P. 1
Politik Ekonomi Hukum Persaingan Usaha Di Asia_Agung Yuriandi

Politik Ekonomi Hukum Persaingan Usaha Di Asia_Agung Yuriandi

|Views: 693|Likes:
Published by Agung Yuriandi
Arah persaingan menekan Indonesia ke arah globalisasi. Dengan begitu, siap tidak siap, mampu tidak mampu Indonesia harus bisa menghadapi segala hambatan-hambatan yang ada, salah satunya infrastruktur yang masih carut marut.
Arah persaingan menekan Indonesia ke arah globalisasi. Dengan begitu, siap tidak siap, mampu tidak mampu Indonesia harus bisa menghadapi segala hambatan-hambatan yang ada, salah satunya infrastruktur yang masih carut marut.

More info:

Categories:Types, Research, Law
Published by: Agung Yuriandi on May 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

04/13/2013

POLITIK EKONOMI HUKUM PERSAINGAN USAHA DI ASIA

Agung Yuriandi Medan 2011

A.

SISTEM POLITIK Indonesia adalah negara kesatuan berbentuk republik, di mana kedaulatan

berada di tangan rakyat dan dijalankan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Indonesia menganut sistem pemerintahan presidensil, di mana Presiden berkedudukan sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan Presiden dipilih langsung oleh rakyat. 1 Sistem presidensil yang diterapkan di Indonesia memiliki corak dan karakteristik tersendiri di setiap masa dan rezim pemerintahan. Karakteristik itu disebabkan faktor sistem politik yang sedang berlaku maupun faktor corak kepemimpinan saat itu. Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, sistem presidensial lebih diposisikan sebagai sistem percobaan bagi negara yang sedang mencari bentuk dan menjalankan demokrasi yang sangat fluktuatif. Bahkan berdasarkan konsensus para elite politik saat itu, sistem presidensial sempat diganti dengan sistem parlementer. Era pemerintahan Presiden Soeharto, sistem presidensial

Marwati Djoened Poesonegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia V : Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Hindia Belanda, Cetakan 2, Edisi Pemutakhiran, (Jakarta : Balai Pustaka, 2008), hal. 1-82.

1

2

diterapkan secara pincang tanpa disertai checks and balances antara Presiden dan parlemen.2 Di antara perubahan yang paling nyata adalah semakin menguatnya peran partai politik dalam melakukan rekrutmen terhadap pemimpin-pemimpin politik. Ini jelas sangat berbeda jika dibandingkan pada masa Orde Baru. Partai-partai politik pada masa Orde Baru yang jumlahnya hanya dua partai politik karena satu partai menolak dirinya disebut partai juga tidak mempunyai konstituen di tingkat bawah. Dalam kaitan ini, seorang pengamat mengatakan bahwa pemerintahan Soeharto mempunyai sifat autocratic yang diantaranya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: pemerintahannya bersifat sentralistik dan dengan demikian tidak demokratis, sangat menekankan pada orientasi kekuasaan politik, dan tidak efisien. Partai politik menjadi lemah dan pasif, dan tidak mampu melaksanakan fungsi-fungsi politiknya, termasuk fungsi kontrol terhadap jalannya pemerintahan.3 Dari fungsi-fungsi politiknya, maka hak-hak sipil dan politik warga negara adalah meliputi hak atas jaminan yang sama terhadap warga Negara dalam berbagai bidang. Serta dalam Pasal 22 sampai dengan Pasal 27 Undang-Undang No. 39 Tahun

Checks and Balances disini berkaitan dengan pembagian kekuasaan antara Legislatif (sebagai perwakilan rakyat dan pembuat Undang-Undang), Yudikatif (lembaga Peradilan), dan Eksekutif (sebagai Pemerintah). Antara setiap lembaga harus saling mengawasi sesuai dengan sistem pemerintahan. Mengutip Lord Ackton, tujuan dari checks and balances “karena pemusatan kekuasaan pemerintahan di satu cabang akan memperbesar kemungkinan terjadinya penyalahgunaan kekuasaan dan hegemoni atas cabang-cabang kekuasaan pemerintah lainnya”. Pembuatan peraturan bersifat top down dan bottom up. Top Down berarti peraturan berasal dari atas sedangkan Bottom Up peraturan berasal dari bawah ke atas. Artinya dari atas ke bawah adalah dari pemerintah ke rakyat sedangkan dari bawah ke atas adalah dari perwakilan rakyat ke atas untuk dijadikan undang-undang. Lihat Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, Pasal 53 yang menyatakan bahwa : “masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pembahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah”. 3 Budi Winarno, Sistem Politik Indonesia Era Reformasi, (Yogjakarta : Media Pressindo, 2007), hal. 86.

2

3

1999 tentang Hak Azasi Manusia mengemukakan bahwa hak atas tunjangan ekonomi dan sosial seperti jaminan sosial sebagai suatu standar bagi kehidupan dan pendidikan yang layak. Hak-hak tersebut menegaskan semua orang mempunyai hak atas pelayanan-pelayanan dari negara kesejahteraan (welfare state).4 Untuk mengatur seluruh hak-hak sipil warga negara maka pemerintahan membutuhkan berbagai tipe aparatur Negara untuk menjamin efektivitas

terselenggaranya hak-hak sipil tersebut. Aparatur Negara sebagai unsur pelaksana penyelenggara pemerintahan negara mempunyai peran sentral dan strategis terhadap keberhasilan pembangunan nasional. Kinerja aparatur negara dari waktu ke waktu terus mengalami penyempurnaan dan peningkatan seirama dengan tuntutan dan perubahan lingkungan strategis yang berkembang begitu cepat, baik nasional, regional maupun global. 5 Di bidang peradilan, para hakim dalam menangani perkara sesuai dengan tuntutan dan aspirasi masyarakat masih belum optimal. Hal ini antara lain disebabkan oleh kurangnya kemandirian hakim sebagai akibat dari dualisme pembinaan antara yudikatif (Mahkamah Agung) dengan eksekutif (Departemen Kehakiman) pada masa lalu. Di bidang kelembagaan, masih terdapat kecenderungan pengembangan organisasi dalam Jabatan Struktural yang berdampak kurang efektif dan efisiennya pelaksanaan tugas organisasi. Di lain pihak, pengembangan jabatan fungsional yang lebih berorientasi pada profesionalisme masih belum didukung oleh
James W. Nickel, “Hak Azasi Manusia: Refleksi Filosofis atas Deklarasi Universal Hak Azasi Manusia”, elkhalil.files.wordpress.com/2010/05/hak-asasi-manusia.doc., diakses pada 08 April 2011. 5 Website Bappenas, “BAB VI : Reformasi Aparatur Negara”, www.bappenas.go.id/get-fileserver/node/6415/., diakses pada 08 April 2011.
4

4

sikap dan perilaku birokrasi karena keterbatasan penyediaan kesejahteraan pegawai. Sisi ketatalaksanaan belum mencerminkan prinsip efisiensi dan efektifitas, sehingga hasil yang dicapai belum optimal. 6 Pada pelayanan masyarakat masih terdapat berbagai kelemahan dan kekurangan. Kinerja aparatur pemerintah di bidang pelayanan masyarakat masih menjadi sorotan masyarakat. Keluhan dan kritikan masyarakat terutama berkaitan dengan sistem dan prosedur pelayanan yang masih berbelit-belit (birokratis) yang seolah-olah disengaja untuk memberi peluang terjadinya pungutan-pungutan yang tidak resmi, 7 jangka waktu penyelesaian pelayanan yang tidak berkepastian, informasi pelayanan yang tidak transparan serta sikap dan perilaku aparatur yang masih cenderung sebagai penguasa yang ingin dilayani. 8 Hal tersebut terjadi dikarenakan kesadaran dan kepatuhan hukum tidak tercipta di dalam diri seorang aparatur negara. Dikarenakan bentuk kebudayaan hukum yang berkembang di masyarakat mencerminkan perilaku opurtunis maka dituntut profesionalisme dan kecanggihan dari profesi hukum. Hukum juga harus didukung dengan sarana dan prasarana yang tidak murah. Ciri-ciri profesionalisme tersebut, antara lain : memiliki keterampilan yang tinggi dalam suatu bidang serta kemahiran dalam menggunakan peralatan tertentu yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas yang bersangkutan; memiliki ilmu dan pengalaman serta kecerdasan dalam menganalisis suatu masalah dan peka di dalam membaca situasi

Ibid. Pungutan Tidak Resmi atau Transaction Cost adalah akibat dari berbelit-belitnya birokrasi menyebabkan tingginya pungutan-pungutan liar. 8 Website Bappenas, “BAB VI : Reformasi Aparatur Negara”, Op.cit.
7

6

5

cepat dan tepat serta cermat dalam mengambil keputusan terbaik atas dasar kepekaan; mempunyai sikap yang berorientasi ke depan sehingga punya kemampuan mengantisipasi perkembangan lingkungan yang terbentang di hadapannya; dan mempunyai sikap mandiri berdasarkan keyakinan akan kemampuan pribadi serta terbuka menyimak dan menghargai pendapat orang lain, namun cermat dalam memilih yang terbaik bagi diri dan perkembangan pribadinya. Salah satu kelemahan sistem politik Indonesia adalah minimnya sumbersumber yang dapat menjadi penekan dan penyeimbang atas “kekuatan” pemerintah, di tingkat nasional ataupun daerah. Padahal, kekuatan penekan sangat diperlukan untuk melakukan kontrol, maupun sumbangan-sumbangan gagasan dan pemikiran untuk membentuk bangunan sosial politik yang lebih aspiratif. Partai politik hanya dijadikan motor untuk meraih kedudukan dan kedudukan otomatis mendapat kekuasaan. Setelah kedudukan dan kekuasaan diraih maka akan mencari keuntungan kemudian keuntungan digunakan untuk mengokohkan kedudukan dan kekuasaan. Itulah yang disebut dengan money makes power and power makes money. Konsep inilah yang digunakan oleh partai politik jika dilihat dari kasat mata. Hampir seluruh anggota partai politik yang duduk di kursi pemerintahan dan lembaga legislatif juga mencari keuntungan dengan cara mengikuti tender-tender pemerintahan (melakukan persekongkolan tender). Tingkat korupsi juga menjadi tinggi, melihat pada PERC 2010, Indonesia adalah negara terkorup dari 16 negara di Asia Pasifik. 9 Dapat dilihat

Kompas Online, “PERC : Indonesia Negara Paling Korup!”, http://nasional.kompas.com/read/2010/03/08/21205485/PERC.Indonesia.Negara.Paling.Korup., diakses pada 09 April 2011.

9

6

pada lembaga-lembaga yang terkorup justru berasal dari lembaga Kepolisian, Kejaksaan, dan DPR.10 Sejak berdirinya negara Republik Indonesia, banyak sudah tokoh-tokoh negara pada saat itu telah merumuskan bentuk perekonomian yang tepat bagi bangsa Indonesia. Sebagai contoh, Bung Hatta sendiri, semasa hidupnya mencetuskan ide bahwa dasar perekonomian Indonesia yang sesuai dengan cita-cita tolong menolong adalah koperasi. 11 Namun, bukan berarti semua kegiatan ekonomi harus dilakukan secara koperasi, pemaksaan terhadap bentuk ini justru telah melanggar dasar ekonomi koperasi. Demikian juga dengan tokoh ekonomi Indonesia pada saat itu, Sumitro Djojohadikusumo, dalam pidatonya di Amerika Serikat tahun 1949, menegaskan bahwa yang dicita-citakan adalah ekonomi semacam ekonomi campuran. Namun demikian dalam proses perkembangan berikutnya disepakatilah suatu bentuk ekonomi baru yang dinamakan sebagai Sistem Ekonomi Pancasila yang didalamnya mengandung unsur penting yang disebut Demokrasi Ekonomi.12 Terlepas dari sejarah yang akan menceritakan keadaan yang sesungguhnya pernah terjadi di Indonesia, maka menurut Sila Kelima Pancasila sebagai dasar Negara menyebutkan bahwa “Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia”

mencerminkan dari segala aspek kehidupan pemerintah harus menjamin dalam
Rezki Sri Wibowo, “Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2008”, http://www.ti.or.id/index.php/publication/2009/01/21/indeks-persepsi-korupsi-indonesia-2008-2., diakses pada 09 April 2011. 11 Anwar Abbas, Bung Hatta dan Ekonomi Islam : Menangkap Makna Maqâshid al Syarî’ah, (Jakarta : Kompas Media Nusantara, 2010), hal. 201-210. 12 Hadi Soesastro, et.al., Pemikiran dan Permasalahan Ekonomi di Indonesia dalam Setengah Abad Terakhir : Krisis dan Pemulihan Ekonomi, (Yogjakarta : Kanisius, 2005), hal. 61-66. Lihat juga : Website Gunadarma, “Sistem Perekonomian Indonesia”, http://www.elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/perekonomian_indonesia/bab1sistem_perekonomian_indonesia.pdf., diakses pada 08 April 2011.
10

7

kesejahteraan. Berangkat dari sila Kelima Pancasila maka perekonomian di Indonesia berlandaskan dari Undang-Undang Dasar 1945, tepatnya pada Pasal 33 yang menyatakan bahwa : 1. “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan; 2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara; 3. Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat; 4. Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional; 5. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undangundang”. Dengan demikian perekonomian Indonesia tidak mengizinkan adanya13 : 1. free fight liberalism yaitu adanya kebebasan usaha yang tidak terkendali sehingga memungkinkan terjadinya eksploitasi kaum ekonomi lemah dengan akibat semakin bertambah luasnya jurang pemisah si kaya dan si miskin; 2. etatisme yaitu keikutsertaan pemerintah yang terlalu dominan sehingga mematikan motivasi dan kreasi dari masyarakat untuk berkembang dan bersaing secara sehat; 3. monopoli yaitu suatu bentuk pemusatan kekuatan ekonomi pada satu kelompok tertentu, sehingga tidak memberikan pilihan lain pada konsumen untuk tidak mengikuti “Keinginan sang Monopoli”. Pemerintah sadar pada waktu kemerdekaan dalam membuat UUD bahwa perekonomian Indonesia pada saat itu masih lemah maka membutuhkan campur
13

Ibid.

8

tangan pemerintah untuk menggerakkannya. Keikutsertaan pemerintah mengelola perekonomian Indonesia maka etatisme sempat terjadi di Indonesia.

B.

SISTEM EKONOMI Meskipun pada awal perkembangannya perekonomian Indonesia menganut

sistem ekonomi Pancasila. Demokrasi Ekonomi, dan “mungkin campuran”, namun bukan berarti sistem perekonomian liberalis dan etatisme tidak pernah terjadi di Indonesia. Pada awal tahun 1950-an sampai dengan tahun 1957-an merupakan bukti sejarah adanya corak liberalis dalam perekonomian Indonesia. Demikian juga dengan sistem etatisme, pernah juga mewarnai corak perekonomian di tahun 1960-an sampai dengan masa Orde Baru. 14 Setelah masa Orde Baru selanjutnya adalah Masa Reformasi yang dimulai oleh pemerintahan B. J. Habibie. Pada saat itu pemerintah belum banyak melakukan pembaruan untuk mengatasi ekonomi. Pada masa kepemimpinan presiden Abdurrahman Wahid juga belum ada tindakan yang cukup berarti untuk menyelamatkan negara dari masalah ekonomi. Padahal, ada berbagai persoalan ekonomi yang diwariskan Orde Baru harus dihadapi, antara lain: masalah KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme); Pemulihan Ekonomi; Kinerja BUMN; Pengendalian Inflasi; dan Mempertahankan Kurs Rupiah.15 Pada masa kepemimpinan presiden Megawati, perekonomian Indonesia mulai mengalami kemajuan. Pemerintah dapat menaikkan pertumbuhan ekonomi

Boediono, Ekonomi Indonesia, Mau ke Mana? : Kumpulan Esai Ekonomi, Cetakan Ketiga, (Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia, 2009), hal. 16. 15 Hadi Soesastro, et.al., Op.cit., hal. 210-211.

14

9

menjadi 4,1% karena pada saat itu pemerintah membuat kebijakan privatisasi BUMN, yaitu menjual perusahaan negara di dalam periode krisis dengan tujuan melindungi perusahaan negara dari intervensi kekuatan-kekuatan politik dan mengurangi beban Negara. Namun kebijakan ini memicu banyak kontroversi karena beberapa BUMN yang diprivatisasi ternyata dijual kepada perusahaan asing.16 Di masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga sekarang, perkembangan perekonomian Indonesia cukup signifikan yaitu

pertumbuhannya 6,1% per tahun. Hal itu disebabkan karena pemerintahan presiden Susilo Bambang Yodhoyono membuat suatu kebijakan kontroversial yaitu dengan mengurangi subsidi BBM dengan kata lain pemerintah menaikkan harga BBM. Anggaran subsidi BBM dialihkan ke subsidi sektor pendidikan dan kesehatan, serta bidang-bidang yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kebijakan kontroversial pertama itu menimbulkan kebijakan kontroversial kedua, yakni Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat miskin. Kebanyakan BLT tidak sampai ke tangan yang berhak, dan distribusinya berbagai masalah sosial. Kebijakan lain yang ditempuh untuk meningkatkan pendapatan perkapita adalah mengandalkan pembangunan infrastruktur massal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengundang investor asing dengan janji memperbaiki iklim investasi. Salah satunya adalah diadakannya Indonesian Infrastructure Summit pada bulan November 2006 lalu, yang mempertemukan para investor dengan para kepala-kepala daerah. 17

16 17

Ibid., hal. 237-238. Fahmi Radhi, Kebijakan Ekonomi Pro Rakyat, (Jakarta : Republika Press, 2008), hal. 44-

47.

10

Pada tahun 2008, disaat Amerika Serikat mengalami resesi akibat kredit macet, perekonomian Indonesia tidak mengalami imbas yang besar, itu disebabkan tingginya pertumbuhan ekonomi dua negara yaitu China dan India. Hal itu didasarkan pada beberapa indikasi yaitu: hubungan dagang Indonesia dengan negaranegara regional semakin meningkat, meskipun hubungan dagang dengan Amerika mengalami penurunan. Selain itu, yang menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi nasional didominasi oleh konsumsi dan ekspor yang dibantu oleh membaiknya investasi swasta. Saat ini Indonesia juga dipercaya sebagai anggota G-20, dunia barat menilai bahwa Indonesia dapat memberikan dampak yang positif bagi perekonomian dunia. Hal ini tidak lain adalah berkat kinerja Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu yang menerapkan dan melaksanakan prinsip transparansi agar mendapat kepercayaan seluruh rakyat Indonesia. Salah satu contoh18 : “para menteri yang masih berprofesi pengusaha perlu mengumumkan kepada rakyat bahwa ia akan mengutamakan tugas dan tanggung jawab kenegaraan ketimbang pribadi atau kelompok usahanya”. Hal tersebut dapat dilihat dari pembaruan sistem perpajakan sehingga meningkatkan pendapatan negara. Penyerapan pajak yang tinggi pada masa Sri Mulyani menyebabkan Indonesia terhindar dari dampak krisis ekonomi pada tahun 2008 yang dialami Amerika Serikat. Indonesia juga sudah lama menerapkan sistem

Femi Adi Soempeno, Mereka Mengkhianati Saya: Sikap Anak-Anak Emas Soeharto di Penghujung Orde Baru, Cetakan Pertama, (Yogjakarta: Galangpress, 2008), hal. 86.

18

11

perbankan syariah. Sistem tersebut diterapkan oleh Amerika Serikat untuk mengatasi krisis moneter pada tahun 2008. Setiap pemimpin atau penguasa yang menjadi kepala pemerintahan dan kepala negara pastilah memberikan penekanan yang berbeda. Dapat dilihat pada perubahan kepemimpinan di Indonesia yang berganti maka peraturan yang dihasilkan juga berubah. Peraturan yang berubah menyebabkan kondisi ekonomi, politik, sosial budaya, dan pertahanan keamanan juga berubah. Perubahan tersebut dapat menjadi positif ataupun negatif. Jika konsep yang dimiliki pemerintahan sebelumnya baik, maka pemerintah selanjutnya mengikuti dan melanjutkannya.

1.

Struktur dan Sifat Ekonomi Termasuk Batasan/Hambatan Masuk (Peraturan Hukum dan Ekonomi) Kita ketahui bahwa ada kecenderungan bahwa sistem ekonomi suatu Negara

berkaitan erat dengan sistem politik suatu Negara. Negara yang berideologi politik liberal, pada umumnya menganut ideologi ekonomi kapitalisme dengan pengelolaan ekonomi berdasarkan mekanisme pasar.19 Sedangkan Negara-negara yang

berideologi politik komunisme, ideologi ekonominya cenderung sosialisme, dengan pengelolaan ekonominya berdasarkan perencanaan terpusat.20 Namun tidak ada satu negarapun di dunia ini menerapkan secara mutlak kedua sistem tersebut. Dari beberapa sistem ekonomi tersebut di atas mempunyai struktur yang berbeda dalam penerapan di masing-masing Negara. Struktur ekonomi tersebut dapat
Sarbini Sumawinata, Politik Ekonomi Kerakyatan, Cetakan Pertama, (Jakarta : Gramedia, 2004), hal. 107-114. 20 William Ebenstein, Isme-isme yang Mengguncang Dunia : Komunisme, Fasisme, Kapitalisme, Sosialisme, Cetakan Kedua, (Yogjakarta : Narasi, 2006), hal. 312-319.
19

12

dilihat dari berbagai sudut tinjauan antara lain tinjauan makro-sektoral, tinjauan keuangan, tinjauan penyelenggaraan Negara, dan tinjauan birokrasi dan pengambilan keputusan. Tinjauan makro-sektoral dan tinjauan keuangan merupakan tinjauan ekonomi murni, sedangkan tinjauan penyelenggaraan negara dan tinjauan birokrasi adalah pengambilan keputusan. Pada dasarnya suatu struktur ekonomi merupakan jembatan atau implementasi dari sistem-sistem ekonomi yang ada dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan ekonomi dan pertumbuhan pendapatan nasional. Hal ini berakibat pada perubahan mendasar struktur ekonomi.21 Hambatan masuk (barriers to entry) pasar adalah faktor yang menghambat atau mencegah pelaku usaha baru masuk ke dalam suatu industri apabila pelaku usaha yang ada (incumbent) memperoleh keuntungan berlebih. Terdapat dua jenis hambatan secara luas, yaitu: hambatan struktur (structural) dan hambatan strategis (strategic). Hambatan masuk timbul apabila pelaku usaha harus menanggung biaya yang tidak ditanggung oleh pelaku usaha yang sudah ada. Disamping itu ada juga konsep sunk cost sebagai hambatan masuk. Hal ini mengingatkan bahwa sunk cost harus ditanggung oleh pelaku usaha baru, namun sudah dikeluarkan oleh pelaku usaha yang ada. Selain sunk cost mengurangi kemungkinan keluar masuk pasar, sehingga menambah risiko tambahan bagi pelaku usaha potensial untuk masuk.22

Soetrisno P. H., Kapita Selekta Ekonomi Indonesia : Suatu Studi, Edisi II, (Yogjakarta : Andi Offset, 1992), hal. 157-164. 22 M. Udin Silalahi, Perusahaan Saling Mematikan & Bersekongkol :Bagaimana Cara Memenangkan?, Cetakan Pertama, (Jakarta : Elex Media Komputindo, 2007), hal. 215-219.

21

13

Sunk cost disini adalah biaya yang telah dikeluarkan dan tidak dapat diambil kembali. Sunk cost timbul karena beberapa kegiatan membutuhkan asset tertentu yang tidak dapat diubah dengan cepat guna keperluan lain. Sunk cost adalah selalu biaya tetap namun tidak semua biaya tetap adalah sunk. Hambatan masuk strategik menimbulkan semacam pre-emptive behaviour oleh pelaku usaha yang telah ada. Misalnya pre-emption facilities yang dilakukan oleh pelaku usaha yang telah ada dengan melakukan investasi yang berlebih dalam upaya mengancam perang harga apabila pelaku usaha baru masuk ke dalam pasar. 23 Di dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat menciptakan hambatan masuk dilarang di dalam Pasal 17 ayat (2) huruf b. yang berbunyi : “pelaku usaha patut diduga atau dianggap melakukan penguasaan atas produksi atau pemasaran barang dan atau jasa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) apabila mengakibatkan pelaku usaha lain tidak dapat masuk ke dalam persaingan usaha barang dan atau jasa yang sama”. Pasal 25 ayat (1) huruf c., Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, mengatakan bahwa24 : “Pelaku usaha dilarang menggunakan posisi dominan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk menghambat pelaku usaha lain yang berpotensi menjadi pesaing untuk memasuki pasar yang bersangkutan”.

John Sutton, Sunk Costs and Market Structure, (Hong Kong: Trade Typeseting Ltd., Tanpa Tahun), hal. 99-102. Lihat juga kasus : Arthur K. Young dalam Cary L. Cooper dan Chris Argyris, The Concise Blackwell : Encyclopedia of Management, (Massachusetts: Blackwell Publishers Inc., 1998), hal. 646. 24 Ibid.

23

14

Hambatan masuk ke pasar menyebabkan berkurangnya persaingan bagi perusahaan yang sudah ada sehingga mengurangi insentif munculnya inovasi dan keinginan meningkatkan produktifitas. Di industri perbankan masalahnya terletak pada ketidaksimetrisan informasi. Sedangkan persoalan infrasastruktur terletak pada kekuatan pasar yang terkait dengan skala ekonomi. Intervensi yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi kegagalan pasar pada industri perbankan justru menyebabkan industri perbankan tertekan dan terdistorsi. 25 Kondisi ini umumnya lebih keras menghantam pengusaha kecil. Industri perbankan menyediakan jasa sistem pembayaran, memobilisasi tabungan dan mengalokasikan pembiayaan kepada perusahaan yang ingin dan layak melakukan investasi. Apabila industri keuangan bekerja baik, maka sumber dana untuk melakukan investasi tersedia bagi berbagai jenis usaha. Pasar keuangan yang sehat mendorong dunia usaha disiplin, memperbaiki kinerja, mendorong efisiensi secara langsung termasuk penyediaan fasilitas bagi masuknya pemain baru ke pasar.26 Demikianlah dengan diundangkannya Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, hambatan masuk pasar yang faktual dilarang. Apakah suatu pelaku usaha telah melakukan hambatan masuk pasar perlu investigasi kasus per kasus yang harus dilakukan oleh KPPU.27 Hambatan masuk ke pasar lambat laun akan dihapus dan BUMN yang

Zulkarnain Sitompul, “Investasi Asing di Indonesia Memetik Manfaat Liberalisasi”, http://www.djpp.depkumham.go.id/hukum-bisnis/88-investasi-asing-di-indonesia-memetik-manfaatliberalisasi.html., diakses pada 10 April 2011. 26 Ibid. 27 KPPU adalah Komisi Pengawas Persaingan Usaha, sebuah lembaga pengawas yang berdiri sejak diundangkannya Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan

25

15

melakukannya akan diprivatisasi. 28 Hambatan masuk ke pasar tersebut dapat dilihat pada berbagai sektor, antara lain:

a.

Sektor Pertanian Pada era milenium ketiga, setiap kegiatan atau proses produksi, termasuk

hasil pertanian, diikat oleh ketentuan-ketentuan dalam perjanjian GATT (General Agreement on Tariffs and Trade) dan WTO (World Trade Organization). Implikasi dari GATT/WTO adalah disepakatinya untuk memenuhi ketentuan SPS (Sanitary and Phytosanitary Measurement). Dalam SPS ini, setiap negara, termasuk Indonesia, diharuskan mampu melaksanakan instrumen-instrumen yang diciptakan diantaranya sistem produksi pertanian yang baik atau GAP (Good Agricultural Practices), sistem pengemasan yang baik atau GMP (Good Manifacturing Practices), dan sistem kontrol terhadap bahaya/risiko yang kritis atau HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point). Dengan demikian, setiap hasil atau produk pertanian dapat dikenakan sanksi atau pencekalan untuk masuk ke pasar global jika tidak memenuhi ketentuan yang telah disepakati oleh dunia internasional. Dalam konteks ini, pemanfaatan sumber daya didukung oleh sumber daya manusia dan teknologi yang memadai. Penguasaan pengetahuan dan teknologi pemanfaatan, baik untuk pertanian,

Persaingan Usaha Tidak Sehat. Atau dengan kata lain, undang-undang anti monopoli adalah substansinya sedangkan KPPU adalah struktur hukumnya (Lawrence M. Friedman). 28 M. Udin Silalahi, Op.cit., hal. 221.

16

kehutanan, industri maupun energi listrik, merupakan syarat mutlak untuk menunjang pembangunan berkelanjutan (sustainable development).29 Pembangunan pertanian secara umum di masa mendatang menghadapi tantangan dengan diberlakukannya mekanisme pasar bebas.30 Berbagai tantangan sektor pertanian di masa depan, antara lain: kebebasan akses barang, termasuk hasil pertanian; pengurangan subsidi dan tarif; dan bincangan (issue) lingkungan. Kebebasan akses barang menuntut daya saing yang tinggi dari produk yang dihasilkan, baik dari segi harga maupun mutu. Pengurangan subsidi yang dikenakan pada sarana-sarana produksi pertanian seperti pupuk dan pestisida akan menambah berat beban biaya yang ditanggung petani sehingga dapat menurunkan daya saing produk pertanian di pasar global. Issu lingkungan sangat berhubungan dengan mekanisme pasar yang banyak dikenal dengan istilah green marketing.31

b.

Sektor Bahan Galian Hambatan yang terdapat dalam sektor bahan galian adalah sulitnya masuk

sains teknologi dalam sistem produksi. Pekerjaan yang semula dilakukan oleh tenaga manusia beralih pada tenaga mesin dan dan selama ini sector ini dikuasai pemerintah.32 Pemerintah mengadakan Joint Venture Entreprise yang umumnya perusahaan asing untuk menggali sumber daya alam tersebut. Contohnya dapat
Muhammad Noor, Pertanian Lahan Gambut : Potensi dan Kendala, Cetakan Kedelapan, (Yogjakarta : Kanisius, 2011), hal. 11. 30 Maamun et.al., 1996, dalam Ibid. 31 Loc.cit., hal. 10-11. 32 M. Sahari Besari, Teknologi di Nusantara : 40 Abad Hambatan Inovasi, (Jakarta : Salemba Teknika, 2008), hal. 9-10.
29

17

dilihat pada PT. Freeport Indonesia yang bergerak dalam bidang biji besi dan emas. Bentuk kerjasama tersebut adalah Build Operate Transfer yang setelah beberapa tahun maka pihak asing akan menyerahkan seluruhnya kepada Indonesia baik itu infrastruktur, cara pengolahan, dan lain sebagainya. Tapi masalahnya adalah saat pengalihan pemerintah Indonesia tidak dapat mengoperasikan sebagian peralatan berteknologi maju.33 Pemerintah kesulitan karena karyawan-karyawan pada perusahaan tersebut hanya diajarkan know-how (cara mengoperasikan peralatan) sedangkan knowledge (cara membetulkan peralatan) tidak diajarkan. Dengan demikian, teknologi yang sudah disediakan tidak optimal. Sehingga pemerintah mengadakan perjanjian kembali dengan pihak asing untuk mengoperasikannya. Hal ini lebih menekankan pada daya saing sumber daya manusia. Apa yang terjadi adalah perusahaan Negara menjadi dikuasai pihak asing. Sementara itu, perusahaan swasta nasional dilarang untuk mengelolanya karena dianggap bertentangan dengan Pasal 33 UUD 1945.

c.

Sektor Manufaktur Selama lebih dari dua puluh tahun, peran industri manufaktur dalam

perekonomian Indonesia telah meningkat secara substansial, dari 19% terhadap PDB tahun 1990 menjadi 26% tahun 2009 (Grafik Kiri). Walaupun selama tahun 19902008, sektor industri mengalami penurunan pertumbuhan akibat adanya krisis. Di sisi lain, peningkatan lapangan kerja industri manufaktur hanya naik dari 10 %
Sidney M. Levy, Build Operate Transfer : Paving The Way For Tomorrow’s Infrastructure, (John Wiley & Sons, Inc., 1996).
33

18

menjadi 12 %. Dinamika sektor industri secara umum bergerak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Ketika krisis Asia melanda Indonesia tahun 1997/1998, PDB tahun 1998 tumbuh negatif sebesar 13.3 % yang juga diikuti oleh penurunan pertumbuhan sektor manufaktur sebesar 15.4 % (Grafik Kanan). Penurunan yang tajam pada output manufaktur tahun 1998 ini juga diikuti oleh penurunan tajam lapangan kerja di sektor manufaktur yaitu 9%. 34
Grafik Kiri Grafik Kanan : : Grafik 1. Kontribusi Sektor Utama terhadap Perekonomian Pertumbuhan PDB dan Sektor Manufaktur Tahun 1994-2009

Sumber :

Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter, (Bank Indonesia : Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Oktober 2002).

Kontribusi

sektor

manufaktur

yang

besar

terhadap

perekonomian

menyebabkan siklus perekonomian tidak terlepas dari dinamika sektor manufaktur. Jumlah perusahaan yang masuk dan keluar juga menjadi pengaruh bagi fluktuasi makro-ekonomi karena: pertama, struktur ekonomi sedang menghadapi guncangan atau perubahan kebijakan; kedua, jumlah perusahaan yang masuk dan keluar berguna untuk melihat bagaimana implikasi guncangan positif (boom) atau negatif (bust). Bariers to entry juga mempengaruhi keputusan perusahaan untuk masuk atau keluar
Yati Kurniati dan Yanfitri, “Dinamika Industri Manufaktur dan Respon terhadap Siklus Bisnis”, Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter, (Bank Indonesia: Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Oktober 2002), hal. 136.
34

19

dari industri manufaktur. Dalam persaingan sempurna, hambatan ini tidak ada, akan tetapi untuk pasar tidak sempurna, hambatan berupa biaya iklan, UU dan lain-lain menyebabkan biaya untuk memasuki pasar bertambah.35 Industri manufaktur masa depan adalah industri-industri yang mempunyai daya saing tinggi, yang didasarkan tidak hanya kepada besarnya potensi Indonesia (comparative advantage), seperti luas bentang wilayah, besarnya jumlah penduduk serta ketersediaan sumber daya alam, tetapi juga berdasarkan kemampuan atau daya kreasi dan keterampilan serta profesionalisme sumber daya manusia Indonesia (competitive advantage).

d.

Sektor Jasa Pada sektor jasa, di bidang ekonomi, berawal dari putaran Uruguay yang

dimulai pada tahun 1986 hingga tahun 1993, akhirnya lahir kesepakatan-kesepakatan di bawah naungan GATT (General Agreement on Trade and Tariffs) dan WTO (World Trade Organization). Cakupan dari kesepakatan-kesepakatan itu sangat luas, meliputi pembukaan akses pasar barang dan mulai diaturnya isu-isu baru di sektor jasa, hak milik intelektual, aturan main perdagangan, penggunaan standar teknis, serta aturan pemberian subsidi terutama bagi negara-negara berkembang. Pada tahun 1980-an, akibat rasa ketidakpastian yang diakibatkan perjanjian multilateral, setiap wilayah mulai mengagendakan kerjasama ekonomi regional. Untuk kawasan Asia Pasifik dibentuklah APEC (Asia Pasific Economic Coorperation) pada tahun 1989,
35

Ibid., hal. 138.

20

dan untuk wilayah ASEAN dibentuk AFTA (ASEAN Free Trade Area) pada tahun 1992. APEC bertujuan merealisasikan arus perdagangan dan investasi bebas di kawasan Asia Pasifik paling lambat pada tahun 2010 untuk negara maju dan tahun 2020 untuk negara sedang berkembang. Sedangkan AFTA bertujuan menurunkan tarif masuk berbagai produk dan jasa antara 0-5% pada tahun 2003. 36 Akibat terjadinya hal di atas akan terjadilah proses liberalisasi dan deregulasi di semua sektor kegiatan ekonomi, dan selanjutnya akan terciptalah persaingan ketat, baik dalam pemasaran produk-produk domestik, penanaman modal, dan penggunaan teknologi. 37 Dalam beberapa tahun terakhir ini, yang terjadi adalah persaingan ke arah dominasi kekuatan dan kekuasaan. Negara berkembang, seperti Indonesia, yang pada awalnya sangat optimis dapat mengimbangi persaingan produk dengan negaranegara lainnya, ternyata menghadapi berbagai kendala internasional. Hambatan-hambatan dari berbagai sektor tersebut dapat diukur melalui GDP Nasional dan GDP Perkapita. GDP (Gross Domestic Product) adalah penghitungan yang digunakan oleh suatu negara sebagai ukuran utama bagi aktivitas perekonomian nasionalnya, tetapi pada dasarnya GDP mengukur volume produksi dari suatu wilayah (negara) secara geografis.

36 37

Agus Sachari, Budaya Visual Indonesia, (Jakarta : Erlangga, 2007), hal. 14-15. Dirangkum dari artikel Anggito Abimanyu, dalam Jurnal Tahunan Cides No. 2 Tahun

1996.

21

2.

GDP Nasional dan GDP Perkapita Perekonomian Indonesia pada tahun 2010 mengalami pertumbuhan sebesar

6,1% dibanding tahun 2009. Nilai PDB atas dasar harga konstan pada tahun 2010 mencapai Rp. 2.310,7 triliun, sedangkan pada tahun 2009 dan 2008 masing-masing sebesar Rp. 2.177,7 triliun dan Rp. 2.082,5 triliun. Bila dilihat berdasarkan harga berlaku, PDB tahun 2010 naik sebesar Rp. 819,0 triliun, yaitu dari Rp. 5.603,9 triliun pada tahun 2009 menjadi sebesar Rp. 6.422,9 triliun pada tahun 2010. 38
Tabel 1. Nilai PDB Menurut Lapangan Usaha Tahun 2008 – 2010 Laju Pertumbuhan dan Sumber Pertumbuhan Tahun 2010

Sumber

:

Berita Resmi Statistik No. 12/02/Th. XIV, 7 Februari 2011

Selama tahun 2010, semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada Sektor Pengangkutan dan Komunikasi yang

38

Badan Pusat Statistik, “Pertumbuhan Ekonomi Indonesia”, No. 12/02/Th. XIV, 7 Februari

2011.

22

mencapai 13,5%, diikuti oleh Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran 8,7%, Sektor Konstruksi 7,0%, Sektor Jasa-jasa 6,0%, Sektor Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan 5,7% , Sektor Listrik , Gas dan Air Bersih 5,3%, Sektor Pengolahan 4,5%, Sektor Pertambangan dan Penggalian 3,5%, dan Sektor Pertanian 2,9%. Pertumbuhan PDB tanpa migas pada tahun 2010 mencapai 6,6% yang berarti lebih tinggi dari pertumbuhan PDB secara keseluruhan yang besarnya 6,1%. 39
Grafik 2. Laju dan Sumber Pertumbuhan PDB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2010 (Persen)

Sumber

:

Berita Resmi Statistik No. 12/02/Th. XIV, 7 Februari 2011.

Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran yang mengalami pertumbuhan sebesar 8,7% memberikan sumbangan terhadap total pertumbuhan PDB yaitu sebesar 1,5%. Selanjutnya diikuti oleh Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dan

39

Ibid., hal. 6.

23

Sektor Industri Pengolahan yang memberikan peranan masing-masing sebesar 1,2%. (Tabel 1). 40 PDB/PNB per kapita merupakan PDB/PNB (atas dasar harga berlaku) dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Pada tahun 2010, nilai PDB per kapita diperkirakan mencapai Rp. 27,0 juta (US$. 2.267,3) pada tahun 2009 menjadi Rp.26,3 juta (US$.2.920,1) pada tahun 2010 atau terjadi peningkatan sebesar 13,9%. Hal ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini41 :
Tabel 2. PDB dan PNB Per Kapita Indonesia Tahun 2008 – 2010

Sumber

:

Berita Resmi Statistik No. 12/02/Th. XIV, 7 Februari 2011.

Pendapatan per kapita adalah pendapatan rata-rata penduduk suatu negara pada suatu periode tertentu yang biasanya satu tahun. Konsep pendapatan yang biasa dipakai dalam menghitung pendapatan per kapita adalah Pendapatan Domestik Bruto (PDB) atau Produk Nasional Bruto (PNB). Pendapatan per kapita Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara, ternyata masih rendah.

Ibid. Kompas Online, “Pendapatan Per Kapita 2010 Rp. 27 juta”, http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/02/07/1449472/Pendapatan.Per.Kapita.2010.Rp.27.Juta. diakses pada 10 April 2011.
41

40

24

3.

Keanggotaan WTO Indonesia secara resmi menjadi anggota WTO sejak organisasi perdagangan

dunia tersebut terbentuk pada awal Januari 2005. Indonesia telah meratifikasi Persetujuan Pembentukan WTO (Agreement on Establishing the World Trade Organization) melalui UU No. 7 Tahun 1994. Ratifikasi ini mengandung pengertian bahwa Indonesia terikat dengan seluruh hasil kesepakatan yang dihasilkan dalam Perundingan Uruguay. Misi yang diemban serta yang harus diperjuangkan oleh keikutsertaan Indonesia di WTO tidak lain adalah melaksanakan amanat dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1993, khusunya menyangkut bidang ekonomi dan politik luar negeri yang mengamanatkan bahwa perkembangan dunia dapat menunjang dan mempercepat pelaksanaan pembangunan nasional perlu

dimanfaatkan sebaik-baiknya melalui ekspor khususnya komoditi non migas, meningkatkan daya saing dan penerobosan serta perluasan pasar luar negeri. Dalam kaitannya dengan GATT, keikutsertaan Indonesia merupakan wujud nyata dari usaha pemerintah untuk memanfaatkan peluang yang ada pada perkembangan tatanan ekonomi dunia dan sistim perdagangan internasional di masa yang akan datang. Sementara itu, secara politik upaya ini merupakan perwujudan dari politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Sebagaimana diamanatkan dalam GBHN 1993 bahwa salah satu konsekuensi politik luar negeri Indonesia adalah usaha secara aktif untuk mengikuti perkembangan, perubahan dan gejolak dunia baik di bidang politik, ekonomi dan sosial budaya maupun militer guna dapat melakukan

25

identifikasi dan antisipasi terhadap potensi-potensi dari perkembangan dunia tersebut yang mungkin dapat muncul sebagai kendala bagi pembangunan nasional. Keanggotaan Indonesia di WTO banyak mempengaruhi kebijakan dan hukum ekonomi di Indonesia. Hal ini didorong oleh keinginan untuk memanfaatkan potensi keterbukaan akses pasar yang lebih luas yang dijanjikan oleh WTO. Oleh karena itulah Indonesia aktif mengikuti perkembangan WTO, salah satunya adalah dalam Doha Development Agenda (DDA). Keterlibatan dan posisi Indonesia dalam proses perundingan DDA didasarkan pada kepentingan nasional dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Indonesia bergabung dalam koalisi negara berkembang seperti G-33, G-20, NAMA -11 yang kurang lebih memiliki kepentingan yang sama. Indonesia terlibat aktif dalam merumuskan posisi bersama untuk mencapai developmental objectives dari DDA. Di Kelompok G-33, selaku Koordinator, Indonesia terus melaksanakan komitmen dengan mengadakan serangkaian dan berbagai pertemuan tingkat pejabat teknis dan Duta Besar/Head of Delegations, Senior Officials Meeting dan Tingkat Menteri secara rutin demi tercapainya kesepakatan negara berkembang melindungi petani kecil dan miskin. Sebagai koalisi negara berkembang, G-33 berkembang menjadi kelompok yang memiliki pengaruh besar dalam perundingan pertanian dan anggotanya saat ini bertambah menjadi 46 negara. Disamping itu, Indonesia juga menjadi anggota Cairns Group dan aktif berpartisipasi. Menteri Perdagangan RI menjadi tuan rumah Pertemuan Cairns Group pada tanggal 7-9 Juni 2009 di Bali, memberikan momentum dan dorongan politis

26

bagi dimulainya kembali perundingan DDA secara penuh. Diharapkan bahwa komitmen politis yang muncul di Bali dapat mendorong penyelesaian perundingan DDA yang meningkat urgensinya di dalam upaya mengatasi krisis ekonomi dan keuangan dunia saat ini serta mencegah kebijakan perdagangan yang proteksionis. Menghadapi rangkaian kegiatan mendatang Pemerintah berupaya untuk melaksanakan tugas berlandaskan pada prinsip-prinsip kebijakan selama ini. Pokokpokok pelaksanaan tugas antara lain mencakup42 : 1. Melanjutkan peningkatan peluang ekspor komoditi pertanian; 2. Melanjutkan perlindungan sektor pertanian RI dari persaingan tidak sehat dan lonjakan impor yang merusak ketahanan pangan, livelihood security dan pembangunan pedesaan; 3. Memperjuangkan kepentingan ekspor dan perlindungan sektor industri; 4. Memperjuangkan kepentingan ekspor dan perlindungan sektor jasa; 5. Meningkatkan profil RI sebagai anggota G-20 yang berkomitmen memerangi proteksionisme dan memelihara kepercayaan pada sistem perdagangan multilateral maupun global governance; 6. Memperjuangkan peningkatan peran WTO dalam kepentingan sektoral RI, termasuk hak kekayaan intelektual (HKI), perlindungan/pemanfaatan sumber daya genetik/pengetahuan tradisional, lingkungan, special & differential treatment, bantuan pembangunan/aid for trade, trade financing, transfer teknologi, subsidi perikanan dan ketahanan energy;

“Indonesia dan WTO”, http://www.mission-indonesia.org/modules/WTO.pdf., diakses pada 10 Mei 2011.

42

27

7. Meningkatkan pemanfaatan bantuan teknis WTO; 8. Aktif memberi masukan dan berpartisipasi dalam Timnas PPI serta dalam perumusan posisi runding nasional; 9. Aktif memanfaatkan Organisasi Internasional, LSM nasional dan

internasional, serta kapasitas riset dan analisis Pusat/Lembaga Kajian nasional maupun internasional dalam mendukung posisi runding RI; 10. Aktif mengupayakan penghapusan regulasi dan NTB (non-tariff barriers) yang merugikan ekspor RI.

Indonesia juga pernah menjadi negara yang digugat oleh negara anggota WTO lainnya, yaitu Jepang, Uni Eropa dan Amerika Serikat. Pada saat itu masalahnya adalah kebijakan Indonesia dalam program Mobil Nasional yang dianggap telah memberikan kemudahan bagi industri mobil nasional merupakan bentuk diskriminasi dan dengan demikian telah melanggar ketentuan WTO yang terkait dan Persetujuan Trade Related Investment Measures (TRIMs). Dalam tahap DSB, Panel memutuskan agar Indonesia menyesuaikan peraturannya agar selaras dengan peraturan WTO. Indonesia juga memiliki pengalaman menjadi pihak ketiga (third party) bersama dengan beberapa anggota WTO dalam sengketa antara Uni Eropa menghadapi Argentina (tergugat) dimana dalam kasus ini Argentina dianggap melakukan diskriminasi dengan menetapkan tindakan safeguard berupa pembatasan impor produk alas kaki (footwear) yang berasal dari beberapa negara anggota WTO4, termasuk Indonesia. Indonesia yang merupakan eksportir utama produk alas kaki ke Argentina merasa dirugikan karena dikenakan tambahan bea masuk (specific

28

duty) sedang-kan negara-negara Brazil, Uruguay, Paraguay tidak dikenakan tindakan safeguard. Argentina akhirnya melakukan penyesuaian aturannya mengenai safeguard.43 Di samping itu, Indonesia bersama-sama dengan beberapa anggota WTO lainnya yaitu Canada, Mexico, Jepang, Brasil, India, Thailand, Chile, Korea Selatan dan European Union menggugat Amerika Serikat dalam kasus US – Continued Dumping and Subsidy Offset Act of 2000” (US – CDSOA)5. Dalam kasus tersebut Indonesia bersama dengan negara lainnya menganggap kebijakan yang diterapkan Amerika Serikat dalam US – CDSOA bertentangan dengan prinsip-prinsip yang disepakati dalam Agreement WTO tentang anti dumping (Anti Dumping Agreement/AD Agreement) dan anti subsidi (Subsidy and Countervailing Measures Agreement/ASCM Agreement). Kasus ini kemudian dibawa ke sidang Panel pada tahun 2001. 44 Dalam keputusannya Panel merekomendasikan kepada DSB untuk meminta AS agar menyesuaikan peraturannya dengan persetujuan-persetujuan WTO dengan cara mencabut kebijakan US – CDSOA. Terhadap keputusan Panel tersebut, AS mengajukan banding ke Appelate Body. Dalam keputusannya di tahun 2003, Appelate Body juga merekomendasikan AS agar melakukan penyesuaian dengan mengadakan perubahan kebijakan terkait dengan US–CDSOA atau yang juga dikenal dengan Byrd Amendment agar konsisten dengan ketentuan WTO. Hal ini

43 44

Ibid. Ibid.

29

dilakukan karena Appelate Body juga memutuskan bahwa Byrd Amendment tidak konsisten dengan persetujuan-persetujuan WTO. 45

4.

Keterbukaan terhadap Perdagangan Internasional Kebijakan liberalisasi (deregulasi) perdagangan telah dilakukan pemerintah

sejak awal 1980-an. Secara gradual pemerintah membuka perekonomian dengan mengeluarkan serangkaian kebijakan penurunan tarif dan menghilangkan kebijakan non-tarif yang menghambat masuknya barang impor secara bertahap. Di samping itu, Indonesia melakukan kerjasama perdagangan regional melalui ASEAN Free Trade Area (AFTA). Selanjutnya kebijakan liberalisasi perdagangan makin meningkat sejalan dengan masuknya Indonesia dalam kerjasama internasional melalui World Trade Organization (WTO). Sementara itu, krisis nilai tukar yang berlanjut menjadi krisis finansial pada 1997 mewajibkan kebijakan perdagangan sejalan dengan komitmen dalam Letter of Intent (LoI) antara pemerintah Indonesia dengan IMF. Dengan masuknya Indonesia dalam WTO pada tahun 1995, pemerintah mengeluarkan kebijakan Mei 1995 yang secara umum berisi jadwal penurunan tarif. Penurunan tarif yang dilakukan berbeda dari tahun ke tahun tergantung tingkat tarif yang ada sebelum 1995. Sebagai hasil Pakmei 95, tarif rata-rata Indonesia telah turun dari 20% di 1994 menjadi kurang dari 8% di tahun 2000. 46

Ibid. Siti Astiyah, et.al., “Dampak Liberalisasi Perdagangan terhadap Perilaku Pembentukan Harga Produk Industri melalui Structure – Conduct Performance Model, Bulletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, 2005, hal. 527.
46

45

30

Selanjutnya sejak 18 April 2011, Kementerian Keuangan mengubah tarif atas 190 produk. Sebanyak 182 produk diantaranya, yang tergolong bahan baku dan barang modal, memperoleh penurunan tarif bea masuk dari lima persen menjadi nol persen. Perubahan tarif bea masuk itu ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 80/PMK.011/2011 tentang tentang Perubahan Ketujuh Atas Peraturan Menteri Keuangan No. 110/PMK.01 0/2006 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Pembebanan Tarif Bea Masuk Atas Barang Impor. PMK ini diterbitkan pada 13 April 2011 dan berlaku sejak 18 April 2011. Peraturan ini menetapkan perubahan tarif bea masuk atas 190 produk (pos tarif) yang meliputi lima sektor industri, yaitu Industri kimia dasar, Industri makanan, Industri mesin, Industri elektronika (di dalamnya termasuk peralatan film), dan Industri maritim (perkapalan). Seluruh produk tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu Bahan Baku, Barang Modal, dan Barang Konsumsi. Dari 190 produk itu, 182 pos tarif, tarif bea masuknya diturunkan dari sebelumnya 5% (lima persen) menjadi 0% (nol persen). Ke-182 pos tarif yang turun bea masuknya dibagi atas lima kelompok, yakni pertama, Industri kimia dasar sebanyak 59 pos tariff. Kedua, Industri makanan sebanyak satu pos tarif, yaitu minyak kacang kedelai sebagai bahan baku pembuatan margarin, shortening minyak kacang kedelai sebagai bahan baku pembuatan margarin, shortening minyak salad. Ketiga, Industri mesin sebanyak 91 pos tarif. Keempat, Industri elektronika sebanyak 16 pos tarif. Kelima,

31

Industri perkapalan sebanyak 13 pos tarif dalam rangka program pemutihan kapal guna memenuhi asas cabotage. 47 Pada sektor perdagangan jasa, kebijakan Indonesia pun lebih terbuka untuk merespon liberalisasi perdagangan multilateral maupun bilateral. Setelah

menyepakati General Agreement on Trade in Services (GATS) Pemerintah banyak melakukan penyesuaian peraturan di sektor perdagangan jasa seperti mengubah UU Perbankan, UU Telekomunikasi, UU Minyak dan Gas Bumi, UU Perikanan, dan terakhir UU Penanaman Modal.

5.

Infrastruktur : Masalah dan Hambatan Salah satu hambatan pertumbuhan industri dan masuknya investasi ke dalam

negeri adalah lambannya pengembangan infrastruktur nasional. Percepatan pembangunan infrastruktur akan menjadi kunci kemajuan perekonomian Indonesia di masa depan. Menurut J. Sanchez di Jakarta sebagai Wakil Menteri Perdagangan Amerika Serikat mengatakan bahwa48 : “Banyak peluang investasi dari kalangan investor AS yang tertunda atau bahkan dialihkan ke negara lain akibat masalah infrastruktur Indonesia. Kami sering menerima keluhan terkait masih kurangnya infrastruktur Indonesia. Padahal bila dilihat dari pasar yang besar dan potensi kekayaan alam serta tenaga kerja yang berlimpah, Indonesia bisa menjadi pilihan utama investasi global. Karena itu, Kementerian Perdagangan AS mendorong investor asal AS untuk membantu percepatan pembangunan investasi di Indonesia.
“190 Tarif Diubah; Menuju Indonesia Tersenyum”, www.kompas.com, diakses pada tanggal 10 Mei 2011. 48 Jajang Sumantri, “Amerika Keluhkan Infrastruktur Indonesia Jadi Hambatan”, Harian Media Indonesia, Minggu 03 April 2011, http://www.mediaindonesia.com/read/2011/04/04/215071/4/2/ Amerika-Keluhkan-InfrastrukturIndonesia-Jadi-Hambatan., diakses pada 11 April 2011. Lihat juga : Harian Bisnis Indonesia, “Banyak Regulasi yang Membuat Sulit Berbisnis di Indonesia”, diterbitkan Rabu, 03 November 2010.
47

32

Prasyarat masuknya investasi adalah kesiapan infrastruktur pelabuhan, jalan, bandara, maupun energi. Investor AS siap berinvestasi namun tentu mereka juga butuh adanya kepastian hukum supaya investasi yang ditanamkan berkelanjutan”.

Salah satu hambatan dalam kegiatan investasi dan dunia usaha pada umumnya di Indonesia adalah masalah keterbatasan infrastruktur, antara lain yang cukup penting adalah masalah pasokan listrik dan akses jalan yang terbatas. Sejak tahun 2008, hampir seluruh wilayah Indonesia menghadapi krisis energi listrik, termasuk juga wilayah Jawa dan Bali yang merupakan pusat kegiatan ekonomi utama. Akibatnya berbagai sektor ekonomi terutama industri mengalami kerugian besar karena terpaksa harus menghentikan kegiatannnya ketika terjadi pemadaman listrik. Sejumlah perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) pernah menyuarakan ancaman akan meninggalkan Indonesia jika pasokan listrik belum segera diatasi, antara lain pada akhir tahun 2008 perusahaan-perusahaan Jepang di sekitar Jakarta dan Banten terutama yang bergerak di bidang industri petrokimia dan bahan baku plastik tersebut mengaku rugi Rp. 41 miliar dalam dua bulan akibat pemadaman listrik. Terutama industri kecil menengah yang tidak memiliki pembangkit listrik cadangan untuk menghadapi pemadaman listrik. Masih banyaknya masalah dibidang kelistrikan ini menyebabkan iklim investasi untuk sektor industri manufaktur masih terus terkendala. Ketidak pastian jadwal selesainya pembangkit listrik dan tersedianya pasokan listrik menyebabkan proyek investasi harus menghadapi risiko berlebih. Jika mereka harus menyediakan pembangkit sendiri, investasinya mahal, padahal dalam dua tiga tahun mendatang

33

kemungkinan pasokan listrik dari PLN sudah mampu memenuhi permintaan, sehingga tidak perlu lagi memiliki pembangkit listrik yang sudah terlanjur dibeli. Kondisi dilematis ini menyebabkan iklim investasi kurang menarik di Indonesia. Selain listrik, infrastruktur yang juga menghambat investasi adalah pembangunan jalan raya. Masalah pembebasan tanah terkait masalah pembiayaan, penanggung jawab dan jadwal pelaksanaannya. Ketidak jelasan dalam aturan menganai pembebasan tanah selama ini meyebabkan investor sulit membuat rencana pembangunan jalan tol. 49 Saat ini pemerintah dan DPR RI tengah menyelesaikan RUU Pembebasan Tanah untuk Kepentingan Umum.

6.

Sumber Daya Manusia a. Sebagaimana ditentukan oleh Human Development Index (HDI)

UNDP Tahun 2010 menggunakan metode dan indikator baru untuk menghitung HDI negara-negara di dunia. Gender-Related Human Development Index (GDI) juga diganti dengan Gender Inequality Index (GII) dengan metode dan indikator baru. Tahun 2010, menurut UNHDR, nilai HDI Indonesia naik dari tahun sebelumnya dan berada pada ranking 108 dari 169 negara. Karena metode dan indikatornya berbeda, tidak bisa dibandingkan dengan HDI dan GDI tahun-tahun

“Masalah Infrastruktur Masih Menghambat Investasi, Indonesian Commercial Newsletter”, diakses dalam http://www.datacon.co.id/Tekstil-2009Fokus.html, tanggal 10 Mei 2011. Lihat juga : Harian Kompas, “Sektor Riil : Infrastruktur Harus Bisa Memacu Pertumbuhan”, diterbitkan Rabu, 20 Oktober 2010. Lihat juga : Harian Kompas, “Kakao : Minat Investor Terhalang Infrastruktur”, diterbitkan Kamis, 30 September 2010.

49

34

sebelumnya. Untuk nilai GII, pada tahun 2010 ini masih menggunakan data tahun 2008. 50
Grafik 3. HDI dan GII Indonesia 2000, 2005, 2009 – 2010

Sumber

:

United Nation Human Development Reports 2010 (Perubahan Metode dan Indikator).

Dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, Indonesia di bawah Singapura (rank: 27, nilai: 0,846), Brunei (rank: 37, nilai: 0,805), Malaysia (rank: 57, nilai: 0,744), Thailand (rank: 92, nilai: 0,654), Filipina (rank: 97, nilai: 0,638); di atas: Vietnam (rank: 113, nilai: 0,572), Laos PDR (rank: 122, nilai: 0,497), Cambodia (rank: 124, nilai: 0,494), Myanmar (rank: 132, nilai: 0,451). 51

Online Data dan Informasi Kesejahteraan Rakyat, “HDI Indonesia 2010 (Metode dan Indikator Baru)”, http://data.menkokesra.go.id/content/hdi-indonesia-2010-metode-dan-indikatorbaru., diakses 11 April 2011. 51 Ibid.

50

35

b.

Tingkat Pendidikan dan Tidak Buta Huruf Tingkat pendidikan dan tidak buta huruf masyarakat Indonesia tahun 2010

sudah mencapai 92%. Namun hal tersebut belum cukup untuk menjadikan pondasi kuat bagi peningkatan dan kemajuan pendidikan di Indonesia. Masih banyak langkah yang harus dilakukan untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Anies Baswedan, mengatakan bahwa52 : “Meningkatnya tingkat melek huruf masyarakat tidak bisa menjadi satusatunya acuan dan bukti suatu bangsa bahwa pendidikannya maju. Tingkat melek huruf hanya bisa digunakan sebagai pondasi agar pendidikan dan kecerdasan masyarakat sebuah bangsa semakin berkembang. Tetapi, proses perubahan masyarakat melalui pendidikan harus terus didorong. Salah satu proses perubahan tersebut yaitu dengan terus menambah jumlah anak-anak yang mengenyam bangku sekolah. Agar masyarakat bisa mengenyam pendidikan, maka akses pendidikan harus semakin dibuka dan dipermudah. Sayangnya, selama ini pemerintah sering melupakan nasib anak-anak yang belum bisa mengenyam bangku sekolah. Pemerintah misalnya lebih banyak fokus pada berapa banyak anak-anak yang sudah tuntas lulus kuliah. Jumlah mahasiswa di Indonesia tahun 2009 misalnya mencapai 4,1 juta. Tapi, yang sering dilupakan itu adalah anak-anak dan pemuda yang belum bisa masuk sekolah”.

Republika Online, “Tingkat Melek Huruf Tinggi Pendidikan di Indonesia Belum Maju”, Harian Republika, Rabu 12 Januari 2011, http://www.republika.co.id/berita/breakingnews/nasional/11/01/11/157847-tingkat-melek-huruf-tinggi-pendidikan-di-indonesia-belum-maju., diakses pada 11 April 2011.

52

36

Tabel 3. Indeks Pembangunan Pendidikan Negara Asia Tenggara Angka Partisipasi Pendidikan Dasar 0,969 0,954 0,983 0,878 0,944 0,902 0,989 0,836 Angka Melek Huruf Usia 15 thn keatas 0,927 0,904 0,904 0,903 0,926 0,899 0,736 0,714 Angka Bertahan hingga kelas 5 SD 0,995 0,984 0,895 0,868 0,749 0,699 0,631 0,630

Negara

Indeks Pembangunan Pendidikan 0,965 0,945 0,935 0,899 0,893 0,866 0,807 0,750

Angka menurut gender 0,967 0,938 0,959 0,945 0,955 0,963 0,871 0,820

Brunei Darrussalam Malaysia Indonesia Vietnam Filipina Myanmar Kamboja Laos Sumber :

EFA Global Monitoring Report 2008, dalam Kompas 31 Desember 2007:14.

Menurut sistem penilaian EDI yang membagi tiga kategori skor yaitu: kelompok negara dengan indeks pendidikan tinggi (0,950 keatas), sedang (0,800 sampai dibawah 0,950) dan rendah (dibawah 0,800). Maka menempatkan Indonesia, Malaysia, Filipina, Vietnam, Myanmar dan Kamboja, berada di kelompok negara dengan kategori EDI sedang. Sementara Indeks Pendidikan Brunei Darussalam menempati peringkat tinggi. 53 Posisi negara Indonesia yang berada pada kategori sedang, ini terkait dengan beberapa realita. Realita-realita tersebut, yang akan diuraikan pada pembahasan berikut ini yang terdiri dari angka buta huruf di beberapa daerah, rendahnya rata-rata lama studi dan kesenjangan laki dan perempuan.54 Angka Partsipasi Sekolah (APS) antara laki-

Kompas 31 Desember 2007:14 dalam Dyah Ratih Sulistyastuti, “Pembangunan Pendidikan dan MDGs Di Indonesia : Sebuah Refleksi Kritis”, Volume II, Nomor 2, (Yogjakarta : Jurnal Kependudukan Indonesia, 2007). 54 Ibid.

53

37

Pembangunan nasional yang telah dilaksanakan sejak Repelita I tahun 1969, hendaknya telah mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara

keseluruhan. Meskipun pembangunan nasional telah dilaksanakan sejak Repelita I ternyata masih menyisakan sejumlah masalah diantaranya bidang pendidikan. Salah satu indikatornya adalah kemampuan baca tulis yang merupakan ketrampilan minimal yang diperlukan oleh masyarakat untuk mencapai hidup sejahtera. Kemampuan baca tulis tercermin dari angka melek huruf yaitu persentase penduduk diatas 10 tahun yang dapat membaca dan menulis. Pada tahun 2005, memang proporsi penduduk yang masih buta huruf secara nasional sudah jauh

menurun dan tinggal sebesar 8,09% (Statistik Kesejahteraan Rakyat, 2005:70). Namun beberapa propinsi masih memiliki proporsi buta huruf yang relatif tinggi, seperti Papua (26,43%), NTB (18,27%), Sulawesi Selatan (13,71%), NTT (13,32%), Jawa Timur (12,79%), DIY (12,11%), Jawa Tengah (11,13%) dan Kalimantan Barat (10,89%). Disparitas angka melek huruf tersebut bukan hanya di propinsi saja, tetapi terjadi antara desa-kota dan laki-laki-perempuan. Menurut Statistik Pendidikan 2006, persentase penduduk buta huruf 10 tahun keatas di daerah pedesaan (10,24%) mencapai dua kali lipat lebih tinggi dibanding perkotaan (4,24%). Rata-rata lama masa sekolah merupakan
55

indikator

lainnya

yang

diformulasikan oleh UNDP pada tahun 1990 untuk menyusun Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Program Wajib Belajar 9 tahun telah dicanangkan pemerintah sejak tahun 1994 melalui Inpres I tahun 1994. Rata-rata lama sekolah di Indonesia pada tahun 2006 baru mencapai 7,44. Angka
55

ini menunjukkan bahwa rata-

Ibid.

38

rata pendidikan penduduk Indonesia baru mencapai jenjang pendidikan kelas 1 SMP. Realita itu menuntut pembangunan bidang pendidikan terutama pendidikan dasar merupakan kebutuhan mendesak.56

7.

Struktur dan Properti dari Sektor Industri, Kepemilikan Terdiversifikasi dibandingkan dengan Kepemilikan Terkonsentrasi, Tingkat Kepemilikan Negara Secara Langsung Atau Tidak Langsung Tantangan utama yang dihadapi oleh industri nasional saat ini adalah

kecenderungan penurunan daya saing industri di pasar internasional. Penyebabnya antara lain adalah meningkatnya biaya energi, ekonomi biaya tinggi, penyelundupan serta belum memadainya layanan birokrasi. Tantangan berikutnya adalah kelemahan struktural sektor industri itu sendiri, seperti masih lemahnya keterkaitan antar industri, baik antara industri hulu dan hilir maupun antara industri besar dengan industri kecil menengah, belum terbangunnya struktur klaster (industrial cluster) yang saling mendukung, adanya keterbatasan berproduksi barang setengah jadi dan komponen di dalam negeri, keterbatasan industri berteknologi tinggi, kesenjangan kemampuan ekonomi antar daerah, serta ketergantungan ekspor pada beberapa komoditi tertentu.57 Sementara itu, tingkat utilisasi kapasitas produksi industri masih rata-rata di bawah 70%, dan ditambah dengan masih tingginya impor bahan baku, maka kemampuan sektor industri dalam upaya penyerapan tenaga kerja masih terbatas. Di

Statistik Pendidikan 2006:57 dalam Ibid. Fahmi Idris, ”Kebijakan dan Strategi Pengembangan Industri”, Sekretariat Negara Republik Indonesia. Diterbitkan Jum’at, 23 Maret 2007.
57

56

39

sisi lain, industri kecil dan menengah (IKM) yang memiliki potensi tinggi dalam penyerapan tenaga kerja ternyata masih memiliki berbagai keterbatasan yang masih belum dapat diatasi dengan tuntas sampai saat ini. Permasalahan utama yang dihadapi oleh IKM adalah sulitnya mendapatkan akses permodalan, keterbatasan sumber daya manusia yang siap, kurang dalam kemampuan manajemen dan bisnis, serta terbatasnya kemampuan akses informasi untuk membaca peluang pasar serta mensiasati perubahan pasar yang cepat.58 Dalam rangka lebih menyebarkan industri untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, maka investasi di luar Pulau Jawa masih kurang menarik bagi investor karena terbatasnya kapasitas infrastruktur ekonomi, terbatasnya sumber daya manusia, serta kecilnya jumlah penduduk sebagai basis tenaga kerja dan sekaligus sebagai pasar produk. Bangun susun sektor industri yang diharapkan harus mampu menjadi motor penggerak utama perekonomian nasional dan menjadi tulang punggung ketahanan perekonomian nasional di masa yang akan datang. Sektor industri prioritas tersebut dipilih berdasarkan keterkaitan dan kedalaman struktur yang kuat serta memiliki daya saing yang berkelanjutan serta tangguh di pasar internasional. Pembangunan industri tersebut diarahkan pada penguatan daya saing, pendalaman rantai pengolahan di dalam negeri serta dengan mendorong tumbuhnya pola jejaring (networking) industri dalam format klaster yang sesuai baik pada kelompok industri prioritas masa depan, yaitu: industri agro, industri alat angkut,

58

Ibid.

40

industri telematika, maupun penguatan basis industri manufaktur, serta industri kecilmenengah tertentu.59 Pemerintah pun menyadari bahwa industri manufaktur masa depan adalah industri-industri yang mempunyai daya saing tinggi, yang didasarkan tidak hanya kepada besarnya potensi Indonesia (comparative advantage), seperti luas bentang wilayah, besarnya jumlah penduduk serta ketersediaan sumber daya alam, tetapi juga berdasarkan kemampuan atau daya kreasi dan keterampilan serta profesionalisme sumber daya manusia Indonesia (competitive advantage). Bahkan telah ditetapkan bahwa bangun susun sektor industri yang diharapkan harus mampu menjadi motor penggerak utama perekonomian nasional dan menjadi tulang punggung ketahanan perekonomian nasional di masa yang akan datang. Sektor industri prioritas tersebut dipilih berdasarkan keterkaitan dan kedalaman struktur yang kuat serta memiliki daya saing yang berkelanjutan serta tangguh di pasar internasional. 60 Pembangunan industri tersebut diarahkan pada penguatan daya saing, pendalaman rantai pengolahan di dalam negeri serta dengan mendorong tumbuhnya pola jejaring (networking) industri dalam format klaster yang sesuai baik pada kelompok industri prioritas masa depan, yaitu industri agro, industri alat angkut, industri telematika, maupun penguatan basis industri manufaktur, serta industri kecilmenengah tertentu. Sebagai gambaran, sejak memasuki awal tahun 2000 Pemerintah sudah menetapkan sepuluh kelompok industri inti, yaitu industri makanan dan minuman,
Ibid. Bataviase, “Sektor Industri Perlu Pembenahan yang Terstruktur dan Terukur”, http://bataviase.co.id/node/338569., diakses pada 13 Juni 2011.
60 59

41

industri pengolahan hasil laut, industri tekstil dan produk tekstil, industri alas kaki, industri kelapa sawit, industri barang kayu (termasuk rotan), industri karet dan barang karet, industri pulp dan kertas, industri mesin listrik dan peralatannya, serta industri petrokimia. Tetapi lagi-lagi dalam perkembangannya Pemerintah tidak melihat tumbuhnya klaster-klaster industri inti tersebut yang mampu membuat industri-industri tersebut berkembang pesat dan memiliki daya saing yang kuat. 61 Berlakunya perjanjian perdagangan bebas ACFTA memperlihatkan semua itu di mana tidak ada satu industri pun yang nyata-nyata menyatakan siap bersaing menghadapi produk impor kendati di dalam pasar dalam negeri sendiri. Bahkan sebelum perjanjian tersebut diberlakukan pun, sejumlah industri dalam negeri sudah nampak "terengah-engah" karena harus bersaing dengan produk impor. Dalam kondisi kalah bersaing, harapan-harapan yang muncul dari pihak industri pun lebih pada permintaan penundaan pemberlakukan perdagangan bebas untuk sejumlah komoditi dan harapan agar pemerintah memberikan insentif dalam berbagai bentuknya. Ketika insentif tersebut diberikan, ternvata Insentif /tupun tidak mampu dimanfaatkan secara maksimal tanpa alasan yang jelas. 62 Sebagai contoh insentif berupa Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BMDTP) yang diberikan sejak tahun lalu temyata yang terserap jumlahnya sangat minim. Tahun inipun penyerapannya tetap minim. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Bea Cukai sampai akhir Juli 2010, tercatat insentif BM DTP yang tidak terpakai mencapai Rp. 1,49 triliun dari alokasi pagu anggaran sebesar Rp. 1,5 triliun

61 62

Ibid. Ibid.

42

atau baru terealisasi 2,36 %, yakni Rp. 36,152 miliar. Dalam data itu juga disebutkan lima sektor industri dari 14 Industri tidak memakai insentif tersebut. Sementara sektor industri yang paling banyak menggunakan fasilitas tersebut adalah karpet sebesar Rp. 3,2 miliar atau sekitar 17,26 % dari pagu anggaran Rp. 36,22 miliar. 63 Memang ada yang beralasan bahwa minimnya penyerapan BMDTP juga lantaran terdapat fasilitas fiskal lain yang bisa dimanfaatkan industri, terutama di sektor otomotif, seperti pembebasan bea masuk lewat kerja sama Indonesia Japan Economic Partnership Agreement (LJEPA). Tetapi itu tentu saja bukan alasan yang tepat, karena seharusnya seluruh insentif yang diberikan dimanfaatkan untuk bisa meningkatkan daya saing dan performa industri yang bersangkutan. Karena terbukti bahwa akibat penyerapannya yang kecil, adanya BMDTP untuk sebuah industri, contohnya Industri perkapalan, keberadaan BMDTP tidak bisa mendongkrak performa industri galangan kapal nasional. Alasannya, krisis telah membuat permintaan kapal baru merosot. Dan yang lebih menyedihkan, alasan lainnya adalah produk kapal lokal kalah bersaing dengan produk kapal buatan China, sehingga BMDTP untuk industri kapal menjadi tidak efektif. Dan ini terjadi karena produk kapal impor juga mendapatkan berbagai fasilitas, seperti pembebasan Bea Masuk (BM) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). 64 Dari kasus rendahnya penyerapan BMDTP yang terjadi di industri perkapalan, terlihat bahwa persoalan yang dibutuhkan sektor industri dalam negeri sesungguhnya bukan sekedar insentif, tetapi lebih dari itu, yang benar-benar mampu

63 64

Ibid. Ibid.

43

meningkatkan daya saing produk industri dalam negeri. Pemerintah sudah punya kajiannya, tetapi bagaimana mengimplementasikannya, itu yang belum terjawab. 65 Struktur kepemilikan di sektor industri di Indonesia masih terkonsentrasi. Kepemilikan industri masih terkonsentrasi pada kelompok-kelompok usaha tertentu (konglomerat) dan pada negara pada Badan Usaha Milik Negara BUMN. Saat ini berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi struktur kepemilikan tersebut. Salah satunya adalah dengan penawaran umum. Pada tahun 2010, Pemerintah akan melakukan privatisasi BUMN pada penghujung 2010 setelah sempat vakum pada 2008 dan 2009 itu disebabkan situasi krisis ekonomi sehingga kurang tepat untuk mengerjakan privatisasi. Bahkan Pemerintah telah berancang-ancang pula menjual 10 BUMN pada tahun depan (2011). Dari beberapa BUMN yang akan diprivatisasi pada 2010 ini, terdapat dua bank BUMN yang terlalu penting untuk diabaikan dari pembahasan publik, yakni Bank Mandiri dan Bank BNI. 66 Kedua bank BUMN ini penting untuk dikupas karena tiga alasan pokok: (1) Mandiri adalah bank terbesar dan BNI peringkat empat bank terbesar; (2) struktur sektor perbankan di Indonesia secara umum telah dikuasai pemilik asing; dan (3) perbankan masuk dalam kategori sektor strategis sehingga kepemilikan

negara/pemerintah merupakan bagian penting yang harus diperjuangkan. Pemerintah akan meningkatkan porsi saham publik di Bank Mandiri dan BNI hingga mendekati kisaran 40%. Kapitalisasi pasar dari 14 BUMN terbuka per 23 Desember 2009 mencapai Rp. 630,77 triliun, atau 31,98% dari total kapitalisasi pasar
Ibid. Ahmad Erani Yustika, “Menimbang Privatisasi Bank BUMN”, Harian Kompas, diterbitkan Rabu, 06 Oktober 2010.
66 65

44

Bursa Efek Indonesia (BEI). Nilai kapitalisasi pasar sejumlah BUMN terbuka tersebut naik lebih dari Rp. 380,77 triliun selama periode 2004 sampai 2009. Angka itu diperkirakan akan meningkat signifikan, seiring bertambahnya jumlah perusahaan pelat merah yang melantai di bursa, atau menambah porsi saham publiknya pada 2010. Diungkapkan Menteri BUMN Mustafa Abubakar, paling tidak ada empat BUMN yang sudah atau siap melakukan penawaran saham perdana kepada publik (Initially Public Offering/lPO) di 2010. Di antaranya adalah PT Pembangunan Perumahan (PP), PT Garuda Indonesia, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) ID, dan PT Krakatau Steel. Menurutnya, IPO itu merupakan bagian dari program 100 hari Kementerian BUMN yaitu melakukan privatisasi guna meningkatkan nilai perusahaan. PP, kemarin, menjadi BUMN pertama yang mencatatkan diri (listing) di BEI. Setelah PP, kata Mustafa, BUMN berikutnya yang akan menyusul adalah PT Garuda Indonesia. Saham maskapai pelat merah itu akan dilepas pada kisaran 25%40%. 67 Namun, sangat disayangkan yang menjadi investor terhadap perusahaanperusahaan BUMN tersebut kebanyakan adalah pihak asing. Lebih dari 2/3 porsi saham yang diperdagangkan masih dikuasai investor asing. 68 Rencana demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan peluang bagi pemerintah dan investor asing

Bataviase, “Nilai Kapitalisasi Pasar BUMN Terbuka Melonjak”, http://bataviase.co.id/node/90515., diakses pada 13 Juni 2011. 68 Infobank News, “BEI : 2011 Momentum Bagi Investor Lokal Merebut Investor Asing”, http://www.infobanknews.com/2010/10/bei-2011-momentum-bagi-investor-lokal-merebut-porsiinvestor-asing/., diakses 13 Juni 2011.

67

45

untuk menjadi pemegang saham otoritas bursa. Namun hal ini masih menunggu revisi Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. 69 Demutualisasi BEI akan membuka kesempatan kepada berbagai pihak untuk menjadi pemegang saham, termasuk emiten, investor asing bahkan pemerintah. Langkah ini dilakukan agar masyarakat luas dapat menjadi shareholders sehingga BEI lebih transparan. Adapun saat ini pemegang saham BEI hanya terdiri dari perusahaan-perusahaan sekuritas yang menjadi anggota bursa. Kepemilikan saham BEI, khususnya investor asing harus tetap dibatasi. Tujuannya agar tidak ada pihakpihak tertentu yang menguasai otoritas bursa. Realisasi demutualisasi membutuhkan proses panjang. Sebab, untuk mewujudkannya, harus merevisi UU Pasar Modal terlebih dahulu. Pasalnya, UU tersebut menyatakan pihak yang diizinkan menjadi pemegang saham BEI hanyalah perusahaan sekuritas.70 Konsentrasi kepemilikan saham pemerintah pada BUMN telah menimbulkan permasalahan yang cukup rumit dan signifikan, terutama dalam kaitannya dengan efektivitas pengawasan internal dan eksternal. Oleh sebab itulah program privatisasi di Indonesia pada tahapan selanjutnya harus diartikan sebagai upaya untuk menghilangkan konsentrasi kepemilikan tersebut baik oleh negara melalui pengelolaan pemerintah maupun pihak swasta. Tujuannya adalah agar program privatisasi bukan semata-mata merupakan pengalihan konsentrasi kepemilikan perusahaan, “oleh pemerintah menjadi oleh swasta”. Dalam sistem pengelolaan

Okezone, “Demutualisasi, Investor Asing & Pemerintah Bisa Miliki BEI”, http://celebrity.okezone.com/read/2009/07/03/278/235453/demutualisasi-investor-asing-pemerintahbisa-miliki-bei., diakses pada 13 Juni 2011. 70 Ibid.

69

46

perusahaan, efektivitas pengawasan sangat terkait erat dengan bentuk dan struktur kepemilikan perusahaan. Bentuk dan struktur kepemilikan perusahaan merupakan bagian penting dalam upaya mewujudkan perusahaan yang sehat dan efisien. Konsentrasi kepemilikan perusahaan memungkinkan timbulnya campur tangan pemilik secara berlebihan dalam pengurusan dan pengelolaan perusahaan. Hal ini antara lain mengakibatkan fungsi pengawasan internal menjadi kurang berfungsi. Misalnya, komisaris yang fungsinya sebagai pengawas perusahaan menjadi tidak efektif, padahal komisaris memiliki peran strategis dalam pengawasan jalannya suatu perusahaan.71 Inefisiensi dan ketidaksehatan suatu perusahaan antara lain disebabkan oleh dominasi pemilik sehingga komisaris bersikap pasif dalam melakukan pengawasan terhadap kegiatan perusahaan. Penyebaran kepemilikan saham dengan cara pemecahan ”kepemilikan terkonsentrasi” agar menjadi ”kepemilikan tersebar” untuk menciptakan perusahaan yang sehat dan efisien, setidak-tidaknya berdasarkan empat alasan72 : 1. Privatisasi tidak menjamin peningkatan kinerja perusahaan; 2. Pemusatan kepemilikan pemerintah pada suatu perusahaan cenderung membuat kinerja perusahaan jelek; 3. Kepemilikan mutlak oleh swasta jauh lebih riskan (berbahaya) dari kepemilikan mutlak pemerintah;

Parluhutan Sagala, “Penyebaran Kepemilikan Saham Pemerintah Pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Untuk Menciptakan Perusahaan yang Sehat dan Efisien”, (Medan : Disertasi, Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, 2009), hal. 1. 72 Ibid.

71

47

4. Kinerja perusahaan dapat meningkat dengan kepemilikan tersebar karena dengan kepemilikan tersebar oleh masyarakat akan menciptakan pengawasan yang efektif (market discipline) dan perusahaan akan dikelola secara profesional dengan penerapan Good Corporate Governance (GCG).

Dalam hal ”kemampuan menguasai” (retained power), pada kasus-kasus tertentu, menetapkan hak tetap memiliki ”saham emas” (golden share) maksimal sebesar 10%, 73 namun terbatas untuk hal-hal tertentu atau transaksi di mana kebijakan pemerintah untuk memiliki hak veto, dan/atau menetapkan suatu mekanisme untuk membuat kebijakan pengaturan penting dan kewenangan untuk
Singapore Technologies Telemedia (ST Telemedia) banding atas putusan KPPU mengenai investasinya di Indosat. ST Telemedia dan anak perusahaannya menyangkal telah melanggar Pasal 27 huruf a., UU No. 5 Tahun 1999 dan mengulang bahwa temuan dari KPPU tidak berdasar dan tidak pantas. KPPU mengabaikan fakta dimana pada tahun 2002 Pemerintah Indonesia mengundang ST Telemedia untuk berpartisipasi dalam penawaran saham Indosat. Dalam White Paper saat divestasi Indosat dinyatakan bahwa tidak ada kepemilikan saham mayoritas oleh SingTel ataupun ST Telemedia dan industri telekomunikasi di Indonesia dan industri ini merupakan industri teregulasi, dan juga saat itu tidak ada isu mengenai Undang Undang Anti Persaingan. Sejak saat itu, ST Telemedia tidak pernah menaikkan persentase saham di Indosat. ST Telemedia lewat anak perusahaannya, Asia Mobile Holdings (AMH), memiliki sekitar 41% dari Indosat. 25% dari AMH dimiliki oleh Qatar Telecom, salah satu operator telekomunikasi terbesar di Timur Tengah. Porsi terbesar dari Indosat, sekitar 45%, dimiliki oleh pembeli domestik dan internasional dan juga investor institusi. Pemerintah Indonesia memiliki 14% saham dan juga Saham Emas (”Golden Share”) pada Indosat yang memiliki hak istimewa. Walaupun Pemerintah Indonesia hanya memiliki 14% dari saham Indosat, Pemerintah selalu menominasikan mayoritas Direksi, termasuk CEO atau Presiden Direksi. Terdapat juga 4 Komisioner dari Indonesia yang dinominasikan oleh Pemerintah Indonesia. ST Telemedia beroperasi secara independen dengan memiliki tim manajemen sendiri dan anggota Dewan. Tidak ada Dewan Direksi dan Manajemen Senior dari ST Telemedia yang merupakan pejabat Temasek dan SingTel. KPPU telah gagal dalam membuktikan dugaan atas sikap Indosat dalam AntiPersaingan yang secara bersemangat berkompetisi dengan PT Telkom (Telkom), PT Telkomsel, PT Excelcomindo dan operator telekomunikasi lainnya di Indonesia. KPPU telah mengabaikan bukti yang diberikan oleh beberapa pihak dari Indonesia dan ahli internasional yang menyatakan bahwa sektor telekomunikasi di Indonesia sangat kompetitif dan tidak ada bukti adanya kerugian konsumen (“Consumer Loss“). ST Telemedia adalah firma dengan advokasi yang transparency dan teliti tata kelola perusahaan (“Corporate Governance“) dan sepenuhnya taat pada hukum dan peraturan dalam beroperasi diseluruh dunia. ST Telemedia secara tegas akan mempertahankan posisi dan mengajukan banding atas kecacatan dan ketidakbenaran dalam kesimpulan dari KPPU. ST Telemedia bertanggung jawab atas korporat penduduk (“Corporate Citizen”) dan selalu memberikan dukungan kepada komunitas dimana perusahaan kamu beroperasi. Dalam : ST Telemedia, “Pernyataan dari ST Telemedia Dalam Banding Atas Putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha”, http://www.sttelemedia.com/content.asp?ContentId=1609., diakses pada 13 Juni 2011.
73

48

membatasi penyimpangan kekuatan monopoli. Dengan demikian jumlah saham pemerintah yang disebar kepada publik minimal sebesar 90 %. Konsentrasi kepemilikan Negara pada BUMN telah menciptakan stigma negatif terhadap BUMN di Indonesia. Konsentrasi kepemilikan Negara mendorong terjadinya dominasi aparatur Negara pada BUMN, tingginya kepentingan politik dalam pengurusan BUMN, terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme.74 Upaya yang dilakukan adalah dengan mengupayakan penyebarluasan kepemilikan saham BUMN kepada masyarakat melalui program privatisasi. Dengan privatisasi diharapkan konsentrasi kepemilikan Negara atas BUMN dapat dikurangi. 75

8.

Tingkat Penanaman Modal Asing (PMA) Upaya menarik minat modal asing telah dilakukan secara serius sejak

diundangkannya UU No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal. Liberalisasi perdagangan dan investasi dan masuknya Indonesia sebagai anggota WTO berdasarkan UU No. 7 Tahun 1994 kemudian mempengaruhi perkembangan peraturan penanaman modal di Indonesia. Beberapa kesepakatan dalam WTO, antara lain Agreement on Trade Related Investment Measures, General Agreement on Trade in Services dan ketentuan tentang Domestic Regulation pemerintah melakukan penyesuaian terhadap UU Penanaman Modal.
Aliran dana korupsi pejabat diberikan kepada perusahaan yang menanamkan modalnya ke Pasar Modal Indonesia sebesar Rp. 200 Miliar. Dalam : Pos Kota, “Melinda Kelola Dana 27 Pejabat”, http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2011/04/28/melinda-kelola-dana-27-pejabat., diakses pada 13 Juni 2011. 75 Pandu Patriadi, “Segi Hukum Bisnis Dalam Kebijakan Privatisasi BUMN Melalui Penjualan Saham di Pasar Modal Indonesia”, Jurnal Kajian Ekonomi dan Keuangan, Volume 8, Nomor 1, Maret 2004. Lihat juga : Parluhutan Sagala, Op.cit., hal. 1.
74

mendorong

49

Indonesia pada saat ini telah memiliki sebuah undang-undang penanaman modal yang baru dengan diundangkannya UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM) pada tanggal 29 Maret 2007. UU ini disusun dengan memperhatikan perubahan perekonomian global dan keikutsertaan Indonesia dalam berbagai kerjasama internasional, sehingga perlu didorong terciptanya iklim penanaman modal yang kondusif, promotif, memberikan kepastian hukum, keadilan dan efesien dengan tetap mengacu pada kepentingan ekonomi nasional.76 Setidaknya ada tiga hal penting yang diperintahkan oleh konsideran UU ini, yakni: 1. Tujuan yang ingin dicapai dalam penataan penanaman modal adalah kepentingan ekonomi nasional; 2. Terciptanya iklim penanaman modal yang kondusif dan berkepastian hukum; 3. Harmonisasi peraturan penanaman modal dengan perubahan perekonomian global dan kewajiban internasional Indonesia dalam berbagai kerjasama internasional dengan tetap mengacu kepada kedaulatan politik dan ekonomi nasional.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) telah meluncurkan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) dan Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) atau National Single Window for Investment (NSWI) yang tujuannya tidak hanya mengurangi jumlah prosedur dan dokumentasi yang diperlukan untuk berinvestasi di Indonesia, namun juga meniadakan kewajiban untuk hadir secara tatap muka guna memperoleh berbagai layanan tertentu. Sistem baru ini
76

Bagian Menimbang huruf a., Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman

Modal.

50

telah memperbaiki proses internal dan mengoreksi hambatan sumber daya manusia sehingga mempercepat dan memperbaiki mutu layanan kepada para investor. Sistem ini pertama kali diluncurkan bulan Januari 2010 di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam.77 Kepala BKPM, Gita Wirjawan, menyatakan penanaman modal di Indonesia semakin mengalami peningkatan. Arus penanaman modal memberikan gambaran yang membanggakan, diharapkan pertumbuhan PMTB (pembentukan modal tetap bruto) terus bergulir disekitar 10,5% per tahun, artinya PMTB sebesar Rp10.00012.500 triliun dalam periode 2009-2014. 78 Dengan jumlah Produk Domestik Bruto (PDB) yang hampir mencapai US$.550 milyar di tahun 2009, Indonesia adalah perekonomian dengan laju pertumbuhan tercepat nomor tiga di Asia dan perekonomian terbesar di seluruh Asia Tenggara. Sebagai negara yang tidak terkena dampak krisis keuangan global separah negara tetangganya, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai angka 4,5% di tahun 2009. Angka ini diperkirakan akan meningkat hingga 5,6% di tahun 2010 dan 6% di tahun 2011, sehingga Indonesia seringkali disandingkan dengan negara-negara BRIC (Brazil, Rusia, India dan Cina). Menurut laporan Standard Chartered, pertumbuhan perekonomian Indonesia di masa depan diharapkan lebih inklusif, mengingat PDB nominal per-kapita diperkirakan menjadi berlipat empat di tahun 2020.

BKPM, “Iklim Investasi”, http://www.bkpm.go.id/contents/general/6/iklim-investasi, diakses pada 12 Mei 2011. 78 Depkominfo, “BKPM Klaim Pertumbuhan Penanaman Modal Membanggakan”, http://www.depkominfo.go.id/berita/bipnewsroom/bkpm-klaim-pertumbuhan-penanaman-modalmembanggakan/., diakses tanggal 11 Mei 2011.

77

51

Sebagian besar keberhasilan ekonomi Indonesia adalah berkat pengelolaan fiskal atau keuangan negara yang baik, dengan fokus pada penurunan beban hutang. Rasio hutang Indonesia terhadap PDB menurun terus dari 83% di tahun 2001 hingga 29% pada akhir tahun 2009; ini merupakan angka terendah di antara negara ASEAN, kecuali Singapura yang tidak memiliki hutang pemerintah. Menurut Standard & Poor’s, Indonesia menduduki peringkat pertama untuk pengelolaan neraca fiskal terbaik di antara negara-negara di wilayah Asia-Pasifik. Pada Januari 2010, lembaga pemeringkatan Fitch Ratings telah meningkatkan peringkat kredit Indonesia menjadi BB+ dengan prospek ke depan yang stabil. Peningkatan peringkat kredit ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat dan berkelanjutan, serta posisi fiskal yang semakin membaik. Hal ini menunjukkan peningkatan kepercayaan untuk berinvestasi di Indonesia, karena menempatkan Indonesia hanya satu tingkat di bawah peringkat “investment grade”. Dengan perubahan peringkat ini, Indonesia semakin berpeluang untuk menarik investasi dan arus modal dalam jumlah besar, serta dapat menarik dana-dana yang selama ini hanya bisa diinvestasikan ke dalam negara yang memiliki peringkat “investment grade”. Dilihat dari perekonomiannya yang kuat, situasi politik yang stabil dan upaya reformasi yang berkelanjutan, maka Indonesia merupakan sebuah kekuatan besar yang sedang berkembang di Asia.

52

Grafik 4. Pertumbuhan PDB Riil Total Hutang/PDB

Grafik 5 Penanaman Modal Asing (PMA/FDI) yang telah Direalisasi

53

9.

Luasnya Daya Saing Perekonomian Daya saing Indonesia makin merosot dari tahun ke tahun. Menurut laporan

International Institute for Management Development (IMD) dalam World Competitiveness Yearbook, daya saing Indonesia menempati urutan ke-52 pada 2006, menurun menjadi 54 pada 2007 dan bahkan pada 2008 ini peringkat Indonesia anjlok menjadi 51 dari 55 negara. Indonesia jauh di bawah negara ASEAN seperti Singapura (2), Malaysia (19), Filipina (40). Penilaian versi World Economic Forum juga menunjukkan daya saing Indonesia (54) masih lebih rendah dibandingkan Singapura, Malaysia, dan Thailand. Menurunnya daya saing diakibatkan oleh rendahnya kualitas pelayanan birokrasi, tidak efisiennya bisnis, meningkatnya biaya buruh, rendahnya kualitas infrastruktur, dan tingginya biaya investasi di Indonesia. Laporan yang sedikit berbeda muncul pada survei dan data Departemen Perindustrian (2008). Selama kurun waktu satu dekade ini, sektor industri Indonesia dilaporkan terus mengalami peningkatan daya saing. Secara umum, produk-produk Indonesia yang memiliki daya saing kuat di pasar ASEAN meningkat dari 1.537 produk pada periode 1993-1999 menjadi 1.820 produk pada periode 2000-2007. Dari sisi pertumbuhannya, industri mesin merupakan industri yang memiliki pertumbuhan daya saing yang paling tinggi,yaitu sebesar 134,62%. Disusul industri teknologi informasi dan elektronika sebesar 93,90%, industri lain-lain 28,57%, industri kimia hulu 24,19%. Namun, perlu dicatat juga bahwa ada industri yang mengalami pertumbuhan daya saing yang negatif, yaitu industri maritim dan jasa teknologi.

54

Sementara industri tekstil dan produk tekstil merupakan jenis industri yang daya saingnya paling kuat. Patut dicatat, ada dua industri yang mengalami masa bonanza selama pemerintahan SBY-JK, yaitu industri alat angkut-mesin-peralatan yang laju pertumbuhannya mencapai 12,9%. Industri pupuk-kimia-barang dari karet menjadi cabang industri dengan laju pertumbuhan tertinggi kedua, sebesar 6,23%. Dilihat dari indeks RCA (revealed comparative advantage) ternyata tidak berubah. Indeks RCA menunjukkan perbandingan antara pangsa ekspor komoditas atau sekelompok komoditas suatu negara terhadap pangsa ekspor komoditas tersebut di dunia. Sejak 1982 keunggulan komparatif Indonesia meningkat pesat dengan pertumbuhan rata-rata 19% per tahun hingga 1994. Tidak berubahnya RCA Indonesia selama 1965-1982 besar kemungkinan karena ekspor masih didominasi minyak dan produk pertanian yang padat sumber daya alam (agricultural and resource-based industries). Setelah 1982, sejalan dengan upaya pengembangan broad-base industry, produk ekspor nonmigas Indonesia semakin beragam. Namun beberapa studi berdasarkan RCA menunjukkan bahwa komoditas industri manufaktur Indonesia yang meningkat pangsa pasarnya di dunia masih didominasi produk berteknologi sederhana seperti karet, plastik, tekstil, kulit, kayu dan gabus. Kendati demikian, yang cukup memprihatinkan adalah ada indikasi mulai melemahnya daya saing Indonesia sejak 1992. Salah satu sebab utamanya adalah masih terkonsentrasinya produk ekspor nonmigas yang tergolong hasil dari industri yang padat sumber daya alam (natural resource intensive/NRI) dan berbasis tenaga kerja yang tidak terampil

55

(Unskilled Labour Intensive – ULI). Agaknya Indonesia harus mulai bersiap-siap menyongsong tahapan keunggulan komparatif yang lebih tinggi, yaitu ke sektor padat teknologi (TI) dan padat tenaga ahli (HCI). Ini terbukti di kala pertumbuhan ekspor nonmigas mengalami penurunan selama 1993-1995. Produk yang justru menanjak pertumbuhannya (setidaknya pertumbuhan nilai ekspornya 50% dan nilai ekspornya minimum USD100 juta) adalah produk dari industri TI dan HCI. Di antara produk ekspor yang naik daun adalah barang-barang elektronik, kimia, dan mesin nonelektronik, termasuk peralatan telekomunikasi, komputer dan komponennya.79

10.

Peringkat Daya Saing WEF World Economic Forum (WEF) adalah organisasi internasional independen

berkomitmen untuk memperbaiki keadaan bisnis, pemimpin politik, akademis dan masyarakat lain untuk membentuk agenda global, regional dan industri. 80 Menurut WEF, peringkat daya saing investasi Indonesia naik dari peringkat 54 tahun 2009 dunia menjadi 44 dunia pada awal tahun 2011. 81 Pengukuran daya saing indikatornya berdasarkan seperti kelembagaan, infrastruktur yang mendukung investasi, kesehatan dan pendidikan, besarnya pasar serta lingkungan makro ekonomi. Kenaikan

79

Mudrajat Kuntjoro, “Mendongkrak Daya Saing’, www.okezone.com., diakses tanggal 11

Mei 2011. World Economic Forum Website, “World Economic Forum”, http://www.weforum.org/., diakses pada 11 April 2011. 81 World Economic Forum, The Global Competitiveness Report 2010-2011, (Geneva : SROKUNDIG, 2010), hal. 15.
80

56

peringkat Indonesia karena terdorong oleh lingkungan makro ekonomi yang lebih sehat dan membaiknya indikator-indikator pendidikan. 82 Untuk kawasan ASEAN, Indonesia menempati urutan kelima setelah Singapura, Malaysia, Brunei dan Thailand. GCR (Global Competitiveness Report) periode 2010-2011 juga menilai ditengah banyak negara mengalami defisit anggaran yang cukup besar, Indonesia berhasil mengatasi masalah defisit dengan baik. Laporan ini bahkan mencatat perbaikan di hampir seluruh sektor yang terkait dengan ekonomi. Menurut Silmy Karim, sebagai Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), mengatakan bahwa83 : “sebenarnya Indonesia mampu berada di peringkat yang lebih baik lagi jika pemerintah melakukan beberapa perbaikan terutama masalah infrastruktur. Karena penduduk indonesia itu ada 250 juta jiwa. Ini adalah pasar yang besar, tetapi (dalam sektor) infrastruktur, institusi, teknologi dan tenaga kerja, jadi ada empat faktor yang harus diperbaiki agar Indonesia bisa lebih baik”.

Menko Perekonomian RI, Hatta Radjasa mengakui persoalan infrastruktur masih banyak yang harus diperbaiki. Hal tersebut dapat dilihat pada pernyataannya di bawah ini84 : “Pemerintah dan DPR-RI sedang menggodok RUU mengenai pengadaan lahan untuk kepentingan umum. Menko berharap RUU tersebut dapat segera disahkan menjadi Undang-Undang. Jika undang-undang sudah dimiliki maka akan menambah kepercayaan investor dan menambah percepatan dalam pembangunan infrastruktur Indonesia. 28 ruas jalan tol Indonesia terhambat,
Kompasiana, “Peringkat Daya Saing Investasi Negara Indonesia Meningkat”, http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2011/04/07/peringkat-daya-saing-investasi-negara-indonesiameningkat/., diakses pada 11 April 2011. 83 VOA News, “Laporan World Economic Forum : Peringkat Daya Saing Indonesia Naik”, Sabtu, 23 Oktober 2010. Lihat : Harian Kompas, “Infrastruktur : Kemampuan Dana Pemerintah Hanya 20 Persen”, diterbitkan Kamis, 30 September 2010. Lihat juga : Harian Bisnis Indonesia, “RI Janji Perbaiki Infrastruktur : Kebijakan Investasi Sebaiknya Ditata Ulang”, diterbitkan Senin, 20 September 2010. 84 Ibid.
82

57

salah satu faktor utamanya karena masalah belum diundangkan RUU tersebut. Regulasi lain dapat dilihat begitu banyak di bottle-necking process yang dilakukan, tinggal konsistensi menjalankannya”.

Pada tahun 2011, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 6,5%. Untuk mencapai pertumbuhan tersebut, pemerintah butuh meningkatkan investasi untuk menciptakan lapangan kerja sehingga infrastruktur menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan.

C.

KEBIJAKAN HUKUM PERSAINGAN Indonesia mengatur persaingan usaha melalui Undang-Undang No. 5 Tahun

1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat yang disahkan dan diundangkan tanggal 5 Maret 1999. Secara konstitusional UU ini diarahkan untuk melaksanakan amanah UUD 1945 yaitu terwujudnya kesejahteraan rakyat berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Konsideran UU No.5/1999 dengan tegas menyebutkan bahwa demokrasi dalam bidang ekonomi menghendaki adanya kesempatan yang sama bagi setiap warga Negara untuk berpartisipasi di dalam proses produksi dan pemasaran barang dan atau jasa, dalam iklim usaha yang sehat, efektif, dan efisien sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan bekerjanya ekonomi pasar yang wajar. Untuk itu setiap orang yang berusaha di Indonesia harus berada dalam situasi persaingan yang sehat dan wajar, sehingga tidak menimbulkan adanya pemusatan kekuatan ekonomi pada pelaku usaha tertentu, dengan tidak

58

terlepas dari kesepakatan yang telah dilaksanakan oleh negara Republik Indonesia terhadap perjanjian-perjanjian internasional. Tujuan dari Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat sebagaimana yang termaktub dalam Pasal 3, yaitu85 : 1. “Menjaga kepentingan umum dan meningkatkan efisiensi ekonomi nasional sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat; 2. Mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan persaingan usaha yang sehat sehingga menjamin adanya kepastian kepastian berusaha yang sama bagi pelaku usaha besar, pelaku usaha menengah, dan pelaku usaha kecil; 3. Mencegah praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang ditimbulkan oleh pelaku usaha; dan 4. Terciptanya efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan usaha”. Azas Demokrasi Ekonomi yang dimaksud yaitu Azas Ekonomi Pancasila 86 : 1. Peranan dominan koperasi bersama dengan perusahaan-perusahaan negara dan perusahaan-perusahaan swasta. Semua bentuk badan usaha didasarkan pada azas kekeluargaan dan prinsip harmoni dan bukan azas kepentingan pribadi dan prinsip konflik kepentingan; 2. Memandang manusia secara utuh. Manusia bukan semata-mata

homooikonomikus tetapi juga social man and religious man, dan sifat manusia terakhir ini dapat dikembangkan setaraf dengan sifat yang pertama sebagai motor penggerak kegiatan duniawi (ekonomi);

Pasal 3, Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. 86 Mubyarto dan Boediono, Ekonomi Pancasila, (Yogjakarta : Universitas Gadjah Mada, 1981), hal. 10-11, sebagaimana dikutip Soetrisno P. H., Op.cit., hal. 115.

85

59

3. Adanya kehendak sosial yang kuat ke arah egalitarianisme atau pemerataan sosial; 4. Prioritas utama terhadap terciptanya suatu perekonomian nasional yang tangguh. Konsep perekonomian nasional berfungsi sebagai pupuk ketahanan nasional untuk mencapai suatu perekonomian yang mandiri, tangguh dan terhormat di arena internasional, dan didasarkan atas azas solidaritas.

Sehingga, maksud dan tujuan Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat ini menggunakan azas ekonomi Pancasila yang berlandaskan koperasi yaitu tolong-menolong dan azas kekeluargaan. Masyarakat adalah motor penggerak perekonomian bangsa dengan semangat keadilan sosial dalam konteks kesejahteraan sebagai pupuk ketahanan dan pertahanan nasional yang mencapai perekonomian yang mandiri, tangguh dan terhormat di dunia didasarkan atas azas kebersamaan. Maksudnya sama-sama bergerak ke arah yang lebih baik pada golongan kelas, kelas menengah, dan kelas bawah. Jika hal itu terwujud maka perbedaan kelas tersebut akan hilang dengan sendirinya. Inilah sebenarnya tujuan dari ekonomi sosialis, tidak ada orang kaya maupun miskin, semua sama di mata pemerintah karena pemerintah yang berkuasa.

1.

Sifat Kebijakan Persaingan Dua hal yang menjadi unsur penting bagi penentuan kebijakan (policy

objectives) yang ideal dalam pengaturan persaingan di negara-negara yang memiliki

60

undang-undang persaingan adalah kepentingan umum (public interest) dan efisiensi ekonomi (economic efficiency). Ternyata dua unsur penting tersebut (Pasal 3 huruf a.) juga merupakan bagian dari tujuan diundangkannya UU No. 5 Tahun 1999. Pasal 2 dan 3 UU No.5/1999 menyebutkan asas dan tujuan-tujuan utama UU No. 5 Tahun 1999. Diharapkan bahwa peraturan mengenai persaingan akan membantu dalam mewujudkan demokrasi ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 Ayat 1 UUD 1945 (Pasal 2) dan menjamin sistem persaingan usaha yang bebas dan adil untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat serta menciptakan sistem perekonomian yang efisien (Pasal 3). Oleh karena itu, mereka mengambil bagian pembukaan UUD 1945 yang sesuai dengan Pasal 3 Huruf a dan b UU No. 5 Tahun 1999 dari struktur ekonomi untuk tujuan perealisasian kesejahteraan nasional menurut UUD 1945 dan demokrasi ekonomi, dan yang menuju pada system persaingan bebas dan adil dalam pasal 3 Huruf a dan b UU No. 5 Tahun 1999. Hal ini menandakan adanya pemberian kesempatan yang sama kepada setiap pelaku usaha dan ketiadaan pembatasan persaingan usaha, khususnya penyalahgunaan wewenang di sektor ekonomi. Sebagai asas dan tujuan, Pasal 2 dan 3 tidak memiliki relevansi langsung terhadap pelaku usaha, karena kedua pasal tersebut tidak menjatuhkan tuntutan konkrit terhadap perilaku pelaku usaha. Walaupun demikian, kedua pasal tersebut harus digunakan dalam interpretasi dan penerapan setiap ketentuan dalam UU No. 5 Tahun 1999. Misalnya, sehubungan dengan penerimaan dan jangkauan dari rule of

61

reason

87

dalam rangka ketentuan tentang perjanjian-perjanjian yang dilarang (Pasal

4-16), harus diperhatikan bahwa Pasal 2 dan 3 tidak menetapkan tujuan-tujuan yang dilaksanakan dalam bidang sumber daya manusia, kebijakan struktural dan perindustrian. Relevansi pertimbangan efisiensi bagi kebijakan kompetisi adalah bahwa penggunaan sumber daya yang tidak efisien, dengan kata lain, akan mengakibatkan harga tinggi, output rendah, kurangnya inovasi dan pemborosan penggunaan sumber daya. Bila perusahaan bersaing satu sama lain untuk mengidentifikasikan kebutuhan konsumen, memproduksi apa yang dibutuhkan konsumen pada harga yang paling rendah yang dapat dihasilkannya dan terus menerus berusaha meningkatkan dan melakukan inovasi untuk meningkatkan penjualan, sumber daya digunakan secara lebih produktif dan konsumen mendapatkan apa yang dibutuhkannya.88 Penggunaan sumber daya yang ada dengan lebih produktif akan memberikan konsekuensi output yang lebih besar dan kemudian menjadikan pertumbuhan ekonomi dan kekayaan yang lebih besar bagi negara. Harga yang rendah akan memberikan konsumen pendapatan yang lebih tinggi untuk dibelanjakan pada

Glossary of Industrial Organization Economics and Competition Law, English Version, OECD, Paris, 1996, page 51, Rule of Reason is a legal approach by competition authorities or the courts where an a ttempt is made to evaluate the pro-competitive features of a restrictive business practices against its anticompetitive effects in order to decide whether or not the practice should be prohibited. Some market restrictions which prima facie give rise to competition issues may on further examination be found to have valid efficiency-enhacing benefits. For example, a manufacturer may restrict supply of a product in different geographic markets only to existing retailers so that they earn higher profits and have an incentive to advertise the product and provide better service to customers. This may have the effect of expanding the demand for the manufacturer’s product more than the increase in quantity demanded at a lower price. The opposite of the Rule of Reason approach is to declare certain business practices per se illegal, that is always illegal. 88 Laporan Kebijakan Persaingan Indonesia : Indonesian Competition Report, (Elips, 2000) sebagaimana dikutip dalam Andi Fahmi Lubis, et.al., Hukum Persaingan Usaha : Antara Teks dan Konteks, (Jakarta : KPPU, GTZ, Kerjasama RI dan Republik Federal German, 2009), hal. 17.

87

62

pembelian lain, investasi atau untuk ditabung. Total surplus, atau kekayaan dari konsumen maupun produsen bertambah besar. Oleh sebab itu kebijakan persaingan yang mengurangi hambatan terhadap persaingan akan membantu usaha mencapai tujuan bermanfaat bagi masyarakat. Perlindungan konsumen dan persaingan merupakan dua hal yang saling berhubungan dan saling mendukung. Harga murah, kualitas tinggi dan pelayanan yang baik merupakan tiga hal yang fundamental bagi konsumen dan persaingan merupakan cara yang terbaik untuk menjaminnya. Oleh karena itu, hukum persaingan tentu harus sejalan atau mendukung hukum perlindungan konsumen. Efisiensi ekonomi meningkatkan kekayaan, termasuk kekayaan konsumen, konsumen dalam arti luas adalah masyarakat, melalui penggunaan sumber daya yang lebih baik. Beberapa ahli berpendapat bahwa maksimalisasi kesejahteraan konsumen harus menjadi satu satunya tujuan utama dari kebijakan persaingan, yang mereka maksudkan biasanya adalah perusahaan seharusnya tidak dapat menaikkan harganya serta bahkan seharusnya mencoba untuk menurunkannya supaya lebih kompetitif (yaitu dapat menjual produknya). Konsumen pun biasanya lebih diuntungkan apabila mutu, ketersediaan dan pilihan barang dapat ditingkatkan. Fokus terhadap kesejahteraan konsumen mungkin berasal dari pemahaman bahwa konsumen harus mampu diproteksi dari produsen dan pemindahan kekayaan dari konsumen kepada produsen, seperti yang tampak kalau dibandingkan antara monopoli dan persaingan sempurna, adalah hal yang tidak adil. Banyak ekonom berkeyakinan pengalihan kesejahteraan tersebut adalah peristiwa ekonomi yang ”netral”, karena menentukan

63

siapa seharusnya yang ”memiliki” surplus bukanlah merupakan bagian ilmu ekonomi. Bagi Indonesia sebagaimana tercermin pada tujuan dari UU No. 5 Tahun 1999 maka tujuan tidak sekedar memberikan kesejahteraan kepada konsumen namun juga memberikan manfaat bagi publik. Dengan adanya kesejahteraan konsumen maka berdampak pada terciptanya kesejahteraan rakyat. Pasal 3 itulah yang membedakan dengan UU Persaingan di negara lain yang tidak sekedar menjamin adanya kesejahteraan konsumen tetapi juga menjaga kepentingan umum dan meningkatkan efisiensi ekonomi nasional. Walaupun hal ini terasa kontroversial dengan tujuan UU negara lain dan bahkan sering menimbulkan masalah dalam interpretasi dalam menentukan prioritas mana yang lebih diutamakan.

2.

Komitmen Pemerintah Persaingan

terhadap

Kebijakan

yang

Mendukung

Idealnya Pemerintah harus memiliki komitmen yang tinggi untuk mendukung terwujudnya persaingan usaha usaha yang sehat. Kompleksitas permasalahan dunia usaha di Indonesia, seperti iklim usaha yang kurang kondusif, praktek persaingan yang tidak sehat, struktur pasar yang cenderung monopolis, daya saing rendah dan lain sebagainya harus diatasi dengan pendekatan yang terintegral dan komprehensif, salah satunya adalah penegakan hukum persaingan. Hukum persaingan ditegakkan tidak saja secara represif tetapi juga secara preventif dengan mengimplementasikan

64

norma-norma hukum persaingan dalam kebijakan dan regulasi yang dibuat pemerintah. Namun demikian KPPU ternyata pandangan KPPU dan pemerintah terhadap hukum persaingan usaha dalam kurun 10 tahun ini belum sama. Selama 10 tahun KPPU memberikan pemahaman dan kesamaan persepsi dan menempatkan hukum dan kebijakan persaingan usaha dalam sistem perekonomian nasional. Karena itu diperlukan adanya harmonisasi antara kebijakan pemerintah dan kebijakan persaingan. Sekaligus memberi pemahaman tentang apa itu KPPU serta fungsi dan peranannya. Lebih lanjut dikatakan tentang penyebab kurang harmonisnya pandangan Pemerintah dan KPPU pada beberapa hal89 : “Saya kira ada dua alasan. Pertama, tidak perduli. Kedua, tidak paham. Ketidakperdulian menyebabkan ketidaktahuan dan berujung pada ketidakpahaman. Sebaliknya ketidakpahaman mengakibatkan ketidakperdulian. Ini terjadi karena hukum persaingan usaha adalah sesuatu yang baru. Berbeda dengan lembaga persaingan di negara lain yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu yang nilai-nilai persaingan sehat sudah terinternalisasi dalam kebijakan hukum dan kebijakan ekonominya. Di tanah air, KPPU masih menjadi momok bagi pelaku usaha tertentu yang terbiasa menerima fasilitas khusus dari pembuat kebijakan. Mengapa? Karena KPPU-lah yang mengawasi pemberian fasilitas tersebut. Hal ini tentunya menimbulkan benturan. Oleh karena itu, kita harus menegaskan bahwa kehadiran UU Nomor 5 Tahun 1999 dan KPPU bukan untuk menghambat jalannya bisnis, namun untuk mengatur kegiatan bisnis tersebut berjalan dengan adil dan bersih”. Pandangan lain menyatakan bahwa mengingat hukum persaingan usaha masih merupakan hal yang baru, maka banyak pihak yang belum begitu menyadari

KPPU, “Putusan KPPU Untuk Kepentingan Konsumen”, http://www.kppu.go.id/id/putusan-kppu-untuk-kepentingan-konsumen/., diakses pada 12 Juni 2011.

89

65

peran, fungsi dan aturan main dari undang-undang ini. KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) sebagai lembaga independen yang mempunyai kewenangan untuk menegakan hukum persaingan usaha seringkali menemui hambatan baik dari kalangan swasta maupun dari kalangan pemerintah sendiri. Hal ini antara lain terlihat dari masih adanya peraturan atau regulasi yang dikeluarkan oleh pejabat negara justru bertentangan dengan prinsip persaingan usaha. Selain itu dengan telah diberlakukannya undang-undang otonomi daerah membawa pengaruh terhadap kebijakan persaingan di daerah. Kewajiban pemerintah daerah untuk mencari sumber pendanaannya sendiri, disamping juga adanya pemberian kewenangan yang relatif lebih besar membawa akibat banyaknya kebijakan-kebijakan daerah yang membatasi ruang gerak pelaku usaha dari daerah lain. Kebijakan-kebijakan yang lebih mengutamakan BUMD atau pengusaha lokal dengan menutup kemungkinan pelaku usaha dari daerah lain untuk masuk ke dalam pasar, kemungkinan melanggar prinsipprinsip persaingan usaha yang sehat.90 Sejak tahun 2007 sampai dengan 2009 anggaran KPPU justru terus dipangkas, yakni di tahun 2007 anggaran KPPU sebesar Rp. 89 miliar, yang kemudian menyusut di tahun 2008 menjadi sebesar Rp. 84 miliar dan di tahun 2009 menjadi berkisar Rp. 82 miliar. 91 Secara keseluruhan anggaran KPPU selama 9 tahun adalah sebesar Rp. 471 miliar, sementara sumbangan KPPU ke negara melalui sanksi

Mardiharto Tjokrowarsito, “Kebijakan Persaingan pada Industri Jasa Penerbangan Dilihat dari Perspektif perlindungan Konsumen”, www.bewppenas.go.id., diakses pada 16 Mei 2011. 91 Hukum Online, “Komisi Yang Jatuh Ketika Sedang Bersinar : Catatan Akhir Tahun KPPU”, http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol20819/komisi-yang-jatuh-ketika-sedangbersinar., diakses pada 12 Juni 2011

90

66

denda mencapai Rp. 1 triliun. Pandangan ini juga banyak ditentang karena kinerja KPPU bukanlah dilihat dari besaran denda yang disumbangkan ke kas negara. 92 Adapun perbandingan anggaran KPPU selama 5 tahun terakhir adalah sebagai berikut93 : 1. Tahun 2005 sebesar Rp. 42.300.000.000,2. Tahun 2006 sebesar Rp. 80.000.000.000,3. Tahun 2007 sebesar Rp. 89.000.000.000,4. Tahun 2008 sebesar Rp. 84.000.000.000,5. Tahun 2009 sebesar Rp. 82.000.000.000,-

Selain melakukan fungsi penegakan hukum persaingan, KPPU melakukan harmonisasi kebijakan yang terkait dengan isu persaingan usaha. Harmonisasi kebijakan dapat dilakukan sebelum atau pada saat regulasi dibuat atau setelah regulasi ditetapkan (yang biasa disebut evaluasi kebijakan). Hasil kajian mengenai kebijakan pemerintah akan mengerucut pada ada tidaknya hal yang bertentangan dengan prinsip persaingan usaha sehat sebagaimana diatur dalam UU No. 5 Tahun 1999. Jika ada hal yang bertentangan, maka KPPU dapat memberikan saran dan pertimbangan kepada Pemerintah. Untuk tahun 2010, KPPU telah memberikan saran pertimbangan sebanyak 13 saran pertimbangan, yang terdiri dari 12 saran pertimbangan yang berasal dari Evaluasi dan Kajian Dampak Persaingan Usaha
Hukum Online, “Catatan Akhir Tahun KPPU : Komisi yang Jatuh Ketika Sedang Bersinar”, http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol20819/komisi-yang-jatuh-ketika-sedangbersinar., diakses pada 12 Juni 2011. 93 Hendra Setiawan Boen, “Mencermati Kebebasan Penyusunan Anggaran KPPU”, http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4b482c1acc935/mencermati-kebebasan-penyusunananggaran-kppu-broleh-hendra-setiawan-boen., diakses pada 12 Juni 2011.
92

67

tahun 2009 dan 2010 serta satu saran pertimbangan yang berasal dari Putusan KPPU. Dari 13 surat saran pertimbangan tersebut, terdapat tiga atau 43,3% surat yang telah direspon oleh lembaga terkait. Hal ini telah memenuhi target rencana strategis 2012 yang menetapkan effective rate sebesar 25% dengan rincian sebagai berikut94 :
Tabel 4. Saran Pertimbangan KPPU kepada Pemerintah RI Mengenai Kebijakan Persaingan yang Diterima dan Sudah Dilakukan Oleh Pemerintah Tgl Surat/Tujuan Surat Surat Nomor 02/K/I/2010 tentang Pekan Raya Jakarta Sumber, Materi Kebijakan, dan Isu Persaingan Usaha Penyelenggaraan Pekan Raya Jakarta (PRJ) didasarkan pada Perda No. 12 Tahun 1991 tentang Penyelenggaraan Pekan raya Jakarta. Penyelenggara dan pemegang izin tunggal Pekan Raya Jakarta bertentangan dengan prinsip-prinsip persaingan usaha yang sehat karena penunjukannya tidak melalui persaingan usaha yang sehat. Regulasi tersebut menimbulkan praktek monopoli oleh PT. Jakarta International Expo. KPPU menemukan adanya praktek pemberian asuransi tambahan selain asuransi wajib kecelakaan lalu lintas oleh PT. Jasa Raharja bagi penumpang PT. Kereta Api serta penumpang kendaraan umum di DI. Yogjakarta. Kebijakan tersebut diatur dalam Keputusan Gubernur DIY No. 050 Tahun 1995, dimana Dinas Perhubungan DIY menyatakan bahwa kebijakan yang diatur dalam Perda tersebut tidak dilaksanakan meskipun Perda masih berlaku. Analisis KPPU terkait dengan Isi Saran Pertimbangan KPPU menyarankan agar Perda No. 12 Tahun 1991 tentang Penyelenggaraan Pekan Raya Jakarta (PRJ) dicabut dan dibuat regulasi yang memuat ketentuan bahwa pemilihan penyelenggara Pekan Raya Jakarta dapat dilaksanakan sesuai dengan prinsipprinsip persaingan usaha yang sehat.

No. 1.

Keterangan Saat ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah mengupayakan adanya proses pelelangan terhadap penyelenggaraan Pekan Raya Jakarta.

2.

Surat Nomor 11/K/I/2010 tentang Kebijakan Industri Asuransi Wajib Kecelakaan Lalu Lintas di Indonesia

KPPU menyarankan Pemerintah untuk : 1. Terus meningkatkan pengawasan atas kualitas pelayanan asuransi wajib kecelakaan lalu lintas PT. Jasa Raharja; 2. Membatalkan praktek asuransi tambahan yang diwajibkan tanpa ada landasan hukumnya, yang dimonopoli oleh pelaku usaha tertentu; 3. Membatalkan Keputusan Gubernur DIY No. 050 Tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Asuransi Orang Dengan

Telah mendapat tanggapan resmi dari Pemerintah yaitu Sekretariat Negara, yang isinya akan menindaklanjuti surat saran dan pertimbangan KPPU kepada instansi terkait. Kebijakan di Yogja telah dicabut dan kini telah diganti dengan kebijakan yang selaras dengan prinsip persaingan usaha yang sehat.

94

KPPU RI, Laporan Tahun 2010, (Jakarta : KPPU, 2010), hal. 10-24.

68

3.

Surat No. 96/K/VI/2010 tanggal 3 Juni 2010 perihal Kebijakan Peredaran Unggas di Wilayah DKI Jakarta

asuransi tambahan tersebut menyatakan bahwa praktek asuransi tambahan untuk kecelakaan lalu lintas namun diwajibkan kepada penumpang adalah bertentangan dengan regulasi asuransi di Indonesia. Praktek tersebut juga menghilangkan pilihan konsumen untuk memilih provider asuransi. Dalam Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 4 Tahun 2007 tentang Pengendalian Pemeliharaan dan Peredaran Unggas khususnya pasal 6 disebutkan bahwa unggas pangan yg memasuki wilayah DKI Jakarta melalui lokasi tempat penampungan. Dalam pelaksanaannya, pemerintah hanya menetapkan lima titik Rumah Pemotongan Ayam (RPA) untuk seluruh wilayah DKI Jakarta. Ketentuan pembatasan RPA ini menimbulkan hambatan bagi para penampung dan pemotong ayam yg tidak tertampung di lima RPA tersebut. Pembatasan jumlah RPA juga menjadi hambatan bagi pelaku usaha RPA potensial untuk membangun RPA di Jakarta.

Kendaraan Bermotor Umum di Wilayah Provinsi DIY.

KPPU menyarankan agar Pemerintah DKI Jakarta melakukan perbaikan terhadap regulasi pengendalian peredaran unggas dengan: 1. Menyiapkan infrastruktur RPA yg diperlukan. 2. Menentukan pengaturan RPA yg tidak dibatasi dalam jumlah, namun menekankan pada aspek kualitas berdasarkan SNI 01-6160-1999 tentang Rumah Potong Unggas serta melakukan tindakan hukum yg tegas bagi pelaku usaha RPA yg melakukan pelanggaran. 3. Menerapkan prinsip competition for the market dalam menentukan operator RPA di DKI Jakarta. 4. Menjaga konsistensi pelaksanaan aturan dengan tetap menjaga kesesuaian tujuan pembuatan aturan yaitu untuk menjaga kesehatan masyarakat. Sehingga tidak ada lagi RPA yang dibangun di dekat pemukiman penduduk seperti RPA Pulo Gadung sebagaimana dipersyaratkan dalam SNI 01-6160-1999 tentang Rumah Potong Unggas.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengungkapkan tanggapan atas saran KPPU dalam harian Jurnal Nasional. Pemprov DKI menyatakan bahwa kini memberikan kebebasan kepada para pengusaha untuk mendirikan RPA di wilayah DKI Jakarta dan tidak terbatas pada 5 RPA saja. 5 RPA tersebut dibangun dengan tujuan untuk melindungi warga dari virus flu burung, bukan untuk membatasi pelaku usaha.

Sumber

:

Laporan Tahun 2010, Komisi Pengawas Persaingan Usaha

69

Dengan berangkat dari keberhasilan KPPU dalam mengawal kebijakan persaingan sehat maka KPPU merupakan lembaga yang sangat berperan dalam mendukung berbagai kebijakan Pemerintah yang menyalahi prinsip-prinsip anti monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.

3.

Keberadaan dan Tingkat Kebijakan Industri, Tingkat Nasional Baik Pemerintah Maupun Swasta Tingginya tingkat persaingan (rivalry) merupakan salah satu faktor utama

daya saing suatu negara karena dapat menyalurkan alokasi ekonomi secara efisien, memicu terciptanya inovasi, murahnya harga dan peningkatan kualitas. Meskipun demikian perusahaan cenderung untuk bersikap menghindar dari persaingan. Oleh karena itu, perlu kelembagaan yang menjamin persaingan tetap ada. Pada tahun 2010, Pemerintah Indonesia dan Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) melakukan penyusunan Policy Framework for Investment (PFI) untuk Indonesia.95 Salah satu poin penting dalam penguatan PFI adalah keberadaan hukum persaingan usaha di Indonesia. 96

Lampiran I, Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI No. PER01/M.EKON/01/2010, tanggal 29 Januari 2010. 96 Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009 : Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat, Cetakan Pertama, (Jakarta : Sekjen DPR RI, UNDP, AusAid, Oktober 2009), hal. 59. Lihat juga : Mardiharto Tjokrowasito, “Kebijakan Persaingan Pada Industri Jasa Penerbangan Dilihat Dari Perspektif Perlindungan Konsumen”, (Jakarta : Bappenas RI, 2009), hal. 1, menyatakan bahwa : “Dalam era globalisasi dan transparansi seperti sekarang ini tentunya monopoli yang dipegang oleh negara harus kembali dikaji, jangan sampai dengan alasan untuk kepentingan umum suatu sektor dimonopoli oleh negara akan tetapi hasilnya justru hanya menguntungkan orang-orang tertentu atau kelompok tertentu saja. Adanya undang-undang persaingan usaha ini pada dasarnya merupakan salah satu syarat bagi suatu negara yang akan memberlakukan ekonomi pasar. Oleh karenanya ekonomi pasar tanpa adanya aturan main yang jelas akan menimbulkan kesewenang-wenangan, dimana pelaku usaha besar akan mematikan pelaku usaha kecil yang merupakan saingannya. Pasar persaingan sempurna, merupakan struktur pasar yang paling ideal

95

70

Terkait dengan kebijakan persaingan, tujuan dari PFI ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan konsumen dengan mempromosikan persaingan usaha yang sehat dan mengendalikan perilaku yang menghambat persaingan. Keberadaan pasar yang kompetitif dapat mengarah kepada turunnya harga konsumen, meningkatnya partisipasi pelaku usaha baru untuk masuk ke pasar melalui investasi, meningkatkan kualitas dan variasi produk. Dalam perkembangannya OECD juga mengembangkan sebuah toolkit untuk mengevaluasi sejauh mana PFI tersebut diterapkan di perekonomian. Khusus mengenai kebijakan persaingan, terdapat tujuh pernyataan dalam toolkit yang dapat menggambarkan penerapan PFI tersebut. Ketujuh pertanyaan tersebut antara lain tentang transparansi dan non-diskriminasi, implementasi hukum dan kebijakan persaingan, praktik anti persaingan, evaluasi kebijakan pemerintah dan harmonisasi kebijakan, kebijakan industri, privatisasi, serta kerjasama internasional. 97 Output dari kegiatan PFI ini kemudian dituangkan dalam laporan Investment Policy Report Indonesia 2010 yang dapat dilihat dari situs OECD. Sejauh ini KPPU sebagai lembaga otoritas penegak hukum persaingan di Indonesia memainkan peran penting dalam terciptanya iklim persaingan usaha yang sehat dan penting bagi

dalam suatu negara yang menganut sistem mekanisme pasar. Dalam pasar persaingan sempurna, produsen memiliki kemampuan yang sama antara satu dengan yang lainnya, sehingga agar dia dapat tetap bertahan atau lebih unggul dari produsen sejenisnya maka dia harus mempu menciptakan inovasi atau terobosan baru. Sebagai akibatnya ekonomi pasar yang ditandai dengan adanya persaingan antar pelaku usaha akan menciptakan efisiensi-efisiensi dalam memanfaatkan sumber daya yang ada. Seorang pelaku usaha yang tidak dapat menjalankan usahanya secara efisien pasti pada akhirnya akan tergilas oleh pesaingnya”. 97 Website PFI, “The Policy Framework for Investment (PFI)”, http://www.oecd.org/document/61/0,3746,en_2649_34893_33696253_1_1_1_1,00.html., diakses pada 12 Juni 2011. Lihat juga : Misuzu Otsuka, et.al., “Improving Indonesia’s Investment Climate”, http://www.oecd.org/dataoecd/52/26/47556737.pdf., diakses pada 12 Juni 2011.

71

peningkatan investasi. Pada akhirnya kembali mencoba menjawab seberapa penting keberadaan hukum persaingan usaha di Indonesia dapat membantu terciptanya peningkatan investasi. Jawabannya tentu sangat relevan bahwa hukum persaingan usaha tidak dapat dipisahkan dari peningkatan investasi di Indonesia.98 Mengenai investasi di Indonesia, Pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional dengan tujuan, antara lain untuk : Pengembangan industri nasional dalam peningkatan daya saing industri dan yang memiliki struktur yang sehat dan berkeadilan, berkelanjutan, serta mampu memperkokoh ketahanan nasional; Memberikan fasilitas bagi penanaman modal yang sesuai dengan kebijakan industri nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah; dan Menetapkan kebijakan industri nasional sebagai pedoman dalam pengembangan industri nasional dan sebagai dasar pemberian fasilitas pemerintah.99 Departemen Perindustrian RI sebagai Dewan Pembina Industri sangat memahami bahwa masalah energi merupakan suatu faktor yang sangat dominan dalam kelangsungan usaha industri di Indonesia. Adapun permasalahan di bidang energi yang terkait dengan sektor industri, antara lain 100 : 1. Kebutuhan akan energi baik listrik maupun migas terus bertambah; 2. Semakin berkurangnya sumber daya alam penghasil energi; 3. Kemampuan negara yang semakin berkurang untuk terus mensubsidi sektor energi;
98 99

OECD, Indonesia Investment Policy Review, (Jakarta : OECD, 2010), hal. 29. Bagian Menimbang, Peraturan Presiden No. 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri

Nasional. Bataviase, “Pembangunan Sektor Industri Masih Terkendala Masalah Klasik”, http://bataviase.co.id/node/626871., diakses pada 12 Juni 2011.
100

72

4. Semakin meningkatnya harga jual listrik dan migas sebagai konsekuensi pengurangan subsidi.

Upaya untuk mengatasi permasalahan di bidang energi yang terkait dengan sektor industri di atas, Pemerintah mengeluarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014 yang disosialisasikan di Wilayah Jawa dan Bali. Penyusunan RPJMN 2010-2014 dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu101 : 1. Penyusunannya difokuskan pada prioritas-prioritas nasional. Dalam RPJMN 2010-2014 kerangka visi di atas dioperasionalkan dalam pelaksanaan 11 (sebelas) prioritas nasional yang meliputi : (1) reformasi birokrasi dan tata kelola; (2) pendidikan; (3) kesehatan; (4) penanggulangan kemiskinan; (5) ketahanan pangan; (6) infrastruktur; (7) iklim investasi dan usaha; (8) energi; (9) lingkungan hidup dan bencana; (10) daerah tertinggal, terdepan, terluar, dan pascakonflik; serta (11) kebudayaan, kreativitas, dan inovasi teknologi. Di samping itu, upaya pencapaian visi nasional juga akan didukung oleh prioritas lainnya di 3 (tiga) bidang: politik, hukum dan keamanan (polhukam), perekonomian, serta kesejahteraan rakyat. 2. Penyusunan rencana kerja yang implementatif. Dalam hal ini yang dimaksud implementatif adalah strategi dan program-program yang disusun dengan memperhatikan sumber daya yang tersedia (resource envelope), disertai
Bappenas RI, “Sosialisasi Rencana Pembangunan Jangka Menegah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014 Wilayah Jawa-Bali”, http://www.bappenas.go.id/node/116/2577/sosialisasirencana-pembangunan-jangka-menengah-nasional--rpjmn-tahun-2010-2014-wilayah-jawa-bali/., diakses pada 12 Juni 2011.
101

73

indikator capaian yang terukur, jelas penanggungjawabnya, dan jelas pula biaya yang diperlukan untuk melaksanakannya. Setiap program harus jelas kaitannya dengan sasaran-sasaran utama.

Dokumen RPJMN 2010-2014 dijadikan pegangan bagi Pemerintah dalam melaksanakan pembangunan dalam lima tahun ke depan baik di pusat maupun di daerah yaitu menjadi acuan bagi penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Kementerian dan Lembaga serta penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

4.

Sifat dan Struktur Lembaga Persaingan (Eksekutif dan Yudikatif) Lembaga persaingan di Indonesia adalah Komisi Pengawas Persaingan Usaha

(KPPU) sebagai lembaga dibawah lembaga eksekutif. 102 KPPU berkedudukan sebagai lembaga independen yang berfungsi sebagai pengawas atas pelaksanaan UU No. 5/1999. Untuk melaksanakan fungsi tersebut, KPPU dibantu oleh Sekretariat

dan Kelompok Kerja. UU No. 5/1999 memberikan kewenangan kepada Komisi untuk membentuk Sekretariat dengan struktur organisasi, tugas dan fungsi sekretariat yang ditentukan langsung oleh Komisi. Selain itu, Komisi juga dapat membentuk Kelompok Kerja. Berdasarkan Keputusan Presiden No. 75 Tahun 1999 tentang Komisi Pengawas Persaingan Usaha ditetapkanlah pembentukan, susunan organisasi, tugas dan fungsi dari KPPU.

Pasal 30 ayat (3), Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

102

74

Dalam perkembangannya setelah melalui perjuangan yang cukup panjang dan pembahasan dengan Pemerintah, akhirnya Keppres No. 75 Tahun 1999 tentang Komisi Pengawas Persaingan Usaha pada tahun 2008 mengalami perubahan berdasarkan Peraturan Presiden No. 80 Tahun 2008. Komisi dalam mengemban tugas dan wewenangnya wajib

mengejawantahkan ketentuan dalam UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat maupun Keppres 75 Tahun 1999 tentang Komisi Pengawas Persaingan Usaha. Undang-undang tersebut juga memberi wewenang kepada Komisi untuk mengeluarkan suatu keputusan sebagai pedoman internal kinerja KPPU dan kesekretariatan KPPU. Salah satu tugas KPPU sebagaimana dalam Pasal 35 f. UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat adalah membuat Pedoman (Guidelines).103 Selama kurun waktu terbentuknya KPPU, maka ada beberapa Pedoman yang telah dikeluarkan antara lain :
Tabel 5. Daftar Pedoman Komisi Pengawas Persaingan Usaha Tahun 2009-2010 Peraturan KPPU Nomor 1 2 3

No. 1. 2. 3.

Tahun 2010 2010 2010

Tentang Tata Cara Penanganan Perkara Pedoman Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Persekongkolan Dalam Tender Pedoman Pelaksanaan Ketentuan Pasal 51 Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat Pedoman Pelaksanaan Pasal 11 Tentang Kartel Berdasarkan UndangUndang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat Pedoman Pelaksanaan Pasal 14 tentang Integrasi Vertikal Berdasarkan

4.

4

2010

5.

5
103

2010

Pasal 35 huruf f., Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

75

6.

6

2010

7.

7

2010

8. 9. 10. 11. 12. 13.

8 9 10 11 12 13

2010 2010 2010 2010 2010 2010

14. 15. 16.

14 1 2

2010 2009 2009

17.

3

2009

18.

4

2009

19.

5

2009

20.

6

2009

21.

7

2009

Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat Pedoman Pelaksanaan Pasal 25 tentang Penyalahgunaan Posisi Dominan Berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat Pedoman Pelaksanaan Pasal 50 Huruf D tentang Pengecualian Dari Ketentuan Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat Terhadap Perjanjian Dalam Rangka Keagenan Promosi dan Mutasi Pejabat Struktural Pegawai Komisi Pengawas Persaingan Usaha Staf Ahli Komisi Pengawas Persaingan Usaha Formulir Pemberitahuan Penggabungan, Peleburan Badan Usaha, dan Pengambilalihan Saham Perusahaan Konsultasi Penggabungan Atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan Pensiun Pegawai KPPU Pedoman Pelaksanaan Tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan yang Dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat Pedoman Keprotokolan Pra-Notifikasi Penggabungan, Peleburan, dan Pengambilalihan Pedoman Pengecualian Penerapan Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat Terhadap Perjanjian yang Berkaitan Dengan Hak Atas Kekayaan Intelektual Pedoman Penerapan Pasal 1 angka 10 Tentang Pasar Bersangkutan Berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat Pedoman Tindakan Administratif Sesuai Ketentuan Pasal 147 UndangUndang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat Pedoman Pelaksanaan Ketentuan Pasal 50 Huruf A Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat Pedoman Pengecualian Penerapan Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat Terhadap Perjanjian yang Berkaitan Dengan Waralaba Pedoman Jabatan Rangkap Sesuai Ketentuan Pasal 26 Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat

Sumber

:

Website Resmi Komisi Pengawas Persaingan Usaha, www.kppu.go.id, Diakses pada 13 Juni 2011.

Kedudukan Perkom tersebut di atas dapat dilihat pada Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Di dalam Pasal 7 yang mengatur tentang jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan,

76

Perkom tidak disebutkan secara eksplisit sebagai jenis peraturan perundangundangan. Namun demikian, Penjelasan Pasal 7 ayat (4) menyebutkan bahwa jenis peraturan perundang-undangan lain selain dalam ketentuan UU No. 10 Tahun 2004 salah satunya adalah Peraturan yang dikeluarkan Komisi yang dibentuk oleh Undang-Undang atau oleh Pemerintah atas perintah Undang-Undang. 104 Salah satu kewenangan dari KPPU adalah menetapkan peraturan dirinya sendiri atau dikenal dengan istilah self regulatory bodies.105 Kewenangan yang terlihat seperti paling utama dalam menegakkan persaingan usaha tersebut, Komisi dapat melakukan penanganan perkara persaingan usaha dan berwenang untuk menjatuhkan sanksi kepada pelaku usaha yang melanggar UU No. 5 Tahun 1999 (enforcement). Pada awalnya kewenangan ini menimbulkan kontroversi, dimana Komisi dapat bertindak sebagaimana layaknya seorang penuntut umum dan sekaligus sebagai hakim. Sedangkan dalam peradilan di Indonesia, kewenangan tersebut dipisahkan dan tidak berada dalam satu tangan kelembagaan. Oleh karenanya, hukum acara dalam menangani perkara persaingan usaha menjadi kewenangan KPPU untuk menentukan acara pemeriksaan perkara persaingan usaha, dengan mengeluarkan Keputusan No. 05/KPPU/Kep/IX/2000

Aru Armando, ”Peraturan Komisi, Sebuah Produk State Auxillary Agencies”, http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol22468/peraturan-komisi-sebuah-produk-istateauxilliary-agenciesi., diakses pada 13 Juni 2011. 105 Komisi Pengawas Persaingan Usaha yang mengatur dirinya sendiri dengan mengeluarkan peraturan-peraturan komisi, dapat juga dilihat lembaga negara lain yang melakukan demikian yaitu Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM-LK). BAPEPAM-LK juga sebagai self regulatory bodies yang mengatur, mengawasi, dan membina Pasar Modal di Indonesia. Jadi, KPPU bukanlah lembaga satu-satunya yang mengatur dirinya sendiri. Lihat : Pasal 5, UndangUndang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

104

77

tanggal 8 September 2000 tentang Tata Cara Penyampaian Laporan dan Penanganan Dugaan Pelanggaran Terhadap Undang-Undang No. 5 Tahun 1999. Kemudian peraturan ini diperbaiki dengan Peraturan Komisi No. 1 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penanganan Perkara. Kemudian KPPU memperbaiki peraturan tersebut dan menerbitkan Peraturan Komisi No. 1 Tahun 2010 tentang Tata Cara Penanganan Perkara yang dipergunakan sampai saat ini sebagai sumber hukum acara dalam proses pemeriksaan di KPPU (dimulai dari proses pemeriksaan awal). Peraturan ini mengharuskan KPPU untuk meningkatkan kualitas dan transparansi dalam melaksanakan penanganan perkara. 106 Sedangkan terkait dengan upaya keberatan terhadap putusan KPPU, hukum acaranya semula merujuk pada Peraturan Mahkamah Agung RI No. 01 Tahun 2003 tentang Tata Cara Pengajuan Upaya Hukum Keberatan Terhadap Putusan KPPU, namun pada tahun 2005, Peraturan Mahkamah Agung tersebut dianggap tidak berlaku lagi berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung RI No. 03 Tahun 2005. Salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan oleh Pemerintah adalah gaji dari Komisi. Sebagaimana diketahui bahwa dalam Keputusan Presiden No. 6 Tahun 2002 tentang Honorarium Ketua, Wakil Ketua dan anggota Komisi Pengawas Persaingan Usaha yang menggaji ketua dan wakil ketua sebesar Rp. 14.375.000,(empat belas juta tiga ratus tujuh puluh lima ribu rupiah) sedangkan anggota sebesar Rp. 12.500.000,- (dua belas juta lima ratus ribu rupiah). Sangatlah ironis apabila

Bagian Menimbang huruf a., Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha No. 1 Tahun 2010 tentang Tata Cara Penanganan Perkara.

106

78

dibandingkan besarnya gaji dengan beban tugas yang harus dilaksanakan oleh Komisi sebagaimana diamanahkan oleh UU No. 5 Tahun 1999. 107 Selain itu, secara internal KPPU juga perlu dikembangkan untuk lebih meningkatkan penanganan perkara selain persekongkolan tender, tentunya dengan analisa yang lebih mendalam dan pemahaman akan struktur pasar serta pangsa pasar atas suatu industri/bidang usaha serta dengan didukung data yang akurat, sehingga diharapkan KPPU dapat menangani pelanggaran atas setiap pasal-pasal dalam UU No. 5 Tahun 1999. Lembaga yudikadif (peradilan) memainkan peran penting dalam penegakan UU No.5/1999 yakni dalam memeriksa dan mengadili upaya hukum keberatan diajukan para pihak di tingkat Pengadilan Negeri dan kasasi di Mahkamah Agung. Keberatan merupakan satu-satunya upaya hukum terhadap putusan KPPU yang dapat diajukan oleh pelaku usaha. Pasal 44 ayat (2) sebagai dasar hukum pengajuan keberatan menyebutkan bahwa pelaku usaha dapat mengajukan keberatan kepada Pengadilan Negeri selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari setelah menerima pemberitahuan putusan tersebut. Pengadilan Negeri harus memeriksa keberatan pelaku usaha dalam waktu 14 (empat belas) hari sejak diterimanya keberatan

Surat Keputusan Menteri Keuangan No. S-443/MK.02/2004 tanggal 29 Desember 2004. Berdasarkan Keputusan ini, Menteri Keuangan setuju untuk memberikan persekot gaji dan tunjangan dari bawahan sampai atasan KPK, untuk Pimpinan sebesar Rp. 36.783.000,- Wakil Ketua Rp. 34.521.000,- Penasihat/Sekjen/Deputi/Staf Ahli mendapat Rp. 22.000.000,- Direktur/Kepala Biro/Tenaga Fungsional Rp. 18.000.000,-. Jelas hal ini sangat jauh berbeda dengan KPPU yang hanya mendapatkan gaji, Untuk Ketua/Wakil Ketua Rp. 14.375.000,- dan Anggota Rp. 12.500.000,- apalagi beban pekerjaan yang dipikul sangat berat.

107

79

tersebut108 dan harus memberikan putusan dalam waktu 30 (tiga puluh) hari sejak dimulainya pemeriksaan keberatan tersebut.109 Mahkamah Agung RI sebagai badan peradilan tertinggi untuk menyelesaikan permasalahan keberatan mengeluarkan Peraturan Mahkamah Agung (Perma) Republik Indonesia No. 1 Tahun 2003 tentang Tata Cara Pengajuan Upaya Hukum Keberatan terhadap Putusan KPPU. Perma No. 1 Tahun 2003 tersebut merupakan wujud pengakuan Mahkamah Agung RI terhadap eksistensi upaya hukum keberatan. Keberatan diajukan ke Pengadilan Negeri dalam tenggang waktu 14 (empat belas) hari terhitung sejak pelaku usaha menerima pemberitahuan putusan dari KPPU. Dalam hal diajukan keberatan, KPPU merupakan pihak. 110 Dalam hal keberatan diajukan oleh lebih dari satu pelaku usaha untuk putusan yang sama tetapi berbeda tempat kedudukan hukumnya, KPPU dapat mengajukan permohonan tertulis kepada Mahkamah Agung melalui untuk menunjuk salah satu Pengadilan Negeri memeriksa keberatan tersebut. Setelah permohonan diterima, Mahkamah Agung segera

menunjuk Pengadilan Negeri yang memeriksa keberatan tersebut. Dalam hal terjadi keadaan yang demikian, maka jangka waktu pemeriksaan dihitung sejak Majelis Hakim menerima berkas perkara yang dikirim oleh Pengadilan Negeri lain yang tidak ditunjuk oleh Mahkamah Agung.111

Pasal 45 ayat (1), Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. 109 Pasal 45 ayat (2), Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. 110 Pasal 1, Peraturan Mahkamah Agung RI No. 1 Tahun 2003 tentang Tata Cara Pengajuan Upaya Hukum Keberatan Terhadap Putusan KPPU. 111 Pasal 4, Peraturan Mahkamah Agung RI No. 1 Tahun 2003 tentang Tata Cara Pengajuan Upaya Hukum Keberatan Terhadap Putusan KPPU.

108

80

Mahkamah Agung RI pada 14 Juli 2005 menyempurnakan Perma No. 1 Tahun 2003 dengan pertimbangan bahwa Peraturan Mahkamah Agung No. 1 Tahun 2003 tidak memadai untuk menampung perkembangan permasalahan penanganan perkara keberatan terhadap Putusan KPPU. Perma No. 3 Tahun 2005 berupaya menjawab berbagai ketidakjelasan dalam Perma sebelumnya. Berdasarkan Pasal 2 ayat (1) Perma No. 3 Tahun 2005, keberatan terhadap Putusan KPPU hanya diajukan oleh Pelaku Usaha Terlapor kepada Pengadilan Negeri di tempat kedudukan hukum usaha Pelaku Usaha tersebut. Hal ini berarti bahwa secara a contrario pelaku usaha pelapor tidak dapat mengajukan keberatan terhadap putusan KPPU. Sementara berdasarkan Pasal 1 ayat (1) dikatakan bahwa keberatan adalah upaya hukum bagi Pelaku Usaha yang tidak menerima putusan KPPU. Masalahnya adalah bagaimana jika yang tidak menerima putusan KPPU adalah pelaku usaha pelapor dengan alasan permohonan pelaku usaha pelapor tersebut tidak diterima oleh KPPU atau pelaku usaha Terlapor dinyatakan tidak melanggar UU No. 5 Tahun 1999. Hal semacam ini bukan tidak mungkin terjadi. Dalam hukum acara yang berlaku secara umum, pihak yang merasa tidak puas terhadap putusan pengadilan dapat mengajukan banding, tidak terkecuali penggugat atau penuntut umum atau pemohon. Namun dalam hukum persaingan usaha, saat ini peluang yang masih terbuka adalah mengajukan gugatan perdata dengan menggunakan Pasal 1365 KUH Perdata melaluu perbuatan melawan hukum dengan tujuan mendapatkan ganti rugi atas perbuatan yang dilakukan terlapor terhadap pelapor. Hanya saja perdebatan mengenai pembuktian ekonomi yang tidak mudah

81

akan membuat proses persidangan menjadi lebih rumit dari sekedar perkara perdata biasa. Keberatan atas Putusan KPPU diperiksa dan diputus oleh Majelis Hakim. Dalam hal diajukan keberatan, KPPU merupakan pihak. Apakah dengan ditetapkan status KPPU sebagai pihak dalam perkara, KPPU dapat dijatuhi hukuman karena kesalahannya dalam menerapkan hukum sehingga menimbulkan kerugian bagi pelaku usaha terlapor. Penetapan KPPU sebagai pihak semestinya memberikan kedudukan kepada KPPU untuk secara lebih leluasa mempertahankan putusannya. Keberatan diajukan dalam tenggang waktu 14 (empat belas) hari terhitung sejak Pelaku Usaha menerima pemberitahuan putusan KPPU dan atau diumumkan melalui website KPPU. 112 Keberatan diajukan melalui kepaniteraan Pengadilan Negeri yang bersangkutan sesuai dengan prosedur pendaftaran perkara perdata dengan memberikan salinan keberatan kepada KPPU. Dalam hal keberatan diajukan oleh lebih dari 1 (satu) Pelaku Usaha untuk putusan KPPU yang sama, dan memiliki kedudukan hukum yang sama, perkara tersebut harus didaftar dengan nomor yang sama.113 Ketentuan Pasal 4 ayat (3) ini memperjelas bahwa majelis hakim yang akan memeriksa keberatan dari lebih dari satu pelaku usaha terlapor adalah majelis hakim yang sama. Jadi, perkara keberatan yang diajukan lebih dari satu pelaku usaha terlapor tidak diperiksa secara terpisah, yang dapat memungkinkan terjadinya

Pasal 4 ayat (2), Peraturan Mahkamah Agung RI No. 3 Tahun 2005 tentang Tata Cara Pengajuan Upaya Hukum Keberatan Terhadap Putusan KPPU. 113 Pasal 4 ayat (3), Peraturan Mahkamah Agung RI No. 3 Tahun 2005 tentang Tata Cara Pengajuan Upaya Hukum Keberatan Terhadap Putusan KPPU.

112

82

perbedaan putusan atas keberatan yang diajukan. Dalam ayat (4) dinyatakan bahwa apabila keberatan diajukan oleh lebih dari satu Pelaku Usaha untuk putusan KPPU yang sama tetapi berbeda tempat kedudukan hukumnya, KPPU dapat mengajukan permohonan tertulis kepada Mahkamah Agung untuk menunjuk salah satu Pengadilan Negeri disertai usulan Pengadilan mana yang akan memeriksa keberatan tersebut. Apabila dikaitkan dengan ayat (3) Pasal 4, maka majelis hakim yang memeriksa perkara keberatan ini pun adalah satu majelis hakim, karena registrasi dari perkara tersebut dilakukan atas nomor yang sama. Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), oleh KPPU ditembuskan kepada seluruh Ketua Pengadilan Negeri yang menerima permohonan keberatan. Pengadilan Negeri yang menerima tembusan permohonan tersebut harus

menghentikan pemeriksaan dan menunggu penunjukan Mahkamah Agung. Setelah permohonan diterima, Mahkamah Agung dalam waktu 14 (empat belas) hari menunjuk Pengadilan Negeri yang memeriksa keberatan tersebut. Dalam waktu 7 (tujuh) hari setelah menerima pemberitahuan dari Mahkamah Agung, Pengadilan Negeri yang tidak ditunjuk harus mengirimkan berkas perkara disertai (sisa) biaya perkara ke Pengadilan Negeri yang ditunjuk . Segera setelah menerima keberatan, Ketua Pengadilan Negeri menunjuk Majelis Hakim yang sedapat mungkin terdiri dari Hakim-hakim yang mempunyai pengetahuan yang cukup dibidang hukum persaingan usaha.114 Ketentuan Pasal ini menunjukkan adanya komitmen Mahkamah Agung untuk menugaskan hakim-hakim

Pasal 5 ayat (1), Peraturan Mahkamah Agung RI No. 3 Tahun 2005 tentang Tata Cara Pengajuan Upaya Hukum Keberatan Terhadap Putusan KPPU.

114

83

yang memiliki pengetahuan yang spesifik terkait hukum persaingan usaha. Dalam hal pelaku usaha mengajukan keberatan, KPPU wajib menyerahkan putusan dan berkas perkaranya kepada Pengadilan Negeri yang memeriksa perkara keberatan pada hari persidangan pertama. Pemeriksaan dilakukan tanpa melalui proses mediasi. Pemeriksaan tanpa mediasi adalah ketentuan yang logis mengingat KPPU telah menetapkan putusan dan pelaku usaha Terlapor telah mengajukan keberatan, sehingga tujuan dari mediasi tidak relevan. Sesuai ketentuan Pasal 5 ayat (5), 115 maka Majelis Hakim harus memberikan putusan dalam waktu 30 (tiga puluh) hari sejak dimulainya pemeriksaan keberatan tersebut. Masalahnya adalah jangka waktu 30 hari tersebut apakah mencukupi untuk memeriksa berkas perkara dan penerapan hukum yang dilakukan oleh KPPU dalam putusannya. Hal ini bisa dicapai apabila didukung oleh hakim-hakim yang memiliki pengetahuan yang memadai dalam bidang hukum persaingan usaha, sehingga orientasi pemeriksaan keberatan tidak hanya didasarkan pada waktu, tetapi juga kualitas dan akurasi putusan yang dikeluarkan oleh Pengadilan Negeri yang memeriksa dan mengadili keberatan pelaku usaha. Dalam hal Majelis Hakim berpendapat perlu pemeriksaan tambahan, maka melalui putusan sela memerintahkan kepada KPPU untuk dilakukan pemeriksaan tambahan. Perintah majelis hakim yang demikian memuat hal-hal yang harus diperiksa dengan alasan-alasan yang jelas dan jangka waktu pemeriksaan tambahan yang diperlukan. Dalam hal perkara dikembalikan sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 5 ayat (5), Peraturan Mahkamah Agung RI No. 3 Tahun 2005 tentang Tata Cara Pengajuan Upaya Hukum Keberatan Terhadap Putusan KPPU.

115

84

Pasal 6 ayat (3), dalam hal perkara dikembalikan karena diperlukan pemeriksaan tambahan, sisa waktu pemeriksaan keberatan ditangguhkan. 116 Dengan

memperhitungkan sisa waktu pemeriksaan tambahan, sidang lanjutan pemeriksaan keberatan harus sudah dimulai selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah KPPU menyerahkan berkas pemeriksaan tambahan. Pertanyaan yang akan sering muncul adalah bahwa Perma No. 3 Tahun 2005 hanya memberikan hak kepada KPPU untuk melakukan pemeriksaan tambahan. Pelaku usaha terlapor tidak memiliki hak untuk melakukan pemeriksaan tambahan. Bagaimana jika pelaku usaha Terlapor ingin mengajukan bukti-bukti baru? Pada tahapan mana hal ini bisa dilakukan? Idealnya pelaku usaha Terlapor juga diberikan ruang yang sama untuk mengajukan pemeriksaan tambahan dengan menyertakan bukti-bukti yang baru. Jadi, ada ruang bagi usaha Terlapor untuk meyakinkan majelis hakim perlunya pemeriksaan tambahan tersebut untuk memeriksa bukti-bukti baru yang mungkin diajukan pelaku usaha Terlapor. Permohonan penetapan eksekusi atas putusan yang telah diperiksa melalui prosedur keberatan, diajukan KPPU kepada Pengadilan Negeri yang memutus perkara keberatan bersangkutan. Permohonan penetapan eksekusi putusan yang tidak diajukan keberatan, diajukan kepada Pengadilan Negeri tempat kedudukan hukum pelaku usaha.117

Pasal 6 ayat (3), Peraturan Mahkamah Agung RI No. 3 Tahun 2005 tentang Tata Cara Pengajuan Upaya Hukum Keberatan Terhadap Putusan KPPU. 117 Pasal 7, Peraturan Mahkamah Agung RI No. 3 Tahun 2005 tentang Tata Cara Pengajuan Upaya Hukum Keberatan Terhadap Putusan KPPU.

116

85

Beberapa perkembangan terbaru yang menarik adalah dalam proses pemeriksaan tambahan yang diperiksa kembali di KPPU. Majelis Komisi yang memeriksa adalah anggota majelis yang baru tetapi dengan mempertahankan dua anggota majelis komisi yang lama. Ada usulan agar proses ini dipindahkan ke ruang sidang pengadilan sehingga akan lebih fair karena asumsi bahwa lembaga yang sudah memutus tidak mungkin menerima dengan begitu saja keberatan terhadap suatu putusan yang telah dijatuhkannya.

5.

Jenis dan Struktur Hukum Persaingan dan Sektor Regulasi Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Monopoli dan

Persaingan Usaha Tidak Sehat diawali dengan berbagai defenisi yang diatur dalam Ketentuan Umum. Substansi undang-undang kemudian memuat tiga bagian utama yaitu: Perjanjian yang Dilarang, Perbuatan yang Dilarang, Posisi Dominan dan proses penegakan hukum, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Prosedur Penanganan Perkara, Sanksi serta Pengecualian. Perjanjian yang Dilarang diatur dari Pasal 4 sampai Pasal 16. Sebelumnya patut dipahami bahwa perjanjian sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat baik merupakan perjanjian tertulis maupun tidak seperti dinyatakan dalam Bab I, Pasal 7 ayat (1). Beberapa perjanjian tersebut adalah : Perjanjian Oligopoli (Pasal 4), Perjanjian penetapan harga (price fixing) (Pasal 5), Perjanjian Diskriminasi Harga (Pasal 6), Perjanjian untuk menetapkan harga di bawah harga pasar (Pasal 7),

86

perjanjian membuat persyaratan bahwa penerima barang dan atau jasa tidak akan menjual atau memasok kembali barang dan atau jasa yang diterimanya, dengan harga yang lebih rendah daripada harga yang telah diperjanjikan sehingga dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat (Pasal 8) atau yang lebih dikenal Resale Price Maintenance, perjanjian Pembagian Wilayah (Pasal 9), Pemboikotan (Pasal 10), Perjanjian Kartel (Pasal 11), Trust (Pasal 12), perjanjian Oligopsoni (Pasal 13) , integrasi vertikal (Pasal 14), Perjanjian Tertutup (Pasal 15) dan perjanjian dengan pihak luar negeri (Pasal 16). Pada Bab IV diatur mengenai Kegiatan yang Dilarang sebagaimana terdapat dalam Pasal 17 sampai Pasal 24 mengenai berbagai kegiatan yang dapat membahayakan proses persaingan. Beberapa kegiatan yang dilarang adalah sebagai berikut: monopoli (Pasal 17), Monopsoni (Pasal 18), Penguasaan Pasar (Pasal 19), menjual rugi (Pasal 20), kecurangan dalam menetapkan biaya produksi dan biaya lainnya yang menjadi bagian dari komponen harga barang dan atau jasa (Pasal 21), persekongkolan (Pasal 22, 23 dan 24) Bab V mengatur tentang Posisi Dominan yang terdiri dari Pasal 25 sampai Pasal 29. Pasal 25 melarang pelaku usaha menggunakan posisi dominan untuk menyalah gunakan kedudukannya baik secara langsung ataupun tidak langsung. Penyalahgunaan ini dapat dilakukan melalui jabatan rangkap, pemilikan saham maupun melalui penggabungan, peleburan dan pengambilalihan. KPPU tidak mengatur ketentuan persaingan untuk setiap sector usaha. Namun demikian, ketentuan persaingan usaha terkait dengan berbagai peraturan

87

perundang-undangan teknis di berbagai sector usaha, antara lain sektor perdagangan, jasa keuangan perbankan dan non perbankan, jasa telekomunikasi, pengangkutan (darat, laut dan udara), pengadaan barang, sektor perdagangan ritel, dan lain-lain

6.

Penilaian Efektifitas Strategi Kompetitif dengan Contoh-Contoh Kasus, Strategi Penegakan/Pelaksanaan Selama lebih dari dua dekade, sekitar 100 negara telah mengimplementasikan

hukum persaingan usaha. Sementara negara lainnya berlomba-lomba menjadi yang berikutnya. Bisa dibilang,euphoria persaingan usaha sedang mewabah di seluruh penjuru dunia. Wabah yang datang bukan tanpa sebab. Pada tahun 1997, World Trade Organization (WTO) juga terjangkiti wabah tersebut melalui pembentukan Working Group on the Interaction between Trade and Competition

Policy (WGTCP). Working Group ini memfokuskan diri pada empat hal, mulai dari capacity building, perang melawan hard-core cartels, kerjasama multilateral, hingga prinsip-prinsip dasar penegakan hukum persaingan usaha, yang merujuk kepada penghapusan tindakan diskriminasi, serta prosedur kegiatan usaha yang lebih transparan dan fair.118 Alasan WTO begitu concern terhadap hukum dan kebijakan persaingan usaha tentunya bukan karena WTO mendapatkan wahyu ilahi atau hal-hal superfisial lainnya, tapi karena WTO sangat memperhatikan kepentingan dan kesejahteraan negara-negara yang menjadi anggotanya. Dalam hal ini, negara-negara anggota
KPPU Artikel, “Kebijakan Persaingan : Umpan Negara Memancing Investasi”, http://www.kppu.go.id/id/kebijakan-persaingan-umpan-negara-memancing-investasi/., diakses pada 13 Juni 2011.
118

88

WTO sangat memperhatikan market acces dalam melakukan kegiatan usaha lintas dunia. Market access disini berkaitan dengan ada tidaknya entry barrier untuk memasuki pasar suatu negara, serta ada tidaknya rezim persaingan usaha yang dapat memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum dari praktek anti persaingan incumbent lokal. Atau pendek kata, yang dibutuhkan para investor adalah jaminan bagi mereka akan adanya persaingan usaha yang sehat pada pasar yang akan mereka masuki.119 Pada dasarnya, kebijakan persaingan adalah instrumen utama untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya alam dan meningkatkan kesejahteraan konsumen. Kebijakan persaingan juga berperan dalam mengatur konsentrasi pasar agar tidak mengganggu persaingan dan berperan dalam meningkatkan fleksibilitas suatu negara untuk bertahan dalam kondisi ekonomi dunia yang berubah-ubah. Dengan fungsi yang beranekaragam tersebut, terdapat dua komponen utama dari kebijakan persaingan yang komprehensif. Komponen yang pertama berkaitan dengan kebijakan pemerintah yang mendukung terciptanya persaingan usaha yang sehat di pasar. Sedangkan komponen yang kedua adalah penegakan hukum persaingan usaha yang efektif. 120 Komponen yang pertama adalah kebijakan perdagangan. Kebijakan

perdagangan suatu negara memegang peranan penting dalam pembentukan kondisi ekonomi negara tersebut. Agar persaingan usaha yang positif dan optimal dapat tercipta, kebijakan perdagangan harus mampu mendorong tumbuhnya perusahaan

119 120

Ibid. Ibid.

89

baru sekaligus menjaga posisi perusahaan yang sudah eksis. Komponen yang kedua adalah keterbukaan sektor industri. Tingkat persaingan di sebuah negara tercermin dari kebijakan pemerintah dalam mendorong tumbuh dan berkembangnya pemain baru di dunia usaha. Apabila rezim persaingan usaha sebuah negara menyulitkan perusahaan baru untuk tumbuh dan berkembang, maka tingkat investasi yang mengalir ke negara tersebut akan rendah dan tingkat persaingan usaha yang tercipta juga akan rendah.121 Kebijakan privatisasi pemerintah adalah komponen yang juga berpengaruh, dimana kebijakan privatisasi yang tepat berpotensi menciptakan persaingan usaha yang sehat dengan membentuk kondisi yang kondusif bagi pemain baru untuk memasuki pasar. Selain itu, terdapat beberapa hal yang juga harus berjalan beriringan dengan kebijakan persaingan usaha, yaitu regulasi tenaga kerja, prosedur penghentian kegiatan usaha, dan kebijakan perlindungan konsumen. Rezim persaingan usaha yang sejalan dengan ketiga hal tersebut tentunya mampu menciptakan kondisi ekonomi yang kondusif bagi investor untuk menanamkan modalnya di suatu negara. Wajah dunia usaha negara ini jelas sudah berubah banyak dibandingkan sepuluh tahun yang lalu, terutama dengan implementasi hukum dan kebijakan persaingan usaha yang dilaksanakan melalui Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).122 Sebagai bentuk implementasi Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 2010 tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham

121 122

Ibid. Ibid.

90

Perusahaan yang Dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, KPPU telah melakukan penilaian menyeluruh terhadap pengambilalihan saham International Power Plc oleh GDF Suez S.A. dan pengambilalihan saham PT UOB Life Sun Assurance oleh PT Bhakti Capital Indonesia Tbk. Pada pengambilalihan saham International Power Plc oleh GDF Suez S.A., KPPU menilai bahwa kegiatan usaha anak perusahaan GDF Suez di Indonesia adalah pengelolaan air bersih kepada masyarakat umum dan industri sedangkan anak perusahaan International Power Plc bergerak dalam bidang pembangkit tenaga listrik yang dijual kepada PT PLN (Persero), sehingga anak perusahaan masing-masing pihak yang melakukan pengambilalihan saham tidak mengalami perubahan karena anak perusahaan di Indonesia merupakan “Indirect Subsidiary”.123 Selain itu, kegiatan usaha kedua anak perusahaan tersebut di Indonesia tidak berada dalam pasar yang sama sehingga tidak terdapat perubahan kondisi pasar di Indonesia sebagai dampak pengambilalihan saham International Power Plc oleh GDF Suez. Pendapat KPPU ini hanya terbatas pada proses pengambilalihan saham International Power Plc oleh GDF Suez S.A melalui Electrabel S.A. Jika di kemudian hari ada perilaku anti persaingan yang dilakukan baik para pihak maupun anak perusahaannya, maka perilaku itu tidak dikecualikan dari Undang-undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan atau Persaingan Usaha Tidak Sehat.124

KPPU Press Release, ”KPPU Meloloskan Dua Permohonan Pengambilalihan Saham”, http://www.kppu.go.id/id/kppu-meloloskan-dua-permohonan-pengambilalihan-saham/., diakses pada 13 Juni 2011. 124 Ibid.

123

91

Sementara itu, pada pengambilalihan saham PT UOB Life Sun Assurance oleh PT Bhakti Capital Indonesia Tbk., Komisi berpendapat tidak ada dugaan praktik monopoli atau persaingan usaha tidak sehat yang diakibatkan Pengambilalihan (Akuisisi) Saham Perusahaan PT UOB Life Sun Assurance oleh PT Bhakti Capital Indonesia, Tbk. karena tidak adanya pasar bersangkutan antara para pihak tersebut. Kedepannya, KPPU berharap jejak perusahaan-perusahaan tersebut dalam

memberikan Notifikasi Pra-Merger dapat diikuti oleh perusahaan lainnya di Indonesia. Karena pada prinsipnya, Notifikasi Pra-Merger lebih menguntungkan pelaku usaha daripada Notifikasi Post-Merger. Proses Notifikasi dan Konsultasi dengan KPPU ini tidak dipungut biaya sepeserpun.125 Dalam penegakan hukumnya, KPPU memutus bersalah 10 (sepuluh) Terlapor perkara Tender Pengadaan Sarana dan Prasarana Konversi Energi di Lingkungan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral). Kesepuluh Terlapor tersebut adalah PT. Gita Persada, PT. Nusa Consultants, PT. Extensa Winaya Fakta, PT. Laras Respati Utama, Konsorsium PT. Surveyor Indonesia dengan PT. Sucofindo, Panitia Pengadaan Sarana dan Prasarana Konversi Energi Dirjen Migas Tahun Anggaran 2009, PT. Ciptanusa Buana Sentosa, PT. Kencana Mandiri Uli Nusantara, PT. Data Aksara Matra dan PT. Rasicipta Consultama. Mereka terbukti melanggar Pasal 22 UU No. 5/ 1999 tentang

125

Ibid.

92

Persekongkolan Tender. Beberapa diantara mereka dikenai sanksi denda sebesar, PT. Gita Persada Rp 1.161.323.000,-, PT. Nusa Consultants Rp 655.662.000,-. 126 Kerjasama rezim persaingan usaha dan pemerintah diperlukan, hal ini seperti yang dikatakan oleh R.S. Khemani dalam paper-nya mengenai kebijakan persaingan dan investasi, “The competitive process needs to be maintained, protected, and promoted to strengthen the development of a sound market economy”. Selain itu, Pemerintah juga tidak boleh lupa bahwa kebijakan persaingan usaha hanyalah salah satu umpan memancing investasi. Kebijakan persaingan tersebut harus bergerak bersama dengan kebijakan pemerintah, reformasi birokrasi, perbaikan infrastruktur, dan political will dari pemerintah yang memahami betul manfaat kebijakan persaingan usaha yang efektif. Apabila semua umpan tersebut dipasang bersamaan dalam satu kail, tak diragukan lagi, banyak investor besar yang akan terpancing. 127 Menurut Mantan Ketua KPPU selama 9 tahun ini telah berhasil mengumpulkan pemasukan negara bukan pajak sebanyak Rp. 1 triliun. 128 Putusan KPPU yang menyatakan telah terjadi pelanggaran terhadap Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak Sehat berjumlah 91 Putusan per Juni 2009, Pengadilan telah menguatkan sebanyak 52 % terhadap Putusan KPPU yang masuk keberatan dan bahkan terhadap Putusan KPPU yang diajukan kasasi ke Mahkamah Agung, sebanyak 72% dari Putusan KPPU telah
126

KPPU Press Release, “Persekongkolan Tender di Lingkungan Kementerian ESDM”, http://www.kppu.go.id/id/., diakses pada 13 Juni 2011. 127 KPPU Press Relese, “Kebijakan Persaingan : Umpan Negara Memancing Investasi”, Op.cit. 128 Suhendra dalam Detik Finance, “KPPU Merasa Dianaktirikan”, http://us.detikfinance.com/read/2009/06/30/180757/1156691/4/kppu-merasa-dianaktirikan., diakses pada 13 Juni 2011

93

dikuatkan. Hal ini menunjukkan bahwa Pengadilan berpendapat sama dengan KPPU tentang kebenaran pembuktian due process of law dan penerapan hukum yang selama ini telah dijalankan KPPU. 129 Namun demikian sebenarnya banyak hal yang harus dibenahi dalam penegakan hukum UU No. 5 Tahun 1995 agar lebih efektif, antara lain struktur UU dari batang tubuh UU tersebut, berbagai definisi, pendekatan yang dipergunakan untuk tiap-tiap bentuk perjanjian dan kegiatan yang dilarang, hukum acara, masalah sanksi dan hubungan dengan proses pidana, dan lain-lain

7.

Keserasian dengan Norma-Norma Internasional misalnya Pedoman ICN/OECD Kebijakan liberalisasi (deregulasi) perdagangan telah dilakukan Pemerintah

Indonesia sejak awal 1980-an. Secara gradual pemerintah membuka perekonomian dengan mengeluarkan serangkaian kebijakan penurunan tarif dan menghilangkan kebijakan non-tarif yang menghambat masuknya barang impor secara bertahap. Di samping itu, Indonesia juga melakukan kerjasama perdagangan regional melalui ASEAN Free Trade Area (AFTA). Selanjutnya, kebijakan liberalisasi perdagangan makin meningkat sejalan dengan derasnya arus globalisasi dan masuknya Indonesia dalam kerjasama internasional melalui World Trade Organization (WTO). Sementara itu, krisis nilai tukar yang berlanjut menjadi krisis finansial pada 1997 ”membuka” kebijakan perdagangan yang harus sejalan dengan komitmen yang

KPPU Press Release, “72% Kasasi Putusan KPPU Dikuatkan MA”, www.kppu.go.id., diakses pada 12 Agustus 2009

129

94

tertuang dalam Letter of Intent (LoI) antara pemerintah Indonesia dengan IMF sebagai bagian dari ”IMF Conditionalities”. Ada beberapa hal yang belum menjadi komitmen Indonesia dalam WTO yang harus dilaksanakan sesuai dengan LoI tersebut.130 Keuntungan yang sering dijadikan argumen dalam melakukan kebijakan liberalisasi perdagangan antara lain untuk meningkatkan efisiensi. Peningkatan efisiensi tersebut dilakukan melalui beberapa jalur berikut: Pertama, melalui peningkatan produktivitas karena makin efisiennya alokasi sumber daya baik dalam suatu industri maupun antar industri; Kedua, melalui peningkatan persaingan. Liberalisasi berpotensi untuk meningkatkan kompetisi antara produsen domestik dengan luar negeri, sehingga produsen domestik yang tidak efisien akan keluar dari industri dan industri akan menjadi lebih efisien. Di samping itu, dengan demikian efisien dan semakin meningkatnya tingkat persiangan suatu industri maka mendorong penurunan excess profit (margin keuntungan yang berlebih) menjadi normal profit pada produsen domestik yang sebelumnya menikmati ”proteksi” dalam sistem pasar yang oligopolistik. Hal ini harga barang domestik dan impor menjadi relatif lebih rendah dan selanjutnya akan berpengaruh terhadap tingkat inflasi. 131 Dari liberalisasi perdagangan luar negeri laporan OECD tentang ”Guiding Principles on Regulatory Quality and Performance” menyarankan agar aturan dan

Siti Astiyah, et.al., “Dampak Liberalisasi Perdagangan terhadap Perilaku Pembentukan harga Produk Industri melalui Structure-Conduct Performance Model”, (Bank Indonesia Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 2005), hal. 524. 131 Ibid.

130

95

regulasi yang baru dan yang lama harus ditinjau pengaruhnya pada persaingan dan bahwa perlu dilakukan adalah132 : ”Merancang regulasi ekonomi dalam semua sektor untuk merangsang persaingan dan efisiensi, dan menghapuskannya kecuali jika terdapat bukti jelas yang menunjukkan bahwa regulasi-regulasi tersebut adalah cara terbaik dalam memenuhi kepentingan umum yang luas. ... secara berkala meninjau aspek-aspek regulasi ekonomi yang membatasi masuk, akses, keluarnya perusahaan dari pasar, penetapan harga, produk, praktek dagang normal, dan bentuk badan usaha untuk memastikan bahwa keuntungan regulasi melebihi biaya, dan yang pengaturan alternatifnya tidak dapat secara setara memenuhi sasaran regulasi dengan pengaruh yang lebih kecil pada persaingan”. Dalam hal Hukum Persaingan Usaha, Indonesia menjadi anggota baik ICN (International Competition Network) dimana KPPU menjadi peserta aktif dari beberapa pertemuan tahunan yang dilakukan. Demikian juga dalam OECD (Organization for Economic Cooperation and Development). Dari hasil keikut sertaan dalam kedua organisasi bergengsi dalam bidang persaingan usaha ini, KPPU berupaya mengadopsi berbagai peraturan yang diaplikasikan dalam Pedoman (Guidelines) yang ada, misalnya dalam Pedoman Kartel. Hanya yang menjadi perdebatan adalah konsistensi dari penerapan prinsip-prinsip yang dikeluarkan oleh ICN atau OECD dalam beberapa kasus. Misalnya dalam beberapa kasus kartel yang diputus oleh KPPU yang berkenaan dengan penggunaan “indirect evidence” atau bukti tidak langsung.
133

Hal ini menjadi perhatian dari berbagai stakeholder yang

OECD, Op.cit., hal. 70. Lihat putusan kasus Putusan KPPU No: 17/KPPU-I/2010, PT Pfizer Indonesia dan PT. Dexa Medica dalam Industri Farmasi Obat Anti Hypertensi menggunakan zat aktif Amlodipine Besylate). “Circumstantial evidence (or indirect evidence) can be difficult to interpret, however. Economic evidence especially can be ambiguos, consistent with either concerted or independent action. The better practice is to consider circumstantial evidence in a case as a whole, giving it cumulative effect, rather than on an item-by-item basis, and to subject economic evidence to careful economic analysis”, Selanjutnya, laporan OECD tersebut menyatakan : “It is important to note that conduct described as facilitating practices is not necessarily unlawful. But where a competition
133

132

96

melalukan eksaminasi untuk mengingatkan konsistensi dalam mengadopsi prinsip hukum asing maupun ketentuan Pedoman internasional yang telah ditetapkan bahkan diadopsi oleh KPPU sendiri.

8.

Kendala yang dihadapi dalam Rangka Perbaikan KPPU terus melaksanakan perbaikan, khususnya perbaikan secara internal di

lingkungan KPPU. Perbaikan mendasar sangat dirasakan perlu dilakukan dalam bentuk revisi dari UU No. 5 Tahun 1999. Telah ada beberapa putaran baik dalam bentuk seminar, tulisan maupun dorongan kebutuhan dari dalam internal KPPU sendiri terhadap kebutuhan amandemen UU No.5 Tahun 1999. Kebutuhan perubahan terutama berpusat pada hukum acara dalam UU No.5 Tahun 1999, kewenangan KPPU serta substansi pada beberapa pasalnya. Walaupun demikian, proses ini tidak berjalan begitu lancar disebabkan proses di Program Legislasi Nasional di DPR yang harus menjadwalkan daftar perundang-undangan yang akan diagendakan baik untuk usulan rancangan atau perubahan. Diperkirakan proses ini akan memakan waktu yang cukup lama semata-mata karena proses birokrasi dan politik yang berkaitan dengan perundang-undangan. Beberapa kendala yang mungkin dihadapi secara umum menyangkut adalah mengenai : ketersediaan komitmen anggaran untuk KPPU, komitmen pemerintah

authority has found other circumstantial evidence pointing to the existence of a cartel agreement, the existence of facilitating practices can be an important complement”, (OECD, Prosecuting Cartels without Direct Evidence of Agreement, Policy Brief Edisi Juni 2007).”

97

untuk revisi UU No. 5 Tahun 1999, birokrasi dan proses politik dalam revisi UU No. 5 Tahun 1999 dan kendala sumber daya manusia.

9.

Prospek Kedepan Upaya perbaikan perekonomian nasional terus dilakukan di berbagai bidang.

Hukum memainkan peranan yang cukup penting saat ini dalam upaya pembangunan ekonomi Indonesia. Berbagai upaya pembaharuan hukum tengah dilakukan untuk mendukung pembangunan ekonomi, tidak terkecuali upaya pembaharuan hukum persaingan usaha melalui revisi UU No. 5 Tahun 1999. Upaya perbaikan perekonomian nasional kedepan tidak bisa dilepaskan dari peranan penting UU Persaingan Usaha. Dari segi eksternal, maka keberadaan undang-undang ini dirasakan memberikan insentif bagi para investor asing karena adanya pembatasan monopoli dan persaingan usaha tidak sehat yang selama ini terjadi. UU Persaingan Usaha diharapkan menjadi jaminan bahwa pelaku usaha akan bersaing secara fair dan diawasi. UU Persaingan Usaha menjadikan Indonesia turut dalam jajaran negaranegara yang masuk kedalam ekonomi pasar (market economy) yang berdasar pada persaingan yang sehat. Sedangkan dalam sudut pandang internal, maka diharapkan bahwa UU Persaingan Usaha tidak saja diperlukan untuk mengawal perkembangan

pembangunan ekonomi ke depan tetapi juga untuk membangun ekonomi nasional itu sendiri. Dengan kata lain UU Persaingan Usaha tetap akan semakin diperlukan untuk

98

menjamin keadilan dan kesempatan berusaha yang bersama bagi setiap warga Negara, menjaga kepentingan umum dan menciptakan kesejahteraan konsumen. Dengan UU ini upaya efesiensi perekonomian nasional ke depan dapat diwujudkan. Dalam jangka panjang, walaupun belum dapat terukur secara nyata dalam menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat tetapi keberadaan UU No. 5 Tahun 1999 diyakini sebagai alat (tool) untuk mencapai kesejahteraan masyarakat bila ditegakkan dengan benar.

DAFTAR PUSTAKA BUKU Abbas, Anwar., Bung Hatta dan Ekonomi Islam : Menangkap Makna Maqâshid al Syarî’ah, Jakarta : Kompas Media Nusantara, 2010. Badan Pusat Statistik, “Pertumbuhan Ekonomi Indonesia”, No. 12/02/Th. XIV, 7 Februari 2011. Besari, M. Sahari., Teknologi di Nusantara : 40 Abad Hambatan Inovasi, Jakarta : Salemba Teknika, 2008. Boediono, Ekonomi Indonesia, Mau ke Mana? : Kumpulan Esai Ekonomi, Cetakan Ketiga, Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia, 2009. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, “Dampak Liberalisasi Perdagangan terhadap Perilaku Pembentukan Harga Produk Industri melalui Structure – Conduct Performance Model”, Jakarta : Bank Indonesia, 2005. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, “Dinamika Industri Manufaktur dan Respon terhadap Siklus Bisnis”, Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter, Jakarta : Bank Indonesia, Oktober 2002. Cooper, Cary L., dan Chris Argyris, The Concise Blackwell : Encyclopedia of Management, Massachusetts : Blackwell Publishers Inc., 1998.

99

Dewan Perwakilan Rakyat RI, Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009 : Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat, Cetakan Pertama, Jakarta : Sekjen DPR RI, UNDP, AusAid, Oktober 2009. Ebenstein, William., Isme-isme yang Mengguncang Dunia : Komunisme, Fasisme, Kapitalisme, Sosialisme, Cetakan Kedua, Yogjakarta : Narasi, 2006. Friedman, Lawrence M., A History of American Law, 3rd Edition, New York : Simon & Schuster, Inc., 2005. ----------------------------., American Law An Introduction, 2nd Edition, diterjemahkan oleh Wishnu Basuki, Hukum Amerika Sebuah Pengantar, Jakarta : Tata Nusa, 2001. Glossary of Industrial Organization Economics and Competition Law, English Version, OECD, Paris, 1996. H., Soetrisno P., Kapita Selekta Ekonomi Indonesia : Suatu Studi, Edisi II, Yogjakarta : Andi Offset, 1992. KPPU RI, Laporan Tahun 2010, Jakarta : KPPU, 2010. Levy, Sidney M.., Build Operate Transfer : Paving The Way For Tomorrow’s Infrastructure, John Wiley & Sons, Inc., 1996. Lubis, Andi Fahmi., et.al., Hukum Persaingan Usaha : Antara Teks dan Konteks, Jakarta : KPPU, GTZ, Kerjasama RI dan Republik Federal German, 2009. Mubyarto dan Boediono, Ekonomi Pancasila, Yogjakarta : Universitas Gadjah Mada, 1981. Noor, Muhammad., Pertanian Lahan Gambut : Potensi dan Kendala, Cetakan Kedelapan, Yogjakarta : Kanisius, 2011. OECD, Indonesia Investment Policy Review, Jakarta : OECD, 2010. Patriadi, Pandu., “Segi Hukum Bisnis Dalam Kebijakan Privatisasi BUMN Melalui Penjualan Saham di Pasar Modal Indonesia”, Jurnal Kajian Ekonomi dan Keuangan, Volume 8, Nomor 1, Maret 2004. Poesonegoro, Marwati Djoened., dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia V : Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Hindia Belanda, Cetakan 2, Edisi Pemutakhiran, Jakarta : Balai Pustaka, 2008.

100

Radhi, Fahmi., Kebijakan Ekonomi Pro Rakyat, Jakarta : Republika Press, 2008. Sachari, Agus., Budaya Visual Indonesia, Jakarta : Erlangga, 2007. Sagala, Parluhutan., “Penyebaran Kepemilikan Saham Pemerintah Pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Untuk Menciptakan Perusahaan yang Sehat dan Efisien”, Medan : Disertasi, Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, 2009. Silalahi, M. Udin., Perusahaan Saling Mematikan & Bersekongkol :Bagaimana Cara Memenangkan?, Cetakan Pertama, Jakarta : Elex Media Komputindo, 2007. Soempeno, Femi Adi., Mereka Mengkhianati Saya: Sikap Anak-Anak Emas Soeharto di Penghujung Orde Baru, Cetakan Pertama, Yogjakarta: Galangpress, 2008. Soesastro, Hadi., et.al., Pemikiran dan Permasalahan Ekonomi di Indonesia dalam Setengah Abad Terakhir : Krisis dan Pemulihan Ekonomi, Yogjakarta : Kanisius, 2005. Sulistyastuti, Dyah Ratih., “Pembangunan Pendidikan dan MDGs Di Indonesia : Sebuah Refleksi Kritis”, Volume II, Nomor 2, Yogjakarta : Jurnal Kependudukan Indonesia, 2007. Sumawinata, Sarbini., Politik Ekonomi Kerakyatan, Cetakan Pertama, Jakarta : Gramedia, 2004. Sutton, John., Sunk Costs and Market Structure, Hong Kong : Trade Typeseting Ltd., Tanpa Tahun. Tjokrowasito, Mardiharto., “Kebijakan Persaingan Pada Industri Jasa Penerbangan Dilihat Dari Perspektif Perlindungan Konsumen”, Jakarta : Bappenas RI, 2009. Winarno, Budi., Sistem Politik Indonesia Era Reformasi, Yogjakarta : Media Pressindo, 2007. World Economic Forum, The Global Competitiveness Report 2010-2011, Geneva : SRO-KUNDIG, 2010.

101

ARTIKEL INTERNET DAN MASS MEDIA “190 Tarif Diubah; Menuju Indonesia Tersenyum”, www.kompas.com, diakses pada tanggal 10 Mei 2011. “Indonesia dan WTO”, http://www.mission-indonesia.org/modules/WTO.pdf., diakses pada 10 Mei 2011. “Masalah Infrastruktur Masih Menghambat Investasi, Indonesian Commercial Newsletter”, diakses dalam http://www.datacon.co.id/Tekstil2009Fokus.html, tanggal 10 Mei 2011. Armando, Aru., ”Peraturan Komisi, Sebuah Produk State Auxillary Agencies”, http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol22468/peraturan-komisisebuah-produk-istate-auxilliary-agenciesi., diakses pada 13 Juni 2011. Bappenas RI, “BAB VI : Reformasi Aparatur Negara”, www.bappenas.go.id/get-fileserver/node/6415/., diakses pada 08 April 2011. ---------------., “Sosialisasi Rencana Pembangunan Jangka Menegah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014 Wilayah Jawa-Bali”, http://www.bappenas.go.id/node/116/2577/sosialisasi-rencana-pembangunanjangka-menengah-nasional--rpjmn-tahun-2010-2014-wilayah-jawa-bali/., diakses pada 12 Juni 2011. Bataviase, “Nilai Kapitalisasi Pasar BUMN Terbuka http://bataviase.co.id/node/90515., diakses pada 13 Juni 2011. Melonjak”,

-----------., “Pembangunan Sektor Industri Masih Terkendala Masalah Klasik”, http://bataviase.co.id/node/626871., diakses pada 12 Juni 2011. -----------., “Sektor Industri Perlu Pembenahan yang Terstruktur dan Terukur”, http://bataviase.co.id/node/338569., diakses pada 13 Juni 2011. BKPM, “Iklim Investasi”, http://www.bkpm.go.id/contents/general/6/iklim-investasi, diakses pada 12 Mei 2011. Boen, Hendra Setiawan., “Mencermati Kebebasan Penyusunan Anggaran KPPU”, http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4b482c1acc935/mencermatikebebasan-penyusunan-anggaran-kppu-broleh-hendra-setiawan-boen., diakses pada 12 Juni 2011. Depkominfo, “BKPM Klaim Pertumbuhan Penanaman Modal Membanggakan”, http://www.depkominfo.go.id/berita/bipnewsroom/bkpm-klaim-

102

pertumbuhan-penanaman-modal-membanggakan/., diakses tanggal 11 Mei 2011. Detik Finance, “KPPU Merasa Dianaktirikan”, http://us.detikfinance.com/read/2009/06/30/180757/1156691/4/kppu-merasadianaktirikan., diakses pada 13 Juni 2011

Gunadarma, “Sistem Perekonomian Indonesia”, http://www.elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/perekonomian_indonesia/b ab1-sistem_perekonomian_indonesia.pdf., diakses pada 08 April 2011. Harian Bisnis Indonesia, “Banyak Regulasi yang Membuat Sulit Berbisnis di Indonesia”, diterbitkan Rabu, 03 November 2010. ------------------------------., “RI Janji Perbaiki Infrastruktur : Kebijakan Investasi Sebaiknya Ditata Ulang”, diterbitkan Senin, 20 September 2010. Harian Kompas, “Infrastruktur : Kemampuan Dana Pemerintah Hanya 20 Persen”, diterbitkan Kamis, 30 September 2010. -------------------., “Kakao : Minat Investor Terhalang Infrastruktur”, diterbitkan Kamis, 30 September 2010. -------------------., “Sektor Riil : Infrastruktur Harus Bisa Memacu Pertumbuhan”, diterbitkan Rabu, 20 Oktober 2010. Hukum Online, “Komisi Yang Jatuh Ketika Sedang Bersinar : Catatan Akhir Tahun KPPU”, http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol20819/komisi-yangjatuh-ketika-sedang-bersinar., diakses pada 12 Juni 2011 ------------------., “Catatan Akhir Tahun KPPU : Komisi yang Jatuh Ketika Sedang Bersinar”, http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol20819/komisi-yangjatuh-ketika-sedang-bersinar., diakses pada 12 Juni 2011. Idris, Fahmi., ”Kebijakan dan Strategi Pengembangan Industri”, Sekretariat Negara Republik Indonesia. Diterbitkan Jum’at, 23 Maret 2007. Infobank News, “BEI : 2011 Momentum Bagi Investor Lokal Merebut Investor Asing”, http://www.infobanknews.com/2010/10/bei-2011-momentum-bagiinvestor-lokal-merebut-porsi-investor-asing/., diakses 13 Juni 2011. Kompasiana, “Peringkat Daya Saing Investasi Negara Indonesia Meningkat”, http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2011/04/07/peringkat-daya-sainginvestasi-negara-indonesia-meningkat/., diakses pada 11 April 2011.

103

Kompas Online, “Pendapatan Per Kapita 2010 Rp. 27 juta”, http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/02/07/1449472/Pendapatan.Per .Kapita.2010.Rp.27.Juta.diakses pada 10 April 2011. ----------------------., “PERC : Indonesia Negara Paling Korup!”, http://nasional.kompas.com/read/2010/03/08/21205485/PERC.Indonesia.Neg ara.Paling.Korup., diakses pada 09 April 2011. KPPU Artikel, “Kebijakan Persaingan : Umpan Negara Memancing Investasi”, http://www.kppu.go.id/id/kebijakan-persaingan-umpan-negara-memancinginvestasi/., diakses pada 13 Juni 2011. KPPU Press Release, “72% Kasasi Putusan KPPU www.kppu.go.id., diakses pada 12 Agustus 2009. Dikuatkan MA”,

------------------------------., ”KPPU Meloloskan Dua Permohonan Pengambilalihan Saham”, http://www.kppu.go.id/id/kppu-meloloskan-dua-permohonanpengambilalihan-saham/., diakses pada 13 Juni 2011. ------------------------------., “Persekongkolan Tender di Lingkungan Kementerian ESDM”, http://www.kppu.go.id/id/., diakses pada 13 Juni 2011. KPPU RI, “Putusan KPPU Untuk Kepentingan Konsumen”, http://www.kppu.go.id/id/putusan-kppu-untuk-kepentingan-konsumen/., diakses pada 12 Juni 2011.

Kuntjoro, Mudrajat., “Mendongkrak Daya Saing’, www.okezone.com., diakses tanggal 11 Mei 2011. Nickel, James W., “Hak Azasi Manusia: Refleksi Filosofis atas Deklarasi Universal Hak Azasi Manusia”, elkhalil.files.wordpress.com/2010/05/hak-asasimanusia.doc., diakses pada 08 April 2011. Okezone, “Demutualisasi, Investor Asing & Pemerintah Bisa Miliki BEI”, http://celebrity.okezone.com/read/2009/07/03/278/235453/demutualisasiinvestor-asing-pemerintah-bisa-miliki-bei., diakses pada 13 Juni 2011. Online Data dan Informasi Kesejahteraan Rakyat, “HDI Indonesia 2010 (Metode dan Indikator Baru)”, http://data.menkokesra.go.id/content/hdi-indonesia-2010metode-dan-indikator-baru., diakses 11 April 2011. Otsuka, Misuzu., et.al., “Improving Indonesia’s Investment Climate”, http://www.oecd.org/dataoecd/52/26/47556737.pdf., diakses pada 12 Juni 2011.

104

Policy Framework for Investment, “The Policy Framework for Investment (PFI)”, http://www.oecd.org/document/61/0,3746,en_2649_34893_33696253_1_1_1 _1,00.html., diakses pada 12 Juni 2011. Pos Kota, “Melinda Kelola Dana 27 Pejabat”, http://www.poskota.co.id/beritaterkini/2011/04/28/melinda-kelola-dana-27-pejabat., diakses pada 13 Juni 2011. Republika Online, “Tingkat Melek Huruf Tinggi Pendidikan di Indonesia Belum Maju”, Harian Republika, Rabu 12 Januari 2011, http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/11/01/11/157847tingkat-melek-huruf-tinggi-pendidikan-di-indonesia-belum-maju., diakses pada 11 April 2011. Sitompul, Zulkarnain., “Investasi Asing di Indonesia Memetik Manfaat Liberalisasi”, http://www.djpp.depkumham.go.id/hukum-bisnis/88-investasi-asing-diindonesia-memetik-manfaat-liberalisasi.html., diakses pada 10 April 2011. ST Telemedia, “Pernyataan dari ST Telemedia Dalam Banding Atas Putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha”, http://www.sttelemedia.com/content.asp?ContentId=1609., diakses pada 13 Juni 2011. Sumantri, Jajang., “Amerika Keluhkan Infrastruktur Indonesia Jadi Hambatan”, Harian Media Indonesia, Minggu 03 April 2011, http://www.mediaindonesia.com/read/2011/04/04/215071/4/2/ AmerikaKeluhkan-Infrastruktur-Indonesia-Jadi-Hambatan., diakses pada 11 April 2011. Tjokrowarsito, Mardiharto., “Kebijakan Persaingan pada Industri Jasa Penerbangan Dilihat dari Perspektif perlindungan Konsumen”, www.bappenas.go.id., diakses pada 16 Mei 2011. VOA News, “Laporan World Economic Forum : Peringkat Daya Saing Indonesia Naik”, Sabtu, 23 Oktober 2010. Wibowo, Rezki Sri, “Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2008”, http://www.ti.or.id/index.php/publication/2009/01/21/indeks-persepsikorupsi-indonesia-2008-2., diakses pada 09 April 2011. World Economic Forum Website, “World Economic http://www.weforum.org/., diakses pada 11 April 2011. Forum”,

105

Yustika, Ahmad Erani., “Menimbang Privatisasi Bank BUMN”, Harian Kompas, diterbitkan Rabu, 06 Oktober 2010.

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha No. 1 Tahun 2010 tentang Tata Cara Penanganan Perkara. Peraturan Mahkamah Agung RI No. 1 Tahun 2003 tentang Tata Cara Pengajuan Upaya Hukum Keberatan Terhadap Putusan KPPU. Peraturan Mahkamah Agung RI No. 3 Tahun 2005 tentang Tata Cara Pengajuan Upaya Hukum Keberatan Terhadap Putusan KPPU. Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian 01/M.EKON/01/2010, tanggal 29 Januari 2010. RI No. PER-

Peraturan Presiden No. 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Putusan KPPU No. 17/KPPU-I/2010, PT Pfizer Indonesia dan PT. Dexa Medica dalam Industri Farmasi Obat Anti Hypertensi menggunakan zat aktif Amlodipine Besylate). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Amandemen. Undang-Undang No. 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan Agreement Establishing The World Trade Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia), Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 57, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3564. Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3817. Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3886. Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembuatan Peraturan PerundangUndangan, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389.

106

Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724. Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3608.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->