P. 1
Makalah Kekerasan Pada Anak

Makalah Kekerasan Pada Anak

|Views: 4,575|Likes:
Published by Achmad Hidayatullah

More info:

Published by: Achmad Hidayatullah on May 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/16/2014

pdf

text

original

CHILD ABUSE PADA ANAK

MAKALAH

disusun untuk memenuhi tugas mata ajaran jiwa

oleh
Ida Farida

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIR LANGGA SURABAYA 2011

Child Abuse

Page 1

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG Dalam mencapai Indonesia sehat 2010 peningkatan mutu kesehatan yang berkualitas merupakan kebutuhan masyarakat. Hal ini penting mengingat makin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi masa sekarang yang sering menimbulkan perubahan pola hidup masyarakat yang berpengaruh terhadap kesehatan fisik mental dan sosial serta kesejahteraan masyarakat. Gangguan jiwa artinya menonjolnya gejala-gejala psikogenik, hal ini tidak berarti bahwa unsur yang lain tidak terganggu lagi, yang sakit dan yang menderita ialah ; Manusia seutuhnya dan bukan hanya badannya, jiwanya, dan lingkungannya. Dalam pemberian asuhan keperawatan pada klien dengan Perilaku kekerasan pada anak diperlukan sikap perawatan yang menerima klien, hangat, sederhana, dimana prinsip intervensi aktif adalah : menerima dan menenangkan klien bukan menggembirakan atau mengatakan bahwa klien tidak perlu khawatir. Untuk mengantisipasi hal tersebut dpat dipperlukan usaha-usaha pelayanan kesehatah jiwa seperti yang tercantum didalam undang-undang kesehatan jiwa no. 26 tahun 1992 pasal 27 yang meliputi : 1. Promotif dan Prefentif Promotif memberikan penyuluhan tenteng masalah yang berkaitan dengan mental emosional misal:tentang penyuluhan kenakalan anak remja; cara menangani pasien kalau sudah pulang; Penyalah gunaan obat dan NAPZA . Preventif memberikan pencegahan agar orang yang mengalami stres tidak menjadi jatuh sakit 2. Kuratif

Child Abuse

Page 2

Yaitu : Tindakan pengobatan yang dilakukan tenaga medis maupun perawat dan tenaga ahli lainnya dalam rangka usaha membantu kesembuhan pasien agar terbebas dari sakitnya

3. Rehabilitasi Yaitu : Usaha mengembalikan fungsi/keahlian/ketrampilan pasien agar keahlian yang dimiliki dapat berfungsi kembali sehingga setelah pulang pasien mampu hidup secara mandiri 4. Usaha keswamas Uasah kesehatan jiwa masyarakat Gangguan suasana perasaan merupakan bagian dari depresi, Depresi itu sendiri merupakan gangguan gangguan tersendiri ataupun sebagai gejala nyat dari suatu gangguan jiwa, Baik sebagai gejala tersendiri, ataupun sebagai gejala penyerta, Depresi merupakan gangguan yang banyak dijumpai, dikatakan bahwa sekitar 30-40% penderita dirawat di RSJ merupakan penderita depresi (Psikiatri hal 11. 1) Usaha keperawatan mental psikiatri ini dibuat dengan tujuan memenuhi tugas laporan praktek klinik keperawatan III, dengan harapan mahasiswa akper baik di Puskesmas, rumah sakit, mampu mendeteksi secara dini masalah kesehatan mental psikiatri

B. BATASAN MASALAH Dalam menyusun laporan ini penulis membatasi masalah pada asuhan keperawatan dengan Perilaku Kekerasan pada Anak dari tinjuan Konseptual dan kasus Fiktif. C. TUJUAN PENULISAN Tujuan umum

Child Abuse

Page 3

Untuk mengetahui Konsep Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Perilaku Kekerasan pada anak 1. Tujuan Khusus a. Menjelasakan tentang Konsep Teori Kekerasan pada anak . b. Menjelasakan tentang Konsep Asuhan Keperawatan dengan perilaku kekerasan pada anak. c. Menjelaskan tentang asuhan keperawatan kasus fiktif perilaku kekerasan pada anak.

BAB II TINJAUAN TEORITIS

CHILD ABUSE A. Pengertian
• • • • •

Child Abuse : tindakan yang mempengaruhi perkembangan anak sehingga tidak optimal lagi Child Abuse : perlakuan salah terhadap fisik dan emosi anak, menelantarkan pendidikan dan kesehatannya dan juga penyalahgunaan seksual Child Abuse adalah penganiayaan, penelantaran dan eksploitasi terhadap anak, dimana ini adalah hasil dari perilaku manusia yang keliru terhadap anak Physical abuse adalah penganiayaan fisik ketika anak-anak mendapatkan luka atau terluka oleh karena tindakan orang tua atau orang lain Physical abuse terjadi ketika orang tua atau pengasuh dan pelindung anak ( ketika sebenarnya anak membutuhkan perhatian ) melakukan pemukulan atau kekerasan secara fisik pada anak

B. Etiologi Faktor Predisposisi & Presipitasi

Child Abuse

Page 4

b. Contoh yang bisa dilihat adalah anak mengalami cacat fisik. Tingkah laku berbeda. Sehingga apapun akan dilakukan Child Abuse Page 5 . Stres yang berasal dari anak a. kedua faktor ini merupakan faktor terkuat yang menyebabkan terjadinya kekerasan pada anak. Kemiskinan dan pengangguran. Misalnya anak berperilaku dan bertingkah aneh di dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. yaitu anak memiliki tingkah laku yang tidak sewajarnya dan berbeda dengan anak lain. Fisik berbeda. yang dimaksud dengan fisik berbeda adalah kondisi fisik anak berbeda dengan anak yang lainnya. e. anak angkat cenderung mendapatkan perlakuan kasar disebabkan orangtua menganggap bahwa anak angkat bukanlah buah hati dari hasil perkawinan sendiri. Stress keluarga a. 2. anak dengan temperamen yang lemah cenderung mengalami banyak kekerasan bila dibandingkan dengan anak yang memiliki temperamen keras. Baik kekerasan fisik maupun kekerasan psikis. Hal ini disebabkan karena anak yang memiliki temperamen keras cenderung akan melawan bila dibandingkan dengan anak bertemperamen lemah. Temperamen berbeda. diantaranya adalah: 1.Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak mengalami kekerasan. Mental berbeda. Anak mempunyai kelainan fisik dan berbeda dengan anak lain yang mempunyai fisik yang sempurna. d. sehingga secara naluriah tidak ada hubungan emosional yang kuat antara anak angkat dan orang tua. yaitu anak mengalami keterbelakangan mental sehingga anak mengalami masalah pada perkembangan dan sulit berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya. c. sebab kedua faktor ini berhubungan kuat dengan kelangsungan hidup. Anak angkat.

Waktu kecil mendapat perlakuan salah. Rendah diri. orangtua yang mengalami perlakuan salah pada masa kecil akan melakuakan hal yang sama terhadap orang lain atau anaknya sebagai bentuk pelampiasan atas kejadian yang pernah dialaminya. harapan yang tidak realistis akan membuat orangtua mengalami stress berat sehingga ketika tidak mampu memenuhi memenuhi kebutuhan anak. c. mengabaikan anak. c. Klasifikasi • Emotional Abuse Perlakuan yang dilakukan oleh orang tua seperti menolak anak.oleh orangtua terutama demi mencukupi kebutuhan hidupnya termasuk harus mengorbankan keluarga. isolasi. Mobilitas. Harapan pada anak yang tidak realistis. sebab anak akan kehilangan kasih sayang dari kedua orangtua. sebab anak tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orangtua. Stress berasal dari orangtua a. Anak yang tidak diharapkan. 3. anak dengan rendah diri akan sering mendapatkan kekerasan. meneror. lemah mental. ketiga faktor ini juga berpengaruh besar terhadap terjadinya kekerasan pada anak. b. d. C. Perceraian. sebab lingkungan sekitarlah yang menjadi faktor terbesar dalam membentuk kepribadian dan tingkah laku anak. dan perumahan tidak memadai. dsb. perceraian mengakibatkan stress pada anak. hal ini juga akan mengakibatkan munculnya perilaku kekerasan pada anak. atau mengisolasi anak. misalnya kekurangan fisik. Hal tersebut akan membuat anak merasa Child Abuse Page 6 . sebab anak selalu merasa dirinya tidak berguna dan selalu mengecewakan orang lain. orangtua cenderung menjadikan anak sebagai pelampiasan kekesalannya dengan melakukan tindakan kekerasan. b.

luka bakar atau cedera di kepala atau lengan. ditinggalkan. - Child Abuse Page 7 . sering tidur. selalu mengantuk. mencuri. pakaian. atau dapat juga diartikan sebagai tindakan yang dilakukan oleh pengasuh sehingga mencederai anak. sosial. mental dan emosional anak. gangguan pertumbuhan fisik dan perkembangan. menipu. kurangnya perhatian pada masalah kesehatan. takut pada orang tua. masalah kesehatan yang tidak ditangani. kebersihan diri yang rendah. Biasanya berupa luka memar. masalah kesehatan yang tidak ditangani. Indikator fisik – luka memar.dirinya tidak dicintai. • Neglect Kegagalan orang tua untuk memberikan kebutuhan yang sesuai bagi anak. kurangnya perhatian. patah tulang. makanan. Indikator kebiasaan ¬ Meminta atau mencuri makanan. rambut yang tercabut. mengigit. atau meninggalkan anak sendirian atau dengan seseorang yang tidak dapat merawatnya . Indikator perilaku – kelainan keiasaan (menghisap. berbohong. pakaian yang kurang memadai (pada musim dingin). seperti tidak memberikan rumah yang aman. Indikator fisik kelainan bicara. takut untuk pulang ke rumah. berperilaku ekstrem seerti agresif atau menyendiri. Hal ini akan menyebabkan kerusakan mental fisik. atau memukulmukul) • Physical Abuse Cedera yang dialami oleh seorang anak bukan karena kecelakaan atau tindakan yang dapat menyebabkan cedera serius pada anak. pengobatan. cakaran Indikator perilaku – waspada saat bertemu degan orang dewasa. - Indikator fisik – kelaparan. gigitan manusia. atau merasa buruk atau tidak bernilai.

Kerusakan fisik : pertumbuhan dan perkembangan tubuh kurang normal atau bahkan mengalami kecacatan dan rusaknya sistem syaraf. perilaku sex bebas. tidak mau berpartisipasi dalam kegiatan fisik. berperilaku permisif/ berperilaku yang menggairahkan. memar atau perdarahan di area genital/ rektal. mengambil gambar pornografi anak-anak. tindak kekerasan. Dampak Child Abuse Child abuse ini menimbulkan dampak (Moore. penyalahgunaan NAPZA. perubahan pada penampilan. Indikator kebiasaan – pengetahuan tentang seksual atau sentuhan seksual yang tidak sesuai dengan usia. atau aktifitas sexual lainnya kepada anak. Sering menjadi korban eksploitasi dan penindasan dari orang dewasa. 3. 5. dan perilaku anti sosial. Besar kemungkinan setelah dewasa akan memberi perlakuan keras secara fisik pada anaknya. adanya noda atau darah di baju dalam. penurunan keinginan untuk sekolah. berpenyakit kelamin.2004) diantaranya : 1. Indikator fisik – kesulitan untuk berjalan atau duduk. Anak bisa saja kehilangan keceriaannya karena kekerasan yang dialaminya hingga malas untuk bermain. Anak kehilangan hak untuk menikmati masa kanak-kanaknya. 4. Sering pada saat dewasa membawa dampak psikologis : labilitas emosi. kurang bergaul dengan teman sebaya. gangguan tidur. 2. perilaku regressif (misal: ngompol) D. nyeri atau gatal di area genital.• Sexual Abuse Termasuk menggunakan anak untuk tindakan sexual. perilaku agresif. Anak yang pernah menjadi korban kekerasan lagi dan semakin ditindas orang dewasa bila tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Child Abuse Page 8 .

Memar multiple atau memar pada tempat-tempat yang tidak terjangkau menunjukkan bahwa anak itu telah mengalami penganiayaan. Adanya akumulasi darah dapat membantu membedakan antara kerontokan rambut akibat penganiayaan atau non-penganiayaan. Muka dan Mulut  Luka. Cidera Eksternal pada Kepala. Cidera Termal Disengaja atau Diketahui Sebabnya Page 9  Child Abuse . namun yang tampak adalah cidera yang tidak biasa. semuanya dapat mengindikasikan adanya penganiayaan. laserasi pada lidah dan kedua mata biru tanpa trauma pada hidung. Jatuh  Jika seorang anak dilaporkan mengalami kejatuhan biasa. Kerontokan Rambut Traumatik  Kerontokan rambut traumatik terjadi ketika rambut anak ditarik. atau dipakai untuk menyeret atau menyentak anak. perdarahan. tanda hisapan atau tanda dorongan lidah. kemerahan atau pembengkakan pada kanal telinga luar. Tanda dan Gejala Tanda fisik yang bisa dijumpai pada physical abuse :  Cidera Kulit Cidera kulit adalah tanda-tanda penganiayaan anak yang paling umum dan paling mudah dikenali. Memar yang ada dalam berbagai tahap penyembuhan menunjukkan adanya trauma yang terjadi berulang kali. Memar berbentuk objek yang dapat dikenali umumnya bukan suatu kebetulan. Akibatnya yang paling fatal adalah kematian E.6. maka ketidaksesuaian riwayat dengan trauma yang dialami tersebut menimbulkan kecurigaan adanya penganiayaan terhadap anak. gigi yang goyang atau patah. bibir pecahpecah. Bekas gigitan manusia tampak sebagai daerah lonjong dengan bekas gigi. Akibatnya pada kulit kepala dapat memecahkan pembuluh darah di bawah kulit.

tanpa perlu bukti-bukti cidera eksternal. Hal ini dapat menimbulkan cidera berat pada system saraf pusat. Menurut American Academy Of Child Adolescent Psychiatry (2007) anak telah mengalami penganiayaan dapat menunjukkan ciri-ciri :  Mempunyai gambaran diri yang lemah & tidak bisa menjalankan peran  Ketidakmampuan untuk percaya atau mencintai orang lain  Agresif. merusak diri sendiri. Sindroma Bayi Terguncang  Guncangan pada bayi menimbulkan cidera ekslersi deselersi pada otak. pemikiran tentang bunuh diri  Pasif. merasa sedih yang berlebih atau merasa tertekan  Permasalahan sekolah atau kegagalan dan penyalahgunaan NAPZA Child Abuse Page 10 . Fraktur dan Dislokasi yang Tidak Dapat Dijelaskan  Fraktur Iga Posterior dalam berbagai tahap penyembuhan. menyebabkan regangan dan pecahnya pembuluh darah. dengan garis batas jelas. menarik diri. dan berperilaku tidak benar  Kemarahan dan amuk.Luka bakar terculap. luka bakar daerah popok dan luka bakar tali semuanya memberikan kesan adanya tindakan jahat yang disengaja. luka bakar sirkuler kecil-kecil dan banyak dalam berbagai tahap penyembuhan. fraktur spiral atau dislokasi karena terpelintirnya ekstremitas merupakan bukti cidera pada anak yang tidak terjadi secara kebetulan. mengganggu. luka bakar setrikaan. dan perilaku mengandung kutukan  Ketakutan melakukan aktivitas atau hubungan interpersonal yang baru  Khawatir dan takut.

menunjukkan perhatian yang sedikit pada anak  Menyangkal keberadaan anak dan menyalahkan anak baik tentang permasalahan di sekolah maupun di rumah  Meminta pada guru atau pejabat di sekolah untuk menggunakan kekerasan fisik dalam menegakkan disiplin pada anak yang berbuat nakal/jahat  Child Abuse Selalu melihat anak tidak baik. 2. tidak berharga atau membebani Page 11 . mimpi buruk Menurut Child Welfare Information Gateway (2006) tanda dan gejala yang sering dijumpai pada physical abuse adalah : 1. Orang tua :  Pengawasan orang tua yang kurang. menarik diri Datang ke sekolah dan aktifitas lain lebih awal dan pulang terlambat (seperti ingin pergi dari rumah). Gangguan tidur. pasif. Anak :  Menunjukkan adanya perubahan yang mendadak di dalam perilaku atau prestasi sekolah  Belum atau tidak menerima bantuan baik secara fisik maupun permasalahan medis yang seharusnya diberikan oleh orang tua  Selalu dalam kewaspadaan seolah-olah bersiap mengahadapi sesuatu yang tidak menyenangkan/mengancamnya akan terjadi   Menuntut yang berlebihan.

perdarahan retina. 3.Penganiayaan fisik Tanda patogomonik akibat penganiayaan anak dapat berupa:  Luka memar. seperti fraktur tengkorak. pemeriksaan fisik yang teliti. terutama di wajah. dokumentasi riwayat psikologik yang lengkap. F. mulut. kepala. pencelupan kakitangan dalam air panas. trauma intrakranial. atau luka bakar berbentuk lingkaran pada bokong. Luka bakar akibat aliran listrik seperti oven atau setrika. telinga. Child Abuse Page 12 . Evaluasi Diagnostik Diagnostik perlakuan salah dapat ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit. dan laboratorium. atau punggung. bibir.  Trauma kepala. Menuntut tingkatan fisik serta pencapaian akademis yang tidak mungkin dicapai oleh anak. • Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik . dan fraktur tulang panjang yang multipel dengan tingkat penyembuhan yang berbeda. Orang tua dan anak :   Jarang bersentuhan atau saling berpandangan Memandang hubungan antara orang tua dan anak sebagai hal negatif seluruhnya  Mengatakan tidak suka satu sama lain.  Luka bakar yang patogomonik dan sering terjadi: rokok.

Penganiayaan fisik lebih dominan pada anak di atas usia 2 tahun. Tidak sesuai dengan pengetahuan seksual dengan umur anak serta tingkah laku yang menggairahkan.  Pubertas prematur pada wanita  Tingkah laku yang spesifik: melakukan aktivitas seksual dengan teman sebaya. Kegagalan yang disengaja oleh orangtua juga mencakup kelalaian merawat kesehatan gigi dan mulut anak sehingga mengalami kerusakan gigi. Trauma abdomen dan toraks lebih jarang dibanding trauma kepala dan tulang pada penganiayaan anak. yaitu tidak mendapat pengobatan yang memadai pada anak penderita penyakit kronik karena orangtua menyangkal anak menderita penyakit kronik. anus.  Pengabaian medis. enuresis. Tidak mampu imunisasi dan perawatan kesehatan lainnya. konstipasi atau encopresis.  Disuria kronik. Child Abuse Page 13 . atau objek tertentu. . . binatang. yaitu suatu kondisi yang mengakibatkan kegagalan mengikuti pola pertumbuhan dan perkembangan anak yang seharusnya.Penganiayaan seksual Tanda dan gejala dari penganiayaan seksual terdiri dari:  Nyeri vagina. dan penis serta adanya perdarahan atau sekret di vagina. tetapi respons baik terhadap pemenuhan makanan dan kebutuhan emosi anak.Pengabaian  Pengabaian non organic failure to thrive.

Child Abuse Page 14 . • Laboratorium Jika dijumpai luka memar. mimpi buruk. yaitu untuk:  Identifiaksi fokus dari jejas  Dokumentasi Pemeriksaan radiologi pada anak di bawah usia 2 tahun sebaiknya dilakukan untuk meneliti tulang. rendah diri. depresi. dan vaginal untuk genokokus  Tes untuk sifilis. anal. perasaan takut pada orang dewasa.  Kultur spesimen dari oral. dan hepatitis B  Analisa rambut pubis • Radiologi Ada dua peranan radiologi dalam menegakkan diagnosis perlakuan salah pada anak. sedangkan pada anak diatas 4-5 tahun hanya perlu dilakukan jika ada rasa nyeri tulang. keterbatasan dalam pergerakan pada saat pemeriksaan fisik. menarik diri. prostitusi. Pada penganiayaan seksual. spermatozoa dalam 72 jam setelah penganiayaan seksual. Adanya fraktur multiple dengan tingkat penyembuhan adanya penyaniayaan fisik. HIV. gangguan makan. gangguan tidur. perlu dilakukan skrining perdarahan. dilakukan pemeriksaan:  Swab untuk analisa asam fosfatase. Tingkah laku yang tidak spesifik: percobaan bunuh diri. dsb. gangguan stres post-traumatik.

Pendidikan kehidupan keluarga di sekolah. Child Abuse Page 15 .Pelayanan referensi perawatan jiwa . • MRI (Magnetik Resonance Imaging) lebih sensitif pada lesi yang subakut dan kronik seperti perdarahan subdural dan sub arakhnoid. Penatalaksanaan Pencegahan dan penanggulangan penganiayaan dan kekerasan pada anak adalah melalui: 1. hanya diindikasikan pada pengniayaan anak atau seorang bayi yang mengalami trauma kepala yang berat.Pendidikan perawatan bayi bagi remaja yang merawat bayi . • Prevensi primer-tujuan: promosi orangtua dan keluarga sejahtera Individu : . dan masyarakat . dan masyarakat. • Ultrasonografi digunakan untuk mendiagnosis adanya lesi visceral Pemeriksaan kolposkopi untuk mengevaluasi anak yang mengalami penganiayaan seksual. keluarga.• CT-scan lebih sensitif dan spesifik untuk lesi serebral akut dan kronik. tempat ibadah.Pendidikan seksual pada remaja yang beresiko .Pendidikan pada anak tentang cara penyelesaian konflik .Pelatihan bagi tenaga profesional untuk deteksi dini perilaku kekerasan. Pelayanan kesehatan Pelayanan kesehatan dapat melakukan berbagai kegiatan dan program yang ditujukan pada individu. • G.

institusi di masyarakat .Keluarga : .Pengkajian yang lengkap pada tiap kejadian kekerasan pada keluarga pada tiap pelayanan kesehatan .Pelayanan 16ocial untuk keluarga Komunitas : .Mengembangkan pelayanan dukungan masyarakat.Rencana penyelamatan diri bagi korban secara adekuat . tempat penampungan anak/keluarga/usia lanjut/wanita yang dianiaya .Pengetahuan tentang hukuman untuk meminta bantuan dan perlindungan .Mengurangi media yang berisi kekerasan .Kelas persiapan menjadi orangtua di RS.Rujuk orangtua baru pada perawat Puskesmas untuk tindak lanjut (follow up) .Pendidikan kesehatan tentang kekerasan dalam keluarga . seperti: pelayanan krisis.Kontrol pemegang senjata api dan tajam • Prevensi sekunder-tujuan: diagnosa dan tindakan bagi keluarga yang stress Individu : .Pelayanan masyarakat untuk individu dan keluarga Child Abuse Page 16 .Memfasilitasi jalinan kasih 16ocial pada orangtua baru .Tempat perawatan atau “Foster home” untuk korban Keluarga : . sekolah.

dan pemerintah setempat .Peran serta pemerintah: polisi.Self-help-group (kelompok peduli) Komunitas : Child Abuse Page 17 . pelayanan kasus.Tim pemeriksa mayat akibat kecelakaan/cedera khususnya bayi dan anak.Kontrol pemegang senjata api dan tajam • Prevensi tertier-tujuan: redukasi dan rehabilitasi keluarga dengan kekerasan Individu : .Rujuk pada lembaga/institusi di masyarakat yang memberikan pelayanan pada korban Komunitas : . pengadilan.. .Unit gawat darurat dan unit pelayanan 24 jam memberi respon. melaporkan.Konseling profesional pada individu Keluarga : .Strategi pemulihan kekuatan dan percaya diri bagi korban . .Redukasi orangtua dalam pola asuh anak .Rujuk pada kelompok pendukung di masyarakat (self-help-group). Misalnya: kelompok pemerhati keluarga sejahtera .Pendekatan epidemiologi untuk evaluasi .Konseling profesional bagi keluarga .Semua profesi kesehatan terampil memberikan pelayanan pada korban dengan standar prosedur dalam menolong korban . koordinasi dengan penegak hukum/dinas sosial untuk pelayanan segera.

Kontrol pemegang senjata api dan tajam 2.. Dampak pada anak baik jangka pendek maupun jangka panjang diberitakan agar program pencegahan lebih ditekankan. mammae dalam pelajaran biologi. yaitu penis.“Foster home”. Child Abuse Page 18 . Hal ini akan melindungi anak dari semua bentuk penganiayaan dan kekerasan. Pendidikan Sekolah mempunyai hak istimewa dalam mengajarkan bagian badan yang sangat pribadi. Guru juga dapat membantu mendeteksi tanda2 aniaya fisik dan pengabaian perawatan pada anak. Perlu ditekankan bahwa bagian tersebut sifatnya sangat pribadi dan harud dijaga agar tidak diganggu orang lain. Sekolah juga perlu meningkatkan keamanan anak di sekolah. 3. Bab II pasal 2 menyebutkan bahwa “anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya secara wajar. Sikap atau cara mendidik anak juga perlu diperhatikan agar tidak terjadi aniaya emosional.Peran serta pemerintah . Media massa Pemberitaan penganiayaan dan kekerasan pada anak hendaknya diikuti oleh artikel2 pencegahan dan penanggulangannya. Penegak hukum dan keamanan Hendaknya UU no.4 thn 1979. anus.“follow up” pada kasus penganiayaan dan kekerasan . vagina. 4. tempat perlindungan . tentang kesejahteraan anak cepat ditegakkan secara konsekuen.

Psikososial : • • • • Melalaikan diri (neglect). Genito Urinaria • • • Infeksi saluran kemih Perdarahan per vagina Luka pada vagina/penis Child Abuse Page 19 . bau Gagal tumbuh dengan baik Keterlambatan perkembangan tingkat kognitif. Muskuloskeletal • • • Fraktur Dislokasi Keseleo (sprain) 3.ASUHAN KEPERAWATAN PADA CHILD ABUSE A. dan psikososial With drawl (memisahkan diri) dari orang2 dewasa 2. baju dan rambut kotor. antara lain : 1. psikomotor. Pengkajian Fokus pengkajian secara keseluruhan untuk menegakkan diagnosa keperawatan berkaitan dengan child abuse.

Integumen • • • • Lesi sirkulasi (biasanya pada kasus luka bakar oleh karena rokok) Luka bakar pada kulit. dan anus 4.• • Nyeri waktu miksi Laserasi pada organ genetalia eksternal. vagina. memar dan abrasi Adanya tanda2 gigitan manusia yang tidak dapat dijelaskan Bengkak Child Abuse Page 20 .

Diagnosa Keperawatan 1. Lindungi anak dari cedera lebih Menghindari anak dari cedera/luka yang lanjut lebih parah dan meminimalkan dampak ditimbulkan. Resiko perilaku kekerasan oleh anggota keluarga yang lain ber-hubungan dengan kela- kuan yang maladaptive. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan anak berhubungan dengan tidak adekuatnya perawatan 4. seksual / emosional tindakan yang tepat untuk menghindari lebih lanjut. kompromi berhubungan dengan faktor-faktor yang menyebabkan Child Abuse 3. Intervensi keperawatan : Intervensi Rasional 1. penyalahgunaan obat. psikologis yang 2. percobaan bunuh diri. penganiayaan anak 3.B. 2. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan perilaku agresif. Intervensi Keperawatan 1. C. perilaku anti sosial. DK : Resti cidera b/d perilaku agresif Tujuan : Anak tidak mengalami cedera. Peran orang tua berubah berhubungan dengan ikatan keluarga yang terganggu. masalah disekolah dan pekerjaan. Tidak efektifnya koping keluarga. 5. Laporkan Child Abuse kecurigaan adanya Dengan melaporkan adanya kecurigaan Page 21 . Bantu diagnosis penganiayaan anak Membantu dalam menentukan altenatif : fisik.

memecahkan masalah yang keluarga keluar dengan untuk spesifik. Dorong anak dan keluarga untuk Dengan mendorong yang mungkin menyebabkan perilaku dapat Child Abuse mengungkapkan perasaan tentang apa mendiskusikan masalah mereka maka dicari jalan Page 22 . 3. DK : Tidak efektifnya koping keluarga. Lakukan resusitasi dan stabilisasi Resusitasi dan stabilisasi dilakukan ketika seperlunya anak mendapatkan penganiayaan yang mengalami henti sampai stabil dan menyebabkan nafas. 2. anak ke berapa dalam keluarga. Konsulkan pada pekerja sosial dan Keluarga dengan Child Abuse & neglect support kelompok dapat pelayanan kesehatan pribadi yang tepat biasanya memerlukan kerja sama multi mengenai problem keluarga. terapi untuk individu atau keluarga membantu. tawarkan disiplin. dilakukan dibawa ke rumah sakit. Identifikasi faktor-faktor menyebabkan rusaknya Rasional Dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang yang dilakukan berwenang intervensi pada yang dibutuhkan dan penyerahan pada pejabat pelayanan kesehatan dan organisasi social yang mekanisme koping pada keluarga.faktor yang menyebabkan Child Abuse Tujuan : Mekanisme koping keluarga menjadi efektif Intervensi keperawatan: Intervensi 1. usia orang tua. 4. adanya support system dan kejadian lainnya 2. kompromi berhubungan dengan faktor.penganiayaan adanya terjadinya penganiayaan anak seperti mencegah lebih serius cedera yang luka pada kulit dapat pada anak serta mencegah kematian anak. status sosial ekonomi terhadap perkembangan keluarga.

orang tua tentang Orang tua mungkin mempunyai harapan anak yang tidak realistis tentang pertumbuhan Ajarkan perkembangan & pertum-buhan sesuai tingkat umur.kekerasan. psikomotor dan dengan tingkatan umurnya Intervensi Keperawatan: Intervensi Rasional 1. 2 bulan. 4. 4. Ajarkan kemampuan dan perkem-bangan anak merawat spesifik dan terapkan tehnik disiplin 3. bermain (seperti. Aktivitas dapat engkoreksi masalah meningkatkan per-kembangan dari perkembangan penurunan kemampuan kognitif terganggu psikomotor dan psikososial 3. Tentukan tahap perkembang-an Dengan menentukan tahap perkembangan anak anak seperti 1 bulan. Kekerasan pada anak akan menyebabkan karena hubungan tugas yang psikososial dapat disesuai-kan sepeda. dll) keterlambatan perkembangan akibat dari antara orang tua dan anak untuk keluarga. memodifikasi perilaku mereka.Program stimulasi dapat membantu meningkatkan kembangan dan pertumbuhan yang perkembangan menentukan intervensi yang tepat Child Abuse Page 23 . sehingga orang tua dan anak mereka dapat merencanakan tujuan jangka panjang dan jangka pendek 2. 6 dapat membantu perkembangan yang diharapkan bulan dan 1 tahun. Melakukan aktivitas membaca. Diskusikan hasil test kepada Orang tua dan anak akan menyadari. Libatkan keterlambatan normal per. DK: Perubahan pertumbuhan dan perkembangan anak berhubungan dengan tidak adekuatnya perawatan Tujuan : Perkembangan kognitif anak.

komunitas dan psikolologis. DK : Peran orang tua berubah berhubungan dengan ikatan keluarga yang terganggu. DK : Resiko perilaku kekerasan oleh anggota ke-luarga yang lain berhubungan dengan kelakuan yang maladaptive. Selidiki faktor yang dapat Dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kekerasan menye-babkan perilaku kekerasan akan lebih seperti minum alkohol atau obat.4. Tujuan : Perilaku orang tua yang kasar dapat menjadi lebih efektif Child Abuse Page 24 . membantu dirinya mencegah kekambuhan 3. 4. Tujuan : Perilaku kekerasan pada keluarga dapat berkurang. Identifikasi perilaku kekeras-an. Dengan mengidentifikasi perilaku kekerasan saat menggunakan/ mengkonsumsi dapat membantu menentukan intervensi yang alkohol atau obat atau saat tepat menganggur. Melaporkan seluruh kejadian Perawat mempunyai tang-gung jawab legal keakuratan data untuk investigasi yang aktual yang mungkin terjadi untuk melaporkan semua kasus dan menyimpan kepada pejabat berwenang 5. Intervensi Keperawatan : Intervensi Rasional 1. Menyarankan keluarga kepada Terapi keluarga menekan dan memberikan seorang terapi keluarga yang tepat support kepada seluruh keluarga untuk mencegah kebiasaan yang terdahulu. 5. Lakukan konsuling kerjasama konseling dapat membantu perkembangan multidisiplin.memberikan kesadaran akan tipe situasi yang obatan mempengaruhi perilku. termasuk organisasi koping yang efektif. 2.

Berikan model peranan untuk Model orang tua peranan untuk orang tua. memungkinkan orang tua untuk menciptakan perilaku orang tua yang tepat 3.Intervensi Keperawatan : Intervensi Rasional 1. Diskusikan ikatan yang wajar Menyadarkan orang tua akan perikatan normal dan perikatan dengan orang tua yang dan proses pengikatan akan membantu dalam keras mengembangkan keahlian menjadi orang tua yang tepat 2. konsultasi dan intervensi seperlunya Child Abuse Page 25 . Arahkan orang tua ke pelayanan Kelas akan memberikan teladan & forum kesehatan yang tepat untuk praktek untuk mengembangkan keahlian orang tua yang efektif. Dukung mendaftarkan tepat pasien untuk Kelas akan memberikan teladan & forum dalam kelas yang praktek untuk mengembangkan keahlian orang mengajarkan keahlian orang tua tua yang efektif 4.

psikomotor dan psikososial dapat disesuaikan dengan tingkatan umurnya Perilaku kekerasan pada keluarga dapat berkurang Perilaku orang tua yang kasar dapat menjadi lebih efektif 4.D. 2. Anak tidak mengalami cedera Mekanisme koping keluarga menjadi efektif Perkembangan kognitif anak. Evaluasi 1. Child Abuse Page 26 . 3. 5.

P 35 tahun Laki-laki Hindu SD Wiraswasta Status perkawinan: Suku/Bangsa : Belum menikah Menikah Bali/Indonesia Bali/Indonesia Child Abuse Page 27 . Pengumpulan Data 1) Identitas Nama Umur Jenis kelamin Agama Pendidikan Pekerjaan : : : : : : : Klien AR 12 tahun Laki-laki Hindu SD tidak tamat Penanggung D. Pengkajian Pengkajian dilakukan pada tanggal 23-Oktober 2010 pukul 10.00 wita di ruang Drupadi BPK RSJ Propinsi Bali di Bangli.BAB III KAJIAN KASUS 1. observasi dan catatan medik klicn dan kunjungan rumaai sehingga didapat data : a. Pengumpilan data dilakul:an dengan cara anamnesa.

kec Rendang Karangasem No CM Hub. Pasaban Kaler Br. Pesaban. Pasaban Kaler Ds. kec Ds. Dengan klien : : 108264 Paman Rendang Karangasem Child Abuse Page 28 .Alamat : Br. Pesaban.

Klien mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan yaitu semenjak umur 8 tahun ditinggal orang tuanya menjadi TKW keluar negeri dan tidak pulang-pulang. Karena tidak bisa diatasi maka keluarga langsung mengajak klien ke IRD BPK RSJ Propinsi Bali dan disarankan MRS. 3) Fantor Prcdisposisi dan Presipitasi Klien sebelumnya belum pernah mengalami sakit jiwa dan pertama kali dirawat di RSJ Bangli. ketawa dan bicara sendiri. Klien juga mengamuk dengan membanting barang disekitarnya bila didekati oleh keluarganya. sering menangis. Klien selalu menundukkan kepala saat berbicara dengan perawat kontak mata kurang serta jarang berinteraksi dengan orang lain. b) Keluhan saat pengkajian klien lebih banyak diam. Dan mendapatkan terapi injeksi lodorner IM I ampul dan diazepam injeksi IV 1 ampul. Ekonomi nenek klien sangat kekurang. oleh karena itu sejak kecil klien diajak jualan sayur keliling kampung. klien hanya mau menjawab pertanyaan yang diajukan dengan singkat.2) Alasan Masuk a) Keluhan saat MRS Klien datang ke IRD BPK RSJ Propinsi Bali diantar oleh keluarga klien dikeluhkan suka mengurung diri di kamar. Sehingga klien dan adikanya diasuh oleh neneknya. dan Child Abuse Page 29 .

pasien merasa sangat malu akan hal itu. Sejak saat ini klien mulai murung. . 4) a) Tekanan darah Nadi Suhu Pernafasan b) BB c) Pemeriksaan Fisik Tanda Vital : 120/80 mm Hg : 80 x/menit : 37 o C : 24 x/menit Pengukuran : 42 TB : 157 cm : Tidak ada Keluhan fisik Child Abuse Page 30 . dari faktor keturunan tidak ada keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Sedangkan faktor presipitasinya yakni klien ditinggal menikah oleh orang yang dicintainya (± 3 minggu sebelum MRS). senang menyendiri dan bengongbengong. Klien juga pernah mengamuk karena kecewa dengan orang tuanya yang tega menelantarkan anak-anak mereka. Klien hanya sekolah sampai kelas 4 SD karena tidak punya biaya.

Penjelasan : Child Abuse Page 31 .1) Status Psikososial 1) Genogram 1 2 Keterangan : Laki-laki : Perempuan : Meninggal 12 : Umur klien : Klien : Tinggal serumah Gambar 4 : Genogram klien AR dengan gangguan hubungan sosial : menarik diri.

(2) Identitas Diri Klien menyadari dirinya dan merasa kurang puas dengan keadaannya tersebut. (3) Peran Diri Sebelum dirawat. Klien berumur 12 tahun. klien berperan sebagai seorang anak tertuadari tiga bersaudara dan setelah dirawat klien berperan sebagai pasien dan cukup kooperatif dalam proses pengobatan. b) Konsep Diri (1) Citra Tubuh Klien menganggap dirinya biasa saja dan menerima tubuhnya apa adanya tapi klien tidak suka dengan rambutnya yang kriting dan sudah pernah diluruskan tapi setelah itu kriting lagi. klien tinggal serumah dengan ayah.Klien adalah anak pertama dari tiga bersaudara. (4) Ideal Diri Child Abuse Page 32 . Hubungan klien dengan keluarga kurang terjalin semenjak ditinggal ortunya TKW dan klien lebih dekat dengan neneknya. ibu dan dua orang adiknya serta neneknya.

rambut klien tamapak tidak terawat. (2) Hubungan klien dengan perawat dan temannya kurang. karena klien ingin menjadi polisi t.acakan. klien hanya berbicara seperlunya apabila ditanya oleh perawat. (5) Harapan Diri Klien merasa rendah diri karena rambutnya kriting klien merasa malu dengan pendidikannya belum tamat SD.klien bisa baca tapi tidak lancar. b) Pembicaraan Klien berbicara lambat. pakaian yang digunakan kotor dan acak .Harapan klien sebelum sakit adalah ingin seperti anak lain yakni diasuh oleh orang tua dan sekolah tinggi. Child Abuse Page 33 . 6) Status Mental a) Penampilan Klien berpenampilan tidak rapi. sehingga klien merasa malu bergaul dengan temannya. klien tidak mampu memulai pembicaraan selama proses wawancara klien berbicara hanya ditanya oleh perawat dan seperlunya. c) Hubungan Sosial (1) Klien mengatakan di rumah hanya dekat dengan neneknya tapi di rumah sakit klien tidak mempunyai teman dekat.

f) Interaksi Selama Wawancara Selama wawancara klien mau menjawab sebatas pertanyan yang diberikan. Saat pengkaji klien mengatakan mendengar suara dan memiringkan telinga.c) Aktivitas Motorik Klien tampak lesu dan tidak bergairah pada saat diwawancarai dan banyak menunduk. d) Alam Perasaan Saat wawancara klien tampak sedih. murung. g) Persepsi Klien mengatakan kadang mendengar suara-suara kurang jelas isinya dan siapa yang berbicara. kontak mata antara klien dengan perawat kurang dan klien tampak lebih banyak menunduk. Child Abuse Page 34 . e) Efek Dari hasil observasi efek yang ditunjukan adalah efek tumpul yaitu hanya mererspon saat ada stimulus yang kuat. h) Proses Pikir Pada saat wawancara pembicara klien lambat dan berbata-bata tapi bisa menjawab sesuai dengan pertanyaan perawat.

Child Abuse Page 35 .i) Isi Pikir Saat pengkajian klien tidak mennjukan gangguan isi pikir seperti waham dan phobia.

tempat dan orang. saat ditanya 1 + 5 klien bisa menjawab dengan benar yaitu tetapi dalam waktu yang sangat lama. m) Kemampuan penelitian Saat diberikan pilihan seperti apakah klien mengambil pasta gigi dahulu atau menggosok gigi. k) Memori Klien tidak mengalami kesulitan untuk mengingat baik memori jangka pendek atau jangka panjang tentang peristiwa yang terjadi pada dirinya. l) Tingkat konsentrasi dan berhitung Selama wawancara klien agak sulit berkonsentrasi.j) Tingkat Kesadaran Dari hasil observasi dan wawancara klien tidak mengalami disorientasi waktu. n) Daya tilik diri Klien menyadari dirinya sakit dan perlu perawatan dan pengobatan. klien menjawab mengambil pasta gigi dahulu baru menggosok gigi. 7) Kebutuhan persiapan pulang a) Makan dan Minum Child Abuse Page 36 .

e) Istirahat dan tidur Klien biasa tidur siang malam mulai pukul 23. f) Penggunaan obat Klien mau minum obat yang diberikan oleh perawat sesuai dengan waktunya dan tidak mengalami efek sampin. Child Abuse Page 37 .00 sampai 06. g) Pemeliharaan kesehatan Sistem pendukung yang dimiliki adalah keluarga. Klien menggunakan alas kaki dan menyisir rambut.00 Wita. Bali di Bangli. meskipun masih perlu bantuan keluarganya. sehabis BAB dan BAK serta mampu membersihkan diri dan merapikan rambut. Nilai kemampuan klien dalam berpakaian cukup. c) Mandi Klien memerlukan batuan dalam hal mandi klien mandi 1 x sehari d) Berpakaian Klien mampu mengambil dan memilih pakaian yang sesuai situasi dan kondisi. b) BAB dan BAK Klien mampu menggunakan dan membersihkan WC. Jika klien sembuh keluarga mengatakan akan tetap mengajak klien kontrol ke RSJ Prov.Klien mengatakan biasa makan 3 kali sehari habis satu porsi tiap kali makan. Klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makannya.

10) Pengetahuan Klien tahu bahwa dirinya sakit dan sedang mendapatkan perawatan dan pengobatan. ibu dan adik serta neneknya. Tapi klien tidak tahu sistem pendukung dan koping mekanisme yang diperlukan untuk mengatasi masalahnya. i) Aktivitas di luar rumah Klien mengatakan belum siap jika sudah pulang untuk melakukan kegiatan diluar rumah seperti ke pasar atau kegiatan ada. Namun dengan cara-cara tersebut tidak akan menyelesaikan permasalahannya 9) Masalah psikososial dan lingkungan Klien tinggal bersama ayah. setelah ditinggal orang tuanya TKW lebih dekat dengan neneknya. 11) Diagnosa Aspek medis : Skizofrenia Hebefrenik Child Abuse Page 38 . 8) Mekanisme koping Klien menggunakan koping maladaptif yaitu represi dan isolasi dimana bila mempunyai masalah klien tidak pernah menceritakan masalah kepada siapapun dengan mencoba mengesampingan/melupakan permasalahannya.h) Aktivitas dalam rumah Klien mampu melaksanakan aktivitas di dalam rumah seperti menyapu halaman rumah.

Child Abuse Page 39 . Analisa Data Data yang sudah didapat dari pengkajian selanjutnya dianalisis dengan cara mengelompokkannya menjadi data objektif dan data subjektif.5 mg b.Therapi Medis : Chlorpromazine Trihezyphenidryl Stelazine 2 x 50 mg 1 x 1 mg 2 x 2.

klien tampak putus asa Kadang-kadang klien tampak memiringkan telinga ke arah tertentu seolah-olah sedang mendengarkan sesuatu Kontak mata kurang/sering menunduk Klien sering membesarkan hal negatif pada dirinya Kesimpulan 4 Kerusakan interaksi sosial menarik diri - - - 2 - Klien mengatakan kadang-kadang mendengarkan suarasuara yang tidak jelas - Perubahan persepsi sensori halusinasi dengar Harga rendah diri 3 - - Klien mengatakan malu/minder dengan rambutnya yang kriting Klien mengatakan malu dengan pendidikannya hanya tamat SD Klien mengatakan sering mengalami kegagalan dalam pekerjaan Klien merasa sedih dan rendah diri karena ditinggal kawin oleh orang yang dicintainya. - Child Abuse Page 40 . Klien tidak mengatakan tidak mempunyai teman dekat di RS - Data Obyektif 3 Klien jarang berinteraksi dengan pasien lain atau dengan petugas Kontak verbal pasif/tidak bisa memulai pembicaraan Kontak mata kurang/lebih sering mununduk efek tumpul.TABEL I ANALISA DATA KEPERAWATAN PASIEN AR DENGAN KERUSAKAN INTERAKSI SOSIAL MENARIK DIRI DI RUANG DRUPADI BPK RSJ PROPINSI BALI TANGGAL 10 JUNI 2008 N o 1 1 - Data Subyektif 2 Klien mengatakan lebih senang menyendiri dari pada berinteraksi dengan orang lain.

4 - Klien mengatakan bila ada masalah/stres lebih senang memendamnya dengan mencoba melupakan seolah tidak masalah - Klien sering Koping menggunakan individu koping maladaptif efektif tanpa mencoba untuk menyelesaikannya tak Child Abuse Page 41 .

klien mengatakan lebih senang menyendiri daripada Child Abuse Page 42 . Diagnosa Keperawatan 1) Kerusakan interaksi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah ditandai dengan klien mengatakan tidak mempunyai teman dekat di RS. Pohon Masalah Dari rumusan masalah tersebut maka dibuatlah pohon masalah sebagai berikut: Kerusakan interaksi sosial : menarik diri Perubahan Persepsi Sensori : Halusinasi Dengar Gangguan konsep diri : Harga diri rendah kronis Efek CP Caus e Koping Individu Takefektif Gambar 4 : Pohon masalah pada klien AR dengan kerusakan interaksi sosial : menarik diri e. Rumusan Masalah 1) Kerusakan interaksi sosial : menarik diri 2) Perubahan persepsi sensori : halusinasi dengar 3) Harga diri rendah 4) Koping individu tak efektif. d.c.

3) Harga diri rendah berhubungan dengan koping individu takefektif ditandai dengan klien mengatakan malu/minder dengan rambutnya yang kriting. 2000.xxxviii). klien tampak putus asa. klien merasa sedih dan rendah diri karena ditinggal kawin oleh orang yang dicintainya. 2. klien jarang berinteraksi dengan pasien lain atau petugas. klien malu dengan keadaannya sekarang. klien mengatakan malu dengan pendidikannya hanya tamat SD. Prioritas Diagnosa Keperawatan Dari diagnosa keperawatan di atas diprioritaskan berdasarkan keluhan yang paling dirasakan saat ini dan bila tidak diatasi akan mempengaruhi status fungsional klien (Carpenito. kontak mata kurang/lebih sering menunduk atek tumpul. kadang memiringkan telinga ke arah tertentu.berinteraksi dengan orang lain. Perencanaan a. kontak mata kurang/sering menunduk. klien sering membesarkan hal negatif pada dirinya kontak mata kurang saat wawancara. klien mengatakan sering mengalami kegagalan dalam pekerjaan. Maka Child Abuse Page 43 . 2) Perubahan Persepsi Sensori : halusinasi dengan berhubungan menarik diri ditandai dengan klien mengatakan kadang dengan mendengar suara-suara yang tidak jelas. kontak verbal pasif/tidak bisa memulai pembicaraan.

2) Perubahan persepsi sensori : halusinasi pendengaran berhubungan dengan menarik diri.prioritas perencanaan asuhan keperawatan pada klien AR dengan kerusakan interaksi sosial : menarik diri adalah sebagai berikut: 1) Kerusakan interaksi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah. 3) Harga diri rendah berhubungan dengan koping individu takefektif. Child Abuse Page 44 .

Sowden Betz Cicilia. Ilmu Kesehatan Anak I. 1998. Clinic Manual of Pediatric Nursing. Jakarta : FIK UI Ennis Sharon Axton.DAFTAR PUSTAKA Anna Budi Keliat. 1996. Jakarta : EGC. 2002. Whaley’s and Wong. 1999. Penganiayaan Dan Kekerasan Pada Anak.Mosby Company.4th Edition. Child Abuse Page 45 . Jakarta : EGC. Keperawatan Pediatric. Nelson.Pearson Education. Pediatric Nursing Care Plans. 2003.New Jersey.2nd Edition.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->