Perempuan Kampung Karampuang ( Juara 1

)
Desember 19th, 2008 by Emil Akbar Malam ini purnama sedang penuh. Bulan benderang begitu bundar. Bercahaya menyinari seperti lindungan ibu dalam dekapan yang menjelma dewi malam dan aku memperoleh restu di wajahnya yang bulat. Membuat langit hitam tak begitu gelap. Dalam rindang hutan pekat melarut lewat hembusan angin yang dingin. Bukan gulita sebab mataku masih bisa melihat. Hanya lindap dan kudapati kunang-kunang berkerlip, mengganti bintang yang tiada. Aku menantimu di batas Dusun Karampuang. Kau belum juga muncul padahal aku sudah lama menunggu di sini. Aku takut dan cemas. Itu sebabnya mataku terpaku pada ujung aspal yang menghilang seperti ingin menerobos malam yang teduh, mencari bayanganmu yang berkelebat, dan sesekali aku menengok ke belakang membaca situasi. Rustam, tahukah kau? Di dalam sana, sunyi bukan berarti tidak ada bunyi walau tadi mereka sembunyi karena aku tak peduli. Bunyi hewan malam, nyanyian serangga, suara berdesis-desis yang bukan ular, kicau kao-kao yang mengerikan di rimbun daun di dalam hutan yang senyap, berbondong-bondong mengerubungi telingaku. Berdenting serupa dawai, mengalun dan merambati udara, dan bakal meninggalkan luka di hatiku bila kau tidak jadi menjemputku malam ini. Maka hadirlah di ujung jalan itu seperti dilahirkan oleh kabut yang merayap. Jangan sampai aku menjadi batu di sini karena gigil atau habis karena dimakan angin dan kau harus tahu jiwaku mulai beku meski sebenarnya kepalaku ingin meledak karena bosan. Aku tidak mungkin kembali setelah ingkar. ”Sepertinya lelaki itu tidak akan datang.” Seseorang memegang bahuku dari belakang. Aku tersentak kaget dan terlonjak bangkit dari tugu batu yang kududuki. Aku gemetar gugup mengetahui siapa yang menegur. ”La Gole! Sedang apa kau di sini? Kau mengikutiku?” Sontak aku menjauhinya. ”Jubaedah, pulanglah sebelum terlambat. Masih ada kesempatan dan aku akan membantumu,” ujarnya sembari duduk di tugu batu yang kutinggalkan. Dalam gelap aku tahu ia menatapku tajam, seruncing jarum yang pernah menusuk tanganku. Batinku tertohok mengingat ia adalah mata-mata Puang Gella, pemangku yang sering menghukum bila ada orang yang melanggar di kawasan dusun, meski ia temanku sejak kecil dan beberapa waktu silam aku menyimpan hati untuknya. Namun ia menunjukkan sikap yang tidak kusuka. Ia bukan lelaki tangguh, pengecut yang tidak berani mengajakku kawin lari. ”Benar kau akan menolongku?” tanyaku pura-pura ragu. ”Kau tidak percaya padaku?” La Gole menghampiriku begitu dekat hingga bisa kuhirup bau badannya yang belum disentuh sungai. Aroma napasnya purba. ”Baiklah kalau begitu. Ijinkan aku menunggu Rustam sebentar lagi,” pintaku. Lalu kedua kakiku tak mau diam karena gelisah. ”Jika dia tidak muncul?” ”Kau boleh membawaku pulang!” jawabku sedikit kesal. ”Sepakat.” Agak lama kami saling diam seolah jiwa kami raib meninggalkan raga yang kikuk, menguak hutan dengan lesat untuk menemukanmu dengan tujuan yang berbeda. Kuperhatikan La Gole sedang duduk bersila sambil mempermainkan parang bersarung yang biasanya terlilit di pinggangnya. Tidak kutahu apa maksudnya, tapi membuatku bergidik membayangkan kulitmu robek dan menumpahkan darah jika badik itu keluar dari sarangnya. Kau pasti akan kalah sebab La Gole bekerja dengan otot sedangkan kau lebih suka berpikir. ”Apa yang kalian lakukan jika sudah bertemu? Apakah kau akan lari dengannya?” La Gole mengajukan tanya yang menyelidik, memecah hening. Posisi duduknya sudah berubah, satu kakinya berdiri dengan lutut menekuk. ”Tidak melakukan apa-apa. Aku hanya mau mengatakan sesuatu?” balasku berbohong sebab ia sudah curiga.

”Apa itu?” ”Kau tidak perlu tahu. Kenapa kau bertanya-tanya?” ”Ingin tahu saja. Bagaimanakah perasaanmu padanya?” ”Itu bukan urusanmu!” teriakku nyaris menuding, membuatnya bungkam. Aku berbalik arah membelakanginya menahan amarah, antara jengkel dan putus asa. Kusandarkan kepalaku pada pohon yang tak bisa kurangkul. Aku mencabut-cabuti kulit keringnya yang berlumut dan memang sudah terkelupas, membuang geram. Mataku terasa panas bagai diperciki biji lombok. Pedih memerih. Sekarang aku tidak ingin kau datang sebab itu akan mengantarkan nyawamu. Namun aku juga butuh kau datang membawaku pergi dari sini, jangan biarkan aku berkalung rantai. Aku tidak mau menjadi perawan tua! Bagaimana ini? Aku galau. Tetapi tunggu. Mataku yang melirik menangkap bayangan sekilas, bersijingkat dan menunduk mirip gerak-gerik babi hutan, berpindah dengan cepat ke semak-semak. Apakah itu kau? Tidak sebentar aku terpana, dadaku berdesir dengan degupnya. Aku merasakan firasat tak baik. Aku mesti bersiasat. ”Aku menyerah. Seperti katamu, Rustam tidak datang. Mari pulang.” Sebisa mungkin kukulum senyum ini dan menampakkan muka murung agar tidak ketahuan, supaya kau dapat mengikutiku dari jarak jauh. Aku akan mengecohkan perhatiannya. ”Aku masih setia menemanimu menunggu jika kau mau?” Aku tahu ia mengejekku. ”Tidak usah! Barangkali dia pecundang yang lebih darimu.” ”Bagus kalau kau sadar. Orang kota memang tidak bisa dipegang janjinya!” timpalnya tak mau kalah. Aku tidak lagi menyahut dan berjalan lebih dulu. Rustam, susul aku di puncak bukit! *** Jubaedah, kau adalah gadis sunyi. Semerbak harum bunga desa, wangi menebarkan angan di setiap kepala jantan muda sepertiku. Aku menemukanmu bagai mutiara diantara ribuan kerikil bebatuan yang terserak di tepi kali. Namun ada yang hilang di wajahmu yang bulat langsat. Laksana embun pagi yang tak ada lagi, saat matahari tak bisa lagi disebut mentari. Aku seperti pangeran yang menemukan bidadari. Di batas Dusun Karampuang jalanan beraspal terputus seperti lorong buntu. Terdapat daun kelapa yang diikat merintang di atas jalan. Mobil dinas kuparkir di luar kawasan adat karena dilarang masuk. Lagi pula hanya ada jalan setapak yang sempit. Tanahnya berdebu di musim kemarau dan licin berlumpur di musim penghujan. Banyak bebatuan. Di hari-hari biasa dusun ini begitu sepi bak kampung yang bisu. Awal bulan November aku kembali. Aku sudah menjadi pegawai negeri di kabupaten. Setahun yang lalu aku datang di kampung ini untuk menyusun skripsiku mengenai adat Karampuang. Setelah lulus kuliah tak mampu kutahan hasrat hatiku, ingin kembali menggapaimu. Masihkah kau menjadi perawan suci yang tidak boleh dijamah? Kutinggalkan semua yang berbau teknologi dan barang yang terkesan mewah di mobil sebelum memasuki kawasan adat yang dikeramatkan ini, lantaran pamali. Menurut keyakinan orang sini, segala yang datang dari luar lebih banyak merusak dan akan mengubah tatanan tradisi yang mereka jaga selama berabad-abad, turun temurun. Itu sebabnya aliran listrik tidak bisa masuk karena kaum adat menolak. Sungguh dilema, mengingat aku memegang proyek dari Pemda untuk menjadikan Karampuang tempat wisata, yang mungkin bakal melunturkan kebiasaan dan kepercayaan penduduk di dusun ini meski dengan maksud memberdayakan masyarakat. Aku masih terkenang ketika pertama kali datang di kampung ini. Aku disambut dengan ramah. Tidak kurang isi baki sudah ditambah, belum setengah isi gelas sudah diimbuh. Aku yang mengetuk pintu bukanlah orang lain, malah dianggap keluarga sendiri. Sebab mereka memandang tamu itu membawa rezeki. Saat itu aku menumpang tidur di rumah ayahmu di luar kawasan adat, di dusun tetangga. Lantaran aku butuh listrik buat menyalakan laptopku, menulis hasil riset yang kudapat. Pernah aku menginap di rumah seorang warga. Alat penerangnya berupa lampu minyak yang mereka sebut sulo. Semalam suntuk aku menulis di lembar kertas. Pulang pagi-pagi. Kau berada di depan pintu. Tergelak tawamu melihatku. Suaramu renyah.

”Ada yang lucu?” Kau tidak menjawab tapi memberikan isyarat. Kau pegang hidungmu yang mungil dan bangir. Aku mengikuti. Astaga, cuping hidungku dipenuhi asap hitam. Aku lekas pergi ke belakang membasuh muka. Seminggu dalam sebulan, kita bertemu. Kau melepas masa haidmu di rumah. Parasmu demikian sendu seperti tidak terima seperti terpaksa, saat kau mengatakan sedang menuntut ilmu untuk kelak menjadi seorang sanro di rumah adat Karampuang. Rumah panggung yang merupakan simbol sosok perempuan. Dari jauh kediaman yang sakral itu memang tampak anggun. Atapnya dari anyaman daun nyiur berbentuk segitiga sama kaki. Tangganya terletak di tengah di kolong rumah. ”Tangga naik ke dalam rumah adalah kelamin perempuan,” jelas La Gole, temanmu. Ia pemandu yang baik, meladeni keingintahuanku dan bahkan memuntahkan semua yang ia tahu. Pemuda yang bersemangat meski entah kenapa diam-diam ia sering menatapku dengan pandangan menghunus seperti tidak suka seperti menaruh curiga. Ia membicarakan tubuh perempuan dengan sangat biasa. Membuka pintunya pun harus ditolak ke atas biar bergeser. Aku menebak pasti ini selaput dara kemaluan, sebab dibutuhkan sedikit usaha untuk membukanya. Ada batu bundar yang menindih. ”Arah dapur adalah rahim. Dan dua dapur di belakang itu adalah buah dada sebagai sumber kehidupan.” Rumah ini tak bersekat, hanya ruang. Lantai dan dinding terbuat dari bambu. Ada loteng yang lumayan luas seperti layak untuk dijadikan kamar, tempat persimpanan kebutuhan pokok terutama padi. Bahkan ada padi yang berumur seabad. ”Semua warga sehabis panen tanpa diminta menyimpan sebagian padinya di sini untuk digunakan bersama jika terjadi gagal panen. Padi ini tidak boleh di jual.” Aku ingin sekali mengabadikan apa yang aku lihat. Namun lelaki yang terbiasa bertelanjang dada saat bekerja di sawah ini melarangku dengan tegas. Badannya yang berotot dengan kulit secoklat kayu itu langsung tegap menantang. ”Jangan coba-coba bawa kamera. Itu kesepakatan kita dari awal. Boleh jadi kau yang melanggar, kami sekampung yang kena malapetaka. Kalau kau mau lama di sini hormati adat kami!” Belum sempat aku minta maaf, La Gole sudah berlalu. Kulihat punggungnya digerogoti jamur, bercak-bercak putih. Ketika kuceritakan penjelasan La Gole kepadamu, kau tersenyum simpul membenarkan. Pipimu merona seperti lembayung yang memerah bagai senja yang membakar langit. Aku jatuh hati. Upacara Mappugau Sihanua sepertinya sudah dimulai. Selama tujuh hari tujuh malam. Aku berjalan santai menikmati pagi yang mau pergi. Sepanjang jalan yang berkelok kulewati rumah penduduk yang kadang saling berjauhan. Tak jarang aku berpapasan dengan warga yang masih kukenal. Di kiri kanan diselingi tanaman sayuran, pohon pisang, pohon kopi dan pohon kakao, serta hamparan sawah yang tidak rata, berundak-undak dengan garis pematang meliuk, sejauh mata memandang. Ada sumur tua berdinding susunan batu, aku menyebutnya kolam karena dangkal. Bila airnya lagi penuh, penduduk memandikan anaknya dan bayi yang baru lahir, biar mendapat berkah. Air mengalir khas pegunungan terdengar jernih menggelitik kesegaran. Hutan lebat dan belukar liar tampak rimbun di puncak bukit, hijau nian seperti belum pernah disinggahi. Jubaedah, secantik apa kau sekarang? *** Lelaki itu masih gagah. Badannya berisi dan kulitnya bersih seperti pasir laut, seperti belum pernah dicubit matahari. Kini aku yakin kau makin terpikat, melirik pakaiannya yang sewarna kulit sapi. Lelaki idaman yang menggiurkan bunga desa sepertimu. Dan aku terhempas ibarat hati yang terbuang. Sebab cintaku sedang cemburu. Ah, lelaki bernama Rustam itu terlalu mau tahu tentang adat kita dan ia sebarkan ke mana-mana. Aku tidak menyukainya karena itu, dan sebab ia mencuri hatimu dariku. Lebih dari itu, ia juga mencuci otakmu hingga pikiranmu telah kota walau disebabkan juga karena kau pernah sekolah sampai SMA di kabupaten. Kau pernah menjadi guru di dusun sebelah, mengajari kami baca tulis di usia kami yang sudah berkumis.

Kabarnya, Rustam akan mendirikan pasar rakyat dan penginapan di sekitar kampung ini. Makin ramai saja orang datang ke sini. Melihat kami sebagai tontonan. Melihat upacara kami sebagai pesta. Oh, Karampuang bagaimana nasibmu nanti? Ketika kebiasaan orang kota meracuni adat kami, menjarah apa yang kami jaga, yang kami miliki. Aku ingin sekali mengumpat, mereka tidak beradab karena mereka biadab! Mungkin kelak tidak ada lagi yang namanya gotong royong. Seperti yang pernah dihimbau orang dulu, ”Hai sekalian anakku, kasih mengasihilah, rebah saling membangkitkan, hanyut saling mendamparkan, berkata saling mengiyakan, dan berbuat saling bantulah. Khilaf saling mengingatkan, satu kata dengan perbuatan, bagaimana di dalam begitu pula di luar, tegakkanlah yang keramat, sandarkanlah yang tabu, dan dudukkanlah yang makruh.” Sekarang banyak yang mengerjakan sawah dengan cara bagi hasil, tidak lagi yang punya hajat memberi makan untuk disantap bersama. Begitu pula saat membangun rumah, menggunakan tenaga upah. Mengumpulkan puingpuing harta sehingga saling mencekik. Serakah sehingga saling menutup pintu. Oh, Tomatoa! Hanya kamu yang murni. Kami akan teguh, tidak akan memasang paku tetap memakai tali rotan untuk menyusun kerangkamu. Mengganti tiangmu yang lapuk dengan menebang pohon bertuah di rimba melalui upacara madduik, menarik kayu bersama di hutan, wujud satu rasa. Tidak dipikul, sebab dipundak tanda mau menang sendiri. Oh, Tomatoa, kamu perempuan luhur yang kami puja. Dan kau, Jubaedah adalah perempuan Kampung Karampuang yang dijunjung. Darahmu adalah darah To Manurung. Mulia atas nama adat. Dan adat mengajarkanku tentang hidup, tidak mungkin kukhianati. Aku mencintaimu sebagaimana aku memegang adat. Disela itu terselip keinginan, yakni memilikimu yang tak boleh. Mencintai dan menginginkan itu serupa tapi tidak sama. Mengertikah, kau? *** Aku bukanlah Maryam dan kenapa pula sejarah harus berulang? Tuhan, bolehkah aku mengeluh sebab sudah lama aku berpeluh? Aku tidak bangga dilahirkan sebagai makkunrai, perempuan. Tubuhku menyiksaku. Aku dibelenggu. Ayah dan Ibu yang berbuat, mengapa aku yang harus jadi tumbal? Apakah memang dibutuhkan orang lain untuk menebus dosa? Lantas, salahkah mereka? Kau bisikkan di telinga Arung, tetua adat kami yang jarang bicara itu, untuk menentukan garis hidupku yang mesti kujalani. Menjadi perempuan suci, perempuan yang terkunci supaya tetap perawan. Jangan sampai sesuatu yang asing menyelinap masuk sebab akan melunturkan tradisi. Titah yang tak terbantahkan kecuali kalau aku cacat moral. Karena nanti warga juga yang akan memilih. Dan Ayah, Ibu, tak pernah membelaku. Ia wafat dengan patuh meski ia tak patut dipanggil Ayah, sebab tak pernah risau atau tak mau tahu jeritan hati anak gadisnya. Ayah memilih diam sampai ia menutup usia. Ayah hanya melihatku tumbuh. Dan aku memilih, berontak seperti ibu. Ibu yang mati karena melahirkanku. Ibu yang kawin dengan kaum pendatang dan dikucilkan di desa tetangga. Ibu yang dipaksa bernazar, jika bayinya perempuan akan diambil sebagai penggantinya. Dan Kau, Tuhan, mengabulkannya… Tetapi tidak! Sebagai anak aku merasa berkewajiban melanjutkan perjuangannya. Memang Puang Sanro telah renta, sudah layak istirahat. Perlu diganti. Tetapi mengapa harus aku? Tidak bolehkah orang lain? Aku selalu ingin bertanya kepada Puang Sanro tapi aku urung dalam hati, apakah ia memendam apa yang aku pendam? Ah, tentu tidak. Sebab aku tahu dari orang-orang, Puang Sanro adalah perempuan yang tidak laku. ”Dalam darahmu mengalir darah To Manurung, Anakku. Ikutilah takdirmu sebagaimana air yang mengalir,” ucapnya bernasihat ketika aku sedang malas meramu obat. ”Betapa menyenangkannya membantu orang, Anakku. Itu akan membuatmu menjadi ada,” lanjutnya berpesan di hari yang lain saat aku enggan mempelajari mantra-mantra. Ketika menolong, haruskah berkorban? Cukup! Aku tak mau mendengar lagi. Aku mau tuli saja, sambil dalam benak ini bertekad, aku akan melawan arus. Aku mesti berupaya meski tangis mendahului. Ya, sebab aku hanyalah perempuan biasa meski aku adalah perempuan yang cantik. Kusadari itu karena banyak yang merayuku semasa SMA dulu. Tapi aku tak hanyut. Aku mesti hati-hati meniti sebelum salah melangkah. Maka kutambatkan cintaku pada sahabat kecilku, La Gole. Aku sering memperhatikannya sampai-sampai aku tak sadar tubuhnya telah perkasa. Jika kami sedang berjalan beriringan aku senantiasa mendongak untuk melihatnya berbicara. Telingaku akan mendengar suara beratnya yang menentramkan. Andaikan aku dipeluk, pasti aku akan tenggelam dalam bahunya yang lebar. Saat kulit cokelat legamnya berkeringat, aku mencium bau khas manusia. Pernah juga ia menggenggam tanganku erat, sesaat tapi kurasakan kehangatan yang kokoh hingga jiwaku

” ”Lalu kau mau kita menunggu di sini sampai pagi?” ”Mungkin. mencari cara agar aku tidak terlacak sudah kabur. Karena aku. sikapnya terlalu lugu tak sebanding dengan badannya yang garang. mengguyur deras. Kau basah kuyup sama denganku oleh derai hujan. Ada senter di tanganmu. Berangkat diam-diam.” ”Aku tidak perlu membuktikannya karena cinta soal hati. di hubungan kami yang sempat terjeda. Kau segera memelukku.” ”Apa itu? Akan kupenuhi. Lepas maghrib. kau tidak mencintaiku sebab cinta itu perlu bukti. ”La Gole.” “Sekarang aku siap membawamu pergi.melambung. Rustam. Ternyata di atas sini tidak terlalu gelap seperti temaram. Angin bertiup meliuk sangat kencang. Paling tidak aku dapat melihat bayanganmu. Ia lapar dan aku haus. Rustam. datang tidak tepat waktu. Dan tentu saja ia hangat. pelita rumah penduduk memang sudah padam. Ah. kita terjebak di sini.” “Tak apa.” “Tidak. kau sudah berada di puncak bukit itu. Hujan mengejarku seperti mengutuk. bukan satu tubuh. Obor La Gole yang menuntun jalan juga telah redup.” “Aku tidak punya kampung selain dusun ini. antara panas dan lembap. di bawah sana begitu rawan. Bukan salahmu.” Aku gigit jari. Kerap kubayangkan bila kami menyatu tak ada yang tahu bahwa kami berdua. malam ini juga. Kulitnya harum dan langsat sepertiku. Lalu muncul dia. “Maafkan aku. dan itu cukup buatku. Aku sayang kamu. Cukup lama hingga rindu mendera. Banyak peti batu berundak-undak di tempat ini. Kini malam sungguh malam karena awan yang menenteng air berlayar di langit kelam.” “Kalau begitu bawa aku pergi dari sini. kendati sesekali terjungkal karena kesandung akar pohon yang mencuat. asal bersamamu.” ”Bagiku tidak. Aku berlari dengan kain terangkat mengangkangi tanah yang kupijak. jatuh merintik terdengar menitik dan menerabas.” La Gole pergi menengok.” “Ah. Namun ia tidak punya nyali. ”Kau tunggu di sini sebentar.” “Tinggal di hutan pun tak apa.” kataku setelah ia agak menjauh. Kau bohong! Aku membencimu. aku meminta sesuatu. “Jangan Lama. Hadir dengan senyumnya yang menawan memberi harapan. Sementara jarum-jarum langit masih menyerbu. Jangan sekarang.” ”Wisuda aku menjadi perempuan seutuhnya. Tanah ini adalah orangtuaku. Hanya lidahku yang belum menafsirkan apa-apa. makam nenek moyang kami yang luhur.” “Tidak bisa. Aku kecewa dan patah hati.” . Di sini kita aman. La Gole mencegat dan mengancamku sebelum masuk desa. Mengaburkan cahaya ibu di atas sana hingga buram. lelaki itu memang baik tapi aku harus pamit mengejarmu. kau ada hati denganku?” “Ya. pura-pura khawatir. Kami tiba di sekitar rumah adat Karampuang. Lelaki dari kota.

Hidup matinya Karampuang ada di tangannya. namamu tak pernah lagi disebut nyaris dilupakan. Tak perlu airmata sebab akan kutanggung semuanya. Aku merintih dalam amuk saat kau menyuruh Rustam hengkang dari kampung ini tanpa dijera. ”Bangsat kau. Kini aku luka dan hina. Kau telah mendurhakai tanah keramat ini. dan tahun terus bertambah. Arung: ketua adat atau raja yang jarang bicara tapi sekali bicara adalah tuah yang tak terbantahkan. Kau memandikan bayi kita di sumur tua yang berkah itu supaya kelak menjadi anak yang patuh. Rustam. La Gole muncul menaruh mata badik di lehermu. Mappugau Sihanua: Setiap tahun di pekan pertama bulan November diadakan pesta sebelum bercocok tanam setelah menikmati panen melimpah sebagai tanda syukur. tempat biasanya sesajian di letakkan. Mukanya murka. Rinai-rinai bersenandung seperti berkisah. sebetulnya aku ingin menabur benih di pucukmu yang kuncup. Sesajen yang baru tadi siang. *** Depok. Semua makhluk punya mata. Aku adalah hikayat perempuan tanpa biduk yang terdampar setelah lelah mengarungi duka. 270908 (Kutulis ketika merindukan kampung halaman) Catatan: Karampuang: dusun yang terletak di puncak bukit 1000 meter dari permukaan laut.Apakah rasa sakit itu? Bila hasrat terjerembap. Kita berjalan mundur menuju tebing. *** Puang Sanro pernah meramalkan. Sulawesi Selatan. Aku mendorongmu supaya terhindar dan langsung melindungimu. maka rentan berbuat dosa. kami dikejutkan oleh kehadiran seorang bocah yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Kelak. Melelehkan kebekuan dan meruntuhkan kekakuan. lalu bangkit tersaruk-saruk. darah dagingku. Di gubuk tua itu. Tidak seorang pun diperkenankan menemuimu dan tak ada yang tahu bagaimana rupamu sekarang. Lantaran nista mengusik siapa pun sebab baunya tercium tajam. Puang: kata sandang untuk orang yang dituakan atau yang dihormati. aku lompat dalam jurang. Sejak peristiwa malam itu. Jika perempuan tidak kembali ke dapur. dan kau datang membawa makanan. tujuh hari tujuh malam. muncul begitu saja. berkeliaran seperti ingin mencari ayahnya.” ucapku setelah usai. Hingga pada suatu pagi. Jubaedah sudah melakukan lebih dari itu. Berlari lincah. sadarkah kau? Argh! Jubaedah. Dan kau. Kau telah haram di hatiku yang meradang.” Kau mengancam dan aku masih hirau. Aku ingin perbuatan ini sakral seperti kematian. wajahmu yang bersinar dalam balutan pakaian putih yang menyejukkan hari-hariku kala memandangmu telah berubah busuk bagai bangkai. Kau dikurung di rumah adat Karampuang di atas loteng untuk dikuduskan kembali entah sampai kapan. Rumah adatnya menyimbolkan sosok perempuan yang harus dijaga kehormatannya. Gella: pemangku yang melaksanakan hukum yang berlaku di Karampuang. anak kita yang mengembala ternak. Dan sudah kuduga. di Desa Tompobulu kecamatan Bulupoddo kabupaten Sinjai. Masih memegang adat kuno dan alergi dengan teknologi. Aku gigil oleh getar. aku rebah menerimamu. ketika birahi yang terpendam peka pada setiap ransangan. . turun dari tangga rumah adat Karampuang bagai baru dilahirkan. Senang mengintip yang terlarang. Dan segalanya sirna saat kudapati pakaianmu berceceran ke mana-mana. begitu pun bulan berlalu. menanam dan menuai padi. kau dianggap tidak pernah ada. berhamburan karena ulah kita. Melihat dunia luar dengan muka gembira. yang tak mungkin terwujud. lebih senang keluyuran atau suka berkumpul. Di tanahmu yang subur bakal tumbuh tanaman berbuah. Hari berganti. Kulempar lelaki durjana itu dengan sekepal batu hingga ia tersungkur. Kubunuh kau!” ”Berani menyentuhnya. ”Terima kasih. Seandainya saja kau tahu angan-anganku yang sederhana ini. Aku membajak sawah. Ah. Di kejauhan terlihat obor berkeliaran serupa kunang-kunang.

Mereka tidak berlarian. seperti aku. kaki. Seorang lelaki bertubuh tambun dengan perut menyembul. Aku juga masih ingat. Bapak bereaksi. Wajah dan penampilannya menunjukkan seperti itu. Nyawa pertamaku dari seorang pria. aku belum tahu. Entah yang mana ibuku. Tapi. Ibu memberiku makan dari darah yang mengandung sari yang dipompa dari jantung melalui aorta. Ia seperti menunggu. Ibu benar-benar bersifat magnetik. Ibu kembali menunggu. aku sudah tertawa. Tidak tahukah Ibu. Nyawa seorang pria yang menabuhi seorang wanita bernyawa dengan sperma. Tapi sambungan hidupku berada pada wanita. Aku ingin cepat mempunyai muka. Siapa bilang kami bernyawa setelah salah satu dari kami mempunyai rupa? Kami telah bernyawa dari sejak kami menjadi sperma. 2008 by Rien Al Anshari Aku dibentuk dari dua nyawa yang terpisah. bahwa aku begitu bangga. Lalu. Saat ini. Penuh ketegangan. Pintu diketuk. xxxxx Aku ingin bertemu Bapak. persis seperti tempatku dulu di tubuh Bapak. Mungkin saja dia bapaknya Ibu. tempat laki-laki itu singgah sesaat sebelum air maninya muncrat. tangan. Tomatoa: nama rumah adat Karampuang. Bapakku tampan. seperti bendera yang turun di arena balapan. Bukan aku tak sayang. Malam ini Ibu terlihat begitu cantik. tumpahan-tumpahan makhluk seperti aku membasahi muka Ibu. Tapi ini satu-satunya caraku untuk memberi tahu Ibu bahwa aku bukan bayang. perawakannya tak beraturan.Sanro: pemimpin spritual di setiap prosesi adat yang harus dijabat oleh perempuan atau lebih tepatya disebut dukun. Pantaslah Bapakku tidak bisa munafik untuk tidak tertarik. Kami mencari tempat terhangat. Aku minum karena selalu haus. Tidak tahukah Ibu. Aku ingat saat dulu berkejar-kejaran dengan teman-teman. menggurat menjadi lekat di kulit Ibu yang sekat oleh keringat. aku baru saja bersenyawa dengan tubuh Ibu. walau belum mempunyai mulut dan bibir untuk tersenyum. Apakah Ibu menunggu Bapakku? Aku belum tahu. Membentuk sel baru yang menyatu. Reaksi itu menimbulkan ereksi. di dalam liang hangat. Bukan seperti lelaki yang datang ini. Ibu dan lelaki itu saling beradu. Ada apa dengan Ibu? Ibu. sebelum salah satu dari kami berhenti sesaat. Meninggalkan rupa lama yang dulu hanya berbentuk ekor dan kepala. Aku mulai tumbuh dan tak lama lagi akan membuat pergolakan rasa yang perlahan akan membuat Ibu tahu bahwa aku ada. Aku sudah tidak sabar untuk mengabarinya bahwa ia telah berhasil menciptakan bibit manusia. Ia mempesona setiap perempuan. tidak! Ia menyentuh Ibu dengan gerakan yang sama sekali tak malu-malu. Ibuku Jalang. untuk mengelus. menendang bahkan menerajang. Aku lemas. kami berkebut-kebutan. Ibu yang mengharapkan kehadiranku atau Ibu yang menganggapku hanya sebagai benalu. Ia seakan memberi pertanda pada kami untuk siap-siap beraksi. Kami menunggu dalam deru erangan. Kalau kami tak bernyawa. . Dia bukan Bapak. Aku makan dengan rakus. Ibu bangkit dan berjalan secara perlahan. malam keduaku bersama Ibu. dia bukan Bapakku. Tapi. Aku menunduk malu. Apakah kali ini lagilagi lelaki buncit yang memberi malu. penuh rasa lega akhirnya aku tiba. To Manurung: nenek moyang orang Karampuang berwujud perempuan. atau sesungguhnya Bapak yang ditunggu? Aku belum juga tahu. Lelahku akhirnya terbalas juga. sesama teman sperma yang dimuntahkan dari penis manusia. Reaksi ereksi itu seperti permulaan arena balapan. Aku makan dari wanita yang kemudian kukenal dengan sebutan ibu. Malam ini. Aku mengalahkan berjuta ekor dan kepala lainnya yang datang mencari Ibu. Bapakku Jahanam Bukan Kepalang ( juara 2 ) Desember 30th. Aku ingat ketika Bapak berlaku seperti itu pada Ibu. Aku juara. yang sebentar kemudian akan memunculkan pertanda. Gerakan-gerakan yang ia ciptakan membuat salah satu bagian tubuhnya menegang. Aku Malang. mana mungkin kami punya tenaga untuk mencapai indung telur wanita. Aku melihat Ibu duduk di atas sebuah kursi memanjang dengan bantal yang kenyal. xxxxx Malam pertama bersama Ibu. mati di jalan karena mereka berlari terlalu pelan atau kalah dalam himpit-himpitan jutaan teman yang berkejar-kejaran mencari tempat buat makan. Bagian tubuh itu. mencuat. Teganya Ibu mengkhianati Bapakku. Lelaki itu membolak-balik iIu seperti barbeque di arang kayu. laki-laki itu semakin panas. Wajahnya rupawan. Aku tahu persis siapa Bapak. muncul. Aku diam berhari-hari di tubuh Bapak sebelum akhirnya bertemu Ibu.

Kalau kau tak tau caranya bertahan kau bisa megap-megap. Sudah kukatakan. Aku sudah memiliki tangan dan kaki. kali ini dia membuatku mabuk. Benda itu berbentuk kertas tipis memanjang secarik. Ibu tidur dengan laki-laki. Lelaki itu datang menjenguk Ibu. Aku kecewa pada gaya hidupnya. Lalu ia mengambil sesuatu dalam sebuah kotak yang berbungkus plastik. Menunggu Bapakku. Ibu mencampuri laki-laki. hari ketujuh bersama Ibu. Kemudian mereka datang dan pergi. Tahukah Ibu bahwa aku mani yang menang lomba lari terpanjang seantero bumi? Bukan salahku kalau aku kemudian menghuni tempat ini. Aku sudah tiba lebih dulu. Ibu bercinta dengan laki-laki. Dunia yang sesungguhnya memang pengap. Wajahnya panik. Lantas tertawa-tawa. megah dan nyaman. Minuman itu memabukkan. Gerakan jumpalitan hingga ledakan tumpahan air kemaluan. Ari-ari. Tapi Ibu tak pernah lagi bertemu Bapak. Aku bibit manusia buah bercinta dengan pria yang belum kujumpa. Luar biasa sempurna. Lelaki bertubuh tinggi dengan kulit putih sangat terawat.” “Masa bodoh dengan dunia di luar sana. Aku gemetar. Ia duduk dan berbicara terlebih dulu. lompat-lompatan. gerakan jumpalitan. Aku putus asa pada sikapnya. Ia menyebut-nyebut aku si tolol yang dungu. Aku ingin tetap terjaga. Ia sendirian. berguncang dan seakan tak berhenti bergetar. Dunia tempat Ibu berpijak. berhentilah kau berharap. silih berganti. Aku ingin Ibu sadar. Dan aku menerjang. Tapi tak lagi makan dengan lahap. Tapi. bahwa aku ada. Ia memuntahkan isi perut yang ia kandung. Tapi Bapakku berkulit kecokelatan. Ibu tersandar. Dengan bola mata yang terbuka lebar. akhirnya keluar. ari-ari kembaran. Tidak seperti lelaki tambun tak tahu malu yang langsung menyentuh Ibu tanpa ragu. Berjalan bolak-balik mondar-mandir sambil menggenggam benda itu dan berpikir. Bapakku memang tampan dan rupawan. Dan baju Ibu. Matilah kalian sebelum sampai lebih dalam di rahim Ibu. sementara ari-ari tak berhenti mencaci maki. Tumpahan-tumpahan itu berlalu bersama waktu. Aku berteman dengan benda yang kemudian kukenal dengan sebutan. Aku tetap minum. Masih. Mereka seperti lahar yang mencahar karena panas bergejolak yang membakar. “Bangsat! xxxxx Aku semakin besar kini. tapi juga akan membesar. Pantas saja seorang Ibu terjerat. bukan lagi keanehan. Oh Ibu. Kemudian ia menduduki kloset dan mengencinginya. Dan hari ini. Makhluk-makhluk yang dulunya seperti aku. dengan gerakan yang membuat lelaki itu bersimpuh layu. Tapi aku tak gentar. Aku ingin Ibu gentar. Ibu menenggaknya. xxxxx Dan aku masih menunggu. Aku marah pada keluarbiasaan Ibu. Walau tak punya kaki tangan aku menendang. Aku nyata. Sebentar lagi aku akan membuat kulit Ibu meretas. yang datang lagi-lagi lelaki. Ini tempatku. Tapi tak lagi minum dengan harap. Aku memang tolol dan dungu. Ia diam. ia memaki. Desah-desahan. Menciptakan bunyi yang membuat tubuh tanpa kepalaku pusing dan pening. Sudah tidak kusisakan lagi sedikitpun tempat untuk kalian menyatu. Aku seperti tak berhenti meratapi diri. Aku tetap makan. Laki-laki manapun takluk dan bertekuk lutut padanya. Aku ingin Ibu dengar. Aku tumbuh karena aku memang tumbuh dan waktu perlahan membuatku begitu. Ibuku mengamat-amati benda itu. Ia pun meminum minuman yang diminum Ibu. Itu semua karena Ibu.Ibu menunggu di dalam sebuah ruangan luas. Aku tak urung. Luar biasa menggoda. Ibu meraung. hingga ledakan tumpahan air kemaluan yang bukan lagi keanehan. Aku tak pantas diperlakukan seperti ini. Lalu ia menyatukan tubuhnya dan tubuh Ibu seperti anjing. Menunggu dalam bimbang. Ia meliriknya. Tapi tidak sepenuhnya sendirian. Sekian hari sekian waktu Ibu selalu bersama laki-laki. Bercanda. walaupun belum sepenuhnya memiliki jari jemari. Apakah ia Bapak? Bukan. sehingga aku bisa mengenal wajah seorang Bapak yang kutunggu kedatangannya. Ibu masih belum tahu keberadaanku. Ia menaiki Ibu yang tengah terbaring. Ibu bertemu laki-laki. Tubuhku yang belum sepenuhnya terbentuk ini terasa berputar-putar. Suara desah Ibu terpecah melengking. Bajunya. Minuman itu begitu elegan dalam gelas kaca dengan kaki panjang menawan. Aku ingin bersamanya ketika ia bersama siapa saja. Ia lelah karena harus memuntahkan makanannya keluar. “Hey Jabang Bayi. Ia masih sibuk dengan dirinya yang luar biasa. Ia berdiri. Luar biasa bercinta. Lompat-lompatan. membuat Ibu mabuk kepayang. tidak Ibu lalui bersama Bapak. Ia ditemani segelas minuman. Beberapa menit kemudian aku merasakan sesuatu yang tak nyaman. Wajahnya tampan dengan senyum yang sangat memikat. ia mampu memikat perempuan. nanar. Dan Ibu bukan lagi sadar. Lalu berbaring dan membuka baju. Terus kugetar-getarkan tubuhku untuk membuatnya terhuyung. .

” “Kenapa ia takkan memberi tahunya. Entah laki-laki mana lagi aku sudah tak mau tahu.” “Karena Ibumu jalang.” Lelaki yang kusebut-sebut Bapak tidak langsung menyentuh Ibu. xxxxx Malam ini ia kembali menunggu. ia menamparnya.” “Aku takkan bisa tenang. aku lari. seperti lelaki tambun yang penuh nafsu. Hal yang sudah lama kutunggu berjumpa dengan Bapak tidak seperti apa yang menjadi pengharapan rindu. Ibu masih tak melawan. Tak seperti biasa. Ia Ibu yang hanya menganggapku benalu. Laki-laki itu berperawakan tinggi. Dan dari dalam sini. Jadi memberi tahu laki-laki itu hanya akan sia-sia dan merusak acara bercinta mereka. Ia mengisi udara paru-paruku dengan asap yang membuatku jengap. Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah cacian meskipun ia begitu kenikmatan. Ibuku tak cantik. Ia duduk di sisi jendela di atas sebuah sofa berlengan. Dunia sudah membuat ia lupa asal mula. Ibu tak terpekik walau setengah mati ia tercekik. Asap yang ia hirup dan ia jadikan oksigen sampingannya untuk bernafas menjadi racun yang membekas. Seorang laki-laki tiba-tiba datang. ia terlihat kusut masai dengan rambut berantakan tergerai-gerai.” “Tenanglah. Ibu benar-benar tak pernah menginginkanku. Ia sungguh laki-laki yang menawan. Ari-ari. Ari-ari. Bapak kita. Dunia kehidupan yang berbeda. bisa kurasa bahwa di luar sana sedang hujan. Bapakku semakin membabi buta. Ia tak hanya membuatku mabuk dengan minuman. Aku ingin ia memberi tahu Bapak bahwa kita ada.” “Dia jelas-jelas lupa saat ia masih menjadi sperma. Ibu pun diam. Bapakku memaki. Aku tersekat. Ia merobek pakaian Ibu sampai tak satupun tersisa. Bahkan ketika lelaki yang kusebut Bapak itu menunggangi Ibu seperti binatang.” Ibuku benar-benar tak punya belas kasihan. Itu Bapakku. aku memimpin di depan. makhluk malang. lihat siapa yang datang. Tidur dengan laki-laki yang datang dan berlalu.Aku disuruh lari. Bapak tidak mencium Ibu dengan hangat. Ia tetap akan diam. Lelaki itu menarik tubuh Ibu dan mencengkramkan kedua tangannya ke leher jenjang Ibu. aku ikutan. kata mereka. Bapak tidak memeluk Ibu . Ia tampan dan rupawan. Hinanya aku. Aku akan menendang perut Ibu sebagai pertanda agar ia tahu. Ibuku tetap diam. Sesaat kemudian ia menoleh.” “Aku benci Ibu. Ia diam seribu bahasa. Tangannya memegang sepuntung rokok yang abunya sudah bertumpuk menunggu jatuh. Mereka balapan. Kau tendang seperti apapun ia takkan memberitahunya. Jabang Bayi bodoh. Ibu dan menghujaninya dengan tamparan. Tubuhnya hanya terbalut kaos singlet berwarna putih. Perempuan yang tak berperasaan. hingga akhirnya aku tiba dalam rahim seorang perempuan. Lelaki yang kusebut Bapak itu kemudian bergerak ke depan Ibu yang masih melihat hujan. kau Jabang Bayi tolol. Aku menutup mukaku dengan kedua tangan yang baru terbentuk seakan menahan malu. Dan ia Bapakku. Dia memang selalu seperti itu.” “Diamlah. Ibu masih tak membuat gerakan. Perempuan itu pun tak tahu siapa yang telah mencampurinya. Ia tak memakai bawahan.” “Dan aku anak pelacur yang vaginanya selalu menjadi tempat bercampur.” “Ibumu pelacur. Lelaki itu Bapak kita. hanya mengenakan celana dalam berwarna hitam. Dan ia berhak tahu bahwa aku ada juga karena dia. “Ari-ari. Kakinya bertekuk dan ia peluk. Teman-teman berkejar-kejaran. Malam ini. Ia juga tidak seperti lelaki menarik yang memulai percintaan dengan candaan menggelitik. Kulit muka yang sepertinya berewokan meninggalkan bekas cukuran yang terlihat jantan. Wajahnya memikat setiap perempuan dan kulitnya kecokelatan. Begitukah Bapakku saat membuat aku. Ibu terkesan pasrah dan melemah. Mereka tak saling berteguran. dan diam saja.

Tanpa sadar aku terisak. Ia melayani laki-laki manapun yang tak ia kenal. “Kalau saja kau ingat seluruh perjuanganmu mencapai tempat di rahimmu. Tidak ada juga udara yang mampu kuhirup untuk membakar tenaga. Ia seperti pawang yang menunggangi binatang yang telah terlebih dulu di cucuk lubang hidungnya. Ia pelacur profesional. Sampailah ia bertemu Bapak yang tak kalah nakal. Aku bergerak. lalu dibuang sia-sia. walau ia fana. setengah manusia yang tak pernah menjadi manusia 45 Responses to “Aku Malang. karena aku sudah menjadi bagian dari mereka. menjadi embrio. Mataku terbuka lebar. persis seperti mata Ibu saat baru menyadari keberadaanku. Hanya saja. di lantai. tak lagi bernafas.05 a. Jabang Bayi. 17 December 2008: 03. Hanya perasaan marah yang bergejolak dan tergelak-gelak seperti lava. Mudah-mudahan aku sampai pada perempuan yang menanti kedatanganku. Aku sudah hidup dan bernyawa.” Dan aku lemas. Walau setengah manusia. xxxxx “Aku seakan tak punya harapan hidup. Ibuku perempuan laknat. Ari-ari. Bukan Ibu yang hanya menganggapku sebagai benalu. yang akan kembali membuatku berjuang dan berkejar-kejaran dalam himpitan. Ibu. Bapakku Jahanam . Bapakku jahanam bukan kepalang. apa aku akan melupakan saat-saat ini ketika aku seutuhnya menjadi manusia sejati?” “Maaf Jabang Bayi. dan kini melebur dalam tubuh pelacur. Aku berhak hidup dan melihat dunia. Aku malang. Untuk sperma. Aku tak mau mati di sini. menerjang guncangan yang menarikku juga menarik ari-ari kembaran. Jadilah aku hasil hubungan yang penuh malu. meronta. Ari-ari dan aku saling berpegangan. Tidak ingatkah perjuanganmu untuk sampai ke tempat ini?” “Percuma saja. Ari-ari? Kenapa?” Belum sempat ari-ariku menjawab. Aku sudah tak mampu lagi meronta. menjadi setengah manusia yang sudah memiliki kepala sesungguhnya kepala. zygot. Ari-ariku sudah tak lagi berbicara. ia memakinya. ia mencekiknya. dunia menggerus ingatanmu. Aku manusia. Aku sudah menjadi setengah manusia. dan aku memiliki hak seperti para manusia. teganya kau padaku. Ari-ari.” Aku terdiam sejenak. “Ari-ari. Aku bukan hanya makhluk berekor dan berkepala yang tumpah di muka wanita.m. Dan tak lagi membekaskan memori masa lalu asal muasalmu. Argh! Aku penat. Kau tetap berhak melihat dunia. Pontianak.” “Persetan dengan mereka. tubuh Ibu. Tenaga yang kami miliki sungguh tak sebanding dengan kekuatan angin maha dahsyat yang menyedot kami. Aku hanya berharap untuk diberi lagi kesempatan menjadi mani pada laki-laki. Ibuku jalang. dalam tangisan yang rasanya sesak. aku rasa kau tidak akan pernah muncul di dunia untuk menghirup udara?” “Kenapa. Lelaki itu tak akan pernah tahu bahwa aku dulu adalah benda berekor dan berkepala yang ada di tubuhnya.dalam dekap. saling berpelukan. melawan. Ibuku benar-benar perempuan binal.” “Bodohnya kau. menjadi zygot. Ari-ari kembaranku benar. Sungguh aku tak percaya bahwa Ibu benar-benar tega. Aku bagian tubuhmu. Dan ini adalah perpisahan. di kasur. embrio. kau pasti tak akan melakukan ini semua. Bapak tidak bercinta dengan Ibu penuh dengan rasa. Aku dagingmu. Benda tak berharga yang keberadaannya hanya menyesakkan dunia. Ibu. Wahai Ibu. Bapakku lelaki bangsat. nanar. Ibu Bapak tak menginginkanku. aku sudah merasakan guncangan hebat bergetar dalam ruang sempit di sekelilingku. Sekarang kau membuangku seakan aku sampah. Aku darah. Perjuangan sampai ke tempat ini sangat berharga. Ibuku Jalang.

Ditulis dengan warna gelap. Karya seni ini mengundang jiwa pengamatku untuk menelusurinya satu persatu. aku dibangunkan oleh rasa terkejut. Samarnya suara tikus yang mencicit jauh di sana. Tetesan dan rembesan air mata yang jatuh dari langit mewarnai umur tembok-tembok ini lewat garis-garis kecokelatan yang merambat pelan dari atap menuju basahnya lantai keramik. Api rokok terpejam dan menyala mengikuti irama denyut jantung. Semakin lama aku semakin tertarik untuk membawa setiap tulisan-tulisan ini ke dalam ruang perenunganku. harapan kosong dan tentunya perasaan kecewa adalah tema yang menumpuk pada sastra tembok ruang WC ini. Betapa aku telah mencapai suatu tingkat kenyamanan yang membuai dengan duduk di sini sambil merasakan bokongku berkarat perlahan-lahan. selain melubangi paru-paruku lewat setiap tarikan napas dan memandangi sekelompok lalat yang tampak malu-malu untuk menyapaku. Semilir angin dingin menerobos melalui ventilasi menyebarkan rasa kantuk berkali-kali. ”Ambil saja. Entah apa yang dipikirkan oleh lalat-lalat kecil yang terbang mengitari lampu redup di atas kepalaku. sedikit kemarahan. Dan kekalahan akan datang kepada mereka yang berani menanggung rasa nyeri. yang tampak menikmati bau pekat di dalam ruangan menyedihkan ini bersama-sama. di Atas Kloset ( Juara 3 ) Juni 4th. Seperti melihat sejarah kehidupan manusia yang pertama ditoreh lewat lukisan-lukisan di dalam gua-gua purba yang gelap dan tanpa kusadari bahwa jarak waktu yang ditempuh dari jaman itu hingga sekarang adalah bukti jalur perkembangan hidup umat manusia yang telah begitu panjang teraspal. Tidak ada yang melebihi kesetiaan mereka dalam mendengarkan setiap keluhan para penyendiri yang tak berdaya. mengambil sebatang rokok dari saku kemeja dan meletakkannya bersama korek api di atas tangan itu. Sebuah kutipan milik seorang penyair besar yang tampak telah merasuki jiwa si penulis. Kesendirian memang selalu terasa dingin seperti sebuah rumah kosong dimana kepulanganku dari keramaian dan berisiknya suara manusia dan keangkuhan wajah kota besar. ’Aku mau hidup seribu tahun lagi’ tulisan lain tak jauh dari yang pertama bersandar dengan berhiaskan gambar kawat berduri di sekitarnya dan tiga buah tanda seru di belakangnya. . Dari bawah tembok sastra ini. Mereka tak mampu menyembunyikan lukanya yang terkelupas oleh roda waktu dan tangan-tangan jahil yang telah merampas keperawanannya yang putih. Lima detik kemudian aku bereaksi. Begitu banyak hal yang telah mereka lalui dan ribuan wajah yang telah mereka lindungi. Seketika tembok ini menyiratkan hawa perasaan hangat manusia. Walau sebenarnya perutku yang melilit itu sudah tenggelam di dasar WC beberapa menit yang lalu. 2008 by Arki Atsema Toilet begitu sunyi malam ini. Ratusan kata terangkai dalam warna-warni yang tersusun dengan berantakan dan saling bertautan membentuk lukisan abstrak di atas alas yang pasrah.Di Dalam Toilet. Tampak jelas di mataku sekumpulan emosi yang tersurat dengan lantangnya menyuarakan batin yang selalu berteriak. Ketidakpedulian menyelimuti diriku. Lima baris puisi terpampang di atas tembok yang sama. ini adalah saatsaat yang indah untuk memikirkan diri sendiri dan menolak segala hal lain yang masuk ke dalam otak.” seruku. siap ataupun tidak. Dan lihatlah kerelaan mereka menyodorkan wajahnya untuk dijadikan kanvas yang merekam sidik jari riwayat sifat tolol dan kekanak-kanakan manusia melalui goresan tinta tak bertanggungjawab. menambah sempurnanya suasana tenang yang mengiringi parade ritual sakit perut yang kualami. Dalam keheningan yang membius. ’Sekali berarti. Dilapisi oleh warna merah yang menyerupai darah dan goresan tegas membentuk tiap hurufnya. ’Yang terakhir mati adalah harapan’. Empat sisi tembok putih menatapku dengan wajah yang pucat. sudah itu mati’ tulisan itu berkata. rasa pasrah. Kesedihan. aku mendapati segenggam kebenaran yang coba dipancarkan oleh tulisan-tulisan itu. Betapa hidup tak ubahnya semacam arena perang untuk saling mengungguli. Rasa kecewa terekam jelas lewat kata-katanya. di celah antara tembok dan lantai toilet. Kini aku merasa sedikit malu dengan tembok-tembok ini yang mengepungku seakan sedang menghakimi aku atas semuanya yang telah mereka alami. namun sisa batang rokok yang terbakar ini menahanku untuk menikmati kesendirian dari dalam bilik sempit ini barang sejenak. Betapa mereka telah meredam isak tangis para manusia kesepian dan menjaga setiap aduannya untuk tidak keluar dari ruangan ini. benci. Aku tak ingat bahwa ada seseorang di bilik sebelah. saling menyisihkan. Aku memperhatikan dengan mata yang sombong kepada setiap coretan di sisi kanan tembok tempatku duduk. Tak banyak yang kulakukan. Sedikit demi sedikit semuanya merambat ke dalam diriku dan dalam hati kecilku. disambut dengan pintu-pintu yang terbuka lebar. ”Boleh minta rokok?” telapak tangan kemerahan itu berkata. sebuah tangan manusia terjulur dengan telapak tangan menengadah ke arak mukaku. air mata. dan saling menjatuhkan. begitu baris akhirnya berbunyi.

Maka aku memulai dengan mengajukan pertanyaan yang paling mudah. Kali ini aku tidak mencoba mengajaknya bicara. Aku hanya menghabiskan rokokku di sini. Sepertinya dia juga tidak melakukan apa-apa di ruangannya. Entahlah. Untung saja restoran ini juga punya toilet. Asal kau tahu.” ”Boleh. Hembusan napasnya terdengar amat jelas di kedua telinga. Lalat-lalat telah pergi entah kemana. ”Sama-sama. ”Apa yang akan kita bicarakan?” aku bertanya.” Dahiku berkerut. ”Siapa Namamu?” ”Tidak perlu tahu nama saya.” Sedikit aneh.mungkin ratusan cabe merah dan kerabatnya.” ”Baguslah. untuk mengobrol dengan seseorang tak dikenal di dalam toilet yang wujudnya terhalang oleh tipisnya tembok pembatas. ”Terima kasih. Jangan-jangan kau juga makan udang bakar itu?” Aku tidak yakin tapi sepertinya aku mendengar sekilas suaranya bergema mengucapkan ’Eeeee…’ yang panjang. ”Jadi. ”Kau sedang sibuk?” ”Maksudnya?” ”Apakah aku mengganggu kegiatanmu di sana?” ”Oh tidak. apa yang barusan kau makan?” aku mencoba membuka percakapan lagi. Dari suaranya. Salah satu dari kita harus memulai percakapan. seperti memikirkan jawaban yang akan keluar dari mulutnya. hanya duduk-duduk sepertiku. Dahsyat sekali. Yang jelas perutku terbakar. Apa mungkin aku mengajukan pertanyaan yang salah? Atau bisa jadi dia ini adalah seorang yang pendiam dan malu-malu. Aku tak bisa menahan perutku yang melilit. aku berada di sini gara-gara udang bakar sialan yang disajikan dengan…. aku adalah tipe orang yang hanya bisa menunggu.” Dan tangan itu menghilang lalu tak lama kemudian suara percik api bergema memadati ruangan. begitu pikirku. ”Makan?” ”Ya. Kita bisa sedikit mengobrol kalau begitu. Tangan kirinya muncul lagi dari celah bawah sambil menggenggam korek api gas warna hijau yang tadi kuberikan padanya.” ”Restoran sinting.” serunya dengan cepat. Aku hampir membuka mulut saat suara yang dingin itu datang. Dalam situasi sekarang. Hanya duduk-duduk di atas kloset porselen warna putih yang keras. bahkan untuk orang sepertiku. Ia diam tidak menjawab.” ”Oh. Rokokku sudah setengahnya terbakar. atau tepatnya seorang remaja tanggung. Detak jarum jam tanganku adalah satu-satunya suara yang kudengar. aku bingung dengan orang ini. walau bagaimanapun juga aku berusaha memikirkan kata-kata yang tepat untuk memulai sebuah pembicaraan yang dapat memecahkan keheningan yang mengganggu ini. dan entah mengapa aku merasa sedikit canggung dengan kehadirannya. Tadi dia yang pertama mengajakku bicara.” ia berkata untuk yang kedua kalinya.”Oh terima kasih. Dan kini kami berdua kembali diam dengan tenang. tapi sekarang dia kembali mengunci mulutnya rapat-rapat. ”lebih enak kalau kita tidak saling kenal nama masingmasing. Restoran ini memang membuatku mual. aku menebak-nebak bahwa dia seorang anak lelaki seusia remaja. Aku memilih tenggelam dalam keheningan yang ia ciptakan. aku . Seseorang ada di sebelahku.” Gelombang hening berkeliaran di dalam toilet. Aku tidak akan makan lagi di sini.

Lalat-lalat kembali berputar-putar di sekitar lampu dengan kesetanan. tanpa suara. “satu-satunya makanan yang pernah kumakan di restoran ini adalah sup ayam. Inikah yang terjadi pada remaja jaman sekarang? Masuk ke restoran hanya untuk menikmati nyamannya kloset sambil mungkin berpikir tentang masa depannya? ”Kalau begitu kamu kenal dengan orang tak tahu malu yang mencoret-coret dinding di dalam sini?” Pertanyaan basa-basi. Aku tak peduli siapa yang melakukannya.” aku berbohong lagi. Sepertinya aku telah berhasil membawa pembicaraan ini ke arah yang lebih baik. untuk karya seni sebagus ini. mungkin juga tanpa menoleh sedikitpun pada pelayan atau hanya sekedar duduk-duduk sebentar di kursi. Tanpa perkenalan.”. Dilihat dari isi tulisan dan . Seharusnya kau bisa lebih menghargai seni dengan menaruhnya di tempat-tempat yang pantas. ”Sup ayam. melainkan langsung meluncur menuju toilet ini. ”Ritual yang kumaksud adalah mencoret-coret dinding ruanganmu itu. alasanku ke sini bukan karena sakit perut atau apalah. ”Oh ya? Untuk apa?” ”Menurutmu?” Menurutku karena kau adalah anak iseng yang tidak punya hal bermanfaat lain yang bisa dikerjakan selain menginap semalaman di dalam toilet ini. ”maksud saya. Maksudku. aku tak tahu harus memanggilnya apa. Hampir setiap malam aku datang ke sini.merindukan suara bising sayap mereka. sebanyak ini. mengunci diri di dalamnya dan melakukan ritual.” jeda kembali terulang. sangat tak tahu malu apabila hanya dipajang di dinding WC yang jorok ini.” ”Oh ya?” ”Tentu saja. ”aku orangnya. cuma…. Dan memang rasanya agak pedas. ”Ingin bicara denganku kan?” Aku tak sabar menunggu.suaranya sedikit serak kali ini. Ada kekuatan sastra di dalamnya. Tanya saja lalat-lalat ini. ”Tapi aku tidak alergi dengan pedas.” semoga ia tidak menangkap irama kepanikanku. tanpa jabat tangan – kecuali dengan sebatang rokok dan korek api yang kuberikan padanya – dan tanpa nama sama sekali. sama seperti kelakuan remaja aneh lainnya. Kamu pikir aku rela menghabiskan waktu lebih lama di dalam sini kalau bukan karena ingin menikmati coretan-coretan ini. Kehebohan terjadi di dalam otakku untuk mencari kalimat yang tepat untuk menanggapi pernyataannya tadi. Latar belakang seniku adalah mencoret foto muka presiden di ruang kelas sekolah dasarku dulu. ”Wow! Bagus kalau begitu.” tiba-tiba ia bicara. dengan coretan sebesar ini. Aku menghirup dan menghembuskan asap rokok dengan keras. Aku yakin bahwa ia masuk ke restoran ini tanpa memesan apapun. atau di tembok kota sekalian biar orang-orang bisa melihatnya. Bahkan asap rokokku ikut merasakan kalang-kabut. Anak ini datang ke toilet serba putih ini. ”Oh ya?” ”Ya. siapa yang tidak akan memperhatikannya.” aku tak tahu apa yang sedang kukatakan.” Biar kuanalisis sebentar. Aku punya latar belakang seni dan aku tahu apa yang sedang kukatakan.” Tentu saja.” serunya dengan nada pelan. Tapi setidaknya setengah dari daya tarik corat-coret ini memang berhasil menarik perhatianku. Satu-satunya ritual yang kukenal yang pantas dilakukan di toilet adalah ritual yang baru saja kujalani beberapa menit yang lalu dengan susah payah. ”Ya. Dia tertawa kecil.” Mulutku seperti ditampar. dan. ”Yaa. dan tanpa basa-basi langsung mengajakku bicara seolah-olah aku ini temannya. Tak disangka ada juga orang seperti anda yang memperhatikannya. Menghabiskan sedikit waktuku.” ia terkesan berhati-hati dalam menyusun setiap kalimatnya. tanpa sepengetahuanku. sedikit menyejukkan di telingaku. sengaja membuat sedikit keributan. bisa dibilang ini seperti sebuah ritual buatku. ”semacam duduk-duduk di tempatmu berada sekarang.

Tapi aku membuat hidungnya berdarah. Aku lelah ditertawakan. lebih menonjolkan sisi gelap manusia. “Remaja adalah tingkat paling rapuh dalam riwayat hidup manusia. ia akan berubah menjadi seorang maniak yang mencintai perang. “Ya. ”Ide yang bagus. Barangkali hingga membusuk. lebih seperti perasaan kesepian. Rokok di tangan kananku mulai memendek dan aku mulai bosan berada di sini. Persis seperti kesan yang kutangkap sebelumnya bahwa orang ini adalah seorang pendiam yang gemar memendam api dan membiarkannya menjalar di dalam hati.” “Serius? Kau berkelahi dengan Gandhi? Siapa yang menang?” “Aku lupa. dan sebuah ledakan dengan gradasi warna merah yang indah . ”Mmm…menurutku. lebih kelam. “tapi selama kau bisa memanfaatkannya dengan baik. aku memang…memang menuliskan semua yang kurasakan di sana. “Semua yang kurasakan hampir tiap hari. di akhirat ia mengajak para malaikat untuk bertarung dengannya sebagai kekesalan atas emosinya yang tak tersalurkan di dunia.aku mengira bahwa dinding ini adalah bagian dari buku hariannya yang diisi oleh keluhan atau semacam curahan perasaan untuk seseorang yang bisa dibilang sangat kesepian. Gandhi sang Gladiator mengalahkan Hitler si Pecundang!” Kami berdua tertawa. kau bisa menemukan apa yang kaucari selama ini.” rasa simpati mulai merangkak keluar dari kepalaku. Aku akan menghajar para malaikat.” “Hebat. aku tak yakin.seperti seorang anak yang gantung diri.” serunya dengan nada yang semakin muram. Bagiku itu cukup masuk akal. lebih gelap.” ”Menurutmu siapa yang paling cocok untuk melawan Gandhi?” ”Mmm…siapa ya? Mmm…Adolf Hitler!” ”Brillian! Bayangkan bagaimana ia mencabuti kumisnya satu persatu.” ”Ya mungkin saja.gambar-gambarnya . kau benar. Aku pernah bermimpi sedang berkelahi dengan Gandhi dan itu membuatku senang. Kadang aku berpikir bila Gandhi diberi kesempatan kedua untuk hidup lagi. atau…yah tak tahulah…tapi kau telah menggambarkan perasaan-perasaan tersebut dengan baik. seakanakan kau memang mengalaminya sendiri.” Gemeretak tembakau yang terbakar terdengar nyaring dari tempat ia berada. Masa remajaku juga diisi oleh rasa kesal.” . “Ya. karenanya aku memilih untuk berhati-hati. Hanya saja ini lebih… mmm…katakanlah. dan kita bukan orang yang sama. kita adalah orang yang sama. Aku bertaruh bahkan seorang Gandhi pun akan memiliki keinginan untuk membunuh bila ia tahu apa yang kurasakan. Itu yang akan kulakukan kalau menjadi Gandhi. Seharusnya dia memang jadi ahli berkelahi. Kalimat itu akan kutulis di tembok malam ini.” ia setengah berteriak. ”Itu akan menjadi tontonan yang paling menarik di akhirat. mungkin sedang mengolah setiap kata yang ia dengar di suatu tempat di kepalanya. Ia kembali mengatupkan mulutnya setelah mendengar pendapatku. Jangan terlalu disesali. seakan-akan tidak ada hal benar yang dapat dilihat oleh matamu di dunia ini. Namun semuanya akan berubah. Orang seperti dia memang kadang sulit untuk ditebak. perempuan kerdil yang menangis. ya kan? Seperti coretan-coretan lain yang sering kulihat di tembok-tembok pinggir jalan. Atau mungkin saja saat ini. Aku menolehkan mukaku ke arah biliknya.” Kali ini aku yang terdiam. ini adalah semacam cara anak muda jaman sekarang dalam mengekspresikan sesuatu.” “Entahlah. Aku hanya membenci semua hal dan ingin sekali berdiri di puncak bumi ini dan memarahi semua orang-orang yang pernah kukenal.” ia memberikan penekanan dan menambahkan unsur melodramatis dalam kalimatnya.

seperti suara yang timbul ketika aku menuliskan pesan singkat di handphone. Suara riuh manusia berceceran memenuhi udara pengap ini. aku mengutipnya dari seorang penyair. tapi aku terdorong untuk mengakhiri perbincangan ini dengan baik. Aku bermaksud untuk pura-pura tidak mendengar dan menyelinap keluar. kepercayaan. Kau mau pergi?” “Ya. Kalimat yang sangat provokatif. maukah kau melihat tulisanku sekali lagi. uang. dan keadilan. Tanpa pikir panjang aku melompat keluar dari mobilku.” “Mmm…mungkin sekitar 5 menit.12. aku merasakan permukaan jalan bergerak-gerak seperti ada sesuatu sedang menjalar di dalamnya. Yang pertama terbesit adalah aku tak ingin terjebak di dalam mobilku dan segera berlari mencari tempat perlindungan yang aman. Dari dalam biliknya terdengar suara tombol-tombol yang ditekan. tapi sebelumnya. Suara-suaranya yang tadi keluar seperti terhisap ke dalam lubang air di lantai basah.” “Kuanggap itu 10 menit. aku…. itu adalah kalimat pertama yang kucoret di dalam toilet ini. Aku hanya membayangkan si Hitler itu akhirnya dikalahkan oleh sosok Gandhi. Maaf kalau aku menyinggung perasaanmu.” ”Bukan begitu. selalu menuntutku untuk begini-begitu dan tak pernah sama sekali mendengarkan apa yang kumau. Waktuku telah usai. ”Baiklah.” *** Jam digital di mobilku menunjukkan pukul 21. alasannya adalah aku mengenal seseorang yang wajahnya mirip seperti Hitler. tepat sekitar 10 menit dari saat aku meninggalkan toilet itu ketika dalam kegelapan malam yang beku. ”Kau tahu di mana kau akan menemukan aku. Aku tak berani mengucapkan apa-apa.” “Oh ya. rokok telah kubuang dan kuinjak. sekarang yang kuinginkan adalah pergi dari tempat ini dan mengucapkan salam perpisahan pada tamu tak terlihat ini. aku tak keberatan.” Tat tit tat teet toot tit tut.” “Ya. sebelum kau pergi. Aku tidak bermaksud un…” ”Ah tidak apa-apa.tidak.”Asalkan kau senang Kawan. popularitas. ”Eeee…. aku pergi Kawan. ”Bagaimana kau tahu kalau dia adalah ayahku?” Suaranya terdengar pelan. Diriku berada di ambang kepanikan dan terus memastikan diri bahwa aku masih . orang yang selama ini tertindas oleh egonya.” ”Maksudmu kau yang menjadi Gandhi mengalahkan bapakmu si Hitler itu?” Ia kembali membisu. karena getaran tersebut hanya berlangsung kira-kira 2 detik dan disertai oleh suara berdebum yang memekakkan telinga. lebih baik berikan aku kebenaran!’.” Aku mengetuk kepalan tangan kananku pada pintu biliknya dan pergi melenggang dari ruangan itu. Ini terlalu singkat untuk disebut gempa bumi. Sekedar informasi.” “Oke. aku harus…harus pulang. bahkan kelakuannyapun sangat kelewatan. aku menyukainya.aku hanya menebak saja. kira-kira berapa menit waktu yang kaubutuhkan untuk keluar dari restoran ini?” “Maksudmu?” “Ya. Keriangan yang menyeruak sekarang terpendam di dasar bumi. Mungkin kita akan bertemu lagi suatu saat. Dia orang yang kubenci.dari tadi aku tertarik dengan tulisanmu yang berbunyi ‘Daripada cinta.” “Pilihan yang bagus. dan memberitahuku kata-kata apa yang kausuka dari sana?” “Mmm…. kau tahu maksudku.

Hasil curianku yang terakhir lumayan besar. Entah merenung. Aku hanya terpana. Tidak ada satu pun dari kami yang boleh mencicipinya. Sekotak berlian itu sudah kubagi-bagi hasil penjualannya dengan Bakir. Sardi sedang tidak ada di rumah. Kepergiannya tentu bukanlah ke Cirebon. dia tidak dipenjara. Emak tidak lagi menangis. sudah rejekinya. Aneh. entah meratapi nasib. Aku sendiri tidak tahu di mana. adikku yang nomer dua. pantulan sekumpulan bunga matahari yang berbaris di taman. Semur dan nasi yang biasanya tandas itu kubiarkan saja dikerubungi lalat. Seperti biasa. Asap hitam mengepul menjangkau bulan yang sedang terang benderang. Sejak saat itu aku jadi sering melamun. Aku makan lahap sekali waktu itu. Bang. dan kuning. Semur Jengkol. Aku berpikir Emak sudah tidak sayang lagi padaku. Masalah yang sama. Rani malah menangis sesenggukan. Mengantar barang ke Cirebon.” Demi Emak. Sebulan sebelum pembebasanku. Aku ingin cepat-cepat pulang dan bertanya pada Emak perihal perubahan itu. Tetapi yang jelas. aku dan Emakku. Nanti malam dia pulang bawa uang. Sardi dengan sigap mengatur penyimpanan dan pengeluaran. Emak tidak lagi menangis dan tidak lagi meratapi pilihanku. Semoga kau bertemu Gandhi di sana. “Ibu sakit. aku sempat dua hari tidak bisa tidur. perubahan Emak dan perasaanku. Pernah suatu ketika Sardi bertanya perihal perubahan itu. Aku ceritakan pada Rani tentang Sardi. Aku menoleh ke belakang.” Seketika itu nafsu makanku lenyap. Restoran telah menyatu dalam gradasi warna merah. Mahkota emas sang raja yang berkilauan. Dia membawakanku semur jengkol dan nasi uduk buatan Emak.berdiri memijak tanah. Di dipan reot depan rumah kami ini. Tak butuh waktu lama bagiku untuk menerka bahwa bom telah meledakkan restoran udang bakar pedas itu. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Tetapi ternyata belum cukup. Entah mengapa. asal muasal suara keras tersebut. Aku berpikir bahwa ini adalah bukti bahwa Emak masih sayang padaku. ‘Katakan pada Salim untuk banyak-banyak berdoa. dan rasanya aku hanya dapat membayangkan momen terakhirku di toilet itu dengan jelas. Biarlah. Ibu memasak semur jengkol khusus untuk Abang. Api dalam kobaran yang besar menari-nari dengan gemulai dan tak menghiraukan suara teriak yang menghampirinya. ”Selamat jalan. Emakku yang penyayang tidak lagi menangisi kepergianku. yang menurutku sendiri tidaklah bengkok. Aku pikir dengan hilangnya satu anggota keluarga. tetapi Emak hanya menggeleng. Aku sendiri sebenarnya penasaran. Menurut Sardi. Tidak seperti biasanya. oranye. “Sudah kau bawa ke dokter?” “Belum. Aku ingin memastikan bahwa Emak tetap sayang padaku. Aku jadi begitu rindu pada Emak. datang menjenguk. Sudah lewat dua puluh menit kami terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. 2008 by bidari Untuk kesekian kalinya kami hanya diam. Sudah terbukti. Dan disitulah aku menatap pemandangan indah yang bersinar di kedua bola mataku yang menciut. menerangi sudut kota dengan kemegahan tak terucapkan. . Emak lebih banyak diam. tempat persembunyian itu pastilah aman. sejak aku kembali dipenjara untuk yang ke tujuh kalinya. Di luar dugaanku.’ Ibu rindu pada Abang. adik pertamaku.“ Ah. diam tak bergerak. akan berkurang juga beban hidup. wajah iblis sedang memancarkan senyum manisnya. dan Nasi Uduk Januari 7th. Mungkin saja Emak sudah habis akal meluruskan jalanku. Ibu menitip pesan untuk Abang. Hanya itu yang terus berdengung di pikiranku sekarang. entah bersyukur. Sejak aku mendengar cerita Sardi itu. Restoran itu kini terbakar. Dan saat aku menengadahkan wajahku ke langit. aku seperti melihat sosok teman toilet misteriusku itu terbang lepas menuju angkasa sambil membawa kesendiriannya dalam keabadian. Lagi-lagi. Sudah dua hari ini. Rani. lagi-lagi kami bersama. Aku berikan bagianku pada Sardi. Ini hari kedua aku bebas.

Dia memintaku banyak-banyak berdoa. “Aku sedang bingung. Bagus lah. Supri. Lim. kupeluk dia dan kucium keningnya.“ “Doa yang lain bagaimana maksudmu? Doa supaya cepat bebas dari penjara? Ah. Pri. Mengapa Emak menyuruhku banyak-banyak berdoa. Aku sedih sekali. Seminggu sebelum hari bebasku. Biar sesekali bisa merasakan makan di restoran. kau tenang saja. Asal bisa makan. Aku bingung memikirkan nasehat Emakku.“ “Eh. Katanya. Aku terharu. “Abang baik-baiklah. kebisuanku semakin menjadi. Apa kau pikir aku ini kaya. aku selalu berdoa. Aku terus memikirkan katakata Emak. aku tidak lupa berdoa.”.”.“ Sepeninggal Rani. aku kehilangan Supri. Aku merasa dia orang yang baik dan bisa dipercaya.“ “Ooo…gitu ya. bayar sekolahnya Sardi dan Rani dan Emakku tidak sakit. Ingat pesan Emak ya.” “Lha.”. Hari-hariku kuisi dengan melamun. ”Ya Allah semoga hari ini aku dapat tangkapan besar.“Sudahlah.” “Bukan masalah itu. Rani sangat baik. Nanti malam Sardi akan pulang membawa uang untuk kalian. Dia tidak hanya mencuri.” “Kenapa? Sebentar lagi kau kan bebas. Aku kan selalu berdoa setiap kali melancarkan aksi. minum. Dia meninggal. Karena tidak berhasil. Aku tidak mengerti apa maksud Emak. dan berbagai variasi lain sesuai kebutuhan.“ “Mungkin doa yang lain. tidur gratis. Sebulan lagi aku datang menjemput Abang. Oke lah. Baru aku tahu. Lha apa kau pikir aku mencuri untuk beli mobil? Ngimpi!!! Itu mah pejabat!!!“ “Hahaha…ada-ada saja kau.” Sejak percakapan itu. Seingatku. Sebelum pulang.“ “Ooo. tapi…memangnya boleh berdoa minta yang muluk-muluk gitu?“ “Muluk-muluk bagaimana? Minta kaya? Ya bolehlah. Makan. bahwa keadaan Supri jauh lebih parah dariku. tetapi yang paling lama. Aku merasa baik-baik saja hidup di penjara ini. Apalagi sejak dia belajar sholat tiga bulan yang lalu. Meminta kelancaran. ’Banyak-banyaklah berdoa’. . Yah. adikku yang bersih itu. Sebelum melakukan aksiku. korban terakhirnya dia bunuh dengan terencana. Pri. aku akan berdoa minta kaya kalau begitu. Ngirit kok terus. dia terlihat lebih menyenangkan. Dia begitu percaya padaku dan tidak pernah sekalipun membantahku.“ “Bagus apanya? Aku tidak mengerti harus berdoa dengan model apa lagi. Laki-laki itu berusaha memperkosa istrinya. Aku meminta kepada Tuhan agar melancarkan usahaku. aku butuh uang. tetapi juga mbegal dan membunuh. Dia bertanya tentang perubahanku yang drastis. menggangguk saja. Kami sering ngobrol masalah ini itu. hah?” “Memangnya kau tidak berdoa untuk minta kaya?” “Hahaha…ngarang!!! Aku ini orang biasa.” “Hahaha…ada-ada saja kau ini. “Ya Tuhan Emakku sakit. Bangsat seperti itu memang layak menerimanya. laki-laki itu membunuh istrinya. aku dan Supri menjadi akrab. Dia membunuh laki-laki itu karena alasan balas dendam. Radang paru-paru yang menggerogoti tubuhnya sudah tidak mau toleran. trus mau bagaimana? Sudah mencuri saja masih tetap melarat.” Rani. Impas. Jangan lupa kau belikan obat untuk Emak. memperhatikan keadaanku. itu basi. anggap saja pengiritan. “Semoga kali ini tidak gagal. itu sudah bagus. teman satu sel. Hukumannya kali ini bukan yang pertama. Aku seperti kehilangan teman berbagi.

ternyata perasa.“ “Apa Emak berdoa setiap hari? Emak meminta apa?” “Yang biasa saja. Kau orang baik. Aku mencoba mengerti kata-kata terakhir Supri waktu itu. Pantas kalau Emakmu begitu sayang padamu. dan pikirannya. perasaan. Di buku itu kujumpai puisi di sana sini. Aku membaca buku itu layaknya membaca kehidupan. Demi menemukan jawaban itu. Satu yang menarik perhatianku adalah ratapannya pada Tuhan. Supri menuliskan semua keluh kesah. Kulipat bagian-bagian yang menarik perhatianku dan kubaca lagi dua – tiga kali.” Aku mencoba memahami hubungan antara doa. Yang Emak tahu. Sepertinya. Seperti biasanya. Kuceritakan pada Emak semua hal yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini. Kau memang harus banyak-banyak berdoa. berdoa itu penting. Buatlah hidupnya tenang. Fotofoto itu tidak menarik perhatianku. Emak minta agar hidup kita tenang. Lalu kutempelkan di dahiku. ’Jika aku ini tidak lebih dari setumpuk kotoran Jika aku ini tidak lebih dari seonggok daging Jika aku ini tidak lebih dari pengacau Kenapa tidak Kau matikan saja aku sekarang Bukankah Kau Maha Segala Apalah sulitnya mematikan aku Tinggal kau tiup saja Kun faya kun. Aku takjub.Tidak banyak barang peninggalan Supri. Entah mengapa aku merasa wajib menyimpan buku itu. Lanjutan dari obrolan yang terputus. Lim. Sardi dan Rani lulus sekolah. Dan kamu tidak dipenjara lagi. Mana Emak tahu tentang puisi. aku membaca buku itu hingga selesai. Selama seminggu menunggu sisa waktuku. buku itu adalah warisan Supri untukku. Emakmu ini tidak pernah sekolah. Lim. Lim.” . Buku catatan itu jauh lebih menarik. Semuanya nampak jelas dan nyata. Emak dan tenang. Di sana. Karena memang aku tidak kenal mereka. kucium tangan kanannya bolak-balik. Supri yang pembunuh. “Mak. ‘Benar kata Emakmu. hari pertama bebas aku langsung menemui Emak. hanya sebuah buku catatan kusam dan beberapa lembar foto usang. apa hubungan semua itu? Emak tahu?” “Lim. Seperti memohon restu darinya. begitu kata ustad Jika memang masih Kau ijinkan aku hidup Berilah aku kebebasan Jangan Kau tipu aku dengan uang Dan jangan Kau tipu aku dengan foya Tolonglah… Sekali ini saja Beri aku ini hidup yang berarti Cukup sekali’ Aku meminta ijin kepada kepala untuk memiliki buku itu.

jernih tanpa gangguan. Namun sekarang aku tahu apa yang mereka lakukan. Pintu tidak terbuka lantaran sudah kukunci. Sementara tungkai kaki kiriku terayun-ayun mengambil ancang-ancang. Lim? Biar bisa gegayaan seperti orang-orang? Tidak usah. Kalo kaya. Telingaku bisa langsung setajam kuping kelinci serupa antena mendapatkan sinyal yang diinginkan. Namun aku yakin tak kan terdengar sampai di seberang sana. saat bisikan itu dibarengi dengan bunyi berderit-derit. Tetapi setidaknya aku berusaha untuk tidak kembali ke penjara. Apalagi bagi Tuhan yang Maha Kuasa. Ototku yang tidak berotot menjadi kejang karena tertarik. Lalu kuangkat kaki kiri menapaki pinggir meja dan kaki kanan setelahnya untuk menjaga keseimbangan. Gayaku mirip dengan pemanjat tebing. makan semur jengkol. mereka mengeluarkan suara berbisik-bisik. Kutindih buku tulis dengan pena. Senang sekali mendengar suara di bawah sana. Emak sudah senang kok. Emak malah takut kena yang aneh-aneh. Wajahnya sehabis wudhu terlihat lebih tenang. Aku belum tidur. Walau begitu aku tetap harus hati-hati. Enak kan. Kan biar bisa makan di restoran. Sekali-sekali gitu. Kakiku yang menginjak udara itu melayang ke atas dan hinggap di balok kosen paling bawah. Emak. Malam belumlah terlalu larut. Lim. Kawan. Tak satu pun soal bisa kujawab. Lampu di kamarku masih menyala. Pagi-pagi buta Emakku masih harus bangun untuk membuat gorengan. Kadang mereka tidak tahu waktu. Sardi masih harus bersepeda ke sana ke mari mengantar koran dan Rani masih harus mencuci pakaian tetangga.“ “Ah. Dulu. Dadaku bergemuruh bagai amuk badai menghancurkan segala pertahanan diri. 2008 by Emil Akbar Aku selalu berada di atas kamar di bawah atap ketika malam datang. Seperti menguji kepekaan telingaku. Membuat suara serangga malam di luar rumah tidak terdengar. Demi melihat senyum Emakku. meski kecil.“Oh. mengganti celana dengan sarung. Ah. Aku dan Emak masih belum beranjak dari dipan. Samar terdengar bagai menembus dinding kamarku. Kemudian secara perlahan telapak kaki kananku menginjak gagang pintu sehingga terdorong ke bawah. Bukan untuk merubah wajahku. mengganggu konsentrasiku belajar. mulai berlari pulang ke rumah masing-masing. Doa Emak dikabulkan saja. Di Atas Kamar di Bawah Atap Desember 12th. Jari-jarinya saling merekat dan menekuk bagai mencengkeram.“ “Lim. Sedang mengerjakan PR. Aku berdiri tegap serupa hantu yang ingin mengusik. . Pastilah mudah. tetapi agar aku bisa melihat senyum Emakku. Seperti malam ini. Kamu tahu kan tempatnya? Itu di loteng! Hampir tiap hari aku naik dan berdiam diri di sudut atas kamar itu. Menggelitik gendang telingaku. Kumatikan lampu dan gelap seketika. Tidak usah neko-neko. Kenapa Emak tidak minta jadi orang kaya? Kata Supri. makan semur jengkol dan nasi uduk lebih sering. Sebab jantungku seperti berhenti berdetak saking cepatnya memacu. Lalu aku? Apa yang kulakukan? Tidak banyak. Anak-anak yang tadi main gundu. *** Mula-mula kusingkirkan segala alat tulis dan kupastikan meja belajar mampu menahan berat badanku saat aku menginjaknya. Permintaan Emak memang sangat sederhana.” “Buat apa. kita tidak usah repot cari uang untuk bayar sekolah dan makan tiap hari.“ Ah. Kedua tanganku menggenggam kosen pintu yang berbentuk kotak-kotak dan tak berkaca. Aku menyerah. Mungkin memang sudah waktunya untukku belajar sholat seperti dia. Emak dan tenang. lagi-lagi kata tenang. sudah lah. Tetapi aku menyadari. Sudah tenang. Mak. kita boleh berdoa minta jadi orang kaya. dan nasi uduk lebih sering. Lamat-lamat terdengar suara adzan dari musholla di gang sebelah. bahwa keinginan yang sederhana tidaklah sederhana pada pelaksanaannya. Kutarik napas sejenak. tapi tetap saja gerakanku menimbulkan suara. lagi-lagi aku jadi teringat Supri. Aku masih belum begitu memahami hubungan doa. akan kujelaskan padamu bagaimana caranya aku bisa naik ke atas sana. Sebisa mungkin tanpa bunyi. aku mengira mereka sedang bercanda atau tengah bertengkar dan tidak mau diketahui orang lain.

Asal kamu mau menyimak dengan baik pengalamanku yang pahit. Sarang laba-laba mulai menghadang ketika aku menerobos paksa. Seperti aku takut tercebur ke dalam sungai karena tidak bisa berenang. Saat aku masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Tapi aku tak peduli. Sekarang aku berada di atas kamar. Ibu selalu mengingatkan agar jangan pernah memegang pipa tersebut. Aku berjalan menyamping sambil tetap duduk mendekap lutut dengan kepala tertunduk. Kecuali ruang tamu. Di bawah sana sendu yang temaram. dan itu sangat mengganggu. Juga melekat di bajuku dan susah sekali menghilangkannya seperti noda yang membandel. jadi aku aman. Belum pernah aku bermalam di rumah orang tanpa Ibu. Kawan. Aku ngeri membayangkan bila itu terjadi. aku pelan-pelan melongokkan kepala dan menariknya kembali jika terlalu menjulur ke depan. Setelah aku sampai di tempat bertemunya atap seng dengan tembok. Mungkin sebentar lagi hujan. Suara napas memburu di bawah sana melecut semangatku untuk segera mendekat. membentuk kerangka atap. Sering tanpa bisa kucegah. udara agak panas. Kuberanikan diri karena jaraknya dekat. Kukumpulkan dan kuremas kemudian kujadikan bola-bola kecil lalu membuangnya begitu saja. pagi-pagi benar baru pulang. Aku pamit saat temanku itu sudah mengantuk. Tempat tinggalku masih rumah panggung yang hampir roboh waktu itu. Biasanya mereka beranggapan bahwa ada tikus berkeliaran di atas sini. . yang tidak mengenakkan pandangan kala mendongak. membuatku gerah sehingga keringat membasahi bajuku. Rumah ini beratap seng. Kuhela napas berkali-kali mengeluarkannya. Ibu tidak mencariku. Sesekali memang terdengar gemeretak seng seperti ada orang yang berjalan di atasnya. terletak di tengah rumah yang merupakan pusat dari balok yang bertebaran. Saat sarang laba-laba itu membalut wajahku. Kuhirup bau pengap. khawatir aku kesetrum. Akhirnya aku pulang sendiri. Ada pipa kabel listrik tak sengaja kusentuh. Tapi aku tetap mau pulang. Aku bakal dibangunkan dan orangtuanya akan bilang pada Ibuku. yang tak semestinya kualami. Aku melangkah dengan cara merunduk menuju balok yang rebah. Lupa waktu saking asyiknya bermain di rumah teman. Setelah jeda sesaat aku kembali berdiri. dia punya mainan baru. mirip tripleks. kami bertetangga sebelah rumah. seperti batang pohon yang dijadikan jembatan untuk meniti. Akan kuceritakan. penopang atap rumah.Badanku mulai merayap seperti cicak raksasa menggerayangi dinding di keremangan malam. Ibarat Kabut tebal menghalangi melihat jalan di depan. Aku berjalan merangkak serupa hewan berkaki empat. Di salah satu sudut atas kamar inilah aku termangu memandang perbuatan Ibu dan Bapak. terbuat dari adonan kertas basah yang dicetak. Mataku tak berkedip dan menatap nanar seiring dengan debar yang bergenderang seperti ada gendang ditabuh di dadaku. Bahkan banyak yang tersangkut di sela-sela jari. Aku meringkuk sebentar di balik balok paling besar. menimbulkan gelap yang terlihat. tidak terlalu terang tapi cukup membuat benda-benda yang diterpa cahayanya memiliki bayang-bayang. Lubang hidungku kemasukan debu. termasuk kamarku dan kamar Ibu. Dulu. Yang aku takutkan anjing mulai menggonggong. Ada juga balok yang melintang dan membujur. Tangan kananku menggapai permukaan tembok yang kasar. video game. Pondasinya telah dibangun. Besok mungkin Ibu akan marah dan mengingatkanku lagi. Mereka menyarankan sebaiknya aku menginap saja. Kini aku baru tahu kalau itu adalah proses seng kembali ke ukuran semula setelah siang tadi memuai karena dipanggang panasnya matahari. Lantaran bayanganku terlihat memanjang. Kukoyak sarang labalaba itu menjadi helai-helai yang berjatuhan. supaya tidak terantuk atap seng yang akan menimbulkan bunyi gaduh. beberapa ruangan memang belum mempunyai plafon. Sedang direnovasi menjadi rumah batu. Dulu. Aku berlari dan berhenti setelah sampai di kolong rumah. aku jongkok membungkuk mendekap lutut. Tadi pagi Ibu menyuruhku membersihkannya dengan sapu lidi tapi tidak kulaksanakan karena asyik bermain di rumah teman. Jangan sampai aku terpeleset dan mengenai lantai loteng yang rapuh dan mudah pecah itu. Agak berisik. *** Malam itu aku pulang larut malam. Hanya lampu di kamar ibu yang menyala di dalam rumah. aku takut sebab mengira ada pencuri yang mau masuk rumah atau ada setan di luar sana ingin mengambilku. Biasanya Ibu mematikan hubungan listrik tiap kali aku membersihkan loteng ini yang dipenuhi sarang laba-laba. Anehnya. kusapu cepat karena lengket dan terasa gatal seperti kalau aku kegelian. serpihan tembok berjatuhan seperti rintik hujan menyentuh bebatuan. Sekarang aku telah tiba di tujuan. Di bawahku adalah langit-langit ruang tamu. Sering begitu sejak pertama kali aku melihat adegan ini.

Aku hanya mematung.Aku lewat belakang. Akan kusimpan baik-baik. Andaikan aku di bawah ranjang. Aku melihat situasi dalam rumah melalui lubang di papan. Apakah lelaki itu tidak mendengar gemericik air yang bersimbah-simbah? Tentu aku kaget dan hanya bisa terhenyak serta gugup. Timba di tanganku jatuh berdentang menimbulkan gaung yang lama. Dia melucuti baju dan melorotkan celanaku. Ibu temanku menyuruh kakak lelakinya yang sudah SMA mengajakku masuk. Mengajariku merokok di pangkal paha. Sementara aku tergugu. Kakak temanku berbaring di sampingku tapi juga tidak tidur. Dan apa yang aku saksikan. Meraung serupa singa yang terluka. Namun itu hanyalah awal. Aku takut sekali. Mereka hanya mengira aku tidak dibukain pintu. Matanya merah. perih. Saat aku mandi tanpa menutup rapat pintu kamar mandi karena rusak. Adegan itu masih terbayang. Kembali berlari membawa hatiku yang kalut. Kemudian pamanku itu kencing seolah-olah dia menganggapku tidak ada di sampingnya yang tengah telanjang bulat. Kugigit satu persatu jari-jari tanganku. Tapi sayup masih bisa kudengar rintihan Ibu yang seperti disakiti. Dia menarikku berlutut di hadapannya. Peluhnya masih tertinggal di badanku. yang mungkin tidak ada obatnya. Kurasakan napasnya memburu. gigiku saling beradu. Aku ingin marah entah kepada siapa. menunduk hampir menangis. belum cukup umur bagi seorang bocah yang baru saja pandai membaca. Sakit. Dia melarangku bilang-bilang! *** “Awas kamu Anto!” . Di luar sana kudengar Ibu berteriak memanggilku pulang dan dibalas oleh ibu temanku bahwa aku sudah tidur. Kawan. Merasuk ke telingaku menimbulkan kesan yang dalam. Karena tak lama. nyenyak sekali. *** Lamunanku buyar ketika kudengar hujan turun memukul-mukul atap rumah. dan dia masuk ke kamar mandi tanpa keraguan sedikit pun. Lalu dia menyandarkan punggungnya di pintu kamar mandi hingga tertutup rapat. Aku berbaring gelisah. Aku merasa basah. Mulutku terkatup rapat. Terkadang mengejan seperti orang buang air. tempat aku memasukkan tangan untuk membuka palang pintu belakang. Awalnya aku menyukainya karena baik padaku dan sering mengajakku jalanjalan mampir ke rumah temannya. Sejak itu aku tahu masa kecilku telah hilang. Pamanku itu numpang tinggal sebagai tamu hanya beberapa hari sebelum pergi meninggalkan benci di hatiku. Istirahat sebentar di serambi. tangannya meraba-raba tubuhku dan menyergapku dari belakang. tapi tetap saja menyisakan cela untuk melongok ke dalam. Tubuhku bergetar menahan debar. Bapak lain lagi. merangkulku bagai memapah orang yang terjatuh dan lututnya lecet. Mereka seperti bayi raksasa. bergemelutuk bagai menahan gigil. Mendengkur. mungkin aku dapat menyimak dengan jelas suara mereka yang mengerang disela bunyi ranjang yang bergoyang. Semuanya sudah tidur kecuali ibu dan kakak temanku. hanya kutahan dengan ember berisi pakaian kotor yang terendam. sampai kakak temanku itu habis tenaga. Adik lelaki bapak yang masih bujangan. berharap bisa menghilangkan nyeri. aku sedang dibekuk tak berdaya. Aku menuruni tangga dengan perasaan hancur. Aku tak mampu menyimpan rahasia ini. Sementara orangtuaku belum pulang dari pasar. Beberapa kali kupejamkan mata tetapi aku tidak bisa tidur. tapi aku harus merasakan lagi luka. mencabut rasa kantuk. Menyingkirkan dengan kaki. hampir lepas dari engselnya. Temanku sudah tidur di kamar orangtuanya. Dia membalikkan badanku lalu menindihnya. Dia kenakan kembali pakaianku sebelum berbalik membelakangiku. Aku masih tetap duduk memeluk lutut dan membeku. Padahal. Begitulah. mengendap-ngendap menaiki tangga kayu. Setelah itu dia mengancamku. Padahal dia tahu ada orang yang sedang mandi. Aku disuruh cuci kaki sebelum masuk kamarnya. Tapi sore itu mengubah segalanya. Ini rahasiaku. Perasaanku belum sembuh waktu itu. Di mulutnya terkulum sebatang rokok yang membara dan asapnya mengepul ke manamana. Mataku membelalak tak berkedip mengamati tingkah laku orangtuaku. Aku pernah mendengar suara yang sama pada lelaki yang berbeda. Berteriak seperti lolongan panjang tapi tertahan. Aku kembali ke rumah tetanggaku. ember berisi cucian menjauh darinya. Ketika dia melenguh yang paling aku ingat adalah. Leherku terasa kering seperti dihisap. Aku menggigit kain bantal. Satu-satu kemudian menderas. mataku membelalak dan berair yang bermuara di pelupuk. jadi kuceritakan saja padamu. tenggorokanku tersumbat. Mengguyur kelamnya malam. Bahkan tak jarang suaranya hilang berganti desah bagai kehilangan napas.

Entah di mana mata Ibu hingga bisa melihatku. Barangkali dendam gara-gara rumahnya kuberantas. Doakan aku. tapi aku mesti beranjak dari persembunyianku ini sebelum mereka melabrak kamarku untuk memastikan aku tertidur lelap. Kamu sudah kelas satu SMP. melompat ke arah kasur busa yang tak jauh dari situ. Aku menghirup udara banyak-banyak dan menghela habis-habisan. mengganti pakaian. Aku menunggu supaya tidak dihakimi malam ini. debu berhamburan bagai ketombe yang berjatuhan. Kurasa ada seekor laba-laba kecil hinggap di leherku. Telentang membuat perutku kembang-kempis. Sejak itu aku ingin beli parfum. Pikirku. badan ini mesti diubah komposisi wewangiannya. parfumnya—entah merek apa—tercium. Biasanya aku tidak pernah mengunci kamar di malam hari. tadi aku berada di atas sana. Posisiku seperti udang. kutepis dengan cepat seperti memukul kulit. Lekas aku beringsut dari pembaringan. Gerakanku tidak terkontrol saking paniknya. Dari jarak dua meter tempat aku duduk. Aku juga heran.Kawan. Yang jelas mereka tetap melanjutkan. Aku menempelkan pantatku di permukaan tembok sambil menjulurkan kedua kakiku ke bawah. Pintu kamar Ibu terbuka. hendak turun. Sedikit kupejamkan mata. Suara gelas terisi air. hari pertama kamu libur nanti. diteguk dan diletakkan kembali. Saat menegakkan badan sedikit kepalaku tertumbuk balok. 2008 by andika destika khagen Entah kenapa aku bertemu dengan Satria tadi pagi. Kedua tanganku silih berganti memegang balok di atasku.Juni 2008 Hipotesis Sebuah Parfum September 25th. Buru-buru aku balik ke tempat tidur. Belum sempat aku menarik napas ketika keseimbanganku goyah. Depok. “Baiklah. Aku gerah sekali. Kuatur napas biar berirama kembali. Menolak badanku seperti mendorong ke atas. . hujan makin turun deras. kok bisa sampai lupa! Sudah waktunya kamu disunat!” Aku menganggap itu adalah hukuman buatku dan tanpa kusadari di hadapanku bukan lagi Ibu melainkan Bapak yang sedang berkacak pinggang. lebih karena bau parfumnya. hanya menundukkan kepala karena merasa bersalah. Aku baru tersadar ketika wewangian itu dikalahkan oleh bau badanku sendiri. Berharap dan berjanji dalam hati akan membereskan semuanya tanpa bekas. Lega tapi resah tak mau pergi dari hatiku. tanpa jejak. Aku cuma ingin menghargai diri sendiri. aku ketahuan. Kalau bisa aku ingin menggulung tubuhku sekecil mungkin. Naluriku tersentak. Kunikmati wewangian itu agak lama. sementara Ibu bosan menunggu. Ya. menjaga keseimbangan. Kawan. Aku dihantui bayang-bayang akan apa yang bakal terjadi besok? Barangkali orangtuaku terlalu lelah buat membentakku malam ini atau mereka cuma menasehatiku untuk tidak mengulanginya lagi? Mungkin juga hal ini tabu untuk dibicarakan dan mereka sedang berunding? Kali ini aku tidak mendengar apa-apa selain gemuruh hujan. kita langsung ke rumah Pak Mantri. Kasur busa itu menggeliat seperti tidak mau ditimpa. Baru kusadari nyamuk berdengung menyerbu telingaku. Terpaksa aku harus terjun. Astaga. Memeluk bantal erat-erat. Keluar dari kamar. kenapa kali ini aku terkesima. Kuacak-acak rambutku. bukan untuk menggaet perempuan dan berbeda dengan teman-teman aktivis lainnya. Aku merinding menahan kencing. Dengan sigap aku membalikkan badan menghadap tembok dan tepat saat itu kakiku yang satu lagi bertumpu pada pinggir meja belajar. tulang belakang melengkung. asalkan wangi. Bukan karena ketampanan laki-laki bangsawan itu. Laki-laki jetset penganut kapitalisme. Terdengar gemericik air di kamar mandi. Terima kasih! Doamu terkabul. membawa perasaan cemas. Merek apa saja. Jika Ibu tahu aku mengunci kamar berarti ia tidak salah lihat. Perlahan tapi pasti salah satu kakiku menjangkau gagang pintu. Januari. Ibu sudah menghadang dan bertanya. Sangat wangi. “Kapan kamu libur?” Aku tidak menjawab. Untungnya bukan seng sehingga suaranya teredam meski sakitnya serupa disengat lebah. Di luar. Dengan langkah tergesa-gesa aku berbalik ke jalur yang menuju kamarku. Ketika bangun pagi aku merasa mataku sembab dan agak bengkak. Tubuhku terhempas dalam.

Rusni. Siapa lagi yang akan memujiku? Aku rindu pujian sebanyak mugkin untuk meyakinkan pada dunia bahwa wangi itu penting. Aku bangga membuat dunia menjadi wangi. Rinto. Biasanya. Setidaknya. Tujuh ribu rupiah. mereka tidak berkata. “Aku telah menghargai diri sendiri di antara orang-orang yang selalu memikirkan orang lain. Itulah bau terindah yang selalu kami hirup. Atau setidaknya lagi teman-teman diskusi. Dari tatal ke tatal. Bukankah tidak ada orang yang suka dengan bau amis? Tak apalah. parfum. Pikiranku sedikit keliru. Itu yang baru saja kukenali. bahkan bau keringat pun tak ada lagi orang yang menghargainya! Tapi. cuma aroma terapi yang membuat hidungku merasa nyaman. Biayanya lebih besar daripada membeli parfum buatan Jerman atau Amerika. “Bau keringatmu berbeda hari ini. Aku merasa beruntung bertemu Satria tadi pagi. “Senyummu indah Kus. Bau amis ketiak dan keringat menjadi satu membentuk aroma yang tidak sedap. Ia jadi pahlawan sekarang. Satria tak lagi jadi bahan diskusi kami. Untuk itulah. rasanya terasa cukup membuatku lebih menikmati hari. Diolah sendiri. memang ada yang berbeda dari parfum. “Tak apalah menyisihkan sedikit uang untuk menghargai diri sendiri.” Oh. Tak ada rasanya orang yang berani duduk di dekat pasangannya dalam keadaan amis. Kesadaran akan wangi benar-benar harus ditanamkan. Parfum ini harus dinikmati semua orang—minimal warga kampus ini. Mereka biasanya menawarkan parfum dengan aroma yang berbeda. Toh. parfum bukan menjadi kebutuhan pokok. Ah. Kus. harga sebuah parfum (aku belum mampu membedakan antara parfum dengan splash cologne. Bau parfum ini sama halnya dengan sedikit demokrasi yang dirindukan warga Pakistan pasca tertembaknya Benazhir Bhutto. Katanya. kasiatnya lebih manjur daripada yang dijual dipasaran. Parfum hanya pantas dimiliki bagi mereka yang berpasangan.Ini pertama kali aku punya keinginan beli parfum.” Setiap senyum kuanggap kasiat parfum.” Auraku sedikit bertambah. dan Rini. Parfum ini telah menular ke rambut. Rasanya. mengeluarkan pujiannya. Senyumku lebih mengembang. Aku pikir. dari ketiak sampai buah baju. orang yang kuhadapi tiap hari hanya itu-itu saja: Sardi. Tidak semua orang yang bisa membeli parfum pada paranormal. bau amis berganti menjadi aroma terapi. Dari ujung ke ujung. tak ada yang bisa membedakannya. Menarik lawan jenis dengan parfum memang bukan hal yang biasa lagi. Tapi sayang. Bau badan mereka. kenapa tidak semua orang sadar akan wewangian? Wajar saja Bidin jadi Walikota. oh. Pertama kalinya. termasuk juga aku. Parfum harga tujuh ribu saja rasanya sudah cukup untuk mahasiswa yang tak pernah punya anggaran membeli parfum. sabun mandi saja sudah terasa cukup membasuh badan lusuh ini. “Rambutmu rapi. Mereka mesti diberi penyadaran bahwa parfum itu penting. Dibeli di Jerman atau Amerika. Kelebihannya mungkin terletak pada wangi natural yang ditawarkan. Wangi atau tidak hanya sebuah perumpamaan dan bentukan sosial dari keadaan. Pelajaran itu kudapat dari Satria. Kupilih aroma terapi. dunia memang butuh aroma mengganti bau amis darah yang tiap hari keluar dari perut ibu pertiwi. Atau mungkin juga dibeli pada paranormal. Ia tentu pakai parfum yang harum dengan harga yang sama dengan uang kuliahku dua semester. Parfum di sana tentu lebih harum daripada yang dijual di swalayanswalayan yang hanya untuk kaum konsumerisme kelas menengah ke bawah. aku baru saja tersentak.” Tak mahal harga untuk sebuah parfum.” Tiga orang yang berpapasan. Lima kali semprot. setiap yang wangi adalah parfum). Parfum Walikota tentu tak bisa aku beli dengan alat tukar yang hanya berjumlah tujuh lembar uang kertas bergambar Kapiten Pattimura. dan senyumku. *** Inilah langkah terindah yang pernah kuayunkan. Di antara puluhan yang berjejer di rak swalayan. Pikirku. . wajar adanya dan kami tak pernah mempermasalahkannya. Parfum ini membuat orang-orang menyapaku. Bau keringat yang diberikan Tuhan harus dilawan dengan aroma terapi. Aroma terapi menyebar ke seluruh penjuru sampai sudut yang tak terhingga. Pasar selalu memberikan kemudahan bagi penganut konsumerisme. Kami tak pernah menghiraukannya. wajah. Inikah alasan orang-orang pakai parfum? Parfum.

Gawatnya. Tentu ia tidak sedang bercanda. Ustadz Hamzah juga bilang sepatuku baru. semua orang bilang sepatuku baru. Semua benda yang menggantung di leher. “Sepatumu bagus. bahkan tidak bisa membedakan celana yang baru dan usang. Semua yang lusuh kelihatan baru. Bagaimana dengan orang yang tak pakai parfum? Aku hanya mampu mengatakan bahwa parfum itu penting. yang baru saja menyapa. apalagi berdusta. Nalarku berjalan. Bagus dan buruk tak jelas lagi mana batasnya. Aku mulai curiga pada parfum ini. Jika keadaannya setelah ia pakai parfum. ini jelas tidak benar. Wewangian ini begitu sempurna. Untuk pertama kalinya Suci membagi senyumnya kepada orang yang tak pantas menerima senyuman. Semakin menakjubkan. Aku ngeri membayangkan Walikota yang menggunakan parfum yang dibeli dari Jerman dan Amerika. Tiga lobang menganga di sisi kiri dan di depan. Kenapa tidak ada yang bisa membedakan antara dua hal yang jelas berbeda? Sepatu ini jelas sudah lusuh. Kapan kamu beli?” Apalagi ini? Hey. Untuk beli parfum saja aku harus rela mengorbankan makan siang. setelah berpapasan dengan Rudi. Kelewatan. Benar-benar tidak bisa diterima.Diskusi dengan bau badan amis tak lagi menarik bagiku. Bahkan Suci.” Apakah parfum ini menular juga ke celanaku? Roni. Kodrat dan kebutuhan mesti diletakkan pada tempat yang semestinya. Bau badan bukan kodrat. Apakah mereka semua sudah gila? Hipotesis ini begitu membingungkan. tapi kebutuhan. Aku teringat Satria. dua bulan baru parfum itu akan habis digunakan. Kus. *** Lima semprot parfum beraroma terapi ini membuatku tak habis pikir. Seharusnya aku bangga dengan keadaan ini. astaga. Luar biasa. Orang yang bilang sepatu yang aku pakai baru. bagaimana orang melihat baju. berlawanan dilihat. Cuma lima kali semprot di setiap sisi yang dirasa perlu. Kenapa Rudi bilang baru? Sedikit pun tidak ada tanda-tanda sepatu ini baru. dan diletakkan di dekat kaki. Tidak sempat pula kiranya untuk beli celana baru. jika aku pakai. Baru dan usang tak ada yang bisa membedakan. Lagi-lagi parfum ini mempesona. Apalagi yang kuharapkan dari parfum? Semuanya terlihat begitu sempurna. bau yang busuk tetap akan tercium. dan senyum yang kusam menjadi mengembang. jelas nyata. Parfum ini ternyata jauh lebih membingungkan. parfum ini ternyata membuat dunia menjadi absurd. Menghabiskan uang dengan hal. tak ada yang sadar bahwa yang dilihat tidak seperti yang sedang aku pakai! Aku teringat akan kemunculan parfum ini ketika keluar dari toko. Bagaimana dengan sepatu baru? Tentu orang akan memandang new baru atau double baru. Sama halnya dengan kenikmatan orang-orang pada umumnya akan tampilan bentuk. setidaknya untuk mengurangi bau amis. Celanamu beli di mana?” Aku tersentak dan harus terima dengan perubahan yang serba tidak jelas ini. Kus. dan sepatunya? Tentu jauh lebih bagus dari yang sekarang dikenakannya. adalah barang konsumtif dengan harga tak terkira—mungkin juga tak terjangkau. rambut yang tidak berminyak kelihatan rapi. Tapi. perlu diragukan otak yang sedang dibawanya. bila dibandingkan dengan kaum duafa. tapi tidak dengan sepatu. terpakai di badan. senyum. Pantaslah banyak orang yang membeli parfum sampai ke luar negeri. Betapa kasiat ini tak pernah diduga sebelumnya! Keterkejutanku berikutnya terus bertambah. Kus. Aku menikmatinya. Hidung-hidung manusia ditusuk seperti kerbau.” . Sepatu lusuh saja terlihat baru. Pelbagai keanehan muncul. Inilah sebenarnya yang diharapkan dari parfum: sebuah kamuflase akan tampilan bentuk. Semua yang ada. ”Kau begitu berbeda hari ini. meskipun ia seorang yang harusnya bisa dipercaya. Sepertinya tubuhku tak lagi mutlak menjadi milik pribadi. Tapi apakah bau amis mesti ditutupi? Bukankah ada pepatah mengatakan ”Sampai manapun. seorang gadis berkepala batu hari ini mencair. Walau belum tentu nyata. “Celanamu baru. Tak ada lagi keburukan yang akan menganga karena semuanya ditutupi dengan bau parfum. Hidung-hidung itu punya kesimpulan yang sama: parfum di badanku begitu menggoda dengan aroma terapi. Apalagi melihat senyum Suci. Hipotesis ini benar-benar membingungkan. Isinya masih banyak. tak pernah terpikirkan untuk menggunakannya. Setiap senyum kuanggap kasiat parfum.

Tujuh lembar uang yang bergambar Kapiten Pattimura. yang seharusnya digunakan untuk makan siang. sepatu. Plak. Terdengar suara-suara bernada tinggi.Pertentangan antara kebutuhan dan keinginan berkecamuk. Tak seorang pun yang tahu aku pakai parfum. Kos-kampus-sekre tempat diskusi adalah tempat yang tak berubah kulalui dari waktu ke waktu. dikembalikan lagi ke swalayan. Sampai sekarang. Atau mungkin sedang berbaring. Setidaknya. Apakah aku menangis ketika itu? Mungkin. Tampaknya aku baru terbangun dari tidur lelap yang panjang. Aku tidak akan terima ini. Tapi yang jelas pintu kamar terbuka. Hipotesisku baru saja selesai: wangi parfum membuat orang lupa akan sepatu buntut! Oh. aku bingung dengan kata makna. Aku berada di pangkuan ibuku. Kus?” Ini keterlaluan.” Tak ada lagi ampun. parfum itu mesti dibuang.” Aku mulai tidak tahan lagi dengan perlakuan parfum ini. Suara yang kemudian berlanjut kepada tangisan. Suara tamparan itu. ah. Ia mencium pipiku. Tampak sebuah jembatan. “Bau keringatmu berbeda hari ini.” Sebenarnya hanya itu yang kuharapkan dari tadi pagi. “Dari mana saja kau. Aku melihat keluar jendela. Suara-suara yang belum bisa kumengerti kata-katanya. Di lain hal. Dua tempat ini begitu berbeda sangat. 2008 by Anekdot Entah berapa umurku saat itu. Rasanya tidak berlebihan. Menangis karena apa? Lapar? Popok yang belum diganti? Haus? Atau aku hanya ingin mengeluarkan air mata saja? Tapi sepertinya aku menangis karena suara-suara itu. Dikubur sedalam-dalamnya sampai di bawah tanah yang tidak terjangkau oleh cacing. Kalau bisa. “Aku selalu di sini Rinto. Atau mungkin tiga tahun. “Aku baru saja melihat kau di Pasar Raya. Ibuku tersenyum kepadaku. Tapi aku masih belum bisa membaca. Kus. “Yang berubah pada dirimu adalah. Suara-suara bernada tinggi yang menakutkan. dan senyummu begitu indah. Kus. Rinto. Aku masih mengingatnya dengan jelas. . Suara tangan ayahku yang menyentuh pipi ibuku. Iya. Celana. Sepertinya tiga tahun. ia hanya bilang. Mari kita mulai saja diskusi ini. Satu di tempat penuh kebohongan. aku menangis. tidak lagi bau keringat. Ketika kutanyakan pada Rini. Rinto melihatku di pasar. karna hari ini berbeda dari waktu yang sebelumnya. Kebutuhan mengatakan bahwa tak perlu ada parfum toh tujuannya mengaburkan makna yang sebenarnya. Aku tak bisa menjelaskannnya. Suara-suara dari kedua orang tuaku. * Di mana aku? Aku berada dalam kebingungan. Aku lupa lagi. satu lagi di lingkungan akademis. Aku sedang duduk di tempat tidur. Dua tahun. sejak lima semprotan aroma terapi tadi pagi. kau serba baru sekarang. tidak bisa diganti dengan ketidakbenaran yang diciptakan oleh parfum ini. Tunggu. bahkan tubuhku sudah diduplikasi oleh parfum ini. ke mana hilangnya parfum yang kutaruh tadi pagi di atas meja?*** Ibu dan Anak Januari 28th.” Parfum ini harus segera dibumi hanguskan. tetap bau keringat dan amis. Hari-hariku dihabiskan hanya di kampus ini. Oh. “Kau jelas mengada-ada. Aku berada di dalam suatu kendaraan panjang dengan kursi-kursi ganda di setiap sisinya. Tangisan siapa? Aku atau ibuku? Aku sudah berhenti menangis. keinginan tentu tak tega memperbiarkan bau busuk mengotori udara yang tak lagi bersih. baju. “Kau tetap bau keringat. juga di sini. S-E-M-A-R-A-N-G.” Tidak ada yang berubah. Aku tak pernah kemana-mana. Tapi. Tampak ibuku berurai air mata. Begitulah huruf-huruf yang tertulis. Di buang sejauh-jauhnya sampai tidak terlihat oleh Tuhan sekalipun. tidak ke mana-mana. Atau seperti sebuah monumen. tidak pernah ada yang bilang.

Suara mereka mengisyaratkan rasa kesal dan menyesal. Tampak dari muka mereka suatu perasaan senang dapat bertemu. Ayahku juga terlihat menyesal. Aku masih belum tahu akan melanjutkan SMP ke mana. Tampak seorang lelaki yang berjalan menuju ibuku. dan lega. Rasa sakit itu kembali menyerang. Ibuku menyahut. Ibu? Ibu kan yang tampaknya benar-benar ingin aku tinggal dengan Ua. Orang tuaku mengatakan bahwa itu terserah kepadaku. Ketika itu namanya masih Ebtanas. Dia sering mengajak aku dan ibuku berjalan-jalan. Lelaki itu cukup baik kepadaku. Seorang anak berumur 11 tahun disuruh memilih jalan hidupnya sendiri. Itu yang aku rasakan untuk pertama kali ketika keluar dari kendaraan itu. Tampak ibuku menyesal. Kadang-kadang suka teringat wajah ayahku. Kepalaku mulai terasa pening dan pusing. Kenapa? Apakah aku merepotkan ibu? Apakah ibu tidak mau mengurusku? Apakah aku menjadi benalu dalam kehidupanmu? Rasa sakit itu semakin merajalela. Rasa sakit yang tidak tanggung-tanggung pada bagian perut dan payudara. Dan ibuku juga tampak gembira. * Aku sudah lebih dari dua tahun tinggal di rumah Ua.Kendaraan itu berhenti. Sudah berapa lama aku tinggal di kamar ini? * Wajah-wajah dari orang-orang yang kukenal. Udara yang panas dan gerah membuatku tidak betah. Mungkin aku kangen kepadanya tapi sepertinya tidak juga. Lelaki ini baik kepadaku. Para penumpang mulai keluar melalui pintu. kesal. Aku disuruh menetapkan keputusanku sendiri. lelaki yang bukan ayahku. Udara Jakarta yang panas dan gerah membuat keringatku semakin berceceran. Aku bingung. Oleh orang yang sama. Ibuku sedang menangis di antara orang-orang itu. Tamparan itu. Entah berapa lama aku tinggal di kamar itu. Apa yang telah dia lakukan dan apa yang telah dia jalani. Kenapa ibuku sampai lari dan kenapa ibuku ditemukan kembali. Entah sejak kapan aku jadi suka merasa gelisah dan depresi tanpa alasan yang jelas. Ini kehendakmu kan. Aku juga sebenarnya tidak terlalu antusias. Mereka berdua saling menghampiri. Apakah tetap di Jakarta atau kembali ke Bandung. Tidak seperti biasanya. Kepada orang yang sama. Mereka semua sedang mengelilingi ibuku. Lelaki itu memanggil nama ibuku. Lelaki itu. Cuaca panas yang gerah. Entah sejak kapan keringatku jadi bau. Ibu. Panas. Aku sering menemukan diriku di tempat yang asing dan baru. Aku menyadari bahwa aku sudah tidak tinggal di kamar itu lagi. di mana kau berada saat menstruasi pertamaku? * Seperti de ja vu. Termasuk ibu dan aku. Dia membelikanku boneka. Raut muka mereka tampak sayang. Hanya di tempat dan suasana yang berbeda. Mengapa aku sekarang tinggal di sini? Ayah sebetulnya tidak terlalu setuju aku tinggal dengan Ua di Jakarta. Ayah. Kalau tidak salah badanku menjadi merah karena gatal. Dia juga sering memberiku permen dan coklat. Mereka tampak sedang berbicara pada saat yang hampir bersamaan. Baru beberapa tahun kemudian aku akan tahu tentang arti dari semua ini. seorang wanita dan seorang lelaki yang mukanya mirip dengan ibu. dua orang yang dipanggil mama dan papa oleh ibuku. .

Sekarang sudah menikah lagi. Orang itu mengatakan bahwa itu semua demi kepentinganku. kesedihan. Aku membayangkannya dalam baju kebaya. Masa di mana emosi dan mental ditantang. Penolakanmu semakin memuaskanku. Atau lebih tepatnya seorang remaja liar. . Wanita itu baru resmi bercerai dengan ayahku dua minggu yang lalu. Mereka menengokkan kepala kepadaku. Aku melangkah masuk ke dalam rumah. Terdengar juga suara lelaki asing. * Sudah kesekian kali telepon berdering. Kepuasan itu semakin besar karena seseorang. Aku merasa hampa. Emosi macam apa yang kurasakan saat itu. Muka ibuku yang panik. Sembilan bulan. Nasihat-nasihat nenekku terdengar hampa. Setengah jam yang lalu ibuku menelepon. Sikap seolah-olah kau peduli semakin memuaskanku. Aku lempar vas itu ke lelaki bajingan di depanku. Ayahku ditenangkan oleh seorang tukang baso. Orang-orang melihat kejadian itu. Orang itu tidak datang. Setelah itu aku tidak bisa merasakan apa-apa. Aku akhirnya mengangkatnya juga. Mungkin memang masa putih-abu adalah masa pemberontakan. Aku tidak tahu harus berpihak ke mana. kenapa kau tega sekali kepada ibu? Ibu. Kepuasan. Muka ibuku yang tidak bisa aku definisikan. Aku kesal. Aku teringat pada ibuku. Kulihat dari jendela dua manusia sedang ngobrol dengan santai sambil sesekali bercanda.Dago. Apakah itu cukup? Apakah itu satu-satunya alasan? * Pernikahan yang sederhana dan simpel. Tepat mengenai kepalanya. Ibu. Beberapa jam yang lalu ibuku baru menikah. Orang itu mengatakan bahwa aku tidak akan bahagia. Tanpa pikir panjang aku ambil vas bunga di meja. apa yang telah kau lakukan hingga suamimu marah besar? Aku tidak tahu harus berpihak ke mana. atau kesenangan. Aku tidak tahu. Itu yang kurasakan. Aku membayangkan pernikahannya. Aku menyebutnya dengan berbagai macam nama. sedih. Pasti dia terlihat cantik sekali. Di tempat umum. Vas itu pecah berantakan. Aku tidak merasakan apa-apa. Aku tidak menaruh perhatian satu persen pun pada omongan wanita tua itu. Mungkin aku memang seorang wanita liar. Itu yang kuinginkan. Aku memang tidak mengundangnya. Entah apa yang kurasakan saat itu. * Sepasang sepatu yang asing tampak di depan pintu. Aku bentak-bentak dia. Ayahku menyeret ibuku keluar dari mobil seorang laki-laki teman kerjanya. Ayahku tampak menjelaskan permasalahannya. Aku hanya seorang anak ABG. Orang itu bersikeras bahwa aku tidak boleh menikahinya. Aku tidak membencimu tapi aku tidak bisa menemukan alasan untuk menyayangimu. Orang itu tidak suka dengan calon suamiku. Aku tahu alasan dia menelepon. dan malu. Aku membuatnya menangis. Aku sedang dalam masa pubertas. Aku melihatnya dari kaca mobil ayahku. kemarahan. Ayah. Tampaknya dia menjadi tidak sadarkan diri. Menyayangi seorang ibu seperti seharusnya seorang anak. Tubuhnya yang menghampiri lelaki itu. Terdengar suara ibuku dari dalam rumah. Suara nenekku terdengar tua di telingaku. bingung.

Aku tidak percaya kalau kau mengatakan itu. Rumah bekas jaman penjajahan Belanda yang tidak terawat. Mempunyai arti yang sama dengan kata karma tapi tetap saja aku tidak percaya dengan kata itu. Tepat delapan belas tahun yang lalu. Rumah itu adalah rumah yang paling strategis di dunia. Aku mengakuinya. Wanita tua itu tersenyum padaku. Sudah berapa lama aku tidak berjumpa dengan ibuku. Ternyata aku hanya memainkan diriku sendiri. Aku mendekatinya dan mencium tangannya. aku berdiri di depan pintu kayu besar rumah itu. Kukenang saat itu. Aku melihat foto pernikahanku. Pasar. dan bandar udara. Wanita itu memang benar. Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Like mother like daughter. Bagaimana menyebutnya? Karma? Aku tidak percaya dengan kata itu. Sudah delapan belas tahun. Tahun-tahun yang kulewati dalam kekangan komitmen palsu ini terasa hampa dan menyebalkan. Aku mempermainkan hidupku sendiri. * Cimindi. Aku hanya ingin merasa puas. Di tengah kebisingan dunia.Jangan sampai kamu merasakan apa yang kurasakan. Hatinya adalah aku. Seorang wanita tua membukanya. Aku menggosok debu pada foto pernikahanku. Aku hanya percaya bahwa segala sesuatu yang kita lakukan pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal. Buah hatiku adalah reinkarnasi diriku. stasiun kereta api. Ibuku mempunyai jalan hidupnya sendiri yang dia pilih dengan segala macam pertimbangan. sejak kapan aku harus mendengarkanmu?! * Hidup adalah alunan waktu yang tidak akan pernah kembali lagi. Karma. Pada akhirnya aku mengerti. Dari awal aku memang tahu kalau wanita itu benar. Aku tersenyum kembali padanya. Buah hati. Kulit tembok yang warna aslinya putih sudah mengelupas di mana-mana. Sudah berapa lama aku tidak mencium tangan itu. Tapi sesungguhnya tidak ada yang bisa kukenang. Siang hari. Aku tidak merasakan cinta seorang suami. Aku hanya ingin membalasnya. Ketika aku melihatnya aku melihat diriku sendiri. Setiap orang mempunyai jalan hidupnya masingmasing. Aku tidak berhak merasa marah atau tidak senang dengan pilihan hidupnya. Sudah berapa lama aku tidak membaui tangan itu. Aku mengetuk pintunya dan mengucapkan salam. Jasadnya adalah aku. Pada akhirnya aku dapat mengerti. jalan raya. Kata itu muncul kembali dalam benakku. Entah sudah berapa lama aku tidak menangis selama ini. Apa yang kurasakan? Aku tdak merasakan apa-apa. Sudah berapa lama aku tidak berbicara dengannya? Karma… . Ibu. Luar dan dalam. Aku hanya kecewa tapi sekarang aku dapat mengerti. Jangan sampai kamu melalui apa yang kulalui. Rumah itu terletak di tengah semuanya.

Seumur hidupku tak kurasakan airmata kesedihan. Membuatku semakin yakin bahwa sayang yang sebenarnya tak pernah ada di muka bumi ini. Tapi ia memukuliku sebagai ungkapan sayangnya. Tak pernah kurasakan hangatnya tetesan mengalir hangat merambati pipiku. Sungguh sayang yang menyakitkan. hawa salju. Apa demi adikadikku yang berjumlah lima orang? Atau untuk Ayah yang tak mampu bertanggung jawab. Sapaan itu adalah ajakan untukku. Tiap malam mengucur deras dari sudut mataku sebanyak botol Lau Lao yang kutengak. Belum lama kulitku terkena udara. “Chau sa bai dee bor? (Apa kabarmu baik saja)” Oley pengemudi tuk-tuk tertampan di sepanjang Vat Xieng Gneun. Tamu Asia tak menyenangkan. Bisa juga untuk menambah modal berjudi Paman. sengak bau alkohol.Ibu. atau memukul kakiku dengan tongkat. Menakutkan! Aku sering kecewa karena percaya pada kata itu. uangnya lebih banyak.” tolakku. Minuman keras itu menjaga tawa dan kegembiraanku setiap hari. Kalau airmata tawa aku punya berliter-liter. bagaimana ibu dulu menghadapiku? TAMAT Perempuan Tepi Mekong Oktober 7th. phii huk! ( Apa kabar sayang!)” Seorang Thailand menyapaku. Baru setengah jam aku berdiri di depan klub ini. Aku akan dilimpahinya dengan banyak kasih sayang. Bagian kota yang lain sudah sepi seperti pemakaman Prancis yang megah dengan nisan berpilar pualam. Tanpa dijelaskan dulu kenapa sayangnya diwujudkan dengan menampar pipiku. “Sabai dee. Aku bangun jam empat sore. Lagipula aku lebih senang melayani tamu bule atau negro. Kebebasan udara belum lama kuhirup penuh-penuh. Lalu dibawanya aku ke Vat Xieng Gneun. ‘Sayang’ memang benar-benar melimpah ruah di tempat ini walau hanya sebatas katakata. Semua itu membuatku harus berkorban demi kasih sayang kepada keluarga. Ayahku bilang. . Lau Lao selalu menguatkan hari-hariku di sudut kota Vientiane yang ramai ini. Sayang tak pernah ada bila tak ada uang. Santaisantai berdandan mematut-matut wajah di potongan cermin retak. Pamanku bilang. Karena aku sendiripun tak tahu dimana letak airmata kesedihanku. Paru-paruku rasanya belum setengah terisi. Huh! Sayang katamu? Sudah lama kata itu jadi hantu buatku. Satu-satunya bagian kota yang selau ramai dengan kehidupan malam. Cuh! Dia meludah di hadapanku. Murah meriah bertebaran di mana-mana. Keluasan langit malam ini baru saja kurasakan. ia adalah dewa penyelamatku. Tanktop dan rok mini tipisku serasa bagai gumpalan selimut bulu domba. “Bor! Bor! ( Tidak! Tidak!). Ayah marah karena tak tahu cara untuk menambah penghasilan. karena sebagai petani kecil penghasilannya juga kecil. Senyum segera lenyap dari wajah Thailand. Minuman alkohol kelas rakyat khas Laos itu menghangatkan tubuhku dari terpaan angin sungai Mekong. Ibuku bilang. yang selalu menegang bila melihat adik-adikku berebut makanan. Airmataku hilang tiap bulirannya melayang entah ke alam apa. Rewel dan banyak tuntutan. istilah sulit. Hingga tak kukenal lagi kesedihan. Seperti juga yang terjadi padamu Thailand! Sayangmu itu dalam semenit telah berubah jadi ludah yang jatuh ke tanah kotor. Ayah tak membelaku tapi membelaiku dengan sumpah serapah. Penyiar berwajah cantik itu berkali-kali bicara dengan bahasa tingkat tinggi. Atau demi apa aku tak paham. menanyakan kabarku hari ini. Sisi barat kota Vientiane. Dijualnya aku disana. masih malas untuk kembali ke ranjang. Paman hanya memanfaatkan kesempatan melihat kemiskinan. aku anak kesayangannya. Sambil sesekali melempar pandang ke televisi yang siarannya tak kumengerti. ia sayang aku. atau kehitam-hitaman tercemar eyes shadow? Airmata tawaku kehitam-hitaman. Mungkin hanya sekedar mengendorkan saraf Ibu. Sebuah jalan di tepian Mekong. Uh! hari masih terlalu pagi untuk masuk kamar lagi. Secepat kilat berubah jadi cibiran akibat penolakanku. bahasa orang terpelajar. Rokokku baru setengah kuhisap. Seperti apa warnanya? Berkilauankah bagai bulir permata menggelinding dari mata. tapi waktu Ibu menyiksaku dengan kasih sayangnya. Ibu memukul karena kehabisan pangan. Paman tak salah. Atau aku terlahir dengan hati batu. 2008 by radiani Ayolah! Coba kau cari di mana airmata kesedihanku tersimpan! Kau tak kan pernah menemukannya. Berakhir di ujung dagu.

Aku tak mau itu terjadi padaku. aku sadar akan perasaan yang sedang tumbuh di hatiku. Apalagi pernyataan cintanya. Perkawinan Jay dan Kova hanya berjalan tiga bulan. Oley melambaikan tangan dengan wajah sendu. aku jadi tak bisa menjajakan senyumku dengan baik. Senyum manis yang mengundang. Mereka membohongi semua orang dengan senyum dan kerling. derai sungai. berisik jengkerik yang memenuhi hari-hari. Andai aku tak terdampar di jalan kelam ini. akan kusambar tubuhmu. Dengan kesederhanaan. Tanganku bergetar tak sanggup menyangga beban yang tertulis di atasnya. Hanya ada kau dan aku. Senyum tak boleh lepas dari bibirku. Kata orang mata tak bisa bebohong. karena terlihat kaku. ketika hari teriris sepi di sudut tikungan jalan.“Dee Chai (Baik saja). Aku ini perempuan yang harus selalu tersenyum. Senyumku untuk setiap kata sayang yang terucap. koi hak choi ( Thuppy.” “La kon Oley! ( Sampai jumpa Oley). Seandainya aku elang. Kubawa ke sarangku di puncak tebing curam yang tak terjangkau mahluk apapun. Bukan karena aku tak suka tapi karena keberadaan Oley yang begitu dekat membuatku salah tingkah. Perasaan yang ditimbulkan tatapan mata Oley “Thuppy.” jawabku sambil mengalihkan pandang. Tatapan mata Oley selalu membuatku bergetar. Begitu dekat tapi tetap saja di seberang. Aku tak tahu Oley. Bisa cinta atau cemburu saja. seperti seorang super hero yang muncul dari langit dan membawaku terbang ke angkasa. Kami pasti bisa membentuk keluarga kecil yang tenang. Aku selalu tersenyum. selamat tiggal Thuppy. Kurasa itu perlu dibuktikan lebuh dulu. Hanya tipis terbatasi Mekong. Pelanggan akan memberi uang lebih. Aku tak mau kehilangan senyumku hanya karena cinta Oley. Betapa aku ingin juga meikmati senyummu seperti banyak laki-laki lain. Ketika sedang duduk menunggu pelanggan. Sendok bisa digunakan tanpa garpu begitu pula sebaliknya. Dan Oley masih menggarap ladang orang tuanya di Luang Prabang. Bibir ini sekarang sudah jadi mesin senyum saja. atau tidak keduanya sekaligus. Aku harus selalu tersenyum karena senyum adalah bagian dari pekerjaanku. Tapi aku terlalu mencintaimu. Aku tak bisa menyikapimu seperti semua laki-laki itu. atau senyum puas sesaat sesudah melayani. Oley sampai hari ini aku hanya mendengarnya terucap dari mulutmu saja. Tapi tetap saja bisa digunakan walau pasangannya tak ada. Entah dengan cara apa. Tapi tak sedikit pun aku memberinya kesempatan untuk berkata lebih dari itu. Perkawinan seorang pelacur dan penjaja mariyuana tak akan berjalan lancar. senyum nakal dengan sedikit godaan. Bukankah seharusnya ia cemburu? Bila ia memang punya cinta untukku. Maafkan aku Thuppy. Hatiku mengeligis pedih. atau bath. Kata cinta itu telah begitu banyak meluncur dari mulut Oley. Hanya desah sawah. tak lengkap bila salah satu tak ada. Cinta dan cemburu seperti sendok garpu. “Jadi seperti apa cintamu itu? serasa apa sayangmu itu? Oh. Tapi aku dan kau seperti Laos dan Thailand. Tak kuberikan sedikitpun kesempatan pada diriku untuk mendengar lebih dari itu. Senyum model apapun itu.” Aku mengusirnya. Uh! Kenapa tak kau tonjok saja negro mata keranjang ini! Bawa aku lari dengan tuk-tukmu. aku cinta padamu). Senyumku yang palsu untuk setiap kata sayang yag juga palsu itu. Kami pasti sudah beranak dua tahun ini. Seandainya aku bukan pelacur dan Oley bukan penjaja mariyuana yang berkedok supir tuk-tuk. dolar. . aku menemukannya terselip di bawah pintu. Mata uang negeri manapun. Pada kenyataanya aku terlalu pengecut. Senyumku untuk setiap lembaran kip. Dan yang tiga bulan itu merenggut semua senyum Kova. Sekarang tanpa mariyuana Kova teronggok lemas tak berdaya. Bisa-bisa senyumku tak laku malam ini. Sambil menyandarkan kepala pada bahu seorang negro kupandang wajahnya yang tampak pasrah. Karena tanpa senyum aku tak bisa menyambung hidupku. Tapi mataku bekerja sama dengan bibirku adalah pembohong yang ulung. setiap aku digandeng lelaki untuk diajak kencan. Malam ini pun dia hanya memandang saja ketika aku sengaja lewat di depan tuk-tuknya mangkal. Kompak dengan mataku. Tanpa kemeriahan yang memabukkan seperti di jalan ini. Tatapan mata Oley sering membuatku beku. Saat menatap Oley yang termangu di belakang kemudi tuktuk terbungkus asap rokok. bila aku lebih banyak memberinya senyuman. Membohongi hatiku yang selalu merasa muram. hatiku kaku-kaku tak bisa bergerak bila Oley berkata begitu. Senyumku adalah hidupku.” Selembar kertas terjatuh dari tanganku. Aku tak tahan melihat senyuman di bibirmu Thuppy. ketika telentang di hadapan lelaki hidung belang.

Sekilas dapat kulihat setitik keringat meluncur di dahinya yang putih mulus. Sedari tadi dia tidak tenang. sehingga si pantat bisa berbentuk sedemikian rupa. Digeser-gesernya duduknya. ada rasa panas yang keluar dari dada. Dagunya mendongak setiap kali mata kami bersitatap. Paparan yang terlalu panjang dan terlalu lebar. Senyumku menghambatnya.Oley Membaca surat Oley. Matanya berkeliling mencari-cari tempat duduk yang kosong. Merambat ke atas ke arah kepala. Kalau tidak menunduk berlagak mencari-cari sesuatu dari dalam tas kulit merk luar negerinya. dia sangat gelisah. Dasar angkuh! . Kenapa tidak langsung ke menu utama saja. **** Tinggal kami bertiga di ruang kelas ini. Bahkan ketika kulihat mayat Oley terapung-apung di Mekong. pandangan berkeliling atau menunduk berlagak mencari-cari sesuatu dalam tas. Aku tetap tersenyum. tapi berusaha tetap terlihat elegan. Sebentar kemudian diturunkannya. Sekedar untuk menyembunyikan seringai yang terlanjur muncul di ujung bibirku. Tapi terhenti sampai di leher saja. pengambilan rapor. Hanya kursi di barisan depan yang masih tersisa. Seperti ada bara di bawah pantatnya yang menggunung itu. Sementara itu kepalanya terus berkeliling. Aku ini perempuan yang selalu terseyum. Kadang ke kanan. pantat itu bukan hanya didapatnya melulu melalui latihan-latihan di fitness center itu. Tak mungkin ditemukan. Dia membalasku dengan anggukan dan senyuman teramat tipis sembari dengan angkuh mengangkat dagunya. Memang sering kali kulihat mobilnya terparkir di depan fitness center di samping sekolah. Pantat yang terlalu kencang untuk perempuan yang sudah tiga kali melahirkan. Tapi aku curiga. kadang ke kiri. Sangat jelas. ke belakang. Akibatnya leherku terasa tercekik. Kini benar-benar kunampakkan seringaianku. dia pun mengambil tempat duduk di kursi pojok barisan depan. Ganti kaki kirinya yang disilangkan ke kaki kanannya. ke depan. Aku yang sedang melayani Bu Mira. Aku terpaksa mengangguk (sok) ramah padanya ketika tatapan kami bertemu. Begitu seterusnya. Perilaku gelisahnya sama persis dengan sewaktu dia ada di aula tadi: pantat digeser-geserkannya. Beban ribuan ton rupanya menimpa dadanya yang penuh (terlalu penuh juga untuk ukuran perempuan yang sudah tiga kali melahirkan?). Apapun yang terjadi aku selalu tersenyum. Dari tempatku duduk sebagai notulen. Sesekali dihelanya nafasnya. 2008 by birulangit Diam-diam aku memerhatikannya sedari tadi. Sesaat dia berhenti di ambang aula. Dengan enggan. Jauh dari orang tua murid yang lain. Sebentar kaki kanannya disilangkan ke kaki kirinya. Maklum harga seperangkat make up yang dikenakannya setara dengan sebulan gajiku sebagai guru di sini. Kini kedua kaki langsingnya sedang mengetuk-ngetuk lantai tanpa irama. Sesaat kemudian aku berpaling. Aku sempat khawatir kalaukalau celananya yang berbahan halus dan mahal itu akan sobek karena bergesekan dengan kursi yang didudukinya. Bahkan orang bodoh pun tahu. Seakan dia ingin memastikan kalau jarum jam dinding itu sudah berputar sebagaimana seharusnya. Padahal sudah ada jam tergantung di dinding aula. gerak-geriknya terbaca jelas. Bolak-balik diangkatnya tangannya untuk menengok jam berlapis emas putih di pergelangan tangannya itu. Rapor November 11th. Cobalah kau cari dimana airmata kesedihanku tersimpan. Dia baru tiba saat pembawa acara baru saja selesai membacakan agenda pertemuan hari ini. Rambut panjangnya yang tergerai berayun-ayun mengikuti langkahnya yang tergesa. dan dia yang duduk dengan gelisah di deretan kursi tunggu yang kosong. Karena sekarang aku yakin aku tak memilikinya. Aku sudah tak sabar. Tentu saja keringat itu tak akan melunturkan riasannya. tanpa usaha untuk menutupinya lagi. kaki ditopangkan bergantian kalau tidak diketuk-ketukan di lantai. Entah apa yang sudah dijejalkannya di dalam sana. Membosankan. maupun jam tangan yang berkali-kali ditengoknya. Hendak menuju mata. Untung saja bunyi ketukan sandalnya tertelan gemuruh suara orang-orang berbisik di aula ini. kembali berlagak serius mendengarkan paparan kepala sekolah mengenai pencapaian-pencapaian sekolah kami di tahun ajaran ini.

pembicaraan bisa melebar sampai ke manamana. Nilai-nilainya selalu di bawah teman-temannya. Senyum bernada segan. Pembalasan dendamku untuk perempuan berpantat terlalu kencang dan berdada terlalu penuh yang angkuh ini. Kalau sebenarnya dia tidak bisa macam-macam denganku. Gangguan konsentrasinya membuatnya sulit mengikuti pelajaran. anaknya memang nomor absen terakhir. Bu. Bu. para orang tua dipersilakan masuk ke ruang kelas anak mereka masing-masing untuk menerima pembagian rapor. anaknya. Hal yang tidak perlu kulakukan sebenarnya. Bu!” Kataku sambil menjabat tangannya yang dingin. duduk di hadapanku. Bu. guru pilih kasih. Perkembangan setiap anak didik sudah tercantum dalam rapor khusus kami yang berupa laporan narasi deskriptif. Selain bingkisanbingkisan itu ada beberapa amplop di dalam laci mejaku. Setelah pertemuan di aula selesai. Sebenarnya kesempatan ini sudah kutunggu-tunggu. dan lain-lain. Biar saja. Bu Mira bercerita kalau Rachel baru saja menjadi juara satu lomba wajah fotogenik.Aku tahu dia sedang memakiku habis-habisan dalam hatinya. Dan kira-kira sejak dua jam yang lalu dia sudah duduk di sini menunggu giliran kupanggil menghadapku untuk mendapatkan rapor anaknya. “Terima kasih. laporan perkembangan. “Ibu ini bisa aja!” Bu Mira tertawa panjang. Gombal sekali memang. Untuk penilaian-penilaiannya padaku: guru konvensional. memang kusengaja. Rachel. agaknya dia juga mulai sadar kalau kelakuannya padaku selama ini bisa saja membuatku mengurangi nilai-nilai anaknya. silakan duduk!” Tanpa sepatah kata dia hanya tersenyum tipis. Dalam hatiku tertawa. Belum lagi jika kebetulan sang orang tua murid memang suka ngobrol. Muka putihnya bersemu merah. tapi yang seperti ini orang tua murid suka. Bu. dan beberapa lembar pengumuman yang akan kuberikan kepadanya. Bu!” “Ah. Dimasukkannya rapor. Ardian. saya permisi!” Bu Mira beranjak keluar ruang kelas. . “Aduh. “Selamat pagi. Aku berlagak sibuk menyiapkan rapor. sudah membimbing Rachel. sudah banyak merepotkan!” “Tidak apa-apa. Di sinilah ajang pembuktianku bahwa aku bukan orang sembarangan. Bukan senyum sinis seperti yang beberapa kali dilemparkannya padaku. “Rachel sendiri yang memilih. karena dia mewarisi kecantikan ibunya. Tidak hanya itu. kutukku. Tangan yang pernah melemparkan kertas ulangan anaknya ke mukaku. Salam buat Rachel!” Kutumpukkan bingkisan dari Bu Mira di atas bingkisan-bingkisan orang tua murid sebelumnya. Tanganku menjadi ikut basah oleh keringat di telapak tangannya. Hatiku bertanya-tanya. malah merepotkan!” kataku berbasa-basi. Maaf. Jadi bukan salahku jika sampai saat ini dia belum juga kupanggil. Dari lima belas muridku. apa gerangan yang dibawa oleh perempuan yang kini sedang melangkah menghampiriku ini. saat dia mencercaku. Hanya saja. sembari berkata kalau percuma saja bayar mahal-mahal kalau lagi-lagi dapat nilai lima puluh. Semoga suka!” Tangannya mengangsurkan sebuah kotak kecil yang terbungkus kertas kado bergambar kartun Naruto. Kutumpukkan berkas-berkas yang akan kuberikan padanya di sudut meja. Setelah parcel segede gunungnya yang kukembalikan seminggu yang lalu! Hari gini menyogok guru agar mau mengatrol nilai! Rupanya dia sudah merasa rapor anaknya bakalan jelek. “Mari. Seperti aku ini hantu baginya. Bahwa aku punya kekuasaan. anak Bu Mira. Aku bilang pantas saja. Sedangkan sudut mataku mencuri-curi pandang wajah cemasnya. “Mari Bu. dan beberapa lembar pengumuman ke dalam tas. Seperti yang sedang kulakukan dengan Bu Mira ini. Mati kau. Sebagian masa depan anaknya aku yang menentukan. laporan perkembangan. aku memang sengaja berlama-lama berbincang dengan setiap orang tua murid. “terima kasih banyak lho. Wajahnya yang pucat. guru yang kurang perhatian. memang berkebutuhan khusus. Kujelaskan sampai sedetail-detailnya perkembangan anak mereka selama satu tahun ajaran ini. sudah menjadi tugas saya!” Jawaban ini sudah secara mekanis keluar dari mulutku setiap semesternya. lalu dikeluarkannya sebuah bungkusan dari dalam tasnya. biasa aja! Terima kasih banyak Bu. Aku baru sampai nomor absent empat belas.

Sebagian sudah sampai di pipinya.” Dia melongo. “Ja … jadi … bagaimana. Dia tidak tahu di mana dia akan menaruh mukanya jika anaknya lagi-lagi tidak naik kelas. sungguh nikmat! “Seperti yang Ibu ketahui sebelumnya. Bu? Benar-benar tidak bisa ditolong?” Kalau teringat bagaimana dia mengangkat dagunya. karena kita pakai kurikulum nasional. IPA. Senyumku semakin lebar. IPS. Mungkin Ibu juga sudah tahu. Bu. Saya tidak tahu ada peraturan seperti itu di sini. Seperti ketika dia memohonku untuk melupakan apa yang pernah dilakukannya padaku. Jadi ada lima mata pelajaran yang ada di bawah KKM ….” Dia menelan ludah sebentar. nilai Ardi kurang memuaskan. Bu. dan SBK …. Wajahnya seperti orang yang sudah mati saja. “Ibu. Ke mana gerangan dongakan dagunya yang angkuh itu? Ho ho.“Pagi …. saya sudah berusaha sebaik mungkin membimbing Ardi …. bagaimana Ardian. Aku tersenyum. Dari segi metode maupun substansi pembelajarannya. IPS. Seperti tidak ada lagi darah yang mengalir di pembuluh darahnya. Biar kunikmati dulu penderitaannya ini. Semoga Ibu maklum. Kuhadapkan ke arahnya. “Lima mata pelajaran. Layaknya pengemis yang sudah tiga hari tidak makan memohon sedekah saja. Bu Lily?” Wajahnya terlihat sangat memelas.” . pagi Bu. Nikmat. Bahasa Indonesia. Lagi-lagi dalam hatiku tertawa. dan SBK …. Seperti yang Ibu lihat di sini. Kubuka halaman sebelumnya. dilarang menerima gratifikasi. ekspresinya kali ini tampak begitu menggelikan.” Tangannya sampai gemetar menerima buku rapor ini. Sejak kepindahan Ardi awal semester dua ini. Bu. betapa aku rindu! Kuambil tumpukan berkas di sudut meja. IPS. siang ini aku merasa menjadi Tuhan. rata-rata nilai rapor siswa semester satu dan dua tidak boleh lebih dari. Bahagianya. Bukannya apa-apa. Matanya berkaca-kaca.” jawabnya tanpa bisa mengatasi kegugupannya. “Lima. “Mohon maaf. Aih. Macam pejabat saja. ya?” Suaranya tersendat di kerongkongan. “Semester satu juga ada lima mata pelajaran yang di bawah KKM. Lebar. “Tidak apa-apa. Saya tidak berani melanggarnya. Setengah mati aku berusaha menyembunyikan tawaku. Kini tidak kututup-tutupi. hanya untuk menanyakan keberadaan pensil atau penghapus anaknya yang hilang. Matematika. Matematika. Ataupun ketika seminggu yang lalu dia memohonku “kebijaksanaanku” untuk menaikkan anaknya. PKn. Sebagai syarat kenaikan kelas.” Kutunjuk dengan jariku. Bahasa Indonesia. Butir-butir keringat meluncur di dahinya. “empat mata pelajaran yang di bawah KKM…” Akhir kalimatku kembali menggantung. Matematika. Berbeda dari sekolah Ardi sebelumnya. sekolah kita memang berbeda dengan sekolah yang lain.” Padahal mana ada sekolah mengatur perihal itu. “Ja … jadi … Bu?” Kini aku ingin tertawa. “O ya. Sengaja tidak segera kuserahkan kepadanya. Mohon maaf sebelumnya. Tapi aku tidak juga jatuh iba. tak menyangka. tanpa ucapan selamat malam. Ada kemungkinan dia sudah akan pingsan dulu sebelum aku menyelesaikan penjelasanku ini. Saya hanya bermaksud mengucapkan terima kasih saja. Mengiba-iba meminta maaf. tapi setelah dirata-rata. Bu. “Masih naik. Bibirnya gemetar. Bu …. IPA. Kemarin terpaksa saya mengembalikan bingkisan Ibu. dan SBK ada di bawah KKM. Semata-mata karena dia takut sakit hatiku akan mempengaruhi nilai rapor anaknya. aih. “Agama. Bu. “Tidak naik. “O ya. Walau mepet …. ternyata hanya empat mata pelajaran saja yang di bawah KKM. Peraturan sekolah melarang guru menerima bingkisan dari orang tua murid sebelum rapor dibagikan. Berkas-berkasnya masih kutahan. Manusia di hadapanku ini semakin terlihat mengenaskan. Seperti habis kecopetan uang semilyar! Dia membolak-balik halaman rapor anaknya. Bu. Bu? Bisa tidak naik ke kelas tiga?” Pertanyaannya lebih terdengar sebagai ratapan. “Semester ini Bu. Tapi tetap saja kita mengacu pada peraturan dinas pendidikan.” Matanya nanar menatap angka-angka itu.” Sengaja aku berhenti untuk memandang wajahnya. Di sekolah Ardian yang dulu diperbolehkan.” Kalimatku menggantung. rapor semester satu.” sengaja kuberi penekanan. Saya yang minta maaf. Kubuka rapor Ardi. IPA. Bu. Bahasa Indonesia. Bu. Berkas-berkasnya masih di tanganku. Teringat aku bagaimana dia meneleponku malam-malam.

Menara besar dari dua kayu ulin yang disambung berukir ular gato menelan matahari. “Hidup Se Moljo Banahung! Hidup Se Moljo Banahung!” 1320 macam suara memekik satu kalimat yang sama. 1320 warga suku berkumpul di sini. kulit coklat mengkilat memakai jubah kulit kijang. Tongkat kayu setiginya dihentaknya beberapa kali ke lantai mimbar. Penuh dengan ukiran ular Gato yang meliukliuk. bahwa pendirinya adalah lelaki darah murni yang akan meletakkan suku Mota Pedalaman. Tenang sekali. The Tower of Ka Borak Desember 26th. “Wahai orang Mota.Seketika wajahnya menjadi bercahaya. Berbinar-binar. Sisiknya besar-besar bertumpuk. 1320 manusia itu. Seorang lelaki tinggi besar. Kita adalah penguasa Tanah Mota!” pekik semangat Se Moljo Banahung menggema-gema dalam tempurung kepala tiap orang yang hadir di situ. Dendamku sudah terbalaskan. benar! Tepat sekali! Inilah menara Ka Borak. tinggi. Semua mata terpacak pada sosok menggetarkan yang tegak menjulang di ujung timur lapangan. Matahari baru mengintip dari celah bukit. Sudahlah. Dunia akan memakluminya. Dialah Se Moljo Banahung. simbol keagungan suku Mota. menelan matahari. Kalian ditakdirkan menjadi pasukan pemersatu suku-suku Mota yang terpencar. 1320 jenis kepalan tangan mengacung ke angkasa. ketua suku kami. Itu saja cukup. karena aku punya harga diri. Seketika tanah lapang itu jatuh sepi. di depan kalian telah tegak bukti yang dikabarkan dalam Ketab Se Lambok. “Syukurlah!” Dia mendekap rapor anaknya dalam dadanya yang terlalu penuh itu. serentak pekik gegap gempita membahana dari mereka itu. Suaranya yang parau hilang tenggelam dalam kegaduhan massa. Dentamnya menggema mengatasi kegaduhan orang-orang. Menara itu. menara Ka Borak. Aku pun pantas membencinya. Aku menjadi orang asing. aku paham makna dari kata-kata bijak ini. Semua mata tertuju pada lelaki di atas mimbar itu. Aku sudah sangat puas melihat perempuan berpantat dan berdada terlalu bulat yang angkuh itu hampir mati ketakutan. Tidak akan ada seorang pun yang bertanya mengapa anak itu tinggal kelas. Kicau burung di pohon riuh menanti. bukti penguasa Tanah Mota yang dinanti!” Seorang sepuh di antara kerumunan bersuara. naik ke mimbar. menara Ka Borak. seperti seribu kunang-kunang beterbangan mengitarinya. Sedangkan monster-monster laut dan serigala separuh gurita mengintai-ngintai hendak menerkam saat aku lengah. ‫פּ‬ Ratusan orang berkumpul di tanah lapang. dan anggun. Bahwa yang membangunnya adalah lelaki yang dijanjikan akan datang dan membawa keagungan. Sinarnya hangat sedikit. “Syukurlah!” Aku manusia biasa. melata dan melingkar. suku Mota Pedalaman. Kelengangan yang mistis menyelisik di tiap-tiap tubuh. berbicara pada orang-orang tapi suaraku hanya memantul kembali dan hilang. Bukti kekuasaan atas Tanah Mota. menggumpal ke dalam satu . Berdiri dengan keyakinan dan pemikiran yang tidak sejalan bukan hanya dengan orang-orang kebanyakan. tak ada suara manusia terdengar. “Syukurlah!” Dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Walaupun hal itu sebenarnya sangat mudah bagiku. persaksikanlah. aku menyimpan dendam. Hitam berkilau karena embun yang berkelip dilanun semburat matahari melamur seluruh tubuhnya. menara Ka Borak yang kita dirikan ini menjadi saksi atas kejayaan yang dijanjikan itu. dan suku Mota Tanah Batu berada di bawah tongkat kekuasaannya. dibangun sebuah mimbar besar. seperti ada suatu komando bawah sadar yang amat kuat mengendalikan mereka semua. melintasi terumbu karang berbisa yang meracuni tiap helaan nafas yang makin tinggal sisa. Tidak mungkin aku mengubah angka-angka itu. “Ini seperti dalam mimpi para peramal. 2008 by catur amrullah Aku seperti seorang terusir yang menyusuri dasar lautan seorang diri. Di depan menara. dan. Tapi aku juga masih punya nurani. tapi bahkan bertentangan dengan Se Moljo Banahung. Wahai orang Mota Pedalaman. Dan mulai detik itu. Semua itu. kepala suku kami. menyaksikan menara Ka Borak yang selama sembilan bulan ini dengan susah mereka buat-dirikan. pemimpin spiritual sekaligus penentu jalan hidup kami. Kalianlah penggenggam masa depan itu. ‘sendirian dalam keramaian adalah ancaman. Menara yang membuktikan bahwa pendirinya adalah penguasa sejati atas Tanah Mota.’ Aku sendirian. suku Mota Pesisir. kalian adalah darah murni suku Mota. detak jantung seseorang seakan tertangkap telinga orang di sebelahnya. Aku tercekam oleh pikiranku sendiri. 1320 macam semangat melebur menjadi satu ambisi kolektif.

seperti yang dijanjikan dalam Ketab Se Lambok. dan darah…. Kumandang semangat 546 warga suku Mota Pedalaman menggentarkan nyali tiap penghuni hutan. jalan setapak itu menurun. Di bawah tebing itu. menyelisik antara debur ombak di bongkahan batu. Berjalab lurus menyeberang lembah. terus menurun. sekeras menara Ka Borak dari kayu bullin yang tegak di depan mereka. Di sekeliling kami. Menjadi saksi dari tiap perahu nelayan yang karam diamuk lanun ditelan topan. warna biru terhampar di bawah cakrawala. menjadi candi dari tiap perpindahan generasi manusia yang hidup si situ. luas membentang.” Suara lantang Se Moljo Banahung tenggelam dalam gemuruh suara warga sukunya. Tangan-tangan terkepal diangkat tinggi-tinggi ke angkasa. Dalam gemuruh euphoria kekuasaan dan kemenangan yang menari-nari di pelupuk mata.. terjadi di situ. tanpa kenal lelah bekerja dari pagi hingga sore. Suku Mota Pedalaman telah berhasil menegakkan menara Ka Borak. Kaki tebing itu menceruk jauh kedalam. Ujung bajumu akan berkibar-kibar semarak dibuatnya. menara Ka Borak. Tiga puluh orang bergelantungan di dinding tebing batu cadas dengan tubuh terikat tali dari atas. Sedikit demi sedikit memahat tebing batu cadas. kepala suku Mota Pesisir. hampir setahun penuh. Rumah-rumah dari jalinan batang bambu berderet rapi. Di ujung barat lapangan. Menyiratkan tekad dan ambisi yang membuncah. dan ribuan lagi lainnya. mengabarkan bahwa pemimpin tunggal telah tiba. dan sebuah palu. Burung-burung beterbangan ketakutan. kita juga akan menundukkan suku-suku lain di sekitaran Tanah Mota. Batu-batu yang menjadi rumah bagi tiram. Aku tak bisa bersuara. luas membentang. atau mungkin yang ‘kan paling diagungkan oleh mereka. seakan tak bertepi.. semakin terkucil aku dalam sudut takut dan khawatir yang kian runcing. Di barisan belakang. bahwa mereka kini harus tunduk patuh di bawah tongkat kekuasaan suku Mota Pedalaman. takkan bisa dicegah. hutan rimbun mengitari dengan amat rapatnya. Dengan ini. ‘hidup Se Moljo Banahung!’ Nyaring mendebarkan jantung. “Sedangkan siapapun itu yang menolak dan menentang kekuasaan kita yang agung ini. kita akan mengirim utusan pada suku Mota Pesisir dan Tanah Batu. tak bisa ditawartawar. sembilan hari lalu. Ular gato menelan matahari. jangkang. suku Mota Pedalaman telah-dengan sepihak-menetapkan ketunggalan kekuasaannya atas dua suku Mota lainnya. Angin berembus kencang di sini. 500 pahat telah rusak dan remuk. aus karena gesekan gelombang selama masa berjuta tahun. menghadang dentaman gelombang dan badai yang menyerbu dari tengah laut sana. Sebelum hari itu. simbol atas kedatangan sang pemimpin yang dinanti. kerang. takkan terbendung oleh apapun.tekad yang amat keras. Tebing cadas yang telah tegak sedari jutaan tahun lalu. Di sebelah tenggara. akan menundukkan matahari!” Pekik gelora semangat perebutan kekuasaan berkobar menggelegak. menghampar pantai berbatu dan berpasir hitam seperti lumpur. di belakang jajaran rumah panggung. sebagaimana tercantum dalam Ketab Se Lambok. Masing-masing menggenggam sebuah pahat besi terkuat yang ada. Bukan hanya itu. suku Mota Pedalaman. terlentang jalan setapak yang panjang berkelok menyusur di antara pohon-pohon besar berusia ratusan tahun. aku tergetar menyaksikan semua prosesi ini. berhamburan kacau balau dari dahan tempatnya bertengger. Menara Ka Borak telah membius meraka. Mengema menggetarkan tanah dan batang pohonan. mengukir suatu rupa yang luar biasa. mengabarkan pada semua bahwa kekuatan dan penguasa baru telah datang. . terus ke barat. Sejarah yang mungkin tak termaafkan. Kera berlompatan dari cabang ke cabang. para pemahat terbaik suku Mota Pesisir. bukannya ikut larut dalam badai semangat yang dahsyat. Di depanmu. Nun di hujung barat sana. maka tiada lain pilihan. Kesepuluh orang itu. Symbol kejayaan dan kekuasaan. tebing batu cadas memagar. “Mereka takkan berhenti. pekik lantang Se Moljo Banahung merengkah: “Mulai besok. Di ujungnya. sebuah menara berukirkan ular gato menelan matahari yang menjadi bukti bahwa pendirinya adalah suku yang berhak memerintah dua suku Mota lainnya. menghampar padang rumput amat luas terbentang. kitab spiritual suku Mota. batas bentangan laut lepas. membawa kita pada sebuah lereng yang landai. Merentang sepanjang bibir pantai. tapi terjebak di suatu sudut yang penuh dengan ketakutan dan kekhawatiran. tidak akan mendiamkannya begitu saja. Harimau dan serigala bersijingkat kabur ke pelosok-pelosok hutan. Mereka. atas instruksi Se Moljo Mapadong. kita. akan tercecer di tiap jengkal Tanah Mota!” ‫פּ‬ Semakin membuncah semangat di sekelilingku. berputar-putar mengelilingi punggung gunung. mengukir suatu simbol paling sakral yang tercantum dalam Ketab Se Lambok. Aku berkeringat dingin. Tahukah kalian jawaban bagi pembangkang? Yaitu…. denting suara pahat besi menghantam batu cadas memecah ketenangan pantai. akan sampailah ke pantai dengan hamparan pasir putihnya. Dan kita. 467 palu pun patah. hijau bergelombang oleh rumputan yang digoyang angin.

kekuatan kita terkhabar kesetiap penjuru Tanah Mota. menara Ka Borak. meliuk-liuk. Semuanya takzim. menjadikannya ancaman bagi yang lain. maka siapa lagi yang lebih kuat dari kita?” Suara menggelegarnya bependar-pendar memantul terbentur hamparan tebing cadas. Melonjak-lonjak kegirangan. hanya desah nafas berat yang makin mengerikan dia jawabkan. Menyembunyikan dalam malam. Larut dalam keterpesonaan. ramalan Ketab Se Lambok telah kita wujudkan. mengukirnya. menggiring potongn-potongan awan ke batas cakrawala. Di depan mereka. angin. disusun setingngi 22 depa. kepiting. ini salah! Lakukanlah sesuatu!” Lelaki tua di sebelahku itu hanya diam. Dari tadi dia hanya menunduk. Semua nafas tertahan-tahan. Beban berat yang hampir dua tahun ini dia tanggungkan sampai sudah pada titik kulminasinya. tak bisa ditawar lagi!” Suaraku lirih bersama hembus perih. Seekor ular gato raksasa melata dengan ganas. 124 kubus batu.” Se Moljo Mapadong berorasi di hadapan mereka. Berteriak-teriak kalap. “Mota Pedalaman telah membangun menara Ka Borak. menelan matahari. kerang. melesat jauh ke tengah samudera membentuk gelombang-gelombang ambisi. Dua tahun dia berusaha menjelaskan bahwa pendirian menara Ka Borak hanya akan mengundang kehancuran Tanah Mota. tak ada sisa lagi yang belum kita datangi. Paman. di atas sebuah batu karang hitam persegi sebesar kerbau. engkau tahu bahwa itu adalah awal dari kebinasaan kita. menyusunnya. dan. Mota Pesisir rampung mengukir Ka Borak di dinding tebing batu cadas. hitam gelap penuh misteri. “Bagaimana dengan Mota Tanah Batu? Bukankah Ka Borak telah mereka dirikan jauh hari sebelum kita dan sebelum Mota Pesisir. Semua yang di situ berseru serempak: “Tidak ada! Suku Mota Pesisir terkuat! Se Moljo Mapadong terkuat!” Gemuruh ini hampir-hampir membenamkan pantai berbatu itu. menara Ka Borak diam membeku. Angin yang berputar-putar menerbangkan daunan gugur juga helai rambutku. Di depannya. pada tebing cadas. tak kukira engkau akan sebenar ini.Sembilan hari yang lalu. gelap yang senantiasa datang pada tiap penghujung senja. kemenangan dan kemulyaan telah masuk pintu-pintu rumah kita!!!” “Hidup Se Moljo Mapadong! Hidup Se Moljo Mapadong! Hidup…” “…dan kita akan taklukkan seluruh Tanah Mota! Semua akan kita kuasai! Semua akan tunduk! Akan kita miliki! Semua…” ‫פּ‬ Sorak sorai 1543 orang Mota Pesisir terbang membubung ke angkasa. “Ya. panjang. Orang-orang terbius oleh semacam zat adiktif kekuasaan yang mengerikan. tiada kukira Paman!…” . “…Menara Kaborak telah kita buat. Mereka menatap takzim tebing cadas yang kini tak lagi polos. 1543 orang. gelap yang menekan dan mnyelubung. terlempar jauh-jauh ke tengah samudera tak bertepi. semenjak lima belas bulan lalu mereka telah menggergaji bukit batu putih. Ular gato yang besar. burung hantu menangis sendu. Mereka membuat kubus-kubus batu raksasa. Di kejauhan. Samudera di belakang punggung orang-orang itu seakan membeku disihir aura magis menara luar biasa itu. meliuk-liuk tak terbendung.” Paman bertanya. menempatkan aku sendiri termangu di bawah pohon randu di belakang rumah. Dibawa angin ke buritan tiap perahu yang tengah berlayar. mulutnya menganga lebar. Dan sekarang. dan sembilan hari yang lalu. menatap bulan sabit seperti anak kecil lagi sakit. Menara Ka Borak paman. tiada kukira engkau akan sebenar ini Paman. pun manusia. masing-masing suku Mota punya Ka Borak!” Tak ada jawaban. keras menghantam tebing cadas dan berulang-ulang menggema. liar. kekuasaan dan kekuatan yang dijanjikan telah datang ke suku kita. “…lima lautan telah kita jelajah. gelombang. batu. dipatuk burung dibawa kepulau-pulau di seberang sana. “Ini salah! Tidak boleh begini kita berada Paman. “Ah. Ah. tak kuiura Paman. “Badai dan topan samudera tak kuasa membunuh kita! Gelombang dan pasang kita taklukkan! Di setiap pantai ada jejak kaki kita. ketika Mota Tanah Batu mulai menggergaji batu pertama menara Ka Borak. Pundaknya makin jatuh. Lima belas bulan lalu. keduanya mengklaim sebagai sang Pemimpin yang dinanti. menatap-sepertinya-jemari kakinya yang tersembunyi dalam pekatnya malam tengah hutan. semua orang suku Mota Pesisir berkumpul di depan tebing batu cadas itu. berukir ular gato yang tengah menelan matahari. kepalanya tunduk seakan bertengger di atasnya hantu keputusasaan. dan jelas sekali ada selendang gelisah yang melingkari suara beratnya itu. Aku tak berkedip.

menara Ka Borak. Dan kenyataanya kini.” Paman kembali diam. Masing-masing suku Mota ingin menjadi penguasa tunggal Tanah Mota. sari patu jubok itu menampakkan dirinya dalam wujud yang paling menakutkan. tiap-tiap suku Mota memiliki menara Ka Borak. jika berani menentang. Dan. dia juga adalah sari pati jubok. Tentu dia menghawatirkan aku dengan amat sangat. kau tak bisa berhenti. tanpa ada yang menyadarinya sebelumnya. awalnya orang-orang Mota tinggal di Tanah Batu. Anehnya. tak sanggup meneruskan ketakutanku. Sampai baru kemudian. Masing-masing mereka berjanji akan terus menjaga persaudaraan. dia akan menuntut yang sebesar batang pohon. juga orang-orang fanatik lainnya. Menara yang berpahatkan ular gato sedang menelan matahari. Kemana burung hantu? Jangkrik pun bungkam. terus dan terus tak terkendali menjilati sari itu. Setiap suku mengaku yang paling benar. memimpin dua suku Mota lainnya dan menguasai suku-suku kecil lain. seakan ia bisa melarikan diri dari tangannya. semenjak orang tuaku mati jatuh kejurang. serigala melolong-lolong. Gambaran kehancuran suku-suku Mota dalam perang saudara yang dahsyat dengan amat nyata berkilatan dalam kegelapan malam yang melingkupi tubuh kami. aku harus mempertaruhkan nyawaku untuk kegilaan pemimpin kami. Di dalamnya tertulis bahwa ketika suku Mota menjadi tubuh yang terpisah. alangkah bodohnya manusia itu!” Paman tampak amat sedih. dan. perutmu panas. Ya. Aduhai Anakku. Dan. “Anakku. itu kejadian saat kakekku masih belia. setelah terlambat. tidak segan-segan perang penaklukan akan di gelar di atas Tanah Mota. Dan sekarang. solusi itu ternyata ada di dalam Ketab Se Lambok. Maka ikutilah dia. para pemimpin suku itu butuh legitimasi sakral.” Paman membuka Ketab Se Lambok.Aku diam lagi. “Begitu seseorang mencicipi kekuasaan selebar daun. berhati-hatilah. begitu aku menyerahkan surat dari Se Moljo . Sebagian pergi ke pesisir. tanah leluhur kita. Bisa saja hal ini terjadi. Masing-masing pimpinan dari suku tersebut mengklaim dirinya sebagai lelaki darah murni seperti yang dijanjikan dalam Ketab Se Lambok. tenggorokanmu pahit. taatilah dia. dan pernah saling serbu. Sekali kau mencicipi. menara Ka Borak. Dan kini. jiwanya tertekan sungguh. tentu saja mereka membawa Ketab Se Lambok. tulisannya tersembunyi dalam gelap pekatnya malam. jadilah suku Mota Pesisir. “kekuasaan itu seperti sari pati jubok. “Apa kau sudah faham sekarang anakku mengapa menara Ka Borak berdiri di masing-masing suku?” Aku mengangguk. dalam waktu yang bersamaan. Sebagian yang lain pergi ke pelosok hutan. Masing-masing suku Mota bertambah besar. “Anakku. alangkah bodohnya.” Paman bicara. saling melindungi. Beliau memegangnya erat. dua puluh enam tahun lalu. mengabarkan keberadaan menara Ka Borak di tanah mereka. seorang lelaki darah murni akan muncul demi menegakkan menara Ka Borak. Darah akan dialirkan di padang-padang sunyi tiap penjuru Tanah Mota yang suci. hingga nanti hanya kematianlah yang akan memotong nafsu serakahnya. menjerit-jerit kesepian. dan besok akan meminta yang seluas hutan. Mengajak warga suku berperang bukanlah cara yang tepat jika ingin mendapatkan dukungan penuh dari mereka. kau tahu apa sebenarnya menara Ka Borak itu anakku?” Aku hanya diam. Tangannya mengambil sesuatu dari sebelahnya. lalu di pelosok hutan yang jauh merusuk ke dalam. Sebuah kitab yang dalam keremangan tampak amat tua tapi amat kuatnya aura sakralnya. meminta ketaatan dan ketundukan kita. tak terbayang paman akan mengumpamakan menara Ka Borak sebagai saripati jubok bagi manusia. karena lelaki yang mendirikan menara Ka Borak adalah orang yang di tangannya persatuan tubuh suku Mota tergenggam. “Menara Ka Borak. Akulah sang penguasa tunggal Tanah Mota! Akulah sang pemersatu! Akulah raja kalian! Dan suku-suku lainnya harus tunduk taat. Kekuasaan mengumpan dan meracuni siapapun itu anakku. jadilah suku Mota Pedalaman. kekuasaan adalah sari pati jubok. Aku tertegun. tak berani menjawab. Lalu mereka berpencar setelah jumlah mereka semakin banyak. lemah semilir suaranya. Tapi itu kejadian entah berapa ratus tahun yang lampau anakku. menyamakan simbol suci itu dengan tanaman beracun paling mematikan di hutan ini. bersaing. sepi sekali. tentu saja. yang meracuni siapa saja yang mencicipinya!” Aku kaget. butuh stempel perijinan suci yang akan dijalankan mati-matian oleh tiap warga sukunya. dan. berebut pengaruh. dan kau langsung tergeletak tanpa sempat beranjak dari tempatmu berada saat itu. tapi kini. kau tahu bibirmu membiru. Sejak kecil aku telah hidup dengannya. Kau tentu tahu Mota Pesisir telah mengirim utusannya kepada kita empat hari yang lalu. hal itu sudah termaktub dalam Ketab Se Lambok. nafsu kekuasaan telah tersulut terbakar. malah kita yang mengirim utusan pada mereka untuk meminta hal yang mereka tuntut dari kita. “Besok kau akan menjalankan tugas terberat dalam hidupmu. Hitam tiap halamannya.

‫פּ‬ Beratus-ratus lelaki bertubuh kekar dan legam berbaris tegak. Asli dari akte lahir. tapi kitalah yang salah memahami kitab itu. tapi racunnya turut serta dalam aliran darah kami. ini bukan perang kami. Siapkah kalian untuk menjalankan tugas mulia ini? Melaksanakan perang yang akan membimbing kita pada jalan menuju kemulyaan dan kejayaan?” Gemuruh manusia membahana. Dan yang menyedihkan. terjebak dalam perangkap racun sari pati jubok yang mereka jilati siang malam.’ Aku sendirian. mereka lupa jati dirinya! Mereka menyangkal bukti kebenaran menara Ka Borak. murni pemberian kedua orang tua saya. Aku seperti seorang terusir yang menyusuri dasar lautan seorang diri. Aku menjadi orang asing. tapi ia adalah perlambang dari suatu perjuangan suci menyatukan Mota yang terberai. Berdiri dengan keyakinan dan pemikiran yang tidak sejalan bukan hanya dengan orang-orang kenanyakan tapi bahkan bertentangan dengan Se Moljo Banahung. Dan mulai detik itu. berdiri tegak menara Ka Borak menyongsong langit. tersusun dari 124 kubus batu. hukuman bagi pembangkang akan di jatuhkan. ‘sendirian dalam keramaian adalah ancaman. bukan menjatuhkan korban dari tubuh yang telah luka! Bukan Anakku. bukan! Ini adalah ambisi jahat mereka. dan pendulum berkepala besi berduri. Menara Ka Borak bukanlah suatu bangunan seperti yang kau lihat. Maka. Kami seperti tersesat di lautan. . Karena bukannya surat pernyataan ketundukan yang kubawa. Tangan kanan mereka ada yang mengenggam parang. Mata mereka tajam menatap ke depan. Tangan kiri membawa perisai. orang-orang yang masih waras dalam lautan kegilaan ini. kami tenggelam dan mati sia-sia. karena kami tidak boleh berpendapat. kepala suku kami. pada ahirnya. Debu putih membubung tinggi. apakah Ketab Se Lambok telah membohongi kita semua? Telah menggiring kita yang mensucikannya ke dalam jurang kematian?” “Tidak anakku. Apa kau pikir menara Ka Borak adalah suatu menara seperti yang kalian pikirkan? Tidakkah kau mengerti bahwa itu hanyalah suatu perlambang?” “Membangun menara menunjukkan pada suatu usaha tanpa henti yang amat melelahkan. “Kalau demikian Paman. orang-orang yang tiada ambisi dengan segala macam penaklukan. kami tidak pernah turut mencicipi sari pati jubok itu. Di sebelah timur. bukan pula perang warga suku Mota lainnya. untuk orang seperti aku dan Paman. karena apa yang kami yakini adalah apa yang para Se Moljo perintahkan untuk kami yakini. (atau malah) menertawakan nama saya. tidak demikian anakku. matahari menerangi dataran batu yang amat luas ini. beterbangan ke angkasa. Jadi sudah biasa kalau kamu mengernyitkan dahi. 10 Mei 2008 Vaginalia Oktober 9th. 2008 by prince-adi Saya sudah sering dihina dan terhina. Pengorbanan apakah itu Anakku? Yaitu pengorbanan kebanggaan diri demi mempersatukan tubuh yang terberai. bukan perang kami para warga suku Mota Pedalaman. Di sudut sana. hingga tubuh ini kemudian bukan tubuh kami lagi. serta merta akan memenggal kepalaku begitu selesai membaca isinya. melintasi terumbu karang berbisa yang meracuni tiap helaan nafas yang makin tinggal sisa. aku paham makna dari kata-kata bijak ini. mempertanyakan. Dan. hari ini. Sebab nama saya Vaginalia. ambisi para Se Moljo beserta para pembantu setianya. Dan kami. Silahkan kalau kamu mau tertawa. Brondong. Sedangkan monster-monster laut dan serigala separuh gurita mengintai-ngintai hendak menerkam sasat aku lengah.Banahung pada Se Moljo Mapadong. Dan. Tubuh tak berdaya inipun perlahan terasinkan oleh dahsyatnya garam air laut. Kami tahu. Perang yang hakikinya bukan milik kami pun ahirnya dengan membabi buta kami mamah masukkan ke dalam jiwa. kami pun sama gilanya dengan mereka. sebuah pengorbanan. Perang akan segera dimulai. tombak. Toh sudah biasa. semua manusia suku Mota kini masing-masing punya perang untuk dituntaskan. tapi tuntutan ketaklukan. Aku tercekam oleh pikiranku sendiri. perlahan-lahan. berbicara pada orang-orang tapi suaraku hanya memantul kembali dan hilang. Kami tidak ada urusan dengan kekuasaan! Kami tidak ada perlu dengan pengaruh dan perluasan wilayah. “…suku Mota Pedalaman dan Pesisir telah berkhianat! Mereka membelakangi isi Ketab Se Lambok.” ‫פּ‬ Ini bukan perangku. semuanya berubah menjadi dilema yang menyakitkan. lalu perahu bocor.

Saya jatuh cinta sama kamu. Terlebih kamu mengatakan cinta. Benar-benar takut. Kamu tahu. Sebab sebelumnya kamu memasangkan cincin di jari saya. tapi bibir saya kamu bungkam begitu nakalnya. Mendekati saya dengan alasan nafsu saja. menenangkan hati saya. Saya tidak menolak. Sejak itu kita pacaran. Nama kamu Muhammad. Saya jijik. saya tidak seperti itu. saya punya harga diri. Kamu basah kuyup. Tergantung jaminan kepuasan yang diberikan. katamu.” katamu sambil tersenyum merekah. kamu sudah memegang tangan saya. dan dia memaki saya. Orang yang terpuji. Saya benci. Saya ingin katakan jangan. kembali mengatakan cinta. Sebab namamu itu. . kamu mau duduk di samping saya. Toh saya cukup bahagia dengan berpegangan tangan. Mendambakan laki-laki yang baik-baik. ***** Saya masih perawan. Saya sudah cukup senang dengan keberadaan kamu sebagai teman saya. Mimpi yang menjadi nyata. Tapi saya bahagia. Diteladani banyak manusia. Kamu menemani saya duduk di sebuah kantin. dan agung. Dan segalanya telah berubah menjadi kamu. Dan kamu ungkapkan cinta. Saya justru senang. Saya takut. Dua bulan. Belum waktunya. limapuluh ribu semalam. Mau berbicara dengan saya meski tatapan curiga mengarah ke arah kita berdua. Saya mulai menangis. Malam itu saya membiarkan kamu mencium bibir saya. “Saya yang traktir. Mengatakan saya hanya jual mahal. Tapi sekali lagi. Dan kamu memanggil saya “Va”. Sampai bulan kedua. Tapi kamu terlalu mempesona. Nama kamu Muhammad. Mengelus tubuh saya. satu buat saya. Nama yang bagus. Barang yang sudah banyak diobral murah. Sebab itulah saya percaya sama kamu. Sebab saya juga perempuan baik-baik. Saya tidak mau. Saya hanya mampu memejamkan mata. Padahal hujan sedang deras. nama organnya wanita. belum kawin. kamu mendadak muncul di depan pintu kostan saya. mendambakan laki-laki baik-baik. juga nama nabi yang paling diagungkan. itu pertama kalinya tangan saya digenggam laki-laki. Kamu selalu sabar menemani saya meski mereka masih menatap curiga. Belum sempat saya ambilkan handuk. Itu untuk kelas biasa. ***** Saya cantik.Kamu mengenalkan namamu sebagai Muhammad. Sebab katanya akan mendapat pahala jika saya memuji namanya. Kita masih hanya berpegangan tangan. artinya dapat dipercaya. Meski saya miskin. membuat saya tidak berdaya. Sebab saya tahu bahwa zinah adalah dosa besar. Sebab saya tak mau macam-macam. Tapi apa saya pantas untuk mencintai dan dicintai? Saya tidak berharap lebih. Vagina. Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa ketika tanganmu mulai menelusup di balik kemeja saya. Memesan dua mangkok bakso. Saya benar-benar tersinggung. Orang-orang seringkali merendahkan harga diri saya sebab nama saya Vaginalia. Padahal saya benar-benar tak mau dibeli. Tidak seperti laki-laki pada umumnya yang menilai saya dengan harga. Sementara bibirmu terus melumat bibir saya. Saya tampar dia. Sama saja dengan menyekutukan Tuhan. Saya bahagia. Karena itu kamu. Sebab saya tahu ini dosa. Nama kamu Muhammad. Sebab nama saya Vaginalia. dan berjanji akan menikahi saya. Yang dijuluki Al-Amin. Sebab kamu teman pertama saya. Pernah saya ditawar dua juta untuk sebuah malam bersama dengannya. Bisa juga sampai ratusan juta. mendapat sesuatu yang bernama ‘Syafa’at’ di kehidupan akhirat. Saya suka perilakumu terhadap saya. tapi kamu dengan hebatnya kembali mengatakan cinta. Satu bulan. satu buat kamu. termasuk saya. dengan harga berapapun yang kamu beri. Nama kamu Muhammad. Saya wanita baik-baik.

Tak tertinggal suatu apapun kecuali membawa debu melekat pada tubuh saya. berjanji menikahi saya. ***** Berkali-kali setelah itu kamu melakukan hal yang sama. namun selalu saja keluar dengan wajar dari bibirmu. atau di tempat remang-remang yang menjajakan kebahagiaan. Muhammad mana saja yang matanya belingsatan melihat kecantikan saya. Orang yang terpuji. Ada bercak darah di sana. Yang pernah begitu saya teladani. Tertawa akan kebodohan saya mempercayai kamu selama ini. Menyaksikan kamu tanpa busana. ***** Kamu tahu dimana saya berada saat ini? Penjara! Saya membunuhi Muhammad. tanpa bisa lagi memikirkan bahwa kita adalah pendosa yang tidak akan diterima ibadahnya. saya percaya kamu akan menikahi saya. berkali-kali. sia-sia saya melakukan itu. Tapi saya akhirnya sadar. Di jalan. Dan saya hanya bisa tertawa. di keramaian. ***** Bulan keenam kamu mengatakan perpisahan. Tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Beberapa putaran musim yang lalu bukankah hanya bibir itu yang ada dalam ingatannya sepanjang pagi. . untung dan rugi. satu per satu. Padahal nama kamu Muhammad. 2008 by Ge “Sepertinya kita pernah bersebelahan jiwa. begitu pula saya. Padahal kita sudah pernah bercinta dengan dosa. Cara bibir itu bergerak saat bicara. Saya menangis. Sebab namu kamu Muhammad. laki-laki itu menggelengkan kepalanya dengan heran. Saya ingin menolak. namun tidak tahu lagi karena apa dan dimana. Bukankah bibir itu yang dikulumnya tanpa puas ketika gairah-gairah mereka memuncak di malam-malam penuh gelegak yang mereka reguk bersama-sama.Tiba-tiba hari telah pagi. Tapi kamu tetap tak menggubris itu semua. “Mungkin aku memang tidak penah mampu untuk mengerti kamu. siang dan malam. merekahnya ketika minum kopi dan mengintipkan gigi putih yang sangat cocok untuk iklan pasta gigi ketika mengigit sepotong kue. melaknatmu. Dan lagi-lagi saya menyebut Muhammad. Ditariknya nafas dalam-dalam lalu menjawab. Sebab ia orang yang terpuji. Kata-katamu selalu saja asing bagi telingaku. Ia merasa seperti orang mabuk. merindukan Muhammad yang pernah saya puji. dan pagi lagi. Saya percaya. hanya sepotong kayu imitasi yang dinamakan coffee table dan dua mug gemuk kopi hangat masih berasap menjembatani ruang antara mereka berdua dari kursinya masing-masing. Mengapa semuanya saat ini rasa-rasanya tidak pernah benar-benar terjadi tak dapat dimengerti oleh pikirannya yang biasanya jago mengkalkulasi rumusan-rumusan jual-beli. Sebab nama kamu Muhammad. Sedangkan saya lebih memilih menghujatmu. Tapi kamu begitu pintar untuk memancing hasrat saya keluar. Tapi lagi-lagi kamu memeluk saya. saya tidak lagi perawan. Tapi mungkin setan-setan yang kegirangan memujimu. Ah. mengecup kening saya. sudut-sudutnya yang naik turun tergantung emosi pemiliknya. Mungkin otakku yang bebal. Kamu benar-benar pergi meninggalkan saya. tidak pernah berhenti melingkar-lingkarkan jerat di dalam kepalanya. Akhirnya kamu mengatakan bosan kepada saya. Sebab saya tahu. ia menemukan dirinya merasa sangat asing.” Laki-laki itu mengangkat pandangannya dari merenungi asap-asap tipis yang keluar dari mug-nya dan menatap perempuan itu.” kata perempuan itu kepada laki-laki yang duduk berhadapan dengannya. Tidakkah kamu mengerti? Bibir Februari 13th. Dan neraka balasannya. Benar-benar ingin menolak.” Dan bibir itu sangat manis bentuknya. seperti angin. Saya mencari Muhammad. tanpa malu. “Atau setidaknya kita pernah yakin tentang hal itu. namun tidak lagi menimbulkan rasa ingin.

lebih. iya kan?” “Sebal aku! Itu sebabnya kamu tidak mau aku ikut. Laki-laki itu mengangkat bahu. lho… Apa-apaan sih kamu? Jangan cemburu yang tidak-tidak dong. “Sudah makan ya?” tanya bibir itu.” “Aku memang tidak suka. waktu aku telpon katamu kamu tidak suka masakan Itali dan kamu ada janji dengan teman-temanmu mau shopping.” “Pasti! Makanya aku tidak diajak!” Jelas sekali tuduhan dan tudingan tersirat dari bibir itu. Kok jadi menakutkan sekali? “Dia siapa sih?” “Pura-pura tidak mengerti. bebas kerut-merut dan halus rupawan itu.” jawab laki-laki itu seraya mencoba mencium kemanisannya. tidak mampu memproses data lalu macet.” “Pasti ada dia!” Bibir itu melancip. pening dan gelisah setiap melihat bibir itu. bukan. Kemudian ia jadi sering merasa mual. karena dua tambah dua tidak selalu menjadi empat dalam kalkulasi pemikiran otak yang terletak dua jengkal saja jauhnya dari bibir itu. lebih tepatnya dia takut mengucapkan lebih banyak katakata karena akan berarti lebih banyak lagi kesalahan yang dapat saja dilakukannya menurut logika bibir itu yang mengakibatkan bibir itu akan mengeluarkan lebih. hang. tapi memang iya Wulan ada.“Apa yang sudah terjadi?” Bibir itu bergerak turun seirama dengan ekspresi di wajahnya yang bebas jerawat. lebih dan lebih banyak lagi hamburan kata-kata yang sangking terlampau banyak tidak dapat dicerna oleh otaknya dengan baik dan kepalanya kemudian akan menjadi seperti sebuah komputer yang cupu. Maka. iya kan?!?!” “Lho. Jadi aku kira kamu pasti tidak mau ikut. kalau kamu mau kita pergi makan berduaan saja sekarang. Aku sudah bilang akan makan dengan rekan-rekan kerjaku. Ya. tajam sekali. laki-laki itu garuk-garuk kepala. hampir-hampir membekukan. Atau. “Ya sudah. bila ia tidak yakin pada jawabannya maka dia akan membisu seribu bahasa. seakan mencoba menebak sesuatu. “Lho. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana menjawabnya. “Apa yang sebenarnya terjadi?” Bibir itu kembali menyadarkannya dari kenangan yang sempat menyerempet ingatannya tadi. ciumannya pun membentur gunung batu yang menjulang tinggi dan menukik tajam di sudut-sudut dan lekuk-lekuk bibir itu.” Hm. “Kok nggak ngajak-ngajak?” Bibir itu menurun membentuk kurva setengah lingkaran dan lampu merah di kepala laki-laki itu mulai berkedip-kedip. Atau. laki-laki itu kemudian berlatih untuk diam sejenak sebelum menjawab segala sesuatu yang keluar dari bibir itu. seperti pedang dan berkilau-kilau karena lipgloss-nya. karena dia tidak pandai menyusun kalimat di depan bibir itu. bebas komedo. yang janda cantik itu!” “Ya iyalah. “Sudah. tapi kan kamu bisa menawarkannya kepadaku. supaya kamu bisa main mata dengan leluasa. dia. Asep juga. pokoknya semuanya. Perempuan itu melihat bagaimana bekas suaminya menggelengkan kepala dengan cara yang sangat khas. Maka malam itu kemudian menjadi malam yang sangat dingin. Laki-laki itu tanpa sadar merasa bergidik. Siapa lagi? Pasti ada perempuan itu. betapapun manis dan lembutnya terdengar di telinga. Angki juga.” “Perempuan yang mana lagi?” “Wulan. Dan laki-laki itu memang sedang mencoba menebak apakah pertanyaan yang barusan keluar dari bibir itu adalah sebuah pertanyaan sungguhan ataukah jebakan seperti yang seringkali terjadi dalam pembicaraan mereka. . maksudku bukan janda cantiknya. Mau kan?” “Jangan merubah pembicaraan! Kamu makan-makan dengan siapa-siapa saja tadi?” “Lho…ya dengan teman-teman kantor. Jeffry juga.

Tidak dapat disalahkan. karena getar-getar bibir itu membuatnya tidak tega untuk berdiam diri lebih lama lagi. dan menusuk-nusuk seperti sembilu? Tidak mungkin kan rasa-rasanya. Ah! Pusing jadinya. tidak akan pernah menyakiti aku. Kenapa kamu justru ingkar janji! Kenapa justru memilih untuk bersama dia daripada aku?” Banyaknya pertanyaan yang meluncur sekaligus dari bibir itu membuat mantan suaminya merasa tegang sekali. lebih tergila-gila. “Mungkin karena bibirmu. merobek-robek seperti cakar.” “Aahhh.” bibir itu bergerak naik. bahkan lebih terbius. mendebarkan sanubari. tidak ada perempuan lain yang mampu mencintai kamu seperti aku mencintai kamu. tanggung. membentuk sebuah senyum sinis. menghormati aku. begitu? Kalau berselingkuh itu tidak memalukan ya!” . mengelus-elus kerinduan. Dasar pengecut! Dia memaki dirinya sendiri. menyejukkan hati. Menyapa. “Pelankan sedikit suaramu.” “Jadi? Lebih seksi?” Lelaki itu menatap bibir bekas isterinya dan melihat. Aku kan tidak menanyakan hal yang sulit atau terlampau mustahil untuk dijawab! Aku hanya ingin kamu jujur! JUJUR! Bukannya jadi pengecut terus. “Bukan itu. kita ada di tempat umum.Entahlah. “jadi kamu malu ya?’ bisikannya mengejek. katanya perlahan. seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang! Apa sih maksudnya! Kenapa berbicara dengan kamu selalu saja membosankan!” “Maaf…” Bibir itu merapat. “Kamu kenapa sih? Selalu saja begitu kalau diajak bicara serius! Selalu pura-pura sakit kepala. “Bibirku? Apa yang salah dengan bibirku! Aku pikir kamu menyukai bibirku! Memangnya bibirnya lebih indah dari bibirku?” “Bukan begitu maksudku. Laki-laki itu merasa tidak memiliki jawaban yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan itu dan ia pun tidak dapat mendeteksi mana yang aman untuk dijawab dan mana yang adalah ranjau darat yang bila diinjak akan mengakibatkan ledakan yang dahsyat dan menghancurkannya berkeping-keping. karena dia sadar dia memang merasa sangat kecut sekali. Mencium. pikir laki-laki itu. Itulah yang ingin sekali ditemukannya pada bibir itu. ia tidak memiliki keinginan untuk lebih mendekat atau melakukan apapun dengan bibir itu. “Ehemm…” Laki-laki itu membersihkan tenggorokannya yang mendadak rasanya tercekat oleh serpihan-serpihan kerikil yang masuk entah dari mana. bukan itu. amboi…betapa manis sesungguhnya memang bibir itu dari jarak aman ini.” katanya akhirnya. karena selalu saja ia mendapatkan dirinya dan harga dirinya kemudian terkapar di suatu tempat dan waktu yang membingungkan. Dia memijat-mijat pelipis kirinya yang berdenyut-denyut. begitu enak untuk dinikmati. Ada beberapa yang bahkan nampak sekali sangat tertarik dengan gerak-gerik bibir itu. bahkan lebih menegangkan daripada dimarahi oleh atasannya di kantor. dulupun dia merasa seperti itu. membuat matahari bersinar lebih lembut saat siang terik. “Kenapa harus minta maaf? Kamu menyesal karena berselingkuh kan? Padahal kamu pernah berjanji bahwa kamu akan selalu mencintai aku. menghindar terus!” Dan kepala laki-laki itu semakin pusing jadinya. dan rasa-rasanya tidak mungkin ada yang lebih lembut lagi dari bibir itu yang rasanya seperti gulali ketika disentuh.” “Lebih pandai mencium?” “Bukan itu. apalagi karena beberapa orang di meja sebelah mulai tertarik ikut mendengarkan percakapan mereka yang saat ini lebih mirip sebuah monolog dari bibir itu. Bibir seperti itu gunanya untuk tersenyum. karena setelah berpikir begitu keras memang hanya itu saja yang terbayang-bayang di kepalanya.” “Kamu hanya bisa bilang bukan itu. bagaimana mungkin bibir secantik itu bisa melukai seperti pedang. bukan itu. dan katamu sendiri. Dan tertawa. “Kamu malu karena suaraku keras.

warna lembut lipstick yang masih melekat dengan sangat apik yang nampaknya tidak akan berguguran walau terguncang-guncang.” Tiba-tiba saja dia menemukan dirinya bisa berbicara tegas. Kalau saja dia bisa bertanya langsung kepada bibir itu. Atau lebih tepatnya. luarbiasa. juga sebuah dekik yang timbul tenggelam di sebelah kiri bibir itu. Bahwa aku sungguh-sungguh jatuh cinta dan mencintaimu ketika kita menikah.Suara yang keluar dari bibir itu berdentum keras sekali sangat mengejutkan. sangat. karena. dan kekenyalan bibir itu yang begitu nyata. dan kegairahan. lekukan atasnya yang sensual dan sempurna. “Aku pernah mencintaimu. Tiba-tiba saja dia merasa sangat. Digandengnya bekas isterinya ke luar dari tempat minum kopi itu. “Sebaiknya kamu pulang. mata-mata para perempuan mendelik dan beberapa laki-laki agak salah tingkah sementara yang sebagian malah tersenyum mencemooh. demi merekahnya senyum. saat ini. Kasihan. Kamu tahu itu. sangat. “Jawaaaaaab!” Tiba-tiba saja dinding pelindung anti-suaranya pecah berantakan. di bibirmu aku menemukan cinta. boleh aku bicara?” Laki-laki itu menepikan mobil. “itulah masalah kita. dan di kepala laki-laki itu timbul pertanyaan. tidak bertanggungjawab!” Bibir itu bergerak turun naik ke kiri dan ke kanan. yang sudah lama tidak mampir di hatinya. ayo aku antar. apakah itu sebuah isakan? Dia merasa diterobos oleh rasa kasihan. Ya. “Sebaiknya aku pergi saja karena ternyata kamu masih terlalu emosi. laki-laki itu menutup indera pendengarannya dan menyisakan visualisasi dari drama yang terjadi di depan matanya ini. sangat kasihan kepada bibir itu.” “Bagus! Pergi saja sana! Melarikan diri. untuk laki-laki itu.” “Tapi…” “Biarkan aku bicara dulu. berbanyak kepala langsung menoleh ke meja mereka dan laki-laki itu menemukan dirinya menjadi pusat perhatian. Dia bahkan tidak lagi dapat mendengar suara apapun! Secara naluriah. jalan lengang. dan kamu mencoba mendengarkan? Lagipula. Kamu memang ahlinya! Selalu saja begini ini. mengapa…” . yang membuat jantungku berdebar-debar melaju ditengah kemacetan jalan saat pulang kerja sehingga rasanya semakin tersiksa karena aku ingin sekali segera pulang agar dapat mengecup sudut-sudutnya. dan derai tawa. Di lekuk-lekuk senyummu ada semangat dan kekuatanku untuk meraih masa depan. bukankah kamu selalu berkata ingin ada jawaban? Boleh kan aku mencoba menjawab. “Bibirmu. tapi gulali yang mulai meleleh karena dibiarkan terlalu lama di bawah matahari. “Ssstt…” Serba salah laki-laki itu menengok ke kiri dan ke kanan. satu saat ditarik ke sana dan dilain saat ke sini. kapan semuanya akan berakhir ya? Konsentrasinya pada bibir itu membuatnya mampu menangkap garis-garis halus di bibir itu. laki-laki itu terkejut. Bibir itu sekarang berguncangguncang. Aku bahkan mau mempertaruhkan hidupku demi bibir itu. bagaimana mungkin dia pernah mencium bibir yang seperti itu di suatu masa yang rasanya sudah berabad-abad yang lampau? Bagaimana caranya bertahan tetap waras berhadapan dengan bibir itu selama lima tahun hidup pernikahan mereka? Saat bibir itu mencang-mencong di hadapannya dia tidak lagi mampu mencerna kata-kata yang mengucur begitu deras dari bibir itu.” “Lalu. apakah bibir itu sendiri tidak pernah merasa lelah? Dalam hati laki-laki itu mempertanyakan. Tapi. bila di matamu aku bisa berkaca dan menemukan diriku. Saat itu dia merasa berhadapan bukan lagi dengan pedang. seakan memang seluruh semesta mempersiapkan tempat dan ruang untuk mereka saat itu. matanya beralih memandang jalan di depannya. Kepala perempuan itu mengangguk. apa yang dirasakannya saat dihempas-hempas begitu rupa oleh pemiliknya. mencong ke atas atau ke bawah. aku memang mencintai bibir itu. aku kasihan dengan bibirmu. Bibir itu perlu istirahat juga dan memberikan kesempatan kepada telinga untuk bisa mendengar suara lain selain suara-suara milikimu sendiri. sambil berpikir. Bisa kan?” Bibir itu bergerak seakan hendak melakukan sesuatu lalu tiba-tiba saja tidak jadi melakukannya. kalau dieksploitasi terus-menerus. Ya.” kata lelaki itu sambil menatap jalan di depan kemudi. dan dengan takjub menemukan tidak ada perlawanan dari bibir itu maupun anggota-anggota tubuh yang lainnya. begitu elastisnya bibir itu sehingga tidak jadi masalah ditarik ke kiri atau ke kanan. “Jadi.

menahan diri. bukan lagi seperti kupu-kupu yang naik turun tetapi lebih mirip sengatan sekawanan lebah yang menyerang lambungku. Bekas isterinya mengangguk. “Lalu mengapa kita bercerai?” Laki-laki itu menebak dengan tepat. Atau dua-duanya. Aku memang pengecut.” “Kalau kita lebih mudah bergandengan?” “Kita tidak akan pernah terlalu mudah untuk saling melepaskan. yang pada awalnya sama sekali tidak punya arti. setiap kali aku memandangmu dan bibirmu mulai berbicara. dan aku sudah menemukannya. tidak punya peluang. bukan madu yang keluar namun begitu banyak dakwaan yang. Mengapa? Karena aku tidak lagi menemukan debaran-debaran jantung ketika berhadapan dengan bibirmu. berselingkuh. mengapa tidak? Mungkin dengan begitu kamu akan merasa puas.” kata perempuan itu lirih. Yang pasti. Aku memang bersalah. “Seandainya aku lebih banyak mendengarkan?’’ “Aku akan lebih mudah berbicara. Karena aku tidak mampu pulang. Aku tidak pernah berniat mengkhianati. Bahkan tidak berani mengecup bibirmu saat aku sangat ingin melakukannya karena aku takut lidahku tidak mampu merasakan rasa yang lain selain rasa pahit” Laki-laki itu mengedipkan matanya. Oh. dan godaan yang datang. Namun nampaknya dosaku sudah terlampau besar. atau malam-malam kita yang terlalu banyak diisi dengan kebekuan. ada sebutir bening jatuh diujung bibir itu. karena begitu bibirmu terbuka. kamu yang menginginkannya. “Kita sudah pergi terlalu jauh dan kehilangan jalan pulang. aku berpikir. terisi dengan cinta untuk sebuah bibir yang lain. yang aku dengar hanya bergodam-godam palu kecurigaan dan tuduhan yang pada mulanya aku tidak mengerti dari mana asalnya. Aku minta maaf. Kuakui bahwa aku lelah dihukum untuk sebuah kesalahan yang tidak aku lakukan. “Kita sudah benar-benar gagal bukan?” perempuan itu berbisik. manis sekaligus sangat pahit. Mungkin imanku yang tidak kuat.” “Kalau kau lebih mudah berbicara?” “Kau akan lebih mudah mendengarkan dan kita akan lebih mudah saling mengerti. merasa menang. Aku bahkan sering berharap terjebak saja terus di tengah-tengah kemacetan. Karena itu adalah pertanyaan yang sama yang diajukannya berulang-ulang kepada dirinya sendiri. Ia menghela nafas dalam diam.” Laki-laki itu menatap perempuan cantik di sampingnya. sebuah senyum rawan menggantung di bibirnya. dan bekas isterinya menggigit bawah bibirnya. ingin sekali disimpannya tetes bening itu di dalam sakunya. Namun. menjadi sebuah jalan alternatif bagiku. Jakarta 24 Juni 2003. dan aku tidak punya keberanian atau kemampuan untuk mempertahankan apa yang memang tidak kamu anggap perlu untuk dipertahankan lagi… Maafkan aku. “Sungguh. mengapa? Aku sendiri heran. Tetapi sedetik saja pada saat ini.” Perempuan itu menatap laki-laki itu dengan pandangan yang berbeda. mengapa semakin lama aku malah semakin menikmati jam-jam lemburku dan mengharapkan waktu-waktu kerja menjadi lebih panjang. dan lelaki itu mengusapnya lembut dengan jari telunjuknya. “Ya.” “Seandainya kita lebih mudah saling mengerti?” “Kita akan lebih banyak berciuman.” “Kalau kita lebih banyak berciuman?” “Kita akan lebih mudah bergandengan. tidak pernah selintaspun. Mereka sudah sampai di persimpangan tempat dia dan pemilik bibir manis itu harus berpisah. ada air yang membuat matanya berkaca-kaca. sudah penuh. Aku mengaku kalah. ketika dirabanya sakunya itu. tidak berdasar. dan matanya berkaca-kaca. aku mencari kedamaian di bibir yang lain. pada mulanya. Akhirnya.Laki-laki itu memberi isyarat dengan tangannya. aku jatuh. “Masih ingat? Dulu kau pernah bilang bibirku rasanya seperti es krim vanila dan lembut seperti gulali.” Ah. masa-masa yang sangat indah di sebuah waktu yang berbeda dan begitu jauh. Laki-laki itu mengangguk. bibirnya terbuka sedikit. Aku tidak pernah menghendaki kita berpisah. betapa terlambatnya. bahwa aku memang suami kalahan. yang aku rasakan adalah rasa mulas di perutku. Namun kemudian. .

Hati-hati nanti di jalan. aku mengenalnya sebagai orang yang sangat taat beribadah dan selalu membangunkanku saat sepertiga malam untuk salat tahajud yang kemudian menjadi rutinitasku dalam keseharian. aku merasa bisa terus sekolah dengan upah kerja part time atau dengan belajar lebih rajin agar dapat beasiswa. Kuliahnya sudah selesai dan belum punya pekerjaan. Semenjak aku diasuhnya sedari kecil. ia dianggap sukses di dunia dan akhirat. Rupanya beliau tidak memberitahu yang lain bahwa aku disuruhnya pulang. Wajahnya menunjukkan bahwa dia sedang berpikir keras tentang suatu hal dan bayang-bayang keraguan muncul timbul tenggelam. Benar-benar surat yang simpel namun juga mengusik hatiku. Terbersit niatku untuk menunda kepulangan sampai tanggung jawabku itu selesai. Kuhubungi teman-teman sesama panitia dan mereka semua pengertian. “Tidak masalah. Apa yang akan dibicarakan Bapak? Tentang pernikahankah? Karena aku sudah termasuk telat untuk menikah dan begitu gencarnya Orangtua beserta adik-adikku membujukku untuk mencari belahan jiwa. toh mereka semua senang aku pulang. apalagi di akhirat. Dia sudah kebelet nikah namun tidak sampai hati melangkah mendahuluiku. Banyak majelis-majelis mengharap kedatangannya untuk sekadar memberikan sambutan atau ceramah pendek. jadilah ia menganggur di rumah. Hampir-hampir orang lain berani bertaruh manusia macam itu bakal masuk surga. Ia pendakwah yang gigih. dan disegani siapa pun yang mengenalnya. Bapakku orang terhormat. Di dunia sebagai orang baik dan rezeki dicukupi. Yang paling kesal adalah adikku si Nuning. aku memang tidak pandai bersyukur. kaya raya. Hanya itu isi surat yang kuterima tadi pagi. Tak apa.Bukan Ismail Desember 10th. aku berusaha menyingkirkan semua pikiran-pikiran aneh tentang apa yang akan dibicarakan Bapak. Jogja. aku bisa mengenali tulisan Bapak yang khas. Namun begitulah Bapakku. Aku bukan anak-anak yang mau menjadi benalu bagi Bapak. Umurku 28 tahun dan aku memang kurang laku di mata kaum hawa walau banyak orang bilang wajahku termasuk lumayan. Ia bilang ia bukan dukun yang bisa dimintai hal-hal . Ia mengirim surat dengan kertas dan amplop kelas atas serta prangko kilat namun isinya hanya lima kata itu saja. pulang. bertitel kyai. Ia bisa diasumsikan sebagaimana orang-orang melihat seorang manusia yang sempurna akhlak dan materi. Aku tak habis pikir mengapa Bapak tidak menelepon saja. Nomor ponsel dan nomor telepon Ibu kost-ku sudah ada di tangan Bapak. aku penggantinya. Tumben sekali Bapak berkomunikasi dengan cara seperti ini belum lagi isi pesannya yang benar-benar menyita perhatianku sepanjang hari ini. Tulisannya miring bersambung dan banyak hiasan di huruf G dan B besar. Setelah mengurus tiket yang agak bermasalah. Atau mungkin tentang warisan? Mungkin Bapak sedang sakit keras baru-baru ini dan merasa akan meninggalkan dunia fana ini sehingga merasa perlu membicarakan warisan hartanya yang melimpah. Keluargaku kaget melihatku pulang. Apa gerangan yang mau dibicarakan? Ini agak sulit karena aku sedang mengemban tugas sebagai pembicara seminar yang akan dilaksanakan besok di kampus. Saking dihormatinya. Akhirnya aku lelah berpikir yang tidak-tidak dan memutuskan mengepak koper sore ini lalu berangkat nanti malam. Bapak mau bicara. Namun rasa penasaran yang sangat menyelimuti otakku sedemikian rupa. akhirnya aku kembali terbang ke kota kelahiranku. Meski sulit. Aku merasa bersalah juga tapi aku akan menikah setelah selesai kuliah. Aku memutuskan untuk lanjut ke S2 jadi tidak ada waktu untuk menikah. kecuali Bapak. Kulihat Bapak hanya diam saja menyambut kepulanganku. Pendek kata. Meski surat itu tanpa tanda tangannya. Bapakku tidak bisa menerima dan menganggap hal itu syirik. punya banyak koneksi. 2008 by piko aguno Gi. Yang terakhir ini agak kuragukan karena Bapak orang sukses dan terhormat.” begitu kata salah satu temanku yang menjabat sebagai wakil ketua panitia. ia dimintai ‘doa’ oleh orang-orang yang datang dari luar kota. Ataukah Bapak jatuh miskin di luar sepengetahuanku lalu akan menyuruhku berhenti kuliah? Tapi toh meski selama ini ongkos kuliah ditransfer Bapak. Tapi aku tetap merasa kurang.

Tuhan menguji sejauh mana Bapak bisa bersabar atas apa yang Tuhan minta.. Aku tidak mengeluh kali ini meski aku benci sekali asap rokok.” Ia terbatuk karena asap rokoknya sendiri lalu melanjutkan.seperti itu. “Terus?” tanyaku. Dengan agak kurang sopan aku menyela.. apalagi bertemu Tuhan. Aku disuruhnya pulang hanya untuk mendengar celotehan yang sudah sering kudengar di masa kecil. Aku jadi jenuh dengan perkataannya yang panjang lebar dan tak biasa. sebenarnya apa yang mau dibicarakan sampai saya harus pulang?” Bapak mengisap rokoknya dalam-dalam.” Bapak terdiam agak lama dan menciptakan keheningan yang janggal di antara kami. Begitu bangga dan bersyukurnya aku mempunyai Bapak seperti beliau.” “Tapi Pak… bagaimana mungkin? Itu kan cuma mimpi. Apa wujudnya? Aku tak boleh bertanya demikian. “Bapak yakin kamu anak shaleh dan selalu ingat bahwa Tuhan itu ada.” ujar Bapak tanpa ekspresi. “Saya percaya Bapak. Tuhan menyuruh Bapak menyembelih anak Bapak sendiri. Ia mengusir dengan halus tamu-tamunya saat itu. “Apakah kamu percaya sama Bapak?” tanyanya. Pantatku jadi sakit karena terlompat. “Eh. Bapak sangat pendiam.” kataku spontan. membiarkan rokoknya memendek digerogoti ulat api di ujung. Bapak tidak bisa mengelak.” jawabku ragu. Karena setiba di rumah Bapak hanya diam saja. Ia berbicara panjang lebar dan tak ada hentinya kecuali mungkin aku menyelanya. Lalu ia berkata tibatiba. Aku tidak percaya sedikit pun tapi aku diam saja. Aku setuju saja. ‘Diam itu emas’ rupanya benar-benar menjadi prinsip hidupnya. Darinya mengalir nasihat-nasihat kehidupan juga kisah-kisah para nabi. “Pak. Mengalami mimpi bertemu Rasulullah saja sudah merupakan karunia luar biasa dan diperuntukkan hanya kepada hamba-hamba Allah yang tertentu. seolah berusaha memancing komunikasi kami berdua. Setelahnya Bapak menyalakan rokoknya dan mengepulkan keras-keras. Ia mengajakku bicara empat mata berhadap-hadapan. seolah itu hisapan yang terakhir. aku agak heran juga. Mana mungkin? Pasti Bapak mengada-ngada. tegas. “Seperti halnya Nabi Ibrahim. Rupanya tidak cukup hanya dibalas dengan ibadah dan rasa syukur kepada Tuhan.” Aku tersontak kaget. “Dua hari yang lalu Bapak bermimpi bertemu Tuhan. “Astagfirullah! Apa nggak salah dengar?” Bapak mengangkat tangannya agar aku jangan menyela. “Kamu percaya sama Bapak?” tanyanya. keluarga sejahtera. Untuk kedua kalinya aku terlonjak. jadi kutunggu dengan tidur yang lelap hingga tiba-tiba ia membangunkanku sepertiga malam untuk salat tahajud. “Yah. Hanya asap rokoknya yang bergerak kesana kemari di antara kami.ya. . “Bapak tidak percaya kamu percaya sama Bapak” Aku jadi bingung. Bapak hanya bicara bila benar-benar perlu jadi kebanyakan mulutnya hanya digunakan untuk tersenyum menanggapi perkataan orang lain. Akhirnya kami shalat berjamaah sekidmat mungkin. Bapak harus memenuhinya. Bapak hanya menatap kosong ke langit-langit rumah. kedudukan terhormat. “Pasti Tuhan sedang menguji keikhlasan Bapak dalam beribadah. Harta banyak.” Agak menyesal kukatakan ini. Selama ini Bapak hidup tanpa hambatan yang berarti. tidak mengerti apa maksud Bapak bertanya begitu. memandang langit-langit.

“Memang. sedikit nyengir mau minta maaf. Seolah-olah malaikat Jibril masuk ke dalam mimpi Bapak lalu mengajak Bapak ke depan arsy Tuhan di langit ke tujuh. Bapak orangnya tidak tega melukai mahluk Tuhan yang namanya perempuan. Maha Besar. Maksudnya mimpi yang nyata.” kataku mengalah. dan mimpi biasa. Allah Maha Berdiri Sendiri. Aku merasa akan kalah. Manusialah yang selalu butuh Allah untuk bisa hidup meski mereka tidak pernah menyadarinya. Bisa jadi ia akan punya pengikut seperti halnya Ahmadiyah.” “Tapi bagaimana Bapak yakin Bapak mimpi begitu? Mungkin hanya halusinasi—” “Bukan. Bapak bukan Nabi tapi hanya manusia biasa yang dikaruniai hidayah-Nya sehingga bisa seperti sekarang. Allah tidak butuh sesuatu pada mahluknya. Yang terakhir semacam tidur lelap karena kekenyangan. .” kataku tegas. “Bapak yakin kalau Bapak disuruh nyembelih anak sendiri?” tanyaku takut-takut. Perhatianku teralih namun sekejap kembali pada tempatnya. Perintah Allah. Aku takut tiba-tiba ia mengaku-ngaku diutus sebagai Nabi. ” Lapang dada! Ah. “Tapi Bapak bukan Nabi. Kuraba dadaku. Dan Bapak pun menerima hal yang serupa.“Begitulah Tuhan menyampaikan kepadaku. Tapi saya tidak tahu apakah Bapak bisa menentukan mimpi itu dari Tuhan atau dari setan. Bapak orang saleh. apapun caranya.” “Saya kira mimpi itu ada tiga. Ini benar-benar mimpi. Tapi aku kaget hal-hal yang merusak aqidah seperti ini menyentuh Bapak. Ini bisa menjadi aib keluarga dan aku bakal malu berat. bukannya Nabi atau bahkan orang saleh?” “Kamu menilai Bapak bukan orang saleh?” tanya Bapakku agak keras lalu kemudian ia jadi salah tingkah begitu juga aku. Aku harus menyadarkan Bapak. “Tapi Pak…. Bapak yakin sekali mimpi ini dari Tuhan. Mau kuceritakan?” Aku menggeleng lemah. Melelahkan tapi asyik. “Le. Bapak mengangguk takzim.” Telingaku serasa terkulai. “Ya… tentu. Perjalanan yang panjang. mimpi dari setan. Dan Bapak sendiri. Dikepulkannya asap rokok menjadi lingkaran-lingkaran asap yang menawan. “Sebenarnya bisa saja Bapak memilih satu di antara adik-adikmu tapi adikmu perempuan semua. bukan halusinasi. “Apa kamu percaya selama ini Bapak beribadah bukan atas dasar riya? Tidak untuk menarik perhatian orang lain supaya jatuh hormat pada Bapak?” tanya Bapak. Muhammad adalah Nabi terakhir. Ini sudah kelewat batas.” Bapak tersinggung. aku juga—semua—hanya manusia biasa. Aku jadi malu di hadapannya. Bapak memperlihatkan mimik tersinggung lagi. Dari Allah. Mimpi dari Allah.” “Tapi mengapa Tuhan memberikan tugas itu kepada Bapak kalau Bapak manusia biasa. aku masih ingin hidup seribu tahun lagi.” Bapak tertawa terkekeh-kekeh mendengar perkataanku. “Lalu bagaimana dengan Nabi Ibrahim? Mengapa Tuhan meminta hal seperti itu kepada Nabi-Nya? Itulah Ibadah. Untuk apa Tuhan meminta hal seperti itu kepada mahluk ciptaan-Nya? Ini menyalahi Asma’ul Husna. Lagipula kamulah yang Bapak rasa paling bisa menerima tugas ini dengan lapang dada. Rasanya sesak dan perutku mulas sekali. ia mengencerkan tenggorokannya sambi berpaling dariku. Hanya kamu sendiri yang laki-laki.

Keikhlasanku diuji ketika detik-detik terakhir aku memutuskan urat-uratmumu.” “Tidak! Saya tidak mau. Entah kamu ikhlas atau tidak Bapak peduli apa? Tuhan tidak menitipkan pesan apa pun untuk kamu.” kataku gemetar. Bukankah Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang? Allah akan menggantikan dirimu dengan seekor kambing gemuk yang nanti kita jadikan gulai untuk dimakan sekeluarga. Pak. Saat pisau yang tajam bersentuhan dengan kulit lehermu.” Bapak ikut marah Hilang sudah rasa hormatku pada Bapak.” “Oh… saya tidak bersedia.” kataku marah. Itulah bedanya. Saya mau tidur dulu. ini pembunuhan. makan.” elakku. Sedangkan aku tidak ikhlas. “Bapak memaksa. “Tunggu dulu! Bapak jangan bikin sensasi. Kalau kambing sih.” “Uh oh.” Bapak menahanku. Rupanya sikap takabur sudah menggerogoti otak kanan Bapak sehingga penuh dengan khayalan seperti ini. Kamu harus—.. Tole.” “Kamu jangan ngeyel. “Bapak mau melakukan tugas itu malam ini. Bapak tidak punya kendala.” “Cukup!” “Ini ibadah. tentu saja berbeda. “Ah. Sadar. Tole… Kamu tidak akan mati.” “Tidak mau.” “Kalau begitu beli saja kambing lalu sembelih.ha…ha… Yang diuji itu Bapakmu ini.” “Saya tidak mau.” “Harus. Saya cuma…” “Tapi Bapak harus melaksakannya” “Pak…” “Malam ini.” kata Bapak seraya mematikan rokoknya yang sudah pendek sekali.” Jantungku berdegup dan bisa kurasakan wajahku memucat meski aku tidak bisa melihatnya. Bapak cuma minta kesediaanmu untuk Bapak sembelih. jangan dilakukan.” “Salah. Berarti acara sembelihan Bapak jadi tidak afdhal dong. itu sama saja. bukan gitu Pak. Tinggal tebas. bukan kamu. Ini misi Tuhan. Pak. sadar…” “Dengar dulu—. putranya Ismail ikhlas untuk disembelih. Aku akan diuji apakah aku sanggup menyembelih anakku sendiri atas dasar perintah Tuhan. “No…no…no… Aku masih ingin hidup. “Ini bukan sensasi. Ini edan. masak. ” “Aku tidak ikhlas. “Ha.” “Wah. Dalam kisah Nabi Ibrahim. dari Allah. Pak.“Begitulah. Lebih baik sudahi saja.” .

Aku jadi bimbang sendiri. menikah dan kini tinggal bersama ibuku yang kecewa berat Bapak jadi gila. Bagaimanapun juga. yang tentu saja takkan berhasil. mengucapkan basmalah.” “Tiidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!” Tapi itu sudah berlalu satu tahun yang lalu. kali ini. Bapak bersikap seperti orang normal bahkan kelewat saleh.“Kita bakal dapat pahala. Aku membayar mahal seorang psikiater profesional untuk mengawasinya namun laporan setiap bulannya tidak banyak mengalami kemajuan. Kata si psikiater.” “Aduh. Untuk beberapa waktu. Ia percaya bukan karena ia bodoh tapi karena imannya yang terang benderang. Aku ragu jika Bapak tidak gila. Nuning juga sudah menikah dan tinggal di rumah suaminya. menduga-duga mungkin mimpi itu benar dari Tuhan dan aku memang harus disembelihnya. Ia percaya mimpi ayahnya itu tidak salah. Akhirnya Bapak dideportasi dari rumah dan diungsikan ke Rumah Sakit Jiwa. lho. Bapak masih selalu berpuasa Senin Kamis dan masih melantunkan ayat Al Quran dengan fasih. Aku menjadi merasa bersalah pada Bapak. jangan Pak! Gila!” Akhirnya sambil tersenyum tulus Bapak mengeluarkan pisau besar semacam parang dari balik sarungnya. Yang jelas. Ia percaya bahwa Tuhan itu ada. Sejenak timbul niat untuk memulangkan Bapak karena mungkin Bapak memang tidak gila.” “Bapak sudah keblinger!” “Meski dengan kekerasan. aku bukan Ismail. Siapapun itu. Mungkin trauma mengingat-ingat bagaimana Bapak mengejarku di jalanan dengan pisau besar terasah tajam dan mengkilat sambil bertakbir. Tapi pastinya Ibu dan adik-adikku tidak akan menerimanya lagi. Bapak berdiri. dan bersiap-siap memegang leherku. Sungguh aku merasa menjadi manusia paling berdosa dan tak punya iman sama sekali. keluargaku menjadi bahan gunjingan di masyarakat. Ia percaya ayahnya selalu beribadah dengan ikhlas kepada Tuhan. Pisau itu sudah terasah tajam dan mengkilap menyilaukan mataku. Aku juga ragu mimpi Bapak tidak relevan untuk zaman sekarang. Setiap sepertiga malam ia selalu shalat sampai subuh. Si psikiater curiga itu hanya akal-akalan agar dia dinyatakan sembuh namun niat untuk membunuhku masih ada. Apakah ini berarti aku mengabaikan Tuhan? Jika Bapak memang benar bermimpi demikian dan mimpi itu memang dari Tuhan maka aku orang yang berdosa. orang-orang zaman sekarang takkan bisa menerima. mengajak-ajak dalam kebajikan. “Sini kamu. Lalu bagaimana dengan Ismail putra Ibrahim? Mengapa ia tidak ragu bahwa mimpi ayahnya dari Tuhan? Mengapa ia mau menerimanya begitu saja? Karena ia punya iman yang kuat. Juga mendakwahi setiap pasien di sana. . Meski demikian orang-orang yang dulu mengenal Bapak masih menaruh hormat pada keluargaku. bekerja. Dan hal penting kedua ialah ia ikhlas untuk disembelih. Keluarga dan tetanggaku menyelamatkanku tepat pada waktunya. Aku sudah diwisuda. Aku hampir lengah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful