Perempuan Kampung Karampuang ( Juara 1

)
Desember 19th, 2008 by Emil Akbar Malam ini purnama sedang penuh. Bulan benderang begitu bundar. Bercahaya menyinari seperti lindungan ibu dalam dekapan yang menjelma dewi malam dan aku memperoleh restu di wajahnya yang bulat. Membuat langit hitam tak begitu gelap. Dalam rindang hutan pekat melarut lewat hembusan angin yang dingin. Bukan gulita sebab mataku masih bisa melihat. Hanya lindap dan kudapati kunang-kunang berkerlip, mengganti bintang yang tiada. Aku menantimu di batas Dusun Karampuang. Kau belum juga muncul padahal aku sudah lama menunggu di sini. Aku takut dan cemas. Itu sebabnya mataku terpaku pada ujung aspal yang menghilang seperti ingin menerobos malam yang teduh, mencari bayanganmu yang berkelebat, dan sesekali aku menengok ke belakang membaca situasi. Rustam, tahukah kau? Di dalam sana, sunyi bukan berarti tidak ada bunyi walau tadi mereka sembunyi karena aku tak peduli. Bunyi hewan malam, nyanyian serangga, suara berdesis-desis yang bukan ular, kicau kao-kao yang mengerikan di rimbun daun di dalam hutan yang senyap, berbondong-bondong mengerubungi telingaku. Berdenting serupa dawai, mengalun dan merambati udara, dan bakal meninggalkan luka di hatiku bila kau tidak jadi menjemputku malam ini. Maka hadirlah di ujung jalan itu seperti dilahirkan oleh kabut yang merayap. Jangan sampai aku menjadi batu di sini karena gigil atau habis karena dimakan angin dan kau harus tahu jiwaku mulai beku meski sebenarnya kepalaku ingin meledak karena bosan. Aku tidak mungkin kembali setelah ingkar. ”Sepertinya lelaki itu tidak akan datang.” Seseorang memegang bahuku dari belakang. Aku tersentak kaget dan terlonjak bangkit dari tugu batu yang kududuki. Aku gemetar gugup mengetahui siapa yang menegur. ”La Gole! Sedang apa kau di sini? Kau mengikutiku?” Sontak aku menjauhinya. ”Jubaedah, pulanglah sebelum terlambat. Masih ada kesempatan dan aku akan membantumu,” ujarnya sembari duduk di tugu batu yang kutinggalkan. Dalam gelap aku tahu ia menatapku tajam, seruncing jarum yang pernah menusuk tanganku. Batinku tertohok mengingat ia adalah mata-mata Puang Gella, pemangku yang sering menghukum bila ada orang yang melanggar di kawasan dusun, meski ia temanku sejak kecil dan beberapa waktu silam aku menyimpan hati untuknya. Namun ia menunjukkan sikap yang tidak kusuka. Ia bukan lelaki tangguh, pengecut yang tidak berani mengajakku kawin lari. ”Benar kau akan menolongku?” tanyaku pura-pura ragu. ”Kau tidak percaya padaku?” La Gole menghampiriku begitu dekat hingga bisa kuhirup bau badannya yang belum disentuh sungai. Aroma napasnya purba. ”Baiklah kalau begitu. Ijinkan aku menunggu Rustam sebentar lagi,” pintaku. Lalu kedua kakiku tak mau diam karena gelisah. ”Jika dia tidak muncul?” ”Kau boleh membawaku pulang!” jawabku sedikit kesal. ”Sepakat.” Agak lama kami saling diam seolah jiwa kami raib meninggalkan raga yang kikuk, menguak hutan dengan lesat untuk menemukanmu dengan tujuan yang berbeda. Kuperhatikan La Gole sedang duduk bersila sambil mempermainkan parang bersarung yang biasanya terlilit di pinggangnya. Tidak kutahu apa maksudnya, tapi membuatku bergidik membayangkan kulitmu robek dan menumpahkan darah jika badik itu keluar dari sarangnya. Kau pasti akan kalah sebab La Gole bekerja dengan otot sedangkan kau lebih suka berpikir. ”Apa yang kalian lakukan jika sudah bertemu? Apakah kau akan lari dengannya?” La Gole mengajukan tanya yang menyelidik, memecah hening. Posisi duduknya sudah berubah, satu kakinya berdiri dengan lutut menekuk. ”Tidak melakukan apa-apa. Aku hanya mau mengatakan sesuatu?” balasku berbohong sebab ia sudah curiga.

”Apa itu?” ”Kau tidak perlu tahu. Kenapa kau bertanya-tanya?” ”Ingin tahu saja. Bagaimanakah perasaanmu padanya?” ”Itu bukan urusanmu!” teriakku nyaris menuding, membuatnya bungkam. Aku berbalik arah membelakanginya menahan amarah, antara jengkel dan putus asa. Kusandarkan kepalaku pada pohon yang tak bisa kurangkul. Aku mencabut-cabuti kulit keringnya yang berlumut dan memang sudah terkelupas, membuang geram. Mataku terasa panas bagai diperciki biji lombok. Pedih memerih. Sekarang aku tidak ingin kau datang sebab itu akan mengantarkan nyawamu. Namun aku juga butuh kau datang membawaku pergi dari sini, jangan biarkan aku berkalung rantai. Aku tidak mau menjadi perawan tua! Bagaimana ini? Aku galau. Tetapi tunggu. Mataku yang melirik menangkap bayangan sekilas, bersijingkat dan menunduk mirip gerak-gerik babi hutan, berpindah dengan cepat ke semak-semak. Apakah itu kau? Tidak sebentar aku terpana, dadaku berdesir dengan degupnya. Aku merasakan firasat tak baik. Aku mesti bersiasat. ”Aku menyerah. Seperti katamu, Rustam tidak datang. Mari pulang.” Sebisa mungkin kukulum senyum ini dan menampakkan muka murung agar tidak ketahuan, supaya kau dapat mengikutiku dari jarak jauh. Aku akan mengecohkan perhatiannya. ”Aku masih setia menemanimu menunggu jika kau mau?” Aku tahu ia mengejekku. ”Tidak usah! Barangkali dia pecundang yang lebih darimu.” ”Bagus kalau kau sadar. Orang kota memang tidak bisa dipegang janjinya!” timpalnya tak mau kalah. Aku tidak lagi menyahut dan berjalan lebih dulu. Rustam, susul aku di puncak bukit! *** Jubaedah, kau adalah gadis sunyi. Semerbak harum bunga desa, wangi menebarkan angan di setiap kepala jantan muda sepertiku. Aku menemukanmu bagai mutiara diantara ribuan kerikil bebatuan yang terserak di tepi kali. Namun ada yang hilang di wajahmu yang bulat langsat. Laksana embun pagi yang tak ada lagi, saat matahari tak bisa lagi disebut mentari. Aku seperti pangeran yang menemukan bidadari. Di batas Dusun Karampuang jalanan beraspal terputus seperti lorong buntu. Terdapat daun kelapa yang diikat merintang di atas jalan. Mobil dinas kuparkir di luar kawasan adat karena dilarang masuk. Lagi pula hanya ada jalan setapak yang sempit. Tanahnya berdebu di musim kemarau dan licin berlumpur di musim penghujan. Banyak bebatuan. Di hari-hari biasa dusun ini begitu sepi bak kampung yang bisu. Awal bulan November aku kembali. Aku sudah menjadi pegawai negeri di kabupaten. Setahun yang lalu aku datang di kampung ini untuk menyusun skripsiku mengenai adat Karampuang. Setelah lulus kuliah tak mampu kutahan hasrat hatiku, ingin kembali menggapaimu. Masihkah kau menjadi perawan suci yang tidak boleh dijamah? Kutinggalkan semua yang berbau teknologi dan barang yang terkesan mewah di mobil sebelum memasuki kawasan adat yang dikeramatkan ini, lantaran pamali. Menurut keyakinan orang sini, segala yang datang dari luar lebih banyak merusak dan akan mengubah tatanan tradisi yang mereka jaga selama berabad-abad, turun temurun. Itu sebabnya aliran listrik tidak bisa masuk karena kaum adat menolak. Sungguh dilema, mengingat aku memegang proyek dari Pemda untuk menjadikan Karampuang tempat wisata, yang mungkin bakal melunturkan kebiasaan dan kepercayaan penduduk di dusun ini meski dengan maksud memberdayakan masyarakat. Aku masih terkenang ketika pertama kali datang di kampung ini. Aku disambut dengan ramah. Tidak kurang isi baki sudah ditambah, belum setengah isi gelas sudah diimbuh. Aku yang mengetuk pintu bukanlah orang lain, malah dianggap keluarga sendiri. Sebab mereka memandang tamu itu membawa rezeki. Saat itu aku menumpang tidur di rumah ayahmu di luar kawasan adat, di dusun tetangga. Lantaran aku butuh listrik buat menyalakan laptopku, menulis hasil riset yang kudapat. Pernah aku menginap di rumah seorang warga. Alat penerangnya berupa lampu minyak yang mereka sebut sulo. Semalam suntuk aku menulis di lembar kertas. Pulang pagi-pagi. Kau berada di depan pintu. Tergelak tawamu melihatku. Suaramu renyah.

”Ada yang lucu?” Kau tidak menjawab tapi memberikan isyarat. Kau pegang hidungmu yang mungil dan bangir. Aku mengikuti. Astaga, cuping hidungku dipenuhi asap hitam. Aku lekas pergi ke belakang membasuh muka. Seminggu dalam sebulan, kita bertemu. Kau melepas masa haidmu di rumah. Parasmu demikian sendu seperti tidak terima seperti terpaksa, saat kau mengatakan sedang menuntut ilmu untuk kelak menjadi seorang sanro di rumah adat Karampuang. Rumah panggung yang merupakan simbol sosok perempuan. Dari jauh kediaman yang sakral itu memang tampak anggun. Atapnya dari anyaman daun nyiur berbentuk segitiga sama kaki. Tangganya terletak di tengah di kolong rumah. ”Tangga naik ke dalam rumah adalah kelamin perempuan,” jelas La Gole, temanmu. Ia pemandu yang baik, meladeni keingintahuanku dan bahkan memuntahkan semua yang ia tahu. Pemuda yang bersemangat meski entah kenapa diam-diam ia sering menatapku dengan pandangan menghunus seperti tidak suka seperti menaruh curiga. Ia membicarakan tubuh perempuan dengan sangat biasa. Membuka pintunya pun harus ditolak ke atas biar bergeser. Aku menebak pasti ini selaput dara kemaluan, sebab dibutuhkan sedikit usaha untuk membukanya. Ada batu bundar yang menindih. ”Arah dapur adalah rahim. Dan dua dapur di belakang itu adalah buah dada sebagai sumber kehidupan.” Rumah ini tak bersekat, hanya ruang. Lantai dan dinding terbuat dari bambu. Ada loteng yang lumayan luas seperti layak untuk dijadikan kamar, tempat persimpanan kebutuhan pokok terutama padi. Bahkan ada padi yang berumur seabad. ”Semua warga sehabis panen tanpa diminta menyimpan sebagian padinya di sini untuk digunakan bersama jika terjadi gagal panen. Padi ini tidak boleh di jual.” Aku ingin sekali mengabadikan apa yang aku lihat. Namun lelaki yang terbiasa bertelanjang dada saat bekerja di sawah ini melarangku dengan tegas. Badannya yang berotot dengan kulit secoklat kayu itu langsung tegap menantang. ”Jangan coba-coba bawa kamera. Itu kesepakatan kita dari awal. Boleh jadi kau yang melanggar, kami sekampung yang kena malapetaka. Kalau kau mau lama di sini hormati adat kami!” Belum sempat aku minta maaf, La Gole sudah berlalu. Kulihat punggungnya digerogoti jamur, bercak-bercak putih. Ketika kuceritakan penjelasan La Gole kepadamu, kau tersenyum simpul membenarkan. Pipimu merona seperti lembayung yang memerah bagai senja yang membakar langit. Aku jatuh hati. Upacara Mappugau Sihanua sepertinya sudah dimulai. Selama tujuh hari tujuh malam. Aku berjalan santai menikmati pagi yang mau pergi. Sepanjang jalan yang berkelok kulewati rumah penduduk yang kadang saling berjauhan. Tak jarang aku berpapasan dengan warga yang masih kukenal. Di kiri kanan diselingi tanaman sayuran, pohon pisang, pohon kopi dan pohon kakao, serta hamparan sawah yang tidak rata, berundak-undak dengan garis pematang meliuk, sejauh mata memandang. Ada sumur tua berdinding susunan batu, aku menyebutnya kolam karena dangkal. Bila airnya lagi penuh, penduduk memandikan anaknya dan bayi yang baru lahir, biar mendapat berkah. Air mengalir khas pegunungan terdengar jernih menggelitik kesegaran. Hutan lebat dan belukar liar tampak rimbun di puncak bukit, hijau nian seperti belum pernah disinggahi. Jubaedah, secantik apa kau sekarang? *** Lelaki itu masih gagah. Badannya berisi dan kulitnya bersih seperti pasir laut, seperti belum pernah dicubit matahari. Kini aku yakin kau makin terpikat, melirik pakaiannya yang sewarna kulit sapi. Lelaki idaman yang menggiurkan bunga desa sepertimu. Dan aku terhempas ibarat hati yang terbuang. Sebab cintaku sedang cemburu. Ah, lelaki bernama Rustam itu terlalu mau tahu tentang adat kita dan ia sebarkan ke mana-mana. Aku tidak menyukainya karena itu, dan sebab ia mencuri hatimu dariku. Lebih dari itu, ia juga mencuci otakmu hingga pikiranmu telah kota walau disebabkan juga karena kau pernah sekolah sampai SMA di kabupaten. Kau pernah menjadi guru di dusun sebelah, mengajari kami baca tulis di usia kami yang sudah berkumis.

Kabarnya, Rustam akan mendirikan pasar rakyat dan penginapan di sekitar kampung ini. Makin ramai saja orang datang ke sini. Melihat kami sebagai tontonan. Melihat upacara kami sebagai pesta. Oh, Karampuang bagaimana nasibmu nanti? Ketika kebiasaan orang kota meracuni adat kami, menjarah apa yang kami jaga, yang kami miliki. Aku ingin sekali mengumpat, mereka tidak beradab karena mereka biadab! Mungkin kelak tidak ada lagi yang namanya gotong royong. Seperti yang pernah dihimbau orang dulu, ”Hai sekalian anakku, kasih mengasihilah, rebah saling membangkitkan, hanyut saling mendamparkan, berkata saling mengiyakan, dan berbuat saling bantulah. Khilaf saling mengingatkan, satu kata dengan perbuatan, bagaimana di dalam begitu pula di luar, tegakkanlah yang keramat, sandarkanlah yang tabu, dan dudukkanlah yang makruh.” Sekarang banyak yang mengerjakan sawah dengan cara bagi hasil, tidak lagi yang punya hajat memberi makan untuk disantap bersama. Begitu pula saat membangun rumah, menggunakan tenaga upah. Mengumpulkan puingpuing harta sehingga saling mencekik. Serakah sehingga saling menutup pintu. Oh, Tomatoa! Hanya kamu yang murni. Kami akan teguh, tidak akan memasang paku tetap memakai tali rotan untuk menyusun kerangkamu. Mengganti tiangmu yang lapuk dengan menebang pohon bertuah di rimba melalui upacara madduik, menarik kayu bersama di hutan, wujud satu rasa. Tidak dipikul, sebab dipundak tanda mau menang sendiri. Oh, Tomatoa, kamu perempuan luhur yang kami puja. Dan kau, Jubaedah adalah perempuan Kampung Karampuang yang dijunjung. Darahmu adalah darah To Manurung. Mulia atas nama adat. Dan adat mengajarkanku tentang hidup, tidak mungkin kukhianati. Aku mencintaimu sebagaimana aku memegang adat. Disela itu terselip keinginan, yakni memilikimu yang tak boleh. Mencintai dan menginginkan itu serupa tapi tidak sama. Mengertikah, kau? *** Aku bukanlah Maryam dan kenapa pula sejarah harus berulang? Tuhan, bolehkah aku mengeluh sebab sudah lama aku berpeluh? Aku tidak bangga dilahirkan sebagai makkunrai, perempuan. Tubuhku menyiksaku. Aku dibelenggu. Ayah dan Ibu yang berbuat, mengapa aku yang harus jadi tumbal? Apakah memang dibutuhkan orang lain untuk menebus dosa? Lantas, salahkah mereka? Kau bisikkan di telinga Arung, tetua adat kami yang jarang bicara itu, untuk menentukan garis hidupku yang mesti kujalani. Menjadi perempuan suci, perempuan yang terkunci supaya tetap perawan. Jangan sampai sesuatu yang asing menyelinap masuk sebab akan melunturkan tradisi. Titah yang tak terbantahkan kecuali kalau aku cacat moral. Karena nanti warga juga yang akan memilih. Dan Ayah, Ibu, tak pernah membelaku. Ia wafat dengan patuh meski ia tak patut dipanggil Ayah, sebab tak pernah risau atau tak mau tahu jeritan hati anak gadisnya. Ayah memilih diam sampai ia menutup usia. Ayah hanya melihatku tumbuh. Dan aku memilih, berontak seperti ibu. Ibu yang mati karena melahirkanku. Ibu yang kawin dengan kaum pendatang dan dikucilkan di desa tetangga. Ibu yang dipaksa bernazar, jika bayinya perempuan akan diambil sebagai penggantinya. Dan Kau, Tuhan, mengabulkannya… Tetapi tidak! Sebagai anak aku merasa berkewajiban melanjutkan perjuangannya. Memang Puang Sanro telah renta, sudah layak istirahat. Perlu diganti. Tetapi mengapa harus aku? Tidak bolehkah orang lain? Aku selalu ingin bertanya kepada Puang Sanro tapi aku urung dalam hati, apakah ia memendam apa yang aku pendam? Ah, tentu tidak. Sebab aku tahu dari orang-orang, Puang Sanro adalah perempuan yang tidak laku. ”Dalam darahmu mengalir darah To Manurung, Anakku. Ikutilah takdirmu sebagaimana air yang mengalir,” ucapnya bernasihat ketika aku sedang malas meramu obat. ”Betapa menyenangkannya membantu orang, Anakku. Itu akan membuatmu menjadi ada,” lanjutnya berpesan di hari yang lain saat aku enggan mempelajari mantra-mantra. Ketika menolong, haruskah berkorban? Cukup! Aku tak mau mendengar lagi. Aku mau tuli saja, sambil dalam benak ini bertekad, aku akan melawan arus. Aku mesti berupaya meski tangis mendahului. Ya, sebab aku hanyalah perempuan biasa meski aku adalah perempuan yang cantik. Kusadari itu karena banyak yang merayuku semasa SMA dulu. Tapi aku tak hanyut. Aku mesti hati-hati meniti sebelum salah melangkah. Maka kutambatkan cintaku pada sahabat kecilku, La Gole. Aku sering memperhatikannya sampai-sampai aku tak sadar tubuhnya telah perkasa. Jika kami sedang berjalan beriringan aku senantiasa mendongak untuk melihatnya berbicara. Telingaku akan mendengar suara beratnya yang menentramkan. Andaikan aku dipeluk, pasti aku akan tenggelam dalam bahunya yang lebar. Saat kulit cokelat legamnya berkeringat, aku mencium bau khas manusia. Pernah juga ia menggenggam tanganku erat, sesaat tapi kurasakan kehangatan yang kokoh hingga jiwaku

Hanya lidahku yang belum menafsirkan apa-apa. Aku berlari dengan kain terangkat mengangkangi tanah yang kupijak.melambung. Kau bohong! Aku membencimu.” .” Aku gigit jari. kau ada hati denganku?” “Ya. Ada senter di tanganmu.” “Tinggal di hutan pun tak apa. kita terjebak di sini. Kerap kubayangkan bila kami menyatu tak ada yang tahu bahwa kami berdua.” “Aku tidak punya kampung selain dusun ini.” “Tidak bisa.” kataku setelah ia agak menjauh. Ternyata di atas sini tidak terlalu gelap seperti temaram. mengguyur deras. antara panas dan lembap. Aku kecewa dan patah hati. Hujan mengejarku seperti mengutuk. kau tidak mencintaiku sebab cinta itu perlu bukti. lelaki itu memang baik tapi aku harus pamit mengejarmu. Karena aku. Hadir dengan senyumnya yang menawan memberi harapan. Aku sayang kamu. Cukup lama hingga rindu mendera. Rustam. di bawah sana begitu rawan. makam nenek moyang kami yang luhur. Rustam. Lelaki dari kota.” ”Bagiku tidak. mencari cara agar aku tidak terlacak sudah kabur. Jangan sekarang. pelita rumah penduduk memang sudah padam. Ia lapar dan aku haus. Lepas maghrib. kendati sesekali terjungkal karena kesandung akar pohon yang mencuat.” ”Lalu kau mau kita menunggu di sini sampai pagi?” ”Mungkin. Paling tidak aku dapat melihat bayanganmu. “Maafkan aku. Kulitnya harum dan langsat sepertiku. Bukan salahmu. Di sini kita aman. “Jangan Lama.” “Tak apa. Berangkat diam-diam. Kau basah kuyup sama denganku oleh derai hujan. Ah. datang tidak tepat waktu.” ”Aku tidak perlu membuktikannya karena cinta soal hati.” La Gole pergi menengok. bukan satu tubuh.” “Kalau begitu bawa aku pergi dari sini. Kami tiba di sekitar rumah adat Karampuang. dan itu cukup buatku. malam ini juga. Lalu muncul dia.” “Tidak. Tanah ini adalah orangtuaku. ”La Gole. Kini malam sungguh malam karena awan yang menenteng air berlayar di langit kelam. Dan tentu saja ia hangat. ”Kau tunggu di sini sebentar. Angin bertiup meliuk sangat kencang. Kau segera memelukku. kau sudah berada di puncak bukit itu. Namun ia tidak punya nyali. Obor La Gole yang menuntun jalan juga telah redup.” “Sekarang aku siap membawamu pergi.” ”Apa itu? Akan kupenuhi. jatuh merintik terdengar menitik dan menerabas. La Gole mencegat dan mengancamku sebelum masuk desa. Sementara jarum-jarum langit masih menyerbu. sikapnya terlalu lugu tak sebanding dengan badannya yang garang. di hubungan kami yang sempat terjeda.” “Ah.” ”Wisuda aku menjadi perempuan seutuhnya. asal bersamamu. Banyak peti batu berundak-undak di tempat ini. Mengaburkan cahaya ibu di atas sana hingga buram. aku meminta sesuatu. pura-pura khawatir.

Semua makhluk punya mata. Aku ingin perbuatan ini sakral seperti kematian. Kelak. Di gubuk tua itu. Hidup matinya Karampuang ada di tangannya. Seandainya saja kau tahu angan-anganku yang sederhana ini. Jika perempuan tidak kembali ke dapur. Hingga pada suatu pagi. menanam dan menuai padi. Melelehkan kebekuan dan meruntuhkan kekakuan. Di tanahmu yang subur bakal tumbuh tanaman berbuah. Ah. aku rebah menerimamu. Kini aku luka dan hina. Mukanya murka. Aku merintih dalam amuk saat kau menyuruh Rustam hengkang dari kampung ini tanpa dijera. begitu pun bulan berlalu.Apakah rasa sakit itu? Bila hasrat terjerembap. Dan sudah kuduga. anak kita yang mengembala ternak. Aku membajak sawah. Rustam. aku lompat dalam jurang. Kau dikurung di rumah adat Karampuang di atas loteng untuk dikuduskan kembali entah sampai kapan. Rinai-rinai bersenandung seperti berkisah. Kita berjalan mundur menuju tebing. Kau telah mendurhakai tanah keramat ini. lalu bangkit tersaruk-saruk. di Desa Tompobulu kecamatan Bulupoddo kabupaten Sinjai. Dan kau. Di kejauhan terlihat obor berkeliaran serupa kunang-kunang. Tidak seorang pun diperkenankan menemuimu dan tak ada yang tahu bagaimana rupamu sekarang. muncul begitu saja. Sulawesi Selatan. ketika birahi yang terpendam peka pada setiap ransangan. Aku mendorongmu supaya terhindar dan langsung melindungimu. sadarkah kau? Argh! Jubaedah. Masih memegang adat kuno dan alergi dengan teknologi. Lantaran nista mengusik siapa pun sebab baunya tercium tajam. Rumah adatnya menyimbolkan sosok perempuan yang harus dijaga kehormatannya. *** Depok. berkeliaran seperti ingin mencari ayahnya. Aku adalah hikayat perempuan tanpa biduk yang terdampar setelah lelah mengarungi duka. berhamburan karena ulah kita. Mappugau Sihanua: Setiap tahun di pekan pertama bulan November diadakan pesta sebelum bercocok tanam setelah menikmati panen melimpah sebagai tanda syukur. Kulempar lelaki durjana itu dengan sekepal batu hingga ia tersungkur. kau dianggap tidak pernah ada. Aku gigil oleh getar. kami dikejutkan oleh kehadiran seorang bocah yang belum pernah kami lihat sebelumnya. dan kau datang membawa makanan.” Kau mengancam dan aku masih hirau. La Gole muncul menaruh mata badik di lehermu. tujuh hari tujuh malam. Jubaedah sudah melakukan lebih dari itu. Sesajen yang baru tadi siang. Dan segalanya sirna saat kudapati pakaianmu berceceran ke mana-mana. Berlari lincah. namamu tak pernah lagi disebut nyaris dilupakan. turun dari tangga rumah adat Karampuang bagai baru dilahirkan. Puang: kata sandang untuk orang yang dituakan atau yang dihormati. yang tak mungkin terwujud. ”Bangsat kau. tempat biasanya sesajian di letakkan. *** Puang Sanro pernah meramalkan. ”Terima kasih. Kau memandikan bayi kita di sumur tua yang berkah itu supaya kelak menjadi anak yang patuh. Kubunuh kau!” ”Berani menyentuhnya. 270908 (Kutulis ketika merindukan kampung halaman) Catatan: Karampuang: dusun yang terletak di puncak bukit 1000 meter dari permukaan laut. Hari berganti. Arung: ketua adat atau raja yang jarang bicara tapi sekali bicara adalah tuah yang tak terbantahkan. maka rentan berbuat dosa. dan tahun terus bertambah. Melihat dunia luar dengan muka gembira.” ucapku setelah usai. sebetulnya aku ingin menabur benih di pucukmu yang kuncup. lebih senang keluyuran atau suka berkumpul. . Tak perlu airmata sebab akan kutanggung semuanya. Gella: pemangku yang melaksanakan hukum yang berlaku di Karampuang. Kau telah haram di hatiku yang meradang. Senang mengintip yang terlarang. darah dagingku. wajahmu yang bersinar dalam balutan pakaian putih yang menyejukkan hari-hariku kala memandangmu telah berubah busuk bagai bangkai. Sejak peristiwa malam itu.

Aku tahu persis siapa Bapak. Bagian tubuh itu. Seorang lelaki bertubuh tambun dengan perut menyembul. Ibu bangkit dan berjalan secara perlahan. Wajahnya rupawan. Reaksi itu menimbulkan ereksi. Lalu. Saat ini. Aku ingat saat dulu berkejar-kejaran dengan teman-teman. Apakah Ibu menunggu Bapakku? Aku belum tahu. tangan. Aku makan dari wanita yang kemudian kukenal dengan sebutan ibu. persis seperti tempatku dulu di tubuh Bapak. Nyawa seorang pria yang menabuhi seorang wanita bernyawa dengan sperma. sesama teman sperma yang dimuntahkan dari penis manusia. Penuh ketegangan. Kami mencari tempat terhangat. bahwa aku begitu bangga. Pintu diketuk. Siapa bilang kami bernyawa setelah salah satu dari kami mempunyai rupa? Kami telah bernyawa dari sejak kami menjadi sperma. Aku juga masih ingat. kami berkebut-kebutan. mati di jalan karena mereka berlari terlalu pelan atau kalah dalam himpit-himpitan jutaan teman yang berkejar-kejaran mencari tempat buat makan. menggurat menjadi lekat di kulit Ibu yang sekat oleh keringat. Lelaki itu membolak-balik iIu seperti barbeque di arang kayu. Tapi. Aku sudah tidak sabar untuk mengabarinya bahwa ia telah berhasil menciptakan bibit manusia. Reaksi ereksi itu seperti permulaan arena balapan. Mungkin saja dia bapaknya Ibu. sebelum salah satu dari kami berhenti sesaat. Nyawa pertamaku dari seorang pria. Membentuk sel baru yang menyatu. Ia mempesona setiap perempuan. Kalau kami tak bernyawa. malam keduaku bersama Ibu.Sanro: pemimpin spritual di setiap prosesi adat yang harus dijabat oleh perempuan atau lebih tepatya disebut dukun. Aku melihat Ibu duduk di atas sebuah kursi memanjang dengan bantal yang kenyal. Malam ini. tempat laki-laki itu singgah sesaat sebelum air maninya muncrat. Ibu benar-benar bersifat magnetik. Mereka tidak berlarian. aku baru saja bersenyawa dengan tubuh Ibu. tidak! Ia menyentuh Ibu dengan gerakan yang sama sekali tak malu-malu. Teganya Ibu mengkhianati Bapakku. perawakannya tak beraturan. dia bukan Bapakku. Apakah kali ini lagilagi lelaki buncit yang memberi malu. Aku ingat ketika Bapak berlaku seperti itu pada Ibu. di dalam liang hangat. Aku Malang. Malam ini Ibu terlihat begitu cantik. Tidak tahukah Ibu. xxxxx Malam pertama bersama Ibu. Ibu yang mengharapkan kehadiranku atau Ibu yang menganggapku hanya sebagai benalu. Tapi sambungan hidupku berada pada wanita. mana mungkin kami punya tenaga untuk mencapai indung telur wanita. Ia seperti menunggu. Kami menunggu dalam deru erangan. Meninggalkan rupa lama yang dulu hanya berbentuk ekor dan kepala. Tidak tahukah Ibu. 2008 by Rien Al Anshari Aku dibentuk dari dua nyawa yang terpisah. . Aku mengalahkan berjuta ekor dan kepala lainnya yang datang mencari Ibu. Aku makan dengan rakus. To Manurung: nenek moyang orang Karampuang berwujud perempuan. Ada apa dengan Ibu? Ibu. mencuat. untuk mengelus. Bukan aku tak sayang. Tapi ini satu-satunya caraku untuk memberi tahu Ibu bahwa aku bukan bayang. aku sudah tertawa. Ibu dan lelaki itu saling beradu. Dia bukan Bapak. Pantaslah Bapakku tidak bisa munafik untuk tidak tertarik. seperti aku. Wajah dan penampilannya menunjukkan seperti itu. Bapakku Jahanam Bukan Kepalang ( juara 2 ) Desember 30th. Ibu memberiku makan dari darah yang mengandung sari yang dipompa dari jantung melalui aorta. penuh rasa lega akhirnya aku tiba. Entah yang mana ibuku. Aku mulai tumbuh dan tak lama lagi akan membuat pergolakan rasa yang perlahan akan membuat Ibu tahu bahwa aku ada. Aku juara. Aku lemas. Tomatoa: nama rumah adat Karampuang. tumpahan-tumpahan makhluk seperti aku membasahi muka Ibu. Aku minum karena selalu haus. Tapi. menendang bahkan menerajang. Ibu kembali menunggu. Bapakku tampan. Ibuku Jalang. Aku ingin cepat mempunyai muka. muncul. yang sebentar kemudian akan memunculkan pertanda. atau sesungguhnya Bapak yang ditunggu? Aku belum juga tahu. Ia seakan memberi pertanda pada kami untuk siap-siap beraksi. Lelahku akhirnya terbalas juga. Bapak bereaksi. walau belum mempunyai mulut dan bibir untuk tersenyum. aku belum tahu. kaki. laki-laki itu semakin panas. Aku diam berhari-hari di tubuh Bapak sebelum akhirnya bertemu Ibu. xxxxx Aku ingin bertemu Bapak. Gerakan-gerakan yang ia ciptakan membuat salah satu bagian tubuhnya menegang. Aku menunduk malu. Bukan seperti lelaki yang datang ini. seperti bendera yang turun di arena balapan.

Tapi tidak sepenuhnya sendirian. Gerakan jumpalitan hingga ledakan tumpahan air kemaluan. Sudah tidak kusisakan lagi sedikitpun tempat untuk kalian menyatu. Tumpahan-tumpahan itu berlalu bersama waktu. Ia menaiki Ibu yang tengah terbaring. Ia memuntahkan isi perut yang ia kandung. Aku sudah memiliki tangan dan kaki. Ia duduk dan berbicara terlebih dulu. Bercanda. Lelaki itu datang menjenguk Ibu. xxxxx Dan aku masih menunggu. ia mampu memikat perempuan. Laki-laki manapun takluk dan bertekuk lutut padanya. Dunia yang sesungguhnya memang pengap. Aku seperti tak berhenti meratapi diri. Lalu berbaring dan membuka baju. Ia ditemani segelas minuman. Dan baju Ibu. Luar biasa bercinta. Ibu tidur dengan laki-laki. Walau tak punya kaki tangan aku menendang. walaupun belum sepenuhnya memiliki jari jemari. Dunia tempat Ibu berpijak. Aku sudah tiba lebih dulu. Lelaki bertubuh tinggi dengan kulit putih sangat terawat.Ibu menunggu di dalam sebuah ruangan luas. hingga ledakan tumpahan air kemaluan yang bukan lagi keanehan. Aku ingin Ibu gentar. Benda itu berbentuk kertas tipis memanjang secarik. Aku tak pantas diperlakukan seperti ini. Lalu ia mengambil sesuatu dalam sebuah kotak yang berbungkus plastik. Makhluk-makhluk yang dulunya seperti aku. Suara desah Ibu terpecah melengking. Aku berteman dengan benda yang kemudian kukenal dengan sebutan. Aku ingin bersamanya ketika ia bersama siapa saja. Berjalan bolak-balik mondar-mandir sambil menggenggam benda itu dan berpikir. yang datang lagi-lagi lelaki. sementara ari-ari tak berhenti mencaci maki. Dan hari ini. Ia sendirian. gerakan jumpalitan. kali ini dia membuatku mabuk. Lantas tertawa-tawa. Aku bibit manusia buah bercinta dengan pria yang belum kujumpa. Menunggu Bapakku. Tapi tak lagi minum dengan harap. nanar. tidak Ibu lalui bersama Bapak. berguncang dan seakan tak berhenti bergetar. Sudah kukatakan. silih berganti. Beberapa menit kemudian aku merasakan sesuatu yang tak nyaman. Ini tempatku. Aku ingin Ibu dengar. Minuman itu memabukkan. dengan gerakan yang membuat lelaki itu bersimpuh layu. tapi juga akan membesar. membuat Ibu mabuk kepayang. Ibu masih belum tahu keberadaanku. Tapi aku tak gentar. Aku kecewa pada gaya hidupnya. bukan lagi keanehan. megah dan nyaman. Ia menyebut-nyebut aku si tolol yang dungu. “Bangsat! xxxxx Aku semakin besar kini. Dan aku menerjang. Ibu meraung. Aku marah pada keluarbiasaan Ibu. Ia masih sibuk dengan dirinya yang luar biasa. Tubuhku yang belum sepenuhnya terbentuk ini terasa berputar-putar. Ibu bercinta dengan laki-laki. Ibu bertemu laki-laki. Ibu mencampuri laki-laki. Aku tetap makan. Matilah kalian sebelum sampai lebih dalam di rahim Ibu. Aku ingin Ibu sadar. Aku gemetar. Wajahnya tampan dengan senyum yang sangat memikat. Oh Ibu. Mereka seperti lahar yang mencahar karena panas bergejolak yang membakar. Lompat-lompatan. Aku memang tolol dan dungu. ari-ari kembaran. Bajunya. Ibuku mengamat-amati benda itu. Aku tetap minum. Apakah ia Bapak? Bukan. Sebentar lagi aku akan membuat kulit Ibu meretas. Pantas saja seorang Ibu terjerat. Minuman itu begitu elegan dalam gelas kaca dengan kaki panjang menawan. Aku nyata. Tapi tak lagi makan dengan lahap. Masih. Luar biasa sempurna. Tidak seperti lelaki tambun tak tahu malu yang langsung menyentuh Ibu tanpa ragu. Tapi Ibu tak pernah lagi bertemu Bapak. Wajahnya panik.” “Masa bodoh dengan dunia di luar sana. hari ketujuh bersama Ibu. . Tapi Bapakku berkulit kecokelatan. Luar biasa menggoda. Bapakku memang tampan dan rupawan. berhentilah kau berharap. Sekian hari sekian waktu Ibu selalu bersama laki-laki. Dan Ibu bukan lagi sadar. Kemudian mereka datang dan pergi. Tapi. Aku tumbuh karena aku memang tumbuh dan waktu perlahan membuatku begitu. ia memaki. Aku ingin tetap terjaga. Ia berdiri. Itu semua karena Ibu. Menciptakan bunyi yang membuat tubuh tanpa kepalaku pusing dan pening. Desah-desahan. Tahukah Ibu bahwa aku mani yang menang lomba lari terpanjang seantero bumi? Bukan salahku kalau aku kemudian menghuni tempat ini. Ibu menenggaknya. Aku tak urung. Lalu ia menyatukan tubuhnya dan tubuh Ibu seperti anjing. Aku putus asa pada sikapnya. Ia diam. lompat-lompatan. sehingga aku bisa mengenal wajah seorang Bapak yang kutunggu kedatangannya. Ia pun meminum minuman yang diminum Ibu. Dengan bola mata yang terbuka lebar. Ari-ari. “Hey Jabang Bayi. Ia meliriknya. Menunggu dalam bimbang. Ia lelah karena harus memuntahkan makanannya keluar. Terus kugetar-getarkan tubuhku untuk membuatnya terhuyung. bahwa aku ada. Kemudian ia menduduki kloset dan mengencinginya. Kalau kau tak tau caranya bertahan kau bisa megap-megap. akhirnya keluar. Ibu tersandar.

Jabang Bayi bodoh. Asap yang ia hirup dan ia jadikan oksigen sampingannya untuk bernafas menjadi racun yang membekas. Ibuku tetap diam. Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah cacian meskipun ia begitu kenikmatan. lihat siapa yang datang. Bapak tidak memeluk Ibu .” “Dan aku anak pelacur yang vaginanya selalu menjadi tempat bercampur. aku ikutan. Ia tampan dan rupawan. Ia tak hanya membuatku mabuk dengan minuman. Begitukah Bapakku saat membuat aku. Kakinya bertekuk dan ia peluk. Kulit muka yang sepertinya berewokan meninggalkan bekas cukuran yang terlihat jantan.” “Diamlah. Tangannya memegang sepuntung rokok yang abunya sudah bertumpuk menunggu jatuh. Dunia kehidupan yang berbeda. Ia tetap akan diam. Sesaat kemudian ia menoleh. Ibu tak terpekik walau setengah mati ia tercekik.” “Dia jelas-jelas lupa saat ia masih menjadi sperma. kata mereka. Mereka balapan.” “Ibumu pelacur. Ia sungguh laki-laki yang menawan. Laki-laki itu berperawakan tinggi. Lelaki itu Bapak kita. Kau tendang seperti apapun ia takkan memberitahunya. Ia diam seribu bahasa. bisa kurasa bahwa di luar sana sedang hujan. Tidur dengan laki-laki yang datang dan berlalu. Aku tersekat. makhluk malang. Perempuan yang tak berperasaan. Tak seperti biasa. hanya mengenakan celana dalam berwarna hitam. Malam ini. ia menamparnya. Bahkan ketika lelaki yang kusebut Bapak itu menunggangi Ibu seperti binatang. Mereka tak saling berteguran. aku memimpin di depan. Lelaki yang kusebut Bapak itu kemudian bergerak ke depan Ibu yang masih melihat hujan.Aku disuruh lari. Ibu masih tak membuat gerakan. Bapakku semakin membabi buta. ia terlihat kusut masai dengan rambut berantakan tergerai-gerai.” Ibuku benar-benar tak punya belas kasihan.” “Aku benci Ibu. Aku menutup mukaku dengan kedua tangan yang baru terbentuk seakan menahan malu. Ibu benar-benar tak pernah menginginkanku. Entah laki-laki mana lagi aku sudah tak mau tahu. Ia tak memakai bawahan.” “Karena Ibumu jalang. “Ari-ari. Dan dari dalam sini.” Lelaki yang kusebut-sebut Bapak tidak langsung menyentuh Ibu. Itu Bapakku. Bapak tidak mencium Ibu dengan hangat.” “Tenanglah.” “Aku takkan bisa tenang. Aku akan menendang perut Ibu sebagai pertanda agar ia tahu. Ari-ari. Ia juga tidak seperti lelaki menarik yang memulai percintaan dengan candaan menggelitik. Ibuku tak cantik. Ibu dan menghujaninya dengan tamparan. Bapak kita. Perempuan itu pun tak tahu siapa yang telah mencampurinya. Jadi memberi tahu laki-laki itu hanya akan sia-sia dan merusak acara bercinta mereka. Ibu terkesan pasrah dan melemah.” “Kenapa ia takkan memberi tahunya. Ia merobek pakaian Ibu sampai tak satupun tersisa. Ia mengisi udara paru-paruku dengan asap yang membuatku jengap. Ibu masih tak melawan. Dan ia Bapakku. seperti lelaki tambun yang penuh nafsu. Ari-ari. aku lari. hingga akhirnya aku tiba dalam rahim seorang perempuan. dan diam saja. Aku ingin ia memberi tahu Bapak bahwa kita ada. xxxxx Malam ini ia kembali menunggu. kau Jabang Bayi tolol. Teman-teman berkejar-kejaran. Dunia sudah membuat ia lupa asal mula. Lelaki itu menarik tubuh Ibu dan mencengkramkan kedua tangannya ke leher jenjang Ibu. Bapakku memaki. Dia memang selalu seperti itu. Ia Ibu yang hanya menganggapku benalu. Ia duduk di sisi jendela di atas sebuah sofa berlengan. Seorang laki-laki tiba-tiba datang. Tubuhnya hanya terbalut kaos singlet berwarna putih. Hal yang sudah lama kutunggu berjumpa dengan Bapak tidak seperti apa yang menjadi pengharapan rindu. Wajahnya memikat setiap perempuan dan kulitnya kecokelatan. Ibu pun diam. Dan ia berhak tahu bahwa aku ada juga karena dia. Hinanya aku.

xxxxx “Aku seakan tak punya harapan hidup. menjadi zygot. di kasur. Aku bergerak. Ia pelacur profesional. “Kalau saja kau ingat seluruh perjuanganmu mencapai tempat di rahimmu. Bapakku Jahanam . Ari-ari dan aku saling berpegangan. Sampailah ia bertemu Bapak yang tak kalah nakal. saling berpelukan. Aku manusia. Aku sudah hidup dan bernyawa. tubuh Ibu. Pontianak. Ari-ari. Bapakku jahanam bukan kepalang. Aku berhak hidup dan melihat dunia. melawan. lalu dibuang sia-sia. dan aku memiliki hak seperti para manusia. “Ari-ari. Walau setengah manusia. Hanya saja. Ibu. Ibuku Jalang. Mudah-mudahan aku sampai pada perempuan yang menanti kedatanganku. Ibuku perempuan laknat. Perjuangan sampai ke tempat ini sangat berharga. Ia seperti pawang yang menunggangi binatang yang telah terlebih dulu di cucuk lubang hidungnya. Sungguh aku tak percaya bahwa Ibu benar-benar tega. tak lagi bernafas. Dan ini adalah perpisahan. yang akan kembali membuatku berjuang dan berkejar-kejaran dalam himpitan. Tidak ingatkah perjuanganmu untuk sampai ke tempat ini?” “Percuma saja. Aku sudah tak mampu lagi meronta. nanar. Lelaki itu tak akan pernah tahu bahwa aku dulu adalah benda berekor dan berkepala yang ada di tubuhnya. Aku tak mau mati di sini. Ia melayani laki-laki manapun yang tak ia kenal. 17 December 2008: 03. Ari-ari kembaranku benar. menerjang guncangan yang menarikku juga menarik ari-ari kembaran. Tanpa sadar aku terisak. menjadi embrio. dalam tangisan yang rasanya sesak. Jadilah aku hasil hubungan yang penuh malu. aku rasa kau tidak akan pernah muncul di dunia untuk menghirup udara?” “Kenapa.05 a. persis seperti mata Ibu saat baru menyadari keberadaanku. Bapakku lelaki bangsat. Ibuku benar-benar perempuan binal. Sekarang kau membuangku seakan aku sampah. Tenaga yang kami miliki sungguh tak sebanding dengan kekuatan angin maha dahsyat yang menyedot kami.m.dalam dekap. Jabang Bayi. dan kini melebur dalam tubuh pelacur. Ibu Bapak tak menginginkanku. Tidak ada juga udara yang mampu kuhirup untuk membakar tenaga. Dan tak lagi membekaskan memori masa lalu asal muasalmu. Aku bukan hanya makhluk berekor dan berkepala yang tumpah di muka wanita. Aku sudah menjadi setengah manusia. Hanya perasaan marah yang bergejolak dan tergelak-gelak seperti lava.” “Bodohnya kau. Ibuku jalang. di lantai.” Dan aku lemas. Bukan Ibu yang hanya menganggapku sebagai benalu. Aku hanya berharap untuk diberi lagi kesempatan menjadi mani pada laki-laki. Aku darah. setengah manusia yang tak pernah menjadi manusia 45 Responses to “Aku Malang. Aku dagingmu. Wahai Ibu. Argh! Aku penat. Aku malang. ia mencekiknya. meronta. ia memakinya. walau ia fana. Benda tak berharga yang keberadaannya hanya menyesakkan dunia. Aku bagian tubuhmu. Ibu. kau pasti tak akan melakukan ini semua. Mataku terbuka lebar. apa aku akan melupakan saat-saat ini ketika aku seutuhnya menjadi manusia sejati?” “Maaf Jabang Bayi. Bapak tidak bercinta dengan Ibu penuh dengan rasa. Ari-ari. embrio. Ari-ari? Kenapa?” Belum sempat ari-ariku menjawab. teganya kau padaku. aku sudah merasakan guncangan hebat bergetar dalam ruang sempit di sekelilingku. Ari-ariku sudah tak lagi berbicara.” Aku terdiam sejenak. menjadi setengah manusia yang sudah memiliki kepala sesungguhnya kepala. Untuk sperma.” “Persetan dengan mereka. zygot. Kau tetap berhak melihat dunia. dunia menggerus ingatanmu. karena aku sudah menjadi bagian dari mereka.

saling menyisihkan. Semilir angin dingin menerobos melalui ventilasi menyebarkan rasa kantuk berkali-kali. sebuah tangan manusia terjulur dengan telapak tangan menengadah ke arak mukaku. Rasa kecewa terekam jelas lewat kata-katanya.Di Dalam Toilet. Mereka tak mampu menyembunyikan lukanya yang terkelupas oleh roda waktu dan tangan-tangan jahil yang telah merampas keperawanannya yang putih. Seperti melihat sejarah kehidupan manusia yang pertama ditoreh lewat lukisan-lukisan di dalam gua-gua purba yang gelap dan tanpa kusadari bahwa jarak waktu yang ditempuh dari jaman itu hingga sekarang adalah bukti jalur perkembangan hidup umat manusia yang telah begitu panjang teraspal. Begitu banyak hal yang telah mereka lalui dan ribuan wajah yang telah mereka lindungi. Aku memperhatikan dengan mata yang sombong kepada setiap coretan di sisi kanan tembok tempatku duduk. Tidak ada yang melebihi kesetiaan mereka dalam mendengarkan setiap keluhan para penyendiri yang tak berdaya. Entah apa yang dipikirkan oleh lalat-lalat kecil yang terbang mengitari lampu redup di atas kepalaku. Tak banyak yang kulakukan. ini adalah saatsaat yang indah untuk memikirkan diri sendiri dan menolak segala hal lain yang masuk ke dalam otak. Dan lihatlah kerelaan mereka menyodorkan wajahnya untuk dijadikan kanvas yang merekam sidik jari riwayat sifat tolol dan kekanak-kanakan manusia melalui goresan tinta tak bertanggungjawab. Ketidakpedulian menyelimuti diriku. Ditulis dengan warna gelap. Sedikit demi sedikit semuanya merambat ke dalam diriku dan dalam hati kecilku. rasa pasrah. Kesendirian memang selalu terasa dingin seperti sebuah rumah kosong dimana kepulanganku dari keramaian dan berisiknya suara manusia dan keangkuhan wajah kota besar. ’Sekali berarti. ’Aku mau hidup seribu tahun lagi’ tulisan lain tak jauh dari yang pertama bersandar dengan berhiaskan gambar kawat berduri di sekitarnya dan tiga buah tanda seru di belakangnya. sudah itu mati’ tulisan itu berkata. 2008 by Arki Atsema Toilet begitu sunyi malam ini. Betapa hidup tak ubahnya semacam arena perang untuk saling mengungguli. Betapa mereka telah meredam isak tangis para manusia kesepian dan menjaga setiap aduannya untuk tidak keluar dari ruangan ini. . Lima baris puisi terpampang di atas tembok yang sama. mengambil sebatang rokok dari saku kemeja dan meletakkannya bersama korek api di atas tangan itu. ”Ambil saja. begitu baris akhirnya berbunyi. benci. siap ataupun tidak. Karya seni ini mengundang jiwa pengamatku untuk menelusurinya satu persatu. Lima detik kemudian aku bereaksi.” seruku. sedikit kemarahan. Kesedihan. Betapa aku telah mencapai suatu tingkat kenyamanan yang membuai dengan duduk di sini sambil merasakan bokongku berkarat perlahan-lahan. yang tampak menikmati bau pekat di dalam ruangan menyedihkan ini bersama-sama. Dilapisi oleh warna merah yang menyerupai darah dan goresan tegas membentuk tiap hurufnya. namun sisa batang rokok yang terbakar ini menahanku untuk menikmati kesendirian dari dalam bilik sempit ini barang sejenak. Empat sisi tembok putih menatapku dengan wajah yang pucat. Ratusan kata terangkai dalam warna-warni yang tersusun dengan berantakan dan saling bertautan membentuk lukisan abstrak di atas alas yang pasrah. Api rokok terpejam dan menyala mengikuti irama denyut jantung. dan saling menjatuhkan. Dan kekalahan akan datang kepada mereka yang berani menanggung rasa nyeri. Dalam keheningan yang membius. Kini aku merasa sedikit malu dengan tembok-tembok ini yang mengepungku seakan sedang menghakimi aku atas semuanya yang telah mereka alami. air mata. ”Boleh minta rokok?” telapak tangan kemerahan itu berkata. disambut dengan pintu-pintu yang terbuka lebar. di celah antara tembok dan lantai toilet. aku dibangunkan oleh rasa terkejut. Walau sebenarnya perutku yang melilit itu sudah tenggelam di dasar WC beberapa menit yang lalu. Tetesan dan rembesan air mata yang jatuh dari langit mewarnai umur tembok-tembok ini lewat garis-garis kecokelatan yang merambat pelan dari atap menuju basahnya lantai keramik. Sebuah kutipan milik seorang penyair besar yang tampak telah merasuki jiwa si penulis. di Atas Kloset ( Juara 3 ) Juni 4th. ’Yang terakhir mati adalah harapan’. Tampak jelas di mataku sekumpulan emosi yang tersurat dengan lantangnya menyuarakan batin yang selalu berteriak. aku mendapati segenggam kebenaran yang coba dipancarkan oleh tulisan-tulisan itu. harapan kosong dan tentunya perasaan kecewa adalah tema yang menumpuk pada sastra tembok ruang WC ini. Seketika tembok ini menyiratkan hawa perasaan hangat manusia. Samarnya suara tikus yang mencicit jauh di sana. Aku tak ingat bahwa ada seseorang di bilik sebelah. menambah sempurnanya suasana tenang yang mengiringi parade ritual sakit perut yang kualami. Semakin lama aku semakin tertarik untuk membawa setiap tulisan-tulisan ini ke dalam ruang perenunganku. selain melubangi paru-paruku lewat setiap tarikan napas dan memandangi sekelompok lalat yang tampak malu-malu untuk menyapaku. Dari bawah tembok sastra ini.

aku menebak-nebak bahwa dia seorang anak lelaki seusia remaja. Ia diam tidak menjawab. Tangan kirinya muncul lagi dari celah bawah sambil menggenggam korek api gas warna hijau yang tadi kuberikan padanya. Apa mungkin aku mengajukan pertanyaan yang salah? Atau bisa jadi dia ini adalah seorang yang pendiam dan malu-malu. seperti memikirkan jawaban yang akan keluar dari mulutnya. Tadi dia yang pertama mengajakku bicara. Dan kini kami berdua kembali diam dengan tenang. Hanya duduk-duduk di atas kloset porselen warna putih yang keras.” Sedikit aneh. Detak jarum jam tanganku adalah satu-satunya suara yang kudengar. ”lebih enak kalau kita tidak saling kenal nama masingmasing.mungkin ratusan cabe merah dan kerabatnya. tapi sekarang dia kembali mengunci mulutnya rapat-rapat. untuk mengobrol dengan seseorang tak dikenal di dalam toilet yang wujudnya terhalang oleh tipisnya tembok pembatas. Rokokku sudah setengahnya terbakar. Aku memilih tenggelam dalam keheningan yang ia ciptakan. atau tepatnya seorang remaja tanggung.” Gelombang hening berkeliaran di dalam toilet.” Dahiku berkerut. aku . Seseorang ada di sebelahku.” ”Restoran sinting. Untung saja restoran ini juga punya toilet. walau bagaimanapun juga aku berusaha memikirkan kata-kata yang tepat untuk memulai sebuah pembicaraan yang dapat memecahkan keheningan yang mengganggu ini. Dalam situasi sekarang. Aku tak bisa menahan perutku yang melilit. aku adalah tipe orang yang hanya bisa menunggu. Maka aku memulai dengan mengajukan pertanyaan yang paling mudah. Aku hampir membuka mulut saat suara yang dingin itu datang. ”Sama-sama. hanya duduk-duduk sepertiku. dan entah mengapa aku merasa sedikit canggung dengan kehadirannya. Dari suaranya. aku berada di sini gara-gara udang bakar sialan yang disajikan dengan…. aku bingung dengan orang ini. Lalat-lalat telah pergi entah kemana. Restoran ini memang membuatku mual. Sepertinya dia juga tidak melakukan apa-apa di ruangannya. Kali ini aku tidak mencoba mengajaknya bicara. apa yang barusan kau makan?” aku mencoba membuka percakapan lagi.” ”Baguslah.” ”Oh. Entahlah. Salah satu dari kita harus memulai percakapan. ”Terima kasih. ”Kau sedang sibuk?” ”Maksudnya?” ”Apakah aku mengganggu kegiatanmu di sana?” ”Oh tidak. begitu pikirku. Asal kau tahu. Yang jelas perutku terbakar. ”Siapa Namamu?” ”Tidak perlu tahu nama saya.” ”Boleh. Dahsyat sekali.” serunya dengan cepat.”Oh terima kasih. ”Jadi. Hembusan napasnya terdengar amat jelas di kedua telinga. bahkan untuk orang sepertiku. Jangan-jangan kau juga makan udang bakar itu?” Aku tidak yakin tapi sepertinya aku mendengar sekilas suaranya bergema mengucapkan ’Eeeee…’ yang panjang.” ia berkata untuk yang kedua kalinya. Aku tidak akan makan lagi di sini.” Dan tangan itu menghilang lalu tak lama kemudian suara percik api bergema memadati ruangan. ”Makan?” ”Ya. Kita bisa sedikit mengobrol kalau begitu. ”Apa yang akan kita bicarakan?” aku bertanya. Aku hanya menghabiskan rokokku di sini.

mungkin juga tanpa menoleh sedikitpun pada pelayan atau hanya sekedar duduk-duduk sebentar di kursi. Aku menghirup dan menghembuskan asap rokok dengan keras. ”aku orangnya.” tiba-tiba ia bicara.” ”Oh ya?” ”Tentu saja.suaranya sedikit serak kali ini. Bahkan asap rokokku ikut merasakan kalang-kabut. Dia tertawa kecil. Inikah yang terjadi pada remaja jaman sekarang? Masuk ke restoran hanya untuk menikmati nyamannya kloset sambil mungkin berpikir tentang masa depannya? ”Kalau begitu kamu kenal dengan orang tak tahu malu yang mencoret-coret dinding di dalam sini?” Pertanyaan basa-basi. mengunci diri di dalamnya dan melakukan ritual. sebanyak ini.”. tanpa sepengetahuanku.” ia terkesan berhati-hati dalam menyusun setiap kalimatnya. Kehebohan terjadi di dalam otakku untuk mencari kalimat yang tepat untuk menanggapi pernyataannya tadi. ”Tapi aku tidak alergi dengan pedas. ”Ya.” Mulutku seperti ditampar.” Tentu saja. Kamu pikir aku rela menghabiskan waktu lebih lama di dalam sini kalau bukan karena ingin menikmati coretan-coretan ini. Lalat-lalat kembali berputar-putar di sekitar lampu dengan kesetanan.” semoga ia tidak menangkap irama kepanikanku. Maksudku. Menghabiskan sedikit waktuku. sangat tak tahu malu apabila hanya dipajang di dinding WC yang jorok ini. Aku tak peduli siapa yang melakukannya. Tak disangka ada juga orang seperti anda yang memperhatikannya. dan tanpa basa-basi langsung mengajakku bicara seolah-olah aku ini temannya. Dan memang rasanya agak pedas. ”Ritual yang kumaksud adalah mencoret-coret dinding ruanganmu itu. melainkan langsung meluncur menuju toilet ini. untuk karya seni sebagus ini. ”Yaa. tanpa jabat tangan – kecuali dengan sebatang rokok dan korek api yang kuberikan padanya – dan tanpa nama sama sekali. ”Wow! Bagus kalau begitu. ”maksud saya. Satu-satunya ritual yang kukenal yang pantas dilakukan di toilet adalah ritual yang baru saja kujalani beberapa menit yang lalu dengan susah payah. Sepertinya aku telah berhasil membawa pembicaraan ini ke arah yang lebih baik. Latar belakang seniku adalah mencoret foto muka presiden di ruang kelas sekolah dasarku dulu. atau di tembok kota sekalian biar orang-orang bisa melihatnya. Tanya saja lalat-lalat ini.merindukan suara bising sayap mereka.” aku tak tahu apa yang sedang kukatakan. sama seperti kelakuan remaja aneh lainnya. aku tak tahu harus memanggilnya apa. ”Sup ayam.” aku berbohong lagi. Aku punya latar belakang seni dan aku tahu apa yang sedang kukatakan. Tapi setidaknya setengah dari daya tarik corat-coret ini memang berhasil menarik perhatianku. tanpa suara. cuma…. Aku yakin bahwa ia masuk ke restoran ini tanpa memesan apapun.” jeda kembali terulang. Anak ini datang ke toilet serba putih ini. dan. bisa dibilang ini seperti sebuah ritual buatku. siapa yang tidak akan memperhatikannya. ”Ingin bicara denganku kan?” Aku tak sabar menunggu. Hampir setiap malam aku datang ke sini. dengan coretan sebesar ini. sedikit menyejukkan di telingaku. Dilihat dari isi tulisan dan . Ada kekuatan sastra di dalamnya. ”Oh ya? Untuk apa?” ”Menurutmu?” Menurutku karena kau adalah anak iseng yang tidak punya hal bermanfaat lain yang bisa dikerjakan selain menginap semalaman di dalam toilet ini.” Biar kuanalisis sebentar. ”Oh ya?” ”Ya. sengaja membuat sedikit keributan. alasanku ke sini bukan karena sakit perut atau apalah. ”semacam duduk-duduk di tempatmu berada sekarang. Tanpa perkenalan.” serunya dengan nada pelan. “satu-satunya makanan yang pernah kumakan di restoran ini adalah sup ayam. Seharusnya kau bisa lebih menghargai seni dengan menaruhnya di tempat-tempat yang pantas.

kau bisa menemukan apa yang kaucari selama ini. Aku lelah ditertawakan. lebih menonjolkan sisi gelap manusia. Bagiku itu cukup masuk akal.” “Entahlah. aku memang…memang menuliskan semua yang kurasakan di sana. kita adalah orang yang sama. Aku bertaruh bahkan seorang Gandhi pun akan memiliki keinginan untuk membunuh bila ia tahu apa yang kurasakan.” Kali ini aku yang terdiam. “Remaja adalah tingkat paling rapuh dalam riwayat hidup manusia. Aku akan menghajar para malaikat. Aku hanya membenci semua hal dan ingin sekali berdiri di puncak bumi ini dan memarahi semua orang-orang yang pernah kukenal. dan kita bukan orang yang sama.” ”Ya mungkin saja. lebih kelam. ini adalah semacam cara anak muda jaman sekarang dalam mengekspresikan sesuatu.” Gemeretak tembakau yang terbakar terdengar nyaring dari tempat ia berada.” ”Menurutmu siapa yang paling cocok untuk melawan Gandhi?” ”Mmm…siapa ya? Mmm…Adolf Hitler!” ”Brillian! Bayangkan bagaimana ia mencabuti kumisnya satu persatu.” ia setengah berteriak. Namun semuanya akan berubah.gambar-gambarnya . Kadang aku berpikir bila Gandhi diberi kesempatan kedua untuk hidup lagi. ya kan? Seperti coretan-coretan lain yang sering kulihat di tembok-tembok pinggir jalan. Ia kembali mengatupkan mulutnya setelah mendengar pendapatku. Barangkali hingga membusuk.” rasa simpati mulai merangkak keluar dari kepalaku. ”Itu akan menjadi tontonan yang paling menarik di akhirat.” serunya dengan nada yang semakin muram. dan sebuah ledakan dengan gradasi warna merah yang indah . “tapi selama kau bisa memanfaatkannya dengan baik. lebih seperti perasaan kesepian.” “Serius? Kau berkelahi dengan Gandhi? Siapa yang menang?” “Aku lupa. Rokok di tangan kananku mulai memendek dan aku mulai bosan berada di sini. Jangan terlalu disesali. Gandhi sang Gladiator mengalahkan Hitler si Pecundang!” Kami berdua tertawa. seakanakan kau memang mengalaminya sendiri. Atau mungkin saja saat ini. Seharusnya dia memang jadi ahli berkelahi. mungkin sedang mengolah setiap kata yang ia dengar di suatu tempat di kepalanya. ia akan berubah menjadi seorang maniak yang mencintai perang. “Ya. kau benar. Aku menolehkan mukaku ke arah biliknya. Kalimat itu akan kutulis di tembok malam ini.” ia memberikan penekanan dan menambahkan unsur melodramatis dalam kalimatnya. Itu yang akan kulakukan kalau menjadi Gandhi.seperti seorang anak yang gantung diri. seakan-akan tidak ada hal benar yang dapat dilihat oleh matamu di dunia ini. karenanya aku memilih untuk berhati-hati. Tapi aku membuat hidungnya berdarah. lebih gelap. aku tak yakin. Orang seperti dia memang kadang sulit untuk ditebak. di akhirat ia mengajak para malaikat untuk bertarung dengannya sebagai kekesalan atas emosinya yang tak tersalurkan di dunia.” “Hebat. atau…yah tak tahulah…tapi kau telah menggambarkan perasaan-perasaan tersebut dengan baik.” . Persis seperti kesan yang kutangkap sebelumnya bahwa orang ini adalah seorang pendiam yang gemar memendam api dan membiarkannya menjalar di dalam hati. Masa remajaku juga diisi oleh rasa kesal. “Ya.aku mengira bahwa dinding ini adalah bagian dari buku hariannya yang diisi oleh keluhan atau semacam curahan perasaan untuk seseorang yang bisa dibilang sangat kesepian. perempuan kerdil yang menangis. ”Mmm…menurutku. Hanya saja ini lebih… mmm…katakanlah. “Semua yang kurasakan hampir tiap hari. ”Ide yang bagus. Aku pernah bermimpi sedang berkelahi dengan Gandhi dan itu membuatku senang.

Aku tidak bermaksud un…” ”Ah tidak apa-apa. kepercayaan. Yang pertama terbesit adalah aku tak ingin terjebak di dalam mobilku dan segera berlari mencari tempat perlindungan yang aman.” “Mmm…mungkin sekitar 5 menit. Aku hanya membayangkan si Hitler itu akhirnya dikalahkan oleh sosok Gandhi. selalu menuntutku untuk begini-begitu dan tak pernah sama sekali mendengarkan apa yang kumau.”Asalkan kau senang Kawan.” “Ya.aku hanya menebak saja. Keriangan yang menyeruak sekarang terpendam di dasar bumi. ”Baiklah. sebelum kau pergi. Suara-suaranya yang tadi keluar seperti terhisap ke dalam lubang air di lantai basah. Mungkin kita akan bertemu lagi suatu saat. Sekedar informasi.” “Kuanggap itu 10 menit. seperti suara yang timbul ketika aku menuliskan pesan singkat di handphone. ”Kau tahu di mana kau akan menemukan aku.” ”Bukan begitu. ”Eeee…. sekarang yang kuinginkan adalah pergi dari tempat ini dan mengucapkan salam perpisahan pada tamu tak terlihat ini. karena getaran tersebut hanya berlangsung kira-kira 2 detik dan disertai oleh suara berdebum yang memekakkan telinga. Ini terlalu singkat untuk disebut gempa bumi. alasannya adalah aku mengenal seseorang yang wajahnya mirip seperti Hitler. tapi sebelumnya.12.dari tadi aku tertarik dengan tulisanmu yang berbunyi ‘Daripada cinta.” “Oh ya. ”Bagaimana kau tahu kalau dia adalah ayahku?” Suaranya terdengar pelan.” Tat tit tat teet toot tit tut. Waktuku telah usai. kira-kira berapa menit waktu yang kaubutuhkan untuk keluar dari restoran ini?” “Maksudmu?” “Ya. Aku bermaksud untuk pura-pura tidak mendengar dan menyelinap keluar.tidak. aku…. maukah kau melihat tulisanku sekali lagi. itu adalah kalimat pertama yang kucoret di dalam toilet ini.” ”Maksudmu kau yang menjadi Gandhi mengalahkan bapakmu si Hitler itu?” Ia kembali membisu. aku menyukainya. dan memberitahuku kata-kata apa yang kausuka dari sana?” “Mmm…. aku harus…harus pulang. Maaf kalau aku menyinggung perasaanmu. aku merasakan permukaan jalan bergerak-gerak seperti ada sesuatu sedang menjalar di dalamnya. tapi aku terdorong untuk mengakhiri perbincangan ini dengan baik. aku mengutipnya dari seorang penyair. Kau mau pergi?” “Ya.” “Pilihan yang bagus. tepat sekitar 10 menit dari saat aku meninggalkan toilet itu ketika dalam kegelapan malam yang beku. rokok telah kubuang dan kuinjak. uang. popularitas.” Aku mengetuk kepalan tangan kananku pada pintu biliknya dan pergi melenggang dari ruangan itu. Dari dalam biliknya terdengar suara tombol-tombol yang ditekan. orang yang selama ini tertindas oleh egonya. dan keadilan.” *** Jam digital di mobilku menunjukkan pukul 21. aku tak keberatan. lebih baik berikan aku kebenaran!’. Kalimat yang sangat provokatif. Diriku berada di ambang kepanikan dan terus memastikan diri bahwa aku masih . bahkan kelakuannyapun sangat kelewatan. aku pergi Kawan. Suara riuh manusia berceceran memenuhi udara pengap ini. kau tahu maksudku. Dia orang yang kubenci. Aku tak berani mengucapkan apa-apa. Tanpa pikir panjang aku melompat keluar dari mobilku.” “Oke.

2008 by bidari Untuk kesekian kalinya kami hanya diam. Aku pikir dengan hilangnya satu anggota keluarga.” Seketika itu nafsu makanku lenyap. Rani. . Restoran itu kini terbakar. aku seperti melihat sosok teman toilet misteriusku itu terbang lepas menuju angkasa sambil membawa kesendiriannya dalam keabadian. Lagi-lagi. Aku menoleh ke belakang. Ibu memasak semur jengkol khusus untuk Abang.“ Ah. adik pertamaku. perubahan Emak dan perasaanku. akan berkurang juga beban hidup. Biarlah. Kepergiannya tentu bukanlah ke Cirebon. adikku yang nomer dua. Tak butuh waktu lama bagiku untuk menerka bahwa bom telah meledakkan restoran udang bakar pedas itu. ”Selamat jalan. Di dipan reot depan rumah kami ini. Emak lebih banyak diam. aku sempat dua hari tidak bisa tidur. Tetapi ternyata belum cukup. Semur dan nasi yang biasanya tandas itu kubiarkan saja dikerubungi lalat. Aku ingin memastikan bahwa Emak tetap sayang padaku. Ibu menitip pesan untuk Abang. Bang. Dia membawakanku semur jengkol dan nasi uduk buatan Emak. Aku jadi begitu rindu pada Emak. Mahkota emas sang raja yang berkilauan. Aku makan lahap sekali waktu itu. dan Nasi Uduk Januari 7th. Nanti malam dia pulang bawa uang. Tetapi yang jelas. Sardi dengan sigap mengatur penyimpanan dan pengeluaran. Entah mengapa. Entah merenung. Sejak saat itu aku jadi sering melamun. Semoga kau bertemu Gandhi di sana. asal muasal suara keras tersebut. Sebulan sebelum pembebasanku. Dan disitulah aku menatap pemandangan indah yang bersinar di kedua bola mataku yang menciut.’ Ibu rindu pada Abang. wajah iblis sedang memancarkan senyum manisnya. Mungkin saja Emak sudah habis akal meluruskan jalanku. Sejak aku mendengar cerita Sardi itu. Seperti biasa. tetapi Emak hanya menggeleng. Aneh. Hanya itu yang terus berdengung di pikiranku sekarang. dia tidak dipenjara. Semur Jengkol. sejak aku kembali dipenjara untuk yang ke tujuh kalinya. oranye. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan.berdiri memijak tanah. Di luar dugaanku. Emakku yang penyayang tidak lagi menangisi kepergianku. lagi-lagi kami bersama. “Ibu sakit. dan rasanya aku hanya dapat membayangkan momen terakhirku di toilet itu dengan jelas. Sekotak berlian itu sudah kubagi-bagi hasil penjualannya dengan Bakir. Aku hanya terpana. Aku ceritakan pada Rani tentang Sardi. Mengantar barang ke Cirebon. Masalah yang sama. entah meratapi nasib. “Sudah kau bawa ke dokter?” “Belum.” Demi Emak. diam tak bergerak. Rani malah menangis sesenggukan. Sardi sedang tidak ada di rumah. sudah rejekinya. Asap hitam mengepul menjangkau bulan yang sedang terang benderang. Aku ingin cepat-cepat pulang dan bertanya pada Emak perihal perubahan itu. pantulan sekumpulan bunga matahari yang berbaris di taman. Ini hari kedua aku bebas. Aku sendiri tidak tahu di mana. Emak tidak lagi menangis dan tidak lagi meratapi pilihanku. Tidak ada satu pun dari kami yang boleh mencicipinya. Dan saat aku menengadahkan wajahku ke langit. Restoran telah menyatu dalam gradasi warna merah. Aku sendiri sebenarnya penasaran. Aku berikan bagianku pada Sardi. Sudah lewat dua puluh menit kami terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Tidak seperti biasanya. Api dalam kobaran yang besar menari-nari dengan gemulai dan tak menghiraukan suara teriak yang menghampirinya. datang menjenguk. Sudah terbukti. entah bersyukur. yang menurutku sendiri tidaklah bengkok. Emak tidak lagi menangis. Menurut Sardi. Aku berpikir bahwa ini adalah bukti bahwa Emak masih sayang padaku. dan kuning. aku dan Emakku. menerangi sudut kota dengan kemegahan tak terucapkan. Sudah dua hari ini. tempat persembunyian itu pastilah aman. ‘Katakan pada Salim untuk banyak-banyak berdoa. Hasil curianku yang terakhir lumayan besar. Pernah suatu ketika Sardi bertanya perihal perubahan itu. Aku berpikir Emak sudah tidak sayang lagi padaku.

tidur gratis. aku butuh uang. Meminta kelancaran. Mengapa Emak menyuruhku banyak-banyak berdoa. bayar sekolahnya Sardi dan Rani dan Emakku tidak sakit. kau tenang saja. adikku yang bersih itu. trus mau bagaimana? Sudah mencuri saja masih tetap melarat.“ “Mungkin doa yang lain. Sebelum melakukan aksiku. Makan. Dia bertanya tentang perubahanku yang drastis. laki-laki itu membunuh istrinya.“ “Doa yang lain bagaimana maksudmu? Doa supaya cepat bebas dari penjara? Ah.“ “Bagus apanya? Aku tidak mengerti harus berdoa dengan model apa lagi. kupeluk dia dan kucium keningnya.”. Dia memintaku banyak-banyak berdoa. Seingatku. itu sudah bagus. teman satu sel. “Semoga kali ini tidak gagal. Karena tidak berhasil. Dia meninggal. aku selalu berdoa. . bahwa keadaan Supri jauh lebih parah dariku. ”Ya Allah semoga hari ini aku dapat tangkapan besar.“Sudahlah. Baru aku tahu.”. Oke lah. Aku sedih sekali. Aku terus memikirkan katakata Emak. Aku terharu. Lha apa kau pikir aku mencuri untuk beli mobil? Ngimpi!!! Itu mah pejabat!!!“ “Hahaha…ada-ada saja kau.“ “Ooo…gitu ya.“ Sepeninggal Rani. Aku bingung memikirkan nasehat Emakku. Seminggu sebelum hari bebasku. Asal bisa makan. Nanti malam Sardi akan pulang membawa uang untuk kalian. Aku merasa dia orang yang baik dan bisa dipercaya.” “Lha.” Rani. “Aku sedang bingung.” “Kenapa? Sebentar lagi kau kan bebas. Aku tidak mengerti apa maksud Emak.“ “Ooo. Ngirit kok terus. aku dan Supri menjadi akrab. Aku meminta kepada Tuhan agar melancarkan usahaku. Bagus lah. Biar sesekali bisa merasakan makan di restoran. Jangan lupa kau belikan obat untuk Emak. hah?” “Memangnya kau tidak berdoa untuk minta kaya?” “Hahaha…ngarang!!! Aku ini orang biasa. anggap saja pengiritan. Aku merasa baik-baik saja hidup di penjara ini. “Abang baik-baiklah.” “Bukan masalah itu. Laki-laki itu berusaha memperkosa istrinya. tetapi juga mbegal dan membunuh. Dia membunuh laki-laki itu karena alasan balas dendam. Dia tidak hanya mencuri. Hari-hariku kuisi dengan melamun. “Ya Tuhan Emakku sakit.” “Hahaha…ada-ada saja kau ini. dan berbagai variasi lain sesuai kebutuhan. Radang paru-paru yang menggerogoti tubuhnya sudah tidak mau toleran. Sebulan lagi aku datang menjemput Abang. minum. Supri. ’Banyak-banyaklah berdoa’. Ingat pesan Emak ya. Kami sering ngobrol masalah ini itu. Aku seperti kehilangan teman berbagi. Impas. menggangguk saja. Yah. kebisuanku semakin menjadi. Pri. Bangsat seperti itu memang layak menerimanya. itu basi. Sebelum pulang. Aku kan selalu berdoa setiap kali melancarkan aksi. Rani sangat baik. aku kehilangan Supri. Hukumannya kali ini bukan yang pertama. tapi…memangnya boleh berdoa minta yang muluk-muluk gitu?“ “Muluk-muluk bagaimana? Minta kaya? Ya bolehlah.”. tetapi yang paling lama. Lim. Apalagi sejak dia belajar sholat tiga bulan yang lalu. memperhatikan keadaanku. Dia begitu percaya padaku dan tidak pernah sekalipun membantahku. aku akan berdoa minta kaya kalau begitu. korban terakhirnya dia bunuh dengan terencana. Apa kau pikir aku ini kaya. aku tidak lupa berdoa.“ “Eh. Katanya. dia terlihat lebih menyenangkan. Pri.” Sejak percakapan itu.

Kuceritakan pada Emak semua hal yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini. Lalu kutempelkan di dahiku. Emak dan tenang. Yang Emak tahu. Emak minta agar hidup kita tenang. Sepertinya. ‘Benar kata Emakmu. Aku takjub. Seperti biasanya. Di sana. Fotofoto itu tidak menarik perhatianku. perasaan. Selama seminggu menunggu sisa waktuku. Lim. kucium tangan kanannya bolak-balik. Buatlah hidupnya tenang. buku itu adalah warisan Supri untukku. Buku catatan itu jauh lebih menarik. Di buku itu kujumpai puisi di sana sini. Kulipat bagian-bagian yang menarik perhatianku dan kubaca lagi dua – tiga kali. Seperti memohon restu darinya. Sardi dan Rani lulus sekolah.Tidak banyak barang peninggalan Supri. berdoa itu penting. hanya sebuah buku catatan kusam dan beberapa lembar foto usang. Kau memang harus banyak-banyak berdoa.” . hari pertama bebas aku langsung menemui Emak. Dan kamu tidak dipenjara lagi.“ “Apa Emak berdoa setiap hari? Emak meminta apa?” “Yang biasa saja. Karena memang aku tidak kenal mereka. Lim. Kau orang baik. Supri yang pembunuh. Aku mencoba mengerti kata-kata terakhir Supri waktu itu.” Aku mencoba memahami hubungan antara doa. begitu kata ustad Jika memang masih Kau ijinkan aku hidup Berilah aku kebebasan Jangan Kau tipu aku dengan uang Dan jangan Kau tipu aku dengan foya Tolonglah… Sekali ini saja Beri aku ini hidup yang berarti Cukup sekali’ Aku meminta ijin kepada kepala untuk memiliki buku itu. Demi menemukan jawaban itu. aku membaca buku itu hingga selesai. Aku membaca buku itu layaknya membaca kehidupan. ternyata perasa. Emakmu ini tidak pernah sekolah. Supri menuliskan semua keluh kesah. Lanjutan dari obrolan yang terputus. “Mak. Semuanya nampak jelas dan nyata. apa hubungan semua itu? Emak tahu?” “Lim. dan pikirannya. Lim. Entah mengapa aku merasa wajib menyimpan buku itu. ’Jika aku ini tidak lebih dari setumpuk kotoran Jika aku ini tidak lebih dari seonggok daging Jika aku ini tidak lebih dari pengacau Kenapa tidak Kau matikan saja aku sekarang Bukankah Kau Maha Segala Apalah sulitnya mematikan aku Tinggal kau tiup saja Kun faya kun. Mana Emak tahu tentang puisi. Satu yang menarik perhatianku adalah ratapannya pada Tuhan. Pantas kalau Emakmu begitu sayang padamu.

Anak-anak yang tadi main gundu. Mungkin memang sudah waktunya untukku belajar sholat seperti dia. kita tidak usah repot cari uang untuk bayar sekolah dan makan tiap hari. Enak kan. Kadang mereka tidak tahu waktu. Kalo kaya. Senang sekali mendengar suara di bawah sana. Kutindih buku tulis dengan pena. Tak satu pun soal bisa kujawab.“ “Lim. Tetapi setidaknya aku berusaha untuk tidak kembali ke penjara. Pagi-pagi buta Emakku masih harus bangun untuk membuat gorengan. mulai berlari pulang ke rumah masing-masing.“ Ah. sudah lah. bahwa keinginan yang sederhana tidaklah sederhana pada pelaksanaannya. Emak. Sardi masih harus bersepeda ke sana ke mari mengantar koran dan Rani masih harus mencuci pakaian tetangga. Samar terdengar bagai menembus dinding kamarku. Kenapa Emak tidak minta jadi orang kaya? Kata Supri. . Gayaku mirip dengan pemanjat tebing. Kamu tahu kan tempatnya? Itu di loteng! Hampir tiap hari aku naik dan berdiam diri di sudut atas kamar itu. Aku berdiri tegap serupa hantu yang ingin mengusik.“Oh. Mak. Di Atas Kamar di Bawah Atap Desember 12th. Aku dan Emak masih belum beranjak dari dipan. Telingaku bisa langsung setajam kuping kelinci serupa antena mendapatkan sinyal yang diinginkan. 2008 by Emil Akbar Aku selalu berada di atas kamar di bawah atap ketika malam datang. Lalu kuangkat kaki kiri menapaki pinggir meja dan kaki kanan setelahnya untuk menjaga keseimbangan. Walau begitu aku tetap harus hati-hati. saat bisikan itu dibarengi dengan bunyi berderit-derit. Sekali-sekali gitu. lagi-lagi aku jadi teringat Supri. dan nasi uduk lebih sering. Emak sudah senang kok. Menggelitik gendang telingaku. Jari-jarinya saling merekat dan menekuk bagai mencengkeram. Sedang mengerjakan PR. Doa Emak dikabulkan saja. tapi tetap saja gerakanku menimbulkan suara. Pintu tidak terbuka lantaran sudah kukunci. Sudah tenang. Tetapi aku menyadari. aku mengira mereka sedang bercanda atau tengah bertengkar dan tidak mau diketahui orang lain. Permintaan Emak memang sangat sederhana. akan kujelaskan padamu bagaimana caranya aku bisa naik ke atas sana. Aku menyerah. Dadaku bergemuruh bagai amuk badai menghancurkan segala pertahanan diri. kita boleh berdoa minta jadi orang kaya. meski kecil. *** Mula-mula kusingkirkan segala alat tulis dan kupastikan meja belajar mampu menahan berat badanku saat aku menginjaknya. lagi-lagi kata tenang. Tidak usah neko-neko. Kan biar bisa makan di restoran. Ototku yang tidak berotot menjadi kejang karena tertarik. Seperti malam ini. tetapi agar aku bisa melihat senyum Emakku. jernih tanpa gangguan. Emak dan tenang. mengganti celana dengan sarung. Lamat-lamat terdengar suara adzan dari musholla di gang sebelah. mereka mengeluarkan suara berbisik-bisik. Sebab jantungku seperti berhenti berdetak saking cepatnya memacu. Pastilah mudah. Kakiku yang menginjak udara itu melayang ke atas dan hinggap di balok kosen paling bawah. Kedua tanganku menggenggam kosen pintu yang berbentuk kotak-kotak dan tak berkaca. Namun aku yakin tak kan terdengar sampai di seberang sana. makan semur jengkol dan nasi uduk lebih sering. Lim. mengganggu konsentrasiku belajar. Namun sekarang aku tahu apa yang mereka lakukan. Ah. Malam belumlah terlalu larut.“ “Ah. Seperti menguji kepekaan telingaku. Kawan. Wajahnya sehabis wudhu terlihat lebih tenang. Emak malah takut kena yang aneh-aneh. Lim? Biar bisa gegayaan seperti orang-orang? Tidak usah. Dulu. Membuat suara serangga malam di luar rumah tidak terdengar. Sebisa mungkin tanpa bunyi. Kemudian secara perlahan telapak kaki kananku menginjak gagang pintu sehingga terdorong ke bawah. Aku masih belum begitu memahami hubungan doa. Demi melihat senyum Emakku. Lampu di kamarku masih menyala. Sementara tungkai kaki kiriku terayun-ayun mengambil ancang-ancang. Lalu aku? Apa yang kulakukan? Tidak banyak. Kutarik napas sejenak. makan semur jengkol. Kumatikan lampu dan gelap seketika. Apalagi bagi Tuhan yang Maha Kuasa. Bukan untuk merubah wajahku.” “Buat apa. Aku belum tidur.

Kawan. dia punya mainan baru. Di bawah sana sendu yang temaram. Ibu selalu mengingatkan agar jangan pernah memegang pipa tersebut. Seperti aku takut tercebur ke dalam sungai karena tidak bisa berenang. Aku berjalan merangkak serupa hewan berkaki empat. termasuk kamarku dan kamar Ibu. penopang atap rumah. Kuhela napas berkali-kali mengeluarkannya. Sesekali memang terdengar gemeretak seng seperti ada orang yang berjalan di atasnya. Ibarat Kabut tebal menghalangi melihat jalan di depan. Tangan kananku menggapai permukaan tembok yang kasar. jadi aku aman. Lantaran bayanganku terlihat memanjang. beberapa ruangan memang belum mempunyai plafon. Sarang laba-laba mulai menghadang ketika aku menerobos paksa. membentuk kerangka atap. Tapi aku tak peduli. seperti batang pohon yang dijadikan jembatan untuk meniti. Aku berlari dan berhenti setelah sampai di kolong rumah. aku pelan-pelan melongokkan kepala dan menariknya kembali jika terlalu menjulur ke depan. membuatku gerah sehingga keringat membasahi bajuku. Asal kamu mau menyimak dengan baik pengalamanku yang pahit. Jangan sampai aku terpeleset dan mengenai lantai loteng yang rapuh dan mudah pecah itu. Di bawahku adalah langit-langit ruang tamu. aku jongkok membungkuk mendekap lutut. Tadi pagi Ibu menyuruhku membersihkannya dengan sapu lidi tapi tidak kulaksanakan karena asyik bermain di rumah teman. Lupa waktu saking asyiknya bermain di rumah teman. Biasanya Ibu mematikan hubungan listrik tiap kali aku membersihkan loteng ini yang dipenuhi sarang laba-laba. kami bertetangga sebelah rumah. Setelah aku sampai di tempat bertemunya atap seng dengan tembok. Ibu tidak mencariku. Aku ngeri membayangkan bila itu terjadi. Aku melangkah dengan cara merunduk menuju balok yang rebah. pagi-pagi benar baru pulang. yang tidak mengenakkan pandangan kala mendongak. mirip tripleks. Setelah jeda sesaat aku kembali berdiri. Sering tanpa bisa kucegah. Dulu. Mereka menyarankan sebaiknya aku menginap saja. aku takut sebab mengira ada pencuri yang mau masuk rumah atau ada setan di luar sana ingin mengambilku. Kukumpulkan dan kuremas kemudian kujadikan bola-bola kecil lalu membuangnya begitu saja. kusapu cepat karena lengket dan terasa gatal seperti kalau aku kegelian. Mungkin sebentar lagi hujan. Suara napas memburu di bawah sana melecut semangatku untuk segera mendekat. Yang aku takutkan anjing mulai menggonggong. Saat sarang laba-laba itu membalut wajahku. Tempat tinggalku masih rumah panggung yang hampir roboh waktu itu. Mataku tak berkedip dan menatap nanar seiring dengan debar yang bergenderang seperti ada gendang ditabuh di dadaku. menimbulkan gelap yang terlihat. *** Malam itu aku pulang larut malam. Belum pernah aku bermalam di rumah orang tanpa Ibu. Juga melekat di bajuku dan susah sekali menghilangkannya seperti noda yang membandel. Kini aku baru tahu kalau itu adalah proses seng kembali ke ukuran semula setelah siang tadi memuai karena dipanggang panasnya matahari. Sering begitu sejak pertama kali aku melihat adegan ini. khawatir aku kesetrum. Anehnya. tidak terlalu terang tapi cukup membuat benda-benda yang diterpa cahayanya memiliki bayang-bayang. Ada juga balok yang melintang dan membujur. terbuat dari adonan kertas basah yang dicetak. Aku meringkuk sebentar di balik balok paling besar. Besok mungkin Ibu akan marah dan mengingatkanku lagi. Sedang direnovasi menjadi rumah batu. Hanya lampu di kamar ibu yang menyala di dalam rumah. Aku berjalan menyamping sambil tetap duduk mendekap lutut dengan kepala tertunduk. Kuhirup bau pengap. . Kecuali ruang tamu. Ada pipa kabel listrik tak sengaja kusentuh. Pondasinya telah dibangun. Aku pamit saat temanku itu sudah mengantuk. Akan kuceritakan. Kuberanikan diri karena jaraknya dekat. terletak di tengah rumah yang merupakan pusat dari balok yang bertebaran. Kukoyak sarang labalaba itu menjadi helai-helai yang berjatuhan. supaya tidak terantuk atap seng yang akan menimbulkan bunyi gaduh.Badanku mulai merayap seperti cicak raksasa menggerayangi dinding di keremangan malam. video game. Dulu. Di salah satu sudut atas kamar inilah aku termangu memandang perbuatan Ibu dan Bapak. Lubang hidungku kemasukan debu. Tapi aku tetap mau pulang. Agak berisik. Sekarang aku berada di atas kamar. serpihan tembok berjatuhan seperti rintik hujan menyentuh bebatuan. Sekarang aku telah tiba di tujuan. Rumah ini beratap seng. udara agak panas. Biasanya mereka beranggapan bahwa ada tikus berkeliaran di atas sini. Akhirnya aku pulang sendiri. yang tak semestinya kualami. Bahkan banyak yang tersangkut di sela-sela jari. dan itu sangat mengganggu. Saat aku masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Aku bakal dibangunkan dan orangtuanya akan bilang pada Ibuku.

Semuanya sudah tidur kecuali ibu dan kakak temanku. Bapak lain lagi. Akan kusimpan baik-baik. Aku tak mampu menyimpan rahasia ini. bergemelutuk bagai menahan gigil. Tubuhku bergetar menahan debar. Sakit. Aku pernah mendengar suara yang sama pada lelaki yang berbeda. Meraung serupa singa yang terluka. Aku berbaring gelisah. yang mungkin tidak ada obatnya. Aku menggigit kain bantal. Di mulutnya terkulum sebatang rokok yang membara dan asapnya mengepul ke manamana. Satu-satu kemudian menderas. Setelah itu dia mengancamku. Sementara aku tergugu. Aku ingin marah entah kepada siapa. aku sedang dibekuk tak berdaya. Tapi sayup masih bisa kudengar rintihan Ibu yang seperti disakiti. Timba di tanganku jatuh berdentang menimbulkan gaung yang lama. mungkin aku dapat menyimak dengan jelas suara mereka yang mengerang disela bunyi ranjang yang bergoyang. Merasuk ke telingaku menimbulkan kesan yang dalam. Sementara orangtuaku belum pulang dari pasar. menunduk hampir menangis. Padahal. Beberapa kali kupejamkan mata tetapi aku tidak bisa tidur. Karena tak lama. Mendengkur. Peluhnya masih tertinggal di badanku. Perasaanku belum sembuh waktu itu. Temanku sudah tidur di kamar orangtuanya. Ini rahasiaku. Aku takut sekali. Mulutku terkatup rapat. Aku masih tetap duduk memeluk lutut dan membeku. Dia kenakan kembali pakaianku sebelum berbalik membelakangiku. mencabut rasa kantuk. Matanya merah.Aku lewat belakang. Leherku terasa kering seperti dihisap. Kugigit satu persatu jari-jari tanganku. Aku merasa basah. tapi aku harus merasakan lagi luka. Mengguyur kelamnya malam. jadi kuceritakan saja padamu. Adegan itu masih terbayang. nyenyak sekali. Tapi sore itu mengubah segalanya. Dia melucuti baju dan melorotkan celanaku. Pamanku itu numpang tinggal sebagai tamu hanya beberapa hari sebelum pergi meninggalkan benci di hatiku. Ketika dia melenguh yang paling aku ingat adalah. Kawan. Mereka hanya mengira aku tidak dibukain pintu. perih. Dia menarikku berlutut di hadapannya. Aku melihat situasi dalam rumah melalui lubang di papan. Kurasakan napasnya memburu. Bahkan tak jarang suaranya hilang berganti desah bagai kehilangan napas. tempat aku memasukkan tangan untuk membuka palang pintu belakang. Dia membalikkan badanku lalu menindihnya. Aku disuruh cuci kaki sebelum masuk kamarnya. berharap bisa menghilangkan nyeri. hampir lepas dari engselnya. ember berisi cucian menjauh darinya. dan dia masuk ke kamar mandi tanpa keraguan sedikit pun. gigiku saling beradu. Aku hanya mematung. Mereka seperti bayi raksasa. Adik lelaki bapak yang masih bujangan. Di luar sana kudengar Ibu berteriak memanggilku pulang dan dibalas oleh ibu temanku bahwa aku sudah tidur. tenggorokanku tersumbat. Berteriak seperti lolongan panjang tapi tertahan. Kembali berlari membawa hatiku yang kalut. mataku membelalak dan berair yang bermuara di pelupuk. Ibu temanku menyuruh kakak lelakinya yang sudah SMA mengajakku masuk. Awalnya aku menyukainya karena baik padaku dan sering mengajakku jalanjalan mampir ke rumah temannya. Andaikan aku di bawah ranjang. Saat aku mandi tanpa menutup rapat pintu kamar mandi karena rusak. Namun itu hanyalah awal. Dan apa yang aku saksikan. sampai kakak temanku itu habis tenaga. Aku menuruni tangga dengan perasaan hancur. belum cukup umur bagi seorang bocah yang baru saja pandai membaca. Begitulah. Kakak temanku berbaring di sampingku tapi juga tidak tidur. Sejak itu aku tahu masa kecilku telah hilang. hanya kutahan dengan ember berisi pakaian kotor yang terendam. Menyingkirkan dengan kaki. Padahal dia tahu ada orang yang sedang mandi. Aku kembali ke rumah tetanggaku. Kemudian pamanku itu kencing seolah-olah dia menganggapku tidak ada di sampingnya yang tengah telanjang bulat. tangannya meraba-raba tubuhku dan menyergapku dari belakang. Mataku membelalak tak berkedip mengamati tingkah laku orangtuaku. Apakah lelaki itu tidak mendengar gemericik air yang bersimbah-simbah? Tentu aku kaget dan hanya bisa terhenyak serta gugup. Istirahat sebentar di serambi. Terkadang mengejan seperti orang buang air. Lalu dia menyandarkan punggungnya di pintu kamar mandi hingga tertutup rapat. merangkulku bagai memapah orang yang terjatuh dan lututnya lecet. Mengajariku merokok di pangkal paha. Dia melarangku bilang-bilang! *** “Awas kamu Anto!” . mengendap-ngendap menaiki tangga kayu. *** Lamunanku buyar ketika kudengar hujan turun memukul-mukul atap rumah. tapi tetap saja menyisakan cela untuk melongok ke dalam.

mengganti pakaian. Januari. Telentang membuat perutku kembang-kempis. Aku baru tersadar ketika wewangian itu dikalahkan oleh bau badanku sendiri. parfumnya—entah merek apa—tercium. Keluar dari kamar. Aku merinding menahan kencing. Aku juga heran. Kasur busa itu menggeliat seperti tidak mau ditimpa. debu berhamburan bagai ketombe yang berjatuhan. Doakan aku. Saat menegakkan badan sedikit kepalaku tertumbuk balok. hujan makin turun deras. kok bisa sampai lupa! Sudah waktunya kamu disunat!” Aku menganggap itu adalah hukuman buatku dan tanpa kusadari di hadapanku bukan lagi Ibu melainkan Bapak yang sedang berkacak pinggang. Belum sempat aku menarik napas ketika keseimbanganku goyah. aku ketahuan. Yang jelas mereka tetap melanjutkan. lebih karena bau parfumnya. kita langsung ke rumah Pak Mantri. Kamu sudah kelas satu SMP. Lega tapi resah tak mau pergi dari hatiku. tanpa jejak. tapi aku mesti beranjak dari persembunyianku ini sebelum mereka melabrak kamarku untuk memastikan aku tertidur lelap. Terpaksa aku harus terjun. Perlahan tapi pasti salah satu kakiku menjangkau gagang pintu. sementara Ibu bosan menunggu. Aku cuma ingin menghargai diri sendiri. Entah di mana mata Ibu hingga bisa melihatku. Menolak badanku seperti mendorong ke atas. hanya menundukkan kepala karena merasa bersalah. melompat ke arah kasur busa yang tak jauh dari situ. “Baiklah. Ibu sudah menghadang dan bertanya. 2008 by andika destika khagen Entah kenapa aku bertemu dengan Satria tadi pagi. Sangat wangi. Aku dihantui bayang-bayang akan apa yang bakal terjadi besok? Barangkali orangtuaku terlalu lelah buat membentakku malam ini atau mereka cuma menasehatiku untuk tidak mengulanginya lagi? Mungkin juga hal ini tabu untuk dibicarakan dan mereka sedang berunding? Kali ini aku tidak mendengar apa-apa selain gemuruh hujan. bukan untuk menggaet perempuan dan berbeda dengan teman-teman aktivis lainnya. hari pertama kamu libur nanti. Suara gelas terisi air. Kuacak-acak rambutku. Kawan. . Gerakanku tidak terkontrol saking paniknya. Terdengar gemericik air di kamar mandi. Memeluk bantal erat-erat. kenapa kali ini aku terkesima. Aku menempelkan pantatku di permukaan tembok sambil menjulurkan kedua kakiku ke bawah. Kunikmati wewangian itu agak lama.Juni 2008 Hipotesis Sebuah Parfum September 25th. kutepis dengan cepat seperti memukul kulit. hendak turun. Dari jarak dua meter tempat aku duduk. Ya. Lekas aku beringsut dari pembaringan. Kedua tanganku silih berganti memegang balok di atasku. Jika Ibu tahu aku mengunci kamar berarti ia tidak salah lihat. Bukan karena ketampanan laki-laki bangsawan itu. Sejak itu aku ingin beli parfum. Ketika bangun pagi aku merasa mataku sembab dan agak bengkak. Pikirku. Barangkali dendam gara-gara rumahnya kuberantas. “Kapan kamu libur?” Aku tidak menjawab. Buru-buru aku balik ke tempat tidur. Pintu kamar Ibu terbuka. menjaga keseimbangan. Aku menunggu supaya tidak dihakimi malam ini. Biasanya aku tidak pernah mengunci kamar di malam hari.Kawan. Dengan langkah tergesa-gesa aku berbalik ke jalur yang menuju kamarku. Dengan sigap aku membalikkan badan menghadap tembok dan tepat saat itu kakiku yang satu lagi bertumpu pada pinggir meja belajar. Di luar. Kalau bisa aku ingin menggulung tubuhku sekecil mungkin. badan ini mesti diubah komposisi wewangiannya. Sedikit kupejamkan mata. Depok. Berharap dan berjanji dalam hati akan membereskan semuanya tanpa bekas. Untungnya bukan seng sehingga suaranya teredam meski sakitnya serupa disengat lebah. Tubuhku terhempas dalam. Aku menghirup udara banyak-banyak dan menghela habis-habisan. Laki-laki jetset penganut kapitalisme. Kuatur napas biar berirama kembali. Baru kusadari nyamuk berdengung menyerbu telingaku. tulang belakang melengkung. diteguk dan diletakkan kembali. Astaga. Terima kasih! Doamu terkabul. Posisiku seperti udang. Naluriku tersentak. asalkan wangi. Merek apa saja. tadi aku berada di atas sana. membawa perasaan cemas. Kurasa ada seekor laba-laba kecil hinggap di leherku. Aku gerah sekali.

Pikiranku sedikit keliru.” Setiap senyum kuanggap kasiat parfum. Rasanya. cuma aroma terapi yang membuat hidungku merasa nyaman. Senyumku lebih mengembang. Biasanya. Biayanya lebih besar daripada membeli parfum buatan Jerman atau Amerika. harga sebuah parfum (aku belum mampu membedakan antara parfum dengan splash cologne. Ia tentu pakai parfum yang harum dengan harga yang sama dengan uang kuliahku dua semester. “Rambutmu rapi. oh. mengeluarkan pujiannya. Tidak semua orang yang bisa membeli parfum pada paranormal. Bau amis ketiak dan keringat menjadi satu membentuk aroma yang tidak sedap. memang ada yang berbeda dari parfum.” Auraku sedikit bertambah. Kami tak pernah menghiraukannya. “Tak apalah menyisihkan sedikit uang untuk menghargai diri sendiri. Mereka mesti diberi penyadaran bahwa parfum itu penting. Dari ujung ke ujung. Rusni. “Senyummu indah Kus. “Bau keringatmu berbeda hari ini. Bau badan mereka. Kus. Bau keringat yang diberikan Tuhan harus dilawan dengan aroma terapi. Atau setidaknya lagi teman-teman diskusi. Dibeli di Jerman atau Amerika. setiap yang wangi adalah parfum). Aku merasa beruntung bertemu Satria tadi pagi.” Tiga orang yang berpapasan. Toh. Dari tatal ke tatal. dunia memang butuh aroma mengganti bau amis darah yang tiap hari keluar dari perut ibu pertiwi. Inikah alasan orang-orang pakai parfum? Parfum. Pasar selalu memberikan kemudahan bagi penganut konsumerisme. Pikirku. Bau parfum ini sama halnya dengan sedikit demokrasi yang dirindukan warga Pakistan pasca tertembaknya Benazhir Bhutto. parfum bukan menjadi kebutuhan pokok. wajar adanya dan kami tak pernah mempermasalahkannya. Wangi atau tidak hanya sebuah perumpamaan dan bentukan sosial dari keadaan. Parfum ini telah menular ke rambut. Tapi sayang. termasuk juga aku. wajah. tak ada yang bisa membedakannya. *** Inilah langkah terindah yang pernah kuayunkan. Rinto. Kupilih aroma terapi. parfum. Itu yang baru saja kukenali.” Tak mahal harga untuk sebuah parfum. orang yang kuhadapi tiap hari hanya itu-itu saja: Sardi. Siapa lagi yang akan memujiku? Aku rindu pujian sebanyak mugkin untuk meyakinkan pada dunia bahwa wangi itu penting.” Oh. Untuk itulah. Tak ada rasanya orang yang berani duduk di dekat pasangannya dalam keadaan amis. Ah. Parfum ini membuat orang-orang menyapaku. Tujuh ribu rupiah. sabun mandi saja sudah terasa cukup membasuh badan lusuh ini.Ini pertama kali aku punya keinginan beli parfum. Di antara puluhan yang berjejer di rak swalayan. Aku bangga membuat dunia menjadi wangi. bau amis berganti menjadi aroma terapi. Parfum Walikota tentu tak bisa aku beli dengan alat tukar yang hanya berjumlah tujuh lembar uang kertas bergambar Kapiten Pattimura. rasanya terasa cukup membuatku lebih menikmati hari. Lima kali semprot. Aroma terapi menyebar ke seluruh penjuru sampai sudut yang tak terhingga. Itulah bau terindah yang selalu kami hirup. dari ketiak sampai buah baju. mereka tidak berkata. Parfum ini harus dinikmati semua orang—minimal warga kampus ini. Kelebihannya mungkin terletak pada wangi natural yang ditawarkan. dan Rini. Parfum di sana tentu lebih harum daripada yang dijual di swalayanswalayan yang hanya untuk kaum konsumerisme kelas menengah ke bawah. kasiatnya lebih manjur daripada yang dijual dipasaran. Pertama kalinya. Parfum hanya pantas dimiliki bagi mereka yang berpasangan. Aku pikir. Bukankah tidak ada orang yang suka dengan bau amis? Tak apalah. Atau mungkin juga dibeli pada paranormal. Katanya. kenapa tidak semua orang sadar akan wewangian? Wajar saja Bidin jadi Walikota. Parfum harga tujuh ribu saja rasanya sudah cukup untuk mahasiswa yang tak pernah punya anggaran membeli parfum. Mereka biasanya menawarkan parfum dengan aroma yang berbeda. Ia jadi pahlawan sekarang. Menarik lawan jenis dengan parfum memang bukan hal yang biasa lagi. dan senyumku. Pelajaran itu kudapat dari Satria. Setidaknya. . aku baru saja tersentak. “Aku telah menghargai diri sendiri di antara orang-orang yang selalu memikirkan orang lain. Diolah sendiri. bahkan bau keringat pun tak ada lagi orang yang menghargainya! Tapi. Satria tak lagi jadi bahan diskusi kami. Kesadaran akan wangi benar-benar harus ditanamkan.

Cuma lima kali semprot di setiap sisi yang dirasa perlu. Semua yang lusuh kelihatan baru. bau yang busuk tetap akan tercium. Walau belum tentu nyata. Tak ada lagi keburukan yang akan menganga karena semuanya ditutupi dengan bau parfum. Inilah sebenarnya yang diharapkan dari parfum: sebuah kamuflase akan tampilan bentuk. Bagaimana dengan sepatu baru? Tentu orang akan memandang new baru atau double baru. Celanamu beli di mana?” Aku tersentak dan harus terima dengan perubahan yang serba tidak jelas ini. Tapi apakah bau amis mesti ditutupi? Bukankah ada pepatah mengatakan ”Sampai manapun. semua orang bilang sepatuku baru. yang baru saja menyapa. Kelewatan. perlu diragukan otak yang sedang dibawanya. tapi kebutuhan. Aku menikmatinya. terpakai di badan. Isinya masih banyak. tak pernah terpikirkan untuk menggunakannya. senyum. Semakin menakjubkan. Luar biasa. dua bulan baru parfum itu akan habis digunakan. Kodrat dan kebutuhan mesti diletakkan pada tempat yang semestinya. Aku teringat Satria. Hipotesis ini benar-benar membingungkan. Pantaslah banyak orang yang membeli parfum sampai ke luar negeri. Seharusnya aku bangga dengan keadaan ini. seorang gadis berkepala batu hari ini mencair. dan sepatunya? Tentu jauh lebih bagus dari yang sekarang dikenakannya. Tentu ia tidak sedang bercanda. tak ada yang sadar bahwa yang dilihat tidak seperti yang sedang aku pakai! Aku teringat akan kemunculan parfum ini ketika keluar dari toko. Semua benda yang menggantung di leher. Ustadz Hamzah juga bilang sepatuku baru. Untuk pertama kalinya Suci membagi senyumnya kepada orang yang tak pantas menerima senyuman. Baru dan usang tak ada yang bisa membedakan. ini jelas tidak benar. Tapi. Apalagi yang kuharapkan dari parfum? Semuanya terlihat begitu sempurna. Apalagi melihat senyum Suci. *** Lima semprot parfum beraroma terapi ini membuatku tak habis pikir. Sepertinya tubuhku tak lagi mutlak menjadi milik pribadi. bahkan tidak bisa membedakan celana yang baru dan usang.” . apalagi berdusta. jika aku pakai. setidaknya untuk mengurangi bau amis. Sepatu lusuh saja terlihat baru. “Celanamu baru. tapi tidak dengan sepatu. Setiap senyum kuanggap kasiat parfum. adalah barang konsumtif dengan harga tak terkira—mungkin juga tak terjangkau. parfum ini ternyata membuat dunia menjadi absurd. Apakah mereka semua sudah gila? Hipotesis ini begitu membingungkan. berlawanan dilihat. Nalarku berjalan. astaga. Tiga lobang menganga di sisi kiri dan di depan. Kenapa Rudi bilang baru? Sedikit pun tidak ada tanda-tanda sepatu ini baru. Pelbagai keanehan muncul. setelah berpapasan dengan Rudi. Benar-benar tidak bisa diterima. Sama halnya dengan kenikmatan orang-orang pada umumnya akan tampilan bentuk. Kapan kamu beli?” Apalagi ini? Hey. bagaimana orang melihat baju. Hidung-hidung itu punya kesimpulan yang sama: parfum di badanku begitu menggoda dengan aroma terapi. Aku ngeri membayangkan Walikota yang menggunakan parfum yang dibeli dari Jerman dan Amerika. Kenapa tidak ada yang bisa membedakan antara dua hal yang jelas berbeda? Sepatu ini jelas sudah lusuh. “Sepatumu bagus.Diskusi dengan bau badan amis tak lagi menarik bagiku. meskipun ia seorang yang harusnya bisa dipercaya.” Apakah parfum ini menular juga ke celanaku? Roni. dan diletakkan di dekat kaki. Bagaimana dengan orang yang tak pakai parfum? Aku hanya mampu mengatakan bahwa parfum itu penting. Lagi-lagi parfum ini mempesona. Kus. Orang yang bilang sepatu yang aku pakai baru. dan senyum yang kusam menjadi mengembang. Kus. Hidung-hidung manusia ditusuk seperti kerbau. bila dibandingkan dengan kaum duafa. Betapa kasiat ini tak pernah diduga sebelumnya! Keterkejutanku berikutnya terus bertambah. jelas nyata. Bagus dan buruk tak jelas lagi mana batasnya. Aku mulai curiga pada parfum ini. Wewangian ini begitu sempurna. Bahkan Suci. Menghabiskan uang dengan hal. Jika keadaannya setelah ia pakai parfum. Kus. rambut yang tidak berminyak kelihatan rapi. ”Kau begitu berbeda hari ini. Bau badan bukan kodrat. Tidak sempat pula kiranya untuk beli celana baru. Untuk beli parfum saja aku harus rela mengorbankan makan siang. Parfum ini ternyata jauh lebih membingungkan. Semua yang ada. Gawatnya.

Rinto. Atau seperti sebuah monumen. “Bau keringatmu berbeda hari ini. Tapi yang jelas pintu kamar terbuka. dikembalikan lagi ke swalayan. Aku melihat keluar jendela. Suara-suara bernada tinggi yang menakutkan. Aku masih mengingatnya dengan jelas. “Aku selalu di sini Rinto. Ketika kutanyakan pada Rini. Mari kita mulai saja diskusi ini. Suara tangan ayahku yang menyentuh pipi ibuku. Kalau bisa. Ia mencium pipiku. S-E-M-A-R-A-N-G. Hipotesisku baru saja selesai: wangi parfum membuat orang lupa akan sepatu buntut! Oh. Suara-suara dari kedua orang tuaku. Aku lupa lagi. Begitulah huruf-huruf yang tertulis. Atau mungkin sedang berbaring. “Aku baru saja melihat kau di Pasar Raya.” Sebenarnya hanya itu yang kuharapkan dari tadi pagi.” Tidak ada yang berubah. Atau mungkin tiga tahun. yang seharusnya digunakan untuk makan siang. karna hari ini berbeda dari waktu yang sebelumnya. keinginan tentu tak tega memperbiarkan bau busuk mengotori udara yang tak lagi bersih. Satu di tempat penuh kebohongan. sepatu. ah. Kus?” Ini keterlaluan. Setidaknya. Dua tempat ini begitu berbeda sangat. Aku tidak akan terima ini. “Yang berubah pada dirimu adalah. Rasanya tidak berlebihan. tidak lagi bau keringat. dan senyummu begitu indah. Oh. Aku tak bisa menjelaskannnya. Tunggu. Dua tahun. Suara-suara yang belum bisa kumengerti kata-katanya. Rinto melihatku di pasar. tidak ke mana-mana. Suara tamparan itu. 2008 by Anekdot Entah berapa umurku saat itu. Tampak sebuah jembatan. Tangisan siapa? Aku atau ibuku? Aku sudah berhenti menangis. Sampai sekarang.” Tak ada lagi ampun. “Kau tetap bau keringat. Kus. juga di sini. Aku sedang duduk di tempat tidur. Aku berada di pangkuan ibuku. Menangis karena apa? Lapar? Popok yang belum diganti? Haus? Atau aku hanya ingin mengeluarkan air mata saja? Tapi sepertinya aku menangis karena suara-suara itu. Aku berada di dalam suatu kendaraan panjang dengan kursi-kursi ganda di setiap sisinya. Tapi aku masih belum bisa membaca. Di buang sejauh-jauhnya sampai tidak terlihat oleh Tuhan sekalipun. kau serba baru sekarang. sejak lima semprotan aroma terapi tadi pagi.” Parfum ini harus segera dibumi hanguskan. Kos-kampus-sekre tempat diskusi adalah tempat yang tak berubah kulalui dari waktu ke waktu. Celana. ia hanya bilang. Iya. Kebutuhan mengatakan bahwa tak perlu ada parfum toh tujuannya mengaburkan makna yang sebenarnya. Tampaknya aku baru terbangun dari tidur lelap yang panjang. . aku bingung dengan kata makna. Ibuku tersenyum kepadaku. aku menangis. parfum itu mesti dibuang. “Kau jelas mengada-ada. Sepertinya tiga tahun. Di lain hal. Tapi. “Dari mana saja kau. Apakah aku menangis ketika itu? Mungkin. baju. bahkan tubuhku sudah diduplikasi oleh parfum ini.Pertentangan antara kebutuhan dan keinginan berkecamuk. Plak. Dikubur sedalam-dalamnya sampai di bawah tanah yang tidak terjangkau oleh cacing. Kus. Hari-hariku dihabiskan hanya di kampus ini. tidak bisa diganti dengan ketidakbenaran yang diciptakan oleh parfum ini. satu lagi di lingkungan akademis. Tujuh lembar uang yang bergambar Kapiten Pattimura. Suara yang kemudian berlanjut kepada tangisan. Tampak ibuku berurai air mata. * Di mana aku? Aku berada dalam kebingungan. tetap bau keringat dan amis. ke mana hilangnya parfum yang kutaruh tadi pagi di atas meja?*** Ibu dan Anak Januari 28th.” Aku mulai tidak tahan lagi dengan perlakuan parfum ini. tidak pernah ada yang bilang. Aku tak pernah kemana-mana. Tak seorang pun yang tahu aku pakai parfum. Terdengar suara-suara bernada tinggi.

lelaki yang bukan ayahku. Itu yang aku rasakan untuk pertama kali ketika keluar dari kendaraan itu. Dia membelikanku boneka. Mereka berdua saling menghampiri. di mana kau berada saat menstruasi pertamaku? * Seperti de ja vu. Apa yang telah dia lakukan dan apa yang telah dia jalani. Kenapa? Apakah aku merepotkan ibu? Apakah ibu tidak mau mengurusku? Apakah aku menjadi benalu dalam kehidupanmu? Rasa sakit itu semakin merajalela. Ibu? Ibu kan yang tampaknya benar-benar ingin aku tinggal dengan Ua. * Aku sudah lebih dari dua tahun tinggal di rumah Ua. Aku sering menemukan diriku di tempat yang asing dan baru. Ibuku sedang menangis di antara orang-orang itu. Lelaki itu memanggil nama ibuku. Tampak ibuku menyesal. Raut muka mereka tampak sayang. Panas. Dan ibuku juga tampak gembira. Kalau tidak salah badanku menjadi merah karena gatal. Mereka semua sedang mengelilingi ibuku. Tidak seperti biasanya. Ketika itu namanya masih Ebtanas. Baru beberapa tahun kemudian aku akan tahu tentang arti dari semua ini. Cuaca panas yang gerah. Ibuku menyahut. Ibu. Aku bingung. Lelaki itu. Suara mereka mengisyaratkan rasa kesal dan menyesal. Mereka tampak sedang berbicara pada saat yang hampir bersamaan. Seorang anak berumur 11 tahun disuruh memilih jalan hidupnya sendiri. Entah sejak kapan keringatku jadi bau. Mengapa aku sekarang tinggal di sini? Ayah sebetulnya tidak terlalu setuju aku tinggal dengan Ua di Jakarta. Tampak seorang lelaki yang berjalan menuju ibuku. Udara yang panas dan gerah membuatku tidak betah. Kepalaku mulai terasa pening dan pusing. Termasuk ibu dan aku. seorang wanita dan seorang lelaki yang mukanya mirip dengan ibu. dan lega. Kenapa ibuku sampai lari dan kenapa ibuku ditemukan kembali. Mungkin aku kangen kepadanya tapi sepertinya tidak juga. Entah sejak kapan aku jadi suka merasa gelisah dan depresi tanpa alasan yang jelas. Ini kehendakmu kan. Udara Jakarta yang panas dan gerah membuat keringatku semakin berceceran. Ayah. Dia sering mengajak aku dan ibuku berjalan-jalan. Aku disuruh menetapkan keputusanku sendiri. Tampak dari muka mereka suatu perasaan senang dapat bertemu. Rasa sakit itu kembali menyerang. Rasa sakit yang tidak tanggung-tanggung pada bagian perut dan payudara. . kesal. Orang tuaku mengatakan bahwa itu terserah kepadaku. dua orang yang dipanggil mama dan papa oleh ibuku. Apakah tetap di Jakarta atau kembali ke Bandung. Aku juga sebenarnya tidak terlalu antusias. Dia juga sering memberiku permen dan coklat. Tamparan itu. Lelaki ini baik kepadaku. Oleh orang yang sama. Kepada orang yang sama. Entah berapa lama aku tinggal di kamar itu. Sudah berapa lama aku tinggal di kamar ini? * Wajah-wajah dari orang-orang yang kukenal. Ayahku juga terlihat menyesal. Aku menyadari bahwa aku sudah tidak tinggal di kamar itu lagi. Kadang-kadang suka teringat wajah ayahku. Aku masih belum tahu akan melanjutkan SMP ke mana. Lelaki itu cukup baik kepadaku. Hanya di tempat dan suasana yang berbeda. Para penumpang mulai keluar melalui pintu.Kendaraan itu berhenti.

Pasti dia terlihat cantik sekali. Suara nenekku terdengar tua di telingaku. apa yang telah kau lakukan hingga suamimu marah besar? Aku tidak tahu harus berpihak ke mana. Orang itu mengatakan bahwa aku tidak akan bahagia. atau kesenangan. Sikap seolah-olah kau peduli semakin memuaskanku. Itu yang kuinginkan. Di tempat umum. Aku menyebutnya dengan berbagai macam nama. Aku akhirnya mengangkatnya juga. Aku melihatnya dari kaca mobil ayahku. Nasihat-nasihat nenekku terdengar hampa. Aku tidak membencimu tapi aku tidak bisa menemukan alasan untuk menyayangimu. Kulihat dari jendela dua manusia sedang ngobrol dengan santai sambil sesekali bercanda. * Sepasang sepatu yang asing tampak di depan pintu. Aku membuatnya menangis. kenapa kau tega sekali kepada ibu? Ibu. Aku tidak merasakan apa-apa. Kepuasan. dan malu. Aku memang tidak mengundangnya. Tanpa pikir panjang aku ambil vas bunga di meja. Aku teringat pada ibuku. . Aku membayangkannya dalam baju kebaya. Masa di mana emosi dan mental ditantang. Ayahku ditenangkan oleh seorang tukang baso. Muka ibuku yang tidak bisa aku definisikan. Aku tidak menaruh perhatian satu persen pun pada omongan wanita tua itu. Apakah itu cukup? Apakah itu satu-satunya alasan? * Pernikahan yang sederhana dan simpel. Ayahku menyeret ibuku keluar dari mobil seorang laki-laki teman kerjanya. Orang itu tidak datang. Orang itu tidak suka dengan calon suamiku. Orang itu bersikeras bahwa aku tidak boleh menikahinya. Aku tahu alasan dia menelepon. Itu yang kurasakan. Wanita itu baru resmi bercerai dengan ayahku dua minggu yang lalu. Emosi macam apa yang kurasakan saat itu. Aku lempar vas itu ke lelaki bajingan di depanku. Menyayangi seorang ibu seperti seharusnya seorang anak. kesedihan. Entah apa yang kurasakan saat itu. Ibu. Tubuhnya yang menghampiri lelaki itu. Kepuasan itu semakin besar karena seseorang. Aku tidak tahu harus berpihak ke mana. Aku merasa hampa.Dago. Muka ibuku yang panik. Terdengar suara ibuku dari dalam rumah. Vas itu pecah berantakan. Tepat mengenai kepalanya. Aku tidak tahu. Mungkin memang masa putih-abu adalah masa pemberontakan. Aku bentak-bentak dia. Aku membayangkan pernikahannya. sedih. Ayahku tampak menjelaskan permasalahannya. Mereka menengokkan kepala kepadaku. kemarahan. * Sudah kesekian kali telepon berdering. Atau lebih tepatnya seorang remaja liar. Aku hanya seorang anak ABG. Aku melangkah masuk ke dalam rumah. Beberapa jam yang lalu ibuku baru menikah. Orang-orang melihat kejadian itu. Aku sedang dalam masa pubertas. Aku kesal. Sekarang sudah menikah lagi. Sembilan bulan. Setengah jam yang lalu ibuku menelepon. Penolakanmu semakin memuaskanku. Tampaknya dia menjadi tidak sadarkan diri. Ayah. bingung. Setelah itu aku tidak bisa merasakan apa-apa. Terdengar juga suara lelaki asing. Orang itu mengatakan bahwa itu semua demi kepentinganku. Mungkin aku memang seorang wanita liar.

Like mother like daughter. Mempunyai arti yang sama dengan kata karma tapi tetap saja aku tidak percaya dengan kata itu. Ibuku mempunyai jalan hidupnya sendiri yang dia pilih dengan segala macam pertimbangan. Kukenang saat itu. Hatinya adalah aku. Ketika aku melihatnya aku melihat diriku sendiri. Apa yang kurasakan? Aku tdak merasakan apa-apa. Tahun-tahun yang kulewati dalam kekangan komitmen palsu ini terasa hampa dan menyebalkan. Aku mengakuinya. Karma. Aku hanya percaya bahwa segala sesuatu yang kita lakukan pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal. Sudah berapa lama aku tidak membaui tangan itu. jalan raya. Rumah itu terletak di tengah semuanya. Pasar. Wanita itu memang benar. Dari awal aku memang tahu kalau wanita itu benar. Tepat delapan belas tahun yang lalu. Aku tidak merasakan cinta seorang suami. Aku melihat foto pernikahanku. Buah hati. Sudah berapa lama aku tidak berjumpa dengan ibuku. Aku mendekatinya dan mencium tangannya. Ibu. Tapi sesungguhnya tidak ada yang bisa kukenang. Sudah delapan belas tahun. Jangan sampai kamu melalui apa yang kulalui. aku berdiri di depan pintu kayu besar rumah itu. stasiun kereta api. Rumah bekas jaman penjajahan Belanda yang tidak terawat. Aku hanya kecewa tapi sekarang aku dapat mengerti. Entah sudah berapa lama aku tidak menangis selama ini. Aku tidak berhak merasa marah atau tidak senang dengan pilihan hidupnya. sejak kapan aku harus mendengarkanmu?! * Hidup adalah alunan waktu yang tidak akan pernah kembali lagi. Kata itu muncul kembali dalam benakku. Kulit tembok yang warna aslinya putih sudah mengelupas di mana-mana. Di tengah kebisingan dunia. Pada akhirnya aku dapat mengerti. Aku tidak percaya kalau kau mengatakan itu. Rumah itu adalah rumah yang paling strategis di dunia. Bagaimana menyebutnya? Karma? Aku tidak percaya dengan kata itu. Sudah berapa lama aku tidak mencium tangan itu.Jangan sampai kamu merasakan apa yang kurasakan. * Cimindi. Pada akhirnya aku mengerti. Seorang wanita tua membukanya. Aku tersenyum kembali padanya. Aku hanya ingin merasa puas. Setiap orang mempunyai jalan hidupnya masingmasing. Siang hari. Aku menggosok debu pada foto pernikahanku. Sudah berapa lama aku tidak berbicara dengannya? Karma… . Jasadnya adalah aku. Luar dan dalam. Ternyata aku hanya memainkan diriku sendiri. Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Aku mempermainkan hidupku sendiri. Wanita tua itu tersenyum padaku. Aku mengetuk pintunya dan mengucapkan salam. Aku hanya ingin membalasnya. dan bandar udara. Buah hatiku adalah reinkarnasi diriku.

2008 by radiani Ayolah! Coba kau cari di mana airmata kesedihanku tersimpan! Kau tak kan pernah menemukannya. Atau demi apa aku tak paham. Aku bangun jam empat sore. ia adalah dewa penyelamatku. bagaimana ibu dulu menghadapiku? TAMAT Perempuan Tepi Mekong Oktober 7th. Sebuah jalan di tepian Mekong. Ayah tak membelaku tapi membelaiku dengan sumpah serapah. Mungkin hanya sekedar mengendorkan saraf Ibu. Seperti juga yang terjadi padamu Thailand! Sayangmu itu dalam semenit telah berubah jadi ludah yang jatuh ke tanah kotor. Keluasan langit malam ini baru saja kurasakan. Semua itu membuatku harus berkorban demi kasih sayang kepada keluarga. Cuh! Dia meludah di hadapanku. Senyum segera lenyap dari wajah Thailand. Huh! Sayang katamu? Sudah lama kata itu jadi hantu buatku. Tamu Asia tak menyenangkan. ia sayang aku. Belum lama kulitku terkena udara. Rokokku baru setengah kuhisap. Sayang tak pernah ada bila tak ada uang. Menakutkan! Aku sering kecewa karena percaya pada kata itu. Membuatku semakin yakin bahwa sayang yang sebenarnya tak pernah ada di muka bumi ini. menanyakan kabarku hari ini. aku anak kesayangannya. Seumur hidupku tak kurasakan airmata kesedihan. . Karena aku sendiripun tak tahu dimana letak airmata kesedihanku. atau kehitam-hitaman tercemar eyes shadow? Airmata tawaku kehitam-hitaman. Tanpa dijelaskan dulu kenapa sayangnya diwujudkan dengan menampar pipiku. Uh! hari masih terlalu pagi untuk masuk kamar lagi. Bisa juga untuk menambah modal berjudi Paman. Ibu memukul karena kehabisan pangan. Tanktop dan rok mini tipisku serasa bagai gumpalan selimut bulu domba. Pamanku bilang. Seperti apa warnanya? Berkilauankah bagai bulir permata menggelinding dari mata. hawa salju. Tak pernah kurasakan hangatnya tetesan mengalir hangat merambati pipiku. yang selalu menegang bila melihat adik-adikku berebut makanan. Lagipula aku lebih senang melayani tamu bule atau negro. Satu-satunya bagian kota yang selau ramai dengan kehidupan malam. Lau Lao selalu menguatkan hari-hariku di sudut kota Vientiane yang ramai ini. Bagian kota yang lain sudah sepi seperti pemakaman Prancis yang megah dengan nisan berpilar pualam. istilah sulit. Kebebasan udara belum lama kuhirup penuh-penuh. Sapaan itu adalah ajakan untukku. Ibuku bilang. Minuman keras itu menjaga tawa dan kegembiraanku setiap hari. Lalu dibawanya aku ke Vat Xieng Gneun. Rewel dan banyak tuntutan. bahasa orang terpelajar. “Sabai dee. Apa demi adikadikku yang berjumlah lima orang? Atau untuk Ayah yang tak mampu bertanggung jawab. Paman hanya memanfaatkan kesempatan melihat kemiskinan. masih malas untuk kembali ke ranjang. Sisi barat kota Vientiane. Ayahku bilang. Dijualnya aku disana. Airmataku hilang tiap bulirannya melayang entah ke alam apa.Ibu. Hingga tak kukenal lagi kesedihan. Tiap malam mengucur deras dari sudut mataku sebanyak botol Lau Lao yang kutengak. Berakhir di ujung dagu. uangnya lebih banyak. Aku akan dilimpahinya dengan banyak kasih sayang. tapi waktu Ibu menyiksaku dengan kasih sayangnya.” tolakku. “Chau sa bai dee bor? (Apa kabarmu baik saja)” Oley pengemudi tuk-tuk tertampan di sepanjang Vat Xieng Gneun. Santaisantai berdandan mematut-matut wajah di potongan cermin retak. Penyiar berwajah cantik itu berkali-kali bicara dengan bahasa tingkat tinggi. Sungguh sayang yang menyakitkan. atau memukul kakiku dengan tongkat. Secepat kilat berubah jadi cibiran akibat penolakanku. Tapi ia memukuliku sebagai ungkapan sayangnya. Minuman alkohol kelas rakyat khas Laos itu menghangatkan tubuhku dari terpaan angin sungai Mekong. Ayah marah karena tak tahu cara untuk menambah penghasilan. Kalau airmata tawa aku punya berliter-liter. sengak bau alkohol. Atau aku terlahir dengan hati batu. Sambil sesekali melempar pandang ke televisi yang siarannya tak kumengerti. Murah meriah bertebaran di mana-mana. ‘Sayang’ memang benar-benar melimpah ruah di tempat ini walau hanya sebatas katakata. Paru-paruku rasanya belum setengah terisi. Paman tak salah. karena sebagai petani kecil penghasilannya juga kecil. “Bor! Bor! ( Tidak! Tidak!). Baru setengah jam aku berdiri di depan klub ini. phii huk! ( Apa kabar sayang!)” Seorang Thailand menyapaku.

Senyumku untuk setiap lembaran kip. Senyum manis yang mengundang. setiap aku digandeng lelaki untuk diajak kencan. Aku selalu tersenyum. Tapi mataku bekerja sama dengan bibirku adalah pembohong yang ulung. Tanpa kemeriahan yang memabukkan seperti di jalan ini. Tapi aku terlalu mencintaimu. ketika hari teriris sepi di sudut tikungan jalan. Tak kuberikan sedikitpun kesempatan pada diriku untuk mendengar lebih dari itu. Apalagi pernyataan cintanya. Ketika sedang duduk menunggu pelanggan. ketika telentang di hadapan lelaki hidung belang. senyum nakal dengan sedikit godaan. akan kusambar tubuhmu. aku sadar akan perasaan yang sedang tumbuh di hatiku. Malam ini pun dia hanya memandang saja ketika aku sengaja lewat di depan tuk-tuknya mangkal. Pada kenyataanya aku terlalu pengecut. Kata orang mata tak bisa bebohong. Sambil menyandarkan kepala pada bahu seorang negro kupandang wajahnya yang tampak pasrah. Aku tak bisa menyikapimu seperti semua laki-laki itu. Bisa-bisa senyumku tak laku malam ini. hatiku kaku-kaku tak bisa bergerak bila Oley berkata begitu.” Selembar kertas terjatuh dari tanganku. Kubawa ke sarangku di puncak tebing curam yang tak terjangkau mahluk apapun. Sendok bisa digunakan tanpa garpu begitu pula sebaliknya.” “La kon Oley! ( Sampai jumpa Oley). Saat menatap Oley yang termangu di belakang kemudi tuktuk terbungkus asap rokok. Mata uang negeri manapun. Tapi tak sedikit pun aku memberinya kesempatan untuk berkata lebih dari itu. Senyum tak boleh lepas dari bibirku. Aku ini perempuan yang harus selalu tersenyum. . Aku tak tahan melihat senyuman di bibirmu Thuppy. karena terlihat kaku. Hanya tipis terbatasi Mekong. derai sungai. atau tidak keduanya sekaligus. tak lengkap bila salah satu tak ada. Entah dengan cara apa. Kami pasti sudah beranak dua tahun ini. Tanganku bergetar tak sanggup menyangga beban yang tertulis di atasnya. Cinta dan cemburu seperti sendok garpu. Oley melambaikan tangan dengan wajah sendu. Senyumku adalah hidupku. Dan Oley masih menggarap ladang orang tuanya di Luang Prabang. Seandainya aku elang. Kurasa itu perlu dibuktikan lebuh dulu. Perkawinan seorang pelacur dan penjaja mariyuana tak akan berjalan lancar. Andai aku tak terdampar di jalan kelam ini. Aku tak mau itu terjadi padaku. Kata cinta itu telah begitu banyak meluncur dari mulut Oley. Tapi tetap saja bisa digunakan walau pasangannya tak ada.” jawabku sambil mengalihkan pandang. atau bath. aku menemukannya terselip di bawah pintu.“Dee Chai (Baik saja). Bisa cinta atau cemburu saja. Aku harus selalu tersenyum karena senyum adalah bagian dari pekerjaanku. Oley sampai hari ini aku hanya mendengarnya terucap dari mulutmu saja. bila aku lebih banyak memberinya senyuman. Bukan karena aku tak suka tapi karena keberadaan Oley yang begitu dekat membuatku salah tingkah. Kami pasti bisa membentuk keluarga kecil yang tenang. Hanya desah sawah. aku jadi tak bisa menjajakan senyumku dengan baik. “Jadi seperti apa cintamu itu? serasa apa sayangmu itu? Oh. koi hak choi ( Thuppy. Hatiku mengeligis pedih. aku cinta padamu). Bukankah seharusnya ia cemburu? Bila ia memang punya cinta untukku. Pelanggan akan memberi uang lebih. Senyum model apapun itu. Karena tanpa senyum aku tak bisa menyambung hidupku. selamat tiggal Thuppy. Mereka membohongi semua orang dengan senyum dan kerling. Dan yang tiga bulan itu merenggut semua senyum Kova. Sekarang tanpa mariyuana Kova teronggok lemas tak berdaya. Perkawinan Jay dan Kova hanya berjalan tiga bulan. Maafkan aku Thuppy. Senyumku untuk setiap kata sayang yang terucap. Membohongi hatiku yang selalu merasa muram. Seandainya aku bukan pelacur dan Oley bukan penjaja mariyuana yang berkedok supir tuk-tuk. Kompak dengan mataku. Aku tak mau kehilangan senyumku hanya karena cinta Oley. Hanya ada kau dan aku. dolar. Perasaan yang ditimbulkan tatapan mata Oley “Thuppy. Tapi aku dan kau seperti Laos dan Thailand.” Aku mengusirnya. Begitu dekat tapi tetap saja di seberang. atau senyum puas sesaat sesudah melayani. Betapa aku ingin juga meikmati senyummu seperti banyak laki-laki lain. Bibir ini sekarang sudah jadi mesin senyum saja. Dengan kesederhanaan. seperti seorang super hero yang muncul dari langit dan membawaku terbang ke angkasa. Uh! Kenapa tak kau tonjok saja negro mata keranjang ini! Bawa aku lari dengan tuk-tukmu. Senyumku yang palsu untuk setiap kata sayang yag juga palsu itu. Aku tak tahu Oley. Tatapan mata Oley selalu membuatku bergetar. Tatapan mata Oley sering membuatku beku. berisik jengkerik yang memenuhi hari-hari.

Sesaat dia berhenti di ambang aula. Aku sempat khawatir kalaukalau celananya yang berbahan halus dan mahal itu akan sobek karena bergesekan dengan kursi yang didudukinya. Merambat ke atas ke arah kepala. Untung saja bunyi ketukan sandalnya tertelan gemuruh suara orang-orang berbisik di aula ini. sehingga si pantat bisa berbentuk sedemikian rupa. Digeser-gesernya duduknya. Kadang ke kanan. **** Tinggal kami bertiga di ruang kelas ini. Dagunya mendongak setiap kali mata kami bersitatap. Jauh dari orang tua murid yang lain. Sekedar untuk menyembunyikan seringai yang terlanjur muncul di ujung bibirku. Matanya berkeliling mencari-cari tempat duduk yang kosong. pandangan berkeliling atau menunduk berlagak mencari-cari sesuatu dalam tas. Hendak menuju mata. Beban ribuan ton rupanya menimpa dadanya yang penuh (terlalu penuh juga untuk ukuran perempuan yang sudah tiga kali melahirkan?). Bahkan orang bodoh pun tahu. Dia baru tiba saat pembawa acara baru saja selesai membacakan agenda pertemuan hari ini. Kini kedua kaki langsingnya sedang mengetuk-ngetuk lantai tanpa irama. Membosankan. Paparan yang terlalu panjang dan terlalu lebar. Cobalah kau cari dimana airmata kesedihanku tersimpan. Maklum harga seperangkat make up yang dikenakannya setara dengan sebulan gajiku sebagai guru di sini. Aku terpaksa mengangguk (sok) ramah padanya ketika tatapan kami bertemu. Sedari tadi dia tidak tenang. Padahal sudah ada jam tergantung di dinding aula. Bolak-balik diangkatnya tangannya untuk menengok jam berlapis emas putih di pergelangan tangannya itu. Sesekali dihelanya nafasnya. kadang ke kiri. tapi berusaha tetap terlihat elegan. Karena sekarang aku yakin aku tak memilikinya. Tentu saja keringat itu tak akan melunturkan riasannya. Sebentar kemudian diturunkannya. Rambut panjangnya yang tergerai berayun-ayun mengikuti langkahnya yang tergesa. Kenapa tidak langsung ke menu utama saja. Sesaat kemudian aku berpaling. kaki ditopangkan bergantian kalau tidak diketuk-ketukan di lantai. Senyumku menghambatnya. Ganti kaki kirinya yang disilangkan ke kaki kanannya. Kalau tidak menunduk berlagak mencari-cari sesuatu dari dalam tas kulit merk luar negerinya. Hanya kursi di barisan depan yang masih tersisa. Seakan dia ingin memastikan kalau jarum jam dinding itu sudah berputar sebagaimana seharusnya. Sebentar kaki kanannya disilangkan ke kaki kirinya. dan dia yang duduk dengan gelisah di deretan kursi tunggu yang kosong. Aku ini perempuan yang selalu terseyum. Tak mungkin ditemukan. pengambilan rapor. Begitu seterusnya. dia pun mengambil tempat duduk di kursi pojok barisan depan. Sekilas dapat kulihat setitik keringat meluncur di dahinya yang putih mulus. Memang sering kali kulihat mobilnya terparkir di depan fitness center di samping sekolah. Pantat yang terlalu kencang untuk perempuan yang sudah tiga kali melahirkan. Entah apa yang sudah dijejalkannya di dalam sana. Dari tempatku duduk sebagai notulen. dia sangat gelisah. Tapi terhenti sampai di leher saja.Oley Membaca surat Oley. Aku sudah tak sabar. Aku yang sedang melayani Bu Mira. ke belakang. gerak-geriknya terbaca jelas. Dasar angkuh! . Akibatnya leherku terasa tercekik. pantat itu bukan hanya didapatnya melulu melalui latihan-latihan di fitness center itu. Dia membalasku dengan anggukan dan senyuman teramat tipis sembari dengan angkuh mengangkat dagunya. Seperti ada bara di bawah pantatnya yang menggunung itu. ke depan. 2008 by birulangit Diam-diam aku memerhatikannya sedari tadi. Tapi aku curiga. maupun jam tangan yang berkali-kali ditengoknya. ada rasa panas yang keluar dari dada. Rapor November 11th. Sangat jelas. Kini benar-benar kunampakkan seringaianku. Aku tetap tersenyum. Dengan enggan. Perilaku gelisahnya sama persis dengan sewaktu dia ada di aula tadi: pantat digeser-geserkannya. tanpa usaha untuk menutupinya lagi. Apapun yang terjadi aku selalu tersenyum. Sementara itu kepalanya terus berkeliling. Bahkan ketika kulihat mayat Oley terapung-apung di Mekong. kembali berlagak serius mendengarkan paparan kepala sekolah mengenai pencapaian-pencapaian sekolah kami di tahun ajaran ini.

Tanganku menjadi ikut basah oleh keringat di telapak tangannya. Ardian. sudah membimbing Rachel. sembari berkata kalau percuma saja bayar mahal-mahal kalau lagi-lagi dapat nilai lima puluh. Rachel. dan lain-lain. dan beberapa lembar pengumuman yang akan kuberikan kepadanya. Untuk penilaian-penilaiannya padaku: guru konvensional. laporan perkembangan. kutukku. “Rachel sendiri yang memilih. . Sebagian masa depan anaknya aku yang menentukan. Tangan yang pernah melemparkan kertas ulangan anaknya ke mukaku. “Mari Bu. Mati kau. Salam buat Rachel!” Kutumpukkan bingkisan dari Bu Mira di atas bingkisan-bingkisan orang tua murid sebelumnya. Semoga suka!” Tangannya mengangsurkan sebuah kotak kecil yang terbungkus kertas kado bergambar kartun Naruto. Jadi bukan salahku jika sampai saat ini dia belum juga kupanggil. Belum lagi jika kebetulan sang orang tua murid memang suka ngobrol. Nilai-nilainya selalu di bawah teman-temannya. Seperti yang sedang kulakukan dengan Bu Mira ini. Muka putihnya bersemu merah. anak Bu Mira. guru pilih kasih. laporan perkembangan. Bu. memang berkebutuhan khusus. “terima kasih banyak lho. Sebenarnya kesempatan ini sudah kutunggu-tunggu. Dan kira-kira sejak dua jam yang lalu dia sudah duduk di sini menunggu giliran kupanggil menghadapku untuk mendapatkan rapor anaknya. Bu!” “Ah. Di sinilah ajang pembuktianku bahwa aku bukan orang sembarangan. Setelah parcel segede gunungnya yang kukembalikan seminggu yang lalu! Hari gini menyogok guru agar mau mengatrol nilai! Rupanya dia sudah merasa rapor anaknya bakalan jelek. Bu. tapi yang seperti ini orang tua murid suka. Hanya saja. Wajahnya yang pucat. Hatiku bertanya-tanya. saya permisi!” Bu Mira beranjak keluar ruang kelas. “Mari. guru yang kurang perhatian. “Aduh. Aku berlagak sibuk menyiapkan rapor. lalu dikeluarkannya sebuah bungkusan dari dalam tasnya. Dalam hatiku tertawa. Bu. Kujelaskan sampai sedetail-detailnya perkembangan anak mereka selama satu tahun ajaran ini. anaknya memang nomor absen terakhir. “Selamat pagi. aku memang sengaja berlama-lama berbincang dengan setiap orang tua murid. Maaf. Dimasukkannya rapor. Perkembangan setiap anak didik sudah tercantum dalam rapor khusus kami yang berupa laporan narasi deskriptif. Biar saja. Senyum bernada segan. “Ibu ini bisa aja!” Bu Mira tertawa panjang. anaknya. Seperti aku ini hantu baginya. Gangguan konsentrasinya membuatnya sulit mengikuti pelajaran. Selain bingkisanbingkisan itu ada beberapa amplop di dalam laci mejaku. Sedangkan sudut mataku mencuri-curi pandang wajah cemasnya. Bu Mira bercerita kalau Rachel baru saja menjadi juara satu lomba wajah fotogenik. saat dia mencercaku. sudah banyak merepotkan!” “Tidak apa-apa. para orang tua dipersilakan masuk ke ruang kelas anak mereka masing-masing untuk menerima pembagian rapor. Bahwa aku punya kekuasaan. Kutumpukkan berkas-berkas yang akan kuberikan padanya di sudut meja. Kalau sebenarnya dia tidak bisa macam-macam denganku. apa gerangan yang dibawa oleh perempuan yang kini sedang melangkah menghampiriku ini. Aku baru sampai nomor absent empat belas. Hal yang tidak perlu kulakukan sebenarnya. Bu. silakan duduk!” Tanpa sepatah kata dia hanya tersenyum tipis. dan beberapa lembar pengumuman ke dalam tas. Bu!” Kataku sambil menjabat tangannya yang dingin. “Terima kasih. Bukan senyum sinis seperti yang beberapa kali dilemparkannya padaku. duduk di hadapanku. Dari lima belas muridku. biasa aja! Terima kasih banyak Bu. agaknya dia juga mulai sadar kalau kelakuannya padaku selama ini bisa saja membuatku mengurangi nilai-nilai anaknya. Tidak hanya itu. sudah menjadi tugas saya!” Jawaban ini sudah secara mekanis keluar dari mulutku setiap semesternya. Pembalasan dendamku untuk perempuan berpantat terlalu kencang dan berdada terlalu penuh yang angkuh ini. pembicaraan bisa melebar sampai ke manamana. Aku bilang pantas saja. karena dia mewarisi kecantikan ibunya.Aku tahu dia sedang memakiku habis-habisan dalam hatinya. Gombal sekali memang. Setelah pertemuan di aula selesai. memang kusengaja. malah merepotkan!” kataku berbasa-basi.

karena kita pakai kurikulum nasional. Senyumku semakin lebar. Kuhadapkan ke arahnya. tapi setelah dirata-rata. Seperti yang Ibu lihat di sini. Jadi ada lima mata pelajaran yang ada di bawah KKM …. Saya yang minta maaf.” Sengaja aku berhenti untuk memandang wajahnya. bagaimana Ardian. “Tidak naik. Teringat aku bagaimana dia meneleponku malam-malam. Bu. rata-rata nilai rapor siswa semester satu dan dua tidak boleh lebih dari. tanpa ucapan selamat malam. Saya tidak berani melanggarnya. Kubuka halaman sebelumnya. Kubuka rapor Ardi. Sejak kepindahan Ardi awal semester dua ini. Ataupun ketika seminggu yang lalu dia memohonku “kebijaksanaanku” untuk menaikkan anaknya. Peraturan sekolah melarang guru menerima bingkisan dari orang tua murid sebelum rapor dibagikan.” Tangannya sampai gemetar menerima buku rapor ini. Bu. Sengaja tidak segera kuserahkan kepadanya. Mungkin Ibu juga sudah tahu.” sengaja kuberi penekanan. Tapi tetap saja kita mengacu pada peraturan dinas pendidikan. Bu …. Layaknya pengemis yang sudah tiga hari tidak makan memohon sedekah saja. Manusia di hadapanku ini semakin terlihat mengenaskan. “Mohon maaf. Butir-butir keringat meluncur di dahinya. IPA. Seperti tidak ada lagi darah yang mengalir di pembuluh darahnya. IPS. tak menyangka. “Ja … jadi … bagaimana. Saya tidak tahu ada peraturan seperti itu di sini. “O ya. Kini tidak kututup-tutupi. Matematika. Ada kemungkinan dia sudah akan pingsan dulu sebelum aku menyelesaikan penjelasanku ini.” jawabnya tanpa bisa mengatasi kegugupannya. Lagi-lagi dalam hatiku tertawa. Aku tersenyum. Bu.” Kutunjuk dengan jariku. dan SBK ada di bawah KKM. dilarang menerima gratifikasi. Tapi aku tidak juga jatuh iba. dan SBK …. betapa aku rindu! Kuambil tumpukan berkas di sudut meja. Seperti ketika dia memohonku untuk melupakan apa yang pernah dilakukannya padaku. “Tidak apa-apa. IPA. Bu? Bisa tidak naik ke kelas tiga?” Pertanyaannya lebih terdengar sebagai ratapan. Bu? Benar-benar tidak bisa ditolong?” Kalau teringat bagaimana dia mengangkat dagunya. Wajahnya seperti orang yang sudah mati saja. Bahasa Indonesia. Bukannya apa-apa. IPS. Bibirnya gemetar. “Semester satu juga ada lima mata pelajaran yang di bawah KKM. “Agama. IPA. “Lima mata pelajaran. Dari segi metode maupun substansi pembelajarannya. Semoga Ibu maklum. “Semester ini Bu. sekolah kita memang berbeda dengan sekolah yang lain.” Dia melongo. Biar kunikmati dulu penderitaannya ini. Matematika. saya sudah berusaha sebaik mungkin membimbing Ardi …. “Lima. Matematika. Setengah mati aku berusaha menyembunyikan tawaku. Sebagian sudah sampai di pipinya. Aih. Walau mepet …. Bu. Bu. Lebar. IPS.” Padahal mana ada sekolah mengatur perihal itu. sungguh nikmat! “Seperti yang Ibu ketahui sebelumnya.” Matanya nanar menatap angka-angka itu. aih. Matanya berkaca-kaca. Sebagai syarat kenaikan kelas. pagi Bu. Berbeda dari sekolah Ardi sebelumnya. “Ja … jadi … Bu?” Kini aku ingin tertawa. Bu. Dia tidak tahu di mana dia akan menaruh mukanya jika anaknya lagi-lagi tidak naik kelas. “Ibu. Kemarin terpaksa saya mengembalikan bingkisan Ibu. “O ya. “Masih naik. ternyata hanya empat mata pelajaran saja yang di bawah KKM. Mengiba-iba meminta maaf. Bahagianya. ya?” Suaranya tersendat di kerongkongan. nilai Ardi kurang memuaskan. Berkas-berkasnya masih kutahan. Nikmat.” Kalimatku menggantung. Mohon maaf sebelumnya. Macam pejabat saja. dan SBK ….” Dia menelan ludah sebentar. “empat mata pelajaran yang di bawah KKM…” Akhir kalimatku kembali menggantung. Seperti habis kecopetan uang semilyar! Dia membolak-balik halaman rapor anaknya.” .“Pagi …. hanya untuk menanyakan keberadaan pensil atau penghapus anaknya yang hilang. Di sekolah Ardian yang dulu diperbolehkan. Ke mana gerangan dongakan dagunya yang angkuh itu? Ho ho. rapor semester satu. Berkas-berkasnya masih di tanganku. Saya hanya bermaksud mengucapkan terima kasih saja. siang ini aku merasa menjadi Tuhan. PKn. Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia. Bu. Bu. Semata-mata karena dia takut sakit hatiku akan mempengaruhi nilai rapor anaknya. ekspresinya kali ini tampak begitu menggelikan. Bu Lily?” Wajahnya terlihat sangat memelas.

Tidak mungkin aku mengubah angka-angka itu. simbol keagungan suku Mota. Dendamku sudah terbalaskan. Aku menjadi orang asing. Semua mata terpacak pada sosok menggetarkan yang tegak menjulang di ujung timur lapangan. menelan matahari. Berdiri dengan keyakinan dan pemikiran yang tidak sejalan bukan hanya dengan orang-orang kebanyakan. Kita adalah penguasa Tanah Mota!” pekik semangat Se Moljo Banahung menggema-gema dalam tempurung kepala tiap orang yang hadir di situ. “Syukurlah!” Aku manusia biasa. pemimpin spiritual sekaligus penentu jalan hidup kami. persaksikanlah. “Hidup Se Moljo Banahung! Hidup Se Moljo Banahung!” 1320 macam suara memekik satu kalimat yang sama. Itu saja cukup. Menara besar dari dua kayu ulin yang disambung berukir ular gato menelan matahari. di depan kalian telah tegak bukti yang dikabarkan dalam Ketab Se Lambok. Kicau burung di pohon riuh menanti. Tidak akan ada seorang pun yang bertanya mengapa anak itu tinggal kelas. benar! Tepat sekali! Inilah menara Ka Borak. “Syukurlah!” Dia mendekap rapor anaknya dalam dadanya yang terlalu penuh itu. Tongkat kayu setiginya dihentaknya beberapa kali ke lantai mimbar. seperti seribu kunang-kunang beterbangan mengitarinya. aku paham makna dari kata-kata bijak ini. Di depan menara. Seketika tanah lapang itu jatuh sepi. Penuh dengan ukiran ular Gato yang meliukliuk. suku Mota Pedalaman. dan anggun. Sudahlah. Dan mulai detik itu. Aku pun pantas membencinya. Matahari baru mengintip dari celah bukit. Kalian ditakdirkan menjadi pasukan pemersatu suku-suku Mota yang terpencar. aku menyimpan dendam. tapi bahkan bertentangan dengan Se Moljo Banahung. Aku sudah sangat puas melihat perempuan berpantat dan berdada terlalu bulat yang angkuh itu hampir mati ketakutan. Walaupun hal itu sebenarnya sangat mudah bagiku. Tenang sekali. menara Ka Borak yang kita dirikan ini menjadi saksi atas kejayaan yang dijanjikan itu. Tapi aku juga masih punya nurani. Semua itu. 1320 manusia itu. menyaksikan menara Ka Borak yang selama sembilan bulan ini dengan susah mereka buat-dirikan. ketua suku kami. Hitam berkilau karena embun yang berkelip dilanun semburat matahari melamur seluruh tubuhnya. menara Ka Borak. bahwa pendirinya adalah lelaki darah murni yang akan meletakkan suku Mota Pedalaman. ‫פּ‬ Ratusan orang berkumpul di tanah lapang.’ Aku sendirian. Dialah Se Moljo Banahung. seperti ada suatu komando bawah sadar yang amat kuat mengendalikan mereka semua. Bukti kekuasaan atas Tanah Mota. suku Mota Pesisir. Sinarnya hangat sedikit. Kelengangan yang mistis menyelisik di tiap-tiap tubuh. Dentamnya menggema mengatasi kegaduhan orang-orang. “Syukurlah!” Dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. kepala suku kami. melintasi terumbu karang berbisa yang meracuni tiap helaan nafas yang makin tinggal sisa. naik ke mimbar. kulit coklat mengkilat memakai jubah kulit kijang. tak ada suara manusia terdengar. bukti penguasa Tanah Mota yang dinanti!” Seorang sepuh di antara kerumunan bersuara. dan. tinggi. Kalianlah penggenggam masa depan itu. “Ini seperti dalam mimpi para peramal. Suaranya yang parau hilang tenggelam dalam kegaduhan massa. Bahwa yang membangunnya adalah lelaki yang dijanjikan akan datang dan membawa keagungan. 1320 macam semangat melebur menjadi satu ambisi kolektif. menggumpal ke dalam satu . Berbinar-binar. Menara itu. Semua mata tertuju pada lelaki di atas mimbar itu. 2008 by catur amrullah Aku seperti seorang terusir yang menyusuri dasar lautan seorang diri. ‘sendirian dalam keramaian adalah ancaman. berbicara pada orang-orang tapi suaraku hanya memantul kembali dan hilang. detak jantung seseorang seakan tertangkap telinga orang di sebelahnya. Sisiknya besar-besar bertumpuk. Seorang lelaki tinggi besar. 1320 warga suku berkumpul di sini. 1320 jenis kepalan tangan mengacung ke angkasa. Wahai orang Mota Pedalaman.Seketika wajahnya menjadi bercahaya. serentak pekik gegap gempita membahana dari mereka itu. “Wahai orang Mota. kalian adalah darah murni suku Mota. karena aku punya harga diri. Aku tercekam oleh pikiranku sendiri. Dunia akan memakluminya. Menara yang membuktikan bahwa pendirinya adalah penguasa sejati atas Tanah Mota. Sedangkan monster-monster laut dan serigala separuh gurita mengintai-ngintai hendak menerkam saat aku lengah. dibangun sebuah mimbar besar. melata dan melingkar. dan suku Mota Tanah Batu berada di bawah tongkat kekuasaannya. The Tower of Ka Borak Desember 26th. menara Ka Borak.

suku Mota Pedalaman telah-dengan sepihak-menetapkan ketunggalan kekuasaannya atas dua suku Mota lainnya. para pemahat terbaik suku Mota Pesisir. sekeras menara Ka Borak dari kayu bullin yang tegak di depan mereka. menara Ka Borak. di belakang jajaran rumah panggung. hutan rimbun mengitari dengan amat rapatnya. atas instruksi Se Moljo Mapadong. semakin terkucil aku dalam sudut takut dan khawatir yang kian runcing. Kera berlompatan dari cabang ke cabang. . tanpa kenal lelah bekerja dari pagi hingga sore. Merentang sepanjang bibir pantai. pekik lantang Se Moljo Banahung merengkah: “Mulai besok.tekad yang amat keras. Masing-masing menggenggam sebuah pahat besi terkuat yang ada. Di sebelah tenggara. berhamburan kacau balau dari dahan tempatnya bertengger. dan sebuah palu. Ujung bajumu akan berkibar-kibar semarak dibuatnya. terlentang jalan setapak yang panjang berkelok menyusur di antara pohon-pohon besar berusia ratusan tahun. Suku Mota Pedalaman telah berhasil menegakkan menara Ka Borak. hijau bergelombang oleh rumputan yang digoyang angin. menghampar padang rumput amat luas terbentang. kita juga akan menundukkan suku-suku lain di sekitaran Tanah Mota. 467 palu pun patah. Tangan-tangan terkepal diangkat tinggi-tinggi ke angkasa. Symbol kejayaan dan kekuasaan. Dalam gemuruh euphoria kekuasaan dan kemenangan yang menari-nari di pelupuk mata. Kaki tebing itu menceruk jauh kedalam. Mereka. Harimau dan serigala bersijingkat kabur ke pelosok-pelosok hutan. tidak akan mendiamkannya begitu saja. takkan terbendung oleh apapun. Tiga puluh orang bergelantungan di dinding tebing batu cadas dengan tubuh terikat tali dari atas.” Suara lantang Se Moljo Banahung tenggelam dalam gemuruh suara warga sukunya. Bukan hanya itu. Kumandang semangat 546 warga suku Mota Pedalaman menggentarkan nyali tiap penghuni hutan. Sebelum hari itu. warna biru terhampar di bawah cakrawala. Tahukah kalian jawaban bagi pembangkang? Yaitu…. kepala suku Mota Pesisir. kitab spiritual suku Mota. aus karena gesekan gelombang selama masa berjuta tahun. sebuah menara berukirkan ular gato menelan matahari yang menjadi bukti bahwa pendirinya adalah suku yang berhak memerintah dua suku Mota lainnya. membawa kita pada sebuah lereng yang landai. Burung-burung beterbangan ketakutan. Dan kita. Di ujungnya. Batu-batu yang menjadi rumah bagi tiram. denting suara pahat besi menghantam batu cadas memecah ketenangan pantai. Sedikit demi sedikit memahat tebing batu cadas. kita. Di depanmu. Berjalab lurus menyeberang lembah. sebagaimana tercantum dalam Ketab Se Lambok. Nun di hujung barat sana. maka tiada lain pilihan. seperti yang dijanjikan dalam Ketab Se Lambok. dan darah…. tak bisa ditawartawar. Dengan ini. kerang. akan tercecer di tiap jengkal Tanah Mota!” ‫פּ‬ Semakin membuncah semangat di sekelilingku. Rumah-rumah dari jalinan batang bambu berderet rapi. menghadang dentaman gelombang dan badai yang menyerbu dari tengah laut sana. mengukir suatu rupa yang luar biasa. luas membentang. menyelisik antara debur ombak di bongkahan batu. mengabarkan bahwa pemimpin tunggal telah tiba. simbol atas kedatangan sang pemimpin yang dinanti. Angin berembus kencang di sini. “Sedangkan siapapun itu yang menolak dan menentang kekuasaan kita yang agung ini. Sejarah yang mungkin tak termaafkan. Ular gato menelan matahari. tapi terjebak di suatu sudut yang penuh dengan ketakutan dan kekhawatiran. tebing batu cadas memagar. Di ujung barat lapangan. kita akan mengirim utusan pada suku Mota Pesisir dan Tanah Batu.. atau mungkin yang ‘kan paling diagungkan oleh mereka. batas bentangan laut lepas. Menyiratkan tekad dan ambisi yang membuncah. mengabarkan pada semua bahwa kekuatan dan penguasa baru telah datang. dan ribuan lagi lainnya. aku tergetar menyaksikan semua prosesi ini. Di bawah tebing itu. “Mereka takkan berhenti. akan sampailah ke pantai dengan hamparan pasir putihnya. Menara Ka Borak telah membius meraka. menghampar pantai berbatu dan berpasir hitam seperti lumpur.. terjadi di situ. jangkang. Di sekeliling kami. Mengema menggetarkan tanah dan batang pohonan. mengukir suatu simbol paling sakral yang tercantum dalam Ketab Se Lambok. menjadi candi dari tiap perpindahan generasi manusia yang hidup si situ. hampir setahun penuh. 500 pahat telah rusak dan remuk. Kesepuluh orang itu. ‘hidup Se Moljo Banahung!’ Nyaring mendebarkan jantung. bukannya ikut larut dalam badai semangat yang dahsyat. Aku tak bisa bersuara. luas membentang. bahwa mereka kini harus tunduk patuh di bawah tongkat kekuasaan suku Mota Pedalaman. suku Mota Pedalaman. terus ke barat. Aku berkeringat dingin. terus menurun. seakan tak bertepi. takkan bisa dicegah. sembilan hari lalu. jalan setapak itu menurun. Di barisan belakang. berputar-putar mengelilingi punggung gunung. akan menundukkan matahari!” Pekik gelora semangat perebutan kekuasaan berkobar menggelegak. Menjadi saksi dari tiap perahu nelayan yang karam diamuk lanun ditelan topan. Tebing cadas yang telah tegak sedari jutaan tahun lalu.

Berteriak-teriak kalap. Menyembunyikan dalam malam. panjang. melesat jauh ke tengah samudera membentuk gelombang-gelombang ambisi. tak bisa ditawar lagi!” Suaraku lirih bersama hembus perih. gelap yang menekan dan mnyelubung. Beban berat yang hampir dua tahun ini dia tanggungkan sampai sudah pada titik kulminasinya. menatap bulan sabit seperti anak kecil lagi sakit. mengukirnya. dan. Dan sekarang. Ular gato yang besar.” Se Moljo Mapadong berorasi di hadapan mereka. dan jelas sekali ada selendang gelisah yang melingkari suara beratnya itu. Mota Pesisir rampung mengukir Ka Borak di dinding tebing batu cadas. “Ah. di atas sebuah batu karang hitam persegi sebesar kerbau. gelombang. Melonjak-lonjak kegirangan. “Bagaimana dengan Mota Tanah Batu? Bukankah Ka Borak telah mereka dirikan jauh hari sebelum kita dan sebelum Mota Pesisir.” Paman bertanya. pun manusia. Lima belas bulan lalu. dan sembilan hari yang lalu. Larut dalam keterpesonaan. batu. Aku tak berkedip. Paman. semua orang suku Mota Pesisir berkumpul di depan tebing batu cadas itu. tak ada sisa lagi yang belum kita datangi. terlempar jauh-jauh ke tengah samudera tak bertepi. Dua tahun dia berusaha menjelaskan bahwa pendirian menara Ka Borak hanya akan mengundang kehancuran Tanah Mota. engkau tahu bahwa itu adalah awal dari kebinasaan kita. gelap yang senantiasa datang pada tiap penghujung senja. “…lima lautan telah kita jelajah. berukir ular gato yang tengah menelan matahari. Mereka menatap takzim tebing cadas yang kini tak lagi polos. Seekor ular gato raksasa melata dengan ganas. hanya desah nafas berat yang makin mengerikan dia jawabkan. kepiting. menempatkan aku sendiri termangu di bawah pohon randu di belakang rumah. Pundaknya makin jatuh. ketika Mota Tanah Batu mulai menggergaji batu pertama menara Ka Borak. 124 kubus batu. tiada kukira engkau akan sebenar ini Paman. Menara Ka Borak paman. Di kejauhan. meliuk-liuk tak terbendung. maka siapa lagi yang lebih kuat dari kita?” Suara menggelegarnya bependar-pendar memantul terbentur hamparan tebing cadas. Mereka membuat kubus-kubus batu raksasa. menggiring potongn-potongan awan ke batas cakrawala. menjadikannya ancaman bagi yang lain. Semua nafas tertahan-tahan. Semuanya takzim. Angin yang berputar-putar menerbangkan daunan gugur juga helai rambutku. masing-masing suku Mota punya Ka Borak!” Tak ada jawaban. ini salah! Lakukanlah sesuatu!” Lelaki tua di sebelahku itu hanya diam. meliuk-liuk. kekuasaan dan kekuatan yang dijanjikan telah datang ke suku kita. Dari tadi dia hanya menunduk. Samudera di belakang punggung orang-orang itu seakan membeku disihir aura magis menara luar biasa itu. dipatuk burung dibawa kepulau-pulau di seberang sana. kerang. menara Ka Borak. “Ya. pada tebing cadas. keras menghantam tebing cadas dan berulang-ulang menggema. ramalan Ketab Se Lambok telah kita wujudkan. hitam gelap penuh misteri. Di depan mereka. menelan matahari. semenjak lima belas bulan lalu mereka telah menggergaji bukit batu putih. Di depannya. burung hantu menangis sendu. kepalanya tunduk seakan bertengger di atasnya hantu keputusasaan. 1543 orang. mulutnya menganga lebar. menyusunnya. kemenangan dan kemulyaan telah masuk pintu-pintu rumah kita!!!” “Hidup Se Moljo Mapadong! Hidup Se Moljo Mapadong! Hidup…” “…dan kita akan taklukkan seluruh Tanah Mota! Semua akan kita kuasai! Semua akan tunduk! Akan kita miliki! Semua…” ‫פּ‬ Sorak sorai 1543 orang Mota Pesisir terbang membubung ke angkasa. liar. tak kuiura Paman. menatap-sepertinya-jemari kakinya yang tersembunyi dalam pekatnya malam tengah hutan. Dibawa angin ke buritan tiap perahu yang tengah berlayar. keduanya mengklaim sebagai sang Pemimpin yang dinanti. Orang-orang terbius oleh semacam zat adiktif kekuasaan yang mengerikan. Ah. menara Ka Borak diam membeku.Sembilan hari yang lalu. “Mota Pedalaman telah membangun menara Ka Borak. angin. “Badai dan topan samudera tak kuasa membunuh kita! Gelombang dan pasang kita taklukkan! Di setiap pantai ada jejak kaki kita. tak kukira engkau akan sebenar ini. disusun setingngi 22 depa. “…Menara Kaborak telah kita buat. Semua yang di situ berseru serempak: “Tidak ada! Suku Mota Pesisir terkuat! Se Moljo Mapadong terkuat!” Gemuruh ini hampir-hampir membenamkan pantai berbatu itu. tiada kukira Paman!…” . kekuatan kita terkhabar kesetiap penjuru Tanah Mota. “Ini salah! Tidak boleh begini kita berada Paman.

Sejak kecil aku telah hidup dengannya. bersaing. menyamakan simbol suci itu dengan tanaman beracun paling mematikan di hutan ini. tenggorokanmu pahit. dia akan menuntut yang sebesar batang pohon. dan pernah saling serbu. butuh stempel perijinan suci yang akan dijalankan mati-matian oleh tiap warga sukunya. Dan. Sebagian pergi ke pesisir. Tentu dia menghawatirkan aku dengan amat sangat. Akulah sang penguasa tunggal Tanah Mota! Akulah sang pemersatu! Akulah raja kalian! Dan suku-suku lainnya harus tunduk taat. alangkah bodohnya manusia itu!” Paman tampak amat sedih. semenjak orang tuaku mati jatuh kejurang. “Menara Ka Borak. Maka ikutilah dia. Tangannya mengambil sesuatu dari sebelahnya. tulisannya tersembunyi dalam gelap pekatnya malam. awalnya orang-orang Mota tinggal di Tanah Batu. perutmu panas. Kekuasaan mengumpan dan meracuni siapapun itu anakku. Beliau memegangnya erat. Bisa saja hal ini terjadi. Ya. jadilah suku Mota Pedalaman. seorang lelaki darah murni akan muncul demi menegakkan menara Ka Borak. Hitam tiap halamannya. aku harus mempertaruhkan nyawaku untuk kegilaan pemimpin kami. jika berani menentang. tiap-tiap suku Mota memiliki menara Ka Borak. berebut pengaruh. begitu aku menyerahkan surat dari Se Moljo . Sampai baru kemudian. hingga nanti hanya kematianlah yang akan memotong nafsu serakahnya. berhati-hatilah. “Anakku. kekuasaan adalah sari pati jubok. malah kita yang mengirim utusan pada mereka untuk meminta hal yang mereka tuntut dari kita. “Apa kau sudah faham sekarang anakku mengapa menara Ka Borak berdiri di masing-masing suku?” Aku mengangguk. itu kejadian saat kakekku masih belia. dan.” Paman kembali diam. Dan kenyataanya kini. para pemimpin suku itu butuh legitimasi sakral. Setiap suku mengaku yang paling benar. Dan sekarang. Dan kini. tak berani menjawab.Aku diam lagi. setelah terlambat. Di dalamnya tertulis bahwa ketika suku Mota menjadi tubuh yang terpisah. menjerit-jerit kesepian. “Besok kau akan menjalankan tugas terberat dalam hidupmu. tak terbayang paman akan mengumpamakan menara Ka Borak sebagai saripati jubok bagi manusia. Darah akan dialirkan di padang-padang sunyi tiap penjuru Tanah Mota yang suci. meminta ketaatan dan ketundukan kita. karena lelaki yang mendirikan menara Ka Borak adalah orang yang di tangannya persatuan tubuh suku Mota tergenggam. Sebuah kitab yang dalam keremangan tampak amat tua tapi amat kuatnya aura sakralnya. lalu di pelosok hutan yang jauh merusuk ke dalam. tanah leluhur kita. serigala melolong-lolong. memimpin dua suku Mota lainnya dan menguasai suku-suku kecil lain. Anehnya. alangkah bodohnya. Aku tertegun. Sekali kau mencicipi.” Paman membuka Ketab Se Lambok. nafsu kekuasaan telah tersulut terbakar. hal itu sudah termaktub dalam Ketab Se Lambok. sepi sekali. Lalu mereka berpencar setelah jumlah mereka semakin banyak. “Anakku. dan. kau tak bisa berhenti. Mengajak warga suku berperang bukanlah cara yang tepat jika ingin mendapatkan dukungan penuh dari mereka. tak sanggup meneruskan ketakutanku. Gambaran kehancuran suku-suku Mota dalam perang saudara yang dahsyat dengan amat nyata berkilatan dalam kegelapan malam yang melingkupi tubuh kami. Dan. dalam waktu yang bersamaan. terus dan terus tak terkendali menjilati sari itu. Kemana burung hantu? Jangkrik pun bungkam. tanpa ada yang menyadarinya sebelumnya. lemah semilir suaranya. dan besok akan meminta yang seluas hutan. solusi itu ternyata ada di dalam Ketab Se Lambok. Masing-masing pimpinan dari suku tersebut mengklaim dirinya sebagai lelaki darah murni seperti yang dijanjikan dalam Ketab Se Lambok. sari patu jubok itu menampakkan dirinya dalam wujud yang paling menakutkan. dua puluh enam tahun lalu. Tapi itu kejadian entah berapa ratus tahun yang lampau anakku. jiwanya tertekan sungguh. Aduhai Anakku. tentu saja mereka membawa Ketab Se Lambok. juga orang-orang fanatik lainnya. tentu saja. tidak segan-segan perang penaklukan akan di gelar di atas Tanah Mota. “Begitu seseorang mencicipi kekuasaan selebar daun. kau tahu bibirmu membiru. dan kau langsung tergeletak tanpa sempat beranjak dari tempatmu berada saat itu. menara Ka Borak. taatilah dia. jadilah suku Mota Pesisir. Menara yang berpahatkan ular gato sedang menelan matahari. tapi kini. “kekuasaan itu seperti sari pati jubok. yang meracuni siapa saja yang mencicipinya!” Aku kaget. saling melindungi. kau tahu apa sebenarnya menara Ka Borak itu anakku?” Aku hanya diam. dia juga adalah sari pati jubok. Masing-masing suku Mota ingin menjadi penguasa tunggal Tanah Mota. Masing-masing suku Mota bertambah besar. Masing-masing mereka berjanji akan terus menjaga persaudaraan.” Paman bicara. seakan ia bisa melarikan diri dari tangannya. Sebagian yang lain pergi ke pelosok hutan. mengabarkan keberadaan menara Ka Borak di tanah mereka. Kau tentu tahu Mota Pesisir telah mengirim utusannya kepada kita empat hari yang lalu. menara Ka Borak.

untuk orang seperti aku dan Paman. aku paham makna dari kata-kata bijak ini. Dan. Kami tahu. Toh sudah biasa. melintasi terumbu karang berbisa yang meracuni tiap helaan nafas yang makin tinggal sisa. Mata mereka tajam menatap ke depan. tapi ia adalah perlambang dari suatu perjuangan suci menyatukan Mota yang terberai.’ Aku sendirian. Tangan kanan mereka ada yang mengenggam parang. Pengorbanan apakah itu Anakku? Yaitu pengorbanan kebanggaan diri demi mempersatukan tubuh yang terberai. . terjebak dalam perangkap racun sari pati jubok yang mereka jilati siang malam. berbicara pada orang-orang tapi suaraku hanya memantul kembali dan hilang. dan pendulum berkepala besi berduri. tombak. Di sebelah timur. (atau malah) menertawakan nama saya. pada ahirnya. matahari menerangi dataran batu yang amat luas ini. kepala suku kami. Perang akan segera dimulai. perlahan-lahan. Silahkan kalau kamu mau tertawa. sebuah pengorbanan. bukan menjatuhkan korban dari tubuh yang telah luka! Bukan Anakku. mereka lupa jati dirinya! Mereka menyangkal bukti kebenaran menara Ka Borak. tersusun dari 124 kubus batu. tapi kitalah yang salah memahami kitab itu. Kami seperti tersesat di lautan. Asli dari akte lahir. Sedangkan monster-monster laut dan serigala separuh gurita mengintai-ngintai hendak menerkam sasat aku lengah. hingga tubuh ini kemudian bukan tubuh kami lagi. berdiri tegak menara Ka Borak menyongsong langit. Kami tidak ada urusan dengan kekuasaan! Kami tidak ada perlu dengan pengaruh dan perluasan wilayah. Di sudut sana. Debu putih membubung tinggi. hukuman bagi pembangkang akan di jatuhkan. Perang yang hakikinya bukan milik kami pun ahirnya dengan membabi buta kami mamah masukkan ke dalam jiwa. 2008 by prince-adi Saya sudah sering dihina dan terhina. Karena bukannya surat pernyataan ketundukan yang kubawa. hari ini. ini bukan perang kami. lalu perahu bocor. serta merta akan memenggal kepalaku begitu selesai membaca isinya. bukan! Ini adalah ambisi jahat mereka. Aku menjadi orang asing. Berdiri dengan keyakinan dan pemikiran yang tidak sejalan bukan hanya dengan orang-orang kenanyakan tapi bahkan bertentangan dengan Se Moljo Banahung. Tangan kiri membawa perisai. kami tidak pernah turut mencicipi sari pati jubok itu. orang-orang yang masih waras dalam lautan kegilaan ini.Banahung pada Se Moljo Mapadong. semuanya berubah menjadi dilema yang menyakitkan. Dan yang menyedihkan. 10 Mei 2008 Vaginalia Oktober 9th. Aku tercekam oleh pikiranku sendiri.” ‫פּ‬ Ini bukan perangku. kami tenggelam dan mati sia-sia. Menara Ka Borak bukanlah suatu bangunan seperti yang kau lihat. Siapkah kalian untuk menjalankan tugas mulia ini? Melaksanakan perang yang akan membimbing kita pada jalan menuju kemulyaan dan kejayaan?” Gemuruh manusia membahana. murni pemberian kedua orang tua saya. Sebab nama saya Vaginalia. Jadi sudah biasa kalau kamu mengernyitkan dahi. Apa kau pikir menara Ka Borak adalah suatu menara seperti yang kalian pikirkan? Tidakkah kau mengerti bahwa itu hanyalah suatu perlambang?” “Membangun menara menunjukkan pada suatu usaha tanpa henti yang amat melelahkan. Aku seperti seorang terusir yang menyusuri dasar lautan seorang diri. bukan perang kami para warga suku Mota Pedalaman. karena kami tidak boleh berpendapat. orang-orang yang tiada ambisi dengan segala macam penaklukan. ‫פּ‬ Beratus-ratus lelaki bertubuh kekar dan legam berbaris tegak. ‘sendirian dalam keramaian adalah ancaman. semua manusia suku Mota kini masing-masing punya perang untuk dituntaskan. Brondong. Dan kami. apakah Ketab Se Lambok telah membohongi kita semua? Telah menggiring kita yang mensucikannya ke dalam jurang kematian?” “Tidak anakku. tapi racunnya turut serta dalam aliran darah kami. Dan mulai detik itu. karena apa yang kami yakini adalah apa yang para Se Moljo perintahkan untuk kami yakini. Maka. bukan pula perang warga suku Mota lainnya. ambisi para Se Moljo beserta para pembantu setianya. beterbangan ke angkasa. tapi tuntutan ketaklukan. tidak demikian anakku. mempertanyakan. “Kalau demikian Paman. Tubuh tak berdaya inipun perlahan terasinkan oleh dahsyatnya garam air laut. Dan. kami pun sama gilanya dengan mereka. “…suku Mota Pedalaman dan Pesisir telah berkhianat! Mereka membelakangi isi Ketab Se Lambok.

mendambakan laki-laki baik-baik. dan dia memaki saya. Mengelus tubuh saya. Saya bahagia. Sampai bulan kedua. itu pertama kalinya tangan saya digenggam laki-laki. Saya ingin katakan jangan. Dan kamu ungkapkan cinta. kamu mau duduk di samping saya. Tapi kamu terlalu mempesona. Saya takut. Saya tidak menolak. juga nama nabi yang paling diagungkan. dan agung. Sebab saya tahu ini dosa. Terlebih kamu mengatakan cinta. artinya dapat dipercaya. Saya suka perilakumu terhadap saya. Padahal saya benar-benar tak mau dibeli. Sebab saya juga perempuan baik-baik. Saya jatuh cinta sama kamu. membuat saya tidak berdaya. ***** Saya cantik.” katamu sambil tersenyum merekah. termasuk saya. Vagina. Memesan dua mangkok bakso. mendapat sesuatu yang bernama ‘Syafa’at’ di kehidupan akhirat. Bisa juga sampai ratusan juta. Nama kamu Muhammad. Sebab namamu itu. Yang dijuluki Al-Amin. Tergantung jaminan kepuasan yang diberikan. Sebab katanya akan mendapat pahala jika saya memuji namanya. tapi bibir saya kamu bungkam begitu nakalnya. Benar-benar takut. . Mimpi yang menjadi nyata. Nama kamu Muhammad. Kita masih hanya berpegangan tangan. Saya justru senang. Saya sudah cukup senang dengan keberadaan kamu sebagai teman saya. Saya tidak mau. ***** Saya masih perawan. Belum sempat saya ambilkan handuk. Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa ketika tanganmu mulai menelusup di balik kemeja saya. satu buat saya. saya punya harga diri. Satu bulan. Mendekati saya dengan alasan nafsu saja. menenangkan hati saya. Sejak itu kita pacaran. Kamu menemani saya duduk di sebuah kantin. Nama kamu Muhammad. Orang-orang seringkali merendahkan harga diri saya sebab nama saya Vaginalia. Nama kamu Muhammad. Barang yang sudah banyak diobral murah. limapuluh ribu semalam. Sebab kamu teman pertama saya. Dan kamu memanggil saya “Va”. Sebab itulah saya percaya sama kamu. Saya jijik. Mau berbicara dengan saya meski tatapan curiga mengarah ke arah kita berdua. kamu mendadak muncul di depan pintu kostan saya. katamu. Tapi saya bahagia. Kamu tahu. kembali mengatakan cinta. Meski saya miskin. Dua bulan. Sementara bibirmu terus melumat bibir saya. Mengatakan saya hanya jual mahal. Toh saya cukup bahagia dengan berpegangan tangan. Pernah saya ditawar dua juta untuk sebuah malam bersama dengannya. Kamu selalu sabar menemani saya meski mereka masih menatap curiga. Sebab sebelumnya kamu memasangkan cincin di jari saya. “Saya yang traktir. Dan segalanya telah berubah menjadi kamu. Tapi sekali lagi. Tidak seperti laki-laki pada umumnya yang menilai saya dengan harga. Karena itu kamu. Itu untuk kelas biasa. Orang yang terpuji. Saya benar-benar tersinggung. Diteladani banyak manusia. tapi kamu dengan hebatnya kembali mengatakan cinta. Saya wanita baik-baik. Mendambakan laki-laki yang baik-baik. nama organnya wanita. saya tidak seperti itu. Malam itu saya membiarkan kamu mencium bibir saya. Tapi apa saya pantas untuk mencintai dan dicintai? Saya tidak berharap lebih. Sebab saya tak mau macam-macam. Saya mulai menangis. satu buat kamu. Padahal hujan sedang deras.Kamu mengenalkan namamu sebagai Muhammad. belum kawin. Sebab saya tahu bahwa zinah adalah dosa besar. Saya tampar dia. Sama saja dengan menyekutukan Tuhan. dengan harga berapapun yang kamu beri. dan berjanji akan menikahi saya. Saya hanya mampu memejamkan mata. Sebab nama saya Vaginalia. kamu sudah memegang tangan saya. Nama yang bagus. Kamu basah kuyup. Saya benci. Belum waktunya.

Benar-benar ingin menolak. satu per satu. Muhammad mana saja yang matanya belingsatan melihat kecantikan saya. ***** Bulan keenam kamu mengatakan perpisahan. Ditariknya nafas dalam-dalam lalu menjawab. ia menemukan dirinya merasa sangat asing. Kata-katamu selalu saja asing bagi telingaku. Padahal nama kamu Muhammad. Tidakkah kamu mengerti? Bibir Februari 13th. Dan lagi-lagi saya menyebut Muhammad. Ia merasa seperti orang mabuk. Mungkin otakku yang bebal. ***** Berkali-kali setelah itu kamu melakukan hal yang sama. laki-laki itu menggelengkan kepalanya dengan heran. merindukan Muhammad yang pernah saya puji. Tapi kamu tetap tak menggubris itu semua. “Atau setidaknya kita pernah yakin tentang hal itu. mengecup kening saya. Kamu benar-benar pergi meninggalkan saya. namun tidak tahu lagi karena apa dan dimana. Sebab ia orang yang terpuji. berkali-kali. begitu pula saya. Padahal kita sudah pernah bercinta dengan dosa. untung dan rugi. Yang pernah begitu saya teladani. Akhirnya kamu mengatakan bosan kepada saya.” Dan bibir itu sangat manis bentuknya. Orang yang terpuji. Ah. Tapi saya akhirnya sadar. Dan neraka balasannya. Sebab namu kamu Muhammad. namun tidak lagi menimbulkan rasa ingin. 2008 by Ge “Sepertinya kita pernah bersebelahan jiwa. Beberapa putaran musim yang lalu bukankah hanya bibir itu yang ada dalam ingatannya sepanjang pagi. Saya ingin menolak. Saya percaya. Bukankah bibir itu yang dikulumnya tanpa puas ketika gairah-gairah mereka memuncak di malam-malam penuh gelegak yang mereka reguk bersama-sama. ***** Kamu tahu dimana saya berada saat ini? Penjara! Saya membunuhi Muhammad.” kata perempuan itu kepada laki-laki yang duduk berhadapan dengannya. tidak pernah berhenti melingkar-lingkarkan jerat di dalam kepalanya. hanya sepotong kayu imitasi yang dinamakan coffee table dan dua mug gemuk kopi hangat masih berasap menjembatani ruang antara mereka berdua dari kursinya masing-masing. seperti angin. tanpa bisa lagi memikirkan bahwa kita adalah pendosa yang tidak akan diterima ibadahnya. merekahnya ketika minum kopi dan mengintipkan gigi putih yang sangat cocok untuk iklan pasta gigi ketika mengigit sepotong kue. . Tapi lagi-lagi kamu memeluk saya. Mengapa semuanya saat ini rasa-rasanya tidak pernah benar-benar terjadi tak dapat dimengerti oleh pikirannya yang biasanya jago mengkalkulasi rumusan-rumusan jual-beli. melaknatmu. atau di tempat remang-remang yang menjajakan kebahagiaan. Saya menangis. Saya mencari Muhammad. tanpa malu. Tapi mungkin setan-setan yang kegirangan memujimu. Tertawa akan kebodohan saya mempercayai kamu selama ini. sudut-sudutnya yang naik turun tergantung emosi pemiliknya. “Mungkin aku memang tidak penah mampu untuk mengerti kamu. Cara bibir itu bergerak saat bicara. sia-sia saya melakukan itu. Di jalan. Sebab saya tahu. Dan saya hanya bisa tertawa. saya percaya kamu akan menikahi saya. Tapi kamu begitu pintar untuk memancing hasrat saya keluar. namun selalu saja keluar dengan wajar dari bibirmu. berjanji menikahi saya. saya tidak lagi perawan. Sebab nama kamu Muhammad. Sedangkan saya lebih memilih menghujatmu. Tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. di keramaian. siang dan malam. Ada bercak darah di sana.” Laki-laki itu mengangkat pandangannya dari merenungi asap-asap tipis yang keluar dari mug-nya dan menatap perempuan itu. Tak tertinggal suatu apapun kecuali membawa debu melekat pada tubuh saya.Tiba-tiba hari telah pagi. Menyaksikan kamu tanpa busana. dan pagi lagi.

“Apa yang sudah terjadi?” Bibir itu bergerak turun seirama dengan ekspresi di wajahnya yang bebas jerawat. “Ya sudah. Jeffry juga.” “Pasti! Makanya aku tidak diajak!” Jelas sekali tuduhan dan tudingan tersirat dari bibir itu. maksudku bukan janda cantiknya. Dan laki-laki itu memang sedang mencoba menebak apakah pertanyaan yang barusan keluar dari bibir itu adalah sebuah pertanyaan sungguhan ataukah jebakan seperti yang seringkali terjadi dalam pembicaraan mereka. “Apa yang sebenarnya terjadi?” Bibir itu kembali menyadarkannya dari kenangan yang sempat menyerempet ingatannya tadi. iya kan?” “Sebal aku! Itu sebabnya kamu tidak mau aku ikut. Aku sudah bilang akan makan dengan rekan-rekan kerjaku. ciumannya pun membentur gunung batu yang menjulang tinggi dan menukik tajam di sudut-sudut dan lekuk-lekuk bibir itu. pokoknya semuanya. Laki-laki itu tanpa sadar merasa bergidik. lho… Apa-apaan sih kamu? Jangan cemburu yang tidak-tidak dong. bukan. laki-laki itu garuk-garuk kepala. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana menjawabnya. hang. tapi kan kamu bisa menawarkannya kepadaku. bila ia tidak yakin pada jawabannya maka dia akan membisu seribu bahasa. supaya kamu bisa main mata dengan leluasa. pening dan gelisah setiap melihat bibir itu. “Kok nggak ngajak-ngajak?” Bibir itu menurun membentuk kurva setengah lingkaran dan lampu merah di kepala laki-laki itu mulai berkedip-kedip. “Sudah. karena dua tambah dua tidak selalu menjadi empat dalam kalkulasi pemikiran otak yang terletak dua jengkal saja jauhnya dari bibir itu. Ya. Maka. bebas kerut-merut dan halus rupawan itu. Siapa lagi? Pasti ada perempuan itu. tidak mampu memproses data lalu macet.” Hm. yang janda cantik itu!” “Ya iyalah. lebih. karena dia tidak pandai menyusun kalimat di depan bibir itu. Mau kan?” “Jangan merubah pembicaraan! Kamu makan-makan dengan siapa-siapa saja tadi?” “Lho…ya dengan teman-teman kantor. Maka malam itu kemudian menjadi malam yang sangat dingin. laki-laki itu kemudian berlatih untuk diam sejenak sebelum menjawab segala sesuatu yang keluar dari bibir itu. Kok jadi menakutkan sekali? “Dia siapa sih?” “Pura-pura tidak mengerti. dia. betapapun manis dan lembutnya terdengar di telinga. Jadi aku kira kamu pasti tidak mau ikut. “Lho. Perempuan itu melihat bagaimana bekas suaminya menggelengkan kepala dengan cara yang sangat khas. seperti pedang dan berkilau-kilau karena lipgloss-nya. waktu aku telpon katamu kamu tidak suka masakan Itali dan kamu ada janji dengan teman-temanmu mau shopping. lebih dan lebih banyak lagi hamburan kata-kata yang sangking terlampau banyak tidak dapat dicerna oleh otaknya dengan baik dan kepalanya kemudian akan menjadi seperti sebuah komputer yang cupu. Laki-laki itu mengangkat bahu. Asep juga.” “Aku memang tidak suka. iya kan?!?!” “Lho. Atau. “Sudah makan ya?” tanya bibir itu. Atau.” “Perempuan yang mana lagi?” “Wulan. hampir-hampir membekukan. bebas komedo. kalau kamu mau kita pergi makan berduaan saja sekarang.” jawab laki-laki itu seraya mencoba mencium kemanisannya. tapi memang iya Wulan ada. .” “Pasti ada dia!” Bibir itu melancip. lebih tepatnya dia takut mengucapkan lebih banyak katakata karena akan berarti lebih banyak lagi kesalahan yang dapat saja dilakukannya menurut logika bibir itu yang mengakibatkan bibir itu akan mengeluarkan lebih. Angki juga. seakan mencoba menebak sesuatu. Kemudian ia jadi sering merasa mual. tajam sekali.

lebih tergila-gila. Itulah yang ingin sekali ditemukannya pada bibir itu. “Kenapa harus minta maaf? Kamu menyesal karena berselingkuh kan? Padahal kamu pernah berjanji bahwa kamu akan selalu mencintai aku. karena setelah berpikir begitu keras memang hanya itu saja yang terbayang-bayang di kepalanya. menghindar terus!” Dan kepala laki-laki itu semakin pusing jadinya. karena getar-getar bibir itu membuatnya tidak tega untuk berdiam diri lebih lama lagi. Menyapa. “jadi kamu malu ya?’ bisikannya mengejek. Dasar pengecut! Dia memaki dirinya sendiri.Entahlah. tidak akan pernah menyakiti aku. Ada beberapa yang bahkan nampak sekali sangat tertarik dengan gerak-gerik bibir itu. dan katamu sendiri. “Kamu malu karena suaraku keras. Ah! Pusing jadinya. membentuk sebuah senyum sinis. “Ehemm…” Laki-laki itu membersihkan tenggorokannya yang mendadak rasanya tercekat oleh serpihan-serpihan kerikil yang masuk entah dari mana. pikir laki-laki itu. “Bukan itu. dulupun dia merasa seperti itu. Dan tertawa. amboi…betapa manis sesungguhnya memang bibir itu dari jarak aman ini. Laki-laki itu merasa tidak memiliki jawaban yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan itu dan ia pun tidak dapat mendeteksi mana yang aman untuk dijawab dan mana yang adalah ranjau darat yang bila diinjak akan mengakibatkan ledakan yang dahsyat dan menghancurkannya berkeping-keping. bahkan lebih terbius. mengelus-elus kerinduan. ia tidak memiliki keinginan untuk lebih mendekat atau melakukan apapun dengan bibir itu. membuat matahari bersinar lebih lembut saat siang terik. karena selalu saja ia mendapatkan dirinya dan harga dirinya kemudian terkapar di suatu tempat dan waktu yang membingungkan. “Mungkin karena bibirmu. katanya perlahan.” “Jadi? Lebih seksi?” Lelaki itu menatap bibir bekas isterinya dan melihat. apalagi karena beberapa orang di meja sebelah mulai tertarik ikut mendengarkan percakapan mereka yang saat ini lebih mirip sebuah monolog dari bibir itu. Kenapa kamu justru ingkar janji! Kenapa justru memilih untuk bersama dia daripada aku?” Banyaknya pertanyaan yang meluncur sekaligus dari bibir itu membuat mantan suaminya merasa tegang sekali.” “Kamu hanya bisa bilang bukan itu. begitu enak untuk dinikmati. Bibir seperti itu gunanya untuk tersenyum. tidak ada perempuan lain yang mampu mencintai kamu seperti aku mencintai kamu. karena dia sadar dia memang merasa sangat kecut sekali. menyejukkan hati. Tidak dapat disalahkan. Aku kan tidak menanyakan hal yang sulit atau terlampau mustahil untuk dijawab! Aku hanya ingin kamu jujur! JUJUR! Bukannya jadi pengecut terus. bahkan lebih menegangkan daripada dimarahi oleh atasannya di kantor.” katanya akhirnya. menghormati aku. mendebarkan sanubari. “Kamu kenapa sih? Selalu saja begitu kalau diajak bicara serius! Selalu pura-pura sakit kepala. “Bibirku? Apa yang salah dengan bibirku! Aku pikir kamu menyukai bibirku! Memangnya bibirnya lebih indah dari bibirku?” “Bukan begitu maksudku. Mencium. dan menusuk-nusuk seperti sembilu? Tidak mungkin kan rasa-rasanya. “Pelankan sedikit suaramu. kita ada di tempat umum. bukan itu. merobek-robek seperti cakar. dan rasa-rasanya tidak mungkin ada yang lebih lembut lagi dari bibir itu yang rasanya seperti gulali ketika disentuh.” “Lebih pandai mencium?” “Bukan itu. bukan itu. bagaimana mungkin bibir secantik itu bisa melukai seperti pedang.” “Aahhh. Dia memijat-mijat pelipis kirinya yang berdenyut-denyut. tanggung.” bibir itu bergerak naik. begitu? Kalau berselingkuh itu tidak memalukan ya!” . seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang! Apa sih maksudnya! Kenapa berbicara dengan kamu selalu saja membosankan!” “Maaf…” Bibir itu merapat.

mata-mata para perempuan mendelik dan beberapa laki-laki agak salah tingkah sementara yang sebagian malah tersenyum mencemooh. juga sebuah dekik yang timbul tenggelam di sebelah kiri bibir itu. bila di matamu aku bisa berkaca dan menemukan diriku. Kamu memang ahlinya! Selalu saja begini ini. “Sebaiknya aku pergi saja karena ternyata kamu masih terlalu emosi. boleh aku bicara?” Laki-laki itu menepikan mobil. kapan semuanya akan berakhir ya? Konsentrasinya pada bibir itu membuatnya mampu menangkap garis-garis halus di bibir itu. luarbiasa. matanya beralih memandang jalan di depannya. Di lekuk-lekuk senyummu ada semangat dan kekuatanku untuk meraih masa depan. Bibir itu sekarang berguncangguncang. sangat. “Jadi. Dia bahkan tidak lagi dapat mendengar suara apapun! Secara naluriah. mengapa…” .” Tiba-tiba saja dia menemukan dirinya bisa berbicara tegas. “Jawaaaaaab!” Tiba-tiba saja dinding pelindung anti-suaranya pecah berantakan. bukankah kamu selalu berkata ingin ada jawaban? Boleh kan aku mencoba menjawab. saat ini. ayo aku antar. dan kegairahan. jalan lengang. berbanyak kepala langsung menoleh ke meja mereka dan laki-laki itu menemukan dirinya menjadi pusat perhatian. Kepala perempuan itu mengangguk. Ya. Kalau saja dia bisa bertanya langsung kepada bibir itu. apakah itu sebuah isakan? Dia merasa diterobos oleh rasa kasihan.” “Lalu. laki-laki itu menutup indera pendengarannya dan menyisakan visualisasi dari drama yang terjadi di depan matanya ini.” “Bagus! Pergi saja sana! Melarikan diri. sangat. “Ssstt…” Serba salah laki-laki itu menengok ke kiri dan ke kanan. kalau dieksploitasi terus-menerus. demi merekahnya senyum. Aku bahkan mau mempertaruhkan hidupku demi bibir itu.” “Tapi…” “Biarkan aku bicara dulu. laki-laki itu terkejut.Suara yang keluar dari bibir itu berdentum keras sekali sangat mengejutkan. “itulah masalah kita. dan di kepala laki-laki itu timbul pertanyaan. Digandengnya bekas isterinya ke luar dari tempat minum kopi itu. seakan memang seluruh semesta mempersiapkan tempat dan ruang untuk mereka saat itu. bagaimana mungkin dia pernah mencium bibir yang seperti itu di suatu masa yang rasanya sudah berabad-abad yang lampau? Bagaimana caranya bertahan tetap waras berhadapan dengan bibir itu selama lima tahun hidup pernikahan mereka? Saat bibir itu mencang-mencong di hadapannya dia tidak lagi mampu mencerna kata-kata yang mengucur begitu deras dari bibir itu. warna lembut lipstick yang masih melekat dengan sangat apik yang nampaknya tidak akan berguguran walau terguncang-guncang. di bibirmu aku menemukan cinta. satu saat ditarik ke sana dan dilain saat ke sini. Kamu tahu itu. Saat itu dia merasa berhadapan bukan lagi dengan pedang. begitu elastisnya bibir itu sehingga tidak jadi masalah ditarik ke kiri atau ke kanan. “Bibirmu. Atau lebih tepatnya. yang membuat jantungku berdebar-debar melaju ditengah kemacetan jalan saat pulang kerja sehingga rasanya semakin tersiksa karena aku ingin sekali segera pulang agar dapat mengecup sudut-sudutnya. apakah bibir itu sendiri tidak pernah merasa lelah? Dalam hati laki-laki itu mempertanyakan. sambil berpikir. mencong ke atas atau ke bawah. dan derai tawa. lekukan atasnya yang sensual dan sempurna. Bahwa aku sungguh-sungguh jatuh cinta dan mencintaimu ketika kita menikah. dan kekenyalan bibir itu yang begitu nyata. Tapi. yang sudah lama tidak mampir di hatinya. aku kasihan dengan bibirmu. apa yang dirasakannya saat dihempas-hempas begitu rupa oleh pemiliknya. Tiba-tiba saja dia merasa sangat. “Aku pernah mencintaimu. “Sebaiknya kamu pulang. tidak bertanggungjawab!” Bibir itu bergerak turun naik ke kiri dan ke kanan. dan kamu mencoba mendengarkan? Lagipula. Ya. untuk laki-laki itu. dan dengan takjub menemukan tidak ada perlawanan dari bibir itu maupun anggota-anggota tubuh yang lainnya. Kasihan. sangat kasihan kepada bibir itu. tapi gulali yang mulai meleleh karena dibiarkan terlalu lama di bawah matahari. aku memang mencintai bibir itu. karena. Bisa kan?” Bibir itu bergerak seakan hendak melakukan sesuatu lalu tiba-tiba saja tidak jadi melakukannya. Bibir itu perlu istirahat juga dan memberikan kesempatan kepada telinga untuk bisa mendengar suara lain selain suara-suara milikimu sendiri.” kata lelaki itu sambil menatap jalan di depan kemudi.

“Kita sudah benar-benar gagal bukan?” perempuan itu berbisik.” Ah. Mungkin imanku yang tidak kuat. merasa menang. Mereka sudah sampai di persimpangan tempat dia dan pemilik bibir manis itu harus berpisah. Aku memang pengecut. aku jatuh.” “Kalau kita lebih banyak berciuman?” “Kita akan lebih mudah bergandengan. dan matanya berkaca-kaca.” “Kalau kau lebih mudah berbicara?” “Kau akan lebih mudah mendengarkan dan kita akan lebih mudah saling mengerti. sebuah senyum rawan menggantung di bibirnya. “Sungguh. Bekas isterinya mengangguk. “Masih ingat? Dulu kau pernah bilang bibirku rasanya seperti es krim vanila dan lembut seperti gulali. pada mulanya. Aku minta maaf.” Perempuan itu menatap laki-laki itu dengan pandangan yang berbeda. menjadi sebuah jalan alternatif bagiku. Aku bahkan sering berharap terjebak saja terus di tengah-tengah kemacetan. ingin sekali disimpannya tetes bening itu di dalam sakunya. dan lelaki itu mengusapnya lembut dengan jari telunjuknya. yang pada awalnya sama sekali tidak punya arti. “Kita sudah pergi terlalu jauh dan kehilangan jalan pulang. Aku tidak pernah menghendaki kita berpisah. Atau dua-duanya. Karena aku tidak mampu pulang. Bahkan tidak berani mengecup bibirmu saat aku sangat ingin melakukannya karena aku takut lidahku tidak mampu merasakan rasa yang lain selain rasa pahit” Laki-laki itu mengedipkan matanya. aku mencari kedamaian di bibir yang lain. tidak berdasar. masa-masa yang sangat indah di sebuah waktu yang berbeda dan begitu jauh. Namun. Tetapi sedetik saja pada saat ini. yang aku dengar hanya bergodam-godam palu kecurigaan dan tuduhan yang pada mulanya aku tidak mengerti dari mana asalnya. betapa terlambatnya. Jakarta 24 Juni 2003. manis sekaligus sangat pahit.” Laki-laki itu menatap perempuan cantik di sampingnya. Ia menghela nafas dalam diam. Namun kemudian. dan bekas isterinya menggigit bawah bibirnya. “Ya. ada air yang membuat matanya berkaca-kaca. Namun nampaknya dosaku sudah terlampau besar. . bahwa aku memang suami kalahan.” “Seandainya kita lebih mudah saling mengerti?” “Kita akan lebih banyak berciuman. Kuakui bahwa aku lelah dihukum untuk sebuah kesalahan yang tidak aku lakukan. Aku tidak pernah berniat mengkhianati. Oh. Aku mengaku kalah.Laki-laki itu memberi isyarat dengan tangannya. bibirnya terbuka sedikit. sudah penuh. setiap kali aku memandangmu dan bibirmu mulai berbicara. yang aku rasakan adalah rasa mulas di perutku.” kata perempuan itu lirih. tidak pernah selintaspun. dan aku tidak punya keberanian atau kemampuan untuk mempertahankan apa yang memang tidak kamu anggap perlu untuk dipertahankan lagi… Maafkan aku. karena begitu bibirmu terbuka. bukan madu yang keluar namun begitu banyak dakwaan yang. Yang pasti. aku berpikir. bukan lagi seperti kupu-kupu yang naik turun tetapi lebih mirip sengatan sekawanan lebah yang menyerang lambungku. kamu yang menginginkannya. berselingkuh. ada sebutir bening jatuh diujung bibir itu. mengapa semakin lama aku malah semakin menikmati jam-jam lemburku dan mengharapkan waktu-waktu kerja menjadi lebih panjang. mengapa tidak? Mungkin dengan begitu kamu akan merasa puas. Mengapa? Karena aku tidak lagi menemukan debaran-debaran jantung ketika berhadapan dengan bibirmu.” “Kalau kita lebih mudah bergandengan?” “Kita tidak akan pernah terlalu mudah untuk saling melepaskan. “Lalu mengapa kita bercerai?” Laki-laki itu menebak dengan tepat. dan godaan yang datang. Karena itu adalah pertanyaan yang sama yang diajukannya berulang-ulang kepada dirinya sendiri. tidak punya peluang. menahan diri. ketika dirabanya sakunya itu. mengapa? Aku sendiri heran. Laki-laki itu mengangguk. Akhirnya. dan aku sudah menemukannya. terisi dengan cinta untuk sebuah bibir yang lain. “Seandainya aku lebih banyak mendengarkan?’’ “Aku akan lebih mudah berbicara. atau malam-malam kita yang terlalu banyak diisi dengan kebekuan. Aku memang bersalah.

Namun rasa penasaran yang sangat menyelimuti otakku sedemikian rupa. Aku memutuskan untuk lanjut ke S2 jadi tidak ada waktu untuk menikah. toh mereka semua senang aku pulang. apalagi di akhirat. dan disegani siapa pun yang mengenalnya. Setelah mengurus tiket yang agak bermasalah. Rupanya beliau tidak memberitahu yang lain bahwa aku disuruhnya pulang. Banyak majelis-majelis mengharap kedatangannya untuk sekadar memberikan sambutan atau ceramah pendek. bertitel kyai. Tak apa. Keluargaku kaget melihatku pulang. Saking dihormatinya. Meski surat itu tanpa tanda tangannya. Aku bukan anak-anak yang mau menjadi benalu bagi Bapak. Umurku 28 tahun dan aku memang kurang laku di mata kaum hawa walau banyak orang bilang wajahku termasuk lumayan. Kuhubungi teman-teman sesama panitia dan mereka semua pengertian. Ataukah Bapak jatuh miskin di luar sepengetahuanku lalu akan menyuruhku berhenti kuliah? Tapi toh meski selama ini ongkos kuliah ditransfer Bapak. “Tidak masalah. Hanya itu isi surat yang kuterima tadi pagi. kaya raya. Ia pendakwah yang gigih. Nomor ponsel dan nomor telepon Ibu kost-ku sudah ada di tangan Bapak. Yang paling kesal adalah adikku si Nuning. 2008 by piko aguno Gi. aku penggantinya. Kulihat Bapak hanya diam saja menyambut kepulanganku. Terbersit niatku untuk menunda kepulangan sampai tanggung jawabku itu selesai. akhirnya aku kembali terbang ke kota kelahiranku. Di dunia sebagai orang baik dan rezeki dicukupi. Aku tak habis pikir mengapa Bapak tidak menelepon saja. Kuliahnya sudah selesai dan belum punya pekerjaan. ia dianggap sukses di dunia dan akhirat. Hati-hati nanti di jalan. ia dimintai ‘doa’ oleh orang-orang yang datang dari luar kota. Semenjak aku diasuhnya sedari kecil. aku mengenalnya sebagai orang yang sangat taat beribadah dan selalu membangunkanku saat sepertiga malam untuk salat tahajud yang kemudian menjadi rutinitasku dalam keseharian.” begitu kata salah satu temanku yang menjabat sebagai wakil ketua panitia.Bukan Ismail Desember 10th. Jogja. aku merasa bisa terus sekolah dengan upah kerja part time atau dengan belajar lebih rajin agar dapat beasiswa. Ia bisa diasumsikan sebagaimana orang-orang melihat seorang manusia yang sempurna akhlak dan materi. Namun begitulah Bapakku. Tulisannya miring bersambung dan banyak hiasan di huruf G dan B besar. aku berusaha menyingkirkan semua pikiran-pikiran aneh tentang apa yang akan dibicarakan Bapak. Bapakku orang terhormat. Hampir-hampir orang lain berani bertaruh manusia macam itu bakal masuk surga. Tumben sekali Bapak berkomunikasi dengan cara seperti ini belum lagi isi pesannya yang benar-benar menyita perhatianku sepanjang hari ini. Atau mungkin tentang warisan? Mungkin Bapak sedang sakit keras baru-baru ini dan merasa akan meninggalkan dunia fana ini sehingga merasa perlu membicarakan warisan hartanya yang melimpah. Meski sulit. aku bisa mengenali tulisan Bapak yang khas. Dia sudah kebelet nikah namun tidak sampai hati melangkah mendahuluiku. punya banyak koneksi. Akhirnya aku lelah berpikir yang tidak-tidak dan memutuskan mengepak koper sore ini lalu berangkat nanti malam. Ia mengirim surat dengan kertas dan amplop kelas atas serta prangko kilat namun isinya hanya lima kata itu saja. kecuali Bapak. pulang. Bapak mau bicara. Yang terakhir ini agak kuragukan karena Bapak orang sukses dan terhormat. Ia bilang ia bukan dukun yang bisa dimintai hal-hal . Apa gerangan yang mau dibicarakan? Ini agak sulit karena aku sedang mengemban tugas sebagai pembicara seminar yang akan dilaksanakan besok di kampus. Tapi aku tetap merasa kurang. jadilah ia menganggur di rumah. Wajahnya menunjukkan bahwa dia sedang berpikir keras tentang suatu hal dan bayang-bayang keraguan muncul timbul tenggelam. Pendek kata. aku memang tidak pandai bersyukur. Aku merasa bersalah juga tapi aku akan menikah setelah selesai kuliah. Benar-benar surat yang simpel namun juga mengusik hatiku. Apa yang akan dibicarakan Bapak? Tentang pernikahankah? Karena aku sudah termasuk telat untuk menikah dan begitu gencarnya Orangtua beserta adik-adikku membujukku untuk mencari belahan jiwa. Bapakku tidak bisa menerima dan menganggap hal itu syirik.

Aku tidak percaya sedikit pun tapi aku diam saja. “Pasti Tuhan sedang menguji keikhlasan Bapak dalam beribadah. Selama ini Bapak hidup tanpa hambatan yang berarti. Untuk kedua kalinya aku terlonjak. Bapak tidak bisa mengelak. Aku setuju saja. Darinya mengalir nasihat-nasihat kehidupan juga kisah-kisah para nabi. Setelahnya Bapak menyalakan rokoknya dan mengepulkan keras-keras.” Ia terbatuk karena asap rokoknya sendiri lalu melanjutkan. “Bapak yakin kamu anak shaleh dan selalu ingat bahwa Tuhan itu ada. “Yah. jadi kutunggu dengan tidur yang lelap hingga tiba-tiba ia membangunkanku sepertiga malam untuk salat tahajud. tidak mengerti apa maksud Bapak bertanya begitu. ‘Diam itu emas’ rupanya benar-benar menjadi prinsip hidupnya. “Astagfirullah! Apa nggak salah dengar?” Bapak mengangkat tangannya agar aku jangan menyela. . Mana mungkin? Pasti Bapak mengada-ngada. “Kamu percaya sama Bapak?” tanyanya. Aku tidak mengeluh kali ini meski aku benci sekali asap rokok.” Agak menyesal kukatakan ini. Ia berbicara panjang lebar dan tak ada hentinya kecuali mungkin aku menyelanya.” ujar Bapak tanpa ekspresi. apalagi bertemu Tuhan. Mengalami mimpi bertemu Rasulullah saja sudah merupakan karunia luar biasa dan diperuntukkan hanya kepada hamba-hamba Allah yang tertentu.” “Tapi Pak… bagaimana mungkin? Itu kan cuma mimpi. Pantatku jadi sakit karena terlompat. kedudukan terhormat. tegas.” Bapak terdiam agak lama dan menciptakan keheningan yang janggal di antara kami. Hanya asap rokoknya yang bergerak kesana kemari di antara kami. “Bapak tidak percaya kamu percaya sama Bapak” Aku jadi bingung.” jawabku ragu. “Saya percaya Bapak. membiarkan rokoknya memendek digerogoti ulat api di ujung. Aku disuruhnya pulang hanya untuk mendengar celotehan yang sudah sering kudengar di masa kecil. sebenarnya apa yang mau dibicarakan sampai saya harus pulang?” Bapak mengisap rokoknya dalam-dalam. Bapak sangat pendiam. seolah berusaha memancing komunikasi kami berdua. Tuhan menguji sejauh mana Bapak bisa bersabar atas apa yang Tuhan minta. aku agak heran juga. Dengan agak kurang sopan aku menyela. “Apakah kamu percaya sama Bapak?” tanyanya. Karena setiba di rumah Bapak hanya diam saja.” kataku spontan.” Aku tersontak kaget... Ia mengusir dengan halus tamu-tamunya saat itu. Rupanya tidak cukup hanya dibalas dengan ibadah dan rasa syukur kepada Tuhan. Bapak hanya menatap kosong ke langit-langit rumah.seperti itu. memandang langit-langit. Akhirnya kami shalat berjamaah sekidmat mungkin. “Dua hari yang lalu Bapak bermimpi bertemu Tuhan. Bapak hanya bicara bila benar-benar perlu jadi kebanyakan mulutnya hanya digunakan untuk tersenyum menanggapi perkataan orang lain. keluarga sejahtera. “Pak. Lalu ia berkata tibatiba. “Seperti halnya Nabi Ibrahim. Tuhan menyuruh Bapak menyembelih anak Bapak sendiri.ya. Harta banyak. “Eh. Bapak harus memenuhinya. Aku jadi jenuh dengan perkataannya yang panjang lebar dan tak biasa. “Terus?” tanyaku. Apa wujudnya? Aku tak boleh bertanya demikian. seolah itu hisapan yang terakhir. Ia mengajakku bicara empat mata berhadap-hadapan. Begitu bangga dan bersyukurnya aku mempunyai Bapak seperti beliau.

dan mimpi biasa. Ini bisa menjadi aib keluarga dan aku bakal malu berat.” “Saya kira mimpi itu ada tiga. Aku jadi malu di hadapannya. Lagipula kamulah yang Bapak rasa paling bisa menerima tugas ini dengan lapang dada.“Begitulah Tuhan menyampaikan kepadaku. Maksudnya mimpi yang nyata. Maha Besar. ” Lapang dada! Ah. “Sebenarnya bisa saja Bapak memilih satu di antara adik-adikmu tapi adikmu perempuan semua. Dari Allah. Aku merasa akan kalah.” kataku mengalah. Tapi aku kaget hal-hal yang merusak aqidah seperti ini menyentuh Bapak. Bapak orang saleh. Ini sudah kelewat batas. mimpi dari setan. . Allah Maha Berdiri Sendiri. “Apa kamu percaya selama ini Bapak beribadah bukan atas dasar riya? Tidak untuk menarik perhatian orang lain supaya jatuh hormat pada Bapak?” tanya Bapak. “Ya… tentu. Bapak bukan Nabi tapi hanya manusia biasa yang dikaruniai hidayah-Nya sehingga bisa seperti sekarang. Dan Bapak sendiri. Perhatianku teralih namun sekejap kembali pada tempatnya. Melelahkan tapi asyik. Bapak memperlihatkan mimik tersinggung lagi.” Bapak tersinggung. Aku takut tiba-tiba ia mengaku-ngaku diutus sebagai Nabi. “Tapi Pak…. aku juga—semua—hanya manusia biasa.” Bapak tertawa terkekeh-kekeh mendengar perkataanku. Dikepulkannya asap rokok menjadi lingkaran-lingkaran asap yang menawan. “Bapak yakin kalau Bapak disuruh nyembelih anak sendiri?” tanyaku takut-takut. Bapak orangnya tidak tega melukai mahluk Tuhan yang namanya perempuan. Mau kuceritakan?” Aku menggeleng lemah. aku masih ingin hidup seribu tahun lagi. Rasanya sesak dan perutku mulas sekali. “Tapi Bapak bukan Nabi. Mimpi dari Allah. Dan Bapak pun menerima hal yang serupa. Yang terakhir semacam tidur lelap karena kekenyangan.” “Tapi bagaimana Bapak yakin Bapak mimpi begitu? Mungkin hanya halusinasi—” “Bukan. Bapak mengangguk takzim. ia mengencerkan tenggorokannya sambi berpaling dariku. Ini benar-benar mimpi. Manusialah yang selalu butuh Allah untuk bisa hidup meski mereka tidak pernah menyadarinya. bukan halusinasi. “Lalu bagaimana dengan Nabi Ibrahim? Mengapa Tuhan meminta hal seperti itu kepada Nabi-Nya? Itulah Ibadah. Muhammad adalah Nabi terakhir. Untuk apa Tuhan meminta hal seperti itu kepada mahluk ciptaan-Nya? Ini menyalahi Asma’ul Husna. Allah tidak butuh sesuatu pada mahluknya. Kuraba dadaku. apapun caranya. Bapak yakin sekali mimpi ini dari Tuhan. Hanya kamu sendiri yang laki-laki. Perintah Allah. bukannya Nabi atau bahkan orang saleh?” “Kamu menilai Bapak bukan orang saleh?” tanya Bapakku agak keras lalu kemudian ia jadi salah tingkah begitu juga aku. “Le. sedikit nyengir mau minta maaf. Bisa jadi ia akan punya pengikut seperti halnya Ahmadiyah.” Telingaku serasa terkulai. Tapi saya tidak tahu apakah Bapak bisa menentukan mimpi itu dari Tuhan atau dari setan.” kataku tegas. Aku harus menyadarkan Bapak. Seolah-olah malaikat Jibril masuk ke dalam mimpi Bapak lalu mengajak Bapak ke depan arsy Tuhan di langit ke tujuh. Perjalanan yang panjang. “Memang.” “Tapi mengapa Tuhan memberikan tugas itu kepada Bapak kalau Bapak manusia biasa.

Saya mau tidur dulu. putranya Ismail ikhlas untuk disembelih. Entah kamu ikhlas atau tidak Bapak peduli apa? Tuhan tidak menitipkan pesan apa pun untuk kamu.” “Uh oh. bukan kamu. Kalau kambing sih. Rupanya sikap takabur sudah menggerogoti otak kanan Bapak sehingga penuh dengan khayalan seperti ini.” Jantungku berdegup dan bisa kurasakan wajahku memucat meski aku tidak bisa melihatnya.” “Tidak! Saya tidak mau. “Ah.” Bapak ikut marah Hilang sudah rasa hormatku pada Bapak. Aku akan diuji apakah aku sanggup menyembelih anakku sendiri atas dasar perintah Tuhan. “Ini bukan sensasi. Saat pisau yang tajam bersentuhan dengan kulit lehermu.” Bapak menahanku. Kamu harus—. Tole… Kamu tidak akan mati.” “Kamu jangan ngeyel.” kataku gemetar. Itulah bedanya. Lebih baik sudahi saja.” “Salah. Pak. ” “Aku tidak ikhlas.” “Saya tidak mau.” “Kalau begitu beli saja kambing lalu sembelih.” “Cukup!” “Ini ibadah. bukan gitu Pak.” kataku marah. dari Allah. Tinggal tebas. jangan dilakukan. sadar…” “Dengar dulu—.“Begitulah. “Tunggu dulu! Bapak jangan bikin sensasi. Ini edan. “No…no…no… Aku masih ingin hidup. Pak. Saya cuma…” “Tapi Bapak harus melaksakannya” “Pak…” “Malam ini.. “Bapak memaksa. tentu saja berbeda. makan. Dalam kisah Nabi Ibrahim.” elakku. Bukankah Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang? Allah akan menggantikan dirimu dengan seekor kambing gemuk yang nanti kita jadikan gulai untuk dimakan sekeluarga. “Ha.” kata Bapak seraya mematikan rokoknya yang sudah pendek sekali.” “Harus. Sadar. Bapak cuma minta kesediaanmu untuk Bapak sembelih.” “Oh… saya tidak bersedia. Bapak tidak punya kendala. Tole. ini pembunuhan.ha…ha… Yang diuji itu Bapakmu ini. masak.” .” “Wah.” “Tidak mau. Keikhlasanku diuji ketika detik-detik terakhir aku memutuskan urat-uratmumu. Ini misi Tuhan. Pak. Sedangkan aku tidak ikhlas. “Bapak mau melakukan tugas itu malam ini. Berarti acara sembelihan Bapak jadi tidak afdhal dong. itu sama saja.

Aku membayar mahal seorang psikiater profesional untuk mengawasinya namun laporan setiap bulannya tidak banyak mengalami kemajuan. orang-orang zaman sekarang takkan bisa menerima.” “Aduh. dan bersiap-siap memegang leherku. aku bukan Ismail. .” “Tiidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!” Tapi itu sudah berlalu satu tahun yang lalu. Aku jadi bimbang sendiri. Yang jelas. menduga-duga mungkin mimpi itu benar dari Tuhan dan aku memang harus disembelihnya. Untuk beberapa waktu. Meski demikian orang-orang yang dulu mengenal Bapak masih menaruh hormat pada keluargaku. Setiap sepertiga malam ia selalu shalat sampai subuh. Sungguh aku merasa menjadi manusia paling berdosa dan tak punya iman sama sekali. Ia percaya mimpi ayahnya itu tidak salah. Bapak berdiri. yang tentu saja takkan berhasil. Aku juga ragu mimpi Bapak tidak relevan untuk zaman sekarang. menikah dan kini tinggal bersama ibuku yang kecewa berat Bapak jadi gila. Akhirnya Bapak dideportasi dari rumah dan diungsikan ke Rumah Sakit Jiwa. Bagaimanapun juga. Mungkin trauma mengingat-ingat bagaimana Bapak mengejarku di jalanan dengan pisau besar terasah tajam dan mengkilat sambil bertakbir. Ia percaya bukan karena ia bodoh tapi karena imannya yang terang benderang. Bapak bersikap seperti orang normal bahkan kelewat saleh. Siapapun itu.“Kita bakal dapat pahala. Kata si psikiater. Ia percaya bahwa Tuhan itu ada. lho. Juga mendakwahi setiap pasien di sana. Aku sudah diwisuda. Sejenak timbul niat untuk memulangkan Bapak karena mungkin Bapak memang tidak gila. Nuning juga sudah menikah dan tinggal di rumah suaminya. Apakah ini berarti aku mengabaikan Tuhan? Jika Bapak memang benar bermimpi demikian dan mimpi itu memang dari Tuhan maka aku orang yang berdosa. Dan hal penting kedua ialah ia ikhlas untuk disembelih. Lalu bagaimana dengan Ismail putra Ibrahim? Mengapa ia tidak ragu bahwa mimpi ayahnya dari Tuhan? Mengapa ia mau menerimanya begitu saja? Karena ia punya iman yang kuat. mengajak-ajak dalam kebajikan. jangan Pak! Gila!” Akhirnya sambil tersenyum tulus Bapak mengeluarkan pisau besar semacam parang dari balik sarungnya. Tapi pastinya Ibu dan adik-adikku tidak akan menerimanya lagi. Aku ragu jika Bapak tidak gila.” “Bapak sudah keblinger!” “Meski dengan kekerasan. Pisau itu sudah terasah tajam dan mengkilap menyilaukan mataku. Ia percaya ayahnya selalu beribadah dengan ikhlas kepada Tuhan. Aku menjadi merasa bersalah pada Bapak. kali ini. “Sini kamu. keluargaku menjadi bahan gunjingan di masyarakat. bekerja. Si psikiater curiga itu hanya akal-akalan agar dia dinyatakan sembuh namun niat untuk membunuhku masih ada. Keluarga dan tetanggaku menyelamatkanku tepat pada waktunya. Aku hampir lengah. Bapak masih selalu berpuasa Senin Kamis dan masih melantunkan ayat Al Quran dengan fasih. mengucapkan basmalah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful