Perempuan Kampung Karampuang ( Juara 1

)
Desember 19th, 2008 by Emil Akbar Malam ini purnama sedang penuh. Bulan benderang begitu bundar. Bercahaya menyinari seperti lindungan ibu dalam dekapan yang menjelma dewi malam dan aku memperoleh restu di wajahnya yang bulat. Membuat langit hitam tak begitu gelap. Dalam rindang hutan pekat melarut lewat hembusan angin yang dingin. Bukan gulita sebab mataku masih bisa melihat. Hanya lindap dan kudapati kunang-kunang berkerlip, mengganti bintang yang tiada. Aku menantimu di batas Dusun Karampuang. Kau belum juga muncul padahal aku sudah lama menunggu di sini. Aku takut dan cemas. Itu sebabnya mataku terpaku pada ujung aspal yang menghilang seperti ingin menerobos malam yang teduh, mencari bayanganmu yang berkelebat, dan sesekali aku menengok ke belakang membaca situasi. Rustam, tahukah kau? Di dalam sana, sunyi bukan berarti tidak ada bunyi walau tadi mereka sembunyi karena aku tak peduli. Bunyi hewan malam, nyanyian serangga, suara berdesis-desis yang bukan ular, kicau kao-kao yang mengerikan di rimbun daun di dalam hutan yang senyap, berbondong-bondong mengerubungi telingaku. Berdenting serupa dawai, mengalun dan merambati udara, dan bakal meninggalkan luka di hatiku bila kau tidak jadi menjemputku malam ini. Maka hadirlah di ujung jalan itu seperti dilahirkan oleh kabut yang merayap. Jangan sampai aku menjadi batu di sini karena gigil atau habis karena dimakan angin dan kau harus tahu jiwaku mulai beku meski sebenarnya kepalaku ingin meledak karena bosan. Aku tidak mungkin kembali setelah ingkar. ”Sepertinya lelaki itu tidak akan datang.” Seseorang memegang bahuku dari belakang. Aku tersentak kaget dan terlonjak bangkit dari tugu batu yang kududuki. Aku gemetar gugup mengetahui siapa yang menegur. ”La Gole! Sedang apa kau di sini? Kau mengikutiku?” Sontak aku menjauhinya. ”Jubaedah, pulanglah sebelum terlambat. Masih ada kesempatan dan aku akan membantumu,” ujarnya sembari duduk di tugu batu yang kutinggalkan. Dalam gelap aku tahu ia menatapku tajam, seruncing jarum yang pernah menusuk tanganku. Batinku tertohok mengingat ia adalah mata-mata Puang Gella, pemangku yang sering menghukum bila ada orang yang melanggar di kawasan dusun, meski ia temanku sejak kecil dan beberapa waktu silam aku menyimpan hati untuknya. Namun ia menunjukkan sikap yang tidak kusuka. Ia bukan lelaki tangguh, pengecut yang tidak berani mengajakku kawin lari. ”Benar kau akan menolongku?” tanyaku pura-pura ragu. ”Kau tidak percaya padaku?” La Gole menghampiriku begitu dekat hingga bisa kuhirup bau badannya yang belum disentuh sungai. Aroma napasnya purba. ”Baiklah kalau begitu. Ijinkan aku menunggu Rustam sebentar lagi,” pintaku. Lalu kedua kakiku tak mau diam karena gelisah. ”Jika dia tidak muncul?” ”Kau boleh membawaku pulang!” jawabku sedikit kesal. ”Sepakat.” Agak lama kami saling diam seolah jiwa kami raib meninggalkan raga yang kikuk, menguak hutan dengan lesat untuk menemukanmu dengan tujuan yang berbeda. Kuperhatikan La Gole sedang duduk bersila sambil mempermainkan parang bersarung yang biasanya terlilit di pinggangnya. Tidak kutahu apa maksudnya, tapi membuatku bergidik membayangkan kulitmu robek dan menumpahkan darah jika badik itu keluar dari sarangnya. Kau pasti akan kalah sebab La Gole bekerja dengan otot sedangkan kau lebih suka berpikir. ”Apa yang kalian lakukan jika sudah bertemu? Apakah kau akan lari dengannya?” La Gole mengajukan tanya yang menyelidik, memecah hening. Posisi duduknya sudah berubah, satu kakinya berdiri dengan lutut menekuk. ”Tidak melakukan apa-apa. Aku hanya mau mengatakan sesuatu?” balasku berbohong sebab ia sudah curiga.

”Apa itu?” ”Kau tidak perlu tahu. Kenapa kau bertanya-tanya?” ”Ingin tahu saja. Bagaimanakah perasaanmu padanya?” ”Itu bukan urusanmu!” teriakku nyaris menuding, membuatnya bungkam. Aku berbalik arah membelakanginya menahan amarah, antara jengkel dan putus asa. Kusandarkan kepalaku pada pohon yang tak bisa kurangkul. Aku mencabut-cabuti kulit keringnya yang berlumut dan memang sudah terkelupas, membuang geram. Mataku terasa panas bagai diperciki biji lombok. Pedih memerih. Sekarang aku tidak ingin kau datang sebab itu akan mengantarkan nyawamu. Namun aku juga butuh kau datang membawaku pergi dari sini, jangan biarkan aku berkalung rantai. Aku tidak mau menjadi perawan tua! Bagaimana ini? Aku galau. Tetapi tunggu. Mataku yang melirik menangkap bayangan sekilas, bersijingkat dan menunduk mirip gerak-gerik babi hutan, berpindah dengan cepat ke semak-semak. Apakah itu kau? Tidak sebentar aku terpana, dadaku berdesir dengan degupnya. Aku merasakan firasat tak baik. Aku mesti bersiasat. ”Aku menyerah. Seperti katamu, Rustam tidak datang. Mari pulang.” Sebisa mungkin kukulum senyum ini dan menampakkan muka murung agar tidak ketahuan, supaya kau dapat mengikutiku dari jarak jauh. Aku akan mengecohkan perhatiannya. ”Aku masih setia menemanimu menunggu jika kau mau?” Aku tahu ia mengejekku. ”Tidak usah! Barangkali dia pecundang yang lebih darimu.” ”Bagus kalau kau sadar. Orang kota memang tidak bisa dipegang janjinya!” timpalnya tak mau kalah. Aku tidak lagi menyahut dan berjalan lebih dulu. Rustam, susul aku di puncak bukit! *** Jubaedah, kau adalah gadis sunyi. Semerbak harum bunga desa, wangi menebarkan angan di setiap kepala jantan muda sepertiku. Aku menemukanmu bagai mutiara diantara ribuan kerikil bebatuan yang terserak di tepi kali. Namun ada yang hilang di wajahmu yang bulat langsat. Laksana embun pagi yang tak ada lagi, saat matahari tak bisa lagi disebut mentari. Aku seperti pangeran yang menemukan bidadari. Di batas Dusun Karampuang jalanan beraspal terputus seperti lorong buntu. Terdapat daun kelapa yang diikat merintang di atas jalan. Mobil dinas kuparkir di luar kawasan adat karena dilarang masuk. Lagi pula hanya ada jalan setapak yang sempit. Tanahnya berdebu di musim kemarau dan licin berlumpur di musim penghujan. Banyak bebatuan. Di hari-hari biasa dusun ini begitu sepi bak kampung yang bisu. Awal bulan November aku kembali. Aku sudah menjadi pegawai negeri di kabupaten. Setahun yang lalu aku datang di kampung ini untuk menyusun skripsiku mengenai adat Karampuang. Setelah lulus kuliah tak mampu kutahan hasrat hatiku, ingin kembali menggapaimu. Masihkah kau menjadi perawan suci yang tidak boleh dijamah? Kutinggalkan semua yang berbau teknologi dan barang yang terkesan mewah di mobil sebelum memasuki kawasan adat yang dikeramatkan ini, lantaran pamali. Menurut keyakinan orang sini, segala yang datang dari luar lebih banyak merusak dan akan mengubah tatanan tradisi yang mereka jaga selama berabad-abad, turun temurun. Itu sebabnya aliran listrik tidak bisa masuk karena kaum adat menolak. Sungguh dilema, mengingat aku memegang proyek dari Pemda untuk menjadikan Karampuang tempat wisata, yang mungkin bakal melunturkan kebiasaan dan kepercayaan penduduk di dusun ini meski dengan maksud memberdayakan masyarakat. Aku masih terkenang ketika pertama kali datang di kampung ini. Aku disambut dengan ramah. Tidak kurang isi baki sudah ditambah, belum setengah isi gelas sudah diimbuh. Aku yang mengetuk pintu bukanlah orang lain, malah dianggap keluarga sendiri. Sebab mereka memandang tamu itu membawa rezeki. Saat itu aku menumpang tidur di rumah ayahmu di luar kawasan adat, di dusun tetangga. Lantaran aku butuh listrik buat menyalakan laptopku, menulis hasil riset yang kudapat. Pernah aku menginap di rumah seorang warga. Alat penerangnya berupa lampu minyak yang mereka sebut sulo. Semalam suntuk aku menulis di lembar kertas. Pulang pagi-pagi. Kau berada di depan pintu. Tergelak tawamu melihatku. Suaramu renyah.

”Ada yang lucu?” Kau tidak menjawab tapi memberikan isyarat. Kau pegang hidungmu yang mungil dan bangir. Aku mengikuti. Astaga, cuping hidungku dipenuhi asap hitam. Aku lekas pergi ke belakang membasuh muka. Seminggu dalam sebulan, kita bertemu. Kau melepas masa haidmu di rumah. Parasmu demikian sendu seperti tidak terima seperti terpaksa, saat kau mengatakan sedang menuntut ilmu untuk kelak menjadi seorang sanro di rumah adat Karampuang. Rumah panggung yang merupakan simbol sosok perempuan. Dari jauh kediaman yang sakral itu memang tampak anggun. Atapnya dari anyaman daun nyiur berbentuk segitiga sama kaki. Tangganya terletak di tengah di kolong rumah. ”Tangga naik ke dalam rumah adalah kelamin perempuan,” jelas La Gole, temanmu. Ia pemandu yang baik, meladeni keingintahuanku dan bahkan memuntahkan semua yang ia tahu. Pemuda yang bersemangat meski entah kenapa diam-diam ia sering menatapku dengan pandangan menghunus seperti tidak suka seperti menaruh curiga. Ia membicarakan tubuh perempuan dengan sangat biasa. Membuka pintunya pun harus ditolak ke atas biar bergeser. Aku menebak pasti ini selaput dara kemaluan, sebab dibutuhkan sedikit usaha untuk membukanya. Ada batu bundar yang menindih. ”Arah dapur adalah rahim. Dan dua dapur di belakang itu adalah buah dada sebagai sumber kehidupan.” Rumah ini tak bersekat, hanya ruang. Lantai dan dinding terbuat dari bambu. Ada loteng yang lumayan luas seperti layak untuk dijadikan kamar, tempat persimpanan kebutuhan pokok terutama padi. Bahkan ada padi yang berumur seabad. ”Semua warga sehabis panen tanpa diminta menyimpan sebagian padinya di sini untuk digunakan bersama jika terjadi gagal panen. Padi ini tidak boleh di jual.” Aku ingin sekali mengabadikan apa yang aku lihat. Namun lelaki yang terbiasa bertelanjang dada saat bekerja di sawah ini melarangku dengan tegas. Badannya yang berotot dengan kulit secoklat kayu itu langsung tegap menantang. ”Jangan coba-coba bawa kamera. Itu kesepakatan kita dari awal. Boleh jadi kau yang melanggar, kami sekampung yang kena malapetaka. Kalau kau mau lama di sini hormati adat kami!” Belum sempat aku minta maaf, La Gole sudah berlalu. Kulihat punggungnya digerogoti jamur, bercak-bercak putih. Ketika kuceritakan penjelasan La Gole kepadamu, kau tersenyum simpul membenarkan. Pipimu merona seperti lembayung yang memerah bagai senja yang membakar langit. Aku jatuh hati. Upacara Mappugau Sihanua sepertinya sudah dimulai. Selama tujuh hari tujuh malam. Aku berjalan santai menikmati pagi yang mau pergi. Sepanjang jalan yang berkelok kulewati rumah penduduk yang kadang saling berjauhan. Tak jarang aku berpapasan dengan warga yang masih kukenal. Di kiri kanan diselingi tanaman sayuran, pohon pisang, pohon kopi dan pohon kakao, serta hamparan sawah yang tidak rata, berundak-undak dengan garis pematang meliuk, sejauh mata memandang. Ada sumur tua berdinding susunan batu, aku menyebutnya kolam karena dangkal. Bila airnya lagi penuh, penduduk memandikan anaknya dan bayi yang baru lahir, biar mendapat berkah. Air mengalir khas pegunungan terdengar jernih menggelitik kesegaran. Hutan lebat dan belukar liar tampak rimbun di puncak bukit, hijau nian seperti belum pernah disinggahi. Jubaedah, secantik apa kau sekarang? *** Lelaki itu masih gagah. Badannya berisi dan kulitnya bersih seperti pasir laut, seperti belum pernah dicubit matahari. Kini aku yakin kau makin terpikat, melirik pakaiannya yang sewarna kulit sapi. Lelaki idaman yang menggiurkan bunga desa sepertimu. Dan aku terhempas ibarat hati yang terbuang. Sebab cintaku sedang cemburu. Ah, lelaki bernama Rustam itu terlalu mau tahu tentang adat kita dan ia sebarkan ke mana-mana. Aku tidak menyukainya karena itu, dan sebab ia mencuri hatimu dariku. Lebih dari itu, ia juga mencuci otakmu hingga pikiranmu telah kota walau disebabkan juga karena kau pernah sekolah sampai SMA di kabupaten. Kau pernah menjadi guru di dusun sebelah, mengajari kami baca tulis di usia kami yang sudah berkumis.

Kabarnya, Rustam akan mendirikan pasar rakyat dan penginapan di sekitar kampung ini. Makin ramai saja orang datang ke sini. Melihat kami sebagai tontonan. Melihat upacara kami sebagai pesta. Oh, Karampuang bagaimana nasibmu nanti? Ketika kebiasaan orang kota meracuni adat kami, menjarah apa yang kami jaga, yang kami miliki. Aku ingin sekali mengumpat, mereka tidak beradab karena mereka biadab! Mungkin kelak tidak ada lagi yang namanya gotong royong. Seperti yang pernah dihimbau orang dulu, ”Hai sekalian anakku, kasih mengasihilah, rebah saling membangkitkan, hanyut saling mendamparkan, berkata saling mengiyakan, dan berbuat saling bantulah. Khilaf saling mengingatkan, satu kata dengan perbuatan, bagaimana di dalam begitu pula di luar, tegakkanlah yang keramat, sandarkanlah yang tabu, dan dudukkanlah yang makruh.” Sekarang banyak yang mengerjakan sawah dengan cara bagi hasil, tidak lagi yang punya hajat memberi makan untuk disantap bersama. Begitu pula saat membangun rumah, menggunakan tenaga upah. Mengumpulkan puingpuing harta sehingga saling mencekik. Serakah sehingga saling menutup pintu. Oh, Tomatoa! Hanya kamu yang murni. Kami akan teguh, tidak akan memasang paku tetap memakai tali rotan untuk menyusun kerangkamu. Mengganti tiangmu yang lapuk dengan menebang pohon bertuah di rimba melalui upacara madduik, menarik kayu bersama di hutan, wujud satu rasa. Tidak dipikul, sebab dipundak tanda mau menang sendiri. Oh, Tomatoa, kamu perempuan luhur yang kami puja. Dan kau, Jubaedah adalah perempuan Kampung Karampuang yang dijunjung. Darahmu adalah darah To Manurung. Mulia atas nama adat. Dan adat mengajarkanku tentang hidup, tidak mungkin kukhianati. Aku mencintaimu sebagaimana aku memegang adat. Disela itu terselip keinginan, yakni memilikimu yang tak boleh. Mencintai dan menginginkan itu serupa tapi tidak sama. Mengertikah, kau? *** Aku bukanlah Maryam dan kenapa pula sejarah harus berulang? Tuhan, bolehkah aku mengeluh sebab sudah lama aku berpeluh? Aku tidak bangga dilahirkan sebagai makkunrai, perempuan. Tubuhku menyiksaku. Aku dibelenggu. Ayah dan Ibu yang berbuat, mengapa aku yang harus jadi tumbal? Apakah memang dibutuhkan orang lain untuk menebus dosa? Lantas, salahkah mereka? Kau bisikkan di telinga Arung, tetua adat kami yang jarang bicara itu, untuk menentukan garis hidupku yang mesti kujalani. Menjadi perempuan suci, perempuan yang terkunci supaya tetap perawan. Jangan sampai sesuatu yang asing menyelinap masuk sebab akan melunturkan tradisi. Titah yang tak terbantahkan kecuali kalau aku cacat moral. Karena nanti warga juga yang akan memilih. Dan Ayah, Ibu, tak pernah membelaku. Ia wafat dengan patuh meski ia tak patut dipanggil Ayah, sebab tak pernah risau atau tak mau tahu jeritan hati anak gadisnya. Ayah memilih diam sampai ia menutup usia. Ayah hanya melihatku tumbuh. Dan aku memilih, berontak seperti ibu. Ibu yang mati karena melahirkanku. Ibu yang kawin dengan kaum pendatang dan dikucilkan di desa tetangga. Ibu yang dipaksa bernazar, jika bayinya perempuan akan diambil sebagai penggantinya. Dan Kau, Tuhan, mengabulkannya… Tetapi tidak! Sebagai anak aku merasa berkewajiban melanjutkan perjuangannya. Memang Puang Sanro telah renta, sudah layak istirahat. Perlu diganti. Tetapi mengapa harus aku? Tidak bolehkah orang lain? Aku selalu ingin bertanya kepada Puang Sanro tapi aku urung dalam hati, apakah ia memendam apa yang aku pendam? Ah, tentu tidak. Sebab aku tahu dari orang-orang, Puang Sanro adalah perempuan yang tidak laku. ”Dalam darahmu mengalir darah To Manurung, Anakku. Ikutilah takdirmu sebagaimana air yang mengalir,” ucapnya bernasihat ketika aku sedang malas meramu obat. ”Betapa menyenangkannya membantu orang, Anakku. Itu akan membuatmu menjadi ada,” lanjutnya berpesan di hari yang lain saat aku enggan mempelajari mantra-mantra. Ketika menolong, haruskah berkorban? Cukup! Aku tak mau mendengar lagi. Aku mau tuli saja, sambil dalam benak ini bertekad, aku akan melawan arus. Aku mesti berupaya meski tangis mendahului. Ya, sebab aku hanyalah perempuan biasa meski aku adalah perempuan yang cantik. Kusadari itu karena banyak yang merayuku semasa SMA dulu. Tapi aku tak hanyut. Aku mesti hati-hati meniti sebelum salah melangkah. Maka kutambatkan cintaku pada sahabat kecilku, La Gole. Aku sering memperhatikannya sampai-sampai aku tak sadar tubuhnya telah perkasa. Jika kami sedang berjalan beriringan aku senantiasa mendongak untuk melihatnya berbicara. Telingaku akan mendengar suara beratnya yang menentramkan. Andaikan aku dipeluk, pasti aku akan tenggelam dalam bahunya yang lebar. Saat kulit cokelat legamnya berkeringat, aku mencium bau khas manusia. Pernah juga ia menggenggam tanganku erat, sesaat tapi kurasakan kehangatan yang kokoh hingga jiwaku

asal bersamamu. kendati sesekali terjungkal karena kesandung akar pohon yang mencuat. Lepas maghrib.” “Ah. Di sini kita aman. Karena aku. Lalu muncul dia. Ia lapar dan aku haus. Mengaburkan cahaya ibu di atas sana hingga buram.melambung. malam ini juga.” ”Lalu kau mau kita menunggu di sini sampai pagi?” ”Mungkin. Dan tentu saja ia hangat. sikapnya terlalu lugu tak sebanding dengan badannya yang garang.” ”Apa itu? Akan kupenuhi.” “Sekarang aku siap membawamu pergi. Rustam. Kami tiba di sekitar rumah adat Karampuang. “Jangan Lama. kau ada hati denganku?” “Ya.” ”Bagiku tidak. Obor La Gole yang menuntun jalan juga telah redup. “Maafkan aku.” . di bawah sana begitu rawan. makam nenek moyang kami yang luhur.” “Aku tidak punya kampung selain dusun ini. Namun ia tidak punya nyali. Aku berlari dengan kain terangkat mengangkangi tanah yang kupijak. Hanya lidahku yang belum menafsirkan apa-apa.” “Tinggal di hutan pun tak apa. Jangan sekarang. mencari cara agar aku tidak terlacak sudah kabur. Banyak peti batu berundak-undak di tempat ini. Sementara jarum-jarum langit masih menyerbu. Hujan mengejarku seperti mengutuk. Kini malam sungguh malam karena awan yang menenteng air berlayar di langit kelam. Tanah ini adalah orangtuaku. Lelaki dari kota. jatuh merintik terdengar menitik dan menerabas. ”Kau tunggu di sini sebentar. Ah. kau sudah berada di puncak bukit itu. Paling tidak aku dapat melihat bayanganmu. Angin bertiup meliuk sangat kencang. mengguyur deras. Kerap kubayangkan bila kami menyatu tak ada yang tahu bahwa kami berdua. Rustam. Bukan salahmu. ”La Gole. pelita rumah penduduk memang sudah padam. Ternyata di atas sini tidak terlalu gelap seperti temaram. Kau segera memelukku.” kataku setelah ia agak menjauh. lelaki itu memang baik tapi aku harus pamit mengejarmu.” “Kalau begitu bawa aku pergi dari sini. Berangkat diam-diam. Ada senter di tanganmu. Kau bohong! Aku membencimu. antara panas dan lembap. dan itu cukup buatku. La Gole mencegat dan mengancamku sebelum masuk desa. Aku kecewa dan patah hati. Cukup lama hingga rindu mendera. Kulitnya harum dan langsat sepertiku.” “Tidak bisa. datang tidak tepat waktu. Aku sayang kamu. Kau basah kuyup sama denganku oleh derai hujan. kau tidak mencintaiku sebab cinta itu perlu bukti. kita terjebak di sini. bukan satu tubuh.” ”Aku tidak perlu membuktikannya karena cinta soal hati.” La Gole pergi menengok. pura-pura khawatir.” ”Wisuda aku menjadi perempuan seutuhnya.” Aku gigit jari.” “Tak apa. aku meminta sesuatu. Hadir dengan senyumnya yang menawan memberi harapan. di hubungan kami yang sempat terjeda.” “Tidak.

tujuh hari tujuh malam. sadarkah kau? Argh! Jubaedah. Kau dikurung di rumah adat Karampuang di atas loteng untuk dikuduskan kembali entah sampai kapan. La Gole muncul menaruh mata badik di lehermu. Kini aku luka dan hina. menanam dan menuai padi. lalu bangkit tersaruk-saruk. ”Terima kasih. Dan kau. Puang: kata sandang untuk orang yang dituakan atau yang dihormati. ”Bangsat kau. Aku mendorongmu supaya terhindar dan langsung melindungimu. Mukanya murka. Aku merintih dalam amuk saat kau menyuruh Rustam hengkang dari kampung ini tanpa dijera. Masih memegang adat kuno dan alergi dengan teknologi. Kau memandikan bayi kita di sumur tua yang berkah itu supaya kelak menjadi anak yang patuh. Kita berjalan mundur menuju tebing. Ah. Di kejauhan terlihat obor berkeliaran serupa kunang-kunang. *** Puang Sanro pernah meramalkan. sebetulnya aku ingin menabur benih di pucukmu yang kuncup. ketika birahi yang terpendam peka pada setiap ransangan. Dan sudah kuduga. Kau telah mendurhakai tanah keramat ini. turun dari tangga rumah adat Karampuang bagai baru dilahirkan. Hidup matinya Karampuang ada di tangannya. Aku ingin perbuatan ini sakral seperti kematian. Melelehkan kebekuan dan meruntuhkan kekakuan. dan kau datang membawa makanan. Rustam. muncul begitu saja. Dan segalanya sirna saat kudapati pakaianmu berceceran ke mana-mana. Tidak seorang pun diperkenankan menemuimu dan tak ada yang tahu bagaimana rupamu sekarang. darah dagingku. 270908 (Kutulis ketika merindukan kampung halaman) Catatan: Karampuang: dusun yang terletak di puncak bukit 1000 meter dari permukaan laut. Rinai-rinai bersenandung seperti berkisah. Arung: ketua adat atau raja yang jarang bicara tapi sekali bicara adalah tuah yang tak terbantahkan. Hari berganti. Tak perlu airmata sebab akan kutanggung semuanya. Kelak. Sesajen yang baru tadi siang. Sulawesi Selatan. Seandainya saja kau tahu angan-anganku yang sederhana ini. kami dikejutkan oleh kehadiran seorang bocah yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Mappugau Sihanua: Setiap tahun di pekan pertama bulan November diadakan pesta sebelum bercocok tanam setelah menikmati panen melimpah sebagai tanda syukur. dan tahun terus bertambah. tempat biasanya sesajian di letakkan. Berlari lincah. Aku adalah hikayat perempuan tanpa biduk yang terdampar setelah lelah mengarungi duka. berhamburan karena ulah kita.” Kau mengancam dan aku masih hirau. Di tanahmu yang subur bakal tumbuh tanaman berbuah. di Desa Tompobulu kecamatan Bulupoddo kabupaten Sinjai. Jika perempuan tidak kembali ke dapur. Kubunuh kau!” ”Berani menyentuhnya. Kau telah haram di hatiku yang meradang. Kulempar lelaki durjana itu dengan sekepal batu hingga ia tersungkur. Senang mengintip yang terlarang. yang tak mungkin terwujud. kau dianggap tidak pernah ada. *** Depok. aku lompat dalam jurang. Aku membajak sawah. . lebih senang keluyuran atau suka berkumpul. aku rebah menerimamu. wajahmu yang bersinar dalam balutan pakaian putih yang menyejukkan hari-hariku kala memandangmu telah berubah busuk bagai bangkai. maka rentan berbuat dosa. begitu pun bulan berlalu. Semua makhluk punya mata.” ucapku setelah usai. anak kita yang mengembala ternak. Gella: pemangku yang melaksanakan hukum yang berlaku di Karampuang.Apakah rasa sakit itu? Bila hasrat terjerembap. Aku gigil oleh getar. Sejak peristiwa malam itu. Rumah adatnya menyimbolkan sosok perempuan yang harus dijaga kehormatannya. Lantaran nista mengusik siapa pun sebab baunya tercium tajam. Di gubuk tua itu. Melihat dunia luar dengan muka gembira. Hingga pada suatu pagi. Jubaedah sudah melakukan lebih dari itu. namamu tak pernah lagi disebut nyaris dilupakan. berkeliaran seperti ingin mencari ayahnya.

Tidak tahukah Ibu. walau belum mempunyai mulut dan bibir untuk tersenyum. Ibu benar-benar bersifat magnetik. Ibu bangkit dan berjalan secara perlahan. Kalau kami tak bernyawa. seperti bendera yang turun di arena balapan. tumpahan-tumpahan makhluk seperti aku membasahi muka Ibu. Mungkin saja dia bapaknya Ibu. mati di jalan karena mereka berlari terlalu pelan atau kalah dalam himpit-himpitan jutaan teman yang berkejar-kejaran mencari tempat buat makan. penuh rasa lega akhirnya aku tiba. Malam ini. Tidak tahukah Ibu. laki-laki itu semakin panas. Aku Malang. Malam ini Ibu terlihat begitu cantik. Pantaslah Bapakku tidak bisa munafik untuk tidak tertarik. To Manurung: nenek moyang orang Karampuang berwujud perempuan. Kami menunggu dalam deru erangan. tangan. Seorang lelaki bertubuh tambun dengan perut menyembul. yang sebentar kemudian akan memunculkan pertanda. Ia seperti menunggu. kaki. menendang bahkan menerajang. Tapi sambungan hidupku berada pada wanita. persis seperti tempatku dulu di tubuh Bapak. Bukan aku tak sayang. tempat laki-laki itu singgah sesaat sebelum air maninya muncrat.Sanro: pemimpin spritual di setiap prosesi adat yang harus dijabat oleh perempuan atau lebih tepatya disebut dukun. Lelaki itu membolak-balik iIu seperti barbeque di arang kayu. Pintu diketuk. atau sesungguhnya Bapak yang ditunggu? Aku belum juga tahu. Tomatoa: nama rumah adat Karampuang. Entah yang mana ibuku. xxxxx Malam pertama bersama Ibu. Aku mengalahkan berjuta ekor dan kepala lainnya yang datang mencari Ibu. Apakah Ibu menunggu Bapakku? Aku belum tahu. di dalam liang hangat. Nyawa pertamaku dari seorang pria. dia bukan Bapakku. 2008 by Rien Al Anshari Aku dibentuk dari dua nyawa yang terpisah. . sesama teman sperma yang dimuntahkan dari penis manusia. Reaksi ereksi itu seperti permulaan arena balapan. Bapakku tampan. Aku minum karena selalu haus. Tapi ini satu-satunya caraku untuk memberi tahu Ibu bahwa aku bukan bayang. Bagian tubuh itu. Aku tahu persis siapa Bapak. Aku juga masih ingat. seperti aku. muncul. Ibuku Jalang. Kami mencari tempat terhangat. Aku diam berhari-hari di tubuh Bapak sebelum akhirnya bertemu Ibu. bahwa aku begitu bangga. Wajah dan penampilannya menunjukkan seperti itu. Lelahku akhirnya terbalas juga. Bapak bereaksi. sebelum salah satu dari kami berhenti sesaat. xxxxx Aku ingin bertemu Bapak. kami berkebut-kebutan. Dia bukan Bapak. Membentuk sel baru yang menyatu. Penuh ketegangan. Ibu memberiku makan dari darah yang mengandung sari yang dipompa dari jantung melalui aorta. Nyawa seorang pria yang menabuhi seorang wanita bernyawa dengan sperma. aku baru saja bersenyawa dengan tubuh Ibu. Aku menunduk malu. Aku ingin cepat mempunyai muka. Wajahnya rupawan. Aku ingat saat dulu berkejar-kejaran dengan teman-teman. tidak! Ia menyentuh Ibu dengan gerakan yang sama sekali tak malu-malu. Aku makan dengan rakus. aku sudah tertawa. Aku lemas. Aku juara. Bapakku Jahanam Bukan Kepalang ( juara 2 ) Desember 30th. Saat ini. Aku mulai tumbuh dan tak lama lagi akan membuat pergolakan rasa yang perlahan akan membuat Ibu tahu bahwa aku ada. malam keduaku bersama Ibu. Ada apa dengan Ibu? Ibu. perawakannya tak beraturan. Aku ingat ketika Bapak berlaku seperti itu pada Ibu. Teganya Ibu mengkhianati Bapakku. Ibu yang mengharapkan kehadiranku atau Ibu yang menganggapku hanya sebagai benalu. Bukan seperti lelaki yang datang ini. Ibu dan lelaki itu saling beradu. Mereka tidak berlarian. Ibu kembali menunggu. mana mungkin kami punya tenaga untuk mencapai indung telur wanita. Tapi. Apakah kali ini lagilagi lelaki buncit yang memberi malu. aku belum tahu. mencuat. Aku makan dari wanita yang kemudian kukenal dengan sebutan ibu. Gerakan-gerakan yang ia ciptakan membuat salah satu bagian tubuhnya menegang. Tapi. Ia mempesona setiap perempuan. Ia seakan memberi pertanda pada kami untuk siap-siap beraksi. Reaksi itu menimbulkan ereksi. Siapa bilang kami bernyawa setelah salah satu dari kami mempunyai rupa? Kami telah bernyawa dari sejak kami menjadi sperma. Aku sudah tidak sabar untuk mengabarinya bahwa ia telah berhasil menciptakan bibit manusia. Lalu. Aku melihat Ibu duduk di atas sebuah kursi memanjang dengan bantal yang kenyal. untuk mengelus. menggurat menjadi lekat di kulit Ibu yang sekat oleh keringat. Meninggalkan rupa lama yang dulu hanya berbentuk ekor dan kepala.

Aku nyata. Benda itu berbentuk kertas tipis memanjang secarik. Aku ingin bersamanya ketika ia bersama siapa saja. Mereka seperti lahar yang mencahar karena panas bergejolak yang membakar. Aku tumbuh karena aku memang tumbuh dan waktu perlahan membuatku begitu. Laki-laki manapun takluk dan bertekuk lutut padanya. Aku bibit manusia buah bercinta dengan pria yang belum kujumpa. ia mampu memikat perempuan. bukan lagi keanehan. Ia duduk dan berbicara terlebih dulu. Tapi tak lagi minum dengan harap. Ia pun meminum minuman yang diminum Ibu. Aku ingin Ibu sadar. Tahukah Ibu bahwa aku mani yang menang lomba lari terpanjang seantero bumi? Bukan salahku kalau aku kemudian menghuni tempat ini. Ia meliriknya. Ibu meraung. Ia masih sibuk dengan dirinya yang luar biasa. Ini tempatku. Ibuku mengamat-amati benda itu. yang datang lagi-lagi lelaki. Aku seperti tak berhenti meratapi diri. kali ini dia membuatku mabuk. Luar biasa bercinta.Ibu menunggu di dalam sebuah ruangan luas. bahwa aku ada. Terus kugetar-getarkan tubuhku untuk membuatnya terhuyung. ia memaki. Aku berteman dengan benda yang kemudian kukenal dengan sebutan. Menunggu dalam bimbang. Bapakku memang tampan dan rupawan. Aku tak urung. sementara ari-ari tak berhenti mencaci maki. Tumpahan-tumpahan itu berlalu bersama waktu. walaupun belum sepenuhnya memiliki jari jemari. Ia diam. Aku ingin Ibu dengar. Sudah tidak kusisakan lagi sedikitpun tempat untuk kalian menyatu. Ia menaiki Ibu yang tengah terbaring. Tapi Ibu tak pernah lagi bertemu Bapak. Sebentar lagi aku akan membuat kulit Ibu meretas. “Bangsat! xxxxx Aku semakin besar kini. Oh Ibu. “Hey Jabang Bayi. Tapi aku tak gentar. Beberapa menit kemudian aku merasakan sesuatu yang tak nyaman. berguncang dan seakan tak berhenti bergetar. Aku marah pada keluarbiasaan Ibu. Aku kecewa pada gaya hidupnya. Lelaki itu datang menjenguk Ibu. berhentilah kau berharap. Lompat-lompatan. megah dan nyaman. Bercanda. Wajahnya tampan dengan senyum yang sangat memikat. Ibu masih belum tahu keberadaanku. Aku ingin tetap terjaga. Aku memang tolol dan dungu. Tubuhku yang belum sepenuhnya terbentuk ini terasa berputar-putar. gerakan jumpalitan. Gerakan jumpalitan hingga ledakan tumpahan air kemaluan. Minuman itu memabukkan. Ia menyebut-nyebut aku si tolol yang dungu. Apakah ia Bapak? Bukan. Sudah kukatakan. tidak Ibu lalui bersama Bapak. Ibu tidur dengan laki-laki. Kemudian ia menduduki kloset dan mengencinginya. Itu semua karena Ibu. Menciptakan bunyi yang membuat tubuh tanpa kepalaku pusing dan pening. Tapi Bapakku berkulit kecokelatan. Lantas tertawa-tawa. Ia lelah karena harus memuntahkan makanannya keluar. Ia ditemani segelas minuman. Pantas saja seorang Ibu terjerat. Lalu ia mengambil sesuatu dalam sebuah kotak yang berbungkus plastik. Ibu bertemu laki-laki.” “Masa bodoh dengan dunia di luar sana. Suara desah Ibu terpecah melengking. Dan hari ini. Ari-ari. Aku sudah tiba lebih dulu. Ia memuntahkan isi perut yang ia kandung. Tapi tak lagi makan dengan lahap. tapi juga akan membesar. Lalu ia menyatukan tubuhnya dan tubuh Ibu seperti anjing. ari-ari kembaran. Lalu berbaring dan membuka baju. Dunia tempat Ibu berpijak. Aku tetap makan. Aku tak pantas diperlakukan seperti ini. Dan aku menerjang. Sekian hari sekian waktu Ibu selalu bersama laki-laki. Kemudian mereka datang dan pergi. sehingga aku bisa mengenal wajah seorang Bapak yang kutunggu kedatangannya. akhirnya keluar. Minuman itu begitu elegan dalam gelas kaca dengan kaki panjang menawan. Berjalan bolak-balik mondar-mandir sambil menggenggam benda itu dan berpikir. Aku sudah memiliki tangan dan kaki. Tidak seperti lelaki tambun tak tahu malu yang langsung menyentuh Ibu tanpa ragu. hingga ledakan tumpahan air kemaluan yang bukan lagi keanehan. Wajahnya panik. Luar biasa sempurna. Aku tetap minum. Dunia yang sesungguhnya memang pengap. Lelaki bertubuh tinggi dengan kulit putih sangat terawat. Ibu menenggaknya. Aku putus asa pada sikapnya. lompat-lompatan. Ibu bercinta dengan laki-laki. Ibu tersandar. Matilah kalian sebelum sampai lebih dalam di rahim Ibu. Ia sendirian. xxxxx Dan aku masih menunggu. Aku ingin Ibu gentar. . Ibu mencampuri laki-laki. Dengan bola mata yang terbuka lebar. Aku gemetar. silih berganti. nanar. Tapi. dengan gerakan yang membuat lelaki itu bersimpuh layu. Walau tak punya kaki tangan aku menendang. hari ketujuh bersama Ibu. Luar biasa menggoda. Makhluk-makhluk yang dulunya seperti aku. Ia berdiri. Kalau kau tak tau caranya bertahan kau bisa megap-megap. Masih. Dan Ibu bukan lagi sadar. Desah-desahan. Menunggu Bapakku. Bajunya. Dan baju Ibu. Tapi tidak sepenuhnya sendirian. membuat Ibu mabuk kepayang.

dan diam saja. Dia memang selalu seperti itu. seperti lelaki tambun yang penuh nafsu. Dan ia berhak tahu bahwa aku ada juga karena dia. Ia mengisi udara paru-paruku dengan asap yang membuatku jengap. xxxxx Malam ini ia kembali menunggu. Tubuhnya hanya terbalut kaos singlet berwarna putih.” “Ibumu pelacur. Ibu masih tak melawan. Bapakku semakin membabi buta. aku memimpin di depan. Bapakku memaki.” Ibuku benar-benar tak punya belas kasihan. Asap yang ia hirup dan ia jadikan oksigen sampingannya untuk bernafas menjadi racun yang membekas. Perempuan yang tak berperasaan. Ia Ibu yang hanya menganggapku benalu. Bapak kita. Kau tendang seperti apapun ia takkan memberitahunya. Dan dari dalam sini. Dunia kehidupan yang berbeda.” “Kenapa ia takkan memberi tahunya.” “Tenanglah. Malam ini. Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah cacian meskipun ia begitu kenikmatan. Ibu dan menghujaninya dengan tamparan. Bapak tidak mencium Ibu dengan hangat. Ia tetap akan diam. aku ikutan. hanya mengenakan celana dalam berwarna hitam. makhluk malang. Aku akan menendang perut Ibu sebagai pertanda agar ia tahu. Sesaat kemudian ia menoleh. Aku ingin ia memberi tahu Bapak bahwa kita ada.” “Karena Ibumu jalang.” “Dan aku anak pelacur yang vaginanya selalu menjadi tempat bercampur. Lelaki itu Bapak kita.” “Aku takkan bisa tenang. Ibu benar-benar tak pernah menginginkanku. Ia sungguh laki-laki yang menawan. “Ari-ari. Kakinya bertekuk dan ia peluk. Ibu masih tak membuat gerakan. Tak seperti biasa. aku lari. Tangannya memegang sepuntung rokok yang abunya sudah bertumpuk menunggu jatuh. Aku menutup mukaku dengan kedua tangan yang baru terbentuk seakan menahan malu. Ia tampan dan rupawan. Kulit muka yang sepertinya berewokan meninggalkan bekas cukuran yang terlihat jantan. Wajahnya memikat setiap perempuan dan kulitnya kecokelatan. Laki-laki itu berperawakan tinggi. ia menamparnya. lihat siapa yang datang. Hal yang sudah lama kutunggu berjumpa dengan Bapak tidak seperti apa yang menjadi pengharapan rindu. kau Jabang Bayi tolol. Ibuku tetap diam. Ibu pun diam. Begitukah Bapakku saat membuat aku. Mereka tak saling berteguran. Ibu terkesan pasrah dan melemah.” “Dia jelas-jelas lupa saat ia masih menjadi sperma. Teman-teman berkejar-kejaran.Aku disuruh lari. kata mereka. Ibu tak terpekik walau setengah mati ia tercekik. Ibuku tak cantik. Seorang laki-laki tiba-tiba datang. Lelaki yang kusebut Bapak itu kemudian bergerak ke depan Ibu yang masih melihat hujan. Ari-ari. Bahkan ketika lelaki yang kusebut Bapak itu menunggangi Ibu seperti binatang. Entah laki-laki mana lagi aku sudah tak mau tahu. Ia juga tidak seperti lelaki menarik yang memulai percintaan dengan candaan menggelitik. Hinanya aku. bisa kurasa bahwa di luar sana sedang hujan. Itu Bapakku. hingga akhirnya aku tiba dalam rahim seorang perempuan. Ia merobek pakaian Ibu sampai tak satupun tersisa. Ia tak memakai bawahan. Ari-ari.” “Aku benci Ibu. Ia diam seribu bahasa. Lelaki itu menarik tubuh Ibu dan mencengkramkan kedua tangannya ke leher jenjang Ibu. Tidur dengan laki-laki yang datang dan berlalu.” Lelaki yang kusebut-sebut Bapak tidak langsung menyentuh Ibu. Ia duduk di sisi jendela di atas sebuah sofa berlengan. Aku tersekat.” “Diamlah. Jadi memberi tahu laki-laki itu hanya akan sia-sia dan merusak acara bercinta mereka. Dunia sudah membuat ia lupa asal mula. Perempuan itu pun tak tahu siapa yang telah mencampurinya. Ia tak hanya membuatku mabuk dengan minuman. Bapak tidak memeluk Ibu . ia terlihat kusut masai dengan rambut berantakan tergerai-gerai. Dan ia Bapakku. Mereka balapan. Jabang Bayi bodoh.

zygot. menjadi zygot. menerjang guncangan yang menarikku juga menarik ari-ari kembaran. Aku manusia. ia memakinya. teganya kau padaku. “Kalau saja kau ingat seluruh perjuanganmu mencapai tempat di rahimmu. Wahai Ibu. Tidak ada juga udara yang mampu kuhirup untuk membakar tenaga. Bapakku lelaki bangsat.” “Bodohnya kau. Ibu Bapak tak menginginkanku. lalu dibuang sia-sia. dan aku memiliki hak seperti para manusia. Mataku terbuka lebar. “Ari-ari. Jabang Bayi. Aku bergerak.” “Persetan dengan mereka. Jadilah aku hasil hubungan yang penuh malu.dalam dekap. Aku malang. di kasur. apa aku akan melupakan saat-saat ini ketika aku seutuhnya menjadi manusia sejati?” “Maaf Jabang Bayi. Aku hanya berharap untuk diberi lagi kesempatan menjadi mani pada laki-laki. Aku bukan hanya makhluk berekor dan berkepala yang tumpah di muka wanita. Benda tak berharga yang keberadaannya hanya menyesakkan dunia. Sungguh aku tak percaya bahwa Ibu benar-benar tega. Aku sudah menjadi setengah manusia. Perjuangan sampai ke tempat ini sangat berharga. aku sudah merasakan guncangan hebat bergetar dalam ruang sempit di sekelilingku. Lelaki itu tak akan pernah tahu bahwa aku dulu adalah benda berekor dan berkepala yang ada di tubuhnya. Aku sudah hidup dan bernyawa. Ia melayani laki-laki manapun yang tak ia kenal. menjadi embrio. Ibuku benar-benar perempuan binal. dunia menggerus ingatanmu. tak lagi bernafas. tubuh Ibu. Ari-ari. walau ia fana. meronta. Tidak ingatkah perjuanganmu untuk sampai ke tempat ini?” “Percuma saja. karena aku sudah menjadi bagian dari mereka. Ari-ariku sudah tak lagi berbicara. nanar. Aku tak mau mati di sini. di lantai. Mudah-mudahan aku sampai pada perempuan yang menanti kedatanganku. Bapakku jahanam bukan kepalang.” Aku terdiam sejenak. Walau setengah manusia. Dan tak lagi membekaskan memori masa lalu asal muasalmu. Ari-ari kembaranku benar. Hanya perasaan marah yang bergejolak dan tergelak-gelak seperti lava. Ia seperti pawang yang menunggangi binatang yang telah terlebih dulu di cucuk lubang hidungnya. melawan. xxxxx “Aku seakan tak punya harapan hidup. Argh! Aku penat. Bapak tidak bercinta dengan Ibu penuh dengan rasa. 17 December 2008: 03. Pontianak. persis seperti mata Ibu saat baru menyadari keberadaanku. Ibuku perempuan laknat. Sampailah ia bertemu Bapak yang tak kalah nakal. Ia pelacur profesional.m.05 a. Bapakku Jahanam . ia mencekiknya. Sekarang kau membuangku seakan aku sampah. Aku darah. saling berpelukan. setengah manusia yang tak pernah menjadi manusia 45 Responses to “Aku Malang. Aku berhak hidup dan melihat dunia. Aku dagingmu. kau pasti tak akan melakukan ini semua. Ari-ari. Ibu. embrio. Ibu. aku rasa kau tidak akan pernah muncul di dunia untuk menghirup udara?” “Kenapa. Ari-ari? Kenapa?” Belum sempat ari-ariku menjawab. dan kini melebur dalam tubuh pelacur. Ari-ari dan aku saling berpegangan. Bukan Ibu yang hanya menganggapku sebagai benalu. Hanya saja. Kau tetap berhak melihat dunia. Aku bagian tubuhmu.” Dan aku lemas. Tenaga yang kami miliki sungguh tak sebanding dengan kekuatan angin maha dahsyat yang menyedot kami. Aku sudah tak mampu lagi meronta. Ibuku Jalang. Untuk sperma. menjadi setengah manusia yang sudah memiliki kepala sesungguhnya kepala. yang akan kembali membuatku berjuang dan berkejar-kejaran dalam himpitan. Ibuku jalang. Tanpa sadar aku terisak. dalam tangisan yang rasanya sesak. Dan ini adalah perpisahan.

Sebuah kutipan milik seorang penyair besar yang tampak telah merasuki jiwa si penulis. Lima detik kemudian aku bereaksi. disambut dengan pintu-pintu yang terbuka lebar. begitu baris akhirnya berbunyi. dan saling menjatuhkan.Di Dalam Toilet. sudah itu mati’ tulisan itu berkata. Aku memperhatikan dengan mata yang sombong kepada setiap coretan di sisi kanan tembok tempatku duduk. Tak banyak yang kulakukan. Semilir angin dingin menerobos melalui ventilasi menyebarkan rasa kantuk berkali-kali. Tidak ada yang melebihi kesetiaan mereka dalam mendengarkan setiap keluhan para penyendiri yang tak berdaya. di celah antara tembok dan lantai toilet. namun sisa batang rokok yang terbakar ini menahanku untuk menikmati kesendirian dari dalam bilik sempit ini barang sejenak. di Atas Kloset ( Juara 3 ) Juni 4th. Seperti melihat sejarah kehidupan manusia yang pertama ditoreh lewat lukisan-lukisan di dalam gua-gua purba yang gelap dan tanpa kusadari bahwa jarak waktu yang ditempuh dari jaman itu hingga sekarang adalah bukti jalur perkembangan hidup umat manusia yang telah begitu panjang teraspal. ’Aku mau hidup seribu tahun lagi’ tulisan lain tak jauh dari yang pertama bersandar dengan berhiaskan gambar kawat berduri di sekitarnya dan tiga buah tanda seru di belakangnya. saling menyisihkan. ini adalah saatsaat yang indah untuk memikirkan diri sendiri dan menolak segala hal lain yang masuk ke dalam otak. Begitu banyak hal yang telah mereka lalui dan ribuan wajah yang telah mereka lindungi. Tampak jelas di mataku sekumpulan emosi yang tersurat dengan lantangnya menyuarakan batin yang selalu berteriak. Api rokok terpejam dan menyala mengikuti irama denyut jantung. . Dari bawah tembok sastra ini. Betapa aku telah mencapai suatu tingkat kenyamanan yang membuai dengan duduk di sini sambil merasakan bokongku berkarat perlahan-lahan. Dan kekalahan akan datang kepada mereka yang berani menanggung rasa nyeri. Karya seni ini mengundang jiwa pengamatku untuk menelusurinya satu persatu. Entah apa yang dipikirkan oleh lalat-lalat kecil yang terbang mengitari lampu redup di atas kepalaku. aku dibangunkan oleh rasa terkejut. Betapa mereka telah meredam isak tangis para manusia kesepian dan menjaga setiap aduannya untuk tidak keluar dari ruangan ini. air mata. selain melubangi paru-paruku lewat setiap tarikan napas dan memandangi sekelompok lalat yang tampak malu-malu untuk menyapaku. Mereka tak mampu menyembunyikan lukanya yang terkelupas oleh roda waktu dan tangan-tangan jahil yang telah merampas keperawanannya yang putih. Walau sebenarnya perutku yang melilit itu sudah tenggelam di dasar WC beberapa menit yang lalu. Seketika tembok ini menyiratkan hawa perasaan hangat manusia. 2008 by Arki Atsema Toilet begitu sunyi malam ini. Empat sisi tembok putih menatapku dengan wajah yang pucat. Semakin lama aku semakin tertarik untuk membawa setiap tulisan-tulisan ini ke dalam ruang perenunganku. ”Boleh minta rokok?” telapak tangan kemerahan itu berkata. Aku tak ingat bahwa ada seseorang di bilik sebelah. Sedikit demi sedikit semuanya merambat ke dalam diriku dan dalam hati kecilku. Dan lihatlah kerelaan mereka menyodorkan wajahnya untuk dijadikan kanvas yang merekam sidik jari riwayat sifat tolol dan kekanak-kanakan manusia melalui goresan tinta tak bertanggungjawab. Kini aku merasa sedikit malu dengan tembok-tembok ini yang mengepungku seakan sedang menghakimi aku atas semuanya yang telah mereka alami. Betapa hidup tak ubahnya semacam arena perang untuk saling mengungguli. Kesendirian memang selalu terasa dingin seperti sebuah rumah kosong dimana kepulanganku dari keramaian dan berisiknya suara manusia dan keangkuhan wajah kota besar. sedikit kemarahan. Tetesan dan rembesan air mata yang jatuh dari langit mewarnai umur tembok-tembok ini lewat garis-garis kecokelatan yang merambat pelan dari atap menuju basahnya lantai keramik. ”Ambil saja. harapan kosong dan tentunya perasaan kecewa adalah tema yang menumpuk pada sastra tembok ruang WC ini. Dilapisi oleh warna merah yang menyerupai darah dan goresan tegas membentuk tiap hurufnya. rasa pasrah. Dalam keheningan yang membius. Ketidakpedulian menyelimuti diriku. ’Yang terakhir mati adalah harapan’. Rasa kecewa terekam jelas lewat kata-katanya. yang tampak menikmati bau pekat di dalam ruangan menyedihkan ini bersama-sama. Ditulis dengan warna gelap. Lima baris puisi terpampang di atas tembok yang sama. Samarnya suara tikus yang mencicit jauh di sana. sebuah tangan manusia terjulur dengan telapak tangan menengadah ke arak mukaku. Kesedihan. menambah sempurnanya suasana tenang yang mengiringi parade ritual sakit perut yang kualami. aku mendapati segenggam kebenaran yang coba dipancarkan oleh tulisan-tulisan itu. ’Sekali berarti. benci.” seruku. mengambil sebatang rokok dari saku kemeja dan meletakkannya bersama korek api di atas tangan itu. siap ataupun tidak. Ratusan kata terangkai dalam warna-warni yang tersusun dengan berantakan dan saling bertautan membentuk lukisan abstrak di atas alas yang pasrah.

”Makan?” ”Ya. Kita bisa sedikit mengobrol kalau begitu. Hanya duduk-duduk di atas kloset porselen warna putih yang keras. Entahlah. ”Jadi. Rokokku sudah setengahnya terbakar. walau bagaimanapun juga aku berusaha memikirkan kata-kata yang tepat untuk memulai sebuah pembicaraan yang dapat memecahkan keheningan yang mengganggu ini. aku adalah tipe orang yang hanya bisa menunggu.” ”Restoran sinting. seperti memikirkan jawaban yang akan keluar dari mulutnya.” Dahiku berkerut. Apa mungkin aku mengajukan pertanyaan yang salah? Atau bisa jadi dia ini adalah seorang yang pendiam dan malu-malu. aku bingung dengan orang ini. ”Terima kasih.mungkin ratusan cabe merah dan kerabatnya. Asal kau tahu. tapi sekarang dia kembali mengunci mulutnya rapat-rapat. begitu pikirku. ”Kau sedang sibuk?” ”Maksudnya?” ”Apakah aku mengganggu kegiatanmu di sana?” ”Oh tidak. Yang jelas perutku terbakar. Dahsyat sekali. Dari suaranya. Aku memilih tenggelam dalam keheningan yang ia ciptakan.” ”Baguslah. ”lebih enak kalau kita tidak saling kenal nama masingmasing. aku . Aku tak bisa menahan perutku yang melilit.”Oh terima kasih.” ia berkata untuk yang kedua kalinya. Sepertinya dia juga tidak melakukan apa-apa di ruangannya. Restoran ini memang membuatku mual. Dalam situasi sekarang. Tangan kirinya muncul lagi dari celah bawah sambil menggenggam korek api gas warna hijau yang tadi kuberikan padanya. Tadi dia yang pertama mengajakku bicara. Ia diam tidak menjawab. ”Sama-sama. Maka aku memulai dengan mengajukan pertanyaan yang paling mudah. Seseorang ada di sebelahku.” ”Boleh. Jangan-jangan kau juga makan udang bakar itu?” Aku tidak yakin tapi sepertinya aku mendengar sekilas suaranya bergema mengucapkan ’Eeeee…’ yang panjang. dan entah mengapa aku merasa sedikit canggung dengan kehadirannya.” ”Oh. Aku tidak akan makan lagi di sini.” Sedikit aneh. bahkan untuk orang sepertiku. Hembusan napasnya terdengar amat jelas di kedua telinga. Dan kini kami berdua kembali diam dengan tenang.” Dan tangan itu menghilang lalu tak lama kemudian suara percik api bergema memadati ruangan. hanya duduk-duduk sepertiku. Lalat-lalat telah pergi entah kemana.” Gelombang hening berkeliaran di dalam toilet. Detak jarum jam tanganku adalah satu-satunya suara yang kudengar. atau tepatnya seorang remaja tanggung. Kali ini aku tidak mencoba mengajaknya bicara. ”Apa yang akan kita bicarakan?” aku bertanya. apa yang barusan kau makan?” aku mencoba membuka percakapan lagi. Salah satu dari kita harus memulai percakapan. Aku hanya menghabiskan rokokku di sini. untuk mengobrol dengan seseorang tak dikenal di dalam toilet yang wujudnya terhalang oleh tipisnya tembok pembatas.” serunya dengan cepat. aku berada di sini gara-gara udang bakar sialan yang disajikan dengan…. aku menebak-nebak bahwa dia seorang anak lelaki seusia remaja. Aku hampir membuka mulut saat suara yang dingin itu datang. Untung saja restoran ini juga punya toilet. ”Siapa Namamu?” ”Tidak perlu tahu nama saya.

” serunya dengan nada pelan. aku tak tahu harus memanggilnya apa. “satu-satunya makanan yang pernah kumakan di restoran ini adalah sup ayam. Tapi setidaknya setengah dari daya tarik corat-coret ini memang berhasil menarik perhatianku. Bahkan asap rokokku ikut merasakan kalang-kabut. Hampir setiap malam aku datang ke sini. sengaja membuat sedikit keributan. Tanya saja lalat-lalat ini. Kehebohan terjadi di dalam otakku untuk mencari kalimat yang tepat untuk menanggapi pernyataannya tadi. alasanku ke sini bukan karena sakit perut atau apalah. Sepertinya aku telah berhasil membawa pembicaraan ini ke arah yang lebih baik. tanpa jabat tangan – kecuali dengan sebatang rokok dan korek api yang kuberikan padanya – dan tanpa nama sama sekali.”. siapa yang tidak akan memperhatikannya. Kamu pikir aku rela menghabiskan waktu lebih lama di dalam sini kalau bukan karena ingin menikmati coretan-coretan ini. Aku punya latar belakang seni dan aku tahu apa yang sedang kukatakan. ”Wow! Bagus kalau begitu.” aku berbohong lagi. cuma…. bisa dibilang ini seperti sebuah ritual buatku. Dia tertawa kecil. sangat tak tahu malu apabila hanya dipajang di dinding WC yang jorok ini. tanpa suara. Dilihat dari isi tulisan dan . Maksudku. Tak disangka ada juga orang seperti anda yang memperhatikannya. ”Yaa.” aku tak tahu apa yang sedang kukatakan.” semoga ia tidak menangkap irama kepanikanku. Latar belakang seniku adalah mencoret foto muka presiden di ruang kelas sekolah dasarku dulu. sebanyak ini. Anak ini datang ke toilet serba putih ini. Seharusnya kau bisa lebih menghargai seni dengan menaruhnya di tempat-tempat yang pantas. Aku menghirup dan menghembuskan asap rokok dengan keras. ”Ya. dan. ”Oh ya?” ”Ya. Lalat-lalat kembali berputar-putar di sekitar lampu dengan kesetanan. Ada kekuatan sastra di dalamnya.” Biar kuanalisis sebentar.” tiba-tiba ia bicara. ”Oh ya? Untuk apa?” ”Menurutmu?” Menurutku karena kau adalah anak iseng yang tidak punya hal bermanfaat lain yang bisa dikerjakan selain menginap semalaman di dalam toilet ini.merindukan suara bising sayap mereka. Inikah yang terjadi pada remaja jaman sekarang? Masuk ke restoran hanya untuk menikmati nyamannya kloset sambil mungkin berpikir tentang masa depannya? ”Kalau begitu kamu kenal dengan orang tak tahu malu yang mencoret-coret dinding di dalam sini?” Pertanyaan basa-basi. ”semacam duduk-duduk di tempatmu berada sekarang. untuk karya seni sebagus ini. ”maksud saya. tanpa sepengetahuanku. sama seperti kelakuan remaja aneh lainnya.” Tentu saja.” Mulutku seperti ditampar. ”Sup ayam. ”Tapi aku tidak alergi dengan pedas. dan tanpa basa-basi langsung mengajakku bicara seolah-olah aku ini temannya. Aku yakin bahwa ia masuk ke restoran ini tanpa memesan apapun. Tanpa perkenalan. mengunci diri di dalamnya dan melakukan ritual.” ”Oh ya?” ”Tentu saja.” jeda kembali terulang. sedikit menyejukkan di telingaku. Aku tak peduli siapa yang melakukannya. melainkan langsung meluncur menuju toilet ini. atau di tembok kota sekalian biar orang-orang bisa melihatnya.” ia terkesan berhati-hati dalam menyusun setiap kalimatnya.suaranya sedikit serak kali ini. Dan memang rasanya agak pedas. ”Ingin bicara denganku kan?” Aku tak sabar menunggu. mungkin juga tanpa menoleh sedikitpun pada pelayan atau hanya sekedar duduk-duduk sebentar di kursi. ”Ritual yang kumaksud adalah mencoret-coret dinding ruanganmu itu. Satu-satunya ritual yang kukenal yang pantas dilakukan di toilet adalah ritual yang baru saja kujalani beberapa menit yang lalu dengan susah payah. ”aku orangnya. dengan coretan sebesar ini. Menghabiskan sedikit waktuku.

Kalimat itu akan kutulis di tembok malam ini. mungkin sedang mengolah setiap kata yang ia dengar di suatu tempat di kepalanya. kau bisa menemukan apa yang kaucari selama ini. aku memang…memang menuliskan semua yang kurasakan di sana. Aku menolehkan mukaku ke arah biliknya. Aku lelah ditertawakan. lebih seperti perasaan kesepian. perempuan kerdil yang menangis. Aku bertaruh bahkan seorang Gandhi pun akan memiliki keinginan untuk membunuh bila ia tahu apa yang kurasakan.” ”Ya mungkin saja.” Kali ini aku yang terdiam.” serunya dengan nada yang semakin muram. “Remaja adalah tingkat paling rapuh dalam riwayat hidup manusia. Gandhi sang Gladiator mengalahkan Hitler si Pecundang!” Kami berdua tertawa. Aku hanya membenci semua hal dan ingin sekali berdiri di puncak bumi ini dan memarahi semua orang-orang yang pernah kukenal. dan sebuah ledakan dengan gradasi warna merah yang indah . “Ya. ”Ide yang bagus.” ”Menurutmu siapa yang paling cocok untuk melawan Gandhi?” ”Mmm…siapa ya? Mmm…Adolf Hitler!” ”Brillian! Bayangkan bagaimana ia mencabuti kumisnya satu persatu. Barangkali hingga membusuk. seakan-akan tidak ada hal benar yang dapat dilihat oleh matamu di dunia ini.” ia setengah berteriak. Kadang aku berpikir bila Gandhi diberi kesempatan kedua untuk hidup lagi.aku mengira bahwa dinding ini adalah bagian dari buku hariannya yang diisi oleh keluhan atau semacam curahan perasaan untuk seseorang yang bisa dibilang sangat kesepian. aku tak yakin.seperti seorang anak yang gantung diri. Atau mungkin saja saat ini. Rokok di tangan kananku mulai memendek dan aku mulai bosan berada di sini.” Gemeretak tembakau yang terbakar terdengar nyaring dari tempat ia berada. di akhirat ia mengajak para malaikat untuk bertarung dengannya sebagai kekesalan atas emosinya yang tak tersalurkan di dunia. dan kita bukan orang yang sama. Masa remajaku juga diisi oleh rasa kesal. Persis seperti kesan yang kutangkap sebelumnya bahwa orang ini adalah seorang pendiam yang gemar memendam api dan membiarkannya menjalar di dalam hati. ini adalah semacam cara anak muda jaman sekarang dalam mengekspresikan sesuatu.” . ia akan berubah menjadi seorang maniak yang mencintai perang. ”Mmm…menurutku. Ia kembali mengatupkan mulutnya setelah mendengar pendapatku.” “Hebat. seakanakan kau memang mengalaminya sendiri. Seharusnya dia memang jadi ahli berkelahi. kau benar. kita adalah orang yang sama. Jangan terlalu disesali.” rasa simpati mulai merangkak keluar dari kepalaku. ya kan? Seperti coretan-coretan lain yang sering kulihat di tembok-tembok pinggir jalan.” “Entahlah. Itu yang akan kulakukan kalau menjadi Gandhi.” ia memberikan penekanan dan menambahkan unsur melodramatis dalam kalimatnya. “Semua yang kurasakan hampir tiap hari. Bagiku itu cukup masuk akal. lebih menonjolkan sisi gelap manusia. karenanya aku memilih untuk berhati-hati. Namun semuanya akan berubah. Tapi aku membuat hidungnya berdarah. atau…yah tak tahulah…tapi kau telah menggambarkan perasaan-perasaan tersebut dengan baik.gambar-gambarnya . Aku pernah bermimpi sedang berkelahi dengan Gandhi dan itu membuatku senang. lebih kelam. Hanya saja ini lebih… mmm…katakanlah.” “Serius? Kau berkelahi dengan Gandhi? Siapa yang menang?” “Aku lupa. lebih gelap. Orang seperti dia memang kadang sulit untuk ditebak. Aku akan menghajar para malaikat. “tapi selama kau bisa memanfaatkannya dengan baik. “Ya. ”Itu akan menjadi tontonan yang paling menarik di akhirat.

12. Tanpa pikir panjang aku melompat keluar dari mobilku.” “Oh ya. Kalimat yang sangat provokatif. aku mengutipnya dari seorang penyair. aku harus…harus pulang. lebih baik berikan aku kebenaran!’.”Asalkan kau senang Kawan. kau tahu maksudku.” Tat tit tat teet toot tit tut. Diriku berada di ambang kepanikan dan terus memastikan diri bahwa aku masih . Yang pertama terbesit adalah aku tak ingin terjebak di dalam mobilku dan segera berlari mencari tempat perlindungan yang aman. Ini terlalu singkat untuk disebut gempa bumi. Waktuku telah usai. ”Kau tahu di mana kau akan menemukan aku. Aku hanya membayangkan si Hitler itu akhirnya dikalahkan oleh sosok Gandhi. ”Baiklah. aku merasakan permukaan jalan bergerak-gerak seperti ada sesuatu sedang menjalar di dalamnya. aku pergi Kawan. Sekedar informasi. Keriangan yang menyeruak sekarang terpendam di dasar bumi.” “Pilihan yang bagus.” *** Jam digital di mobilku menunjukkan pukul 21.” “Oke.” Aku mengetuk kepalan tangan kananku pada pintu biliknya dan pergi melenggang dari ruangan itu. kira-kira berapa menit waktu yang kaubutuhkan untuk keluar dari restoran ini?” “Maksudmu?” “Ya. popularitas.dari tadi aku tertarik dengan tulisanmu yang berbunyi ‘Daripada cinta.” “Ya. Suara riuh manusia berceceran memenuhi udara pengap ini. orang yang selama ini tertindas oleh egonya. uang. selalu menuntutku untuk begini-begitu dan tak pernah sama sekali mendengarkan apa yang kumau. tapi sebelumnya. ”Eeee…. aku menyukainya.” ”Maksudmu kau yang menjadi Gandhi mengalahkan bapakmu si Hitler itu?” Ia kembali membisu. kepercayaan. sebelum kau pergi. maukah kau melihat tulisanku sekali lagi. Aku tak berani mengucapkan apa-apa. tepat sekitar 10 menit dari saat aku meninggalkan toilet itu ketika dalam kegelapan malam yang beku. karena getaran tersebut hanya berlangsung kira-kira 2 detik dan disertai oleh suara berdebum yang memekakkan telinga.aku hanya menebak saja. Dia orang yang kubenci. Suara-suaranya yang tadi keluar seperti terhisap ke dalam lubang air di lantai basah. ”Bagaimana kau tahu kalau dia adalah ayahku?” Suaranya terdengar pelan. Maaf kalau aku menyinggung perasaanmu. dan memberitahuku kata-kata apa yang kausuka dari sana?” “Mmm….tidak.” “Kuanggap itu 10 menit.” ”Bukan begitu. rokok telah kubuang dan kuinjak. Aku bermaksud untuk pura-pura tidak mendengar dan menyelinap keluar. seperti suara yang timbul ketika aku menuliskan pesan singkat di handphone. dan keadilan. sekarang yang kuinginkan adalah pergi dari tempat ini dan mengucapkan salam perpisahan pada tamu tak terlihat ini. Mungkin kita akan bertemu lagi suatu saat. Kau mau pergi?” “Ya. Aku tidak bermaksud un…” ”Ah tidak apa-apa.” “Mmm…mungkin sekitar 5 menit. alasannya adalah aku mengenal seseorang yang wajahnya mirip seperti Hitler. bahkan kelakuannyapun sangat kelewatan. itu adalah kalimat pertama yang kucoret di dalam toilet ini. tapi aku terdorong untuk mengakhiri perbincangan ini dengan baik. aku tak keberatan. aku…. Dari dalam biliknya terdengar suara tombol-tombol yang ditekan.

Mahkota emas sang raja yang berkilauan. Tak butuh waktu lama bagiku untuk menerka bahwa bom telah meledakkan restoran udang bakar pedas itu. Aku pikir dengan hilangnya satu anggota keluarga. diam tak bergerak. Aku menoleh ke belakang. dan Nasi Uduk Januari 7th. Masalah yang sama.berdiri memijak tanah. Emak tidak lagi menangis. Rani malah menangis sesenggukan.“ Ah. Sejak aku mendengar cerita Sardi itu. tempat persembunyian itu pastilah aman. Sudah lewat dua puluh menit kami terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Sudah dua hari ini. Sudah terbukti. “Sudah kau bawa ke dokter?” “Belum. Dan disitulah aku menatap pemandangan indah yang bersinar di kedua bola mataku yang menciut. Aku ingin cepat-cepat pulang dan bertanya pada Emak perihal perubahan itu. Entah merenung. Aku berpikir Emak sudah tidak sayang lagi padaku. dan kuning. Tidak ada satu pun dari kami yang boleh mencicipinya. Api dalam kobaran yang besar menari-nari dengan gemulai dan tak menghiraukan suara teriak yang menghampirinya. Dan saat aku menengadahkan wajahku ke langit. pantulan sekumpulan bunga matahari yang berbaris di taman. dan rasanya aku hanya dapat membayangkan momen terakhirku di toilet itu dengan jelas.” Seketika itu nafsu makanku lenyap. Di dipan reot depan rumah kami ini. Tidak seperti biasanya. Emak tidak lagi menangis dan tidak lagi meratapi pilihanku. Pernah suatu ketika Sardi bertanya perihal perubahan itu. datang menjenguk. Mengantar barang ke Cirebon. aku seperti melihat sosok teman toilet misteriusku itu terbang lepas menuju angkasa sambil membawa kesendiriannya dalam keabadian. Lagi-lagi. Entah mengapa. Dia membawakanku semur jengkol dan nasi uduk buatan Emak. Sejak saat itu aku jadi sering melamun. Restoran itu kini terbakar. Ini hari kedua aku bebas. lagi-lagi kami bersama. Emak lebih banyak diam. wajah iblis sedang memancarkan senyum manisnya. Asap hitam mengepul menjangkau bulan yang sedang terang benderang. Aku jadi begitu rindu pada Emak. aku dan Emakku. aku sempat dua hari tidak bisa tidur. entah bersyukur. Kepergiannya tentu bukanlah ke Cirebon. “Ibu sakit. Sardi sedang tidak ada di rumah. ”Selamat jalan. Mungkin saja Emak sudah habis akal meluruskan jalanku. Hasil curianku yang terakhir lumayan besar. Tetapi yang jelas. sudah rejekinya. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. . sejak aku kembali dipenjara untuk yang ke tujuh kalinya. Semur dan nasi yang biasanya tandas itu kubiarkan saja dikerubungi lalat. Di luar dugaanku. Sebulan sebelum pembebasanku. menerangi sudut kota dengan kemegahan tak terucapkan. yang menurutku sendiri tidaklah bengkok. oranye. Rani. Hanya itu yang terus berdengung di pikiranku sekarang. Aku sendiri sebenarnya penasaran. Emakku yang penyayang tidak lagi menangisi kepergianku. adik pertamaku. adikku yang nomer dua. entah meratapi nasib. Aku ingin memastikan bahwa Emak tetap sayang padaku. Menurut Sardi. Restoran telah menyatu dalam gradasi warna merah. 2008 by bidari Untuk kesekian kalinya kami hanya diam. Seperti biasa. Nanti malam dia pulang bawa uang. Semoga kau bertemu Gandhi di sana. Aku makan lahap sekali waktu itu. Ibu memasak semur jengkol khusus untuk Abang. akan berkurang juga beban hidup. Biarlah. tetapi Emak hanya menggeleng. ‘Katakan pada Salim untuk banyak-banyak berdoa. Aku sendiri tidak tahu di mana. Sardi dengan sigap mengatur penyimpanan dan pengeluaran. Sekotak berlian itu sudah kubagi-bagi hasil penjualannya dengan Bakir. perubahan Emak dan perasaanku. Aneh. Aku ceritakan pada Rani tentang Sardi. Bang. Semur Jengkol. Ibu menitip pesan untuk Abang. asal muasal suara keras tersebut.” Demi Emak. dia tidak dipenjara.’ Ibu rindu pada Abang. Aku berikan bagianku pada Sardi. Aku hanya terpana. Tetapi ternyata belum cukup. Aku berpikir bahwa ini adalah bukti bahwa Emak masih sayang padaku.

Meminta kelancaran. Dia tidak hanya mencuri. kebisuanku semakin menjadi. Pri. aku selalu berdoa. Aku terharu.“Sudahlah. ”Ya Allah semoga hari ini aku dapat tangkapan besar. Dia bertanya tentang perubahanku yang drastis.” “Kenapa? Sebentar lagi kau kan bebas. Aku seperti kehilangan teman berbagi. Baru aku tahu. tetapi juga mbegal dan membunuh. Sebelum melakukan aksiku. Seingatku. Yah. Aku sedih sekali. Sebelum pulang.” “Bukan masalah itu. menggangguk saja. tidur gratis. kau tenang saja. bayar sekolahnya Sardi dan Rani dan Emakku tidak sakit. Aku kan selalu berdoa setiap kali melancarkan aksi.” Sejak percakapan itu. “Semoga kali ini tidak gagal. Biar sesekali bisa merasakan makan di restoran. Bagus lah. itu basi. tetapi yang paling lama. Ngirit kok terus. aku tidak lupa berdoa. tapi…memangnya boleh berdoa minta yang muluk-muluk gitu?“ “Muluk-muluk bagaimana? Minta kaya? Ya bolehlah. Laki-laki itu berusaha memperkosa istrinya. . aku akan berdoa minta kaya kalau begitu. Rani sangat baik.”. dan berbagai variasi lain sesuai kebutuhan. Dia begitu percaya padaku dan tidak pernah sekalipun membantahku. itu sudah bagus. Jangan lupa kau belikan obat untuk Emak. Aku merasa dia orang yang baik dan bisa dipercaya.”. Lim.” “Hahaha…ada-ada saja kau ini. Lha apa kau pikir aku mencuri untuk beli mobil? Ngimpi!!! Itu mah pejabat!!!“ “Hahaha…ada-ada saja kau. Mengapa Emak menyuruhku banyak-banyak berdoa. Apa kau pikir aku ini kaya. Radang paru-paru yang menggerogoti tubuhnya sudah tidak mau toleran.“ “Ooo. memperhatikan keadaanku. Aku tidak mengerti apa maksud Emak. ’Banyak-banyaklah berdoa’. Sebulan lagi aku datang menjemput Abang.”. minum. Aku terus memikirkan katakata Emak. aku kehilangan Supri. “Abang baik-baiklah. Aku merasa baik-baik saja hidup di penjara ini. Ingat pesan Emak ya. kupeluk dia dan kucium keningnya. hah?” “Memangnya kau tidak berdoa untuk minta kaya?” “Hahaha…ngarang!!! Aku ini orang biasa.” “Lha. Supri.“ “Bagus apanya? Aku tidak mengerti harus berdoa dengan model apa lagi. Dia meninggal. teman satu sel. Hari-hariku kuisi dengan melamun. “Aku sedang bingung. Dia membunuh laki-laki itu karena alasan balas dendam. Dia memintaku banyak-banyak berdoa.“ “Doa yang lain bagaimana maksudmu? Doa supaya cepat bebas dari penjara? Ah. Pri. Nanti malam Sardi akan pulang membawa uang untuk kalian. laki-laki itu membunuh istrinya. “Ya Tuhan Emakku sakit. aku butuh uang.“ “Mungkin doa yang lain. Makan. aku dan Supri menjadi akrab. bahwa keadaan Supri jauh lebih parah dariku. Seminggu sebelum hari bebasku. dia terlihat lebih menyenangkan.“ Sepeninggal Rani. trus mau bagaimana? Sudah mencuri saja masih tetap melarat. korban terakhirnya dia bunuh dengan terencana.” Rani. Hukumannya kali ini bukan yang pertama. anggap saja pengiritan. Aku bingung memikirkan nasehat Emakku. Oke lah.“ “Ooo…gitu ya. Impas.“ “Eh. Bangsat seperti itu memang layak menerimanya. Kami sering ngobrol masalah ini itu. Katanya. Apalagi sejak dia belajar sholat tiga bulan yang lalu. Asal bisa makan. Karena tidak berhasil. adikku yang bersih itu. Aku meminta kepada Tuhan agar melancarkan usahaku.

buku itu adalah warisan Supri untukku. Supri menuliskan semua keluh kesah. berdoa itu penting. ternyata perasa. Buku catatan itu jauh lebih menarik. Mana Emak tahu tentang puisi. Lanjutan dari obrolan yang terputus. Seperti biasanya. Supri yang pembunuh. Seperti memohon restu darinya. Lim. Aku takjub. Dan kamu tidak dipenjara lagi. begitu kata ustad Jika memang masih Kau ijinkan aku hidup Berilah aku kebebasan Jangan Kau tipu aku dengan uang Dan jangan Kau tipu aku dengan foya Tolonglah… Sekali ini saja Beri aku ini hidup yang berarti Cukup sekali’ Aku meminta ijin kepada kepala untuk memiliki buku itu. dan pikirannya. Di sana. Fotofoto itu tidak menarik perhatianku. Di buku itu kujumpai puisi di sana sini. Buatlah hidupnya tenang. Emak dan tenang. Karena memang aku tidak kenal mereka. Kau orang baik. Sepertinya.” .” Aku mencoba memahami hubungan antara doa. Kuceritakan pada Emak semua hal yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini. aku membaca buku itu hingga selesai. Lim. Kulipat bagian-bagian yang menarik perhatianku dan kubaca lagi dua – tiga kali. ’Jika aku ini tidak lebih dari setumpuk kotoran Jika aku ini tidak lebih dari seonggok daging Jika aku ini tidak lebih dari pengacau Kenapa tidak Kau matikan saja aku sekarang Bukankah Kau Maha Segala Apalah sulitnya mematikan aku Tinggal kau tiup saja Kun faya kun.Tidak banyak barang peninggalan Supri. Pantas kalau Emakmu begitu sayang padamu. Selama seminggu menunggu sisa waktuku. Kau memang harus banyak-banyak berdoa. Lalu kutempelkan di dahiku. Sardi dan Rani lulus sekolah. apa hubungan semua itu? Emak tahu?” “Lim. kucium tangan kanannya bolak-balik. Emak minta agar hidup kita tenang. hari pertama bebas aku langsung menemui Emak. Aku membaca buku itu layaknya membaca kehidupan. Satu yang menarik perhatianku adalah ratapannya pada Tuhan. Emakmu ini tidak pernah sekolah. Yang Emak tahu. Lim.“ “Apa Emak berdoa setiap hari? Emak meminta apa?” “Yang biasa saja. “Mak. hanya sebuah buku catatan kusam dan beberapa lembar foto usang. Semuanya nampak jelas dan nyata. ‘Benar kata Emakmu. perasaan. Aku mencoba mengerti kata-kata terakhir Supri waktu itu. Entah mengapa aku merasa wajib menyimpan buku itu. Demi menemukan jawaban itu.

Aku menyerah. Permintaan Emak memang sangat sederhana. tetapi agar aku bisa melihat senyum Emakku. Sardi masih harus bersepeda ke sana ke mari mengantar koran dan Rani masih harus mencuci pakaian tetangga. Kamu tahu kan tempatnya? Itu di loteng! Hampir tiap hari aku naik dan berdiam diri di sudut atas kamar itu. Senang sekali mendengar suara di bawah sana. Lamat-lamat terdengar suara adzan dari musholla di gang sebelah.“ Ah. Kumatikan lampu dan gelap seketika. Samar terdengar bagai menembus dinding kamarku. Demi melihat senyum Emakku. Lim. Enak kan. Emak sudah senang kok.“ “Ah. Kutarik napas sejenak. Seperti menguji kepekaan telingaku. Sudah tenang. *** Mula-mula kusingkirkan segala alat tulis dan kupastikan meja belajar mampu menahan berat badanku saat aku menginjaknya. Sementara tungkai kaki kiriku terayun-ayun mengambil ancang-ancang. Sedang mengerjakan PR.“Oh. Kalo kaya. saat bisikan itu dibarengi dengan bunyi berderit-derit. lagi-lagi aku jadi teringat Supri. kita boleh berdoa minta jadi orang kaya. makan semur jengkol dan nasi uduk lebih sering. . lagi-lagi kata tenang. Tidak usah neko-neko.“ “Lim. Namun aku yakin tak kan terdengar sampai di seberang sana. Emak malah takut kena yang aneh-aneh. Kutindih buku tulis dengan pena. Pagi-pagi buta Emakku masih harus bangun untuk membuat gorengan. aku mengira mereka sedang bercanda atau tengah bertengkar dan tidak mau diketahui orang lain. Jari-jarinya saling merekat dan menekuk bagai mencengkeram. Kenapa Emak tidak minta jadi orang kaya? Kata Supri. mengganggu konsentrasiku belajar. Dadaku bergemuruh bagai amuk badai menghancurkan segala pertahanan diri. Kemudian secara perlahan telapak kaki kananku menginjak gagang pintu sehingga terdorong ke bawah. Pintu tidak terbuka lantaran sudah kukunci. Tetapi aku menyadari. Tak satu pun soal bisa kujawab. Kadang mereka tidak tahu waktu. Sekali-sekali gitu. Lalu kuangkat kaki kiri menapaki pinggir meja dan kaki kanan setelahnya untuk menjaga keseimbangan. Ah. Walau begitu aku tetap harus hati-hati. Tetapi setidaknya aku berusaha untuk tidak kembali ke penjara. Anak-anak yang tadi main gundu. Emak. 2008 by Emil Akbar Aku selalu berada di atas kamar di bawah atap ketika malam datang. Aku belum tidur. Dulu. Doa Emak dikabulkan saja. Gayaku mirip dengan pemanjat tebing. Sebab jantungku seperti berhenti berdetak saking cepatnya memacu. Ototku yang tidak berotot menjadi kejang karena tertarik. Kakiku yang menginjak udara itu melayang ke atas dan hinggap di balok kosen paling bawah. mengganti celana dengan sarung. Sebisa mungkin tanpa bunyi. akan kujelaskan padamu bagaimana caranya aku bisa naik ke atas sana. Kan biar bisa makan di restoran. Apalagi bagi Tuhan yang Maha Kuasa. Kedua tanganku menggenggam kosen pintu yang berbentuk kotak-kotak dan tak berkaca. Aku berdiri tegap serupa hantu yang ingin mengusik. meski kecil. Lim? Biar bisa gegayaan seperti orang-orang? Tidak usah. Lampu di kamarku masih menyala. mulai berlari pulang ke rumah masing-masing. Kawan.” “Buat apa. kita tidak usah repot cari uang untuk bayar sekolah dan makan tiap hari. dan nasi uduk lebih sering. Membuat suara serangga malam di luar rumah tidak terdengar. Di Atas Kamar di Bawah Atap Desember 12th. tapi tetap saja gerakanku menimbulkan suara. Seperti malam ini. Emak dan tenang. Pastilah mudah. makan semur jengkol. Mungkin memang sudah waktunya untukku belajar sholat seperti dia. Namun sekarang aku tahu apa yang mereka lakukan. Aku masih belum begitu memahami hubungan doa. Menggelitik gendang telingaku. Bukan untuk merubah wajahku. Wajahnya sehabis wudhu terlihat lebih tenang. Malam belumlah terlalu larut. sudah lah. Telingaku bisa langsung setajam kuping kelinci serupa antena mendapatkan sinyal yang diinginkan. Aku dan Emak masih belum beranjak dari dipan. jernih tanpa gangguan. bahwa keinginan yang sederhana tidaklah sederhana pada pelaksanaannya. Lalu aku? Apa yang kulakukan? Tidak banyak. mereka mengeluarkan suara berbisik-bisik. Mak.

dan itu sangat mengganggu. Juga melekat di bajuku dan susah sekali menghilangkannya seperti noda yang membandel. Saat sarang laba-laba itu membalut wajahku. Kuberanikan diri karena jaraknya dekat. Sedang direnovasi menjadi rumah batu. Asal kamu mau menyimak dengan baik pengalamanku yang pahit. Dulu. Tangan kananku menggapai permukaan tembok yang kasar. dia punya mainan baru. Kini aku baru tahu kalau itu adalah proses seng kembali ke ukuran semula setelah siang tadi memuai karena dipanggang panasnya matahari. Ada pipa kabel listrik tak sengaja kusentuh. Dulu. Aku berjalan menyamping sambil tetap duduk mendekap lutut dengan kepala tertunduk. Di bawah sana sendu yang temaram. Sesekali memang terdengar gemeretak seng seperti ada orang yang berjalan di atasnya. membentuk kerangka atap. beberapa ruangan memang belum mempunyai plafon. termasuk kamarku dan kamar Ibu. Kukoyak sarang labalaba itu menjadi helai-helai yang berjatuhan. Tapi aku tak peduli. Besok mungkin Ibu akan marah dan mengingatkanku lagi. Lubang hidungku kemasukan debu. Ibu tidak mencariku. seperti batang pohon yang dijadikan jembatan untuk meniti. Setelah aku sampai di tempat bertemunya atap seng dengan tembok. Biasanya mereka beranggapan bahwa ada tikus berkeliaran di atas sini. Setelah jeda sesaat aku kembali berdiri. Sarang laba-laba mulai menghadang ketika aku menerobos paksa. Kecuali ruang tamu. Kuhela napas berkali-kali mengeluarkannya. tidak terlalu terang tapi cukup membuat benda-benda yang diterpa cahayanya memiliki bayang-bayang. kami bertetangga sebelah rumah. aku takut sebab mengira ada pencuri yang mau masuk rumah atau ada setan di luar sana ingin mengambilku. Sekarang aku berada di atas kamar. Sekarang aku telah tiba di tujuan. Tapi aku tetap mau pulang. Aku berjalan merangkak serupa hewan berkaki empat. Jangan sampai aku terpeleset dan mengenai lantai loteng yang rapuh dan mudah pecah itu. Hanya lampu di kamar ibu yang menyala di dalam rumah. membuatku gerah sehingga keringat membasahi bajuku. menimbulkan gelap yang terlihat. *** Malam itu aku pulang larut malam. Anehnya. Biasanya Ibu mematikan hubungan listrik tiap kali aku membersihkan loteng ini yang dipenuhi sarang laba-laba. Akhirnya aku pulang sendiri. mirip tripleks. Sering begitu sejak pertama kali aku melihat adegan ini. Aku bakal dibangunkan dan orangtuanya akan bilang pada Ibuku. Kawan. Saat aku masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Mungkin sebentar lagi hujan.Badanku mulai merayap seperti cicak raksasa menggerayangi dinding di keremangan malam. Bahkan banyak yang tersangkut di sela-sela jari. Ibarat Kabut tebal menghalangi melihat jalan di depan. Seperti aku takut tercebur ke dalam sungai karena tidak bisa berenang. Rumah ini beratap seng. Lupa waktu saking asyiknya bermain di rumah teman. Di salah satu sudut atas kamar inilah aku termangu memandang perbuatan Ibu dan Bapak. Di bawahku adalah langit-langit ruang tamu. Aku berlari dan berhenti setelah sampai di kolong rumah. kusapu cepat karena lengket dan terasa gatal seperti kalau aku kegelian. penopang atap rumah. Pondasinya telah dibangun. Tempat tinggalku masih rumah panggung yang hampir roboh waktu itu. udara agak panas. khawatir aku kesetrum. Sering tanpa bisa kucegah. Suara napas memburu di bawah sana melecut semangatku untuk segera mendekat. Aku melangkah dengan cara merunduk menuju balok yang rebah. video game. Ibu selalu mengingatkan agar jangan pernah memegang pipa tersebut. Aku ngeri membayangkan bila itu terjadi. terbuat dari adonan kertas basah yang dicetak. serpihan tembok berjatuhan seperti rintik hujan menyentuh bebatuan. aku pelan-pelan melongokkan kepala dan menariknya kembali jika terlalu menjulur ke depan. Aku pamit saat temanku itu sudah mengantuk. Tadi pagi Ibu menyuruhku membersihkannya dengan sapu lidi tapi tidak kulaksanakan karena asyik bermain di rumah teman. terletak di tengah rumah yang merupakan pusat dari balok yang bertebaran. Belum pernah aku bermalam di rumah orang tanpa Ibu. . pagi-pagi benar baru pulang. aku jongkok membungkuk mendekap lutut. Agak berisik. Yang aku takutkan anjing mulai menggonggong. Aku meringkuk sebentar di balik balok paling besar. yang tidak mengenakkan pandangan kala mendongak. jadi aku aman. Akan kuceritakan. supaya tidak terantuk atap seng yang akan menimbulkan bunyi gaduh. Ada juga balok yang melintang dan membujur. Mataku tak berkedip dan menatap nanar seiring dengan debar yang bergenderang seperti ada gendang ditabuh di dadaku. yang tak semestinya kualami. Mereka menyarankan sebaiknya aku menginap saja. Kuhirup bau pengap. Lantaran bayanganku terlihat memanjang. Kukumpulkan dan kuremas kemudian kujadikan bola-bola kecil lalu membuangnya begitu saja.

Aku menuruni tangga dengan perasaan hancur. Aku disuruh cuci kaki sebelum masuk kamarnya. tempat aku memasukkan tangan untuk membuka palang pintu belakang. Sementara orangtuaku belum pulang dari pasar. Dia melarangku bilang-bilang! *** “Awas kamu Anto!” . Istirahat sebentar di serambi. Kugigit satu persatu jari-jari tanganku. Aku merasa basah. Perasaanku belum sembuh waktu itu. Sakit. bergemelutuk bagai menahan gigil. mencabut rasa kantuk. Awalnya aku menyukainya karena baik padaku dan sering mengajakku jalanjalan mampir ke rumah temannya. *** Lamunanku buyar ketika kudengar hujan turun memukul-mukul atap rumah. nyenyak sekali. perih. Padahal dia tahu ada orang yang sedang mandi. mengendap-ngendap menaiki tangga kayu. Aku kembali ke rumah tetanggaku. gigiku saling beradu. Di mulutnya terkulum sebatang rokok yang membara dan asapnya mengepul ke manamana. Berteriak seperti lolongan panjang tapi tertahan. Dia menarikku berlutut di hadapannya. belum cukup umur bagi seorang bocah yang baru saja pandai membaca. berharap bisa menghilangkan nyeri. Matanya merah. Bapak lain lagi. Adegan itu masih terbayang. Saat aku mandi tanpa menutup rapat pintu kamar mandi karena rusak. hanya kutahan dengan ember berisi pakaian kotor yang terendam. Kakak temanku berbaring di sampingku tapi juga tidak tidur. dan dia masuk ke kamar mandi tanpa keraguan sedikit pun. Di luar sana kudengar Ibu berteriak memanggilku pulang dan dibalas oleh ibu temanku bahwa aku sudah tidur. Temanku sudah tidur di kamar orangtuanya. Aku menggigit kain bantal. Mereka hanya mengira aku tidak dibukain pintu. Peluhnya masih tertinggal di badanku. jadi kuceritakan saja padamu. Aku takut sekali. Menyingkirkan dengan kaki. Tapi sore itu mengubah segalanya. Aku berbaring gelisah. hampir lepas dari engselnya. Ketika dia melenguh yang paling aku ingat adalah. Begitulah. Aku ingin marah entah kepada siapa. Aku melihat situasi dalam rumah melalui lubang di papan. Kurasakan napasnya memburu. ember berisi cucian menjauh darinya. Tubuhku bergetar menahan debar. Terkadang mengejan seperti orang buang air. Mulutku terkatup rapat. Ibu temanku menyuruh kakak lelakinya yang sudah SMA mengajakku masuk. Kawan. Meraung serupa singa yang terluka. Mereka seperti bayi raksasa. Timba di tanganku jatuh berdentang menimbulkan gaung yang lama. Mendengkur. Leherku terasa kering seperti dihisap. Ini rahasiaku. Dia melucuti baju dan melorotkan celanaku. Mengajariku merokok di pangkal paha. Aku hanya mematung. Pamanku itu numpang tinggal sebagai tamu hanya beberapa hari sebelum pergi meninggalkan benci di hatiku. Kembali berlari membawa hatiku yang kalut. Kemudian pamanku itu kencing seolah-olah dia menganggapku tidak ada di sampingnya yang tengah telanjang bulat. menunduk hampir menangis. Semuanya sudah tidur kecuali ibu dan kakak temanku. merangkulku bagai memapah orang yang terjatuh dan lututnya lecet. Beberapa kali kupejamkan mata tetapi aku tidak bisa tidur. Andaikan aku di bawah ranjang. Satu-satu kemudian menderas. Bahkan tak jarang suaranya hilang berganti desah bagai kehilangan napas. Padahal. mungkin aku dapat menyimak dengan jelas suara mereka yang mengerang disela bunyi ranjang yang bergoyang. Setelah itu dia mengancamku. tapi tetap saja menyisakan cela untuk melongok ke dalam. Sementara aku tergugu. Adik lelaki bapak yang masih bujangan. Dia kenakan kembali pakaianku sebelum berbalik membelakangiku. mataku membelalak dan berair yang bermuara di pelupuk. Mengguyur kelamnya malam. Dia membalikkan badanku lalu menindihnya. aku sedang dibekuk tak berdaya. sampai kakak temanku itu habis tenaga. Dan apa yang aku saksikan. Merasuk ke telingaku menimbulkan kesan yang dalam. Apakah lelaki itu tidak mendengar gemericik air yang bersimbah-simbah? Tentu aku kaget dan hanya bisa terhenyak serta gugup. tangannya meraba-raba tubuhku dan menyergapku dari belakang. Tapi sayup masih bisa kudengar rintihan Ibu yang seperti disakiti. Sejak itu aku tahu masa kecilku telah hilang.Aku lewat belakang. yang mungkin tidak ada obatnya. Aku tak mampu menyimpan rahasia ini. Mataku membelalak tak berkedip mengamati tingkah laku orangtuaku. Lalu dia menyandarkan punggungnya di pintu kamar mandi hingga tertutup rapat. Akan kusimpan baik-baik. Aku masih tetap duduk memeluk lutut dan membeku. tapi aku harus merasakan lagi luka. Aku pernah mendengar suara yang sama pada lelaki yang berbeda. tenggorokanku tersumbat. Namun itu hanyalah awal. Karena tak lama.

Terpaksa aku harus terjun. Sejak itu aku ingin beli parfum. Kasur busa itu menggeliat seperti tidak mau ditimpa. kutepis dengan cepat seperti memukul kulit. Kawan. Biasanya aku tidak pernah mengunci kamar di malam hari. Aku menempelkan pantatku di permukaan tembok sambil menjulurkan kedua kakiku ke bawah. asalkan wangi. Entah di mana mata Ibu hingga bisa melihatku. tadi aku berada di atas sana. Kamu sudah kelas satu SMP. Buru-buru aku balik ke tempat tidur. kita langsung ke rumah Pak Mantri. parfumnya—entah merek apa—tercium. Aku baru tersadar ketika wewangian itu dikalahkan oleh bau badanku sendiri. “Baiklah. Baru kusadari nyamuk berdengung menyerbu telingaku. Pikirku. Naluriku tersentak. Laki-laki jetset penganut kapitalisme. Menolak badanku seperti mendorong ke atas. Lega tapi resah tak mau pergi dari hatiku. Aku juga heran. Kalau bisa aku ingin menggulung tubuhku sekecil mungkin. Ketika bangun pagi aku merasa mataku sembab dan agak bengkak. 2008 by andika destika khagen Entah kenapa aku bertemu dengan Satria tadi pagi. Kuatur napas biar berirama kembali. hari pertama kamu libur nanti. kok bisa sampai lupa! Sudah waktunya kamu disunat!” Aku menganggap itu adalah hukuman buatku dan tanpa kusadari di hadapanku bukan lagi Ibu melainkan Bapak yang sedang berkacak pinggang. Belum sempat aku menarik napas ketika keseimbanganku goyah. Terima kasih! Doamu terkabul. Barangkali dendam gara-gara rumahnya kuberantas. Januari. Perlahan tapi pasti salah satu kakiku menjangkau gagang pintu. Astaga. diteguk dan diletakkan kembali. Dengan langkah tergesa-gesa aku berbalik ke jalur yang menuju kamarku. hanya menundukkan kepala karena merasa bersalah.Juni 2008 Hipotesis Sebuah Parfum September 25th. Memeluk bantal erat-erat. Jika Ibu tahu aku mengunci kamar berarti ia tidak salah lihat. Ibu sudah menghadang dan bertanya. Terdengar gemericik air di kamar mandi. Kedua tanganku silih berganti memegang balok di atasku. bukan untuk menggaet perempuan dan berbeda dengan teman-teman aktivis lainnya. Saat menegakkan badan sedikit kepalaku tertumbuk balok. Aku menghirup udara banyak-banyak dan menghela habis-habisan. Kurasa ada seekor laba-laba kecil hinggap di leherku. Untungnya bukan seng sehingga suaranya teredam meski sakitnya serupa disengat lebah. Merek apa saja. Tubuhku terhempas dalam. tulang belakang melengkung. aku ketahuan. Gerakanku tidak terkontrol saking paniknya. Aku merinding menahan kencing. menjaga keseimbangan. hendak turun. Sangat wangi. Kuacak-acak rambutku. Keluar dari kamar. tanpa jejak. Yang jelas mereka tetap melanjutkan. Dari jarak dua meter tempat aku duduk. debu berhamburan bagai ketombe yang berjatuhan. Di luar. Suara gelas terisi air. badan ini mesti diubah komposisi wewangiannya. Doakan aku. “Kapan kamu libur?” Aku tidak menjawab. Sedikit kupejamkan mata. Bukan karena ketampanan laki-laki bangsawan itu. . Kunikmati wewangian itu agak lama. Berharap dan berjanji dalam hati akan membereskan semuanya tanpa bekas. kenapa kali ini aku terkesima. membawa perasaan cemas. Ya. Posisiku seperti udang.Kawan. Pintu kamar Ibu terbuka. Aku menunggu supaya tidak dihakimi malam ini. Aku gerah sekali. mengganti pakaian. lebih karena bau parfumnya. Aku cuma ingin menghargai diri sendiri. sementara Ibu bosan menunggu. melompat ke arah kasur busa yang tak jauh dari situ. Telentang membuat perutku kembang-kempis. hujan makin turun deras. Dengan sigap aku membalikkan badan menghadap tembok dan tepat saat itu kakiku yang satu lagi bertumpu pada pinggir meja belajar. Aku dihantui bayang-bayang akan apa yang bakal terjadi besok? Barangkali orangtuaku terlalu lelah buat membentakku malam ini atau mereka cuma menasehatiku untuk tidak mengulanginya lagi? Mungkin juga hal ini tabu untuk dibicarakan dan mereka sedang berunding? Kali ini aku tidak mendengar apa-apa selain gemuruh hujan. Depok. tapi aku mesti beranjak dari persembunyianku ini sebelum mereka melabrak kamarku untuk memastikan aku tertidur lelap. Lekas aku beringsut dari pembaringan.

Wangi atau tidak hanya sebuah perumpamaan dan bentukan sosial dari keadaan. “Tak apalah menyisihkan sedikit uang untuk menghargai diri sendiri. Biayanya lebih besar daripada membeli parfum buatan Jerman atau Amerika. Inikah alasan orang-orang pakai parfum? Parfum. Dari ujung ke ujung. dan senyumku. . Untuk itulah. wajar adanya dan kami tak pernah mempermasalahkannya. mengeluarkan pujiannya. Siapa lagi yang akan memujiku? Aku rindu pujian sebanyak mugkin untuk meyakinkan pada dunia bahwa wangi itu penting. termasuk juga aku. Pertama kalinya. dunia memang butuh aroma mengganti bau amis darah yang tiap hari keluar dari perut ibu pertiwi.” Setiap senyum kuanggap kasiat parfum. Tak ada rasanya orang yang berani duduk di dekat pasangannya dalam keadaan amis. Ia tentu pakai parfum yang harum dengan harga yang sama dengan uang kuliahku dua semester. Kus. Atau mungkin juga dibeli pada paranormal. Bau parfum ini sama halnya dengan sedikit demokrasi yang dirindukan warga Pakistan pasca tertembaknya Benazhir Bhutto. oh. Parfum hanya pantas dimiliki bagi mereka yang berpasangan. “Senyummu indah Kus. Kupilih aroma terapi. Atau setidaknya lagi teman-teman diskusi. Parfum ini harus dinikmati semua orang—minimal warga kampus ini. Pikiranku sedikit keliru. Bau amis ketiak dan keringat menjadi satu membentuk aroma yang tidak sedap. Kami tak pernah menghiraukannya. dan Rini. Kelebihannya mungkin terletak pada wangi natural yang ditawarkan. Aroma terapi menyebar ke seluruh penjuru sampai sudut yang tak terhingga. memang ada yang berbeda dari parfum.” Tak mahal harga untuk sebuah parfum. Diolah sendiri. Tidak semua orang yang bisa membeli parfum pada paranormal. kasiatnya lebih manjur daripada yang dijual dipasaran. “Bau keringatmu berbeda hari ini. Pelajaran itu kudapat dari Satria. Toh. “Aku telah menghargai diri sendiri di antara orang-orang yang selalu memikirkan orang lain. Parfum harga tujuh ribu saja rasanya sudah cukup untuk mahasiswa yang tak pernah punya anggaran membeli parfum. *** Inilah langkah terindah yang pernah kuayunkan. Aku pikir. Bukankah tidak ada orang yang suka dengan bau amis? Tak apalah. Bau keringat yang diberikan Tuhan harus dilawan dengan aroma terapi. Di antara puluhan yang berjejer di rak swalayan. Lima kali semprot. orang yang kuhadapi tiap hari hanya itu-itu saja: Sardi. Tujuh ribu rupiah.” Oh. Parfum Walikota tentu tak bisa aku beli dengan alat tukar yang hanya berjumlah tujuh lembar uang kertas bergambar Kapiten Pattimura. setiap yang wangi adalah parfum).” Tiga orang yang berpapasan. Setidaknya. Dibeli di Jerman atau Amerika. wajah. Rinto. Aku merasa beruntung bertemu Satria tadi pagi. Aku bangga membuat dunia menjadi wangi. mereka tidak berkata. Dari tatal ke tatal. Ia jadi pahlawan sekarang. Parfum di sana tentu lebih harum daripada yang dijual di swalayanswalayan yang hanya untuk kaum konsumerisme kelas menengah ke bawah. Tapi sayang. cuma aroma terapi yang membuat hidungku merasa nyaman. kenapa tidak semua orang sadar akan wewangian? Wajar saja Bidin jadi Walikota. bau amis berganti menjadi aroma terapi. Biasanya. Satria tak lagi jadi bahan diskusi kami. bahkan bau keringat pun tak ada lagi orang yang menghargainya! Tapi. Katanya. sabun mandi saja sudah terasa cukup membasuh badan lusuh ini. rasanya terasa cukup membuatku lebih menikmati hari. Parfum ini telah menular ke rambut. Rusni. Rasanya. Pikirku. “Rambutmu rapi. tak ada yang bisa membedakannya. Menarik lawan jenis dengan parfum memang bukan hal yang biasa lagi. Itu yang baru saja kukenali. Pasar selalu memberikan kemudahan bagi penganut konsumerisme. dari ketiak sampai buah baju.Ini pertama kali aku punya keinginan beli parfum. parfum bukan menjadi kebutuhan pokok.” Auraku sedikit bertambah. Mereka biasanya menawarkan parfum dengan aroma yang berbeda. aku baru saja tersentak. Senyumku lebih mengembang. Bau badan mereka. Parfum ini membuat orang-orang menyapaku. Ah. Itulah bau terindah yang selalu kami hirup. Mereka mesti diberi penyadaran bahwa parfum itu penting. parfum. harga sebuah parfum (aku belum mampu membedakan antara parfum dengan splash cologne. Kesadaran akan wangi benar-benar harus ditanamkan.

Untuk beli parfum saja aku harus rela mengorbankan makan siang. Kus. perlu diragukan otak yang sedang dibawanya. Kus. Isinya masih banyak. Sama halnya dengan kenikmatan orang-orang pada umumnya akan tampilan bentuk. jelas nyata. Apalagi melihat senyum Suci. terpakai di badan. Apakah mereka semua sudah gila? Hipotesis ini begitu membingungkan. rambut yang tidak berminyak kelihatan rapi. Tidak sempat pula kiranya untuk beli celana baru. tapi tidak dengan sepatu. Semakin menakjubkan. Sepertinya tubuhku tak lagi mutlak menjadi milik pribadi. Aku teringat Satria. parfum ini ternyata membuat dunia menjadi absurd. Lagi-lagi parfum ini mempesona. berlawanan dilihat. Tentu ia tidak sedang bercanda. tak ada yang sadar bahwa yang dilihat tidak seperti yang sedang aku pakai! Aku teringat akan kemunculan parfum ini ketika keluar dari toko. Bagus dan buruk tak jelas lagi mana batasnya. Kapan kamu beli?” Apalagi ini? Hey. astaga. seorang gadis berkepala batu hari ini mencair. Sepatu lusuh saja terlihat baru. Nalarku berjalan. Kus. dua bulan baru parfum itu akan habis digunakan. Wewangian ini begitu sempurna. Kenapa tidak ada yang bisa membedakan antara dua hal yang jelas berbeda? Sepatu ini jelas sudah lusuh. Inilah sebenarnya yang diharapkan dari parfum: sebuah kamuflase akan tampilan bentuk. Orang yang bilang sepatu yang aku pakai baru. Kelewatan. Hidung-hidung manusia ditusuk seperti kerbau. Semua benda yang menggantung di leher. setelah berpapasan dengan Rudi. yang baru saja menyapa. Tak ada lagi keburukan yang akan menganga karena semuanya ditutupi dengan bau parfum. Untuk pertama kalinya Suci membagi senyumnya kepada orang yang tak pantas menerima senyuman. Setiap senyum kuanggap kasiat parfum. bahkan tidak bisa membedakan celana yang baru dan usang. “Sepatumu bagus. ”Kau begitu berbeda hari ini. Kodrat dan kebutuhan mesti diletakkan pada tempat yang semestinya. Walau belum tentu nyata. Aku menikmatinya. meskipun ia seorang yang harusnya bisa dipercaya. Menghabiskan uang dengan hal. tak pernah terpikirkan untuk menggunakannya. tapi kebutuhan. Bau badan bukan kodrat. senyum. “Celanamu baru.” . Gawatnya. Pelbagai keanehan muncul.Diskusi dengan bau badan amis tak lagi menarik bagiku. bila dibandingkan dengan kaum duafa. dan diletakkan di dekat kaki. bau yang busuk tetap akan tercium. adalah barang konsumtif dengan harga tak terkira—mungkin juga tak terjangkau. Aku ngeri membayangkan Walikota yang menggunakan parfum yang dibeli dari Jerman dan Amerika. Hidung-hidung itu punya kesimpulan yang sama: parfum di badanku begitu menggoda dengan aroma terapi. Hipotesis ini benar-benar membingungkan. Bagaimana dengan orang yang tak pakai parfum? Aku hanya mampu mengatakan bahwa parfum itu penting. Ustadz Hamzah juga bilang sepatuku baru. Aku mulai curiga pada parfum ini. Jika keadaannya setelah ia pakai parfum. Tapi. jika aku pakai. setidaknya untuk mengurangi bau amis. bagaimana orang melihat baju. Betapa kasiat ini tak pernah diduga sebelumnya! Keterkejutanku berikutnya terus bertambah. dan sepatunya? Tentu jauh lebih bagus dari yang sekarang dikenakannya. semua orang bilang sepatuku baru. Semua yang lusuh kelihatan baru. ini jelas tidak benar. *** Lima semprot parfum beraroma terapi ini membuatku tak habis pikir. Luar biasa. dan senyum yang kusam menjadi mengembang. Apalagi yang kuharapkan dari parfum? Semuanya terlihat begitu sempurna. Tapi apakah bau amis mesti ditutupi? Bukankah ada pepatah mengatakan ”Sampai manapun. Baru dan usang tak ada yang bisa membedakan. Celanamu beli di mana?” Aku tersentak dan harus terima dengan perubahan yang serba tidak jelas ini. Bahkan Suci. Tiga lobang menganga di sisi kiri dan di depan.” Apakah parfum ini menular juga ke celanaku? Roni. Semua yang ada. Cuma lima kali semprot di setiap sisi yang dirasa perlu. Bagaimana dengan sepatu baru? Tentu orang akan memandang new baru atau double baru. Kenapa Rudi bilang baru? Sedikit pun tidak ada tanda-tanda sepatu ini baru. Seharusnya aku bangga dengan keadaan ini. Benar-benar tidak bisa diterima. Pantaslah banyak orang yang membeli parfum sampai ke luar negeri. Parfum ini ternyata jauh lebih membingungkan. apalagi berdusta.

tidak bisa diganti dengan ketidakbenaran yang diciptakan oleh parfum ini. “Kau tetap bau keringat. Di buang sejauh-jauhnya sampai tidak terlihat oleh Tuhan sekalipun. Setidaknya. Rinto melihatku di pasar. Tunggu. Ibuku tersenyum kepadaku. bahkan tubuhku sudah diduplikasi oleh parfum ini. Suara-suara yang belum bisa kumengerti kata-katanya. Kalau bisa. Tampak ibuku berurai air mata. Di lain hal. S-E-M-A-R-A-N-G. Kebutuhan mengatakan bahwa tak perlu ada parfum toh tujuannya mengaburkan makna yang sebenarnya. Sampai sekarang. parfum itu mesti dibuang. Apakah aku menangis ketika itu? Mungkin. Tangisan siapa? Aku atau ibuku? Aku sudah berhenti menangis. Tujuh lembar uang yang bergambar Kapiten Pattimura. Suara tangan ayahku yang menyentuh pipi ibuku. Aku berada di dalam suatu kendaraan panjang dengan kursi-kursi ganda di setiap sisinya. yang seharusnya digunakan untuk makan siang. sejak lima semprotan aroma terapi tadi pagi.” Parfum ini harus segera dibumi hanguskan. Atau mungkin sedang berbaring. . aku menangis. juga di sini. “Yang berubah pada dirimu adalah. Kus?” Ini keterlaluan. dan senyummu begitu indah. Kus. “Bau keringatmu berbeda hari ini. Atau mungkin tiga tahun. Aku tak bisa menjelaskannnya. Hari-hariku dihabiskan hanya di kampus ini. Tak seorang pun yang tahu aku pakai parfum. Terdengar suara-suara bernada tinggi. Sepertinya tiga tahun. Aku masih mengingatnya dengan jelas. Rinto. satu lagi di lingkungan akademis. Ia mencium pipiku. Celana. tidak ke mana-mana. dikembalikan lagi ke swalayan. Tapi. Iya. Begitulah huruf-huruf yang tertulis.” Tidak ada yang berubah. 2008 by Anekdot Entah berapa umurku saat itu. * Di mana aku? Aku berada dalam kebingungan. Aku berada di pangkuan ibuku.” Aku mulai tidak tahan lagi dengan perlakuan parfum ini. Dua tahun. Aku lupa lagi. karna hari ini berbeda dari waktu yang sebelumnya. Tampaknya aku baru terbangun dari tidur lelap yang panjang.” Sebenarnya hanya itu yang kuharapkan dari tadi pagi. Suara-suara dari kedua orang tuaku. kau serba baru sekarang. Rasanya tidak berlebihan. baju. ke mana hilangnya parfum yang kutaruh tadi pagi di atas meja?*** Ibu dan Anak Januari 28th.” Tak ada lagi ampun.Pertentangan antara kebutuhan dan keinginan berkecamuk. “Kau jelas mengada-ada. Aku tak pernah kemana-mana. Tampak sebuah jembatan. Aku melihat keluar jendela. Ketika kutanyakan pada Rini. Aku tidak akan terima ini. ah. Mari kita mulai saja diskusi ini. tidak pernah ada yang bilang. Kos-kampus-sekre tempat diskusi adalah tempat yang tak berubah kulalui dari waktu ke waktu. Menangis karena apa? Lapar? Popok yang belum diganti? Haus? Atau aku hanya ingin mengeluarkan air mata saja? Tapi sepertinya aku menangis karena suara-suara itu. Tapi yang jelas pintu kamar terbuka. Dua tempat ini begitu berbeda sangat. Tapi aku masih belum bisa membaca. Suara tamparan itu. tidak lagi bau keringat. “Aku baru saja melihat kau di Pasar Raya. “Dari mana saja kau. sepatu. Kus. tetap bau keringat dan amis. Suara-suara bernada tinggi yang menakutkan. Satu di tempat penuh kebohongan. Aku sedang duduk di tempat tidur. “Aku selalu di sini Rinto. keinginan tentu tak tega memperbiarkan bau busuk mengotori udara yang tak lagi bersih. Plak. aku bingung dengan kata makna. Atau seperti sebuah monumen. Dikubur sedalam-dalamnya sampai di bawah tanah yang tidak terjangkau oleh cacing. Suara yang kemudian berlanjut kepada tangisan. Oh. Hipotesisku baru saja selesai: wangi parfum membuat orang lupa akan sepatu buntut! Oh. ia hanya bilang.

Para penumpang mulai keluar melalui pintu. Lelaki itu. Mereka tampak sedang berbicara pada saat yang hampir bersamaan. Aku bingung. Tamparan itu. dan lega. dua orang yang dipanggil mama dan papa oleh ibuku. Dan ibuku juga tampak gembira. Kepalaku mulai terasa pening dan pusing. Entah berapa lama aku tinggal di kamar itu. Entah sejak kapan keringatku jadi bau. Apa yang telah dia lakukan dan apa yang telah dia jalani. Entah sejak kapan aku jadi suka merasa gelisah dan depresi tanpa alasan yang jelas. Itu yang aku rasakan untuk pertama kali ketika keluar dari kendaraan itu. Aku menyadari bahwa aku sudah tidak tinggal di kamar itu lagi. Apakah tetap di Jakarta atau kembali ke Bandung. Udara yang panas dan gerah membuatku tidak betah. Ibu. Raut muka mereka tampak sayang. Kenapa ibuku sampai lari dan kenapa ibuku ditemukan kembali. Dia sering mengajak aku dan ibuku berjalan-jalan. Aku juga sebenarnya tidak terlalu antusias. Ayah. lelaki yang bukan ayahku. Sudah berapa lama aku tinggal di kamar ini? * Wajah-wajah dari orang-orang yang kukenal. Lelaki itu cukup baik kepadaku. Lelaki ini baik kepadaku. Oleh orang yang sama. Kepada orang yang sama. Mereka semua sedang mengelilingi ibuku. Baru beberapa tahun kemudian aku akan tahu tentang arti dari semua ini. Aku disuruh menetapkan keputusanku sendiri. * Aku sudah lebih dari dua tahun tinggal di rumah Ua. Tampak ibuku menyesal. Lelaki itu memanggil nama ibuku. Panas. Tampak seorang lelaki yang berjalan menuju ibuku. Kadang-kadang suka teringat wajah ayahku. Mereka berdua saling menghampiri. kesal. Ayahku juga terlihat menyesal. Orang tuaku mengatakan bahwa itu terserah kepadaku.Kendaraan itu berhenti. Ketika itu namanya masih Ebtanas. Dia membelikanku boneka. Udara Jakarta yang panas dan gerah membuat keringatku semakin berceceran. Ibuku sedang menangis di antara orang-orang itu. Termasuk ibu dan aku. Mungkin aku kangen kepadanya tapi sepertinya tidak juga. Hanya di tempat dan suasana yang berbeda. Tampak dari muka mereka suatu perasaan senang dapat bertemu. Aku sering menemukan diriku di tempat yang asing dan baru. Kalau tidak salah badanku menjadi merah karena gatal. Ini kehendakmu kan. di mana kau berada saat menstruasi pertamaku? * Seperti de ja vu. Rasa sakit itu kembali menyerang. Ibuku menyahut. Mengapa aku sekarang tinggal di sini? Ayah sebetulnya tidak terlalu setuju aku tinggal dengan Ua di Jakarta. Kenapa? Apakah aku merepotkan ibu? Apakah ibu tidak mau mengurusku? Apakah aku menjadi benalu dalam kehidupanmu? Rasa sakit itu semakin merajalela. Tidak seperti biasanya. . seorang wanita dan seorang lelaki yang mukanya mirip dengan ibu. Ibu? Ibu kan yang tampaknya benar-benar ingin aku tinggal dengan Ua. Cuaca panas yang gerah. Rasa sakit yang tidak tanggung-tanggung pada bagian perut dan payudara. Dia juga sering memberiku permen dan coklat. Seorang anak berumur 11 tahun disuruh memilih jalan hidupnya sendiri. Suara mereka mengisyaratkan rasa kesal dan menyesal. Aku masih belum tahu akan melanjutkan SMP ke mana.

Orang itu mengatakan bahwa itu semua demi kepentinganku. Ayahku menyeret ibuku keluar dari mobil seorang laki-laki teman kerjanya. * Sepasang sepatu yang asing tampak di depan pintu. bingung. Terdengar juga suara lelaki asing. Nasihat-nasihat nenekku terdengar hampa. Atau lebih tepatnya seorang remaja liar. Aku menyebutnya dengan berbagai macam nama. Tepat mengenai kepalanya. * Sudah kesekian kali telepon berdering. Masa di mana emosi dan mental ditantang. Aku hanya seorang anak ABG. Aku tidak tahu harus berpihak ke mana. Aku tidak membencimu tapi aku tidak bisa menemukan alasan untuk menyayangimu. Mereka menengokkan kepala kepadaku. Kulihat dari jendela dua manusia sedang ngobrol dengan santai sambil sesekali bercanda. Orang-orang melihat kejadian itu. Itu yang kurasakan. Beberapa jam yang lalu ibuku baru menikah. Aku tidak merasakan apa-apa. Kepuasan itu semakin besar karena seseorang. Aku sedang dalam masa pubertas. Aku kesal. Muka ibuku yang panik. Apakah itu cukup? Apakah itu satu-satunya alasan? * Pernikahan yang sederhana dan simpel. Menyayangi seorang ibu seperti seharusnya seorang anak. Orang itu mengatakan bahwa aku tidak akan bahagia. Aku merasa hampa. Aku memang tidak mengundangnya. Emosi macam apa yang kurasakan saat itu. Aku tidak tahu. Sikap seolah-olah kau peduli semakin memuaskanku. Aku membayangkannya dalam baju kebaya. Terdengar suara ibuku dari dalam rumah. Mungkin memang masa putih-abu adalah masa pemberontakan. Sembilan bulan. Orang itu tidak suka dengan calon suamiku. Aku bentak-bentak dia. Aku membayangkan pernikahannya. Aku teringat pada ibuku. Setengah jam yang lalu ibuku menelepon. Di tempat umum. kenapa kau tega sekali kepada ibu? Ibu. Wanita itu baru resmi bercerai dengan ayahku dua minggu yang lalu. atau kesenangan. Tubuhnya yang menghampiri lelaki itu. Orang itu bersikeras bahwa aku tidak boleh menikahinya. Aku akhirnya mengangkatnya juga. Aku melangkah masuk ke dalam rumah. Aku tidak menaruh perhatian satu persen pun pada omongan wanita tua itu. Sekarang sudah menikah lagi. Setelah itu aku tidak bisa merasakan apa-apa. Muka ibuku yang tidak bisa aku definisikan. Tanpa pikir panjang aku ambil vas bunga di meja. Itu yang kuinginkan. Aku lempar vas itu ke lelaki bajingan di depanku. Ayahku ditenangkan oleh seorang tukang baso. Penolakanmu semakin memuaskanku. Aku tahu alasan dia menelepon. sedih. . Aku membuatnya menangis. kesedihan. Kepuasan.Dago. Ayahku tampak menjelaskan permasalahannya. Orang itu tidak datang. Entah apa yang kurasakan saat itu. Ayah. Suara nenekku terdengar tua di telingaku. apa yang telah kau lakukan hingga suamimu marah besar? Aku tidak tahu harus berpihak ke mana. kemarahan. Mungkin aku memang seorang wanita liar. Ibu. dan malu. Tampaknya dia menjadi tidak sadarkan diri. Aku melihatnya dari kaca mobil ayahku. Vas itu pecah berantakan. Pasti dia terlihat cantik sekali.

Wanita tua itu tersenyum padaku. Sudah berapa lama aku tidak berjumpa dengan ibuku. Mempunyai arti yang sama dengan kata karma tapi tetap saja aku tidak percaya dengan kata itu. Aku tidak berhak merasa marah atau tidak senang dengan pilihan hidupnya. Ibuku mempunyai jalan hidupnya sendiri yang dia pilih dengan segala macam pertimbangan. Seorang wanita tua membukanya. Sudah berapa lama aku tidak berbicara dengannya? Karma… . Rumah bekas jaman penjajahan Belanda yang tidak terawat. Rumah itu terletak di tengah semuanya. Sudah delapan belas tahun. Buah hati. Rumah itu adalah rumah yang paling strategis di dunia. aku berdiri di depan pintu kayu besar rumah itu. Aku mengetuk pintunya dan mengucapkan salam. Hatinya adalah aku. stasiun kereta api. Aku tidak percaya kalau kau mengatakan itu. Aku tidak merasakan cinta seorang suami. Ternyata aku hanya memainkan diriku sendiri. Jasadnya adalah aku. dan bandar udara. Aku menggosok debu pada foto pernikahanku. Di tengah kebisingan dunia. Apa yang kurasakan? Aku tdak merasakan apa-apa. Bagaimana menyebutnya? Karma? Aku tidak percaya dengan kata itu. * Cimindi. Aku tersenyum kembali padanya. Kulit tembok yang warna aslinya putih sudah mengelupas di mana-mana. jalan raya. Aku mendekatinya dan mencium tangannya. Sudah berapa lama aku tidak membaui tangan itu. Dari awal aku memang tahu kalau wanita itu benar. Aku hanya ingin membalasnya. Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Like mother like daughter. Karma. Wanita itu memang benar. Aku hanya percaya bahwa segala sesuatu yang kita lakukan pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal. Ibu. Aku hanya kecewa tapi sekarang aku dapat mengerti. Pada akhirnya aku mengerti. Aku mempermainkan hidupku sendiri. Aku mengakuinya. Kukenang saat itu. Tepat delapan belas tahun yang lalu. Ketika aku melihatnya aku melihat diriku sendiri. Pasar. Aku hanya ingin merasa puas. Kata itu muncul kembali dalam benakku. Buah hatiku adalah reinkarnasi diriku. Setiap orang mempunyai jalan hidupnya masingmasing.Jangan sampai kamu merasakan apa yang kurasakan. Tahun-tahun yang kulewati dalam kekangan komitmen palsu ini terasa hampa dan menyebalkan. Jangan sampai kamu melalui apa yang kulalui. Pada akhirnya aku dapat mengerti. Aku melihat foto pernikahanku. Entah sudah berapa lama aku tidak menangis selama ini. Luar dan dalam. Sudah berapa lama aku tidak mencium tangan itu. Siang hari. sejak kapan aku harus mendengarkanmu?! * Hidup adalah alunan waktu yang tidak akan pernah kembali lagi. Tapi sesungguhnya tidak ada yang bisa kukenang.

Ibu memukul karena kehabisan pangan. Menakutkan! Aku sering kecewa karena percaya pada kata itu. ia sayang aku. Sayang tak pernah ada bila tak ada uang. Rewel dan banyak tuntutan. Lau Lao selalu menguatkan hari-hariku di sudut kota Vientiane yang ramai ini. Bagian kota yang lain sudah sepi seperti pemakaman Prancis yang megah dengan nisan berpilar pualam. Tak pernah kurasakan hangatnya tetesan mengalir hangat merambati pipiku. 2008 by radiani Ayolah! Coba kau cari di mana airmata kesedihanku tersimpan! Kau tak kan pernah menemukannya. Sungguh sayang yang menyakitkan. Seumur hidupku tak kurasakan airmata kesedihan. uangnya lebih banyak. Aku akan dilimpahinya dengan banyak kasih sayang. Karena aku sendiripun tak tahu dimana letak airmata kesedihanku. Murah meriah bertebaran di mana-mana. Berakhir di ujung dagu. phii huk! ( Apa kabar sayang!)” Seorang Thailand menyapaku. Belum lama kulitku terkena udara. Mungkin hanya sekedar mengendorkan saraf Ibu. aku anak kesayangannya. Tanktop dan rok mini tipisku serasa bagai gumpalan selimut bulu domba. hawa salju. Ayah tak membelaku tapi membelaiku dengan sumpah serapah. Lalu dibawanya aku ke Vat Xieng Gneun. bagaimana ibu dulu menghadapiku? TAMAT Perempuan Tepi Mekong Oktober 7th. Ibuku bilang. Seperti apa warnanya? Berkilauankah bagai bulir permata menggelinding dari mata. Sisi barat kota Vientiane. Sebuah jalan di tepian Mekong. . tapi waktu Ibu menyiksaku dengan kasih sayangnya. Tamu Asia tak menyenangkan. ia adalah dewa penyelamatku. karena sebagai petani kecil penghasilannya juga kecil. Apa demi adikadikku yang berjumlah lima orang? Atau untuk Ayah yang tak mampu bertanggung jawab. “Sabai dee. Ayahku bilang. Senyum segera lenyap dari wajah Thailand. Secepat kilat berubah jadi cibiran akibat penolakanku. Tapi ia memukuliku sebagai ungkapan sayangnya. Baru setengah jam aku berdiri di depan klub ini. Paman tak salah. Huh! Sayang katamu? Sudah lama kata itu jadi hantu buatku. Satu-satunya bagian kota yang selau ramai dengan kehidupan malam. Sambil sesekali melempar pandang ke televisi yang siarannya tak kumengerti. Atau aku terlahir dengan hati batu. Pamanku bilang. Keluasan langit malam ini baru saja kurasakan. Santaisantai berdandan mematut-matut wajah di potongan cermin retak. Uh! hari masih terlalu pagi untuk masuk kamar lagi. Airmataku hilang tiap bulirannya melayang entah ke alam apa. Paman hanya memanfaatkan kesempatan melihat kemiskinan. Hingga tak kukenal lagi kesedihan. bahasa orang terpelajar. Seperti juga yang terjadi padamu Thailand! Sayangmu itu dalam semenit telah berubah jadi ludah yang jatuh ke tanah kotor. Kalau airmata tawa aku punya berliter-liter. Tanpa dijelaskan dulu kenapa sayangnya diwujudkan dengan menampar pipiku. Cuh! Dia meludah di hadapanku. menanyakan kabarku hari ini. Paru-paruku rasanya belum setengah terisi. “Bor! Bor! ( Tidak! Tidak!). yang selalu menegang bila melihat adik-adikku berebut makanan. Lagipula aku lebih senang melayani tamu bule atau negro. atau memukul kakiku dengan tongkat. Ayah marah karena tak tahu cara untuk menambah penghasilan. Dijualnya aku disana. Bisa juga untuk menambah modal berjudi Paman. ‘Sayang’ memang benar-benar melimpah ruah di tempat ini walau hanya sebatas katakata. Minuman keras itu menjaga tawa dan kegembiraanku setiap hari. Semua itu membuatku harus berkorban demi kasih sayang kepada keluarga.Ibu. Minuman alkohol kelas rakyat khas Laos itu menghangatkan tubuhku dari terpaan angin sungai Mekong. sengak bau alkohol. Tiap malam mengucur deras dari sudut mataku sebanyak botol Lau Lao yang kutengak. Membuatku semakin yakin bahwa sayang yang sebenarnya tak pernah ada di muka bumi ini. Penyiar berwajah cantik itu berkali-kali bicara dengan bahasa tingkat tinggi. Sapaan itu adalah ajakan untukku. Kebebasan udara belum lama kuhirup penuh-penuh. atau kehitam-hitaman tercemar eyes shadow? Airmata tawaku kehitam-hitaman. Rokokku baru setengah kuhisap. “Chau sa bai dee bor? (Apa kabarmu baik saja)” Oley pengemudi tuk-tuk tertampan di sepanjang Vat Xieng Gneun. istilah sulit. Aku bangun jam empat sore. Atau demi apa aku tak paham. masih malas untuk kembali ke ranjang.” tolakku.

Sekarang tanpa mariyuana Kova teronggok lemas tak berdaya. Hanya ada kau dan aku. Cinta dan cemburu seperti sendok garpu. “Jadi seperti apa cintamu itu? serasa apa sayangmu itu? Oh. Pada kenyataanya aku terlalu pengecut.” “La kon Oley! ( Sampai jumpa Oley). hatiku kaku-kaku tak bisa bergerak bila Oley berkata begitu. ketika telentang di hadapan lelaki hidung belang. Dan yang tiga bulan itu merenggut semua senyum Kova. Entah dengan cara apa. Karena tanpa senyum aku tak bisa menyambung hidupku. Oley melambaikan tangan dengan wajah sendu. Kata cinta itu telah begitu banyak meluncur dari mulut Oley. Tatapan mata Oley sering membuatku beku. Hatiku mengeligis pedih. Sambil menyandarkan kepala pada bahu seorang negro kupandang wajahnya yang tampak pasrah. Bukan karena aku tak suka tapi karena keberadaan Oley yang begitu dekat membuatku salah tingkah. Kubawa ke sarangku di puncak tebing curam yang tak terjangkau mahluk apapun. Kami pasti sudah beranak dua tahun ini. derai sungai. Kurasa itu perlu dibuktikan lebuh dulu. Tanpa kemeriahan yang memabukkan seperti di jalan ini. ketika hari teriris sepi di sudut tikungan jalan. Aku harus selalu tersenyum karena senyum adalah bagian dari pekerjaanku. Kompak dengan mataku. .“Dee Chai (Baik saja). atau bath. Sendok bisa digunakan tanpa garpu begitu pula sebaliknya. Tapi mataku bekerja sama dengan bibirku adalah pembohong yang ulung. aku jadi tak bisa menjajakan senyumku dengan baik. Senyumku yang palsu untuk setiap kata sayang yag juga palsu itu. Tanganku bergetar tak sanggup menyangga beban yang tertulis di atasnya. Apalagi pernyataan cintanya. Aku tak mau itu terjadi padaku. Seandainya aku bukan pelacur dan Oley bukan penjaja mariyuana yang berkedok supir tuk-tuk. Aku tak mau kehilangan senyumku hanya karena cinta Oley. koi hak choi ( Thuppy. Perasaan yang ditimbulkan tatapan mata Oley “Thuppy. Hanya desah sawah. Aku tak tahu Oley. berisik jengkerik yang memenuhi hari-hari. Aku ini perempuan yang harus selalu tersenyum. tak lengkap bila salah satu tak ada. Perkawinan Jay dan Kova hanya berjalan tiga bulan. Tapi aku dan kau seperti Laos dan Thailand. setiap aku digandeng lelaki untuk diajak kencan. Malam ini pun dia hanya memandang saja ketika aku sengaja lewat di depan tuk-tuknya mangkal. Seandainya aku elang. selamat tiggal Thuppy. Maafkan aku Thuppy. Tatapan mata Oley selalu membuatku bergetar. aku menemukannya terselip di bawah pintu. Aku tak tahan melihat senyuman di bibirmu Thuppy. aku cinta padamu). Bibir ini sekarang sudah jadi mesin senyum saja. Aku selalu tersenyum. atau tidak keduanya sekaligus. Dan Oley masih menggarap ladang orang tuanya di Luang Prabang. Senyumku untuk setiap kata sayang yang terucap. Bisa-bisa senyumku tak laku malam ini. Senyum model apapun itu. Uh! Kenapa tak kau tonjok saja negro mata keranjang ini! Bawa aku lari dengan tuk-tukmu. Kata orang mata tak bisa bebohong. Senyum manis yang mengundang.” jawabku sambil mengalihkan pandang. Senyumku untuk setiap lembaran kip. senyum nakal dengan sedikit godaan.” Selembar kertas terjatuh dari tanganku. Bisa cinta atau cemburu saja. Mata uang negeri manapun. Tak kuberikan sedikitpun kesempatan pada diriku untuk mendengar lebih dari itu. Senyum tak boleh lepas dari bibirku. Kami pasti bisa membentuk keluarga kecil yang tenang. Mereka membohongi semua orang dengan senyum dan kerling. Ketika sedang duduk menunggu pelanggan. Betapa aku ingin juga meikmati senyummu seperti banyak laki-laki lain. seperti seorang super hero yang muncul dari langit dan membawaku terbang ke angkasa. Membohongi hatiku yang selalu merasa muram. atau senyum puas sesaat sesudah melayani. Senyumku adalah hidupku. bila aku lebih banyak memberinya senyuman. Begitu dekat tapi tetap saja di seberang. Hanya tipis terbatasi Mekong. Bukankah seharusnya ia cemburu? Bila ia memang punya cinta untukku. Perkawinan seorang pelacur dan penjaja mariyuana tak akan berjalan lancar. Pelanggan akan memberi uang lebih. dolar. Tapi tak sedikit pun aku memberinya kesempatan untuk berkata lebih dari itu. Tapi aku terlalu mencintaimu.” Aku mengusirnya. Andai aku tak terdampar di jalan kelam ini. Dengan kesederhanaan. karena terlihat kaku. akan kusambar tubuhmu. Oley sampai hari ini aku hanya mendengarnya terucap dari mulutmu saja. aku sadar akan perasaan yang sedang tumbuh di hatiku. Tapi tetap saja bisa digunakan walau pasangannya tak ada. Saat menatap Oley yang termangu di belakang kemudi tuktuk terbungkus asap rokok. Aku tak bisa menyikapimu seperti semua laki-laki itu.

pantat itu bukan hanya didapatnya melulu melalui latihan-latihan di fitness center itu. Aku ini perempuan yang selalu terseyum. Dengan enggan. ke belakang. ada rasa panas yang keluar dari dada. Tak mungkin ditemukan. kadang ke kiri. Sementara itu kepalanya terus berkeliling. Dia membalasku dengan anggukan dan senyuman teramat tipis sembari dengan angkuh mengangkat dagunya. Bahkan ketika kulihat mayat Oley terapung-apung di Mekong. Dagunya mendongak setiap kali mata kami bersitatap. Sebentar kaki kanannya disilangkan ke kaki kirinya. Sedari tadi dia tidak tenang.Oley Membaca surat Oley. Sesaat dia berhenti di ambang aula. tapi berusaha tetap terlihat elegan. Tapi aku curiga. Apapun yang terjadi aku selalu tersenyum. Aku tetap tersenyum. Sesaat kemudian aku berpaling. Kadang ke kanan. Sekilas dapat kulihat setitik keringat meluncur di dahinya yang putih mulus. Dari tempatku duduk sebagai notulen. Aku yang sedang melayani Bu Mira. Sekedar untuk menyembunyikan seringai yang terlanjur muncul di ujung bibirku. Hanya kursi di barisan depan yang masih tersisa. Kini benar-benar kunampakkan seringaianku. ke depan. Hendak menuju mata. Digeser-gesernya duduknya. Kini kedua kaki langsingnya sedang mengetuk-ngetuk lantai tanpa irama. Rapor November 11th. Padahal sudah ada jam tergantung di dinding aula. Pantat yang terlalu kencang untuk perempuan yang sudah tiga kali melahirkan. Senyumku menghambatnya. sehingga si pantat bisa berbentuk sedemikian rupa. Tapi terhenti sampai di leher saja. Aku sempat khawatir kalaukalau celananya yang berbahan halus dan mahal itu akan sobek karena bergesekan dengan kursi yang didudukinya. dia sangat gelisah. Sebentar kemudian diturunkannya. Bahkan orang bodoh pun tahu. gerak-geriknya terbaca jelas. Paparan yang terlalu panjang dan terlalu lebar. Entah apa yang sudah dijejalkannya di dalam sana. pengambilan rapor. 2008 by birulangit Diam-diam aku memerhatikannya sedari tadi. maupun jam tangan yang berkali-kali ditengoknya. Bolak-balik diangkatnya tangannya untuk menengok jam berlapis emas putih di pergelangan tangannya itu. Dasar angkuh! . Untung saja bunyi ketukan sandalnya tertelan gemuruh suara orang-orang berbisik di aula ini. Seakan dia ingin memastikan kalau jarum jam dinding itu sudah berputar sebagaimana seharusnya. Jauh dari orang tua murid yang lain. Membosankan. Ganti kaki kirinya yang disilangkan ke kaki kanannya. Begitu seterusnya. Seperti ada bara di bawah pantatnya yang menggunung itu. Sesekali dihelanya nafasnya. dia pun mengambil tempat duduk di kursi pojok barisan depan. Rambut panjangnya yang tergerai berayun-ayun mengikuti langkahnya yang tergesa. Maklum harga seperangkat make up yang dikenakannya setara dengan sebulan gajiku sebagai guru di sini. dan dia yang duduk dengan gelisah di deretan kursi tunggu yang kosong. Dia baru tiba saat pembawa acara baru saja selesai membacakan agenda pertemuan hari ini. Cobalah kau cari dimana airmata kesedihanku tersimpan. tanpa usaha untuk menutupinya lagi. Karena sekarang aku yakin aku tak memilikinya. pandangan berkeliling atau menunduk berlagak mencari-cari sesuatu dalam tas. Kalau tidak menunduk berlagak mencari-cari sesuatu dari dalam tas kulit merk luar negerinya. Tentu saja keringat itu tak akan melunturkan riasannya. Matanya berkeliling mencari-cari tempat duduk yang kosong. Beban ribuan ton rupanya menimpa dadanya yang penuh (terlalu penuh juga untuk ukuran perempuan yang sudah tiga kali melahirkan?). **** Tinggal kami bertiga di ruang kelas ini. Memang sering kali kulihat mobilnya terparkir di depan fitness center di samping sekolah. Sangat jelas. kembali berlagak serius mendengarkan paparan kepala sekolah mengenai pencapaian-pencapaian sekolah kami di tahun ajaran ini. Akibatnya leherku terasa tercekik. kaki ditopangkan bergantian kalau tidak diketuk-ketukan di lantai. Aku terpaksa mengangguk (sok) ramah padanya ketika tatapan kami bertemu. Kenapa tidak langsung ke menu utama saja. Merambat ke atas ke arah kepala. Perilaku gelisahnya sama persis dengan sewaktu dia ada di aula tadi: pantat digeser-geserkannya. Aku sudah tak sabar.

Semoga suka!” Tangannya mengangsurkan sebuah kotak kecil yang terbungkus kertas kado bergambar kartun Naruto. “Rachel sendiri yang memilih. Aku bilang pantas saja. Kutumpukkan berkas-berkas yang akan kuberikan padanya di sudut meja. Selain bingkisanbingkisan itu ada beberapa amplop di dalam laci mejaku. Seperti yang sedang kulakukan dengan Bu Mira ini. Hal yang tidak perlu kulakukan sebenarnya. dan beberapa lembar pengumuman yang akan kuberikan kepadanya. Gombal sekali memang. memang berkebutuhan khusus. Biar saja. tapi yang seperti ini orang tua murid suka. agaknya dia juga mulai sadar kalau kelakuannya padaku selama ini bisa saja membuatku mengurangi nilai-nilai anaknya. Hatiku bertanya-tanya. guru pilih kasih. Jadi bukan salahku jika sampai saat ini dia belum juga kupanggil. “Aduh. Bu!” Kataku sambil menjabat tangannya yang dingin. Untuk penilaian-penilaiannya padaku: guru konvensional. Di sinilah ajang pembuktianku bahwa aku bukan orang sembarangan. . kutukku. Nilai-nilainya selalu di bawah teman-temannya. Maaf. Rachel. Sebagian masa depan anaknya aku yang menentukan. Tangan yang pernah melemparkan kertas ulangan anaknya ke mukaku. Bu. para orang tua dipersilakan masuk ke ruang kelas anak mereka masing-masing untuk menerima pembagian rapor. Senyum bernada segan. Dari lima belas muridku. Setelah parcel segede gunungnya yang kukembalikan seminggu yang lalu! Hari gini menyogok guru agar mau mengatrol nilai! Rupanya dia sudah merasa rapor anaknya bakalan jelek. apa gerangan yang dibawa oleh perempuan yang kini sedang melangkah menghampiriku ini. sembari berkata kalau percuma saja bayar mahal-mahal kalau lagi-lagi dapat nilai lima puluh. “Mari Bu. lalu dikeluarkannya sebuah bungkusan dari dalam tasnya. aku memang sengaja berlama-lama berbincang dengan setiap orang tua murid. duduk di hadapanku. sudah menjadi tugas saya!” Jawaban ini sudah secara mekanis keluar dari mulutku setiap semesternya. Bu Mira bercerita kalau Rachel baru saja menjadi juara satu lomba wajah fotogenik. Seperti aku ini hantu baginya.Aku tahu dia sedang memakiku habis-habisan dalam hatinya. Kalau sebenarnya dia tidak bisa macam-macam denganku. “Ibu ini bisa aja!” Bu Mira tertawa panjang. dan lain-lain. karena dia mewarisi kecantikan ibunya. Dalam hatiku tertawa. Pembalasan dendamku untuk perempuan berpantat terlalu kencang dan berdada terlalu penuh yang angkuh ini. anak Bu Mira. “Terima kasih. “terima kasih banyak lho. laporan perkembangan. guru yang kurang perhatian. malah merepotkan!” kataku berbasa-basi. Bukan senyum sinis seperti yang beberapa kali dilemparkannya padaku. Wajahnya yang pucat. Mati kau. saya permisi!” Bu Mira beranjak keluar ruang kelas. Hanya saja. Bu. Aku baru sampai nomor absent empat belas. Bu. Sebenarnya kesempatan ini sudah kutunggu-tunggu. Bu. sudah membimbing Rachel. silakan duduk!” Tanpa sepatah kata dia hanya tersenyum tipis. Aku berlagak sibuk menyiapkan rapor. Setelah pertemuan di aula selesai. pembicaraan bisa melebar sampai ke manamana. Tanganku menjadi ikut basah oleh keringat di telapak tangannya. biasa aja! Terima kasih banyak Bu. Sedangkan sudut mataku mencuri-curi pandang wajah cemasnya. Kujelaskan sampai sedetail-detailnya perkembangan anak mereka selama satu tahun ajaran ini. Dan kira-kira sejak dua jam yang lalu dia sudah duduk di sini menunggu giliran kupanggil menghadapku untuk mendapatkan rapor anaknya. Bu!” “Ah. saat dia mencercaku. Perkembangan setiap anak didik sudah tercantum dalam rapor khusus kami yang berupa laporan narasi deskriptif. Ardian. Dimasukkannya rapor. Salam buat Rachel!” Kutumpukkan bingkisan dari Bu Mira di atas bingkisan-bingkisan orang tua murid sebelumnya. Muka putihnya bersemu merah. Gangguan konsentrasinya membuatnya sulit mengikuti pelajaran. sudah banyak merepotkan!” “Tidak apa-apa. dan beberapa lembar pengumuman ke dalam tas. anaknya. memang kusengaja. Tidak hanya itu. laporan perkembangan. Bahwa aku punya kekuasaan. anaknya memang nomor absen terakhir. “Mari. Belum lagi jika kebetulan sang orang tua murid memang suka ngobrol. “Selamat pagi.

Bahasa Indonesia. Bu? Bisa tidak naik ke kelas tiga?” Pertanyaannya lebih terdengar sebagai ratapan.” Sengaja aku berhenti untuk memandang wajahnya. “Lima. Bu. saya sudah berusaha sebaik mungkin membimbing Ardi …. rata-rata nilai rapor siswa semester satu dan dua tidak boleh lebih dari. tak menyangka. Sebagai syarat kenaikan kelas. Bu …. Senyumku semakin lebar. Bu? Benar-benar tidak bisa ditolong?” Kalau teringat bagaimana dia mengangkat dagunya. Bu. Bahasa Indonesia. Matematika. Teringat aku bagaimana dia meneleponku malam-malam. IPA. PKn. Nikmat. Wajahnya seperti orang yang sudah mati saja. Tapi aku tidak juga jatuh iba. Seperti habis kecopetan uang semilyar! Dia membolak-balik halaman rapor anaknya. dilarang menerima gratifikasi.” Padahal mana ada sekolah mengatur perihal itu. Ke mana gerangan dongakan dagunya yang angkuh itu? Ho ho. Bu. Semoga Ibu maklum. Seperti tidak ada lagi darah yang mengalir di pembuluh darahnya. Lagi-lagi dalam hatiku tertawa. Aku tersenyum. Bahagianya. Bu. Biar kunikmati dulu penderitaannya ini. Jadi ada lima mata pelajaran yang ada di bawah KKM …. Kuhadapkan ke arahnya. IPA. ya?” Suaranya tersendat di kerongkongan. Peraturan sekolah melarang guru menerima bingkisan dari orang tua murid sebelum rapor dibagikan.” Tangannya sampai gemetar menerima buku rapor ini.” jawabnya tanpa bisa mengatasi kegugupannya. Bu Lily?” Wajahnya terlihat sangat memelas. karena kita pakai kurikulum nasional. ekspresinya kali ini tampak begitu menggelikan. pagi Bu. sungguh nikmat! “Seperti yang Ibu ketahui sebelumnya. Dia tidak tahu di mana dia akan menaruh mukanya jika anaknya lagi-lagi tidak naik kelas. Saya tidak berani melanggarnya. Berkas-berkasnya masih di tanganku. Ada kemungkinan dia sudah akan pingsan dulu sebelum aku menyelesaikan penjelasanku ini. dan SBK ada di bawah KKM. rapor semester satu. Aih. “Semester satu juga ada lima mata pelajaran yang di bawah KKM. aih. dan SBK …. “Mohon maaf. Bu. Macam pejabat saja. Seperti ketika dia memohonku untuk melupakan apa yang pernah dilakukannya padaku.” Matanya nanar menatap angka-angka itu.“Pagi …. ternyata hanya empat mata pelajaran saja yang di bawah KKM.” . Bukannya apa-apa. “Agama. IPS. Manusia di hadapanku ini semakin terlihat mengenaskan. sekolah kita memang berbeda dengan sekolah yang lain. Sebagian sudah sampai di pipinya. IPA. Mohon maaf sebelumnya.” Dia melongo. Walau mepet …. hanya untuk menanyakan keberadaan pensil atau penghapus anaknya yang hilang. Saya hanya bermaksud mengucapkan terima kasih saja. Berkas-berkasnya masih kutahan. Kubuka halaman sebelumnya. betapa aku rindu! Kuambil tumpukan berkas di sudut meja. “Tidak naik. Dari segi metode maupun substansi pembelajarannya. “Ibu. “Semester ini Bu. Layaknya pengemis yang sudah tiga hari tidak makan memohon sedekah saja. Lebar. IPS. Bu. “Ja … jadi … bagaimana. Saya tidak tahu ada peraturan seperti itu di sini. Saya yang minta maaf. Semata-mata karena dia takut sakit hatiku akan mempengaruhi nilai rapor anaknya. Setengah mati aku berusaha menyembunyikan tawaku. Ataupun ketika seminggu yang lalu dia memohonku “kebijaksanaanku” untuk menaikkan anaknya. bagaimana Ardian. “Masih naik. “Tidak apa-apa. Mungkin Ibu juga sudah tahu. Matanya berkaca-kaca. Berbeda dari sekolah Ardi sebelumnya. Di sekolah Ardian yang dulu diperbolehkan. IPS. “Ja … jadi … Bu?” Kini aku ingin tertawa. “Lima mata pelajaran.” Kalimatku menggantung. Kemarin terpaksa saya mengembalikan bingkisan Ibu. tapi setelah dirata-rata.” Dia menelan ludah sebentar. Butir-butir keringat meluncur di dahinya. dan SBK …. Sengaja tidak segera kuserahkan kepadanya. Tapi tetap saja kita mengacu pada peraturan dinas pendidikan. Mengiba-iba meminta maaf.” sengaja kuberi penekanan. “empat mata pelajaran yang di bawah KKM…” Akhir kalimatku kembali menggantung.” Kutunjuk dengan jariku. tanpa ucapan selamat malam. Bu. Matematika. siang ini aku merasa menjadi Tuhan. Bu. Matematika. Kubuka rapor Ardi. Seperti yang Ibu lihat di sini. nilai Ardi kurang memuaskan. “O ya. Bibirnya gemetar. Kini tidak kututup-tutupi. “O ya. Bahasa Indonesia. Sejak kepindahan Ardi awal semester dua ini.

serentak pekik gegap gempita membahana dari mereka itu. menara Ka Borak. Dunia akan memakluminya. Kalian ditakdirkan menjadi pasukan pemersatu suku-suku Mota yang terpencar. Sudahlah. Tidak akan ada seorang pun yang bertanya mengapa anak itu tinggal kelas. Kalianlah penggenggam masa depan itu. tak ada suara manusia terdengar. Wahai orang Mota Pedalaman. di depan kalian telah tegak bukti yang dikabarkan dalam Ketab Se Lambok. 1320 macam semangat melebur menjadi satu ambisi kolektif. Bukti kekuasaan atas Tanah Mota. 2008 by catur amrullah Aku seperti seorang terusir yang menyusuri dasar lautan seorang diri. 1320 warga suku berkumpul di sini. Semua mata tertuju pada lelaki di atas mimbar itu. 1320 manusia itu. bahwa pendirinya adalah lelaki darah murni yang akan meletakkan suku Mota Pedalaman. menggumpal ke dalam satu . Di depan menara. Sedangkan monster-monster laut dan serigala separuh gurita mengintai-ngintai hendak menerkam saat aku lengah. Hitam berkilau karena embun yang berkelip dilanun semburat matahari melamur seluruh tubuhnya. dan. Kelengangan yang mistis menyelisik di tiap-tiap tubuh. Seorang lelaki tinggi besar. simbol keagungan suku Mota. Semua itu. dan suku Mota Tanah Batu berada di bawah tongkat kekuasaannya. Aku sudah sangat puas melihat perempuan berpantat dan berdada terlalu bulat yang angkuh itu hampir mati ketakutan. Tidak mungkin aku mengubah angka-angka itu. Itu saja cukup. melata dan melingkar.’ Aku sendirian. The Tower of Ka Borak Desember 26th. seperti seribu kunang-kunang beterbangan mengitarinya.Seketika wajahnya menjadi bercahaya. Suaranya yang parau hilang tenggelam dalam kegaduhan massa. benar! Tepat sekali! Inilah menara Ka Borak. “Syukurlah!” Dia mendekap rapor anaknya dalam dadanya yang terlalu penuh itu. Dan mulai detik itu. Bahwa yang membangunnya adalah lelaki yang dijanjikan akan datang dan membawa keagungan. Menara besar dari dua kayu ulin yang disambung berukir ular gato menelan matahari. bukti penguasa Tanah Mota yang dinanti!” Seorang sepuh di antara kerumunan bersuara. Sinarnya hangat sedikit. “Ini seperti dalam mimpi para peramal. Aku pun pantas membencinya. naik ke mimbar. “Hidup Se Moljo Banahung! Hidup Se Moljo Banahung!” 1320 macam suara memekik satu kalimat yang sama. kepala suku kami. Sisiknya besar-besar bertumpuk. Dendamku sudah terbalaskan. ‫פּ‬ Ratusan orang berkumpul di tanah lapang. Seketika tanah lapang itu jatuh sepi. Tenang sekali. suku Mota Pedalaman. tapi bahkan bertentangan dengan Se Moljo Banahung. menyaksikan menara Ka Borak yang selama sembilan bulan ini dengan susah mereka buat-dirikan. “Syukurlah!” Aku manusia biasa. menara Ka Borak. Walaupun hal itu sebenarnya sangat mudah bagiku. ‘sendirian dalam keramaian adalah ancaman. Menara yang membuktikan bahwa pendirinya adalah penguasa sejati atas Tanah Mota. “Wahai orang Mota. persaksikanlah. kulit coklat mengkilat memakai jubah kulit kijang. ketua suku kami. berbicara pada orang-orang tapi suaraku hanya memantul kembali dan hilang. dan anggun. Berbinar-binar. Aku tercekam oleh pikiranku sendiri. Matahari baru mengintip dari celah bukit. dibangun sebuah mimbar besar. kalian adalah darah murni suku Mota. “Syukurlah!” Dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Kicau burung di pohon riuh menanti. melintasi terumbu karang berbisa yang meracuni tiap helaan nafas yang makin tinggal sisa. menelan matahari. aku menyimpan dendam. 1320 jenis kepalan tangan mengacung ke angkasa. Dialah Se Moljo Banahung. Aku menjadi orang asing. Tongkat kayu setiginya dihentaknya beberapa kali ke lantai mimbar. suku Mota Pesisir. pemimpin spiritual sekaligus penentu jalan hidup kami. Semua mata terpacak pada sosok menggetarkan yang tegak menjulang di ujung timur lapangan. aku paham makna dari kata-kata bijak ini. Penuh dengan ukiran ular Gato yang meliukliuk. Dentamnya menggema mengatasi kegaduhan orang-orang. Menara itu. karena aku punya harga diri. seperti ada suatu komando bawah sadar yang amat kuat mengendalikan mereka semua. detak jantung seseorang seakan tertangkap telinga orang di sebelahnya. Kita adalah penguasa Tanah Mota!” pekik semangat Se Moljo Banahung menggema-gema dalam tempurung kepala tiap orang yang hadir di situ. tinggi. Tapi aku juga masih punya nurani. menara Ka Borak yang kita dirikan ini menjadi saksi atas kejayaan yang dijanjikan itu. Berdiri dengan keyakinan dan pemikiran yang tidak sejalan bukan hanya dengan orang-orang kebanyakan.

‘hidup Se Moljo Banahung!’ Nyaring mendebarkan jantung. Nun di hujung barat sana. 500 pahat telah rusak dan remuk. Symbol kejayaan dan kekuasaan. mengukir suatu rupa yang luar biasa. kitab spiritual suku Mota. akan sampailah ke pantai dengan hamparan pasir putihnya. simbol atas kedatangan sang pemimpin yang dinanti. Tahukah kalian jawaban bagi pembangkang? Yaitu…. Di sebelah tenggara. luas membentang. menghadang dentaman gelombang dan badai yang menyerbu dari tengah laut sana. Menyiratkan tekad dan ambisi yang membuncah. Mengema menggetarkan tanah dan batang pohonan. Aku tak bisa bersuara. Ular gato menelan matahari. bukannya ikut larut dalam badai semangat yang dahsyat. Angin berembus kencang di sini. Kaki tebing itu menceruk jauh kedalam. maka tiada lain pilihan. berhamburan kacau balau dari dahan tempatnya bertengger. akan menundukkan matahari!” Pekik gelora semangat perebutan kekuasaan berkobar menggelegak. berputar-putar mengelilingi punggung gunung. terus menurun. Kumandang semangat 546 warga suku Mota Pedalaman menggentarkan nyali tiap penghuni hutan. jangkang. Suku Mota Pedalaman telah berhasil menegakkan menara Ka Borak. Rumah-rumah dari jalinan batang bambu berderet rapi. Menara Ka Borak telah membius meraka. akan tercecer di tiap jengkal Tanah Mota!” ‫פּ‬ Semakin membuncah semangat di sekelilingku. “Sedangkan siapapun itu yang menolak dan menentang kekuasaan kita yang agung ini. tanpa kenal lelah bekerja dari pagi hingga sore. Aku berkeringat dingin. Tiga puluh orang bergelantungan di dinding tebing batu cadas dengan tubuh terikat tali dari atas. mengabarkan bahwa pemimpin tunggal telah tiba. . Di bawah tebing itu. kerang. terlentang jalan setapak yang panjang berkelok menyusur di antara pohon-pohon besar berusia ratusan tahun. jalan setapak itu menurun. Burung-burung beterbangan ketakutan. sebuah menara berukirkan ular gato menelan matahari yang menjadi bukti bahwa pendirinya adalah suku yang berhak memerintah dua suku Mota lainnya. di belakang jajaran rumah panggung. menghampar padang rumput amat luas terbentang. aus karena gesekan gelombang selama masa berjuta tahun. Dalam gemuruh euphoria kekuasaan dan kemenangan yang menari-nari di pelupuk mata. Tebing cadas yang telah tegak sedari jutaan tahun lalu. tak bisa ditawartawar. Sedikit demi sedikit memahat tebing batu cadas. mengukir suatu simbol paling sakral yang tercantum dalam Ketab Se Lambok. aku tergetar menyaksikan semua prosesi ini. Merentang sepanjang bibir pantai. sekeras menara Ka Borak dari kayu bullin yang tegak di depan mereka. Sejarah yang mungkin tak termaafkan. tapi terjebak di suatu sudut yang penuh dengan ketakutan dan kekhawatiran. menara Ka Borak. Dan kita. Masing-masing menggenggam sebuah pahat besi terkuat yang ada. tebing batu cadas memagar. Di sekeliling kami. kepala suku Mota Pesisir. “Mereka takkan berhenti.. pekik lantang Se Moljo Banahung merengkah: “Mulai besok. seperti yang dijanjikan dalam Ketab Se Lambok.. suku Mota Pedalaman telah-dengan sepihak-menetapkan ketunggalan kekuasaannya atas dua suku Mota lainnya. Di depanmu. terus ke barat. sembilan hari lalu. dan darah…. Ujung bajumu akan berkibar-kibar semarak dibuatnya. Di ujung barat lapangan. semakin terkucil aku dalam sudut takut dan khawatir yang kian runcing. takkan terbendung oleh apapun. sebagaimana tercantum dalam Ketab Se Lambok. hijau bergelombang oleh rumputan yang digoyang angin. para pemahat terbaik suku Mota Pesisir. Menjadi saksi dari tiap perahu nelayan yang karam diamuk lanun ditelan topan. Bukan hanya itu. 467 palu pun patah. kita juga akan menundukkan suku-suku lain di sekitaran Tanah Mota. Di ujungnya. menghampar pantai berbatu dan berpasir hitam seperti lumpur. bahwa mereka kini harus tunduk patuh di bawah tongkat kekuasaan suku Mota Pedalaman.” Suara lantang Se Moljo Banahung tenggelam dalam gemuruh suara warga sukunya. suku Mota Pedalaman. denting suara pahat besi menghantam batu cadas memecah ketenangan pantai. Tangan-tangan terkepal diangkat tinggi-tinggi ke angkasa. batas bentangan laut lepas. menyelisik antara debur ombak di bongkahan batu. tidak akan mendiamkannya begitu saja. Kera berlompatan dari cabang ke cabang. Kesepuluh orang itu. hampir setahun penuh. luas membentang. dan sebuah palu. dan ribuan lagi lainnya. membawa kita pada sebuah lereng yang landai. Batu-batu yang menjadi rumah bagi tiram. seakan tak bertepi. hutan rimbun mengitari dengan amat rapatnya. Dengan ini.tekad yang amat keras. Mereka. Di barisan belakang. Berjalab lurus menyeberang lembah. takkan bisa dicegah. mengabarkan pada semua bahwa kekuatan dan penguasa baru telah datang. kita akan mengirim utusan pada suku Mota Pesisir dan Tanah Batu. terjadi di situ. Harimau dan serigala bersijingkat kabur ke pelosok-pelosok hutan. atau mungkin yang ‘kan paling diagungkan oleh mereka. Sebelum hari itu. kita. warna biru terhampar di bawah cakrawala. atas instruksi Se Moljo Mapadong. menjadi candi dari tiap perpindahan generasi manusia yang hidup si situ.

dan jelas sekali ada selendang gelisah yang melingkari suara beratnya itu. mulutnya menganga lebar. Ah. keras menghantam tebing cadas dan berulang-ulang menggema. kekuasaan dan kekuatan yang dijanjikan telah datang ke suku kita. hanya desah nafas berat yang makin mengerikan dia jawabkan. semua orang suku Mota Pesisir berkumpul di depan tebing batu cadas itu. pada tebing cadas. liar. meliuk-liuk tak terbendung. melesat jauh ke tengah samudera membentuk gelombang-gelombang ambisi. Mereka menatap takzim tebing cadas yang kini tak lagi polos.” Paman bertanya. Menyembunyikan dalam malam. Orang-orang terbius oleh semacam zat adiktif kekuasaan yang mengerikan. angin. Mereka membuat kubus-kubus batu raksasa. dan. ketika Mota Tanah Batu mulai menggergaji batu pertama menara Ka Borak. meliuk-liuk. menggiring potongn-potongan awan ke batas cakrawala. hitam gelap penuh misteri. berukir ular gato yang tengah menelan matahari. semenjak lima belas bulan lalu mereka telah menggergaji bukit batu putih. Berteriak-teriak kalap. “Ya. Dan sekarang. menempatkan aku sendiri termangu di bawah pohon randu di belakang rumah. Semua nafas tertahan-tahan. Semua yang di situ berseru serempak: “Tidak ada! Suku Mota Pesisir terkuat! Se Moljo Mapadong terkuat!” Gemuruh ini hampir-hampir membenamkan pantai berbatu itu. menyusunnya. tak bisa ditawar lagi!” Suaraku lirih bersama hembus perih. gelombang. Angin yang berputar-putar menerbangkan daunan gugur juga helai rambutku. kepiting. kemenangan dan kemulyaan telah masuk pintu-pintu rumah kita!!!” “Hidup Se Moljo Mapadong! Hidup Se Moljo Mapadong! Hidup…” “…dan kita akan taklukkan seluruh Tanah Mota! Semua akan kita kuasai! Semua akan tunduk! Akan kita miliki! Semua…” ‫פּ‬ Sorak sorai 1543 orang Mota Pesisir terbang membubung ke angkasa. Samudera di belakang punggung orang-orang itu seakan membeku disihir aura magis menara luar biasa itu. 124 kubus batu. disusun setingngi 22 depa. “Ini salah! Tidak boleh begini kita berada Paman. burung hantu menangis sendu. “Ah.” Se Moljo Mapadong berorasi di hadapan mereka. Lima belas bulan lalu. “…Menara Kaborak telah kita buat. maka siapa lagi yang lebih kuat dari kita?” Suara menggelegarnya bependar-pendar memantul terbentur hamparan tebing cadas. menjadikannya ancaman bagi yang lain. dan sembilan hari yang lalu. “Badai dan topan samudera tak kuasa membunuh kita! Gelombang dan pasang kita taklukkan! Di setiap pantai ada jejak kaki kita. Ular gato yang besar. menelan matahari. ini salah! Lakukanlah sesuatu!” Lelaki tua di sebelahku itu hanya diam. Seekor ular gato raksasa melata dengan ganas. pun manusia. terlempar jauh-jauh ke tengah samudera tak bertepi. panjang. menatap bulan sabit seperti anak kecil lagi sakit. tiada kukira engkau akan sebenar ini Paman. 1543 orang. kekuatan kita terkhabar kesetiap penjuru Tanah Mota. Larut dalam keterpesonaan. Di depannya. Beban berat yang hampir dua tahun ini dia tanggungkan sampai sudah pada titik kulminasinya. menara Ka Borak. gelap yang senantiasa datang pada tiap penghujung senja. menatap-sepertinya-jemari kakinya yang tersembunyi dalam pekatnya malam tengah hutan. Dari tadi dia hanya menunduk. Paman. Di depan mereka.Sembilan hari yang lalu. Menara Ka Borak paman. Aku tak berkedip. “Mota Pedalaman telah membangun menara Ka Borak. mengukirnya. tak kuiura Paman. tak ada sisa lagi yang belum kita datangi. menara Ka Borak diam membeku. kepalanya tunduk seakan bertengger di atasnya hantu keputusasaan. batu. kerang. tiada kukira Paman!…” . masing-masing suku Mota punya Ka Borak!” Tak ada jawaban. di atas sebuah batu karang hitam persegi sebesar kerbau. Dibawa angin ke buritan tiap perahu yang tengah berlayar. ramalan Ketab Se Lambok telah kita wujudkan. engkau tahu bahwa itu adalah awal dari kebinasaan kita. Di kejauhan. “Bagaimana dengan Mota Tanah Batu? Bukankah Ka Borak telah mereka dirikan jauh hari sebelum kita dan sebelum Mota Pesisir. tak kukira engkau akan sebenar ini. Semuanya takzim. Mota Pesisir rampung mengukir Ka Borak di dinding tebing batu cadas. Melonjak-lonjak kegirangan. Pundaknya makin jatuh. “…lima lautan telah kita jelajah. keduanya mengklaim sebagai sang Pemimpin yang dinanti. gelap yang menekan dan mnyelubung. dipatuk burung dibawa kepulau-pulau di seberang sana. Dua tahun dia berusaha menjelaskan bahwa pendirian menara Ka Borak hanya akan mengundang kehancuran Tanah Mota.

dan pernah saling serbu. yang meracuni siapa saja yang mencicipinya!” Aku kaget. semenjak orang tuaku mati jatuh kejurang. memimpin dua suku Mota lainnya dan menguasai suku-suku kecil lain. jadilah suku Mota Pedalaman. dan besok akan meminta yang seluas hutan.” Paman membuka Ketab Se Lambok. para pemimpin suku itu butuh legitimasi sakral. “Menara Ka Borak. Tapi itu kejadian entah berapa ratus tahun yang lampau anakku. butuh stempel perijinan suci yang akan dijalankan mati-matian oleh tiap warga sukunya. perutmu panas. Sebuah kitab yang dalam keremangan tampak amat tua tapi amat kuatnya aura sakralnya. Sebagian yang lain pergi ke pelosok hutan. karena lelaki yang mendirikan menara Ka Borak adalah orang yang di tangannya persatuan tubuh suku Mota tergenggam. hingga nanti hanya kematianlah yang akan memotong nafsu serakahnya.Aku diam lagi. Masing-masing mereka berjanji akan terus menjaga persaudaraan. Sekali kau mencicipi. Beliau memegangnya erat. awalnya orang-orang Mota tinggal di Tanah Batu. menara Ka Borak. tentu saja mereka membawa Ketab Se Lambok. tak sanggup meneruskan ketakutanku. menara Ka Borak. Menara yang berpahatkan ular gato sedang menelan matahari. terus dan terus tak terkendali menjilati sari itu. serigala melolong-lolong. Di dalamnya tertulis bahwa ketika suku Mota menjadi tubuh yang terpisah. itu kejadian saat kakekku masih belia. jiwanya tertekan sungguh. jika berani menentang. tapi kini. menyamakan simbol suci itu dengan tanaman beracun paling mematikan di hutan ini. dan. hal itu sudah termaktub dalam Ketab Se Lambok. tak terbayang paman akan mengumpamakan menara Ka Borak sebagai saripati jubok bagi manusia. tulisannya tersembunyi dalam gelap pekatnya malam. Dan. seakan ia bisa melarikan diri dari tangannya. tenggorokanmu pahit. Sampai baru kemudian. Setiap suku mengaku yang paling benar. Lalu mereka berpencar setelah jumlah mereka semakin banyak. tanah leluhur kita.” Paman kembali diam. kekuasaan adalah sari pati jubok. taatilah dia. Bisa saja hal ini terjadi. alangkah bodohnya. Darah akan dialirkan di padang-padang sunyi tiap penjuru Tanah Mota yang suci. “Begitu seseorang mencicipi kekuasaan selebar daun. Anehnya. Dan sekarang. saling melindungi. tanpa ada yang menyadarinya sebelumnya. juga orang-orang fanatik lainnya. dia juga adalah sari pati jubok. Hitam tiap halamannya. kau tahu apa sebenarnya menara Ka Borak itu anakku?” Aku hanya diam. tentu saja. Sejak kecil aku telah hidup dengannya. kau tak bisa berhenti. menjerit-jerit kesepian. Masing-masing suku Mota ingin menjadi penguasa tunggal Tanah Mota. Kekuasaan mengumpan dan meracuni siapapun itu anakku. “Anakku. Mengajak warga suku berperang bukanlah cara yang tepat jika ingin mendapatkan dukungan penuh dari mereka. aku harus mempertaruhkan nyawaku untuk kegilaan pemimpin kami. mengabarkan keberadaan menara Ka Borak di tanah mereka. sepi sekali. Aduhai Anakku. Gambaran kehancuran suku-suku Mota dalam perang saudara yang dahsyat dengan amat nyata berkilatan dalam kegelapan malam yang melingkupi tubuh kami. kau tahu bibirmu membiru. alangkah bodohnya manusia itu!” Paman tampak amat sedih. Dan. Aku tertegun. “kekuasaan itu seperti sari pati jubok. Akulah sang penguasa tunggal Tanah Mota! Akulah sang pemersatu! Akulah raja kalian! Dan suku-suku lainnya harus tunduk taat. “Besok kau akan menjalankan tugas terberat dalam hidupmu. jadilah suku Mota Pesisir. dan. tiap-tiap suku Mota memiliki menara Ka Borak. Kau tentu tahu Mota Pesisir telah mengirim utusannya kepada kita empat hari yang lalu. Masing-masing suku Mota bertambah besar. dua puluh enam tahun lalu. seorang lelaki darah murni akan muncul demi menegakkan menara Ka Borak. “Anakku. Sebagian pergi ke pesisir.” Paman bicara. tidak segan-segan perang penaklukan akan di gelar di atas Tanah Mota. berhati-hatilah. dan kau langsung tergeletak tanpa sempat beranjak dari tempatmu berada saat itu. solusi itu ternyata ada di dalam Ketab Se Lambok. Maka ikutilah dia. Kemana burung hantu? Jangkrik pun bungkam. sari patu jubok itu menampakkan dirinya dalam wujud yang paling menakutkan. Masing-masing pimpinan dari suku tersebut mengklaim dirinya sebagai lelaki darah murni seperti yang dijanjikan dalam Ketab Se Lambok. “Apa kau sudah faham sekarang anakku mengapa menara Ka Borak berdiri di masing-masing suku?” Aku mengangguk. malah kita yang mengirim utusan pada mereka untuk meminta hal yang mereka tuntut dari kita. berebut pengaruh. dia akan menuntut yang sebesar batang pohon. Ya. tak berani menjawab. lalu di pelosok hutan yang jauh merusuk ke dalam. lemah semilir suaranya. Tangannya mengambil sesuatu dari sebelahnya. setelah terlambat. Dan kini. meminta ketaatan dan ketundukan kita. begitu aku menyerahkan surat dari Se Moljo . dalam waktu yang bersamaan. nafsu kekuasaan telah tersulut terbakar. Dan kenyataanya kini. Tentu dia menghawatirkan aku dengan amat sangat. bersaing.

Tangan kanan mereka ada yang mengenggam parang. pada ahirnya. ini bukan perang kami. perlahan-lahan. Brondong. tapi kitalah yang salah memahami kitab itu. lalu perahu bocor. melintasi terumbu karang berbisa yang meracuni tiap helaan nafas yang makin tinggal sisa. Di sudut sana. orang-orang yang tiada ambisi dengan segala macam penaklukan. Pengorbanan apakah itu Anakku? Yaitu pengorbanan kebanggaan diri demi mempersatukan tubuh yang terberai. Asli dari akte lahir. Siapkah kalian untuk menjalankan tugas mulia ini? Melaksanakan perang yang akan membimbing kita pada jalan menuju kemulyaan dan kejayaan?” Gemuruh manusia membahana. Dan. hukuman bagi pembangkang akan di jatuhkan.’ Aku sendirian. kami tidak pernah turut mencicipi sari pati jubok itu. Di sebelah timur. Toh sudah biasa. Aku menjadi orang asing. Tubuh tak berdaya inipun perlahan terasinkan oleh dahsyatnya garam air laut. 10 Mei 2008 Vaginalia Oktober 9th. tapi racunnya turut serta dalam aliran darah kami. orang-orang yang masih waras dalam lautan kegilaan ini. untuk orang seperti aku dan Paman. “…suku Mota Pedalaman dan Pesisir telah berkhianat! Mereka membelakangi isi Ketab Se Lambok. karena apa yang kami yakini adalah apa yang para Se Moljo perintahkan untuk kami yakini. 2008 by prince-adi Saya sudah sering dihina dan terhina. Silahkan kalau kamu mau tertawa. hingga tubuh ini kemudian bukan tubuh kami lagi. sebuah pengorbanan. bukan menjatuhkan korban dari tubuh yang telah luka! Bukan Anakku. bukan! Ini adalah ambisi jahat mereka. Dan yang menyedihkan. tidak demikian anakku. apakah Ketab Se Lambok telah membohongi kita semua? Telah menggiring kita yang mensucikannya ke dalam jurang kematian?” “Tidak anakku. Mata mereka tajam menatap ke depan. Aku tercekam oleh pikiranku sendiri. berbicara pada orang-orang tapi suaraku hanya memantul kembali dan hilang. Dan kami. semuanya berubah menjadi dilema yang menyakitkan. murni pemberian kedua orang tua saya. berdiri tegak menara Ka Borak menyongsong langit. aku paham makna dari kata-kata bijak ini. ‫פּ‬ Beratus-ratus lelaki bertubuh kekar dan legam berbaris tegak. tersusun dari 124 kubus batu. Aku seperti seorang terusir yang menyusuri dasar lautan seorang diri. kepala suku kami. semua manusia suku Mota kini masing-masing punya perang untuk dituntaskan. matahari menerangi dataran batu yang amat luas ini. bukan perang kami para warga suku Mota Pedalaman. Dan mulai detik itu. mereka lupa jati dirinya! Mereka menyangkal bukti kebenaran menara Ka Borak. ‘sendirian dalam keramaian adalah ancaman. (atau malah) menertawakan nama saya. Tangan kiri membawa perisai. tapi ia adalah perlambang dari suatu perjuangan suci menyatukan Mota yang terberai. “Kalau demikian Paman. terjebak dalam perangkap racun sari pati jubok yang mereka jilati siang malam. Jadi sudah biasa kalau kamu mengernyitkan dahi. Perang akan segera dimulai. karena kami tidak boleh berpendapat. mempertanyakan. Debu putih membubung tinggi. serta merta akan memenggal kepalaku begitu selesai membaca isinya. . Sedangkan monster-monster laut dan serigala separuh gurita mengintai-ngintai hendak menerkam sasat aku lengah. kami tenggelam dan mati sia-sia.” ‫פּ‬ Ini bukan perangku.Banahung pada Se Moljo Mapadong. tombak. Kami seperti tersesat di lautan. Kami tidak ada urusan dengan kekuasaan! Kami tidak ada perlu dengan pengaruh dan perluasan wilayah. Karena bukannya surat pernyataan ketundukan yang kubawa. ambisi para Se Moljo beserta para pembantu setianya. Apa kau pikir menara Ka Borak adalah suatu menara seperti yang kalian pikirkan? Tidakkah kau mengerti bahwa itu hanyalah suatu perlambang?” “Membangun menara menunjukkan pada suatu usaha tanpa henti yang amat melelahkan. Berdiri dengan keyakinan dan pemikiran yang tidak sejalan bukan hanya dengan orang-orang kenanyakan tapi bahkan bertentangan dengan Se Moljo Banahung. Kami tahu. kami pun sama gilanya dengan mereka. hari ini. bukan pula perang warga suku Mota lainnya. Perang yang hakikinya bukan milik kami pun ahirnya dengan membabi buta kami mamah masukkan ke dalam jiwa. Maka. Menara Ka Borak bukanlah suatu bangunan seperti yang kau lihat. beterbangan ke angkasa. dan pendulum berkepala besi berduri. tapi tuntutan ketaklukan. Dan. Sebab nama saya Vaginalia.

Mendekati saya dengan alasan nafsu saja. Saya justru senang.” katamu sambil tersenyum merekah. dan agung. kamu sudah memegang tangan saya. Sejak itu kita pacaran. Saya tidak mau. Tapi kamu terlalu mempesona. Saya suka perilakumu terhadap saya. Mau berbicara dengan saya meski tatapan curiga mengarah ke arah kita berdua. . Nama kamu Muhammad. termasuk saya. limapuluh ribu semalam. dengan harga berapapun yang kamu beri. kembali mengatakan cinta. Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa ketika tanganmu mulai menelusup di balik kemeja saya. Dan kamu memanggil saya “Va”. Orang yang terpuji. Sebab katanya akan mendapat pahala jika saya memuji namanya. Saya jijik. Saya wanita baik-baik. Saya sudah cukup senang dengan keberadaan kamu sebagai teman saya. saya tidak seperti itu. Saya benci. ***** Saya cantik. Tapi saya bahagia. Dua bulan. Kamu selalu sabar menemani saya meski mereka masih menatap curiga. Mendambakan laki-laki yang baik-baik. Itu untuk kelas biasa. Mengatakan saya hanya jual mahal. juga nama nabi yang paling diagungkan. Nama yang bagus. “Saya yang traktir. tapi kamu dengan hebatnya kembali mengatakan cinta. Sebab itulah saya percaya sama kamu. Toh saya cukup bahagia dengan berpegangan tangan. Diteladani banyak manusia. Tergantung jaminan kepuasan yang diberikan. Mengelus tubuh saya. tapi bibir saya kamu bungkam begitu nakalnya. Sebab saya juga perempuan baik-baik. Mimpi yang menjadi nyata. Belum sempat saya ambilkan handuk. dan dia memaki saya. Pernah saya ditawar dua juta untuk sebuah malam bersama dengannya. Terlebih kamu mengatakan cinta. Nama kamu Muhammad. satu buat saya. Kamu menemani saya duduk di sebuah kantin. Memesan dua mangkok bakso. menenangkan hati saya. Orang-orang seringkali merendahkan harga diri saya sebab nama saya Vaginalia. Sebab saya tahu ini dosa. Tapi sekali lagi. Sementara bibirmu terus melumat bibir saya. Malam itu saya membiarkan kamu mencium bibir saya. Belum waktunya. mendapat sesuatu yang bernama ‘Syafa’at’ di kehidupan akhirat. saya punya harga diri. Satu bulan. Sebab namamu itu. Nama kamu Muhammad. satu buat kamu. Kita masih hanya berpegangan tangan. dan berjanji akan menikahi saya. Tidak seperti laki-laki pada umumnya yang menilai saya dengan harga. Sampai bulan kedua. Sama saja dengan menyekutukan Tuhan. artinya dapat dipercaya. Saya tampar dia. Sebab saya tahu bahwa zinah adalah dosa besar. nama organnya wanita. Nama kamu Muhammad. Dan segalanya telah berubah menjadi kamu. Saya hanya mampu memejamkan mata. Saya ingin katakan jangan. Saya takut. Sebab saya tak mau macam-macam. Padahal saya benar-benar tak mau dibeli. itu pertama kalinya tangan saya digenggam laki-laki. Dan kamu ungkapkan cinta. Benar-benar takut. Kamu basah kuyup. mendambakan laki-laki baik-baik. katamu. kamu mendadak muncul di depan pintu kostan saya. Bisa juga sampai ratusan juta. Kamu tahu. Karena itu kamu. Sebab nama saya Vaginalia. Saya jatuh cinta sama kamu.Kamu mengenalkan namamu sebagai Muhammad. Meski saya miskin. Barang yang sudah banyak diobral murah. Saya benar-benar tersinggung. Sebab kamu teman pertama saya. membuat saya tidak berdaya. Yang dijuluki Al-Amin. Saya mulai menangis. Padahal hujan sedang deras. Saya bahagia. Sebab sebelumnya kamu memasangkan cincin di jari saya. Saya tidak menolak. Vagina. ***** Saya masih perawan. Tapi apa saya pantas untuk mencintai dan dicintai? Saya tidak berharap lebih. kamu mau duduk di samping saya. belum kawin.

. ***** Bulan keenam kamu mengatakan perpisahan. namun tidak tahu lagi karena apa dan dimana. satu per satu. “Atau setidaknya kita pernah yakin tentang hal itu. namun tidak lagi menimbulkan rasa ingin.” kata perempuan itu kepada laki-laki yang duduk berhadapan dengannya. tanpa bisa lagi memikirkan bahwa kita adalah pendosa yang tidak akan diterima ibadahnya. sia-sia saya melakukan itu. Ditariknya nafas dalam-dalam lalu menjawab. atau di tempat remang-remang yang menjajakan kebahagiaan. Saya mencari Muhammad. Mengapa semuanya saat ini rasa-rasanya tidak pernah benar-benar terjadi tak dapat dimengerti oleh pikirannya yang biasanya jago mengkalkulasi rumusan-rumusan jual-beli. Saya ingin menolak. berjanji menikahi saya. mengecup kening saya. Tak tertinggal suatu apapun kecuali membawa debu melekat pada tubuh saya.” Laki-laki itu mengangkat pandangannya dari merenungi asap-asap tipis yang keluar dari mug-nya dan menatap perempuan itu. Beberapa putaran musim yang lalu bukankah hanya bibir itu yang ada dalam ingatannya sepanjang pagi. Di jalan. Tapi kamu tetap tak menggubris itu semua. tanpa malu. Tertawa akan kebodohan saya mempercayai kamu selama ini. Yang pernah begitu saya teladani. hanya sepotong kayu imitasi yang dinamakan coffee table dan dua mug gemuk kopi hangat masih berasap menjembatani ruang antara mereka berdua dari kursinya masing-masing. saya tidak lagi perawan. saya percaya kamu akan menikahi saya. Bukankah bibir itu yang dikulumnya tanpa puas ketika gairah-gairah mereka memuncak di malam-malam penuh gelegak yang mereka reguk bersama-sama. ***** Kamu tahu dimana saya berada saat ini? Penjara! Saya membunuhi Muhammad. Dan lagi-lagi saya menyebut Muhammad. Muhammad mana saja yang matanya belingsatan melihat kecantikan saya. berkali-kali. melaknatmu. Menyaksikan kamu tanpa busana. Tapi kamu begitu pintar untuk memancing hasrat saya keluar. Kamu benar-benar pergi meninggalkan saya. Padahal nama kamu Muhammad. Tapi lagi-lagi kamu memeluk saya. siang dan malam. ia menemukan dirinya merasa sangat asing. 2008 by Ge “Sepertinya kita pernah bersebelahan jiwa. seperti angin. Saya menangis. laki-laki itu menggelengkan kepalanya dengan heran. merindukan Muhammad yang pernah saya puji. Tapi saya akhirnya sadar. “Mungkin aku memang tidak penah mampu untuk mengerti kamu. Benar-benar ingin menolak. merekahnya ketika minum kopi dan mengintipkan gigi putih yang sangat cocok untuk iklan pasta gigi ketika mengigit sepotong kue. Tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Sedangkan saya lebih memilih menghujatmu. untung dan rugi. Ah. begitu pula saya. Tapi mungkin setan-setan yang kegirangan memujimu. dan pagi lagi. Kata-katamu selalu saja asing bagi telingaku. Ia merasa seperti orang mabuk. Saya percaya. Dan neraka balasannya. Padahal kita sudah pernah bercinta dengan dosa. Dan saya hanya bisa tertawa. sudut-sudutnya yang naik turun tergantung emosi pemiliknya. Orang yang terpuji. Akhirnya kamu mengatakan bosan kepada saya. namun selalu saja keluar dengan wajar dari bibirmu. Mungkin otakku yang bebal. di keramaian. Ada bercak darah di sana. Tidakkah kamu mengerti? Bibir Februari 13th.” Dan bibir itu sangat manis bentuknya. ***** Berkali-kali setelah itu kamu melakukan hal yang sama. Sebab namu kamu Muhammad. Sebab saya tahu. tidak pernah berhenti melingkar-lingkarkan jerat di dalam kepalanya.Tiba-tiba hari telah pagi. Sebab nama kamu Muhammad. Sebab ia orang yang terpuji. Cara bibir itu bergerak saat bicara.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Bibir itu kembali menyadarkannya dari kenangan yang sempat menyerempet ingatannya tadi. Laki-laki itu tanpa sadar merasa bergidik. supaya kamu bisa main mata dengan leluasa. bila ia tidak yakin pada jawabannya maka dia akan membisu seribu bahasa.” “Pasti! Makanya aku tidak diajak!” Jelas sekali tuduhan dan tudingan tersirat dari bibir itu. Maka malam itu kemudian menjadi malam yang sangat dingin. maksudku bukan janda cantiknya. Angki juga.” “Pasti ada dia!” Bibir itu melancip. seperti pedang dan berkilau-kilau karena lipgloss-nya. Jeffry juga. tapi kan kamu bisa menawarkannya kepadaku. Kemudian ia jadi sering merasa mual. tapi memang iya Wulan ada. betapapun manis dan lembutnya terdengar di telinga. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana menjawabnya. Siapa lagi? Pasti ada perempuan itu. karena dua tambah dua tidak selalu menjadi empat dalam kalkulasi pemikiran otak yang terletak dua jengkal saja jauhnya dari bibir itu. karena dia tidak pandai menyusun kalimat di depan bibir itu. . hampir-hampir membekukan. Laki-laki itu mengangkat bahu. Asep juga. Atau.” Hm. lebih dan lebih banyak lagi hamburan kata-kata yang sangking terlampau banyak tidak dapat dicerna oleh otaknya dengan baik dan kepalanya kemudian akan menjadi seperti sebuah komputer yang cupu. iya kan?” “Sebal aku! Itu sebabnya kamu tidak mau aku ikut. Ya. pening dan gelisah setiap melihat bibir itu. bukan.” “Aku memang tidak suka. “Lho. Perempuan itu melihat bagaimana bekas suaminya menggelengkan kepala dengan cara yang sangat khas. kalau kamu mau kita pergi makan berduaan saja sekarang.“Apa yang sudah terjadi?” Bibir itu bergerak turun seirama dengan ekspresi di wajahnya yang bebas jerawat. lebih tepatnya dia takut mengucapkan lebih banyak katakata karena akan berarti lebih banyak lagi kesalahan yang dapat saja dilakukannya menurut logika bibir itu yang mengakibatkan bibir itu akan mengeluarkan lebih. laki-laki itu kemudian berlatih untuk diam sejenak sebelum menjawab segala sesuatu yang keluar dari bibir itu. bebas komedo. Atau. bebas kerut-merut dan halus rupawan itu. “Sudah. ciumannya pun membentur gunung batu yang menjulang tinggi dan menukik tajam di sudut-sudut dan lekuk-lekuk bibir itu. Dan laki-laki itu memang sedang mencoba menebak apakah pertanyaan yang barusan keluar dari bibir itu adalah sebuah pertanyaan sungguhan ataukah jebakan seperti yang seringkali terjadi dalam pembicaraan mereka. waktu aku telpon katamu kamu tidak suka masakan Itali dan kamu ada janji dengan teman-temanmu mau shopping. laki-laki itu garuk-garuk kepala. tidak mampu memproses data lalu macet. “Sudah makan ya?” tanya bibir itu. iya kan?!?!” “Lho. Kok jadi menakutkan sekali? “Dia siapa sih?” “Pura-pura tidak mengerti. Jadi aku kira kamu pasti tidak mau ikut. tajam sekali. pokoknya semuanya. Maka. dia. seakan mencoba menebak sesuatu. “Kok nggak ngajak-ngajak?” Bibir itu menurun membentuk kurva setengah lingkaran dan lampu merah di kepala laki-laki itu mulai berkedip-kedip. lebih. Aku sudah bilang akan makan dengan rekan-rekan kerjaku. lho… Apa-apaan sih kamu? Jangan cemburu yang tidak-tidak dong.” jawab laki-laki itu seraya mencoba mencium kemanisannya. “Ya sudah. hang. Mau kan?” “Jangan merubah pembicaraan! Kamu makan-makan dengan siapa-siapa saja tadi?” “Lho…ya dengan teman-teman kantor.” “Perempuan yang mana lagi?” “Wulan. yang janda cantik itu!” “Ya iyalah.

menghindar terus!” Dan kepala laki-laki itu semakin pusing jadinya. pikir laki-laki itu. tanggung. amboi…betapa manis sesungguhnya memang bibir itu dari jarak aman ini. “Pelankan sedikit suaramu. Laki-laki itu merasa tidak memiliki jawaban yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan itu dan ia pun tidak dapat mendeteksi mana yang aman untuk dijawab dan mana yang adalah ranjau darat yang bila diinjak akan mengakibatkan ledakan yang dahsyat dan menghancurkannya berkeping-keping. dulupun dia merasa seperti itu. Dan tertawa.” “Kamu hanya bisa bilang bukan itu. bukan itu. “Kenapa harus minta maaf? Kamu menyesal karena berselingkuh kan? Padahal kamu pernah berjanji bahwa kamu akan selalu mencintai aku. “jadi kamu malu ya?’ bisikannya mengejek. begitu? Kalau berselingkuh itu tidak memalukan ya!” . menyejukkan hati. Kenapa kamu justru ingkar janji! Kenapa justru memilih untuk bersama dia daripada aku?” Banyaknya pertanyaan yang meluncur sekaligus dari bibir itu membuat mantan suaminya merasa tegang sekali.” “Lebih pandai mencium?” “Bukan itu. membuat matahari bersinar lebih lembut saat siang terik. dan rasa-rasanya tidak mungkin ada yang lebih lembut lagi dari bibir itu yang rasanya seperti gulali ketika disentuh. mengelus-elus kerinduan. apalagi karena beberapa orang di meja sebelah mulai tertarik ikut mendengarkan percakapan mereka yang saat ini lebih mirip sebuah monolog dari bibir itu. bahkan lebih menegangkan daripada dimarahi oleh atasannya di kantor. Aku kan tidak menanyakan hal yang sulit atau terlampau mustahil untuk dijawab! Aku hanya ingin kamu jujur! JUJUR! Bukannya jadi pengecut terus.” “Jadi? Lebih seksi?” Lelaki itu menatap bibir bekas isterinya dan melihat. bukan itu. Menyapa. dan katamu sendiri. begitu enak untuk dinikmati. tidak ada perempuan lain yang mampu mencintai kamu seperti aku mencintai kamu. Dia memijat-mijat pelipis kirinya yang berdenyut-denyut.” katanya akhirnya. Ah! Pusing jadinya. merobek-robek seperti cakar. tidak akan pernah menyakiti aku. bagaimana mungkin bibir secantik itu bisa melukai seperti pedang. “Bukan itu. Tidak dapat disalahkan. ia tidak memiliki keinginan untuk lebih mendekat atau melakukan apapun dengan bibir itu. Bibir seperti itu gunanya untuk tersenyum. Mencium. Ada beberapa yang bahkan nampak sekali sangat tertarik dengan gerak-gerik bibir itu. kita ada di tempat umum. karena setelah berpikir begitu keras memang hanya itu saja yang terbayang-bayang di kepalanya. menghormati aku.Entahlah. dan menusuk-nusuk seperti sembilu? Tidak mungkin kan rasa-rasanya. membentuk sebuah senyum sinis. lebih tergila-gila. “Ehemm…” Laki-laki itu membersihkan tenggorokannya yang mendadak rasanya tercekat oleh serpihan-serpihan kerikil yang masuk entah dari mana. bahkan lebih terbius.” “Aahhh. “Mungkin karena bibirmu. mendebarkan sanubari. “Kamu kenapa sih? Selalu saja begitu kalau diajak bicara serius! Selalu pura-pura sakit kepala. “Bibirku? Apa yang salah dengan bibirku! Aku pikir kamu menyukai bibirku! Memangnya bibirnya lebih indah dari bibirku?” “Bukan begitu maksudku. katanya perlahan. seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang! Apa sih maksudnya! Kenapa berbicara dengan kamu selalu saja membosankan!” “Maaf…” Bibir itu merapat. karena dia sadar dia memang merasa sangat kecut sekali. karena selalu saja ia mendapatkan dirinya dan harga dirinya kemudian terkapar di suatu tempat dan waktu yang membingungkan.” bibir itu bergerak naik. Dasar pengecut! Dia memaki dirinya sendiri. Itulah yang ingin sekali ditemukannya pada bibir itu. karena getar-getar bibir itu membuatnya tidak tega untuk berdiam diri lebih lama lagi. “Kamu malu karena suaraku keras.

laki-laki itu menutup indera pendengarannya dan menyisakan visualisasi dari drama yang terjadi di depan matanya ini. tidak bertanggungjawab!” Bibir itu bergerak turun naik ke kiri dan ke kanan.” “Tapi…” “Biarkan aku bicara dulu. Bibir itu sekarang berguncangguncang. “Sebaiknya kamu pulang. saat ini. “Bibirmu. berbanyak kepala langsung menoleh ke meja mereka dan laki-laki itu menemukan dirinya menjadi pusat perhatian. Bahwa aku sungguh-sungguh jatuh cinta dan mencintaimu ketika kita menikah. demi merekahnya senyum. Bibir itu perlu istirahat juga dan memberikan kesempatan kepada telinga untuk bisa mendengar suara lain selain suara-suara milikimu sendiri. matanya beralih memandang jalan di depannya. mencong ke atas atau ke bawah. Aku bahkan mau mempertaruhkan hidupku demi bibir itu. “Sebaiknya aku pergi saja karena ternyata kamu masih terlalu emosi. “Jawaaaaaab!” Tiba-tiba saja dinding pelindung anti-suaranya pecah berantakan. aku memang mencintai bibir itu. dan derai tawa. sangat. aku kasihan dengan bibirmu. Dia bahkan tidak lagi dapat mendengar suara apapun! Secara naluriah.Suara yang keluar dari bibir itu berdentum keras sekali sangat mengejutkan. dan kekenyalan bibir itu yang begitu nyata. begitu elastisnya bibir itu sehingga tidak jadi masalah ditarik ke kiri atau ke kanan. ayo aku antar. warna lembut lipstick yang masih melekat dengan sangat apik yang nampaknya tidak akan berguguran walau terguncang-guncang. dan di kepala laki-laki itu timbul pertanyaan. “Ssstt…” Serba salah laki-laki itu menengok ke kiri dan ke kanan. Ya. yang membuat jantungku berdebar-debar melaju ditengah kemacetan jalan saat pulang kerja sehingga rasanya semakin tersiksa karena aku ingin sekali segera pulang agar dapat mengecup sudut-sudutnya. kapan semuanya akan berakhir ya? Konsentrasinya pada bibir itu membuatnya mampu menangkap garis-garis halus di bibir itu. “Aku pernah mencintaimu. dan dengan takjub menemukan tidak ada perlawanan dari bibir itu maupun anggota-anggota tubuh yang lainnya. Kepala perempuan itu mengangguk. bagaimana mungkin dia pernah mencium bibir yang seperti itu di suatu masa yang rasanya sudah berabad-abad yang lampau? Bagaimana caranya bertahan tetap waras berhadapan dengan bibir itu selama lima tahun hidup pernikahan mereka? Saat bibir itu mencang-mencong di hadapannya dia tidak lagi mampu mencerna kata-kata yang mengucur begitu deras dari bibir itu. sambil berpikir. sangat. bukankah kamu selalu berkata ingin ada jawaban? Boleh kan aku mencoba menjawab. mata-mata para perempuan mendelik dan beberapa laki-laki agak salah tingkah sementara yang sebagian malah tersenyum mencemooh. luarbiasa. Tapi. apakah bibir itu sendiri tidak pernah merasa lelah? Dalam hati laki-laki itu mempertanyakan. laki-laki itu terkejut. Di lekuk-lekuk senyummu ada semangat dan kekuatanku untuk meraih masa depan. di bibirmu aku menemukan cinta. apa yang dirasakannya saat dihempas-hempas begitu rupa oleh pemiliknya. “itulah masalah kita. Kamu memang ahlinya! Selalu saja begini ini. Atau lebih tepatnya. mengapa…” . untuk laki-laki itu. Tiba-tiba saja dia merasa sangat. lekukan atasnya yang sensual dan sempurna. Saat itu dia merasa berhadapan bukan lagi dengan pedang. seakan memang seluruh semesta mempersiapkan tempat dan ruang untuk mereka saat itu. yang sudah lama tidak mampir di hatinya. Digandengnya bekas isterinya ke luar dari tempat minum kopi itu.” kata lelaki itu sambil menatap jalan di depan kemudi. Bisa kan?” Bibir itu bergerak seakan hendak melakukan sesuatu lalu tiba-tiba saja tidak jadi melakukannya. dan kegairahan.” Tiba-tiba saja dia menemukan dirinya bisa berbicara tegas. tapi gulali yang mulai meleleh karena dibiarkan terlalu lama di bawah matahari. kalau dieksploitasi terus-menerus. Kamu tahu itu. jalan lengang. apakah itu sebuah isakan? Dia merasa diterobos oleh rasa kasihan. dan kamu mencoba mendengarkan? Lagipula. Kasihan. Ya. “Jadi. sangat kasihan kepada bibir itu. bila di matamu aku bisa berkaca dan menemukan diriku. satu saat ditarik ke sana dan dilain saat ke sini.” “Lalu. Kalau saja dia bisa bertanya langsung kepada bibir itu. boleh aku bicara?” Laki-laki itu menepikan mobil. karena. juga sebuah dekik yang timbul tenggelam di sebelah kiri bibir itu.” “Bagus! Pergi saja sana! Melarikan diri.

setiap kali aku memandangmu dan bibirmu mulai berbicara. Mungkin imanku yang tidak kuat. kamu yang menginginkannya. ingin sekali disimpannya tetes bening itu di dalam sakunya. ada air yang membuat matanya berkaca-kaca.” “Kalau kita lebih mudah bergandengan?” “Kita tidak akan pernah terlalu mudah untuk saling melepaskan.Laki-laki itu memberi isyarat dengan tangannya. mengapa semakin lama aku malah semakin menikmati jam-jam lemburku dan mengharapkan waktu-waktu kerja menjadi lebih panjang. “Sungguh.” “Seandainya kita lebih mudah saling mengerti?” “Kita akan lebih banyak berciuman. bahwa aku memang suami kalahan. Aku memang bersalah. “Masih ingat? Dulu kau pernah bilang bibirku rasanya seperti es krim vanila dan lembut seperti gulali. “Lalu mengapa kita bercerai?” Laki-laki itu menebak dengan tepat. menahan diri. “Kita sudah pergi terlalu jauh dan kehilangan jalan pulang. sudah penuh.” “Kalau kau lebih mudah berbicara?” “Kau akan lebih mudah mendengarkan dan kita akan lebih mudah saling mengerti. mengapa? Aku sendiri heran. tidak pernah selintaspun. Aku mengaku kalah. “Kita sudah benar-benar gagal bukan?” perempuan itu berbisik. Aku tidak pernah menghendaki kita berpisah. Namun nampaknya dosaku sudah terlampau besar. Akhirnya. pada mulanya. bukan madu yang keluar namun begitu banyak dakwaan yang. atau malam-malam kita yang terlalu banyak diisi dengan kebekuan. aku berpikir. tidak berdasar. tidak punya peluang. dan godaan yang datang. dan bekas isterinya menggigit bawah bibirnya. Aku memang pengecut. menjadi sebuah jalan alternatif bagiku. berselingkuh. merasa menang. Aku tidak pernah berniat mengkhianati. mengapa tidak? Mungkin dengan begitu kamu akan merasa puas. aku mencari kedamaian di bibir yang lain. bibirnya terbuka sedikit. Yang pasti. Namun. Bahkan tidak berani mengecup bibirmu saat aku sangat ingin melakukannya karena aku takut lidahku tidak mampu merasakan rasa yang lain selain rasa pahit” Laki-laki itu mengedipkan matanya.” Perempuan itu menatap laki-laki itu dengan pandangan yang berbeda.” kata perempuan itu lirih. manis sekaligus sangat pahit. Jakarta 24 Juni 2003. dan lelaki itu mengusapnya lembut dengan jari telunjuknya. terisi dengan cinta untuk sebuah bibir yang lain. Tetapi sedetik saja pada saat ini. ketika dirabanya sakunya itu. sebuah senyum rawan menggantung di bibirnya.” Laki-laki itu menatap perempuan cantik di sampingnya. Aku bahkan sering berharap terjebak saja terus di tengah-tengah kemacetan. karena begitu bibirmu terbuka. dan matanya berkaca-kaca.” Ah. Atau dua-duanya. yang pada awalnya sama sekali tidak punya arti. dan aku sudah menemukannya. betapa terlambatnya. Oh. masa-masa yang sangat indah di sebuah waktu yang berbeda dan begitu jauh. dan aku tidak punya keberanian atau kemampuan untuk mempertahankan apa yang memang tidak kamu anggap perlu untuk dipertahankan lagi… Maafkan aku. yang aku dengar hanya bergodam-godam palu kecurigaan dan tuduhan yang pada mulanya aku tidak mengerti dari mana asalnya. Aku minta maaf. bukan lagi seperti kupu-kupu yang naik turun tetapi lebih mirip sengatan sekawanan lebah yang menyerang lambungku. Kuakui bahwa aku lelah dihukum untuk sebuah kesalahan yang tidak aku lakukan. Ia menghela nafas dalam diam. aku jatuh. yang aku rasakan adalah rasa mulas di perutku.” “Kalau kita lebih banyak berciuman?” “Kita akan lebih mudah bergandengan. Namun kemudian. ada sebutir bening jatuh diujung bibir itu. Bekas isterinya mengangguk. Mengapa? Karena aku tidak lagi menemukan debaran-debaran jantung ketika berhadapan dengan bibirmu. Laki-laki itu mengangguk. “Seandainya aku lebih banyak mendengarkan?’’ “Aku akan lebih mudah berbicara. . Karena itu adalah pertanyaan yang sama yang diajukannya berulang-ulang kepada dirinya sendiri. Mereka sudah sampai di persimpangan tempat dia dan pemilik bibir manis itu harus berpisah. Karena aku tidak mampu pulang. “Ya.

Aku bukan anak-anak yang mau menjadi benalu bagi Bapak. Ia bisa diasumsikan sebagaimana orang-orang melihat seorang manusia yang sempurna akhlak dan materi. Hati-hati nanti di jalan. Pendek kata. Hanya itu isi surat yang kuterima tadi pagi. Atau mungkin tentang warisan? Mungkin Bapak sedang sakit keras baru-baru ini dan merasa akan meninggalkan dunia fana ini sehingga merasa perlu membicarakan warisan hartanya yang melimpah. dan disegani siapa pun yang mengenalnya. aku penggantinya. Tapi aku tetap merasa kurang. Banyak majelis-majelis mengharap kedatangannya untuk sekadar memberikan sambutan atau ceramah pendek. Saking dihormatinya. aku mengenalnya sebagai orang yang sangat taat beribadah dan selalu membangunkanku saat sepertiga malam untuk salat tahajud yang kemudian menjadi rutinitasku dalam keseharian. Nomor ponsel dan nomor telepon Ibu kost-ku sudah ada di tangan Bapak. Di dunia sebagai orang baik dan rezeki dicukupi. Umurku 28 tahun dan aku memang kurang laku di mata kaum hawa walau banyak orang bilang wajahku termasuk lumayan. Ia bilang ia bukan dukun yang bisa dimintai hal-hal . Kuliahnya sudah selesai dan belum punya pekerjaan. Kuhubungi teman-teman sesama panitia dan mereka semua pengertian. jadilah ia menganggur di rumah. akhirnya aku kembali terbang ke kota kelahiranku. “Tidak masalah. Rupanya beliau tidak memberitahu yang lain bahwa aku disuruhnya pulang. Namun begitulah Bapakku. pulang. aku bisa mengenali tulisan Bapak yang khas. Keluargaku kaget melihatku pulang. Aku memutuskan untuk lanjut ke S2 jadi tidak ada waktu untuk menikah. Dia sudah kebelet nikah namun tidak sampai hati melangkah mendahuluiku. Wajahnya menunjukkan bahwa dia sedang berpikir keras tentang suatu hal dan bayang-bayang keraguan muncul timbul tenggelam. Bapak mau bicara. aku berusaha menyingkirkan semua pikiran-pikiran aneh tentang apa yang akan dibicarakan Bapak. Meski sulit. Tulisannya miring bersambung dan banyak hiasan di huruf G dan B besar. ia dianggap sukses di dunia dan akhirat. Tak apa. Semenjak aku diasuhnya sedari kecil. punya banyak koneksi. bertitel kyai. apalagi di akhirat. aku memang tidak pandai bersyukur.Bukan Ismail Desember 10th. Benar-benar surat yang simpel namun juga mengusik hatiku. Ataukah Bapak jatuh miskin di luar sepengetahuanku lalu akan menyuruhku berhenti kuliah? Tapi toh meski selama ini ongkos kuliah ditransfer Bapak. Terbersit niatku untuk menunda kepulangan sampai tanggung jawabku itu selesai. Bapakku tidak bisa menerima dan menganggap hal itu syirik. Apa gerangan yang mau dibicarakan? Ini agak sulit karena aku sedang mengemban tugas sebagai pembicara seminar yang akan dilaksanakan besok di kampus. 2008 by piko aguno Gi. Yang terakhir ini agak kuragukan karena Bapak orang sukses dan terhormat. Hampir-hampir orang lain berani bertaruh manusia macam itu bakal masuk surga. Namun rasa penasaran yang sangat menyelimuti otakku sedemikian rupa. Setelah mengurus tiket yang agak bermasalah. kaya raya. toh mereka semua senang aku pulang. Tumben sekali Bapak berkomunikasi dengan cara seperti ini belum lagi isi pesannya yang benar-benar menyita perhatianku sepanjang hari ini. Kulihat Bapak hanya diam saja menyambut kepulanganku. Akhirnya aku lelah berpikir yang tidak-tidak dan memutuskan mengepak koper sore ini lalu berangkat nanti malam. Aku merasa bersalah juga tapi aku akan menikah setelah selesai kuliah. Jogja. Meski surat itu tanpa tanda tangannya. ia dimintai ‘doa’ oleh orang-orang yang datang dari luar kota. Apa yang akan dibicarakan Bapak? Tentang pernikahankah? Karena aku sudah termasuk telat untuk menikah dan begitu gencarnya Orangtua beserta adik-adikku membujukku untuk mencari belahan jiwa. Yang paling kesal adalah adikku si Nuning. Ia mengirim surat dengan kertas dan amplop kelas atas serta prangko kilat namun isinya hanya lima kata itu saja. Bapakku orang terhormat. Aku tak habis pikir mengapa Bapak tidak menelepon saja.” begitu kata salah satu temanku yang menjabat sebagai wakil ketua panitia. Ia pendakwah yang gigih. aku merasa bisa terus sekolah dengan upah kerja part time atau dengan belajar lebih rajin agar dapat beasiswa. kecuali Bapak.

Aku jadi jenuh dengan perkataannya yang panjang lebar dan tak biasa.” Agak menyesal kukatakan ini.. “Seperti halnya Nabi Ibrahim. “Yah. apalagi bertemu Tuhan. seolah berusaha memancing komunikasi kami berdua. “Bapak yakin kamu anak shaleh dan selalu ingat bahwa Tuhan itu ada. ‘Diam itu emas’ rupanya benar-benar menjadi prinsip hidupnya. “Eh. Mana mungkin? Pasti Bapak mengada-ngada. sebenarnya apa yang mau dibicarakan sampai saya harus pulang?” Bapak mengisap rokoknya dalam-dalam. Tuhan menguji sejauh mana Bapak bisa bersabar atas apa yang Tuhan minta. “Saya percaya Bapak. . Begitu bangga dan bersyukurnya aku mempunyai Bapak seperti beliau. Hanya asap rokoknya yang bergerak kesana kemari di antara kami. Untuk kedua kalinya aku terlonjak. Ia berbicara panjang lebar dan tak ada hentinya kecuali mungkin aku menyelanya. Bapak sangat pendiam. Aku tidak percaya sedikit pun tapi aku diam saja. Ia mengajakku bicara empat mata berhadap-hadapan. “Kamu percaya sama Bapak?” tanyanya. Karena setiba di rumah Bapak hanya diam saja. aku agak heran juga.. “Apakah kamu percaya sama Bapak?” tanyanya.” ujar Bapak tanpa ekspresi. Pantatku jadi sakit karena terlompat.seperti itu. Lalu ia berkata tibatiba. Aku disuruhnya pulang hanya untuk mendengar celotehan yang sudah sering kudengar di masa kecil.ya. “Bapak tidak percaya kamu percaya sama Bapak” Aku jadi bingung. Harta banyak. kedudukan terhormat. “Terus?” tanyaku. “Pak.” jawabku ragu. Selama ini Bapak hidup tanpa hambatan yang berarti. Apa wujudnya? Aku tak boleh bertanya demikian. Ia mengusir dengan halus tamu-tamunya saat itu.” “Tapi Pak… bagaimana mungkin? Itu kan cuma mimpi. Bapak harus memenuhinya.” Bapak terdiam agak lama dan menciptakan keheningan yang janggal di antara kami. tidak mengerti apa maksud Bapak bertanya begitu. memandang langit-langit. Darinya mengalir nasihat-nasihat kehidupan juga kisah-kisah para nabi. Bapak hanya menatap kosong ke langit-langit rumah. seolah itu hisapan yang terakhir. Mengalami mimpi bertemu Rasulullah saja sudah merupakan karunia luar biasa dan diperuntukkan hanya kepada hamba-hamba Allah yang tertentu. “Pasti Tuhan sedang menguji keikhlasan Bapak dalam beribadah. Tuhan menyuruh Bapak menyembelih anak Bapak sendiri. Rupanya tidak cukup hanya dibalas dengan ibadah dan rasa syukur kepada Tuhan. Akhirnya kami shalat berjamaah sekidmat mungkin. Dengan agak kurang sopan aku menyela. Aku tidak mengeluh kali ini meski aku benci sekali asap rokok. tegas.” kataku spontan. keluarga sejahtera. jadi kutunggu dengan tidur yang lelap hingga tiba-tiba ia membangunkanku sepertiga malam untuk salat tahajud.” Ia terbatuk karena asap rokoknya sendiri lalu melanjutkan. Bapak hanya bicara bila benar-benar perlu jadi kebanyakan mulutnya hanya digunakan untuk tersenyum menanggapi perkataan orang lain. “Astagfirullah! Apa nggak salah dengar?” Bapak mengangkat tangannya agar aku jangan menyela. Aku setuju saja.” Aku tersontak kaget. membiarkan rokoknya memendek digerogoti ulat api di ujung. Setelahnya Bapak menyalakan rokoknya dan mengepulkan keras-keras. “Dua hari yang lalu Bapak bermimpi bertemu Tuhan. Bapak tidak bisa mengelak.

bukan halusinasi.” Telingaku serasa terkulai. Tapi saya tidak tahu apakah Bapak bisa menentukan mimpi itu dari Tuhan atau dari setan. . sedikit nyengir mau minta maaf. Bapak mengangguk takzim. Yang terakhir semacam tidur lelap karena kekenyangan. Bisa jadi ia akan punya pengikut seperti halnya Ahmadiyah. Bapak orangnya tidak tega melukai mahluk Tuhan yang namanya perempuan. Mau kuceritakan?” Aku menggeleng lemah. Dikepulkannya asap rokok menjadi lingkaran-lingkaran asap yang menawan. Maksudnya mimpi yang nyata. Dan Bapak pun menerima hal yang serupa. dan mimpi biasa. Muhammad adalah Nabi terakhir. Perintah Allah. Melelahkan tapi asyik. ” Lapang dada! Ah. Aku harus menyadarkan Bapak.” “Saya kira mimpi itu ada tiga. “Le. Aku jadi malu di hadapannya. Maha Besar. Kuraba dadaku. “Lalu bagaimana dengan Nabi Ibrahim? Mengapa Tuhan meminta hal seperti itu kepada Nabi-Nya? Itulah Ibadah. “Apa kamu percaya selama ini Bapak beribadah bukan atas dasar riya? Tidak untuk menarik perhatian orang lain supaya jatuh hormat pada Bapak?” tanya Bapak. Seolah-olah malaikat Jibril masuk ke dalam mimpi Bapak lalu mengajak Bapak ke depan arsy Tuhan di langit ke tujuh. Allah tidak butuh sesuatu pada mahluknya. Dan Bapak sendiri. “Bapak yakin kalau Bapak disuruh nyembelih anak sendiri?” tanyaku takut-takut. Rasanya sesak dan perutku mulas sekali. Untuk apa Tuhan meminta hal seperti itu kepada mahluk ciptaan-Nya? Ini menyalahi Asma’ul Husna. Bapak bukan Nabi tapi hanya manusia biasa yang dikaruniai hidayah-Nya sehingga bisa seperti sekarang.” kataku mengalah. “Tapi Bapak bukan Nabi. apapun caranya. Tapi aku kaget hal-hal yang merusak aqidah seperti ini menyentuh Bapak. Ini sudah kelewat batas. aku masih ingin hidup seribu tahun lagi. Mimpi dari Allah. “Memang. Ini benar-benar mimpi. Perjalanan yang panjang. aku juga—semua—hanya manusia biasa. Ini bisa menjadi aib keluarga dan aku bakal malu berat. “Tapi Pak….” Bapak tertawa terkekeh-kekeh mendengar perkataanku. Perhatianku teralih namun sekejap kembali pada tempatnya.” “Tapi mengapa Tuhan memberikan tugas itu kepada Bapak kalau Bapak manusia biasa.” Bapak tersinggung. “Ya… tentu. Bapak memperlihatkan mimik tersinggung lagi. Aku merasa akan kalah. Dari Allah. mimpi dari setan. “Sebenarnya bisa saja Bapak memilih satu di antara adik-adikmu tapi adikmu perempuan semua. Allah Maha Berdiri Sendiri. Lagipula kamulah yang Bapak rasa paling bisa menerima tugas ini dengan lapang dada.“Begitulah Tuhan menyampaikan kepadaku. Bapak yakin sekali mimpi ini dari Tuhan. ia mengencerkan tenggorokannya sambi berpaling dariku. bukannya Nabi atau bahkan orang saleh?” “Kamu menilai Bapak bukan orang saleh?” tanya Bapakku agak keras lalu kemudian ia jadi salah tingkah begitu juga aku. Aku takut tiba-tiba ia mengaku-ngaku diutus sebagai Nabi. Bapak orang saleh.” kataku tegas. Manusialah yang selalu butuh Allah untuk bisa hidup meski mereka tidak pernah menyadarinya. Hanya kamu sendiri yang laki-laki.” “Tapi bagaimana Bapak yakin Bapak mimpi begitu? Mungkin hanya halusinasi—” “Bukan.

“Bapak memaksa.” Jantungku berdegup dan bisa kurasakan wajahku memucat meski aku tidak bisa melihatnya. Bapak cuma minta kesediaanmu untuk Bapak sembelih. ini pembunuhan. Berarti acara sembelihan Bapak jadi tidak afdhal dong. Pak.” elakku.” kataku gemetar. ” “Aku tidak ikhlas.” “Saya tidak mau. Keikhlasanku diuji ketika detik-detik terakhir aku memutuskan urat-uratmumu. Rupanya sikap takabur sudah menggerogoti otak kanan Bapak sehingga penuh dengan khayalan seperti ini.” kataku marah. Tinggal tebas. Tole. Saya mau tidur dulu. Sadar. “Ha.” “Tidak! Saya tidak mau. putranya Ismail ikhlas untuk disembelih.” “Oh… saya tidak bersedia. makan. bukan gitu Pak. itu sama saja. Kamu harus—.” Bapak menahanku.” “Uh oh.” “Cukup!” “Ini ibadah.“Begitulah.” “Wah. Saya cuma…” “Tapi Bapak harus melaksakannya” “Pak…” “Malam ini. Bapak tidak punya kendala. “Ah.ha…ha… Yang diuji itu Bapakmu ini. bukan kamu. “Bapak mau melakukan tugas itu malam ini. Tole… Kamu tidak akan mati. “Ini bukan sensasi. Aku akan diuji apakah aku sanggup menyembelih anakku sendiri atas dasar perintah Tuhan.” Bapak ikut marah Hilang sudah rasa hormatku pada Bapak. Saat pisau yang tajam bersentuhan dengan kulit lehermu.” . Sedangkan aku tidak ikhlas. Ini misi Tuhan. Ini edan. Itulah bedanya. dari Allah. “Tunggu dulu! Bapak jangan bikin sensasi. Kalau kambing sih. tentu saja berbeda. Pak.” “Harus. masak. Dalam kisah Nabi Ibrahim. sadar…” “Dengar dulu—. Entah kamu ikhlas atau tidak Bapak peduli apa? Tuhan tidak menitipkan pesan apa pun untuk kamu..” kata Bapak seraya mematikan rokoknya yang sudah pendek sekali.” “Kamu jangan ngeyel.” “Salah.” “Tidak mau.” “Kalau begitu beli saja kambing lalu sembelih. Lebih baik sudahi saja. jangan dilakukan. Bukankah Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang? Allah akan menggantikan dirimu dengan seekor kambing gemuk yang nanti kita jadikan gulai untuk dimakan sekeluarga. Pak. “No…no…no… Aku masih ingin hidup.

Aku membayar mahal seorang psikiater profesional untuk mengawasinya namun laporan setiap bulannya tidak banyak mengalami kemajuan. lho. Ia percaya bahwa Tuhan itu ada. mengucapkan basmalah. Pisau itu sudah terasah tajam dan mengkilap menyilaukan mataku. Aku ragu jika Bapak tidak gila. mengajak-ajak dalam kebajikan.” “Bapak sudah keblinger!” “Meski dengan kekerasan. Bapak masih selalu berpuasa Senin Kamis dan masih melantunkan ayat Al Quran dengan fasih. Bagaimanapun juga. Siapapun itu. Aku hampir lengah. Kata si psikiater. orang-orang zaman sekarang takkan bisa menerima. Keluarga dan tetanggaku menyelamatkanku tepat pada waktunya. “Sini kamu. Akhirnya Bapak dideportasi dari rumah dan diungsikan ke Rumah Sakit Jiwa. menduga-duga mungkin mimpi itu benar dari Tuhan dan aku memang harus disembelihnya. Yang jelas. Meski demikian orang-orang yang dulu mengenal Bapak masih menaruh hormat pada keluargaku. Untuk beberapa waktu. Bapak berdiri. bekerja. Aku menjadi merasa bersalah pada Bapak. Aku jadi bimbang sendiri. menikah dan kini tinggal bersama ibuku yang kecewa berat Bapak jadi gila. jangan Pak! Gila!” Akhirnya sambil tersenyum tulus Bapak mengeluarkan pisau besar semacam parang dari balik sarungnya. Nuning juga sudah menikah dan tinggal di rumah suaminya.“Kita bakal dapat pahala. Sungguh aku merasa menjadi manusia paling berdosa dan tak punya iman sama sekali. Sejenak timbul niat untuk memulangkan Bapak karena mungkin Bapak memang tidak gila. kali ini. Juga mendakwahi setiap pasien di sana. keluargaku menjadi bahan gunjingan di masyarakat. Bapak bersikap seperti orang normal bahkan kelewat saleh. Aku sudah diwisuda. aku bukan Ismail. Ia percaya bukan karena ia bodoh tapi karena imannya yang terang benderang. Tapi pastinya Ibu dan adik-adikku tidak akan menerimanya lagi. Setiap sepertiga malam ia selalu shalat sampai subuh. Ia percaya mimpi ayahnya itu tidak salah. Si psikiater curiga itu hanya akal-akalan agar dia dinyatakan sembuh namun niat untuk membunuhku masih ada. dan bersiap-siap memegang leherku.” “Tiidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!” Tapi itu sudah berlalu satu tahun yang lalu. yang tentu saja takkan berhasil. Dan hal penting kedua ialah ia ikhlas untuk disembelih. Mungkin trauma mengingat-ingat bagaimana Bapak mengejarku di jalanan dengan pisau besar terasah tajam dan mengkilat sambil bertakbir. . Lalu bagaimana dengan Ismail putra Ibrahim? Mengapa ia tidak ragu bahwa mimpi ayahnya dari Tuhan? Mengapa ia mau menerimanya begitu saja? Karena ia punya iman yang kuat. Aku juga ragu mimpi Bapak tidak relevan untuk zaman sekarang. Apakah ini berarti aku mengabaikan Tuhan? Jika Bapak memang benar bermimpi demikian dan mimpi itu memang dari Tuhan maka aku orang yang berdosa. Ia percaya ayahnya selalu beribadah dengan ikhlas kepada Tuhan.” “Aduh.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful