CHILD ABUSE PADA ANAK

MAKALAH

disusun untuk memenuhi tugas mata ajaran jiwa

oleh
Ida Farida

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIR LANGGA SURABAYA 2011

Child Abuse

Page 1

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG Dalam mencapai Indonesia sehat 2010 peningkatan mutu kesehatan yang berkualitas merupakan kebutuhan masyarakat. Hal ini penting mengingat makin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi masa sekarang yang sering menimbulkan perubahan pola hidup masyarakat yang berpengaruh terhadap kesehatan fisik mental dan sosial serta kesejahteraan masyarakat. Gangguan jiwa artinya menonjolnya gejala-gejala psikogenik, hal ini tidak berarti bahwa unsur yang lain tidak terganggu lagi, yang sakit dan yang menderita ialah ; Manusia seutuhnya dan bukan hanya badannya, jiwanya, dan lingkungannya. Dalam pemberian asuhan keperawatan pada klien dengan Perilaku kekerasan pada anak diperlukan sikap perawatan yang menerima klien, hangat, sederhana, dimana prinsip intervensi aktif adalah : menerima dan menenangkan klien bukan menggembirakan atau mengatakan bahwa klien tidak perlu khawatir. Untuk mengantisipasi hal tersebut dpat dipperlukan usaha-usaha pelayanan kesehatah jiwa seperti yang tercantum didalam undang-undang kesehatan jiwa no. 26 tahun 1992 pasal 27 yang meliputi : 1. Promotif dan Prefentif Promotif memberikan penyuluhan tenteng masalah yang berkaitan dengan mental emosional misal:tentang penyuluhan kenakalan anak remja; cara menangani pasien kalau sudah pulang; Penyalah gunaan obat dan NAPZA . Preventif memberikan pencegahan agar orang yang mengalami stres tidak menjadi jatuh sakit 2. Kuratif

Child Abuse

Page 2

Yaitu : Tindakan pengobatan yang dilakukan tenaga medis maupun perawat dan tenaga ahli lainnya dalam rangka usaha membantu kesembuhan pasien agar terbebas dari sakitnya

3. Rehabilitasi Yaitu : Usaha mengembalikan fungsi/keahlian/ketrampilan pasien agar keahlian yang dimiliki dapat berfungsi kembali sehingga setelah pulang pasien mampu hidup secara mandiri 4. Usaha keswamas Uasah kesehatan jiwa masyarakat Gangguan suasana perasaan merupakan bagian dari depresi, Depresi itu sendiri merupakan gangguan gangguan tersendiri ataupun sebagai gejala nyat dari suatu gangguan jiwa, Baik sebagai gejala tersendiri, ataupun sebagai gejala penyerta, Depresi merupakan gangguan yang banyak dijumpai, dikatakan bahwa sekitar 30-40% penderita dirawat di RSJ merupakan penderita depresi (Psikiatri hal 11. 1) Usaha keperawatan mental psikiatri ini dibuat dengan tujuan memenuhi tugas laporan praktek klinik keperawatan III, dengan harapan mahasiswa akper baik di Puskesmas, rumah sakit, mampu mendeteksi secara dini masalah kesehatan mental psikiatri

B. BATASAN MASALAH Dalam menyusun laporan ini penulis membatasi masalah pada asuhan keperawatan dengan Perilaku Kekerasan pada Anak dari tinjuan Konseptual dan kasus Fiktif. C. TUJUAN PENULISAN Tujuan umum

Child Abuse

Page 3

Untuk mengetahui Konsep Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Perilaku Kekerasan pada anak 1. Tujuan Khusus a. Menjelasakan tentang Konsep Teori Kekerasan pada anak . b. Menjelasakan tentang Konsep Asuhan Keperawatan dengan perilaku kekerasan pada anak. c. Menjelaskan tentang asuhan keperawatan kasus fiktif perilaku kekerasan pada anak.

BAB II TINJAUAN TEORITIS

CHILD ABUSE A. Pengertian
• • • • •

Child Abuse : tindakan yang mempengaruhi perkembangan anak sehingga tidak optimal lagi Child Abuse : perlakuan salah terhadap fisik dan emosi anak, menelantarkan pendidikan dan kesehatannya dan juga penyalahgunaan seksual Child Abuse adalah penganiayaan, penelantaran dan eksploitasi terhadap anak, dimana ini adalah hasil dari perilaku manusia yang keliru terhadap anak Physical abuse adalah penganiayaan fisik ketika anak-anak mendapatkan luka atau terluka oleh karena tindakan orang tua atau orang lain Physical abuse terjadi ketika orang tua atau pengasuh dan pelindung anak ( ketika sebenarnya anak membutuhkan perhatian ) melakukan pemukulan atau kekerasan secara fisik pada anak

B. Etiologi Faktor Predisposisi & Presipitasi

Child Abuse

Page 4

yaitu anak memiliki tingkah laku yang tidak sewajarnya dan berbeda dengan anak lain. Misalnya anak berperilaku dan bertingkah aneh di dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. Sehingga apapun akan dilakukan Child Abuse Page 5 .Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak mengalami kekerasan. d. diantaranya adalah: 1. e. Mental berbeda. Anak angkat. yang dimaksud dengan fisik berbeda adalah kondisi fisik anak berbeda dengan anak yang lainnya. b. Anak mempunyai kelainan fisik dan berbeda dengan anak lain yang mempunyai fisik yang sempurna. sehingga secara naluriah tidak ada hubungan emosional yang kuat antara anak angkat dan orang tua. anak angkat cenderung mendapatkan perlakuan kasar disebabkan orangtua menganggap bahwa anak angkat bukanlah buah hati dari hasil perkawinan sendiri. Fisik berbeda. kedua faktor ini merupakan faktor terkuat yang menyebabkan terjadinya kekerasan pada anak. Contoh yang bisa dilihat adalah anak mengalami cacat fisik. Hal ini disebabkan karena anak yang memiliki temperamen keras cenderung akan melawan bila dibandingkan dengan anak bertemperamen lemah. 2. Kemiskinan dan pengangguran. Stress keluarga a. Stres yang berasal dari anak a. Tingkah laku berbeda. anak dengan temperamen yang lemah cenderung mengalami banyak kekerasan bila dibandingkan dengan anak yang memiliki temperamen keras. yaitu anak mengalami keterbelakangan mental sehingga anak mengalami masalah pada perkembangan dan sulit berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya. sebab kedua faktor ini berhubungan kuat dengan kelangsungan hidup. c. Temperamen berbeda. Baik kekerasan fisik maupun kekerasan psikis.

c. orangtua cenderung menjadikan anak sebagai pelampiasan kekesalannya dengan melakukan tindakan kekerasan. Stress berasal dari orangtua a. perceraian mengakibatkan stress pada anak. misalnya kekurangan fisik. dsb. harapan yang tidak realistis akan membuat orangtua mengalami stress berat sehingga ketika tidak mampu memenuhi memenuhi kebutuhan anak. 3. Rendah diri. Harapan pada anak yang tidak realistis. C. anak dengan rendah diri akan sering mendapatkan kekerasan. isolasi. sebab anak selalu merasa dirinya tidak berguna dan selalu mengecewakan orang lain. Mobilitas. atau mengisolasi anak. sebab lingkungan sekitarlah yang menjadi faktor terbesar dalam membentuk kepribadian dan tingkah laku anak. ketiga faktor ini juga berpengaruh besar terhadap terjadinya kekerasan pada anak. Hal tersebut akan membuat anak merasa Child Abuse Page 6 . c. sebab anak akan kehilangan kasih sayang dari kedua orangtua. b. Perceraian. Waktu kecil mendapat perlakuan salah. Klasifikasi • Emotional Abuse Perlakuan yang dilakukan oleh orang tua seperti menolak anak. orangtua yang mengalami perlakuan salah pada masa kecil akan melakuakan hal yang sama terhadap orang lain atau anaknya sebagai bentuk pelampiasan atas kejadian yang pernah dialaminya. dan perumahan tidak memadai. mengabaikan anak.oleh orangtua terutama demi mencukupi kebutuhan hidupnya termasuk harus mengorbankan keluarga. sebab anak tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orangtua. lemah mental. hal ini juga akan mengakibatkan munculnya perilaku kekerasan pada anak. b. d. Anak yang tidak diharapkan. meneror.

Indikator perilaku – kelainan keiasaan (menghisap. seperti tidak memberikan rumah yang aman. kurangnya perhatian. takut pada orang tua. Hal ini akan menyebabkan kerusakan mental fisik. patah tulang. selalu mengantuk.dirinya tidak dicintai. makanan. kurangnya perhatian pada masalah kesehatan. mencuri. kebersihan diri yang rendah. atau meninggalkan anak sendirian atau dengan seseorang yang tidak dapat merawatnya . sosial. menipu. takut untuk pulang ke rumah. atau dapat juga diartikan sebagai tindakan yang dilakukan oleh pengasuh sehingga mencederai anak. ditinggalkan. Biasanya berupa luka memar. - Child Abuse Page 7 . sering tidur. gigitan manusia. pakaian. mengigit. pengobatan. mental dan emosional anak. masalah kesehatan yang tidak ditangani. cakaran Indikator perilaku – waspada saat bertemu degan orang dewasa. rambut yang tercabut. masalah kesehatan yang tidak ditangani. pakaian yang kurang memadai (pada musim dingin). Indikator fisik – luka memar. luka bakar atau cedera di kepala atau lengan. atau merasa buruk atau tidak bernilai. - Indikator fisik – kelaparan. Indikator kebiasaan ¬ Meminta atau mencuri makanan. berperilaku ekstrem seerti agresif atau menyendiri. Indikator fisik kelainan bicara. gangguan pertumbuhan fisik dan perkembangan. berbohong. • Neglect Kegagalan orang tua untuk memberikan kebutuhan yang sesuai bagi anak. atau memukulmukul) • Physical Abuse Cedera yang dialami oleh seorang anak bukan karena kecelakaan atau tindakan yang dapat menyebabkan cedera serius pada anak.

atau aktifitas sexual lainnya kepada anak.• Sexual Abuse Termasuk menggunakan anak untuk tindakan sexual.2004) diantaranya : 1. kurang bergaul dengan teman sebaya. Child Abuse Page 8 . Dampak Child Abuse Child abuse ini menimbulkan dampak (Moore. Sering menjadi korban eksploitasi dan penindasan dari orang dewasa. nyeri atau gatal di area genital. Anak yang pernah menjadi korban kekerasan lagi dan semakin ditindas orang dewasa bila tidak mendapatkan penanganan yang tepat. adanya noda atau darah di baju dalam. berpenyakit kelamin. tindak kekerasan. Besar kemungkinan setelah dewasa akan memberi perlakuan keras secara fisik pada anaknya. mengambil gambar pornografi anak-anak. gangguan tidur. tidak mau berpartisipasi dalam kegiatan fisik. Indikator kebiasaan – pengetahuan tentang seksual atau sentuhan seksual yang tidak sesuai dengan usia. penurunan keinginan untuk sekolah. 5. perilaku regressif (misal: ngompol) D. Kerusakan fisik : pertumbuhan dan perkembangan tubuh kurang normal atau bahkan mengalami kecacatan dan rusaknya sistem syaraf. perilaku agresif. dan perilaku anti sosial. 3. berperilaku permisif/ berperilaku yang menggairahkan. perubahan pada penampilan. perilaku sex bebas. penyalahgunaan NAPZA. Indikator fisik – kesulitan untuk berjalan atau duduk. 2. Anak kehilangan hak untuk menikmati masa kanak-kanaknya. Sering pada saat dewasa membawa dampak psikologis : labilitas emosi. memar atau perdarahan di area genital/ rektal. 4. Anak bisa saja kehilangan keceriaannya karena kekerasan yang dialaminya hingga malas untuk bermain.

bibir pecahpecah.6. maka ketidaksesuaian riwayat dengan trauma yang dialami tersebut menimbulkan kecurigaan adanya penganiayaan terhadap anak. gigi yang goyang atau patah. kemerahan atau pembengkakan pada kanal telinga luar. Kerontokan Rambut Traumatik  Kerontokan rambut traumatik terjadi ketika rambut anak ditarik. Cidera Eksternal pada Kepala. namun yang tampak adalah cidera yang tidak biasa. Akibatnya yang paling fatal adalah kematian E. laserasi pada lidah dan kedua mata biru tanpa trauma pada hidung. Memar berbentuk objek yang dapat dikenali umumnya bukan suatu kebetulan. semuanya dapat mengindikasikan adanya penganiayaan. tanda hisapan atau tanda dorongan lidah. Muka dan Mulut  Luka. atau dipakai untuk menyeret atau menyentak anak. Bekas gigitan manusia tampak sebagai daerah lonjong dengan bekas gigi. Adanya akumulasi darah dapat membantu membedakan antara kerontokan rambut akibat penganiayaan atau non-penganiayaan. Memar yang ada dalam berbagai tahap penyembuhan menunjukkan adanya trauma yang terjadi berulang kali. Memar multiple atau memar pada tempat-tempat yang tidak terjangkau menunjukkan bahwa anak itu telah mengalami penganiayaan. Tanda dan Gejala Tanda fisik yang bisa dijumpai pada physical abuse :  Cidera Kulit Cidera kulit adalah tanda-tanda penganiayaan anak yang paling umum dan paling mudah dikenali. perdarahan. Cidera Termal Disengaja atau Diketahui Sebabnya Page 9  Child Abuse . Akibatnya pada kulit kepala dapat memecahkan pembuluh darah di bawah kulit. Jatuh  Jika seorang anak dilaporkan mengalami kejatuhan biasa.

pemikiran tentang bunuh diri  Pasif. tanpa perlu bukti-bukti cidera eksternal. dengan garis batas jelas. luka bakar sirkuler kecil-kecil dan banyak dalam berbagai tahap penyembuhan. Menurut American Academy Of Child Adolescent Psychiatry (2007) anak telah mengalami penganiayaan dapat menunjukkan ciri-ciri :  Mempunyai gambaran diri yang lemah & tidak bisa menjalankan peran  Ketidakmampuan untuk percaya atau mencintai orang lain  Agresif.Luka bakar terculap. mengganggu. dan berperilaku tidak benar  Kemarahan dan amuk. dan perilaku mengandung kutukan  Ketakutan melakukan aktivitas atau hubungan interpersonal yang baru  Khawatir dan takut. Hal ini dapat menimbulkan cidera berat pada system saraf pusat. Fraktur dan Dislokasi yang Tidak Dapat Dijelaskan  Fraktur Iga Posterior dalam berbagai tahap penyembuhan. Sindroma Bayi Terguncang  Guncangan pada bayi menimbulkan cidera ekslersi deselersi pada otak. menarik diri. fraktur spiral atau dislokasi karena terpelintirnya ekstremitas merupakan bukti cidera pada anak yang tidak terjadi secara kebetulan. luka bakar setrikaan. merusak diri sendiri. menyebabkan regangan dan pecahnya pembuluh darah. merasa sedih yang berlebih atau merasa tertekan  Permasalahan sekolah atau kegagalan dan penyalahgunaan NAPZA Child Abuse Page 10 . luka bakar daerah popok dan luka bakar tali semuanya memberikan kesan adanya tindakan jahat yang disengaja.

tidak berharga atau membebani Page 11 . menunjukkan perhatian yang sedikit pada anak  Menyangkal keberadaan anak dan menyalahkan anak baik tentang permasalahan di sekolah maupun di rumah  Meminta pada guru atau pejabat di sekolah untuk menggunakan kekerasan fisik dalam menegakkan disiplin pada anak yang berbuat nakal/jahat  Child Abuse Selalu melihat anak tidak baik. 2. pasif. mimpi buruk Menurut Child Welfare Information Gateway (2006) tanda dan gejala yang sering dijumpai pada physical abuse adalah : 1. Anak :  Menunjukkan adanya perubahan yang mendadak di dalam perilaku atau prestasi sekolah  Belum atau tidak menerima bantuan baik secara fisik maupun permasalahan medis yang seharusnya diberikan oleh orang tua  Selalu dalam kewaspadaan seolah-olah bersiap mengahadapi sesuatu yang tidak menyenangkan/mengancamnya akan terjadi   Menuntut yang berlebihan. Gangguan tidur. menarik diri Datang ke sekolah dan aktifitas lain lebih awal dan pulang terlambat (seperti ingin pergi dari rumah). Orang tua :  Pengawasan orang tua yang kurang.

perdarahan retina. mulut.  Luka bakar yang patogomonik dan sering terjadi: rokok. Evaluasi Diagnostik Diagnostik perlakuan salah dapat ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit. Orang tua dan anak :   Jarang bersentuhan atau saling berpandangan Memandang hubungan antara orang tua dan anak sebagai hal negatif seluruhnya  Mengatakan tidak suka satu sama lain. Menuntut tingkatan fisik serta pencapaian akademis yang tidak mungkin dicapai oleh anak. dan fraktur tulang panjang yang multipel dengan tingkat penyembuhan yang berbeda. telinga. pencelupan kakitangan dalam air panas. 3. pemeriksaan fisik yang teliti. atau luka bakar berbentuk lingkaran pada bokong. F.  Trauma kepala. dokumentasi riwayat psikologik yang lengkap. trauma intrakranial. atau punggung. • Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik . terutama di wajah.Penganiayaan fisik Tanda patogomonik akibat penganiayaan anak dapat berupa:  Luka memar. bibir. seperti fraktur tengkorak. kepala. Child Abuse Page 12 . Luka bakar akibat aliran listrik seperti oven atau setrika. dan laboratorium.

dan penis serta adanya perdarahan atau sekret di vagina. yaitu suatu kondisi yang mengakibatkan kegagalan mengikuti pola pertumbuhan dan perkembangan anak yang seharusnya. Tidak mampu imunisasi dan perawatan kesehatan lainnya. konstipasi atau encopresis. Tidak sesuai dengan pengetahuan seksual dengan umur anak serta tingkah laku yang menggairahkan.Pengabaian  Pengabaian non organic failure to thrive. anus. . Child Abuse Page 13 . Penganiayaan fisik lebih dominan pada anak di atas usia 2 tahun.  Pengabaian medis.  Pubertas prematur pada wanita  Tingkah laku yang spesifik: melakukan aktivitas seksual dengan teman sebaya.Penganiayaan seksual Tanda dan gejala dari penganiayaan seksual terdiri dari:  Nyeri vagina. binatang.  Disuria kronik. enuresis. tetapi respons baik terhadap pemenuhan makanan dan kebutuhan emosi anak. Trauma abdomen dan toraks lebih jarang dibanding trauma kepala dan tulang pada penganiayaan anak. yaitu tidak mendapat pengobatan yang memadai pada anak penderita penyakit kronik karena orangtua menyangkal anak menderita penyakit kronik. . Kegagalan yang disengaja oleh orangtua juga mencakup kelalaian merawat kesehatan gigi dan mulut anak sehingga mengalami kerusakan gigi. atau objek tertentu.

gangguan tidur. mimpi buruk. depresi. gangguan makan. Adanya fraktur multiple dengan tingkat penyembuhan adanya penyaniayaan fisik. spermatozoa dalam 72 jam setelah penganiayaan seksual. Child Abuse Page 14 . dsb. gangguan stres post-traumatik. anal. HIV. dan vaginal untuk genokokus  Tes untuk sifilis. sedangkan pada anak diatas 4-5 tahun hanya perlu dilakukan jika ada rasa nyeri tulang. perasaan takut pada orang dewasa. dan hepatitis B  Analisa rambut pubis • Radiologi Ada dua peranan radiologi dalam menegakkan diagnosis perlakuan salah pada anak. Pada penganiayaan seksual. dilakukan pemeriksaan:  Swab untuk analisa asam fosfatase. menarik diri. keterbatasan dalam pergerakan pada saat pemeriksaan fisik. rendah diri. Tingkah laku yang tidak spesifik: percobaan bunuh diri. perlu dilakukan skrining perdarahan. • Laboratorium Jika dijumpai luka memar.  Kultur spesimen dari oral. yaitu untuk:  Identifiaksi fokus dari jejas  Dokumentasi Pemeriksaan radiologi pada anak di bawah usia 2 tahun sebaiknya dilakukan untuk meneliti tulang. prostitusi.

Pendidikan pada anak tentang cara penyelesaian konflik . • G. hanya diindikasikan pada pengniayaan anak atau seorang bayi yang mengalami trauma kepala yang berat. • MRI (Magnetik Resonance Imaging) lebih sensitif pada lesi yang subakut dan kronik seperti perdarahan subdural dan sub arakhnoid. • Prevensi primer-tujuan: promosi orangtua dan keluarga sejahtera Individu : .Pelayanan referensi perawatan jiwa .Pendidikan kehidupan keluarga di sekolah.Pendidikan perawatan bayi bagi remaja yang merawat bayi . dan masyarakat . tempat ibadah. dan masyarakat.Pendidikan seksual pada remaja yang beresiko . keluarga.Pelatihan bagi tenaga profesional untuk deteksi dini perilaku kekerasan. Penatalaksanaan Pencegahan dan penanggulangan penganiayaan dan kekerasan pada anak adalah melalui: 1. Child Abuse Page 15 . • Ultrasonografi digunakan untuk mendiagnosis adanya lesi visceral Pemeriksaan kolposkopi untuk mengevaluasi anak yang mengalami penganiayaan seksual.• CT-scan lebih sensitif dan spesifik untuk lesi serebral akut dan kronik. Pelayanan kesehatan Pelayanan kesehatan dapat melakukan berbagai kegiatan dan program yang ditujukan pada individu.

Rujuk orangtua baru pada perawat Puskesmas untuk tindak lanjut (follow up) .Kelas persiapan menjadi orangtua di RS.Rencana penyelamatan diri bagi korban secara adekuat .Kontrol pemegang senjata api dan tajam • Prevensi sekunder-tujuan: diagnosa dan tindakan bagi keluarga yang stress Individu : . tempat penampungan anak/keluarga/usia lanjut/wanita yang dianiaya .Pendidikan kesehatan tentang kekerasan dalam keluarga .Pelayanan 16ocial untuk keluarga Komunitas : . sekolah.Keluarga : .Tempat perawatan atau “Foster home” untuk korban Keluarga : .Mengembangkan pelayanan dukungan masyarakat.Pelayanan masyarakat untuk individu dan keluarga Child Abuse Page 16 .Pengkajian yang lengkap pada tiap kejadian kekerasan pada keluarga pada tiap pelayanan kesehatan . seperti: pelayanan krisis.Pengetahuan tentang hukuman untuk meminta bantuan dan perlindungan .Memfasilitasi jalinan kasih 16ocial pada orangtua baru . institusi di masyarakat .Mengurangi media yang berisi kekerasan .

. dan pemerintah setempat . .Peran serta pemerintah: polisi.Unit gawat darurat dan unit pelayanan 24 jam memberi respon. pelayanan kasus.Strategi pemulihan kekuatan dan percaya diri bagi korban .. pengadilan.Rujuk pada kelompok pendukung di masyarakat (self-help-group). Misalnya: kelompok pemerhati keluarga sejahtera .Konseling profesional pada individu Keluarga : . koordinasi dengan penegak hukum/dinas sosial untuk pelayanan segera.Semua profesi kesehatan terampil memberikan pelayanan pada korban dengan standar prosedur dalam menolong korban .Redukasi orangtua dalam pola asuh anak .Pendekatan epidemiologi untuk evaluasi . melaporkan.Konseling profesional bagi keluarga .Kontrol pemegang senjata api dan tajam • Prevensi tertier-tujuan: redukasi dan rehabilitasi keluarga dengan kekerasan Individu : .Tim pemeriksa mayat akibat kecelakaan/cedera khususnya bayi dan anak.Rujuk pada lembaga/institusi di masyarakat yang memberikan pelayanan pada korban Komunitas : .Self-help-group (kelompok peduli) Komunitas : Child Abuse Page 17 .

tentang kesejahteraan anak cepat ditegakkan secara konsekuen. Dampak pada anak baik jangka pendek maupun jangka panjang diberitakan agar program pencegahan lebih ditekankan. Pendidikan Sekolah mempunyai hak istimewa dalam mengajarkan bagian badan yang sangat pribadi. anus. mammae dalam pelajaran biologi.“follow up” pada kasus penganiayaan dan kekerasan .“Foster home”. tempat perlindungan . Hal ini akan melindungi anak dari semua bentuk penganiayaan dan kekerasan. Penegak hukum dan keamanan Hendaknya UU no.4 thn 1979. Sikap atau cara mendidik anak juga perlu diperhatikan agar tidak terjadi aniaya emosional. vagina. yaitu penis. Guru juga dapat membantu mendeteksi tanda2 aniaya fisik dan pengabaian perawatan pada anak. Bab II pasal 2 menyebutkan bahwa “anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya secara wajar.Peran serta pemerintah . Media massa Pemberitaan penganiayaan dan kekerasan pada anak hendaknya diikuti oleh artikel2 pencegahan dan penanggulangannya. Perlu ditekankan bahwa bagian tersebut sifatnya sangat pribadi dan harud dijaga agar tidak diganggu orang lain. 4. Sekolah juga perlu meningkatkan keamanan anak di sekolah.Kontrol pemegang senjata api dan tajam 2. 3. Child Abuse Page 18 ..

baju dan rambut kotor. psikomotor. antara lain : 1. Genito Urinaria • • • Infeksi saluran kemih Perdarahan per vagina Luka pada vagina/penis Child Abuse Page 19 . dan psikososial With drawl (memisahkan diri) dari orang2 dewasa 2.ASUHAN KEPERAWATAN PADA CHILD ABUSE A. Muskuloskeletal • • • Fraktur Dislokasi Keseleo (sprain) 3. Pengkajian Fokus pengkajian secara keseluruhan untuk menegakkan diagnosa keperawatan berkaitan dengan child abuse. Psikososial : • • • • Melalaikan diri (neglect). bau Gagal tumbuh dengan baik Keterlambatan perkembangan tingkat kognitif.

Integumen • • • • Lesi sirkulasi (biasanya pada kasus luka bakar oleh karena rokok) Luka bakar pada kulit.• • Nyeri waktu miksi Laserasi pada organ genetalia eksternal. dan anus 4. memar dan abrasi Adanya tanda2 gigitan manusia yang tidak dapat dijelaskan Bengkak Child Abuse Page 20 . vagina.

Laporkan Child Abuse kecurigaan adanya Dengan melaporkan adanya kecurigaan Page 21 . seksual / emosional tindakan yang tepat untuk menghindari lebih lanjut.B. Tidak efektifnya koping keluarga. Bantu diagnosis penganiayaan anak Membantu dalam menentukan altenatif : fisik. Lindungi anak dari cedera lebih Menghindari anak dari cedera/luka yang lanjut lebih parah dan meminimalkan dampak ditimbulkan. Intervensi keperawatan : Intervensi Rasional 1. Diagnosa Keperawatan 1. kompromi berhubungan dengan faktor-faktor yang menyebabkan Child Abuse 3. Resiko perilaku kekerasan oleh anggota keluarga yang lain ber-hubungan dengan kela- kuan yang maladaptive. percobaan bunuh diri. masalah disekolah dan pekerjaan. Intervensi Keperawatan 1. Peran orang tua berubah berhubungan dengan ikatan keluarga yang terganggu. penyalahgunaan obat. 2. psikologis yang 2. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan perilaku agresif. 5. DK : Resti cidera b/d perilaku agresif Tujuan : Anak tidak mengalami cedera. C. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan anak berhubungan dengan tidak adekuatnya perawatan 4. perilaku anti sosial. penganiayaan anak 3.

anak ke berapa dalam keluarga. Dorong anak dan keluarga untuk Dengan mendorong yang mungkin menyebabkan perilaku dapat Child Abuse mengungkapkan perasaan tentang apa mendiskusikan masalah mereka maka dicari jalan Page 22 .faktor yang menyebabkan Child Abuse Tujuan : Mekanisme koping keluarga menjadi efektif Intervensi keperawatan: Intervensi 1. kompromi berhubungan dengan faktor.penganiayaan adanya terjadinya penganiayaan anak seperti mencegah lebih serius cedera yang luka pada kulit dapat pada anak serta mencegah kematian anak. tawarkan disiplin. Konsulkan pada pekerja sosial dan Keluarga dengan Child Abuse & neglect support kelompok dapat pelayanan kesehatan pribadi yang tepat biasanya memerlukan kerja sama multi mengenai problem keluarga. status sosial ekonomi terhadap perkembangan keluarga. 4. usia orang tua. dilakukan dibawa ke rumah sakit. 3. Lakukan resusitasi dan stabilisasi Resusitasi dan stabilisasi dilakukan ketika seperlunya anak mendapatkan penganiayaan yang mengalami henti sampai stabil dan menyebabkan nafas. adanya support system dan kejadian lainnya 2. memecahkan masalah yang keluarga keluar dengan untuk spesifik. DK : Tidak efektifnya koping keluarga. terapi untuk individu atau keluarga membantu. Identifikasi faktor-faktor menyebabkan rusaknya Rasional Dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang yang dilakukan berwenang intervensi pada yang dibutuhkan dan penyerahan pada pejabat pelayanan kesehatan dan organisasi social yang mekanisme koping pada keluarga. 2.

2 bulan. sehingga orang tua dan anak mereka dapat merencanakan tujuan jangka panjang dan jangka pendek 2. Ajarkan kemampuan dan perkem-bangan anak merawat spesifik dan terapkan tehnik disiplin 3. Diskusikan hasil test kepada Orang tua dan anak akan menyadari. psikomotor dan dengan tingkatan umurnya Intervensi Keperawatan: Intervensi Rasional 1. DK: Perubahan pertumbuhan dan perkembangan anak berhubungan dengan tidak adekuatnya perawatan Tujuan : Perkembangan kognitif anak.Program stimulasi dapat membantu meningkatkan kembangan dan pertumbuhan yang perkembangan menentukan intervensi yang tepat Child Abuse Page 23 . Tentukan tahap perkembang-an Dengan menentukan tahap perkembangan anak anak seperti 1 bulan. Melakukan aktivitas membaca. orang tua tentang Orang tua mungkin mempunyai harapan anak yang tidak realistis tentang pertumbuhan Ajarkan perkembangan & pertum-buhan sesuai tingkat umur. 4. 6 dapat membantu perkembangan yang diharapkan bulan dan 1 tahun. Libatkan keterlambatan normal per. memodifikasi perilaku mereka.kekerasan. bermain (seperti. dll) keterlambatan perkembangan akibat dari antara orang tua dan anak untuk keluarga. Kekerasan pada anak akan menyebabkan karena hubungan tugas yang psikososial dapat disesuai-kan sepeda. 4. Aktivitas dapat engkoreksi masalah meningkatkan per-kembangan dari perkembangan penurunan kemampuan kognitif terganggu psikomotor dan psikososial 3.

5. Identifikasi perilaku kekeras-an.memberikan kesadaran akan tipe situasi yang obatan mempengaruhi perilku. Tujuan : Perilaku kekerasan pada keluarga dapat berkurang. komunitas dan psikolologis. Menyarankan keluarga kepada Terapi keluarga menekan dan memberikan seorang terapi keluarga yang tepat support kepada seluruh keluarga untuk mencegah kebiasaan yang terdahulu. Dengan mengidentifikasi perilaku kekerasan saat menggunakan/ mengkonsumsi dapat membantu menentukan intervensi yang alkohol atau obat atau saat tepat menganggur. 4. Tujuan : Perilaku orang tua yang kasar dapat menjadi lebih efektif Child Abuse Page 24 . Selidiki faktor yang dapat Dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kekerasan menye-babkan perilaku kekerasan akan lebih seperti minum alkohol atau obat.4. termasuk organisasi koping yang efektif. DK : Peran orang tua berubah berhubungan dengan ikatan keluarga yang terganggu. 2. DK : Resiko perilaku kekerasan oleh anggota ke-luarga yang lain berhubungan dengan kelakuan yang maladaptive. Lakukan konsuling kerjasama konseling dapat membantu perkembangan multidisiplin. Melaporkan seluruh kejadian Perawat mempunyai tang-gung jawab legal keakuratan data untuk investigasi yang aktual yang mungkin terjadi untuk melaporkan semua kasus dan menyimpan kepada pejabat berwenang 5. Intervensi Keperawatan : Intervensi Rasional 1. membantu dirinya mencegah kekambuhan 3.

Berikan model peranan untuk Model orang tua peranan untuk orang tua. Dukung mendaftarkan tepat pasien untuk Kelas akan memberikan teladan & forum dalam kelas yang praktek untuk mengembangkan keahlian orang mengajarkan keahlian orang tua tua yang efektif 4. konsultasi dan intervensi seperlunya Child Abuse Page 25 . memungkinkan orang tua untuk menciptakan perilaku orang tua yang tepat 3.Intervensi Keperawatan : Intervensi Rasional 1. Diskusikan ikatan yang wajar Menyadarkan orang tua akan perikatan normal dan perikatan dengan orang tua yang dan proses pengikatan akan membantu dalam keras mengembangkan keahlian menjadi orang tua yang tepat 2. Arahkan orang tua ke pelayanan Kelas akan memberikan teladan & forum kesehatan yang tepat untuk praktek untuk mengembangkan keahlian orang tua yang efektif.

Child Abuse Page 26 . psikomotor dan psikososial dapat disesuaikan dengan tingkatan umurnya Perilaku kekerasan pada keluarga dapat berkurang Perilaku orang tua yang kasar dapat menjadi lebih efektif 4.D. 2. Anak tidak mengalami cedera Mekanisme koping keluarga menjadi efektif Perkembangan kognitif anak. 5. Evaluasi 1. 3.

P 35 tahun Laki-laki Hindu SD Wiraswasta Status perkawinan: Suku/Bangsa : Belum menikah Menikah Bali/Indonesia Bali/Indonesia Child Abuse Page 27 . Pengkajian Pengkajian dilakukan pada tanggal 23-Oktober 2010 pukul 10.BAB III KAJIAN KASUS 1. Pengumpilan data dilakul:an dengan cara anamnesa.00 wita di ruang Drupadi BPK RSJ Propinsi Bali di Bangli. observasi dan catatan medik klicn dan kunjungan rumaai sehingga didapat data : a. Pengumpulan Data 1) Identitas Nama Umur Jenis kelamin Agama Pendidikan Pekerjaan : : : : : : : Klien AR 12 tahun Laki-laki Hindu SD tidak tamat Penanggung D.

Pasaban Kaler Br. Pesaban. Pasaban Kaler Ds. Dengan klien : : 108264 Paman Rendang Karangasem Child Abuse Page 28 . Pesaban. kec Rendang Karangasem No CM Hub.Alamat : Br. kec Ds.

Karena tidak bisa diatasi maka keluarga langsung mengajak klien ke IRD BPK RSJ Propinsi Bali dan disarankan MRS. Klien juga mengamuk dengan membanting barang disekitarnya bila didekati oleh keluarganya. oleh karena itu sejak kecil klien diajak jualan sayur keliling kampung. Dan mendapatkan terapi injeksi lodorner IM I ampul dan diazepam injeksi IV 1 ampul.2) Alasan Masuk a) Keluhan saat MRS Klien datang ke IRD BPK RSJ Propinsi Bali diantar oleh keluarga klien dikeluhkan suka mengurung diri di kamar. ketawa dan bicara sendiri. 3) Fantor Prcdisposisi dan Presipitasi Klien sebelumnya belum pernah mengalami sakit jiwa dan pertama kali dirawat di RSJ Bangli. b) Keluhan saat pengkajian klien lebih banyak diam. dan Child Abuse Page 29 . Ekonomi nenek klien sangat kekurang. Klien selalu menundukkan kepala saat berbicara dengan perawat kontak mata kurang serta jarang berinteraksi dengan orang lain. sering menangis. klien hanya mau menjawab pertanyaan yang diajukan dengan singkat. Klien mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan yaitu semenjak umur 8 tahun ditinggal orang tuanya menjadi TKW keluar negeri dan tidak pulang-pulang. Sehingga klien dan adikanya diasuh oleh neneknya.

pasien merasa sangat malu akan hal itu. 4) a) Tekanan darah Nadi Suhu Pernafasan b) BB c) Pemeriksaan Fisik Tanda Vital : 120/80 mm Hg : 80 x/menit : 37 o C : 24 x/menit Pengukuran : 42 TB : 157 cm : Tidak ada Keluhan fisik Child Abuse Page 30 . Sedangkan faktor presipitasinya yakni klien ditinggal menikah oleh orang yang dicintainya (± 3 minggu sebelum MRS). Klien hanya sekolah sampai kelas 4 SD karena tidak punya biaya. Klien juga pernah mengamuk karena kecewa dengan orang tuanya yang tega menelantarkan anak-anak mereka. . dari faktor keturunan tidak ada keluarga yang mengalami gangguan jiwa. senang menyendiri dan bengongbengong. Sejak saat ini klien mulai murung.

1) Status Psikososial 1) Genogram 1 2 Keterangan : Laki-laki : Perempuan : Meninggal 12 : Umur klien : Klien : Tinggal serumah Gambar 4 : Genogram klien AR dengan gangguan hubungan sosial : menarik diri. Penjelasan : Child Abuse Page 31 .

Hubungan klien dengan keluarga kurang terjalin semenjak ditinggal ortunya TKW dan klien lebih dekat dengan neneknya. (3) Peran Diri Sebelum dirawat. (4) Ideal Diri Child Abuse Page 32 . b) Konsep Diri (1) Citra Tubuh Klien menganggap dirinya biasa saja dan menerima tubuhnya apa adanya tapi klien tidak suka dengan rambutnya yang kriting dan sudah pernah diluruskan tapi setelah itu kriting lagi. (2) Identitas Diri Klien menyadari dirinya dan merasa kurang puas dengan keadaannya tersebut. klien tinggal serumah dengan ayah. klien berperan sebagai seorang anak tertuadari tiga bersaudara dan setelah dirawat klien berperan sebagai pasien dan cukup kooperatif dalam proses pengobatan. ibu dan dua orang adiknya serta neneknya. Klien berumur 12 tahun.Klien adalah anak pertama dari tiga bersaudara.

rambut klien tamapak tidak terawat. (5) Harapan Diri Klien merasa rendah diri karena rambutnya kriting klien merasa malu dengan pendidikannya belum tamat SD. Child Abuse Page 33 . 6) Status Mental a) Penampilan Klien berpenampilan tidak rapi. pakaian yang digunakan kotor dan acak . sehingga klien merasa malu bergaul dengan temannya. karena klien ingin menjadi polisi t.acakan.klien bisa baca tapi tidak lancar. c) Hubungan Sosial (1) Klien mengatakan di rumah hanya dekat dengan neneknya tapi di rumah sakit klien tidak mempunyai teman dekat. klien hanya berbicara seperlunya apabila ditanya oleh perawat. (2) Hubungan klien dengan perawat dan temannya kurang. klien tidak mampu memulai pembicaraan selama proses wawancara klien berbicara hanya ditanya oleh perawat dan seperlunya.Harapan klien sebelum sakit adalah ingin seperti anak lain yakni diasuh oleh orang tua dan sekolah tinggi. b) Pembicaraan Klien berbicara lambat.

c) Aktivitas Motorik Klien tampak lesu dan tidak bergairah pada saat diwawancarai dan banyak menunduk. Child Abuse Page 34 . Saat pengkaji klien mengatakan mendengar suara dan memiringkan telinga. e) Efek Dari hasil observasi efek yang ditunjukan adalah efek tumpul yaitu hanya mererspon saat ada stimulus yang kuat. h) Proses Pikir Pada saat wawancara pembicara klien lambat dan berbata-bata tapi bisa menjawab sesuai dengan pertanyaan perawat. murung. d) Alam Perasaan Saat wawancara klien tampak sedih. f) Interaksi Selama Wawancara Selama wawancara klien mau menjawab sebatas pertanyan yang diberikan. kontak mata antara klien dengan perawat kurang dan klien tampak lebih banyak menunduk. g) Persepsi Klien mengatakan kadang mendengar suara-suara kurang jelas isinya dan siapa yang berbicara.

i) Isi Pikir Saat pengkajian klien tidak mennjukan gangguan isi pikir seperti waham dan phobia. Child Abuse Page 35 .

tempat dan orang. m) Kemampuan penelitian Saat diberikan pilihan seperti apakah klien mengambil pasta gigi dahulu atau menggosok gigi. saat ditanya 1 + 5 klien bisa menjawab dengan benar yaitu tetapi dalam waktu yang sangat lama. klien menjawab mengambil pasta gigi dahulu baru menggosok gigi. 7) Kebutuhan persiapan pulang a) Makan dan Minum Child Abuse Page 36 . n) Daya tilik diri Klien menyadari dirinya sakit dan perlu perawatan dan pengobatan. l) Tingkat konsentrasi dan berhitung Selama wawancara klien agak sulit berkonsentrasi.j) Tingkat Kesadaran Dari hasil observasi dan wawancara klien tidak mengalami disorientasi waktu. k) Memori Klien tidak mengalami kesulitan untuk mengingat baik memori jangka pendek atau jangka panjang tentang peristiwa yang terjadi pada dirinya.

c) Mandi Klien memerlukan batuan dalam hal mandi klien mandi 1 x sehari d) Berpakaian Klien mampu mengambil dan memilih pakaian yang sesuai situasi dan kondisi. Klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makannya. Klien menggunakan alas kaki dan menyisir rambut. Child Abuse Page 37 . Bali di Bangli. f) Penggunaan obat Klien mau minum obat yang diberikan oleh perawat sesuai dengan waktunya dan tidak mengalami efek sampin.Klien mengatakan biasa makan 3 kali sehari habis satu porsi tiap kali makan. meskipun masih perlu bantuan keluarganya. Jika klien sembuh keluarga mengatakan akan tetap mengajak klien kontrol ke RSJ Prov.00 Wita. b) BAB dan BAK Klien mampu menggunakan dan membersihkan WC. g) Pemeliharaan kesehatan Sistem pendukung yang dimiliki adalah keluarga. sehabis BAB dan BAK serta mampu membersihkan diri dan merapikan rambut. e) Istirahat dan tidur Klien biasa tidur siang malam mulai pukul 23.00 sampai 06. Nilai kemampuan klien dalam berpakaian cukup.

setelah ditinggal orang tuanya TKW lebih dekat dengan neneknya. 8) Mekanisme koping Klien menggunakan koping maladaptif yaitu represi dan isolasi dimana bila mempunyai masalah klien tidak pernah menceritakan masalah kepada siapapun dengan mencoba mengesampingan/melupakan permasalahannya. Namun dengan cara-cara tersebut tidak akan menyelesaikan permasalahannya 9) Masalah psikososial dan lingkungan Klien tinggal bersama ayah. 11) Diagnosa Aspek medis : Skizofrenia Hebefrenik Child Abuse Page 38 . ibu dan adik serta neneknya. Tapi klien tidak tahu sistem pendukung dan koping mekanisme yang diperlukan untuk mengatasi masalahnya.h) Aktivitas dalam rumah Klien mampu melaksanakan aktivitas di dalam rumah seperti menyapu halaman rumah. 10) Pengetahuan Klien tahu bahwa dirinya sakit dan sedang mendapatkan perawatan dan pengobatan. i) Aktivitas di luar rumah Klien mengatakan belum siap jika sudah pulang untuk melakukan kegiatan diluar rumah seperti ke pasar atau kegiatan ada.

Analisa Data Data yang sudah didapat dari pengkajian selanjutnya dianalisis dengan cara mengelompokkannya menjadi data objektif dan data subjektif.Therapi Medis : Chlorpromazine Trihezyphenidryl Stelazine 2 x 50 mg 1 x 1 mg 2 x 2.5 mg b. Child Abuse Page 39 .

klien tampak putus asa Kadang-kadang klien tampak memiringkan telinga ke arah tertentu seolah-olah sedang mendengarkan sesuatu Kontak mata kurang/sering menunduk Klien sering membesarkan hal negatif pada dirinya Kesimpulan 4 Kerusakan interaksi sosial menarik diri - - - 2 - Klien mengatakan kadang-kadang mendengarkan suarasuara yang tidak jelas - Perubahan persepsi sensori halusinasi dengar Harga rendah diri 3 - - Klien mengatakan malu/minder dengan rambutnya yang kriting Klien mengatakan malu dengan pendidikannya hanya tamat SD Klien mengatakan sering mengalami kegagalan dalam pekerjaan Klien merasa sedih dan rendah diri karena ditinggal kawin oleh orang yang dicintainya.TABEL I ANALISA DATA KEPERAWATAN PASIEN AR DENGAN KERUSAKAN INTERAKSI SOSIAL MENARIK DIRI DI RUANG DRUPADI BPK RSJ PROPINSI BALI TANGGAL 10 JUNI 2008 N o 1 1 - Data Subyektif 2 Klien mengatakan lebih senang menyendiri dari pada berinteraksi dengan orang lain. - Child Abuse Page 40 . Klien tidak mengatakan tidak mempunyai teman dekat di RS - Data Obyektif 3 Klien jarang berinteraksi dengan pasien lain atau dengan petugas Kontak verbal pasif/tidak bisa memulai pembicaraan Kontak mata kurang/lebih sering mununduk efek tumpul.

4 - Klien mengatakan bila ada masalah/stres lebih senang memendamnya dengan mencoba melupakan seolah tidak masalah - Klien sering Koping menggunakan individu koping maladaptif efektif tanpa mencoba untuk menyelesaikannya tak Child Abuse Page 41 .

Rumusan Masalah 1) Kerusakan interaksi sosial : menarik diri 2) Perubahan persepsi sensori : halusinasi dengar 3) Harga diri rendah 4) Koping individu tak efektif.c. Diagnosa Keperawatan 1) Kerusakan interaksi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah ditandai dengan klien mengatakan tidak mempunyai teman dekat di RS. klien mengatakan lebih senang menyendiri daripada Child Abuse Page 42 . d. Pohon Masalah Dari rumusan masalah tersebut maka dibuatlah pohon masalah sebagai berikut: Kerusakan interaksi sosial : menarik diri Perubahan Persepsi Sensori : Halusinasi Dengar Gangguan konsep diri : Harga diri rendah kronis Efek CP Caus e Koping Individu Takefektif Gambar 4 : Pohon masalah pada klien AR dengan kerusakan interaksi sosial : menarik diri e.

kontak mata kurang/sering menunduk. klien jarang berinteraksi dengan pasien lain atau petugas. klien malu dengan keadaannya sekarang. Maka Child Abuse Page 43 . klien mengatakan malu dengan pendidikannya hanya tamat SD. klien sering membesarkan hal negatif pada dirinya kontak mata kurang saat wawancara.xxxviii). 3) Harga diri rendah berhubungan dengan koping individu takefektif ditandai dengan klien mengatakan malu/minder dengan rambutnya yang kriting. klien merasa sedih dan rendah diri karena ditinggal kawin oleh orang yang dicintainya. kontak verbal pasif/tidak bisa memulai pembicaraan. Prioritas Diagnosa Keperawatan Dari diagnosa keperawatan di atas diprioritaskan berdasarkan keluhan yang paling dirasakan saat ini dan bila tidak diatasi akan mempengaruhi status fungsional klien (Carpenito. kontak mata kurang/lebih sering menunduk atek tumpul. 2000. 2. klien mengatakan sering mengalami kegagalan dalam pekerjaan. kadang memiringkan telinga ke arah tertentu. 2) Perubahan Persepsi Sensori : halusinasi dengan berhubungan menarik diri ditandai dengan klien mengatakan kadang dengan mendengar suara-suara yang tidak jelas. klien tampak putus asa. Perencanaan a.berinteraksi dengan orang lain.

prioritas perencanaan asuhan keperawatan pada klien AR dengan kerusakan interaksi sosial : menarik diri adalah sebagai berikut: 1) Kerusakan interaksi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah. 3) Harga diri rendah berhubungan dengan koping individu takefektif. 2) Perubahan persepsi sensori : halusinasi pendengaran berhubungan dengan menarik diri. Child Abuse Page 44 .

Sowden Betz Cicilia. Clinic Manual of Pediatric Nursing.Mosby Company. Child Abuse Page 45 .Pearson Education. Jakarta : EGC. 1998. Whaley’s and Wong. Jakarta : EGC. 1999.New Jersey.2nd Edition. Pediatric Nursing Care Plans. Jakarta : FIK UI Ennis Sharon Axton. Penganiayaan Dan Kekerasan Pada Anak. Nelson.DAFTAR PUSTAKA Anna Budi Keliat. 2002.4th Edition. Ilmu Kesehatan Anak I. 2003. 1996. Keperawatan Pediatric.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful