BIAYA

AKUNTANSI BIAYA
Oleh Cover Design & Lay Out Ibnu Subiyanto Bambang Suripto : QX Graphic Design : QX Graphic Design
:

Diterbitkan pertama kali oleh Gunadarma O Hak cipta dilindungi Undang-undang Jakarta, 1993

DAFTAR IS1

BAGIAN 1
BAB I AKUNTANSI BIAYA DAN PENENTUAN KOS
A. B. C. KONSEPSI MANAJEMEN DALAM PENGENDALIAN BIAYA TA!iAPAN PROSES PRODUKSI KARAKTER METODE PENENTUAN KOS PROSES DAN PERBEDAANNYA DENGAN METODE PENENTUAN KOS PESANAN D. E. TRANSAKSI BIAYA YANG MENDUKUNG PENENTUAN KOS TARIP BIAYA OVERHEAD DAN PEMISAHAN BIAYA SEMI VARIABEL
-

2
2

3

9
11

18

BAB I1 LAPORAN KOS PRODUKSI
A. B. PENENTUAN UNIT EKUIVALEN PRODUKSI MENGHITUNG KOS PER UNIT PRODUK MENYUSUN LAPORAN KOS PRODUKSI MENCATAT KOS PRODUK DALAM BUKU BESAR PROSES PRODUKSI MELALUI LEBIH DARI SATU DEPARTEMEN PRODUKSI
F.

23
23 25

C.
D. E.

28 32

37

MENYUSUN LAPORAN KOS PRODUKSI UNTUK TIAP DEPARTEMEN
-

42 45

G.

PENCATATAN TRANSAKSI AKUNTANSI BIAYA

BAB m PRODUK HILANG DALAM PROSES PRODUKSI PRODUK RUSAK, DAN PRODUK CACAD
A.
B. C.

47
47

PRODUK HILANG DALAM PROSES PRODUK RUSAK PERLAKUAN PRODUK CACAD

56 64

BAB IV TAMBAHAN BAHAN BAKU PADA DEPARTEMEN DUA ATAU DEPARTEMEN BERIKUTNYA

68

BAB V PENEN'rUAN KOS PRODUK BERSAMA DAN PRODUK PRODUK SAMPINGAN
A. PENENTUAN KOS PRODUK SAMPINGAN -

77
78 83
-

B.
,
\

PENENTUAN KOS UNTUK PRODUK BERSAMA PEMBEBANAN BIAYA PRODUKSI PRODUK BERSAMA --SETELAH DEPARTEMEN PEMISAH PRODUK

C.

87

BAB VI PENENTUAN KOS STANDAR
A. B.
C.

89
89
--

JENIS-JENIS STANDAR PENENTUAN STANDAR ILUSTRASI TERHADAP PENENTUAN STANDAR

90
91

BAGIAN 2
BAB VII BIAYA OVERHEAD PABRIK
A. B. SOAL-SOAL BIAYAOVERHEAD PABRIK -

100
100 -

PENYELESAIAN

117

BAB VIII METODE HARGA POKOK PESANAN
A. B. SOAL-SOAL, METODE HARGA POKOK PESANAN PENYELESAIAN
-

133
133
-

156

BAB 1X METODE HARGA POKOK PROSES
A. -

172
-

-

SOAL-SOAL METODE HARGA POKOK PROSES -

-

-

-- --

- -- - - . -

172

B.- PENYELESAIAN -

-

-

--

204

BAB X METODE PENENTUAN HARGA POKOK PRODUK BERSAMA DAN PRODUK SAMPINGAN
A.
.
-- -

243
--

SOAL-SOAL METODE HARGA POKOK PRODUK BERSAMA
- - --

DAN PRODUK SAMPINGAN - -PENYELESAIAN .
-

- --

-

-- - ---

- -

-

243 - -252

-

B.

-

-

BAB XI METODE HARGA POKOK STANDAR
A. B. SOAL-SOAL METODE HARGA p------.-pp POKOK--STANDAR . - - - - . ~ ~

261
26 1 285

PENYELESAIAN.-.----p-..-p- -.p -

BAB I
AKUNTANSI BIAYA DAN PENENTUAN KOS

A. KONSEPSI MANAJEMEN DALAM PENGENDALIAN BIAYA
Manajemen puncak terdiri dari orang-orang yang bertugas mengambil keputusan, memberikan perintah, membentuk kebijaksanaan, dan mengarahkan agar semua orang mendukung kebijaksanaan perusahaan. Secara keseluruhan fungsi manajemen meliputi fungsi perenCanaan{ pengorganisasian dan pengendalian. Ketiga fungsi tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Fungsi-fungsi tersebut dibentuk mengingat dalam suatu perusahaan akan terlibat orang-orang yang mendukung berjalannya suatu organisasi. Masing-masing orang mempunyai peranan yang berbeda dan kesemuanya terlibat aktivitas kerja dalam mencapai satu tujuan bersama (yang disepakati). Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukannya adanya satu komando agar pelaksanaan tugas dapat terkoordinir. Satu komando ini diperlukan untuk mengarahkan berbagai pihak yang terlibat dalam watu jalinan kerjasama sehingga tujuan bersama dapat dicapai dengan efisien. Mengingat masing-masing pihak mempunyai peranan yang berbeda dan sekaligus menciptakan kerjasama, maka perlu ditetapkan batas-batas yang jelas agar aktivitas kerjamasing-masing pihak tidak saling tumpang tindih. Oleh karena itu masing-masing fungsi dalam 'organisasi harus ditetapkan sampai sejauh mana wewenang seseorang dalam fungsi dan jabatan yang terlekat pada dirinya (authority). Di samping itu harus ditetapkan pula tanggung jawab (responbility) dan tingkat pertanggungjawaban (nccountability) dalam tugas dan jabatannya tersebut.

Dalarn rangka pengendalian operasi perusahaan manajemen ingin memperoleh umpan balk Cfeedback)sampai sejauh mana wewenang yang telah didelegasikan kepada bawahan telahdigunakan dengan sebaik-baknya. Umpan balik ini berupa informasi yang dapat memberikan gambaran pelaksanaan tugas para bawahan yang meliputi seberapakah target operasi telah terpenuhi dan sejauh mana operasi tersebut telah menyerap dana perusahaan. Hal ini berarti umpan balik yang diharapkan &an berupa berapa biaya-biaya yang telah dikeluarkan dalam satu periode dan berapa kuantitas yang dihasilkannya.

untuk membuat sebuah meja tulis. dan lain-lain. Oleh karenanya untuk meningkatkan kuantitas meja tillis yangdihasilkan. perangkaian komponen meja tulis. Cara produksi semacam itu menjadi tidak ekonomis. sejak pembuatan design. Hal ini mengingat aktivitas produksi merupakan aktivitas utama dalam perusahaan tersebut. Biaya-biaya yang terjadi pada departemen pembantu pada dasarnya juga ikut memberi kontribusi pembuatan suatu produk. Hal ini agar tidak terjadi penyumbatan dalam salah satu tahapan proses produksi tersebut. . berarti suatu proses kerja yang membutuhkan pengorbanan ekonomis guna memperoleh nilai ekonomis yang dipandang lebih tinggi. Hal ini dilakukan dengan maksudmengadakan spesialisasipengerjaan produk yang dihasilkan. proses produksi akan tetap lebih dinamis. Setiap tahapan proses produksi tersebut harus dibantu oleh departemen lain yang membantu berfungsinya suatu departemen. Sebagai contoh.Spesialisasitersebut mengakibatkan adanyadepartemenisasi proses produksi. pekerjaan dibagi menjadi beberapadepartemen sesuaidengan pentahapan pembuatan meja tulis tersebut. departemen air dan sanitasi. menjadi produk lain yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. sampai dengan penyelesaian meja tulis tersebut dapat dikerjakan oleh satu orang saja. Departemen pembantu biasanya berupa departemen listrik. Meskipun antara meja tulis yang satu dengan yang lain terdapat variasi bentuk. proses penggergajian kayu. Sebagai akibatnya pengerjakan sebuah meja tulis tidak mungkin dikerjakan oleh satu orang saja. Kesemuanya harus merupakan satu rangkaian yang terkoordinasikan. Departemen pembantu adalah departemen yang memberikan layanan pada departemen produksi sesuai dengan fungsinya. Proses produksi pada umumnya melalui beberapa tahapan. karena hasil kerja yang diperoleh sedikit. Peranan departemen pembantu dalam menghasilkan suatu produk harus diakui. departemen pemeliharaan peralatan. Oleh karenanya biaya-biaya yang terjadi di departemen pembantupun juga hams ikut dibebankan dalam penentuan kos produk. Dengan adanya koordinasi tersebut alur produk dari departemen yang satu ke departemen lainnya hams sarna. Departemen semacam ini disebut departemen pembantu. Spesialisasipenanganan tugas semacam ini akan menjadi lebih ekonomis apabila produk yang dihasilkan dalam jumlah yang cukup banyak. B.Apabila umpan balk tersebut diterapkan dalam suatu industri maka akan terlihat komposisi umpan ballk dalam proses produksi akan memegang peranan yang dominan. TAHAPAN PROSES PRODUKSI Produksi dimaksudkan sebagai aktivitas mengubah sesuatu produk (bahan). Aktivitas mengubah bahan. Sehingga umpan balik tersebut bermanfaat untuk menilai apakah target telah tercapai dan seberapa jauh prestasi yang dicapai oleh aparat produksi yang dimiliki perusahaan. Setiap tahapan proses produksi tersebut pada dasamya tidak dapat berdiri sendirisendiri.

produk yang dlhasilkan bersifat standard. mengingat besarnya permintaan pasar serta skala produksi yang dikehendaki. dicampur dan dibentuk menjadi suatu produk baik bempa komponen maupun produk akhir. Perbedaan teknologi pembuatan suatu barang yang berbeda mengakibatkan cara-cara berproduksi yang berbeda pula. Dalam artian homogen ini. Alasan ekonomis. Pembahasan di atas menunjukkan metode produksi yang digunakan dalam suatu perusahaan didasarkan dua alasan. Proses produksi suatu barang selalu menggunakan cara-cara tertentu agar tujuan ekonomis perusahaan dapat dicapai. namun setelah ditemukan teknologi robot dengan proses ban berjalan. maka dipilih teknologi maju agar produk yang dihasilkan mampu meraih pasar yang dikehendaki.Namun demikian pembebanan biaya yang terjadi pada departemen pembantu ke produk yang dihasilkan tidak dapat dilakukan secara langsung ke produk. Produk yang diolah dengan metode proses menunjukkan bahwa barang yang dihasilkan tidak memerlukan spesifikasi tertentu sehingga produk bersifat homogen. Teknologi yang digunakan. Sifat-sifat produk yang dihasilkan. bahkan ha1ini menunjukkan semua produk yang dihasilkan membutuhkan kesamaan bentuk. Apabila produk yang dihasilkan memerlukan penanganan khusus sehingga masingmasing produk mempunyai spesifikasi tertentu. maka produk tersebut diproses secara khusus pula. Dalam proses perakitan (assembling). Sebagai contoh. Cara produksi yang digunakan tergantung oleh: a. ha1 ini akan kita temukan dalam industri kimia. wama. Pengolahan produk terdiri dari dua sifat yaitu merakit komponen menjadi suatu produk dan membentuk produk melalui proses reaksi hmiawi. maka pembuatan produk tersebut dapat dibuat secara massal dan produk bersifat standard. antara produk yang satu dengan yang lainnya tidak terdapat perbedaan yang berarti. Jadi. Sedangkan dalam proses reaksi kimiawi beberapa bahan digabung. ukuran. Produk semacam ini diolah dengan metode job. berbagai komponen yang ada (baik dibuat sendiri maupun diperoleh dari pihak lain) digabungkan menjadi suatu produk. yaitu: a. Terlebih dahulu hams dilakukan alokasi biaya ke departemen produksi yang menikmati jasa yang diserahkan oleh departemen pembantu tersebut. industri mobil pada mulanya dibuat satu per satu dengan memperhatikan spesifikasi permintaan pelanggan. c. Pembebanan biaya dari departemen pembantu langsung ke produk akan mengakibatkan kos produk terlalu tinggi dan sebaliknya kos produk yang masih dalam proses menjadi lebih rendah (understated). artinya setiap job hams inemperhatikan spesifikasi yang diminta oleh langganan (konsumen). b. dan kesamaan fungsi. . Kadangkala teknologi yang digunakan menunjukkan satu-satunya cara dalam pembuatan produk tersebut. Sifat pengolahan produk.

Jurnlah departemen dan pusat-pusat biaya. mengingat industri senlacam ini membutuhkan proses produksi yang benifat tertutup. pernrosesan dan mesin-mesin. Departemen tersebut meliputi aktivitas pengolahan bahan. Lokasi operasi. tetapi diselcsaikan oleh suatu team kerjn dengan pernbagian tugas sesuai dengan keahliannya masing-masing. proses dan mesin dalam suatu departemen. dan lain-lain. 2. yakni departemen-departemen yang secara langsung ikut menangani pembuatan suatu produk. 4. 3. Kesamaan operasi. . yaitu: 1. industri gula. Hal ini akan ditemukan untuk industri kimia. Hal ini dimaksudkan agar proses produksi menjadi lebih berdaya guna dan berhasil guna. Pengelompokan selanjutnya didasarkan pada fungsilbidangtugas masing-masing. Kelompok utama dalum 3 departementalisasi ini dibagi menjadi dua.Pengukuran unjuk-kerjamasingmasing bagianJdepartemen tersebut dinilai seberapakah variasi biaya yang terjadi. 5. tetapi output yang dihasilkan membantu departemen produksi dalam pengolahan produk.b.yakni departemen yang tidak langsung menangani pembuatan produk. Jadi pelaporan biaya yang terjadi pada masing-masing departemen mempunyai peranan sangat penting. Pertanggungjawaban produksi dan biaya. Sebagai contoh: industri semen. 2. Pembagian kerja pada suatu industri baik secara horisontal maupun vertikal dikelompokkan menurut fungsi/tugas masing-masing. Sebagian besar industri kimia harm diolah dengan metode proses. penggabungan produk dalam proses dan penyempumaan produk. untuk memenuhi kebutuhan tersebut perlu pula disusun tarip overhead untuk tiap departemen secara cermat. Alasan teknologi. Pengelompokan secara vertikal menunjukkan adanya departementalisasi pelaksanaan operasi. Hubungan operasi terhadap arus produk. Pengelompokan ini di samping sebagai alat pengawasan berperan pula sebagai pusat pertanggungjawabanbaik kuantitas maupun kualitasnya. Kelompok utama tersebut meninjau dari sudut peranan dalam penanganan produk. Departemen Produksi. Faktor yang dipertimbangkan dalam departemenisasi antara lain: 1. Hal ini dimaksudkan agar pengendalian tugas dan pengawasan mutu produk yang dihasilkan dapat diselenggarakan dengan mudah. Teknologi yang digunakan merupakan satu-satunya cara untuk menghasilkan suatu produk. Departemen ~ e m b a n t u . Spesialisasi menyebabkan penibuatan suatu produk tidak mungkin diselesaikan oleh hanya satu orang saja. Proses produksi rnenghendaki adanya spesialisasi pelaksanaan pekerjaan diantara karyawan yang terlibat. Di sarnping itu.

Dengan pengolahan produk tersebut bahan yang masuk di departemen pertama akan menjadi out dari departemen pertama. dalam industri gula proses pengolahan tebu menjadi gula dilakukan rnelalui beberapa tahapan proses produksi sebagai berikut: Tahap pertama. Sebagai contoh. Teknik pengolahan aliran paralel.Spesialisasi pekerjaan menyebabkan proses pengolahan barang dilakukan melalui beberapa departemen. yaitu: 1. Periksa bagan di halaman berikut ini. Dalam tahapan ini departemen penggilingan menghasilkan air nira dan ampas tebu. Dengan demikian produk yang diolah mengalir secara tems menerus dari waktu ke waktu tanpa berhenti. Tahap keempat. penyelesaian produk dan pengantongan.Dalarn departemen inidihasilkan kristal gula. Teknlk pengolahan aliran produk bertahap. Selanjutnya departemenisasi organisasi pengolahan produk pada departemen produksi hams pula disesuaikan dengan pentahapan proses pengolahan produk tersebut. tetes dan blotong. Tahap ketiga. Berbagai tahapan proses produksi tersebut membentuk departemenisasi proses pengolahan tebu menjadi gula. 2. Sehingga pentahapan proses produksi hams disesuaikan dengannya. Teknik Pengolahan Aliran Produk Bertahap Proses produksi dilakukan setahap demi setahap sejak departemen pertama sampai produk diselesaikan di bagian penyelesaian dan akhimya diserahkan kepada bagian gudang. Apabila diamati pentahapan proses produksi dapat dibagi menjadi tiga macam sekuen proses produksi. pencalnpuran air niradengan bahan lainnya sekaligus dengan sekaligus dengan pencucian air nira dari kotoran. 1. Tahap kedua. Spesialisasi dilakukan agar pengolahan produk menjadi lebih efisien atau teknologipengolahan produk memang menghendalu beberapa tahapan proses secara berumtan. Teknlk pengolahan aliran produk selektip. . 3. pemasakan airniradalam tungkureaksi. Pentahapan proses ini sesuai dengan tehnologi dan rancangan pabrik yang disusun sebelum pabrik itu dibangun. penggilingan tebu menjadi air nira. Untuk selanjutnya akan menjadi bahan bagi proses di departemen kedua dan seterusnya.

1. Rekening PDP. GULA PASIK Gumbar.Tetes sebagai produk sampingan selanjutnyadapat diolah menjadi alkohol atau langsung dijual ke konsumen. Rekening PDP-Departemen Penggilingan. 4. Rekening PDP-Departemen Pemasakan.3. 2. Proses pengolahan gula Dalam contoh pengolahan gula tersebut di atas. Tetes. Rekening PDP-Departemen Penyelesaian. 3. Bagan proses produksi digambarkan sebagai berikut: Proses pengolahan data biaya hams memperhatikan sekuen pengolahan produk tersebut. Agar masing-masing departemen diatas dapat dideteksi biaya-biaya yang layak dibebankan kepadanya maka bagian akuntansi hams pula menyediakan rekening untuk masing-masing departemen tersebut. Blotong sebagzi produk sampingan karena tidak mempunyai nilai ekonomis merupakan limbah industri. yaitu: 1. 2. . Proses ketiga ini merupakan proses yang mernbentuk joint cost (biaya bersama). Kristal gula. 3.I penggilingan 1 1 tebu pemasakan nira ! limbah industri ampas blotong tetes I I tebu j I I kristal gula 1 pengantongan LISTRIK ALKOHOL.Departemen Pencampuran. Ktistal gula selanjutnya disempurnakan menjadi gula pasir dan dikantongkan pada departemen penyelesaian. Blotong. menghasilkan beberapa macam produk yang keluar dari proses ketiga. antara lain: 1.

Teknik Pengolahan Aliran Produk Paralel Teknik pengolahan produk tidak selalu setahap demi setahap seperti halnya dalam industri gula.ulel p1. Cara pengolahan yang kedua.t f l o ~ . Kedua produk tersebut sebetulnya saling membutuhkan satu sama lain. disebut teknik pengolahan aliran produk paralel (pu~.2 berikut ini menunjuk cara lain dalam pengolahan produk. dan pabrik yang sama. menggunakan teknik pengolahan aliran produk paralel.odzrc. sehingga pada akhir proses di pabrik tersebut keterkaitan antara produk yang satu dengan lainnya digabungkan menjadi satu. Teknik Pengolahan Aliran Seleksi produk Teknik yang ketiga adalah selective product tlow. menjadi satu produk akhir. Dengan demikian departemen sebelumnyamenseleksi produk yang memenuhi standard mutu untuk diserahkan/diproses lanjut di departemen penyempurnaan. Gambar 1. kuantita\.2. )Industri minuman dan makanan dalam kemasan kebanyakan . Dalam teknik ini terdapat beberapa departemen yang bertugas nienyempurnakan produk yang dihasilkan dari departemen sebelumnya. Departemen berikutnya juga menghasilkan produk yang sama dengan mengolah lagi produk yang . 3. Bahan minuman minuman 7 Bahan penyiapan bvhnn pembuatan kemasan 1 I A kemawn dan penyelesaian 7 MINUMAN KEMASAN Dalam gambar tersebut ditunjukkan ada dua produk yang diolah secara bersamaan pada waktu. Memperhatikan teknik produksi dan sifat-sifat bahan yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk pengolahan bahan dilakukan secara paralel untuk akhirnya digabungkan dalam satu unit pabrik rnenjadi satu produk.

Produk yang baik diserahkan ke departemen penyelesaian. Bagan proses produksi semacam ini adalah sebagai berikut: P Dept.diterima dari departemen sebelurnnya. . metode produksi berkaitan dengan cara-cara perusahaan melaksanakan pembuatan suatu barang (produk) sedangkan metode penentuan kos berkaitan dengan pencatatan dan penentuan kos pembuatan produk tersebut. KARAKTER METODE PENENTUAN KOS PROSES DAN PERBEDAANNYA DENGAN METODE PENENTUAN KOS PESANAN Dalam pembahasanmetodepenentuankos. Dalam praktek seMg kali dijumpai masing-masing metode penentuan kos tersebut tidak diterapkan secara mumi. Proses semacam dilakukan terus berulang-ulang. 1 - Dept. Keduanya mengandung aspek yang berbeda. 3 Limbah Industri Output Gambar 3. Penggabungan dari kedua penentuan kos tersebut seMg terjadi tergantung dari kasus proses pengolahan di pabrik tersebut. Teknik pengolalzan produk selektip C. Metode penentuan kos (baik metode proses maupun pesanan) berkaitan dengan pencatatan. dan penyajian laporan biaya yang timbul dari transaksi-transaksi biaya sebagai akibat proses produksi suatu barang. 2 - Departemen Penyelesaian Dept.pengertian penentuankos seringdikacaukan dengan metode produksi suatu barang. sedangkan produk yang belum sempuma diserahkan ke departemen berikutnya untuk diproses ulang. pengklasifkasian. yaitu job order costing (dikenal dengan penentuan kos pesanan) dan process costing (penentuan kos proses). Penentuan kos dibedakan secara ekstrim menjadi dua.

Produk diolah secara masal dalam jumlah yang cukup besar dan sesuai dengan kapasitas produksi mesin-mesin yang ada. Antara periode yang satu dengan yang lainnya hams ditetapkan batasan waktu tertentu (cut oj'f). percetakan. Karakter metode ini adalah: I. Tujuan produksi tidak dimaksudkan untuk memenuhi permintaan khusus dari pelanggan tertentu. penentuan kos produknya dengan membagi dalarn periode tertentu (bulanan. aircraft. mengingat berakhirnya suatu proses produksi tidak dibatasi oleh periode akuntansi. 5. Metode ini digunakan untuk perusaham yang memprodusir secara massal dengan proses produksi yang dilaksanakan secara contineuous. Dalarn metode penentuan kos pesanan penentuan kos tiap unit produk dapat ditetapkan dengan mudah setelah produk tersebut diselesaikan. Memperhatikan kelima karakter tersebut di atas. Dengan demikian cukup beralasan apabila dalam metode penentuan kos proses. Metode proses dapat ditemukan untuk hampir semua industri kimia. tahunan dan lain-lain). Tiada jarak waktu tersebut disebabkan penghentian suatu proses produksi yang ditu-jukan hanya untuk menghitung kos produk menjadi tidak ekonomis. Industri yang banyak menggunakan metode ini. antara lain: industri konstruksi. 2. Sifat produk yang diolah menunjukkan keseragaman antara produk yang satu dengan yang lainnya. dapat dilihat perbedaan dengan karakter metode penentuan kos pesanan (job cost).Pengertian contineuoustersebut adalah suatu proses akm berjalan tanpa berhenti untuk satu kelompok produk yang dirancang (satu batch). Mengingat proses produksi tidak boleh dihentikan pada setiap saat (setup costnya sangat mahal) maka manajemen harus menganggarkan jumlah yang harus diproduksi dalam kurun waktu tertentu. .Metode penentuan kos proses. adalah penentuan penentuan kos produk yang penetapan penentuan kos produk (baik total maupun unit) ditetapkan atas dasar periode waktu. Tetapi dalarn metode penentuan kos proses.h) serta memerlukan kecakapan dan perhatian khusus. sehingga antara periode yang satu dengan periode yang lain tidak dibatasi oleh jarak waktu tertentu (time lug). Produk diolah secara terus menerus (c~ontinuous). 4. mebel dan lain-lain. justru meninlbulkan kerugian yang cukup berarti bagi perusahaan. permesinan. Metode job order digunakan untuk perusahaan yang mernproduksi barang-barang yang tiap unitnya memerlukan spesifikasi khusus atau dalam kelompok produk (batc. Tingkat kesamaannya membutuhkan presisi yang tinggi sehingga sulit dibedakan antara produk yang satu dengan lainnya. Produksi dilaksanakan untuk nlengisi gudang dengan mengingat permintaan pasar yang sudah diperkirakan terlebih dahulu untuk suatu jangka waktu tertentu. 3. perusahaan tidak mungkin melakukan penentuan kos. Bahkan untuk industri semen suatu siklus proses produksi membutuhkan waktu lebih dari satu periode. Laporan kos produksi disusun/dihitung secara periodik.

Perbedaan di antara kedua metode ini. Pencatatan dan pembebanan biaya bahan. adanya manusia yang mengerjakannya disertai dukungan fasilitas lain yang membantu terwujudnya produk tersebut. Masing-masing elemen biaya tersebut mempunyai sifat dan permasalahan yang berbeda. Oleh karena itu. Pemakaian bahan terjadi pada saat bahan baku ataupun bahan pembantu diserahkan dari bagian gudang kepada bagian produksi. proses produksi barang-barang kimia harus dikerjakan dengan . Biaya bahan dan biaya tenaga kerja pada umumnya mempunyai perilaku sebagai biaya variabel. Produk yang dihasilkan tidak dapat dibuat secara standard. Ketiga elemen biaya tersebut terlekat pada produk yang dihasilkanmengingat suatu produk terbentuk karena adanya bahan. bocor dan lain-lain. Saat terjadinya pembelian bahan menunjukkan bahwa perusahaan telah mempunyai kesepakatan dengan pihak lain. permasalahan dan perilaku tersebut sangat berpengaruh dalarn pengakuan dan pencatatan transaksi biaya yang terjadi dalarn suatu perjode akuntansi. Kebanyakan industri kimia menggunakanproses produksi yang bersifat tertutup. Metode penentuan kos pesanan dirancang untuk digunakan bagi industri yang menghasilkan produk dalam skala kecillindividual. disebabkan oleh cara-cara yang ditempuh dalam menghasilkan produk tersebut memang berbeda. Sifat. Transaksi biaya bahan terjadi pada saat bahan-bahan tersebut dibeli dari pemasok dan pada saat pemakaian bahan tersebut. Meskipun transaksi ini hanya sekedarmernindahkan barang dari gudang ke bagian produksi tetapi mempunyai makna yang cukup berarti sebagai pengakuan . Di sarnping itu akibat sampingan yang tidak terkendali dapat muncul apabila sisa-sisa reaksi kimia tersebut tumpah. Proses reaksi lumia semacam ini harus dikendalikan agar reaksi kimia dapat membentuk produk seperti yang diiehendaki. oleh karenanya transaksi ini hanya pernindahan asset dari bagian yang satu kepada bagian yang lain. Begitu pula apabila ditinjau dari periIaku masing-masing dalam membentuk kos produk. biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik. D.konfigurasi yang sangat besar. sedangkan biaya overhead mempunyai perilaku baik sebagai biaya tetap maupun sebagai biaya variabel. Transaksi ini bersifat intern. Hal ini dimaksudkan agar produksi menjadi lebih ekonomis. Narnun realisasi pembelian baru akan terwujud pada saat barang-barang yang dibeli .telah tiba dan diterima di bagian gudang.Kenyataan tersebut mengakibatkanproses produksi barang-barang kimia dalam skala kecil menjadi sangat mahal. ketelitian. a. dengan maksud reaksikimia sebagai akibat pencampuran dan pemanasan beberapa bahan tidak dipengaruhi oleh unsur-unsur kimia lain yang tidak dikehendaki. TRANSAKSI BIAYA YANG MENDUKUNG PENENTUAN KOS Elemen-demen biaya yang membentuk kos produk adalah biaya bahan. Produk yang dihasilkan lebih membutuhkan perhatian. sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan. Sebaliknya ongkos produksi akan mahal sekali kalau konfigurasi proses produksi dalam skala besar.

Menghindarkan resiko cacat/rusak. 3. Agar resiko terhadap munculnya barang cacat maupun kadaluwarsa dapat dihindarkan. bahan-bahan yang digunakan untukmembantu terbentuknya suatu produk. dan c. tetapi dapat pula terdiri dari beberapa macam bahan baku. Bahan tersebut secara langsung terlekat pada produk dan merupakan komponen yang terbesar. Bahan yang masuk kategori bahan baku. 1. Pada umumnya bahan baku suatu produk terdiri dari satu macam bahan saja. 2. 5. Bahan ini merupakan bagian kecil dari suatu produk. 4. Bahan-bahan hams dilindungi terhadap kemungkinan-kemungkinan pencurian ataupun resiko kehilangan. . 2. 3. Bahan baku adalah bahan yang diubah dalam proses produksi untuk membentuk suatu produk. adalah bahan utama yang secara langsung ikut membentuk produk. Bahan pembantu adalah. Memberikan perlindungan terhadap resiko kecurian dan menjaga berfungsinya bahan sesuai dengan mutu yang diharapkan. b. Tujuan pengendalian biaya bahan. Pada umumnya bahan pembantu suatu produk terdiri dari beberapa macam. Bahan untuk memproduksi suatu produk terdiri dari bahan baku dan bahan pembantu. kos pembelian bahan. Agar barang-barang di gudang siap apabila sewaktu-waktu dibutuhkan. biaya assuransi bahan-bahan. Agar biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menangani persediaan dapat dihemat. Agar bahan-bahan yang dibeli dalam jumlah yang tepat dan digunakan untuk kepentingan produksi sesuai dengan waktu yang direncanakan. namun mempunyai peranan dalam membentuk suatu produk. Komponen kos bahan terdiri dari: a. Tujuan pengendalian barang di gudang. biaya pengangkutan bahan sampai ke gudang. 1.berapa kos bahan-bahan dalarn ikut membentuk tenvujudnya sesuatu produk. . Agar dana yang digunakan untuk membiayai pembelian bahan dapat dihernat untuk tujuan lain yang lebih bermanfaat.

000 3. Masalah penting yang terkait dalarn pengadaan bahan adalah: 1.000 2. Masalah ini dibahas dalarn mata kuliah Sistem Akuntansi. Dengan demikian bahan-bahan yang dipakai sesuai dengan mutu yang dikehendaki.200 8.BB Persediaan bahan baku Rp 8.Contoh pencatatan transaksi yang terkait denganbiaya bahan.200 Rp 10.Masalah ini dibahasdalam mata kuliah Akuntansi Keuangan.200 Saat Pemakaian bahan (dicatat oleh bagian akuntansi biaya) Produk dalam proses .000 I -1.700 Jumal pencatatannya adalah sbb: Persediaan bahan baku Utang Dagang Kas Rp 13. . Pengembalian ini akan dicatat dalam jurnal pengembalian bahan. Prosedur Pembelian bahan dan pencatatan persediaan. Kos bahan (sesuai faktur) Biaya angkut masuk Biaya assuransi Rp 10. 2. saat Pembelian (dicatat oleh bagian akuntansi finansial).200 Total kos bahan Digunakan dalam proses produksi Rp Rp 13. Penentuankos danpenilaiannya. Harus memperhatikan kwalitas bahan-bahan yang ada sehingga apabila terdapat bahan-bahan yang tidak memenuhi standard dapat segera mengembalikannya kepada suplier.700 Pengendalian pemakaian bahan.

Pencatatan biaya tenaga kerja melalui dua tahapan penting yang terdiri dari: 1. Biaya tenaga kerja.500 Riaya tenaga kerja dalam suatu perusahaan dapat digolongkan menjadi beberapa macatn.500 Biuyn tennga kcljlr Rp 22. Pencatatan dan pembebanan biaya tenaga kerja. Komponen pembayaran jasa kepada karyawanhuruh yang tidak termasuk dalam kategori biaya tenaga kerja adalah:jasa produksi. antara lain sebagai berikut: 1. adalah semua biaya yang dikeluarkan untuk membayar tenaga kerja dala~n . dan tunjangan hari raya. Biaya Produksi (terdiri dari biaya TK Langsung dan biaya TK tak langsung). bonus Produksi.000 2. Jurnal transak\i kedua ini dicatat sebagai berikut: PDP-biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik Rp 15. dan tunjangan kesehatan. Jumal transaksi tersebut adalah sebagai berikut: Biaya Tenaga Kerja Pajak penghasilan karyawan Hutang gnji h n ~rpah ka~:~trcc~crn Rp 22. perhitungan pajak yang hams dibayarkan oleh karyawan serta berapa besarnya penghasilan bersih yang diterima karyawan. Tahapan pengumpulan data gaji. Klasifiasi biaya tnaga kerja dalam proses produksi antara lain: (a) biaya tenaga kerja langsung.000 7. Termasukdalam katego~i biaya produksi adalah semua upah buruhdan insentipdalam rangka memproduksi suatu produk. Rp 25.500 . tantiem. Biaya Komersial (terdiri dari Gaji direksi dan gaji karyawan kantor).500 2. Macam-macam pembayaran gaji dan upah yang masuk dalam kategori biaya tenaga kerja adalah: gaji karyawan. Tahapan keduamerupakan prosesdistribusidan alokasi biaya tenaga kerja kepada masing-masing job. adalah semua biaya yang dieluarkan untuk membayar upah pada karyawan perusahaan.b.Termasukdalam kategori biaya komersial adalah semua pembayaran gaji yang dibayarkan kepada para pegawai (tetapftidaktetap) guna mempertahankan eksistensioperasional perusahaan. departemen dan lain-lain klasifikasi. insentip'lembur dan insentip prestasi kerja. upah buruh. perhitungan pendapatan. 2.

Berarti PPH 21 yang harm dikenakan kepada buruh tersebut sebesar 15% X Rp 80. Perlakuan akuntansi terhadap pajak berdasarkan kebijaksanaan mahagemen sebagairnana diutarakan dalam alinea di atas. adalah semua biaya yang dikeluarkan untuk membayar tenaga kerja dalam rangka memproduksi produk yang secara tidak langsung ikut membentuk produk dalam suatu perusahaan. . RD 300. Masalah yang tirnbul dalam pembayaran biaya tenaga kerja. Biaya tenaga kerja talc langsung. karypwan (buruh) dan perusahaan. berikut: 1.000 120.000. Mempunyai seorang isteri dan dua orang anak.000 total penghasilan tidak kena pajak Pendapatan tidak kena Pajak Jadi buruh tersebut tidak dapat dikenai PPH 21. Penentuan PPH 2 1untuk buruh tersebut adalah sebagai berikut: Besarnya penghasilan per bulan Pendapatan tidak kena pajak buruh sebagai kepala keluarga 1 orang isteri 120. Pajak ditanggung bersarna.000 Apabila buruh tersebut belurn berkeluarga (bujangan) besarnya pendapatan tidak kena pajak sebesar Rp 120.000 60.000.000 per bulan.000 2 orang anak @ Rp 60. Masalah ini dipecahkan dengan 3 cara sebagai .000. Contoh kasus. Seorang buruh memperoleh penghasilan sebesar Rp 200. Pajak PPH 21 menjadi beban masing-masing karyawan.000 sebesar Rp 12. adalah kewajiban membayar PPH 21 dan asuransi sosial.rangka memproduksi produk yang secara langsung membentuk produk dalam suatu perusahaan dan biaya tenaga kerja langsung yang terjadi cli departemen produksi. Dengan dernikian pendapatan kena pajak buruh tersebut Rp 80. 2. Biaya tenaga kerja talc langsung terjadi di departemen pewbantu (service departement). Pajak menjadi beban perusahaan. 3.

000 188. Biaya tenaga kerja Utang PPH 2 1 Urcing gajilupcrh RP 200.BTK Biaya terluga kerja Rp 200. Pencatatan PPH 21 bila dikenakan kepada perusahaan saja. Saat Pengakuan biaya tenaga kerja.000 Kp 200. Saat Pengakuan biaya tenaga kerja.000 Utang gajilupah 188. Saat Pengakuan biaya tenaga kerja. Saat Pelnbebanan kepada produk. Pencatatan PPH 21 bila dikenakan kepada k:+rpawan dan pcruxahaal~.000 .000 2. Biaya tenaga kerja Biaya overhead pabrik Utang 21 Ut~lr~g gajilupah RP 1 04 400 6. Saat Pembebanan kepada psoduk. a.1.000 Rp 12. Biaya Tenaga kerja Biaya overhead pabrik Utang PPH 21 RP 188.000 1811.000 3. Pencatatan PPH 21 bila dikenakan kepada karyawan. a.000 b.BTK Biuya tenaga kelju Rp 1 94.000 Rp 12. a. Produk dalam proses .000 KIT 194.000 Rp 12.000 12. Produk dalam Proses .000 b.

000 Rp 3. 5. Produk dalam Proses . -4. Pengelompokan ini dilakukan mengingat jenis biaya overhead sangat banyak. Pencatatan dan pengakuan biaya overhead. Rekening semacam ini digunakan untuk menampung pembebanan biaya overhead yang terjadi dalam satu periode kepada rekening Produk dalam proses .b. 3. Pembayaran upah dan insentip. Apabila ditinjau dari saat terjadinya maka biaya overhead dapat ditinjau dari biaya overhead tunai dan biaya overhead yang dibebankan untuk berbagai penode yang menikrnati. 1.500 Macam-macam biaya yang lainnya Pembebananbiayaoverheadpabrikkeproduk harusmemperhatikanapakahperusahaan memakai rekening biaya overhead pabrik dibebankan.000 Rp 5. Biaya overhead pabrik Biaya tenaga kerja tak langsung Akumulasi peralatan pabrik Biaya assuransi kebakaran Rp 20.500 Rp 4. Pernisahan biaya tersebutdimaksudkanuntuk memudahkan dalamanalisispengambilan keputusan. adalah prosedur penggajian dan pengupahan yang meliputi. Pencatatan biaya overhead pabrik adalah sebagai berikut: Pengakuan terhadap biaya overhead. dibahas dalarn mata kuliah Sistem Akuntansi.BOP.000 Rp 7.BTK Rp 188. c. Di samping itu apabila ditinjau dari tingkah laku terjadinya biaya dapat ditinjau dari dua aspek yaitu biaya variabel dan biaya tetap.000 Masalah lain yang perlu diperhatikan dalam pengendalian biaya tenaga kerja. Pencatatan kehadiran karyawan. Pencatatan biaya tenaga kerja. Hal-ha1 tersebut. 2. Pencatatan waktu kerja. Pencatatan dilakukan dengan talcsiran biaya overhead pabrik. dengan dernikian pembebanan BOP tidak perlu menunggu perhitungan .000 Rp Biaya tenaga kerja 188. Penghitungan upah dan insentip. Saat Pembebanan kepada produk. Pencatatan biaya overhead pabrik terdiri dari dua kelompok.

000 Dengan pencatatan tersebut di atas maka akan terlihat bahwa dalam rekening BOP sesungguhnya akan terdapat selisih sebesar Rp 1. biaya tenaga kerja tak langsung dan semua biaya-biaya yang tidak dapat secara langsung dibebankan kepada produk ataupun job.BOP BOP .dibebankan BOP . Selanjutnya selisih tersebut akan dibebankan kembali ke rekeningrekening Kos barang terjual/HPP.000. harus dipertemukan dengan rekening BOP-sesungguhnyapada saldo debit. rekening persediaan produk selesai dan persediaan produk dalam proses akhir. Pemisahan biaya ini sebenamya mengandung kelemahan.sesurzgguhnya Rp 19. dapat disusun klasifikasi sebagai biaya tetap dan biaya variabel. Item biaya overhead pabrik sangat banyak. E.Meskipun padadasamya terdapat biaya semi variabel yang mengandung kriterium sebagai biaya variabel maupun tetap.000 Rp 19. maka klasifikasi biaya semi variabel tersebut dipecah lagi menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Namun untuk memudahkan perhitungan biaya dan pengendalian biaya. Biaya ini terdiri dari biaya bahan tak langsung. Pembebanan BOP ke rekening Produk dalam Proses: PDP .000 Rp 19. Dengan cara tersebut dapat dipastikan akan diperoleh selisih antara BOP yang ditaksirkan dengan BOP yang sesungguhnya.dibebankan Rp 19. Adapun jumalnya adalah sebagai berikut: BOP .BOP yang sesungguhnya terjadi.000 Selanjutnyarekening BOP-dibebankan pada saldokredit. Selisih tersebut di akhir periode akan disesuaikan dengan terlebih dahulu dianalisis apakah terjadi over1 under applied BOP. TARIP BIAYA OVERHEAD DAN PEMISAHAN BIAYA SEMI VARIABEL Biaya overhead pabrik adalah semua biaya-biaya produksi selain biaya bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung. .mengingat tidak ada metode yang dianggap tepat dalam pemisahan biaya semi variabel tersebut.Perbedaan ini disebut under-applied overhead pabrik. sehingga apabila ditinjau dari perilaku biaya.

(3) teknik analisis kuadrat terkecil (least square). Biaya Tetap 0 unit 2. (2) matematical high low point. Dari gatnbar tersebut dapat diketahui berapa besamya biaya tetapdan berapa besamya biayavariabel. 1. Dari perpotongan sumbu tegak dengan garis tersebut ditarik garis lurus sejajar dengan sumbu datar. Perhatikan contoh berikut ini: . Dalam teknik ini hubungan antar biaya dengan volume produksi digambarkan dalarn sebuah diagram. Di antara berbagai titik tersebut ditarik garis lurus sampai memotong sumbu tegak.jelaskan uraian tersebut di atas. Mathematical high low point. Sedangkan biaya tetap digambarkan dengan garis mendatar sejajar dengan kuantitas produk. Teknik grafis. Besamya biaya variabel dihitung dengan membagi selisih biaya semi variabel tertinggi dan terendah dibagi dengan selisih aktivitas tertinggi dan terendah. Garis ini menunjukkan komponen biaya variabel. Teknik ini menggunakan dasar aktivitas tertinggi dan terendah sebagai dasar analisis semivariabel. Variabilitasbiayadiperlihatkan oleh garis miring yang sebetulnyamerupakan fungsi dari produk yang dihadkan. dan (4) teknik analisis korelasiJregresi. Gambar di halaman 18 berikut ini me~~. garis ini menunjukkan komponen biaya variabel. antara lain: (1) teknik grafis.Beberapa teknik pemisahan biaya semivariabel menjadi biaya tetap dan biaya variabel.

Persamaannya adalah: .776.000 Rp 1.000 Rp 2.776.000 684.7 10.104 jam = Rp 250.066.480 jam X Kp 250 2.000.000 1.000.776..-/jam.000 Aktivitas terendah Rp 1.000 Tarip variabel = Rp 1. Sedangkan aktivitas terendahnya terjadi di bulan Maret menunjukkan waktu kerja 2.000 Rp 1.000 3.026.: 4.000.dapat dihitung hesamya biaya tetap sebagai berikut: Aktivitas tertinggi Total biaya semi variabel Biaya variabel (Rp 250ljam) 6. Teknik ini hubungan antara biaya dengan volume produksi sebagai hubungan persamaan linear.066.736 jam dengan biaya sebesar Rp 1.104 jam Total Biaya Rp 2.026.750. Berdasarkan data tersebut dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut: No 1 2 Aktivitas perusahaan Aktivitas tertinggi Aktivitas terendah Selisihlperbedaan Aktivitas 6. Selanjutnya setelah besarnya biaya variabel per unit dapat diketahui. Teknik kuadrat terkecil.750.736 jam X Rp 250 Biaya tetap Rp 1.I 1 Dalam tahun anggaran 1986 aktivitas tertinggi perusahaan susu Mamiek menunjukkan waktu kerja sebanyak 6.840 jam dengan biaya Rp 2.000 I .736 jam 4.840 jam 2.750.

000. Selisih tersebut (baik under ataupun over applied) harus dianalisis untuk mengetahui apa yang menjadi penyebabnya. terdiri dari biaya tetap Rp 125.000 (under applied). maka pada akhir periode &an terdapat selisih dalam rekening biayaoverhead pabrik sesungguhnya (actual) dengan tarip yang telah ditentukan di muka. 2. Jadi tarip per jam kerja adalah Rp 1. biaya bahan yang digunakan. ditentukan atas dasar: 1.000 166. jam mesin. agar tarip tersebut dapat digunakan secara tepat baik untuk penentukan kos maupun untuk kepentingan pengendalian biaya. Sebagai akibat penggunaan tarip biaya overhead pabrik tersebut. Tarip biaya overhead pabrik atas dasar jam kerja sebesar 200.625 dan untuk biaya overhead variabel sebesar Rp 0. Tarip yang digunakan harus berdasar pada alasan yang rasional.000 Selisih pengeluaran (rugi) . bahwa untuk mempermudah perhitungan digunakan tarip yang ditetapkan di muka. unit produksi. Tarip untuk biaya overhead tetap Rp 0.250 Rp 292. Sebagai contoh: Anggaran biaya overhead pabrik pada perusallaan Nickiesusu. Pada periode tersebut jam kerja sesungguhnya sebesar 190. 3. Selisih tersebut dianalisis dengan analisis dua selisih sebagai berikut: Selisih pengeluaran: Biaya overhead sesungguhnya Anggaran s/d kapasitas yang digunakan: Biaya tetap dianggarkan Biaya overhead (190 X Rp 0. 3.SO. Tarip biaya overhead pabrik.875) Rp 125.000 jam kerja.875.250 Rp 291. 5.000 jam.Y menunjukkan besamya biaya variabel pada volume X a b menunjukkan komponen biaya tetap. biaya tenaga kerja. Pada akhir periode diketahui besamya biaya overhead pabrik sesungguhnya adalah Rp 292.000 dan biaya variabel Rp 300. jam tenaga kerja langsung. dan menunjukkan arah garis (slope) sebagai komponen biaya variabel. Telah disebutkan di muka.000 sehingga terdapat selisih sebesar Rp 7.

dengan jurnal sebagai berikut: Rp 7. Dari data di atas dapat diketahui terdapat kapasitas jam kerja yang masih belum digunakan sebanyak 10. Dengan demikian manager dapat mengetahui pada elemen apa saja dia harus melakukan tindakan koreksilperbaikan.000 Terhadap tarip biaya overhead.000 Rp 7. Hal ini hams dikoreksi kembali.. Dalarn artian tarip yang ditetapkan di masa lalu tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai alat pengukuran. pada setiap akhir periode hams dibebankan kembali ke rekening Kos Produksi atau langsung ke income summary. dihitung dengan cara sebagai berikut: (10. .000 Persediaan produksi jadi Biaya overhead pabrik sesungguhnya. komponen biaya apa saja yang mengalami penyimpangan.Selisih Kapasitas: Anggaran sld kapasitas yang digunakan Biaya overhead pabrik yang dibebankan ke produk (rekening PDP-BOP) Selisih kapasitas (rugi) Terhadap selisih pengeluaran dapat dirinci lebih jauh.000jam kerja. manajemen dapat mengetahui sampai seberapa jauh tingkat efektivitas pekerjaan pada departemen produksi.= 5 % Pejabat yang bertanggungjawab terhadap adanyakapasitas yang menganggur tersebut adalah orang yang secara langsung menangani proses produksi.X 100 %.000. Demikian halnya dalam selisih kapasitas. Dengandemikian tarip biaya overhead pabrik harus ditetapkan kembali dengan dasar pengalaman di masa yang lalu. Namun.625) :Rp 125. Besarnya kapasitas menganggur ini sebesar 5%. atau: Income summary Biaya overhead pabrik sesungguhnya Rp 7. Terhadap selisih yang terjadi. sangat dimungkinkan di kelak kemudian hari tarip biaya overhead pabrik menjadi tidak tepat. ha1 ini perlu diteliti lebih lanjut penyebab kesenjangan antara kapasitas produksi dengan kemampuan pasar menyerap produk yang dihasilkan perusahaan.000 jam X 0.000 Rp 7.

Di awal bulan terdapat produk yang rnasih dalaln proses produksi 200 unit dengan tingkat penyelesaian untuk biaya bahan baku 100%'. Tingkat penyelesaian produk mencerminkan berapa banyak biaya yang terserap di dalam produk dalam proses tersebut.BAB I1 LAPORAN KOS PRODUKSI A. Berapa besamya biaya yang terserap dalam produk yang masih dalarn proses baik di awal maupun di akhir periode tergantung pada taksiran tingkat penyelesaian komponenkomponen biaya yang membentuk terjadinya sesuatu produk atas produk dalam proses.biaya tenaga kerja langsung 90%.200 unit 2. Keadaan dalam satu periode tersebut apabila dirinci akan menunjukkan kuantitas produk yang diselesaikan sebagai berikut: proses awal Produk dala~n Produk yang masuk di dalam proses 200 unit 2. Hal ini mengingat adanya produk yang masih dalanl proses baik di awal maupun di akhir periode telah ikut menyerap kos yang terjadi dalam periode tersebut. Sebagai contoh. PENENTUAN UNIT EKUIVALEN PRODUKSI Unit ekuivalen produksi (selanjutnya disebut unit ekuivalen) hams dihitung untuk menentukan berapa besa~nya produk yang layak diperhitungkan dalam rangka penentuan kos produk per unit.000 unit produk X. Di akhir periode masih terdapat 400 unit produk yang masih dalam proses dengan tingkat penyelesaian untuk biaya bahan sebesar I OO%. perusahaan XYZ dalam bulan Mei menghasilkan 2.400 unit . dan biaya overhead pabrik 80%.400 unit Produk dalam proses akhir Produk yang diselesaikan periode ini 400 unit 2.000 unit 2. biaya tenaga kerja 80% dan biaya overhead pabrik sebesar 90%.

Kos yang terserap dalam produk dalam proses awal maupun akhir proses menunjukkan jumlah yang relative sama.000 + 400 (80 % Unit ekuiv.000 + 400 (90 %) = - 2. biaya tenaga kerja langsung. Komposisi penyelesaian produk dalam proses di awal maupun di akhir proses sebagaimana digambarkan dalam gambar di atas akan mempengaruhi unit ekuivalen pada bulan Mei.320 unit 2. Begitu pula halnya produk dalam proses di akhir bulan Mei akan menjadi produk dalam proses di awal bulan Juni.Dalam menghitung kuantitas produk yang diprodusir selama satu periode harus dapat ditunjukkan bahwa input (200 + 2. biaya overhead pabrik.000).400 unit 2. bahan baku.360 unit . Apabila menggunakan metode tersebut besarnya unit ekuivalen adalah sebagai berikut: Unit ekuiv.200 unit Produk selesai dalam bulan Mei 2.000 unit Peraga 2. awal bulan Mei ! awal bulan Juni ! 200 unit 400 unit Masuk dalam proses dalam bulan Mei 2.1 Aliran input dan ouput produksi Dan gambar tersebut di atas ditunjukkan bahwa 200 unit produk dalam proses awal sebetulnya merupakan produk dalam proses di akhir bulan April. Metode ini menganggap bahwa tingkat penyelesaian produk dalam proses baik di awal maupun di akhir proses dari periode yang satu ke periode berikutnya tidak menunjukkan perbedaan yang siknifikan. 2. Bagan berikut ini memperjelas proses transformasi input dan output dalarn suatu proses produksi. Sebagai akibatnya kos padaperiode yang satu dan periode yang lain tidak akan terjadi fluktuasi. Metode rata-rata (average method). 2.200) sama dengan output (400 + 2.000 + 400 (100 %) Unit ekuiv. 2. Penghitungan unit ekuivalen dapat dilakukan dengan salah satu dari dua metode berikut: 1 .

200 biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp 34.Metode masuk pertama keluar pertama (first in first out). Perbedaan tingkat penyelesaian dari waktu ke waktu tersebut akan sangat mernpengaruhi besarnya komposisi kos produk dari periode yang satu dengan periode lainnya.biaya tenaga kerja langsung Rp 15. tidak boleh sembarangan mengingat karakter proses produksi hams diperhatikan Dengan mengambil contoh perhitungan subbab A di atas serta data biaya berlkut digambarkanperhitungan kosper unit tersebut. 200 (0 9 )+ (2. Perhitungan kos per unit produk berdasarkan salah satu dari keduametode penghitungan unit ekuivalen. Metode ini menganggap terdapat perbedaan yang siknifikan antara tingkat penyelesaian antara produk dalam proses di awal periode dengan produk dalam proses di akhir periode.dan biaya overhead pabrik sebesar Rp 11.300 unit. biaya bahan baku bulan tersebut sebesar Rp 44. Perhitungan unit ekuivalen dengan menggunakan metode FIFO adalah sebagai berikut: Unit ekuivalen biaya bahan. = 2. Meskipun demikian keputusan untuk menggunakan salah satu dari kedua metode tersebut. sebagai akibatnya kos balk yang terjadi di awal maupun di akhir proses akan diidentifikasi secennat mungkin.140 unit.000 . 200 (20 9 )+ (2.000 . = 2. ' Periksa kembaii bab I.200 unit.000 . Misalnya. Kos per unit. Kos yang terserap dalam setiap produk di awal dan di akhir periode jumlahnya tidak sama. mengenai filosofi produksi. B. Konsep ini sangat berbeda dengan metode rata-rata yang menganggap komporlen kos semua produk sama. produk pada bulan April adalah sebagai berikut: biaya bahan baku RD 19. Perhitungan unit ekuivalen tersebut di atas memperhatikan perhedaan penyerapan kos di awal dan di akhir proses produksi. 200 ( 10 %) + (2. MENGHITUNG KOS PER UNIT PRODUK Dalam menghitung kos per unit produk hams memperhatikan unit ekuivalen produksi untuk masing-masing komponen biaya.200) + 400 (100 %) 6 Unit ekuivalen biaya tenaga kerja.200) +400 (90 '3) 6 = 2.420 dan biaya overhead pabrik Rp 26.200) + 400 (80 %) Unit ekuivalen biaya overhead pabrik.560. .

200 x 80 % x 11 Total kost produk dalam proses awal = Rp = 3. 200 x 100 % X 19 Biaya tenaga kerja langsung.700 1.260 Apabila menggunakan metode rata-rata perhitungan kos per unit produk adalah sebagai berikut: Perhitungan kos per unit kedua metode tersebut akan menghasilkan kos per unit yang berbeda. perhitungannya adalah sebagai berikut: Biaya bahan baku.Dari informasi tersebut di atas dapat dihitung kos per unit produk.760 - Rp 8. Apabila menggunakan metode FIFO perhitungan kos per unit produk adalah sebagai berikut: . 200 x 90 % x 15 Biaya overhead pabrik. Sebelummenghitung kos per unit produk terlebih dahulu dihitung berapa besarnya kos yang terlekat pada produk dalarn proses awal. Dengan menggunakan metode rata-rata besamya kos per unit lebih kecil dibandingkan dengan metode FIFO.800 2.

Berdasarkan perhitungan di atas selanjutnya dapat dihitung berapa besamya kos yang dibebankan terhadap produk selesai maupun produk yang masih dalam proses di akhir periode. Rincian perhitungan berikut ini sangat penting mengingat jumlah tersebut akan digunakan sebagai dasar untuk melakukan posting ke dalam rekening-rekening produk dalam proses. Perhitungan pembebanan kos produk apabila dengan metode rata-rata adalah sebagai berikut: Kos produk selesai: 2.000 @ Rp 48 Kos produk dalam proses akhir: Biaya bahan, 400 x 100 % x Rp 20 Biaya TKL, 400 x 80 % x 16 Biaya Overhead Pabrik, 4OOx90%x12 Total biaya yang dibebankan Rp 8.000 5.120 Rp 96.000

4.320

17.440 Rp 113.440

Perhitungan pembebanan kos produk apabila dengan metode FIFO adalah sebagai berikut:

Kos produk selesai:
Produk d b proses awal

Penyelesaian PDP awal: Biaya TKL: 200 x 10 % x Rp 16,08 Biaya Overhead Ppbrik: 200 x 20 5% x 12,07 Kos produk dalam proses awal Kos produk yang diselesaikan dalam bulan Mei: 1.800 @ Rp 48,25 Total kos produk selesai bulan Mei Rp 95.914,40
= Rp 321,60

=

482.80

804.40

Kos produk dalam proses akhir:
Biaya bahan baku, 400 x 100 % x Rp 20,lO Biaya Overhead Pabnk, 400 x 90 %x 12,07 Total kos dalam proses akhir Total biaya produksi yang dibebankan bulan ini Rp 8.040 4.345.20 Rp 17.530.80 Rp 1 13.445,20
% Biaya Tenaga Kerja Langsung, 400 x 80 5 x 16,08 Rp 5.145,60

Dalam perhitungan menurut metode FIFO, di atas terdapat selisih lebih sebesar Rp 5,20. Selisih tersebut sebagai akibat pembulatan pada waktu perhitungan kos per unit. Rincian pembulatan tiga angka di belakang koma adalah sebagai berikut: Biaya bahan 12.0909 menjadi 12.10 atau sebesar BTKL 16.0841 menjadi 16.08 atau sebesar BOP 12.0727 menjadi 12.07 atau sebesar (0.009 1) (0.0041) (0.0027) Rp 5,06

Total pembulatan = 0.0023
Perhitungan pembulatan adalah: 2.200 x Rp 023
=

C. MENYUSUN LAPORAN KOS PRODUKSI
Laporan kos produksi untuk periode yang baru saja berakhir disusun pada hari-hari awal periode berikutnya. Jadi laporan kos produksi untuk bulan Mei dibuat pada awal bulan Juni, demlkian seterusnya. Laporan ini memuat tigamasalah pokok yang terdiri dari:

1. Laporan kuantitas produksi selama satu periode, berisi perhitungan kuantitas produk baik yang masuk dalam proses maupun produk yang dihasilkan serta segala bentuk keluaran lainnya. Laporan semacam ini menggarnbarkan berapa kuantitas yang layak diperhitungkan dalam penentuan kos produk.

2. Perhitungan kos per unit produk, berisi perhitungan kos per unit produk untuk semua komponen produk yang dihasilkan selama satu periode produksi.
3. Perhitungan pembebanan kos produk selesai dan produk yang masih dalam proses (akhir), berisi perhitungan berapa besarnya kos untuk produk selesai dan produk dalam proses yang dihasilkan dalam satu periode produksi.
Laporan Kos Produksi tersebut disajikan dengan maksud menyajukan informasi kepada manajemen sebagai alat pengendalian biaya produksi dan sebagai dasar membukukan kos produksi ke dalam rekening kontrol. Berikut ini disajikan contoh laporan kos produksi dengan menggunakan metode ratarata (periksa halaman 24).

PERUSAHAAN XYZ LAPORAN KOS PRODUKSI Bulan Mei 19x1

A.

Kuantitas produksi bulan ini. Produk dalam proses awal Produk yang masuk dalam proses 200 unit

2.200

unit
2.400 unit unit unit 2.400 unit

Produk dalarn proses akhir hoduk selesai bulan Mei

400

2.000

B. Perhitungan Kos per unit produk,

C. Pernbebanan biaya kepada produk.

Kos produk selesai: 2.000 @ Rp 48 Kos produk dalam proses akhir: Biaya bahan, 400 x 100 % x Rp 20 Biaya tenaga kerja langsung. 400 x 80 O/r x 16 Biaya Overhead Pabrik, 400 x 90 %x 12

= =

Rp Rp
8.000 5.120 4.320

96.000

-

Total biaya yang dibebankarl

Percrgu 2.2 Lupor.urr Kos Prodrrksi detrLqut7 Rerorlc, Rota-r.nru

Laporan kos prroduksi yang disajikan dengan metode FIFO disajikan pada halaman berikutnya. Perhatikan, terdapat perbedaan yang khas penyajian metode ini yang sangat berbeda dengan metode Rata-rata. Dalam metode FIFO, perhitungannya jauh lebih rumit daripada metode rata-rata terutama laporan bagian C, pembebanan biaya kepada produk.

PERUSAHAAN XYZ LAPORAN KOS PRODUKSI Bulan Mei 19x1

A. Kuantitas produksi bulan ini. Produk dalam proses awal Produk yang rnasuk dalarn proses

200

unit

2.200
400

unit
2.400 unit unit unit 2.400 unit

Produk dalam proses akhir Produk selesai bulan Mei

2.000

B. Perhitungan kos per h i t ,

C. Pembebanan biaya kepada produk: Produk dalam proses awal Penyelesaian PDP awal: Biaya TKL: 200 x 10 % x Rp 16,08 Biaya Overhead Pb., 200 x 20 % x 12,07
Kos produk dalam proses awal Kos produk yang diselesaikan dalam bulan Mei, 1.800 @ Rp 48,25

Rp 8.260
= Rp 321,60 = 428.80

804.40

Total kos produk selesai bulan Mei Kos produk dalam proses akhir: Biaya bahan baku 400 x 100 % x Rp 20,lO Biaya Tenaga Kerja Langsung: 400x 80 % x 16,08

Rp 95.914,40
= Rp 8.040,00 = 5.145,60

Biaya Overhead Pabrik: 400 x 90 % x 12,07 Total kos dalam proses akhir Total biaya produksi yang, dibebankan bulan ini

Peraga 2.4 Laporan Kos Produksi dengan Metode FIFO

Apabila kita kita perhatikan, a1 antara kedua laporan kos produksi tersebut tefdapat perbedaan pokok, yaitu: 1. Dalam metode rata-rata biaya yang terjadi pada bulan sebelurnnya yang tercermin dalam PDP awal digabung menjadi satu dengan biaya yang terjadi pada bulan Mei. Penentuan kos per unit dilakukan dengan membagi total bulan lalu dan bulan Mei dibagi dengan unit ekuivalennya. Berbeda dengan metode FIFO, maka biaya yang berasal dari bulan lalu tidak digabung dengan biaya yang terjadi pada bulan Mei.

2. Penggunaan salah satu dari kedua metode tersebut harus mempertimbangkan ha1 -ha1 sebagai berikut:
a. Fluktuasi produksi dari periode ke periode. b. Apakah produk yang melekat masih dalam proses tidak tentu.

D. MENCATAT KOS PRODUK DALAM BUKU BESAR
Akuntansi biaya mempunyai tugas untuk mencatat, melaksanakan klasifikasi biaya, membebankan perhitungan biaya pada produk, dan melaporkannya kepada manajemen. Bentuk pelaporan biaya telah dipelajari dalam subbab sebelurnnya, dan selanjutnya akan dibahas proses pencatatan transaksi biaya ke dalam jumal dan postingnya dalam buku besar. Skema proses pencatatan transaksi biaya adalah sebagai berikut:

-

Buku Jurnal

Buku besar

-

Neraca Lajur

r

-Buku Pembantu

Laporan Biaya

Biaya

I

Bagan 2.5 Proses pengolahan data akuntansz

Pencatatan biaya lain-lain: Biaya overhead pabrik sesungguhnya Biaya tenaga kerja tak langsung Depresiasi Biaya asuransi xxxx xxxx xxxx xxxx XlCXX Biaya tunai lainnya .700 11760 Rp 8.. Transaksi keuangan yang terkait dengan transaksi biaya terdiri dari pencatatan pembelian bahan-bahan. Pencatatan jurnal penyesuaian kembali. Pembelian bahan baku (dengan metode perpetual) dicatat sebagai berikut: Persediaan bahan xxxx . guna mengakui adanya produk dalam proses awal yang sebetulnya merupakan persediaan akhir pada periode bulan yang lalu. langkah-langkah pencatatan transaksi adalah sebagai berikut: 1. biaya tenaga kerja dan biaya lain-lain selain kedua klasifikasi tersebut.260 Persediaan PDP awal Pencatatan transaksi keuangan. a. Pencatatan jumal penyesuaian kembali ini dibuat mengingat pada akhir bulan yang lalu telah dilakukan tutup buku.Berdasarkan bagan tersebut di atas. Cara pencatatannya antara lain.800 2. PDP biaya bahan PDP biaya tenaga kerja langsung PDP biaya overhead pabrik Rp 3. Dengan demikian saldo semuarekening Produk Dalam Proses sudah seimbang (0).lx.Pada awal bulan Mei harus dibuat jurnal penyesuaian kembali.xx Hutang &gang b. Pengakuan adanya upah tenaga kerja dicatat sebagai berikut: Biaya tenaga kerja xxxx XYXX Hutang guji c.

420 Biaya overhead .440 Rp 8. Terhadap produk yang masih melekat dalam proses produksijuga hams dihitung berapa biaya yang hams dibebankankepadanya.000 PDP .BTKL Rp 34.000 PDP .BOP Rp 26.biaya bahan baku Rp 96.560 Rp 34. produk yang diselesaikan diserahkan ke gudang sebagai produk jadi. 1.120 4. Pembebanan biaya bahan baku kepada produk: Produk dalam Proses .200 Persediaan bahan baku Rp 44. Pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk: Produk dalam proses . Pembebanan biaya tenaga kerja langsung kepada produk: Produk dalam proses . Pencatatan transaksi akuntansi biaya.b i q tenaga kerja langsung PDP .biaya tenaga kerja langsung 32.000 Rp 40. biaya tenaga kerja langsung.320 PDP .3.biaya averheadpabrik .000 24.dibebunkan Rp 26.biaya overhead pabrik Pembebanan biaya produks~ kepada PDP akhir dengan jumal sebagai berikut: Persedimn produk dalam proses PDP .200 b.200 Biaya tenaga kerja langsung c.biaya bahan baku Rp 17.560 Setelah proses produksi selesai. Transfer produk jadi tersebut hams diikuti pencatatan pembebanan biaya atas produk yang telah diselesaikantersebut.000 5. a. Bila menggunakan metode rata-rata. Transaksiini meliputi pembebanan biay a bahan baku.biaya bahan Rp 44. dan biaya over-head pabrik. Pembebanan biaya produksi kepada produk selesai dengan jumal sebagai berikut: Persediaan produk selesai PDP .

Bagan proses pencatatan transaksi biaya dalam metode rata-rata adalah sebagai berikut: Persediaan bahan PDP .OO 3 1.000 Biaya Tenaga Kerja PDP .biaya bahan baku PDP -biaya tenaga kerja langsung PDP .000 48.rat^ 2.BB Persediaan produk selesai 48.40 Rp 38.40 23.BOP :: :I : Persediaan PDP Akhir Peraga 2.700 BOP Dibebankan PDP .biaya overhead pabrik Rp 95.BTKL Raj.4 Aliran Biaya Produksi dengan Metode Rara.974.914. 2.960. Bila menggunakan metode FIFO Pembebanan biaya produksi kepada produk selesai: Persediaan produk selesai PDP .80 (Catatan: terdapat pernbulatan angka sebesar Rp 520) .974.

34.320.BB Persediaan produk selesai 95.60 4.BOP Persediaan PDP Akhir 28.biaya bahan baku PDP .80 Peraga 2.145.00 5.BTKL BOP Dibebankan PDP .5.OO 17.Pembebanan biaya produksi kepada PDP akhir: Persediaan produk dalam proses PDP .biaya overhead pabrik Rp 17.974.80 Rp 8.20 Bagan proses pencatatan transaksi biaya dengan metode rata-rata adalah sebagai berikut: Persediaan bahan 'PDP .530.biaya tenaga kerja langsung PDP .040.40 Biaya Tenaga Kerja PDP .6 Aliran Biaya Produksi dengan Metode FIFO .530.

000 D e ~ tI1 . Hampir tidak ada proses produksi yang tidak menggunakan departemenisasi tersebut.E. BK 80%) PDP awal dept I1 (BB LOO%. biaya bahan Rp 19. diambil kasus teknik aliran produksi bertahap. biaya tenaga kerja sebesar Rp 10. berikut ini disajikan contoh kasus PT XYZ. Rp 100. Dalam bulan ini komposisi biaya adalah sebagai benkut: Jenis biaya Biaya bahan Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik D e ~ tI. I PDP akhir dept 1 (BB 100%. Komposisi produk yang dihasilkan dalam bulan Mei 1988 adalah sebagai berikut: Keterangan PDP awal dept I (BB loo%. I 200 -- Depart. Tentu saja banyaknya departemen tersebut sangat berpengaruh terhadap cara-cara penentuan kos per unit produk. Produk diolah melalui dua departemen produksi yang diolah secara bertahap. PROSES PRODUKSI MELALUI LEBIH DARI SATU DEPARTEMEN PRODUKSI Mengingat setiap proses produksi membutuhkan spesialisasipekerjaan.000 Rp 216.450 . BK 90%) PDP akhir dept I1 (BB 100%. Penghitungan kos produk menggunakan metode FIFO. Total biaya Rp 198. I1 -- 200 5 . BK 80%) Depart. Agarpembahasan lebih mudah dipahami.800 400 -- ---- 150 Biaya produksi per unit produk dalam bulan yang lalu adalah sebagai berikut: di departemen I. BK 80%) Produk masuk dalam proses dept. Di departemen I1 biaya tenaga kerja langsung Rp 25 dan biaya overhead pabrik sebesar Rp 16. Untuk menggambarkan bagaimana penentuan kos produk yang diolah melalui beberapa departemen produksi. I Produk selesai di dept. maka produk diolah melalui beberapa departemen. Industri XYZ menghasilkan satu macam produk X dengan metode proses. dan biaya overhead pabrik Rp 11.OOO 4.

OOO Catatan: I. 1 Biaya Konversi = 200 (20%) + ( 4. Biaya bahan. Dalam kasus ini besarnya kos PDP awal adalah sebagai berikut: .850 . 200 (20%) + (4.850 unit. Jumlah tersebut hams dihitung lebih dahulu dengan cara mendeteksi berapa besarnya komponen biaya yang mendukung kos tersebut.200) + 150 (80%) = 4.Dari informasi tersebut buatlah laporan kos produksi dan pembukuan transaksi tersebut dalam rekening yang terkait! Perhitungan kuantitas produksi dalam bulan ini adalah sebagai berikut: . kos persediaan produk dalam proses awal belum diketahui. 2. D e ~ tI1 . Jumlah produk yang diselesaikan di departemen I sebesar 4.800 unit.200 5. Keterangan D e ~ t1 .800 .800 5. dalam kedudukan sebagai bahan di departemen 11. PDP awal Masuk dalam proses Input ' 200 200 4.800 -200) + 400 (90%) = = 5.000 PDP akhir Produk selesai Output 5. Produk tersebut langsung masuk ke gudang.000 unit 5. Setiap produk yang telah diselesaikan tersebut langsung masuk dalam proses di departemen 11. 200 (0%) + (4.000 unit Departemen 1 . Jumlah yang diselesaikan di departemen I1 sebesar 4. Dalarn praktek ha1 tersebut dapat diketahuidengan melihat perhitungan kos dari bulan yang lalu. Perhitungan unit ekuivalen adalah sebagai berikut: Departemen I.810 unit Sering kali dalam kasus yang disajlkan.200) + 400 (100%) Biaya Konversi.

160 Setelahkos per unit produkdihitung.160 KosIUnit Rp -- -- Rp 198.000 2.560 Berdasar informasi yang telah diperoleh tersebut dapat dihitung kos per unit produk. Biaya tenaga kerja.600 1. Perhitungannya adalah sebagai berikut: .000 4.760 Rp 7. 1 Eavl. Persediaan PDP awal Biaya untuk periode ini: Biaya bahan.60 Rp 205. 1 Biaya dari dept.800 1. 200 x Rp 40 BTKL. 200 (80%) x 16 Kos PDP awal departemen I1 - Rp 8.000 Rp 39. bak untuk departemen I maupun untuk departemen 1 . 200 (80%) x 11 Kos PDP awal departemen I - Rp 3. 200 (80%) x 25 BOP. 200 (80%) x 10 BOP.160 PDP awal di departemen 1 . 200 (100%) x Rp 19 BTKL. I. Biaya overhead pabrik Total biaya bulan ini Total biaya dibebankan di departemen I Total Kos Rp 7. selanjutnyadapat dihitungpembebanan kos pada produk yang selesaikan di departemen I yang ditransfer ke departemen I1 dan kos produk dalam proses akhir di departemen I.560 Rp 14.PDP awal di departemen I: biaya bahan.

400 (90%) x 8.104 KosfUnit Rp -39.600 x Rp 39. 400 (100%) x Rp 20 BTKL.60 = I Kos produk selesai bulan ini Kos produk dalam proses akhir: Bahan baku. 400 (90%) x 10.80 BOP. Biaya produk yang diselesaikan dalam bulan ini: 4.104 :4.800 = Rp 39.80 = - Total biaya PDP awal 1 . Total Kos Rp 14.560 190.104 Perhitungan kos per unit untuk departemen I1 adalah sebagai berikut: Keterangan Eqvl. 200 (20%) x 8. 200 (20%) x Rp 10.80 BOP..60 PDP awal bulan Kos dari departemen I Biaya yang ditambahkan di departemen 1 : 1 .Kos PDP awal Biaya penyelesaian PDP awal: BTKL.80 Total kos PDP akhir Total kos dibebankan dalam bulan ini = 1 - I - 1 Berdasarkan perhitungan tersebut diketahui Kos per unit Rp 190.605 dan besarnya kos produk selesai bulan ini sebesar Rp 190.

114 30.00 Rp 45. Kos produk dalarn proses akhir: Dari dept.554 Rp 421.114.360.OO 15.773.25 BTKL. Perhitungannya adalah sebagai berikut: Kos PDP awal Biaya Penyelesaian PDP awal: BTKL. 150 (80%) x 30 BOP.49 .25 - Rp 409.25 : 4850 = Rp 84.75 3. 200 (20%) x Rp 30 = BOP.80. Jadi perhitungan kos per unit = Rp 409.60 -- Berdasarkan perhitungan tersebut dapat dihitung pembebanan kos produk yang diselesaikandi departemen I1 yang ditransfer ke gudang dan pembebanan pada persediaan produk dalam proses akhir di departemen 11.60.810 4.773.940.413.605 Kos produk selesai bulan ini.450 Rp 406. I.150 Rp 216.340. 150 (80%) x 15 Total kos PDP akhir.605 = Rp 5. 200 (20%) x Rp 15 = Total biaya PDP awal Biaya produk yang diselesaikan dalam bulan ini: 4. 150 (100%) x Rp 39.00 Rp 16.300 72.810 144.00 Total biaya yang dibebankan pada bulan ini.OO 1.75 Rp42 1.00 393. - RD 11.00 Rp 84.650 x Rp 84.Biaya tenaga kerja langsung Biaya verhead pabrik Total biaya yang ditambahkan Total biaya bulan ini Total biaya yang dibebankan 4.

MENYUSUN LAPORAN KOS PRODUKSI UNTUK TIAP DEPARTEMEN Laporan kos produksi harus disajikan untuk tiap-tiap departemen produksi yang ada. Sedangkan kos produk yang masih dalam proses mencerminkan berapa persediaan produk dalam proses yang h a s disajikan dalam neraca akhir. Dalam kedua laporan tersebut dapat digambarkan hubungan transaksi biaya yang terjadi di departemen I dan departemen 11. Sebagai kelanjutan penyajian laporan kos produksi di departemen I.Untuk selanjutnyadigabungkandengan biayabiaya yang terjadi di departemen I1 &an merupakan kos produk yang diselesaikandalam bulan tersebut.Setelah perhitungan di atas diselesaikan. Kos yang ditransfer ke departemen I1 mencerminkan berapa biaya-biaya yang terserap ke dalam produk di departemen 11. F.6 di halaman berikut ini menyajikan laporan kos produksi di departemen I. Hubungan tersebut dapat dilihat pada bagian C laporan kos produksi departemen I yang memuat berapa perhitungan kos produk yang ditransferke departemen I1 dan perhitungan kos produk yang masih dalam proses akhir. . maka dalam departemen I1 juga hams disajikan berapa biaya-biaya yang terjadi di departemen I1 tersebut. Laporan kos produksi pada departemen I1 disajikan di halaman berikut. Peraga 2. Sehingga untuk departemen I dan I1 harus dibuat laporan sendiri-sendiri. langkah berikutnya adalah menyusun Laporan Kos Produksi dan membukukantransaksi biaya padarekening-rekeningyang terkait.

160 C.80 Total biaya PDP awal Biaya produk yang diselesaikan dalam bulan ini: 4.60 Total biaya bulan ini Total biaya dibebankan di departemen I RD 198.000 Rp 205.000 5. Kos PDP awal Biaya penyelesaian PDP awal: BTKL.Q00 Kos/Unit Rp -20 10. Perhitungan kos per unit: Keterangan Persediaan PDP awal Biaya untuk periode ini: Biaya bahan.60 Kos produk selesai bulan ini Kos produk dalam proses akhir: Bahan baku. 400 (90%) x 8.944 - 182.80 BOP. 39.000 54.000 5.160 = Rp 432 - 352 784 Rp 7.80 Total kos PDP akhir Total kos dibebankan dalam bulan ini Rp 7. 400 (100%) x Rp 20 BTKL.160 100.600 x Rp 39. 200 (20%) x 9.80 Rr.7 Luporan Kos Produksi Departernen I .000 44.80 5.160 15.056 Peraga 2. Pembebanan biaya kepada produk. Biaya overhead pabrik 1 -- Total Kos Rp7. 400 (90%) x 10.000 8. Perhitungan kuantitas produksi: PDP awal Masuk dalam proses PDP akhir Produk selesai B. Biaya tenaga kerja.80 BOP.PTX LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN I A. 200 (20%) x Rp 10.

150 Rp 216. Kos produk dalam proses akhir: .8 10 4.114 KosNnit Rp -39.Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik Total biaya yang ditambahkan Total biaya bulan ini Total biaya yang dibebankan Total Kos Rp 14. 200 (20%) x Rp 30 .605 Kos produk selesai bulan ini.560 190. Perhitungan kos per unit: Eqvl. Total biaya yang dibebankan pada bulan ini. Pembebanan biaya kepada produk selesai: Kos PDP awal Biaya penyelesaian PDP awal: .OO Rp 45.594 Rp 421.Biaya yang ditarnbahkan di departemen 11: .104 44.BTKL.BOP.00 Peraga 2.LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN I1 A.Dari dept.810 C. 150 (100%) x Rp 39.OO 15.25 = R~5.773.600. Rp 409.650 x Rp 84.450 Rp 406.300 72.BTKL.00 1.800.61 4. 200 (20%) x Rp 15 - Total biaya PDP awal Biaya produk yang diselesaikan dalarn bulan ini: 4.BOP. 150 (80%) x 30 . I.8 Laporan Kos Produksi di Departemen II .605 . Perhitungan kuantitas produksi: PDP awal Masuk dalarn proses PDP akhir Produk selesai B. 150 (80%) x 15 Total kos PDP akhir.940~75 = = 3. PDP awal bulan Kos dari departemen I .00 Rp 84.61 30.

I PDP .biaya tenaga kerja langsung Biaya renaga kerja PDP .000 4 .000 Rp 100. II Persediaan PDP r dept.dept.000 Rp 100.biaya bahan .dept.104 .000 Rp 44.000 Rp 54.biaya overheadpabrik Rp 190.560 Rp 13. dept. I PDP .dept.BTKL . I1 PDP .OOO 1. I PDP .biaya bahan baku PDP .biaya tenaga kerja langsung PDP .BTKL . Mencatat transfer produk yang diselesaikan di departemen I masuk ke departemen 11: PDP .760 Rp 7.dept. I1 b.dept.11 PDP .G.dept. Jurnalnya adalah sebagai berikut: a. Mencatat jurnal penyesuaian kembali rekening produk dalam proses di awal periode: PDP .000 Rp 8.Biaya bahan.dept.000 Rp 54.biaya overhead pabrik Biaya overhead pabrik dibebankan Rp 44.BORp .biaya bahan baku Persediaan bahan baku PDP . PENCATATAN TRANSAKSI AKUNTANSI BIAYA Jurnal pencatatan transaksi biaya dalarn bulan ini dilakukan pada akhir periode baik menyangkut pengakuan biaya maupun pembebanan biaya yang terjadi di masing-masing departemen.800 1. I Persediaan PDP . Mencatat pembebanan biaya yang terjadi di departemen I: PDP .600 I .160 c.BOP .biaya bahan .560 Rp 3. 11 PDP .

25 144.biaya tenaga kerja langsung PDP .168 .760 + 8.biaya overhead pabrik Rp 409.dept.OO f.dept.300 Rp 144. I PDP biaya bahan baku PDP .biaya tenaga kerja langsung PDP .depr.OO 72.dept.BTKL .25 gudang: Rp 192.dibebankan Rp 144.800 - Rp 15. Mencatat pembebanan biaya di departemen 11: PDP . I1 Biaya tenaga kerja PDP .000 3.163.800 + 20 (4. d.Biaya overhead pabrik Rp 11. Mencatat pembebanan produk selesai yang telah ditransfer ke Persediaan Produk Selesai PDP .BTKL.600+ 10.11 BOP .biaya overhead pabrik Persediaan PDP . II PDP .340. 1.BORp .biaya bahan baku PDP .600) PDP .056 Rp 8.biaya bahan.700.712 42.GOO 1.s (4.940.300 e.600) - = Rp 95. 3.50 3 .773.biaya tenaga kerja langsung PDP . Mencatat pembebanan produk dalarn proses yang masih melekat dalam mesin-mesin di akhir periode: Persediaan PDP . 1.600) + 432 PDP .s (4.800 51.888 3.910.biaya bahan baku PDP .Rincian perhitungan: PDP .50 RIJ5.BORp.592 - + 352 Jurnlah.

disebabkan alasan alami.5 kg. Partikel yang lepas tersebut hilang menguap dan tentunya tidak dapat ditelusuri ke mana jejaknya. Carnpurkan beras dan air masing-masing dengan berat 1 liter.kalaibu-ibusedangmenanaknasi. tetapi karena secara alami reaksi kimia dalam teknik pengolahan tersebut menghendaki adanya partikel yang lepas dan hilang secara wajar. ada pula produk yang hilang karena alasan yang tidak dapat terduga (unpredicted). Hal ini disebut produk hilang dalam proses secara normal. DAN PRODUK CACAD A. Contoh yang sederhanadan seringdijumpai. PRODUK HILANG DALAM PROSES Dalam suatu proses produksi selalu ditemukan adanya partikel yang hilang. Ini berarti ada partikel yang hilang dalam proses berupa air (H20) yang menguap bersarnaan dengan 'proses produksi' tersebut seberat 0. Setelah dirnasak (dengan melalui proses pemanasan) kedua bahan tersebut bereaksi dan menghasilkan nasi dengan berat 1. dalam industri gula. mengingat komponen biaya sebagai akibat hilangnya produk tersebut bisa terpengaruh.5 kg. Di samping adanya produk yang hilang secara normal. Sehinggaterdapat produk yang hilang tidak secaranormal. Sebagai contoh. Dari contoh tersebut di atas dapat diketahui adanya input yang hilang secara wajar (normal). terdapat partikel yang lepas selama reaksi pemanasan dan pengkristalan bahan cair menjadi gula kristal.Tetapi bila . Hilang dalam proses secara normal. Partikel yang hilang tersebut hilang bukan karena faktor kesengajaan. artinya bahan-bahan yang masuk dalam proses seberat 2 kg. Dengan demikian produk yang hilang tersebut tidak dapat dihindarkan terjadinya.BAB I11 PRODUK HILANG DALAM PROSES PRODUKSI PRODUK RUSAK. bahkan munglun adanya faktor kesengajaan. Apabila nilai yang hilang tidak material mungkin dapatdiabaikan. Dalam penentuan kos produk adanya produk yang hilang dalam proses menjadi perhatian. Dengan demikian dalam suatu proses input suatu produk akan lebih besar dari outputnya. Produk yang hilang karena alasan yang tidak normal tentunya akan diperlakukan sebagai kerugian bagi perusahaan.Tentunya sesuatu yang hilang secara normal dan tidak normal tersebut akan sangat berbeda perlakuannya dalam penentuan kos produk.

tentunya ha1 tersebut tidak dapat diabaikan. Dengan kata lain kapan sesuatu produk hilang secaranormal dalam suatu proses produksi. b. Dianggap tidak ada produk dalarn proses awal. Mengingat kenyataan tersebut produk hilang dalam proses secara normal digunakan anggapan sebagai berikut: a. PT RADITYA memproduksi produk melalui 3 departemen produksi. Perusahaan ini memproduksi produk X melalui tiga departemen produksi. maka akan sulit diketahui di manakah dan kapankah sesuatu partikel lepas dalam suatu reaksi kimia. kesemuanya masuk dalarn departemen A. Apabila proses produksi diteliti/ditelusuri jejaknya satu persatu. terdapat produk yang hilang dan terjadi pada awal proses produksi di departemen tersebut. sulit dideteksi. Produk hilang dalam proses dianggap terjadi di awal proses. dengan bahan pembantu "Y pallet". Anggapan ini digunakan apabila dalam suatu departemen produksi. Anggapan ini digunakan apabila dalam suatu departemen produksi.nilai yang hilang tersebut dipandang cukup materiil. Produk X diolah dari bahan departemen "X drops". terdapat produk yang hilang dan terjadi di akhir proses produksi di departemen tersebut. maka produksi di bulan Januari tersebut adalah periode produksi pertarna kali dalarn tahun 1980. Untuk menggarnbarkan adanya produk yang hilang dalam proses berikut ini disajikan kasus PT RADITY A. Jadi berapa nilai yang hilang dalarn suaku proses harus diperhitungkan pengaruhnya terhadap penentuan kos produk. Produk hilang dalam proses dianggap terjadi di akhir proses. Anggapan ini membawa konsekuensi. Mengingat mesin-mesin baru saja direparasi besar (overhaul). bahwa semua produk yang hilang dalam proses secara normal tersebut dianggap telah ikut menyerap biaya-biaya yang terjadi dalam satu periode. Bahan baku yang dibutuhkan adalah X dan bahan pembantu Yd. Anggapan ini membawa konsekuensi bahwa semua produk yang hilang dalam proses secara normal tersebut dianggap belum ikut menyerap biaya-biaya yang terjadi dalam satu periode. Dalarn periode tersebut tidak ditemukan adanya produk dalam proses awal. Informasi biaya dan produksi pada bulan Januari 1980 disajikan pada halaman berikut: Keterangan Produk yang ditransfer ke B Produk yang ditransfer ke C Produk yang ditransfer ke gudang Produk yang masih dalam proses: .

A Masuk dalam proses Produk selesai bulan ini PDP akhir periode Hilang dalam proses Total output Deut. Perlakuan terhadap unit yang hllang dalam proses di akhir periode dalam departemen C. Perlakuan unit yang hilang dalam proses di awal periode dalam departemen B (departemen berikutnya). 3.i bahan baku & penolong biay a konversi unit hilang di awal proses unit hilang di akhir proses Komponen biaya produksi: Biaya bahan baku Biaya bahan pembantu Biaya tenaga kerja Biaya overhead pabrik Total biaya produksi Dari informasi di atas. B 550kg 400 kg 100kg 550 kg Deut. C 400 kg 300 kg 75 kg 400 kg 9 0 5 550 kg 250kg 150 kg 950 kg . Jawaban: Komposisi produk yang dihasilkan dalam ketiga departemen tersebut adalah sebagai berikut: Deut. Kasus di atas menggarnbarkan hal-ha1 sebagai berikut: 1. 2. diminta menghitung kos produksi dan menyusun laporan produksi bulan Januari 1980 untuk ketiga departemen produksi tersebut. Perlakuan unit yang hilang dalam proses di awal periode dalam departemen A (initial departement).

Perhitungan kos yang ditransfer ke Departemen B.000.OO 19.000. A hams disesualkan (adjusment) sebesar 50 kg sebagai berikut: Kos per unit dari Dept.OO 3.125. 550 + 250 Biaya Bahan Pembantu Biaya Tenaga Kerja 550 + 250 (60%). Produk yang diserahkan dari departemen B adalah 400 kg produk jadi dan 100 kg produk dalam proses (output sebesar 500 kg). Perhitungan kos produksi di departemen B hams memperhatikan adanya produk yang hilang di awal proses di departemen B.OO 4. 250 kg.50 Bahan pembantu.250.250.00 65. A - Rp 48.75 = 800 800 700 700 87.925.OO 10. Dengan demikian produk yang diserahkan dari Dept.1.41 2.OO 15.750 .00 KostUnit -L @O 2500 12. Biaya Overhead Pabrik. 250 kg x 60% x Rp 2750 BOP. 250 kg x 100% x Rp 25. A Kos per unit yang disesuaikan Rp 87.50 = - Rp 6.50 Rp. x 60% x Rp 22. 250 kg x 100% x Rp 1230 BTKL.(kg) Total Kos(Ru) 20.75 Unit yang hilang di awal proses awal dari Departemen A tidak diperhitungkan dalam unit ekuivalen.262.912.75 Kos Produk Dalam Proses Dept.ha1 ini dianggap bahwa produk yang hilang tersebut belum rkut menyerap biaya yang terjadi di departemen tersebut. 16.50 2. 550 kg + Rp 87. Total Biaya eku.125.75 Produk dalam proses di Departemen A adalah sebagai berikut: Bahan baku. Perhitungan Kos Produk per unit di Departemen A: Unit Jenis Biava Biaya bahan.50 2750 22.00 3.175.

093.775 9. 100 kg (75%) x 26.25 Total Kos Produk dalam Proses Departemen B = Rp = Rp 63.25 ekuivalen Total Biava (RD) Kos/ Unit (RD) Kos per unit produk yang ditransfer ke Departemen C adalah: Rp 61.525 Rp 8.525 Biaya Tenaga Kerja. B: Rp 48.25 3.75 29.775 Perhitungan Kos Produk dalam Proses (akhir). departemen 1 1. Dari Departemen A.OO 1. Berbeda dengan 1) perlakuan produk yang hilang di awal proses justru diperhitungkan dalam unit ekuivalennya secara penuh. 100 kg x Rp 96.625.25 + Rp 96.OO = Rp 157.h. kos produk yang ditransfer ke Departemen C: 400 kg x Rp 157.75 = Ru 14. 100 kg (75%) x 35 Biaya Overhead Pabrik.50 2.652.75 3500 26.di Dept. Produk yang hilang dalam proses dianggap telah menyerap biaya yang terjadi pada suatu periode dalam departemen tertentu (d.OO 12.468.968.246.25 61.525 Jadi.775 Perhitungan kos per unit yang ditambahkan di departemen B adalah sebagai berikut: Unit Jenis Biaya Biaya Tenaga Kerja: 400 + 100 (75%)= Biaya Overhead Pabrik: Total Biaya 475 475 16. Dengan dernikian komponen unit ekuivalen terdiri dari: - produk yang telah diselesaikan produk yang masih dalam proses produk yang hilang dalam proses (30%2) (7%) (25 kg) - .26230 : 500 kg = Jumlah Kos yang disesuaikan 96.110.625.

125 = 3.683.100 130. 300 kg x (Rp 130 + Rp 157.137.500 Rp 17.575 ekvlkg) Bia~a(Rp) Total unit@) 82. = 7.50 Total kos produk dalam proses di dept C.75625 dibulatkan ke atas = Rp 311.500 2.50 Total Biaya 48.526.OO Jadi.775) = Rp 86.50 Biaya Overhead Pabrik: 75kg (60%) x Rp 47.775) 25 kg x (Rp 130 + Rp 157.37 Rp 93.526.50 4'7.194. biaya yang dibebankan untuk produk selesai adalah sebagai berikut: Kos Produk Selesai.7 12.525 17.76 Kos Produk dalam proses di departemen C: Dari Departemen B: 75kg x Rp 157. = Rp 11. Rp 93.775 Biaya Tenaga Kerja: 75kg (60%) x Rp 82.875 : 300 kg = Rp 31 1.833.Perhitungan harga produk per unit adalah sebagai berikut: I Unit Kos Jenis B i a ~ a Biaya Tng.87 Total biaya yang dibebankan pada produk Kos per unit produk yang diselesaikan.332.50 Kos Produk yang Hilang dalam proses . Kerja 300 + 75 (60%) + 25 = Biaya Overhead Pabrik 370 370 30.125 .

75 Rp 6.000.00 4. A Unit yang masih dalam proses Unit yang hilang dalam proses (awal) B.K.75 87.LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN A A.B.00 15. 250 kg (60%) x 27.125.00 10. Perhitungan biaya di departemen A: - Total biaya Biaya/unit Rp 20.50 B.00 Total Biaya ~roduksi Departemen A di .B. Biaya produksi yang dibebankan di departemen A: Jenis Biaya Biaya Bahan Baku Biaya Bahan Pembantu Biaya Tenaga Kerja Biaya Overhead Pabrik Total Biaya C.00 Rp 65.925. 250 kg (60%) x 22.50 - Biaya produk yang masih dalam proses: B.75 Biaya produk yang ditransfer ke departemen B: 550 kg x Rp 87.T.O.50 Rp 48.175.B.75 = = Total biaya produk dalam proses: Rv 16.50 = B.00 3.OO 1230 2730 22.175.000.125.412.00 Rv Rp 25.250.B.250. 250 kg (60%) x 12.P.00 3. Unit yang diproduksi: Unit yang masuk dalam proses Unit yang diselesaikan di Dept.50 Ru 65. 250 kg (100%) x Rp 25 = B.00 19.262.912.

125 Biaya T. Dengan adanya penyempumaan ini produk yang dihasilkan mempunyai kualitas sama dengan produk yang tidak cacad. Sehingga produk tersebut hams dibuang atau dilebur kembali sebagai bahan baku. .K. secara ekonomis masih dapat dipertanggungjawabkan.L.: 75 kg (60%) x Rp 8230 = Biaya overhead: 75 kg x 60% x Rp 47. Meskipun kesemuanya itu tanpa adanya unsur kesengajaan. Dengan adanya berbagai kemungkinan tersebut mengakibatkan adanya produk yang tidak sempurna dalam proses produksinya.712.76 - Rp93.875 Biaya produk dalam proses di Departemen C: Kos dari dept. Perhitungan biaya di Departemen C: Biaya produk selesai yang ditransfer ke gudang: 300kgx Rp311.526. Hal ini disebabkan dalam setiap penyetelan (fiting) mesin-mesin belum tentu dapat menciptakan kerjasama yang sempuma. Selain unsur hardware adanya produk rusak dan cacad dapat pula disebabkan oleh faktor bahan bakunya yang di bawah standard atau dapat pula disebabkan ketelitian kerja para karyawan rendah. adanya human error tidak dapat dihindarkan. dalam bidang percetakan akan ditemukan beberapa lembat hasil cetakan yang tidak sempuma.: 75 kg x Rp 157. PRODUK RUSAK Dalam setiap proses produksi kemungkinan timbulnya produk rusak ataupun cacad produksi akan selalu ada. Pengertianprodukcacad adalah produk yang tidak sempurnadalam prosesproduksinya yang mash dapat diperbaiki dengan melalui proses penyempurnaan produk. A.50 = Total biaya produk dalarn proses.500 2. Adanya ketidaksempumaan dalam sdlah satu komponen tentunya akan mengganggu mekanisme kerja mesin lainnya.137.775 = Rp 11. 3. Di samping itu daya tahan dan unjuk kerja berbagai komponen mesin akan berbeda-beda.C.833. Jadi. dapat pula disebabkan oleh mesin-mesin yang tidak sempuma. Pengertian produk rusak adalah produk yang tidak sempurnadalam proses produksinya d m secara ekonomis tidak akan dapat diperbaikikembali. Cetakan yang rusak atau cacad tersebut bisa dipengaruhi oleh bahan kertas terlalu lembab. Sebagai contoh.500 Total Biaya Produksi di Departemen C B.

T.K.000 (0. Dalam bulan Maret 1986 mengirim ke departemen C sebesar 80. B Dept.000 (0. Produk rusak dalam proses 4.000 + 4.068. Perlakuan akuntansi terhadap produk rusak tersebut tidak ada bedanya dengan perlakuan terhadap produk yang hilang di akhir proses.000 Kos produk dalam proses awal di departemen B. 6 0 unit Rp 6.000 unit dengan tingkat penyelesaian BTKL 80% dan BOP 85%.000 unit. Produk yang masih dalam proses di awal bulan sebesar 8. 8. Departemen A bertugas mencampur adonan plastik.000+6.000 .000 x 74 = = 8 2 .977. Produk rusak tidak laku dijual 1 i I Apabila produk rusak dalam suatu industri tidak laku dijual.000 + 6.8) = 82.8.1. Informasi yang diperoleh dari departemen B adalah sebagai berikut.000 - . C -- -Rp 25 10 Rp 20 15 I Biaya overhead pabrik Komposisi biaya di departemen B dalam bulan ini adalah sebagai berikut: I Biaya yang diterima dari departemen A.000 (0. Langsung. Penyelesaiannya sebagai berikut: Unit ekuivalen dengan metode FIFO: BTKL = 8.000 (0.600 dan biaya overhead pabrik sebesar Rp 908.000 unit dengan tingkat penyelesaian untuk BTKL 80% dan untuk BOP 90%. Berdasarkan informasi tersebut buatlah laporan kos produksi menutut FIFO dan rata-rata. A Rp 25 30 20 Dept. P. 8. Biaya tenaga kerja langsung Rp 1. produk rusak tersebut hams dibuang atau dilebur kembali sebagai bahan baku. Kos di dept A.000) +4.000 x Rp 75 Biaya T. sebesar Rp 74 per unit.400 unit BOP = 8.000 unit.000 (0.000 160.2) + (80.600.80) x Rp 25 = Rp 600. Pada bulan Februari 1986 komponen biaya produksi per unit adalah sebagai benkut: Jenis biaya Biaya bahan baku Biaya tenaga kerja langsung I I I I Dept. SALINDRI memprodusir satu produk melalui tiga departemen produksi.9) Kos yang diterima dari departemen A = 82. Produk yang masih dalam proses di &ir bulan sebesar 6.15) + 72. Untuk menggambarkan kasus ini disajikan kasus berikut. Departemen B bertugas mencetak produk dan departemen C bertugas menyempurnakan produk dan melakukan pengepakannya.

000 (0.200 : 80.800 unit = 89. Berdasarkan laporan kos produksi tersebut. sebagai berikut: Rp 9.000 (0.53.85) x 10 = 68.000 + 6.O) + 4.000 Jumlah kos PDP awal Rp 828.000 + 6. 8.162.000 BOP = 82.000 unit = Rp 114. dapat diketahui kos per unit produk yang ditransfer ke departemen C. .000 = 88.8)+ 4.Biaya Overhead Pabrik.782.85)+ 4.720 : 80.000 + 600 (0.000 BBB = 80. Berdasarkan laporan kos produksi tersebut.000 unit Berdasarkan perhitungan unit ekuivalen tersebut dapat disusun laporan kos produksi yang disajikan pada halaman 60. dapat diketahui kos per unit produk yang ditransfer ke departemen C.000 (0.000 Berdasarkan perhitungan di atas dapat disusun-laporankos produksi yang disajlkan pada halaman 59.100unit = 90. sebagai berikut: Rp 9. maka unit ekuivalen produksinya adalah sebagai berikut: BTKL = 82.000 unit = Rp 114.54 Apabila perhitungan unit ekuivalen menggunakan metode rata-rata.

000 x Rp log Kos produk rusak: 4. Perhitungan kos yang dibebankan pada produk: Kos produk selesai yang ditransfer ke departemen C: Kos produk dalarn proses awal Tambahan biaya penyelesaian PDP awal: BTKL: 8.600 7. Perhitungan kos per unit produk: Jenis biaya PDP awal Kos dari departemen A: Kos yang ditambahkan di departemen B: Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik Total Kos yang ditambahkan di departemen B. Total kos bulan ini Total kos yang djbebankan pada produk Eqvl.000 unit 90.600 Rp 2. Produk rusak PDP akhir 82.PT SALINDRI LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN B A.000 unit 6. 72.000 unit 80.977.000 1. C Kos produk dalam proses akhir: Kos dari dept A 6.15) x 1 l = Kos produk dalam proses awal Kos produk yang diselesaikan bulan ini. Kuantitas yang diproduksi bulan Maret: Masuk dalam proses PDP awal Produk yang diserahkan ke dept.000 x 0.600 908.782.000 6.000 (0. C.600 Peraga 4.200 C.8 x Rp 24 = BOP: 6.000 82.000 unit 4.000 (0.000 x Rp 109 = Total Kos produk yang ditransfer ke dept.200 Rp 5 1.000 unit 90.600 879.000 436.000 x Rp 74 = BTKL: 6.20) x Rp 24 = BOP: 8.000 unit B.600 Total biaya Rp 828. -82.068.000 x 0.000 618.200 Kos/unit -& & I 24 11 Rp 35 Rp 9. .000 Rp 38.000 unit 8.848.9 x Rp 11 = Total kos PDP akhir Total kos produk yang dibebankan bulan ini Rp 828.886.400 82.400 13.

12 Kos produk rusak.100 -- 908. 6.000 68. Nilai jual produk rusak mengurangi biaya produksi Seandainya dalam kasus PT SALINDRI.600 9.000 x (O.000 unit 90. Kuantitas yang diproduksi bulan Maret: Masuk dalan~ proses PDP awal Produk yang diselesaikan Produk rusak PDP akhir 82.726.600 976.536 58.068.600 - Total kos 6.78 1. Pada umumnya .) x 24.968 Rp 619.000 unit 8.720 - Rp 444.92 Total produk dalam proses akhir Total Kos yang dibebankan - Rp 8.977.044 Rp9.000 unit 6.000 x Rp 74. -.800 .162.07 10.000 Kos bln ini 6.000 unit B. di atas produk rusak dijual dengan harga Rp 55 per unit (Rp 220.200 .000 88. C.320 9.07 BOP.000 828.9) x 10.000 x (0.000 x Rp 109.000). 6.400 36.954. Kos produk yang masih dalam proses: Dari dept A.-.764 2.200 koalunit 74. Maka nilai jual produk msak tersebut hams mengurangi komponen biaya produksi yang terjadi pada bulan Maret tersebut.000 unit 4.09 24. Perhitungan kos per unit produk: Kos produk yang ditransfer ke departemen C: 80.000 2.PT SALINDRI LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN B A. Perhitungan kos per unit produk: r I Jenis btaya B taya dari A BTKL -.92 109.000 unit x Rp 109.000 8. 90.000 1.5408 1 15.08 BOP Jumlah 89.137.09 BTKL.668.000 160. 4.000 unit 80.782.P. 6. unt ek.08 Total Kos yang ditransfer ke dept C.000 unit 90.. PDP awal 600.

Oleh karenanya hams dilakukan alokasi nilai jual produk rusak kepada masing-masing komponen biaya sebagai pengurang kos yang dibebankan bulan tersebut.penjualan produk rusak dilakukan secara borongan. Perhitungannya adalah sebagai berikut: Dari perhitungan di atas selanjutnya dapat disusun laporan kos produksi sebagai berikut: . Alokasi dilakukan dengan harga relatip komponen biaya yang dikeluarkan pada bulan Maret tersebut. sehingga tidak dapat diketahui berapa komponen masing-masing biaya.

600 1 I 22.598 22.2) x Rp 23. 8. C.002 1 1.068. 6.040 425.655.000 unit B.lS) x Rp10.080 1 12..000 unit 90. 8. Kuantitas yang diproduksi bulan Maret: Masuk dalam proses PDP awal Produk yang diselesaikan Produk rusak PDP akhir 82.094 5.942 603.928 220. Laporan Kos Produksi dengan Metode Rata-rata Rp 828. Perhitungan kos yang dibebankat~ kepada produk: Produk dalam proses awal.000 (0.- Alokasi .876 Rp 50. Riaya untuk penyelesaian PDP awal: Biaya Te~iaga Kerja Langs.002 886. total kos ditanibahkan Total Kos dibehanka~i Total 828.I 1 2.09 10. Biaya overhead p.1.954.77 139.000 (0.000 (0.9 8.200 32.15 1 I 48.32 Kos produk rusak Kos produk yang ditransfer ke dept. 6.332 878.368 57.929.280 Rp 8.73 Total kos produk dalam proses akhir Total biaya dibebankan di departemen B Peraga 3.8) x 23.41 Biaya overhead pabrik.73 I I I 2.330 70.886.41 Biaya overhead Pb.000 6.456 12.73 = Total kos PDP awal Kos produk yang diselesaikan di departctnen B: Bulan ini: 82.006 72.-Il 10.PT SALINDRI LAPORAN KOS PRODUKSI DEPA'RTEMEN B A.000 i0.9) x 10.390 - .958.000 unit 8.18 1 1 1.000 L koslunt 67.270 1 23.000 8 kos .200 8.000 unit 80.24 100.000 unit 4.000 x Rp 106.18 Biaya TK Langsung.73-4.000 unit - 90. Total kos 828.000 x 72.600 908.000 unit 6. .977.652 Rp433.178 106.000 R p 37. A Biaya Tenaga k.332 - 7.8 5 1 8. Kos produk yang masih dalam proses akhir: Kos dari dept A: 6.32 C. Perhitungan kos per unit produk: Jenis Biay a KDP awal Kos dari dept.

6.000 unit Produk yang diselesaikan Produk rusak PDP akhir 80.66 Kos produk rusak: 4.896 55.85) x 10. 6.000 x Rp 106.000 unit 4.000 unit B.42 BTKL.8) x 2332 Biaya overhead Pb.000 (0.000 unit 90.520 112. Perhitungan kos per unit produk: C.562.477 Peraga 3.000 x Rp 72.959. 6. Perhitungan kos per unit produk: Kos produk yang ditransfer ke departernen C: 8.621 Rp 603.PT SALINDRI LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN B A.000 unit x Rp 106.71 Total kos produk dalarn proses akhir Total Kos yang dibebankan - Rp 8.66 Total kos yang ditransfer ke departernen C: Kos produk yang rnasih dalam proses: Dari dept A.440 - 434.OCO (0.000 unit 90.000 unit 6. Kuantitas yang diproduksi bulan Maret: Masuk dalam proses PDP awal 82.037 Rp 9.. Laporan Kos Produksi dengan Metode Rata-rata .000 unit 8.

000 unit dengan tingkat penyelesaian BTKL 80% dan BOP 85%. disebabkan produk tersebut tidak disebabkan oleh faktor kesengajaan. Produk cacad dalam proses 4. maka semuabiaya yang dikeluarkanuntukmemperbaiki produk cacad terscbut dibebankan pul. Departernen B bertugas mencetak produk dan departemen C bertugas menyempurnakan produk clan ~nelakukan pengepakannya. produk rusak tersebut lebih baik dianggap sebagai produk rusak dan diproses ulang atau dijual langsung sebagai produk rusak. Produk yang masih dalam proses di awal bulan sebesar 8. dan untuk BOP 90%. C.T. Dalam bulan Maret 1986 mengirim ke departemen C sebesar 80. Perusahaan ini mempunyai tiga departetnen produksi. Alasan kerlapa titlak dibebankan itu kepada produk n~sak sendiri.000 unit. Produk yang masih dalam proses di awal bulan sebesar 8. Pada bulan Februari 1986 komponen biaya produksi per unit adalah sebagai berikut: Dept B Dept C -- Jenis Biaya Biaya bahan baku Biaya. Mengingat adanya tarnbahan biaya dalam memproses produk cacad tersebut.000 unit. Produk yang masih dalam proses di akhir bulan sebesar 6. Di samping itu menggunakan peralatan khusus dan tenaga kerja yang produkdianggap secara khusus bettugas untukmemperbaiki produk cacad tersebut. Suati~ cacad kalau biaya yang dikeluarkan untuk metnperbaikinya secara ekoiiornis masih dimungkinkan.000 unit. Produk tersebut cacad.000 unit dengan tingkat penyelesaian untuk BTKL 80%. XYZ. tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik Dept A Rp 25 30 20 -25 10 Rp 20 15 . maka total nilai jual produk rusak langsung dikurangkan dalarn laporan rugi-laba yang disajikan di akhir bulan Maret 1985 tersebut. Departemen A bertugas mencampur adonan plastik.l pada produk yang tidak mengalami cacad produksi. Maka dalam laporan rugi-laba nilai jual produk rusak tersebut langsung disajikan dalam laporan rugi-laba sebagai pendapatan di luar usaha. Informasi yang diperoleh dari departemen B adalah sebagai berikut.3. Nilai jual produk rusak mengurangi kos penjualan Apabila nilai jual diperlakukan sebagai pengurangan kos penjualan. karena proses yang normal. PERLAKUAN PRODUK CACAD Produk cacad diperbaiki dengan menambah sedikit bahan dalam departemen yang bersangkutan. Untuk menggambarkan perlakuan akuntansi terhadap produk cacad tersebut. berikut ini disajikan kasus P. Demikian halnya bila hasil penjualan produk rusak tersebut akan diper-lakukan sebagai pendapatan lain-lain. Apabila tidak.

038.000 Total Kos Rp 6.000 84.77 110. Total Total Total Kos Rp 6.000 unit x Rp 5 Biaya tenaga kerja langsung.954.000 40. 4.200 Tambahan Rp 20.600 --- Koslunt Rp 74.2 11.000 x Rp 10 Jumlah biaya perbaikan produk cacad = Rp 20.000 24.600 dan biaya overhead pabrik sebesar Rp 908.000.K.600 2.886.000 1.200 9.24 24. 4. Biaya tenaga kerja langsung Rp 6 per unit dan biaya overhead pabrik sebesar Rp 10 per unit.600 2.977.068.000 unit x Rp 6 Biaya overhead pabrik. 82.48 35.000 = Rp 40.000 Rincian perhitungan kos per unit adalah sebagai berikut: Jenis biaya Kos dari dept A Biaya T.600 948.Komposisi biaya dalam bulan ini adalah sebagai berikut: Biaya bahan tenaga kerja langsung Rp 1.400 82.000 2. Pemecahan masalah: Perhitungan tambahan biaya terhadap produk cacad: Biaya bahan.950.000 82.000 64.200 8.000 84.001. Eql. Berdasarkan informasi tersebut buatlah laporan kos produksi menurut metode FIFO dan rata-rata.600 908.977.000 24. 4. langsung Biaya overhead Pb. Biaya untuk memperbaiki produk cacad tersebut adalah penambahan bahan Rp 5 per unit.200 un.088.01 Dari perhitungan di atas dapat disusun laporan kos produk berdasarkan metode ratarata sebagai berikut: .

000 unit 4.400 Rp 445.000 Total 828.Ol Kos produk yang ditransfer ke gudang Kos produk yang masih dalam proses akhir: Kos dari dept A.000 82.600 Eql. 6.000 (0.000 (0.000 (0.P.592 6 1..088. 1.000 unit B.000 unit 90.P.29 C. 6.000 unit 6.640 7. Kos produk yang tliselesaikan di departemen B: Bulan ini.29 BOP.424 Catatan: kos per unit produk yang ditransfer ke departemen C: adalah.9) x 1 1. Biaya untuk per~yelesaian PDP awal: B'l-Kt. .C24 Rp 9.000 x Rp 110. tlari dept A.001. 8. Kuantitas yang diprodusir bulan Maret: Masuk dalam proses PDP awal Produlc yang diselesaikan Produk rusak PDP akhir 82.2) x Rp 24.000 unit 80. 115.52 . XYZ LAPORAN KOS PRODIJKSI DEPARTEMEN B A.24 24. Rp 9.241. 6.400 Koslunt -74.640 880.15) x Rp 1 1.440 116. -82.000 x Rp 1 10.068.000 38.060 x 74.040 Rp 9. Perhitnnqan kos per unit: Jcnis biaya Toial PI)P awal 828.865.Ol Kos produk cacad.8) x 24.24 BTKL.000 (0.600 Tambah .000 unit --8. 4.400 : 80.720 440..000 unit 90. 20.992 Rp 624.000 24.29 BOP.000 2.977.776 52.000 6. Pcrhitungan kos yang tlibebankan kepada produk: PDP awal.T.24 1.920. 8. 72.000 f-1.48 Total penyelesaian PDP awal. 6.000 .864 13.000 = Rp Apabila laporan menggunakan metode rata-rata.48 proses akhir Total kos produk dalan~ Total biaya dibebankan di departemen B Rp 828. RTK:.

000 (0.000 unit 90.31 Biaya T.8) x 24. PT XYZ LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN B A.s Kos produk rusak. Perhitungan biaya per unit: C. 6. Hal ini mengingat komponen biaya yang membentuk kos produk relatif sama antara periode yang lalu dan periode sekarang.000 unit x Rp 110. Perhitungan kos per unit produk: Kos produk yang ditransfer ke departernen C: 8. 4.000 unit 90.000 unit 6.34 Biaya overhead Pb.000 unit B. langsung.40 Total kos yang dibebankan - - .000 (0.000 unit 80. 6. C..000 x Rp 110.000 x Rp 74.tidak perlu memperhatikan berapa komponen biaya yang bzrasal dari proses produksi bulan lalu yang tercermin dalam produk dalarn proses di awal bulan. Kos produk yang rnasih dalam proses: Dari dept A.s Total kos yang ditransfer ke dept. 6.85) x 11.K.Laporankos produksiyang disusundenganmetoderata-rata. Kuantitas yang diprodusir bulan Maret: Masuk dalam proses PDP awal Produk yang diselesaikan Produk rusak PDP akhir 82.000 unit 8.000 unit 4.

BAB IV TAMBAHAN BAHAN BAKU PADA DEPARTEMEN DUA ATAU DEPARTEMEN BERIKUTNYA Tambahan bahan baku dapat dilakukan dalam departemen berikut apabila teknik proses produksi mengharuskan demikian. maka membawa akibat kos per unit produk yang diterima dari departemen sebelumnya harus disesuaikan mengingat outputnya menjadi lebih banyak. Hal ini berarti dalam departemen ke dua atau departemen berikutnya terjadi penambahan komponen biaya bahan. Apabila tambahan bahan tersebut menambahproduk yang dihasilkan.000 ton. Adanya tambahan bahan tidak menambah produk yang masuk dari departemen sebelumnya. serta bahan pembantu berupa tapioka. gondomkem dan zat pemutih bubur kertas (pulp). CONTOH KASUS. Adanya tambahan bahan menyebabkan tambahan produk yang diterima dari departemen sebelumnya (initial departement). Penambahan bahan baku ini secara teknis akan menghasilkan dua kemungkinan. Pabrik kertas PLAYEN memprodusir kertas koran melalui tiga departemen produksi. Apabila tambahan bahan tersebut tidakmenambah produk yang masukdaridepartemen sebelumnyamaka tambahan bahan tersebut hanya akan menambah komponen biaya bahan di departemen yang bersangkutan. Produk dalam proses awal sebanyak . Tugas Departemen I1 membuat kertas koran dan departemen 1 1bertugas menyelesaikan produk dan membungkusnya dalam bentuk kertas 1 rool. Bahan baku di departemen I adalah ampas tebu (bargas) dengan bahan pembantu caustic soda dan kaporit. Departemen I bertugas membuat bubur kertas (pulp) yang semua hasilnya diserahkan ke departemen 11. Proses produksi di departemen ke dua tersebut membutuhkan penarnbahan bahan yang berasal dari serat kayu (woodpulp). Kedua kemungkinan di atas juga berpengaruh dalam penentuan kos produk dalam departemen tersebut. yaitu: 1. Bahan yang diterima dari departemen I sebesar 6. Informasi yang diperoleh mengenai departemen ke dua adalah sebagai berikut. 2.

biaya tenaga kerja langsung 90%.500. dengan tingkat penyelesaian biaya bahan 100%.. dengan altematip. Tambaharl bahan tersebut menambah jumlah produk yang diterima dari departemen sebelumnya. Harga bahan baku serat kertas (diimpor dari luar negeri dengan harga franko gudang pabrik) sebesar Rp 5 10per kg.--- 30 40 ~-~ B iaya overhead pabrik ---. 75 Rp 360 Total biaya bulan Februari Rp 185 Rp 95 Berdasar informasi yang diperoleh pada bulan Maret 1986. dapat dihitung komposisi biaya per kg kertas dalam bulan Februari 1986 adalah sebagai benkut: Jenis Biaya Biaya bahan baku Bahan pembantu Biaya tenaga kerja langsung Dept I Rp 225 20 D e ~ I1 t Rp 100 5 Dept 1 1 1 Rp -- 25 40 ~ 30 S O -~ . 2. dengan metode Rata-rata. Produk yang masih dalam proses diakhir bulan Maret 1986 sebesar 400 ton. Biaya tenaga kerja langsung selama bulan Maret 1986 sebesar Rp 217. biaya bahan pembantu Rp 25. dan biaya overhead sebesar 80%. . . Komposisi campuran bahan adalah setiap 1 kg bubur serat kayu dicampur dengan 4 kg bubur serat bargas. Bila tambahan di departemen 11 menambah produk yang diterima dari departemen I. Berdasarkan kasus di atas buatlah laporan kos produksi di departemen I1 untuk periode Maret 1986 tersebut. .000.200 ton dengan tingkat penyelesaian biaya bahan loo%. dengan metode FIFO (masuk pertama keluar pertama). 1. Dalam kasus ini setiap 1 kg bahan akan menghasilkan 1 kg kertas koran. p-.600.000dan biayaoverheadpabrik sebesar Rp 357. biaya tenaga kerja langsung 80% dan biaya overhead sebesar 85%. Total biaya bahan pembantu yang terjadi di departemen ke dua sebesar Rp 37. Dengan demikian tambahan bahan di departemen I1 "dianggap" dengan komposisi tersebut. -.. biaya tenaga kerja langsung Rp 45 dan biaya overhead pabrik Rp 70. Laporan kos produksi dapat dibuat dengan kemungkinan-kemungkinan sebagai krikut : a. biaya yang diterima dari departemen I untuk setiap 1 kg produk yang diserahkan pada departemen 11 adalah: biaya bahan Rp 220.500.000. Dari informasi di atas.

dan 2.000 kg 200.000 kg 6.000 x Rp 5 Biaya Overhead Pabrik.000. Bahan pembantu. 1. I11 7.000.500.700. 200. 200. a.000.000 kg 2(j0.500.000 kg Produk dalam proses akhir - 2. dengan alternatip.000 (20%) + 7.b.000 (90%) = 7.000 kg Jumlah Perhitungan kos produk dalam proses awal: Biaya yang diterima dari departernen I.700.000 (85%) x Rp 50 Jurnlah kos PDP awal = 72.800. dengan metode FIFO.000. Bila tambahan bahan di departemen I1 tidak menambah produk yang diterima dari departemen I.000 kg Perhitungan kuantitas produksi: Produk dalam proses awal Diterima dari departemen I Tambahan bahan Jumlah Produk selesai yang ditransfer ke dept.000.000 kg 1.300.000 kg 7. 1.000 4.000 8.450.000 (80%) = 7.000 Rp106.000 kg x Rp 36 Tambahan bahan di dept.000 kg 7.000 (80%) x Rp30 = . Perhitungan unit ekuivalen dengan metode FIFO dengan anggapantambahan bahan menambah produk. 11. dengan metode Rata-rata.000 (15%) + 7.000 kg 400.000 + 400.300.500.000 = 1. 200.'100.000 + 400. 200.100.000 Biaya tenaga kerja langsung. adalah sebagai berikut: Biaya bahan = BTKL BOP = = 70.

400 x 107 Biaya tenaga kerja langsung.900 Rincian perhitungannya adalah sebagai berikut: Kos produk selesai di departemen I1 (dalam ribuan): Produk dalam proses awal Biaya penyelesaian PDP awal: Biaya Tenaga Kerja Langsung. 200 x 15% x 48 = Kos produk yang diselesaikan di departemen 11. totai kos PDP awal bulan Diterima di departemen I Tambahan bahan di departemen I1 Bahan pembantu di departemen I1 Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik Jumlah biaya ditambahkan departemen I1 Jumlah biaya di departemen I1 Total biaya yang dibebankan Rp 3.4OO x 80% x 48 Total PDP akhir bulan Total biaya yang dibebankan - . 400 x Rp 288 biaya bahan.100 x Rp 472 Total biaya produk selesai di departemen 11: Kos produk dalarn proses akhir: dari departemen I. 200 x 20% x Rp 29 Biaya Overhead Pabrik.400 x 9 0 % 29 ~ Biaya overhead pabrik. 7. Jenis Biaya unit eqvl.613.Perhitungan kos per unit produk adalah sebagai berikut.

200. b.000 kg 6.000 + 400.000 .000 (15%) + 5. Bila tambahan bahan mengakibatkantambahan produk yang ditenma dari departemen I dengan metode rata-rata. 200.000 (90%) = 6. b.200.000 + 400. Dengan menggunakan metode FIFO maka perhitungan unit ekuivalen dan adalah sebagai berikut: Biaya bahan = 6. a. . 1.000 (80%) Laporan kos produksi disajlkan pada halaman 75. Apabila kasus tarnbahan bahan tidak menambah proauk ini disusun dengan metode rata-rata.000 kg 6.000.2.2.800.160.000 kg - Lapolan kos produksi disajikan pada halaman 76.140.000 kg BTKL.Berdasarkan rincian perhitungan di atas disusun laporan kos produksi yang disajikan pada halaman 73 berikut. Periksa halaman 74.Apabila tambahan bahan di departemen I1 tidak menambah produk yang dihasilkan dari departemen I dengan metode FIFO. Perhitungan unit ekuivalen dengan metode rata-rata sebagai berikut: Biayabahan BTKL BOP = = 5.000.000 (20%) + 5.600.000 kg 6.950.000 kg BOP = 200.

I11 Produk dalam proses akhir Jumlah B.400 x 80% x 48 Total PDP akhir bulan Total biaya yang dibebankan Peraga 4.600 Rp 1.643.600 RD 3.7.1 Laporan Kos Produksi dengan Metode FIFO .600 Rp 3.900 C.100 x Rp 472 Total biaya produk selesai di dept. Perhitungan kuantitas produksi: Produk dalam proses awal Diterima dari departemen I Tambahan bahan Jumlah Produk selesai yang ditransfer ke dept. Perhitungan kos yang dibebankan kepada produk: Kos produk selesai di departemen I1 (dalam ribuan): Produk dalam proses awal Biaya penyelesaian PDP awal: Biaya Tenaga Kerja Langsung.500 7.300 2. 400 x 90% x 29 Biaya overhead pabrik.500 7.400 x 107 Biaya tenaga kerja langsung.537.160. 200 x 20% x Rp 29 Biaya Overhead Pabrik.450 total kos (000) Rp 106.500 7.500 357. I1 Kos produk dalam proses akhir: dari departemen 1. I1 Jumlah biaya di departemen I1 Total biaya yang dibebankan unit eqvl.000 37.PABRIK KERTAS PLAYEN LAPORAN KOS PRODUKSI DEPT.500 7.200 x 15% x 48 Kos produk yang diselesaikan di departemen II.400 x Rp 288 biaya bahan. 7.377.500 217. Perhitungan kos per unit produk: Biaya PDP awal Diterima dari departemen I Tambahan bahan di departemen I1 Bahan pembantu di departemen I1 Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik Jumlah biaya ditambahkan dept.000 765. I1 Bulan Maret 1986 A.

000. 400 x 5 2.BOP.88 Rp 3.700.02 10.2 Laporan Kos Produksi dengan Metode Rata-rata RD 184.447.00 40.95 .biaya bahan pembantu.000 kg 1.780.OO .20 .87 Rp 115. 400 x Up 289.459 324 Kos produk dalam proses akhir: .dari departemen I.300 kg x Rp473.BTKL.300.000 kg B. Perhitungan kos yang dibebankan kepada produk (dalam ribuan rupiah): Kos produk yang ditransfer ke dept 111.OO .04 15.000 kg 7. 400 x 90% x 29.000 kg 400- 7.000 kg 6. Perhitungan kuantitas produksi: Produk dalam proses awal Diterima dari departemen I Tambahan bahan di depzrtemen I1 Produk selesai yang ditransfer ke departemen I11 Produk dalam proses akhir 200. 7.372.500.biaya bahan.643. 400 x 80% x 48.000. Perhitungan kos per unit produk: C.700.PABRIK KERTAS PLAYEN LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN I1 Bulan Maret 1986 A. 400 x 101.872 .80 Total PDP akhir bulan: Total biaya yang dibebankan Peraga 4.948.548 Rp 3.0000 7.

Perhitungan kos per unit produk: Jenis Biaya PDP awal buian Diterima dari departemen I Tambahan bahan di departemen I1 Bahan pembantu di departemen I1 Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik Jumlah biaya ditambahkan dept I1 ~- .900 C.3. 200 x 15% x 60.10 = Total biaya produk selesai di departemen 11 Kos produk dalam proses akhir: .553.60 .395.00 3.Dari departemen I.560.643.00 Rp 21.10 = Rp 1. 200 x 20% x Rp 36. ~ -- Unit eqvl. Perhitungan kos yang dibebankan kepada produk: Kos produk selesai di departemen I1 (dalam ribuan): Produk dalam proses awal Rp 106. -~ ~ -~.. 400 x Rp 360 .IO - Rp 109.60 RD Total Produk Dalam Proses ahhir bulan: Total biaya yang dibebankan Peraga 4. 400 x 80% x 60.75 .304.00 Rp Rp 144.500 6.Biaya Tenaga kerja Langsung.Biaya bahan.25 .25 = Rp 1.300 -6.050.950 357. 400 x 90% x 36.000.000 2 17. Total biaya (000) (000) Rp 106.00 49.600 ~ Jumlah biaya di departemen I1 .300 Biaya penyelesaian produk dalam proses (PDP) awal: BTKL. - - Total biaya yang dibebankan 3.160.3 Laporan Kos Produks.~ ~ Rp Rp 3. .PABRIK KERTAS PLAYEN LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN I1 Bulan Maret 1986 A.Biaya Overhead Pabrik. 227.-~ .000 6.945.000 2.450 BOP. tambahan bahan tidak menambah produk (output). 100 x 123.642.600 .377.058. Perhitungan kuantitas produksi: Produk dalam proses awal Diterima dari departemen I Produk selesai yang ditransfer ke departemen 111 Produk dalam proses akhir B.253 Kos produk dalam proses awal Kos produk yang diselesaikan di departemen 11: 5.500 5.000 6.500.1 13.600 Rp 1..537.000 765.60 Rp 3. dengan Metode FIFO.000 37.00 3.803 -.600 x Rp590.414.00 13.

500 33.643.09 5932 228.644 .73 C.262.73 588.377.21 12.000. Jumlah Total 4.900 3.600 1.000 kg B.000 kg 1 400. Perhitungan kos yang dibebankan kepada produk (dalam ribuan rupiah): Kos produk yang ditransfer ke departemen 111.73 Kos produk dalam proses akhir: Rp 144.40 .09 19.000 kg Produk selesai yang ditransfer ke departemen 1 1 5.300 217.900 6.40 .800. Langs.200.dari departemen I:400 x Rp360 50.800 kg x Rp 588.80 .PABRIK KERTAS PLAYEN LAPORAN KOS PRODUKSI DEPT.142.500 357.biaya bahan pembantu:400 x 6. Perhitungan kos per unit produk (dalam 000): Biaya T.160 6. Biaya Overhead Pb.600 222.454 .000 kg 6.300 366.537. Perhitungan kuantitas produksi: Produk dalarn proses awal Diterima dari departemen I 200.41 1.BTKL: 400 x 90% x 36.000 kg 6.K.896.600 3. Rp 3. I1 Bulan Maret 1986 A.120 36.82 Total PDP akhir bulan: Total biaya yang dibebankan RD 29.414.800 8.100 1.000 .000 kg Produk dalam proses akhir 6.61 2.643.biaya bahan:400 x 126.634 5.80 b3.BOP: 400 x 80% x 59.000 106.992.200.

Tentunya ketiga produk tersebut akan dianggap sebagai produk bersama.BAB V PENENTUAN KOS PRODUK BERSAMA DAN PRODUK SAMPINGAN Perusahaan yang mengolah produk dengan proses kimia selalu menghasilkan lebih dari satu produk. Produk sampingan sebetulnya tidak dikehendalu tetapi temyatamasih mempunyai nilai ekonomis bagi pihak lain. Jadi dapat disimpulkan. produk sampingan adalah suatu proses yang nilai total produk atau produk-produk tersebut relatip kecil dibanding dengan produk utama. Meskipun sebenarnya berapa biaya yang diserap akan berbeda-beda tetapi produk yang dihasilkan akan menunjukkan kuantitas yang tidak akan jauh berbeda. Ketiga macam produk tersebut dihasilkan secara simultan dalam suatu proses di departemen 111. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa produk bersama adalah beberapa macam produk yang dihasilkan secara simultan dalam suatu proses yang nilai total masing-masing produk tersebut relatip sama. telah disajikan bagan proses produksi pabrik gula. maka akan timbul masalah dalam penentuan berapa kos untukmasing-masing produk yang dihasilkanoleh departemen tersebut. Secara kebetulan komposisi tonase ketiga macam produk yang dikeluarkan dari departemen 111tersebut hampir sama. Bahkan untuk blotong sama sekali tidak mempunyai nilai guna apapun sehingga dikategorikan sebagai limbah industri. . Proses tersebut menghasilkan beberapa macam produk yang perlakuannya terhadap masing-masing produk tersebut berbeda-beda. Persoalannya akan menjadi lain apabila ketiga produk yang dihasilkan dalam proses ketiga tersebut mempunyai nilai ekonomis yang relative sama. Dalam bab dua. sedangkan terhadap tetes yang nilai ekonomisnya jauh lebih rendah daripada gula diperlakukan sebagai produk sampingan.Sehingga produk yang tidak mempunyai nilai ekonomis dianggap sebagai limbah industri. Hanya saja tujuan dan nilai produk yang dihasilkan tersebut mungkin secaraekonornis tidak bermanfaat bagi perusahaaqlmasyarakat. Namun bila ditinjau dari nilai ekonomisnya (nilai jual) maka kristal gula mempunyai peran yang sangat dominan. Hal ini disebabkan input produksi akan menghasilkan secara langsung dan simultan dalam suatu reaksi kimia. Sehingga krislal gula menjadi produk utama. Apabila suatu proses produksi menghasilkan bekferapamacam produk.

Oleh karena komponen biayanya sama maka kos untuk kasus semacam ini disebut sebagai biaya bersama (join cost). Dalarn kasus lain dapat pula terjadi biaya bersama. Biaya bersama semacam ini terjadi dalam industri yang menggunakan proses produksi dengan metode pesanan (job order) atau proses asembling. kiranya perlu dipecahkan dengan rasional. PENENTUAN KOS PRODUK SAMPINGAN Penentuan kos produk sampingan sebetulnya sangat sulit. Menggunakan metode kos pengganti (replacement cost). Biaya bersama timbul sejak dimulainya proses produksi sampai saat terjadinya pemisahan produk (split ofl menjadi beberapa produk. Metode 2: Metode 3: . namun kornponen biaya overheadtip sama. A. Metode alokasi yang dapat diterima dalam akuntansi produk sarnpingan dapat dibagi dalam dua kategori. karena biaya bersarna yang terjadi sebetulnya sangat sulit dipecah untuk dialokasikan kepada beberapa produk yang dihasilkannya. Biaya bersama semacam ini mempunyai komponen biaya bahan dan biaya lcnaga kerja yang berbeda untuk masing-masing produk. hanya saja bentuk output yang dihasilkan tidak berupa produk sampingan ataupun produk bersama. tetapi kebersamaan biaya dapat pula timbul karena penggunaan fasilitas produksi yang sarna. Biaya bersama tidak dialokasikan kepada produk sa~npingan Metode X 1: hasil penjualan produk sampingan langsung n~asuk laporan rugike laba sebagai: pendapatan lain-lain. Namun mengingat manajemen memerlukan inforniasi yang dapat menggambarkan berapa komposisi biaya produk sampingan dalatn seluruh kornpoilen kos produk. yaitu: 1. Biaya bersama tidak selalu terjadi dalam industri yang menggunakan metode proses saja.Baik produk sampingan maupun produk bersarna diolah dalam satu proses produksi yang sama pula. Hasil penjualan produk sampingan setelah dikurangi dengan biaya penjualan produk sampingandan tambahan biayadalampenyempurnaan produk sampingan langsung masuk ke laporan rugi-laba dengan cara i yang sama dengan metode 1. Dengan demikian komponen biaya untuk ketiga macam produk tersebut terdiri dari komponen biaya yang s m a pula. Apabila dernikian halnya maka disebut biaya overhead bersama (joint ovei. sebagaipengurangan kos penjualan. tambahan terhadap pendapatan penjualan.&an sebagaipengurangan kos produksi. Kebersamaan biaya dapat terbentuk bukan karena kesamaan proses sejak awal proses sampai saat split off.head cost).

BZ tidak laku dijual dan diperlakukan sebagai limbah industri.000. produk yang masih dalan proses awal 150ton (Biaya bahan 100%.00 Hargajual produk utama AZ adalah = Rp 1.00 24. 2.biaya konversi 80%). BZ.500 ton.OO 202. Selanjutnya apabila telah diketahui berapa biaya bersama yang timbul dalarn produksi tersebut baru dapat ditentukan berapa pembebanan kos produksi pada produk utama.200.OO Kos bulan ini Rp 2.690. Laporan kos produksi di departemen 111 disajikan dalam halaman berikut.000. I1 Biaya tenaga kerja Biaya overhead Total biaya PDP Awal Rp 225.500per ton.00 Rp 3. Produk sampingan CZ laku dijual dengah harga Rp 400.180 ton. dan CZ. BX 50 ton dan CX 220 ton.000. Produk yang dihasilkanAX.2. Metode 4: Metode nilai pasar (reversal cost) CO'NTOH KASUS PT XYZ memprodusir produk melalui tiga departemen produksi. Pada departemen 111dihasilkanbeberapaproduk AZ.000.OO per ton. Komposisi biaya dalam bulan ini adalah: Jenis Biaya Biaya dari dept. . JAWABAN KASUS Pembebanan kos produk terlebih dahulu harus memperhatikan laporan kos produksi pada periode yang bersangkutan. Produk yang masih dalam proses akhir sebanyak 200 ton (biaya konversi 100%.00 Rp 275. Dalam kategori ini dikenal metode yang keempat . biaya konversi 85%). Sebagian biaya bersama dialokasikan kepada produk sampingan dengan memberhatikan berapa biaya yang dialokasikan dan tambahan biaya untuk penyempurnaan produk sampingan tersebut.190.000.00 26.000. Laporan kuantitas produk yang disajikan dalarn bulan Juni 1980 adalah sebagai berikut: Diterima dari departemen I1 sebanyak 2.000.OO 238. Berdasarkan data di atas tentukan berapa kos produk utama.

Hal ini mengingat tujuan utama produksidalarnproses tersebutuntukmenghasilkan produkutamasaja.700.OO Metode pertama Berapa besarnya kos produk sampingan yang terjadi selama satu periode tidak perlu dihitung. 11.OO Total H.00 17.00 Biaya tenaga kerja.450 ton x Rp 1.OO Rp 3.00 = Kos produk dalam proses akhir: Biaya dari dept.000.000.00 18. Produk BZ.200 ton x Rp1. 200 x 85% x Rp100. Rp 3. Kuantitas produk yang dihasilkan: Produk rnasuk dalam proses Produk dalam proses (awal) Produk selesai bulan ini: Produk AZ.LAPORAN KOS PRODUKSI DEPT.00 Biaya overhead.100.465.00 Total Kos PDP akhir 255. Perhitungan kos yang dibebankan kepada produk: Kos produk bersarna. Perhitungan kos per unit produk (dalam ribuan rupiah): Biaya overhead Pb.500.2.650 ton 2.3 10. 200 x 85% x Rpl10. Pencatatan hasil penjualan produk sarnpingan dalam jurnal penjualan adalah sebagai berikut: . Produk CZ.1 80 ton 50 ton 220 ton 700 ton 2.209. I11 Bulan Maret 1980 A.500 ton 1 SO ton 2. Produk dalam proses (akhir) 2.700.200.Nilai penjualan produksampingantersebutdianggap sebagaipenghasilan tambahan yang secara langsung dapat dilaporkan dalarn laporan rugi-laba.650 ton B. yang dibebankan bulan ini.P.00 Rp 220. C.

apabila biaya-biaya yang timbul dari penjualan produk sampingan diketahui sebagai berikut: Biaya pembungkusan Biaya pengiriman produk sampingan Biaya administrasilpemasaran Rp 4. c.00 Rp 8. . Dalam metode kedua ini berapa besarnya kos produk sampingan tidak perlu dihitung.KaslPiutang Dagang Penjualan produk sampingan Rekening penjualan produk sampingan tersebut di atas pada akhir periode dapat disajikan dengan salah satu cara berikut: a. Sebagai unsur pengurang kos produksi periode tersebut. Sebagaisalah satuunsurpendapatandan langsung disajikansebagaielemenpendapatan.00 3. Selanjutnyadalampenyajian laporanrugflabaakan diperlakukan sebagai pengurang kos produk utarna.OO Biaya-biaya yang timbul dalam penjualanproduk sampingan tersebut akan ditampung dalarnrekeningtersendiri. Sebagai contoh kasus di atas. Sebagai pengurangan kos penjualan. b. Hal ini mengingatbiaya-biaya yang timbul karenapenjualan produk sampingan tersebut dapat ditelusuri jejaknya.200.penyimpanan produk sampingan dan pengiriman barang. dalam metode kedua dihadapkan masalah bahwa penjualan produk sampingantersebut membutuhkansejurnlahbiayauntukmemasarkannya. d.800. namun biaya-biaya yang timbul dalam rangka menjual produk sampingan tersebut tidak boleh ikut dibebankan sebagai pengurangan terhadap hasil penjualan produk utama.400. Sebagai salah satu unsur pendapatan lain-lain. Metode kedua Berbeda dengan metode pertama. Misalnyauntuk pembungkusan.

Dengan demikian diperlukan nilai pengganti untuk jenis bahan yang sama dengan mernperbandingkannyadengan nilai jual yang berlaku di pasaran terhadap bahan yang sama.Metode ketiga Metode ketiga terjadi untuk perusahaan yang memproduksi produk.000.00 Rp 22.600.00 8.209. Biaya pembungkusan Biaya tenaga kerja Biaya pengiriman produk sampingan Biaya administrasilpemasaran Jumlah biaya 3. Dalam kasus di atas diperoleh informasi tambahan sebagai berikut: Perusahaan mengambil profit margin sebesar 20% dari harga jual masing-masing produk sampingan. Informasi tersebut dibutuhkan untuk menghitung berapa besarnya kos produk sampingan dan sampai sejauh mana keuntungan yang diperoleh dengan penjualan produk sarnpingan tersebut. Metode keempat Metocle keempat ditemukan dalam suatu perusahaan yang menghasilkan produk sampingan yang masih memerlukan proses lanjutan agar produk sampingan tersebut dapat dijual kepada konsumen.000.00 Produk sampingan .00 Rp 88.00 Berdasarkan kasus tersebut di atas maka biaya bersarna yang terjadi dapat dihitung dengan cara sebagai kxikut: Jenis biaya Kos produk bersama Nilai jual produk sampingan Taksiran laba kotor produk sampingan: Produk utama Rp 3.800.500. Untuk selanjutnya kos produk sampingan ditentukan dengan nilai jual (market value) produk sejenis yang berlaku saat itu. Bahan-bahan tersebut telah tersedia dari dalam perusahaan sendiri sebagai sisa proses produk lainnya atau sebagai produk sampingan dari sesuatu proses prduksi. namun bahan baku yang dibutuhkan dalam proses tersebut tidak memerlukan dari luar perusahaan.

88 Rp Rp 53.600 + Rp3.800) Total taksiran laba kotor Taksiran biaya setelah pemisahan produk: Biaya pembungkusan Biaya tenaga kerja Total taksiran biaya setelah pemisahan Jumlah penilaian produk utarna Kos produk utama (taksiran) Ditambah: Biaya sesungguhnya setelah pemisahan produk Total biaya dibebankan pada produk sampingan Tokl kuantitas produksi Kos per unit produk Rp 2.00 200 ton 278.I Laba 25% dari nilai jual Biaya pemasaran(Rp8. Alokasi biaya bersama kepada masing-masing produk bersama dapal dilakukan ~nelalui salah satu dari keernpat metode berikut: .00 B. inaka dalam produk bersamapun ditemukan kesulitan dalam menentukan cara yang tepat untuk menentukan alokasi hiaya bersama tersebut.180 ton 1. Disadari tidak ada cara yang tepat untuk melakukan alokasi biaya bersama kepada produk bersama.451.600. Namun demikian gambaran komposisi biaya produk sampingan yang disajikan dengan rasional kiranya akan membantu manajemen dalam mengendalikan operasi perusahaan. PENENTUAN KOS UNTUK PRODUK BERSAMA Seperti halnya dalam akuntansi produk sampingan.

00 3. BX 700 ton dan CX 750 ton. Produk yang dihasilkan AX.000. metode rata-rata biaya per satuan.00 per ton. .200.000. 2.OO 238.500 ton. Kos biaya bersama dalarn perhitungan berikut ini berdasarkan metode metode rata-rata.190. terlebih dahulu harus ditentukan berapa besarnya biaya bersama selama satu periode. Jawaban kasus Sebelum alokasi biaya bersama dilakukan. biaya konversi 85%). Pada departemen I11 dihasilkan beberapa produk AX. Laporan kuantitas produk yang disajikan dalam bulan Juni 1980 adalah sebagai berikut: Diterima dari departemen I1 sebanyak 2.OO 24. Produk yang masih dalarn proses akhir sebanyak 200 ton (biaya konversi loo%.1. BX = Rp 1.OO 262.000.300. Berdasarkan data di atas tentukan berapa kos untuk masing-masing produk. 1.00 26.000. metode nilai jual relatif. Komposisi biaia dalam bulan ini adalah: Jenis biaya Biaya dari departemen I1 Biaya tenaga kerja Biaya overhead Total biaya PDP awal 225. 3. CONTOH KASUS PT XYZ memproduksi produk melalui tiga departemen produksi. metode satuan phisik.000.000.000 ton.00 per ton dan CX = Rp 1. biaya konversi 80%).400.OO Harga jual masing-masing produk di pasar adalah AX = Rp 1. BX. metode rata-rata tertimbang. 4.500 per ton.000.00 275.00 Kos bulan ini 2. dan CX. produk yang masih dalam proses awal150 ton (biaya bahan loo%.690.

465.500 ton 150 ton 2.450 ton x Rp1.190.00 1.000 ton 700 ton 750 ton 200 ton 2.620 Kos/ unit 1.00 - 18. sebelumnya 225.00 .650 ton B.000 262.310. 11: Biaya tenaga kerja 1s. I11 Bulan Maret 1980 A.700.000 24. Biaya overhead pabrik Jurnlah 50.200 238.915. Perhitungan kos per unit produk (rata-rata): Jenis biaya PDP awal Kos bln ini Total 2.3 10.500.000 250.00 = Kos produk dalam proses akhir: Biaya dari dept II.200 2.000 262. Kuantitas produk yang dihasilkan: Produk masuk dalam proses Produk dalam proses (awal) 2.00 Biaya tenaga kerja.000 500. 2.200 ton x Rp1.650 ton Produk selesai bulan ini: Produk AX Produk BX Produk CX Produk dalam proses (akhir) 1. Perhitungan kos yang dibebankan kepada produk: Kos produk bersama.690.000 C.620 2.LAPORAN KOS PRODUKSI DEPT.000 Biaya di dept.00 Kos dept.00 210.000.2.000 288.200 Total biaya dibebankan 275.00 Rp 3.100.00 110.100.209.650 2.000 3.00 100. = Rp 220.200 3.000 26.200 Ekvl.00 200 ton x 85% x Rp110.

25 Rp1.000.083.000. 700 x 1.OO D.OO Apabila alokasi biaya bersama dihitung berdasarkan kos per unit produk yang dihasilkan maka alokasi biaya bersama untuk masing-masing produk adalah: Produk AX.050.000 1.00 9 17. Bobot tessebut ditentukan manajemen secara relative dengan memperhatikan nilai bakan yang .400.OO 9 17.00 26.Biaya overhead 200 x 85% x Rpl.OO 43.00 Apabila alokasi biaya bersama disajikan berdasarkan kuantitas produk yans dihasilkan maka dalarn Laporan Kos Produksi disajikan ctengan rincian sebag~i berikut: Jenis produk Kuanl~tas Produk Alokasi R m Produk AX Produk BX Produk CX Total 1.310.465.500. 1.000.318.OO Produk BX.OO Produk CX.3597 3.OO Total - Rp 1.500.000.460.351.500.700.P.098.?09.500.450 ton Kp 1.86 1.000. Alokasi biaya bersama (metode relative): Jenis produk kuantitas Hg.OO Rp 255.205.000 ton 700 ton 750 ton 2.310.3084 4.OO Up 982.200.310.209.500.300.OO Apabila alokasi menggunakan metode rata-rata tertimbang.391.00 Rp 3.000.OO Rp Rp 982. 750 x 1.OO 100.000.i)O Rp 3.00 30.OO 3.000 x Rp 1.209.500.00 910.39 1.32 Produk BX Produk CX total 700 1.00 1.00 1.310.25 1.000. maka untuk masingmasing produk diberikan suatu bobot sebagai angka pengimbang. 100. jual alokasi H.298.78 750 1. yang dibebankan bulan ini = Rp 17.OO 3.P per ton ProdukAX 1.000.310.00 total Kos PDP akhir total H.500. jual Nilai jual% n.50 4.

Nilai jual per unit produk setelah melalui proses lanjutan adalah.000 unit. produk B Rp $00 produk C Rp 4. Laba kotor diketahui rata-rata sebesar 60 %. Keempat produk tersebut dihasilkan secara simultan di departemen I1 dengan menyerap biaya sebesar Rp 40.500. Seandainya produk AX mempunyai total bobot 5.50 dan produk D Rp 8. produk A Rp 2.500 Rp 1.100 1. Pernilihan metode tersebut harus memperhatikan kondisi yang ada dalam proses produksi dan penjualan produk bersama.865.715.000.00. jumlah tenaga kerja yang digunakan dan lain-lain. C sebesar 10.000 2. Produk yang dihasilkan dari departemen I1 untuk keempat produk masing-masing A sebesar 20. Proses lanjutan ini ditnaksudkan untuk tnenyempurnakan produk agar dapat menarik para konsumen. PT XYZ menghasilkan produk bersama A.00 Dari keempat altematipmetodetersebut di atas dapat dipilihsalah satudiantaranya. Perusahaan mengeluarkan biaya produksi setelah departemen pemisahan (after separable cost) untuk masing-masing produk adalah.000 unit. BX 3 dan CX 2 maka alokasi biaya adalah sebagai berikut: Jenis produk jumlah produk bobot bobot x alokasi biaya jumlah produk bersama Produk AX Produk BX Produk CX Jumlah 1. Adanya proses lanjutan tersebut menyebabkan tarnbahan biaya yang harus dibebankan pada produk tersebut.00. produk A Rp 0. Berdasarkaninformasitersebut hams dilakukanalokasibiayaapabilaalokasididasarkan pada nilai jual relatip perhitungannya adalah sebagai berikut: . B. tingkat kesulitan proses produksi.00.000 unit dan produk D sebesar 15. C. Sebagai contoh.00.00. produk C Rp 10. Biaya yang terjadi di departemen I sebesar Rp 80.000. PEMBEBANAN BIAYA PROIIUKSI BERSAMA SETELAH DEPARTEMEN PEMISAH PRODUK Baik terhadap produk sampingan maupun produk bersama dapat diproses lebih lanjut sebelum produk tersebut dijual pada konsumen.000. C.000. produk B 15. waktu yang digunakan.00.50.00 dan produk D sebesar Rp 28.12 J R 559.000. D.digunakan.600 Rp 3.000 ton 700 ton 750 ton 5 3 2 5.209.000. produk B Rp 10.37 783.000unit.796.51 8.988.

000.000.000.00 68.00 10.800.000.000.OO 21.OO 68.00 4.1 ProdukA ProdukB Produk C Produk D 0.000.000.800.00 10.000.00 15.000.P 60% Total nilai jual % biaya - (Rp) .000.OO 35.000.00 52.00 92.000.00 39.3 683 69.Jenis hrg jual kuantitas produk per unit produksi .00 Total 250.00 49.00 6.OO 200.000.000 15.00 50.-- - (unit) 20.000.000.000.00 10.000 120.00 83.00 31.- total harga biaya setelah nilai jual jual pernisahan H..00 8.000.000.O 65.P.200.OO 120.000 (Re) 10.00 4.00 28.50 5.00 70.000.OO 170.50 8.00 65.000 45.000.00 2.200.000.O .

tanpa menunggu berakhirnya satu periode proses produksi untuk metode Proses Costing atau untuk satu job (batch production)untuk metode Job Order Costing. . antara lain: 1. Anggaran adalah perencanaan operasi perusahaan di masa yang akan datang dan diwujudkan dalam satuan mata uang. Standard kos ditetapkan dengan berbagai tujuan. untuk memudahkan pencatatan kos produksi dan lain-lain. manajemen dihadapkan pada persoalan estimasi terhadap kejadian-kejadian yang belum pasti. Dengan demikianinformasikos produksi dapat disajikan dengan lebih cepat. Dalarn upaya menyusun anggaran. Perencanaan kegiatan tersebut akan mudah ditetapkan bila menggunakan norma atau ukuran yang lebih tepat. Dengan demikian manager produksi terbantu dalam upaya menekan kos produksi serendah mungkin. artinya suatu standard yang dibentuk sebagai norma pengukuran kos produksi. Sebagai dasar penentuan kos produksi.BAB VI PENENTUAN KOS STANDAR Kata standard memberikan suatu pengertian norma yang digunakanuntuk melakukan pengukuran. Informasi berapa besarnya penyimpangan (variance) tersebut sangat membantu bagian produksi untuk memperbaikinya. Membantu dalam pengendalian biaya. Ini berarti mengupayakan efisiensi proses produksi dan meningkatkankeuntungan perusahaan. 4. sehingga sangat membantu manajemen dalam proses pengambilan keputusan. Dalarn hubungannya dengan akuntansi biaya dikenal pengertian standard cost. Dalam ha1 ini kos produksi dapat ditentukan dimuka (terlebih dahulu). Manfaat lainnya antara lain untuk Inventory pricing. 3. 2. Membantu dalam perumusan anggaran perusahaan. Adanya kos standard dapat memberikan garnbaran mengenai penyimpangan produksi dibandingkan dengan norma yang ditetapkan.

Yaitu standard yang ditetapkan sebagai basic tidak akan dirubah. Standar untuk bahan baku 1. Standard ideal (standard teoritis). Standard ini ditetapkan karena manajemen menghendaki pemanfaatan secara optimal terhadap suatu proses produksi dalam kumn waktu tertentu. Berdasarkan penelitian di bagian produksi mengenai hasil produksi dimasa yang lalu. Yaitu. c. Dapat pula berdasarkan rumus kimia dalam proses produksi suatu barang. kebutuhan bahan dan lain-lain). b. Yaitu. B. Komponen biaya yang ditetapkan sebagai standard menggunakankapasitasoptimal (kapasitas 100%). Yaitu. 2. Berdasarkan rumusan kimia dengan memperhatikan kemampuan teknis produksi mesin yang terpasang. JENIS-JENIS STANDAR 1. jam produksi.A. standard yang digunskan d m berlaku pada pcriode produksi tertentu. Basic standard. PENENTUAN STANDARD Kos standard terdiri dari dua kategori yaitu kuantitas standar dan t~arga standard (tarip standar). . Standard tersebut digunakan sesuai dengan rcncarla produksi dalam kunin waktu tertentu saja. Kuantitas standar ditetapkan berdasarkan penelitian di rnasa yang lalu mengenai kuantitas hasil produksi (unit produksi. Standard kuantitas penggunaan bahan (material usage standard) ditetapkan berdasarkan hal-ha1 sebagai berikut: a. Melakukan test dengan kondisi tertentu. Kos standard ditetapkan berdasarkan harga (normal) yang terjadi di masa yang lalu 1. 3. standard yang didasarkan pada tingkat efisiensi tertinggi sesuai dengan kemampuan operasional peralatan dan aparat personel yang mendukungnya. Actual standard. 4. Attainable standard.Meskipun dalam kenyataannya ideal standard tidak bisa pemah dicapai. standardyang dihitung atas dasarkondisi yang diharzpkanyang diharapkan dalarn suatu proses produksi. Basic standard disebut pula sebagai Fixed standard. jam mesin.

2.600 . Kuantitas sesungguhnya x (tarip sesungguhnya . Jam standar.2. Harga (tarip) standard. Standard kuantitas pemakaian bahan baku untuk produksi bulan ini 3. Standard untuk biaya overhead pabrik menggunakan flexible budget. ditetapkan berdasarkan pengalaman di masa yang lalu dan memperhatikan perubahan-perubahan yang akan terjadi di masa yang akan datang. Standar untuk biaya overhead pabrik 1.1) 2. Jam (kuantitas) standar. Hal ii untuk mempermudah proses analisis terjadinya variasi biaya overhead pabrik dalam proses produksi. Harga standar. C. 2. Analisis Selisih kos bahan baku Inforrnasiyang diperolehdari bagian akuntansibiaya adalah sebagaiberikut. Perhitungan selisih.tarip standard) = Rp 12. 3.750 Rp 3. Standar untuk biaya tenaga kerja langsung (BTKL) 1. ditetapkan berdasarkan kesepakatan dengan buruh (labor bargaining) atau peraturan perburuhan yang berlaku). terlebih dahulu harus ditetapkan berapa besarnya biaya tetap dan biaya variabel sebagai standar. standard n kos bahan baku per kg Rp 2. (perhatikan 2. Tarip upah standar. Bahan baku yang dibelidalambulan ii5.47.ditetapkanberdasarkanpenelitianmengenai gerakdanwaktu dengan memperhatikan ratio industri.50. Dalam rangka penentuan tarip biaya overheadpabrik harus diperhatikanadanya biaya semi variabel.350 Rp 8. Bahan yang digunakan 3. Meskipun biaya semi variabel padadasarnyasulit dipisahkanmenjadi biaya n tetap dan biaya variabel. tetapi pernisahan biaya tersebut tetap harus diakukan.550 kg selama satu bulan.000 kg a Rp 2. Biaya bahan sesungguhnya Biaya bahan menurut standard Selisih biaya bahan Selisih harga pembelian bahan. ILUSTRASI TERHADAP PENENTUAN 1.500 kg.

Terdapat efisiensilinefisiensidalam penggunaan bahan. Terdapat kesalahan di dalam perencanaan produksi. Selisih kuantitas (pemakaian) bahan. Bagian pembelian.550 kg . Bagian production control 2. bila bagian ini tidak mampu memperoleh bahan baku dengan kualitas yang ditetapkan. Pihak yang bertanggungjawab atas terjadinya penyimpangan: 1. 2. Kepala bagian produksi 3. (kuantitas sesungguhnya .50 = Rp 125 (selisih rugi) Kemungkinan penyebab terjadinya selisih kuantitas bahan: 1.47 . Pelaksana (mandor) yang menyimpang dari rencana produksi yang telah ditetapkan.Rp 2. Pihak yang bertanggungjawab atas terjadinya penyimpangan harga adalah bagian pembelian.000 kg x (Rp 2. terutama bila harga bahan baku sangat dipengaruhi oleh keadaan pasar.50) = Rp 150 (selisih laba) Kemungkinan penyebab terjadinya selisih harga pembelian bahan: 1. 2. Pencatatan dengan metode single plan PDP biaya bahan Material quantity variance Persediaan bahan baku Persediaan bahan baku Utang dagang.kuantitas standard) x tarip standard = (3. Terjadi kesalahan dalam kebijaksanaan pembelian bahan. 4. Ada tendensi harga-hargaumum yang memang mengalamikenaikan atau penurunan. Seringkali ditemukan faktor-faktor di luar kekuasaan perusahaan (bagian pembelian). 3. Ditemukan bahan-bahan subtitusi yang memungkinkan proses produksi menjadi lebih efisien.550 kg) x Rp 2.5. Material purchase price variance .3.

tarip sesungguhnya) = 3.47 .50 (selisih laba).Selisih hargl pmbelian - .550 unit x (Rp 2. .Rp 2.350 Persediaan Bahan Baku Pencatatan dengan metode partial plan Persediaan bahan baku Utang dagang PDP Persediaan bahan baku Material quantity variance Material price variance Persediaan bahan baku Selisih kuantitas Selisih harga pmbelian Rp 150 -T-PDP biaya bahan Utang dagang l Persediaan Bahan Baku Perhitungan material usage variance Bahan yang dipakai x (tarip standard .50) = Rp 106. Rp 150 Utang dagang Rp 12.

jam sesungguhnya x (tarip sesungguhnya .00 = Rp 1.880jam x (Rp 6. (jam sesungguhnya -jam standard) x tarip standard = (1.500jam) x Rp 6.740.00 (selisih rugi).880 jam .OO) = Rp 940. I Tarip sesungguhnya (actual paid) Rp 6.biaya tenaga kerja langsung Selisih tarip upah Selisih efisiensi waktu Biaya upah .880jam. Analisis selisih biaya tenaga kerja langsung.tarip standard) = 1.2.Jam kerja sesungguhnya 1. sebagai berikut: Biaya gaji dan upah Hutang gaji PDP .1.50 . Perhitungan total selisih: Biaya tenaga kerja langsung (actual) Biaya tenaga kerja yang dibebankan Total selisih Perhitungan selisih upah.OO (selisih rugi).50 per jam. Jumal yang hams dibuat. Selisih efisiensi.00 per jam. Informasimengenaikos BTKL adalahsebagaiberikut.500 jam dengan tarip standard sebesar Rp 6. Standard waktu untuk produksi pada bulan ini 1.Rp 6.

Di dalam anggaran fleksibel tersebut disusun rancangan produksi untuk berbagai kapasitas. Sehingga apabila perusahaan dalam suatu periode merencanakan untuk memproduksi dengan kapasitas tertentu. produksi dengan kapasitas 80%.tarip standard pada kapasitas yang dianggarkan. Di dalarn analisis selisih untuk biaya overhead pabrik terdiri dari tiga macam tarip.maka standard yang digunakan adalah segala tarip yang berlaku dalam kapasitas tersebut. yaitu tarip standardpada kapasitasnormal. yaitu: . . Selisih biaya overhead pabrik.tenaga kerja Biaya gaji dan upah Pencatatan dengan metode partial plan Selisih tarip upah Selisih efisiensi waktu R T PDP b i a r tenaga kerja Rp 9. dan tarip yang sesungguhnya.540 Biaya gaji dan upah 3.Pencatatan dengan metode single plan Selisih tarip upah Selisih efisiensi waktu Rp 1. terdapat tiga macam metode analisis selisih. Untuk mengetahui selisih yang terjadi dalam kos standard. Analisa selisih untuk biaya overhead pabrik menggunakan anggaran fleksibel.740 I PDP biaya. maka standard yang digunakan sesuai dengan anggaran untuk kapasitas yang direncanakan dalam anggaran fleksibel tersebut. Misalnya.

. Biaya overhead pabrik variabel Rp 1. Biaya overhead pabrik sesungguhnya sebesar Rp 7. Metode analisis empat selisih merupakan pengembangan dari analisis tiga selisih dengan mempertajam terhadap analisis kapasitas yang menganggur.00. 1. BOP sesungguhnya BOP yang dianggarkan a/d jam standard. Metode analisis dua selisih. b.pada dasarnya mempunyaitujuan yang berbeda-beda.384.400 jam. Metode analisis tiga selisih.OO (rugi). a.00. Selisih terkendali. Contoh ilustrasi perhitungan selisih biaya overhead pabrik. Penggunaan masing-masing metode tersebut. 2. Tarip kos standard per jam produksi.80. Metode analisis tiga selisih mempertajam dengan melakukan analisis terhadap adanyakapasitasyang menganggur (idlecapacity variance). Total selisih biaya overhead pabrik Rp 584. analisispengeluaran (spending variance). Pembahasan metode ini disajikan di halaman 8 berikut ini. Waktu (jam) yang sesungguhnya 3.20 Rp 0. dan 3. Rp 1. dan analisis terhadap efisiensi.000 jam Dari contoh di atas dapat diketahui bahwa total selisih antara biaya overhead pabrik sesungguhnya dengan biaya overhead pabrik standard adalah Rp 584. Waktu (jam) standard yang dianggarkan 3. Metode analisis empat selisih. Metode analisis dua selisih melakukan analisis terhadap penyimpanganpenyimpangan yang terjadi dengan hanyamemperhatikan selisihvolume dan selisih yang dapat dikendalikan.384 . Pertajaman analisis tersebut dengan melihat apakah kapasitasyang menganggur disebabkanoleh faktor biaya tetap ataukah biaya variabel. Biaya overhead pabrik tetap Kapasitas normal sebesar 4.1 Metode analisis dua selisih.450 jam.

400 x Rp1. Biaya overhead pabrik sesungguhnya Biaya yang dianggarkan a/d jam sesungguhnya.anggaran biaya tetap - Biaya variabe1.280 .400 jam x Rp2.20 = 7. Spending variance.OO = Idle capacity variance (rugi) 420 3. Selisih volume.80 Rp 3.00 = Selisih volume (rugi) Metode analisis tiga selisih.384 Rp 3. Rp 7.475 x Rp2.BOP variabe1.- BOP tetap.370 14 Rp .170 Rp Selisih rugi 2.3.080 RD 7.370 RD 6.280 1. Efficiency variance (selisih rugi).20 Selisih terkendali Rp 104 2.400 jam x Rp0. BOP yang dianggarkan a/d jam standard.200 Ru 4.800 Rp 480 Rp 7.3.3. Rp 6. .3. Jam sesungguhnya x tarip standard. BOP yg dibebankan pada produksi.475 jam x Rp1.950 Rp Biaya yang dianggarkan a/d jamm sesungguhnya Jam s e s u n g w y a x tarip stand. Idle capacity variance. . 3.200 RD 4. Rp 7.

3.700 jam x ~p 2. Idle capacity variance. BOP sesungguhnya BOP yang dianggarkan a/d jam sesungguhnya Variable efficiency Variance 4.Biaya overhead yang dibebankan ke produk.370 Rp 7.80 = Rp 7. (lihat metode analisa tiga selisih) 3. Fixed efficiency variance.280 Rp 90 Jam standard x tarip tetap. Spending variance.00 Selisih efisiensi (rugi) - Rp Rp 6.80 = Fixed efficiency variance (rugi) .475 jam x Rp0.800 150 Rekapitulasi perhitungan selisih: Spending variance Idle capacity variance Efficiency variance Total selisih (rugi) Metode analisis empat selisih 1.400 jam x Rp0. 3. Variable efficiency variance. 3. Jam sesungguhnya x tarip tetap. (lihat metode analisa tiga selisih) 2.

Penentuan harga pokok produk d. Biaya bahan penolong b. Penentuan harga jual 2. Biaya overhead pabrik tidak bisa dihubungkan dengan secara langsungdengan produk c. Berikut ini adalah elemen biaya overhead pabrik. b. Ongkos angkut pembelian mesin pabrik d. dan biaya sesungguhnya dimasukkan rekening overhead sesungguhnya b. 4.BAB VII BIAYA OVERHEAD PABRIK A. KECUALI: a. Langsung dibebankan ke dalam harga pokok penjualan c. SOAL-SOAL BIAYA OVERHEAD PABRIK 1. . Jenis biaya overhead pabrik banyak b. Gaji pegawai produksi c. Dibebankan langsung ke laporan rugi-laba Tujuan alokasi dan penggunaan tarip biaya overhead pabrik adalah: a. dan c benar Biaya produksi selain biaya bahan baku dan upah Iangsung akan: a. Dibebankan dengan tarip. 3. Diakui sebagai biaya periode d. Pengendalian biaya produksi c. Analisa biaya untuk pengambilan keputusan b. Jawaban a. Sebagian biaya overhead pabrik terjadi secara sporadis d. Penyusutan gedung pabrik Akuntansi untuk biaya overhead pabrik relatif lebih kompleks daripada akuntansi untuk biaya produksi yang lain karena: a.

dapat dihindarikarena hambatan-hambatan intern perusahaan dan trend penjualan di masa yang akan datang Kapasitasteoritis pabrik atau departemenuntuk menghasikan kecepatan b. tetapi tidak cocok untuk mengendalikan factory overhead Tidak cocok jika biaya dan beban dipengaruhi oleh fluktuasi dalam c. 8. langsung. Anggaran kapasitas yang didasarkan atas kapasitas teoritis dikurangi hambatan yang tidak dapat dihindarkan karena faktor internal dan eksternal disebut: a. mengendalikan bahan langsung dan upah langsung Cocok digunakan untuk mengendalikan bahan langsung dan upah b. Kapasitas normal d. Kapasitas normal b. apa yang terjadi terhadap biaya tetap per unit apabila jumlah produksi meningkat dalam relevant range? Biaya tetap per unit akan turun a. akan sangat kecil bilarnana tarip biaya overhead yang dibebankan dibuat berdasarkan: a. tahun yang akan datang Dalamjangka waktu tertentu. . Kapasitas praktis b. penuhtanpa berhenti selama jangka waktu tertentu Kapasitasteoritisdikurangidengan kerugian-kerugian waktu yang tidak c. Kapasitas harapan c. Biaya tetap per unit akan meningkat c. dapat dihindari karena hambatan intern perusahaan Kapasitas sesungguhnya yang diperkirakan akan dapat dicapai dalam d. Jam kerja langsung d. perbedaan antara biaya overhead yang dibebankan dengan biaya overhead yang sesungguhnya. Jam kerja mesin Suatu flexible budget adalah: Cocok untuk mengendalikan factory overhead tetapi tidak cocok untuk a. Cocok untuk setiap kegiatan Dalam menggunakan anggaran fleksibel. 9. Kapasitas teoritis Kapasitas praktis adalah: Kapasitas teoritis dikurangidengan kerugian-kerugian waktu yang tidak a. Kapasitas yang direncanakan c. Biaya tetap per unit tidak terpengaruh b.5. 6. Biaya tetap tidak diperhitungkan dalam anggaran fleksibel d. batas-batas tertentu d. 7.

Analisa Pengertian istilah tarip distribusi. Jika suatu flexible budget digunakan. KECUALI: a. Biaya bahan baku tidak langsung b. 14. Meningkatkan total biaya hidup Meningkatkan biaya variabel per unit d. Distribusi d. ke departemen-departemen yang menikrnati manfaatnya Tarip untuk membagikan biaya overhead pabrik langsung departmen d. suatu pengurangan (decrease) dalam tingkatan produksi di dalam relevant range akan: Mengurangi biaya variabel per unit a. Kapasitas normal c. Kapasitas sebenamya yang diharapkan d. Pembebanan Alokasi b. adalah: Tarip untuk membagikan biaya overhead pabrik departemen produksi a. 13. Jumlah biaya overhead pabrik variabel per unit b. . 12. ke departemen pembantu yang lain dan departemen produksi Tarip untuk membagikan biaya overhead pabrik tak langsung departemen c. Jumlah biaya overhead total perperiode c. Biaya bahan yang digunakan Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam membebankan biaya overhead pabrik adalah sebagai berikut. Mengurangi biaya total c. disebutkan di bawah ini: a. kepada departemen yang bersangkutan 11. Faktor-faktor yang harus diperhitungkan dalam penetapan tarip biaya produksi tak langsung yang ditentukan di muka. Semua jawaban tcrsebut dipcrlukan Pembagian elemen biaya overhead pabrik pada setiap dcpartctnen disebut: a. d. kepada produk yang diolah melalui departemen tersebut Tarip untuk membagikan biaya overhead pabrik departemen pembantu b. Jam kerja mesin Untuk menentukan tarip biaya overhead pabrik.10. c. tnaka unsur penentu adalah: Total aktivitas yang diperkirakan periode akuntansi ~nendatang a. 15. Biaya upah langsung dan hasil produksi c. Dasar yang digunakan b. b. Jam kerja buruh langsung d.

Metode aljabar (algebraic method) Manakah diantara metode alokasi biaya overhead pabrik berikut ini termasuk dalam metode alokasi bertahap yang memperhitungkantransferjasa timbal balk antar departemen pembantu? Metode alokasi kontinyu (continuous allocation method) dan metode a. 20. Berikut ini adalah metode alokasi bertahap (step method) biaya overhead departemen pembantu ke departemen produksi. Semua elemen biaya overhead langsung dan tidak langsung departemen b. departemen-departemenyang menikmati manfaatnya Tarip untuk membagikan biay a overhead pabrik langsung departemen d. .16. tingkatkapasitas yang sesungguhnyadipakaiuntukmengerjakanpesanan tertentu Membagi total biaya overhead pabrik yang sesungguhnya dengan c. (specified order to closing method) 17. Metode alokasi kontinyu (continuous allocation method) Metode alokasi langsung (direct allocation method) b. c. c. aljabar (algebraic method) Metode alokasi kontinyu dan metode urutan alokasi yang diatur b. ke departemen pembantu yang lain dan departemen produksi Tarip untuk membagikan biaya overhead pabrik tidak langsung kepada c. kapasitas yang direncanakan dalam periode anggaran Mengalikan tarip biya overhead pabrik yang sesungguhnya dengan b. kepada departemen yang bersangkutan Tarip biaya overhead pabrik ditentukan di muka dihitung dengan cara: Mengalikan tarip biaya overhead pabrik sesungguhnya dengan tingkat a. yang sesungguhnya dicapai dalam periode anggaran Jika digunakankonsep direct costing. Semua biaya overhead variabel Semua biaya overhead pabrik variabel dan tetap d. kepada produk yang diolah pada departemen tersebut Tarip untuk membagikan biaya overhead pabrik departemen pembantu b. Metode urutan alokasi yang diatur (specified order of closing method) d.maka anggaranbiaya overhead pabrik yang dimasukkan ke dalam perhitungan tarip meliputi: Semua biaya overhead langsung departemen saja a. KECUALI: a. Tarip pembebanan biaya overhead pabrik adalah: Tarip untuk membagikan biaya overhead pabrik departemen produksi a. 18. 19. taksiran dasar pembebanan dalam periode anggaran Membagibiayaoverhead pabrik sesungguhnyadengantingkat kapasitas d.

c. setelah data-data rnengenai biaya overhead pabrik sebsungguhnya (aktual) dicatat dan dikumpulkan dalarn pembukuan 23. 24. Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan Distribusibiaya overhead pabrik sesungguhnyakepada departemen-departemen. Mengalikan tarip biayaoverhead pabrikdengan kapasitas sesungguhnya yang diharapkan dalarn tahun anggaran b. maka metode alokasi biaya overhead departemenpembantu ke departemenproduksi yang sebaiknyadigunakanadalah: Metode aljabar a. tanpa ada jasa departemen pembantu yang dipakai oleh departemen pembantu lainnya. . Metode alokasi kontinyu b. Biaya depresiasi c. b. kapasitas yang dicapai d. 22. Membagi total biaya overhead pabrik yang dianggarkan dengan dasar pembebanan biaya overhead pabrik Mengalikan tarip biaya overhead pabrik dengan jumlah sesungguhnya c.c. Metode aljabar (algebraic method) Metode urutan alokasi yang diatur (spesified order of closing) c. Distribusi biaya-biaya dilakukan pada akhirperiode pembukuan. Metode urutan alokasi yang diatur dan metode aljabar Metode aljabar dan metode alokasi langung (direct allocation method) Jika jasa departemen-departemen pembantu hanya dinikmati oleh semua departemen produksi saja. Biaya Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik d. Di antara metode alokasi biaya overhead pabrik departemen pembantu ke departemen produksi yang mempertimbangkan transfer jasa timbal balik antar departemen pembantu adalah: Metode alokasi langsung (direct alocation method) a. Metode alokasi langsung Metode alokasi urutan alokasi yang diatur d. d. 25. Biaya overhead pabrik sesungguhnya b. Biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk dihitung dengan cara: a. Metode identifikasi khusus (spesific identification method) d. Membagi total biaya overhead pabrik yang dianggarkan dengan jumlah sesungguhnya kapasitas yang dicapai Manakah diantara rekening berikut ini yang didebit untuk mencatat biaya overheadpabrik yang dibebankan kepada produk atas dasar tarip yang ditentukan di muka dalarn perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan: a. kemudian alokasi biaya dari departemen pembantu kepada departemen produksi dilakukan dengan cara: a.

akhir periode RekeningBiaya OverheadPabrik yang Dibebankanbersaldo kredit pada d. b. diperlukan adanya: a. Bila perkiraan kontrol overhead pabrik mempunyai saldo akhir debit.b. c. Biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi lebih rendah dari biaya overhead pabrik yang diperkirakan c. akhir periode 27. Dalam mengadakan analisis selisihbiaya overhead pabrik neto/keseluruhan (net1 overall factory overhead cost variance). Anggaran fleksibel (flexible budget) Anggaran tetap (fmed budget) b. Distribusibiaya-biaya dilakukanpada awal periode pembukuan dimana data-data mengenai biaya overhead pabrik sesungguhnya dalam memproduksi barang sebelumnya telah diketahui yang dicatat dalam pembukuan Biaya overhead pabrik hanya akan dapat diperhitungkan setelah melihat perbandingan antara yang diperhitungkan dan ditaksir Biaya overhead pabrik tidak akan dilakukan distribusi apabila terdapat lebih diperhitungkan (over applied) yang menimbulkan laba biaya overhead pabrik 26. . maka terbukti bahwa overhead pabrik itu: a. Dibebankan kurang c. c. Biaya overhead pabrik sesungguhnya terjadi lebih tinggi dari biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk Jika terjadi pembebanan kurang biaya overhead pabrik (underapplied factory overhead cost) dalam suatu periode akuntansi. akhir periode Rekening Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan bersaldo debit pada c. 29. Pabrik beroperasi pada kapasitas di bawah kapasitas normal b. dan c benar d. d. Bersifat variabel Pembebanan lebih biaya overhead pabrik (Overapplied factory overhead) terjadi sebagai akibat: a. 28. berarti: a. Bersifat tetap d. Biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi lebih rendah dari biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk d. Dibebankan berlebihan b. Anggaran statik (static budget) a. Rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya bersaldo debit pada akhir periode akuntansi Rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya bersaldo kredit pada b.

Manambah rekening harga pokok persediaan produk jadi Data untuk menjawab soal no.000 Taksiran jam B Rp495. penyimpangan anggaran adalah: a. Kelebihan atau kekurangan pembebanan biaya overhead pabrik variabel b.100 mesin2 22. Kelebihan atau kekurangan pembebanan biaya overhead pabrik tetap c. . maka selisih tersebut diperlakukan sebagai: Pehgurang atau penambahan rekening harga pokok penjualan a. 32. DepartemenB menggunakanbiaya tenaga kerjalangsung. b.200 14. Rp 41 per jam 110% dari biaya tenaga kerja langsung d.000 C Rp615. 36 Data untuk tahun 19 X 2: DEPARTEMEN A Anggaran biaya overhead pabrik Rp561.000 Taksiran jam kerja langsung 20. Rp 25. Apabila suatu perusahaan menggunakan tarip pembebanan overhead di muka. Rp 27. Menaikkan harga pokok persediaan produk jadi c.000 Rp 450.30.5 per jam c. Diketahui data sesungguhnya tzhun 19x2 sebagai berikut: 33. Dibagi rata ke dalam rekening persediaan produk dalam proses d. 32 s. Perbedaan antara tarip standar dan tarip aktual dikalikan dengan jumlah jam aktual d.5 per jam b.000 14.700 Departemen A menggunakan jam mesin sebagai dasar untuk membebankan biaya overheadpabrik.000 15. Apabila selisih terjadi disebabkan k m n a ketidak efisienan pabrik aku kegiatan perusahaan di atas atau di bawah normal.000 17.000 Anggaran biaya tenaga kerja langsung Rp 605. Tarip pembebanan biaya overhead pabrik di Departemen A adalah: a.d. Perbedaan antara jumlah jam standar dan jumlah jam aktual dikalikan dengan perbedaan antara tarip standar dengan tarip aktual Perlakuan selisih biaya overhead pabrik pada akhir tahun tergantung pada penyebab terjadinya penyimpangan tersebut.000 Rp 7 12.dan Departemen C menggunakan jam kerja langsung.

10.000 Rp 876. Rp 93. dan Rp600.d. 38 Perusahaan "MENEEN" memproduksi boneka mainan anak-anak.000 b.000.Biaya overhead pabrik tetap: .000 d.000 buah boneka plastik. Rp 73. 37 s.000 untuk memproduksi 100.920 24. Rp 693. Rp454.000 Jam kerja langsung 15.200 13.200 lebih dibebankan c. Rp 37. Bagian pembelian menentukan bahwa diperlukanpembelian 3. Data untuk mengerjakan soal no.720 lebih dibebankan d.720 c.720 c. 8. Rp 73.000. Rp 93.720 lebih dibebankan d.DEPARTEMEN A B C Biaya tenaga kerja langsung Rp 744. 36.000 34.000 13. Rp 5. Departemen B. Manajemenjuga merencanakan memproduksi 5. Rp 528. Survei pendahuluan dari panitia anggaran perusahaan menunjukkan suatu peramalan penjualan tahunan sebesar 95. Rp 330.500 kg plastik @ Rp 2.000 Rp 480.000 lebih dibebankan b. jumlah biaya overhead pabrik dibebankan di Departemen C pada tahun 19x2 adalah: a. Rp 37. Anggaran biaya overhead pabrik untuk skedul produksi ini adalah: .000 liter cat @ Rp 6. Rp 330. Rp 612. Rp 5.000 lebih dibebankan b.000 buah boneka untuk persediaan.000 b. Rp 528.000 kurang dibebankan 35.000 dan 2. Dengan data yang sama dengan soal no. Rp 612. Jumlah selisih biaya overhead pabrik di Departemen A pada 19x2 adalah: a.800.000 16.800 Jam mesin Jumlah biaya overhead pabrik dibebankan di Departemen B pada tahun 19x2 adalah: a.000 kurang dibebankan Dengan data yang sama dengan soal no. Rp 693.000 12. dan Departemen C pada tahun 19x2 secara berturut-turut adalah Rp575.000 Diketahuibiayaoverhead pabrik yang sesungguhnyadikeluarkanoleh Departemen A.000 d.jumlah selisih biaya overhead pabrik di Departemen B pada tahun 19 X 2 adalah: a.200 lebih dibebankan c.000 satuan boneka.

000 c. 47 PT SARI memiliki 3 departemenproduksi yaitu A. Rp 19. Rp 2. B. I @ Rp 6.080.200.200jam 37. serta memiliki 2 departemen jasa yaitu Xdan Y.000 d. Rp 6.900 38. dan C.000 jam Pengwat 1. Perusahaanmengpakanmetode alokasialjabaruntuk mengalokasikan biaya departemenjasa.00 per jam Dari datadiatas. Biaya overhead pabrik (BOP) sebelum alokasi dan dasar alokasi departemenjasa adalah sebagai berikut: Keterangan Jam Langsung Luas Lantai BOP (RP) 39.000 Tarip pembebanan biaya overhead pabrik yang didasarkan pada jam kerja langsung berjumlah: a.600. Biaya departemenjasa X dialokasikan berdasar jam listrik dan Y berdasar luas lantai.Biaya penyusutan bangunan Biaya penyusutan peralatan Biaya pengawas Biaya asuransi . Rp 33.000 b. BOP Departemen X setelah menerima alokasi dari departemen Y adalah: a.000 b. Data untuk menjawab soal no. Rp 588.Biaya overhead variabel: Biaya upah tidak langsung Rp 250 per jamkerja langsung Biaya perlengkapan tak langsung Rp 4 per satuan Biaya pabrik umum (gerleral factory) Rp 50 per jarnkerja langsung .380. .d. Rp 1. Rp 2. Rp 59.900 c.00 per jam @ Rp 6.Jam kerja dan taripnya untuk dua operasi adalah: Pencetak plastik 2. Rp500.200 d.000 .000. Rp 3. 39 s. anggaranproduksi (manufacturingbudget)perusahaan MENEEN berjumlah: a.200 b.700.

000 c.000 d. Rp 300.600.000 c. Rp 600. Rp 480.000 Total BOP seluruh pabrik setelah ada alokasi dari departemen jasa: b.760.000 c.000 b. Rp 200. Rp 1. Rp 600.40. Rp 660.000 b. dengan urutan alokasi pertama Dep. Rp 280.000 b.000 a.000 c.000 Jumlah BOP Departemen B setelah menerima alokasi dari departemen X. Rp 144.000 c. dan Y sebesar: a.000 Departemen C menerima alokasi dari Departemen X sebesar: a. dan Y sebesar: a.000 d. BOP Departemen Y setelah menerima alokasi dari Dpartemen X adalah: a.000 c.000 b. Rp 510.000 c.000 d. 44. Rp 450. Rp 550. Rp 540. Alokasi biaya overhead pabrik (BOP) departemen jasa menggunakan metode alokasi bertahap yang tidak timbal balik. Rp 380. Rp 490. Rp 440. p p 110. 48 s. Rp 125.100. I 45.000 Jumlah BOP Departemen A setelah menerima alokasi dari departemen X. I 46.000 41. dan Y sebesar: a.000 d. Rp 540. Rp 1. Rp 250. Rp 100. Rp 120.d.000 d.000 Departemen B menerima alokasi dari Departemen X sebesar: a. Rp 500.000 d.000 Departemen A menerima alokasi dari Departemen X sebesar: a. Rp 520.000 c. Rp 540. 53 PT Adhi mempunyai 3 departemen produksi dan 3 departemen jasa di dalam pabrik. Rp 500.000 b. Rp 590.000 b.000 b. Rp 1.000 d. 47. Rp 530. Data untuk menjawab soal no. I 42 I 1 43. Rp 580. Rp 440.000 d.000 Jumlah BOP Departemen C setelah menerima alokasi dari departemen X. Z atas dasar jam .

BOP Departemen B setelah menerima alokasi dari departemen jasa adalah: b.000 Departemen C menerima alokasi BOP sesungguhnya dari Departemen Y sebesar: b.000 48.500. Rp 10.750. Rp 1.000 . Departemen A menerima alokasiBOP sesungguhnya dari Departemen Z sebesar: b.000 10.ooo 2.000 d. l 52. Rp 1. Rp 9.950. 50.000 BOP Departemen A setelah menerima alokasi dari departemen jasa adalah: b. Rp 1.500.000. Rp 500.400.0 12.000 Jumlah Karyawan 100 50 150 25 25 50 400 - Luas Lantai 2.400.500 Jam Tenaga Uap 20.500 100 .500.000 d.000 20.000 I I 1 I 49.d. Rp 9. Rp 8.000 d. Rp 10.000 a.500.200. Rp 750.000 7.000 c. Rp 500.000 110.000 5.750.000 b.000 9. 51. ketiga Dep. Rp 11. Rp 9. Rp 11. Rp 800.000 1.000 BOP Departemen C setelah menerima alokasi dari departemen jasa adalah: a.tenagauap.500.000 20.300. Rp 400.000 b.000 c.000 Departemen B menerima alokasi BOP Sesungguhnya dari Departemen X sebesar: a.000 3. Rp 11.000.000 3 .000 10. Up 750.000 d. Data untuk menjawab soal no.300. Rp 10. 59 F KLM membebankan biaya overhead pabrik dengan tarip yang ditentukan di muka.000 c. 54 s.500.000 a.000 c.200.000 d. Rp 500.000 1.000 d. T .000 c.250. X atas dasar jumlah karyawan.000 Rp 32.000 a. 53.000 a.000. Rp 9. Y atas dasar luas lantai. Rp 400.000 1.000.000 30.000 c. Rp 250.800. keduaDep. Rp 10. BOP sesungguhnya dan hasil penelitian pabrik pada akhir tahun 1988 adalah sebagai berikut: Departemen BOP Sesungguhnya Rp 7.500.

Perusahaan tersebut mempunyai 2 departemen produksi dan 2 departerrlen pembantu. Dalarn mengalokasikananggarandepartemenpembantu perusahaan menggunakanmetode aljabar. Anggaran biaya overhead pabrik masing-masing departemen untuk tahun 1990 adalah:

Departemen Anggaran Departemen produksi Rp 12.000.000 -A -B 14.200.000 Departemen pembantu -X 10.000.000 -Y 8.800.000 Dari penelitianpabrikdiperoleh informasimengena pemakaianjasadepartemen pembantu: Departemen jasa Departemen X A 50% B 40% X Y 10% Kapasitas normal: Departemen A: 10.000jam tenaga kerja Departemen B: 12.000 jam tenaga kerja
54.

Departemen Y 40% 40% 20%

-

Departemen X akan menerima alokasi dari departemen Y sebesar: a. Rp 2.000.000 b. Rp 2.400.000 c. Rp 1.760.000 d. Rp 880.000 Departemen Y akan menerima alokasi dari deparetemen X sebesar: b. Rp 2.400.000 a. Rp 2.000.000 c. Rp 1.760.000 d. Rp 880.000 Departemen A menerima alokasi dari departemen X sebesar: b. Rp 6.000.000 a. Rp 5.000.000 c. Rp 4.OQ0.000 d. Rp 4.800.000 Departemen A akan menerima alokasi dari departemen Y sebesar: b. Rp 6.000.000 a. Rp 3.520.000 c. Rp 4.000.000 c. Rp 4.800.000 Departemen B akan menerima alokasi dari departemen X sebesar: a. Rp 5.000.000 b. Rp 6.000.000 c. Rp 4.000.000 d. Rp 4.800.000

55.

56.

57.

58.

59.

Departemen B akan menerima alokasi dari departemen Y sebesar: a. Rp 5.000.000 b. Rp 6.000.000 c. Rp 4.000.000 d. Rp 4.800.000

Data untuk menjawab soal no. 60 s.d. 64
Data untuk 2 departemenjasa sebagai berikut:

DepartemenJasa Budget Bulanan JamJasa Biaya sesungguhnya A Rp 10.000 4.000 Rp 9.300 B 15.000 5.000 13.400 Kedua departemen jasa itu melayani 3 departemen produksi. Data budget, biaya sesungguhnya, dan jam-jam jasa sebagai berikut:

Estimasi Jasa Jasa Sesungguhnya Departemen Produksi A B A B X 1.200 jam 1.800jam 800 jam 2.000 jam Y 1.500 jam 2.000 jam 1.600 jam 1700jam Z 1.300 jam 1.200 jam 900jam l.lp0 jam Budget biaya departemen jasa tersebut masing-masing 60% merupakan biaya tefap.
60.

Tarip jasa A per jam: Rp 2,00 a. C. Rp 1,00 Jasa departemen A yang dibebankan ke departemen produksi: Rp 8.520 a. Rp 8.000 b. c. Rp 7.950 d. Rp 8.250 Jasa departemen B yang dibebankan ke departemen produksi: a. Rp 15.400 b. Rp 14.500 c. Rp '14.600 d. Rp 15.300 Jumlah jasa yang diterima oleh departemen Y dari departemenjasa adalah: a. Rp 9.000 b. Rp 9.500 C. Rp 9.100 d. Rp 5.100 Spending variance departemen B adalah: b. a. Rp 1.630 (mgi) c. Rp 1.360 (rugi) c.

61.

62

63.

64.

Rp 1.630 (laba) Rp 1.360 (laba)

Data untuk menjawab soal no. 65 s.d. 67
Biaya overhead pabrik dianggarkan Biaya overhead pabrik sesungguhnya \ Jam tenaga kerja langsung yang dianggarkan Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya 65. Rp 44.000.000 46.200.000 10.000.000 jam 11.000.000jam

Tarip biaya overhead pabrik adalah: Rp 4,40 per jam tenaga kerja langsung a. b. Rp 4,00 per jam tenaga kerja langsung c. Rp 4,62 per jam tenaga kerja langsung d. Rp 4,20 per jam tenaga kerja langsung Jumlah biaya overhead pabrik yang dibebankan ke produk adalah: a. Rp 46.200.000 b. Rp 44.000.000 c. Rp 48.400.000 d. Rp 50.820.000 Dalarn periode tersebut telah terjadi: Biaya overhead pabrik terlalu rendah dibebankan (underapplied) a. Rp 2.200.000 b. Biaya overhead pabrik terlalu besar dibebankan (overapplied) Rp 2.200.000 c. Biaya overhead pabrik terlalu besar dibebankan (overapplied) Rp 4.400.000 d. Biaya overhead pabrik terlalu rendah dibebankan (underapllied) Rp 4.400.000

66.

67.

Data untuk mengerjakan soal no. 68 s/d 71
Untuk menentukan tarip biaya overhead pabrik, Perusahaan JELITA memberikan datadata sebagai berikut: Perusahaan Jelita menetapkan tarip biaya overhead pabrik Rp500 per jam mesin Budget biaya overhead pabrik untuk 6.000 jam mesin per bulan: Rp 1.600.000 dan untuk 14.000 jam misin: Rp 2.400.000 Biaya overheadpabrik yang sesungguhnyaterjadi bulan Mei 1989adalah sebesar Rp 1.800.000 pada kapasitas sesungguhnya 5.000 jam 68. Berdasarkan data-data tersebut di atas besarnya tarip biaya overhead pabrik variabel adalah; b. Rp 172ljam mesin a. Rp 400ljam mesin c. Rp 1Ooljarn mesin d. Rp 267/jam mesin Sedangkan besamya budget biaya overhead pabrik tetap adalah sebesar: a. Rp 1.000.000 b. Rp 1.032.000 c. Rp 2.400.000 d. Rp 1.602.000

69.

Perusahaan JELITA, dengantarip biaya overhead yang telah dihitung mempunyai kapasitas normal: a. 6.000 jam mesin b. 8.500 jam mesin c. 5.000 jam mesin d. 2.500 jam mesin Besarnya biaya overhead pabrik dibebankan adalah: a Rp 2.500.000 b. Rp 1.250.000 c. Rp 3.000.000 c. Rp 4.250.000

PT Indah menganggarkan overhead pabrik tahun 1990 sebesar Rp1.530.000 untuk Departemen I berdasarkan volume kegiatan sebesar 100.000 jam kerja langsung.Pada akhir I 990perkiraanOverhead Pabrik Departemen I mempunyai saldodebitRp1.620.000.Jumlahjamkerjaakhlal adalah 105.000jam. Kelebihan (kekurangan) pembebanan overhead pabrik tahun 1990 untuk Departemen I adalah: a. Rp 13.500 b. Rp (13.500) c. Rp 90.000 d. Rp (90.000 )
Biaya overhead yang dibebankan adalah: a. Rp 5.150.000 b. Rp 5.300.000 c. Rp 5.500.000 d. Jawaban a, b, dan c benar Anggaran fleksibel pada kapasitas sesungguhnya adalah: a. Rp 5.150.000 b. Rp 5.300.000 c. Rp 5.500.000 d. Jawaban a, b, dan c benar Spending variance sama dengan: a. Rp 150.000 (rugi) b. c. Rp 200.000 (laba) d. Idle Capacity Variance sama dengan: a. Rp 150.000 (laba) b. c. Rp 200.000 (rugi) d.

Rp 150.000 (laba) Jawaban a, b, dan c benar

Rp 200.000 (laba) Jawaban a, b, dan c benar

Jurnal untuk pembebanan biaya overhead adalah: Biaya Overhead Pabrik-Sesungguhnya Rp 5.500.000 Biaya Overhead Pabrik-Dibebankan Biaya Overhead Pabrik-Dibebankan Rp 5.500.000 Biaya Overhead Pabrik-Sesungguhnya Biaya Overhead Pabrik-Dibebankan Rp 5.500.000 Berbagai macarn pengkreditan Jawaban a, b, dan c benarl

Rp 5.500.000 Rp 5.500.000 Rp 5.150.00

Data untuk menjawab soal no. 78 s.d. 79 PT DIAN memiliki kapasitas normal 8.000 jam per bulan. Anggaran fleksibel BOP pada kapasitas 6.000 jam sebesar: Rp34.000 sedangkan pada kapasitas 7.500 jam: Rp 38.500. Pada bulan Januari 1987 besarnya kapasitas sesungguhnya 7.800 jam dan BOP sesungguhnya Rp 37.500.
78. Besarnya selisih anggaran bulan Januari adalah: b. a. Rp 1.000 (laba) c. Rp 3.500 (rugi) d. Besarnya selisih kapasitas bulan Januari adalah: a. Rp 2 0 (rugi) b. c. Rp 2.500 (laba) d.

Rp 1.500 (laba) Rp 2.500 (laba)

79.

Rp 2.000 (rugi) Rp 400 (rugi)

Data untuk menjawab soal no. 80 s.d. 84
Catatan dan analisis biaya overhead pabrik PT NATALIA dalam bulan Januari 1989 menunjukkan: BOP Sesungguhnya Rp2.160.000, Jam mesin sesungguhnya 8.000 jam; Selisihkapasitas RpO; Selisih anggaran Rp160.000 (rugi). Catatan dan analisisBOP bulan Pebruari menunjukkan: Jam mesin sesungguhnya 8.400 jam; Selisih anggaran RpO; Selisih kapasitas Rp60.000 (laba). 80. Dalam bulan Pebruari besarnya BOP Sesungguhnya adalah: a. Rp 2.160.000 b. Rp 2.100.000 c. Rp 2.040.000 d. Rp 2.060.000 Besarnya total tarip BOP per jam mesin adalah: b. a. Rp 150 c. Rp 200 d.

81.

Rp 400 Rp 100

82.

Besarnya tarip BOP variabel per jam mesin adalah: a. Rp 100 b. Rp 250 c. Rp 150 d. Rp 300 Jika BOP Sesungguhnya bulan Maret sebesar Rp1.960.000 dan jam mesin sesungguhnya 7.800 jam, maka total selisih BOP adalah: b. Rp 120.000 (laba) a. Rp 40.000 (laba) c. Rp 10.000 (rugi) d. Rp 30.000 (rugi) Besarnya selisih anggaran untuk bulan Maret adalah: a. Rp 20.000 (rugi) b. Rp 10.000 (laba) c. Rp 30.000 (rugi) d. Rp 20.000 (laba)

83.

84.

Data untuk menjawab soal no. s.d.
Dalam bulan Agustus 1989 selisih anggaran biaya overhead pabrik pada PT POWER sebesar RplOO.OOO (rugi), kapasitas sesungguhnya sebesar 8.000 jam mesin, biaya overhead pabrik sesungguhnya sebesar Rp4.500.000. Dalam bulan September 1989 besamya selisih kapasitas RpO, kapasitas sesungguhnya 10.000jam mesin, biaya overhead pabrik dibebankan Rp5.000.000. Dalam bulan Oktober 1989 besamya kapasitas sesungguhnya 9.000 jam mesin dan BOP sesungguhnya Rp4.450.000. 85. Besarnya total biaya tetap adalah: a. Rp 3.000.000 c. Rp 2.500.000

b. d.

Rp 2.000.oOO Rp 2.600.OOO

86.

Besamya tarip biaya overhead pabrik variabel per jam adalah: a. Rp 200 b. Rp 300 c. Rp 250 d. Rp 240 Besamya tarip biaya overhead pabrik tetap per jam adalah: a. Rp 250 b. Rp 300 C. Rp 200 d. Rp 260 Besamya kapasitas normal dalam jam mesin adalah: a. 12.500 b. 8.000 c. 10.000 d. 5.OOO Besarnya selisih biaya overhead pabrik bulan Oktober 1989 adalah: a. Rp 100.000 (rugi) b. Rp 200.000 (laba) c. Rp 50.000 (laba) d. Rp 150.000 (rugi) Besamya selisih biaya overhead pabrik bulan Oktober 1989 adalah: a. Rp 250.000 (laba) b. Rp 200.000 (rugi) c. Rp 75.000 (laba) d. Rp 150.000 (rug2 Besamya selisih kapasitas biaya overhead pabrik bulan Oktober 1989 adalah: a. Rp 250.000 (rugi) b. Rp 200.000 (rugi) c. Rp 300.000 (laba) d. Rp 150.000 (rugi)

87.

88.

89.

90.

91.

000 Proporsi 45.Taksiran jam kerja langsung: 3.0% 100.Anggaran biaya overhead pabrik: Rp 6.Cat (2.380.000 liter x Rp 6.900per jam kerja langsung Pengertian untuk menjawab soal no.720.080. Pengertian untuk menjawab soal no.000) 12.000 Anggaran Biaya Overhead Pabrik: Variabel: .360.000 .000 220.080. Jam Listrik Ke Departemen A 900 B 450 450 C Y 200 Jumlah 2.000 3.000 .Perlengkapan tidak langsung (100.000 b Tarip pembebanan biaya overhead pabrik berdasarkan jam kerja langsung: .Penyusutan bangunan .700.000 Rp 4.000 jam dan pengecat 1.200.200 jam x Rp 6.000.000 . 36 s/d 37 37.000 6.Tarip pembebanan: Rp 6.Umum pabrik (3.Penyusutan peralatan .000) Rp 21.000 Rp 33.5% 22. 39 s/d 47 Metode alokasi aljabar.000 x Rp 4) 400.000 800.0% .000/3.200jam) .200 jam x Rp 50) 160.600.500 kg x Rp 2.200 jam x Rp 250)Rp 800.0% 22. Rp 500.200 jam = Rp 1.000 Tetap: .200 jam (pencetak plastik 2.000 jam x Rp 6.200.000 Anggaran Biaya Tenaga Kerja: . d Anggaran Biaya Produksi: Anggaran Biaya Bahan: .Pengecat (1.000 Rp 1.080.5% 10.000) 7.Pencetak plastik (2.700.B PENYELESAIAN .000 19. dengan dasar alokasi sebagai berikut Alokasi Departemen Jasa.200) Rp 12. atas dasar jam listrik.Upah tidak langsung (3.000 .Plastik (3.400.000 .000 RD 59.Biaya asuransi Jumlah Anggaran Biaya Produksi 38.Biaya pengawas .

98 X : Rp600.000 Alokasian dari Departemen Jasa X: 10% Atau.02 Y : Rp 588.000 + 20% (Rp440.000+ 20% Y X : Rp 500.000) :Rp 500.000 Alokasian dari Departemen Jasa Y: 20% Atau.000 + 0.000 (biaya departemen X setelah mendapatkan alokasi dari departemen Y) Setelah nilai X diperoleh.02 Y X : Rp 588.02X 0.000 + 0.000 + 10% Y Y : Rp 440.000 Rp 588.000 + 10% Y Dari kedua persamaan di atas.0.Alokasi Departemen Jasa Y. Biaya Departemen Jasa Y. nilai Y dapat dihitung sebagai berikut: Y : Rp 440.000 + 10% (Rp600.000 + Rp88.98 X : Rp 588. atas dasar luas lantai. Ke Departemen Luas Lantai A 100 B 500 C 200 200 X Jumlah 1. 0 00 Proporsi 10% 50% 20% 20% 100% ' Biaya Departemen Jasa X.000 X . Y : Rp440.000 (biaya departemenY setelah mendapatkan alokasi Z dari departemen Z) . setelah mendapatkan alokasi biaya dari departemen X dapat dirumuskan sebagai berikut: Biaya Departemen Jasa Y sebelum alokasi: Rp440.000 X 0. setelah mendapatkan alokasi biaya dari departemen E dapat dirumuskan sebagai berikut: Biaya Departemen Jasa X sebelum alokasi: Rp 500. nilai X dapat dihitung sebagai berikut: X : Rp 500.000 + 10% Y) X : Rp 500.

000 DEPARTEMEN JASA C Rp 200.000) RP 0 RPO 1 . ke departemen C 22.000 55.0 00 270.000 dialokasikan sebagai berikut: Alokasi Luas Lantai Proporsi Ke Departemen Rp 55.000 125. ke departemen C 20%: RplOO.000 Rp 620.000 RP 0 Y Rp440.000 C 200 Jumlah 800 100.000 275.000 Rp 435.Biaya departemen X sebesar P. Biaya departemen Y sebesar Rp500.000 Tabel alokasi DEPARTEMEN PRODUKSI B A Rp 300.000 60.000 135.5% 275.0% 110.000 110.000 450 25% B 25% 125.000 Rp 545.000 500 B 25.5% A 62.000.000 dialokasikan sebagai benkut: Proporsi Alokasi Ke Departemen Jam Listrik Rp 250.000 Rp 160.000) 100. Tabel alokasi DEPARTEMEN PRODUKSI KETERANGAN Biaya sebelum alokasi Alokasi Departemen X Alokasi Departemen Y Biaya setelah alokasi A Rp 300.000 900 50% A 125.OOO.0 100% Rp 500.000) RP 0 DENGAN METODE LANGSUNG Biaya departemen X sebesar Rp500. ke departemen B 50%: Rp250.000 Biaya departemen Y sebesar Rp440.000 (500.000.000 kemudian dialokasikan ke departemen A 10%: Rp50.000 (440.000 B Rp 160.000 135.000 (500.000.000.000 Rp 560.000) Y Rp440.000 Rp 435.000 DEPARTEMEN JASA C Rp 200.000 100 l2.000 125.000 Rp 605.000 250.000 (600.5%: Rp135.000 X Rp 500.000 250.5%: Rp135. ke departemen B 22.000 kemudian dialokasikan ke departemen A 45%: Rp270.000 KETERANGAN Biaya sebelum alokasi Alokasi Departemen X Alokasi Departemen Y Biaya setelah alokasi X Rp 500. dan ke departemen X 20%: Rp100.0% RD440.p600.000 50.000.000 100.000.000. dan ke departemen Y 10%: Rp60.000 C 450 Jumlah 180 .

000 1 12.500 C 200 800 100.5% 112.000 5O.5% 306.250 100 A 500 62.0% Rp500.000) RP 0 Y Rp440.500 112.500 306.0% Jurnlah 2000 100.250 Rp 578.000 L Biaya departemen Y sebesar Rp440.000 dialokasikan sebagai berikut: Ke Departemen Jam Liitrik Proporsi Alokasi A 90 0 45.0% Rp225.0% 122.000 Y 200 10.0% Rv490.000 61.000 dialokasikan sebagai berikut: Proporsi Alokasi Ke Departemen Luas Lantai 12.000 B 450 22. 48 s/d 53 Metode alokasi bertahap tidak timbal balik. c (lihat tabel) Pengerjaan untuk menjawab sod no.000) RP 0 (lihat tabel) (lihat tabel) (lihat tabel) (lihat tabel) (lihat tabel) (lihat tabel) (lihat tabel) (lihat tabel) 47.500 22.m (490.250 Rp 586.250 B 25.i DENGAN METODE ALOKASI BERTAI-IAP (alokasi pertama departemenjqsa X) Biaya departemen X sebesar Rp500.000 Jumlah Tabel alokasi DEPARTEMEN PRODUKSI KETERANGAN Biaya sebelum alokasi Alokasi Departemen X Alokasi Departemen Y Biaya setelah alokasi A Rp 300.500 450 C 50.5% 112.000 225.5% Rp61.750 DEPARTEMEN JASA C Rp 200.000 1 12. dengan urutan clan dasar alokasi sebagai berilcut: .500 Rp 435.250 B Rp 160.000 (500.000 X Rp 500.

000.000.000 B 3.000 - 0 0 0 .000 1.000 1.000 Rp .000 Jumlah 10.500.000.000.000 1.000) DEP.000 500.000 (5.000.500.950.000 500.000 Rp 5.000 750.500. X.000 Alokasi biaya Departemen Y: Biaya departemen Y Biaya alokasian dari Z Jumlah 20% 100% Rp Q 1.800.000.000.000. B.000 (3.000 1.000 DEP.000 500.000.000 Y 20.500.000 (2.000 500.000 750.000 500.000 1.000.Z 5.000 500.000 2.000 Alokasi biaya Departemen X: Ke Departemen Jumlah karyawan A 100 B 50 C 150 Jurnlah 300 Tabel alokasi 20% 100% Proporsi 1001300 501300 1501300 3001300 - KETERANGAN Biaya sebelum alokasi Alokasi Departemen Z Alokasi Departemen Y Alokasi Departemen X Biaya setelah alokasi DEP.500.000) < ' 10. Y A.X 1.000 C 3.000.000 10.000 Proporsi 20% 30% 30% Alokasi Rp. C.C 7.000 B 30.2. B. B.X A.000 Ke Departemen Tenaga uap A 20.000.000 1. C Proporsi 20% 30% 10% 20% Dasar Alokasi Tenaga uap Luas lantai Jumlah karyawan Alokasi Rp 1.000 DEP.000 1.000 750.500.500.000 1.000 Ke Departemen Luas lantai A 2.B 9.om X 2. 500.000 Rp3.Urutan Alokasi ke 1 ke 2 ke 3 Dari Departemen Z Y X Ke Departemen A.000 Alokasi Rp1.000 750.500.500.000 DEP.000 X 20.000 11.000.000 1.300.500.A 7.500.000 Jurnlah 100.000 DEP.000.000.000 500.000) 1.250.200.000 C 10.000 1.000 Alokasi biaya Departemen Z: Rp5.Y 1. C.

b (lihat contoh) b (lihat contoh) Biaya departemen X Biaya alokasian dari Z Biaya alokasian dari Y Jumlah e (lihat tabel) b (lihat tabel) a (lihat tabel) d (lihat tabel) Rp 1.000 Tabel alokasi: DEPARTEMEN PRODUKSI B A Rp12.200.800. 49.800.000.ooO) Rp 0 54.500.000.000 DEPARTEMEN PEMBANTU KETERANGAN Biaya sebelum alokasi Alokasi Departemen X Alokasi Departemen Y Biaya setelah alokasi X Rp 10. c .800. 53.000 4.000.000 4.000 Rp 0 Y Rp 8. 56.000.~. Pengerjaan untuk menjawab soal no.48.800.000 (12.000.000 + 10%X) X : Rp 12. 5 1.000 50. 57.000.OOO 500.000.000 Setelah nilai X diketahui.000. dapat diperoleh persamaan sebagai berikut: X :Rp 10. nilai X dapat dihitung sebagai berikut: X : Rp 10.000. 52.000 4.000 6.000 Rp 23.000 1. nilai Y dapat dihitung sebagai berikut: Y : Rp 8.000 1. a e b (lihat tabel) (lihat tabel) (lihat tabel) (lihat tabel) 55.800.000 Rp 3.000. 54 s/d 59 Dengan cara yang sama dengan soal.000.000.000 + 10% X Dari kedua persamaan di atas.000.000 + 20% Y Y : Rp 8.000 Rp 14.000 Rp 22.200.000 (lO.000.000.000) 2.000) Y : Rp 10.000 + 10% (12.000.000 + 20% (Rp8.

5 per jam 4.000 jam Tarip tersebut bisa dirinci menjadi: (40% x Rp 10.000) Tarip variabel 5.250 .000 jam =Rp1. d c (lihat tabel) (lihat tabel) Pengertian untuk menjawab soal no.000) Tarip variabel 4.000 jam Tarip tersebut bisa d i i c i menjadi: (40% x Rp 15. d Rp 10.5 perjam = Rp1.2perjam =Rp 3. 60 s/d 64 60.8 perjam =Rp1.000) Tarip tetap 5. 59.000 jam Rp15.300 jam x Rp2.000 Tarip total departemen jasa A : = Rp 2.000 jam (60% x Rp 10.600jarn z = 9oojam Jumlah = 3.000) Tarip tetap 4. d Jasa departemen A yang dibebankan ke departemen produksi: Jam sesungguhnya departemen A dinikrnati oleh: X = 800 jam Departemen produksi Y = 1.58.Operjam =Rp 1.000 jam (60% x Rp 15.5 = Rp8.300 jam Jumlah jasa dibebankan: 3.000 Tarip departemen jasa B : 5.O per jam 61.

000.000 Dari departemen B: 1.000jam c Jumlah BOP dibebankan: 11.000 b Selisih pembebanan BOP: BOP sesungguhnya Rp 46.000 BOP dibebankan: 11.400.000 jam Y = 1.000 jam x Rpl.100 jam Jumlah = 4. e Jasa departemen B yang dibebankan ke departemen produksi: Jam sesungguhnya departemen B dinikrnati oleh: Departemenproduksi X 2.360 (laba) Selisih anggaran Pengertian untuk menjawab soal no.8)Rp 9.000 (lebih dibebankanbaba) 66.700jam z = 1.2) 5.400 BOP dianggarkan pada jam sesungguhnya: Tetap : (5.000 = Rp 4.700 jam x Rp 3.400.760 Rv 1. a Tarip pembebanan BOP dihitung sebagai berikut: Rp44.100 64.800 jam x Rp 3.000 Selisih total RD2.5 = Rp 4.000. .100 Jumlah RD 9.O = 5.000. d Spending variance (selisih anggaran) departemen B: BOP sesungguhnya Rp 13.000jam x Rp 4.40 per jam kerja langsung Tarip total : 10.800 jam x Rp1.600 jam x Rp 2.800 jam Jumlah jasa dibebankan: 4.400 c Jumlah jasa yang diterima departemen Y dari departemen jasa: - Dari departemen A: 1.000 Variabel: (4.760 14. 63. 65 s/d 67 65.62.200.40 = Rp 48.000jam x Rp 490 48. 67.O = Rp 14.200.

500.000jam x Rp100) 1.Pengertian untuk menjawab soal no.000 berjumlah Rp 2.400.000 (-) BOP variabel: (14. : : = Rpl00 perjam mesin 8.000jam Rp 2.30 per jam mesin 100.000 Rp 800.000 Kapasitas normal: RP 400 = 2. c Tarip BOP variabel: Anggaran BOP pada kapasitas Anggaran BOP pada kapasitas Selisih 14. 68 s/d 72 68.000 jam Rp800.500 (rugil 72.500 Selisih total Rp 13.000 jam BOP sesungguhnya (rek.400.30) 1. 71.606.000.000. I debit) Rp 1.000 BOP tetap RD 1.400. BOP dep.500 per jam mesin 70.000 BOP dibebankan: (105. Tarip total -g dibebankan) .000jam =Rp2.000jam x Rp15. a Jurnlah BOPdibebankanpada bulanmei 1989:Rp 500x 5.000jam 6.000 berjumlah 1.000 = Rp15.000 d Jumlah kapasita's normal: Rp 1.600.000 b Tarip pernbebanan BOP: Rp1S30.Rp100 = Rp 400 per jam mesin a Anggaran BOP tetap: BOP Dianggarkan pada kapasitas 14.000 jam Rp 500 -.000 Taripvariabel Tarip tetap 69.620.000jam 8.

000 74.000 jam x Rp 2) Jumlah b Spending variance (selisih anggaran): BOP sesungguhnya BOP dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya Selisih anggaran b Idle capacity variance (selisih kapasitas): BOP dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya BOP dibebankan Selisih kapasitas e Barang Dalam Proses Biaya Overhead Dibebankan Rp 3.200. Tarip total: Rp3+Rp2=Rp5perjam = Rp 2 per jam = Rp 3 per jam Jumlah BOP dibebankan: 1.000.000 77.000 (laba) 76. 73 s/d 77 73.000 (laba) Rp 5. Rp 5.000 RD 50.100.000 2.I Pengertian untuk menjawab soal no. 78 s/d 79 Untuk dapat menganalisis selisih biaya overhead.500.000jam Rp 2.000 5.000.000 75.200. tarip pembebanan dihitung sebagai berikut: .000.500.150. hams diketahui dahulu tarip pembebanan baik tarip tetap maupun tarip variabel.000 Rp 5.200. Dengan data yang ada pada soal tersebut.000jam x Rp 5 = Rp 5.000jam.500.000 5.000 Tarip tetap: 1.000 Rp 300. c Rp 3. b Anggaran BOP pada kapasitas sesungguhnya: Tetap : (1.500.000. Pengertian untuk menjawab soal no.000.200. Rp 5.000 jam x Rp 3) Variabel: (1.000.000 Rp 5.000 Tarip Variabel: 1.100.

500 Tarip Variabel: = Rp 3 per jam 1.500 Perbedaanjumlah anggaran BOPpada kedua tingkat kapasitas tersebut diakibatkan oleh elemen biaya overhead variabel. oleh karena itu tarip pembebanan BOP tetap dapat dihitung sebagai berikut: Rp 16.900 (laba) . Anggaran BOP total pada kapasitas 7.800 x Rp5) 39. jumlah BOP tetap total dapat dihitung dengan mengambil salah satu BOP dianggarkan di atas.400 39.500 jam Rp 38.000 Tarip Tetap: = Rp2 per jam 1 I 8.Anggaran BOP pada kapasitas 7.500 BOP sesungguhnya BOP dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya: Rp16. sehingga tarip biaya variabel per jam dapat dihitung sebagai berikut: Rp4.000 RD 1.500 BOP sesungguhnya bulan Januari BOP dibebankan bulan Januari: (7.000 berjumlah Selisih 150 .500 (laba) Selisih total 78.400 Selisih anggaran Ru 1. Selisih total BOP merupakan perbedaan antara BOP sesungguhnya dengan BOP dibebankan: Rp 37.000 Tetap: (8.800 jam x Rp3) 23.500 34.000 Anggaran BOP pada kapasitas 6. baru kemudian bisa menganalisis selisih.500 x Rp3) Anggaran BOP tetap R 16.500 22.0 R w 4.000 w Jumlah BOP tetap tersebut me~upakanhasil dari perkalian antara tarip tetap dengan kapasitas normal. e Selisih tersebut kemudian dianalisis menjadi selisih anggaran dan selisih kapasitas: Selisih anggaran: d p 37.500 Anggaram BOP variabel(7.500 berjumlah Rp 38.000 jam x Rp2) Variabel: (7.500jam Setelah tarip BOP variabel diketahui.000 jam Tarip total: Rp 3 + Rp 2 = Rp 5 Setelah diperoleh tarip pembebanan baik tetap maupun variabel.

Jumlah BOP yang dapat dihitung jumlahnya dengan data yang ada adalah BOP dibebankan pada bulan Februari.000 8.000 . BOP dibebankan adalah merupakan perkalian antara tarip pembebanan dengan jam sesunggunya.000 jam RP 0 Rp 160. harus dipahami urutan analisis selisih BOP sebagai berikut: BOP Sesungguhnya (-) BOP Dianggarkan pada Kapasitas Sesungguhnya (-) BOP Dibebankan Selisih Anggaran Selisih kapasitas Sehingga untuk menjawab pertanyaan soal ini.160.800 jam x Rp 5) Selisih kapasitas Rp 39.Selisih kapasitas: BOP dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya BOP dibebankan: (7. maka harus dihitung terlebih dahulu dengan menggunakan data bulan Januari.000 (rugi) 8.000 Selisih anggaran (-) BOP Dianggarkan pada Kapasitas Sesungguhnya Selisih kapasitas (-) BOP Dibebankan Rp 2. harus diketahui jumlah salah satu dari ketiga jenis BOP di atas.160. Oleh karena jumlah tarip belum diketahui. 80 sld 84 Data bulan Januari 1989: BOP sesungguhnya Jam mesin sesungguhnya Selisih kapasitas Selisih anggaran Data bulan Februari 1989: Jam mesin sesungguhnya Selisih kapasitas Selisih anggaran Rp 2. dengan cara sebagai berikut: Analisis BOP bulan Januari: BOP Sesungguhnya Rp 2.000 (laba) Untuk dapat menjawab pertanyaan.400 39.400 jam RP 0 Rp 60.000 Rv 400(rugi) Pengertian untuk menjawab soal no.000.

c Selisih BOP bulan Maret: BOP Sesungguhnya .100.000 BOP Sesungguhnya Rp 2.400 jam 8. a Dari analisis yang dilakukan untuk menjawab sod no.000 RD 40.Tarip pembebanan BOP kemudian dihitung sebagai berikut: Rp 2.000 81.000. Setelah tarip pembebanan diketahui.000 (laba) (-) BOP Dibebankan Rp 2.000.400). diperoleh jumlah BOP dianggarakanpada dua tingkat kapasitas (Januari 8.000 (-) Selisih kapasitas (laba) 60.000 Tarip variabel : Tarip tetap : = RplOO per jam 400 jam Rp250 -Rp100 = Rp 150 per jam 83.040.040. sehingga tarip variabel dapat dihitung sebagai berikut: +r 82.000 jam c 80.000 2.000 Tarip : = Rp 250 per jam 8. BOP sesungguhnyabulan Februari dihitung sebagai berikut: BOP Dibebankan: (8.000jam dan Februari 8. Anggaran BOP pada kap'asitas Rnggaran BOP pada kapasitas Selisih 8. Perbedaan jumlah BOP pada kedua tingkat kapasitas tersebut diakibatkan oleh elemen biaya variabel. e Lihat jawaban di atas. 89.000 berjumlah berjumlah Rp 2.400 jam x Rp 250) Rp 2.000 Untuk lebih jelasnya disajikan sebagai berikut: BOP Sesungguhnya Selisih anggaran Rp 0 (-) BOP Dianggarkan pada Kapasitas Selisih kapasitas Rp 60.100.000 jam 400 jam Rp 40.

KS) TT Keterangan: = Kapasitas Normal KN = Kapasitas Sesungguhnya KS TT = Tarip Tetap = Tarip Variabel TV Atau dapat juga dihitung dengan cara sebagai berikut: Rp 2.200.TT) = (KN .000 jam mesin.000 (-) BOP variabel: (8. d Untuk dapat menghitung selisih anggaran.000 Rp 1.000 10.000 Variabel : (7.(KS .000.000 Selisih anggaran Rp 20.000 Biaya Overhead dianggarkan : Tetap : (8.050.000 .000 jam Rp150 Biaya Overhead sesungguhnya Rp 1.000 Rp 1.980.BOP Dibebankan: (7.800 jam x Rp 100) 780.000 (rugi) 8.000 jam x Rp 100) BOP Cetap * Ru 1.000 (laha) 84.{ (KS x TT) + (KS x TV) ] = (KN x TT) .200.000 Kapasitas Normal: = 8.960. diperlukan data tentang jumlah kapasitas normal. Logika tersebut diturunkan dari rumus perhitungan selisih kapasitas sebagai berilcut:' Selisih kapasitas = { (KN x TT) + (KS x TV) ) . 85 s/d 91 Data bulan Agustus: Selisih anggaran Kapasitas sesungguhnya BOP sesungguhnya Data bulan September: Rp 100.200.800 jam x Rp250) Selisih total KP 1.000 jam mesin Rp 4. Hasil pada analisis BOP pada bulan Januari diketahui selisih kapasitas pada kapasitas sesungguhnya 8.000 (laba) Pengertian untuk menjawab soal no. sehingga dapat disimpulkan bahwa jumlah kapasitas nonnal adalah 8. Hal tersebut hanya nlungkin terjadi apabila kapasitas normal sarna dengan kapasitas sesungguhnya.000 jam mesin berjumlah RpO.500.000 BOP Dianggarkan pada kapasitas 8.000 jam x Rp 150) Rp 1.006 jam 800.

000.000 jam mesin Rp 4.000 Tarip total : Tarip tetap = Rp 500 per jam 10.000jam (-) BOP variabel: (10.Selisih kapasitas Kapasitas sesungguhnya BOP dibebankan Data bulan Oktober: Kapasitas sesungguhnya BOP sesungguhnya RP 0 10.000.400.Rp300 = Rp200 .000. dihitung sebagai berikut: Bulan Agustus: BOP sesungguhnya Rp 4.000 jam : Rp500 .000jam berjumlah Rp 5.000 BOP dianggarkan pada kapasitas 10.500.000. 94.000 Taripvariabel : = Rp 300 per jam 2.000 jam mesin Rp 5.000 Jumlah BOP dianggarkan pada dua tingkat kapasitas.000 .000.000 BOP dianggarkan pada kapasitas 8. 87.000 Rp 600.000 jam x Rp300) BOP tetap b Lihat no.000 jam RD 600. Tarip BOP tetap: Rp 5.000 BOP dibebankan (+/-) Selisih kapasitas 0 Rp 5.0 Selisih 2.000 9. b Jumlah BOP tetap dihitung sebagai berikut: BOP Dianggarkan pada kapasitas 10.000 Rp 4.000 (-) Selisih anggaran (rugi) 100.450. c Rp 5.000.000 Rp 2.000 86.000 jam Bulan September: Rp 5.400.000 Anggaran BOP pada kapasitas Anggaran BOP pada kapasitas 8 0 0jam berjumlah 4.000.000 3.000jam Tarip BOP variabel: 10.000.000 jam 85.

000 (laba) 90. c Selisih BOP bulan Oktober: BOP sesungguhnya BOP dibebankan: (9.000jam.000 BOP dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya Tetap : (10.500.000 jam x Rp500) Selisih total Rp 4. = 10.88.000 jam 89.700.000 Variabel: (9. Karena selisih kapasitas pada bulan September RpO.500.000.000 Kapasitas normal: Rp 200 Atau. Rp 4.000 (rugi) .000 jam x Rp500) Selisih total 91.450. c Besarnya kapasitas normal: Rp 2.000 jam x Rp 200)Rp 2.000 4.000 4. maka kapasitas normal sama dengan kapasitas sesungguhnya bulan tersebut.000 jam x Rp 300) 2.000 Rp 250. a Selisih anggaran pada bulan Oktober: BOP sesungguhnya Rp 4.000 Rv 50.000 4.450.000 (laba) Selisih anggaran b Selisih kapasitas bulan Oktober: BOP dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya BOP dibebankan: (9.700.000.700. yaitu 10.000 Rv 200.

percetakan. Manakah diantara pemyataan berikut ini yang BENAR? Metode harga pokok pesanan menghitung harga pokok per satuan a. d. pupuk. pesanan selesai diproduksi c. dengan cara membagi total biaya selama satu periode dengan jumlah produk yang dihasilkan di dalam periode yang bersangkutan.BAB VIII METODE HARGA POK. kapal terbang. Untuk keperluan penentuan harga pokok produk. Apa prosedur akumuiasi biaya yang paling baik digunakanjika banyak pesanan yang masing-masing berbeda dalam spesifikasi produk hams diproduksi? . Metode harga pokok proses menghitung harga pokok produk pada saat b. dengan cara membagi jumlah biaya produksi yang dikeluarkan untuk pesanan tertentu dengan jumlah satuan produk yang dihasikan untuk memenuhi pesanan yang bersangkutan Metode harga pokok pesanan digunakan oleh perusahaan-perusahaan c. dok kapal Metode harga pokok pesanan digunakan dalam perusahaan semen. yang berproduksi masa Manakah di antara pemyataan yang bersangkutan dengan metode harga pokok pesanan berikut ini yang SALAH? Metode harga pokok pesanan digunakan untuk mengumpulkan biaya a. produksi dalam perusahaan yang produksinya berdasar pesanan yang diterima dari l u x atau bagian dalam perusahaan sendiri Metode harga pokok pesanan menghitung biaya produksi per satuan b. metode harga pokok pesanan menghendaki dipisahkannya biaya produksi ke dalam biaya langsung dan biaya tidak langsung dalam hubungannya dengan produk Metode harga pokok pesanan cocok digunakan di dalarn perusahaan d. bumbu masak 3. SOAL-SOAL METODE HARGA POKOK PESANAN 1.OK PESANAN A.

dan biaya overhead pabrik untuk setiap pesanan b. jumlah biaya suatu pesanan sama dengan: Bahan baku yang digunakan a. Kartu piutang Dalam sistem kalkulasibiaya pesanan. Mengumpulkanbiaya bahan. Kartu harga pokok d. Jawaban a dan b benar Dalam metode harga pokok pesanan. Kartu persediaan c. Job cost sheet Manakah diantara buku pembantu berikut ini yang merupakan rincian rekening kontrol Barang Dalam Proses (Work in Process)? b. karena masih memerlukan test kualitas b. Biaya konversi yang untuk pesanan yang bersangkutan c. Kartu pembantu rekening Barang Dalam Proses c. dan c benar . Hanya barang yang sedang diproses saja c.a. yang termasuk persediaan dalam proses akhir periode. Surat pemesanan (pembelian) c. Biaya tenaga langsung d. Jawaban a dan b benar Kartu Harga Pokok Pesanan (Job Cost Sheet) digunakan untuk: a. Sheet permintaan bahan d. c. Job order Actual b. Process Standard Manakah diantaraperusahaan berikut ini yang kemungkinan besar menggunakan metode harga pokok pesanan dalam pengumpulan biaya produksinya? Perusahaan semen a. Perusahaan penyulingan rninyak d. b. meliputi: a. Perusahaan pupuk urea b. c. Barang yang aktif diproses dan barang jadi yang belum dipindah ke gudang barang jadi. Perusahaan percetakan Dalam job order costing. Kartu biaya a. d. upah langsung. Jawaban a. b. dokumen dasar untuk mengakumulasi biaya untuk setiap order adalah: Faktur a. b. Barang yang sedang diproses dan barang yang dipesan tapi belum diproses d.

10.

I

Direct labor ticket digunakan untuk memberi informasi tentang: Besarnya biaya upah tiap pesanan a. Besarnya biaya upah dalam rekening Barang Dalam Proses secara b. keseluruhan Biaya upah yang dimasukkan ke dalarn kartu harga pokok dan yang tidak c. dimasukkan ke dalam kartu harga pokok Jawaban a, b, dan c benar d.

1 1.

Manakah diantara rekening berikut ini yang didebit untuk mencatat upah tenaga kerja tak langsung dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan? a. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Upah Tenaga Kerja Tak Langsung b. c. Barang Dalam Proses Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan d. Dalam metode harga pokok pesanan, untuk menjurnal distribusi gaji manajer pabrik didebit rekening: Barang Dalam Proses Biaya Tenaga Kerja a. Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung b. c. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya d. Biaya Gaji dan Upah Dalam kalkulasi biaya pekerjaan pesanan, pajak penghasilan pegawai ditanggung dan dibayar oleh perusahaan atas karyawan pabrik sebaiknya diperhitungkan sebagai: a. Biaya tenaga kerja langsung b. Overhead Pabrik Biaya tenaga kerja tidak langsung c. d. Biaya administratif Pernakaian biaya tenaga kerja langsung untuk mengerjakan pesanan no. 456 di dalam perusahaan yang menggunakan metode harga pokok pesanan dicatat dengan mendebit rekening: a. Biaya Tenaga Kerja Langsung b. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Langsung c. Biaya Overhead Pabrik Yang Dibebankan d.

12.
l I

13.

14.

I

15.

1

Pada metode harga pokok pesanan, biaya overhead pabrik dibebankan pada pesanan atas dasar tarip ditentukan di muka karena: Pada metode harga pokok pesanan informasi biaya overhead pabrik a. sesungguhnya tidak penting

b.

c. d. 16.

Biaya overhead pabrik yang sesungguhnyabaru bisa diketahuibesarnya pada akhir periode, sedangkan harga pokok pesanan harus diketahui pada saat pesanan selesai, tanpa menunggu sampai pada akhir period Sudah diatur demikian oleh GAAP Jawaban a, b, dan c benar

Dalam perusahaan yang menggunakan harga pokok pesanan, pembebanan biaya overhead pabrik produk adalah atas dasar tarip yang ditentukan di muka. Alasan pembebanan tersebut adalah: a. Pembebananbiaya overheadpabrik atas dasar biaya yang sesungguhnya seringkali mengakibatkan berubah harga pokok persatuan produk yang dihasilkan dari bulan yang satu ke bulan yang lain Manajemen memerlukan informasiharga pokok produk per satuan pada b. saat pesanan selesai dikerjakan Berubah-ubahnya tingkat kegiatan produksi dari bulan ke bulan dan c. adanya perubahan tingkat efisiensi produksi Jawaban a, b, dan c benar d. Dalam perusahaan yang produksinyaberdasarkanpesanan, biaya overhead yang dibebankan kepada produk dihitung sebagai berikut: Mengalikan tarip biaya overhead pabrik yang ditentukan di muka a. dengan tingkat kapasitas yang direncanakan dalam periode yang bersangku tan Mengalikan tarip biaya overhead pabrik yang ditentukan di muka b. dengan tingkat kapasitasyang sesungguhnyadipakai untuk mengerjakan pesanan tertentu Membagi total biaya overheadpabrik yang dianggarkandengan taksiran c. dasar pembebanan dalam periode anggaran Mengalikan tarip biaya overhead pabrik yang ditentukan di muka d. dengan tingkat kapasitas teoritis yang diperkirakan dalam periode yang bersangkutan

18.

Manakah diantara rekening berikut ini yang didebit untuk mencatat biaya overheadpabrik yang dibebankankepada produk atas dasar tarip yang ditentukan di muka dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan? a. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Upah Tenaga Kerja Tak Langsung b. Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik c. Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan d. Dalam suatu Job order cost system yang menggunakan taripfactory overhead yang ditentukan lebih dahulu, bahan tidak langsung biasanya semula dicatat sebagai suatu kenaikan dalam:

19.

a. b. c. d.

Work in process control Factory overhead applied Factory overhead control Stores control

20.

Manakah diantara rekening berikut ini yang didebit untuk mencatat biaya depresiasi mesin dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan? a. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya b. Biaya Depresiasi c. Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan d. Untuk mencatat biaya depresiasi mesin pada metode harga pokok pesanan ayat jurnalnya adalah: a. Barang Dalam Proses xx Akumulasi Depresiasi Mesin xx b. Barang dalam proses-Overhead xx Biaya Overhead Pabrik-Dibebankan xx c. Biaya Overhead Pabrik-Sesungguhnya xx Akumulasi Depresiasi Mesin xx d. Jawaban a, b, dan c benar Dalam rangka akumulasibiayajob order,makajumlah rupiah yang terlibatdalam pengalihan persediaan barang dari rekening Barang Dalam Proses kepada rekening BarangJadi ialah hasil penjumlahan dari biaya yang dibebankankepada setiap job, Yang dimulai prosesnya selama masa yang bersangkutan a. Yang berada dalam proses selarna masa yang bersangkutan b. Yang diselesaikan dan yang terjual selama masa yang bersangkutan c. Yang diselesaikan dalam kurun masa yang bersangkutan d.

2 1.

23.

Jika suatu pesanan selesai dikerjakan, total biaya produksi yang dicatat dalam kartu harga pokok produk dicatat dengan jumal: a. Barang Dalam Proses xx Persediaan Produk Jadi xx b. Persediaan Produk Jadi xx Barang Dalam Proses xx c. Persediaan Produk Jadi xx Barang Dalam Proses xx d. Harga Pokok Penjualan xx Barang Dalam Proses xx

Jika pembebanan kurang biaya overhead pabrik dialokasikan ke persediaan dan harga pokok penjualan, maka ha1 itu akan: a. Menambah harga pokok produksi b. Menambah harga pokok produksi yang dijual c. Mengurangi harga pokok produksi Mengurangi harga pokok produk yang dijual d. Jika sisa bahan (scrap materials) diperlakukan sebagai pengurang biaya bahan baku dalam pesanan di mana sisa bahan tersebut terjadi, maka jurnal yang dibuat pada saat sisa bahan tersebut dijual adalah: a. Debit: Kas; Kredit: Hasil Penjualan Sisa bahan Debit: Kas; Kredit: Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya b. Debit: Kas; Kredit: Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku c. Debit: Kas; Kredit: Persediaan Bahan Baku d. Produk hilang dalam proses yang biasa terjadi,pada metode harga pokok pesanan akan berakibat: Naiknya harga pokok produk pesanan yang bersangkutan a. Naiknya biaya produksi pesanan yang bersangkutan b. Diperhitungkan harga pokok produk yang hilang tersebut dalam tarip c. biaya overhead pabrik d. Turunnya harga jual produk Perbedaan antara produk cacat dan produk rusak adalah: Produk rusak dapat diperbaiki, produk cacat tidak bisa diperbaiki a. Produk rusak dapat dijual, produk cacat tidak dapat dijual b. Produk cacat dapat dijual, produk rusak tidak dapat dijual c. Terjadinyaprodukrusak normal, terjadinyaproduk cacat karenakesalahan d. Apabila terjadi produkrusak yang disebabkanoleh karena sulitnya suatu pesanan dan produk rusak tersebut laku dijual, maka hasil penjualan produk rusak tersebut sebaiknya diperlakukan sebagai: Penamball harga pokok produk yang baik untuk pesanan yang a. bersangkutan b. Sebagai penghasilan diluar usaha Sebagai pengurang biaya overhead pabrik yang sesungguhnya c. Sebagaipengurang biayaoverhead pabrikdepartemen yang bersangkutan d. Sebuah perusahaan memakai metode harga pokok pesanan. Pada tahun 19A perusahaan tersebut mengerjakan pesanan yang sangat spesifik sehingga sebagian rusak. Harga pokok produk rusak tersebut sebaiknya diperlakukan: a. Sebagai kerugian Sebagai elemen overhead pabrik sesungguhnya b.

C.

d.,

Ditambahkan ke harga pokok produk yang baik untuk pesanan yang bersangkutan Ditambahkan ke harga pokok produk yang dihasilkan selama periode yang bersangkutan

30.

PT. X menggunakan metode harga pokok pesanan dalam pengumpulan biaya produksinya. Biaya overhead pabrik untuk tahun 19x1 diperkirakan sebesar Rp50.000 pada tingkat kapasitas yang direncanakan sebanyak 20.000 jam tenaga kerja langsung. Dalam bulan Mei 19x1 pesanan no. 46 1 telah selesai dikerjakan. Biaya bahan baku untuk pesanan tersebut berjumlah Rp4.000 dan biaya tenaga kerja langsung berjumlah Rp1.500 dengan tarip Rp5 per jam. Pada akhir tahun ternyata perusahaan telah beroperasi 24.000jam tenaga kerja langsung dan biay a overhead pabrik yang sesungguhnyadikeluarkan sebesarRp54.000. Jika pesanan no. 461 terdiri dari 100 unit produk, maka harga pokok per unit produk dalam pesanan tersebut adalah:

Data untuk menjawab soal no. 31 s.d. 33 Pembebanan Biaya Overhead Ke Pesanan, Selisih Pembebanan, dan Alokasi Selisih
Perusahaan A menggunakan metode harga pokok pesanan dalam menga~umulasikan biaya produksinya, Biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk dengan tarip yang ditentukan di muka atas dasar jam tenaga kerja langsung. Perusahaan menggunakan kapasitas produksi sesungguhnya yang diharapkan dalam menganggarkan biaya overhead pabrik. Dalam tahun 19x2 kapasitas sesungguhnya yang diharapkan diperkirakan 50.000 jam tenaga kerja langsung. Biaya overhead pabrik pada kapasitas tersebut dianggarkan sebesar Rp300.000. Catatan akuntansi perusahaan pada akhir tahun memperlihatkan data biaya dan data operasi berikut ini: Jam tenaga kerja langsung Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik sesungguhnya Harga pokok persediaan bahan baku Harga pokok persediaan produk dalam proses Harga pokok persediaan produk jadi Harga pokok produk yang terjual 3 1. 40.000 jam Rp 365.000 290.000 14.000 50.000 150.000 800.OOO

Biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk dalam tahun 19x2 adalah: a. Rp 240.000 b. Rp 290.000 C. RP - 6 d. Rp 20.000

32.

Pembebanan kurang biaya overhead pabrik dalam tahun 19x2 adalah: a. Rp 270.000 b. Rp 290.000 c. RP 6 d. Rp 50.000 Jika pernbebanan kurang biaya overhead pabnk dialokasikan kepada persediaan dan harga pokok penjualan, maka harga pokok produk yang dijual sesungguhnya tahun 19x2 adalah: a. Rp 840.000 b. Rp 784.000 c. Rp 816.000 d. Rp 820.000

33.

Data untuk menjawab soal no. 34 s.d 35 Pembebanan Biaya Overhead Pabrik dan Selisih Pembebanan
Perusahaan A memproduksiproduknya berdasarkan pesanan, semua pesanan diproduksi berdasarkan spesifikasi dari pemesan, dan biaya produksi dikumpulkan menurut pesanan yang diterima. Dalam tahun 19x2 perusahaan menetapkan biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atas dasar tarip sebesar 150% dari biaya tenaga kerja langsung. Catatan akuntansi perusahaan pada akhir tahun memperlihatkan data biaya dan data operasi berikut ini: 1.475 jam Jam tenaga kerja langsung Rp 4.00Oljam Tarip biaya tenaga kerja langsung Rp 9.000.000 Biaya overhead pabrik sesungguhnya 34. Biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada pesanan dalam tahun 19x2 adalah: a. Rp 8.850.000 b. Rp 13.500.000 c. Rp 150.000 d. Rp 6.000 Pembebanan kurang biaya overhead pabrik dalarn tahun 19x2 adalah: a. Rp 3.100.000 b. Rp 4.500.000 c. Rp 150.000 d. Rp 6.000

35.

Data untuk menjawab soal no. 36 s.d. 42 Pembebanan Biaya Overhead Pabrik, Analisis Selisih, Perhitungan Harga Pokok, dan Laba Kotor
Pada bulan Nopember 1984 PT Cinta Nusa menerima dua macam pesanan yaitu pesanan A dan B. Pesanan A sebanyak 1.000 buah dan B sebanyak 800 buah. Harga jual pesanan Pesanan A Rp 4.000 per buah dan Pesanan B Rp 2.500 per buah. Tarip biaya overhead pabrik (BOP) didasarkan pada jam kerja langsung (JKL) dengan kapasitas 2.000 jam, besarnya tarip per jam terdii dari tarip tetap Rp300 dan tarip variabel Rp500. Data untuk bulan Nopember 1984 adalah: Bahan dipakaiuntuk pesanan A Rp 800.000 dan Pesanan B Rpl.000.000. a).

Rp 1. Pengumpulan biaya produksi dilakukan dengan menggunakan metode harga pokok pesanan (joborder cost method).880. Tarip upah langsung Rp 1.6.Data biaya dan data operasi selarna bulan Mei 19x1 adalah sebagai berikut: Harga pokok bahan baku yang dibeli Rp 228. Rp 1.000.000 b.236.000 b. 36.120. 2. 42.000 d.500.000 b. c).000 (laba) dan selisih kapasitas Rp60.875.800 d.200. Rp 1.000.875 Besarnya biaya overhead pabrik dibebankan adalah: a. Biaya komersial Rp 200.600.720.460.000 Besarnya laba kotor atas penjualan sebelum diperhitungkan selisih BOP adalah: b.000 d. Rp 2. c. 45 Jurnal Pencatatan dan Selisih Pembebanan PT X berusaha dalam bisnis mebel. Rp 1.000 Besamya anggaran fleksibel pada kapasitas sesungguhnya: a.296. Rp 1.000 d.000 (rugi).000 c.000 c. 38. Rp 2.140. Data untuk menjawab soal no.056.800 . Rp 1. Rp 1. Rp 1.000 c.000 d. 41.000 d.440.000 b.000 c.316. Rp 2.000 37.296.000 Besamya laba kotor atas penjualan setelah diperhitungkan selisih BOP adalah: a. Rp 1.200 b.576. I 39.000 c. Rp 2.000 a.944.000 b. Rp 1.664. Pesanan B masih dalam proses pada akhir periode. 1 I 40. Rp 1. Rp 2. Rp 2. 43 s.000 c.256. Rp 1.800.744.000 Besarnya harga pokok produk dalam proses adalah: a. Rp 1.33.b). I Besarnya selisih anggaranRp40.000 per jam.d. Rp 1. d). Rp 2. Besarnya jam kerja langsung sesungguhnya adalah: 2.000 a.000 Besarnya total narga pokok produk selesai adalah: a. Rp 2. Rp 2. JKL sesungguhnya dinikrnati oleh Pesanan A 60% dan Pesanan B 40%. 1. Rp 1.000 d. 1.956. Pesanan A telah selesai dan langsung dijual.

I I . Rp 590.000.200 b. Kp 172.400 dalani Biayaoverhead pabrik dibebankan lebih rendah (iinderzrl~plic~ bulan Mei 19x1 sebesar: a. Rp 236. R p 7. 69. Rp 83. Pesanan nomor 66 mulai dikerjakan dalam bulan Pebruari 19x1. Rp 590.800 Harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi Rp 212.000. Rp 42.400 Untuk mencatat harga pokok produk yang dijunl dabm bulan Mei 19X I . (c). 46 s. pesanan nomor 69. Rp 609.000.000.000. Rp 10. Rp 212. biaya tenaga kerja langsungRp12. dan 70. Untuk mencatat harga pokok produk jadi yang telah selesai diproduksi dalam bulan Mei 19x1. pesanan nomor 70.000 d. pesanan nomor 68.800 b. Biaya tenaga kerja langsung yang dikeluarkan dalam bulan Maret 19x1 adalah: pesman nomor 66. Persediaan yang ada pada awal bulan Mei 19x1 adalah: Persedian bahan baku Rp 25.000.800 d.200 (b).600 Harga pokok produksi Rp 609. rekening Harga Pokok Penjualan didebit sebesar: a. Data untuk menjawab soal no.000 Perusahaan membebankanhiaya overhead pabrik kepada produk dengan tarip Rp 4.400 I I 44.08.OW.600 Jam mesin 43.000.800 Biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi (termasuk biaya depresiasi Rp17.200 jam Pendapatan penjualan Rp 672. Rp 228. dan biayaoverhead pabrik yang diperhitungkan atas dasar tarip Rp 9. pesanan nomor 68. 45. perusahaan mebel X mulai mengerjakanpesanan nomor 67.800 d. Persediaan produk jadi 83. Rp 177. Rp 19. pesanan nomor 67. Rp 172.000.600 (a). .600 b. pesanan nomor 69.800 c.00 per jam mesin. pesanan nomor 70. Biaya tenaga kerja langsung Rp 236. dan pada tanggal 1 Maret 19x1 masih merupakan produk dalam proses yang telah menelan biaya bahan baku sebesar Rp 30.d 48 Dalam bulan Maret 19X1. Rp 28. Persediaan produk dalam proses 43. Rp 42.000 Biaya bahan baku yang dikeluarkan dalam bulan Maret 19x1 adalah: pesanan nomor 67. rekening Barang Dalam proses dikredit sebesar: a.600) Rp 177.600 c.000.800 c. Rp 590. Rp 27. Rp 4. Rp 51.000 43.200 Persediaan produk jadi akhir Mei 19x1 adalah Rp 64. Rp 20.000.

Rp 77. Pesanan nomor 66.250 c. yang d). Rp 76. Rp 18. dan pesanan nomor 505.67. I Data untuk menjawab soal no.500.218 b. 3 0 Biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atas dasar tarip sebesar f).350.68. Rp 3. Rp 6. 49 s. pesanan nomor 504. Upah yang dibayarkan dengan tarip Rp 7.482 . Rp 124. 49. didistribusikan sebagai berikut: pesanan nomor 503. Rp 17. Rp 77. Rp 7. Rp 6. Pesanan nomor 503 dan 504 telah selesai dikerjakan dan ditransfer ke gudang. g). Rp 320.500 c. . Total harga pokok produk yang telah selesai diproduksi dalam bulan Juni 19x1 adalah: .000 Harga pokok produk yang masih dalam proses pada akhir bulan Maret 19x1 adalah: a. Rp 2. Harga pokok produk yang dijual dalam bulan Maret 19x1 adalah: a.000 b. Rp 80. ini: pesanan nomor 503.000 Biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk dalam bulan Maret 19X 1 adalah: a. Pesanan nomor 503 masih dalam proses awal bulan Juni dengan jumlah biaya Rp 8.5 per jam sebesar Rp 24.000 c.900.500 Bahan baku yang dikeluarkan dari gudang dibebankan kepada pesanan berikut b). Biaya overhead pabrik lain yang terjadi dalam bulan Juni 19x1 adalah sebesar e). 46.500.000. Rp 9. Rp 124. Rp 63. Rp 4 .000 d.Biaya overhead pabrik dibebankhn kepada produk atas dasar tarip 75% dari biaya tenaga kerja langsung. R p 25. Bahan penolong yang digunakan sebesar Rp 3.000 c. Data produksi dan biaya bulan Juni 19x1 adalah sebagai berikut: a).d 51 Perhitungan Harga Pokok dan Selisih Pembebanan Perusahaan Y mengolah biaya produksinya dengan menggunakan metode harga pokok pesanan. a. Pesanan nomor 503 telah diserahkan kepada pemesan dengan harga jual sebesar biaya produksi ditambah 50%.35 per jam tenaga kerja langsung. dan 70 telah selesai dikerjakan dan telah diserahkan kepada pemesan dalam bulan maret 19x1. 48. c).250 b. pesanan nomor 505. pesanan nomor 504.100. Rp 8. Rp 139.250 b.375. Rp 7.025.000 47.000 d. Rp 36.500. upah tidak langsung. Rp 301.

50.

Harga pokok produk yang rnasih dalam proses pada akhir bulan Juni 19x1 adalah: a. Rp 20.133 b. Rp 25.482 c. Rp 43.700 d. Rp 18.218 Dalam bulan Juni 19x1terjadi pembebanan lebih biaya overhead pabrik sebesar: a. Rp 9.825 b. Rp 9.983 c. Rp 265 d. Rp 158

5 1.

i
I

Data untuk menjawab soal no. 52 s.d. 56 Perhitungan Harga Pokok Produk Dalam Proses, Produk Selesai, Produk Terjual
Data biaya yang dieluarkan untuk pesanan nomor 1 sampai dengan 10 dalam bulan Mei dan Juni 19x1 adalah sebagai berikut.

Pesanan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Biaya yang dikeluarkan s/d tnl3 1 Mei 19x1 Rp 5.040.000 4.440.000 3.120.000 2.280.000 2.640.000

Biaya produksi bulan Juni 19 X 1

Rp 960.000 2.520.000 4.440.000 5.532.000 1.949.000 1.548.000 948.000

Pesanan No. 1 s.d. 3 telah selesai diproduksi dalam bulan Mei 19x1 Pesanan No. 4 s.d. 7 telah selesai diproduksi dalarn bulan Juni 19x1 Pesanan No. 8 s.d. 10 belum selesai diproduksi pada tanggal 30 Juni 19x1 Pesanan 1, 3,5,7 telah dijual kepada pembeli. 52. Harga pokok produk dalain proses pada tanggal 1 Juni 19X1 adalah: a. Rp 17.520.000 b. Rp 2 1.000.000 c. Rp 12.600.000 d. Rp 4.920.000 Harga pokok produk dalam proses pada tanggal 30 Juni 19x1 adalah: a. Rp 17.796.000 b. Rp 4.344.000 c. Rp 12.600.000 d. Rp 4.920.000

53.

54.

Harga pokok produk persediaan produk jadi tanggal 1 Juni 19x1 adalah: Rp 2 1.000.000 a. Rp 17.520.000 b. C. Rp 12.600.000 d. Rp 4.920.000 Harga pokok persediaan produk jadi pada tanggal 30 Juni 19x1 adalah: a. Rp 12.120.000 b. Rp 2 1.000.000 c. Rp 12.600.000 d. Rp 4.920.000 Harga pokok penjualan bulan Juni 19x1 adalah: a. Rp 17.520.000 b. c. Rp 12.600.000 d.

55.

56.

Rp 12.120.000 Rp 18.852.000

I
1

Data untuk menjawab soal no. 57 s.d. 62 Perhitungan Jam Kerja Langsung, Biaya Tenaga Kerja Langsung, Biaya Overhead Dibebankan, Perhitungan Harga Pokok, dan Laba Kotor

PT NUSA mengolah produk atas dasar pesanan. Biaya overhead pabrik dibebankan atas dasar tarip yang didasarkan atas anggaran biaya overhead pabrik (BOP) per bulan sebesar Rp 200.000 dan kapasitas normal 5.000 jam kerja langsung (JKL). Sesuai perjanjian dengan Serikat Pekerja Indonesia, biaya tenaga kerja langsung dibayar dengan tarip upah Rp 60 per JKL. Transaksi yang terjadi selarna bulan April 1989 adalah sebagai berikut: Diterimapesananno. 101 sebanyak 1.000 unit dengan harga jual Rp 500 a). per unit; pesanan no. 102 sebanyak 2.000 unit dengan harga jual Rp 400 per unit, pesanan no. 103 sebanyak 500 unit dengan harga jual Rp 600 per unit. Pemakaian bahan baku untuk pesanan no. 101: RplOO.OOO; no. 102: b). Rp150.000; dan no. 103: Rp 50.000. JKL yang sesungguhnya dinikmati oleh pesanan no. 101 sebesar 30%; c). no. 102 sebesar 50%; dan no. 103 sebesar 20%. BOP yang sesungguhnya terjadi Rp150.000; besarnya selisih BOP d). RplO.OOO (laba).
57. Besarnya JKL sesungguhnya adalah: a. 5.000 Jam c. 6.000 Jam

b. d.

4.000 Jam 5.250 Jam

58.

Besarnya biaya tenaga kerja langsung sesungguhnya terjadi sebesar: a. Rp 200.000 b. Rp 240.000 c. Rp 300.000 d. Rp 150.000 Besarnya BOP Dibebankan kepada pesanan adalah: b. a. Rp 160.000 c. Rp 200.000 d.

59.

Rp 150.000 Rp 210.000

60.

Total harga pokok pesanan no. 101 adalah: a. Rp 500.000 c. Rp 220.000

b. d.

Rp 250.000 Rp 200.000

61.

Jika pesanan no. 102 dijual maka total laba brutonya: a. Rp 800.000 b. C. Rp 350.000 d.

Rp 450.000 Rp 250.000

62.

Jika pesanan no. 103 telah selesai, harga pokok per unitnya: a. Rp 260 b. Rp c. Rp 175 d. Rp

200 300

Data untuk menjawab soal no. 63 s.d. 68 Perhitungan Jam Kerja Langsung, Biaya Tenaga Kerja Langsung, Biaya Overhead Pabrik, Harga Pokok Pesanan, dan Laba Bruto PT BUD1 mengolah produk atas dasar pesanan. Bcsarnya kapasitas norrnal 8.000 jam kerja langsung per bulan. Tarip BOP besxnya Rp 250 per jam kerja langsung terdiri aras tarip tetap Rp 100 dan tarip variabel Rp 150. Tarip upah langsung yang disetujui dengan serikat pekerja Rp 400 per jam kerja langsung. Transaksi bulan Oktober 1989 adalnh: (a). Diterima pesanan A sebanyak 500 unit dengan harga jual Rp 16.000 per unit dan pesanan B 200 unit dengan harga jual Rp 25.000 per unit. Bahan yang digunakan untuk pesanan A Rp 2.200.000 dan B Rp 1.800.000. (b). Analisis selisih biaya overhead pabrik bulan Ohtober r~~enunjukkan selisih (c). anggaran Rp 75.000 (laba) dan selisih kapasitas Rp 50.000 irugi). JKL sesungguhnya dinikmati oleh pesanan A: 60% &an B: 40%. (d).
63.

-Jam kerja langsung sesungguhnya adalah: a. 8.000 c. 8.750

b. d.

8.500 7.500

64.

Besarnya biaya tenaga kerja langsung untuk pesanan A adalah: a. Rp 800.000 b. Rp 750.000 C. Rp 850.000 d. Rp 875.000 Besarnya total biaya overhead pabrik sesungguhnya adalah: b. Rp 5.050.000 a. Rp 1.975.000 c. Rp 1.875.000 d. Rp 1.800.000 Total harga pokok pesanan A adalah: a. Rp 4.250.000 C. Rp 5.125.000

65.

66.

b. d.

Rp 5.500.000 Rp 4.875.000

67.

Jika pesanan B telah selesai maka harga pokok per unitnya dalah: a. Rp 25.000 b. Rp 18.750 c. Rp 16.250 d. Rp 20.000 Jika pesanan A telah dijual, maka laba bruto per unitnya adalah: a. Rp 5.750 b. Rp c. Rp 5.000 d. Rp

68.

6.000 4.750

Data untuk menjawab soal no. 69 s.d. 84 Jurnal Pencatatan, Biaya Overhead Pabrik, dan Harga Pokok Pesanan PT Arnin memiliki persediaan pada tanggal 1 Mei sebagai berikut: Rp 15.009 Barang Jadi Barang Dalam Proses 19.070 Material (bahan-bahan) 14.000 Dalam rekening Barang Dalam Proses terdapat tiga pesanan: Pesanan 261 Pesanan 262 Pesanan263 Material Rp 2.800 Rp 3.400 Rp 1.800 Tenaga kerja 2.100 2.700 1.350 Overhead pabrik dibebankan 1.680 2.160 1.080 Rp 6.580 Rp 8.260 Rp 4.230 Jumlah
Berikut ini adalah transaksi selama bulan Mei: Dibeli material dengan syarat n/30 Rp 22.000 a). Permintaan bahan untuk produksi Rp 21.000. Dari jumlah ini Rp 2.400 b). untuk bahan tidak langsung, sedangkan selisihnya digunakan dengan rincian sebagai berikut: Pesanan 261 Rp 5.300 Pesanan 262 7.400 Pesanan 263 5.900 Pengembalianbahan dari pabrik ke gudang Rp 600, darijumlah ini yang c). Rp 200 berupa bahan tidak langsung, sedangkan yang sisanya berasal dari pesanan 262. Pengembalian bahan ke pemasok (supplier) Rp 800. d). Gaji pegawai setelah dikurangi Pajak Penghasilan 15 persen Rp 32.300. e). Jumlah ini dibayar dalam bulan Mei juga. f). Rincian gaji pegawai adal&: 55 % tenaga kerja langsung, dengan rincian 261: 35 %, 2 6 2 45 %, dan 263: 20 %. 20% gaji tenaga kerja langsung 15% gaji bagian penjualan, dan 10% gaji bagian adrninistrasi dan umum.

g).

h). i). j).

k). 69.

Biaya overhead pabrik, selain yang disebutkan di muka berjumlah Rp 5.500.Termasuk dalam jumlah ini adalah biaya depresiasi untuk bangunan clan mesin pabrik Rp 2.000, dan asuransi pabrik terpakai Rp 250. Sisa dari overhead pabrik ini belum dibayar sampai dengan akhir Mei. Biaya overhead pabrik yang dibebankan ke produksi: 80 persen dari biaya tenaga kerja langsung ke tiga pesanan selama bulan Mei. Pesanan 261 dan pesanan 262 selesai dan dikirim ke gudang. Kedua Pesanan 261 dan Pesanan 262 dikirim ke pemesan, untuk itu pemesan ditagih dengan harga 40% di atas harga pokok penjualan. Penagihan piutang selama bulan Mei Rp 69.500.

Salah satu ayatjumal yang hams dibuat sehubungan dengan transaksi (b) adalah: a. Debit - Barang Dalam Proses Rp 21.000 Rp 18.600 b. Debit - Barang Dalam proses c. Debit - Material Rp 21.000 Rp 18.600 d. Debit - Material Salah satu ayatjurnal yang harus dibuat sehubungan dengan transaksi (b) adalah: Kredit - Barang Dalam Proses Rp 21.000 a. b. Kredit - Barang Dalam proses Rp 18.600 c. Kredit - Material Rp 21.000 d. Kredit - Material Rp 18.600 Jumlah Rp7.400 dalam transaksi (b) akan dipostingkan (dibukukan) ke: Buku besar Barang Dalam proses a. b. Buku besar Material Buku pembantu Barang Dalam Proses c. Buku besar Biaya Overhead Pabrik Kontrol (Sesungguhnya) d. Salah satu ayat jurnal sehubungan dengan transaksi (c) adalah: Kredit - Barang Dalam Proses RP a. b. Kredit - Barang Dalam Proses RP c. Kredit - Biaya Overhead Pabrik Kontrol Rp d. Jawaban b dan c benar

70.

7 1.

72.

600 400 200

73.

Ayat-ayat jurnal sehubungan dengan transaksi (e) adalah: a. Debit - Biaya Gaji dan Upah Rp 38.000 Kredit - Utang Gaji dan Upah Rp 32.300 b. c. Kredit - Utang Pajak Penghasilan Rp 5.700 d. Jawaban a, b, dan c benar

74.

Ayat-ayat jumal sehubungan dengan transaksi (f) adalah: Rp 20.900 a. Debit - Barang Dalam Proses Rp 17.765 b. Debit - Barang Dalam Proses c. Kredit- Biaya Overhead Pabrik Kontrol Rp 7.600 d. Jawaban a dan c benar Ayat-ayat jumal sehubungan dengan transaksi (g) adalah: a. Debit - Biaya Overhead Pabrik Kontrol b. Debit - Biaya Overhead Pabrik Applied c. Debit - Biaya Depresiasi d. Debit - Biaya Asuransi

75.

Rp 5.500 Rp 5.500 Rp 2.000 Rp 250

76.

Ayat-ayat jumal sehubungan dengan transaksi (g) adalah: a. Kredit - Biaya Overhead Pabrik Applied Rp 5.500 b. Kredit - Akumulasi Depresiasi Rp 2.000 c. Kredit - Utang Biaya Rp 3.250 d. Jawaban b dan c benar Berapakahjumlah biaya overhead pabrik yang dibebankan pada produksi selama bulan Mei? a. Rp 30.400 b. Rp 16.720 c. Rp 34.000 d. Rp17.620 Rekening yang didebit sehubungan dengan transaksi (h) adalah: a. Barang Dalarn proses b. Overhead Pabrik Yang Dibebankan (Applied) c. Overhead Pabrik Sesungguhnya (actual) Kartu harga Pokok Pesanan d. Berapakah harga jual pesanan no. 261 : a. Rp 29.948 c. Rp 32.180 Berapakah harga pokok pesanan no. 262: a. Rp 29.948 c . Rp 32.589

77.

78.

79.

b. d.

Rp 32.8 10,40 Rp 35.065,80

80.

b. d.

Rp 28.994 Rp 29.498

8 1.

Berapakah saldo rekening Persediaan Barang Jadi pada akhir bulan Mei: a. Rp 15.000 b. Rp 38.160 c. Rp 20.160 d. Rp 26.5 10

Rp 36. Rp 17.000 Overhead Pabrik-Applied Rp 16.500 belum a - - Ru 8. perusahaan akan membuat jumal: Barang Dalam Proses Rp 21. 84.636 Berapakah jumlah persediaan material pada akhir bulan Mei: a. Debit . Rp 16.000 Overhead Pabrik Jumlah Rpll. 85 s.500 1.d. Rp 15.720 c.000 Overhead Pabrik-Applied Rp 21. Data untuk menjawab soal no.Barang Dalam Proses Rp 57. Rp 17. Rp 15.636 a. Kredit. Pada saat membebankan biaya overhead pabrik.500 Barang Dalam Proses Rp 16.500 selesai belum Rp 1.600 Saldo rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya pada akhir bulan Mei sama dengan (saldo awal Mei dianggap sama dengan nol): a.500 Overhead Pabrik-Kontrol Overhead Pabrik-Applied Rp 16.700 d.800 b.900 b.Persediaan Barang Jadi c.000 5 .636 d. Kredit.620 83.000 Rp18.000 Ru 2.Harga Pokok Penjualan Rp 57.250 Rp 750 250 500 1.82.500 Rp 21. 89 Berikut ini adalah ikhtisar dari Job Order Cost Sheet per 31 Desember 1990 dari perusahaan ABC: Job Order No: 123 124 125 126 Pemakaian Bahan Baku Rp1.000 Overhead Pabrik-Kontrol Rp 16.500 belum 85.. Rp 19.636 b.000 d.000 750 2.500 Bahan Tidak Langsung 500 Tenaga Kerja Langsung 3.000 10. Ayat-ayat jurnal sehubungan dengan transaksi (i) adalah: Rp 57.000 c.Harga Pokok Pesanan Rp 57.000 6.000 .OOO Status pesanan selesai sudah Status pergiriman Rp 2. Rp 14. Debit .500 Overhead Applied Rp 21.

000. Rp 1 1. Rp 40.500 b. 20 persen 87.000 3) 4) Biaya overhead pabrik sesungguhnya 108. Rp 11.500 Pada akhir tahun perlu dibuat jumal penutup dengan mendebit rekening: Overhead Pabrik-Kontrol Rp 2 1.000 2) Bahan yang dipakai (bahan pembantu Rp9. Rekening yang didebit untuk mencatat transaksi 1) adalah: a.000. berarti besamya biaya overhead pabrik sama dengan: b.000. 97 Jurnal Pencatatan dan Harga Pokok Produk Dalam Proses Akhir Perusahaan "ASIA JAYA" menggunakan sistem hargapokokpesanan.000) 90. Data untuk menjawab soal no.33 persen d. Rp 29.000 Gaji dan upah (upah tidak langsung Rp 18. Pada akhir tahun rekening Barang Dalam Proses akan menunjukkan jumlah sebesar: a.000 Bila :arip biaya overhead pabrik didasarkan pada upah tenaga kerja langsung.500 Overhead Pabrik-Applied Rp 2 1 . 400 persen c. Barang dalam proses d. 90 s. 200 persen a.500 C. 88.000 Berapakah jumlah persediaan barang jadi pada akhir tahun? a. 6) Pesanan dengan biaya Rp252.000 Barang dalam proses 1 Juli 1989 Transaksi bulan Juli 1) Bahan baku yang dibeli 8 1.000. Rp 18. Rp 18.000. 18.000. 89.000.SO0 Overhead Pabrik-Kontrol Rp 16.000 dikirim ke pemesan dengan mark up 25% 7) di atas biaya 90.86.d.000 diselesaikan pada bulan Juli.000) 63.000 Biaya overhead pabrik dibebankan ke produksi sebesar 120% dari upah langsung 5) Pesanan dengan biaya 198. Pembelian bahan baku b. Persediaan bahan baku c. Rp 40. Rp 29.000 Overhead Pabrik-Applied Rp 16.500 d.500 c.000.500 b.000 d. Berikut ini adalah data biaya bulan Juli 1989: Rp 63.000. Biaya overhead pabnk .

Biaya gaji clan upah b. Barang dalam proses b. I Rekening yang didebit untuk mencatat transaksi 2) adalah: a. 94. Biaya overhead pabrik dibebankan Harga pokok barang dalam proses pada akhir bulan Juli berjumlah: a. Harga pokok penjualan d.000 c. Rp 63. Persediaan barang jadi c.000. Biaya upah langsung c. Rp 34. Barang dalam proses b.000. Rp 97.9 1. b.000 b. Biaya overhead pabrik sesungguhnya c. Utang gaji dan upah d.000. .000. 93. Kas Rekening yang didebit untuk mencatat transaksi 4) adalah: a. Rp 43. Biaya overhead pabrik dibebankan d.000 d. Persediaan bahan baku b. Persediaan barang jadi Rekening yang didebit untuk mencatat transaksi 6) adalah: Barang dalam proses a. Biaya overhead pabrik dibebankan Rekening yang dikredit untuk mencatat transaksi 7) adalah: a. 95. Persediaan barang jadi Rekening yang diiedit untuk mencatat transaksi 5) adalah: a. Biaya overhead pabrik sesungguhnya d. Biaya overhead pabrik sesungguhnya c. Biaya overhead pabrik dibebankan d. Persediaan barang jadi c. Harga pokok penjualan d. Barang dalam proses c. 96. b dan c benar Rekening yang dikredit untuk mencatat transaksi 3) adalah: a. 97. Barang dalam proses b.0'00 92.

000 unit A-3 60 A-4 5.000 Persediaan Produk Selesai A-4 5.000 Rp 50.000 Tenaga Kerja Rp 10.000 Overhead Pabrik Dibebankan Rp 30.000 Produk Selesai 150. 98 s.000 120.000 60.000 240.000' 10. 50.000 unit 48 1.000 Produk dalam proses 80.000 60.000 unit Rp.000 Biaya overhead pabrik 50.000 16. 30.000 unit 55 Biaya produksi yang dikeluarkan selama bulan Januari 1986: Nomor pesanan A.000 .1 A-2 A-3 A-5 Bahan baku - Rp 30.000 32.000 unit Rp 60.000 Biaya tenaga kerja langsung 30.Data untuk menjawab soal no.d.000 Biaya tenaga kerja langsung 20.000 Persediaan Produk Selesai A-7 5.000 20.000 60.000 40.000 Data produksi dan biaya per 1 Januari 1986: Persediaan Produk Dalam Proses A-1 Nomor pesanan Jumlah produk 3.500 unit Biaya bahan langsung Rp 40.000 Data produksi dan biaya per 3 1 Januari 1986: Persediaan Produk Dalam Proses A-6 Nomor pesanan Jumiah produk 2.000 unit Rp 50 A-2 4.000 Jurnlah pesanan yang diserahkan kepada pemesan selalna bulan Januari 1986: Nomor pesanan Jumlah Produksi Harga Jual per Unit A.000 unit Biaya bahan baku Rp.500 unit A-5 56 A-8 2.l 3.000 unit 46 1.000 120.000 30.000 12.000 10. 100 Jurnal Pencatatan dan Perhitungan Jam Kerja Langsung Data persediaan yang ada di PT DIASWATI. adalah sebagai berikut: Persediaan Per 31 Desember 1986 Per 1 Januari 1986 Bahan baku Rp 40.000 Biaya overhead pabrik 30.

Tidak Risa Dihitung 100. Harga Pokok Penjualan d. 2. Barang Dalam Proses b.000 Perusahaan menggunakan metode perpetual dalam mencatat persediaan bahan baku.3 Jam Kerja Langsung d. Rp 1.000 b.000 30.000 48.d. Rekening yang didebit untuk mencatathargapokokpesanan yang telah diserahkan 98.000 d.000 Rp 170.000 Di dalarn neraca perusahaan per 31 Desember 19x1 akan disajikan persediaan sisa bahan sebesar: 102. Rp 825. 3. Rekening yang didebit untuk mencatat biaya yang dikeluarkan selama bulan Januari adalah: a.375. Rp 750.000 satuan sisa bahan yang ditaksir dapat dijual dengan harga Rp 250 per satuan. Data untuk menjawab soal no. .000 -24.0 00 Ru 180.000 50.000 RD 360. Harga Pokok Penjualan d.500 Jam Kerja Langsung b. Rp 1.000 c.000 18. Hasil penjualan atas sisa bahan yang dilaporkan dalam laporan rugi-laba tahun tersebut adalah: a. 101.750 Jam Kerja Langsung c. Biaya Overhead Dibebankan Apabila tarip upah tenaga kerja langsung sebesar Rp72 per jam.000 60. jumlah jam kerja langsung yang dikonsumsi selama bulan Januari 1986 adalah: a. 4.A-6 A-7 A-8 Jumlah 40. 102 Perlakuan Sisa Bahan F ABC memperlakukan hasil penjualan sisabahan (scrapmaterials) sebagaipenghasilan T lain-lain. Persediaan Produk Jadi c.250. Biaya Overhead Dibebankan 99.000 satuan dengan harga Rp 275 per satuan. 101 s.000 60. S e l m a tahun 19x1 perusahaan tersebut menghasilkan 5. Dalam kenyataanyaselamatahun tersebut perusahaan dapat berhasil menjual3.583.000 120. Barang Dalarn Proses b. Persediaan Produk Jadi c. kepada pemesan selama bulan Januari adalah: a.

Biaya bahan baku Rp 500 . RETEKI memakai metode harga pokok pesanan.000 Didebit ke rekening Biaya OverheadPabrik SesungguhnyasebesarRp 20. Jurnlah biaya perbailcan produk cacat dan pencatatannya adalah: Didebit ke rekening Barang Dalam Proses sebesar Rp 200. Di dalam menatung tarip biayaoverheadpabrikperusahaantersebutmemasukkantaksiraanbiayaperbaikan produk cacat.Biaya tenaga kerja langsung RP 400 . PT.000 . Biaya produksi per satuan untuk pesanan no.000 Didebit ke rekening Barang Dalarn Proses sebesar Rp 50.Biaya overhead pabrik Rp 600 (150% dari biaya tenaga kerja langsung) SelamabulanApril 19x1produk cacat adalah200 satuandandalam memperbaiki produk cacat tersebut diperlukan biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp 100per satuan. 1211 adalah: .103.000 Didebitke rekening Biaya Overhead Pabrik SesungguhnyasebesarRp 50.

000 Persediaan produk jadi 150.000 jam Jumlah BOP dibebankan: 40.000 x Rp 6 = Rp 240. 461: Biaya bahan baku Rp4.00 (kurang dibebankan) 33.000. Jawab: a Rp 300.000 Harga pokok penjualan setelah mendapat alokasian selisih: Rp 800.000 Tarip pert$xbanan BOP: = Rp 2.250 Harga pokok per unit: Rp6.500/Rp 5 = Rp 300 jam Harga pokok pesanan no.000 Harga pokok penjualan 800.000 Tarip pembebanan BOP: = Rp 6 per jam kerja langsung 50.000 jam Jam kerja langsung yang konsumsi pesanan no.000 Rp 1.5 per jam kerja langsung I \ 20.000 RD 50.B.000 ke persediaan dan harga pokok penjualan: Elemen yang mendapat alokasi Jumlah Proporsi Alokasi Selisih Persediaan barang dalarn proses Rp 50.000 240.000 5% 15% 80% 100% Rp 2. Alokasi selisih BOP Rp 50.250/100 unit = Rp62.50 3 1.500 40. 461: Rp 1.000 Biaya tenaga kerja langsung 1. Jawab: d .000 = Rp 840.000 + Rp 40.BOP sesungguhnya BOP dibebankan Selisih total Jawab: a Rp 290. .000 32.000 .5) . PENYELESAIAN 30.Jumlah RD 6.500 7.500 750 Biaya overhead dibebankan: (300jam x Rp2.000 Ru 50. Jawab: b Rp 50.

850.000 900.000.000 JKL sesungguhnya = = 1.000 300 JKL 540.300 JKL 60.60.000 1.475 jam x Rp 4.000 = Rp 8.800jam x Rp800 = Rp1.000 (kurang dibebankan) Jawab: c Jumlah jam kerja langsung: Selisih kapasitas =(Volume dianggarkan -Volume sesungguhnya) Tarip tetap 60.000 Tenaga kerja langsung: A:60%~1.000 Overhead pabrik: A :60% x 1. 600.440.000 RD 150.000 jam .000 .000 8.800 jam x Rp1.000 Elemen Biaya Pesanan A Pesanan B Bahan baku Rp 800. Rp RD ~ 39. sehingga harga pokok produk selesai berjumlah Rp2.800jamxRp1.080.JKL sesungguhnya) 300 600.000 jam x Rp300) Variabel(1.000 Jawab: c BOP sesungguhnya BOP dibebankan Jumlah selisih I 35.800jamxRp800 ~ Jumlah harga pokok produksi Ru 2.850.900.000 B :4 0 % 1.000 Jumlah BOP dibebankan: 150% x Rp 5.000 600.500.800 jam x Rp800 864. Jawab: a BOP dibebankan: 1.900.000 Pesanan yang telah selesai adalah pesanan A.000 .34.000 . Jawab: a Jumlah biaya tenaga kerja langsung: 1.000 Jawab: e BOP dianggarkan pada JKL sesungguhnya: Tetap (2.000 (2.OOO 1.000 B : 40% x 1. Rp 9.744.000 = Rp 5.800 jam x Rp500) Jumlah Jawab: d 38.744.800 jam kerja langsung 300 JKL 37.

000 43.296.200 (+) Persediaan produk jadi awal bulan Mei Rp 692.600.000 Tenaga kerja 12.256. yaitu: Rp609.600 BOP dibebankan: 43.000.000 Rp 1.000 (J Persediaan produk jadi a h r bulan Mei ki Rp 628.000 2. sehingga harga pokok produk dalam proses berjumlah Rp2.000 Overhead pabrik 9. 46) Pesanan yang belum selesai adalah pesanan B.000 Rp 4.800 (=) Barang tersedia untuk dijual 64.000) Harga pokok penjualan B Jumlah laba kotor Rp 1. 46.QOO Jawab: d Hasil penjualan pesanan B: (1.000 41. 45. Rp 4. rekening Harga Pokok Penjualan didebit sebesar Rp628.000 2. Jawab: d (lihat no.200 jam x Rp4 172.800 Selisih Rp 4.800 Jumlah harga pokok penjualan Untuk mencatat harga pokok penjualan selama bulan Mei. Jawab: c BOP sesungguhnya Rp177.236.000 .800. Elemen Biaya Pesanan 66 Pesanan 67 Pesanan 68 Pesanan 69 Pesanan 70 Bulan Februari: Bahan baku Rp30.000 150.000 buah x Rp4.744.744.40.256. Jawab: b Rekening Barang Dalam Proses dikredit sebesar harga pokok produksi pesanan yang diselesaikan pada bulan Mei. 42.?jualan pesanan B Harga p ~ k o k penjualan B Jumlah laba kotor (-) Selisih BOP Jurnlah laba kotor setelah selisih Rp 1.800 (kurang dibebankan) Jawab: b ki Perhitungan harga pokok masing-masing pesanan sampai dengan a h r Maret 19x1: 44. Jawab: e Jumlah harga pokok penjualan bulan Mei 19X1: Rp 609.000 Jawab: d Hasil pe.600 Harga pokok produksi bulan Mei 83.OOO.

000 Pesanan 70 7.500 Pesanan 504 Pesanan 505 .5) x Rp3.5) x Rp3.Bulan Maret: Bahan baku Tenaga kerja 7.000 Rp19.500 I Pesanan yang telah selesai dan diserahkan ke pemesan selama bulan Maret adalah 66.500 Jumlah RD 301.000 Ru76.500 Pesanan 70 36.000 Overhead pabrik Tarip: 75% BTK 5.000.sehingga jurnlah harga pokok produk yang masih dalam proses berjumlah Rp76.500 Jumlah R~80.900/7.500 7.35 Jumlah Pesanan 503 Rp 8. Elemen Biaya Awal Juni Selama bulan Juni: Bahan baku Tenaga kerja langsung Overhead pabrik.000 21.000 Rv124.250 Jurnlah Rp63.000 Rp27.500 Rv77. Jawab: a Jumlah BOP dibebankan selama bulan Maret 19x1: Pesanan 66 Rp5. dan 70.35 504: (8.500 47.250 Pesanan 67 77.100/7. Jawab: c Jumlah harga pokok masing-masing pesanan sampai dengan akhir Juni 19x1: I 48.000 10.000 28.509 RD36.67.350/7.000 15.000 Pesanan 68 3 1.5) x Rp3.000 Rp51.000 20.250 Pesanan 67 15.500 Pesanan 69 21.000 Pesanan 68 124.000 42.250 Rp42. sehingga jumlah harga pokok produk yang dijual adalah: Pesanan 66 Rp 63.68. 49. 79.35 505 : (7.250 Jawab: d Pesanan yang sampai akhir bulan Maret belum selesai adalah no.000 3 1. 503 : (6.

000 Jumlah Jawab: e Pesanan yang diolah dalam bulan Juni 19x1 yang belum selesai sampai dengan tanggal 30 Juni adalah no.2dan 3. 4 Rp 2.000 Pesanan No.500 Upah tidak langsung 2. 8. Jawab: a Pesanan yang sampai akhii bulan Juni belum selesai adalah no.000 Rv 4.700 Jumlah 50.618 Pesanan 505 Jumlah Selisih pembebanan Rp 9. 10 948.000 Jumlah Rp 4.Pesanan yang selesai dalam bulan Juni adalah no.000 Pesanan No.920.640.300 Overhead lainnya Jumlah BOP dibebankan bulan Juni: Pesanan 503 Rp 3.983 Rp 158 (lebih dibebankan) Jawab: d Pesanan yang diolah dalam bulan Mei 19X1 yang belum selesai sampai dengan tanggal 31 Mei adalah no.445.280.000 Pesanan No.482 Pesanan 504 18. 1. 5 2.825 3. 8 Pesanan No. 4 dan 5.sehingga harga pokok produk dalam proses pada akhir Juni adalah: Rp 1. Jumlah harga pokok produk yang telah selesai: Pesanan 503 Rp 25. adalah pesanan yang telah selesai pada bulan Mei tetapibelum dikirim. Jawab: d BOP sesungguhnya bulan Juni: Bahan penolong Rp 3.218 Rp 43.133.283 9. 505. Hargapokokmasingmasing pesanan adalah: .082 Pesanan 504 3. 503 dan 504.025 4. sehingga jumlah harga pokok produk yang masih dalam proses berjumlah Rp20.9 dan 10. 9 1S48.949. sehingga harga pokok produk dalam proses pada akhir Mei atau awal Juni adalah: Pesanan No.yaitu pesananno.000 Jawab: c Persediaan produk jadi pada awal Juni.

600. yaitu pesanan no.440.d 3) dan Juni (4 s.000 (=) Selisih BOP (laba) RD 160. 2 Rp 4. 3 3.000 Pesanan No.000 Pesanan No. sehinggaJKL sesunggunyadapat dihitung sebagai berikut : Rp 160.3.000 ! Pesanan No.000 Pesanan No. 57.000 = Rp 40 per jam kerja langsung Tarip pembebanan 5. adalah pesanan yang telah selesai pada bulan Mei (1 s. 5 Rp 2.55.040.4 Mei Rp2. 3 3.00 5.000 Jawab: a Persediaan produk jadi pada tanggal 30 Juni.00 3.440. 1 Rp 5.000 Jumlah Rp 12. 2 dan 6.000 Juni Pesanan No.000 Ru18. Pesanan No.852.d 7) tetapi belum dikirim. 6 Rp 12. 2 4.040.000 Jumlah BOP dibebankan pada bulan April 1989: BOP sesungguhnya Rp 150.000 JKL Sesungguhnya : 56.000 Jumlah Jawab: b Data mengenai jam kerja langsung sesungguhnya.280.520.00 Mei 2.000 10.000 Pesanan No. 7 5. dan 7 Pesanan No.000 Pesanan No.000 jam kerja langsung Rp 40 .000 Juni 4.240.000' Jumlah Jawab : d Harga pokok penjualan dalam bulan Juni adalah harga pokok produk yang telah selesai dan sudah diiirim pada bulan Juni. = 4.640. Harga pokok masing-masing pesanan adalah : Pesanan No.532.00 960. 1 Rp 5.120.120.160. 1. yaitu pesanan no.120.5.440.000 BOP dibebankan BOP dibebankan adalah hasil perkalian antara tarip pembebanan dengan jam kerjalangsung sesungguhnya. dapat dihitung berdasarkan analisis BOP: Rp 200.

000 350.000 .000 x Rp60) 102: (50% x 4.Jawab: b Jumlah biaya tenaga kerja langsung yang terjadi dalarn bulan April 1989 adalah merupakan perkalian antara JKL sesungguhnya dengan tarip upah: 4.000 x Rp40) Jumlah Psn.500 . Jawab: a Lihat no.000/500 = Jawab: d Selisih kapasitas = 50. 102: Penjualan pesanan 102: (1. 102 (lihat no. 101 Psn 102 Psn 103 Harga pokok produksi pesanan no.000 = 50.000 = KS = (KN -KS) Tarip Tetap (8.000 x Rp40) 101: (20% x 4.000 .000. Jawab: b Laba bruto pesanan no.000 Jawab: a Harga pokok per unit pesanan 103: Rp 130.000 x Rp500) Harga pokok produksi no. 70) Jurnlah laba bruto Rp 800.000 Total harga pokok produksi 500 unit Jumlah dipesan Rp 260 Harga pokok per unit : Rp130.000 RIJ450.KS) 100 800. Jawab: c Jumlah harga pokok masing-masing pesanan sampai dengan akhir bulan April 1989 adalah sebagai berikut: Elemen Biaya Bahan baku Tenaga kerja: 101: (30% x 4. 101 adalah Rp 220.000 jam x Rp60 = Rp240.000 x Rp60) Overhead pabrik: 101: (30% x 4.000 x Rp60) 101: (20% x 4.000 x Rp40) 102: (50% x 4.000.100 KS 7. 67.

0001500 unit) Jawab: b Jurnal pencatatan transaksi (b): Barang Dalam Proses Pesanan A Rp2.800.000 R~5.500 jam x Rp400 = Rp1.200.000) Harga pokok produksi pesanan A Jumlah laba kotor Jumlah dipesan Laba kotor per unit: (Rp2.000 Rp 3.000 1.000 Jawab: e BOP dibebankan: (7.200. Harga jual pesanan A: (500 unit x Rp16.600 .Jawab: e Biaya tenaga kerja langsung untuk pesanan A: 60% x 7.875.750.875.000 R~2.800.000 1.000 Rp 75.000 5.125.125.000 200 unit Rp 18.500 jam x Rp250) Selisih total: Selisih anggaran (laba) Selisih efisiensi (mgi) BOP sesungguhnya Rp1.875.000/200 = Jawab: a Laba kotor pesanan A.500 jam x Rp400) Pesanan B: (40% x 7.850.750.000 25.500 jam x Rp250) Pesanan B: (40% x 7.125.750 Rp 18.000 Jawab: c Harga pokok masing-masing pesanan sarnpai dengan akhir bulan Oktober 1989: Elemen Biaya Bahan baku Upah langsung: Pesanan A: (60%x 7.750 Rp8.500 jam x Rp400) Overhead pabrik: Pesanan A: (60% x 7.500 jam x Rp250) Jumlah Jawab: b Harga pokok per unit pesanan B: Total harga pokok produksi pesanan B Jurnlah dipesan Harga pokok per unit: Rp3.000 1.000 750.000.000 500 unit Rp 5.000 Rp3.750.000 Rp 1.000 50.000 Pesanan B Rp1.800.

300 5.Biaya Overhead Pabrik Kontrol Material Jawab: c Lihat no. 79 Jawab: d Jumal pencatatan transaksi (c): Material Barang Dalam Proses Biaya Overhead Pabrik Kontrol Jawab: d Jumal pencatatan transaksi (e): Biaya Gaji dan Upah Utang Gaji dan Upah Utang Pajak Penghasilan Jawab: a Jumal pencatatan transaksi ( f ) : Barang Dalam Proses Biaya Overhead Pabrik Kontrol Biaya Penjualan Biaya Administrasi dan Umum Biaya Gaji dan Upah Jawab: a Jumal pencatatan transaksi (g): Biaya Overhead Pabrik Kontrol Rp 5.500 Akumulasi Depresiasi Asuransi Dibayar Di Muka Utang Biaya Jawab: d Lihat no.000 250 3.700 Rp 2.900 Biaya tenaga kerja langsung Rp 600 Rp 400 200 Rp 38. 79 Jawab: a Lihat no.250 . 85 Jawab: b Jumlah biaya overhead pabrik dibebankan dengan tarip 80% dari biaya tenaga kerja langsung: Rp20.000 Rp 32.

000 82.720 Jawab: e Perhitungan harga pokok dan harga masing-masing pesanan pada akhir bulan Mei: Perhitungan harga pokok.60 Belum Selesai 8 1.580 5.624.524 RD32.047 Pesanan 262 32.852 RD25.636 Rp 72.230 5.636 57. Jawab: e Lihat no.589 Rv35.80 R-p45.akhir Jawab: e Jurnal pencatatan transaksi (i): Rp 6. Pesanan 261 Pesanan 262 Pesanan 263 Biaya barang dalarn proses-awal Biaya selama bulan Mei: Bahan baku Tenaga kerja langsung Overhead pabrik dibebankan: 80% dari tenaga kerja langsung Jumlah Perhitungan harga jual: 40% dari harga pokok.047 Pesanan 262: 140% x Rp32.Tarip pembebanan 80% Biaya overhead pabrik dibebankan: 80% x Rp20.400 9.300 7.720 78.344 RD17.315 5. .654 79.000 Rp 57.900 4. Jawab: a Jurnal pencatatan transaksi (h): Biaya Overhead Pabrik Applied Rp 16. Rp 15. 89 Jawab: a Persediaan barang jadi pada akhir Mei: Persediaan barang jadi-awal (+) Harga pokok produk selesai selarna bulan Mei: Pesanan 261 Rp 25.260 7.589 Pesanan 293: 80.405 Rp 4.180 3. I 7.589 (=) Barang tersedia untuk dijual (-) Harga pokok penjualan (pesanan 261 & 262) Persediaan barang jadi .047 Rp 8.065. Pesanan 261 : 140% x Rp25.636 Rp 15.720 Biaya Overhead Pabrik Kontrol Rp 16.900= Rp16.

124 dengan harga pokok Rp 18. a 86. Jawab: a Jurnal penutup diperlukan pada akhir periode terhadap BOP dibebankan ke 88.500 Jawab: d Pada akhir tahun rekening Barang Dalam Proses akan menunjukkan saldo sebesar harga pokok pesanan yang belum selesai sampai dengan tanggal 3 1 Desember 1990.500 RQ 15. 85. Jawab: a Persediaan material pada akhir bulan Mei: Persediaan material-awal (+) Pembelian material-transaksi (a) (=) Material tersedia untuk dipakai (-) Pemakaian bahan-transaksi (b) (+) Pengenlbalian dari pabrik-transaksi (c) (-) Pengembalian ke pemasok-transaksi (d) Jumlah persediaan material-akhir Jawab: e Saldo rekening Biaya Overhead Pabrik Kontrol pada akhir bulan Mei: Pemakaian bahan tidak langsungtransaksi (b) Rp 2. 87. adalah sebesar harga pokok pesanan yang telah selesai tetapi belum dikirim ke pemesan. yaitu: Rp8.600 Biaya overhead lainnya-transaksi (g) 5. yaitu pesanan no.000 4.700 Jumlah Jawab: a Jumlah BOP dibebankan ke: Pesanan 123 Rp 6.500 Pesanan 125 Pesanan 126 Jumlah dibebankan Rp 21.Persediaan Barang Jadi Barang Dalam Proses 83.000 Jumlah 84. .400 (200) Pengembalian ke gudang-transaksi (c) Biaya tenaga kerja tidak langsungtransaksi (f) 7.500 Pesanan 125 Pesanan 126 2.500.000 Pesanan 124 10.500 Ro11. Jawab: b Jumlah persediaan barang jadi pada akhir tahun.

500 1.500 Pesanan 126 2.500 Pada akhir tahun rekening Barang Dalarn Proses akan menunjukkan saldo sebesar harga pokok pesanan yang belum selesai sampai dengan tanggal 31 Desember 1990.000 Jumlah BOP dibebankan ke: Pesanan 123 Pesanan 124 Pesanan 125 Pesanan 126 Jumlah dibebankan Rp RD 6. Jumlah penutup diperlukan pada akhir periode terhadap BOP dibebankan ke rekening BOP sesungguhnya: BOP Dibebankan (applied) Rp 2 1. yaitu : Pesanan 125 Rp 8.500 BOP Sesungguhnya (applied) Bila tarip pembebasan BOP didasarkan pada biaya tenaga kerja langsung.000 Jumlah Persediaan barang jadi pada akhir tahun.500 BOP Sesungguhnya (applied) 89. yaitu pesanan no. maka besarnya tarip adalah: Rp 6.oOO 2 1. 124 dengan harga pokok Rp 18.000 x 100% = 200% dari biaya kerja langsung Jurnal pencatatan .500.500 Jumlah Ru 11. maka besarnya tarip adalah : Rp6000 Tarippembebanan : Rp3.000 x 100% = 200% dari biaya kerja langsung Tarip pembebanan Rp 3. adalah sebesar harga pokok pesanan yang telah selesai tetapi belum dikirim ke pemesan.000 4.000 10.500 Jawab: b Bila tarip pembebanan BOP didasarkan pada biaya tenaga kerja langsung.rekening BOP sesungguhnya: BOP Dibebankan (applied) Rp 21.500 RP 21. Rp 21.

000.000 93.400.000.000 Rp108.000 9.400.000 Jurnal transaksi 5) Barang Dalarn Proses Rp86. b Jurnal transaksi 1) Persediaan Bahan Baku Utang DagangIKas 91.000 Rp90.000.000 92. b Jurnal transaksi 4) Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Berbagai Rekening Dikredit 94. d Jurnal transaksi 2) Barang Dalam Proses Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Persediaan Bahan Baku Rp54. C Rp108.000.000 95.000.000. c Jurnal transaksi 3) Barang Dalarn Proses Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Utang Gaji dan Upah Rp72.000 Biaya Overhead Pabrik Dibebarlkan Rp86. a Jurnal transaksi 6) Persediaan Barang Jadi Barang Dalarn Proses 96.90.000.000 18. b Jurnal transaksi 7) Mencatat hasii Penjualan .000 Rp63.000.

Rp3 15.000 Rp 232.000 Rp360.000 Harga pokok persediaan produk cialam proses 3 1 Juli RD97.000.000 Rp315.400.000 ~~252~000. c Mencatat pemakaian bahan baku selama bulan Januari: Barang Dalarn Proses Persediaan Mencatat biaya tenaga kerja selama bulan Januari: Barang Dalam Proses Utang Gaji dan Upah Mencatat biaya overhead pabrik dibebankan selama bulan Januari: Barang Dalam Proses Biaya Overhead Pabrik Dibebankan Rp360.000.400.Piutang Daganmas Pendapatan Penjualan Mencatat harga pokok penjualan Harga Pokok Penjualan Persediaan Barang Jadi 97.000 e Perhitungan harga pokok barang dalam proses akhir: Persediaan produk dalam proses 1 Juli Biaya yang dikeluarkan selama bulan Juli: Bahan bku Tenaga kerja langsung Overhead pabrik dibebankan Rp 63.00.000 Mencatat psanan yang diselesaikan selama bulan Januari: Persediaan Barang Jadi Barang Dalarn Proses .000.000 72.000 98-100 Jurnal pencatatan 98.400.000.000.000.000 86.000 Rp 74.000.000 Rp252.000 Rp 295.000 Harga pokok pesanan yang diselesaikan dalarn bulan Juli 198.

000 unit x Rp50) Pesanan A-2 (4.000 240.000 Rp 830.000 110.000 Rp 790.000 Persediaan barang dalam proses 31 Januari (pesanan no. 100.000 Bahan baku Tenaga kerja 180.000 192.000 unit x Rp55) Jumlah Jumal harga pokok penjualan: Harga Pokok Penjualan Persediaan Barang Jadi Perhitungan: Persediaan barang jadi 1 Januari (pesanan no.000 unit x Rp48) Pesanan A-3 (1.000 Overhead pabrik dibebankan 360. 98) a Perhitunganjam kerja langsung: Jumlah biaya tenaga kerja langsung selama bulan Januari Rp180.000 680.000 Mencatat penyerahan pesanan kepada pemesan selama bulan Januari: Jumal hasil penjualan: Piutang DagangIKas Pendapatan Penjualan Perhitungan: Pesanan A-1 (3.1) Biaya yang dikeluarkan selama bulan Januari: Rp 170.000 unit x Rp46) Pesanan A-5 (1.000 99.000 unit x Rp60) Pesanan A-4 (5. A-6) Harga pokok pesman yang selesai dalam bulan Januari Rp 80.Perhitunpan: Persediaan barang dalam proses 1 Januari (pesanan no.000 7 10.000 Rp 670.000 120.000 .000 Ru 590. A. a (Lihat no.500 unit x Rp56) Pesanan A-8 (2.000 60.000 Rp 826.000 230. A-7) Harga pokok penjualan dalam bulan Januari Rp 150. A-4) Harga pokok pesanan yang diselesaikan dalarn bulan Januari Harga pokok barang yang tersedia untuk dijual Persediaan barang jadi 3 1 Januari (pesanan no.000 Rp 150.000 84.

000 Jawab: d Karena hasil penjualan diperlakukan sebagai penghasilan lain-lain. .5000 jam Hasil penjualan sisa bahan: 3.makapersediaan tidak ada harga pokoknya.000/Rp72 = 2. Jawab:d Hasil penjualan sisa bahan: 3.000 Karena hasilpenjualan diperlakukan sebagaipenghasilan lain-lain.000.000.maka pada saatpengeluaranbiaya produk cacat didebitkan ke rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya sebesar: 200 x Rpl00 = Rp20. 101.Tarip upah per jam Rp72 Jumlah jam kerja langsung: Rp180. 102. 103. maka persediaan tidak ada harga pokoknya.000 satuan x Rp 275 = Rp 825. Karena pada saat penetapan tarip BOP taksiran biaya perbaikan produk cacat sudah diperhitungkan.000 satuan x Rp275 = Rp825. maka pada saat pengeluaran biaya produk cacat didebitkan ke rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya sebesar: 200 x Rp 100 = Rp20. Jawab:d Karena pada saat penetapan tarip BOP taksiran biaya perbaikan produk cacat sudahdiperhitungkan.

SOAL-SOAL METODE HARGA POKOK PROSES 1. Berikut ini adalah karakteristik metode harga pokok proses KECUALI : Biaya satuan dihitung pada saat produk selesai agar jika dijual dapat a. Benkut ini adalah perbedaan antara metode harga pokok pesanan dengan metode harga pokok proses. Tujuan produksi untuk persediaan yang kemudian dijual Karakteristik metode harga pokok proses sangat berbeda dengan karakteristik metode harga pokok pesanan. c. KECUALI: a. Percetakan Pabrik pupuk b. segera ditentukan harga pokok penjualannya Produk yang dihasilkan bersifat homogen b. b. Lebih sederhana Lebih sesuai untuk pemsahaan kecil b. 4. Hams dipilih salah satu yang sesuai c. Obyek pembebanan biaya produksi Pembebanan biaya overhead pabrik berdasarkan tarip c. Lebih cocok untuk perusahaan yang besar d. dan c benar d. 2.BAB IX METODE HARGA POKOK PROSES A. Jenis biay a produksi Metode harga pokok proses cocok digunakan pada perusahaan: a. d. 3. Kontraktor bangunan a. Kegiatan produksi berda~ar~anggaran produksi d. Saat perhitungan harga pokok b. .. sehingga penerapannya dalam pemsahaan manufaktur: a. c.

Sistem harga pokok proses b. pembebanan biaya overhead pabrik atas dasar tarip tidak merupakan keharusan Padametodeharga pokok proses. Menganggap bahwa persediaan barang dalam proses tidak ada c. KECUALI: a. Sistem harga pokok standar Sistem harga pokok estimasi d.biayabahanbaku tidalcharus dipisahkan dari biaya bahan penolong b. Standar b. Jumlah produk yang selesai Jurnlah produk yang masih dalam proses awal b. Padametodehargapokokproses. Judul-judul informasi yang dapat digunakan dan tercantum dalam laporan biaya produksi (production cost report) pada perusahaan yang menerapkan process costing method adalah tersebut dibawah ini. Jumlah bahan baku yang ditarnbahkan d.first out dalam kalkulasi biaya proses berbeda dengan metode rata-rata tertimbang. Biaya yang dibayarkan Biaya dihitung sebagai berikut (Perhitungan biaya) d. Informasi berikut ini diperlukan untuk menentukan besamya unit ekuivalen yangdi~lahdalamde~artemen produksipadaperiodetertentu. Biaya yang dibebankan c. Direct costing d.Manakah yang benar? a. . Perhitungan biaya menurut departemen c. Data produksi b. b. kalkulasi hargapokokprodukdilakukan c. dalam satuan produksi setara (equivalentproduction units) Dapat juga digunakan dalam kalkulasi biaya pesanan b. Pengalokasian biaya overhead Laporan harga pokok produksi per departemenmerupakanlaporanyang d. dalam hal bahwa metodefirst in.first out: Menyaratkan bahwa persediaan akhir barang dalam proses dinyatakan a. Sistem harga pokok pesanan c.KECUALI: a. Metodefirst in. Pada metode harga pokok proses. dan c benar Berikut ini yang tidak akan digunakan dalam kalkulasi biaya proses adalah: a. Jawaban a. pada akhir periode d. Jumlah produk yang biasanya hilang dalam proses produksi c.hasilkan pada perusahaan yang menerapkan: a.

Pada metode harga pokok proses. Defective material 14. terjadinya produk yang hilang tersebut Barang-barang yang dalarn proses produksi mengalami beberapa ketidak sempurnaan. karena ha1 itu mengakibatkan: Bertambahnya biaya unit dari bagian pabrik terdahulu. ha1 ini mempengaruhi biaya per unit dalam suatu laporan biaya-biaya produksi. Tidak memperhatikan tingkatan penyelesaian persediaan barang dalam proses awal ketika menghitung satuan produksi setara 1 1. Biaya Overhead Pabrik C. akan: Menambah harga pokok produk selesai pada departemen tersebut a. akan tetapi dengan menambah upah buruh dan mungkin bahanbahan baku masih dapat diperbaiki menjadi barang jadi yang sempurna. Biaya Tenaga Kerja Langsung d. diperlukan penyesuaian biaya unit yang dialihkan 13. namun tidak C. Manaikkan produktifitas Belum menyerap biaya produksi yang dikeluarkan dalarn periode d. Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung Produk yang hilang pada awal proses produksi di departemen produksi berbeda dengan produk yang hilang pada akhir proses produksi.biaya tenaga kerja untuk departemen pembanlu di debit ke rekening: a.d. barangbarang demikian dlkenal dengan nama: a. Menaikkan biaya produksi C. Tambahanbahan yang terjadididepartemen lanjutandanmempengaruhitambahan output pada departemen tersebut. Barang Dalam Proses-Tenaga Kerja b. penyesuaian biaya per unit yang dialihkan Bertambahnya biaya per unit dari bagian pabrik terdal~ulu. Asumsinya lebih realistis b. Menambah output produksi di departemen tersebut c. sehingga a. diperlukan penyesuaian biaya unit yang dialihkan kepada bagian ini Berkurangnyabiaya per unit dari bagian terdahulu. namun tidak d. Mengurangi harga pokok produk selesai pada departemen tersebut b. . terutama karena: a. sehingga diperlukan b. Mengurangi output di departemen tersebut d. perlu disesuaikan biaya unit yang dialihkan Berkurangnya biaya unit dari bagian pabrik terdahulu. 15. Jika ada tambahan bahan-bahan bagian pabrik selain dari bagian pabnk awal (pertama) dan tambahan itu mengakibatkan bertambahnya jumlah unit.

000 unit Produk dalam proses awal Diterirna dari Departemen 150. Jika biaya pengerjaan kembali produk cacat dibebankan kepada produk secara keseluruhan. Spoiled material Scrap material Waste material Masalah akuntansi yang timbul akibat adanya produk cacat adalah: a. Persediaan Produk Cacat d. Dibebankan pada produk dalam proses akhir b. b.b. Jika jumlah kegagalankerusakan dalarn proses-proses manufaktur melebihi tingkat normal. Bagaimana memperlakukan biaya pengerjaan kembali b. Biaya gabungan (jqint cost) d. Biaya periode (period cost) c. Dibebankan pada produk selesai yang diserahkan ke departemen c. c. Produknya diolah secara beruutan melalui dua departemen produksi. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya c. 19. X menggunakan metode harga pokok proses dalam pengumpulan biaya produksinya. yaitu Departemen 1 dan Departemen 2. Bagaimana memperlakukan hasil penjualan produk cacat tersebut Bagaimana memperlakukan persediaan produk cacat tersebut d. 18.d 21 Metode RATA-RATA &n FIFO FT. 16. Data produksi bulan Juni 19x1 adalah sebagai berikut: 7. Persediaan Bahan Baku Perlakuan produk rusak dalam suatu proses produksi yang normal adalah: Dibebankan kepada produk yang tidak rusak a.000 unit 2. Bagaimana memperlakukan kerugian yang timbul akibat adanya produk cacat c. rekening yang di debit untuk mencatat biaya pengerjaan kembali adalah: Barang Dalam Proses (biaya bahan baku) a.000 unit Produk dalam proses akhir . 20 s. 17. Biaya produk (product cost) Perhitungan Unit Ekuivalen Produksi Data untuk menjawab soal no. kegagalan/kerusakan itu harm diklasifikasikan sebagai: Beban yang ditangguhkan (deferred charge) a. d. b. berikutnya Dibebankan ke produk rusak itu sendii d.

Dari produk tersebut 22. biaya konversi: 75%.000 satuan.000 satuan d. 63.Awal periode : 100% biaya bahan.000 satuan.000 50.000 50. Tingkat penyelesaian produk dalam proses adalah: .600 55.350 55.000 satuan c. 55. biaya konversi: 30%.600 57. MEKAR JAYA. 60% biaya konversi . tahap pertama dari siklus proses produksi.000 50. unit 20.600 55.350 Jika perusahaan menggunakan metode masuk pertama-keluar pertama Vrst in.600 satuan Metode RATA-RATA Bahan ditambahkan pada permulaan proses dalam bagian pencampuran PT. 23.200 satuan b.unit ekuivalensi biaya bahan baku dan biaya konversi bulan Juni 19X1 adalah: Unit ekuivalensi Unit ekuivalensi Biava bahan baku Biaya konversi 50.350 Metode RATA-RATA Selama tahun 1984PT.000 50.000 50.350 55. Pada akhir tahun masih ada produk dalam proses sebanyak 12. 57. Berikut ini informasi untuk bulan Juli 19X1: . XYZ menghasilkan 60. 60. ekuivalensi (equivalentunit) biaya bahan baku dan biaya konversi bulan Juni 19x1 adalah: Unit ekuivalensi Unit ekuivalensi Biava bahan baku Biava konversi 65. first out). 15. 80% biaya konversi Apabila perusahaan memakai metode harga pokok rata-rata tertimbang.Tingkat penyelesaian produk dalam proses awal adalah sebagai berikut: biaya bahan baku: 100%. Jika perusahaan menggunakan metode harga pokok rata-rata tertimbang.000 50. Tingkat penyelesaian produk dalam proses akhir adalah sebagai berikut: biaya bahan baku: 100% .000 50. maka unit ekuivalen biaya konversi adalah: a.600 57.350 50.000 satuan diantaranya berasal dari produk dalam proses awal.Akhir periode: 100% biaya bahan.

000 Dipindahkan (transfer) ke bagian berikutnyal Hilang dalam proses produksi 30. 210.000 Metode FIFO 24. 25 s.000 d.MERDEKA menghitung arus fisik barang yang selesai pada Departemen A untuk bulan September 1989 sebagai berikut: Unit yang diselesaikan: Dari barang dalam proses.000 38.000 unit. Berapakah unit produksi ekuivalen untuk bulan September 1989 berdasarkan metode FIFO? Unit ekuivalensi Unit ekuivalensi Biava bahan baku Biava konversi a. 48. berapa satuan ekuivalen untuk perhitungan biaya satuan bahan? a. dengan tingkat penyelesaian bahan 100% clan konversi 80%.000 10. 1 September 1989 Dari produksi bulan September 1989 10.000 Bahan ditarnbahkan pada awal proses.MEKAR JAYA biaya yang terjadi untuk satuan yang hilang diserap oleh satuan baik yang tersedia.000 Pekerjaan dalam pelaksanaan 3 1 Juli (50% selesai untuk biaya konversi) 70. 27 Metode FIFO dari RATA-RATA Dari sebuah laporan harga pokok produksi diketahui besarnya produk dalam proses awal periode jumlahnya 10.000 Dimulai dalam bulan Juli 150.Produkdalamprosesakhirperiodesebanyak 15. 38.000 40.000 30.Satuan Pekerjaan dalam pel&sanaan 1 Juli (60% selesai untuk biaya konversi) 60. 48.d.dengantingkatpenyelesaian .000 d. FT. 120. Barang dalam proses pada 1 September 1989 mempunyai tingkat penyelesaian 80% untuk biaya konversi.800 b. 38.000 c. Dengan menggunakan metode rata-rata tertimbang. sedangkan barang dalam proses pada 30 September 1989 mempunyai tingkat penyelesaian 60% untuk biaya konversi.800 48.000 c.000 Menurut sistem akuntansibiaya FT. 180.000 36.000 44. 345.000 buah.000buah.000 Data untuk menjawab soal no.000 b. Barang dalam proses pada 30 September 1989 adalah 8.

d. 88.000 buah b.000 buah 27.000 buah c.000 satuan b. 90.bahan 80% dan biaya konversi 50%. 90.000 satuan.000 satuan Data untuk menjawab soal no.000 satuan Tingkat penyelesaian . 93. 100.000 satuan 29. 100.Biaya konversi 60% 50% Apabila unit ekuivalensi biaya bahan baku dalam metode harga pokok rata-rata tertimbang (weighted average cost method) adalah 100.000 buah 26. Metode FIFO dari RATA-RATA 28. 85.000 buah 87.000 satuan d. 95.000 buah 85.000 buah. d.500 buah d. besamya produksi ekuivalen adalah: Biaya Bahan Biaya Konversi a. 30 s. 110. Dari data pada sod di atas berarti jumlah produk jadi adalah: a. T ABC yang mengolah produk melalui satu departemen menggunakan 3 jenis bahan. yaitu: .500 buah C.000 buah 87. 100.500 buah Besarnya produksi ekuivalen biaya konversi dengan metode rata-rata adalah: a. 90. Dan sebuah perusahaan diperoleh informasi mengenai produk dalarn proses sebagai berikut: Awal Periode Akhir Periode Jumlah produk dalam proses 10.500 buah c. 88. 32 Metode FIFO I.000 satuan c. 100.000 satuan c. Jika dengan metode FIFO. 25.500 buah b. 88.000 satuan 15. 88.000 buah 92.000 buah d. maka unit ekuivalensi biaya bahan baku pada masuk pertama keluar pertama (FIFO method) adalah: a. Besamya produk selesai adalah: a.000 satuan d. 90. 100.Biaya bahan baku 100% 60% . Produksi ekuivalen bahan dengan metode rata-rata adalah 100.000 satuan b.000 buah b. 90.000 buah 95. 100.

000 unit Apabila menggunakan metode masuk pertama keluar pertama. 27. 32. setelah itu dipindahkan ke Departemen B.000 unit d. Di departemen B biaya konversi dialokasikan merata ke setiap ekuivalen unit produksi. Sementara itu tidak terjadi kerusakan didepartemen . Apabila menggunakan metode masuk pertama keluar pertama. Dalam beberapa detik pertama zat X hilang sebanyak 5 persen.000 unit b.000 unit dengan tingkat penyelesaian biaya konversi 60%.000 unit d.000 unit b. Produk selesai dipindahkan ke persediaan barang jadi. 35. 25. 23. Disini zat Y ditarnbahkan ketika proses produksi sudah mencapai 50 persen. 30.000 unit b. barang jadi adalah kg. Kerusakan normal terjadi di Departemen A. dialokasikan hanya pada produk yang baik saja. jumlah unit ekuivalen biaya bahan baku B adalah: a. Produk dalam proses akhir 10. 35.000 unit c. jumlah unit ekuivalen biaya tenaga kerja adalah: a.000 unit Apabila menggunakan metode masuk pertama keluar pertama.d. 27. Pertama-tama zat X diproses di departemen A. Departemen A dan B.000 unit. menghasilkan produk kirnia yang untuk tujuan akuntansi prosesnya dibagi menjadi dua departemen. 23.B Di departemen A biaya konversi mencakup seluruh kegiatan pengolahan dan 2).000 unit C. 34 Metode FIFO PT AYO MAJU. Satuan yang digunakan untuk mengukur/menghitung barang dalarn proses dan 3). 25. 35. Fomula ramuannya terdiri dari satu bagian zat X dan satu bagian zat Y. Proses ini berlangsung terus menerus.000 unit dengan tingkat penyelesaian biaya konversi 40%. Produk jadi yang dipindahkan ke gudang 25. 27. karena kerusakan yang terjadi adalah normal. 25. Data untuk menjawab soal no. . 23. 33 s. 24 jam sehari.000 unit d. jumlah unit ekuivalen biaya bahan baku C adalah: a. Keterangan lainnya: 1).000 unit c.Bahan A: pada awal proses Bahan B: pada tingkat penyelesaian 50% Bahan C: pada tingkat penyelesaian 75% Informasi untuk kegiatan bulan Mei 1990 adalah: Produk dalam proses awal 10.000 unit 3 1.

522.000 kg 979.000 kg 869. 3 1 Oktober ? Tingkat penyelesaian persediaan akhir 113 Bahan yang ditambahkan di departemen B 33. 1 Oktober 88. Data untuk bulan . 869. Perhitungan Harga Pokok Tidak Ada Persediaan Produk Dalam Proses pada Awal Periode Data untuk menjawab soal no. X rnenggunakan metode harga pokok proses. 38 Dua Departemen PT. Berikut ini data produksi dan biaya produksi pada bulan Juni 1987: Departemen A Data produksi: Ditransfer ke Departemen B Ditransfer ke Gudang Barang dalam proses akhir: 100% bahan baku. 511.500 kg 423.000 kg b.4). 34. 979.500 kg a. Departemen B 110.000 kg 3110 ? ? ? 115 489.000 kg c.000 kg 979. 522.000 kg Tingkat penyelesaian pada 314 persediaan awal Mulai diproses/diterima dari departemen sebelumnya 550.500 kg Ekuivalen produksi bagi Depatemen A untuk bulan Oktober 1985 dengan metode FIFO adalah: Bahan X Konversi 478. 869.500 kg Ekuivalen produksi bagi departemen B untuk bulan Oktober 1985dengan metode FIFO adalah: Konversi Bahan X a. 40% biaya konversi 1/3 biaya konversi 46.d.000 kg .500 kg d.500 kg 478. 423. 35 s.500 kg c.500 kg Barang dalam proses.000 kg 14.500 kg b.Oktober 1985: Departemen A Barang dalarn proses.000 kg Tidak bisa dihitung d.000 kg - 6.000 kg - Departemen B - 40.500 kg 511.000 kg Dipindahkan ke departemen berikut 511.

Rp14. biayaoverhead pabrik: Rp39. 37. Jumlah produk selesai yang ditransfer ke Departemen B: 50.000 60. Jawaban a. c.61 a.50 d.650. Berikut ini adalah biaya dan data produksi bulan Januari 19x1 Departemen A yang merupakan departemen pertarna dalam proses produksi. Biaya bahan baku Departemen A b.000 . Jawaban a.600 unit c. Harga pokok produk setengah jadi yang ditransfer ke Departemen B adalah: a.120 34. Biaya konversi Departemen A 51.000 b. Jawaban a.000 65. Rp3.952 c. b.000 unit Jawaban a.940 d.600.000 60. Biaya bahan: Rp52. dan c benar Biaya yang ditambahkan di Departemen B per unit adalah: Rp1. Departemen Pertama PT. Rp1.920 Manakah yang benar dari hasil perhitungan jumlah ekuivalen produk yang diselesaikan pada bulan Juni 1987 berikut ini? Jurnlah vroduk ekuivalen 60. b.Data biaya: Biaya bahan baku Biaya tenaga kerja Biaya overhead pabrik 35. 60. 39 s. dan c benar Harga pokok persediaan barang dalam proses akhir di Departemen A adalah: a.650 d. dan 213 biaya overhead pabrik 15.200 36.572 Rp 35. dan overhead pabrik bulan Januari 19x1 di Departemen A adalah: Bahan Tenaga keria Overhead pabrik a. Produknya diproses melalui dua departemen produksi A dan B. Data untuk menjawab soal no.700 3 1. Rp24. 213 biaya tenaga kerja.000 60.000 65. 55. 60.000 60.000 60. b. Rp14. 38.000 60. dan c benar d.000 unit a. Biaya tenaga kerja: Rp42.000 unit 39. b. Rp86.000 b. Unit ekuivalen bahan.000 c. dan c benar 36.d 40 Dua Departemen.675 c.89 b.560 b. AR menggunakan sistem harga pokok proses. Rp 3 1.000 unit Jumlah produk dalam proses pada akhir bulan dengan tingkat penyelesaian 100% biaya bahan.000 d.000. 65. Rp140. Biaya konversi Departemen B 42. Rp145. tenaga kerja.

Pada akhir bulan Maret 1990 diketahui biaya per unit produk adalah sebagai berikut: biaya bahan baku Rp22. .200 42. Total biaya bahan adalah: . a. Departemen Pertama Sebuah perusahaan mengolah produk melalui dua departemen produksi. Rp 0. Rp 60.66 d.d.200 c. biaya tenaga kerja langsung 85%.70 Rp 0. Rp 295.70 Data untuk rnenjawab soal no. Produk yang dihasilkan departemen 1 dalam bulan Januari 1990adalah 12.000 Rp 137.75 c. biaya tenaga kerja langsung Rp12.000unit.00. d. X menghasilkan satu macam produk bemama Y yang diolah melalui dua departemen produksi dengan menggunakan metode proses. Rp 752.260 43. Departemen Pertama PT.66 Rp 0. Rp 0.000 c. Produk yang masih dalarn proses akhir 1.000 Harga pokok produk dalarn proses akhir adalah: a.000 d. Rp259. Rp 702. Rp 0. b. 44 s.400 b. dan biayaoverheadpabrik sebesar90%. Harga pokok produk yang ditransfer ke departemen 2.560 d.000kg.81 Rp 0. biaya tenaga kerja langsung 80%.8 1 Rp 0. Hargapokokproduksi per unit adalah sebagai berikut: Biaya bahan baku Rp 20 Biaya tenaga kerja langsung 15 Biaya overhead pabrik 22 Total Rv 57 41.90 Rp 0. Rp 846.70 Rp 0. Produkdalam proses akhir bulan adalah 1.50. adalah: a. c.d. dan biaya overhead pabrik sebesar Rp18.760 b. Rp 85.81 Rp 0. Rp 60.50.66 b. Biaya produksi per unit produk yang diproduksi bulan Januari di Departemen A adalah: Bahan Tenaga keria Overhead uabrik a.200 kg dengan tingkat penyelesaian biaya bahan 80%. Rp 196. Rp 0.200 unit (biaya bahan baku 100%. Informasi yang diperoleh mengenai proses produksi di Departemen A pada bulan Maret 1990 adalah sebagai berikut: Produk yang diserahkan dari Departemen A ke Departemen B sebesar 15. Rp 684.40.98 Rp 0. dan biaya overhead pabrik 90%). 46 Dua Departemen. 41 s. 43 Dua Departemen.760 Rp 58.600 Data untuk rnenjawab soal no.

49.995 d.480 45. Rp 916. Rp 57. Rp 1. 46.480 Total harga pokok produk dalam proses akhir dan produk selesai adalah: a. Rp 1.d.000 Harga pokok per unit produk yang ditransfer ke gudang produk selesai adalah: a.000 unit dengan tingkat penyelesaian: 100% biaya bahan baku. .000.600 b.440 d.160.000 Produk dalam proses akhir 3. Rp 959. Di dalam Departemen 2 ditambahkan 4 roda karet untuk setiap mobil pada akhir proses.500.095 b. 50 Dua Departemen.090. Rp 938.160 48.160 Biaya produksi per unit yang ditambahkan dalam Departemen 2 dalam bulan maret adalah: a. Rp 1.200. 47. Rp 58. Rp 2.500 b. Rp 1.780 b.000 Harga pokok pmduk dalam proses akhir bulan Maret 1990 adalah: a. Rp 1. Rp 750. Rp 858. Rp 1. Rp 795. 213 biaya konversi. Rp 901. Rp 1.000 a.750 d.000 c.380 b. Rp 1.280 d. Total harga pokok produk selesai yang diserahkan ke gudang adalah: a. Biaya bahan baku yang ditambahkan Departemen 2 dalam bulan Maret adalah sebesar: b.120.995 c.000 Biaya yang ditambahkan Departemen 2: Bahan baku Rp20 untuk setiap roda karet Tenaga kerja langsung Rp 8.44.440 c.000 d. Data untuk menjawab soal no. Rp 1.'Departemen Lanjutan.OOO Biaya produksi dari Departemen 1 Rp 13. BULAKSUMUR memproduksi mobil mainan anak-anak. Rp 56. 47 s. Rp 54.750 c.440 c. Di dalam Departemen 1 body mobil dicetak dengan bahan plastik. Ada Tambahan Bahan F'T.OOO c. Rp 1.000 Biaya overhead pabrik Rp 6. Berikut ini adalah kegiatan Departemen 2 dalam bulan Maret: Unit yang diterima dari Departemen 1 15.000 d. Rp 884. Rp 853.

50. Rp 1. Rp 1. Ada Produk Hilang pada A wal Proses.000 d. 34. Harga pokok per kg produk ymg diproduksi Departemen A dalam bulan Januari 19x1 adalah: RP 10 b.800 34. 23. 57 Dua Departemen. . 30.000 kg Diterima dari Departemen A Produk jadi yang ditransfer ke gudang Produk dalam proses akhir 4. 9 4 0 c.000 Departemen B 52. Rp 4. 51 s.000 53.470. Rp 616. Rp 2 4 .970. c.000 Biaya overhead pabrik Tingkat penyelesaian produk dalam proses akhir: Biaya bahan baku 100% Biaya konversi 20% 5 1.000 Data untuk menjawab soal no.000 23. Rp 32. RP 20 a.350. Rp 2. RP 15 d.000 c.800 c. RP 45 Total harga pokok produk selesai yang ditransfer oleh Departemen A ke Departemen B dalam bulan Januari 19x1 adalah: a. dan Penjurnalan PT.418.000 30.400 d.d. Rp 9.637.000 b.000 a. Total harga pokok produk dalarn proses akhir bulan adalah: b. Bagian akuntansi biaya perusahaan tersebut mengumpulkan data sebagai berikut ini untuk bulan Januari 19X1: Departemen A Dimasukkan ke dalam proses 35. PAMAN SAM memiliki dua departemen produksi untuk menghasilkan produknya: Departemen A dan Departemen B. Unit ekuivalensi biaya Departemen A adalah: Konversi Bahan Baku a.000 616.400 27. 27.000 b.000 Biaya tenaga kerja 462.000 c.000 kg Biaya yang dikeluarkan dalam bulan Januari 19x1: Biaya b a h baku ~ Rp 340.000 kg Produk hilang dalam proses awal 1.940.

c. B.000 Barang Dalam Proses Departemen A Rp 2.000 Barang Dalam Proses-Tenaga Kerja Dept. .000 Barang Dalam Proses-Bahan Baku Dept. Harga pokok per kg produk yang ditambahkan dalam Departemen B bulan Januari 19x1 adalah: RP 55 b.000 Barang Dalam Proses-Tenaga Kerja Dept.350.000 Barang Dalam Proses-Bahan Baku Dept.418.000 Barang Dalam Proses-Departemen A Jurnal untuk mencatat harga pokok produk selesai Departemen B yang ditransfer ke gudang dalam bulan Januari 19x1 adalah: a. B Rp 1.000 c. 57.000 Barang Dalam Proses-Overhead Pabrik Dept.050. B 600. dan C dengan menggunakarn metode harga pokok proses. B Rp 585. B 72.000 Barang Dalam Proses-TenBga Kerja Dept.000 bBarang Dalam Proses-Departemen B Rp 2.000 Barang Dalam Proses-Bahan Baku Dept.Persediaan Produk Jadi Rp 68. Rp 15kg Jumal untuk mencatat harga pokok produk selesai Departemen A yang ditransfer ke Departemen B dalam bulan Juli 19x1 adalah: a.350.Persediaan Produk Jadi Rp 1.000 d. B Rp 40.350. B d.000 630.Barang Dalam Proses-Departemen B Rp 616. Data 55.000 Barang Dalam Proses-Overhead Pabrik Dept.Barang Dalam proses-~e~akemen B Rp 1.54.000 Barang Dalam Proses-Tenaga Kerja Dept.Persediaan Produk Jadi Rp 432. 56.000 Barang Dalam Proses-Overhead Pabrik Dept.000 Barang Dalam Proses-Bahan Baku Dept.000 Barang Dalarn Proses-Departemen A Rp 1.637. 58. B Rp 300. B 525.Barang Dalam Proses-Departemen B Rp 1. RP 25 a. c.205. B 165.000 c.000 Rp 616. RP 30 d.000 Tiga Deparfemen PT MATAHU rnmengolah produknya melalui tiga bagian produksi. RP 51kg d. RP l o k g a.637.418. yaitu bagian produksi A. B 12. RP 45 Penyesuaian (adjustment) terhadap harga pokok per kg produk yang diterima oleh Departemen B dari Departemen A karena adanya produk yang hilang pada awal proses di Departemen B adalah sebesar: RP 25kg b.000 b.Persediaan Produk Jadi Rp 1. B 16. B 60.000 Barang Dalam Proses-Departemen A Rp 1.000 Barang Dalam Proses-Overhead Pabrik Dept.

Setiap liter produk yang diterima dari Departemen I pada awal proses di DepartemenI1 ditarnbahbahan sebanyak4 liter@ Rp 10.000 satuan selesai dan diolah lebih lanjut pada Bagian Produksi B.500 Rp 1.000.900. 59 s. Bagian Produksi B Biaya yang ditambahkan pada Bagian Produksi B adalah biaya tenaga kerja Rp 1. Pi-oduk dalam proses akhir periode sebanyak 5.000. Tambahan biaya pada Bagian Produksi C ini adalah sebesar Rp 9. .462.000.000 satuan. BAKTI NUSA mengolah produk melalui dua departemen.000 Rp 500 Rp 500 Rp 250 Bagian Produksi C Rp 4. di mana 8. 61 Dua Departemen.500 untuk biaya overhead pabrik.000.500 Rp 1. d.900.Dari proses bagian produksi B ini dihasilkan 7. Departemen Lanjutan. biaya tenaga kerja Rp 3. $00 satuan masih dalam proses dengan tingkat penyelesaian 75% untuk biaya konvetsi. yaitu data yang berhubungan dengan produksi dan biaya selama bulan Oktober 1988. di mana 5.000 liter dengan harga pokok Rp 20 per liter. dan Biaya overhead pabrik Rp 6. Bagian Produksi A Produk yang dimasukkan dalam proses 10.000untuk biaya tenaga kerja dan Rp 1. Biaya per unit untuk masing-masing bagian pada bulan Agustus 1988 adalah: a.840.000 satuan. Bagian Produksi A Rp 1.300 Rp 3.000.4 berikut ini diperoleh dari Bagian Akuntansi Biaya. Produk yang masih dalam proses pada akhir bulan sebesar 2. yaitu Departemen I dan 1 Departemen 1 .000 satuan masih merupakan produkdalam proses dengan tingkat penyelesaian60% biaya konversi.000 dan biaya overhead pabrik Rp 1.100 Rp 700 Bagian Produksi B Rp 2. c. Jumlah biaya produksi adalah sebesar Rp 14. Biaya konversi besarnya Rp 72.000 Rp 300 Data untuk menjawab soal no.000 satuan dipindahkan ke gudang dan 1. Ada Tambahan Bahan yang Menambah Unit PT. b.720.000 satuan diolah selanjutnya dalam Bagian Produksi C. 2.750.500 satuan.300 Rp 2.560.000 dengan rincian sebagai berikut: biaya bahan Rp 4.d.Pada periode tersebutDepartemen I1 menerima dari Departemen I sebanyak 5.000 dengan tingkat penyelesaian 80%. Bagian Produksi C Produk selesai dan siap dijual sebanyak 4.000 satuan dengan tingkat penyelesaian 100% biaya bahan dan 80% biaya konversi.000.

sebab tidak tahu jumlah produk selesai Besarnya total harga pokok produk dalam proses akhir adalah: c. 62 s.000 c. Rp 5.400 Tarnbahan biaya bahan baku yang tidak menyebabkan tambahan produk yang dihasilkan oleh Departemen B 17. 6 1. Ada Produk Hilang pada Awol Plnsrs.d 65 Dua Departemen. X memproduksi produknya melalui dua departemen produksi: Departemen A dan Departemen B. Berikut ini adalah data produksi dan biaya produksi Departemen B bulan Januari 19X1.000 b.000 kg Data biaya produksi: Harga pokok yang diterima dari Departemen A 40.000 kg Jumlah produk yang hilang dalam proses (dianggap terjadi pada awal proses) 1. b.000 a. Rp 300.000 kg @ Rp 3.000 kg Jumlah produk yang masih dalam proses pada akhir Januari 19X 1 dengan tingkat penyelesaian biaya bahan baku 50% dan biaya konversi 25% 4.60 . RP 5 Rp 10 RP 4 d. Rp 72. Departemen Lanjutan. Biaya produksi per unit yang berasal dari Departemen A setelah adjustment dengan adanya produk yang hilang dalarn proses di Departemen B adalah: b.020 Biaya tenaga kerja 32.400 Biaya overhead pabrik 19. sebab tidak tahu jumlah produk selesai 60.5 1 c.000 kg Jumlah produk jadi yang ditransfer ke gudang produk jadi 35. Rp 1. Rp 52. Rp 3. Rp 375. Tidak dapat dihitung.000 a.5 1 a.s 1 Rp 140.000 d. Ada Tambahan Bahan yang Tidak Menamhah Unit PT. Rp 222. 1 RP 4 RP 8 RP 3 a. Rp 75. Rp 20 Rp 40 Rp 14. Data produksi: Jumlah produk yang diterima dari Departemen A 40.59.4 c. Tidak dapat dihitung.800 62.91 d. Data untuk menjawab soal no. Besarnya harga pokok untuk setiap liter produk selesai di Departemen I1 adalah: Bahan Konversi Dari Dep.000 d. Rp 3. Tidak bisa dihitung Besarnya total harga pokok produk selesai adalah: b.

l Biaya konversi yang melekat pada produk dalam proses tanggal 31 Maret 1989 3) adalah: Biaya tenaga kerja: 20. Rp 3.620 d. TINDONESIA JAYA memproduksi kertas melalui tiga departmen produksi yakni Departemen Pulp. Rp770. RpL120.000 unit c.d. .91 d. Rp69. 70.850 b.000 kg Jumlah produk yang hilang pada awal proses10. Biaya produksi per unit yang ditarnbahkan oleh Departemen B dalam bulan Januari 19x1 sebelum adjustment dengan adanya produk hilang dalam proses adalah: a.000 x 60% x Rp2 Rp24. 65. dan Departemen Penyempurnaan. 74. Rp 5. Rp 0. Data untuk menjawab soal no.000 unit b. Rp209. Rp209. Rp192. Rp2 16.000 c. Departemen Lanjutun. Rp16.000 66.200 unit d.000 b. Rp 1.000 Biaya overhead pabrik: 20.000 kg Jumlah produk dalam proses pada tanggal 3 1 Maret 1989 (60% biaya konversi)20. 69 Dua Departemen. Dari data di atas banyaknya ekuivalen unit untuk biaya konversi adalah: a.51 c. 82. Rp1.000 67.220 c.770 c.000 kg Harga pokok produk yang diterima dari Departemen Pulp sebelum disesuaikan 2) adanya produk yang hilang adalah sebesar Rp8.46 Total harga pokok produk jadi yang ditransfer oleh Departemen B dalam bulan Januari 19x1 ke gudang produk jadi adalah: a. Ada Produk Hilang Pada A wal Proses I. Rp69. Berikut ini adalah data yang diambil dari laporan biaya produksi Departemen Kertas untuk bulan Maret 1989: Jumlah produk yang diterima dari Departemen PulplOO.620 d. Departemen Kertas.600 unit Harga pokok produksi selesai yang ditransfer ke departmen penyempurnaan adalah: a. Rp192.850 b.000 x 60% x Rp4 Rp48. 66 s.770 64.63.050.51 b. 70. Rp910.220 Total harga pokok produk dalam proses yang ada di Departemen B pada &hir bulan Januari 19x1 adalah: a.000 d.OOO kg 1) Jumlah produk yang ditransfer ke Departemen Penyempurnaan70.

000 342. .400 1.500 Rp 1.000 Unit yang hilang dianggap normal dan dibebankan untuk semua unit yang diproduksi. Biaya per unit untuk masing-masing bagian pada bulan Agustus 1996 adalah: Pencamuuran Rp 198.644.000 756.29 1. memproduksi suatu jenis obat dalarn tiga bagian produksi.000 Rp 2.52 Rp 743. c.800 kg Dalam proses (bahan 100%. Data produksi dan biaya selama bulan Agustus 1986 adalah sebagai berikut: 69.68. Rp292.800 kg Ditransfer ke gudang produk jadi 4.52 a.25 Peneuiian Rp 433. Ada Produk Hilang A wal Proses PT "MEJAMPU suatu perusahaan farmasi. Rp492.600 kg Rp 3.000 a.100.197.160.728. Pencampuran Data Produksi: Dimasukkan dalam produksi 16.35 Rp 401.000 d.500 BAGIAN Pengujian 10.400 kg Perampungan 6. 70.000 752.000 837. Rp332. C.35 Rp 697. Rp252.000 b.600 Besamya harga pokok produk dalam proses akhir adalah sebesar: Rp392.000 Rp 2. Rp423.000 Tiga Departemen.25 Rp 433.52 Rp 1.75 Rp 401.000kg Ditransfer ke bagian berikutnya 10.000 b.52 Rp 1.000 1.200 kg Dalam proses (bahan loo%. Rp445.52 Rp 697.400 kg 3.05 Rp 743.61 1. Besamya biaya konversi untuk unit ekuivalen yang diperhitungkan adalah sebesar: Rp420.000 d. biaya konversi 113) 4. b.400 RD 4.563.000 a. c.05 Peram~ungan Rp 743.674. d. biaya konversi 213) Biaya yang dibebankan pada bagian: Bahan upah Overhead pabrik Rp 5.800kg 6.563.

000 Rp 210.000 144.000.bahan baku 100%.000.000 unit. produkselesai 38. tenaga kerja Rp 555. konversi 50% . 80 Satu Departemen.500 Rp 352. Dua Departemen. Produk yang baru masukproses 34. pada tanggal 1 Oktober 1989 perusahaan tersebut memiliki persediaan produk dalam proses sebanyak 8. . Biaya yang terjadi dalarn bulan Oktober 1989terdiri atas: bahan Rp 920. Rp 188 Ada Persediaan Produk Dalam Proses pada Awal Periode Data untuk menjawab soal no.000 Rp 594. dan overhead pabrik Rp 370. 72 s.Upah langsung .000 unit dengan tingkat penyelesaian 50% dan konversi 75%.7 1. Rp 80 Rp 180 c.500 Biaya per unit untuk masing-masing departemen pada bulan Februari 1989 adalah: De~artemen A Departemen B a. SABDA mengolah produk melalui satu tahap.000.000unit. Ada Produk Rusak PerusahaanXYZmenghasilkanbarang Y melalui 2departemen.000 117.yaitu departemen A dan B.000 Rp 235.d.Biaya overhead Jumlah biaya Departemen A 2.Bahan baku . Persediaan produk dalam proses 3 1 Desember 1989 sebanyak 4. Rp 48 Rp 98 Rp 338 d. tenaga kerja Rp 101.000 unit - 300 unit 240.upah langsung 50%.500 unit 500 unit Departeman B 2.000.000 unit 200 unit 1.000 unit dengan tingkat penyelesaian bahan 40% dan konversi 50%.000.000. Dalam bulan Februari 1989 bagian produksi mengemukakan data sebagai berikut: Produk yang diselesaikan di Produk yang hilang di awal proses Produk rusak (tidak laku dijual) Produk dalarn proses dengan tingkat penyelesaian: . biaya yang telah diserap dari bulan sebelurnnya terdiri atas: bahan Rp 40. Metode RATA-RATA dun FIFO PT. dan overhead pabrikRp 81. overhead 50% Jumlah biaya yang dikeluarkan: . Rp 60 Rp 188 b.

Rp 23 Rp 14 RP 9 Total harga pokok selesai dengan metode rata-rata adalah: b.000 c. Rp 1.000 Harga pokok per unit dengan metode rata-rata adalah: Bahan Tenana Keria Overhead Pabrik a. Rp 129.000 c. 74. 44.000 a. Rp RP 11 24 Rp 16 b. 40. Rp 167. 36. Rp 25 Rp 15 Rp 10 d.000 Produksi ekuivalen dengan metode FIFO adalah: Bahan Konversi a.000 c. 44.000 c. Rp RP 10 22 Rp 15 c.800 37.000 45.000 b.800 41. . RP 357 Harga pokok per unit dengan metode FIFO adalah: Tenaga Ker_ia OverheadPabrik Bahan a.000 d.800 37.000.000 45.000 b.710.000 d. Rp 23 Rp 14 RP 9 Total harga pokok selesai yang berasal dari produk dalam proses awal dengan metode FIFO adalah: a. Rp 91. Rp 1. 40.000 Total harga pokok produk dalam proses akhir dengan metode rata-rata adalah: a. Rp 442. Rp RP 10 25 Rp 15 d. 77.000 b.976.000 73. 40.000 d. 36.938.800 41. 75. Rp 1.000 d.72. 40. Rp 425.900. Rp 1. Rp 331.000 41. Rp 400. 76.000 d.000 41. Produksi ekuivalen dengan metode rata-rata adalah: Bahan Konversi a.000 c. Rp 24 Rp 16 Rp 11 b. Rp 22 Rp 15 Rp 10 c.000 b. 78.

000 kg Unit yang diterima dari Departemen 1 Produk yang ditransfer ke gudang -Produk dalam proses akhir biaya bahan 100 % .000 2.000 c.000 kg Rp 12.000 kg -- 9.000 .000 1. biaya konversi 40% biaya tenaga kerja 30%.900. Rp 1.000 kg biaya tenaga kerja 40%.000 3.990.000 kg biaya bahan 60%.79. Total harga pokok selesai yang berasal dari produksi sekarang (current) dengan metode FIFO adalah: a.000 32.INDAH KIAT memproduksiproduknyamelaluiduadepartemenproduksi: Departemen 1 dan Departemen 2. 5.000 b.000 4.000 kg 45.000. Rp 1.000 Rp 2. Rp 1.000 d.000 kg 42.500.000.000 kg Dimasukkan ke dalam proses bulan in Unit yang ditransfer ke Departemen 2 45.000 b. Rp 145.500.000 80. 81 s. 88 Dua Departemen.500.000 c.440. Rp 130.560. biaya konversi 70% 10.000 d. Rp 110.942. overhead pabrik 8070Harga Pokok Produk Dalam ProsesAwal: Harga pokok dari Departemen 1 Biaya Bahan Baku Biaya Tenaga Kerja Biaya Overhead Pabrik Biaya-biaya Produksi: Biaya Bahan Baku Biaya Tenaga Kerja Biaya Overhead Pabrik 49.p 125. Metode RATA-RATA \\ FT.000 Total harga pokok produk dalam proses akhir dengan metode FIFO adalah: a.000. xR . Data untuk menjawab soal no. Rp 1. Perusahaan menggunakan metode harga pokok rata-rata tertimbang dalam penghitungan harga pokok produknya. overhead pabrik 50.000. Data produksi dan biaya produksi bulan Januari 19x1 di kedua departemen produksi tersebut tercantum dalam tabel produksi berikut ini: Departemen 1 Data produksi: Produk dalam proses awal.000 Departemen 2 6.d.

000 45.--\ Unit ekuivalensi biaya Departemen 1 adalah: Tenaga Keria Bahan Baku a.600 49. Rp 27. Rp 3.850.200 15.250.250.000 42. Rp 178.000 52. Rp 178.500.250.000 Harga pokok produk dalam proses pada akhir bulan Januari 19X1 di Departemen 1 adalah: a. Rp 101. Rp 17.000 52.000 b..000 d. Rp 118.000 b.000 . 51.OOO c. Rp 2.000 d. Rp 2. Rp 31.350 c.000 Unit ekuivalensi biaya Departemen 2 adalah: Overhead Pabrik Bahan Baku Tenaga Ker!a a.000 d.000 52.000 Harga pokok rata-rata tertimbang per kg produk Departemen 2: a. Rp 101.000 d. Rp 1.000 d. Rp 17.000 Overhead Pabrik 49.000 Harga pokok produk selesai yang ditransfer oleh Departemen 2 ke Departemen gudang adalah: a.000 52.600 b.550. 55.000 c.000 b.720.250 d.500.550. Rp 27.720.000 b. Rp 1. Rp 161. 51.000 c. 55. Rp 118.200 45. Rp 1.500.250. Rp 101.000 Harga pokok rata-rata tertimbang per kg produk Departemen 1: a.000 45.000 42.850.000 45 .000 b.000 c.350 c.500.250. 51. Rp 101. Rp 31. Rp 3.000 Harga pokok produk selesai yang ditransfer oleh Departemen 1 ke Departemen 2 adalah: a.250. Rp 1.000 42. 55.000 42.000 c.000 Harga pokok produk dalam proses pada akhirbulan Januari 19X1di Departemen 2 adalah: a.590 b.590 b. 55.250 d.000 d. 51. Rp 161.000 c.000 45.

Rp 113. 4) Produk dalam proses akhir 500 unit.600. 93 s. 2) Produk yang baru dimasukkan proses 9. Rp 4. Produk Hilung Akhir Proses.000 9 1. Rp 4. XY yang disajikan sebagai berikut: Perhitungan harga pokok yang dibebankan pada produk (FlFO).d.29 d.800.d. Rp 125. Biaya produksi yang terjadi periode ini terdiri dari: bahan Rp36.O Rp 6.000 Jika digunakanmetode FIFO. 92 Satu Departemen.800 d.0 Rp 2.O b.000. 97 Analisis Laporan Harga Pokok Produksi Inforrnasi berikut ini adalah bagian ketiga dari laporan harga pokok produksi FT. Jika digunakan metode FIFO.7 RP 5.200 b. Rp 28.600. Rp 12 b. Rp 102. harga pokok produk selesaiper unit yang dipindahkan ke rekening produk selesai adalah: a.500 unit. telah menikrnati harga pokok Rp19.7 ' 90.200 d.8 c. total harga pokok produk selesai yang dipindahkan ke rekening persediaan produk selesai adalah: a. Metode FIFO Data kegiatan produksi dan biaya produksi PT. total harga pokok produk dalam proses pada akhir periode adalah: a. tenaga kerja Rp55. Rp 4. 3) Produk selesai 8. rusak bersifat normal dan tidak laku dijual500 unit. Rp 15.9 d. 89. Rp 11 Jika digunakan metode FIFO. Data untuk menjawab soal no. Rp 9.l c.800 b. Rp 14. Rp 4.000 c. Produk hilang dan rusak dianggap berasal dari produk yang baru masuk proses.s Rp 6 7 Rp 2 2 Rp 1. 89 s. RP 3. Jika digunakanmetode FIFO.200 c. 92.Data untuk menjawab soal no.2 Rp 6 3 Rp 2. penyelesaian bahan 90% dan konversi 60%. Rp 130. biaya bahan per unit adalah: Overhead Pabrik Bahan Tenaga Ker_ia a. NUSA pada bulan Nopember 1986 adalah: 1) Produk dalam proses awal1. Rp 26. overhead pabrik Rp18. . hilang akhir proses 500 unit.000 unit dengan penyelesaian bahan 80% dan konversi 50%.000 unit.

000 Total biaya produksi bulan ini 93.3 14. 4.540 Overhead Pabrik 4.000 Total harga pokok produk dalam proses awal Harga pokok produk yang diselesaikan dari bulan ini (4.600 b.000 c.000 c. Produk yang masuk dalam proses pada bulan ini adalah: a. 4. c.245.000 Rp 188. Rp 2. 4.200 3.200 Tenaga Keria 4. RP 405 Total biaya tenaga kerja langsung pada bulan ini adalah: a.520. Unit ekuivalen produksi adalah: Bahan a.550 unit Bila diketahui harga pokok per unit pada bulan yang lalu untuk biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp290 dan biaya overhead pabrik sebesar Rp240. RP 390 a.374. 4.000 d. 96.520 94.314.374. Rp 1. Rp 1.095.580 4.000 95.600 Tidak bisa dihitung d. Produk dalarn proses awal Penyelesaian produk dalam proses awal Biaya tenaga kerja langsung (200 x 20% x Rp300) Rp12.000 b.600 unit b. Rp 1. Rp 1. Biaya bahan (400 x 100% x Rp400) Rp 160. maka harga pokok per unit biaya bahan pada bulan yang lalu adalah: RP 400 b.000 Rp 4.580 4.178.990.240 4.295. Rp 2.000 Biaya tenaga kerja langsung (400 x 85% x Rp300) 102. 97.000 Biaya overhead pabrik (400 x 80% x Rp250) 80.260 4.145.000 Total biaya overhead pabrik pada bulan ini adalah: a.000 b. Rp 1.200 c. 4.Harga pokok produk selesai.000 Rp 4.800 unit c.000 d.400 unit d. 4.000 Biaya overhead pabrik (200 x 30% x Rp250) 15.200 342. RP 410 d.200 x Rp950) Total harga pokok produk selesai Harga pokok produk dalam proses akhir. . 4. Rp 161:200 27. Rp 1.

Dr departemen sebelumnya ai Tenaga kerja langsung Overhead pabrik Total biaya yang diperhitungkan 98. 5.220 RQ ? ? ? ? ? Perhitungan biaya: Ditransfer ke departemen berikutnya Persediaan barang dalam proses akhir.000 unit ? Unit hilang dalam proses (akhir proses) Biaya yang diperhitungkan: 90. LEILA Departemen Pengujian Laporan Harga Pokok Produksi Bulan Nopember 1990 Data Kuantitas: Diterima dari departemen sebelurnnya 80.600 Ru 140.000 unit . 3.Data untuk menjawab soal no. Unit yang hilang dalarn proses produksi berjurnlah: a. 98 s.000 unit c. Pencatatan Persediaan Perpetual c. LEILA: PT.d. 107 Analisis Laporan Harga Pokok Produksi 1 Berikut adalah laporan harga pokok produksi yang tidak lengkap dari PT.620 65.800 Rp 74.000 unit d.000 unit Ditransfer ke departemen berikutnya Masih dalam proses (113 biaya konversi) 6. Rp RD ? ? ? Ru ? ? Dari laporan harga pokok produksi ini. Harga Pdcok Pesanan d. 6. Pencatatan Persediaan Fisik b.000 unit b.000 unit Biaya Total Biaya dari departemen sebelumnya: Transfer selama bulan h i Biaya yang ditambahkan departemen hi: Tenaga kerja langsung Overhead pabrik Jurnlah penambahan biaya Jumlah biaya yang dihitung I Biayalunit Ru 154. dapat diketahui bahwa perusahaan menggunakan metode: a. 4. Harga Pokok Produksi 99.

78 d. 90.25 Berapakah biaya unit yang ditransfer ke departemen berikutnya? Rp270.27 c. maka biaya unit yang hilang ini sebaiknya dibebankan sebagai: a.700 b. Rp 13.800 Berapakah harga pokok dari persediaan barang dalam proses pada akhir bulan Nopember? a. Rp274. 86. Rp3. Rp10.70 Unit ekuivalen (setara) produksi untuk Departemen Pengujian selama bulan Nopember tersebut berjumiah: Tenalra Keria Overhead P a b r a.72 b. Rp 17.400 a. Rp26. Rp5.395 b.400 b.000 unit Berapakah biaya tenaga kerja per unit Departemen Pengujian selama bulan Nopember 1990 (dibulatkan dalam sen) ? a.35 d.000 unit 86.000 Berapakah biaya unit yang hilang dalam proses? Rp6.000 unit b.185 d. 86.790 c. C.31 a. Rp28 1. Rp3. Rp0. Dialokasikan proporsional pada persediaan Dibebankan sebagai rugi lain-lain d.000 d. Rp 1. Rp0.000 unit 82.76 c. C.000 unit c.400 a.580 Jika unit hilang pada kasus di atas merupakan kejadian yang tidak biasa (abnormal). Overhead pabrik b. Rp13. Rp 1. Rp0.000 unit 86. Rp20.000 unit d.87 Berapakah biaya overhead pabrik per unit Departemen Pengujian selatna bulan Nopember 1990 (dibulatkan dalam sen)? Rp3. C.Berapakah biaya per unit yang diterima dari departemen sebelun~nya: a. Rp0. 82. Rp 12. Rp218. Rp6.83 b.20 d. . Bagian dari produk selesai c.000 unit 82.100 d. Rp3.53 b.

biaya tenaga kerja langsung 80%. 108 s.00. Rp 531. adalah sebagai berikut: Unit yang diselesaikan clan diserahkan ke departemen B adalah 150.00.000 b. . Rp 9.200 b.000 unit 179.400 b.908. yang memproduksi T TS produk AQ dengan melalui dua departemen produksi. Pada akhir bulan April 1990. 140. biaya tenaga kerja langsung Rp 11. 164. Baik di Departemen A maupun DepartemenB. dan biaya overhead pabrik sebesar Rp 20.000 Biaya produk yang masih dalam proses akhir dalam produksi bulan Mei sebesar: a. Dari informasi tersebutdi atas dapat diketahuibahwa unit ekuivalen di departemen A pada bulan Mei 1990.869. digunakan metodeFIFO. Produk rusak dalam proses sebanyak 500 unit. 162. 110.040.400 d.000 unit c. Rp 2.600 unit Total biaya overhead pabrik pada bulan Mei 1990 adalah: a. Komposisi biaya per unit produk: biaya bahan baku Rp 22.009 unit.000 d.000 b. sebagai berikut: Produk yang diserahkan ke Departemen B sebesar 170. Rp 2.000 d. dan biaya konversi 80%). Rp 2.00. dan biaya overhead pabrik 90%). adalah: Tenaga Keria Bahan a.400 unit 140.600 unit b.050.060. 108.50.diperoleh informasi dari Departemen A.00. Rp 1.132. Rp 1. A Ada Produk Rusak.000 unit (bahan 100%.D e w e m e n Pertama. biaya tenaga kerja langsung Rp12.000 unit (biaya bahan 90%.200 c.d. Rp 539. 112. Rincian informasiprosesproduksi di Departemen A pada akhir bulan Mei 1990.50. Rp 3.000 unit. Pada akhirbulan Mei 1990diketahui biaya per unit produk adalah: biaya bahan baku Rp22. Produk rusak dalam proses diketahui 20. Produk yang masih dalam proses akhir sebanyak24. Produk yang masih dalam proses akhir sebesar 12.067.400 unit d.408.000 d. 111.Data untuk menjawab soal no.000 109.687.000 c. Metode FIFO Berikut ini disajikan informasi mengenai proses produksi I .800 Biaya produk yang ditransfer ke Departemen B adalah: a. 112 Dua Departemen.745. Rp 578. dan biaya overhead pabrik sebesar Rp18. Rp 1.400 c.738.000unit.000 unit 159. Rp 1.000 c. 182.010. Rp 584.000 Biaya produk rusak yang dihasilkan oleh produksi pada bulan Mei 1990adalah: a. Rp 3. Rp 7.000 unit 164. Rp 9.

114 s.9.264 Rp 29.600 Biaya bahan baku Biaya konversi 50. Rp 11.400 2.272 - 192 Ru 4. IkILB - l.h2& Rp 14.90 Rp 15. dan C.35 Rp 16.464 Biaya bulan April 19x2 adalah sebagai berikut: Dep.600 Dep. TKUTILANGmemproduksiproduknyamelalui 3 departemenproduksisecaraberurutan: Departemen 1. Metode RATA-RATA I.Data untuk menjawab soal no. A 4.680 Total Rp 45. A Rp149.800 Biaya bahan baku Biaya konversi 4.600unit produk ditransferke gudang.35 Rp 18.85 b.W Rp 15. C Rp 4. 13 TigaDepartemen.70 Data untuk menjawab soal no.8001 30 17.35 Rp 16. Bahan baku digunakandalam awal proses Departemen 1 dan ditarnbahkan pada akhir proses departemen 3.MetodeRATARATA Perusahaan PRIMA menggunakan metode harga pokok proses.520 Dep.Perusahaanmenggunakan metode harga pokok rata-rata tertimbang.d 119 Tiga Departemen. B.400 21. Data bulan April adalah sebagai berikut : Persediaan% Penyeleawal saian Unit dimasukkan dalam Persediaan % Penyeleproses akhir saian 25 20 30 Dep.65 d.35 Rp 18. Perusahaan menggunakan metode . Rp 11.400 ? 5. dan Departemen 3.680 Biaya produksi per unit produk yang dihasikan oleh masing-masing dperatemen dalarn bulan April 19x2 adalah: Departemen A De~artemen B Departemen C a. B 40 ? 30 ? 3.W Rp 13. Departemen 2. Dalam bulan April 19X2.520 Dep. C Harga pokok persediaan produk dalam proses awal adalah sebagai berikut: Dep. Rp 13.W Rp 13. A Dep. Rp 13.80 c. B Biaya dari departemen sebelurnnya Rp 27.600 6.840 Rp 40.Ada TambahanBahan yang TidakMenambah Unit.120 Rp 22.096 113. Produk diolah melalui 3 departemenproduksi: Departemen A.464 1.

200 112.000 115.600 1 12.200 Ru 26.600 c.600 Rp 89.900 Data produksi dalam bulan Nopember 19x1 adalah sebagai berikut: Persediaan awal Persediaan akhir Departemen 3 Rp 65.400 d. 129.Departemen 2.000 14.600 129. 111. dan ditarnbahkan pada awal proses di Departemen 3.280 99.328 Departemen -- Produk selesaidan Jumlah (kg) % Pe~yelesaian Jumlah (kg) Penyelesaian ditransfer Departemen 1 32.880 16.000 129.200 136.680 - Departemen 3 Rp 146.200 136. 136.000 b.400 Rp 130.200 Departemen 3 27.552 Rp 15.400 12.400 129. 129.360 11.400 a.600 112. 123.harga pokok rata-rata tertimbang.280 Biaya produksi bulan Nopember 19x1 adalah sebagai benkut: Biaya-biaya Departemen 1 Departemen 2 Biaya bahan baku Rp 251.600 c. Bahan baku dimasukkan dalam proses secara terus menerus sepanjang proses di Departemen 1.600 111.352 Rp 167. Unit ekuivalen biaya bahan baku di Departemen 1dan Departemen 3 dalam bulan Nopember 19X1 adalah: Departemen 1 Departemen 3 136.000 a.200 20 40 20 24.560 9. 1 11.000 Unit ekuivalensibiaya konversi di Departemen 1. dan Departemen 3 dalam bulan Nopember 19x1 adalah: Deuartemen 1 Departemen 2 Departemen 3 112.520 Biaya konversi 183. 136.400 b.000 Departemen 2 19.400 d. . Pada awal bulan Nopember 19X1terdapat persediaan produk dalam proses dengan biaya sebagai berikut: Keterangan Harga pokok dari departemen sebelurnnya Biaya bahan baku Biaya konversi Total harga pokok Departemen 1 - Departemen 2 Rp 79. 112.800 30 25 50 104.000 ? ? 1 14.200 129.320 4.

60 d.300 Ditransfer masuk Produk dalam proses awal Satudunit yang ditransfer masuk Rp 2. Metode RATA-RATA Informasi mengenai bagian B PT.00 Rp 13.400 15.000 Ru 18. 118.400 Biaya ma! Rp 6. Rp 2. TULUS adalah sebagai berikut: Produk dalam proses awal Satudunit yang ditransfer masuk Satudunit yang selesai Produk dalarn proses akhir Satuanlunit 5. Rp 11. 120 s. Rp 29.d. Departemen 2.000 Bahan unit baku Rp 25.960 117.600 c. Total biaya produksi per unit komulatif di Departemen 1.900 17.000 40.300 .40 Rp 10.880 d.480 b. Rp 244. Rp 17.400 Bahan konversi Rp 3. Rp 29. Rp 2. Rp 12. Rp 17.000 Ru 64. 121 Dua Departemen. Rp 46 1. Rp 29.60 Rp 13.280 b. Rp 12.35 c.960 Biaya bahan baku yang telah diserap oleh produk dalam proses di Departemen 1 pada akhir bulan Nopember 19x1 adalah: b.500 Biaya Rp 6.15 b.280 c.960 Biaya konversi yang telah diserap oleh produk dalam proses di Departemen 1 pada akhir bulan Nopember 19X1 adalah: a.000 3.000 37 .880 d.60 Rp 13.600 c.880 d. Departemen Lanjutan.50 Rp 11. 119. Rp 44.35 Harga pokok produk jadi yang ditransfer dari.Departemen 1 ice Departemen 2 dalam bulan Nopembr 19X 1 adalah: a. dan Departemen 3 dalam bulan Nopember 19x1 adalah: De~artemen 1 De~artemen 2 Departemen 3 a.500 RD25.600 a. Rp 4. Rp 44.300 58.000 Rp 64.116.15 Rp11.500 Rp 20.40 Rp 8. Data untuk menjawab soal no.000 35.300 58.35 Rp 4. Rp 43 1.

000 Biaya tenaga kerja 60.000 RP 0 Rp 86. FIFO 123.000 unit dengan tingkat penyelesaian: bahan baku 80% dan biaya konversi 50%.000 satuan. Bahan digunakan pada akhir proses.350 d.000 Biaya overhead pabrik Jumlah RD 190.000 Rp 6. terdekat) adalah: Rp ()A-4 b.800.Unit ekuivalen dalam metode harga pokok rata-rata tertimbang 100.000 satuan .000. Harga pokok produk jadi dan produk dalam proses akhir adalah: Produk Dalam Proses Produk Jadi Rp 79.000.000 Rp 6. Rp 0. Rp 0. Ada Produk Hilang Pada Akhir Proses. c.000satuan 95.000.000 . PT.000 Rp 32.800.50 Porsibagian dari biaya total dalam sisa pekerjaan dalam pelaksanaan akhir yang menyangkut biaya transfer masuk adalah: RP 0 b. Tulus menggunakan metode rata-rata tertimbang.000 Rp 79.48 d. Rp 1. Rp 1.Biaya per satuan Rp 480 Rp 400 Jumlah produk jadi periode tersebut 90.000 Rp 6. Satu Departemen.000.000 .000. c.Biaya konversi adalah 20% selesaiuntuk produk dalam proses awal dan 40% selesai untuk produk dalam proses akhir.000 .500 a.000 satuan dan produk dalam proses akhir adalah 10.000 Rp 88.000 Rp 8. 120. Rp 1.800. 1 Desember 1984 sebanyak 1.46 a.Produk dalam proses awal Rp 8.650 121.000.Biaya produksi Rp40. Data kegiatan produksi dan biaya produksi pada perusahaan " M E C pada bulan Desember 1984 adalah sebagai berikut: Produk dalam proses awal. Biaya per satuan ekuivalen untuk biaya konversi (dibulatkan ke sen. Harga pokok produksi barang tersebut: Biaya bahan baku Rp 80.200. Metode RATA-RATA Dari sebuah perusahaan yang memakai metode harga pokok proses diperoleh informasi sebagai berikut: Biava Bahan BakuBiava Konversi .200.000 50.000 Satu Departemen. Rp 0.

Sedangkan biaya yang ditambahkan di departemen yang bersangkutan adalah: dari departemen sebelumnya Rp 800. Metode RA TA -RATA Persediaan barang dalarn proses awal bulan 200 kg (100% biaya bahan. Rp 1. Produk dalarn proses akhir.000. jika perusahaan menggunakan metode harga pokok FWO adalah: a. dan biaya overhead pabrik Rp 420. Rp 1.000 unit Produk yang hilang pada akhir proses sebanyak 500 unit. dan biaya overhead pabrik Rp 23.800. Rp 960.000. Biaya per unit untuk masing-masing elemen biaya adalah: Dari De~artemen Sebelumnva Rp 964 Rp 960 Rp 460 Rp 980 Tenaga Keria Rp 964 Rp 540 Rp 540 Rp 964 OverheadPabrik Rp 980 Rp 460 Rp 960 Rp 964 .000. dengan tingkat penyelesaian: bahan baku 90% dan biaya konversi 60%. terdiri dari biaya dari departemen sebelumnya Rp 140. 3 1 Desember 1984 sebanyak 500 unit.440. 80 kg masih dalam proses akhir bulan dengan tingkat penyelesaian: 100% biaya bahan dan 80% biaya konversi.Produk yang masuk dalarn produksi periode ini sebanyak 9. Ada Produk Hilung Pada Awal Proses. 20 kg produk dinyatakan hilang pada awal proses. 124 Dua Departemen. Departemen Lanjutan.000. Biaya yang dikeluarkan pada periode ini ( Desember 1984 ) adalah: Biaya bahan baku Biaya tenaga kerja Biaya overhead pabrik Jumlah harga pokok produk selesai yang dikirirnkan ke gudang.000 b.biaya tenaga kerja Rp 480. Produk rusak ini tidak laku dijual.300. Rp 238. 124. Produk selesai yang baik sebanyak 9. Perusahaan menggunakan metode rata-rata dalarn menentukan harga pokok produksinya.000 unit. 60% biaya konversi). biaya tenaga kerja Rp480.000 d.000 Data untuk menjawab soal no. Produk selesaidan ditransferke departemen selanjutnya 900 kg.000 c.198.

000 60.000 (+) Unit produk dalam proses akhir: 12.000 x 100%) 9.000 Biaya bahan (12. Jawab: c Data produksi: Unit produk dalam proses awal Unit diterima dari Departemen 1 Unit produk selesai Unit produk dalam proses akhir Unit ekuivalen dengan metode RATA-RATA: I 7.000 22.000 x 30%) Jumlah 50.000 Biaya bahan baku (2.000 Biaya Konversi 55.I B.000 7.000 (-) Unit produk dalarn proses awal Unit masuk proses dan selesai 48.000 50.600 .000 Jawab: a Unit ekuivalen dengan metode FIFO.000 (+) Penyelesaian produk dalarn proses awal: Biaya bahan baku (7. Jawab: e rn Biaya Konversi 55.000 Ekuivalen produksi biaya bahan dengan metode RATA-RATA: Biaya Bahan Biaya Konversi Unit produk selesai 60.000 55. I Biaya Bahan Unit produk selesai 55.000 x 80%) Jurnlah 72.000 48. Biaya Bahan 55.000 x 30%) Jumlah 2 1.000 x 100%) Biaya konversi (2.000 x 100%) Biaya konversi (2.000 x 25%) (+) Unit produk dalam proses akhir: 2.000 69.000 x 0%) Biaya konversi (7.000 2.000 2.000 57. PENYELESAIAN 20.600 Biaya konversi (12.000 Unit produk selesai Unit ptoduk dalam proses akhir: Biaya bahan baku(2.

000 x 100%) Biaya konversi (70. Jawab: a Unit ekuivalen dengan metode FIFO: Biaya Bahan Unit selesai 40.000 30.000 (-) Unit dalam proses awal 10.000 0 Biaya Konversi 110. Biaya Bahan 88.000 70.000 (+) Penyelesaian unit dalam proses awal: Biaya bahan (10.000 Unit masuk proses dan selesai 30.000 x 100%) 8.000 10.000 x 80%) Jumlah unit produk selesai Jawab: a Unit ekuivalen FIFO. ~ n i produk selesai .000 26.000 0 2.000 x 50%) Jumlah Biaya Bahan 110.000 10.000 10. (-1 Unit produk dalam proses awal Produk masuk proses dan selesai (+) Penyelesian unit produk dalam proses awal: Biaya bahan (10.000 Biaya Konversi 88.000 x 20%) Biaya Konversi 40.000 x 0%) 0 Biaya konversi (10.000 x 60%) Jumlah 38.000 x 20%) (+) Unit dalam proses akhir: Biaya bahan (8.000 .000 78.000 24.000 25.000 x 0%) Unit dalam proses akhir: Biaya bahan (70. Jawab: c Perhitungan unit ekuivalen: Unit selesai dan ditransfer Unit hilang dalam proses produksi: Biaya bahan (30.23. Jawab: a Unit produk selesai: Unit ekuivalen dengan metode rata-rata Unit produk dalam proses akhir (15.000 180.000 x 0%) Biaya konversi (30.000 x 0%) Biaya konversi (10.000 78.000 Biaya konversi (8.

000 4.000 atau: Unit ekuivalen dengan metode rata-rata (-) Unit dalam proses awal: Biaya bahan (10.000 90.000 x 80%) Biaya konversi (15.000 x 50%) Jumlah 12.(+) Unit produk dalarn proses akhir: Biaya bahan (15.000 7.000 90.000 Biaya Konversi 88.500 95.000 Biaya bahan (15.000 (-) Unit dalam proses awal 10.500 87.500 .500 92.000 8 1.000 Unit masuk proses dan selesai (+) Penyelesaian produk dalarn proses awal: 0 Biaya bahan (10.000 x 80%) Biaya konversi (15.000 x 60%) 9.000 10.500 Jawab: b Unit ekuivalen dengan metode RATA-RATA: Biaya Bahan Unit produk selesai 88.000 x 50%) Jumlah 100.000 x 40%) (+) Unit dalam proses akhir: Biaya bahan (15.000 x 0%) Biaya konversi (10.000 Biaya Konversi 91.000 x 60%) Jurnlah 100.000 x 100%) Biaya konversi (10.000 9.000 10.000 91. memerlukan data tentang unit produk selesai yang dihitung sebagai berikut: Ekuivalen bahan dengan metode rata-rata (-) Unit dalarn proses akhir (15.500 6.000 Unit produk dalam proses akhir: 12.000 7.000 Biaya konversi (15.000 x 60%) (=) Unit produk selesai 100.000 92.500 98.000 Unit ekuivalen dengan metode FIFO: Biaya Bahan Unit produk selesai 91.000 7.000 x 50%) Jumlah 90.000 81.500 Jawab: c Untuk dapat menghitung ekuivalen produksi dengan metode FIFO.

000 x 100%) Bahan C (10.000 x 60%) (+)Unit produk dalam dalam proses akhir: Bahan A (10.000 x 100%) 10. Jawab: b Lihat no.000 Bahan B (10. Biaya Koversi 25.000 15.000 Unit masuk proses dan selesai 15.000 (+)Penyelesaian produk dalam proses awal: 0 Bahan A (10.000 35. Biaya Biaya Biaya Bahan A Bahan B Bahan C Unit produk selesai 25.000 10.000 27.000 x 0%) 10.000 25.000 6. 38.000 Catatan: Persediaan awal pada periode sebelurnnya belum menggunakan bahan B karena baru mencapai tingkat penyelesaian 40%.000 10.000 15. sedangkan bahan B digunakan apabila produk telah mencapai tingkat penyelesaian 50%.000 Bahan C (10.000 10.29.000 25.000 15.000 x 0%) 0 Konversi (10.000 (-)Unit produk dalam proses awal 10. BDP akhir Pemakaian bahan B Tingkat penyelesaian BDP awal BDP = Barang Dalam Proses .000 x 100%) 10. 28 ' Tingkat penyel.000 25. Produk dalam proses akhir telah menyerap bahan B 100% karena telah mencapai tingkat penyelesaian 60% (lihat gambar) I I 31.000 30. Jawab: b Unit ekuivalen dengan metode FIFO.000 x 60%) Jumlah 25.000 Konversi (10.000 Bahan B (10.000 x 100%) 10. Jawab: e Lihat no.000 6.

berarti jumlah produk yang selesai sejumlah 979.000 kg.000 522. Produk dari departemen A 5 11300 kg yang ditambah zat Z 489.32.000 x 114) i Produk dalam proses M : Bahan (99.500 1 "Bahan X digunakan pada awal proses . Produk dalam proses akhir 110.000 423.500 0 99.500 kg tambahan zat Z). Jawab: a Departemen A Data Produksi: Produk dalam proses awal Produk masuk proses (95%) Produk ditransfer keluar Produk dalam proses akhir 88. Konversi (88. sehinggadapatdisimpulkan bahwa produk yang diselesaikan departemen B adalah meliputi semua produk yang ditambah zat Z. 638.000 kg 550.000 x O%).000 kg (dari A 489. 638.500 kg 979.500 kg 89.000 kg 1.500 511.500 423.500 kg 126.500 kg.500 kg.111. 28 33. Departemen B Data Produksi: Produk dalam proses awal Produk ditransfer masuk Tambahan bahan Produk selesai yang ditransfer.000 88.000 kg 511.000 x 100%) Konversi (99.500 88.000 kg.111.000 kg * Zat Z &an ditambahkan departemen B setelah produk mencapai tingkat penyelesaian 50%.000 kg 1..000 kg 511. sedangkan dalam data diketahui bahwa produk yang masih dalam proses akhir departemen B baru mencapai tingkat penyelesaian 10%(1/5).000 x 113) Jumlah ekuivalen produksi Bahan Konversi 511. Unit ekuivalen dengan metode FIFO: Departemen A Produk selesai ditransfer ke departemen B Produk dalam proses awal Produk masuk proses dan selesai Penyelesaian produk dalam proses awal: Bahan (88.000 kg 132. Jawab: c Lihat no.500 kg + 489.

000 110. Konversi (110.000 akhir: Unit dalam proses Biaya bahan (14.000 110.000 x 100%) 14.120 34.000 x 40%) Jurnlah ekuivalensi produksi 60.600 Biaya Konversi Unit selesai dan ditransfer Unit dalam proses akhir: Biaya konversi (6.000 2.000 42.67 Ru 1.600 Biaya per Unit Rp 0.000 51.000 Biaya konversi (14.34.000 Produk selesai ditransfer ke departemen B Produk dalam proses awal Produk masuk proses dan selesai Penyelesaian produk dalam proses awal: Bahan (1 10.000 5. Jawab: b Departemen B Bahan 979. Jawab: c Perhitungan biaya per unit Departemen A: Elemen Biaya Biaya bahan Biaya tenaga kerja Biaya overhead pabrik Total biaya Jumlah Biaya Rp 31..000 x 113) Jumlah ekuivalensi produksi 40..000 869.000 x 0%) Konversi (132. Jawab: d Perhitungan ekuivalen produksi Departemen A: Biaya Bahan Unit selesai dan ditransfer 46.89 .70 0.000 x 115) Jumlah ekuivalen produksi 1 "* Bahan Z digunakan pada proses tingkat 50% 35.572 Ru 101.000 36.000 x 100%).000 Konversi 979.892 Ekuivalen Produksi 60.600 51.600 5 1.200 36.52 0.000 Perhitungan ekuivalen produksi Departemen B: Biaya Konversi 46.000 x 7/10) Produk dalam proses akhir: Bahan (132.000 869.

000 10.85 0.89 35.Perhitungan harga pokok Departemen A: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen B: (46.620 Rv 154.000 Elemen Biaya Bahan baku Total Biaya Rp 52. 38.000 42.650 Ekuivalen 65.000 0.000 40.000 x 213) Overhead (15.280 Biaya bahan (14.920 Rv 67.000 60. Jawab: a Perhitungan biaya per unit: Biaya Tng Kerja 50.000 10.000 Tenaga kerja (15.61 Ru 3-50 Biaya Bahan Unit produk selesai 50.70) 3.89) Rp 86.76 1.920 Biaya tenaga kerja (14.8 1 .67) 14.000 x 213) Jumlah 65.000 Biaya per unit Rp 0.000 x 100%) 15. Jumlah Biaya Rp 86.000 (+) Unit produk dalam proses akhir: Bahan (15.000 60.000 Biaya Overhead 50. Jawab: b Lihat no.000 x 40% x Rp0.952 Jumlah harga pokok produk dalarn proses Rp 101. 58 Jawab: b Perhitungan biaya per unit Departemen B: Elemen Biaya Biaya dari Departemen A Biaya ditambahkan oleh Departemen B: Biaya tenaga kerja Biaya overhead pabrik Jumlah biaya ditambahkan Total biaya 39.000 x Rp1.000 x 100% x Rp0.940 Harga pokok produk dalarn proses akhir: Rp 7.52) 3.752 Biaya overhead pabrik (14. Jawab: c Unit ekuivalen.000x 40% x Rp0.940 Ekuivalen Produksi 46.000 Biaya per Unit RD 1.700 31.892 Total biaya yang diperhitungkan 37.560 42.

200 x 80% x Rp12.50) Tenaga kerja (1.000 12. 124 Jawab: b Lihat no.200 x 80% x Rp20) Biaya tenaga kerja (1. 126 Jawab: b Biaya bahan baku yang ditambahkan di Departemen 2: Unit yang diterima dari Departemen 1 Kebutuhan roda setiap unit Jurnlah roda yang ditambahkan Biaya setiap roda Jumlah biaya bahan yang ditarnbahkan Rp 27.00) Total biaya yang diperhitungkan Jawab: c Lihat no.200 x 80% x Rp20) Jumlah Jawab: d Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai (15.00) Harga pokok produk dalam proses akhk Bahan baku (1.000 x Rp20) Biaya bahan untuk produk dalam proses (1.200 x 100% x Rp22.000 19.440 .50) Overhead pabrik (1.000 x Rp53.Tenaga kerja Overhead pabrik Jumlah Jawab: b Harga pokok produk yang ditransfer ke Departemen 2 (12.200 x 90% x Rp22) Jumlah Jawab: a Total biaya bahan: Biaya bahan untuk produk selesai (12.000 x Rp57) Jawab: d Harga pokok produk dalam proses akhk Biaya bahan baku (1.200 x 85% x Rp15) Biaya overhead pabrik (1.200 x 90% x Rp18.

940.000 x Rp1. Jawab: b Harga pokok per unit: Elemen Biaya Biaya produksi dari Dep. Jawab: a Lihat no.000 Biaya overhead pabrik (3.000 Biaya per unit Ru 900 50.48.995) Harga pokok produk dalam proses akhir: Rp 2.000 Unit selesai dan ditransfer ke Dep.OOO x 0%) Unit dalam proses akhir: 4.160.500.000 x 20%) Jumlah ekuivalensi produksi 34. 48 Jumlah Biaya RD 13.700. 1 Biaya ditambahkan Dep.000 x 213 x Rp580) 870.000 Total biaya Jawab: a Perhitungan ekuivalen produksi Departemen A: Biaya Bahan 30.000 x 40%) Jumlah ekuivalensi produksi Biaya Konversi 30.000 0 .000 x 213 x Rp435) 4.000 x 100% x Rp80) 1.000 Biaya bahan (3.000 Ekuivalen Produksi 15.910.970. B 0 Unit hilang dalam proses awal(l.000 Biaya bahan (4.000 Perhitungan ekuivalen produksi Departemen B: Unit selesai dan ditransfer ke gudang Unit hilang dalam proses awal(3.000 x 100%) Biaya konversi (4.000 x Rp900) Biaya ditambahkan Departemen 2: 240.000 Biaya tenaga kerja (3.000 x 0%) Unit dalam proses akhir: Biaya konversi (6.000 0 Biaya Konversi 21.000 Biaya dari departemen 1 (3.000 Harga pokok produk selesai (12. Jawab: d Perhitungan harga pokok: Rp 23. 2: Bahan baku Tenaga kerja Overhead pabrik Jumlah biaya ditambahkan Total biaya 49.000 Jumlah harga pokok produk dalam proses akhir Rp 28.

000 x 100% x RplO) Rp 40.000 462.52.000 Ekuivalen Produksi 34.000 Harga pokok produk dalam proses akhir: Bahan baku (4.000 23.600 Jumlah harga pokok produk dalam proses 68.000 27.400 Overhead pabrik Jurnlah biaya ditambahkan RD 1.400 702. Ekuivalen Produksi Biaya dari Departemen A RD 1.000 Biaya Per Unit Rp 45 5 Rp 50 55.000 x Rp45) Rp 1.000 616.350. B (30.000 Tenaga kerja (4.000 Penyesuaian adanya produk hilang 3.800 30. .000 30.000 x Rp 105) Harga pokok produk dalam proses akhir: 56 57.000 30.418.287.000 Overhead pabrik (4. 54 Jawab: c Jawab: e Perhitungan harga pokok Departemen B: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke gudang (21. Jawab: b Perhitungan harga pokok Departemen A: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Dep.000 Jurnlah biaya yang dihitung Rv 2.418.000 x 20% x Rp20) 1.000 Biaya ditarnbahkan Departemen B: Tenaga kerja 585.800 Biaya Per Unit Rp 10 15 20 RD 45 53.RD1.637.000 Total biaya yang diperhitungkan Rv 1.000 Jawab: a Perhitungan biaya per unit Departemen B : Elemen Biaya Jumlah Biaya 54.000 x 20% x Rp15) 12. Jawab: d Perhitungan biaya per unit Departemen A: Elemen Biaya Jumlah Biaya Bahan baku Tenaga kerja Overhead pabrik Jumlah biaya yang dihitung Rp 340.350.000 .000 23. Jawab: c Lihat no.

500 Perhitunnan Harna Pokok Produksi: Harga pokok produk yang ditransfer ke B (8.000 x 8Wo x Rp700) 1.000 x 80% x Rp400) 2.000 x Rp50) Rp 300. Jawab: a Bagian A Data Produksi: Dimasukkan dalam proses Ditransfer ke bagian berikutnya Dalarn proses akhir Unit Ekuivalen: Biaya Bahan 8.560.000 8.000 .000 x 40% x Rp25) 60.000.000 Jumlah harga pokok produk dalam proses Total biaya yang diperhitungkan 58.000 - 1.000 Tambahan biaya di Departemen B: Tenaga kerja (6.120.560.000 Tenaga kerja (2.000 Overhead pabrik (6.000 Jumlah & 14.000 9.000 x Rp1.000 6.000 x 80%) Biaya Konversi 8.000 Harga pokok produk dalam proses akhir: Bahan (2.600 Biaya Per Unit Rp 400 400 700 Rv 1.000 Rv 14.560.000 10.000 x 40% x Rp30) 72.500) Rp 12.000 640.000 Produk selesai ditransfer Produk dalam proses: Bahan (2.000 Ru 2.000 Ovehead pabrik (2.600 Perhitunnan Biava Per Unit: Elemen Biaya Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Bahan Tenaga kerja Overhead pabrik Jumlah Rp 4.637.000 2.000 10.Biaya dari Departemen A (6.840.000 x 100%) Konversi (2.000 x 100% x Rp400) Rp 800.000 432.000 10.000 3.600 9.000 2.720.000.

000 5.000 Perhitungan Harga Pokok Produksi: Harga pokok produk yang ditransfer ke C (5.000 Rp 15.500)Rp 1.000 - 600 7.000.Bagian B Data Produksi: Ditransfer dari bagian A Ditransfer ke C Ditransfer ke gudang Dalam proses akhir Unit Ekuivalen: Biaya Bahan 5.000 Produk selesai ditransfer ke C Produk selesai ditransfer ke gudang Produk dalam proses: Bah'm (1.000 4.800.000 x 60%) Perhitunaan Biaya Per Unit.000 1. Biaya Konversi 5.000 x 60% x Rp250) Jumlah Rp Bagian C Data Produksi: Ditransfer dari bagian sebelurnnya Ditransfer ke gudang Dalam proses akhir 10.000.000 x 100%) Konversi (1.600 Elemen Biaya Harga pokok ditransfer rnasuk Biaya tambahan: Tenaga kerja Overhead pabrik Jumlah Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Biaya Per Unit Rp 12.000.900.000 2.000 150.000 8.900.800.000) Harga pokok produk dalam proses akhir: Harga pokok dari A (1.000 7.000 x Rp2.000 4.500 1.500 500 5.000 10.000 1.000 x Rp2.000 Tenaga kerja (1.000) Rp Harga pokok produk yang ditransfer ke gudang (2.000 Overhead pabrik (1.000 x Rp1.000 Rp 1.ooo .600 250 250 Rp 2.000 15.000 2.000 1.000 x 60% x Rp250) 150.800.500.600 7.

212.000 x Rp15) Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya dari Departemen I (5.500 4.000 5.000 x Rp4) Rp 300.r per unit Departemen 11: I'iemen Riaya Biaya dari Depatlcmen I Pcnyesuaian akihat tanlbahan bahan (4 x 5.000 20.500 Rp 21.300 4.750.Unit Ekuivalen: Produk selesai ditransfer Produk dalam proses: Bahan (500 x 100%) Konversi (500 x 75%) Biaya Bahan 4.000 9.000 Rp 2.875 Rp 2.000 24.500 500 375 5.000) R Rp 1.000 Rp 20.000. Jawab: a I'erhitungan biay.000 1.000 1.212.300) Harga pokok PI-odukdalam proses akhir: Ilarga pol<oh d. Jawab: b Perhitungan harga pokok Departemen 11: Harga pokok produk selesai (20.875 Biaya Konversi 4.462.500 Jumlah Rp 19.862.000 Biaya per Unit Rp 20 Rp 4 16 8 3 RD 15 60.000 5.000) 750.000 25.000 Ovcrhead p a h i k (500 x 75% x Rp300) 1 12.000 Biay a konversi 72.000) Jumlah setelah penyesuaian Biaya ditarnbahkan oleh Departemen 11: Biaya bahan baku 200.i~-i (500 x Rp2.500 59.000 Ekuivalen Total Biaya Produksi Rp 100.000 300 4.500 Perhitungan 14ar~a Pokok Produksi: ~argapokok produk yangdiiransferkc gudang (4.500~ Rp4.000 25.000 Perhitun~a~i Biaya Per Unit: Elemen Biaya Harga pokok ditransfer masuk Biaya tanibahan: Tenaga kerja Overhead pabrik Jurnlah Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Biaya Per Unit Rp 10.000 .000 Jumlah biaya dihitung Rv 372.500 Rp 21.350.875 4.000 'I'c~iaga kerja (500 x 75%)x Rp2.000.

020 32.800 69.220 209.000 x Rp 8) Biaya konversi (5.000 Rp 375. 62 17.000 15.000 x 50%) 2.OOO Perhitungan biaya per unit: 40.000 Biaya'konversi (4.51) Rp 192.000 Biaya Per Unit Rp 3.400 19.49 Rp 3. Jawab: c Lihat no. Jawab: a Lihat no.000 Unit produk hilang awal proses: Biaya bahan (1. Biaya Konversi 35.000 Elemen Biaya Dari Departemen A Penyesuaian produk hilang Jumlah Biaya @ 140.400 Ekuivalen Produksi 40.60 Ditarnbahkan oleh Departemen B: Bahan baku Tenaga kerja Overhead pabrik Jumlah biaya ditambahkan Rp Jurnlah Rp 63.000 x 0%) 0 Biaya konversi (1.000 62.Biaya ditambahkan Departemen 11: Biaya bahan baku (5.om 39. Jawab: a Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke gudang (35. 60 Jawab: d Perhitungan ekuivalen produksi: Biaya Bahan Unit produk selesai dan ditransfer 35.OW x 0%) Unit produk dalam proses akhir: Biaya bahan (4.000 x 25%) Jumlah 37 .620 64.51 0.000 x Rp3) Jumlah harga pokok produk dalam proses Jumlah biaya yang diperhitungkan 6 1.000 x Rp5.850 .000 1 .000 Rv 75.

000 x 60% x Rp2) 48.000 252.620 Biaya Konversi 70.000 328.000 Jurnlah Rv 1.55) 550 Jurnlah 65. Jawab: c Lihat no.000 Biaya ditambahkan: 24.O) Rp 180. 64 Jawab: b Unit ekuivalen: Unit produk selesai Unit hilang awal proses (10.000 x Rp9.000 x 25% x Rp0.000 Harga pokok produk selesai (70.000 x 50% x Rp0.000 Overhead pabrik (20.000 10.000 90.60) Rp 14.46) 900 Tenaga kerja (4.000 Perhitungan harga pokok produksi: Rp 1.l) Penyesuaian produk hilang Total Biaya Q Ekuivalen Produksi 100.000 x 0%) Unit produk dalam proses akhir (20.000 x 60% x Rp4) & 1.000 x 25% x Rp0.770 RR 209.302.000 Jumlah 68.000 82.000 Elemen Biaya Biaya dari departemen Pulp: (100.Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya dari Departemen A (4. Jawab: a Biaya per unit: 16.000 Biaya per Unit 810.400 Biaya ditarnbahkan: 920 Bahan baku (4.000 x Rp150) Harga pokok produk dalam proses: Biaya dari departemen Pulp (20. 156 . 66.90) Overhead pabrik (4.000 0 12.000 Biaya ditambahkan: Tenaga kerja 164.050.000 x Rp3.000 x 60%) Jurnlah 67.000 Tenaga kerja (20.000 82.000 82.000 Overhead pabrik Jurnlah biaya ditarnbahkan Ru 492.000 x Rp8. Jawab:d Lihat no.302.

800 kg 15.800 kg x 113 x Rp135.000 2 16.800 kg x Rp401.600 kg 800 kg . 70. Jaivab: d Lihat no.5) 108.800 kg x 113) Biaya Bahan 10.800kg Perhitungan Biava Per Unit: Elemen Biaya Bahan Tenaga kerja Overhead pabri Jumlah Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Biaya Per Unit Perhitunvan Harga Pokok Produksi: Harga pokok produk yang ditransfer (10.800 kg 4.75) Rp 954.69.000 Jumlah Bagian Pengujian Data Produksi: Ditransfer dari bagian sebelurnnya Ditransfer ke bagian berikutnya Dalarn proses akhir Hilang awal proses (normal) 6.600 kg Biaya Konversi 10.800 kg x 100% x Rp198.800 kg x 113 x Rp67.00) Overhead pabrik (4. 156 Jawab: b Bagian Pencampuran Data Produksi: Dimasukkan dalam proses Ditransfer ke bagian berikutnya Dalam proses akhir Hilang awal proses (normal) Unit Ekuivalen: 10.800 kg 4.800 kg 400kg Produk selesai ditransfer Produk dalam proses: Bahan (4.800 kg x 100%) Konversi (4.400 kg 3.25) Harga pokok produk dalam proses akhir: Bahan (4.000 Tenaga kerja (4.

05) Harga pokok produk dalam proses akhir: Harga pokok dari pencampuran Rp 1.600 kg x Rp433.000 7 600 kg Rp 6.197.600 kg 10.800 kg 400 kg 6.400 kg 4.400 kg Produk selesai ditransfer Biaya Konversi 4.900 6.400 7.3 Bahan (3.200 kg 7.Unit Ekuivalen: Biaya Bahan 6.000 Jumlah Bagian Perampungan Data Produksi: Ditransfer dari bagian sebelumnya Ditransfer ke bagian berikutnya Dalam proses akhir Hilang awal proses (normal) Unit Ekuivalen: Biaya Bahan 4.560.200 kg .OO) 118.200 kg 1.600 kg Biaya Konversi 6.624.400 kg Produk selesai ditransfer Produk dalam proses: Bahan (3.OO 45.000 kg Perhitunaan Biaya Per Unit: 1.900 Biaya Per Unit Rv40 1.70 99.600 kg 342.25 Rp 433.800 Overhead pabrik (3.00 Rp 697.70) 430.920 Tenaga kerja (3.060 (3.000 10.333.600 kg x 113 x Rp99.800 kg 800 kg 10.000 kg 1.461.500 10.400 kg x Rp697.05 Perhitungan Harga Pokok Produksi: Harga pokok produk yang ditransfer (6.624.200 kg Rp 4.600 kg x 100%) Konversi (3.35 119.120 2.00) 54.000 kg 752.600 kg x 113 x Rp45.600 kg x 113) Elemen Biaya Harga pokok ditransfer masuk Penyesuaian produk hilang Bahan Tenaga kerja Overhead pabrik Jumlah Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Rp 4.600 kg x 100% x Rpl19.163.400 kg 3.780 Rp 6.

800 kg x 100% x Rp360.I20 6.000 unit 4.105.120 71.500 Biaya Konversi 2.05 Penyesuaian produk hilang 400 kg 6.00 Overhead pabrik 756.400 kg Perhitungan Biava Per Unit: 1 Elemen Biaya Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Biaya Per Unit H q a pokok ditransfer masuk Rp 4.52 Bahan 2.52 Perhitunpan Harga Pokok Produksi: Harga pokok produk yang ditransfer (4.000 5.OO) 384.Produk dalam proses: Bahan (1.000 unit 2.000 kg 1.500 .784 Harga pokok produk dalam proses akhir: Harga pokok dari pencampuran Rp 1.336 (1.800 kg x 213 x Rp320.400 kg 320.000 x 50%) 4.336 Jurnlah & 9.000 Tenaga kerja (1.00 Tenaga kerja 1.120 Rp 1.000 5.160.728.000 x 100%) Konversi (1.00) 648.400 kg Ru 697.00 Jumlah Rp 9.800 kg x 213) 1.000 2.200 kg 5.000 6. Jawab: b Departemen A Data Produksi: Dimasukkan dalam proses Ditransfer ke bagian berikutnya Produk hilang proses awal Dalam proses akhir Unit Ekuivalen: Produk selesai ditransfer Produk dalam proses: Bahan (1.00) 168.105.566.52) Bahan (1.52) Rp 6.563.563.338.461.200 kg x Rp1.500 unit 500 unit 1.000 kg Rp 743.800 kg x 100%) Konversi (1.538.400 kg 140.000 kg 360.000 Overhead pabrik (1300 kg x 213 x Rp140.000 unit Biaya Bahan 2.800 kg x Rp743.800 kg 6.

000 Overhead pabrik (1.000 2.500 unit Upah Langsung Overhead Pabrik Produk selesai ditransfer ke gudang 2.000 3.500 2.000 x Rp338) Rp 676.000 Bagian B Data Produksi: Ditransfer dari bagian departemen A Ditransfer ke gudang Produk rusak Dalam proses akhir Unit Ekuivalen: 2.500 x Rp188) Harga pokok produk dalam proses akhir: Rp 60.000 unit 200 unit 300 unit 2.000 2.000 x 50% x Rp80) 24.500 Biaya tambahan: Tenaga kerja 235.000 2.000 Bahan (1.350 Jumlah 822.000 x 50% x Rp48) Jurnlah I Rp 470.500 Biaya Per Unit Rp 188 100 50 Rp 338 Perhitungan Harga Pokok Produksi: Harga pokok produk yang ditransfer ke gudang (2.500 240.000 144.000 .000 x 100% x Rp60) 40.000 RD 594.350 Overhead pabrik 117.000 200 200 Produk rusak Produk dalam proses: Upah langsung (300 x 50%) 150 150 Overhead (300 x 50%) 2.000 Tenaga kerja (1.000 Rp 594.000 Biaya Per Unit RP 60 80 48 Ru 188 Perhitungan Harga Pokok Produksi: Harga pokok produk yang ditransfer ke B (2.000 3.000 124.350 Perhitunpan Biava Per Unit: Elemen Biaya Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Harga pokok ditransfer masuk Rp 470.000 3.1 Perhitungan Biava Per Unit: Elemen Biaya Bahan Tenaga kerja Overhead pabrik Jumlah Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Rp 210.350 2.500 unit 2.

500 Overhead pabrik (300 x 50% x Rp50) Jumlah 72.000 7.000 30.400 Tenaga kerja (300 x 50% x Rp100) 15.000 8.000 37.000 x 75%) (=) Jumlah produksi ekuivalen 74.000 Elemen Biaya Bahan baku: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Tenaga kerja: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Jumlah Biaya Ekuivalen Produksi Biaya per Unit .000 x 75%) Ekuivalen produksi 73.000 x 60%) Biaya konversi (8.800 3.000 x 50%) Biaya konversi (4.000 8.Harga pokok produk rusak (200 x Rp338) Harga pokok produk dalam proses akhir: Harga pokok dari A (300 x Rp188) Rp 56.900 RD 822.000 40.000 41. Jawab: a Perhitungan biaya per unit: 38.600 78.000 x 50%) (+) Unit dalam proses akhir: Biaya bahan (4. Jawab: a Ekuivalensi produksi dengan metode rata-rata: 67.000 4.000 2.000 4.000 x 50%) Tenaga kerja (4.500 Biaya Bahan Unit produk selesai Unit dalam proses akhir: Bahan baku (4.800 Biaya Konversi 38.000 Biaya Bahan Unit produk selesai C ) Unit dalarn proses awal (=) Unit masuk proses dan selesai (+) Penyelesaian unit dalam proses awal: Biaya bahan (8.000 30.000 36.000 Biaya Konversi 38.000 3 3.000 2. Jawab: c Ekuivalensi produksi dengan metode FIFO: 38.

000 x 75% x Rp16) 33.000 Ekuivalen Produksi Biaya per Unit Rp 222.938.000 x 50% x RplO) Jurnlah harga pokok produk selesai dari persediaan awal Rp 222.000 78.000 Bahan baku (4.000 220.000 Rp 41.000 Tenaga kerja (8.000 Overhead pabrik (8.000 Rp130.000 .000 11 Ru 51 Jawab: e Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai (38.000 x 60% x Rp25) 60.067. Jawab: b Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai: Dr unit dalam proses awal ai Biaya periode sebelumnya Biaya penyelesaian: Rp 120.000 Bahan baku (8.000 370.000 x 75% x Rpl 1) Overhead pabrik (4.000 Rv 2. Jawab: a Lihat no.000 555.000 Rv 451.000 920.0000 129. O OO Rv 2.000 x 50% x Rp15) 40.000 Rp442.000 Tenaga kerja (4.000 x 50% x Rp24) 48. 77.000 x Rp 5 1) Harga pokok produk dalarn proses akhir: Rp48.000 370. 89 Jawab: c Perhitungan biaya per unit dengan metode FIFO: Elemen Biaya Jumlah Biaya Harga pokok produk dalarn proses awal Biaya Periode ini: Bahan baku Tenaga kerja Overhead pabrik Total biaya Rp 1.067.000 Jumlah harga pokok produk dalam proses akhir Jumlah liiaya yang diperhitungkan 76.Overhead pabrik: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Jumlah dihitung 8 1.

000 10.500. 94 Jawab: d Lihat no.000 x 70%) Ekuivalen produksi Departemen 2: Biaya Bahan 45.000 x 100%) Tenaga kerja (10.200 Elemen Biaya Jumlah Biaya Bahan baku: Biaya persediaan-awal Rp 2.000 45.000 Biaya ditarnbahkan periode ini 25. 2 Unit dalam proses akhir: Bahan baku (10.000 52.000 79.000 x 75% x Rp15) Biaya overhead pabrik (4.000 Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya bahan (4.000 Biaya Tenaga Kerja Unit yang ditransfer ke gudang 42.067.000 Jurnlah harga pokok produk dalam proses akhir 125.000 Ekuivalen produksi 45.OOO Total biaya yang diperhitungkan Rv 2.000 55.000 x Rp50) Total harga pokok produk selesai 1.Dari unit mulai diperoses dan selesai (30.000 Biaya Konversi 45.000 x 75% x RplO) 30.200 49.000 x 40%) x 80%) Overhead pabrik (9.000 Biaya tenaga kerja (4.000 Unit dalam proses akhir: 3.000 Ekuivalen Produksi Biaya per Unit .000 Rp 1.600 82. Departemen 1: 80.600 Tenaga kerja (9. Jawab: c Perhitungan biaya per unit Departemen 1: Biaya Overhead 42. 94 Jawab: d Ekuivalen produksi dengan metode rata-rata tertimbang. Unit yang ditransfer ke Dep.000 7. 81.500. Jawab: d Lihat no.000.000 7.942.000 x 50% x Rp25) Rp 50.

250.500.250 Jawab: b Perhitungan harga pokok Departemen 1: Harga pokok produk yang dih-ansfer ke Departemen 2: (45.240.000 Rp 84.500.000 Jumlah harga pokok produk dalam proses akhir l7.000) 7.000 Rp 3.000 Rp 2.000 Rp 118.000 x 70% x Rp750) Overhead pabrik (10.000.000.000.000 Rp 27.000 5. Jawab: a Lihat no.250.000 49.000. 86.000 x 100% x Rp500) Rp 5.000 55.000 36.000 1.500.600 600 .000 85.000 Rv 52.000 Tenaga kerja: Biaya persediaan-awal Biaya ditambahkan periode ini Overhead pabrk Biaya persediaan-awal Biaya ditambahkan periode ini Jumlah dihitung 83. B iay a per Produksi - Vnit 5 1. Rp 2. I: Biaya persediaan-awal Rp 12.000 Tenaga kerja: Biaya persediaan-awal Rp 1.000 750 52.250.Rv 27.250) Rp 101.000 Tenaga kerja (10.860.240 45.118.000.000 Biaya ditambahkan periode hi 25.500..000 Biaya ditransfer periode ini 101. 81 Jawab: a Perhitungan biaya per unit Departemen 2: Ekuivalen Elemen Biava Jumlah Biaya Harga Pokok dari Dep.250.000 x 70% x Rp1.000 Rp 2.000 Harga pokok produk dalam proses akhir: Bahan baku (10.500.000 Rp 39.000 Ru 114.000 x RpRp2. 75 Jawab: a Lihat no.000 Rp500 52.000 Jumlah biaya yang diperhitungkan .000.360.500.990.

000 Rp 178.000 kg x Rp 3. 89.000 Harga pokok produk dalarn proses akhir : Dari departemen 1 (9.590) Rp 150.000 x 80% x Rp 750) 5.500.000 36.000 49.78.160.720.200 750 Ru 3590 Jawab: e Perhitungan harga Pokok Departemen 2: Harga pokok produk yang ditransfer ke gudang (42.000 Ru 36.500 Biaya Konversi 8.000 Jawab: d Lihat no.000 Overhead Pabrik (9.600 Ekuivalen Produksi Biaya per Unit 9.500 100 .000 Jumlah biaya yang diperhitungkan Rp 178.400.150 RP 4 .000 Jumlah harga pokok produk dalam proses Rp 27.900.500 1.Overhead Pabrik: Biaya persediaan-awal Biaya ditarnbahkan periode ini Jumlah dihitung 87.900.000 32.500 Elemen Biaya Harga pokok produk dalam proses awal Biaya Periode ini: Bahan baku Jumlah Biaya Rp 19.000 7. Biaya Bahan 8.000 x 20%) Biaya konversi (1.0 7.000 Tenaga kerja (9.000 x 50%) (+) Unit hilang akhir proses (+) Unit rusak normal (+) Unit dalam proses akhir: Biaya bahan (500 x 90%) Biaya konversi (500 x 60%) (=) Jumlah produksi ekuivalen Harga pokok produksi per unit: 88. 87 Jawab: a Ekuivalen produksi dengan metode FIFO: Unit produk selesai (-) Unit dalam proses awal (=) Unit masuk proses dan selesai (+) Penyelesaian unit dalam proses awal: Biaya bahan (1.000 x Rp 224) Rp 20.160. Rp 4.000 x 40% x Rp 600) 2.000.500.

000 Biaya periode sebelurnnya Biaya penyelesaian: Rp 800 Bahan (1. Rp 1.000 x 50% x Rp6) Overhead pabrik (1.800 dari persediaan awal Dari unit mulai diperoses dan selesai 90.000 (7.800 Jumlah harga pakok produk selesai Rp 23. Rp113.80018.400 4.400 .000 x 20% x Rp4) 3.400 unit 400 unit Ekuivalensi produksi dengan metode FIFO: Biaya Bahan Biaya Tenaga Biaya Overhead Baku Kerja Pabrik Unit produk selesai 4.Tenaga kerja Overhead pabrik Total biaya 90.400 4.39 92.000 4.500 unit Rp 13.800 600 Rv 4.500) Jawab: b Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya bahan (500 x 90% x Rp4) Biaya tenaga kerja (500 x 60% x Rp6) Biaya overhead pabrik (500 x 60% x Rp2) Jumlah harga pokok produk dalam proses akhir Jawab: a Unit produk dalam proses awal Unit produk selesai: dari persediaan awal dari periode ini Unit produk dalarn proses akhir 9 1.000 x 50% x Rp2) 1.200 unit 4.800 8.000 Tenaga kerja (1. 200 unit 200 unit 4. Jawab: a Perhitungan harga pokok: Harga pokok produk selesai: Dari unit dalam proses awal Rp 19.200 93.500 x Rp12) Harga pokok produk selesai Rp113.800 1.800 Jawab: e Harga pokok produk selesai per unit: Total harga pokok produk selesai Unit produk selesai Harga pokok per unit (Rpl13.

000 Rp8 1.200 96 Rp 12.374.000 102.260.400 unit 400 unit 4.000 .600 unit 95.800 unit 200 unit 4. Rp15.600 Jumlah biaya bahan baku yang melekat Unit ekuivalen bahan baku produk dalam proses awal: 200 unit (200 x 100%) Biaya bahan baku per unit bulan sebelumnya: (Rp8 1. Jawab:e Biaya bahan baku per unit bulan sebelurnnya: Jurnlah harga pokok produk dalam proses awal (-) Biaya tenaga kerja (200 x 80% x Rp290) Rp46.(-) Unit dalam proses awal 200 (=) Unit masuk proses dan selesai 4.200 (+) Penyelesaian unit dalarn proses awal: 0 Biaya bahan baku (200 x 0%) Biaya tenaga kerja (200 x 20%) 40 Biaya overhead pabrik (200 x 30%) (+) Unit dalam proses akhir: Biaya bahan (400 x 100%) 400 Biaya tenaga kerja (400 x 85%) Biaya konversi (400 x 75%) (=) Jumlah produksi ekuivalen 4.200 80.2001200 unit) Rp406 Jawab: b Total biaya tenaga kerja langsung pada bulan ini: Untuk penyelesaian persediaan produk dalam proses awal Untuk produk masuk proses bulan ini yang telah selesai (4.400 Biaya overhead pabrik (200 x 70% xRp240) 33.600 94.000 97. Jawab: a Jumlah unit produk rnasuk proses: Unit produk selesai Unit produk dalam proses akhir Jumlah unit diproses Unit dalarn proses awal Unit masul proses bulan ini 4.200 x Rp300) Untuk persediaan produk dalarn proses akhir Total biaya tenaga kerja langsung bulan ini Jawab: b Total biaya overhead pabrik pada bulan ini: Untuk penyelesaian persediaan produk dalam proses awal Untuk produk masuk proses bulan ini yang telah selesai Rp161.000 Ru 1.000 1.

000 2.000 4.000 x 113) Ekuivalen produksi 102.72 101.000 99.000 80.620 86.000 Jumlah biaya yang ditambahkan RD140.050.000 x 1/3) Biaya overhead pabrik (6.000 4.63 R~3.220 Total biaya yang diperhitungkan Rp295.000 Tenaga kerja Overhead pabrik 65.000 Ekuivalen Elemen Biaya Jumlah Biaya Produksi Biaya dari departemen sebelurnnya Rp 154.000 - 86.800190.200 x Rp250) Untuk persediaan produk dalam proses akhir Total biaya tenaga kerja langsung bulan ini 98.(4.72 0. Jawab: a Perhitungan ekuivalensi produksi: 1. Unit produk selesai dan ditransfer Unit hilang dalam akhir proses Unit dalam proses akhir: Biaya bahan tenaga kerja (6.800 90.87 0.000) : Rp1.000 80.ooo 86. 1 I 100.600 86.000 Biaya yang ditambahkan departemen ini: 74.76 Rp 1. Jawab: b Pencatatan persediaan perpetual Jawab: b Jumlah unit yang hilang dalam proses produksi: Unit diterima dari departemen sebelumnya Unit selesai ditransfer ke departemen berikutnya ( ) Unit masih dalam proses akhir Unit yang hilang dalam proses Jawab: a Biaya per unit yang diterima dari departemen sebelurnnya (Rp 154.145.000 Rp 1.000 2.35 .020 Biaya per Per Unit Rp 1. Jawab: d Perhitungan biaya per unit: Riaya Biaya Tenaga Kerja Overhead Pabrik 80.

000 x 113 x R?0. 104 Jawab: d Hilang abnormal diakibatkan oleh kesalahan.35) 13.72) R~ 10.000 126.000 (-) Unit dalam proses awal (akhir April) 24.OOO x Rp3.87) 1. 104 Jawab: d Lihat no.000 24.103.320 Biaya ditambahkan: 1.000 (+) Penyelesaian unit dalarn proses awal: 2.520 Overhead pabrik (6.800 (+) Unit rusak dalarn proses 20.000 24.76) Jumlah harga pokok produk dalam proses 13. .000 x Rp1.000 x Rp3.000 106.740 Tenaga kerja langsung (6.000 150.400 Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya dari departemen sebelumnya (6.000 150.000 x 10%) Biaya konversi (24.800 4. Jawab: b Lihat no. B 150.580 104. Jawab: e Lihat no. Selisih akibat pembulatan Total biaya yang diperhitungkan 105.000 126.000 20.35) Rp268.400 Biaya bahan baku (24. 108.000 Harga pokok produk hilang dalam proses (3.000 x 113 x RpO. 107.000 20.000 (=) Unit masuk proses dan selesai 126.Laba Jawab: a Perhitungan ekuivalensi produksi bulan Mei 1990: Biaya Tenaga Biaya Overh Biaya Bahan Kerja Pabrik Unit selesai d m ditransfer ke Dep. sehingga hams dibebankan ke Rugi .000 x 20%) 4. 102 Jawab: e Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke departemen berikutnya (8O.

OO) Jumlah harga pokok produk selesai dari 1.800 60.000 Overhead pabrik (24.400 Overhead pabrik (12.050.000 x 20% x Rp12.000 Harga pokok produk dalam proses akhir: Rp264.50) 7.000 Biaya tenaga kerja (12.522.200 Jumlah harga pokok produk selesai Harga pokok produk rusak dalam proses (20.894.000 x 100%) 12.000 x Rp52.000 x 90% x Rp18) ~umlah produk dalam proses akhir 9.600 Jawab: e Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai Dari persediaan awal Biaya periode sebelumnya Rp 475.000 x 90% x Rp22.200 Overhead pabrik (24.279.400 10.400 199.000 x 90% x Rp 18.600 160.615.000 Bahan baku (12.000 x 90%) Jumlah ekuivalensi produksi 160.000 x 80%) Biaya overhead pabrik (12.080.OO) Biaya penyelesaian Bahan baku (24.000 x 80% x Rp20.000 194.000 x 20% x Rp 18.200 Bahan baku (24. 110 .000 x Rp 18) Unit produk dalam proses akhir (12.400 78.50) 220.000 x Rp52.600 Total biaya yang diperhitungkan Jawab: a Lihat no.400 Jawab: a Total biaya overhead pabrik pada bulan Mei: Untuk penyelesaian unit produk dalam proses awal (24.000 x 80% x Rp12.000 x 80% x Rpl1.00) RD9.000 x 20% x Rp18) Untuk produk selesai dari periode ini (126.50)120.OO) Rp 52.200 persediaan awal Dari produk masuk proses periode sekarang dan selesai 6.000 x Rp18) Untuk produk rusak dalam proses (20.000 x 100% x Rp22.000 Rp 1.000 Tenaga kerja (24.000 (126.000 x 10% x Rp22.50) 86.00) Tenaga kerja (12.800 161.50) 1.(+) Unit dalarn proses akhir: Biaya bahan baku (12.800 384.OO) Tenaga kerja (24.

112. 4.400 Biaya Bahan 16.000 x Rp11.360 244.50) Biaya konversi (6.400 Biaya Konversi 16.400 Biaya bahan (6.60) Harga pokok produk dalarn proses akhir: Rp 54.400 x 25%) Jumlah ekuivalensi produksi Perhitungan biaya per unit 113. 110 Jawab:a Departemen A Data produksi Unit dalam proses awal Unit dimasukkan dalam proses Unit selesai ditransfer ke Dep.400 x 100%) Biaya konversi (6.lO) 4.400 x 100% x Rp8.400 22.960 .600 17.800 7.400 1.600 16. B Unit dalarn proses akhir Ekuivalen produksi Unit produk selesai Unit dalam proses akhir: Biaya bahan (6.400 x 25% x Rp3.000 6.960 Total biaya yang diperhitungkan Rp 185.600 & I 59.400 22.000 22.600 Elemen Biaya Bahan baku: Biaya. Jawab: a Lihat no. persediaan awal Biaya periode ini Konversi: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Jumlah Total Biaya Ekuivalen Produksi Biaya Per Unit Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen B (16.000 6.

1.Departemen B Data produksi Unit dalam proses Unit ditransfer dari Departemen A Unit selesai ditransfer ke Dep.600 x 20%) Jumlah ekuivalensi produksi Perhitungan biaya per unit Biaya Konversi 12.600 x Rp11. C Unit dalam proses akhir: Biaya konversi (5.60) Rp 64.960 Biaya ditambahkan: 1.2 13.35) Harga pokok produk dalarn proses akhir: Biaya dari Departemen A (5. A: Biava persediaan awal Biaya periode ini Biaya ditambahkan: Konversi: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Jumlah Ekuivalen Total Biaya Produksi Biaya Per Unit Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen C (12.800 5.000 12.600 x 20%xRp.400 16.800 110 . C Unit dalam proses akhir Ekuivalen produksi 2.600 Unit produk selesai ditransfer ke Dep.75) Total biaya yang diperhitungkan Departemen C Data produksi .800 x Rp13.920 Elemen Biaya Biaya dari Dep.960 Biaya konversi (5.

50) 0 Biaya konversi (3.520 x Rp 13.656 9.120 Biaya Bahan Unit produk selesai Biaya Konversi 9.520 x 0%) Biaya konversi (3.600 Elemen Biaya Biaya dari Dep.85) Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya dari Departemen B (3.056 10.600 Unit dalam proses akhir: Biaya bahan (3.520 x 30% x Rp2.520 x 30%) Jurnlah ekuivalensi produksi Perhitungan biaya per unit 9.600 3 520 I 0 13.OO) 2 112 Total biaya yang diperhitungkan Rp 161.104 RV 210.120 13. B: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Biaya ditambahkan: Bahan baku: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Konversi: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Total Biaya Ekuivalen Produksi Biaya Per Unit Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai yang dilransfer ke gudang (9.520 x 0% x Rp1.864 .760 - 49.600 1.Unit dalam proses awal Unit ditransfer dari Departemen B Unit selesai ditransfer ke gudang Unit dalam proses akhir Ekuivalen produksi 320 12 800 9.35) Rp46.992 Biaya ditambahkan: Biaya bahan (3.600 x Rp16.

800 Biaya Bahan Unit produk selesai dan ditransfer ke gudang 123.000 x 30%) Jumlah 7.400 Unit dalam proses akhir 123.000 1 Biaya Bahan Unit produk selesai dan ditransfer 104.200 Departemen I1 Data produksi: 19.000 Unit produk dalam proses akhir: 7.000 Unit ditransfer dari Departemen I1 Unit selesai dan ditransfer ke Departemen 111108.000 x 30%) Biaya konversi (24.200 Unit produk selesai dan ditransfer Unit produk dalam proses akhir: Biaya konversi (14.200 Unit dalam proses awal 104.000 24.000 104.800 14.114.200 123.000 96. Jawab: b Departemen I Data produksi: Unit dalam proses awal Unit masuk dalam proses Unit selesai dan ditransfer ke Departemen I1 Unit dalam proses akhir Ekuivalensi produksi: 32.200 Biaya Konversi 123.200 Biaya bahan (24.200 .400 x 25%) Jumlah Departemen I11 Data produksi: Unit dalam proses awal Unit ditransfer dari Departemen I1 Unit selesai dan ditransfer ke gudang Unit dalam proses akhir Ekuivalensi produksi: Biaya Konversi 108.200 111.

280 123.200 Rp 4.600 116.15 .800 x 50%) Jurnlah 115. Jawab: a Lihat no.600 29.600 Jumlah Departemen I1 Perhitungan biaya per unit: Rp 431.600 511.280 Biaya konversi (24. Jawab:e Perhitungan biaya per unit dan harga pokok produksi: Departemen I Perhitungan biaya per unit: Elemen Biaya Bahan baku: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Konversi: Biaya persediaan awal Biaya periode h i ' Jumlah Total Biaya Ekuivalen Produksi Biaya Per Unit Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen I1 (104.800 x 100%) Biaya konversi (12.680 43 1.400 129.40) Rp 17.480 Ekuivalen Elemen Biaya Dari Departemen I: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Biaya Per Unit Total Biaya Produksi Rp & 79.880 Ru 46 1.Unit produk dalam proses akhir: Biaya bahan (12.000 x 30% x Rp1.000 x Rp4.75) 12.15) Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya bahan (24.000 x 30% x Rp2.800 136 000 6. 114 12.

120 Biaya konversi (12.Ditarnbahkan: Konversi: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Jumlah Rp Rv Rv 9.780 112.400 x 25% x Rp1.500 Biaya konversi (14.80) Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya dari Departemen 2 (12.680 5.80) Jumlah .800 x 100% x Rp0.120 Biaya bahan (12.15) Rp59.200 x Rp6.800 x Rp5.900 140.40) Rp 69.760 4.500 651.25) Jumlah Departemen 111 Perhitungan biaya per unit: Elemen Biaya Dari Departemen 11: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Ditarnbahkan: Bahan baku: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Konversi: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Jumlah Total Biaya Ekuivalen Produksi Biaya Per Unit Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen I1 (123.400 x Rp4.600 130.60) 7.800 x 50% x Rp0.40) Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya dari Departemen I1 (14.400 Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen I1 (108.800 x Rp5.

500 Konversi: Biaya persediaan awal Rp 3.200 RD 0.48 1.68 121.117. 132 Jawab: c Perhitungan ekuivalensi produksi: 118 119.400 Biaya periode h i 15.69 38.300 Ekuivalen Produksi Biaya Per Unit 40.000 x 40%) Jurnlah 37.900 17.51 37.200 Elemen Biaya Total Biaya Dari departemen sebelurnnya: Biaya persediaan awal Rp 2.000 x Rp1.200 38. Jawab:b Lihat no.68) Harga pokok produk dalam proses akhir: .000 0.400 Ditambahkan: Bahan baku: Biaya persediaan awal Biaya periode h i Rv 25. 132 Jawab: b Lihat no.000 x 0%) 0 Biaya konversi (3. Jawab: e Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai (37. 132 Jawab: a Lihat no.400 Jurnlah RD 64.000 Unit dalarn proses akhir: Biaya bahan baku (3. 120 Biaya Bahan Baku Unit produk selesai 37.500 Ru 25.000 Perhitungan harga pokok: BiayaKoversi 37.000 RD 18.500 Biaya periode ini Rp 20.000 1.000 Rp 0. .

800.000 satuan.000 Jumlah Rp 79.000 unit .800.000 satuan Unit produk selesai 10.000 6.000 unit 9.000 satuan.266 3 Rp 64. Perhitungan harga pokok: Harga pokok produk selesai (90.000 1.000 8.000 unit Dimasukkan dalarn proses Ditransfer ke gudang 9.800.300 Jawab: a Data produksi: 90.000 unit I 500 unit Produk rusak 500 unit Dalam proses akhir Unit Ekuivalen: Biaya Bahan 9.B ~ d a r i ~ s e b e h m m y a ( 3 .000.000 Q 123.61) 576 Konversi (3.000 Produk selesai ditransfer ( .000 satuan Unit dalam proses akhir Unit ekuivalen biaya bahan 100.530 1 Biaya ditambahkan: 0 Bahan baku (3.000 F 85. berarti tingkat penyelesaian biaya bahan unit produk dalarn proses akhir 100%.000 x 40% x Rp0.Produk dalam proses awal 1.000 x 0% x Rp0.106 Rp 64.000 x Rp480) Rp 4.200. 2.000 x 20%) 200 Biaya Konversi 9.000 8. Unit ekuivalen biaya konversi 95. 0 0 0 ~ ~Rp) 1.OW Produk masuk proses yang selesai Penyelesaian produk dalam proses awal: Bahan (1. Jawab : b Data Produksi: Persediaan produk dalam proses awal 1.000 unit 10.000 x 50% x Rp400) 2. berarti tingkat penyelesaian biaya konversi unit produk dalam proses akhir 50%.000 10.000 x Rp880) Harga pokok produk dalam proses akhir: Bahan baku (10.48) Selisih akibat pembulatan Jumlah 122.000 Konversi (10.

300.000 Perhitungan Harga Pokok Produksi: Harga pokok produk selesai: Dari persediaan awal: Harga pokok awal Rp 190.000 Overhead pabrik (500 x 60% x Rp20) 6.000 Tenaga kerja (500 x 60% x Rp60) 18.5 Elemen Biaya Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Harga pokok persediaan awa 1Rp 190.000 Dari produk yang masuk dalarn bulan Desember: (8.Konversi (1.150 Tenaga kerja 558.000 Biaya penyelesaian: Bahan (1.000 9.000 x Rp120) Jumlah harga pokok produk selesai Harga pokok produk rusak (500 x Rp120) Harga pokok produk dalam proses akhir: Bahan (500 x 90% x Rp40) Rp18. Jawab: b Data Produksi: Persediaan dalam poses awal Ditransfer dari bagian sebelurnnya Ditransfer ke bagian berikutnya Hilang pada awal proses Dalam proses akhir Biaya Per Unit 200 kg 980 kg 900 kg 20 kg .000 x 20% x Rp40) 8.000 Biaya bulan Desember: Bahan 366.000 Tenaga kerja (1.000 x 50% x Rp60) Overhead pabrik (1.300 Overhead pabrik Jumlah Rv 1.000 x 50% x Rp20) 10.000 x 50%) Produk rusak Produk dalarn proses akhk Bahan (500 x 90%) Konversi (500 x 60%) Jumlah Perhitungan Biava Per Unit: 500 500 - 910 .000 30.000 9.300 186.000 9.000 Jurnlah 124.

440 Periode sekarang .---Biaya tenaga kerja: Persediaan awal Rp 40.Unit Ekuivalen: Biaya Bahan 900 kg 80 kg Biaya Konversi 900 kg Produk selesai ditransfer Produk dalam proses: Bahan (80 kg x 100%) Konversi (80 kg x 80%) Perhitungan Biava Per Unit: Elemen Biaya Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Harga pokok ditransfer masuk Persediaan awal Rp 140.000 .904.000 Biaya Per Unit .420.800 800.443 964 Jumlah Rp 1.560 480.000 RD 443.560 964 Biaya overhead pabrik: Persediaan awal Rp 23.000 Periode sekwang RP 520.000 Periode sekarang 9130 R 940.

perusahaan atau devisi dari sebuah perusahaan Sebuah produk yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan c. . Dua buah produk atau lebih yang dibuat secara serentak bersamaan d. Produk-produk. Produk utarna c. Suatu produk yang dihasilkan secara serentak dengan produk utarna dari proses produksi yang sama dan jumlah nilai penjualannya lebih rendah dari produk utarna Joint product adalah: a. nilai jualnya tidak menutup biaya produksi d. b. 3. Dua buah produk atau lebih yang dikombinasikan untuk membuat satu jenis produk yang baru Sebuah produk yang dibuat bersama-sama antara dua atau lebih b. Suatu produk yang mempunyai harga jual lebih rendah dari produk utama Suatu produk yang dihasilkanbersama-samadengan prod& utama yang c. clan c benar d. SOAL-SOAL METODE HARGA POKOK PRODUK BERSAMA DAN PRODUK SAMPINGAN 1. yang masing-masing mempunyai nilai penjualan yang berarti. Produk bersarna Jawab a. b. 2. Mana dari pernyataan di bawah ini yang secara tepat menggambarkan produk gabungan? Suatu produk yang dihasilkan dari bahan-bahan sisa a. yang dihasilkan dengan serentak dikenal sebagai: a. Produk sampingan b.BAB X METODE PENENTUAN HARGA POKOK PRODUK BERSAMA DAN PRODUK SAMPINGAN A.

. Produk ko b. Istilah biaya bersama (common cost) dan biaya bergabung (joint cost) akan timbul. proses penyulingan tersebut harus d~perlakulian sebagai: . Total nilai jual relatifnya Perbandingan jumlah tiap jenis produk yang diproduksi b.4 Jika suatu perusahaan memperoleh dua produk yang dapat dijual dari. By-products h. pembedaan apakah suatu produk merupakan produk utama ataukah sampingan didasarkan pada: a. d. Proses ekstratip d.i. Co-products c. 6. Separable products Perusahaan yang menghasilkan beberapa janis produk dengan menggunakan fasilitas yang sama tetapi dalam waktu yang tidak sama dan bahan baku serta tenaga kerja dapat diidentifikasikan untuk setiap jenis produk. 9. Harga jual per unit tiap jenis produk c.5 penyulingan bahan tambang tertentu. 8. Hal tersebut timbul dalam proses cost method dikenal a denpan: a. maka produk tersebut dinamakan: a. Joint-products d. Periode akuntansi Tujuan pokok alokasi biaya bersarna kepada produk bersama ialah: Untuk menghitung selisih biaya (cost variance) a. b. Departemen produksi d. Volume c. Produk sampingan d. Harga jual hipotetis 5. Produk common Di dalam perusahaan yang menghasilkan lebih dari satu macam produk dari satu proses produksi dan dari bahan baku yang sama. Produk bersama c. akan tetapi tidak menggunakan M n haku yang sama.suatu pnlx. 7. bila k l a s i f h i biaya didasarkan pada hubungannya dengan: Produk a. Proses biaya campuran h. Proses operasi Dua atau beberapa macam barang-barang yang dihasilkan dari suatu proses pnduksi yang sama pada waktu yang sama pula. Proses produksi biasa C.

d. b. off point) Biaya-biaya joint product pada umurnnya dialokasi dengan menggunakan: Nilai penjualan relatif pada split-off a. 13.. . Untuk mengendalikan biaya Untuk penentuan harga pokok produk Untuk keperluan pajak 10. Kepada produk sampingan (by-product) Berdasarkan perbandingan biaya tambahan (separable costs) setelah b. rata-rata tertimbang Berdasarkan nilai jual masing-masing produk pada titik terpisah (splitd. titik terpisah (split-off point) Berdasarkan nilai jualrelatif. b. atau c. 5. rata-rata biaya per satuan. dan c benar Biaya bersarna (joint cost) dialokasikan: a. dan c benar d. Biaya tarnbahan setelah split-off c. Benar b. Jawaban a. 12. Salah Untuk pengambilan keputusan memproses lebih lanjut atau tidak satu atau lebih produk bersama. c. Metode harga jual relatif b. satuan fisik. Alokasi joint cost ke setiap produk tidak bermanfaat untuk: Tujuan perencanaan dan pengendalian biaya a. 14. c. Tujuan penentuan harga pokok produk b. Profitabilitas relatif d. Metode berat relatif c. Tujuan penentuan nilai persediaan Ketiga jawaban di atas betul semua d. Tujuan alokasi biaya bersama adalah: a. Jam kerja tenaga langsung 11. Penentuan harga pokok persediaan dan perhitungan rugi-laba yang sesuai dengan Prinsip Akuntansi Indonesia c.b. Pengendalian biaya bersarna Jawaban a. Metode volume relatif d. Penentuan harga pokok produk untuk pengambilan keputusan b. b. metode-metode alokasi biaya bersama yang paling tepat adalah: a. Untuk tujuan perencanaan dan pengawasan biaya adalah perlu untuk melakukan identifkasi biaya pengolahan sesudah saat pemisahan (split-off) a.

c benar 17. lanjut Produk utama dapat dijual setelah diolah lebih lanjut c. 21 s. b. Perbedaan kemarnpuan produk bersama (joint product) untuk menghasilkan pendapatan diakui bila alokasi biaya bersama didasarkan: a. Conversion cost c. Sales value Metode alokasi biaya bersama (joint cost) kepada produkbersama (joint product) yang akan menghasilkan laba bruto yang sama besamya ialah: Metode nilai jual relatif a. Jumlah pisik Harga jual relatif b.16. Besarbiayabersama (joint costs) adalah sebesarRp1.d. Y dan 1jenis produk sampingan Z. Joint cost paling sering dialokasikan berdasarkan relative: a. Jika perusahaan menghasilkan joint product. 19. Data untuk ~lenjawab no. Profitability b.000 10. Metode satuan fisik Metode rata-rata biaya per bulan d. b. Data mengenai produk yang dihasilkanperusahaan dengan biayabersama tersebut adalah: Jenis Produk W X Y Z Jumlah produksi unit 20. Laba bersih d.000 50. metode harga jual hipotetis cocok untuk: Produk utama yang laku dijual saat dapat dipisah a. 18.50 Harga jual per unit Rp 20 16 40 5 . Perusahaan yang menghasilkan produk utama dan sampingan d.000 10.000 Berat produk per unit (kg) 3 2 4 2. Hasil penjualan produk sampingan diperlakukansebagai penghasilan di luar usaha (otherincome).000.dan Ratarata Biaya Persatuan PT Merdeka menghasilkan 3 jenis produk utama (main products) yaitu W. Jawaban a. c. 23 soal Alohasi Joint Cost dengan Metode Nilai Jual RelatiJ Rata-rata Tertimbang. Metode rata-rata tertimbang c. X. Pnme cost d.200. Produk utama dapat laku dijual saat dipisah atau setelah diproses lebih b.

Produk B a. Produk B a. Rp266. Produk B a. . Rp 127. Rp300. Informasi untuk kegiatan bulan April 1990 adalah: Keterangan A B Produk yang dihasilakan (kg) ? 60 Harga pokok produk bersama (Rp) 60. Rp 213. Rp 300. C dan D. dengan berat produk sebagai angka penimbang. Jika :~lokasi biaya bersama didasarkan pada metode ~ ~ i ljual relatif produk ai alokasi biaya bersama ke proodk Y adalah sebesar: bersarna. 25. c.909 d. Rp 240.000 d. c. yaitu A. B.500 90. Produk C d.000 c.0CM.000 Jika biaya bersama dialokasikan dengan metode rata-rata blaya per satuan. Produk D Jenis produk dengan harga pokok per kg terkecil adalah: Produk A b. Produk C d.500 b. 26. Rp290. ~naka a.000 190 Jenis produk yang memperoleh alokasi harga pokok bersama terbesar adalah: Produk A b.333 b. Rp 230. 24 s. maka alokasi biaya bersama ke produk Y adalah sebesar: a.750 c.000 Produk dijual (kg) 30 45 23. Produk B a. Data untuk menjawab soal no. Produk D Jenis produk yang memperoleh alokasi harga pokok bersama terkecil adalah: Produk A b.667 c.777 d.000 40 D 90 ? ? Total 240 7 75 400. C 50 67.d.20. Produk D Jenis produk dengan harga pokok per kg terbesar adalah: Produk A b. 22.333 b. Produk C d. 28 Alokasi Joint Cost dengan Metode Nilai Jual Relatif I "MDJ" menghasikaq 4 jenis produk bersama.000 Jika alokasi biaya bersama didasarkan metode ratalrata tertimbang. Rp 133. c. Rp 143. Selarna ini T perusahaan mengalokasikan harga pokok bersama dengan nilai jual relatif.000 21. c. maka biaya yang dialokasikan ke produk Y adalah sebesar: a. Rp 150. Rp287.3 ? Nilai pasar (Rp) ? 110. Produk D 24. Produk C d.

berapa nilai jual pada split-off untuk produk P ? a.400 untuk Q dan Rp . Rp 12.berapa joint cost yang akan dialokasi pada barang produk Q dan R? a. Rp 63.000 Rp 3. Rp 60. 25% dari penjualan c.OOO Rp 60.000 Rp 36. 16 213 dari harga pokok Data untuk menjawab soal no.000 untuk R Umparna biaya gabungdjoint cost dialokasikan dengan menggunakan metode nilai jual relatif pada titik pisah spit-off.d.000 Rp100. 33 Alokasi Joint Cost dengan Metode Nilai Jual Relatif Sebuahperusahaan membeli bahan baku bernarna Z dengan harga Rp 0. Rp 58.000 Rp20.27. Rp 59. Data untuk menjawab soal no.000 untuk Q dan Rp 9.Biaya tambahan jika diproses lebih lanjut .000 c.000 Rp120.600 untuk R c. 9.000 Rp 70. Produk A dijual pada titik terpisah (split-off point) tanpa memerlukan .d.000 ? Rp15. Rp 14. Bahan ini diproses di Departemen I dan pada akhir pernrosesan diperoleh tiga macarn produk yaitu A. Inforrnasi tarnbahan adalah sebagai berikut: . P 4.000 untuk R b. 14 217% dari harga pokok d.oOO ? ToTAL 7 .000 untuk Q dan Rp 12.Nilai penjualan jika telah diproses lanjut 28.333 b.500 d.Nilai penjualan pada titik pisah/split-off .Satuadunit diproduksi . Dengannilaipasar relatif tersebutmasing-masingjenis produk akan menghasilkan laba kotor: b. Rp 15. 25% dari harga pokok a.000 Umpama biaya gabungdjoint cost dialokasikan dengan menggunakan metode nilai jual relatif pada titik pisah split-off.Biaya gabungan ('joint cost) . 31 s.000 Rp 7.000 untuk Q dan Rp 8. 30 Alokasi Joint Cost dengan Metode Nilai Jual Relatif FT Badai Timur memproduksi barang P.000 29. dan C.000 Rp 15.000 ? Q 2. Q.000 untuk R d.000 ? E 1.000 Rp 30. 29 s.80per liter. Rp 16. B. dan R melalui proses tergabung (joint process).000 Rp 5.

73 b.09 32. Rp 60. Alokasi biaya bersama untuk produk A ialah: Rp16.pernrosesan tambahan.000 Rp 20.000 Departemen I1 Rp45. Informasi tarnbahan untuk kegiatan produksi bulan Juli 19x1 adalah sebagai berikut: . F Cemara membuat produk F. Rp 35.000 3 1. Berikut ini ialah data untuk tahun 19B: Harga beli Z Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik I Rp96. Rp 40. sedangkanproduk B dan C memerlukan proses tambahan sebelum dapat dijual. d.64 a.000 liter Rp 30. d.000 liter 10.500 Alokasi biaya bersama untuk produk C ialah: a. sedangkan pada akhir tahun tidak ada persediaan bahan baku Z maupun persediaan produk dalam proses.000 33. produk B diproses di Departemen I1 dan produk C diproses di Departemen 111. b.000 liter - Rp 96. Rp 24.000 c.750 Tidak terdapat persediaan pada awal tahun. Untuk mengalokasikan biaya sebelum titik terpisah (split-off point) digunakan metode harga relatif (relative market value).000 liter Rp 141.000 c.500 Alokasi biaya bersama untuk produk B ialah: a.000 Rp 36.272.909. d. dan W dari suatu proses gabungan T (joint process) Biaya gabungan (joint Costs ) di alokasi berdasarkan harga jual relatif pada pernisahaan (split-off). G.000 C 4 5. Rp17.200 Rp 34. 30. c.000 Penjualan Persediaan akhir Penjualan A 20. Rp 27.000 10.000 B 30.363.000 21. Rp 27.000 liter 15.000 14. b. Rp 24.

000 b.000 ? G 40. berapa laba kotor (bruto) PT Cemara atas penjualan ini? b. Jawaban a. Rp 400.d.000 Total 100.000 satuan W diproses lebih lanjut dan dijual seharga Rp 78.000 Rp 270.000 ? Produk W 10.000 d.000 b.00 88.000 c. produk A sebaiknya tidakdiproses lebih lanjut karena kalau diproses lebih lanjut perusahaan rugi Rp 80.000 Rp 750. dan biaya bersama dialokasikan dengan metode harga jual relatif adalah: a. Harga pokok produk A apabila tidak diproses lebih lanjut. .000.000 c. Rp 400.000 30.000 Rp 420. b.OOO Jenis Berat Nilai jual (kg) setelah terpisah Biaya memproses Iebih lanjut Nilai jual setelah diproses Lebih lanjut 34. dan biaya bersama dialokasikan dengan metode berat relatif adalah: a. Rp 200. Apabila alokasi biaya bersarnanya memakai metode berat relatif.000 130. 35 s.000 Rp60. Rp 21. Rp 300.000 d.OOO.000 c. Rp 66.500 a.000 320.Satuan produksi Biaya gabungan (Joint Costs) Harga jual pada pemisahan (Split-off) Biaya tambahan jika diproses lebih lanjut Harga jual apabila diproses lebih lanjut F 50. dan c benar Apakah sebaiknya A diproses lebih lanjut? a. Harga pokok produk A apabila tidak diproses lebih lanjut. Rp 28.000 12. 37 Alokasi Joint Cost dengan Metode Nilui Jual Relutif Biaya bersarna Rpl. Semuajawaban di atas benar 35.000 Rp 450.000 36.000 d.000 78. Rp 30. Rp 300. Rp 200.000 Dengan asumsi bahwa 10.000 538.000 936.000 Data untuk menjawab soal no.

500 satuan @Rp 225.000 PSI Rp 6.00 450 satuan @Rp 55.500 Jumlah Rp 84.000 80.000 3.000 PS2 Rp 3.500 Besarnya laba untuk PS 1 dan PS 2 masing-masing adalah 15% dan 12%. Data untuk bulan Agustus 1988 yang tersedia adalah sebagai berikut (angka dalam ribuan rupiah): Penjualan Biaya pabrikasi setelah pemisahan 11.000 Rp 1.500 1. PU Rp 75.000 750 550 7.000 satuan @Rp 112.b. Apabila alokasi biaya bersamanya memakai metode harga jual relatif. produk A sebaiknya diproses lebih lanjut karena kalau diproses lebih lanjut perusahaan untung Rp 120. 38.1.500 Diminta: Menghitung hargapokok satuanproduk PU. d.000 Jenis biaya Bahan baku Upah tenaga kerja Overhead pabrik Biaya setelah pemisahan PU-1 PU-2 Ps Rp130.000 30. dan c benar PT KARUGO suatu perusahaan industri yang menghasilkan tiga macam produk berupa dua macam produk utama yaitu PU-1 dan PU-2 serta satu macam produk sampingan yaitu PS.00 Biaya produksi bulan Desember 1985 adalah sebagai berikut: Biaya bersama Rp 320.PU-2 danPS dengan menggunakan metode harga jual relatif dalam mengalokasikan biaya bersarna. Perusahaan industri ATAKANA memproduksi produk utama PU dan dua produk sampingan yaitu PSI dan PS2.000 150.500 .000 5. Terhadap penjualan produk PS diperhitungkan laba sebesar 20% dari harga jualnya. Produk sampingan yang dihasilkan memerlukan proses lebih lanjut agar laku dijual. Selama bulan Desember 1985.000 Rp 45.1 PU-2 PS Kuantitas Harga Jual 6.300 Biaya pabrikasi sebelum pemisahan 37. &ketahui data produksi sebagai berikut: Produk PU.500 Biaya pemasaran dan Adrninistrasi 6. 37.50 1. b. c.500 75.100 90 0 13.000 Sebaiknya A tidak diproses lebih lanjut karena incremental cost apabila diproses lebih lanjut lebih besar dari incremental revenuenya Jawaban a.000 90.000 225.

200.200.000 ** Joint cost yang dialokasikan ke X: 100.000 kg x Rp 1.600.000 * Joint cost yang dialokasikan ke W: Rp400.200.000 800.000 = = Biaya Alokasian Rp300.000 ke produk-produk utama berdasarkan metode nilai jual relatif: Jenis Produk W X Z Jumlah Jumlah Unit Diproduksi 20.000 Harga Jual per Unit Rp20 16 40 Harga Jual Total Rp400.000 2 100.000/Rp 1.600. 2 B.000 ** 300.000 400.000/200.000/200. = Jawab: b Alokasi biaya bersama (joint cost) Rp1.000 Ru 1.000 *** Joint cost yang dialokasikan ke Y: Rp400.000 600.600.200.000 .000 x Rp 1.000 X 50.200.000 x Rp1.000 Y 10.600.000 Rp 240.000 Rp600.000 W 20.000 10.200.000 240.000 x Rp 1.000 ** Joint cost yang dialokasikan ke X: Rp800.000 * 600. PS 1 dan PS 2.000 kg/200.000 *** Rp 1.000 x Rp 1.000 = = = Rp 360.000 ke produk-produk utarna berdasarkan metode rata-rata tertimbang: Jumlah Unit Berat per Berat Biaya Jenis Produk Diproduksi Unit (kg) Total (kg) Alokasian 3 60.000 *** Joint cost yang dialokasikan ke Y: 40. Jawab: d Alokasi biaya bersama (joint cost) Rp1.000 2 1. PENYELESAIAN 20.200.200.000 Jumlah 200.200.200.000 Rpl .000/Rp 1.000 x Rp 1.Diminta: Hitung biaya pabrikasi sebelum pemisahan untuk PS 1 dan PS2 dengan 1 menggunakan market value method Buat perhitungan labdrugi untuk PU.000 * ** *** * Joint cost yang dialokasikan ke W: 60.000 4 40.000 50.000/Rp 1.000 Rp 360.

000 ** X 50.(60 + 50 + 90) = 40. yang secara mudah dapat dihitung dengan cara: 240 .000 10. yang dihitung dengan cara: fl400.000 150.000 90.000 I * Joint cost yang dialokasikan ke W: ** Joint cost yang dialokasikan ke X: *** Joint cost yang dialokasikan ke Y: Atau dapat juga dihitung sebagai berikut: Biaya rata-rata per unit: Rp1. Jumlahjoint cost yang dialokasikan ke produk B (menjadiharga pokok B).000 ke produk-produk utama berdasarkan metode rata-rata biaya per satuan: Jumlah Unit Biaya Jenis Produk Diproduksi Alokasian W 20.000 20.000180.22.000 * 750.000= Rp 300.000 Produk dijual (kg) 30 45 40 75 190 Keterangan:' = a b c d e f = = = - Jumlah kg produk A yang diproduksi.200. Total joint cost yang dialokasikan ke masing-masing produk.000180. .000 x Rp1. Jumlah joint cost yang dialokasikan ke produk C (menjadi harga pokok C).200.200.000 x Rp1.000 = Rp750.000 Rp 1.000x d = b.200.000 Jumlah 80.200. Nilai jual produk D. Nilai jual produk A.200. berikut ini disajikan kembali data soal yang telah dimodifikasi dengan mengganti data yang tidak diketahui dengan huruf: Keterangan A B D n ! h ! Produk dihasikan (kg) a 60 50 90 240 Harga pokok (Rp) 60.000 x d = c.000180.000180.000 50. yang dihitung dengan cara: 110.000 b 67.000 unit = Rp750.000 23..000 f 400.000 unit = Rp15 Joint cost yang dialokasikan ke W: Rp15 x 20.000 *** Y 10.000 Rp 300.000 unit = Rp300.000 unit = Rp150.000 = Rp150. Jawab: d Alokasi biaya bersama (joint cost) Rp1.000 x Rp 1.000 Joint cost yang dialokasikan ke Y : Rp15 x 50. Jawab: c Untuk memudahkan pemahaman.500 c d Nilai pasar (Rp) e 110.0001400.000 Joint cost yang dialokasikan ke Y : Rp15 x 10.

B C 82.000 (nilai pasar produk A) f 1400.000 90 1.500 b Setelah nilai d dan b diketahui.000 (nilai pasar produk D) 24.000 90.000 f f = - 90.000.000 x 400.000 300.(60.000 x 400.000 120.000 Produk dihasikan (kg) 40 Harga pokok per unit (Rp) 1.000 300.000 x 300.000 + 82.000 f 300. Data produk C dapat digunakan untuk mencari jumlah d dengan cara sebagai berikut: 90.000 24.000 60. nilai pasar yang tidak diketahui dapat dihitung sebagai berikut: Jumlah e: e /400.225 d 300.500) = 90.000. sehingga dari data produk tersebut dapat digunakan untuk inenghitung data-data yang tidak diketahui.000 e 300.500 * 25. Jawab: a Lihat no.500 + 67.000 x d = 67.000 36.000 .000 x 300.0001400.500 67.500 67. nilai b dapat dihitung sebagai berikut: b 110. nilai c dapat dihitung sebagai berikut: 300.Dari data tersebut. 23 Jawab: a Perhitungan harga pokok per kg: Keterangan A Harga pokok (Rp) 60.500 0.000 82.375 ** 1.000 80.800 x 300.500 60 50 1. yang terlengkap adalah data mengenai prodlik C.350 *** I2 90.000 Setelah data-data biaya yang dialokasikan ke masing-masing produk.000/400.000 e e Jumlah f: = - - 60.000 **** .000 d Setelah nilai d diketahui.

000 2.000 1.000 Nilai jual pada titik split-off c d Rp15.000 25.000 x 60.000 Jumlah b: 15.500.000 a a b Rp.000 7.000 60.000 3.600. 60.000 Jumlah d: d/100.000 60.000x60. 28 .000 1.000 60.000 d d - Jawab: c Lihat no.000 15.000 Rp 100.000 ~ i a i gabungan (joint cost) Rp36. nilai yang didak diketahui dapat dicari dengan cara sebagai berikut: Data yang diperlukan: P Q R TOTAL Satuanlunit dip~oduksi 4.Jawab: d Lihat no. 25 Jawab: a Keteran~an Harga pokok (RP) Harga jual (Rp) Laba Kotor (Rp) Persentase laba kotor dari penjualan *) *) Laba Kotor X 100% Harga Jual Jawab: c Dengan logika yang sarna dengan sod sebelurnnya.000 = b b 9.000 c C = = - 36.000 Jumlah a: Jumlah c: c/100.000 x 60.000/100.

Jawab: a Lihat no.20 5.000 60.000 liter B 30.000 189.000 24. 30 Jawab: c Data yang dapat digunakan untuk alokasijoint cost bedasar harga jual relatif pada saat plit-off: 32.50 3.000 75.000 Jumlah Rp 120.20 5.000 liter 6 0.000 Ru 150.000 liter Harga jual per liter: Jenis Produk Produk Terjual A 20.000 liter 0 liter 30.000 Harga Per Unit Rp 1.000 Rp36.000 liter B 30.000 Ru 330.000 120.50 3.000"" 114. .000 liter 3 0.000 96.000 30. 30 Jawab: b Lihat no.30.000 liter 15.000 liter C 45.000 60.000 liter Jumlah Nilai Penjualan Rp 30.000 31.750 Harga Jual per Liter Rp 1.000 liter C 45.000 liter 10. 33.15 Alokasi joint cost berdasarkan nilai jual relatiel3 Jenis Produk A B C Jumlah Jumlah Diproduksi 30.000 Ru120.000 Blaya tenaga kerja 14.000 30.000 Biaya overhead pabrik 10.15 Total Penjualan Rp 45.000 Biaya Penjualan Biaya Tambahan Relatif Alokasian Rp 0 Rp 45.000" 66.000 Jurnlah liter produk yang diproduksi: Jenis Produk Produk Jumlah Produk Terjual dalam Persediaan Diproduksi A 20.000*** Ru 180. Jurnlah joint cost adalah biaya-biaya yang diieluarkan oleh Departemen I: Biaya bahan (Z) Rp 96.000 96.000 141.

000 Rp 270.000 = Rp 400.000 * R 40 kg 400.000 400.000 Biaya yang dialokasikan ke produk C: 20 kg x Rp 10.000 400.000 x 450.000 *** Jumlah 100 kg Rp 1. Jawab:a Alokasi biaya bersama Rp 1.000 x 450.000.000 ** C 600.000 750.000 Atau dapat juga dihitung dengan cara sebagaio berikut: Biaya rata-rata per kg: Rp 1.000 Alokasi total joint cost ke produk F:a = 420.000 Rp 78.000.000 Biaya yang dialokasikan ke produk B: 40 kg x Rp 10.000/750.000 Rp 200.000 48.000 RD30.E Satuan produksi Biaya gabungan Biaya jual pada saat pemisahan G w Total 40.000* B 600.000 Biaya yang dialokasikan ke produk A: 40 kg x Rp 10.500.000 ** C 20 kg 200.000 (+) Biaya pernrosesan lanjut 12.000 c Rp 450.000 100.000 = Rp 200.OOO *** Jurnlah RD 1.000 Alokasi total joint cost ke produk G: b = 270.000t750.000 Jumlah laba kotor 34.000/100 kg = Rp 10.000 x 450.000 .000 RD 1.000 Alokasi total joint cost ke produk W:b = 60. Jawab: b Alokasi biaya bersama Rpl.000.000 10.000 dengan metode berat relatif: Jenis Berat Alokasian Biaya A 40 kg Rp 400.00d unit) Harga pokok penjualan (10.000 = Rp 400.000 = Rp 252.000 = Rp162.000/750.000 50.000 Rp 60.000 Perhitungan laba kotor produk W:Penjualan (10.000 a b Rp 420.OOO.000.OOO dengan metode harga jual relatifi Jenis Nilai Jual Alokasian Biaya A Rp 300.000 unit): Alokasian joint cost Rp 36.000 = Rp 36.000 35.

003.000 Karena apabila produk A diproses lanjut akan menghasilkan kenaikan laba sebesar Rp 20.000 Rp 430. Pengerjaan untuk menjawab no.750 Jumlah biaya produk PS sebelum pemisahan ~umlah biaya bersama produk PU-1 dan PU-2 9.000 Rp 24.950 14. Jawab: c Pertimbangan untuk menentukan apakah akan diperoses lanjutltidak dengan membandingkan tarnbahan pendapatan dengan tarnbahan biaya: Tambahan pendapatan: Pendapatan bila diproses lanjut Pendapatan bila tidak diproses lanjut Tambahan biaya: Biaya memroses lebih lanjut Jumlah kenaikan laba pernrosesn lanjut Rp 420.6* PU-1 Rp 675.500 223.200 Perhitungan alokasi biaya bersama sebesar Rp 540.000 Ru 417.000 PU-2 165.000 Rp 320.36.200 ke produk PU.000 Laba kotor: 4. 37 37.000 Tenaga kerja 5. maka sebalknya diproses lanjut.000 300.000 150.000.500 Rp 10.200.000 80.500 Rp 595. Jumlah biaya bersama: Bahan baku Tenaga kerja Overhead pabrik (-) Biaya produk PS sebelum pemisahan: Penjualan produk PS (-) Biaya proses lanjutan: Bahan baku Rp 1.950 20% x Rp24.4** Rp 1.000 Rp 120.500 Overhead pabrik 3.800 Rp 540.196.750 Rp 550.1 dan PU-2: Biaya Pengolahan Harga Jual Alokasi Produk Harga Jual Lanjutan Hipotetis Biaya Rp 3 17.0 .500 Ru 540.000 Rp 245.000 172.012.

000 Jumlah Rv 19.003.003.196.003.1: Jumlah biaya pengolahan Biaya pengolahan Rp 317.6 Biaya alokasian 430.0 Ru 388.500/Rp417.000.180 .500 satuan = Rp258.4 Jumlah Biaya per unit:.000.616. Rp388.000 Rp 3.0 Jumlah Ru 747.000 Jumlah biaya pabrikasi sebelum pemisahan Produk PS2 Penjualan (-) Biaya pengolahan lanjutan Laba kotor: 12% x Rp3.000 Rp 1.500 Rp 9000 420 1.Perhitungan: *Rp245.8001450 satuan = Rp44.500 Jumlah biaya pabrikasi sebelum pemisahan Rp 6.500 x Rp540.800 Biaya per unit: Rp19.6 Biaya per unit: Rp747.000/Rp417.100 900 2.00 Pengerjaan untuk menjawab soal no.50 Produk PU-2: Jurnlah biaya pengolahan Biaya alokasian Rp 223.196.000 satuan = Rp124.800 Biaya pengolahan lanjutan 10.4 Biaya pernrosesan lanjutan 165.4/1.000 Rp 4.200 Perhitungan biaya per unit: Produk PU.500 x Rp540.320 RD 2.80 Produk PS Jumlah biaya pengolahan Biaya produk PS sebelum pemisahan Rp 9. 38 Perhitungan biaya pabrikasi sebelum pernisahan: Produk PS 1 Penjualan (-) Biaya pengolahan lanjutan Laba kotor: 15% x Rp6.200 **R172.

OOO+Rp1.180 6. Perhitungan rugi-laba: Penjualan produk PU Penjualan produk PSI & PS2 Harga pokok penjualan produk PU: Rp 37.100 psl: (Rp4.180 .180 Rp 3 1.820 Harga pokok penjualan produk sampingan: Rp 5.500 Rp 42.180 + Rp900) -.100) PS2: (Rp2.2.320 (+) Biaya pengolahan lanjutan 11.38.5000 Biaya pabrikasi sebelum pemisahan (-) Biaya sebelum pernisahan produk PS 1 Rp 4.3.080 Jurnlah harga pokok penjualan Laba kotor Biaya pemaran clan 'administrasi Laba bersih 8.000 Biaya sebelum pernisahan produk PS2 2.

motivasi kepada karyawan Semua penyimpangan terhadap standar hams ditelaah lebih lanjut c. Tujuan standarisasi biaya (cost standard) adalah: Menentukan break-even point tertinggi tingkat produksi a.BAB XI I 1 METODE PENENTUAN HARGA POKOK STANDAR A. b. SOAL-SOAL METODE HARGA POKOK STANDAR 1. Pengendalian biaya b. Semuapenyimpanganpenting yang tidak menguntungkanharus ditelaah. Pengawasan biaya Menghindarkankeputusan-keputusanmanajemen yang bersifat subyektif c. . sekaligusberartipengurangan a. tersedianya laporan biaya b. pembebanan biaya overhead pabrik Mana dari yang berikut ini menggambarkan secara paling tepat karakteristik sistem biaya standar? Biaya standarmeliputipengendalianbiaya. Mana dari berikut ini yang merupakan salah satu dari tujuan biaya standar? Untuk menyederhanakan prosedur kalkulasi biaya dan mempercepat a. Mengalokasikan biaya secara lebih tepat d. Untuk menggantikan anggaran Sebagai basis kalkulasi biaya produk untuk pelaporan ekstemal c. Pengukuran efisiensi bagian produksi 3. sedangkan penyimpangan yang penting yang menguntungkan tidak perlu Yang bukan merupakan manfaat sistem harga pokok standar adalah: a. Untuk meniadakan perlunya perhitungan kelebihan/kekurangan d. biaya Standar dapat menegaskan tanggung jawab dan dapat memberikan b. 4. d. 2. d. Penentuan harga pokok produk Administrasi barang yang lebih sederhana c.

selisih efisiensi. didasarkan atas tingkat efisiensiyang dapat dicapai oleh b. b. para pelaksana Standar rata-rata biaya waktu lalu didasarkan atas dukungan saat c. Biaya tenaga kerja langsung b. Biaya promosi penjualan c. Jawaban a. dan selisih: Pengeluaran a. Tidak dapat diterapkan pada kedua sistem harga pokok di atas Biaya standar terutarna efektif untuk mengendalikan biaya yang mana: a. Para pegawai akan didorong keras untuk mencapai standar d. Suatu perangsang besar yang bempa bonus akan dibayarkan b. seluruh selisih (variance) dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori utarna: selisih harga. Sitem harga pokok proses saja c. didasarkan atas taksiran biaya di masa yang akan datang a. Berikut ini golongan standar mana yang banyak digunakan dan merupakan kriteria yang paling baik untuk menilai pelaksanaan: Standar normal. Biaya rapat direksi d. b. permulaan menentukan harga pokok standar d. Varian yang terjadi pada umurnnya tidak menguntungkan c. b. Tarip c.Sistem harga pokok standar dapat diterapkan pada: Sitem harga pokok pesanan saja a. di bawah asumsi keadaan ekonomi dan kegiatan yang normal Standar teoritis. dan c benar Untuk tujuan pengawasan. Volume Selisih efisiensi sering disebut dengan nama a. Sistem harga pokok pesanan atau sistem harga p k o k proses d. Semua alternatif jawaban benar Sebuah perusahaan yang menggunakan standar yang sangat kaku (teoritis)pada suatu sistem biaya standar akan mengalami: a. Biaya &an lebih baik terawasi daripadajika standar yang lebih longgar (lunak) dipergunakan Metodeharga pokok standarmerupakan metode untuk menentukanjumlah biaya yang seharusnyauntuk membiayaiproses produksi tertentu. Selisih pemakaian b. Selisih kuantitas . Kuantitas d.

d. Debit Kredit b. Iawaban a dan b benar 12. Berikut ini adalah karakteristik metode partial plan. 13 s. Data untuk menjawab soal no. 16 Jika diketahui: HS: Harga sesungguhnya per unit HSt: Harga standar per unit KSDib: Kuantitas sesungguhnya yang dibeli KSDip: Kuantitas sesungguhnya yang dipakai KStDip: Kuantitas standar yang dipakai 1: Jika selisih harga bahan baku (materials price variance) dicatat pada saat bahan baku dipakai.Metode pencatatan harga pokok standar ada dua bentuk pokok yaitu single plan dan partial plan. d.HS) x HS C.andar d. b.HS) x KSDip a.HS) x HS (KSt -KS) x HSt d. Rekening Barang Dalam Proses didebit dengan biaya sesungguhnyadan dikredit dengan biaya standar b. Jika selisih harga bahan baku (materials price variance) dicatat pada saat bahan baku dipakai. (KSt -KS) x HSt 14.c. manakah diantara formula berikut ini yang menunjukkan selisih harga bahan baku yang dipakai (materials price usage variance)? (HSt . Selisih pemakaian dan selisih kuantitas Selisih kualitas 1 1. Selisih hargapokok standardicatat (dihitung)atas dasar input biaya yaitu pada saat biaya terjadi selama periode akuntansi c. Analisis terhadap selisih harga pokok memerlukan bantuan informasi yang tidak tersedia dalam rekening buku besar Rekening selisih biaya standar yang menguntungkan (laba) akan mempunyai saldo: a. KECUALI: a. (HSt . . (KSt . manakah diantara formula berikut ini yang menunjukkan selisih pemakaian bahan baku (materials quantity variance)? (HSt . b. Persediaan bahan baku dicatat pada biaya sesungguhnyadan persediaan produk jadi dicatat pada harga pokok st.HS) x KStDip C.d.HS) x KStDip (KSt .HS) x KSDip a. . c. (HSt .

HS) x KStDip b.15. Laba Laba c. Informasi mengenai bahan baku untuk produk BRI untuk bulan Oktober 1990 adalah sebagai berikut: Rp 1. 19. Jika selisih harga bahan baku (materials price variance) dicatat pada saat bahan baku dibeli dan dipakai. Selisih biaya bahan baku yang terjadi adalah: Selisih kuantitas Selisih harga a. (HSt .000 kg Kuantitas sesungguhnya dipakai 1. Rugi Rugi b.900 kg Kuantitas standar yang diperkenankan atas produksi aktual 1. PT Binsar Jaya menggunakan sistem biaya standar.KS) x HS a. Laba Laba Selisih apakah yang timbul jika jumlah berat bahan baku yang sesungguhnya digunakanmelebihijumlah bahan baku yang dipakai menurut standartetapi biaya bahan baku sesungguhnyalebih rendah dari biaya bahan baku menurut standar? Selisih Efisiensi Selisih Harga a. Rugi Laba c.600 Biaya standar per kg Rp1. b. 17.manakah diantaraformula berikut ini yang menunjukkan selisih harga pembelian bahan baku (materials purchase price variance)? (HSt . Laba Rugi d. 18. (KSt . Laba Rugi d. Rugi Rugi 16. manakah diantaraformula berikut ini yang menunjukkan selisih harga bahan yang dipakai (materials pfice usage variance)? (KSt .800 kg . (HSt .550 Biaya pembelian aktual per kg Kuantitas aktual yang dibeli 2. (KSt -KS) x HSt d.HS) x KSDip a.HS) x HS C. Rugi Laba b.HS) x KStDip C. Jika selisih harga bahan baku (materials price variance) dicatat pada saat bahan baku dibeli dan dipakai. Harga bahan baku yang sesungguhnya lebih kecil daripada harga bahan baku standar akan tetapi biaya bahan baku yang susungguhnya lebih besar daripada biaya bahan baku standar.HS) x HS (KSt -KS) x HSt d. (KSt .

Rp 450 (laba) C.000 satuan bahan baku dengan total biaya bahan Rp100.000 satuan produk dengan menggunakan 50. Rp 200 (rugi) b. Variance harga bahan langsung dan variance penggunaan adalah: Harrra (price) Penggunaan (usage) a.000 (menguntungkan) d. Rp 10. Rp 175 (rugi) Semua altematif jawaban benar 22.000 unfavorable Rp 10. 21 s.500 kg Rp 0.000 (tidak menguntungkan) 20.500.70 3.50 kg Rp 0. b.000 (tidak menguntungkan) b. d.000.100 per satuan. Selisih kuantitas bahan yang dipakai sama dengan: a.000favorable b.000.000. Rp540 (laba) 23. C. Rp 700 (rugi) C. Semua altematif jawaban benar Selisih hasil (yield) sama dengan: Rp450 (laba) a.000.Berapakah penyimpangan (selisih) harga pembelian? Rp90.500.90 Juni 1987 Bahan B 0.000 satuan bahan baku dengan harga Rp 2.000.500. Rp 500 (laba) d.000 unit x.000unfavorable C.75 b. Selisih harga bahan sama dengan: a. Rp 4. Rp 100. Dalam kenyataan (aktual) satuan produk yang memerlukan45.000favorable Rp 4. Rp90.000. C. Rp450 (rugi) Semua alternatif jawaban benar .000 favorable d.500. Rp 5. PT Trubus menganggarkan 50.000 favorable Rp 10. Rp 100.500 kg Rp 0.000 unfavorable Rp 10.d. 25 Untuk membuat produk x diperlukan bahan baku A dan B. d. Rp 5. Pada bulan diproduksi 5.000 favorable Data untuk menjawab soal no.000 (menguntungkan) a. Berikut ini data yang menyangkut biaya bahan: Bahan A Kuantitas bahan standar per unit x I kg Biaya bahan per kg RP 1 Kuantitas bahan yang dipakai Biaya bahan sesungguhnya per kg 2 1. Rp 275 (laba) 4.

200 (laba) b. Rp 2. Persediaan Bahan Rp 6. d. Selisih komposisi sama dengan: a. 26 s. d. Rp520 (rugi) b.24.750 200 Selisih Kuantitas Pemakaian Bahan d. Kuantitas ( k ~ ) 1. Barang Dalam Proses Rp 6. 30 Biaya bahan baku standar untuk membuat produk Y sebagai berikut: Jenis bahan A B C Total Kuantitas (I .0 5.& 10 20 20 50 Harga Rp 10 20 20 Jumlah Rp 100 400 400 Rv 900 Selarna bulan Januari dibuat 100unit produk Y dengan biaya bahan sesungguhnyasebagai berikut: Jenis bahan A B C Total 26. Rp520 (laba) Semua alternatif jawaban benar 25. Rp 1.200 190 .750 Selisih Hasil Bahan 450 Rp 275 Selisih Harga Bahan Selisih Komposisi Bahan 250 6. Apabila dipakai metode pembukuan tunggal (Single plan). Semua altematif jawaban benar Data untuk menjawab soal no.800 (rugi) Rp 2. Rp250 (laba) c..200 Harga Rp 11 19 22 ' Selisih harga bahan baku bulan Januari adalah: a.675 Selisih Harga Bahan 275 Barang Dalam Proses Rp 6.700 (rugi) . Barang Dalam Proses Rp 6.100 2. Rp 3.675 Persediaan Bahan c. bagaimanakah ayat jumal untuk pemakaian bahan? a.675 Persediaan Bahan b.d.675 Rp 6.lo0 (rugi) c.

250 kg Rp1.600 (laba) Rp 93. d. d. Rp 93.000 Apabila dipakai metode pembukuan parsial (partial plan).000 (rugi) Selisih komposisi (mix) bahan adalah: a.000 (laba) Rp 125. 3 1. Rp 125.000 d. Rp 83. bahan B 750 kg Rp1.000 (laba) .550 kaleng.600 (laba) Rp 93.600 (Iaba) c.d. dan bahan C 200 kg atau Rp250. Cat yang sesungguhnya dihasilkan 1.27.000. Rp 10. Rp 3.000 d. Rp 47. Data untuk menjawab soal no.600 (rugi) Rp 3. Rp 90. Rp 47. maka biaya bahan baku yang dibebankan ke rekening Barang Dalarn Proses adalah: . Rp 10.600 (rugi) d. Rp 95. Rp 10. b.425.500 (laba) Rp 125. Apabila dipakai metode pembukuan tunggal (single plan). Selisih hasil bahan baku bulan Januari adalah: a. Selisih komposisi bahan baku bulan Januari adalah: b.600 (rugi) 28.750 kg Ryl90.000.000 (rugi) Selisih hasil (yield) bahan adalah: a. dan bahan C 1.750.700 b. maka biaya bahan baku yang dibebankan ke rekening Barang Dalam Proses adalah: a. Rp 95.000 (rugi) b. 31 s.000.000 (rugi) c.000 (laba) 32.700 b. Rp 47. a. Rp 93. bahan B 125 kg atau Rp250.600 (laba) 29. Rp 118.000 30.000.600 c. Rp 10. b.600 (rugi) c. b.000.500 (rugi) c.600 c. Rp 90. d. Rp 83. 33 Biaya standar bahan baku untuk membuat 250 kaleng cat adalah sebagai berikut: bahan A 300 kg atau Rp90. Penggunaan bahan sesungguhnya dan total biayanya dalam bulan Nopember 1989 adaiah: bahan A 1.500 (laba) Rp 125.500 (rugi) c. Rp 47.000. Selisih harga bahan sebesar: a. Rp 1 18. d.000 (laba) 33. Rp 125. a. Rp 125.

OO Untuk bulan Mei 1990perusahaan tersebut menghasilkan 6. 38 PT XYZ telah menyusun biaya biaya bahan standar untuk setiap unit produk sebagai berikut: -X 0.100 unit produk dengan biaya bahan: -X 2.000.OO (rugi) a.500 @ Rp 120. Rp 12. Rp 12. Selisih komposisi bahan baku Y adalah: a. Rp 15. b.000. Rp 12.500.500.Data untuk menjawab soal no. Dalarn bulan tersebut terjadi selisih biaya bahan baku: Selisihkuantitas Selisih harga a.000.000. Rugi Rugi b.00 (laba) adalah: b.OO Rp 150.000.OO (rugi) 37 Rp 84. 39 s.000. d.00 (laba) b.5 kg @ Rp 140.00 -Z 2. Rp 45. d. Rugi Laba c.00 (rugi) Rp 50. Rp 12. 34 s. Rp 90. Rp 84.3 kg @ Rp 100. Rp 50.00 (laba) Selisih komposisi bahan baku a.00 1.OO (rugi) Rp 90.00 (rugi) Rp 12.OO Rp 30.00 (laba) C.OO 34.00 -Z 0. c.OO (laba) c.00 (rugi) 36.2 kg @ Rp 125.500.500.000. Rp 45.000.00 (laba) c.OO (laba) d. Dalarn bulan tersebut terjadi selisih hasil (yield variance) sebesar: b.OO (rugi) 38.00 -Y 0.4 kg @ Rp 125. Selisih komposisi bahan baku X adalah: a.d. Data untuk menjawab soal no. Rp 15.000.000.400 @ Rp 150.00 (rugi) 35. Laba Rugi Laba Laba d.00 (laba) c.OO 70. 40 Jss : Jam kerja sesungguhnya Jst : Jam kerja standar . Rp 12.000.000.00 50.d.00 -Y 2.300 @ Rp 90.

(Jss x Tss) . Jam tenaga kerja langsung standar yang ditentukan bagi unit yang diproduksi lebih besar daripada jam tenaga kerja langsung sesungguhnya dipergunakan c. (Jss x Tst) . Mana dari keempat jenis standar tersebut yang menggambarkan biaya tenaga kerja langsung yang seharusnya terjadi dalam tingkat operasi seperti yang selama ini dapat dicapai? a. Basic standard c. . Jumlah unit yang diproduksi dalam periode yang bersangkutan kurang dari jurnlah unit yang dianggarkan 40. (Jss x Tss) . Maximum-efficiency standard d. Currently attainable standard Penyimpangan efisiensi upah langsung merupakan: a.(Jst x Tst) b.(Jst x Tst) d.Tss : Tarip upah sesungguhnya Tst : Tarip upah standar 39.(Jss x Tst) Selisih efisiensi upah langsung adalah sama dengan: a. Ideal standard b. (Jss x Tst) .(Jst x Tst) d. 43. (Jss x Tst) . c. Rata-rata upah yang dibayarkan kurang dari tarip standar b.(Jst x Tst) b. Perbedaan antara jumlah jam standar dan jumlah jam aktual dikalikan dengan tarip standar Pebedaan antara tarip standar dengan tarip aktual d~kalikan dengan . jumlah jam aktual d. Total biaya upah sesungguhnya kurang dibanding biaya upah standar yang ditentukan bagi unit yang diproduksi d. Perbedaan antara jumlah jam standar dan tarip aktual dikalikan dengan perbedaan antara tarip standar dengan tarip aktual Varians efisiensi upah yang menguntungkan menunjukkan: a. Perbedaan antara tarip standar dan tarip aktual dikalikan dengan jumlah jam standar b. (Jss x Tss) . 42. (Jss x Tss) . (Jss x Tst) .(Jss x Tst) Dibawah ini dicantumkan empat nama jenis standar berbeda yang dihubungkan dengan sistem biaya standar.(Jst x Tss) c. Selisih biaya tenaga kerja adalah sama dengan: a.(Jst x Tss) c. 41.

Rugi Laba b. besar terdiri dari tenaga muda dengan pembayaran rendah Untuk memenuhi jadual produksi. 46. Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya ternyata lebih besar daripada jam tenaga kerja standar dan biaya tenaga kerja sesungguhnya lebih kecildaripada biaya tenaga kerja standar. sesungguhnya Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya melebihi jam tenaga b. Rugi Rugi c. kerja langsung standar Tarip upah standar dan jam tenaga kerja langsung standar melebihi tarip c. 48 s. 50 F LIELANI yang menggunakan sistem harga pokok standar memeliki data akuntansi T sebagai berikut: 200 unit Unit yang diproduksi 5 jam Jam kerja standar per unit Tarip upah standar per jam Rp600 . upah sesungguhnya dan jam tenaga kerja langsung sesungguhnya Tarip upah sesungguhnya dan jam tenaga kerja langsung sesungguhnya d. Laba Laba d. Selisih efisiensi upah (laba) d. Selisih biaya tenaga kerja yang terjadi adalah: Selisih tarig Selisih efisiensi Rugi a. 47. besar terdiri dari tenaga berpengalaman dengan pembayaran tinggi Komposisi pekerja yang ditugaskan pada pekerjaan tertentu sebagian b. melebihi tarip upah standar dan jam tenaga kerja langsung standar Jikajam tenagakerjalangsung sesungguhnyamelebihijam tenaga kerja langsung standar jenis selisih (variance) yang akan terjadi adalah: a. Selisih tarip upah (rugi) c.44. Laba ~ l 45. ditugaskan membantu pekerjaan tertentu Bahan baku yang cacat menyebabkanlebih banyak tenagakerjadigunakan d. Saldo debit dalam rekening selisih efisiensi upah menunjukkan: Jam tenaga kerja langsung standar melebihi jam tenaga kerja langsung a. Selisih tarip upah (laba) Mana dari yang berikut ini merupakan alasan paling mungkin dari terjadinya penyimpangan tarip upah tak menguntungkan dan penyimpangan efisiensi menguntungkan? Komposisi pekerja yang ditugaskan pada pekerjaan tertentu sebagian a. pekerja dari bidang produksi lainnya c.d. Selisih efisiensi upah (rugi) b. Data untuk menjawab soal no.

Berikut ini data yang berkaitan dengan biaya tenaga kerja langsung untuk bulan Juni 1997: Jam tenaga kerja langsung standar per unit produkl Jam Tarip upah standar per jam kerja Rpl00 Jumlah produk X yang dihasilkan pada bulan Juni 500 unit Tarip upah sesungguhnya per jam kerja Rp90 Jam kerja sesungguhnya 5 1. Rp 60.000 (rugi) Rp 55.000 (laba) c.000 Selisih Tarip Upah 55. b.100 jam b.d.000 (rugi) Rp 60. d.000 Selisih Tarip Upah Selisih Efisiensi Upah Utang Gaji dan Upah Data untuk menjawab soal no.000 Rp 60. Rp50.Tarip upah sesungguhnya per jam Total jam kerja langsung sesungguhnya 48. Barang Dalarn Proses Rp 600. Barang Dalam Proses Rp 600.000 (laba) b. Selisih Efisiensi Upah 60. 51 s.000 Selisih Efisiensi Upah ' Utang Gaji dan Upah d.000 (rugi) d.000 Selisih Efisiensi Upah Utang Gaji dan Upah c. Rp45. c.000 (laba) Selisih efisiensi upah: a. Rp 60.000 (rugi) 49. 53 Perusahaan X menggunakan sistem biaya standar. 4. Selisih tarip upah: a.000 Semua alternaiif jawaban benar .000 (rugi) Rp 55. d. 50. Jurnal untuk mencatat transaksi tersebut adalah: Barang Dalam Proses Rp 600. Barang Dalam Proses Rp 600. Rp 55.000 (laba) c. Selisih tarip upah sama dengan: a.000 Selisih Tarip Upah Utang Gaji dan Upah b.000 (laba) Rp550 1. Rp 55.000 a. Rp 60.000 Selisih Tarip Upah 55.500 jam Rp45.

ah (laba) Rp6.000 c. Rp 405. 1.52. FT Seni Jaya menggunakan sistem biaya standar.000 Selisih Efisiensi 50. Selisih efisiensi tenaga kerja sama dengan: Rp45.600 b.000 jam Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya 21.000perjam 6. 1.400 53.000 jam Jam tenaga kerja langsung menurut standar . 1. Rp 260.000 a. Semua alternatif jawaban benar Biaya tenaga kerja langsung PT X bulan Maret 19x2 adalah sebagai berikut: 42.30 Tarip upah langsung standar per jam Upah tenaga kerja langsung sesungguhnya dalam bulan Maret 19x2 adalah sebesar: a. 55. Informasi mengenai biaya tenaga kerja langsung bulan September 19x2 adalah sebagai berikut: Tarip upah standar Rp 6. Barang Dalam Proses Rp 500.000 (rugi) b.000 Rp 500.400 Selisih tarip up.000 Selisih tarip Upah Rp 45. c. 54.000 Gaji dan Upah b.000 Selisih efisiensi upah (rugi) Jumlah jam kerja sesungguhnya dalam bulan September 19x2 adalah: a.598 jam d. 1.000 Jam tenaga kerja langsung standar 40.500 jam Rp 600. Rp50.000 Gaji dan Upah d.600jam 56.000 Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya Rp 8.000 c. Rp50. Rp 243.400jam b. Barang Dalam Proses Rp 500.000 Gaji dan Upah 405.000 d.000 (rugi) a. Semua alternatif jawaban benar Jurnal distribusi gaji dan upah yang bisa dibuat dari data di atas apabila dipakai metode berat sebelah (partial plan) dalam penerapan sistem harga pokok standar adalah: Barang Dalam Proses Rp 405. Informasi mengenai tenaga kerja langsung adalah sebagai berikut: 30. Rp 244.402jam c. Rp 260.100 per jam Tarip upah sesungguhnya Jam tenaga kerja langsung standar untuk mengerjakan produksi sesungguhnya 1.000 (laba) d. PT X menggunakan sistem biaya standar.

000 Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya 21.800 laba Selisih tarip upah tenaga kerja langsung Biaya tenaga kerja langsung sesungguhnya Rp 110. Kondisi Efisiensi d m Volume Normal d.000 Variance tarip upah langsung (favorable) Rp 420. 58 Data biaya tenaga kerja langsung PT Karanggayam selama bulan Maret 19x2 adalah sebagai berikut: Jam kerja standar 30.000 d.200 57. Kondisi Ideal dan Maksimum b.218. Rp3.000 b. Rp 3 3 4 c.80 Informasi mengenai biaya upah langsung PT Aroma untuk bulan Mei 19x1 adalah sebagai benkut: Tarip upah langsung standar Rp 600 Rp 580 Tarip upah langsung sesungguhnya Jam tenaga kerja langsung standar 20. Rp 4. 57 s.150 (laba) Rp 6.160.80 a.OO d.d.OO d.200. Rp 4.000 Rp 6. Rp 5. Kondisi Operasi dan Motivasi c. Rp 5.000 c. c.450 (laba) Data untuk menjawab soal no.80 Tarip upah standar per jam tenaga kerja langsung adalah: b. Rp 6. Rp1. Kondisi Harga dan Tarip 58.000 Dalam standar costing. 170. Rp1. 59. 60.80 a. .000 (laba) b. Rp1.000 Rp126.300 (laba) d.000 Berapaupah langsungtotal yang hams dibayarF T Aroma untukbelan Mei 19X1? a. biaya material dan upah buruh umurnnya dihitung berdasarkan kondisi normal dan kondisi sekarang yang memungkinkan adanya perubahan harga dan tarip.60 c.Selisih tarip upah (rugi) Biaya tenaga kerja langsung sesungguhnya Selisih efisiensi upah F Seni Jaya adalah: T a. sedangkan biaya tidak langsung pabrik dihitung berdasarkan: a. Rp 3.000 jam Jam kerja sesungguhnya 29.000 laba Rp 5. Rp 3. Tarip upah sesungguhnya per jam tenaga kerja langsung adalah: b. Rp 6. Rpl.000 jam Selisih efisiensi biaya tenaga kerja langsung Rp 4. Rp 3.

Biaya overhead pabrik sesungguhnyaberbeda dengan biaya overhead d. b. Tidak menguntungkan Bisa menguntungkan atau tidak menguntungkan. Spending Variance c. Controllable Variance b. Anggaran statik (static budget) Jawaban a. budget allowance yang didasarkan atas jam standar digunakan dalam perhitungan: 62. Dalam mengadakan analisis selisih biaya overhead pabrik neto/keseluruhan (nevoverall factory overhead cost variance). overhead yang dianggarkan Di dalam metode harga pokok standar akan terjadi selisih kapasitas biaya overhead pabrik adalah: Kapasitas sesungguhnya berbeda dengan kapasitas standar a. Kapasitas sesungguhnya berbeda dengan kapasitas normal b. dan c benar d. diperlukan adanya: a. tergantung jumlah d. . Menguntungkan c. pabrik standar Menurut metode 2 variance untuk menganalisis overhead pabrik. Efisiency Variance d. Controllable (budget) variance a. c. Kapasitas normal berbeda dengan kapasitas standar c. Dalam metode dua variance untuk menganalisis factory overhead. Anggaran fleksibel (flexible budget) Anggaran tetap (fixed budget) b. d. 63. 65. Volume Variance Tarip pembebanan overhed tetap adalah fungsi dari tingkat kegiatan "normal" yang ditetapkan di muka.61. penyimpangan volume akan: No1 a. selisih antara actual factory overhead dan factory applied pada produksi adalah: a. 64. c. Apabila jumlah jam standar atas produksi aktual sama dengan tingkat kegiatan "normal" ini selama satu periode tertentu. Ya Ya Tidak Tidak Volume J'ariance Ya Tidak Tidak Ya . b. b.

500 Jam standar tenaga kerja langsung yang disediakan untuk produksi aktual 39.800 3. Rp 14 (laba) a.000 Variance overhead menyeluruh-favorable "Applied factory overhead" untuk bulan Agustus 19 X 1 adalah: a. Rp 104 (rugi) b. Rp 197. Rp 14 (rugi) c. Dalam metode 3 variance untuk menganalisis overhead pabrik. PT Larekat menggunakan sistem akuntansi standar.000 Data untuk menjawab soal no. Rp 199. Rp 104 (rugi) 69. Rp 197. Rp 104 (laba) c.000 d.000 Tarip standar overhead variabel per jam upah langsung Jam tenaga kerja langsung bulanan dianggarkan 40 . 72 Biaya overhead pabrik y dalam tahun 19x1 pada kapasitas normal 4.500.20 0. .000 Tarip standar overhead tetap per jam upah langsung Rp 4.200 3.66. Rp 480 (rugi) d.000 Rp2.000 jam mesin adalah sebag 1' / Jenis biavp Biaya overhead pabrik variabel Biaya overhead pabrik tetap Jurnlah jam mesin sesungguhnya Jumlah jam mesin standar Biaya overhead pabrik sesungguhnya 68.000 b.000 c. Rp 480 (laba) Selisih volume (volume variance) yang terjadi dalarn tahun 19x1adalah sebesar: b.80 Data kegiatan dan biaya overhead pabrik dalam tahun 19x1 adalah sebagai berikut: Selisih terkendalikan (controllable variance) yang terjadi dalam tahun 19x1 adalah sebesar: a. Spending variance 67. Efficiency variance d.400 jam Rp 7. I-! !& Rp 4.000. Rp 195. Controllable variance c.500. 68 s.475 jam 3.000 Jam aktual tenaga kerja langsung 39.000.384 Tarip Rp 1.000. Rp 480 (rugi) d.d. Data biaya overhead dan produksi bulan Agustus 19x1 seperti berikut ini: Rp 1. selisih antara overhead pabrik sebenarnya (actual) dan overhead pabrik yang diterapkan (applied) pada produksi adalah: a. Net overhead variance b.

Rp 540 (rugi) Rp 5OO(rugi) Rp 1.800 (laba) 74. d.Perusahaan tersebut memiliki kapasitas normal 10. Rp 730 (laba) c.000jam kerja langsung per bulan. Rp 480 (rugi) d. Rp 104 (rugi) b. Selisih harga bahan baku yang dipakai adalah: a. Rp 420 (laba) Selisih kapasitas (idle capacity variance) yang terjadi dalam tahun 19x1 adalah sebesar: a. Rp 490 (rugi) d. Selisih pengeluaran (spending variance) yang terjadi dalam tahun 19x1 adalah sebesar: a. Total upah Rpl 1. 80 PTNUSA JAYAmenggunakan sistemharga pokok standar. Rp 4773 (laba) Rp 500 (laba) . Rp 420 (rugi) Selisih efisiensi (efficiency variance) yang terjadi tahun 19x1 adalah sebesar: a. Jumlah produk yang diselesaikan periode tersebut 2. Rp 200 (rugi) c. 73 s. Rp 480 (rugi) d.d.70. Rp 420 (rugi) d.9 dan bahan baku yang dipakai 4. Rp 14 (rugi) b Rp 14 (laba) c.25 Biaya overhead pabrik berdasar jam kerja langsung: Tetap 4 jam @ Rp05 RP 2 Variabel4 jam @ Rp 1' .4 6 Ru 15 Jumlah Dalam bulan Januari 1987 dibeli bahan baku 5. Rp 200 (laba) Rp 400 (laba) 75. b. 73. 71. d. Selisih kuantitas bahan baku adalah: a. b.000 kg @Rp1. Biaya standar untuk pengolahan satu unit produk adalah: Bahan baku 2 kg @Rp2 RP 4 5 Tenaga kerja langsung 4 jam @Rp1. Produk terjual sebanyak 1.500. Rp 104 (rugi) 72. Data untuk menjawab soal no. Biaya overhead pabrik sesungguhnya Rp14. c.800unit @Rp25. Rp 500 (laba) b.900 kg.460 dengan tarip upah sesungguhnyaRp1. Rp 150 (rugi) b.000 unit dan produk dalarn proses akhir bulan 500 unit dengan tingkat penyelesaian 80% bahan baku dan konversi. Rp 400 (rugi) Selisih tarip upah langsung adalah: a. Rp 14 (laba) c.2 per jam. Rp 14 (laba) c.

Rp 75 (laba) b.050(rugi) Selisih bahan baku (total)Rp620 (laba) 8 1. Rp 12. Selisih efisiensi upah langsung adalah: a.000 80.5 (laba) Selisih terkendalikan adalah: a.000unit produk.000. Rp 0. 3. 81 s. Jam tenaga kerja langsung standar per unit produk adalah: a.937.000 C. 3.d 84 Perusahaan B menggunakan sistem biaya standar.8 jam b.000 b. Rp 562. d. b. d.Seluruhbahan baku tersebut digunakan untuk memproduksi 1.500 (rugi) 77.460 c. Rp 200 (rugi) Rp 675 (laba) 79. Rp 225 (rugi) C. Rp 62. Perusahaan telah menetapkan standar untuk biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung sebagai berikut: Bahan BakuKeria Tarip atau harga standar Kuantitas atau jam standar per unit Biaya standar per unit ? Tenaga Langsung RP 5 ? 53 ? Rp 19 Dalam bulan Mei 19x4.76. Rp 10.500 b. 5.1 jam d. rekening Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung didebit sebesar: a. Rp 50 (laba) Rp 100 (laba) 78. Rp 12.5 (rugi) Rp 3. Data untuk menjawab soal no.5 (laba) C. Rp 11. Rp 1. Rp 14. Rp 14. b.000 kg bahan baku dengan harga Rp 5 1. perusahaan membeli 6.500 d.OO c.400 d. Biayatenagakcrjalangsung sesungguhnyadalarnbulantersebutsebesarRp19.8 jam C. 4.Selisih (penyimpangan)yang terjadi dalam bulan Mei 19x4 adalah sebagai berikut: Selisih efisiensi tenaga kerja langsungRp1. d. Rp 200 (rugi) Selisih volume adalah: a. Rp 12.248.000 Jika menggunakan metode rancangan berat sebelah (partial plan). Jika menggunakan rancangan tunggal (singgle plan). Rp 15.O jam . rekening Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik didebit sebesar: a.

000 d.d. 84. Tarip upah tenaga kerja langsung sesungguhnya per jam dalam bulan Mei 19x4 adalah: Rp 5. Rp 802 (rugi) d.8 d. Rp 1. 96 Berikut ini adalah biaya bahan baku standar untuk memproduksi 1. b. Rp 10. Rp 34. 3 Menggunakan 825 jam tenaga kerja langsung untuk produksi.050 (rugi) d.000 kg produk X: .00 a. RP 4.d. Rp 1.OO c. 86 PT Y menggunakan sistem biaya standar. 85. Rp 30.000 kg bahan baku untuk produksi. 4 Memproduksi 1. Rp 802 (laba) c. 5 Biaya standar per unit produk adalah sebagai benkut: Kuantitas Standar 5 kg 0.050 (laba) 83. 2 Menggunakan 8.82.000 Tarip upah sesungguhnya per jam tenaga kerja langsung dalarn bulan Januari 19x1 adalah: b.20 d. Data untuk menjawab soal no.90 86. Rp 15.780 (laba) a.850 b. Rp 36. Rp 6 0 Selisih tarip upah yang terjadi dalarn t ~ l a n 19x4 adalah: Mei a.500 unit produk jadi. 87 s. Rp 900 (laba) Selisih kuantitas bahan dalam bulan Mei 19x4 adalah: Rp1.000 c.780 (rugi) .500 kg bahan baku. Rp 4.O b. Rp 165. Dalam bulan Januari 19x1. c. sedangkan total selisih biaya tenaga kerja langsung adalah Rp 9 15. c. Rp 900 (rugi) b. Total harga sesungguhnya bahan baku yang dibeli dalam bulan Januari 19x1 adalah: a. Data untuk menjawab soal no. Rp 34. 85 s.50 jam Harga Standar RP 4 RplO Bahan baku Tenaga kerja langsung Total selisih biaya bahan baku dalam bulan Januari 19x1 adalah Rp4.O a. Rp 32.850. Rp 1. perusahaan mencatat informasi berikut ini: 1 Membeli 8.

800 jam Rp 11.000kg Rp 200 80 20 Ru 300 Rp Rp 300 Rp 0.250 (laba) c.000 jam tenaga kerja langsung adalah Rp20.25/kg 0.000 kg 3.250 (rugi) d. Rp 300 (rugi) b. Biaya overhead pabrik pada kapasitas normal 4.Ja w Bahan baku A Bahan baku B Bahan baku C Jurnlah bahan baku Jumlah produksi Kuantitas 800 kg 200 kg 200 kg 1. Rp2 tarip biaya overhead pabrik variabel).000 kg 36.60 per kg produk jadi Biaya overhead pabrik dibebankan atas dasar jam tenaga kerja langsung dengan tarip Rp5 per jam (Rp3 tarip biaya overhead tetap. Data kegiatan dan biaya .25 0. Rp 2.000 (laba) Selisih hasil bahan baku (materials yield variance) yang terjadi dalarn tahun 19 X1 adalah sebesar: a.000 kg produk diperllkan 20 jam tenaga kerja langsung dengan tarip upah Rp3 per jam atau Rp0.000. .000 Selisih komposisi bahan baku (materialsmix variance) yang terjadi dalam tahun 19 X 1 adalah sebesar: a.250 (rugi) d.552 Rp 22.30/kg Biaya standar per kg produk X adalah sebagai berikut: Biaya bahan baku (llhat perhitungan di atas) Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik Total biaya standar * ** Untuk menghasilkan 1. 200. Rp 300 (rugi) b.000 kg 38. Rp 2. Harga ~ e k~ r Rp 0.produksi sesungguhnya dalam tahun 19x1 adalah sebagai berikut: Produksi sesungguhnya Bahan baku yang sesungguhnya dipakai: Bahan baku A Bahan baku B Bahan baku C Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya Biaya tenaga kerja langsung sesungguhnya Biaya overhead pabrik sesungguhnya 87. Rp 2.000 kg 157.10 1. Rp 250 (rugi) 88. Rp 2.40 0. Rp 300 (laba) c.

Ideal b. Diperlakukan sebagai beban atau pendapatan lain-lain Ditutup ke rckening Persediaan Barang Jadi dan Barang Dalam Proses b. Rp 300 (rugi) c. Rp 600 (rugi) c. Rp 750 (laba) b. Harga Pokok Penjualan. c. c.250 (laba) a. Rp 450 (laba) Selisih hasil overhead pabrik (overhead yield variance) yang terjadi dalam tahun 19 X 1 adalah sebesar: a. Ditutup ke rekening Persediaan Barang Jadi dan HargaPokok Penjualan d. maka pengalokasiannya harus didasarkan pada: Biaya sesungguhnya yang ada dalam buku besar a. maka laba yang dilaporkan akan sama sebagaimana kalau menggunakan prosedur biaya historis: a. Rp 300 (rugi) b. Rp 600 (rugi) b. Rp 450 (laba) c.250 (laba) c.250 (rugi) d. Rp 2. Rp 2. Biaya standar yang ada pada buku besar b. Betul b. Rp 250 (rugi) Selisih kapasitas (idle capacity variance) yang terjadi tahun 19X 1adalah sebesar: a. Usang (tidak cocok lagi) c. Rp 150 (laba) Perlakuan atas selisih yang material antara biaya sesungguhnyadan biaya standar adalah: a. Rp 600 (laba) d. Rp 750 (rugi) d. Jawaban a dan b benar Jika seluruh selisih biaya standar dialokasikan pada harga pokok penjualan dan persediaan. Rp 2. bila selisih ini disebabkan karena perlggunaan standar yang: a.Selisih hasil tenaga kerja langsung (labor yield variance) yang terjadi dalam tahun 19 X 1 adalah sebesar: b. Ditutup ke rekening Persediaan Rarang Jadi. Salah . Rp 250 (rugi) Selisih efisiensi tenaga kerja langsung (labor efficiency variance) yang terjadi dalam tahun 19X 1 adalah sebesar: a. &an Persediaan Barang Dalam Proses Selisih biaya standar harus dialokasikan pada harga pokok penjualan dan persediaan. Jawaban a dan b benar Jika selisih biaya standar hams dialokasikan dalarli beberapa rekening. Rp 750 (rugi) d.

600 unit Persediaan barang jadi awal tidak ada Persediaan barang jadi akhir 400 unit Persediaan barang dalam proses tidak ada Pajak penjualan abaikan 97. d.000 b. b.000 b.400 Hitung selisih standar net0 yang ada: a.000 101. 97 s. Rp 400 Bila selisih diperlakukan sebagai biaya. b.360 Data untuk menjawab soal no. c. Larutan ini dijual di dalam drum dan biasanya memiliki harga penjualan stabil.d. 104 102. Rp 4.160 a.000 Rp 3. Jumlah laba bersih sebelum diperhitungkan adanya selisih: Rp1. 99. Rp 2.000 c.200 a. Bila selisih net0 dialokasikan pada persediaan dan harga pokok penjualan.000 Selisih Tarip Upah-menguntungkan (laba) 400 Selisih Efisiensi Upah-merugikan (rugi) 1. 101 Berikut ini adalah data biaya PT Awan Biru yang menggunakan sistem harga pokok standar: Penjualan Rp 25. 102 s. Rp 6.200 Rp 400 100.Data untuk menjawab soal no. d. Rp 4. Rp 3. Rp 4.610 c. Rp 2.200 d.200 c.000 Standar harga pokok produksi (CGM) 20.200 Jumlah unit yang diproduksi 2. Rp 1. Rp 9. maka laba bersih: b. RP 000 Hitung persediaan akhir barang jadi: a.000 98. Rp 3. maka jumlah laba bersih setelah memperhitungkan adanya selislh: a. Rp 3. FT TITANIUM menghasilkan larutan kimia yang digunakan untuk perawatan barang-barang industri.260 d. Rp 3. Karena permintaan akan produk ini menurun. Rp 800 d. Rp 2.000 unit Jumlah unit yang dijual 1. Rp 1. pada bulan .000 Biaya administrasi dan penjualan 6.000 c.d.

Diminta: Buatlah daftar perhitungan untuk menetapkan penyimpangan (variances) bulan .500.000 drum.000.000.00 Anggaran biaya tidak langsung tetap untuk tingkat produksi bulan Desember 1985 adalah Rp275.000jam kerja dengan biaya Biaya tidak langsung: .000.Depresiasi bangunan dan mesin (tetap) .000.Digunakan 700. 4.000 kg.000.000.Biaya tidak langsung lainnya (variabel) Total 3. Biaya standar untuk setiap drum larutan kimia (dalam ribuan) Bahan baku: Rp 20 1 10 kg bahan baku 1 drum kosong Rp 21 Tenaga langsung: 1jam RP 7 Biaya tidak langsung (tetap): RP 4 Per jam kerja tenaga kerja langsung Biaya tidak langsung (variabel): RP 6 Per jam kerja tenaga kerja langsung Biaya yang terjadi selarna Desember 1995: Bahan baku: .Penyelia (supervisor) dan tenaga tidak langsung (semi variabel) . Informasi tambahan tentang operasi perusahaan selarna Desember 1985: 1.000 260. Rp 470. Semua fungsi biaya adalah linier.Dibeli 600.000 drum dengan harga .500.000 kg dengan harga .000 drum. Dalarnbulan Nopember 1985perusahaan beroperasi pada tingkatkapasitas normal yaitu dengan memproduksi 120.Dibeli 85.000. Drum kosong: . Biaya penyelia dan tenaga tidak langsung adalah Rp680.000 drum.00 Rp 666.Digunakan 60.Desember 1985 perusahaan hanya menggunakan 50 persen kapasitas normal dengan memproduksi dan menjual60.000 Rp 230.Digunakan 65. Tenaga langsung: .000 76.

Kapasitas normal :24. b. Jumlah penggunaan jam kerja standar per unit dan tarif upah standar per unit.000 -. Material usage variance c.1 10. Tarip biaya overhead pabrik tetap maupun variable per jam.000 -.000 -Rp 125.Rp 4.000 -Selisih harga bahan Rp 100. Perusahaan menggunakan standar costing. Hitunglah: 1. d.000 300.000.Rp11. 4. Labor rate variance d.000 unit.Rp 750.Rp -. 3. Jumlah pemakaian bahan standar per unit dan harga bahan stnadar per unit. Produk dalam proses-bahan Rp 5.000 Persediaan bahan (10. e.000 3.500 jam) Selisih tarif upah Selisih jam kerja Produk dalarn proses-biaya overhead Selisih controllable overhead Selisih volume overhead Biaya overhead pabrik tetap actual Biaya overhead pabrik variable actual Rp12. 103.000.Desember 1985: Material price variance (dihitung pada saat pembelian) a.505. Pembebanan biaya overhead pabrik menurut jam kerja. -Rp 4. sebagai berikut: Debet Kredit 1. Labor usage (efficiency) variance Factory overhead variance dengan menggunakan four-variancemethod. Produk dalam proses-upah Utang gajilupah (19. Tunjukkan pula apakah masing-masing penyimpangan di atas menguntungkan (favorable) atau tidak menguntungkan (unfavorable).000 -. Dari perusahaan MEDIAN.000 kg) 2.Rp 5.000 jam kerja.096.000 -Selisih kuantum bahan -. diperoleh data pembukuan berupa jurnal-jurnal per periode tertentu. Produksi sebenamya c.000 -.000 --.600 Rp 735. b.Rp 196. .000 Data lainnya: a. Lakukan pembuktian dalarn perthitungan atas kebenaran selisih biaya overhead di atas dalarn jurnal ke 3.000. 8. 2.Rp 195.

tenaga kerja.755. Upah langsung 0. Biaya overhead pabrik dibebankan pada produk atas dasar jam kerja langsung normal. Selisih harga bahan baku Selisih kuar~titas bahan Selisih jam kerja langsung Selisih tarip langsung Selisih terkendali overhead Selisih volume overhead -- Di Kredit Rp 145.oduksi standar pada jam kerja normal 4. Biaya standar per unit produk adalah: Bahan baku 0. Jarn kerja normal dan jurnlah pr.000 Rp 1.6 kg @ Rp500 per. f. d.000 -- Rp200. I . 2. Tarip overhead pabr~k variabel Rp400 per jam kerja langsung.000 Rp 80.000 Rp 120. Kuantitas pemakaian bahan scsungguhnya 3.kg. Jam kerja langsung sesungguhnya dan tarip upah sesunggullnya 5.000 ---- Biaya bahan baku sesungguhnya Upah langsung sesungguhnya Overhead pabrik tetap sesungguhnya Hasil produksi billan Jani~ari1989 9. Dalam bulan Januari 1989 telah diperoleh informasi sebagai berikut: Di Debet a. Harga bahan sesungguhnya 6. b. PT. Buatlah jurnal pembebanan biaya-biaya standar (bahan. Pembuktian atas selisih terkendali dan volume dari giaya overhead B. Budget overhead tetap pada jam kerja normal 7.104.000 u p 78. dan overhead) ke dalam proses produksi dan jurnal hasil produksi .000 --Rp 240.000 unit Rp2.000 Hitunglah: Harga pokok stanilar seluruh hasil procluksi bulan Januari 1989 A. Tarip overhead pabrik tetap Rp200 per jam kerja langsung.638.000 Rp 800. c. menghasilkan sejenis produk dengan menggunakan sistem harga pokok standar.4 jam @ Rp400 per jam kerja. AUDI. e.

Jawab: a Data harga: Harga standar per satuan bahan (Rp100.50 kg): 2.000) = Rp 2.600 Rp 1.000 menguntungkan 21.000 .000 x 1) 50.000 unit x 0.000 .OOO (menguntungkan) 20.900 kg 1.500. Jawab: d Data harga: Harga standar per kg: Harga sesungguhnya per kg: Data kuantitas: Kuantitas dibeli: Kuantitas dipakai sesungguhnya: Kuantitas dipakai standax Rp 1.000 merugikan = Rp 10.Rp 2.000J50.000 ) Rp 2.000 kg = RplOO.550) 2.500 kg Bahan A: Bahan B: 3.000 Selisih harga = ( Rp 2.100 ) 45.m Rp 0.70 Rp 0.90 Rp 0. Jawab: c Data harga: Harga standar per kg Harga sesungguhnya per kg Bahan A: Bahan B: Bahan A: Bahan B: RP 1.550 2.50.000 Selisih penggunaan = ( 45.000.000.000 unit x 1 kg:5.75 Data kuantitas: Kuantitas dipakai standar (5.500 kg .000 = Rp 4.100 Data kuantitas: Kuantitas standar per satuan bahan ( 50.600 .Rp 1.800 kg Selisih harga pembelian = ( Rp 1.B.000/50. PENYELESAIAN 19.000 kg Bahan A: (5.000 Kuantits sesungguhnya dipakai 45.500 kg Bahan B: Kuantitas dipakai sesungguhnya 4.000 kg 1.000) 1 satuan Kuanitas standar untuk sejumlah yang diproduksi (50.000 Harga sesungguhnya per satuan bahan = R p 2.

75 .000) Rp1.35/1.70) 3.000 x Rp1.5 Ru 1.50 kg @Kp0.90) Bahan B: (3.50 x 1 :Rp Bahan B: 8.I Perhitungan total selisih biaya bahan: Biaya bahan sesungguhnya: Bahan A: (4.500 Rp 6.90 .35 Rp0.333 1.500 x Rp 1.35) Jumlah Rp 7.50 kg Harga rata-rata menurut standar (Rp1.70 2.Rp0.200 Rp250 menguntungkan 24.500 kg x Rp0.000 6. Jawab: a Perhitungan selisih kuantitas: Bahan A: (4.950 5.867 7.625 Rp Rp5.750 Rp450merugikan .450 Komposisi menurut standar: Bahan A: 8.200 6.000 kg x Rp1.OO) Bahan B: (2.000 x 0.35) Hasil sesungguhnya (5.5 x Rp 1.OO: Rp500 menguntungkan Bahan B: (3.500 .00 03 .Rp 1.2.500 kg x Rp0.750 menguntungkan Perhitungan selisih harga: (Rp0.050 2.75) Biaya bahan menurut standar: Bahan A: (5. Jawab: b Perhitungan selisih hasil: Hasil menurut*standar(8.50 kg) Perhitungan selisih komposisi: Komposisi menurut sesungguhnya: Bahan A: 4.90 Rp4.70) Jumlah Rp4.500 .OO) 4.500:Rp450menguntungkan Bahan A: Bahan B: (Rp0.500) Rp0.000/1.500 x Rp0.00 Bahan B: 3.000 x 1/1.500 kg x Rp0.50/1.675 1.500:R~ 1 5 merugikan 7 Jumlah selisih RD 275menguntungkan 22.750 Q6.70 Jumlah 1.5.50 x Rp0.70: Ru700 merugikan Jumlah selisih Ru 200 merugikan Jawab: a Komposisi standar satu unit produk: Bahan A: 1 kg @Rpl Bahan B: 0.70 : Jumlah Rp 1.

000 kg Bahan C (100 x 20 kg) Data sesungguhnya untuk bulan Januari: Harga sesunggubnya: Bahan A per kg Bahan B per kg Bahan C per kg Kuantitas sesungguhnya: Bahan A Bahan B Bahan C ' Perhitungan selisih total biaya bahan: Biaya bahan sesungguhnya: Bahan A(1.RplO) 1.25.000 kg Bahan A (100 x 10 kg) 2. Rpl 1 19 22 Perhitungan selisih harga bahan: Bahan A (Rpll .000 kg Bahan B (100 x 20 kg) 2.900 kg x Rp22) Biaya bahan menurut s t a n k Bahan A (1.000 kg x RplO) Bahan B (2. Jawab: b Jurnal pencatatan dengan single plan: Barang Dalarn Proses Selisih Hasil Bahan Selisih Harga Bahan Selisih Komposisi Bahan Persediaan Bahan Jawab: d Data standar untuk produk Y yang dibuat (100 unit): Harga s t a n k Bahan A per kg RplO Bahan B per kg 20 Bahan C per kg 20 Kuantitas standar: 1 .200 kg x Rp19) Bahan C (1.000 kg x Rp20) Bahan C (2.000 kg x Rp20) Jumlah 26.100 kg Rp 1.100kgxRpll) Bahan B (2.100merugikan .

900 kg Jurnlah Jawab: e Perhitungan selisih komposisi bahan: Biaya bahan pada Komposisi sesungguhnya: Bahan A (1.700merugikan Rp 10.000 .600 Ru93.700 Selisih Hasil Bahan Selisih Komposisi Bahan Persediaan Bahan 30.Rp20) 2.200 kg x Rp20) Bahan C (1.200150 x Rp900) Hasil sesungguhnya (100 x Rp900) Jumlah RP & 93.200 kg Bahan C (Rp22 .000 3.600 41. Jawab: d Jumal pencatatan biaya bahan dengan metode single plan: Barang Dalam Proses Rp 90.700 Rp95.000 2.200 kg x 10150 x Rp 10) Bahan B (5.Bahan B (Rp19 . Jawab: b Perhitungan selisih hasil bahan: Hasil menurut standar (5.200menguntungkan 3.000 Selisih Harga Bahan 2.100 kg x RplO) Bahan B (2. Jawab: e Data menurut standar untuk membuat 250 kaleng cat: Kuantitas Harga Total Harga per kg Bahan A 300 kg Rp90.900 kg x Rp20) Biaya bahan pada komposisi standar: Bahan A (5.400 41.600 Rp600 menguntungkan 28.800 merugikan Rv2.000 Rp300 Bahan B 125 kg 250.Rp20) 1.~1 90.700 31.600 merugikan 29.200 kg x 20150 x Rp20) Bahan C (5.200 kg x 20150 x Rp20) Jumlah 2. Jawab: a Jurnal pencatatan biaya bahan dengan partial plan: Barang Dalam Proses Rp Persediaan Bahan 95.

500.540.Rp300) 1.000) 750 kg Bahan C: (Rp1.860 kg Bahan B (1.750 kg x Rp300) Bahan B (750 kg x Rp2.5501250 x 300 kg) 1.000 Rv3.000 1.658.000 1.000) Bahan C (1.000 menguntungkan 187.Rp2.750 kg x Rp280) Bahan B (750 kg x Rp1.000 Ru7.250) Jurnlah Harga per kg 280 1.750 x 1251625 x Rp2.000) Bahan C (3.000 3.5501250 x 200 kg) 1.900 .750 x 2001625 x Rp1.000 1.400 Rp 490.250 Jumlah Perhitungan selisih harga bahan: Bahan A: (Rp280 .5.000 558.750 kg Bahan B: (Rp1.Rp1.000 1.250 Bahan C Jurnlah 625 kg Rv590.000 menguntungkan Rp 75.750.240 kg Data biaya bahan sesungguhnya untuk bulan Nopember: Kuantitas Harga Total Bahan A 1.200 kg 250.500 merugikan .750.250 kg x Rp1.900) Bahan C (1. Jawab: a Perhitungan selisih komposisi: Biaya bahan pada komposisi sesungguhnya: Bahan A (1.0001.000) B@an C (1.250 kg x Rp1.0001625) : Rp944 Data kuantitas menurut m d a r untuk menghasilkan 1.500 merugikan Rt177.250 kg Jumlah 32.000Rp Bahan B 750 kg 1.665.250 kg 1.250) 1.500 merugikan Rp540.550 Harga rata-rata per kg menurut standar: (Rp590.000 Rp47.240 kg x Rp1.425.000 Rp 3.42.550 kaleng: Bahan A (1.250) Biaya bahan pada komposisi standar: Bahan A (3.000 Rp 3.000 Rp Rp 35.000 Perhitungan selisih total biaya bahan: Biaya bahan sesungguhnya: Bahan A (1.5501250 x 125 kg) 775 kg Bahan C (1.400) Biaya bahan menurut standar: Bahan A (1360 kg x Rp300) Bahan B (775 kg x Rp2.750 x 3001625 x Rp300) Bahan B (3.500.550.400 .000 1S50.900 Bahan C 1.750 kgRp 490.000 1.000 1.

2 x Rp150) Rp 900.5501250 x RpS90.000 menguntungkan 35.000 Rp 118.200/1.33.000 Hasil sesungguhnya (6. 38.000 3.200 kg 7.000) Jumlah Rp3. .800 kg Rpl00 Y 2.000 kg Rp 140 Jumlah 7.5 kg) 3.3 kg) 1.658.050 kg Perhitungan selisih hasil bahan: Hasil menurut standar (7.540.100 x Rpl5O) Jurnlah Rv 15. Jawab:b Perhitungan selisih hasil: Hasil menurut standar (3. 35 Jawab: a Lihat no.500 kg 2.000 Rp2 1.440 kg Bahan Z: (6.300 kg 1.000) Hasil sesungguhnya (1.830 kg Bahan Y: (6. Jawab: d Lihat no.000menguntungkan 34.750/625 x Rp590.400 kg 3.100 x 0.200 kg 36.000 915.100 x 0. 35 Selisih Komposisi 50.000 12. 35 Jawab: d Lihat no. r Jawab: c Data harga standar per kg bahan: Jenis Bahan Harga per kg X Rpl00 Y 125 Z 140 Data kuantitas standar untuk 6.100 x 0.500 Sifat Selisih rugi rugi laba laba 37.4 kg) 2.400 kg Rp 125 Z 2.500 84. Jawab: d Perhitungan selisih komposisi bahan: Biaya bahan pada komposisi sesungguhnya: Komposisi Komposisi Harga Jenis Sesungguhnya Standar Standar X 2.100 unit produk: Bahan X: (6.

09.000 jam x Rp6.000. Jawab: Selisih efisiensi = (JS .000 TS .500) 6.30) 40.400 = .09 tarip sesungguhnya sebesar Rp6.000 605.000 (laba) Jawab: b Selisih efisiensi = Jawab: a Barang Dalam Proses Selisih Efisiensi upah Selisih tarif upah Utang gaji & upah Jawab: a Selisih tarip = Rp60.000 .8.Rp550) 1.000 (rugi) Rp 600. harus diketahui terlebih dahulujam sesungguhnyadan tarip sesungguhnya.500 jam = Rp45.000 .8.6.000 .000 TS TS TS = Tarip upah sesungguhnya.600 = 6. Karena kedua data yang diperlukan telah temdia rnaka biiya tenaga kerja langsung sesungguhnyadapat dihitung sebagai berikut: Biaya tenaga kerja langsung sesungguhnya = 40.000 (laba) Jawab: c Selisih efisiensi = (5.000 = 40.Jawab: c Selisih tarip = (Rp600 .Dari kedua data tersebut yang telah tersedia hanya jam sesungguhnya.4.000 = (Rp100 -Rp90) 4.100) Rp600 = Rp55. rekening Barang Dalarn Proses didebit sebesarbiaya sesungguhnya: 4.400 = 243.000 60. Jawab: a Untuk mengetahui jumlah biaya tenaga kerja langsung sesungguhnya.000 40. Selisih tarip = .100 jam (1.09 = Rp243.000 Rp 55.252.500) Rpl00 = Rp50. sedang tarip sesungguhnya dihitung sebagai berikut: = (TS .1.600.000 (laba) Jawab: a Dengan metode partial plan.500 jam x Rp90 =Rp405.1.

000 jam) .000 Jawab: c Jumlah biayaoverhead pabrik dibebankan (39. 4.000 jam) Jawab: Selisih tarip: (3.000130.000 TSt TSt Tarip standar = Rp4.29.000 Jawab: a Data-data: Jam normal: jam Jam standar: Jam sesungguhnya: sesungguhnya: 67.000 jam .000 = 1.000 .TSt) 29.10 Selisih efisiensi: (30.10 Tarip standar = Rp4.384 Biaya overhead pabrih dianggarkan pada jam standar: Rp3.400.80 per jam 58.000 jam) Rp4.9.800 = -5.200 .lO = Rp36.900 (merugikan) Jawab: Tarip sesungguhnya (Rpll0.000jam) = Rp4.400 jam Rp0.21.000= Rp12.30.000) = Rp197.475 jam Rp7.000 110.6.TSt) 30. = Rp3.500x Rp5.20 .000 6.20 per jam Selisih tarip: (4.180.000 = 3.200 Tetap (Rp0.000 126.80 x 4.000 TSt = 4.000 JS . Jawab: Upah yang dibayar adalah upah sesungguhnya.800 =4 59.000 jam 3.000 = 8.200/29.400 Jawab: e Tarip sesungguhnya (Rp126. 56.80 .500.SO per jam 3. 68.000. = -5. yaitu sebesar Rp580 x 2 1.000 JS JS JS = Jam kerja langsung sesungguhnya.20per Tarip tetap: Biaya overhead Perhitungan selisih terkendalikan: Biaya overhead pabrik sesungguhnya Rp7.OO 57. = 600.384 Tarip variabel: Rpl.000 TSt = 3.

3.20 x 3.475 jam) 4.000 jain .000 jam .370 Biaya overhead pabrik dianggarkan pada jam sesungguhnya 6.20 x 3.900 kg Kuantitas bahan sesungguhnya dipKuantitas bahan dipakai menurut stands: 72.3.280 Biaya overhead pabrik dianggarkan pada jam standar Biaya overhead pabrik standar (3.00) 6.00 = Rp150 (merugrkan) Jawab: e Data-data: Harga standar: Rp2.200 Tetap (Rp0. Selisih volume: (4.80 x 4.Variabel (Rp1. 73.370 (merugikan) 71.800 Jurnlah R-480 (merugikm) Atau.80 = Rp420 (merugikan) Jawab: a Perhitungan selisih efisiensi: Rp6.OO) Jumlah R0420 (merugikan) Atau.80 = Rp480 (merugikan) Jawab: a Perhitungan selisih pengeluaran: Biaya overhead pabrik sesungguhnya Biaya overhead pabrik dianggarkan pada jam sesungguhnya: Rp3.400 jam x Rp2.400 jam) Jumlah 69.950 Biaya overhead pabrik dibebankan Biaya overhead pabrik standar (3. Selisih efisiensi: (3.800 Jumlah 150 (merugikan) Atau.000 jam) Variabel (Rp1.950 Biaya overhead pabrik dibebankan (3.400 jam) Rp0.3.280 RplM (merugikan) Jawab: c Perhitungan selisih vol~~tne: Rp7.400 jam x Rp2) 6.470 jam) Rp0. Jawab: c Perhitungan selisih kapasitas: Rp 7.400 jam) Rp2. . Selisih kapasitas: (4.475 jam x Rp2.90 per kg 4.475 jam . Rp7.080 7.170 Jurnlah 70.384 7. 4.00 per kg Harga sesungguhnya: Rp1.

900 kg = Rp490 (menguntungkan) 74. Jawab: b Data-data: Tarip upah standar: Rp1.25 = Rp62.400 Selisih harga bahan dipakai: (Rp1.000 F'roduk dalam proses (500 x 80%) 400 Jumlah 2.25) 9.Rp1.4.600 14600 Jumlah RD100 (menguntungkan) -- .460/Rp1.400 x 4 jam) = 9.50 (menguntungkan) Jawab: d Data-data: Tarip variabel: Rpl per jam Tarip tetap: Rp0.000 400 2.600 jam (lihat pada analisis biaya tenaga kerja) Jam sesungguhnya: 9. Jawab: a Selisih kuantitas: (4.900 kg .Rp2.000jam Jam standar: 9.50) Rp5.600jam x Rpl) 9.600 jam) Rp1.OO)4.800 kg) Rp2.9.20 per jam Jam sesungguhnya dipakai (Rp11.500 Biaya overhead dianggarkan pada jam standar: Tetap (10.W = F Q 2 0 @&ru@an) +.000 jam x Rp0.550 jam = Rp477.500 Selisih terkendalikan: Biaya overhead pabrik sesungguhnya Rp 14. 77.400 Jam standar: (2.800 kg 2.550 jam (lihat pada analisis biaya tenaga kerja) Biaya overhead pabrik sesungguhnya: Rp14.600 jam Selisih tarip: (Rp1.25 per jam Tarip upah sesungguhnya: Rp 1.20): 9.50 (menguntungkan) 76.000 Variabel(9.550 jam Jam dipakai menurut standar: Unit ekuivalen biaya tenaga kerja: F'roduk selesai 2.50 per jam Jam normal: 10.90 . Jawab: a Selisih efisiensi: (9.400 x 2 kg) = 4.550 jam .20 . * 75.Unit ekuivalen biaya bahan: F'roduk selesai Produk dalam proses (500 x 80%) Jumlah Kuantitas standar: (2.

Jawab: b Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung Biaya Upah dan Gaji Rp11.80 .248J4.000 jam .000 x 5. Jawab: b Jam tenaga kerja langsung standar per unit (Rp19IRp5) = 3.Rp5.010 jam.000 Biaya bahan sesungguhnya 620 (+) Selisih total biaya bahan (laba) Jdah R D1.600 Biaya overhead pabrik menurut standar: 14.500 79.8 jam Jawab: c Jam tenagakerjalangsung standaruntuk 1. ..800) 5 5 JS .80 82.50) Jumlah R ~ 2 0 0 (menlgikan) Atau. Jawab: b Selisih volume: Biaya overhead dianggarkan pada jam standar Rp14.800 kg Biaya bahan baku menurut standar: Rp5 1.460 81.600 x Rp1.010 jam = Rp802 (menguntungkan) Jawab: a Kuantitas bahan baku dipakai menurut standar: (1. Selisih volume: (10.010 jam) = Rp4.000~ jam) = 3.50 = R p 2 0 (merugikan) Jawab: c Jurnal pencatatan biaya overhead pabrik apabila digunakan partial plan: Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik Selisih Volume Selisih Terkendalikan Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp14.050 Selisih efisiensi: (JS .000 = 1.19.000 unit: = 1.600 jam) Rp0. 83.400 (9.8) = 5. sehingga tarip upah tenaga kerja langsung sesungguhnya dahitung sebagai berikut: (Rp19.050 JS = 4.000unit: (1. 80. Jawab: b Selisih tarip upah: (Rp4.8 Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya untuk 1.9.3.010 JS = Jam sesungguhnya = 4.460 Rp 11.800jam 3.78.400 200 Rpl 00 14.620 ~ 84.00) 4.

050 57.90 Selisih kuantatitas bahan baku: (6.850 Selisih biaya bahan (rugi) Biaya bahan sesungguhnya dipakai RD34.000 kg x 800/1200 x Rp0.2 87.06) Jumlah Rp 11. Jawab: e Biaya bahan standar (5kg x 1500 x Rp4) Rp 30.250 15.028.5.30) Jumlah Rp 57. Jawab: Perhitungan selisih hasil biaya tenaga kerja: Hasil menurut standar (3.000 Rv600 (menguntungkan) .000 kg x 20011200 x Rp0.000 4.000 kg x Rp0.000 x Rp0.780 (merugikan) 85.000 kg11.lO) 3.800 kg) Rp8.25)Rp 38.200 Rahan B (38.400 Bahan C (231.10) 3.200 x Rp300) Hasil sesungguhnya (200.000 kg x Rp0.415 Tarip upah sesungguhnya : Rp 8.000 kg x Rp0.000 kg x 200/1200 x Rp0.750 60.000 kg .850 = Rp 37.500 Bahan B (231.500 Selisih biaya tenaga kerja 9 15 Biaya tenaga kerja sesungguhnya Ru 8.40) Bahan C (36.62015.151825 jam Jawab: a Perhitungan selisih komposisi: Biaya bahan baku pada komposisi sesungguhnya: Bahan A (1 57.800120 x Rp60) Hasil sesungguhnya (200.600 Biaya bahan baku pada komposisi menurut standar: Bahan A (231.000 RD 2. Jawab: b Perhitungan selisih hasil bahan baku: Hasil bahan menurut standar (23 1.850 Jumlah 86. Kp58.25) Rp39.90 = Rp1.125 Jawab: c Biaya tenaga kerja standar (0.5jam x 1500 x RplO) Rp 7. Rp 10.800 kg) = Rp8.Harga bahan baku standar per kg: (Rp5 1.750 Rp300 (merugikan) 88.400 12.000 x Rp0.850 Total biaya bahan dibeli : 850018000 x Rp 34.40) 15.250 (menguntungkan) 89.

000 jam .000 jam Perhitungan selisih kapasitas: Biaya overhead dianggarkan pada jam sesungguhnya: Rp12.000 Tetap (4. Jawab: b Jam kerja menurut standar: (200.000 unit) = Rp 10 Perhitungan rugiilaba: Penjualan Harga pokok penjualan: (1.000 (menguntungkan) 91.600 unit x RplO) Laba kotor Biaya adrninistrasi dan penjualan Laba bersih sebelum selisih Jawab: c Perhitungan rugflaba: Penjualan Harga pokok penjualan: (1. 97.000 x 2011.000 98.000 6.000 Selisih biaya: Selisih tarip upah Selisih efisiensi upah Laba bersih sebelum selisih 92.000 x Rp0. Selisih kapasitas: (4.600 unit x RplO) Laba kotor Biaya adrninistrasi dan penjualanRp6.000 jam x Rp3) Variabel(3.000 9.lO) Jumlah A Rp19.600 Rp 19.000 Biaya overhead dibebankan (3. .000 20 000 RD1.3.800 jam x Rp5) Jumlah RD 600 (merugikan) Atau.800jam x Rp2) 7. Jawab: Perhitungan selisih hasil biaya overhead pabrk Hasil menurut standar (3.000) = 4.800120 x Rp100) Hasil sesungguhnya (200. Rp25.000/2.600 19.90.000 16.800 jam) Rp3 = Rp600 (merugikan) Jawab: c Sama dengan no.000 R~3. 89 Jawab: a Harga pokok produksi per unit: (Rp20.

OOO (rugi) Selisih kuantitas bahan: (10.000 lam = Rp300 Selisih volume . Kp 196.000 kg .000.000 jam) Rp600 = Rp300.s jam x Rp600 = Rp 1 .75) Rp 735.OOO)TT' = 125.Rp490) 10.000 aT = 125.375.25 Tarip BOP variable: Rp200 .000 Jumlah (rugi) RD 125.25) 3.500 TSt = 11.Rp600) 10. .590 .000/Rp600 = 20.KSl) ' I T (24.000 jam/S.000.190 -.7.10.Kp3 I .SO0 Perhitungan tarip hiaya overhead patfrik tetap (Ian variable per jam: Tarip biaya overhead pabrtk total: Rp4.000/19.000 jam x Rp200) 4.000 kg = RplOO.25 Jadi tanp BOP temp: Rp.000 jam x Rp168.000 (laba) Biaya overhead pabrik: Selisih controllable Biaya overhead pabrik sesungguhnya Rp4.500 jam = Rp590 Jam sesungguhnya: 19.000.20.000 Viariabel(20.000 4.006 (laba) Selisih efisiensi upah: (19.125.Perhitungan jumlah penggunaan jam kerja standar per unit dan tarip upah standar per unit: Selisih tarip upah: (TS .500jam = Rp195.125.000/20. '.TSt) JS Tarip sesungguhnya: Rpl1.000 (laba) Biaya tenaga kerja langsung Selisih tarip upah: (Rp.500jam Tarip standar per jam : (590-TSt)19.25 -= Kp 168.500 = -195.000 TSt = 600 Jadi tarip upah standar per jam = Rp600 -----.860.000 Biaya overhead dianggarkan pada volume standar: Rp 750.000 TT -= 11.505.00.000 Biaya overhead pabrik standar (20.000 4.000 Jumlah (~ugi) Selisih volume Biaya overhead dianggarkan pada volume standar Rp 4.400 kg) Rp. (KN .000 jain x Rp3 1.5 jam Jumlah tarip upah per unit: 2.000 unit = 2. Jumlah jam kerja standar per unit: 20.3 1.000 .7'5 Perhitungan pemb\~ktian: Biilya bahan baku Selisih harga bahan: (Rp500 .000 jam . Jumlah jam kerja standar: Rp 12.000 Tetap (24.000 19.500 jam .000-2O.

KSt) (KS .900.800 kg Harga bahan baku sesungguhnya: Rp2.440.900 jam = Rp420 Jumlah anggaran biaya overhead pabrik tetap pada jam kerja normal: 4.4 jam x Rp400) 1.3.000/3.240.000 RD 240.000 unit x 0.104.000 lumlah Ru 6.755.000 jam/0.000 JS = 3.240.000 Biaya overhead pabrik sesungguhnya Biaya overhead dianggarkan pada jam standar: Rp 800.000 unit Jam kerja langsung sesungguhnya dan tarip upah sesungguhnya: Selisih jam: (JS .000 Pembuktian selisih terkendali: Rp2.400) 500 = 200.000 unit x 0.5.00015.900 Jadi jam sesungguhnya: 3.000 KS = 5.700.000.000 Biaya overhead (9.000 200JN = 800.160.JSt) TT (JN .000 jam Jumlah produksi standar pada jam normal adalah 4.800 kg = Rp475 Jam kerja normal dan jumlah produksi standar pada jam normal: Selisih volume: (JN .000 Kuantitas pemakaian bahan sesungguhnya: Selisih kuantitas bahan : (KS .560.000 Variabel(3.638.4 jam x Rp600) 2.3.4 = 10.600) 400 = 120.600) 200 = 80.440. Harga pokok standar seluruh hasil produksi: Rp2.000 JN = 4.000 unit x 0.000 500KS = 2.000 .300.600 jam x Rp600) Jumlah selisih (rugi) 2.900 jam Tarip upah sesungguhnya: Rp 1.6 kg x Rp500 Biaya tenaga kerja (9.000 Biaya bahan (9.000 Tetap 1.000 jam x Rp200 = Rp800.600 jam x R e ) Jumlah selisih (laba) Pembuktian selisih volume: Biaya overhead dianggarkan pada jam standar Rp2.000 Biaya overhead standar (3.000 Jadi jumlah jam normal adalah 4.800 Jadi pemakaian bahan sesungguhnya adalah 5.JSt) TSt (JS .000 400 JS = 1.

Pemakaian bahan: Barang Dalarn Proses Selisih Kuantitas Bahan Selisih Harga bahan Persediaan bahan Pembebanan biaya tenaga kerja: Barang Dalam Proses Selisih Jam Kerja Langsung Selisih Tarip Langsung Utang Gaji dan Upah Pembebanan biaya overhead pabrik: Barang Dalam Proses Selisih Volume Overhead Selisih Overhead Overhead Pabrik Tetap Sesungguhnya Overhead Pabrik Tetap Sesungguhnya Mencatat hasil produksi Persediaan Barang Jadi Barang Dalaln Proses .

Buku ini dipublikasikan melalui Grup Jurusan Manajemen S1 http://s1manajemen.multiply.com .