P. 1
kump lomba cerpen

kump lomba cerpen

|Views: 91|Likes:
Published by Mhd Ali

More info:

Published by: Mhd Ali on May 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/14/2014

pdf

text

original

Perempuan Kampung Karampuang ( Juara 1

)
Desember 19th, 2008 by Emil Akbar Malam ini purnama sedang penuh. Bulan benderang begitu bundar. Bercahaya menyinari seperti lindungan ibu dalam dekapan yang menjelma dewi malam dan aku memperoleh restu di wajahnya yang bulat. Membuat langit hitam tak begitu gelap. Dalam rindang hutan pekat melarut lewat hembusan angin yang dingin. Bukan gulita sebab mataku masih bisa melihat. Hanya lindap dan kudapati kunang-kunang berkerlip, mengganti bintang yang tiada. Aku menantimu di batas Dusun Karampuang. Kau belum juga muncul padahal aku sudah lama menunggu di sini. Aku takut dan cemas. Itu sebabnya mataku terpaku pada ujung aspal yang menghilang seperti ingin menerobos malam yang teduh, mencari bayanganmu yang berkelebat, dan sesekali aku menengok ke belakang membaca situasi. Rustam, tahukah kau? Di dalam sana, sunyi bukan berarti tidak ada bunyi walau tadi mereka sembunyi karena aku tak peduli. Bunyi hewan malam, nyanyian serangga, suara berdesis-desis yang bukan ular, kicau kao-kao yang mengerikan di rimbun daun di dalam hutan yang senyap, berbondong-bondong mengerubungi telingaku. Berdenting serupa dawai, mengalun dan merambati udara, dan bakal meninggalkan luka di hatiku bila kau tidak jadi menjemputku malam ini. Maka hadirlah di ujung jalan itu seperti dilahirkan oleh kabut yang merayap. Jangan sampai aku menjadi batu di sini karena gigil atau habis karena dimakan angin dan kau harus tahu jiwaku mulai beku meski sebenarnya kepalaku ingin meledak karena bosan. Aku tidak mungkin kembali setelah ingkar. ”Sepertinya lelaki itu tidak akan datang.” Seseorang memegang bahuku dari belakang. Aku tersentak kaget dan terlonjak bangkit dari tugu batu yang kududuki. Aku gemetar gugup mengetahui siapa yang menegur. ”La Gole! Sedang apa kau di sini? Kau mengikutiku?” Sontak aku menjauhinya. ”Jubaedah, pulanglah sebelum terlambat. Masih ada kesempatan dan aku akan membantumu,” ujarnya sembari duduk di tugu batu yang kutinggalkan. Dalam gelap aku tahu ia menatapku tajam, seruncing jarum yang pernah menusuk tanganku. Batinku tertohok mengingat ia adalah mata-mata Puang Gella, pemangku yang sering menghukum bila ada orang yang melanggar di kawasan dusun, meski ia temanku sejak kecil dan beberapa waktu silam aku menyimpan hati untuknya. Namun ia menunjukkan sikap yang tidak kusuka. Ia bukan lelaki tangguh, pengecut yang tidak berani mengajakku kawin lari. ”Benar kau akan menolongku?” tanyaku pura-pura ragu. ”Kau tidak percaya padaku?” La Gole menghampiriku begitu dekat hingga bisa kuhirup bau badannya yang belum disentuh sungai. Aroma napasnya purba. ”Baiklah kalau begitu. Ijinkan aku menunggu Rustam sebentar lagi,” pintaku. Lalu kedua kakiku tak mau diam karena gelisah. ”Jika dia tidak muncul?” ”Kau boleh membawaku pulang!” jawabku sedikit kesal. ”Sepakat.” Agak lama kami saling diam seolah jiwa kami raib meninggalkan raga yang kikuk, menguak hutan dengan lesat untuk menemukanmu dengan tujuan yang berbeda. Kuperhatikan La Gole sedang duduk bersila sambil mempermainkan parang bersarung yang biasanya terlilit di pinggangnya. Tidak kutahu apa maksudnya, tapi membuatku bergidik membayangkan kulitmu robek dan menumpahkan darah jika badik itu keluar dari sarangnya. Kau pasti akan kalah sebab La Gole bekerja dengan otot sedangkan kau lebih suka berpikir. ”Apa yang kalian lakukan jika sudah bertemu? Apakah kau akan lari dengannya?” La Gole mengajukan tanya yang menyelidik, memecah hening. Posisi duduknya sudah berubah, satu kakinya berdiri dengan lutut menekuk. ”Tidak melakukan apa-apa. Aku hanya mau mengatakan sesuatu?” balasku berbohong sebab ia sudah curiga.

”Apa itu?” ”Kau tidak perlu tahu. Kenapa kau bertanya-tanya?” ”Ingin tahu saja. Bagaimanakah perasaanmu padanya?” ”Itu bukan urusanmu!” teriakku nyaris menuding, membuatnya bungkam. Aku berbalik arah membelakanginya menahan amarah, antara jengkel dan putus asa. Kusandarkan kepalaku pada pohon yang tak bisa kurangkul. Aku mencabut-cabuti kulit keringnya yang berlumut dan memang sudah terkelupas, membuang geram. Mataku terasa panas bagai diperciki biji lombok. Pedih memerih. Sekarang aku tidak ingin kau datang sebab itu akan mengantarkan nyawamu. Namun aku juga butuh kau datang membawaku pergi dari sini, jangan biarkan aku berkalung rantai. Aku tidak mau menjadi perawan tua! Bagaimana ini? Aku galau. Tetapi tunggu. Mataku yang melirik menangkap bayangan sekilas, bersijingkat dan menunduk mirip gerak-gerik babi hutan, berpindah dengan cepat ke semak-semak. Apakah itu kau? Tidak sebentar aku terpana, dadaku berdesir dengan degupnya. Aku merasakan firasat tak baik. Aku mesti bersiasat. ”Aku menyerah. Seperti katamu, Rustam tidak datang. Mari pulang.” Sebisa mungkin kukulum senyum ini dan menampakkan muka murung agar tidak ketahuan, supaya kau dapat mengikutiku dari jarak jauh. Aku akan mengecohkan perhatiannya. ”Aku masih setia menemanimu menunggu jika kau mau?” Aku tahu ia mengejekku. ”Tidak usah! Barangkali dia pecundang yang lebih darimu.” ”Bagus kalau kau sadar. Orang kota memang tidak bisa dipegang janjinya!” timpalnya tak mau kalah. Aku tidak lagi menyahut dan berjalan lebih dulu. Rustam, susul aku di puncak bukit! *** Jubaedah, kau adalah gadis sunyi. Semerbak harum bunga desa, wangi menebarkan angan di setiap kepala jantan muda sepertiku. Aku menemukanmu bagai mutiara diantara ribuan kerikil bebatuan yang terserak di tepi kali. Namun ada yang hilang di wajahmu yang bulat langsat. Laksana embun pagi yang tak ada lagi, saat matahari tak bisa lagi disebut mentari. Aku seperti pangeran yang menemukan bidadari. Di batas Dusun Karampuang jalanan beraspal terputus seperti lorong buntu. Terdapat daun kelapa yang diikat merintang di atas jalan. Mobil dinas kuparkir di luar kawasan adat karena dilarang masuk. Lagi pula hanya ada jalan setapak yang sempit. Tanahnya berdebu di musim kemarau dan licin berlumpur di musim penghujan. Banyak bebatuan. Di hari-hari biasa dusun ini begitu sepi bak kampung yang bisu. Awal bulan November aku kembali. Aku sudah menjadi pegawai negeri di kabupaten. Setahun yang lalu aku datang di kampung ini untuk menyusun skripsiku mengenai adat Karampuang. Setelah lulus kuliah tak mampu kutahan hasrat hatiku, ingin kembali menggapaimu. Masihkah kau menjadi perawan suci yang tidak boleh dijamah? Kutinggalkan semua yang berbau teknologi dan barang yang terkesan mewah di mobil sebelum memasuki kawasan adat yang dikeramatkan ini, lantaran pamali. Menurut keyakinan orang sini, segala yang datang dari luar lebih banyak merusak dan akan mengubah tatanan tradisi yang mereka jaga selama berabad-abad, turun temurun. Itu sebabnya aliran listrik tidak bisa masuk karena kaum adat menolak. Sungguh dilema, mengingat aku memegang proyek dari Pemda untuk menjadikan Karampuang tempat wisata, yang mungkin bakal melunturkan kebiasaan dan kepercayaan penduduk di dusun ini meski dengan maksud memberdayakan masyarakat. Aku masih terkenang ketika pertama kali datang di kampung ini. Aku disambut dengan ramah. Tidak kurang isi baki sudah ditambah, belum setengah isi gelas sudah diimbuh. Aku yang mengetuk pintu bukanlah orang lain, malah dianggap keluarga sendiri. Sebab mereka memandang tamu itu membawa rezeki. Saat itu aku menumpang tidur di rumah ayahmu di luar kawasan adat, di dusun tetangga. Lantaran aku butuh listrik buat menyalakan laptopku, menulis hasil riset yang kudapat. Pernah aku menginap di rumah seorang warga. Alat penerangnya berupa lampu minyak yang mereka sebut sulo. Semalam suntuk aku menulis di lembar kertas. Pulang pagi-pagi. Kau berada di depan pintu. Tergelak tawamu melihatku. Suaramu renyah.

”Ada yang lucu?” Kau tidak menjawab tapi memberikan isyarat. Kau pegang hidungmu yang mungil dan bangir. Aku mengikuti. Astaga, cuping hidungku dipenuhi asap hitam. Aku lekas pergi ke belakang membasuh muka. Seminggu dalam sebulan, kita bertemu. Kau melepas masa haidmu di rumah. Parasmu demikian sendu seperti tidak terima seperti terpaksa, saat kau mengatakan sedang menuntut ilmu untuk kelak menjadi seorang sanro di rumah adat Karampuang. Rumah panggung yang merupakan simbol sosok perempuan. Dari jauh kediaman yang sakral itu memang tampak anggun. Atapnya dari anyaman daun nyiur berbentuk segitiga sama kaki. Tangganya terletak di tengah di kolong rumah. ”Tangga naik ke dalam rumah adalah kelamin perempuan,” jelas La Gole, temanmu. Ia pemandu yang baik, meladeni keingintahuanku dan bahkan memuntahkan semua yang ia tahu. Pemuda yang bersemangat meski entah kenapa diam-diam ia sering menatapku dengan pandangan menghunus seperti tidak suka seperti menaruh curiga. Ia membicarakan tubuh perempuan dengan sangat biasa. Membuka pintunya pun harus ditolak ke atas biar bergeser. Aku menebak pasti ini selaput dara kemaluan, sebab dibutuhkan sedikit usaha untuk membukanya. Ada batu bundar yang menindih. ”Arah dapur adalah rahim. Dan dua dapur di belakang itu adalah buah dada sebagai sumber kehidupan.” Rumah ini tak bersekat, hanya ruang. Lantai dan dinding terbuat dari bambu. Ada loteng yang lumayan luas seperti layak untuk dijadikan kamar, tempat persimpanan kebutuhan pokok terutama padi. Bahkan ada padi yang berumur seabad. ”Semua warga sehabis panen tanpa diminta menyimpan sebagian padinya di sini untuk digunakan bersama jika terjadi gagal panen. Padi ini tidak boleh di jual.” Aku ingin sekali mengabadikan apa yang aku lihat. Namun lelaki yang terbiasa bertelanjang dada saat bekerja di sawah ini melarangku dengan tegas. Badannya yang berotot dengan kulit secoklat kayu itu langsung tegap menantang. ”Jangan coba-coba bawa kamera. Itu kesepakatan kita dari awal. Boleh jadi kau yang melanggar, kami sekampung yang kena malapetaka. Kalau kau mau lama di sini hormati adat kami!” Belum sempat aku minta maaf, La Gole sudah berlalu. Kulihat punggungnya digerogoti jamur, bercak-bercak putih. Ketika kuceritakan penjelasan La Gole kepadamu, kau tersenyum simpul membenarkan. Pipimu merona seperti lembayung yang memerah bagai senja yang membakar langit. Aku jatuh hati. Upacara Mappugau Sihanua sepertinya sudah dimulai. Selama tujuh hari tujuh malam. Aku berjalan santai menikmati pagi yang mau pergi. Sepanjang jalan yang berkelok kulewati rumah penduduk yang kadang saling berjauhan. Tak jarang aku berpapasan dengan warga yang masih kukenal. Di kiri kanan diselingi tanaman sayuran, pohon pisang, pohon kopi dan pohon kakao, serta hamparan sawah yang tidak rata, berundak-undak dengan garis pematang meliuk, sejauh mata memandang. Ada sumur tua berdinding susunan batu, aku menyebutnya kolam karena dangkal. Bila airnya lagi penuh, penduduk memandikan anaknya dan bayi yang baru lahir, biar mendapat berkah. Air mengalir khas pegunungan terdengar jernih menggelitik kesegaran. Hutan lebat dan belukar liar tampak rimbun di puncak bukit, hijau nian seperti belum pernah disinggahi. Jubaedah, secantik apa kau sekarang? *** Lelaki itu masih gagah. Badannya berisi dan kulitnya bersih seperti pasir laut, seperti belum pernah dicubit matahari. Kini aku yakin kau makin terpikat, melirik pakaiannya yang sewarna kulit sapi. Lelaki idaman yang menggiurkan bunga desa sepertimu. Dan aku terhempas ibarat hati yang terbuang. Sebab cintaku sedang cemburu. Ah, lelaki bernama Rustam itu terlalu mau tahu tentang adat kita dan ia sebarkan ke mana-mana. Aku tidak menyukainya karena itu, dan sebab ia mencuri hatimu dariku. Lebih dari itu, ia juga mencuci otakmu hingga pikiranmu telah kota walau disebabkan juga karena kau pernah sekolah sampai SMA di kabupaten. Kau pernah menjadi guru di dusun sebelah, mengajari kami baca tulis di usia kami yang sudah berkumis.

Kabarnya, Rustam akan mendirikan pasar rakyat dan penginapan di sekitar kampung ini. Makin ramai saja orang datang ke sini. Melihat kami sebagai tontonan. Melihat upacara kami sebagai pesta. Oh, Karampuang bagaimana nasibmu nanti? Ketika kebiasaan orang kota meracuni adat kami, menjarah apa yang kami jaga, yang kami miliki. Aku ingin sekali mengumpat, mereka tidak beradab karena mereka biadab! Mungkin kelak tidak ada lagi yang namanya gotong royong. Seperti yang pernah dihimbau orang dulu, ”Hai sekalian anakku, kasih mengasihilah, rebah saling membangkitkan, hanyut saling mendamparkan, berkata saling mengiyakan, dan berbuat saling bantulah. Khilaf saling mengingatkan, satu kata dengan perbuatan, bagaimana di dalam begitu pula di luar, tegakkanlah yang keramat, sandarkanlah yang tabu, dan dudukkanlah yang makruh.” Sekarang banyak yang mengerjakan sawah dengan cara bagi hasil, tidak lagi yang punya hajat memberi makan untuk disantap bersama. Begitu pula saat membangun rumah, menggunakan tenaga upah. Mengumpulkan puingpuing harta sehingga saling mencekik. Serakah sehingga saling menutup pintu. Oh, Tomatoa! Hanya kamu yang murni. Kami akan teguh, tidak akan memasang paku tetap memakai tali rotan untuk menyusun kerangkamu. Mengganti tiangmu yang lapuk dengan menebang pohon bertuah di rimba melalui upacara madduik, menarik kayu bersama di hutan, wujud satu rasa. Tidak dipikul, sebab dipundak tanda mau menang sendiri. Oh, Tomatoa, kamu perempuan luhur yang kami puja. Dan kau, Jubaedah adalah perempuan Kampung Karampuang yang dijunjung. Darahmu adalah darah To Manurung. Mulia atas nama adat. Dan adat mengajarkanku tentang hidup, tidak mungkin kukhianati. Aku mencintaimu sebagaimana aku memegang adat. Disela itu terselip keinginan, yakni memilikimu yang tak boleh. Mencintai dan menginginkan itu serupa tapi tidak sama. Mengertikah, kau? *** Aku bukanlah Maryam dan kenapa pula sejarah harus berulang? Tuhan, bolehkah aku mengeluh sebab sudah lama aku berpeluh? Aku tidak bangga dilahirkan sebagai makkunrai, perempuan. Tubuhku menyiksaku. Aku dibelenggu. Ayah dan Ibu yang berbuat, mengapa aku yang harus jadi tumbal? Apakah memang dibutuhkan orang lain untuk menebus dosa? Lantas, salahkah mereka? Kau bisikkan di telinga Arung, tetua adat kami yang jarang bicara itu, untuk menentukan garis hidupku yang mesti kujalani. Menjadi perempuan suci, perempuan yang terkunci supaya tetap perawan. Jangan sampai sesuatu yang asing menyelinap masuk sebab akan melunturkan tradisi. Titah yang tak terbantahkan kecuali kalau aku cacat moral. Karena nanti warga juga yang akan memilih. Dan Ayah, Ibu, tak pernah membelaku. Ia wafat dengan patuh meski ia tak patut dipanggil Ayah, sebab tak pernah risau atau tak mau tahu jeritan hati anak gadisnya. Ayah memilih diam sampai ia menutup usia. Ayah hanya melihatku tumbuh. Dan aku memilih, berontak seperti ibu. Ibu yang mati karena melahirkanku. Ibu yang kawin dengan kaum pendatang dan dikucilkan di desa tetangga. Ibu yang dipaksa bernazar, jika bayinya perempuan akan diambil sebagai penggantinya. Dan Kau, Tuhan, mengabulkannya… Tetapi tidak! Sebagai anak aku merasa berkewajiban melanjutkan perjuangannya. Memang Puang Sanro telah renta, sudah layak istirahat. Perlu diganti. Tetapi mengapa harus aku? Tidak bolehkah orang lain? Aku selalu ingin bertanya kepada Puang Sanro tapi aku urung dalam hati, apakah ia memendam apa yang aku pendam? Ah, tentu tidak. Sebab aku tahu dari orang-orang, Puang Sanro adalah perempuan yang tidak laku. ”Dalam darahmu mengalir darah To Manurung, Anakku. Ikutilah takdirmu sebagaimana air yang mengalir,” ucapnya bernasihat ketika aku sedang malas meramu obat. ”Betapa menyenangkannya membantu orang, Anakku. Itu akan membuatmu menjadi ada,” lanjutnya berpesan di hari yang lain saat aku enggan mempelajari mantra-mantra. Ketika menolong, haruskah berkorban? Cukup! Aku tak mau mendengar lagi. Aku mau tuli saja, sambil dalam benak ini bertekad, aku akan melawan arus. Aku mesti berupaya meski tangis mendahului. Ya, sebab aku hanyalah perempuan biasa meski aku adalah perempuan yang cantik. Kusadari itu karena banyak yang merayuku semasa SMA dulu. Tapi aku tak hanyut. Aku mesti hati-hati meniti sebelum salah melangkah. Maka kutambatkan cintaku pada sahabat kecilku, La Gole. Aku sering memperhatikannya sampai-sampai aku tak sadar tubuhnya telah perkasa. Jika kami sedang berjalan beriringan aku senantiasa mendongak untuk melihatnya berbicara. Telingaku akan mendengar suara beratnya yang menentramkan. Andaikan aku dipeluk, pasti aku akan tenggelam dalam bahunya yang lebar. Saat kulit cokelat legamnya berkeringat, aku mencium bau khas manusia. Pernah juga ia menggenggam tanganku erat, sesaat tapi kurasakan kehangatan yang kokoh hingga jiwaku

” ”Aku tidak perlu membuktikannya karena cinta soal hati. Kami tiba di sekitar rumah adat Karampuang. Kulitnya harum dan langsat sepertiku. Hujan mengejarku seperti mengutuk.” “Tidak bisa. Hanya lidahku yang belum menafsirkan apa-apa. “Jangan Lama. kendati sesekali terjungkal karena kesandung akar pohon yang mencuat.” . kita terjebak di sini.” ”Bagiku tidak. Rustam. Ada senter di tanganmu.” “Aku tidak punya kampung selain dusun ini.” “Sekarang aku siap membawamu pergi. makam nenek moyang kami yang luhur. Aku berlari dengan kain terangkat mengangkangi tanah yang kupijak. pura-pura khawatir. Banyak peti batu berundak-undak di tempat ini. sikapnya terlalu lugu tak sebanding dengan badannya yang garang.” “Kalau begitu bawa aku pergi dari sini.” ”Apa itu? Akan kupenuhi. di hubungan kami yang sempat terjeda. Hadir dengan senyumnya yang menawan memberi harapan. Lalu muncul dia. Kini malam sungguh malam karena awan yang menenteng air berlayar di langit kelam. Obor La Gole yang menuntun jalan juga telah redup. Bukan salahmu. La Gole mencegat dan mengancamku sebelum masuk desa. Mengaburkan cahaya ibu di atas sana hingga buram. Aku sayang kamu.” Aku gigit jari. Dan tentu saja ia hangat.” La Gole pergi menengok. Ah. ”Kau tunggu di sini sebentar. Aku kecewa dan patah hati. mencari cara agar aku tidak terlacak sudah kabur. datang tidak tepat waktu. Lelaki dari kota. lelaki itu memang baik tapi aku harus pamit mengejarmu. Ia lapar dan aku haus.” ”Lalu kau mau kita menunggu di sini sampai pagi?” ”Mungkin.” ”Wisuda aku menjadi perempuan seutuhnya. Sementara jarum-jarum langit masih menyerbu. kau ada hati denganku?” “Ya.melambung. malam ini juga. Cukup lama hingga rindu mendera. Kau bohong! Aku membencimu.” kataku setelah ia agak menjauh.” “Tidak. Namun ia tidak punya nyali. Kau segera memelukku.” “Tak apa. Berangkat diam-diam. Kau basah kuyup sama denganku oleh derai hujan. ”La Gole. di bawah sana begitu rawan. Tanah ini adalah orangtuaku.” “Tinggal di hutan pun tak apa. Di sini kita aman. antara panas dan lembap. kau tidak mencintaiku sebab cinta itu perlu bukti. Kerap kubayangkan bila kami menyatu tak ada yang tahu bahwa kami berdua. “Maafkan aku. kau sudah berada di puncak bukit itu. Paling tidak aku dapat melihat bayanganmu. Angin bertiup meliuk sangat kencang. dan itu cukup buatku. asal bersamamu. Ternyata di atas sini tidak terlalu gelap seperti temaram. pelita rumah penduduk memang sudah padam. Jangan sekarang. Karena aku. mengguyur deras. Rustam. jatuh merintik terdengar menitik dan menerabas. aku meminta sesuatu.” “Ah. bukan satu tubuh. Lepas maghrib.

Kita berjalan mundur menuju tebing. Aku ingin perbuatan ini sakral seperti kematian. *** Puang Sanro pernah meramalkan.” Kau mengancam dan aku masih hirau. berkeliaran seperti ingin mencari ayahnya. Melihat dunia luar dengan muka gembira. Melelehkan kebekuan dan meruntuhkan kekakuan. Kubunuh kau!” ”Berani menyentuhnya. La Gole muncul menaruh mata badik di lehermu. tempat biasanya sesajian di letakkan. Kau telah mendurhakai tanah keramat ini. Sejak peristiwa malam itu. Senang mengintip yang terlarang. anak kita yang mengembala ternak. Sesajen yang baru tadi siang. Ah. *** Depok. sebetulnya aku ingin menabur benih di pucukmu yang kuncup. Sulawesi Selatan. Dan kau. Dan segalanya sirna saat kudapati pakaianmu berceceran ke mana-mana. begitu pun bulan berlalu. Jubaedah sudah melakukan lebih dari itu. Aku mendorongmu supaya terhindar dan langsung melindungimu. Masih memegang adat kuno dan alergi dengan teknologi. namamu tak pernah lagi disebut nyaris dilupakan. Rumah adatnya menyimbolkan sosok perempuan yang harus dijaga kehormatannya. Jika perempuan tidak kembali ke dapur. Kau dikurung di rumah adat Karampuang di atas loteng untuk dikuduskan kembali entah sampai kapan. Tak perlu airmata sebab akan kutanggung semuanya. Lantaran nista mengusik siapa pun sebab baunya tercium tajam. Mukanya murka. turun dari tangga rumah adat Karampuang bagai baru dilahirkan. Aku adalah hikayat perempuan tanpa biduk yang terdampar setelah lelah mengarungi duka. Gella: pemangku yang melaksanakan hukum yang berlaku di Karampuang. Hari berganti. dan tahun terus bertambah. Mappugau Sihanua: Setiap tahun di pekan pertama bulan November diadakan pesta sebelum bercocok tanam setelah menikmati panen melimpah sebagai tanda syukur. di Desa Tompobulu kecamatan Bulupoddo kabupaten Sinjai. maka rentan berbuat dosa. sadarkah kau? Argh! Jubaedah. Kulempar lelaki durjana itu dengan sekepal batu hingga ia tersungkur. lebih senang keluyuran atau suka berkumpul. Kau memandikan bayi kita di sumur tua yang berkah itu supaya kelak menjadi anak yang patuh. Seandainya saja kau tahu angan-anganku yang sederhana ini.” ucapku setelah usai. ”Terima kasih. Di kejauhan terlihat obor berkeliaran serupa kunang-kunang.Apakah rasa sakit itu? Bila hasrat terjerembap. yang tak mungkin terwujud. aku lompat dalam jurang. wajahmu yang bersinar dalam balutan pakaian putih yang menyejukkan hari-hariku kala memandangmu telah berubah busuk bagai bangkai. Kelak. Di gubuk tua itu. dan kau datang membawa makanan. muncul begitu saja. berhamburan karena ulah kita. 270908 (Kutulis ketika merindukan kampung halaman) Catatan: Karampuang: dusun yang terletak di puncak bukit 1000 meter dari permukaan laut. . ketika birahi yang terpendam peka pada setiap ransangan. tujuh hari tujuh malam. lalu bangkit tersaruk-saruk. darah dagingku. Puang: kata sandang untuk orang yang dituakan atau yang dihormati. Berlari lincah. Kau telah haram di hatiku yang meradang. Hidup matinya Karampuang ada di tangannya. Hingga pada suatu pagi. ”Bangsat kau. menanam dan menuai padi. Aku gigil oleh getar. Tidak seorang pun diperkenankan menemuimu dan tak ada yang tahu bagaimana rupamu sekarang. Kini aku luka dan hina. kami dikejutkan oleh kehadiran seorang bocah yang belum pernah kami lihat sebelumnya. kau dianggap tidak pernah ada. Semua makhluk punya mata. Dan sudah kuduga. Aku merintih dalam amuk saat kau menyuruh Rustam hengkang dari kampung ini tanpa dijera. Di tanahmu yang subur bakal tumbuh tanaman berbuah. Rinai-rinai bersenandung seperti berkisah. Arung: ketua adat atau raja yang jarang bicara tapi sekali bicara adalah tuah yang tak terbantahkan. aku rebah menerimamu. Rustam. Aku membajak sawah.

Aku makan dengan rakus. Lelaki itu membolak-balik iIu seperti barbeque di arang kayu. Ia seperti menunggu. Ibu dan lelaki itu saling beradu. mencuat. . Ia mempesona setiap perempuan. Mungkin saja dia bapaknya Ibu. Bapakku tampan. Meninggalkan rupa lama yang dulu hanya berbentuk ekor dan kepala. Teganya Ibu mengkhianati Bapakku. tidak! Ia menyentuh Ibu dengan gerakan yang sama sekali tak malu-malu. seperti bendera yang turun di arena balapan. To Manurung: nenek moyang orang Karampuang berwujud perempuan. xxxxx Malam pertama bersama Ibu. walau belum mempunyai mulut dan bibir untuk tersenyum. Seorang lelaki bertubuh tambun dengan perut menyembul. Tapi ini satu-satunya caraku untuk memberi tahu Ibu bahwa aku bukan bayang. aku sudah tertawa. untuk mengelus. 2008 by Rien Al Anshari Aku dibentuk dari dua nyawa yang terpisah. yang sebentar kemudian akan memunculkan pertanda. Ibu bangkit dan berjalan secara perlahan. Apakah Ibu menunggu Bapakku? Aku belum tahu. Bagian tubuh itu.Sanro: pemimpin spritual di setiap prosesi adat yang harus dijabat oleh perempuan atau lebih tepatya disebut dukun. Malam ini. Aku mengalahkan berjuta ekor dan kepala lainnya yang datang mencari Ibu. Aku lemas. Reaksi ereksi itu seperti permulaan arena balapan. tempat laki-laki itu singgah sesaat sebelum air maninya muncrat. Ibu kembali menunggu. Ada apa dengan Ibu? Ibu. Tapi sambungan hidupku berada pada wanita. Entah yang mana ibuku. Tidak tahukah Ibu. Ibuku Jalang. Tidak tahukah Ibu. Wajahnya rupawan. mati di jalan karena mereka berlari terlalu pelan atau kalah dalam himpit-himpitan jutaan teman yang berkejar-kejaran mencari tempat buat makan. Wajah dan penampilannya menunjukkan seperti itu. Aku ingat saat dulu berkejar-kejaran dengan teman-teman. kaki. mana mungkin kami punya tenaga untuk mencapai indung telur wanita. di dalam liang hangat. Ibu yang mengharapkan kehadiranku atau Ibu yang menganggapku hanya sebagai benalu. Siapa bilang kami bernyawa setelah salah satu dari kami mempunyai rupa? Kami telah bernyawa dari sejak kami menjadi sperma. atau sesungguhnya Bapak yang ditunggu? Aku belum juga tahu. Mereka tidak berlarian. Ibu benar-benar bersifat magnetik. sebelum salah satu dari kami berhenti sesaat. Nyawa pertamaku dari seorang pria. Aku tahu persis siapa Bapak. persis seperti tempatku dulu di tubuh Bapak. menggurat menjadi lekat di kulit Ibu yang sekat oleh keringat. Aku juga masih ingat. Tapi. Aku minum karena selalu haus. xxxxx Aku ingin bertemu Bapak. seperti aku. Kami mencari tempat terhangat. Tomatoa: nama rumah adat Karampuang. laki-laki itu semakin panas. tangan. Nyawa seorang pria yang menabuhi seorang wanita bernyawa dengan sperma. Aku ingin cepat mempunyai muka. Membentuk sel baru yang menyatu. Pantaslah Bapakku tidak bisa munafik untuk tidak tertarik. bahwa aku begitu bangga. Bukan aku tak sayang. perawakannya tak beraturan. menendang bahkan menerajang. Dia bukan Bapak. muncul. aku belum tahu. Aku melihat Ibu duduk di atas sebuah kursi memanjang dengan bantal yang kenyal. penuh rasa lega akhirnya aku tiba. Apakah kali ini lagilagi lelaki buncit yang memberi malu. Ibu memberiku makan dari darah yang mengandung sari yang dipompa dari jantung melalui aorta. Reaksi itu menimbulkan ereksi. Ia seakan memberi pertanda pada kami untuk siap-siap beraksi. malam keduaku bersama Ibu. Aku makan dari wanita yang kemudian kukenal dengan sebutan ibu. Aku ingat ketika Bapak berlaku seperti itu pada Ibu. Gerakan-gerakan yang ia ciptakan membuat salah satu bagian tubuhnya menegang. Bapak bereaksi. Aku mulai tumbuh dan tak lama lagi akan membuat pergolakan rasa yang perlahan akan membuat Ibu tahu bahwa aku ada. sesama teman sperma yang dimuntahkan dari penis manusia. Aku sudah tidak sabar untuk mengabarinya bahwa ia telah berhasil menciptakan bibit manusia. Tapi. kami berkebut-kebutan. Aku juara. Aku Malang. dia bukan Bapakku. Aku menunduk malu. Malam ini Ibu terlihat begitu cantik. Kalau kami tak bernyawa. Lalu. Kami menunggu dalam deru erangan. Penuh ketegangan. Pintu diketuk. Bapakku Jahanam Bukan Kepalang ( juara 2 ) Desember 30th. Aku diam berhari-hari di tubuh Bapak sebelum akhirnya bertemu Ibu. tumpahan-tumpahan makhluk seperti aku membasahi muka Ibu. aku baru saja bersenyawa dengan tubuh Ibu. Saat ini. Lelahku akhirnya terbalas juga. Bukan seperti lelaki yang datang ini.

Dan baju Ibu. Ibu tidur dengan laki-laki. Lompat-lompatan. Ibu tersandar. Luar biasa sempurna. Tapi. Sudah kukatakan. Dan Ibu bukan lagi sadar. Aku ingin Ibu dengar. Ia masih sibuk dengan dirinya yang luar biasa. Bercanda. “Bangsat! xxxxx Aku semakin besar kini. “Hey Jabang Bayi. Tapi Ibu tak pernah lagi bertemu Bapak. Dan aku menerjang. bukan lagi keanehan. Ibu bertemu laki-laki. Minuman itu memabukkan.” “Masa bodoh dengan dunia di luar sana. tapi juga akan membesar. Tapi aku tak gentar. Ia menyebut-nyebut aku si tolol yang dungu. Aku putus asa pada sikapnya. Ia ditemani segelas minuman. Aku bibit manusia buah bercinta dengan pria yang belum kujumpa. Dan hari ini. membuat Ibu mabuk kepayang. ia memaki. Ia memuntahkan isi perut yang ia kandung. Aku sudah memiliki tangan dan kaki. Sudah tidak kusisakan lagi sedikitpun tempat untuk kalian menyatu. Ibuku mengamat-amati benda itu. Aku tetap minum. xxxxx Dan aku masih menunggu. kali ini dia membuatku mabuk. Ia menaiki Ibu yang tengah terbaring. Ibu meraung. Tubuhku yang belum sepenuhnya terbentuk ini terasa berputar-putar. walaupun belum sepenuhnya memiliki jari jemari. Aku tetap makan. Gerakan jumpalitan hingga ledakan tumpahan air kemaluan. Kalau kau tak tau caranya bertahan kau bisa megap-megap. Wajahnya panik. Suara desah Ibu terpecah melengking. Tapi tak lagi minum dengan harap. Lalu berbaring dan membuka baju. Wajahnya tampan dengan senyum yang sangat memikat. sehingga aku bisa mengenal wajah seorang Bapak yang kutunggu kedatangannya. Pantas saja seorang Ibu terjerat. Apakah ia Bapak? Bukan. dengan gerakan yang membuat lelaki itu bersimpuh layu. Lelaki itu datang menjenguk Ibu. Aku gemetar. berhentilah kau berharap. hingga ledakan tumpahan air kemaluan yang bukan lagi keanehan. ari-ari kembaran. yang datang lagi-lagi lelaki. Tapi tidak sepenuhnya sendirian. silih berganti. Sebentar lagi aku akan membuat kulit Ibu meretas. Aku seperti tak berhenti meratapi diri. nanar. Tapi Bapakku berkulit kecokelatan. Bapakku memang tampan dan rupawan. Aku ingin Ibu gentar. Aku ingin tetap terjaga. Ibu bercinta dengan laki-laki. Bajunya. Kemudian mereka datang dan pergi. Menunggu Bapakku. Masih. Aku tak pantas diperlakukan seperti ini. Mereka seperti lahar yang mencahar karena panas bergejolak yang membakar. Lelaki bertubuh tinggi dengan kulit putih sangat terawat. tidak Ibu lalui bersama Bapak. Terus kugetar-getarkan tubuhku untuk membuatnya terhuyung. Desah-desahan. Dunia yang sesungguhnya memang pengap. Tumpahan-tumpahan itu berlalu bersama waktu. Ia duduk dan berbicara terlebih dulu. Menunggu dalam bimbang. Luar biasa menggoda. Aku memang tolol dan dungu. Sekian hari sekian waktu Ibu selalu bersama laki-laki. Aku kecewa pada gaya hidupnya. Tahukah Ibu bahwa aku mani yang menang lomba lari terpanjang seantero bumi? Bukan salahku kalau aku kemudian menghuni tempat ini. Ia diam. hari ketujuh bersama Ibu. lompat-lompatan. Aku sudah tiba lebih dulu. sementara ari-ari tak berhenti mencaci maki. Beberapa menit kemudian aku merasakan sesuatu yang tak nyaman. Minuman itu begitu elegan dalam gelas kaca dengan kaki panjang menawan. Berjalan bolak-balik mondar-mandir sambil menggenggam benda itu dan berpikir. Dengan bola mata yang terbuka lebar. ia mampu memikat perempuan. Ini tempatku. Makhluk-makhluk yang dulunya seperti aku. akhirnya keluar. Ia pun meminum minuman yang diminum Ibu. Aku nyata. Tapi tak lagi makan dengan lahap. Benda itu berbentuk kertas tipis memanjang secarik. Aku ingin bersamanya ketika ia bersama siapa saja.Ibu menunggu di dalam sebuah ruangan luas. Ibu mencampuri laki-laki. Ibu masih belum tahu keberadaanku. Dunia tempat Ibu berpijak. Walau tak punya kaki tangan aku menendang. gerakan jumpalitan. Aku berteman dengan benda yang kemudian kukenal dengan sebutan. Ia meliriknya. Aku ingin Ibu sadar. Itu semua karena Ibu. Luar biasa bercinta. Matilah kalian sebelum sampai lebih dalam di rahim Ibu. bahwa aku ada. megah dan nyaman. Kemudian ia menduduki kloset dan mengencinginya. Laki-laki manapun takluk dan bertekuk lutut padanya. Ia lelah karena harus memuntahkan makanannya keluar. . Menciptakan bunyi yang membuat tubuh tanpa kepalaku pusing dan pening. Ibu menenggaknya. Ia sendirian. Lalu ia menyatukan tubuhnya dan tubuh Ibu seperti anjing. Aku marah pada keluarbiasaan Ibu. Oh Ibu. Aku tak urung. Lalu ia mengambil sesuatu dalam sebuah kotak yang berbungkus plastik. Tidak seperti lelaki tambun tak tahu malu yang langsung menyentuh Ibu tanpa ragu. Aku tumbuh karena aku memang tumbuh dan waktu perlahan membuatku begitu. Ia berdiri. Ari-ari. berguncang dan seakan tak berhenti bergetar. Lantas tertawa-tawa.

makhluk malang. Ibu tak terpekik walau setengah mati ia tercekik. Malam ini. Dan ia Bapakku. Ia tampan dan rupawan. Dunia sudah membuat ia lupa asal mula. Tubuhnya hanya terbalut kaos singlet berwarna putih. Ia Ibu yang hanya menganggapku benalu.” Ibuku benar-benar tak punya belas kasihan.” “Dan aku anak pelacur yang vaginanya selalu menjadi tempat bercampur. xxxxx Malam ini ia kembali menunggu. hingga akhirnya aku tiba dalam rahim seorang perempuan. Ibu benar-benar tak pernah menginginkanku. Teman-teman berkejar-kejaran. Lelaki itu menarik tubuh Ibu dan mencengkramkan kedua tangannya ke leher jenjang Ibu. Ari-ari. Laki-laki itu berperawakan tinggi. bisa kurasa bahwa di luar sana sedang hujan. Jabang Bayi bodoh. Tangannya memegang sepuntung rokok yang abunya sudah bertumpuk menunggu jatuh. Perempuan itu pun tak tahu siapa yang telah mencampurinya. Tak seperti biasa. Ia duduk di sisi jendela di atas sebuah sofa berlengan.” “Aku takkan bisa tenang. Ibu masih tak melawan. Ia tak memakai bawahan. Lelaki itu Bapak kita.Aku disuruh lari. Bapakku memaki. Ibuku tetap diam. kau Jabang Bayi tolol. aku ikutan. aku memimpin di depan. Dia memang selalu seperti itu. Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah cacian meskipun ia begitu kenikmatan.” “Diamlah. Dunia kehidupan yang berbeda. Jadi memberi tahu laki-laki itu hanya akan sia-sia dan merusak acara bercinta mereka. Dan ia berhak tahu bahwa aku ada juga karena dia. Kulit muka yang sepertinya berewokan meninggalkan bekas cukuran yang terlihat jantan. Bahkan ketika lelaki yang kusebut Bapak itu menunggangi Ibu seperti binatang. Wajahnya memikat setiap perempuan dan kulitnya kecokelatan. Seorang laki-laki tiba-tiba datang. Bapak kita. Dan dari dalam sini. Ia diam seribu bahasa. Bapakku semakin membabi buta. Perempuan yang tak berperasaan. hanya mengenakan celana dalam berwarna hitam. Aku tersekat.” Lelaki yang kusebut-sebut Bapak tidak langsung menyentuh Ibu.” “Ibumu pelacur. Mereka balapan. Ia juga tidak seperti lelaki menarik yang memulai percintaan dengan candaan menggelitik. kata mereka. Bapak tidak memeluk Ibu . Tidur dengan laki-laki yang datang dan berlalu. Ia tetap akan diam.” “Kenapa ia takkan memberi tahunya. Ia sungguh laki-laki yang menawan. Ibuku tak cantik. Hinanya aku. ia menamparnya. Begitukah Bapakku saat membuat aku. aku lari. Aku menutup mukaku dengan kedua tangan yang baru terbentuk seakan menahan malu. Aku akan menendang perut Ibu sebagai pertanda agar ia tahu. Ari-ari. Itu Bapakku. Hal yang sudah lama kutunggu berjumpa dengan Bapak tidak seperti apa yang menjadi pengharapan rindu. Ibu masih tak membuat gerakan. ia terlihat kusut masai dengan rambut berantakan tergerai-gerai. Kakinya bertekuk dan ia peluk. seperti lelaki tambun yang penuh nafsu. Entah laki-laki mana lagi aku sudah tak mau tahu.” “Dia jelas-jelas lupa saat ia masih menjadi sperma. Aku ingin ia memberi tahu Bapak bahwa kita ada. Kau tendang seperti apapun ia takkan memberitahunya. Ia mengisi udara paru-paruku dengan asap yang membuatku jengap.” “Aku benci Ibu. Bapak tidak mencium Ibu dengan hangat. Asap yang ia hirup dan ia jadikan oksigen sampingannya untuk bernafas menjadi racun yang membekas. Ibu dan menghujaninya dengan tamparan. “Ari-ari.” “Tenanglah.” “Karena Ibumu jalang. Mereka tak saling berteguran. Ibu terkesan pasrah dan melemah. Sesaat kemudian ia menoleh. Ibu pun diam. Lelaki yang kusebut Bapak itu kemudian bergerak ke depan Ibu yang masih melihat hujan. lihat siapa yang datang. dan diam saja. Ia merobek pakaian Ibu sampai tak satupun tersisa. Ia tak hanya membuatku mabuk dengan minuman.

Ibuku jalang. Jadilah aku hasil hubungan yang penuh malu. Lelaki itu tak akan pernah tahu bahwa aku dulu adalah benda berekor dan berkepala yang ada di tubuhnya. Aku dagingmu. Untuk sperma. Aku sudah tak mampu lagi meronta. Ari-ariku sudah tak lagi berbicara. Ia seperti pawang yang menunggangi binatang yang telah terlebih dulu di cucuk lubang hidungnya. meronta. menjadi setengah manusia yang sudah memiliki kepala sesungguhnya kepala. Aku bukan hanya makhluk berekor dan berkepala yang tumpah di muka wanita. Aku bagian tubuhmu.” Aku terdiam sejenak. Pontianak. Ari-ari. “Kalau saja kau ingat seluruh perjuanganmu mencapai tempat di rahimmu. zygot. tubuh Ibu. Ibu. Ibu. Ari-ari dan aku saling berpegangan. Ibuku benar-benar perempuan binal. Mataku terbuka lebar.” “Persetan dengan mereka. Aku tak mau mati di sini. Kau tetap berhak melihat dunia. Tanpa sadar aku terisak. Aku darah. Bapak tidak bercinta dengan Ibu penuh dengan rasa. teganya kau padaku. dan aku memiliki hak seperti para manusia. di lantai. dunia menggerus ingatanmu. walau ia fana. ia memakinya. karena aku sudah menjadi bagian dari mereka. 17 December 2008: 03. Ibu Bapak tak menginginkanku. Aku berhak hidup dan melihat dunia. Tidak ada juga udara yang mampu kuhirup untuk membakar tenaga. Wahai Ibu.05 a. embrio. Aku hanya berharap untuk diberi lagi kesempatan menjadi mani pada laki-laki. Tidak ingatkah perjuanganmu untuk sampai ke tempat ini?” “Percuma saja. setengah manusia yang tak pernah menjadi manusia 45 Responses to “Aku Malang. Jabang Bayi. tak lagi bernafas. Aku bergerak. nanar. Aku malang. menerjang guncangan yang menarikku juga menarik ari-ari kembaran. yang akan kembali membuatku berjuang dan berkejar-kejaran dalam himpitan. xxxxx “Aku seakan tak punya harapan hidup. persis seperti mata Ibu saat baru menyadari keberadaanku. dan kini melebur dalam tubuh pelacur. apa aku akan melupakan saat-saat ini ketika aku seutuhnya menjadi manusia sejati?” “Maaf Jabang Bayi. Bukan Ibu yang hanya menganggapku sebagai benalu. melawan. menjadi embrio. Mudah-mudahan aku sampai pada perempuan yang menanti kedatanganku. Walau setengah manusia. Bapakku lelaki bangsat. Ia pelacur profesional. menjadi zygot. di kasur. aku rasa kau tidak akan pernah muncul di dunia untuk menghirup udara?” “Kenapa. Sungguh aku tak percaya bahwa Ibu benar-benar tega. Perjuangan sampai ke tempat ini sangat berharga. Argh! Aku penat. Benda tak berharga yang keberadaannya hanya menyesakkan dunia. aku sudah merasakan guncangan hebat bergetar dalam ruang sempit di sekelilingku. Ibuku perempuan laknat. Ibuku Jalang. ia mencekiknya. Aku sudah menjadi setengah manusia. Ari-ari? Kenapa?” Belum sempat ari-ariku menjawab.” Dan aku lemas. Sekarang kau membuangku seakan aku sampah. Bapakku Jahanam . Sampailah ia bertemu Bapak yang tak kalah nakal. Bapakku jahanam bukan kepalang. Dan ini adalah perpisahan. Ari-ari. lalu dibuang sia-sia. dalam tangisan yang rasanya sesak. Tenaga yang kami miliki sungguh tak sebanding dengan kekuatan angin maha dahsyat yang menyedot kami. Ia melayani laki-laki manapun yang tak ia kenal. Aku manusia. Dan tak lagi membekaskan memori masa lalu asal muasalmu. kau pasti tak akan melakukan ini semua. Hanya saja. saling berpelukan. Hanya perasaan marah yang bergejolak dan tergelak-gelak seperti lava.m.” “Bodohnya kau. Ari-ari kembaranku benar.dalam dekap. Aku sudah hidup dan bernyawa. “Ari-ari.

Ratusan kata terangkai dalam warna-warni yang tersusun dengan berantakan dan saling bertautan membentuk lukisan abstrak di atas alas yang pasrah. Api rokok terpejam dan menyala mengikuti irama denyut jantung. ini adalah saatsaat yang indah untuk memikirkan diri sendiri dan menolak segala hal lain yang masuk ke dalam otak. Semilir angin dingin menerobos melalui ventilasi menyebarkan rasa kantuk berkali-kali. Aku tak ingat bahwa ada seseorang di bilik sebelah. Ditulis dengan warna gelap. air mata. Seketika tembok ini menyiratkan hawa perasaan hangat manusia. Tampak jelas di mataku sekumpulan emosi yang tersurat dengan lantangnya menyuarakan batin yang selalu berteriak. Tidak ada yang melebihi kesetiaan mereka dalam mendengarkan setiap keluhan para penyendiri yang tak berdaya. sedikit kemarahan. sudah itu mati’ tulisan itu berkata. Kini aku merasa sedikit malu dengan tembok-tembok ini yang mengepungku seakan sedang menghakimi aku atas semuanya yang telah mereka alami. ’Sekali berarti. Sedikit demi sedikit semuanya merambat ke dalam diriku dan dalam hati kecilku. selain melubangi paru-paruku lewat setiap tarikan napas dan memandangi sekelompok lalat yang tampak malu-malu untuk menyapaku. Lima baris puisi terpampang di atas tembok yang sama.Di Dalam Toilet. sebuah tangan manusia terjulur dengan telapak tangan menengadah ke arak mukaku. Semakin lama aku semakin tertarik untuk membawa setiap tulisan-tulisan ini ke dalam ruang perenunganku. rasa pasrah. Tak banyak yang kulakukan. ’Aku mau hidup seribu tahun lagi’ tulisan lain tak jauh dari yang pertama bersandar dengan berhiaskan gambar kawat berduri di sekitarnya dan tiga buah tanda seru di belakangnya. Aku memperhatikan dengan mata yang sombong kepada setiap coretan di sisi kanan tembok tempatku duduk. Dan lihatlah kerelaan mereka menyodorkan wajahnya untuk dijadikan kanvas yang merekam sidik jari riwayat sifat tolol dan kekanak-kanakan manusia melalui goresan tinta tak bertanggungjawab. Dan kekalahan akan datang kepada mereka yang berani menanggung rasa nyeri. Tetesan dan rembesan air mata yang jatuh dari langit mewarnai umur tembok-tembok ini lewat garis-garis kecokelatan yang merambat pelan dari atap menuju basahnya lantai keramik. Betapa aku telah mencapai suatu tingkat kenyamanan yang membuai dengan duduk di sini sambil merasakan bokongku berkarat perlahan-lahan. ”Boleh minta rokok?” telapak tangan kemerahan itu berkata. Sebuah kutipan milik seorang penyair besar yang tampak telah merasuki jiwa si penulis. Seperti melihat sejarah kehidupan manusia yang pertama ditoreh lewat lukisan-lukisan di dalam gua-gua purba yang gelap dan tanpa kusadari bahwa jarak waktu yang ditempuh dari jaman itu hingga sekarang adalah bukti jalur perkembangan hidup umat manusia yang telah begitu panjang teraspal. benci. Rasa kecewa terekam jelas lewat kata-katanya. ”Ambil saja. yang tampak menikmati bau pekat di dalam ruangan menyedihkan ini bersama-sama. Ketidakpedulian menyelimuti diriku. aku mendapati segenggam kebenaran yang coba dipancarkan oleh tulisan-tulisan itu. di Atas Kloset ( Juara 3 ) Juni 4th. Begitu banyak hal yang telah mereka lalui dan ribuan wajah yang telah mereka lindungi.” seruku. Kesendirian memang selalu terasa dingin seperti sebuah rumah kosong dimana kepulanganku dari keramaian dan berisiknya suara manusia dan keangkuhan wajah kota besar. disambut dengan pintu-pintu yang terbuka lebar. Lima detik kemudian aku bereaksi. dan saling menjatuhkan. Empat sisi tembok putih menatapku dengan wajah yang pucat. mengambil sebatang rokok dari saku kemeja dan meletakkannya bersama korek api di atas tangan itu. Kesedihan. Dilapisi oleh warna merah yang menyerupai darah dan goresan tegas membentuk tiap hurufnya. Betapa hidup tak ubahnya semacam arena perang untuk saling mengungguli. saling menyisihkan. ’Yang terakhir mati adalah harapan’. menambah sempurnanya suasana tenang yang mengiringi parade ritual sakit perut yang kualami. Betapa mereka telah meredam isak tangis para manusia kesepian dan menjaga setiap aduannya untuk tidak keluar dari ruangan ini. aku dibangunkan oleh rasa terkejut. Dalam keheningan yang membius. Walau sebenarnya perutku yang melilit itu sudah tenggelam di dasar WC beberapa menit yang lalu. di celah antara tembok dan lantai toilet. Samarnya suara tikus yang mencicit jauh di sana. Dari bawah tembok sastra ini. Mereka tak mampu menyembunyikan lukanya yang terkelupas oleh roda waktu dan tangan-tangan jahil yang telah merampas keperawanannya yang putih. Entah apa yang dipikirkan oleh lalat-lalat kecil yang terbang mengitari lampu redup di atas kepalaku. harapan kosong dan tentunya perasaan kecewa adalah tema yang menumpuk pada sastra tembok ruang WC ini. begitu baris akhirnya berbunyi. Karya seni ini mengundang jiwa pengamatku untuk menelusurinya satu persatu. . 2008 by Arki Atsema Toilet begitu sunyi malam ini. namun sisa batang rokok yang terbakar ini menahanku untuk menikmati kesendirian dari dalam bilik sempit ini barang sejenak. siap ataupun tidak.

” Dahiku berkerut. walau bagaimanapun juga aku berusaha memikirkan kata-kata yang tepat untuk memulai sebuah pembicaraan yang dapat memecahkan keheningan yang mengganggu ini.mungkin ratusan cabe merah dan kerabatnya. Aku tidak akan makan lagi di sini. aku .” ia berkata untuk yang kedua kalinya. Asal kau tahu. aku menebak-nebak bahwa dia seorang anak lelaki seusia remaja. Dari suaranya. Rokokku sudah setengahnya terbakar. seperti memikirkan jawaban yang akan keluar dari mulutnya. ”lebih enak kalau kita tidak saling kenal nama masingmasing. ”Terima kasih. Sepertinya dia juga tidak melakukan apa-apa di ruangannya. Yang jelas perutku terbakar. bahkan untuk orang sepertiku. Apa mungkin aku mengajukan pertanyaan yang salah? Atau bisa jadi dia ini adalah seorang yang pendiam dan malu-malu.”Oh terima kasih. Restoran ini memang membuatku mual. Aku memilih tenggelam dalam keheningan yang ia ciptakan. ”Apa yang akan kita bicarakan?” aku bertanya.” ”Baguslah.” ”Oh. apa yang barusan kau makan?” aku mencoba membuka percakapan lagi. ”Sama-sama. Dahsyat sekali. aku adalah tipe orang yang hanya bisa menunggu. Hembusan napasnya terdengar amat jelas di kedua telinga. untuk mengobrol dengan seseorang tak dikenal di dalam toilet yang wujudnya terhalang oleh tipisnya tembok pembatas. Aku tak bisa menahan perutku yang melilit. Kita bisa sedikit mengobrol kalau begitu.” Gelombang hening berkeliaran di dalam toilet.” Dan tangan itu menghilang lalu tak lama kemudian suara percik api bergema memadati ruangan. Seseorang ada di sebelahku. begitu pikirku. aku berada di sini gara-gara udang bakar sialan yang disajikan dengan….” Sedikit aneh. atau tepatnya seorang remaja tanggung. Untung saja restoran ini juga punya toilet. Tadi dia yang pertama mengajakku bicara. aku bingung dengan orang ini. Ia diam tidak menjawab. Dalam situasi sekarang. Jangan-jangan kau juga makan udang bakar itu?” Aku tidak yakin tapi sepertinya aku mendengar sekilas suaranya bergema mengucapkan ’Eeeee…’ yang panjang. Tangan kirinya muncul lagi dari celah bawah sambil menggenggam korek api gas warna hijau yang tadi kuberikan padanya. hanya duduk-duduk sepertiku. Kali ini aku tidak mencoba mengajaknya bicara. Aku hampir membuka mulut saat suara yang dingin itu datang.” ”Boleh. Hanya duduk-duduk di atas kloset porselen warna putih yang keras. dan entah mengapa aku merasa sedikit canggung dengan kehadirannya. ”Jadi. Maka aku memulai dengan mengajukan pertanyaan yang paling mudah. ”Kau sedang sibuk?” ”Maksudnya?” ”Apakah aku mengganggu kegiatanmu di sana?” ”Oh tidak. ”Siapa Namamu?” ”Tidak perlu tahu nama saya. Entahlah. ”Makan?” ”Ya. tapi sekarang dia kembali mengunci mulutnya rapat-rapat. Salah satu dari kita harus memulai percakapan. Lalat-lalat telah pergi entah kemana.” serunya dengan cepat. Aku hanya menghabiskan rokokku di sini.” ”Restoran sinting. Dan kini kami berdua kembali diam dengan tenang. Detak jarum jam tanganku adalah satu-satunya suara yang kudengar.

Tanpa perkenalan. Anak ini datang ke toilet serba putih ini.” aku berbohong lagi. Dilihat dari isi tulisan dan . Dia tertawa kecil. Aku menghirup dan menghembuskan asap rokok dengan keras. tanpa suara. Sepertinya aku telah berhasil membawa pembicaraan ini ke arah yang lebih baik. mungkin juga tanpa menoleh sedikitpun pada pelayan atau hanya sekedar duduk-duduk sebentar di kursi. ”Sup ayam. Dan memang rasanya agak pedas.” ia terkesan berhati-hati dalam menyusun setiap kalimatnya. ”Oh ya? Untuk apa?” ”Menurutmu?” Menurutku karena kau adalah anak iseng yang tidak punya hal bermanfaat lain yang bisa dikerjakan selain menginap semalaman di dalam toilet ini. bisa dibilang ini seperti sebuah ritual buatku. untuk karya seni sebagus ini.” Biar kuanalisis sebentar. melainkan langsung meluncur menuju toilet ini. ”Ingin bicara denganku kan?” Aku tak sabar menunggu. “satu-satunya makanan yang pernah kumakan di restoran ini adalah sup ayam.” aku tak tahu apa yang sedang kukatakan. sengaja membuat sedikit keributan.” Mulutku seperti ditampar.” Tentu saja. tanpa sepengetahuanku. ”Yaa. dan. Maksudku.merindukan suara bising sayap mereka. Seharusnya kau bisa lebih menghargai seni dengan menaruhnya di tempat-tempat yang pantas. Aku tak peduli siapa yang melakukannya. Hampir setiap malam aku datang ke sini. ”semacam duduk-duduk di tempatmu berada sekarang. ”Tapi aku tidak alergi dengan pedas.” ”Oh ya?” ”Tentu saja. Satu-satunya ritual yang kukenal yang pantas dilakukan di toilet adalah ritual yang baru saja kujalani beberapa menit yang lalu dengan susah payah. ”aku orangnya. sama seperti kelakuan remaja aneh lainnya.” serunya dengan nada pelan. Menghabiskan sedikit waktuku. Tak disangka ada juga orang seperti anda yang memperhatikannya. Kehebohan terjadi di dalam otakku untuk mencari kalimat yang tepat untuk menanggapi pernyataannya tadi.” jeda kembali terulang. Kamu pikir aku rela menghabiskan waktu lebih lama di dalam sini kalau bukan karena ingin menikmati coretan-coretan ini. ”Oh ya?” ”Ya. Lalat-lalat kembali berputar-putar di sekitar lampu dengan kesetanan.”. dengan coretan sebesar ini.” tiba-tiba ia bicara. Tanya saja lalat-lalat ini. sedikit menyejukkan di telingaku. Inikah yang terjadi pada remaja jaman sekarang? Masuk ke restoran hanya untuk menikmati nyamannya kloset sambil mungkin berpikir tentang masa depannya? ”Kalau begitu kamu kenal dengan orang tak tahu malu yang mencoret-coret dinding di dalam sini?” Pertanyaan basa-basi. ”Wow! Bagus kalau begitu.suaranya sedikit serak kali ini. cuma…. aku tak tahu harus memanggilnya apa. siapa yang tidak akan memperhatikannya. atau di tembok kota sekalian biar orang-orang bisa melihatnya. Ada kekuatan sastra di dalamnya. Aku punya latar belakang seni dan aku tahu apa yang sedang kukatakan.” semoga ia tidak menangkap irama kepanikanku. Latar belakang seniku adalah mencoret foto muka presiden di ruang kelas sekolah dasarku dulu. ”Ya. ”maksud saya. sangat tak tahu malu apabila hanya dipajang di dinding WC yang jorok ini. mengunci diri di dalamnya dan melakukan ritual. Aku yakin bahwa ia masuk ke restoran ini tanpa memesan apapun. ”Ritual yang kumaksud adalah mencoret-coret dinding ruanganmu itu. alasanku ke sini bukan karena sakit perut atau apalah. Tapi setidaknya setengah dari daya tarik corat-coret ini memang berhasil menarik perhatianku. Bahkan asap rokokku ikut merasakan kalang-kabut. tanpa jabat tangan – kecuali dengan sebatang rokok dan korek api yang kuberikan padanya – dan tanpa nama sama sekali. dan tanpa basa-basi langsung mengajakku bicara seolah-olah aku ini temannya. sebanyak ini.

lebih menonjolkan sisi gelap manusia.” “Entahlah. kau benar.” . ini adalah semacam cara anak muda jaman sekarang dalam mengekspresikan sesuatu.aku mengira bahwa dinding ini adalah bagian dari buku hariannya yang diisi oleh keluhan atau semacam curahan perasaan untuk seseorang yang bisa dibilang sangat kesepian.” rasa simpati mulai merangkak keluar dari kepalaku. aku memang…memang menuliskan semua yang kurasakan di sana. Tapi aku membuat hidungnya berdarah. Jangan terlalu disesali. Aku menolehkan mukaku ke arah biliknya. Aku hanya membenci semua hal dan ingin sekali berdiri di puncak bumi ini dan memarahi semua orang-orang yang pernah kukenal. Gandhi sang Gladiator mengalahkan Hitler si Pecundang!” Kami berdua tertawa.” ia memberikan penekanan dan menambahkan unsur melodramatis dalam kalimatnya. lebih seperti perasaan kesepian. karenanya aku memilih untuk berhati-hati.” Gemeretak tembakau yang terbakar terdengar nyaring dari tempat ia berada. Aku lelah ditertawakan. seakan-akan tidak ada hal benar yang dapat dilihat oleh matamu di dunia ini. “tapi selama kau bisa memanfaatkannya dengan baik. kita adalah orang yang sama. lebih kelam. mungkin sedang mengolah setiap kata yang ia dengar di suatu tempat di kepalanya. Hanya saja ini lebih… mmm…katakanlah. ya kan? Seperti coretan-coretan lain yang sering kulihat di tembok-tembok pinggir jalan. perempuan kerdil yang menangis. “Ya. kau bisa menemukan apa yang kaucari selama ini. “Remaja adalah tingkat paling rapuh dalam riwayat hidup manusia. Itu yang akan kulakukan kalau menjadi Gandhi.” Kali ini aku yang terdiam. “Semua yang kurasakan hampir tiap hari. Masa remajaku juga diisi oleh rasa kesal. Aku akan menghajar para malaikat. Persis seperti kesan yang kutangkap sebelumnya bahwa orang ini adalah seorang pendiam yang gemar memendam api dan membiarkannya menjalar di dalam hati.” ”Menurutmu siapa yang paling cocok untuk melawan Gandhi?” ”Mmm…siapa ya? Mmm…Adolf Hitler!” ”Brillian! Bayangkan bagaimana ia mencabuti kumisnya satu persatu.” “Hebat. Rokok di tangan kananku mulai memendek dan aku mulai bosan berada di sini.” serunya dengan nada yang semakin muram.seperti seorang anak yang gantung diri. Barangkali hingga membusuk. seakanakan kau memang mengalaminya sendiri.” ”Ya mungkin saja. ”Ide yang bagus. ia akan berubah menjadi seorang maniak yang mencintai perang. Kalimat itu akan kutulis di tembok malam ini.” “Serius? Kau berkelahi dengan Gandhi? Siapa yang menang?” “Aku lupa. ”Mmm…menurutku. Aku pernah bermimpi sedang berkelahi dengan Gandhi dan itu membuatku senang. dan kita bukan orang yang sama. dan sebuah ledakan dengan gradasi warna merah yang indah . aku tak yakin. atau…yah tak tahulah…tapi kau telah menggambarkan perasaan-perasaan tersebut dengan baik. Aku bertaruh bahkan seorang Gandhi pun akan memiliki keinginan untuk membunuh bila ia tahu apa yang kurasakan.” ia setengah berteriak. Kadang aku berpikir bila Gandhi diberi kesempatan kedua untuk hidup lagi. ”Itu akan menjadi tontonan yang paling menarik di akhirat. Atau mungkin saja saat ini. di akhirat ia mengajak para malaikat untuk bertarung dengannya sebagai kekesalan atas emosinya yang tak tersalurkan di dunia. Ia kembali mengatupkan mulutnya setelah mendengar pendapatku.gambar-gambarnya . Seharusnya dia memang jadi ahli berkelahi. “Ya. Orang seperti dia memang kadang sulit untuk ditebak. Bagiku itu cukup masuk akal. Namun semuanya akan berubah. lebih gelap.

” Tat tit tat teet toot tit tut. Kau mau pergi?” “Ya.aku hanya menebak saja. Ini terlalu singkat untuk disebut gempa bumi. kepercayaan. tapi aku terdorong untuk mengakhiri perbincangan ini dengan baik. Suara-suaranya yang tadi keluar seperti terhisap ke dalam lubang air di lantai basah. rokok telah kubuang dan kuinjak. Mungkin kita akan bertemu lagi suatu saat. Aku bermaksud untuk pura-pura tidak mendengar dan menyelinap keluar.”Asalkan kau senang Kawan. uang. aku harus…harus pulang. tepat sekitar 10 menit dari saat aku meninggalkan toilet itu ketika dalam kegelapan malam yang beku. maukah kau melihat tulisanku sekali lagi. aku merasakan permukaan jalan bergerak-gerak seperti ada sesuatu sedang menjalar di dalamnya. lebih baik berikan aku kebenaran!’. itu adalah kalimat pertama yang kucoret di dalam toilet ini. Tanpa pikir panjang aku melompat keluar dari mobilku. Aku hanya membayangkan si Hitler itu akhirnya dikalahkan oleh sosok Gandhi.tidak.” “Oke.” “Oh ya. Suara riuh manusia berceceran memenuhi udara pengap ini. alasannya adalah aku mengenal seseorang yang wajahnya mirip seperti Hitler. orang yang selama ini tertindas oleh egonya. Dia orang yang kubenci. karena getaran tersebut hanya berlangsung kira-kira 2 detik dan disertai oleh suara berdebum yang memekakkan telinga.” *** Jam digital di mobilku menunjukkan pukul 21. ”Eeee….” “Kuanggap itu 10 menit.” Aku mengetuk kepalan tangan kananku pada pintu biliknya dan pergi melenggang dari ruangan itu. Waktuku telah usai.” “Mmm…mungkin sekitar 5 menit. bahkan kelakuannyapun sangat kelewatan. Diriku berada di ambang kepanikan dan terus memastikan diri bahwa aku masih .dari tadi aku tertarik dengan tulisanmu yang berbunyi ‘Daripada cinta.” ”Maksudmu kau yang menjadi Gandhi mengalahkan bapakmu si Hitler itu?” Ia kembali membisu. aku…. Aku tidak bermaksud un…” ”Ah tidak apa-apa.12. Aku tak berani mengucapkan apa-apa.” “Pilihan yang bagus. aku menyukainya. popularitas. Dari dalam biliknya terdengar suara tombol-tombol yang ditekan. ”Bagaimana kau tahu kalau dia adalah ayahku?” Suaranya terdengar pelan. sebelum kau pergi. kira-kira berapa menit waktu yang kaubutuhkan untuk keluar dari restoran ini?” “Maksudmu?” “Ya. dan memberitahuku kata-kata apa yang kausuka dari sana?” “Mmm…. ”Baiklah. Keriangan yang menyeruak sekarang terpendam di dasar bumi. Maaf kalau aku menyinggung perasaanmu. ”Kau tahu di mana kau akan menemukan aku. seperti suara yang timbul ketika aku menuliskan pesan singkat di handphone.” “Ya. Kalimat yang sangat provokatif.” ”Bukan begitu. tapi sebelumnya. selalu menuntutku untuk begini-begitu dan tak pernah sama sekali mendengarkan apa yang kumau. Sekedar informasi. aku mengutipnya dari seorang penyair. Yang pertama terbesit adalah aku tak ingin terjebak di dalam mobilku dan segera berlari mencari tempat perlindungan yang aman. sekarang yang kuinginkan adalah pergi dari tempat ini dan mengucapkan salam perpisahan pada tamu tak terlihat ini. kau tahu maksudku. aku pergi Kawan. aku tak keberatan. dan keadilan.

asal muasal suara keras tersebut.berdiri memijak tanah. Sebulan sebelum pembebasanku. entah bersyukur. Sudah lewat dua puluh menit kami terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. perubahan Emak dan perasaanku. dan kuning. Aku pikir dengan hilangnya satu anggota keluarga. akan berkurang juga beban hidup. yang menurutku sendiri tidaklah bengkok. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Tidak ada satu pun dari kami yang boleh mencicipinya. adikku yang nomer dua. menerangi sudut kota dengan kemegahan tak terucapkan. Di dipan reot depan rumah kami ini. Tetapi yang jelas. pantulan sekumpulan bunga matahari yang berbaris di taman. Aku berpikir Emak sudah tidak sayang lagi padaku. Aku jadi begitu rindu pada Emak. tempat persembunyian itu pastilah aman. Hanya itu yang terus berdengung di pikiranku sekarang. Aku ingin cepat-cepat pulang dan bertanya pada Emak perihal perubahan itu. entah meratapi nasib. Emakku yang penyayang tidak lagi menangisi kepergianku. Emak tidak lagi menangis dan tidak lagi meratapi pilihanku. Aku ceritakan pada Rani tentang Sardi. dan Nasi Uduk Januari 7th. oranye.“ Ah. . Menurut Sardi. Aku menoleh ke belakang. wajah iblis sedang memancarkan senyum manisnya. Aku sendiri sebenarnya penasaran. Aku berpikir bahwa ini adalah bukti bahwa Emak masih sayang padaku. Di luar dugaanku. Dan saat aku menengadahkan wajahku ke langit. Sekotak berlian itu sudah kubagi-bagi hasil penjualannya dengan Bakir. Semur dan nasi yang biasanya tandas itu kubiarkan saja dikerubungi lalat. Dia membawakanku semur jengkol dan nasi uduk buatan Emak.” Seketika itu nafsu makanku lenyap. Asap hitam mengepul menjangkau bulan yang sedang terang benderang. Biarlah. Sudah dua hari ini. Bang. dia tidak dipenjara. Aku berikan bagianku pada Sardi. sejak aku kembali dipenjara untuk yang ke tujuh kalinya. Rani. Sardi dengan sigap mengatur penyimpanan dan pengeluaran. Aneh. Api dalam kobaran yang besar menari-nari dengan gemulai dan tak menghiraukan suara teriak yang menghampirinya. Mungkin saja Emak sudah habis akal meluruskan jalanku. Aku makan lahap sekali waktu itu. Restoran telah menyatu dalam gradasi warna merah. Mengantar barang ke Cirebon. Pernah suatu ketika Sardi bertanya perihal perubahan itu. Sejak aku mendengar cerita Sardi itu. ”Selamat jalan. lagi-lagi kami bersama. datang menjenguk. Emak lebih banyak diam. Nanti malam dia pulang bawa uang. Hasil curianku yang terakhir lumayan besar. Aku hanya terpana. tetapi Emak hanya menggeleng.’ Ibu rindu pada Abang. Aku ingin memastikan bahwa Emak tetap sayang padaku. Restoran itu kini terbakar. Entah mengapa. diam tak bergerak. Aku sendiri tidak tahu di mana. Rani malah menangis sesenggukan. Ibu memasak semur jengkol khusus untuk Abang. Tak butuh waktu lama bagiku untuk menerka bahwa bom telah meledakkan restoran udang bakar pedas itu. “Ibu sakit. aku dan Emakku. Kepergiannya tentu bukanlah ke Cirebon. Semur Jengkol. Sardi sedang tidak ada di rumah. Semoga kau bertemu Gandhi di sana. Ini hari kedua aku bebas.” Demi Emak. Emak tidak lagi menangis. dan rasanya aku hanya dapat membayangkan momen terakhirku di toilet itu dengan jelas. sudah rejekinya. Mahkota emas sang raja yang berkilauan. Ibu menitip pesan untuk Abang. Sejak saat itu aku jadi sering melamun. “Sudah kau bawa ke dokter?” “Belum. Seperti biasa. 2008 by bidari Untuk kesekian kalinya kami hanya diam. aku sempat dua hari tidak bisa tidur. Masalah yang sama. Tidak seperti biasanya. Dan disitulah aku menatap pemandangan indah yang bersinar di kedua bola mataku yang menciut. adik pertamaku. Lagi-lagi. Tetapi ternyata belum cukup. ‘Katakan pada Salim untuk banyak-banyak berdoa. Entah merenung. Sudah terbukti. aku seperti melihat sosok teman toilet misteriusku itu terbang lepas menuju angkasa sambil membawa kesendiriannya dalam keabadian.

Lim.”. Katanya. Sebelum melakukan aksiku. Bangsat seperti itu memang layak menerimanya. Radang paru-paru yang menggerogoti tubuhnya sudah tidak mau toleran. Makan. kau tenang saja. laki-laki itu membunuh istrinya.” “Hahaha…ada-ada saja kau ini. hah?” “Memangnya kau tidak berdoa untuk minta kaya?” “Hahaha…ngarang!!! Aku ini orang biasa. Aku sedih sekali.“ “Ooo…gitu ya. Bagus lah. Yah. Asal bisa makan.” “Kenapa? Sebentar lagi kau kan bebas. dia terlihat lebih menyenangkan. Aku kan selalu berdoa setiap kali melancarkan aksi.“ Sepeninggal Rani. Laki-laki itu berusaha memperkosa istrinya.“Sudahlah. Dia membunuh laki-laki itu karena alasan balas dendam. tetapi yang paling lama.”. “Ya Tuhan Emakku sakit. Ingat pesan Emak ya. aku kehilangan Supri. kebisuanku semakin menjadi.” “Bukan masalah itu. Pri. Hukumannya kali ini bukan yang pertama. Supri. Aku terus memikirkan katakata Emak. “Abang baik-baiklah. aku butuh uang.” “Lha. Pri. Dia meninggal. tidur gratis. aku tidak lupa berdoa. Dia tidak hanya mencuri. aku selalu berdoa. Aku seperti kehilangan teman berbagi. Dia begitu percaya padaku dan tidak pernah sekalipun membantahku. Seingatku.“ “Ooo. . Aku bingung memikirkan nasehat Emakku. Seminggu sebelum hari bebasku. Nanti malam Sardi akan pulang membawa uang untuk kalian. memperhatikan keadaanku. Lha apa kau pikir aku mencuri untuk beli mobil? Ngimpi!!! Itu mah pejabat!!!“ “Hahaha…ada-ada saja kau. menggangguk saja. bahwa keadaan Supri jauh lebih parah dariku. Hari-hariku kuisi dengan melamun. anggap saja pengiritan. Aku meminta kepada Tuhan agar melancarkan usahaku.“ “Mungkin doa yang lain. Baru aku tahu. Aku terharu. Mengapa Emak menyuruhku banyak-banyak berdoa. itu sudah bagus. aku dan Supri menjadi akrab. bayar sekolahnya Sardi dan Rani dan Emakku tidak sakit. Ngirit kok terus. itu basi. Meminta kelancaran. Aku merasa baik-baik saja hidup di penjara ini. Dia memintaku banyak-banyak berdoa. Apa kau pikir aku ini kaya.“ “Doa yang lain bagaimana maksudmu? Doa supaya cepat bebas dari penjara? Ah. Oke lah.”. “Aku sedang bingung. Karena tidak berhasil. Impas. kupeluk dia dan kucium keningnya. korban terakhirnya dia bunuh dengan terencana. Kami sering ngobrol masalah ini itu. Biar sesekali bisa merasakan makan di restoran. Aku merasa dia orang yang baik dan bisa dipercaya. aku akan berdoa minta kaya kalau begitu. Jangan lupa kau belikan obat untuk Emak. adikku yang bersih itu. tapi…memangnya boleh berdoa minta yang muluk-muluk gitu?“ “Muluk-muluk bagaimana? Minta kaya? Ya bolehlah.“ “Eh. ”Ya Allah semoga hari ini aku dapat tangkapan besar. minum. trus mau bagaimana? Sudah mencuri saja masih tetap melarat. Sebulan lagi aku datang menjemput Abang. tetapi juga mbegal dan membunuh. dan berbagai variasi lain sesuai kebutuhan. Apalagi sejak dia belajar sholat tiga bulan yang lalu. “Semoga kali ini tidak gagal. Dia bertanya tentang perubahanku yang drastis. ’Banyak-banyaklah berdoa’.” Sejak percakapan itu. Rani sangat baik. Aku tidak mengerti apa maksud Emak. Sebelum pulang.“ “Bagus apanya? Aku tidak mengerti harus berdoa dengan model apa lagi.” Rani. teman satu sel.

Supri yang pembunuh. ’Jika aku ini tidak lebih dari setumpuk kotoran Jika aku ini tidak lebih dari seonggok daging Jika aku ini tidak lebih dari pengacau Kenapa tidak Kau matikan saja aku sekarang Bukankah Kau Maha Segala Apalah sulitnya mematikan aku Tinggal kau tiup saja Kun faya kun. hanya sebuah buku catatan kusam dan beberapa lembar foto usang. Buatlah hidupnya tenang. Aku takjub.“ “Apa Emak berdoa setiap hari? Emak meminta apa?” “Yang biasa saja. Karena memang aku tidak kenal mereka. Mana Emak tahu tentang puisi. Kau memang harus banyak-banyak berdoa. Supri menuliskan semua keluh kesah. Yang Emak tahu. Lim. ternyata perasa. Pantas kalau Emakmu begitu sayang padamu. “Mak. Sardi dan Rani lulus sekolah. aku membaca buku itu hingga selesai. Lim. Di buku itu kujumpai puisi di sana sini. Demi menemukan jawaban itu. buku itu adalah warisan Supri untukku. Di sana. Seperti biasanya. Sepertinya. Satu yang menarik perhatianku adalah ratapannya pada Tuhan. Kau orang baik. dan pikirannya. perasaan.” Aku mencoba memahami hubungan antara doa. berdoa itu penting. Lalu kutempelkan di dahiku. apa hubungan semua itu? Emak tahu?” “Lim. Fotofoto itu tidak menarik perhatianku. Entah mengapa aku merasa wajib menyimpan buku itu. Lanjutan dari obrolan yang terputus. Kuceritakan pada Emak semua hal yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini.” . Emakmu ini tidak pernah sekolah. begitu kata ustad Jika memang masih Kau ijinkan aku hidup Berilah aku kebebasan Jangan Kau tipu aku dengan uang Dan jangan Kau tipu aku dengan foya Tolonglah… Sekali ini saja Beri aku ini hidup yang berarti Cukup sekali’ Aku meminta ijin kepada kepala untuk memiliki buku itu. Kulipat bagian-bagian yang menarik perhatianku dan kubaca lagi dua – tiga kali. Aku mencoba mengerti kata-kata terakhir Supri waktu itu.Tidak banyak barang peninggalan Supri. Selama seminggu menunggu sisa waktuku. Lim. Semuanya nampak jelas dan nyata. Emak minta agar hidup kita tenang. kucium tangan kanannya bolak-balik. Buku catatan itu jauh lebih menarik. ‘Benar kata Emakmu. Dan kamu tidak dipenjara lagi. Seperti memohon restu darinya. hari pertama bebas aku langsung menemui Emak. Aku membaca buku itu layaknya membaca kehidupan. Emak dan tenang.

bahwa keinginan yang sederhana tidaklah sederhana pada pelaksanaannya. Walau begitu aku tetap harus hati-hati. Ah. meski kecil. Senang sekali mendengar suara di bawah sana. Emak sudah senang kok. Pastilah mudah. Sedang mengerjakan PR. Mak. Mungkin memang sudah waktunya untukku belajar sholat seperti dia. Kan biar bisa makan di restoran. Namun sekarang aku tahu apa yang mereka lakukan. . Malam belumlah terlalu larut. Namun aku yakin tak kan terdengar sampai di seberang sana. Wajahnya sehabis wudhu terlihat lebih tenang. Pagi-pagi buta Emakku masih harus bangun untuk membuat gorengan. Aku belum tidur.“ “Ah. Tak satu pun soal bisa kujawab. Emak dan tenang. Kutarik napas sejenak. Kalo kaya. Kakiku yang menginjak udara itu melayang ke atas dan hinggap di balok kosen paling bawah. 2008 by Emil Akbar Aku selalu berada di atas kamar di bawah atap ketika malam datang. Lalu kuangkat kaki kiri menapaki pinggir meja dan kaki kanan setelahnya untuk menjaga keseimbangan. mengganti celana dengan sarung. lagi-lagi kata tenang. Lalu aku? Apa yang kulakukan? Tidak banyak. Lampu di kamarku masih menyala. mulai berlari pulang ke rumah masing-masing. kita tidak usah repot cari uang untuk bayar sekolah dan makan tiap hari. Kadang mereka tidak tahu waktu. jernih tanpa gangguan. Telingaku bisa langsung setajam kuping kelinci serupa antena mendapatkan sinyal yang diinginkan. Kawan. Bukan untuk merubah wajahku. Seperti malam ini. tapi tetap saja gerakanku menimbulkan suara. Lim? Biar bisa gegayaan seperti orang-orang? Tidak usah. Sudah tenang. Kedua tanganku menggenggam kosen pintu yang berbentuk kotak-kotak dan tak berkaca. Permintaan Emak memang sangat sederhana. Di Atas Kamar di Bawah Atap Desember 12th. makan semur jengkol dan nasi uduk lebih sering. Kamu tahu kan tempatnya? Itu di loteng! Hampir tiap hari aku naik dan berdiam diri di sudut atas kamar itu. Aku dan Emak masih belum beranjak dari dipan. Kemudian secara perlahan telapak kaki kananku menginjak gagang pintu sehingga terdorong ke bawah. Dulu. *** Mula-mula kusingkirkan segala alat tulis dan kupastikan meja belajar mampu menahan berat badanku saat aku menginjaknya.” “Buat apa. Sebisa mungkin tanpa bunyi. Seperti menguji kepekaan telingaku.“Oh. Kenapa Emak tidak minta jadi orang kaya? Kata Supri. Gayaku mirip dengan pemanjat tebing. Anak-anak yang tadi main gundu. tetapi agar aku bisa melihat senyum Emakku. Sebab jantungku seperti berhenti berdetak saking cepatnya memacu. Doa Emak dikabulkan saja. Pintu tidak terbuka lantaran sudah kukunci. dan nasi uduk lebih sering. Emak. Ototku yang tidak berotot menjadi kejang karena tertarik. Membuat suara serangga malam di luar rumah tidak terdengar. Sardi masih harus bersepeda ke sana ke mari mengantar koran dan Rani masih harus mencuci pakaian tetangga. mereka mengeluarkan suara berbisik-bisik. akan kujelaskan padamu bagaimana caranya aku bisa naik ke atas sana. saat bisikan itu dibarengi dengan bunyi berderit-derit. mengganggu konsentrasiku belajar. Samar terdengar bagai menembus dinding kamarku. Dadaku bergemuruh bagai amuk badai menghancurkan segala pertahanan diri.“ “Lim. Aku masih belum begitu memahami hubungan doa. Aku menyerah. Tidak usah neko-neko. Jari-jarinya saling merekat dan menekuk bagai mencengkeram. Demi melihat senyum Emakku.“ Ah. Sekali-sekali gitu. Tetapi setidaknya aku berusaha untuk tidak kembali ke penjara. lagi-lagi aku jadi teringat Supri. makan semur jengkol. Menggelitik gendang telingaku. Kutindih buku tulis dengan pena. sudah lah. Emak malah takut kena yang aneh-aneh. Lim. Sementara tungkai kaki kiriku terayun-ayun mengambil ancang-ancang. Enak kan. Aku berdiri tegap serupa hantu yang ingin mengusik. kita boleh berdoa minta jadi orang kaya. Tetapi aku menyadari. Lamat-lamat terdengar suara adzan dari musholla di gang sebelah. Kumatikan lampu dan gelap seketika. Apalagi bagi Tuhan yang Maha Kuasa. aku mengira mereka sedang bercanda atau tengah bertengkar dan tidak mau diketahui orang lain.

Hanya lampu di kamar ibu yang menyala di dalam rumah. Jangan sampai aku terpeleset dan mengenai lantai loteng yang rapuh dan mudah pecah itu. Kawan. Asal kamu mau menyimak dengan baik pengalamanku yang pahit. terletak di tengah rumah yang merupakan pusat dari balok yang bertebaran. Akan kuceritakan. Kecuali ruang tamu. Sedang direnovasi menjadi rumah batu. terbuat dari adonan kertas basah yang dicetak. Di bawah sana sendu yang temaram. Saat sarang laba-laba itu membalut wajahku. Setelah aku sampai di tempat bertemunya atap seng dengan tembok. membentuk kerangka atap. Kukumpulkan dan kuremas kemudian kujadikan bola-bola kecil lalu membuangnya begitu saja. Pondasinya telah dibangun. Tadi pagi Ibu menyuruhku membersihkannya dengan sapu lidi tapi tidak kulaksanakan karena asyik bermain di rumah teman. mirip tripleks. Bahkan banyak yang tersangkut di sela-sela jari. Mataku tak berkedip dan menatap nanar seiring dengan debar yang bergenderang seperti ada gendang ditabuh di dadaku. kami bertetangga sebelah rumah. yang tidak mengenakkan pandangan kala mendongak. Aku meringkuk sebentar di balik balok paling besar.Badanku mulai merayap seperti cicak raksasa menggerayangi dinding di keremangan malam. serpihan tembok berjatuhan seperti rintik hujan menyentuh bebatuan. Kukoyak sarang labalaba itu menjadi helai-helai yang berjatuhan. . Sekarang aku berada di atas kamar. Kuhirup bau pengap. khawatir aku kesetrum. aku pelan-pelan melongokkan kepala dan menariknya kembali jika terlalu menjulur ke depan. Aku ngeri membayangkan bila itu terjadi. yang tak semestinya kualami. Sering tanpa bisa kucegah. Dulu. termasuk kamarku dan kamar Ibu. Rumah ini beratap seng. Ibu selalu mengingatkan agar jangan pernah memegang pipa tersebut. seperti batang pohon yang dijadikan jembatan untuk meniti. Tempat tinggalku masih rumah panggung yang hampir roboh waktu itu. aku jongkok membungkuk mendekap lutut. Ibu tidak mencariku. Aku bakal dibangunkan dan orangtuanya akan bilang pada Ibuku. jadi aku aman. Di salah satu sudut atas kamar inilah aku termangu memandang perbuatan Ibu dan Bapak. Yang aku takutkan anjing mulai menggonggong. Biasanya Ibu mematikan hubungan listrik tiap kali aku membersihkan loteng ini yang dipenuhi sarang laba-laba. Lubang hidungku kemasukan debu. Besok mungkin Ibu akan marah dan mengingatkanku lagi. udara agak panas. Kini aku baru tahu kalau itu adalah proses seng kembali ke ukuran semula setelah siang tadi memuai karena dipanggang panasnya matahari. Tapi aku tak peduli. Tangan kananku menggapai permukaan tembok yang kasar. Sering begitu sejak pertama kali aku melihat adegan ini. Suara napas memburu di bawah sana melecut semangatku untuk segera mendekat. Agak berisik. Kuberanikan diri karena jaraknya dekat. Anehnya. beberapa ruangan memang belum mempunyai plafon. supaya tidak terantuk atap seng yang akan menimbulkan bunyi gaduh. Di bawahku adalah langit-langit ruang tamu. dan itu sangat mengganggu. dia punya mainan baru. Sekarang aku telah tiba di tujuan. Lupa waktu saking asyiknya bermain di rumah teman. Sarang laba-laba mulai menghadang ketika aku menerobos paksa. Biasanya mereka beranggapan bahwa ada tikus berkeliaran di atas sini. penopang atap rumah. video game. menimbulkan gelap yang terlihat. Saat aku masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Aku berlari dan berhenti setelah sampai di kolong rumah. Ada pipa kabel listrik tak sengaja kusentuh. Aku melangkah dengan cara merunduk menuju balok yang rebah. Kuhela napas berkali-kali mengeluarkannya. Dulu. Seperti aku takut tercebur ke dalam sungai karena tidak bisa berenang. kusapu cepat karena lengket dan terasa gatal seperti kalau aku kegelian. Setelah jeda sesaat aku kembali berdiri. pagi-pagi benar baru pulang. Ibarat Kabut tebal menghalangi melihat jalan di depan. Mungkin sebentar lagi hujan. Akhirnya aku pulang sendiri. aku takut sebab mengira ada pencuri yang mau masuk rumah atau ada setan di luar sana ingin mengambilku. Aku berjalan menyamping sambil tetap duduk mendekap lutut dengan kepala tertunduk. Ada juga balok yang melintang dan membujur. Belum pernah aku bermalam di rumah orang tanpa Ibu. Mereka menyarankan sebaiknya aku menginap saja. *** Malam itu aku pulang larut malam. membuatku gerah sehingga keringat membasahi bajuku. Tapi aku tetap mau pulang. Lantaran bayanganku terlihat memanjang. Sesekali memang terdengar gemeretak seng seperti ada orang yang berjalan di atasnya. Aku pamit saat temanku itu sudah mengantuk. Juga melekat di bajuku dan susah sekali menghilangkannya seperti noda yang membandel. tidak terlalu terang tapi cukup membuat benda-benda yang diterpa cahayanya memiliki bayang-bayang. Aku berjalan merangkak serupa hewan berkaki empat.

Aku kembali ke rumah tetanggaku. aku sedang dibekuk tak berdaya. mataku membelalak dan berair yang bermuara di pelupuk. Mendengkur. Mereka hanya mengira aku tidak dibukain pintu. ember berisi cucian menjauh darinya. Tapi sayup masih bisa kudengar rintihan Ibu yang seperti disakiti. Dia kenakan kembali pakaianku sebelum berbalik membelakangiku. Apakah lelaki itu tidak mendengar gemericik air yang bersimbah-simbah? Tentu aku kaget dan hanya bisa terhenyak serta gugup. menunduk hampir menangis. merangkulku bagai memapah orang yang terjatuh dan lututnya lecet. Aku disuruh cuci kaki sebelum masuk kamarnya. Padahal. Mulutku terkatup rapat. Dia melarangku bilang-bilang! *** “Awas kamu Anto!” . Aku pernah mendengar suara yang sama pada lelaki yang berbeda. Aku takut sekali. belum cukup umur bagi seorang bocah yang baru saja pandai membaca. Bahkan tak jarang suaranya hilang berganti desah bagai kehilangan napas. Padahal dia tahu ada orang yang sedang mandi. Adik lelaki bapak yang masih bujangan. Karena tak lama. Ketika dia melenguh yang paling aku ingat adalah. Kembali berlari membawa hatiku yang kalut. Ini rahasiaku. Perasaanku belum sembuh waktu itu. Aku menuruni tangga dengan perasaan hancur. Bapak lain lagi. dan dia masuk ke kamar mandi tanpa keraguan sedikit pun. Dia menarikku berlutut di hadapannya. tapi tetap saja menyisakan cela untuk melongok ke dalam. Beberapa kali kupejamkan mata tetapi aku tidak bisa tidur. Kemudian pamanku itu kencing seolah-olah dia menganggapku tidak ada di sampingnya yang tengah telanjang bulat. Kugigit satu persatu jari-jari tanganku. tapi aku harus merasakan lagi luka. Di luar sana kudengar Ibu berteriak memanggilku pulang dan dibalas oleh ibu temanku bahwa aku sudah tidur. Tubuhku bergetar menahan debar. Mengguyur kelamnya malam. gigiku saling beradu. bergemelutuk bagai menahan gigil. berharap bisa menghilangkan nyeri. nyenyak sekali. Terkadang mengejan seperti orang buang air. mengendap-ngendap menaiki tangga kayu.Aku lewat belakang. Aku masih tetap duduk memeluk lutut dan membeku. sampai kakak temanku itu habis tenaga. Pamanku itu numpang tinggal sebagai tamu hanya beberapa hari sebelum pergi meninggalkan benci di hatiku. Satu-satu kemudian menderas. Aku merasa basah. perih. Menyingkirkan dengan kaki. Ibu temanku menyuruh kakak lelakinya yang sudah SMA mengajakku masuk. Aku tak mampu menyimpan rahasia ini. Timba di tanganku jatuh berdentang menimbulkan gaung yang lama. Setelah itu dia mengancamku. tenggorokanku tersumbat. Mataku membelalak tak berkedip mengamati tingkah laku orangtuaku. Di mulutnya terkulum sebatang rokok yang membara dan asapnya mengepul ke manamana. Dia membalikkan badanku lalu menindihnya. hampir lepas dari engselnya. Mengajariku merokok di pangkal paha. yang mungkin tidak ada obatnya. Sementara aku tergugu. Aku ingin marah entah kepada siapa. Meraung serupa singa yang terluka. Sejak itu aku tahu masa kecilku telah hilang. *** Lamunanku buyar ketika kudengar hujan turun memukul-mukul atap rumah. Leherku terasa kering seperti dihisap. Saat aku mandi tanpa menutup rapat pintu kamar mandi karena rusak. Sakit. Lalu dia menyandarkan punggungnya di pintu kamar mandi hingga tertutup rapat. Dia melucuti baju dan melorotkan celanaku. Kurasakan napasnya memburu. hanya kutahan dengan ember berisi pakaian kotor yang terendam. Andaikan aku di bawah ranjang. Matanya merah. Tapi sore itu mengubah segalanya. Mereka seperti bayi raksasa. mencabut rasa kantuk. Merasuk ke telingaku menimbulkan kesan yang dalam. Berteriak seperti lolongan panjang tapi tertahan. Semuanya sudah tidur kecuali ibu dan kakak temanku. Istirahat sebentar di serambi. Adegan itu masih terbayang. Aku berbaring gelisah. tempat aku memasukkan tangan untuk membuka palang pintu belakang. Aku melihat situasi dalam rumah melalui lubang di papan. Aku hanya mematung. Aku menggigit kain bantal. mungkin aku dapat menyimak dengan jelas suara mereka yang mengerang disela bunyi ranjang yang bergoyang. Sementara orangtuaku belum pulang dari pasar. Begitulah. Awalnya aku menyukainya karena baik padaku dan sering mengajakku jalanjalan mampir ke rumah temannya. Dan apa yang aku saksikan. Kakak temanku berbaring di sampingku tapi juga tidak tidur. Akan kusimpan baik-baik. Namun itu hanyalah awal. tangannya meraba-raba tubuhku dan menyergapku dari belakang. Kawan. Temanku sudah tidur di kamar orangtuanya. Peluhnya masih tertinggal di badanku. jadi kuceritakan saja padamu.

Aku merinding menahan kencing. Aku menunggu supaya tidak dihakimi malam ini.Juni 2008 Hipotesis Sebuah Parfum September 25th. Telentang membuat perutku kembang-kempis. diteguk dan diletakkan kembali. Ketika bangun pagi aku merasa mataku sembab dan agak bengkak. hanya menundukkan kepala karena merasa bersalah. Kuatur napas biar berirama kembali. debu berhamburan bagai ketombe yang berjatuhan. Kamu sudah kelas satu SMP. menjaga keseimbangan. Aku baru tersadar ketika wewangian itu dikalahkan oleh bau badanku sendiri. Kasur busa itu menggeliat seperti tidak mau ditimpa. Naluriku tersentak. Dengan sigap aku membalikkan badan menghadap tembok dan tepat saat itu kakiku yang satu lagi bertumpu pada pinggir meja belajar. Bukan karena ketampanan laki-laki bangsawan itu. Ibu sudah menghadang dan bertanya. Barangkali dendam gara-gara rumahnya kuberantas. hujan makin turun deras. Dengan langkah tergesa-gesa aku berbalik ke jalur yang menuju kamarku. Pintu kamar Ibu terbuka. Kawan. kok bisa sampai lupa! Sudah waktunya kamu disunat!” Aku menganggap itu adalah hukuman buatku dan tanpa kusadari di hadapanku bukan lagi Ibu melainkan Bapak yang sedang berkacak pinggang. Sejak itu aku ingin beli parfum. Jika Ibu tahu aku mengunci kamar berarti ia tidak salah lihat. Merek apa saja. melompat ke arah kasur busa yang tak jauh dari situ. Berharap dan berjanji dalam hati akan membereskan semuanya tanpa bekas. Terpaksa aku harus terjun. Laki-laki jetset penganut kapitalisme. kutepis dengan cepat seperti memukul kulit. Sedikit kupejamkan mata. Sangat wangi. Kuacak-acak rambutku. Aku menghirup udara banyak-banyak dan menghela habis-habisan. tadi aku berada di atas sana. hendak turun. Gerakanku tidak terkontrol saking paniknya. Perlahan tapi pasti salah satu kakiku menjangkau gagang pintu. 2008 by andika destika khagen Entah kenapa aku bertemu dengan Satria tadi pagi. Memeluk bantal erat-erat. parfumnya—entah merek apa—tercium. Kalau bisa aku ingin menggulung tubuhku sekecil mungkin. Januari. Belum sempat aku menarik napas ketika keseimbanganku goyah. Saat menegakkan badan sedikit kepalaku tertumbuk balok. Kunikmati wewangian itu agak lama. Menolak badanku seperti mendorong ke atas. Aku gerah sekali. sementara Ibu bosan menunggu. Tubuhku terhempas dalam. hari pertama kamu libur nanti. asalkan wangi. Ya. Untungnya bukan seng sehingga suaranya teredam meski sakitnya serupa disengat lebah. Yang jelas mereka tetap melanjutkan. tulang belakang melengkung. “Baiklah. Aku cuma ingin menghargai diri sendiri. Di luar. Pikirku. Lekas aku beringsut dari pembaringan. bukan untuk menggaet perempuan dan berbeda dengan teman-teman aktivis lainnya. Astaga. tapi aku mesti beranjak dari persembunyianku ini sebelum mereka melabrak kamarku untuk memastikan aku tertidur lelap. . Biasanya aku tidak pernah mengunci kamar di malam hari. Dari jarak dua meter tempat aku duduk. Baru kusadari nyamuk berdengung menyerbu telingaku. Aku menempelkan pantatku di permukaan tembok sambil menjulurkan kedua kakiku ke bawah. kenapa kali ini aku terkesima. Terima kasih! Doamu terkabul. tanpa jejak. aku ketahuan. Posisiku seperti udang. Kedua tanganku silih berganti memegang balok di atasku. mengganti pakaian. kita langsung ke rumah Pak Mantri. Doakan aku. Lega tapi resah tak mau pergi dari hatiku. Suara gelas terisi air. badan ini mesti diubah komposisi wewangiannya. membawa perasaan cemas. “Kapan kamu libur?” Aku tidak menjawab. Entah di mana mata Ibu hingga bisa melihatku. Buru-buru aku balik ke tempat tidur. Terdengar gemericik air di kamar mandi. lebih karena bau parfumnya. Keluar dari kamar. Kurasa ada seekor laba-laba kecil hinggap di leherku. Aku dihantui bayang-bayang akan apa yang bakal terjadi besok? Barangkali orangtuaku terlalu lelah buat membentakku malam ini atau mereka cuma menasehatiku untuk tidak mengulanginya lagi? Mungkin juga hal ini tabu untuk dibicarakan dan mereka sedang berunding? Kali ini aku tidak mendengar apa-apa selain gemuruh hujan.Kawan. Aku juga heran. Depok.

” Oh. Mereka mesti diberi penyadaran bahwa parfum itu penting.” Tiga orang yang berpapasan. Satria tak lagi jadi bahan diskusi kami. Rasanya.” Auraku sedikit bertambah. kasiatnya lebih manjur daripada yang dijual dipasaran. bau amis berganti menjadi aroma terapi. Bukankah tidak ada orang yang suka dengan bau amis? Tak apalah. Inikah alasan orang-orang pakai parfum? Parfum. Pelajaran itu kudapat dari Satria. Bau keringat yang diberikan Tuhan harus dilawan dengan aroma terapi. setiap yang wangi adalah parfum). Lima kali semprot.” Setiap senyum kuanggap kasiat parfum. Kelebihannya mungkin terletak pada wangi natural yang ditawarkan. Parfum harga tujuh ribu saja rasanya sudah cukup untuk mahasiswa yang tak pernah punya anggaran membeli parfum. memang ada yang berbeda dari parfum. Rusni. Parfum di sana tentu lebih harum daripada yang dijual di swalayanswalayan yang hanya untuk kaum konsumerisme kelas menengah ke bawah. Aku merasa beruntung bertemu Satria tadi pagi. cuma aroma terapi yang membuat hidungku merasa nyaman. dan senyumku. . Parfum ini telah menular ke rambut. orang yang kuhadapi tiap hari hanya itu-itu saja: Sardi. Kami tak pernah menghiraukannya. “Bau keringatmu berbeda hari ini. Pikiranku sedikit keliru. Pertama kalinya. dunia memang butuh aroma mengganti bau amis darah yang tiap hari keluar dari perut ibu pertiwi. Aku pikir. dan Rini. Siapa lagi yang akan memujiku? Aku rindu pujian sebanyak mugkin untuk meyakinkan pada dunia bahwa wangi itu penting. Ia jadi pahlawan sekarang. Toh. parfum. Di antara puluhan yang berjejer di rak swalayan. tak ada yang bisa membedakannya. *** Inilah langkah terindah yang pernah kuayunkan. mereka tidak berkata. Dari tatal ke tatal. Tidak semua orang yang bisa membeli parfum pada paranormal. Kesadaran akan wangi benar-benar harus ditanamkan. Dari ujung ke ujung. Rinto. Parfum hanya pantas dimiliki bagi mereka yang berpasangan. Diolah sendiri. “Tak apalah menyisihkan sedikit uang untuk menghargai diri sendiri. Dibeli di Jerman atau Amerika. “Rambutmu rapi. aku baru saja tersentak. Katanya. oh. Parfum Walikota tentu tak bisa aku beli dengan alat tukar yang hanya berjumlah tujuh lembar uang kertas bergambar Kapiten Pattimura. Aroma terapi menyebar ke seluruh penjuru sampai sudut yang tak terhingga. Itulah bau terindah yang selalu kami hirup. Setidaknya. Bau badan mereka. Kupilih aroma terapi. rasanya terasa cukup membuatku lebih menikmati hari. termasuk juga aku. Ah. bahkan bau keringat pun tak ada lagi orang yang menghargainya! Tapi. Senyumku lebih mengembang. Tak ada rasanya orang yang berani duduk di dekat pasangannya dalam keadaan amis. Tapi sayang. Itu yang baru saja kukenali. parfum bukan menjadi kebutuhan pokok. Pasar selalu memberikan kemudahan bagi penganut konsumerisme. Tujuh ribu rupiah. Mereka biasanya menawarkan parfum dengan aroma yang berbeda. wajah. “Aku telah menghargai diri sendiri di antara orang-orang yang selalu memikirkan orang lain. Atau mungkin juga dibeli pada paranormal. Parfum ini membuat orang-orang menyapaku. Bau parfum ini sama halnya dengan sedikit demokrasi yang dirindukan warga Pakistan pasca tertembaknya Benazhir Bhutto. dari ketiak sampai buah baju. “Senyummu indah Kus. Kus.” Tak mahal harga untuk sebuah parfum. Menarik lawan jenis dengan parfum memang bukan hal yang biasa lagi. wajar adanya dan kami tak pernah mempermasalahkannya. Atau setidaknya lagi teman-teman diskusi. harga sebuah parfum (aku belum mampu membedakan antara parfum dengan splash cologne. Wangi atau tidak hanya sebuah perumpamaan dan bentukan sosial dari keadaan. Pikirku. Biasanya.Ini pertama kali aku punya keinginan beli parfum. Untuk itulah. mengeluarkan pujiannya. Bau amis ketiak dan keringat menjadi satu membentuk aroma yang tidak sedap. Aku bangga membuat dunia menjadi wangi. kenapa tidak semua orang sadar akan wewangian? Wajar saja Bidin jadi Walikota. Parfum ini harus dinikmati semua orang—minimal warga kampus ini. Biayanya lebih besar daripada membeli parfum buatan Jerman atau Amerika. Ia tentu pakai parfum yang harum dengan harga yang sama dengan uang kuliahku dua semester. sabun mandi saja sudah terasa cukup membasuh badan lusuh ini.

Ustadz Hamzah juga bilang sepatuku baru. adalah barang konsumtif dengan harga tak terkira—mungkin juga tak terjangkau. Apalagi melihat senyum Suci. tak ada yang sadar bahwa yang dilihat tidak seperti yang sedang aku pakai! Aku teringat akan kemunculan parfum ini ketika keluar dari toko. parfum ini ternyata membuat dunia menjadi absurd. Lagi-lagi parfum ini mempesona. Aku menikmatinya. ”Kau begitu berbeda hari ini. bahkan tidak bisa membedakan celana yang baru dan usang. Kelewatan. tak pernah terpikirkan untuk menggunakannya. perlu diragukan otak yang sedang dibawanya. Kodrat dan kebutuhan mesti diletakkan pada tempat yang semestinya. Cuma lima kali semprot di setiap sisi yang dirasa perlu. Tak ada lagi keburukan yang akan menganga karena semuanya ditutupi dengan bau parfum. Apalagi yang kuharapkan dari parfum? Semuanya terlihat begitu sempurna. Semua yang lusuh kelihatan baru. Isinya masih banyak. Tiga lobang menganga di sisi kiri dan di depan. setidaknya untuk mengurangi bau amis. Celanamu beli di mana?” Aku tersentak dan harus terima dengan perubahan yang serba tidak jelas ini. Apakah mereka semua sudah gila? Hipotesis ini begitu membingungkan. Kenapa Rudi bilang baru? Sedikit pun tidak ada tanda-tanda sepatu ini baru. jika aku pakai. berlawanan dilihat. tapi kebutuhan. Tapi apakah bau amis mesti ditutupi? Bukankah ada pepatah mengatakan ”Sampai manapun. Jika keadaannya setelah ia pakai parfum. Walau belum tentu nyata. Orang yang bilang sepatu yang aku pakai baru.” Apakah parfum ini menular juga ke celanaku? Roni. Aku ngeri membayangkan Walikota yang menggunakan parfum yang dibeli dari Jerman dan Amerika. senyum. dan sepatunya? Tentu jauh lebih bagus dari yang sekarang dikenakannya. Bagaimana dengan sepatu baru? Tentu orang akan memandang new baru atau double baru. bagaimana orang melihat baju. Bahkan Suci. terpakai di badan. ini jelas tidak benar. tapi tidak dengan sepatu. apalagi berdusta. Untuk pertama kalinya Suci membagi senyumnya kepada orang yang tak pantas menerima senyuman. bila dibandingkan dengan kaum duafa. Luar biasa. meskipun ia seorang yang harusnya bisa dipercaya. “Celanamu baru. dan senyum yang kusam menjadi mengembang. Wewangian ini begitu sempurna. Bagus dan buruk tak jelas lagi mana batasnya. Hidung-hidung itu punya kesimpulan yang sama: parfum di badanku begitu menggoda dengan aroma terapi. Seharusnya aku bangga dengan keadaan ini. Semua yang ada. Aku teringat Satria. Inilah sebenarnya yang diharapkan dari parfum: sebuah kamuflase akan tampilan bentuk. Nalarku berjalan. seorang gadis berkepala batu hari ini mencair. rambut yang tidak berminyak kelihatan rapi. Hidung-hidung manusia ditusuk seperti kerbau. setelah berpapasan dengan Rudi. Untuk beli parfum saja aku harus rela mengorbankan makan siang. Tapi. Aku mulai curiga pada parfum ini. Pantaslah banyak orang yang membeli parfum sampai ke luar negeri. Bagaimana dengan orang yang tak pakai parfum? Aku hanya mampu mengatakan bahwa parfum itu penting. Kapan kamu beli?” Apalagi ini? Hey. Gawatnya. “Sepatumu bagus. Parfum ini ternyata jauh lebih membingungkan. yang baru saja menyapa. Semua benda yang menggantung di leher. dua bulan baru parfum itu akan habis digunakan. Menghabiskan uang dengan hal. Benar-benar tidak bisa diterima. Bau badan bukan kodrat. *** Lima semprot parfum beraroma terapi ini membuatku tak habis pikir. Kus.” .Diskusi dengan bau badan amis tak lagi menarik bagiku. Sepatu lusuh saja terlihat baru. Sama halnya dengan kenikmatan orang-orang pada umumnya akan tampilan bentuk. Pelbagai keanehan muncul. dan diletakkan di dekat kaki. Tentu ia tidak sedang bercanda. jelas nyata. Kus. Kenapa tidak ada yang bisa membedakan antara dua hal yang jelas berbeda? Sepatu ini jelas sudah lusuh. astaga. Baru dan usang tak ada yang bisa membedakan. Betapa kasiat ini tak pernah diduga sebelumnya! Keterkejutanku berikutnya terus bertambah. Hipotesis ini benar-benar membingungkan. bau yang busuk tetap akan tercium. Semakin menakjubkan. Kus. semua orang bilang sepatuku baru. Setiap senyum kuanggap kasiat parfum. Tidak sempat pula kiranya untuk beli celana baru. Sepertinya tubuhku tak lagi mutlak menjadi milik pribadi.

Di lain hal. Suara-suara dari kedua orang tuaku. ke mana hilangnya parfum yang kutaruh tadi pagi di atas meja?*** Ibu dan Anak Januari 28th. “Aku baru saja melihat kau di Pasar Raya. Aku sedang duduk di tempat tidur.” Parfum ini harus segera dibumi hanguskan. Aku masih mengingatnya dengan jelas. satu lagi di lingkungan akademis. ia hanya bilang. sepatu. “Aku selalu di sini Rinto. S-E-M-A-R-A-N-G. ah. tetap bau keringat dan amis. Ketika kutanyakan pada Rini. tidak bisa diganti dengan ketidakbenaran yang diciptakan oleh parfum ini. Dua tempat ini begitu berbeda sangat. Tunggu.” Sebenarnya hanya itu yang kuharapkan dari tadi pagi. Aku tak bisa menjelaskannnya. tidak lagi bau keringat. Atau mungkin tiga tahun. “Kau tetap bau keringat.Pertentangan antara kebutuhan dan keinginan berkecamuk. Tapi aku masih belum bisa membaca. Setidaknya. Tampak ibuku berurai air mata. juga di sini. Kus. Aku lupa lagi. Atau seperti sebuah monumen. Ibuku tersenyum kepadaku. Satu di tempat penuh kebohongan. Celana. bahkan tubuhku sudah diduplikasi oleh parfum ini. Tapi. Kebutuhan mengatakan bahwa tak perlu ada parfum toh tujuannya mengaburkan makna yang sebenarnya. * Di mana aku? Aku berada dalam kebingungan. Aku tak pernah kemana-mana. sejak lima semprotan aroma terapi tadi pagi. Tapi yang jelas pintu kamar terbuka. Tangisan siapa? Aku atau ibuku? Aku sudah berhenti menangis. Suara-suara yang belum bisa kumengerti kata-katanya. Suara tamparan itu. Apakah aku menangis ketika itu? Mungkin. dan senyummu begitu indah. Sepertinya tiga tahun. Suara-suara bernada tinggi yang menakutkan. Suara yang kemudian berlanjut kepada tangisan. Tujuh lembar uang yang bergambar Kapiten Pattimura. Terdengar suara-suara bernada tinggi. Kus?” Ini keterlaluan. Rasanya tidak berlebihan. Sampai sekarang. Hipotesisku baru saja selesai: wangi parfum membuat orang lupa akan sepatu buntut! Oh. 2008 by Anekdot Entah berapa umurku saat itu. tidak pernah ada yang bilang. Suara tangan ayahku yang menyentuh pipi ibuku. kau serba baru sekarang. Iya. Aku tidak akan terima ini. Dua tahun. Mari kita mulai saja diskusi ini. Hari-hariku dihabiskan hanya di kampus ini. Aku melihat keluar jendela. Plak. yang seharusnya digunakan untuk makan siang. keinginan tentu tak tega memperbiarkan bau busuk mengotori udara yang tak lagi bersih. Menangis karena apa? Lapar? Popok yang belum diganti? Haus? Atau aku hanya ingin mengeluarkan air mata saja? Tapi sepertinya aku menangis karena suara-suara itu. Begitulah huruf-huruf yang tertulis. Oh. “Bau keringatmu berbeda hari ini. tidak ke mana-mana. aku menangis. “Kau jelas mengada-ada. dikembalikan lagi ke swalayan.” Aku mulai tidak tahan lagi dengan perlakuan parfum ini. Tampaknya aku baru terbangun dari tidur lelap yang panjang. Ia mencium pipiku.” Tidak ada yang berubah. baju. karna hari ini berbeda dari waktu yang sebelumnya. Kalau bisa. Atau mungkin sedang berbaring. Kus. Di buang sejauh-jauhnya sampai tidak terlihat oleh Tuhan sekalipun. . “Yang berubah pada dirimu adalah.” Tak ada lagi ampun. Rinto. Dikubur sedalam-dalamnya sampai di bawah tanah yang tidak terjangkau oleh cacing. Aku berada di pangkuan ibuku. Tampak sebuah jembatan. parfum itu mesti dibuang. Kos-kampus-sekre tempat diskusi adalah tempat yang tak berubah kulalui dari waktu ke waktu. Aku berada di dalam suatu kendaraan panjang dengan kursi-kursi ganda di setiap sisinya. Tak seorang pun yang tahu aku pakai parfum. “Dari mana saja kau. aku bingung dengan kata makna. Rinto melihatku di pasar.

Tidak seperti biasanya. Udara yang panas dan gerah membuatku tidak betah. Tampak dari muka mereka suatu perasaan senang dapat bertemu. Kadang-kadang suka teringat wajah ayahku. Para penumpang mulai keluar melalui pintu. Aku juga sebenarnya tidak terlalu antusias. Mengapa aku sekarang tinggal di sini? Ayah sebetulnya tidak terlalu setuju aku tinggal dengan Ua di Jakarta. dan lega. Tamparan itu. Orang tuaku mengatakan bahwa itu terserah kepadaku. Kenapa? Apakah aku merepotkan ibu? Apakah ibu tidak mau mengurusku? Apakah aku menjadi benalu dalam kehidupanmu? Rasa sakit itu semakin merajalela. Apa yang telah dia lakukan dan apa yang telah dia jalani. Rasa sakit yang tidak tanggung-tanggung pada bagian perut dan payudara. Kepada orang yang sama. Apakah tetap di Jakarta atau kembali ke Bandung. Lelaki itu cukup baik kepadaku. Tampak seorang lelaki yang berjalan menuju ibuku. seorang wanita dan seorang lelaki yang mukanya mirip dengan ibu. Aku disuruh menetapkan keputusanku sendiri. Tampak ibuku menyesal. Dan ibuku juga tampak gembira. Kenapa ibuku sampai lari dan kenapa ibuku ditemukan kembali. Mereka berdua saling menghampiri. kesal. Entah sejak kapan keringatku jadi bau. Rasa sakit itu kembali menyerang. Ibu. Hanya di tempat dan suasana yang berbeda. Ini kehendakmu kan. Kalau tidak salah badanku menjadi merah karena gatal. . di mana kau berada saat menstruasi pertamaku? * Seperti de ja vu. Ibu? Ibu kan yang tampaknya benar-benar ingin aku tinggal dengan Ua. * Aku sudah lebih dari dua tahun tinggal di rumah Ua. Aku sering menemukan diriku di tempat yang asing dan baru. Entah sejak kapan aku jadi suka merasa gelisah dan depresi tanpa alasan yang jelas. Lelaki itu. Dia sering mengajak aku dan ibuku berjalan-jalan. Ketika itu namanya masih Ebtanas. Entah berapa lama aku tinggal di kamar itu. Mereka tampak sedang berbicara pada saat yang hampir bersamaan. Aku masih belum tahu akan melanjutkan SMP ke mana. Kepalaku mulai terasa pening dan pusing. Udara Jakarta yang panas dan gerah membuat keringatku semakin berceceran. Seorang anak berumur 11 tahun disuruh memilih jalan hidupnya sendiri. Mungkin aku kangen kepadanya tapi sepertinya tidak juga. Lelaki itu memanggil nama ibuku. Baru beberapa tahun kemudian aku akan tahu tentang arti dari semua ini. Dia membelikanku boneka.Kendaraan itu berhenti. Ayah. Ayahku juga terlihat menyesal. Lelaki ini baik kepadaku. Panas. Dia juga sering memberiku permen dan coklat. Aku bingung. Ibuku sedang menangis di antara orang-orang itu. dua orang yang dipanggil mama dan papa oleh ibuku. Sudah berapa lama aku tinggal di kamar ini? * Wajah-wajah dari orang-orang yang kukenal. Termasuk ibu dan aku. Itu yang aku rasakan untuk pertama kali ketika keluar dari kendaraan itu. Oleh orang yang sama. Raut muka mereka tampak sayang. lelaki yang bukan ayahku. Aku menyadari bahwa aku sudah tidak tinggal di kamar itu lagi. Cuaca panas yang gerah. Suara mereka mengisyaratkan rasa kesal dan menyesal. Mereka semua sedang mengelilingi ibuku. Ibuku menyahut.

Orang itu tidak datang. Aku membayangkannya dalam baju kebaya. Mungkin aku memang seorang wanita liar. Aku melihatnya dari kaca mobil ayahku. Tampaknya dia menjadi tidak sadarkan diri. Aku hanya seorang anak ABG. * Sudah kesekian kali telepon berdering. Tepat mengenai kepalanya. Aku teringat pada ibuku. Aku bentak-bentak dia. Aku akhirnya mengangkatnya juga. Di tempat umum. Terdengar juga suara lelaki asing. kesedihan. dan malu. Tanpa pikir panjang aku ambil vas bunga di meja. Aku membuatnya menangis. Ayah. kenapa kau tega sekali kepada ibu? Ibu. Terdengar suara ibuku dari dalam rumah. Itu yang kurasakan. Aku tidak merasakan apa-apa. . Orang itu mengatakan bahwa itu semua demi kepentinganku. Nasihat-nasihat nenekku terdengar hampa. Ayahku menyeret ibuku keluar dari mobil seorang laki-laki teman kerjanya. Orang-orang melihat kejadian itu. Itu yang kuinginkan. Aku tahu alasan dia menelepon. Kulihat dari jendela dua manusia sedang ngobrol dengan santai sambil sesekali bercanda. Tubuhnya yang menghampiri lelaki itu. Emosi macam apa yang kurasakan saat itu. Setelah itu aku tidak bisa merasakan apa-apa. Wanita itu baru resmi bercerai dengan ayahku dua minggu yang lalu. Menyayangi seorang ibu seperti seharusnya seorang anak. Aku lempar vas itu ke lelaki bajingan di depanku. kemarahan. Muka ibuku yang panik. Orang itu mengatakan bahwa aku tidak akan bahagia. Setengah jam yang lalu ibuku menelepon. Beberapa jam yang lalu ibuku baru menikah. Ibu. Aku tidak menaruh perhatian satu persen pun pada omongan wanita tua itu. Muka ibuku yang tidak bisa aku definisikan. Orang itu tidak suka dengan calon suamiku. * Sepasang sepatu yang asing tampak di depan pintu. Aku merasa hampa. bingung. apa yang telah kau lakukan hingga suamimu marah besar? Aku tidak tahu harus berpihak ke mana. Aku memang tidak mengundangnya. Sembilan bulan. Suara nenekku terdengar tua di telingaku. Mereka menengokkan kepala kepadaku. Kepuasan itu semakin besar karena seseorang. sedih. Atau lebih tepatnya seorang remaja liar. Penolakanmu semakin memuaskanku. Aku tidak tahu. Kepuasan. atau kesenangan. Mungkin memang masa putih-abu adalah masa pemberontakan. Aku menyebutnya dengan berbagai macam nama. Aku kesal. Entah apa yang kurasakan saat itu. Aku membayangkan pernikahannya. Sekarang sudah menikah lagi. Ayahku tampak menjelaskan permasalahannya. Ayahku ditenangkan oleh seorang tukang baso. Aku melangkah masuk ke dalam rumah. Sikap seolah-olah kau peduli semakin memuaskanku. Orang itu bersikeras bahwa aku tidak boleh menikahinya. Aku tidak membencimu tapi aku tidak bisa menemukan alasan untuk menyayangimu. Aku sedang dalam masa pubertas. Vas itu pecah berantakan. Aku tidak tahu harus berpihak ke mana.Dago. Pasti dia terlihat cantik sekali. Apakah itu cukup? Apakah itu satu-satunya alasan? * Pernikahan yang sederhana dan simpel. Masa di mana emosi dan mental ditantang.

Buah hati. Ibu. Aku tidak berhak merasa marah atau tidak senang dengan pilihan hidupnya. jalan raya. Sudah berapa lama aku tidak berbicara dengannya? Karma… . Karma. Apa yang kurasakan? Aku tdak merasakan apa-apa. Aku hanya percaya bahwa segala sesuatu yang kita lakukan pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal. Aku mengetuk pintunya dan mengucapkan salam. Ketika aku melihatnya aku melihat diriku sendiri. Kata itu muncul kembali dalam benakku. Hatinya adalah aku. Wanita tua itu tersenyum padaku. Aku hanya ingin merasa puas. Aku hanya kecewa tapi sekarang aku dapat mengerti. Rumah bekas jaman penjajahan Belanda yang tidak terawat. Tapi sesungguhnya tidak ada yang bisa kukenang. Aku tidak merasakan cinta seorang suami. Aku melihat foto pernikahanku. Sudah delapan belas tahun. Aku menggosok debu pada foto pernikahanku. Dari awal aku memang tahu kalau wanita itu benar. Ternyata aku hanya memainkan diriku sendiri. sejak kapan aku harus mendengarkanmu?! * Hidup adalah alunan waktu yang tidak akan pernah kembali lagi. Entah sudah berapa lama aku tidak menangis selama ini.Jangan sampai kamu merasakan apa yang kurasakan. Aku mendekatinya dan mencium tangannya. Kulit tembok yang warna aslinya putih sudah mengelupas di mana-mana. Mempunyai arti yang sama dengan kata karma tapi tetap saja aku tidak percaya dengan kata itu. Aku mempermainkan hidupku sendiri. Buah hatiku adalah reinkarnasi diriku. Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Rumah itu terletak di tengah semuanya. Tahun-tahun yang kulewati dalam kekangan komitmen palsu ini terasa hampa dan menyebalkan. Ibuku mempunyai jalan hidupnya sendiri yang dia pilih dengan segala macam pertimbangan. Aku hanya ingin membalasnya. Pada akhirnya aku mengerti. Jasadnya adalah aku. Setiap orang mempunyai jalan hidupnya masingmasing. dan bandar udara. Tepat delapan belas tahun yang lalu. Seorang wanita tua membukanya. Aku tidak percaya kalau kau mengatakan itu. Pada akhirnya aku dapat mengerti. Like mother like daughter. Luar dan dalam. Pasar. Siang hari. Rumah itu adalah rumah yang paling strategis di dunia. Aku mengakuinya. stasiun kereta api. Bagaimana menyebutnya? Karma? Aku tidak percaya dengan kata itu. Kukenang saat itu. Sudah berapa lama aku tidak mencium tangan itu. aku berdiri di depan pintu kayu besar rumah itu. Wanita itu memang benar. Sudah berapa lama aku tidak membaui tangan itu. Aku tersenyum kembali padanya. Sudah berapa lama aku tidak berjumpa dengan ibuku. * Cimindi. Jangan sampai kamu melalui apa yang kulalui. Di tengah kebisingan dunia.

Baru setengah jam aku berdiri di depan klub ini. Seumur hidupku tak kurasakan airmata kesedihan. Mungkin hanya sekedar mengendorkan saraf Ibu. Minuman alkohol kelas rakyat khas Laos itu menghangatkan tubuhku dari terpaan angin sungai Mekong. Pamanku bilang. Tiap malam mengucur deras dari sudut mataku sebanyak botol Lau Lao yang kutengak. Keluasan langit malam ini baru saja kurasakan. karena sebagai petani kecil penghasilannya juga kecil. Minuman keras itu menjaga tawa dan kegembiraanku setiap hari.” tolakku. ia adalah dewa penyelamatku. Paman hanya memanfaatkan kesempatan melihat kemiskinan. Airmataku hilang tiap bulirannya melayang entah ke alam apa. Ibuku bilang. Atau demi apa aku tak paham. Menakutkan! Aku sering kecewa karena percaya pada kata itu. Rewel dan banyak tuntutan. hawa salju. Secepat kilat berubah jadi cibiran akibat penolakanku. 2008 by radiani Ayolah! Coba kau cari di mana airmata kesedihanku tersimpan! Kau tak kan pernah menemukannya. “Sabai dee. Senyum segera lenyap dari wajah Thailand. Ibu memukul karena kehabisan pangan. Paman tak salah. Ayahku bilang. Membuatku semakin yakin bahwa sayang yang sebenarnya tak pernah ada di muka bumi ini. Tanpa dijelaskan dulu kenapa sayangnya diwujudkan dengan menampar pipiku. bahasa orang terpelajar. Lalu dibawanya aku ke Vat Xieng Gneun. Sambil sesekali melempar pandang ke televisi yang siarannya tak kumengerti. istilah sulit. yang selalu menegang bila melihat adik-adikku berebut makanan. Tapi ia memukuliku sebagai ungkapan sayangnya. Semua itu membuatku harus berkorban demi kasih sayang kepada keluarga. Murah meriah bertebaran di mana-mana. Apa demi adikadikku yang berjumlah lima orang? Atau untuk Ayah yang tak mampu bertanggung jawab. aku anak kesayangannya. Sisi barat kota Vientiane. Dijualnya aku disana. Seperti juga yang terjadi padamu Thailand! Sayangmu itu dalam semenit telah berubah jadi ludah yang jatuh ke tanah kotor. Sapaan itu adalah ajakan untukku. Aku bangun jam empat sore. Seperti apa warnanya? Berkilauankah bagai bulir permata menggelinding dari mata. Bagian kota yang lain sudah sepi seperti pemakaman Prancis yang megah dengan nisan berpilar pualam. “Bor! Bor! ( Tidak! Tidak!). ia sayang aku. Kebebasan udara belum lama kuhirup penuh-penuh. . menanyakan kabarku hari ini. Lagipula aku lebih senang melayani tamu bule atau negro.Ibu. Uh! hari masih terlalu pagi untuk masuk kamar lagi. Sayang tak pernah ada bila tak ada uang. Rokokku baru setengah kuhisap. Penyiar berwajah cantik itu berkali-kali bicara dengan bahasa tingkat tinggi. Bisa juga untuk menambah modal berjudi Paman. Tak pernah kurasakan hangatnya tetesan mengalir hangat merambati pipiku. masih malas untuk kembali ke ranjang. ‘Sayang’ memang benar-benar melimpah ruah di tempat ini walau hanya sebatas katakata. Satu-satunya bagian kota yang selau ramai dengan kehidupan malam. Atau aku terlahir dengan hati batu. “Chau sa bai dee bor? (Apa kabarmu baik saja)” Oley pengemudi tuk-tuk tertampan di sepanjang Vat Xieng Gneun. Sebuah jalan di tepian Mekong. Ayah marah karena tak tahu cara untuk menambah penghasilan. Tanktop dan rok mini tipisku serasa bagai gumpalan selimut bulu domba. Paru-paruku rasanya belum setengah terisi. Kalau airmata tawa aku punya berliter-liter. tapi waktu Ibu menyiksaku dengan kasih sayangnya. Ayah tak membelaku tapi membelaiku dengan sumpah serapah. Belum lama kulitku terkena udara. Aku akan dilimpahinya dengan banyak kasih sayang. atau kehitam-hitaman tercemar eyes shadow? Airmata tawaku kehitam-hitaman. Cuh! Dia meludah di hadapanku. Berakhir di ujung dagu. atau memukul kakiku dengan tongkat. Huh! Sayang katamu? Sudah lama kata itu jadi hantu buatku. sengak bau alkohol. uangnya lebih banyak. phii huk! ( Apa kabar sayang!)” Seorang Thailand menyapaku. Karena aku sendiripun tak tahu dimana letak airmata kesedihanku. bagaimana ibu dulu menghadapiku? TAMAT Perempuan Tepi Mekong Oktober 7th. Tamu Asia tak menyenangkan. Hingga tak kukenal lagi kesedihan. Sungguh sayang yang menyakitkan. Santaisantai berdandan mematut-matut wajah di potongan cermin retak. Lau Lao selalu menguatkan hari-hariku di sudut kota Vientiane yang ramai ini.

Kompak dengan mataku. Kami pasti sudah beranak dua tahun ini. senyum nakal dengan sedikit godaan. Kata cinta itu telah begitu banyak meluncur dari mulut Oley. Senyumku yang palsu untuk setiap kata sayang yag juga palsu itu. aku sadar akan perasaan yang sedang tumbuh di hatiku. Tanpa kemeriahan yang memabukkan seperti di jalan ini. Cinta dan cemburu seperti sendok garpu. Aku selalu tersenyum. Pelanggan akan memberi uang lebih. Mata uang negeri manapun. Aku tak mau itu terjadi padaku. Sendok bisa digunakan tanpa garpu begitu pula sebaliknya. Dan yang tiga bulan itu merenggut semua senyum Kova. Mereka membohongi semua orang dengan senyum dan kerling. Hanya desah sawah. Dan Oley masih menggarap ladang orang tuanya di Luang Prabang. Ketika sedang duduk menunggu pelanggan. Perasaan yang ditimbulkan tatapan mata Oley “Thuppy. Pada kenyataanya aku terlalu pengecut. Senyumku untuk setiap lembaran kip. berisik jengkerik yang memenuhi hari-hari. Andai aku tak terdampar di jalan kelam ini. Aku ini perempuan yang harus selalu tersenyum. . aku menemukannya terselip di bawah pintu. Bukankah seharusnya ia cemburu? Bila ia memang punya cinta untukku. bila aku lebih banyak memberinya senyuman. Bukan karena aku tak suka tapi karena keberadaan Oley yang begitu dekat membuatku salah tingkah.” jawabku sambil mengalihkan pandang. Sekarang tanpa mariyuana Kova teronggok lemas tak berdaya. Perkawinan seorang pelacur dan penjaja mariyuana tak akan berjalan lancar. Tapi aku terlalu mencintaimu. Senyum model apapun itu. atau tidak keduanya sekaligus. ketika telentang di hadapan lelaki hidung belang.“Dee Chai (Baik saja). Kurasa itu perlu dibuktikan lebuh dulu. Tapi tak sedikit pun aku memberinya kesempatan untuk berkata lebih dari itu. aku cinta padamu). Tapi tetap saja bisa digunakan walau pasangannya tak ada. Membohongi hatiku yang selalu merasa muram. tak lengkap bila salah satu tak ada. Senyumku untuk setiap kata sayang yang terucap. Aku tak tahu Oley. koi hak choi ( Thuppy. Senyumku adalah hidupku.” Aku mengusirnya. Begitu dekat tapi tetap saja di seberang. ketika hari teriris sepi di sudut tikungan jalan. Malam ini pun dia hanya memandang saja ketika aku sengaja lewat di depan tuk-tuknya mangkal. Aku tak tahan melihat senyuman di bibirmu Thuppy. Karena tanpa senyum aku tak bisa menyambung hidupku. Tapi aku dan kau seperti Laos dan Thailand. Kami pasti bisa membentuk keluarga kecil yang tenang. Senyum manis yang mengundang. selamat tiggal Thuppy. aku jadi tak bisa menjajakan senyumku dengan baik. Apalagi pernyataan cintanya. seperti seorang super hero yang muncul dari langit dan membawaku terbang ke angkasa. Bisa-bisa senyumku tak laku malam ini. Oley sampai hari ini aku hanya mendengarnya terucap dari mulutmu saja. Entah dengan cara apa.” “La kon Oley! ( Sampai jumpa Oley). Kubawa ke sarangku di puncak tebing curam yang tak terjangkau mahluk apapun. Tatapan mata Oley selalu membuatku bergetar. Dengan kesederhanaan. Bisa cinta atau cemburu saja. derai sungai. dolar. hatiku kaku-kaku tak bisa bergerak bila Oley berkata begitu. Hanya ada kau dan aku. atau senyum puas sesaat sesudah melayani. Bibir ini sekarang sudah jadi mesin senyum saja. atau bath. Hatiku mengeligis pedih. Aku tak bisa menyikapimu seperti semua laki-laki itu. Hanya tipis terbatasi Mekong. Sambil menyandarkan kepala pada bahu seorang negro kupandang wajahnya yang tampak pasrah. karena terlihat kaku. Aku tak mau kehilangan senyumku hanya karena cinta Oley. Seandainya aku bukan pelacur dan Oley bukan penjaja mariyuana yang berkedok supir tuk-tuk. Perkawinan Jay dan Kova hanya berjalan tiga bulan. Saat menatap Oley yang termangu di belakang kemudi tuktuk terbungkus asap rokok. Oley melambaikan tangan dengan wajah sendu. Senyum tak boleh lepas dari bibirku. Tapi mataku bekerja sama dengan bibirku adalah pembohong yang ulung. Tanganku bergetar tak sanggup menyangga beban yang tertulis di atasnya. Uh! Kenapa tak kau tonjok saja negro mata keranjang ini! Bawa aku lari dengan tuk-tukmu. setiap aku digandeng lelaki untuk diajak kencan.” Selembar kertas terjatuh dari tanganku. Aku harus selalu tersenyum karena senyum adalah bagian dari pekerjaanku. “Jadi seperti apa cintamu itu? serasa apa sayangmu itu? Oh. Seandainya aku elang. Maafkan aku Thuppy. Kata orang mata tak bisa bebohong. Tatapan mata Oley sering membuatku beku. Betapa aku ingin juga meikmati senyummu seperti banyak laki-laki lain. Tak kuberikan sedikitpun kesempatan pada diriku untuk mendengar lebih dari itu. akan kusambar tubuhmu.

Kini benar-benar kunampakkan seringaianku. Kenapa tidak langsung ke menu utama saja. Sesaat kemudian aku berpaling. Sekedar untuk menyembunyikan seringai yang terlanjur muncul di ujung bibirku. Aku ini perempuan yang selalu terseyum. ke depan. Sedari tadi dia tidak tenang. Digeser-gesernya duduknya. Tak mungkin ditemukan. Membosankan. Dengan enggan. Dia baru tiba saat pembawa acara baru saja selesai membacakan agenda pertemuan hari ini. Seakan dia ingin memastikan kalau jarum jam dinding itu sudah berputar sebagaimana seharusnya. Perilaku gelisahnya sama persis dengan sewaktu dia ada di aula tadi: pantat digeser-geserkannya. Dagunya mendongak setiap kali mata kami bersitatap. Bahkan orang bodoh pun tahu. Karena sekarang aku yakin aku tak memilikinya. Tapi terhenti sampai di leher saja. Sekilas dapat kulihat setitik keringat meluncur di dahinya yang putih mulus. Matanya berkeliling mencari-cari tempat duduk yang kosong. tanpa usaha untuk menutupinya lagi. dia pun mengambil tempat duduk di kursi pojok barisan depan. pengambilan rapor. dan dia yang duduk dengan gelisah di deretan kursi tunggu yang kosong.Oley Membaca surat Oley. kembali berlagak serius mendengarkan paparan kepala sekolah mengenai pencapaian-pencapaian sekolah kami di tahun ajaran ini. Akibatnya leherku terasa tercekik. Entah apa yang sudah dijejalkannya di dalam sana. sehingga si pantat bisa berbentuk sedemikian rupa. Memang sering kali kulihat mobilnya terparkir di depan fitness center di samping sekolah. Aku tetap tersenyum. Tapi aku curiga. Rapor November 11th. Dasar angkuh! . ke belakang. gerak-geriknya terbaca jelas. Begitu seterusnya. Sesekali dihelanya nafasnya. Paparan yang terlalu panjang dan terlalu lebar. Sesaat dia berhenti di ambang aula. Kadang ke kanan. kaki ditopangkan bergantian kalau tidak diketuk-ketukan di lantai. Aku sempat khawatir kalaukalau celananya yang berbahan halus dan mahal itu akan sobek karena bergesekan dengan kursi yang didudukinya. 2008 by birulangit Diam-diam aku memerhatikannya sedari tadi. Dari tempatku duduk sebagai notulen. Bolak-balik diangkatnya tangannya untuk menengok jam berlapis emas putih di pergelangan tangannya itu. Rambut panjangnya yang tergerai berayun-ayun mengikuti langkahnya yang tergesa. Merambat ke atas ke arah kepala. Dia membalasku dengan anggukan dan senyuman teramat tipis sembari dengan angkuh mengangkat dagunya. Kini kedua kaki langsingnya sedang mengetuk-ngetuk lantai tanpa irama. ada rasa panas yang keluar dari dada. **** Tinggal kami bertiga di ruang kelas ini. Sebentar kemudian diturunkannya. Cobalah kau cari dimana airmata kesedihanku tersimpan. pantat itu bukan hanya didapatnya melulu melalui latihan-latihan di fitness center itu. Aku terpaksa mengangguk (sok) ramah padanya ketika tatapan kami bertemu. Tentu saja keringat itu tak akan melunturkan riasannya. Hanya kursi di barisan depan yang masih tersisa. Senyumku menghambatnya. Apapun yang terjadi aku selalu tersenyum. Sangat jelas. Beban ribuan ton rupanya menimpa dadanya yang penuh (terlalu penuh juga untuk ukuran perempuan yang sudah tiga kali melahirkan?). Sementara itu kepalanya terus berkeliling. Seperti ada bara di bawah pantatnya yang menggunung itu. kadang ke kiri. Untung saja bunyi ketukan sandalnya tertelan gemuruh suara orang-orang berbisik di aula ini. Ganti kaki kirinya yang disilangkan ke kaki kanannya. Jauh dari orang tua murid yang lain. Maklum harga seperangkat make up yang dikenakannya setara dengan sebulan gajiku sebagai guru di sini. Pantat yang terlalu kencang untuk perempuan yang sudah tiga kali melahirkan. maupun jam tangan yang berkali-kali ditengoknya. Kalau tidak menunduk berlagak mencari-cari sesuatu dari dalam tas kulit merk luar negerinya. pandangan berkeliling atau menunduk berlagak mencari-cari sesuatu dalam tas. Bahkan ketika kulihat mayat Oley terapung-apung di Mekong. Aku sudah tak sabar. dia sangat gelisah. Padahal sudah ada jam tergantung di dinding aula. tapi berusaha tetap terlihat elegan. Sebentar kaki kanannya disilangkan ke kaki kirinya. Hendak menuju mata. Aku yang sedang melayani Bu Mira.

Seperti aku ini hantu baginya. lalu dikeluarkannya sebuah bungkusan dari dalam tasnya. Belum lagi jika kebetulan sang orang tua murid memang suka ngobrol. Kujelaskan sampai sedetail-detailnya perkembangan anak mereka selama satu tahun ajaran ini. laporan perkembangan. dan beberapa lembar pengumuman yang akan kuberikan kepadanya. Bu. Wajahnya yang pucat. Setelah parcel segede gunungnya yang kukembalikan seminggu yang lalu! Hari gini menyogok guru agar mau mengatrol nilai! Rupanya dia sudah merasa rapor anaknya bakalan jelek. Tangan yang pernah melemparkan kertas ulangan anaknya ke mukaku. saat dia mencercaku. Bu. kutukku. Perkembangan setiap anak didik sudah tercantum dalam rapor khusus kami yang berupa laporan narasi deskriptif. sudah membimbing Rachel. Tanganku menjadi ikut basah oleh keringat di telapak tangannya. agaknya dia juga mulai sadar kalau kelakuannya padaku selama ini bisa saja membuatku mengurangi nilai-nilai anaknya. “Rachel sendiri yang memilih. “Selamat pagi. Bu Mira bercerita kalau Rachel baru saja menjadi juara satu lomba wajah fotogenik. Senyum bernada segan. Muka putihnya bersemu merah. Rachel. anaknya. biasa aja! Terima kasih banyak Bu. Pembalasan dendamku untuk perempuan berpantat terlalu kencang dan berdada terlalu penuh yang angkuh ini. Dan kira-kira sejak dua jam yang lalu dia sudah duduk di sini menunggu giliran kupanggil menghadapku untuk mendapatkan rapor anaknya. Jadi bukan salahku jika sampai saat ini dia belum juga kupanggil. Selain bingkisanbingkisan itu ada beberapa amplop di dalam laci mejaku. “Mari. Aku baru sampai nomor absent empat belas. “Terima kasih. “Mari Bu. Bu. guru yang kurang perhatian. Dari lima belas muridku. Mati kau. tapi yang seperti ini orang tua murid suka. pembicaraan bisa melebar sampai ke manamana. guru pilih kasih. . Di sinilah ajang pembuktianku bahwa aku bukan orang sembarangan. para orang tua dipersilakan masuk ke ruang kelas anak mereka masing-masing untuk menerima pembagian rapor. Aku bilang pantas saja. duduk di hadapanku. Gombal sekali memang. memang berkebutuhan khusus. Sedangkan sudut mataku mencuri-curi pandang wajah cemasnya. silakan duduk!” Tanpa sepatah kata dia hanya tersenyum tipis. “terima kasih banyak lho. Bu. sudah banyak merepotkan!” “Tidak apa-apa. Maaf. Sebagian masa depan anaknya aku yang menentukan. Semoga suka!” Tangannya mengangsurkan sebuah kotak kecil yang terbungkus kertas kado bergambar kartun Naruto. Bu!” “Ah. Salam buat Rachel!” Kutumpukkan bingkisan dari Bu Mira di atas bingkisan-bingkisan orang tua murid sebelumnya. Sebenarnya kesempatan ini sudah kutunggu-tunggu. aku memang sengaja berlama-lama berbincang dengan setiap orang tua murid. Kutumpukkan berkas-berkas yang akan kuberikan padanya di sudut meja. memang kusengaja. Bu!” Kataku sambil menjabat tangannya yang dingin. Hanya saja. Dimasukkannya rapor. Kalau sebenarnya dia tidak bisa macam-macam denganku. Bukan senyum sinis seperti yang beberapa kali dilemparkannya padaku. Ardian. Tidak hanya itu. Hal yang tidak perlu kulakukan sebenarnya. saya permisi!” Bu Mira beranjak keluar ruang kelas. sudah menjadi tugas saya!” Jawaban ini sudah secara mekanis keluar dari mulutku setiap semesternya. Nilai-nilainya selalu di bawah teman-temannya. anaknya memang nomor absen terakhir. Untuk penilaian-penilaiannya padaku: guru konvensional. malah merepotkan!” kataku berbasa-basi. “Aduh. Aku berlagak sibuk menyiapkan rapor. karena dia mewarisi kecantikan ibunya. dan lain-lain. laporan perkembangan. Seperti yang sedang kulakukan dengan Bu Mira ini. Dalam hatiku tertawa. Bahwa aku punya kekuasaan. Biar saja. Setelah pertemuan di aula selesai. Gangguan konsentrasinya membuatnya sulit mengikuti pelajaran.Aku tahu dia sedang memakiku habis-habisan dalam hatinya. sembari berkata kalau percuma saja bayar mahal-mahal kalau lagi-lagi dapat nilai lima puluh. apa gerangan yang dibawa oleh perempuan yang kini sedang melangkah menghampiriku ini. Hatiku bertanya-tanya. “Ibu ini bisa aja!” Bu Mira tertawa panjang. dan beberapa lembar pengumuman ke dalam tas. anak Bu Mira.

” Matanya nanar menatap angka-angka itu. “Tidak naik. Berbeda dari sekolah Ardi sebelumnya. karena kita pakai kurikulum nasional. rapor semester satu.” Kutunjuk dengan jariku. Aih. Kini tidak kututup-tutupi. “Ja … jadi … bagaimana. Nikmat. “Semester ini Bu. “O ya.” Kalimatku menggantung. IPS. Bu. IPA. Bu. Jadi ada lima mata pelajaran yang ada di bawah KKM …. Bu? Benar-benar tidak bisa ditolong?” Kalau teringat bagaimana dia mengangkat dagunya. Lebar. Sengaja tidak segera kuserahkan kepadanya.” Dia melongo. Kubuka halaman sebelumnya. pagi Bu. Sebagai syarat kenaikan kelas. “Masih naik. Ataupun ketika seminggu yang lalu dia memohonku “kebijaksanaanku” untuk menaikkan anaknya. bagaimana Ardian. Bahagianya. Bu. Di sekolah Ardian yang dulu diperbolehkan. Walau mepet …. tanpa ucapan selamat malam. Bukannya apa-apa. Bahasa Indonesia. Berkas-berkasnya masih kutahan. Semoga Ibu maklum. Bu …. Bu. Dari segi metode maupun substansi pembelajarannya. Mohon maaf sebelumnya. Bu. Bu. betapa aku rindu! Kuambil tumpukan berkas di sudut meja. Aku tersenyum. Manusia di hadapanku ini semakin terlihat mengenaskan. Senyumku semakin lebar. Mengiba-iba meminta maaf. Kuhadapkan ke arahnya. Saya yang minta maaf. Matanya berkaca-kaca.” sengaja kuberi penekanan. “Lima mata pelajaran. “Ja … jadi … Bu?” Kini aku ingin tertawa. Biar kunikmati dulu penderitaannya ini. sungguh nikmat! “Seperti yang Ibu ketahui sebelumnya. dan SBK ada di bawah KKM. “Agama. Saya tidak berani melanggarnya. Saya hanya bermaksud mengucapkan terima kasih saja. “Lima. dilarang menerima gratifikasi.” . Bu? Bisa tidak naik ke kelas tiga?” Pertanyaannya lebih terdengar sebagai ratapan. nilai Ardi kurang memuaskan. Bu. Matematika. Tapi tetap saja kita mengacu pada peraturan dinas pendidikan. rata-rata nilai rapor siswa semester satu dan dua tidak boleh lebih dari.” Tangannya sampai gemetar menerima buku rapor ini. sekolah kita memang berbeda dengan sekolah yang lain. Lagi-lagi dalam hatiku tertawa. Peraturan sekolah melarang guru menerima bingkisan dari orang tua murid sebelum rapor dibagikan. tak menyangka. Semata-mata karena dia takut sakit hatiku akan mempengaruhi nilai rapor anaknya. Matematika. siang ini aku merasa menjadi Tuhan. IPA. Layaknya pengemis yang sudah tiga hari tidak makan memohon sedekah saja. “Ibu. Kubuka rapor Ardi. “Semester satu juga ada lima mata pelajaran yang di bawah KKM. Macam pejabat saja. aih. dan SBK …. Seperti habis kecopetan uang semilyar! Dia membolak-balik halaman rapor anaknya. Teringat aku bagaimana dia meneleponku malam-malam. Ada kemungkinan dia sudah akan pingsan dulu sebelum aku menyelesaikan penjelasanku ini. Bahasa Indonesia. Mungkin Ibu juga sudah tahu. Saya tidak tahu ada peraturan seperti itu di sini. “Tidak apa-apa. Tapi aku tidak juga jatuh iba. ya?” Suaranya tersendat di kerongkongan. Seperti yang Ibu lihat di sini. ekspresinya kali ini tampak begitu menggelikan. Setengah mati aku berusaha menyembunyikan tawaku.” jawabnya tanpa bisa mengatasi kegugupannya. Wajahnya seperti orang yang sudah mati saja.” Padahal mana ada sekolah mengatur perihal itu. Bu Lily?” Wajahnya terlihat sangat memelas. hanya untuk menanyakan keberadaan pensil atau penghapus anaknya yang hilang. Matematika. IPA. IPS. saya sudah berusaha sebaik mungkin membimbing Ardi ….” Dia menelan ludah sebentar. Seperti tidak ada lagi darah yang mengalir di pembuluh darahnya. Sebagian sudah sampai di pipinya. IPS. Bu. Sejak kepindahan Ardi awal semester dua ini. Bibirnya gemetar. tapi setelah dirata-rata. “O ya. “Mohon maaf. dan SBK ….“Pagi …. Bahasa Indonesia. ternyata hanya empat mata pelajaran saja yang di bawah KKM. Kemarin terpaksa saya mengembalikan bingkisan Ibu. “empat mata pelajaran yang di bawah KKM…” Akhir kalimatku kembali menggantung.” Sengaja aku berhenti untuk memandang wajahnya. Seperti ketika dia memohonku untuk melupakan apa yang pernah dilakukannya padaku. Ke mana gerangan dongakan dagunya yang angkuh itu? Ho ho. Berkas-berkasnya masih di tanganku. Butir-butir keringat meluncur di dahinya. PKn. Dia tidak tahu di mana dia akan menaruh mukanya jika anaknya lagi-lagi tidak naik kelas.

Penuh dengan ukiran ular Gato yang meliukliuk. Seketika tanah lapang itu jatuh sepi. “Wahai orang Mota. dan suku Mota Tanah Batu berada di bawah tongkat kekuasaannya. berbicara pada orang-orang tapi suaraku hanya memantul kembali dan hilang. Bahwa yang membangunnya adalah lelaki yang dijanjikan akan datang dan membawa keagungan. pemimpin spiritual sekaligus penentu jalan hidup kami. Dunia akan memakluminya. Aku pun pantas membencinya. menyaksikan menara Ka Borak yang selama sembilan bulan ini dengan susah mereka buat-dirikan. seperti ada suatu komando bawah sadar yang amat kuat mengendalikan mereka semua. kalian adalah darah murni suku Mota. “Ini seperti dalam mimpi para peramal. menelan matahari. Bukti kekuasaan atas Tanah Mota. tinggi. bahwa pendirinya adalah lelaki darah murni yang akan meletakkan suku Mota Pedalaman. Matahari baru mengintip dari celah bukit. The Tower of Ka Borak Desember 26th. Sisiknya besar-besar bertumpuk. Kita adalah penguasa Tanah Mota!” pekik semangat Se Moljo Banahung menggema-gema dalam tempurung kepala tiap orang yang hadir di situ. seperti seribu kunang-kunang beterbangan mengitarinya. Dentamnya menggema mengatasi kegaduhan orang-orang. Wahai orang Mota Pedalaman. dan anggun. 1320 warga suku berkumpul di sini. 1320 jenis kepalan tangan mengacung ke angkasa. Sedangkan monster-monster laut dan serigala separuh gurita mengintai-ngintai hendak menerkam saat aku lengah. 2008 by catur amrullah Aku seperti seorang terusir yang menyusuri dasar lautan seorang diri. simbol keagungan suku Mota. 1320 macam semangat melebur menjadi satu ambisi kolektif. Tidak akan ada seorang pun yang bertanya mengapa anak itu tinggal kelas. Menara besar dari dua kayu ulin yang disambung berukir ular gato menelan matahari. Tidak mungkin aku mengubah angka-angka itu. Semua mata terpacak pada sosok menggetarkan yang tegak menjulang di ujung timur lapangan. tak ada suara manusia terdengar.Seketika wajahnya menjadi bercahaya. suku Mota Pesisir. detak jantung seseorang seakan tertangkap telinga orang di sebelahnya. Semua itu. persaksikanlah. Aku sudah sangat puas melihat perempuan berpantat dan berdada terlalu bulat yang angkuh itu hampir mati ketakutan.’ Aku sendirian. Berbinar-binar. Hitam berkilau karena embun yang berkelip dilanun semburat matahari melamur seluruh tubuhnya. Sudahlah. menara Ka Borak yang kita dirikan ini menjadi saksi atas kejayaan yang dijanjikan itu. Menara itu. Sinarnya hangat sedikit. Tenang sekali. Kicau burung di pohon riuh menanti. naik ke mimbar. Suaranya yang parau hilang tenggelam dalam kegaduhan massa. karena aku punya harga diri. Kalianlah penggenggam masa depan itu. aku menyimpan dendam. Kalian ditakdirkan menjadi pasukan pemersatu suku-suku Mota yang terpencar. kepala suku kami. ‘sendirian dalam keramaian adalah ancaman. aku paham makna dari kata-kata bijak ini. Tapi aku juga masih punya nurani. kulit coklat mengkilat memakai jubah kulit kijang. menara Ka Borak. Aku tercekam oleh pikiranku sendiri. di depan kalian telah tegak bukti yang dikabarkan dalam Ketab Se Lambok. dan. Semua mata tertuju pada lelaki di atas mimbar itu. dibangun sebuah mimbar besar. Dan mulai detik itu. Dendamku sudah terbalaskan. Walaupun hal itu sebenarnya sangat mudah bagiku. serentak pekik gegap gempita membahana dari mereka itu. “Syukurlah!” Aku manusia biasa. ‫פּ‬ Ratusan orang berkumpul di tanah lapang. menara Ka Borak. Itu saja cukup. Menara yang membuktikan bahwa pendirinya adalah penguasa sejati atas Tanah Mota. “Hidup Se Moljo Banahung! Hidup Se Moljo Banahung!” 1320 macam suara memekik satu kalimat yang sama. ketua suku kami. Berdiri dengan keyakinan dan pemikiran yang tidak sejalan bukan hanya dengan orang-orang kebanyakan. tapi bahkan bertentangan dengan Se Moljo Banahung. melata dan melingkar. bukti penguasa Tanah Mota yang dinanti!” Seorang sepuh di antara kerumunan bersuara. Di depan menara. suku Mota Pedalaman. Seorang lelaki tinggi besar. menggumpal ke dalam satu . Kelengangan yang mistis menyelisik di tiap-tiap tubuh. Tongkat kayu setiginya dihentaknya beberapa kali ke lantai mimbar. “Syukurlah!” Dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. “Syukurlah!” Dia mendekap rapor anaknya dalam dadanya yang terlalu penuh itu. melintasi terumbu karang berbisa yang meracuni tiap helaan nafas yang makin tinggal sisa. Aku menjadi orang asing. benar! Tepat sekali! Inilah menara Ka Borak. Dialah Se Moljo Banahung. 1320 manusia itu.

. Di sebelah tenggara. tak bisa ditawartawar. jalan setapak itu menurun. Di sekeliling kami. Merentang sepanjang bibir pantai. takkan bisa dicegah. Aku tak bisa bersuara. menara Ka Borak. dan ribuan lagi lainnya. Tiga puluh orang bergelantungan di dinding tebing batu cadas dengan tubuh terikat tali dari atas. denting suara pahat besi menghantam batu cadas memecah ketenangan pantai. Dan kita. Menyiratkan tekad dan ambisi yang membuncah. Rumah-rumah dari jalinan batang bambu berderet rapi. hijau bergelombang oleh rumputan yang digoyang angin. luas membentang. kepala suku Mota Pesisir. Di ujung barat lapangan. Nun di hujung barat sana. sembilan hari lalu. menyelisik antara debur ombak di bongkahan batu. para pemahat terbaik suku Mota Pesisir. akan sampailah ke pantai dengan hamparan pasir putihnya. batas bentangan laut lepas. Suku Mota Pedalaman telah berhasil menegakkan menara Ka Borak. mengukir suatu simbol paling sakral yang tercantum dalam Ketab Se Lambok. atas instruksi Se Moljo Mapadong. Mengema menggetarkan tanah dan batang pohonan. Menara Ka Borak telah membius meraka. hampir setahun penuh. seperti yang dijanjikan dalam Ketab Se Lambok. terus ke barat. dan darah…. ‘hidup Se Moljo Banahung!’ Nyaring mendebarkan jantung. kitab spiritual suku Mota. 500 pahat telah rusak dan remuk. Mereka. akan menundukkan matahari!” Pekik gelora semangat perebutan kekuasaan berkobar menggelegak. menghampar pantai berbatu dan berpasir hitam seperti lumpur. kerang. kita juga akan menundukkan suku-suku lain di sekitaran Tanah Mota. Bukan hanya itu. membawa kita pada sebuah lereng yang landai. luas membentang. Aku berkeringat dingin.” Suara lantang Se Moljo Banahung tenggelam dalam gemuruh suara warga sukunya. berhamburan kacau balau dari dahan tempatnya bertengger. Harimau dan serigala bersijingkat kabur ke pelosok-pelosok hutan. maka tiada lain pilihan.tekad yang amat keras. dan sebuah palu. Symbol kejayaan dan kekuasaan. takkan terbendung oleh apapun. Tebing cadas yang telah tegak sedari jutaan tahun lalu. Kesepuluh orang itu. menjadi candi dari tiap perpindahan generasi manusia yang hidup si situ. Batu-batu yang menjadi rumah bagi tiram. mengukir suatu rupa yang luar biasa. tebing batu cadas memagar. terlentang jalan setapak yang panjang berkelok menyusur di antara pohon-pohon besar berusia ratusan tahun. “Sedangkan siapapun itu yang menolak dan menentang kekuasaan kita yang agung ini. Di barisan belakang. Angin berembus kencang di sini. Berjalab lurus menyeberang lembah. tapi terjebak di suatu sudut yang penuh dengan ketakutan dan kekhawatiran. mengabarkan bahwa pemimpin tunggal telah tiba. Menjadi saksi dari tiap perahu nelayan yang karam diamuk lanun ditelan topan. Dengan ini. akan tercecer di tiap jengkal Tanah Mota!” ‫פּ‬ Semakin membuncah semangat di sekelilingku. jangkang. tanpa kenal lelah bekerja dari pagi hingga sore. suku Mota Pedalaman. Ular gato menelan matahari. semakin terkucil aku dalam sudut takut dan khawatir yang kian runcing. Burung-burung beterbangan ketakutan. Di depanmu. warna biru terhampar di bawah cakrawala. bahwa mereka kini harus tunduk patuh di bawah tongkat kekuasaan suku Mota Pedalaman. sebuah menara berukirkan ular gato menelan matahari yang menjadi bukti bahwa pendirinya adalah suku yang berhak memerintah dua suku Mota lainnya. Di ujungnya. bukannya ikut larut dalam badai semangat yang dahsyat. mengabarkan pada semua bahwa kekuatan dan penguasa baru telah datang. Kera berlompatan dari cabang ke cabang. Tangan-tangan terkepal diangkat tinggi-tinggi ke angkasa. Sedikit demi sedikit memahat tebing batu cadas. sebagaimana tercantum dalam Ketab Se Lambok. Ujung bajumu akan berkibar-kibar semarak dibuatnya. Sejarah yang mungkin tak termaafkan. seakan tak bertepi. aku tergetar menyaksikan semua prosesi ini. tidak akan mendiamkannya begitu saja. atau mungkin yang ‘kan paling diagungkan oleh mereka. menghadang dentaman gelombang dan badai yang menyerbu dari tengah laut sana. sekeras menara Ka Borak dari kayu bullin yang tegak di depan mereka. . 467 palu pun patah. di belakang jajaran rumah panggung.. kita akan mengirim utusan pada suku Mota Pesisir dan Tanah Batu. Kaki tebing itu menceruk jauh kedalam. Tahukah kalian jawaban bagi pembangkang? Yaitu…. pekik lantang Se Moljo Banahung merengkah: “Mulai besok. aus karena gesekan gelombang selama masa berjuta tahun. Kumandang semangat 546 warga suku Mota Pedalaman menggentarkan nyali tiap penghuni hutan. terus menurun. hutan rimbun mengitari dengan amat rapatnya. Dalam gemuruh euphoria kekuasaan dan kemenangan yang menari-nari di pelupuk mata. Masing-masing menggenggam sebuah pahat besi terkuat yang ada. berputar-putar mengelilingi punggung gunung. terjadi di situ. kita. simbol atas kedatangan sang pemimpin yang dinanti. menghampar padang rumput amat luas terbentang. Di bawah tebing itu. suku Mota Pedalaman telah-dengan sepihak-menetapkan ketunggalan kekuasaannya atas dua suku Mota lainnya. “Mereka takkan berhenti. Sebelum hari itu.

menatap bulan sabit seperti anak kecil lagi sakit. tak bisa ditawar lagi!” Suaraku lirih bersama hembus perih. Mereka membuat kubus-kubus batu raksasa. ini salah! Lakukanlah sesuatu!” Lelaki tua di sebelahku itu hanya diam. Dan sekarang. angin. tiada kukira engkau akan sebenar ini Paman. “Mota Pedalaman telah membangun menara Ka Borak. Angin yang berputar-putar menerbangkan daunan gugur juga helai rambutku. Pundaknya makin jatuh. Menara Ka Borak paman. mengukirnya. menjadikannya ancaman bagi yang lain. Ah. Semua nafas tertahan-tahan. Semua yang di situ berseru serempak: “Tidak ada! Suku Mota Pesisir terkuat! Se Moljo Mapadong terkuat!” Gemuruh ini hampir-hampir membenamkan pantai berbatu itu. “Ya. panjang. disusun setingngi 22 depa. Di depan mereka. tak kuiura Paman. menara Ka Borak diam membeku. dan sembilan hari yang lalu. Mota Pesisir rampung mengukir Ka Borak di dinding tebing batu cadas. “…Menara Kaborak telah kita buat. menelan matahari. dan jelas sekali ada selendang gelisah yang melingkari suara beratnya itu. pada tebing cadas. Seekor ular gato raksasa melata dengan ganas. menggiring potongn-potongan awan ke batas cakrawala. “Badai dan topan samudera tak kuasa membunuh kita! Gelombang dan pasang kita taklukkan! Di setiap pantai ada jejak kaki kita. Samudera di belakang punggung orang-orang itu seakan membeku disihir aura magis menara luar biasa itu. mulutnya menganga lebar. kemenangan dan kemulyaan telah masuk pintu-pintu rumah kita!!!” “Hidup Se Moljo Mapadong! Hidup Se Moljo Mapadong! Hidup…” “…dan kita akan taklukkan seluruh Tanah Mota! Semua akan kita kuasai! Semua akan tunduk! Akan kita miliki! Semua…” ‫פּ‬ Sorak sorai 1543 orang Mota Pesisir terbang membubung ke angkasa. Larut dalam keterpesonaan. burung hantu menangis sendu. pun manusia. menatap-sepertinya-jemari kakinya yang tersembunyi dalam pekatnya malam tengah hutan.Sembilan hari yang lalu. Dari tadi dia hanya menunduk. “Ah. Orang-orang terbius oleh semacam zat adiktif kekuasaan yang mengerikan. engkau tahu bahwa itu adalah awal dari kebinasaan kita. Beban berat yang hampir dua tahun ini dia tanggungkan sampai sudah pada titik kulminasinya. kepalanya tunduk seakan bertengger di atasnya hantu keputusasaan. liar. masing-masing suku Mota punya Ka Borak!” Tak ada jawaban. Melonjak-lonjak kegirangan. ramalan Ketab Se Lambok telah kita wujudkan.” Se Moljo Mapadong berorasi di hadapan mereka. batu. Semuanya takzim. Menyembunyikan dalam malam. Berteriak-teriak kalap. menyusunnya. dan. Aku tak berkedip. menara Ka Borak. tiada kukira Paman!…” . hanya desah nafas berat yang makin mengerikan dia jawabkan. gelap yang senantiasa datang pada tiap penghujung senja. semua orang suku Mota Pesisir berkumpul di depan tebing batu cadas itu. meliuk-liuk tak terbendung. kekuatan kita terkhabar kesetiap penjuru Tanah Mota. menempatkan aku sendiri termangu di bawah pohon randu di belakang rumah. hitam gelap penuh misteri. ketika Mota Tanah Batu mulai menggergaji batu pertama menara Ka Borak. gelap yang menekan dan mnyelubung. berukir ular gato yang tengah menelan matahari. Di kejauhan. “Bagaimana dengan Mota Tanah Batu? Bukankah Ka Borak telah mereka dirikan jauh hari sebelum kita dan sebelum Mota Pesisir. “…lima lautan telah kita jelajah. gelombang. “Ini salah! Tidak boleh begini kita berada Paman. keras menghantam tebing cadas dan berulang-ulang menggema.” Paman bertanya. Mereka menatap takzim tebing cadas yang kini tak lagi polos. maka siapa lagi yang lebih kuat dari kita?” Suara menggelegarnya bependar-pendar memantul terbentur hamparan tebing cadas. kekuasaan dan kekuatan yang dijanjikan telah datang ke suku kita. melesat jauh ke tengah samudera membentuk gelombang-gelombang ambisi. 1543 orang. Dibawa angin ke buritan tiap perahu yang tengah berlayar. semenjak lima belas bulan lalu mereka telah menggergaji bukit batu putih. kerang. Paman. Lima belas bulan lalu. meliuk-liuk. tak kukira engkau akan sebenar ini. Ular gato yang besar. keduanya mengklaim sebagai sang Pemimpin yang dinanti. tak ada sisa lagi yang belum kita datangi. dipatuk burung dibawa kepulau-pulau di seberang sana. terlempar jauh-jauh ke tengah samudera tak bertepi. kepiting. Di depannya. di atas sebuah batu karang hitam persegi sebesar kerbau. 124 kubus batu. Dua tahun dia berusaha menjelaskan bahwa pendirian menara Ka Borak hanya akan mengundang kehancuran Tanah Mota.

butuh stempel perijinan suci yang akan dijalankan mati-matian oleh tiap warga sukunya. “Begitu seseorang mencicipi kekuasaan selebar daun. “Apa kau sudah faham sekarang anakku mengapa menara Ka Borak berdiri di masing-masing suku?” Aku mengangguk. tak terbayang paman akan mengumpamakan menara Ka Borak sebagai saripati jubok bagi manusia. “kekuasaan itu seperti sari pati jubok. Menara yang berpahatkan ular gato sedang menelan matahari. dan. lemah semilir suaranya. bersaing. hingga nanti hanya kematianlah yang akan memotong nafsu serakahnya. malah kita yang mengirim utusan pada mereka untuk meminta hal yang mereka tuntut dari kita. semenjak orang tuaku mati jatuh kejurang. dan. tanah leluhur kita. “Menara Ka Borak. dan kau langsung tergeletak tanpa sempat beranjak dari tempatmu berada saat itu. Setiap suku mengaku yang paling benar. yang meracuni siapa saja yang mencicipinya!” Aku kaget. dan pernah saling serbu. Anehnya. Masing-masing mereka berjanji akan terus menjaga persaudaraan. dua puluh enam tahun lalu. dalam waktu yang bersamaan. setelah terlambat. Di dalamnya tertulis bahwa ketika suku Mota menjadi tubuh yang terpisah. Akulah sang penguasa tunggal Tanah Mota! Akulah sang pemersatu! Akulah raja kalian! Dan suku-suku lainnya harus tunduk taat. begitu aku menyerahkan surat dari Se Moljo . hal itu sudah termaktub dalam Ketab Se Lambok. Sejak kecil aku telah hidup dengannya. meminta ketaatan dan ketundukan kita.” Paman kembali diam. Sebuah kitab yang dalam keremangan tampak amat tua tapi amat kuatnya aura sakralnya. kau tahu apa sebenarnya menara Ka Borak itu anakku?” Aku hanya diam. karena lelaki yang mendirikan menara Ka Borak adalah orang yang di tangannya persatuan tubuh suku Mota tergenggam. memimpin dua suku Mota lainnya dan menguasai suku-suku kecil lain. “Anakku. Masing-masing suku Mota ingin menjadi penguasa tunggal Tanah Mota. menara Ka Borak. Tentu dia menghawatirkan aku dengan amat sangat. Kemana burung hantu? Jangkrik pun bungkam. itu kejadian saat kakekku masih belia. juga orang-orang fanatik lainnya. Sekali kau mencicipi. seakan ia bisa melarikan diri dari tangannya. tanpa ada yang menyadarinya sebelumnya. Masing-masing suku Mota bertambah besar. tak berani menjawab. alangkah bodohnya manusia itu!” Paman tampak amat sedih. tentu saja mereka membawa Ketab Se Lambok. sepi sekali.” Paman membuka Ketab Se Lambok. Sampai baru kemudian. kau tak bisa berhenti. tentu saja. Lalu mereka berpencar setelah jumlah mereka semakin banyak. Dan kini. tak sanggup meneruskan ketakutanku. Hitam tiap halamannya. Dan. menjerit-jerit kesepian. terus dan terus tak terkendali menjilati sari itu. dia akan menuntut yang sebesar batang pohon. Beliau memegangnya erat. serigala melolong-lolong. Gambaran kehancuran suku-suku Mota dalam perang saudara yang dahsyat dengan amat nyata berkilatan dalam kegelapan malam yang melingkupi tubuh kami. Ya. aku harus mempertaruhkan nyawaku untuk kegilaan pemimpin kami. jiwanya tertekan sungguh. alangkah bodohnya. awalnya orang-orang Mota tinggal di Tanah Batu. kekuasaan adalah sari pati jubok. Masing-masing pimpinan dari suku tersebut mengklaim dirinya sebagai lelaki darah murni seperti yang dijanjikan dalam Ketab Se Lambok. jika berani menentang. “Besok kau akan menjalankan tugas terberat dalam hidupmu.” Paman bicara. kau tahu bibirmu membiru. menara Ka Borak. mengabarkan keberadaan menara Ka Borak di tanah mereka. saling melindungi. Sebagian yang lain pergi ke pelosok hutan. dia juga adalah sari pati jubok. “Anakku. taatilah dia. tenggorokanmu pahit. Sebagian pergi ke pesisir. sari patu jubok itu menampakkan dirinya dalam wujud yang paling menakutkan. seorang lelaki darah murni akan muncul demi menegakkan menara Ka Borak. jadilah suku Mota Pesisir. Kekuasaan mengumpan dan meracuni siapapun itu anakku. dan besok akan meminta yang seluas hutan. Dan. tiap-tiap suku Mota memiliki menara Ka Borak. nafsu kekuasaan telah tersulut terbakar. berebut pengaruh. Mengajak warga suku berperang bukanlah cara yang tepat jika ingin mendapatkan dukungan penuh dari mereka. Darah akan dialirkan di padang-padang sunyi tiap penjuru Tanah Mota yang suci. Tapi itu kejadian entah berapa ratus tahun yang lampau anakku. para pemimpin suku itu butuh legitimasi sakral. Dan kenyataanya kini. berhati-hatilah. tidak segan-segan perang penaklukan akan di gelar di atas Tanah Mota. lalu di pelosok hutan yang jauh merusuk ke dalam. Tangannya mengambil sesuatu dari sebelahnya. Maka ikutilah dia. Aku tertegun. solusi itu ternyata ada di dalam Ketab Se Lambok. tulisannya tersembunyi dalam gelap pekatnya malam. Kau tentu tahu Mota Pesisir telah mengirim utusannya kepada kita empat hari yang lalu. tapi kini. Aduhai Anakku. Bisa saja hal ini terjadi. Dan sekarang. perutmu panas. menyamakan simbol suci itu dengan tanaman beracun paling mematikan di hutan ini. jadilah suku Mota Pedalaman.Aku diam lagi.

Tangan kiri membawa perisai. melintasi terumbu karang berbisa yang meracuni tiap helaan nafas yang makin tinggal sisa. hari ini.Banahung pada Se Moljo Mapadong. 2008 by prince-adi Saya sudah sering dihina dan terhina.” ‫פּ‬ Ini bukan perangku. tombak. Mata mereka tajam menatap ke depan. apakah Ketab Se Lambok telah membohongi kita semua? Telah menggiring kita yang mensucikannya ke dalam jurang kematian?” “Tidak anakku. semua manusia suku Mota kini masing-masing punya perang untuk dituntaskan. perlahan-lahan.’ Aku sendirian. Siapkah kalian untuk menjalankan tugas mulia ini? Melaksanakan perang yang akan membimbing kita pada jalan menuju kemulyaan dan kejayaan?” Gemuruh manusia membahana. 10 Mei 2008 Vaginalia Oktober 9th. karena kami tidak boleh berpendapat. Di sudut sana. hingga tubuh ini kemudian bukan tubuh kami lagi. serta merta akan memenggal kepalaku begitu selesai membaca isinya. tapi tuntutan ketaklukan. mereka lupa jati dirinya! Mereka menyangkal bukti kebenaran menara Ka Borak. kami tenggelam dan mati sia-sia. Kami tidak ada urusan dengan kekuasaan! Kami tidak ada perlu dengan pengaruh dan perluasan wilayah. dan pendulum berkepala besi berduri. Karena bukannya surat pernyataan ketundukan yang kubawa. Maka. Dan. Sedangkan monster-monster laut dan serigala separuh gurita mengintai-ngintai hendak menerkam sasat aku lengah. Tubuh tak berdaya inipun perlahan terasinkan oleh dahsyatnya garam air laut. Aku tercekam oleh pikiranku sendiri. pada ahirnya. Kami seperti tersesat di lautan. Kami tahu. semuanya berubah menjadi dilema yang menyakitkan. bukan! Ini adalah ambisi jahat mereka. beterbangan ke angkasa. “Kalau demikian Paman. Di sebelah timur. Apa kau pikir menara Ka Borak adalah suatu menara seperti yang kalian pikirkan? Tidakkah kau mengerti bahwa itu hanyalah suatu perlambang?” “Membangun menara menunjukkan pada suatu usaha tanpa henti yang amat melelahkan. matahari menerangi dataran batu yang amat luas ini. Debu putih membubung tinggi. mempertanyakan. murni pemberian kedua orang tua saya. berdiri tegak menara Ka Borak menyongsong langit. Menara Ka Borak bukanlah suatu bangunan seperti yang kau lihat. ‫פּ‬ Beratus-ratus lelaki bertubuh kekar dan legam berbaris tegak. Dan. orang-orang yang tiada ambisi dengan segala macam penaklukan. Tangan kanan mereka ada yang mengenggam parang. tapi ia adalah perlambang dari suatu perjuangan suci menyatukan Mota yang terberai. hukuman bagi pembangkang akan di jatuhkan. Brondong. Dan kami. lalu perahu bocor. karena apa yang kami yakini adalah apa yang para Se Moljo perintahkan untuk kami yakini. . terjebak dalam perangkap racun sari pati jubok yang mereka jilati siang malam. berbicara pada orang-orang tapi suaraku hanya memantul kembali dan hilang. kami tidak pernah turut mencicipi sari pati jubok itu. ‘sendirian dalam keramaian adalah ancaman. kami pun sama gilanya dengan mereka. sebuah pengorbanan. tapi kitalah yang salah memahami kitab itu. tersusun dari 124 kubus batu. “…suku Mota Pedalaman dan Pesisir telah berkhianat! Mereka membelakangi isi Ketab Se Lambok. Silahkan kalau kamu mau tertawa. tidak demikian anakku. Aku menjadi orang asing. Aku seperti seorang terusir yang menyusuri dasar lautan seorang diri. ini bukan perang kami. Perang yang hakikinya bukan milik kami pun ahirnya dengan membabi buta kami mamah masukkan ke dalam jiwa. Dan yang menyedihkan. Asli dari akte lahir. ambisi para Se Moljo beserta para pembantu setianya. aku paham makna dari kata-kata bijak ini. Perang akan segera dimulai. kepala suku kami. tapi racunnya turut serta dalam aliran darah kami. bukan perang kami para warga suku Mota Pedalaman. Dan mulai detik itu. Toh sudah biasa. orang-orang yang masih waras dalam lautan kegilaan ini. (atau malah) menertawakan nama saya. Pengorbanan apakah itu Anakku? Yaitu pengorbanan kebanggaan diri demi mempersatukan tubuh yang terberai. Sebab nama saya Vaginalia. Jadi sudah biasa kalau kamu mengernyitkan dahi. Berdiri dengan keyakinan dan pemikiran yang tidak sejalan bukan hanya dengan orang-orang kenanyakan tapi bahkan bertentangan dengan Se Moljo Banahung. bukan pula perang warga suku Mota lainnya. bukan menjatuhkan korban dari tubuh yang telah luka! Bukan Anakku. untuk orang seperti aku dan Paman.

Sebab katanya akan mendapat pahala jika saya memuji namanya. Orang yang terpuji. kamu sudah memegang tangan saya. Orang-orang seringkali merendahkan harga diri saya sebab nama saya Vaginalia. belum kawin. saya punya harga diri. mendambakan laki-laki baik-baik. Saya tampar dia. Tapi kamu terlalu mempesona. Kamu basah kuyup. Nama kamu Muhammad. tapi kamu dengan hebatnya kembali mengatakan cinta. Pernah saya ditawar dua juta untuk sebuah malam bersama dengannya. Sementara bibirmu terus melumat bibir saya. katamu. Bisa juga sampai ratusan juta. membuat saya tidak berdaya. Terlebih kamu mengatakan cinta. Dan kamu memanggil saya “Va”. mendapat sesuatu yang bernama ‘Syafa’at’ di kehidupan akhirat. menenangkan hati saya. Saya tidak mau. Belum waktunya. Sejak itu kita pacaran. Tapi sekali lagi. Kita masih hanya berpegangan tangan. kamu mendadak muncul di depan pintu kostan saya. Saya tidak menolak. tapi bibir saya kamu bungkam begitu nakalnya. Sebab saya juga perempuan baik-baik. termasuk saya. Malam itu saya membiarkan kamu mencium bibir saya. Mendambakan laki-laki yang baik-baik. Sebab saya tahu bahwa zinah adalah dosa besar. Nama kamu Muhammad. Sebab nama saya Vaginalia. Tapi saya bahagia. Saya benar-benar tersinggung. Saya suka perilakumu terhadap saya. Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa ketika tanganmu mulai menelusup di balik kemeja saya. Mendekati saya dengan alasan nafsu saja. “Saya yang traktir. Padahal saya benar-benar tak mau dibeli. Sebab namamu itu. Mau berbicara dengan saya meski tatapan curiga mengarah ke arah kita berdua. Belum sempat saya ambilkan handuk. Nama kamu Muhammad. kamu mau duduk di samping saya. Kamu selalu sabar menemani saya meski mereka masih menatap curiga. . Sebab saya tahu ini dosa. Toh saya cukup bahagia dengan berpegangan tangan. Saya benci. Saya bahagia. Karena itu kamu. Vagina. nama organnya wanita. Nama yang bagus. Saya takut. Meski saya miskin. Saya justru senang. Tergantung jaminan kepuasan yang diberikan. Dua bulan. ***** Saya masih perawan. Satu bulan. ***** Saya cantik. Benar-benar takut. Nama kamu Muhammad. saya tidak seperti itu.” katamu sambil tersenyum merekah. Mimpi yang menjadi nyata. Dan segalanya telah berubah menjadi kamu. Barang yang sudah banyak diobral murah. satu buat saya. Tidak seperti laki-laki pada umumnya yang menilai saya dengan harga. limapuluh ribu semalam. Mengatakan saya hanya jual mahal. Kamu menemani saya duduk di sebuah kantin. dengan harga berapapun yang kamu beri. Sampai bulan kedua. Saya hanya mampu memejamkan mata. Saya jatuh cinta sama kamu. Dan kamu ungkapkan cinta. Saya sudah cukup senang dengan keberadaan kamu sebagai teman saya. Itu untuk kelas biasa. juga nama nabi yang paling diagungkan. artinya dapat dipercaya. satu buat kamu. dan agung. Sebab itulah saya percaya sama kamu. Mengelus tubuh saya. kembali mengatakan cinta. dan berjanji akan menikahi saya. Memesan dua mangkok bakso. Sama saja dengan menyekutukan Tuhan. Tapi apa saya pantas untuk mencintai dan dicintai? Saya tidak berharap lebih. Sebab sebelumnya kamu memasangkan cincin di jari saya. Yang dijuluki Al-Amin. Saya jijik. Sebab saya tak mau macam-macam.Kamu mengenalkan namamu sebagai Muhammad. Padahal hujan sedang deras. Saya mulai menangis. Diteladani banyak manusia. Saya wanita baik-baik. Kamu tahu. Saya ingin katakan jangan. Sebab kamu teman pertama saya. itu pertama kalinya tangan saya digenggam laki-laki. dan dia memaki saya.

satu per satu. Dan neraka balasannya. Cara bibir itu bergerak saat bicara.” kata perempuan itu kepada laki-laki yang duduk berhadapan dengannya. Menyaksikan kamu tanpa busana. Bukankah bibir itu yang dikulumnya tanpa puas ketika gairah-gairah mereka memuncak di malam-malam penuh gelegak yang mereka reguk bersama-sama. namun tidak tahu lagi karena apa dan dimana. Orang yang terpuji. tanpa bisa lagi memikirkan bahwa kita adalah pendosa yang tidak akan diterima ibadahnya. Dan saya hanya bisa tertawa. Kamu benar-benar pergi meninggalkan saya. Tidakkah kamu mengerti? Bibir Februari 13th. sudut-sudutnya yang naik turun tergantung emosi pemiliknya. Padahal nama kamu Muhammad. Padahal kita sudah pernah bercinta dengan dosa. Saya menangis. Mengapa semuanya saat ini rasa-rasanya tidak pernah benar-benar terjadi tak dapat dimengerti oleh pikirannya yang biasanya jago mengkalkulasi rumusan-rumusan jual-beli. . begitu pula saya. Sebab ia orang yang terpuji.” Laki-laki itu mengangkat pandangannya dari merenungi asap-asap tipis yang keluar dari mug-nya dan menatap perempuan itu.Tiba-tiba hari telah pagi. saya tidak lagi perawan.” Dan bibir itu sangat manis bentuknya. merekahnya ketika minum kopi dan mengintipkan gigi putih yang sangat cocok untuk iklan pasta gigi ketika mengigit sepotong kue. berjanji menikahi saya. namun tidak lagi menimbulkan rasa ingin. ***** Berkali-kali setelah itu kamu melakukan hal yang sama. Saya ingin menolak. Ditariknya nafas dalam-dalam lalu menjawab. Tak tertinggal suatu apapun kecuali membawa debu melekat pada tubuh saya. ia menemukan dirinya merasa sangat asing. mengecup kening saya. di keramaian. siang dan malam. Sebab nama kamu Muhammad. Tapi mungkin setan-setan yang kegirangan memujimu. Ada bercak darah di sana. ***** Kamu tahu dimana saya berada saat ini? Penjara! Saya membunuhi Muhammad. Beberapa putaran musim yang lalu bukankah hanya bibir itu yang ada dalam ingatannya sepanjang pagi. Benar-benar ingin menolak. dan pagi lagi. Tapi kamu tetap tak menggubris itu semua. tidak pernah berhenti melingkar-lingkarkan jerat di dalam kepalanya. “Mungkin aku memang tidak penah mampu untuk mengerti kamu. Mungkin otakku yang bebal. melaknatmu. ***** Bulan keenam kamu mengatakan perpisahan. merindukan Muhammad yang pernah saya puji. sia-sia saya melakukan itu. Sedangkan saya lebih memilih menghujatmu. Muhammad mana saja yang matanya belingsatan melihat kecantikan saya. Kata-katamu selalu saja asing bagi telingaku. berkali-kali. namun selalu saja keluar dengan wajar dari bibirmu. Saya percaya. Tapi saya akhirnya sadar. “Atau setidaknya kita pernah yakin tentang hal itu. laki-laki itu menggelengkan kepalanya dengan heran. Tapi lagi-lagi kamu memeluk saya. Saya mencari Muhammad. Tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Tapi kamu begitu pintar untuk memancing hasrat saya keluar. Sebab namu kamu Muhammad. Di jalan. atau di tempat remang-remang yang menjajakan kebahagiaan. Ah. Dan lagi-lagi saya menyebut Muhammad. saya percaya kamu akan menikahi saya. seperti angin. 2008 by Ge “Sepertinya kita pernah bersebelahan jiwa. tanpa malu. Ia merasa seperti orang mabuk. Yang pernah begitu saya teladani. hanya sepotong kayu imitasi yang dinamakan coffee table dan dua mug gemuk kopi hangat masih berasap menjembatani ruang antara mereka berdua dari kursinya masing-masing. Akhirnya kamu mengatakan bosan kepada saya. Tertawa akan kebodohan saya mempercayai kamu selama ini. untung dan rugi. Sebab saya tahu.

Asep juga. “Lho. Jadi aku kira kamu pasti tidak mau ikut. Siapa lagi? Pasti ada perempuan itu. Jeffry juga. Kemudian ia jadi sering merasa mual. betapapun manis dan lembutnya terdengar di telinga. bebas komedo. iya kan?!?!” “Lho. maksudku bukan janda cantiknya. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana menjawabnya. karena dia tidak pandai menyusun kalimat di depan bibir itu. “Kok nggak ngajak-ngajak?” Bibir itu menurun membentuk kurva setengah lingkaran dan lampu merah di kepala laki-laki itu mulai berkedip-kedip. Ya. bukan. seakan mencoba menebak sesuatu. “Sudah. Mau kan?” “Jangan merubah pembicaraan! Kamu makan-makan dengan siapa-siapa saja tadi?” “Lho…ya dengan teman-teman kantor. tajam sekali.” “Aku memang tidak suka. laki-laki itu kemudian berlatih untuk diam sejenak sebelum menjawab segala sesuatu yang keluar dari bibir itu. lebih. ciumannya pun membentur gunung batu yang menjulang tinggi dan menukik tajam di sudut-sudut dan lekuk-lekuk bibir itu. lebih tepatnya dia takut mengucapkan lebih banyak katakata karena akan berarti lebih banyak lagi kesalahan yang dapat saja dilakukannya menurut logika bibir itu yang mengakibatkan bibir itu akan mengeluarkan lebih.” “Perempuan yang mana lagi?” “Wulan. waktu aku telpon katamu kamu tidak suka masakan Itali dan kamu ada janji dengan teman-temanmu mau shopping. tidak mampu memproses data lalu macet. “Sudah makan ya?” tanya bibir itu. hampir-hampir membekukan. Atau. lebih dan lebih banyak lagi hamburan kata-kata yang sangking terlampau banyak tidak dapat dicerna oleh otaknya dengan baik dan kepalanya kemudian akan menjadi seperti sebuah komputer yang cupu. seperti pedang dan berkilau-kilau karena lipgloss-nya. Aku sudah bilang akan makan dengan rekan-rekan kerjaku. Dan laki-laki itu memang sedang mencoba menebak apakah pertanyaan yang barusan keluar dari bibir itu adalah sebuah pertanyaan sungguhan ataukah jebakan seperti yang seringkali terjadi dalam pembicaraan mereka. Perempuan itu melihat bagaimana bekas suaminya menggelengkan kepala dengan cara yang sangat khas. laki-laki itu garuk-garuk kepala. Angki juga.” jawab laki-laki itu seraya mencoba mencium kemanisannya. Maka malam itu kemudian menjadi malam yang sangat dingin. “Ya sudah.“Apa yang sudah terjadi?” Bibir itu bergerak turun seirama dengan ekspresi di wajahnya yang bebas jerawat. dia. Laki-laki itu mengangkat bahu. lho… Apa-apaan sih kamu? Jangan cemburu yang tidak-tidak dong. iya kan?” “Sebal aku! Itu sebabnya kamu tidak mau aku ikut. pening dan gelisah setiap melihat bibir itu. kalau kamu mau kita pergi makan berduaan saja sekarang.” “Pasti ada dia!” Bibir itu melancip.” “Pasti! Makanya aku tidak diajak!” Jelas sekali tuduhan dan tudingan tersirat dari bibir itu. Laki-laki itu tanpa sadar merasa bergidik. Atau. yang janda cantik itu!” “Ya iyalah. tapi kan kamu bisa menawarkannya kepadaku. supaya kamu bisa main mata dengan leluasa. bila ia tidak yakin pada jawabannya maka dia akan membisu seribu bahasa. . hang. tapi memang iya Wulan ada. Maka. karena dua tambah dua tidak selalu menjadi empat dalam kalkulasi pemikiran otak yang terletak dua jengkal saja jauhnya dari bibir itu. pokoknya semuanya. bebas kerut-merut dan halus rupawan itu. Kok jadi menakutkan sekali? “Dia siapa sih?” “Pura-pura tidak mengerti.” Hm. “Apa yang sebenarnya terjadi?” Bibir itu kembali menyadarkannya dari kenangan yang sempat menyerempet ingatannya tadi.

merobek-robek seperti cakar. menyejukkan hati. bukan itu. mendebarkan sanubari. karena setelah berpikir begitu keras memang hanya itu saja yang terbayang-bayang di kepalanya. Menyapa. Tidak dapat disalahkan. apalagi karena beberapa orang di meja sebelah mulai tertarik ikut mendengarkan percakapan mereka yang saat ini lebih mirip sebuah monolog dari bibir itu. Ada beberapa yang bahkan nampak sekali sangat tertarik dengan gerak-gerik bibir itu. Laki-laki itu merasa tidak memiliki jawaban yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan itu dan ia pun tidak dapat mendeteksi mana yang aman untuk dijawab dan mana yang adalah ranjau darat yang bila diinjak akan mengakibatkan ledakan yang dahsyat dan menghancurkannya berkeping-keping. membuat matahari bersinar lebih lembut saat siang terik. Bibir seperti itu gunanya untuk tersenyum.” “Lebih pandai mencium?” “Bukan itu. karena dia sadar dia memang merasa sangat kecut sekali. bahkan lebih terbius.” bibir itu bergerak naik.” “Kamu hanya bisa bilang bukan itu. “Mungkin karena bibirmu. seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang! Apa sih maksudnya! Kenapa berbicara dengan kamu selalu saja membosankan!” “Maaf…” Bibir itu merapat. tidak ada perempuan lain yang mampu mencintai kamu seperti aku mencintai kamu. tanggung. “Pelankan sedikit suaramu. bahkan lebih menegangkan daripada dimarahi oleh atasannya di kantor. “Kamu kenapa sih? Selalu saja begitu kalau diajak bicara serius! Selalu pura-pura sakit kepala. “Ehemm…” Laki-laki itu membersihkan tenggorokannya yang mendadak rasanya tercekat oleh serpihan-serpihan kerikil yang masuk entah dari mana. pikir laki-laki itu.” katanya akhirnya.Entahlah.” “Jadi? Lebih seksi?” Lelaki itu menatap bibir bekas isterinya dan melihat. ia tidak memiliki keinginan untuk lebih mendekat atau melakukan apapun dengan bibir itu. dulupun dia merasa seperti itu. tidak akan pernah menyakiti aku. “Kenapa harus minta maaf? Kamu menyesal karena berselingkuh kan? Padahal kamu pernah berjanji bahwa kamu akan selalu mencintai aku. membentuk sebuah senyum sinis. menghormati aku. “Bukan itu. “Kamu malu karena suaraku keras. begitu? Kalau berselingkuh itu tidak memalukan ya!” . Itulah yang ingin sekali ditemukannya pada bibir itu. mengelus-elus kerinduan. Dan tertawa. lebih tergila-gila. begitu enak untuk dinikmati. Dasar pengecut! Dia memaki dirinya sendiri. katanya perlahan. Aku kan tidak menanyakan hal yang sulit atau terlampau mustahil untuk dijawab! Aku hanya ingin kamu jujur! JUJUR! Bukannya jadi pengecut terus. dan katamu sendiri. Kenapa kamu justru ingkar janji! Kenapa justru memilih untuk bersama dia daripada aku?” Banyaknya pertanyaan yang meluncur sekaligus dari bibir itu membuat mantan suaminya merasa tegang sekali. “jadi kamu malu ya?’ bisikannya mengejek. menghindar terus!” Dan kepala laki-laki itu semakin pusing jadinya.” “Aahhh. amboi…betapa manis sesungguhnya memang bibir itu dari jarak aman ini. kita ada di tempat umum. dan menusuk-nusuk seperti sembilu? Tidak mungkin kan rasa-rasanya. Ah! Pusing jadinya. Dia memijat-mijat pelipis kirinya yang berdenyut-denyut. dan rasa-rasanya tidak mungkin ada yang lebih lembut lagi dari bibir itu yang rasanya seperti gulali ketika disentuh. karena getar-getar bibir itu membuatnya tidak tega untuk berdiam diri lebih lama lagi. bagaimana mungkin bibir secantik itu bisa melukai seperti pedang. “Bibirku? Apa yang salah dengan bibirku! Aku pikir kamu menyukai bibirku! Memangnya bibirnya lebih indah dari bibirku?” “Bukan begitu maksudku. karena selalu saja ia mendapatkan dirinya dan harga dirinya kemudian terkapar di suatu tempat dan waktu yang membingungkan. bukan itu. Mencium.

yang sudah lama tidak mampir di hatinya. Ya. dan dengan takjub menemukan tidak ada perlawanan dari bibir itu maupun anggota-anggota tubuh yang lainnya. tapi gulali yang mulai meleleh karena dibiarkan terlalu lama di bawah matahari. yang membuat jantungku berdebar-debar melaju ditengah kemacetan jalan saat pulang kerja sehingga rasanya semakin tersiksa karena aku ingin sekali segera pulang agar dapat mengecup sudut-sudutnya. boleh aku bicara?” Laki-laki itu menepikan mobil. Ya. laki-laki itu menutup indera pendengarannya dan menyisakan visualisasi dari drama yang terjadi di depan matanya ini. sangat. Bahwa aku sungguh-sungguh jatuh cinta dan mencintaimu ketika kita menikah. apakah itu sebuah isakan? Dia merasa diterobos oleh rasa kasihan. Kamu memang ahlinya! Selalu saja begini ini. begitu elastisnya bibir itu sehingga tidak jadi masalah ditarik ke kiri atau ke kanan. Bisa kan?” Bibir itu bergerak seakan hendak melakukan sesuatu lalu tiba-tiba saja tidak jadi melakukannya. Bibir itu perlu istirahat juga dan memberikan kesempatan kepada telinga untuk bisa mendengar suara lain selain suara-suara milikimu sendiri. aku kasihan dengan bibirmu.” kata lelaki itu sambil menatap jalan di depan kemudi. apakah bibir itu sendiri tidak pernah merasa lelah? Dalam hati laki-laki itu mempertanyakan.” “Tapi…” “Biarkan aku bicara dulu. Kalau saja dia bisa bertanya langsung kepada bibir itu. Bibir itu sekarang berguncangguncang. Digandengnya bekas isterinya ke luar dari tempat minum kopi itu. dan derai tawa. berbanyak kepala langsung menoleh ke meja mereka dan laki-laki itu menemukan dirinya menjadi pusat perhatian.” “Lalu.Suara yang keluar dari bibir itu berdentum keras sekali sangat mengejutkan. bila di matamu aku bisa berkaca dan menemukan diriku. apa yang dirasakannya saat dihempas-hempas begitu rupa oleh pemiliknya. Dia bahkan tidak lagi dapat mendengar suara apapun! Secara naluriah. mencong ke atas atau ke bawah. bagaimana mungkin dia pernah mencium bibir yang seperti itu di suatu masa yang rasanya sudah berabad-abad yang lampau? Bagaimana caranya bertahan tetap waras berhadapan dengan bibir itu selama lima tahun hidup pernikahan mereka? Saat bibir itu mencang-mencong di hadapannya dia tidak lagi mampu mencerna kata-kata yang mengucur begitu deras dari bibir itu. matanya beralih memandang jalan di depannya. luarbiasa. aku memang mencintai bibir itu. Saat itu dia merasa berhadapan bukan lagi dengan pedang. laki-laki itu terkejut. “itulah masalah kita. satu saat ditarik ke sana dan dilain saat ke sini. Atau lebih tepatnya. lekukan atasnya yang sensual dan sempurna. demi merekahnya senyum. dan di kepala laki-laki itu timbul pertanyaan. “Sebaiknya kamu pulang.” “Bagus! Pergi saja sana! Melarikan diri. “Jadi. dan kegairahan. Tapi. Kasihan. “Ssstt…” Serba salah laki-laki itu menengok ke kiri dan ke kanan.” Tiba-tiba saja dia menemukan dirinya bisa berbicara tegas. untuk laki-laki itu. sambil berpikir. di bibirmu aku menemukan cinta. kapan semuanya akan berakhir ya? Konsentrasinya pada bibir itu membuatnya mampu menangkap garis-garis halus di bibir itu. kalau dieksploitasi terus-menerus. seakan memang seluruh semesta mempersiapkan tempat dan ruang untuk mereka saat itu. saat ini. Tiba-tiba saja dia merasa sangat. juga sebuah dekik yang timbul tenggelam di sebelah kiri bibir itu. mata-mata para perempuan mendelik dan beberapa laki-laki agak salah tingkah sementara yang sebagian malah tersenyum mencemooh. jalan lengang. sangat kasihan kepada bibir itu. karena. Kamu tahu itu. warna lembut lipstick yang masih melekat dengan sangat apik yang nampaknya tidak akan berguguran walau terguncang-guncang. Kepala perempuan itu mengangguk. dan kekenyalan bibir itu yang begitu nyata. dan kamu mencoba mendengarkan? Lagipula. sangat. tidak bertanggungjawab!” Bibir itu bergerak turun naik ke kiri dan ke kanan. bukankah kamu selalu berkata ingin ada jawaban? Boleh kan aku mencoba menjawab. “Aku pernah mencintaimu. ayo aku antar. “Bibirmu. Aku bahkan mau mempertaruhkan hidupku demi bibir itu. mengapa…” . “Jawaaaaaab!” Tiba-tiba saja dinding pelindung anti-suaranya pecah berantakan. “Sebaiknya aku pergi saja karena ternyata kamu masih terlalu emosi. Di lekuk-lekuk senyummu ada semangat dan kekuatanku untuk meraih masa depan.

bahwa aku memang suami kalahan. terisi dengan cinta untuk sebuah bibir yang lain. ada sebutir bening jatuh diujung bibir itu. Aku mengaku kalah. Namun nampaknya dosaku sudah terlampau besar. pada mulanya. Tetapi sedetik saja pada saat ini. Atau dua-duanya. Bekas isterinya mengangguk.Laki-laki itu memberi isyarat dengan tangannya. Namun kemudian. Karena aku tidak mampu pulang. manis sekaligus sangat pahit. Aku minta maaf. aku mencari kedamaian di bibir yang lain. tidak pernah selintaspun. mengapa? Aku sendiri heran. yang aku dengar hanya bergodam-godam palu kecurigaan dan tuduhan yang pada mulanya aku tidak mengerti dari mana asalnya.” Ah.” “Kalau kau lebih mudah berbicara?” “Kau akan lebih mudah mendengarkan dan kita akan lebih mudah saling mengerti. dan aku sudah menemukannya.” “Kalau kita lebih mudah bergandengan?” “Kita tidak akan pernah terlalu mudah untuk saling melepaskan. Mengapa? Karena aku tidak lagi menemukan debaran-debaran jantung ketika berhadapan dengan bibirmu.” kata perempuan itu lirih. . Mereka sudah sampai di persimpangan tempat dia dan pemilik bibir manis itu harus berpisah. karena begitu bibirmu terbuka. dan matanya berkaca-kaca. Yang pasti. dan lelaki itu mengusapnya lembut dengan jari telunjuknya. bukan madu yang keluar namun begitu banyak dakwaan yang. merasa menang. Aku memang pengecut. bibirnya terbuka sedikit. “Kita sudah pergi terlalu jauh dan kehilangan jalan pulang.” “Seandainya kita lebih mudah saling mengerti?” “Kita akan lebih banyak berciuman. ketika dirabanya sakunya itu. sudah penuh. berselingkuh. “Seandainya aku lebih banyak mendengarkan?’’ “Aku akan lebih mudah berbicara. dan bekas isterinya menggigit bawah bibirnya. Laki-laki itu mengangguk. tidak berdasar. ada air yang membuat matanya berkaca-kaca. “Ya. dan godaan yang datang. Akhirnya. Jakarta 24 Juni 2003. aku berpikir. Namun. yang aku rasakan adalah rasa mulas di perutku. masa-masa yang sangat indah di sebuah waktu yang berbeda dan begitu jauh. mengapa semakin lama aku malah semakin menikmati jam-jam lemburku dan mengharapkan waktu-waktu kerja menjadi lebih panjang. aku jatuh. menahan diri. setiap kali aku memandangmu dan bibirmu mulai berbicara.” Perempuan itu menatap laki-laki itu dengan pandangan yang berbeda. betapa terlambatnya. Mungkin imanku yang tidak kuat. Aku tidak pernah berniat mengkhianati. ingin sekali disimpannya tetes bening itu di dalam sakunya. menjadi sebuah jalan alternatif bagiku. “Kita sudah benar-benar gagal bukan?” perempuan itu berbisik. sebuah senyum rawan menggantung di bibirnya. “Sungguh.” Laki-laki itu menatap perempuan cantik di sampingnya. tidak punya peluang. yang pada awalnya sama sekali tidak punya arti. Bahkan tidak berani mengecup bibirmu saat aku sangat ingin melakukannya karena aku takut lidahku tidak mampu merasakan rasa yang lain selain rasa pahit” Laki-laki itu mengedipkan matanya. mengapa tidak? Mungkin dengan begitu kamu akan merasa puas. Oh. Ia menghela nafas dalam diam. Karena itu adalah pertanyaan yang sama yang diajukannya berulang-ulang kepada dirinya sendiri. Kuakui bahwa aku lelah dihukum untuk sebuah kesalahan yang tidak aku lakukan. “Masih ingat? Dulu kau pernah bilang bibirku rasanya seperti es krim vanila dan lembut seperti gulali. Aku tidak pernah menghendaki kita berpisah. Aku bahkan sering berharap terjebak saja terus di tengah-tengah kemacetan. bukan lagi seperti kupu-kupu yang naik turun tetapi lebih mirip sengatan sekawanan lebah yang menyerang lambungku. dan aku tidak punya keberanian atau kemampuan untuk mempertahankan apa yang memang tidak kamu anggap perlu untuk dipertahankan lagi… Maafkan aku. atau malam-malam kita yang terlalu banyak diisi dengan kebekuan. “Lalu mengapa kita bercerai?” Laki-laki itu menebak dengan tepat. kamu yang menginginkannya. Aku memang bersalah.” “Kalau kita lebih banyak berciuman?” “Kita akan lebih mudah bergandengan.

Tulisannya miring bersambung dan banyak hiasan di huruf G dan B besar. Benar-benar surat yang simpel namun juga mengusik hatiku. kecuali Bapak. Ataukah Bapak jatuh miskin di luar sepengetahuanku lalu akan menyuruhku berhenti kuliah? Tapi toh meski selama ini ongkos kuliah ditransfer Bapak. Nomor ponsel dan nomor telepon Ibu kost-ku sudah ada di tangan Bapak. Atau mungkin tentang warisan? Mungkin Bapak sedang sakit keras baru-baru ini dan merasa akan meninggalkan dunia fana ini sehingga merasa perlu membicarakan warisan hartanya yang melimpah. Ia bisa diasumsikan sebagaimana orang-orang melihat seorang manusia yang sempurna akhlak dan materi. aku bisa mengenali tulisan Bapak yang khas. aku mengenalnya sebagai orang yang sangat taat beribadah dan selalu membangunkanku saat sepertiga malam untuk salat tahajud yang kemudian menjadi rutinitasku dalam keseharian. Aku memutuskan untuk lanjut ke S2 jadi tidak ada waktu untuk menikah. Umurku 28 tahun dan aku memang kurang laku di mata kaum hawa walau banyak orang bilang wajahku termasuk lumayan. Setelah mengurus tiket yang agak bermasalah. Pendek kata. kaya raya. Bapakku orang terhormat. jadilah ia menganggur di rumah. Aku bukan anak-anak yang mau menjadi benalu bagi Bapak. Tak apa. Aku merasa bersalah juga tapi aku akan menikah setelah selesai kuliah. Yang terakhir ini agak kuragukan karena Bapak orang sukses dan terhormat. Apa gerangan yang mau dibicarakan? Ini agak sulit karena aku sedang mengemban tugas sebagai pembicara seminar yang akan dilaksanakan besok di kampus.” begitu kata salah satu temanku yang menjabat sebagai wakil ketua panitia. Apa yang akan dibicarakan Bapak? Tentang pernikahankah? Karena aku sudah termasuk telat untuk menikah dan begitu gencarnya Orangtua beserta adik-adikku membujukku untuk mencari belahan jiwa. Di dunia sebagai orang baik dan rezeki dicukupi. Dia sudah kebelet nikah namun tidak sampai hati melangkah mendahuluiku. pulang. aku merasa bisa terus sekolah dengan upah kerja part time atau dengan belajar lebih rajin agar dapat beasiswa. punya banyak koneksi. aku berusaha menyingkirkan semua pikiran-pikiran aneh tentang apa yang akan dibicarakan Bapak. Ia mengirim surat dengan kertas dan amplop kelas atas serta prangko kilat namun isinya hanya lima kata itu saja. ia dianggap sukses di dunia dan akhirat. Meski sulit. akhirnya aku kembali terbang ke kota kelahiranku. bertitel kyai. Saking dihormatinya. Aku tak habis pikir mengapa Bapak tidak menelepon saja. Tapi aku tetap merasa kurang. Kulihat Bapak hanya diam saja menyambut kepulanganku. Bapak mau bicara. Ia bilang ia bukan dukun yang bisa dimintai hal-hal . Hati-hati nanti di jalan. Jogja. Wajahnya menunjukkan bahwa dia sedang berpikir keras tentang suatu hal dan bayang-bayang keraguan muncul timbul tenggelam. Bapakku tidak bisa menerima dan menganggap hal itu syirik. Keluargaku kaget melihatku pulang. Terbersit niatku untuk menunda kepulangan sampai tanggung jawabku itu selesai. Banyak majelis-majelis mengharap kedatangannya untuk sekadar memberikan sambutan atau ceramah pendek.Bukan Ismail Desember 10th. Akhirnya aku lelah berpikir yang tidak-tidak dan memutuskan mengepak koper sore ini lalu berangkat nanti malam. Yang paling kesal adalah adikku si Nuning. aku penggantinya. Semenjak aku diasuhnya sedari kecil. apalagi di akhirat. toh mereka semua senang aku pulang. Tumben sekali Bapak berkomunikasi dengan cara seperti ini belum lagi isi pesannya yang benar-benar menyita perhatianku sepanjang hari ini. Meski surat itu tanpa tanda tangannya. 2008 by piko aguno Gi. Rupanya beliau tidak memberitahu yang lain bahwa aku disuruhnya pulang. Kuhubungi teman-teman sesama panitia dan mereka semua pengertian. ia dimintai ‘doa’ oleh orang-orang yang datang dari luar kota. dan disegani siapa pun yang mengenalnya. “Tidak masalah. Namun rasa penasaran yang sangat menyelimuti otakku sedemikian rupa. aku memang tidak pandai bersyukur. Hampir-hampir orang lain berani bertaruh manusia macam itu bakal masuk surga. Ia pendakwah yang gigih. Namun begitulah Bapakku. Hanya itu isi surat yang kuterima tadi pagi. Kuliahnya sudah selesai dan belum punya pekerjaan.

Ia mengajakku bicara empat mata berhadap-hadapan. “Eh. “Dua hari yang lalu Bapak bermimpi bertemu Tuhan. Bapak tidak bisa mengelak. aku agak heran juga. tidak mengerti apa maksud Bapak bertanya begitu. “Bapak tidak percaya kamu percaya sama Bapak” Aku jadi bingung. Ia mengusir dengan halus tamu-tamunya saat itu. Ia berbicara panjang lebar dan tak ada hentinya kecuali mungkin aku menyelanya. Aku tidak mengeluh kali ini meski aku benci sekali asap rokok.. apalagi bertemu Tuhan. Karena setiba di rumah Bapak hanya diam saja. Darinya mengalir nasihat-nasihat kehidupan juga kisah-kisah para nabi. seolah berusaha memancing komunikasi kami berdua. Untuk kedua kalinya aku terlonjak. “Saya percaya Bapak. “Apakah kamu percaya sama Bapak?” tanyanya. “Pasti Tuhan sedang menguji keikhlasan Bapak dalam beribadah. Mana mungkin? Pasti Bapak mengada-ngada. Hanya asap rokoknya yang bergerak kesana kemari di antara kami. “Bapak yakin kamu anak shaleh dan selalu ingat bahwa Tuhan itu ada. “Kamu percaya sama Bapak?” tanyanya.seperti itu. “Yah.” ujar Bapak tanpa ekspresi. Apa wujudnya? Aku tak boleh bertanya demikian. “Pak. .ya.” jawabku ragu. keluarga sejahtera. Akhirnya kami shalat berjamaah sekidmat mungkin. Pantatku jadi sakit karena terlompat.” Agak menyesal kukatakan ini. Aku tidak percaya sedikit pun tapi aku diam saja. Begitu bangga dan bersyukurnya aku mempunyai Bapak seperti beliau.” Bapak terdiam agak lama dan menciptakan keheningan yang janggal di antara kami. Mengalami mimpi bertemu Rasulullah saja sudah merupakan karunia luar biasa dan diperuntukkan hanya kepada hamba-hamba Allah yang tertentu. Tuhan menguji sejauh mana Bapak bisa bersabar atas apa yang Tuhan minta. sebenarnya apa yang mau dibicarakan sampai saya harus pulang?” Bapak mengisap rokoknya dalam-dalam. Setelahnya Bapak menyalakan rokoknya dan mengepulkan keras-keras. Dengan agak kurang sopan aku menyela. memandang langit-langit. Bapak sangat pendiam. jadi kutunggu dengan tidur yang lelap hingga tiba-tiba ia membangunkanku sepertiga malam untuk salat tahajud. Bapak harus memenuhinya. Bapak hanya menatap kosong ke langit-langit rumah. Selama ini Bapak hidup tanpa hambatan yang berarti. Aku jadi jenuh dengan perkataannya yang panjang lebar dan tak biasa. kedudukan terhormat. “Seperti halnya Nabi Ibrahim. Rupanya tidak cukup hanya dibalas dengan ibadah dan rasa syukur kepada Tuhan. “Astagfirullah! Apa nggak salah dengar?” Bapak mengangkat tangannya agar aku jangan menyela.” kataku spontan. ‘Diam itu emas’ rupanya benar-benar menjadi prinsip hidupnya.” Aku tersontak kaget. “Terus?” tanyaku. Bapak hanya bicara bila benar-benar perlu jadi kebanyakan mulutnya hanya digunakan untuk tersenyum menanggapi perkataan orang lain.” “Tapi Pak… bagaimana mungkin? Itu kan cuma mimpi. Tuhan menyuruh Bapak menyembelih anak Bapak sendiri.. membiarkan rokoknya memendek digerogoti ulat api di ujung. tegas. Lalu ia berkata tibatiba.” Ia terbatuk karena asap rokoknya sendiri lalu melanjutkan. Aku disuruhnya pulang hanya untuk mendengar celotehan yang sudah sering kudengar di masa kecil. Aku setuju saja. seolah itu hisapan yang terakhir. Harta banyak.

Ini benar-benar mimpi. Bapak yakin sekali mimpi ini dari Tuhan. Dan Bapak sendiri. “Memang.“Begitulah Tuhan menyampaikan kepadaku. Bapak orang saleh. Aku takut tiba-tiba ia mengaku-ngaku diutus sebagai Nabi. . Mau kuceritakan?” Aku menggeleng lemah. Melelahkan tapi asyik. sedikit nyengir mau minta maaf. Rasanya sesak dan perutku mulas sekali. Perintah Allah. Tapi saya tidak tahu apakah Bapak bisa menentukan mimpi itu dari Tuhan atau dari setan. “Lalu bagaimana dengan Nabi Ibrahim? Mengapa Tuhan meminta hal seperti itu kepada Nabi-Nya? Itulah Ibadah.” Telingaku serasa terkulai. Bapak bukan Nabi tapi hanya manusia biasa yang dikaruniai hidayah-Nya sehingga bisa seperti sekarang.” kataku tegas. bukan halusinasi. Tapi aku kaget hal-hal yang merusak aqidah seperti ini menyentuh Bapak. bukannya Nabi atau bahkan orang saleh?” “Kamu menilai Bapak bukan orang saleh?” tanya Bapakku agak keras lalu kemudian ia jadi salah tingkah begitu juga aku. Perhatianku teralih namun sekejap kembali pada tempatnya. Aku jadi malu di hadapannya. “Le. dan mimpi biasa.” “Saya kira mimpi itu ada tiga. Dikepulkannya asap rokok menjadi lingkaran-lingkaran asap yang menawan. apapun caranya. Seolah-olah malaikat Jibril masuk ke dalam mimpi Bapak lalu mengajak Bapak ke depan arsy Tuhan di langit ke tujuh.” Bapak tersinggung. Hanya kamu sendiri yang laki-laki. Bisa jadi ia akan punya pengikut seperti halnya Ahmadiyah.” Bapak tertawa terkekeh-kekeh mendengar perkataanku. “Tapi Bapak bukan Nabi. Manusialah yang selalu butuh Allah untuk bisa hidup meski mereka tidak pernah menyadarinya. Aku merasa akan kalah. Maksudnya mimpi yang nyata. Bapak memperlihatkan mimik tersinggung lagi. Allah tidak butuh sesuatu pada mahluknya. Kuraba dadaku. Allah Maha Berdiri Sendiri. aku juga—semua—hanya manusia biasa. Ini bisa menjadi aib keluarga dan aku bakal malu berat. Aku harus menyadarkan Bapak. Bapak orangnya tidak tega melukai mahluk Tuhan yang namanya perempuan. mimpi dari setan. ” Lapang dada! Ah. Lagipula kamulah yang Bapak rasa paling bisa menerima tugas ini dengan lapang dada. “Apa kamu percaya selama ini Bapak beribadah bukan atas dasar riya? Tidak untuk menarik perhatian orang lain supaya jatuh hormat pada Bapak?” tanya Bapak.” “Tapi bagaimana Bapak yakin Bapak mimpi begitu? Mungkin hanya halusinasi—” “Bukan. “Bapak yakin kalau Bapak disuruh nyembelih anak sendiri?” tanyaku takut-takut. “Tapi Pak…. “Sebenarnya bisa saja Bapak memilih satu di antara adik-adikmu tapi adikmu perempuan semua. Ini sudah kelewat batas. Maha Besar.” kataku mengalah. Yang terakhir semacam tidur lelap karena kekenyangan. Perjalanan yang panjang. Mimpi dari Allah. Bapak mengangguk takzim. Dan Bapak pun menerima hal yang serupa.” “Tapi mengapa Tuhan memberikan tugas itu kepada Bapak kalau Bapak manusia biasa. Untuk apa Tuhan meminta hal seperti itu kepada mahluk ciptaan-Nya? Ini menyalahi Asma’ul Husna. aku masih ingin hidup seribu tahun lagi. Muhammad adalah Nabi terakhir. Dari Allah. ia mengencerkan tenggorokannya sambi berpaling dariku. “Ya… tentu.

” “Kalau begitu beli saja kambing lalu sembelih. Saya cuma…” “Tapi Bapak harus melaksakannya” “Pak…” “Malam ini. makan. Lebih baik sudahi saja. Kalau kambing sih.” “Harus.” “Cukup!” “Ini ibadah. itu sama saja. Sadar. Dalam kisah Nabi Ibrahim. Keikhlasanku diuji ketika detik-detik terakhir aku memutuskan urat-uratmumu. putranya Ismail ikhlas untuk disembelih.” Bapak menahanku.. “Ha. Ini edan. jangan dilakukan. “Ah.” kataku marah. Bapak cuma minta kesediaanmu untuk Bapak sembelih.” elakku.” “Saya tidak mau. Saat pisau yang tajam bersentuhan dengan kulit lehermu. Itulah bedanya. “Bapak mau melakukan tugas itu malam ini.” .” “Kamu jangan ngeyel. “Ini bukan sensasi. Berarti acara sembelihan Bapak jadi tidak afdhal dong. bukan kamu.ha…ha… Yang diuji itu Bapakmu ini. bukan gitu Pak.” kata Bapak seraya mematikan rokoknya yang sudah pendek sekali.” “Salah. Bapak tidak punya kendala. Pak. “Tunggu dulu! Bapak jangan bikin sensasi. Aku akan diuji apakah aku sanggup menyembelih anakku sendiri atas dasar perintah Tuhan. Saya mau tidur dulu. “No…no…no… Aku masih ingin hidup. Pak.” Bapak ikut marah Hilang sudah rasa hormatku pada Bapak.“Begitulah.” “Oh… saya tidak bersedia.” “Tidak! Saya tidak mau. Pak. Tole.” kataku gemetar. masak.” “Wah. ” “Aku tidak ikhlas. Tole… Kamu tidak akan mati. Bukankah Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang? Allah akan menggantikan dirimu dengan seekor kambing gemuk yang nanti kita jadikan gulai untuk dimakan sekeluarga. “Bapak memaksa. dari Allah. Ini misi Tuhan.” “Uh oh. Tinggal tebas.” Jantungku berdegup dan bisa kurasakan wajahku memucat meski aku tidak bisa melihatnya. Sedangkan aku tidak ikhlas. ini pembunuhan. sadar…” “Dengar dulu—. Entah kamu ikhlas atau tidak Bapak peduli apa? Tuhan tidak menitipkan pesan apa pun untuk kamu. Rupanya sikap takabur sudah menggerogoti otak kanan Bapak sehingga penuh dengan khayalan seperti ini.” “Tidak mau. tentu saja berbeda. Kamu harus—.

orang-orang zaman sekarang takkan bisa menerima. Sungguh aku merasa menjadi manusia paling berdosa dan tak punya iman sama sekali. Untuk beberapa waktu. Pisau itu sudah terasah tajam dan mengkilap menyilaukan mataku. Siapapun itu. menduga-duga mungkin mimpi itu benar dari Tuhan dan aku memang harus disembelihnya. Aku hampir lengah. “Sini kamu. Meski demikian orang-orang yang dulu mengenal Bapak masih menaruh hormat pada keluargaku. bekerja. Bapak berdiri. Ia percaya bukan karena ia bodoh tapi karena imannya yang terang benderang. jangan Pak! Gila!” Akhirnya sambil tersenyum tulus Bapak mengeluarkan pisau besar semacam parang dari balik sarungnya. Aku juga ragu mimpi Bapak tidak relevan untuk zaman sekarang. Setiap sepertiga malam ia selalu shalat sampai subuh. aku bukan Ismail. Juga mendakwahi setiap pasien di sana. Akhirnya Bapak dideportasi dari rumah dan diungsikan ke Rumah Sakit Jiwa. Mungkin trauma mengingat-ingat bagaimana Bapak mengejarku di jalanan dengan pisau besar terasah tajam dan mengkilat sambil bertakbir. mengajak-ajak dalam kebajikan. Lalu bagaimana dengan Ismail putra Ibrahim? Mengapa ia tidak ragu bahwa mimpi ayahnya dari Tuhan? Mengapa ia mau menerimanya begitu saja? Karena ia punya iman yang kuat. Aku ragu jika Bapak tidak gila. mengucapkan basmalah. Ia percaya ayahnya selalu beribadah dengan ikhlas kepada Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan itu ada. Aku sudah diwisuda.” “Bapak sudah keblinger!” “Meski dengan kekerasan. Nuning juga sudah menikah dan tinggal di rumah suaminya. . yang tentu saja takkan berhasil. kali ini. keluargaku menjadi bahan gunjingan di masyarakat.” “Tiidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!” Tapi itu sudah berlalu satu tahun yang lalu. Dan hal penting kedua ialah ia ikhlas untuk disembelih. Si psikiater curiga itu hanya akal-akalan agar dia dinyatakan sembuh namun niat untuk membunuhku masih ada. Ia percaya mimpi ayahnya itu tidak salah. Aku menjadi merasa bersalah pada Bapak. Apakah ini berarti aku mengabaikan Tuhan? Jika Bapak memang benar bermimpi demikian dan mimpi itu memang dari Tuhan maka aku orang yang berdosa.“Kita bakal dapat pahala. Bapak bersikap seperti orang normal bahkan kelewat saleh. Bapak masih selalu berpuasa Senin Kamis dan masih melantunkan ayat Al Quran dengan fasih. lho. Yang jelas. Bagaimanapun juga. Kata si psikiater. dan bersiap-siap memegang leherku. Aku jadi bimbang sendiri. Sejenak timbul niat untuk memulangkan Bapak karena mungkin Bapak memang tidak gila.” “Aduh. Aku membayar mahal seorang psikiater profesional untuk mengawasinya namun laporan setiap bulannya tidak banyak mengalami kemajuan. menikah dan kini tinggal bersama ibuku yang kecewa berat Bapak jadi gila. Tapi pastinya Ibu dan adik-adikku tidak akan menerimanya lagi. Keluarga dan tetanggaku menyelamatkanku tepat pada waktunya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->