BIAYA

AKUNTANSI BIAYA
Oleh Cover Design & Lay Out Ibnu Subiyanto Bambang Suripto : QX Graphic Design : QX Graphic Design
:

Diterbitkan pertama kali oleh Gunadarma O Hak cipta dilindungi Undang-undang Jakarta, 1993

DAFTAR IS1

BAGIAN 1
BAB I AKUNTANSI BIAYA DAN PENENTUAN KOS
A. B. C. KONSEPSI MANAJEMEN DALAM PENGENDALIAN BIAYA TA!iAPAN PROSES PRODUKSI KARAKTER METODE PENENTUAN KOS PROSES DAN PERBEDAANNYA DENGAN METODE PENENTUAN KOS PESANAN D. E. TRANSAKSI BIAYA YANG MENDUKUNG PENENTUAN KOS TARIP BIAYA OVERHEAD DAN PEMISAHAN BIAYA SEMI VARIABEL
-

2
2

3

9
11

18

BAB I1 LAPORAN KOS PRODUKSI
A. B. PENENTUAN UNIT EKUIVALEN PRODUKSI MENGHITUNG KOS PER UNIT PRODUK MENYUSUN LAPORAN KOS PRODUKSI MENCATAT KOS PRODUK DALAM BUKU BESAR PROSES PRODUKSI MELALUI LEBIH DARI SATU DEPARTEMEN PRODUKSI
F.

23
23 25

C.
D. E.

28 32

37

MENYUSUN LAPORAN KOS PRODUKSI UNTUK TIAP DEPARTEMEN
-

42 45

G.

PENCATATAN TRANSAKSI AKUNTANSI BIAYA

BAB m PRODUK HILANG DALAM PROSES PRODUKSI PRODUK RUSAK, DAN PRODUK CACAD
A.
B. C.

47
47

PRODUK HILANG DALAM PROSES PRODUK RUSAK PERLAKUAN PRODUK CACAD

56 64

BAB IV TAMBAHAN BAHAN BAKU PADA DEPARTEMEN DUA ATAU DEPARTEMEN BERIKUTNYA

68

BAB V PENEN'rUAN KOS PRODUK BERSAMA DAN PRODUK PRODUK SAMPINGAN
A. PENENTUAN KOS PRODUK SAMPINGAN -

77
78 83
-

B.
,
\

PENENTUAN KOS UNTUK PRODUK BERSAMA PEMBEBANAN BIAYA PRODUKSI PRODUK BERSAMA --SETELAH DEPARTEMEN PEMISAH PRODUK

C.

87

BAB VI PENENTUAN KOS STANDAR
A. B.
C.

89
89
--

JENIS-JENIS STANDAR PENENTUAN STANDAR ILUSTRASI TERHADAP PENENTUAN STANDAR

90
91

BAGIAN 2
BAB VII BIAYA OVERHEAD PABRIK
A. B. SOAL-SOAL BIAYAOVERHEAD PABRIK -

100
100 -

PENYELESAIAN

117

BAB VIII METODE HARGA POKOK PESANAN
A. B. SOAL-SOAL, METODE HARGA POKOK PESANAN PENYELESAIAN
-

133
133
-

156

BAB 1X METODE HARGA POKOK PROSES
A. -

172
-

-

SOAL-SOAL METODE HARGA POKOK PROSES -

-

-

-- --

- -- - - . -

172

B.- PENYELESAIAN -

-

-

--

204

BAB X METODE PENENTUAN HARGA POKOK PRODUK BERSAMA DAN PRODUK SAMPINGAN
A.
.
-- -

243
--

SOAL-SOAL METODE HARGA POKOK PRODUK BERSAMA
- - --

DAN PRODUK SAMPINGAN - -PENYELESAIAN .
-

- --

-

-- - ---

- -

-

243 - -252

-

B.

-

-

BAB XI METODE HARGA POKOK STANDAR
A. B. SOAL-SOAL METODE HARGA p------.-pp POKOK--STANDAR . - - - - . ~ ~

261
26 1 285

PENYELESAIAN.-.----p-..-p- -.p -

BAB I
AKUNTANSI BIAYA DAN PENENTUAN KOS

A. KONSEPSI MANAJEMEN DALAM PENGENDALIAN BIAYA
Manajemen puncak terdiri dari orang-orang yang bertugas mengambil keputusan, memberikan perintah, membentuk kebijaksanaan, dan mengarahkan agar semua orang mendukung kebijaksanaan perusahaan. Secara keseluruhan fungsi manajemen meliputi fungsi perenCanaan{ pengorganisasian dan pengendalian. Ketiga fungsi tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Fungsi-fungsi tersebut dibentuk mengingat dalam suatu perusahaan akan terlibat orang-orang yang mendukung berjalannya suatu organisasi. Masing-masing orang mempunyai peranan yang berbeda dan kesemuanya terlibat aktivitas kerja dalam mencapai satu tujuan bersama (yang disepakati). Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukannya adanya satu komando agar pelaksanaan tugas dapat terkoordinir. Satu komando ini diperlukan untuk mengarahkan berbagai pihak yang terlibat dalam watu jalinan kerjasama sehingga tujuan bersama dapat dicapai dengan efisien. Mengingat masing-masing pihak mempunyai peranan yang berbeda dan sekaligus menciptakan kerjasama, maka perlu ditetapkan batas-batas yang jelas agar aktivitas kerjamasing-masing pihak tidak saling tumpang tindih. Oleh karena itu masing-masing fungsi dalam 'organisasi harus ditetapkan sampai sejauh mana wewenang seseorang dalam fungsi dan jabatan yang terlekat pada dirinya (authority). Di samping itu harus ditetapkan pula tanggung jawab (responbility) dan tingkat pertanggungjawaban (nccountability) dalam tugas dan jabatannya tersebut.

Dalarn rangka pengendalian operasi perusahaan manajemen ingin memperoleh umpan balk Cfeedback)sampai sejauh mana wewenang yang telah didelegasikan kepada bawahan telahdigunakan dengan sebaik-baknya. Umpan balik ini berupa informasi yang dapat memberikan gambaran pelaksanaan tugas para bawahan yang meliputi seberapakah target operasi telah terpenuhi dan sejauh mana operasi tersebut telah menyerap dana perusahaan. Hal ini berarti umpan balik yang diharapkan &an berupa berapa biaya-biaya yang telah dikeluarkan dalam satu periode dan berapa kuantitas yang dihasilkannya.

Hal ini dilakukan dengan maksudmengadakan spesialisasipengerjaan produk yang dihasilkan. departemen pemeliharaan peralatan. TAHAPAN PROSES PRODUKSI Produksi dimaksudkan sebagai aktivitas mengubah sesuatu produk (bahan). untuk membuat sebuah meja tulis. Oleh karenanya untuk meningkatkan kuantitas meja tillis yangdihasilkan. Departemen pembantu adalah departemen yang memberikan layanan pada departemen produksi sesuai dengan fungsinya. Hal ini agar tidak terjadi penyumbatan dalam salah satu tahapan proses produksi tersebut. sejak pembuatan design. Setiap tahapan proses produksi tersebut pada dasamya tidak dapat berdiri sendirisendiri. Departemen pembantu biasanya berupa departemen listrik.Apabila umpan balk tersebut diterapkan dalam suatu industri maka akan terlihat komposisi umpan ballk dalam proses produksi akan memegang peranan yang dominan. proses produksi akan tetap lebih dinamis. pekerjaan dibagi menjadi beberapadepartemen sesuaidengan pentahapan pembuatan meja tulis tersebut. B. sampai dengan penyelesaian meja tulis tersebut dapat dikerjakan oleh satu orang saja. Spesialisasipenanganan tugas semacam ini akan menjadi lebih ekonomis apabila produk yang dihasilkan dalam jumlah yang cukup banyak. Biaya-biaya yang terjadi pada departemen pembantu pada dasarnya juga ikut memberi kontribusi pembuatan suatu produk. karena hasil kerja yang diperoleh sedikit. Kesemuanya harus merupakan satu rangkaian yang terkoordinasikan. Sebagai contoh. Cara produksi semacam itu menjadi tidak ekonomis. Proses produksi pada umumnya melalui beberapa tahapan. Departemen semacam ini disebut departemen pembantu. Sehingga umpan balik tersebut bermanfaat untuk menilai apakah target telah tercapai dan seberapa jauh prestasi yang dicapai oleh aparat produksi yang dimiliki perusahaan. Peranan departemen pembantu dalam menghasilkan suatu produk harus diakui. Aktivitas mengubah bahan. departemen air dan sanitasi. Dengan adanya koordinasi tersebut alur produk dari departemen yang satu ke departemen lainnya hams sarna. perangkaian komponen meja tulis. proses penggergajian kayu. menjadi produk lain yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.Spesialisasitersebut mengakibatkan adanyadepartemenisasi proses produksi. Sebagai akibatnya pengerjakan sebuah meja tulis tidak mungkin dikerjakan oleh satu orang saja. Setiap tahapan proses produksi tersebut harus dibantu oleh departemen lain yang membantu berfungsinya suatu departemen. Hal ini mengingat aktivitas produksi merupakan aktivitas utama dalam perusahaan tersebut. Oleh karenanya biaya-biaya yang terjadi di departemen pembantupun juga hams ikut dibebankan dalam penentuan kos produk. Meskipun antara meja tulis yang satu dengan yang lain terdapat variasi bentuk. dan lain-lain. . berarti suatu proses kerja yang membutuhkan pengorbanan ekonomis guna memperoleh nilai ekonomis yang dipandang lebih tinggi.

Alasan ekonomis. artinya setiap job hams inemperhatikan spesifikasi yang diminta oleh langganan (konsumen).Namun demikian pembebanan biaya yang terjadi pada departemen pembantu ke produk yang dihasilkan tidak dapat dilakukan secara langsung ke produk. Dalam proses perakitan (assembling). namun setelah ditemukan teknologi robot dengan proses ban berjalan. ukuran. ha1 ini akan kita temukan dalam industri kimia. Dalam artian homogen ini. Apabila produk yang dihasilkan memerlukan penanganan khusus sehingga masingmasing produk mempunyai spesifikasi tertentu. Jadi. Pembebanan biaya dari departemen pembantu langsung ke produk akan mengakibatkan kos produk terlalu tinggi dan sebaliknya kos produk yang masih dalam proses menjadi lebih rendah (understated). Produk semacam ini diolah dengan metode job. industri mobil pada mulanya dibuat satu per satu dengan memperhatikan spesifikasi permintaan pelanggan. Pengolahan produk terdiri dari dua sifat yaitu merakit komponen menjadi suatu produk dan membentuk produk melalui proses reaksi hmiawi. . Sifat-sifat produk yang dihasilkan. Kadangkala teknologi yang digunakan menunjukkan satu-satunya cara dalam pembuatan produk tersebut. Teknologi yang digunakan. c. mengingat besarnya permintaan pasar serta skala produksi yang dikehendaki. produk yang dlhasilkan bersifat standard. Produk yang diolah dengan metode proses menunjukkan bahwa barang yang dihasilkan tidak memerlukan spesifikasi tertentu sehingga produk bersifat homogen. Proses produksi suatu barang selalu menggunakan cara-cara tertentu agar tujuan ekonomis perusahaan dapat dicapai. Sebagai contoh. b. maka dipilih teknologi maju agar produk yang dihasilkan mampu meraih pasar yang dikehendaki. Sifat pengolahan produk. maka produk tersebut diproses secara khusus pula. antara produk yang satu dengan yang lainnya tidak terdapat perbedaan yang berarti. dicampur dan dibentuk menjadi suatu produk baik bempa komponen maupun produk akhir. berbagai komponen yang ada (baik dibuat sendiri maupun diperoleh dari pihak lain) digabungkan menjadi suatu produk. Sedangkan dalam proses reaksi kimiawi beberapa bahan digabung. Cara produksi yang digunakan tergantung oleh: a. Terlebih dahulu hams dilakukan alokasi biaya ke departemen produksi yang menikmati jasa yang diserahkan oleh departemen pembantu tersebut. Perbedaan teknologi pembuatan suatu barang yang berbeda mengakibatkan cara-cara berproduksi yang berbeda pula. bahkan ha1ini menunjukkan semua produk yang dihasilkan membutuhkan kesamaan bentuk. wama. yaitu: a. maka pembuatan produk tersebut dapat dibuat secara massal dan produk bersifat standard. Pembahasan di atas menunjukkan metode produksi yang digunakan dalam suatu perusahaan didasarkan dua alasan. dan kesamaan fungsi.

yakni departemen-departemen yang secara langsung ikut menangani pembuatan suatu produk. penggabungan produk dalam proses dan penyempumaan produk. Jurnlah departemen dan pusat-pusat biaya.Pengukuran unjuk-kerjamasingmasing bagianJdepartemen tersebut dinilai seberapakah variasi biaya yang terjadi. 2. Di sarnping itu. Hubungan operasi terhadap arus produk. dan lain-lain. Faktor yang dipertimbangkan dalam departemenisasi antara lain: 1. 4. Departemen tersebut meliputi aktivitas pengolahan bahan. . untuk memenuhi kebutuhan tersebut perlu pula disusun tarip overhead untuk tiap departemen secara cermat. Pengelompokan ini di samping sebagai alat pengawasan berperan pula sebagai pusat pertanggungjawabanbaik kuantitas maupun kualitasnya. Pertanggungjawaban produksi dan biaya. Hal ini dimaksudkan agar pengendalian tugas dan pengawasan mutu produk yang dihasilkan dapat diselenggarakan dengan mudah. 3. Pengelompokan secara vertikal menunjukkan adanya departementalisasi pelaksanaan operasi. Hal ini dimaksudkan agar proses produksi menjadi lebih berdaya guna dan berhasil guna. Spesialisasi menyebabkan penibuatan suatu produk tidak mungkin diselesaikan oleh hanya satu orang saja. Departemen ~ e m b a n t u . Kelompok utama dalum 3 departementalisasi ini dibagi menjadi dua. industri gula. proses dan mesin dalam suatu departemen. Lokasi operasi. Hal ini akan ditemukan untuk industri kimia. Alasan teknologi. Sebagian besar industri kimia harm diolah dengan metode proses. Kelompok utama tersebut meninjau dari sudut peranan dalam penanganan produk. pernrosesan dan mesin-mesin. mengingat industri senlacam ini membutuhkan proses produksi yang benifat tertutup. Kesamaan operasi. Teknologi yang digunakan merupakan satu-satunya cara untuk menghasilkan suatu produk. 2. Sebagai contoh: industri semen. Pengelompokan selanjutnya didasarkan pada fungsilbidangtugas masing-masing. Departemen Produksi. Proses produksi rnenghendaki adanya spesialisasi pelaksanaan pekerjaan diantara karyawan yang terlibat. yaitu: 1.yakni departemen yang tidak langsung menangani pembuatan produk. Jadi pelaporan biaya yang terjadi pada masing-masing departemen mempunyai peranan sangat penting. tetapi diselcsaikan oleh suatu team kerjn dengan pernbagian tugas sesuai dengan keahliannya masing-masing.b. Pembagian kerja pada suatu industri baik secara horisontal maupun vertikal dikelompokkan menurut fungsi/tugas masing-masing. 5. tetapi output yang dihasilkan membantu departemen produksi dalam pengolahan produk.

penyelesaian produk dan pengantongan.Dalarn departemen inidihasilkan kristal gula. Selanjutnya departemenisasi organisasi pengolahan produk pada departemen produksi hams pula disesuaikan dengan pentahapan proses pengolahan produk tersebut. 2. Sehingga pentahapan proses produksi hams disesuaikan dengannya. Berbagai tahapan proses produksi tersebut membentuk departemenisasi proses pengolahan tebu menjadi gula. tetes dan blotong. pemasakan airniradalam tungkureaksi. Dengan pengolahan produk tersebut bahan yang masuk di departemen pertama akan menjadi out dari departemen pertama. Teknik Pengolahan Aliran Produk Bertahap Proses produksi dilakukan setahap demi setahap sejak departemen pertama sampai produk diselesaikan di bagian penyelesaian dan akhimya diserahkan kepada bagian gudang. pencalnpuran air niradengan bahan lainnya sekaligus dengan sekaligus dengan pencucian air nira dari kotoran. Teknlk pengolahan aliran produk bertahap. 3.Spesialisasi pekerjaan menyebabkan proses pengolahan barang dilakukan melalui beberapa departemen. Sebagai contoh. Periksa bagan di halaman berikut ini. Apabila diamati pentahapan proses produksi dapat dibagi menjadi tiga macam sekuen proses produksi. Tahap kedua. penggilingan tebu menjadi air nira. Teknik pengolahan aliran paralel. Pentahapan proses ini sesuai dengan tehnologi dan rancangan pabrik yang disusun sebelum pabrik itu dibangun. yaitu: 1. Teknlk pengolahan aliran produk selektip. Dalam tahapan ini departemen penggilingan menghasilkan air nira dan ampas tebu. . Tahap keempat. dalam industri gula proses pengolahan tebu menjadi gula dilakukan rnelalui beberapa tahapan proses produksi sebagai berikut: Tahap pertama. Spesialisasi dilakukan agar pengolahan produk menjadi lebih efisien atau teknologipengolahan produk memang menghendalu beberapa tahapan proses secara berumtan. 1. Dengan demikian produk yang diolah mengalir secara tems menerus dari waktu ke waktu tanpa berhenti. Tahap ketiga. Untuk selanjutnya akan menjadi bahan bagi proses di departemen kedua dan seterusnya.

GULA PASIK Gumbar. Blotong sebagzi produk sampingan karena tidak mempunyai nilai ekonomis merupakan limbah industri. Rekening PDP-Departemen Pemasakan. Proses pengolahan gula Dalam contoh pengolahan gula tersebut di atas. Rekening PDP-Departemen Penggilingan. 2. 2. 3.1. Tetes. yaitu: 1. Agar masing-masing departemen diatas dapat dideteksi biaya-biaya yang layak dibebankan kepadanya maka bagian akuntansi hams pula menyediakan rekening untuk masing-masing departemen tersebut. .Tetes sebagai produk sampingan selanjutnyadapat diolah menjadi alkohol atau langsung dijual ke konsumen.I penggilingan 1 1 tebu pemasakan nira ! limbah industri ampas blotong tetes I I tebu j I I kristal gula 1 pengantongan LISTRIK ALKOHOL. Kristal gula. Blotong. Proses ketiga ini merupakan proses yang mernbentuk joint cost (biaya bersama). Ktistal gula selanjutnya disempurnakan menjadi gula pasir dan dikantongkan pada departemen penyelesaian. 3.Departemen Pencampuran. Bagan proses produksi digambarkan sebagai berikut: Proses pengolahan data biaya hams memperhatikan sekuen pengolahan produk tersebut. Rekening PDP.3. menghasilkan beberapa macam produk yang keluar dari proses ketiga. Rekening PDP-Departemen Penyelesaian. 4. antara lain: 1.

ulel p1. menggunakan teknik pengolahan aliran produk paralel. menjadi satu produk akhir.2. Dengan demikian departemen sebelumnyamenseleksi produk yang memenuhi standard mutu untuk diserahkan/diproses lanjut di departemen penyempurnaan.odzrc.t f l o ~ . Dalam teknik ini terdapat beberapa departemen yang bertugas nienyempurnakan produk yang dihasilkan dari departemen sebelumnya. Memperhatikan teknik produksi dan sifat-sifat bahan yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk pengolahan bahan dilakukan secara paralel untuk akhirnya digabungkan dalam satu unit pabrik rnenjadi satu produk. sehingga pada akhir proses di pabrik tersebut keterkaitan antara produk yang satu dengan lainnya digabungkan menjadi satu. 3. Teknik Pengolahan Aliran Produk Paralel Teknik pengolahan produk tidak selalu setahap demi setahap seperti halnya dalam industri gula. )Industri minuman dan makanan dalam kemasan kebanyakan . dan pabrik yang sama. Departemen berikutnya juga menghasilkan produk yang sama dengan mengolah lagi produk yang . Teknik Pengolahan Aliran Seleksi produk Teknik yang ketiga adalah selective product tlow.2 berikut ini menunjuk cara lain dalam pengolahan produk. Gambar 1. Bahan minuman minuman 7 Bahan penyiapan bvhnn pembuatan kemasan 1 I A kemawn dan penyelesaian 7 MINUMAN KEMASAN Dalam gambar tersebut ditunjukkan ada dua produk yang diolah secara bersamaan pada waktu. kuantita\. disebut teknik pengolahan aliran produk paralel (pu~. Kedua produk tersebut sebetulnya saling membutuhkan satu sama lain. Cara pengolahan yang kedua.

dan penyajian laporan biaya yang timbul dari transaksi-transaksi biaya sebagai akibat proses produksi suatu barang. Metode penentuan kos (baik metode proses maupun pesanan) berkaitan dengan pencatatan. Produk yang baik diserahkan ke departemen penyelesaian. Proses semacam dilakukan terus berulang-ulang. Penggabungan dari kedua penentuan kos tersebut seMg terjadi tergantung dari kasus proses pengolahan di pabrik tersebut. yaitu job order costing (dikenal dengan penentuan kos pesanan) dan process costing (penentuan kos proses). Keduanya mengandung aspek yang berbeda. KARAKTER METODE PENENTUAN KOS PROSES DAN PERBEDAANNYA DENGAN METODE PENENTUAN KOS PESANAN Dalam pembahasanmetodepenentuankos. 1 - Dept. sedangkan produk yang belum sempuma diserahkan ke departemen berikutnya untuk diproses ulang. Penentuan kos dibedakan secara ekstrim menjadi dua. 2 - Departemen Penyelesaian Dept. metode produksi berkaitan dengan cara-cara perusahaan melaksanakan pembuatan suatu barang (produk) sedangkan metode penentuan kos berkaitan dengan pencatatan dan penentuan kos pembuatan produk tersebut. Teknik pengolalzan produk selektip C. Dalam praktek seMg kali dijumpai masing-masing metode penentuan kos tersebut tidak diterapkan secara mumi.diterima dari departemen sebelurnnya. Bagan proses produksi semacam ini adalah sebagai berikut: P Dept.pengertian penentuankos seringdikacaukan dengan metode produksi suatu barang. pengklasifkasian. 3 Limbah Industri Output Gambar 3. .

Produksi dilaksanakan untuk nlengisi gudang dengan mengingat permintaan pasar yang sudah diperkirakan terlebih dahulu untuk suatu jangka waktu tertentu.Metode penentuan kos proses. Dalarn metode penentuan kos pesanan penentuan kos tiap unit produk dapat ditetapkan dengan mudah setelah produk tersebut diselesaikan. Industri yang banyak menggunakan metode ini. tahunan dan lain-lain). sehingga antara periode yang satu dengan periode yang lain tidak dibatasi oleh jarak waktu tertentu (time lug). . Dengan demikian cukup beralasan apabila dalam metode penentuan kos proses. Laporan kos produksi disusun/dihitung secara periodik.h) serta memerlukan kecakapan dan perhatian khusus. antara lain: industri konstruksi. Metode ini digunakan untuk perusaham yang memprodusir secara massal dengan proses produksi yang dilaksanakan secara contineuous. 4. aircraft. justru meninlbulkan kerugian yang cukup berarti bagi perusahaan. Karakter metode ini adalah: I. adalah penentuan penentuan kos produk yang penetapan penentuan kos produk (baik total maupun unit) ditetapkan atas dasar periode waktu. dapat dilihat perbedaan dengan karakter metode penentuan kos pesanan (job cost). 2. Bahkan untuk industri semen suatu siklus proses produksi membutuhkan waktu lebih dari satu periode. Tujuan produksi tidak dimaksudkan untuk memenuhi permintaan khusus dari pelanggan tertentu. Produk diolah secara masal dalam jumlah yang cukup besar dan sesuai dengan kapasitas produksi mesin-mesin yang ada. penentuan kos produknya dengan membagi dalarn periode tertentu (bulanan. mengingat berakhirnya suatu proses produksi tidak dibatasi oleh periode akuntansi. Tiada jarak waktu tersebut disebabkan penghentian suatu proses produksi yang ditu-jukan hanya untuk menghitung kos produk menjadi tidak ekonomis. 5. Metode job order digunakan untuk perusahaan yang mernproduksi barang-barang yang tiap unitnya memerlukan spesifikasi khusus atau dalam kelompok produk (batc. permesinan. mebel dan lain-lain. Antara periode yang satu dengan yang lainnya hams ditetapkan batasan waktu tertentu (cut oj'f). Metode proses dapat ditemukan untuk hampir semua industri kimia. Tingkat kesamaannya membutuhkan presisi yang tinggi sehingga sulit dibedakan antara produk yang satu dengan lainnya. Tetapi dalarn metode penentuan kos proses. Produk diolah secara terus menerus (c~ontinuous). percetakan.Pengertian contineuoustersebut adalah suatu proses akm berjalan tanpa berhenti untuk satu kelompok produk yang dirancang (satu batch). Memperhatikan kelima karakter tersebut di atas. 3. Mengingat proses produksi tidak boleh dihentikan pada setiap saat (setup costnya sangat mahal) maka manajemen harus menganggarkan jumlah yang harus diproduksi dalam kurun waktu tertentu. Sifat produk yang diolah menunjukkan keseragaman antara produk yang satu dengan yang lainnya. perusahaan tidak mungkin melakukan penentuan kos.

Oleh karena itu. Meskipun transaksi ini hanya sekedarmernindahkan barang dari gudang ke bagian produksi tetapi mempunyai makna yang cukup berarti sebagai pengakuan . sedangkan biaya overhead mempunyai perilaku baik sebagai biaya tetap maupun sebagai biaya variabel. Sifat. Pencatatan dan pembebanan biaya bahan. biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik. ketelitian. Proses reaksi lumia semacam ini harus dikendalikan agar reaksi kimia dapat membentuk produk seperti yang diiehendaki. Sebaliknya ongkos produksi akan mahal sekali kalau konfigurasi proses produksi dalam skala besar. permasalahan dan perilaku tersebut sangat berpengaruh dalarn pengakuan dan pencatatan transaksi biaya yang terjadi dalarn suatu perjode akuntansi. Produk yang dihasilkan tidak dapat dibuat secara standard. proses produksi barang-barang kimia harus dikerjakan dengan . Kebanyakan industri kimia menggunakanproses produksi yang bersifat tertutup. Masing-masing elemen biaya tersebut mempunyai sifat dan permasalahan yang berbeda. TRANSAKSI BIAYA YANG MENDUKUNG PENENTUAN KOS Elemen-demen biaya yang membentuk kos produk adalah biaya bahan. Pemakaian bahan terjadi pada saat bahan baku ataupun bahan pembantu diserahkan dari bagian gudang kepada bagian produksi. sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan. Begitu pula apabila ditinjau dari periIaku masing-masing dalam membentuk kos produk. a. adanya manusia yang mengerjakannya disertai dukungan fasilitas lain yang membantu terwujudnya produk tersebut.konfigurasi yang sangat besar. Di sarnping itu akibat sampingan yang tidak terkendali dapat muncul apabila sisa-sisa reaksi kimia tersebut tumpah. Transaksi ini bersifat intern.Perbedaan di antara kedua metode ini. D. Narnun realisasi pembelian baru akan terwujud pada saat barang-barang yang dibeli . Biaya bahan dan biaya tenaga kerja pada umumnya mempunyai perilaku sebagai biaya variabel. Hal ini dimaksudkan agar produksi menjadi lebih ekonomis. disebabkan oleh cara-cara yang ditempuh dalam menghasilkan produk tersebut memang berbeda. oleh karenanya transaksi ini hanya pernindahan asset dari bagian yang satu kepada bagian yang lain. Saat terjadinya pembelian bahan menunjukkan bahwa perusahaan telah mempunyai kesepakatan dengan pihak lain. Ketiga elemen biaya tersebut terlekat pada produk yang dihasilkanmengingat suatu produk terbentuk karena adanya bahan. Metode penentuan kos pesanan dirancang untuk digunakan bagi industri yang menghasilkan produk dalam skala kecillindividual. dengan maksud reaksikimia sebagai akibat pencampuran dan pemanasan beberapa bahan tidak dipengaruhi oleh unsur-unsur kimia lain yang tidak dikehendaki.telah tiba dan diterima di bagian gudang. Produk yang dihasilkan lebih membutuhkan perhatian.Kenyataan tersebut mengakibatkanproses produksi barang-barang kimia dalam skala kecil menjadi sangat mahal. bocor dan lain-lain. Transaksi biaya bahan terjadi pada saat bahan-bahan tersebut dibeli dari pemasok dan pada saat pemakaian bahan tersebut.

tetapi dapat pula terdiri dari beberapa macam bahan baku. Tujuan pengendalian biaya bahan. 3. Komponen kos bahan terdiri dari: a. bahan-bahan yang digunakan untukmembantu terbentuknya suatu produk.berapa kos bahan-bahan dalarn ikut membentuk tenvujudnya sesuatu produk. dan c. 3. 4. Bahan yang masuk kategori bahan baku. Memberikan perlindungan terhadap resiko kecurian dan menjaga berfungsinya bahan sesuai dengan mutu yang diharapkan. adalah bahan utama yang secara langsung ikut membentuk produk. 1. Pada umumnya bahan pembantu suatu produk terdiri dari beberapa macam. kos pembelian bahan. Tujuan pengendalian barang di gudang. Menghindarkan resiko cacat/rusak. 5. Bahan ini merupakan bagian kecil dari suatu produk. Bahan pembantu adalah. Agar dana yang digunakan untuk membiayai pembelian bahan dapat dihernat untuk tujuan lain yang lebih bermanfaat. biaya assuransi bahan-bahan. Pada umumnya bahan baku suatu produk terdiri dari satu macam bahan saja. namun mempunyai peranan dalam membentuk suatu produk. b. . 2. . Bahan baku adalah bahan yang diubah dalam proses produksi untuk membentuk suatu produk. 2. Bahan-bahan hams dilindungi terhadap kemungkinan-kemungkinan pencurian ataupun resiko kehilangan. 1. Agar resiko terhadap munculnya barang cacat maupun kadaluwarsa dapat dihindarkan. Bahan untuk memproduksi suatu produk terdiri dari bahan baku dan bahan pembantu. Agar barang-barang di gudang siap apabila sewaktu-waktu dibutuhkan. Bahan tersebut secara langsung terlekat pada produk dan merupakan komponen yang terbesar. Agar biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menangani persediaan dapat dihemat. biaya pengangkutan bahan sampai ke gudang. Agar bahan-bahan yang dibeli dalam jumlah yang tepat dan digunakan untuk kepentingan produksi sesuai dengan waktu yang direncanakan.

Dengan demikian bahan-bahan yang dipakai sesuai dengan mutu yang dikehendaki.Contoh pencatatan transaksi yang terkait denganbiaya bahan.000 2.200 Rp 10.Masalah ini dibahasdalam mata kuliah Akuntansi Keuangan.BB Persediaan bahan baku Rp 8.700 Pengendalian pemakaian bahan. 2. Penentuankos danpenilaiannya.700 Jumal pencatatannya adalah sbb: Persediaan bahan baku Utang Dagang Kas Rp 13.200 8.200 Total kos bahan Digunakan dalam proses produksi Rp Rp 13.200 Saat Pemakaian bahan (dicatat oleh bagian akuntansi biaya) Produk dalam proses . Harus memperhatikan kwalitas bahan-bahan yang ada sehingga apabila terdapat bahan-bahan yang tidak memenuhi standard dapat segera mengembalikannya kepada suplier. . Masalah penting yang terkait dalarn pengadaan bahan adalah: 1. Kos bahan (sesuai faktur) Biaya angkut masuk Biaya assuransi Rp 10.000 I -1. Masalah ini dibahas dalarn mata kuliah Sistem Akuntansi. saat Pembelian (dicatat oleh bagian akuntansi finansial). Prosedur Pembelian bahan dan pencatatan persediaan.000 3. Pengembalian ini akan dicatat dalam jurnal pengembalian bahan.

upah buruh. Jurnal transak\i kedua ini dicatat sebagai berikut: PDP-biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik Rp 15. Pencatatan biaya tenaga kerja melalui dua tahapan penting yang terdiri dari: 1.500 2.500 Biuyn tennga kcljlr Rp 22. adalah semua biaya yang dikeluarkan untuk membayar tenaga kerja dala~n . Jumal transaksi tersebut adalah sebagai berikut: Biaya Tenaga Kerja Pajak penghasilan karyawan Hutang gnji h n ~rpah ka~:~trcc~crn Rp 22.500 Riaya tenaga kerja dalam suatu perusahaan dapat digolongkan menjadi beberapa macatn.b. Tahapan keduamerupakan prosesdistribusidan alokasi biaya tenaga kerja kepada masing-masing job. Pencatatan dan pembebanan biaya tenaga kerja.000 2. Rp 25. perhitungan pajak yang hams dibayarkan oleh karyawan serta berapa besarnya penghasilan bersih yang diterima karyawan. Biaya Produksi (terdiri dari biaya TK Langsung dan biaya TK tak langsung). insentip'lembur dan insentip prestasi kerja. Biaya Komersial (terdiri dari Gaji direksi dan gaji karyawan kantor). tantiem. Biaya tenaga kerja. adalah semua biaya yang dieluarkan untuk membayar upah pada karyawan perusahaan.500 . Macam-macam pembayaran gaji dan upah yang masuk dalam kategori biaya tenaga kerja adalah: gaji karyawan.Termasukdalam kategori biaya komersial adalah semua pembayaran gaji yang dibayarkan kepada para pegawai (tetapftidaktetap) guna mempertahankan eksistensioperasional perusahaan. Tahapan pengumpulan data gaji. dan tunjangan hari raya. departemen dan lain-lain klasifikasi. 2. bonus Produksi. perhitungan pendapatan.000 7. dan tunjangan kesehatan. Komponen pembayaran jasa kepada karyawanhuruh yang tidak termasuk dalam kategori biaya tenaga kerja adalah:jasa produksi. antara lain sebagai berikut: 1. Klasifiasi biaya tnaga kerja dalam proses produksi antara lain: (a) biaya tenaga kerja langsung. Termasukdalam katego~i biaya produksi adalah semua upah buruhdan insentipdalam rangka memproduksi suatu produk.

000 2 orang anak @ Rp 60. 3.000 total penghasilan tidak kena pajak Pendapatan tidak kena Pajak Jadi buruh tersebut tidak dapat dikenai PPH 21.000 60. karypwan (buruh) dan perusahaan. Pajak menjadi beban perusahaan. Dengan dernikian pendapatan kena pajak buruh tersebut Rp 80.000. Pajak PPH 21 menjadi beban masing-masing karyawan. Masalah yang tirnbul dalam pembayaran biaya tenaga kerja. Mempunyai seorang isteri dan dua orang anak. . 2. Berarti PPH 21 yang harm dikenakan kepada buruh tersebut sebesar 15% X Rp 80.000 120. berikut: 1.000 sebesar Rp 12.000. Perlakuan akuntansi terhadap pajak berdasarkan kebijaksanaan mahagemen sebagairnana diutarakan dalam alinea di atas.000 per bulan.000. adalah semua biaya yang dikeluarkan untuk membayar tenaga kerja dalam rangka memproduksi produk yang secara tidak langsung ikut membentuk produk dalam suatu perusahaan. adalah kewajiban membayar PPH 21 dan asuransi sosial. Penentuan PPH 2 1untuk buruh tersebut adalah sebagai berikut: Besarnya penghasilan per bulan Pendapatan tidak kena pajak buruh sebagai kepala keluarga 1 orang isteri 120.rangka memproduksi produk yang secara langsung membentuk produk dalam suatu perusahaan dan biaya tenaga kerja langsung yang terjadi cli departemen produksi. RD 300. Biaya tenaga kerja talc langsung. Pajak ditanggung bersarna. Seorang buruh memperoleh penghasilan sebesar Rp 200. Biaya tenaga kerja talc langsung terjadi di departemen pewbantu (service departement). Masalah ini dipecahkan dengan 3 cara sebagai . Contoh kasus.000 Apabila buruh tersebut belurn berkeluarga (bujangan) besarnya pendapatan tidak kena pajak sebesar Rp 120.

000 Rp 12.000 .000 Rp 12. Pencatatan PPH 21 bila dikenakan kepada karyawan. a. Saat Pengakuan biaya tenaga kerja.000 Kp 200.000 KIT 194.BTK Biuya tenaga kelju Rp 1 94.000 2. Pencatatan PPH 21 bila dikenakan kepada perusahaan saja.000 b.000 3. Biaya tenaga kerja Biaya overhead pabrik Utang 21 Ut~lr~g gajilupah RP 1 04 400 6. Pencatatan PPH 21 bila dikenakan kepada k:+rpawan dan pcruxahaal~.000 188. a.1. a. Produk dalam Proses .000 b.000 Rp 12.000 12. Saat Pengakuan biaya tenaga kerja.000 1811.000 Utang gajilupah 188. Saat Pembebanan kepada psoduk.BTK Biaya terluga kerja Rp 200. Saat Pengakuan biaya tenaga kerja. Biaya tenaga kerja Utang PPH 2 1 Urcing gajilupcrh RP 200. Saat Pelnbebanan kepada produk. Produk dalam proses . Biaya Tenaga kerja Biaya overhead pabrik Utang PPH 21 RP 188.

3. dibahas dalarn mata kuliah Sistem Akuntansi.BTK Rp 188. Pencatatan dilakukan dengan talcsiran biaya overhead pabrik. Pengelompokan ini dilakukan mengingat jenis biaya overhead sangat banyak. Di samping itu apabila ditinjau dari tingkah laku terjadinya biaya dapat ditinjau dari dua aspek yaitu biaya variabel dan biaya tetap. Hal-ha1 tersebut.000 Rp Biaya tenaga kerja 188.b. Pencatatan biaya overhead pabrik adalah sebagai berikut: Pengakuan terhadap biaya overhead. Pencatatan biaya overhead pabrik terdiri dari dua kelompok.000 Rp 5. Produk dalam Proses . Pembayaran upah dan insentip.BOP. dengan dernikian pembebanan BOP tidak perlu menunggu perhitungan . Penghitungan upah dan insentip. Rekening semacam ini digunakan untuk menampung pembebanan biaya overhead yang terjadi dalam satu periode kepada rekening Produk dalam proses . 1.000 Rp 3. adalah prosedur penggajian dan pengupahan yang meliputi. Saat Pembebanan kepada produk. Pencatatan kehadiran karyawan. Pencatatan biaya tenaga kerja. 2. Apabila ditinjau dari saat terjadinya maka biaya overhead dapat ditinjau dari biaya overhead tunai dan biaya overhead yang dibebankan untuk berbagai penode yang menikrnati. Pencatatan waktu kerja. Biaya overhead pabrik Biaya tenaga kerja tak langsung Akumulasi peralatan pabrik Biaya assuransi kebakaran Rp 20.500 Macam-macam biaya yang lainnya Pembebananbiayaoverheadpabrikkeproduk harusmemperhatikanapakahperusahaan memakai rekening biaya overhead pabrik dibebankan.000 Masalah lain yang perlu diperhatikan dalam pengendalian biaya tenaga kerja. Pernisahan biaya tersebutdimaksudkanuntuk memudahkan dalamanalisispengambilan keputusan. Pencatatan dan pengakuan biaya overhead.000 Rp 7. 5. c. -4.500 Rp 4.

000 Selanjutnyarekening BOP-dibebankan pada saldokredit. Item biaya overhead pabrik sangat banyak. Adapun jumalnya adalah sebagai berikut: BOP .sesurzgguhnya Rp 19.BOP BOP .BOP yang sesungguhnya terjadi. Pemisahan biaya ini sebenamya mengandung kelemahan. Namun untuk memudahkan perhitungan biaya dan pengendalian biaya. Biaya ini terdiri dari biaya bahan tak langsung.dibebankan Rp 19. Pembebanan BOP ke rekening Produk dalam Proses: PDP . maka klasifikasi biaya semi variabel tersebut dipecah lagi menjadi biaya tetap dan biaya variabel.000 Rp 19.Meskipun padadasamya terdapat biaya semi variabel yang mengandung kriterium sebagai biaya variabel maupun tetap. .000 Rp 19.000 Dengan pencatatan tersebut di atas maka akan terlihat bahwa dalam rekening BOP sesungguhnya akan terdapat selisih sebesar Rp 1.mengingat tidak ada metode yang dianggap tepat dalam pemisahan biaya semi variabel tersebut. rekening persediaan produk selesai dan persediaan produk dalam proses akhir. harus dipertemukan dengan rekening BOP-sesungguhnyapada saldo debit. Selisih tersebut di akhir periode akan disesuaikan dengan terlebih dahulu dianalisis apakah terjadi over1 under applied BOP. TARIP BIAYA OVERHEAD DAN PEMISAHAN BIAYA SEMI VARIABEL Biaya overhead pabrik adalah semua biaya-biaya produksi selain biaya bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung.Perbedaan ini disebut under-applied overhead pabrik. dapat disusun klasifikasi sebagai biaya tetap dan biaya variabel. biaya tenaga kerja tak langsung dan semua biaya-biaya yang tidak dapat secara langsung dibebankan kepada produk ataupun job.000. E. sehingga apabila ditinjau dari perilaku biaya. Selanjutnya selisih tersebut akan dibebankan kembali ke rekeningrekening Kos barang terjual/HPP. Dengan cara tersebut dapat dipastikan akan diperoleh selisih antara BOP yang ditaksirkan dengan BOP yang sesungguhnya.dibebankan BOP .

Biaya Tetap 0 unit 2.jelaskan uraian tersebut di atas. Teknik grafis. Variabilitasbiayadiperlihatkan oleh garis miring yang sebetulnyamerupakan fungsi dari produk yang dihadkan. Gambar di halaman 18 berikut ini me~~. Perhatikan contoh berikut ini: . Teknik ini menggunakan dasar aktivitas tertinggi dan terendah sebagai dasar analisis semivariabel. Dari gatnbar tersebut dapat diketahui berapa besamya biaya tetapdan berapa besamya biayavariabel. antara lain: (1) teknik grafis. garis ini menunjukkan komponen biaya variabel. Besamya biaya variabel dihitung dengan membagi selisih biaya semi variabel tertinggi dan terendah dibagi dengan selisih aktivitas tertinggi dan terendah. Sedangkan biaya tetap digambarkan dengan garis mendatar sejajar dengan kuantitas produk. Dari perpotongan sumbu tegak dengan garis tersebut ditarik garis lurus sejajar dengan sumbu datar. Di antara berbagai titik tersebut ditarik garis lurus sampai memotong sumbu tegak. (2) matematical high low point. Dalam teknik ini hubungan antar biaya dengan volume produksi digambarkan dalarn sebuah diagram.Beberapa teknik pemisahan biaya semivariabel menjadi biaya tetap dan biaya variabel. 1. dan (4) teknik analisis korelasiJregresi. (3) teknik analisis kuadrat terkecil (least square). Garis ini menunjukkan komponen biaya variabel. Mathematical high low point.

026.000 684.000 Rp 2. Persamaannya adalah: .104 jam = Rp 250.000 Aktivitas terendah Rp 1.840 jam 2.000 Tarip variabel = Rp 1..066.776.000 1.026.000.: 4.7 10.000.000 I .750.840 jam dengan biaya Rp 2.736 jam X Rp 250 Biaya tetap Rp 1. Berdasarkan data tersebut dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut: No 1 2 Aktivitas perusahaan Aktivitas tertinggi Aktivitas terendah Selisihlperbedaan Aktivitas 6.000 Rp 1. Teknik kuadrat terkecil.dapat dihitung hesamya biaya tetap sebagai berikut: Aktivitas tertinggi Total biaya semi variabel Biaya variabel (Rp 250ljam) 6.776.776. Selanjutnya setelah besarnya biaya variabel per unit dapat diketahui. Teknik ini hubungan antara biaya dengan volume produksi sebagai hubungan persamaan linear.750.I 1 Dalam tahun anggaran 1986 aktivitas tertinggi perusahaan susu Mamiek menunjukkan waktu kerja sebanyak 6.480 jam X Kp 250 2.000.000 Rp 1.066.-/jam.736 jam 4.736 jam dengan biaya sebesar Rp 1.750.104 jam Total Biaya Rp 2.000 3. Sedangkan aktivitas terendahnya terjadi di bulan Maret menunjukkan waktu kerja 2.

000 (under applied).000 dan biaya variabel Rp 300.000 jam kerja.SO.Y menunjukkan besamya biaya variabel pada volume X a b menunjukkan komponen biaya tetap. 3.875. dan menunjukkan arah garis (slope) sebagai komponen biaya variabel. ditentukan atas dasar: 1. Sebagai akibat penggunaan tarip biaya overhead pabrik tersebut. Selisih tersebut dianalisis dengan analisis dua selisih sebagai berikut: Selisih pengeluaran: Biaya overhead sesungguhnya Anggaran s/d kapasitas yang digunakan: Biaya tetap dianggarkan Biaya overhead (190 X Rp 0. terdiri dari biaya tetap Rp 125.000 Selisih pengeluaran (rugi) .000 sehingga terdapat selisih sebesar Rp 7. maka pada akhir periode &an terdapat selisih dalam rekening biayaoverhead pabrik sesungguhnya (actual) dengan tarip yang telah ditentukan di muka.875) Rp 125. jam mesin. Pada akhir periode diketahui besamya biaya overhead pabrik sesungguhnya adalah Rp 292. Telah disebutkan di muka. jam tenaga kerja langsung. biaya tenaga kerja. Sebagai contoh: Anggaran biaya overhead pabrik pada perusallaan Nickiesusu.000 166. 5. Tarip biaya overhead pabrik. 3.000 jam.250 Rp 292. unit produksi. agar tarip tersebut dapat digunakan secara tepat baik untuk penentukan kos maupun untuk kepentingan pengendalian biaya.625 dan untuk biaya overhead variabel sebesar Rp 0.250 Rp 291.000. 2. Jadi tarip per jam kerja adalah Rp 1. Tarip biaya overhead pabrik atas dasar jam kerja sebesar 200. Selisih tersebut (baik under ataupun over applied) harus dianalisis untuk mengetahui apa yang menjadi penyebabnya. bahwa untuk mempermudah perhitungan digunakan tarip yang ditetapkan di muka. Tarip untuk biaya overhead tetap Rp 0. Tarip yang digunakan harus berdasar pada alasan yang rasional. biaya bahan yang digunakan. Pada periode tersebut jam kerja sesungguhnya sebesar 190.

atau: Income summary Biaya overhead pabrik sesungguhnya Rp 7. Dengan demikian manager dapat mengetahui pada elemen apa saja dia harus melakukan tindakan koreksilperbaikan. Dari data di atas dapat diketahui terdapat kapasitas jam kerja yang masih belum digunakan sebanyak 10.Selisih Kapasitas: Anggaran sld kapasitas yang digunakan Biaya overhead pabrik yang dibebankan ke produk (rekening PDP-BOP) Selisih kapasitas (rugi) Terhadap selisih pengeluaran dapat dirinci lebih jauh.000.= 5 % Pejabat yang bertanggungjawab terhadap adanyakapasitas yang menganggur tersebut adalah orang yang secara langsung menangani proses produksi. ha1 ini perlu diteliti lebih lanjut penyebab kesenjangan antara kapasitas produksi dengan kemampuan pasar menyerap produk yang dihasilkan perusahaan. . pada setiap akhir periode hams dibebankan kembali ke rekening Kos Produksi atau langsung ke income summary.000 Persediaan produksi jadi Biaya overhead pabrik sesungguhnya. Terhadap selisih yang terjadi.X 100 %. manajemen dapat mengetahui sampai seberapa jauh tingkat efektivitas pekerjaan pada departemen produksi. Hal ini hams dikoreksi kembali.. Demikian halnya dalam selisih kapasitas. dihitung dengan cara sebagai berikut: (10.000 Rp 7.000 Terhadap tarip biaya overhead.000jam kerja. Besarnya kapasitas menganggur ini sebesar 5%. Dalarn artian tarip yang ditetapkan di masa lalu tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai alat pengukuran. komponen biaya apa saja yang mengalami penyimpangan.625) :Rp 125.000 jam X 0. sangat dimungkinkan di kelak kemudian hari tarip biaya overhead pabrik menjadi tidak tepat. dengan jurnal sebagai berikut: Rp 7. Dengandemikian tarip biaya overhead pabrik harus ditetapkan kembali dengan dasar pengalaman di masa yang lalu.000 Rp 7. Namun.

000 unit produk X. dan biaya overhead pabrik 80%. perusahaan XYZ dalam bulan Mei menghasilkan 2.400 unit .BAB I1 LAPORAN KOS PRODUKSI A.200 unit 2. Berapa besamya biaya yang terserap dalam produk yang masih dalarn proses baik di awal maupun di akhir periode tergantung pada taksiran tingkat penyelesaian komponenkomponen biaya yang membentuk terjadinya sesuatu produk atas produk dalam proses.biaya tenaga kerja langsung 90%.000 unit 2. Di awal bulan terdapat produk yang rnasih dalaln proses produksi 200 unit dengan tingkat penyelesaian untuk biaya bahan baku 100%'. biaya tenaga kerja 80% dan biaya overhead pabrik sebesar 90%. Hal ini mengingat adanya produk yang masih dalanl proses baik di awal maupun di akhir periode telah ikut menyerap kos yang terjadi dalam periode tersebut. Di akhir periode masih terdapat 400 unit produk yang masih dalam proses dengan tingkat penyelesaian untuk biaya bahan sebesar I OO%.400 unit Produk dalam proses akhir Produk yang diselesaikan periode ini 400 unit 2. PENENTUAN UNIT EKUIVALEN PRODUKSI Unit ekuivalen produksi (selanjutnya disebut unit ekuivalen) hams dihitung untuk menentukan berapa besa~nya produk yang layak diperhitungkan dalam rangka penentuan kos produk per unit. Sebagai contoh. Keadaan dalam satu periode tersebut apabila dirinci akan menunjukkan kuantitas produk yang diselesaikan sebagai berikut: proses awal Produk dala~n Produk yang masuk di dalam proses 200 unit 2. Tingkat penyelesaian produk mencerminkan berapa banyak biaya yang terserap di dalam produk dalam proses tersebut.

Apabila menggunakan metode tersebut besarnya unit ekuivalen adalah sebagai berikut: Unit ekuiv. awal bulan Mei ! awal bulan Juni ! 200 unit 400 unit Masuk dalam proses dalam bulan Mei 2. Sebagai akibatnya kos padaperiode yang satu dan periode yang lain tidak akan terjadi fluktuasi.360 unit .000 + 400 (90 %) = - 2. biaya overhead pabrik.320 unit 2. 2. Metode ini menganggap bahwa tingkat penyelesaian produk dalam proses baik di awal maupun di akhir proses dari periode yang satu ke periode berikutnya tidak menunjukkan perbedaan yang siknifikan. biaya tenaga kerja langsung.Dalam menghitung kuantitas produk yang diprodusir selama satu periode harus dapat ditunjukkan bahwa input (200 + 2.200) sama dengan output (400 + 2. bahan baku.200 unit Produk selesai dalam bulan Mei 2. Penghitungan unit ekuivalen dapat dilakukan dengan salah satu dari dua metode berikut: 1 . Metode rata-rata (average method). Kos yang terserap dalam produk dalam proses awal maupun akhir proses menunjukkan jumlah yang relative sama.000 unit Peraga 2.000 + 400 (80 % Unit ekuiv.000 + 400 (100 %) Unit ekuiv. Bagan berikut ini memperjelas proses transformasi input dan output dalarn suatu proses produksi. Begitu pula halnya produk dalam proses di akhir bulan Mei akan menjadi produk dalam proses di awal bulan Juni.400 unit 2.000). 2. 2.1 Aliran input dan ouput produksi Dan gambar tersebut di atas ditunjukkan bahwa 200 unit produk dalam proses awal sebetulnya merupakan produk dalam proses di akhir bulan April. Komposisi penyelesaian produk dalam proses di awal maupun di akhir proses sebagaimana digambarkan dalam gambar di atas akan mempengaruhi unit ekuivalen pada bulan Mei.

= 2.560. tidak boleh sembarangan mengingat karakter proses produksi hams diperhatikan Dengan mengambil contoh perhitungan subbab A di atas serta data biaya berlkut digambarkanperhitungan kosper unit tersebut.420 dan biaya overhead pabrik Rp 26. Metode ini menganggap terdapat perbedaan yang siknifikan antara tingkat penyelesaian antara produk dalam proses di awal periode dengan produk dalam proses di akhir periode. MENGHITUNG KOS PER UNIT PRODUK Dalam menghitung kos per unit produk hams memperhatikan unit ekuivalen produksi untuk masing-masing komponen biaya.000 .biaya tenaga kerja langsung Rp 15. Misalnya. Konsep ini sangat berbeda dengan metode rata-rata yang menganggap komporlen kos semua produk sama.300 unit.000 .200 biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp 34. 200 (20 9 )+ (2. Kos per unit. Perbedaan tingkat penyelesaian dari waktu ke waktu tersebut akan sangat mernpengaruhi besarnya komposisi kos produk dari periode yang satu dengan periode lainnya. 200 (0 9 )+ (2. Perhitungan kos per unit produk berdasarkan salah satu dari keduametode penghitungan unit ekuivalen.dan biaya overhead pabrik sebesar Rp 11. produk pada bulan April adalah sebagai berikut: biaya bahan baku RD 19.200) + 400 (80 %) Unit ekuivalen biaya overhead pabrik. mengenai filosofi produksi. = 2.200) +400 (90 '3) 6 = 2. Perhitungan unit ekuivalen dengan menggunakan metode FIFO adalah sebagai berikut: Unit ekuivalen biaya bahan. biaya bahan baku bulan tersebut sebesar Rp 44.Metode masuk pertama keluar pertama (first in first out).200) + 400 (100 %) 6 Unit ekuivalen biaya tenaga kerja.000 .200 unit.140 unit. . Kos yang terserap dalam setiap produk di awal dan di akhir periode jumlahnya tidak sama. Perhitungan unit ekuivalen tersebut di atas memperhatikan perhedaan penyerapan kos di awal dan di akhir proses produksi. ' Periksa kembaii bab I. B. Meskipun demikian keputusan untuk menggunakan salah satu dari kedua metode tersebut. 200 ( 10 %) + (2. sebagai akibatnya kos balk yang terjadi di awal maupun di akhir proses akan diidentifikasi secennat mungkin.

perhitungannya adalah sebagai berikut: Biaya bahan baku.760 - Rp 8. Dengan menggunakan metode rata-rata besamya kos per unit lebih kecil dibandingkan dengan metode FIFO. Apabila menggunakan metode FIFO perhitungan kos per unit produk adalah sebagai berikut: . 200 x 80 % x 11 Total kost produk dalam proses awal = Rp = 3. Sebelummenghitung kos per unit produk terlebih dahulu dihitung berapa besarnya kos yang terlekat pada produk dalarn proses awal.800 2. 200 x 100 % X 19 Biaya tenaga kerja langsung.260 Apabila menggunakan metode rata-rata perhitungan kos per unit produk adalah sebagai berikut: Perhitungan kos per unit kedua metode tersebut akan menghasilkan kos per unit yang berbeda.700 1. 200 x 90 % x 15 Biaya overhead pabrik.Dari informasi tersebut di atas dapat dihitung kos per unit produk.

Berdasarkan perhitungan di atas selanjutnya dapat dihitung berapa besamya kos yang dibebankan terhadap produk selesai maupun produk yang masih dalam proses di akhir periode. Rincian perhitungan berikut ini sangat penting mengingat jumlah tersebut akan digunakan sebagai dasar untuk melakukan posting ke dalam rekening-rekening produk dalam proses. Perhitungan pembebanan kos produk apabila dengan metode rata-rata adalah sebagai berikut: Kos produk selesai: 2.000 @ Rp 48 Kos produk dalam proses akhir: Biaya bahan, 400 x 100 % x Rp 20 Biaya TKL, 400 x 80 % x 16 Biaya Overhead Pabrik, 4OOx90%x12 Total biaya yang dibebankan Rp 8.000 5.120 Rp 96.000

4.320

17.440 Rp 113.440

Perhitungan pembebanan kos produk apabila dengan metode FIFO adalah sebagai berikut:

Kos produk selesai:
Produk d b proses awal

Penyelesaian PDP awal: Biaya TKL: 200 x 10 % x Rp 16,08 Biaya Overhead Ppbrik: 200 x 20 5% x 12,07 Kos produk dalam proses awal Kos produk yang diselesaikan dalam bulan Mei: 1.800 @ Rp 48,25 Total kos produk selesai bulan Mei Rp 95.914,40
= Rp 321,60

=

482.80

804.40

Kos produk dalam proses akhir:
Biaya bahan baku, 400 x 100 % x Rp 20,lO Biaya Overhead Pabnk, 400 x 90 %x 12,07 Total kos dalam proses akhir Total biaya produksi yang dibebankan bulan ini Rp 8.040 4.345.20 Rp 17.530.80 Rp 1 13.445,20
% Biaya Tenaga Kerja Langsung, 400 x 80 5 x 16,08 Rp 5.145,60

Dalam perhitungan menurut metode FIFO, di atas terdapat selisih lebih sebesar Rp 5,20. Selisih tersebut sebagai akibat pembulatan pada waktu perhitungan kos per unit. Rincian pembulatan tiga angka di belakang koma adalah sebagai berikut: Biaya bahan 12.0909 menjadi 12.10 atau sebesar BTKL 16.0841 menjadi 16.08 atau sebesar BOP 12.0727 menjadi 12.07 atau sebesar (0.009 1) (0.0041) (0.0027) Rp 5,06

Total pembulatan = 0.0023
Perhitungan pembulatan adalah: 2.200 x Rp 023
=

C. MENYUSUN LAPORAN KOS PRODUKSI
Laporan kos produksi untuk periode yang baru saja berakhir disusun pada hari-hari awal periode berikutnya. Jadi laporan kos produksi untuk bulan Mei dibuat pada awal bulan Juni, demlkian seterusnya. Laporan ini memuat tigamasalah pokok yang terdiri dari:

1. Laporan kuantitas produksi selama satu periode, berisi perhitungan kuantitas produk baik yang masuk dalam proses maupun produk yang dihasilkan serta segala bentuk keluaran lainnya. Laporan semacam ini menggarnbarkan berapa kuantitas yang layak diperhitungkan dalam penentuan kos produk.

2. Perhitungan kos per unit produk, berisi perhitungan kos per unit produk untuk semua komponen produk yang dihasilkan selama satu periode produksi.
3. Perhitungan pembebanan kos produk selesai dan produk yang masih dalam proses (akhir), berisi perhitungan berapa besarnya kos untuk produk selesai dan produk dalam proses yang dihasilkan dalam satu periode produksi.
Laporan Kos Produksi tersebut disajikan dengan maksud menyajukan informasi kepada manajemen sebagai alat pengendalian biaya produksi dan sebagai dasar membukukan kos produksi ke dalam rekening kontrol. Berikut ini disajikan contoh laporan kos produksi dengan menggunakan metode ratarata (periksa halaman 24).

PERUSAHAAN XYZ LAPORAN KOS PRODUKSI Bulan Mei 19x1

A.

Kuantitas produksi bulan ini. Produk dalam proses awal Produk yang masuk dalam proses 200 unit

2.200

unit
2.400 unit unit unit 2.400 unit

Produk dalarn proses akhir hoduk selesai bulan Mei

400

2.000

B. Perhitungan Kos per unit produk,

C. Pernbebanan biaya kepada produk.

Kos produk selesai: 2.000 @ Rp 48 Kos produk dalam proses akhir: Biaya bahan, 400 x 100 % x Rp 20 Biaya tenaga kerja langsung. 400 x 80 O/r x 16 Biaya Overhead Pabrik, 400 x 90 %x 12

= =

Rp Rp
8.000 5.120 4.320

96.000

-

Total biaya yang dibebankarl

Percrgu 2.2 Lupor.urr Kos Prodrrksi detrLqut7 Rerorlc, Rota-r.nru

Laporan kos prroduksi yang disajikan dengan metode FIFO disajikan pada halaman berikutnya. Perhatikan, terdapat perbedaan yang khas penyajian metode ini yang sangat berbeda dengan metode Rata-rata. Dalam metode FIFO, perhitungannya jauh lebih rumit daripada metode rata-rata terutama laporan bagian C, pembebanan biaya kepada produk.

PERUSAHAAN XYZ LAPORAN KOS PRODUKSI Bulan Mei 19x1

A. Kuantitas produksi bulan ini. Produk dalam proses awal Produk yang rnasuk dalarn proses

200

unit

2.200
400

unit
2.400 unit unit unit 2.400 unit

Produk dalam proses akhir Produk selesai bulan Mei

2.000

B. Perhitungan kos per h i t ,

C. Pembebanan biaya kepada produk: Produk dalam proses awal Penyelesaian PDP awal: Biaya TKL: 200 x 10 % x Rp 16,08 Biaya Overhead Pb., 200 x 20 % x 12,07
Kos produk dalam proses awal Kos produk yang diselesaikan dalam bulan Mei, 1.800 @ Rp 48,25

Rp 8.260
= Rp 321,60 = 428.80

804.40

Total kos produk selesai bulan Mei Kos produk dalam proses akhir: Biaya bahan baku 400 x 100 % x Rp 20,lO Biaya Tenaga Kerja Langsung: 400x 80 % x 16,08

Rp 95.914,40
= Rp 8.040,00 = 5.145,60

Biaya Overhead Pabrik: 400 x 90 % x 12,07 Total kos dalam proses akhir Total biaya produksi yang, dibebankan bulan ini

Peraga 2.4 Laporan Kos Produksi dengan Metode FIFO

Apabila kita kita perhatikan, a1 antara kedua laporan kos produksi tersebut tefdapat perbedaan pokok, yaitu: 1. Dalam metode rata-rata biaya yang terjadi pada bulan sebelurnnya yang tercermin dalam PDP awal digabung menjadi satu dengan biaya yang terjadi pada bulan Mei. Penentuan kos per unit dilakukan dengan membagi total bulan lalu dan bulan Mei dibagi dengan unit ekuivalennya. Berbeda dengan metode FIFO, maka biaya yang berasal dari bulan lalu tidak digabung dengan biaya yang terjadi pada bulan Mei.

2. Penggunaan salah satu dari kedua metode tersebut harus mempertimbangkan ha1 -ha1 sebagai berikut:
a. Fluktuasi produksi dari periode ke periode. b. Apakah produk yang melekat masih dalam proses tidak tentu.

D. MENCATAT KOS PRODUK DALAM BUKU BESAR
Akuntansi biaya mempunyai tugas untuk mencatat, melaksanakan klasifikasi biaya, membebankan perhitungan biaya pada produk, dan melaporkannya kepada manajemen. Bentuk pelaporan biaya telah dipelajari dalam subbab sebelurnnya, dan selanjutnya akan dibahas proses pencatatan transaksi biaya ke dalam jumal dan postingnya dalam buku besar. Skema proses pencatatan transaksi biaya adalah sebagai berikut:

-

Buku Jurnal

Buku besar

-

Neraca Lajur

r

-Buku Pembantu

Laporan Biaya

Biaya

I

Bagan 2.5 Proses pengolahan data akuntansz

Berdasarkan bagan tersebut di atas. Cara pencatatannya antara lain.700 11760 Rp 8.800 2. Pengakuan adanya upah tenaga kerja dicatat sebagai berikut: Biaya tenaga kerja xxxx XYXX Hutang guji c. Pembelian bahan baku (dengan metode perpetual) dicatat sebagai berikut: Persediaan bahan xxxx . PDP biaya bahan PDP biaya tenaga kerja langsung PDP biaya overhead pabrik Rp 3. Pencatatan jurnal penyesuaian kembali. guna mengakui adanya produk dalam proses awal yang sebetulnya merupakan persediaan akhir pada periode bulan yang lalu. langkah-langkah pencatatan transaksi adalah sebagai berikut: 1.lx. biaya tenaga kerja dan biaya lain-lain selain kedua klasifikasi tersebut.xx Hutang &gang b. Dengan demikian saldo semuarekening Produk Dalam Proses sudah seimbang (0). a. Transaksi keuangan yang terkait dengan transaksi biaya terdiri dari pencatatan pembelian bahan-bahan.Pada awal bulan Mei harus dibuat jurnal penyesuaian kembali. Pencatatan jumal penyesuaian kembali ini dibuat mengingat pada akhir bulan yang lalu telah dilakukan tutup buku.260 Persediaan PDP awal Pencatatan transaksi keuangan. Pencatatan biaya lain-lain: Biaya overhead pabrik sesungguhnya Biaya tenaga kerja tak langsung Depresiasi Biaya asuransi xxxx xxxx xxxx xxxx XlCXX Biaya tunai lainnya ..

Pembebanan biaya produksi kepada produk selesai dengan jumal sebagai berikut: Persediaan produk selesai PDP .000 24. Terhadap produk yang masih melekat dalam proses produksijuga hams dihitung berapa biaya yang hams dibebankankepadanya. biaya tenaga kerja langsung.200 b. dan biaya over-head pabrik.420 Biaya overhead . a. 1.440 Rp 8.560 Setelah proses produksi selesai.000 PDP .120 4.biaya bahan Rp 44.320 PDP .BTKL Rp 34.biaya bahan baku Rp 17. Pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk: Produk dalam proses . Transfer produk jadi tersebut hams diikuti pencatatan pembebanan biaya atas produk yang telah diselesaikantersebut.200 Persediaan bahan baku Rp 44.3.000 Rp 40. Pembebanan biaya bahan baku kepada produk: Produk dalam Proses .200 Biaya tenaga kerja langsung c. Pembebanan biaya tenaga kerja langsung kepada produk: Produk dalam proses . Pencatatan transaksi akuntansi biaya. Transaksiini meliputi pembebanan biay a bahan baku. Bila menggunakan metode rata-rata.b i q tenaga kerja langsung PDP .biaya bahan baku Rp 96.000 PDP .dibebunkan Rp 26.BOP Rp 26. produk yang diselesaikan diserahkan ke gudang sebagai produk jadi.000 5.biaya averheadpabrik .biaya tenaga kerja langsung 32.560 Rp 34.biaya overhead pabrik Pembebanan biaya produks~ kepada PDP akhir dengan jumal sebagai berikut: Persedimn produk dalam proses PDP .

BB Persediaan produk selesai 48.914.Bagan proses pencatatan transaksi biaya dalam metode rata-rata adalah sebagai berikut: Persediaan bahan PDP .80 (Catatan: terdapat pernbulatan angka sebesar Rp 520) .974.40 Rp 38.biaya overhead pabrik Rp 95.BOP :: :I : Persediaan PDP Akhir Peraga 2.OO 3 1. Bila menggunakan metode FIFO Pembebanan biaya produksi kepada produk selesai: Persediaan produk selesai PDP . 2.000 Biaya Tenaga Kerja PDP .biaya bahan baku PDP -biaya tenaga kerja langsung PDP .974.960.BTKL Raj.4 Aliran Biaya Produksi dengan Metode Rara.rat^ 2.000 48.40 23.700 BOP Dibebankan PDP .

BTKL BOP Dibebankan PDP .6 Aliran Biaya Produksi dengan Metode FIFO .5.BOP Persediaan PDP Akhir 28.530.biaya tenaga kerja langsung PDP .320.040.Pembebanan biaya produksi kepada PDP akhir: Persediaan produk dalam proses PDP .biaya bahan baku PDP .974.40 Biaya Tenaga Kerja PDP .530.BB Persediaan produk selesai 95.80 Peraga 2.OO 17.60 4.20 Bagan proses pencatatan transaksi biaya dengan metode rata-rata adalah sebagai berikut: Persediaan bahan 'PDP .34.145.biaya overhead pabrik Rp 17.00 5.80 Rp 8.

Industri XYZ menghasilkan satu macam produk X dengan metode proses.E. Komposisi produk yang dihasilkan dalam bulan Mei 1988 adalah sebagai berikut: Keterangan PDP awal dept I (BB loo%. I PDP akhir dept 1 (BB 100%.800 400 -- ---- 150 Biaya produksi per unit produk dalam bulan yang lalu adalah sebagai berikut: di departemen I.000 Rp 216. I1 -- 200 5 . Hampir tidak ada proses produksi yang tidak menggunakan departemenisasi tersebut. Untuk menggambarkan bagaimana penentuan kos produk yang diolah melalui beberapa departemen produksi. BK 90%) PDP akhir dept I1 (BB 100%. biaya bahan Rp 19. diambil kasus teknik aliran produksi bertahap. BK 80%) Depart. Di departemen I1 biaya tenaga kerja langsung Rp 25 dan biaya overhead pabrik sebesar Rp 16. berikut ini disajikan contoh kasus PT XYZ. Total biaya Rp 198. BK 80%) PDP awal dept I1 (BB LOO%. Agarpembahasan lebih mudah dipahami.OOO 4. BK 80%) Produk masuk dalam proses dept. PROSES PRODUKSI MELALUI LEBIH DARI SATU DEPARTEMEN PRODUKSI Mengingat setiap proses produksi membutuhkan spesialisasipekerjaan.000 D e ~ tI1 . Rp 100. Dalam bulan ini komposisi biaya adalah sebagai benkut: Jenis biaya Biaya bahan Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik D e ~ tI. maka produk diolah melalui beberapa departemen. I Produk selesai di dept. biaya tenaga kerja sebesar Rp 10. I 200 -- Depart. dan biaya overhead pabrik Rp 11.450 . Produk diolah melalui dua departemen produksi yang diolah secara bertahap. Penghitungan kos produk menggunakan metode FIFO. Tentu saja banyaknya departemen tersebut sangat berpengaruh terhadap cara-cara penentuan kos per unit produk.

800 unit.200) + 150 (80%) = 4. Keterangan D e ~ t1 . Jumlah yang diselesaikan di departemen I1 sebesar 4.Dari informasi tersebut buatlah laporan kos produksi dan pembukuan transaksi tersebut dalam rekening yang terkait! Perhitungan kuantitas produksi dalam bulan ini adalah sebagai berikut: . Jumlah tersebut hams dihitung lebih dahulu dengan cara mendeteksi berapa besarnya komponen biaya yang mendukung kos tersebut. 2.OOO Catatan: I.200) + 400 (100%) Biaya Konversi. 200 (20%) + (4.850 unit.800 -200) + 400 (90%) = = 5. dalam kedudukan sebagai bahan di departemen 11.000 PDP akhir Produk selesai Output 5.800 5.000 unit 5.000 unit Departemen 1 . Dalam kasus ini besarnya kos PDP awal adalah sebagai berikut: . Biaya bahan. Setiap produk yang telah diselesaikan tersebut langsung masuk dalam proses di departemen 11. Perhitungan unit ekuivalen adalah sebagai berikut: Departemen I. 1 Biaya Konversi = 200 (20%) + ( 4.800 .810 unit Sering kali dalam kasus yang disajlkan. kos persediaan produk dalam proses awal belum diketahui.850 . PDP awal Masuk dalam proses Input ' 200 200 4. Produk tersebut langsung masuk ke gudang. Jumlah produk yang diselesaikan di departemen I sebesar 4. Dalarn praktek ha1 tersebut dapat diketahuidengan melihat perhitungan kos dari bulan yang lalu. 200 (0%) + (4.200 5. D e ~ tI1 .

000 4.800 1.760 Rp 7. 200 (80%) x 16 Kos PDP awal departemen I1 - Rp 8. 200 (80%) x 25 BOP.560 Berdasar informasi yang telah diperoleh tersebut dapat dihitung kos per unit produk. 200 (100%) x Rp 19 BTKL. 1 Biaya dari dept. 200 (80%) x 10 BOP. Biaya tenaga kerja.000 Rp 39. 1 Eavl.160 Setelahkos per unit produkdihitung. 200 (80%) x 11 Kos PDP awal departemen I - Rp 3. Biaya overhead pabrik Total biaya bulan ini Total biaya dibebankan di departemen I Total Kos Rp 7. Perhitungannya adalah sebagai berikut: .560 Rp 14.600 1.160 PDP awal di departemen 1 .000 2. I. selanjutnyadapat dihitungpembebanan kos pada produk yang selesaikan di departemen I yang ditransfer ke departemen I1 dan kos produk dalam proses akhir di departemen I.60 Rp 205. 200 x Rp 40 BTKL. Persediaan PDP awal Biaya untuk periode ini: Biaya bahan. bak untuk departemen I maupun untuk departemen 1 .PDP awal di departemen I: biaya bahan.160 KosIUnit Rp -- -- Rp 198.

400 (90%) x 10.60 = I Kos produk selesai bulan ini Kos produk dalam proses akhir: Bahan baku.104 :4. Total Kos Rp 14.80 = - Total biaya PDP awal 1 . Biaya produk yang diselesaikan dalam bulan ini: 4..104 KosfUnit Rp -39.800 = Rp 39.560 190.80 BOP.104 Perhitungan kos per unit untuk departemen I1 adalah sebagai berikut: Keterangan Eqvl.605 dan besarnya kos produk selesai bulan ini sebesar Rp 190. 400 (100%) x Rp 20 BTKL.60 PDP awal bulan Kos dari departemen I Biaya yang ditambahkan di departemen 1 : 1 . 400 (90%) x 8. 200 (20%) x Rp 10.600 x Rp 39.Kos PDP awal Biaya penyelesaian PDP awal: BTKL.80 BOP. 200 (20%) x 8.80 Total kos PDP akhir Total kos dibebankan dalam bulan ini = 1 - I - 1 Berdasarkan perhitungan tersebut diketahui Kos per unit Rp 190.

60 -- Berdasarkan perhitungan tersebut dapat dihitung pembebanan kos produk yang diselesaikandi departemen I1 yang ditransfer ke gudang dan pembebanan pada persediaan produk dalam proses akhir di departemen 11. 200 (20%) x Rp 15 = Total biaya PDP awal Biaya produk yang diselesaikan dalam bulan ini: 4.00 Rp 45.25 : 4850 = Rp 84. 200 (20%) x Rp 30 = BOP.OO 15.Biaya tenaga kerja langsung Biaya verhead pabrik Total biaya yang ditambahkan Total biaya bulan ini Total biaya yang dibebankan 4. Perhitungannya adalah sebagai berikut: Kos PDP awal Biaya Penyelesaian PDP awal: BTKL.75 3.413.650 x Rp 84. Kos produk dalarn proses akhir: Dari dept. 150 (100%) x Rp 39.60.554 Rp 421.940.75 Rp42 1.00 Rp 16.605 = Rp 5.300 72. I.25 BTKL.00 Total biaya yang dibebankan pada bulan ini.810 4.OO 1.150 Rp 216.605 Kos produk selesai bulan ini.340.49 .450 Rp 406.773. 150 (80%) x 30 BOP.114.25 - Rp 409.114 30.00 393. 150 (80%) x 15 Total kos PDP akhir. Jadi perhitungan kos per unit = Rp 409.360.773. - RD 11.80.00 Rp 84.810 144.

Untuk selanjutnyadigabungkandengan biayabiaya yang terjadi di departemen I1 &an merupakan kos produk yang diselesaikandalam bulan tersebut. Sebagai kelanjutan penyajian laporan kos produksi di departemen I. Kos yang ditransfer ke departemen I1 mencerminkan berapa biaya-biaya yang terserap ke dalam produk di departemen 11.6 di halaman berikut ini menyajikan laporan kos produksi di departemen I. maka dalam departemen I1 juga hams disajikan berapa biaya-biaya yang terjadi di departemen I1 tersebut. langkah berikutnya adalah menyusun Laporan Kos Produksi dan membukukantransaksi biaya padarekening-rekeningyang terkait. Laporan kos produksi pada departemen I1 disajikan di halaman berikut. Dalam kedua laporan tersebut dapat digambarkan hubungan transaksi biaya yang terjadi di departemen I dan departemen 11. Sehingga untuk departemen I dan I1 harus dibuat laporan sendiri-sendiri. . Hubungan tersebut dapat dilihat pada bagian C laporan kos produksi departemen I yang memuat berapa perhitungan kos produk yang ditransferke departemen I1 dan perhitungan kos produk yang masih dalam proses akhir. MENYUSUN LAPORAN KOS PRODUKSI UNTUK TIAP DEPARTEMEN Laporan kos produksi harus disajikan untuk tiap-tiap departemen produksi yang ada. F. Peraga 2. Sedangkan kos produk yang masih dalam proses mencerminkan berapa persediaan produk dalam proses yang h a s disajikan dalam neraca akhir.Setelah perhitungan di atas diselesaikan.

944 - 182.80 Rr. Perhitungan kuantitas produksi: PDP awal Masuk dalam proses PDP akhir Produk selesai B.000 5.80 Total kos PDP akhir Total kos dibebankan dalam bulan ini Rp 7.Q00 Kos/Unit Rp -20 10.000 8. 400 (90%) x 8. 200 (20%) x 9. Biaya overhead pabrik 1 -- Total Kos Rp7.000 44.600 x Rp 39. 200 (20%) x Rp 10.80 5.160 C. Biaya tenaga kerja.7 Luporan Kos Produksi Departernen I .PTX LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN I A. 39. Kos PDP awal Biaya penyelesaian PDP awal: BTKL.000 Rp 205.160 100.000 54.000 5.80 Total biaya PDP awal Biaya produk yang diselesaikan dalam bulan ini: 4.80 BOP.056 Peraga 2.160 = Rp 432 - 352 784 Rp 7.160 15. 400 (100%) x Rp 20 BTKL. Pembebanan biaya kepada produk.60 Kos produk selesai bulan ini Kos produk dalam proses akhir: Bahan baku.60 Total biaya bulan ini Total biaya dibebankan di departemen I RD 198.80 BOP. 400 (90%) x 10. Perhitungan kos per unit: Keterangan Persediaan PDP awal Biaya untuk periode ini: Biaya bahan.

Pembebanan biaya kepada produk selesai: Kos PDP awal Biaya penyelesaian PDP awal: .594 Rp 421.560 190.BTKL. Rp 409.810 C. Perhitungan kos per unit: Eqvl.650 x Rp 84.114 KosNnit Rp -39. 200 (20%) x Rp 15 - Total biaya PDP awal Biaya produk yang diselesaikan dalarn bulan ini: 4.800. 150 (100%) x Rp 39.00 1. 150 (80%) x 30 .Biaya yang ditarnbahkan di departemen 11: .25 = R~5. PDP awal bulan Kos dari departemen I .61 30.773. Perhitungan kuantitas produksi: PDP awal Masuk dalarn proses PDP akhir Produk selesai B.104 44.00 Peraga 2.150 Rp 216. 200 (20%) x Rp 30 .Dari dept.61 4.8 Laporan Kos Produksi di Departemen II .600.605 .Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik Total biaya yang ditambahkan Total biaya bulan ini Total biaya yang dibebankan Total Kos Rp 14. Total biaya yang dibebankan pada bulan ini.OO 15.BOP.LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN I1 A.BOP.450 Rp 406.8 10 4.940~75 = = 3.300 72. 150 (80%) x 15 Total kos PDP akhir.605 Kos produk selesai bulan ini.00 Rp 84.BTKL.OO Rp 45. I. Kos produk dalam proses akhir: .

I Persediaan PDP . I1 b.104 .OOO 1. II Persediaan PDP r dept.biaya tenaga kerja langsung PDP .biaya bahan baku PDP .760 Rp 7.biaya bahan . Mencatat jurnal penyesuaian kembali rekening produk dalam proses di awal periode: PDP .BOP . I PDP .biaya bahan baku Persediaan bahan baku PDP .biaya tenaga kerja langsung Biaya renaga kerja PDP .000 Rp 100.biaya overheadpabrik Rp 190.G.dept.000 Rp 54.dept. I1 PDP .600 I .160 c.BTKL . I PDP . Mencatat pembebanan biaya yang terjadi di departemen I: PDP .dept. dept. Mencatat transfer produk yang diselesaikan di departemen I masuk ke departemen 11: PDP .560 Rp 3.BTKL .000 Rp 8.dept.dept. Jurnalnya adalah sebagai berikut: a.000 4 . I PDP .800 1.000 Rp 54.BORp . 11 PDP .dept. PENCATATAN TRANSAKSI AKUNTANSI BIAYA Jurnal pencatatan transaksi biaya dalarn bulan ini dilakukan pada akhir periode baik menyangkut pengakuan biaya maupun pembebanan biaya yang terjadi di masing-masing departemen.biaya overhead pabrik Biaya overhead pabrik dibebankan Rp 44.000 Rp 44.560 Rp 13.dept.000 Rp 100.Biaya bahan.11 PDP .biaya bahan .

BORp .910.biaya tenaga kerja langsung PDP .600) - = Rp 95.056 Rp 8.600) + 432 PDP .25 gudang: Rp 192. Mencatat pembebanan produk selesai yang telah ditransfer ke Persediaan Produk Selesai PDP .50 3 .168 .163.biaya tenaga kerja langsung PDP .OO f.340.940.BTKL.300 Rp 144.760 + 8.dept.50 RIJ5.GOO 1. Mencatat pembebanan biaya di departemen 11: PDP .depr.s (4.800 - Rp 15.700. I PDP biaya bahan baku PDP .dibebankan Rp 144.dept.OO 72.300 e.800 51.600) PDP .712 42.BTKL . 1.s (4.11 BOP .592 - + 352 Jurnlah.773. Mencatat pembebanan produk dalarn proses yang masih melekat dalam mesin-mesin di akhir periode: Persediaan PDP .BORp.dept.Rincian perhitungan: PDP .biaya bahan.888 3.biaya overhead pabrik Rp 409.biaya bahan baku PDP .600+ 10.biaya tenaga kerja langsung PDP . 1. II PDP .biaya bahan baku PDP .Biaya overhead pabrik Rp 11. 3.25 144.000 3.biaya overhead pabrik Persediaan PDP . d.800 + 20 (4. I1 Biaya tenaga kerja PDP .

Tetapi bila . Sehinggaterdapat produk yang hilang tidak secaranormal. disebabkan alasan alami. Partikel yang hilang tersebut hilang bukan karena faktor kesengajaan. Contoh yang sederhanadan seringdijumpai.BAB I11 PRODUK HILANG DALAM PROSES PRODUKSI PRODUK RUSAK.5 kg. Hal ini disebut produk hilang dalam proses secara normal. Dengan demikian dalam suatu proses input suatu produk akan lebih besar dari outputnya. Di samping adanya produk yang hilang secara normal. Dari contoh tersebut di atas dapat diketahui adanya input yang hilang secara wajar (normal). terdapat partikel yang lepas selama reaksi pemanasan dan pengkristalan bahan cair menjadi gula kristal.5 kg.kalaibu-ibusedangmenanaknasi. PRODUK HILANG DALAM PROSES Dalam suatu proses produksi selalu ditemukan adanya partikel yang hilang. Sebagai contoh. DAN PRODUK CACAD A. tetapi karena secara alami reaksi kimia dalam teknik pengolahan tersebut menghendaki adanya partikel yang lepas dan hilang secara wajar. Produk yang hilang karena alasan yang tidak normal tentunya akan diperlakukan sebagai kerugian bagi perusahaan. dalam industri gula. Hilang dalam proses secara normal. bahkan munglun adanya faktor kesengajaan.Tentunya sesuatu yang hilang secara normal dan tidak normal tersebut akan sangat berbeda perlakuannya dalam penentuan kos produk. ada pula produk yang hilang karena alasan yang tidak dapat terduga (unpredicted). Dalam penentuan kos produk adanya produk yang hilang dalam proses menjadi perhatian. artinya bahan-bahan yang masuk dalam proses seberat 2 kg. Ini berarti ada partikel yang hilang dalam proses berupa air (H20) yang menguap bersarnaan dengan 'proses produksi' tersebut seberat 0. Setelah dirnasak (dengan melalui proses pemanasan) kedua bahan tersebut bereaksi dan menghasilkan nasi dengan berat 1. Carnpurkan beras dan air masing-masing dengan berat 1 liter. Dengan demikian produk yang hilang tersebut tidak dapat dihindarkan terjadinya. mengingat komponen biaya sebagai akibat hilangnya produk tersebut bisa terpengaruh. Apabila nilai yang hilang tidak material mungkin dapatdiabaikan. Partikel yang lepas tersebut hilang menguap dan tentunya tidak dapat ditelusuri ke mana jejaknya.

Jadi berapa nilai yang hilang dalarn suaku proses harus diperhitungkan pengaruhnya terhadap penentuan kos produk. Untuk menggarnbarkan adanya produk yang hilang dalam proses berikut ini disajikan kasus PT RADITY A. Anggapan ini digunakan apabila dalam suatu departemen produksi. Perusahaan ini memproduksi produk X melalui tiga departemen produksi. Dianggap tidak ada produk dalarn proses awal. maka produksi di bulan Januari tersebut adalah periode produksi pertarna kali dalarn tahun 1980. Anggapan ini membawa konsekuensi bahwa semua produk yang hilang dalam proses secara normal tersebut dianggap belum ikut menyerap biaya-biaya yang terjadi dalam satu periode. bahwa semua produk yang hilang dalam proses secara normal tersebut dianggap telah ikut menyerap biaya-biaya yang terjadi dalam satu periode. Produk hilang dalam proses dianggap terjadi di akhir proses. dengan bahan pembantu "Y pallet". Mengingat mesin-mesin baru saja direparasi besar (overhaul). terdapat produk yang hilang dan terjadi di akhir proses produksi di departemen tersebut. Produk X diolah dari bahan departemen "X drops". sulit dideteksi. Produk hilang dalam proses dianggap terjadi di awal proses. Informasi biaya dan produksi pada bulan Januari 1980 disajikan pada halaman berikut: Keterangan Produk yang ditransfer ke B Produk yang ditransfer ke C Produk yang ditransfer ke gudang Produk yang masih dalam proses: . Apabila proses produksi diteliti/ditelusuri jejaknya satu persatu. Dalarn periode tersebut tidak ditemukan adanya produk dalam proses awal. PT RADITYA memproduksi produk melalui 3 departemen produksi.nilai yang hilang tersebut dipandang cukup materiil. Dengan kata lain kapan sesuatu produk hilang secaranormal dalam suatu proses produksi. Anggapan ini membawa konsekuensi. maka akan sulit diketahui di manakah dan kapankah sesuatu partikel lepas dalam suatu reaksi kimia. kesemuanya masuk dalarn departemen A. tentunya ha1 tersebut tidak dapat diabaikan. b. terdapat produk yang hilang dan terjadi pada awal proses produksi di departemen tersebut. Bahan baku yang dibutuhkan adalah X dan bahan pembantu Yd. Anggapan ini digunakan apabila dalam suatu departemen produksi. Mengingat kenyataan tersebut produk hilang dalam proses secara normal digunakan anggapan sebagai berikut: a.

Perlakuan unit yang hilang dalam proses di awal periode dalam departemen A (initial departement). Perlakuan terhadap unit yang hllang dalam proses di akhir periode dalam departemen C. B 550kg 400 kg 100kg 550 kg Deut.i bahan baku & penolong biay a konversi unit hilang di awal proses unit hilang di akhir proses Komponen biaya produksi: Biaya bahan baku Biaya bahan pembantu Biaya tenaga kerja Biaya overhead pabrik Total biaya produksi Dari informasi di atas. Perlakuan unit yang hilang dalam proses di awal periode dalam departemen B (departemen berikutnya). 2. A Masuk dalam proses Produk selesai bulan ini PDP akhir periode Hilang dalam proses Total output Deut. Jawaban: Komposisi produk yang dihasilkan dalam ketiga departemen tersebut adalah sebagai berikut: Deut. C 400 kg 300 kg 75 kg 400 kg 9 0 5 550 kg 250kg 150 kg 950 kg . diminta menghitung kos produksi dan menyusun laporan produksi bulan Januari 1980 untuk ketiga departemen produksi tersebut. Kasus di atas menggarnbarkan hal-ha1 sebagai berikut: 1. 3.

262. Perhitungan Kos Produk per unit di Departemen A: Unit Jenis Biava Biaya bahan.OO 15.75 Unit yang hilang di awal proses awal dari Departemen A tidak diperhitungkan dalam unit ekuivalen. 250 kg.125.000.50 2750 22. Perhitungan kos produksi di departemen B hams memperhatikan adanya produk yang hilang di awal proses di departemen B. x 60% x Rp 22.000. A hams disesualkan (adjusment) sebesar 50 kg sebagai berikut: Kos per unit dari Dept.(kg) Total Kos(Ru) 20. 16.175. Total Biaya eku.OO 3.ha1 ini dianggap bahwa produk yang hilang tersebut belum rkut menyerap biaya yang terjadi di departemen tersebut. 250 kg x 100% x Rp 25.50 2. 250 kg x 60% x Rp 2750 BOP.50 Bahan pembantu.50 Rp.OO 4. 550 kg + Rp 87.OO 10. A - Rp 48.75 Kos Produk Dalam Proses Dept.250.00 65.750 .75 = 800 800 700 700 87. Produk yang diserahkan dari departemen B adalah 400 kg produk jadi dan 100 kg produk dalam proses (output sebesar 500 kg).OO 19. Biaya Overhead Pabrik.250.00 KostUnit -L @O 2500 12.125. Perhitungan kos yang ditransfer ke Departemen B.75 Produk dalam proses di Departemen A adalah sebagai berikut: Bahan baku.1.925.912. 550 + 250 Biaya Bahan Pembantu Biaya Tenaga Kerja 550 + 250 (60%). Dengan demikian produk yang diserahkan dari Dept.00 3.41 2.50 = - Rp 6. A Kos per unit yang disesuaikan Rp 87. 250 kg x 100% x Rp 1230 BTKL.

652.968.775 Perhitungan Kos Produk dalam Proses (akhir).093. B: Rp 48.625.75 3500 26.OO = Rp 157. Berbeda dengan 1) perlakuan produk yang hilang di awal proses justru diperhitungkan dalam unit ekuivalennya secara penuh.246. 100 kg (75%) x 35 Biaya Overhead Pabrik.775 Perhitungan kos per unit yang ditambahkan di departemen B adalah sebagai berikut: Unit Jenis Biaya Biaya Tenaga Kerja: 400 + 100 (75%)= Biaya Overhead Pabrik: Total Biaya 475 475 16.525 Biaya Tenaga Kerja.25 ekuivalen Total Biava (RD) Kos/ Unit (RD) Kos per unit produk yang ditransfer ke Departemen C adalah: Rp 61.di Dept.75 29.525 Jadi.625.50 2.25 3.75 = Ru 14. 100 kg (75%) x 26.525 Rp 8.h.OO 12. 100 kg x Rp 96.OO 1.468.25 + Rp 96. Dengan dernikian komponen unit ekuivalen terdiri dari: - produk yang telah diselesaikan produk yang masih dalam proses produk yang hilang dalam proses (30%2) (7%) (25 kg) - . kos produk yang ditransfer ke Departemen C: 400 kg x Rp 157.25 61.26230 : 500 kg = Jumlah Kos yang disesuaikan 96.25 Total Kos Produk dalam Proses Departemen B = Rp = Rp 63. Produk yang hilang dalam proses dianggap telah menyerap biaya yang terjadi pada suatu periode dalam departemen tertentu (d.775 9. Dari Departemen A. departemen 1 1.110.

= Rp 11.7 12.775) 25 kg x (Rp 130 + Rp 157.37 Rp 93.332. Rp 93.683. 300 kg x (Rp 130 + Rp 157.125 .76 Kos Produk dalam proses di departemen C: Dari Departemen B: 75kg x Rp 157.50 Total kos produk dalam proses di dept C.575 ekvlkg) Bia~a(Rp) Total unit@) 82.500 2. biaya yang dibebankan untuk produk selesai adalah sebagai berikut: Kos Produk Selesai.875 : 300 kg = Rp 31 1.50 4'7.500 Rp 17. Kerja 300 + 75 (60%) + 25 = Biaya Overhead Pabrik 370 370 30.137.833. = 7.50 Kos Produk yang Hilang dalam proses .Perhitungan harga produk per unit adalah sebagai berikut: I Unit Kos Jenis B i a ~ a Biaya Tng.125 = 3.525 17.775) = Rp 86.526.50 Total Biaya 48.87 Total biaya yang dibebankan pada produk Kos per unit produk yang diselesaikan.194.OO Jadi.75625 dibulatkan ke atas = Rp 311.50 Biaya Overhead Pabrik: 75kg (60%) x Rp 47.775 Biaya Tenaga Kerja: 75kg (60%) x Rp 82.526.100 130.

Perhitungan biaya di departemen A: - Total biaya Biaya/unit Rp 20.250. 250 kg (100%) x Rp 25 = B.912.75 = = Total biaya produk dalam proses: Rv 16.B.LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN A A.75 87.50 B.00 Rv Rp 25.00 15.00 3.125.O. Biaya produksi yang dibebankan di departemen A: Jenis Biaya Biaya Bahan Baku Biaya Bahan Pembantu Biaya Tenaga Kerja Biaya Overhead Pabrik Total Biaya C.75 Rp 6.B.00 4.175.50 - Biaya produk yang masih dalam proses: B.T.250.925. 250 kg (60%) x 27.75 Biaya produk yang ditransfer ke departemen B: 550 kg x Rp 87.412.50 = B.000.125.00 Rp 65. Unit yang diproduksi: Unit yang masuk dalam proses Unit yang diselesaikan di Dept.262.00 Total Biaya ~roduksi Departemen A di .K.OO 1230 2730 22. 250 kg (60%) x 22.B.B.50 Rp 48.00 3.000.P. 250 kg (60%) x 12.00 19. A Unit yang masih dalam proses Unit yang hilang dalam proses (awal) B.50 Ru 65.175.00 10.

: 75 kg (60%) x Rp 8230 = Biaya overhead: 75 kg x 60% x Rp 47. Di samping itu daya tahan dan unjuk kerja berbagai komponen mesin akan berbeda-beda.137.C. 3.76 - Rp93.500 2. .K. Meskipun kesemuanya itu tanpa adanya unsur kesengajaan. secara ekonomis masih dapat dipertanggungjawabkan.500 Total Biaya Produksi di Departemen C B. Sehingga produk tersebut hams dibuang atau dilebur kembali sebagai bahan baku. adanya human error tidak dapat dihindarkan. Perhitungan biaya di Departemen C: Biaya produk selesai yang ditransfer ke gudang: 300kgx Rp311. Pengertianprodukcacad adalah produk yang tidak sempurnadalam prosesproduksinya yang mash dapat diperbaiki dengan melalui proses penyempurnaan produk. Cetakan yang rusak atau cacad tersebut bisa dipengaruhi oleh bahan kertas terlalu lembab.125 Biaya T.526.775 = Rp 11.: 75 kg x Rp 157. Sebagai contoh. A.712. Dengan adanya penyempumaan ini produk yang dihasilkan mempunyai kualitas sama dengan produk yang tidak cacad. dalam bidang percetakan akan ditemukan beberapa lembat hasil cetakan yang tidak sempuma. PRODUK RUSAK Dalam setiap proses produksi kemungkinan timbulnya produk rusak ataupun cacad produksi akan selalu ada. Selain unsur hardware adanya produk rusak dan cacad dapat pula disebabkan oleh faktor bahan bakunya yang di bawah standard atau dapat pula disebabkan ketelitian kerja para karyawan rendah. Dengan adanya berbagai kemungkinan tersebut mengakibatkan adanya produk yang tidak sempurna dalam proses produksinya.L.875 Biaya produk dalam proses di Departemen C: Kos dari dept.50 = Total biaya produk dalarn proses. Hal ini disebabkan dalam setiap penyetelan (fiting) mesin-mesin belum tentu dapat menciptakan kerjasama yang sempuma. Adanya ketidaksempumaan dalam sdlah satu komponen tentunya akan mengganggu mekanisme kerja mesin lainnya. Pengertian produk rusak adalah produk yang tidak sempurnadalam proses produksinya d m secara ekonomis tidak akan dapat diperbaikikembali. Jadi.833. dapat pula disebabkan oleh mesin-mesin yang tidak sempuma.

8.000 (0.000 x 74 = = 8 2 . P. Pada bulan Februari 1986 komponen biaya produksi per unit adalah sebagai benkut: Jenis biaya Biaya bahan baku Biaya tenaga kerja langsung I I I I Dept. Produk yang masih dalam proses di awal bulan sebesar 8. Perlakuan akuntansi terhadap produk rusak tersebut tidak ada bedanya dengan perlakuan terhadap produk yang hilang di akhir proses. SALINDRI memprodusir satu produk melalui tiga departemen produksi.000 (0. Informasi yang diperoleh dari departemen B adalah sebagai berikut.15) + 72. Departemen B bertugas mencetak produk dan departemen C bertugas menyempurnakan produk dan melakukan pengepakannya.000+6. C -- -Rp 25 10 Rp 20 15 I Biaya overhead pabrik Komposisi biaya di departemen B dalam bulan ini adalah sebagai berikut: I Biaya yang diterima dari departemen A. 8.000 (0.600 dan biaya overhead pabrik sebesar Rp 908.600. B Dept.9) Kos yang diterima dari departemen A = 82.000 unit. Kos di dept A. produk rusak tersebut hams dibuang atau dilebur kembali sebagai bahan baku. Dalam bulan Maret 1986 mengirim ke departemen C sebesar 80.068. 8. Penyelesaiannya sebagai berikut: Unit ekuivalen dengan metode FIFO: BTKL = 8. Produk rusak dalam proses 4.000 unit.000 (0. Produk yang masih dalam proses di &ir bulan sebesar 6.1. Biaya tenaga kerja langsung Rp 1. Produk rusak tidak laku dijual 1 i I Apabila produk rusak dalam suatu industri tidak laku dijual. sebesar Rp 74 per unit. Langsung.2) + (80.000 (0.000 + 4. Untuk menggambarkan kasus ini disajikan kasus berikut.977.000 x Rp 75 Biaya T. A Rp 25 30 20 Dept.K.000 - .T.000 + 6.000 unit dengan tingkat penyelesaian BTKL 80% dan BOP 85%.80) x Rp 25 = Rp 600.000 160.400 unit BOP = 8.8) = 82.000 Kos produk dalam proses awal di departemen B.000) +4. Departemen A bertugas mencampur adonan plastik. 6 0 unit Rp 6. Berdasarkan informasi tersebut buatlah laporan kos produksi menutut FIFO dan rata-rata.000 .000 unit dengan tingkat penyelesaian untuk BTKL 80% dan untuk BOP 90%.

000 (0.200 : 80.Biaya Overhead Pabrik.000 + 6.000 (0.000 unit = Rp 114. maka unit ekuivalen produksinya adalah sebagai berikut: BTKL = 82.85) x 10 = 68.000 unit = Rp 114.000 BOP = 82.000 Jumlah kos PDP awal Rp 828. dapat diketahui kos per unit produk yang ditransfer ke departemen C. 8. sebagai berikut: Rp 9.800 unit = 89.000 = 88.54 Apabila perhitungan unit ekuivalen menggunakan metode rata-rata.53.000 Berdasarkan perhitungan di atas dapat disusun-laporankos produksi yang disajlkan pada halaman 59.000 + 600 (0. sebagai berikut: Rp 9.85)+ 4.000 + 6.O) + 4.000 BBB = 80. dapat diketahui kos per unit produk yang ditransfer ke departemen C.8)+ 4. Berdasarkan laporan kos produksi tersebut. . Berdasarkan laporan kos produksi tersebut.782.100unit = 90.000 (0.000 unit Berdasarkan perhitungan unit ekuivalen tersebut dapat disusun laporan kos produksi yang disajikan pada halaman 60.720 : 80.162.

000 6.PT SALINDRI LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN B A.000 (0.8 x Rp 24 = BOP: 6.600 908. Perhitungan kos per unit produk: Jenis biaya PDP awal Kos dari departemen A: Kos yang ditambahkan di departemen B: Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik Total Kos yang ditambahkan di departemen B.600 879.15) x 1 l = Kos produk dalam proses awal Kos produk yang diselesaikan bulan ini.600 Peraga 4. 72.000 618.886.068.000 unit B.000 x Rp log Kos produk rusak: 4.000 unit 6. Total kos bulan ini Total kos yang djbebankan pada produk Eqvl. C.9 x Rp 11 = Total kos PDP akhir Total kos produk yang dibebankan bulan ini Rp 828.000 unit 80.000 1.000 x 0.600 7.600 Total biaya Rp 828.000 x 0.000 unit 8. -82.000 x Rp 74 = BTKL: 6.000 436.000 unit 90.20) x Rp 24 = BOP: 8.200 C.000 x Rp 109 = Total Kos produk yang ditransfer ke dept. Produk rusak PDP akhir 82. Perhitungan kos yang dibebankan pada produk: Kos produk selesai yang ditransfer ke departemen C: Kos produk dalarn proses awal Tambahan biaya penyelesaian PDP awal: BTKL: 8.000 Rp 38.000 (0.977. C Kos produk dalam proses akhir: Kos dari dept A 6.600 Rp 2.000 unit 4.400 13. . Kuantitas yang diproduksi bulan Maret: Masuk dalam proses PDP awal Produk yang diserahkan ke dept.000 82.782.400 82.200 Rp 5 1.200 Kos/unit -& & I 24 11 Rp 35 Rp 9.000 unit 90.848.

Maka nilai jual produk msak tersebut hams mengurangi komponen biaya produksi yang terjadi pada bulan Maret tersebut.9) x 10.320 9.07 10.09 BTKL.000 160.92 Total produk dalam proses akhir Total Kos yang dibebankan - Rp 8. 6.000 Kos bln ini 6.000 x (O.5408 1 15.977.764 2.000 88.800 .954.668. C. 4. -.PT SALINDRI LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN B A.968 Rp 619. 90. Kuantitas yang diproduksi bulan Maret: Masuk dalan~ proses PDP awal Produk yang diselesaikan Produk rusak PDP akhir 82.-.. unt ek.000 unit B.000 2.000).600 - Total kos 6.78 1.08 Total Kos yang ditransfer ke dept C.000 unit 90.12 Kos produk rusak.000 unit 6.07 BOP.000 x (0.600 9.137. Nilai jual produk rusak mengurangi biaya produksi Seandainya dalam kasus PT SALINDRI. Perhitungan kos per unit produk: Kos produk yang ditransfer ke departemen C: 80.000 828.068.000 unit 8.600 976.000 68. 6.P.200 koalunit 74. 6.000 unit x Rp 109.044 Rp9. Pada umumnya .000 unit 4.726.200 . PDP awal 600.08 BOP Jumlah 89.) x 24.000 unit 90.92 109.100 -- 908.000 x Rp 109.000 x Rp 74.000 1.000 8.536 58. di atas produk rusak dijual dengan harga Rp 55 per unit (Rp 220.782.000 unit 80. Perhitungan kos per unit produk: r I Jenis btaya B taya dari A BTKL -.162.720 - Rp 444.09 24. Kos produk yang masih dalam proses: Dari dept A.400 36.

sehingga tidak dapat diketahui berapa komponen masing-masing biaya. Alokasi dilakukan dengan harga relatip komponen biaya yang dikeluarkan pada bulan Maret tersebut. Perhitungannya adalah sebagai berikut: Dari perhitungan di atas selanjutnya dapat disusun laporan kos produksi sebagai berikut: .penjualan produk rusak dilakukan secara borongan. Oleh karenanya hams dilakukan alokasi nilai jual produk rusak kepada masing-masing komponen biaya sebagai pengurang kos yang dibebankan bulan tersebut.

332 878.002 886.9 8.000 unit B.600 1 I 22.006 72. 6.000 unit 90.000 unit 80.73 Total kos produk dalam proses akhir Total biaya dibebankan di departemen B Peraga 3.I 1 2.73 = Total kos PDP awal Kos produk yang diselesaikan di departctnen B: Bulan ini: 82.954.000 (0.068.PT SALINDRI LAPORAN KOS PRODUKSI DEPA'RTEMEN B A.332 - 7.000 (0.15 1 I 48.094 5.000 (0.040 425.928 220.456 12.2) x Rp 23.8) x 23. Kuantitas yang diproduksi bulan Maret: Masuk dalam proses PDP awal Produk yang diselesaikan Produk rusak PDP akhir 82.41 Biaya overhead Pb.000 unit 6. Kos produk yang masih dalam proses akhir: Kos dari dept A: 6.73 I I I 2.-Il 10.178 106. A Biaya Tenaga k.929.000 L koslunt 67. .652 Rp433.958.41 Biaya overhead pabrik.8 5 1 8.002 1 1.1. Biaya overhead p.000 i0. Total kos 828. Perhitungan kos yang dibebankat~ kepada produk: Produk dalam proses awal.270 1 23. total kos ditanibahkan Total Kos dibehanka~i Total 828.000 x 72.600 908.000 R p 37.330 70. 6.24 100.368 57.942 603.000 unit - 90.32 Kos produk rusak Kos produk yang ditransfer ke dept. C.18 Biaya TK Langsung.000 x Rp 106.200 32.886.09 10.- Alokasi . 8.977.000 8 kos .73-4.000 unit 8. Laporan Kos Produksi dengan Metode Rata-rata Rp 828.9) x 10.000 6.200 8. 8.598 22.280 Rp 8..77 139.lS) x Rp10.655.000 unit 4.32 C. Perhitungan kos per unit produk: Jenis Biay a KDP awal Kos dari dept.18 1 1 1.080 1 12.390 - . Riaya untuk penyelesaian PDP awal: Biaya Te~iaga Kerja Langs.876 Rp 50.

66 Kos produk rusak: 4.PT SALINDRI LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN B A.000 unit 6.42 BTKL.66 Total kos yang ditransfer ke departernen C: Kos produk yang rnasih dalam proses: Dari dept A.000 unit x Rp 106.037 Rp 9. Perhitungan kos per unit produk: Kos produk yang ditransfer ke departernen C: 8.520 112.477 Peraga 3. Kuantitas yang diproduksi bulan Maret: Masuk dalam proses PDP awal 82.000 unit Produk yang diselesaikan Produk rusak PDP akhir 80.71 Total kos produk dalarn proses akhir Total Kos yang dibebankan - Rp 8. 6.000 x Rp 106. Laporan Kos Produksi dengan Metode Rata-rata .8) x 2332 Biaya overhead Pb.000 unit B.OCO (0.959.000 unit 8.562.896 55.621 Rp 603. 6.440 - 434.000 unit 90.000 (0.85) x 10. Perhitungan kos per unit produk: C.000 unit 90.000 x Rp 72.000 unit 4. 6..

Nilai jual produk rusak mengurangi kos penjualan Apabila nilai jual diperlakukan sebagai pengurangan kos penjualan. maka semuabiaya yang dikeluarkanuntukmemperbaiki produk cacad terscbut dibebankan pul. PERLAKUAN PRODUK CACAD Produk cacad diperbaiki dengan menambah sedikit bahan dalam departemen yang bersangkutan.000 unit. Untuk menggambarkan perlakuan akuntansi terhadap produk cacad tersebut. berikut ini disajikan kasus P. Produk yang masih dalam proses di awal bulan sebesar 8. Produk tersebut cacad. maka total nilai jual produk rusak langsung dikurangkan dalarn laporan rugi-laba yang disajikan di akhir bulan Maret 1985 tersebut. Departemen A bertugas mencampur adonan plastik. C. dan untuk BOP 90%.T. Alasan kerlapa titlak dibebankan itu kepada produk n~sak sendiri. Departernen B bertugas mencetak produk dan departemen C bertugas menyempurnakan produk clan ~nelakukan pengepakannya. Demikian halnya bila hasil penjualan produk rusak tersebut akan diper-lakukan sebagai pendapatan lain-lain. Apabila tidak. tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik Dept A Rp 25 30 20 -25 10 Rp 20 15 . karena proses yang normal. Informasi yang diperoleh dari departemen B adalah sebagai berikut. Perusahaan ini mempunyai tiga departetnen produksi.000 unit. Mengingat adanya tarnbahan biaya dalam memproses produk cacad tersebut. disebabkan produk tersebut tidak disebabkan oleh faktor kesengajaan. Pada bulan Februari 1986 komponen biaya produksi per unit adalah sebagai berikut: Dept B Dept C -- Jenis Biaya Biaya bahan baku Biaya.000 unit dengan tingkat penyelesaian untuk BTKL 80%. Produk yang masih dalam proses di awal bulan sebesar 8.3. Produk cacad dalam proses 4.000 unit. Produk yang masih dalam proses di akhir bulan sebesar 6. Maka dalam laporan rugi-laba nilai jual produk rusak tersebut langsung disajikan dalam laporan rugi-laba sebagai pendapatan di luar usaha. Suati~ cacad kalau biaya yang dikeluarkan untuk metnperbaikinya secara ekoiiornis masih dimungkinkan. produk rusak tersebut lebih baik dianggap sebagai produk rusak dan diproses ulang atau dijual langsung sebagai produk rusak.l pada produk yang tidak mengalami cacad produksi. Di samping itu menggunakan peralatan khusus dan tenaga kerja yang produkdianggap secara khusus bettugas untukmemperbaiki produk cacad tersebut. XYZ.000 unit dengan tingkat penyelesaian BTKL 80% dan BOP 85%. Dalam bulan Maret 1986 mengirim ke departemen C sebesar 80.

Total Total Total Kos Rp 6.000 = Rp 40.000 24.600 2.400 82.000 x Rp 10 Jumlah biaya perbaikan produk cacad = Rp 20.000 40. Biaya tenaga kerja langsung Rp 6 per unit dan biaya overhead pabrik sebesar Rp 10 per unit.77 110.000 Total Kos Rp 6.200 8.950.886.000 84.977. 4.954. Eql.000 64. Pemecahan masalah: Perhitungan tambahan biaya terhadap produk cacad: Biaya bahan.068.Komposisi biaya dalam bulan ini adalah sebagai berikut: Biaya bahan tenaga kerja langsung Rp 1.600 dan biaya overhead pabrik sebesar Rp 908. 4.200 9.000 unit x Rp 5 Biaya tenaga kerja langsung.01 Dari perhitungan di atas dapat disusun laporan kos produk berdasarkan metode ratarata sebagai berikut: .200 un.2 11.K.038.200 Tambahan Rp 20. Berdasarkan informasi tersebut buatlah laporan kos produksi menurut metode FIFO dan rata-rata.000 unit x Rp 6 Biaya overhead pabrik.600 908.000 1.24 24.000.977.600 948.000 Rincian perhitungan kos per unit adalah sebagai berikut: Jenis biaya Kos dari dept A Biaya T.088.48 35.000 2.000 24.000 82.600 2. 4. 82.001. Biaya untuk memperbaiki produk cacad tersebut adalah penambahan bahan Rp 5 per unit.000 84.600 --- Koslunt Rp 74. langsung Biaya overhead Pb.

.040 Rp 9.640 880. 4.C24 Rp 9. 6. 20.000 x Rp 1 10.600 Eql.48 proses akhir Total kos produk dalan~ Total biaya dibebankan di departemen B Rp 828. 6.T.24 BTKL. Perhitnnqan kos per unit: Jcnis biaya Toial PI)P awal 828. Biaya untuk per~yelesaian PDP awal: B'l-Kt.P.000 6.068.400 Koslunt -74. 6.400 : 80.000 .920.864 13.000 x Rp 110.000 = Rp Apabila laporan menggunakan metode rata-rata.000 (0.000 Total 828.000 unit 90.977.060 x 74.640 7.000 unit 90. 115.000 (0. 1.29 BOP.776 52.P.8) x 24.000 unit B.000 unit 4.001.000 f-1.Ol Kos produk cacad. Kos produk yang tliselesaikan di departemen B: Bulan ini.52 . 8.000 unit --8. 6.000 2.Ol Kos produk yang ditransfer ke gudang Kos produk yang masih dalam proses akhir: Kos dari dept A.29 BOP.000 (0. -82. .241. Kuantitas yang diprodusir bulan Maret: Masuk dalam proses PDP awal Produlc yang diselesaikan Produk rusak PDP akhir 82.000 unit 6. Pcrhitungan kos yang tlibebankan kepada produk: PDP awal.424 Catatan: kos per unit produk yang ditransfer ke departemen C: adalah.865. 8.24 24.000 82.000 (0.15) x Rp 1 1.000 38.720 440. 72.592 6 1.2) x Rp 24.000 unit 80. Rp 9.440 116. tlari dept A. XYZ LAPORAN KOS PRODIJKSI DEPARTEMEN B A.088.48 Total penyelesaian PDP awal.29 C.400 Rp 445.24 1.000 24. RTK:.9) x 1 1.992 Rp 624..600 Tambah .

85) x 11.s Kos produk rusak.000 (0.tidak perlu memperhatikan berapa komponen biaya yang bzrasal dari proses produksi bulan lalu yang tercermin dalam produk dalarn proses di awal bulan.000 unit 90. 6.000 unit B.000 x Rp 74. PT XYZ LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN B A.34 Biaya overhead Pb. C.000 unit x Rp 110.31 Biaya T.000 x Rp 110.K. langsung.40 Total kos yang dibebankan - - . Kos produk yang rnasih dalam proses: Dari dept A. 4.. 6. Perhitungan kos per unit produk: Kos produk yang ditransfer ke departernen C: 8.000 unit 90.8) x 24.000 (0.000 unit 80.000 unit 8.000 unit 4. 6.s Total kos yang ditransfer ke dept.000 unit 6. Kuantitas yang diprodusir bulan Maret: Masuk dalam proses PDP awal Produk yang diselesaikan Produk rusak PDP akhir 82. Hal ini mengingat komponen biaya yang membentuk kos produk relatif sama antara periode yang lalu dan periode sekarang. Perhitungan biaya per unit: C.Laporankos produksiyang disusundenganmetoderata-rata.

Proses produksi di departemen ke dua tersebut membutuhkan penarnbahan bahan yang berasal dari serat kayu (woodpulp). maka membawa akibat kos per unit produk yang diterima dari departemen sebelumnya harus disesuaikan mengingat outputnya menjadi lebih banyak. Pabrik kertas PLAYEN memprodusir kertas koran melalui tiga departemen produksi. Bahan yang diterima dari departemen I sebesar 6. Bahan baku di departemen I adalah ampas tebu (bargas) dengan bahan pembantu caustic soda dan kaporit. Kedua kemungkinan di atas juga berpengaruh dalam penentuan kos produk dalam departemen tersebut. Apabila tambahan bahan tersebut menambahproduk yang dihasilkan. Adanya tambahan bahan tidak menambah produk yang masuk dari departemen sebelumnya. Apabila tambahan bahan tersebut tidakmenambah produk yang masukdaridepartemen sebelumnyamaka tambahan bahan tersebut hanya akan menambah komponen biaya bahan di departemen yang bersangkutan. Departemen I bertugas membuat bubur kertas (pulp) yang semua hasilnya diserahkan ke departemen 11. gondomkem dan zat pemutih bubur kertas (pulp). yaitu: 1.000 ton. Adanya tambahan bahan menyebabkan tambahan produk yang diterima dari departemen sebelumnya (initial departement). Produk dalam proses awal sebanyak .BAB IV TAMBAHAN BAHAN BAKU PADA DEPARTEMEN DUA ATAU DEPARTEMEN BERIKUTNYA Tambahan bahan baku dapat dilakukan dalam departemen berikut apabila teknik proses produksi mengharuskan demikian. CONTOH KASUS. 2. Tugas Departemen I1 membuat kertas koran dan departemen 1 1bertugas menyelesaikan produk dan membungkusnya dalam bentuk kertas 1 rool. serta bahan pembantu berupa tapioka. Informasi yang diperoleh mengenai departemen ke dua adalah sebagai berikut. Penambahan bahan baku ini secara teknis akan menghasilkan dua kemungkinan. Hal ini berarti dalam departemen ke dua atau departemen berikutnya terjadi penambahan komponen biaya bahan.

biaya bahan pembantu Rp 25. 75 Rp 360 Total biaya bulan Februari Rp 185 Rp 95 Berdasar informasi yang diperoleh pada bulan Maret 1986. Komposisi campuran bahan adalah setiap 1 kg bubur serat kayu dicampur dengan 4 kg bubur serat bargas. Dari informasi di atas. Harga bahan baku serat kertas (diimpor dari luar negeri dengan harga franko gudang pabrik) sebesar Rp 5 10per kg. dengan altematip. dapat dihitung komposisi biaya per kg kertas dalam bulan Februari 1986 adalah sebagai benkut: Jenis Biaya Biaya bahan baku Bahan pembantu Biaya tenaga kerja langsung Dept I Rp 225 20 D e ~ I1 t Rp 100 5 Dept 1 1 1 Rp -- 25 40 ~ 30 S O -~ ..600. Laporan kos produksi dapat dibuat dengan kemungkinan-kemungkinan sebagai krikut : a. dan biaya overhead sebesar 80%.000dan biayaoverheadpabrik sebesar Rp 357. dengan tingkat penyelesaian biaya bahan 100%. Bila tambahan di departemen 11 menambah produk yang diterima dari departemen I. Dengan demikian tambahan bahan di departemen I1 "dianggap" dengan komposisi tersebut. p-. .500.000.200 ton dengan tingkat penyelesaian biaya bahan loo%. dengan metode Rata-rata. Total biaya bahan pembantu yang terjadi di departemen ke dua sebesar Rp 37. biaya tenaga kerja langsung 90%. Biaya tenaga kerja langsung selama bulan Maret 1986 sebesar Rp 217. 2. Tambaharl bahan tersebut menambah jumlah produk yang diterima dari departemen sebelumnya.000. Berdasarkan kasus di atas buatlah laporan kos produksi di departemen I1 untuk periode Maret 1986 tersebut. 1.--- 30 40 ~-~ B iaya overhead pabrik ---. dengan metode FIFO (masuk pertama keluar pertama). biaya tenaga kerja langsung Rp 45 dan biaya overhead pabrik Rp 70. biaya yang diterima dari departemen I untuk setiap 1 kg produk yang diserahkan pada departemen 11 adalah: biaya bahan Rp 220. . Produk yang masih dalam proses diakhir bulan Maret 1986 sebesar 400 ton.. biaya tenaga kerja langsung 80% dan biaya overhead sebesar 85%. .500. -. Dalam kasus ini setiap 1 kg bahan akan menghasilkan 1 kg kertas koran.

b.000 kg 400. a. 200.000 kg 2(j0.300.500.000 kg 1.000 Biaya tenaga kerja langsung.000. 1. Perhitungan unit ekuivalen dengan metode FIFO dengan anggapantambahan bahan menambah produk.500.000.300.450.800.100. 11.000 4.000.700.000 kg x Rp 36 Tambahan bahan di dept.000 (80%) x Rp30 = .000 (85%) x Rp 50 Jurnlah kos PDP awal = 72.000 kg 7.000 + 400. dengan metode Rata-rata.000 8. 200.000 kg Produk dalam proses akhir - 2.000 x Rp 5 Biaya Overhead Pabrik.000 kg 200.000 + 400. I11 7. adalah sebagai berikut: Biaya bahan = BTKL BOP = = 70.000 Rp106.000 (20%) + 7.000 (90%) = 7.000.000 (15%) + 7.000. Bahan pembantu.'100. dengan metode FIFO.000 kg Perhitungan kuantitas produksi: Produk dalam proses awal Diterima dari departemen I Tambahan bahan Jumlah Produk selesai yang ditransfer ke dept. dan 2.000 kg 6. Bila tambahan bahan di departemen I1 tidak menambah produk yang diterima dari departemen I. 200.000 kg 7.000 (80%) = 7.000 = 1.700. 200. 1. dengan alternatip.000 kg Jumlah Perhitungan kos produk dalam proses awal: Biaya yang diterima dari departernen I.500.

Perhitungan kos per unit produk adalah sebagai berikut. Jenis Biaya unit eqvl.900 Rincian perhitungannya adalah sebagai berikut: Kos produk selesai di departemen I1 (dalam ribuan): Produk dalam proses awal Biaya penyelesaian PDP awal: Biaya Tenaga Kerja Langsung. 200 x 20% x Rp 29 Biaya Overhead Pabrik. 200 x 15% x 48 = Kos produk yang diselesaikan di departemen 11. totai kos PDP awal bulan Diterima di departemen I Tambahan bahan di departemen I1 Bahan pembantu di departemen I1 Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik Jumlah biaya ditambahkan departemen I1 Jumlah biaya di departemen I1 Total biaya yang dibebankan Rp 3.4OO x 80% x 48 Total PDP akhir bulan Total biaya yang dibebankan - . 7.400 x 9 0 % 29 ~ Biaya overhead pabrik. 400 x Rp 288 biaya bahan.613. 400 x 107 Biaya tenaga kerja langsung.100 x Rp 472 Total biaya produk selesai di departemen 11: Kos produk dalarn proses akhir: dari departemen I.

000 (80%) Laporan kos produksi disajlkan pada halaman 75.Berdasarkan rincian perhitungan di atas disusun laporan kos produksi yang disajikan pada halaman 73 berikut.000 (90%) = 6. a.000. Apabila kasus tarnbahan bahan tidak menambah proauk ini disusun dengan metode rata-rata.2.600. Periksa halaman 74.000 kg BOP = 200.200.000 kg - Lapolan kos produksi disajikan pada halaman 76.000 .000 kg BTKL.000 (20%) + 5. b.000 kg 6.200.160. Dengan menggunakan metode FIFO maka perhitungan unit ekuivalen dan adalah sebagai berikut: Biaya bahan = 6.000 + 400. Perhitungan unit ekuivalen dengan metode rata-rata sebagai berikut: Biayabahan BTKL BOP = = 5.Apabila tambahan bahan di departemen I1 tidak menambah produk yang dihasilkan dari departemen I dengan metode FIFO. 200.000.000 + 400. 1.950.2.000 kg 6.000 (15%) + 5. Bila tambahan bahan mengakibatkantambahan produk yang ditenma dari departemen I dengan metode rata-rata.800. .140. b.000 kg 6.

PABRIK KERTAS PLAYEN LAPORAN KOS PRODUKSI DEPT.500 7. Perhitungan kos per unit produk: Biaya PDP awal Diterima dari departemen I Tambahan bahan di departemen I1 Bahan pembantu di departemen I1 Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik Jumlah biaya ditambahkan dept. Perhitungan kuantitas produksi: Produk dalam proses awal Diterima dari departemen I Tambahan bahan Jumlah Produk selesai yang ditransfer ke dept.400 x 80% x 48 Total PDP akhir bulan Total biaya yang dibebankan Peraga 4.900 C. Perhitungan kos yang dibebankan kepada produk: Kos produk selesai di departemen I1 (dalam ribuan): Produk dalam proses awal Biaya penyelesaian PDP awal: Biaya Tenaga Kerja Langsung. 200 x 20% x Rp 29 Biaya Overhead Pabrik.7. 400 x 90% x 29 Biaya overhead pabrik.1 Laporan Kos Produksi dengan Metode FIFO .400 x 107 Biaya tenaga kerja langsung.537.100 x Rp 472 Total biaya produk selesai di dept. I1 Jumlah biaya di departemen I1 Total biaya yang dibebankan unit eqvl.600 Rp 1.000 37.500 217.600 RD 3. I11 Produk dalam proses akhir Jumlah B.450 total kos (000) Rp 106.500 7.600 Rp 3.500 357.377.000 765. I1 Kos produk dalam proses akhir: dari departemen 1. I1 Bulan Maret 1986 A.200 x 15% x 48 Kos produk yang diselesaikan di departemen II.300 2. 7.500 7.400 x Rp 288 biaya bahan.160.500 7.643.

95 .000 kg B.447.80 Total PDP akhir bulan: Total biaya yang dibebankan Peraga 4. 400 x 101.02 10. 400 x 5 2. Perhitungan kos per unit produk: C.2 Laporan Kos Produksi dengan Metode Rata-rata RD 184.biaya bahan pembantu.OO .780.700.00 40.000 kg 7.87 Rp 115. 7.dari departemen I.300 kg x Rp473.548 Rp 3.BOP. 400 x Up 289.300.643.PABRIK KERTAS PLAYEN LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN I1 Bulan Maret 1986 A.000.459 324 Kos produk dalam proses akhir: . Perhitungan kos yang dibebankan kepada produk (dalam ribuan rupiah): Kos produk yang ditransfer ke dept 111.04 15.BTKL.872 .000 kg 400- 7.0000 7. 400 x 80% x 48.948.700.000 kg 6.OO .20 .biaya bahan. 400 x 90% x 29.000.500.000 kg 1.372. Perhitungan kuantitas produksi: Produk dalam proses awal Diterima dari departemen I Tambahan bahan di depzrtemen I1 Produk selesai yang ditransfer ke departemen I11 Produk dalam proses akhir 200.88 Rp 3.

553.900 C. 200 x 20% x Rp 36.Biaya Tenaga kerja Langsung.00 Rp Rp 144. Total biaya (000) (000) Rp 106.160.300 -6. 200 x 15% x 60.600 x Rp590.600 ~ Jumlah biaya di departemen I1 . tambahan bahan tidak menambah produk (output).950 357. dengan Metode FIFO.803 -. Perhitungan kuantitas produksi: Produk dalam proses awal Diterima dari departemen I Produk selesai yang ditransfer ke departemen 111 Produk dalam proses akhir B.10 = Rp 1.058.414. 400 x 90% x 36. Perhitungan kos per unit produk: Jenis Biaya PDP awal buian Diterima dari departemen I Tambahan bahan di departemen I1 Bahan pembantu di departemen I1 Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik Jumlah biaya ditambahkan dept I1 ~- .450 BOP.000 6.00 49.25 .560.60 .000 2 17.60 RD Total Produk Dalam Proses ahhir bulan: Total biaya yang dibebankan Peraga 4.050.000 6.000 765..500.643.253 Kos produk dalam proses awal Kos produk yang diselesaikan di departemen 11: 5.10 = Total biaya produk selesai di departemen 11 Kos produk dalam proses akhir: .25 = Rp 1.500 5.000 2.Biaya bahan.-~ .00 13. .500 6.00 3. ~ -- Unit eqvl.60 Rp 3.000.75 .537.395. 227.Dari departemen I.945.642.PABRIK KERTAS PLAYEN LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN I1 Bulan Maret 1986 A.00 Rp 21.3.600 Rp 1.300 Biaya penyelesaian produk dalam proses (PDP) awal: BTKL.00 3.600 .IO - Rp 109.Biaya Overhead Pabrik.1 13.304. - - Total biaya yang dibebankan 3.000 37. -~ ~ -~.3 Laporan Kos Produks. 400 x Rp 360 .377.~ ~ Rp Rp 3. 400 x 80% x 60.. 100 x 123. Perhitungan kos yang dibebankan kepada produk: Kos produk selesai di departemen I1 (dalam ribuan): Produk dalam proses awal Rp 106.

200.900 6.900 3.80 .200.000 kg B.09 19.82 Total PDP akhir bulan: Total biaya yang dibebankan RD 29.300 366.41 1.377.73 C.643.000 106.biaya bahan:400 x 126.634 5. I1 Bulan Maret 1986 A.100 1.142.120 36.454 .262.K. Perhitungan kos per unit produk (dalam 000): Biaya T.21 12.61 2.896. Jumlah Total 4.40 .000 kg 1 400.160 6.644 .73 Kos produk dalam proses akhir: Rp 144.80 b3.800 8.BOP: 400 x 80% x 59.600 1.000 kg Produk dalam proses akhir 6.300 217.800.800 kg x Rp 588.000 . Perhitungan kuantitas produksi: Produk dalarn proses awal Diterima dari departemen I 200.414.73 588.537.000.PABRIK KERTAS PLAYEN LAPORAN KOS PRODUKSI DEPT.643.biaya bahan pembantu:400 x 6.000 kg 6.40 .992.600 3.dari departemen I:400 x Rp360 50. Langs.000 kg Produk selesai yang ditransfer ke departemen 1 1 5. Rp 3.09 5932 228. Perhitungan kos yang dibebankan kepada produk (dalam ribuan rupiah): Kos produk yang ditransfer ke departemen 111.500 357.600 222. Biaya Overhead Pb.000 kg 6.500 33.BTKL: 400 x 90% x 36.

Proses tersebut menghasilkan beberapa macam produk yang perlakuannya terhadap masing-masing produk tersebut berbeda-beda. Dalam bab dua. Tentunya ketiga produk tersebut akan dianggap sebagai produk bersama. produk sampingan adalah suatu proses yang nilai total produk atau produk-produk tersebut relatip kecil dibanding dengan produk utama.Sehingga produk yang tidak mempunyai nilai ekonomis dianggap sebagai limbah industri.BAB V PENENTUAN KOS PRODUK BERSAMA DAN PRODUK SAMPINGAN Perusahaan yang mengolah produk dengan proses kimia selalu menghasilkan lebih dari satu produk. Jadi dapat disimpulkan. Meskipun sebenarnya berapa biaya yang diserap akan berbeda-beda tetapi produk yang dihasilkan akan menunjukkan kuantitas yang tidak akan jauh berbeda. sedangkan terhadap tetes yang nilai ekonomisnya jauh lebih rendah daripada gula diperlakukan sebagai produk sampingan. Persoalannya akan menjadi lain apabila ketiga produk yang dihasilkan dalam proses ketiga tersebut mempunyai nilai ekonomis yang relative sama. telah disajikan bagan proses produksi pabrik gula. Apabila suatu proses produksi menghasilkan bekferapamacam produk. Produk sampingan sebetulnya tidak dikehendalu tetapi temyatamasih mempunyai nilai ekonomis bagi pihak lain. Ketiga macam produk tersebut dihasilkan secara simultan dalam suatu proses di departemen 111. maka akan timbul masalah dalam penentuan berapa kos untukmasing-masing produk yang dihasilkanoleh departemen tersebut. . Hanya saja tujuan dan nilai produk yang dihasilkan tersebut mungkin secaraekonornis tidak bermanfaat bagi perusahaaqlmasyarakat. Secara kebetulan komposisi tonase ketiga macam produk yang dikeluarkan dari departemen 111tersebut hampir sama. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa produk bersama adalah beberapa macam produk yang dihasilkan secara simultan dalam suatu proses yang nilai total masing-masing produk tersebut relatip sama. Bahkan untuk blotong sama sekali tidak mempunyai nilai guna apapun sehingga dikategorikan sebagai limbah industri. Hal ini disebabkan input produksi akan menghasilkan secara langsung dan simultan dalam suatu reaksi kimia. Namun bila ditinjau dari nilai ekonomisnya (nilai jual) maka kristal gula mempunyai peran yang sangat dominan. Sehingga krislal gula menjadi produk utama.

Biaya bersama tidak selalu terjadi dalam industri yang menggunakan metode proses saja. PENENTUAN KOS PRODUK SAMPINGAN Penentuan kos produk sampingan sebetulnya sangat sulit. hanya saja bentuk output yang dihasilkan tidak berupa produk sampingan ataupun produk bersama. Menggunakan metode kos pengganti (replacement cost). kiranya perlu dipecahkan dengan rasional. karena biaya bersarna yang terjadi sebetulnya sangat sulit dipecah untuk dialokasikan kepada beberapa produk yang dihasilkannya. Metode alokasi yang dapat diterima dalam akuntansi produk sarnpingan dapat dibagi dalam dua kategori. Namun mengingat manajemen memerlukan inforniasi yang dapat menggambarkan berapa komposisi biaya produk sampingan dalatn seluruh kornpoilen kos produk. Biaya bersama semacam ini mempunyai komponen biaya bahan dan biaya lcnaga kerja yang berbeda untuk masing-masing produk. Kebersamaan biaya dapat terbentuk bukan karena kesamaan proses sejak awal proses sampai saat split off. Biaya bersama semacam ini terjadi dalam industri yang menggunakan proses produksi dengan metode pesanan (job order) atau proses asembling. Dengan demikian komponen biaya untuk ketiga macam produk tersebut terdiri dari komponen biaya yang s m a pula. Biaya bersama timbul sejak dimulainya proses produksi sampai saat terjadinya pemisahan produk (split ofl menjadi beberapa produk.&an sebagaipengurangan kos produksi. yaitu: 1. tambahan terhadap pendapatan penjualan. Biaya bersama tidak dialokasikan kepada produk sa~npingan Metode X 1: hasil penjualan produk sampingan langsung n~asuk laporan rugike laba sebagai: pendapatan lain-lain. Apabila dernikian halnya maka disebut biaya overhead bersama (joint ovei. Metode 2: Metode 3: . Oleh karena komponen biayanya sama maka kos untuk kasus semacam ini disebut sebagai biaya bersama (join cost). tetapi kebersamaan biaya dapat pula timbul karena penggunaan fasilitas produksi yang sarna. sebagaipengurangan kos penjualan. A. namun kornponen biaya overheadtip sama. Dalarn kasus lain dapat pula terjadi biaya bersama.head cost). Hasil penjualan produk sampingan setelah dikurangi dengan biaya penjualan produk sampingandan tambahan biayadalampenyempurnaan produk sampingan langsung masuk ke laporan rugi-laba dengan cara i yang sama dengan metode 1.Baik produk sampingan maupun produk bersarna diolah dalam satu proses produksi yang sama pula.

dan CZ.000.2.000.180 ton. Laporan kuantitas produk yang disajikan dalarn bulan Juni 1980 adalah sebagai berikut: Diterima dari departemen I1 sebanyak 2.000. I1 Biaya tenaga kerja Biaya overhead Total biaya PDP Awal Rp 225.00 26. Metode 4: Metode nilai pasar (reversal cost) CO'NTOH KASUS PT XYZ memprodusir produk melalui tiga departemen produksi.200. BX 50 ton dan CX 220 ton. BZ tidak laku dijual dan diperlakukan sebagai limbah industri. Berdasarkan data di atas tentukan berapa kos produk utama.biaya konversi 80%). Produk yang dihasilkanAX.000. . Produk yang masih dalam proses akhir sebanyak 200 ton (biaya konversi 100%. Produk sampingan CZ laku dijual dengah harga Rp 400.00 Rp 275.000.000. Komposisi biaya dalam bulan ini adalah: Jenis Biaya Biaya dari dept. JAWABAN KASUS Pembebanan kos produk terlebih dahulu harus memperhatikan laporan kos produksi pada periode yang bersangkutan. BZ.500per ton.00 Rp 3. Dalam kategori ini dikenal metode yang keempat .000. Selanjutnya apabila telah diketahui berapa biaya bersama yang timbul dalarn produksi tersebut baru dapat ditentukan berapa pembebanan kos produksi pada produk utama.OO 238.OO per ton. 2.190. Sebagian biaya bersama dialokasikan kepada produk sampingan dengan memberhatikan berapa biaya yang dialokasikan dan tambahan biaya untuk penyempurnaan produk sampingan tersebut.OO 202.500 ton.OO Kos bulan ini Rp 2. Pada departemen 111dihasilkanbeberapaproduk AZ.690. Laporan kos produksi di departemen 111 disajikan dalam halaman berikut.00 Hargajual produk utama AZ adalah = Rp 1. produk yang masih dalan proses awal 150ton (Biaya bahan 100%. biaya konversi 85%).00 24.

00 = Kos produk dalam proses akhir: Biaya dari dept. Produk dalam proses (akhir) 2.100. I11 Bulan Maret 1980 A. 200 x 85% x Rpl10.00 Rp 220. 11. Pencatatan hasil penjualan produk sarnpingan dalam jurnal penjualan adalah sebagai berikut: .700.OO Metode pertama Berapa besarnya kos produk sampingan yang terjadi selama satu periode tidak perlu dihitung. C. Perhitungan kos per unit produk (dalam ribuan rupiah): Biaya overhead Pb.OO Rp 3.00 18.00 Biaya tenaga kerja.700. Kuantitas produk yang dihasilkan: Produk rnasuk dalam proses Produk dalam proses (awal) Produk selesai bulan ini: Produk AZ.Hal ini mengingat tujuan utama produksidalarnproses tersebutuntukmenghasilkan produkutamasaja.1 80 ton 50 ton 220 ton 700 ton 2.LAPORAN KOS PRODUKSI DEPT.3 10. 200 x 85% x Rp100.209. Perhitungan kos yang dibebankan kepada produk: Kos produk bersarna. yang dibebankan bulan ini.00 Total Kos PDP akhir 255.200 ton x Rp1.Nilai penjualan produksampingantersebutdianggap sebagaipenghasilan tambahan yang secara langsung dapat dilaporkan dalarn laporan rugi-laba.500.P. Rp 3. Produk BZ.00 Biaya overhead.450 ton x Rp 1.000. Produk CZ.00 17.OO Total H.500 ton 1 SO ton 2.465.000.650 ton B.650 ton 2.2.200.

namun biaya-biaya yang timbul dalam rangka menjual produk sampingan tersebut tidak boleh ikut dibebankan sebagai pengurangan terhadap hasil penjualan produk utama. b. Sebagai salah satu unsur pendapatan lain-lain. Selanjutnyadalampenyajian laporanrugflabaakan diperlakukan sebagai pengurang kos produk utarna. Dalam metode kedua ini berapa besarnya kos produk sampingan tidak perlu dihitung. Hal ini mengingatbiaya-biaya yang timbul karenapenjualan produk sampingan tersebut dapat ditelusuri jejaknya. d. .200. Misalnyauntuk pembungkusan. Sebagaisalah satuunsurpendapatandan langsung disajikansebagaielemenpendapatan.OO Biaya-biaya yang timbul dalam penjualanproduk sampingan tersebut akan ditampung dalarnrekeningtersendiri. apabila biaya-biaya yang timbul dari penjualan produk sampingan diketahui sebagai berikut: Biaya pembungkusan Biaya pengiriman produk sampingan Biaya administrasilpemasaran Rp 4. Metode kedua Berbeda dengan metode pertama.00 Rp 8. dalam metode kedua dihadapkan masalah bahwa penjualan produk sampingantersebut membutuhkansejurnlahbiayauntukmemasarkannya. c. Sebagai unsur pengurang kos produksi periode tersebut.KaslPiutang Dagang Penjualan produk sampingan Rekening penjualan produk sampingan tersebut di atas pada akhir periode dapat disajikan dengan salah satu cara berikut: a. Sebagai pengurangan kos penjualan.800.400.00 3.penyimpanan produk sampingan dan pengiriman barang. Sebagai contoh kasus di atas.

Dalam kasus di atas diperoleh informasi tambahan sebagai berikut: Perusahaan mengambil profit margin sebesar 20% dari harga jual masing-masing produk sampingan. Biaya pembungkusan Biaya tenaga kerja Biaya pengiriman produk sampingan Biaya administrasilpemasaran Jumlah biaya 3.00 Rp 22.209.500. Untuk selanjutnya kos produk sampingan ditentukan dengan nilai jual (market value) produk sejenis yang berlaku saat itu.Metode ketiga Metode ketiga terjadi untuk perusahaan yang memproduksi produk.800.000.00 Berdasarkan kasus tersebut di atas maka biaya bersarna yang terjadi dapat dihitung dengan cara sebagai kxikut: Jenis biaya Kos produk bersama Nilai jual produk sampingan Taksiran laba kotor produk sampingan: Produk utama Rp 3. Dengan demikian diperlukan nilai pengganti untuk jenis bahan yang sama dengan mernperbandingkannyadengan nilai jual yang berlaku di pasaran terhadap bahan yang sama. namun bahan baku yang dibutuhkan dalam proses tersebut tidak memerlukan dari luar perusahaan.00 8. Bahan-bahan tersebut telah tersedia dari dalam perusahaan sendiri sebagai sisa proses produk lainnya atau sebagai produk sampingan dari sesuatu proses prduksi.000.00 Produk sampingan .600.00 Rp 88. Metode keempat Metocle keempat ditemukan dalam suatu perusahaan yang menghasilkan produk sampingan yang masih memerlukan proses lanjutan agar produk sampingan tersebut dapat dijual kepada konsumen. Informasi tersebut dibutuhkan untuk menghitung berapa besarnya kos produk sampingan dan sampai sejauh mana keuntungan yang diperoleh dengan penjualan produk sarnpingan tersebut.

800) Total taksiran laba kotor Taksiran biaya setelah pemisahan produk: Biaya pembungkusan Biaya tenaga kerja Total taksiran biaya setelah pemisahan Jumlah penilaian produk utarna Kos produk utama (taksiran) Ditambah: Biaya sesungguhnya setelah pemisahan produk Total biaya dibebankan pada produk sampingan Tokl kuantitas produksi Kos per unit produk Rp 2. Alokasi biaya bersama kepada masing-masing produk bersama dapal dilakukan ~nelalui salah satu dari keernpat metode berikut: . PENENTUAN KOS UNTUK PRODUK BERSAMA Seperti halnya dalam akuntansi produk sampingan.88 Rp Rp 53.I Laba 25% dari nilai jual Biaya pemasaran(Rp8.600 + Rp3.180 ton 1.600.451. inaka dalam produk bersamapun ditemukan kesulitan dalam menentukan cara yang tepat untuk menentukan alokasi hiaya bersama tersebut.00 200 ton 278.00 B. Disadari tidak ada cara yang tepat untuk melakukan alokasi biaya bersama kepada produk bersama. Namun demikian gambaran komposisi biaya produk sampingan yang disajikan dengan rasional kiranya akan membantu manajemen dalam mengendalikan operasi perusahaan.

690.190. 3.500 ton. metode rata-rata biaya per satuan. Produk yang dihasilkan AX. BX.OO 24.1. BX 700 ton dan CX 750 ton. metode rata-rata tertimbang. 4. biaya konversi 80%).000. CONTOH KASUS PT XYZ memproduksi produk melalui tiga departemen produksi. dan CX. Produk yang masih dalarn proses akhir sebanyak 200 ton (biaya konversi loo%. 1.00 275.OO 262.OO 238.400.00 26.000. Berdasarkan data di atas tentukan berapa kos untuk masing-masing produk. produk yang masih dalam proses awal150 ton (biaya bahan loo%.000.000. metode satuan phisik.00 3. metode nilai jual relatif.000. terlebih dahulu harus ditentukan berapa besarnya biaya bersama selama satu periode.200.00 per ton dan CX = Rp 1. Kos biaya bersama dalarn perhitungan berikut ini berdasarkan metode metode rata-rata. Jawaban kasus Sebelum alokasi biaya bersama dilakukan.00 per ton.300.00 Kos bulan ini 2. 2.000 ton. Pada departemen I11 dihasilkan beberapa produk AX.500 per ton.OO Harga jual masing-masing produk di pasar adalah AX = Rp 1. . BX = Rp 1. Laporan kuantitas produk yang disajikan dalam bulan Juni 1980 adalah sebagai berikut: Diterima dari departemen I1 sebanyak 2. biaya konversi 85%).000.000. Komposisi biaia dalam bulan ini adalah: Jenis biaya Biaya dari departemen I1 Biaya tenaga kerja Biaya overhead Total biaya PDP awal 225.

620 2.465.LAPORAN KOS PRODUKSI DEPT.000 262.620 Kos/ unit 1.000 262.000 3.2.00 200 ton x 85% x Rp110. Perhitungan kos per unit produk (rata-rata): Jenis biaya PDP awal Kos bln ini Total 2. Biaya overhead pabrik Jurnlah 50.000 24.310.00 Biaya tenaga kerja. Kuantitas produk yang dihasilkan: Produk masuk dalam proses Produk dalam proses (awal) 2.00 = Kos produk dalam proses akhir: Biaya dari dept II.450 ton x Rp1.200 Total biaya dibebankan 275.200 2.00 . 2.190.000 500.100.200 3. 11: Biaya tenaga kerja 1s.000 ton 700 ton 750 ton 200 ton 2.00 210.915. = Rp 220.700.650 2.200 Ekvl.00 Kos dept. Perhitungan kos yang dibebankan kepada produk: Kos produk bersama.500.200 ton x Rp1.000 250.650 ton Produk selesai bulan ini: Produk AX Produk BX Produk CX Produk dalam proses (akhir) 1.100.690.3 10.000.00 110.00 1.209. sebelumnya 225.00 - 18.000 C.000 Biaya di dept.00 Rp 3. I11 Bulan Maret 1980 A.650 ton B.200 238.000 288.500 ton 150 ton 2.000 26.00 100.

OO 43.00 26.50 4.P per ton ProdukAX 1.25 1.209.500.OO Apabila alokasi biaya bersama dihitung berdasarkan kos per unit produk yang dihasilkan maka alokasi biaya bersama untuk masing-masing produk adalah: Produk AX. 1.00 30.i)O Rp 3.500.298.300.000.000.OO Total - Rp 1.OO D.00 total Kos PDP akhir total H.32 Produk BX Produk CX total 700 1.460. 100. 750 x 1.310. jual alokasi H.39 1.500.500.?09.200.209.318.000.500.00 910.OO Rp Rp 982.310.00 1. 700 x 1.310.3597 3.P.86 1.OO Up 982. yang dibebankan bulan ini = Rp 17. Alokasi biaya bersama (metode relative): Jenis produk kuantitas Hg.083.OO Produk BX.OO Apabila alokasi menggunakan metode rata-rata tertimbang.000.00 1.310.OO 100.000.OO 3.450 ton Kp 1.000 1.OO Produk CX.000.OO 9 17.000 ton 700 ton 750 ton 2.391.25 Rp1.Biaya overhead 200 x 85% x Rpl.OO Rp 255. maka untuk masingmasing produk diberikan suatu bobot sebagai angka pengimbang.465.351. Bobot tessebut ditentukan manajemen secara relative dengan memperhatikan nilai bakan yang .310.00 Apabila alokasi biaya bersama disajikan berdasarkan kuantitas produk yans dihasilkan maka dalarn Laporan Kos Produksi disajikan ctengan rincian sebag~i berikut: Jenis produk Kuanl~tas Produk Alokasi R m Produk AX Produk BX Produk CX Total 1.000 x Rp 1.3084 4.700.500.205.78 750 1. jual Nilai jual% n.400.000.00 Rp 3.OO 3.098.000.500.050.00 9 17.000.

produk A Rp 0. B. Proses lanjutan ini ditnaksudkan untuk tnenyempurnakan produk agar dapat menarik para konsumen. Laba kotor diketahui rata-rata sebesar 60 %. produk B 15.209. tingkat kesulitan proses produksi.000 unit dan produk D sebesar 15. Produk yang dihasilkan dari departemen I1 untuk keempat produk masing-masing A sebesar 20. Berdasarkaninformasitersebut hams dilakukanalokasibiayaapabilaalokasididasarkan pada nilai jual relatip perhitungannya adalah sebagai berikut: .00 Dari keempat altematipmetodetersebut di atas dapat dipilihsalah satudiantaranya.digunakan.12 J R 559. Adanya proses lanjutan tersebut menyebabkan tarnbahan biaya yang harus dibebankan pada produk tersebut.000 unit.00.500 Rp 1.000. Biaya yang terjadi di departemen I sebesar Rp 80.00. Perusahaan mengeluarkan biaya produksi setelah departemen pemisahan (after separable cost) untuk masing-masing produk adalah. waktu yang digunakan.000.00.00 dan produk D sebesar Rp 28.000 2. produk B Rp 10. D. BX 3 dan CX 2 maka alokasi biaya adalah sebagai berikut: Jenis produk jumlah produk bobot bobot x alokasi biaya jumlah produk bersama Produk AX Produk BX Produk CX Jumlah 1.37 783.500. C.988. Keempat produk tersebut dihasilkan secara simultan di departemen I1 dengan menyerap biaya sebesar Rp 40. Pernilihan metode tersebut harus memperhatikan kondisi yang ada dalam proses produksi dan penjualan produk bersama. Nilai jual per unit produk setelah melalui proses lanjutan adalah. Sebagai contoh.000. produk B Rp $00 produk C Rp 4.00.00.100 1. produk C Rp 10.00. Seandainya produk AX mempunyai total bobot 5.600 Rp 3. PT XYZ menghasilkan produk bersama A. C.000 unit.865.000unit. PEMBEBANAN BIAYA PROIIUKSI BERSAMA SETELAH DEPARTEMEN PEMISAH PRODUK Baik terhadap produk sampingan maupun produk bersama dapat diproses lebih lanjut sebelum produk tersebut dijual pada konsumen.000.715.51 8.50 dan produk D Rp 8.000.000. C sebesar 10.50. produk A Rp 2.000 ton 700 ton 750 ton 5 3 2 5. jumlah tenaga kerja yang digunakan dan lain-lain.796.

800.3 683 69.000.000.000.00 65.800.000.00 6.000.00 68.000.O .000.OO 170.000.00 15.000.200.00 2.000 45..00 4.50 8.00 28.00 4.00 10.P 60% Total nilai jual % biaya - (Rp) .000 120.OO 200.00 50.000.50 5.000.OO 120.000.000.000.00 83.00 92.00 70.OO 35.OO 21.00 Total 250.000.00 52.000.O 65.000.00 31.-- - (unit) 20.OO 68.000.200.Jenis hrg jual kuantitas produk per unit produksi .P.00 10.000.00 39.1 ProdukA ProdukB Produk C Produk D 0.000 15.- total harga biaya setelah nilai jual jual pernisahan H.00 49.000 (Re) 10.00 8.000.00 10.000.

Dalarn hubungannya dengan akuntansi biaya dikenal pengertian standard cost. Manfaat lainnya antara lain untuk Inventory pricing. Dengan demikian manager produksi terbantu dalam upaya menekan kos produksi serendah mungkin. Standard kos ditetapkan dengan berbagai tujuan.BAB VI PENENTUAN KOS STANDAR Kata standard memberikan suatu pengertian norma yang digunakanuntuk melakukan pengukuran. Informasi berapa besarnya penyimpangan (variance) tersebut sangat membantu bagian produksi untuk memperbaikinya. Dalam ha1 ini kos produksi dapat ditentukan dimuka (terlebih dahulu). 3. 4. Perencanaan kegiatan tersebut akan mudah ditetapkan bila menggunakan norma atau ukuran yang lebih tepat. Dengan demikianinformasikos produksi dapat disajikan dengan lebih cepat. Anggaran adalah perencanaan operasi perusahaan di masa yang akan datang dan diwujudkan dalam satuan mata uang. artinya suatu standard yang dibentuk sebagai norma pengukuran kos produksi. manajemen dihadapkan pada persoalan estimasi terhadap kejadian-kejadian yang belum pasti. . Adanya kos standard dapat memberikan garnbaran mengenai penyimpangan produksi dibandingkan dengan norma yang ditetapkan. antara lain: 1. 2. sehingga sangat membantu manajemen dalam proses pengambilan keputusan. Sebagai dasar penentuan kos produksi. Ini berarti mengupayakan efisiensi proses produksi dan meningkatkankeuntungan perusahaan. untuk memudahkan pencatatan kos produksi dan lain-lain. tanpa menunggu berakhirnya satu periode proses produksi untuk metode Proses Costing atau untuk satu job (batch production)untuk metode Job Order Costing. Membantu dalam perumusan anggaran perusahaan. Membantu dalam pengendalian biaya. Dalarn upaya menyusun anggaran.

jam produksi. Standard ini ditetapkan karena manajemen menghendaki pemanfaatan secara optimal terhadap suatu proses produksi dalam kumn waktu tertentu. Yaitu standard yang ditetapkan sebagai basic tidak akan dirubah. Komponen biaya yang ditetapkan sebagai standard menggunakankapasitasoptimal (kapasitas 100%). Yaitu. PENENTUAN STANDARD Kos standard terdiri dari dua kategori yaitu kuantitas standar dan t~arga standard (tarip standar). . standard yang didasarkan pada tingkat efisiensi tertinggi sesuai dengan kemampuan operasional peralatan dan aparat personel yang mendukungnya. 4. Berdasarkan penelitian di bagian produksi mengenai hasil produksi dimasa yang lalu. c. Actual standard. Standard tersebut digunakan sesuai dengan rcncarla produksi dalam kunin waktu tertentu saja. Basic standard.Meskipun dalam kenyataannya ideal standard tidak bisa pemah dicapai. Dapat pula berdasarkan rumus kimia dalam proses produksi suatu barang. 3. Yaitu. standard yang digunskan d m berlaku pada pcriode produksi tertentu. kebutuhan bahan dan lain-lain). Attainable standard. Yaitu. B. Berdasarkan rumusan kimia dengan memperhatikan kemampuan teknis produksi mesin yang terpasang. Kuantitas standar ditetapkan berdasarkan penelitian di rnasa yang lalu mengenai kuantitas hasil produksi (unit produksi. Melakukan test dengan kondisi tertentu. 2. b.A. jam mesin. Basic standard disebut pula sebagai Fixed standard. standardyang dihitung atas dasarkondisi yang diharzpkanyang diharapkan dalarn suatu proses produksi. Standard kuantitas penggunaan bahan (material usage standard) ditetapkan berdasarkan hal-ha1 sebagai berikut: a. Standar untuk bahan baku 1. Kos standard ditetapkan berdasarkan harga (normal) yang terjadi di masa yang lalu 1. Standard ideal (standard teoritis). JENIS-JENIS STANDAR 1.

Standard untuk biaya overhead pabrik menggunakan flexible budget.1) 2. Analisis Selisih kos bahan baku Inforrnasiyang diperolehdari bagian akuntansibiaya adalah sebagaiberikut. Standar untuk biaya overhead pabrik 1. Hal ii untuk mempermudah proses analisis terjadinya variasi biaya overhead pabrik dalam proses produksi. terlebih dahulu harus ditetapkan berapa besarnya biaya tetap dan biaya variabel sebagai standar.47. Bahan baku yang dibelidalambulan ii5. Biaya bahan sesungguhnya Biaya bahan menurut standard Selisih biaya bahan Selisih harga pembelian bahan.tarip standard) = Rp 12.600 . Jam (kuantitas) standar. ditetapkan berdasarkan pengalaman di masa yang lalu dan memperhatikan perubahan-perubahan yang akan terjadi di masa yang akan datang. 2. Tarip upah standar. 3. Dalam rangka penentuan tarip biaya overheadpabrik harus diperhatikanadanya biaya semi variabel. Kuantitas sesungguhnya x (tarip sesungguhnya . Meskipun biaya semi variabel padadasarnyasulit dipisahkanmenjadi biaya n tetap dan biaya variabel. Harga standar.50.750 Rp 3. ditetapkan berdasarkan kesepakatan dengan buruh (labor bargaining) atau peraturan perburuhan yang berlaku). tetapi pernisahan biaya tersebut tetap harus diakukan.550 kg selama satu bulan. 2.2.ditetapkanberdasarkanpenelitianmengenai gerakdanwaktu dengan memperhatikan ratio industri.000 kg a Rp 2.350 Rp 8. Jam standar. Standar untuk biaya tenaga kerja langsung (BTKL) 1. Bahan yang digunakan 3. Perhitungan selisih. C. ILUSTRASI TERHADAP PENENTUAN 1.500 kg. (perhatikan 2. Harga (tarip) standard. standard n kos bahan baku per kg Rp 2. Standard kuantitas pemakaian bahan baku untuk produksi bulan ini 3.

Terdapat efisiensilinefisiensidalam penggunaan bahan. Pelaksana (mandor) yang menyimpang dari rencana produksi yang telah ditetapkan.5. Ada tendensi harga-hargaumum yang memang mengalamikenaikan atau penurunan. (kuantitas sesungguhnya . 4.550 kg) x Rp 2. Kepala bagian produksi 3. Bagian pembelian. bila bagian ini tidak mampu memperoleh bahan baku dengan kualitas yang ditetapkan. Pihak yang bertanggungjawab atas terjadinya penyimpangan harga adalah bagian pembelian.550 kg .50) = Rp 150 (selisih laba) Kemungkinan penyebab terjadinya selisih harga pembelian bahan: 1.kuantitas standard) x tarip standard = (3. Bagian production control 2. Terjadi kesalahan dalam kebijaksanaan pembelian bahan.47 .000 kg x (Rp 2. 2. Ditemukan bahan-bahan subtitusi yang memungkinkan proses produksi menjadi lebih efisien.3. Pihak yang bertanggungjawab atas terjadinya penyimpangan: 1.Rp 2. Terdapat kesalahan di dalam perencanaan produksi. Selisih kuantitas (pemakaian) bahan. Seringkali ditemukan faktor-faktor di luar kekuasaan perusahaan (bagian pembelian). 3. Pencatatan dengan metode single plan PDP biaya bahan Material quantity variance Persediaan bahan baku Persediaan bahan baku Utang dagang. 2. Material purchase price variance .50 = Rp 125 (selisih rugi) Kemungkinan penyebab terjadinya selisih kuantitas bahan: 1. terutama bila harga bahan baku sangat dipengaruhi oleh keadaan pasar.

350 Persediaan Bahan Baku Pencatatan dengan metode partial plan Persediaan bahan baku Utang dagang PDP Persediaan bahan baku Material quantity variance Material price variance Persediaan bahan baku Selisih kuantitas Selisih harga pmbelian Rp 150 -T-PDP biaya bahan Utang dagang l Persediaan Bahan Baku Perhitungan material usage variance Bahan yang dipakai x (tarip standard .Selisih hargl pmbelian - .550 unit x (Rp 2.50 (selisih laba). .47 .Rp 2.tarip sesungguhnya) = 3.50) = Rp 106. Rp 150 Utang dagang Rp 12.

500jam) x Rp 6.50 .tarip standard) = 1. sebagai berikut: Biaya gaji dan upah Hutang gaji PDP .biaya tenaga kerja langsung Selisih tarip upah Selisih efisiensi waktu Biaya upah . Analisis selisih biaya tenaga kerja langsung. Jumal yang hams dibuat. Selisih efisiensi.880jam x (Rp 6.880jam. I Tarip sesungguhnya (actual paid) Rp 6. Informasimengenaikos BTKL adalahsebagaiberikut.OO) = Rp 940.Jam kerja sesungguhnya 1.00 per jam.OO (selisih rugi).00 (selisih rugi).500 jam dengan tarip standard sebesar Rp 6.00 = Rp 1.880 jam .50 per jam.2.740. Perhitungan total selisih: Biaya tenaga kerja langsung (actual) Biaya tenaga kerja yang dibebankan Total selisih Perhitungan selisih upah. Standard waktu untuk produksi pada bulan ini 1.1.Rp 6. jam sesungguhnya x (tarip sesungguhnya . (jam sesungguhnya -jam standard) x tarip standard = (1.

540 Biaya gaji dan upah 3. yaitu tarip standardpada kapasitasnormal.740 I PDP biaya. dan tarip yang sesungguhnya. produksi dengan kapasitas 80%. maka standard yang digunakan sesuai dengan anggaran untuk kapasitas yang direncanakan dalam anggaran fleksibel tersebut.Pencatatan dengan metode single plan Selisih tarip upah Selisih efisiensi waktu Rp 1. . Di dalarn analisis selisih untuk biaya overhead pabrik terdiri dari tiga macam tarip. yaitu: . Analisa selisih untuk biaya overhead pabrik menggunakan anggaran fleksibel.tenaga kerja Biaya gaji dan upah Pencatatan dengan metode partial plan Selisih tarip upah Selisih efisiensi waktu R T PDP b i a r tenaga kerja Rp 9. Di dalam anggaran fleksibel tersebut disusun rancangan produksi untuk berbagai kapasitas.tarip standard pada kapasitas yang dianggarkan. Sehingga apabila perusahaan dalam suatu periode merencanakan untuk memproduksi dengan kapasitas tertentu. Misalnya. terdapat tiga macam metode analisis selisih.maka standard yang digunakan adalah segala tarip yang berlaku dalam kapasitas tersebut. Untuk mengetahui selisih yang terjadi dalam kos standard. Selisih biaya overhead pabrik.

80. Tarip kos standard per jam produksi.384 . b. Contoh ilustrasi perhitungan selisih biaya overhead pabrik. Penggunaan masing-masing metode tersebut.384. Pertajaman analisis tersebut dengan melihat apakah kapasitasyang menganggur disebabkanoleh faktor biaya tetap ataukah biaya variabel. 1.00. Waktu (jam) standard yang dianggarkan 3.1 Metode analisis dua selisih. BOP sesungguhnya BOP yang dianggarkan a/d jam standard. Rp 1. dan analisis terhadap efisiensi.400 jam. Total selisih biaya overhead pabrik Rp 584. Metode analisis tiga selisih mempertajam dengan melakukan analisis terhadap adanyakapasitasyang menganggur (idlecapacity variance). . Biaya overhead pabrik variabel Rp 1.20 Rp 0.450 jam. Biaya overhead pabrik sesungguhnya sebesar Rp 7.00. Metode analisis dua selisih. Biaya overhead pabrik tetap Kapasitas normal sebesar 4. Metode analisis tiga selisih. Metode analisis dua selisih melakukan analisis terhadap penyimpanganpenyimpangan yang terjadi dengan hanyamemperhatikan selisihvolume dan selisih yang dapat dikendalikan. a. analisispengeluaran (spending variance). Metode analisis empat selisih merupakan pengembangan dari analisis tiga selisih dengan mempertajam terhadap analisis kapasitas yang menganggur.000 jam Dari contoh di atas dapat diketahui bahwa total selisih antara biaya overhead pabrik sesungguhnya dengan biaya overhead pabrik standard adalah Rp 584.OO (rugi). Pembahasan metode ini disajikan di halaman 8 berikut ini. Metode analisis empat selisih. Selisih terkendali. 2.pada dasarnya mempunyaitujuan yang berbeda-beda. Waktu (jam) yang sesungguhnya 3. dan 3.

475 x Rp2.3.BOP variabe1.080 RD 7. 3.280 . Biaya overhead pabrik sesungguhnya Biaya yang dianggarkan a/d jam sesungguhnya. Selisih volume.20 = 7.475 jam x Rp1. Rp 7.400 jam x Rp0.370 RD 6.170 Rp Selisih rugi 2. BOP yang dianggarkan a/d jam standard.384 Rp 3.370 14 Rp . Rp 6.OO = Idle capacity variance (rugi) 420 3.80 Rp 3. Idle capacity variance.- BOP tetap.400 jam x Rp2.3. Efficiency variance (selisih rugi). .800 Rp 480 Rp 7.280 1.3.anggaran biaya tetap - Biaya variabe1.400 x Rp1.00 = Selisih volume (rugi) Metode analisis tiga selisih.200 Ru 4.3. Jam sesungguhnya x tarip standard.20 Selisih terkendali Rp 104 2. Spending variance.200 RD 4. .950 Rp Biaya yang dianggarkan a/d jamm sesungguhnya Jam s e s u n g w y a x tarip stand. Rp 7. BOP yg dibebankan pada produksi.

370 Rp 7.80 = Rp 7. Spending variance. Idle capacity variance. 3.Biaya overhead yang dibebankan ke produk. (lihat metode analisa tiga selisih) 2. BOP sesungguhnya BOP yang dianggarkan a/d jam sesungguhnya Variable efficiency Variance 4. 3. (lihat metode analisa tiga selisih) 3.80 = Fixed efficiency variance (rugi) .700 jam x ~p 2.475 jam x Rp0.800 150 Rekapitulasi perhitungan selisih: Spending variance Idle capacity variance Efficiency variance Total selisih (rugi) Metode analisis empat selisih 1.400 jam x Rp0. 3. Variable efficiency variance. Jam sesungguhnya x tarip tetap.00 Selisih efisiensi (rugi) - Rp Rp 6. Fixed efficiency variance.280 Rp 90 Jam standard x tarip tetap.

Biaya overhead pabrik tidak bisa dihubungkan dengan secara langsungdengan produk c. Langsung dibebankan ke dalam harga pokok penjualan c. Biaya bahan penolong b. Gaji pegawai produksi c. Penentuan harga jual 2. Penyusutan gedung pabrik Akuntansi untuk biaya overhead pabrik relatif lebih kompleks daripada akuntansi untuk biaya produksi yang lain karena: a. 3. Dibebankan dengan tarip. Berikut ini adalah elemen biaya overhead pabrik. Jawaban a.BAB VII BIAYA OVERHEAD PABRIK A. Jenis biaya overhead pabrik banyak b. Pengendalian biaya produksi c. KECUALI: a. b. Penentuan harga pokok produk d. 4. SOAL-SOAL BIAYA OVERHEAD PABRIK 1. Ongkos angkut pembelian mesin pabrik d. Dibebankan langsung ke laporan rugi-laba Tujuan alokasi dan penggunaan tarip biaya overhead pabrik adalah: a. Sebagian biaya overhead pabrik terjadi secara sporadis d. dan biaya sesungguhnya dimasukkan rekening overhead sesungguhnya b. . Analisa biaya untuk pengambilan keputusan b. Diakui sebagai biaya periode d. dan c benar Biaya produksi selain biaya bahan baku dan upah Iangsung akan: a.

Kapasitas teoritis Kapasitas praktis adalah: Kapasitas teoritis dikurangidengan kerugian-kerugian waktu yang tidak a. Kapasitas harapan c. Biaya tetap tidak diperhitungkan dalam anggaran fleksibel d. batas-batas tertentu d. tahun yang akan datang Dalamjangka waktu tertentu. Cocok untuk setiap kegiatan Dalam menggunakan anggaran fleksibel. tetapi tidak cocok untuk mengendalikan factory overhead Tidak cocok jika biaya dan beban dipengaruhi oleh fluktuasi dalam c. langsung. akan sangat kecil bilarnana tarip biaya overhead yang dibebankan dibuat berdasarkan: a. 8. Kapasitas normal b. . Jam kerja mesin Suatu flexible budget adalah: Cocok untuk mengendalikan factory overhead tetapi tidak cocok untuk a.5. perbedaan antara biaya overhead yang dibebankan dengan biaya overhead yang sesungguhnya. Jam kerja langsung d. 6. dapat dihindari karena hambatan intern perusahaan Kapasitas sesungguhnya yang diperkirakan akan dapat dicapai dalam d. Kapasitas normal d. penuhtanpa berhenti selama jangka waktu tertentu Kapasitasteoritisdikurangidengan kerugian-kerugian waktu yang tidak c. 7. Anggaran kapasitas yang didasarkan atas kapasitas teoritis dikurangi hambatan yang tidak dapat dihindarkan karena faktor internal dan eksternal disebut: a. apa yang terjadi terhadap biaya tetap per unit apabila jumlah produksi meningkat dalam relevant range? Biaya tetap per unit akan turun a. Biaya tetap per unit akan meningkat c. Biaya tetap per unit tidak terpengaruh b. Kapasitas yang direncanakan c. dapat dihindarikarena hambatan-hambatan intern perusahaan dan trend penjualan di masa yang akan datang Kapasitasteoritis pabrik atau departemenuntuk menghasikan kecepatan b. mengendalikan bahan langsung dan upah langsung Cocok digunakan untuk mengendalikan bahan langsung dan upah b. 9. Kapasitas praktis b.

13. Dasar yang digunakan b. 15. c. Mengurangi biaya total c. . Biaya upah langsung dan hasil produksi c. Distribusi d. Pembebanan Alokasi b. 12. d. Biaya bahan baku tidak langsung b. kepada departemen yang bersangkutan 11. b. Biaya bahan yang digunakan Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam membebankan biaya overhead pabrik adalah sebagai berikut. 14. Kapasitas normal c. Jam kerja buruh langsung d. Jumlah biaya overhead total perperiode c. Jika suatu flexible budget digunakan. Jam kerja mesin Untuk menentukan tarip biaya overhead pabrik. Faktor-faktor yang harus diperhitungkan dalam penetapan tarip biaya produksi tak langsung yang ditentukan di muka. disebutkan di bawah ini: a. KECUALI: a. Kapasitas sebenamya yang diharapkan d. tnaka unsur penentu adalah: Total aktivitas yang diperkirakan periode akuntansi ~nendatang a. ke departemen-departemen yang menikrnati manfaatnya Tarip untuk membagikan biaya overhead pabrik langsung departmen d. Semua jawaban tcrsebut dipcrlukan Pembagian elemen biaya overhead pabrik pada setiap dcpartctnen disebut: a. kepada produk yang diolah melalui departemen tersebut Tarip untuk membagikan biaya overhead pabrik departemen pembantu b. suatu pengurangan (decrease) dalam tingkatan produksi di dalam relevant range akan: Mengurangi biaya variabel per unit a. adalah: Tarip untuk membagikan biaya overhead pabrik departemen produksi a. ke departemen pembantu yang lain dan departemen produksi Tarip untuk membagikan biaya overhead pabrik tak langsung departemen c. Meningkatkan total biaya hidup Meningkatkan biaya variabel per unit d. Analisa Pengertian istilah tarip distribusi. Jumlah biaya overhead pabrik variabel per unit b.10.

Metode alokasi kontinyu (continuous allocation method) Metode alokasi langsung (direct allocation method) b. ke departemen pembantu yang lain dan departemen produksi Tarip untuk membagikan biaya overhead pabrik tidak langsung kepada c. Semua biaya overhead variabel Semua biaya overhead pabrik variabel dan tetap d. Semua elemen biaya overhead langsung dan tidak langsung departemen b. Metode urutan alokasi yang diatur (specified order of closing method) d. Metode aljabar (algebraic method) Manakah diantara metode alokasi biaya overhead pabrik berikut ini termasuk dalam metode alokasi bertahap yang memperhitungkantransferjasa timbal balk antar departemen pembantu? Metode alokasi kontinyu (continuous allocation method) dan metode a.16. aljabar (algebraic method) Metode alokasi kontinyu dan metode urutan alokasi yang diatur b. 19. c. 20. Berikut ini adalah metode alokasi bertahap (step method) biaya overhead departemen pembantu ke departemen produksi. tingkatkapasitas yang sesungguhnyadipakaiuntukmengerjakanpesanan tertentu Membagi total biaya overhead pabrik yang sesungguhnya dengan c. KECUALI: a. kepada departemen yang bersangkutan Tarip biaya overhead pabrik ditentukan di muka dihitung dengan cara: Mengalikan tarip biaya overhead pabrik sesungguhnya dengan tingkat a.maka anggaranbiaya overhead pabrik yang dimasukkan ke dalam perhitungan tarip meliputi: Semua biaya overhead langsung departemen saja a. . yang sesungguhnya dicapai dalam periode anggaran Jika digunakankonsep direct costing. c. 18. departemen-departemenyang menikmati manfaatnya Tarip untuk membagikan biay a overhead pabrik langsung departemen d. (specified order to closing method) 17. taksiran dasar pembebanan dalam periode anggaran Membagibiayaoverhead pabrik sesungguhnyadengantingkat kapasitas d. kepada produk yang diolah pada departemen tersebut Tarip untuk membagikan biaya overhead pabrik departemen pembantu b. kapasitas yang direncanakan dalam periode anggaran Mengalikan tarip biya overhead pabrik yang sesungguhnya dengan b. Tarip pembebanan biaya overhead pabrik adalah: Tarip untuk membagikan biaya overhead pabrik departemen produksi a.

22. Metode alokasi kontinyu b. 24.c. Membagi total biaya overhead pabrik yang dianggarkan dengan jumlah sesungguhnya kapasitas yang dicapai Manakah diantara rekening berikut ini yang didebit untuk mencatat biaya overheadpabrik yang dibebankan kepada produk atas dasar tarip yang ditentukan di muka dalarn perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan: a. Biaya Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik d. kapasitas yang dicapai d. Biaya depresiasi c. kemudian alokasi biaya dari departemen pembantu kepada departemen produksi dilakukan dengan cara: a. c. b. Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan Distribusibiaya overhead pabrik sesungguhnyakepada departemen-departemen. tanpa ada jasa departemen pembantu yang dipakai oleh departemen pembantu lainnya. maka metode alokasi biaya overhead departemenpembantu ke departemenproduksi yang sebaiknyadigunakanadalah: Metode aljabar a. Biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk dihitung dengan cara: a. Di antara metode alokasi biaya overhead pabrik departemen pembantu ke departemen produksi yang mempertimbangkan transfer jasa timbal balik antar departemen pembantu adalah: Metode alokasi langsung (direct alocation method) a. Distribusi biaya-biaya dilakukan pada akhirperiode pembukuan. Membagi total biaya overhead pabrik yang dianggarkan dengan dasar pembebanan biaya overhead pabrik Mengalikan tarip biaya overhead pabrik dengan jumlah sesungguhnya c. Metode urutan alokasi yang diatur dan metode aljabar Metode aljabar dan metode alokasi langung (direct allocation method) Jika jasa departemen-departemen pembantu hanya dinikmati oleh semua departemen produksi saja. 25. d. Metode aljabar (algebraic method) Metode urutan alokasi yang diatur (spesified order of closing) c. . Mengalikan tarip biayaoverhead pabrikdengan kapasitas sesungguhnya yang diharapkan dalarn tahun anggaran b. Metode alokasi langsung Metode alokasi urutan alokasi yang diatur d. Metode identifikasi khusus (spesific identification method) d. setelah data-data rnengenai biaya overhead pabrik sebsungguhnya (aktual) dicatat dan dikumpulkan dalarn pembukuan 23. Biaya overhead pabrik sesungguhnya b.

akhir periode RekeningBiaya OverheadPabrik yang Dibebankanbersaldo kredit pada d. akhir periode Rekening Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan bersaldo debit pada c. Dibebankan berlebihan b. d. maka terbukti bahwa overhead pabrik itu: a. . Dibebankan kurang c. Anggaran statik (static budget) a. Pabrik beroperasi pada kapasitas di bawah kapasitas normal b. Bila perkiraan kontrol overhead pabrik mempunyai saldo akhir debit. dan c benar d. Anggaran fleksibel (flexible budget) Anggaran tetap (fmed budget) b. 28. Bersifat variabel Pembebanan lebih biaya overhead pabrik (Overapplied factory overhead) terjadi sebagai akibat: a. Dalam mengadakan analisis selisihbiaya overhead pabrik neto/keseluruhan (net1 overall factory overhead cost variance). Biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi lebih rendah dari biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk d. Rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya bersaldo debit pada akhir periode akuntansi Rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya bersaldo kredit pada b. berarti: a. c. b. akhir periode 27. Distribusibiaya-biaya dilakukanpada awal periode pembukuan dimana data-data mengenai biaya overhead pabrik sesungguhnya dalam memproduksi barang sebelumnya telah diketahui yang dicatat dalam pembukuan Biaya overhead pabrik hanya akan dapat diperhitungkan setelah melihat perbandingan antara yang diperhitungkan dan ditaksir Biaya overhead pabrik tidak akan dilakukan distribusi apabila terdapat lebih diperhitungkan (over applied) yang menimbulkan laba biaya overhead pabrik 26.b. Biaya overhead pabrik sesungguhnya terjadi lebih tinggi dari biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk Jika terjadi pembebanan kurang biaya overhead pabrik (underapplied factory overhead cost) dalam suatu periode akuntansi. 29. diperlukan adanya: a. Biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi lebih rendah dari biaya overhead pabrik yang diperkirakan c. c. Bersifat tetap d.

5 per jam b. 32. Perbedaan antara tarip standar dan tarip aktual dikalikan dengan jumlah jam aktual d. maka selisih tersebut diperlakukan sebagai: Pehgurang atau penambahan rekening harga pokok penjualan a.000 Taksiran jam B Rp495. Apabila selisih terjadi disebabkan k m n a ketidak efisienan pabrik aku kegiatan perusahaan di atas atau di bawah normal. b. DepartemenB menggunakanbiaya tenaga kerjalangsung.d.000 C Rp615. Perbedaan antara jumlah jam standar dan jumlah jam aktual dikalikan dengan perbedaan antara tarip standar dengan tarip aktual Perlakuan selisih biaya overhead pabrik pada akhir tahun tergantung pada penyebab terjadinya penyimpangan tersebut.30. Diketahui data sesungguhnya tzhun 19x2 sebagai berikut: 33. Apabila suatu perusahaan menggunakan tarip pembebanan overhead di muka. penyimpangan anggaran adalah: a. 36 Data untuk tahun 19 X 2: DEPARTEMEN A Anggaran biaya overhead pabrik Rp561. Dibagi rata ke dalam rekening persediaan produk dalam proses d. . Rp 25. Tarip pembebanan biaya overhead pabrik di Departemen A adalah: a. 32 s.000 17.100 mesin2 22.200 14. Rp 41 per jam 110% dari biaya tenaga kerja langsung d.000 Anggaran biaya tenaga kerja langsung Rp 605.000 Rp 450. Kelebihan atau kekurangan pembebanan biaya overhead pabrik tetap c.000 Taksiran jam kerja langsung 20.000 14.700 Departemen A menggunakan jam mesin sebagai dasar untuk membebankan biaya overheadpabrik.dan Departemen C menggunakan jam kerja langsung. Menaikkan harga pokok persediaan produk jadi c.000 Rp 7 12. Manambah rekening harga pokok persediaan produk jadi Data untuk menjawab soal no.5 per jam c.000 15. Rp 27. Kelebihan atau kekurangan pembebanan biaya overhead pabrik variabel b.

Rp 330.000 Rp 876. Data untuk mengerjakan soal no.720 c.800.000 b.000 liter cat @ Rp 6.000 Rp 480.000 d. 37 s. dan Rp600. 10.000 lebih dibebankan b. jumlah biaya overhead pabrik dibebankan di Departemen C pada tahun 19x2 adalah: a.000.000 34. Rp 93.Biaya overhead pabrik tetap: .000 13.200 13.000. Rp 528.000 dan 2.500 kg plastik @ Rp 2.720 c.720 lebih dibebankan d. Bagian pembelian menentukan bahwa diperlukanpembelian 3. dan Departemen C pada tahun 19x2 secara berturut-turut adalah Rp575. Rp 73. Rp 5.d.000 buah boneka untuk persediaan.000 12. 8.000 untuk memproduksi 100.000 satuan boneka.920 24. Manajemenjuga merencanakan memproduksi 5. Dengan data yang sama dengan soal no. Rp 528.000 16. Rp 612. Rp 5.000 lebih dibebankan b. Jumlah selisih biaya overhead pabrik di Departemen A pada 19x2 adalah: a. Rp 693.jumlah selisih biaya overhead pabrik di Departemen B pada tahun 19 X 2 adalah: a. Rp 93.720 lebih dibebankan d. Rp 37. Anggaran biaya overhead pabrik untuk skedul produksi ini adalah: . 38 Perusahaan "MENEEN" memproduksi boneka mainan anak-anak.000 Jam kerja langsung 15.000 Diketahuibiayaoverhead pabrik yang sesungguhnyadikeluarkanoleh Departemen A.800 Jam mesin Jumlah biaya overhead pabrik dibebankan di Departemen B pada tahun 19x2 adalah: a. Departemen B. Rp454. Rp 612.DEPARTEMEN A B C Biaya tenaga kerja langsung Rp 744. Survei pendahuluan dari panitia anggaran perusahaan menunjukkan suatu peramalan penjualan tahunan sebesar 95. Rp 73. Rp 330.000 kurang dibebankan 35.000 b. Rp 37.000 kurang dibebankan Dengan data yang sama dengan soal no.000 buah boneka plastik.000 d.200 lebih dibebankan c. 36. Rp 693.200 lebih dibebankan c.

Rp 6.Biaya overhead variabel: Biaya upah tidak langsung Rp 250 per jamkerja langsung Biaya perlengkapan tak langsung Rp 4 per satuan Biaya pabrik umum (gerleral factory) Rp 50 per jarnkerja langsung . serta memiliki 2 departemen jasa yaitu Xdan Y.900 c.000 .200 b. Rp 588.000 jam Pengwat 1.380.200. Rp 2.Biaya penyusutan bangunan Biaya penyusutan peralatan Biaya pengawas Biaya asuransi . Rp 3. Rp 1. I @ Rp 6.00 per jam @ Rp 6. 47 PT SARI memiliki 3 departemenproduksi yaitu A. Rp 59.900 38. .200jam 37. Rp 19. Biaya overhead pabrik (BOP) sebelum alokasi dan dasar alokasi departemenjasa adalah sebagai berikut: Keterangan Jam Langsung Luas Lantai BOP (RP) 39.700. Data untuk menjawab soal no.000 b. Perusahaanmengpakanmetode alokasialjabaruntuk mengalokasikan biaya departemenjasa. Rp 33.000 c. Rp 2.000 d. B.000 Tarip pembebanan biaya overhead pabrik yang didasarkan pada jam kerja langsung berjumlah: a.080.00 per jam Dari datadiatas.Jam kerja dan taripnya untuk dua operasi adalah: Pencetak plastik 2. Rp500. dan C.200 d.d. BOP Departemen X setelah menerima alokasi dari departemen Y adalah: a.000 b.000. 39 s.600. Biaya departemenjasa X dialokasikan berdasar jam listrik dan Y berdasar luas lantai. anggaranproduksi (manufacturingbudget)perusahaan MENEEN berjumlah: a.

I 42 I 1 43.000 c. dan Y sebesar: a. dan Y sebesar: a.000 c.000 d.000 b. Rp 590.000 Departemen A menerima alokasi dari Departemen X sebesar: a. Rp 440. Rp 200.600. 48 s.000 d. Rp 144. Alokasi biaya overhead pabrik (BOP) departemen jasa menggunakan metode alokasi bertahap yang tidak timbal balik.100. Rp 500. Rp 520. Rp 660. Rp 510. dan Y sebesar: a. Rp 125. Rp 100. I 45.000 Jumlah BOP Departemen B setelah menerima alokasi dari departemen X. Rp 600. Rp 250.000 c.760. Rp 530. Rp 450.000 b.000 d. Rp 1. Rp 1. Rp 600.000 41.000 c. BOP Departemen Y setelah menerima alokasi dari Dpartemen X adalah: a.000 c. 44. Rp 440.000 b.000 Departemen B menerima alokasi dari Departemen X sebesar: a.000 Jumlah BOP Departemen A setelah menerima alokasi dari departemen X. Rp 540. Data untuk menjawab soal no. Z atas dasar jam .d.40. Rp 380.000 b. Rp 500.000 d. Rp 490.000 c.000 b.000 Departemen C menerima alokasi dari Departemen X sebesar: a. Rp 120. Rp 300. Rp 540.000 c. Rp 480.000 Jumlah BOP Departemen C setelah menerima alokasi dari departemen X.000 d. 53 PT Adhi mempunyai 3 departemen produksi dan 3 departemen jasa di dalam pabrik. Rp 280. p p 110.000 a. Rp 1.000 d.000 Total BOP seluruh pabrik setelah ada alokasi dari departemen jasa: b. Rp 580.000 d.000 b. Rp 550.000 c. I 46.000 d.000 b. 47. Rp 540. dengan urutan alokasi pertama Dep.

53. Rp 500. Rp 1.000 5. Rp 10.750.000.000.000 Rp 32. Rp 400. X atas dasar jumlah karyawan.000 20. Rp 800.000 3 .400. Data untuk menjawab soal no. T .000 a.000 3. Up 750.000.800. ketiga Dep. BOP sesungguhnya dan hasil penelitian pabrik pada akhir tahun 1988 adalah sebagai berikut: Departemen BOP Sesungguhnya Rp 7. Rp 750. l 52.400. 50.200.000 d.000 10. Rp 9. Rp 500.000 110.000 9.000 1.250.750. Rp 11.000 Jumlah Karyawan 100 50 150 25 25 50 400 - Luas Lantai 2.d. Rp 400.500 Jam Tenaga Uap 20.000 Departemen C menerima alokasi BOP sesungguhnya dari Departemen Y sebesar: b. Rp 9.000 d.000 b. Rp 11.000 I I 1 I 49. Rp 9.000 c. Rp 500.500 100 .500.000 a. 54 s.000 c. Rp 250.000 .000 BOP Departemen C setelah menerima alokasi dari departemen jasa adalah: a.000 BOP Departemen A setelah menerima alokasi dari departemen jasa adalah: b. Rp 10.000 30.0 12.000 a.500.500. Y atas dasar luas lantai.000 c. keduaDep.000 d. Rp 10.300. BOP Departemen B setelah menerima alokasi dari departemen jasa adalah: b.ooo 2.000.000 Departemen B menerima alokasi BOP Sesungguhnya dari Departemen X sebesar: a.000 d.950.500.500.500.000 7.000 c.000 c. Rp 1.000 a. Rp 9.000 48.200.000 1.tenagauap. Rp 11.300. Rp 8.000 10.000 d.000 20.500. Departemen A menerima alokasiBOP sesungguhnya dari Departemen Z sebesar: b. Rp 1.000 c. 51. Rp 10.000 d.000 b.000 1. 59 F KLM membebankan biaya overhead pabrik dengan tarip yang ditentukan di muka.

Perusahaan tersebut mempunyai 2 departemen produksi dan 2 departerrlen pembantu. Dalarn mengalokasikananggarandepartemenpembantu perusahaan menggunakanmetode aljabar. Anggaran biaya overhead pabrik masing-masing departemen untuk tahun 1990 adalah:

Departemen Anggaran Departemen produksi Rp 12.000.000 -A -B 14.200.000 Departemen pembantu -X 10.000.000 -Y 8.800.000 Dari penelitianpabrikdiperoleh informasimengena pemakaianjasadepartemen pembantu: Departemen jasa Departemen X A 50% B 40% X Y 10% Kapasitas normal: Departemen A: 10.000jam tenaga kerja Departemen B: 12.000 jam tenaga kerja
54.

Departemen Y 40% 40% 20%

-

Departemen X akan menerima alokasi dari departemen Y sebesar: a. Rp 2.000.000 b. Rp 2.400.000 c. Rp 1.760.000 d. Rp 880.000 Departemen Y akan menerima alokasi dari deparetemen X sebesar: b. Rp 2.400.000 a. Rp 2.000.000 c. Rp 1.760.000 d. Rp 880.000 Departemen A menerima alokasi dari departemen X sebesar: b. Rp 6.000.000 a. Rp 5.000.000 c. Rp 4.OQ0.000 d. Rp 4.800.000 Departemen A akan menerima alokasi dari departemen Y sebesar: b. Rp 6.000.000 a. Rp 3.520.000 c. Rp 4.000.000 c. Rp 4.800.000 Departemen B akan menerima alokasi dari departemen X sebesar: a. Rp 5.000.000 b. Rp 6.000.000 c. Rp 4.000.000 d. Rp 4.800.000

55.

56.

57.

58.

59.

Departemen B akan menerima alokasi dari departemen Y sebesar: a. Rp 5.000.000 b. Rp 6.000.000 c. Rp 4.000.000 d. Rp 4.800.000

Data untuk menjawab soal no. 60 s.d. 64
Data untuk 2 departemenjasa sebagai berikut:

DepartemenJasa Budget Bulanan JamJasa Biaya sesungguhnya A Rp 10.000 4.000 Rp 9.300 B 15.000 5.000 13.400 Kedua departemen jasa itu melayani 3 departemen produksi. Data budget, biaya sesungguhnya, dan jam-jam jasa sebagai berikut:

Estimasi Jasa Jasa Sesungguhnya Departemen Produksi A B A B X 1.200 jam 1.800jam 800 jam 2.000 jam Y 1.500 jam 2.000 jam 1.600 jam 1700jam Z 1.300 jam 1.200 jam 900jam l.lp0 jam Budget biaya departemen jasa tersebut masing-masing 60% merupakan biaya tefap.
60.

Tarip jasa A per jam: Rp 2,00 a. C. Rp 1,00 Jasa departemen A yang dibebankan ke departemen produksi: Rp 8.520 a. Rp 8.000 b. c. Rp 7.950 d. Rp 8.250 Jasa departemen B yang dibebankan ke departemen produksi: a. Rp 15.400 b. Rp 14.500 c. Rp '14.600 d. Rp 15.300 Jumlah jasa yang diterima oleh departemen Y dari departemenjasa adalah: a. Rp 9.000 b. Rp 9.500 C. Rp 9.100 d. Rp 5.100 Spending variance departemen B adalah: b. a. Rp 1.630 (mgi) c. Rp 1.360 (rugi) c.

61.

62

63.

64.

Rp 1.630 (laba) Rp 1.360 (laba)

Data untuk menjawab soal no. 65 s.d. 67
Biaya overhead pabrik dianggarkan Biaya overhead pabrik sesungguhnya \ Jam tenaga kerja langsung yang dianggarkan Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya 65. Rp 44.000.000 46.200.000 10.000.000 jam 11.000.000jam

Tarip biaya overhead pabrik adalah: Rp 4,40 per jam tenaga kerja langsung a. b. Rp 4,00 per jam tenaga kerja langsung c. Rp 4,62 per jam tenaga kerja langsung d. Rp 4,20 per jam tenaga kerja langsung Jumlah biaya overhead pabrik yang dibebankan ke produk adalah: a. Rp 46.200.000 b. Rp 44.000.000 c. Rp 48.400.000 d. Rp 50.820.000 Dalarn periode tersebut telah terjadi: Biaya overhead pabrik terlalu rendah dibebankan (underapplied) a. Rp 2.200.000 b. Biaya overhead pabrik terlalu besar dibebankan (overapplied) Rp 2.200.000 c. Biaya overhead pabrik terlalu besar dibebankan (overapplied) Rp 4.400.000 d. Biaya overhead pabrik terlalu rendah dibebankan (underapllied) Rp 4.400.000

66.

67.

Data untuk mengerjakan soal no. 68 s/d 71
Untuk menentukan tarip biaya overhead pabrik, Perusahaan JELITA memberikan datadata sebagai berikut: Perusahaan Jelita menetapkan tarip biaya overhead pabrik Rp500 per jam mesin Budget biaya overhead pabrik untuk 6.000 jam mesin per bulan: Rp 1.600.000 dan untuk 14.000 jam misin: Rp 2.400.000 Biaya overheadpabrik yang sesungguhnyaterjadi bulan Mei 1989adalah sebesar Rp 1.800.000 pada kapasitas sesungguhnya 5.000 jam 68. Berdasarkan data-data tersebut di atas besarnya tarip biaya overhead pabrik variabel adalah; b. Rp 172ljam mesin a. Rp 400ljam mesin c. Rp 1Ooljarn mesin d. Rp 267/jam mesin Sedangkan besamya budget biaya overhead pabrik tetap adalah sebesar: a. Rp 1.000.000 b. Rp 1.032.000 c. Rp 2.400.000 d. Rp 1.602.000

69.

Perusahaan JELITA, dengantarip biaya overhead yang telah dihitung mempunyai kapasitas normal: a. 6.000 jam mesin b. 8.500 jam mesin c. 5.000 jam mesin d. 2.500 jam mesin Besarnya biaya overhead pabrik dibebankan adalah: a Rp 2.500.000 b. Rp 1.250.000 c. Rp 3.000.000 c. Rp 4.250.000

PT Indah menganggarkan overhead pabrik tahun 1990 sebesar Rp1.530.000 untuk Departemen I berdasarkan volume kegiatan sebesar 100.000 jam kerja langsung.Pada akhir I 990perkiraanOverhead Pabrik Departemen I mempunyai saldodebitRp1.620.000.Jumlahjamkerjaakhlal adalah 105.000jam. Kelebihan (kekurangan) pembebanan overhead pabrik tahun 1990 untuk Departemen I adalah: a. Rp 13.500 b. Rp (13.500) c. Rp 90.000 d. Rp (90.000 )
Biaya overhead yang dibebankan adalah: a. Rp 5.150.000 b. Rp 5.300.000 c. Rp 5.500.000 d. Jawaban a, b, dan c benar Anggaran fleksibel pada kapasitas sesungguhnya adalah: a. Rp 5.150.000 b. Rp 5.300.000 c. Rp 5.500.000 d. Jawaban a, b, dan c benar Spending variance sama dengan: a. Rp 150.000 (rugi) b. c. Rp 200.000 (laba) d. Idle Capacity Variance sama dengan: a. Rp 150.000 (laba) b. c. Rp 200.000 (rugi) d.

Rp 150.000 (laba) Jawaban a, b, dan c benar

Rp 200.000 (laba) Jawaban a, b, dan c benar

Jurnal untuk pembebanan biaya overhead adalah: Biaya Overhead Pabrik-Sesungguhnya Rp 5.500.000 Biaya Overhead Pabrik-Dibebankan Biaya Overhead Pabrik-Dibebankan Rp 5.500.000 Biaya Overhead Pabrik-Sesungguhnya Biaya Overhead Pabrik-Dibebankan Rp 5.500.000 Berbagai macarn pengkreditan Jawaban a, b, dan c benarl

Rp 5.500.000 Rp 5.500.000 Rp 5.150.00

Data untuk menjawab soal no. 78 s.d. 79 PT DIAN memiliki kapasitas normal 8.000 jam per bulan. Anggaran fleksibel BOP pada kapasitas 6.000 jam sebesar: Rp34.000 sedangkan pada kapasitas 7.500 jam: Rp 38.500. Pada bulan Januari 1987 besarnya kapasitas sesungguhnya 7.800 jam dan BOP sesungguhnya Rp 37.500.
78. Besarnya selisih anggaran bulan Januari adalah: b. a. Rp 1.000 (laba) c. Rp 3.500 (rugi) d. Besarnya selisih kapasitas bulan Januari adalah: a. Rp 2 0 (rugi) b. c. Rp 2.500 (laba) d.

Rp 1.500 (laba) Rp 2.500 (laba)

79.

Rp 2.000 (rugi) Rp 400 (rugi)

Data untuk menjawab soal no. 80 s.d. 84
Catatan dan analisis biaya overhead pabrik PT NATALIA dalam bulan Januari 1989 menunjukkan: BOP Sesungguhnya Rp2.160.000, Jam mesin sesungguhnya 8.000 jam; Selisihkapasitas RpO; Selisih anggaran Rp160.000 (rugi). Catatan dan analisisBOP bulan Pebruari menunjukkan: Jam mesin sesungguhnya 8.400 jam; Selisih anggaran RpO; Selisih kapasitas Rp60.000 (laba). 80. Dalam bulan Pebruari besarnya BOP Sesungguhnya adalah: a. Rp 2.160.000 b. Rp 2.100.000 c. Rp 2.040.000 d. Rp 2.060.000 Besarnya total tarip BOP per jam mesin adalah: b. a. Rp 150 c. Rp 200 d.

81.

Rp 400 Rp 100

82.

Besarnya tarip BOP variabel per jam mesin adalah: a. Rp 100 b. Rp 250 c. Rp 150 d. Rp 300 Jika BOP Sesungguhnya bulan Maret sebesar Rp1.960.000 dan jam mesin sesungguhnya 7.800 jam, maka total selisih BOP adalah: b. Rp 120.000 (laba) a. Rp 40.000 (laba) c. Rp 10.000 (rugi) d. Rp 30.000 (rugi) Besarnya selisih anggaran untuk bulan Maret adalah: a. Rp 20.000 (rugi) b. Rp 10.000 (laba) c. Rp 30.000 (rugi) d. Rp 20.000 (laba)

83.

84.

Data untuk menjawab soal no. s.d.
Dalam bulan Agustus 1989 selisih anggaran biaya overhead pabrik pada PT POWER sebesar RplOO.OOO (rugi), kapasitas sesungguhnya sebesar 8.000 jam mesin, biaya overhead pabrik sesungguhnya sebesar Rp4.500.000. Dalam bulan September 1989 besamya selisih kapasitas RpO, kapasitas sesungguhnya 10.000jam mesin, biaya overhead pabrik dibebankan Rp5.000.000. Dalam bulan Oktober 1989 besamya kapasitas sesungguhnya 9.000 jam mesin dan BOP sesungguhnya Rp4.450.000. 85. Besarnya total biaya tetap adalah: a. Rp 3.000.000 c. Rp 2.500.000

b. d.

Rp 2.000.oOO Rp 2.600.OOO

86.

Besamya tarip biaya overhead pabrik variabel per jam adalah: a. Rp 200 b. Rp 300 c. Rp 250 d. Rp 240 Besamya tarip biaya overhead pabrik tetap per jam adalah: a. Rp 250 b. Rp 300 C. Rp 200 d. Rp 260 Besamya kapasitas normal dalam jam mesin adalah: a. 12.500 b. 8.000 c. 10.000 d. 5.OOO Besarnya selisih biaya overhead pabrik bulan Oktober 1989 adalah: a. Rp 100.000 (rugi) b. Rp 200.000 (laba) c. Rp 50.000 (laba) d. Rp 150.000 (rugi) Besamya selisih biaya overhead pabrik bulan Oktober 1989 adalah: a. Rp 250.000 (laba) b. Rp 200.000 (rugi) c. Rp 75.000 (laba) d. Rp 150.000 (rug2 Besamya selisih kapasitas biaya overhead pabrik bulan Oktober 1989 adalah: a. Rp 250.000 (rugi) b. Rp 200.000 (rugi) c. Rp 300.000 (laba) d. Rp 150.000 (rugi)

87.

88.

89.

90.

91.

Perlengkapan tidak langsung (100.000 Rp 4. Rp 500.000 800.5% 10.200 jam (pencetak plastik 2.000/3.Umum pabrik (3. 36 s/d 37 37.500 kg x Rp 2.000) 12.Taksiran jam kerja langsung: 3.000 x Rp 4) 400.000 220.200.000 Tetap: .000 Rp 33.000 .000 Proporsi 45.000.Penyusutan peralatan .Penyusutan bangunan .000 Anggaran Biaya Tenaga Kerja: .Pengecat (1.000 6.000 RD 59.080.000 b Tarip pembebanan biaya overhead pabrik berdasarkan jam kerja langsung: .200jam) .000 liter x Rp 6.Biaya pengawas .Cat (2.Upah tidak langsung (3.080.600. Jam Listrik Ke Departemen A 900 B 450 450 C Y 200 Jumlah 2.000 19.200 jam = Rp 1.0% 22.Anggaran biaya overhead pabrik: Rp 6.000 jam x Rp 6.Tarip pembebanan: Rp 6.700.000 Anggaran Biaya Overhead Pabrik: Variabel: .200.000 3.200 jam x Rp 50) 160. d Anggaran Biaya Produksi: Anggaran Biaya Bahan: .000 .720.0% 100.000 .B PENYELESAIAN .000 . dengan dasar alokasi sebagai berikut Alokasi Departemen Jasa.000) Rp 21. atas dasar jam listrik.Biaya asuransi Jumlah Anggaran Biaya Produksi 38.900per jam kerja langsung Pengertian untuk menjawab soal no.700.200 jam x Rp 250)Rp 800.400.0% .080. Pengertian untuk menjawab soal no.000 Rp 1.Plastik (3. 39 s/d 47 Metode alokasi aljabar.Pencetak plastik (2.380.000 jam dan pengecat 1.000) 7.200) Rp 12.200 jam x Rp 6.360.000 .5% 22.

000 + 20% (Rp440.000 (biaya departemenY setelah mendapatkan alokasi Z dari departemen Z) .000 (biaya departemen X setelah mendapatkan alokasi dari departemen Y) Setelah nilai X diperoleh. atas dasar luas lantai.000 Rp 588.000 + 10% Y Y : Rp 440.000 X 0.000 X .000 + Rp88. setelah mendapatkan alokasi biaya dari departemen E dapat dirumuskan sebagai berikut: Biaya Departemen Jasa X sebelum alokasi: Rp 500.000 + 10% (Rp600.000 Alokasian dari Departemen Jasa X: 10% Atau.02 Y X : Rp 588.98 X : Rp600. nilai Y dapat dihitung sebagai berikut: Y : Rp 440. 0 00 Proporsi 10% 50% 20% 20% 100% ' Biaya Departemen Jasa X. Biaya Departemen Jasa Y. setelah mendapatkan alokasi biaya dari departemen X dapat dirumuskan sebagai berikut: Biaya Departemen Jasa Y sebelum alokasi: Rp440. nilai X dapat dihitung sebagai berikut: X : Rp 500. Y : Rp440.000 + 0.000) :Rp 500.000 + 10% Y Dari kedua persamaan di atas.Alokasi Departemen Jasa Y.02 Y : Rp 588.000 Alokasian dari Departemen Jasa Y: 20% Atau.02X 0. Ke Departemen Luas Lantai A 100 B 500 C 200 200 X Jumlah 1.000 + 0.98 X : Rp 588.0.000+ 20% Y X : Rp 500.000 + 10% Y) X : Rp 500.

000 100 l2.000 110.000 900 50% A 125.5%: Rp135.000 kemudian dialokasikan ke departemen A 45%: Rp270.0 100% Rp 500.000 (500. Tabel alokasi DEPARTEMEN PRODUKSI KETERANGAN Biaya sebelum alokasi Alokasi Departemen X Alokasi Departemen Y Biaya setelah alokasi A Rp 300.000.000 (500.5% A 62. ke departemen B 50%: Rp250.5% 275.000 250.000.000 Tabel alokasi DEPARTEMEN PRODUKSI B A Rp 300.000 Rp 545.000 Rp 560.000 450 25% B 25% 125. dan ke departemen X 20%: Rp100.000 DEPARTEMEN JASA C Rp 200.000 (600.0 00 270.000 250.000 Rp 435.000 135.000.000 135.000 Rp 435.000) RP 0 RPO 1 .000 Rp 605.p600.000 dialokasikan sebagai berikut: Alokasi Luas Lantai Proporsi Ke Departemen Rp 55.000) 100. Biaya departemen Y sebesar Rp500.000.000 RP 0 Y Rp440.000 dialokasikan sebagai benkut: Proporsi Alokasi Ke Departemen Jam Listrik Rp 250.000 KETERANGAN Biaya sebelum alokasi Alokasi Departemen X Alokasi Departemen Y Biaya setelah alokasi X Rp 500.000 (440.000 125.0% RD440.000.000) RP 0 DENGAN METODE LANGSUNG Biaya departemen X sebesar Rp500. ke departemen C 22. ke departemen B 22.5%: Rp135.0% 110.000) Y Rp440.000.000 C 200 Jumlah 800 100.000 55.000 B Rp 160.000 Rp 160.OOO.000 60.000 Rp 620.000.000 C 450 Jumlah 180 .000 500 B 25.000 kemudian dialokasikan ke departemen A 10%: Rp50.000 DEPARTEMEN JASA C Rp 200. dan ke departemen Y 10%: Rp60.Biaya departemen X sebesar P.000 100.000 125.000 X Rp 500. ke departemen C 20%: RplOO.000 50.000 275.000 Biaya departemen Y sebesar Rp440.

dengan urutan clan dasar alokasi sebagai berilcut: .000 dialokasikan sebagai berikut: Ke Departemen Jam Liitrik Proporsi Alokasi A 90 0 45.000 (500.5% Rp61.0% Rp225.250 Rp 586.0% Rp500.000) RP 0 (lihat tabel) (lihat tabel) (lihat tabel) (lihat tabel) (lihat tabel) (lihat tabel) (lihat tabel) (lihat tabel) 47.0% Rv490.250 B Rp 160.000 X Rp 500.500 450 C 50.000 1 12.000 225. 48 s/d 53 Metode alokasi bertahap tidak timbal balik.5% 306.5% 112.i DENGAN METODE ALOKASI BERTAI-IAP (alokasi pertama departemenjqsa X) Biaya departemen X sebesar Rp500.5% 112.750 DEPARTEMEN JASA C Rp 200.250 100 A 500 62.500 22.0% 122.0% Jurnlah 2000 100.500 Rp 435.250 B 25.500 C 200 800 100.000 5O.000 Y 200 10.000 L Biaya departemen Y sebesar Rp440.000 1 12. c (lihat tabel) Pengerjaan untuk menjawab sod no.000 dialokasikan sebagai berikut: Proporsi Alokasi Ke Departemen Luas Lantai 12.500 112.m (490.000) RP 0 Y Rp440.500 306.000 Jumlah Tabel alokasi DEPARTEMEN PRODUKSI KETERANGAN Biaya sebelum alokasi Alokasi Departemen X Alokasi Departemen Y Biaya setelah alokasi A Rp 300.000 B 450 22.250 Rp 578.000 61.

000 11.000.000.000 500.000 (5.000.000 DEP.500. B.000 1.000 Rp3.000 750.500.000 2.000.500.000) < ' 10. Y A.500.000 Alokasi biaya Departemen X: Ke Departemen Jumlah karyawan A 100 B 50 C 150 Jurnlah 300 Tabel alokasi 20% 100% Proporsi 1001300 501300 1501300 3001300 - KETERANGAN Biaya sebelum alokasi Alokasi Departemen Z Alokasi Departemen Y Alokasi Departemen X Biaya setelah alokasi DEP.500.000 1.000 (2.X 1.000 Y 20.000 B 3.000 750.000 1. 500.000 1.000 Alokasi Rp1.000 500.000 DEP.000) DEP.000 Jurnlah 100.2.000 Ke Departemen Luas lantai A 2.000 Ke Departemen Tenaga uap A 20.000.000 10.000.000 500.000. B.000 750.300.000.000 500.000 500.000.000 1.000 C 3.Z 5.000 1.000 1. B.000 C 10.500.000 Jumlah 10.250.000 DEP.950.000 Alokasi biaya Departemen Y: Biaya departemen Y Biaya alokasian dari Z Jumlah 20% 100% Rp Q 1.500.800.500.000.000 Alokasi biaya Departemen Z: Rp5.000 X 20.000.Urutan Alokasi ke 1 ke 2 ke 3 Dari Departemen Z Y X Ke Departemen A.C 7.B 9.000 1.000 B 30.000 Rp 5.500.000 DEP.000 500.000 (3. C Proporsi 20% 30% 10% 20% Dasar Alokasi Tenaga uap Luas lantai Jumlah karyawan Alokasi Rp 1. X. C.000 750.000) 1.500.000 - 0 0 0 .000 Proporsi 20% 30% 30% Alokasi Rp. C.000.000 1.om X 2.500.X A.A 7.000 Rp .200.000 500.000.Y 1.000.000 1.000.

5 1. dapat diperoleh persamaan sebagai berikut: X :Rp 10.000 + 10% X Dari kedua persamaan di atas.000 1.200.000 Setelah nilai X diketahui.000 DEPARTEMEN PEMBANTU KETERANGAN Biaya sebelum alokasi Alokasi Departemen X Alokasi Departemen Y Biaya setelah alokasi X Rp 10.000) Y : Rp 10.000.000 1.000.000 Tabel alokasi: DEPARTEMEN PRODUKSI B A Rp12.500.000 (lO.000.000.000.800.000 4. 54 s/d 59 Dengan cara yang sama dengan soal. 56.200.800. b (lihat contoh) b (lihat contoh) Biaya departemen X Biaya alokasian dari Z Biaya alokasian dari Y Jumlah e (lihat tabel) b (lihat tabel) a (lihat tabel) d (lihat tabel) Rp 1. c .000 Rp 3.000.800.000 + 10%X) X : Rp 12. 52.000 Rp 23.48.000.000.000. Pengerjaan untuk menjawab soal no.000 Rp 0 Y Rp 8.OOO 500.000 (12.000 50.000. 57.000 Rp 22.000.000 + 10% (12.800.000) 2.000 4.ooO) Rp 0 54. 53.000 Rp 14.000 4. a e b (lihat tabel) (lihat tabel) (lihat tabel) (lihat tabel) 55. 49.000. nilai X dapat dihitung sebagai berikut: X : Rp 10.~.000.000.000 + 20% Y Y : Rp 8.000.000.000 6. nilai Y dapat dihitung sebagai berikut: Y : Rp 8.000 + 20% (Rp8.800.

000 Tarip departemen jasa B : 5.000 jam =Rp1.000 Tarip total departemen jasa A : = Rp 2.000 jam Tarip tersebut bisa dirinci menjadi: (40% x Rp 10.300 jam Jumlah jasa dibebankan: 3.250 .5 perjam = Rp1.000) Tarip tetap 5.2perjam =Rp 3.000 jam (60% x Rp 10. d Rp 10. 60 s/d 64 60.000) Tarip variabel 5. 59.000 jam Tarip tersebut bisa d i i c i menjadi: (40% x Rp 15.600jarn z = 9oojam Jumlah = 3.000 jam (60% x Rp 15.Operjam =Rp 1.5 = Rp8.8 perjam =Rp1. d c (lihat tabel) (lihat tabel) Pengertian untuk menjawab soal no.58.000) Tarip tetap 4.300 jam x Rp2.000 jam Rp15.5 per jam 4.000) Tarip variabel 4. d Jasa departemen A yang dibebankan ke departemen produksi: Jam sesungguhnya departemen A dinikrnati oleh: X = 800 jam Departemen produksi Y = 1.O per jam 61.

2) 5. d Spending variance (selisih anggaran) departemen B: BOP sesungguhnya Rp 13. 67.000.000 b Selisih pembebanan BOP: BOP sesungguhnya Rp 46.200.000jam x Rp 490 48.000 = Rp 4.100 64.8)Rp 9.100 jam Jumlah = 4.000 Selisih total RD2.800 jam x Rp1.000.40 per jam kerja langsung Tarip total : 10. 65 s/d 67 65.360 (laba) Selisih anggaran Pengertian untuk menjawab soal no.400 c Jumlah jasa yang diterima departemen Y dari departemen jasa: - Dari departemen A: 1.000 jam x Rpl.5 = Rp 4.62.400 BOP dianggarkan pada jam sesungguhnya: Tetap : (5.O = Rp 14.000 Variabel: (4. a Tarip pembebanan BOP dihitung sebagai berikut: Rp44.40 = Rp 48.000jam x Rp 4.700 jam x Rp 3.000 jam Y = 1.760 Rv 1. e Jasa departemen B yang dibebankan ke departemen produksi: Jam sesungguhnya departemen B dinikrnati oleh: Departemenproduksi X 2. .000 BOP dibebankan: 11.760 14.800 jam Jumlah jasa dibebankan: 4.700jam z = 1. 63.800 jam x Rp 3.400.O = 5.100 Jumlah RD 9.000.000 Dari departemen B: 1.000jam c Jumlah BOP dibebankan: 11.000 (lebih dibebankanbaba) 66.600 jam x Rp 2.400.200.

BOP dep. I debit) Rp 1.000 BOP dibebankan: (105. a Jurnlah BOPdibebankanpada bulanmei 1989:Rp 500x 5.400.000.000 Rp 800.000jam 6.000 Taripvariabel Tarip tetap 69.000 jam BOP sesungguhnya (rek.400.000 jam Rp 500 -.000 jam Rp800.000jam x Rp100) 1.000 BOP tetap RD 1.Rp100 = Rp 400 per jam mesin a Anggaran BOP tetap: BOP Dianggarkan pada kapasitas 14.000 berjumlah Rp 2. c Tarip BOP variabel: Anggaran BOP pada kapasitas Anggaran BOP pada kapasitas Selisih 14.000 (-) BOP variabel: (14.000jam x Rp15.30) 1.000 Kapasitas normal: RP 400 = 2.500 Selisih total Rp 13.606.000jam 8.000 = Rp15. 68 s/d 72 68. 71.000jam Rp 2.30 per jam mesin 100.500. Tarip total -g dibebankan) .620.000 d Jumlah kapasita's normal: Rp 1.Pengertian untuk menjawab soal no.600.000 b Tarip pernbebanan BOP: Rp1S30. : : = Rpl00 perjam mesin 8.400.000.000jam =Rp2.500 per jam mesin 70.500 (rugil 72.000 berjumlah 1.

100. Tarip total: Rp3+Rp2=Rp5perjam = Rp 2 per jam = Rp 3 per jam Jumlah BOP dibebankan: 1. Dengan data yang ada pada soal tersebut.200.500. b Anggaran BOP pada kapasitas sesungguhnya: Tetap : (1.100.000.500. 78 s/d 79 Untuk dapat menganalisis selisih biaya overhead.I Pengertian untuk menjawab soal no.200. Pengertian untuk menjawab soal no.000 (laba) 76.000 jam x Rp 3) Variabel: (1. hams diketahui dahulu tarip pembebanan baik tarip tetap maupun tarip variabel.000 2.000 Rp 300.000 Rp 5. Rp 5.000 77.000jam x Rp 5 = Rp 5. c Rp 3.200.000 74.000 Tarip tetap: 1.500.000 Rp 5. 73 s/d 77 73.000 75.000jam Rp 2.000 (laba) Rp 5.000.000jam.000 5.000 jam x Rp 2) Jumlah b Spending variance (selisih anggaran): BOP sesungguhnya BOP dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya Selisih anggaran b Idle capacity variance (selisih kapasitas): BOP dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya BOP dibebankan Selisih kapasitas e Barang Dalam Proses Biaya Overhead Dibebankan Rp 3. Rp 5.000.500.200.000.000.000 RD 50.000 Tarip Variabel: 1. tarip pembebanan dihitung sebagai berikut: .000 5.000.150.

0 R w 4.800 jam x Rp3) 23.500jam Setelah tarip BOP variabel diketahui.000 Anggaran BOP pada kapasitas 6.500 22.400 39.500 Anggaram BOP variabel(7.500 BOP sesungguhnya bulan Januari BOP dibebankan bulan Januari: (7.000 Tetap: (8. e Selisih tersebut kemudian dianalisis menjadi selisih anggaran dan selisih kapasitas: Selisih anggaran: d p 37. sehingga tarip biaya variabel per jam dapat dihitung sebagai berikut: Rp4.500 jam Rp 38.Anggaran BOP pada kapasitas 7. Anggaran BOP total pada kapasitas 7.800 x Rp5) 39.000 w Jumlah BOP tetap tersebut me~upakanhasil dari perkalian antara tarip tetap dengan kapasitas normal.900 (laba) .500 Perbedaanjumlah anggaran BOPpada kedua tingkat kapasitas tersebut diakibatkan oleh elemen biaya overhead variabel. oleh karena itu tarip pembebanan BOP tetap dapat dihitung sebagai berikut: Rp 16.500 34.000 Tarip Tetap: = Rp2 per jam 1 I 8.500 berjumlah Rp 38.000 jam Tarip total: Rp 3 + Rp 2 = Rp 5 Setelah diperoleh tarip pembebanan baik tetap maupun variabel.000 RD 1.400 Selisih anggaran Ru 1.000 berjumlah Selisih 150 .500 Tarip Variabel: = Rp 3 per jam 1. Selisih total BOP merupakan perbedaan antara BOP sesungguhnya dengan BOP dibebankan: Rp 37.000 jam x Rp2) Variabel: (7. jumlah BOP tetap total dapat dihitung dengan mengambil salah satu BOP dianggarkan di atas.500 x Rp3) Anggaran BOP tetap R 16.500 BOP sesungguhnya BOP dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya: Rp16. baru kemudian bisa menganalisis selisih.500 (laba) Selisih total 78.

000 Selisih anggaran (-) BOP Dianggarkan pada Kapasitas Sesungguhnya Selisih kapasitas (-) BOP Dibebankan Rp 2.000.000 .000 jam RP 0 Rp 160. 80 sld 84 Data bulan Januari 1989: BOP sesungguhnya Jam mesin sesungguhnya Selisih kapasitas Selisih anggaran Data bulan Februari 1989: Jam mesin sesungguhnya Selisih kapasitas Selisih anggaran Rp 2. harus dipahami urutan analisis selisih BOP sebagai berikut: BOP Sesungguhnya (-) BOP Dianggarkan pada Kapasitas Sesungguhnya (-) BOP Dibebankan Selisih Anggaran Selisih kapasitas Sehingga untuk menjawab pertanyaan soal ini.800 jam x Rp 5) Selisih kapasitas Rp 39.160.400 39. dengan cara sebagai berikut: Analisis BOP bulan Januari: BOP Sesungguhnya Rp 2. harus diketahui jumlah salah satu dari ketiga jenis BOP di atas. maka harus dihitung terlebih dahulu dengan menggunakan data bulan Januari.000 (rugi) 8. Jumlah BOP yang dapat dihitung jumlahnya dengan data yang ada adalah BOP dibebankan pada bulan Februari.Selisih kapasitas: BOP dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya BOP dibebankan: (7.000 8. Oleh karena jumlah tarip belum diketahui.160.400 jam RP 0 Rp 60.000 Rv 400(rugi) Pengertian untuk menjawab soal no. BOP dibebankan adalah merupakan perkalian antara tarip pembebanan dengan jam sesunggunya.000 (laba) Untuk dapat menjawab pertanyaan.

000 Untuk lebih jelasnya disajikan sebagai berikut: BOP Sesungguhnya Selisih anggaran Rp 0 (-) BOP Dianggarkan pada Kapasitas Selisih kapasitas Rp 60.000jam dan Februari 8. BOP sesungguhnyabulan Februari dihitung sebagai berikut: BOP Dibebankan: (8.000 (laba) (-) BOP Dibebankan Rp 2. Anggaran BOP pada kap'asitas Rnggaran BOP pada kapasitas Selisih 8.000 berjumlah berjumlah Rp 2. sehingga tarip variabel dapat dihitung sebagai berikut: +r 82.000 (-) Selisih kapasitas (laba) 60.000 RD 40. diperoleh jumlah BOP dianggarakanpada dua tingkat kapasitas (Januari 8.000 81.000 jam c 80. e Lihat jawaban di atas.100.400 jam x Rp 250) Rp 2. c Selisih BOP bulan Maret: BOP Sesungguhnya .400).000.000 Tarip variabel : Tarip tetap : = RplOO per jam 400 jam Rp250 -Rp100 = Rp 150 per jam 83.100. Setelah tarip pembebanan diketahui.000 2.000 BOP Sesungguhnya Rp 2.040.040. a Dari analisis yang dilakukan untuk menjawab sod no.400 jam 8.000 Tarip : = Rp 250 per jam 8.000.000 jam 400 jam Rp 40.Tarip pembebanan BOP kemudian dihitung sebagai berikut: Rp 2. 89. Perbedaan jumlah BOP pada kedua tingkat kapasitas tersebut diakibatkan oleh elemen biaya variabel.

000 (-) BOP variabel: (8.000 .000 jam mesin.200.000 Biaya Overhead dianggarkan : Tetap : (8.000 (laba) Pengertian untuk menjawab soal no.200.000 jam mesin berjumlah RpO.000 (rugi) 8.000 Selisih anggaran Rp 20.500.000 Kapasitas Normal: = 8.000 Rp 1. Hasil pada analisis BOP pada bulan Januari diketahui selisih kapasitas pada kapasitas sesungguhnya 8.{ (KS x TT) + (KS x TV) ] = (KN x TT) . diperlukan data tentang jumlah kapasitas normal.000 jam Rp150 Biaya Overhead sesungguhnya Rp 1.BOP Dibebankan: (7.006 jam 800.960. Hal tersebut hanya nlungkin terjadi apabila kapasitas normal sarna dengan kapasitas sesungguhnya.980.800 jam x Rp 100) 780. sehingga dapat disimpulkan bahwa jumlah kapasitas nonnal adalah 8.050.000 10.000 jam mesin Rp 4.000. d Untuk dapat menghitung selisih anggaran.000 Variabel : (7.000 BOP Dianggarkan pada kapasitas 8.000 Rp 1. 85 s/d 91 Data bulan Agustus: Selisih anggaran Kapasitas sesungguhnya BOP sesungguhnya Data bulan September: Rp 100.000 jam x Rp 100) BOP Cetap * Ru 1.800 jam x Rp250) Selisih total KP 1.200.(KS .TT) = (KN .000 jam x Rp 150) Rp 1. Logika tersebut diturunkan dari rumus perhitungan selisih kapasitas sebagai berilcut:' Selisih kapasitas = { (KN x TT) + (KS x TV) ) .KS) TT Keterangan: = Kapasitas Normal KN = Kapasitas Sesungguhnya KS TT = Tarip Tetap = Tarip Variabel TV Atau dapat juga dihitung dengan cara sebagai berikut: Rp 2.000 (laha) 84.

000jam (-) BOP variabel: (10. c Rp 5.000.000 9.000 Anggaran BOP pada kapasitas Anggaran BOP pada kapasitas 8 0 0jam berjumlah 4.000 BOP dianggarkan pada kapasitas 10.000.000 (-) Selisih anggaran (rugi) 100.000 BOP dianggarkan pada kapasitas 8.000 jam RD 600.000 Rp 4.000 jam x Rp300) BOP tetap b Lihat no.000 jam mesin Rp 4.000.400.000.000 Taripvariabel : = Rp 300 per jam 2.400.0 Selisih 2.000.000 Tarip total : Tarip tetap = Rp 500 per jam 10. 87. b Jumlah BOP tetap dihitung sebagai berikut: BOP Dianggarkan pada kapasitas 10.000 3. 94.500.000 jam : Rp500 .Selisih kapasitas Kapasitas sesungguhnya BOP dibebankan Data bulan Oktober: Kapasitas sesungguhnya BOP sesungguhnya RP 0 10. Tarip BOP tetap: Rp 5.Rp300 = Rp200 . dihitung sebagai berikut: Bulan Agustus: BOP sesungguhnya Rp 4.000.000 Rp 2.000 Jumlah BOP dianggarkan pada dua tingkat kapasitas.000 jam mesin Rp 5.000jam Tarip BOP variabel: 10.000jam berjumlah Rp 5.000.000.000 jam 85.000 jam Bulan September: Rp 5.000 86.000 .000 BOP dibebankan (+/-) Selisih kapasitas 0 Rp 5.450.000 Rp 600.

500.700.450.000 jam x Rp500) Selisih total 91. Karena selisih kapasitas pada bulan September RpO.000 4.000 4. maka kapasitas normal sama dengan kapasitas sesungguhnya bulan tersebut. a Selisih anggaran pada bulan Oktober: BOP sesungguhnya Rp 4.000 Rp 250.700.000 Kapasitas normal: Rp 200 Atau.000.000 jam 89.450.000 jam x Rp500) Selisih total Rp 4.000 jam x Rp 300) 2.700.000 (laba) Selisih anggaran b Selisih kapasitas bulan Oktober: BOP dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya BOP dibebankan: (9. c Selisih BOP bulan Oktober: BOP sesungguhnya BOP dibebankan: (9.000.000 (laba) 90. yaitu 10.000 BOP dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya Tetap : (10.500.000jam.000 (rugi) . Rp 4.000 4.000 Rv 200.000 Rv 50.000 jam x Rp 200)Rp 2.88.000 Variabel: (9. c Besarnya kapasitas normal: Rp 2. = 10.

pupuk. bumbu masak 3. d. dengan cara membagi jumlah biaya produksi yang dikeluarkan untuk pesanan tertentu dengan jumlah satuan produk yang dihasikan untuk memenuhi pesanan yang bersangkutan Metode harga pokok pesanan digunakan oleh perusahaan-perusahaan c. yang berproduksi masa Manakah di antara pemyataan yang bersangkutan dengan metode harga pokok pesanan berikut ini yang SALAH? Metode harga pokok pesanan digunakan untuk mengumpulkan biaya a.BAB VIII METODE HARGA POK. dok kapal Metode harga pokok pesanan digunakan dalam perusahaan semen.OK PESANAN A. SOAL-SOAL METODE HARGA POKOK PESANAN 1. kapal terbang. Metode harga pokok proses menghitung harga pokok produk pada saat b. produksi dalam perusahaan yang produksinya berdasar pesanan yang diterima dari l u x atau bagian dalam perusahaan sendiri Metode harga pokok pesanan menghitung biaya produksi per satuan b. pesanan selesai diproduksi c. dengan cara membagi total biaya selama satu periode dengan jumlah produk yang dihasilkan di dalam periode yang bersangkutan. Manakah diantara pemyataan berikut ini yang BENAR? Metode harga pokok pesanan menghitung harga pokok per satuan a. metode harga pokok pesanan menghendaki dipisahkannya biaya produksi ke dalam biaya langsung dan biaya tidak langsung dalam hubungannya dengan produk Metode harga pokok pesanan cocok digunakan di dalarn perusahaan d. Untuk keperluan penentuan harga pokok produk. Apa prosedur akumuiasi biaya yang paling baik digunakanjika banyak pesanan yang masing-masing berbeda dalam spesifikasi produk hams diproduksi? . percetakan.

c. Jawaban a dan b benar Kartu Harga Pokok Pesanan (Job Cost Sheet) digunakan untuk: a. Kartu persediaan c. Perusahaan pupuk urea b. Job order Actual b. dan c benar . Job cost sheet Manakah diantara buku pembantu berikut ini yang merupakan rincian rekening kontrol Barang Dalam Proses (Work in Process)? b. b. b. c. Biaya konversi yang untuk pesanan yang bersangkutan c. Perusahaan percetakan Dalam job order costing.a. Barang yang sedang diproses dan barang yang dipesan tapi belum diproses d. Jawaban a dan b benar Dalam metode harga pokok pesanan. d. Kartu harga pokok d. Kartu piutang Dalam sistem kalkulasibiaya pesanan. jumlah biaya suatu pesanan sama dengan: Bahan baku yang digunakan a. b. Hanya barang yang sedang diproses saja c. Mengumpulkanbiaya bahan. karena masih memerlukan test kualitas b. Jawaban a. Perusahaan penyulingan rninyak d. Barang yang aktif diproses dan barang jadi yang belum dipindah ke gudang barang jadi. meliputi: a. Kartu biaya a. Process Standard Manakah diantaraperusahaan berikut ini yang kemungkinan besar menggunakan metode harga pokok pesanan dalam pengumpulan biaya produksinya? Perusahaan semen a. dokumen dasar untuk mengakumulasi biaya untuk setiap order adalah: Faktur a. Kartu pembantu rekening Barang Dalam Proses c. Surat pemesanan (pembelian) c. yang termasuk persediaan dalam proses akhir periode. upah langsung. Sheet permintaan bahan d. Biaya tenaga langsung d.dan biaya overhead pabrik untuk setiap pesanan b.

10.

I

Direct labor ticket digunakan untuk memberi informasi tentang: Besarnya biaya upah tiap pesanan a. Besarnya biaya upah dalam rekening Barang Dalam Proses secara b. keseluruhan Biaya upah yang dimasukkan ke dalarn kartu harga pokok dan yang tidak c. dimasukkan ke dalam kartu harga pokok Jawaban a, b, dan c benar d.

1 1.

Manakah diantara rekening berikut ini yang didebit untuk mencatat upah tenaga kerja tak langsung dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan? a. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Upah Tenaga Kerja Tak Langsung b. c. Barang Dalam Proses Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan d. Dalam metode harga pokok pesanan, untuk menjurnal distribusi gaji manajer pabrik didebit rekening: Barang Dalam Proses Biaya Tenaga Kerja a. Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung b. c. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya d. Biaya Gaji dan Upah Dalam kalkulasi biaya pekerjaan pesanan, pajak penghasilan pegawai ditanggung dan dibayar oleh perusahaan atas karyawan pabrik sebaiknya diperhitungkan sebagai: a. Biaya tenaga kerja langsung b. Overhead Pabrik Biaya tenaga kerja tidak langsung c. d. Biaya administratif Pernakaian biaya tenaga kerja langsung untuk mengerjakan pesanan no. 456 di dalam perusahaan yang menggunakan metode harga pokok pesanan dicatat dengan mendebit rekening: a. Biaya Tenaga Kerja Langsung b. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Langsung c. Biaya Overhead Pabrik Yang Dibebankan d.

12.
l I

13.

14.

I

15.

1

Pada metode harga pokok pesanan, biaya overhead pabrik dibebankan pada pesanan atas dasar tarip ditentukan di muka karena: Pada metode harga pokok pesanan informasi biaya overhead pabrik a. sesungguhnya tidak penting

b.

c. d. 16.

Biaya overhead pabrik yang sesungguhnyabaru bisa diketahuibesarnya pada akhir periode, sedangkan harga pokok pesanan harus diketahui pada saat pesanan selesai, tanpa menunggu sampai pada akhir period Sudah diatur demikian oleh GAAP Jawaban a, b, dan c benar

Dalam perusahaan yang menggunakan harga pokok pesanan, pembebanan biaya overhead pabrik produk adalah atas dasar tarip yang ditentukan di muka. Alasan pembebanan tersebut adalah: a. Pembebananbiaya overheadpabrik atas dasar biaya yang sesungguhnya seringkali mengakibatkan berubah harga pokok persatuan produk yang dihasilkan dari bulan yang satu ke bulan yang lain Manajemen memerlukan informasiharga pokok produk per satuan pada b. saat pesanan selesai dikerjakan Berubah-ubahnya tingkat kegiatan produksi dari bulan ke bulan dan c. adanya perubahan tingkat efisiensi produksi Jawaban a, b, dan c benar d. Dalam perusahaan yang produksinyaberdasarkanpesanan, biaya overhead yang dibebankan kepada produk dihitung sebagai berikut: Mengalikan tarip biaya overhead pabrik yang ditentukan di muka a. dengan tingkat kapasitas yang direncanakan dalam periode yang bersangku tan Mengalikan tarip biaya overhead pabrik yang ditentukan di muka b. dengan tingkat kapasitasyang sesungguhnyadipakai untuk mengerjakan pesanan tertentu Membagi total biaya overheadpabrik yang dianggarkandengan taksiran c. dasar pembebanan dalam periode anggaran Mengalikan tarip biaya overhead pabrik yang ditentukan di muka d. dengan tingkat kapasitas teoritis yang diperkirakan dalam periode yang bersangkutan

18.

Manakah diantara rekening berikut ini yang didebit untuk mencatat biaya overheadpabrik yang dibebankankepada produk atas dasar tarip yang ditentukan di muka dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan? a. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Upah Tenaga Kerja Tak Langsung b. Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik c. Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan d. Dalam suatu Job order cost system yang menggunakan taripfactory overhead yang ditentukan lebih dahulu, bahan tidak langsung biasanya semula dicatat sebagai suatu kenaikan dalam:

19.

a. b. c. d.

Work in process control Factory overhead applied Factory overhead control Stores control

20.

Manakah diantara rekening berikut ini yang didebit untuk mencatat biaya depresiasi mesin dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan? a. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya b. Biaya Depresiasi c. Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan d. Untuk mencatat biaya depresiasi mesin pada metode harga pokok pesanan ayat jurnalnya adalah: a. Barang Dalam Proses xx Akumulasi Depresiasi Mesin xx b. Barang dalam proses-Overhead xx Biaya Overhead Pabrik-Dibebankan xx c. Biaya Overhead Pabrik-Sesungguhnya xx Akumulasi Depresiasi Mesin xx d. Jawaban a, b, dan c benar Dalam rangka akumulasibiayajob order,makajumlah rupiah yang terlibatdalam pengalihan persediaan barang dari rekening Barang Dalam Proses kepada rekening BarangJadi ialah hasil penjumlahan dari biaya yang dibebankankepada setiap job, Yang dimulai prosesnya selama masa yang bersangkutan a. Yang berada dalam proses selarna masa yang bersangkutan b. Yang diselesaikan dan yang terjual selama masa yang bersangkutan c. Yang diselesaikan dalam kurun masa yang bersangkutan d.

2 1.

23.

Jika suatu pesanan selesai dikerjakan, total biaya produksi yang dicatat dalam kartu harga pokok produk dicatat dengan jumal: a. Barang Dalam Proses xx Persediaan Produk Jadi xx b. Persediaan Produk Jadi xx Barang Dalam Proses xx c. Persediaan Produk Jadi xx Barang Dalam Proses xx d. Harga Pokok Penjualan xx Barang Dalam Proses xx

Jika pembebanan kurang biaya overhead pabrik dialokasikan ke persediaan dan harga pokok penjualan, maka ha1 itu akan: a. Menambah harga pokok produksi b. Menambah harga pokok produksi yang dijual c. Mengurangi harga pokok produksi Mengurangi harga pokok produk yang dijual d. Jika sisa bahan (scrap materials) diperlakukan sebagai pengurang biaya bahan baku dalam pesanan di mana sisa bahan tersebut terjadi, maka jurnal yang dibuat pada saat sisa bahan tersebut dijual adalah: a. Debit: Kas; Kredit: Hasil Penjualan Sisa bahan Debit: Kas; Kredit: Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya b. Debit: Kas; Kredit: Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku c. Debit: Kas; Kredit: Persediaan Bahan Baku d. Produk hilang dalam proses yang biasa terjadi,pada metode harga pokok pesanan akan berakibat: Naiknya harga pokok produk pesanan yang bersangkutan a. Naiknya biaya produksi pesanan yang bersangkutan b. Diperhitungkan harga pokok produk yang hilang tersebut dalam tarip c. biaya overhead pabrik d. Turunnya harga jual produk Perbedaan antara produk cacat dan produk rusak adalah: Produk rusak dapat diperbaiki, produk cacat tidak bisa diperbaiki a. Produk rusak dapat dijual, produk cacat tidak dapat dijual b. Produk cacat dapat dijual, produk rusak tidak dapat dijual c. Terjadinyaprodukrusak normal, terjadinyaproduk cacat karenakesalahan d. Apabila terjadi produkrusak yang disebabkanoleh karena sulitnya suatu pesanan dan produk rusak tersebut laku dijual, maka hasil penjualan produk rusak tersebut sebaiknya diperlakukan sebagai: Penamball harga pokok produk yang baik untuk pesanan yang a. bersangkutan b. Sebagai penghasilan diluar usaha Sebagai pengurang biaya overhead pabrik yang sesungguhnya c. Sebagaipengurang biayaoverhead pabrikdepartemen yang bersangkutan d. Sebuah perusahaan memakai metode harga pokok pesanan. Pada tahun 19A perusahaan tersebut mengerjakan pesanan yang sangat spesifik sehingga sebagian rusak. Harga pokok produk rusak tersebut sebaiknya diperlakukan: a. Sebagai kerugian Sebagai elemen overhead pabrik sesungguhnya b.

C.

d.,

Ditambahkan ke harga pokok produk yang baik untuk pesanan yang bersangkutan Ditambahkan ke harga pokok produk yang dihasilkan selama periode yang bersangkutan

30.

PT. X menggunakan metode harga pokok pesanan dalam pengumpulan biaya produksinya. Biaya overhead pabrik untuk tahun 19x1 diperkirakan sebesar Rp50.000 pada tingkat kapasitas yang direncanakan sebanyak 20.000 jam tenaga kerja langsung. Dalam bulan Mei 19x1 pesanan no. 46 1 telah selesai dikerjakan. Biaya bahan baku untuk pesanan tersebut berjumlah Rp4.000 dan biaya tenaga kerja langsung berjumlah Rp1.500 dengan tarip Rp5 per jam. Pada akhir tahun ternyata perusahaan telah beroperasi 24.000jam tenaga kerja langsung dan biay a overhead pabrik yang sesungguhnyadikeluarkan sebesarRp54.000. Jika pesanan no. 461 terdiri dari 100 unit produk, maka harga pokok per unit produk dalam pesanan tersebut adalah:

Data untuk menjawab soal no. 31 s.d. 33 Pembebanan Biaya Overhead Ke Pesanan, Selisih Pembebanan, dan Alokasi Selisih
Perusahaan A menggunakan metode harga pokok pesanan dalam menga~umulasikan biaya produksinya, Biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk dengan tarip yang ditentukan di muka atas dasar jam tenaga kerja langsung. Perusahaan menggunakan kapasitas produksi sesungguhnya yang diharapkan dalam menganggarkan biaya overhead pabrik. Dalam tahun 19x2 kapasitas sesungguhnya yang diharapkan diperkirakan 50.000 jam tenaga kerja langsung. Biaya overhead pabrik pada kapasitas tersebut dianggarkan sebesar Rp300.000. Catatan akuntansi perusahaan pada akhir tahun memperlihatkan data biaya dan data operasi berikut ini: Jam tenaga kerja langsung Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik sesungguhnya Harga pokok persediaan bahan baku Harga pokok persediaan produk dalam proses Harga pokok persediaan produk jadi Harga pokok produk yang terjual 3 1. 40.000 jam Rp 365.000 290.000 14.000 50.000 150.000 800.OOO

Biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk dalam tahun 19x2 adalah: a. Rp 240.000 b. Rp 290.000 C. RP - 6 d. Rp 20.000

32.

Pembebanan kurang biaya overhead pabrik dalam tahun 19x2 adalah: a. Rp 270.000 b. Rp 290.000 c. RP 6 d. Rp 50.000 Jika pernbebanan kurang biaya overhead pabnk dialokasikan kepada persediaan dan harga pokok penjualan, maka harga pokok produk yang dijual sesungguhnya tahun 19x2 adalah: a. Rp 840.000 b. Rp 784.000 c. Rp 816.000 d. Rp 820.000

33.

Data untuk menjawab soal no. 34 s.d 35 Pembebanan Biaya Overhead Pabrik dan Selisih Pembebanan
Perusahaan A memproduksiproduknya berdasarkan pesanan, semua pesanan diproduksi berdasarkan spesifikasi dari pemesan, dan biaya produksi dikumpulkan menurut pesanan yang diterima. Dalam tahun 19x2 perusahaan menetapkan biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atas dasar tarip sebesar 150% dari biaya tenaga kerja langsung. Catatan akuntansi perusahaan pada akhir tahun memperlihatkan data biaya dan data operasi berikut ini: 1.475 jam Jam tenaga kerja langsung Rp 4.00Oljam Tarip biaya tenaga kerja langsung Rp 9.000.000 Biaya overhead pabrik sesungguhnya 34. Biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada pesanan dalam tahun 19x2 adalah: a. Rp 8.850.000 b. Rp 13.500.000 c. Rp 150.000 d. Rp 6.000 Pembebanan kurang biaya overhead pabrik dalarn tahun 19x2 adalah: a. Rp 3.100.000 b. Rp 4.500.000 c. Rp 150.000 d. Rp 6.000

35.

Data untuk menjawab soal no. 36 s.d. 42 Pembebanan Biaya Overhead Pabrik, Analisis Selisih, Perhitungan Harga Pokok, dan Laba Kotor
Pada bulan Nopember 1984 PT Cinta Nusa menerima dua macam pesanan yaitu pesanan A dan B. Pesanan A sebanyak 1.000 buah dan B sebanyak 800 buah. Harga jual pesanan Pesanan A Rp 4.000 per buah dan Pesanan B Rp 2.500 per buah. Tarip biaya overhead pabrik (BOP) didasarkan pada jam kerja langsung (JKL) dengan kapasitas 2.000 jam, besarnya tarip per jam terdii dari tarip tetap Rp300 dan tarip variabel Rp500. Data untuk bulan Nopember 1984 adalah: Bahan dipakaiuntuk pesanan A Rp 800.000 dan Pesanan B Rpl.000.000. a).

Rp 2. Rp 2.000 (rugi).000 Besarnya harga pokok produk dalam proses adalah: a.000 c. I Besarnya selisih anggaranRp40. Rp 1. Rp 1.000 c.6. Rp 1. 41. Rp 1.440. Rp 1. c. Besarnya jam kerja langsung sesungguhnya adalah: 2. Rp 1. Rp 1. Pengumpulan biaya produksi dilakukan dengan menggunakan metode harga pokok pesanan (joborder cost method).000 Besarnya total narga pokok produk selesai adalah: a.200.000 per jam.000 b.000 d.000 b. Rp 2.744. 1.460.800 .500.d. Rp 2.000 a. 42. Rp 2.000 c.720. Rp 1.056.000 d.000 (laba) dan selisih kapasitas Rp60.000 b. Rp 2.875. 43 s.000 Besarnya laba kotor atas penjualan sebelum diperhitungkan selisih BOP adalah: b.b).000 a.000 d.000 b. 38.000 d.200 b.000.944. Rp 1.664. Rp 2. Rp 1.956.880.576. Rp 1.000 37.875 Besarnya biaya overhead pabrik dibebankan adalah: a. Rp 1.000 d.296. 36.Data biaya dan data operasi selarna bulan Mei 19x1 adalah sebagai berikut: Harga pokok bahan baku yang dibeli Rp 228.000 c. I 39.800. 1 I 40.140.296.800 d.000 Besamya laba kotor atas penjualan setelah diperhitungkan selisih BOP adalah: a. Rp 2. Data untuk menjawab soal no.256. Pesanan B masih dalam proses pada akhir periode.600. Biaya komersial Rp 200.000 c. Tarip upah langsung Rp 1. Rp 1. c).000. Pesanan A telah selesai dan langsung dijual.000 d.236.120.000 b. 2.000 Besamya anggaran fleksibel pada kapasitas sesungguhnya: a.000 c.316. Rp 2.33. 1. Rp 1. 45 Jurnal Pencatatan dan Selisih Pembebanan PT X berusaha dalam bisnis mebel. JKL sesungguhnya dinikrnati oleh Pesanan A 60% dan Pesanan B 40%. d). Rp 1.

Rp 28. dan biayaoverhead pabrik yang diperhitungkan atas dasar tarip Rp 9. Rp 27.800 c.800 b.400 Untuk mencatat harga pokok produk yang dijunl dabm bulan Mei 19X I . rekening Harga Pokok Penjualan didebit sebesar: a.800 Harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi Rp 212.200 Persediaan produk jadi akhir Mei 19x1 adalah Rp 64.400 I I 44.000. Kp 172.000.000. Rp 590. Rp 42. perusahaan mebel X mulai mengerjakanpesanan nomor 67. Rp 590. rekening Barang Dalam proses dikredit sebesar: a.00 per jam mesin.600 b. Rp 51. Biaya tenaga kerja langsung yang dikeluarkan dalam bulan Maret 19x1 adalah: pesman nomor 66. Pesanan nomor 66 mulai dikerjakan dalam bulan Pebruari 19x1. pesanan nomor 70. pesanan nomor 70. Rp 609.000.OW.600) Rp 177.000. Rp 42. Persediaan produk jadi 83.800 c. Data untuk menjawab soal no. Rp 172.000.600 (a).800 d. Rp 212. pesanan nomor 67. Rp 20.000.08.200 jam Pendapatan penjualan Rp 672.000. 69. Rp 19.600 Jam mesin 43.200 (b). Persediaan produk dalam proses 43.000 d. Untuk mencatat harga pokok produk jadi yang telah selesai diproduksi dalam bulan Mei 19x1. pesanan nomor 68. Rp 228.800 Biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi (termasuk biaya depresiasi Rp17. 46 s.600 Harga pokok produksi Rp 609. Rp 10. biaya tenaga kerja langsungRp12. dan pada tanggal 1 Maret 19x1 masih merupakan produk dalam proses yang telah menelan biaya bahan baku sebesar Rp 30.600 c. Rp 590. pesanan nomor 68. Rp 83. (c).400 dalani Biayaoverhead pabrik dibebankan lebih rendah (iinderzrl~plic~ bulan Mei 19x1 sebesar: a.000. Rp 4.d 48 Dalam bulan Maret 19X1. .000 Perusahaan membebankanhiaya overhead pabrik kepada produk dengan tarip Rp 4. dan 70. Rp 177. pesanan nomor 69. R p 7.800 d. 45.I I .000. Biaya tenaga kerja langsung Rp 236. pesanan nomor 69.000 Biaya bahan baku yang dikeluarkan dalam bulan Maret 19x1 adalah: pesanan nomor 67.200 b. Persediaan yang ada pada awal bulan Mei 19x1 adalah: Persedian bahan baku Rp 25.000 43. Rp 236.

Pesanan nomor 503 masih dalam proses awal bulan Juni dengan jumlah biaya Rp 8.250 b. Harga pokok produk yang dijual dalam bulan Maret 19x1 adalah: a. pesanan nomor 505. Pesanan nomor 503 telah diserahkan kepada pemesan dengan harga jual sebesar biaya produksi ditambah 50%.5 per jam sebesar Rp 24. upah tidak langsung.d 51 Perhitungan Harga Pokok dan Selisih Pembebanan Perusahaan Y mengolah biaya produksinya dengan menggunakan metode harga pokok pesanan. a. Upah yang dibayarkan dengan tarip Rp 7. pesanan nomor 504. Rp 7.100.500. Rp 139. ini: pesanan nomor 503.Biaya overhead pabrik dibebankhn kepada produk atas dasar tarip 75% dari biaya tenaga kerja langsung.900. yang d).000.000 d.500. Rp 80. Total harga pokok produk yang telah selesai diproduksi dalam bulan Juni 19x1 adalah: . c). Rp 8. I Data untuk menjawab soal no. Rp 77. R p 25. 3 0 Biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atas dasar tarip sebesar f). Rp 320.000 c. pesanan nomor 504.000 d. Pesanan nomor 503 dan 504 telah selesai dikerjakan dan ditransfer ke gudang.500. g).218 b.250 c. Rp 9.000 c.000 47. 46. Rp 18.500 c. Rp 6. Pesanan nomor 66. didistribusikan sebagai berikut: pesanan nomor 503. Rp 124. Rp 2. Rp 124.35 per jam tenaga kerja langsung.500 Bahan baku yang dikeluarkan dari gudang dibebankan kepada pesanan berikut b). 49. Rp 36. Rp 301. Rp 76. Data produksi dan biaya bulan Juni 19x1 adalah sebagai berikut: a). Biaya overhead pabrik lain yang terjadi dalam bulan Juni 19x1 adalah sebesar e).375.350. Rp 77. Rp 63.67. Rp 4 .482 . 49 s. dan pesanan nomor 505.025.000 b. Rp 3.000 Harga pokok produk yang masih dalam proses pada akhir bulan Maret 19x1 adalah: a. dan 70 telah selesai dikerjakan dan telah diserahkan kepada pemesan dalam bulan maret 19x1.68.250 b. Rp 17. 48. Bahan penolong yang digunakan sebesar Rp 3.000 Biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk dalam bulan Maret 19X 1 adalah: a. Rp 6. Rp 7. .

50.

Harga pokok produk yang rnasih dalam proses pada akhir bulan Juni 19x1 adalah: a. Rp 20.133 b. Rp 25.482 c. Rp 43.700 d. Rp 18.218 Dalam bulan Juni 19x1terjadi pembebanan lebih biaya overhead pabrik sebesar: a. Rp 9.825 b. Rp 9.983 c. Rp 265 d. Rp 158

5 1.

i
I

Data untuk menjawab soal no. 52 s.d. 56 Perhitungan Harga Pokok Produk Dalam Proses, Produk Selesai, Produk Terjual
Data biaya yang dieluarkan untuk pesanan nomor 1 sampai dengan 10 dalam bulan Mei dan Juni 19x1 adalah sebagai berikut.

Pesanan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Biaya yang dikeluarkan s/d tnl3 1 Mei 19x1 Rp 5.040.000 4.440.000 3.120.000 2.280.000 2.640.000

Biaya produksi bulan Juni 19 X 1

Rp 960.000 2.520.000 4.440.000 5.532.000 1.949.000 1.548.000 948.000

Pesanan No. 1 s.d. 3 telah selesai diproduksi dalam bulan Mei 19x1 Pesanan No. 4 s.d. 7 telah selesai diproduksi dalarn bulan Juni 19x1 Pesanan No. 8 s.d. 10 belum selesai diproduksi pada tanggal 30 Juni 19x1 Pesanan 1, 3,5,7 telah dijual kepada pembeli. 52. Harga pokok produk dalain proses pada tanggal 1 Juni 19X1 adalah: a. Rp 17.520.000 b. Rp 2 1.000.000 c. Rp 12.600.000 d. Rp 4.920.000 Harga pokok produk dalam proses pada tanggal 30 Juni 19x1 adalah: a. Rp 17.796.000 b. Rp 4.344.000 c. Rp 12.600.000 d. Rp 4.920.000

53.

54.

Harga pokok produk persediaan produk jadi tanggal 1 Juni 19x1 adalah: Rp 2 1.000.000 a. Rp 17.520.000 b. C. Rp 12.600.000 d. Rp 4.920.000 Harga pokok persediaan produk jadi pada tanggal 30 Juni 19x1 adalah: a. Rp 12.120.000 b. Rp 2 1.000.000 c. Rp 12.600.000 d. Rp 4.920.000 Harga pokok penjualan bulan Juni 19x1 adalah: a. Rp 17.520.000 b. c. Rp 12.600.000 d.

55.

56.

Rp 12.120.000 Rp 18.852.000

I
1

Data untuk menjawab soal no. 57 s.d. 62 Perhitungan Jam Kerja Langsung, Biaya Tenaga Kerja Langsung, Biaya Overhead Dibebankan, Perhitungan Harga Pokok, dan Laba Kotor

PT NUSA mengolah produk atas dasar pesanan. Biaya overhead pabrik dibebankan atas dasar tarip yang didasarkan atas anggaran biaya overhead pabrik (BOP) per bulan sebesar Rp 200.000 dan kapasitas normal 5.000 jam kerja langsung (JKL). Sesuai perjanjian dengan Serikat Pekerja Indonesia, biaya tenaga kerja langsung dibayar dengan tarip upah Rp 60 per JKL. Transaksi yang terjadi selarna bulan April 1989 adalah sebagai berikut: Diterimapesananno. 101 sebanyak 1.000 unit dengan harga jual Rp 500 a). per unit; pesanan no. 102 sebanyak 2.000 unit dengan harga jual Rp 400 per unit, pesanan no. 103 sebanyak 500 unit dengan harga jual Rp 600 per unit. Pemakaian bahan baku untuk pesanan no. 101: RplOO.OOO; no. 102: b). Rp150.000; dan no. 103: Rp 50.000. JKL yang sesungguhnya dinikmati oleh pesanan no. 101 sebesar 30%; c). no. 102 sebesar 50%; dan no. 103 sebesar 20%. BOP yang sesungguhnya terjadi Rp150.000; besarnya selisih BOP d). RplO.OOO (laba).
57. Besarnya JKL sesungguhnya adalah: a. 5.000 Jam c. 6.000 Jam

b. d.

4.000 Jam 5.250 Jam

58.

Besarnya biaya tenaga kerja langsung sesungguhnya terjadi sebesar: a. Rp 200.000 b. Rp 240.000 c. Rp 300.000 d. Rp 150.000 Besarnya BOP Dibebankan kepada pesanan adalah: b. a. Rp 160.000 c. Rp 200.000 d.

59.

Rp 150.000 Rp 210.000

60.

Total harga pokok pesanan no. 101 adalah: a. Rp 500.000 c. Rp 220.000

b. d.

Rp 250.000 Rp 200.000

61.

Jika pesanan no. 102 dijual maka total laba brutonya: a. Rp 800.000 b. C. Rp 350.000 d.

Rp 450.000 Rp 250.000

62.

Jika pesanan no. 103 telah selesai, harga pokok per unitnya: a. Rp 260 b. Rp c. Rp 175 d. Rp

200 300

Data untuk menjawab soal no. 63 s.d. 68 Perhitungan Jam Kerja Langsung, Biaya Tenaga Kerja Langsung, Biaya Overhead Pabrik, Harga Pokok Pesanan, dan Laba Bruto PT BUD1 mengolah produk atas dasar pesanan. Bcsarnya kapasitas norrnal 8.000 jam kerja langsung per bulan. Tarip BOP besxnya Rp 250 per jam kerja langsung terdiri aras tarip tetap Rp 100 dan tarip variabel Rp 150. Tarip upah langsung yang disetujui dengan serikat pekerja Rp 400 per jam kerja langsung. Transaksi bulan Oktober 1989 adalnh: (a). Diterima pesanan A sebanyak 500 unit dengan harga jual Rp 16.000 per unit dan pesanan B 200 unit dengan harga jual Rp 25.000 per unit. Bahan yang digunakan untuk pesanan A Rp 2.200.000 dan B Rp 1.800.000. (b). Analisis selisih biaya overhead pabrik bulan Ohtober r~~enunjukkan selisih (c). anggaran Rp 75.000 (laba) dan selisih kapasitas Rp 50.000 irugi). JKL sesungguhnya dinikmati oleh pesanan A: 60% &an B: 40%. (d).
63.

-Jam kerja langsung sesungguhnya adalah: a. 8.000 c. 8.750

b. d.

8.500 7.500

64.

Besarnya biaya tenaga kerja langsung untuk pesanan A adalah: a. Rp 800.000 b. Rp 750.000 C. Rp 850.000 d. Rp 875.000 Besarnya total biaya overhead pabrik sesungguhnya adalah: b. Rp 5.050.000 a. Rp 1.975.000 c. Rp 1.875.000 d. Rp 1.800.000 Total harga pokok pesanan A adalah: a. Rp 4.250.000 C. Rp 5.125.000

65.

66.

b. d.

Rp 5.500.000 Rp 4.875.000

67.

Jika pesanan B telah selesai maka harga pokok per unitnya dalah: a. Rp 25.000 b. Rp 18.750 c. Rp 16.250 d. Rp 20.000 Jika pesanan A telah dijual, maka laba bruto per unitnya adalah: a. Rp 5.750 b. Rp c. Rp 5.000 d. Rp

68.

6.000 4.750

Data untuk menjawab soal no. 69 s.d. 84 Jurnal Pencatatan, Biaya Overhead Pabrik, dan Harga Pokok Pesanan PT Arnin memiliki persediaan pada tanggal 1 Mei sebagai berikut: Rp 15.009 Barang Jadi Barang Dalam Proses 19.070 Material (bahan-bahan) 14.000 Dalam rekening Barang Dalam Proses terdapat tiga pesanan: Pesanan 261 Pesanan 262 Pesanan263 Material Rp 2.800 Rp 3.400 Rp 1.800 Tenaga kerja 2.100 2.700 1.350 Overhead pabrik dibebankan 1.680 2.160 1.080 Rp 6.580 Rp 8.260 Rp 4.230 Jumlah
Berikut ini adalah transaksi selama bulan Mei: Dibeli material dengan syarat n/30 Rp 22.000 a). Permintaan bahan untuk produksi Rp 21.000. Dari jumlah ini Rp 2.400 b). untuk bahan tidak langsung, sedangkan selisihnya digunakan dengan rincian sebagai berikut: Pesanan 261 Rp 5.300 Pesanan 262 7.400 Pesanan 263 5.900 Pengembalianbahan dari pabrik ke gudang Rp 600, darijumlah ini yang c). Rp 200 berupa bahan tidak langsung, sedangkan yang sisanya berasal dari pesanan 262. Pengembalian bahan ke pemasok (supplier) Rp 800. d). Gaji pegawai setelah dikurangi Pajak Penghasilan 15 persen Rp 32.300. e). Jumlah ini dibayar dalam bulan Mei juga. f). Rincian gaji pegawai adal&: 55 % tenaga kerja langsung, dengan rincian 261: 35 %, 2 6 2 45 %, dan 263: 20 %. 20% gaji tenaga kerja langsung 15% gaji bagian penjualan, dan 10% gaji bagian adrninistrasi dan umum.

g).

h). i). j).

k). 69.

Biaya overhead pabrik, selain yang disebutkan di muka berjumlah Rp 5.500.Termasuk dalam jumlah ini adalah biaya depresiasi untuk bangunan clan mesin pabrik Rp 2.000, dan asuransi pabrik terpakai Rp 250. Sisa dari overhead pabrik ini belum dibayar sampai dengan akhir Mei. Biaya overhead pabrik yang dibebankan ke produksi: 80 persen dari biaya tenaga kerja langsung ke tiga pesanan selama bulan Mei. Pesanan 261 dan pesanan 262 selesai dan dikirim ke gudang. Kedua Pesanan 261 dan Pesanan 262 dikirim ke pemesan, untuk itu pemesan ditagih dengan harga 40% di atas harga pokok penjualan. Penagihan piutang selama bulan Mei Rp 69.500.

Salah satu ayatjumal yang hams dibuat sehubungan dengan transaksi (b) adalah: a. Debit - Barang Dalam Proses Rp 21.000 Rp 18.600 b. Debit - Barang Dalam proses c. Debit - Material Rp 21.000 Rp 18.600 d. Debit - Material Salah satu ayatjurnal yang harus dibuat sehubungan dengan transaksi (b) adalah: Kredit - Barang Dalam Proses Rp 21.000 a. b. Kredit - Barang Dalam proses Rp 18.600 c. Kredit - Material Rp 21.000 d. Kredit - Material Rp 18.600 Jumlah Rp7.400 dalam transaksi (b) akan dipostingkan (dibukukan) ke: Buku besar Barang Dalam proses a. b. Buku besar Material Buku pembantu Barang Dalam Proses c. Buku besar Biaya Overhead Pabrik Kontrol (Sesungguhnya) d. Salah satu ayat jurnal sehubungan dengan transaksi (c) adalah: Kredit - Barang Dalam Proses RP a. b. Kredit - Barang Dalam Proses RP c. Kredit - Biaya Overhead Pabrik Kontrol Rp d. Jawaban b dan c benar

70.

7 1.

72.

600 400 200

73.

Ayat-ayat jurnal sehubungan dengan transaksi (e) adalah: a. Debit - Biaya Gaji dan Upah Rp 38.000 Kredit - Utang Gaji dan Upah Rp 32.300 b. c. Kredit - Utang Pajak Penghasilan Rp 5.700 d. Jawaban a, b, dan c benar

74.

Ayat-ayat jumal sehubungan dengan transaksi (f) adalah: Rp 20.900 a. Debit - Barang Dalam Proses Rp 17.765 b. Debit - Barang Dalam Proses c. Kredit- Biaya Overhead Pabrik Kontrol Rp 7.600 d. Jawaban a dan c benar Ayat-ayat jumal sehubungan dengan transaksi (g) adalah: a. Debit - Biaya Overhead Pabrik Kontrol b. Debit - Biaya Overhead Pabrik Applied c. Debit - Biaya Depresiasi d. Debit - Biaya Asuransi

75.

Rp 5.500 Rp 5.500 Rp 2.000 Rp 250

76.

Ayat-ayat jumal sehubungan dengan transaksi (g) adalah: a. Kredit - Biaya Overhead Pabrik Applied Rp 5.500 b. Kredit - Akumulasi Depresiasi Rp 2.000 c. Kredit - Utang Biaya Rp 3.250 d. Jawaban b dan c benar Berapakahjumlah biaya overhead pabrik yang dibebankan pada produksi selama bulan Mei? a. Rp 30.400 b. Rp 16.720 c. Rp 34.000 d. Rp17.620 Rekening yang didebit sehubungan dengan transaksi (h) adalah: a. Barang Dalarn proses b. Overhead Pabrik Yang Dibebankan (Applied) c. Overhead Pabrik Sesungguhnya (actual) Kartu harga Pokok Pesanan d. Berapakah harga jual pesanan no. 261 : a. Rp 29.948 c. Rp 32.180 Berapakah harga pokok pesanan no. 262: a. Rp 29.948 c . Rp 32.589

77.

78.

79.

b. d.

Rp 32.8 10,40 Rp 35.065,80

80.

b. d.

Rp 28.994 Rp 29.498

8 1.

Berapakah saldo rekening Persediaan Barang Jadi pada akhir bulan Mei: a. Rp 15.000 b. Rp 38.160 c. Rp 20.160 d. Rp 26.5 10

636 Berapakah jumlah persediaan material pada akhir bulan Mei: a. Rp 16.000 Overhead Pabrik-Applied Rp 16. 85 s.720 c.500 belum a - - Ru 8.Harga Pokok Penjualan Rp 57.d.000 5 .000 .000 Ru 2. Rp 17.500 Overhead Applied Rp 21.636 d.000 d.500 Barang Dalam Proses Rp 16. Ayat-ayat jurnal sehubungan dengan transaksi (i) adalah: Rp 57. Pada saat membebankan biaya overhead pabrik.500 selesai belum Rp 1.600 Saldo rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya pada akhir bulan Mei sama dengan (saldo awal Mei dianggap sama dengan nol): a.500 1.700 d. Data untuk menjawab soal no.000 Overhead Pabrik-Applied Rp 21.. 89 Berikut ini adalah ikhtisar dari Job Order Cost Sheet per 31 Desember 1990 dari perusahaan ABC: Job Order No: 123 124 125 126 Pemakaian Bahan Baku Rp1.OOO Status pesanan selesai sudah Status pergiriman Rp 2. Rp 14.000 10. Kredit.620 83.000 c.000 Overhead Pabrik Jumlah Rpll. Rp 15.500 Rp 21.636 b.Persediaan Barang Jadi c.000 6. Debit . Rp 36.500 belum 85. perusahaan akan membuat jumal: Barang Dalam Proses Rp 21.Barang Dalam Proses Rp 57. Debit .500 Overhead Pabrik-Kontrol Overhead Pabrik-Applied Rp 16.800 b.82.Harga Pokok Pesanan Rp 57.000 Overhead Pabrik-Kontrol Rp 16. Rp 19. Rp 17.250 Rp 750 250 500 1. Kredit.900 b. Rp 15. 84.000 750 2.636 a.000 Rp18.500 Bahan Tidak Langsung 500 Tenaga Kerja Langsung 3.

18. Barang dalam proses d.000 Biaya overhead pabrik dibebankan ke produksi sebesar 120% dari upah langsung 5) Pesanan dengan biaya 198.000 Berapakah jumlah persediaan barang jadi pada akhir tahun? a. berarti besamya biaya overhead pabrik sama dengan: b.500 C.000 Bila :arip biaya overhead pabrik didasarkan pada upah tenaga kerja langsung. Pembelian bahan baku b. Biaya overhead pabnk . Rp 40.SO0 Overhead Pabrik-Kontrol Rp 16.000 dikirim ke pemesan dengan mark up 25% 7) di atas biaya 90.000 Overhead Pabrik-Applied Rp 16.000 d. Rp 18.000. Rp 40.000 Barang dalam proses 1 Juli 1989 Transaksi bulan Juli 1) Bahan baku yang dibeli 8 1.000. Persediaan bahan baku c. Rekening yang didebit untuk mencatat transaksi 1) adalah: a. Rp 29.d.000.500 Pada akhir tahun perlu dibuat jumal penutup dengan mendebit rekening: Overhead Pabrik-Kontrol Rp 2 1.000 diselesaikan pada bulan Juli.000.000 Gaji dan upah (upah tidak langsung Rp 18. 20 persen 87.500 c.000) 90.000.000) 63.500 d. Rp 29. 400 persen c. 6) Pesanan dengan biaya Rp252. 90 s. 89.500 b.86.000. Rp 1 1. Rp 18. 97 Jurnal Pencatatan dan Harga Pokok Produk Dalam Proses Akhir Perusahaan "ASIA JAYA" menggunakan sistem hargapokokpesanan. 88. Berikut ini adalah data biaya bulan Juli 1989: Rp 63.000 2) Bahan yang dipakai (bahan pembantu Rp9. Pada akhir tahun rekening Barang Dalam Proses akan menunjukkan jumlah sebesar: a.000. 200 persen a.000 3) 4) Biaya overhead pabrik sesungguhnya 108.000. Data untuk menjawab soal no.000.500 b. Rp 11.500 Overhead Pabrik-Applied Rp 2 1 .33 persen d.

0'00 92.000 d.000.000 c. Biaya upah langsung c. Persediaan barang jadi Rekening yang didebit untuk mencatat transaksi 6) adalah: Barang dalam proses a. I Rekening yang didebit untuk mencatat transaksi 2) adalah: a. Harga pokok penjualan d. Kas Rekening yang didebit untuk mencatat transaksi 4) adalah: a. 94. Barang dalam proses c. Persediaan bahan baku b. Rp 43. 93. Barang dalam proses b. 97. Rp 97.000. Rp 63. Biaya overhead pabrik sesungguhnya c. Biaya gaji clan upah b.000. Persediaan barang jadi c.000. Biaya overhead pabrik dibebankan d. Rp 34. Barang dalam proses b. Persediaan barang jadi c. Biaya overhead pabrik dibebankan Rekening yang dikredit untuk mencatat transaksi 7) adalah: a. b. Persediaan barang jadi Rekening yang diiedit untuk mencatat transaksi 5) adalah: a. Biaya overhead pabrik dibebankan Harga pokok barang dalam proses pada akhir bulan Juli berjumlah: a. . 96.9 1. b dan c benar Rekening yang dikredit untuk mencatat transaksi 3) adalah: a. 95. Biaya overhead pabrik sesungguhnya d. Biaya overhead pabrik sesungguhnya c.000 b. Biaya overhead pabrik dibebankan d. Utang gaji dan upah d. Harga pokok penjualan d. Barang dalam proses b.

000 unit A-3 60 A-4 5.000 10. adalah sebagai berikut: Persediaan Per 31 Desember 1986 Per 1 Januari 1986 Bahan baku Rp 40. 50.000 Biaya tenaga kerja langsung 20.000 Produk Selesai 150.000 60.000 Biaya overhead pabrik 30. 100 Jurnal Pencatatan dan Perhitungan Jam Kerja Langsung Data persediaan yang ada di PT DIASWATI.000 Overhead Pabrik Dibebankan Rp 30. 30.000 .000 unit 46 1.000 Biaya tenaga kerja langsung 30.000 120.000 30.000 16.000 40.000 Biaya overhead pabrik 50.000 12.000 unit Rp 50 A-2 4.000 Jurnlah pesanan yang diserahkan kepada pemesan selalna bulan Januari 1986: Nomor pesanan Jumlah Produksi Harga Jual per Unit A.000 unit Rp 60.500 unit A-5 56 A-8 2.000 unit 55 Biaya produksi yang dikeluarkan selama bulan Januari 1986: Nomor pesanan A.l 3.000 120.000 Data produksi dan biaya per 3 1 Januari 1986: Persediaan Produk Dalam Proses A-6 Nomor pesanan Jumiah produk 2.000 32.000 60.000 Persediaan Produk Selesai A-7 5.d.Data untuk menjawab soal no.000 20.000 Rp 50.500 unit Biaya bahan langsung Rp 40.000 unit Rp.000 unit 48 1.000 Data produksi dan biaya per 1 Januari 1986: Persediaan Produk Dalam Proses A-1 Nomor pesanan Jumlah produk 3.000 Tenaga Kerja Rp 10.000 Produk dalam proses 80.000 unit Biaya bahan baku Rp.000' 10.000 Persediaan Produk Selesai A-4 5. 98 s.000 240.1 A-2 A-3 A-5 Bahan baku - Rp 30.000 60.

Harga Pokok Penjualan d.000 60. Rp 1. 4.000 satuan sisa bahan yang ditaksir dapat dijual dengan harga Rp 250 per satuan.000 satuan dengan harga Rp 275 per satuan.3 Jam Kerja Langsung d.000 50.000 18. S e l m a tahun 19x1 perusahaan tersebut menghasilkan 5. Biaya Overhead Dibebankan 99.750 Jam Kerja Langsung c.000 30. Barang Dalarn Proses b.000 Di dalarn neraca perusahaan per 31 Desember 19x1 akan disajikan persediaan sisa bahan sebesar: 102. Harga Pokok Penjualan d. Rekening yang didebit untuk mencatathargapokokpesanan yang telah diserahkan 98.000 -24.000 60. Tidak Risa Dihitung 100.000 c.0 00 Ru 180. Rp 1.A-6 A-7 A-8 Jumlah 40. Barang Dalam Proses b. . 2. Rp 825. jumlah jam kerja langsung yang dikonsumsi selama bulan Januari 1986 adalah: a. Rp 750. 101 s. Hasil penjualan atas sisa bahan yang dilaporkan dalam laporan rugi-laba tahun tersebut adalah: a.000 Perusahaan menggunakan metode perpetual dalam mencatat persediaan bahan baku.250.000 d.000 RD 360. Data untuk menjawab soal no.500 Jam Kerja Langsung b.000 48.375.000 Rp 170. 3.583. Dalam kenyataanyaselamatahun tersebut perusahaan dapat berhasil menjual3. Rekening yang didebit untuk mencatat biaya yang dikeluarkan selama bulan Januari adalah: a. Persediaan Produk Jadi c. kepada pemesan selama bulan Januari adalah: a.000 120. Persediaan Produk Jadi c. 101.000 b. 102 Perlakuan Sisa Bahan F ABC memperlakukan hasil penjualan sisabahan (scrapmaterials) sebagaipenghasilan T lain-lain.d. Biaya Overhead Dibebankan Apabila tarip upah tenaga kerja langsung sebesar Rp72 per jam.

000 Didebitke rekening Biaya Overhead Pabrik SesungguhnyasebesarRp 50. Biaya produksi per satuan untuk pesanan no.Biaya bahan baku Rp 500 . RETEKI memakai metode harga pokok pesanan.000 Didebit ke rekening Barang Dalarn Proses sebesar Rp 50. Jurnlah biaya perbailcan produk cacat dan pencatatannya adalah: Didebit ke rekening Barang Dalam Proses sebesar Rp 200.Biaya tenaga kerja langsung RP 400 .103. Di dalam menatung tarip biayaoverheadpabrikperusahaantersebutmemasukkantaksiraanbiayaperbaikan produk cacat.Biaya overhead pabrik Rp 600 (150% dari biaya tenaga kerja langsung) SelamabulanApril 19x1produk cacat adalah200 satuandandalam memperbaiki produk cacat tersebut diperlukan biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp 100per satuan. PT. 1211 adalah: .000 .000 Didebit ke rekening Biaya OverheadPabrik SesungguhnyasebesarRp 20.

5) .000 x Rp 6 = Rp 240.000 jam Jam kerja langsung yang konsumsi pesanan no.Jumlah RD 6.000 Tarip pert$xbanan BOP: = Rp 2.000 jam Jumlah BOP dibebankan: 40.000 32.000 240.5 per jam kerja langsung I \ 20.500 750 Biaya overhead dibebankan: (300jam x Rp2.500/Rp 5 = Rp 300 jam Harga pokok pesanan no.50 3 1.000 RD 50. 461: Rp 1.000 Harga pokok penjualan 800.000 = Rp 840.000. Jawab: a Rp 300.000 Tarip pembebanan BOP: = Rp 6 per jam kerja langsung 50.BOP sesungguhnya BOP dibebankan Selisih total Jawab: a Rp 290. .000 Harga pokok penjualan setelah mendapat alokasian selisih: Rp 800.000 ke persediaan dan harga pokok penjualan: Elemen yang mendapat alokasi Jumlah Proporsi Alokasi Selisih Persediaan barang dalarn proses Rp 50.000 Biaya tenaga kerja langsung 1.000 + Rp 40.250/100 unit = Rp62.000 Rp 1. Jawab: d .500 40.250 Harga pokok per unit: Rp6.000 Ru 50. PENYELESAIAN 30. Jawab: b Rp 50.B. Alokasi selisih BOP Rp 50.000 5% 15% 80% 100% Rp 2.000 Persediaan produk jadi 150.000 .500 7. 461: Biaya bahan baku Rp4.00 (kurang dibebankan) 33.

000 Overhead pabrik: A :60% x 1.800 jam x Rp1. sehingga harga pokok produk selesai berjumlah Rp2.000 jam x Rp300) Variabel(1.000 600.800 jam x Rp500) Jumlah Jawab: d 38.800 jam x Rp800 864.900.000. Jawab: a Jumlah biaya tenaga kerja langsung: 1.744.300 JKL 60.000 300 JKL 540. Jawab: a BOP dibebankan: 1.000 900.800 jam kerja langsung 300 JKL 37.440. 600.000 8.900.000 Jumlah BOP dibebankan: 150% x Rp 5. Rp RD ~ 39.800jamxRp1.60.OOO 1.800jamxRp800 ~ Jumlah harga pokok produksi Ru 2.000 = Rp 8.000 Jawab: c BOP sesungguhnya BOP dibebankan Jumlah selisih I 35.500.000 JKL sesungguhnya = = 1.000 RD 150.000 Pesanan yang telah selesai adalah pesanan A.000 .34.000 = Rp 5.744. Rp 9.000 (kurang dibebankan) Jawab: c Jumlah jam kerja langsung: Selisih kapasitas =(Volume dianggarkan -Volume sesungguhnya) Tarip tetap 60.850.850.000 Tenaga kerja langsung: A:60%~1.475 jam x Rp 4.000 Elemen Biaya Pesanan A Pesanan B Bahan baku Rp 800.000 1.000 B :4 0 % 1.000 jam .000 (2.000 .080.800jam x Rp800 = Rp1.000 B : 40% x 1.000 Jawab: e BOP dianggarkan pada JKL sesungguhnya: Tetap (2.JKL sesungguhnya) 300 600.000 .

600 Harga pokok produksi bulan Mei 83.000 Jawab: d Hasil pe.000 2.000 Rp 4. 45. Rp 4. 42.000) Harga pokok penjualan B Jumlah laba kotor Rp 1.600 BOP dibebankan: 43.000 150.800.000 2.800 Jumlah harga pokok penjualan Untuk mencatat harga pokok penjualan selama bulan Mei.800 (kurang dibebankan) Jawab: b ki Perhitungan harga pokok masing-masing pesanan sampai dengan a h r Maret 19x1: 44.800 (=) Barang tersedia untuk dijual 64.000 buah x Rp4.200 jam x Rp4 172.000. Jawab: e Jumlah harga pokok penjualan bulan Mei 19X1: Rp 609. 46.256.40.000 43. Jawab: d (lihat no.600.200 (+) Persediaan produk jadi awal bulan Mei Rp 692. Jawab: b Rekening Barang Dalam Proses dikredit sebesar harga pokok produksi pesanan yang diselesaikan pada bulan Mei.744. 46) Pesanan yang belum selesai adalah pesanan B.000 41.236. Jawab: c BOP sesungguhnya Rp177.000 Rp 1.256.000 . yaitu: Rp609.?jualan pesanan B Harga p ~ k o k penjualan B Jumlah laba kotor (-) Selisih BOP Jurnlah laba kotor setelah selisih Rp 1. rekening Harga Pokok Penjualan didebit sebesar Rp628.000 (J Persediaan produk jadi a h r bulan Mei ki Rp 628. Elemen Biaya Pesanan 66 Pesanan 67 Pesanan 68 Pesanan 69 Pesanan 70 Bulan Februari: Bahan baku Rp30.000 Tenaga kerja 12.296.QOO Jawab: d Hasil penjualan pesanan B: (1.800 Selisih Rp 4. sehingga harga pokok produk dalam proses berjumlah Rp2.744.000 Overhead pabrik 9.OOO.

509 RD36. 49. sehingga jumlah harga pokok produk yang dijual adalah: Pesanan 66 Rp 63.000 Rp19.250 Jurnlah Rp63.000 Overhead pabrik Tarip: 75% BTK 5.000 10.000 42.100/7. Elemen Biaya Awal Juni Selama bulan Juni: Bahan baku Tenaga kerja langsung Overhead pabrik.000 Rp51.000 15.500 I Pesanan yang telah selesai dan diserahkan ke pemesan selama bulan Maret adalah 66.35 504: (8.67.900/7.250 Jawab: d Pesanan yang sampai akhir bulan Maret belum selesai adalah no.500 Rv77.250 Pesanan 67 77.500 Jumlah R~80.000 Ru76. Jawab: a Jumlah BOP dibebankan selama bulan Maret 19x1: Pesanan 66 Rp5. 79.sehingga jurnlah harga pokok produk yang masih dalam proses berjumlah Rp76.5) x Rp3.5) x Rp3.500 Pesanan 69 21.250 Pesanan 67 15.000 Pesanan 68 124.Bulan Maret: Bahan baku Tenaga kerja 7.000 Pesanan 68 3 1.500 7. 503 : (6.500 Pesanan 70 36.250 Rp42.35 505 : (7.000 20.35 Jumlah Pesanan 503 Rp 8. dan 70.000 Rv124.5) x Rp3.000 3 1. Jawab: c Jumlah harga pokok masing-masing pesanan sampai dengan akhir Juni 19x1: I 48.350/7.500 Jumlah RD 301.000 21.000.000 28.000 Pesanan 70 7.500 Pesanan 504 Pesanan 505 .000 Rp27.500 47.68.

500 Upah tidak langsung 2.000 Rv 4. sehingga harga pokok produk dalam proses pada akhir Mei atau awal Juni adalah: Pesanan No. Jawab: a Pesanan yang sampai akhii bulan Juni belum selesai adalah no. 10 948.283 9.482 Pesanan 504 18.700 Jumlah 50.000 Jumlah Rp 4.133.445.218 Rp 43.Pesanan yang selesai dalam bulan Juni adalah no.618 Pesanan 505 Jumlah Selisih pembebanan Rp 9.082 Pesanan 504 3. Jawab: d BOP sesungguhnya bulan Juni: Bahan penolong Rp 3.000 Pesanan No. 505.000 Jumlah Jawab: e Pesanan yang diolah dalam bulan Juni 19x1 yang belum selesai sampai dengan tanggal 30 Juni adalah no.9 dan 10.825 3. 4 Rp 2.000 Pesanan No. sehingga jumlah harga pokok produk yang masih dalam proses berjumlah Rp20. 9 1S48.983 Rp 158 (lebih dibebankan) Jawab: d Pesanan yang diolah dalam bulan Mei 19X1 yang belum selesai sampai dengan tanggal 31 Mei adalah no.yaitu pesananno.280.000 Jawab: c Persediaan produk jadi pada awal Juni.sehingga harga pokok produk dalam proses pada akhir Juni adalah: Rp 1.300 Overhead lainnya Jumlah BOP dibebankan bulan Juni: Pesanan 503 Rp 3. Jumlah harga pokok produk yang telah selesai: Pesanan 503 Rp 25. 8. 1.640.949. 4 dan 5.000 Pesanan No. adalah pesanan yang telah selesai pada bulan Mei tetapibelum dikirim. 5 2. 8 Pesanan No. Hargapokokmasingmasing pesanan adalah: .920. 503 dan 504.025 4.2dan 3.

d 7) tetapi belum dikirim. 1.00 960.000 BOP dibebankan BOP dibebankan adalah hasil perkalian antara tarip pembebanan dengan jam kerjalangsung sesungguhnya.000 Pesanan No.000' Jumlah Jawab : d Harga pokok penjualan dalam bulan Juni adalah harga pokok produk yang telah selesai dan sudah diiirim pada bulan Juni.5.000 Juni Pesanan No.000 Pesanan No.d 3) dan Juni (4 s.000 Juni 4.000 Pesanan No.040. 3 3.4 Mei Rp2. yaitu pesanan no.000 Jawab: a Persediaan produk jadi pada tanggal 30 Juni. yaitu pesanan no. 2 dan 6.120.00 5. 3 3.852. 2 Rp 4.532.000 Pesanan No.000 jam kerja langsung Rp 40 . Harga pokok masing-masing pesanan adalah : Pesanan No. = 4. sehinggaJKL sesunggunyadapat dihitung sebagai berikut : Rp 160.120.440.640.280. 7 5.600.440.000 ! Pesanan No. Pesanan No.000 10.120.00 Mei 2.160. dapat dihitung berdasarkan analisis BOP: Rp 200.00 3.000 (=) Selisih BOP (laba) RD 160.000 JKL Sesungguhnya : 56. 1 Rp 5. 6 Rp 12.240.000 Jumlah Rp 12.000 Ru18.000 Pesanan No.040.55.3. 1 Rp 5.440.520.000 = Rp 40 per jam kerja langsung Tarip pembebanan 5. dan 7 Pesanan No. adalah pesanan yang telah selesai pada bulan Mei (1 s.000 Jumlah BOP dibebankan pada bulan April 1989: BOP sesungguhnya Rp 150. 5 Rp 2. 57. 2 4.000 Jumlah Jawab: b Data mengenai jam kerja langsung sesungguhnya.

000 jam x Rp60 = Rp240.000. 102: Penjualan pesanan 102: (1.000 350.Jawab: b Jumlah biaya tenaga kerja langsung yang terjadi dalarn bulan April 1989 adalah merupakan perkalian antara JKL sesungguhnya dengan tarip upah: 4.000 x Rp60) 101: (20% x 4.000 = KS = (KN -KS) Tarip Tetap (8.000 .500 . Jawab: c Jumlah harga pokok masing-masing pesanan sampai dengan akhir bulan April 1989 adalah sebagai berikut: Elemen Biaya Bahan baku Tenaga kerja: 101: (30% x 4.000 x Rp40) 102: (50% x 4.000 x Rp60) 102: (50% x 4. 67. 101 Psn 102 Psn 103 Harga pokok produksi pesanan no.000 . Jawab: b Laba bruto pesanan no. 70) Jurnlah laba bruto Rp 800.000.000 = 50.000 x Rp40) Jumlah Psn.KS) 100 800. 102 (lihat no.000 x Rp500) Harga pokok produksi no.000 x Rp40) 101: (20% x 4. Jawab: a Lihat no.000 Total harga pokok produksi 500 unit Jumlah dipesan Rp 260 Harga pokok per unit : Rp130.100 KS 7.000/500 = Jawab: d Selisih kapasitas = 50.000 Jawab: a Harga pokok per unit pesanan 103: Rp 130. 101 adalah Rp 220.000 RIJ450.000 x Rp60) Overhead pabrik: 101: (30% x 4.

500 jam x Rp250) Jumlah Jawab: b Harga pokok per unit pesanan B: Total harga pokok produksi pesanan B Jurnlah dipesan Harga pokok per unit: Rp3.000 750.000 1.750 Rp 18.000 R~5. Harga jual pesanan A: (500 unit x Rp16.000 1.125.875.800.200.000) Harga pokok produksi pesanan A Jumlah laba kotor Jumlah dipesan Laba kotor per unit: (Rp2.000 25.500 jam x Rp400) Pesanan B: (40% x 7.000 200 unit Rp 18.600 .750 Rp8.000 Rp 1.0001500 unit) Jawab: b Jurnal pencatatan transaksi (b): Barang Dalam Proses Pesanan A Rp2.875.000 R~2.200.800.Jawab: e Biaya tenaga kerja langsung untuk pesanan A: 60% x 7.000/200 = Jawab: a Laba kotor pesanan A.500 jam x Rp400 = Rp1.125.000 Jawab: e BOP dibebankan: (7.850.125.000 Jawab: c Harga pokok masing-masing pesanan sarnpai dengan akhir bulan Oktober 1989: Elemen Biaya Bahan baku Upah langsung: Pesanan A: (60%x 7.875.750.800.000 Rp3.000 500 unit Rp 5.500 jam x Rp250) Pesanan B: (40% x 7.000 1.750.000 50.000 5.000 Rp 75.000 Rp 3.000.500 jam x Rp400) Overhead pabrik: Pesanan A: (60% x 7.000 Pesanan B Rp1.500 jam x Rp250) Selisih total: Selisih anggaran (laba) Selisih efisiensi (mgi) BOP sesungguhnya Rp1.750.

79 Jawab: a Lihat no.000 250 3.900 Biaya tenaga kerja langsung Rp 600 Rp 400 200 Rp 38. 79 Jawab: d Jumal pencatatan transaksi (c): Material Barang Dalam Proses Biaya Overhead Pabrik Kontrol Jawab: d Jumal pencatatan transaksi (e): Biaya Gaji dan Upah Utang Gaji dan Upah Utang Pajak Penghasilan Jawab: a Jumal pencatatan transaksi ( f ) : Barang Dalam Proses Biaya Overhead Pabrik Kontrol Biaya Penjualan Biaya Administrasi dan Umum Biaya Gaji dan Upah Jawab: a Jumal pencatatan transaksi (g): Biaya Overhead Pabrik Kontrol Rp 5.250 . 85 Jawab: b Jumlah biaya overhead pabrik dibebankan dengan tarip 80% dari biaya tenaga kerja langsung: Rp20.Biaya Overhead Pabrik Kontrol Material Jawab: c Lihat no.500 Akumulasi Depresiasi Asuransi Dibayar Di Muka Utang Biaya Jawab: d Lihat no.700 Rp 2.000 Rp 32.300 5.

344 RD17.047 Rp 8.624.80 R-p45.589 (=) Barang tersedia untuk dijual (-) Harga pokok penjualan (pesanan 261 & 262) Persediaan barang jadi .047 Pesanan 262: 140% x Rp32. I 7.405 Rp 4.720 Biaya Overhead Pabrik Kontrol Rp 16. .Tarip pembebanan 80% Biaya overhead pabrik dibebankan: 80% x Rp20.654 79.636 57.636 Rp 15.720 78.000 82.524 RD32. Jawab: a Jurnal pencatatan transaksi (h): Biaya Overhead Pabrik Applied Rp 16.900 4.636 Rp 72.180 3. Pesanan 261 Pesanan 262 Pesanan 263 Biaya barang dalarn proses-awal Biaya selama bulan Mei: Bahan baku Tenaga kerja langsung Overhead pabrik dibebankan: 80% dari tenaga kerja langsung Jumlah Perhitungan harga jual: 40% dari harga pokok.580 5.315 5.400 9.852 RD25.900= Rp16.047 Pesanan 262 32. 89 Jawab: a Persediaan barang jadi pada akhir Mei: Persediaan barang jadi-awal (+) Harga pokok produk selesai selarna bulan Mei: Pesanan 261 Rp 25.589 Rv35.065.300 7.60 Belum Selesai 8 1.000 Rp 57.720 Jawab: e Perhitungan harga pokok dan harga masing-masing pesanan pada akhir bulan Mei: Perhitungan harga pokok.akhir Jawab: e Jurnal pencatatan transaksi (i): Rp 6.230 5. Jawab: e Lihat no. Rp 15. Pesanan 261 : 140% x Rp25.260 7.589 Pesanan 293: 80.

Persediaan Barang Jadi Barang Dalam Proses 83.000 4.000 Jumlah 84.400 (200) Pengembalian ke gudang-transaksi (c) Biaya tenaga kerja tidak langsungtransaksi (f) 7. 85. 124 dengan harga pokok Rp 18.500 Pesanan 125 Pesanan 126 Jumlah dibebankan Rp 21.600 Biaya overhead lainnya-transaksi (g) 5.500 Ro11. adalah sebesar harga pokok pesanan yang telah selesai tetapi belum dikirim ke pemesan. yaitu pesanan no. yaitu: Rp8.500 RQ 15. 87.000 Pesanan 124 10. Jawab: b Jumlah persediaan barang jadi pada akhir tahun. Jawab: a Jurnal penutup diperlukan pada akhir periode terhadap BOP dibebankan ke 88.500 Jawab: d Pada akhir tahun rekening Barang Dalam Proses akan menunjukkan saldo sebesar harga pokok pesanan yang belum selesai sampai dengan tanggal 3 1 Desember 1990. a 86. Jawab: a Persediaan material pada akhir bulan Mei: Persediaan material-awal (+) Pembelian material-transaksi (a) (=) Material tersedia untuk dipakai (-) Pemakaian bahan-transaksi (b) (+) Pengenlbalian dari pabrik-transaksi (c) (-) Pengembalian ke pemasok-transaksi (d) Jumlah persediaan material-akhir Jawab: e Saldo rekening Biaya Overhead Pabrik Kontrol pada akhir bulan Mei: Pemakaian bahan tidak langsungtransaksi (b) Rp 2.500 Pesanan 125 Pesanan 126 2.700 Jumlah Jawab: a Jumlah BOP dibebankan ke: Pesanan 123 Rp 6.500. .

Jumlah penutup diperlukan pada akhir periode terhadap BOP dibebankan ke rekening BOP sesungguhnya: BOP Dibebankan (applied) Rp 2 1.000 Jumlah BOP dibebankan ke: Pesanan 123 Pesanan 124 Pesanan 125 Pesanan 126 Jumlah dibebankan Rp RD 6.oOO 2 1. yaitu : Pesanan 125 Rp 8. Rp 21. maka besarnya tarip adalah: Rp 6.000 Jumlah Persediaan barang jadi pada akhir tahun.000 4.500 RP 21.500 1.rekening BOP sesungguhnya: BOP Dibebankan (applied) Rp 21.000 10.500 BOP Sesungguhnya (applied) 89. yaitu pesanan no.000 x 100% = 200% dari biaya kerja langsung Jurnal pencatatan .500 Jawab: b Bila tarip pembebanan BOP didasarkan pada biaya tenaga kerja langsung. adalah sebesar harga pokok pesanan yang telah selesai tetapi belum dikirim ke pemesan.500 Jumlah Ru 11.500 Pada akhir tahun rekening Barang Dalarn Proses akan menunjukkan saldo sebesar harga pokok pesanan yang belum selesai sampai dengan tanggal 31 Desember 1990.500 Pesanan 126 2.500.500 BOP Sesungguhnya (applied) Bila tarip pembebasan BOP didasarkan pada biaya tenaga kerja langsung. maka besarnya tarip adalah : Rp6000 Tarippembebanan : Rp3. 124 dengan harga pokok Rp 18.000 x 100% = 200% dari biaya kerja langsung Tarip pembebanan Rp 3.

000.000 Rp108. C Rp108.000 92.90.000 9.000 18.000.000 Rp63.000.000.400.000 Biaya Overhead Pabrik Dibebarlkan Rp86.000 95.000 Jurnal transaksi 5) Barang Dalarn Proses Rp86. b Jurnal transaksi 7) Mencatat hasii Penjualan . b Jurnal transaksi 1) Persediaan Bahan Baku Utang DagangIKas 91.000 93. d Jurnal transaksi 2) Barang Dalam Proses Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Persediaan Bahan Baku Rp54.000. c Jurnal transaksi 3) Barang Dalarn Proses Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Utang Gaji dan Upah Rp72. b Jurnal transaksi 4) Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Berbagai Rekening Dikredit 94.000.000 Rp90. a Jurnal transaksi 6) Persediaan Barang Jadi Barang Dalarn Proses 96.000.000.400.

000 Rp252.000 Rp 74.000 Rp315.000 Rp 232.000 98-100 Jurnal pencatatan 98.400.000.000 86.000 Harga pokok persediaan produk cialam proses 3 1 Juli RD97.000.000.000 Rp 295.00.000 Rp360. Rp3 15.000 72.000. c Mencatat pemakaian bahan baku selama bulan Januari: Barang Dalarn Proses Persediaan Mencatat biaya tenaga kerja selama bulan Januari: Barang Dalam Proses Utang Gaji dan Upah Mencatat biaya overhead pabrik dibebankan selama bulan Januari: Barang Dalam Proses Biaya Overhead Pabrik Dibebankan Rp360.000 e Perhitungan harga pokok barang dalam proses akhir: Persediaan produk dalam proses 1 Juli Biaya yang dikeluarkan selama bulan Juli: Bahan bku Tenaga kerja langsung Overhead pabrik dibebankan Rp 63.000 Harga pokok pesanan yang diselesaikan dalarn bulan Juli 198.000.000 Mencatat psanan yang diselesaikan selama bulan Januari: Persediaan Barang Jadi Barang Dalarn Proses .000 ~~252~000.Piutang Daganmas Pendapatan Penjualan Mencatat harga pokok penjualan Harga Pokok Penjualan Persediaan Barang Jadi 97.000.400.400.000.

000 99.1) Biaya yang dikeluarkan selama bulan Januari: Rp 170.000 7 10.000 unit x Rp46) Pesanan A-5 (1.000 240.000 Mencatat penyerahan pesanan kepada pemesan selama bulan Januari: Jumal hasil penjualan: Piutang DagangIKas Pendapatan Penjualan Perhitungan: Pesanan A-1 (3.000 unit x Rp50) Pesanan A-2 (4. a (Lihat no.000 Rp 150.000 230.000 110.000 Ru 590.000 .000 Rp 790.000 60.000 Rp 670. A.000 Bahan baku Tenaga kerja 180.000 unit x Rp48) Pesanan A-3 (1.000 120.000 Persediaan barang dalam proses 31 Januari (pesanan no. A-7) Harga pokok penjualan dalam bulan Januari Rp 150.000 unit x Rp55) Jumlah Jumal harga pokok penjualan: Harga Pokok Penjualan Persediaan Barang Jadi Perhitungan: Persediaan barang jadi 1 Januari (pesanan no.000 unit x Rp60) Pesanan A-4 (5.Perhitunpan: Persediaan barang dalam proses 1 Januari (pesanan no.000 680. 100.500 unit x Rp56) Pesanan A-8 (2.000 Rp 826.000 192.000 Overhead pabrik dibebankan 360.000 Rp 830. A-6) Harga pokok pesman yang selesai dalam bulan Januari Rp 80. 98) a Perhitunganjam kerja langsung: Jumlah biaya tenaga kerja langsung selama bulan Januari Rp180.000 84. A-4) Harga pokok pesanan yang diselesaikan dalarn bulan Januari Harga pokok barang yang tersedia untuk dijual Persediaan barang jadi 3 1 Januari (pesanan no.

000.000. 102. maka pada saat pengeluaran biaya produk cacat didebitkan ke rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya sebesar: 200 x Rp 100 = Rp20. Jawab:d Hasil penjualan sisa bahan: 3. Jawab:d Karena pada saat penetapan tarip BOP taksiran biaya perbaikan produk cacat sudahdiperhitungkan.Tarip upah per jam Rp72 Jumlah jam kerja langsung: Rp180.makapersediaan tidak ada harga pokoknya.000 Karena hasilpenjualan diperlakukan sebagaipenghasilan lain-lain.000 satuan x Rp 275 = Rp 825.5000 jam Hasil penjualan sisa bahan: 3. Karena pada saat penetapan tarip BOP taksiran biaya perbaikan produk cacat sudah diperhitungkan. . 101. maka persediaan tidak ada harga pokoknya.maka pada saatpengeluaranbiaya produk cacat didebitkan ke rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya sebesar: 200 x Rpl00 = Rp20.000 satuan x Rp275 = Rp825.000 Jawab: d Karena hasil penjualan diperlakukan sebagai penghasilan lain-lain.000/Rp72 = 2. 103.

4. Tujuan produksi untuk persediaan yang kemudian dijual Karakteristik metode harga pokok proses sangat berbeda dengan karakteristik metode harga pokok pesanan. Lebih sederhana Lebih sesuai untuk pemsahaan kecil b. Hams dipilih salah satu yang sesuai c. c. c. Kegiatan produksi berda~ar~anggaran produksi d. 3. Kontraktor bangunan a. d. 2. . dan c benar d. sehingga penerapannya dalam pemsahaan manufaktur: a. Saat perhitungan harga pokok b. Lebih cocok untuk perusahaan yang besar d. SOAL-SOAL METODE HARGA POKOK PROSES 1. Jenis biay a produksi Metode harga pokok proses cocok digunakan pada perusahaan: a. Obyek pembebanan biaya produksi Pembebanan biaya overhead pabrik berdasarkan tarip c. segera ditentukan harga pokok penjualannya Produk yang dihasilkan bersifat homogen b. Percetakan Pabrik pupuk b. KECUALI: a.BAB IX METODE HARGA POKOK PROSES A. Berikut ini adalah karakteristik metode harga pokok proses KECUALI : Biaya satuan dihitung pada saat produk selesai agar jika dijual dapat a. Benkut ini adalah perbedaan antara metode harga pokok pesanan dengan metode harga pokok proses.. b.

Sistem harga pokok pesanan c. Pada metode harga pokok proses.biayabahanbaku tidalcharus dipisahkan dari biaya bahan penolong b.hasilkan pada perusahaan yang menerapkan: a.Manakah yang benar? a. Jumlah produk yang biasanya hilang dalam proses produksi c. Judul-judul informasi yang dapat digunakan dan tercantum dalam laporan biaya produksi (production cost report) pada perusahaan yang menerapkan process costing method adalah tersebut dibawah ini. Direct costing d. Informasi berikut ini diperlukan untuk menentukan besamya unit ekuivalen yangdi~lahdalamde~artemen produksipadaperiodetertentu. pada akhir periode d. kalkulasi hargapokokprodukdilakukan c. Sistem harga pokok standar Sistem harga pokok estimasi d. Standar b.first out: Menyaratkan bahwa persediaan akhir barang dalam proses dinyatakan a. dalam hal bahwa metodefirst in. Metodefirst in. KECUALI: a. Pengalokasian biaya overhead Laporan harga pokok produksi per departemenmerupakanlaporanyang d. Jumlah bahan baku yang ditarnbahkan d. .KECUALI: a. Biaya yang dibebankan c. dan c benar Berikut ini yang tidak akan digunakan dalam kalkulasi biaya proses adalah: a. Biaya yang dibayarkan Biaya dihitung sebagai berikut (Perhitungan biaya) d. Padametodehargapokokproses. Data produksi b. Sistem harga pokok proses b. b. Jawaban a.first out dalam kalkulasi biaya proses berbeda dengan metode rata-rata tertimbang. pembebanan biaya overhead pabrik atas dasar tarip tidak merupakan keharusan Padametodeharga pokok proses. Perhitungan biaya menurut departemen c. Jumlah produk yang selesai Jurnlah produk yang masih dalam proses awal b. dalam satuan produksi setara (equivalentproduction units) Dapat juga digunakan dalam kalkulasi biaya pesanan b. Menganggap bahwa persediaan barang dalam proses tidak ada c.

Menambah output produksi di departemen tersebut c. sehingga a. Tambahanbahan yang terjadididepartemen lanjutandanmempengaruhitambahan output pada departemen tersebut. diperlukan penyesuaian biaya unit yang dialihkan 13. diperlukan penyesuaian biaya unit yang dialihkan kepada bagian ini Berkurangnyabiaya per unit dari bagian terdahulu.d. penyesuaian biaya per unit yang dialihkan Bertambahnya biaya per unit dari bagian pabrik terdal~ulu. ha1 ini mempengaruhi biaya per unit dalam suatu laporan biaya-biaya produksi. Manaikkan produktifitas Belum menyerap biaya produksi yang dikeluarkan dalarn periode d. perlu disesuaikan biaya unit yang dialihkan Berkurangnya biaya unit dari bagian pabrik terdahulu. Biaya Tenaga Kerja Langsung d. . Mengurangi harga pokok produk selesai pada departemen tersebut b. Asumsinya lebih realistis b. sehingga diperlukan b. Jika ada tambahan bahan-bahan bagian pabrik selain dari bagian pabnk awal (pertama) dan tambahan itu mengakibatkan bertambahnya jumlah unit. Barang Dalam Proses-Tenaga Kerja b. namun tidak C. 15. terjadinya produk yang hilang tersebut Barang-barang yang dalarn proses produksi mengalami beberapa ketidak sempurnaan. akan: Menambah harga pokok produk selesai pada departemen tersebut a.biaya tenaga kerja untuk departemen pembanlu di debit ke rekening: a. akan tetapi dengan menambah upah buruh dan mungkin bahanbahan baku masih dapat diperbaiki menjadi barang jadi yang sempurna. Mengurangi output di departemen tersebut d. Tidak memperhatikan tingkatan penyelesaian persediaan barang dalam proses awal ketika menghitung satuan produksi setara 1 1. Biaya Overhead Pabrik C. Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung Produk yang hilang pada awal proses produksi di departemen produksi berbeda dengan produk yang hilang pada akhir proses produksi. Menaikkan biaya produksi C. karena ha1 itu mengakibatkan: Bertambahnya biaya unit dari bagian pabrik terdahulu. namun tidak d. barangbarang demikian dlkenal dengan nama: a. terutama karena: a. Pada metode harga pokok proses. Defective material 14.

Bagaimana memperlakukan hasil penjualan produk cacat tersebut Bagaimana memperlakukan persediaan produk cacat tersebut d. Biaya produk (product cost) Perhitungan Unit Ekuivalen Produksi Data untuk menjawab soal no. d. Spoiled material Scrap material Waste material Masalah akuntansi yang timbul akibat adanya produk cacat adalah: a. b. Persediaan Bahan Baku Perlakuan produk rusak dalam suatu proses produksi yang normal adalah: Dibebankan kepada produk yang tidak rusak a. 16. kegagalan/kerusakan itu harm diklasifikasikan sebagai: Beban yang ditangguhkan (deferred charge) a. Jika jumlah kegagalankerusakan dalarn proses-proses manufaktur melebihi tingkat normal. Persediaan Produk Cacat d.d 21 Metode RATA-RATA &n FIFO FT. 17. Biaya gabungan (jqint cost) d.000 unit Produk dalam proses awal Diterirna dari Departemen 150. berikutnya Dibebankan ke produk rusak itu sendii d. c. Dibebankan pada produk selesai yang diserahkan ke departemen c. Data produksi bulan Juni 19x1 adalah sebagai berikut: 7. X menggunakan metode harga pokok proses dalam pengumpulan biaya produksinya. Bagaimana memperlakukan biaya pengerjaan kembali b.000 unit Produk dalam proses akhir . rekening yang di debit untuk mencatat biaya pengerjaan kembali adalah: Barang Dalam Proses (biaya bahan baku) a. b. Jika biaya pengerjaan kembali produk cacat dibebankan kepada produk secara keseluruhan. Biaya periode (period cost) c.000 unit 2. Bagaimana memperlakukan kerugian yang timbul akibat adanya produk cacat c.b. yaitu Departemen 1 dan Departemen 2. 18. 20 s. 19. Dibebankan pada produk dalam proses akhir b. Produknya diolah secara beruutan melalui dua departemen produksi. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya c.

000 satuan.200 satuan b.350 55.000 satuan diantaranya berasal dari produk dalam proses awal.350 Jika perusahaan menggunakan metode masuk pertama-keluar pertama Vrst in. Tingkat penyelesaian produk dalam proses akhir adalah sebagai berikut: biaya bahan baku: 100% .000 satuan d.000 satuan.000 50. XYZ menghasilkan 60. 57. 80% biaya konversi Apabila perusahaan memakai metode harga pokok rata-rata tertimbang. maka unit ekuivalen biaya konversi adalah: a.600 55.000 50.unit ekuivalensi biaya bahan baku dan biaya konversi bulan Juni 19X1 adalah: Unit ekuivalensi Unit ekuivalensi Biava bahan baku Biaya konversi 50.600 57. biaya konversi: 30%. MEKAR JAYA. first out). 60.Awal periode : 100% biaya bahan.000 50. unit 20. tahap pertama dari siklus proses produksi.000 50.600 55. ekuivalensi (equivalentunit) biaya bahan baku dan biaya konversi bulan Juni 19x1 adalah: Unit ekuivalensi Unit ekuivalensi Biava bahan baku Biava konversi 65. 55.000 50.350 50.Akhir periode: 100% biaya bahan.350 55. Jika perusahaan menggunakan metode harga pokok rata-rata tertimbang. 63. 60% biaya konversi . Tingkat penyelesaian produk dalam proses adalah: . biaya konversi: 75%.600 57.600 satuan Metode RATA-RATA Bahan ditambahkan pada permulaan proses dalam bagian pencampuran PT. 15. Berikut ini informasi untuk bulan Juli 19X1: .000 50. Pada akhir tahun masih ada produk dalam proses sebanyak 12.350 Metode RATA-RATA Selama tahun 1984PT. 23.Tingkat penyelesaian produk dalam proses awal adalah sebagai berikut: biaya bahan baku: 100%. Dari produk tersebut 22.000 satuan c.000 50.

180.000 Dipindahkan (transfer) ke bagian berikutnyal Hilang dalam proses produksi 30. Barang dalam proses pada 30 September 1989 adalah 8.000 30.000 Menurut sistem akuntansibiaya FT.000 36. berapa satuan ekuivalen untuk perhitungan biaya satuan bahan? a. dengan tingkat penyelesaian bahan 100% clan konversi 80%.000 buah.000buah.000 Pekerjaan dalam pelaksanaan 3 1 Juli (50% selesai untuk biaya konversi) 70. Barang dalam proses pada 1 September 1989 mempunyai tingkat penyelesaian 80% untuk biaya konversi. 38.000 40.800 48.000 Data untuk menjawab soal no.Produkdalamprosesakhirperiodesebanyak 15.000 10. FT.000 Metode FIFO 24. 25 s. Dengan menggunakan metode rata-rata tertimbang.000 Bahan ditarnbahkan pada awal proses.000 unit.000 38. 120. 48.Satuan Pekerjaan dalam pel&sanaan 1 Juli (60% selesai untuk biaya konversi) 60. sedangkan barang dalam proses pada 30 September 1989 mempunyai tingkat penyelesaian 60% untuk biaya konversi.000 c.000 Dimulai dalam bulan Juli 150.000 b.MEKAR JAYA biaya yang terjadi untuk satuan yang hilang diserap oleh satuan baik yang tersedia.dengantingkatpenyelesaian . 210. 345. 1 September 1989 Dari produksi bulan September 1989 10. 27 Metode FIFO dari RATA-RATA Dari sebuah laporan harga pokok produksi diketahui besarnya produk dalam proses awal periode jumlahnya 10.800 b.MERDEKA menghitung arus fisik barang yang selesai pada Departemen A untuk bulan September 1989 sebagai berikut: Unit yang diselesaikan: Dari barang dalam proses.000 d.000 44. Berapakah unit produksi ekuivalen untuk bulan September 1989 berdasarkan metode FIFO? Unit ekuivalensi Unit ekuivalensi Biava bahan baku Biava konversi a.000 d.d. 48. 38.000 c.

88. 88.000 satuan d. 100.000 satuan d. 85.500 buah C. 30 s.000 buah 92. 90.Biaya konversi 60% 50% Apabila unit ekuivalensi biaya bahan baku dalam metode harga pokok rata-rata tertimbang (weighted average cost method) adalah 100. T ABC yang mengolah produk melalui satu departemen menggunakan 3 jenis bahan.000 satuan.000 buah b.000 buah 26.000 buah 85.d.000 buah.000 satuan 29. 100.000 satuan b. 25.000 buah c.000 satuan b.000 satuan c. 32 Metode FIFO I.000 buah b.bahan 80% dan biaya konversi 50%.000 satuan Data untuk menjawab soal no.000 buah 95. 90. Metode FIFO dari RATA-RATA 28. 90.000 buah d. yaitu: . 90.Biaya bahan baku 100% 60% .500 buah c. 100.000 satuan Tingkat penyelesaian . Besamya produk selesai adalah: a.500 buah d. 100. d. Dari data pada sod di atas berarti jumlah produk jadi adalah: a.000 buah 27. 110. 100. 95. Produksi ekuivalen bahan dengan metode rata-rata adalah 100.000 satuan c. besamya produksi ekuivalen adalah: Biaya Bahan Biaya Konversi a.000 satuan 15. 88. 100. 93. 88.500 buah b. Jika dengan metode FIFO. maka unit ekuivalensi biaya bahan baku pada masuk pertama keluar pertama (FIFO method) adalah: a. Dan sebuah perusahaan diperoleh informasi mengenai produk dalarn proses sebagai berikut: Awal Periode Akhir Periode Jumlah produk dalam proses 10.500 buah Besarnya produksi ekuivalen biaya konversi dengan metode rata-rata adalah: a.000 buah 87.000 buah 87. 90.

jumlah unit ekuivalen biaya bahan baku C adalah: a.Bahan A: pada awal proses Bahan B: pada tingkat penyelesaian 50% Bahan C: pada tingkat penyelesaian 75% Informasi untuk kegiatan bulan Mei 1990 adalah: Produk dalam proses awal 10.000 unit d. menghasilkan produk kirnia yang untuk tujuan akuntansi prosesnya dibagi menjadi dua departemen.000 unit d. Disini zat Y ditarnbahkan ketika proses produksi sudah mencapai 50 persen. 27. dialokasikan hanya pada produk yang baik saja. 25. Satuan yang digunakan untuk mengukur/menghitung barang dalarn proses dan 3). 23. Keterangan lainnya: 1). Departemen A dan B.000 unit Apabila menggunakan metode masuk pertama keluar pertama. Kerusakan normal terjadi di Departemen A. barang jadi adalah kg.d.000 unit b.000 unit d. 32. Data untuk menjawab soal no. 27. 33 s. Apabila menggunakan metode masuk pertama keluar pertama. 30. 35. 35. Produk selesai dipindahkan ke persediaan barang jadi. . Fomula ramuannya terdiri dari satu bagian zat X dan satu bagian zat Y.000 unit dengan tingkat penyelesaian biaya konversi 60%. Di departemen B biaya konversi dialokasikan merata ke setiap ekuivalen unit produksi.000 unit 3 1. Produk jadi yang dipindahkan ke gudang 25. 27.000 unit. 23. Pertama-tama zat X diproses di departemen A. 25. Sementara itu tidak terjadi kerusakan didepartemen .000 unit c. 25. setelah itu dipindahkan ke Departemen B.000 unit Apabila menggunakan metode masuk pertama keluar pertama. karena kerusakan yang terjadi adalah normal.000 unit c.B Di departemen A biaya konversi mencakup seluruh kegiatan pengolahan dan 2). Produk dalam proses akhir 10. Dalam beberapa detik pertama zat X hilang sebanyak 5 persen. 24 jam sehari. 35. jumlah unit ekuivalen biaya bahan baku B adalah: a. jumlah unit ekuivalen biaya tenaga kerja adalah: a.000 unit dengan tingkat penyelesaian biaya konversi 40%.000 unit b. 23.000 unit C.000 unit b. 34 Metode FIFO PT AYO MAJU. Proses ini berlangsung terus menerus.

000 kg Tingkat penyelesaian pada 314 persediaan awal Mulai diproses/diterima dari departemen sebelumnya 550.500 kg d. X rnenggunakan metode harga pokok proses.500 kg a. 522.500 kg 423. 869. 869. Berikut ini data produksi dan biaya produksi pada bulan Juni 1987: Departemen A Data produksi: Ditransfer ke Departemen B Ditransfer ke Gudang Barang dalam proses akhir: 100% bahan baku.000 kg 14. 3 1 Oktober ? Tingkat penyelesaian persediaan akhir 113 Bahan yang ditambahkan di departemen B 33.500 kg Ekuivalen produksi bagi Depatemen A untuk bulan Oktober 1985 dengan metode FIFO adalah: Bahan X Konversi 478.000 kg - 6.000 kg b.000 kg c.000 kg Tidak bisa dihitung d.000 kg Dipindahkan ke departemen berikut 511.d.000 kg - Departemen B - 40. 40% biaya konversi 1/3 biaya konversi 46. 35 s.4).Oktober 1985: Departemen A Barang dalarn proses.500 kg Barang dalam proses.000 kg . Data untuk bulan .000 kg 3110 ? ? ? 115 489. 979.000 kg 979. Departemen B 110.500 kg 511.000 kg 869. 38 Dua Departemen PT. Perhitungan Harga Pokok Tidak Ada Persediaan Produk Dalam Proses pada Awal Periode Data untuk menjawab soal no. 423.500 kg b.000 kg 979. 1 Oktober 88.500 kg Ekuivalen produksi bagi departemen B untuk bulan Oktober 1985dengan metode FIFO adalah: Konversi Bahan X a.500 kg 478. 34.500 kg c. 522. 511.

Produknya diproses melalui dua departemen produksi A dan B. Jawaban a. dan c benar 36.572 Rp 35.50 d. Rp1.000 .650.675 c.650 d. Jawaban a.000.952 c.Data biaya: Biaya bahan baku Biaya tenaga kerja Biaya overhead pabrik 35. Biaya tenaga kerja: Rp42. 65. Rp14. 38.940 d.89 b.000 60.000 60.600 unit c.000 60.000 65.120 34.000 d. Rp145. Rp140.000 unit 39.d 40 Dua Departemen. dan c benar Biaya yang ditambahkan di Departemen B per unit adalah: Rp1. Jawaban a. Harga pokok produk setengah jadi yang ditransfer ke Departemen B adalah: a. Rp3.000 60. dan 213 biaya overhead pabrik 15. Biaya konversi Departemen A 51. b. biayaoverhead pabrik: Rp39. Departemen Pertama PT. Jumlah produk selesai yang ditransfer ke Departemen B: 50.000 60.920 Manakah yang benar dari hasil perhitungan jumlah ekuivalen produk yang diselesaikan pada bulan Juni 1987 berikut ini? Jurnlah vroduk ekuivalen 60.000 unit Jumlah produk dalam proses pada akhir bulan dengan tingkat penyelesaian 100% biaya bahan. 60.61 a. Berikut ini adalah biaya dan data produksi bulan Januari 19x1 Departemen A yang merupakan departemen pertarna dalam proses produksi. Rp86. dan overhead pabrik bulan Januari 19x1 di Departemen A adalah: Bahan Tenaga keria Overhead pabrik a. Rp 3 1.560 b. AR menggunakan sistem harga pokok proses. Biaya bahan baku Departemen A b.000 65.000 60.700 3 1. 37. Rp24. 39 s. b. c. b.000 b. dan c benar d. Rp14. Data untuk menjawab soal no.000 unit Jawaban a. Biaya konversi Departemen B 42. tenaga kerja. 55. b.200 36. Biaya bahan: Rp52. 213 biaya tenaga kerja. Unit ekuivalen bahan.000 unit a.000 b.600. dan c benar Harga pokok persediaan barang dalam proses akhir di Departemen A adalah: a.000 c. 60.

200 unit (biaya bahan baku 100%.75 c.40. Rp 0. dan biayaoverheadpabrik sebesar90%. Rp 85.000unit.d.98 Rp 0. Informasi yang diperoleh mengenai proses produksi di Departemen A pada bulan Maret 1990 adalah sebagai berikut: Produk yang diserahkan dari Departemen A ke Departemen B sebesar 15.000 d. a. 43 Dua Departemen. Harga pokok produk yang ditransfer ke departemen 2. Rp 196.66 Rp 0.66 d.81 Rp 0.8 1 Rp 0. biaya tenaga kerja langsung 85%. . Rp 0.70 Data untuk rnenjawab soal no. Rp 846.200 c.50. adalah: a. Produk yang dihasilkan departemen 1 dalam bulan Januari 1990adalah 12. biaya tenaga kerja langsung Rp12. b. X menghasilkan satu macam produk bemama Y yang diolah melalui dua departemen produksi dengan menggunakan metode proses.200 kg dengan tingkat penyelesaian biaya bahan 80%.200 42.66 b.000 c. dan biaya overhead pabrik sebesar Rp18.50. c. Rp 60. Rp 60.81 Rp 0. Total biaya bahan adalah: . Biaya produksi per unit produk yang diproduksi bulan Januari di Departemen A adalah: Bahan Tenaga keria Overhead uabrik a.d. 46 Dua Departemen.400 b. Hargapokokproduksi per unit adalah sebagai berikut: Biaya bahan baku Rp 20 Biaya tenaga kerja langsung 15 Biaya overhead pabrik 22 Total Rv 57 41.760 Rp 58. d.000 Rp 137. Produk yang masih dalarn proses akhir 1.00. Departemen Pertama PT. Departemen Pertama Sebuah perusahaan mengolah produk melalui dua departemen produksi. Rp259. Produkdalam proses akhir bulan adalah 1.560 d.600 Data untuk rnenjawab soal no.70 Rp 0. biaya tenaga kerja langsung 80%. Rp 295.000 Harga pokok produk dalarn proses akhir adalah: a.260 43. Rp 0. 44 s.90 Rp 0. Rp 752. dan biaya overhead pabrik 90%). Rp 702. Rp 684.70 Rp 0. Pada akhir bulan Maret 1990 diketahui biaya per unit produk adalah sebagai berikut: biaya bahan baku Rp22.760 b. Rp 0. 41 s.000kg.

Rp 1. . Biaya bahan baku yang ditambahkan Departemen 2 dalam bulan Maret adalah sebesar: b. Rp 56.000 c.000 Produk dalam proses akhir 3. Rp 853.120.480 45. Rp 916. BULAKSUMUR memproduksi mobil mainan anak-anak. Rp 1. 46. Rp 2. Rp 795. Rp 1.160 Biaya produksi per unit yang ditambahkan dalam Departemen 2 dalam bulan maret adalah: a. Rp 58.000 Biaya yang ditambahkan Departemen 2: Bahan baku Rp20 untuk setiap roda karet Tenaga kerja langsung Rp 8. Rp 1. Rp 938. 50 Dua Departemen.OOO Biaya produksi dari Departemen 1 Rp 13. Di dalam Departemen 2 ditambahkan 4 roda karet untuk setiap mobil pada akhir proses.160.500. Rp 750.000 unit dengan tingkat penyelesaian: 100% biaya bahan baku.090. Rp 57. Rp 1.440 c.OOO c. Rp 54.000.000 Biaya overhead pabrik Rp 6.440 c. Di dalam Departemen 1 body mobil dicetak dengan bahan plastik.000 d.750 c.780 b. Ada Tambahan Bahan F'T.600 b.280 d. Rp 1.380 b. 47 s. Rp 884.d.160 48. Rp 1. Rp 1. Rp 1. Total harga pokok produk selesai yang diserahkan ke gudang adalah: a.'Departemen Lanjutan.750 d. 49. 47. Berikut ini adalah kegiatan Departemen 2 dalam bulan Maret: Unit yang diterima dari Departemen 1 15.000 Harga pokok per unit produk yang ditransfer ke gudang produk selesai adalah: a.440 d. Rp 1.000 a.000 Harga pokok pmduk dalam proses akhir bulan Maret 1990 adalah: a.480 Total harga pokok produk dalam proses akhir dan produk selesai adalah: a. 213 biaya konversi.500 b.095 b.44. Rp 858. Data untuk menjawab soal no.995 c. Rp 901.000 d. Rp 959.200.995 d.

000 53. Rp 2 4 .970. 30. 27.000 Biaya overhead pabrik Tingkat penyelesaian produk dalam proses akhir: Biaya bahan baku 100% Biaya konversi 20% 5 1. PAMAN SAM memiliki dua departemen produksi untuk menghasilkan produknya: Departemen A dan Departemen B. Rp 2. dan Penjurnalan PT. . RP 20 a.400 27.800 34. Total harga pokok produk dalarn proses akhir bulan adalah: b. Bagian akuntansi biaya perusahaan tersebut mengumpulkan data sebagai berikut ini untuk bulan Januari 19X1: Departemen A Dimasukkan ke dalam proses 35.418.470.000 616.800 c. Harga pokok per kg produk ymg diproduksi Departemen A dalam bulan Januari 19x1 adalah: RP 10 b.637.000 kg Diterima dari Departemen A Produk jadi yang ditransfer ke gudang Produk dalam proses akhir 4.000 23. Ada Produk Hilang pada A wal Proses.940.d. Rp 32.000 Data untuk menjawab soal no. Rp 1.000 a.000 kg Biaya yang dikeluarkan dalam bulan Januari 19x1: Biaya b a h baku ~ Rp 340. 34.000 b. 23. Rp 4. RP 15 d. Rp 616.400 d. Unit ekuivalensi biaya Departemen A adalah: Konversi Bahan Baku a.000 c. 57 Dua Departemen.50.000 30.000 d. 9 4 0 c.000 b.000 Biaya tenaga kerja 462.000 c.000 Departemen B 52. c. RP 45 Total harga pokok produk selesai yang ditransfer oleh Departemen A ke Departemen B dalam bulan Januari 19x1 adalah: a.350. Rp 1. 51 s. Rp 9.000 kg Produk hilang dalam proses awal 1.

c.000 b.000 Barang Dalam Proses-Tenaga Kerja Dept. . c.Barang Dalam Proses-Departemen B Rp 1. B.000 d.000 Barang Dalam Proses-TenBga Kerja Dept.000 c. B 16.Barang Dalam Proses-Departemen B Rp 616. Harga pokok per kg produk yang ditambahkan dalam Departemen B bulan Januari 19x1 adalah: RP 55 b. RP 30 d. B 165.000 Barang Dalam Proses-Overhead Pabrik Dept. B d.637.Persediaan Produk Jadi Rp 1. B 60. B 525.050. B 72.350.000 c.000 Barang Dalam Proses-Bahan Baku Dept.637.350.205.000 Barang Dalam Proses-Bahan Baku Dept.000 Barang Dalam Proses-Departemen A Jurnal untuk mencatat harga pokok produk selesai Departemen B yang ditransfer ke gudang dalam bulan Januari 19x1 adalah: a. 57.000 Barang Dalam Proses-Tenaga Kerja Dept. Rp 15kg Jumal untuk mencatat harga pokok produk selesai Departemen A yang ditransfer ke Departemen B dalam bulan Juli 19x1 adalah: a.Persediaan Produk Jadi Rp 432. B Rp 300. B 12.418. B Rp 1.000 Barang Dalarn Proses-Departemen A Rp 1. 58. yaitu bagian produksi A.Persediaan Produk Jadi Rp 68.350.418. RP 25 a.54.000 630. RP l o k g a. RP 51kg d. dan C dengan menggunakarn metode harga pokok proses.Persediaan Produk Jadi Rp 1.000 bBarang Dalam Proses-Departemen B Rp 2.Barang Dalam proses-~e~akemen B Rp 1. 56.000 Barang Dalam Proses-Overhead Pabrik Dept.000 Barang Dalam Proses-Tenaga Kerja Dept.000 Barang Dalam Proses-Departemen A Rp 1.000 Barang Dalam Proses-Bahan Baku Dept. B 600.000 Barang Dalam Proses-Bahan Baku Dept.000 Barang Dalam Proses-Overhead Pabrik Dept.000 Tiga Deparfemen PT MATAHU rnmengolah produknya melalui tiga bagian produksi. B Rp 585. B Rp 40.000 Barang Dalam Proses Departemen A Rp 2.000 Rp 616. Data 55.000 Barang Dalam Proses-Overhead Pabrik Dept. RP 45 Penyesuaian (adjustment) terhadap harga pokok per kg produk yang diterima oleh Departemen B dari Departemen A karena adanya produk yang hilang pada awal proses di Departemen B adalah sebesar: RP 25kg b.

4 berikut ini diperoleh dari Bagian Akuntansi Biaya.100 Rp 700 Bagian Produksi B Rp 2. Bagian Produksi A Rp 1. d. Bagian Produksi A Produk yang dimasukkan dalam proses 10. yaitu data yang berhubungan dengan produksi dan biaya selama bulan Oktober 1988. 59 s. dan Biaya overhead pabrik Rp 6.000 dengan rincian sebagai berikut: biaya bahan Rp 4.000 satuan dengan tingkat penyelesaian 100% biaya bahan dan 80% biaya konversi.000 Rp 300 Data untuk menjawab soal no.560.000 satuan. Biaya per unit untuk masing-masing bagian pada bulan Agustus 1988 adalah: a.900. di mana 8.000 Rp 500 Rp 500 Rp 250 Bagian Produksi C Rp 4.000. yaitu Departemen I dan 1 Departemen 1 . Pi-oduk dalam proses akhir periode sebanyak 5. Bagian Produksi B Biaya yang ditambahkan pada Bagian Produksi B adalah biaya tenaga kerja Rp 1.300 Rp 2. biaya tenaga kerja Rp 3.000 satuan diolah selanjutnya dalam Bagian Produksi C.000. c.d.000 dengan tingkat penyelesaian 80%.500 Rp 1.500 satuan.000 liter dengan harga pokok Rp 20 per liter.900.000.000 satuan masih merupakan produkdalam proses dengan tingkat penyelesaian60% biaya konversi. Tambahan biaya pada Bagian Produksi C ini adalah sebesar Rp 9. b.000untuk biaya tenaga kerja dan Rp 1.300 Rp 3.462.720. Setiap liter produk yang diterima dari Departemen I pada awal proses di DepartemenI1 ditarnbahbahan sebanyak4 liter@ Rp 10.840. Bagian Produksi C Produk selesai dan siap dijual sebanyak 4.000 dan biaya overhead pabrik Rp 1. Jumlah biaya produksi adalah sebesar Rp 14.500 untuk biaya overhead pabrik.000 satuan.000.Dari proses bagian produksi B ini dihasilkan 7.750. Biaya konversi besarnya Rp 72.000. Departemen Lanjutan. . di mana 5.500 Rp 1. BAKTI NUSA mengolah produk melalui dua departemen.000.Pada periode tersebutDepartemen I1 menerima dari Departemen I sebanyak 5. 2.000 satuan selesai dan diolah lebih lanjut pada Bagian Produksi B.000 satuan dipindahkan ke gudang dan 1. Ada Tambahan Bahan yang Menambah Unit PT. $00 satuan masih dalam proses dengan tingkat penyelesaian 75% untuk biaya konvetsi. 61 Dua Departemen. Produk yang masih dalam proses pada akhir bulan sebesar 2.

Departemen Lanjutan. Rp 1. Rp 375. Rp 300.000 d. Ada Tambahan Bahan yang Tidak Menamhah Unit PT.800 62.000 d. Rp 3.5 1 a. Rp 75. Biaya produksi per unit yang berasal dari Departemen A setelah adjustment dengan adanya produk yang hilang dalarn proses di Departemen B adalah: b.000 a. X memproduksi produknya melalui dua departemen produksi: Departemen A dan Departemen B. Rp 20 Rp 40 Rp 14. Rp 52.000 kg Jumlah produk yang hilang dalam proses (dianggap terjadi pada awal proses) 1. Berikut ini adalah data produksi dan biaya produksi Departemen B bulan Januari 19X1.d 65 Dua Departemen.s 1 Rp 140.59.000 b.020 Biaya tenaga kerja 32. sebab tidak tahu jumlah produk selesai 60. 6 1. RP 5 Rp 10 RP 4 d.4 c.000 kg Jumlah produk jadi yang ditransfer ke gudang produk jadi 35.000 kg @ Rp 3. 62 s. Tidak dapat dihitung.000 kg Data biaya produksi: Harga pokok yang diterima dari Departemen A 40.5 1 c.000 a. Rp 222.400 Biaya overhead pabrik 19. Rp 5. b. Data untuk menjawab soal no. Data produksi: Jumlah produk yang diterima dari Departemen A 40. Tidak dapat dihitung.91 d. 1 RP 4 RP 8 RP 3 a. sebab tidak tahu jumlah produk selesai Besarnya total harga pokok produk dalam proses akhir adalah: c. Tidak bisa dihitung Besarnya total harga pokok produk selesai adalah: b.000 c.400 Tarnbahan biaya bahan baku yang tidak menyebabkan tambahan produk yang dihasilkan oleh Departemen B 17.60 . Rp 3. Besarnya harga pokok untuk setiap liter produk selesai di Departemen I1 adalah: Bahan Konversi Dari Dep.000 kg Jumlah produk yang masih dalam proses pada akhir Januari 19X 1 dengan tingkat penyelesaian biaya bahan baku 50% dan biaya konversi 25% 4. Rp 72. Ada Produk Hilang pada Awol Plnsrs.

620 d. Rp1. Dari data di atas banyaknya ekuivalen unit untuk biaya konversi adalah: a. dan Departemen Penyempurnaan.OOO kg 1) Jumlah produk yang ditransfer ke Departemen Penyempurnaan70.200 unit d. 69 Dua Departemen.000 67. Rp69.000 unit b. 70. RpL120. Berikut ini adalah data yang diambil dari laporan biaya produksi Departemen Kertas untuk bulan Maret 1989: Jumlah produk yang diterima dari Departemen PulplOO.l Biaya konversi yang melekat pada produk dalam proses tanggal 31 Maret 1989 3) adalah: Biaya tenaga kerja: 20.000 kg Jumlah produk yang hilang pada awal proses10. Rp209.000 kg Harga pokok produk yang diterima dari Departemen Pulp sebelum disesuaikan 2) adanya produk yang hilang adalah sebesar Rp8.000 x 60% x Rp2 Rp24. Rp 0. Departemen Kertas. Departemen Lanjutun. Biaya produksi per unit yang ditarnbahkan oleh Departemen B dalam bulan Januari 19x1 sebelum adjustment dengan adanya produk hilang dalam proses adalah: a. Rp69. TINDONESIA JAYA memproduksi kertas melalui tiga departmen produksi yakni Departemen Pulp. 65.050. Rp910.770 64.000 Biaya overhead pabrik: 20. Data untuk menjawab soal no. Rp770.850 b.46 Total harga pokok produk jadi yang ditransfer oleh Departemen B dalam bulan Januari 19x1 ke gudang produk jadi adalah: a. Rp 3.000 b.d. Rp192.000 c.220 Total harga pokok produk dalam proses yang ada di Departemen B pada &hir bulan Januari 19x1 adalah: a. Rp209. Ada Produk Hilang Pada A wal Proses I. Rp 1. Rp2 16.51 c.770 c. 66 s. Rp16. 82.600 unit Harga pokok produksi selesai yang ditransfer ke departmen penyempurnaan adalah: a. 70.620 d.000 unit c.000 kg Jumlah produk dalam proses pada tanggal 3 1 Maret 1989 (60% biaya konversi)20.000 66. . 74.000 x 60% x Rp4 Rp48.91 d.51 b. Rp192.220 c. Rp 5.850 b.000 d.63.

563.400 kg 3. Rp332. Ada Produk Hilang A wal Proses PT "MEJAMPU suatu perusahaan farmasi.160. c.563. . C. 70.000kg Ditransfer ke bagian berikutnya 10.400 kg Perampungan 6. Biaya per unit untuk masing-masing bagian pada bulan Agustus 1996 adalah: Pencamuuran Rp 198.200 kg Dalam proses (bahan loo%.52 Rp 1.000 a.000 837. d.52 a.000 d.000 1.75 Rp 401. Besamya biaya konversi untuk unit ekuivalen yang diperhitungkan adalah sebesar: Rp420.644.68.800kg 6.35 Rp 697. Rp492. Rp252.52 Rp 743.100.400 1.25 Peneuiian Rp 433.52 Rp 697. Rp423.000 Tiga Departemen. Data produksi dan biaya selama bulan Agustus 1986 adalah sebagai berikut: 69.05 Peram~ungan Rp 743. biaya konversi 213) Biaya yang dibebankan pada bagian: Bahan upah Overhead pabrik Rp 5.05 Rp 743. Rp292. biaya konversi 113) 4. memproduksi suatu jenis obat dalarn tiga bagian produksi.800 kg Dalam proses (bahan 100%.000 342.61 1.728. Rp445.400 RD 4.000 Rp 2.674.600 kg Rp 3.800 kg Ditransfer ke gudang produk jadi 4.29 1.000 752.000 Rp 2.25 Rp 433.500 Rp 1.000 Unit yang hilang dianggap normal dan dibebankan untuk semua unit yang diproduksi.000 756.000 a.500 BAGIAN Pengujian 10.52 Rp 1. Pencampuran Data Produksi: Dimasukkan dalam produksi 16.197. b. c.000 b.600 Besamya harga pokok produk dalam proses akhir adalah sebesar: Rp392.000 d.35 Rp 401.000 b.

Rp 60 Rp 188 b.000 unit.000unit. . Biaya yang terjadi dalarn bulan Oktober 1989terdiri atas: bahan Rp 920. konversi 50% .bahan baku 100%. Dua Departemen.000. Rp 48 Rp 98 Rp 338 d.upah langsung 50%. Rp 188 Ada Persediaan Produk Dalam Proses pada Awal Periode Data untuk menjawab soal no.d. tenaga kerja Rp 555.Biaya overhead Jumlah biaya Departemen A 2. Persediaan produk dalam proses 3 1 Desember 1989 sebanyak 4. tenaga kerja Rp 101.000 144.000.000 Rp 235.500 Rp 352. SABDA mengolah produk melalui satu tahap.7 1. dan overhead pabrik Rp 370.Bahan baku .500 unit 500 unit Departeman B 2. Ada Produk Rusak PerusahaanXYZmenghasilkanbarang Y melalui 2departemen. overhead 50% Jumlah biaya yang dikeluarkan: . Dalam bulan Februari 1989 bagian produksi mengemukakan data sebagai berikut: Produk yang diselesaikan di Produk yang hilang di awal proses Produk rusak (tidak laku dijual) Produk dalarn proses dengan tingkat penyelesaian: .000 Rp 594.000 unit 200 unit 1.000 unit dengan tingkat penyelesaian bahan 40% dan konversi 50%. biaya yang telah diserap dari bulan sebelurnnya terdiri atas: bahan Rp 40.000 unit dengan tingkat penyelesaian 50% dan konversi 75%.000 Rp 210.000. pada tanggal 1 Oktober 1989 perusahaan tersebut memiliki persediaan produk dalam proses sebanyak 8. 72 s.000.000 unit - 300 unit 240.000 117. produkselesai 38. 80 Satu Departemen. Rp 80 Rp 180 c.yaitu departemen A dan B.000. Metode RATA-RATA dun FIFO PT.500 Biaya per unit untuk masing-masing departemen pada bulan Februari 1989 adalah: De~artemen A Departemen B a. Produk yang baru masukproses 34. dan overhead pabrikRp 81.000.Upah langsung .

Rp 331.000 c. 44.000 c. 76.000 c. 75. Rp 91.000 d. Rp 129.800 37. Rp 425. Rp 23 Rp 14 RP 9 Total harga pokok selesai yang berasal dari produk dalam proses awal dengan metode FIFO adalah: a.000 b.000 b.000 41.000 Produksi ekuivalen dengan metode FIFO adalah: Bahan Konversi a. Rp RP 11 24 Rp 16 b. 74.000 d. Rp 167. 36.900. Rp 1.800 37. Produksi ekuivalen dengan metode rata-rata adalah: Bahan Konversi a.938. 44.000 d.000 45. Rp 442.000 d. Rp 25 Rp 15 Rp 10 d.800 41.000 b.000 Harga pokok per unit dengan metode rata-rata adalah: Bahan Tenana Keria Overhead Pabrik a. 36.000 a. Rp 22 Rp 15 Rp 10 c. Rp 1.000 c.000 45. 78.800 41. Rp 1. Rp 24 Rp 16 Rp 11 b. 40. 40. RP 357 Harga pokok per unit dengan metode FIFO adalah: Tenaga Ker_ia OverheadPabrik Bahan a.000 73. Rp 400.710. Rp 1. Rp RP 10 22 Rp 15 c.72. Rp RP 10 25 Rp 15 d. 40.000 c.000 b. Rp 23 Rp 14 RP 9 Total harga pokok selesai dengan metode rata-rata adalah: b.976.000 41.000.000 Total harga pokok produk dalam proses akhir dengan metode rata-rata adalah: a. 77. 40. .000 d.

Perusahaan menggunakan metode harga pokok rata-rata tertimbang dalam penghitungan harga pokok produknya.000 kg biaya tenaga kerja 40%. Rp 145.500.000 3.000. Data untuk menjawab soal no.000 2. 81 s.000 kg 42. Rp 1.000 Total harga pokok produk dalam proses akhir dengan metode FIFO adalah: a.560.000 d.p 125.000.000 1. Rp 110. xR .000 32. 88 Dua Departemen. Rp 1. Rp 1.000 kg 45.000 Departemen 2 6.000. overhead pabrik 8070Harga Pokok Produk Dalam ProsesAwal: Harga pokok dari Departemen 1 Biaya Bahan Baku Biaya Tenaga Kerja Biaya Overhead Pabrik Biaya-biaya Produksi: Biaya Bahan Baku Biaya Tenaga Kerja Biaya Overhead Pabrik 49.500.000 b.900.000 kg Dimasukkan ke dalam proses bulan in Unit yang ditransfer ke Departemen 2 45.000 Rp 2.79.000 c.INDAH KIAT memproduksiproduknyamelaluiduadepartemenproduksi: Departemen 1 dan Departemen 2. Data produksi dan biaya produksi bulan Januari 19x1 di kedua departemen produksi tersebut tercantum dalam tabel produksi berikut ini: Departemen 1 Data produksi: Produk dalam proses awal.000 .990.500.942. biaya konversi 40% biaya tenaga kerja 30%.000 kg Unit yang diterima dari Departemen 1 Produk yang ditransfer ke gudang -Produk dalam proses akhir biaya bahan 100 % . 5.000 4. Rp 1.d.000 b. biaya konversi 70% 10.000 d.000 c.000 kg biaya bahan 60%.440.000 kg -- 9. Rp 130. Metode RATA-RATA \\ FT.000 80.000.000 kg Rp 12. Total harga pokok selesai yang berasal dari produksi sekarang (current) dengan metode FIFO adalah: a. overhead pabrik 50.

590 b. Rp 31.000 d.000 45 . Rp 178.720.000 d. Rp 118.000 Overhead Pabrik 49.250.000 Harga pokok produk selesai yang ditransfer oleh Departemen 2 ke Departemen gudang adalah: a.000 .000 Harga pokok rata-rata tertimbang per kg produk Departemen 1: a.500.000 c. 51.000 b. Rp 118. 51.000 b.000 c.250. Rp 2.350 c. Rp 2.000 45.000 c.000 52. Rp 1.500.200 45.000 45.350 c.200 15.000 b. 55. Rp 101. Rp 101.000 42. Rp 101. Rp 1. Rp 17.OOO c.000 Unit ekuivalensi biaya Departemen 2 adalah: Overhead Pabrik Bahan Baku Tenaga Ker!a a.000 Harga pokok produk dalam proses pada akhir bulan Januari 19X1 di Departemen 1 adalah: a.720.000 b.000 Harga pokok rata-rata tertimbang per kg produk Departemen 2: a. Rp 1.250.000 b. 55.550.000 52. Rp 1.000 d. Rp 178.000 Harga pokok produk dalam proses pada akhirbulan Januari 19X1di Departemen 2 adalah: a. Rp 17. Rp 27. Rp 31.850.500.600 49.000 c. Rp 27.250 d.000 42. 55.000 d.250.--\ Unit ekuivalensi biaya Departemen 1 adalah: Tenaga Keria Bahan Baku a.000 45. Rp 161.600 b.. Rp 3.500. Rp 161.250.850.550. Rp 3.000 42.000 d.590 b.250. 51. Rp 101.000 52.000 52.000 c. 51.000 Harga pokok produk selesai yang ditransfer oleh Departemen 1 ke Departemen 2 adalah: a.000 42.000 d.250 d. 55.

Data untuk menjawab soal no. rusak bersifat normal dan tidak laku dijual500 unit. Rp 4. RP 3. Rp 12 b. Jika digunakanmetode FIFO.29 d. Rp 9.7 RP 5.Data untuk menjawab soal no.s Rp 6 7 Rp 2 2 Rp 1. total harga pokok produk dalam proses pada akhir periode adalah: a.O b. Produk Hilung Akhir Proses. Rp 4. Rp 102.d. 92 Satu Departemen. Rp 15. Rp 125. 4) Produk dalam proses akhir 500 unit.800 d. Metode FIFO Data kegiatan produksi dan biaya produksi PT.d. telah menikrnati harga pokok Rp19. 93 s.000 c.800.000 unit. total harga pokok produk selesai yang dipindahkan ke rekening persediaan produk selesai adalah: a.600.000.000 Jika digunakanmetode FIFO. overhead pabrik Rp18.2 Rp 6 3 Rp 2.000 9 1. Rp 130. penyelesaian bahan 90% dan konversi 60%. 92. 2) Produk yang baru dimasukkan proses 9. biaya bahan per unit adalah: Overhead Pabrik Bahan Tenaga Ker_ia a. Rp 113.500 unit.600.200 d.200 b. NUSA pada bulan Nopember 1986 adalah: 1) Produk dalam proses awal1.7 ' 90. Rp 14. Rp 4. Rp 4.800 b. XY yang disajikan sebagai berikut: Perhitungan harga pokok yang dibebankan pada produk (FlFO). Biaya produksi yang terjadi periode ini terdiri dari: bahan Rp36. hilang akhir proses 500 unit.l c. Produk hilang dan rusak dianggap berasal dari produk yang baru masuk proses. tenaga kerja Rp55.9 d. . 89 s.000 unit dengan penyelesaian bahan 80% dan konversi 50%. harga pokok produk selesaiper unit yang dipindahkan ke rekening produk selesai adalah: a. Rp 28. Rp 11 Jika digunakan metode FIFO. 89.0 Rp 2.O Rp 6. 97 Analisis Laporan Harga Pokok Produksi Inforrnasi berikut ini adalah bagian ketiga dari laporan harga pokok produksi FT.200 c. Rp 26.8 c. 3) Produk selesai 8. Jika digunakan metode FIFO.

Rp 1. maka harga pokok per unit biaya bahan pada bulan yang lalu adalah: RP 400 b.000 Biaya overhead pabrik (200 x 30% x Rp250) 15. Produk dalarn proses awal Penyelesaian produk dalam proses awal Biaya tenaga kerja langsung (200 x 20% x Rp300) Rp12.000 Total harga pokok produk dalam proses awal Harga pokok produk yang diselesaikan dari bulan ini (4.374. Rp 2. 4.580 4.240 4. 96.520.000 c. .000 c. RP 410 d.000 Biaya tenaga kerja langsung (400 x 85% x Rp300) 102.000 Total biaya produksi bulan ini 93.000 d.990.000 d. Rp 1.000 Rp 188.580 4.550 unit Bila diketahui harga pokok per unit pada bulan yang lalu untuk biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp290 dan biaya overhead pabrik sebesar Rp240. Rp 1.800 unit c.400 unit d. 97.000 Rp 4.200 c.145.178. Produk yang masuk dalam proses pada bulan ini adalah: a.600 unit b.200 342.260 4. Unit ekuivalen produksi adalah: Bahan a.Harga pokok produk selesai. RP 390 a.000 Total biaya overhead pabrik pada bulan ini adalah: a. RP 405 Total biaya tenaga kerja langsung pada bulan ini adalah: a. 4.200 x Rp950) Total harga pokok produk selesai Harga pokok produk dalam proses akhir. 4.000 Rp 4.000 b. Rp 2. Rp 1.000 95.314.3 14. 4.374.000 b.095. 4.295. Rp 1. 4. Biaya bahan (400 x 100% x Rp400) Rp 160.200 3. Rp 161:200 27.245.600 b.200 Tenaga Keria 4. c.540 Overhead Pabrik 4.000 Biaya overhead pabrik (400 x 80% x Rp250) 80.600 Tidak bisa dihitung d. 4. Rp 1.520 94.

000 unit Biaya Total Biaya dari departemen sebelumnya: Transfer selama bulan h i Biaya yang ditambahkan departemen hi: Tenaga kerja langsung Overhead pabrik Jurnlah penambahan biaya Jumlah biaya yang dihitung I Biayalunit Ru 154. Rp RD ? ? ? Ru ? ? Dari laporan harga pokok produksi ini.Data untuk menjawab soal no.d. 3. LEILA Departemen Pengujian Laporan Harga Pokok Produksi Bulan Nopember 1990 Data Kuantitas: Diterima dari departemen sebelurnnya 80.220 RQ ? ? ? ? ? Perhitungan biaya: Ditransfer ke departemen berikutnya Persediaan barang dalam proses akhir.000 unit Ditransfer ke departemen berikutnya Masih dalam proses (113 biaya konversi) 6.800 Rp 74. Pencatatan Persediaan Fisik b. Harga Pdcok Pesanan d.000 unit ? Unit hilang dalam proses (akhir proses) Biaya yang diperhitungkan: 90. Pencatatan Persediaan Perpetual c.000 unit c.000 unit d.000 unit b. LEILA: PT.000 unit . 6. Dr departemen sebelumnya ai Tenaga kerja langsung Overhead pabrik Total biaya yang diperhitungkan 98. 98 s. 4. Harga Pokok Produksi 99. Unit yang hilang dalarn proses produksi berjurnlah: a. dapat diketahui bahwa perusahaan menggunakan metode: a. 5.620 65. 107 Analisis Laporan Harga Pokok Produksi 1 Berikut adalah laporan harga pokok produksi yang tidak lengkap dari PT.600 Ru 140.

Rp20. Rp 12.20 d.000 unit 86. Rp28 1. Rp0.72 b.000 unit 86.400 a.400 b. Rp0.000 Berapakah biaya unit yang hilang dalam proses? Rp6. Rp6. 90.000 unit 82.87 Berapakah biaya overhead pabrik per unit Departemen Pengujian selatna bulan Nopember 1990 (dibulatkan dalam sen)? Rp3.790 c. Dialokasikan proporsional pada persediaan Dibebankan sebagai rugi lain-lain d.185 d.35 d.000 unit d. Rp3. Overhead pabrik b.580 Jika unit hilang pada kasus di atas merupakan kejadian yang tidak biasa (abnormal).000 unit c.100 d.000 unit 82. Rp10. Rp0. Rp13. Rp3. Rp 1.800 Berapakah harga pokok dari persediaan barang dalam proses pada akhir bulan Nopember? a. Bagian dari produk selesai c. 82.700 b.000 unit Berapakah biaya tenaga kerja per unit Departemen Pengujian selama bulan Nopember 1990 (dibulatkan dalam sen) ? a. Rp274. Rp218.31 a.78 d.000 d.25 Berapakah biaya unit yang ditransfer ke departemen berikutnya? Rp270.Berapakah biaya per unit yang diterima dari departemen sebelun~nya: a.53 b. Rp 1.000 unit b. C. maka biaya unit yang hilang ini sebaiknya dibebankan sebagai: a.83 b. Rp 13. Rp26. Rp5. 86. . C.395 b. Rp0. C. Rp3. 86.76 c. Rp 17.70 Unit ekuivalen (setara) produksi untuk Departemen Pengujian selama bulan Nopember tersebut berjumiah: Tenalra Keria Overhead P a b r a.27 c.400 a.

400 unit d. dan biaya overhead pabrik 90%).d.000 b.00.408. Komposisi biaya per unit produk: biaya bahan baku Rp 22.400 b.132. dan biaya overhead pabrik sebesar Rp 20.000 d. Rp 1.009 unit. sebagai berikut: Produk yang diserahkan ke Departemen B sebesar 170.000 d.060. Rp 578. Rp 3. adalah sebagai berikut: Unit yang diselesaikan clan diserahkan ke departemen B adalah 150.000 unit. Rp 2.00. Rp 2.000 Biaya produk yang masih dalam proses akhir dalam produksi bulan Mei sebesar: a.D e w e m e n Pertama.000 c. 110.Data untuk menjawab soal no.745.067. digunakan metodeFIFO.010. 112 Dua Departemen.800 Biaya produk yang ditransfer ke Departemen B adalah: a. 182. dan biaya overhead pabrik sebesar Rp18.908.000 Biaya produk rusak yang dihasilkan oleh produksi pada bulan Mei 1990adalah: a. A Ada Produk Rusak. Rp 2.50. Produk yang masih dalam proses akhir sebanyak24. Rp 9. Rp 584. Dari informasi tersebutdi atas dapat diketahuibahwa unit ekuivalen di departemen A pada bulan Mei 1990.00. Rp 1. Pada akhir bulan April 1990. Rp 3. . Produk rusak dalam proses sebanyak 500 unit.000unit. biaya tenaga kerja langsung Rp12.50. Produk rusak dalam proses diketahui 20.000 b. Baik di Departemen A maupun DepartemenB. adalah: Tenaga Keria Bahan a. 140. 108.00. Rp 1.diperoleh informasi dari Departemen A.200 b.000 unit 164. Rp 9. Rp 531. Rp 1. yang memproduksi T TS produk AQ dengan melalui dua departemen produksi. 162.600 unit Total biaya overhead pabrik pada bulan Mei 1990 adalah: a.000 d. Rp 539.040. Pada akhirbulan Mei 1990diketahui biaya per unit produk adalah: biaya bahan baku Rp22. 111.000 unit (bahan 100%.738. 108 s.600 unit b. Rp 7.687.000 unit c.000 109. Rincian informasiprosesproduksi di Departemen A pada akhir bulan Mei 1990.000 unit 179.000 unit (biaya bahan 90%. 112. biaya tenaga kerja langsung Rp 11. dan biaya konversi 80%).400 unit 140. 164.869. Produk yang masih dalam proses akhir sebesar 12.050.400 d.000 unit 159.200 c.000 c. Metode FIFO Berikut ini disajikan informasi mengenai proses produksi I .400 c. biaya tenaga kerja langsung 80%.

Data untuk menjawab soal no.840 Rp 40.65 d.264 Rp 29. Data bulan April adalah sebagai berikut : Persediaan% Penyeleawal saian Unit dimasukkan dalam Persediaan % Penyeleproses akhir saian 25 20 30 Dep.400 ? 5. IkILB - l. A Rp149.680 Total Rp 45.520 Dep. Departemen 2. Produk diolah melalui 3 departemenproduksi: Departemen A.120 Rp 22. Rp 11.520 Dep. dan Departemen 3. TKUTILANGmemproduksiproduknyamelalui 3 departemenproduksisecaraberurutan: Departemen 1.600 Biaya bahan baku Biaya konversi 50.680 Biaya produksi per unit produk yang dihasikan oleh masing-masing dperatemen dalarn bulan April 19x2 adalah: Departemen A De~artemen B Departemen C a.h2& Rp 14. A 4.W Rp 13. Metode RATA-RATA I. Perusahaan menggunakan metode .400 21.400 2. B. dan C.600 Dep.MetodeRATARATA Perusahaan PRIMA menggunakan metode harga pokok proses. 114 s.800 Biaya bahan baku Biaya konversi 4. Dalam bulan April 19X2. 13 TigaDepartemen.35 Rp 18.464 1.9. Rp 13.90 Rp 15. C Harga pokok persediaan produk dalam proses awal adalah sebagai berikut: Dep.Ada TambahanBahan yang TidakMenambah Unit.600unit produk ditransferke gudang. A Dep. Rp 11.d 119 Tiga Departemen.Perusahaanmenggunakan metode harga pokok rata-rata tertimbang. Rp 13.35 Rp 16. C Rp 4.85 b.W Rp 13.80 c. B 40 ? 30 ? 3. B Biaya dari departemen sebelurnnya Rp 27.70 Data untuk menjawab soal no.35 Rp 18.35 Rp 16.464 Biaya bulan April 19x2 adalah sebagai berikut: Dep. Bahan baku digunakandalam awal proses Departemen 1 dan ditarnbahkan pada akhir proses departemen 3.W Rp 15.8001 30 17.096 113.600 6.272 - 192 Ru 4.

400 12. 111. dan Departemen 3 dalam bulan Nopember 19x1 adalah: Deuartemen 1 Departemen 2 Departemen 3 112.200 129.320 4. . 136.880 16. 129.680 - Departemen 3 Rp 146.520 Biaya konversi 183.200 136.000 ? ? 1 14.000 a.000 14.400 b.harga pokok rata-rata tertimbang.600 1 12. 129.800 30 25 50 104.400 Rp 130.200 Departemen 3 27. Unit ekuivalen biaya bahan baku di Departemen 1dan Departemen 3 dalam bulan Nopember 19X1 adalah: Departemen 1 Departemen 3 136.200 Ru 26. 112.900 Data produksi dalam bulan Nopember 19x1 adalah sebagai berikut: Persediaan awal Persediaan akhir Departemen 3 Rp 65.400 129.000 129.360 11. 123.200 112.400 a.000 Departemen 2 19. 1 11.600 c.328 Departemen -- Produk selesaidan Jumlah (kg) % Pe~yelesaian Jumlah (kg) Penyelesaian ditransfer Departemen 1 32. Pada awal bulan Nopember 19X1terdapat persediaan produk dalam proses dengan biaya sebagai berikut: Keterangan Harga pokok dari departemen sebelurnnya Biaya bahan baku Biaya konversi Total harga pokok Departemen 1 - Departemen 2 Rp 79.600 Rp 89.600 111.200 20 40 20 24.200 136.600 c.400 d.600 112.352 Rp 167.280 99. 136.000 Unit ekuivalensibiaya konversi di Departemen 1.000 115.Departemen 2.552 Rp 15.280 Biaya produksi bulan Nopember 19x1 adalah sebagai benkut: Biaya-biaya Departemen 1 Departemen 2 Biaya bahan baku Rp 251. dan ditarnbahkan pada awal proses di Departemen 3.600 129.400 d.000 b. Bahan baku dimasukkan dalam proses secara terus menerus sepanjang proses di Departemen 1.560 9.

00 Rp 13. Rp 12.000 Ru 64. 119. Rp 11.900 17.960 Biaya bahan baku yang telah diserap oleh produk dalam proses di Departemen 1 pada akhir bulan Nopember 19x1 adalah: b.d.000 3.500 RD25.000 40. dan Departemen 3 dalam bulan Nopember 19x1 adalah: De~artemen 1 De~artemen 2 Departemen 3 a.40 Rp 8.400 15. TULUS adalah sebagai berikut: Produk dalam proses awal Satudunit yang ditransfer masuk Satudunit yang selesai Produk dalarn proses akhir Satuanlunit 5.Departemen 1 ice Departemen 2 dalam bulan Nopembr 19X 1 adalah: a.600 a. Rp 2.400 Biaya ma! Rp 6.000 Ru 18.280 c. 118.280 b.880 d.300 Ditransfer masuk Produk dalam proses awal Satudunit yang ditransfer masuk Rp 2.880 d. Rp 43 1.500 Biaya Rp 6. Rp 17. 121 Dua Departemen.15 Rp11.500 Rp 20. Rp 44. Rp 29. 120 s.300 . Total biaya produksi per unit komulatif di Departemen 1.880 d.000 37 .000 Rp 64. Rp 46 1. Rp 17.15 b.960 Biaya konversi yang telah diserap oleh produk dalam proses di Departemen 1 pada akhir bulan Nopember 19X1 adalah: a. Rp 244. Departemen 2.50 Rp 11.600 c.300 58.960 117. Rp 4.116.60 Rp 13.600 c.35 Harga pokok produk jadi yang ditransfer dari.300 58.480 b. Rp 12.35 c. Rp 2.60 Rp 13. Rp 29. Departemen Lanjutan. Metode RATA-RATA Informasi mengenai bagian B PT. Rp 44.60 d. Data untuk menjawab soal no.000 Bahan unit baku Rp 25.000 35.400 Bahan konversi Rp 3. Rp 29.40 Rp 10.35 Rp 4.

Data kegiatan produksi dan biaya produksi pada perusahaan " M E C pada bulan Desember 1984 adalah sebagai berikut: Produk dalam proses awal.000.46 a.000 50.000 Rp 6. Harga pokok produksi barang tersebut: Biaya bahan baku Rp 80.000 Rp 88. 1 Desember 1984 sebanyak 1.000 .350 d. Ada Produk Hilang Pada Akhir Proses.800.50 Porsibagian dari biaya total dalam sisa pekerjaan dalam pelaksanaan akhir yang menyangkut biaya transfer masuk adalah: RP 0 b.000.48 d.Unit ekuivalen dalam metode harga pokok rata-rata tertimbang 100. Tulus menggunakan metode rata-rata tertimbang.000 Rp 6. Rp 0.000.000.000 . Rp 0.Biaya per satuan Rp 480 Rp 400 Jumlah produk jadi periode tersebut 90. c.200.000 satuan.000 Rp 79. Rp 0.500 a.000 Rp 32.000 satuan dan produk dalam proses akhir adalah 10. PT. 120.000satuan 95. Harga pokok produk jadi dan produk dalam proses akhir adalah: Produk Dalam Proses Produk Jadi Rp 79.800. Rp 1. terdekat) adalah: Rp ()A-4 b.000 Biaya tenaga kerja 60. FIFO 123.000 Biaya overhead pabrik Jumlah RD 190.Biaya produksi Rp40. Rp 1.200.000. Bahan digunakan pada akhir proses.000. Satu Departemen.Biaya konversi adalah 20% selesaiuntuk produk dalam proses awal dan 40% selesai untuk produk dalam proses akhir.Produk dalam proses awal Rp 8. Biaya per satuan ekuivalen untuk biaya konversi (dibulatkan ke sen.000 RP 0 Rp 86.650 121. Metode RATA-RATA Dari sebuah perusahaan yang memakai metode harga pokok proses diperoleh informasi sebagai berikut: Biava Bahan BakuBiava Konversi . Rp 1.000 Rp 8.000 . c.000 Rp 6.800.000 unit dengan tingkat penyelesaian: bahan baku 80% dan biaya konversi 50%.000 satuan .000 Satu Departemen.

800. Produk rusak ini tidak laku dijual. Biaya yang dikeluarkan pada periode ini ( Desember 1984 ) adalah: Biaya bahan baku Biaya tenaga kerja Biaya overhead pabrik Jumlah harga pokok produk selesai yang dikirirnkan ke gudang.198.300. Perusahaan menggunakan metode rata-rata dalarn menentukan harga pokok produksinya.000. 124 Dua Departemen. Ada Produk Hilung Pada Awal Proses.000.Produk yang masuk dalarn produksi periode ini sebanyak 9. 80 kg masih dalam proses akhir bulan dengan tingkat penyelesaian: 100% biaya bahan dan 80% biaya konversi. Biaya per unit untuk masing-masing elemen biaya adalah: Dari De~artemen Sebelumnva Rp 964 Rp 960 Rp 460 Rp 980 Tenaga Keria Rp 964 Rp 540 Rp 540 Rp 964 OverheadPabrik Rp 980 Rp 460 Rp 960 Rp 964 . 124. terdiri dari biaya dari departemen sebelumnya Rp 140. Produk dalarn proses akhir. Produk selesaidan ditransferke departemen selanjutnya 900 kg. Rp 1.000 unit. 20 kg produk dinyatakan hilang pada awal proses.000 c.000 Data untuk menjawab soal no. 3 1 Desember 1984 sebanyak 500 unit. biaya tenaga kerja Rp480. 60% biaya konversi).000 unit Produk yang hilang pada akhir proses sebanyak 500 unit. Metode RA TA -RATA Persediaan barang dalarn proses awal bulan 200 kg (100% biaya bahan.biaya tenaga kerja Rp 480.000 d.440.000. Departemen Lanjutan. Produk selesai yang baik sebanyak 9. Rp 238. jika perusahaan menggunakan metode harga pokok FWO adalah: a. Rp 1. Rp 960.000. dan biaya overhead pabrik Rp 23.000 b. dan biaya overhead pabrik Rp 420. Sedangkan biaya yang ditambahkan di departemen yang bersangkutan adalah: dari departemen sebelumnya Rp 800. dengan tingkat penyelesaian: bahan baku 90% dan biaya konversi 60%.

000 x 25%) (+) Unit produk dalam proses akhir: 2.000 50.000 x 0%) Biaya konversi (7.600 .000 x 80%) Jurnlah 72.000 2.000 7. Biaya Bahan 55. Jawab: c Data produksi: Unit produk dalam proses awal Unit diterima dari Departemen 1 Unit produk selesai Unit produk dalam proses akhir Unit ekuivalen dengan metode RATA-RATA: I 7.000 Biaya bahan baku (2.000 (-) Unit produk dalarn proses awal Unit masuk proses dan selesai 48.000 x 100%) Biaya konversi (2.000 x 30%) Jumlah 50. Jawab: e rn Biaya Konversi 55.000 2.000 57.000 Ekuivalen produksi biaya bahan dengan metode RATA-RATA: Biaya Bahan Biaya Konversi Unit produk selesai 60.000 60.000 Jawab: a Unit ekuivalen dengan metode FIFO. I Biaya Bahan Unit produk selesai 55.000 22.I B.000 69.000 48.000 Unit produk selesai Unit ptoduk dalam proses akhir: Biaya bahan baku(2.000 55.000 x 30%) Jumlah 2 1.000 x 100%) Biaya konversi (2.000 Biaya bahan (12.000 Biaya Konversi 55.600 Biaya konversi (12.000 (+) Unit produk dalam proses akhir: 12. PENYELESAIAN 20.000 x 100%) 9.000 (+) Penyelesaian produk dalarn proses awal: Biaya bahan baku (7.

000 x 100%) 8.23.000 180.000 0 2.000 10.000 x 80%) Jumlah unit produk selesai Jawab: a Unit ekuivalen FIFO.000 25.000 x 0%) Biaya konversi (10. (-1 Unit produk dalam proses awal Produk masuk proses dan selesai (+) Penyelesian unit produk dalam proses awal: Biaya bahan (10.000 10. ~ n i produk selesai .000 x 20%) (+) Unit dalam proses akhir: Biaya bahan (8. Jawab: c Perhitungan unit ekuivalen: Unit selesai dan ditransfer Unit hilang dalam proses produksi: Biaya bahan (30.000 70. Jawab: a Unit produk selesai: Unit ekuivalen dengan metode rata-rata Unit produk dalam proses akhir (15.000 .000 x 60%) Jumlah 38.000 Biaya konversi (8. Biaya Bahan 88.000 30.000 26.000 78.000 x 20%) Biaya Konversi 40.000 24.000 (-) Unit dalam proses awal 10.000 x 50%) Jumlah Biaya Bahan 110.000 x 0%) Biaya konversi (30.000 (+) Penyelesaian unit dalam proses awal: Biaya bahan (10.000 10.000 x 100%) Biaya konversi (70.000 x 0%) Unit dalam proses akhir: Biaya bahan (70.000 78.000 Unit masuk proses dan selesai 30.000 x 0%) 0 Biaya konversi (10.000 0 Biaya Konversi 110. Jawab: a Unit ekuivalen dengan metode FIFO: Biaya Bahan Unit selesai 40.000 Biaya Konversi 88.

000 x 60%) Jurnlah 100.000 x 40%) (+) Unit dalam proses akhir: Biaya bahan (15.000 Biaya bahan (15.000 7.000 81.000 x 100%) Biaya konversi (10.000 (-) Unit dalam proses awal 10.000 x 50%) Jumlah 100.000 Unit masuk proses dan selesai (+) Penyelesaian produk dalarn proses awal: 0 Biaya bahan (10.000 x 80%) Biaya konversi (15.000 Biaya Konversi 88.000 91.500 98.500 87.000 x 80%) Biaya konversi (15.000 92.000 7.500 Jawab: c Untuk dapat menghitung ekuivalen produksi dengan metode FIFO.000 Biaya konversi (15.000 7.500 .500 95.000 Unit produk dalam proses akhir: 12.000 90.000 9. memerlukan data tentang unit produk selesai yang dihitung sebagai berikut: Ekuivalen bahan dengan metode rata-rata (-) Unit dalarn proses akhir (15.000 Unit ekuivalen dengan metode FIFO: Biaya Bahan Unit produk selesai 91.000 10.000 4.000 90.500 6.000 atau: Unit ekuivalen dengan metode rata-rata (-) Unit dalam proses awal: Biaya bahan (10.000 10.000 8 1.(+) Unit produk dalarn proses akhir: Biaya bahan (15.000 x 50%) Jumlah 12.000 Biaya Konversi 91.500 92.000 x 60%) (=) Unit produk selesai 100.500 Jawab: b Unit ekuivalen dengan metode RATA-RATA: Biaya Bahan Unit produk selesai 88.000 x 60%) 9.000 x 50%) Jumlah 90.000 x 0%) Biaya konversi (10.

000 x 0%) 10. Jawab: b Unit ekuivalen dengan metode FIFO. Biaya Koversi 25.000 Bahan B (10.000 25.000 x 60%) Jumlah 25. sedangkan bahan B digunakan apabila produk telah mencapai tingkat penyelesaian 50%.000 10.000 15.000 x 60%) (+)Unit produk dalam dalam proses akhir: Bahan A (10. 28 ' Tingkat penyel.000 30.000 6.000 Bahan C (10.000 x 100%) 10.000 Konversi (10.000 x 100%) 10.000 35.000 6.000 Unit masuk proses dan selesai 15. Produk dalam proses akhir telah menyerap bahan B 100% karena telah mencapai tingkat penyelesaian 60% (lihat gambar) I I 31.000 (+)Penyelesaian produk dalam proses awal: 0 Bahan A (10.000 25.000 15.29. Biaya Biaya Biaya Bahan A Bahan B Bahan C Unit produk selesai 25.000 Bahan B (10. BDP akhir Pemakaian bahan B Tingkat penyelesaian BDP awal BDP = Barang Dalam Proses .000 10.000 25.000 x 0%) 0 Konversi (10.000 Catatan: Persediaan awal pada periode sebelurnnya belum menggunakan bahan B karena baru mencapai tingkat penyelesaian 40%. Jawab: b Lihat no.000 27. 38.000 x 100%) Bahan C (10.000 x 100%) 10. Jawab: e Lihat no.000 10.000 15.000 (-)Unit produk dalam proses awal 10.

500 kg tambahan zat Z).000 kg 511. Jawab: a Departemen A Data Produksi: Produk dalam proses awal Produk masuk proses (95%) Produk ditransfer keluar Produk dalam proses akhir 88.500 kg 979.500 1 "Bahan X digunakan pada awal proses . 638.000 kg (dari A 489.000 x O%).000 kg 550. Departemen B Data Produksi: Produk dalam proses awal Produk ditransfer masuk Tambahan bahan Produk selesai yang ditransfer. Jawab: c Lihat no.500 511.000 kg 511.111.000 x 114) i Produk dalam proses M : Bahan (99.000 88.111.000 522.500 88. 638. Unit ekuivalen dengan metode FIFO: Departemen A Produk selesai ditransfer ke departemen B Produk dalam proses awal Produk masuk proses dan selesai Penyelesaian produk dalam proses awal: Bahan (88.500 kg.000 kg 132.000 kg. 28 33.000 x 100%) Konversi (99.500 kg 89.500 0 99.. sehinggadapatdisimpulkan bahwa produk yang diselesaikan departemen B adalah meliputi semua produk yang ditambah zat Z. Konversi (88.000 kg 1. Produk dalam proses akhir 110.500 kg + 489. sedangkan dalam data diketahui bahwa produk yang masih dalam proses akhir departemen B baru mencapai tingkat penyelesaian 10%(1/5).32.000 423.000 x 113) Jumlah ekuivalen produksi Bahan Konversi 511.000 kg 1.000 kg.000 kg * Zat Z &an ditambahkan departemen B setelah produk mencapai tingkat penyelesaian 50%. berarti jumlah produk yang selesai sejumlah 979.500 kg 126.500 kg.500 423. Produk dari departemen A 5 11300 kg yang ditambah zat Z 489.

000 869.000 x 100%) 14.000 akhir: Unit dalam proses Biaya bahan (14.34.70 0.000 36.600 Biaya Konversi Unit selesai dan ditransfer Unit dalam proses akhir: Biaya konversi (6.000 5.000 x 100%).000 Biaya konversi (14.52 0.. Jawab: c Perhitungan biaya per unit Departemen A: Elemen Biaya Biaya bahan Biaya tenaga kerja Biaya overhead pabrik Total biaya Jumlah Biaya Rp 31..000 869.000 51.892 Ekuivalen Produksi 60. Konversi (110.000 42.000 x 0%) Konversi (132.000 x 40%) Jurnlah ekuivalensi produksi 60.600 51.600 Biaya per Unit Rp 0.89 . Jawab: b Departemen B Bahan 979. Jawab: d Perhitungan ekuivalen produksi Departemen A: Biaya Bahan Unit selesai dan ditransfer 46.000 x 7/10) Produk dalam proses akhir: Bahan (132.000 x 113) Jumlah ekuivalensi produksi 40.000 110.200 36.000 x 115) Jumlah ekuivalen produksi 1 "* Bahan Z digunakan pada proses tingkat 50% 35.67 Ru 1.000 110.000 Produk selesai ditransfer ke departemen B Produk dalam proses awal Produk masuk proses dan selesai Penyelesaian produk dalam proses awal: Bahan (1 10.600 5 1.120 34.000 2.000 Konversi 979.572 Ru 101.000 Perhitungan ekuivalen produksi Departemen B: Biaya Konversi 46.

940 Harga pokok produk dalarn proses akhir: Rp 7.000 Biaya per Unit RD 1.940 Ekuivalen Produksi 46. 58 Jawab: b Perhitungan biaya per unit Departemen B: Elemen Biaya Biaya dari Departemen A Biaya ditambahkan oleh Departemen B: Biaya tenaga kerja Biaya overhead pabrik Jumlah biaya ditambahkan Total biaya 39.000 Biaya per unit Rp 0.89) Rp 86.76 1.000 Elemen Biaya Bahan baku Total Biaya Rp 52. Jawab: a Perhitungan biaya per unit: Biaya Tng Kerja 50.70) 3.920 Rv 67.892 Total biaya yang diperhitungkan 37. Jawab: b Lihat no.000 x 100%) 15.67) 14.000 x 213) Jumlah 65.000 (+) Unit produk dalam proses akhir: Bahan (15.000 Biaya Overhead 50.952 Jumlah harga pokok produk dalarn proses Rp 101.000 0.650 Ekuivalen 65.560 42.000 10.52) 3.920 Biaya tenaga kerja (14.000 x Rp1.000 42.000 Tenaga kerja (15. 38.000 x 40% x Rp0. Jawab: c Unit ekuivalen.Perhitungan harga pokok Departemen A: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen B: (46.89 35.620 Rv 154.280 Biaya bahan (14. Jumlah Biaya Rp 86.61 Ru 3-50 Biaya Bahan Unit produk selesai 50.000 10.85 0.000 60.752 Biaya overhead pabrik (14.000 x 100% x Rp0.700 31.000x 40% x Rp0.8 1 .000 40.000 60.000 x 213) Overhead (15.

000 19.200 x 80% x Rp20) Biaya tenaga kerja (1.Tenaga kerja Overhead pabrik Jumlah Jawab: b Harga pokok produk yang ditransfer ke Departemen 2 (12.000 12.50) Overhead pabrik (1.000 x Rp57) Jawab: d Harga pokok produk dalam proses akhk Biaya bahan baku (1.50) Tenaga kerja (1.440 . 126 Jawab: b Biaya bahan baku yang ditambahkan di Departemen 2: Unit yang diterima dari Departemen 1 Kebutuhan roda setiap unit Jurnlah roda yang ditambahkan Biaya setiap roda Jumlah biaya bahan yang ditarnbahkan Rp 27.200 x 90% x Rp18.200 x 90% x Rp22) Jumlah Jawab: a Total biaya bahan: Biaya bahan untuk produk selesai (12.000 x Rp20) Biaya bahan untuk produk dalam proses (1.200 x 80% x Rp12.200 x 80% x Rp20) Jumlah Jawab: d Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai (15. 124 Jawab: b Lihat no.00) Harga pokok produk dalam proses akhk Bahan baku (1.200 x 100% x Rp22.000 x Rp53.200 x 85% x Rp15) Biaya overhead pabrik (1.00) Total biaya yang diperhitungkan Jawab: c Lihat no.

000 Biaya overhead pabrik (3.970.000 x 100% x Rp80) 1.000 Harga pokok produk selesai (12.000 0 .OOO x 0%) Unit dalam proses akhir: 4.000 x 40%) Jumlah ekuivalensi produksi Biaya Konversi 30.940. Jawab: b Harga pokok per unit: Elemen Biaya Biaya produksi dari Dep.000 Ekuivalen Produksi 15.000 Biaya tenaga kerja (3.160.000 x 213 x Rp580) 870.500.000 x Rp900) Biaya ditambahkan Departemen 2: 240. Jawab: d Perhitungan harga pokok: Rp 23.700.48.000 Total biaya Jawab: a Perhitungan ekuivalen produksi Departemen A: Biaya Bahan 30.000 x Rp1. B 0 Unit hilang dalam proses awal(l. 2: Bahan baku Tenaga kerja Overhead pabrik Jumlah biaya ditambahkan Total biaya 49.000 Jumlah harga pokok produk dalam proses akhir Rp 28. Jawab: a Lihat no.000 Biaya per unit Ru 900 50.000 Biaya dari departemen 1 (3.000 Perhitungan ekuivalen produksi Departemen B: Unit selesai dan ditransfer ke gudang Unit hilang dalam proses awal(3.910.000 0 Biaya Konversi 21.000 x 20%) Jumlah ekuivalensi produksi 34. 48 Jumlah Biaya RD 13.000 Biaya bahan (4. 1 Biaya ditambahkan Dep.000 Biaya bahan (3.995) Harga pokok produk dalam proses akhir: Rp 2.000 x 213 x Rp435) 4.000 x 100%) Biaya konversi (4.000 Unit selesai dan ditransfer ke Dep.000 x 0%) Unit dalam proses akhir: Biaya konversi (6.

000 Ekuivalen Produksi 34.000 Tenaga kerja (4.000 Jawab: a Perhitungan biaya per unit Departemen B : Elemen Biaya Jumlah Biaya 54.400 Overhead pabrik Jurnlah biaya ditambahkan RD 1.000 x Rp 105) Harga pokok produk dalam proses akhir: 56 57.000 Biaya Per Unit Rp 45 5 Rp 50 55.400 702.287.000 Harga pokok produk dalam proses akhir: Bahan baku (4.RD1.000 Biaya ditarnbahkan Departemen B: Tenaga kerja 585.52. Jawab: d Perhitungan biaya per unit Departemen A: Elemen Biaya Jumlah Biaya Bahan baku Tenaga kerja Overhead pabrik Jumlah biaya yang dihitung Rp 340.000 616.000 23. . Ekuivalen Produksi Biaya dari Departemen A RD 1.000 x 20% x Rp15) 12.000 x Rp45) Rp 1.000 Penyesuaian adanya produk hilang 3. Jawab: c Lihat no.350.600 Jumlah harga pokok produk dalam proses 68.000 Total biaya yang diperhitungkan Rv 1.800 Biaya Per Unit Rp 10 15 20 RD 45 53.000 .000 Jurnlah biaya yang dihitung Rv 2.000 x 20% x Rp20) 1.637. 54 Jawab: c Jawab: e Perhitungan harga pokok Departemen B: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke gudang (21.000 30.350.418.000 Overhead pabrik (4.800 30. B (30.000 x 100% x RplO) Rp 40. Jawab: b Perhitungan harga pokok Departemen A: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Dep.000 30.418.000 23.000 462.000 27.

000 10.600 Perhitunnan Biava Per Unit: Elemen Biaya Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Bahan Tenaga kerja Overhead pabrik Jumlah Rp 4.000 Harga pokok produk dalam proses akhir: Bahan (2.500 Perhitunnan Harna Pokok Produksi: Harga pokok produk yang ditransfer ke B (8.000 3.000 Produk selesai ditransfer Produk dalam proses: Bahan (2.560.600 Biaya Per Unit Rp 400 400 700 Rv 1.000 Ovehead pabrik (2.000 Tambahan biaya di Departemen B: Tenaga kerja (6.000 Jumlah harga pokok produk dalam proses Total biaya yang diperhitungkan 58.000 2.000 Overhead pabrik (6.000 x 40% x Rp25) 60.720.000 x Rp1.000 10.000 Ru 2.Biaya dari Departemen A (6.000.000 Jumlah & 14.000 9.000.637.000 - 1.000 x 40% x Rp30) 72.000 Tenaga kerja (2.000 6.000 8.000 x 80%) Biaya Konversi 8.840.000 x 8Wo x Rp700) 1.000 .000 2.000 10.000 x Rp50) Rp 300.000 Rv 14. Jawab: a Bagian A Data Produksi: Dimasukkan dalam proses Ditransfer ke bagian berikutnya Dalarn proses akhir Unit Ekuivalen: Biaya Bahan 8.600 9.000 x 100% x Rp400) Rp 800.500) Rp 12.560.560.000 x 80% x Rp400) 2.000 432.120.000 640.000 x 100%) Konversi (2.

000 10.000 8.000 4.000 Produk selesai ditransfer ke C Produk selesai ditransfer ke gudang Produk dalam proses: Bah'm (1.500)Rp 1.600 Elemen Biaya Harga pokok ditransfer rnasuk Biaya tambahan: Tenaga kerja Overhead pabrik Jumlah Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Biaya Per Unit Rp 12.800.900.000 1.000 Rp 1.000 x 60% x Rp250) 150.000 15.000 150.000 Perhitungan Harga Pokok Produksi: Harga pokok produk yang ditransfer ke C (5.000 x 100%) Konversi (1.800.ooo .000 Rp 15.000 x Rp2. Biaya Konversi 5.500.000 1.000) Rp Harga pokok produk yang ditransfer ke gudang (2.000 7.000 Tenaga kerja (1.000 x 60% x Rp250) Jumlah Rp Bagian C Data Produksi: Ditransfer dari bagian sebelurnnya Ditransfer ke gudang Dalam proses akhir 10.000 - 600 7.000 x 60%) Perhitunaan Biaya Per Unit.000.600 7.900.600 250 250 Rp 2.000 2.000 Overhead pabrik (1.000 5.000 4.000 x Rp1.500 1.000.000 x Rp2.000.000 1.000 2.500 500 5.Bagian B Data Produksi: Ditransfer dari bagian A Ditransfer ke C Ditransfer ke gudang Dalam proses akhir Unit Ekuivalen: Biaya Bahan 5.000) Harga pokok produk dalam proses akhir: Harga pokok dari A (1.800.

000 Rp 2.862.000.300 4.Unit Ekuivalen: Produk selesai ditransfer Produk dalam proses: Bahan (500 x 100%) Konversi (500 x 75%) Biaya Bahan 4.212.875 Rp 2.000 x Rp15) Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya dari Departemen I (5.i~-i (500 x Rp2.500 Perhitungan 14ar~a Pokok Produksi: ~argapokok produk yangdiiransferkc gudang (4.000 Biay a konversi 72.875 Biaya Konversi 4.500 Rp 21.000 24. Jawab: b Perhitungan harga pokok Departemen 11: Harga pokok produk selesai (20.875 4.212.r per unit Departemen 11: I'iemen Riaya Biaya dari Depatlcmen I Pcnyesuaian akihat tanlbahan bahan (4 x 5.000) 750.000 9.500 59.000 Ovcrhead p a h i k (500 x 75% x Rp300) 1 12.500~ Rp4.000 25. Jawab: a I'erhitungan biay.000 20.000 Rp 20.000 5.000 Ekuivalen Total Biaya Produksi Rp 100.000 .500 4.000) Jumlah setelah penyesuaian Biaya ditarnbahkan oleh Departemen 11: Biaya bahan baku 200.000 x Rp4) Rp 300.500 Rp 21.000 1.350.000 5.500 Jumlah Rp 19.000 25.462.300) Harga pokok PI-odukdalam proses akhir: Ilarga pol<oh d.750.000 'I'c~iaga kerja (500 x 75%)x Rp2.500 500 375 5.000 300 4.000 Biaya per Unit Rp 20 Rp 4 16 8 3 RD 15 60.000 1.000.000) R Rp 1.000 Jumlah biaya dihitung Rv 372.000 Perhitun~a~i Biaya Per Unit: Elemen Biaya Harga pokok ditransfer masuk Biaya tanibahan: Tenaga kerja Overhead pabrik Jurnlah Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Biaya Per Unit Rp 10.

800 69.000 Unit produk hilang awal proses: Biaya bahan (1.000 62. Jawab: a Lihat no.000 x Rp5.850 .000 x Rp3) Jumlah harga pokok produk dalam proses Jumlah biaya yang diperhitungkan 6 1.60 Ditarnbahkan oleh Departemen B: Bahan baku Tenaga kerja Overhead pabrik Jumlah biaya ditambahkan Rp Jurnlah Rp 63.000 Rv 75.000 x Rp 8) Biaya konversi (5.000 1 .000 15.000 Elemen Biaya Dari Departemen A Penyesuaian produk hilang Jumlah Biaya @ 140.020 32.000 Biaya Per Unit Rp 3.400 19. Jawab: c Lihat no.Biaya ditambahkan Departemen 11: Biaya bahan baku (5.000 Biaya'konversi (4.000 x 0%) 0 Biaya konversi (1.49 Rp 3.OOO Perhitungan biaya per unit: 40.220 209. 62 17. Biaya Konversi 35.400 Ekuivalen Produksi 40.OW x 0%) Unit produk dalam proses akhir: Biaya bahan (4.000 x 50%) 2.51) Rp 192.51 0.000 Rp 375.om 39.000 x 25%) Jumlah 37 . Jawab: a Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke gudang (35. 60 Jawab: d Perhitungan ekuivalen produksi: Biaya Bahan Unit produk selesai dan ditransfer 35.620 64.

000 x 60% x Rp4) & 1. Jawab:d Lihat no.000 x 60%) Jurnlah 67.55) 550 Jurnlah 65. Jawab: c Lihat no.60) Rp 14. 156 .l) Penyesuaian produk hilang Total Biaya Q Ekuivalen Produksi 100.000 Perhitungan harga pokok produksi: Rp 1.000 x Rp8. 64 Jawab: b Unit ekuivalen: Unit produk selesai Unit hilang awal proses (10.000 90. 66.000 x Rp150) Harga pokok produk dalam proses: Biaya dari departemen Pulp (20.302.000 Biaya ditambahkan: 24.000 x 25% x Rp0.Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya dari Departemen A (4.000 Overhead pabrik (20.000 Tenaga kerja (20.770 RR 209.000 0 12.000 Elemen Biaya Biaya dari departemen Pulp: (100.000 Biaya per Unit 810.000 x 60% x Rp2) 48.000 Harga pokok produk selesai (70. Jawab: a Biaya per unit: 16.90) Overhead pabrik (4.000 Jumlah 68.000 x Rp3.46) 900 Tenaga kerja (4.000 x 0%) Unit produk dalam proses akhir (20.000 82.000 x 50% x Rp0.400 Biaya ditarnbahkan: 920 Bahan baku (4.000 82.000 Biaya ditambahkan: Tenaga kerja 164.000 10.000 252.000 Overhead pabrik Jurnlah biaya ditarnbahkan Ru 492.000 328.O) Rp 180.302.050.620 Biaya Konversi 70.000 x Rp9.000 x 25% x Rp0.000 Jurnlah Rv 1.000 82.

000 2 16.00) Overhead pabrik (4.600 kg 800 kg .800kg Perhitungan Biava Per Unit: Elemen Biaya Bahan Tenaga kerja Overhead pabri Jumlah Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Biaya Per Unit Perhitunvan Harga Pokok Produksi: Harga pokok produk yang ditransfer (10. 70.800 kg x 113) Biaya Bahan 10.75) Rp 954. Jaivab: d Lihat no.800 kg x 100%) Konversi (4.800 kg 400kg Produk selesai ditransfer Produk dalam proses: Bahan (4.000 Jumlah Bagian Pengujian Data Produksi: Ditransfer dari bagian sebelurnnya Ditransfer ke bagian berikutnya Dalarn proses akhir Hilang awal proses (normal) 6.800 kg x Rp401.25) Harga pokok produk dalam proses akhir: Bahan (4.000 Tenaga kerja (4.800 kg 15.69.400 kg 3.800 kg x 113 x Rp67.800 kg 4.5) 108.800 kg x 100% x Rp198.600 kg Biaya Konversi 10.800 kg x 113 x Rp135. 156 Jawab: b Bagian Pencampuran Data Produksi: Dimasukkan dalam proses Ditransfer ke bagian berikutnya Dalam proses akhir Hilang awal proses (normal) Unit Ekuivalen: 10.800 kg 4.

163.200 kg .197.000 7 600 kg Rp 6.000 kg 1.800 kg 400 kg 6.400 kg Produk selesai ditransfer Biaya Konversi 4.400 kg x Rp697.05) Harga pokok produk dalam proses akhir: Harga pokok dari pencampuran Rp 1.35 119.900 Biaya Per Unit Rv40 1.800 Overhead pabrik (3.600 kg x 113) Elemen Biaya Harga pokok ditransfer masuk Penyesuaian produk hilang Bahan Tenaga kerja Overhead pabrik Jumlah Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Rp 4.200 kg Rp 4.00 Rp 697.000 kg Perhitunaan Biaya Per Unit: 1.3 Bahan (3.400 kg 4.000 10.70) 430.600 kg 10.800 kg 800 kg 10.400 kg Produk selesai ditransfer Produk dalam proses: Bahan (3.200 kg 1.461.25 Rp 433.560.600 kg x 100% x Rpl19.600 kg 342.120 2.920 Tenaga kerja (3.05 Perhitungan Harga Pokok Produksi: Harga pokok produk yang ditransfer (6.600 kg x Rp433.333.900 6.624.400 7.OO 45.060 (3.624.400 kg 3.000 Jumlah Bagian Perampungan Data Produksi: Ditransfer dari bagian sebelumnya Ditransfer ke bagian berikutnya Dalam proses akhir Hilang awal proses (normal) Unit Ekuivalen: Biaya Bahan 4.600 kg x 113 x Rp45.600 kg x 100%) Konversi (3.500 10.OO) 118.000 kg 752.00) 54.Unit Ekuivalen: Biaya Bahan 6.600 kg Biaya Konversi 6.780 Rp 6.600 kg x 113 x Rp99.200 kg 7.70 99.

000 5.000 x 50%) 4.338.000 unit Biaya Bahan 2.52 Bahan 2.800 kg 6.52 Perhitunpan Harga Pokok Produksi: Harga pokok produk yang ditransfer (4.000 unit 4.00) 648.000 2.160.00) 168.52) Bahan (1.784 Harga pokok produk dalam proses akhir: Harga pokok dari pencampuran Rp 1.200 kg x Rp1.728.800 kg x 213) 1.461.400 kg 140.336 Jurnlah & 9.563.000 unit 2.00 Tenaga kerja 1.120 Rp 1.800 kg x 100% x Rp360.000 Overhead pabrik (1300 kg x 213 x Rp140.563.336 (1.000 6.800 kg x Rp743.000 kg 1.400 kg Ru 697. Jawab: b Departemen A Data Produksi: Dimasukkan dalam proses Ditransfer ke bagian berikutnya Produk hilang proses awal Dalam proses akhir Unit Ekuivalen: Produk selesai ditransfer Produk dalam proses: Bahan (1.500 unit 500 unit 1.000 kg 360.200 kg 5.Produk dalam proses: Bahan (1.566.000 5.400 kg Perhitungan Biava Per Unit: 1 Elemen Biaya Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Biaya Per Unit H q a pokok ditransfer masuk Rp 4.I20 6.000 Tenaga kerja (1.105.000 kg Rp 743.105.00 Overhead pabrik 756.800 kg x 100%) Konversi (1.000 x 100%) Konversi (1.OO) 384.800 kg x 213 x Rp320.400 kg 320.05 Penyesuaian produk hilang 400 kg 6.538.52) Rp 6.500 Biaya Konversi 2.00 Jumlah Rp 9.120 71.500 .

500 unit Upah Langsung Overhead Pabrik Produk selesai ditransfer ke gudang 2.000 x 50% x Rp48) Jurnlah I Rp 470.500 2.000 x 50% x Rp80) 24.000 Bahan (1.500 unit 2.350 Perhitunpan Biava Per Unit: Elemen Biaya Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Harga pokok ditransfer masuk Rp 470.000 Bagian B Data Produksi: Ditransfer dari bagian departemen A Ditransfer ke gudang Produk rusak Dalam proses akhir Unit Ekuivalen: 2.350 2.500 x Rp188) Harga pokok produk dalam proses akhir: Rp 60.000 unit 200 unit 300 unit 2.000 x Rp338) Rp 676.500 Biaya Per Unit Rp 188 100 50 Rp 338 Perhitungan Harga Pokok Produksi: Harga pokok produk yang ditransfer ke gudang (2.500 240.000 Tenaga kerja (1.1 Perhitungan Biava Per Unit: Elemen Biaya Bahan Tenaga kerja Overhead pabrik Jumlah Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Rp 210.000 200 200 Produk rusak Produk dalam proses: Upah langsung (300 x 50%) 150 150 Overhead (300 x 50%) 2.000 Biaya Per Unit RP 60 80 48 Ru 188 Perhitungan Harga Pokok Produksi: Harga pokok produk yang ditransfer ke B (2.000 3.000 x 100% x Rp60) 40.000 .000 Rp 594.000 2.000 124.000 2.350 Jumlah 822.000 RD 594.000 2.000 3.500 Biaya tambahan: Tenaga kerja 235.000 144.000 3.350 Overhead pabrik 117.000 Overhead pabrik (1.

000 4.000 2. Jawab: c Ekuivalensi produksi dengan metode FIFO: 38.000 Biaya Bahan Unit produk selesai C ) Unit dalarn proses awal (=) Unit masuk proses dan selesai (+) Penyelesaian unit dalam proses awal: Biaya bahan (8.000 x 50%) Biaya konversi (4.000 37.000 8.000 41.000 x 75%) (=) Jumlah produksi ekuivalen 74.000 3 3.500 Biaya Bahan Unit produk selesai Unit dalam proses akhir: Bahan baku (4.000 x 50%) Tenaga kerja (4.900 RD 822.000 30.500 Overhead pabrik (300 x 50% x Rp50) Jumlah 72.000 x 50%) (+) Unit dalam proses akhir: Biaya bahan (4.000 Biaya Konversi 38.000 30. Jawab: a Perhitungan biaya per unit: 38.800 3.600 78.Harga pokok produk rusak (200 x Rp338) Harga pokok produk dalam proses akhir: Harga pokok dari A (300 x Rp188) Rp 56.000 7.000 Elemen Biaya Bahan baku: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Tenaga kerja: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Jumlah Biaya Ekuivalen Produksi Biaya per Unit .800 Biaya Konversi 38. Jawab: a Ekuivalensi produksi dengan metode rata-rata: 67.000 4.000 8.000 x 60%) Biaya konversi (8.400 Tenaga kerja (300 x 50% x Rp100) 15.000 40.000 x 75%) Ekuivalen produksi 73.000 36.000 2.

067.000 Tenaga kerja (8. O OO Rv 2.0000 129.000 Rv 2.000 555. 89 Jawab: c Perhitungan biaya per unit dengan metode FIFO: Elemen Biaya Jumlah Biaya Harga pokok produk dalarn proses awal Biaya Periode ini: Bahan baku Tenaga kerja Overhead pabrik Total biaya Rp 1.000 x 50% x Rp24) 48.000 x 75% x Rp16) 33.000 x Rp 5 1) Harga pokok produk dalarn proses akhir: Rp48.000 x 50% x Rp15) 40.000 78.000 Rp130.000 x 50% x RplO) Jurnlah harga pokok produk selesai dari persediaan awal Rp 222.000 Bahan baku (4.938.000 . Jawab: b Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai: Dr unit dalam proses awal ai Biaya periode sebelumnya Biaya penyelesaian: Rp 120.Overhead pabrik: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Jumlah dihitung 8 1.000 Bahan baku (8.000 920.000 Jumlah harga pokok produk dalam proses akhir Jumlah liiaya yang diperhitungkan 76.000 Rp442.000 220.000 Rv 451.000 Overhead pabrik (8.000 370. Jawab: a Lihat no.000 x 75% x Rpl 1) Overhead pabrik (4.000 Rp 41. 77.000 Tenaga kerja (4.000 x 60% x Rp25) 60.000 Ekuivalen Produksi Biaya per Unit Rp 222.067.000 370.000 11 Ru 51 Jawab: e Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai (38.

000 45.000 Ekuivalen produksi 45.000 Biaya ditarnbahkan periode ini 25.000 Rp 1.942.200 Elemen Biaya Jumlah Biaya Bahan baku: Biaya persediaan-awal Rp 2.000 Biaya Konversi 45. 94 Jawab: d Ekuivalen produksi dengan metode rata-rata tertimbang.067.000 x 75% x Rp15) Biaya overhead pabrik (4.000 x 75% x RplO) 30. Jawab: d Lihat no. Unit yang ditransfer ke Dep.000 Ekuivalen Produksi Biaya per Unit .000 x 50% x Rp25) Rp 50.000 Biaya Tenaga Kerja Unit yang ditransfer ke gudang 42. 94 Jawab: d Lihat no.000 Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya bahan (4.000 7.000.000 Biaya tenaga kerja (4.000 10.000 x 40%) x 80%) Overhead pabrik (9. 81.OOO Total biaya yang diperhitungkan Rv 2.600 Tenaga kerja (9. Departemen 1: 80.500.000 Unit dalam proses akhir: 3.000 52.500.600 82.Dari unit mulai diperoses dan selesai (30.000 x 70%) Ekuivalen produksi Departemen 2: Biaya Bahan 45.000 55.200 49.000 x Rp50) Total harga pokok produk selesai 1.000 x 100%) Tenaga kerja (10.000 79. Jawab: c Perhitungan biaya per unit Departemen 1: Biaya Overhead 42. 2 Unit dalam proses akhir: Bahan baku (10.000 Jurnlah harga pokok produk dalam proses akhir 125.000 7.

000 1.250.000 750 52. Rp 2.000 Rp 27.990.000 Tenaga kerja: Biaya persediaan-awal Biaya ditambahkan periode ini Overhead pabrk Biaya persediaan-awal Biaya ditambahkan periode ini Jumlah dihitung 83.000.000 Rp 2.500.000 Rp 39.250 Jawab: b Perhitungan harga pokok Departemen 1: Harga pokok produk yang dih-ansfer ke Departemen 2: (45.240.500.Rv 27.000 Biaya ditransfer periode ini 101.000 Harga pokok produk dalam proses akhir: Bahan baku (10.000 x 70% x Rp1.000 Rp 3. Jawab: a Lihat no.500.000 x 100% x Rp500) Rp 5.000 Ru 114.000 x RpRp2.860.118. 81 Jawab: a Perhitungan biaya per unit Departemen 2: Ekuivalen Elemen Biava Jumlah Biaya Harga Pokok dari Dep.000 x 70% x Rp750) Overhead pabrik (10. 75 Jawab: a Lihat no.250. I: Biaya persediaan-awal Rp 12.250.000.000.000) 7.250) Rp 101.000 49.500. B iay a per Produksi - Vnit 5 1.000 Rp 118.000 Tenaga kerja: Biaya persediaan-awal Rp 1.000 Jumlah biaya yang diperhitungkan .240 45.500.000 Biaya ditambahkan periode hi 25.000 85.000 55.360.000.000 Rp 84..250.500. 86.000 Rv 52.000 Tenaga kerja (10.000 Rp 2.000 36.000 Rp500 52.600 600 .000.000 Jumlah harga pokok produk dalam proses akhir l7.000.000 5.

000 Jumlah harga pokok produk dalam proses Rp 27.720.000 x 40% x Rp 600) 2.000.000 Harga pokok produk dalarn proses akhir : Dari departemen 1 (9.200 750 Ru 3590 Jawab: e Perhitungan harga Pokok Departemen 2: Harga pokok produk yang ditransfer ke gudang (42.500. 87 Jawab: a Ekuivalen produksi dengan metode FIFO: Unit produk selesai (-) Unit dalam proses awal (=) Unit masuk proses dan selesai (+) Penyelesaian unit dalam proses awal: Biaya bahan (1.000 36.000 Tenaga kerja (9.500.500 100 .000 x 80% x Rp 750) 5.900.000 x Rp 224) Rp 20.400.000 Ru 36. Rp 4.000 x 20%) Biaya konversi (1. Biaya Bahan 8.150 RP 4 .000 49.600 Ekuivalen Produksi Biaya per Unit 9.500 Biaya Konversi 8.0 7.000 Overhead Pabrik (9.900.500 1.78.000 kg x Rp 3.000 Rp 178.000 x 50%) (+) Unit hilang akhir proses (+) Unit rusak normal (+) Unit dalam proses akhir: Biaya bahan (500 x 90%) Biaya konversi (500 x 60%) (=) Jumlah produksi ekuivalen Harga pokok produksi per unit: 88. 89.000 7.500 Elemen Biaya Harga pokok produk dalam proses awal Biaya Periode ini: Bahan baku Jumlah Biaya Rp 19.000 Jawab: d Lihat no.160.160.590) Rp 150.Overhead Pabrik: Biaya persediaan-awal Biaya ditarnbahkan periode ini Jumlah dihitung 87.000 Jumlah biaya yang diperhitungkan Rp 178.000 32.

000 4.800 Jumlah harga pakok produk selesai Rp 23.000 x 50% x Rp2) 1.200 93.000 x 20% x Rp4) 3. Rp113.400 unit 400 unit Ekuivalensi produksi dengan metode FIFO: Biaya Bahan Biaya Tenaga Biaya Overhead Baku Kerja Pabrik Unit produk selesai 4.800 600 Rv 4.Tenaga kerja Overhead pabrik Total biaya 90.800 1.500) Jawab: b Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya bahan (500 x 90% x Rp4) Biaya tenaga kerja (500 x 60% x Rp6) Biaya overhead pabrik (500 x 60% x Rp2) Jumlah harga pokok produk dalam proses akhir Jawab: a Unit produk dalam proses awal Unit produk selesai: dari persediaan awal dari periode ini Unit produk dalarn proses akhir 9 1.800 Jawab: e Harga pokok produk selesai per unit: Total harga pokok produk selesai Unit produk selesai Harga pokok per unit (Rpl13.200 unit 4.000 Biaya periode sebelurnnya Biaya penyelesaian: Rp 800 Bahan (1.800 8. Rp 1.000 x 50% x Rp6) Overhead pabrik (1.400 4. Jawab: a Perhitungan harga pokok: Harga pokok produk selesai: Dari unit dalam proses awal Rp 19. 200 unit 200 unit 4.39 92.000 (7.500 unit Rp 13.800 dari persediaan awal Dari unit mulai diperoses dan selesai 90.400 .80018.400 4.500 x Rp12) Harga pokok produk selesai Rp113.000 Tenaga kerja (1.

600 94.600 unit 95. Jawab: a Jumlah unit produk rnasuk proses: Unit produk selesai Unit produk dalam proses akhir Jumlah unit diproses Unit dalarn proses awal Unit masul proses bulan ini 4.374.2001200 unit) Rp406 Jawab: b Total biaya tenaga kerja langsung pada bulan ini: Untuk penyelesaian persediaan produk dalam proses awal Untuk produk masuk proses bulan ini yang telah selesai (4.000 1.(-) Unit dalam proses awal 200 (=) Unit masuk proses dan selesai 4.200 80.200 (+) Penyelesaian unit dalarn proses awal: 0 Biaya bahan baku (200 x 0%) Biaya tenaga kerja (200 x 20%) 40 Biaya overhead pabrik (200 x 30%) (+) Unit dalam proses akhir: Biaya bahan (400 x 100%) 400 Biaya tenaga kerja (400 x 85%) Biaya konversi (400 x 75%) (=) Jumlah produksi ekuivalen 4.200 96 Rp 12.000 .000 Ru 1.260.000 97.800 unit 200 unit 4. Jawab:e Biaya bahan baku per unit bulan sebelurnnya: Jurnlah harga pokok produk dalam proses awal (-) Biaya tenaga kerja (200 x 80% x Rp290) Rp46.600 Jumlah biaya bahan baku yang melekat Unit ekuivalen bahan baku produk dalam proses awal: 200 unit (200 x 100%) Biaya bahan baku per unit bulan sebelumnya: (Rp8 1.400 unit 400 unit 4.400 Biaya overhead pabrik (200 x 70% xRp240) 33.000 Rp8 1.200 x Rp300) Untuk persediaan produk dalarn proses akhir Total biaya tenaga kerja langsung bulan ini Jawab: b Total biaya overhead pabrik pada bulan ini: Untuk penyelesaian persediaan produk dalam proses awal Untuk produk masuk proses bulan ini yang telah selesai Rp161. Rp15.000 102.

220 Total biaya yang diperhitungkan Rp295.(4.000 2.050. Jawab: b Pencatatan persediaan perpetual Jawab: b Jumlah unit yang hilang dalam proses produksi: Unit diterima dari departemen sebelumnya Unit selesai ditransfer ke departemen berikutnya ( ) Unit masih dalam proses akhir Unit yang hilang dalam proses Jawab: a Biaya per unit yang diterima dari departemen sebelurnnya (Rp 154. Jawab: d Perhitungan biaya per unit: Riaya Biaya Tenaga Kerja Overhead Pabrik 80.63 R~3.000 80.72 0.000) : Rp1.800190.000 - 86.020 Biaya per Per Unit Rp 1.76 Rp 1.600 86.000 Jumlah biaya yang ditambahkan RD140.000 Rp 1.000 x 113) Ekuivalen produksi 102.ooo 86.200 x Rp250) Untuk persediaan produk dalam proses akhir Total biaya tenaga kerja langsung bulan ini 98.35 . 1 I 100.000 Biaya yang ditambahkan departemen ini: 74.620 86.000 x 1/3) Biaya overhead pabrik (6.72 101.87 0.000 99.000 Tenaga kerja Overhead pabrik 65.000 80. Unit produk selesai dan ditransfer Unit hilang dalam akhir proses Unit dalam proses akhir: Biaya bahan tenaga kerja (6.000 4.000 Ekuivalen Elemen Biaya Jumlah Biaya Produksi Biaya dari departemen sebelurnnya Rp 154.145. Jawab: a Perhitungan ekuivalensi produksi: 1.000 2.000 4.800 90.

740 Tenaga kerja langsung (6. .000 (+) Penyelesaian unit dalarn proses awal: 2.000 x 113 x RpO.000 x 10%) Biaya konversi (24.000 x 20%) 4. 104 Jawab: d Lihat no.OOO x Rp3. sehingga hams dibebankan ke Rugi .87) 1.000 (-) Unit dalam proses awal (akhir April) 24.000 x 113 x R?0. 107.000 x Rp3.000 24.000 20.35) 13.520 Overhead pabrik (6.35) Rp268.000 Harga pokok produk hilang dalam proses (3.000 150.000 126.320 Biaya ditambahkan: 1. Jawab: b Lihat no. 108. B 150.103.580 104.000 20. 102 Jawab: e Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke departemen berikutnya (8O. Selisih akibat pembulatan Total biaya yang diperhitungkan 105.400 Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya dari departemen sebelumnya (6.000 126.000 x Rp1.400 Biaya bahan baku (24. Jawab: e Lihat no.76) Jumlah harga pokok produk dalam proses 13. 104 Jawab: d Hilang abnormal diakibatkan oleh kesalahan.000 106.000 150.800 (+) Unit rusak dalarn proses 20.000 (=) Unit masuk proses dan selesai 126.800 4.000 24.Laba Jawab: a Perhitungan ekuivalensi produksi bulan Mei 1990: Biaya Tenaga Biaya Overh Biaya Bahan Kerja Pabrik Unit selesai d m ditransfer ke Dep.72) R~ 10.

000 x 80% x Rpl1.000 x 80%) Biaya overhead pabrik (12.000 x 20% x Rp 18.800 384.50) 1.400 10.000 x 90% x Rp 18.800 60.000 Harga pokok produk dalam proses akhir: Rp264.400 Jawab: a Total biaya overhead pabrik pada bulan Mei: Untuk penyelesaian unit produk dalam proses awal (24.600 160.800 161.OO) Tenaga kerja (24. 110 .OO) Rp 52.000 x 80% x Rp20.000 x Rp52.000 194.000 x 100%) 12.50)120.000 Overhead pabrik (24.894.000 Biaya tenaga kerja (12.200 Overhead pabrik (24.50) 7.522.000 x 100% x Rp22.000 x 90% x Rp18) ~umlah produk dalam proses akhir 9.00) Tenaga kerja (12.OO) Biaya penyelesaian Bahan baku (24.400 199.615.000 x 90% x Rp22.000 Tenaga kerja (24.000 x 20% x Rp12.OO) Jumlah harga pokok produk selesai dari 1.000 x Rp 18) Unit produk dalam proses akhir (12.000 x 80% x Rp12.200 Jumlah harga pokok produk selesai Harga pokok produk rusak dalam proses (20.50) 220.600 Jawab: e Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai Dari persediaan awal Biaya periode sebelumnya Rp 475.279.(+) Unit dalarn proses akhir: Biaya bahan baku (12.000 x 20% x Rp18) Untuk produk selesai dari periode ini (126.00) RD9.000 x Rp18) Untuk produk rusak dalam proses (20.000 (126.600 Total biaya yang diperhitungkan Jawab: a Lihat no.50) 86.200 Bahan baku (24.200 persediaan awal Dari produk masuk proses periode sekarang dan selesai 6.000 Bahan baku (12.000 x 10% x Rp22.000 x Rp52.000 Rp 1.000 x 90%) Jumlah ekuivalensi produksi 160.080.400 Overhead pabrik (12.400 78.050.

600 & I 59.360 244.800 7.400 22.000 x Rp11.960 .400 x 25%) Jumlah ekuivalensi produksi Perhitungan biaya per unit 113.600 Elemen Biaya Bahan baku: Biaya.960 Total biaya yang diperhitungkan Rp 185.000 22.000 6.600 17.000 6.400 22.50) Biaya konversi (6.400 Biaya bahan (6. B Unit dalarn proses akhir Ekuivalen produksi Unit produk selesai Unit dalam proses akhir: Biaya bahan (6.400 x 25% x Rp3.400 x 100%) Biaya konversi (6. 110 Jawab:a Departemen A Data produksi Unit dalam proses awal Unit dimasukkan dalam proses Unit selesai ditransfer ke Dep.lO) 4. persediaan awal Biaya periode ini Konversi: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Jumlah Total Biaya Ekuivalen Produksi Biaya Per Unit Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen B (16.400 x 100% x Rp8. 4.60) Harga pokok produk dalarn proses akhir: Rp 54.400 Biaya Bahan 16.400 1.600 16.400 Biaya Konversi 16.112. Jawab: a Lihat no.

600 Unit produk selesai ditransfer ke Dep. C Unit dalam proses akhir Ekuivalen produksi 2.60) Rp 64.600 x 20%xRp.800 x Rp13.400 16.Departemen B Data produksi Unit dalam proses Unit ditransfer dari Departemen A Unit selesai ditransfer ke Dep.600 x 20%) Jumlah ekuivalensi produksi Perhitungan biaya per unit Biaya Konversi 12. A: Biava persediaan awal Biaya periode ini Biaya ditambahkan: Konversi: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Jumlah Ekuivalen Total Biaya Produksi Biaya Per Unit Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen C (12.75) Total biaya yang diperhitungkan Departemen C Data produksi .2 13.35) Harga pokok produk dalarn proses akhir: Biaya dari Departemen A (5.800 5.000 12. 1.960 Biaya ditambahkan: 1.600 x Rp11.800 110 .920 Elemen Biaya Biaya dari Dep. C Unit dalam proses akhir: Biaya konversi (5.960 Biaya konversi (5.

600 Unit dalam proses akhir: Biaya bahan (3.35) Rp46.Unit dalam proses awal Unit ditransfer dari Departemen B Unit selesai ditransfer ke gudang Unit dalam proses akhir Ekuivalen produksi 320 12 800 9.600 Elemen Biaya Biaya dari Dep.OO) 2 112 Total biaya yang diperhitungkan Rp 161.85) Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya dari Departemen B (3.600 x Rp16.520 x 0% x Rp1.600 1.520 x 30%) Jurnlah ekuivalensi produksi Perhitungan biaya per unit 9.120 Biaya Bahan Unit produk selesai Biaya Konversi 9.120 13.50) 0 Biaya konversi (3.656 9.056 10.104 RV 210.864 . B: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Biaya ditambahkan: Bahan baku: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Konversi: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Total Biaya Ekuivalen Produksi Biaya Per Unit Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai yang dilransfer ke gudang (9.520 x 0%) Biaya konversi (3.520 x 30% x Rp2.992 Biaya ditambahkan: Biaya bahan (3.600 3 520 I 0 13.520 x Rp 13.760 - 49.

000 104. Jawab: b Departemen I Data produksi: Unit dalam proses awal Unit masuk dalam proses Unit selesai dan ditransfer ke Departemen I1 Unit dalam proses akhir Ekuivalensi produksi: 32.200 .800 14.000 1 Biaya Bahan Unit produk selesai dan ditransfer 104.400 Unit dalam proses akhir 123.000 Unit produk dalam proses akhir: 7.000 24.200 Biaya bahan (24.000 Unit ditransfer dari Departemen I1 Unit selesai dan ditransfer ke Departemen 111108.000 x 30%) Biaya konversi (24.200 123.200 Unit produk selesai dan ditransfer Unit produk dalam proses akhir: Biaya konversi (14.000 96.114.200 Departemen I1 Data produksi: 19.800 Biaya Bahan Unit produk selesai dan ditransfer ke gudang 123.200 Biaya Konversi 123.200 111.200 Unit dalam proses awal 104.400 x 25%) Jumlah Departemen I11 Data produksi: Unit dalam proses awal Unit ditransfer dari Departemen I1 Unit selesai dan ditransfer ke gudang Unit dalam proses akhir Ekuivalensi produksi: Biaya Konversi 108.000 x 30%) Jumlah 7.

000 x Rp4.400 129.15 .40) Rp 17.800 136 000 6. 114 12.200 Rp 4.15) Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya bahan (24.Unit produk dalam proses akhir: Biaya bahan (12.280 123.680 43 1.800 x 50%) Jurnlah 115.000 x 30% x Rp1.75) 12.600 29. Jawab:e Perhitungan biaya per unit dan harga pokok produksi: Departemen I Perhitungan biaya per unit: Elemen Biaya Bahan baku: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Konversi: Biaya persediaan awal Biaya periode h i ' Jumlah Total Biaya Ekuivalen Produksi Biaya Per Unit Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen I1 (104.000 x 30% x Rp2. Jawab: a Lihat no.600 116.800 x 100%) Biaya konversi (12.600 Jumlah Departemen I1 Perhitungan biaya per unit: Rp 431.600 511.280 Biaya konversi (24.480 Ekuivalen Elemen Biaya Dari Departemen I: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Biaya Per Unit Total Biaya Produksi Rp & 79.880 Ru 46 1.

200 x Rp6.600 130.900 140.800 x Rp5.15) Rp59.40) Rp 69.500 Biaya konversi (14.25) Jumlah Departemen 111 Perhitungan biaya per unit: Elemen Biaya Dari Departemen 11: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Ditarnbahkan: Bahan baku: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Konversi: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Jumlah Total Biaya Ekuivalen Produksi Biaya Per Unit Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen I1 (123.800 x 50% x Rp0.120 Biaya konversi (12.760 4.400 x Rp4.40) Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya dari Departemen I1 (14.80) Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya dari Departemen 2 (12.800 x 100% x Rp0.800 x Rp5.Ditarnbahkan: Konversi: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Jumlah Rp Rv Rv 9.780 112.400 x 25% x Rp1.400 Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen I1 (108.80) Jumlah .120 Biaya bahan (12.500 651.680 5.60) 7.

400 Biaya periode h i 15.500 Ru 25.000 Rp 0. Jawab:b Lihat no.69 38.000 Unit dalarn proses akhir: Biaya bahan baku (3. .500 Konversi: Biaya persediaan awal Rp 3.300 Ekuivalen Produksi Biaya Per Unit 40.900 17.000 0.51 37.400 Jurnlah RD 64.68 121. 120 Biaya Bahan Baku Unit produk selesai 37.200 Elemen Biaya Total Biaya Dari departemen sebelurnnya: Biaya persediaan awal Rp 2.000 1.500 Biaya periode ini Rp 20.68) Harga pokok produk dalam proses akhir: .48 1.000 Perhitungan harga pokok: BiayaKoversi 37.117.000 x 0%) 0 Biaya konversi (3.000 RD 18. 132 Jawab: a Lihat no.200 38. 132 Jawab: c Perhitungan ekuivalensi produksi: 118 119.200 RD 0.000 x Rp1. 132 Jawab: b Lihat no.000 x 40%) Jurnlah 37. Jawab: e Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai (37.400 Ditambahkan: Bahan baku: Biaya persediaan awal Biaya periode h i Rv 25.

000 8.OW Produk masuk proses yang selesai Penyelesaian produk dalam proses awal: Bahan (1. 2. Jawab : b Data Produksi: Persediaan produk dalam proses awal 1.000 unit 10.000 x 20%) 200 Biaya Konversi 9.000 Konversi (10.800.000 1.000 x Rp480) Rp 4.000 unit .000 unit I 500 unit Produk rusak 500 unit Dalam proses akhir Unit Ekuivalen: Biaya Bahan 9.000 x Rp880) Harga pokok produk dalam proses akhir: Bahan baku (10.000 8.000 x 50% x Rp400) 2.000.000 x 40% x Rp0. berarti tingkat penyelesaian biaya bahan unit produk dalarn proses akhir 100%.000 x 0% x Rp0.000 Jumlah Rp 79.800.000 6. 0 0 0 ~ ~Rp) 1.266 3 Rp 64.000 satuan.300 Jawab: a Data produksi: 90.48) Selisih akibat pembulatan Jumlah 122.106 Rp 64.200.000 unit 9.000 10.000 satuan Unit produk selesai 10.61) 576 Konversi (3.000 satuan Unit dalam proses akhir Unit ekuivalen biaya bahan 100.000 unit Dimasukkan dalarn proses Ditransfer ke gudang 9.000 F 85.530 1 Biaya ditambahkan: 0 Bahan baku (3.000 satuan. berarti tingkat penyelesaian biaya konversi unit produk dalam proses akhir 50%. Unit ekuivalen biaya konversi 95.000 Produk selesai ditransfer ( .800.Produk dalam proses awal 1.000 Q 123.B ~ d a r i ~ s e b e h m m y a ( 3 . Perhitungan harga pokok: Harga pokok produk selesai (90.

000 x 50% x Rp20) 10.300.000 30.5 Elemen Biaya Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Harga pokok persediaan awa 1Rp 190.000 Dari produk yang masuk dalarn bulan Desember: (8.000 x 50% x Rp60) Overhead pabrik (1.000 Biaya penyelesaian: Bahan (1.000 Jurnlah 124.300 Overhead pabrik Jumlah Rv 1.000 Overhead pabrik (500 x 60% x Rp20) 6.000 Perhitungan Harga Pokok Produksi: Harga pokok produk selesai: Dari persediaan awal: Harga pokok awal Rp 190.000 Biaya bulan Desember: Bahan 366.300 186.Konversi (1.000 9.000 x Rp120) Jumlah harga pokok produk selesai Harga pokok produk rusak (500 x Rp120) Harga pokok produk dalam proses akhir: Bahan (500 x 90% x Rp40) Rp18.000 x 50%) Produk rusak Produk dalarn proses akhk Bahan (500 x 90%) Konversi (500 x 60%) Jumlah Perhitungan Biava Per Unit: 500 500 - 910 .000 9.000 x 20% x Rp40) 8.000 9.000 Tenaga kerja (1.150 Tenaga kerja 558. Jawab: b Data Produksi: Persediaan dalam poses awal Ditransfer dari bagian sebelurnnya Ditransfer ke bagian berikutnya Hilang pada awal proses Dalam proses akhir Biaya Per Unit 200 kg 980 kg 900 kg 20 kg .000 Tenaga kerja (500 x 60% x Rp60) 18.

---Biaya tenaga kerja: Persediaan awal Rp 40.Unit Ekuivalen: Biaya Bahan 900 kg 80 kg Biaya Konversi 900 kg Produk selesai ditransfer Produk dalam proses: Bahan (80 kg x 100%) Konversi (80 kg x 80%) Perhitungan Biava Per Unit: Elemen Biaya Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Harga pokok ditransfer masuk Persediaan awal Rp 140.904.560 480.800 800.420.000 RD 443.560 964 Biaya overhead pabrik: Persediaan awal Rp 23.000 Periode sekwang RP 520.000 Biaya Per Unit .000 Periode sekarang 9130 R 940.000 .440 Periode sekarang .443 964 Jumlah Rp 1.

Suatu produk yang dihasilkan secara serentak dengan produk utarna dari proses produksi yang sama dan jumlah nilai penjualannya lebih rendah dari produk utarna Joint product adalah: a. Mana dari pernyataan di bawah ini yang secara tepat menggambarkan produk gabungan? Suatu produk yang dihasilkan dari bahan-bahan sisa a. b. . b. yang masing-masing mempunyai nilai penjualan yang berarti. SOAL-SOAL METODE HARGA POKOK PRODUK BERSAMA DAN PRODUK SAMPINGAN 1. Produk sampingan b. Produk-produk. 3. nilai jualnya tidak menutup biaya produksi d.BAB X METODE PENENTUAN HARGA POKOK PRODUK BERSAMA DAN PRODUK SAMPINGAN A. Dua buah produk atau lebih yang dibuat secara serentak bersamaan d. Dua buah produk atau lebih yang dikombinasikan untuk membuat satu jenis produk yang baru Sebuah produk yang dibuat bersama-sama antara dua atau lebih b. perusahaan atau devisi dari sebuah perusahaan Sebuah produk yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan c. 2. Suatu produk yang mempunyai harga jual lebih rendah dari produk utama Suatu produk yang dihasilkanbersama-samadengan prod& utama yang c. Produk utarna c. yang dihasilkan dengan serentak dikenal sebagai: a. Produk bersarna Jawab a. clan c benar d.

7. Proses operasi Dua atau beberapa macam barang-barang yang dihasilkan dari suatu proses pnduksi yang sama pada waktu yang sama pula. 6. Departemen produksi d. Proses biaya campuran h. Volume c.5 penyulingan bahan tambang tertentu.4 Jika suatu perusahaan memperoleh dua produk yang dapat dijual dari. bila k l a s i f h i biaya didasarkan pada hubungannya dengan: Produk a. Produk common Di dalam perusahaan yang menghasilkan lebih dari satu macam produk dari satu proses produksi dan dari bahan baku yang sama. Joint-products d. maka produk tersebut dinamakan: a. . Proses ekstratip d. 8.suatu pnlx. Harga jual per unit tiap jenis produk c. Harga jual hipotetis 5. Hal tersebut timbul dalam proses cost method dikenal a denpan: a. Istilah biaya bersama (common cost) dan biaya bergabung (joint cost) akan timbul. Co-products c. d. Proses produksi biasa C. Periode akuntansi Tujuan pokok alokasi biaya bersarna kepada produk bersama ialah: Untuk menghitung selisih biaya (cost variance) a. pembedaan apakah suatu produk merupakan produk utama ataukah sampingan didasarkan pada: a. By-products h. akan tetapi tidak menggunakan M n haku yang sama. b. Produk ko b. Total nilai jual relatifnya Perbandingan jumlah tiap jenis produk yang diproduksi b. Produk sampingan d. Produk bersama c.i. proses penyulingan tersebut harus d~perlakulian sebagai: . 9. Separable products Perusahaan yang menghasilkan beberapa janis produk dengan menggunakan fasilitas yang sama tetapi dalam waktu yang tidak sama dan bahan baku serta tenaga kerja dapat diidentifikasikan untuk setiap jenis produk.

Pengendalian biaya bersarna Jawaban a. off point) Biaya-biaya joint product pada umurnnya dialokasi dengan menggunakan: Nilai penjualan relatif pada split-off a. Salah Untuk pengambilan keputusan memproses lebih lanjut atau tidak satu atau lebih produk bersama. Metode harga jual relatif b. Kepada produk sampingan (by-product) Berdasarkan perbandingan biaya tambahan (separable costs) setelah b. Tujuan penentuan harga pokok produk b.b. Benar b. titik terpisah (split-off point) Berdasarkan nilai jualrelatif. dan c benar Biaya bersarna (joint cost) dialokasikan: a. c. Penentuan harga pokok produk untuk pengambilan keputusan b. b. b. Penentuan harga pokok persediaan dan perhitungan rugi-laba yang sesuai dengan Prinsip Akuntansi Indonesia c. Profitabilitas relatif d. Biaya tarnbahan setelah split-off c. metode-metode alokasi biaya bersama yang paling tepat adalah: a. 13. c. Jawaban a. Metode volume relatif d. dan c benar d. satuan fisik. Tujuan penentuan nilai persediaan Ketiga jawaban di atas betul semua d.. Untuk tujuan perencanaan dan pengawasan biaya adalah perlu untuk melakukan identifkasi biaya pengolahan sesudah saat pemisahan (split-off) a. Untuk mengendalikan biaya Untuk penentuan harga pokok produk Untuk keperluan pajak 10. Tujuan alokasi biaya bersama adalah: a. b. d. Alokasi joint cost ke setiap produk tidak bermanfaat untuk: Tujuan perencanaan dan pengendalian biaya a. rata-rata tertimbang Berdasarkan nilai jual masing-masing produk pada titik terpisah (splitd. 5. Metode berat relatif c. rata-rata biaya per satuan. atau c. 14. Jam kerja tenaga langsung 11. 12. .

000 Berat produk per unit (kg) 3 2 4 2. b. Jawaban a. c benar 17. Jumlah pisik Harga jual relatif b. Perbedaan kemarnpuan produk bersama (joint product) untuk menghasilkan pendapatan diakui bila alokasi biaya bersama didasarkan: a. 23 soal Alohasi Joint Cost dengan Metode Nilai Jual RelatiJ Rata-rata Tertimbang. Laba bersih d.200.000. Jika perusahaan menghasilkan joint product. Data mengenai produk yang dihasilkanperusahaan dengan biayabersama tersebut adalah: Jenis Produk W X Y Z Jumlah produksi unit 20. Pnme cost d. Y dan 1jenis produk sampingan Z.d. Data untuk ~lenjawab no. Conversion cost c. Joint cost paling sering dialokasikan berdasarkan relative: a. Hasil penjualan produk sampingan diperlakukansebagai penghasilan di luar usaha (otherincome). Perusahaan yang menghasilkan produk utama dan sampingan d. Besarbiayabersama (joint costs) adalah sebesarRp1.000 50. metode harga jual hipotetis cocok untuk: Produk utama yang laku dijual saat dapat dipisah a. Produk utama dapat laku dijual saat dipisah atau setelah diproses lebih b. b. 18.000 10. c.000 10. X.dan Ratarata Biaya Persatuan PT Merdeka menghasilkan 3 jenis produk utama (main products) yaitu W. Profitability b. 19. Sales value Metode alokasi biaya bersama (joint cost) kepada produkbersama (joint product) yang akan menghasilkan laba bruto yang sama besamya ialah: Metode nilai jual relatif a.50 Harga jual per unit Rp 20 16 40 5 .16. lanjut Produk utama dapat dijual setelah diolah lebih lanjut c. 21 s. Metode rata-rata tertimbang c. Metode satuan fisik Metode rata-rata biaya per bulan d.

667 c. B.000 40 D 90 ? ? Total 240 7 75 400. Produk B a. dengan berat produk sebagai angka penimbang.777 d. Rp290. Data untuk menjawab soal no. Rp 213.333 b. ~naka a. Rp 150. Rp 240. c. 25.000 Jika alokasi biaya bersama didasarkan metode ratalrata tertimbang. Rp 230.500 b. 24 s. yaitu A.3 ? Nilai pasar (Rp) ? 110.000 21. maka alokasi biaya bersama ke produk Y adalah sebesar: a. c.000 190 Jenis produk yang memperoleh alokasi harga pokok bersama terbesar adalah: Produk A b. Rp 143. Rp300.000 Jika biaya bersama dialokasikan dengan metode rata-rata blaya per satuan. 26. Produk C d.500 90. Informasi untuk kegiatan bulan April 1990 adalah: Keterangan A B Produk yang dihasilakan (kg) ? 60 Harga pokok produk bersama (Rp) 60. Produk C d. Rp 133. 22. c. Rp 127. Produk C d. c. Produk D Jenis produk dengan harga pokok per kg terbesar adalah: Produk A b.d.000 Produk dijual (kg) 30 45 23.333 b. C 50 67. Produk B a.000 c. Jika :~lokasi biaya bersama didasarkan pada metode ~ ~ i ljual relatif produk ai alokasi biaya bersama ke proodk Y adalah sebesar: bersarna.20. Produk B a. Produk D Jenis produk dengan harga pokok per kg terkecil adalah: Produk A b. C dan D.000 d. 28 Alokasi Joint Cost dengan Metode Nilai Jual Relatif I "MDJ" menghasikaq 4 jenis produk bersama. maka biaya yang dialokasikan ke produk Y adalah sebesar: a. Produk B a.750 c. Selarna ini T perusahaan mengalokasikan harga pokok bersama dengan nilai jual relatif.909 d. Rp 300. Produk C d. Rp287. Rp266. . Produk D 24.0CM. Produk D Jenis produk yang memperoleh alokasi harga pokok bersama terkecil adalah: Produk A b.

000 untuk Q dan Rp 9. Q. Rp 59.d.000 untuk R Umparna biaya gabungdjoint cost dialokasikan dengan menggunakan metode nilai jual relatif pada titik pisah spit-off.333 b. Rp 14. dan C.600 untuk R c.oOO ? ToTAL 7 .000 c.000 Rp 36.Biaya tambahan jika diproses lebih lanjut . Rp 15.400 untuk Q dan Rp .Nilai penjualan jika telah diproses lanjut 28.27. 9. 29 s. B.000 untuk R d.000 Umpama biaya gabungdjoint cost dialokasikan dengan menggunakan metode nilai jual relatif pada titik pisah split-off. Rp 58.000 Rp20.000 Rp 70. Rp 60. berapa nilai jual pada split-off untuk produk P ? a.80per liter. Data untuk menjawab soal no. Rp 16.000 ? Rp15.000 ? Q 2.Nilai penjualan pada titik pisah/split-off .000 untuk R b. 33 Alokasi Joint Cost dengan Metode Nilai Jual Relatif Sebuahperusahaan membeli bahan baku bernarna Z dengan harga Rp 0. P 4. 14 217% dari harga pokok d. 25% dari penjualan c.berapa joint cost yang akan dialokasi pada barang produk Q dan R? a.000 ? E 1.500 d.000 Rp100.d.000 29. 30 Alokasi Joint Cost dengan Metode Nilai Jual Relatif FT Badai Timur memproduksi barang P.000 untuk Q dan Rp 8. Rp 12.000 Rp 3. Dengannilaipasar relatif tersebutmasing-masingjenis produk akan menghasilkan laba kotor: b. Inforrnasi tarnbahan adalah sebagai berikut: .000 Rp120. Bahan ini diproses di Departemen I dan pada akhir pernrosesan diperoleh tiga macarn produk yaitu A.000 untuk Q dan Rp 12. Produk A dijual pada titik terpisah (split-off point) tanpa memerlukan .Satuadunit diproduksi .000 Rp 15.000 Rp 7. Rp 63.000 Rp 5. 25% dari harga pokok a. 16 213 dari harga pokok Data untuk menjawab soal no.000 Rp 30. dan R melalui proses tergabung (joint process).OOO Rp 60.Biaya gabungan ('joint cost) . 31 s.

000 C 4 5.000 liter 10.000 Penjualan Persediaan akhir Penjualan A 20.000 3 1.64 a.000 c.pernrosesan tambahan. c. d.500 Alokasi biaya bersama untuk produk B ialah: a.000 liter Rp 30. Berikut ini ialah data untuk tahun 19B: Harga beli Z Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik I Rp96.000 33. Rp17. d.000 c. d.000 Rp 36. Alokasi biaya bersama untuk produk A ialah: Rp16.000 Departemen I1 Rp45.000 10. sedangkan pada akhir tahun tidak ada persediaan bahan baku Z maupun persediaan produk dalam proses. F Cemara membuat produk F. b. Rp 27. Rp 24.73 b.363. Informasi tarnbahan untuk kegiatan produksi bulan Juli 19x1 adalah sebagai berikut: .200 Rp 34. dan W dari suatu proses gabungan T (joint process) Biaya gabungan (joint Costs ) di alokasi berdasarkan harga jual relatif pada pernisahaan (split-off).000 liter 15.272.909.000 Rp 20. Rp 40. Rp 35.000 14.000 21. Rp 27.000 liter Rp 141.000 liter - Rp 96. Rp 60. b.500 Alokasi biaya bersama untuk produk C ialah: a.750 Tidak terdapat persediaan pada awal tahun.09 32. G. sedangkanproduk B dan C memerlukan proses tambahan sebelum dapat dijual. Rp 24. 30.000 B 30. Untuk mengalokasikan biaya sebelum titik terpisah (split-off point) digunakan metode harga relatif (relative market value). produk B diproses di Departemen I1 dan produk C diproses di Departemen 111.

000 b.000 Rp 750. dan biaya bersama dialokasikan dengan metode harga jual relatif adalah: a.000 ? Produk W 10.000 Rp 270.000 Rp 450.000.000 36. Semuajawaban di atas benar 35.000 320. produk A sebaiknya tidakdiproses lebih lanjut karena kalau diproses lebih lanjut perusahaan rugi Rp 80.000 satuan W diproses lebih lanjut dan dijual seharga Rp 78.000 c. Apabila alokasi biaya bersarnanya memakai metode berat relatif. Rp 21. Rp 200. . Jawaban a. 37 Alokasi Joint Cost dengan Metode Nilui Jual Relutif Biaya bersarna Rpl.OOO.000 d.000 c.500 a. dan c benar Apakah sebaiknya A diproses lebih lanjut? a.000 Rp60. Harga pokok produk A apabila tidak diproses lebih lanjut.000 30.000 78.000 Rp 420.000 12.000 d.000 d. dan biaya bersama dialokasikan dengan metode berat relatif adalah: a. Harga pokok produk A apabila tidak diproses lebih lanjut.OOO Jenis Berat Nilai jual (kg) setelah terpisah Biaya memproses Iebih lanjut Nilai jual setelah diproses Lebih lanjut 34. Rp 66. Rp 400. Rp 300.000 ? G 40.000 Data untuk menjawab soal no. Rp 30.d.000 538. Rp 200.000 b.000 Total 100. berapa laba kotor (bruto) PT Cemara atas penjualan ini? b. 35 s.000 Dengan asumsi bahwa 10. b.00 88. Rp 300.000 130.000 936.Satuan produksi Biaya gabungan (Joint Costs) Harga jual pada pemisahan (Split-off) Biaya tambahan jika diproses lebih lanjut Harga jual apabila diproses lebih lanjut F 50. Rp 400. Rp 28.000 c.

Data untuk bulan Agustus 1988 yang tersedia adalah sebagai berikut (angka dalam ribuan rupiah): Penjualan Biaya pabrikasi setelah pemisahan 11. b.000 satuan @Rp 112.000 30. Apabila alokasi biaya bersamanya memakai metode harga jual relatif.1.500 Jumlah Rp 84.300 Biaya pabrikasi sebelum pemisahan 37.500 Besarnya laba untuk PS 1 dan PS 2 masing-masing adalah 15% dan 12%.000 Rp 45. 37. 38.00 450 satuan @Rp 55.000 Sebaiknya A tidak diproses lebih lanjut karena incremental cost apabila diproses lebih lanjut lebih besar dari incremental revenuenya Jawaban a. Selama bulan Desember 1985. dan c benar PT KARUGO suatu perusahaan industri yang menghasilkan tiga macam produk berupa dua macam produk utama yaitu PU-1 dan PU-2 serta satu macam produk sampingan yaitu PS.1 PU-2 PS Kuantitas Harga Jual 6. c. Perusahaan industri ATAKANA memproduksi produk utama PU dan dua produk sampingan yaitu PSI dan PS2.500 Biaya pemasaran dan Adrninistrasi 6.500 1.000 PS2 Rp 3.000 750 550 7.000 3.000 PSI Rp 6.500 Diminta: Menghitung hargapokok satuanproduk PU.000 Rp 1.000 80.500 75. Terhadap penjualan produk PS diperhitungkan laba sebesar 20% dari harga jualnya.b.00 Biaya produksi bulan Desember 1985 adalah sebagai berikut: Biaya bersama Rp 320. d. &ketahui data produksi sebagai berikut: Produk PU.000 Jenis biaya Bahan baku Upah tenaga kerja Overhead pabrik Biaya setelah pemisahan PU-1 PU-2 Ps Rp130.000 90.PU-2 danPS dengan menggunakan metode harga jual relatif dalam mengalokasikan biaya bersarna.50 1. Produk sampingan yang dihasilkan memerlukan proses lebih lanjut agar laku dijual.500 satuan @Rp 225.000 225.000 150. PU Rp 75.000 5.500 . produk A sebaiknya diproses lebih lanjut karena kalau diproses lebih lanjut perusahaan untung Rp 120.100 90 0 13.

000 4 40.000 Rpl .000 2 100.000 *** Joint cost yang dialokasikan ke Y: 40.200.000 ke produk-produk utama berdasarkan metode nilai jual relatif: Jenis Produk W X Z Jumlah Jumlah Unit Diproduksi 20.000/Rp 1. = Jawab: b Alokasi biaya bersama (joint cost) Rp1.000 400.000 kg x Rp 1.000/Rp 1.000 kg/200.000 * ** *** * Joint cost yang dialokasikan ke W: 60.200. 2 B.200.000 *** Joint cost yang dialokasikan ke Y: Rp400.000 W 20.000 x Rp 1.000 x Rp 1.000 Y 10.000 Ru 1. Jawab: d Alokasi biaya bersama (joint cost) Rp1.000 Harga Jual per Unit Rp20 16 40 Harga Jual Total Rp400.000 *** Rp 1.000 ke produk-produk utarna berdasarkan metode rata-rata tertimbang: Jumlah Unit Berat per Berat Biaya Jenis Produk Diproduksi Unit (kg) Total (kg) Alokasian 3 60.000 .000 ** 300.000 800.000 50.000 ** Joint cost yang dialokasikan ke X: 100.000 x Rp 1.000 Jumlah 200.000 X 50.200.Diminta: Hitung biaya pabrikasi sebelum pemisahan untuk PS 1 dan PS2 dengan 1 menggunakan market value method Buat perhitungan labdrugi untuk PU.000 Rp600.200.200.000 10.000 x Rp 1. PENYELESAIAN 20.600.000 240.200.000 x Rp1.200.000 * Joint cost yang dialokasikan ke W: Rp400.000 Rp 360.000 = = Biaya Alokasian Rp300.000/200.000 2 1.600.200.000 ** Joint cost yang dialokasikan ke X: Rp800.000/200.000 = = = Rp 360.000 Rp 240.600.200.000 600.000/Rp 1.000 * 600.600. PS 1 dan PS 2.

000 150.0001400.000180.000 * 750. yang dihitung dengan cara: 110.500 c d Nilai pasar (Rp) e 110.000 unit = Rp750.000 x Rp1..000 90.200.000 x Rp 1.000 f 400.000 10.000 I * Joint cost yang dialokasikan ke W: ** Joint cost yang dialokasikan ke X: *** Joint cost yang dialokasikan ke Y: Atau dapat juga dihitung sebagai berikut: Biaya rata-rata per unit: Rp1.000 *** Y 10.22.000 20.000 = Rp750. Nilai jual produk A.000 ke produk-produk utama berdasarkan metode rata-rata biaya per satuan: Jumlah Unit Biaya Jenis Produk Diproduksi Alokasian W 20. Jawab: c Untuk memudahkan pemahaman.000180.000 Joint cost yang dialokasikan ke Y : Rp15 x 50.000 Jumlah 80.000 x d = c.(60 + 50 + 90) = 40.000 unit = Rp15 Joint cost yang dialokasikan ke W: Rp15 x 20.000 unit = Rp300. yang dihitung dengan cara: fl400.000 Produk dijual (kg) 30 45 40 75 190 Keterangan:' = a b c d e f = = = - Jumlah kg produk A yang diproduksi.200. Jumlah joint cost yang dialokasikan ke produk C (menjadi harga pokok C).000 Joint cost yang dialokasikan ke Y : Rp15 x 10.000180. Jumlahjoint cost yang dialokasikan ke produk B (menjadiharga pokok B).000 b 67.000 23.200.000 Rp 1.000 50.000 unit = Rp150.000 x Rp1. Total joint cost yang dialokasikan ke masing-masing produk.000x d = b.000 ** X 50. Nilai jual produk D.200. Jawab: d Alokasi biaya bersama (joint cost) Rp1. yang secara mudah dapat dihitung dengan cara: 240 .200.000 Rp 300.000 = Rp150. berikut ini disajikan kembali data soal yang telah dimodifikasi dengan mengganti data yang tidak diketahui dengan huruf: Keterangan A B D n ! h ! Produk dihasikan (kg) a 60 50 90 240 Harga pokok (Rp) 60.000= Rp 300. .000180.200.

000 + 82.500 67.000 x 400.000 f f = - 90. nilai c dapat dihitung sebagai berikut: 300.500) = 90.000 f 300.000 **** .000 x 400.000 x 300.000 Setelah data-data biaya yang dialokasikan ke masing-masing produk.800 x 300.500 0.000 36.000 90 1. 23 Jawab: a Perhitungan harga pokok per kg: Keterangan A Harga pokok (Rp) 60.000 x 300.500 * 25.000 80.500 60 50 1. Jawab: a Lihat no.000 (nilai pasar produk A) f 1400.000 x d = 67.Dari data tersebut.375 ** 1.500 b Setelah nilai d dan b diketahui.350 *** I2 90.000 300.500 67.000 24.000.000 .000 Produk dihasikan (kg) 40 Harga pokok per unit (Rp) 1. B C 82. nilai pasar yang tidak diketahui dapat dihitung sebagai berikut: Jumlah e: e /400.000 300. sehingga dari data produk tersebut dapat digunakan untuk inenghitung data-data yang tidak diketahui.0001400.000.500 + 67.225 d 300.000 e e Jumlah f: = - - 60.000 120.000 82.(60. Data produk C dapat digunakan untuk mencari jumlah d dengan cara sebagai berikut: 90.000 60. yang terlengkap adalah data mengenai prodlik C.000 e 300.000/400. nilai b dapat dihitung sebagai berikut: b 110.000 d Setelah nilai d diketahui.000 (nilai pasar produk D) 24.000 90.

000 Jumlah b: 15.000 60.000 Jumlah d: d/100.000 3.600.000 ~ i a i gabungan (joint cost) Rp36.000 a a b Rp.000 2.000 60.000 Nilai jual pada titik split-off c d Rp15.000 7.000 25. 60.000 Rp 100. nilai yang didak diketahui dapat dicari dengan cara sebagai berikut: Data yang diperlukan: P Q R TOTAL Satuanlunit dip~oduksi 4.000 60.000 x 60.Jawab: d Lihat no.500.000 x 60.000 1. 25 Jawab: a Keteran~an Harga pokok (RP) Harga jual (Rp) Laba Kotor (Rp) Persentase laba kotor dari penjualan *) *) Laba Kotor X 100% Harga Jual Jawab: c Dengan logika yang sarna dengan sod sebelurnnya.000 c C = = - 36.000x60.000 Jumlah a: Jumlah c: c/100.000 1.000 d d - Jawab: c Lihat no.000 15.000/100.000 = b b 9. 28 .

15 Alokasi joint cost berdasarkan nilai jual relatiel3 Jenis Produk A B C Jumlah Jumlah Diproduksi 30.000 Rp36.20 5.000 liter B 30.000"" 114. 30 Jawab: b Lihat no.000 30.000 liter 6 0. . Jurnlah joint cost adalah biaya-biaya yang diieluarkan oleh Departemen I: Biaya bahan (Z) Rp 96. Jawab: a Lihat no.000 liter 3 0.000 liter 15.000 Ru120.000 31.50 3.000 141.000 Harga Per Unit Rp 1.000 96.30.000 Ru 330.000 120. 33.000 liter C 45.000 Blaya tenaga kerja 14.000 Biaya Penjualan Biaya Tambahan Relatif Alokasian Rp 0 Rp 45.000*** Ru 180.000 30.000 75.000 liter Jumlah Nilai Penjualan Rp 30. 30 Jawab: c Data yang dapat digunakan untuk alokasijoint cost bedasar harga jual relatif pada saat plit-off: 32.000 liter C 45.000 liter B 30.000 96.000 Jumlah Rp 120.000 60.20 5.000 Biaya overhead pabrik 10.000 liter 10.000 Jurnlah liter produk yang diproduksi: Jenis Produk Produk Jumlah Produk Terjual dalam Persediaan Diproduksi A 20.000 24.000" 66.000 liter 0 liter 30.50 3.750 Harga Jual per Liter Rp 1.000 Ru 150.15 Total Penjualan Rp 45.000 liter Harga jual per liter: Jenis Produk Produk Terjual A 20.000 189.000 60.

000 Perhitungan laba kotor produk W:Penjualan (10.000 .000.000 (+) Biaya pernrosesan lanjut 12.000 RD 1.000 c Rp 450.000 Alokasi total joint cost ke produk W:b = 60.000t750.000 RD30.000 50. Jawab:a Alokasi biaya bersama Rp 1.000 Rp 270.000 Biaya yang dialokasikan ke produk C: 20 kg x Rp 10. Jawab: b Alokasi biaya bersama Rpl.000.000/750.000.000 = Rp162.000/100 kg = Rp 10.500.000 x 450.000 *** Jumlah 100 kg Rp 1.000 Jumlah laba kotor 34.000 100.OOO dengan metode harga jual relatifi Jenis Nilai Jual Alokasian Biaya A Rp 300.000 * R 40 kg 400.000 750.000 = Rp 400.000 = Rp 252.000 = Rp 200.000 Alokasi total joint cost ke produk G: b = 270.000 x 450.E Satuan produksi Biaya gabungan Biaya jual pada saat pemisahan G w Total 40.000 unit): Alokasian joint cost Rp 36.00d unit) Harga pokok penjualan (10.OOO.000 Rp 60.000 ** C 20 kg 200.000 Rp 200.000 400.000* B 600.000/750.000 48.000 Alokasi total joint cost ke produk F:a = 420.000 Rp 78.000 ** C 600.000 Biaya yang dialokasikan ke produk A: 40 kg x Rp 10.000 = Rp 36.OOO *** Jurnlah RD 1.000 Biaya yang dialokasikan ke produk B: 40 kg x Rp 10.000 a b Rp 420.000 10.000 Atau dapat juga dihitung dengan cara sebagaio berikut: Biaya rata-rata per kg: Rp 1.000 400.000 35.000.000 x 450.000 dengan metode berat relatif: Jenis Berat Alokasian Biaya A 40 kg Rp 400.000 = Rp 400.

000 80.000 Rp 245.0 .4** Rp 1.500 Rp 10. Pengerjaan untuk menjawab no.000 Rp 430.000 Karena apabila produk A diproses lanjut akan menghasilkan kenaikan laba sebesar Rp 20.950 14.000 Tenaga kerja 5.500 Overhead pabrik 3.750 Jumlah biaya produk PS sebelum pemisahan ~umlah biaya bersama produk PU-1 dan PU-2 9.000 150.500 223.36.950 20% x Rp24.000 Laba kotor: 4.200 ke produk PU. Jawab: c Pertimbangan untuk menentukan apakah akan diperoses lanjutltidak dengan membandingkan tarnbahan pendapatan dengan tarnbahan biaya: Tambahan pendapatan: Pendapatan bila diproses lanjut Pendapatan bila tidak diproses lanjut Tambahan biaya: Biaya memroses lebih lanjut Jumlah kenaikan laba pernrosesn lanjut Rp 420.000 Rp 120.800 Rp 540.196.200 Perhitungan alokasi biaya bersama sebesar Rp 540.200.000 Rp 320.750 Rp 550.1 dan PU-2: Biaya Pengolahan Harga Jual Alokasi Produk Harga Jual Lanjutan Hipotetis Biaya Rp 3 17.500 Rp 595.000 Rp 24.6* PU-1 Rp 675.000.012.003.500 Ru 540.000 Ru 417. maka sebalknya diproses lanjut.000 172.000 PU-2 165.000 300. 37 37. Jumlah biaya bersama: Bahan baku Tenaga kerja Overhead pabrik (-) Biaya produk PS sebelum pemisahan: Penjualan produk PS (-) Biaya proses lanjutan: Bahan baku Rp 1.

80 Produk PS Jumlah biaya pengolahan Biaya produk PS sebelum pemisahan Rp 9.500 Rp 9000 420 1.003.000 Jumlah Rv 19.6 Biaya alokasian 430.000.180 .0 Jumlah Ru 747.003.4 Jumlah Biaya per unit:.500 x Rp540.800 Biaya pengolahan lanjutan 10.200 **R172.196.000/Rp417.Perhitungan: *Rp245.4 Biaya pernrosesan lanjutan 165.000 Rp 4.500 Jumlah biaya pabrikasi sebelum pemisahan Rp 6.00 Pengerjaan untuk menjawab soal no.500 satuan = Rp258.003.500 x Rp540.4/1.000 Rp 1.616.320 RD 2.000 Jumlah biaya pabrikasi sebelum pemisahan Produk PS2 Penjualan (-) Biaya pengolahan lanjutan Laba kotor: 12% x Rp3.000 Rp 3.000 satuan = Rp124.800 Biaya per unit: Rp19.200 Perhitungan biaya per unit: Produk PU. 38 Perhitungan biaya pabrikasi sebelum pernisahan: Produk PS 1 Penjualan (-) Biaya pengolahan lanjutan Laba kotor: 15% x Rp6.196.8001450 satuan = Rp44.100 900 2. Rp388.0 Ru 388.000.6 Biaya per unit: Rp747.500/Rp417.1: Jumlah biaya pengolahan Biaya pengolahan Rp 317.50 Produk PU-2: Jurnlah biaya pengolahan Biaya alokasian Rp 223.

3.OOO+Rp1.180 6.500 Rp 42.180 Rp 3 1.080 Jurnlah harga pokok penjualan Laba kotor Biaya pemaran clan 'administrasi Laba bersih 8.38.180 .100) PS2: (Rp2.100 psl: (Rp4. Perhitungan rugi-laba: Penjualan produk PU Penjualan produk PSI & PS2 Harga pokok penjualan produk PU: Rp 37.5000 Biaya pabrikasi sebelum pemisahan (-) Biaya sebelum pernisahan produk PS 1 Rp 4.2.320 (+) Biaya pengolahan lanjutan 11.000 Biaya sebelum pernisahan produk PS2 2.820 Harga pokok penjualan produk sampingan: Rp 5.180 + Rp900) -.

Untuk meniadakan perlunya perhitungan kelebihan/kekurangan d. Untuk menggantikan anggaran Sebagai basis kalkulasi biaya produk untuk pelaporan ekstemal c. Pengawasan biaya Menghindarkankeputusan-keputusanmanajemen yang bersifat subyektif c. 4. sedangkan penyimpangan yang penting yang menguntungkan tidak perlu Yang bukan merupakan manfaat sistem harga pokok standar adalah: a. motivasi kepada karyawan Semua penyimpangan terhadap standar hams ditelaah lebih lanjut c. b. pembebanan biaya overhead pabrik Mana dari yang berikut ini menggambarkan secara paling tepat karakteristik sistem biaya standar? Biaya standarmeliputipengendalianbiaya. SOAL-SOAL METODE HARGA POKOK STANDAR 1. d. 2. Mengalokasikan biaya secara lebih tepat d. Pengendalian biaya b. biaya Standar dapat menegaskan tanggung jawab dan dapat memberikan b. Pengukuran efisiensi bagian produksi 3. . d. Penentuan harga pokok produk Administrasi barang yang lebih sederhana c. Mana dari berikut ini yang merupakan salah satu dari tujuan biaya standar? Untuk menyederhanakan prosedur kalkulasi biaya dan mempercepat a.BAB XI I 1 METODE PENENTUAN HARGA POKOK STANDAR A. Semuapenyimpanganpenting yang tidak menguntungkanharus ditelaah. sekaligusberartipengurangan a. Tujuan standarisasi biaya (cost standard) adalah: Menentukan break-even point tertinggi tingkat produksi a. tersedianya laporan biaya b.

Jawaban a. dan c benar Untuk tujuan pengawasan. seluruh selisih (variance) dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori utarna: selisih harga. Suatu perangsang besar yang bempa bonus akan dibayarkan b. Berikut ini golongan standar mana yang banyak digunakan dan merupakan kriteria yang paling baik untuk menilai pelaksanaan: Standar normal. permulaan menentukan harga pokok standar d. dan selisih: Pengeluaran a. Biaya tenaga kerja langsung b. Semua alternatif jawaban benar Sebuah perusahaan yang menggunakan standar yang sangat kaku (teoritis)pada suatu sistem biaya standar akan mengalami: a. Varian yang terjadi pada umurnnya tidak menguntungkan c. Biaya &an lebih baik terawasi daripadajika standar yang lebih longgar (lunak) dipergunakan Metodeharga pokok standarmerupakan metode untuk menentukanjumlah biaya yang seharusnyauntuk membiayaiproses produksi tertentu. b. Tarip c. b. Selisih pemakaian b. Volume Selisih efisiensi sering disebut dengan nama a. b. Tidak dapat diterapkan pada kedua sistem harga pokok di atas Biaya standar terutarna efektif untuk mengendalikan biaya yang mana: a. didasarkan atas tingkat efisiensiyang dapat dicapai oleh b. para pelaksana Standar rata-rata biaya waktu lalu didasarkan atas dukungan saat c. Biaya rapat direksi d. Biaya promosi penjualan c.Sistem harga pokok standar dapat diterapkan pada: Sitem harga pokok pesanan saja a. Selisih kuantitas . selisih efisiensi. Sitem harga pokok proses saja c. Sistem harga pokok pesanan atau sistem harga p k o k proses d. Kuantitas d. didasarkan atas taksiran biaya di masa yang akan datang a. di bawah asumsi keadaan ekonomi dan kegiatan yang normal Standar teoritis. Para pegawai akan didorong keras untuk mencapai standar d.

(KSt . manakah diantara formula berikut ini yang menunjukkan selisih pemakaian bahan baku (materials quantity variance)? (HSt . 13 s. Selisih pemakaian dan selisih kuantitas Selisih kualitas 1 1. b.d.HS) x KStDip (KSt . Debit Kredit b. manakah diantara formula berikut ini yang menunjukkan selisih harga bahan baku yang dipakai (materials price usage variance)? (HSt . d. d. (KSt -KS) x HSt 14.HS) x HS C. Persediaan bahan baku dicatat pada biaya sesungguhnyadan persediaan produk jadi dicatat pada harga pokok st. (HSt . KECUALI: a. Berikut ini adalah karakteristik metode partial plan. Jika selisih harga bahan baku (materials price variance) dicatat pada saat bahan baku dipakai. .HS) x KStDip C. Analisis terhadap selisih harga pokok memerlukan bantuan informasi yang tidak tersedia dalam rekening buku besar Rekening selisih biaya standar yang menguntungkan (laba) akan mempunyai saldo: a.andar d.HS) x KSDip a. 16 Jika diketahui: HS: Harga sesungguhnya per unit HSt: Harga standar per unit KSDib: Kuantitas sesungguhnya yang dibeli KSDip: Kuantitas sesungguhnya yang dipakai KStDip: Kuantitas standar yang dipakai 1: Jika selisih harga bahan baku (materials price variance) dicatat pada saat bahan baku dipakai. Iawaban a dan b benar 12.Metode pencatatan harga pokok standar ada dua bentuk pokok yaitu single plan dan partial plan. (HSt . b. Rekening Barang Dalam Proses didebit dengan biaya sesungguhnyadan dikredit dengan biaya standar b.HS) x KSDip a. Selisih hargapokok standardicatat (dihitung)atas dasar input biaya yaitu pada saat biaya terjadi selama periode akuntansi c.c. c. . Data untuk menjawab soal no.HS) x HS (KSt -KS) x HSt d.

19. Laba Rugi d.KS) x HS a.000 kg Kuantitas sesungguhnya dipakai 1. (KSt .HS) x KStDip b. Rugi Rugi 16.600 Biaya standar per kg Rp1.550 Biaya pembelian aktual per kg Kuantitas aktual yang dibeli 2.HS) x HS (KSt -KS) x HSt d. Rugi Laba c. Laba Laba Selisih apakah yang timbul jika jumlah berat bahan baku yang sesungguhnya digunakanmelebihijumlah bahan baku yang dipakai menurut standartetapi biaya bahan baku sesungguhnyalebih rendah dari biaya bahan baku menurut standar? Selisih Efisiensi Selisih Harga a.HS) x KStDip C.900 kg Kuantitas standar yang diperkenankan atas produksi aktual 1. 17.manakah diantaraformula berikut ini yang menunjukkan selisih harga pembelian bahan baku (materials purchase price variance)? (HSt . Jika selisih harga bahan baku (materials price variance) dicatat pada saat bahan baku dibeli dan dipakai.800 kg . b. manakah diantaraformula berikut ini yang menunjukkan selisih harga bahan yang dipakai (materials pfice usage variance)? (KSt .HS) x KSDip a. (HSt .HS) x HS C. PT Binsar Jaya menggunakan sistem biaya standar. Rugi Rugi b. Laba Laba c. Laba Rugi d. (KSt . (HSt .15. Jika selisih harga bahan baku (materials price variance) dicatat pada saat bahan baku dibeli dan dipakai. 18. Harga bahan baku yang sesungguhnya lebih kecil daripada harga bahan baku standar akan tetapi biaya bahan baku yang susungguhnya lebih besar daripada biaya bahan baku standar. Rugi Laba b. Informasi mengenai bahan baku untuk produk BRI untuk bulan Oktober 1990 adalah sebagai berikut: Rp 1. (KSt -KS) x HSt d. Selisih biaya bahan baku yang terjadi adalah: Selisih kuantitas Selisih harga a.

21 s. C.100 per satuan.000 (tidak menguntungkan) 20. Rp450 (rugi) Semua alternatif jawaban benar .000 favorable d.500. Selisih harga bahan sama dengan: a. Rp 175 (rugi) Semua altematif jawaban benar 22.500.500 kg Rp 0.70 3.50 kg Rp 0.000 satuan produk dengan menggunakan 50.90 Juni 1987 Bahan B 0. Rp 10.000. Rp540 (laba) 23.000. b. Rp 500 (laba) d.000 (menguntungkan) a. Dalam kenyataan (aktual) satuan produk yang memerlukan45. Rp 100.000. Selisih kuantitas bahan yang dipakai sama dengan: a. Berikut ini data yang menyangkut biaya bahan: Bahan A Kuantitas bahan standar per unit x I kg Biaya bahan per kg RP 1 Kuantitas bahan yang dipakai Biaya bahan sesungguhnya per kg 2 1. Rp 275 (laba) 4.000favorable Rp 4.000. Rp 5. Rp 700 (rugi) C. 25 Untuk membuat produk x diperlukan bahan baku A dan B.000unfavorable C.000 unfavorable Rp 10. Variance harga bahan langsung dan variance penggunaan adalah: Harrra (price) Penggunaan (usage) a.500.000 (tidak menguntungkan) b.000 (menguntungkan) d.000 favorable Data untuk menjawab soal no. Semua altematif jawaban benar Selisih hasil (yield) sama dengan: Rp450 (laba) a.500.000.000 unfavorable Rp 10. Rp 200 (rugi) b. d. Rp 450 (laba) C.000favorable b.500 kg Rp 0.000 satuan bahan baku dengan total biaya bahan Rp100.000. C. Pada bulan diproduksi 5.75 b.000 unit x. Rp 4. d.000 satuan bahan baku dengan harga Rp 2. Rp90. Rp 100.d. PT Trubus menganggarkan 50.000 favorable Rp 10.Berapakah penyimpangan (selisih) harga pembelian? Rp90. Rp 5.

Rp 2.200 Harga Rp 11 19 22 ' Selisih harga bahan baku bulan Januari adalah: a.800 (rugi) Rp 2..100 2. Rp520 (laba) Semua alternatif jawaban benar 25. Apabila dipakai metode pembukuan tunggal (Single plan). d. Rp520 (rugi) b.& 10 20 20 50 Harga Rp 10 20 20 Jumlah Rp 100 400 400 Rv 900 Selarna bulan Januari dibuat 100unit produk Y dengan biaya bahan sesungguhnyasebagai berikut: Jenis bahan A B C Total 26. Selisih komposisi sama dengan: a.700 (rugi) .200 (laba) b. Semua altematif jawaban benar Data untuk menjawab soal no. bagaimanakah ayat jumal untuk pemakaian bahan? a.675 Selisih Harga Bahan 275 Barang Dalam Proses Rp 6.200 190 .d. 30 Biaya bahan baku standar untuk membuat produk Y sebagai berikut: Jenis bahan A B C Total Kuantitas (I .750 Selisih Hasil Bahan 450 Rp 275 Selisih Harga Bahan Selisih Komposisi Bahan 250 6. Rp250 (laba) c. Barang Dalam Proses Rp 6.0 5. Rp 3.675 Persediaan Bahan b.675 Persediaan Bahan c.675 Rp 6. 26 s.24. Barang Dalam Proses Rp 6. Rp 1.750 200 Selisih Kuantitas Pemakaian Bahan d. Kuantitas ( k ~ ) 1.lo0 (rugi) c. d. Persediaan Bahan Rp 6.

Rp 10. a. Rp 95. Penggunaan bahan sesungguhnya dan total biayanya dalam bulan Nopember 1989 adaiah: bahan A 1. b. Rp 83.000.000 (rugi) b. b.600 (laba) 29. Rp 93.000 d. Rp 83. maka biaya bahan baku yang dibebankan ke rekening Barang Dalarn Proses adalah: .700 b. Rp 47.500 (rugi) c. Selisih hasil bahan baku bulan Januari adalah: a.600 (rugi) c.000 (laba) 32.000.000 (laba) Rp 125.000 30. Rp 125. Rp 118. Data untuk menjawab soal no.600 (rugi) 28.000 (rugi) Selisih komposisi (mix) bahan adalah: a. Cat yang sesungguhnya dihasilkan 1.000.000 (laba) .250 kg Rp1. Apabila dipakai metode pembukuan tunggal (single plan).600 (rugi) Rp 3.27. Rp 95.500 (laba) Rp 125. d. Rp 47.425. Rp 90. bahan B 750 kg Rp1. dan bahan C 1. Rp 3.d. maka biaya bahan baku yang dibebankan ke rekening Barang Dalam Proses adalah: a. d.000.700 b. Rp 47. Rp 125.000 (rugi) Selisih hasil (yield) bahan adalah: a.000 Apabila dipakai metode pembukuan parsial (partial plan).600 c.600 c. d. Rp 1 18.000. Selisih harga bahan sebesar: a.500 (laba) Rp 125.000 (laba) 33.750. Rp 47.000 (rugi) c.550 kaleng.000. 31 s. Rp 90.600 (laba) Rp 93. Rp 93. Rp 10. a. Rp 125.600 (Iaba) c.600 (rugi) d. d.000 d. b. Rp 10.500 (rugi) c.600 (laba) Rp 93.750 kg Ryl90. 33 Biaya standar bahan baku untuk membuat 250 kaleng cat adalah sebagai berikut: bahan A 300 kg atau Rp90. Rp 10. dan bahan C 200 kg atau Rp250. Selisih komposisi bahan baku bulan Januari adalah: b. 3 1. bahan B 125 kg atau Rp250.

39 s.500. Rp 12.300 @ Rp 90. Rp 12.100 unit produk dengan biaya bahan: -X 2.500.500. d.000.00 -Y 2.00 50.OO (laba) c.500.OO (laba) d. Rp 45.000. Rp 50.000.000.OO (rugi) a.000.Data untuk menjawab soal no.OO Rp 150. 40 Jss : Jam kerja sesungguhnya Jst : Jam kerja standar .OO 34.OO 70.00 1. Dalarn bulan tersebut terjadi selisih biaya bahan baku: Selisihkuantitas Selisih harga a. Rugi Laba c.d.000.000. b.OO Untuk bulan Mei 1990perusahaan tersebut menghasilkan 6.400 @ Rp 150. d.OO (rugi) 37 Rp 84.2 kg @ Rp 125.d.OO (rugi) 38.00 (rugi) Rp 12.00 (laba) c.00 -Z 2. 38 PT XYZ telah menyusun biaya biaya bahan standar untuk setiap unit produk sebagai berikut: -X 0. Rp 12. Rp 45.00 -Y 0. 34 s.000. Rugi Rugi b. c.5 kg @ Rp 140. Selisih komposisi bahan baku Y adalah: a.00 (laba) adalah: b.OO Rp 30.000.000. Rp 90.000.4 kg @ Rp 125. Rp 12.00 -Z 0. Selisih komposisi bahan baku X adalah: a. Dalarn bulan tersebut terjadi selisih hasil (yield variance) sebesar: b. Rp 12.500 @ Rp 120.OO (rugi) Rp 90. Rp 84.3 kg @ Rp 100.00 (laba) b. Rp 15. Data untuk menjawab soal no.00 (laba) C.00 (laba) c.00 (rugi) 35.00 (rugi) 36. Rp 15.00 (laba) Selisih komposisi bahan baku a. Laba Rugi Laba Laba d.00 (rugi) Rp 50.000.

Perbedaan antara jumlah jam standar dan tarip aktual dikalikan dengan perbedaan antara tarip standar dengan tarip aktual Varians efisiensi upah yang menguntungkan menunjukkan: a. 42.(Jst x Tst) d.(Jst x Tst) b. 43. Selisih biaya tenaga kerja adalah sama dengan: a. (Jss x Tss) . Maximum-efficiency standard d.(Jst x Tss) c. Currently attainable standard Penyimpangan efisiensi upah langsung merupakan: a. Perbedaan antara tarip standar dan tarip aktual dikalikan dengan jumlah jam standar b. Basic standard c. (Jss x Tst) . (Jss x Tst) . jumlah jam aktual d.Tss : Tarip upah sesungguhnya Tst : Tarip upah standar 39. 41. (Jss x Tss) . (Jss x Tss) .(Jss x Tst) Selisih efisiensi upah langsung adalah sama dengan: a. Total biaya upah sesungguhnya kurang dibanding biaya upah standar yang ditentukan bagi unit yang diproduksi d. Mana dari keempat jenis standar tersebut yang menggambarkan biaya tenaga kerja langsung yang seharusnya terjadi dalam tingkat operasi seperti yang selama ini dapat dicapai? a. c. Jam tenaga kerja langsung standar yang ditentukan bagi unit yang diproduksi lebih besar daripada jam tenaga kerja langsung sesungguhnya dipergunakan c. (Jss x Tss) . .(Jst x Tst) b. Rata-rata upah yang dibayarkan kurang dari tarip standar b.(Jst x Tss) c. Jumlah unit yang diproduksi dalam periode yang bersangkutan kurang dari jurnlah unit yang dianggarkan 40. (Jss x Tst) .(Jst x Tst) d. (Jss x Tst) .(Jss x Tst) Dibawah ini dicantumkan empat nama jenis standar berbeda yang dihubungkan dengan sistem biaya standar. Ideal standard b. Perbedaan antara jumlah jam standar dan jumlah jam aktual dikalikan dengan tarip standar Pebedaan antara tarip standar dengan tarip aktual d~kalikan dengan .

Selisih efisiensi upah (laba) d. Selisih tarip upah (rugi) c. Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya ternyata lebih besar daripada jam tenaga kerja standar dan biaya tenaga kerja sesungguhnya lebih kecildaripada biaya tenaga kerja standar. besar terdiri dari tenaga berpengalaman dengan pembayaran tinggi Komposisi pekerja yang ditugaskan pada pekerjaan tertentu sebagian b. 47. Saldo debit dalam rekening selisih efisiensi upah menunjukkan: Jam tenaga kerja langsung standar melebihi jam tenaga kerja langsung a. 50 F LIELANI yang menggunakan sistem harga pokok standar memeliki data akuntansi T sebagai berikut: 200 unit Unit yang diproduksi 5 jam Jam kerja standar per unit Tarip upah standar per jam Rp600 . besar terdiri dari tenaga muda dengan pembayaran rendah Untuk memenuhi jadual produksi. sesungguhnya Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya melebihi jam tenaga b. Selisih tarip upah (laba) Mana dari yang berikut ini merupakan alasan paling mungkin dari terjadinya penyimpangan tarip upah tak menguntungkan dan penyimpangan efisiensi menguntungkan? Komposisi pekerja yang ditugaskan pada pekerjaan tertentu sebagian a. Laba Laba d. Rugi Laba b. Rugi Rugi c. melebihi tarip upah standar dan jam tenaga kerja langsung standar Jikajam tenagakerjalangsung sesungguhnyamelebihijam tenaga kerja langsung standar jenis selisih (variance) yang akan terjadi adalah: a. Laba ~ l 45. 46. 48 s. Selisih biaya tenaga kerja yang terjadi adalah: Selisih tarig Selisih efisiensi Rugi a. kerja langsung standar Tarip upah standar dan jam tenaga kerja langsung standar melebihi tarip c. pekerja dari bidang produksi lainnya c.44. Data untuk menjawab soal no. upah sesungguhnya dan jam tenaga kerja langsung sesungguhnya Tarip upah sesungguhnya dan jam tenaga kerja langsung sesungguhnya d.d. Selisih efisiensi upah (rugi) b. ditugaskan membantu pekerjaan tertentu Bahan baku yang cacat menyebabkanlebih banyak tenagakerjadigunakan d.

Barang Dalarn Proses Rp 600.Tarip upah sesungguhnya per jam Total jam kerja langsung sesungguhnya 48.000 Semua alternaiif jawaban benar . Barang Dalam Proses Rp 600. d.000 Selisih Tarip Upah Selisih Efisiensi Upah Utang Gaji dan Upah Data untuk menjawab soal no.000 Rp 60. c. Rp45. 50. Rp50.000 Selisih Tarip Upah 55.000 Selisih Efisiensi Upah ' Utang Gaji dan Upah d. Rp 60. Rp 60.000 (rugi) d. b. Selisih tarip upah sama dengan: a. Selisih Efisiensi Upah 60. 53 Perusahaan X menggunakan sistem biaya standar. Barang Dalam Proses Rp 600.000 (laba) c. 4.000 Selisih Tarip Upah Utang Gaji dan Upah b. Rp 55.000 (rugi) Rp 55.000 (rugi) Rp 60.d.000 a. Selisih tarip upah: a. Jurnal untuk mencatat transaksi tersebut adalah: Barang Dalam Proses Rp 600.000 (laba) Rp550 1. Rp 60.000 Selisih Tarip Upah 55. d. 51 s.500 jam Rp45.000 (laba) Selisih efisiensi upah: a.100 jam b.000 (laba) b. Rp 55.000 (rugi) 49.000 Selisih Efisiensi Upah Utang Gaji dan Upah c. Berikut ini data yang berkaitan dengan biaya tenaga kerja langsung untuk bulan Juni 1997: Jam tenaga kerja langsung standar per unit produkl Jam Tarip upah standar per jam kerja Rpl00 Jumlah produk X yang dihasilkan pada bulan Juni 500 unit Tarip upah sesungguhnya per jam kerja Rp90 Jam kerja sesungguhnya 5 1.000 (rugi) Rp 55.000 (laba) c.

Rp 244.000 Selisih Efisiensi 50. Rp 243.000 a.000 Selisih tarip Upah Rp 45. Rp 260.598 jam d. Rp50. PT X menggunakan sistem biaya standar.500 jam Rp 600. Rp 260.100 per jam Tarip upah sesungguhnya Jam tenaga kerja langsung standar untuk mengerjakan produksi sesungguhnya 1. Rp 405. 54. 1. Rp50. 55.400jam b. FT Seni Jaya menggunakan sistem biaya standar.600jam 56. 1.000 jam Jam tenaga kerja langsung menurut standar .000 jam Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya 21. Informasi mengenai biaya tenaga kerja langsung bulan September 19x2 adalah sebagai berikut: Tarip upah standar Rp 6. 1.000 Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya Rp 8.400 53.600 b.000 Selisih efisiensi upah (rugi) Jumlah jam kerja sesungguhnya dalam bulan September 19x2 adalah: a.000 (rugi) b.000 (rugi) a. Selisih efisiensi tenaga kerja sama dengan: Rp45.000perjam 6.000 Gaji dan Upah b.000 (laba) d.ah (laba) Rp6.000 c. 1. Semua alternatif jawaban benar Biaya tenaga kerja langsung PT X bulan Maret 19x2 adalah sebagai berikut: 42. Informasi mengenai tenaga kerja langsung adalah sebagai berikut: 30.000 Jam tenaga kerja langsung standar 40.000 d.000 Rp 500. Barang Dalam Proses Rp 500. Semua alternatif jawaban benar Jurnal distribusi gaji dan upah yang bisa dibuat dari data di atas apabila dipakai metode berat sebelah (partial plan) dalam penerapan sistem harga pokok standar adalah: Barang Dalam Proses Rp 405.52.400 Selisih tarip up.000 Gaji dan Upah 405. c.000 c.402jam c. Barang Dalam Proses Rp 500.30 Tarip upah langsung standar per jam Upah tenaga kerja langsung sesungguhnya dalam bulan Maret 19x2 adalah sebesar: a.000 Gaji dan Upah d.

Tarip upah sesungguhnya per jam tenaga kerja langsung adalah: b.000 d.160. Rp 4. 59.218. Rp 3.800 laba Selisih tarip upah tenaga kerja langsung Biaya tenaga kerja langsung sesungguhnya Rp 110. sedangkan biaya tidak langsung pabrik dihitung berdasarkan: a.000 (laba) b. Kondisi Ideal dan Maksimum b. Rp1.000 Dalam standar costing.OO d.80 Tarip upah standar per jam tenaga kerja langsung adalah: b.200. Rpl. . Rp 5.000 laba Rp 5. Rp 3.60 c. 58 Data biaya tenaga kerja langsung PT Karanggayam selama bulan Maret 19x2 adalah sebagai berikut: Jam kerja standar 30.000 Rp126. Rp 4.OO d. biaya material dan upah buruh umurnnya dihitung berdasarkan kondisi normal dan kondisi sekarang yang memungkinkan adanya perubahan harga dan tarip. Rp 5.80 a. Rp1. 60.450 (laba) Data untuk menjawab soal no.000 Variance tarip upah langsung (favorable) Rp 420.000 Berapaupah langsungtotal yang hams dibayarF T Aroma untukbelan Mei 19X1? a.80 Informasi mengenai biaya upah langsung PT Aroma untuk bulan Mei 19x1 adalah sebagai benkut: Tarip upah langsung standar Rp 600 Rp 580 Tarip upah langsung sesungguhnya Jam tenaga kerja langsung standar 20.150 (laba) Rp 6. c. Rp 6.000 jam Jam kerja sesungguhnya 29. Kondisi Operasi dan Motivasi c.000 jam Selisih efisiensi biaya tenaga kerja langsung Rp 4.d.80 a. Kondisi Harga dan Tarip 58.300 (laba) d. 57 s.000 Rp 6.000 Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya 21. 170.Selisih tarip upah (rugi) Biaya tenaga kerja langsung sesungguhnya Selisih efisiensi upah F Seni Jaya adalah: T a. Rp3.000 b. Rp 6.200 57. Rp 3. Kondisi Efisiensi d m Volume Normal d. Rp1. Rp 3 3 4 c.000 c.

c. Biaya overhead pabrik sesungguhnyaberbeda dengan biaya overhead d. Tidak menguntungkan Bisa menguntungkan atau tidak menguntungkan. diperlukan adanya: a. 65. Kapasitas normal berbeda dengan kapasitas standar c. Efisiency Variance d. Dalam mengadakan analisis selisih biaya overhead pabrik neto/keseluruhan (nevoverall factory overhead cost variance). 63. Kapasitas sesungguhnya berbeda dengan kapasitas normal b. b. Controllable Variance b. pabrik standar Menurut metode 2 variance untuk menganalisis overhead pabrik. b. Menguntungkan c. overhead yang dianggarkan Di dalam metode harga pokok standar akan terjadi selisih kapasitas biaya overhead pabrik adalah: Kapasitas sesungguhnya berbeda dengan kapasitas standar a. c. Anggaran fleksibel (flexible budget) Anggaran tetap (fixed budget) b. budget allowance yang didasarkan atas jam standar digunakan dalam perhitungan: 62. Dalam metode dua variance untuk menganalisis factory overhead. Spending Variance c. Volume Variance Tarip pembebanan overhed tetap adalah fungsi dari tingkat kegiatan "normal" yang ditetapkan di muka.61. b. penyimpangan volume akan: No1 a. Ya Ya Tidak Tidak Volume J'ariance Ya Tidak Tidak Ya . Controllable (budget) variance a. dan c benar d. d. tergantung jumlah d. 64. Anggaran statik (static budget) Jawaban a. . selisih antara actual factory overhead dan factory applied pada produksi adalah: a. Apabila jumlah jam standar atas produksi aktual sama dengan tingkat kegiatan "normal" ini selama satu periode tertentu.

000 c. Net overhead variance b.000 Rp2.000 b. Rp 104 (rugi) b.500.200 3. I-! !& Rp 4.000 Jam aktual tenaga kerja langsung 39. Controllable variance c.000. Rp 199.800 3.000 Tarip standar overhead variabel per jam upah langsung Jam tenaga kerja langsung bulanan dianggarkan 40 . .500 Jam standar tenaga kerja langsung yang disediakan untuk produksi aktual 39. Rp 14 (rugi) c. selisih antara overhead pabrik sebenarnya (actual) dan overhead pabrik yang diterapkan (applied) pada produksi adalah: a.000.400 jam Rp 7. Spending variance 67. Rp 195.d. 68 s.000 Variance overhead menyeluruh-favorable "Applied factory overhead" untuk bulan Agustus 19 X 1 adalah: a. Rp 104 (rugi) 69. Rp 480 (rugi) d.66.000 d. Rp 197. 72 Biaya overhead pabrik y dalam tahun 19x1 pada kapasitas normal 4. Rp 480 (laba) Selisih volume (volume variance) yang terjadi dalarn tahun 19x1adalah sebesar: b.000 jam mesin adalah sebag 1' / Jenis biavp Biaya overhead pabrik variabel Biaya overhead pabrik tetap Jurnlah jam mesin sesungguhnya Jumlah jam mesin standar Biaya overhead pabrik sesungguhnya 68.000 Data untuk menjawab soal no.000 Tarip standar overhead tetap per jam upah langsung Rp 4. Rp 104 (laba) c. Data biaya overhead dan produksi bulan Agustus 19x1 seperti berikut ini: Rp 1.384 Tarip Rp 1. Rp 480 (rugi) d. Efficiency variance d.475 jam 3.500.80 Data kegiatan dan biaya overhead pabrik dalam tahun 19x1 adalah sebagai berikut: Selisih terkendalikan (controllable variance) yang terjadi dalam tahun 19x1 adalah sebesar: a.20 0. Dalam metode 3 variance untuk menganalisis overhead pabrik.000. PT Larekat menggunakan sistem akuntansi standar. Rp 14 (laba) a. Rp 197.

800 (laba) 74. Rp 400 (rugi) Selisih tarip upah langsung adalah: a. Rp 480 (rugi) d. d. Biaya standar untuk pengolahan satu unit produk adalah: Bahan baku 2 kg @Rp2 RP 4 5 Tenaga kerja langsung 4 jam @Rp1. Rp 14 (laba) c. Selisih harga bahan baku yang dipakai adalah: a. Biaya overhead pabrik sesungguhnya Rp14. b. d.460 dengan tarip upah sesungguhnyaRp1.d. Total upah Rpl 1. Rp 500 (laba) b.900 kg. 71. Rp 104 (rugi) b. Rp 4773 (laba) Rp 500 (laba) . Rp 200 (laba) Rp 400 (laba) 75. Rp 150 (rugi) b. Rp 490 (rugi) d.4 6 Ru 15 Jumlah Dalam bulan Januari 1987 dibeli bahan baku 5. Rp 14 (rugi) b Rp 14 (laba) c. Produk terjual sebanyak 1. Rp 200 (rugi) c.800unit @Rp25. c.Perusahaan tersebut memiliki kapasitas normal 10.2 per jam. Selisih pengeluaran (spending variance) yang terjadi dalam tahun 19x1 adalah sebesar: a. Jumlah produk yang diselesaikan periode tersebut 2. Rp 480 (rugi) d. Rp 540 (rugi) Rp 5OO(rugi) Rp 1. Rp 420 (rugi) d.70. Rp 730 (laba) c. Data untuk menjawab soal no. Rp 14 (laba) c. 80 PTNUSA JAYAmenggunakan sistemharga pokok standar. 73 s.25 Biaya overhead pabrik berdasar jam kerja langsung: Tetap 4 jam @ Rp05 RP 2 Variabel4 jam @ Rp 1' .9 dan bahan baku yang dipakai 4. b. Rp 420 (laba) Selisih kapasitas (idle capacity variance) yang terjadi dalam tahun 19x1 adalah sebesar: a. 73. Rp 104 (rugi) 72.500. Rp 420 (rugi) Selisih efisiensi (efficiency variance) yang terjadi tahun 19x1 adalah sebesar: a.000 unit dan produk dalarn proses akhir bulan 500 unit dengan tingkat penyelesaian 80% bahan baku dan konversi.000jam kerja langsung per bulan. Selisih kuantitas bahan baku adalah: a.000 kg @Rp1.

460 c.000. Rp 50 (laba) Rp 100 (laba) 78. 81 s.5 (laba) C.Selisih (penyimpangan)yang terjadi dalam bulan Mei 19x4 adalah sebagai berikut: Selisih efisiensi tenaga kerja langsungRp1.400 d. Rp 11. 5. Data untuk menjawab soal no. Selisih efisiensi upah langsung adalah: a.050(rugi) Selisih bahan baku (total)Rp620 (laba) 8 1. Rp 12. Rp 1. Rp 75 (laba) b.000unit produk. d. d. perusahaan membeli 6. Rp 225 (rugi) C. Rp 14. 3. Rp 10.000 Jika menggunakan metode rancangan berat sebelah (partial plan).1 jam d.8 jam C. rekening Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik didebit sebesar: a.500 (rugi) 77. Rp 562.8 jam b. Jam tenaga kerja langsung standar per unit produk adalah: a. Rp 15.500 d.000 b. Biayatenagakcrjalangsung sesungguhnyadalarnbulantersebutsebesarRp19.500 b. Jika menggunakan rancangan tunggal (singgle plan).000 80. Rp 200 (rugi) Rp 675 (laba) 79.O jam .76.248. d. Rp 12.OO c.000 C. 4. Perusahaan telah menetapkan standar untuk biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung sebagai berikut: Bahan BakuKeria Tarip atau harga standar Kuantitas atau jam standar per unit Biaya standar per unit ? Tenaga Langsung RP 5 ? 53 ? Rp 19 Dalam bulan Mei 19x4. rekening Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung didebit sebesar: a.d 84 Perusahaan B menggunakan sistem biaya standar.000 kg bahan baku dengan harga Rp 5 1.937.5 (rugi) Rp 3.Seluruhbahan baku tersebut digunakan untuk memproduksi 1. Rp 200 (rugi) Selisih volume adalah: a. Rp 12. b.5 (laba) Selisih terkendalikan adalah: a. b. 3. Rp 14. Rp 0. Rp 62.

050 (laba) 83.000 kg bahan baku untuk produksi. 4 Memproduksi 1. 5 Biaya standar per unit produk adalah sebagai benkut: Kuantitas Standar 5 kg 0. Rp 15. Rp 4. Data untuk menjawab soal no. Rp 802 (laba) c. c.780 (laba) a. Rp 1. Rp 30. Rp 32. Rp 900 (rugi) b.850 b. Rp 36. 86 PT Y menggunakan sistem biaya standar.d.000 Tarip upah sesungguhnya per jam tenaga kerja langsung dalarn bulan Januari 19x1 adalah: b.O b.d. Rp 1. 2 Menggunakan 8.20 d.82. 3 Menggunakan 825 jam tenaga kerja langsung untuk produksi. 85 s.90 86. c.O a.050 (rugi) d.000 kg produk X: . Rp 34. Rp 6 0 Selisih tarip upah yang terjadi dalarn t ~ l a n 19x4 adalah: Mei a. Rp 34. Rp 165. RP 4.850.780 (rugi) .00 a. 84.50 jam Harga Standar RP 4 RplO Bahan baku Tenaga kerja langsung Total selisih biaya bahan baku dalam bulan Januari 19x1 adalah Rp4. Dalam bulan Januari 19x1. Rp 900 (laba) Selisih kuantitas bahan dalam bulan Mei 19x4 adalah: Rp1. perusahaan mencatat informasi berikut ini: 1 Membeli 8.OO c. 96 Berikut ini adalah biaya bahan baku standar untuk memproduksi 1. b.500 kg bahan baku.000 c. Tarip upah tenaga kerja langsung sesungguhnya per jam dalam bulan Mei 19x4 adalah: Rp 5. Rp 1. 85.000 d. Total harga sesungguhnya bahan baku yang dibeli dalam bulan Januari 19x1 adalah: a.500 unit produk jadi. 87 s. sedangkan total selisih biaya tenaga kerja langsung adalah Rp 9 15. Data untuk menjawab soal no. Rp 802 (rugi) d. Rp 10.8 d.

000 kg 3.552 Rp 22.000 Selisih komposisi bahan baku (materialsmix variance) yang terjadi dalam tahun 19 X 1 adalah sebesar: a.250 (rugi) d.250 (laba) c. Rp 2.10 1. Rp 2. Biaya overhead pabrik pada kapasitas normal 4. Rp 2.25 0.000 kg 157.000 kg 36.000.000 jam tenaga kerja langsung adalah Rp20. Rp2 tarip biaya overhead pabrik variabel).produksi sesungguhnya dalam tahun 19x1 adalah sebagai berikut: Produksi sesungguhnya Bahan baku yang sesungguhnya dipakai: Bahan baku A Bahan baku B Bahan baku C Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya Biaya tenaga kerja langsung sesungguhnya Biaya overhead pabrik sesungguhnya 87. Rp 300 (rugi) b.000 kg produk diperllkan 20 jam tenaga kerja langsung dengan tarip upah Rp3 per jam atau Rp0.000 kg 38. Rp 300 (laba) c.60 per kg produk jadi Biaya overhead pabrik dibebankan atas dasar jam tenaga kerja langsung dengan tarip Rp5 per jam (Rp3 tarip biaya overhead tetap. Rp 250 (rugi) 88.800 jam Rp 11. . 200.Ja w Bahan baku A Bahan baku B Bahan baku C Jurnlah bahan baku Jumlah produksi Kuantitas 800 kg 200 kg 200 kg 1. Rp 2. Rp 300 (rugi) b.40 0.25/kg 0.000kg Rp 200 80 20 Ru 300 Rp Rp 300 Rp 0. Data kegiatan dan biaya .30/kg Biaya standar per kg produk X adalah sebagai berikut: Biaya bahan baku (llhat perhitungan di atas) Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik Total biaya standar * ** Untuk menghasilkan 1. Harga ~ e k~ r Rp 0.000 (laba) Selisih hasil bahan baku (materials yield variance) yang terjadi dalarn tahun 19 X1 adalah sebesar: a.250 (rugi) d.

c. Ideal b. Rp 300 (rugi) c. Harga Pokok Penjualan. Rp 450 (laba) Selisih hasil overhead pabrik (overhead yield variance) yang terjadi dalam tahun 19 X 1 adalah sebesar: a. Betul b. Rp 450 (laba) c.Selisih hasil tenaga kerja langsung (labor yield variance) yang terjadi dalam tahun 19 X 1 adalah sebesar: b. Ditutup ke rekening Persediaan Rarang Jadi. Rp 600 (rugi) c. Rp 2. Diperlakukan sebagai beban atau pendapatan lain-lain Ditutup ke rckening Persediaan Barang Jadi dan Barang Dalam Proses b. Rp 600 (laba) d. Usang (tidak cocok lagi) c. Jawaban a dan b benar Jika selisih biaya standar hams dialokasikan dalarli beberapa rekening. bila selisih ini disebabkan karena perlggunaan standar yang: a. Jawaban a dan b benar Jika seluruh selisih biaya standar dialokasikan pada harga pokok penjualan dan persediaan. Rp 250 (rugi) Selisih efisiensi tenaga kerja langsung (labor efficiency variance) yang terjadi dalam tahun 19X 1 adalah sebesar: a. Rp 250 (rugi) Selisih kapasitas (idle capacity variance) yang terjadi tahun 19X 1adalah sebesar: a. maka pengalokasiannya harus didasarkan pada: Biaya sesungguhnya yang ada dalam buku besar a. maka laba yang dilaporkan akan sama sebagaimana kalau menggunakan prosedur biaya historis: a. Rp 750 (rugi) d. Rp 750 (laba) b. Salah .250 (laba) c. c. Biaya standar yang ada pada buku besar b. Rp 150 (laba) Perlakuan atas selisih yang material antara biaya sesungguhnyadan biaya standar adalah: a. &an Persediaan Barang Dalam Proses Selisih biaya standar harus dialokasikan pada harga pokok penjualan dan persediaan.250 (rugi) d. Rp 750 (rugi) d. Rp 2. Rp 2. Rp 300 (rugi) b. Ditutup ke rekening Persediaan Barang Jadi dan HargaPokok Penjualan d. Rp 600 (rugi) b.250 (laba) a.

Rp 4.000 98. Bila selisih net0 dialokasikan pada persediaan dan harga pokok penjualan.000 101.000 b. Rp 800 d.200 c.000 Standar harga pokok produksi (CGM) 20.610 c.400 Hitung selisih standar net0 yang ada: a. b. Larutan ini dijual di dalam drum dan biasanya memiliki harga penjualan stabil.000 Biaya administrasi dan penjualan 6.000 b.200 Rp 400 100. 102 s.600 unit Persediaan barang jadi awal tidak ada Persediaan barang jadi akhir 400 unit Persediaan barang dalam proses tidak ada Pajak penjualan abaikan 97. Jumlah laba bersih sebelum diperhitungkan adanya selisih: Rp1. maka laba bersih: b.d. 104 102. c.160 a. Rp 2. 101 Berikut ini adalah data biaya PT Awan Biru yang menggunakan sistem harga pokok standar: Penjualan Rp 25. Rp 2.000 c. Rp 6. d. Rp 4.260 d. Rp 400 Bila selisih diperlakukan sebagai biaya. FT TITANIUM menghasilkan larutan kimia yang digunakan untuk perawatan barang-barang industri.000 c.000 unit Jumlah unit yang dijual 1. d. Rp 1.200 d. Rp 9.000 Selisih Tarip Upah-menguntungkan (laba) 400 Selisih Efisiensi Upah-merugikan (rugi) 1.200 Jumlah unit yang diproduksi 2. 99. Rp 3. 97 s.Data untuk menjawab soal no.d. Rp 4. pada bulan . Rp 3. Karena permintaan akan produk ini menurun.000 Rp 3. maka jumlah laba bersih setelah memperhitungkan adanya selislh: a. Rp 1.360 Data untuk menjawab soal no. Rp 3. Rp 2. RP 000 Hitung persediaan akhir barang jadi: a. b. Rp 3.200 a.

000 260. Biaya standar untuk setiap drum larutan kimia (dalam ribuan) Bahan baku: Rp 20 1 10 kg bahan baku 1 drum kosong Rp 21 Tenaga langsung: 1jam RP 7 Biaya tidak langsung (tetap): RP 4 Per jam kerja tenaga kerja langsung Biaya tidak langsung (variabel): RP 6 Per jam kerja tenaga kerja langsung Biaya yang terjadi selarna Desember 1995: Bahan baku: .000 drum dengan harga .Digunakan 60. 4.Depresiasi bangunan dan mesin (tetap) .500. Informasi tambahan tentang operasi perusahaan selarna Desember 1985: 1.00 Anggaran biaya tidak langsung tetap untuk tingkat produksi bulan Desember 1985 adalah Rp275.Desember 1985 perusahaan hanya menggunakan 50 persen kapasitas normal dengan memproduksi dan menjual60.Dibeli 600. Drum kosong: .Digunakan 65. Tenaga langsung: .000 kg dengan harga .000 drum.00 Rp 666.000 kg.000 drum. Rp 470.Biaya tidak langsung lainnya (variabel) Total 3. Semua fungsi biaya adalah linier.000.000.000 76.000 Rp 230.000.500.000 drum.000.Dibeli 85. Biaya penyelia dan tenaga tidak langsung adalah Rp680.Digunakan 700.000.Penyelia (supervisor) dan tenaga tidak langsung (semi variabel) .000.000jam kerja dengan biaya Biaya tidak langsung: . Dalarnbulan Nopember 1985perusahaan beroperasi pada tingkatkapasitas normal yaitu dengan memproduksi 120.000. Diminta: Buatlah daftar perhitungan untuk menetapkan penyimpangan (variances) bulan .

Jumlah pemakaian bahan standar per unit dan harga bahan stnadar per unit.000 -Rp 125.000 Persediaan bahan (10. 2. Labor rate variance d.600 Rp 735.000 -Selisih kuantum bahan -.000.Rp 750. Kapasitas normal :24. Lakukan pembuktian dalarn perthitungan atas kebenaran selisih biaya overhead di atas dalarn jurnal ke 3.000 -. Perusahaan menggunakan standar costing.000 Data lainnya: a. Tunjukkan pula apakah masing-masing penyimpangan di atas menguntungkan (favorable) atau tidak menguntungkan (unfavorable). Dari perusahaan MEDIAN. Produksi sebenamya c. diperoleh data pembukuan berupa jurnal-jurnal per periode tertentu.000 3. b.000 kg) 2.000 -.Desember 1985: Material price variance (dihitung pada saat pembelian) a.000 jam kerja.000.Rp11.000 -Selisih harga bahan Rp 100. 4. Labor usage (efficiency) variance Factory overhead variance dengan menggunakan four-variancemethod.Rp 4.Rp -. Pembebanan biaya overhead pabrik menurut jam kerja. Jumlah penggunaan jam kerja standar per unit dan tarif upah standar per unit.500 jam) Selisih tarif upah Selisih jam kerja Produk dalarn proses-biaya overhead Selisih controllable overhead Selisih volume overhead Biaya overhead pabrik tetap actual Biaya overhead pabrik variable actual Rp12. 3.Rp 195.000 -.505. d. Produk dalam proses-upah Utang gajilupah (19.096. Hitunglah: 1. 8.000. e. Tarip biaya overhead pabrik tetap maupun variable per jam.000 -.000 --.000 300.Rp 196. . sebagai berikut: Debet Kredit 1. Produk dalam proses-bahan Rp 5. b. 103.000 unit. -Rp 4. Material usage variance c.1 10.Rp 5.

c.6 kg @ Rp500 per. Tarip overhead pabrik tetap Rp200 per jam kerja langsung. 2. PT. e. f.000 -- Rp200.000 --Rp 240.4 jam @ Rp400 per jam kerja.104. Jarn kerja normal dan jurnlah pr.000 Rp 1. Dalam bulan Januari 1989 telah diperoleh informasi sebagai berikut: Di Debet a.638.000 u p 78.000 ---- Biaya bahan baku sesungguhnya Upah langsung sesungguhnya Overhead pabrik tetap sesungguhnya Hasil produksi billan Jani~ari1989 9. menghasilkan sejenis produk dengan menggunakan sistem harga pokok standar. AUDI.755. b. dan overhead) ke dalam proses produksi dan jurnal hasil produksi . Selisih harga bahan baku Selisih kuar~titas bahan Selisih jam kerja langsung Selisih tarip langsung Selisih terkendali overhead Selisih volume overhead -- Di Kredit Rp 145.000 unit Rp2. Budget overhead tetap pada jam kerja normal 7.000 Rp 800.000 Hitunglah: Harga pokok stanilar seluruh hasil procluksi bulan Januari 1989 A. Pembuktian atas selisih terkendali dan volume dari giaya overhead B. Biaya standar per unit produk adalah: Bahan baku 0.kg. I .000 Rp 120. Upah langsung 0.000 Rp 80. Harga bahan sesungguhnya 6. tenaga kerja. Tarip overhead pabr~k variabel Rp400 per jam kerja langsung. Buatlah jurnal pembebanan biaya-biaya standar (bahan. Kuantitas pemakaian bahan scsungguhnya 3. Biaya overhead pabrik dibebankan pada produk atas dasar jam kerja langsung normal.oduksi standar pada jam kerja normal 4. d. Jam kerja langsung sesungguhnya dan tarip upah sesunggullnya 5.

800 kg Selisih harga pembelian = ( Rp 1.000 = Rp 4.000) = Rp 2. Jawab: a Data harga: Harga standar per satuan bahan (Rp100.000 Selisih harga = ( Rp 2.900 kg 1.000 menguntungkan 21.550 2.50 kg): 2.600 .600 Rp 1. PENYELESAIAN 19.000 merugikan = Rp 10.75 Data kuantitas: Kuantitas dipakai standar (5.000 kg Bahan A: (5.90 Rp 0.Rp 1. Jawab: d Data harga: Harga standar per kg: Harga sesungguhnya per kg: Data kuantitas: Kuantitas dibeli: Kuantitas dipakai sesungguhnya: Kuantitas dipakai standax Rp 1.000 Harga sesungguhnya per satuan bahan = R p 2. Jawab: c Data harga: Harga standar per kg Harga sesungguhnya per kg Bahan A: Bahan B: Bahan A: Bahan B: RP 1.000.000 unit x 1 kg:5.000 .000 x 1) 50.50.500 kg .OOO (menguntungkan) 20.000 kg = RplOO.500 kg Bahan B: Kuantitas dipakai sesungguhnya 4.000 kg 1.500.000 unit x 0.m Rp 0.B.000J50.000 Kuantits sesungguhnya dipakai 45.100 Data kuantitas: Kuantitas standar per satuan bahan ( 50.000.500 kg Bahan A: Bahan B: 3.000 .70 Rp 0.000/50.000 ) Rp 2.550) 2.100 ) 45.000 Selisih penggunaan = ( 45.Rp 2.000) 1 satuan Kuanitas standar untuk sejumlah yang diproduksi (50.

500 Rp 6.50 kg) Perhitungan selisih komposisi: Komposisi menurut sesungguhnya: Bahan A: 4.867 7.5.5 Ru 1.Rp0.00 Bahan B: 3.625 Rp Rp5.050 2.70) 3.750 Q6.000 kg x Rp1.70 Jumlah 1.500:R~ 1 5 merugikan 7 Jumlah selisih RD 275menguntungkan 22.2.35 Rp0.00 03 .70) Jumlah Rp4.450 Komposisi menurut standar: Bahan A: 8.333 1.500 kg x Rp0.50 kg @Kp0.OO) 4.000/1.70 2.90) Bahan B: (3.I Perhitungan total selisih biaya bahan: Biaya bahan sesungguhnya: Bahan A: (4.90 .OO: Rp500 menguntungkan Bahan B: (3.35) Hasil sesungguhnya (5.50/1.35/1.000) Rp1.75) Biaya bahan menurut standar: Bahan A: (5. Jawab: a Perhitungan selisih kuantitas: Bahan A: (4.70 : Jumlah Rp 1. Jawab: b Perhitungan selisih hasil: Hasil menurut*standar(8.200 Rp250 menguntungkan 24.500 kg x Rp0.5 x Rp 1.50 x 1 :Rp Bahan B: 8.950 5.750 Rp450merugikan .75 .500:Rp450menguntungkan Bahan A: Bahan B: (Rp0.000 x 1/1.000 x 0.750 menguntungkan Perhitungan selisih harga: (Rp0.50 kg Harga rata-rata menurut standar (Rp1.675 1.35) Jumlah Rp 7.500 kg x Rp0.500 x Rp 1.000 6.70: Ru700 merugikan Jumlah selisih Ru 200 merugikan Jawab: a Komposisi standar satu unit produk: Bahan A: 1 kg @Rpl Bahan B: 0.500 .200 6.500) Rp0.500 x Rp0.Rp 1.000 x Rp1.90 Rp4.50 x Rp0.500 .OO) Bahan B: (2.

000 kg Bahan B (100 x 20 kg) 2.000 kg Bahan C (100 x 20 kg) Data sesungguhnya untuk bulan Januari: Harga sesunggubnya: Bahan A per kg Bahan B per kg Bahan C per kg Kuantitas sesungguhnya: Bahan A Bahan B Bahan C ' Perhitungan selisih total biaya bahan: Biaya bahan sesungguhnya: Bahan A(1.100 kg Rp 1.000 kg x Rp20) Jumlah 26.000 kg x Rp20) Bahan C (2.200 kg x Rp19) Bahan C (1.RplO) 1.100kgxRpll) Bahan B (2.25. Jawab: b Jurnal pencatatan dengan single plan: Barang Dalarn Proses Selisih Hasil Bahan Selisih Harga Bahan Selisih Komposisi Bahan Persediaan Bahan Jawab: d Data standar untuk produk Y yang dibuat (100 unit): Harga s t a n k Bahan A per kg RplO Bahan B per kg 20 Bahan C per kg 20 Kuantitas standar: 1 . Rpl 1 19 22 Perhitungan selisih harga bahan: Bahan A (Rpll .000 kg x RplO) Bahan B (2.000 kg Bahan A (100 x 10 kg) 2.900 kg x Rp22) Biaya bahan menurut s t a n k Bahan A (1.100merugikan .

Rp20) 2. Jawab: d Jumal pencatatan biaya bahan dengan metode single plan: Barang Dalam Proses Rp 90.100 kg x RplO) Bahan B (2.900 kg Jurnlah Jawab: e Perhitungan selisih komposisi bahan: Biaya bahan pada Komposisi sesungguhnya: Bahan A (1.900 kg x Rp20) Biaya bahan pada komposisi standar: Bahan A (5.000 Rp300 Bahan B 125 kg 250.200 kg x 20150 x Rp20) Jumlah 2.000 .800 merugikan Rv2.200 kg x 20150 x Rp20) Bahan C (5.000 Selisih Harga Bahan 2.Bahan B (Rp19 .Rp20) 1.600 Ru93.200 kg x 10150 x Rp 10) Bahan B (5.700 Rp95.200menguntungkan 3.700 31. Jawab: b Perhitungan selisih hasil bahan: Hasil menurut standar (5.200150 x Rp900) Hasil sesungguhnya (100 x Rp900) Jumlah RP & 93.400 41.~1 90.600 Rp600 menguntungkan 28.200 kg Bahan C (Rp22 . Jawab: a Jurnal pencatatan biaya bahan dengan partial plan: Barang Dalam Proses Rp Persediaan Bahan 95.000 3.700merugikan Rp 10.600 41.000 2.600 merugikan 29. Jawab: e Data menurut standar untuk membuat 250 kaleng cat: Kuantitas Harga Total Harga per kg Bahan A 300 kg Rp90.700 Selisih Hasil Bahan Selisih Komposisi Bahan Persediaan Bahan 30.200 kg x Rp20) Bahan C (1.

000 menguntungkan 187.250 kg 1. Jawab: a Perhitungan selisih komposisi: Biaya bahan pada komposisi sesungguhnya: Bahan A (1.425.000 1S50.000 Ru7.200 kg 250.400 .000 Rp Rp 35.540.000 Rp 3.750.000 1.000 3.0001.900) Bahan C (1.000 1.500 merugikan .750 x 1251625 x Rp2.000 558.000) B@an C (1.Rp300) 1.250) 1.550 kaleng: Bahan A (1.750 kg Bahan B: (Rp1.750 x 3001625 x Rp300) Bahan B (3.5501250 x 125 kg) 775 kg Bahan C (1.5.000 menguntungkan Rp 75.250 Jumlah Perhitungan selisih harga bahan: Bahan A: (Rp280 .900 .000Rp Bahan B 750 kg 1.000) 750 kg Bahan C: (Rp1.550.000) Bahan C (1.000 Rp47.250 kg Jumlah 32.500 merugikan Rp540.5501250 x 200 kg) 1.240 kg x Rp1.750 kg x Rp300) Bahan B (750 kg x Rp2.5501250 x 300 kg) 1.500 merugikan Rt177.400 Rp 490.000 1.750 kgRp 490.000 Rp 3.000) Bahan C (3.240 kg Data biaya bahan sesungguhnya untuk bulan Nopember: Kuantitas Harga Total Bahan A 1.000 1.250 Bahan C Jurnlah 625 kg Rv590.400) Biaya bahan menurut standar: Bahan A (1360 kg x Rp300) Bahan B (775 kg x Rp2.Rp2.250) Jurnlah Harga per kg 280 1.550 Harga rata-rata per kg menurut standar: (Rp590.000 Rv3.860 kg Bahan B (1.250 kg x Rp1.0001625) : Rp944 Data kuantitas menurut m d a r untuk menghasilkan 1.750.250) Biaya bahan pada komposisi standar: Bahan A (3.000 1.42.000 Perhitungan selisih total biaya bahan: Biaya bahan sesungguhnya: Bahan A (1.750 x 2001625 x Rp1.665.658.500.750 kg x Rp280) Bahan B (750 kg x Rp1.Rp1.250 kg x Rp1.000 1.500.900 Bahan C 1.

658.000 Rp2 1.100 x 0.4 kg) 2.400 kg 3.100 x Rpl5O) Jurnlah Rv 15.750/625 x Rp590. Jawab: d Lihat no.000 menguntungkan 35. . 38.200 kg 7.100 x 0.000 3.2 x Rp150) Rp 900.000 12.500 84.33.200 kg 36.000 Hasil sesungguhnya (6. r Jawab: c Data harga standar per kg bahan: Jenis Bahan Harga per kg X Rpl00 Y 125 Z 140 Data kuantitas standar untuk 6.500 Sifat Selisih rugi rugi laba laba 37.830 kg Bahan Y: (6.400 kg Rp 125 Z 2.3 kg) 1.000 kg Rp 140 Jumlah 7.000menguntungkan 34.300 kg 1.800 kg Rpl00 Y 2.000) Jumlah Rp3.100 unit produk: Bahan X: (6. Jawab: d Perhitungan selisih komposisi bahan: Biaya bahan pada komposisi sesungguhnya: Komposisi Komposisi Harga Jenis Sesungguhnya Standar Standar X 2. 35 Selisih Komposisi 50.000 915.500 kg 2.200/1.000) Hasil sesungguhnya (1.050 kg Perhitungan selisih hasil bahan: Hasil menurut standar (7.440 kg Bahan Z: (6.100 x 0.000 Rp 118.5501250 x RpS90.5 kg) 3. 35 Jawab: d Lihat no. 35 Jawab: a Lihat no.540. Jawab:b Perhitungan selisih hasil: Hasil menurut standar (3.

000 Rp 55.09 tarip sesungguhnya sebesar Rp6.6.1.Rp550) 1.000 .000 .400 = .4.100 jam (1. Jawab: Selisih efisiensi = (JS .000 60.600.000 40.8. Selisih tarip = .000 TS .000 (rugi) Rp 600.400 = 243.000 (laba) Jawab: c Selisih efisiensi = (5.252.30) 40. Karena kedua data yang diperlukan telah temdia rnaka biiya tenaga kerja langsung sesungguhnyadapat dihitung sebagai berikut: Biaya tenaga kerja langsung sesungguhnya = 40.000 .500) Rpl00 = Rp50.500 jam x Rp90 =Rp405.09 = Rp243.Dari kedua data tersebut yang telah tersedia hanya jam sesungguhnya. rekening Barang Dalarn Proses didebit sebesarbiaya sesungguhnya: 4.500) 6. sedang tarip sesungguhnya dihitung sebagai berikut: = (TS .000 605.500 jam = Rp45.000 = (Rp100 -Rp90) 4.09.000 jam x Rp6. Jawab: a Untuk mengetahui jumlah biaya tenaga kerja langsung sesungguhnya.1.600 = 6.100) Rp600 = Rp55.000 (laba) Jawab: b Selisih efisiensi = Jawab: a Barang Dalam Proses Selisih Efisiensi upah Selisih tarif upah Utang gaji & upah Jawab: a Selisih tarip = Rp60. harus diketahui terlebih dahulujam sesungguhnyadan tarip sesungguhnya.000 (laba) Jawab: a Dengan metode partial plan.8.Jawab: c Selisih tarip = (Rp600 .000.000 = 40.000 TS TS TS = Tarip upah sesungguhnya.

9.000 jam) Rp4.000130.800 =4 59.21.000 TSt TSt Tarip standar = Rp4.20 per jam Selisih tarip: (4. = Rp3.000jam) = Rp4. 56.6.000 = 8.400 jam Rp0.10 Selisih efisiensi: (30.000 jam .29.000 JS JS JS = Jam kerja langsung sesungguhnya.000 = 1.000 jam 3.SO per jam 3.000 Jawab: c Jumlah biayaoverhead pabrik dibebankan (39.180.10 Tarip standar = Rp4.000 6.000 jam) Jawab: Selisih tarip: (3. 4. = 600.80 .000= Rp12.000 126.000 110.500x Rp5. Jawab: Upah yang dibayar adalah upah sesungguhnya. 68.400 Jawab: e Tarip sesungguhnya (Rp126. = -5.lO = Rp36.384 Tarip variabel: Rpl.OO 57.80 x 4.384 Biaya overhead pabrih dianggarkan pada jam standar: Rp3.80 per jam 58.TSt) 30.000.000 = 3.000 jam) .TSt) 29.500.400.000 .800 = -5.200/29.900 (merugikan) Jawab: Tarip sesungguhnya (Rpll0. yaitu sebesar Rp580 x 2 1.30.200 .000 JS .000) = Rp197.000 TSt = 4.200 Tetap (Rp0.20 .475 jam Rp7.20per Tarip tetap: Biaya overhead Perhitungan selisih terkendalikan: Biaya overhead pabrik sesungguhnya Rp7.000 Jawab: a Data-data: Jam normal: jam Jam standar: Jam sesungguhnya: sesungguhnya: 67.000 TSt = 3.

475 jam x Rp2.280 RplM (merugikan) Jawab: c Perhitungan selisih vol~~tne: Rp7.90 per kg 4.00 per kg Harga sesungguhnya: Rp1.950 Biaya overhead pabrik dibebankan Biaya overhead pabrik standar (3.080 7.000 jain . Selisih kapasitas: (4.000 jam .200 Tetap (Rp0. Jawab: c Perhitungan selisih kapasitas: Rp 7.00 = Rp150 (merugrkan) Jawab: e Data-data: Harga standar: Rp2.3.370 (merugikan) 71.370 Biaya overhead pabrik dianggarkan pada jam sesungguhnya 6.475 jam . . 73.OO) Jumlah R0420 (merugikan) Atau.400 jam) Rp2.80 = Rp480 (merugikan) Jawab: a Perhitungan selisih pengeluaran: Biaya overhead pabrik sesungguhnya Biaya overhead pabrik dianggarkan pada jam sesungguhnya: Rp3. 4.20 x 3.3.400 jam x Rp2.800 Jurnlah R-480 (merugikm) Atau.400 jam x Rp2) 6.800 Jumlah 150 (merugikan) Atau. Selisih volume: (4.80 x 4.900 kg Kuantitas bahan sesungguhnya dipKuantitas bahan dipakai menurut stands: 72.170 Jurnlah 70.950 Biaya overhead pabrik dibebankan (3. Selisih efisiensi: (3.400 jam) Rp0.80 = Rp420 (merugikan) Jawab: a Perhitungan selisih efisiensi: Rp6.20 x 3.400 jam) Jumlah 69.Variabel (Rp1.3.384 7.00) 6.280 Biaya overhead pabrik dianggarkan pada jam standar Biaya overhead pabrik standar (3.000 jam) Variabel (Rp1.475 jam) 4. Rp7.470 jam) Rp0.

20): 9.600 14600 Jumlah RD100 (menguntungkan) -- .550 jam = Rp477.600 jam) Rp1.25) 9.OO)4. Jawab: a Selisih efisiensi: (9. Jawab: a Selisih kuantitas: (4.4.400 Jam standar: (2.400 Selisih harga bahan dipakai: (Rp1. Jawab: b Data-data: Tarip upah standar: Rp1. * 75.800 kg) Rp2.90 .460/Rp1.550 jam .900 kg .Rp2.9.600jam x Rpl) 9.25 per jam Tarip upah sesungguhnya: Rp 1.800 kg 2.000jam Jam standar: 9.25 = Rp62.550 jam Jam dipakai menurut standar: Unit ekuivalen biaya tenaga kerja: F'roduk selesai 2.50 (menguntungkan) Jawab: d Data-data: Tarip variabel: Rpl per jam Tarip tetap: Rp0.W = F Q 2 0 @&ru@an) +.50) Rp5.000 jam x Rp0.400 x 4 jam) = 9.000 400 2.600 jam Selisih tarip: (Rp1.550 jam (lihat pada analisis biaya tenaga kerja) Biaya overhead pabrik sesungguhnya: Rp14.500 Biaya overhead dianggarkan pada jam standar: Tetap (10.Unit ekuivalen biaya bahan: F'roduk selesai Produk dalam proses (500 x 80%) Jumlah Kuantitas standar: (2.20 .000 Variabel(9.50 (menguntungkan) 76.20 per jam Jam sesungguhnya dipakai (Rp11. 77.900 kg = Rp490 (menguntungkan) 74.Rp1.500 Selisih terkendalikan: Biaya overhead pabrik sesungguhnya Rp 14.50 per jam Jam normal: 10.600 jam (lihat pada analisis biaya tenaga kerja) Jam sesungguhnya: 9.000 F'roduk dalam proses (500 x 80%) 400 Jumlah 2.400 x 2 kg) = 4.

460 Rp 11.50) Jumlah R ~ 2 0 0 (menlgikan) Atau.400 200 Rpl 00 14.800jam 3.400 (9.460 81.000 x 5.800) 5 5 JS .8 Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya untuk 1. Jawab: b Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung Biaya Upah dan Gaji Rp11.500 79.000 Biaya bahan sesungguhnya 620 (+) Selisih total biaya bahan (laba) Jdah R D1.8 jam Jawab: c Jam tenagakerjalangsung standaruntuk 1.600 x Rp1. .800 kg Biaya bahan baku menurut standar: Rp5 1.000unit: (1.19.9. Jawab: b Selisih volume: Biaya overhead dianggarkan pada jam standar Rp14.248J4. Jawab: b Selisih tarip upah: (Rp4.600 Biaya overhead pabrik menurut standar: 14.010 JS = Jam sesungguhnya = 4.000~ jam) = 3.010 jam) = Rp4. sehingga tarip upah tenaga kerja langsung sesungguhnya dahitung sebagai berikut: (Rp19.050 JS = 4.620 ~ 84.Rp5.600 jam) Rp0.000 unit: = 1.050 Selisih efisiensi: (JS ..000 jam .00) 4.80 .8) = 5. Selisih volume: (10.3.000 = 1. 80.78. Jawab: b Jam tenaga kerja langsung standar per unit (Rp19IRp5) = 3.010 jam = Rp802 (menguntungkan) Jawab: a Kuantitas bahan baku dipakai menurut standar: (1.80 82.010 jam.50 = R p 2 0 (merugikan) Jawab: c Jurnal pencatatan biaya overhead pabrik apabila digunakan partial plan: Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik Selisih Volume Selisih Terkendalikan Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp14. 83.

25) Rp39.850 Total biaya bahan dibeli : 850018000 x Rp 34.90 = Rp1.5.415 Tarip upah sesungguhnya : Rp 8.600 Biaya bahan baku pada komposisi menurut standar: Bahan A (231.200 Rahan B (38.151825 jam Jawab: a Perhitungan selisih komposisi: Biaya bahan baku pada komposisi sesungguhnya: Bahan A (1 57. Jawab: b Perhitungan selisih hasil bahan baku: Hasil bahan menurut standar (23 1.25)Rp 38.800 kg) = Rp8.750 Rp300 (merugikan) 88.000 kg11.028.62015.850 Selisih biaya bahan (rugi) Biaya bahan sesungguhnya dipakai RD34.000 kg .000 kg x 800/1200 x Rp0.750 60.050 57.10) 3.500 Bahan B (231.000 Rv600 (menguntungkan) .000 RD 2.780 (merugikan) 85. Rp 10.5jam x 1500 x RplO) Rp 7.000 kg x 200/1200 x Rp0.000 4.200 x Rp300) Hasil sesungguhnya (200.400 12.Harga bahan baku standar per kg: (Rp5 1.2 87.40) Bahan C (36.500 Selisih biaya tenaga kerja 9 15 Biaya tenaga kerja sesungguhnya Ru 8. Kp58.250 (menguntungkan) 89. Jawab: Perhitungan selisih hasil biaya tenaga kerja: Hasil menurut standar (3.000 kg x Rp0.000 kg x Rp0.90 Selisih kuantatitas bahan baku: (6.000 x Rp0.800 kg) Rp8.400 Bahan C (231.850 = Rp 37. Jawab: e Biaya bahan standar (5kg x 1500 x Rp4) Rp 30.250 15.06) Jumlah Rp 11.125 Jawab: c Biaya tenaga kerja standar (0.lO) 3.000 kg x Rp0.800120 x Rp60) Hasil sesungguhnya (200.40) 15.000 kg x 20011200 x Rp0.000 x Rp0.850 Jumlah 86.30) Jumlah Rp 57.

000 16.90.000 98. 97.000 Selisih biaya: Selisih tarip upah Selisih efisiensi upah Laba bersih sebelum selisih 92.000 x 2011.000 jam .000 (menguntungkan) 91.000 Biaya overhead dibebankan (3.000) = 4.600 unit x RplO) Laba kotor Biaya adrninistrasi dan penjualanRp6.800 jam) Rp3 = Rp600 (merugikan) Jawab: c Sama dengan no.600 19.000 jam Perhitungan selisih kapasitas: Biaya overhead dianggarkan pada jam sesungguhnya: Rp12.800 jam x Rp5) Jumlah RD 600 (merugikan) Atau.3.800jam x Rp2) 7.000 20 000 RD1.600 Rp 19.000 x Rp0.000 unit) = Rp 10 Perhitungan rugiilaba: Penjualan Harga pokok penjualan: (1.000 Tetap (4. Jawab: Perhitungan selisih hasil biaya overhead pabrk Hasil menurut standar (3. Jawab: b Jam kerja menurut standar: (200. 89 Jawab: a Harga pokok produksi per unit: (Rp20.000/2.000 9.800120 x Rp100) Hasil sesungguhnya (200.lO) Jumlah A Rp19.000 R~3.000 6. Selisih kapasitas: (4. . Rp25.600 unit x RplO) Laba kotor Biaya adrninistrasi dan penjualan Laba bersih sebelum selisih Jawab: c Perhitungan rugflaba: Penjualan Harga pokok penjualan: (1.000 jam x Rp3) Variabel(3.

000 Viariabel(20.000 4.000/20.000 jam .000 (laba) Biaya overhead pabrik: Selisih controllable Biaya overhead pabrik sesungguhnya Rp4.000 (laba) Biaya tenaga kerja langsung Selisih tarip upah: (Rp.3 1.000/19.500jam = Rp195.25 Jadi tanp BOP temp: Rp. '.000 kg = RplOO.400 kg) Rp.000 jam x Rp200) 4.KSl) ' I T (24.OOO (rugi) Selisih kuantitas bahan: (10.7'5 Perhitungan pemb\~ktian: Biilya bahan baku Selisih harga bahan: (Rp500 .Perhitungan jumlah penggunaan jam kerja standar per unit dan tarip upah standar per unit: Selisih tarip upah: (TS .000 4.860.000 Biaya overhead pabrik standar (20.000 Tetap (24.000 unit = 2.590 .000 aT = 125.000.500 = -195.000 Biaya overhead dianggarkan pada volume standar: Rp 750. Jumlah jam kerja standar per unit: 20.20.TSt) JS Tarip sesungguhnya: Rpl1.500 jam = Rp590 Jam sesungguhnya: 19.000 .75) Rp 735.000.25) 3.25 Tarip BOP variable: Rp200 .125.006 (laba) Selisih efisiensi upah: (19.5 jam Jumlah tarip upah per unit: 2.SO0 Perhitungan tarip hiaya overhead patfrik tetap (Ian variable per jam: Tarip biaya overhead pabrtk total: Rp4. Jumlah jam kerja standar: Rp 12.25 -= Kp 168.500jam Tarip standar per jam : (590-TSt)19.125.000 jam/S.000 jain x Rp3 1. .Kp3 I .00.000 19.000 jam) Rp600 = Rp300.190 -.000 TSt = 600 Jadi tarip upah standar per jam = Rp600 -----.000/Rp600 = 20.500 TSt = 11.000-2O.000 jam x Rp168.000 Jumlah (rugi) RD 125. Kp 196.000 TT -= 11.505.000 lam = Rp300 Selisih volume .000.7.500 jam . (KN .000 kg .10.s jam x Rp600 = Rp 1 .OOO)TT' = 125.Rp600) 10.Rp490) 10.375.000 Jumlah (~ugi) Selisih volume Biaya overhead dianggarkan pada volume standar Rp 4.

440.3.00015.4 jam x Rp400) 1.000 JN = 4.600 jam x R e ) Jumlah selisih (laba) Pembuktian selisih volume: Biaya overhead dianggarkan pada jam standar Rp2.5.800 kg = Rp475 Jam kerja normal dan jumlah produksi standar pada jam normal: Selisih volume: (JN .000 Pembuktian selisih terkendali: Rp2.638.000 unit Jam kerja langsung sesungguhnya dan tarip upah sesungguhnya: Selisih jam: (JS .000 Variabel(3.4 jam x Rp600) 2.000 unit x 0.000 unit x 0.KSt) (KS .800 Jadi pemakaian bahan sesungguhnya adalah 5.600) 400 = 120.000 jam/0.104.000 Tetap 1.000 jam x Rp200 = Rp800.000 KS = 5.000 unit x 0.440.JSt) TT (JN .000 Biaya overhead pabrik sesungguhnya Biaya overhead dianggarkan pada jam standar: Rp 800.400) 500 = 200.900 Jadi jam sesungguhnya: 3.000 RD 240.900.6 kg x Rp500 Biaya tenaga kerja (9.000.800 kg Harga bahan baku sesungguhnya: Rp2.000 200JN = 800.900 jam Tarip upah sesungguhnya: Rp 1.000 400 JS = 1.000 jam Jumlah produksi standar pada jam normal adalah 4.3.240.JSt) TSt (JS .755.000 Kuantitas pemakaian bahan sesungguhnya: Selisih kuantitas bahan : (KS .560.000 JS = 3.900 jam = Rp420 Jumlah anggaran biaya overhead pabrik tetap pada jam kerja normal: 4.240.000 lumlah Ru 6.700.000 Biaya bahan (9.000 Jadi jumlah jam normal adalah 4.000 500KS = 2.600 jam x Rp600) Jumlah selisih (rugi) 2.000 .160.000 Biaya overhead (9. Harga pokok standar seluruh hasil produksi: Rp2.600) 200 = 80.000 Biaya overhead standar (3.000/3.300.4 = 10.

Pemakaian bahan: Barang Dalarn Proses Selisih Kuantitas Bahan Selisih Harga bahan Persediaan bahan Pembebanan biaya tenaga kerja: Barang Dalam Proses Selisih Jam Kerja Langsung Selisih Tarip Langsung Utang Gaji dan Upah Pembebanan biaya overhead pabrik: Barang Dalam Proses Selisih Volume Overhead Selisih Overhead Overhead Pabrik Tetap Sesungguhnya Overhead Pabrik Tetap Sesungguhnya Mencatat hasil produksi Persediaan Barang Jadi Barang Dalaln Proses .

Buku ini dipublikasikan melalui Grup Jurusan Manajemen S1 http://s1manajemen.com .multiply.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful