BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Sebagai seorang dokter yang akan berkerja dalam masyarakat akan mendapat pasien dengan berbagai masalah. Termasuk juga dokter akan berhadapan dengan kasus-kasus yang berhubungan dengan tindakan pidana seperti kasus kecelakaan lalu lintas, kasus pembunuhan, kasus tenggelam dan lain sebagainya. Maka peranan dokter umum untuk membantu penyidik sangat diperlukan. Sebagai dokter sudah kewajiban kita untuk memberi bantuan kepada penyidik seperti yang tertulis dalam KUHAP pasal 133 ayat 1 yang berbunyi “ Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mnegajukan permitaan keterangan ahli pada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atas ahli lainnya .“ Oleh karena itu dokter harus membantuk penyelidikan mengenai tindakan yang dianggap tindak pidana. Seorang dokter umum tugas yang diemban untuk mambantu penyidik adalah membuat Visum et repertum atas mayat ataupun atas orang hidup yang mengalami tindakan pidana. Visum et Repertum (VER) ini sangat penting untuk mambantu menemukan fakta-fakta dibalik kasus-kasus pidana. VER juga diakui secara hukum sebagai alat bukti yang sah dalam peradilan. Oleh sebab itu sudah seharusnya seorang dokter umum mengetahui pembuatan VER ini. Dokter umum juga berkewajiban menjadoi saksi ahli dalam peradilan. Sebagai saksi ahli seorang doketer harus bisa secara objektif mengungkapkan fakta-fakta yang dia temukan dan menggunakan keahliannya untuk memeriksa korban. Saksi ahli juga merupakan bukti yang sah dalam peradilan sehingga sangat perlu dihadirkan dalam peradilan.

1.2.Tujuan Makalah ini dibuat sebagai syarat untuk menyelesaikan kepaniteraan klinik di departemen kedokteran Kehakiman Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Makalah ini juga bertujuan agar yang membaca khususnya yang sedang belajar ilmu kedokteran akan mengetahui dan mengerti tugas-tugas seorang dokter dalam lingkup ilmu kedokterab forensik.

Modi pula.Menurut beliau. Terdapat juga pendapat dari sesepuh ahli bidang forensik dari Indonesia. Menurut Sidney Smith. ahli kedokteran forensik Universitas Sumatera Utara. sering publik salah mengasosiasi ilmu kedokteran forensik dengan bedah mayat. ilmu Kedokteran Forensik ialah ilmu kedokteran yang berhubungan dengan pengeluaran surat-surat keterangan untuk orang hidup maupun mati demi kepentingan hukum. penyidikan tindakan kriminal secara ilmiah Menurut Jaiing P. SH. mempelajari kematian tiba-tiba. Menurut . ilmu kedokteran forensik adalah kumpulan ilmu pengetahuan medis yang menunjang pelaksanaan penegakan hukum. karena kekerasan atau kematian mencurigakan sebabnya. Dr Amri Amir SpF(K). DFM.Terdapat beberapa pengertian yang di berikan oleh ahli forensik tentang istilah forensik. tetapi sering juga ilmu kedokteran forensik melayani pemeriksaan untuk orang hidup. Makanya apabila terdapat pendapat masyarakat yang mendefinisikan kedokteran forensik sebagai ilmu bedah mayat. Prof. ini adalah sesuatu yang . Tjokronegoro (1952) mendefinisikan bahawa ilmu kedokteran kehakiman ialah ilmu yang mempergunakan ilmu kedokteran kehakiman dan yang di pakai dalam menyelesaikan perkara kehakiman.1 Definisi Dalam perkembangan istilah. baik sipil maupun kriminal.BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. ilmu kedokteran forensik adalah cabang ilmu kedokteran yang menggunakan prinsip-prinsip dan pengetahuan kedokteran untuk membantu proses hukum. ilmu kedokteran forensik adalah pengetahuan dan keterampilan untuk kepentingan hukum dan peradilan. forensik datangnya dari perkataan romawi ‘forum’ yaitu tempat orang romawi mengadakan sidang peradilan. Walaupun terdapat asosiasi antara bedah mayat. Menurut Simpson K.

Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuaI dengan standar profesi dan standar prosedur operasional. dan standar terbentuk prosedural memberikan berdasarkan atas konsensus bersama untuk melaksanakan berbagai kegiatan dan fungsi pelayanan yang dibuat oleh sarana pelayanan kesehatan berdasarkan standar profesi.2 Hak Dan Kewajiban Dokter Di dalam profesi yang di embannya seorang dokter mempunyai hak dan kewajiban. Memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur operasional. Ilmu bedah mayat adalah sedikit atau cabang dari kedokteran forensik atau kedokteran kehakiman. b. Yang dimaksud standar profesi adalah batasan kemampuan minimal yang harus dikuasai oleh seorang individu untuk dapat melakukan kegiatan profesionalnya pada masyarakat secara mandiri.Adapun hak dokter dalam melaksanakan praktik kedokteran adalah (Undang – Undang No 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran Pasal (50) : a. 2.mengelirukan. Sedangkan standar prosedur operasional adalah suatu perangkat instruksi atau langkah – langkah yang di bakukan untuk melakukan suatu proses langkah kerja yang rutin benar tertentu. Di dalam melaksanakan tugasnya seorang dokter harus mendapatkan perlindungan hukum selama dalam menjalankan profesinya sesuai dengan standar profesi dan standar prosedural. Di dalam memberikan pelayanannya seorang dokter harus memberikan pelayanan kepada pasien sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional yang telah . dimana diwujudkan dalam bentuk perlindungan hukum terhadap upaya medis yang dilakukan terhadap pasien sepanjang memenuhi standar profesi dan prosedur operasional.

Menerima imbalan jasa. kemudian baru mencari tindakan medis apa yang sesuai dengan penyakit yang di derita pasien. kemampuan penderita. dengan demikian di harapkan dokter dapat dengan mudah memberikan terapi apa yang sesuai dan cocok dengan penyakit yang di derita pasien. pertolongan dokter terutama di dasarkan pada peri kemanusiaan.benarnya tentang hasil diagnosa dan kepada pasien. Dalam mendiagnosa jujur inilah pasien harus kondisi memberikan keterangan yang perihal seputar penyakitnya. - hasil setelah di lakukanya suatu tindakan medis. berhak untuk menerima upah. lama dan sifatnya pertolongan yang di berikan. maka uang yang di terima tidak di beri nama upah atau gaji. Demikian pula seorang dokter.di bakukan. dokter berhak menerima honor sesuai dengan mutu . d. Seorang yang telah memberikan keahlian dan tenaganya untuk keperluan orang lain. melainkan honorarium atau imbalan jasa.Sebelum di lakukannya suatu tindakan medis. adapun standar prosedur operasional seorang dokter sebelum melakukan tindakan medis terhadap pasien adalah : − Memberikan keterangan yang sebenar. c. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya. Maka bila pelayanan medis telah di lakukan.Karena sifat perbuatannya mulia. seorang dokter harus mendiagnosa terlebih dahulu kondisi pasien. Melakukan tindakan medis terhadap pasien sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Besarnya tergantung kepada beberapa faktor yaitu keadaan setempat.

kecuali bila dia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya. Dokter dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban (Undang -Undang No 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran Pasal ( 51 ) : a. dokter harus mempunyai standar minimal yang harus di kuasainya. Merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik. bila dipandang membutuhkan pertolongan. artinya dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan harus senantiasa bertindak teliti dan seksama dalam melakukantindakan medis kepada pasien. apabila dalam memberikan pelayanan medis kepada pasien dirasa tidak dapat atau tidakan mampu melaksanakannya sesuai dengan kemampuan yang di miliki. Melakukan pertolongan darurat atas dasar peri kemanusiaan. ini adalah wujud imbalan jasa dari pasien kepada dokter. apabila tidak mampu malakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan. seorang dokter dituntut untuk dapat mengamalkan kewajiban menolong pasien. Di dalam mengemban tugas. maka seorang dokter wajib merujuk ke dokter lain yang lebih mampu untuk menangani tindakan medis apa yang sesuai dengan kondisi pasien saat itu demi terselamatkanya kondisi dan kesehatan pasien. Dokter dalam memberikan pelayanan medis haruslah sesuai dengan standar profesi medis yang dimilikinya. c.pelayanan yang telah diberikan kepada pasien. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien. b. ini tidak hanya di lakukan dokter didalam rumah sakit atau instansi di mana ia . Di dalam memberikan pelayanan medis.

Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran atau kedokteran gigi.Di dalam menjalankan profesi medis. . maka kompetensi ini melibatkan seluruh pemeriksaan yang berkaitan dengan medikolegal. Dalam ketentuan hukum KUHAP dijelaskan bahwa pemeriksaan Kedoketran Forensik dilakukan oleh spesialis forensik atau oleh “dokter”(umum atau spesialis lainnya). seorang dokter diwajibkan menambah ilmu pengetahuan agar lebih pandai dalam melakukan tindakan medis terhadap pasien serta mengikuti perkembangan ilmu kedokteran agar terbuka wawasannya. tetapi bila diperlukan.1 Peranan dokter dalam Kedokteran forensik dan aspek mediko-legal. pengawetan jenazah. trace evidences. d.bekerja tetapi juga dilakukan di luar dari jam kerja yang telah ditentukan tanpa membedakan pasien yang akan di tanganinya. artinya dari rumah sakit sampai ke puskesmas hanya untuk pelayanan autopsi dan pemeriksaan korban perkosaan terdapat kendala. Autopsi hanya dilakukan di rumah sakit yang dipergunakan untuk pendidikan Kedokteran forensik dan di beebrapa rumah sakit pemerintah lainnya.2. pemeriksaan korban hidup karena kekerasan fisik dan kejahatan seksual serta pemeriksaan tersangka pelaku kejahatan pada manusia. identifikasi. Perlu dijelaskan kompetensi dalam pelayanan Kedokteran Forensik. autopsi. Untuk dokter spesialis forensik. Untuk korban perkosaan dilakukan oleh spesialis kebidanan dan penyakit kandungan. pemeriksaan jenazah dari penggalian kubur. 2. maka setiap dokter harus siap untuk melakukan pemeriksaan karena telah dibekali pengetahuan dan ketrampilan dalam pendidikan. histopatologi forensik. pemeriksaan laboratorium forensik rutin. Ini berkaitan dengan kebijakan di Indonesia bahwa setiap dokter harus dapat meemberikan pelayanan Kedokteran Forensik dimanapun bertugas. serologi forensik. pemeriksaan tempat kejadian perkara (TKP).

apakah dengan sarana. menuntut dan mengadili perkara pidana maupun perdata. Ini yang harus dipahami juga oleh penyidik. hakim dan pembela sebagai alat bukti yang sah.Kasus mediko-legal biasanya mencakup : . Dalam hal demikian tampak bahwa laporan pemeriksaan dan kesaksian dokter di sidang pengadilan turut berperan dalam proses penegakan hukum.setiap kasus yang berkaitan dengan hukum harus diketahui penyebab cedera atau penyakit yang dialami pasien dan dinyatakan sebagai kasus mediko-legal. Artinya bila diperlukan dan tidak ada dokter spesialis forensik. ketelitian dan kesungguhan dokter melakukan pemeriksaan dan memberikan laporan dalam bentuk visum et repertum. Setiap dokter harus mengetahui kasus mana yang termasuk kasus mediko-legal. dari semula harus menyadari bahwa laporan hasil pemeriksaan dan kesimpulan serta keterangan di sidang pengadilan yang baik dan terarah akan membantu proses penyidikan. Pada tahap penyidikan dipergunakan sebagai alat bukti dan petunjuk oleh para penyidik dan di sidang pengadilan dipergunakan oleh jaksa. Oleh karena itu dokter sebagai pemberi jasa di bidang Kedokteran Forensik. penyidangan serta pemutusan perkara. Dalam hal ini diperlukan keberanian. kompetensi ini terbatas pada atau diputuskan bersama dengan penyidik kepolisian. sehingga bantuan pemeriksaan tersebut dapat dipakai sebagai pedoman atau alat bukti bagi penyidikan. penuntunan dan pemutusan perkara. fasilitas dan keterbatasan alat serta kemampuan dokter pemeriksaan dapat dilaksanakan. Hasil pemeriksaan dan laporan tertulis akan digunakan sebagai petunjuk atau pedoman dan alat bukti dalam menyidik. Jika menghadapi kasus dibawah ini sebaiknya menghubungi polisi dan kemudian kasus Cedera Keracunan tersebut diserahkan kepada polisi.Untuk dokter umum. maka pengetahuan dan ketrampilan yang didapat selama pendidikan harus dipergunakan.

1 Saksi Ada 3 jenis saksi : 1. Saksi biasa (Ordinary witness) 2. Saksi tidak netral (Hostile witness) 2.2 Saksi Ahli Adalah seseorang yang telah menjalani pendidikan dan mempunyai keahlian professional. tetapi . Saksi terampil (skilled witness) termasuk dalam kelompok saksi ahli. sehingga mampu memberikan pendapat atau menarik kesimpulan dari fakta-fakta yang diamatinya maupun dari sejumlah fakta lainnya.1. Saksi ahli (Expert witness) 3. Termasuk dalamkelompok ini misalnya petugas medis. ahli sidik jari. 2.3.- Luka bakar Pelanggaran yang bersifat tidak wajar Abortus kriminalis Kehamilan yang bermasalah Setiap pasien yang telah meninggal pada saat pemeriksaan Pasien gangguan jiwa 2.3. di mana orang tersebut mempunyai pengetahuan khusus mengenai masalah teknis.1.1 Saksi biasa Yaitu orang yang memberikan kesaksian sesuai dengan fakta yang dilihat atau dirasakannya. dll. ahli menganalisa tulisan tangan. ahli kimia.3 Saksi 2.3.

1.2 Pencatatan Kesaksian Setelah diambil sumpah.3 Saksi yang tidak netral Adalah seseorang yang dianggap mempunyai maksud atau motif tertentu. maka dokter itu berperan sebagai saksi ahli. tetapi biasanya mempunyai pengetahuan dasar tentang kasus yang sedang diperiksa. yang dibutuhkan hakim dari seorang dokter adalah kesimpulannya. 2.3. Jika mencakup kesaksian untuk menjelaskan dan memberikan pernyataan berupa fakta-fakta seperti jumlah luka. Petugas medis bias berperan sebagai saksi biasa maupun saksi ahli. Sebagai saksi ahli. maka seorang dokter berperan sebagai saksi biasa.biasanya mempunyai pengetahuan khusus mengenai masalah teknis. misalnya dari kepolisian atau oleh jaksa yang ditugaskan untuk mengusut perkara tersebut. dapat dimulai mencatat kesaksian yang diberikan. Jika dia lebih jauh menyimpulkan dan menyatakan pendapat tentang sebab kematian. 2. ukuran luka. posisi luka. sehingga bias menutupi sebagian dari fakta yang benar atau dengan memberikan pernyataan palsu.3. Seorang saksi biasa atau saksi ahli bisa menjadi saksi yang tidak netral. . Karena itu sangat penting untuk mempunyai alasan yang tepat dan berhati-hati dalam mengambil kesimpulan. Pencatatannya bisa dilakukan dengan cara seperti dibawah ini : (1) Pemeriksaan utama Pemeriksaan ini dilakukan oleh pihak penuntut. karena apa yang dinyatakannya juga bisa dinyatakan oleh orang biasa.

pihak penuntut boleh menanyakan mengenai tuduhan utama setelah mendapatkan persetujuan hakim. Para saksi juga bisa ditanyakan berbagai jenis pertanyaan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuannya tentang bidangnya. Pihak pembela akan berusaha semaksimal mungkin untuk melemahkan kesaksian para saksi dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang bisa juga merupakan pertanyaan inti.Pertanyaan diajukan kepada para saksi dan dijawab serta dicatat di pengadilan. Tetapi dalam pemeriksaan ini tidak boleh memunculkan hal-hal baru yang tidak ada disinggung pada pemeriksaan sebelumnya. . (3) Pemeriksaan ulang Pemeriksaan ini dilakukan oleh pihak penuntut untuk menjernihkan permasalahan jika muncul perbedaan-perbedaan selama dilakukan pemeriksaan silang. pengetahuan umum dan bahkan untuk mengetahui kepribadiannya. tanpa persetujuan hakim. (4) Pemeriksaan silang ulangan (5) Pertanyaan oleh hakim Hakim berhak mengajukan pertanyaan apa saja kepada para saksi. (2) Pemeriksaan silang Pemeriksaan ini dilakukan oleh pihak pembela. Para saksi harus sangat hati-hati dalam menjawab. dalam setiap tahapan pemeriksaan tersebut diatas. Pertanyaan yang menjurus kearah tuduhan utama belum diperbolehkan pada tahap ini. Setelah pemeriksaan ini juga akan dilakukan pemeriksaan silang kembali. dan sebaiknya hanya menjawab pertanyaan yang benar-benar sudah ia mengerti. Bagi para saksi yang tergolong tidak netral.

Jangan sampai kehilangan kendali emosi walaupun pertanyaan yang diajukan menyinggung harga diri anda. jelas dan tegas agar dapat didengar oleh semua pihak. 11. Mengungkapkan kebenaran 2. Usahakan berbicara lambat. Berikan jawaban yang tepat dan singkat. Jangan membuat pertanyaan yang cakupannya terlalu luas. 4. 1. 10. agar terhindar dari pertanyaan tambahan untuk memperjelas istilah medis yang digunakan. Jika diperlihatkan suatu buku atau paragraf untuk dibaca. 5. Jangan berdebat dengan pengacara pihak pembela. 9. tetapi berusaha membantu pengadilan untuk memperoleh kebenaran. . 3. usahakanlah untuk tidak menggunakan bahasa medis. 8. Hindari penggunaan gaya bahasa yang berlebih-lebihan. 6. jika mungkin jawab dengan ‘Ya’ atau ‘Tidak’. lalu ditanya apakah dokter setuju dengan pernyataan yang ditulis oleh pengarang. Bila pertanyaan yang diajukan sangat keras. 7. Jika memungkinkan. Usahakan jawaban yang singkat. sebaiknya dokter juga membaca bagian atas dan bawah dari paragraf yang ditunjukkan dan jika perlu memnadingkannya. Bersikap tidak berpihak.Beberapa petunjuk penting bagi dokter ketika memberikan kesaksian dalam sidang pengadilan.

Jangankan kalangan hukum dan kesehatan. Melalui jalur inilah umumnya terjalin hubungan antara pihak yang membuat dan memberi bantuan dengan pihak yang meminta dan menggunakan bantuan.4 2. Jangan menjawab dengan sinis. Visum yang lain seperti visum psikiatri. Namun usaha demikian tidak banyak berguna karena sampai saat ini ternyata istilah visum tetap saja dipakai oleh semua kalangan. visum untuk korban keracunan. dimana digunakan istilah ‘keterangan’ dan keterangan ahli’ untuk pengganti visum. penganiayaan dan kecelakaan lalu lintas. yang berarti dilihat dan repertum adalah jamak dari repere yang berarti ditemukan atau didapati. masyarakat sendiri pun akan segera menyadari bahwa visum pasti berkaitan dengan surat yang dikeluarkan dokter untuk kepentingan polisi dan pengadilan. 2. atau penentuan keraguan siapa bapak . Di Belanda sendiri istilah ini tidak dipakai. Dari rumah sakit pemerintah maupun swasta sampai ke puskesmas. Walaupun istilah ini berasasla dari bahasa Latin namun sudah dipakai sejak zaman Hindia Belanda dan sudah demikian menyatu dalam bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.mintalah kepada sidang pengadilan agar pengacara menarik pertanyaan tersebut.1 Visum Et Repertum Laporan Tertulis Bantuan dokter kepada kalangan hukum yang paling sering dan sangat diperlukan adalah pemeriksaan korban untuk pembuatan visum et repertum (VeR) atau lebih sering disingkat ‘visum’ saja.4. kemudian diikuti visum jenazah. sehinggan terjemahan langsung dari VeR adalah ‘yang dilihat dan ditemukan’. setiap bulan ada ratusan pemeriksaan yang harus dilakukan dokter untuk membuat visum yang diminta oleh penyidik. Yang paling banyak adalah visum untuk luka karena perkelahian. Ada usaha untuk mengganti istilah VeR ini ke bahasa Indonesia seperti yang terlihat dalam KUHAP. Visum adalah jamak (plural) dari visa. selanjutnya visum untuk pelanggaran kesusilaan atau perkosaan.

namun sudah menyatu dalam bahasa Indonesia sehingga orang awam sekalipun biasanya mengetahui bahwa visum berkaitan dengan surat yang dikeluarkan dokter untuk polisi dan pengadilan. maka pemahaman mengenai masalah ini harus dikuasai dengan baik. 2.seorang anak (disputed paternity). penuntut umum. yang dibuat baik atas sumpah jabatan yang diucapkan pada waktu menyelesaikan pelajaran di Negeri Belanda ataupun di Indonesia. tidak saja untuk kalangan dokter tetapi juga untuk penyidik. visum adalah istilah asaing. 350 yang menyatakan: Pasal 1: Visa reperta seorang dokter.4. yaitu pada Staatsblad (Lembaran Negara) tahun 1937 No. Pasal 2: 1) Pada dokter yang tidak pernah mengucapakan sumpah jabatan baik di Negeri Belanda ataupun di Indonesia. selama visa reperta tersebut berisikan keterangan mengenai hal-hal yang dilihat dan ditemui oleh dokter pada benda yang diperiksa. Masalah visum adalah masalah utama yang menghubungkan dokter dengan kalangan penyidik atau kelangan peradilan. dapat mengucapkan sumpah sebagai berikut: . Dalam undang-undang ada satu ketentuan hukum yang menuliskan langsung tentang Visum et Repertum. merupakan alat bukti yang sah dalam perkara-perkara pidana.2 Pengertian Seperti telah diungkapkan sebelumnya. pembela dan hakim pengadilan. biarpun tidak banyak namun merupakan pelayanan yang dapat dilakukan dokter juga. sebagai dalam pasal 1 di atas.

memuat . masih dicantumkan ketentuan hukum ini untuk mengingatkan yang membuat maupun yang menggunakan visum. dianggap sebagai sumpah yang syah untuk kepentingan membuat VeR. Dengan adanya ketentuan ini. VeR berisi laporan tertulis tentang apa yang dilihat. Setiap dokter yang telah disumpah waktu menyelesaikan pendidikannya di Negeri Belanda ataupun di Indonesia. 2. bahwa pernyataan-pernyataan saya sebagai dokter akan membuat atau keterangan-keterangan tertulis yang diperlukan untuk kepentingan peradilan dengan sebenar-benarnya menurut pengetahuan saya yang sebaik-baiknya. bahwa dokter waktu membuat visum akan bertindak jujur dan menyampaikan tentang apa yang dilihat dan ditemukan pada pemeriksaan korban menurut pengetahuan yang sebaik-baiknya. ditemukan pada bendabenda/korban yang diperiksa. Ketentuan dalam Staatsblad ini sebetulnya merupakan terobosan untuk mengatasi masalah yang dihadapi dokter dalam membuat visum. Bila rincian isi Staatsblad ini mengandung makna: 1.biarpun lafal dan maksudnya berbeda.“Saya bersumpah (berjanji). Oleh karena itu sampai sekarang pada bagian akhir visum. ataupun dokter-dokter lain berdasarkan sumpah khusus atay (2) dapat membuat VeR. VeR mempunyai daya bukti yang syah/alat bukti yang syah dalam perkara pidana. yaitu laporan tertulis untuk peradilan yang dibuat dokter berdasarkan sumpah/janji yang diucapkan pada waktu menerima jabatan dokter. yaitu mereka tidak perlu disumpah tiap kali sebelum membuat visum. 3. Seperti diketahui setiap keterangan yang akan disampaikan untuk pengadilan haruslah keterangan di bawah sumpah. Pada seminar/lokakarya VeR di Medan tahun 1981 pengertian visum dirumuskan lebih jelas. maka sumpah yang telah diikrarkan dokter waktu menamatkan pendidikannya. Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang melimpahkan kekuatan lahir dan batin”.

3 Nilai VeR Dalam KUHAP kedudukan atau nilai VeR adalah salah satu alat bukti yang syah. Demikian pula dengan visum psikiatri. pengertian ini menjadi rancu. Surat d. tetapi untuk visum yang lain seperti pemeriksaan korban perkosaan yang dibuat oleh Sp. . Pada visum jenazah sebutan ‘Keterangan ahli’ ini telah tepat.pemberitahuan tentang segala hal (fakta) yang dilihat dan ditemukan pada benda bukti berupa tubuh manusia (hidup atau mati) atau benda yang berasal dari tubuh manusia yang diperiksa dengan pengetahuan dan keterampilan yang sebaik-baiknya dan pendapat mengenai apa yang ditemukan sepanjang pemeriksaan tersebut. Keterangan Saksi b. Petunjuk e. OG disebut ‘keterangan’. Keterangan Terdakwa Yang dimaksud dengan keterangan ahli dijelaskan dalam KUHAP pasal 186.4. Alat bukti yang syah adalah: a. 2. karena pada masa ini SpOG yang lebih ahli dalam melakukan pemeriksaan korban perkosaan. Tampaknya penyusun undang-undang ini ingin menegaskan bahwa ada perbedaan antara ‘keterangan ahli’ dan ‘keteangan’. Keterangan Ahli c. KUHAP pasal 184. Dalam KUHAP laporan dokter atas pemeriksaan pada korban yang dibuat oleh ahli kedokteran kehakiman (SpF) disebut ‘Keterangan Ahli’ dan bila dibuat oleh dokter yang bukan SpF disebut ‘Keterangan’.

psikiatri dan lain-lain. c. Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya. Sedangkan laporan atas hasil pemeriksaan dokter yang selama ini disebut VeR digolongkan ke dalam alat bukti “surat” dan ini dijelaskan dalam pasal 187. 2. Untuk orang hidup Yang termasuk visum orang hidup adalah visum yang diberikan untuk korban luka-luka karena kekerasan. d. dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah. b. Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat dihadapannya. yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar. Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat pembuktian yang lain. adalah: a. 350 tentang VeR. keracunan. KUHAP pasal 187 : Surat sebagaimana tersebut pada pasal 184 ayat (1) huruf (c). .KUHAP pasal 186 : Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli menyatakan di sidang pengadilan. Terlihat bahwa keterangan pada (c) mirip dengan pengertian yang terdapat pada Staatsblad 1937 No. perkosaan.4. Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perudang-undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tatalaksana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan.4 Jenis VeR 1. dilihat atau yang dialaminya dan tegas tentang keterangan itu.

Visum Jenazah. Visum seketika (definitive). Visum lanjutan tidak perlu dibuat oleh dokter yang membuat visum sementara. telah beberapa kali diselenggarakan seminar dan temu ilmiah yang melibatkan semua pihak yang berkaitan dengan visum jenazah. Visum dengan pemeriksaan luar b. Jenis visum ini sering menimbulkan permasalahan antara penyidik. Visum yang diberikan pada korban yang masih dalam perawatan. tetapi oleh dokter yang terakhir merawat penderita. Visum dengan pemeriksaan luar dan dalam. Masalah di sini adalah adanya hambatan daru keluarga korban bila visum harus dibuat melalui bedah mayat. Dalam visum ini dokter telah membuat kesimpulan. . Visum sementara. dokter dan masyarakat terutama dalam visum pemeriksaan luar dan dalam (autopsy). Visum ini diberikan setelah korban sembuh atau meninggal dan merupakan lanjutan dari visum sementara yang telah diberikan sebelumnya. tetapi sampai saat ini belum ditemukan penyelesaiannya yang memuaskan. Dalam visum sementara ini belum ditulis kesimpulan. c. Untuk mencari jalan keluar dari permasalahan di atas. 2. Visum yang langsung diberikan setelah korban selesai diperiksa. b. Biasanya visum sementara ini diperlukan penyidik untuk menentukan kenis kekerasan. Visum inilah yang paling banyak dibuat oleh dokter. Visum lanjutan. VeR jenazah dapat dibedakan atas: a. sehingga dapat menahan tersangka atau sebagai petunjuk dalam menginterogasi tersangka.Berdasarkan waktu pemberiannya visum untuk orang hidup dapat dibedakan atas: a.

KUHAP pasal 133 ayat 2: permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilakukan secara tertulis. penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga korban. di mana penyidik masih berdalih ‘terserah kepada dokter mau di autopsy atau tidak’. hendaklah pegawai penuntut umum membawa serta . KUHAP 134 : dalam hal sangat diperlukan di mana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak mungkin lagi dihindari. atau mati yang mendatangkan syak. Keragu-raguan di atas berasal dari ketentuan dalam hukum acara pidana yang lama pasal 69 RIB yang menyatakan : ‘ dalam hal mati ruda paksa (mati tergagah). Pasal ini menghilangkan keragu-raguan. sedemikian juga dalam hal luka parah. percobaan nmeracuni dan maker lain akan membinasakan nyawa orang. Yang menentukan apakah mayat harus di autopsi atau hanya pemeriksaan luar saja adalah penyidik. yaitu oleh penyidik. Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak yang perlu diberi tahu tidak ditemukan. yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.Dalam KUHAP pasal 134 terlihat bahwa pemeriksaan mayat untuk kepentingan peradilan dapat dilakukan melalui pemeriksaan luar ‘saja’ dan hanya ‘bila perlu’ dilakukan pemeriksaan bedah mayat. Dalam hal keluarga korban keberatan. Pasal ini akan mengatasi masalah dalam menghadapi keluarga korban yang keberatan dilakukan autopsy. penyidik wajib menerangkan dengan sejelas-jelasnya tentang maksud dan tujuan perlunya dilakukan pembedahan tersebut. siapa sesungguhnya yang menentukan apakah mayat harus dibedah atau tidak perlu menjadi jelas. penyidik segera melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat 3 undang-undang ini.

1 atau 2 orang dokter yang akan member laporan tentang sebab-sebab kematian atau perlukaan dan tentang mayat itu atau badan orang yang dilukai dan di mana perlu menjalankan pemeriksaan mayatnya. namun setelah diundangkannya KUHAP penyidik mempunyai wewenang untuk menentukan hanya dilakukan pemeriksaan luar saja dan bila sangat diperlukan baru bedah mayat dilakukan. Walaupun Instruksi Kapolri tahun 1975 menyatakan untuk visum jenazah harus dilakukan melalui pemeriksaan luar dan dalam.4. yang menyatakan bahwa dengan visum atas mayat harus berdasarkan pemeriksaan luar dan dalam. edisi Kedua. Kalau perlu bahkan ditegakkannya pasal 222 KUHP. 1992).5 Bentuk dan Susunan VeR kedokteran Konsep visum yang digunakan selama ini merupakan karya pakar bidang kehakiman yaitu Prof Muller. Pasal 3. Sama sekali tidak dibenarkan mengajukan permintaan visum atas mayat berdasarkan pemeriksaan luar saja. 2. Mas Sutejo Mertodidjojo dan Prof. Ilmu Kedokteran Kehakiman. Konsep visum ini disusun dalam kerangka dasar yang terdiri dari: . maka adalah kewajiban petugas Polisi cq pemeriksa untuk secara persuasif memberikan penjelasan tentang perlunya dan pentingnya autopsy untuk kepentingan penyidikan. Dengan visum et repertum atas mayat. Keragu-raguan ini telah diatasi dengan Instruksi Kapolri No: Ins/E/20/IX/75 tentang Tatacara Permohonan/ Pencabutan Visum et Repertum. Pasal 6. berarti mayat harus dibedah. atau membuat visum menurut keadaan luka pasien pada saat permintaan visum datang. Prof. Bila ada keluarga korban/mayat keberatan jika diadakan bedah mayat. Sutomo Tjokro negoro sejak puluhan tahun yang lalu (Nyowito Hamdani.

Berpedoman kepada Peraturan Pos. tetapi kalau dokter menyadari arti dan makna yang terkandung di dalamnya. maka bila dokter menulis Pro-Yustitia di bagian atas visum. Oleh karena itu biarpun Pro-Yustitia hanya kata-kata biasa. Pendahuluan 3. Pro-Yustitia Menyadari bahwa semua surat baru sah di pengadilan bila dibuat di atas kertas materai dan hal ini akan menyulitkan bagi dokter bila setiap visum yang dibuatnya harus memakai kertas materai. Penutup 1.1. Penulisan kata Pro-Yustitia pada bagian atas dari visum lebih diartikan agar pembuat maupun pemakai visum dari semula menyadari bahwa laporan itu adalah demi keadilan (Pro-Yustitia). 2. siapa yang diperiksa. hari dan jam). mengapa diperiksa dan atas . Pro-Yustitia 2. maka kata-kata ataua tulisan ini menjadi sangat penting artinya. saat pemeriksaan (tanggal. Kesimpulan 5. maka itu sudah dianggap sama dengan kertas materai. Hal ini sering terabaikan oleh pembuat maupun pemakai tentang arti sebenarnya kata Pro-Yustitia ini. Bila dokter sejak semula memahami bahwa laporan yang dibuatnya tersebut adalah sebagai partisipasinya secara tidak langsung dalam menegakkan hukum dan keadilan. dimana diperiksa. Pendahuluan Bagian pendahuluan berisi tentang siapa yang memeriksa. maka saat mulai memeriksa korban ia telah menyadari bantuan yang diberikan akan dipakai sebagai salah satu alat bukti yang sah dalam menegakkan hukum dan keadilan. Pemeriksaan 4.

karena lampiran foto atau sketsa pemakai visum akan lebih mudah memahami penjelasan yang ditulis dengan kata-kata dalam visum. Kesimpulan Untuk pemakai visum. cedera dan kelainan pada tubuh korban seperti apa adanya. Pada bagian ini dokter melaporkan hasil pemeriksaannya secara objektif. hubungan sebab-akibat dari kelainan. Pemeriksaan Bagian terpenting dari visum sebetulnya terletak pada bagian ini. pinggir luka rata. Sebagai tambahan pada bagian pemeriksaan ini. ini adalh bagian yang penting. dokter menuliskan dalam visum suatu luka berbentuk panjang. Biasanya pada bagian ini dokter menuliskan luka. 4. maka sebaiknya penjelasan ini disertai dengan lampiran foto atau sketsa.permintaan siapa visum itu dibuat. luka tembak dan lain-lain. tentang derajat kualifikasi luka. 3. dengan pangjang 10cm. Pada korban luka perlu penjelasan tentang jenis kekerasan. bila dokter mendapatkan kelainan yang banyak atau luas dan akan sulit menjelaskannya dengan kata-kata. kesadaran korban serta bila perlu . Pada masa kini ini foto bukanlah hal yang langka dan mahal lagi. karena diharapkan dokter dapat menyimpulkan kelainan yang terjadi pada korban menurut keahliannya. Data diri korban diisi sesuai dengan yang tercantum dalam permintaan visum. Menurut penulis cara penulisan ini lebih baik langsung disebut sebuah luka sayat dengan rincian seperti di atas. berapa lama korban dirawat dan bagaimana harapan kesembuhan. jaringan dalam luka terputus tanpa menyebutkan jenis luka. tanda-tanda kekerasan. karena apa yang dilihat dan ditemukan dokter sebagai terjemahan dari visum et repertum itu terdapat pada bagian ini. Tujuannya sederhana saja. Pada korban perkosaan atau pelanggaran kesusilaan perlu penjelasan tentang tanda-tanda persetubuhan. Demikian juga dengan luka robek. misalnya didapati suatu luka. lebar luka 2cm dan dalam luka 4 cm.

umur korban (terutama pada anak belum cukup umur atau belum mampu untuk dikahwini). BAB 3 KESIMPULAN Ilmu kedokteran forensik adalah pengetahuan dan keterampilan untuk kepentingan hukum dan peradilan. terutama mengenai biaya. pemrosesan foto dan juga mengenai keabsahan foto di pengadilan. Pada luka yang sulit disampaikan dengan kata-kata. 5. Lampiran Foto Lampiran foto terutama puntuk memudahkan pemakai visum memahami laporan yang disampaikan dalam visum. Kebijakan di Indonesia bahwa setiap dokter harus dapat memberikan pelayanan Kedokteran Forensik dimanapun bertugas. artinya dari rumah sakit sampai ke puskesmas hanya untuk pelayanan autopsi dan pemeriksaan korban perkosaan terdapat kendala. Untuk menguatkan pernyataan itu dokter mencantumkan Staatsblad 1937 no 350. dengan lampiran foto akan memudahkan pemakai visum memahami apa yang ingin disampaikan dokter. Tentu akan timbul beberapa masalah dengan pemakaian foto ini. Pada kebanyakan visum yang dibuat dokter. Dalam ketentuan hukum KUHAP dijelaskan bahwa pemeriksaan Kedoketran Forensik dilakukan oleh . Penutup Bagian ini mengingatkan pembuat dan pemakai visum bahwa laporan tersebut dibuat sejujur-jujurnya dan mengingat sumpah. bagian kesimpulan ini perlu mendapat perhatian agar visum lebih berdaya guna dan lebih informatif. tehnik pengambilan. atau dalam konsep visum yang baru ditulis sesuai KUHAP.

Dalam hal demikian tampak bahwa laporan pemeriksaan dan kesaksian dokter di sidang pengadilan turut berperan dalam proses penegakan hukum. Oleh karena itu dokter sebagai pemberi jasa di bidang Kedokteran Forensik. 14-15.Jaypee Brothers Medical Publishers (P) Ltd. Edisi V.P.V. Dr. . Sudiono S. Catatan Kuliah Ilmu Forensik dan Toksikologi. menuntut dan mengadili perkara pidana maupun perdata. penuntunan dan pemutusan perkara.spesialis forensik atau oleh “dokter”(umum atau spesialis lainnya). Edisi Kedua. Budiyanto A. Dalam hal ini diperlukan keberanian. dkk.Jakarta: 1995. Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik. Widiatmaka w. DAFTAR PUSTAKA 1.2005. ketelitian dan kesungguhan dokter melakukan pemeriksaan dan memberikan laporan dalam bentuk visum et repertum.1997. sehingga bantuan pemeriksaan tersebut dapat dipakai sebagai pedoman atau alat bukti bagi penyidikan.Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI. dari semula harus menyadari bahwa laporan hasil pemeriksaan dan kesimpulan serta keterangan di sidang pengadilan yang baik dan terarah akan membantu proses penyidikan. Medan: Ramadhan.Ilmu Kedokteran Forensik. Hasil pemeriksaan dan laporan tertulis akan digunakan sebagai petunjuk atau pedoman dan alat bukti dalam menyidik. Amir A.Chadha. penyidangan serta pemutusan perkara. 2. 3.

4.scribd.com/doc/38675335/Peran-Dokter . http://www.