P. 1
Proposal Hipertensi

Proposal Hipertensi

|Views: 11,139|Likes:
Published by anon_328851678

More info:

Published by: anon_328851678 on May 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/05/2013

pdf

text

original

Sejalan dengan strategi pembangunan kesehatan untuk mewujudkan

bangsa yang sehat. Tahun 2011 ini peningkatan derajat kesehatan menjadi

salah satu fokus pembangunan di bidang kesehatan. Mewujudkan masyarakat

yang sehat, pembangunan di bidang kesehatan diarahkan kepada semua

lapisan masyarakat. (Depkes RI, 2011).

Sasaran utama pembangunan kesehatan adalah perilaku hidup sehat,

manajemen pembangunan kesehatan dan derajat kesehatan masyarakat pada

saat ini diharapkan adalah bersifat proaktif untuk memelihara dan

meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadi penyakit serta melindungi

diri dari ancaman serta berpartisipasi aktif dalam kesehatan masyarakat.

(Depkes RI, 2009)

Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang mengakibatkan angka

kesakitan yang tinggi. Menurut Adnil Basha (2004) hipertensi adalah suatu

keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas

normal yang mengakibatkan angka kesakitan atau morbiditas dan angka

kematian atau mortalitas. Hipertensi akan memberi gejala yang berlanjut

untuk suatu target organ seperti otak (stroke), pembuluh darah jantung

(penyakit jantung koroner), otot jantung (left ventricle hypertrophy) (Bustan,

2000: 31).

2

Hipertensi sering kali disebut sebagai pembunuh gelap (silent killer)

karena termasuk yang mematikan tanpa disertai dengan gejala-gejalanya lebih

dahulu sebagai peringatan bagi korbannya. Hipertensi adalah faktor risiko

utama untuk terjadinya penyakit jantung koroner dan gangguan pembuluh

darah otak yang dikenal dengan stroke. Bila tekanan darah semakin tinggi

maka harapan hidup semakin turun (Wardoyo, 2006).

Menurut WHO batas normal tekanan darah adalah 120±140 mmHg

tekanan sistolik dan 80 ± 90 mmHg tekanan diastolik. Seseorang dinyatakan

mengidap hipertensi bila tekanan darahnya > 140/90 mmHg. Sedangkan

menurut JNC VII 2003 tekanan darah pada orang dewasa dengan usia diatas

18 tahun diklasifikasikan menderita hipertensi stadium I apabila tekanan

sistoliknya 140 ± 159 mmHg dan tekanan diastoliknya 90 ± 99 mmHg.

Diklasifikasikan menderita hipertensi stadium II apabila tekanan sistoliknya

lebih 160 mmHg dan diastoliknya lebih dari 100 mmHg sedangakan

hipertensi stadium III apabila tekanan sistoliknya lebih dari 180 mmHg dan

tekanan diastoliknya lebih dari 116 mmHg (Sustrani, 2004).

Banyak faktor yang berperan untuk terjadinya hipertensi meliputi

faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan (mayor) dan faktor risiko yang

dapat dikendalikan (minor). Faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan

(mayor) seperti keturunan, jenis kelamin, ras dan umur. Sedangkan faktor

risiko yang dapat dikendalikan (minor) yaitu olahraga, makanan (kebiasaan

makan garam), alkohol, stres, kelebihan berat badan (obesitas), kehamilan

dan penggunaan pil kontrasepsi (Asep Pajario, 2002).

3

Prevalensi hipertensi di seluruh dunia, diperkirakan sekitar 15-20%.

Hipertensi lebih banyak menyerang pada usia setengah baya pada golongan

umur 55-64 tahun. Hipertensi di Asia diperkirakan sudah mencapai 8-18%

pada tahun 2009, hipertensi dijumpai pada 4.400 per 10.000 penduduk.

Hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga tahun 2008, prevalensi

hipertensi di Indonesia cukup tinggi, 83 per 1.000 anggota rumah tangga, pada

tahun 2009 sekitar 15-20% masyarakat Indonesia menderita hipertensi.

Prevalensi hipertensi di Indonesia, pada laki-laki dari 134 (13,6%) naik

menjadi 165 (16,5%), hipertensi pada perempuan dari 174 (16,0%) naik

menjadi 176 (17,6%). (Depkes RI, 2010)

Angka penderita hipertensi di Sumatera Barat dinyatakan tertinggi di

Indonesia dan di dunia. Dari hasil penelitian, enam kabupaten/kota yang

tertinggi angka penderita hipertensinya adalah Kota Bukittinggi (41,8 persen),

Kota Padang (29,5 persen), Kota Solok (25 persen), Kabupaten 50 Kota (22,2

persen), Kabupaten Solok (20,5 persen), serta Kabupaten Padang Pariaman

(20,2 persen). Tiga daerah yang kurang penderita hipertensinya adalah Kota

Payakumbuh (10 persen), Kabupaten Mentawai (12,5 persen), dan Kabupaten

Pesisirselatan (13 persen). (Depkes Sumbar, 2010)

Sementara di Kabupaten Padang Pariaman, hipertensi merupakan

peringkat ke 3 dari jumlah kasus penyakit terbanyak yang dilaporkan Dinas

Kesehatan Kabupaen Padang Pariaman pada tahun 2010. Dilihat dari banyak

penderitanya, wilayah kerja Puskesmas Pasar Usang merupakan wilayah kerja

4

yang paling banyak melaporkan adanya penyakit hipertensi. Untuk lebih

jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->