurut logika bibir itu yang mengakibatkan bibir itu akan mengeluarkan lebih. “Ya sudah.“Apa yang sudah terjadi?” Bibir itu bergerak turun seirama dengan ekspresi di wajahnya yang bebas jerawat.” “Pasti ada dia!” Bibir itu melancip. seakan mencoba menebak sesuatu. maksudku bukan janda cantiknya. Mau kan?” “Jangan merubah pembicaraan! Kamu makan-makan dengan siapa-siapa saja tadi?” “Lho…ya dengan teman-teman kantor. Aku sudah bilang akan makan dengan rekan-rekan kerjaku.” jawab laki-laki itu seraya mencoba mencium kemanisannya. Dan laki-laki itu memang sedang mencoba menebak apakah pertanyaan yang barusan keluar dari bibir itu adalah sebuah pertanyaan sungguhan ataukah jebakan seperti yang seringkali terjadi dalam pembicaraan mereka. “Sudah. tidak mampu memproses data lalu macet. Angki juga. bila ia tidak yakin pada jawabannya maka dia akan membisu seribu bahasa.” “Pasti! Makanya aku tidak diajak!” Jelas sekali tuduhan dan tudingan tersirat dari bibir itu. Asep juga. betapapun manis dan lembutnya terdengar di telinga. Atau. Maka. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana menjawabnya. ciumannya pun membentur gunung batu yang menjulang tinggi dan menukik tajam di sudut-sudut dan lekuk-lekuk bibir itu. bebas komedo. bukan. Atau. tapi memang iya Wulan ada. hampir-hampir membekukan.

Entahlah. Itulah yang ingin sekali ditemukannya pada bibir itu. “Ehemm…” Laki-laki itu membersihkan tenggorokannya yang mendadak rasanya tercekat oleh serpihan-serpihan kerikil yang masuk entah dari mana.” “Aahhh. “Mungkin karena bibirmu. dan menusuk-nusuk seperti sembilu? Tidak mungkin kan rasa-rasanya. bukan itu. Laki-laki itu merasa tidak memiliki jawaban yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan itu dan ia pun tidak dapat mendeteksi mana yang aman untuk dijawab dan mana yang adalah ranjau darat yang bila diinjak akan mengakibatkan ledakan yang dahsyat dan menghancurkannya berkeping-keping. Mencium. Aku kan tidak menanyakan hal yang sulit atau terlampau mustahil untuk dijawab! Aku hanya ingin kamu jujur! JUJUR! Bukannya jadi pengecut terus. “jadi kamu malu ya?’ bisikannya mengejek. lebih tergila-gila. karena dia sadar dia memang merasa sangat kecut sekali. amboi…betapa manis sesungguhnya memang bibir itu dari jarak aman ini. kita ada di tempat umum. menyejukkan hati. membuat matahari bersinar lebih lembut saat siang terik. Ah! Pusing jadinya. Dia memijat-mijat pelipis kirinya yang berdenyut-denyut. bahkan lebih menegangkan daripada dimarahi oleh atasannya di kantor. karena setelah berpikir begitu keras memang hanya itu saja yang terbayang-bayang di kepalanya. bukan itu. karena getar-getar bibir itu membuatnya tidak tega untuk berdiam diri lebih lama lagi. begitu enak untuk dinikmati. menghormati aku. “Kenapa harus minta maaf? Kamu menyesal karena berselingkuh kan? Padahal kamu pernah berjanji bahwa kamu akan selalu mencintai aku.” bibir itu bergerak naik. Dasar pengecut! Dia memaki dirinya sendiri. seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang! Apa sih maksudnya! Kenapa berbicara dengan kamu selalu saja membosankan!” “Maaf…” Bibir itu merapat. katanya perlahan.” katanya akhirnya. dulupun dia merasa seperti itu. “Pelankan sedikit suaramu. “Bibirku? Apa yang salah dengan bibirku! Aku pikir kamu menyukai bibirku! Memangnya bibirnya lebih indah dari bibirku?” “Bukan begitu maksudku.” “Lebih pandai mencium?” “Bukan itu. Menyapa. tidak ada perempuan lain yang mampu mencintai kamu seperti aku mencintai kamu. membentuk sebuah senyum sinis. pikir laki-laki itu. apalagi karena beberapa orang di meja sebelah mulai tertarik ikut mendengarkan percakapan mereka yang saat ini lebih mirip sebuah monolog dari bibir itu. “Kamu malu karena suaraku keras. dan katamu sendiri. merobek-robek seperti cakar. bagaimana mungkin bibir secantik itu bisa melukai seperti pedang.” “Kamu hanya bisa bilang bukan itu. Kenapa kamu justru ingkar janji! Kenapa justru memilih untuk bersama dia daripada aku?” Banyaknya pertanyaan yang meluncur sekaligus dari bibir itu membuat mantan suaminya merasa tegang sekali. tidak akan pernah menyakiti aku. “Bukan itu. ia tidak memiliki keinginan untuk lebih mendekat atau melakukan apapun dengan bibir itu. menghindar terus!” Dan kepala laki-laki itu semakin pusing jadinya. dan rasa-rasanya tidak mungkin ada yang lebih lembut lagi dari bibir itu yang rasanya seperti gulali ketika disentuh. “Kamu kenapa sih? Selalu saja begitu kalau diajak bicara serius! Selalu pura-pura sakit kepala. Bibir seperti itu gunanya untuk tersenyum.” “Jadi? Lebih seksi?” Lelaki itu menatap bibir bekas isterinya dan melihat. Ada beberapa yang bahkan nampak sekali sangat tertarik dengan gerak-gerik bibir itu. Tidak dapat disalahkan. Dan tertawa. mengelus-elus kerinduan. mendebarkan sanubari. karena selalu saja ia mendapatkan dirinya dan harga dirinya kemudian terkapar di suatu tempat dan waktu yang membingungkan. bahkan lebih terbius. tanggung. begitu? Kalau berselingkuh itu tidak memalukan ya!” .

Suara yang keluar dari bibir itu berdentum keras sekali sangat mengejutkan. Bibir itu sekarang berguncangguncang. boleh aku bicara?” Laki-laki itu menepikan mobil. Bisa kan?” Bibir itu bergerak seakan hendak melakukan sesuatu lalu tiba-tiba saja tidak jadi melakukannya. bila di matamu aku bisa berkaca dan menemukan diriku. sangat. tapi gulali yang mulai meleleh karena dibiarkan terlalu lama di bawah matahari. karena. berbanyak kepala langsung menoleh ke meja mereka dan laki-laki itu menemukan dirinya menjadi pusat perhatian. yang membuat jantungku berdebar-debar melaju ditengah kemacetan jalan saat pulang kerja sehingga rasanya semakin tersiksa karena aku ingin sekali segera pulang agar dapat mengecup sudut-sudutnya. Tiba-tiba saja dia merasa sangat. sangat kasihan kepada bibir itu. laki-laki itu terkejut. “Aku pernah mencintaimu. warna lembut lipstick yang masih melekat dengan sangat apik yang nampaknya tidak akan berguguran walau terguncang-guncang. Digandengnya bekas isterinya ke luar dari tempat minum kopi itu. Tapi. dan derai tawa. ayo aku antar. di bibirmu aku menemukan cinta. mencong ke atas atau ke bawah. juga sebuah dekik yang timbul tenggelam di sebelah kiri bibir itu. begitu elastisnya bibir itu sehingga tidak jadi masalah ditarik ke kiri atau ke kanan. laki-laki itu menutup indera pendengarannya dan menyisakan visualisasi dari drama yang terjadi di depan matanya ini. Kamu memang ahlinya! Selalu saja begini ini. Atau lebih tepatnya. aku memang mencintai bibir itu. matanya beralih memandang jalan di depannya. luarbiasa.” “Bagus! Pergi saja sana! Melarikan diri. “itulah masalah kita. tidak bertanggungjawab!” Bibir itu bergerak turun naik ke kiri dan ke kanan. mata-mata para perempuan mendelik dan beberapa laki-laki agak salah tingkah sementara yang sebagian malah tersenyum mencemooh. Bahwa aku sungguh-sungguh jatuh cinta dan mencintaimu ketika kita menikah. bukankah kamu selalu berkata ingin ada jawaban? Boleh kan aku mencoba menjawab. seakan memang seluruh semesta mempersiapkan tempat dan ruang untuk mereka saat itu. mengapa…” . “Jawaaaaaab!” Tiba-tiba saja dinding pelindung anti-suaranya pecah berantakan. untuk laki-laki itu. Kamu tahu itu. Bibir itu perlu istirahat juga dan memberikan kesempatan kepada telinga untuk bisa mendengar suara lain selain suara-suara milikimu sendiri. Kalau saja dia bisa bertanya langsung kepada bibir itu. bagaimana mungkin dia pernah mencium bibir yang seperti itu di suatu masa yang rasanya sudah berabad-abad yang lampau? Bagaimana caranya bertahan tetap waras berhadapan dengan bibir itu selama lima tahun hidup pernikahan mereka? Saat bibir itu mencang-mencong di hadapannya dia tidak lagi mampu mencerna kata-kata yang mengucur begitu deras dari bibir itu. “Bibirmu. “Ssstt…” Serba salah laki-laki itu menengok ke kiri dan ke kanan. yang sudah lama tidak mampir di hatinya. sambil berpikir. “Sebaiknya aku pergi saja karena ternyata kamu masih terlalu emosi.” Tiba-tiba saja dia menemukan dirinya bisa berbicara tegas.” “Tapi…” “Biarkan aku bicara dulu. Kasihan. demi merekahnya senyum. saat ini. dan di kepala laki-laki itu timbul pertanyaan. Aku bahkan mau mempertaruhkan hidupku demi bibir itu. kapan semuanya akan berakhir ya? Konsentrasinya pada bibir itu membuatnya mampu menangkap garis-garis halus di bibir itu. dan kamu mencoba mendengarkan? Lagipula. apakah bibir itu sendiri tidak pernah merasa lelah? Dalam hati laki-laki itu mempertanyakan. satu saat ditarik ke sana dan dilain saat ke sini. Di lekuk-lekuk senyummu ada semangat dan kekuatanku untuk meraih masa depan. Ya. dan kegairahan. apakah itu sebuah isakan? Dia merasa diterobos oleh rasa kasihan. Ya. Dia bahkan tidak lagi dapat mendengar suara apapun! Secara naluriah. dan kekenyalan bibir itu yang begitu nyata. sangat. “Sebaiknya kamu pulang. jalan lengang. apa yang dirasakannya saat dihempas-hempas begitu rupa oleh pemiliknya.” kata lelaki itu sambil menatap jalan di depan kemudi. Saat itu dia merasa berhadapan bukan lagi dengan pedang. Kepala perempuan itu mengangguk. lekukan atasnya yang sensual dan sempurna. aku kasihan dengan bibirmu. “Jadi.” “Lalu. kalau dieksploitasi terus-menerus. dan dengan takjub menemukan tidak ada perlawanan dari bibir itu maupun anggota-anggota tubuh yang lainnya.

” Laki-laki itu menatap perempuan cantik di sampingnya. Aku tidak pernah berniat mengkhianati.” “Kalau kau lebih mudah berbicara?” “Kau akan lebih mudah mendengarkan dan kita akan lebih mudah saling mengerti. Mengapa? Karena aku tidak lagi menemukan debaran-debaran jantung ketika berhadapan dengan bibirmu. Aku tidak pernah menghendaki kita berpisah. Yang pasti.” Perempuan itu menatap laki-laki itu dengan pandangan yang berbeda. bibirnya terbuka sedikit. Aku bahkan sering berharap terjebak saja terus di tengah-tengah kemacetan. Karena itu adalah pertanyaan yang sama yang diajukannya berulang-ulang kepada dirinya sendiri. merasa menang. bahwa aku memang suami kalahan. “Seandainya aku lebih banyak mendengarkan?’’ “Aku akan lebih mudah berbicara. yang pada awalnya sama sekali tidak punya arti. Kuakui bahwa aku lelah dihukum untuk sebuah kesalahan yang tidak aku lakukan. bukan madu yang keluar namun begitu banyak dakwaan yang. Oh. aku berpikir. dan matanya berkaca-kaca. “Kita sudah benar-benar gagal bukan?” perempuan itu berbisik. karena begitu bibirmu terbuka. bukan lagi seperti kupu-kupu yang naik turun tetapi lebih mirip sengatan sekawanan lebah yang menyerang lambungku. Laki-laki itu mengangguk. menahan diri.” “Kalau kita lebih banyak berciuman?” “Kita akan lebih mudah bergandengan. betapa terlambatnya. sebuah senyum rawan menggantung di bibirnya. Namun nampaknya dosaku sudah terlampau besar. dan aku sudah menemukannya. dan godaan yang datang. dan lelaki itu mengusapnya lembut dengan jari telunjuknya. Tetapi sedetik saja pada saat ini. atau malam-malam kita yang terlalu banyak diisi dengan kebekuan. aku mencari kedamaian di bibir yang lain. masa-masa yang sangat indah di sebuah waktu yang berbeda dan begitu jauh. Bahkan tidak berani mengecup bibirmu saat aku sangat ingin melakukannya karena aku takut lidahku tidak mampu merasakan rasa yang lain selain rasa pahit” Laki-laki itu mengedipkan matanya. “Kita sudah pergi terlalu jauh dan kehilangan jalan pulang. kamu yang menginginkannya. manis sekaligus sangat pahit. yang aku dengar hanya bergodam-godam palu kecurigaan dan tuduhan yang pada mulanya aku tidak mengerti dari mana asalnya. Akhirnya. Aku memang bersalah. Ia menghela nafas dalam diam. sudah penuh.” kata perempuan itu lirih. ada sebutir bening jatuh diujung bibir itu. setiap kali aku memandangmu dan bibirmu mulai berbicara. Bekas isterinya mengangguk.” Ah. Aku mengaku kalah. mengapa semakin lama aku malah semakin menikmati jam-jam lemburku dan mengharapkan waktu-waktu kerja menjadi lebih panjang. ada air yang membuat matanya berkaca-kaca. Namun kemudian. yang aku rasakan adalah rasa mulas di perutku. terisi dengan cinta untuk sebuah bibir yang lain. dan bekas isterinya menggigit bawah bibirnya. Aku memang pengecut. berselingkuh. mengapa? Aku sendiri heran. “Ya. Aku minta maaf. Atau dua-duanya. Mereka sudah sampai di persimpangan tempat dia dan pemilik bibir manis itu harus berpisah. “Sungguh. mengapa tidak? Mungkin dengan begitu kamu akan merasa puas. tidak pernah selintaspun. ketika dirabanya sakunya itu. Mungkin imanku yang tidak kuat. menjadi sebuah jalan alternatif bagiku. Jakarta 24 Juni 2003. tidak punya peluang. Namun.” “Kalau kita lebih mudah bergandengan?” “Kita tidak akan pernah terlalu mudah untuk saling melepaskan. “Lalu mengapa kita bercerai?” Laki-laki itu menebak dengan tepat. ingin sekali disimpannya tetes bening itu di dalam sakunya. pada mulanya.” “Seandainya kita lebih mudah saling mengerti?” “Kita akan lebih banyak berciuman.Laki-laki itu memberi isyarat dengan tangannya. “Masih ingat? Dulu kau pernah bilang bibirku rasanya seperti es krim vanila dan lembut seperti gulali. Karena aku tidak mampu pulang. tidak berdasar. dan aku tidak punya keberanian atau kemampuan untuk mempertahankan apa yang memang tidak kamu anggap perlu untuk dipertahankan lagi… Maafkan aku. . aku jatuh.

Dia sudah kebelet nikah namun tidak sampai hati melangkah mendahuluiku. Yang terakhir ini agak kuragukan karena Bapak orang sukses dan terhormat. aku berusaha menyingkirkan semua pikiran-pikiran aneh tentang apa yang akan dibicarakan Bapak. aku mengenalnya sebagai orang yang sangat taat beribadah dan selalu membangunkanku saat sepertiga malam untuk salat tahajud yang kemudian menjadi rutinitasku dalam keseharian. Meski surat itu tanpa tanda tangannya. 2008 by piko aguno Gi. Kuhubungi teman-teman sesama panitia dan mereka semua pengertian. Aku tak habis pikir mengapa Bapak tidak menelepon saja. Bapakku tidak bisa menerima dan menganggap hal itu syirik. Aku merasa bersalah juga tapi aku akan menikah setelah selesai kuliah. Pendek kata. kecuali Bapak. Saking dihormatinya. Bapakku orang terhormat. Yang paling kesal adalah adikku si Nuning. Bapak mau bicara. Tumben sekali Bapak berkomunikasi dengan cara seperti ini belum lagi isi pesannya yang benar-benar menyita perhatianku sepanjang hari ini. Apa yang akan dibicarakan Bapak? Tentang pernikahankah? Karena aku sudah termasuk telat untuk menikah dan begitu gencarnya Orangtua beserta adik-adikku membujukku untuk mencari belahan jiwa. ia dimintai ‘doa’ oleh orang-orang yang datang dari luar kota. Akhirnya aku lelah berpikir yang tidak-tidak dan memutuskan mengepak koper sore ini lalu berangkat nanti malam. Apa gerangan yang mau dibicarakan? Ini agak sulit karena aku sedang mengemban tugas sebagai pembicara seminar yang akan dilaksanakan besok di kampus. Ia mengirim surat dengan kertas dan amplop kelas atas serta prangko kilat namun isinya hanya lima kata itu saja. Tapi aku tetap merasa kurang. pulang. dan disegani siapa pun yang mengenalnya. aku merasa bisa terus sekolah dengan upah kerja part time atau dengan belajar lebih rajin agar dapat beasiswa. Hati-hati nanti di jalan. Ia pendakwah yang gigih. Setelah mengurus tiket yang agak bermasalah. kaya raya. Namun begitulah Bapakku. Jogja. Atau mungkin tentang warisan? Mungkin Bapak sedang sakit keras baru-baru ini dan merasa akan meninggalkan dunia fana ini sehingga merasa perlu membicarakan warisan hartanya yang melimpah. jadilah ia menganggur di rumah. Banyak majelis-majelis mengharap kedatangannya untuk sekadar memberikan sambutan atau ceramah pendek. Wajahnya menunjukkan bahwa dia sedang berpikir keras tentang suatu hal dan bayang-bayang keraguan muncul timbul tenggelam. aku bisa mengenali tulisan Bapak yang khas. Ia bilang ia bukan dukun yang bisa dimintai hal-hal . Meski sulit. Aku bukan anak-anak yang mau menjadi benalu bagi Bapak.Bukan Ismail Desember 10th. toh mereka semua senang aku pulang. Benar-benar surat yang simpel namun juga mengusik hatiku. punya banyak koneksi. Di dunia sebagai orang baik dan rezeki dicukupi. Ataukah Bapak jatuh miskin di luar sepengetahuanku lalu akan menyuruhku berhenti kuliah? Tapi toh meski selama ini ongkos kuliah ditransfer Bapak. aku penggantinya. Umurku 28 tahun dan aku memang kurang laku di mata kaum hawa walau banyak orang bilang wajahku termasuk lumayan. Kuliahnya sudah selesai dan belum punya pekerjaan. “Tidak masalah. bertitel kyai. Tak apa. Rupanya beliau tidak memberitahu yang lain bahwa aku disuruhnya pulang. Keluargaku kaget melihatku pulang. apalagi di akhirat. Tulisannya miring bersambung dan banyak hiasan di huruf G dan B besar. Ia bisa diasumsikan sebagaimana orang-orang melihat seorang manusia yang sempurna akhlak dan materi. aku memang tidak pandai bersyukur. akhirnya aku kembali terbang ke kota kelahiranku. Kulihat Bapak hanya diam saja menyambut kepulanganku. Hampir-hampir orang lain berani bertaruh manusia macam itu bakal masuk surga. Nomor ponsel dan nomor telepon Ibu kost-ku sudah ada di tangan Bapak. Hanya itu isi surat yang kuterima tadi pagi. ia dianggap sukses di dunia dan akhirat. Semenjak aku diasuhnya sedari kecil. Namun rasa penasaran yang sangat menyelimuti otakku sedemikian rupa. Aku memutuskan untuk lanjut ke S2 jadi tidak ada waktu untuk menikah. Terbersit niatku untuk menunda kepulangan sampai tanggung jawabku itu selesai.” begitu kata salah satu temanku yang menjabat sebagai wakil ketua panitia.

Bapak harus memenuhinya. “Pasti Tuhan sedang menguji keikhlasan Bapak dalam beribadah. Selama ini Bapak hidup tanpa hambatan yang berarti. jadi kutunggu dengan tidur yang lelap hingga tiba-tiba ia membangunkanku sepertiga malam untuk salat tahajud.” jawabku ragu. Untuk kedua kalinya aku terlonjak.” kataku spontan. Ia mengajakku bicara empat mata berhadap-hadapan.” ujar Bapak tanpa ekspresi. Harta banyak. “Apakah kamu percaya sama Bapak?” tanyanya. Bapak sangat pendiam.seperti itu. Ia berbicara panjang lebar dan tak ada hentinya kecuali mungkin aku menyelanya. Begitu bangga dan bersyukurnya aku mempunyai Bapak seperti beliau. Bapak hanya menatap kosong ke langit-langit rumah. Aku setuju saja. “Astagfirullah! Apa nggak salah dengar?” Bapak mengangkat tangannya agar aku jangan menyela. “Bapak tidak percaya kamu percaya sama Bapak” Aku jadi bingung. sebenarnya apa yang mau dibicarakan sampai saya harus pulang?” Bapak mengisap rokoknya dalam-dalam. seolah berusaha memancing komunikasi kami berdua.” Aku tersontak kaget. “Yah. Rupanya tidak cukup hanya dibalas dengan ibadah dan rasa syukur kepada Tuhan. ‘Diam itu emas’ rupanya benar-benar menjadi prinsip hidupnya. Tuhan menyuruh Bapak menyembelih anak Bapak sendiri. Bapak tidak bisa mengelak. “Kamu percaya sama Bapak?” tanyanya. Setelahnya Bapak menyalakan rokoknya dan mengepulkan keras-keras. seolah itu hisapan yang terakhir.” “Tapi Pak… bagaimana mungkin? Itu kan cuma mimpi. Apa wujudnya? Aku tak boleh bertanya demikian. Bapak hanya bicara bila benar-benar perlu jadi kebanyakan mulutnya hanya digunakan untuk tersenyum menanggapi perkataan orang lain. aku agak heran juga. apalagi bertemu Tuhan. memandang langit-langit. “Dua hari yang lalu Bapak bermimpi bertemu Tuhan. “Seperti halnya Nabi Ibrahim. Tuhan menguji sejauh mana Bapak bisa bersabar atas apa yang Tuhan minta. Pantatku jadi sakit karena terlompat. “Pak. “Eh. Mengalami mimpi bertemu Rasulullah saja sudah merupakan karunia luar biasa dan diperuntukkan hanya kepada hamba-hamba Allah yang tertentu. Karena setiba di rumah Bapak hanya diam saja. tidak mengerti apa maksud Bapak bertanya begitu. Akhirnya kami shalat berjamaah sekidmat mungkin. Aku tidak percaya sedikit pun tapi aku diam saja.. Ia mengusir dengan halus tamu-tamunya saat itu. “Saya percaya Bapak. membiarkan rokoknya memendek digerogoti ulat api di ujung. Darinya mengalir nasihat-nasihat kehidupan juga kisah-kisah para nabi. Aku disuruhnya pulang hanya untuk mendengar celotehan yang sudah sering kudengar di masa kecil.” Bapak terdiam agak lama dan menciptakan keheningan yang janggal di antara kami. tegas. “Terus?” tanyaku. Lalu ia berkata tibatiba.. “Bapak yakin kamu anak shaleh dan selalu ingat bahwa Tuhan itu ada. keluarga sejahtera.” Agak menyesal kukatakan ini. Aku jadi jenuh dengan perkataannya yang panjang lebar dan tak biasa. Hanya asap rokoknya yang bergerak kesana kemari di antara kami. . Mana mungkin? Pasti Bapak mengada-ngada. Dengan agak kurang sopan aku menyela. Aku tidak mengeluh kali ini meski aku benci sekali asap rokok. kedudukan terhormat.ya.” Ia terbatuk karena asap rokoknya sendiri lalu melanjutkan.

“Memang. Melelahkan tapi asyik.” “Tapi mengapa Tuhan memberikan tugas itu kepada Bapak kalau Bapak manusia biasa. Yang terakhir semacam tidur lelap karena kekenyangan. Aku merasa akan kalah.” kataku tegas. Tapi aku kaget hal-hal yang merusak aqidah seperti ini menyentuh Bapak. dan mimpi biasa. “Ya… tentu. Bisa jadi ia akan punya pengikut seperti halnya Ahmadiyah. “Bapak yakin kalau Bapak disuruh nyembelih anak sendiri?” tanyaku takut-takut. “Sebenarnya bisa saja Bapak memilih satu di antara adik-adikmu tapi adikmu perempuan semua. Muhammad adalah Nabi terakhir. Allah Maha Berdiri Sendiri. “Lalu bagaimana dengan Nabi Ibrahim? Mengapa Tuhan meminta hal seperti itu kepada Nabi-Nya? Itulah Ibadah. bukannya Nabi atau bahkan orang saleh?” “Kamu menilai Bapak bukan orang saleh?” tanya Bapakku agak keras lalu kemudian ia jadi salah tingkah begitu juga aku. Maha Besar. mimpi dari setan. Lagipula kamulah yang Bapak rasa paling bisa menerima tugas ini dengan lapang dada. Seolah-olah malaikat Jibril masuk ke dalam mimpi Bapak lalu mengajak Bapak ke depan arsy Tuhan di langit ke tujuh. Rasanya sesak dan perutku mulas sekali. Aku takut tiba-tiba ia mengaku-ngaku diutus sebagai Nabi. . aku masih ingin hidup seribu tahun lagi. ia mengencerkan tenggorokannya sambi berpaling dariku. Mau kuceritakan?” Aku menggeleng lemah. Dari Allah. Bapak mengangguk takzim. Bapak orang saleh. Dan Bapak pun menerima hal yang serupa. apapun caranya. sedikit nyengir mau minta maaf. “Le. ” Lapang dada! Ah.” Bapak tersinggung. Hanya kamu sendiri yang laki-laki. bukan halusinasi. aku juga—semua—hanya manusia biasa. Bapak memperlihatkan mimik tersinggung lagi. Allah tidak butuh sesuatu pada mahluknya. “Apa kamu percaya selama ini Bapak beribadah bukan atas dasar riya? Tidak untuk menarik perhatian orang lain supaya jatuh hormat pada Bapak?” tanya Bapak. Untuk apa Tuhan meminta hal seperti itu kepada mahluk ciptaan-Nya? Ini menyalahi Asma’ul Husna. Dikepulkannya asap rokok menjadi lingkaran-lingkaran asap yang menawan.” “Tapi bagaimana Bapak yakin Bapak mimpi begitu? Mungkin hanya halusinasi—” “Bukan. Kuraba dadaku. Aku harus menyadarkan Bapak. Perjalanan yang panjang.” Telingaku serasa terkulai. Perhatianku teralih namun sekejap kembali pada tempatnya.” Bapak tertawa terkekeh-kekeh mendengar perkataanku. Mimpi dari Allah. Perintah Allah. Bapak bukan Nabi tapi hanya manusia biasa yang dikaruniai hidayah-Nya sehingga bisa seperti sekarang. Bapak orangnya tidak tega melukai mahluk Tuhan yang namanya perempuan. “Tapi Bapak bukan Nabi. Bapak yakin sekali mimpi ini dari Tuhan. Maksudnya mimpi yang nyata. “Tapi Pak…. Ini bisa menjadi aib keluarga dan aku bakal malu berat. Ini benar-benar mimpi.” “Saya kira mimpi itu ada tiga. Ini sudah kelewat batas. Manusialah yang selalu butuh Allah untuk bisa hidup meski mereka tidak pernah menyadarinya.“Begitulah Tuhan menyampaikan kepadaku. Aku jadi malu di hadapannya. Tapi saya tidak tahu apakah Bapak bisa menentukan mimpi itu dari Tuhan atau dari setan.” kataku mengalah. Dan Bapak sendiri.

bukan gitu Pak. putranya Ismail ikhlas untuk disembelih. Bapak cuma minta kesediaanmu untuk Bapak sembelih.” “Salah. dari Allah.” “Oh… saya tidak bersedia. Saya cuma…” “Tapi Bapak harus melaksakannya” “Pak…” “Malam ini.” “Wah. ” “Aku tidak ikhlas. Tinggal tebas. Sadar. Bukankah Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang? Allah akan menggantikan dirimu dengan seekor kambing gemuk yang nanti kita jadikan gulai untuk dimakan sekeluarga. Bapak tidak punya kendala. ini pembunuhan. “Ha. masak. jangan dilakukan.ha…ha… Yang diuji itu Bapakmu ini.” “Tidak mau. sadar…” “Dengar dulu—.“Begitulah. Lebih baik sudahi saja. tentu saja berbeda. “Ini bukan sensasi.” kataku gemetar. Saya mau tidur dulu. Kalau kambing sih.” “Kalau begitu beli saja kambing lalu sembelih. Kamu harus—. “Ah. “Bapak mau melakukan tugas itu malam ini. Itulah bedanya. Pak. Keikhlasanku diuji ketika detik-detik terakhir aku memutuskan urat-uratmumu.” kataku marah. Ini edan.” “Cukup!” “Ini ibadah. Berarti acara sembelihan Bapak jadi tidak afdhal dong.” Bapak menahanku. makan.. bukan kamu.” elakku. “Bapak memaksa. Dalam kisah Nabi Ibrahim. itu sama saja. Entah kamu ikhlas atau tidak Bapak peduli apa? Tuhan tidak menitipkan pesan apa pun untuk kamu.” “Harus. Tole. Saat pisau yang tajam bersentuhan dengan kulit lehermu. Ini misi Tuhan.” “Tidak! Saya tidak mau.” .” kata Bapak seraya mematikan rokoknya yang sudah pendek sekali. Sedangkan aku tidak ikhlas.” “Kamu jangan ngeyel. Pak. “Tunggu dulu! Bapak jangan bikin sensasi. Aku akan diuji apakah aku sanggup menyembelih anakku sendiri atas dasar perintah Tuhan.” “Saya tidak mau.” “Uh oh. Rupanya sikap takabur sudah menggerogoti otak kanan Bapak sehingga penuh dengan khayalan seperti ini. Tole… Kamu tidak akan mati. Pak. “No…no…no… Aku masih ingin hidup.” Bapak ikut marah Hilang sudah rasa hormatku pada Bapak.” Jantungku berdegup dan bisa kurasakan wajahku memucat meski aku tidak bisa melihatnya.

” “Tiidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!” Tapi itu sudah berlalu satu tahun yang lalu.” “Bapak sudah keblinger!” “Meski dengan kekerasan. aku bukan Ismail. Dan hal penting kedua ialah ia ikhlas untuk disembelih. Ia percaya bahwa Tuhan itu ada. orang-orang zaman sekarang takkan bisa menerima. . Meski demikian orang-orang yang dulu mengenal Bapak masih menaruh hormat pada keluargaku. lho. Aku hampir lengah. Aku ragu jika Bapak tidak gila. Setiap sepertiga malam ia selalu shalat sampai subuh. Sejenak timbul niat untuk memulangkan Bapak karena mungkin Bapak memang tidak gila. yang tentu saja takkan berhasil. Sungguh aku merasa menjadi manusia paling berdosa dan tak punya iman sama sekali. “Sini kamu. Ia percaya bukan karena ia bodoh tapi karena imannya yang terang benderang. Kata si psikiater. mengajak-ajak dalam kebajikan. Apakah ini berarti aku mengabaikan Tuhan? Jika Bapak memang benar bermimpi demikian dan mimpi itu memang dari Tuhan maka aku orang yang berdosa. menduga-duga mungkin mimpi itu benar dari Tuhan dan aku memang harus disembelihnya. Si psikiater curiga itu hanya akal-akalan agar dia dinyatakan sembuh namun niat untuk membunuhku masih ada.“Kita bakal dapat pahala. kali ini. Untuk beberapa waktu. Bapak masih selalu berpuasa Senin Kamis dan masih melantunkan ayat Al Quran dengan fasih. Aku sudah diwisuda. jangan Pak! Gila!” Akhirnya sambil tersenyum tulus Bapak mengeluarkan pisau besar semacam parang dari balik sarungnya. Keluarga dan tetanggaku menyelamatkanku tepat pada waktunya. Ia percaya ayahnya selalu beribadah dengan ikhlas kepada Tuhan. Mungkin trauma mengingat-ingat bagaimana Bapak mengejarku di jalanan dengan pisau besar terasah tajam dan mengkilat sambil bertakbir. Nuning juga sudah menikah dan tinggal di rumah suaminya. Tapi pastinya Ibu dan adik-adikku tidak akan menerimanya lagi.” “Aduh. Bagaimanapun juga. Juga mendakwahi setiap pasien di sana. keluargaku menjadi bahan gunjingan di masyarakat. Aku juga ragu mimpi Bapak tidak relevan untuk zaman sekarang. Bapak bersikap seperti orang normal bahkan kelewat saleh. Aku menjadi merasa bersalah pada Bapak. Akhirnya Bapak dideportasi dari rumah dan diungsikan ke Rumah Sakit Jiwa. Siapapun itu. bekerja. Yang jelas. Aku membayar mahal seorang psikiater profesional untuk mengawasinya namun laporan setiap bulannya tidak banyak mengalami kemajuan. Pisau itu sudah terasah tajam dan mengkilap menyilaukan mataku. dan bersiap-siap memegang leherku. menikah dan kini tinggal bersama ibuku yang kecewa berat Bapak jadi gila. Bapak berdiri. Lalu bagaimana dengan Ismail putra Ibrahim? Mengapa ia tidak ragu bahwa mimpi ayahnya dari Tuhan? Mengapa ia mau menerimanya begitu saja? Karena ia punya iman yang kuat. Aku jadi bimbang sendiri. Ia percaya mimpi ayahnya itu tidak salah. mengucapkan basmalah.