BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 adalah meningkatkan kesehatan, kemampuan dan kemauan hidup sehat bagi setiap orang. Agar terwujud kesehatan masyarakat yang optimal, melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku sehat dan dalam lingkungan yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil, merata serta mencapai derajat kesehatan yang optimal. Untuk mendukung hal tersebut maka tujuan utama dibidang kesehatan dalam rangka menuju Indonesia sehat 2010 adalah menurunkan angka kematian balita (DEPKES, 2002). Anak merupakan aset masa depan yang akan melanjutkan pembangunan di suatu negara. Masa perkembangan tercepat dalam kehidupan anak terjadi pada masa balita. Masa balita merupakan masa yang paling rentan terhadap serangan penyakit. Terjadinya gangguan kesehatan pada masa tersebut, dapat berakibat negatif bagi pertumbuhan anak itu seumur hidupnya (Adzania, 2004). Di Indonesia saat ini penyakit diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan yang utama, hal ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan diare yang menimbulkan dampak kematian terutama pada bayi dan balita. Selain itu, diare merupakan penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah serta kejadian luar biasa (KLB). Diare merupakan penyebab utama kematian dan kesakitan pada anak di Negara berkembang, termasuk Indonesia. Banyak faktor yang mempengaruhi kejadian diare ini, diantaranya faktor lingkungan, sosial ekonomi dan pengetahuan ibu (Warman, 2008). Departemen kesehatan Republik Indonesia menyatakan bahwa tingkat kematian bayi di

Indonesia masih tergolong tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara anggota Assosiation South East Asia Nation (ASEAN). Penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak di negara berkembang adalah diare. Sampai saat ini diare tetap sebagai child killer peringkat pertama di Indonesia (Warouw, 2002). Dari hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dan survey kesehatan nasional tahun 2004 menunjukkan bahwa angka kesakitan diare sebanyak 374 per 1000 penduduk, dan di Kota Bengkulu pada tahun 2006 penderita penyakit diare berjumlah 7,125 orang (2,59 % per 1000 Penduduk). Tahun 2007 jumlah kasus diare 8,955 kasus (3,32 % per 1000 Penduduk). Seluruh penderita diare ditangani oleh tenaga kesehatan ( 100 %) .dari jumlah kasus diare yang ada 47,88% penderitanya adalah balita.(Dinkes Kota Bengkulu, 2007).

Tabel 1.1 Kejadian Diare Pada Balita di Kota Bengkulu Tahun 2008
Umur No Kecamatan Puskesmas Jembatan Kecil 1. GADING CEMPAKA Jalan Gedang Lingkar Barat Lingkar Timur Kuala Lempuing 2. RATU AGUNG Nusa Indah Sawah Lebar RATU SAMBAN Anggut Atas 1 bulan s/d < 1 Tahun 34 70 26 61 36 176 46 128 1- 4 Tahun 119 143 97 75 84 304 94 302

3.

4.

TELUK SEGARA

Pasar Ikan Kampung Bali

224 42

367 120

dimana Kecamatan Sungai Serut hanya membawahi 1 Puskesmas saja yaitu Puskesmas Sukamerindu. B.170 7. Tujuan Penelitian . Jika dibandingkan dengan Kecamatan yag lain maka Kecamatan Sungai Serut mempunyai angka kasus yang sangat banyak. KAMPUNG MELAYU Kandang Padang Serai Jumlah Sumber : SP2TP.501 212 55 191 125 121 101 3.5. Dari 8 kecamatan yang ada di kota bengkulu angka kejadian diare tertinggi adalah di Kecamatan Sungai Serut yaitu 950 kasus dan yang terendah di Kecamatan Muara Bangkahulu yaitu 386 kasus. Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang ”Gambaran Penatalaksanaan Diare pada Balita ditinjau dari Tingkat Pengetahuan dan Status Ekonomi di Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu Tahun 2009”. Dinas Kesehatan Kota Bengkulu 2008. Subdin Kesga. masalah penelitian ini adalah ”Bagaimana Gambaran penatalaksanaan Diare pada balita ditinjau dari tingkat pengetahuan dan status ekonomi di Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu Tahun 2009”. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang diatas. Muara Bangahulu Ratu Agung Beringin Raya 86 29 80 59 77 37 1. SELEBAR Basuki Rahmad Betungan 8. Berdasarkan data yang penulis dapatkan dari Puskesmas Sukamerindu data kejadian diare dari bulan Januari sampai dengan bulan Juli 2009 berjumlah 530 kasus. SUNGAI SERUT Sukamerindu 290 660 6. C.

2. Untuk mengetahui gambaran status ekonomi di Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu tahun 2009.a. Bagi Puskesmas-puskesmas di Kota Bengkulu pada umumnya dan Puskesmas Sukamerindu pada khususnya. a. Tujuan Umum Pada akhir penelitian ini dapat diketahui bagaimana gambaran penatalaksanaan diare pada balita ditinjau dari pengetahuan dan status ekonomi di Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu Tahun 2009. Bagi Akademik . Untuk mengetahui gambaran penatalaksanaan diare pada balita ditinjau dari tingkat sosial ekonomi keluarga di Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu tahun 2009 D. b. c. Untuk mengetahui gambaran penatalaksanaan diare pada balita ditinjau dari tingkat pengetahuan ibu di Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu tahun 2009 e. d. b. Manfaat Penelitian 1. Dengan adanya penelitian ini dapat dijadikan masukan pada puskesmas untuk meningkatkan mutu pelayanan dibidang kesehatan terutama tentang penyakit menular serta menambah pengetahuan tentang penyakit diare terutama pada balita dan dapat mencari alternative atau solusi untuk dapat mencegah lebih banyak lagi kejadian-kejadian diare dimasyarakat umumnya serta dapat dijadikan bahan referensi bagi studi penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Untuk mengetahui gambaran penatalaksanaan diare oleh ibu di Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu tahun 2009. Tujuan Khusus Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu terhadap diare di wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu tahun 2009.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi dan masukan yang bermanfaat bagi mahasiswa Sapta Bakti jurusan Keperawatan mengenai penyakit Diare. E. Keaslian Penelitian Sepengetahuan peneliti bahwa penelitian ini sebelumnya sudah pernah diteliti oleh peneliti lain akan tetapi penelitian ini hanya bersifat deskriptif sederhana. khususnya pada balita. . Bagi Peneliti selanjutnya Hasil penelitian dapat memberi informasi dan dijadikan masukan bahan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya. 3.

Deire adalah buang air besar encer atau cair lebih dari 3 x sehari. seperti penyakit sensitif terhadap gluten atau gangguan metabolisme yang menurun. 2. 2000). dapat pula disertai frekuensi defekasi yang meningkat. a. berlangsung kurang dari 14 hari.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. (Mansjoer. (Asnil et al. konsistensi tinja menjadi lebih lembek atau cair. diare persisten dan diare kronis. 1. Infeksi terdiri dari infeksi . dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (stengah padat). 2003). (Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI. menurut Arif. makanan. efek obat. 1998). c. Diare Persisten Diare persisten adalah diare yang berlangsung 15-30 hari. atau berlangsung lama dengan penyebab non-infeksi. Lama diare kronik lebih dari 30 hari. Diare Diare menurut definisi Hippocrates adalah buang air besar dengan frekuensi yang tidak normal (meningkat). merupakan kelanjutan dari diare akut atau peralihan antara diare akut dan kronik. Dan dikatakan masih diare dalam batas normal bila terkena diare dalam 1 tahun kurang dari 3 kali. Klasifikasi Diare Klasifikasi diare berdasarkan lama waktu diare terdiri dari diare akut. M (2000) diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 ml perjam). Diare kronis Diare kronis adalah diare hilang-timbul. imunodefisiensi dan keadaan-keadaan tertentu. Etiologi Diare akut disebabkan oleh banyak faktor antara lain infeksi. dengan pengeluaran tinja lunak atau cair yang dapat atau tanpa disertai lendir dan darah b. Diare Akut Diare akut adalah diare yang terjadi sewaktu-waktu.

Pada bayi dan anak yang terpenting adalah intoleransi laktosa. Faktor Psikologis : rasa takut dan cemas. Enteobatoxigenic. . Malasorbsi Protein 4). enchefalitis dan sebagainya. protozoa (entamuba. rotavirus. monosakarida (intoleransi glukosa. (Ngastiyah. 2004). Infeksi parasit : Cacing (Ascaris. c). Malasobrsi Lemak c). jamur (candida albicants). Coxsackie. alergi terhadap makanan. 2). histolityca. astrovirus dan sebagainya. b). 5). fruktosa dan galaktosa). 2004). Strongyloides). beracun. bronchopneumonia.enteral dan parenteral. 3) Faktor Malabsorbsi. seperti otitis media akut (OMA). Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah 2 tahun. 1) Infeksi enteral yaitu saluran pencenaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak meliputi : a). tonsilofaringitis. Poliomyelitis). Oxyuris. adenovirus. trichomonas hominis).Infeksi Bakteri : Aeromonas. Vibrio cholera Enteroinvasive(Pickering. a). b). Infeksi Parenteral yaitu infeksi dibagian tubuh lain diluar alat pencernaan. Trichiuris. Infeksi Virus : Enterovirus (Virus Echo. Faktor Makanan. giardia lamblia. yaitu seperti makanan bayi. Shigella. Compylobacter. Malasobsi karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa. Enteropathogenic. Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan dan infeksi parenteral yaitu infeksi di bagian tubuh lain di luar alat pencernaan. Eschecriacoli. Salmonella. maltosa dan sukrosa). Clostridiumdifficile. walaupun jarang dapat menimbulkan diare terutama pada anak yang lebih besar.

sehingga timbul diare. (Depkes. 1999 ). karena . c. Tinja cair. b. Gangguan osmotik Mukosa usus halus adalah epitel berpori. 4. sedangkan sekresi klorida di sel epitel berlangsung terus atau meningkat. Gangguan Mobilitas Usus Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makana. Diare terjadi jika bahan yang secara osmotik aktif dan sulit diserap. menyebabkan vili gagal mengabsorbsi natrium. nafsu makan berkurang atau tidak ada kemudian timbul diare. Manifestasi klinis Mula-mula anak balita menjadi cengeng. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus mengeluarkannya sehingga timbul diare. Patofisiologi Diare dapat disebabkan oleh satu atau lebih dari patofisiologi berikut. sehingga terjadi pula diare. Bahan tersebut berupa larutan isotonik dan hipertonik. air dan bahan yang larut di dalamnya akan lewat tanpa diabsorbsi sehingga terjadi diare. gelisah. Bila substansi yang diabsorbsi berupa larutan hipertonik. yakni gangguan osmotik dan gangguan sekretorik. Gangguan sekretorik Akibat rangsangan mediator abnormal misalnya enterotoksin. Hal ini menyebabkan peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus. mungkin disertai lendir atau lendir dan darah. Warna tinja makin lama berubah kehijau-hijauan karena tercampur empedu. a.3. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akanmengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula. yang dapat dilewati air dan elektrolit dengan cepat untuk mempertahankan tekanan osmotik antara isi usus dengan cairan ekstraseluler. suhu badan meningkat. air dan elektronik akan pindah dari cairan ekstraseluler ke dalam lumen usus sampai osmolaritas dari isi usus sama dengan cairan ekstraseluler dan darah. Larutan isotonik.

gangguan gizi. gangguan sirkulasi. tidak sadar« Mata Normal Cekung Sangat cekung Air mata Ada Tidak ada Tidak ada Mulut. (Asnil et al. yang berasal dari laktosa yang tidak diabsorbsi oleh usus selama diare. Gejala muntah dapat terjadi sebelum dan atau sesudah diare. sadar Gelisah. a. ingin Malas minum.1 derajat dehidrasi berdasarkan kehilangan berat badan Derajat dehidrasi Penurunan berat badan (%) Tidak dehidrasi <2½ Dehidrasi ringan 2½–5 Dehidrasi sedang 5-10 Dehidrasi berat 10 Derajat dehidrasi berdasarkan gejala klinisnya dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 2. 1999 ) .seringnya defekasi. anus dan sekitarnya lecet karena tinja makin lama menjadi asam akibat banyaknya asam laktat. Dehidrasi Dehidrasi terjadi karena kehilangan air lebih banyak daripada pemasukan air. lidah Basah Kering Sangat kering Rasa haus Minum seperti Haus. 2003). hipoglikemia. dapat disebabkan oleh lambung yang turut meradang dan pada anak-anak yang tidak mendapatkan perawatan yang baik selama diare akan jatuh pada keadaan-keadaan seperti dehidrasi. Derajat dehidrasi dapat dibagi berdasarkan gejala klinis dan kehilangan berat badan.2 Derajat dehidrasi berdasarkan gejala klinis Penilaian A B C Keadaan umum Baik. rewel« Lesu. tidak biasa minum banyak« bisa minum Periksa:Turgor kulit Kembali cepat Kembali lambat« Kembali sangat lambat Hasil pemeriksaan Tanpa dehidrasi Dehidrasi ringan/ Dehidrasi berat sedang Bila ada 1 Bila ada 1 tanda tanda ditambah ditambah 1/lebih 1/lebih tanda lain tanda lain Terapi Rencana Rencana Rencana pengobatan A pengobatan B pengobatanC ( Buku ajar diare. Derajat dehidrasi menurut kehilangan berat Tabel Tabel 2. gangguan keseimbangan asam-basa.

penggunaan jamban. lebih sering terjadi pada anak yang sebelumnya sudah menderita kekurangan kalori protein (KKP). apatis . sanitasi perumahan dan penyediaan tempat pembuangan air limbah yang layak. kejang sampai koma. .Hipoglikemia Pada anak-anak dengan gizi cukup/baik. hipoglikemia ini jarang terjadi. Pencegahan Diare Tindakan dalam pencegahan diare ini antara lain dengan perbaikan keadaan lingkungan. pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler ke dalam cairan intraseluler. tremor. sering diberikan pengenceran. terjadi penimbunan asam laktat karena adanya anoksia jaringan. syok. Hal ini disebabkan karena makanan sering dihentikan oleh orang tua. pembuangan sampah pada tempatnya. Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan baik karena adanya hiperperistaltik. asidosis bertambah berat. kesadaran menurun dan bila tidak segera ditolong penderita dapat meninggal 5. Gangguan sirkulasi Gangguan sirkulasi darah berupa renjatan atau shock hipovolemik. sering terjadi gangguan gizi dengan akibat terjadinya penurunan berat badan dalam waktu yang singkat. dapat mengakibatkan perdarahan dalam otak. e. seperti penyediaan sumber air minum yang bersih.b. d. Akibatnya perfusi jaringan berkurang dan terjadi hipoksia. Gangguan gizi Sewaktu anak menderita diare. c. Walaupun susu diteruskan. pucat. Gejala hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah menurun sampai 40 mg % pada bayi dan 50 mg % pada anak-anak. Gangguan keseimbangan asam-basa Gangguan keseimbangan asam basa yang biasa terjadi adalah metabolik asidosis. berkeringat. Metabolik asidosis ini terjadi karena kehilangan Na-bikarbonat bersama tinja. Gejala hipoglikemia tersebut dapat berupa : lemas. produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal.

membuang tinja anak pada tempat yang tepat. jari-jari tangan makanan atau sayuran yang belum dimasak atau dicuci dengan air yang sudah tercemar. memberikan imunisasi morbili (Andrianto. misalnya air minum. Menggunakan WC Kotoran manusia adalah semua benda atau zat yang tidak dipakai lagi oleh tubuh dan . 2003) a. Pemberian ASI selam diare mengurangi akibat negatif terhadap pertumbuhan dan keadaan gizi anak. Masyarakat dapat terhindar dari penyakit asalkan pengetahuan tentang kesehatan dapat ditingkatkan. karena didalam ASI terkandung antibodi dan zat-zat lain. sehingga perilaku dan keadaan lingkungan sosialnya menjadi sehat ( Notoadmodjo. perbaikan cara menyapih. Memberikan ASI Dengan memberikan ASI saja dengan tidak memberikan cairan lain tanpa menggunakan botol berarti telah menghindarkan anak dari bahaya bekteri dan organisme lain yang akan menyebabkan diare.Perbaikan perilaku ibu terhadap balita seperti pemberian ASI sampai anak berumur 2 tahun. cairan atau benda tercemar dengan feces. b. sebelum menyuapi makan anak dan sebelum makan mempunyai dampak terjadinya diare. sebelum menyiapkan makanan. c. d. Mencuci tangan Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan dengan sabun. kebiasaan mencuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas. Menggunakan air bersih Sebagian besar kuman penyebab diare ditularkan melalui mulut. 1995). Masyarakat yang menggunakan air ersih mempunyai resiko mnderita diare lebih kecil dibandingkan dengan yang tidak mendapatkan air bersih. terutama feces anak.

diare. media berkembangbiaknya mikroorganisme patogen. schistosomiasis. typus. Keluarga harus mempunyai WC yang berfungsi baik dan dapat dipakai oleh seluruh anggota keluarga. 2003). tambang. industri dan pada umumnya mengandung bahan atau zat yang membahayakan. tidak mengotori air tanah. Pembuangan air limbah Air limbah adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga. buang air besar hendaknya jauh dari kuman dengan jarak lebih kurang 10 meter dari sumber air. diare. jangan biarkan anak pergi ketempat buang air besar sendiri. e. Bila tidak ada WC. kolera. sebagai sumber pencemaran air permukaan tanah . kemudian ditimbun f. tidak mengotori air permukaan. kakus harus terlindung atau tertutup.harus dikeluarkan dari dalam tubuh seperti tinja. bermacam-macam cacing seperti cacing gelang. Sesuai dengan zat yang terkandung di dalam air limbah. tidak mengotori tanah permukaan. kotoran tidak boleh terbuka sehingga dapat dipergunakan oleh lalat untuk bertelur atau berkembang biak. Masalah pembuangan kotoran manusia merupakan masalah pokok karena kotoran manusia adalah sumber penyebaran penyakit yang multikompleks. Upaya dalam penggunanan WC mempunyai dampak yang besar dalam penurunan resiko terhadap penyakit diare. tempat berkembangbiaknya nyamuk. Beberapa penyakit yang dapat disebarkan oleh tinja manusia antara lain : tipus. pita. menimbulkan bau yang tidak enak serta pemandangan yang tidak sedap. Membuang Feces yang benar Feces bayi harus dibuang secra benar yaitu di WC dan apabila tidak memiliki WC pilih tempat untuk membuang feces anak seperti dalam lubang. air seni dan CO 2. Syarat pembuangan kotoran antara lain. kremi. pembuatannya mudah dan murah (Notoatmodjo. disentri. maka limbah yang tidak diolah terlebih dahulu akan menyebabkan gangguan kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup antara lain limbah sebagai media penyebaran berbagai penyakit terutama kolera.

KCL. 3). dan lain-lain untuk pengobatan pertama dirumah sebelum ada dehidrasi maupun setelah dehidrasi ringan. Pemberian cairan. a. Cairan Parenteral Rl (Ringer Lactat). hipoglikemi. 2003). malnutrisi energi dan protein serta kematian (Hasan R.dan lingkungan hidup lainnya. ½ % atau bagian glukosa 5-10% bagian Nacl 0.Cairan rehidrasi oral (CRO). CRO dengan formula lengkap yang mangandung Nacl. CRO dengan formula sederhana yaitu seperti larutan gula garam. Jalan Pemberian Cairan a). Peroral untuk dehidrasi ringan. kejang.9%). Interavena untuk dehidrasi berat. karena bekerja tidak nyaman (Notoatmodjo. Untuk menentukan jumlah cairan yang perlu diberikan kepada penderita diare harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1). NaHCa dan glukosa yang dikenal dengan nama oralit. b). 6. Jumlah cairan Jumlah cairan yang harus diberikan sama dengan jumlah cairan yang hilang melalui diare dan atau muntah (prevos water losses). sedang dan tanpa dehidrasi dan bila anak mau minum serta kesadaran baik. Dehidrasi. b). 2000). Banyaknya cairan yang hilang . 2). Jenis Cairan a). Komplikasi Akibat dari diare ini dapat terjadi berbagai komplikasi seperti. cairan 4 : 1 (4 bagian glukosa 5-10% bagian NaHCO3. mengurangi produktivitas manusia. Penatalaksanaan Dasar pengobatan diare adalah . 7. air tajin.

4). dan perbafasan (normal water losses). b). oralit). B. Pengahasilan merupakan salah satu unsur yang diperlukan dalam pemenuhan kebutuhan akan gizi dan proses penyembuhan. Untuk mencegah kurangnya masukannutrisi dan membantu menaikkan daya tahan tubuh anak dengan diare harus tetap diberi makan. Anak memerlukan asupan gizi yang tinggi untuk kesehatan tubuhnya dan untuk perkembangan dan pertumbuhan.melalui keringat. 6). berat badan. Cara Pemberian cairan a). Pemberian makanan harus mempertimbangkan umur. Belum ada dehidrasi Peroral sebanyak anak mau minum atau 1 gelas setiap kali buang air besar. antibiotika dan lain-lain. urine. Pengobatan untuk dehidrasi yang lebih berat seperti obat anti sekresi. dan kemampuan anak menerimanya. air tajin. Jika hal ini tidak terpenuhi maka dapat mengakibatkan malnutrisi dan gangguan kesehatan. Pemberian Makan (Dietetik). banyaknya cairan yang hilang melalui tinja dan muntah terus berlangsung pada derajat dehidrasi serta berat badan masing-masing anak atau golongan umur. Dehidrasi ringan 1 jam pertama : 25-50 ml/Kg/BB peroral atau intragastrik selanjutnya : 125 ml/Kg/Bb/hari 5). Obat-obatan Prinsip pengobatan diare menurut Hasan (2000). Status Ekonomi Status ekonomi dalam hal ini adalah penghasilan keluarga perbulan. Salah satu upaya mengatasi dehidrasi adalah dengan . ialah menggantikan cairan yang hilang melalui tinja dengan atau tanpa muntah dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukose atau karbohidrat lain (gula. anti spasmolitik.

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior)(Notoatmodjo. 2007). e. Namun demikian. d. kesadaran. dan sikapnya terhadap stimulus. Tetapi cara ini sulit dilakukan oleh masyarakat yang berpenghasilan rendah (Komsan. 1999) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru). B. Penelitian Rogers (1974) dalam (Notoatmodjo. subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan. di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan yakni : a. Proses Adopsi Perilaku Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada yang tidak didasari oleh pengetahuan. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.memperbaiki menu makanan dengan mengkonsumsi makanan yang baik dan bergizi. kesadaran. b. maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng . c. Awareness (kesadaran). Adoption. 1. Pengetahuan ( Knowledge). orang telah mencoba perilaku baru. yakni orang yang mulai tertarik kepada stimulus. dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap diatas. Trial. dan sikap yang positip. yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu. Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi melalui proses seperti ini didasari pengetahuan. Evaluation (menimbang-nimbang baik atau tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya).2003). Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Interest.

meramalkan. menyebutkan contoh. d. mengelompokkan dan sebagainya. yaitu : a. tetapi kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisa ini dapat dilihat dari penggunaan kata krja seperti dapat digambarkan (membuat bagian) membedakan. tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. kemampuan analisa ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja dapat menggambarkan (membuat bagan). Tingkat Pengetahuan Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan. . masih didalam atruktur organisasi tersebut.(long lasting). c. mendefinisikan. 2. dan masih ada kaitannya satu sama lain. Oleh sebab itu. Aplikasi (Aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menyebarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen. Memahami (Comprehensive) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjalankan secara benar tentang objek yang dikaetahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama. menguaikan. dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. b. Tahu ( Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu makna yang telah dipelajari sebelumnya termasuk kealam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahn yang dipelajari oleh rangsangan yang diterima. membedakan. memisahkan. menyimpulkan. menyatakan dan sebagainya. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan. Analisa (analysis) Analisa adalah suatu kemempuan untuk menjabarkan materi kedalam komponenkomponen. Orang yang telah paham objek atau materi harus dapat menjelaskan.

f. banyak sekali kebiasaan-kebiasaan atau tradisitradisi yang dilakukan oleh orang tanpa melakukan penalaran. sebelum diketemukan metode penemuan secara sistematis atau logis. 2). kedalam pengetahuan yang ingin kita ketahui atau ukur dapat disesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut diatas. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. mengelompokkan dan lain-lain. Apakah yang dilakukan . Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dngan kemampuan untuk justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek. e. Cara coba-coba (trial) Cara ini telah dipakai orang sebelum adanya kebudayaan bahkan mungkin sebelum adanya peradaban. Cara-cara penemuan pengetahuan pada periode ini antara lain meliputi : 1). Penilaian-penilaian ini berdasarkan suatu kritera yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Cara Memperoleh Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2003) cara memperoleh pengetahuan adalah sebagai berikut : a. Cara kekuatan (otoriter) Dalam kehidupan manusia sehari-hari. Pada waktu itu seseorang apabila menghadapi persoalan atau masalah upaya pemecahan dilakukan dengan coba-coba. 3. Pengukuran pengetahuan dpat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menyatakan tentang isi materi yang diukur dari subjek penelitian atau responden. Cara tradisional atau non alamiah Cara kuno ini dipakai untuk memperoleh kebenaran pngetahuan. Sintesis (syntesis) Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk melakukan atau mengembangkan bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.memisahkan.

b. 3). c. Berdasarkan pngalaman pribadi Pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai upaya dalam memperoleh pengetahuan. . Pengetahuan kurang bila responden menjawab ≤ 55 % dari pertanyaan yang diajukan. Kebiasaan itu biasanya diwariskan turun temurun dari generasi-generasi berikutnya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi pada masa lalu. Pengetahuan cukup bila responden dapat menjawab pertanyaan dengan benar 56. Melalui jalan pikiran Dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah menggunakan jalan pikirannya. Cara modern atau ilmiah Merupakan penggabungan antara proses berfikir deduksitf dan induktif yang dijadikan dasar untuk mengembangkan metode penelitian yang lebih praktis. Kategori pengetahuan Menurut Arikunto (1998) pengetahuan dapat dikategorikan sebagai berikut : a.75 % dari pertanyaan yang diajukan.100 % dari pertanyaan yang diajukan. b. 4). baik melalui induksi maupun deduksi. 4. Pengetahuan baik bila responden dapat menjawab pertanyaan dengan benar 76.oleh orang tersebut baik atau tidak.

Kerangka Konsep Dalam penelitian ini. Tinggi bila penghasilan ≥ .1. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yaitu melihat gambaran penanganan diare ditinjau dari pengetahuan dan status ekonomi di Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu Tahun 2009.BAB III METODE PENELITIAN A. konsepnya adalah gambaran penanganan diare ditinjau dari pengetahuan dan status ekonomi di Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu Tahun 2009 Diare C. B. Definisi Operasional Tabel 3. Definisi Operasional No 1 Variabel Satatus ekonomi Definisi operasional Penghasilan yang dihsilkan dalam 1 bulan Cara Ukur Alat Ukur 0. Hasil Ukur Skala Ukur Format Wawancara pengumpulan data Rendah bila Nominal penghsasilan < UMP/bulan 1.

Pengetahuan pasien Tahu dan mengerti cara Format Wawancara/ku 0. Baik jawaban benar median Kemampuan keluarga/ibu balita tentang tindakan perawatan yang dilakukan pada balita yang menderita diare bila Ordianal bila ≥ 3 Penatalaksanaan Diare Format Wawancara/ku 0. dimana yang menjadi objek penelitian adalah semua balita yang datang berobat ke Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu dari tanggal 1 s/d 10 September 2009 dengan diagnosa Diare berjumlah 25 orang. Baik bila jawaban benar ≥ median D. Populasi dan Sampel 1.September 2009 dengan diagnosa diare sebanyak 25 orang balita.UMP/bulan 3. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu balita yang datang berobat ke Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu dari bulan Agustus . Kurang bila Ordinal pengumpulan esioner jawaban data benar < median 1. . Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu yang dimulai . Sampel Dalam penelitian ini sample yang diambil dengan menggunakan teknik accidental sampling. E. Baik penanganan diare pengumpulan esioner jawaban data /chek list benar median 1. 2.

. dan Analisis Data 1. harus dilakukan dengan baik dan benar. dengan menggunakan rumus : F P= N Keterangan : x 100 % . Kegiatan dalam proses pengolahan data yaitu : 1. Memeriksa Data (editing) Yaitu meneliti kembali data yang telah terkumpul untuk mengetahui apakah telah sesuai dengan yang diharapkan atau belum.pada tanggal 1 s/d 10 September 2009. 2. Pengolahan Data Pengolahan data merupakan proses yang sangat penting dalam penelitian. Pengumpulan data Dalam penelitian ini pengumpulan data diperoleh dari data primer yaitu. Penyusunan data (tabulasi) Untuk lebih mudah dalam pembacaan data dan menganalisa data yang telah diambil. 3. 3. Analisa Data Data yang terkumpul diolah dan dianalisis lalu diinterpretasikan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dengan menggunakan metode deskriptif yang dihitung secara persentase. Oleh karena itu. F. dilakukannya wawancara yang berisikan pertanyaan yang berkenaan dengan pengetahuan dan status ekonomi. Pemberian kode (coding) Untuk menterjemahkan data yang terkumpul dengan mengunakan huruf atau angka yang lebih ringkas. Pengumpulan. Pengolahan. 2.

Hasil Penelitian . Pada tahap persiapan dimulai dari survey pengumpulan data awal yaitu tepatnya pada tanggal 29 Juli 2009. untuk mengumpulkan data penelitian dilakukan dengan cara observasi langsung dan wawancara terhadap ibu balita dengan menggunakan format pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan format pengumpulan data kuesioner. peneliti memasukan surat pengantar untuk survey pengumpulan data awal dari institusi pendidikan. Dalam melakukan penelitian ini penulis menghadapi berbagai hambatan yaitu kesulitan dalam proses wawancara dan harus menjelaskan cara pengisian kuesioner secara berulang kepada responden. Jalannya Penelitian epelaksanaan penelitian. B.P : Persentase yang diinginkan F : Jumlah responden dalam setiap kategori masing-masing variabel N : Jumlah sampel penelitian BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Sebelum melakukan survey data awal. Setelah data awal diadapatkan maka peneliti mulai merumuskan masalah penelitian yang akan diteliti. Penelitian berlangsung selama 2 minggu mulai dari tanggal 1 s/d 10 Sepetember 2009 dengan jumlah responden 25 orang balita yang menderita diare yang berobat ke Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu.

Gambaran karakteristik responden berdasarkan Penatalaksanaan Diare Tabel 4. Gambaran karakteristik responden berdasarkan Status Ekonomi Keluarga Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Tingkat Sosial Ekonomi Ibu Balita Yang Mengalami Diare Di Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu tahun 2009 No 1 Tinggi 2 Rendah Jumlah Status Ekonomi N 8 17 25 % 32. 1. Gambaran karakteristik responden berdasarkan tingkat pengetahuan Tabel 4.Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada bulan September 2009 terhadap 25 orang ibu yang mempunyai balita menderita diare yang dating berobat ke Puskesmas Suka Merindu Kota Bengkulu.1 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Ibu Balita Tentang Diare Di Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu tahun 2009 No Tingkat Pengetahuan 1 Baik 2 Kurang Jumlah N 10 15 25 % 40.0 68.0 100 Dari table diatas diketahui bahwa sebagian besar (60%) ibu yang mempunyai balita yang menderita diare mempunyai tingkat pengetahuan tentang diare dengan kategori kurang. sedangkan sebagian (40%) tingkat pengetahuan ibu tentang diare kategori baik. 3. 2.3 Distribusi Frekuensi Penatalaksanaan Diare .0 100 Dari table diatas diketahui bahwa sebagian besar (68%) ibu yang mempunyai balita yang menderita diare mempunyai tingkat Status Ekonomi rendah. diperoleh data tersebut berupa gambaran penatalaksanaan diare ditinjau dari tingkat pengetahuan dan status ekonomi di Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu.0 60. sedangkan sebagian (32%) tingkat Status Ekonomi tinggi.

0 100 Dari table diatas diketahui bahwa sebagian besar (76%) ibu yang mempunyai balita yang menderita diare mempunyai tingkat pengetahuan tentang penatalaksanaan diare dengan kategori kurang. 5.6 13 68.7%) ibu yang mempunyai balita yang menderita diare dalam penatalaksanaan diare dalam kategori kurang berasal dari ibu yang mempunyai tingkat pengetahuan kurang. 4.3 14 73.7 100 Kurang F % 5 26.Di Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu tahun 2009 No Penatalaksanaan Diare 1 Baik 2 Kurang Jumlah N 6 19 25 % 24.0 76.5 Distribusi Frekuensi Penatalaksanaan Diare Di Tinjau Dari Status Ekonomi Ibu Balita Di Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu tahun 2009 Status Ekonomi Tinggi Rendah Penatalaksanaan Diare Baik F 2 4 % 33. Gambaran karakteristik penatalaksanaan diare ditinjau dari Status Ekonomi Tabel 4. Gambaran karakteristik penatalaksanaan diare ditinjau dari tingkat pengetahuan Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Penatalaksanaan Diare Di Tinjau Dari Tingkat Pengetahuan Ibu Balita Di Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu tahun 2009 Tingkat No Pengetahuan 1 2 Baik Kurang Jumlah Penatalaksanaan Diare Baik F 5 1 6 % 83.3 16.0 17 76. sedangkan sebagian (24%) penatalaksanaan diare kategori baik.7 Kurang F % 6 31.4 Jumlah F % 8 24.3 66.0 No 1 2 .7 19 100 Jumlah F % 10 40 15 60 25 100 Dari table diatas diketahui bahwa sebagian besar (73.

Dari hasil penelitian keadaan yang menyebabkan hal diatas. Gambaran Penatalaksanaan Diare Ditinjau Dari Tingkat Pengetahuan Dari table diatas diketahui bahwa sebagian besar (73. Dalam kehidupan manusia sehari-hari. sehingga bila tingkat pengetahuan ibu baik. Pembahasan 1.Jumlah 6 100 19 100 25 100 Dari table diatas diketahui bahwa sebagian besar (68. ada kecenderungan kemampuan ibu dalam merawat anaknya yang sakit akan baik pula.4%) ibu yang mempunyai balita yang menderita diare dalam penatalaksanaan diare dalam kategori kurang berasal dari ibu yang mempunyai tingkat social ekonomi rendah.7%) ibu yang mempunyai balita yang menderita diare dalam penatalaksanaan diare dalam kategori kurang berasal dari ibu yang mempunyai tingkat pengetahuan kurang. Kebiasaan itu biasanya diwariskan turun temurun dari generasi-kegenerasi . C. 2003. kemungkinan disebabkan karena kurang banyaknya pemahaman ibu tentang informasi-informasi masalah penyakit diare baik secara langsung (penyuluhan-penyuluhan) maupun tidak langsung berupa (informasi berita-berita dari media cetak) dan hal tersebut juga karena adanya pengaruh lingkungan dimana lingkungan tempat penelitian dilaksanakan yaitu di daerah pasar. Hasil penelitian ini selaras dengan apa yang dikemukakan oleh Notoatmodjo. Dari pengetahuan ibu tentang penatalaksanaan diare menentukan ibu bagaimana ia merawat dan membesarkan anak-anaknya. sehingga informasi itu juga didapatkan dari tetangga yang sudah mengerti dan memahami tentang masalah diare. banyak sekali kebiasaan-kebiasaan atau tradisi yang dilakukan oleh orang tanpa melakukan penalaran. Apakah yang dilakukan oleh orang tersebut baik atau tidak.

kebiasan mecuci tangan. Pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai upaya dalam memperoleh pengetahuan. tatapi cara ini sulit untuk dilakukan oleh masyarakat yang berpenghasilan rendah. Pendapatan keluarga yang baik akan menunjang pertumbuhan balita untuk tetap sehat. Dari table diatas diketahui bahwa sebagian besar (68. kemampuan keluarga untuk produksi pangan) dan besarnya penghasilan keluarga. Hasil penelitian ini selaras dengan apa yang dikemukakan oleh Komsan (2003). karena orang tua merupakan tulang punggung keluarga yang dapat meyediakan semua kebutuhan anak baik dalam kebutuhan pangan dan kebutuhan akan diperolehnya status kesehatan yang baik . Pengaruh ini tidak saja pada kemampuan keluarga dalam menopang kehidupan akan tetapi juga terhadap kebaiasaan hidup sehat seperti pemenuhan kebutuhan gizi yang seimbang.4%) ibu yang mempunyai balita yang menderita diare dalam penatalaksanaan diare dalam kategori kurang berasal dari ibu yang mempunyai tingkat social ekonomi rendah. 2.berikutnya. dan kualitas sanitasi lingkungan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi pada masa lalu. Dengan adanya pengetahuan baik pada ibu diharapkan ibu mampu mengatur kondisi kesehatan dalam keluarganya terutama pada anak yang menderita penyakit diare. Beberapa peneliti telah menyimpulkan bahwa indikator status ekonomi merupakan predicator pertumbuhan anak yang dapat dilihat dari kepemilikan alat produksi pangan (tanah. pembuangan sampah dan limbah yang sehat. Gambaran Penatalaksanaan Diare Ditinjau Dari Status Ekonomi Keluarga. salah satu upaya mengatasi diare adalah dengan memperbaiki menu menu makanan dan mengkonsumsi makanan yang baik dan bergizi. Serta mereka menyimpulkan bahwa factor status ekonomi mempengaruhi kemampuan keluarga untuk membawa anaknya berobat ke pelayanan kesehatan.

Kesimpulan 1. Sebagian besar (68.7%) penatalaksanaan diare ditinjau dari tingkat pengetahuan dalam .BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. 4. 2. 3. Sebagian besar (60.0%) penatalaksanaan diare yang dilakukan oleh ibu balita yang menderita diare dalam kategori kurang.0%) tingkat pengetahuan ibu balita tentang diare dalam kategori kurang. Sebagian besar (73.0%) tingkat ekonomi keluarga ibu balita yang mederita diare dalam kategori rendah. Sebagian besar (76.

Sebagian besar (68. Hendaknya bagi petugas kesehatan khususnya tenaga perawat kesehatan masyarakat (perkesmas) untuk selalu berperan aktif dalam memberikan penyuluhan-penyuluhan tentang diare kepada masyarakat baik pada saat pasien melakukan kunjungan ke puskesmas maupun pada saat melaksanakan program posyandu agar kiranya dapat meningkatkan status kesehatan di tingkat masyarakat. Bagi Peneliti Lain Diharapkan pada peneliti lain agar dapat melanjutkan penelitian ini menjadi lebih spesifik dengan teknik yang berbeda. . B. 2. Bagi tempat penelitian RSUD Dr.kategori kurang. Saran 1. Bagi Institusi Pendidikan. Yunus Bengkulu.4%) penatalaksanaan diare ditinjau dari status ekonomi dalam kategori rendah. 5. M. Agar kiranya dapat memperbanyak sumber bacaan tentang penyakit diare sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi mahasiswa. 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful