P. 1
Pembangunan kesehatan

Pembangunan kesehatan

|Views: 384|Likes:
Published by anon_12123060

More info:

Published by: anon_12123060 on May 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/27/2012

pdf

text

original

Berikut ini adalah versi HTML dari berkas http://dinkesbonebolango.org/Profil%20Kesehatan%20Tahun%202009/PROFIL%20Kes %20Bonbol%202009%20terbaru.doc .

G o o g l e membuat versi HTML dari dokumen tersebut secara otomatis pada saat menelusuri web.
PROFIL KESEHATAN KABUPATEN BONE BOLANGO 2009

BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG

Pembangunan kesehatan merupakan upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesedaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat keseh atan masyarakat yang setinggi-tingginya. Derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari berbagai indikator, yang meliputi indikator angka harapa hidup, angka kematian,
angka kesakitan, dan status gizi.

Untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, Dina s kesehatan Kabupaten Bone Bolango memprioritaskan pelayanan kesehatan ibu dan anak , pelayanan kesehatan masyarakat miskin, pendayagunaan tenaga kesehatan, penanggulangan penyakit menular, penanggulangan gizi buruk serta ketersediaan sarana dan prasarana yang memudahkan jangkauan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terutama daerah terpencil. Penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Bone Bolango tahun 2009 berupaya untuk menggambarkan secara umum tentang kondisi derajat kesehatan, upaya kesehatan, sumber daya kesehatan dan faktor-faktor terkait lainnya. Adapun data -data tersebut dianalisis dengan analisis sederhana dan ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik. Dengan demikian jelas bahwa tujuan diterbitkannya Profil Kesehatan Kabupaten Bone Bolango Tahun 2009 i ni adalah dalam rangka menyediakan sarana untuk perencanaan, pemantauan dan mengevaluasi pencapaian pembangunan kesehatan
di Kabupaten Bone Bolango tahun 2009 yang mengacu kepada Visi Kabupaten

Bone Bolango Sehat 2010 serta pembinaan dan pengawasan terhada p Puskesmas ± Puskesmas binaan dalam pencapaian Visi Kabupaten Bone Bolango Sehat.

1.2

SISTEMATIKA PENYAJIAN

Sistematika penyajian Profil Kesehatan sebagai berikut :
Bab-I : Pendahuluan

Bab ini berisi penjelasan tentang maksud dan tujuan Profil Kesehatan dan sistematika dari penyajiannya.
Bab-II : Gambaran Umum

Bab ini menyajikan tentang gambaran umum Kabupaten Bone Bolango. Selain uraian tentang letak geografis, administratif dan infor masi umum lainnya, bab ini juga mengulas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan dan faktor -faktor lainnya misal kependudukan, ekonomi, pendidikan, sosial budaya dan lingkungan.
Bab-III : Situasi Derajat Kesehatan

Bab ini berisi uraian tentang indikator mengenai angka kematian, angka kesakitan, dan angka status gizi masyarakat.
Bab-IV : Situasi Upaya Kesehatan

Bab ini menguraikan tentang pelayanan kesehatan dasar, pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang, pembera ntasan penyakit menular, pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan, pelayanan kesehatan dalam situasi bencana. Upaya pelayanan kesehatan yang diuraikan dalam bab ini juga mengakom odir indikator kinerja Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan serta upaya pelayanan kesehatan lainnya yang diselenggarakan oleh Kabupaten Bone Bolango.
Bab-V : Situasi Sumber Daya Kesehatan

Bab ini menguraikan tentang sarana kesehatan, tenaga ke sehatan, pembiayaan kesehatan dan sumber daya kesehatan lainnya.
Bab-VI : Kesimpulan

Bab ini diisi dengan sajian tentang hal -hal penting yang perlu disimak dan ditelaah lebih lanjut dari Profil Kesehatan Kabupaten Bone Bolango di tahun 2009. Selain keberhasilan-keberhasilan yang perlu dicatat, bab ini juga mengemukakan hal -hal yang dianggap masih kurang dalam rangka penyelenggaraan pembangunan kesehatan.

Lampiran

Pada lampiran ini berisi resume/ angka pencapaian Kabupaten Bone Bolango dan 63 tabel data yang merupakan gabungan Tabel Indikator Kabupaten sehat dan Indikator pencapaian kinerja Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan.

BAB II GAMBARAN UMUM
2.1. KEADAAN GEOGRAFI

Letak Kabupaten Bone Bolango secara geografis berbatasan langsung dengan Kabupaten Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara) dan Kecamatan Atinggola di sebelah utara. Sementara di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Bolaang Mongondow, di sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Telaga dan Kabupaten Gorontalo. Buku Bone Bolango Dalam Angka 2009 menunjukan bahwa Kabupaten Bone Bolango memiliki luas wilayah sebesar 1.984,58 km2 atau 16,24% dari total luas Provinsi Gorontalo. Adanya pemekaran wilayah yang dilakukan, sekarang ini Kabupaten Bone Bolango telah memiliki 18 Kecamatan dan 163 desa/kelurahan yang sudah definitive. Berdasarkan ketinggiannya dari permukaan laut Kabupaten Bone Bolango sebagian besar daerahnya berada di ketinggian 100 ± 500 meter dari permukaan laut yakni sebesar 48,65% dan 9,09% berada di atas ketinggian 1000 meter dari permukaan laut seperti yang ditunjukan pada tabel berikut.

Sumber : BPS Kab. Bone Bolango (Bone Bolango dalam Angka 2009)

2.2. KEADAAN PENDUDUK 2.2.1. Kepadatan Penduduk Tabel 1. Kepadatan Penduduk Kabupaten Bone Bolango Menurut Kecamatan Tahun 2009 Juml ah Pend uduk Kepa datan Pend uduk (org/k m2) 5 107 36 874 496 38 95 114 185 298 24 11 77 55 66 74 114 46

N o.

Keca matan

Luas/Area (km2)

1

1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 1 2 1 3 1 4 1 5 1 6 1 7

2 Tapa Bulan go Utara Bulan go Selata n Bulan go Timur Bulan go Ulu Kabila Botupi ngge Tilong kabila Suwa wa Suwa wa Selata n Suwa wa Timur Suwa wa Tenga h Bonep antai Kabila Bone

3 6.900 6.263 8.631 5.366 2.955 18.31 8 5.389 14.72 6 9.999 4.466 5.582 4.999 8.888 9.400 4.767 8.306 5.069

4 64,41 176,09 9,87 10,82 78,41 193,45 47,11 79,74 33,51 184,09 489,20 64,70 161,82 143,51 64,12 72,71 111,01

Bone Raya Bone Bulaw a Jumlah 130.0 1.984,58 Total 25 Sumber : BPS (Bone Bolango dalam Angka 2009)

66

Penduduk Kabupaten berdasarkan Bone Bolango dalam angka 2009 memiliki jumlah penduduk sebesar 130.025 jiwa yang tersebar di 17 kecamatan dengan luas wilayah 1.984,58 km2 dan kepadatan penduduk sebesar 66 orang per km2. Dari tabel di atas nampak bahwa Kecamatan Kabila menempati urutan pertama dalam jumlah penduduk terbesar namun berada di posisi kedua untuk luas wilayah, sedangkan Suwawa Timur menempati urutan pertama yang memiliki luas wilayah terbesar namun berada di urutan ke sepuluh untuk jumlah penduduk terbesar. Kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk y ang paling besar berdasarkan Bone Bolango dalam angka 2009 adalah Kecamatan Bulango Selatan yakni sebesar 874 orang per km2 sedangkan yang paling rendah berada di Kecamatan Suwawa Timur yang hanya sebesar 11 orang per km2.
2.2.2. Sex Ratio Penduduk dan Struktur Penduduk Menurut Golongan Umur Tabel 2. Distribusi Penduduk Menurut Kelompok Umur Di Kabupaten Bone Bolango Tahun 2009 Kelp Umur Jlh Penduduk Laki-laki Jlh Penduduk Perempuan Total Jumlah Penduduk Sex Ratio

1 0-4 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44

2 7871 6695 6843 5428 5186 5649 5662 4997 4147

3 6666 6858 6145 5277 5610 6137 5465 5363 4931

4 14537 13553 12988 10705 10796 11786 11127 10360 9078

5 1,18 0,98 1,11 1,03 0,92 0,92 1,04 0,93 0,84

45-49 50-54 55-59 60+
Total

3681 2923 2167 3958
65207

2999 2850 2416 4101
64818

6680 5773 4583 8059
130025

1,23 1,03 0,90 0,97
1,01

Sumber : BPS (Bone Bolango dalam Angka 2009)

Perkembangan penduduk menurut jenis kelamin dapat dilihat dari perkembangan ratio jenis kelamin, yaitu perbandingan penduduk laki -laki dengan penduduk perempuan. Berdasarkan data Kabupaten Bone Bolango dalam Angka Tahun 2009 yang dikeluarkan oleh Badan Pu sat Statistik Kabupaten Bone Bolango, rasio jenis kelamin penduduk Kabupaten Bone Bolango tahun 2009 sebesar 1,01. Terlihat bahwa jumlah penduduk laki-laki lebih besar dibandingkan jumlah penduduk perempuan namun jumlah antara penduduk laki -laki dan perempuan hampir seimbang di tiap kecamatan.

Struktur penduduk Kabupaten Bone Bolango menurut jenis kelamin dan golongan
umur dapat dilihat pada piramida berikut :

Sumber : Bone Bolango Dalam Angka 2009

Dari piramida di atas terlihat bahwa ciri penduduk kabupaten Bone Bolango bersifat ekspansive karena sebagian besar penduduk berada dalam kelompok umur muda. Jumlah penduduk laki-laki dan perempuan di tiap golongan umur hampir sama. Penduduk laki-laki Kabupaten Bone Bolan go paling banyak berada di kelompok
umur 0-4 tahun sedangkan perempuan paling banyak berada pada golongan umur

5-9 tahun sedangkan jumlah penduduk paling sedikit berada pada golongan umur 60-64 tahun baik penduduk laki -laki maupun perempuan.

2.3. KEADAAN SOSIAL EKONOMI 2.3.1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Salah satu tolok ukur keberhasilan pembangunan di bidang ekonomi yang diperlukan untuk evaluasi dan perencanaan ekonomi makro, biasanya dilihat dari pertumbuhan angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) baik atas dasar harga berlaku maupun berdasarkan atas dasar harga konstan. Pada tahun 2007 nilai PDRB Kabupaten Bone Bolango mengalami kenaikan yang cukup signifikan, yakni Rp. 106.118.000.000, - dari Rp. 611.269.000.0 00,- menjadi Rp. 717.387.000.000, pada tahun 2008 (sumber BPS / Kab. Bone Bolango Dalam Angka 2009). Berdasarkan distribusi persentase PDRB, maka sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan yang memiliki nilai kontribusi terbesar yakni 40,56% Selama tahun 2008 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bone Bolango atas dasar harga konstan tercatat sebesar 6,34% lebih besar dari tahun sebelumnya yang hanya 5,88%.
2.3.2. Angka Beban Tanggungan

Rasio ketergantungan (dependency ratio) dapat digunakan sebagai indikator yang secara kasar dapat menunjukkan keadaan ekonomi suatu daerah apakah tergolong daerah maju atau negara yang sedang berkembang. Dependency ratio merupakan salah satu indikator demografi yang penting. Semakin tingginya persentase dependency ratio menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Sedangkan persentase dependency ratio yang semakin rendah menunjukkan semakin rendahnya beban yang ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi.

Rasio Ketergantungan didapat dengan membagi total dari jumlah penduduk usia belum produktif (0-14 tahun) dan jumlah penduduk usia tidak produkti f (60 tahun keatas) dengan jumlah penduduk usia produktif (15 -60 tahun). Untuk Kabupaten Bone Bolango Tahun 2009, jumlah penduduk usia belum produktif dan tidak lagi produktif sebanyak 49.137 jiwa, sedangkan jumlah penduduk usia produktif sebanyak 80.888 jiwa. Sehingga dependency ratio sebesar 60,75%. Artinya setiap 100 orang yang berusia kerja (dianggap produktif) mempunyai tanggungan sebanyak 60-61 orang yang belum produktif dan dianggap tidak produktif lagi.
2.4. TINGKAT PENDIDIKAN Tabel 4. Tingkat Pendidikan Penduduk Kabupaten Bone Bolango Tahun 2009 Tingkat Pendidikan No Jumlah

1 1 2 3 SLTP SLTA

2 SD Sederajat

3 17.913 4.742 3.602
26.257

Total

Sumber : BPS (Bone Bolango dalam Angka 2009) Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa penduduk Kabupaten Bone Bolango pada tahun 2009 paling banyak hanya berpendidikan SD sederajat yakni sebanyak 17.913 orang, hal ini membuktikan bahwa kesadaran bersekolah masyarakat Bone Bolango sudah mengalami peningkatan walaupun d ata yang diperoleh hanya sampai tingkat pendidikan SLTP dan SLTA yang dijadikan sebagai data pembanding.
Tabel 5. Jumlah Anak Usia Sekolah (7 ± 12 Thn) Menurut Statusnya Di Kabupaten Bone Bolango Tahun 2009 No Tingkat Pendidikan Anak Usia Sekolah (7-12 Th) Jumlah

1 1

2 Belum pernah sekolah

3 6819

2 3

Masih sekolah Putus sekolah
Total

15566 123
22508

Sumber : BPS (Bone Bolango dalam Angka 2009) Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa jumlah anak usia sekolah (7 ± 12 tahun) penduduk Kabupaten Bone Bolango yang masih sekolah sebanyak 22.508. Untuk
anak usia sekolah yang belum pernah sekolah tahun ini sebesar 6819 orang, jumlah

ini mengalami peningkatan yang sangat pesat bila dibandingkan tahun sebe lumnya yang hanya sebesar 1829 orang. Hal ini disebabkan walau pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bone Bolango meningkat namun masih ada penduduk yang berada di
bawah garis kemiskinan serta masih adanya masyarakat yang kurang memahami

arti pentingnya bersekola h.

BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN

Gambaran masyarakat Kabupaten Bone Bolango masa depan yang ingin dicapai oleh segenap komponen masyarakat melalui pembangunan kesehatan Kabupaten Bone Bolango adalah : Menjadi Pelayan Setia dan Mitra Unggul Menuju Bone
Bolango Sehat 2010 . Terdapat beberapa keterkaitan dari beberapa aspek yang

dapat mendukung meningkatnya kinerja yang dihubungkan dengan pencapaian pembangunan kesehatan, diantaranya adalah: (1) Indikator derajat kesehatan sebagai hasil akhir, yang terdiri atas indikator-indikator untuk mortalitas, morbiditas, dan status gizi. (2) Indikator hasil antara, yang terdiri atas indikator -indikator untuk keadaan lingkungan, perilaku hidup masyarakat, akses dan mutu pelayanan kesehatan, serta (3) Indikator proses dan masukan, yang terdiri atas indikator indikator untuk pelayanan kesehatan, sumber daya kesehatan, manajemen kesehatan, dan kontribusi sektor terkait.
3.1. Derajat Kesehatan

Pengertian tentang keadaan sehat dan sakit sangat penti ng mengingat kita harus dapat menentukan ada/tidaknya permasalahan/penyakit diantara masyarakat dan seberapa banyaknya. Secara sederhana keadaan sakit itu dinyatakan sebagai :   Penyimpangan dari keadaan normal, baik struktur maupun fungsi nya atau Keadaan dimana tubuh atau organisme atau bagian dari organisme/populasi yang diteliti tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya dilihat dari keadaan patologisnya. Menurut UU RI No. 23 tahun 1992, yang dimaksud dengan keadaan se hat adalah keadaan meliputi kesehatan badan, rohani ( mental ) dan social dan bukan hanya keadaan yang bebas penyakit, cacat, dan kelemahan sehingga dapat hidup produktif secara sosial ekonomi. Beberapa aspek yang dapat dihubungkan dengan derajat kesehatan adalah : lingkungan, pelayanan kesehatan dan perilaku. Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal. Derajat kesehatan yang merupakan pencermi nan kesehatan perorangan,

kelompok maupun masyarakat

digambarkan dengan

umur harapan hidup,

mortalitas, morbiditas dan status gizi masyarakat. Sehat dalam pengertian secara luas, yakni bukan saja bebas dari penyakit dan kecacatan tetapi juga tercapainya keadaan kesejahteraan baik fisik, sosial dan mental.

Gambaran tentang derajat kesehatan meliputi indikator mortalitas, morbiditas, dan status gizi. Mortalitas dilihat dari indikator Angka Kematian Bayi (AKB) per 1.000
Kelahiran Hidup, Angka Kematian Balita (AKABA) per 1.000 Kelahiran Hidup, Angka Kematian Ibu (AKI) per 100.000 Kelahiran Hidup, dan Umur Harapan Hidup

(UHH).

Morbiditas dilihat dari indikator -indikator Angka Kesakitan Malaria per 1.000 Penduduk, Angka Kesembuhan TB Paru BTA+, Prevalensi HIV (Persentase Kasus Terhadap Penduduk Berisiko), Angka Acute Flacid Paralysis (AFP) pada anak usia < 15 Tahun per 100.000 anak , dan Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) per 100.000 Penduduk. Sedangkan status gi zi dilihat dari indikator Persentase Balita dengan Status Gizi di Bawah Garis Merah pada KMS dan Persentase Kecamatan Bebas Rawan Gizi. Adapun indikator hasil antara, yang terdiri atas indikator -indikator untuk keadaan lingkungan, perilaku hidup masyarakat, akses dan mutu pelayanan kesehatan, serta Indikator proses dan masukan, yang terdiri atas indikator -indikator untuk pelayanan kesehatan, sumber daya kesehatan, manajemen kesehatan, dan kontribusi sektor terkait.

3.2. Indikator Derajat Kesehatan

Beberapa indikator penting untuk mengukur derajat kesehatan masyarakat pada suatu daerah adalah Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB),
Umur Harapan Hidup (UHH) dan Status Gizi. Indikator tersebut ditentukan dengan 4

faktor utama yaitu Perilaku Masyarakat, Lingkungan, Pelayanan Kesehatan dan Faktor Genetika. Keempat faktor utama ini diintervensi melalui beberapa kegiatan pokok yan g mempunyai dampak ungkit besar terhadap upaya -upaya percepatan penurunan AKI,

AKB, AKABA dan Peningkatan Status Gizi Masyarakat serta status Kesakitan dan Kondisi Penyakit Menular.

Angka

Keberhasilan upaya-upaya kesehatan yang dilakukan dapat dinilai se bagai indikator output yang cukup signifikan mempengaruhi indikator outcome sebagaimana yang dijelaskan berikut ini.

3.2.1.

Umur Harapan Hidup ( UHH )

Untuk perkembangan Umur Harapan Hidup di Kabupaten Bone Bolango dari tahun ketahun masih mempedomani Umur Harapan Hidup Nasional, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 6 Estimasi Angka Harapan Hidup Di provinsi Gorontalo
Periode Propinsi 2000-20052005-20102010-20152015-2020 (2002) (2007) (2012) (2017) Gorontalo 66.3 68.7 70.7 72.0 2020-2025 (2022) 72.8

Sumber : www.datastatistik-indonesia.com\

Dalam RPJM 2006-2012, upaya untuk meningkatkan UHH menjadi 70 tahun merupakan hal penting yang perlu dicermati melalui upaya -upaya

peningkatan kegiatan program yang berdampak pada tingkat kesejahteraan masyarakat seperti penurunan resiko kesakitan, pada keluarga rentan, trend penyakit degeneratif dan tidak menular, serta peningkatan kesehatan par usila yang dapat hidup produktif dan m andiri.
Umur Harapan Hidup ( UHH ) dipengaruhi oleh masih tingginya Angka

Kematian Ibu ( AKI ) serta Angka Kematian Bayi ( AKB ). Semakin tinggi jumlah kematian bayi maka makin rendah Umur Harapan Hidup. Untuk Kabupaten Bone Bolango dikarenakan data real belum ada maka digunakan Data Estimasi Umur Harapan Hidup (UHH) provinsi Gorontalo seperti yang nampak pada tabel di atas yakni 68,7 tahun.

3.2.2.

Angka Kematian ( Mortalitas )

Kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu dapat memberi gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat atau dapat

digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya. Tingkat kematian secara umum berhubungan erat dengan tingkat kesakitan, karena biasanya merupakan akumulasi akhir dari berbagai penyebab terjadinya kematian baik langsung maupun tidak langsung. Salah satu alat untuk menilai keberhasilan program pe mbangunan kesehatan
di Kabupaten Bone Bolango yang telah dilaksanakan selama ini adalah

dengan melihat perkembangan angka kematian dari tahun ke tahun. Besarnya tingkat kematian dan penyakit penyebab utama kematian yang terjadi pada periode tahun 2009 dapa t dilihat dari berbagai uraian berikut ini.
a. Angka Kematian Bayi ( AKB ) Angka Kematian Bayi merupakan salah satu indikator yang paling

sensitif untuk menentukan derajat kesehatan suatu daerah. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar Depkes 2007, kematian bayi baru lahir (neonatus) merupakan penyumbang kematian terbesar pada tingginya
angka kematian balita (AKB). Setiap tahun sekitar 20 bayi per 1.000 kelahiran hidup terenggut nyawanya dalam rentang waktu 0 -12 hari

pasca kelahirannya. Dalam rentang 2002 -2007 (data terakhir), angka neonatus tidak pernah mengalami penurunan. Penyebab kematian terbanyak pada periode ini, menurut Depkes, disebabkan oleh sepsis (infeksi sistemik), kelainan bawaan, dan infeksi saluran pernapasan atas. Pada tahun 2009 Kabupaten Bone Bolango berdasarkan laporan dari KIA memiliki Angka Kematian Bayi sebesar 18,8 per 1.000 KLH atau 51 orang per 2.716 KLH. Jika dibandingkan dengan AKB pada tahun 2008, 15,26 per 1000 KLH atau 42 kematian dari 2.753 KLH, angka ini mengalami peningkatan yang cukup drastis.

Sumber : 2007 dan 2009 Laporan SIK Puskesmas dan Laporan Data KIA Dinkes Bone Bolango

Jumlah kematian bayi terbanyak yakni di wilayah Puskesmas Bone dan Puskesmas Tapa, dimana masing-masing sebanyak 4 kasus. Adapun penyebab masalah ini antara lain Puskesmas PONED yang belum berjalan maksimal, selain keterbatasan dokter ahli, alat kesehatan yang masih perlu dilengkapi, kemudian jumlah tenag a (bidan) yang terbatas, dimana banyak bidan yang tugas rangkap, P4K yang belum berjalan maksimal, faktor pemekaran daerah yang begitu cepat dan tidak diseimbangi dengan penambahan jumlah bidan desa.
b. Angka Kematian Balita ( AKABA ) Angka Kematian Balita merupakan salah satu indikator kesehatan yang

ikut mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. AKABA di Kabupaten Bone Bolango tahun 2009 sebesar 4,4 per 1000 KLH, atau sebanyak 12 kasus kematian, angka ini mengalami peningkatan,walaupun tidak terlalu besar, dimana pada tahun 2008 sebesar 4,36 per 1000 KLH.

Sumber : 2007 dan 2009 Laporan SIK Puskesmas dan Laporan Data KIA Dinkes Bone Bolango

Angka tersebut lebih baik bila dibandingkan dengan angka kematian

balita yang ditargetkan oleh Departemen Kesehatan RI pada Tahun 2010 dimana angka kematian anak balita ditargetkan sebesar 58 per 1.000 kelahiran hidup. Kematian balita di Kabupaten Bone Bolango terdapat
di tujuh

Puskesmas yaitu Puskesmas Bone Raya, Bulango Utara, Kabila, Botupingge, Kabila Bone, Toto Utara dan Bone.

c.

Angka Kematian Ibu ( AKI ) Angka Kematian Ibu atau AKI mencerminkan resiko yang dihadapi ibu -

ibu selama kehamilan dan melahirkan yang dipengaruhi oleh keadaan, sosial ekonomi, keadaan kesehatan kurang baik menjelang kehamilan. Kejadian berbagai komplikasi pada kehamilan dan kelahiran . Serta tersedianya dan penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai.
Angka Kematian Ibu (AKI) berguna untuk menggambarkan tingkat

kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, pelayanan kesehatan waktu ibu melahirkan dan masa nifas. Untuk mengetahui besaran masalah kesehatan ibu, indikator yang digunakan adalah Angka Kematian Ibu (AKI). Perhitungan AKI disetiap Puskesmas sulit dilakukan karena jumlah mencapai 100.000 kelahiran hidup. Untuk mengurangi bias perhitungan AKI yang direkomendasikan oleh WHO dalam 100.000 kelahiran hidup maka digunakan Ratio Kematian Ibu. Untuk menghitung rasio kematian ibu di Kabupaten Bone Bolango tidak dapat dilakukan karena angka kelahiran di Kabupaten Bone Bolango kurang dari 100.000 kelahiran hidup, namun demikian bila diasumsikan maka angka AKI Kabupaten Bone Bolango tahun 2009 adalah 326,3 per 100.000 KLH, atau 9 kematian dari 2.758 KLH. Angka ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yakni 435,9 per 100.000 kelahiran hidup atau 12 kasus kematian dari 2.753 KLH. Namun angka ini masih sangat tinggi apabila dibandingkan dengan AKI yang ditargetkan untuk 2010 yaitu 150 per 100.000 KLH. Kematian ibu terjadi pada masa bersalin dan nifas. Kasus terdapat di 9 wilayah kerja Puskesmas yakni Puskesmas Bone, Bonepantai, Kabila Bone, Bulango, Bulango Selatan, Suwawa Tengah, Tilongkabila, Tapa dan Kabila masing-masing satu kasus.
kelahiran hidup tidak

Sumber : 2007 dan 2009 Laporan Data SIK Puskesmas serta Laporan KIA Dinkes Bone Bolango

Tingginya Jumlah kasus kematian ibu di Kabupaten Bone Bolango antara lain disebabkan oleh HPP, infeksi, DCC/asma, IMA, help syndrome, hipoklemia dan eklamsi. Hal ini dipengaruhi oleh masih kurangnya kuantitas maupun kualitas tenaga bidan terutama di wilayah terpencil serta kelengkapan sarana dan prasarana dalam pelayanan Obstetrik dan Neonatal baik itu di Pondok Bersalin Desa (POLINDES) maupun di Puskesmas, P4K yang belum berjalan maksimal, kondisi sosial ekonomi masih rendah yang juga mempengaruhi tingkat pendidikan masyarakat sehingga menyebabkan pertolongan persalinan oleh dukun masih tinggi, kunjungan rumah ( sweeping ) post persalinan belum optimal, serta letak geografis yang masih sulit dijangkau. Untuk mengantisipasi masalah ini maka diperlukan terobosan -terobosan dengan mengurangi peran dukun dan meningkatkan peran Bidan. Perlunya pembenahan Puskesmas PONED, penambahan tenaga bidan, pelatihan dan fasilitasi P4K, adanya kerjasama lintas program dan lintas sektor. Sehingga harapan kita agar Bidan di Desa benar-benar sebagai ujung tombak dalam upaya penurunan AKB (IMR) dan AKI (MMR) dapat terwujud. Selain itu melalui pengembangan Desa Siaga dengan pembangunan POSKESDES yang merupakan salah satu bentuk partisipasi masyarakat dalam menurunkan AKI.

3.2.3 Angka Kesakitan ( Morbiditas ) Angka kesakitan penduduk diperoleh dari data yang berasal dari masyarakat

(community based data) yang diperoleh melalui studi morbiditas, dan hasil pengumpulan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bone Bolango serta dari sarana pelayanan kesehatan (facility based data) yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan pelaporan.

A.

Penyakit Bersumber Binatang a. Pemberantasan Penyakit Malaria ( P2 Malaria )

Penyakit Malaria menyebar cukup merata di seluruh kawasan Indonesia, namun paling banyak dijumpai di luar wilayah Jawa-Bali, bahkan di beberapa tempat dapat dikatakan sebagai daerah endemis malaria. Menurut hasil pemantauan program diperkirakan sebesar 35% penduduk Indonesia tinggal di daerah endemis Malaria. Jumlah penderita klinis malaria di Kabupaten Bone Bolango tahun 2009 tercatat sebesar 357 penderita klinis atau angka kesakitan sebesar 2,75 per 1.000 penduduk. Dimana angka ini mengalami penurunan dari tahun 2008 sebesar 4,94 per 1000 penduduk seperti terlihat dalam grafik berikut ini

Sumber : Laporan Data SIK Puskesmas dan Sie P2 Dinkes Bone Bolango

Penderita klinis malaria paling banyak ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Bone yakni sebesar 162 penderita dan yang paling sedikit di Kecamatan Suwawa Tengah yang hanya 1 penderita sedangkan untuk wilayah Tilongkabila, Bonepantai, Tapa, Suwawa Timur, serta Bulango Ulu tidak ditemukan penderita Malaria. Seluruh penderita klinis yang ditemukan 100% memperoleh pengobatan dari pihak medis di Puskesmas. Meskipun terjadi penurunan angka kesakitan, namun berdasarkan analisa masalah, cakupan penemuan penderita klinis malaria masih dapat dikatakan rendah. Hal ini disebabkan karena keterbatasan tenaga kesehatan yang ada serta tidak tersedianya re agen untuk pewarnaan.
b. Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (P2 DBD)

Tingginya mobilitas penduduk, kurang efektifnya Fogging Fokus dengan Fogging sebelum penularan, belum memasyarakatnya

Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) serta masih rendahnya
angka bebas jentik (ABJ) merupakan kondisi yang menyebabkan

DBD masih merupakan masalah di Kabupaten Bone Bolango.

Sumber : Laporan Data SIK Puskesmas dan Sie Monev dan Survailans Dinkes Bone Bolango

Dari Grafik terlihat bahwa setelah mengalami peningka tan drastis
Angka kesakitan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) pada

tahun 2008 yakni sebesar 13,95 per 100.000 penduduk dari 3 per 100.000 penduduk pada tahun 2007, maka di tahun 2009 angka ini kembali mengalami penurunan. Dimana angka kesakitan tahun 2009 yakni 11,54 per 100.000 penduduk. Adapun wilayah kerja puskesmas Bonepantai yang paling banyak terjadi kasus DBD yakni 6 kasus

Sumber : Laporan Sie Monev dan Survailans Dinkes Bone Bolango

Grafik diatas menggambarkan perbandingan Attack Rate dan Case Fatality Rate tahun 2008 dan tahun 2009, dimana untuk attack rate mengalami penurunan ditahun 2009, seiring dengan menurunnya
angka kesakitan, sedangkan untuk case fatality rate mengalami

peningkatan yang cukup drastis. Hal ini dikarenakan jumlah penderita tahun 2009 yang menjadi
angka penyebut pada

perhitungan CFR mengalami penurunan dibanding pada tahun

2008.

B.

Penyakit Menular Langsung a. Pemberantasan Penyakit Tuberkulosis Paru (P2 TB Paru) Di Kabupaten Bone Bolango pada tahun 2009, menurut laporan

Puskesmas, jumlah penderita klinis sebanyak 3203 orang. Menurut laporan tersebut penderita yang dinyatakan positif menderita TB Paru tercatat sebanyak 264 orang dan keseluruhan penderita tersebut sudah diobati sebanyak 384 orang dan 298 orang dinyatakan sembuh (77,6%). Wilayah kerja Puskesmas yang

terbanyak penderitanya adalah Puskesmas Kabila yakni sebanyak 440 penderita klinis dan 29 penderita yang sudah dinyatakan positif.
Sumber : Laporan Data SIK Puskesmas & P2 Dinkes Bonbol

Berdasarkan hasil evaluasi program tahunan, masalah yang dihadapi oleh program TB yakni adanya kekeliruan pada pencatatan TB 06 dan TB 04, kemudian keterbatasan tenaga baik ditinjau dari segi kuantitas maupun kualitas. Ket ersediaan sarana dan prasarana laboratorium yang masih kurang. Untuk itu, pihak Dinas Kesehatan khususnya Sie P2 perlu melakukan On the Job Training (OJT) bagi petugas TB di puskesmas, kemudian melatih petugas-petugas baru, serta memanfaatkan ruangan yang ada di puskesmas untuk dijadikan laboratorium sederhana.

b. Pemberantasan Penyakit Kusta (P2 Kusta)

Tahun 2009, jumlah penderita

kusta

sebanyak 36 orang,

persentase RFT PB sebesar 100 % dan RFT MB sebesar 24,14 %. Jika dibandingkan dengan tahun 2008, RFT PB sebesar 100 % dan RFT MB sebesar 47,37 %.
Sumber : Data Sie P2 Dinkes Bone Bolango

Adapun masalah yang dihadapi, antara lain proporsi cacat tingkat 2 yang masih tinggi, kemudian jangka waktu pengobatan dengan munculnya gejala cukup lama. Sehingga perlu dilakukan penemuan penderita baru melalui kegiatan aktif (RVS dan kontak) serta melakukan penyuluhan secara aktif.

c. Pemberantasan Penyakit Diare (P2 Diare)

Adapun trend angka kesakitan dari kasus Diare di kabupaten Bone Bolango mengalami peningkatan dari tahun 2007 s.d. tahun 2009 seperti terlihat dalam grafik di bawah ini

Sumber : Laporan SIK Puskesmas dan Laporan Sie P2

Dari Grafik tersebut terlihat trend angka kesakitan dari kasus Diare
di Kabupaten Bone Bolango mengalami peningkatan dari tahun

2007 s.d. tahun 2009. Jika dilihat dari data SIK yang dilampirkan, Jumlah kasus diare yang paling banyak berada di kecamatan Kabila yakni sebesar 781 kasus dan yang paling sedikit berada di Kecamatan Bulango Ulu yakni sebesar 77 kasus sedangkan untuk Kecamatan Suwawa Timur dan Kecamatan Bone tidak ada data. Tingginya angka kesakitan Diare di Kabupaten Bone Bolango mungkin disebabkan karena pendataan terhadap penderita Diare
di wilayah kerja puskesmas yang belum lengkap.

Demikan pula pada trend Case Fatality Rate dan Attack Rate selama 2 tahun terakhir yang cenderung mengalami peningkatan seperti dalam grafik berikut ini

Sumber : Laporan SIK Puskesmas dan Laporan Sie Monev dan Survailans

Sehingga untuk mencegah meningkatnya angka kesakitan Diare sangatlah perlu dilakukan pence gahan terjadinya kasus diare untuk tahun 2010 nantinya. Salah satunya dengan meningkatkan sistem survailans dimasyarakat.
C. Kejadian Luar Biasa ( KLB )

Kejadian Luar Biasa (KLB) di Kabupaten Bone Bolango selama tahun 2009 berdasarkan laporan dari sie. Survailance Dinas Kesehatan Bone Bolango tercatat capaian Desa/Kel. Terkena KLB ditangani < 24 jam yakni 35 desa dari 70 desa yang terkena KLB atau sebesar 50 %. Dibawah ini adalah grafik yang menggambarkan jumlah desa yang terkena KLB serta jumlah yang tertangani <24 jam dari tahun 2007 sampai 2009.
Sumber : Laporan SIK Puskesmas dan Laporan Sie Monev dan Survailans

Dari grafik di atas terlihat bahwa untuk tiga tahun terakhir ini di Kabupaten Bone Bolango mengalami peningkatan jumlah desa yang terkena KLB sedangkan jika dilihat dari persentasi desa terkena KLB

yang ditangani mengalami fluktuasi dari tahun 2007 sebesar 0,1% ditahun 2008 menjadi 0,85% kemudian turun lagi menjadi 0,5 di tahun 2009. Hal ini perlu mendapat perhatian khusus dari sector -sektor yang terkait khususnya peningkatan dalam system survailans di Kabupaten Bone Bolango.

D.

Penyakit Menular yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I)

Difteri, Pertusis, Tetanus, campak, polio dan hepatitis B merupakan penyakit menular yang dapat dicegah dengan Imunisasi (PD3I). Penyakit-panyakit ini timbul karena kurangnya pengetahuan

masyarakat tentang pentingnya imunisasi. Di kabupaten Bone Bolango pada tahun 2008 data ya ng diterima dari laporan SIK puskesmas tentang penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) hanya data penyakit campak yang rata -rata terisi, hal ini dimungkinkan karena kurangnya tenaga yang bisa turun lapangan melakukan pendataan. Campak merupakan penyakit menular yang sering menyebabkan kejadian luar biasa (KLB). Selama tahun 2009, jumlah kasus campak
di Bone Bolango sebanyak 61 kasus. Jika dibandingkan dengan kasus di tahun 2008 maka jumlah ini lebih rendah.

Sumber : Laporan SIK Puskesmas dan Laporan Sie P2 serta Sie Monev dan Survailans

Dari grafik di atas terlihat bahwa trend kasus campak berbanding lurus dengan trend cakupan imunisasi campak. Masih tingginya penderita campak di Bone Bolango karena walaupun terimunisasi campak kemungkinan untuk menderita campak masih ada namun tidak menimbulkan komplikasi, selain itu adanya cakupan efikasi vaksin dimana 15 % dari cakupan imunisasi yang kebal hanya 65% yang bisa terlindungi sehingga perlu perhatian serius dari para petugas imunisa si dan survailens.

3.2.4. Status Gizi

Status gizi seseorang sangat erat kaitannya dengan permasalahan kesehatan secara umum, karena disamping merupakan faktor predisposisi yang dapat memperparah penyakit infeksi secara langsung juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan individual. Bahkan status gizi janin yang masih berada dalam kandungan dan bayi yang sedang menyusui sangat dipengaruhi oleh status gizi ibu hamil atau ibu menyusui. Berikut ini akan disajikan gambaran mengenai ind ikator-indikator status gizi masyarakat antara lain bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), status gizi balita, ASI Ekslusif, serta Kecamatan Bebas Rawan Gizi sebagaimana diuraikan berikut ini:
A. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2.500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu BBLR karena prematur (usia kandungan kurang dari 37 minggu) atau BBLR karena Intra Uterine Growth Retardation (IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang. Di negara berkembang, banyak BBLR dengan IUGR karena ibu berstatus gizi buruk, anemia, malaria dan menderita penyakit menular seksual (PMS) sebelum kons epsi atau pada saat hamil.
Di Kabupaten Bone Bolango tahun 2009, tercatat bahwa jumlah bayi

yang lahir dengan berat badan lahir rendah sebanyak 25 orang, dan 100% ditangani oleh tenaga kesehatan . Bayi yang lahir dengan BBLR sangat beresiko, hal ini dapa t dilihat pada hasil evaluasi PWS KIA tahun 2009, dimana penyebab terbanyak kematian neonatal adalah BBLR dengan jumlah kasus 12 kematian. Untuk itu tindakan preventif harus tetap dilakukan oleh tenaga kesehatan yang didukung oleh peran serta aktif dari ma syarakat itu sendiri.

B.

Status Gizi Balita

Status

gizi

balita

merupakan

salah

satu

indikator

yang

menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Salah satu cara penilaian status gizi pada Balita adalah dengan anthropometri yang diukur melalui indeks Berat Badan menurut umur (BB/U) atau berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB).
Di Kabupaten Bone Bolango, untuk menanggulangi masalah gizi atau

untuk memperoleh gambaran perubahan tingkat konsumsi gizi di tingkat rumah tangga dan status gizi masyarakat dilaksanakan beberapa kegiatan seperti Pemantau an Status Gizi (PSG) di seluruh kecamatan. Hasil laporan Sie. Gizi pada tahun 2009 dari 8.890 anak yang ditimbang didapatkan 84,83 % anak yang BB naik, 4,61 % anak BGM dan 1,09 % anak Gizi Buruk.
Sumber : Laporan SIK Puskesmas dan Data Sie. Gizi Dinkes Bone Bolango

Dari grafik di atas terlihat bahwa perkembangan status gizi balita dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009 mengalami penurunan, hal ini terlihat dari jumlah balita yang bawah garis merah dan jumlah balita gizi buruk mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Tren ini harus lebih mendapat perhatian agar status gizi di Kabupaten Bone Bolango dapat lebih ditingkatkan secara konsisten. Apabila dilihat dari data SIK, persentasi gizi buruk paling tinggi berada
di puskesmas Bulawa yakni sebesar 7,42% sedangkan yang paling

rendah berada di puskesmas Kabila Bone dan Puskesmas Tombulilato yang hanya 0,28% seperti terlihat dalam grafik berikut ini

Untuk mengatasi masalah gizi buruk di Kabupaten Bone Bolango maka pemberian makanan tambahan bagi balita masih sangat dibutuhkan, terutama mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. Diharapkan pada tahun 2010 dengan adanya Panti Pemulihan Gizi (Therapheutic Feeding Centre ) semua balita penderita gizi buruk

akan mendapatkan perawatan sesuai dengan standar, sehingga dapat menurunkan prevalensi kasus gizi buruk di Kabupaten Bone Bolango.

C.

ASI Ekslusif

Capaian ASI Ekslusif di Kabupaten Bone Bolango pada Tahun 2009 berdasarkan laporan dari Sie Bina Gizi Masyarakat Dinkes Bone Bolango adalah 6,54%, dapat dilihat dalam grafik berikut ini
Sumber : Laporan Sie. Gizi Dinkes Bone Bolango 2009

Grafik di atas terlihat bahwa cakupan ASI ekslusif di Bone Bolango masih rendah yaitu hanya sebesar 180 bayi yang diberikan ASI Ekslusif dari 2754 jumlah bayi yang terdata, hal ini disebabkan karena bayi usia 0 sampai dengan 6 bulan rata -rata sudah diberikan makanan pendamping ASI sehingga tidak bisa dikategorikan ASI ekslusif sehingga perlu strate gi khusus dari petugas kesehatan untuk meningkatkan cakupan pemberian ASI ekslusif ini.

D.

Kecamatan Bebas Rawan Gizi

Kabupaten Bone Bolango berdasarkan laporan Sie. Gizi untuk tahun 2009 sebesar 88,2% atau 15 kecamatan sudah termasuk kecamatan bebas rawan gizi dari 17 kecamatan yang ada. Sedangkan yang

belum termasuk bebas rawan gizi yakni Kecamatan Suwawa Tengah dan Bulawa. Dimana kecamatan ini persentase jumlah gizi kurang dan gizi buruk >15 %, yakni Suwawa Tengah 19,99% dan Bulawa 23,88%.

3.2.5. Keadaan Lingkungan

Upaya penyehatan lingkungan dilaksanakan dengan lebih diarahkan pada peningkatan kualitas lingkungan, yaitu melalui kegiatan yang bersifat promotif, preventif dan protektif. Adapun pelaksanaannya bersama ± sama dengan masyarakat, diharapkan secara epidemiologi akan mampu memberikan kontribusi yang bermakna terhadap kesehatan masyarakat. Namun demikian pada umumnya yang menjadikan permasalahan utama adalah masih rendahnya jangkauan program. Hal ini lebih banyak

diakibatkan

oleh berbagai faktor antara lain dana dan adanya otonomi, dan

lain-lain. Sedangkan permasalahan utama yang dihadapi masyarakat adalah akses terhadap kualitas lingkungan yang masih sangat rendah. Lingkungan sehat merupakan salah satu pilar utama dalam pencapaian Indonesia Sehat 2010. Beberapa indikator penting kesehatan lingkungan dapat dikemukakan, sebagai berikut:
a. Rumah / Bangunan

Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembina an keluarga. Rumah haruslah sehat dan nyaman agar penghuninya dapat berkarya untuk meningkatkan produktivitas. Kondisi rumah dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor risiko sumber penularan berbagai jenis penyakit khususnya penyakit yang berbasis lingkungan. Tahun 2009, jumlah yang memenuhi syarat kesehatan di Kabupaten Bone Bolango yakni 8.361 rumah (55,53%), dari 15.058 rumah yang diperiksa. Persentasi ini menurun bila dibandingkan dengan 2 tahun sebelumnya seperti terlihat dalam grafik berikut ini.

Sumber : Laporan SIK Puskesmas dan Data Sie PL Dinkes Bonbol

Dari hasil evaluasi program penyehatan lingkungan, penyebab masalah antara lain kondisi rumah masyarakat yang masih darurat, dimana secara tidak langsung hal ini d ipengaruhi oleh faktor ekonomi masyarakat itu sendiri, kemudian belum optimalnya pembinaan petugas dalam memberikan penyuluhan tentang pentingnya rumah sehat. Secara umum rumah dikatakan sehat apabila memenuhi beberapa kriteria, diantaranya adalah bebas je ntik nyamuk. Bebas jentik nyamuk disini terutama bebas jentik nyamuk Aedes aegypti yang merupakan vektor penyakit demam berdarah dengue.
Sumber : Laporan SIK Puskesmas dan Data Sie PL Dinkes Bonbol

Melihat grafik diatas, trend persentase rumah bebas jentik mengalami penururunan, dimana dari 15.058 rumah hanya 61,92% yang bebas jentik. Keberadaan nyamuk penular ini sangat erat hubungannya dengan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat. Guna membin a peran serta masyarakat secara efektif. Oleh karenanya peran tenaga kesehatan untuk memberikan penyuluhan secara efektif kepada masyarakat perlu

ditingkatkan lagi. Serta dukungan dari lintas sektor seperti PU Kimpraswil yang menangani sistem drainase ling kungan ataw SDA (Sumber Daya Air).

b. Sarana Kesehatan Lingkungan ( persediaan air bersih, jamban, tempat
sampah, pengelolaan air limbah ).

Pembuangan kotoran baik sampah, air limbah dan tinja yang tidak memenuhi syarat kesehatan dapat menyebabkan ren dahnya kualitas air, serta dapat menimbulkan penyakit menular di masyarakat. Jamban, tempat sampah, pengelolaan limbah dan persediaan air bersih merupakan sarana lingkungan pemukiman (PLP). Kondisi sarana penyehatan lingkungan pemukiman di Kabupaten Bone Bolango Tahun 2009 dari 11.979 KK yang diperiksa, sebagai berikut :   Persentasi KK yang telah memiliki sarana air bersih dari yang diperiksa : 70,4 % Persentasi KK yang telah memiliki jamban dan memenuhi syarat kesehatan untuk tempat Buang Air Besar (BAB) dari yang diperiksa : 9,9 %  Persentasi KK yang telah memiliki tempat sampah dari yang diperiksa : 85,3 %  Persentasi KK yang telah memiliki pengolahan air limbah dari yang diperiksa : 59,4 %. Sanitasi merupakan faktor penting dalam menciptakan lingkungan yang sehat. Banyaknya penyakit ditularkan karena tidak dilakukan cara-cara penanganan sanitasi yang benar. Upaya peningkatan kualitas air bersih akan berdampak positif apabila diikuti upaya perbaikan sanitasi. Upaya sanitasi meliputi pembangunan, perbaikan dan penggunaan sarana sanitasi, yaitu :

pembuangan kotoran manusia (jamban), pembuangan air limbah (SPAL) dan pembuangan sampah di lingkungan rumah kita. Sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk di wilayah Bone Bolango maka kebutuhan air bersih semakin bertambah. Pembangunan air bersih di masing-masing wilayah kerja Puskesmas meliputi daerah Pemukiman. Peran lintas sektor pun menjadi salah satu faktor yang akan mempengaruhi, antara lain peran dari pihak PU Kimpraswil. Adapun sumber air di Kabupaten Bone Bolango pada umumnya berasal dari mata air, sumur dalam, sumur g ali dan air permukaan. Sistem yang digunakan untuk mensuplai air bersih melalui perpipaan dan non perpipaan. Untuk pengelolaannya pada daerah pemukiman di perkotaan pada umumnya dikelola PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) Kabupaten.
4.4. PERILAKU MASYARAKAT 4.4.1 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ( PHBS )

Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, menurut HL Blum adalah faktor perilaku. Dengan mewujudkan perilaku yang sehat, diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan suatu penyakit dan angka kematian ibu dan anak akibat terlambat /kurangnya kesadaran dalam mengunjungi sarana pelayanan kesehatan. Dalam kegiatan PHBS terdapat beberapa tatanan, tiga tatanan yang menjadi utama sasaran PHBS adalah tatanan rumah tangga, tatanan institusi dan tatanan TTU (Tempat-tempat Umum). Untuk data profil ini, ditampilkan hanya PHBS tatanan rumah tangga karena mempunyai daya ungkit yang paling besar terhadap perubahan perilaku masyarakat secara umum.
Sumber : Laporan Sie. Promkes Dinkes Bone Bolango

Grafik diatas menunjukkan adanya peningkatan cakupan rumah tangga yang berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Peningkatan cakupan ini antara lain karena meningkatnya frekuensi penyuluhan PHBS yang dilakukan oleh petugas promkes di tiap puskesmas. Namun kerjasama dari lintas program maupun lintas sektor masih perlu ditingkatkan.

4.4.2 Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat ( JPKM )

JPKM

merupakan

suatu

upaya

pemeliharaan

kesehatan

secara

paripurna, terstruktur yang dijamin kesinambun gan dan mutunya, dimana pembiayaannya dilaksanakan secara Pra ± upaya. Berdasarkan laporan Sie Promkes Dinas Kesehatan Kabupaten Bone Bolango, jumlah penduduk yang tercover oleh berbagai JPK Pra Bayar sebesar 115.658 Jiwa atau 75,85 % dari total jumlah pe nduduk, dengan perincian sebagai dalam grafik berikut :
Sumber : Laporan Sie. Promkes Dinkes Bonbol

Terlihat bahwa prosentase terbesar merupakan kontribusi dari kartu miskin (95,1 %), dimana pembiayaan kesehatan keluarga miskin

ditanggung oleh pemerintah dan sisanya merupakan peserta non Gakin yang pembiayaan kesehatannya ditanggung secara mandiri oleh peserta sendiri. Pencapaian tersebut jika dibandingkan dengan target SPM Cakupan penduduk yang menjadi peserta JPK Pra - bayar, dimana pada tahun 2010 minimal 80 % penduduk tercover oleh berbagai JPK, maka pencapaian pada tahun 2009 ini belum mencapai target. Untuk jaminan kesehatan masyarakat miskin, di Kabupaten Bone Bolango terdapat dua sumber yakni Jamkesmas dan Jamkesda. Dimana dari total penduduk yang telah dijamin oleh Jamkesmas sebanyak 67.490 jiwa (44,26%), dan untuk Jamkesda sebanyak (27,87%). Dari Data SIK yang terkumpul masyarakat miskin yang paling banyak dicakup oleh ASKESKIN adalah Kecamatan Suwawa Tengah yakni sebesar 85,75% dan yang paling sedikit adalah Kecamatan Bulango yang hanya sebesar 38,05%. Sedangkan untuk masyarakat miskin yang mendapat YANKES paling banyak berada di wilayah puskesmas Toto Utara yakni sebesar 77,84% dan yang paling sedikit berada
di

Kecamatan Kabila Bone yang hanya sebesar 9,84%.
4.4.3 Posyandu

Pada hakekatnya posyandu merupakan kegiatan yang tumbuh dari, oleh dan untuk masyarakat, sehingga pemenuhan kebutuhan sarana dan

prasarana posyandu menjadi tanggung jawab kita bersama terutama masyarakat disekitarnya. Untuk mengetahui kualitas suatu posyandu dapat menggunakan telah kemandirian posyandu yaitu suatu cara pengelompokan posyandu menjadi 4 tingkat perkembangan (Stratifikasi posyandu). Persentase Posyandu yang ada di Kabupaten Bone Bolango tahun 2009 berda sarkan keempat strata tersebut dapat dilihat pada grafik di bawah ini:
Sumber : Laporan Sie. Promkes Dinkes Bonbol

Pencapaian Posyandu Purnama jika dibandingkan dengan target cakupan SPM tahun 2009 sebesar 33,82 % , angka capaian ini masih belum mencapai target. Hal ini disebabkan karena kurangnya pemanfaatan Posyandu, masih kurangnya kader di Posyandu, belum adanya kegiatan atau program tambahan seperti program Usila dan pemberian PMT -ASI Dengan melihat permasalahan terse but, salah satu upaya pemecahan masalah yang dilakukan antara lain mengajak masyarakat untuk lebih meningkatkan pemanfaatan Posyandu serta meningkatkan kerjasama lintas sektor.

Sumber : Laporan Sie. Promkes Dinkes Bonbol Sumber : Laporan Sie. Promkes Dinkes Bonbol

Dari dua grafik di atas nampak bahwa jumlah Desa Siaga, poskesdes, Polindes dan Posyandu tiga tahun terakhir ini mengalami peningkatan. Hal ini dikarenakan adanya program pemekaran daerah oleh Bupati Bone Bolango dan juga untuk lebih meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN

4.1

Pemanfaatan Sarana Pelayanan Kesehatan Dasar

Jumlah Puskesmas di Kabupaten Bone Bolango tahun 2009 yaitu Puskesmas sebanyak 18 buah dan 2 diantaranya merupakan Puskesmas Rawat Inap yakni Puskesmas Suwawa dan Puskesmas Bonepantai, 3 unit puskesmas mampu PONED, yakni Puskesmas Suwawa, Puskesmas Bonepantai dan Puskesmas Dumbayabulan, Pustu 36 buah, Pusling 18 buah, Poskesdes 94 buah, Polindes 50 buah dan Posyandu 204 buah. Sarana Pelayanan Kesehatan Dasar yang ada
di desa yaitu Polindes sebanyak 48 buah (sumber data Yankesmas Dinkes

Bonbol). Untuk tahun 2010, telah dibang un Panti Pemulihan Gizi (Feeding Centre) bagi balita gizi buruk, yang merupakan pengembangan dari Puskesmas Tilongkabila.
Sumber : Laporan Sie. Promkes Dinkes Bonbol

4.2

Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak

Dalam rangka pelayanan kesehatan ibu dan anak dilakukan (1) pelayanan ANC/pemeriksaan ibu hamil, (2) imunisasi, (3) pertolongan persalinan, (4) penanggulangan penyakit -penyakit penyebab kematian, (5) deteksi dini dan stimulasi tumbuh kembang anak , dan (6) usaha kesehatan sekolah.

a). Pelayanan ANC / Pemeriksaan Ibu Hamil

Cakupan pelayanan Antenatal Care ( ANC ) dapat dipantau melalui pelayanan kunjungan baru ibu hamil (K1) untuk melihat akses dan pelayanan kesehatan ibu hamil sesuai standar paling sedikit empat kali (K4) dengan distribusi sekali pada triwulan pertama, sekali pada triwulan dua, dan dua kali pada triwulan ketiga. Pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan pada ibu hamil yang berkunjungan ke tempat pelayanan kesehatan atau antenatal care (ANC) adalah sebagai berikut Penimbangan Berat Badan, Pemeriksaan

kehamilannya, Pemberian Tablet Besi, Pemberian Imunisasi TT, pemeriksaan tensi dan Konsultasi.

Cakupan pelayanan kunjungan baru ibu hamil ( K1 ) di Kabupaten Bone Bolango berdasarkan rekapan PWS -KIA Dinas Kesehatan Bone Bolango sebesar 79,3 %. Jika kita melihat pada grafik di bawah ini, maka dapat dikatakan cakupan K1 mengalami penurunan dari tahun tahun sebelumnya. Untuk meningkatkan cakupan K1, perlu adanya sosialisasi terutama bagi ibu hamil untuk memeriksakan diri ke Puskesmas .
Sumber : Laporan Sie. KIA-KB Dinkes Bonbol

Cakupan K4 berdasarkan rekapan PWS -KIA Dinas Kesehatan Kabupaten Bone Bolango pada tahun 2009 adalah 66,8%, persentasi ini meningkat bila dibandingkan dengan capain tahun kemarin yang hanya sebesar 61,66 %, namun masih rendah bila dibandingkan dengan target SPM tahun 2008 cakupan K4 Kabupaten Bone Bolango sebesar 86,8 %. Permasalahan yang mengakibatkan tidak tercapainya K4 di beberapa Puskesmas antara lain tidak tercapainya K1 murni maka mempengaruhi kunjungan K4 dimana dikatakan kunjungan K4 bila ibu hamil telah memeriksakan kehamilannya mulai dari Trimester I ( 1 kali ), Trimester II ( 1 kali ) dan Trimester III ( 2 kali ). Tidak berjalannya Sweeping Ibu Hamil, kurangnya dana yang mendukung terlaksananya k unjungan ke rumah, serta adanya bidan yang rangkap tugas juga merupakan faktor yang

mempengaruhi rendahnya cakupan K4. Perlunya mengefektifkan sweeping ibu hamil merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan cakupan kunjungan K4. Dalam pelayanan ibu hamil (antenatal) baik pada K1 maupun K4 ibu hamil akan dibekali dengan Tablet Besi (Fe), hal ini merupakan upaya

penanggulangan anemia pada ibu hamil. Pemberian Tablet Besi pada ibu hamil di Kabupaten Bone Bolango pada tahun 2009 sebesar 77,96 % untuk Fe1 dan 62,29 % untuk Fe3. Bila membandingkan antara cakupan Fe3 dengan K4 terdapat selisih sebesar 0,49 %. Walaupun selisih antara kedua cakupan tersebut tidak terlalu besar, namun perlu diteliti sebab -sebab yang mungkin terjadi, misalnya kelalaian petugas kesehatan, kesalahan pelaporan atau masalah teknis lainnya.
Sumber : Laporan Sie. KIA-KB dan Sie Gizi Dinkes Bonbol

Dalam pelayanan ANC ibu hamil akan diberikan imunisasi TT sebagai upaya perlindungan ibu dan bayinya dari kemungkinan terjadinya Tetanus pada waktu persalinan. Oleh karena itu pemberian imunisasi TT merupakan suatu keharusan pada setiap ibu hamil. Pemberian Imunisasi TT pada 31.237 wanita usia subur (WUS) Kabupaten Bone Bolango pada tahun 2009 sebesar 2,24 % untuk TT1 dan 1,93 % untuk TT2. Seharusnya cakupan TT1 sama dengan cakupan TT2, adanya selisih antara kedua cakupan tersebut mungkin terjadi akibat kelalaian petugas kesehatan, kesalahan pelaporan atau masalah teknis lainnya. Dari lima tahap pemberian imunisasi TT, imunisasi TT4 paling rendah, hanya sebesar 0,65% sebagaimana terlihat dalam grafik di bawah ini. Sumber : Laporan Imunisasi P2MPL Dinkes Bone Bolango
b) Pertolongan Persalinan

Tenaga yang dapat memberikan pertolongan persalinan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tenaga profesional (dokter spesialis kebidanan, dokter umum, dan bidan) dan dukun bayi (dukun bayi terlatih dan tidak terlatih). Cakupan Kunjungan Neonatal (KN2) Kabupaten Bone Bolango berdasarkan data yang ada pada tahun 2009 adalah 71,22 %, cakupan ini mengalam i peningkatan dari capaian tahun kemarin walaupun tidak signifikan. Trend cakupan KN2 dapat dilihat pada grafik di bawah ini. . Sumber : Laporan Sie. KIA-KB Dinkes Bonbol Sedangkan cakupan Kunjungan Bayi di Kabupaten Bone Bolango pada tahun 2009 adalah 73.98 %, cakupan ini lebih rendah bila dibandingkan dengan tahun 2008 yang mencapai 83,62%, Jika dibandingkan dengan target

Nasional 2010 sebesar 90%, angka ini masih rendah.
Sumber : Laporan Imunisasi Dinkes Bonbol

Dari data SIK yang terkumpul persentasi kunjungan bayi tertinggi berada di kecamatan Bone Raya sebesar 53,16 % dan yang terendah berada di Kecamatan Bulango Timur yang hanya sebesar 21,15% sedangkan dari kecamatan Bonepantai tidak ada data.
c) Program Imunisasi

Untuk menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan bayi serta
anak balita perlu dilaksanakan program imunisasi untuk penyakit -penyakit

yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti penyakit TBC, Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, Polio dan campak. Idealnya bayi harus mendapat imunisasi dasar lengkap yang terdiri dari BCG 1 kali, DPT 3 kali, Polio 4 kali, HB 3 kali dan campak 1 kali. Untuk menilai kelengkapan imunisasi dasar bagi bayi, biasanya dilihat dari cakupan imunisasi campak, karena imunisasi campak merupakan imunisasi terakhir yang diberikan pada bayi. Sedangkan untuk menilai angka drop out cakupan imunisasi dasar dilihat dari selisih cakupan imunisasi DPT1 dikurangi cakupan imunisasi campak. Cakupan imunisasi lengkap untuk tahun 2009 berdasarkan laporan d ari petugas imunisasi dinas kesehatan di Kabupaten Bone Bolango sebesar 80,7 %, angka ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yakni 83,62%.

Sumber

: Laporan Program Imunisasi Dinkes Bone Bolango

Bila ditinjau dari pencapaian UCI menurut lapor an pengelola program imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Bone Bolango tahun 2009 yakni dari 163 desa, hanya 39 desa yang merupakan desa UCI (23,93%), jika dibandingkan dengan pencapaian tahun 2008 (40%), maka terjadi penurunan
angka cakupan desa UCI. Salah satunya penyebab rendahnya cakupan ini

yaitu adanya pemekaran wilayah/desa, serta keterbatasan petugas imunisasi dilapangan.
Sumber : Laporan Imunisasi Dinkes Bonbol

d). Program Keluarga Berencana 1. Jumlah Pasangan Usia Subur ( PUS )

Pada Tahun 2009, jumlah PUS yang terdata sebanyak 25.659 dimana jumlah peserta KB Aktif sebanyak 17.624 (68,69%) sedangkan jumlah peserta KB Baru sebanyak 4.401 (17,15 %). Seperti pada grafik dibawah ini, dapat dilihat adanya pe ningkatan jumlah PUS dari tahun 2008, namun terjadi penurunan jumlah peserta KB Aktif maupun KB Baru.

Sumber : Laporan SIK PKM (2007) serta Data Sie. KIA KB Dinkes Bone Bolango dari Badan Pemberdayaan Perempuan (2008 dan 2009)

2.

Peserta KB Baru ( PB )

Dari sejumlah 4.355 peserta KB baru secara rinci per mix kontrasepsi yang digunakan dapat dilihat pada grafik dibawah ini :

Sumber : Bone Bolango Dalam Angka 2009 Dari keseluruhan peserta KB baru selama tahun 2009, penggunaan kontrasepsi yang tertinggi adalah suntik. Kontrasepsi ini memang cukup menjadi primadona masyarakat karena selain praktis juga cepat dalam mendapatkan pelayanan. Sedangkan kontrasepsi untuk pria yaitu MOP dan Kondom adalah kontrasepsi yang paling sedikit digunakan. Hal ini disebabkan kebanyakan pria (bapak) masih beranggapan bahwa urusan KB adalah urusan ibu-ibu. Untuk jenis kontrasepsi obat vaginal pencapaiannya memang tidak signifikan, karena kontrasepsi ini tidak masuk dalam kontrasepsi program Keluarga Berencana.

3.

Peserta KB Aktif ( PA )

Untuk peserta KB Aktif selama Tahun 2009 sebesar 17.395 peserta, persentase penggunaan alat kontrasepsi rata -rata >25%, terutama untuk alkon suntik, pil dan IUD, seperti yang ditampilkan pada grafik dibawah ini Sumber : Bone Bolango Dalam Angka 2009

4.3 a.

Upaya Kesehatan Rujukan dan Kesehatan Khusus Penyuluhan Masyarakat

Pada tahun 2009 jumlah seluruh penyuluhan masyarakat berdasarkan laporan Sie. Promkes yang direkap dari 18 Puskesmas yakni sebanyak 572 kali. Dari penyuluhan yang dilaksanakan di Kabupaten Bone Bolango 433 penyuluhan diantaranya ada lah penyuluhan kelompok dan 139 penyuluhan massa.

b. Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas

Pelayanan kesehatan gigi

di puskesmas

Kabupaten Bone Bolango

berdasarkan laporan Yankes tahun 2009 meliputi tumpatan gigi tetap sebanyak 13 dan pencabutan gigi tetap sebanyak 256, dengan rasio tambal cabut 0,05.
4.4 Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan

Upaya pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya pelayanan kesehatan secara paripurna. Upaya tersebut dimaksudkan untuk (1) menjamin ketersediaan, keterjangkauan, pemerataan obat generik dan obat esensial yang bermutu bagi masyarakat, (2)

mempromosikan penggunaan obat yang rasional dan obat yang generik, (3) meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian difarmasi komunitas dan farmasi klinik serta pelayanan kesehatan dasar, serta (4) melindungi masyarakat dari penggunaan alat kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan, mutu dan keamanan.
a. Ketersediaan Jenis Obat Untuk Pelayanan Kesehatan Das ar

Salah satu jenis pelayanan kefarmasian di Puskesmas yaitu penyediaan obat untuk pelayanan kesehatan dasar. Hal ini bisa dilihat dari jumlah ketersediaan jenis obat sesuai dengan kebutuhan di Puskesmas tahun 2009 yakni sebanyak 50 jenis dengan persentase 100 %.
b. Penerapan Penggunaan Obat

Adanya penerapan dalam penggunaan obat dimaksudkan agar terjaminnya ketersediaan, keterjangkauan, dan pemerataan obat dalam pelayanan kesehatan, yang pelaksanaannya mencakup pengadaan buffer stock obat, revitalisasi pemasyarakatan konsepsi obat esensial dan penerapan

penggunaan obat esensial generik pada fasilitas pelayanan pemerintah maupun swasta. Pada tahun 2009 ketersediaan obat di Kabupaten Bone Bolango telah mencapai 100% atau sesuai dengan kebutuhan yaitu rata -rata per puskesmas 50 jenis obat, angka ini dapat dikatakan mencapai target SPM nasional 90%.

BAB V

SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN

5.1. Sarana Kesehatan a. Puskesmas Di Kabupaten Bone Bolango distribusi Puskesmas dan Puskesmas

Pembantu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dasar telah lebih merata. Pada tahun 2009 setelah dilakukan pemekaran jumlah puskesmas yang ada sampai akhir tahun sebanyak 18 unit. Serta Puskesma s Persiapan Pinogu dengan kategori wilayah puskesmas sangat terpencil. Dengan demikian rata-rata rasio puskesmas terhadap 100.000 penduduk adalah 13,8. Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan Puskesmas, ada beberapa Puskesmas telah ditingkatkan fungsinya menjadi puskesmas dengan tempat perawatan. Puskesmas perawatan ini terutama yang berlokasi jauh dari rumah sakit, di jalur-jalur jalan raya yang rawan kecelakaan, serta diwilayah terpencil. Hingga tahun 2009 jumlah puskesmas perawatan di Kabupaten Bone Bolango sebanyak 2 buah yaitu Puskesmas Suwawa dan Puskesmas Bonepantai. Sehubungan dengan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Balita (AKB), ada 3 Puskesmas yang dijadikan Puskesmas mampu PONED yaitu Puskesmas Suwawa, Puskesmas Bonepantai dan Puskesmas Dumbayabulan.
b. Puskesmas Pembantu

Puskesmas Pembantu di Kabupaten Bone Bolango pada tahun 2009 berdasarkan laporan Sie. Promkes berjumlah 36 buah. Ratio desa per puskesmas pembantu 2, dengan demikian setiap puskesmas pembantu rata-rata melayani 2 desa.
c. Rumah Sakit

Fasilitas lain yang memberikan layanan rujukan dan rawat inap di sebuah daerah yakni Rumah Sakit. Adapun jumlah rumah sakit di Kabupaten Bone Bolango pada tahun 2009 sebanyak dua buah yaitu 2 buah yakni RSU Toto dan RSU Tombulilato.

d.

Fasilitas Kesehatan di Puskesmas

Pada tahun 2009 jumlah mobil Puskesmas Keliling sebanyak 18 buah, jumlah sepeda motor seluruhnya 119 buah, jumlah rumah dinas dokter dan paramedis di Kabupaten Bone Bolango sebanyak 34 buah. Dengan

adanya penambahan beberapa fasilitas seperti ini diharapkan mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan dapat meningkat, demikian juga dengan kinerja tenaga kesehatan yang diberikan fasilitas kenderaan dinas.
e. Polindes

Jumlah Polindes di Kabupaten Bone Bolango tahun 2009 sebanyak 50 buah. Cakupan polindes aktif rata-rata kabupaten 100 % sedangkan ratio Polindes per Puskesmas adalah 2,7 berarti rata -rata tiap puskesmas membawahi 2 - 3 polindes.
f. Poskesdes

Jumlah Poskesdes di Kabupaten Bone Bolango tahun 2009 sebanyak 94 buah. Ratio Poskesdes per Puskesmas adalah 5,2 berarti rata -rata tiap puskesmas membawahi 5 poskesdes.
g. Posyandu

Jumlah Posyandu di Kabupaten Bone Bolango tahun 2009 sebanyak 204 buah. Ratio Posyandu per Puskesmas adalah 11,3 berarti rata -rata tiap wilayah puskesmas mempunyai 11 posyandu.
h. Desa Siaga

Desa siaga merupakan program pemerintah yang digalakan pada tahun 2009, meskipun terbilang baru namun Kabupaten Bone Bolango

berdasarkan laporan Sie. Promkes Dinas Kesehatan sudah mempunyai 94 Desa Siaga. Ratio Desa Siaga per Puskesmas adalah 5,2 berarti r ata-rata
di tiap wilayah puskesmas terdapat 5 Desa Siaga. 5.2. Tenaga Kesehatan

Dalam pembangunan kesehatan diperlukan sumber daya manusia dalam hal ini tenaga kesehatan yang memiliki kemampuan melaksanakan upaya kesehatan dengan paradigma sehat, yang men gutamakan upaya peningkatan, pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit. Pengadaan tenaga kesehatan dilaksanakan melalui pendidikan dan pengembangan tenaga kesehatan melalui pelatihan tenaga oleh pemerintah maupun masyarakat.

a.

Tenaga Medis

Tahun 2009 berdasarkan rekapan Subbag. Kepegawaian Dinas Kesehatan Kabupaten Bone Bolango tercatat jumlah tenaga medis di Kabupaten Bone Bolango sebanyak 12 orang dengan perincian 11 orang dokter umum serta dokter gigi sejumlah 1 orang dengan rasio masing-masing per 100.000 penduduk yakni 8,46 untuk dokter umum dan 0,77 untuk dokter gigi. Sedangkan untuk rasio dokter keluarga belum dapat disajikan karena belum ada data yang masuk. Bila dibandingkan dengan target pencapaian IS 2010, nam pak bahwa rasio untuk tenaga dokter umum dan dokter gigi belum mencapai target (dokter umum 40 per 100.000 penduduk, dokter gigi 11 per 100.000 penduduk). Kurangnya tenaga medis di Kabupaten Bone Bolango maka kebutuhan akan tenaga medis perlu diperhatik an. Adanya dokter PTT diharapkan dapat membantu pemenuhan kebutuhan masyarakat akan tenaga medis. Pada tahun 2009 jumlah dokter PTT sebanyak 19 orang, terdiri dari dokter umum 13 orang dan dokter gigi sebanyak 6 orang.
b. Tenaga Kefarmasian dan Gizi

Untuk tenaga kefarmasian, saat ini telah berjumlah 6 orang dengan rincian: apoteker 1 orang, S1 Farmasi 1 orang, D -III Farmasi 2 orang dan Asisten Apoteker 2 orang. Sedangkan rasio tenaga kefarmasian per 100.000 penduduk masih jauh dari yang diharapkan karena hingga tahun 2009 rasio tenaga kefarmasian baru mencapai 4,6 per 100.000 penduduk (Target IS 2010 adalah 100 per 100.000 penduduk). Sementara itu, untuk tenaga gizi hingga tahun 2009 berjumlah 16 orang dengan klasifikasi pend idikan D III Gizi 15 orang dan DIV Gizi 1 orang. Adapun rasio tenaga gizi terhadap 100.000 penduduk sebesar 12,3

sedangkan untuk target IS 2010 harus mencapai 40 per 100.000 penduduk.
c. Tenaga Keperawatan

Tenaga kesehatan tergolong ke dalam tenaga keperawatan adalah Perawat dan Bidan. Rasio tenaga perawat di Kabupaten Bone Bolango tahun 2009 mencapai 43,07 per 100.000 penduduk, dan untuk tenaga bidan sebesar 39,22 per 100.000 penduduk. Bila dibandingkan dengan target pencap aian

IS 2010 untuk tenaga perawat sebesar 100 per 100.000 penduduk dan untuk tenaga bidan untuk tenaga bidan adalah 117,5 per 100.000 penduduk. Dengan melihat angka ini maka rasio tenaga perawat dan bidan di Kabupaten Bone Bolango belum mencapai target IS 2010. Tenaga keperawatan ini dapat dirinci menurut jenisnya yaitu jumlah perawat sebanyak 56 orang dengan jumlah lulusan terbanyak berasal dari SPK sejumlah 31 orang, D III keperawatan sebanyak 28 orang dan Sarjana Keperawatan sejumlah 1 orang. Adapun jumlah tenaga bidan sebanyak 51 orang dengan klasifikasi pendidikan D III Kebidanan 16 orang. Untuk memenuhi kekurangan tenaga bidan maka direkrut bidan PTT, yang pada tahun 2009 berjumlah 11 orang.
d. Tenaga Kesehatan Masyarakat dan Sanitasi

Jumlah tenaga kesehatan masyarakat di Kabupaten Bone Bolango tahun 2009 mencapai 38 orang dengan rasio sebesar 29,23 per 100.000 penduduk. Sementara itu, pada tahun yang sama jumlah tenaga sanitasi telah mencapai jumlah 19 orang dengan kla sifikasi pendidikan D III sebanyak 3 orang dan D I Sanitasi sebanyak 16 orang, dengan rasio sebesar 2,31 per 100.000 penduduk. Bila dibandingkan dengan target pencapaian IS 2010 maka kedua jenis tenaga tersebut masih sangat dibutuhkan mengingat target yang diharapkan adalah masing -masing 40 per 100.000 penduduk.
5.3. Pembiayaan Kesehatan

Alokasi anggaran pada Dinas Kesehatan Kabupaten Bone Bolango Tahun Anggaran 2009 sebesar Rp. 19.503.018.719, - yang bersumber dari APBD II, Jamkesda Rp. 42.500.000,-, Askeskin Rp. 67.490.000, - serta Hibah Luar Negeri Rp. 813.398.000, -. APBD Kesehatan terhadap APBD Kabupaten sebesar 6,20 % sehingga anggaran kesehatan perkapita masyarakat Bone Bolango sebesar Rp. 2.418 per orang.

Tabel Anggaran Kesehatan Kabupaten Bone Bolango Tahun 2009

NO

SUMBER BIAYA ANGGARAN KESEHATAN BERSUMBER:

ALOKASI ANGGARAN KESEHATAN Rupiah

%

1 APBD KAB/KOTA Jamkesda 2 APBD PROVINSI 3 APBN : - Dana Alokasi Khusus (DAK) - ASKESKIN - Lain-lain (sebutkan) 4 PINJAMAN/HIBAH LUAR NEGERI (PHLN)

19.503.018.719 42.500.000

95,48

67.490.000

0,33

813.398.000

3,98

5 SUMBER PEMERINTAH LAIN TOTAL ANGGARAN KESEHATAN TOTAL APBD KAB/KOTA % APBD KESEHATAN THD APBD KAB/KOTA ANGGARAN KESEHATAN PERKAPITA 2.418,51 20.426.406.719 314.466.324.899 6,20 100

Sumber: Subbag Keuangan dan Asset Dikes Kab. Bone Bolango

BAB VI PENUTUP

6.1

KESIMPULAN

Berbagai upaya telah dilaksanakan dalam pembangunan kesehatan, antara lain upaya peningkatan dan perbaikkan terhadap derajat kesehatan

masyarakat, upaya pelayanan kesehatan, sarana kesehatan dan sumber daya kesehatan. Hasil-hasil kegiatan pembangunan kesehatan yang menyeluruh di Kabupaten Bone Bolango selama tahun 2009 tergambar dalam Profil Kesehatan Kabupaten Bone Bolango Tahun 2009. Secara umum dapat disimpulkan bahwa hingga tahun ini berbagai peningkatan derajat kesehatan masyarakat telah dicapai sebagai hasil dari pembangunan kesehatan, sejalan dengan perbaikan kondisi umum, perbaikan keadaan sosial dan ekonomi masyarakat Bone Bolango. Gambaran yang demikian merupakan fakta yang harus dikomunikasikan baik kepada para pimpinan dan p englola program kesehatan maupun kepada lintas sektor dan masyarakat di daerah yang didiskripsikan melalui data dan informasi. Oleh karena data dan informasi merupakan sumber daya yang strategis bagi pimpinan dan organisasi dalam pelaksanaan manajemen, mak a penyediaan data/informasi yang berkualitas sangat diperlukan sebagai masukan dalam proses pengambilan keputusan. Di bidang kesehatan, data dan informasi ini diperoleh melalui penyelenggaraan Sistem Informasi Kesehatan. Salah satu luaran utama dari penyelenggaraan sistem informasi kesehatan adalah Profil Kesehatan. Dalam perkembangannya, profil kesehatan ini menjadi paket sajian data dan informasi yang sangat penting, karena sangat dibutuhkan baik oleh jajaran kesehatan, lintas sektor maupun masyarakat. Namun disadari, sistem informasi kesehatan yang ada saat ini masih belum dapat memenuhi kebutuhan data dan informasi kesehatan secara optimal, apalagi dalam era desentralisasi, pengumpulan data dan informasi dari Puskesmas menjadi relatif lebih sulit. Hal in i berimplikasi pada kualitas data dan informasi yang disajikan di dalam Profil Kesehatan Kabupaten Bone Bolango yang terbit saat ini belum sesuai dengan harapan.

Walaupun demikian, diharapkan Profil Kesehatan Kabupaten Bone Bolango ini tetap dapat memberikan gambaran secara garis besar dan menyeluruh tentang seberapa jauh perubahan dan perbaikan keadaan kesehatan masyarakat yang telah dicapai.

Betapapun, Profil Kesehatan Kabupaten Bone Bolango ini belum mendapat apresiasi yang memadai karena belum dapat menyajikan data dan informasi yang sesuai dengan harapan, namun paket sajian ini merupakan satu -satunya publikasi data dan informasi di jajaran kesehatan yang relatif paling lengkap sehingga kehadirannya selalu ditunggu. Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan kualitas Profil Kabupaten Bone Bolango, Dinas Kesehatan Kabupaten Bone Bolango senantiasa mencari terobosan-terobosan dalam hal mekanisme pengumpulan data dan informasi secara cepat untuk mengisi ketidaktersediaan data dan informasi khususnya yang bersumber dari puskesmas.

6.2 SARAN

1.

Dari hasil-hasil tersebut di atas, dapat dilihat bahwa masih ada pelaksanaan program yang belum mencapai hasil yang optimal. Hal tersebut menunjukkan masih perlunya perhatian dan penanganan yang lebih serius karena pembangunan kesehatan tetap merupakan kebutuhan masyarakat yang perlu ditingkatkan secara terus menerus sesuai dengan perkembangan pembangunan nasional.

2.

Penyusunan buku Profil kesehatan Kabupaten Bone Bolango tahun 2009 telah diupayakan untuk lebih baik dari tahun -tahun sebelumnya, baik dari segi kualitas data maupum analisisnya. Namun disadari pula dalam penyusunan buku Profil kesehatan ini masih ditemui banyak hambatan terutama dikarenakan pada tahun 2009 Profil kesehatan disusun dengan format yang baru, berbeda dengan tahun -tahun sebelumnya sehingga banyak tabel-tabel yang tidak dapat terisi. Oleh karena itu untuk penyusunan Profil Kesehatan di tahun -tahun mendatang diharapkan format

tidak selalu berubah tetapi tetap mengakomodir kebutuhan data dan informasi guna evaluasi dan perencanaan tahunan kegiatan pembangunan kesehatan. 3. Ketidaklengkapan tabel-tabel dalam Profil Kesehatan tahun ini salah satunya disebabkan karena ada be berapa item data yang tidak jelas definisi operasionalnya. Oleh karena itu untuk tahu -tahun mendatang setiap data yang dibutuhkan perlu disertai dengan definisi operasional yang jelas. 4. Perlu peningkatan kemampuan/ketrampilan pengelol a data dan pemegang program dalam mencermati data guna peningkatan validitas data dan tidak selalu terulang adanya data -data yang tidak akurat . 5 . Perlu dilaksanakan kegiata rapid survey untuk mendukung validitas

serta keakuratan data Profil kesehatan. 6 . Perlu dibuat suatu software data base untuk keperluan

penyusunan profil kesehatan. Semoga Buku Profil Kesehatan Tahun 2009 ini dapat bermanfaat. Kritik dan saran sangat kami harapkan demi perbaikan Buku Profil Kesehatan pada tahun-tahun mendatang.

SEKIAN

UMAT, 09 APRIL 2010

Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
1. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan Anak memiliki suatu ciri yang khas yaitu selalu tumbuh dan berkembang sejak konsepsi sampai berakhirnya masa remaja. Hal ini yang membedakan anak dengan dewasa. Anak bukan dewasa kecil. Anak menunjukkan ciri-ciri pertumbuhan dan perkembangan yang sesuai dengan usianya. Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interselular, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat. Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. Pertumbuhan terjadi secara simultan dengan perkembangan. Berbeda dengan pertumbuhan, perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya, misalnya perkembangan sistem neuromuskuler, kemampuan bicara, emosi dan sosialisasi. Kesemua fungsi tersebut berperan penting dalam kehidupan manusia yang utuh.

2. Ciri-ciri dan Prinsip-prinsip Tumbuh Kembang Anak. Proses tumbuh kembang anak mempunyai beberapa ciri-ciri yang saling berkaitan. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut: 1). Perkembangan menimbulkan perubahan. Perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan. Setiap pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi. Misalnya perkembangan intelegensia pada seorang anak akan menyertai pertumbuhan otak dan serabut saraf. 2). Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan perkembangan selanjutnya. Setiap anak tidak akan bisa melewati satu tahap perkembangan sebelum ia melewati tahapan sebelumnya. Sebagai contoh, seorang anak tidak akan bisa berjalan sebelum ia bisa berdiri. Seorang anak tidak akan bisa berdiri jika pertumbuhan kaki dan bagian tubuh lain yang terkait dengan fungsi berdiri anak terhambat. Karena itu perkembangan awal ini merupakan masa kritis karena akan menentukan perkembangan selanjutnya. 3). Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda. Sebagaimana pertumbuhan, perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda-beda, baik dalam pertumbuhan fisik maupun perkembangan fungsi organ dan perkembangan pada masing-masing anak. 4). Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan. Pada saat pertumbuhan berlangsung cepat, perkembangan pun demikian, terjadi peningkatan mental, memori, daya nalar, asosiasi dan lain-lain. Anak sehat, bertambah umur, bertambah

berat dan tinggi badannya serta bertambah kepandaiannya. 5). Perkembangan mempunyai pola yang tetap. Perkembangan fungsi organ tubuh terjadi menurut dua hukum yang tetap, yaitu:
a. Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah kepala, kemudian menuju ke arah kaudal/anggota tubuh (pola sefalokaudal). b. Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah proksimal (gerak kasar) lalu berkembang ke bagian distal seperti jari-jari yang mempunyai kemampuan gerak halus (pola proksimodistal).

6). Perkembangan memiliki tahap yang berurutan. Tahap perkembangan seorang anak mengikuti pola yang teratur dan berurutan. Tahap-tahap tersebut tidak bisa terjadi terbalik, misalnya anak terlebih dahulu mampu membuat lingkaran sebelum mampu membuat gambar kotak, anak mampu berdiri sebelum berjalan dan sebagainya. Proses tumbuh kembang anak juga mempunyai prinsip-prinsip yang saling berkaitan. Prinsipprinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1. Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar. Kematangan merupakan proses intrinsik yang terjadi dengan sendirinya, sesuai dengan potensi yang ada pada individu. Belajar merupakan perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha. Melalui belajar, anak memperoleh kemampuan menggunakan sumber yang diwariskan dan potensi yang dimiliki anak. 2. Pola perkembangan dapat diramalkan. Terdapat persamaan pola perkembangan bagi semua anak. Dengan demikianperkembangan seorang anak dapat diramalkan. Perkembangan berlangsung dari tahapan umum ke tahapan spesifik, dan terjadi berkesinambungan. 3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Tumbuh Kembang Anak.

Pada umumnya anak memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan normal yang merupakan hasil interaksi banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain:
1. Faktor dalam (internal) yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak. 1. Ras/etnik atau bangsa. Anak yang dilahirkan dari ras/bangsa Amerika, maka ia tidak memiliki faktor herediter ras/bangsa Indonesia atau sebaliknya. 2. Keluarga. Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi, pendek, gemuk atau kurus. 3. Umur. Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenatal, tahun pertama kehidupan dan masa remaja. 4. Jenis kelamin. Fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang lebih cepat daripada laki laki. Tetapi setelah melewati masa pubertas, pertumbuhan anak laki-laki akan lebih cepat.

2. 1.

2.

3.

5. Genetik. Genetik (heredokonstitusional) adalah bawaan anak yaitu potensi anak yang akan menjadi ciri khasnya. Ada beberapa kelainan genetik yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak seperti kerdil. 6. Kelainan kromosom. Kelainan kromosom umumnya disertai dengan kegagalan pertumbuhan seperti pada sindroma Down s dan sindroma Turner s. Faktor luar (eksternal). Faktor Prenatal 1. a. Gizi 2. Nutrisi ibu hamil terutama dalam trimester akhir kehamilan akan mempengaruhi pertumbuhan janin. 3. b. Mekanis 4. Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kelainan kongenital seperti club foot. 5. c. Toksin/zat kimia 6. Beberapa obat-obatan seperti Aminopterin, Thalidomid dapat menyebabkan kelainan kongenital seperti palatoskisis. 7. d. Endokrin 8. Diabetes melitus dapat menyebabkan makrosomia, kardiomegali, hiperplasia adrenal. 9. e. Radiasi 10. Paparan radium dan sinar Rontgen dapat mengakibatkan kelainan pada janin seperti mikrosefali, spina bifida, retardasi mental dan deformitas anggota gerak, kelainan kongential mata, kelainan jantung. 11. f. Infeksi 12. Infeksi pada trimester pertama dan kedua oleh TORCH (Toksoplasma, Rubella, Sitomegalo virus, Herpes simpleks) dapat menyebabkan kelainan pada janin: katarak, bisu tuli, mikrosefali, retardasi mental dan kelainan jantung kongenital. 13. g. Kelainan imunologi 14. Eritobaltosis fetalis timbul atas dasar perbedaan golongan darah antara janin dan ibu sehingga ibu membentuk antibodi terhadap sel darah merah janin, kemudian melalui plasenta masuk dalam peredaran darah janin dan akan menyebabkan hemolisis yang selanjutnya mengakibatkan hiperbilirubinemia dan Kern icterus yang akan menyebabkan kerusakan jaringan otak. 15. h. Anoksia embrio 16. Anoksia embrio yang disebabkan oleh gangguan fungsi plasenta menyebabkan pertumbuhan terganggu. 17. i. Psikologi ibu 18. Kehamilan yang tidak diinginkan, perlakuan salah/kekerasan mental pada ibu hamil dan lain-lain. Faktor Persalinan Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala, asfiksia dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak. Faktor Pascasalin 1. Gizi Untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan yang adekuat. 2. Penyakit kronis/ kelainan kongenital Tuberkulosis, anemia, kelainan jantung bawaan mengakibatkan retardasi pertumbuhan jasmani. 3. Lingkungan fisis dan kimia. Lingkungan sering disebut melieu adalah tempat anak tersebut hidup yang berfu ngsi

4.

5.

6.

7.

8.

9.

sebagai penyedia kebutuhan dasar anak (provider). Sanitasi lingkungan yang kurang baik, kurangnya sinar matahari, paparan sinar radioaktif, zat kimia tertentu (Pb, Mercuri, rokok, dll) mempunyai dampak yang negatif terhadap pertumbuhan anak. Psikologis Hubungan anak dengan orang sekitarnya. Seorang anak yang tidak dikehendaki oleh orang tuanya atau anak yang selalu merasa tertekan, akan mengalami hambatan di dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Endokrin Gangguan hormon, misalnya pada penyakit hipotiroid akan menyebabkan anak mengalami hambatan pertumbuhan. Sosio-ekonomi Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan, kesehatan lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan, akan menghambat pertumbuhan anak. Lingkungan pengasuhan Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu-anak sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Stimulasi Perkembangan memerlukan rangsangan/stimulasi khususnya dalam keluarga, misalnya penyediaan alat mainan, sosialisasi anak, keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain terhadap kegiatan anak. Obat-obatan Pemakaian kortikosteroid jangka lama akan menghambat pertumbuhan, demikian halnya dengan pemakaian obat perangsang terhadap susunan saraf yang menyebabkan terhambatnya produksi hormon pertumbuhan.

4. Aspek-aspek Perkembangan yang Dipantau. 1). Gerak kasar atau motorik kasar adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan pergerakan dan sikap tubuh yang melibatkan otot-otot besar seperti duduk, berdiri, dan sebagainya. 2). Gerak halus atau motorik halus adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan oleh otototot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat seperti mengamati sesuatu, menjimpit, menulis, dan sebagainya. 3). Kemampuan bicara dan bahasa adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, berbicara, berkomunikasi, mengikuti perintah dan sebagainya. 4). Sosialisasi dan kemandirian adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri anak (makan sendiri, membereskan mainan selesai bermain), berpisah dengan ibu/pengasuh anak, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya, dan sebagainya. 5. Periode Tumbuh Kembang Anak. Tumbuh-Kembang anak berlangsung secara teratur, saling berkaitan dan berkesinambungan yang dimulai sejak konsepsi sampai dewasa.Tumbuh kembang anak terbagi dalam beberapa periode. Berdasarkan beberapa kepustakaan, maka periode tumbuh kembang anak adalah sebagai berikut:
1. Masa prenatal atau masa intra uterin (masa janin dalam kandungan). Masa ini dibagi menjadi 3 periode, yaitu : o Masa zigot/mudigah, sejak saat konsepsi sampai umur kehamilan 2 minggu.

o Masa embrio, sejak umur kehamilan 2 minggu sampai 8/12 minggu. Ovum yang telah dibuahi dengan cepat akan menjadi suatu organisme, terjadi diferensiasi yang berlangsung dengan cepat, terbentuk sistem organ dalam tubuh. o Masa janin/fetus, sejak umur kehamilan 9/12 minggu sampai akhir kehamilan. Masa ini terdiri dari 2 periode yaitu: Masa fetus dini yaitu sejak umur kehamilan 9 minggu sampai trimester ke-2 kehidupan intra uterin. Pada masa ini terjadi percepatan pertumbuhan, pembentukan jasad manusia sempurna. Alat tubuh telah terbentuk serta mulai berfungsi. Masa fetus lanjut yaitu trimester akhir kehamilan. Pada masa ini pertumbuhan berlangsung pesat disertai perkembangan fungsi-fungsi. Terjadi transfer Imunoglobin G (Ig G) dari darah ibu melalui plasenta. Akumulasi aasam lemak esensial seri Omega 3 (Docosa Hexanic Acid) dan Omega 6 (Arachidonic Acid) pada otak dan retina. Periode yang paling penting dalam masa prenatal adalah trimester pertama kehamilan. Pada periode ini pertumbuhan otak janin sangat peka terhadap pengaruh lingkungan janin. Gizi kurang pada ibu hamil, infeksi, merokok dan asap rokok, minuman beralkohol, obat-obat, bahan-bahan toksik, pola asuh, depresi berat, faktor psikologis seperti kekerasan terhadap ibu hamil, dapat menimbulkan pengaruh buruk bagi pertumbuhan janin dan kehamilan. Pada setiap ibu hamil, dianjurkan untuk selalu memperhatikan gerakan janin setelah kehamilan 5 bulan. Agar janin dalam kandungan tumbuh dan berkembang menjadi anak sehat, maka selama masa intra uterin, seorang ibu diharapkan: o Menjaga kesehatannya dengan baik. o Selalu berada dalam lingkungan yang menyenangkan. o Mendapat nutrisi yang sehat untuk janin yang dikandungnya. o Memeriksa kesehatannya secara teratur ke sarana kesehatan. o Memberi stimulasi dini terhadap janin. o Tidak mengalami kekurangan kasih sayang dari suami dan keluarganya. o Menghindari stres baik fisik maupun psikis. o Tidak bekerja berat yang dapat membahayakan kondisi kehamilannya. 2. Masa bayi (infancy) umur 0 sampai 11 bulan. Masa ini dibagi menjadi 2 periode, yaitu : o Masa neonatal, umur 0 sampai 28 hari. Pada masa ini terjadi adaptasi terhadap lingkungan dan terjadi perubahan sirkulasi darah, serta mulainya berfungsi organ-organ. Masa neonatal dibagi menjadi 2 periode: Masa neonatal dini, umur 0 - 7 hari. Masa neonatal lanjut, umur 8 - 28 hari. Hal yang paling penting agar bayi lahir tumbuh dan berkembang menjadi anak sehat adalah: Bayi lahir ditolong oleh tenaga kesehatan yang terlatih, di sarana kesehatan yang memadai. Untuk mengantisipasi risiko buruk pada bayi saat dilahirkan, jangan terlambat pergi ke sarana kesehatan bila dirasakan sudah saatnya untuk melahirkan. Saat melahirkan sebaiknya didampingi oleh keluarga yang dapat menenangkan perasaan ibu. Sambutlah kelahiran anak dengan perasaan penuh suka cita dan penuh rasa syukur. Lingkungan yang seperti ini sangat membantu jiwa ibu dan bayi yang dilahirkannya. Berikan ASI sesegera mungkin. Perhatikan refleks menghisap diperhatikan oleh karena

berhubungan dengan masalah pemberian ASI. o Masa post (pasca) neonatal, umur 29 hari sampai 11 bulan. Pada masa ini terjadi pertumbuhan yang pesat dan proses pematangan berlangsung secara terus menerus terutama meningkatnya fungsi sistem saraf. Seorang bayi sangat bergantung pada orang tua dan keluarga sebagai unit pertama yang dikenalnya. Beruntunglah bayi yang mempunyai orang tua yang hidup rukun, bahagia dan memberikan yang terbaik untuk anak. Pada masa ini, kebutuhan akan pemeliharaan kesehatan bayi, mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan penuh, diperkenalkan kepada makanan pendamping ASI sesuai umurnya, diberikan imunisasi sesuai jadwal, mendapat pola asuh yang sesuai. Masa bayi adalah masa dimana kontak erat antara ibu dan anak terjalin, sehingga dalam masa ini, pengaruh ibu dalam mendidik anak sangat besar. 3. Masa anak dibawah lima tahun (anak balita, umur 12-59 bulan). Pada masa ini, kecepatan pertumbuhan mulai menurun dan terdapat kemajuan dalam perkembangan motorik (gerak kasar dan gerak halus) serta fungsi ekskresi. Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah pada masa balita. Pertumbuhan dasar yang berlangsung pada masa balita akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Setelah lahir terutama pada 3 tahun pertama kehidupan, pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak masih berlangsung; dan terjadi pertumbuhan serabut serabut syaraf dan cabangcabangnya, sehingga terbentuk jaringan syaraf dan otak yang kompleks. Jumlah dan pengaturan hubungan-hubungan antar sel syaraf ini akan sangat mempengaruhi segala kinerja otak, mulai dari kemampuan belajar berjalan, mengenal huruf, hingga bersosialisasi. Pada masa balita, perkembangan kemampuan bicara dan bahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya. Perkembangan moral serta dasar-dasar kepribadian anak juga dibentuk pada masa ini, sehingga setiap kelainan/penyimpangan sekecil apapun apabila tidak dideteksi apalagi tidak ditangani dengan baik, akan mengurangi kualitas sumber daya manusia dikemudian hari. 4. Masa anak prasekolah (anak umur 60-72 bulan).

Pada masa ini, pertumbuhan berlangsung dengan stabil. Terjadi perkembangan dengan aktivitas jasmani yang bertambah dan meningkatnya ketrampilan dan proses berfikir. Memasuki masa prasekolah, anak mulai menunjukkan keinginannya, seiring dengan pertumbuhan dan perkembangannya. Pada masa ini, selain lingkungan di dalam rumah maka lingkungan di luar rumah mulai diperkenalkan. Anak mulai senang bermain di luar rumah. Anak mulai berteman, bahkan banyak keluarga yang menghabiskan sebagian besar waktu anak bermain di luar rumah dengan cara membawa anak ke taman-taman bermain, taman-taman kota, atau ke tempattempat yang menyediakan fasilitas permainan untuk anak. Sepatutnya lingkungan-lingkungan tersebut menciptakan suasana bermain yang bersahabat untuk anak (child friendly environment). Semakin banyak taman kota atau taman bermain dibangun untuk anak, semakin baik untuk menunjang kebutuhan anak. Pada masa ini anak dipersiapkan untuk sekolah, untuk itu panca indra dan sistim reseptor penerima rangsangan serta proses memori harus sudah siap sehingga anak mampu belajar dengan baik. Perlu diperhatikan bahwa proses belajar pada masa ini adalah dengan cara bermain.

Orang tua dan keluarga diharapkan dapat memantau pertumbuhan dan perkembangan anaknya, agar dapat dilakukan intervensi dini bila anak mengalami kelainan atau gangguan. 6. Tahapan Perkembangan Anak Menurut Umur
Umur 0-3 bulan o Mengangkat kepala setinggi 45 0 . o Menggerakkan kepala dari kiri/kanan ke tengah. o Melihat dan menatap wajah anda. o Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh. o Suka tertawa keras. o Bereaksi terkejut terhadap suara keras. o Membalas tersenyum ketika diajak bicara/tersenyum. o Mengenal ibu dengan penglihatan, penciuman, pendengaran, kontak Umur 3-6 bulan o Berbalik dari telungkup ke telentang. o Mengangkat kepala setinggi 90o. o Mempertahankan posisi kepala tetap tegak dan stabil. o Menggenggam pensil. o Meraih benda yang ada dalam jangkauannya. o Memegang tangannya sendiri. o Berusaha memperluas pandangan. o Mengarahkan matanya pada benda-benda kecil. o Mengeluarkan suara gembira bernada tinggi atau memekik. o Tersenyum ketika melihat mainan/gambar yang menarik saat bermain sendiri. Umur 6-9 bulan o Duduk (sikap tripoid sendiri). o Belajar berdiri, kedua kakinya menyangga sebagian berat badan. o Merangkak meraih mainan atau mendekati seseorang.

o Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lainnya. o Memungut 2 benda, masing-masing tangan pegang 1 benda pada saat yang bersamaan. o Memungut benda sebesar kacang dengan cara meraup. o Bersuara tanpa arti, mamama, bababa, dadada, tatatata. o Mencari mainan/benda yang dijatuhkan. o Bermain tepuk tangan/ciluk ba. o Bergembira dengan melempar benda. o Makan kue sendiri. Umur 9-12 bulan o Mengangkat badannya ke posisi berdiri. o Belajar berdiri selama 30 detik atau berpegangan di kursi. o Dapat berjalan dengan dituntun. o Mengulurkan lengan/badan untuk meraih mainan yang diinginkan. o Mengenggam erat pensil. o Memasukkan benda ke mulut. o Mengulang menirukan bunyi yang didengar. o Menyebut 2-3 suku kata yang sama tanpa arti. o Mengeksplorasi sekitar, ingin tahu, ingin menyentuh apa saja. o Bereaksi terhadap suara yang perlahan atau bisikan. o Senang diajak bermain CILUK BA o Mengenal anggota keluarga, takut pada orang yang belum dikenal. Umur 12-18 bulan o Berdiri sendiri tanpa berpegangan. o Membungkuk memungut mainan kemudian berdiri kembali. o Berjalan mundur 5 langkah. o Memanggil ayah dengan kata papa , memanggil ibu dengan kata mama . o Menumpuk 2 kubus.

o Memasukkan kubus di kotak.

o Menunjuk apa yang diinginkan tanpa menangis/merengek, anak bisa mengeluarkan suara yang menyenangkan atau men o Memperlihatkan rasa cemburu / bersaing. Umur 18-24 bulan o Berdiri sendiri tanpa berpegangan 30 detik. o Berjalan tanpa terhuyung-huyung. o Bertepuk tangan, melambai-lambai. o Menumpuk 4 buah kubus. o Memungut benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk. o Menggelindingkan bola kearah sasaran. o Menyebut 3 6 kata yang mempunyai arti. o Membantu/menirukan pekerjaan rumah tangga. o Memegang cangkir sendiri, belajar makan - minum sendiri. Umur 24-36 bulan o Jalan naik tangga sendiri. o Dapat bermain dan menendang bola kecil. o Mencoret-coret pensil pada kertas. o Bicara dengan baik, menggunakan 2 kata. o Dapat menunjuk 1 atau lebih bagian tubuhnya ketika diminta. o Melihat gambar dan dapat menyebut dengan benar nama 2 benda atau lebih. o Membantu memungut mainannya sendiri atau membantu mengangkat piring jika diminta. o Makan nasi sendiri tanpa banyak tumpah. o Melepas pakaiannya sendiri. Umur 36-48 bulan o Berdiri 1 kaki 2 detik o Melompat kedua kaki diangkat o Mengayuh sepeda roda tiga.

o Menggambar garis lurus o Menumpuk 8 buah kubus. o Mengenal 2-4 warna. o Menyebut nama, umur, tempat. o Mengerti arti kata di atas, di bawah, di depan. o Mendengarkan cerita. o Mencuci dan mengeringkan tangan sendiri o Bermain bersama teman, mengikuti aturan permainan o Mengenakan sepatu sendiri. o Mengenakan celana panjang, kemeja, baju Umur 48-60 bulan o Berdiri 1 kaki 6 detik. o Melompat-lompat 1 kaki. o Menari. o Menggambar tanda silang. o Menggambar lingkaran. o Menggambar orang dengan 3 bagian tubuh. o Mengancing baju atau pakaian boneka. o Menyebut nama lengkap tanpa dibantu o Senang menyebut kata-kata baru. o Senang bertanya tentang sesuatu o Menjawab pertanyaan dengan kata-kata yang benar. o Bicaranya mudah dimengerti o Bisa membandingkan/membedakan sesuatu dari ukuran dan bentuknya o Menyebut angka, menghitung jari o Menyebut nama-nama hari o Berpakaian sendiri tanpa dibantu.

o Menggosok gigi tanpa dibantu. o Bereaksi tenang dan tidak rewel ketika ditinggal ibu. Umur 60-72 bulan o Berjalan lurus. o Berdiri dengan 1 kaki selama 11 detik. o Menggambar dengan 6 bagian, menggambar orang lengkap o Menangkap bola kecil dengan kedua tangan o Menggambar segi empat. o Mengerti arti lawan kata o Mengerti pembicaraan yang menggunakan 7 kata atau lebih o Menjawab pertanyaan tentang benda terbuat dari apa dan kegunaannya. o Mengenal angka, bisa menghitung angka 5 -10 o Mengenal warna-warni o Mengungkapkan simpati o Mengikuti aturan permainan

o Berpakaian sendiri tanpa dibantu 7. Beberapa Gangguan Tumbuh-Kembang Yang Sering Ditemukan.
1. Gangguan bicara dan bahasa. Kemampuan berbahasa merupakan indikator seluruh perkembangan anak. Karena kemampuan berbahasa sensitif terhadap keterlambatan ataukerusakan pada sistem lainnya, sebab melibatkan kemampuan kognitif, motor, psikologis, emosi dan lingkungan sekitar anak. Kurangnya stimulasi akan dapat menyebabkan gangguan bicara dan berbahasa bahkan gangguan ini dapat menetap. 2. Cerebral palsy. Merupakan suatu kelainan gerakan dan postur tubuh yang tidak progresif, yang disebabkan oleh karena suatu kerusakan/gangguan pada sel-sel motorik pada susunan saraf pusat yang sedang tumbuh/belum selesai pertumbuhannya. 3. Sindrom Down. Anak dengan Sindrom Down adalah individu yang dapat dikenal dari fenotipnya dan mempunyai kecerdasan yang terbatas, yang terjadi akibat adanya jumlah kromosom 21 yang berlebih. Perkembangannya lebih lambat dari anak yang normal. Beberapa faktor seperti kelainan jantung kongenital, hipotonia yang berat, masalah biologis atau lingkungan lainnya dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan motorik dan keterampilan untuk menolong diri sendiri. 4. Perawakan Pendek. Short stature atau Perawakan Pendek merupakan suatu terminologi mengenai tinggibadan

yang berada di bawah persentil 3 atau -2 SD pada kurva pertumbuhan yang berlaku pada populasi tersebut. Penyebabnya dapat karena varisasi normal, gangguan gizi, kelainan kromosom, penyakit sistemik atau karena kelainan endokrin. 5. Gangguan Autisme. Merupakan gangguan perkembangan pervasif pada anak yang gejalanya muncul sebelum anak berumur 3 tahun. Pervasif berarti meliputi seluruh aspek perkembangan sehingga gangguan tersebut sangat luas dan berat, yang mempengaruhi anak secara mendalam. Gangguan perkembangan yang ditemukan pada autisme mencakup bidang interaksi sosial, komunikasi dan perilaku. 6. Retardasi Mental. Merupakan suatu kondisi yang ditandai oleh intelegensia yang rendah (IQ <> 7. Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) Merupakan gangguan dimana anak mengalami kesulitan untuk memusatkan perhatian yang seringkali disertai dengan hiperaktivitas. Sumber: dr Kusnandi Rusmil, Bab 2 Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Tumbuh Kembang Anak Ditingkat Departemen Kesehatan RI - Tahun 2006 Diposkan oleh panjisuroso di 08:55 SpA(K), Deteksi dan Intervensi Pelayanan Kesehatan MM Dini Dasar

0 komentar: Poskan Komentar Link ke posting ini
Buat sebuah Link
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langgan: Poskan Komentar (Atom)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->