ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN UROLITIASIS PADA TN. N DI RUANG IRNA A LANTAI 4 KIRI RSCM Oleh: Sunardi (Residensi Sp.

KMB) PENGKAJIAN : a. Identitas Pasien Nama Umur Alamat Agama Pendidikan Pekerjaan Status perkawinan Suku Tanggal MRS Pengkajian Diagnosa masuk Penanggung jawab Alamat : Tn. N : 36 Tahun ( 01-04-1970 ) : Jati Pereuh Taman Sari 014/04 Rengasdengklok karawang : Islam : SD : Tukang Becak : Kawin : Sunda : 29 Mei 2006 : 5 Juni 2006 : batu pielum ginjal kiri : Tn J : Jati Pereuh Taman Sari 014/04 Rengasdengklok karawang

b. Keluhan Utama ( saat MRS ) Nyeri pinggang kiri hilang timbul. Nyeri muncul dari pinggal sebelah kiri, menjalar ke depan sampai ke ujung penis. Keluhan Utama ( saat pengkajian ) Nyeri pinggang kiri hilang timbul. Nyeri muncul dari pinggal sebelah kiri, menjalar ke depan sampai ke ujung penis. c. Alasan Masuk Rumah Sakit & Riwayat Penyakit Sekarang Sejak 2 tahun yang lalu, klien mengeluh nyeri pinggang kiri hilang timbul, nyeri muncul dari pinggang sebelah kiri dan menjalar ke depan sampai ke penis. Penyebab nyeri tidak di ketahui. Akhirnya pasien berobat ke mantri, setelah di kasih obat (nama tidak tahu) keluhan berkurang tetapi kadang muncul lagi. 1 tahun yang lalu, klien mengalami nyeri pinggang yang hebat, akhirnya oleh keluarga di bawah ke RSU Karawang. Setelah dilakukan pemeriksaan, klien dinyatakan menderita kencing batu. Setelah pulang dari RSU Karawang, klien tidak control, tetapi berobat ke Mantri lagi. 2 bulan yang lalu, klien mengalami serangan nyeri hebat lagi dan di bawah ke RSU karawang. Sehubungan dengan keterbatasan alat, maka klien dirujuk ke RSCM, untuk penanganan selanjutnya. d. Riwayat Penyakit Dahulu klien mengatakan tidak mempunyai penyakit hipertensi, jantung tidak diketahui, hepatitis tidak pernah, kencing batu ( - ).

ikan. Pola penanggulangan stress Pertahanan diri sementara biasanya klien meminta bantuan pada istri dan saudara-saudaranya. ketergantungan terhadap bahan kimia y. Olah raga/gerak badan y. waktu. 2. Ketergantungan h. Hipertensi g. Pola Aktivitas Sehari-hari Aktivitas 1. jamu y. orientasi (tempat.e. teh volume tidak teridentifikasi Warna kuning jernih Frekwensi 4-6/24 jam Kesulitan tidak ada BAB :frekwensi 1hari Warna : kuning Konsistensi lunak Kesulitan tidak ada Jumlah 6-7 jam Siang jarang tidur Malam 6-7 jam Kesulitan : tidak ada hanya bekerja sebagai tukang becak. orang ) dbn. daya penglihatan dbn. teh volume tidak teridentifikasi Warna kuning jernih Frekwensi 4-6/24 jam Kesulitan tidak ada BAB :frekwensi 1hari Warna : kuning Konsistensi lunak Kesulitan tidak ada 7 -8 jam siang : 1 -2 jam malam : 6 – 7 jam tidak ada Istirahat & tidur . . Aktivitas 5. daya raba. isi pikiran. sayur 1 piring/ makan kesulitan tidak ada minum: 2000-2500cc/hr Jenis : air putih. Kebiasaan merokok y. tidur-istirahat 4. daya rasa. Kognitif : Proses berfikir. DM. ketergantungan terhadap bahan kimia y. penggunaan obat bebas y. MRS Makan 3 x sehari Jenis : nasi. daya pendengaran. Olah raga/gerak badan y. Pola sensori dan kognitif Sensori : Daya penciuman. Nutrisi – Cairan Sebelum MRS Makan 3 x sehari Jenis : nasi. i. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat penyakit keturunan : keluarga mengatakan tidak ada anggota keluarga yang mengalami sakit seperti pasien. jamu y. sayur 1 piring/ makan kesulitan tidak ada minum: 2500-3000 cc/hari Jenis : air putih. Eliminasi 3. ikan. Kebiasaan merokok y. penggunaan obat bebas y. TB.. kadang bercanda dengan temen sebelah bed. daya ingat.

.

nokturi (-). j. dalam batas 7. Hidung Deformitas. perubahan warna kulit tidak ada. inkontinensia urine (-). mukosa. retensi urine (-). benda asing. membran timpani normal. scrotum : nyeri (-). suara bicara jelas. Mata Alis mata. tekanan darah 120/70 mmHg. pernafasan cuping hidung tidak ada. odema y. 4. gigi banyak yang hilang. konjuktiva anemis (. pancaran urine normal. otot muka dan rahang kekuatan lemah . kelopak mata normal. polakisuri (-). palpasi buli : tidak ada massa. mata tidak cowong. benjolan tidak ada. permukaan kulit tidak kering. nyeri kepala. Mulut dan faring Bau mulut y. obstruksi tidak ada. 6. sianosis tidak ada 5. nyeri muncul dari pinggang kiri menjalar ke depan sampai ke penis. rambut hitam dan bersih . . pneumaturi (-). GCS 4 5 6. Keluhan miksi : urgensi (-). Telinga Secret. residual urine (-). Palpasi ginjal : tidak teraba. pernapasan 20X/menit. suhu tubuh 367◦C. hematuri (-). intermitensi (-). tekstur tidak kasar. Pemeriksaan fisik 1. simetris. Status kesehatan umum Keadaan penyakit sedang. kesadaran composmentis.). 8. Enuresis (-). dekubitus tidak ada. 3. secret. Sistem integument Tidak tampak ikterus. kelainan lidah tidak ada. lidah merah merah mudah. bau. pupil isokor sclera ikterus (-/ -). 2.j. terminal dribbling (-). stomatitis (-). hesistensi (-). reflek cahaya positif. serumen. Status Urologi Nyeri : nyeri hilang timbul. Tajam penglihatan normal./. Kepala Normo cephalic. pembesaran (-). Muka Simetris. tidak botak. nadi 80X/menit (regular).

Jantung Batas jantung kiri ics 2 sternal kiri dan ics 4 sternal kiri.perkusi dullness. 14. dorsalis pediss (+/+). Tulang belakang Tidak ada lordosis. perabaan massa tidak ada. femoralis (+/+). kaku kuduk tidak ada. Inguinal-Genitalia-Anus Nadi femoralis teraba. vocal fremitus tidak teridentifikasi. . tidak ada benjolan. mumur (-). Abdomen Bising usus +. Ekstrimitas Akral hangat. 13. capillary refill 3 detik. abses tidak ada. 12. asites ( . edema -/. poplitea (+/+). tidak ada hernia. wheezing -/-. nyeri tekan tidak ada. pembengkakan pembulu limfe tidak ada. retraksi intercoste (-). retraksi supra sternal (-). Bunyi s1 dan s2 tunggal. Thoraks Paru Gerakan simitris. hepar tidak teraba. gallop (-). perkusi resonan. kifosis atau scoliosis. tidak ada hemoroid. 15.9...). atropi -/-. achiles N/N. . rhonchi +/+ pada basal paru. capillary refill 2 – 3 detik . reflek patella N/N. batas kanan ics 2 sternal kanan dan ics 5 mid axilla kanan.. ganggren (-). gerak yang tidak disadari -/-. Leher Simetris. pembuluh darah perifer : radialis (+/+). pembesaran vena jugularis 5 + 0 cm H2O 10. 11. tibialis posterior (+/+). kekuatan 5/5.

ukuran 10 x 6 cm. 7 x 8 mm.5 Kreatinin : 1. Nama obat Pronalges Cefriaxone Dosis 2x1 (k/p) 1 x 1 gr Pemakaian supp injeksi Efek Samping ( evaluasi perawat ) Tekanan darah.0 1.230 Eritrosit :Trombosit : 318.k.5 4. IVP : Hidroneprosis grade 1 pada ginjal kiri l.2 7.3 29.14 Ureum : 32.11 354 25 27 23 3. Pemeriksaan penunjang 27 – 5 – 2006 Hb : 13.reduksi :.7 5. keluhan nyeri Panas tubuh.04 Uric acid : 4.9 33.1 Tanggal 2 Juni 2006 BNO : bayangan nephrolitiasis di pvl 1-2 kiri.30 10.0 . leukocit .PH : 6.73 Masa perdarahan : 2 menit Masa bekuan : 11 menit Albumin :Globulin :Na :K :Cl :Ureum darah :Kreatinin :Urine .epitel : (-) .30 31-05-2006 91 90.BJ :.06 109 1. Terapi Obat-obatan.Warna : kuning keruh .000 Aseton darah: Diff Count : 0/0/0/62/32/6 SGOT : 22 SGPT : 14 Protein total : 7.7 LED :7 Hematokrit :Leukosit : 6.30 144 4.2006 15.3 46.lekosit : 5-10 GDA : 79 MCV : MCH : MCHC : 30 – 05. 7 x 6 mm.

oksalat. N : 36 Tahun ( 01-04-1970 ) : Jati Pereuh Taman Sari 014/04 Rengasdengklok karawang : Islam : SD : Tukang Becak : Kawin : Sunda : 29 Mei 2006 : batu pielum ginjal kiri Pada tanggal 8 Juni 2006 telah dilakukan terminasi pemberian asuhan keperawatan dikarenakan perawat pindah ke ruangan lain dan telah dilakukan serah terima kepada perawat ruangan Keadaan umum baik. tekanan darah 120/70 mmHg. 2. HR : 80/mnt. b. frekwensi konstraksi. informasi. Resiko retensi urine bd obstruksi a. Resiko retensi urine bd obstruksi batu batu. Hal – hal yang sudah dilakukan dalam pendidikan kesehatan adalah : 1. pengobatan dan komplikasi batu ginjal. Penjelasan tentang persiapan post op Jakarta. Resiko nyeri akut bd peningkatan frekwensi konstraksi. penyebab. hindari menahan kencing. tidak boleh makan tinggi kalsium. Diagnosa yang muncul Tanggal 5 Juni 2006 Diagnosa yang belum teratasi Tanggal 8 Juni 2006 a. penjelasan tentang pencegahan untuk terbentujnya batu ginjal. 3. c. 8 Juni 2006 . Penjelasan tentang pengertian.RESUME KASUS Nama Umur Alamat Agama Pendidikan Pekerjaan Status perkawinan Suku Tanggal MRS Diagnosa masuk : Tn. Kurang pengetahuan bd kurangnya c. Suhu : 36 40C. antara lain : banyak minum ( 2000 – 3000 cc/hari ). Resiko nyeri akut bd peningkatan b. Kurang pengetahuan bd kurangnya informasi. RR : 18/mnt.

Mungkin membutuhkan pemecahan batu menjadi bagian-bagain kecil. Komplikasi yang sering terjadi adalah hemoragi. infeksi dan ekstravasasi urinarius. menggunakan beberapa type pengambilan. untuk menjamin bahwa ureter tidak mengalami obstruksi oleh edema atau bekuan darah. Untuk batu yang besar. Percutaneous nephrolithotomy . Batu kemudian dikeluarkan atau di pecah terlebih dahulu.PCNL ( Percutaneous Nephro Litholapaxy ) PCNL adalah mengeluarkan batu yang berada di saluran ginjal dengan cara memasukkan alat endoskopi ke system kaliks melalui insisi pada kulit. traktur nefrostomi ditutup secara spontan. Beberapa waktu prosedur ini disebut dengan percutaneous nephro lithopaxy yang direkomendasikan sebagai teknik pengambilan batu. Sebuah alat dimasukkan melalui sistoskop dan ujung lithotripter dan frekwensi diletakkan dekat batu. Prosedur ini dilakukan dibawah anesthesia topical. Ahli bedah akan mencapai lokasi dan mengambil batu. Setelah selang dilepaskan. Kekuatan cairan listrik pulsa dapat bervariasi. antara lain ultrasonic or electrohydraulic. Setela prosedur. Secara umum. ahli bedah membuat incise dibagian belakang dan langsung keginjal. Tindakan ini digunakan bila batu cukup besar atau lokasi yang tidak efektif bila menggunakan ESWL. Prosedur ini. Instrument ini disebut dengan nephroscope. pasien tinggal di rumah sakit dalam beberapa hari dan mungkin dipasang nephrostomy dalam ginjal selama proses penyembuhan.

7. Penatalaksanaan Pascaoperatif 1. 2. Hal ini dapat dikurangi dengan tindakan dekompresi melalui selang nasogastrik. Terapi heparin dosis rendah dapat diberikan setelah pembedahan untuk mencegah tromboemboli . Bila dipasang nefrostomi. dalam pembedahan dan ginjal mencakup transversal berhubungan incise atau dengan lumbodorsal abdominal ginjal torakoabdominal. Kesulitan pada pembedahan kesulitan untuk mengakses ginjal. Maka pemberian cairan dan darah sebagai terapi pengganti. 5. Dengan demikian diklem. Jika pada kedua ginjal dipasang selang drainase. penggunaan anastesi meningkatkan resiko komplikasi pernafasan. Lokasi insisi sering menimbulkan rasa nyeri pada saat inspirasi dan batuk. Perdarahan dan syok menjadi komplikasi utama sesudah pembedahan. untuk mencegah obstruksi akibat bekuan darah yang dapat menimbulkan infeksi. Pemberian cairan peroral hanya diperbolehkan setelah flatus. meliputi : Status pernafasan. masalah ini terjadi karena akibat paralysis yang bersifat reflek pada gerakan peristaltic usus disamping akibat manipulasi kolon dan deudenum. 3. Distensi abdominal dan ileus paralitik sering terjadi. Selang nefrostomi tidak boleh diirigasi. maka selang tidak boleh menimbulkan pielonefritis. 8. Pengkajian Hal –hal yang harus dikaji. volume urin yang keluar dari masing-masing selang harus diukur secara terpisah.Penatalaksanaan Perioperatif Incise yang dilakukan pinggal. pasien pasca operasi. Pemantauan selang drainase dan kateter harus dijaga patensinya. intercosta. karena akan . Proses Keperawatan a. Pantau volume urine yang mengalir keluar dari kateter. seperti pada setiap pembedahan. 4. Hal-hal yang harus dipantau antara lai : frekwensi. 6. kedalaman dan pola pernafasan.

pasien cenderung melakukan fiksasi dinding dada sehingga pernafasan cenderung dangkal. Keluaran urin dan drainase dari selang yang dipasang pada saat pembedahan dipantau dalam hal jumlah.  Berikan preparat analgesic seperti yang diresepkan. Nyeri dan gangguan rasa nyaman berhubungan dengan lokasi insisi operatif. b. serta tipenya. Lokasi dan intensitas nyeri dikaji sebelum dan sesudah pemberian analgesic.  Berikan preparat analgesic seperti yang diresepkan.  Lakukan kompres hangat dan massage pada daerah yang terasa pegal serta mengalami gangguan rasa nyaman. Penurunan atau tidak adanya drainase urin harus segera di pantau. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan 1. Sistem sirkulasi dan kehilangan darah. posisi tubuh pasien pada meja operasi saat dilakukan pembedahan  Kaji tingkat rasa nyeri pasien. . Nyeri. Drainase urin. Keadaan luka insisi dan selang drainase harus sering diobservasi untuk membantu kehilangan darah serta hemoragi yang tidak di duga. warna. 2. Resiko bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan lokasi imsisi operatif.  Fiksasi luka insisi dengan kedua belah tangan atau bantal untuk membantu pasien saat batuk.  Bantu pasien untuk mengganti posisi dengan sering. Warna dan suhu kullit dan keluaran urin juga akan memberikan informasi tentang keadekuatan status sirkulasi. rasa nyeri merupakan masalah utama bagi pasien post operasi akibat incise dan posisi pasien diatas meja operasi untuk memungkinkan akses yang adekuat pada ginjal. Distensi abdomen yang meningkatkan gangguan rasa nyaman.  Dorong penggunaan spirometer insentif jika terdapat indikasi  Bantu dan dorong ambulasi dini. Tanda-tanda vital dan tekanan darah arteri atau vena sentral dipantau.

 Pertahankan asupan cairan yang adekuat. system drainase serta uretra.  Evaluasi perubahan makna bagi pasien dan anggota keluarga  Dorong pasien untuk mengutarakan perasaannya dan ketakutannya. Perubahan eliminasi urin berhubungan dengan drainase urin. 4. Fiksasi luka insisi dengan kedua belah tangan  Bantu dan dorong ambulasi dini atau bantal pada saat melakukan gerakan atau menarik nafas dalam atau melakukan latihan batuk.  Bersihkan kateter secara hati-hati .  Kaji keadekuatan keluaran urin dan patensi system drainase.  Pertahankan system drainase urin yang tertutup. 3.  Bantu pasien dalam mobilisasi  Observasi warna. .  Dorong pasien untuk membagi perasaannya dengan pasangannya.  Tawarkan dan atur kunjungan dari anggota kelompok pendukung.  Kaji pengetahuan pasein mengenai prosedur pembedahan dan kemungkinan hasil akhir pembedahan.  Kaji ketakutan fdan kecemasan pasien sebelum pembedahan jika hal ini memungkinkan.  Kurangi trauma dan manipulasi kateter. Takut dan cemas berhubungan dengan diagnosa hasil akhir pembedahan dan perubahan pada fungsi urinarius. lakukan tindakan ini secara hatihati dengan menggunakan larutan saline steril. volume baud an konsistensi urin.  Gunakan prosedur asepsis dan pembasuhan tangan ketika memberikan perawatan serta tindakan .  Jika irigasi diperlukan dan diresepkan.  Kaji system drainase urin dengan segera.

Buku Ajar Ilmu Bedah.niddk. Dimabil 17 Februari 2006.Daftar Pustaka R. Jakarta .gov/kudiseases/pubs/stonesadults . Ilmu Penyakit dalam.nih. 1997. Sjamsuhidajat.http://kidney. Kidney Stone In Adult. 1999 . 2002. Brunner & Suddarth. EGC : Jakarta Soeparman & Sarwono waspadji. Buku Ajar keperawatan Medikal bedah. Gaya Baru. EGC: Jakarta National kidney and Urologic Diseases Information Clearing house.

Factor – factor itu adalah factor intrinsic yaitu keadaan yang berasal dari tubuh seseorang yang meliputi herediter. Pengkajian pasien. Nasep kemungkinan adalah factor ekstrinsik yaitu iklim dan temperature. N adalah pre operasi dan pada Tn. Gejala yang muncul pada Tn. Keadaan ini menyebabkan keluhan nyeri kolik. Factor penyebab munculnya batu ginjal pada Tn. Hal ini dibuktikan bahwa pekerjaan Tn. iklim dan temperature. N adalah tukang becak. R adalah adanya perdarahan lewat penis. Batu dapat menyebabkan obstruksi sehingga menimbulkan kaliektasis atau hidroneprosis dan jika dapat menimbulkan pieonefrosis atau pielonefritis. pasien tinggal di rumah sakit dalam beberapa hari dan mungkin dipasang nephrostomy dalam ginjal selama proses penyembuhan. diet. Gejala yang muncul pada kasus adalah nyeri pada pinnggang belakang dan menjalar ke depan sampai ke ujung penis. dimana pada Tn. gangguan metabolic. dan pekerjaan. N dan Tn. sehingga menuntut Tn. untuk menjamin bahwa ureter tidak mengalami obstruksi oleh edema atau bekuan darah. hal ini merupakan salah satu komplikasi dari post PCNL. asupan air. setelah menjalani operasi. R post operasi dengan tehnik PCNL. berdasarkan analisa batu ginjalnya yang didapat dari hasil operasi yaitu Gejala utama yang muncul pada pada Tn. infeksi dan ekstravasasi urinarius. Pada Tn. dan factor ekstrinsik yaitu pengaruh yang berasal dari lingkungan di sekitarnya yang meliputi geografi. dehidrasi dan keadaan – keadaan lain yang masih belum terungkap ( idiopatik ). N berada pada terik matahari dengan iklim dan temperature yang tinggi. umur.PEMBAHASAN Terbentuknya batu saluran kemih di duga ada hubungannya dengan gangguan aliran urine. Secara epidemiologis terdapat beberapa factor yang mempermudah terjadinya batu saluran kemih pada seseorang. R di dapatkan perbedaan. Komplikasi yang sering terjadi adalah hemoragi. N adalah sesuai dengan teori. infeksi saluran kemih. terutama kedua pasien yaitu Tn. bahwa batu yang mengisi pielum dan lebih daru dua kalik ginjal memberikan gambaran menyerupai tanduk rusa. jenis kelamin. R. . berjenis batu kalsium. nyeri tumpul atau nyeri ketok pada pinggang.

observasi tanda infeksi. N dan Tn. Resiko nyeri akut bd peningkatan frekwensi konstraksi. Kurang pengetahuan kurangnya informasi Intervensi keperawatan pada masing-masing diagnosa keperawatan dapat dilaksanakan secara penuh. monitor intake-out put. Evaluasi yang lebih lanjut. Diagnosa keperawatan yang muncul pada ke dua pasien tidak sama. Semua tindakan keperawatan diatas dapat dilaksanakan oleh perawat. diagnosa yang muncul bd meliputi Resiko tinggi terjadinya retensi urine bd adanya perdarahan. R dari ketiga diagnosa keperawatan masih belum teratasi. foto polos abdomen. dan memerlukan asuhan keperawatan . lakukan teknik aseptic lakukan perawatan kulit. warna urine dan bekuan darah pada selang kateter terutama pada Tn.. observasi aliran irigasi. R. Pada Tn. Pemeriksaan tersebut untuk memastikan letakkan batu pada saluran kencing. sedangkan pada Tn. dan kolaborasi dengan tim medis : pemberian antibiotic. karena kedua pasien berada pada tahap yang berbeda. pengobatan post operasi PCNL. timbang BB. Kurang pengetahuan bd kurangnya informasi. yaitu darah lengkap. pada Tn. komplikasi. IVP dan ultrasonografi ( USG ). obat untuk pembekuan darah. monitor kesadaran. Diagnosa keperawatan yang muncul pada Tn N adalah Resiko retensi urine bd obstruksi batu. anjurkan semua staf kesehatan untuk cuci tangan. . jelaskan tentang penyebab. auskultasi bising usus. yaitu dimana Tn N berada pada fase pre operasi. R karena post operasi. R berada pada fase post operasi. Resiko tinggi terjadinya infeksi bd pemasangan kateter. diagnosa keperawatan. Intervensi tersebut meliputi monitor tanda vital monitor nadi perifer. timbang BB.Pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosa pada ke dua pasien adalah laboratorium standart untuk menegakkan diagnosa batu saluran kencing.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful