P. 1
Makalah Akuntansi - Pendidikan Akuntansi

Makalah Akuntansi - Pendidikan Akuntansi

|Views: 2,445|Likes:
Published by Yoga Nurzaman

More info:

Published by: Yoga Nurzaman on May 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

06/28/2013

PENDIDIKAN AKUNTANSI DAN PERUBAHAN PERAN DAN TANGGUNGJAWAB AKUNTAN PUBLIK

Oleh : Dr. Zaki Baridwan, M. Sc. 1. PENDAHULUAN 2. PROFESI AKUNTAN PUBLIK 3. PERUBAHAN PERAN DAN TANGGUNGJAWAB 4. PENDIDIKAN AKUNTANSI 5. KURIKULUM NASIONAL 1994 6. SIMPULAN 7. CATATAN KAKI

PENDAHULUAN
Pendidikan akuntansi dilakukan dalam berbagai tingkat pendidikan formal maupun non formal. Salah satu jenjang pendidikan akuntansi yang paling terkait dengan profesi akuntan publik adalah pendidikan jenjang S1 yang dilaksanakan oleh lembaga pendidikan tinggi. Secara historis, pendidikan akuntansi dalam program S1 dimaksudkan untuk menghasilkan akuntan, yang selama ini dipandang cukup untuk bekal memasuki profesi akuntan publik pertumbuhan ekonomi, perkembangan pasar modal dan teknologi informasi, serta berbagai perubahan lain mengakibatkan perubahan peran dan tanggungjawab akuntan publik, sehingga timbul pertanyaan tentang program pendidikan S1 yang menjadi dasar untuk menghasilkan akuntan. Makalah ini membahas peran dan tanggungjawab akuntan publik sebelum dan sesudah terjadinya perubahan-perubahan yang telah disebutkan di atas, dan membahas implikasinya terhadap pendidikan akuntansi. pembahasan dimulai denngan uraian tentang profesi akuntan publik dan berbagai hal yang terkait.

PROFESI AKUNTAN PUBLIK
Sebagai bagian dari profesi akuntansi, akuntan publik seringkali dinyatakan merupakan ujung tombak profesi akuntansi. profesi akuntan publik menonjol terutama dari kegiatan audit yang dilakukan oleh akuntan publik yang bertujuan untuk memberikan pendapat terhadap laporan keuangan yang dibuat oleh manajemen. Pendapat akuntan publik berguna bagi pihak-pihak yang terkait dengan laporan keuangan, yaitu pihak yang menyiapkan maupun yang menggunakannya. Peran akuntan publik dalam hal ini adalah untuk memberikan kepastian bahwa laporan keuangan yang diterbitkan tidak mengandung informasi yang menyesatkan pemakainya. Akibatnya pemakai laporan sangat tergantung pada

pendapat akuntan publik sebelum memberikan kepercayaan pada laporan keuangan. Akuntan publik juga membantu manajemen dalam hal pernyataan pendapat yang dapat digunakan oleh manajemen untuk mendukung pertanggungjawaban seperti yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Oleh karena begitu pentingnya fungsi akuntan publik, perlu ditempuh berbagai usaha untuk menjaga kredibilitas akuntan publik agar kepercayaan masyarakat pada profesi ini tidak berkurang. Standar profesional akuntan publik dan kode etik akuntan yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) merupakan sebagian dari usaha itu. Berbagai perkembangan yang terjadi belakangan ini mengakibatkan semakin pentingnya profesi akuntan publik ini, sehingga perlu dikembangkan berbagai usaha termasuk program pendidikan akuntansi untuk meningkatkan citra dan kemampuan akuntan publik.

PERUBAHAN PERAN DAN TANGGUNGJAWAB
Pada mulanya, dengan tidak berjalannya bursa saham, peran utama akuntan publik mengaudit laporan keuangan perusahaan yang akan digunakan dalam kaitannya dengan kredit dari lembaga keuangan. Bank dalam kegiatan pemberian kredit di atas jumlah tertentu mensysratkan laporan keuangan yang diaudit sebagai dari syarat permohonan kredit. Selama jangka waktu kredit, debitur diwajibkan juga menyerahkan laporan keuangan tahunan yang sudah diaudit. Di samping fungsi utama sebagai auditor, akuntan publik juga memberikan jasa lain, seperti membantu penyusunan laporan keuangan, atau menyusun laporan perhitungan pajak. Dalam rangka membantu profesi akuntan publik yang tidak dapat berkembang pesat, pemerintah, dalam hal ini direktoral pajak bekerja sama dengan IAI menyatakan bahwa laporan keuangan yang sudah diaudit oleh akuntan publik diakui sebagai dasar perhitungan pajak penghasilan. Kerja sama ini ternyata banyak disalahgunakan, sehingga dibatalkan. Akibatnya, profesi akuntan publik kembali lagi ke keadaan semula. Peran akuntan publik kembali lagi sebagai auditor atas laporan keuangan bagi permohonan kredit. Kebutuhan modal bagi perkembangan perusahaan yang selama itu dipenuhi darikredit lembaga keuangan ternyata tidak mampu mendorong pertumbuhan ekonomi secara pesat. Pemerintah dalam situasi ini berusaha menghidupkan kembali bursa saham melalui berbagai peraturan berikut. 1. Diaktifkannya kembali bursa saham pada tahun 1977. 2. Peresmian bursa efek Jakarta menjadi PT Bursa Efek Jakarta pada bulan juli 1992. 3. Diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 1994 yang mengatur tentang pemilikan saham perusahaan dalam rangka penanaman modal asing.

4. Diundangkannya UU Pasar Modal tahun 1995dan UU PT. 5. Diundangkannya UU No. 45 tahun 1995 mengenai organisasi pasar modal. 6. diundangkannya UU no. 46 tahun 1995 mengenai prosedur investigatif formal pasar modal. 7. Dikeluarkannya keputusan menteri keuangan : a. No. 645 / KMK. 010 /1995 tentang perberlakuan kembali keputusan meteri keuangan no. 1548 / KMK. 013 /1990. b. No. 646 / KMK. 010 / 1995 tentang kepemilikan asing atas dana investasi. c. No. 547 / KMK. 010 / 1995 tentang kepemilikan asing atas perusahaan sekuritas. Dampak dari usaha-usaha yang dilakukan pemerintah menunjukan hasil yang baik dapat diukur melalui bertambah banyaknya perusahaan yang go public dan semakin aktifnya bursa saham. Perkembangan bursa saham tidak dapat dilepaskan dari fungsi akuntan publik. Untuk dapat go public, sebuah perusahaan perlu menggunakan jasa akuntan publik (disamping profesi lainnya) sejak sebelum dan selama go publik. Perkembangan bursa saham ini secara langsung ikut mengembangkan peran dan tanggungjawab akuntan publik. Apabila pada waktu sebelumnya, yaitu sebelum aktif kembalinya bursa saham, peran akuntan publik terbatas pada audit laporan keuangan perusahaan yang mengajukan kredit, saat ini perannya bertambah dengan mengaudit perusahaan go public. Tanggungjawab akuntan publik tidak berubah yaitu tanggungjawab atas pendapat yang diberikannya pada laporan keuangan yang diauditnya. Walaupun demikian, tanggungjawab ini mempunyai dampak yang lebih luas karena pemakai laporan keuangan bertambah banyak. Untuk dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik dalam kaitannya dengan laporan keuangan perusahaan go public akuntan publik harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang laporan keuangan dan aturanaturan yang dibuat Bapepam. Pengetahuan ini diperlukan agar pendapat yang diberikannya sesuai dengan peraturan yang berlakku. Untuk memberi jaminan yang lebih terhadap pemakai jasa profesi akuntan publik, dalam UU pasar modal terdapat aturan yang mengatur mengenai akuntan. Selain perkembangan bursa saham, perkembangan perekonomian dunia juga membawa dampak bagi profesi akuntan publik. Dengan disetujuinya perdagangan bebasyang ditunjukkan oleh GATT dan GATS, tidak lama lagi pasar Indonesia harus terbuka bagi orang asing. Dampak yang akan timbul adalah persaingan yang semakin ketat. Profesi akuntan publik dalam keadaan ini menghadapi tantangan yang semakin berat dan juga peluang yang semakin besar. Tantanngan yang tmbul

adalah masuknya kantor akuntan publik asing ke Indonesia. Telah kita ketahui bahwa negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris dan yang lain, memiliki kantor akuntan yang besar yang mempunyai tingkat dunia. Operasi mereka mencakup jasa di banyak negara dan akibatnya, kompetensi dan efisiensi operasinya sangat menonjol. Tidak dapat dihindarkan, kantor akuntan publik Indonesia harus mampu bersaing denngan mereka agar tidak tersisih dari profesi ini di negara sendiri. Untuk dapat bersaing dengan baik, akuntan publik Indonesia perlu menyiapkan dan meningkatkan kemampuannya, agar sebading dengan akuntan publik asing. Akuntan publik Indonesia harus memiliki kompetensi yang cukup di bidang audit, meliputi pemahaman atas Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP), pemahaman atas audit dalam lingkungan proses data elektronik, pemahaman atas aturan-aturan disclosure dari Bapepam, pemahaman atas berbagai transaksi keuangan yang relatif masih baru di Indonesia seperti merger, akusisi, franchise, leasing dan lainnya, serta pemahaman bahasa Inggris yang cukup agar dapat mengaudit perusahaan domestik maupun yang sudah bertaraf internasional. Melalui persetujuan GATS, terbuka peluang bagi akuntan publik Indonesia untuk meluaskan market sharenya ke luar negeri. Peluang ini akan dapat dicapai bila akuntan publik Indonesia mempunyai kompetensi teknik dan bahasa yang sesuai dengan negara tujuan. Untuk dapat memanfaatkan peluang ini, diperlukan berbagai pengetahuan di bidang standar akuntansi yang berlaku di setiap negara, aturan pasar modal dan hukum di setiap negara, dan juga pengetahuan yang cukup dalam bidang transaksi antar negara. Dalam era Multi National Companies saat ini, transaksi antar negara sudah merupakan hal yang rutin. Akuntan publik dituntut untuk mempunyai pemahaman yang cukup tentang international accounting dan auditing. Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat dewasa ini sangat mempengaruhi sistem informasi yang digunakan dalam perusahaan. Proses transaksi secara on-line dan penggunaan Electronic Data Interchange (EDI) mengakibatkan banyak perubahan dalam struktur organisasi dan metode proses yang digunakan. Akibatnya, struktur pengendalian intern mengalami perubahan. Agar audit dapat dilaksanakan dengan baik dan mencapai tujuannya, evaluasi struktur pengendalian intern, pengujian kepatuhan dan pengujian substantif perlu disesuaikan dengan lingkungan baru. Auditor untuk dapat melaksanakan ini dituntut untuk memiliki kompetensi teknis yang cukup. Perkembangan pendekatan audit dalam lingkungan elektronik, mulai dari audit around computer sampai pada audit through the computer perlu dipahami oleh akuntan publik. Sudah tidak saatnya lagi akuntan publik mempunyai spesialisasi audit untuk lingkungan manual, karena perkembangan yang terjadi adalah mengarah pada penggunaan teknologi informasi dalam perusahaan. Pemahaman yang cukup untuk mendukung audit dalam lingkungan elektronik

mencakup pemahaman atas sistem informasi yang menggunakan teknologi informasi, pemahaman atas pengendalian dalam lingkungan teknologi informasi, dan juga pemahaman atas metode audit serta software audit dalam lingkungan elektronik. Secara rinci SPAP menyatakan bahwa audit dalam lingkungan elektronik harus dilakukan auditor atau stafnya yang memiliki kemampuan berikut (SPAP, 1994 : 335.3) : a. Pengetahuan dasar-dasar komputer dan fungsi komputer secara umum. b. Pengetahuan dasar tentang sistem operasi (operating system) dan perangkat lunak. c. Pemahaman tentang teknik pengolahan file dan struktur data. d. Kemampuan bekerja dengan perangkat lunak audit. e. Kemampuan mereview sistem dokumentasi. f. Pengetahuan dasar tentang pengendalian PDE untuk mengidentifikasikan dan mengevaluasi dampak penggunaan PDE terhadap operasi satuan usaha. g. Pengetahuan yang memadai dalam pengembangan perancangan audit dan supervisi pelaksanaan dalam lingkungan PDE. h. Pemahaman dinamika perkembangan dan perubahan sistem dan program dalam suatu satuan usaha.

Dalam kaitannya dengan pengendalian intern, auditor perlu memahami sistem akuntansi yang digunakan dalam perusahaan kliennya. Bila pengelolaan data menggunakan PDE, auditor perlu memahami berbagai hal yang terkait dengan sistem akuntansi berbasis komputer. Pengetahuan ini diperlukan untuk dapat memilih pendekatan audit yang sesuai yang harus digunakan. Melihat perkembangan yang ada, dan juga memperhatikan standar audit (SA) seksi 336 yang mengatur mengenai penggunaan pekerjaan spesialis, auditor tidak dapat menggunakan jasa spesialis teknologi informasi untuk menggantikan perannya dalam audit. Hal ini didasarkan pada peran teknologi informasi dalam sistem akuntansi klien. Teknologi informasi tidak dapat dipandang sebagai bidang pekerjaan spesialis ahli komputer, tetapi merupakan bidang kemampuan yang harus dimiliki auditor. Dalam rangka memberikan pendapat atas laporan keuangan yang diauditnya, akuntan publik bertanggungjawab untuk memenuhi standar auditing yang ditetapkan IAI (SPAP : 1994 : 110.3). tanggungjawab ini meliputi berbagai hal berikut ini : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kecukupan pengungkapan dalam laporan keuangan. Berkomunikasi dengan auditor pendahulu. Mengevaluasi kelangsungan hidup usaha klien. Unsur pelanggaran hukum oleh klien. Mendeteksi dan melaporkan kekeliruan dan ketidakberesan. Pelaporan auditor atas informasi segmen.

7. Surat bagi penjamin emisi dan pihak tertentu lain yang meminta. 8. Pertimbangan khusus dalam audit bisnis kecil. 9. Berbagi tanggungjawab yang lain. Tanggungjawab yang disebut di atas merupakan tanggungjawab dasar yang harus dipenuhi oleh auditor. Berbagai perkembangan yang terjadi menimbulkan perubahan dalam aplikasi prosedur / metode untuk memenuhinya. Misalnya, dalam memenuhi kewajibannya dalam PSA No. 30 yaitu mengevaluasi kelangsungan hidup usaha klien. Di Indonesia, pasal 47 KUHD masih berlaku, pasal ini menyatakan bila perusahaan menderita kerugian sebesar 75 %dari modal disetornya, maka perusahaan dianggap bubar. Pasal 47 ini termasukdalam petunjuk lain tentang kesulitan keuangan (SPAP : 1994 : 341.5) yang harus diperhitungkan oleh auditor. Masalah yang timbul adalah, pasal 47 KUHD ini ditetapkan berdasarkan perhitungan dalam laporan keuangan yang menggunakan dasar costhistoris. Aktiva dan modal dalam cost historis cenderung understand karena inflasi, akibatnya pertimbangan atas dasar laporan keuangan saja mungkin menyesatkan. Dalam kondisi seperti ini, bila klien adalah perusahaan go public, kesimpulan yang keliru akan menimbulkan dampak yang besar. Apakah mungkin auditor mendasarkan kesimpulannya atas laporan keuangan yang mempertimbangkan dampak inflasi dalam mengevaluasi pasal 47 KUHD ? Oleh karena SAK tidak mengatur mengenai akuntansi inflasi, akibatnya adalah timbulnya perbedaan kesimpulan untuk laporan keuangan yang dasar akuntansinya berbeda. Bila suatu perusahaan telah merevaluasi aktiva tetapnya sesuai dengan ketetapan menteri keuangan, laporan keuangannya tidak dapat dibandingkan dengan laporan keuangan perusahaan yang tidak merevaluasi aktiva tetapnya. Oleh karena itu, auditor perlu mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang ada, dan ini jelas menunjukkan perlunya auditor memahami berbagai konsep akuntansi, walaupun tidak ada dalam SAK. Perubahan peran dan tanggungjawab akuntan publik yang timbul dari berbagai perkembangan yang terjadi telah diantisipasi oleh IAI dengan menerbitkan SPAP untuk menggantikan Norma Pemeriksaan Akuntan (NPA). Standar baru ini tidak hanya mengatur mengenai auditing, tetapi juga mengatur jasa lainya seperti atestasi, kompilasi dan review. Standar auditing dalam SPAP telah diperluas mencakup berbagai bidang yang belum diatur dalam NPA seperti penggunan teknologi informasi dan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan pasar modal dan bisnis kecil. Untuk penugasan examination lainnya diatur dalam standar atestasi, termasuk pemeriksaan atas proyeksi dan prakiraan keuangan, dan informasi keuangan intern. Jasa non pemeriksaan yang terkait dengan pelaporan keuangan diatur dalam standar jasa akuntansidan review. Penerbitan SPAP yang merupakan kummpulan dari berbagai standar membantu untuk menyediakan pedoman bagi auditor untuk meningkatkan mutu pekerjaannya, dan juga membuka jenis pekerjaan baru selain audit. Dengan demikian diharapkan profesi akuntan publik dapat menjawab tantangan yang timbul dari perubahan-perubahan yang ada, dan dapat memanfaatkan peluang dari perkembangan yang terjadi.

Agar akuntan publik dapat berpraktik dengan baik dalam situasi yang berkembang pesat ini, diperlukan pengembangan pengetahuan dan kompetensi. Bagi mereka yang sudah memasuki profesi akuntan publik, peningkatan kemampuan dan kompetensi dapat dilakukan melalui pendidikan profesi atau continuing profeonal education (CPE). Peningkatan pengetahuan akan meningkatan kompetensi mereka. Apabila sebelumnya pedoman yang digunakan adalah NPA, saat ini berubah menjadi SPAP yang isinya lebih lengkap dan mencakup lebih banyak aspek. Akuntan publik harus mengubah proses auditnya dengan menggunakan standar yang baru, sehingga pemahaman atas SPAP adalah mutlak diperlukan agar audit yang dilaksanakan mempunyai kualitas yang memadai sesuai dengan keadaan yang sudah berubah. Untuk menghasilkan calon akuntan publik yang memiliki pengetahuan dan kompetensi yang cukup, pendidikan akuntansi perlu diarahkan untuk enghadapi perkembangan ini. Berikut ini akan dibahas berbagai masalah dalam pendidikan akuntansi dan usaha-usaha yang perlu dilakukan untuk memperbaikinya.

PENDIDIKAN AKUNTANSI
Sejarah pendidikan akuntansi sejak kemerdekaan Republik Indonesi telah mengalami beberapa kali perubahan. Pada awalnya, pendidikan akuntansi yang dilaksanakan dalam pendidikan tinggi menghasilkan sarjana yang oleh UU No. 34 / 1994 dipandang cukup untuk menjadi syarat bagi profesi akuntan publik. Untuk menampung lulusan perguruan tinggi swasta, dilaksanakan ujian negara akuntansi (UNA). Perkembangan berikutnya adalah berubahnya program pendidikan sarjana menjadi program S1, yang sampai saat ini masih diakui sebagai akuntan. Dengan dikeluarkannya SK mendikbud No. 036 tahun 1994, pendidikan S1 akuntansi berubah dengandimasukannya akuntansi dalam pendidikan profesi. Dengan SK ini, pendidikan S1 tidak lagi menghasilkan akuntan. Sebutan akuntan diperoleh dari pendidikan profesi. Kurikulum nasional 1994 untuk pendidikan akuntansi mengatur jenjang pendidikan S1 yang ditetapkan sebanyak 144 sampai 160 SKS. Kurikulum pendidikan profesi ditetapkan antara 20 sampai 40 SKS. Rincian kurikulum pendidikan profesi belum ditetapkan dalam kurikulum nasional 1994, sehingga belum ada pedoman yang dapat digunakan dalam merancang program pendidikan profesi akuntansi. Dalam tahun 1966 ini departemen keuangan dibantu oleh konsorsium pusat pengembangan akuntansi (PPA) UI, UGM dan Unair sedang menyiapkan Sertifikasi Akuntan Publik (USAP). Ujian ini dimasa yang datang akan diselenggarakan oleh ikatan akuntan Indonesia (IAI). Dengan adanya ujian ini, akuntan tidak lagi secara otomatis dapat berpraktik sebagai akuntan publik. Dengan demikian terdapat dua perubahan, pertama adanya pendidikan profesi

untuk mendapat sebutan akuntan, dan kedua, adanya USAP yang merupakan syarat bagi akuntan untuk memasuki profesi akuntan publik. Pertanyaan yang masih harus dijawab adalah apakah perubahan-perubahan ini dapat memberi nekal yang cukup untuk menghadapi perubahan peran dan tanggungjawab akuntan publik ?

KURIKULUM NASIONAL 1994
Kurikulum nasional pendidikan akuntansi diatur dalam SK mendikbud No. 0313 / U / 1994. beban SKS yang harus ditempuh dalam kurikulum ini berkisar antara 144 SKS sampai dengan 160 SKS, jumlah SKS wajib sebesar 144 SKS sehingga tersedia 24 sampai dengan 40 SKS untuk mata kuliah pilihan. Dalam kelompok mata kuliah wajib, dicakup berbagai pengetahuan dasar yang dipandang perlu untuk membekali pengetahuan umum, pendukung, dan mata kuliah akuntansi. Untuk memberikan warna yang berbeda bagi para lulusan program pendidikan S1, dapat dilakukan melalui mata kuliah pilihan. Berbagai pendapat tentang hal ini telah penulis uraikan dalam artikel kurikulum program pendidikan tinggi akuntansi (zaki Baridwan ; 1996 : hal 5-16). Pertanyaan tentang kurikulum nasional 1994 ini adalah tentang kecukupannya dalam menyiapkan lulusan pendidikan akuntansi dalam memasuki profesi akuntan publik. Untuk mengevaluasi kurikulum yang berlaku, perlu dirumuskan kebutuhan pengetahuan bagi akuntan publik. Dari uraian di muka yaitu tentang perubahan peran dan tanggungjawab akuntan publik, dapat dirumuskan pengetahuan yang harus dimiliki agar dapat memasuki profesi akuntan publik, yaitu : 1. Pengetahuan tentang aturan akuntansi dan pengungkapan informasi bagi perusahaan yang go public. 2. Pengetahuan tentanng standar akuntansi di berbagai negara, pengetahuan hukum yang mengatur pasar modal di berbagai, dan jugapengetahuan tentang transaksi keuangan antar negara. 3. Pengetahuan tentang penggunaan teknologi informasi proses transaksi dan dalam auditing. 4. Pengetahuan mengenai standar auditing dan standar lainnya. 5. Berbagai pengetahuan pendukung lain seperti komunikasi, bahasa inggris dan pengetahuan umum lsinya. Melihat kebutuhan pengetahuan di atas, langkah-langkah untuk memenuhinya dapat dilakukan dalam dua cara yang berbeda, yaitu memasukkan dalam kurikulum pendidikan S1 atau melalui program pendidikan profesi di luar S1. uraian tentang hal ini dapat dibaca dalam artikel kurikulum program pendidikan tinggi akuntansi (Zaki Baridwan ; 1996 : hal 6-7).

Beberapa diskusi mengenai pendidikan tinggi dan pendidikan profesi akuntansi yang diikuti berbagai pihak termasuk dirjen pendidikan tinggi, menghasilkan rumusan tahap pendidikan tinggi akuntansi yang digambarkan sebagai berikut :
PENDIDIKAN TINGGI

S1 S2 S3

Pendidikan profesi

Akuntan

Gambar diatas menunjukkan perlunya pemisahan antara program S1 adalah dasar untuk pendidikan S2 dan S3 Yang merupakan jalur akademik. Demikian pula, program S1merupakan dasar untuk pendidikan profesi. Pemisahan seperti ini menyediakan alternatif bagi mahasiswa untuk memilih salah satu jalur atau menggabungkan keduanya. Pemisahan ini akan memberikan kesempatan untuk menyusun progra pendidikan yang lebih terarah. Gambar di atas menunjukkan bahwa untuk menempuh jalur akademik, seorang tidak wajib mengikuti pendidikan profesi. Sebaliknya bagi yang ingin memasuki profesi akuntan publik, maka harus melalui pendidikan profesi yang disiapkan khusus untuk profesi akuntan publik. Di masa yang akan datang, pendidikan profesi dapat dilakukan untuk menyiapkan profesi yang berbeda seperti akuntan publik, akuntan manajemen, internal auditor, dan profesi lain yang mungkin berkembang di masa yang akan datang. Alternatif kedua yaitu memisahkan program pendidikan S1dengan program pendidikan profesi merupakan alternatif yang lebih memungkinkan pengembangan program pendidikan akuntansi untuk menghadapi perubahanperubahan besar yang terjadi tanpa mewajibkan peserta pendidikan untuk menempuh pendidikan yang bukan menjadi tujuannya. Dengan dipisahkannya pendidikan profesi di luar program S1, terbuka alternatif program pendidikan akademik tanpa harus dibebani pengetahuan yang hanya perlu bagi profesi akuntan publik. Atau profesi lainnya. Program pendidikan S1 dapat difokuskan untuk menghasilkan sarjana akuntansi sehingga dapat lebih diarahkan pada pengembangan ilmu akuntansi. Untuk mencegah beban pendidikan yang terlalu banyak, kurikulum pendidikan S1 akuntansi perlu ditinjau kembali. Jumlah dan jenis mata kuliah yang terdapat dalam kurikulum nasional 1994, terutama dalam kelompok mata kuliah wajib, perlu diarahkan untuk menghasilkan sarjana akuntansi dan bukan

sarjana ekonomi jurusan akuntansi. sejak diselenggarakannya pendidikan tinggi akuntansi di Indonesia, dominasi mata kuliah ekonomi sangat membebani kurikulum jurusan akuntansi. oleh karena itu, bersamaan dengan diberlakukannya program pendidikan profesi, perlu diadakan pengurangan mata kuliah ekonomi yang tidak diperlukan bagi jurusan akuntansi. dengan dikuranginya mata kuliah ekonomi yang tidak diperlukan, jumlah SKS untuk kurikulum pendidikan S1 akuntansi dapat ditekan sampai pada jumlah minimum sebesar 144 SKS, tanpa mengurangi kualitas yang dibutuhkan untuk menjadi sarjana. Apabila program pendidikan profesi dilaksanakan dengan jumlah 20 sampai dengan 40 SKS, maka beban keseluruhan dari dua program ini tidak terlalu berbeda dengan beban kurikulum yang berlaku saat ini. Untuk mendukung pendapat tentang terlalu banyaknya mata kuliah ekonomi dalam kurikulum jurusan akuntansi, pada halaman berikut ini disampaikan contoh perbandingan kurikulum nasional 1994 untuk jurusan akuntansi. Perhitungan di atas menunjukan 24 SKS mata kuliah wajib dan 9 SKS mata kuliah pilihan di bidang ekonomi. Mata kuliah wajib di bidang akuntansi sebanyak 40 SKS dan pilihan 3 SKS. Dengan demikian proporsi mata kuliah ekonomi dibanding mata kuliah akuntansi sebesar 33:43 atau hampir 77%. Jumlah ini jelas terlalu banyak, karena dari daftar di atas nampak beberapa mata kuliah yang sama sekalli tidak berhubungan dengang bidang akuntansi seperti pengantar ekonomi pembangunan. Beban yang terlalu banyak yang timbul dari mata kuliah ekonomi harusnya dapat dikurangi untuk dapat menekan jumlah SKS kurikulum S1 dan menyediakan tempat bagi mata kuliah lain yang lebih relevan bagi jurusan akuntansi.

WAJIB

MATA KULIAH EKONOMI Pengantar ekonomi mikro Pengantar ekonomi makro Teori ekonomi Pengantar ekonomi pembangunan Perekonomian Indonesia Ekonomi koperasi Bank dan lembaga keuangan lainnya Matematika ekonomi JUMLAH Ekonomi moneter Ekonomi internasional Ekonomi manajerial Jumlah Jumlah keseluruhan MATA KULIAH AKUNTANSI

SKS 3 3 4 2 3 3 3 3 24 3 3 3 9 33

PILIHAN

WAJIB

Pengantar akuntansi Akuntansi keuangan I Akuntansi keuangan II Akuntansi keuangan lanjutan I Akuntansi keuangan lanjutan II Akuntansi biaya Akuntansi manajemen SPM/controllership Akuntansi pemerintahan Pemeriksaan Akuntansi I Pemeriksaan akuntansi II Teori akuntansi Sistem informasi akuntansi JUMLAH Seminar Akuntansi JUMLAH KESELURUHAN

PILIHAN

4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 40 3 43

Dalam rangka implementasi kebijakan baru di bidang pendidikan tinggi akuntansidan pendidikan profesi, evaluasi terhadap mata kuliah bidang akuntansi perlu dilakukan. Tujuan evaluasi ini adalah untuk mengelompokkan mata kuliah ke dalam mata kuliah S1 dan program pendidikan profesi. Pada umumnya kurikulum S1 akuntansi sejak dulu selalu diarahkan untuk menghasilkan akuntan yang secara implisit merupakan akuntan publik. Dengan demikian, dominasi mata kuliah akuntansi keuangan sangat menonjol, sehingga menghilangkan kesempatan untuk menawarkan mata kuliah bidang lainnya. Berdasarkan kurikulum nasional 1994 dapat dibuat perbandingan mata kuliah wajib akuntansi sebagai berikut :

Akuntansi keuangan Pengantar akuntansi Akuntansi keuangan I Akuntansi keuangan II Akuntansi keuangan lanjutan I Akuntansi keuangan lanjutan II Teori akuntansi Jumlah Akuntansi manajemen Akuntansi biaya Akuntansi manajemen SPM/controllership Jumlah

SKS 41) 3 3 3 3 3 19

3 3 3 9

Sistem informasi Sistem informasi manajemen Sistem informasi akuntansi Jumlah

3 3 6

Dengan membandingkan tiga bidang akuntansi diatas, nampak bahwa akuntansi keuangan mendapat porsi terbesar dalam kurikulum. Yang perlu dipertimbangkan adalah susunan kurikulum ini nampaknya diarahkan pada akuntan publik, tetapi kurang mendukung profesi akuntansi lainnya. Oleh karena program pendidikan profesi dipisahkan dari program S1, susunan kurikulum S1 perlu ditinjau kemali. Kurikulum S1 adalah kurikulum untuk menghasilkan sarjana, sehingga pengetahuan konseptual perlu diberi tekanan, dan pengetahuan pratis dapat dipindahkan ke program pendidikan profesi. Perubahan seperti ini diharapkan dapat membekali sarjana akuntansi dengan pengetahuan-pengetahuan yang dibutuhkan untuk mengembangkan akuntansi sebagai ilmu. Pengetahuan yang dibutuhkan terutama untuk memasuki profesi akuntansi, dalam hal ini misalnya akuntan publik, dimasukkan dalam kurikulum program pendidikan profesi. Dengan demikian, kurikulum pendidikan profesi akuntansi minimum harus meliputi bidang pasar modal, teknologi informasi dan auditing dalam EDP, perbandingan standar akuntansi antar negara, standar profesional akuntan publik, dan juga kemampuan komunikasi. Kemampuan komunikasi merupakan kemampuan penting yang harus dimiliki akuntan publik. Di Amerika, penelitian yang dilakukan oleh Ingram dan Frazier (1980 : 14) menunjukkan hasil perlunya skill berkomunikasi lisan maupun tulisan, dan kemampuan mendengarkan. Di Indonesia, penelitian oleh fakultas ekonomi UGM (1993) juga menunjukkan hasil yang sama. Oleh karena itu program pendidikan profesi perlu memasukkan kemampuan ini dalam kurikulumnya.

SIMPULAN
Berbagai perkembangan yang terjadi di bidang pasar modal, teknologi informasi, globalisasi dan bertambah banyaknya transaksi baru mengakibatkan perubahan peran akuntan publik. Dengan demikian semakin pentingnya informasi keuangan, tanggungjawab akuntan publik juga menjadi semakin besar. Untuk menjawabtantangan yang timbul itu, akuntan publik dituntut untuk memiliki pengetahuan yang cukup untuk berpraktik dalam lingkungan yang berkembang. Semakin ketatnya persaingan dalam profesi akuntan publik yang didorong oleh masuknya akuntan publik asing perlu diantisipasi dengan cara meningkatkan kompetensi akuntan publik dan kemapuan komunikasinya. Program pendidikan akuntansi sebagai pemasok tenaga akuntan publik perlu melakukan pemikiran kembali terhadap misinya. Perubahan lingkungan perlu diantisipasi dengan perubahan proses pendidikan. Kurikulum pendidikan akuntansi secara langsung mempengaruhi kualitas lulusannya. Oleh karena itu kurikulum pendidikan akuntansi perlu disesuaikan dengan perubahan pola pendidikan akuntansi yang telah ditetapkan oleh Depdikbud. Perubahan yang

diperlukan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu pemisahan program S1 dengan program pendidikan profesi dan peninjauan terhadap kurikulum pendidikan akuntansi. Program S1 akuntansi saat ini seharusnya disusun untuk menghasilkan sarjana akuntansi yang dapat memilih untuk masuk ke profesi akuntansi atau ke bidang akademik. Perubahan ini mengakibatkan perlunya dipisahkan kurikulum S1 dengan kurikulum program profesi. Pemisahan ini, bersama dengan peninjauan terhadap mata kuliah ekonomi, diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang kualitasnya lebih baik yang siap melaksanakan tugasnya di bidang akademik maupun profesi akuntansi. agar perubahan yang diinginkan dapat dilaksanaka, perlu pendekatan terhadap pihak yang berkepentingan dengan pendidikan dan profesi akuntansi. pihak-pihak yang berkepentingan itu adalah depdikbud, IAI dan departemen keuangan. Pihak-pihak itu perlu memiliki pandangan yang sama, dan sebaiknya diusahakan segera agar dampaknya terhadap pendidikan dan profesi akuntansi dapat dinikmati, dan tidak terlambat. Semoga.

CATATAN KAKI
1

walaupun pengantar akuntansi dimaksudkan untuk mengantar ke semua bidang akuntansi, pada umumnya sebagian besar isinya adalah pengantar akuntansi keuangan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->