Akuntansi Biaya

BIAYA

AKUNTANSI BIAYA
Oleh Cover Design & Lay Out Ibnu Subiyanto Bambang Suripto : QX Graphic Design : QX Graphic Design
:

Diterbitkan pertama kali oleh Gunadarma O Hak cipta dilindungi Undang-undang Jakarta, 1993

DAFTAR IS1

BAGIAN 1
BAB I AKUNTANSI BIAYA DAN PENENTUAN KOS
A. B. C. KONSEPSI MANAJEMEN DALAM PENGENDALIAN BIAYA TA!iAPAN PROSES PRODUKSI KARAKTER METODE PENENTUAN KOS PROSES DAN PERBEDAANNYA DENGAN METODE PENENTUAN KOS PESANAN D. E. TRANSAKSI BIAYA YANG MENDUKUNG PENENTUAN KOS TARIP BIAYA OVERHEAD DAN PEMISAHAN BIAYA SEMI VARIABEL
-

2
2

3

9
11

18

BAB I1 LAPORAN KOS PRODUKSI
A. B. PENENTUAN UNIT EKUIVALEN PRODUKSI MENGHITUNG KOS PER UNIT PRODUK MENYUSUN LAPORAN KOS PRODUKSI MENCATAT KOS PRODUK DALAM BUKU BESAR PROSES PRODUKSI MELALUI LEBIH DARI SATU DEPARTEMEN PRODUKSI
F.

23
23 25

C.
D. E.

28 32

37

MENYUSUN LAPORAN KOS PRODUKSI UNTUK TIAP DEPARTEMEN
-

42 45

G.

PENCATATAN TRANSAKSI AKUNTANSI BIAYA

BAB m PRODUK HILANG DALAM PROSES PRODUKSI PRODUK RUSAK, DAN PRODUK CACAD
A.
B. C.

47
47

PRODUK HILANG DALAM PROSES PRODUK RUSAK PERLAKUAN PRODUK CACAD

56 64

BAB IV TAMBAHAN BAHAN BAKU PADA DEPARTEMEN DUA ATAU DEPARTEMEN BERIKUTNYA

68

BAB V PENEN'rUAN KOS PRODUK BERSAMA DAN PRODUK PRODUK SAMPINGAN
A. PENENTUAN KOS PRODUK SAMPINGAN -

77
78 83
-

B.
,
\

PENENTUAN KOS UNTUK PRODUK BERSAMA PEMBEBANAN BIAYA PRODUKSI PRODUK BERSAMA --SETELAH DEPARTEMEN PEMISAH PRODUK

C.

87

BAB VI PENENTUAN KOS STANDAR
A. B.
C.

89
89
--

JENIS-JENIS STANDAR PENENTUAN STANDAR ILUSTRASI TERHADAP PENENTUAN STANDAR

90
91

BAGIAN 2
BAB VII BIAYA OVERHEAD PABRIK
A. B. SOAL-SOAL BIAYAOVERHEAD PABRIK -

100
100 -

PENYELESAIAN

117

BAB VIII METODE HARGA POKOK PESANAN
A. B. SOAL-SOAL, METODE HARGA POKOK PESANAN PENYELESAIAN
-

133
133
-

156

BAB 1X METODE HARGA POKOK PROSES
A. -

172
-

-

SOAL-SOAL METODE HARGA POKOK PROSES -

-

-

-- --

- -- - - . -

172

B.- PENYELESAIAN -

-

-

--

204

BAB X METODE PENENTUAN HARGA POKOK PRODUK BERSAMA DAN PRODUK SAMPINGAN
A.
.
-- -

243
--

SOAL-SOAL METODE HARGA POKOK PRODUK BERSAMA
- - --

DAN PRODUK SAMPINGAN - -PENYELESAIAN .
-

- --

-

-- - ---

- -

-

243 - -252

-

B.

-

-

BAB XI METODE HARGA POKOK STANDAR
A. B. SOAL-SOAL METODE HARGA p------.-pp POKOK--STANDAR . - - - - . ~ ~

261
26 1 285

PENYELESAIAN.-.----p-..-p- -.p -

BAB I
AKUNTANSI BIAYA DAN PENENTUAN KOS

A. KONSEPSI MANAJEMEN DALAM PENGENDALIAN BIAYA
Manajemen puncak terdiri dari orang-orang yang bertugas mengambil keputusan, memberikan perintah, membentuk kebijaksanaan, dan mengarahkan agar semua orang mendukung kebijaksanaan perusahaan. Secara keseluruhan fungsi manajemen meliputi fungsi perenCanaan{ pengorganisasian dan pengendalian. Ketiga fungsi tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Fungsi-fungsi tersebut dibentuk mengingat dalam suatu perusahaan akan terlibat orang-orang yang mendukung berjalannya suatu organisasi. Masing-masing orang mempunyai peranan yang berbeda dan kesemuanya terlibat aktivitas kerja dalam mencapai satu tujuan bersama (yang disepakati). Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukannya adanya satu komando agar pelaksanaan tugas dapat terkoordinir. Satu komando ini diperlukan untuk mengarahkan berbagai pihak yang terlibat dalam watu jalinan kerjasama sehingga tujuan bersama dapat dicapai dengan efisien. Mengingat masing-masing pihak mempunyai peranan yang berbeda dan sekaligus menciptakan kerjasama, maka perlu ditetapkan batas-batas yang jelas agar aktivitas kerjamasing-masing pihak tidak saling tumpang tindih. Oleh karena itu masing-masing fungsi dalam 'organisasi harus ditetapkan sampai sejauh mana wewenang seseorang dalam fungsi dan jabatan yang terlekat pada dirinya (authority). Di samping itu harus ditetapkan pula tanggung jawab (responbility) dan tingkat pertanggungjawaban (nccountability) dalam tugas dan jabatannya tersebut.

Dalarn rangka pengendalian operasi perusahaan manajemen ingin memperoleh umpan balk Cfeedback)sampai sejauh mana wewenang yang telah didelegasikan kepada bawahan telahdigunakan dengan sebaik-baknya. Umpan balik ini berupa informasi yang dapat memberikan gambaran pelaksanaan tugas para bawahan yang meliputi seberapakah target operasi telah terpenuhi dan sejauh mana operasi tersebut telah menyerap dana perusahaan. Hal ini berarti umpan balik yang diharapkan &an berupa berapa biaya-biaya yang telah dikeluarkan dalam satu periode dan berapa kuantitas yang dihasilkannya.

departemen pemeliharaan peralatan.Apabila umpan balk tersebut diterapkan dalam suatu industri maka akan terlihat komposisi umpan ballk dalam proses produksi akan memegang peranan yang dominan. Proses produksi pada umumnya melalui beberapa tahapan. Oleh karenanya biaya-biaya yang terjadi di departemen pembantupun juga hams ikut dibebankan dalam penentuan kos produk. . B. Setiap tahapan proses produksi tersebut harus dibantu oleh departemen lain yang membantu berfungsinya suatu departemen. Departemen pembantu adalah departemen yang memberikan layanan pada departemen produksi sesuai dengan fungsinya. perangkaian komponen meja tulis. Hal ini dilakukan dengan maksudmengadakan spesialisasipengerjaan produk yang dihasilkan. Dengan adanya koordinasi tersebut alur produk dari departemen yang satu ke departemen lainnya hams sarna. TAHAPAN PROSES PRODUKSI Produksi dimaksudkan sebagai aktivitas mengubah sesuatu produk (bahan). Setiap tahapan proses produksi tersebut pada dasamya tidak dapat berdiri sendirisendiri. Sehingga umpan balik tersebut bermanfaat untuk menilai apakah target telah tercapai dan seberapa jauh prestasi yang dicapai oleh aparat produksi yang dimiliki perusahaan. karena hasil kerja yang diperoleh sedikit. proses produksi akan tetap lebih dinamis. Spesialisasipenanganan tugas semacam ini akan menjadi lebih ekonomis apabila produk yang dihasilkan dalam jumlah yang cukup banyak. Oleh karenanya untuk meningkatkan kuantitas meja tillis yangdihasilkan. Hal ini agar tidak terjadi penyumbatan dalam salah satu tahapan proses produksi tersebut. menjadi produk lain yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Kesemuanya harus merupakan satu rangkaian yang terkoordinasikan. departemen air dan sanitasi. sejak pembuatan design. dan lain-lain. sampai dengan penyelesaian meja tulis tersebut dapat dikerjakan oleh satu orang saja. Sebagai contoh. untuk membuat sebuah meja tulis. berarti suatu proses kerja yang membutuhkan pengorbanan ekonomis guna memperoleh nilai ekonomis yang dipandang lebih tinggi. Meskipun antara meja tulis yang satu dengan yang lain terdapat variasi bentuk. Hal ini mengingat aktivitas produksi merupakan aktivitas utama dalam perusahaan tersebut. Aktivitas mengubah bahan. Departemen semacam ini disebut departemen pembantu. Peranan departemen pembantu dalam menghasilkan suatu produk harus diakui. Sebagai akibatnya pengerjakan sebuah meja tulis tidak mungkin dikerjakan oleh satu orang saja. Departemen pembantu biasanya berupa departemen listrik.Spesialisasitersebut mengakibatkan adanyadepartemenisasi proses produksi. proses penggergajian kayu. pekerjaan dibagi menjadi beberapadepartemen sesuaidengan pentahapan pembuatan meja tulis tersebut. Biaya-biaya yang terjadi pada departemen pembantu pada dasarnya juga ikut memberi kontribusi pembuatan suatu produk. Cara produksi semacam itu menjadi tidak ekonomis.

dicampur dan dibentuk menjadi suatu produk baik bempa komponen maupun produk akhir. Sedangkan dalam proses reaksi kimiawi beberapa bahan digabung. . Kadangkala teknologi yang digunakan menunjukkan satu-satunya cara dalam pembuatan produk tersebut. mengingat besarnya permintaan pasar serta skala produksi yang dikehendaki. industri mobil pada mulanya dibuat satu per satu dengan memperhatikan spesifikasi permintaan pelanggan. Dalam artian homogen ini. c. ha1 ini akan kita temukan dalam industri kimia. Teknologi yang digunakan. ukuran. namun setelah ditemukan teknologi robot dengan proses ban berjalan. Terlebih dahulu hams dilakukan alokasi biaya ke departemen produksi yang menikmati jasa yang diserahkan oleh departemen pembantu tersebut. Produk yang diolah dengan metode proses menunjukkan bahwa barang yang dihasilkan tidak memerlukan spesifikasi tertentu sehingga produk bersifat homogen.Namun demikian pembebanan biaya yang terjadi pada departemen pembantu ke produk yang dihasilkan tidak dapat dilakukan secara langsung ke produk. Produk semacam ini diolah dengan metode job. produk yang dlhasilkan bersifat standard. berbagai komponen yang ada (baik dibuat sendiri maupun diperoleh dari pihak lain) digabungkan menjadi suatu produk. yaitu: a. maka dipilih teknologi maju agar produk yang dihasilkan mampu meraih pasar yang dikehendaki. maka pembuatan produk tersebut dapat dibuat secara massal dan produk bersifat standard. Pengolahan produk terdiri dari dua sifat yaitu merakit komponen menjadi suatu produk dan membentuk produk melalui proses reaksi hmiawi. bahkan ha1ini menunjukkan semua produk yang dihasilkan membutuhkan kesamaan bentuk. Cara produksi yang digunakan tergantung oleh: a. Sebagai contoh. wama. dan kesamaan fungsi. Perbedaan teknologi pembuatan suatu barang yang berbeda mengakibatkan cara-cara berproduksi yang berbeda pula. antara produk yang satu dengan yang lainnya tidak terdapat perbedaan yang berarti. Dalam proses perakitan (assembling). Sifat pengolahan produk. Alasan ekonomis. b. Apabila produk yang dihasilkan memerlukan penanganan khusus sehingga masingmasing produk mempunyai spesifikasi tertentu. maka produk tersebut diproses secara khusus pula. Jadi. Pembebanan biaya dari departemen pembantu langsung ke produk akan mengakibatkan kos produk terlalu tinggi dan sebaliknya kos produk yang masih dalam proses menjadi lebih rendah (understated). artinya setiap job hams inemperhatikan spesifikasi yang diminta oleh langganan (konsumen). Sifat-sifat produk yang dihasilkan. Pembahasan di atas menunjukkan metode produksi yang digunakan dalam suatu perusahaan didasarkan dua alasan. Proses produksi suatu barang selalu menggunakan cara-cara tertentu agar tujuan ekonomis perusahaan dapat dicapai.

Alasan teknologi. Hubungan operasi terhadap arus produk. mengingat industri senlacam ini membutuhkan proses produksi yang benifat tertutup. Kelompok utama tersebut meninjau dari sudut peranan dalam penanganan produk.Pengukuran unjuk-kerjamasingmasing bagianJdepartemen tersebut dinilai seberapakah variasi biaya yang terjadi. untuk memenuhi kebutuhan tersebut perlu pula disusun tarip overhead untuk tiap departemen secara cermat. 5. Kelompok utama dalum 3 departementalisasi ini dibagi menjadi dua. 2. 4. proses dan mesin dalam suatu departemen. Jurnlah departemen dan pusat-pusat biaya. yaitu: 1. Teknologi yang digunakan merupakan satu-satunya cara untuk menghasilkan suatu produk. tetapi output yang dihasilkan membantu departemen produksi dalam pengolahan produk. Hal ini dimaksudkan agar pengendalian tugas dan pengawasan mutu produk yang dihasilkan dapat diselenggarakan dengan mudah. Hal ini akan ditemukan untuk industri kimia. Lokasi operasi. Faktor yang dipertimbangkan dalam departemenisasi antara lain: 1. Pembagian kerja pada suatu industri baik secara horisontal maupun vertikal dikelompokkan menurut fungsi/tugas masing-masing. Spesialisasi menyebabkan penibuatan suatu produk tidak mungkin diselesaikan oleh hanya satu orang saja. . Sebagian besar industri kimia harm diolah dengan metode proses.yakni departemen yang tidak langsung menangani pembuatan produk. Pengelompokan ini di samping sebagai alat pengawasan berperan pula sebagai pusat pertanggungjawabanbaik kuantitas maupun kualitasnya. Departemen tersebut meliputi aktivitas pengolahan bahan. Proses produksi rnenghendaki adanya spesialisasi pelaksanaan pekerjaan diantara karyawan yang terlibat. Departemen ~ e m b a n t u . Pengelompokan selanjutnya didasarkan pada fungsilbidangtugas masing-masing. Hal ini dimaksudkan agar proses produksi menjadi lebih berdaya guna dan berhasil guna. Pertanggungjawaban produksi dan biaya. 2. Jadi pelaporan biaya yang terjadi pada masing-masing departemen mempunyai peranan sangat penting. yakni departemen-departemen yang secara langsung ikut menangani pembuatan suatu produk. penggabungan produk dalam proses dan penyempumaan produk. Departemen Produksi. dan lain-lain. Di sarnping itu.b. Sebagai contoh: industri semen. Kesamaan operasi. tetapi diselcsaikan oleh suatu team kerjn dengan pernbagian tugas sesuai dengan keahliannya masing-masing. industri gula. Pengelompokan secara vertikal menunjukkan adanya departementalisasi pelaksanaan operasi. pernrosesan dan mesin-mesin. 3.

penyelesaian produk dan pengantongan. yaitu: 1. pencalnpuran air niradengan bahan lainnya sekaligus dengan sekaligus dengan pencucian air nira dari kotoran. Teknlk pengolahan aliran produk selektip. Teknlk pengolahan aliran produk bertahap. Teknik Pengolahan Aliran Produk Bertahap Proses produksi dilakukan setahap demi setahap sejak departemen pertama sampai produk diselesaikan di bagian penyelesaian dan akhimya diserahkan kepada bagian gudang. Berbagai tahapan proses produksi tersebut membentuk departemenisasi proses pengolahan tebu menjadi gula. penggilingan tebu menjadi air nira. Pentahapan proses ini sesuai dengan tehnologi dan rancangan pabrik yang disusun sebelum pabrik itu dibangun. Selanjutnya departemenisasi organisasi pengolahan produk pada departemen produksi hams pula disesuaikan dengan pentahapan proses pengolahan produk tersebut. . Dengan demikian produk yang diolah mengalir secara tems menerus dari waktu ke waktu tanpa berhenti. Periksa bagan di halaman berikut ini. Dengan pengolahan produk tersebut bahan yang masuk di departemen pertama akan menjadi out dari departemen pertama.Spesialisasi pekerjaan menyebabkan proses pengolahan barang dilakukan melalui beberapa departemen. Teknik pengolahan aliran paralel. tetes dan blotong. 1. pemasakan airniradalam tungkureaksi. 3. Untuk selanjutnya akan menjadi bahan bagi proses di departemen kedua dan seterusnya. 2. Sehingga pentahapan proses produksi hams disesuaikan dengannya. Dalam tahapan ini departemen penggilingan menghasilkan air nira dan ampas tebu. Tahap keempat. Tahap kedua. Tahap ketiga. dalam industri gula proses pengolahan tebu menjadi gula dilakukan rnelalui beberapa tahapan proses produksi sebagai berikut: Tahap pertama. Spesialisasi dilakukan agar pengolahan produk menjadi lebih efisien atau teknologipengolahan produk memang menghendalu beberapa tahapan proses secara berumtan. Apabila diamati pentahapan proses produksi dapat dibagi menjadi tiga macam sekuen proses produksi.Dalarn departemen inidihasilkan kristal gula. Sebagai contoh.

3. Proses pengolahan gula Dalam contoh pengolahan gula tersebut di atas. Rekening PDP. Tetes. 4. Rekening PDP-Departemen Penggilingan. yaitu: 1. GULA PASIK Gumbar. 3. Bagan proses produksi digambarkan sebagai berikut: Proses pengolahan data biaya hams memperhatikan sekuen pengolahan produk tersebut.I penggilingan 1 1 tebu pemasakan nira ! limbah industri ampas blotong tetes I I tebu j I I kristal gula 1 pengantongan LISTRIK ALKOHOL. antara lain: 1.Departemen Pencampuran. Kristal gula. Proses ketiga ini merupakan proses yang mernbentuk joint cost (biaya bersama).Tetes sebagai produk sampingan selanjutnyadapat diolah menjadi alkohol atau langsung dijual ke konsumen. 2. Rekening PDP-Departemen Penyelesaian.1. 2. Rekening PDP-Departemen Pemasakan. Blotong. menghasilkan beberapa macam produk yang keluar dari proses ketiga.3. Blotong sebagzi produk sampingan karena tidak mempunyai nilai ekonomis merupakan limbah industri. Ktistal gula selanjutnya disempurnakan menjadi gula pasir dan dikantongkan pada departemen penyelesaian. . Agar masing-masing departemen diatas dapat dideteksi biaya-biaya yang layak dibebankan kepadanya maka bagian akuntansi hams pula menyediakan rekening untuk masing-masing departemen tersebut.

dan pabrik yang sama. Memperhatikan teknik produksi dan sifat-sifat bahan yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk pengolahan bahan dilakukan secara paralel untuk akhirnya digabungkan dalam satu unit pabrik rnenjadi satu produk. Dalam teknik ini terdapat beberapa departemen yang bertugas nienyempurnakan produk yang dihasilkan dari departemen sebelumnya. Bahan minuman minuman 7 Bahan penyiapan bvhnn pembuatan kemasan 1 I A kemawn dan penyelesaian 7 MINUMAN KEMASAN Dalam gambar tersebut ditunjukkan ada dua produk yang diolah secara bersamaan pada waktu.t f l o ~ . Gambar 1. )Industri minuman dan makanan dalam kemasan kebanyakan . 3.2 berikut ini menunjuk cara lain dalam pengolahan produk. Cara pengolahan yang kedua. disebut teknik pengolahan aliran produk paralel (pu~.2. Teknik Pengolahan Aliran Seleksi produk Teknik yang ketiga adalah selective product tlow.ulel p1.odzrc. Departemen berikutnya juga menghasilkan produk yang sama dengan mengolah lagi produk yang . menjadi satu produk akhir. Teknik Pengolahan Aliran Produk Paralel Teknik pengolahan produk tidak selalu setahap demi setahap seperti halnya dalam industri gula. menggunakan teknik pengolahan aliran produk paralel. sehingga pada akhir proses di pabrik tersebut keterkaitan antara produk yang satu dengan lainnya digabungkan menjadi satu. kuantita\. Kedua produk tersebut sebetulnya saling membutuhkan satu sama lain. Dengan demikian departemen sebelumnyamenseleksi produk yang memenuhi standard mutu untuk diserahkan/diproses lanjut di departemen penyempurnaan.

Penggabungan dari kedua penentuan kos tersebut seMg terjadi tergantung dari kasus proses pengolahan di pabrik tersebut. 2 - Departemen Penyelesaian Dept. Dalam praktek seMg kali dijumpai masing-masing metode penentuan kos tersebut tidak diterapkan secara mumi. Keduanya mengandung aspek yang berbeda. Produk yang baik diserahkan ke departemen penyelesaian. metode produksi berkaitan dengan cara-cara perusahaan melaksanakan pembuatan suatu barang (produk) sedangkan metode penentuan kos berkaitan dengan pencatatan dan penentuan kos pembuatan produk tersebut. pengklasifkasian. sedangkan produk yang belum sempuma diserahkan ke departemen berikutnya untuk diproses ulang. 3 Limbah Industri Output Gambar 3. Proses semacam dilakukan terus berulang-ulang. yaitu job order costing (dikenal dengan penentuan kos pesanan) dan process costing (penentuan kos proses).pengertian penentuankos seringdikacaukan dengan metode produksi suatu barang.diterima dari departemen sebelurnnya. Penentuan kos dibedakan secara ekstrim menjadi dua. Teknik pengolalzan produk selektip C. . Bagan proses produksi semacam ini adalah sebagai berikut: P Dept. KARAKTER METODE PENENTUAN KOS PROSES DAN PERBEDAANNYA DENGAN METODE PENENTUAN KOS PESANAN Dalam pembahasanmetodepenentuankos. 1 - Dept. dan penyajian laporan biaya yang timbul dari transaksi-transaksi biaya sebagai akibat proses produksi suatu barang. Metode penentuan kos (baik metode proses maupun pesanan) berkaitan dengan pencatatan.

Dengan demikian cukup beralasan apabila dalam metode penentuan kos proses. Antara periode yang satu dengan yang lainnya hams ditetapkan batasan waktu tertentu (cut oj'f). antara lain: industri konstruksi. permesinan. Produksi dilaksanakan untuk nlengisi gudang dengan mengingat permintaan pasar yang sudah diperkirakan terlebih dahulu untuk suatu jangka waktu tertentu. 3. justru meninlbulkan kerugian yang cukup berarti bagi perusahaan. 5.Pengertian contineuoustersebut adalah suatu proses akm berjalan tanpa berhenti untuk satu kelompok produk yang dirancang (satu batch). Laporan kos produksi disusun/dihitung secara periodik. Mengingat proses produksi tidak boleh dihentikan pada setiap saat (setup costnya sangat mahal) maka manajemen harus menganggarkan jumlah yang harus diproduksi dalam kurun waktu tertentu. Tingkat kesamaannya membutuhkan presisi yang tinggi sehingga sulit dibedakan antara produk yang satu dengan lainnya. aircraft. Tetapi dalarn metode penentuan kos proses. Tiada jarak waktu tersebut disebabkan penghentian suatu proses produksi yang ditu-jukan hanya untuk menghitung kos produk menjadi tidak ekonomis. sehingga antara periode yang satu dengan periode yang lain tidak dibatasi oleh jarak waktu tertentu (time lug). mebel dan lain-lain. Metode proses dapat ditemukan untuk hampir semua industri kimia. adalah penentuan penentuan kos produk yang penetapan penentuan kos produk (baik total maupun unit) ditetapkan atas dasar periode waktu. percetakan. Sifat produk yang diolah menunjukkan keseragaman antara produk yang satu dengan yang lainnya. . tahunan dan lain-lain). Metode job order digunakan untuk perusahaan yang mernproduksi barang-barang yang tiap unitnya memerlukan spesifikasi khusus atau dalam kelompok produk (batc. Industri yang banyak menggunakan metode ini. 2.Metode penentuan kos proses. Tujuan produksi tidak dimaksudkan untuk memenuhi permintaan khusus dari pelanggan tertentu.h) serta memerlukan kecakapan dan perhatian khusus. Produk diolah secara masal dalam jumlah yang cukup besar dan sesuai dengan kapasitas produksi mesin-mesin yang ada. Bahkan untuk industri semen suatu siklus proses produksi membutuhkan waktu lebih dari satu periode. penentuan kos produknya dengan membagi dalarn periode tertentu (bulanan. dapat dilihat perbedaan dengan karakter metode penentuan kos pesanan (job cost). mengingat berakhirnya suatu proses produksi tidak dibatasi oleh periode akuntansi. Karakter metode ini adalah: I. perusahaan tidak mungkin melakukan penentuan kos. Metode ini digunakan untuk perusaham yang memprodusir secara massal dengan proses produksi yang dilaksanakan secara contineuous. 4. Memperhatikan kelima karakter tersebut di atas. Produk diolah secara terus menerus (c~ontinuous). Dalarn metode penentuan kos pesanan penentuan kos tiap unit produk dapat ditetapkan dengan mudah setelah produk tersebut diselesaikan.

adanya manusia yang mengerjakannya disertai dukungan fasilitas lain yang membantu terwujudnya produk tersebut. Saat terjadinya pembelian bahan menunjukkan bahwa perusahaan telah mempunyai kesepakatan dengan pihak lain. Meskipun transaksi ini hanya sekedarmernindahkan barang dari gudang ke bagian produksi tetapi mempunyai makna yang cukup berarti sebagai pengakuan . Ketiga elemen biaya tersebut terlekat pada produk yang dihasilkanmengingat suatu produk terbentuk karena adanya bahan. D. Produk yang dihasilkan lebih membutuhkan perhatian. dengan maksud reaksikimia sebagai akibat pencampuran dan pemanasan beberapa bahan tidak dipengaruhi oleh unsur-unsur kimia lain yang tidak dikehendaki. a. Hal ini dimaksudkan agar produksi menjadi lebih ekonomis. Transaksi ini bersifat intern. oleh karenanya transaksi ini hanya pernindahan asset dari bagian yang satu kepada bagian yang lain. sedangkan biaya overhead mempunyai perilaku baik sebagai biaya tetap maupun sebagai biaya variabel. Oleh karena itu. Metode penentuan kos pesanan dirancang untuk digunakan bagi industri yang menghasilkan produk dalam skala kecillindividual. bocor dan lain-lain. TRANSAKSI BIAYA YANG MENDUKUNG PENENTUAN KOS Elemen-demen biaya yang membentuk kos produk adalah biaya bahan.telah tiba dan diterima di bagian gudang. Di sarnping itu akibat sampingan yang tidak terkendali dapat muncul apabila sisa-sisa reaksi kimia tersebut tumpah. proses produksi barang-barang kimia harus dikerjakan dengan .Perbedaan di antara kedua metode ini. Sifat. sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan. Proses reaksi lumia semacam ini harus dikendalikan agar reaksi kimia dapat membentuk produk seperti yang diiehendaki. Produk yang dihasilkan tidak dapat dibuat secara standard. Sebaliknya ongkos produksi akan mahal sekali kalau konfigurasi proses produksi dalam skala besar. Pencatatan dan pembebanan biaya bahan. Begitu pula apabila ditinjau dari periIaku masing-masing dalam membentuk kos produk. disebabkan oleh cara-cara yang ditempuh dalam menghasilkan produk tersebut memang berbeda. biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik. Pemakaian bahan terjadi pada saat bahan baku ataupun bahan pembantu diserahkan dari bagian gudang kepada bagian produksi. Masing-masing elemen biaya tersebut mempunyai sifat dan permasalahan yang berbeda. permasalahan dan perilaku tersebut sangat berpengaruh dalarn pengakuan dan pencatatan transaksi biaya yang terjadi dalarn suatu perjode akuntansi. Biaya bahan dan biaya tenaga kerja pada umumnya mempunyai perilaku sebagai biaya variabel. Kebanyakan industri kimia menggunakanproses produksi yang bersifat tertutup.konfigurasi yang sangat besar.Kenyataan tersebut mengakibatkanproses produksi barang-barang kimia dalam skala kecil menjadi sangat mahal. ketelitian. Transaksi biaya bahan terjadi pada saat bahan-bahan tersebut dibeli dari pemasok dan pada saat pemakaian bahan tersebut. Narnun realisasi pembelian baru akan terwujud pada saat barang-barang yang dibeli .

2. 1. 5. Memberikan perlindungan terhadap resiko kecurian dan menjaga berfungsinya bahan sesuai dengan mutu yang diharapkan. Bahan yang masuk kategori bahan baku. . Agar barang-barang di gudang siap apabila sewaktu-waktu dibutuhkan. Bahan pembantu adalah. 2. Agar biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menangani persediaan dapat dihemat. Agar resiko terhadap munculnya barang cacat maupun kadaluwarsa dapat dihindarkan. namun mempunyai peranan dalam membentuk suatu produk. biaya pengangkutan bahan sampai ke gudang. Tujuan pengendalian barang di gudang. tetapi dapat pula terdiri dari beberapa macam bahan baku. adalah bahan utama yang secara langsung ikut membentuk produk. 4. 3. Bahan baku adalah bahan yang diubah dalam proses produksi untuk membentuk suatu produk. Komponen kos bahan terdiri dari: a. dan c. . biaya assuransi bahan-bahan. Bahan-bahan hams dilindungi terhadap kemungkinan-kemungkinan pencurian ataupun resiko kehilangan. Pada umumnya bahan baku suatu produk terdiri dari satu macam bahan saja. Bahan ini merupakan bagian kecil dari suatu produk. Agar dana yang digunakan untuk membiayai pembelian bahan dapat dihernat untuk tujuan lain yang lebih bermanfaat.berapa kos bahan-bahan dalarn ikut membentuk tenvujudnya sesuatu produk. b. Bahan tersebut secara langsung terlekat pada produk dan merupakan komponen yang terbesar. Menghindarkan resiko cacat/rusak. Bahan untuk memproduksi suatu produk terdiri dari bahan baku dan bahan pembantu. Tujuan pengendalian biaya bahan. 3. Pada umumnya bahan pembantu suatu produk terdiri dari beberapa macam. kos pembelian bahan. Agar bahan-bahan yang dibeli dalam jumlah yang tepat dan digunakan untuk kepentingan produksi sesuai dengan waktu yang direncanakan. 1. bahan-bahan yang digunakan untukmembantu terbentuknya suatu produk.

Masalah ini dibahasdalam mata kuliah Akuntansi Keuangan. Penentuankos danpenilaiannya. Masalah ini dibahas dalarn mata kuliah Sistem Akuntansi.200 Saat Pemakaian bahan (dicatat oleh bagian akuntansi biaya) Produk dalam proses .200 Rp 10.700 Jumal pencatatannya adalah sbb: Persediaan bahan baku Utang Dagang Kas Rp 13.200 Total kos bahan Digunakan dalam proses produksi Rp Rp 13.Contoh pencatatan transaksi yang terkait denganbiaya bahan. . Dengan demikian bahan-bahan yang dipakai sesuai dengan mutu yang dikehendaki. saat Pembelian (dicatat oleh bagian akuntansi finansial). Masalah penting yang terkait dalarn pengadaan bahan adalah: 1.000 I -1.BB Persediaan bahan baku Rp 8. Prosedur Pembelian bahan dan pencatatan persediaan.000 3.700 Pengendalian pemakaian bahan. 2.000 2. Harus memperhatikan kwalitas bahan-bahan yang ada sehingga apabila terdapat bahan-bahan yang tidak memenuhi standard dapat segera mengembalikannya kepada suplier. Kos bahan (sesuai faktur) Biaya angkut masuk Biaya assuransi Rp 10. Pengembalian ini akan dicatat dalam jurnal pengembalian bahan.200 8.

departemen dan lain-lain klasifikasi. Tahapan pengumpulan data gaji. tantiem. insentip'lembur dan insentip prestasi kerja. Biaya tenaga kerja. Klasifiasi biaya tnaga kerja dalam proses produksi antara lain: (a) biaya tenaga kerja langsung. Termasukdalam katego~i biaya produksi adalah semua upah buruhdan insentipdalam rangka memproduksi suatu produk. perhitungan pajak yang hams dibayarkan oleh karyawan serta berapa besarnya penghasilan bersih yang diterima karyawan.500 Riaya tenaga kerja dalam suatu perusahaan dapat digolongkan menjadi beberapa macatn. bonus Produksi.500 . Rp 25. Pencatatan biaya tenaga kerja melalui dua tahapan penting yang terdiri dari: 1. dan tunjangan kesehatan. antara lain sebagai berikut: 1. Tahapan keduamerupakan prosesdistribusidan alokasi biaya tenaga kerja kepada masing-masing job.500 2. 2. Jurnal transak\i kedua ini dicatat sebagai berikut: PDP-biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik Rp 15. Macam-macam pembayaran gaji dan upah yang masuk dalam kategori biaya tenaga kerja adalah: gaji karyawan. perhitungan pendapatan. adalah semua biaya yang dikeluarkan untuk membayar tenaga kerja dala~n .000 7.b. Biaya Produksi (terdiri dari biaya TK Langsung dan biaya TK tak langsung).Termasukdalam kategori biaya komersial adalah semua pembayaran gaji yang dibayarkan kepada para pegawai (tetapftidaktetap) guna mempertahankan eksistensioperasional perusahaan. Komponen pembayaran jasa kepada karyawanhuruh yang tidak termasuk dalam kategori biaya tenaga kerja adalah:jasa produksi.000 2. Jumal transaksi tersebut adalah sebagai berikut: Biaya Tenaga Kerja Pajak penghasilan karyawan Hutang gnji h n ~rpah ka~:~trcc~crn Rp 22. adalah semua biaya yang dieluarkan untuk membayar upah pada karyawan perusahaan. Pencatatan dan pembebanan biaya tenaga kerja. dan tunjangan hari raya.500 Biuyn tennga kcljlr Rp 22. Biaya Komersial (terdiri dari Gaji direksi dan gaji karyawan kantor). upah buruh.

rangka memproduksi produk yang secara langsung membentuk produk dalam suatu perusahaan dan biaya tenaga kerja langsung yang terjadi cli departemen produksi. 2. Seorang buruh memperoleh penghasilan sebesar Rp 200.000 Apabila buruh tersebut belurn berkeluarga (bujangan) besarnya pendapatan tidak kena pajak sebesar Rp 120. Mempunyai seorang isteri dan dua orang anak. Perlakuan akuntansi terhadap pajak berdasarkan kebijaksanaan mahagemen sebagairnana diutarakan dalam alinea di atas.000.000 60. . RD 300.000 120. berikut: 1.000 total penghasilan tidak kena pajak Pendapatan tidak kena Pajak Jadi buruh tersebut tidak dapat dikenai PPH 21. adalah kewajiban membayar PPH 21 dan asuransi sosial. Berarti PPH 21 yang harm dikenakan kepada buruh tersebut sebesar 15% X Rp 80. Contoh kasus. karypwan (buruh) dan perusahaan.000 2 orang anak @ Rp 60. Masalah yang tirnbul dalam pembayaran biaya tenaga kerja. Dengan dernikian pendapatan kena pajak buruh tersebut Rp 80. Pajak PPH 21 menjadi beban masing-masing karyawan. Masalah ini dipecahkan dengan 3 cara sebagai .000 sebesar Rp 12. 3. Penentuan PPH 2 1untuk buruh tersebut adalah sebagai berikut: Besarnya penghasilan per bulan Pendapatan tidak kena pajak buruh sebagai kepala keluarga 1 orang isteri 120. adalah semua biaya yang dikeluarkan untuk membayar tenaga kerja dalam rangka memproduksi produk yang secara tidak langsung ikut membentuk produk dalam suatu perusahaan. Pajak menjadi beban perusahaan.000.000. Pajak ditanggung bersarna. Biaya tenaga kerja talc langsung terjadi di departemen pewbantu (service departement). Biaya tenaga kerja talc langsung.000 per bulan.

Saat Pengakuan biaya tenaga kerja.000 KIT 194. Pencatatan PPH 21 bila dikenakan kepada karyawan. Produk dalam Proses .000 b.000 3. Biaya tenaga kerja Utang PPH 2 1 Urcing gajilupcrh RP 200. Pencatatan PPH 21 bila dikenakan kepada perusahaan saja.000 b.000 .000 12.000 2.000 Kp 200. Saat Pengakuan biaya tenaga kerja.1. Saat Pengakuan biaya tenaga kerja.000 Utang gajilupah 188.000 188. Saat Pelnbebanan kepada produk. Biaya tenaga kerja Biaya overhead pabrik Utang 21 Ut~lr~g gajilupah RP 1 04 400 6. Biaya Tenaga kerja Biaya overhead pabrik Utang PPH 21 RP 188. Saat Pembebanan kepada psoduk.000 Rp 12. Produk dalam proses .000 Rp 12. a. a.000 Rp 12.BTK Biaya terluga kerja Rp 200.BTK Biuya tenaga kelju Rp 1 94.000 1811. Pencatatan PPH 21 bila dikenakan kepada k:+rpawan dan pcruxahaal~. a.

5.000 Rp 3.BOP. Pencatatan biaya overhead pabrik terdiri dari dua kelompok.500 Macam-macam biaya yang lainnya Pembebananbiayaoverheadpabrikkeproduk harusmemperhatikanapakahperusahaan memakai rekening biaya overhead pabrik dibebankan.b. Penghitungan upah dan insentip.000 Rp Biaya tenaga kerja 188. adalah prosedur penggajian dan pengupahan yang meliputi. Hal-ha1 tersebut. Pencatatan dan pengakuan biaya overhead. Pencatatan waktu kerja. 1. Pembayaran upah dan insentip. Pencatatan kehadiran karyawan. Pencatatan biaya tenaga kerja. Pencatatan biaya overhead pabrik adalah sebagai berikut: Pengakuan terhadap biaya overhead.000 Rp 5. Biaya overhead pabrik Biaya tenaga kerja tak langsung Akumulasi peralatan pabrik Biaya assuransi kebakaran Rp 20. Pengelompokan ini dilakukan mengingat jenis biaya overhead sangat banyak. dengan dernikian pembebanan BOP tidak perlu menunggu perhitungan .500 Rp 4. c. Pencatatan dilakukan dengan talcsiran biaya overhead pabrik. -4. Apabila ditinjau dari saat terjadinya maka biaya overhead dapat ditinjau dari biaya overhead tunai dan biaya overhead yang dibebankan untuk berbagai penode yang menikrnati. Di samping itu apabila ditinjau dari tingkah laku terjadinya biaya dapat ditinjau dari dua aspek yaitu biaya variabel dan biaya tetap.000 Rp 7. Pernisahan biaya tersebutdimaksudkanuntuk memudahkan dalamanalisispengambilan keputusan.BTK Rp 188. 3.000 Masalah lain yang perlu diperhatikan dalam pengendalian biaya tenaga kerja. dibahas dalarn mata kuliah Sistem Akuntansi. Rekening semacam ini digunakan untuk menampung pembebanan biaya overhead yang terjadi dalam satu periode kepada rekening Produk dalam proses . Saat Pembebanan kepada produk. Produk dalam Proses . 2.

dapat disusun klasifikasi sebagai biaya tetap dan biaya variabel. Selanjutnya selisih tersebut akan dibebankan kembali ke rekeningrekening Kos barang terjual/HPP. Pembebanan BOP ke rekening Produk dalam Proses: PDP .000 Dengan pencatatan tersebut di atas maka akan terlihat bahwa dalam rekening BOP sesungguhnya akan terdapat selisih sebesar Rp 1. maka klasifikasi biaya semi variabel tersebut dipecah lagi menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Item biaya overhead pabrik sangat banyak.000 Selanjutnyarekening BOP-dibebankan pada saldokredit.mengingat tidak ada metode yang dianggap tepat dalam pemisahan biaya semi variabel tersebut. Pemisahan biaya ini sebenamya mengandung kelemahan. biaya tenaga kerja tak langsung dan semua biaya-biaya yang tidak dapat secara langsung dibebankan kepada produk ataupun job. Dengan cara tersebut dapat dipastikan akan diperoleh selisih antara BOP yang ditaksirkan dengan BOP yang sesungguhnya.dibebankan Rp 19. Namun untuk memudahkan perhitungan biaya dan pengendalian biaya.BOP BOP .Perbedaan ini disebut under-applied overhead pabrik. Selisih tersebut di akhir periode akan disesuaikan dengan terlebih dahulu dianalisis apakah terjadi over1 under applied BOP. rekening persediaan produk selesai dan persediaan produk dalam proses akhir.BOP yang sesungguhnya terjadi. Adapun jumalnya adalah sebagai berikut: BOP . harus dipertemukan dengan rekening BOP-sesungguhnyapada saldo debit.dibebankan BOP .000. Biaya ini terdiri dari biaya bahan tak langsung. .Meskipun padadasamya terdapat biaya semi variabel yang mengandung kriterium sebagai biaya variabel maupun tetap. E.000 Rp 19.sesurzgguhnya Rp 19. sehingga apabila ditinjau dari perilaku biaya. TARIP BIAYA OVERHEAD DAN PEMISAHAN BIAYA SEMI VARIABEL Biaya overhead pabrik adalah semua biaya-biaya produksi selain biaya bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung.000 Rp 19.

Dari gatnbar tersebut dapat diketahui berapa besamya biaya tetapdan berapa besamya biayavariabel.Beberapa teknik pemisahan biaya semivariabel menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Variabilitasbiayadiperlihatkan oleh garis miring yang sebetulnyamerupakan fungsi dari produk yang dihadkan. garis ini menunjukkan komponen biaya variabel. antara lain: (1) teknik grafis. Dari perpotongan sumbu tegak dengan garis tersebut ditarik garis lurus sejajar dengan sumbu datar. (3) teknik analisis kuadrat terkecil (least square). Teknik ini menggunakan dasar aktivitas tertinggi dan terendah sebagai dasar analisis semivariabel. Di antara berbagai titik tersebut ditarik garis lurus sampai memotong sumbu tegak. Besamya biaya variabel dihitung dengan membagi selisih biaya semi variabel tertinggi dan terendah dibagi dengan selisih aktivitas tertinggi dan terendah. Dalam teknik ini hubungan antar biaya dengan volume produksi digambarkan dalarn sebuah diagram. Teknik grafis. dan (4) teknik analisis korelasiJregresi. 1. Gambar di halaman 18 berikut ini me~~. Garis ini menunjukkan komponen biaya variabel. Perhatikan contoh berikut ini: . Biaya Tetap 0 unit 2.jelaskan uraian tersebut di atas. (2) matematical high low point. Mathematical high low point. Sedangkan biaya tetap digambarkan dengan garis mendatar sejajar dengan kuantitas produk.

-/jam.000 1.: 4. Selanjutnya setelah besarnya biaya variabel per unit dapat diketahui.750.000 Aktivitas terendah Rp 1.776.104 jam Total Biaya Rp 2.I 1 Dalam tahun anggaran 1986 aktivitas tertinggi perusahaan susu Mamiek menunjukkan waktu kerja sebanyak 6.000. Teknik kuadrat terkecil.026. Teknik ini hubungan antara biaya dengan volume produksi sebagai hubungan persamaan linear.000.066.736 jam 4.736 jam X Rp 250 Biaya tetap Rp 1.000 I . Sedangkan aktivitas terendahnya terjadi di bulan Maret menunjukkan waktu kerja 2.000 684. Berdasarkan data tersebut dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut: No 1 2 Aktivitas perusahaan Aktivitas tertinggi Aktivitas terendah Selisihlperbedaan Aktivitas 6.480 jam X Kp 250 2.776.026.066.776.000 Rp 2. Persamaannya adalah: .000 Rp 1..7 10.750.750.dapat dihitung hesamya biaya tetap sebagai berikut: Aktivitas tertinggi Total biaya semi variabel Biaya variabel (Rp 250ljam) 6.000 Rp 1.000.736 jam dengan biaya sebesar Rp 1.840 jam 2.104 jam = Rp 250.840 jam dengan biaya Rp 2.000 3.000 Tarip variabel = Rp 1.

Pada akhir periode diketahui besamya biaya overhead pabrik sesungguhnya adalah Rp 292. agar tarip tersebut dapat digunakan secara tepat baik untuk penentukan kos maupun untuk kepentingan pengendalian biaya.000 Selisih pengeluaran (rugi) . Tarip yang digunakan harus berdasar pada alasan yang rasional.SO.000 sehingga terdapat selisih sebesar Rp 7.000 (under applied). Tarip biaya overhead pabrik atas dasar jam kerja sebesar 200. terdiri dari biaya tetap Rp 125. unit produksi.250 Rp 291. bahwa untuk mempermudah perhitungan digunakan tarip yang ditetapkan di muka. biaya bahan yang digunakan.000 166. jam tenaga kerja langsung.Y menunjukkan besamya biaya variabel pada volume X a b menunjukkan komponen biaya tetap. Jadi tarip per jam kerja adalah Rp 1. Sebagai akibat penggunaan tarip biaya overhead pabrik tersebut. dan menunjukkan arah garis (slope) sebagai komponen biaya variabel. 2. Selisih tersebut (baik under ataupun over applied) harus dianalisis untuk mengetahui apa yang menjadi penyebabnya. Pada periode tersebut jam kerja sesungguhnya sebesar 190. Telah disebutkan di muka.000 jam. Sebagai contoh: Anggaran biaya overhead pabrik pada perusallaan Nickiesusu.000.000 dan biaya variabel Rp 300. 5.000 jam kerja. ditentukan atas dasar: 1. Selisih tersebut dianalisis dengan analisis dua selisih sebagai berikut: Selisih pengeluaran: Biaya overhead sesungguhnya Anggaran s/d kapasitas yang digunakan: Biaya tetap dianggarkan Biaya overhead (190 X Rp 0.625 dan untuk biaya overhead variabel sebesar Rp 0. Tarip untuk biaya overhead tetap Rp 0.250 Rp 292. Tarip biaya overhead pabrik.875. biaya tenaga kerja. 3.875) Rp 125. 3. jam mesin. maka pada akhir periode &an terdapat selisih dalam rekening biayaoverhead pabrik sesungguhnya (actual) dengan tarip yang telah ditentukan di muka.

Hal ini hams dikoreksi kembali. sangat dimungkinkan di kelak kemudian hari tarip biaya overhead pabrik menjadi tidak tepat. Demikian halnya dalam selisih kapasitas. dengan jurnal sebagai berikut: Rp 7.000 Persediaan produksi jadi Biaya overhead pabrik sesungguhnya. ..000.000jam kerja. Namun. Dalarn artian tarip yang ditetapkan di masa lalu tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai alat pengukuran.000 Rp 7. Terhadap selisih yang terjadi.000 Terhadap tarip biaya overhead. Besarnya kapasitas menganggur ini sebesar 5%. Dengan demikian manager dapat mengetahui pada elemen apa saja dia harus melakukan tindakan koreksilperbaikan. pada setiap akhir periode hams dibebankan kembali ke rekening Kos Produksi atau langsung ke income summary. atau: Income summary Biaya overhead pabrik sesungguhnya Rp 7. manajemen dapat mengetahui sampai seberapa jauh tingkat efektivitas pekerjaan pada departemen produksi.625) :Rp 125. komponen biaya apa saja yang mengalami penyimpangan.= 5 % Pejabat yang bertanggungjawab terhadap adanyakapasitas yang menganggur tersebut adalah orang yang secara langsung menangani proses produksi. Dari data di atas dapat diketahui terdapat kapasitas jam kerja yang masih belum digunakan sebanyak 10.000 Rp 7.000 jam X 0.Selisih Kapasitas: Anggaran sld kapasitas yang digunakan Biaya overhead pabrik yang dibebankan ke produk (rekening PDP-BOP) Selisih kapasitas (rugi) Terhadap selisih pengeluaran dapat dirinci lebih jauh. ha1 ini perlu diteliti lebih lanjut penyebab kesenjangan antara kapasitas produksi dengan kemampuan pasar menyerap produk yang dihasilkan perusahaan. dihitung dengan cara sebagai berikut: (10. Dengandemikian tarip biaya overhead pabrik harus ditetapkan kembali dengan dasar pengalaman di masa yang lalu.X 100 %.

Tingkat penyelesaian produk mencerminkan berapa banyak biaya yang terserap di dalam produk dalam proses tersebut.000 unit 2.400 unit . Berapa besamya biaya yang terserap dalam produk yang masih dalarn proses baik di awal maupun di akhir periode tergantung pada taksiran tingkat penyelesaian komponenkomponen biaya yang membentuk terjadinya sesuatu produk atas produk dalam proses. Di akhir periode masih terdapat 400 unit produk yang masih dalam proses dengan tingkat penyelesaian untuk biaya bahan sebesar I OO%. perusahaan XYZ dalam bulan Mei menghasilkan 2.biaya tenaga kerja langsung 90%. Keadaan dalam satu periode tersebut apabila dirinci akan menunjukkan kuantitas produk yang diselesaikan sebagai berikut: proses awal Produk dala~n Produk yang masuk di dalam proses 200 unit 2. Hal ini mengingat adanya produk yang masih dalanl proses baik di awal maupun di akhir periode telah ikut menyerap kos yang terjadi dalam periode tersebut. PENENTUAN UNIT EKUIVALEN PRODUKSI Unit ekuivalen produksi (selanjutnya disebut unit ekuivalen) hams dihitung untuk menentukan berapa besa~nya produk yang layak diperhitungkan dalam rangka penentuan kos produk per unit. dan biaya overhead pabrik 80%.BAB I1 LAPORAN KOS PRODUKSI A.200 unit 2.400 unit Produk dalam proses akhir Produk yang diselesaikan periode ini 400 unit 2. Sebagai contoh. Di awal bulan terdapat produk yang rnasih dalaln proses produksi 200 unit dengan tingkat penyelesaian untuk biaya bahan baku 100%'.000 unit produk X. biaya tenaga kerja 80% dan biaya overhead pabrik sebesar 90%.

2. bahan baku.000). Sebagai akibatnya kos padaperiode yang satu dan periode yang lain tidak akan terjadi fluktuasi. Kos yang terserap dalam produk dalam proses awal maupun akhir proses menunjukkan jumlah yang relative sama.400 unit 2. Begitu pula halnya produk dalam proses di akhir bulan Mei akan menjadi produk dalam proses di awal bulan Juni.360 unit . 2. Metode ini menganggap bahwa tingkat penyelesaian produk dalam proses baik di awal maupun di akhir proses dari periode yang satu ke periode berikutnya tidak menunjukkan perbedaan yang siknifikan. biaya overhead pabrik. Penghitungan unit ekuivalen dapat dilakukan dengan salah satu dari dua metode berikut: 1 .200) sama dengan output (400 + 2.Dalam menghitung kuantitas produk yang diprodusir selama satu periode harus dapat ditunjukkan bahwa input (200 + 2. 2.000 + 400 (100 %) Unit ekuiv. biaya tenaga kerja langsung. Apabila menggunakan metode tersebut besarnya unit ekuivalen adalah sebagai berikut: Unit ekuiv.200 unit Produk selesai dalam bulan Mei 2.320 unit 2. Metode rata-rata (average method). Bagan berikut ini memperjelas proses transformasi input dan output dalarn suatu proses produksi.000 + 400 (80 % Unit ekuiv.000 unit Peraga 2. awal bulan Mei ! awal bulan Juni ! 200 unit 400 unit Masuk dalam proses dalam bulan Mei 2.000 + 400 (90 %) = - 2.1 Aliran input dan ouput produksi Dan gambar tersebut di atas ditunjukkan bahwa 200 unit produk dalam proses awal sebetulnya merupakan produk dalam proses di akhir bulan April. Komposisi penyelesaian produk dalam proses di awal maupun di akhir proses sebagaimana digambarkan dalam gambar di atas akan mempengaruhi unit ekuivalen pada bulan Mei.

Meskipun demikian keputusan untuk menggunakan salah satu dari kedua metode tersebut.200 biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp 34.200 unit.200) + 400 (80 %) Unit ekuivalen biaya overhead pabrik.560. Perhitungan kos per unit produk berdasarkan salah satu dari keduametode penghitungan unit ekuivalen. B. 200 ( 10 %) + (2. tidak boleh sembarangan mengingat karakter proses produksi hams diperhatikan Dengan mengambil contoh perhitungan subbab A di atas serta data biaya berlkut digambarkanperhitungan kosper unit tersebut. 200 (20 9 )+ (2. Perbedaan tingkat penyelesaian dari waktu ke waktu tersebut akan sangat mernpengaruhi besarnya komposisi kos produk dari periode yang satu dengan periode lainnya.200) + 400 (100 %) 6 Unit ekuivalen biaya tenaga kerja.biaya tenaga kerja langsung Rp 15.000 . mengenai filosofi produksi.000 .000 . biaya bahan baku bulan tersebut sebesar Rp 44. . MENGHITUNG KOS PER UNIT PRODUK Dalam menghitung kos per unit produk hams memperhatikan unit ekuivalen produksi untuk masing-masing komponen biaya.Metode masuk pertama keluar pertama (first in first out). ' Periksa kembaii bab I. Konsep ini sangat berbeda dengan metode rata-rata yang menganggap komporlen kos semua produk sama. = 2.140 unit. Perhitungan unit ekuivalen tersebut di atas memperhatikan perhedaan penyerapan kos di awal dan di akhir proses produksi. = 2.200) +400 (90 '3) 6 = 2.420 dan biaya overhead pabrik Rp 26. produk pada bulan April adalah sebagai berikut: biaya bahan baku RD 19. sebagai akibatnya kos balk yang terjadi di awal maupun di akhir proses akan diidentifikasi secennat mungkin.300 unit. Kos per unit. Metode ini menganggap terdapat perbedaan yang siknifikan antara tingkat penyelesaian antara produk dalam proses di awal periode dengan produk dalam proses di akhir periode.dan biaya overhead pabrik sebesar Rp 11. Perhitungan unit ekuivalen dengan menggunakan metode FIFO adalah sebagai berikut: Unit ekuivalen biaya bahan. Kos yang terserap dalam setiap produk di awal dan di akhir periode jumlahnya tidak sama. Misalnya. 200 (0 9 )+ (2.

Sebelummenghitung kos per unit produk terlebih dahulu dihitung berapa besarnya kos yang terlekat pada produk dalarn proses awal. perhitungannya adalah sebagai berikut: Biaya bahan baku.260 Apabila menggunakan metode rata-rata perhitungan kos per unit produk adalah sebagai berikut: Perhitungan kos per unit kedua metode tersebut akan menghasilkan kos per unit yang berbeda. 200 x 80 % x 11 Total kost produk dalam proses awal = Rp = 3. 200 x 100 % X 19 Biaya tenaga kerja langsung.700 1. Dengan menggunakan metode rata-rata besamya kos per unit lebih kecil dibandingkan dengan metode FIFO. 200 x 90 % x 15 Biaya overhead pabrik.Dari informasi tersebut di atas dapat dihitung kos per unit produk.800 2. Apabila menggunakan metode FIFO perhitungan kos per unit produk adalah sebagai berikut: .760 - Rp 8.

Berdasarkan perhitungan di atas selanjutnya dapat dihitung berapa besamya kos yang dibebankan terhadap produk selesai maupun produk yang masih dalam proses di akhir periode. Rincian perhitungan berikut ini sangat penting mengingat jumlah tersebut akan digunakan sebagai dasar untuk melakukan posting ke dalam rekening-rekening produk dalam proses. Perhitungan pembebanan kos produk apabila dengan metode rata-rata adalah sebagai berikut: Kos produk selesai: 2.000 @ Rp 48 Kos produk dalam proses akhir: Biaya bahan, 400 x 100 % x Rp 20 Biaya TKL, 400 x 80 % x 16 Biaya Overhead Pabrik, 4OOx90%x12 Total biaya yang dibebankan Rp 8.000 5.120 Rp 96.000

4.320

17.440 Rp 113.440

Perhitungan pembebanan kos produk apabila dengan metode FIFO adalah sebagai berikut:

Kos produk selesai:
Produk d b proses awal

Penyelesaian PDP awal: Biaya TKL: 200 x 10 % x Rp 16,08 Biaya Overhead Ppbrik: 200 x 20 5% x 12,07 Kos produk dalam proses awal Kos produk yang diselesaikan dalam bulan Mei: 1.800 @ Rp 48,25 Total kos produk selesai bulan Mei Rp 95.914,40
= Rp 321,60

=

482.80

804.40

Kos produk dalam proses akhir:
Biaya bahan baku, 400 x 100 % x Rp 20,lO Biaya Overhead Pabnk, 400 x 90 %x 12,07 Total kos dalam proses akhir Total biaya produksi yang dibebankan bulan ini Rp 8.040 4.345.20 Rp 17.530.80 Rp 1 13.445,20
% Biaya Tenaga Kerja Langsung, 400 x 80 5 x 16,08 Rp 5.145,60

Dalam perhitungan menurut metode FIFO, di atas terdapat selisih lebih sebesar Rp 5,20. Selisih tersebut sebagai akibat pembulatan pada waktu perhitungan kos per unit. Rincian pembulatan tiga angka di belakang koma adalah sebagai berikut: Biaya bahan 12.0909 menjadi 12.10 atau sebesar BTKL 16.0841 menjadi 16.08 atau sebesar BOP 12.0727 menjadi 12.07 atau sebesar (0.009 1) (0.0041) (0.0027) Rp 5,06

Total pembulatan = 0.0023
Perhitungan pembulatan adalah: 2.200 x Rp 023
=

C. MENYUSUN LAPORAN KOS PRODUKSI
Laporan kos produksi untuk periode yang baru saja berakhir disusun pada hari-hari awal periode berikutnya. Jadi laporan kos produksi untuk bulan Mei dibuat pada awal bulan Juni, demlkian seterusnya. Laporan ini memuat tigamasalah pokok yang terdiri dari:

1. Laporan kuantitas produksi selama satu periode, berisi perhitungan kuantitas produk baik yang masuk dalam proses maupun produk yang dihasilkan serta segala bentuk keluaran lainnya. Laporan semacam ini menggarnbarkan berapa kuantitas yang layak diperhitungkan dalam penentuan kos produk.

2. Perhitungan kos per unit produk, berisi perhitungan kos per unit produk untuk semua komponen produk yang dihasilkan selama satu periode produksi.
3. Perhitungan pembebanan kos produk selesai dan produk yang masih dalam proses (akhir), berisi perhitungan berapa besarnya kos untuk produk selesai dan produk dalam proses yang dihasilkan dalam satu periode produksi.
Laporan Kos Produksi tersebut disajikan dengan maksud menyajukan informasi kepada manajemen sebagai alat pengendalian biaya produksi dan sebagai dasar membukukan kos produksi ke dalam rekening kontrol. Berikut ini disajikan contoh laporan kos produksi dengan menggunakan metode ratarata (periksa halaman 24).

PERUSAHAAN XYZ LAPORAN KOS PRODUKSI Bulan Mei 19x1

A.

Kuantitas produksi bulan ini. Produk dalam proses awal Produk yang masuk dalam proses 200 unit

2.200

unit
2.400 unit unit unit 2.400 unit

Produk dalarn proses akhir hoduk selesai bulan Mei

400

2.000

B. Perhitungan Kos per unit produk,

C. Pernbebanan biaya kepada produk.

Kos produk selesai: 2.000 @ Rp 48 Kos produk dalam proses akhir: Biaya bahan, 400 x 100 % x Rp 20 Biaya tenaga kerja langsung. 400 x 80 O/r x 16 Biaya Overhead Pabrik, 400 x 90 %x 12

= =

Rp Rp
8.000 5.120 4.320

96.000

-

Total biaya yang dibebankarl

Percrgu 2.2 Lupor.urr Kos Prodrrksi detrLqut7 Rerorlc, Rota-r.nru

Laporan kos prroduksi yang disajikan dengan metode FIFO disajikan pada halaman berikutnya. Perhatikan, terdapat perbedaan yang khas penyajian metode ini yang sangat berbeda dengan metode Rata-rata. Dalam metode FIFO, perhitungannya jauh lebih rumit daripada metode rata-rata terutama laporan bagian C, pembebanan biaya kepada produk.

PERUSAHAAN XYZ LAPORAN KOS PRODUKSI Bulan Mei 19x1

A. Kuantitas produksi bulan ini. Produk dalam proses awal Produk yang rnasuk dalarn proses

200

unit

2.200
400

unit
2.400 unit unit unit 2.400 unit

Produk dalam proses akhir Produk selesai bulan Mei

2.000

B. Perhitungan kos per h i t ,

C. Pembebanan biaya kepada produk: Produk dalam proses awal Penyelesaian PDP awal: Biaya TKL: 200 x 10 % x Rp 16,08 Biaya Overhead Pb., 200 x 20 % x 12,07
Kos produk dalam proses awal Kos produk yang diselesaikan dalam bulan Mei, 1.800 @ Rp 48,25

Rp 8.260
= Rp 321,60 = 428.80

804.40

Total kos produk selesai bulan Mei Kos produk dalam proses akhir: Biaya bahan baku 400 x 100 % x Rp 20,lO Biaya Tenaga Kerja Langsung: 400x 80 % x 16,08

Rp 95.914,40
= Rp 8.040,00 = 5.145,60

Biaya Overhead Pabrik: 400 x 90 % x 12,07 Total kos dalam proses akhir Total biaya produksi yang, dibebankan bulan ini

Peraga 2.4 Laporan Kos Produksi dengan Metode FIFO

Apabila kita kita perhatikan, a1 antara kedua laporan kos produksi tersebut tefdapat perbedaan pokok, yaitu: 1. Dalam metode rata-rata biaya yang terjadi pada bulan sebelurnnya yang tercermin dalam PDP awal digabung menjadi satu dengan biaya yang terjadi pada bulan Mei. Penentuan kos per unit dilakukan dengan membagi total bulan lalu dan bulan Mei dibagi dengan unit ekuivalennya. Berbeda dengan metode FIFO, maka biaya yang berasal dari bulan lalu tidak digabung dengan biaya yang terjadi pada bulan Mei.

2. Penggunaan salah satu dari kedua metode tersebut harus mempertimbangkan ha1 -ha1 sebagai berikut:
a. Fluktuasi produksi dari periode ke periode. b. Apakah produk yang melekat masih dalam proses tidak tentu.

D. MENCATAT KOS PRODUK DALAM BUKU BESAR
Akuntansi biaya mempunyai tugas untuk mencatat, melaksanakan klasifikasi biaya, membebankan perhitungan biaya pada produk, dan melaporkannya kepada manajemen. Bentuk pelaporan biaya telah dipelajari dalam subbab sebelurnnya, dan selanjutnya akan dibahas proses pencatatan transaksi biaya ke dalam jumal dan postingnya dalam buku besar. Skema proses pencatatan transaksi biaya adalah sebagai berikut:

-

Buku Jurnal

Buku besar

-

Neraca Lajur

r

-Buku Pembantu

Laporan Biaya

Biaya

I

Bagan 2.5 Proses pengolahan data akuntansz

800 2. biaya tenaga kerja dan biaya lain-lain selain kedua klasifikasi tersebut. Pembelian bahan baku (dengan metode perpetual) dicatat sebagai berikut: Persediaan bahan xxxx .xx Hutang &gang b. langkah-langkah pencatatan transaksi adalah sebagai berikut: 1.. Transaksi keuangan yang terkait dengan transaksi biaya terdiri dari pencatatan pembelian bahan-bahan. a. guna mengakui adanya produk dalam proses awal yang sebetulnya merupakan persediaan akhir pada periode bulan yang lalu.Berdasarkan bagan tersebut di atas. Pengakuan adanya upah tenaga kerja dicatat sebagai berikut: Biaya tenaga kerja xxxx XYXX Hutang guji c. Dengan demikian saldo semuarekening Produk Dalam Proses sudah seimbang (0). Pencatatan jumal penyesuaian kembali ini dibuat mengingat pada akhir bulan yang lalu telah dilakukan tutup buku. Pencatatan jurnal penyesuaian kembali. PDP biaya bahan PDP biaya tenaga kerja langsung PDP biaya overhead pabrik Rp 3.lx.700 11760 Rp 8. Cara pencatatannya antara lain.260 Persediaan PDP awal Pencatatan transaksi keuangan. Pencatatan biaya lain-lain: Biaya overhead pabrik sesungguhnya Biaya tenaga kerja tak langsung Depresiasi Biaya asuransi xxxx xxxx xxxx xxxx XlCXX Biaya tunai lainnya .Pada awal bulan Mei harus dibuat jurnal penyesuaian kembali.

440 Rp 8.b i q tenaga kerja langsung PDP .3. dan biaya over-head pabrik. Pembebanan biaya bahan baku kepada produk: Produk dalam Proses .200 b.biaya overhead pabrik Pembebanan biaya produks~ kepada PDP akhir dengan jumal sebagai berikut: Persedimn produk dalam proses PDP .dibebunkan Rp 26.200 Persediaan bahan baku Rp 44.320 PDP .biaya bahan Rp 44.biaya averheadpabrik .000 5. Pembebanan biaya produksi kepada produk selesai dengan jumal sebagai berikut: Persediaan produk selesai PDP . a. Transaksiini meliputi pembebanan biay a bahan baku. 1.biaya tenaga kerja langsung 32.120 4.560 Rp 34.200 Biaya tenaga kerja langsung c. Terhadap produk yang masih melekat dalam proses produksijuga hams dihitung berapa biaya yang hams dibebankankepadanya. Pembebanan biaya tenaga kerja langsung kepada produk: Produk dalam proses .000 24.000 PDP . Bila menggunakan metode rata-rata.000 PDP .420 Biaya overhead . Pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk: Produk dalam proses .biaya bahan baku Rp 17. produk yang diselesaikan diserahkan ke gudang sebagai produk jadi.BTKL Rp 34.000 Rp 40.BOP Rp 26. Transfer produk jadi tersebut hams diikuti pencatatan pembebanan biaya atas produk yang telah diselesaikantersebut. biaya tenaga kerja langsung.560 Setelah proses produksi selesai. Pencatatan transaksi akuntansi biaya.biaya bahan baku Rp 96.

BB Persediaan produk selesai 48.40 Rp 38.biaya bahan baku PDP -biaya tenaga kerja langsung PDP .914. 2.000 48.974.960.rat^ 2. Bila menggunakan metode FIFO Pembebanan biaya produksi kepada produk selesai: Persediaan produk selesai PDP .BTKL Raj.Bagan proses pencatatan transaksi biaya dalam metode rata-rata adalah sebagai berikut: Persediaan bahan PDP .OO 3 1.974.biaya overhead pabrik Rp 95.000 Biaya Tenaga Kerja PDP .700 BOP Dibebankan PDP .4 Aliran Biaya Produksi dengan Metode Rara.80 (Catatan: terdapat pernbulatan angka sebesar Rp 520) .BOP :: :I : Persediaan PDP Akhir Peraga 2.40 23.

80 Rp 8.biaya bahan baku PDP .040.145.60 4.BTKL BOP Dibebankan PDP .320.BB Persediaan produk selesai 95.974.530.OO 17.5.20 Bagan proses pencatatan transaksi biaya dengan metode rata-rata adalah sebagai berikut: Persediaan bahan 'PDP .00 5.80 Peraga 2.6 Aliran Biaya Produksi dengan Metode FIFO .biaya tenaga kerja langsung PDP .40 Biaya Tenaga Kerja PDP .BOP Persediaan PDP Akhir 28.biaya overhead pabrik Rp 17.Pembebanan biaya produksi kepada PDP akhir: Persediaan produk dalam proses PDP .34.530.

Produk diolah melalui dua departemen produksi yang diolah secara bertahap. dan biaya overhead pabrik Rp 11. BK 80%) Produk masuk dalam proses dept. Hampir tidak ada proses produksi yang tidak menggunakan departemenisasi tersebut. Untuk menggambarkan bagaimana penentuan kos produk yang diolah melalui beberapa departemen produksi.800 400 -- ---- 150 Biaya produksi per unit produk dalam bulan yang lalu adalah sebagai berikut: di departemen I. Di departemen I1 biaya tenaga kerja langsung Rp 25 dan biaya overhead pabrik sebesar Rp 16. Komposisi produk yang dihasilkan dalam bulan Mei 1988 adalah sebagai berikut: Keterangan PDP awal dept I (BB loo%.000 Rp 216. biaya tenaga kerja sebesar Rp 10. Total biaya Rp 198. BK 80%) PDP awal dept I1 (BB LOO%.450 . diambil kasus teknik aliran produksi bertahap.OOO 4. Penghitungan kos produk menggunakan metode FIFO. I PDP akhir dept 1 (BB 100%. BK 80%) Depart. Industri XYZ menghasilkan satu macam produk X dengan metode proses. berikut ini disajikan contoh kasus PT XYZ.000 D e ~ tI1 . Dalam bulan ini komposisi biaya adalah sebagai benkut: Jenis biaya Biaya bahan Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik D e ~ tI. Agarpembahasan lebih mudah dipahami. I 200 -- Depart. PROSES PRODUKSI MELALUI LEBIH DARI SATU DEPARTEMEN PRODUKSI Mengingat setiap proses produksi membutuhkan spesialisasipekerjaan. Rp 100. maka produk diolah melalui beberapa departemen. BK 90%) PDP akhir dept I1 (BB 100%. Tentu saja banyaknya departemen tersebut sangat berpengaruh terhadap cara-cara penentuan kos per unit produk.E. I Produk selesai di dept. I1 -- 200 5 . biaya bahan Rp 19.

800 unit.810 unit Sering kali dalam kasus yang disajlkan. 2. Dalam kasus ini besarnya kos PDP awal adalah sebagai berikut: . Jumlah tersebut hams dihitung lebih dahulu dengan cara mendeteksi berapa besarnya komponen biaya yang mendukung kos tersebut.800 .Dari informasi tersebut buatlah laporan kos produksi dan pembukuan transaksi tersebut dalam rekening yang terkait! Perhitungan kuantitas produksi dalam bulan ini adalah sebagai berikut: . 200 (20%) + (4. PDP awal Masuk dalam proses Input ' 200 200 4. Perhitungan unit ekuivalen adalah sebagai berikut: Departemen I. Jumlah yang diselesaikan di departemen I1 sebesar 4. kos persediaan produk dalam proses awal belum diketahui. Setiap produk yang telah diselesaikan tersebut langsung masuk dalam proses di departemen 11. Biaya bahan.800 -200) + 400 (90%) = = 5.000 unit 5.000 unit Departemen 1 .200 5. Keterangan D e ~ t1 .850 .800 5.000 PDP akhir Produk selesai Output 5. Dalarn praktek ha1 tersebut dapat diketahuidengan melihat perhitungan kos dari bulan yang lalu. dalam kedudukan sebagai bahan di departemen 11. Produk tersebut langsung masuk ke gudang.OOO Catatan: I. D e ~ tI1 .850 unit.200) + 150 (80%) = 4. 200 (0%) + (4.200) + 400 (100%) Biaya Konversi. Jumlah produk yang diselesaikan di departemen I sebesar 4. 1 Biaya Konversi = 200 (20%) + ( 4.

200 (100%) x Rp 19 BTKL.800 1.560 Rp 14.600 1. 200 (80%) x 16 Kos PDP awal departemen I1 - Rp 8. 1 Biaya dari dept.60 Rp 205. Perhitungannya adalah sebagai berikut: .000 4. Persediaan PDP awal Biaya untuk periode ini: Biaya bahan.560 Berdasar informasi yang telah diperoleh tersebut dapat dihitung kos per unit produk. 200 (80%) x 25 BOP.PDP awal di departemen I: biaya bahan. selanjutnyadapat dihitungpembebanan kos pada produk yang selesaikan di departemen I yang ditransfer ke departemen I1 dan kos produk dalam proses akhir di departemen I.000 2. bak untuk departemen I maupun untuk departemen 1 . I.160 Setelahkos per unit produkdihitung. 200 (80%) x 11 Kos PDP awal departemen I - Rp 3. Biaya overhead pabrik Total biaya bulan ini Total biaya dibebankan di departemen I Total Kos Rp 7.760 Rp 7. 200 (80%) x 10 BOP.160 KosIUnit Rp -- -- Rp 198. 1 Eavl.000 Rp 39. 200 x Rp 40 BTKL. Biaya tenaga kerja.160 PDP awal di departemen 1 .

200 (20%) x 8.80 BOP.60 = I Kos produk selesai bulan ini Kos produk dalam proses akhir: Bahan baku.104 KosfUnit Rp -39. 400 (90%) x 10.104 :4.80 = - Total biaya PDP awal 1 . Total Kos Rp 14.800 = Rp 39. 400 (90%) x 8..80 BOP.104 Perhitungan kos per unit untuk departemen I1 adalah sebagai berikut: Keterangan Eqvl. 400 (100%) x Rp 20 BTKL.60 PDP awal bulan Kos dari departemen I Biaya yang ditambahkan di departemen 1 : 1 .Kos PDP awal Biaya penyelesaian PDP awal: BTKL.80 Total kos PDP akhir Total kos dibebankan dalam bulan ini = 1 - I - 1 Berdasarkan perhitungan tersebut diketahui Kos per unit Rp 190.560 190.605 dan besarnya kos produk selesai bulan ini sebesar Rp 190. 200 (20%) x Rp 10.600 x Rp 39. Biaya produk yang diselesaikan dalam bulan ini: 4.

150 (80%) x 15 Total kos PDP akhir. 150 (100%) x Rp 39.773.300 72.OO 1. Kos produk dalarn proses akhir: Dari dept. Jadi perhitungan kos per unit = Rp 409. 200 (20%) x Rp 15 = Total biaya PDP awal Biaya produk yang diselesaikan dalam bulan ini: 4.00 Rp 45.80.75 Rp42 1.554 Rp 421.25 BTKL. 150 (80%) x 30 BOP.810 4.00 Total biaya yang dibebankan pada bulan ini. 200 (20%) x Rp 30 = BOP.114.00 393.810 144.114 30.00 Rp 16.773.OO 15.413.25 : 4850 = Rp 84.60.605 Kos produk selesai bulan ini.00 Rp 84.340.60 -- Berdasarkan perhitungan tersebut dapat dihitung pembebanan kos produk yang diselesaikandi departemen I1 yang ditransfer ke gudang dan pembebanan pada persediaan produk dalam proses akhir di departemen 11. Perhitungannya adalah sebagai berikut: Kos PDP awal Biaya Penyelesaian PDP awal: BTKL.25 - Rp 409. - RD 11.450 Rp 406.Biaya tenaga kerja langsung Biaya verhead pabrik Total biaya yang ditambahkan Total biaya bulan ini Total biaya yang dibebankan 4.605 = Rp 5. I.650 x Rp 84.150 Rp 216.49 .75 3.940.360.

F. MENYUSUN LAPORAN KOS PRODUKSI UNTUK TIAP DEPARTEMEN Laporan kos produksi harus disajikan untuk tiap-tiap departemen produksi yang ada.Setelah perhitungan di atas diselesaikan. langkah berikutnya adalah menyusun Laporan Kos Produksi dan membukukantransaksi biaya padarekening-rekeningyang terkait. Sedangkan kos produk yang masih dalam proses mencerminkan berapa persediaan produk dalam proses yang h a s disajikan dalam neraca akhir. Peraga 2. Laporan kos produksi pada departemen I1 disajikan di halaman berikut.6 di halaman berikut ini menyajikan laporan kos produksi di departemen I. Sebagai kelanjutan penyajian laporan kos produksi di departemen I. Hubungan tersebut dapat dilihat pada bagian C laporan kos produksi departemen I yang memuat berapa perhitungan kos produk yang ditransferke departemen I1 dan perhitungan kos produk yang masih dalam proses akhir. Kos yang ditransfer ke departemen I1 mencerminkan berapa biaya-biaya yang terserap ke dalam produk di departemen 11. Dalam kedua laporan tersebut dapat digambarkan hubungan transaksi biaya yang terjadi di departemen I dan departemen 11. maka dalam departemen I1 juga hams disajikan berapa biaya-biaya yang terjadi di departemen I1 tersebut. Sehingga untuk departemen I dan I1 harus dibuat laporan sendiri-sendiri.Untuk selanjutnyadigabungkandengan biayabiaya yang terjadi di departemen I1 &an merupakan kos produk yang diselesaikandalam bulan tersebut. .

Perhitungan kos per unit: Keterangan Persediaan PDP awal Biaya untuk periode ini: Biaya bahan.80 BOP.160 15. 200 (20%) x Rp 10.000 Rp 205.80 Rr. 200 (20%) x 9. Pembebanan biaya kepada produk. Biaya overhead pabrik 1 -- Total Kos Rp7.000 8.80 Total biaya PDP awal Biaya produk yang diselesaikan dalam bulan ini: 4.000 44. 400 (100%) x Rp 20 BTKL.056 Peraga 2.160 100. 400 (90%) x 10.Q00 Kos/Unit Rp -20 10.80 5.80 Total kos PDP akhir Total kos dibebankan dalam bulan ini Rp 7.60 Kos produk selesai bulan ini Kos produk dalam proses akhir: Bahan baku.60 Total biaya bulan ini Total biaya dibebankan di departemen I RD 198.000 54.600 x Rp 39.160 C. Kos PDP awal Biaya penyelesaian PDP awal: BTKL.000 5.PTX LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN I A.80 BOP. Biaya tenaga kerja.000 5.160 = Rp 432 - 352 784 Rp 7.7 Luporan Kos Produksi Departernen I . Perhitungan kuantitas produksi: PDP awal Masuk dalam proses PDP akhir Produk selesai B.944 - 182. 39. 400 (90%) x 8.

940~75 = = 3.00 1. Kos produk dalam proses akhir: .650 x Rp 84.Dari dept. Perhitungan kos per unit: Eqvl.OO 15. PDP awal bulan Kos dari departemen I .Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik Total biaya yang ditambahkan Total biaya bulan ini Total biaya yang dibebankan Total Kos Rp 14.114 KosNnit Rp -39.150 Rp 216.61 4.8 Laporan Kos Produksi di Departemen II .BOP. 150 (100%) x Rp 39. 150 (80%) x 15 Total kos PDP akhir. Pembebanan biaya kepada produk selesai: Kos PDP awal Biaya penyelesaian PDP awal: . I.OO Rp 45. Total biaya yang dibebankan pada bulan ini.773. 150 (80%) x 30 .450 Rp 406.300 72.00 Rp 84.00 Peraga 2. Rp 409.600.560 190.800. Perhitungan kuantitas produksi: PDP awal Masuk dalarn proses PDP akhir Produk selesai B.605 .LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN I1 A.594 Rp 421.810 C.BOP.104 44.Biaya yang ditarnbahkan di departemen 11: . 200 (20%) x Rp 15 - Total biaya PDP awal Biaya produk yang diselesaikan dalarn bulan ini: 4. 200 (20%) x Rp 30 .25 = R~5.BTKL.BTKL.605 Kos produk selesai bulan ini.8 10 4.61 30.

Mencatat pembebanan biaya yang terjadi di departemen I: PDP .biaya tenaga kerja langsung PDP .biaya overheadpabrik Rp 190.G.biaya bahan .BORp .OOO 1.000 Rp 54.biaya bahan .104 .600 I . Mencatat jurnal penyesuaian kembali rekening produk dalam proses di awal periode: PDP . I1 PDP . I PDP .dept.000 Rp 100.BOP .dept.000 Rp 100.biaya tenaga kerja langsung Biaya renaga kerja PDP . II Persediaan PDP r dept.BTKL . Mencatat transfer produk yang diselesaikan di departemen I masuk ke departemen 11: PDP .Biaya bahan. Jurnalnya adalah sebagai berikut: a.760 Rp 7. PENCATATAN TRANSAKSI AKUNTANSI BIAYA Jurnal pencatatan transaksi biaya dalarn bulan ini dilakukan pada akhir periode baik menyangkut pengakuan biaya maupun pembebanan biaya yang terjadi di masing-masing departemen.dept.dept.biaya overhead pabrik Biaya overhead pabrik dibebankan Rp 44.560 Rp 13.biaya bahan baku PDP .BTKL .800 1. I PDP .biaya bahan baku Persediaan bahan baku PDP .000 4 . I1 b.dept. dept.000 Rp 44. I PDP .11 PDP .160 c.dept. I Persediaan PDP .000 Rp 8.dept.560 Rp 3.000 Rp 54. 11 PDP .

168 .592 - + 352 Jurnlah.940. 3.600) - = Rp 95.50 3 .600+ 10.BTKL.biaya tenaga kerja langsung PDP .dibebankan Rp 144.25 144.340.BTKL .800 + 20 (4.biaya tenaga kerja langsung PDP . Mencatat pembebanan biaya di departemen 11: PDP . 1.800 - Rp 15.dept.25 gudang: Rp 192.056 Rp 8. 1.OO f.910.depr.BORp .300 e.Rincian perhitungan: PDP .11 BOP .GOO 1.888 3.300 Rp 144. I1 Biaya tenaga kerja PDP .biaya tenaga kerja langsung PDP .biaya bahan baku PDP .dept.s (4.800 51.163. Mencatat pembebanan produk selesai yang telah ditransfer ke Persediaan Produk Selesai PDP .700.biaya overhead pabrik Persediaan PDP .OO 72.biaya bahan baku PDP .600) + 432 PDP .biaya overhead pabrik Rp 409. II PDP . d.50 RIJ5.biaya bahan.000 3.dept.712 42.s (4. I PDP biaya bahan baku PDP .600) PDP .760 + 8.773.BORp.Biaya overhead pabrik Rp 11. Mencatat pembebanan produk dalarn proses yang masih melekat dalam mesin-mesin di akhir periode: Persediaan PDP .

Tentunya sesuatu yang hilang secara normal dan tidak normal tersebut akan sangat berbeda perlakuannya dalam penentuan kos produk. Sebagai contoh. Dengan demikian produk yang hilang tersebut tidak dapat dihindarkan terjadinya. Dari contoh tersebut di atas dapat diketahui adanya input yang hilang secara wajar (normal). Contoh yang sederhanadan seringdijumpai. artinya bahan-bahan yang masuk dalam proses seberat 2 kg. Setelah dirnasak (dengan melalui proses pemanasan) kedua bahan tersebut bereaksi dan menghasilkan nasi dengan berat 1. tetapi karena secara alami reaksi kimia dalam teknik pengolahan tersebut menghendaki adanya partikel yang lepas dan hilang secara wajar. Carnpurkan beras dan air masing-masing dengan berat 1 liter.kalaibu-ibusedangmenanaknasi.BAB I11 PRODUK HILANG DALAM PROSES PRODUKSI PRODUK RUSAK. Apabila nilai yang hilang tidak material mungkin dapatdiabaikan. PRODUK HILANG DALAM PROSES Dalam suatu proses produksi selalu ditemukan adanya partikel yang hilang. Dalam penentuan kos produk adanya produk yang hilang dalam proses menjadi perhatian. Partikel yang lepas tersebut hilang menguap dan tentunya tidak dapat ditelusuri ke mana jejaknya. Sehinggaterdapat produk yang hilang tidak secaranormal. ada pula produk yang hilang karena alasan yang tidak dapat terduga (unpredicted). Di samping adanya produk yang hilang secara normal. Dengan demikian dalam suatu proses input suatu produk akan lebih besar dari outputnya.5 kg. Ini berarti ada partikel yang hilang dalam proses berupa air (H20) yang menguap bersarnaan dengan 'proses produksi' tersebut seberat 0. DAN PRODUK CACAD A. Produk yang hilang karena alasan yang tidak normal tentunya akan diperlakukan sebagai kerugian bagi perusahaan. Hal ini disebut produk hilang dalam proses secara normal.Tetapi bila . Partikel yang hilang tersebut hilang bukan karena faktor kesengajaan. bahkan munglun adanya faktor kesengajaan. terdapat partikel yang lepas selama reaksi pemanasan dan pengkristalan bahan cair menjadi gula kristal. mengingat komponen biaya sebagai akibat hilangnya produk tersebut bisa terpengaruh. Hilang dalam proses secara normal. dalam industri gula.5 kg. disebabkan alasan alami.

tentunya ha1 tersebut tidak dapat diabaikan. Perusahaan ini memproduksi produk X melalui tiga departemen produksi. terdapat produk yang hilang dan terjadi pada awal proses produksi di departemen tersebut. Produk hilang dalam proses dianggap terjadi di awal proses. Bahan baku yang dibutuhkan adalah X dan bahan pembantu Yd. maka akan sulit diketahui di manakah dan kapankah sesuatu partikel lepas dalam suatu reaksi kimia. b. Dengan kata lain kapan sesuatu produk hilang secaranormal dalam suatu proses produksi. terdapat produk yang hilang dan terjadi di akhir proses produksi di departemen tersebut. Produk X diolah dari bahan departemen "X drops". PT RADITYA memproduksi produk melalui 3 departemen produksi. Dianggap tidak ada produk dalarn proses awal.nilai yang hilang tersebut dipandang cukup materiil. bahwa semua produk yang hilang dalam proses secara normal tersebut dianggap telah ikut menyerap biaya-biaya yang terjadi dalam satu periode. Anggapan ini digunakan apabila dalam suatu departemen produksi. Mengingat mesin-mesin baru saja direparasi besar (overhaul). kesemuanya masuk dalarn departemen A. Apabila proses produksi diteliti/ditelusuri jejaknya satu persatu. Produk hilang dalam proses dianggap terjadi di akhir proses. Mengingat kenyataan tersebut produk hilang dalam proses secara normal digunakan anggapan sebagai berikut: a. Informasi biaya dan produksi pada bulan Januari 1980 disajikan pada halaman berikut: Keterangan Produk yang ditransfer ke B Produk yang ditransfer ke C Produk yang ditransfer ke gudang Produk yang masih dalam proses: . Anggapan ini membawa konsekuensi. Untuk menggarnbarkan adanya produk yang hilang dalam proses berikut ini disajikan kasus PT RADITY A. maka produksi di bulan Januari tersebut adalah periode produksi pertarna kali dalarn tahun 1980. dengan bahan pembantu "Y pallet". Anggapan ini membawa konsekuensi bahwa semua produk yang hilang dalam proses secara normal tersebut dianggap belum ikut menyerap biaya-biaya yang terjadi dalam satu periode. Dalarn periode tersebut tidak ditemukan adanya produk dalam proses awal. Anggapan ini digunakan apabila dalam suatu departemen produksi. sulit dideteksi. Jadi berapa nilai yang hilang dalarn suaku proses harus diperhitungkan pengaruhnya terhadap penentuan kos produk.

C 400 kg 300 kg 75 kg 400 kg 9 0 5 550 kg 250kg 150 kg 950 kg . A Masuk dalam proses Produk selesai bulan ini PDP akhir periode Hilang dalam proses Total output Deut. B 550kg 400 kg 100kg 550 kg Deut. 3. Perlakuan unit yang hilang dalam proses di awal periode dalam departemen B (departemen berikutnya).i bahan baku & penolong biay a konversi unit hilang di awal proses unit hilang di akhir proses Komponen biaya produksi: Biaya bahan baku Biaya bahan pembantu Biaya tenaga kerja Biaya overhead pabrik Total biaya produksi Dari informasi di atas. Jawaban: Komposisi produk yang dihasilkan dalam ketiga departemen tersebut adalah sebagai berikut: Deut. Kasus di atas menggarnbarkan hal-ha1 sebagai berikut: 1. 2. diminta menghitung kos produksi dan menyusun laporan produksi bulan Januari 1980 untuk ketiga departemen produksi tersebut. Perlakuan terhadap unit yang hllang dalam proses di akhir periode dalam departemen C. Perlakuan unit yang hilang dalam proses di awal periode dalam departemen A (initial departement).

50 2. A hams disesualkan (adjusment) sebesar 50 kg sebagai berikut: Kos per unit dari Dept.00 KostUnit -L @O 2500 12. Perhitungan kos yang ditransfer ke Departemen B.1. x 60% x Rp 22. Dengan demikian produk yang diserahkan dari Dept. Total Biaya eku.75 Produk dalam proses di Departemen A adalah sebagai berikut: Bahan baku. Perhitungan kos produksi di departemen B hams memperhatikan adanya produk yang hilang di awal proses di departemen B.00 3.(kg) Total Kos(Ru) 20.912.262. A Kos per unit yang disesuaikan Rp 87. 550 + 250 Biaya Bahan Pembantu Biaya Tenaga Kerja 550 + 250 (60%).175.50 Rp.75 = 800 800 700 700 87.750 . 550 kg + Rp 87.000.50 = - Rp 6.75 Kos Produk Dalam Proses Dept.00 65.125.000. Perhitungan Kos Produk per unit di Departemen A: Unit Jenis Biava Biaya bahan.75 Unit yang hilang di awal proses awal dari Departemen A tidak diperhitungkan dalam unit ekuivalen.250. 250 kg x 100% x Rp 1230 BTKL.925. 250 kg x 60% x Rp 2750 BOP.OO 15.OO 4.OO 3. Biaya Overhead Pabrik. Produk yang diserahkan dari departemen B adalah 400 kg produk jadi dan 100 kg produk dalam proses (output sebesar 500 kg). 250 kg.50 2750 22.OO 10.125.41 2.OO 19.50 Bahan pembantu. 250 kg x 100% x Rp 25.250. A - Rp 48. 16.ha1 ini dianggap bahwa produk yang hilang tersebut belum rkut menyerap biaya yang terjadi di departemen tersebut.

246.110.625.50 2. 100 kg (75%) x 35 Biaya Overhead Pabrik.25 Total Kos Produk dalam Proses Departemen B = Rp = Rp 63.25 + Rp 96.525 Jadi. 100 kg x Rp 96.26230 : 500 kg = Jumlah Kos yang disesuaikan 96.625. Dengan dernikian komponen unit ekuivalen terdiri dari: - produk yang telah diselesaikan produk yang masih dalam proses produk yang hilang dalam proses (30%2) (7%) (25 kg) - .di Dept.OO 1. departemen 1 1. B: Rp 48. kos produk yang ditransfer ke Departemen C: 400 kg x Rp 157.093.75 29.775 9.775 Perhitungan kos per unit yang ditambahkan di departemen B adalah sebagai berikut: Unit Jenis Biaya Biaya Tenaga Kerja: 400 + 100 (75%)= Biaya Overhead Pabrik: Total Biaya 475 475 16.775 Perhitungan Kos Produk dalam Proses (akhir).25 ekuivalen Total Biava (RD) Kos/ Unit (RD) Kos per unit produk yang ditransfer ke Departemen C adalah: Rp 61.25 3. Berbeda dengan 1) perlakuan produk yang hilang di awal proses justru diperhitungkan dalam unit ekuivalennya secara penuh.468.75 3500 26.968.25 61. Produk yang hilang dalam proses dianggap telah menyerap biaya yang terjadi pada suatu periode dalam departemen tertentu (d.652.525 Biaya Tenaga Kerja.OO = Rp 157. 100 kg (75%) x 26.525 Rp 8.75 = Ru 14. Dari Departemen A.OO 12.h.

50 Kos Produk yang Hilang dalam proses .50 Total Biaya 48. biaya yang dibebankan untuk produk selesai adalah sebagai berikut: Kos Produk Selesai.775) = Rp 86.194.526.100 130. 300 kg x (Rp 130 + Rp 157.125 .500 Rp 17. Rp 93.50 Total kos produk dalam proses di dept C.500 2.87 Total biaya yang dibebankan pada produk Kos per unit produk yang diselesaikan.50 Biaya Overhead Pabrik: 75kg (60%) x Rp 47.526. Kerja 300 + 75 (60%) + 25 = Biaya Overhead Pabrik 370 370 30.125 = 3.75625 dibulatkan ke atas = Rp 311.332.37 Rp 93.OO Jadi.525 17.575 ekvlkg) Bia~a(Rp) Total unit@) 82.7 12.76 Kos Produk dalam proses di departemen C: Dari Departemen B: 75kg x Rp 157.875 : 300 kg = Rp 31 1.50 4'7.137.833.775 Biaya Tenaga Kerja: 75kg (60%) x Rp 82.775) 25 kg x (Rp 130 + Rp 157.Perhitungan harga produk per unit adalah sebagai berikut: I Unit Kos Jenis B i a ~ a Biaya Tng. = Rp 11. = 7.683.

912.00 Rp 65.B.412.00 Total Biaya ~roduksi Departemen A di .000.925. 250 kg (100%) x Rp 25 = B.P.00 Rv Rp 25.50 = B. 250 kg (60%) x 22.50 B.O.000.50 - Biaya produk yang masih dalam proses: B.OO 1230 2730 22.175.LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN A A. 250 kg (60%) x 12.125.00 19.262.75 = = Total biaya produk dalam proses: Rv 16.B.B.T.00 3. Perhitungan biaya di departemen A: - Total biaya Biaya/unit Rp 20.75 87.75 Biaya produk yang ditransfer ke departemen B: 550 kg x Rp 87.250.00 10.250. Unit yang diproduksi: Unit yang masuk dalam proses Unit yang diselesaikan di Dept.125.K.B.50 Rp 48.00 4.50 Ru 65. Biaya produksi yang dibebankan di departemen A: Jenis Biaya Biaya Bahan Baku Biaya Bahan Pembantu Biaya Tenaga Kerja Biaya Overhead Pabrik Total Biaya C.00 15. A Unit yang masih dalam proses Unit yang hilang dalam proses (awal) B.75 Rp 6. 250 kg (60%) x 27.00 3.175.

: 75 kg x Rp 157. Di samping itu daya tahan dan unjuk kerja berbagai komponen mesin akan berbeda-beda.137. dapat pula disebabkan oleh mesin-mesin yang tidak sempuma. .875 Biaya produk dalam proses di Departemen C: Kos dari dept. Dengan adanya berbagai kemungkinan tersebut mengakibatkan adanya produk yang tidak sempurna dalam proses produksinya. Meskipun kesemuanya itu tanpa adanya unsur kesengajaan. Perhitungan biaya di Departemen C: Biaya produk selesai yang ditransfer ke gudang: 300kgx Rp311. dalam bidang percetakan akan ditemukan beberapa lembat hasil cetakan yang tidak sempuma. Hal ini disebabkan dalam setiap penyetelan (fiting) mesin-mesin belum tentu dapat menciptakan kerjasama yang sempuma.526. Cetakan yang rusak atau cacad tersebut bisa dipengaruhi oleh bahan kertas terlalu lembab. Pengertianprodukcacad adalah produk yang tidak sempurnadalam prosesproduksinya yang mash dapat diperbaiki dengan melalui proses penyempurnaan produk. 3. Pengertian produk rusak adalah produk yang tidak sempurnadalam proses produksinya d m secara ekonomis tidak akan dapat diperbaikikembali.50 = Total biaya produk dalarn proses. Sebagai contoh.: 75 kg (60%) x Rp 8230 = Biaya overhead: 75 kg x 60% x Rp 47.C. Adanya ketidaksempumaan dalam sdlah satu komponen tentunya akan mengganggu mekanisme kerja mesin lainnya. Sehingga produk tersebut hams dibuang atau dilebur kembali sebagai bahan baku. PRODUK RUSAK Dalam setiap proses produksi kemungkinan timbulnya produk rusak ataupun cacad produksi akan selalu ada.833.712.500 2. adanya human error tidak dapat dihindarkan.K.500 Total Biaya Produksi di Departemen C B. Jadi. Selain unsur hardware adanya produk rusak dan cacad dapat pula disebabkan oleh faktor bahan bakunya yang di bawah standard atau dapat pula disebabkan ketelitian kerja para karyawan rendah.775 = Rp 11. A. Dengan adanya penyempumaan ini produk yang dihasilkan mempunyai kualitas sama dengan produk yang tidak cacad.125 Biaya T.76 - Rp93. secara ekonomis masih dapat dipertanggungjawabkan.L.

000 (0.80) x Rp 25 = Rp 600.977.000 + 6. B Dept.9) Kos yang diterima dari departemen A = 82.2) + (80. Biaya tenaga kerja langsung Rp 1. 8.15) + 72.000 Kos produk dalam proses awal di departemen B.400 unit BOP = 8.000 unit.000 (0. Berdasarkan informasi tersebut buatlah laporan kos produksi menutut FIFO dan rata-rata. Pada bulan Februari 1986 komponen biaya produksi per unit adalah sebagai benkut: Jenis biaya Biaya bahan baku Biaya tenaga kerja langsung I I I I Dept.8.000 (0.000 160.000 - .000+6.000 unit dengan tingkat penyelesaian untuk BTKL 80% dan untuk BOP 90%. Produk rusak dalam proses 4.068. produk rusak tersebut hams dibuang atau dilebur kembali sebagai bahan baku. Kos di dept A. sebesar Rp 74 per unit. Produk yang masih dalam proses di &ir bulan sebesar 6.000 (0. Departemen B bertugas mencetak produk dan departemen C bertugas menyempurnakan produk dan melakukan pengepakannya. Penyelesaiannya sebagai berikut: Unit ekuivalen dengan metode FIFO: BTKL = 8.000 + 4. Langsung.600 dan biaya overhead pabrik sebesar Rp 908. C -- -Rp 25 10 Rp 20 15 I Biaya overhead pabrik Komposisi biaya di departemen B dalam bulan ini adalah sebagai berikut: I Biaya yang diterima dari departemen A.8) = 82.000 x 74 = = 8 2 . Dalam bulan Maret 1986 mengirim ke departemen C sebesar 80.1. 6 0 unit Rp 6. Produk rusak tidak laku dijual 1 i I Apabila produk rusak dalam suatu industri tidak laku dijual.K.000) +4. Perlakuan akuntansi terhadap produk rusak tersebut tidak ada bedanya dengan perlakuan terhadap produk yang hilang di akhir proses. SALINDRI memprodusir satu produk melalui tiga departemen produksi.000 unit dengan tingkat penyelesaian BTKL 80% dan BOP 85%. Informasi yang diperoleh dari departemen B adalah sebagai berikut. 8. P.T. A Rp 25 30 20 Dept.000 x Rp 75 Biaya T. Produk yang masih dalam proses di awal bulan sebesar 8. Departemen A bertugas mencampur adonan plastik. Untuk menggambarkan kasus ini disajikan kasus berikut.000 .000 unit.000 (0.600.

000 + 600 (0. dapat diketahui kos per unit produk yang ditransfer ke departemen C.000 unit Berdasarkan perhitungan unit ekuivalen tersebut dapat disusun laporan kos produksi yang disajikan pada halaman 60.000 Berdasarkan perhitungan di atas dapat disusun-laporankos produksi yang disajlkan pada halaman 59.53.800 unit = 89.000 BBB = 80.162.000 unit = Rp 114.782.000 + 6.54 Apabila perhitungan unit ekuivalen menggunakan metode rata-rata.8)+ 4.Biaya Overhead Pabrik.85)+ 4.O) + 4.000 = 88. Berdasarkan laporan kos produksi tersebut. Berdasarkan laporan kos produksi tersebut.85) x 10 = 68.000 BOP = 82.000 (0. .000 (0.000 unit = Rp 114. 8. dapat diketahui kos per unit produk yang ditransfer ke departemen C.000 (0.000 Jumlah kos PDP awal Rp 828.000 + 6. sebagai berikut: Rp 9. maka unit ekuivalen produksinya adalah sebagai berikut: BTKL = 82.100unit = 90. sebagai berikut: Rp 9.720 : 80.200 : 80.

000 (0.000 1.000 618.000 436.600 Peraga 4.000 x Rp 74 = BTKL: 6.400 13. C Kos produk dalam proses akhir: Kos dari dept A 6.600 7.600 Total biaya Rp 828.9 x Rp 11 = Total kos PDP akhir Total kos produk yang dibebankan bulan ini Rp 828.200 Rp 5 1.000 82.000 unit 80.000 (0.068.15) x 1 l = Kos produk dalam proses awal Kos produk yang diselesaikan bulan ini. -82. Produk rusak PDP akhir 82.782.000 unit 4.600 Rp 2.200 Kos/unit -& & I 24 11 Rp 35 Rp 9.000 unit 8.200 C.000 unit 90.600 879.000 x 0. Perhitungan kos per unit produk: Jenis biaya PDP awal Kos dari departemen A: Kos yang ditambahkan di departemen B: Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik Total Kos yang ditambahkan di departemen B. Total kos bulan ini Total kos yang djbebankan pada produk Eqvl.000 unit B.000 unit 6. .000 6.000 x 0.8 x Rp 24 = BOP: 6.PT SALINDRI LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN B A.400 82.000 Rp 38.848.000 unit 90.20) x Rp 24 = BOP: 8.000 x Rp log Kos produk rusak: 4. 72. Kuantitas yang diproduksi bulan Maret: Masuk dalam proses PDP awal Produk yang diserahkan ke dept.000 x Rp 109 = Total Kos produk yang ditransfer ke dept.977.600 908. C. Perhitungan kos yang dibebankan pada produk: Kos produk selesai yang ditransfer ke departemen C: Kos produk dalarn proses awal Tambahan biaya penyelesaian PDP awal: BTKL: 8.886.

200 koalunit 74.400 36. Kuantitas yang diproduksi bulan Maret: Masuk dalan~ proses PDP awal Produk yang diselesaikan Produk rusak PDP akhir 82.-.000 unit 4.000 unit 80.600 - Total kos 6.000 88.08 BOP Jumlah 89.720 - Rp 444. unt ek.044 Rp9. 6.92 109.P.5408 1 15.000 68.000 x (0.000 828.07 10.000 2.9) x 10.000 unit B.968 Rp 619.726.000 unit 8. Perhitungan kos per unit produk: Kos produk yang ditransfer ke departemen C: 80.954.07 BOP.200 . Kos produk yang masih dalam proses: Dari dept A.78 1. 6.000 Kos bln ini 6. 4. 90.000 unit 90.08 Total Kos yang ditransfer ke dept C. Perhitungan kos per unit produk: r I Jenis btaya B taya dari A BTKL -.100 -- 908. Maka nilai jual produk msak tersebut hams mengurangi komponen biaya produksi yang terjadi pada bulan Maret tersebut.668.000 unit x Rp 109.600 976. C.320 9. PDP awal 600.12 Kos produk rusak.09 24.764 2.068.977. 6.000 unit 6.162.800 .000 160. di atas produk rusak dijual dengan harga Rp 55 per unit (Rp 220.000 unit 90.) x 24.09 BTKL.000 x Rp 74. Pada umumnya .000).PT SALINDRI LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN B A..782. Nilai jual produk rusak mengurangi biaya produksi Seandainya dalam kasus PT SALINDRI.000 8. -.536 58.92 Total produk dalam proses akhir Total Kos yang dibebankan - Rp 8.600 9.000 x Rp 109.137.000 x (O.000 1.

sehingga tidak dapat diketahui berapa komponen masing-masing biaya.penjualan produk rusak dilakukan secara borongan. Perhitungannya adalah sebagai berikut: Dari perhitungan di atas selanjutnya dapat disusun laporan kos produksi sebagai berikut: . Oleh karenanya hams dilakukan alokasi nilai jual produk rusak kepada masing-masing komponen biaya sebagai pengurang kos yang dibebankan bulan tersebut. Alokasi dilakukan dengan harga relatip komponen biaya yang dikeluarkan pada bulan Maret tersebut.

006 72.929.080 1 12.598 22.73 = Total kos PDP awal Kos produk yang diselesaikan di departctnen B: Bulan ini: 82.280 Rp 8.368 57.000 (0.15 1 I 48.652 Rp433. 8.77 139. A Biaya Tenaga k.000 L koslunt 67. Kos produk yang masih dalam proses akhir: Kos dari dept A: 6.-Il 10. Laporan Kos Produksi dengan Metode Rata-rata Rp 828.600 908.18 Biaya TK Langsung.000 unit 90. Kuantitas yang diproduksi bulan Maret: Masuk dalam proses PDP awal Produk yang diselesaikan Produk rusak PDP akhir 82.002 886. Biaya overhead p.958.09 10.73 Total kos produk dalam proses akhir Total biaya dibebankan di departemen B Peraga 3.lS) x Rp10.000 R p 37. .942 603.600 1 I 22.000 unit B.9 8.000 unit - 90.8) x 23.094 5.178 106.977.000 unit 8.I 1 2. 8. Riaya untuk penyelesaian PDP awal: Biaya Te~iaga Kerja Langs. Perhitungan kos yang dibebankat~ kepada produk: Produk dalam proses awal.18 1 1 1. 6.928 220.332 878.PT SALINDRI LAPORAN KOS PRODUKSI DEPA'RTEMEN B A.73-4.41 Biaya overhead Pb.886.000 (0.2) x Rp 23.000 unit 6. Perhitungan kos per unit produk: Jenis Biay a KDP awal Kos dari dept. Total kos 828.332 - 7.000 unit 4.000 x 72.000 i0.000 6.330 70.8 5 1 8.000 (0.876 Rp 50.954.068.32 C.73 I I I 2.200 32. C.390 - .000 unit 80.1.040 425.000 8 kos .270 1 23.655..32 Kos produk rusak Kos produk yang ditransfer ke dept.24 100.9) x 10.456 12. 6.000 x Rp 106.41 Biaya overhead pabrik.200 8.002 1 1. total kos ditanibahkan Total Kos dibehanka~i Total 828.- Alokasi .

896 55.477 Peraga 3.71 Total kos produk dalarn proses akhir Total Kos yang dibebankan - Rp 8. 6.. 6. Kuantitas yang diproduksi bulan Maret: Masuk dalam proses PDP awal 82.42 BTKL.000 unit 6.562.000 unit Produk yang diselesaikan Produk rusak PDP akhir 80.000 (0.440 - 434. Perhitungan kos per unit produk: Kos produk yang ditransfer ke departernen C: 8.000 x Rp 72.000 unit 90. 6.85) x 10.037 Rp 9.000 unit B.8) x 2332 Biaya overhead Pb.000 unit 4.621 Rp 603.PT SALINDRI LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN B A. Laporan Kos Produksi dengan Metode Rata-rata .000 unit 8.OCO (0.66 Total kos yang ditransfer ke departernen C: Kos produk yang rnasih dalam proses: Dari dept A.66 Kos produk rusak: 4.000 x Rp 106.000 unit x Rp 106. Perhitungan kos per unit produk: C.520 112.959.000 unit 90.

berikut ini disajikan kasus P.000 unit. dan untuk BOP 90%. Apabila tidak. Departernen B bertugas mencetak produk dan departemen C bertugas menyempurnakan produk clan ~nelakukan pengepakannya. Produk cacad dalam proses 4.000 unit dengan tingkat penyelesaian untuk BTKL 80%.000 unit. maka semuabiaya yang dikeluarkanuntukmemperbaiki produk cacad terscbut dibebankan pul. tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik Dept A Rp 25 30 20 -25 10 Rp 20 15 .000 unit. produk rusak tersebut lebih baik dianggap sebagai produk rusak dan diproses ulang atau dijual langsung sebagai produk rusak. Dalam bulan Maret 1986 mengirim ke departemen C sebesar 80. Mengingat adanya tarnbahan biaya dalam memproses produk cacad tersebut. Perusahaan ini mempunyai tiga departetnen produksi. XYZ. Demikian halnya bila hasil penjualan produk rusak tersebut akan diper-lakukan sebagai pendapatan lain-lain. maka total nilai jual produk rusak langsung dikurangkan dalarn laporan rugi-laba yang disajikan di akhir bulan Maret 1985 tersebut. Produk tersebut cacad. PERLAKUAN PRODUK CACAD Produk cacad diperbaiki dengan menambah sedikit bahan dalam departemen yang bersangkutan.3. Departemen A bertugas mencampur adonan plastik. Maka dalam laporan rugi-laba nilai jual produk rusak tersebut langsung disajikan dalam laporan rugi-laba sebagai pendapatan di luar usaha. Informasi yang diperoleh dari departemen B adalah sebagai berikut. C. Produk yang masih dalam proses di awal bulan sebesar 8. Nilai jual produk rusak mengurangi kos penjualan Apabila nilai jual diperlakukan sebagai pengurangan kos penjualan. Produk yang masih dalam proses di awal bulan sebesar 8. Suati~ cacad kalau biaya yang dikeluarkan untuk metnperbaikinya secara ekoiiornis masih dimungkinkan. Di samping itu menggunakan peralatan khusus dan tenaga kerja yang produkdianggap secara khusus bettugas untukmemperbaiki produk cacad tersebut. Alasan kerlapa titlak dibebankan itu kepada produk n~sak sendiri.T.l pada produk yang tidak mengalami cacad produksi. karena proses yang normal. Produk yang masih dalam proses di akhir bulan sebesar 6. Pada bulan Februari 1986 komponen biaya produksi per unit adalah sebagai berikut: Dept B Dept C -- Jenis Biaya Biaya bahan baku Biaya.000 unit dengan tingkat penyelesaian BTKL 80% dan BOP 85%. Untuk menggambarkan perlakuan akuntansi terhadap produk cacad tersebut. disebabkan produk tersebut tidak disebabkan oleh faktor kesengajaan.

82.000.000 40.24 24.600 dan biaya overhead pabrik sebesar Rp 908. Biaya untuk memperbaiki produk cacad tersebut adalah penambahan bahan Rp 5 per unit.000 unit x Rp 5 Biaya tenaga kerja langsung.Komposisi biaya dalam bulan ini adalah sebagai berikut: Biaya bahan tenaga kerja langsung Rp 1.01 Dari perhitungan di atas dapat disusun laporan kos produk berdasarkan metode ratarata sebagai berikut: .000 unit x Rp 6 Biaya overhead pabrik.K.000 24.000 84.77 110. 4.000 Rincian perhitungan kos per unit adalah sebagai berikut: Jenis biaya Kos dari dept A Biaya T. Eql.000 84.000 x Rp 10 Jumlah biaya perbaikan produk cacad = Rp 20. Berdasarkan informasi tersebut buatlah laporan kos produksi menurut metode FIFO dan rata-rata.600 948.977.600 --- Koslunt Rp 74.600 908. 4.000 24.200 9.950.600 2.600 2.038.954.200 8.2 11. Biaya tenaga kerja langsung Rp 6 per unit dan biaya overhead pabrik sebesar Rp 10 per unit.200 Tambahan Rp 20.000 2. 4. langsung Biaya overhead Pb.200 un. Pemecahan masalah: Perhitungan tambahan biaya terhadap produk cacad: Biaya bahan.000 1.068.000 82.000 64.977.001.000 Total Kos Rp 6.088.48 35.886.000 = Rp 40. Total Total Total Kos Rp 6.400 82.

24 24.000 unit 80.48 Total penyelesaian PDP awal.068.001.600 Eql.440 116.8) x 24.Ol Kos produk yang ditransfer ke gudang Kos produk yang masih dalam proses akhir: Kos dari dept A. 6.000 (0.864 13. 6.24 1.000 unit 90.P. 72. Biaya untuk per~yelesaian PDP awal: B'l-Kt.000 unit 6.000 82. 4.000 x Rp 110. 115.060 x 74.640 7.088. XYZ LAPORAN KOS PRODIJKSI DEPARTEMEN B A. 6. .424 Catatan: kos per unit produk yang ditransfer ke departemen C: adalah.000 x Rp 1 10.29 BOP. 8.600 Tambah .52 .241.000 6.24 BTKL.9) x 1 1.000 .000 unit --8.000 24.000 (0.776 52.000 f-1.640 880.000 unit 90. 20.000 (0. 6.48 proses akhir Total kos produk dalan~ Total biaya dibebankan di departemen B Rp 828.. -82. tlari dept A. RTK:.000 38.000 2.P.865. Perhitnnqan kos per unit: Jcnis biaya Toial PI)P awal 828.000 unit 4. Pcrhitungan kos yang tlibebankan kepada produk: PDP awal.000 (0.15) x Rp 1 1.Ol Kos produk cacad.920.400 Koslunt -74.977. 8..992 Rp 624. 1.000 unit B.29 BOP.592 6 1.720 440.400 : 80.040 Rp 9.400 Rp 445.000 Total 828. Rp 9.29 C.2) x Rp 24.C24 Rp 9. Kos produk yang tliselesaikan di departemen B: Bulan ini.T. Kuantitas yang diprodusir bulan Maret: Masuk dalam proses PDP awal Produlc yang diselesaikan Produk rusak PDP akhir 82.000 = Rp Apabila laporan menggunakan metode rata-rata.

000 unit 90. Perhitungan kos per unit produk: Kos produk yang ditransfer ke departernen C: 8. C. Hal ini mengingat komponen biaya yang membentuk kos produk relatif sama antara periode yang lalu dan periode sekarang.000 unit B.000 x Rp 74.Laporankos produksiyang disusundenganmetoderata-rata. Kuantitas yang diprodusir bulan Maret: Masuk dalam proses PDP awal Produk yang diselesaikan Produk rusak PDP akhir 82.s Total kos yang ditransfer ke dept.000 unit 90.000 unit 8..34 Biaya overhead Pb.tidak perlu memperhatikan berapa komponen biaya yang bzrasal dari proses produksi bulan lalu yang tercermin dalam produk dalarn proses di awal bulan.000 unit 6. langsung.000 x Rp 110. Kos produk yang rnasih dalam proses: Dari dept A.K.40 Total kos yang dibebankan - - .000 unit 4.000 (0. PT XYZ LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN B A. 6.s Kos produk rusak. 6. 6. 4. Perhitungan biaya per unit: C.8) x 24.000 unit x Rp 110.000 (0.31 Biaya T.000 unit 80.85) x 11.

serta bahan pembantu berupa tapioka. Adanya tambahan bahan tidak menambah produk yang masuk dari departemen sebelumnya.BAB IV TAMBAHAN BAHAN BAKU PADA DEPARTEMEN DUA ATAU DEPARTEMEN BERIKUTNYA Tambahan bahan baku dapat dilakukan dalam departemen berikut apabila teknik proses produksi mengharuskan demikian.000 ton. yaitu: 1. Apabila tambahan bahan tersebut menambahproduk yang dihasilkan. gondomkem dan zat pemutih bubur kertas (pulp). Proses produksi di departemen ke dua tersebut membutuhkan penarnbahan bahan yang berasal dari serat kayu (woodpulp). Produk dalam proses awal sebanyak . Departemen I bertugas membuat bubur kertas (pulp) yang semua hasilnya diserahkan ke departemen 11. Hal ini berarti dalam departemen ke dua atau departemen berikutnya terjadi penambahan komponen biaya bahan. Apabila tambahan bahan tersebut tidakmenambah produk yang masukdaridepartemen sebelumnyamaka tambahan bahan tersebut hanya akan menambah komponen biaya bahan di departemen yang bersangkutan. 2. Tugas Departemen I1 membuat kertas koran dan departemen 1 1bertugas menyelesaikan produk dan membungkusnya dalam bentuk kertas 1 rool. Informasi yang diperoleh mengenai departemen ke dua adalah sebagai berikut. Pabrik kertas PLAYEN memprodusir kertas koran melalui tiga departemen produksi. Bahan yang diterima dari departemen I sebesar 6. CONTOH KASUS. Bahan baku di departemen I adalah ampas tebu (bargas) dengan bahan pembantu caustic soda dan kaporit. Kedua kemungkinan di atas juga berpengaruh dalam penentuan kos produk dalam departemen tersebut. maka membawa akibat kos per unit produk yang diterima dari departemen sebelumnya harus disesuaikan mengingat outputnya menjadi lebih banyak. Penambahan bahan baku ini secara teknis akan menghasilkan dua kemungkinan. Adanya tambahan bahan menyebabkan tambahan produk yang diterima dari departemen sebelumnya (initial departement).

biaya tenaga kerja langsung 80% dan biaya overhead sebesar 85%. Produk yang masih dalam proses diakhir bulan Maret 1986 sebesar 400 ton. dengan metode Rata-rata. Total biaya bahan pembantu yang terjadi di departemen ke dua sebesar Rp 37. biaya tenaga kerja langsung 90%. Dari informasi di atas. . biaya tenaga kerja langsung Rp 45 dan biaya overhead pabrik Rp 70. dengan metode FIFO (masuk pertama keluar pertama). .500. dapat dihitung komposisi biaya per kg kertas dalam bulan Februari 1986 adalah sebagai benkut: Jenis Biaya Biaya bahan baku Bahan pembantu Biaya tenaga kerja langsung Dept I Rp 225 20 D e ~ I1 t Rp 100 5 Dept 1 1 1 Rp -- 25 40 ~ 30 S O -~ . p-. . Biaya tenaga kerja langsung selama bulan Maret 1986 sebesar Rp 217.. Dengan demikian tambahan bahan di departemen I1 "dianggap" dengan komposisi tersebut.500.000dan biayaoverheadpabrik sebesar Rp 357. 2. Bila tambahan di departemen 11 menambah produk yang diterima dari departemen I. 1.--- 30 40 ~-~ B iaya overhead pabrik ---. Harga bahan baku serat kertas (diimpor dari luar negeri dengan harga franko gudang pabrik) sebesar Rp 5 10per kg. Komposisi campuran bahan adalah setiap 1 kg bubur serat kayu dicampur dengan 4 kg bubur serat bargas. dengan altematip. biaya bahan pembantu Rp 25. Berdasarkan kasus di atas buatlah laporan kos produksi di departemen I1 untuk periode Maret 1986 tersebut.600. dengan tingkat penyelesaian biaya bahan 100%. Tambaharl bahan tersebut menambah jumlah produk yang diterima dari departemen sebelumnya. dan biaya overhead sebesar 80%. 75 Rp 360 Total biaya bulan Februari Rp 185 Rp 95 Berdasar informasi yang diperoleh pada bulan Maret 1986.000. biaya yang diterima dari departemen I untuk setiap 1 kg produk yang diserahkan pada departemen 11 adalah: biaya bahan Rp 220. Laporan kos produksi dapat dibuat dengan kemungkinan-kemungkinan sebagai krikut : a.000.200 ton dengan tingkat penyelesaian biaya bahan loo%. -.. Dalam kasus ini setiap 1 kg bahan akan menghasilkan 1 kg kertas koran.

000 x Rp 5 Biaya Overhead Pabrik.000 kg 2(j0.000. I11 7.500.000.000 (15%) + 7.000 + 400.100.000 Biaya tenaga kerja langsung. Bahan pembantu.000 (85%) x Rp 50 Jurnlah kos PDP awal = 72. adalah sebagai berikut: Biaya bahan = BTKL BOP = = 70. Perhitungan unit ekuivalen dengan metode FIFO dengan anggapantambahan bahan menambah produk. 200. Bila tambahan bahan di departemen I1 tidak menambah produk yang diterima dari departemen I.500. dan 2.000 kg 7.300.700.450.500.000 kg 6. dengan metode FIFO. 1.b.000 (80%) = 7. 200.000 kg Jumlah Perhitungan kos produk dalam proses awal: Biaya yang diterima dari departernen I.000 Rp106.000 (80%) x Rp30 = .000 kg 1.000.000 (90%) = 7.000 kg Produk dalam proses akhir - 2. a.000 kg Perhitungan kuantitas produksi: Produk dalam proses awal Diterima dari departemen I Tambahan bahan Jumlah Produk selesai yang ditransfer ke dept.700.000. 200. dengan metode Rata-rata.000.000 4.000 kg 7.000 (20%) + 7. dengan alternatip. 11.000 kg 400. 200.300.000 8.'100.000 kg x Rp 36 Tambahan bahan di dept.000 kg 200.800. 1.000 = 1.000 + 400.

Perhitungan kos per unit produk adalah sebagai berikut. 200 x 20% x Rp 29 Biaya Overhead Pabrik.613. 400 x Rp 288 biaya bahan.400 x 9 0 % 29 ~ Biaya overhead pabrik.100 x Rp 472 Total biaya produk selesai di departemen 11: Kos produk dalarn proses akhir: dari departemen I.900 Rincian perhitungannya adalah sebagai berikut: Kos produk selesai di departemen I1 (dalam ribuan): Produk dalam proses awal Biaya penyelesaian PDP awal: Biaya Tenaga Kerja Langsung. 200 x 15% x 48 = Kos produk yang diselesaikan di departemen 11. 7. totai kos PDP awal bulan Diterima di departemen I Tambahan bahan di departemen I1 Bahan pembantu di departemen I1 Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik Jumlah biaya ditambahkan departemen I1 Jumlah biaya di departemen I1 Total biaya yang dibebankan Rp 3. 400 x 107 Biaya tenaga kerja langsung. Jenis Biaya unit eqvl.4OO x 80% x 48 Total PDP akhir bulan Total biaya yang dibebankan - .

000 + 400. b. 1.600.000 + 400.000 (15%) + 5.000 (80%) Laporan kos produksi disajlkan pada halaman 75.160. a.000 kg BTKL.000.Apabila tambahan bahan di departemen I1 tidak menambah produk yang dihasilkan dari departemen I dengan metode FIFO. b.000 (90%) = 6.000 kg 6. Apabila kasus tarnbahan bahan tidak menambah proauk ini disusun dengan metode rata-rata. Bila tambahan bahan mengakibatkantambahan produk yang ditenma dari departemen I dengan metode rata-rata.000 . Dengan menggunakan metode FIFO maka perhitungan unit ekuivalen dan adalah sebagai berikut: Biaya bahan = 6.800.2.000 kg 6.000 kg - Lapolan kos produksi disajikan pada halaman 76.200. 200.200. Perhitungan unit ekuivalen dengan metode rata-rata sebagai berikut: Biayabahan BTKL BOP = = 5. Periksa halaman 74.000 (20%) + 5.2.000 kg BOP = 200.000 kg 6.950.000. .140.Berdasarkan rincian perhitungan di atas disusun laporan kos produksi yang disajikan pada halaman 73 berikut.

I1 Bulan Maret 1986 A.500 7. I11 Produk dalam proses akhir Jumlah B.900 C.450 total kos (000) Rp 106.300 2. Perhitungan kos per unit produk: Biaya PDP awal Diterima dari departemen I Tambahan bahan di departemen I1 Bahan pembantu di departemen I1 Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik Jumlah biaya ditambahkan dept. 400 x 90% x 29 Biaya overhead pabrik.600 Rp 1.400 x 107 Biaya tenaga kerja langsung. I1 Kos produk dalam proses akhir: dari departemen 1.500 7. 7. Perhitungan kos yang dibebankan kepada produk: Kos produk selesai di departemen I1 (dalam ribuan): Produk dalam proses awal Biaya penyelesaian PDP awal: Biaya Tenaga Kerja Langsung.PABRIK KERTAS PLAYEN LAPORAN KOS PRODUKSI DEPT.500 7.7. I1 Jumlah biaya di departemen I1 Total biaya yang dibebankan unit eqvl. Perhitungan kuantitas produksi: Produk dalam proses awal Diterima dari departemen I Tambahan bahan Jumlah Produk selesai yang ditransfer ke dept.500 7.377.100 x Rp 472 Total biaya produk selesai di dept.537.000 37.643.200 x 15% x 48 Kos produk yang diselesaikan di departemen II.160.000 765.400 x Rp 288 biaya bahan.500 357.400 x 80% x 48 Total PDP akhir bulan Total biaya yang dibebankan Peraga 4. 200 x 20% x Rp 29 Biaya Overhead Pabrik.500 217.600 RD 3.600 Rp 3.1 Laporan Kos Produksi dengan Metode FIFO .

000 kg 6.000 kg 7. 7.000 kg 1.000.548 Rp 3. 400 x 80% x 48.88 Rp 3.biaya bahan pembantu. 400 x 101.OO .BOP.000 kg B.80 Total PDP akhir bulan: Total biaya yang dibebankan Peraga 4.447.000. Perhitungan kos per unit produk: C.500. Perhitungan kuantitas produksi: Produk dalam proses awal Diterima dari departemen I Tambahan bahan di depzrtemen I1 Produk selesai yang ditransfer ke departemen I11 Produk dalam proses akhir 200.372.02 10.780.0000 7.BTKL.643.872 .biaya bahan.300.04 15.459 324 Kos produk dalam proses akhir: .OO . 400 x Up 289.948.PABRIK KERTAS PLAYEN LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN I1 Bulan Maret 1986 A. 400 x 90% x 29.87 Rp 115. Perhitungan kos yang dibebankan kepada produk (dalam ribuan rupiah): Kos produk yang ditransfer ke dept 111.dari departemen I.700.20 .95 .000 kg 400- 7.300 kg x Rp473.2 Laporan Kos Produksi dengan Metode Rata-rata RD 184.700.00 40. 400 x 5 2.

-~ .25 .1 13.~ ~ Rp Rp 3.553.377.450 BOP.300 -6.00 49.600 x Rp590. tambahan bahan tidak menambah produk (output).304.945.IO - Rp 109.537. Perhitungan kuantitas produksi: Produk dalam proses awal Diterima dari departemen I Produk selesai yang ditransfer ke departemen 111 Produk dalam proses akhir B. ~ -- Unit eqvl.Dari departemen I.414.058.Biaya bahan.500 6. Total biaya (000) (000) Rp 106. 200 x 20% x Rp 36. 400 x Rp 360 .000 2 17.560.050.00 Rp Rp 144.900 C. dengan Metode FIFO.3.000 765.00 Rp 21.PABRIK KERTAS PLAYEN LAPORAN KOS PRODUKSI DEPARTEMEN I1 Bulan Maret 1986 A.000 6. 227.000 6.803 -.643.75 .10 = Total biaya produk selesai di departemen 11 Kos produk dalam proses akhir: . 400 x 80% x 60. -~ ~ -~.500.500 5.Biaya Overhead Pabrik.395.000.160.60 . 200 x 15% x 60. Perhitungan kos yang dibebankan kepada produk: Kos produk selesai di departemen I1 (dalam ribuan): Produk dalam proses awal Rp 106. 400 x 90% x 36.00 3.950 357.000 37.25 = Rp 1.Biaya Tenaga kerja Langsung.60 Rp 3..300 Biaya penyelesaian produk dalam proses (PDP) awal: BTKL.3 Laporan Kos Produks.600 ~ Jumlah biaya di departemen I1 .600 Rp 1.00 3.600 .10 = Rp 1. Perhitungan kos per unit produk: Jenis Biaya PDP awal buian Diterima dari departemen I Tambahan bahan di departemen I1 Bahan pembantu di departemen I1 Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik Jumlah biaya ditambahkan dept I1 ~- .000 2.253 Kos produk dalam proses awal Kos produk yang diselesaikan di departemen 11: 5. 100 x 123.642. .00 13. - - Total biaya yang dibebankan 3..60 RD Total Produk Dalam Proses ahhir bulan: Total biaya yang dibebankan Peraga 4.

Rp 3.300 366.200.900 6.644 .biaya bahan:400 x 126.61 2.600 3.000 kg Produk selesai yang ditransfer ke departemen 1 1 5.537.40 .biaya bahan pembantu:400 x 6.41 1.000 kg 1 400.414.80 .800 kg x Rp 588.120 36.000 kg Produk dalam proses akhir 6.80 b3.73 Kos produk dalam proses akhir: Rp 144. Jumlah Total 4.600 1.BTKL: 400 x 90% x 36.K. Perhitungan kos per unit produk (dalam 000): Biaya T.643.262. Biaya Overhead Pb.000 106.40 .09 5932 228.dari departemen I:400 x Rp360 50.09 19.454 .82 Total PDP akhir bulan: Total biaya yang dibebankan RD 29.900 3.000 kg 6.BOP: 400 x 80% x 59.142.377.000 kg B.100 1.643.000 kg 6.73 588.000.992.896.500 357. Langs.200.800.600 222. I1 Bulan Maret 1986 A. Perhitungan kos yang dibebankan kepada produk (dalam ribuan rupiah): Kos produk yang ditransfer ke departemen 111.800 8.21 12.73 C.000 .300 217.160 6.634 5. Perhitungan kuantitas produksi: Produk dalarn proses awal Diterima dari departemen I 200.500 33.PABRIK KERTAS PLAYEN LAPORAN KOS PRODUKSI DEPT.

Persoalannya akan menjadi lain apabila ketiga produk yang dihasilkan dalam proses ketiga tersebut mempunyai nilai ekonomis yang relative sama.Sehingga produk yang tidak mempunyai nilai ekonomis dianggap sebagai limbah industri. Namun bila ditinjau dari nilai ekonomisnya (nilai jual) maka kristal gula mempunyai peran yang sangat dominan. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa produk bersama adalah beberapa macam produk yang dihasilkan secara simultan dalam suatu proses yang nilai total masing-masing produk tersebut relatip sama. Produk sampingan sebetulnya tidak dikehendalu tetapi temyatamasih mempunyai nilai ekonomis bagi pihak lain. Meskipun sebenarnya berapa biaya yang diserap akan berbeda-beda tetapi produk yang dihasilkan akan menunjukkan kuantitas yang tidak akan jauh berbeda. produk sampingan adalah suatu proses yang nilai total produk atau produk-produk tersebut relatip kecil dibanding dengan produk utama. Apabila suatu proses produksi menghasilkan bekferapamacam produk. Jadi dapat disimpulkan. telah disajikan bagan proses produksi pabrik gula. Ketiga macam produk tersebut dihasilkan secara simultan dalam suatu proses di departemen 111. Dalam bab dua. Hanya saja tujuan dan nilai produk yang dihasilkan tersebut mungkin secaraekonornis tidak bermanfaat bagi perusahaaqlmasyarakat.BAB V PENENTUAN KOS PRODUK BERSAMA DAN PRODUK SAMPINGAN Perusahaan yang mengolah produk dengan proses kimia selalu menghasilkan lebih dari satu produk. . Hal ini disebabkan input produksi akan menghasilkan secara langsung dan simultan dalam suatu reaksi kimia. Tentunya ketiga produk tersebut akan dianggap sebagai produk bersama. maka akan timbul masalah dalam penentuan berapa kos untukmasing-masing produk yang dihasilkanoleh departemen tersebut. sedangkan terhadap tetes yang nilai ekonomisnya jauh lebih rendah daripada gula diperlakukan sebagai produk sampingan. Secara kebetulan komposisi tonase ketiga macam produk yang dikeluarkan dari departemen 111tersebut hampir sama. Proses tersebut menghasilkan beberapa macam produk yang perlakuannya terhadap masing-masing produk tersebut berbeda-beda. Bahkan untuk blotong sama sekali tidak mempunyai nilai guna apapun sehingga dikategorikan sebagai limbah industri. Sehingga krislal gula menjadi produk utama.

A. Biaya bersama semacam ini terjadi dalam industri yang menggunakan proses produksi dengan metode pesanan (job order) atau proses asembling. namun kornponen biaya overheadtip sama. Hasil penjualan produk sampingan setelah dikurangi dengan biaya penjualan produk sampingandan tambahan biayadalampenyempurnaan produk sampingan langsung masuk ke laporan rugi-laba dengan cara i yang sama dengan metode 1. Menggunakan metode kos pengganti (replacement cost). Oleh karena komponen biayanya sama maka kos untuk kasus semacam ini disebut sebagai biaya bersama (join cost). Metode 2: Metode 3: . Biaya bersama tidak selalu terjadi dalam industri yang menggunakan metode proses saja. Biaya bersama timbul sejak dimulainya proses produksi sampai saat terjadinya pemisahan produk (split ofl menjadi beberapa produk. Namun mengingat manajemen memerlukan inforniasi yang dapat menggambarkan berapa komposisi biaya produk sampingan dalatn seluruh kornpoilen kos produk. kiranya perlu dipecahkan dengan rasional.Baik produk sampingan maupun produk bersarna diolah dalam satu proses produksi yang sama pula.&an sebagaipengurangan kos produksi. hanya saja bentuk output yang dihasilkan tidak berupa produk sampingan ataupun produk bersama. Biaya bersama tidak dialokasikan kepada produk sa~npingan Metode X 1: hasil penjualan produk sampingan langsung n~asuk laporan rugike laba sebagai: pendapatan lain-lain. karena biaya bersarna yang terjadi sebetulnya sangat sulit dipecah untuk dialokasikan kepada beberapa produk yang dihasilkannya. tambahan terhadap pendapatan penjualan. Dalarn kasus lain dapat pula terjadi biaya bersama.head cost). Biaya bersama semacam ini mempunyai komponen biaya bahan dan biaya lcnaga kerja yang berbeda untuk masing-masing produk. yaitu: 1. Metode alokasi yang dapat diterima dalam akuntansi produk sarnpingan dapat dibagi dalam dua kategori. Kebersamaan biaya dapat terbentuk bukan karena kesamaan proses sejak awal proses sampai saat split off. Dengan demikian komponen biaya untuk ketiga macam produk tersebut terdiri dari komponen biaya yang s m a pula. tetapi kebersamaan biaya dapat pula timbul karena penggunaan fasilitas produksi yang sarna. sebagaipengurangan kos penjualan. Apabila dernikian halnya maka disebut biaya overhead bersama (joint ovei. PENENTUAN KOS PRODUK SAMPINGAN Penentuan kos produk sampingan sebetulnya sangat sulit.

OO 238. Sebagian biaya bersama dialokasikan kepada produk sampingan dengan memberhatikan berapa biaya yang dialokasikan dan tambahan biaya untuk penyempurnaan produk sampingan tersebut.500per ton.000.000. Pada departemen 111dihasilkanbeberapaproduk AZ.OO per ton. Selanjutnya apabila telah diketahui berapa biaya bersama yang timbul dalarn produksi tersebut baru dapat ditentukan berapa pembebanan kos produksi pada produk utama. Produk yang dihasilkanAX.500 ton. 2.00 26.690.190. Dalam kategori ini dikenal metode yang keempat .00 Rp 275. biaya konversi 85%).000.00 Rp 3. Produk sampingan CZ laku dijual dengah harga Rp 400.000. Produk yang masih dalam proses akhir sebanyak 200 ton (biaya konversi 100%.00 Hargajual produk utama AZ adalah = Rp 1. BZ tidak laku dijual dan diperlakukan sebagai limbah industri. JAWABAN KASUS Pembebanan kos produk terlebih dahulu harus memperhatikan laporan kos produksi pada periode yang bersangkutan.biaya konversi 80%). Metode 4: Metode nilai pasar (reversal cost) CO'NTOH KASUS PT XYZ memprodusir produk melalui tiga departemen produksi.OO 202. Komposisi biaya dalam bulan ini adalah: Jenis Biaya Biaya dari dept. produk yang masih dalan proses awal 150ton (Biaya bahan 100%. Laporan kuantitas produk yang disajikan dalarn bulan Juni 1980 adalah sebagai berikut: Diterima dari departemen I1 sebanyak 2. dan CZ.00 24. I1 Biaya tenaga kerja Biaya overhead Total biaya PDP Awal Rp 225.180 ton.2. BZ. Berdasarkan data di atas tentukan berapa kos produk utama. Laporan kos produksi di departemen 111 disajikan dalam halaman berikut. . BX 50 ton dan CX 220 ton.200.000.OO Kos bulan ini Rp 2.000.000.

500.LAPORAN KOS PRODUKSI DEPT.00 Biaya overhead.00 18. Pencatatan hasil penjualan produk sarnpingan dalam jurnal penjualan adalah sebagai berikut: .00 Total Kos PDP akhir 255. 200 x 85% x Rp100.00 Rp 220.P. C.000. Kuantitas produk yang dihasilkan: Produk rnasuk dalam proses Produk dalam proses (awal) Produk selesai bulan ini: Produk AZ. Perhitungan kos per unit produk (dalam ribuan rupiah): Biaya overhead Pb.700.650 ton 2. 200 x 85% x Rpl10.Hal ini mengingat tujuan utama produksidalarnproses tersebutuntukmenghasilkan produkutamasaja. I11 Bulan Maret 1980 A.3 10.200 ton x Rp1.1 80 ton 50 ton 220 ton 700 ton 2. Produk CZ.209.650 ton B.465.2. Produk dalam proses (akhir) 2. 11. Produk BZ.OO Rp 3.450 ton x Rp 1.000. Perhitungan kos yang dibebankan kepada produk: Kos produk bersarna.00 = Kos produk dalam proses akhir: Biaya dari dept.OO Total H.00 17.100.500 ton 1 SO ton 2.OO Metode pertama Berapa besarnya kos produk sampingan yang terjadi selama satu periode tidak perlu dihitung.700.00 Biaya tenaga kerja. yang dibebankan bulan ini. Rp 3.Nilai penjualan produksampingantersebutdianggap sebagaipenghasilan tambahan yang secara langsung dapat dilaporkan dalarn laporan rugi-laba.200.

200.00 3.KaslPiutang Dagang Penjualan produk sampingan Rekening penjualan produk sampingan tersebut di atas pada akhir periode dapat disajikan dengan salah satu cara berikut: a. Sebagai contoh kasus di atas.800. b.400. Sebagai pengurangan kos penjualan. dalam metode kedua dihadapkan masalah bahwa penjualan produk sampingantersebut membutuhkansejurnlahbiayauntukmemasarkannya. d. Metode kedua Berbeda dengan metode pertama. Selanjutnyadalampenyajian laporanrugflabaakan diperlakukan sebagai pengurang kos produk utarna. Misalnyauntuk pembungkusan. Hal ini mengingatbiaya-biaya yang timbul karenapenjualan produk sampingan tersebut dapat ditelusuri jejaknya. Sebagai salah satu unsur pendapatan lain-lain. c. .penyimpanan produk sampingan dan pengiriman barang. Sebagai unsur pengurang kos produksi periode tersebut. Sebagaisalah satuunsurpendapatandan langsung disajikansebagaielemenpendapatan. Dalam metode kedua ini berapa besarnya kos produk sampingan tidak perlu dihitung. namun biaya-biaya yang timbul dalam rangka menjual produk sampingan tersebut tidak boleh ikut dibebankan sebagai pengurangan terhadap hasil penjualan produk utama.00 Rp 8.OO Biaya-biaya yang timbul dalam penjualanproduk sampingan tersebut akan ditampung dalarnrekeningtersendiri. apabila biaya-biaya yang timbul dari penjualan produk sampingan diketahui sebagai berikut: Biaya pembungkusan Biaya pengiriman produk sampingan Biaya administrasilpemasaran Rp 4.

00 Rp 88. Metode keempat Metocle keempat ditemukan dalam suatu perusahaan yang menghasilkan produk sampingan yang masih memerlukan proses lanjutan agar produk sampingan tersebut dapat dijual kepada konsumen. Dengan demikian diperlukan nilai pengganti untuk jenis bahan yang sama dengan mernperbandingkannyadengan nilai jual yang berlaku di pasaran terhadap bahan yang sama.00 Produk sampingan . Bahan-bahan tersebut telah tersedia dari dalam perusahaan sendiri sebagai sisa proses produk lainnya atau sebagai produk sampingan dari sesuatu proses prduksi.800.000.000. Untuk selanjutnya kos produk sampingan ditentukan dengan nilai jual (market value) produk sejenis yang berlaku saat itu. Informasi tersebut dibutuhkan untuk menghitung berapa besarnya kos produk sampingan dan sampai sejauh mana keuntungan yang diperoleh dengan penjualan produk sarnpingan tersebut.600.Metode ketiga Metode ketiga terjadi untuk perusahaan yang memproduksi produk. Dalam kasus di atas diperoleh informasi tambahan sebagai berikut: Perusahaan mengambil profit margin sebesar 20% dari harga jual masing-masing produk sampingan.500. Biaya pembungkusan Biaya tenaga kerja Biaya pengiriman produk sampingan Biaya administrasilpemasaran Jumlah biaya 3.00 8.00 Berdasarkan kasus tersebut di atas maka biaya bersarna yang terjadi dapat dihitung dengan cara sebagai kxikut: Jenis biaya Kos produk bersama Nilai jual produk sampingan Taksiran laba kotor produk sampingan: Produk utama Rp 3.209. namun bahan baku yang dibutuhkan dalam proses tersebut tidak memerlukan dari luar perusahaan.00 Rp 22.

I Laba 25% dari nilai jual Biaya pemasaran(Rp8.00 B. Namun demikian gambaran komposisi biaya produk sampingan yang disajikan dengan rasional kiranya akan membantu manajemen dalam mengendalikan operasi perusahaan. Disadari tidak ada cara yang tepat untuk melakukan alokasi biaya bersama kepada produk bersama. Alokasi biaya bersama kepada masing-masing produk bersama dapal dilakukan ~nelalui salah satu dari keernpat metode berikut: .88 Rp Rp 53. PENENTUAN KOS UNTUK PRODUK BERSAMA Seperti halnya dalam akuntansi produk sampingan. inaka dalam produk bersamapun ditemukan kesulitan dalam menentukan cara yang tepat untuk menentukan alokasi hiaya bersama tersebut.800) Total taksiran laba kotor Taksiran biaya setelah pemisahan produk: Biaya pembungkusan Biaya tenaga kerja Total taksiran biaya setelah pemisahan Jumlah penilaian produk utarna Kos produk utama (taksiran) Ditambah: Biaya sesungguhnya setelah pemisahan produk Total biaya dibebankan pada produk sampingan Tokl kuantitas produksi Kos per unit produk Rp 2.451.600 + Rp3.600.00 200 ton 278.180 ton 1.

500 per ton. metode rata-rata biaya per satuan.000.00 275.000 ton. metode nilai jual relatif.000.200.00 per ton.OO 238. 4.00 Kos bulan ini 2. biaya konversi 85%).00 3.OO 24. Produk yang masih dalarn proses akhir sebanyak 200 ton (biaya konversi loo%. BX 700 ton dan CX 750 ton. Laporan kuantitas produk yang disajikan dalam bulan Juni 1980 adalah sebagai berikut: Diterima dari departemen I1 sebanyak 2. Kos biaya bersama dalarn perhitungan berikut ini berdasarkan metode metode rata-rata. Jawaban kasus Sebelum alokasi biaya bersama dilakukan. produk yang masih dalam proses awal150 ton (biaya bahan loo%. metode rata-rata tertimbang.00 per ton dan CX = Rp 1. biaya konversi 80%).OO Harga jual masing-masing produk di pasar adalah AX = Rp 1.1.000.000.00 26. 1.000.300. 2. Produk yang dihasilkan AX. BX = Rp 1. Komposisi biaia dalam bulan ini adalah: Jenis biaya Biaya dari departemen I1 Biaya tenaga kerja Biaya overhead Total biaya PDP awal 225.000. terlebih dahulu harus ditentukan berapa besarnya biaya bersama selama satu periode.500 ton. 3. Berdasarkan data di atas tentukan berapa kos untuk masing-masing produk. BX.690. dan CX. metode satuan phisik.000.OO 262.400. . CONTOH KASUS PT XYZ memproduksi produk melalui tiga departemen produksi.190. Pada departemen I11 dihasilkan beberapa produk AX.

000 262.100.00 Rp 3. Perhitungan kos yang dibebankan kepada produk: Kos produk bersama.500.3 10.00 = Kos produk dalam proses akhir: Biaya dari dept II.000 26.000.700.465.650 ton B.000 Biaya di dept.00 100.00 Kos dept. 2.00 200 ton x 85% x Rp110.620 Kos/ unit 1. 11: Biaya tenaga kerja 1s. Biaya overhead pabrik Jurnlah 50.000 500.450 ton x Rp1.620 2. I11 Bulan Maret 1980 A.00 210.000 ton 700 ton 750 ton 200 ton 2.190.690.000 250.00 110.000 C.200 Ekvl.200 2.00 .LAPORAN KOS PRODUKSI DEPT.500 ton 150 ton 2. Perhitungan kos per unit produk (rata-rata): Jenis biaya PDP awal Kos bln ini Total 2.00 1.000 24.000 288.200 Total biaya dibebankan 275.00 - 18.000 262.915.200 3.650 ton Produk selesai bulan ini: Produk AX Produk BX Produk CX Produk dalam proses (akhir) 1.200 238. = Rp 220.200 ton x Rp1.209.310.100.2.000 3.00 Biaya tenaga kerja. sebelumnya 225. Kuantitas produk yang dihasilkan: Produk masuk dalam proses Produk dalam proses (awal) 2.650 2.

OO 3.450 ton Kp 1.300.500.000.000.OO Total - Rp 1.700.500.OO D.310.310.86 1. 100.00 1.000.500. maka untuk masingmasing produk diberikan suatu bobot sebagai angka pengimbang.Biaya overhead 200 x 85% x Rpl.P per ton ProdukAX 1.460.OO Up 982.318.OO Apabila alokasi biaya bersama dihitung berdasarkan kos per unit produk yang dihasilkan maka alokasi biaya bersama untuk masing-masing produk adalah: Produk AX. yang dibebankan bulan ini = Rp 17.32 Produk BX Produk CX total 700 1.50 4.500. jual Nilai jual% n.00 1.465.500. Bobot tessebut ditentukan manajemen secara relative dengan memperhatikan nilai bakan yang .OO 3.OO 9 17.25 1.209.351.OO Rp Rp 982.205.000.000 ton 700 ton 750 ton 2.391.00 Apabila alokasi biaya bersama disajikan berdasarkan kuantitas produk yans dihasilkan maka dalarn Laporan Kos Produksi disajikan ctengan rincian sebag~i berikut: Jenis produk Kuanl~tas Produk Alokasi R m Produk AX Produk BX Produk CX Total 1.000.OO Apabila alokasi menggunakan metode rata-rata tertimbang.3084 4. jual alokasi H.000 1.OO Produk BX.P.i)O Rp 3.310.000.500.00 9 17.098. 750 x 1.00 Rp 3.?09. Alokasi biaya bersama (metode relative): Jenis produk kuantitas Hg.200.00 910.00 26.050.298. 700 x 1.00 total Kos PDP akhir total H.400.39 1.25 Rp1.500.310.310.OO Rp 255.OO Produk CX.00 30.209.000.OO 43. 1.78 750 1.OO 100.000.000 x Rp 1.083.000.3597 3.

D. Pernilihan metode tersebut harus memperhatikan kondisi yang ada dalam proses produksi dan penjualan produk bersama. waktu yang digunakan. C sebesar 10.000. Perusahaan mengeluarkan biaya produksi setelah departemen pemisahan (after separable cost) untuk masing-masing produk adalah.00. produk A Rp 0.00. PEMBEBANAN BIAYA PROIIUKSI BERSAMA SETELAH DEPARTEMEN PEMISAH PRODUK Baik terhadap produk sampingan maupun produk bersama dapat diproses lebih lanjut sebelum produk tersebut dijual pada konsumen.000.000.865. Biaya yang terjadi di departemen I sebesar Rp 80. Nilai jual per unit produk setelah melalui proses lanjutan adalah. Proses lanjutan ini ditnaksudkan untuk tnenyempurnakan produk agar dapat menarik para konsumen.00 dan produk D sebesar Rp 28.000.00.digunakan. tingkat kesulitan proses produksi. produk A Rp 2.000 unit dan produk D sebesar 15. PT XYZ menghasilkan produk bersama A. produk B 15.600 Rp 3.37 783. B. produk B Rp 10. produk C Rp 10. Seandainya produk AX mempunyai total bobot 5. Berdasarkaninformasitersebut hams dilakukanalokasibiayaapabilaalokasididasarkan pada nilai jual relatip perhitungannya adalah sebagai berikut: .000 2.51 8. jumlah tenaga kerja yang digunakan dan lain-lain.100 1.000 unit. Produk yang dihasilkan dari departemen I1 untuk keempat produk masing-masing A sebesar 20.50.000 unit.000 ton 700 ton 750 ton 5 3 2 5. produk B Rp $00 produk C Rp 4.715.000.00.796. BX 3 dan CX 2 maka alokasi biaya adalah sebagai berikut: Jenis produk jumlah produk bobot bobot x alokasi biaya jumlah produk bersama Produk AX Produk BX Produk CX Jumlah 1. Laba kotor diketahui rata-rata sebesar 60 %.209.988. Sebagai contoh.12 J R 559.500 Rp 1. C. Keempat produk tersebut dihasilkan secara simultan di departemen I1 dengan menyerap biaya sebesar Rp 40.50 dan produk D Rp 8.000.00. Adanya proses lanjutan tersebut menyebabkan tarnbahan biaya yang harus dibebankan pada produk tersebut.00.000unit.500.00 Dari keempat altematipmetodetersebut di atas dapat dipilihsalah satudiantaranya. C.

000.00 52.00 39.00 49.000.OO 170.00 70.00 28.000.00 10.000.000.P 60% Total nilai jual % biaya - (Rp) .00 8.- total harga biaya setelah nilai jual jual pernisahan H.000 (Re) 10.800.50 5.000.00 31.00 4.000.00 50.00 10.000.000 15.00 68.000 120.000.00 Total 250.3 683 69.OO 200.O 65.000.200..800.00 10.000.00 15.000.OO 21.OO 68.00 83.000.Jenis hrg jual kuantitas produk per unit produksi .P.00 4.000.O .00 65.000.000.000.000 45.000.000.50 8.000.00 6.200.000.OO 120.00 2.OO 35.-- - (unit) 20.00 92.1 ProdukA ProdukB Produk C Produk D 0.

manajemen dihadapkan pada persoalan estimasi terhadap kejadian-kejadian yang belum pasti. Anggaran adalah perencanaan operasi perusahaan di masa yang akan datang dan diwujudkan dalam satuan mata uang. 4. Perencanaan kegiatan tersebut akan mudah ditetapkan bila menggunakan norma atau ukuran yang lebih tepat. Membantu dalam pengendalian biaya. sehingga sangat membantu manajemen dalam proses pengambilan keputusan. Manfaat lainnya antara lain untuk Inventory pricing. Informasi berapa besarnya penyimpangan (variance) tersebut sangat membantu bagian produksi untuk memperbaikinya. Membantu dalam perumusan anggaran perusahaan. Standard kos ditetapkan dengan berbagai tujuan. .BAB VI PENENTUAN KOS STANDAR Kata standard memberikan suatu pengertian norma yang digunakanuntuk melakukan pengukuran. 3. Dalarn upaya menyusun anggaran. tanpa menunggu berakhirnya satu periode proses produksi untuk metode Proses Costing atau untuk satu job (batch production)untuk metode Job Order Costing. 2. untuk memudahkan pencatatan kos produksi dan lain-lain. Dengan demikian manager produksi terbantu dalam upaya menekan kos produksi serendah mungkin. Sebagai dasar penentuan kos produksi. artinya suatu standard yang dibentuk sebagai norma pengukuran kos produksi. antara lain: 1. Dalam ha1 ini kos produksi dapat ditentukan dimuka (terlebih dahulu). Ini berarti mengupayakan efisiensi proses produksi dan meningkatkankeuntungan perusahaan. Adanya kos standard dapat memberikan garnbaran mengenai penyimpangan produksi dibandingkan dengan norma yang ditetapkan. Dengan demikianinformasikos produksi dapat disajikan dengan lebih cepat. Dalarn hubungannya dengan akuntansi biaya dikenal pengertian standard cost.

Dapat pula berdasarkan rumus kimia dalam proses produksi suatu barang.Meskipun dalam kenyataannya ideal standard tidak bisa pemah dicapai. . Yaitu. PENENTUAN STANDARD Kos standard terdiri dari dua kategori yaitu kuantitas standar dan t~arga standard (tarip standar). Berdasarkan rumusan kimia dengan memperhatikan kemampuan teknis produksi mesin yang terpasang. Yaitu. Actual standard.A. kebutuhan bahan dan lain-lain). Melakukan test dengan kondisi tertentu. jam mesin. Basic standard. Komponen biaya yang ditetapkan sebagai standard menggunakankapasitasoptimal (kapasitas 100%). Standar untuk bahan baku 1. Basic standard disebut pula sebagai Fixed standard. jam produksi. Attainable standard. 3. B. Kuantitas standar ditetapkan berdasarkan penelitian di rnasa yang lalu mengenai kuantitas hasil produksi (unit produksi. 4. Kos standard ditetapkan berdasarkan harga (normal) yang terjadi di masa yang lalu 1. standard yang didasarkan pada tingkat efisiensi tertinggi sesuai dengan kemampuan operasional peralatan dan aparat personel yang mendukungnya. c. Yaitu. Standard ideal (standard teoritis). standard yang digunskan d m berlaku pada pcriode produksi tertentu. 2. Standard kuantitas penggunaan bahan (material usage standard) ditetapkan berdasarkan hal-ha1 sebagai berikut: a. standardyang dihitung atas dasarkondisi yang diharzpkanyang diharapkan dalarn suatu proses produksi. b. JENIS-JENIS STANDAR 1. Yaitu standard yang ditetapkan sebagai basic tidak akan dirubah. Berdasarkan penelitian di bagian produksi mengenai hasil produksi dimasa yang lalu. Standard tersebut digunakan sesuai dengan rcncarla produksi dalam kunin waktu tertentu saja. Standard ini ditetapkan karena manajemen menghendaki pemanfaatan secara optimal terhadap suatu proses produksi dalam kumn waktu tertentu.

ILUSTRASI TERHADAP PENENTUAN 1. Jam standar. Standard kuantitas pemakaian bahan baku untuk produksi bulan ini 3. Bahan yang digunakan 3. Perhitungan selisih.600 .550 kg selama satu bulan. Jam (kuantitas) standar.750 Rp 3. tetapi pernisahan biaya tersebut tetap harus diakukan. Kuantitas sesungguhnya x (tarip sesungguhnya .350 Rp 8. Tarip upah standar.tarip standard) = Rp 12.47. C. Biaya bahan sesungguhnya Biaya bahan menurut standard Selisih biaya bahan Selisih harga pembelian bahan.ditetapkanberdasarkanpenelitianmengenai gerakdanwaktu dengan memperhatikan ratio industri. Harga standar.1) 2. Bahan baku yang dibelidalambulan ii5. standard n kos bahan baku per kg Rp 2.2. Standar untuk biaya tenaga kerja langsung (BTKL) 1. 2.000 kg a Rp 2.500 kg. Harga (tarip) standard. (perhatikan 2. ditetapkan berdasarkan kesepakatan dengan buruh (labor bargaining) atau peraturan perburuhan yang berlaku). Standar untuk biaya overhead pabrik 1. Analisis Selisih kos bahan baku Inforrnasiyang diperolehdari bagian akuntansibiaya adalah sebagaiberikut. Dalam rangka penentuan tarip biaya overheadpabrik harus diperhatikanadanya biaya semi variabel. Hal ii untuk mempermudah proses analisis terjadinya variasi biaya overhead pabrik dalam proses produksi. ditetapkan berdasarkan pengalaman di masa yang lalu dan memperhatikan perubahan-perubahan yang akan terjadi di masa yang akan datang. Meskipun biaya semi variabel padadasarnyasulit dipisahkanmenjadi biaya n tetap dan biaya variabel. terlebih dahulu harus ditetapkan berapa besarnya biaya tetap dan biaya variabel sebagai standar. 3. Standard untuk biaya overhead pabrik menggunakan flexible budget.50. 2.

Pelaksana (mandor) yang menyimpang dari rencana produksi yang telah ditetapkan. (kuantitas sesungguhnya . 2. 4. terutama bila harga bahan baku sangat dipengaruhi oleh keadaan pasar. Terdapat kesalahan di dalam perencanaan produksi.3. 2. 3. Pihak yang bertanggungjawab atas terjadinya penyimpangan: 1. Pencatatan dengan metode single plan PDP biaya bahan Material quantity variance Persediaan bahan baku Persediaan bahan baku Utang dagang. Bagian production control 2. Kepala bagian produksi 3. Selisih kuantitas (pemakaian) bahan.47 .550 kg) x Rp 2. Terjadi kesalahan dalam kebijaksanaan pembelian bahan.50) = Rp 150 (selisih laba) Kemungkinan penyebab terjadinya selisih harga pembelian bahan: 1. Pihak yang bertanggungjawab atas terjadinya penyimpangan harga adalah bagian pembelian.50 = Rp 125 (selisih rugi) Kemungkinan penyebab terjadinya selisih kuantitas bahan: 1.550 kg .5. Seringkali ditemukan faktor-faktor di luar kekuasaan perusahaan (bagian pembelian).Rp 2. Ada tendensi harga-hargaumum yang memang mengalamikenaikan atau penurunan.000 kg x (Rp 2. Material purchase price variance .kuantitas standard) x tarip standard = (3. bila bagian ini tidak mampu memperoleh bahan baku dengan kualitas yang ditetapkan. Ditemukan bahan-bahan subtitusi yang memungkinkan proses produksi menjadi lebih efisien. Terdapat efisiensilinefisiensidalam penggunaan bahan. Bagian pembelian.

Rp 150 Utang dagang Rp 12.Selisih hargl pmbelian - .47 . .Rp 2.550 unit x (Rp 2.tarip sesungguhnya) = 3.50) = Rp 106.50 (selisih laba).350 Persediaan Bahan Baku Pencatatan dengan metode partial plan Persediaan bahan baku Utang dagang PDP Persediaan bahan baku Material quantity variance Material price variance Persediaan bahan baku Selisih kuantitas Selisih harga pmbelian Rp 150 -T-PDP biaya bahan Utang dagang l Persediaan Bahan Baku Perhitungan material usage variance Bahan yang dipakai x (tarip standard .

880jam x (Rp 6. Perhitungan total selisih: Biaya tenaga kerja langsung (actual) Biaya tenaga kerja yang dibebankan Total selisih Perhitungan selisih upah.00 = Rp 1. Jumal yang hams dibuat.50 .2.tarip standard) = 1. (jam sesungguhnya -jam standard) x tarip standard = (1.880jam. Selisih efisiensi. Informasimengenaikos BTKL adalahsebagaiberikut.Jam kerja sesungguhnya 1.500 jam dengan tarip standard sebesar Rp 6. Standard waktu untuk produksi pada bulan ini 1.00 per jam. I Tarip sesungguhnya (actual paid) Rp 6.1.740.00 (selisih rugi).880 jam .OO) = Rp 940.500jam) x Rp 6.50 per jam.Rp 6. Analisis selisih biaya tenaga kerja langsung.OO (selisih rugi).biaya tenaga kerja langsung Selisih tarip upah Selisih efisiensi waktu Biaya upah . jam sesungguhnya x (tarip sesungguhnya . sebagai berikut: Biaya gaji dan upah Hutang gaji PDP .

yaitu: .tenaga kerja Biaya gaji dan upah Pencatatan dengan metode partial plan Selisih tarip upah Selisih efisiensi waktu R T PDP b i a r tenaga kerja Rp 9. Sehingga apabila perusahaan dalam suatu periode merencanakan untuk memproduksi dengan kapasitas tertentu. maka standard yang digunakan sesuai dengan anggaran untuk kapasitas yang direncanakan dalam anggaran fleksibel tersebut. yaitu tarip standardpada kapasitasnormal.540 Biaya gaji dan upah 3. Selisih biaya overhead pabrik. terdapat tiga macam metode analisis selisih. Di dalam anggaran fleksibel tersebut disusun rancangan produksi untuk berbagai kapasitas.Pencatatan dengan metode single plan Selisih tarip upah Selisih efisiensi waktu Rp 1. Di dalarn analisis selisih untuk biaya overhead pabrik terdiri dari tiga macam tarip.740 I PDP biaya. produksi dengan kapasitas 80%. Untuk mengetahui selisih yang terjadi dalam kos standard. Misalnya. dan tarip yang sesungguhnya. .tarip standard pada kapasitas yang dianggarkan.maka standard yang digunakan adalah segala tarip yang berlaku dalam kapasitas tersebut. Analisa selisih untuk biaya overhead pabrik menggunakan anggaran fleksibel.

1 Metode analisis dua selisih.450 jam.384. Waktu (jam) yang sesungguhnya 3.pada dasarnya mempunyaitujuan yang berbeda-beda. dan analisis terhadap efisiensi. Selisih terkendali. Waktu (jam) standard yang dianggarkan 3. Penggunaan masing-masing metode tersebut. 1.OO (rugi).00. Total selisih biaya overhead pabrik Rp 584. Tarip kos standard per jam produksi. a. 2. Biaya overhead pabrik sesungguhnya sebesar Rp 7. Biaya overhead pabrik tetap Kapasitas normal sebesar 4.384 . Metode analisis empat selisih. Rp 1. dan 3.400 jam. Metode analisis dua selisih melakukan analisis terhadap penyimpanganpenyimpangan yang terjadi dengan hanyamemperhatikan selisihvolume dan selisih yang dapat dikendalikan. Metode analisis empat selisih merupakan pengembangan dari analisis tiga selisih dengan mempertajam terhadap analisis kapasitas yang menganggur. . analisispengeluaran (spending variance). BOP sesungguhnya BOP yang dianggarkan a/d jam standard. Metode analisis tiga selisih. Contoh ilustrasi perhitungan selisih biaya overhead pabrik. Metode analisis tiga selisih mempertajam dengan melakukan analisis terhadap adanyakapasitasyang menganggur (idlecapacity variance).000 jam Dari contoh di atas dapat diketahui bahwa total selisih antara biaya overhead pabrik sesungguhnya dengan biaya overhead pabrik standard adalah Rp 584. b. Biaya overhead pabrik variabel Rp 1. Metode analisis dua selisih.20 Rp 0. Pertajaman analisis tersebut dengan melihat apakah kapasitasyang menganggur disebabkanoleh faktor biaya tetap ataukah biaya variabel.00. Pembahasan metode ini disajikan di halaman 8 berikut ini.80.

Biaya overhead pabrik sesungguhnya Biaya yang dianggarkan a/d jam sesungguhnya. Rp 7.370 RD 6.3. Selisih volume.170 Rp Selisih rugi 2.475 jam x Rp1.200 RD 4.400 jam x Rp2.BOP variabe1. BOP yg dibebankan pada produksi.400 jam x Rp0.anggaran biaya tetap - Biaya variabe1.3.280 . Rp 7.280 1.3. Spending variance. Efficiency variance (selisih rugi). Rp 6.080 RD 7.80 Rp 3. Idle capacity variance. 3.20 = 7.475 x Rp2. . . Jam sesungguhnya x tarip standard.384 Rp 3.- BOP tetap.00 = Selisih volume (rugi) Metode analisis tiga selisih.800 Rp 480 Rp 7.OO = Idle capacity variance (rugi) 420 3.950 Rp Biaya yang dianggarkan a/d jamm sesungguhnya Jam s e s u n g w y a x tarip stand.370 14 Rp .200 Ru 4. BOP yang dianggarkan a/d jam standard.20 Selisih terkendali Rp 104 2.400 x Rp1.3.

00 Selisih efisiensi (rugi) - Rp Rp 6. Variable efficiency variance.280 Rp 90 Jam standard x tarip tetap. (lihat metode analisa tiga selisih) 3.700 jam x ~p 2. 3.475 jam x Rp0. Spending variance. Idle capacity variance. Jam sesungguhnya x tarip tetap.800 150 Rekapitulasi perhitungan selisih: Spending variance Idle capacity variance Efficiency variance Total selisih (rugi) Metode analisis empat selisih 1.370 Rp 7.Biaya overhead yang dibebankan ke produk. 3. (lihat metode analisa tiga selisih) 2.80 = Fixed efficiency variance (rugi) . Fixed efficiency variance.80 = Rp 7.400 jam x Rp0. BOP sesungguhnya BOP yang dianggarkan a/d jam sesungguhnya Variable efficiency Variance 4. 3.

Dibebankan langsung ke laporan rugi-laba Tujuan alokasi dan penggunaan tarip biaya overhead pabrik adalah: a. SOAL-SOAL BIAYA OVERHEAD PABRIK 1. Pengendalian biaya produksi c. 4.BAB VII BIAYA OVERHEAD PABRIK A. Jenis biaya overhead pabrik banyak b. Sebagian biaya overhead pabrik terjadi secara sporadis d. . Ongkos angkut pembelian mesin pabrik d. KECUALI: a. b. dan c benar Biaya produksi selain biaya bahan baku dan upah Iangsung akan: a. Berikut ini adalah elemen biaya overhead pabrik. Diakui sebagai biaya periode d. Jawaban a. Gaji pegawai produksi c. Penentuan harga jual 2. Penyusutan gedung pabrik Akuntansi untuk biaya overhead pabrik relatif lebih kompleks daripada akuntansi untuk biaya produksi yang lain karena: a. Dibebankan dengan tarip. Biaya overhead pabrik tidak bisa dihubungkan dengan secara langsungdengan produk c. dan biaya sesungguhnya dimasukkan rekening overhead sesungguhnya b. 3. Biaya bahan penolong b. Analisa biaya untuk pengambilan keputusan b. Langsung dibebankan ke dalam harga pokok penjualan c. Penentuan harga pokok produk d.

perbedaan antara biaya overhead yang dibebankan dengan biaya overhead yang sesungguhnya. Kapasitas normal b. Kapasitas teoritis Kapasitas praktis adalah: Kapasitas teoritis dikurangidengan kerugian-kerugian waktu yang tidak a. Kapasitas yang direncanakan c.5. batas-batas tertentu d. Anggaran kapasitas yang didasarkan atas kapasitas teoritis dikurangi hambatan yang tidak dapat dihindarkan karena faktor internal dan eksternal disebut: a. tetapi tidak cocok untuk mengendalikan factory overhead Tidak cocok jika biaya dan beban dipengaruhi oleh fluktuasi dalam c. Biaya tetap tidak diperhitungkan dalam anggaran fleksibel d. langsung. mengendalikan bahan langsung dan upah langsung Cocok digunakan untuk mengendalikan bahan langsung dan upah b. 6. Jam kerja mesin Suatu flexible budget adalah: Cocok untuk mengendalikan factory overhead tetapi tidak cocok untuk a. dapat dihindarikarena hambatan-hambatan intern perusahaan dan trend penjualan di masa yang akan datang Kapasitasteoritis pabrik atau departemenuntuk menghasikan kecepatan b. akan sangat kecil bilarnana tarip biaya overhead yang dibebankan dibuat berdasarkan: a. apa yang terjadi terhadap biaya tetap per unit apabila jumlah produksi meningkat dalam relevant range? Biaya tetap per unit akan turun a. dapat dihindari karena hambatan intern perusahaan Kapasitas sesungguhnya yang diperkirakan akan dapat dicapai dalam d. penuhtanpa berhenti selama jangka waktu tertentu Kapasitasteoritisdikurangidengan kerugian-kerugian waktu yang tidak c. Kapasitas normal d. tahun yang akan datang Dalamjangka waktu tertentu. Cocok untuk setiap kegiatan Dalam menggunakan anggaran fleksibel. Jam kerja langsung d. 9. Biaya tetap per unit tidak terpengaruh b. 8. Kapasitas praktis b. Kapasitas harapan c. . 7. Biaya tetap per unit akan meningkat c.

KECUALI: a. d. Analisa Pengertian istilah tarip distribusi. . ke departemen-departemen yang menikrnati manfaatnya Tarip untuk membagikan biaya overhead pabrik langsung departmen d. Kapasitas normal c. 12. Meningkatkan total biaya hidup Meningkatkan biaya variabel per unit d. Pembebanan Alokasi b. 15. kepada departemen yang bersangkutan 11. Biaya bahan baku tidak langsung b. ke departemen pembantu yang lain dan departemen produksi Tarip untuk membagikan biaya overhead pabrik tak langsung departemen c. c. Biaya upah langsung dan hasil produksi c. b. 14. Jumlah biaya overhead pabrik variabel per unit b. 13. Jam kerja mesin Untuk menentukan tarip biaya overhead pabrik. Distribusi d. Mengurangi biaya total c. Jumlah biaya overhead total perperiode c. adalah: Tarip untuk membagikan biaya overhead pabrik departemen produksi a. Semua jawaban tcrsebut dipcrlukan Pembagian elemen biaya overhead pabrik pada setiap dcpartctnen disebut: a. Jam kerja buruh langsung d. Faktor-faktor yang harus diperhitungkan dalam penetapan tarip biaya produksi tak langsung yang ditentukan di muka. disebutkan di bawah ini: a. Dasar yang digunakan b. Jika suatu flexible budget digunakan. tnaka unsur penentu adalah: Total aktivitas yang diperkirakan periode akuntansi ~nendatang a.10. Biaya bahan yang digunakan Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam membebankan biaya overhead pabrik adalah sebagai berikut. suatu pengurangan (decrease) dalam tingkatan produksi di dalam relevant range akan: Mengurangi biaya variabel per unit a. kepada produk yang diolah melalui departemen tersebut Tarip untuk membagikan biaya overhead pabrik departemen pembantu b. Kapasitas sebenamya yang diharapkan d.

18. kepada produk yang diolah pada departemen tersebut Tarip untuk membagikan biaya overhead pabrik departemen pembantu b. 20.16. Metode aljabar (algebraic method) Manakah diantara metode alokasi biaya overhead pabrik berikut ini termasuk dalam metode alokasi bertahap yang memperhitungkantransferjasa timbal balk antar departemen pembantu? Metode alokasi kontinyu (continuous allocation method) dan metode a. taksiran dasar pembebanan dalam periode anggaran Membagibiayaoverhead pabrik sesungguhnyadengantingkat kapasitas d.maka anggaranbiaya overhead pabrik yang dimasukkan ke dalam perhitungan tarip meliputi: Semua biaya overhead langsung departemen saja a. (specified order to closing method) 17. departemen-departemenyang menikmati manfaatnya Tarip untuk membagikan biay a overhead pabrik langsung departemen d. tingkatkapasitas yang sesungguhnyadipakaiuntukmengerjakanpesanan tertentu Membagi total biaya overhead pabrik yang sesungguhnya dengan c. Berikut ini adalah metode alokasi bertahap (step method) biaya overhead departemen pembantu ke departemen produksi. aljabar (algebraic method) Metode alokasi kontinyu dan metode urutan alokasi yang diatur b. 19. c. Metode urutan alokasi yang diatur (specified order of closing method) d. Tarip pembebanan biaya overhead pabrik adalah: Tarip untuk membagikan biaya overhead pabrik departemen produksi a. kepada departemen yang bersangkutan Tarip biaya overhead pabrik ditentukan di muka dihitung dengan cara: Mengalikan tarip biaya overhead pabrik sesungguhnya dengan tingkat a. Semua elemen biaya overhead langsung dan tidak langsung departemen b. yang sesungguhnya dicapai dalam periode anggaran Jika digunakankonsep direct costing. ke departemen pembantu yang lain dan departemen produksi Tarip untuk membagikan biaya overhead pabrik tidak langsung kepada c. Metode alokasi kontinyu (continuous allocation method) Metode alokasi langsung (direct allocation method) b. c. Semua biaya overhead variabel Semua biaya overhead pabrik variabel dan tetap d. kapasitas yang direncanakan dalam periode anggaran Mengalikan tarip biya overhead pabrik yang sesungguhnya dengan b. . KECUALI: a.

tanpa ada jasa departemen pembantu yang dipakai oleh departemen pembantu lainnya. Metode alokasi langsung Metode alokasi urutan alokasi yang diatur d. Di antara metode alokasi biaya overhead pabrik departemen pembantu ke departemen produksi yang mempertimbangkan transfer jasa timbal balik antar departemen pembantu adalah: Metode alokasi langsung (direct alocation method) a. 25. Metode aljabar (algebraic method) Metode urutan alokasi yang diatur (spesified order of closing) c. b. maka metode alokasi biaya overhead departemenpembantu ke departemenproduksi yang sebaiknyadigunakanadalah: Metode aljabar a. kapasitas yang dicapai d. Distribusi biaya-biaya dilakukan pada akhirperiode pembukuan. Biaya depresiasi c. 22. c.c. Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan Distribusibiaya overhead pabrik sesungguhnyakepada departemen-departemen. Membagi total biaya overhead pabrik yang dianggarkan dengan jumlah sesungguhnya kapasitas yang dicapai Manakah diantara rekening berikut ini yang didebit untuk mencatat biaya overheadpabrik yang dibebankan kepada produk atas dasar tarip yang ditentukan di muka dalarn perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan: a. Metode urutan alokasi yang diatur dan metode aljabar Metode aljabar dan metode alokasi langung (direct allocation method) Jika jasa departemen-departemen pembantu hanya dinikmati oleh semua departemen produksi saja. setelah data-data rnengenai biaya overhead pabrik sebsungguhnya (aktual) dicatat dan dikumpulkan dalarn pembukuan 23. Mengalikan tarip biayaoverhead pabrikdengan kapasitas sesungguhnya yang diharapkan dalarn tahun anggaran b. . kemudian alokasi biaya dari departemen pembantu kepada departemen produksi dilakukan dengan cara: a. Metode alokasi kontinyu b. d. Biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk dihitung dengan cara: a. Metode identifikasi khusus (spesific identification method) d. Biaya overhead pabrik sesungguhnya b. Biaya Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik d. Membagi total biaya overhead pabrik yang dianggarkan dengan dasar pembebanan biaya overhead pabrik Mengalikan tarip biaya overhead pabrik dengan jumlah sesungguhnya c. 24.

berarti: a. c.b. Pabrik beroperasi pada kapasitas di bawah kapasitas normal b. dan c benar d. Distribusibiaya-biaya dilakukanpada awal periode pembukuan dimana data-data mengenai biaya overhead pabrik sesungguhnya dalam memproduksi barang sebelumnya telah diketahui yang dicatat dalam pembukuan Biaya overhead pabrik hanya akan dapat diperhitungkan setelah melihat perbandingan antara yang diperhitungkan dan ditaksir Biaya overhead pabrik tidak akan dilakukan distribusi apabila terdapat lebih diperhitungkan (over applied) yang menimbulkan laba biaya overhead pabrik 26. 29. Rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya bersaldo debit pada akhir periode akuntansi Rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya bersaldo kredit pada b. Biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi lebih rendah dari biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk d. . diperlukan adanya: a. Bila perkiraan kontrol overhead pabrik mempunyai saldo akhir debit. c. Dibebankan kurang c. Bersifat variabel Pembebanan lebih biaya overhead pabrik (Overapplied factory overhead) terjadi sebagai akibat: a. 28. Anggaran fleksibel (flexible budget) Anggaran tetap (fmed budget) b. akhir periode RekeningBiaya OverheadPabrik yang Dibebankanbersaldo kredit pada d. Dalam mengadakan analisis selisihbiaya overhead pabrik neto/keseluruhan (net1 overall factory overhead cost variance). Dibebankan berlebihan b. Biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi lebih rendah dari biaya overhead pabrik yang diperkirakan c. Anggaran statik (static budget) a. akhir periode Rekening Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan bersaldo debit pada c. akhir periode 27. d. maka terbukti bahwa overhead pabrik itu: a. Biaya overhead pabrik sesungguhnya terjadi lebih tinggi dari biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk Jika terjadi pembebanan kurang biaya overhead pabrik (underapplied factory overhead cost) dalam suatu periode akuntansi. b. Bersifat tetap d.

000 Taksiran jam B Rp495.200 14. Apabila suatu perusahaan menggunakan tarip pembebanan overhead di muka.000 Rp 7 12.5 per jam c. Rp 25.000 Rp 450. Tarip pembebanan biaya overhead pabrik di Departemen A adalah: a. 32 s.30.d. Rp 27. 36 Data untuk tahun 19 X 2: DEPARTEMEN A Anggaran biaya overhead pabrik Rp561. maka selisih tersebut diperlakukan sebagai: Pehgurang atau penambahan rekening harga pokok penjualan a. Apabila selisih terjadi disebabkan k m n a ketidak efisienan pabrik aku kegiatan perusahaan di atas atau di bawah normal. Kelebihan atau kekurangan pembebanan biaya overhead pabrik variabel b. Perbedaan antara jumlah jam standar dan jumlah jam aktual dikalikan dengan perbedaan antara tarip standar dengan tarip aktual Perlakuan selisih biaya overhead pabrik pada akhir tahun tergantung pada penyebab terjadinya penyimpangan tersebut. Menaikkan harga pokok persediaan produk jadi c.700 Departemen A menggunakan jam mesin sebagai dasar untuk membebankan biaya overheadpabrik.000 17.5 per jam b. Dibagi rata ke dalam rekening persediaan produk dalam proses d. Rp 41 per jam 110% dari biaya tenaga kerja langsung d. 32.000 15.000 Anggaran biaya tenaga kerja langsung Rp 605. .000 C Rp615.dan Departemen C menggunakan jam kerja langsung. penyimpangan anggaran adalah: a.100 mesin2 22.000 14. Manambah rekening harga pokok persediaan produk jadi Data untuk menjawab soal no. DepartemenB menggunakanbiaya tenaga kerjalangsung. b. Diketahui data sesungguhnya tzhun 19x2 sebagai berikut: 33.000 Taksiran jam kerja langsung 20. Kelebihan atau kekurangan pembebanan biaya overhead pabrik tetap c. Perbedaan antara tarip standar dan tarip aktual dikalikan dengan jumlah jam aktual d.

Rp 528.000 Jam kerja langsung 15. Rp 73. Rp 37.000 Diketahuibiayaoverhead pabrik yang sesungguhnyadikeluarkanoleh Departemen A.000 Rp 480. Rp 73.200 lebih dibebankan c. 37 s. Rp 330. Rp 612.720 lebih dibebankan d. Rp 330.720 c.000 untuk memproduksi 100. Departemen B.000 34.720 c. 10. Rp 5.000 lebih dibebankan b. Manajemenjuga merencanakan memproduksi 5.920 24. dan Departemen C pada tahun 19x2 secara berturut-turut adalah Rp575.DEPARTEMEN A B C Biaya tenaga kerja langsung Rp 744.jumlah selisih biaya overhead pabrik di Departemen B pada tahun 19 X 2 adalah: a.000 buah boneka plastik. Dengan data yang sama dengan soal no.500 kg plastik @ Rp 2. jumlah biaya overhead pabrik dibebankan di Departemen C pada tahun 19x2 adalah: a.000 buah boneka untuk persediaan. Survei pendahuluan dari panitia anggaran perusahaan menunjukkan suatu peramalan penjualan tahunan sebesar 95. Rp454.000 13. 38 Perusahaan "MENEEN" memproduksi boneka mainan anak-anak. Bagian pembelian menentukan bahwa diperlukanpembelian 3.200 lebih dibebankan c.000 12.000 d. Rp 93. dan Rp600.000 kurang dibebankan 35.200 13.000.000 16. Anggaran biaya overhead pabrik untuk skedul produksi ini adalah: . Data untuk mengerjakan soal no. Rp 693.000 b. Rp 5. Rp 612.Biaya overhead pabrik tetap: .000 d.000 liter cat @ Rp 6.d.000 Rp 876.000 dan 2.800 Jam mesin Jumlah biaya overhead pabrik dibebankan di Departemen B pada tahun 19x2 adalah: a. 8.000 b. Rp 693. Rp 37. Jumlah selisih biaya overhead pabrik di Departemen A pada 19x2 adalah: a.000 satuan boneka.800.000 kurang dibebankan Dengan data yang sama dengan soal no. Rp 528.000. Rp 93.720 lebih dibebankan d. 36.000 lebih dibebankan b.

Rp 1. Rp 59.000 b.600.200 b.00 per jam @ Rp 6. Perusahaanmengpakanmetode alokasialjabaruntuk mengalokasikan biaya departemenjasa. 47 PT SARI memiliki 3 departemenproduksi yaitu A. anggaranproduksi (manufacturingbudget)perusahaan MENEEN berjumlah: a.900 c.700. Rp 19.000 jam Pengwat 1.000 Tarip pembebanan biaya overhead pabrik yang didasarkan pada jam kerja langsung berjumlah: a. 39 s. Rp 6.200. Biaya overhead pabrik (BOP) sebelum alokasi dan dasar alokasi departemenjasa adalah sebagai berikut: Keterangan Jam Langsung Luas Lantai BOP (RP) 39. . Rp 2. I @ Rp 6. Rp 2.Biaya penyusutan bangunan Biaya penyusutan peralatan Biaya pengawas Biaya asuransi . Rp 33.000 d.000.900 38.00 per jam Dari datadiatas. Data untuk menjawab soal no. BOP Departemen X setelah menerima alokasi dari departemen Y adalah: a. dan C. Rp 588.Jam kerja dan taripnya untuk dua operasi adalah: Pencetak plastik 2.d.000 c. B. Rp 3.Biaya overhead variabel: Biaya upah tidak langsung Rp 250 per jamkerja langsung Biaya perlengkapan tak langsung Rp 4 per satuan Biaya pabrik umum (gerleral factory) Rp 50 per jarnkerja langsung . serta memiliki 2 departemen jasa yaitu Xdan Y.200 d.080.200jam 37.000 b.380. Biaya departemenjasa X dialokasikan berdasar jam listrik dan Y berdasar luas lantai. Rp500.000 .

Rp 490. Data untuk menjawab soal no.000 Departemen B menerima alokasi dari Departemen X sebesar: a. Rp 125.000 c. Rp 1. Rp 500.000 Total BOP seluruh pabrik setelah ada alokasi dari departemen jasa: b.000 d.000 d. dan Y sebesar: a. dan Y sebesar: a. p p 110.000 c. Rp 380. I 46. 44.100. Rp 1. Rp 530.000 c. Rp 590. Rp 144. Rp 520. Rp 450. 47. dengan urutan alokasi pertama Dep. Rp 100.000 c.000 d.000 b.000 c. Rp 600. Rp 440.000 Jumlah BOP Departemen B setelah menerima alokasi dari departemen X.40.000 Departemen A menerima alokasi dari Departemen X sebesar: a.000 c. 53 PT Adhi mempunyai 3 departemen produksi dan 3 departemen jasa di dalam pabrik.000 d. Rp 600. I 45.000 c. 48 s.000 Departemen C menerima alokasi dari Departemen X sebesar: a.000 b.000 d.000 a.600. Alokasi biaya overhead pabrik (BOP) departemen jasa menggunakan metode alokasi bertahap yang tidak timbal balik. dan Y sebesar: a. Z atas dasar jam . Rp 540. Rp 500.000 b. Rp 280.760.000 d.000 b.000 Jumlah BOP Departemen C setelah menerima alokasi dari departemen X. Rp 120. Rp 200.000 b.000 b. Rp 440.000 41. I 42 I 1 43.000 c. Rp 510. Rp 300.000 Jumlah BOP Departemen A setelah menerima alokasi dari departemen X. Rp 580. Rp 250. Rp 540. Rp 550. Rp 660. Rp 480. Rp 540.000 d.d. Rp 1.000 d.000 b. BOP Departemen Y setelah menerima alokasi dari Dpartemen X adalah: a.

000 30.000 b. Rp 11.000 BOP Departemen A setelah menerima alokasi dari departemen jasa adalah: b. 51.500. Rp 10.000 c. Rp 11.000 Jumlah Karyawan 100 50 150 25 25 50 400 - Luas Lantai 2.000 d.000 d.500.500.000 110.000 3 .500 Jam Tenaga Uap 20. Rp 500.500.000 1. Rp 1. Rp 1. 59 F KLM membebankan biaya overhead pabrik dengan tarip yang ditentukan di muka.000 c.000 b. Rp 800.000 a.000 d.000 7.000 a.800.000 . Rp 250.000.000 10.000 20.500. T .000 d.000 Departemen C menerima alokasi BOP sesungguhnya dari Departemen Y sebesar: b. keduaDep.300.500. ketiga Dep.000 d. 53.000 1. Rp 10.200. Y atas dasar luas lantai.000 48.000 I I 1 I 49. BOP Departemen B setelah menerima alokasi dari departemen jasa adalah: b.400.000 BOP Departemen C setelah menerima alokasi dari departemen jasa adalah: a. Rp 8.300. Rp 9.250.000 d.000 5. Rp 9.0 12. 50.ooo 2.000.500. Up 750.000 a. Rp 500.000 Rp 32.000 c. Data untuk menjawab soal no.400. Rp 9. X atas dasar jumlah karyawan. 54 s.000 1. l 52. Rp 11.500 100 . Rp 750.tenagauap.950.750. Rp 10.000 9.000 a.000. Departemen A menerima alokasiBOP sesungguhnya dari Departemen Z sebesar: b.000 3.000.000 10.000 c.000 20.d. Rp 400. Rp 500.750.000 Departemen B menerima alokasi BOP Sesungguhnya dari Departemen X sebesar: a. Rp 10. Rp 400. BOP sesungguhnya dan hasil penelitian pabrik pada akhir tahun 1988 adalah sebagai berikut: Departemen BOP Sesungguhnya Rp 7. Rp 9.200. Rp 1.000 c.000 c.

Perusahaan tersebut mempunyai 2 departemen produksi dan 2 departerrlen pembantu. Dalarn mengalokasikananggarandepartemenpembantu perusahaan menggunakanmetode aljabar. Anggaran biaya overhead pabrik masing-masing departemen untuk tahun 1990 adalah:

Departemen Anggaran Departemen produksi Rp 12.000.000 -A -B 14.200.000 Departemen pembantu -X 10.000.000 -Y 8.800.000 Dari penelitianpabrikdiperoleh informasimengena pemakaianjasadepartemen pembantu: Departemen jasa Departemen X A 50% B 40% X Y 10% Kapasitas normal: Departemen A: 10.000jam tenaga kerja Departemen B: 12.000 jam tenaga kerja
54.

Departemen Y 40% 40% 20%

-

Departemen X akan menerima alokasi dari departemen Y sebesar: a. Rp 2.000.000 b. Rp 2.400.000 c. Rp 1.760.000 d. Rp 880.000 Departemen Y akan menerima alokasi dari deparetemen X sebesar: b. Rp 2.400.000 a. Rp 2.000.000 c. Rp 1.760.000 d. Rp 880.000 Departemen A menerima alokasi dari departemen X sebesar: b. Rp 6.000.000 a. Rp 5.000.000 c. Rp 4.OQ0.000 d. Rp 4.800.000 Departemen A akan menerima alokasi dari departemen Y sebesar: b. Rp 6.000.000 a. Rp 3.520.000 c. Rp 4.000.000 c. Rp 4.800.000 Departemen B akan menerima alokasi dari departemen X sebesar: a. Rp 5.000.000 b. Rp 6.000.000 c. Rp 4.000.000 d. Rp 4.800.000

55.

56.

57.

58.

59.

Departemen B akan menerima alokasi dari departemen Y sebesar: a. Rp 5.000.000 b. Rp 6.000.000 c. Rp 4.000.000 d. Rp 4.800.000

Data untuk menjawab soal no. 60 s.d. 64
Data untuk 2 departemenjasa sebagai berikut:

DepartemenJasa Budget Bulanan JamJasa Biaya sesungguhnya A Rp 10.000 4.000 Rp 9.300 B 15.000 5.000 13.400 Kedua departemen jasa itu melayani 3 departemen produksi. Data budget, biaya sesungguhnya, dan jam-jam jasa sebagai berikut:

Estimasi Jasa Jasa Sesungguhnya Departemen Produksi A B A B X 1.200 jam 1.800jam 800 jam 2.000 jam Y 1.500 jam 2.000 jam 1.600 jam 1700jam Z 1.300 jam 1.200 jam 900jam l.lp0 jam Budget biaya departemen jasa tersebut masing-masing 60% merupakan biaya tefap.
60.

Tarip jasa A per jam: Rp 2,00 a. C. Rp 1,00 Jasa departemen A yang dibebankan ke departemen produksi: Rp 8.520 a. Rp 8.000 b. c. Rp 7.950 d. Rp 8.250 Jasa departemen B yang dibebankan ke departemen produksi: a. Rp 15.400 b. Rp 14.500 c. Rp '14.600 d. Rp 15.300 Jumlah jasa yang diterima oleh departemen Y dari departemenjasa adalah: a. Rp 9.000 b. Rp 9.500 C. Rp 9.100 d. Rp 5.100 Spending variance departemen B adalah: b. a. Rp 1.630 (mgi) c. Rp 1.360 (rugi) c.

61.

62

63.

64.

Rp 1.630 (laba) Rp 1.360 (laba)

Data untuk menjawab soal no. 65 s.d. 67
Biaya overhead pabrik dianggarkan Biaya overhead pabrik sesungguhnya \ Jam tenaga kerja langsung yang dianggarkan Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya 65. Rp 44.000.000 46.200.000 10.000.000 jam 11.000.000jam

Tarip biaya overhead pabrik adalah: Rp 4,40 per jam tenaga kerja langsung a. b. Rp 4,00 per jam tenaga kerja langsung c. Rp 4,62 per jam tenaga kerja langsung d. Rp 4,20 per jam tenaga kerja langsung Jumlah biaya overhead pabrik yang dibebankan ke produk adalah: a. Rp 46.200.000 b. Rp 44.000.000 c. Rp 48.400.000 d. Rp 50.820.000 Dalarn periode tersebut telah terjadi: Biaya overhead pabrik terlalu rendah dibebankan (underapplied) a. Rp 2.200.000 b. Biaya overhead pabrik terlalu besar dibebankan (overapplied) Rp 2.200.000 c. Biaya overhead pabrik terlalu besar dibebankan (overapplied) Rp 4.400.000 d. Biaya overhead pabrik terlalu rendah dibebankan (underapllied) Rp 4.400.000

66.

67.

Data untuk mengerjakan soal no. 68 s/d 71
Untuk menentukan tarip biaya overhead pabrik, Perusahaan JELITA memberikan datadata sebagai berikut: Perusahaan Jelita menetapkan tarip biaya overhead pabrik Rp500 per jam mesin Budget biaya overhead pabrik untuk 6.000 jam mesin per bulan: Rp 1.600.000 dan untuk 14.000 jam misin: Rp 2.400.000 Biaya overheadpabrik yang sesungguhnyaterjadi bulan Mei 1989adalah sebesar Rp 1.800.000 pada kapasitas sesungguhnya 5.000 jam 68. Berdasarkan data-data tersebut di atas besarnya tarip biaya overhead pabrik variabel adalah; b. Rp 172ljam mesin a. Rp 400ljam mesin c. Rp 1Ooljarn mesin d. Rp 267/jam mesin Sedangkan besamya budget biaya overhead pabrik tetap adalah sebesar: a. Rp 1.000.000 b. Rp 1.032.000 c. Rp 2.400.000 d. Rp 1.602.000

69.

Perusahaan JELITA, dengantarip biaya overhead yang telah dihitung mempunyai kapasitas normal: a. 6.000 jam mesin b. 8.500 jam mesin c. 5.000 jam mesin d. 2.500 jam mesin Besarnya biaya overhead pabrik dibebankan adalah: a Rp 2.500.000 b. Rp 1.250.000 c. Rp 3.000.000 c. Rp 4.250.000

PT Indah menganggarkan overhead pabrik tahun 1990 sebesar Rp1.530.000 untuk Departemen I berdasarkan volume kegiatan sebesar 100.000 jam kerja langsung.Pada akhir I 990perkiraanOverhead Pabrik Departemen I mempunyai saldodebitRp1.620.000.Jumlahjamkerjaakhlal adalah 105.000jam. Kelebihan (kekurangan) pembebanan overhead pabrik tahun 1990 untuk Departemen I adalah: a. Rp 13.500 b. Rp (13.500) c. Rp 90.000 d. Rp (90.000 )
Biaya overhead yang dibebankan adalah: a. Rp 5.150.000 b. Rp 5.300.000 c. Rp 5.500.000 d. Jawaban a, b, dan c benar Anggaran fleksibel pada kapasitas sesungguhnya adalah: a. Rp 5.150.000 b. Rp 5.300.000 c. Rp 5.500.000 d. Jawaban a, b, dan c benar Spending variance sama dengan: a. Rp 150.000 (rugi) b. c. Rp 200.000 (laba) d. Idle Capacity Variance sama dengan: a. Rp 150.000 (laba) b. c. Rp 200.000 (rugi) d.

Rp 150.000 (laba) Jawaban a, b, dan c benar

Rp 200.000 (laba) Jawaban a, b, dan c benar

Jurnal untuk pembebanan biaya overhead adalah: Biaya Overhead Pabrik-Sesungguhnya Rp 5.500.000 Biaya Overhead Pabrik-Dibebankan Biaya Overhead Pabrik-Dibebankan Rp 5.500.000 Biaya Overhead Pabrik-Sesungguhnya Biaya Overhead Pabrik-Dibebankan Rp 5.500.000 Berbagai macarn pengkreditan Jawaban a, b, dan c benarl

Rp 5.500.000 Rp 5.500.000 Rp 5.150.00

Data untuk menjawab soal no. 78 s.d. 79 PT DIAN memiliki kapasitas normal 8.000 jam per bulan. Anggaran fleksibel BOP pada kapasitas 6.000 jam sebesar: Rp34.000 sedangkan pada kapasitas 7.500 jam: Rp 38.500. Pada bulan Januari 1987 besarnya kapasitas sesungguhnya 7.800 jam dan BOP sesungguhnya Rp 37.500.
78. Besarnya selisih anggaran bulan Januari adalah: b. a. Rp 1.000 (laba) c. Rp 3.500 (rugi) d. Besarnya selisih kapasitas bulan Januari adalah: a. Rp 2 0 (rugi) b. c. Rp 2.500 (laba) d.

Rp 1.500 (laba) Rp 2.500 (laba)

79.

Rp 2.000 (rugi) Rp 400 (rugi)

Data untuk menjawab soal no. 80 s.d. 84
Catatan dan analisis biaya overhead pabrik PT NATALIA dalam bulan Januari 1989 menunjukkan: BOP Sesungguhnya Rp2.160.000, Jam mesin sesungguhnya 8.000 jam; Selisihkapasitas RpO; Selisih anggaran Rp160.000 (rugi). Catatan dan analisisBOP bulan Pebruari menunjukkan: Jam mesin sesungguhnya 8.400 jam; Selisih anggaran RpO; Selisih kapasitas Rp60.000 (laba). 80. Dalam bulan Pebruari besarnya BOP Sesungguhnya adalah: a. Rp 2.160.000 b. Rp 2.100.000 c. Rp 2.040.000 d. Rp 2.060.000 Besarnya total tarip BOP per jam mesin adalah: b. a. Rp 150 c. Rp 200 d.

81.

Rp 400 Rp 100

82.

Besarnya tarip BOP variabel per jam mesin adalah: a. Rp 100 b. Rp 250 c. Rp 150 d. Rp 300 Jika BOP Sesungguhnya bulan Maret sebesar Rp1.960.000 dan jam mesin sesungguhnya 7.800 jam, maka total selisih BOP adalah: b. Rp 120.000 (laba) a. Rp 40.000 (laba) c. Rp 10.000 (rugi) d. Rp 30.000 (rugi) Besarnya selisih anggaran untuk bulan Maret adalah: a. Rp 20.000 (rugi) b. Rp 10.000 (laba) c. Rp 30.000 (rugi) d. Rp 20.000 (laba)

83.

84.

Data untuk menjawab soal no. s.d.
Dalam bulan Agustus 1989 selisih anggaran biaya overhead pabrik pada PT POWER sebesar RplOO.OOO (rugi), kapasitas sesungguhnya sebesar 8.000 jam mesin, biaya overhead pabrik sesungguhnya sebesar Rp4.500.000. Dalam bulan September 1989 besamya selisih kapasitas RpO, kapasitas sesungguhnya 10.000jam mesin, biaya overhead pabrik dibebankan Rp5.000.000. Dalam bulan Oktober 1989 besamya kapasitas sesungguhnya 9.000 jam mesin dan BOP sesungguhnya Rp4.450.000. 85. Besarnya total biaya tetap adalah: a. Rp 3.000.000 c. Rp 2.500.000

b. d.

Rp 2.000.oOO Rp 2.600.OOO

86.

Besamya tarip biaya overhead pabrik variabel per jam adalah: a. Rp 200 b. Rp 300 c. Rp 250 d. Rp 240 Besamya tarip biaya overhead pabrik tetap per jam adalah: a. Rp 250 b. Rp 300 C. Rp 200 d. Rp 260 Besamya kapasitas normal dalam jam mesin adalah: a. 12.500 b. 8.000 c. 10.000 d. 5.OOO Besarnya selisih biaya overhead pabrik bulan Oktober 1989 adalah: a. Rp 100.000 (rugi) b. Rp 200.000 (laba) c. Rp 50.000 (laba) d. Rp 150.000 (rugi) Besamya selisih biaya overhead pabrik bulan Oktober 1989 adalah: a. Rp 250.000 (laba) b. Rp 200.000 (rugi) c. Rp 75.000 (laba) d. Rp 150.000 (rug2 Besamya selisih kapasitas biaya overhead pabrik bulan Oktober 1989 adalah: a. Rp 250.000 (rugi) b. Rp 200.000 (rugi) c. Rp 300.000 (laba) d. Rp 150.000 (rugi)

87.

88.

89.

90.

91.

200. d Anggaran Biaya Produksi: Anggaran Biaya Bahan: . dengan dasar alokasi sebagai berikut Alokasi Departemen Jasa.000 Anggaran Biaya Tenaga Kerja: .Penyusutan peralatan .000 .000 .000 x Rp 4) 400.0% 22. Jam Listrik Ke Departemen A 900 B 450 450 C Y 200 Jumlah 2.5% 10.000 Tetap: . 39 s/d 47 Metode alokasi aljabar.000/3.000) 12.700.380.000 Anggaran Biaya Overhead Pabrik: Variabel: .600.Anggaran biaya overhead pabrik: Rp 6.000 liter x Rp 6.000 b Tarip pembebanan biaya overhead pabrik berdasarkan jam kerja langsung: .000 220.000 jam x Rp 6.000 .000) Rp 21.000 .000 800.Pencetak plastik (2. Rp 500.900per jam kerja langsung Pengertian untuk menjawab soal no.200 jam x Rp 250)Rp 800.200) Rp 12. 36 s/d 37 37.000 jam dan pengecat 1.Biaya pengawas .B PENYELESAIAN .Pengecat (1.400.080.Taksiran jam kerja langsung: 3.200.700.Cat (2.000 RD 59.Tarip pembebanan: Rp 6.200 jam = Rp 1.Upah tidak langsung (3.200 jam (pencetak plastik 2.0% .Umum pabrik (3.000 Rp 33.720. atas dasar jam listrik.000 6.000 Rp 4.000 Rp 1.200 jam x Rp 6.000.5% 22.080.200jam) .Penyusutan bangunan .360.000 Proporsi 45.200 jam x Rp 50) 160. Pengertian untuk menjawab soal no.0% 100.000 19.000 .000 3.000) 7.Biaya asuransi Jumlah Anggaran Biaya Produksi 38.Plastik (3.Perlengkapan tidak langsung (100.080.500 kg x Rp 2.

000 + 10% (Rp600. Ke Departemen Luas Lantai A 100 B 500 C 200 200 X Jumlah 1.Alokasi Departemen Jasa Y. atas dasar luas lantai.000) :Rp 500.000 + 0. 0 00 Proporsi 10% 50% 20% 20% 100% ' Biaya Departemen Jasa X.000 Alokasian dari Departemen Jasa X: 10% Atau.000 (biaya departemen X setelah mendapatkan alokasi dari departemen Y) Setelah nilai X diperoleh.000 + 20% (Rp440.000 + Rp88.000 Alokasian dari Departemen Jasa Y: 20% Atau. setelah mendapatkan alokasi biaya dari departemen X dapat dirumuskan sebagai berikut: Biaya Departemen Jasa Y sebelum alokasi: Rp440.02 Y X : Rp 588. nilai Y dapat dihitung sebagai berikut: Y : Rp 440.02X 0.000 + 0.000 X . setelah mendapatkan alokasi biaya dari departemen E dapat dirumuskan sebagai berikut: Biaya Departemen Jasa X sebelum alokasi: Rp 500. Biaya Departemen Jasa Y.000 Rp 588.000 + 10% Y Dari kedua persamaan di atas.0.98 X : Rp 588.000 + 10% Y Y : Rp 440.000+ 20% Y X : Rp 500.000 + 10% Y) X : Rp 500.02 Y : Rp 588. nilai X dapat dihitung sebagai berikut: X : Rp 500. Y : Rp440.98 X : Rp600.000 (biaya departemenY setelah mendapatkan alokasi Z dari departemen Z) .000 X 0.

000. ke departemen C 20%: RplOO.000) RP 0 RPO 1 .0% 110.000 100.000 (500.OOO.0% RD440.000 500 B 25. dan ke departemen Y 10%: Rp60.000.000 Biaya departemen Y sebesar Rp440.000 Rp 435.000 Rp 620.000 135.000 KETERANGAN Biaya sebelum alokasi Alokasi Departemen X Alokasi Departemen Y Biaya setelah alokasi X Rp 500.000 250.000 (440. ke departemen B 50%: Rp250.000 Rp 560.000 275.000 55.000 C 450 Jumlah 180 .5% A 62.000 B Rp 160.000 125. Biaya departemen Y sebesar Rp500.000 kemudian dialokasikan ke departemen A 10%: Rp50. ke departemen B 22.000.000 450 25% B 25% 125.0 00 270.5% 275.000 Rp 605.000 dialokasikan sebagai berikut: Alokasi Luas Lantai Proporsi Ke Departemen Rp 55.000 Rp 545.000 125. Tabel alokasi DEPARTEMEN PRODUKSI KETERANGAN Biaya sebelum alokasi Alokasi Departemen X Alokasi Departemen Y Biaya setelah alokasi A Rp 300. ke departemen C 22.000.000 Tabel alokasi DEPARTEMEN PRODUKSI B A Rp 300.000 DEPARTEMEN JASA C Rp 200.000 DEPARTEMEN JASA C Rp 200.000 dialokasikan sebagai benkut: Proporsi Alokasi Ke Departemen Jam Listrik Rp 250. dan ke departemen X 20%: Rp100.000 X Rp 500.000 100 l2.000 RP 0 Y Rp440.000) RP 0 DENGAN METODE LANGSUNG Biaya departemen X sebesar Rp500.000 (600.000.000 (500.000.000 50.000 C 200 Jumlah 800 100.Biaya departemen X sebesar P.000 Rp 160.000) Y Rp440.0 100% Rp 500.5%: Rp135.000 60.000) 100.000 135.000 110.000 900 50% A 125.p600.000 Rp 435.000 250.5%: Rp135.000 kemudian dialokasikan ke departemen A 45%: Rp270.000.

0% Jurnlah 2000 100.000 225.5% 306.250 Rp 586.000 L Biaya departemen Y sebesar Rp440.000 61.500 C 200 800 100.000 (500. dengan urutan clan dasar alokasi sebagai berilcut: .0% Rv490. c (lihat tabel) Pengerjaan untuk menjawab sod no.000 dialokasikan sebagai berikut: Proporsi Alokasi Ke Departemen Luas Lantai 12.250 Rp 578.000) RP 0 Y Rp440.000 Y 200 10.250 B Rp 160.000 Jumlah Tabel alokasi DEPARTEMEN PRODUKSI KETERANGAN Biaya sebelum alokasi Alokasi Departemen X Alokasi Departemen Y Biaya setelah alokasi A Rp 300.500 306.0% 122.500 Rp 435.000) RP 0 (lihat tabel) (lihat tabel) (lihat tabel) (lihat tabel) (lihat tabel) (lihat tabel) (lihat tabel) (lihat tabel) 47.750 DEPARTEMEN JASA C Rp 200.250 B 25.0% Rp225.000 X Rp 500.000 dialokasikan sebagai berikut: Ke Departemen Jam Liitrik Proporsi Alokasi A 90 0 45.i DENGAN METODE ALOKASI BERTAI-IAP (alokasi pertama departemenjqsa X) Biaya departemen X sebesar Rp500. 48 s/d 53 Metode alokasi bertahap tidak timbal balik.000 B 450 22.500 112.500 22.000 1 12.000 1 12.000 5O.5% 112.5% Rp61.0% Rp500.500 450 C 50.m (490.250 100 A 500 62.5% 112.

X A. B. 500.000.500.800.500.000 DEP.000) < ' 10.000 Ke Departemen Luas lantai A 2.200. Y A.000 11.500.000.000.X 1.000 10.300.000 X 20.000 Rp3.000) DEP. C.500.500.000 1.000 (2.000 750.000 750.000 500.000.000.000 1.000 Alokasi biaya Departemen X: Ke Departemen Jumlah karyawan A 100 B 50 C 150 Jurnlah 300 Tabel alokasi 20% 100% Proporsi 1001300 501300 1501300 3001300 - KETERANGAN Biaya sebelum alokasi Alokasi Departemen Z Alokasi Departemen Y Alokasi Departemen X Biaya setelah alokasi DEP.000.000 B 30. C.000 Alokasi biaya Departemen Y: Biaya departemen Y Biaya alokasian dari Z Jumlah 20% 100% Rp Q 1.000 750.000 500.000 Ke Departemen Tenaga uap A 20.000 Jumlah 10.500.000.B 9.000 1.500.000 1.000 - 0 0 0 .000 1.500.000 DEP.000 Jurnlah 100.000.000 500.000 1.000 1.000 (5.000.000 Proporsi 20% 30% 30% Alokasi Rp.250.000.000 500.000 1.000 DEP.000 Alokasi Rp1.000 B 3.000.000 C 10.000 Rp 5.000) 1.Y 1.000 (3.000.C 7. B. B.000 1.Urutan Alokasi ke 1 ke 2 ke 3 Dari Departemen Z Y X Ke Departemen A.000 750.000 Alokasi biaya Departemen Z: Rp5.500.000 C 3.Z 5.000.500.000 500.2.000.000 DEP.000 500.om X 2.000 500.000.500.950.000 Y 20.000 2.A 7. C Proporsi 20% 30% 10% 20% Dasar Alokasi Tenaga uap Luas lantai Jumlah karyawan Alokasi Rp 1.000 Rp .000 1. X.

000 + 10% (12.000.000.000 Rp 14.000.OOO 500. 52.200. nilai Y dapat dihitung sebagai berikut: Y : Rp 8.800.000 + 10% X Dari kedua persamaan di atas.000.500.000.000. 57.000.000.000. 49.000 DEPARTEMEN PEMBANTU KETERANGAN Biaya sebelum alokasi Alokasi Departemen X Alokasi Departemen Y Biaya setelah alokasi X Rp 10.000 Setelah nilai X diketahui. b (lihat contoh) b (lihat contoh) Biaya departemen X Biaya alokasian dari Z Biaya alokasian dari Y Jumlah e (lihat tabel) b (lihat tabel) a (lihat tabel) d (lihat tabel) Rp 1.000 + 10%X) X : Rp 12.000 + 20% Y Y : Rp 8.000 1.000 6.000.000.000. a e b (lihat tabel) (lihat tabel) (lihat tabel) (lihat tabel) 55. Pengerjaan untuk menjawab soal no.~.000. 53. dapat diperoleh persamaan sebagai berikut: X :Rp 10. 54 s/d 59 Dengan cara yang sama dengan soal.800.000.000 4.000) 2. 56.000 4. nilai X dapat dihitung sebagai berikut: X : Rp 10.200.000 Rp 23.000 Rp 3.000 4.000 Tabel alokasi: DEPARTEMEN PRODUKSI B A Rp12.800.000 (12.000 50. 5 1.000 Rp 0 Y Rp 8.800.000 Rp 22.800.000.ooO) Rp 0 54.000 1.000.000 + 20% (Rp8.000 (lO. c .48.000) Y : Rp 10.

5 perjam = Rp1.600jarn z = 9oojam Jumlah = 3.58.O per jam 61. d Jasa departemen A yang dibebankan ke departemen produksi: Jam sesungguhnya departemen A dinikrnati oleh: X = 800 jam Departemen produksi Y = 1.Operjam =Rp 1. d c (lihat tabel) (lihat tabel) Pengertian untuk menjawab soal no.000) Tarip variabel 4.300 jam x Rp2.000) Tarip variabel 5.000 Tarip departemen jasa B : 5. 59.000 Tarip total departemen jasa A : = Rp 2.250 . d Rp 10.000 jam Tarip tersebut bisa dirinci menjadi: (40% x Rp 10.2perjam =Rp 3.5 = Rp8.000) Tarip tetap 4.000 jam (60% x Rp 10.300 jam Jumlah jasa dibebankan: 3.000 jam Tarip tersebut bisa d i i c i menjadi: (40% x Rp 15.000 jam =Rp1.000 jam Rp15. 60 s/d 64 60.000 jam (60% x Rp 15.000) Tarip tetap 5.8 perjam =Rp1.5 per jam 4.

d Spending variance (selisih anggaran) departemen B: BOP sesungguhnya Rp 13.000 Selisih total RD2.000 Dari departemen B: 1.100 64.400 c Jumlah jasa yang diterima departemen Y dari departemen jasa: - Dari departemen A: 1. a Tarip pembebanan BOP dihitung sebagai berikut: Rp44.2) 5.700jam z = 1.760 14.000 BOP dibebankan: 11.200.400.000 b Selisih pembebanan BOP: BOP sesungguhnya Rp 46.000 Variabel: (4. 65 s/d 67 65.000 jam x Rpl.800 jam Jumlah jasa dibebankan: 4. 67.000 = Rp 4.8)Rp 9.000.000 jam Y = 1.O = Rp 14.000jam x Rp 4.760 Rv 1.360 (laba) Selisih anggaran Pengertian untuk menjawab soal no.200.5 = Rp 4.100 Jumlah RD 9. .40 per jam kerja langsung Tarip total : 10.62.40 = Rp 48.000. e Jasa departemen B yang dibebankan ke departemen produksi: Jam sesungguhnya departemen B dinikrnati oleh: Departemenproduksi X 2.800 jam x Rp 3.400 BOP dianggarkan pada jam sesungguhnya: Tetap : (5.800 jam x Rp1.400.O = 5.000jam c Jumlah BOP dibebankan: 11.000jam x Rp 490 48.000.000 (lebih dibebankanbaba) 66.700 jam x Rp 3.100 jam Jumlah = 4. 63.600 jam x Rp 2.

000.500. 71.500 Selisih total Rp 13. 68 s/d 72 68.000.500 (rugil 72.000 d Jumlah kapasita's normal: Rp 1.000jam x Rp100) 1.30) 1. Tarip total -g dibebankan) .000jam Rp 2.620.000 jam Rp800. a Jurnlah BOPdibebankanpada bulanmei 1989:Rp 500x 5.000 = Rp15.000 Kapasitas normal: RP 400 = 2.000jam x Rp15.000 BOP tetap RD 1.000 berjumlah 1.000 Taripvariabel Tarip tetap 69.30 per jam mesin 100.400.000jam =Rp2. I debit) Rp 1. : : = Rpl00 perjam mesin 8.000 jam BOP sesungguhnya (rek.000 BOP dibebankan: (105.000 Rp 800.Pengertian untuk menjawab soal no.600.606.000 (-) BOP variabel: (14.000 berjumlah Rp 2.Rp100 = Rp 400 per jam mesin a Anggaran BOP tetap: BOP Dianggarkan pada kapasitas 14.000jam 8.400. c Tarip BOP variabel: Anggaran BOP pada kapasitas Anggaran BOP pada kapasitas Selisih 14.000jam 6.400.500 per jam mesin 70.000 b Tarip pernbebanan BOP: Rp1S30. BOP dep.000 jam Rp 500 -.

Dengan data yang ada pada soal tersebut.000 jam x Rp 3) Variabel: (1.000 Rp 5.000.200. hams diketahui dahulu tarip pembebanan baik tarip tetap maupun tarip variabel.000jam x Rp 5 = Rp 5.I Pengertian untuk menjawab soal no.000 jam x Rp 2) Jumlah b Spending variance (selisih anggaran): BOP sesungguhnya BOP dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya Selisih anggaran b Idle capacity variance (selisih kapasitas): BOP dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya BOP dibebankan Selisih kapasitas e Barang Dalam Proses Biaya Overhead Dibebankan Rp 3.000jam Rp 2. c Rp 3. Pengertian untuk menjawab soal no.000 5.500.200.000 (laba) Rp 5.000 2.200. 78 s/d 79 Untuk dapat menganalisis selisih biaya overhead.000 (laba) 76. tarip pembebanan dihitung sebagai berikut: .000 Tarip tetap: 1. Rp 5.000. Tarip total: Rp3+Rp2=Rp5perjam = Rp 2 per jam = Rp 3 per jam Jumlah BOP dibebankan: 1.000. b Anggaran BOP pada kapasitas sesungguhnya: Tetap : (1.000 RD 50.500.150.000 Rp 300.000.000. Rp 5.000 Tarip Variabel: 1.000 5.000 75.000jam.000 74.100.500.100. 73 s/d 77 73.000 Rp 5.000.200.000 77.500.

500 jam Rp 38.500jam Setelah tarip BOP variabel diketahui. Anggaran BOP total pada kapasitas 7.000 Tarip Tetap: = Rp2 per jam 1 I 8.900 (laba) .500 22.500 berjumlah Rp 38.800 jam x Rp3) 23.500 (laba) Selisih total 78. e Selisih tersebut kemudian dianalisis menjadi selisih anggaran dan selisih kapasitas: Selisih anggaran: d p 37.500 Anggaram BOP variabel(7.Anggaran BOP pada kapasitas 7.000 jam x Rp2) Variabel: (7.500 BOP sesungguhnya bulan Januari BOP dibebankan bulan Januari: (7.000 w Jumlah BOP tetap tersebut me~upakanhasil dari perkalian antara tarip tetap dengan kapasitas normal. Selisih total BOP merupakan perbedaan antara BOP sesungguhnya dengan BOP dibebankan: Rp 37.500 Perbedaanjumlah anggaran BOPpada kedua tingkat kapasitas tersebut diakibatkan oleh elemen biaya overhead variabel. jumlah BOP tetap total dapat dihitung dengan mengambil salah satu BOP dianggarkan di atas.500 x Rp3) Anggaran BOP tetap R 16. baru kemudian bisa menganalisis selisih.0 R w 4.000 Tetap: (8.400 39.000 berjumlah Selisih 150 . oleh karena itu tarip pembebanan BOP tetap dapat dihitung sebagai berikut: Rp 16.400 Selisih anggaran Ru 1.500 Tarip Variabel: = Rp 3 per jam 1.500 BOP sesungguhnya BOP dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya: Rp16.000 RD 1.800 x Rp5) 39. sehingga tarip biaya variabel per jam dapat dihitung sebagai berikut: Rp4.000 Anggaran BOP pada kapasitas 6.000 jam Tarip total: Rp 3 + Rp 2 = Rp 5 Setelah diperoleh tarip pembebanan baik tetap maupun variabel.500 34.

000 (laba) Untuk dapat menjawab pertanyaan.160. Oleh karena jumlah tarip belum diketahui. harus diketahui jumlah salah satu dari ketiga jenis BOP di atas.400 jam RP 0 Rp 60.000 jam RP 0 Rp 160. maka harus dihitung terlebih dahulu dengan menggunakan data bulan Januari. Jumlah BOP yang dapat dihitung jumlahnya dengan data yang ada adalah BOP dibebankan pada bulan Februari.Selisih kapasitas: BOP dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya BOP dibebankan: (7.000 Rv 400(rugi) Pengertian untuk menjawab soal no.000 Selisih anggaran (-) BOP Dianggarkan pada Kapasitas Sesungguhnya Selisih kapasitas (-) BOP Dibebankan Rp 2.000 . harus dipahami urutan analisis selisih BOP sebagai berikut: BOP Sesungguhnya (-) BOP Dianggarkan pada Kapasitas Sesungguhnya (-) BOP Dibebankan Selisih Anggaran Selisih kapasitas Sehingga untuk menjawab pertanyaan soal ini. BOP dibebankan adalah merupakan perkalian antara tarip pembebanan dengan jam sesunggunya.800 jam x Rp 5) Selisih kapasitas Rp 39.000. 80 sld 84 Data bulan Januari 1989: BOP sesungguhnya Jam mesin sesungguhnya Selisih kapasitas Selisih anggaran Data bulan Februari 1989: Jam mesin sesungguhnya Selisih kapasitas Selisih anggaran Rp 2.400 39. dengan cara sebagai berikut: Analisis BOP bulan Januari: BOP Sesungguhnya Rp 2.000 (rugi) 8.000 8.160.

000 berjumlah berjumlah Rp 2. Setelah tarip pembebanan diketahui.100.100.000 jam 400 jam Rp 40.400). c Selisih BOP bulan Maret: BOP Sesungguhnya .000.040.000 Tarip variabel : Tarip tetap : = RplOO per jam 400 jam Rp250 -Rp100 = Rp 150 per jam 83.000. a Dari analisis yang dilakukan untuk menjawab sod no.000 Tarip : = Rp 250 per jam 8. diperoleh jumlah BOP dianggarakanpada dua tingkat kapasitas (Januari 8.400 jam 8.000 RD 40. 89.000jam dan Februari 8. BOP sesungguhnyabulan Februari dihitung sebagai berikut: BOP Dibebankan: (8.400 jam x Rp 250) Rp 2.000 (laba) (-) BOP Dibebankan Rp 2. Perbedaan jumlah BOP pada kedua tingkat kapasitas tersebut diakibatkan oleh elemen biaya variabel.040. Anggaran BOP pada kap'asitas Rnggaran BOP pada kapasitas Selisih 8. sehingga tarip variabel dapat dihitung sebagai berikut: +r 82.000 Untuk lebih jelasnya disajikan sebagai berikut: BOP Sesungguhnya Selisih anggaran Rp 0 (-) BOP Dianggarkan pada Kapasitas Selisih kapasitas Rp 60.000 BOP Sesungguhnya Rp 2.000 2.000 (-) Selisih kapasitas (laba) 60.000 jam c 80.000 81. e Lihat jawaban di atas.Tarip pembebanan BOP kemudian dihitung sebagai berikut: Rp 2.

000 jam mesin.000 BOP Dianggarkan pada kapasitas 8.000 .000 jam mesin berjumlah RpO.000 (-) BOP variabel: (8. diperlukan data tentang jumlah kapasitas normal.000 Kapasitas Normal: = 8. d Untuk dapat menghitung selisih anggaran.TT) = (KN .000 jam Rp150 Biaya Overhead sesungguhnya Rp 1.000 Biaya Overhead dianggarkan : Tetap : (8. Hal tersebut hanya nlungkin terjadi apabila kapasitas normal sarna dengan kapasitas sesungguhnya.500.000 Rp 1.800 jam x Rp250) Selisih total KP 1.200.000.000 jam x Rp 150) Rp 1.200.000 (laba) Pengertian untuk menjawab soal no.000 Rp 1.000 (laha) 84.960.000 10. Hasil pada analisis BOP pada bulan Januari diketahui selisih kapasitas pada kapasitas sesungguhnya 8.800 jam x Rp 100) 780.KS) TT Keterangan: = Kapasitas Normal KN = Kapasitas Sesungguhnya KS TT = Tarip Tetap = Tarip Variabel TV Atau dapat juga dihitung dengan cara sebagai berikut: Rp 2.BOP Dibebankan: (7.980.000 jam x Rp 100) BOP Cetap * Ru 1.{ (KS x TT) + (KS x TV) ] = (KN x TT) .000 Variabel : (7. sehingga dapat disimpulkan bahwa jumlah kapasitas nonnal adalah 8.006 jam 800.000 Selisih anggaran Rp 20.050.200.000 jam mesin Rp 4.(KS . Logika tersebut diturunkan dari rumus perhitungan selisih kapasitas sebagai berilcut:' Selisih kapasitas = { (KN x TT) + (KS x TV) ) .000 (rugi) 8. 85 s/d 91 Data bulan Agustus: Selisih anggaran Kapasitas sesungguhnya BOP sesungguhnya Data bulan September: Rp 100.

000jam Tarip BOP variabel: 10.000 BOP dianggarkan pada kapasitas 8.400.000 Tarip total : Tarip tetap = Rp 500 per jam 10.000 Rp 600.000 Rp 2.000 jam : Rp500 . c Rp 5.000.000 9.000.000 jam Bulan September: Rp 5.000.000 jam mesin Rp 4.000.000 BOP dibebankan (+/-) Selisih kapasitas 0 Rp 5.450.000 (-) Selisih anggaran (rugi) 100.000 3.000 Anggaran BOP pada kapasitas Anggaran BOP pada kapasitas 8 0 0jam berjumlah 4.000jam berjumlah Rp 5.0 Selisih 2.400. dihitung sebagai berikut: Bulan Agustus: BOP sesungguhnya Rp 4.000 .000. 87.000 Jumlah BOP dianggarkan pada dua tingkat kapasitas.000.000 jam RD 600.000 jam x Rp300) BOP tetap b Lihat no. 94.000.Selisih kapasitas Kapasitas sesungguhnya BOP dibebankan Data bulan Oktober: Kapasitas sesungguhnya BOP sesungguhnya RP 0 10.000 jam 85.000 BOP dianggarkan pada kapasitas 10.500.000 86.000jam (-) BOP variabel: (10. Tarip BOP tetap: Rp 5.000.Rp300 = Rp200 .000 Rp 4. b Jumlah BOP tetap dihitung sebagai berikut: BOP Dianggarkan pada kapasitas 10.000 Taripvariabel : = Rp 300 per jam 2.000 jam mesin Rp 5.

500.000.000 BOP dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya Tetap : (10.000jam.000 Rv 200.000 (laba) Selisih anggaran b Selisih kapasitas bulan Oktober: BOP dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya BOP dibebankan: (9.000 4.000 jam x Rp500) Selisih total 91. maka kapasitas normal sama dengan kapasitas sesungguhnya bulan tersebut.500.000 jam 89.000 jam x Rp 300) 2.700.450. Karena selisih kapasitas pada bulan September RpO. a Selisih anggaran pada bulan Oktober: BOP sesungguhnya Rp 4.000 Rv 50.000.000 Rp 250.000 Variabel: (9.000 4.000 jam x Rp500) Selisih total Rp 4.000 Kapasitas normal: Rp 200 Atau.88.700. c Selisih BOP bulan Oktober: BOP sesungguhnya BOP dibebankan: (9. = 10. c Besarnya kapasitas normal: Rp 2.000 jam x Rp 200)Rp 2.700.000 (laba) 90.450.000 (rugi) . Rp 4.000 4. yaitu 10.

dengan cara membagi jumlah biaya produksi yang dikeluarkan untuk pesanan tertentu dengan jumlah satuan produk yang dihasikan untuk memenuhi pesanan yang bersangkutan Metode harga pokok pesanan digunakan oleh perusahaan-perusahaan c.OK PESANAN A. metode harga pokok pesanan menghendaki dipisahkannya biaya produksi ke dalam biaya langsung dan biaya tidak langsung dalam hubungannya dengan produk Metode harga pokok pesanan cocok digunakan di dalarn perusahaan d. Untuk keperluan penentuan harga pokok produk. d. dengan cara membagi total biaya selama satu periode dengan jumlah produk yang dihasilkan di dalam periode yang bersangkutan. Manakah diantara pemyataan berikut ini yang BENAR? Metode harga pokok pesanan menghitung harga pokok per satuan a. percetakan. Apa prosedur akumuiasi biaya yang paling baik digunakanjika banyak pesanan yang masing-masing berbeda dalam spesifikasi produk hams diproduksi? . Metode harga pokok proses menghitung harga pokok produk pada saat b. pupuk. pesanan selesai diproduksi c. bumbu masak 3. kapal terbang. produksi dalam perusahaan yang produksinya berdasar pesanan yang diterima dari l u x atau bagian dalam perusahaan sendiri Metode harga pokok pesanan menghitung biaya produksi per satuan b. SOAL-SOAL METODE HARGA POKOK PESANAN 1. dok kapal Metode harga pokok pesanan digunakan dalam perusahaan semen. yang berproduksi masa Manakah di antara pemyataan yang bersangkutan dengan metode harga pokok pesanan berikut ini yang SALAH? Metode harga pokok pesanan digunakan untuk mengumpulkan biaya a.BAB VIII METODE HARGA POK.

Jawaban a dan b benar Kartu Harga Pokok Pesanan (Job Cost Sheet) digunakan untuk: a. Mengumpulkanbiaya bahan. Sheet permintaan bahan d. Kartu harga pokok d.dan biaya overhead pabrik untuk setiap pesanan b. d. jumlah biaya suatu pesanan sama dengan: Bahan baku yang digunakan a. Biaya konversi yang untuk pesanan yang bersangkutan c. dokumen dasar untuk mengakumulasi biaya untuk setiap order adalah: Faktur a. Barang yang sedang diproses dan barang yang dipesan tapi belum diproses d.a. upah langsung. Biaya tenaga langsung d. c. Hanya barang yang sedang diproses saja c. Job order Actual b. Job cost sheet Manakah diantara buku pembantu berikut ini yang merupakan rincian rekening kontrol Barang Dalam Proses (Work in Process)? b. Perusahaan pupuk urea b. Perusahaan penyulingan rninyak d. Kartu piutang Dalam sistem kalkulasibiaya pesanan. Process Standard Manakah diantaraperusahaan berikut ini yang kemungkinan besar menggunakan metode harga pokok pesanan dalam pengumpulan biaya produksinya? Perusahaan semen a. dan c benar . Perusahaan percetakan Dalam job order costing. Barang yang aktif diproses dan barang jadi yang belum dipindah ke gudang barang jadi. yang termasuk persediaan dalam proses akhir periode. b. Surat pemesanan (pembelian) c. Kartu biaya a. b. meliputi: a. Jawaban a. karena masih memerlukan test kualitas b. Jawaban a dan b benar Dalam metode harga pokok pesanan. Kartu persediaan c. c. b. Kartu pembantu rekening Barang Dalam Proses c.

10.

I

Direct labor ticket digunakan untuk memberi informasi tentang: Besarnya biaya upah tiap pesanan a. Besarnya biaya upah dalam rekening Barang Dalam Proses secara b. keseluruhan Biaya upah yang dimasukkan ke dalarn kartu harga pokok dan yang tidak c. dimasukkan ke dalam kartu harga pokok Jawaban a, b, dan c benar d.

1 1.

Manakah diantara rekening berikut ini yang didebit untuk mencatat upah tenaga kerja tak langsung dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan? a. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Upah Tenaga Kerja Tak Langsung b. c. Barang Dalam Proses Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan d. Dalam metode harga pokok pesanan, untuk menjurnal distribusi gaji manajer pabrik didebit rekening: Barang Dalam Proses Biaya Tenaga Kerja a. Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung b. c. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya d. Biaya Gaji dan Upah Dalam kalkulasi biaya pekerjaan pesanan, pajak penghasilan pegawai ditanggung dan dibayar oleh perusahaan atas karyawan pabrik sebaiknya diperhitungkan sebagai: a. Biaya tenaga kerja langsung b. Overhead Pabrik Biaya tenaga kerja tidak langsung c. d. Biaya administratif Pernakaian biaya tenaga kerja langsung untuk mengerjakan pesanan no. 456 di dalam perusahaan yang menggunakan metode harga pokok pesanan dicatat dengan mendebit rekening: a. Biaya Tenaga Kerja Langsung b. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Langsung c. Biaya Overhead Pabrik Yang Dibebankan d.

12.
l I

13.

14.

I

15.

1

Pada metode harga pokok pesanan, biaya overhead pabrik dibebankan pada pesanan atas dasar tarip ditentukan di muka karena: Pada metode harga pokok pesanan informasi biaya overhead pabrik a. sesungguhnya tidak penting

b.

c. d. 16.

Biaya overhead pabrik yang sesungguhnyabaru bisa diketahuibesarnya pada akhir periode, sedangkan harga pokok pesanan harus diketahui pada saat pesanan selesai, tanpa menunggu sampai pada akhir period Sudah diatur demikian oleh GAAP Jawaban a, b, dan c benar

Dalam perusahaan yang menggunakan harga pokok pesanan, pembebanan biaya overhead pabrik produk adalah atas dasar tarip yang ditentukan di muka. Alasan pembebanan tersebut adalah: a. Pembebananbiaya overheadpabrik atas dasar biaya yang sesungguhnya seringkali mengakibatkan berubah harga pokok persatuan produk yang dihasilkan dari bulan yang satu ke bulan yang lain Manajemen memerlukan informasiharga pokok produk per satuan pada b. saat pesanan selesai dikerjakan Berubah-ubahnya tingkat kegiatan produksi dari bulan ke bulan dan c. adanya perubahan tingkat efisiensi produksi Jawaban a, b, dan c benar d. Dalam perusahaan yang produksinyaberdasarkanpesanan, biaya overhead yang dibebankan kepada produk dihitung sebagai berikut: Mengalikan tarip biaya overhead pabrik yang ditentukan di muka a. dengan tingkat kapasitas yang direncanakan dalam periode yang bersangku tan Mengalikan tarip biaya overhead pabrik yang ditentukan di muka b. dengan tingkat kapasitasyang sesungguhnyadipakai untuk mengerjakan pesanan tertentu Membagi total biaya overheadpabrik yang dianggarkandengan taksiran c. dasar pembebanan dalam periode anggaran Mengalikan tarip biaya overhead pabrik yang ditentukan di muka d. dengan tingkat kapasitas teoritis yang diperkirakan dalam periode yang bersangkutan

18.

Manakah diantara rekening berikut ini yang didebit untuk mencatat biaya overheadpabrik yang dibebankankepada produk atas dasar tarip yang ditentukan di muka dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan? a. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Upah Tenaga Kerja Tak Langsung b. Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik c. Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan d. Dalam suatu Job order cost system yang menggunakan taripfactory overhead yang ditentukan lebih dahulu, bahan tidak langsung biasanya semula dicatat sebagai suatu kenaikan dalam:

19.

a. b. c. d.

Work in process control Factory overhead applied Factory overhead control Stores control

20.

Manakah diantara rekening berikut ini yang didebit untuk mencatat biaya depresiasi mesin dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan? a. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya b. Biaya Depresiasi c. Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan d. Untuk mencatat biaya depresiasi mesin pada metode harga pokok pesanan ayat jurnalnya adalah: a. Barang Dalam Proses xx Akumulasi Depresiasi Mesin xx b. Barang dalam proses-Overhead xx Biaya Overhead Pabrik-Dibebankan xx c. Biaya Overhead Pabrik-Sesungguhnya xx Akumulasi Depresiasi Mesin xx d. Jawaban a, b, dan c benar Dalam rangka akumulasibiayajob order,makajumlah rupiah yang terlibatdalam pengalihan persediaan barang dari rekening Barang Dalam Proses kepada rekening BarangJadi ialah hasil penjumlahan dari biaya yang dibebankankepada setiap job, Yang dimulai prosesnya selama masa yang bersangkutan a. Yang berada dalam proses selarna masa yang bersangkutan b. Yang diselesaikan dan yang terjual selama masa yang bersangkutan c. Yang diselesaikan dalam kurun masa yang bersangkutan d.

2 1.

23.

Jika suatu pesanan selesai dikerjakan, total biaya produksi yang dicatat dalam kartu harga pokok produk dicatat dengan jumal: a. Barang Dalam Proses xx Persediaan Produk Jadi xx b. Persediaan Produk Jadi xx Barang Dalam Proses xx c. Persediaan Produk Jadi xx Barang Dalam Proses xx d. Harga Pokok Penjualan xx Barang Dalam Proses xx

Jika pembebanan kurang biaya overhead pabrik dialokasikan ke persediaan dan harga pokok penjualan, maka ha1 itu akan: a. Menambah harga pokok produksi b. Menambah harga pokok produksi yang dijual c. Mengurangi harga pokok produksi Mengurangi harga pokok produk yang dijual d. Jika sisa bahan (scrap materials) diperlakukan sebagai pengurang biaya bahan baku dalam pesanan di mana sisa bahan tersebut terjadi, maka jurnal yang dibuat pada saat sisa bahan tersebut dijual adalah: a. Debit: Kas; Kredit: Hasil Penjualan Sisa bahan Debit: Kas; Kredit: Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya b. Debit: Kas; Kredit: Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku c. Debit: Kas; Kredit: Persediaan Bahan Baku d. Produk hilang dalam proses yang biasa terjadi,pada metode harga pokok pesanan akan berakibat: Naiknya harga pokok produk pesanan yang bersangkutan a. Naiknya biaya produksi pesanan yang bersangkutan b. Diperhitungkan harga pokok produk yang hilang tersebut dalam tarip c. biaya overhead pabrik d. Turunnya harga jual produk Perbedaan antara produk cacat dan produk rusak adalah: Produk rusak dapat diperbaiki, produk cacat tidak bisa diperbaiki a. Produk rusak dapat dijual, produk cacat tidak dapat dijual b. Produk cacat dapat dijual, produk rusak tidak dapat dijual c. Terjadinyaprodukrusak normal, terjadinyaproduk cacat karenakesalahan d. Apabila terjadi produkrusak yang disebabkanoleh karena sulitnya suatu pesanan dan produk rusak tersebut laku dijual, maka hasil penjualan produk rusak tersebut sebaiknya diperlakukan sebagai: Penamball harga pokok produk yang baik untuk pesanan yang a. bersangkutan b. Sebagai penghasilan diluar usaha Sebagai pengurang biaya overhead pabrik yang sesungguhnya c. Sebagaipengurang biayaoverhead pabrikdepartemen yang bersangkutan d. Sebuah perusahaan memakai metode harga pokok pesanan. Pada tahun 19A perusahaan tersebut mengerjakan pesanan yang sangat spesifik sehingga sebagian rusak. Harga pokok produk rusak tersebut sebaiknya diperlakukan: a. Sebagai kerugian Sebagai elemen overhead pabrik sesungguhnya b.

C.

d.,

Ditambahkan ke harga pokok produk yang baik untuk pesanan yang bersangkutan Ditambahkan ke harga pokok produk yang dihasilkan selama periode yang bersangkutan

30.

PT. X menggunakan metode harga pokok pesanan dalam pengumpulan biaya produksinya. Biaya overhead pabrik untuk tahun 19x1 diperkirakan sebesar Rp50.000 pada tingkat kapasitas yang direncanakan sebanyak 20.000 jam tenaga kerja langsung. Dalam bulan Mei 19x1 pesanan no. 46 1 telah selesai dikerjakan. Biaya bahan baku untuk pesanan tersebut berjumlah Rp4.000 dan biaya tenaga kerja langsung berjumlah Rp1.500 dengan tarip Rp5 per jam. Pada akhir tahun ternyata perusahaan telah beroperasi 24.000jam tenaga kerja langsung dan biay a overhead pabrik yang sesungguhnyadikeluarkan sebesarRp54.000. Jika pesanan no. 461 terdiri dari 100 unit produk, maka harga pokok per unit produk dalam pesanan tersebut adalah:

Data untuk menjawab soal no. 31 s.d. 33 Pembebanan Biaya Overhead Ke Pesanan, Selisih Pembebanan, dan Alokasi Selisih
Perusahaan A menggunakan metode harga pokok pesanan dalam menga~umulasikan biaya produksinya, Biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk dengan tarip yang ditentukan di muka atas dasar jam tenaga kerja langsung. Perusahaan menggunakan kapasitas produksi sesungguhnya yang diharapkan dalam menganggarkan biaya overhead pabrik. Dalam tahun 19x2 kapasitas sesungguhnya yang diharapkan diperkirakan 50.000 jam tenaga kerja langsung. Biaya overhead pabrik pada kapasitas tersebut dianggarkan sebesar Rp300.000. Catatan akuntansi perusahaan pada akhir tahun memperlihatkan data biaya dan data operasi berikut ini: Jam tenaga kerja langsung Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik sesungguhnya Harga pokok persediaan bahan baku Harga pokok persediaan produk dalam proses Harga pokok persediaan produk jadi Harga pokok produk yang terjual 3 1. 40.000 jam Rp 365.000 290.000 14.000 50.000 150.000 800.OOO

Biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk dalam tahun 19x2 adalah: a. Rp 240.000 b. Rp 290.000 C. RP - 6 d. Rp 20.000

32.

Pembebanan kurang biaya overhead pabrik dalam tahun 19x2 adalah: a. Rp 270.000 b. Rp 290.000 c. RP 6 d. Rp 50.000 Jika pernbebanan kurang biaya overhead pabnk dialokasikan kepada persediaan dan harga pokok penjualan, maka harga pokok produk yang dijual sesungguhnya tahun 19x2 adalah: a. Rp 840.000 b. Rp 784.000 c. Rp 816.000 d. Rp 820.000

33.

Data untuk menjawab soal no. 34 s.d 35 Pembebanan Biaya Overhead Pabrik dan Selisih Pembebanan
Perusahaan A memproduksiproduknya berdasarkan pesanan, semua pesanan diproduksi berdasarkan spesifikasi dari pemesan, dan biaya produksi dikumpulkan menurut pesanan yang diterima. Dalam tahun 19x2 perusahaan menetapkan biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atas dasar tarip sebesar 150% dari biaya tenaga kerja langsung. Catatan akuntansi perusahaan pada akhir tahun memperlihatkan data biaya dan data operasi berikut ini: 1.475 jam Jam tenaga kerja langsung Rp 4.00Oljam Tarip biaya tenaga kerja langsung Rp 9.000.000 Biaya overhead pabrik sesungguhnya 34. Biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada pesanan dalam tahun 19x2 adalah: a. Rp 8.850.000 b. Rp 13.500.000 c. Rp 150.000 d. Rp 6.000 Pembebanan kurang biaya overhead pabrik dalarn tahun 19x2 adalah: a. Rp 3.100.000 b. Rp 4.500.000 c. Rp 150.000 d. Rp 6.000

35.

Data untuk menjawab soal no. 36 s.d. 42 Pembebanan Biaya Overhead Pabrik, Analisis Selisih, Perhitungan Harga Pokok, dan Laba Kotor
Pada bulan Nopember 1984 PT Cinta Nusa menerima dua macam pesanan yaitu pesanan A dan B. Pesanan A sebanyak 1.000 buah dan B sebanyak 800 buah. Harga jual pesanan Pesanan A Rp 4.000 per buah dan Pesanan B Rp 2.500 per buah. Tarip biaya overhead pabrik (BOP) didasarkan pada jam kerja langsung (JKL) dengan kapasitas 2.000 jam, besarnya tarip per jam terdii dari tarip tetap Rp300 dan tarip variabel Rp500. Data untuk bulan Nopember 1984 adalah: Bahan dipakaiuntuk pesanan A Rp 800.000 dan Pesanan B Rpl.000.000. a).

Tarip upah langsung Rp 1.000 d. c).000 Besarnya laba kotor atas penjualan sebelum diperhitungkan selisih BOP adalah: b.664. JKL sesungguhnya dinikrnati oleh Pesanan A 60% dan Pesanan B 40%. d). Pesanan A telah selesai dan langsung dijual.000 a.000 d.316.600. 45 Jurnal Pencatatan dan Selisih Pembebanan PT X berusaha dalam bisnis mebel. 2. Rp 1.000.000 b. Rp 2.800 . Rp 1.000 d. 36.875. 41.000 Besamya laba kotor atas penjualan setelah diperhitungkan selisih BOP adalah: a.140. Biaya komersial Rp 200. I Besarnya selisih anggaranRp40.000 d.000 d. Rp 1. Pengumpulan biaya produksi dilakukan dengan menggunakan metode harga pokok pesanan (joborder cost method).Data biaya dan data operasi selarna bulan Mei 19x1 adalah sebagai berikut: Harga pokok bahan baku yang dibeli Rp 228. 42.000 (rugi). Rp 1. 1. Rp 1. Rp 2.000 (laba) dan selisih kapasitas Rp60.236.000 b. Rp 1.000 d.000. Rp 2.800 d.720.200.d. I 39.440. Rp 2.296. Rp 1.744. Rp 1. Rp 1. 43 s.000 b.000 b.000 Besamya anggaran fleksibel pada kapasitas sesungguhnya: a. Pesanan B masih dalam proses pada akhir periode.200 b. Rp 1.000 c.120. Rp 2.000 a.000 c.33.296.000 per jam.460.256.500. Rp 1.b). Besarnya jam kerja langsung sesungguhnya adalah: 2.880. Rp 2.000 c.000 Besarnya harga pokok produk dalam proses adalah: a.056. Data untuk menjawab soal no.875 Besarnya biaya overhead pabrik dibebankan adalah: a. c.000 c.000 Besarnya total narga pokok produk selesai adalah: a.000 b. Rp 2. Rp 2.800. Rp 1. Rp 1. 1 I 40.000 c.6.944. Rp 2. 1.000 c. Rp 1. 38.956. Rp 1.576.000 37.

rekening Barang Dalam proses dikredit sebesar: a.000 43.000. Rp 590. Rp 609. 69.d 48 Dalam bulan Maret 19X1. pesanan nomor 67.600 c. Rp 212. dan 70. 45.000. Persediaan produk dalam proses 43. Persediaan yang ada pada awal bulan Mei 19x1 adalah: Persedian bahan baku Rp 25. Biaya tenaga kerja langsung yang dikeluarkan dalam bulan Maret 19x1 adalah: pesman nomor 66.200 jam Pendapatan penjualan Rp 672.000.000 Perusahaan membebankanhiaya overhead pabrik kepada produk dengan tarip Rp 4.08.800 b.000. pesanan nomor 69. . (c).600 Harga pokok produksi Rp 609.800 Harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi Rp 212. Rp 28. pesanan nomor 68. Rp 177.800 d.800 c.000 Biaya bahan baku yang dikeluarkan dalam bulan Maret 19x1 adalah: pesanan nomor 67. Rp 590.000.000. Untuk mencatat harga pokok produk jadi yang telah selesai diproduksi dalam bulan Mei 19x1. 46 s. Rp 228. pesanan nomor 68. Rp 20. Data untuk menjawab soal no.000.400 I I 44. Rp 10. pesanan nomor 69. rekening Harga Pokok Penjualan didebit sebesar: a. Persediaan produk jadi 83.200 Persediaan produk jadi akhir Mei 19x1 adalah Rp 64.800 Biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi (termasuk biaya depresiasi Rp17.200 b.600 (a).000.000.600 Jam mesin 43. dan pada tanggal 1 Maret 19x1 masih merupakan produk dalam proses yang telah menelan biaya bahan baku sebesar Rp 30. Rp 590.800 c. Rp 42. Rp 236.000 d.600) Rp 177.00 per jam mesin. Rp 27. Rp 172.800 d. Rp 51.600 b.400 Untuk mencatat harga pokok produk yang dijunl dabm bulan Mei 19X I .000. Pesanan nomor 66 mulai dikerjakan dalam bulan Pebruari 19x1. Rp 42.I I . dan biayaoverhead pabrik yang diperhitungkan atas dasar tarip Rp 9. Rp 4. Rp 19. pesanan nomor 70.200 (b). Biaya tenaga kerja langsung Rp 236.400 dalani Biayaoverhead pabrik dibebankan lebih rendah (iinderzrl~plic~ bulan Mei 19x1 sebesar: a. Kp 172. R p 7. pesanan nomor 70. Rp 83. biaya tenaga kerja langsungRp12.OW. perusahaan mebel X mulai mengerjakanpesanan nomor 67.

Pesanan nomor 503 dan 504 telah selesai dikerjakan dan ditransfer ke gudang. 46. .35 per jam tenaga kerja langsung. Rp 139. yang d). Rp 6.100. Total harga pokok produk yang telah selesai diproduksi dalam bulan Juni 19x1 adalah: .000. Harga pokok produk yang dijual dalam bulan Maret 19x1 adalah: a. Rp 8.000 d. Data produksi dan biaya bulan Juni 19x1 adalah sebagai berikut: a). Pesanan nomor 503 telah diserahkan kepada pemesan dengan harga jual sebesar biaya produksi ditambah 50%. Rp 77.000 d. ini: pesanan nomor 503. pesanan nomor 505.500 Bahan baku yang dikeluarkan dari gudang dibebankan kepada pesanan berikut b). upah tidak langsung.000 b. Rp 36. Rp 18. Rp 7.000 Harga pokok produk yang masih dalam proses pada akhir bulan Maret 19x1 adalah: a. Rp 77. Rp 301.5 per jam sebesar Rp 24. Rp 76. dan 70 telah selesai dikerjakan dan telah diserahkan kepada pemesan dalam bulan maret 19x1.218 b. Rp 3. Rp 124. Rp 6.Biaya overhead pabrik dibebankhn kepada produk atas dasar tarip 75% dari biaya tenaga kerja langsung.482 . pesanan nomor 504. Rp 63. Pesanan nomor 503 masih dalam proses awal bulan Juni dengan jumlah biaya Rp 8. Rp 2. R p 25.900.025.000 c. Upah yang dibayarkan dengan tarip Rp 7.000 Biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk dalam bulan Maret 19X 1 adalah: a.d 51 Perhitungan Harga Pokok dan Selisih Pembebanan Perusahaan Y mengolah biaya produksinya dengan menggunakan metode harga pokok pesanan. didistribusikan sebagai berikut: pesanan nomor 503.350. Rp 7.000 c. Pesanan nomor 66. Rp 9. 3 0 Biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atas dasar tarip sebesar f). Rp 4 .250 b.500. 49 s. Bahan penolong yang digunakan sebesar Rp 3. Rp 320. g). a. 49. I Data untuk menjawab soal no. Biaya overhead pabrik lain yang terjadi dalam bulan Juni 19x1 adalah sebesar e). 48. dan pesanan nomor 505. Rp 80.250 b.250 c.000 47.500. Rp 124.68. c).67.375. pesanan nomor 504. Rp 17.500.500 c.

50.

Harga pokok produk yang rnasih dalam proses pada akhir bulan Juni 19x1 adalah: a. Rp 20.133 b. Rp 25.482 c. Rp 43.700 d. Rp 18.218 Dalam bulan Juni 19x1terjadi pembebanan lebih biaya overhead pabrik sebesar: a. Rp 9.825 b. Rp 9.983 c. Rp 265 d. Rp 158

5 1.

i
I

Data untuk menjawab soal no. 52 s.d. 56 Perhitungan Harga Pokok Produk Dalam Proses, Produk Selesai, Produk Terjual
Data biaya yang dieluarkan untuk pesanan nomor 1 sampai dengan 10 dalam bulan Mei dan Juni 19x1 adalah sebagai berikut.

Pesanan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Biaya yang dikeluarkan s/d tnl3 1 Mei 19x1 Rp 5.040.000 4.440.000 3.120.000 2.280.000 2.640.000

Biaya produksi bulan Juni 19 X 1

Rp 960.000 2.520.000 4.440.000 5.532.000 1.949.000 1.548.000 948.000

Pesanan No. 1 s.d. 3 telah selesai diproduksi dalam bulan Mei 19x1 Pesanan No. 4 s.d. 7 telah selesai diproduksi dalarn bulan Juni 19x1 Pesanan No. 8 s.d. 10 belum selesai diproduksi pada tanggal 30 Juni 19x1 Pesanan 1, 3,5,7 telah dijual kepada pembeli. 52. Harga pokok produk dalain proses pada tanggal 1 Juni 19X1 adalah: a. Rp 17.520.000 b. Rp 2 1.000.000 c. Rp 12.600.000 d. Rp 4.920.000 Harga pokok produk dalam proses pada tanggal 30 Juni 19x1 adalah: a. Rp 17.796.000 b. Rp 4.344.000 c. Rp 12.600.000 d. Rp 4.920.000

53.

54.

Harga pokok produk persediaan produk jadi tanggal 1 Juni 19x1 adalah: Rp 2 1.000.000 a. Rp 17.520.000 b. C. Rp 12.600.000 d. Rp 4.920.000 Harga pokok persediaan produk jadi pada tanggal 30 Juni 19x1 adalah: a. Rp 12.120.000 b. Rp 2 1.000.000 c. Rp 12.600.000 d. Rp 4.920.000 Harga pokok penjualan bulan Juni 19x1 adalah: a. Rp 17.520.000 b. c. Rp 12.600.000 d.

55.

56.

Rp 12.120.000 Rp 18.852.000

I
1

Data untuk menjawab soal no. 57 s.d. 62 Perhitungan Jam Kerja Langsung, Biaya Tenaga Kerja Langsung, Biaya Overhead Dibebankan, Perhitungan Harga Pokok, dan Laba Kotor

PT NUSA mengolah produk atas dasar pesanan. Biaya overhead pabrik dibebankan atas dasar tarip yang didasarkan atas anggaran biaya overhead pabrik (BOP) per bulan sebesar Rp 200.000 dan kapasitas normal 5.000 jam kerja langsung (JKL). Sesuai perjanjian dengan Serikat Pekerja Indonesia, biaya tenaga kerja langsung dibayar dengan tarip upah Rp 60 per JKL. Transaksi yang terjadi selarna bulan April 1989 adalah sebagai berikut: Diterimapesananno. 101 sebanyak 1.000 unit dengan harga jual Rp 500 a). per unit; pesanan no. 102 sebanyak 2.000 unit dengan harga jual Rp 400 per unit, pesanan no. 103 sebanyak 500 unit dengan harga jual Rp 600 per unit. Pemakaian bahan baku untuk pesanan no. 101: RplOO.OOO; no. 102: b). Rp150.000; dan no. 103: Rp 50.000. JKL yang sesungguhnya dinikmati oleh pesanan no. 101 sebesar 30%; c). no. 102 sebesar 50%; dan no. 103 sebesar 20%. BOP yang sesungguhnya terjadi Rp150.000; besarnya selisih BOP d). RplO.OOO (laba).
57. Besarnya JKL sesungguhnya adalah: a. 5.000 Jam c. 6.000 Jam

b. d.

4.000 Jam 5.250 Jam

58.

Besarnya biaya tenaga kerja langsung sesungguhnya terjadi sebesar: a. Rp 200.000 b. Rp 240.000 c. Rp 300.000 d. Rp 150.000 Besarnya BOP Dibebankan kepada pesanan adalah: b. a. Rp 160.000 c. Rp 200.000 d.

59.

Rp 150.000 Rp 210.000

60.

Total harga pokok pesanan no. 101 adalah: a. Rp 500.000 c. Rp 220.000

b. d.

Rp 250.000 Rp 200.000

61.

Jika pesanan no. 102 dijual maka total laba brutonya: a. Rp 800.000 b. C. Rp 350.000 d.

Rp 450.000 Rp 250.000

62.

Jika pesanan no. 103 telah selesai, harga pokok per unitnya: a. Rp 260 b. Rp c. Rp 175 d. Rp

200 300

Data untuk menjawab soal no. 63 s.d. 68 Perhitungan Jam Kerja Langsung, Biaya Tenaga Kerja Langsung, Biaya Overhead Pabrik, Harga Pokok Pesanan, dan Laba Bruto PT BUD1 mengolah produk atas dasar pesanan. Bcsarnya kapasitas norrnal 8.000 jam kerja langsung per bulan. Tarip BOP besxnya Rp 250 per jam kerja langsung terdiri aras tarip tetap Rp 100 dan tarip variabel Rp 150. Tarip upah langsung yang disetujui dengan serikat pekerja Rp 400 per jam kerja langsung. Transaksi bulan Oktober 1989 adalnh: (a). Diterima pesanan A sebanyak 500 unit dengan harga jual Rp 16.000 per unit dan pesanan B 200 unit dengan harga jual Rp 25.000 per unit. Bahan yang digunakan untuk pesanan A Rp 2.200.000 dan B Rp 1.800.000. (b). Analisis selisih biaya overhead pabrik bulan Ohtober r~~enunjukkan selisih (c). anggaran Rp 75.000 (laba) dan selisih kapasitas Rp 50.000 irugi). JKL sesungguhnya dinikmati oleh pesanan A: 60% &an B: 40%. (d).
63.

-Jam kerja langsung sesungguhnya adalah: a. 8.000 c. 8.750

b. d.

8.500 7.500

64.

Besarnya biaya tenaga kerja langsung untuk pesanan A adalah: a. Rp 800.000 b. Rp 750.000 C. Rp 850.000 d. Rp 875.000 Besarnya total biaya overhead pabrik sesungguhnya adalah: b. Rp 5.050.000 a. Rp 1.975.000 c. Rp 1.875.000 d. Rp 1.800.000 Total harga pokok pesanan A adalah: a. Rp 4.250.000 C. Rp 5.125.000

65.

66.

b. d.

Rp 5.500.000 Rp 4.875.000

67.

Jika pesanan B telah selesai maka harga pokok per unitnya dalah: a. Rp 25.000 b. Rp 18.750 c. Rp 16.250 d. Rp 20.000 Jika pesanan A telah dijual, maka laba bruto per unitnya adalah: a. Rp 5.750 b. Rp c. Rp 5.000 d. Rp

68.

6.000 4.750

Data untuk menjawab soal no. 69 s.d. 84 Jurnal Pencatatan, Biaya Overhead Pabrik, dan Harga Pokok Pesanan PT Arnin memiliki persediaan pada tanggal 1 Mei sebagai berikut: Rp 15.009 Barang Jadi Barang Dalam Proses 19.070 Material (bahan-bahan) 14.000 Dalam rekening Barang Dalam Proses terdapat tiga pesanan: Pesanan 261 Pesanan 262 Pesanan263 Material Rp 2.800 Rp 3.400 Rp 1.800 Tenaga kerja 2.100 2.700 1.350 Overhead pabrik dibebankan 1.680 2.160 1.080 Rp 6.580 Rp 8.260 Rp 4.230 Jumlah
Berikut ini adalah transaksi selama bulan Mei: Dibeli material dengan syarat n/30 Rp 22.000 a). Permintaan bahan untuk produksi Rp 21.000. Dari jumlah ini Rp 2.400 b). untuk bahan tidak langsung, sedangkan selisihnya digunakan dengan rincian sebagai berikut: Pesanan 261 Rp 5.300 Pesanan 262 7.400 Pesanan 263 5.900 Pengembalianbahan dari pabrik ke gudang Rp 600, darijumlah ini yang c). Rp 200 berupa bahan tidak langsung, sedangkan yang sisanya berasal dari pesanan 262. Pengembalian bahan ke pemasok (supplier) Rp 800. d). Gaji pegawai setelah dikurangi Pajak Penghasilan 15 persen Rp 32.300. e). Jumlah ini dibayar dalam bulan Mei juga. f). Rincian gaji pegawai adal&: 55 % tenaga kerja langsung, dengan rincian 261: 35 %, 2 6 2 45 %, dan 263: 20 %. 20% gaji tenaga kerja langsung 15% gaji bagian penjualan, dan 10% gaji bagian adrninistrasi dan umum.

g).

h). i). j).

k). 69.

Biaya overhead pabrik, selain yang disebutkan di muka berjumlah Rp 5.500.Termasuk dalam jumlah ini adalah biaya depresiasi untuk bangunan clan mesin pabrik Rp 2.000, dan asuransi pabrik terpakai Rp 250. Sisa dari overhead pabrik ini belum dibayar sampai dengan akhir Mei. Biaya overhead pabrik yang dibebankan ke produksi: 80 persen dari biaya tenaga kerja langsung ke tiga pesanan selama bulan Mei. Pesanan 261 dan pesanan 262 selesai dan dikirim ke gudang. Kedua Pesanan 261 dan Pesanan 262 dikirim ke pemesan, untuk itu pemesan ditagih dengan harga 40% di atas harga pokok penjualan. Penagihan piutang selama bulan Mei Rp 69.500.

Salah satu ayatjumal yang hams dibuat sehubungan dengan transaksi (b) adalah: a. Debit - Barang Dalam Proses Rp 21.000 Rp 18.600 b. Debit - Barang Dalam proses c. Debit - Material Rp 21.000 Rp 18.600 d. Debit - Material Salah satu ayatjurnal yang harus dibuat sehubungan dengan transaksi (b) adalah: Kredit - Barang Dalam Proses Rp 21.000 a. b. Kredit - Barang Dalam proses Rp 18.600 c. Kredit - Material Rp 21.000 d. Kredit - Material Rp 18.600 Jumlah Rp7.400 dalam transaksi (b) akan dipostingkan (dibukukan) ke: Buku besar Barang Dalam proses a. b. Buku besar Material Buku pembantu Barang Dalam Proses c. Buku besar Biaya Overhead Pabrik Kontrol (Sesungguhnya) d. Salah satu ayat jurnal sehubungan dengan transaksi (c) adalah: Kredit - Barang Dalam Proses RP a. b. Kredit - Barang Dalam Proses RP c. Kredit - Biaya Overhead Pabrik Kontrol Rp d. Jawaban b dan c benar

70.

7 1.

72.

600 400 200

73.

Ayat-ayat jurnal sehubungan dengan transaksi (e) adalah: a. Debit - Biaya Gaji dan Upah Rp 38.000 Kredit - Utang Gaji dan Upah Rp 32.300 b. c. Kredit - Utang Pajak Penghasilan Rp 5.700 d. Jawaban a, b, dan c benar

74.

Ayat-ayat jumal sehubungan dengan transaksi (f) adalah: Rp 20.900 a. Debit - Barang Dalam Proses Rp 17.765 b. Debit - Barang Dalam Proses c. Kredit- Biaya Overhead Pabrik Kontrol Rp 7.600 d. Jawaban a dan c benar Ayat-ayat jumal sehubungan dengan transaksi (g) adalah: a. Debit - Biaya Overhead Pabrik Kontrol b. Debit - Biaya Overhead Pabrik Applied c. Debit - Biaya Depresiasi d. Debit - Biaya Asuransi

75.

Rp 5.500 Rp 5.500 Rp 2.000 Rp 250

76.

Ayat-ayat jumal sehubungan dengan transaksi (g) adalah: a. Kredit - Biaya Overhead Pabrik Applied Rp 5.500 b. Kredit - Akumulasi Depresiasi Rp 2.000 c. Kredit - Utang Biaya Rp 3.250 d. Jawaban b dan c benar Berapakahjumlah biaya overhead pabrik yang dibebankan pada produksi selama bulan Mei? a. Rp 30.400 b. Rp 16.720 c. Rp 34.000 d. Rp17.620 Rekening yang didebit sehubungan dengan transaksi (h) adalah: a. Barang Dalarn proses b. Overhead Pabrik Yang Dibebankan (Applied) c. Overhead Pabrik Sesungguhnya (actual) Kartu harga Pokok Pesanan d. Berapakah harga jual pesanan no. 261 : a. Rp 29.948 c. Rp 32.180 Berapakah harga pokok pesanan no. 262: a. Rp 29.948 c . Rp 32.589

77.

78.

79.

b. d.

Rp 32.8 10,40 Rp 35.065,80

80.

b. d.

Rp 28.994 Rp 29.498

8 1.

Berapakah saldo rekening Persediaan Barang Jadi pada akhir bulan Mei: a. Rp 15.000 b. Rp 38.160 c. Rp 20.160 d. Rp 26.5 10

800 b.000 .Barang Dalam Proses Rp 57.636 b. Debit .500 Overhead Applied Rp 21.Persediaan Barang Jadi c. perusahaan akan membuat jumal: Barang Dalam Proses Rp 21. Rp 17.500 Barang Dalam Proses Rp 16.000 10.Harga Pokok Pesanan Rp 57. Rp 14. Rp 17.000 6.500 selesai belum Rp 1.500 belum a - - Ru 8. Rp 16.OOO Status pesanan selesai sudah Status pergiriman Rp 2.900 b.000 Overhead Pabrik-Applied Rp 21.000 750 2.000 d. Rp 15.620 83.600 Saldo rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya pada akhir bulan Mei sama dengan (saldo awal Mei dianggap sama dengan nol): a. Kredit.500 Overhead Pabrik-Kontrol Overhead Pabrik-Applied Rp 16.500 belum 85.700 d.000 Overhead Pabrik Jumlah Rpll.000 Overhead Pabrik-Kontrol Rp 16.720 c.636 d.82. 84. Ayat-ayat jurnal sehubungan dengan transaksi (i) adalah: Rp 57.250 Rp 750 250 500 1. Pada saat membebankan biaya overhead pabrik.500 1. 89 Berikut ini adalah ikhtisar dari Job Order Cost Sheet per 31 Desember 1990 dari perusahaan ABC: Job Order No: 123 124 125 126 Pemakaian Bahan Baku Rp1.Harga Pokok Penjualan Rp 57.000 Ru 2.000 Overhead Pabrik-Applied Rp 16.636 Berapakah jumlah persediaan material pada akhir bulan Mei: a.000 c. Debit .. 85 s. Data untuk menjawab soal no.000 5 .636 a.000 Rp18. Rp 19. Rp 36.d. Kredit.500 Bahan Tidak Langsung 500 Tenaga Kerja Langsung 3. Rp 15.500 Rp 21.

berarti besamya biaya overhead pabrik sama dengan: b.500 C.000 Barang dalam proses 1 Juli 1989 Transaksi bulan Juli 1) Bahan baku yang dibeli 8 1.SO0 Overhead Pabrik-Kontrol Rp 16.000 d.000.86. Rp 40.33 persen d. Rp 29.000.d.000 dikirim ke pemesan dengan mark up 25% 7) di atas biaya 90.000.500 b. 6) Pesanan dengan biaya Rp252.000.000) 90.000 Biaya overhead pabrik dibebankan ke produksi sebesar 120% dari upah langsung 5) Pesanan dengan biaya 198. Data untuk menjawab soal no. 20 persen 87.000.500 b. 18.000 diselesaikan pada bulan Juli.500 c. Pada akhir tahun rekening Barang Dalam Proses akan menunjukkan jumlah sebesar: a. 88.000.000 Gaji dan upah (upah tidak langsung Rp 18. 97 Jurnal Pencatatan dan Harga Pokok Produk Dalam Proses Akhir Perusahaan "ASIA JAYA" menggunakan sistem hargapokokpesanan. Rekening yang didebit untuk mencatat transaksi 1) adalah: a. Rp 1 1. Rp 40. Biaya overhead pabnk .000. Barang dalam proses d. 89. Rp 29.500 Overhead Pabrik-Applied Rp 2 1 .000 3) 4) Biaya overhead pabrik sesungguhnya 108. 90 s. 400 persen c.000.500 Pada akhir tahun perlu dibuat jumal penutup dengan mendebit rekening: Overhead Pabrik-Kontrol Rp 2 1.500 d.000.000 Berapakah jumlah persediaan barang jadi pada akhir tahun? a. Rp 18. Persediaan bahan baku c. Rp 18.000) 63.000 Bila :arip biaya overhead pabrik didasarkan pada upah tenaga kerja langsung. 200 persen a. Berikut ini adalah data biaya bulan Juli 1989: Rp 63. Pembelian bahan baku b. Rp 11.000 Overhead Pabrik-Applied Rp 16.000 2) Bahan yang dipakai (bahan pembantu Rp9.

000. Rp 97.000 b. 95. Harga pokok penjualan d. Biaya overhead pabrik dibebankan d. Biaya overhead pabrik dibebankan Harga pokok barang dalam proses pada akhir bulan Juli berjumlah: a. Persediaan barang jadi c. Barang dalam proses c.000 c. Biaya overhead pabrik dibebankan d.000 d. Barang dalam proses b. Persediaan barang jadi c. Rp 63. Persediaan barang jadi Rekening yang diiedit untuk mencatat transaksi 5) adalah: a. Persediaan bahan baku b.9 1. Biaya overhead pabrik dibebankan Rekening yang dikredit untuk mencatat transaksi 7) adalah: a. Rp 43. Rp 34. Biaya overhead pabrik sesungguhnya d. 96.000. I Rekening yang didebit untuk mencatat transaksi 2) adalah: a.000. Harga pokok penjualan d. Barang dalam proses b. Kas Rekening yang didebit untuk mencatat transaksi 4) adalah: a. Persediaan barang jadi Rekening yang didebit untuk mencatat transaksi 6) adalah: Barang dalam proses a. Biaya overhead pabrik sesungguhnya c. b dan c benar Rekening yang dikredit untuk mencatat transaksi 3) adalah: a.0'00 92. Biaya overhead pabrik sesungguhnya c. Biaya gaji clan upah b.000. Utang gaji dan upah d. 97. b. 94. 93. . Barang dalam proses b. Biaya upah langsung c.

000 40.000 Jurnlah pesanan yang diserahkan kepada pemesan selalna bulan Januari 1986: Nomor pesanan Jumlah Produksi Harga Jual per Unit A.000 Biaya tenaga kerja langsung 30.000 120.000 120.000 Overhead Pabrik Dibebankan Rp 30.000 32.000 240.d.000 unit 48 1.000 Produk Selesai 150.000 60.000 unit 55 Biaya produksi yang dikeluarkan selama bulan Januari 1986: Nomor pesanan A.000 unit Rp.l 3.000 Persediaan Produk Selesai A-7 5.000 30. 30.000 16.000 Produk dalam proses 80.500 unit A-5 56 A-8 2.000 Tenaga Kerja Rp 10.000 Persediaan Produk Selesai A-4 5.000 unit Rp 60.000 60. 100 Jurnal Pencatatan dan Perhitungan Jam Kerja Langsung Data persediaan yang ada di PT DIASWATI.1 A-2 A-3 A-5 Bahan baku - Rp 30.000 Biaya tenaga kerja langsung 20.000 Rp 50.000' 10.Data untuk menjawab soal no.000 .000 Data produksi dan biaya per 1 Januari 1986: Persediaan Produk Dalam Proses A-1 Nomor pesanan Jumlah produk 3.000 10.000 Biaya overhead pabrik 30.000 60.000 unit Biaya bahan baku Rp. adalah sebagai berikut: Persediaan Per 31 Desember 1986 Per 1 Januari 1986 Bahan baku Rp 40.000 unit Rp 50 A-2 4.000 unit 46 1.000 Biaya overhead pabrik 50.500 unit Biaya bahan langsung Rp 40. 98 s.000 12.000 unit A-3 60 A-4 5.000 20.000 Data produksi dan biaya per 3 1 Januari 1986: Persediaan Produk Dalam Proses A-6 Nomor pesanan Jumiah produk 2. 50.

Biaya Overhead Dibebankan 99. Barang Dalam Proses b.000 48. Rp 825.000 30. Rp 1. Barang Dalarn Proses b.0 00 Ru 180.000 50. Dalam kenyataanyaselamatahun tersebut perusahaan dapat berhasil menjual3.375. 101 s. Hasil penjualan atas sisa bahan yang dilaporkan dalam laporan rugi-laba tahun tersebut adalah: a.250. 2.000 60.d.000 18.000 satuan sisa bahan yang ditaksir dapat dijual dengan harga Rp 250 per satuan. 4.000 satuan dengan harga Rp 275 per satuan.A-6 A-7 A-8 Jumlah 40.000 Perusahaan menggunakan metode perpetual dalam mencatat persediaan bahan baku.000 -24. Data untuk menjawab soal no.000 RD 360. Tidak Risa Dihitung 100. kepada pemesan selama bulan Januari adalah: a. Biaya Overhead Dibebankan Apabila tarip upah tenaga kerja langsung sebesar Rp72 per jam.3 Jam Kerja Langsung d. . Persediaan Produk Jadi c.000 Rp 170.000 120. Harga Pokok Penjualan d.500 Jam Kerja Langsung b.583.000 d. Rekening yang didebit untuk mencatat biaya yang dikeluarkan selama bulan Januari adalah: a.000 Di dalarn neraca perusahaan per 31 Desember 19x1 akan disajikan persediaan sisa bahan sebesar: 102.750 Jam Kerja Langsung c.000 b. Harga Pokok Penjualan d. Rekening yang didebit untuk mencatathargapokokpesanan yang telah diserahkan 98.000 c. S e l m a tahun 19x1 perusahaan tersebut menghasilkan 5. jumlah jam kerja langsung yang dikonsumsi selama bulan Januari 1986 adalah: a.000 60. 3. Rp 750. Rp 1. 101. Persediaan Produk Jadi c. 102 Perlakuan Sisa Bahan F ABC memperlakukan hasil penjualan sisabahan (scrapmaterials) sebagaipenghasilan T lain-lain.

PT.000 .Biaya bahan baku Rp 500 .Biaya overhead pabrik Rp 600 (150% dari biaya tenaga kerja langsung) SelamabulanApril 19x1produk cacat adalah200 satuandandalam memperbaiki produk cacat tersebut diperlukan biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp 100per satuan. 1211 adalah: . Biaya produksi per satuan untuk pesanan no. Di dalam menatung tarip biayaoverheadpabrikperusahaantersebutmemasukkantaksiraanbiayaperbaikan produk cacat.103.000 Didebitke rekening Biaya Overhead Pabrik SesungguhnyasebesarRp 50.000 Didebit ke rekening Barang Dalarn Proses sebesar Rp 50.000 Didebit ke rekening Biaya OverheadPabrik SesungguhnyasebesarRp 20. RETEKI memakai metode harga pokok pesanan.Biaya tenaga kerja langsung RP 400 . Jurnlah biaya perbailcan produk cacat dan pencatatannya adalah: Didebit ke rekening Barang Dalam Proses sebesar Rp 200.

000. .000 ke persediaan dan harga pokok penjualan: Elemen yang mendapat alokasi Jumlah Proporsi Alokasi Selisih Persediaan barang dalarn proses Rp 50.000 Rp 1.000 Ru 50.000 = Rp 840.500 750 Biaya overhead dibebankan: (300jam x Rp2. Jawab: a Rp 300.000 Tarip pert$xbanan BOP: = Rp 2.5 per jam kerja langsung I \ 20.250/100 unit = Rp62.000 5% 15% 80% 100% Rp 2.000 jam Jumlah BOP dibebankan: 40. 461: Rp 1.000 x Rp 6 = Rp 240.00 (kurang dibebankan) 33. PENYELESAIAN 30.50 3 1.Jumlah RD 6.500/Rp 5 = Rp 300 jam Harga pokok pesanan no.000 + Rp 40.000 240.000 Tarip pembebanan BOP: = Rp 6 per jam kerja langsung 50.250 Harga pokok per unit: Rp6.000 32.000 Harga pokok penjualan setelah mendapat alokasian selisih: Rp 800. Alokasi selisih BOP Rp 50.B.500 7. Jawab: b Rp 50.000 Biaya tenaga kerja langsung 1.BOP sesungguhnya BOP dibebankan Selisih total Jawab: a Rp 290.000 RD 50.000 .000 jam Jam kerja langsung yang konsumsi pesanan no.000 Persediaan produk jadi 150. Jawab: d .5) .000 Harga pokok penjualan 800.500 40. 461: Biaya bahan baku Rp4.

850.000 JKL sesungguhnya = = 1. Jawab: a BOP dibebankan: 1. Jawab: a Jumlah biaya tenaga kerja langsung: 1.000 600.800 jam x Rp1.000 Tenaga kerja langsung: A:60%~1. sehingga harga pokok produk selesai berjumlah Rp2.850. Rp 9.000 .000 Overhead pabrik: A :60% x 1.000 Jawab: c BOP sesungguhnya BOP dibebankan Jumlah selisih I 35.000 B :4 0 % 1.000 jam x Rp300) Variabel(1.500.000 . Rp RD ~ 39.OOO 1.000 RD 150.080.000 = Rp 8.000 300 JKL 540.000 (kurang dibebankan) Jawab: c Jumlah jam kerja langsung: Selisih kapasitas =(Volume dianggarkan -Volume sesungguhnya) Tarip tetap 60.800jamxRp800 ~ Jumlah harga pokok produksi Ru 2.000 = Rp 5.800jam x Rp800 = Rp1.300 JKL 60.744.900.000.000 8.60.000 Pesanan yang telah selesai adalah pesanan A.900.475 jam x Rp 4.000 jam .000 1.000 Jumlah BOP dibebankan: 150% x Rp 5.000 Jawab: e BOP dianggarkan pada JKL sesungguhnya: Tetap (2.800 jam x Rp800 864.000 Elemen Biaya Pesanan A Pesanan B Bahan baku Rp 800. 600.000 .000 (2.000 B : 40% x 1.000 900.800 jam kerja langsung 300 JKL 37.744.440.800 jam x Rp500) Jumlah Jawab: d 38.800jamxRp1.34.JKL sesungguhnya) 300 600.

600.200 jam x Rp4 172.744.000 2.40.000 buah x Rp4.000 Tenaga kerja 12. Jawab: b Rekening Barang Dalam Proses dikredit sebesar harga pokok produksi pesanan yang diselesaikan pada bulan Mei. 46.600 BOP dibebankan: 43.000 2.000 43.200 (+) Persediaan produk jadi awal bulan Mei Rp 692. sehingga harga pokok produk dalam proses berjumlah Rp2. Jawab: e Jumlah harga pokok penjualan bulan Mei 19X1: Rp 609.744.800 Selisih Rp 4.800.000 150. 42.800 (kurang dibebankan) Jawab: b ki Perhitungan harga pokok masing-masing pesanan sampai dengan a h r Maret 19x1: 44. 45.600 Harga pokok produksi bulan Mei 83.236.OOO. Jawab: c BOP sesungguhnya Rp177.000 41.000) Harga pokok penjualan B Jumlah laba kotor Rp 1.296. 46) Pesanan yang belum selesai adalah pesanan B.?jualan pesanan B Harga p ~ k o k penjualan B Jumlah laba kotor (-) Selisih BOP Jurnlah laba kotor setelah selisih Rp 1.800 (=) Barang tersedia untuk dijual 64.800 Jumlah harga pokok penjualan Untuk mencatat harga pokok penjualan selama bulan Mei.000 Rp 4.256.000 . Jawab: d (lihat no. Elemen Biaya Pesanan 66 Pesanan 67 Pesanan 68 Pesanan 69 Pesanan 70 Bulan Februari: Bahan baku Rp30.256.000 Jawab: d Hasil pe.000 Rp 1.000 (J Persediaan produk jadi a h r bulan Mei ki Rp 628. rekening Harga Pokok Penjualan didebit sebesar Rp628.000.QOO Jawab: d Hasil penjualan pesanan B: (1.000 Overhead pabrik 9. Rp 4. yaitu: Rp609.

dan 70.500 Pesanan 69 21.000 Rp51.000 3 1.000 Ru76.500 47.350/7.000 21.250 Rp42.500 I Pesanan yang telah selesai dan diserahkan ke pemesan selama bulan Maret adalah 66.500 Pesanan 70 36.000 20.35 Jumlah Pesanan 503 Rp 8.500 Jumlah R~80.250 Pesanan 67 77. sehingga jumlah harga pokok produk yang dijual adalah: Pesanan 66 Rp 63.35 505 : (7.68.250 Jawab: d Pesanan yang sampai akhir bulan Maret belum selesai adalah no.000 28.000 Overhead pabrik Tarip: 75% BTK 5. 503 : (6.000.500 Rv77.sehingga jurnlah harga pokok produk yang masih dalam proses berjumlah Rp76.5) x Rp3.509 RD36.5) x Rp3.000 Pesanan 68 124.5) x Rp3.000 Pesanan 68 3 1. Jawab: c Jumlah harga pokok masing-masing pesanan sampai dengan akhir Juni 19x1: I 48.100/7.000 Pesanan 70 7.000 10. Elemen Biaya Awal Juni Selama bulan Juni: Bahan baku Tenaga kerja langsung Overhead pabrik.000 Rp27.35 504: (8.000 Rp19. 49. 79.900/7.Bulan Maret: Bahan baku Tenaga kerja 7.000 42.250 Pesanan 67 15.500 7.67.250 Jurnlah Rp63.500 Pesanan 504 Pesanan 505 .000 15.000 Rv124. Jawab: a Jumlah BOP dibebankan selama bulan Maret 19x1: Pesanan 66 Rp5.500 Jumlah RD 301.

283 9.825 3. sehingga harga pokok produk dalam proses pada akhir Mei atau awal Juni adalah: Pesanan No.280.700 Jumlah 50.000 Jawab: c Persediaan produk jadi pada awal Juni. 1.000 Pesanan No.sehingga harga pokok produk dalam proses pada akhir Juni adalah: Rp 1.920. 10 948. 503 dan 504.000 Pesanan No.082 Pesanan 504 3.445. 4 Rp 2. Jawab: d BOP sesungguhnya bulan Juni: Bahan penolong Rp 3.218 Rp 43.983 Rp 158 (lebih dibebankan) Jawab: d Pesanan yang diolah dalam bulan Mei 19X1 yang belum selesai sampai dengan tanggal 31 Mei adalah no.000 Pesanan No. adalah pesanan yang telah selesai pada bulan Mei tetapibelum dikirim.000 Rv 4. Jumlah harga pokok produk yang telah selesai: Pesanan 503 Rp 25.133.Pesanan yang selesai dalam bulan Juni adalah no. 9 1S48. 8.640.025 4.300 Overhead lainnya Jumlah BOP dibebankan bulan Juni: Pesanan 503 Rp 3.500 Upah tidak langsung 2. sehingga jumlah harga pokok produk yang masih dalam proses berjumlah Rp20.yaitu pesananno. 4 dan 5. Hargapokokmasingmasing pesanan adalah: . Jawab: a Pesanan yang sampai akhii bulan Juni belum selesai adalah no.949. 8 Pesanan No.2dan 3.482 Pesanan 504 18.9 dan 10. 505. 5 2.000 Jumlah Jawab: e Pesanan yang diolah dalam bulan Juni 19x1 yang belum selesai sampai dengan tanggal 30 Juni adalah no.618 Pesanan 505 Jumlah Selisih pembebanan Rp 9.000 Jumlah Rp 4.

d 7) tetapi belum dikirim.00 3. 2 Rp 4.532. yaitu pesanan no.280.240.000 Pesanan No. dan 7 Pesanan No.520.000 Pesanan No.000 JKL Sesungguhnya : 56.000 Pesanan No. adalah pesanan yang telah selesai pada bulan Mei (1 s.00 Mei 2.440.000 10. Harga pokok masing-masing pesanan adalah : Pesanan No. 3 3. dapat dihitung berdasarkan analisis BOP: Rp 200. 6 Rp 12. 3 3.55. 1 Rp 5.3. 2 dan 6. yaitu pesanan no. sehinggaJKL sesunggunyadapat dihitung sebagai berikut : Rp 160.000 Ru18.120.000 (=) Selisih BOP (laba) RD 160.000 Jumlah BOP dibebankan pada bulan April 1989: BOP sesungguhnya Rp 150.440.040.000 ! Pesanan No.000 Jawab: a Persediaan produk jadi pada tanggal 30 Juni.000' Jumlah Jawab : d Harga pokok penjualan dalam bulan Juni adalah harga pokok produk yang telah selesai dan sudah diiirim pada bulan Juni.000 Juni Pesanan No.000 Pesanan No. 1 Rp 5.160.852.4 Mei Rp2. Pesanan No. 2 4. 5 Rp 2.000 Jumlah Jawab: b Data mengenai jam kerja langsung sesungguhnya.000 BOP dibebankan BOP dibebankan adalah hasil perkalian antara tarip pembebanan dengan jam kerjalangsung sesungguhnya. 1.440. 7 5.5.000 jam kerja langsung Rp 40 .600.000 Pesanan No.120.640.000 Jumlah Rp 12.000 = Rp 40 per jam kerja langsung Tarip pembebanan 5. = 4.00 5.120.00 960. 57.000 Juni 4.d 3) dan Juni (4 s.040.

500 .000 .000 x Rp60) Overhead pabrik: 101: (30% x 4.000 RIJ450.000 jam x Rp60 = Rp240. Jawab: b Laba bruto pesanan no.000 x Rp60) 101: (20% x 4.KS) 100 800.000 x Rp40) 101: (20% x 4.000 = 50.000 Total harga pokok produksi 500 unit Jumlah dipesan Rp 260 Harga pokok per unit : Rp130.000 Jawab: a Harga pokok per unit pesanan 103: Rp 130.000 = KS = (KN -KS) Tarip Tetap (8. 70) Jurnlah laba bruto Rp 800.000 x Rp40) 102: (50% x 4.000/500 = Jawab: d Selisih kapasitas = 50.000 x Rp500) Harga pokok produksi no.100 KS 7.000.000. Jawab: a Lihat no. Jawab: c Jumlah harga pokok masing-masing pesanan sampai dengan akhir bulan April 1989 adalah sebagai berikut: Elemen Biaya Bahan baku Tenaga kerja: 101: (30% x 4.000 .000 x Rp40) Jumlah Psn. 102: Penjualan pesanan 102: (1.000 x Rp60) 102: (50% x 4.Jawab: b Jumlah biaya tenaga kerja langsung yang terjadi dalarn bulan April 1989 adalah merupakan perkalian antara JKL sesungguhnya dengan tarip upah: 4. 67. 101 Psn 102 Psn 103 Harga pokok produksi pesanan no. 102 (lihat no. 101 adalah Rp 220.000 350.

750 Rp 18.500 jam x Rp400) Pesanan B: (40% x 7.500 jam x Rp250) Jumlah Jawab: b Harga pokok per unit pesanan B: Total harga pokok produksi pesanan B Jurnlah dipesan Harga pokok per unit: Rp3.000 200 unit Rp 18.850.750.750 Rp8.200.875.000 Pesanan B Rp1.000 1.875.000 25.000 Rp3.600 .125.000) Harga pokok produksi pesanan A Jumlah laba kotor Jumlah dipesan Laba kotor per unit: (Rp2.000/200 = Jawab: a Laba kotor pesanan A.000 50.750.800.000 1.000 Rp 3.500 jam x Rp250) Pesanan B: (40% x 7.800. Harga jual pesanan A: (500 unit x Rp16.000 R~5.800.000 Rp 75.Jawab: e Biaya tenaga kerja langsung untuk pesanan A: 60% x 7.0001500 unit) Jawab: b Jurnal pencatatan transaksi (b): Barang Dalam Proses Pesanan A Rp2.000 R~2.125.500 jam x Rp400 = Rp1.875.000 Jawab: e BOP dibebankan: (7.500 jam x Rp250) Selisih total: Selisih anggaran (laba) Selisih efisiensi (mgi) BOP sesungguhnya Rp1.750.125.000 Rp 1.000 5.000 1.000 Jawab: c Harga pokok masing-masing pesanan sarnpai dengan akhir bulan Oktober 1989: Elemen Biaya Bahan baku Upah langsung: Pesanan A: (60%x 7.200.000.000 500 unit Rp 5.000 750.500 jam x Rp400) Overhead pabrik: Pesanan A: (60% x 7.

79 Jawab: a Lihat no.300 5.250 . 79 Jawab: d Jumal pencatatan transaksi (c): Material Barang Dalam Proses Biaya Overhead Pabrik Kontrol Jawab: d Jumal pencatatan transaksi (e): Biaya Gaji dan Upah Utang Gaji dan Upah Utang Pajak Penghasilan Jawab: a Jumal pencatatan transaksi ( f ) : Barang Dalam Proses Biaya Overhead Pabrik Kontrol Biaya Penjualan Biaya Administrasi dan Umum Biaya Gaji dan Upah Jawab: a Jumal pencatatan transaksi (g): Biaya Overhead Pabrik Kontrol Rp 5. 85 Jawab: b Jumlah biaya overhead pabrik dibebankan dengan tarip 80% dari biaya tenaga kerja langsung: Rp20.000 Rp 32.Biaya Overhead Pabrik Kontrol Material Jawab: c Lihat no.000 250 3.500 Akumulasi Depresiasi Asuransi Dibayar Di Muka Utang Biaya Jawab: d Lihat no.700 Rp 2.900 Biaya tenaga kerja langsung Rp 600 Rp 400 200 Rp 38.

260 7. Rp 15.589 Pesanan 293: 80.654 79.akhir Jawab: e Jurnal pencatatan transaksi (i): Rp 6.344 RD17.636 Rp 72.900 4.300 7. .589 Rv35.230 5.524 RD32.852 RD25.624. Jawab: e Lihat no.589 (=) Barang tersedia untuk dijual (-) Harga pokok penjualan (pesanan 261 & 262) Persediaan barang jadi . Pesanan 261 Pesanan 262 Pesanan 263 Biaya barang dalarn proses-awal Biaya selama bulan Mei: Bahan baku Tenaga kerja langsung Overhead pabrik dibebankan: 80% dari tenaga kerja langsung Jumlah Perhitungan harga jual: 40% dari harga pokok.580 5.315 5.720 78.000 Rp 57.636 Rp 15. 89 Jawab: a Persediaan barang jadi pada akhir Mei: Persediaan barang jadi-awal (+) Harga pokok produk selesai selarna bulan Mei: Pesanan 261 Rp 25.636 57.047 Rp 8.000 82.400 9.047 Pesanan 262 32.065.720 Biaya Overhead Pabrik Kontrol Rp 16.60 Belum Selesai 8 1.180 3.900= Rp16.720 Jawab: e Perhitungan harga pokok dan harga masing-masing pesanan pada akhir bulan Mei: Perhitungan harga pokok.047 Pesanan 262: 140% x Rp32. Jawab: a Jurnal pencatatan transaksi (h): Biaya Overhead Pabrik Applied Rp 16.Tarip pembebanan 80% Biaya overhead pabrik dibebankan: 80% x Rp20.405 Rp 4. Pesanan 261 : 140% x Rp25. I 7.80 R-p45.

85. 87.Persediaan Barang Jadi Barang Dalam Proses 83.500. adalah sebesar harga pokok pesanan yang telah selesai tetapi belum dikirim ke pemesan.000 Pesanan 124 10.500 Pesanan 125 Pesanan 126 2.400 (200) Pengembalian ke gudang-transaksi (c) Biaya tenaga kerja tidak langsungtransaksi (f) 7. Jawab: a Persediaan material pada akhir bulan Mei: Persediaan material-awal (+) Pembelian material-transaksi (a) (=) Material tersedia untuk dipakai (-) Pemakaian bahan-transaksi (b) (+) Pengenlbalian dari pabrik-transaksi (c) (-) Pengembalian ke pemasok-transaksi (d) Jumlah persediaan material-akhir Jawab: e Saldo rekening Biaya Overhead Pabrik Kontrol pada akhir bulan Mei: Pemakaian bahan tidak langsungtransaksi (b) Rp 2.600 Biaya overhead lainnya-transaksi (g) 5.500 Jawab: d Pada akhir tahun rekening Barang Dalam Proses akan menunjukkan saldo sebesar harga pokok pesanan yang belum selesai sampai dengan tanggal 3 1 Desember 1990.000 4.500 Pesanan 125 Pesanan 126 Jumlah dibebankan Rp 21. 124 dengan harga pokok Rp 18.700 Jumlah Jawab: a Jumlah BOP dibebankan ke: Pesanan 123 Rp 6. yaitu: Rp8. a 86.000 Jumlah 84.500 RQ 15. Jawab: b Jumlah persediaan barang jadi pada akhir tahun. .500 Ro11. Jawab: a Jurnal penutup diperlukan pada akhir periode terhadap BOP dibebankan ke 88. yaitu pesanan no.

Rp 21.500 RP 21. adalah sebesar harga pokok pesanan yang telah selesai tetapi belum dikirim ke pemesan.500 BOP Sesungguhnya (applied) 89.000 4.500 Jawab: b Bila tarip pembebanan BOP didasarkan pada biaya tenaga kerja langsung.500 Jumlah Ru 11. maka besarnya tarip adalah : Rp6000 Tarippembebanan : Rp3.500 BOP Sesungguhnya (applied) Bila tarip pembebasan BOP didasarkan pada biaya tenaga kerja langsung. maka besarnya tarip adalah: Rp 6.500 Pada akhir tahun rekening Barang Dalarn Proses akan menunjukkan saldo sebesar harga pokok pesanan yang belum selesai sampai dengan tanggal 31 Desember 1990.oOO 2 1.000 Jumlah Persediaan barang jadi pada akhir tahun.rekening BOP sesungguhnya: BOP Dibebankan (applied) Rp 21.000 x 100% = 200% dari biaya kerja langsung Tarip pembebanan Rp 3. yaitu : Pesanan 125 Rp 8. 124 dengan harga pokok Rp 18.500.000 x 100% = 200% dari biaya kerja langsung Jurnal pencatatan . Jumlah penutup diperlukan pada akhir periode terhadap BOP dibebankan ke rekening BOP sesungguhnya: BOP Dibebankan (applied) Rp 2 1.000 10.000 Jumlah BOP dibebankan ke: Pesanan 123 Pesanan 124 Pesanan 125 Pesanan 126 Jumlah dibebankan Rp RD 6.500 1.500 Pesanan 126 2. yaitu pesanan no.

000 Rp108.000.000 95.000 93. d Jurnal transaksi 2) Barang Dalam Proses Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Persediaan Bahan Baku Rp54. b Jurnal transaksi 4) Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Berbagai Rekening Dikredit 94.000 18.000 Rp90.000.000.000.000 Jurnal transaksi 5) Barang Dalarn Proses Rp86. b Jurnal transaksi 7) Mencatat hasii Penjualan .000. b Jurnal transaksi 1) Persediaan Bahan Baku Utang DagangIKas 91.000.400.90.000 92.000 Rp63. a Jurnal transaksi 6) Persediaan Barang Jadi Barang Dalarn Proses 96. C Rp108.000.000 9.000 Biaya Overhead Pabrik Dibebarlkan Rp86. c Jurnal transaksi 3) Barang Dalarn Proses Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Utang Gaji dan Upah Rp72.400.000.

400.Piutang Daganmas Pendapatan Penjualan Mencatat harga pokok penjualan Harga Pokok Penjualan Persediaan Barang Jadi 97.000 Rp315.000 Harga pokok persediaan produk cialam proses 3 1 Juli RD97.000 Harga pokok pesanan yang diselesaikan dalarn bulan Juli 198.000. Rp3 15.000.000 Rp 74.000 86.000 Mencatat psanan yang diselesaikan selama bulan Januari: Persediaan Barang Jadi Barang Dalarn Proses .400.000 98-100 Jurnal pencatatan 98.000 Rp 295.000 ~~252~000.000.000 72.000.000 Rp 232. c Mencatat pemakaian bahan baku selama bulan Januari: Barang Dalarn Proses Persediaan Mencatat biaya tenaga kerja selama bulan Januari: Barang Dalam Proses Utang Gaji dan Upah Mencatat biaya overhead pabrik dibebankan selama bulan Januari: Barang Dalam Proses Biaya Overhead Pabrik Dibebankan Rp360.00.000 Rp252.000.400.000 e Perhitungan harga pokok barang dalam proses akhir: Persediaan produk dalam proses 1 Juli Biaya yang dikeluarkan selama bulan Juli: Bahan bku Tenaga kerja langsung Overhead pabrik dibebankan Rp 63.000 Rp360.000.000.

000 120.Perhitunpan: Persediaan barang dalam proses 1 Januari (pesanan no.000 192. A.000 unit x Rp46) Pesanan A-5 (1.000 Persediaan barang dalam proses 31 Januari (pesanan no.1) Biaya yang dikeluarkan selama bulan Januari: Rp 170.000 99.000 unit x Rp60) Pesanan A-4 (5.000 7 10.000 Overhead pabrik dibebankan 360.500 unit x Rp56) Pesanan A-8 (2. A-6) Harga pokok pesman yang selesai dalam bulan Januari Rp 80. A-4) Harga pokok pesanan yang diselesaikan dalarn bulan Januari Harga pokok barang yang tersedia untuk dijual Persediaan barang jadi 3 1 Januari (pesanan no.000 unit x Rp50) Pesanan A-2 (4. a (Lihat no.000 Ru 590.000 Rp 826.000 Bahan baku Tenaga kerja 180. 100.000 unit x Rp55) Jumlah Jumal harga pokok penjualan: Harga Pokok Penjualan Persediaan Barang Jadi Perhitungan: Persediaan barang jadi 1 Januari (pesanan no.000 Rp 670.000 680.000 230.000 .000 unit x Rp48) Pesanan A-3 (1. 98) a Perhitunganjam kerja langsung: Jumlah biaya tenaga kerja langsung selama bulan Januari Rp180.000 240.000 Rp 830. A-7) Harga pokok penjualan dalam bulan Januari Rp 150.000 Rp 790.000 110.000 Mencatat penyerahan pesanan kepada pemesan selama bulan Januari: Jumal hasil penjualan: Piutang DagangIKas Pendapatan Penjualan Perhitungan: Pesanan A-1 (3.000 60.000 84.000 Rp 150.

102. maka pada saat pengeluaran biaya produk cacat didebitkan ke rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya sebesar: 200 x Rp 100 = Rp20.maka pada saatpengeluaranbiaya produk cacat didebitkan ke rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya sebesar: 200 x Rpl00 = Rp20.makapersediaan tidak ada harga pokoknya.5000 jam Hasil penjualan sisa bahan: 3. 103. maka persediaan tidak ada harga pokoknya.000.000 Jawab: d Karena hasil penjualan diperlakukan sebagai penghasilan lain-lain.Tarip upah per jam Rp72 Jumlah jam kerja langsung: Rp180. 101. Jawab:d Hasil penjualan sisa bahan: 3. Karena pada saat penetapan tarip BOP taksiran biaya perbaikan produk cacat sudah diperhitungkan.000.000 satuan x Rp275 = Rp825.000 Karena hasilpenjualan diperlakukan sebagaipenghasilan lain-lain. . Jawab:d Karena pada saat penetapan tarip BOP taksiran biaya perbaikan produk cacat sudahdiperhitungkan.000/Rp72 = 2.000 satuan x Rp 275 = Rp 825.

dan c benar d. Kegiatan produksi berda~ar~anggaran produksi d. segera ditentukan harga pokok penjualannya Produk yang dihasilkan bersifat homogen b.BAB IX METODE HARGA POKOK PROSES A. c. Percetakan Pabrik pupuk b. b. KECUALI: a. Kontraktor bangunan a. 2. Hams dipilih salah satu yang sesuai c. Saat perhitungan harga pokok b. Berikut ini adalah karakteristik metode harga pokok proses KECUALI : Biaya satuan dihitung pada saat produk selesai agar jika dijual dapat a. SOAL-SOAL METODE HARGA POKOK PROSES 1. Tujuan produksi untuk persediaan yang kemudian dijual Karakteristik metode harga pokok proses sangat berbeda dengan karakteristik metode harga pokok pesanan. d. c. 4. Benkut ini adalah perbedaan antara metode harga pokok pesanan dengan metode harga pokok proses. Lebih cocok untuk perusahaan yang besar d. sehingga penerapannya dalam pemsahaan manufaktur: a.. Obyek pembebanan biaya produksi Pembebanan biaya overhead pabrik berdasarkan tarip c. Lebih sederhana Lebih sesuai untuk pemsahaan kecil b. . Jenis biay a produksi Metode harga pokok proses cocok digunakan pada perusahaan: a. 3.

Sistem harga pokok proses b. Biaya yang dibayarkan Biaya dihitung sebagai berikut (Perhitungan biaya) d. pembebanan biaya overhead pabrik atas dasar tarip tidak merupakan keharusan Padametodeharga pokok proses.biayabahanbaku tidalcharus dipisahkan dari biaya bahan penolong b. pada akhir periode d. dan c benar Berikut ini yang tidak akan digunakan dalam kalkulasi biaya proses adalah: a. Data produksi b. . Metodefirst in. Biaya yang dibebankan c. Padametodehargapokokproses. Jumlah produk yang selesai Jurnlah produk yang masih dalam proses awal b. b. Sistem harga pokok pesanan c. Pada metode harga pokok proses.first out: Menyaratkan bahwa persediaan akhir barang dalam proses dinyatakan a.first out dalam kalkulasi biaya proses berbeda dengan metode rata-rata tertimbang.hasilkan pada perusahaan yang menerapkan: a. Perhitungan biaya menurut departemen c. Jawaban a. Menganggap bahwa persediaan barang dalam proses tidak ada c.Manakah yang benar? a. KECUALI: a. Jumlah produk yang biasanya hilang dalam proses produksi c.KECUALI: a. Direct costing d. Pengalokasian biaya overhead Laporan harga pokok produksi per departemenmerupakanlaporanyang d. dalam hal bahwa metodefirst in. Judul-judul informasi yang dapat digunakan dan tercantum dalam laporan biaya produksi (production cost report) pada perusahaan yang menerapkan process costing method adalah tersebut dibawah ini. dalam satuan produksi setara (equivalentproduction units) Dapat juga digunakan dalam kalkulasi biaya pesanan b. Informasi berikut ini diperlukan untuk menentukan besamya unit ekuivalen yangdi~lahdalamde~artemen produksipadaperiodetertentu. kalkulasi hargapokokprodukdilakukan c. Jumlah bahan baku yang ditarnbahkan d. Standar b. Sistem harga pokok standar Sistem harga pokok estimasi d.

namun tidak d. penyesuaian biaya per unit yang dialihkan Bertambahnya biaya per unit dari bagian pabrik terdal~ulu. akan tetapi dengan menambah upah buruh dan mungkin bahanbahan baku masih dapat diperbaiki menjadi barang jadi yang sempurna. namun tidak C. Biaya Tenaga Kerja Langsung d. diperlukan penyesuaian biaya unit yang dialihkan 13. Menaikkan biaya produksi C. terutama karena: a. Biaya Overhead Pabrik C. barangbarang demikian dlkenal dengan nama: a.biaya tenaga kerja untuk departemen pembanlu di debit ke rekening: a. Manaikkan produktifitas Belum menyerap biaya produksi yang dikeluarkan dalarn periode d. Barang Dalam Proses-Tenaga Kerja b. Tambahanbahan yang terjadididepartemen lanjutandanmempengaruhitambahan output pada departemen tersebut. . akan: Menambah harga pokok produk selesai pada departemen tersebut a. Mengurangi harga pokok produk selesai pada departemen tersebut b.d. perlu disesuaikan biaya unit yang dialihkan Berkurangnya biaya unit dari bagian pabrik terdahulu. Menambah output produksi di departemen tersebut c. ha1 ini mempengaruhi biaya per unit dalam suatu laporan biaya-biaya produksi. Defective material 14. diperlukan penyesuaian biaya unit yang dialihkan kepada bagian ini Berkurangnyabiaya per unit dari bagian terdahulu. 15. Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung Produk yang hilang pada awal proses produksi di departemen produksi berbeda dengan produk yang hilang pada akhir proses produksi. Pada metode harga pokok proses. Jika ada tambahan bahan-bahan bagian pabrik selain dari bagian pabnk awal (pertama) dan tambahan itu mengakibatkan bertambahnya jumlah unit. terjadinya produk yang hilang tersebut Barang-barang yang dalarn proses produksi mengalami beberapa ketidak sempurnaan. sehingga a. Asumsinya lebih realistis b. Mengurangi output di departemen tersebut d. Tidak memperhatikan tingkatan penyelesaian persediaan barang dalam proses awal ketika menghitung satuan produksi setara 1 1. sehingga diperlukan b. karena ha1 itu mengakibatkan: Bertambahnya biaya unit dari bagian pabrik terdahulu.

000 unit Produk dalam proses akhir . Bagaimana memperlakukan hasil penjualan produk cacat tersebut Bagaimana memperlakukan persediaan produk cacat tersebut d. Jika jumlah kegagalankerusakan dalarn proses-proses manufaktur melebihi tingkat normal.b.d 21 Metode RATA-RATA &n FIFO FT. d. 20 s. Biaya gabungan (jqint cost) d. b. Persediaan Bahan Baku Perlakuan produk rusak dalam suatu proses produksi yang normal adalah: Dibebankan kepada produk yang tidak rusak a. 17. Data produksi bulan Juni 19x1 adalah sebagai berikut: 7. Bagaimana memperlakukan kerugian yang timbul akibat adanya produk cacat c. b. X menggunakan metode harga pokok proses dalam pengumpulan biaya produksinya. rekening yang di debit untuk mencatat biaya pengerjaan kembali adalah: Barang Dalam Proses (biaya bahan baku) a. Dibebankan pada produk selesai yang diserahkan ke departemen c. Spoiled material Scrap material Waste material Masalah akuntansi yang timbul akibat adanya produk cacat adalah: a. 19.000 unit Produk dalam proses awal Diterirna dari Departemen 150. Dibebankan pada produk dalam proses akhir b. Biaya periode (period cost) c.000 unit 2. yaitu Departemen 1 dan Departemen 2. kegagalan/kerusakan itu harm diklasifikasikan sebagai: Beban yang ditangguhkan (deferred charge) a. Produknya diolah secara beruutan melalui dua departemen produksi. Persediaan Produk Cacat d. Jika biaya pengerjaan kembali produk cacat dibebankan kepada produk secara keseluruhan. berikutnya Dibebankan ke produk rusak itu sendii d. c. Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya c. 16. Biaya produk (product cost) Perhitungan Unit Ekuivalen Produksi Data untuk menjawab soal no. Bagaimana memperlakukan biaya pengerjaan kembali b. 18.

000 satuan diantaranya berasal dari produk dalam proses awal. tahap pertama dari siklus proses produksi. Tingkat penyelesaian produk dalam proses adalah: . 60% biaya konversi . Jika perusahaan menggunakan metode harga pokok rata-rata tertimbang.000 satuan d.000 50.000 satuan c.200 satuan b.350 50. Pada akhir tahun masih ada produk dalam proses sebanyak 12. 80% biaya konversi Apabila perusahaan memakai metode harga pokok rata-rata tertimbang. unit 20.Awal periode : 100% biaya bahan.350 Jika perusahaan menggunakan metode masuk pertama-keluar pertama Vrst in.Akhir periode: 100% biaya bahan.000 50. MEKAR JAYA.000 50. ekuivalensi (equivalentunit) biaya bahan baku dan biaya konversi bulan Juni 19x1 adalah: Unit ekuivalensi Unit ekuivalensi Biava bahan baku Biava konversi 65.350 55. biaya konversi: 30%.600 57. 57. XYZ menghasilkan 60. 55. 60. first out).350 Metode RATA-RATA Selama tahun 1984PT.000 satuan.000 50. 63. 15.unit ekuivalensi biaya bahan baku dan biaya konversi bulan Juni 19X1 adalah: Unit ekuivalensi Unit ekuivalensi Biava bahan baku Biaya konversi 50.600 57.000 50.000 50.350 55. biaya konversi: 75%. Berikut ini informasi untuk bulan Juli 19X1: .000 50.600 satuan Metode RATA-RATA Bahan ditambahkan pada permulaan proses dalam bagian pencampuran PT.600 55.600 55. maka unit ekuivalen biaya konversi adalah: a.000 satuan. Tingkat penyelesaian produk dalam proses akhir adalah sebagai berikut: biaya bahan baku: 100% . 23. Dari produk tersebut 22.Tingkat penyelesaian produk dalam proses awal adalah sebagai berikut: biaya bahan baku: 100%.

Barang dalam proses pada 30 September 1989 adalah 8.000 Dipindahkan (transfer) ke bagian berikutnyal Hilang dalam proses produksi 30.000 40.000 36. 48.Produkdalamprosesakhirperiodesebanyak 15. sedangkan barang dalam proses pada 30 September 1989 mempunyai tingkat penyelesaian 60% untuk biaya konversi. Dengan menggunakan metode rata-rata tertimbang. 345.000 Metode FIFO 24. Barang dalam proses pada 1 September 1989 mempunyai tingkat penyelesaian 80% untuk biaya konversi. FT.000 Bahan ditarnbahkan pada awal proses.MEKAR JAYA biaya yang terjadi untuk satuan yang hilang diserap oleh satuan baik yang tersedia.000 30.000 38.000 44.Satuan Pekerjaan dalam pel&sanaan 1 Juli (60% selesai untuk biaya konversi) 60. 120. Berapakah unit produksi ekuivalen untuk bulan September 1989 berdasarkan metode FIFO? Unit ekuivalensi Unit ekuivalensi Biava bahan baku Biava konversi a.000 Menurut sistem akuntansibiaya FT.000 d.800 b. 180.000 buah. 38.800 48. 1 September 1989 Dari produksi bulan September 1989 10. 48.MERDEKA menghitung arus fisik barang yang selesai pada Departemen A untuk bulan September 1989 sebagai berikut: Unit yang diselesaikan: Dari barang dalam proses.000 10.000 c.000 Pekerjaan dalam pelaksanaan 3 1 Juli (50% selesai untuk biaya konversi) 70.000 c.dengantingkatpenyelesaian . 25 s.000 Dimulai dalam bulan Juli 150.000 Data untuk menjawab soal no.d. dengan tingkat penyelesaian bahan 100% clan konversi 80%.000buah.000 d.000 unit. 210. 27 Metode FIFO dari RATA-RATA Dari sebuah laporan harga pokok produksi diketahui besarnya produk dalam proses awal periode jumlahnya 10. berapa satuan ekuivalen untuk perhitungan biaya satuan bahan? a. 38.000 b.

000 satuan b.000 buah 27. 100.000 satuan. 85.Biaya konversi 60% 50% Apabila unit ekuivalensi biaya bahan baku dalam metode harga pokok rata-rata tertimbang (weighted average cost method) adalah 100.000 satuan d. 32 Metode FIFO I.d. 88. 90.000 satuan 15. besamya produksi ekuivalen adalah: Biaya Bahan Biaya Konversi a. 95.000 buah b.000 satuan b. yaitu: .000 satuan d. 25.000 buah c.500 buah Besarnya produksi ekuivalen biaya konversi dengan metode rata-rata adalah: a.000 buah 95. 93.bahan 80% dan biaya konversi 50%. 100.500 buah C.000 buah 92.Biaya bahan baku 100% 60% . 90. T ABC yang mengolah produk melalui satu departemen menggunakan 3 jenis bahan. 100.000 satuan 29. 88.000 buah 87. Dan sebuah perusahaan diperoleh informasi mengenai produk dalarn proses sebagai berikut: Awal Periode Akhir Periode Jumlah produk dalam proses 10.500 buah c. 110.000 buah 26. 100.000 buah 87. Jika dengan metode FIFO. 100.000 buah. Dari data pada sod di atas berarti jumlah produk jadi adalah: a. 90.000 buah 85. maka unit ekuivalensi biaya bahan baku pada masuk pertama keluar pertama (FIFO method) adalah: a. Metode FIFO dari RATA-RATA 28. 30 s. 88.500 buah d.000 satuan Data untuk menjawab soal no. 100.000 satuan c. Produksi ekuivalen bahan dengan metode rata-rata adalah 100.500 buah b. Besamya produk selesai adalah: a. d. 90. 88.000 satuan c.000 buah b.000 buah d. 90.000 satuan Tingkat penyelesaian .

25. Apabila menggunakan metode masuk pertama keluar pertama. 35. Pertama-tama zat X diproses di departemen A. Proses ini berlangsung terus menerus. Dalam beberapa detik pertama zat X hilang sebanyak 5 persen.d. Fomula ramuannya terdiri dari satu bagian zat X dan satu bagian zat Y. menghasilkan produk kirnia yang untuk tujuan akuntansi prosesnya dibagi menjadi dua departemen. Satuan yang digunakan untuk mengukur/menghitung barang dalarn proses dan 3). 34 Metode FIFO PT AYO MAJU. jumlah unit ekuivalen biaya bahan baku B adalah: a.000 unit C.000 unit c. Produk selesai dipindahkan ke persediaan barang jadi.000 unit d.000 unit b.000 unit d. 27.000 unit 3 1.Bahan A: pada awal proses Bahan B: pada tingkat penyelesaian 50% Bahan C: pada tingkat penyelesaian 75% Informasi untuk kegiatan bulan Mei 1990 adalah: Produk dalam proses awal 10. 24 jam sehari.B Di departemen A biaya konversi mencakup seluruh kegiatan pengolahan dan 2).000 unit. karena kerusakan yang terjadi adalah normal.000 unit dengan tingkat penyelesaian biaya konversi 60%. Keterangan lainnya: 1). 32. Kerusakan normal terjadi di Departemen A. 23. barang jadi adalah kg. 33 s. 25. Disini zat Y ditarnbahkan ketika proses produksi sudah mencapai 50 persen. dialokasikan hanya pada produk yang baik saja.000 unit Apabila menggunakan metode masuk pertama keluar pertama. setelah itu dipindahkan ke Departemen B. 27. Data untuk menjawab soal no. Produk jadi yang dipindahkan ke gudang 25. Di departemen B biaya konversi dialokasikan merata ke setiap ekuivalen unit produksi. jumlah unit ekuivalen biaya tenaga kerja adalah: a.000 unit dengan tingkat penyelesaian biaya konversi 40%.000 unit b.000 unit b.000 unit c. Sementara itu tidak terjadi kerusakan didepartemen . 30.000 unit d. Produk dalam proses akhir 10. Departemen A dan B. 27. . jumlah unit ekuivalen biaya bahan baku C adalah: a. 35.000 unit Apabila menggunakan metode masuk pertama keluar pertama. 23. 25. 35. 23.

869.000 kg 979.000 kg - 6. 869.000 kg c. 3 1 Oktober ? Tingkat penyelesaian persediaan akhir 113 Bahan yang ditambahkan di departemen B 33.500 kg c. 979. Berikut ini data produksi dan biaya produksi pada bulan Juni 1987: Departemen A Data produksi: Ditransfer ke Departemen B Ditransfer ke Gudang Barang dalam proses akhir: 100% bahan baku.000 kg 979.500 kg b.500 kg Ekuivalen produksi bagi departemen B untuk bulan Oktober 1985dengan metode FIFO adalah: Konversi Bahan X a.500 kg d.4). 522.000 kg 3110 ? ? ? 115 489.000 kg b. 511.000 kg .000 kg 14.Oktober 1985: Departemen A Barang dalarn proses. 34.d.500 kg 511. X rnenggunakan metode harga pokok proses.500 kg 478.000 kg Dipindahkan ke departemen berikut 511. Data untuk bulan .000 kg Tingkat penyelesaian pada 314 persediaan awal Mulai diproses/diterima dari departemen sebelumnya 550.500 kg 423.000 kg 869. 522. 423. 40% biaya konversi 1/3 biaya konversi 46. Departemen B 110.000 kg - Departemen B - 40.500 kg Ekuivalen produksi bagi Depatemen A untuk bulan Oktober 1985 dengan metode FIFO adalah: Bahan X Konversi 478.500 kg a.000 kg Tidak bisa dihitung d. 35 s. 1 Oktober 88.500 kg Barang dalam proses. Perhitungan Harga Pokok Tidak Ada Persediaan Produk Dalam Proses pada Awal Periode Data untuk menjawab soal no. 38 Dua Departemen PT.

000 b. Rp1.89 b. 55.000 60.600 unit c.000 65.000 c. biayaoverhead pabrik: Rp39. 60.50 d. Jawaban a. 37. Harga pokok produk setengah jadi yang ditransfer ke Departemen B adalah: a.560 b.000 65. dan c benar d. Biaya konversi Departemen B 42. Biaya konversi Departemen A 51.000 .600. b.000 60. Rp24.000 unit Jumlah produk dalam proses pada akhir bulan dengan tingkat penyelesaian 100% biaya bahan. tenaga kerja. Berikut ini adalah biaya dan data produksi bulan Januari 19x1 Departemen A yang merupakan departemen pertarna dalam proses produksi.000 60. Departemen Pertama PT. c.700 3 1. b. 38.000 60. dan c benar 36. Rp145. Jumlah produk selesai yang ditransfer ke Departemen B: 50.000 unit Jawaban a.572 Rp 35. 65. Data untuk menjawab soal no. b.675 c. dan 213 biaya overhead pabrik 15.d 40 Dua Departemen. Produknya diproses melalui dua departemen produksi A dan B. b.000 d.Data biaya: Biaya bahan baku Biaya tenaga kerja Biaya overhead pabrik 35.000 60. Unit ekuivalen bahan. Rp14.120 34.952 c. 60. 39 s. Biaya bahan: Rp52. dan c benar Biaya yang ditambahkan di Departemen B per unit adalah: Rp1.000. Rp14. Biaya tenaga kerja: Rp42. Jawaban a.650. Biaya bahan baku Departemen A b. dan c benar Harga pokok persediaan barang dalam proses akhir di Departemen A adalah: a. AR menggunakan sistem harga pokok proses.000 unit 39.200 36.61 a. Rp3. 213 biaya tenaga kerja.000 unit a. Rp86. Jawaban a. dan overhead pabrik bulan Januari 19x1 di Departemen A adalah: Bahan Tenaga keria Overhead pabrik a.940 d.920 Manakah yang benar dari hasil perhitungan jumlah ekuivalen produk yang diselesaikan pada bulan Juni 1987 berikut ini? Jurnlah vroduk ekuivalen 60. Rp 3 1.000 b.650 d. Rp140.000 60.

81 Rp 0. biaya tenaga kerja langsung 80%. Rp 702.000 c. Produkdalam proses akhir bulan adalah 1. dan biaya overhead pabrik 90%).200 unit (biaya bahan baku 100%. dan biaya overhead pabrik sebesar Rp18. .760 b.200 42. Rp 60. Rp 0.200 kg dengan tingkat penyelesaian biaya bahan 80%. biaya tenaga kerja langsung Rp12. Harga pokok produk yang ditransfer ke departemen 2.000 Rp 137. Rp 0.70 Rp 0.8 1 Rp 0. Pada akhir bulan Maret 1990 diketahui biaya per unit produk adalah sebagai berikut: biaya bahan baku Rp22. adalah: a.98 Rp 0.260 43.40. Total biaya bahan adalah: .000kg. Departemen Pertama Sebuah perusahaan mengolah produk melalui dua departemen produksi. Rp 752. Rp259.66 d. X menghasilkan satu macam produk bemama Y yang diolah melalui dua departemen produksi dengan menggunakan metode proses. 41 s.90 Rp 0.50.560 d.66 b.600 Data untuk rnenjawab soal no. biaya tenaga kerja langsung 85%. a. Rp 196.760 Rp 58.000unit. Rp 295.75 c. 44 s.000 Harga pokok produk dalarn proses akhir adalah: a. Rp 0.200 c.d.50. Produk yang dihasilkan departemen 1 dalam bulan Januari 1990adalah 12.70 Data untuk rnenjawab soal no.d. dan biayaoverheadpabrik sebesar90%. Departemen Pertama PT.70 Rp 0.00.000 d. Informasi yang diperoleh mengenai proses produksi di Departemen A pada bulan Maret 1990 adalah sebagai berikut: Produk yang diserahkan dari Departemen A ke Departemen B sebesar 15. Biaya produksi per unit produk yang diproduksi bulan Januari di Departemen A adalah: Bahan Tenaga keria Overhead uabrik a.400 b. c. Rp 60. Produk yang masih dalarn proses akhir 1. Rp 846. 46 Dua Departemen.81 Rp 0. Rp 85. Rp 684. b. Hargapokokproduksi per unit adalah sebagai berikut: Biaya bahan baku Rp 20 Biaya tenaga kerja langsung 15 Biaya overhead pabrik 22 Total Rv 57 41. 43 Dua Departemen. Rp 0. d.66 Rp 0.

Rp 916.000 Biaya yang ditambahkan Departemen 2: Bahan baku Rp20 untuk setiap roda karet Tenaga kerja langsung Rp 8. Di dalam Departemen 2 ditambahkan 4 roda karet untuk setiap mobil pada akhir proses.000 Produk dalam proses akhir 3. Rp 959. Rp 1.200. Rp 1.480 Total harga pokok produk dalam proses akhir dan produk selesai adalah: a. Rp 901.995 d. Rp 750. 50 Dua Departemen. Rp 1.160.000 Biaya overhead pabrik Rp 6.995 c. Rp 795.380 b. Berikut ini adalah kegiatan Departemen 2 dalam bulan Maret: Unit yang diterima dari Departemen 1 15. Rp 2.000 c. Rp 1. Rp 853. Rp 858.440 d.000.440 c. 47 s.440 c.000 a. BULAKSUMUR memproduksi mobil mainan anak-anak.d. . Rp 1.780 b. 49. 47.750 d. Rp 1.000 d.480 45. 213 biaya konversi.500 b.095 b.000 unit dengan tingkat penyelesaian: 100% biaya bahan baku.000 Harga pokok per unit produk yang ditransfer ke gudang produk selesai adalah: a.160 48.OOO Biaya produksi dari Departemen 1 Rp 13.120.600 b. Biaya bahan baku yang ditambahkan Departemen 2 dalam bulan Maret adalah sebesar: b. Rp 938. Rp 1.750 c.44. Total harga pokok produk selesai yang diserahkan ke gudang adalah: a. 46. Ada Tambahan Bahan F'T. Rp 1. Rp 1.OOO c. Di dalam Departemen 1 body mobil dicetak dengan bahan plastik. Rp 54.000 Harga pokok pmduk dalam proses akhir bulan Maret 1990 adalah: a. Rp 1. Rp 58.160 Biaya produksi per unit yang ditambahkan dalam Departemen 2 dalam bulan maret adalah: a.090.500. Data untuk menjawab soal no.'Departemen Lanjutan. Rp 884.280 d. Rp 57.000 d. Rp 56.

637. Unit ekuivalensi biaya Departemen A adalah: Konversi Bahan Baku a.000 b.470.000 Biaya overhead pabrik Tingkat penyelesaian produk dalam proses akhir: Biaya bahan baku 100% Biaya konversi 20% 5 1. Rp 4. 34.000 616. 9 4 0 c. Rp 2 4 . RP 45 Total harga pokok produk selesai yang ditransfer oleh Departemen A ke Departemen B dalam bulan Januari 19x1 adalah: a.000 30.000 Biaya tenaga kerja 462.000 23.000 kg Diterima dari Departemen A Produk jadi yang ditransfer ke gudang Produk dalam proses akhir 4.000 53. Rp 1. Ada Produk Hilang pada A wal Proses.800 c. 30. c.940. 57 Dua Departemen.d.000 b. Rp 32. Rp 1. PAMAN SAM memiliki dua departemen produksi untuk menghasilkan produknya: Departemen A dan Departemen B.800 34.400 d. Rp 9. 23.50.970.000 d. Bagian akuntansi biaya perusahaan tersebut mengumpulkan data sebagai berikut ini untuk bulan Januari 19X1: Departemen A Dimasukkan ke dalam proses 35.000 kg Produk hilang dalam proses awal 1.000 Departemen B 52. RP 15 d.418.000 kg Biaya yang dikeluarkan dalam bulan Januari 19x1: Biaya b a h baku ~ Rp 340.400 27. dan Penjurnalan PT.000 c.350. 27.000 a. Rp 2. Rp 616. Total harga pokok produk dalarn proses akhir bulan adalah: b. 51 s.000 c. .000 Data untuk menjawab soal no. RP 20 a. Harga pokok per kg produk ymg diproduksi Departemen A dalam bulan Januari 19x1 adalah: RP 10 b.

Persediaan Produk Jadi Rp 1. . RP l o k g a. B Rp 585.000 Barang Dalam Proses-Overhead Pabrik Dept. B 16.000 c.000 Barang Dalam Proses-Overhead Pabrik Dept. RP 45 Penyesuaian (adjustment) terhadap harga pokok per kg produk yang diterima oleh Departemen B dari Departemen A karena adanya produk yang hilang pada awal proses di Departemen B adalah sebesar: RP 25kg b. 56. B 60.637. RP 25 a.000 Barang Dalam Proses-Tenaga Kerja Dept.000 Barang Dalam Proses-Overhead Pabrik Dept.000 c.000 Barang Dalam Proses-Overhead Pabrik Dept.205.000 Barang Dalam Proses-TenBga Kerja Dept.Barang Dalam proses-~e~akemen B Rp 1.000 Barang Dalam Proses-Bahan Baku Dept.418. RP 51kg d.000 Tiga Deparfemen PT MATAHU rnmengolah produknya melalui tiga bagian produksi. B 72. yaitu bagian produksi A.350.000 Barang Dalam Proses-Departemen A Jurnal untuk mencatat harga pokok produk selesai Departemen B yang ditransfer ke gudang dalam bulan Januari 19x1 adalah: a.Barang Dalam Proses-Departemen B Rp 616.000 Barang Dalam Proses-Tenaga Kerja Dept. Harga pokok per kg produk yang ditambahkan dalam Departemen B bulan Januari 19x1 adalah: RP 55 b.000 d.637.050. B 12. B Rp 40. RP 30 d. dan C dengan menggunakarn metode harga pokok proses.350.000 Barang Dalam Proses-Bahan Baku Dept.000 Barang Dalam Proses-Bahan Baku Dept.000 Barang Dalam Proses-Tenaga Kerja Dept.000 Barang Dalam Proses-Bahan Baku Dept. B d.350.000 b.000 Barang Dalam Proses-Departemen A Rp 1.000 Barang Dalarn Proses-Departemen A Rp 1.Barang Dalam Proses-Departemen B Rp 1.Persediaan Produk Jadi Rp 68. c. B Rp 1.418. 57. B 600. B Rp 300. B 525.Persediaan Produk Jadi Rp 432. 58. c.54.000 630.000 bBarang Dalam Proses-Departemen B Rp 2. Rp 15kg Jumal untuk mencatat harga pokok produk selesai Departemen A yang ditransfer ke Departemen B dalam bulan Juli 19x1 adalah: a. B.000 Rp 616.Persediaan Produk Jadi Rp 1. Data 55.000 Barang Dalam Proses Departemen A Rp 2. B 165.

000 satuan dengan tingkat penyelesaian 100% biaya bahan dan 80% biaya konversi.900.000 liter dengan harga pokok Rp 20 per liter. d.840. Pi-oduk dalam proses akhir periode sebanyak 5.000. 2.500 Rp 1. b. .000.4 berikut ini diperoleh dari Bagian Akuntansi Biaya.000.750.000 satuan selesai dan diolah lebih lanjut pada Bagian Produksi B. 59 s.d.000. dan Biaya overhead pabrik Rp 6.000 dan biaya overhead pabrik Rp 1.300 Rp 2.000. Departemen Lanjutan. Bagian Produksi B Biaya yang ditambahkan pada Bagian Produksi B adalah biaya tenaga kerja Rp 1. yaitu Departemen I dan 1 Departemen 1 . Biaya per unit untuk masing-masing bagian pada bulan Agustus 1988 adalah: a. di mana 5.300 Rp 3.500 untuk biaya overhead pabrik.000 satuan diolah selanjutnya dalam Bagian Produksi C. Bagian Produksi A Rp 1.000.000 dengan tingkat penyelesaian 80%.900. di mana 8. biaya tenaga kerja Rp 3.000 satuan. $00 satuan masih dalam proses dengan tingkat penyelesaian 75% untuk biaya konvetsi. BAKTI NUSA mengolah produk melalui dua departemen. Setiap liter produk yang diterima dari Departemen I pada awal proses di DepartemenI1 ditarnbahbahan sebanyak4 liter@ Rp 10.Dari proses bagian produksi B ini dihasilkan 7. Ada Tambahan Bahan yang Menambah Unit PT.000untuk biaya tenaga kerja dan Rp 1.500 satuan.000 Rp 500 Rp 500 Rp 250 Bagian Produksi C Rp 4. yaitu data yang berhubungan dengan produksi dan biaya selama bulan Oktober 1988. Jumlah biaya produksi adalah sebesar Rp 14.500 Rp 1.000 satuan masih merupakan produkdalam proses dengan tingkat penyelesaian60% biaya konversi.Pada periode tersebutDepartemen I1 menerima dari Departemen I sebanyak 5.462.000 dengan rincian sebagai berikut: biaya bahan Rp 4. Produk yang masih dalam proses pada akhir bulan sebesar 2. Biaya konversi besarnya Rp 72.560.000 satuan.100 Rp 700 Bagian Produksi B Rp 2. 61 Dua Departemen.000 Rp 300 Data untuk menjawab soal no.720. c. Bagian Produksi A Produk yang dimasukkan dalam proses 10. Tambahan biaya pada Bagian Produksi C ini adalah sebesar Rp 9.000 satuan dipindahkan ke gudang dan 1. Bagian Produksi C Produk selesai dan siap dijual sebanyak 4.

b. RP 5 Rp 10 RP 4 d. 62 s. Rp 72. X memproduksi produknya melalui dua departemen produksi: Departemen A dan Departemen B.5 1 c. Data produksi: Jumlah produk yang diterima dari Departemen A 40.000 kg Jumlah produk jadi yang ditransfer ke gudang produk jadi 35.s 1 Rp 140. sebab tidak tahu jumlah produk selesai Besarnya total harga pokok produk dalam proses akhir adalah: c. Rp 5. Berikut ini adalah data produksi dan biaya produksi Departemen B bulan Januari 19X1.000 kg Data biaya produksi: Harga pokok yang diterima dari Departemen A 40.4 c. Rp 3.000 d.000 kg Jumlah produk yang masih dalam proses pada akhir Januari 19X 1 dengan tingkat penyelesaian biaya bahan baku 50% dan biaya konversi 25% 4.000 d.60 . Besarnya harga pokok untuk setiap liter produk selesai di Departemen I1 adalah: Bahan Konversi Dari Dep.400 Biaya overhead pabrik 19.020 Biaya tenaga kerja 32.000 a. Rp 300. sebab tidak tahu jumlah produk selesai 60.91 d. Rp 75.000 a. Ada Produk Hilang pada Awol Plnsrs. Tidak dapat dihitung. Rp 3. Rp 1. Biaya produksi per unit yang berasal dari Departemen A setelah adjustment dengan adanya produk yang hilang dalarn proses di Departemen B adalah: b. Tidak bisa dihitung Besarnya total harga pokok produk selesai adalah: b. Data untuk menjawab soal no. Ada Tambahan Bahan yang Tidak Menamhah Unit PT.59.000 c.000 kg @ Rp 3. Rp 52. Rp 222. Rp 20 Rp 40 Rp 14. Rp 375. Tidak dapat dihitung. 6 1.400 Tarnbahan biaya bahan baku yang tidak menyebabkan tambahan produk yang dihasilkan oleh Departemen B 17.800 62.000 kg Jumlah produk yang hilang dalam proses (dianggap terjadi pada awal proses) 1.5 1 a.d 65 Dua Departemen.000 b. 1 RP 4 RP 8 RP 3 a. Departemen Lanjutan.

770 c. Rp209.000 b. Berikut ini adalah data yang diambil dari laporan biaya produksi Departemen Kertas untuk bulan Maret 1989: Jumlah produk yang diterima dari Departemen PulplOO.51 c. dan Departemen Penyempurnaan.46 Total harga pokok produk jadi yang ditransfer oleh Departemen B dalam bulan Januari 19x1 ke gudang produk jadi adalah: a. Ada Produk Hilang Pada A wal Proses I. RpL120.200 unit d. Dari data di atas banyaknya ekuivalen unit untuk biaya konversi adalah: a.000 kg Harga pokok produk yang diterima dari Departemen Pulp sebelum disesuaikan 2) adanya produk yang hilang adalah sebesar Rp8.220 c. Rp 3.000 x 60% x Rp2 Rp24.620 d.600 unit Harga pokok produksi selesai yang ditransfer ke departmen penyempurnaan adalah: a. TINDONESIA JAYA memproduksi kertas melalui tiga departmen produksi yakni Departemen Pulp.91 d. 82.OOO kg 1) Jumlah produk yang ditransfer ke Departemen Penyempurnaan70. Rp69. Rp69.63.000 kg Jumlah produk dalam proses pada tanggal 3 1 Maret 1989 (60% biaya konversi)20. Departemen Lanjutun. Rp910. Rp 1.000 66.000 unit b.220 Total harga pokok produk dalam proses yang ada di Departemen B pada &hir bulan Januari 19x1 adalah: a. Rp770.050.000 67.770 64.850 b. Rp 0. 70. . Rp192. Data untuk menjawab soal no.51 b.l Biaya konversi yang melekat pada produk dalam proses tanggal 31 Maret 1989 3) adalah: Biaya tenaga kerja: 20.000 c. Rp209. Rp2 16. Rp1.000 x 60% x Rp4 Rp48.d.620 d.850 b. Departemen Kertas. Biaya produksi per unit yang ditarnbahkan oleh Departemen B dalam bulan Januari 19x1 sebelum adjustment dengan adanya produk hilang dalam proses adalah: a.000 Biaya overhead pabrik: 20. 74. 70. 69 Dua Departemen. 65. Rp 5. 66 s.000 unit c. Rp16.000 kg Jumlah produk yang hilang pada awal proses10. Rp192.000 d.

Data produksi dan biaya selama bulan Agustus 1986 adalah sebagai berikut: 69.674.000 a.000 752.29 1. Rp492.400 kg Perampungan 6.52 Rp 1. d.68.000 b. c.400 RD 4.35 Rp 697. b.000 756.200 kg Dalam proses (bahan loo%.25 Peneuiian Rp 433. Rp445.35 Rp 401. Rp332.52 Rp 1. Besamya biaya konversi untuk unit ekuivalen yang diperhitungkan adalah sebesar: Rp420.600 kg Rp 3. Ada Produk Hilang A wal Proses PT "MEJAMPU suatu perusahaan farmasi.000 Unit yang hilang dianggap normal dan dibebankan untuk semua unit yang diproduksi.000 342. 70. c.52 Rp 697.800kg 6.500 BAGIAN Pengujian 10.000 b.644.600 Besamya harga pokok produk dalam proses akhir adalah sebesar: Rp392.000kg Ditransfer ke bagian berikutnya 10.52 Rp 743. Biaya per unit untuk masing-masing bagian pada bulan Agustus 1996 adalah: Pencamuuran Rp 198.000 Rp 2.800 kg Dalam proses (bahan 100%. Rp292.000 1. biaya konversi 113) 4.000 Rp 2.160.52 a.25 Rp 433.000 a.400 kg 3.000 Tiga Departemen.05 Peram~ungan Rp 743. Rp252.500 Rp 1.563. Rp423.563.800 kg Ditransfer ke gudang produk jadi 4. . C. memproduksi suatu jenis obat dalarn tiga bagian produksi. Pencampuran Data Produksi: Dimasukkan dalam produksi 16. biaya konversi 213) Biaya yang dibebankan pada bagian: Bahan upah Overhead pabrik Rp 5.61 1.197.400 1.000 837.100.728.75 Rp 401.000 d.000 d.05 Rp 743.

bahan baku 100%. Rp 48 Rp 98 Rp 338 d. 72 s. dan overhead pabrik Rp 370. tenaga kerja Rp 101.000. Metode RATA-RATA dun FIFO PT. biaya yang telah diserap dari bulan sebelurnnya terdiri atas: bahan Rp 40.000 Rp 594.7 1.000unit. Persediaan produk dalam proses 3 1 Desember 1989 sebanyak 4.000. dan overhead pabrikRp 81.500 unit 500 unit Departeman B 2.000.Upah langsung .Biaya overhead Jumlah biaya Departemen A 2.500 Rp 352. Ada Produk Rusak PerusahaanXYZmenghasilkanbarang Y melalui 2departemen.000.000 unit dengan tingkat penyelesaian bahan 40% dan konversi 50%. Produk yang baru masukproses 34.d. .500 Biaya per unit untuk masing-masing departemen pada bulan Februari 1989 adalah: De~artemen A Departemen B a. Dalam bulan Februari 1989 bagian produksi mengemukakan data sebagai berikut: Produk yang diselesaikan di Produk yang hilang di awal proses Produk rusak (tidak laku dijual) Produk dalarn proses dengan tingkat penyelesaian: .000 unit dengan tingkat penyelesaian 50% dan konversi 75%. 80 Satu Departemen. Rp 60 Rp 188 b.000 144.upah langsung 50%.000 unit.000 unit - 300 unit 240. Biaya yang terjadi dalarn bulan Oktober 1989terdiri atas: bahan Rp 920. Rp 80 Rp 180 c. SABDA mengolah produk melalui satu tahap.000. produkselesai 38.000 unit 200 unit 1. tenaga kerja Rp 555.000.000 Rp 210. Rp 188 Ada Persediaan Produk Dalam Proses pada Awal Periode Data untuk menjawab soal no. overhead 50% Jumlah biaya yang dikeluarkan: . pada tanggal 1 Oktober 1989 perusahaan tersebut memiliki persediaan produk dalam proses sebanyak 8.000 Rp 235.Bahan baku .yaitu departemen A dan B. konversi 50% .000 117. Dua Departemen.

000 b.000 c.800 37. Rp 1. Rp RP 10 22 Rp 15 c.976.000 c.000.000 Produksi ekuivalen dengan metode FIFO adalah: Bahan Konversi a. 44. Produksi ekuivalen dengan metode rata-rata adalah: Bahan Konversi a. Rp 1. Rp 129. Rp 1.000 d. Rp 22 Rp 15 Rp 10 c. 74.000 73. 77. Rp 23 Rp 14 RP 9 Total harga pokok selesai yang berasal dari produk dalam proses awal dengan metode FIFO adalah: a. 40. Rp RP 10 25 Rp 15 d. 44.000 d. Rp 167.800 37. Rp 331. Rp 425. RP 357 Harga pokok per unit dengan metode FIFO adalah: Tenaga Ker_ia OverheadPabrik Bahan a.000 c.000 Total harga pokok produk dalam proses akhir dengan metode rata-rata adalah: a.000 41. 75. Rp 25 Rp 15 Rp 10 d.000 d. Rp RP 11 24 Rp 16 b. 40. Rp 91.800 41.000 b. 76.800 41.000 c.72. 36.000 Harga pokok per unit dengan metode rata-rata adalah: Bahan Tenana Keria Overhead Pabrik a.000 41.000 b. .938. 40.000 45.710. 36. Rp 1.000 c. 40.000 a.000 d. Rp 24 Rp 16 Rp 11 b. Rp 442. Rp 23 Rp 14 RP 9 Total harga pokok selesai dengan metode rata-rata adalah: b.000 b.900.000 d. Rp 400. 78.000 45.

000 kg Unit yang diterima dari Departemen 1 Produk yang ditransfer ke gudang -Produk dalam proses akhir biaya bahan 100 % .560. biaya konversi 40% biaya tenaga kerja 30%.000 d. Rp 130.79.p 125. Rp 110.d. Rp 1.000 b.INDAH KIAT memproduksiproduknyamelaluiduadepartemenproduksi: Departemen 1 dan Departemen 2. overhead pabrik 50.000 Total harga pokok produk dalam proses akhir dengan metode FIFO adalah: a.000 b. 5.000. Metode RATA-RATA \\ FT. Perusahaan menggunakan metode harga pokok rata-rata tertimbang dalam penghitungan harga pokok produknya.000 kg Rp 12. biaya konversi 70% 10. Rp 1.000 kg biaya tenaga kerja 40%. overhead pabrik 8070Harga Pokok Produk Dalam ProsesAwal: Harga pokok dari Departemen 1 Biaya Bahan Baku Biaya Tenaga Kerja Biaya Overhead Pabrik Biaya-biaya Produksi: Biaya Bahan Baku Biaya Tenaga Kerja Biaya Overhead Pabrik 49.900.000 c.000 kg 45.500.000 c. Rp 1.000 kg Dimasukkan ke dalam proses bulan in Unit yang ditransfer ke Departemen 2 45.000.990.000 kg -- 9. Data produksi dan biaya produksi bulan Januari 19x1 di kedua departemen produksi tersebut tercantum dalam tabel produksi berikut ini: Departemen 1 Data produksi: Produk dalam proses awal.500.000. 88 Dua Departemen.000 Departemen 2 6.000 kg 42.000 kg biaya bahan 60%.000 2.000 Rp 2.000 1. xR .500. Rp 1.000 4.942. Data untuk menjawab soal no.000 80. Total harga pokok selesai yang berasal dari produksi sekarang (current) dengan metode FIFO adalah: a.000 .000 3.000. 81 s.440.000 32. Rp 145.000 d.

Rp 161. 51.590 b. Rp 1. Rp 31. 51.500.000 c. Rp 178.000 b.250.000 Harga pokok produk selesai yang ditransfer oleh Departemen 2 ke Departemen gudang adalah: a. Rp 3. 55.OOO c.720. Rp 3. Rp 2.000 Harga pokok produk selesai yang ditransfer oleh Departemen 1 ke Departemen 2 adalah: a. Rp 118.000 d.000 ..000 Harga pokok rata-rata tertimbang per kg produk Departemen 1: a.000 c.720.000 52.590 b.850. Rp 27.000 Unit ekuivalensi biaya Departemen 2 adalah: Overhead Pabrik Bahan Baku Tenaga Ker!a a.000 d.000 Overhead Pabrik 49.000 42.000 d.000 42. Rp 31. Rp 101.600 b. Rp 17.000 b. Rp 118.350 c.250.000 45.000 45 .250. Rp 17. Rp 27.000 c. Rp 1. 51.250 d.000 45. 55.500.000 45.250. Rp 101. 55.000 c. Rp 2. 51.000 Harga pokok produk dalam proses pada akhirbulan Januari 19X1di Departemen 2 adalah: a.500. Rp 178.500.000 52.000 d.250 d.250.850.000 Harga pokok produk dalam proses pada akhir bulan Januari 19X1 di Departemen 1 adalah: a.000 52.--\ Unit ekuivalensi biaya Departemen 1 adalah: Tenaga Keria Bahan Baku a.200 15.000 42.000 Harga pokok rata-rata tertimbang per kg produk Departemen 2: a.000 42. Rp 161.000 b.000 52.250.550.200 45.550. Rp 1.000 d.000 c.000 d. Rp 1. Rp 101.000 b.000 b. Rp 101.600 49.350 c. 55.

0 Rp 2. Rp 28. Rp 125.000 unit. 92. tenaga kerja Rp55. Rp 113. Produk Hilung Akhir Proses. 89. Rp 4.200 b.200 d.2 Rp 6 3 Rp 2. Produk hilang dan rusak dianggap berasal dari produk yang baru masuk proses.Data untuk menjawab soal no. 92 Satu Departemen.000. telah menikrnati harga pokok Rp19. 2) Produk yang baru dimasukkan proses 9. penyelesaian bahan 90% dan konversi 60%.600.l c. Metode FIFO Data kegiatan produksi dan biaya produksi PT.O Rp 6.d.000 c.7 RP 5.500 unit. Rp 12 b. total harga pokok produk selesai yang dipindahkan ke rekening persediaan produk selesai adalah: a. Rp 15. Jika digunakan metode FIFO. Rp 11 Jika digunakan metode FIFO.d.7 ' 90. 93 s. XY yang disajikan sebagai berikut: Perhitungan harga pokok yang dibebankan pada produk (FlFO). overhead pabrik Rp18. 3) Produk selesai 8.000 unit dengan penyelesaian bahan 80% dan konversi 50%. NUSA pada bulan Nopember 1986 adalah: 1) Produk dalam proses awal1. Data untuk menjawab soal no. Rp 4. Rp 26. RP 3. Rp 130.800 d. rusak bersifat normal dan tidak laku dijual500 unit. biaya bahan per unit adalah: Overhead Pabrik Bahan Tenaga Ker_ia a. Rp 4. 97 Analisis Laporan Harga Pokok Produksi Inforrnasi berikut ini adalah bagian ketiga dari laporan harga pokok produksi FT. total harga pokok produk dalam proses pada akhir periode adalah: a. Rp 4.600. 89 s. harga pokok produk selesaiper unit yang dipindahkan ke rekening produk selesai adalah: a. hilang akhir proses 500 unit.9 d. .000 9 1.8 c.O b. Rp 9.800.29 d. Biaya produksi yang terjadi periode ini terdiri dari: bahan Rp36. Jika digunakanmetode FIFO. Rp 14.000 Jika digunakanmetode FIFO.s Rp 6 7 Rp 2 2 Rp 1. Rp 102.800 b. 4) Produk dalam proses akhir 500 unit.200 c.

000 Total harga pokok produk dalam proses awal Harga pokok produk yang diselesaikan dari bulan ini (4. Rp 161:200 27.000 c.200 x Rp950) Total harga pokok produk selesai Harga pokok produk dalam proses akhir.200 c.374.800 unit c.000 Rp 4. Biaya bahan (400 x 100% x Rp400) Rp 160. Rp 1.000 Total biaya produksi bulan ini 93. RP 405 Total biaya tenaga kerja langsung pada bulan ini adalah: a. 4. Rp 1.580 4. RP 410 d. 4.245. Rp 1.145.540 Overhead Pabrik 4.260 4.000 c.600 unit b.240 4.400 unit d.000 Rp 188.000 b.374.000 95. 4. c.178. 96.000 b.520.600 b.000 Biaya tenaga kerja langsung (400 x 85% x Rp300) 102.095.Harga pokok produk selesai. Rp 1. Produk yang masuk dalam proses pada bulan ini adalah: a. 97.000 d. Unit ekuivalen produksi adalah: Bahan a. Rp 2.3 14.000 Total biaya overhead pabrik pada bulan ini adalah: a. 4. 4.200 342.000 d.200 3. Rp 2.000 Biaya overhead pabrik (400 x 80% x Rp250) 80.314.550 unit Bila diketahui harga pokok per unit pada bulan yang lalu untuk biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp290 dan biaya overhead pabrik sebesar Rp240.990. Rp 1.200 Tenaga Keria 4. maka harga pokok per unit biaya bahan pada bulan yang lalu adalah: RP 400 b. Rp 1. 4. 4.000 Rp 4.580 4. .600 Tidak bisa dihitung d. Produk dalarn proses awal Penyelesaian produk dalam proses awal Biaya tenaga kerja langsung (200 x 20% x Rp300) Rp12.000 Biaya overhead pabrik (200 x 30% x Rp250) 15.295.520 94. RP 390 a.

000 unit ? Unit hilang dalam proses (akhir proses) Biaya yang diperhitungkan: 90.620 65.000 unit . 4.Data untuk menjawab soal no.000 unit Ditransfer ke departemen berikutnya Masih dalam proses (113 biaya konversi) 6. Unit yang hilang dalarn proses produksi berjurnlah: a.d.800 Rp 74.000 unit Biaya Total Biaya dari departemen sebelumnya: Transfer selama bulan h i Biaya yang ditambahkan departemen hi: Tenaga kerja langsung Overhead pabrik Jurnlah penambahan biaya Jumlah biaya yang dihitung I Biayalunit Ru 154. 5.220 RQ ? ? ? ? ? Perhitungan biaya: Ditransfer ke departemen berikutnya Persediaan barang dalam proses akhir. Harga Pokok Produksi 99. 3. Pencatatan Persediaan Fisik b. Harga Pdcok Pesanan d. Dr departemen sebelumnya ai Tenaga kerja langsung Overhead pabrik Total biaya yang diperhitungkan 98.000 unit b. LEILA Departemen Pengujian Laporan Harga Pokok Produksi Bulan Nopember 1990 Data Kuantitas: Diterima dari departemen sebelurnnya 80.000 unit d. dapat diketahui bahwa perusahaan menggunakan metode: a. 98 s. LEILA: PT. 107 Analisis Laporan Harga Pokok Produksi 1 Berikut adalah laporan harga pokok produksi yang tidak lengkap dari PT. 6. Pencatatan Persediaan Perpetual c.600 Ru 140.000 unit c. Rp RD ? ? ? Ru ? ? Dari laporan harga pokok produksi ini.

25 Berapakah biaya unit yang ditransfer ke departemen berikutnya? Rp270. maka biaya unit yang hilang ini sebaiknya dibebankan sebagai: a.000 unit 86.35 d.000 unit 82.70 Unit ekuivalen (setara) produksi untuk Departemen Pengujian selama bulan Nopember tersebut berjumiah: Tenalra Keria Overhead P a b r a.27 c.580 Jika unit hilang pada kasus di atas merupakan kejadian yang tidak biasa (abnormal). 86.31 a. Rp26. Overhead pabrik b. Rp3.000 d. Rp20.Berapakah biaya per unit yang diterima dari departemen sebelun~nya: a.000 unit Berapakah biaya tenaga kerja per unit Departemen Pengujian selama bulan Nopember 1990 (dibulatkan dalam sen) ? a.000 Berapakah biaya unit yang hilang dalam proses? Rp6. Rp 1. Rp218.78 d.000 unit 82. C.72 b. Rp 13. Rp 17. Rp5.20 d. Rp3. Rp0. Rp10.400 a.83 b. 82. C. Rp 12.000 unit d.400 b. Rp6. 90.87 Berapakah biaya overhead pabrik per unit Departemen Pengujian selatna bulan Nopember 1990 (dibulatkan dalam sen)? Rp3. Rp0. Rp28 1.000 unit b. Rp0.53 b.400 a.790 c. Rp13.700 b.000 unit 86. Rp 1. Dialokasikan proporsional pada persediaan Dibebankan sebagai rugi lain-lain d.100 d. Rp3.76 c. Rp274. 86.185 d. Rp0. C.800 Berapakah harga pokok dari persediaan barang dalam proses pada akhir bulan Nopember? a. .395 b.000 unit c. Bagian dari produk selesai c.

00.diperoleh informasi dari Departemen A.50. Rp 584.745. Baik di Departemen A maupun DepartemenB.000 b. Rp 539.400 b. 108 s.738.000 unit (bahan 100%.000 b.009 unit.000 d.600 unit Total biaya overhead pabrik pada bulan Mei 1990 adalah: a.000 unit 164. dan biaya overhead pabrik sebesar Rp18. dan biaya konversi 80%). 164.600 unit b. Komposisi biaya per unit produk: biaya bahan baku Rp 22.908.010.50. biaya tenaga kerja langsung Rp 11. Produk rusak dalam proses diketahui 20. dan biaya overhead pabrik sebesar Rp 20. Metode FIFO Berikut ini disajikan informasi mengenai proses produksi I .Data untuk menjawab soal no.000 d. Pada akhirbulan Mei 1990diketahui biaya per unit produk adalah: biaya bahan baku Rp22.000 unit 179. Rincian informasiprosesproduksi di Departemen A pada akhir bulan Mei 1990.040.000unit. Rp 1.132. Rp 9.00. 182. 111. Rp 3. Rp 3. yang memproduksi T TS produk AQ dengan melalui dua departemen produksi.00. digunakan metodeFIFO.000 unit 159. 110. biaya tenaga kerja langsung Rp12.400 unit d.000 unit c. Rp 1.000 Biaya produk yang masih dalam proses akhir dalam produksi bulan Mei sebesar: a.200 b. dan biaya overhead pabrik 90%). adalah sebagai berikut: Unit yang diselesaikan clan diserahkan ke departemen B adalah 150. Rp 9. A Ada Produk Rusak.408.687. Rp 2.000 unit. Rp 1.400 unit 140. biaya tenaga kerja langsung 80%. 140. Dari informasi tersebutdi atas dapat diketahuibahwa unit ekuivalen di departemen A pada bulan Mei 1990. Rp 7. Produk yang masih dalam proses akhir sebesar 12. Produk yang masih dalam proses akhir sebanyak24. sebagai berikut: Produk yang diserahkan ke Departemen B sebesar 170. Produk rusak dalam proses sebanyak 500 unit.000 109. adalah: Tenaga Keria Bahan a. Rp 578.000 Biaya produk rusak yang dihasilkan oleh produksi pada bulan Mei 1990adalah: a. .800 Biaya produk yang ditransfer ke Departemen B adalah: a. 112 Dua Departemen. Rp 531. Rp 2. 108.067.d.400 d. Rp 2. 162.D e w e m e n Pertama.000 c. 112.000 c.050. Pada akhir bulan April 1990.400 c.869.000 unit (biaya bahan 90%.00.200 c.000 d.060. Rp 1.

Rp 11. Rp 13.W Rp 13.35 Rp 16.Ada TambahanBahan yang TidakMenambah Unit.70 Data untuk menjawab soal no. B Biaya dari departemen sebelurnnya Rp 27.W Rp 13. Rp 11. C Harga pokok persediaan produk dalam proses awal adalah sebagai berikut: Dep. Produk diolah melalui 3 departemenproduksi: Departemen A.680 Total Rp 45.464 1. Data bulan April adalah sebagai berikut : Persediaan% Penyeleawal saian Unit dimasukkan dalam Persediaan % Penyeleproses akhir saian 25 20 30 Dep.520 Dep.600 6.520 Dep. A Rp149.35 Rp 18.MetodeRATARATA Perusahaan PRIMA menggunakan metode harga pokok proses.840 Rp 40.W Rp 15.65 d. Departemen 2.600 Dep.120 Rp 22. Rp 13. B 40 ? 30 ? 3.600 Biaya bahan baku Biaya konversi 50.35 Rp 16.h2& Rp 14. TKUTILANGmemproduksiproduknyamelalui 3 departemenproduksisecaraberurutan: Departemen 1.Perusahaanmenggunakan metode harga pokok rata-rata tertimbang. Dalam bulan April 19X2. Metode RATA-RATA I.464 Biaya bulan April 19x2 adalah sebagai berikut: Dep. 114 s. C Rp 4.9. dan Departemen 3.35 Rp 18.096 113.264 Rp 29. B.680 Biaya produksi per unit produk yang dihasikan oleh masing-masing dperatemen dalarn bulan April 19x2 adalah: Departemen A De~artemen B Departemen C a. A 4.90 Rp 15. Bahan baku digunakandalam awal proses Departemen 1 dan ditarnbahkan pada akhir proses departemen 3.400 ? 5.8001 30 17.800 Biaya bahan baku Biaya konversi 4. Perusahaan menggunakan metode .Data untuk menjawab soal no. dan C.85 b. 13 TigaDepartemen.272 - 192 Ru 4.600unit produk ditransferke gudang. A Dep.d 119 Tiga Departemen.400 2.400 21. IkILB - l.80 c.

Pada awal bulan Nopember 19X1terdapat persediaan produk dalam proses dengan biaya sebagai berikut: Keterangan Harga pokok dari departemen sebelurnnya Biaya bahan baku Biaya konversi Total harga pokok Departemen 1 - Departemen 2 Rp 79.320 4.400 129.000 b.000 Departemen 2 19.400 d.600 112.328 Departemen -- Produk selesaidan Jumlah (kg) % Pe~yelesaian Jumlah (kg) Penyelesaian ditransfer Departemen 1 32.680 - Departemen 3 Rp 146. 123.600 111. dan ditarnbahkan pada awal proses di Departemen 3.280 Biaya produksi bulan Nopember 19x1 adalah sebagai benkut: Biaya-biaya Departemen 1 Departemen 2 Biaya bahan baku Rp 251.880 16.600 Rp 89.200 136. 136. 129.400 b.360 11.harga pokok rata-rata tertimbang. dan Departemen 3 dalam bulan Nopember 19x1 adalah: Deuartemen 1 Departemen 2 Departemen 3 112.560 9. .800 30 25 50 104. Unit ekuivalen biaya bahan baku di Departemen 1dan Departemen 3 dalam bulan Nopember 19X1 adalah: Departemen 1 Departemen 3 136. 112.200 Ru 26. 1 11.900 Data produksi dalam bulan Nopember 19x1 adalah sebagai berikut: Persediaan awal Persediaan akhir Departemen 3 Rp 65.352 Rp 167.Departemen 2.000 ? ? 1 14.600 c.000 Unit ekuivalensibiaya konversi di Departemen 1.400 Rp 130.200 Departemen 3 27. Bahan baku dimasukkan dalam proses secara terus menerus sepanjang proses di Departemen 1.400 12.000 14. 129.000 115.600 129.200 136.200 112.552 Rp 15.600 c.200 129.520 Biaya konversi 183.000 a.400 d. 136. 111.000 129.400 a.280 99.600 1 12.200 20 40 20 24.

500 Biaya Rp 6. Rp 17.960 Biaya konversi yang telah diserap oleh produk dalam proses di Departemen 1 pada akhir bulan Nopember 19X1 adalah: a.280 c.35 c.d.960 Biaya bahan baku yang telah diserap oleh produk dalam proses di Departemen 1 pada akhir bulan Nopember 19x1 adalah: b.40 Rp 10.60 d.960 117.000 Ru 64.40 Rp 8. Departemen 2. Rp 46 1.300 58.600 c.15 b.35 Harga pokok produk jadi yang ditransfer dari.300 58.280 b.116. Rp 44. Rp 2. Rp 29.880 d. Rp 11. Rp 29. Total biaya produksi per unit komulatif di Departemen 1.000 3. Rp 43 1.300 . Metode RATA-RATA Informasi mengenai bagian B PT.400 15. Rp 29.480 b.300 Ditransfer masuk Produk dalam proses awal Satudunit yang ditransfer masuk Rp 2. Data untuk menjawab soal no.500 RD25. Rp 2.000 Bahan unit baku Rp 25. Rp 244.000 Ru 18. 118.000 40.600 a. Rp 12.35 Rp 4.50 Rp 11.Departemen 1 ice Departemen 2 dalam bulan Nopembr 19X 1 adalah: a. 119. dan Departemen 3 dalam bulan Nopember 19x1 adalah: De~artemen 1 De~artemen 2 Departemen 3 a.00 Rp 13.880 d. 121 Dua Departemen.600 c. Rp 44.15 Rp11.60 Rp 13.000 Rp 64.60 Rp 13. 120 s.000 35. Departemen Lanjutan. Rp 17.880 d.400 Bahan konversi Rp 3.000 37 .900 17. Rp 4.500 Rp 20. Rp 12.400 Biaya ma! Rp 6. TULUS adalah sebagai berikut: Produk dalam proses awal Satudunit yang ditransfer masuk Satudunit yang selesai Produk dalarn proses akhir Satuanlunit 5.

000.Biaya produksi Rp40. Rp 0.000 Rp 79.Produk dalam proses awal Rp 8.000.Unit ekuivalen dalam metode harga pokok rata-rata tertimbang 100.000 Satu Departemen.000 Rp 6.000 unit dengan tingkat penyelesaian: bahan baku 80% dan biaya konversi 50%. PT.000 Rp 8.800.000 Rp 6. terdekat) adalah: Rp ()A-4 b. Metode RATA-RATA Dari sebuah perusahaan yang memakai metode harga pokok proses diperoleh informasi sebagai berikut: Biava Bahan BakuBiava Konversi .Biaya per satuan Rp 480 Rp 400 Jumlah produk jadi periode tersebut 90.50 Porsibagian dari biaya total dalam sisa pekerjaan dalam pelaksanaan akhir yang menyangkut biaya transfer masuk adalah: RP 0 b. Satu Departemen.000 Rp 88. Rp 1. 1 Desember 1984 sebanyak 1.000 Rp 32.000 .200. Ada Produk Hilang Pada Akhir Proses.000. Rp 1.000. Harga pokok produksi barang tersebut: Biaya bahan baku Rp 80.000 Biaya tenaga kerja 60.000satuan 95.500 a.200. Tulus menggunakan metode rata-rata tertimbang.000 satuan dan produk dalam proses akhir adalah 10. Rp 1.650 121.48 d.000 satuan . Rp 0. FIFO 123. Rp 0.000 RP 0 Rp 86.000.000 satuan.800.000.000 .800.000 .000 50. c.000 Rp 6. Harga pokok produk jadi dan produk dalam proses akhir adalah: Produk Dalam Proses Produk Jadi Rp 79. 120.46 a.Biaya konversi adalah 20% selesaiuntuk produk dalam proses awal dan 40% selesai untuk produk dalam proses akhir. Data kegiatan produksi dan biaya produksi pada perusahaan " M E C pada bulan Desember 1984 adalah sebagai berikut: Produk dalam proses awal. Bahan digunakan pada akhir proses. Biaya per satuan ekuivalen untuk biaya konversi (dibulatkan ke sen.000 Biaya overhead pabrik Jumlah RD 190. c.350 d.

440. Rp 238. Rp 1. dan biaya overhead pabrik Rp 23. 3 1 Desember 1984 sebanyak 500 unit.198. Departemen Lanjutan.000 unit Produk yang hilang pada akhir proses sebanyak 500 unit.000 c.000 d. Biaya yang dikeluarkan pada periode ini ( Desember 1984 ) adalah: Biaya bahan baku Biaya tenaga kerja Biaya overhead pabrik Jumlah harga pokok produk selesai yang dikirirnkan ke gudang.300. Biaya per unit untuk masing-masing elemen biaya adalah: Dari De~artemen Sebelumnva Rp 964 Rp 960 Rp 460 Rp 980 Tenaga Keria Rp 964 Rp 540 Rp 540 Rp 964 OverheadPabrik Rp 980 Rp 460 Rp 960 Rp 964 . Metode RA TA -RATA Persediaan barang dalarn proses awal bulan 200 kg (100% biaya bahan. Sedangkan biaya yang ditambahkan di departemen yang bersangkutan adalah: dari departemen sebelumnya Rp 800.000. Perusahaan menggunakan metode rata-rata dalarn menentukan harga pokok produksinya.000. Produk dalarn proses akhir.Produk yang masuk dalarn produksi periode ini sebanyak 9. Produk selesaidan ditransferke departemen selanjutnya 900 kg.000 Data untuk menjawab soal no.800. Produk rusak ini tidak laku dijual. 60% biaya konversi). 124. dan biaya overhead pabrik Rp 420. Rp 960. Ada Produk Hilung Pada Awal Proses.000 b. terdiri dari biaya dari departemen sebelumnya Rp 140. jika perusahaan menggunakan metode harga pokok FWO adalah: a. Rp 1. dengan tingkat penyelesaian: bahan baku 90% dan biaya konversi 60%.000. biaya tenaga kerja Rp480.biaya tenaga kerja Rp 480. 20 kg produk dinyatakan hilang pada awal proses. Produk selesai yang baik sebanyak 9. 80 kg masih dalam proses akhir bulan dengan tingkat penyelesaian: 100% biaya bahan dan 80% biaya konversi.000.000 unit. 124 Dua Departemen.

000 x 100%) Biaya konversi (2.000 Biaya Konversi 55.000 69.000 55.I B. I Biaya Bahan Unit produk selesai 55.000 Jawab: a Unit ekuivalen dengan metode FIFO. Jawab: e rn Biaya Konversi 55. Jawab: c Data produksi: Unit produk dalam proses awal Unit diterima dari Departemen 1 Unit produk selesai Unit produk dalam proses akhir Unit ekuivalen dengan metode RATA-RATA: I 7.000 x 30%) Jumlah 2 1.600 Biaya konversi (12.000 (+) Unit produk dalam proses akhir: 12.000 60.000 (-) Unit produk dalarn proses awal Unit masuk proses dan selesai 48.600 . PENYELESAIAN 20.000 Unit produk selesai Unit ptoduk dalam proses akhir: Biaya bahan baku(2.000 50.000 x 30%) Jumlah 50. Biaya Bahan 55.000 Biaya bahan baku (2.000 7.000 (+) Penyelesaian produk dalarn proses awal: Biaya bahan baku (7.000 Ekuivalen produksi biaya bahan dengan metode RATA-RATA: Biaya Bahan Biaya Konversi Unit produk selesai 60.000 22.000 x 100%) Biaya konversi (2.000 x 25%) (+) Unit produk dalam proses akhir: 2.000 Biaya bahan (12.000 x 80%) Jurnlah 72.000 48.000 2.000 x 0%) Biaya konversi (7.000 2.000 57.000 x 100%) 9.

000 Unit masuk proses dan selesai 30.000 26.000 x 0%) 0 Biaya konversi (10. Biaya Bahan 88. Jawab: a Unit produk selesai: Unit ekuivalen dengan metode rata-rata Unit produk dalam proses akhir (15.000 x 100%) 8.000 Biaya Konversi 88.000 10.000 10.000 0 Biaya Konversi 110.000 78.000 x 0%) Biaya konversi (30.000 x 50%) Jumlah Biaya Bahan 110.000 .000 Biaya konversi (8.000 (-) Unit dalam proses awal 10.000 x 80%) Jumlah unit produk selesai Jawab: a Unit ekuivalen FIFO.000 x 60%) Jumlah 38.000 x 0%) Unit dalam proses akhir: Biaya bahan (70.000 (+) Penyelesaian unit dalam proses awal: Biaya bahan (10.000 25. ~ n i produk selesai .000 70.000 x 0%) Biaya konversi (10. (-1 Unit produk dalam proses awal Produk masuk proses dan selesai (+) Penyelesian unit produk dalam proses awal: Biaya bahan (10.000 0 2.000 10. Jawab: c Perhitungan unit ekuivalen: Unit selesai dan ditransfer Unit hilang dalam proses produksi: Biaya bahan (30.000 180.000 24.000 78. Jawab: a Unit ekuivalen dengan metode FIFO: Biaya Bahan Unit selesai 40.23.000 30.000 x 20%) Biaya Konversi 40.000 x 20%) (+) Unit dalam proses akhir: Biaya bahan (8.000 x 100%) Biaya konversi (70.

(+) Unit produk dalarn proses akhir: Biaya bahan (15.000 4.000 9.000 90.500 Jawab: c Untuk dapat menghitung ekuivalen produksi dengan metode FIFO.000 10.000 Biaya Konversi 91. memerlukan data tentang unit produk selesai yang dihitung sebagai berikut: Ekuivalen bahan dengan metode rata-rata (-) Unit dalarn proses akhir (15.000 90.000 91.000 x 100%) Biaya konversi (10.000 7.000 7.500 95.000 (-) Unit dalam proses awal 10.500 98.000 7.000 x 50%) Jumlah 90.000 Unit masuk proses dan selesai (+) Penyelesaian produk dalarn proses awal: 0 Biaya bahan (10.000 Biaya konversi (15.000 Unit produk dalam proses akhir: 12.500 92.000 x 80%) Biaya konversi (15.000 81.500 6.000 Biaya Konversi 88.500 .000 x 0%) Biaya konversi (10.000 x 50%) Jumlah 12.000 8 1.000 Unit ekuivalen dengan metode FIFO: Biaya Bahan Unit produk selesai 91.000 atau: Unit ekuivalen dengan metode rata-rata (-) Unit dalam proses awal: Biaya bahan (10.500 Jawab: b Unit ekuivalen dengan metode RATA-RATA: Biaya Bahan Unit produk selesai 88.000 Biaya bahan (15.000 x 60%) (=) Unit produk selesai 100.000 x 50%) Jumlah 100.000 10.000 x 80%) Biaya konversi (15.500 87.000 92.000 x 40%) (+) Unit dalam proses akhir: Biaya bahan (15.000 x 60%) Jurnlah 100.000 x 60%) 9.

000 Konversi (10. 38.000 25. 28 ' Tingkat penyel.000 Bahan B (10.000 10.000 x 0%) 10.000 15. Jawab: b Lihat no.000 x 60%) Jumlah 25.000 6.000 10. Biaya Biaya Biaya Bahan A Bahan B Bahan C Unit produk selesai 25. Jawab: b Unit ekuivalen dengan metode FIFO. Biaya Koversi 25.000 25.000 Bahan B (10.000 Catatan: Persediaan awal pada periode sebelurnnya belum menggunakan bahan B karena baru mencapai tingkat penyelesaian 40%. Jawab: e Lihat no.000 15.000 Bahan C (10.000 25.000 30.000 x 100%) 10.000 x 100%) Bahan C (10.000 15.29.000 x 0%) 0 Konversi (10.000 (+)Penyelesaian produk dalam proses awal: 0 Bahan A (10. Produk dalam proses akhir telah menyerap bahan B 100% karena telah mencapai tingkat penyelesaian 60% (lihat gambar) I I 31.000 27.000 x 100%) 10.000 x 100%) 10. sedangkan bahan B digunakan apabila produk telah mencapai tingkat penyelesaian 50%.000 6.000 x 60%) (+)Unit produk dalam dalam proses akhir: Bahan A (10.000 10.000 Unit masuk proses dan selesai 15. BDP akhir Pemakaian bahan B Tingkat penyelesaian BDP awal BDP = Barang Dalam Proses .000 (-)Unit produk dalam proses awal 10.000 35.

000 kg 132.500 0 99.500 kg.000 x O%). Jawab: a Departemen A Data Produksi: Produk dalam proses awal Produk masuk proses (95%) Produk ditransfer keluar Produk dalam proses akhir 88.500 88. Produk dari departemen A 5 11300 kg yang ditambah zat Z 489.000 423.000 kg 511. sehinggadapatdisimpulkan bahwa produk yang diselesaikan departemen B adalah meliputi semua produk yang ditambah zat Z.000 522.000 kg 511. 638.000 88.500 kg 979.000 x 100%) Konversi (99.111.000 kg * Zat Z &an ditambahkan departemen B setelah produk mencapai tingkat penyelesaian 50%. Produk dalam proses akhir 110.500 kg tambahan zat Z).000 x 114) i Produk dalam proses M : Bahan (99.111.500 511. Unit ekuivalen dengan metode FIFO: Departemen A Produk selesai ditransfer ke departemen B Produk dalam proses awal Produk masuk proses dan selesai Penyelesaian produk dalam proses awal: Bahan (88. sedangkan dalam data diketahui bahwa produk yang masih dalam proses akhir departemen B baru mencapai tingkat penyelesaian 10%(1/5).000 kg. Konversi (88.500 1 "Bahan X digunakan pada awal proses . berarti jumlah produk yang selesai sejumlah 979.000 x 113) Jumlah ekuivalen produksi Bahan Konversi 511. 638..32.500 kg 126.000 kg (dari A 489. Jawab: c Lihat no.500 kg 89.500 kg.000 kg.000 kg 1.000 kg 1.500 kg + 489. 28 33. Departemen B Data Produksi: Produk dalam proses awal Produk ditransfer masuk Tambahan bahan Produk selesai yang ditransfer.000 kg 550.500 423.

000 x 0%) Konversi (132.000 x 115) Jumlah ekuivalen produksi 1 "* Bahan Z digunakan pada proses tingkat 50% 35.000 5.000 Biaya konversi (14.000 Konversi 979..000 36.000 x 7/10) Produk dalam proses akhir: Bahan (132.892 Ekuivalen Produksi 60.000 Perhitungan ekuivalen produksi Departemen B: Biaya Konversi 46.000 Produk selesai ditransfer ke departemen B Produk dalam proses awal Produk masuk proses dan selesai Penyelesaian produk dalam proses awal: Bahan (1 10.000 42.000 51.200 36.000 110.000 akhir: Unit dalam proses Biaya bahan (14..52 0.000 2.000 110. Jawab: d Perhitungan ekuivalen produksi Departemen A: Biaya Bahan Unit selesai dan ditransfer 46.000 x 40%) Jurnlah ekuivalensi produksi 60.600 5 1.120 34. Jawab: c Perhitungan biaya per unit Departemen A: Elemen Biaya Biaya bahan Biaya tenaga kerja Biaya overhead pabrik Total biaya Jumlah Biaya Rp 31.000 x 113) Jumlah ekuivalensi produksi 40.600 Biaya Konversi Unit selesai dan ditransfer Unit dalam proses akhir: Biaya konversi (6.000 x 100%) 14.000 x 100%).572 Ru 101.000 869.600 51.34.70 0.000 869. Jawab: b Departemen B Bahan 979.89 .67 Ru 1.600 Biaya per Unit Rp 0. Konversi (110.

89) Rp 86.000 x 100%) 15.000 60. 38.280 Biaya bahan (14.61 Ru 3-50 Biaya Bahan Unit produk selesai 50.000 10.940 Ekuivalen Produksi 46. Jawab: c Unit ekuivalen.000 x Rp1.000 40.000 x 40% x Rp0.700 31.560 42.000 Biaya per unit Rp 0.000 Tenaga kerja (15.52) 3.76 1.000 Biaya Overhead 50.940 Harga pokok produk dalarn proses akhir: Rp 7.752 Biaya overhead pabrik (14.620 Rv 154.67) 14.000 10.70) 3.000 0.000 Elemen Biaya Bahan baku Total Biaya Rp 52.Perhitungan harga pokok Departemen A: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen B: (46.000 (+) Unit produk dalam proses akhir: Bahan (15.000x 40% x Rp0. Jumlah Biaya Rp 86.8 1 .920 Rv 67.920 Biaya tenaga kerja (14.650 Ekuivalen 65. Jawab: b Lihat no. Jawab: a Perhitungan biaya per unit: Biaya Tng Kerja 50.000 x 213) Jumlah 65. 58 Jawab: b Perhitungan biaya per unit Departemen B: Elemen Biaya Biaya dari Departemen A Biaya ditambahkan oleh Departemen B: Biaya tenaga kerja Biaya overhead pabrik Jumlah biaya ditambahkan Total biaya 39.000 42.85 0.952 Jumlah harga pokok produk dalarn proses Rp 101.000 x 100% x Rp0.000 60.892 Total biaya yang diperhitungkan 37.000 Biaya per Unit RD 1.000 x 213) Overhead (15.89 35.

000 12.200 x 85% x Rp15) Biaya overhead pabrik (1.000 19.200 x 100% x Rp22.50) Tenaga kerja (1.50) Overhead pabrik (1.200 x 80% x Rp20) Jumlah Jawab: d Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai (15.200 x 90% x Rp22) Jumlah Jawab: a Total biaya bahan: Biaya bahan untuk produk selesai (12. 126 Jawab: b Biaya bahan baku yang ditambahkan di Departemen 2: Unit yang diterima dari Departemen 1 Kebutuhan roda setiap unit Jurnlah roda yang ditambahkan Biaya setiap roda Jumlah biaya bahan yang ditarnbahkan Rp 27.200 x 80% x Rp20) Biaya tenaga kerja (1.000 x Rp20) Biaya bahan untuk produk dalam proses (1.200 x 80% x Rp12.00) Total biaya yang diperhitungkan Jawab: c Lihat no. 124 Jawab: b Lihat no.200 x 90% x Rp18.Tenaga kerja Overhead pabrik Jumlah Jawab: b Harga pokok produk yang ditransfer ke Departemen 2 (12.00) Harga pokok produk dalam proses akhk Bahan baku (1.440 .000 x Rp53.000 x Rp57) Jawab: d Harga pokok produk dalam proses akhk Biaya bahan baku (1.

000 x 20%) Jumlah ekuivalensi produksi 34.000 Biaya per unit Ru 900 50.000 x 0%) Unit dalam proses akhir: Biaya konversi (6.000 Perhitungan ekuivalen produksi Departemen B: Unit selesai dan ditransfer ke gudang Unit hilang dalam proses awal(3.000 Unit selesai dan ditransfer ke Dep.000 Harga pokok produk selesai (12.000 x Rp900) Biaya ditambahkan Departemen 2: 240.970. 2: Bahan baku Tenaga kerja Overhead pabrik Jumlah biaya ditambahkan Total biaya 49.000 Total biaya Jawab: a Perhitungan ekuivalen produksi Departemen A: Biaya Bahan 30.995) Harga pokok produk dalam proses akhir: Rp 2.500.000 Biaya bahan (3.000 Biaya bahan (4.000 Biaya dari departemen 1 (3.000 x 100%) Biaya konversi (4. 1 Biaya ditambahkan Dep.700. Jawab: a Lihat no. Jawab: b Harga pokok per unit: Elemen Biaya Biaya produksi dari Dep.000 x 40%) Jumlah ekuivalensi produksi Biaya Konversi 30.000 Biaya overhead pabrik (3.48.OOO x 0%) Unit dalam proses akhir: 4.000 x 100% x Rp80) 1.000 x 213 x Rp580) 870.000 Jumlah harga pokok produk dalam proses akhir Rp 28.160. B 0 Unit hilang dalam proses awal(l.000 x 213 x Rp435) 4.940.910.000 x Rp1.000 0 . Jawab: d Perhitungan harga pokok: Rp 23. 48 Jumlah Biaya RD 13.000 Biaya tenaga kerja (3.000 Ekuivalen Produksi 15.000 0 Biaya Konversi 21.

B (30.000 Jawab: a Perhitungan biaya per unit Departemen B : Elemen Biaya Jumlah Biaya 54. Jawab: b Perhitungan harga pokok Departemen A: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Dep.350.350.000 x 20% x Rp15) 12.000 Tenaga kerja (4.800 Biaya Per Unit Rp 10 15 20 RD 45 53.000 x 20% x Rp20) 1. Ekuivalen Produksi Biaya dari Departemen A RD 1.400 Overhead pabrik Jurnlah biaya ditambahkan RD 1. Jawab: d Perhitungan biaya per unit Departemen A: Elemen Biaya Jumlah Biaya Bahan baku Tenaga kerja Overhead pabrik Jumlah biaya yang dihitung Rp 340.000 x Rp45) Rp 1.000 30. 54 Jawab: c Jawab: e Perhitungan harga pokok Departemen B: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke gudang (21.000 462.637.000 Harga pokok produk dalam proses akhir: Bahan baku (4.418.000 Ekuivalen Produksi 34.000 Jurnlah biaya yang dihitung Rv 2. Jawab: c Lihat no.000 Overhead pabrik (4.000 .000 Biaya ditarnbahkan Departemen B: Tenaga kerja 585.52.418.000 Penyesuaian adanya produk hilang 3. .400 702.800 30.000 27.000 x 100% x RplO) Rp 40.000 Biaya Per Unit Rp 45 5 Rp 50 55.000 30.RD1.000 23.600 Jumlah harga pokok produk dalam proses 68.000 Total biaya yang diperhitungkan Rv 1.000 23.287.000 616.000 x Rp 105) Harga pokok produk dalam proses akhir: 56 57.

000 x 80% x Rp400) 2.000 x 80%) Biaya Konversi 8.000 6.000 3.000 Jumlah harga pokok produk dalam proses Total biaya yang diperhitungkan 58.000 10.720.000 x 40% x Rp30) 72.000 2.000 10.600 Biaya Per Unit Rp 400 400 700 Rv 1.560.000 Ovehead pabrik (2.000 x 100%) Konversi (2.000 Produk selesai ditransfer Produk dalam proses: Bahan (2.600 Perhitunnan Biava Per Unit: Elemen Biaya Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Bahan Tenaga kerja Overhead pabrik Jumlah Rp 4.500) Rp 12.000 .000 x 40% x Rp25) 60.000 x Rp1.000 10.000 Harga pokok produk dalam proses akhir: Bahan (2.000 Rv 14.120.000 Tenaga kerja (2.000 x 8Wo x Rp700) 1.560.000.600 9.Biaya dari Departemen A (6.000 x 100% x Rp400) Rp 800. Jawab: a Bagian A Data Produksi: Dimasukkan dalam proses Ditransfer ke bagian berikutnya Dalarn proses akhir Unit Ekuivalen: Biaya Bahan 8.000 - 1.000 9.000 432.000 Ru 2.000 8.560.637.000 Tambahan biaya di Departemen B: Tenaga kerja (6.000 Jumlah & 14.000 2.500 Perhitunnan Harna Pokok Produksi: Harga pokok produk yang ditransfer ke B (8.000 Overhead pabrik (6.840.000 640.000.000 x Rp50) Rp 300.

500)Rp 1.ooo .000 - 600 7.000 Perhitungan Harga Pokok Produksi: Harga pokok produk yang ditransfer ke C (5.000 x 60%) Perhitunaan Biaya Per Unit.000.800.000 4.500.000 x 60% x Rp250) Jumlah Rp Bagian C Data Produksi: Ditransfer dari bagian sebelurnnya Ditransfer ke gudang Dalam proses akhir 10.000 4.000 5.000 150.000) Rp Harga pokok produk yang ditransfer ke gudang (2.800.000 x Rp2.000 x 100%) Konversi (1.900.000 Produk selesai ditransfer ke C Produk selesai ditransfer ke gudang Produk dalam proses: Bah'm (1.000 Rp 15. Biaya Konversi 5.000 8.000 10.900.600 Elemen Biaya Harga pokok ditransfer rnasuk Biaya tambahan: Tenaga kerja Overhead pabrik Jumlah Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Biaya Per Unit Rp 12.000 Rp 1.000 1.000.500 1.000 7.000 x 60% x Rp250) 150.600 7.000 2.000 1.800.000) Harga pokok produk dalam proses akhir: Harga pokok dari A (1.000 x Rp2.000 1.000 15.000 x Rp1.000 2.Bagian B Data Produksi: Ditransfer dari bagian A Ditransfer ke C Ditransfer ke gudang Dalam proses akhir Unit Ekuivalen: Biaya Bahan 5.000 Tenaga kerja (1.500 500 5.000.600 250 250 Rp 2.000 Overhead pabrik (1.

000 9.000 Jumlah biaya dihitung Rv 372.000 1.000 300 4.000 25.000 'I'c~iaga kerja (500 x 75%)x Rp2.500~ Rp4.462.000.500 Jumlah Rp 19.212.000 1.212.875 Rp 2.Unit Ekuivalen: Produk selesai ditransfer Produk dalam proses: Bahan (500 x 100%) Konversi (500 x 75%) Biaya Bahan 4.000 Biay a konversi 72.000 Biaya per Unit Rp 20 Rp 4 16 8 3 RD 15 60.000) Jumlah setelah penyesuaian Biaya ditarnbahkan oleh Departemen 11: Biaya bahan baku 200.000 5.750.000 x Rp15) Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya dari Departemen I (5. Jawab: b Perhitungan harga pokok Departemen 11: Harga pokok produk selesai (20.350.000 Rp 2.500 Rp 21.300 4.000) R Rp 1.000 25.500 Perhitungan 14ar~a Pokok Produksi: ~argapokok produk yangdiiransferkc gudang (4.000 5.000) 750.500 500 375 5.000 24.000 x Rp4) Rp 300.000 Rp 20.r per unit Departemen 11: I'iemen Riaya Biaya dari Depatlcmen I Pcnyesuaian akihat tanlbahan bahan (4 x 5.000 20.500 Rp 21.000.000 . Jawab: a I'erhitungan biay.875 4.000 Ovcrhead p a h i k (500 x 75% x Rp300) 1 12.300) Harga pokok PI-odukdalam proses akhir: Ilarga pol<oh d.000 Ekuivalen Total Biaya Produksi Rp 100.875 Biaya Konversi 4.i~-i (500 x Rp2.500 59.000 Perhitun~a~i Biaya Per Unit: Elemen Biaya Harga pokok ditransfer masuk Biaya tanibahan: Tenaga kerja Overhead pabrik Jurnlah Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Biaya Per Unit Rp 10.500 4.862.

000 Elemen Biaya Dari Departemen A Penyesuaian produk hilang Jumlah Biaya @ 140.OOO Perhitungan biaya per unit: 40.000 Unit produk hilang awal proses: Biaya bahan (1. 60 Jawab: d Perhitungan ekuivalen produksi: Biaya Bahan Unit produk selesai dan ditransfer 35.000 x Rp3) Jumlah harga pokok produk dalam proses Jumlah biaya yang diperhitungkan 6 1.000 x Rp5.000 x 25%) Jumlah 37 .60 Ditarnbahkan oleh Departemen B: Bahan baku Tenaga kerja Overhead pabrik Jumlah biaya ditambahkan Rp Jurnlah Rp 63.000 1 .000 Rv 75.000 15.000 62.000 x 50%) 2.51 0.220 209.Biaya ditambahkan Departemen 11: Biaya bahan baku (5. Biaya Konversi 35.om 39. Jawab: c Lihat no.000 Biaya Per Unit Rp 3.020 32. Jawab: a Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke gudang (35.000 x Rp 8) Biaya konversi (5.000 Biaya'konversi (4.850 .000 x 0%) 0 Biaya konversi (1. 62 17. Jawab: a Lihat no.51) Rp 192.800 69.OW x 0%) Unit produk dalam proses akhir: Biaya bahan (4.000 Rp 375.620 64.49 Rp 3.400 19.400 Ekuivalen Produksi 40.

000 Biaya ditambahkan: Tenaga kerja 164.000 252.000 82.620 Biaya Konversi 70.000 Biaya ditambahkan: 24.000 x 50% x Rp0.000 10. 66.O) Rp 180.000 x 0%) Unit produk dalam proses akhir (20.000 x 60%) Jurnlah 67.90) Overhead pabrik (4.60) Rp 14.l) Penyesuaian produk hilang Total Biaya Q Ekuivalen Produksi 100.Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya dari Departemen A (4. Jawab:d Lihat no.55) 550 Jurnlah 65.050.000 Overhead pabrik (20. Jawab: c Lihat no.000 82. Jawab: a Biaya per unit: 16.770 RR 209.000 Tenaga kerja (20.000 0 12.000 x 60% x Rp4) & 1.000 x Rp9.000 Overhead pabrik Jurnlah biaya ditarnbahkan Ru 492.400 Biaya ditarnbahkan: 920 Bahan baku (4.302.000 Elemen Biaya Biaya dari departemen Pulp: (100. 64 Jawab: b Unit ekuivalen: Unit produk selesai Unit hilang awal proses (10.000 x 25% x Rp0.46) 900 Tenaga kerja (4.000 Jurnlah Rv 1.000 Harga pokok produk selesai (70.000 90.000 x 60% x Rp2) 48.000 x Rp150) Harga pokok produk dalam proses: Biaya dari departemen Pulp (20.000 x Rp8.000 Biaya per Unit 810. 156 .000 Perhitungan harga pokok produksi: Rp 1.000 x Rp3.000 Jumlah 68.000 328.000 x 25% x Rp0.302.000 82.

600 kg 800 kg .800 kg x 100% x Rp198.800 kg 15.800 kg 400kg Produk selesai ditransfer Produk dalam proses: Bahan (4. Jaivab: d Lihat no.25) Harga pokok produk dalam proses akhir: Bahan (4.75) Rp 954.800 kg x 113) Biaya Bahan 10. 70.800 kg x 100%) Konversi (4.800 kg x 113 x Rp135.000 2 16.800 kg 4.400 kg 3.800 kg x Rp401.000 Tenaga kerja (4.600 kg Biaya Konversi 10.800 kg x 113 x Rp67.800 kg 4.00) Overhead pabrik (4.800kg Perhitungan Biava Per Unit: Elemen Biaya Bahan Tenaga kerja Overhead pabri Jumlah Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Biaya Per Unit Perhitunvan Harga Pokok Produksi: Harga pokok produk yang ditransfer (10.000 Jumlah Bagian Pengujian Data Produksi: Ditransfer dari bagian sebelurnnya Ditransfer ke bagian berikutnya Dalarn proses akhir Hilang awal proses (normal) 6.69. 156 Jawab: b Bagian Pencampuran Data Produksi: Dimasukkan dalam proses Ditransfer ke bagian berikutnya Dalam proses akhir Hilang awal proses (normal) Unit Ekuivalen: 10.5) 108.

333.600 kg 342.560.05 Perhitungan Harga Pokok Produksi: Harga pokok produk yang ditransfer (6.900 Biaya Per Unit Rv40 1.500 10.060 (3.000 kg 1.000 10.400 7.800 kg 400 kg 6.OO 45.200 kg Rp 4.800 kg 800 kg 10.600 kg Biaya Konversi 6.Unit Ekuivalen: Biaya Bahan 6.920 Tenaga kerja (3.461.163.000 Jumlah Bagian Perampungan Data Produksi: Ditransfer dari bagian sebelumnya Ditransfer ke bagian berikutnya Dalam proses akhir Hilang awal proses (normal) Unit Ekuivalen: Biaya Bahan 4.400 kg 4.624.000 kg Perhitunaan Biaya Per Unit: 1.200 kg 7.400 kg Produk selesai ditransfer Produk dalam proses: Bahan (3.OO) 118.600 kg x 113) Elemen Biaya Harga pokok ditransfer masuk Penyesuaian produk hilang Bahan Tenaga kerja Overhead pabrik Jumlah Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Rp 4.197.70) 430.400 kg x Rp697.600 kg x 113 x Rp45.900 6.780 Rp 6.400 kg 3.800 Overhead pabrik (3.70 99.000 kg 752.600 kg x Rp433.05) Harga pokok produk dalam proses akhir: Harga pokok dari pencampuran Rp 1.00 Rp 697.000 7 600 kg Rp 6.600 kg x 100%) Konversi (3.3 Bahan (3.120 2.25 Rp 433.400 kg Produk selesai ditransfer Biaya Konversi 4.00) 54.200 kg 1.624.35 119.600 kg x 100% x Rpl19.600 kg x 113 x Rp99.200 kg .600 kg 10.

52) Rp 6.336 Jurnlah & 9.784 Harga pokok produk dalam proses akhir: Harga pokok dari pencampuran Rp 1.160.000 5.800 kg x 213 x Rp320.105.120 Rp 1.800 kg x 100% x Rp360.728.200 kg x Rp1.00 Tenaga kerja 1.800 kg x Rp743.500 .000 Overhead pabrik (1300 kg x 213 x Rp140.566.105.338. Jawab: b Departemen A Data Produksi: Dimasukkan dalam proses Ditransfer ke bagian berikutnya Produk hilang proses awal Dalam proses akhir Unit Ekuivalen: Produk selesai ditransfer Produk dalam proses: Bahan (1.00 Jumlah Rp 9.000 5.000 unit Biaya Bahan 2.000 kg 1.000 kg Rp 743.52 Bahan 2.461.400 kg 320.000 x 100%) Konversi (1.120 71.500 unit 500 unit 1.563.OO) 384.800 kg x 213) 1.538.000 2.000 kg 360.563.000 unit 4.05 Penyesuaian produk hilang 400 kg 6.400 kg Ru 697.200 kg 5.000 unit 2.336 (1.000 Tenaga kerja (1.I20 6.52 Perhitunpan Harga Pokok Produksi: Harga pokok produk yang ditransfer (4.800 kg 6.00) 168.400 kg Perhitungan Biava Per Unit: 1 Elemen Biaya Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Biaya Per Unit H q a pokok ditransfer masuk Rp 4.Produk dalam proses: Bahan (1.000 x 50%) 4.000 6.52) Bahan (1.00 Overhead pabrik 756.800 kg x 100%) Konversi (1.500 Biaya Konversi 2.400 kg 140.00) 648.

350 Overhead pabrik 117.000 .1 Perhitungan Biava Per Unit: Elemen Biaya Bahan Tenaga kerja Overhead pabrik Jumlah Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Rp 210.350 2.000 x 100% x Rp60) 40.000 Biaya Per Unit RP 60 80 48 Ru 188 Perhitungan Harga Pokok Produksi: Harga pokok produk yang ditransfer ke B (2.500 Biaya tambahan: Tenaga kerja 235.000 Tenaga kerja (1.500 Biaya Per Unit Rp 188 100 50 Rp 338 Perhitungan Harga Pokok Produksi: Harga pokok produk yang ditransfer ke gudang (2.500 unit Upah Langsung Overhead Pabrik Produk selesai ditransfer ke gudang 2.000 3.000 Bagian B Data Produksi: Ditransfer dari bagian departemen A Ditransfer ke gudang Produk rusak Dalam proses akhir Unit Ekuivalen: 2.000 x 50% x Rp48) Jurnlah I Rp 470.000 Bahan (1.000 RD 594.000 Overhead pabrik (1.350 Perhitunpan Biava Per Unit: Elemen Biaya Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Harga pokok ditransfer masuk Rp 470.500 2.000 124.350 Jumlah 822.500 x Rp188) Harga pokok produk dalam proses akhir: Rp 60.000 2.000 3.000 unit 200 unit 300 unit 2.500 240.500 unit 2.000 2.000 x Rp338) Rp 676.000 3.000 200 200 Produk rusak Produk dalam proses: Upah langsung (300 x 50%) 150 150 Overhead (300 x 50%) 2.000 144.000 2.000 x 50% x Rp80) 24.000 Rp 594.

000 Biaya Konversi 38. Jawab: a Perhitungan biaya per unit: 38.500 Overhead pabrik (300 x 50% x Rp50) Jumlah 72.000 37. Jawab: a Ekuivalensi produksi dengan metode rata-rata: 67.000 x 50%) Tenaga kerja (4.600 78.000 30.500 Biaya Bahan Unit produk selesai Unit dalam proses akhir: Bahan baku (4. Jawab: c Ekuivalensi produksi dengan metode FIFO: 38.000 x 50%) Biaya konversi (4.800 Biaya Konversi 38.800 3.400 Tenaga kerja (300 x 50% x Rp100) 15.900 RD 822.000 2.000 4.000 36.000 30.000 x 60%) Biaya konversi (8.Harga pokok produk rusak (200 x Rp338) Harga pokok produk dalam proses akhir: Harga pokok dari A (300 x Rp188) Rp 56.000 7.000 4.000 Biaya Bahan Unit produk selesai C ) Unit dalarn proses awal (=) Unit masuk proses dan selesai (+) Penyelesaian unit dalam proses awal: Biaya bahan (8.000 8.000 3 3.000 Elemen Biaya Bahan baku: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Tenaga kerja: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Jumlah Biaya Ekuivalen Produksi Biaya per Unit .000 x 75%) Ekuivalen produksi 73.000 8.000 2.000 x 50%) (+) Unit dalam proses akhir: Biaya bahan (4.000 x 75%) (=) Jumlah produksi ekuivalen 74.000 40.000 41.

O OO Rv 2.000 .000 Rp442.067. Jawab: a Lihat no.000 Overhead pabrik (8.000 x 75% x Rpl 1) Overhead pabrik (4.000 x Rp 5 1) Harga pokok produk dalarn proses akhir: Rp48. Jawab: b Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai: Dr unit dalam proses awal ai Biaya periode sebelumnya Biaya penyelesaian: Rp 120.000 370.000 370.000 Tenaga kerja (8.0000 129.000 920.000 Bahan baku (8. 89 Jawab: c Perhitungan biaya per unit dengan metode FIFO: Elemen Biaya Jumlah Biaya Harga pokok produk dalarn proses awal Biaya Periode ini: Bahan baku Tenaga kerja Overhead pabrik Total biaya Rp 1.067.000 x 50% x Rp24) 48.000 x 50% x RplO) Jurnlah harga pokok produk selesai dari persediaan awal Rp 222.000 78.000 x 50% x Rp15) 40.000 Rp130.000 Bahan baku (4.000 x 60% x Rp25) 60. 77.000 Rv 451.000 Jumlah harga pokok produk dalam proses akhir Jumlah liiaya yang diperhitungkan 76.000 Tenaga kerja (4.000 Ekuivalen Produksi Biaya per Unit Rp 222.000 Rp 41.938.000 555.000 Rv 2.000 x 75% x Rp16) 33.Overhead pabrik: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Jumlah dihitung 8 1.000 220.000 11 Ru 51 Jawab: e Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai (38.

200 Elemen Biaya Jumlah Biaya Bahan baku: Biaya persediaan-awal Rp 2.000 52.000 Rp 1.000 Biaya ditarnbahkan periode ini 25.000 45.000 x 70%) Ekuivalen produksi Departemen 2: Biaya Bahan 45.000 Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya bahan (4.OOO Total biaya yang diperhitungkan Rv 2.000 10.067.000 x 100%) Tenaga kerja (10.000 x 40%) x 80%) Overhead pabrik (9.000 x 75% x Rp15) Biaya overhead pabrik (4.200 49.000.000 x 50% x Rp25) Rp 50.500.000 Ekuivalen produksi 45. 81.000 Biaya Konversi 45. 2 Unit dalam proses akhir: Bahan baku (10.000 Jurnlah harga pokok produk dalam proses akhir 125.000 Unit dalam proses akhir: 3.600 Tenaga kerja (9.000 x 75% x RplO) 30.Dari unit mulai diperoses dan selesai (30.500.000 x Rp50) Total harga pokok produk selesai 1. Jawab: c Perhitungan biaya per unit Departemen 1: Biaya Overhead 42.000 7.000 Biaya Tenaga Kerja Unit yang ditransfer ke gudang 42.000 7.000 Biaya tenaga kerja (4. Jawab: d Lihat no. 94 Jawab: d Ekuivalen produksi dengan metode rata-rata tertimbang.000 Ekuivalen Produksi Biaya per Unit .000 79. 94 Jawab: d Lihat no.600 82. Departemen 1: 80.000 55. Unit yang ditransfer ke Dep.942.

000 Rp 2.000 Tenaga kerja (10.000 Ru 114.000 Jumlah harga pokok produk dalam proses akhir l7.000 5.Rv 27.000 85.000 Biaya ditambahkan periode hi 25.000 Rp 39.000 x 70% x Rp1.000 36.250.000 49.118.600 600 .000 Rv 52.250. I: Biaya persediaan-awal Rp 12.000 Jumlah biaya yang diperhitungkan .000 Rp 3.000 1.000 Biaya ditransfer periode ini 101.000 Harga pokok produk dalam proses akhir: Bahan baku (10.000.500.000 55. 86.000 Rp500 52.000 x 100% x Rp500) Rp 5.250.000 x 70% x Rp750) Overhead pabrik (10.000 Rp 2.000.500.250) Rp 101.000.000. B iay a per Produksi - Vnit 5 1.000 Rp 84.000 x RpRp2.860.000. Jawab: a Lihat no.500.360. 75 Jawab: a Lihat no.500.500.000 750 52.000 Rp 118.240. 81 Jawab: a Perhitungan biaya per unit Departemen 2: Ekuivalen Elemen Biava Jumlah Biaya Harga Pokok dari Dep.500.000 Tenaga kerja: Biaya persediaan-awal Rp 1.250 Jawab: b Perhitungan harga pokok Departemen 1: Harga pokok produk yang dih-ansfer ke Departemen 2: (45. Rp 2.250.000) 7.000.240 45.000 Tenaga kerja: Biaya persediaan-awal Biaya ditambahkan periode ini Overhead pabrk Biaya persediaan-awal Biaya ditambahkan periode ini Jumlah dihitung 83..990.000 Rp 27.

000 36.000 Jawab: d Lihat no.400.Overhead Pabrik: Biaya persediaan-awal Biaya ditarnbahkan periode ini Jumlah dihitung 87.000 x 40% x Rp 600) 2. Rp 4.000 32.500 Elemen Biaya Harga pokok produk dalam proses awal Biaya Periode ini: Bahan baku Jumlah Biaya Rp 19.500.000 Ru 36.000 Jumlah harga pokok produk dalam proses Rp 27.000.000 x Rp 224) Rp 20.000 Rp 178.900.000 x 20%) Biaya konversi (1. Biaya Bahan 8.160.000 x 80% x Rp 750) 5.500 1.000 49. 87 Jawab: a Ekuivalen produksi dengan metode FIFO: Unit produk selesai (-) Unit dalam proses awal (=) Unit masuk proses dan selesai (+) Penyelesaian unit dalam proses awal: Biaya bahan (1.150 RP 4 .500 Biaya Konversi 8.000 Overhead Pabrik (9.000 Harga pokok produk dalarn proses akhir : Dari departemen 1 (9.000 Tenaga kerja (9.500.600 Ekuivalen Produksi Biaya per Unit 9.78.900.000 Jumlah biaya yang diperhitungkan Rp 178.200 750 Ru 3590 Jawab: e Perhitungan harga Pokok Departemen 2: Harga pokok produk yang ditransfer ke gudang (42.590) Rp 150.720. 89.500 100 .000 kg x Rp 3.000 7.160.0 7.000 x 50%) (+) Unit hilang akhir proses (+) Unit rusak normal (+) Unit dalam proses akhir: Biaya bahan (500 x 90%) Biaya konversi (500 x 60%) (=) Jumlah produksi ekuivalen Harga pokok produksi per unit: 88.

Rp 1.800 8.200 93.000 x 50% x Rp2) 1.800 1.400 4.200 unit 4.39 92.400 4.000 4. Jawab: a Perhitungan harga pokok: Harga pokok produk selesai: Dari unit dalam proses awal Rp 19.80018.500 x Rp12) Harga pokok produk selesai Rp113.000 (7.000 x 50% x Rp6) Overhead pabrik (1.400 unit 400 unit Ekuivalensi produksi dengan metode FIFO: Biaya Bahan Biaya Tenaga Biaya Overhead Baku Kerja Pabrik Unit produk selesai 4.800 Jawab: e Harga pokok produk selesai per unit: Total harga pokok produk selesai Unit produk selesai Harga pokok per unit (Rpl13.800 600 Rv 4. Rp113.500 unit Rp 13.000 Tenaga kerja (1.500) Jawab: b Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya bahan (500 x 90% x Rp4) Biaya tenaga kerja (500 x 60% x Rp6) Biaya overhead pabrik (500 x 60% x Rp2) Jumlah harga pokok produk dalam proses akhir Jawab: a Unit produk dalam proses awal Unit produk selesai: dari persediaan awal dari periode ini Unit produk dalarn proses akhir 9 1.800 dari persediaan awal Dari unit mulai diperoses dan selesai 90. 200 unit 200 unit 4.400 .Tenaga kerja Overhead pabrik Total biaya 90.800 Jumlah harga pakok produk selesai Rp 23.000 x 20% x Rp4) 3.000 Biaya periode sebelurnnya Biaya penyelesaian: Rp 800 Bahan (1.

374.400 Biaya overhead pabrik (200 x 70% xRp240) 33.(-) Unit dalam proses awal 200 (=) Unit masuk proses dan selesai 4. Jawab: a Jumlah unit produk rnasuk proses: Unit produk selesai Unit produk dalam proses akhir Jumlah unit diproses Unit dalarn proses awal Unit masul proses bulan ini 4.000 Ru 1.600 Jumlah biaya bahan baku yang melekat Unit ekuivalen bahan baku produk dalam proses awal: 200 unit (200 x 100%) Biaya bahan baku per unit bulan sebelumnya: (Rp8 1.400 unit 400 unit 4. Rp15.800 unit 200 unit 4.200 80.000 1.000 97.600 94.000 Rp8 1.260.2001200 unit) Rp406 Jawab: b Total biaya tenaga kerja langsung pada bulan ini: Untuk penyelesaian persediaan produk dalam proses awal Untuk produk masuk proses bulan ini yang telah selesai (4.200 x Rp300) Untuk persediaan produk dalarn proses akhir Total biaya tenaga kerja langsung bulan ini Jawab: b Total biaya overhead pabrik pada bulan ini: Untuk penyelesaian persediaan produk dalam proses awal Untuk produk masuk proses bulan ini yang telah selesai Rp161. Jawab:e Biaya bahan baku per unit bulan sebelurnnya: Jurnlah harga pokok produk dalam proses awal (-) Biaya tenaga kerja (200 x 80% x Rp290) Rp46.000 102.200 (+) Penyelesaian unit dalarn proses awal: 0 Biaya bahan baku (200 x 0%) Biaya tenaga kerja (200 x 20%) 40 Biaya overhead pabrik (200 x 30%) (+) Unit dalam proses akhir: Biaya bahan (400 x 100%) 400 Biaya tenaga kerja (400 x 85%) Biaya konversi (400 x 75%) (=) Jumlah produksi ekuivalen 4.000 .600 unit 95.200 96 Rp 12.

050.72 101.600 86.000 x 113) Ekuivalen produksi 102. Jawab: b Pencatatan persediaan perpetual Jawab: b Jumlah unit yang hilang dalam proses produksi: Unit diterima dari departemen sebelumnya Unit selesai ditransfer ke departemen berikutnya ( ) Unit masih dalam proses akhir Unit yang hilang dalam proses Jawab: a Biaya per unit yang diterima dari departemen sebelurnnya (Rp 154.76 Rp 1.000 Rp 1.145.800190.72 0.000 99.(4.000 2.000 x 1/3) Biaya overhead pabrik (6.ooo 86.220 Total biaya yang diperhitungkan Rp295. Jawab: d Perhitungan biaya per unit: Riaya Biaya Tenaga Kerja Overhead Pabrik 80.200 x Rp250) Untuk persediaan produk dalam proses akhir Total biaya tenaga kerja langsung bulan ini 98.000 80.000 Ekuivalen Elemen Biaya Jumlah Biaya Produksi Biaya dari departemen sebelurnnya Rp 154.35 .87 0. 1 I 100.000 - 86.000 Biaya yang ditambahkan departemen ini: 74.000 4.000 Jumlah biaya yang ditambahkan RD140.000 2. Jawab: a Perhitungan ekuivalensi produksi: 1.000) : Rp1.000 Tenaga kerja Overhead pabrik 65.800 90.020 Biaya per Per Unit Rp 1.000 80.620 86.000 4. Unit produk selesai dan ditransfer Unit hilang dalam akhir proses Unit dalam proses akhir: Biaya bahan tenaga kerja (6.63 R~3.

000 (+) Penyelesaian unit dalarn proses awal: 2.000 x Rp1.000 126. Jawab: b Lihat no.35) Rp268. Selisih akibat pembulatan Total biaya yang diperhitungkan 105.740 Tenaga kerja langsung (6.76) Jumlah harga pokok produk dalam proses 13.000 (=) Unit masuk proses dan selesai 126.000 x 113 x RpO.400 Biaya bahan baku (24.580 104.400 Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya dari departemen sebelumnya (6.000 Harga pokok produk hilang dalam proses (3.000 24.Laba Jawab: a Perhitungan ekuivalensi produksi bulan Mei 1990: Biaya Tenaga Biaya Overh Biaya Bahan Kerja Pabrik Unit selesai d m ditransfer ke Dep.520 Overhead pabrik (6. .000 x 20%) 4.35) 13.800 4. Jawab: e Lihat no.000 150. 104 Jawab: d Hilang abnormal diakibatkan oleh kesalahan. sehingga hams dibebankan ke Rugi . 107.87) 1.000 106.000 x 10%) Biaya konversi (24.000 x Rp3.000 20. B 150.72) R~ 10.000 126.103.000 (-) Unit dalam proses awal (akhir April) 24. 108.000 24.000 150.000 20. 104 Jawab: d Lihat no.320 Biaya ditambahkan: 1.000 x 113 x R?0.800 (+) Unit rusak dalarn proses 20.OOO x Rp3. 102 Jawab: e Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke departemen berikutnya (8O.

50) 7.600 160.00) Tenaga kerja (12.000 x 10% x Rp22.400 Overhead pabrik (12. 110 .000 x Rp52.894.000 Rp 1.400 78.000 x Rp52.800 161.000 x 20% x Rp18) Untuk produk selesai dari periode ini (126.OO) Tenaga kerja (24.400 10.000 Bahan baku (12.200 persediaan awal Dari produk masuk proses periode sekarang dan selesai 6.000 x 90%) Jumlah ekuivalensi produksi 160.800 60.000 x Rp 18) Unit produk dalam proses akhir (12.000 x 80%) Biaya overhead pabrik (12.800 384.000 Tenaga kerja (24.000 Biaya tenaga kerja (12.522.000 (126.400 Jawab: a Total biaya overhead pabrik pada bulan Mei: Untuk penyelesaian unit produk dalam proses awal (24.50)120.OO) Rp 52.000 x 100% x Rp22.000 x 80% x Rpl1.000 x Rp18) Untuk produk rusak dalam proses (20.00) RD9.OO) Biaya penyelesaian Bahan baku (24.400 199.000 x 100%) 12.279.000 Overhead pabrik (24.000 x 90% x Rp 18.000 x 90% x Rp18) ~umlah produk dalam proses akhir 9.615.000 x 20% x Rp12.600 Total biaya yang diperhitungkan Jawab: a Lihat no.000 x 80% x Rp20.050.OO) Jumlah harga pokok produk selesai dari 1.50) 86.080.50) 220.000 194.200 Jumlah harga pokok produk selesai Harga pokok produk rusak dalam proses (20.000 Harga pokok produk dalam proses akhir: Rp264.50) 1.200 Bahan baku (24.000 x 80% x Rp12.000 x 90% x Rp22.600 Jawab: e Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai Dari persediaan awal Biaya periode sebelumnya Rp 475.200 Overhead pabrik (24.000 x 20% x Rp 18.(+) Unit dalarn proses akhir: Biaya bahan baku (12.

400 22.000 6. Jawab: a Lihat no.960 Total biaya yang diperhitungkan Rp 185.800 7.400 22.400 x 100%) Biaya konversi (6.60) Harga pokok produk dalarn proses akhir: Rp 54.50) Biaya konversi (6.400 x 25% x Rp3.360 244.400 Biaya Bahan 16.000 x Rp11.600 16.400 1. persediaan awal Biaya periode ini Konversi: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Jumlah Total Biaya Ekuivalen Produksi Biaya Per Unit Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen B (16.000 6.400 x 100% x Rp8.lO) 4.600 17.600 Elemen Biaya Bahan baku: Biaya.400 Biaya Konversi 16.960 . 4. 110 Jawab:a Departemen A Data produksi Unit dalam proses awal Unit dimasukkan dalam proses Unit selesai ditransfer ke Dep. B Unit dalarn proses akhir Ekuivalen produksi Unit produk selesai Unit dalam proses akhir: Biaya bahan (6.600 & I 59.400 Biaya bahan (6.400 x 25%) Jumlah ekuivalensi produksi Perhitungan biaya per unit 113.000 22.112.

000 12.35) Harga pokok produk dalarn proses akhir: Biaya dari Departemen A (5.960 Biaya ditambahkan: 1.800 110 .600 x Rp11.600 x 20%xRp.600 Unit produk selesai ditransfer ke Dep. 1.60) Rp 64.Departemen B Data produksi Unit dalam proses Unit ditransfer dari Departemen A Unit selesai ditransfer ke Dep. C Unit dalam proses akhir Ekuivalen produksi 2.75) Total biaya yang diperhitungkan Departemen C Data produksi .800 5. C Unit dalam proses akhir: Biaya konversi (5.960 Biaya konversi (5.2 13.920 Elemen Biaya Biaya dari Dep.800 x Rp13.600 x 20%) Jumlah ekuivalensi produksi Perhitungan biaya per unit Biaya Konversi 12.400 16. A: Biava persediaan awal Biaya periode ini Biaya ditambahkan: Konversi: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Jumlah Ekuivalen Total Biaya Produksi Biaya Per Unit Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen C (12.

85) Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya dari Departemen B (3. B: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Biaya ditambahkan: Bahan baku: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Konversi: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Total Biaya Ekuivalen Produksi Biaya Per Unit Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai yang dilransfer ke gudang (9.OO) 2 112 Total biaya yang diperhitungkan Rp 161.600 Unit dalam proses akhir: Biaya bahan (3.35) Rp46.600 x Rp16.520 x 0%) Biaya konversi (3.520 x 30% x Rp2.656 9.104 RV 210.120 13.864 .120 Biaya Bahan Unit produk selesai Biaya Konversi 9.520 x Rp 13.Unit dalam proses awal Unit ditransfer dari Departemen B Unit selesai ditransfer ke gudang Unit dalam proses akhir Ekuivalen produksi 320 12 800 9.520 x 0% x Rp1.600 3 520 I 0 13.760 - 49.056 10.600 Elemen Biaya Biaya dari Dep.600 1.992 Biaya ditambahkan: Biaya bahan (3.50) 0 Biaya konversi (3.520 x 30%) Jurnlah ekuivalensi produksi Perhitungan biaya per unit 9.

400 x 25%) Jumlah Departemen I11 Data produksi: Unit dalam proses awal Unit ditransfer dari Departemen I1 Unit selesai dan ditransfer ke gudang Unit dalam proses akhir Ekuivalensi produksi: Biaya Konversi 108.200 Biaya Konversi 123.000 Unit ditransfer dari Departemen I1 Unit selesai dan ditransfer ke Departemen 111108.000 104.000 1 Biaya Bahan Unit produk selesai dan ditransfer 104.200 Unit produk selesai dan ditransfer Unit produk dalam proses akhir: Biaya konversi (14.200 111.200 Unit dalam proses awal 104.114.200 .200 123.400 Unit dalam proses akhir 123. Jawab: b Departemen I Data produksi: Unit dalam proses awal Unit masuk dalam proses Unit selesai dan ditransfer ke Departemen I1 Unit dalam proses akhir Ekuivalensi produksi: 32.200 Departemen I1 Data produksi: 19.200 Biaya bahan (24.000 x 30%) Biaya konversi (24.000 24.000 96.000 Unit produk dalam proses akhir: 7.000 x 30%) Jumlah 7.800 Biaya Bahan Unit produk selesai dan ditransfer ke gudang 123.800 14.

40) Rp 17.600 Jumlah Departemen I1 Perhitungan biaya per unit: Rp 431.000 x Rp4.280 123. Jawab:e Perhitungan biaya per unit dan harga pokok produksi: Departemen I Perhitungan biaya per unit: Elemen Biaya Bahan baku: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Konversi: Biaya persediaan awal Biaya periode h i ' Jumlah Total Biaya Ekuivalen Produksi Biaya Per Unit Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen I1 (104.Unit produk dalam proses akhir: Biaya bahan (12.75) 12.600 511.880 Ru 46 1.800 x 50%) Jurnlah 115. 114 12.680 43 1. Jawab: a Lihat no.800 136 000 6.15) Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya bahan (24.200 Rp 4.800 x 100%) Biaya konversi (12.480 Ekuivalen Elemen Biaya Dari Departemen I: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Biaya Per Unit Total Biaya Produksi Rp & 79.000 x 30% x Rp1.000 x 30% x Rp2.600 29.400 129.600 116.15 .280 Biaya konversi (24.

25) Jumlah Departemen 111 Perhitungan biaya per unit: Elemen Biaya Dari Departemen 11: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Ditarnbahkan: Bahan baku: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Konversi: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Jumlah Total Biaya Ekuivalen Produksi Biaya Per Unit Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen I1 (123.600 130.900 140.800 x 50% x Rp0.760 4.400 x 25% x Rp1.500 651.120 Biaya konversi (12.80) Jumlah .800 x Rp5.120 Biaya bahan (12.780 112.Ditarnbahkan: Konversi: Biaya persediaan awal Biaya periode ini Jumlah Rp Rv Rv 9.800 x 100% x Rp0.400 Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen I1 (108.80) Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya dari Departemen 2 (12.800 x Rp5.680 5.60) 7.15) Rp59.200 x Rp6.40) Harga pokok produk dalam proses akhir: Biaya dari Departemen I1 (14.500 Biaya konversi (14.40) Rp 69.400 x Rp4.

200 Elemen Biaya Total Biaya Dari departemen sebelurnnya: Biaya persediaan awal Rp 2.51 37.400 Jurnlah RD 64.300 Ekuivalen Produksi Biaya Per Unit 40. 132 Jawab: c Perhitungan ekuivalensi produksi: 118 119.900 17. 120 Biaya Bahan Baku Unit produk selesai 37.400 Ditambahkan: Bahan baku: Biaya persediaan awal Biaya periode h i Rv 25.000 x 40%) Jurnlah 37. Jawab: e Perhitungan harga pokok produksi: Harga pokok produk selesai (37.48 1.500 Konversi: Biaya persediaan awal Rp 3.200 38.000 Unit dalarn proses akhir: Biaya bahan baku (3.69 38.500 Ru 25. Jawab:b Lihat no. .000 1.000 x 0%) 0 Biaya konversi (3.68 121.000 0.117. 132 Jawab: a Lihat no.000 x Rp1. 132 Jawab: b Lihat no.000 Rp 0.400 Biaya periode h i 15.000 RD 18.200 RD 0.000 Perhitungan harga pokok: BiayaKoversi 37.500 Biaya periode ini Rp 20.68) Harga pokok produk dalam proses akhir: .

Perhitungan harga pokok: Harga pokok produk selesai (90.530 1 Biaya ditambahkan: 0 Bahan baku (3.300 Jawab: a Data produksi: 90.Produk dalam proses awal 1.266 3 Rp 64.000 satuan.000 unit 10.000 F 85.61) 576 Konversi (3. berarti tingkat penyelesaian biaya konversi unit produk dalam proses akhir 50%.000 10. berarti tingkat penyelesaian biaya bahan unit produk dalarn proses akhir 100%.000 1.000 satuan.000 unit Dimasukkan dalarn proses Ditransfer ke gudang 9.000 8.106 Rp 64.000 x Rp880) Harga pokok produk dalam proses akhir: Bahan baku (10.000 unit I 500 unit Produk rusak 500 unit Dalam proses akhir Unit Ekuivalen: Biaya Bahan 9.000 unit 9.000 satuan Unit dalam proses akhir Unit ekuivalen biaya bahan 100.800.800.B ~ d a r i ~ s e b e h m m y a ( 3 .000 8.000 unit . Jawab : b Data Produksi: Persediaan produk dalam proses awal 1.200.000 Produk selesai ditransfer ( .000 x Rp480) Rp 4.000 x 0% x Rp0.000 x 40% x Rp0.000 Konversi (10. 0 0 0 ~ ~Rp) 1.000 x 50% x Rp400) 2.OW Produk masuk proses yang selesai Penyelesaian produk dalam proses awal: Bahan (1. 2.000 satuan Unit produk selesai 10.000 6.000 Jumlah Rp 79.48) Selisih akibat pembulatan Jumlah 122.000 x 20%) 200 Biaya Konversi 9. Unit ekuivalen biaya konversi 95.800.000 Q 123.000.

150 Tenaga kerja 558.000 x 20% x Rp40) 8.000 9.000 30.000 Tenaga kerja (500 x 60% x Rp60) 18.Konversi (1.000 Biaya bulan Desember: Bahan 366. Jawab: b Data Produksi: Persediaan dalam poses awal Ditransfer dari bagian sebelurnnya Ditransfer ke bagian berikutnya Hilang pada awal proses Dalam proses akhir Biaya Per Unit 200 kg 980 kg 900 kg 20 kg .000 Overhead pabrik (500 x 60% x Rp20) 6.000 Biaya penyelesaian: Bahan (1.000 9.000 9.300 Overhead pabrik Jumlah Rv 1.000 Perhitungan Harga Pokok Produksi: Harga pokok produk selesai: Dari persediaan awal: Harga pokok awal Rp 190.300 186.000 Jurnlah 124.000 x 50%) Produk rusak Produk dalarn proses akhk Bahan (500 x 90%) Konversi (500 x 60%) Jumlah Perhitungan Biava Per Unit: 500 500 - 910 .000 x 50% x Rp20) 10.000 x Rp120) Jumlah harga pokok produk selesai Harga pokok produk rusak (500 x Rp120) Harga pokok produk dalam proses akhir: Bahan (500 x 90% x Rp40) Rp18.000 Dari produk yang masuk dalarn bulan Desember: (8.300.000 x 50% x Rp60) Overhead pabrik (1.5 Elemen Biaya Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Harga pokok persediaan awa 1Rp 190.000 Tenaga kerja (1.

440 Periode sekarang .560 480.000 RD 443.443 964 Jumlah Rp 1.800 800.000 .Unit Ekuivalen: Biaya Bahan 900 kg 80 kg Biaya Konversi 900 kg Produk selesai ditransfer Produk dalam proses: Bahan (80 kg x 100%) Konversi (80 kg x 80%) Perhitungan Biava Per Unit: Elemen Biaya Jumlah Biaya Unit Ekuivalen Harga pokok ditransfer masuk Persediaan awal Rp 140.000 Periode sekarang 9130 R 940.000 Biaya Per Unit .904.000 Periode sekwang RP 520.420.---Biaya tenaga kerja: Persediaan awal Rp 40.560 964 Biaya overhead pabrik: Persediaan awal Rp 23.

Dua buah produk atau lebih yang dikombinasikan untuk membuat satu jenis produk yang baru Sebuah produk yang dibuat bersama-sama antara dua atau lebih b. nilai jualnya tidak menutup biaya produksi d. 3. 2. Produk sampingan b. Dua buah produk atau lebih yang dibuat secara serentak bersamaan d. . yang masing-masing mempunyai nilai penjualan yang berarti. perusahaan atau devisi dari sebuah perusahaan Sebuah produk yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan c. Suatu produk yang mempunyai harga jual lebih rendah dari produk utama Suatu produk yang dihasilkanbersama-samadengan prod& utama yang c. Suatu produk yang dihasilkan secara serentak dengan produk utarna dari proses produksi yang sama dan jumlah nilai penjualannya lebih rendah dari produk utarna Joint product adalah: a. b. SOAL-SOAL METODE HARGA POKOK PRODUK BERSAMA DAN PRODUK SAMPINGAN 1. clan c benar d. Produk bersarna Jawab a. Produk utarna c. b. yang dihasilkan dengan serentak dikenal sebagai: a. Mana dari pernyataan di bawah ini yang secara tepat menggambarkan produk gabungan? Suatu produk yang dihasilkan dari bahan-bahan sisa a. Produk-produk.BAB X METODE PENENTUAN HARGA POKOK PRODUK BERSAMA DAN PRODUK SAMPINGAN A.

pembedaan apakah suatu produk merupakan produk utama ataukah sampingan didasarkan pada: a. b. Harga jual per unit tiap jenis produk c. akan tetapi tidak menggunakan M n haku yang sama. Produk sampingan d. proses penyulingan tersebut harus d~perlakulian sebagai: . Istilah biaya bersama (common cost) dan biaya bergabung (joint cost) akan timbul. Co-products c. 9. Produk ko b.5 penyulingan bahan tambang tertentu. Harga jual hipotetis 5. By-products h. Joint-products d. 6. Produk common Di dalam perusahaan yang menghasilkan lebih dari satu macam produk dari satu proses produksi dan dari bahan baku yang sama. Proses biaya campuran h. Total nilai jual relatifnya Perbandingan jumlah tiap jenis produk yang diproduksi b. 7.suatu pnlx. maka produk tersebut dinamakan: a. Proses produksi biasa C. . 8. Periode akuntansi Tujuan pokok alokasi biaya bersarna kepada produk bersama ialah: Untuk menghitung selisih biaya (cost variance) a. bila k l a s i f h i biaya didasarkan pada hubungannya dengan: Produk a. Departemen produksi d. Proses operasi Dua atau beberapa macam barang-barang yang dihasilkan dari suatu proses pnduksi yang sama pada waktu yang sama pula. d.i. Hal tersebut timbul dalam proses cost method dikenal a denpan: a.4 Jika suatu perusahaan memperoleh dua produk yang dapat dijual dari. Produk bersama c. Separable products Perusahaan yang menghasilkan beberapa janis produk dengan menggunakan fasilitas yang sama tetapi dalam waktu yang tidak sama dan bahan baku serta tenaga kerja dapat diidentifikasikan untuk setiap jenis produk. Proses ekstratip d. Volume c.

dan c benar d. Penentuan harga pokok produk untuk pengambilan keputusan b. d. c. Penentuan harga pokok persediaan dan perhitungan rugi-laba yang sesuai dengan Prinsip Akuntansi Indonesia c. Untuk tujuan perencanaan dan pengawasan biaya adalah perlu untuk melakukan identifkasi biaya pengolahan sesudah saat pemisahan (split-off) a.. 14. satuan fisik. Tujuan alokasi biaya bersama adalah: a. rata-rata biaya per satuan. Untuk mengendalikan biaya Untuk penentuan harga pokok produk Untuk keperluan pajak 10. dan c benar Biaya bersarna (joint cost) dialokasikan: a. b. titik terpisah (split-off point) Berdasarkan nilai jualrelatif. Tujuan penentuan nilai persediaan Ketiga jawaban di atas betul semua d. 12. Metode harga jual relatif b. c. Alokasi joint cost ke setiap produk tidak bermanfaat untuk: Tujuan perencanaan dan pengendalian biaya a. Metode volume relatif d. Jam kerja tenaga langsung 11. b. b. Benar b.b. Tujuan penentuan harga pokok produk b. Biaya tarnbahan setelah split-off c. Jawaban a. atau c. Metode berat relatif c. . metode-metode alokasi biaya bersama yang paling tepat adalah: a. Pengendalian biaya bersarna Jawaban a. Salah Untuk pengambilan keputusan memproses lebih lanjut atau tidak satu atau lebih produk bersama. 5. Kepada produk sampingan (by-product) Berdasarkan perbandingan biaya tambahan (separable costs) setelah b. 13. off point) Biaya-biaya joint product pada umurnnya dialokasi dengan menggunakan: Nilai penjualan relatif pada split-off a. rata-rata tertimbang Berdasarkan nilai jual masing-masing produk pada titik terpisah (splitd. Profitabilitas relatif d.

Data untuk ~lenjawab no. c. Sales value Metode alokasi biaya bersama (joint cost) kepada produkbersama (joint product) yang akan menghasilkan laba bruto yang sama besamya ialah: Metode nilai jual relatif a. Metode rata-rata tertimbang c. Perusahaan yang menghasilkan produk utama dan sampingan d. c benar 17. Laba bersih d. 19. Jawaban a. 21 s. Pnme cost d. Y dan 1jenis produk sampingan Z. lanjut Produk utama dapat dijual setelah diolah lebih lanjut c.50 Harga jual per unit Rp 20 16 40 5 . Produk utama dapat laku dijual saat dipisah atau setelah diproses lebih b. Data mengenai produk yang dihasilkanperusahaan dengan biayabersama tersebut adalah: Jenis Produk W X Y Z Jumlah produksi unit 20. Perbedaan kemarnpuan produk bersama (joint product) untuk menghasilkan pendapatan diakui bila alokasi biaya bersama didasarkan: a. metode harga jual hipotetis cocok untuk: Produk utama yang laku dijual saat dapat dipisah a. Hasil penjualan produk sampingan diperlakukansebagai penghasilan di luar usaha (otherincome).000 50.000 10. Jika perusahaan menghasilkan joint product.200.dan Ratarata Biaya Persatuan PT Merdeka menghasilkan 3 jenis produk utama (main products) yaitu W. Conversion cost c.000 Berat produk per unit (kg) 3 2 4 2. 18. Joint cost paling sering dialokasikan berdasarkan relative: a. Profitability b.000 10.16. Besarbiayabersama (joint costs) adalah sebesarRp1.d. Jumlah pisik Harga jual relatif b. b. X. b. 23 soal Alohasi Joint Cost dengan Metode Nilai Jual RelatiJ Rata-rata Tertimbang. Metode satuan fisik Metode rata-rata biaya per bulan d.000.

500 90.3 ? Nilai pasar (Rp) ? 110. maka biaya yang dialokasikan ke produk Y adalah sebesar: a. Produk D Jenis produk dengan harga pokok per kg terkecil adalah: Produk A b. Rp 240. Data untuk menjawab soal no.000 21. 22. 26.000 40 D 90 ? ? Total 240 7 75 400. Rp 127. C 50 67. Rp287. 25. Jika :~lokasi biaya bersama didasarkan pada metode ~ ~ i ljual relatif produk ai alokasi biaya bersama ke proodk Y adalah sebesar: bersarna. maka alokasi biaya bersama ke produk Y adalah sebesar: a. Rp290. Rp 213. c. c. 28 Alokasi Joint Cost dengan Metode Nilai Jual Relatif I "MDJ" menghasikaq 4 jenis produk bersama. Rp 150.333 b. Produk C d. Rp300. Rp 133.750 c.000 190 Jenis produk yang memperoleh alokasi harga pokok bersama terbesar adalah: Produk A b.000 Produk dijual (kg) 30 45 23. . c. Produk B a. Produk C d.0CM. Informasi untuk kegiatan bulan April 1990 adalah: Keterangan A B Produk yang dihasilakan (kg) ? 60 Harga pokok produk bersama (Rp) 60. Rp 300. Rp 143. Produk B a. Selarna ini T perusahaan mengalokasikan harga pokok bersama dengan nilai jual relatif. Produk D Jenis produk dengan harga pokok per kg terbesar adalah: Produk A b. Produk D Jenis produk yang memperoleh alokasi harga pokok bersama terkecil adalah: Produk A b. Produk B a.667 c.000 Jika alokasi biaya bersama didasarkan metode ratalrata tertimbang.000 c.000 Jika biaya bersama dialokasikan dengan metode rata-rata blaya per satuan. yaitu A. B. Produk C d.20. Produk C d. ~naka a.333 b.777 d. C dan D. Rp266.000 d. Produk D 24.909 d.d. dengan berat produk sebagai angka penimbang. Produk B a. Rp 230. c. 24 s.500 b.

000 Rp 15. Q.27.berapa joint cost yang akan dialokasi pada barang produk Q dan R? a. B.oOO ? ToTAL 7 . Dengannilaipasar relatif tersebutmasing-masingjenis produk akan menghasilkan laba kotor: b. Bahan ini diproses di Departemen I dan pada akhir pernrosesan diperoleh tiga macarn produk yaitu A.Nilai penjualan pada titik pisah/split-off . Rp 15.Nilai penjualan jika telah diproses lanjut 28.000 Rp 70.400 untuk Q dan Rp . 31 s. 30 Alokasi Joint Cost dengan Metode Nilai Jual Relatif FT Badai Timur memproduksi barang P.Biaya gabungan ('joint cost) . Rp 63.600 untuk R c.000 untuk R Umparna biaya gabungdjoint cost dialokasikan dengan menggunakan metode nilai jual relatif pada titik pisah spit-off. 29 s. berapa nilai jual pada split-off untuk produk P ? a.000 untuk R b. 9. Rp 59.Biaya tambahan jika diproses lebih lanjut .000 untuk Q dan Rp 8.d. P 4.000 Umpama biaya gabungdjoint cost dialokasikan dengan menggunakan metode nilai jual relatif pada titik pisah split-off. 33 Alokasi Joint Cost dengan Metode Nilai Jual Relatif Sebuahperusahaan membeli bahan baku bernarna Z dengan harga Rp 0. 25% dari harga pokok a.000 untuk Q dan Rp 9. Rp 60. 14 217% dari harga pokok d.000 Rp 5.000 Rp 7. Data untuk menjawab soal no.80per liter.000 29.Satuadunit diproduksi .333 b.OOO Rp 60.000 Rp 30. Rp 12.000 Rp 3.000 Rp120. Rp 58.000 untuk R d.000 Rp20.000 Rp 36. dan C.000 ? E 1. 25% dari penjualan c.000 c.500 d.000 ? Q 2.000 Rp100. 16 213 dari harga pokok Data untuk menjawab soal no. Rp 16. dan R melalui proses tergabung (joint process).000 ? Rp15. Inforrnasi tarnbahan adalah sebagai berikut: .000 untuk Q dan Rp 12. Produk A dijual pada titik terpisah (split-off point) tanpa memerlukan . Rp 14.d.

000 Departemen I1 Rp45. G.000 14. Rp 60.000 Penjualan Persediaan akhir Penjualan A 20. Alokasi biaya bersama untuk produk A ialah: Rp16.000 3 1. Informasi tarnbahan untuk kegiatan produksi bulan Juli 19x1 adalah sebagai berikut: .500 Alokasi biaya bersama untuk produk B ialah: a. Rp 27.000 Rp 20. sedangkanproduk B dan C memerlukan proses tambahan sebelum dapat dijual.000 c.750 Tidak terdapat persediaan pada awal tahun. F Cemara membuat produk F. Rp 24.200 Rp 34. d. c. Berikut ini ialah data untuk tahun 19B: Harga beli Z Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik I Rp96.000 33. d.000 liter Rp 30. Rp 35. d.000 C 4 5. Rp17.000 liter 10.000 c. b.09 32. b. produk B diproses di Departemen I1 dan produk C diproses di Departemen 111. Rp 40.pernrosesan tambahan.363.000 21.73 b. Untuk mengalokasikan biaya sebelum titik terpisah (split-off point) digunakan metode harga relatif (relative market value). 30.000 B 30.000 Rp 36.000 liter Rp 141.909.000 liter 15.64 a. dan W dari suatu proses gabungan T (joint process) Biaya gabungan (joint Costs ) di alokasi berdasarkan harga jual relatif pada pernisahaan (split-off). Rp 27.000 liter - Rp 96. Rp 24.500 Alokasi biaya bersama untuk produk C ialah: a. sedangkan pada akhir tahun tidak ada persediaan bahan baku Z maupun persediaan produk dalam proses.272.000 10.

37 Alokasi Joint Cost dengan Metode Nilui Jual Relutif Biaya bersarna Rpl.000 d.000 936.000 Rp 450.Satuan produksi Biaya gabungan (Joint Costs) Harga jual pada pemisahan (Split-off) Biaya tambahan jika diproses lebih lanjut Harga jual apabila diproses lebih lanjut F 50.000 Rp 270.000 ? Produk W 10. produk A sebaiknya tidakdiproses lebih lanjut karena kalau diproses lebih lanjut perusahaan rugi Rp 80. 35 s.000 c. Semuajawaban di atas benar 35.000 Rp 750.00 88.000 Total 100. Rp 200. Apabila alokasi biaya bersarnanya memakai metode berat relatif. Rp 21.000 Rp 420.000 c.000 d. Rp 300.000 320.000 ? G 40. dan c benar Apakah sebaiknya A diproses lebih lanjut? a.000 b. Harga pokok produk A apabila tidak diproses lebih lanjut.000 36.d. Rp 28. berapa laba kotor (bruto) PT Cemara atas penjualan ini? b. Rp 400. . dan biaya bersama dialokasikan dengan metode berat relatif adalah: a. Rp 300.OOO Jenis Berat Nilai jual (kg) setelah terpisah Biaya memproses Iebih lanjut Nilai jual setelah diproses Lebih lanjut 34.000 538.000 30. b.000.500 a.000 Rp60.000 Data untuk menjawab soal no. Rp 66.000 satuan W diproses lebih lanjut dan dijual seharga Rp 78.000 c. Harga pokok produk A apabila tidak diproses lebih lanjut.000 d. Rp 200. Rp 30.OOO.000 b. Jawaban a.000 78.000 Dengan asumsi bahwa 10. dan biaya bersama dialokasikan dengan metode harga jual relatif adalah: a.000 12. Rp 400.000 130.

500 1.b.000 satuan @Rp 112.000 80.500 Jumlah Rp 84.000 Rp 45.100 90 0 13.500 Diminta: Menghitung hargapokok satuanproduk PU. 37.50 1.PU-2 danPS dengan menggunakan metode harga jual relatif dalam mengalokasikan biaya bersarna.500 .000 750 550 7.000 30. &ketahui data produksi sebagai berikut: Produk PU. Selama bulan Desember 1985. d. dan c benar PT KARUGO suatu perusahaan industri yang menghasilkan tiga macam produk berupa dua macam produk utama yaitu PU-1 dan PU-2 serta satu macam produk sampingan yaitu PS.000 225.000 3.000 Rp 1. Perusahaan industri ATAKANA memproduksi produk utama PU dan dua produk sampingan yaitu PSI dan PS2.000 PSI Rp 6. b.000 PS2 Rp 3. PU Rp 75. Data untuk bulan Agustus 1988 yang tersedia adalah sebagai berikut (angka dalam ribuan rupiah): Penjualan Biaya pabrikasi setelah pemisahan 11.000 Jenis biaya Bahan baku Upah tenaga kerja Overhead pabrik Biaya setelah pemisahan PU-1 PU-2 Ps Rp130.1 PU-2 PS Kuantitas Harga Jual 6.500 75. Apabila alokasi biaya bersamanya memakai metode harga jual relatif.00 450 satuan @Rp 55.500 Biaya pemasaran dan Adrninistrasi 6. 38. c. produk A sebaiknya diproses lebih lanjut karena kalau diproses lebih lanjut perusahaan untung Rp 120. Produk sampingan yang dihasilkan memerlukan proses lebih lanjut agar laku dijual.300 Biaya pabrikasi sebelum pemisahan 37.500 Besarnya laba untuk PS 1 dan PS 2 masing-masing adalah 15% dan 12%.000 150.500 satuan @Rp 225. Terhadap penjualan produk PS diperhitungkan laba sebesar 20% dari harga jualnya.000 90.00 Biaya produksi bulan Desember 1985 adalah sebagai berikut: Biaya bersama Rp 320.000 5.1.000 Sebaiknya A tidak diproses lebih lanjut karena incremental cost apabila diproses lebih lanjut lebih besar dari incremental revenuenya Jawaban a.

200.200.000 kg x Rp 1.000 x Rp 1.000 600. = Jawab: b Alokasi biaya bersama (joint cost) Rp1.000 kg/200.000 ** 300.000 .000 ** Joint cost yang dialokasikan ke X: Rp800.000 *** Joint cost yang dialokasikan ke Y: 40.600.000 *** Joint cost yang dialokasikan ke Y: Rp400.000 Rp600.000 Rp 240.600.000 Y 10.600.200.000 = = = Rp 360.000 ke produk-produk utarna berdasarkan metode rata-rata tertimbang: Jumlah Unit Berat per Berat Biaya Jenis Produk Diproduksi Unit (kg) Total (kg) Alokasian 3 60.000 x Rp 1.200.000 ** Joint cost yang dialokasikan ke X: 100.000/Rp 1.000 400.000/200.000 * ** *** * Joint cost yang dialokasikan ke W: 60.200.000/200. Jawab: d Alokasi biaya bersama (joint cost) Rp1.000 4 40.200.000/Rp 1.000 Jumlah 200.000 * 600.000 10.000 Rp 360.000 Rpl . 2 B.000 * Joint cost yang dialokasikan ke W: Rp400. PS 1 dan PS 2.200.000 2 1.000 = = Biaya Alokasian Rp300.000 2 100.000 x Rp 1.200.000 X 50.000 Harga Jual per Unit Rp20 16 40 Harga Jual Total Rp400.000 *** Rp 1.000 W 20.000 240.000 ke produk-produk utama berdasarkan metode nilai jual relatif: Jenis Produk W X Z Jumlah Jumlah Unit Diproduksi 20.Diminta: Hitung biaya pabrikasi sebelum pemisahan untuk PS 1 dan PS2 dengan 1 menggunakan market value method Buat perhitungan labdrugi untuk PU.000 Ru 1.000/Rp 1.000 800.000 x Rp 1.600.000 50.200. PENYELESAIAN 20.200.000 x Rp1.

000 = Rp150.200. Jawab: c Untuk memudahkan pemahaman. Jumlahjoint cost yang dialokasikan ke produk B (menjadiharga pokok B).000 ** X 50.000 Jumlah 80.000 23.000 f 400.000180..000 x Rp1.000 Rp 1.000 *** Y 10.200.000 x Rp 1.000180.000180.000x d = b.000 10.000 Joint cost yang dialokasikan ke Y : Rp15 x 50.500 c d Nilai pasar (Rp) e 110.000 Joint cost yang dialokasikan ke Y : Rp15 x 10.200.000= Rp 300.000 Rp 300.200.000 x d = c. berikut ini disajikan kembali data soal yang telah dimodifikasi dengan mengganti data yang tidak diketahui dengan huruf: Keterangan A B D n ! h ! Produk dihasikan (kg) a 60 50 90 240 Harga pokok (Rp) 60.000 unit = Rp300. Nilai jual produk A.000 x Rp1.(60 + 50 + 90) = 40.000 * 750.200.000 Produk dijual (kg) 30 45 40 75 190 Keterangan:' = a b c d e f = = = - Jumlah kg produk A yang diproduksi. yang secara mudah dapat dihitung dengan cara: 240 . Total joint cost yang dialokasikan ke masing-masing produk. Nilai jual produk D.000 unit = Rp750.000 50.0001400.200. yang dihitung dengan cara: fl400. yang dihitung dengan cara: 110. . Jawab: d Alokasi biaya bersama (joint cost) Rp1.000 unit = Rp15 Joint cost yang dialokasikan ke W: Rp15 x 20.22.000 90.000 ke produk-produk utama berdasarkan metode rata-rata biaya per satuan: Jumlah Unit Biaya Jenis Produk Diproduksi Alokasian W 20.000180.000 = Rp750.000 I * Joint cost yang dialokasikan ke W: ** Joint cost yang dialokasikan ke X: *** Joint cost yang dialokasikan ke Y: Atau dapat juga dihitung sebagai berikut: Biaya rata-rata per unit: Rp1.000 20. Jumlah joint cost yang dialokasikan ke produk C (menjadi harga pokok C).000 unit = Rp150.000 b 67.000 150.

nilai b dapat dihitung sebagai berikut: b 110.500 67.000 x 400.225 d 300.500 0. Data produk C dapat digunakan untuk mencari jumlah d dengan cara sebagai berikut: 90.000.000 f 300.000.000 300.000 Produk dihasikan (kg) 40 Harga pokok per unit (Rp) 1.000 90 1. nilai pasar yang tidak diketahui dapat dihitung sebagai berikut: Jumlah e: e /400.000 (nilai pasar produk A) f 1400.800 x 300.000 **** .000 x 400.0001400.000 e 300.500 + 67.000 90.000 e e Jumlah f: = - - 60.000 d Setelah nilai d diketahui.000 + 82.000 . B C 82.000/400.500 * 25.000 60.000 Setelah data-data biaya yang dialokasikan ke masing-masing produk.000 36. 23 Jawab: a Perhitungan harga pokok per kg: Keterangan A Harga pokok (Rp) 60.000 80.000 x d = 67.000 120.000 x 300.500) = 90.Dari data tersebut.500 b Setelah nilai d dan b diketahui.000 82.500 67.000 f f = - 90. nilai c dapat dihitung sebagai berikut: 300. Jawab: a Lihat no.375 ** 1.000 (nilai pasar produk D) 24.000 300. yang terlengkap adalah data mengenai prodlik C.000 24.(60.350 *** I2 90. sehingga dari data produk tersebut dapat digunakan untuk inenghitung data-data yang tidak diketahui.500 60 50 1.000 x 300.

000 1.600. 28 .000 x 60.000 Jumlah d: d/100.000 Rp 100.500.000 25.000 Jumlah a: Jumlah c: c/100.000 15.000 3. 25 Jawab: a Keteran~an Harga pokok (RP) Harga jual (Rp) Laba Kotor (Rp) Persentase laba kotor dari penjualan *) *) Laba Kotor X 100% Harga Jual Jawab: c Dengan logika yang sarna dengan sod sebelurnnya.000 c C = = - 36.000 60.000 = b b 9.000 1.000 60.Jawab: d Lihat no.000 Nilai jual pada titik split-off c d Rp15.000 x 60.000 Jumlah b: 15.000 2.000 ~ i a i gabungan (joint cost) Rp36. nilai yang didak diketahui dapat dicari dengan cara sebagai berikut: Data yang diperlukan: P Q R TOTAL Satuanlunit dip~oduksi 4.000 d d - Jawab: c Lihat no. 60.000/100.000 a a b Rp.000 7.000 60.000x60.

000 60. 30 Jawab: c Data yang dapat digunakan untuk alokasijoint cost bedasar harga jual relatif pada saat plit-off: 32.20 5.000 Ru 150.000 75. 30 Jawab: b Lihat no.000 Harga Per Unit Rp 1.000 Blaya tenaga kerja 14.20 5.000*** Ru 180.000 Ru 330.000 30.000 Ru120.000 liter 10.000 liter 15.000 liter 3 0.000 Biaya Penjualan Biaya Tambahan Relatif Alokasian Rp 0 Rp 45.000 Jumlah Rp 120.000 31.000 96.000 60.000 120.000 30.000 Rp36.000 liter C 45.000 189. Jurnlah joint cost adalah biaya-biaya yang diieluarkan oleh Departemen I: Biaya bahan (Z) Rp 96.000 liter Jumlah Nilai Penjualan Rp 30.15 Total Penjualan Rp 45.30.000"" 114.000 96.000 liter B 30. 33. Jawab: a Lihat no.000 liter B 30.000 24.000 liter 6 0.750 Harga Jual per Liter Rp 1.000 liter 0 liter 30.15 Alokasi joint cost berdasarkan nilai jual relatiel3 Jenis Produk A B C Jumlah Jumlah Diproduksi 30.50 3.000 liter C 45. .000 Jurnlah liter produk yang diproduksi: Jenis Produk Produk Jumlah Produk Terjual dalam Persediaan Diproduksi A 20.000 Biaya overhead pabrik 10.000 liter Harga jual per liter: Jenis Produk Produk Terjual A 20.50 3.000 141.000" 66.

000 *** Jumlah 100 kg Rp 1.000.000/100 kg = Rp 10.00d unit) Harga pokok penjualan (10.OOO.000 Rp 60.000 48.000/750.000 Alokasi total joint cost ke produk G: b = 270.000 100.000 = Rp 36.000 50.000.000 35.000 750.000 = Rp 252.000.000* B 600.000.000 400.000 Alokasi total joint cost ke produk F:a = 420.000 * R 40 kg 400.000 x 450.000 Rp 78.000 10.000 Biaya yang dialokasikan ke produk C: 20 kg x Rp 10.000 dengan metode berat relatif: Jenis Berat Alokasian Biaya A 40 kg Rp 400.000 (+) Biaya pernrosesan lanjut 12.000 ** C 20 kg 200.000 .000 Jumlah laba kotor 34.000 unit): Alokasian joint cost Rp 36.000 = Rp162.000 Atau dapat juga dihitung dengan cara sebagaio berikut: Biaya rata-rata per kg: Rp 1.000 = Rp 200.000 Biaya yang dialokasikan ke produk A: 40 kg x Rp 10.E Satuan produksi Biaya gabungan Biaya jual pada saat pemisahan G w Total 40.000t750. Jawab: b Alokasi biaya bersama Rpl.OOO dengan metode harga jual relatifi Jenis Nilai Jual Alokasian Biaya A Rp 300.000 RD 1.000/750.000 RD30.000 400.OOO *** Jurnlah RD 1.000 x 450.000 Alokasi total joint cost ke produk W:b = 60.000 Perhitungan laba kotor produk W:Penjualan (10.000 ** C 600.500.000 x 450.000 Rp 270.000 a b Rp 420.000 c Rp 450.000 = Rp 400.000 Biaya yang dialokasikan ke produk B: 40 kg x Rp 10. Jawab:a Alokasi biaya bersama Rp 1.000 Rp 200.000 = Rp 400.

750 Jumlah biaya produk PS sebelum pemisahan ~umlah biaya bersama produk PU-1 dan PU-2 9.000 Rp 24.000 Rp 430.000 Rp 245.500 Rp 10.000 Laba kotor: 4.200 Perhitungan alokasi biaya bersama sebesar Rp 540.000. 37 37.003.950 20% x Rp24.200.800 Rp 540.200 ke produk PU.196.1 dan PU-2: Biaya Pengolahan Harga Jual Alokasi Produk Harga Jual Lanjutan Hipotetis Biaya Rp 3 17.000 150.000 PU-2 165.000 Ru 417.000 Rp 120.4** Rp 1.500 223.012. maka sebalknya diproses lanjut.000 Rp 320. Jumlah biaya bersama: Bahan baku Tenaga kerja Overhead pabrik (-) Biaya produk PS sebelum pemisahan: Penjualan produk PS (-) Biaya proses lanjutan: Bahan baku Rp 1.750 Rp 550.6* PU-1 Rp 675. Pengerjaan untuk menjawab no.950 14.000 80.000 Karena apabila produk A diproses lanjut akan menghasilkan kenaikan laba sebesar Rp 20.000 300.000 Tenaga kerja 5.500 Ru 540.500 Rp 595.0 .500 Overhead pabrik 3. Jawab: c Pertimbangan untuk menentukan apakah akan diperoses lanjutltidak dengan membandingkan tarnbahan pendapatan dengan tarnbahan biaya: Tambahan pendapatan: Pendapatan bila diproses lanjut Pendapatan bila tidak diproses lanjut Tambahan biaya: Biaya memroses lebih lanjut Jumlah kenaikan laba pernrosesn lanjut Rp 420.000 172.36.

1: Jumlah biaya pengolahan Biaya pengolahan Rp 317.0 Jumlah Ru 747.6 Biaya per unit: Rp747.500 Jumlah biaya pabrikasi sebelum pemisahan Rp 6.000 Jumlah biaya pabrikasi sebelum pemisahan Produk PS2 Penjualan (-) Biaya pengolahan lanjutan Laba kotor: 12% x Rp3.800 Biaya pengolahan lanjutan 10.6 Biaya alokasian 430.4 Biaya pernrosesan lanjutan 165.180 .003.800 Biaya per unit: Rp19. 38 Perhitungan biaya pabrikasi sebelum pernisahan: Produk PS 1 Penjualan (-) Biaya pengolahan lanjutan Laba kotor: 15% x Rp6.000 Rp 1.320 RD 2.50 Produk PU-2: Jurnlah biaya pengolahan Biaya alokasian Rp 223.4/1.4 Jumlah Biaya per unit:.196.200 **R172.100 900 2.500 Rp 9000 420 1.000 Rp 4.00 Pengerjaan untuk menjawab soal no.500 x Rp540.000.000 Jumlah Rv 19.500/Rp417.Perhitungan: *Rp245.8001450 satuan = Rp44.000 Rp 3.500 x Rp540.196.80 Produk PS Jumlah biaya pengolahan Biaya produk PS sebelum pemisahan Rp 9.000/Rp417. Rp388.0 Ru 388.003.500 satuan = Rp258.200 Perhitungan biaya per unit: Produk PU.000.616.003.000 satuan = Rp124.

820 Harga pokok penjualan produk sampingan: Rp 5.000 Biaya sebelum pernisahan produk PS2 2.320 (+) Biaya pengolahan lanjutan 11.3.2.5000 Biaya pabrikasi sebelum pemisahan (-) Biaya sebelum pernisahan produk PS 1 Rp 4.500 Rp 42.100) PS2: (Rp2.080 Jurnlah harga pokok penjualan Laba kotor Biaya pemaran clan 'administrasi Laba bersih 8.180 6.180 + Rp900) -. Perhitungan rugi-laba: Penjualan produk PU Penjualan produk PSI & PS2 Harga pokok penjualan produk PU: Rp 37.OOO+Rp1.38.100 psl: (Rp4.180 .180 Rp 3 1.

Tujuan standarisasi biaya (cost standard) adalah: Menentukan break-even point tertinggi tingkat produksi a. biaya Standar dapat menegaskan tanggung jawab dan dapat memberikan b. sedangkan penyimpangan yang penting yang menguntungkan tidak perlu Yang bukan merupakan manfaat sistem harga pokok standar adalah: a. Pengendalian biaya b. b. Mana dari berikut ini yang merupakan salah satu dari tujuan biaya standar? Untuk menyederhanakan prosedur kalkulasi biaya dan mempercepat a.BAB XI I 1 METODE PENENTUAN HARGA POKOK STANDAR A. d. Untuk meniadakan perlunya perhitungan kelebihan/kekurangan d. Semuapenyimpanganpenting yang tidak menguntungkanharus ditelaah. SOAL-SOAL METODE HARGA POKOK STANDAR 1. 2. Untuk menggantikan anggaran Sebagai basis kalkulasi biaya produk untuk pelaporan ekstemal c. pembebanan biaya overhead pabrik Mana dari yang berikut ini menggambarkan secara paling tepat karakteristik sistem biaya standar? Biaya standarmeliputipengendalianbiaya. . sekaligusberartipengurangan a. 4. Pengukuran efisiensi bagian produksi 3. tersedianya laporan biaya b. Penentuan harga pokok produk Administrasi barang yang lebih sederhana c. d. Mengalokasikan biaya secara lebih tepat d. motivasi kepada karyawan Semua penyimpangan terhadap standar hams ditelaah lebih lanjut c. Pengawasan biaya Menghindarkankeputusan-keputusanmanajemen yang bersifat subyektif c.

selisih efisiensi.Sistem harga pokok standar dapat diterapkan pada: Sitem harga pokok pesanan saja a. Tidak dapat diterapkan pada kedua sistem harga pokok di atas Biaya standar terutarna efektif untuk mengendalikan biaya yang mana: a. Biaya rapat direksi d. di bawah asumsi keadaan ekonomi dan kegiatan yang normal Standar teoritis. Sitem harga pokok proses saja c. Para pegawai akan didorong keras untuk mencapai standar d. Kuantitas d. seluruh selisih (variance) dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori utarna: selisih harga. Varian yang terjadi pada umurnnya tidak menguntungkan c. Volume Selisih efisiensi sering disebut dengan nama a. Selisih pemakaian b. Biaya &an lebih baik terawasi daripadajika standar yang lebih longgar (lunak) dipergunakan Metodeharga pokok standarmerupakan metode untuk menentukanjumlah biaya yang seharusnyauntuk membiayaiproses produksi tertentu. dan c benar Untuk tujuan pengawasan. Sistem harga pokok pesanan atau sistem harga p k o k proses d. dan selisih: Pengeluaran a. Suatu perangsang besar yang bempa bonus akan dibayarkan b. Biaya promosi penjualan c. didasarkan atas taksiran biaya di masa yang akan datang a. para pelaksana Standar rata-rata biaya waktu lalu didasarkan atas dukungan saat c. didasarkan atas tingkat efisiensiyang dapat dicapai oleh b. Jawaban a. permulaan menentukan harga pokok standar d. Tarip c. Biaya tenaga kerja langsung b. Selisih kuantitas . Semua alternatif jawaban benar Sebuah perusahaan yang menggunakan standar yang sangat kaku (teoritis)pada suatu sistem biaya standar akan mengalami: a. b. Berikut ini golongan standar mana yang banyak digunakan dan merupakan kriteria yang paling baik untuk menilai pelaksanaan: Standar normal. b. b.

Debit Kredit b.andar d. Iawaban a dan b benar 12. KECUALI: a.HS) x KSDip a. b. Selisih hargapokok standardicatat (dihitung)atas dasar input biaya yaitu pada saat biaya terjadi selama periode akuntansi c.HS) x KSDip a. 13 s. d. Selisih pemakaian dan selisih kuantitas Selisih kualitas 1 1.HS) x KStDip C. (KSt . 16 Jika diketahui: HS: Harga sesungguhnya per unit HSt: Harga standar per unit KSDib: Kuantitas sesungguhnya yang dibeli KSDip: Kuantitas sesungguhnya yang dipakai KStDip: Kuantitas standar yang dipakai 1: Jika selisih harga bahan baku (materials price variance) dicatat pada saat bahan baku dipakai.HS) x HS C. manakah diantara formula berikut ini yang menunjukkan selisih pemakaian bahan baku (materials quantity variance)? (HSt . Jika selisih harga bahan baku (materials price variance) dicatat pada saat bahan baku dipakai. b.c. Analisis terhadap selisih harga pokok memerlukan bantuan informasi yang tidak tersedia dalam rekening buku besar Rekening selisih biaya standar yang menguntungkan (laba) akan mempunyai saldo: a. . Data untuk menjawab soal no.HS) x HS (KSt -KS) x HSt d. Rekening Barang Dalam Proses didebit dengan biaya sesungguhnyadan dikredit dengan biaya standar b. (HSt . Persediaan bahan baku dicatat pada biaya sesungguhnyadan persediaan produk jadi dicatat pada harga pokok st.d. c. d.HS) x KStDip (KSt . . manakah diantara formula berikut ini yang menunjukkan selisih harga bahan baku yang dipakai (materials price usage variance)? (HSt .Metode pencatatan harga pokok standar ada dua bentuk pokok yaitu single plan dan partial plan. Berikut ini adalah karakteristik metode partial plan. (KSt -KS) x HSt 14. (HSt .

Rugi Laba c.800 kg .550 Biaya pembelian aktual per kg Kuantitas aktual yang dibeli 2.manakah diantaraformula berikut ini yang menunjukkan selisih harga pembelian bahan baku (materials purchase price variance)? (HSt . Harga bahan baku yang sesungguhnya lebih kecil daripada harga bahan baku standar akan tetapi biaya bahan baku yang susungguhnya lebih besar daripada biaya bahan baku standar. Selisih biaya bahan baku yang terjadi adalah: Selisih kuantitas Selisih harga a.HS) x HS C. Laba Laba c. Informasi mengenai bahan baku untuk produk BRI untuk bulan Oktober 1990 adalah sebagai berikut: Rp 1. 17.KS) x HS a.900 kg Kuantitas standar yang diperkenankan atas produksi aktual 1. (HSt . (KSt . Laba Laba Selisih apakah yang timbul jika jumlah berat bahan baku yang sesungguhnya digunakanmelebihijumlah bahan baku yang dipakai menurut standartetapi biaya bahan baku sesungguhnyalebih rendah dari biaya bahan baku menurut standar? Selisih Efisiensi Selisih Harga a. Rugi Laba b.HS) x KSDip a. (KSt . 18.000 kg Kuantitas sesungguhnya dipakai 1. 19. Rugi Rugi b. Laba Rugi d. (HSt . Laba Rugi d. Jika selisih harga bahan baku (materials price variance) dicatat pada saat bahan baku dibeli dan dipakai.600 Biaya standar per kg Rp1.15. Rugi Rugi 16.HS) x KStDip C.HS) x KStDip b. b.HS) x HS (KSt -KS) x HSt d. PT Binsar Jaya menggunakan sistem biaya standar. Jika selisih harga bahan baku (materials price variance) dicatat pada saat bahan baku dibeli dan dipakai. (KSt -KS) x HSt d. manakah diantaraformula berikut ini yang menunjukkan selisih harga bahan yang dipakai (materials pfice usage variance)? (KSt .

000.000 (menguntungkan) d.000 favorable Data untuk menjawab soal no.000favorable b.000 unfavorable Rp 10.500 kg Rp 0. C. Rp 175 (rugi) Semua altematif jawaban benar 22. 25 Untuk membuat produk x diperlukan bahan baku A dan B.50 kg Rp 0.500. Berikut ini data yang menyangkut biaya bahan: Bahan A Kuantitas bahan standar per unit x I kg Biaya bahan per kg RP 1 Kuantitas bahan yang dipakai Biaya bahan sesungguhnya per kg 2 1.000 (tidak menguntungkan) 20.000 unit x.70 3. Rp 200 (rugi) b. Rp 5.000.000 unfavorable Rp 10.000favorable Rp 4. 21 s.000. d.000.000 favorable Rp 10.75 b.000 satuan bahan baku dengan total biaya bahan Rp100.d.000. Selisih harga bahan sama dengan: a.500. Rp 500 (laba) d.90 Juni 1987 Bahan B 0.000 satuan bahan baku dengan harga Rp 2.000 favorable d. Semua altematif jawaban benar Selisih hasil (yield) sama dengan: Rp450 (laba) a. Rp 100.000 satuan produk dengan menggunakan 50. Rp 275 (laba) 4. Rp 700 (rugi) C. Variance harga bahan langsung dan variance penggunaan adalah: Harrra (price) Penggunaan (usage) a.000. Rp540 (laba) 23. Dalam kenyataan (aktual) satuan produk yang memerlukan45. Rp450 (rugi) Semua alternatif jawaban benar .500 kg Rp 0.000unfavorable C. Rp 100.000 (tidak menguntungkan) b. d. C. b. Rp 4. PT Trubus menganggarkan 50.500. Rp 450 (laba) C.Berapakah penyimpangan (selisih) harga pembelian? Rp90. Selisih kuantitas bahan yang dipakai sama dengan: a. Rp 10. Rp90.000 (menguntungkan) a. Pada bulan diproduksi 5.500. Rp 5.100 per satuan.

200 (laba) b.675 Persediaan Bahan c. Rp250 (laba) c.. Apabila dipakai metode pembukuan tunggal (Single plan). Rp 2. Persediaan Bahan Rp 6. 26 s.700 (rugi) . Rp 1. 30 Biaya bahan baku standar untuk membuat produk Y sebagai berikut: Jenis bahan A B C Total Kuantitas (I .0 5.200 Harga Rp 11 19 22 ' Selisih harga bahan baku bulan Januari adalah: a. Rp 3.lo0 (rugi) c.750 Selisih Hasil Bahan 450 Rp 275 Selisih Harga Bahan Selisih Komposisi Bahan 250 6.& 10 20 20 50 Harga Rp 10 20 20 Jumlah Rp 100 400 400 Rv 900 Selarna bulan Januari dibuat 100unit produk Y dengan biaya bahan sesungguhnyasebagai berikut: Jenis bahan A B C Total 26. Semua altematif jawaban benar Data untuk menjawab soal no. Barang Dalam Proses Rp 6.675 Persediaan Bahan b. Rp520 (rugi) b. Rp520 (laba) Semua alternatif jawaban benar 25.675 Selisih Harga Bahan 275 Barang Dalam Proses Rp 6.d.800 (rugi) Rp 2. d. d. Kuantitas ( k ~ ) 1.675 Rp 6.100 2.200 190 . Barang Dalam Proses Rp 6. Selisih komposisi sama dengan: a.750 200 Selisih Kuantitas Pemakaian Bahan d.24. bagaimanakah ayat jumal untuk pemakaian bahan? a.

600 (rugi) d. Rp 118. Selisih harga bahan sebesar: a.000 (rugi) Selisih hasil (yield) bahan adalah: a. Rp 47. a. maka biaya bahan baku yang dibebankan ke rekening Barang Dalarn Proses adalah: .600 c. d.700 b. dan bahan C 200 kg atau Rp250. 3 1. dan bahan C 1.425. Rp 10.750 kg Ryl90.550 kaleng.000 (laba) 32.600 (rugi) Rp 3.600 (rugi) 28.500 (laba) Rp 125. Rp 3.000 (rugi) Selisih komposisi (mix) bahan adalah: a. b. Rp 125. Rp 47.000. Apabila dipakai metode pembukuan tunggal (single plan). Rp 10. b. Cat yang sesungguhnya dihasilkan 1.000 (laba) 33.27. Penggunaan bahan sesungguhnya dan total biayanya dalam bulan Nopember 1989 adaiah: bahan A 1. bahan B 125 kg atau Rp250. d.000.000 d. Rp 95. maka biaya bahan baku yang dibebankan ke rekening Barang Dalam Proses adalah: a. Selisih komposisi bahan baku bulan Januari adalah: b.000 (rugi) c. d. 33 Biaya standar bahan baku untuk membuat 250 kaleng cat adalah sebagai berikut: bahan A 300 kg atau Rp90.250 kg Rp1. Rp 47. a.000.000 (laba) Rp 125.d. Rp 93.000 Apabila dipakai metode pembukuan parsial (partial plan). b. bahan B 750 kg Rp1. Rp 93.600 (rugi) c.600 (laba) 29.700 b.500 (rugi) c.000.000 (rugi) b.000 30.500 (rugi) c. 31 s.750. Rp 125. Rp 125.000. Rp 83.000. d.000 d. Rp 83.600 c.600 (laba) Rp 93. Rp 10. Rp 95. Rp 10. Rp 47. Rp 90. Rp 1 18. Data untuk menjawab soal no.000 (laba) . Rp 90.500 (laba) Rp 125.600 (Iaba) c.600 (laba) Rp 93. Selisih hasil bahan baku bulan Januari adalah: a.

39 s.000.2 kg @ Rp 125. Rp 12.000.000.5 kg @ Rp 140.500.000.00 (laba) b.OO (laba) c.OO Rp 150.00 (rugi) 35.100 unit produk dengan biaya bahan: -X 2.Data untuk menjawab soal no.000.00 (rugi) Rp 50.000.OO 70. 40 Jss : Jam kerja sesungguhnya Jst : Jam kerja standar . Selisih komposisi bahan baku X adalah: a.3 kg @ Rp 100.00 (rugi) 36.OO (rugi) 37 Rp 84.00 (rugi) Rp 12.500. 34 s. Data untuk menjawab soal no. Rp 12. Dalarn bulan tersebut terjadi selisih biaya bahan baku: Selisihkuantitas Selisih harga a. Dalarn bulan tersebut terjadi selisih hasil (yield variance) sebesar: b. Rp 45. Rp 84. d. Rp 45.d.00 (laba) Selisih komposisi bahan baku a.OO Rp 30.000.00 (laba) adalah: b.000.00 (laba) c. c.OO (rugi) 38. Laba Rugi Laba Laba d.00 1. Rp 15.OO (laba) d. Rp 12. d. Rp 12. Rp 12. Rp 15.00 -Y 0.OO Untuk bulan Mei 1990perusahaan tersebut menghasilkan 6.500. b. Selisih komposisi bahan baku Y adalah: a.000.300 @ Rp 90.000.d. 38 PT XYZ telah menyusun biaya biaya bahan standar untuk setiap unit produk sebagai berikut: -X 0. Rugi Rugi b.00 -Y 2.00 (laba) c.OO (rugi) Rp 90.00 -Z 0. Rp 90. Rugi Laba c.00 (laba) C. Rp 50.00 50.400 @ Rp 150.500.OO 34.000.OO (rugi) a.500 @ Rp 120.000.00 -Z 2.4 kg @ Rp 125.

Mana dari keempat jenis standar tersebut yang menggambarkan biaya tenaga kerja langsung yang seharusnya terjadi dalam tingkat operasi seperti yang selama ini dapat dicapai? a. Currently attainable standard Penyimpangan efisiensi upah langsung merupakan: a.(Jst x Tst) d.(Jst x Tss) c. (Jss x Tss) . Perbedaan antara jumlah jam standar dan tarip aktual dikalikan dengan perbedaan antara tarip standar dengan tarip aktual Varians efisiensi upah yang menguntungkan menunjukkan: a. (Jss x Tss) . Basic standard c. Jam tenaga kerja langsung standar yang ditentukan bagi unit yang diproduksi lebih besar daripada jam tenaga kerja langsung sesungguhnya dipergunakan c. (Jss x Tss) . c.(Jst x Tst) d. .(Jst x Tss) c. Perbedaan antara tarip standar dan tarip aktual dikalikan dengan jumlah jam standar b. 42.Tss : Tarip upah sesungguhnya Tst : Tarip upah standar 39. (Jss x Tst) . Jumlah unit yang diproduksi dalam periode yang bersangkutan kurang dari jurnlah unit yang dianggarkan 40. Perbedaan antara jumlah jam standar dan jumlah jam aktual dikalikan dengan tarip standar Pebedaan antara tarip standar dengan tarip aktual d~kalikan dengan . (Jss x Tss) . (Jss x Tst) . Maximum-efficiency standard d. Ideal standard b. 43. Total biaya upah sesungguhnya kurang dibanding biaya upah standar yang ditentukan bagi unit yang diproduksi d.(Jst x Tst) b.(Jst x Tst) b.(Jss x Tst) Dibawah ini dicantumkan empat nama jenis standar berbeda yang dihubungkan dengan sistem biaya standar. (Jss x Tst) . 41.(Jss x Tst) Selisih efisiensi upah langsung adalah sama dengan: a. jumlah jam aktual d. Selisih biaya tenaga kerja adalah sama dengan: a. Rata-rata upah yang dibayarkan kurang dari tarip standar b. (Jss x Tst) .

melebihi tarip upah standar dan jam tenaga kerja langsung standar Jikajam tenagakerjalangsung sesungguhnyamelebihijam tenaga kerja langsung standar jenis selisih (variance) yang akan terjadi adalah: a. Selisih efisiensi upah (laba) d.44. 47. Saldo debit dalam rekening selisih efisiensi upah menunjukkan: Jam tenaga kerja langsung standar melebihi jam tenaga kerja langsung a. Rugi Rugi c. upah sesungguhnya dan jam tenaga kerja langsung sesungguhnya Tarip upah sesungguhnya dan jam tenaga kerja langsung sesungguhnya d. Selisih tarip upah (rugi) c. pekerja dari bidang produksi lainnya c. Selisih tarip upah (laba) Mana dari yang berikut ini merupakan alasan paling mungkin dari terjadinya penyimpangan tarip upah tak menguntungkan dan penyimpangan efisiensi menguntungkan? Komposisi pekerja yang ditugaskan pada pekerjaan tertentu sebagian a. Rugi Laba b. 48 s. kerja langsung standar Tarip upah standar dan jam tenaga kerja langsung standar melebihi tarip c. 46. besar terdiri dari tenaga muda dengan pembayaran rendah Untuk memenuhi jadual produksi. Selisih efisiensi upah (rugi) b. Laba Laba d.d. 50 F LIELANI yang menggunakan sistem harga pokok standar memeliki data akuntansi T sebagai berikut: 200 unit Unit yang diproduksi 5 jam Jam kerja standar per unit Tarip upah standar per jam Rp600 . Data untuk menjawab soal no. sesungguhnya Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya melebihi jam tenaga b. Selisih biaya tenaga kerja yang terjadi adalah: Selisih tarig Selisih efisiensi Rugi a. besar terdiri dari tenaga berpengalaman dengan pembayaran tinggi Komposisi pekerja yang ditugaskan pada pekerjaan tertentu sebagian b. Laba ~ l 45. Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya ternyata lebih besar daripada jam tenaga kerja standar dan biaya tenaga kerja sesungguhnya lebih kecildaripada biaya tenaga kerja standar. ditugaskan membantu pekerjaan tertentu Bahan baku yang cacat menyebabkanlebih banyak tenagakerjadigunakan d.

100 jam b. Rp 60.000 (laba) Rp550 1.000 Selisih Tarip Upah 55. Barang Dalam Proses Rp 600. c. Berikut ini data yang berkaitan dengan biaya tenaga kerja langsung untuk bulan Juni 1997: Jam tenaga kerja langsung standar per unit produkl Jam Tarip upah standar per jam kerja Rpl00 Jumlah produk X yang dihasilkan pada bulan Juni 500 unit Tarip upah sesungguhnya per jam kerja Rp90 Jam kerja sesungguhnya 5 1. 4. 53 Perusahaan X menggunakan sistem biaya standar.d. d.000 (rugi) d. Rp45. Selisih tarip upah: a.000 (laba) b.000 Semua alternaiif jawaban benar .000 (laba) c.000 a. Barang Dalam Proses Rp 600. Rp50.000 (rugi) 49. Rp 55. Selisih tarip upah sama dengan: a.000 Selisih Efisiensi Upah ' Utang Gaji dan Upah d.000 Rp 60. Selisih Efisiensi Upah 60.000 Selisih Tarip Upah Selisih Efisiensi Upah Utang Gaji dan Upah Data untuk menjawab soal no. b. Jurnal untuk mencatat transaksi tersebut adalah: Barang Dalam Proses Rp 600. 51 s. Rp 60.000 (rugi) Rp 55.Tarip upah sesungguhnya per jam Total jam kerja langsung sesungguhnya 48. Rp 55.000 (laba) c. Rp 60.000 (rugi) Rp 55. 50.000 Selisih Efisiensi Upah Utang Gaji dan Upah c.000 Selisih Tarip Upah 55.000 (rugi) Rp 60. d. Barang Dalarn Proses Rp 600.500 jam Rp45.000 (laba) Selisih efisiensi upah: a.000 Selisih Tarip Upah Utang Gaji dan Upah b.

Semua alternatif jawaban benar Biaya tenaga kerja langsung PT X bulan Maret 19x2 adalah sebagai berikut: 42. Rp 405.000 (rugi) b.000 c.000 Jam tenaga kerja langsung standar 40.000 Selisih tarip Upah Rp 45.000 (rugi) a.000 jam Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya 21. 1.000 d.000 Selisih efisiensi upah (rugi) Jumlah jam kerja sesungguhnya dalam bulan September 19x2 adalah: a.000 Selisih Efisiensi 50. Rp 260. PT X menggunakan sistem biaya standar.000 Rp 500. Selisih efisiensi tenaga kerja sama dengan: Rp45.400 53.400 Selisih tarip up.598 jam d.000 Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya Rp 8. 55. 54. Rp50.000 Gaji dan Upah b. Rp 243.400jam b.000 jam Jam tenaga kerja langsung menurut standar .600 b.000 Gaji dan Upah 405.402jam c. Informasi mengenai biaya tenaga kerja langsung bulan September 19x2 adalah sebagai berikut: Tarip upah standar Rp 6. 1. Rp 244.52.100 per jam Tarip upah sesungguhnya Jam tenaga kerja langsung standar untuk mengerjakan produksi sesungguhnya 1. Informasi mengenai tenaga kerja langsung adalah sebagai berikut: 30. FT Seni Jaya menggunakan sistem biaya standar. Rp 260.ah (laba) Rp6. 1.000 (laba) d.30 Tarip upah langsung standar per jam Upah tenaga kerja langsung sesungguhnya dalam bulan Maret 19x2 adalah sebesar: a.000perjam 6. Semua alternatif jawaban benar Jurnal distribusi gaji dan upah yang bisa dibuat dari data di atas apabila dipakai metode berat sebelah (partial plan) dalam penerapan sistem harga pokok standar adalah: Barang Dalam Proses Rp 405. Rp50.500 jam Rp 600. c. Barang Dalam Proses Rp 500.000 Gaji dan Upah d.000 a.000 c. Barang Dalam Proses Rp 500.600jam 56. 1.

Rp 3.800 laba Selisih tarip upah tenaga kerja langsung Biaya tenaga kerja langsung sesungguhnya Rp 110. c. Kondisi Efisiensi d m Volume Normal d.000 (laba) b. Rp 6.000 Rp 6. Tarip upah sesungguhnya per jam tenaga kerja langsung adalah: b. Rp 3 3 4 c. 170.000 Berapaupah langsungtotal yang hams dibayarF T Aroma untukbelan Mei 19X1? a. Rp 5. Rp1. sedangkan biaya tidak langsung pabrik dihitung berdasarkan: a.200.80 Tarip upah standar per jam tenaga kerja langsung adalah: b. Kondisi Operasi dan Motivasi c. Rpl.000 c.000 d.000 b. Rp 4.450 (laba) Data untuk menjawab soal no.Selisih tarip upah (rugi) Biaya tenaga kerja langsung sesungguhnya Selisih efisiensi upah F Seni Jaya adalah: T a.150 (laba) Rp 6. Rp 3.218.000 Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya 21.000 jam Jam kerja sesungguhnya 29.60 c.300 (laba) d.200 57.000 jam Selisih efisiensi biaya tenaga kerja langsung Rp 4. 58 Data biaya tenaga kerja langsung PT Karanggayam selama bulan Maret 19x2 adalah sebagai berikut: Jam kerja standar 30. Rp 5. Rp 4.000 Rp126.80 a. 60. 57 s.OO d. Kondisi Ideal dan Maksimum b.OO d.80 a.80 Informasi mengenai biaya upah langsung PT Aroma untuk bulan Mei 19x1 adalah sebagai benkut: Tarip upah langsung standar Rp 600 Rp 580 Tarip upah langsung sesungguhnya Jam tenaga kerja langsung standar 20. Rp1. Rp3. Rp 6. Rp1. 59. Kondisi Harga dan Tarip 58.000 Dalam standar costing.000 Variance tarip upah langsung (favorable) Rp 420.160. biaya material dan upah buruh umurnnya dihitung berdasarkan kondisi normal dan kondisi sekarang yang memungkinkan adanya perubahan harga dan tarip.000 laba Rp 5. .d. Rp 3.

b. penyimpangan volume akan: No1 a. budget allowance yang didasarkan atas jam standar digunakan dalam perhitungan: 62. b. . dan c benar d. Kapasitas normal berbeda dengan kapasitas standar c. Dalam metode dua variance untuk menganalisis factory overhead. 65. Anggaran fleksibel (flexible budget) Anggaran tetap (fixed budget) b. Ya Ya Tidak Tidak Volume J'ariance Ya Tidak Tidak Ya . Biaya overhead pabrik sesungguhnyaberbeda dengan biaya overhead d. Apabila jumlah jam standar atas produksi aktual sama dengan tingkat kegiatan "normal" ini selama satu periode tertentu. c.61. b. Controllable Variance b. tergantung jumlah d. Efisiency Variance d. d. Volume Variance Tarip pembebanan overhed tetap adalah fungsi dari tingkat kegiatan "normal" yang ditetapkan di muka. 64. 63. overhead yang dianggarkan Di dalam metode harga pokok standar akan terjadi selisih kapasitas biaya overhead pabrik adalah: Kapasitas sesungguhnya berbeda dengan kapasitas standar a. c. Kapasitas sesungguhnya berbeda dengan kapasitas normal b. Menguntungkan c. diperlukan adanya: a. Spending Variance c. pabrik standar Menurut metode 2 variance untuk menganalisis overhead pabrik. selisih antara actual factory overhead dan factory applied pada produksi adalah: a. Controllable (budget) variance a. Anggaran statik (static budget) Jawaban a. Dalam mengadakan analisis selisih biaya overhead pabrik neto/keseluruhan (nevoverall factory overhead cost variance). Tidak menguntungkan Bisa menguntungkan atau tidak menguntungkan.

d. Rp 104 (laba) c.800 3. Rp 14 (rugi) c. Dalam metode 3 variance untuk menganalisis overhead pabrik.000 Jam aktual tenaga kerja langsung 39.000 Rp2.000.500. Rp 480 (laba) Selisih volume (volume variance) yang terjadi dalarn tahun 19x1adalah sebesar: b.80 Data kegiatan dan biaya overhead pabrik dalam tahun 19x1 adalah sebagai berikut: Selisih terkendalikan (controllable variance) yang terjadi dalam tahun 19x1 adalah sebesar: a.384 Tarip Rp 1. Rp 199. Efficiency variance d.200 3.000 d. Rp 480 (rugi) d.400 jam Rp 7. Data biaya overhead dan produksi bulan Agustus 19x1 seperti berikut ini: Rp 1. Rp 197.500 Jam standar tenaga kerja langsung yang disediakan untuk produksi aktual 39. selisih antara overhead pabrik sebenarnya (actual) dan overhead pabrik yang diterapkan (applied) pada produksi adalah: a.000.500. Controllable variance c.66.000 Tarip standar overhead tetap per jam upah langsung Rp 4. . 72 Biaya overhead pabrik y dalam tahun 19x1 pada kapasitas normal 4. I-! !& Rp 4.475 jam 3.000 jam mesin adalah sebag 1' / Jenis biavp Biaya overhead pabrik variabel Biaya overhead pabrik tetap Jurnlah jam mesin sesungguhnya Jumlah jam mesin standar Biaya overhead pabrik sesungguhnya 68. Rp 104 (rugi) 69. PT Larekat menggunakan sistem akuntansi standar.000 Data untuk menjawab soal no. 68 s. Spending variance 67. Rp 197.000.000 Variance overhead menyeluruh-favorable "Applied factory overhead" untuk bulan Agustus 19 X 1 adalah: a. Rp 104 (rugi) b.000 Tarip standar overhead variabel per jam upah langsung Jam tenaga kerja langsung bulanan dianggarkan 40 . Rp 195. Rp 14 (laba) a.000 c.000 b.20 0. Rp 480 (rugi) d. Net overhead variance b.

Rp 104 (rugi) 72. Jumlah produk yang diselesaikan periode tersebut 2. Total upah Rpl 1.000jam kerja langsung per bulan. Rp 4773 (laba) Rp 500 (laba) . Rp 14 (rugi) b Rp 14 (laba) c. Rp 420 (rugi) d. Rp 200 (laba) Rp 400 (laba) 75.2 per jam. Rp 480 (rugi) d.000 kg @Rp1.000 unit dan produk dalarn proses akhir bulan 500 unit dengan tingkat penyelesaian 80% bahan baku dan konversi. Rp 540 (rugi) Rp 5OO(rugi) Rp 1. Selisih pengeluaran (spending variance) yang terjadi dalam tahun 19x1 adalah sebesar: a. Selisih kuantitas bahan baku adalah: a. Data untuk menjawab soal no.Perusahaan tersebut memiliki kapasitas normal 10. Rp 14 (laba) c. Rp 150 (rugi) b. 73.460 dengan tarip upah sesungguhnyaRp1.800unit @Rp25. Biaya standar untuk pengolahan satu unit produk adalah: Bahan baku 2 kg @Rp2 RP 4 5 Tenaga kerja langsung 4 jam @Rp1. Rp 14 (laba) c.9 dan bahan baku yang dipakai 4. Biaya overhead pabrik sesungguhnya Rp14. Produk terjual sebanyak 1. Rp 730 (laba) c. Rp 200 (rugi) c.70. c.900 kg. Rp 400 (rugi) Selisih tarip upah langsung adalah: a. Rp 490 (rugi) d.800 (laba) 74. Rp 500 (laba) b.500. Rp 480 (rugi) d.d. Rp 104 (rugi) b. Rp 420 (rugi) Selisih efisiensi (efficiency variance) yang terjadi tahun 19x1 adalah sebesar: a. Rp 420 (laba) Selisih kapasitas (idle capacity variance) yang terjadi dalam tahun 19x1 adalah sebesar: a. 71.4 6 Ru 15 Jumlah Dalam bulan Januari 1987 dibeli bahan baku 5. 80 PTNUSA JAYAmenggunakan sistemharga pokok standar. Selisih harga bahan baku yang dipakai adalah: a. 73 s. d. d. b.25 Biaya overhead pabrik berdasar jam kerja langsung: Tetap 4 jam @ Rp05 RP 2 Variabel4 jam @ Rp 1' . b.

Rp 12.5 (rugi) Rp 3.76.d 84 Perusahaan B menggunakan sistem biaya standar.460 c.1 jam d. Rp 200 (rugi) Selisih volume adalah: a.OO c. 3. Perusahaan telah menetapkan standar untuk biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung sebagai berikut: Bahan BakuKeria Tarip atau harga standar Kuantitas atau jam standar per unit Biaya standar per unit ? Tenaga Langsung RP 5 ? 53 ? Rp 19 Dalam bulan Mei 19x4. b. Rp 12. Rp 62.000 C. Rp 1.000. Biayatenagakcrjalangsung sesungguhnyadalarnbulantersebutsebesarRp19. Rp 11. Rp 12.8 jam b.050(rugi) Selisih bahan baku (total)Rp620 (laba) 8 1. Rp 14. b.000 kg bahan baku dengan harga Rp 5 1.000 b.5 (laba) C. Rp 10. perusahaan membeli 6.500 (rugi) 77.500 d. 5.000unit produk. Data untuk menjawab soal no.000 80.Selisih (penyimpangan)yang terjadi dalam bulan Mei 19x4 adalah sebagai berikut: Selisih efisiensi tenaga kerja langsungRp1.000 Jika menggunakan metode rancangan berat sebelah (partial plan). Rp 14. Jam tenaga kerja langsung standar per unit produk adalah: a. Rp 562. rekening Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung didebit sebesar: a. d. Rp 200 (rugi) Rp 675 (laba) 79. 81 s. d.248. 3.400 d. Selisih efisiensi upah langsung adalah: a. Rp 15. rekening Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik didebit sebesar: a. Rp 0.Seluruhbahan baku tersebut digunakan untuk memproduksi 1.8 jam C.500 b. 4.937. Rp 75 (laba) b. Rp 225 (rugi) C. Jika menggunakan rancangan tunggal (singgle plan).5 (laba) Selisih terkendalikan adalah: a. d.O jam . Rp 50 (laba) Rp 100 (laba) 78.

Rp 6 0 Selisih tarip upah yang terjadi dalarn t ~ l a n 19x4 adalah: Mei a. Rp 32.000 c.500 unit produk jadi.780 (laba) a.850 b. b. Rp 1.90 86.500 kg bahan baku. Rp 15. Rp 802 (laba) c.000 kg bahan baku untuk produksi.8 d. perusahaan mencatat informasi berikut ini: 1 Membeli 8.82. 4 Memproduksi 1. Tarip upah tenaga kerja langsung sesungguhnya per jam dalam bulan Mei 19x4 adalah: Rp 5. 84.O a. Rp 34. Rp 34. Rp 900 (rugi) b. Data untuk menjawab soal no.050 (rugi) d. Dalam bulan Januari 19x1. 5 Biaya standar per unit produk adalah sebagai benkut: Kuantitas Standar 5 kg 0. c. Rp 30. 85 s.d. 85. 2 Menggunakan 8. Rp 36.000 d.20 d.O b. 96 Berikut ini adalah biaya bahan baku standar untuk memproduksi 1.780 (rugi) . Rp 802 (rugi) d. sedangkan total selisih biaya tenaga kerja langsung adalah Rp 9 15. Rp 10. c. Rp 900 (laba) Selisih kuantitas bahan dalam bulan Mei 19x4 adalah: Rp1. Rp 1.000 Tarip upah sesungguhnya per jam tenaga kerja langsung dalarn bulan Januari 19x1 adalah: b. 86 PT Y menggunakan sistem biaya standar. RP 4. Total harga sesungguhnya bahan baku yang dibeli dalam bulan Januari 19x1 adalah: a. Rp 165. Rp 4. Rp 1.050 (laba) 83.OO c.50 jam Harga Standar RP 4 RplO Bahan baku Tenaga kerja langsung Total selisih biaya bahan baku dalam bulan Januari 19x1 adalah Rp4. 87 s. 3 Menggunakan 825 jam tenaga kerja langsung untuk produksi.d.000 kg produk X: .850. Data untuk menjawab soal no.00 a.

000 (laba) Selisih hasil bahan baku (materials yield variance) yang terjadi dalarn tahun 19 X1 adalah sebesar: a.552 Rp 22. Rp 300 (laba) c.10 1. Rp 2.000 Selisih komposisi bahan baku (materialsmix variance) yang terjadi dalam tahun 19 X 1 adalah sebesar: a. Rp 2. Data kegiatan dan biaya . Rp 2. Rp 300 (rugi) b.000 kg 157.250 (laba) c.000 kg 36. 200. Rp 300 (rugi) b.250 (rugi) d.250 (rugi) d. Rp 250 (rugi) 88. .000 kg 38.000 kg 3.30/kg Biaya standar per kg produk X adalah sebagai berikut: Biaya bahan baku (llhat perhitungan di atas) Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik Total biaya standar * ** Untuk menghasilkan 1.800 jam Rp 11.produksi sesungguhnya dalam tahun 19x1 adalah sebagai berikut: Produksi sesungguhnya Bahan baku yang sesungguhnya dipakai: Bahan baku A Bahan baku B Bahan baku C Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya Biaya tenaga kerja langsung sesungguhnya Biaya overhead pabrik sesungguhnya 87.40 0.000.000 kg produk diperllkan 20 jam tenaga kerja langsung dengan tarip upah Rp3 per jam atau Rp0. Rp 2.25/kg 0.000 jam tenaga kerja langsung adalah Rp20. Rp2 tarip biaya overhead pabrik variabel). Harga ~ e k~ r Rp 0.000kg Rp 200 80 20 Ru 300 Rp Rp 300 Rp 0. Biaya overhead pabrik pada kapasitas normal 4.25 0.60 per kg produk jadi Biaya overhead pabrik dibebankan atas dasar jam tenaga kerja langsung dengan tarip Rp5 per jam (Rp3 tarip biaya overhead tetap.Ja w Bahan baku A Bahan baku B Bahan baku C Jurnlah bahan baku Jumlah produksi Kuantitas 800 kg 200 kg 200 kg 1.

c. Salah . Usang (tidak cocok lagi) c. Rp 2. Rp 750 (rugi) d.Selisih hasil tenaga kerja langsung (labor yield variance) yang terjadi dalam tahun 19 X 1 adalah sebesar: b. bila selisih ini disebabkan karena perlggunaan standar yang: a. Rp 450 (laba) Selisih hasil overhead pabrik (overhead yield variance) yang terjadi dalam tahun 19 X 1 adalah sebesar: a. Jawaban a dan b benar Jika selisih biaya standar hams dialokasikan dalarli beberapa rekening. Jawaban a dan b benar Jika seluruh selisih biaya standar dialokasikan pada harga pokok penjualan dan persediaan. &an Persediaan Barang Dalam Proses Selisih biaya standar harus dialokasikan pada harga pokok penjualan dan persediaan. Rp 2. Rp 2.250 (laba) c. Ditutup ke rekening Persediaan Barang Jadi dan HargaPokok Penjualan d. Rp 250 (rugi) Selisih efisiensi tenaga kerja langsung (labor efficiency variance) yang terjadi dalam tahun 19X 1 adalah sebesar: a. maka pengalokasiannya harus didasarkan pada: Biaya sesungguhnya yang ada dalam buku besar a. Rp 600 (rugi) b. Diperlakukan sebagai beban atau pendapatan lain-lain Ditutup ke rckening Persediaan Barang Jadi dan Barang Dalam Proses b.250 (rugi) d. Rp 600 (laba) d. Ditutup ke rekening Persediaan Rarang Jadi. Rp 450 (laba) c.250 (laba) a. Rp 750 (rugi) d. maka laba yang dilaporkan akan sama sebagaimana kalau menggunakan prosedur biaya historis: a. Rp 250 (rugi) Selisih kapasitas (idle capacity variance) yang terjadi tahun 19X 1adalah sebesar: a. Rp 150 (laba) Perlakuan atas selisih yang material antara biaya sesungguhnyadan biaya standar adalah: a. Rp 300 (rugi) b. Rp 750 (laba) b. Betul b. Rp 600 (rugi) c. c. Ideal b. Rp 300 (rugi) c. Harga Pokok Penjualan. Biaya standar yang ada pada buku besar b.

000 Selisih Tarip Upah-menguntungkan (laba) 400 Selisih Efisiensi Upah-merugikan (rugi) 1.000 98. b. RP 000 Hitung persediaan akhir barang jadi: a.200 Jumlah unit yang diproduksi 2. Rp 2.610 c.000 c. b.d. d.600 unit Persediaan barang jadi awal tidak ada Persediaan barang jadi akhir 400 unit Persediaan barang dalam proses tidak ada Pajak penjualan abaikan 97. Rp 3. Rp 2.Data untuk menjawab soal no. c. Larutan ini dijual di dalam drum dan biasanya memiliki harga penjualan stabil. maka laba bersih: b. Rp 1.160 a. Rp 2. FT TITANIUM menghasilkan larutan kimia yang digunakan untuk perawatan barang-barang industri. Rp 1. Rp 3. Rp 800 d. 99.400 Hitung selisih standar net0 yang ada: a.260 d. pada bulan . Rp 400 Bila selisih diperlakukan sebagai biaya.200 d. Jumlah laba bersih sebelum diperhitungkan adanya selisih: Rp1.000 Biaya administrasi dan penjualan 6.d. Rp 9.000 b. Rp 4. Rp 3. Bila selisih net0 dialokasikan pada persediaan dan harga pokok penjualan. 97 s.000 c. Rp 6.000 101. Rp 4.000 Standar harga pokok produksi (CGM) 20. 102 s. Rp 4.360 Data untuk menjawab soal no. maka jumlah laba bersih setelah memperhitungkan adanya selislh: a. Karena permintaan akan produk ini menurun. Rp 3.200 c.000 b.200 Rp 400 100. 101 Berikut ini adalah data biaya PT Awan Biru yang menggunakan sistem harga pokok standar: Penjualan Rp 25. d.000 Rp 3. 104 102.000 unit Jumlah unit yang dijual 1.200 a.

000.000.00 Anggaran biaya tidak langsung tetap untuk tingkat produksi bulan Desember 1985 adalah Rp275.000.000 Rp 230.Biaya tidak langsung lainnya (variabel) Total 3. Diminta: Buatlah daftar perhitungan untuk menetapkan penyimpangan (variances) bulan .Digunakan 700.500.000 76. Biaya penyelia dan tenaga tidak langsung adalah Rp680.000.000.000 drum.Desember 1985 perusahaan hanya menggunakan 50 persen kapasitas normal dengan memproduksi dan menjual60.000 drum. Dalarnbulan Nopember 1985perusahaan beroperasi pada tingkatkapasitas normal yaitu dengan memproduksi 120. Informasi tambahan tentang operasi perusahaan selarna Desember 1985: 1.Depresiasi bangunan dan mesin (tetap) .Digunakan 65. Drum kosong: .000 kg dengan harga .500.Penyelia (supervisor) dan tenaga tidak langsung (semi variabel) .000.000.000 drum dengan harga .Digunakan 60.000 260. Tenaga langsung: . Biaya standar untuk setiap drum larutan kimia (dalam ribuan) Bahan baku: Rp 20 1 10 kg bahan baku 1 drum kosong Rp 21 Tenaga langsung: 1jam RP 7 Biaya tidak langsung (tetap): RP 4 Per jam kerja tenaga kerja langsung Biaya tidak langsung (variabel): RP 6 Per jam kerja tenaga kerja langsung Biaya yang terjadi selarna Desember 1995: Bahan baku: . 4. Rp 470.000 drum.Dibeli 600.00 Rp 666. Semua fungsi biaya adalah linier.000jam kerja dengan biaya Biaya tidak langsung: .000 kg.Dibeli 85.

2.Rp 4. Tunjukkan pula apakah masing-masing penyimpangan di atas menguntungkan (favorable) atau tidak menguntungkan (unfavorable).000 kg) 2. Jumlah penggunaan jam kerja standar per unit dan tarif upah standar per unit. -Rp 4. Hitunglah: 1. Jumlah pemakaian bahan standar per unit dan harga bahan stnadar per unit. b.Rp -.000. Pembebanan biaya overhead pabrik menurut jam kerja. b.000 -Rp 125. sebagai berikut: Debet Kredit 1. 4.000 --.000 -.000.1 10.000 -Selisih kuantum bahan -.000 300. Produksi sebenamya c. diperoleh data pembukuan berupa jurnal-jurnal per periode tertentu.000 -. Produk dalam proses-upah Utang gajilupah (19. Lakukan pembuktian dalarn perthitungan atas kebenaran selisih biaya overhead di atas dalarn jurnal ke 3. Perusahaan menggunakan standar costing.000 Data lainnya: a.Rp 5. Produk dalam proses-bahan Rp 5.000 -Selisih harga bahan Rp 100.Rp 750. Tarip biaya overhead pabrik tetap maupun variable per jam. Labor usage (efficiency) variance Factory overhead variance dengan menggunakan four-variancemethod.000 -.Desember 1985: Material price variance (dihitung pada saat pembelian) a.000.000 3. 103.500 jam) Selisih tarif upah Selisih jam kerja Produk dalarn proses-biaya overhead Selisih controllable overhead Selisih volume overhead Biaya overhead pabrik tetap actual Biaya overhead pabrik variable actual Rp12. Labor rate variance d.Rp 195.096.000 -.000 unit.505.600 Rp 735. 3.Rp 196.000 Persediaan bahan (10. 8. d. Dari perusahaan MEDIAN. e. .000 jam kerja.Rp11. Material usage variance c. Kapasitas normal :24.

Buatlah jurnal pembebanan biaya-biaya standar (bahan. tenaga kerja. Biaya overhead pabrik dibebankan pada produk atas dasar jam kerja langsung normal. Dalam bulan Januari 1989 telah diperoleh informasi sebagai berikut: Di Debet a.000 u p 78. Tarip overhead pabr~k variabel Rp400 per jam kerja langsung. e. Jarn kerja normal dan jurnlah pr.000 Rp 1. Harga bahan sesungguhnya 6. Selisih harga bahan baku Selisih kuar~titas bahan Selisih jam kerja langsung Selisih tarip langsung Selisih terkendali overhead Selisih volume overhead -- Di Kredit Rp 145.6 kg @ Rp500 per.000 ---- Biaya bahan baku sesungguhnya Upah langsung sesungguhnya Overhead pabrik tetap sesungguhnya Hasil produksi billan Jani~ari1989 9. I .755. PT. 2. Pembuktian atas selisih terkendali dan volume dari giaya overhead B.000 Rp 120.000 unit Rp2. Tarip overhead pabrik tetap Rp200 per jam kerja langsung. Budget overhead tetap pada jam kerja normal 7.104.000 Rp 80. dan overhead) ke dalam proses produksi dan jurnal hasil produksi . Upah langsung 0.638.000 Rp 800.4 jam @ Rp400 per jam kerja.oduksi standar pada jam kerja normal 4. Jam kerja langsung sesungguhnya dan tarip upah sesunggullnya 5. b.000 --Rp 240. Kuantitas pemakaian bahan scsungguhnya 3. menghasilkan sejenis produk dengan menggunakan sistem harga pokok standar.000 Hitunglah: Harga pokok stanilar seluruh hasil procluksi bulan Januari 1989 A.kg.000 -- Rp200. d. c. AUDI. f. Biaya standar per unit produk adalah: Bahan baku 0.

000 .90 Rp 0.000 kg Bahan A: (5.500.m Rp 0.50 kg): 2.000 kg 1.000 Kuantits sesungguhnya dipakai 45.000 Selisih harga = ( Rp 2.000) 1 satuan Kuanitas standar untuk sejumlah yang diproduksi (50.000 unit x 1 kg:5.000 .000 Selisih penggunaan = ( 45.000 menguntungkan 21. Jawab: d Data harga: Harga standar per kg: Harga sesungguhnya per kg: Data kuantitas: Kuantitas dibeli: Kuantitas dipakai sesungguhnya: Kuantitas dipakai standax Rp 1.Rp 1.OOO (menguntungkan) 20.70 Rp 0.600 .000 Harga sesungguhnya per satuan bahan = R p 2.550) 2.500 kg Bahan B: Kuantitas dipakai sesungguhnya 4.75 Data kuantitas: Kuantitas dipakai standar (5. PENYELESAIAN 19.800 kg Selisih harga pembelian = ( Rp 1.000 x 1) 50.000 = Rp 4.500 kg .000.50.500 kg Bahan A: Bahan B: 3.100 ) 45. Jawab: c Data harga: Harga standar per kg Harga sesungguhnya per kg Bahan A: Bahan B: Bahan A: Bahan B: RP 1.000 merugikan = Rp 10.000/50. Jawab: a Data harga: Harga standar per satuan bahan (Rp100.000J50.600 Rp 1.900 kg 1.550 2.Rp 2.000 unit x 0.000 ) Rp 2.000.000 kg = RplOO.B.100 Data kuantitas: Kuantitas standar per satuan bahan ( 50.000) = Rp 2.

OO) Bahan B: (2.50 kg Harga rata-rata menurut standar (Rp1.000 x Rp1.00 03 .50 kg) Perhitungan selisih komposisi: Komposisi menurut sesungguhnya: Bahan A: 4.200 6.50/1.90) Bahan B: (3.000) Rp1.500 x Rp0.75 .35) Jumlah Rp 7.500 Rp 6.50 x Rp0.500:Rp450menguntungkan Bahan A: Bahan B: (Rp0.750 Q6.I Perhitungan total selisih biaya bahan: Biaya bahan sesungguhnya: Bahan A: (4.000 6.200 Rp250 menguntungkan 24.5 x Rp 1.000 x 0.70) Jumlah Rp4.35/1.70 Jumlah 1.70 : Jumlah Rp 1.050 2.450 Komposisi menurut standar: Bahan A: 8.OO) 4.625 Rp Rp5. Jawab: a Perhitungan selisih kuantitas: Bahan A: (4.Rp0.950 5.5.500 x Rp 1.867 7.70: Ru700 merugikan Jumlah selisih Ru 200 merugikan Jawab: a Komposisi standar satu unit produk: Bahan A: 1 kg @Rpl Bahan B: 0.750 menguntungkan Perhitungan selisih harga: (Rp0.500) Rp0.5 Ru 1.500 kg x Rp0.000 x 1/1.500 .000/1.500 kg x Rp0. Jawab: b Perhitungan selisih hasil: Hasil menurut*standar(8.90 Rp4.2.00 Bahan B: 3.70) 3.500 kg x Rp0.50 kg @Kp0.35 Rp0.70 2.50 x 1 :Rp Bahan B: 8.OO: Rp500 menguntungkan Bahan B: (3.500:R~ 1 5 merugikan 7 Jumlah selisih RD 275menguntungkan 22.35) Hasil sesungguhnya (5.90 .Rp 1.333 1.000 kg x Rp1.500 .675 1.75) Biaya bahan menurut standar: Bahan A: (5.750 Rp450merugikan .

Rpl 1 19 22 Perhitungan selisih harga bahan: Bahan A (Rpll .100merugikan .100kgxRpll) Bahan B (2.200 kg x Rp19) Bahan C (1.000 kg x Rp20) Bahan C (2.000 kg Bahan C (100 x 20 kg) Data sesungguhnya untuk bulan Januari: Harga sesunggubnya: Bahan A per kg Bahan B per kg Bahan C per kg Kuantitas sesungguhnya: Bahan A Bahan B Bahan C ' Perhitungan selisih total biaya bahan: Biaya bahan sesungguhnya: Bahan A(1. Jawab: b Jurnal pencatatan dengan single plan: Barang Dalarn Proses Selisih Hasil Bahan Selisih Harga Bahan Selisih Komposisi Bahan Persediaan Bahan Jawab: d Data standar untuk produk Y yang dibuat (100 unit): Harga s t a n k Bahan A per kg RplO Bahan B per kg 20 Bahan C per kg 20 Kuantitas standar: 1 .25.000 kg x RplO) Bahan B (2.RplO) 1.900 kg x Rp22) Biaya bahan menurut s t a n k Bahan A (1.000 kg Bahan B (100 x 20 kg) 2.100 kg Rp 1.000 kg x Rp20) Jumlah 26.000 kg Bahan A (100 x 10 kg) 2.

700 Rp95.200menguntungkan 3.Rp20) 1.600 41.900 kg x Rp20) Biaya bahan pada komposisi standar: Bahan A (5.Rp20) 2.700merugikan Rp 10.Bahan B (Rp19 .900 kg Jurnlah Jawab: e Perhitungan selisih komposisi bahan: Biaya bahan pada Komposisi sesungguhnya: Bahan A (1.~1 90.200 kg x 20150 x Rp20) Jumlah 2.100 kg x RplO) Bahan B (2.000 Rp300 Bahan B 125 kg 250.200 kg x 20150 x Rp20) Bahan C (5.200150 x Rp900) Hasil sesungguhnya (100 x Rp900) Jumlah RP & 93.200 kg x Rp20) Bahan C (1.600 Ru93.600 merugikan 29. Jawab: e Data menurut standar untuk membuat 250 kaleng cat: Kuantitas Harga Total Harga per kg Bahan A 300 kg Rp90.700 Selisih Hasil Bahan Selisih Komposisi Bahan Persediaan Bahan 30.600 Rp600 menguntungkan 28.000 2.700 31.000 3.200 kg x 10150 x Rp 10) Bahan B (5.200 kg Bahan C (Rp22 .000 Selisih Harga Bahan 2.000 .400 41. Jawab: a Jurnal pencatatan biaya bahan dengan partial plan: Barang Dalam Proses Rp Persediaan Bahan 95. Jawab: b Perhitungan selisih hasil bahan: Hasil menurut standar (5. Jawab: d Jumal pencatatan biaya bahan dengan metode single plan: Barang Dalam Proses Rp 90.800 merugikan Rv2.

500.240 kg x Rp1.000) Bahan C (3.250) 1.900 .Rp2.425.000 Rp47.250) Biaya bahan pada komposisi standar: Bahan A (3.000 Ru7.200 kg 250.Rp300) 1.Rp1.0001625) : Rp944 Data kuantitas menurut m d a r untuk menghasilkan 1.000Rp Bahan B 750 kg 1.500.750 x 3001625 x Rp300) Bahan B (3.5501250 x 125 kg) 775 kg Bahan C (1.400 Rp 490.42.000) B@an C (1.000 1.750 kgRp 490.900 Bahan C 1.400 .860 kg Bahan B (1.500 merugikan Rp540.000 Perhitungan selisih total biaya bahan: Biaya bahan sesungguhnya: Bahan A (1.250 Bahan C Jurnlah 625 kg Rv590.500 merugikan .400) Biaya bahan menurut standar: Bahan A (1360 kg x Rp300) Bahan B (775 kg x Rp2.250) Jurnlah Harga per kg 280 1.550.250 kg x Rp1.000 Rp 3.250 kg Jumlah 32.250 Jumlah Perhitungan selisih harga bahan: Bahan A: (Rp280 .540.000) 750 kg Bahan C: (Rp1.000) Bahan C (1.000 menguntungkan 187.000 1S50.000 Rp 3.900) Bahan C (1.250 kg 1.550 kaleng: Bahan A (1.000 1.750 kg x Rp280) Bahan B (750 kg x Rp1.000 1.750.0001.5501250 x 300 kg) 1.250 kg x Rp1.000 1.500 merugikan Rt177.750 kg x Rp300) Bahan B (750 kg x Rp2.000 Rv3.750 kg Bahan B: (Rp1.750 x 1251625 x Rp2.240 kg Data biaya bahan sesungguhnya untuk bulan Nopember: Kuantitas Harga Total Bahan A 1.5501250 x 200 kg) 1.5.000 558.000 Rp Rp 35.000 1. Jawab: a Perhitungan selisih komposisi: Biaya bahan pada komposisi sesungguhnya: Bahan A (1.665.000 3.000 menguntungkan Rp 75.750 x 2001625 x Rp1.750.658.550 Harga rata-rata per kg menurut standar: (Rp590.000 1.

Jawab:b Perhitungan selisih hasil: Hasil menurut standar (3.000 Rp 118. 35 Jawab: a Lihat no.000 Rp2 1. 35 Jawab: d Lihat no. Jawab: d Lihat no.4 kg) 2.3 kg) 1.440 kg Bahan Z: (6. r Jawab: c Data harga standar per kg bahan: Jenis Bahan Harga per kg X Rpl00 Y 125 Z 140 Data kuantitas standar untuk 6.000menguntungkan 34.000 915. .200/1.830 kg Bahan Y: (6. 35 Selisih Komposisi 50. 38.300 kg 1. Jawab: d Perhitungan selisih komposisi bahan: Biaya bahan pada komposisi sesungguhnya: Komposisi Komposisi Harga Jenis Sesungguhnya Standar Standar X 2.540.100 x Rpl5O) Jurnlah Rv 15.2 x Rp150) Rp 900.050 kg Perhitungan selisih hasil bahan: Hasil menurut standar (7.500 Sifat Selisih rugi rugi laba laba 37.200 kg 36.800 kg Rpl00 Y 2.400 kg 3.000 12.400 kg Rp 125 Z 2.658.000 3.500 84.750/625 x Rp590.000 Hasil sesungguhnya (6.100 x 0.100 x 0.5 kg) 3.100 x 0.33.500 kg 2.000) Jumlah Rp3.000 kg Rp 140 Jumlah 7.000 menguntungkan 35.200 kg 7.000) Hasil sesungguhnya (1.5501250 x RpS90.100 unit produk: Bahan X: (6.

000 TS . harus diketahui terlebih dahulujam sesungguhnyadan tarip sesungguhnya.Jawab: c Selisih tarip = (Rp600 .Rp550) 1.000 40.500 jam = Rp45.09 tarip sesungguhnya sebesar Rp6.000 60.30) 40.8.09. Selisih tarip = .1. Jawab: Selisih efisiensi = (JS .600 = 6.000 Rp 55.400 = 243.000 (laba) Jawab: c Selisih efisiensi = (5.1.600.000 . Jawab: a Untuk mengetahui jumlah biaya tenaga kerja langsung sesungguhnya. sedang tarip sesungguhnya dihitung sebagai berikut: = (TS .000 (rugi) Rp 600.500 jam x Rp90 =Rp405. rekening Barang Dalarn Proses didebit sebesarbiaya sesungguhnya: 4.000 TS TS TS = Tarip upah sesungguhnya.100 jam (1.000 .4.000 .500) Rpl00 = Rp50.09 = Rp243.000 (laba) Jawab: a Dengan metode partial plan.6.000 605.000.400 = .500) 6.Dari kedua data tersebut yang telah tersedia hanya jam sesungguhnya.000 = (Rp100 -Rp90) 4.000 jam x Rp6.100) Rp600 = Rp55.000 = 40. Karena kedua data yang diperlukan telah temdia rnaka biiya tenaga kerja langsung sesungguhnyadapat dihitung sebagai berikut: Biaya tenaga kerja langsung sesungguhnya = 40.000 (laba) Jawab: b Selisih efisiensi = Jawab: a Barang Dalam Proses Selisih Efisiensi upah Selisih tarif upah Utang gaji & upah Jawab: a Selisih tarip = Rp60.8.252.

000 110.000 TSt = 4.30.000 .500x Rp5.20 per jam Selisih tarip: (4.400 Jawab: e Tarip sesungguhnya (Rp126.29.10 Selisih efisiensi: (30.000. 68.80 per jam 58. = Rp3.000 6.000 jam) Rp4.000130.10 Tarip standar = Rp4.200 Tetap (Rp0.000= Rp12.000 = 3.TSt) 29.TSt) 30.800 = -5.000jam) = Rp4.000 jam) Jawab: Selisih tarip: (3.000 TSt = 3.000 JS JS JS = Jam kerja langsung sesungguhnya.384 Tarip variabel: Rpl.200 .000 126.SO per jam 3.000 = 1.000 = 8. = 600.000 jam .200/29.800 =4 59.21.20per Tarip tetap: Biaya overhead Perhitungan selisih terkendalikan: Biaya overhead pabrik sesungguhnya Rp7.20 .000 JS .400 jam Rp0.lO = Rp36. yaitu sebesar Rp580 x 2 1.000 jam 3.6.475 jam Rp7. 56.80 .000 jam) .900 (merugikan) Jawab: Tarip sesungguhnya (Rpll0.000) = Rp197.400.384 Biaya overhead pabrih dianggarkan pada jam standar: Rp3.500.OO 57.9.80 x 4. = -5.180.000 Jawab: c Jumlah biayaoverhead pabrik dibebankan (39. Jawab: Upah yang dibayar adalah upah sesungguhnya. 4.000 TSt TSt Tarip standar = Rp4.000 Jawab: a Data-data: Jam normal: jam Jam standar: Jam sesungguhnya: sesungguhnya: 67.

90 per kg 4.800 Jumlah 150 (merugikan) Atau.80 = Rp480 (merugikan) Jawab: a Perhitungan selisih pengeluaran: Biaya overhead pabrik sesungguhnya Biaya overhead pabrik dianggarkan pada jam sesungguhnya: Rp3.00 per kg Harga sesungguhnya: Rp1.475 jam .20 x 3.200 Tetap (Rp0. 73.475 jam) 4. .3.00) 6.80 = Rp420 (merugikan) Jawab: a Perhitungan selisih efisiensi: Rp6.370 (merugikan) 71. Selisih efisiensi: (3. Jawab: c Perhitungan selisih kapasitas: Rp 7.800 Jurnlah R-480 (merugikm) Atau.950 Biaya overhead pabrik dibebankan Biaya overhead pabrik standar (3.3. Rp7.Variabel (Rp1.170 Jurnlah 70.00 = Rp150 (merugrkan) Jawab: e Data-data: Harga standar: Rp2.370 Biaya overhead pabrik dianggarkan pada jam sesungguhnya 6.80 x 4.900 kg Kuantitas bahan sesungguhnya dipKuantitas bahan dipakai menurut stands: 72.000 jam) Variabel (Rp1.3.400 jam) Rp2.400 jam x Rp2) 6.20 x 3.384 7.000 jam . Selisih volume: (4.470 jam) Rp0.280 RplM (merugikan) Jawab: c Perhitungan selisih vol~~tne: Rp7.475 jam x Rp2.080 7.400 jam) Rp0.280 Biaya overhead pabrik dianggarkan pada jam standar Biaya overhead pabrik standar (3.950 Biaya overhead pabrik dibebankan (3.400 jam x Rp2.000 jain . 4.OO) Jumlah R0420 (merugikan) Atau. Selisih kapasitas: (4.400 jam) Jumlah 69.

25 = Rp62.000 Variabel(9. * 75.800 kg) Rp2.600 14600 Jumlah RD100 (menguntungkan) -- .25 per jam Tarip upah sesungguhnya: Rp 1.W = F Q 2 0 @&ru@an) +.20 .20 per jam Jam sesungguhnya dipakai (Rp11.9.500 Biaya overhead dianggarkan pada jam standar: Tetap (10.900 kg = Rp490 (menguntungkan) 74.20): 9.50 (menguntungkan) Jawab: d Data-data: Tarip variabel: Rpl per jam Tarip tetap: Rp0. Jawab: a Selisih efisiensi: (9.550 jam Jam dipakai menurut standar: Unit ekuivalen biaya tenaga kerja: F'roduk selesai 2.000jam Jam standar: 9.600 jam (lihat pada analisis biaya tenaga kerja) Jam sesungguhnya: 9.000 400 2.600jam x Rpl) 9.Rp1.25) 9.Unit ekuivalen biaya bahan: F'roduk selesai Produk dalam proses (500 x 80%) Jumlah Kuantitas standar: (2.400 x 2 kg) = 4.900 kg .500 Selisih terkendalikan: Biaya overhead pabrik sesungguhnya Rp 14. Jawab: a Selisih kuantitas: (4.000 F'roduk dalam proses (500 x 80%) 400 Jumlah 2.400 Jam standar: (2.OO)4.600 jam) Rp1.550 jam .50 (menguntungkan) 76.550 jam = Rp477.600 jam Selisih tarip: (Rp1.800 kg 2.4.550 jam (lihat pada analisis biaya tenaga kerja) Biaya overhead pabrik sesungguhnya: Rp14.400 Selisih harga bahan dipakai: (Rp1.90 . Jawab: b Data-data: Tarip upah standar: Rp1.Rp2.400 x 4 jam) = 9.50) Rp5. 77.000 jam x Rp0.460/Rp1.50 per jam Jam normal: 10.

010 jam) = Rp4. sehingga tarip upah tenaga kerja langsung sesungguhnya dahitung sebagai berikut: (Rp19.600 x Rp1. Jawab: b Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung Biaya Upah dan Gaji Rp11.500 79.78.9.19.Rp5. Jawab: b Selisih tarip upah: (Rp4.620 ~ 84. Selisih volume: (10.80 .248J4.00) 4.80 82.010 JS = Jam sesungguhnya = 4.800 kg Biaya bahan baku menurut standar: Rp5 1.000~ jam) = 3.050 JS = 4.010 jam. 83.8 Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya untuk 1. Jawab: b Jam tenaga kerja langsung standar per unit (Rp19IRp5) = 3..800jam 3.010 jam = Rp802 (menguntungkan) Jawab: a Kuantitas bahan baku dipakai menurut standar: (1.50) Jumlah R ~ 2 0 0 (menlgikan) Atau.400 200 Rpl 00 14.600 jam) Rp0.400 (9.000 Biaya bahan sesungguhnya 620 (+) Selisih total biaya bahan (laba) Jdah R D1.50 = R p 2 0 (merugikan) Jawab: c Jurnal pencatatan biaya overhead pabrik apabila digunakan partial plan: Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik Selisih Volume Selisih Terkendalikan Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp14.000 jam .600 Biaya overhead pabrik menurut standar: 14.050 Selisih efisiensi: (JS .460 Rp 11.000 x 5.800) 5 5 JS .000unit: (1.000 unit: = 1.8 jam Jawab: c Jam tenagakerjalangsung standaruntuk 1.3. Jawab: b Selisih volume: Biaya overhead dianggarkan pada jam standar Rp14. . 80.460 81.000 = 1.8) = 5.

000 kg x 800/1200 x Rp0.000 kg11.40) 15.2 87.25)Rp 38.Harga bahan baku standar per kg: (Rp5 1.000 4.500 Selisih biaya tenaga kerja 9 15 Biaya tenaga kerja sesungguhnya Ru 8.800 kg) = Rp8.850 Selisih biaya bahan (rugi) Biaya bahan sesungguhnya dipakai RD34.lO) 3.151825 jam Jawab: a Perhitungan selisih komposisi: Biaya bahan baku pada komposisi sesungguhnya: Bahan A (1 57.000 x Rp0.25) Rp39.400 Bahan C (231.40) Bahan C (36.200 Rahan B (38.000 Rv600 (menguntungkan) .000 x Rp0.000 kg x Rp0.000 kg x 200/1200 x Rp0. Rp 10.000 RD 2.850 Jumlah 86.050 57.415 Tarip upah sesungguhnya : Rp 8.5jam x 1500 x RplO) Rp 7.000 kg x Rp0.200 x Rp300) Hasil sesungguhnya (200.250 15.400 12.125 Jawab: c Biaya tenaga kerja standar (0.90 Selisih kuantatitas bahan baku: (6.30) Jumlah Rp 57.800120 x Rp60) Hasil sesungguhnya (200.000 kg .250 (menguntungkan) 89. Kp58.028.850 Total biaya bahan dibeli : 850018000 x Rp 34.5.780 (merugikan) 85.62015.800 kg) Rp8.750 Rp300 (merugikan) 88.90 = Rp1.000 kg x Rp0.000 kg x 20011200 x Rp0. Jawab: e Biaya bahan standar (5kg x 1500 x Rp4) Rp 30.850 = Rp 37.500 Bahan B (231.750 60.600 Biaya bahan baku pada komposisi menurut standar: Bahan A (231.06) Jumlah Rp 11. Jawab: b Perhitungan selisih hasil bahan baku: Hasil bahan menurut standar (23 1.10) 3. Jawab: Perhitungan selisih hasil biaya tenaga kerja: Hasil menurut standar (3.

89 Jawab: a Harga pokok produksi per unit: (Rp20.90. Selisih kapasitas: (4.000 jam Perhitungan selisih kapasitas: Biaya overhead dianggarkan pada jam sesungguhnya: Rp12.lO) Jumlah A Rp19.000 (menguntungkan) 91.000 Selisih biaya: Selisih tarip upah Selisih efisiensi upah Laba bersih sebelum selisih 92.000 jam . 97.000 16.000 Biaya overhead dibebankan (3. .800jam x Rp2) 7.000 x Rp0.600 unit x RplO) Laba kotor Biaya adrninistrasi dan penjualan Laba bersih sebelum selisih Jawab: c Perhitungan rugflaba: Penjualan Harga pokok penjualan: (1.000 6.000 jam x Rp3) Variabel(3.800 jam x Rp5) Jumlah RD 600 (merugikan) Atau.000) = 4.000 x 2011.000 20 000 RD1.600 19.3.000 9.000/2.000 R~3.600 unit x RplO) Laba kotor Biaya adrninistrasi dan penjualanRp6. Jawab: Perhitungan selisih hasil biaya overhead pabrk Hasil menurut standar (3.800120 x Rp100) Hasil sesungguhnya (200. Rp25.600 Rp 19. Jawab: b Jam kerja menurut standar: (200.800 jam) Rp3 = Rp600 (merugikan) Jawab: c Sama dengan no.000 Tetap (4.000 unit) = Rp 10 Perhitungan rugiilaba: Penjualan Harga pokok penjualan: (1.000 98.

3 1.25 Jadi tanp BOP temp: Rp.000 jam x Rp168.OOO (rugi) Selisih kuantitas bahan: (10.500 jam .000 (laba) Biaya overhead pabrik: Selisih controllable Biaya overhead pabrik sesungguhnya Rp4.7'5 Perhitungan pemb\~ktian: Biilya bahan baku Selisih harga bahan: (Rp500 .500jam Tarip standar per jam : (590-TSt)19.000 Biaya overhead dianggarkan pada volume standar: Rp 750.7.500 jam = Rp590 Jam sesungguhnya: 19.500 = -195.75) Rp 735.10.s jam x Rp600 = Rp 1 . Jumlah jam kerja standar per unit: 20.000 unit = 2.OOO)TT' = 125.000 aT = 125.375.000.000/Rp600 = 20.Perhitungan jumlah penggunaan jam kerja standar per unit dan tarip upah standar per unit: Selisih tarip upah: (TS .000.000 jain x Rp3 1. '.TSt) JS Tarip sesungguhnya: Rpl1.500 TSt = 11.000 Viariabel(20.000 kg .KSl) ' I T (24.Rp490) 10.000 Jumlah (~ugi) Selisih volume Biaya overhead dianggarkan pada volume standar Rp 4.000/20.006 (laba) Selisih efisiensi upah: (19.000 jam/S.000 Tetap (24.000 TSt = 600 Jadi tarip upah standar per jam = Rp600 -----.25) 3.000 (laba) Biaya tenaga kerja langsung Selisih tarip upah: (Rp.5 jam Jumlah tarip upah per unit: 2.000 jam x Rp200) 4.500jam = Rp195.000 TT -= 11.000 lam = Rp300 Selisih volume .000.000 Jumlah (rugi) RD 125.000/19.000 19.190 -.25 -= Kp 168. Kp 196.000 4.Kp3 I .860.00. Jumlah jam kerja standar: Rp 12.400 kg) Rp.505.000 Biaya overhead pabrik standar (20.Rp600) 10.590 .000 jam) Rp600 = Rp300.SO0 Perhitungan tarip hiaya overhead patfrik tetap (Ian variable per jam: Tarip biaya overhead pabrtk total: Rp4.125.000 kg = RplOO. .000 .25 Tarip BOP variable: Rp200 .125.000 jam .000 4.20. (KN .000-2O.

000 jam x Rp200 = Rp800.000 .600 jam x R e ) Jumlah selisih (laba) Pembuktian selisih volume: Biaya overhead dianggarkan pada jam standar Rp2.440.400) 500 = 200.000 unit x 0.000 unit Jam kerja langsung sesungguhnya dan tarip upah sesungguhnya: Selisih jam: (JS . Harga pokok standar seluruh hasil produksi: Rp2.800 kg = Rp475 Jam kerja normal dan jumlah produksi standar pada jam normal: Selisih volume: (JN .600) 400 = 120.240.KSt) (KS .4 = 10.6 kg x Rp500 Biaya tenaga kerja (9.700.000 500KS = 2.000 lumlah Ru 6.560.900 jam = Rp420 Jumlah anggaran biaya overhead pabrik tetap pada jam kerja normal: 4.900 jam Tarip upah sesungguhnya: Rp 1.3.104.000 Kuantitas pemakaian bahan sesungguhnya: Selisih kuantitas bahan : (KS .3.440.240.000 Variabel(3.000 Biaya overhead (9.900.000 unit x 0.JSt) TSt (JS .000 KS = 5.600 jam x Rp600) Jumlah selisih (rugi) 2.300.000 JS = 3.000 Jadi jumlah jam normal adalah 4.000.800 kg Harga bahan baku sesungguhnya: Rp2.5.4 jam x Rp600) 2.000 RD 240.900 Jadi jam sesungguhnya: 3.4 jam x Rp400) 1.000 jam Jumlah produksi standar pada jam normal adalah 4.000 jam/0.000 unit x 0.000 Biaya bahan (9.000/3.000 Biaya overhead pabrik sesungguhnya Biaya overhead dianggarkan pada jam standar: Rp 800.800 Jadi pemakaian bahan sesungguhnya adalah 5.638.000 Biaya overhead standar (3.JSt) TT (JN .00015.600) 200 = 80.000 200JN = 800.000 Tetap 1.000 400 JS = 1.160.000 Pembuktian selisih terkendali: Rp2.755.000 JN = 4.

Pemakaian bahan: Barang Dalarn Proses Selisih Kuantitas Bahan Selisih Harga bahan Persediaan bahan Pembebanan biaya tenaga kerja: Barang Dalam Proses Selisih Jam Kerja Langsung Selisih Tarip Langsung Utang Gaji dan Upah Pembebanan biaya overhead pabrik: Barang Dalam Proses Selisih Volume Overhead Selisih Overhead Overhead Pabrik Tetap Sesungguhnya Overhead Pabrik Tetap Sesungguhnya Mencatat hasil produksi Persediaan Barang Jadi Barang Dalaln Proses .

multiply.Buku ini dipublikasikan melalui Grup Jurusan Manajemen S1 http://s1manajemen.com .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful