P. 1
Aset Negara Gelora Bung Karno Senayan

Aset Negara Gelora Bung Karno Senayan

|Views: 52|Likes:
Published by Indoplaces
Uploaded from Google Docs
Uploaded from Google Docs

More info:

Published by: Indoplaces on May 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/25/2011

pdf

text

original

S E K R E T A R I A T N A S I O N A L Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran Indonesian Forum for Budget Transparency

Jl. Duren Tiga Selatan No. 68 A Jakarta Selatan, 12740 Telefax: (021) 7972034, e-mail: seknas_fitra@yahoo.com ; sekretariat@seknasfitra.org Mail group : fitra@yahoogroup.com, Website: www.seknasfitra.org

SIARAN PERS FITRA

Tanya kenapa???Aset Gelora Bung Karno senilai Rp.50.1 Triliun, dan Kontribusi kepada Negara hanya sekitar Rp.15.8 miliar.
GBK (Gelora Bung Karno) mempunyai luas tanah 279.1 Ha . Kemudian, hasil inventarisasi seluruh aset GBK yang dilakukan oleh Tim BPKP tahun 2008, dan dinilai oleh Tim DJKN (Direktorat Jenderal Kekayaan Negara), Kementerian keuangan Tahun 2008, seluruh aset GBK ditaksir dengan nilai Rp.50.1 Triliun, dengan penjelasan sebagai berikut:

N o 1 2 3 4

Nama Barang Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Jalan, Irigasi dan Jaringan Jumlah

Nilai Wajar (RP) 49.126.014.145 .300 41.099.714.523 913.268.273.00 0 50.582.541.883 50.130.964.674 .706

Sumber data: diolah seknas fitra dari tanggapan Menteri sekretaris negara kepada komisi II DPR Kemudian, aset Luas tanah GBK yang semula 279.1 Ha, telah berkurang setelah digunakan untuk kepentingan instansi pemerintah dengan luas 60.41 ha atau senilai Rp.11.3 Triliun. Dengan demikian,luas aset tanah GBK menjadi 218.67 Ha atau senilai Rp.37.7 Triliun setelah dikurangi oleh instansi pemerintah. Dan komposisi penggunaan lahan pada kawasan GBK adalah sebagai berikut: No Kawasan Lahan Luas % 1 Kawasan Olahraga 147.43 Ha 52.82% 2 Kawasan 60.41 Ha 21.65% pemerintah 3 Kawasan 71.24 Ha 25.53% Kerjasama Sumber data: diolah seknas fitra dari tanggapan Menteri sekretaris negara kepada komisi II DPR Kemudian, yang menjadi permasalahan adalah lahan atau kawasan kerjasama antara pemerintah dengan perusahaan swasta. Dimana, sejak zaman pemerintah Soeharto sampai SBY, negara selalu dirugikan oleh pihak perusahaan Swasta. Kalau zaman pemerintah Soeharto, negara dirugikan oleh perusahaan swasta merupakan persoalan lumrah. Tetapi, kalau zaman sekarang, zamannya pemerintah SBY, negara juga dirugikan oleh perusahaan swasta, karena pemerintah SBY melakukan: 1). Melakukan Addendum perjanjian dengan pihak Perusahaan, namun tetap saja merugikan negara karena kontribusi sangat kecil kepada negara, tetapi sangat menguntungkan para kantong pejabat setneg; 2). Setneg

dibawah pemerintah SBY, Tidak mau melakukan addendum perjanjian dengan pihak perusahaan yang menyewa lahan GBK,sebab sangat menguntungkan para pejabat setneg tersebut. Walaupun, perjanjian ini telah ditandatangani pada zaman pemerintah Seoharto, yang kontribusi kepada kas negara sangat kecil. Dan berikut ini adalah perusahaan Swasta yang diaddendum perjanjiannya, dan ada juga perjanjian baru yang dilakukan oleh sekretariat negara zaman pemerintah SBY sebagaiberikut: No Perusahaan Perjanjian/Obj Kontribusi Perusahaan Kepada eknya Negara Tetap Variable 1 PT. ANEKA BINA  Perjanjian tgl  Tahun 1 - 15: LESTARI (ABL) 12/01/2001 sebesar Sudirman Place &  Addendum Rp.559.050.000/t Menara olahraga hn tgl 22/07/2009  Tahun 16 - 25: Rp.670.860.000/t  Lahan seluas hn ± 10.250 m2  20 tahun.  Tahun 26 - 35: Rp.894.480.000/t 1/12/1990 s/d hn 30/11/2010 2 KAJIMA  Perjanjian OVERSERAS ditandatanga ASIA,PTE LTD./PT ni 4/7/1989 SENAYAN  Perubahaan TRIKARYA terhadap SEMPANA (Plaza perjanjian Senayan) pokok tgl 16/10/2009 berkaitan dengan kenaikan dengan kenaikan kontribusi berlaku sejak 1/04/2005  Lahan seluas ± 20 Ha  40 tahun. PT.MANDIRI  Perjanjian tgl KARYA INDAH 12/01/2001 SEJAHTERA  Addendum (STC Senayan) tgl 16/04/2007  Luas Lahan menjadi 5.569 m2  30 tahun. 12/01/2001 s/d 6/03/2033  Sejak Permulaan s/d Maret 2005: US$ 400.000/tahun  April 2005 s/d Maret 2006: US$: 550.000/tahun  April 2006 s/d Maret 2009: US$ 600.000/Tahun  April 2009 s/d Maret 2012: US$ 650.000/Tahun  April 2012 s/d Maret 2017: US$ 700.000/Tahun  Maret 2022: US$ 800.000/tahun  Tahun 2003 -  3.5% dari 2007: gross Rp.208.180.000/t renenue hn setelah dikurangi  Tahun 2008 operating 2012: cost yang Rp.370.700.000/t jumlahnya hn tidak  Tahun 2012 melebihi 2017: 20% Rp.624.560.000/t  Contoh hn

3

2

4

PT.ARIOBIMO  perjanjian tgl LAGUNA PERKASA 19/04/1995 (PT.ALP) Taman  BRP (Yayasan Ria Senayan Karya Bhakti Ria Pembanguna n)mendapat konsesi 35 tahun pengelolaan tanah atas dasar keputusan mensesneg/k etua BPGBS No: 1/K/BPSenayan/199 2 tgl 9 maret 1992  YKBRP adakan perjanjian dengan ALP 20 thn tmt 18/11/1999  Tanggal 19/4/1995 perpanjangan perjanjian menjadi 30 tahun s/d 16/7/2027  Kpt sesneg/ketua BPGBK No.64a tahun 2004 tgl 8/09/2004 mencabut konsesi kpd YKBRP dengan PT.ALP

 Tahun 2018 2022: Rp.1.249.000.000  Tahun 2023 2027: Rp.2.018.850.000 /th  Tahun 2018 2032: Rp.3.435.000.000  Tahun ke-I : nihil  Tahun ke-2: Rp.500 juta/thn  Tahun ke-3 s/d ke-7:Rp.950 juta/thn  Tahun ke-8 s/d ke-12: Rp.1.2 miliar/thn  Tahun ke-13 s/d ke-17:Rp.1.5 miliar/thn  Tahun ke-18 s/d ke-22: Rp.1.75 miliar/thn  Tahun ke-23 s/d ke-27: Rp.2 miliar/thn

untuk 2009 sebesar Rp.6.898.4 84.585.

3

dilanjutkan oleh BPGBK  BPGBK adakan perjanjian dengan PT.ALP tgl 11/07/2008 5 PT.ARCHIPELAGO  Perjanjian tgl  Thn ke 3 - 12 SAPTA PESONA 2/05/2007 operasional: (PT.ASP) Rp.500 juta/thn  Amandemen Bangunan sarana tgl 4/09/2009  Thn ke 13 - 17 olahraga yang  Lahan seluas operasional: Rp.1 dilengkapi dengan miliar/thn 7 Ha pada ruang serbaguna blok 10  Thn ke 18 - 22 olahraga beserta operasional: fasilitasnya Rp.1.935 miliar/thn  thn ke 23 selesai Rp.3 miliar/thn 6 PT.MITRA  Perjanjian  Tahun 15: INDOTAMA dengan Rp.900 juta/thn KARSAJAYA YKBRP tgl  Tahun 6 – 10: (Pembangunan, 10/9/1996 Rp.950 juta pengelolaan  Keputusan  Thn 11 – 15: Rp.1 Restoran Pulau Sesneg/ketua miliar Dua di Taman Ria BPGBK  Thn 15 – 20: Senayan) No.64a tahun Rp.1.050 miliar 2004 tgl  Tahun 21 -28: 8/09/2004 Rp.21 – 28 1.1 mencabut miliar konsesi kepada YKBRP.  Perjanjian dengan BPGBK tgl 30/8/2005  28 tahun 7 PT.INDOBUILDCO  Perjanjian tgl  Tgl 1/7/2000 – (untuk jalur jalan 1/5/2006 31/12/2005: Rp. keluar masuk  15 tahun 1.9 miliar hotel dan taman)  1/1/2006 – 31/12/2010: Rp.2.3 miliar  1/7/2011 – 31/12/2015: Rp.3.5 miliar Sumber data: diolah seknas FITRA dari hasil inventarisasi seluruh aset GBK yang dilakukan oleh Tim BPKP tahun 2008; dan Pusat Pengelolaan

Komplek Gelora Bung Karno

4

Kemudian, dari tabel diatas, bisa ditemukan permasalahan sebagai berikut: 1) Dari 19 Perusahaan yang melakukan sewa lahan GBK, ada 5 perusahaan yang melakukan addendum baru, dan 2 perusahaan dengan perjanjian baru dengan setneg (sekretariat negara) pada pemerintahan SBY. Dan berarti, ada 12 perusahaan yang menyewa lahan dengan setneg pada pemerintah sebelum SBY. Dengan demikian, 12 perusahaan dengan perjanjian lama ini, rata-rata memberikan kontribusi kepada negara antara 36 – 103 juta/pertahun. Misalnya PT. Terminal Builders (Gedung Panin Bank pusat) memberikan kontribusi kepada kas negara hanya Rp.63.200.000 pertahun selama 30 tahun sejak tgl 15/1/2002 sampai 14/1/2032. Dan sebagai tambahan, sekarang Misalnya PT. Terminal Builders melakukan gugatan ke PN Jakarta selatan untuk “merampas” tanah GBK yang notabenenya HGB Misalnya PT. Terminal Builders berada diatas HPL No.1/Gelora. 2) Kemudian juga, PT.Amanajaya (Gedung Panin Bank pusat) memberikan kontribusi kepada kas negara hanya Rp.36.800.000 pertahun selama 30 tahun dimulai tgl 28/6/2004 sampai 27/6/2034. Dan sebagai tambahaan, sekarang PT.Amanajaya (Gedung Panin Bank pusat) melakukan gugatan ke PN Jakarta selatan untuk “merampas” tanah GBK yang notabenenya HGB Misalnya PT. Terminal Builders berada diatas HPL No.1/Gelora. 3) PT.RATU SAYANG INTERNASIONAL (Ratu Plaza) dengan luas lahan 17.243 m2 memberikan kontribusi kepada kas negara hanya Rp.103 juta pertahun selama 30 tahun, dan dimulai sejak tgl 26/6/2004 sampai 25/6/2034 4) Kalau pada zaman pemerintah SBY,setneg melalui pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno telah melakukan perjanjian baru sebanyak 2 perjanjian baru, dan 5 addendum baru dengan perkiraan menerima kontribusi tahun 2010 dari Perusahaan yang menyewa lahan GBK kepada kas negara sebagaiberikut: No Perusahaan Luas Lahan Penerimaan Negara dari Perusahaan Swasta 1 PT. ANEKA BINA 11.250 m2 Rp.559 juta LESTARI (ABL) pertahun Sudirman Place & Menara olahraga 2 KAJIMA 20 Ha US$ 650.000 OVERSERAS pertahun ASIA,PTE LTD./PT SENAYAN TRIKARYA SEMPANA (Plaza Senayan) 3 PT.MANDIRI 5.569 m2 374 juta KARYA INDAH pertahun SEJAHTERA (STC Senayan) 4 PT.ARIOBIMO 111.600 m2 1.5 miliar LAGUNA PERKASA

5

aset

(PT.ALP) Taman Ria Senayan 5 PT.ARCHIPELAGO 7 Ha Rp. 500 juta SAPTA PESONA pertahun (PT.ASP) Bangunan sarana olahraga yang dilengkapi dengan ruang serbaguna olahraga beserta fasilitasnya 6 PT.MITRA Rp.1 miliar INDOTAMA pertahun KARSAJAYA (Pembangunan, pengelolaan Restoran Pulau Dua di Taman Ria Senayan) 7 PT.INDOBUILDCO 9.942 m2 Rp.596.520.000 (untuk jalur jalan pertahun keluar masuk hotel dan taman) Sumber data: diolah Seknas FITRA dari hasil inventarisasi seluruh GBK yang dilakukan oleh Tim BPKP tahun 2008; dan Pusat

Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno Dari permasalahaan diatas, kami dari seknas Fitra (forum indonesia untuk Transparansi anggaran) menuntut kepada: DPR, khusus komisi II DPR agar serius membentuk panja aset negara. Dengan terbentuk panja aset negara, publik mengharapkan agar panja aset negara bisa menemukan kejanggalan-kejanggalan dalam kontrak sewa-menyewa lahan GBK senayan antara perusahaan swasta dengan pemerintah yang merugikan negara. Dan moga-moga panja aset negara DPR ini bukan bagian dari komunitas DPR untuk menekan secara politik kepada BPGBK (Badan pengurus Gelora Bung Karno), dan setneg untuk meminta bagian jatah “uang preman” dari banyak kesalahaan setneg dan PPKGBK (Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno) dalam kerjasama dengan pihak perusahaan swasta. Dan biasanya, anggota DPR sangat keras dan lantang berteriak-teriak ketika pemerintah banyak melakukan kesalahan kebijakan; anggota DPR sangat kasar kepada pemerintah bila tidak mengakomodasi kepentingan anggota dewan yang terhormat, dan sangat halus, dan lembut bila pemerintah telah memberikan bagian jatah “uang preman” kepada anggota DPR. B. DPR, agar mendesak BPK dan BPKP agar melakukan audit investigasi kepada kontrak-kontrak GBK senayan antara
A.

6

Perusahaan swasta dengan setneg. Oleh karena, kami dari seknas fitra, mencurigai setneg dan PPKGBK, dimana kedua lembaga ini telah melakukan “keanehan” yang transparans, yaitu dalam hal addendum terhadap kontrak. Setneg dan PPKGBK telah melakukan 5 addendum terhadap 5 perusahaan yang perjanjian, misalnya ditandatangani pada tahun 1989. Tetapi, ada 12 perusahaan yang perjanjian, misalnya ditandatangani pada tahun 1990, dan pemerintah tidak berani melakukan addendeum terhadap 12 perusahaan ini. Dan pertanyaan kenapa setneg tidak berani melakukan addendum terhadap 12 perusahaan ini? C. DPR, agar mendesak kepada setneg, dan PPKGBK, untuk melakukan renegosiasi ulang kepada 19 perusahaan yang melakukan penyewaan lahan GBK. Dimana dasar perhitungan kontribusi perusahaan kepada negara harus diubah dari “kontribusi tetap” yang perhitungan berdasarkan IHK (Indeks Harga Konsumen) dari BPS menjadi IHK ditambah NJOP harga tanah. Kalau hanya memakai IHK saja, maka penerimaan negara bisa turun naik sesuai IHK yang sedang berlaku. Kemudian juga, perhitungan “kontribusi Variable” yang dihitung dari gross revenue sebesar 0,5% sampai 13%, dan tidak melebihi 20%, dan perhitungan ini betul-betul merugikan penerimaan negara. Seharus gross Revenue dari perusahaan bukan 0.5% sampai 13%, tetapi 20% - 40% yang harus disetor kepada kas negara. Tetapi, seperti perusahaanperusahaan yang menyewa lahan GBK sengaja membatasi gross revenue hanya sampai 20% yang tertulis dalam perjanjian antara perusahaan dengan setneg, dan 20% lagi yang tidak tertulis sengaja disetorkan perusahaan kepada pejabat penting di setneg maupun PPKGBK. Dan sekali lagi! DPR membentuk panja Aset negara, moga-moga bukan untuk meminta bagian jatah “uang preman” yang 20% yang sudah disetor oleh Perusahaan kepada pejabat penting baik itu di setneg maupun PPKGBK. Jakarta, 20 Juni 2010

Uchok Sky Khadafi Kordinator Advokasi dan Investigasi Seknas FITRA
CP: 08121000774

7

Lampiran 1. Rincian Dana Aspirasi 8,4 Trilyun Per Propinsi.
Propinsi DKI Jakarta Kalimantan Sel Bali Kalimantan Teng Bangka Belitung Banten Kalimantan Timur Kepulauan Riau Jambi Kalimantan Barat Riau SumBar Sulawesi Utara Maluku Utara SUMUT Jawa Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Barat SumSel Jawa Timur Yogyakarta Jawa Tengah Bengkulu Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Jumlah Dapil 3 2 1 1 2 3 1 1 1 1 2 2 1 1 3 11 3 1 1 11 1 10 2 1 1 Jumlah Kursi 21 11 9 6 3 22 8 3 7 10 11 14 6 3 30 91 24 3 17 87 8 77 4 3 6 Total dana aspirasi 315,000,000,000 165,000,000,000 135,000,000,000 90,000,000,000 45,000,000,000 330,000,000,000 120,000,000,000 45,000,000,000 105,000,000,000 150,000,000,000 165,000,000,000 210,000,000,000 90,000,000,000 45,000,000,000 450,000,000,000 1,365,000,000,000 360,000,000,000 45,000,000,000 255,000,000,000 1,305,000,000,000 120,000,000,000 1,155,000,000,000 60,000,000,000 45,000,000,000 90,000,000,000 Angka Kemiskinan (2009)
3.62 5.12 5.13 7.02 7.46 7.64 7.73 8.27 8.77 9.30 9.48 9.54 9.79 10.36 11.51 11.96 12.31 15.29 16.28 16.68 17.23 17.72 18.59 18.93 18.98

8

Lampung NAD NTB NTT Gorontalo Maluku Papua Barat Papua Total

1 2 1 2 1 1 1 1 77

18 13 10 13 5 4 3 10 560

270,000,000,000 195,000,000,000 150,000,000,000 195,000,000,000 75,000,000,000 60,000,000,000 45,000,000,000 150,000,000,000 8,400,000,000,000

20.22 21.80 22.78 23.31 25.01 28.23 35.71 37.53

14.5

Sumber : Data Diolah Seknas FITRA

9

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->