BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Auditing Menurut Arens dan Loebbecke (1997 : 2) pengertian dari auditing adalah : Auditing is the accumullation and evaluation of evidence about quantifiable information of an economic entity to determine and report on the degree of correspondence between the information and established criteria. Auditing should be done by a competent independent person. Diterjemahkan oleh Yusuf (1998 : 1) dalam edisi bahasa Indonesia sebagai berikut : Auditing adalah proses pengumpulan, dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan oleh seorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi dimaksud dengan kriteria – kriteria yang telah ditetapkan. Auditing seharusnya dilakukan oleh seorang yang independen dan kompeten. Ditinjau dari sudut profesi akuntan publik (Mulyadi, 2002 : 9) auditing adalah : Suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara obyektif mengenai pernyataan – pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan – pernyataan tersebut tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil – hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan. Halim (1997 : 1) mengutip definisi dari ASOBAC (A Statement of Basic Auditing Concepts) mendefinisikan auditing sebagai : Suatu proses sistemik untuk menghimpun dan mengevaluasi bukti – bukti secara objektif mengenai asersi – asersi tentang berbagai tindakan dan kejadian ekonomi untuk menentukan tingkat kesesuaian antara asersi – asersi tersebut dengan kriteria yang telah ditentukan dan menyampaikan hasilnya kepada para pemakai yang berkepentingan.

Universitas Sumatera Utara

Sesuai dengan definisi di atas maka Ikatan Akuntan Indonesia (2001 : 326 pr. 1) menyatakan bahwa : “Tujuan umum audit atas laporan keuangan oleh auditor independen adalah untuk menyatakan pendapat atas kewajaran dalam semua hal yang material, posisi keuangan dan hasil usaha serta arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.” Dari definisi – definisi yang telah dikemukakan di atas maka dapat disimpulkan bahwa ada tiga hal yang penting dalam auditing, yaitu : a. seorang auditor harus independen b. auditor bekerja untuk mengumpulkan dan mengevaluasi bukti yang dapat digunakan untuk mendukung pendapatnya. c. hasil pekerjaan auditor adalah laporan audit yang merupakan hasil yang harus disampaikan auditor kepada pengguna laporan keuangan.

B. Bukti Audit 1. Pengertian Bukti Audit Mulyadi (2002 : 74) mendefinisikan bukti audit sebagai : Segala informasi yang mendukung angka – angka atau informasi lain yang disajikan dalam laporan keuangan, yang dapat digunakan oleh auditor sebagai dasar untuk menyatakan pendapatnya. Bukti audit yang mendukung laporan keuangan terdiri dari data akuntansi dan semua informasi penguat (corroborating information) yang tersedia bagi auditor. Arens, Elder dan Beasley (2008 : 225) mendefinisikan bukti audit “sebagai setiap informasi yang digunakan oleh auditor untuk menentukan apakah informasi yang diaudit telah dinyatakan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan”. Informasi ini sangat bervariasi sesuai kemampuannya dalam meyakinkan

Universitas Sumatera Utara

auditor bahwa laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan prinsip – prinsip akuntansi yang berlaku umum. Bukti audit mencakup informasi yang sangat persuasif, misalnya perhitungan auditor atas sekuritas yang diperjualbelikan dan informasi yang kurang persuasif, misalnya respons atas pertanyaan – pertanyaan dari para karyawan klien. Penggunaan bukti bukan hal yang aneh bagi auditor. Bukti juga digunakan secara ekstentif oleh para ilmuwan, pengacara dan ahli sejarah. Tujuan audit laporan keuangan adalah menyatakan pendapat atas kewajaran laporan keuangan klien. Untuk mendasari pemberian pendapat tersebut, maka auditor harus menghimpun dan mengevaluasi bukti – bukti yang mendukung laporan keuangan tersebut. Dengan demikian, pekerjaan audit adalah pekerjaan mengumpulkan dan mengevaluasi bukti, dan sebagian besar waktu audit sebenarnya tercurah pada perolehan atau pengumpulan dan pengevaluasian bukti tersebut. Buku harian, buku besar dan buku pembantu, memo, dan catatan tidak resmi seperti daftar lembaran kerja (work sheet) yang mendukung alokasi biaya, perhitungan dan rekonsiliasi secara keseluruhan merupakan bukti yang mendukung laporan keuangan. Informasi pendukung lainnya meliputi semua dokumen seperti cek, faktur, surat kontrak, notulen rapat, konfirmasi dan pernyataan tertulis dari pihak yang kompeten, informasi yang diperoleh auditor melalui tanya jawab, pengamatan, inspeksi dan pemeriksaan fisik, serta informasi lain yang dihasilkan atau tersedia bagi auditor yang memungkinkannya untuk menarik kesimpulan dengan alasan kuat.

Universitas Sumatera Utara

Ada empat keputusan mengenai bukti apa yang harus dikumpulkan dan berapa banyak bukti tersebut : a. pengajuan pernyataan. Berapa ukuran sampel yang akan dipilih untuk prosedur tersebut. yang diperlukan untuk memenuhi keyakinan bahwa komponen laporan keuangan klien dan keseluruhan laporan telah disajikan secara wajar. Keputusan Bukti Audit Keputusan penting yang dihadapi para auditor adalah menentukan jenis dan jumlah bukti yang tepat. dan hal itu dinyatakan dalam standar pekerjaan lapangan ketiga. Ikatan Akuntan Indonesia (2001 : 326 pr. Oleh karena itu auditor harus mengumpulkan dan mengevaluasi bukti yang cukup dan kompeten agar kesimpulan yang diambilnya tidak menyesatkan bagi pihak pemakai dan juga untuk menghindar dari tuntutan pihak – pihak yang berkepentingan di kemudian hari apabila pendapat yang diberikannya tidak pantas. 2.” Bukti audit sangat besar pengaruhnya terhadap kesimpulan yang ditarik oleh auditor dalam rangka memberikan pendapat atas laporan keuangan yang diauditnya. dan bahwa klien menyelenggarakan pengendalian internal yang efektif atas pelaporan keuangan. Universitas Sumatera Utara . 1) menyatakan bahwa : “ Standar pekerjaan lapangan ketiga berbunyi : Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi.Bukti audit merupakan suatu konsep yang fundamental di dalam audit. Prosedur audit yang digunakan b. dan konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan. pengamatan.

Dengan menggabungkan semua bukti yang diperoleh dari suatu audit. Persuasivitas Bukti Standar pekerjaan lapangan ketiga mewajibkan auditor untuk mengumpulkan bukti audit yang tepat dan mencukupi untuk mendukung pendapat yang akan diterbitkan. auditor harus mengevaluasi apakah tingkat ketepatan dan Universitas Sumatera Utara . Dua penentu persuasivitas bukti audit adalah ketepatan dan mencukupi yang langsung diambil dari standar pekerjaan lapangan ketiga. 3. Ketika menentukan persuasivitas bukti.c. termasuk pengaruh faktor – faktor yang mempengaruhi ketepatan dan kecukupan tersebut. Kapan melaksanakan prosedur tersebut. Sejumlah besar sampel bukti yang relevan tetapi tidak objektif juga tidak persuasif. auditor harus yakin bahwa pendapatnya benar dengan tingkat kepastian yang tinggi. Persuasivitas bukti hanya dapat dievaluasi setelah mempertimbangkan kombinasi antara ketepatan dan kecukupan. auditor akan mampu memutuskan kapan ia merasa yakin untuk menerbitkan suatu laporan audit. tidak mungkin bagi auditor untuk memperoleh keyakinan 100% bahwa pendapatnya benar. Sejumlah besar sampel bukti audit yang disediakan oleh pihak independen tidak bersifat persuasif kecuali bukti tersebut relevan dengan tujuan audit yang sedang diuji. Item – item mana yang akan dipilih dari populasi d. Demikian pula. Karena sifat bukti audit serta pertimbangan biaya dalam melaksanakan audit. sampel yang sedikit yang hanya terdiri dari satu atau dua bukti yang sangat tepat biasanya juga kurang memiliki persuasivitas. Namun.

termasuk semua faktor yang mempengaruhi kedua hal tersebut telah dipenuhi. Jenis – Jenis Bukti Audit Dalam menentukan prosedur audit mana yang akan digunakan. pihak ketiga diminta untuk menjawab jika informasi yang diterimanya tidak akurat. Pemeriksaan fisik adalah untuk memeriksa kuantitas. Konfirmasi terdiri atas 2 tipe : 1) Konfirmasi positif. seperti saham. seperti bangunan. Jawaban tersebut seyogyanya langsung disampaikan kepada auditor. 2) Konfirmasi negatif. wesel tagih. yaitu : a. Prosedur Analitis Prosedur analitis menggunakan perbandingan – perbandingan dan hubungan – hubungan untuk mengetahui apakah suatu angka atau data merupakan angka atau data yang logis. kondisi dan kualitas dari aset yang diperiksa. mesin. Prosedur analitis pada garis besarnya dapat dilakukan dengan lima cara : 1) Membandingkan data keuangan yang ada di laporan keuangan tahun yang diaudit dengan tahun sebelumnya. ada beberapa jenis bahan bukti yang dapat dipilih oleh auditor dalam rangka mengevaluasi bukti audit. uang kas. 2) Pihak ketiga memeriksa akurasi informasi tersebut 3) Pihak ketiga langsung mengirimkan hasil pemeriksaannya kepada auditor. Pada konfirmasi ini.kecukupan. Konfirmasi Konfirmasi adalah jawaban atas permintaan auditor baik tertulis maupun lisan mengenai keakuratan suatu informasi dari pihak ketiga yang independen (sebaiknya tertulis). Dalam pemeriksaan fisik ini indera yang digunakan dapat lebih dari satu indera dari panca indera yang kita miliki. pihak ketiga diminta untuk menjawab baik informasi yang diterimanya akurat maupun tidak akurat. Pada konfirmasi ini. Universitas Sumatera Utara . Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik adalah suatu pemeriksaan langsung atas aset yang berwujud. aset tetap berwujud . c. seperti : persediaan barang. kertas berharga . deskripsi. Menurut Fachrudin (2007 : 7). Proses konfirmasi adalah sebagai berikut : 1) Informasi dikirimkan ke pihak ketiga yang independen. auditor dapat memilihnya dari delapan kategori bukti yang luas. yang disebut tipe – tipe atau jenis – jenis bukti audit. b. 4. kendaraan dan peralatan kantor.

Untuk menentukan tingkat kepercayaan terhadap jenis bukti dokumenter ini. boleh ditanyakan kepada pihak perusahaan. misalnya konfirmasi yang merupakan penerimaan jawaban tertulis dari pihak yang independen di luar klien yang berisi verifikasi ketelitian yang diminta oleh auditor. Dokumen Menurut sumbernya. interview. f. 3) Membandingkan data keuangan yang ada di laporan keuangan dengan anggarannya. faktur dari penjual.lain. dan lain . misalnya mengenai metode pencatatan. proses pembayaran gaji/upah dan sebagainya. sehingga informasi yang diperolehlebih baik. bukti dokumenter dapat dibagi menjadi 2 golongan. Dalam tanya jawab sebaiknya dilakukan dengan menggunakan alat komunikasi yang dimengerti oleh pihak yang ditanya. Universitas Sumatera Utara . proses produksi. Tetapi dalam tanya jawab ini harus hati – hati. order pembelian dari pelanggan. 5) Membandingkan data keuangan yang ada di laporan keuangan dengan data non – keuangan yang ada kaitannya (relationship) d. Demikian juga. perlu ditanyakan apakah ada personil yang cuti atau sedang keluar kantor. Sebagian hasil tanya jawab ini mungkin saja dapat diperkuat atau di cek kesesuaiannya dengan bukti lain seperti observasi atau dokumen dapat dicek kesesuaiannya dengan tanya jawab. sehingga kemungkinan memperoleh jawaban yang bias tetap ada. karena pihak perusahaan bukanlah pihak yang independen. jika di catatan tidak ada barang setengah jadi (work in proccess). untuk memastikan tidak adanya barang setengah jadi. Jika kurang dari 15 orang. Juga. auditor harus mempertimbangkan apakah dokumen tersebut dapat dengan mudah diubah atau dibuat oleh karyawan dalam organisasi klien. 4) Membandingkan data yang di laporan keuangan dengan data atau informasi yang diketahui auditor atau hasil perhitungan auditor. e. misalnya rekening koran bank. yaitu : 1) Bukti dokumenter yang dibuat oleh pihak luar yang independen yang dikirimkan langsung kepada auditor. auditor dapat berkunjung ke bagian akuntansi untuk melihat apakah ada 15 orang yang bekerja di bagian akuntansi. Tanya jawab dilakukan kepada personil atau pihak perusahaan. Tanya Jawab (wawancara. Apa saja yang kurang jelas. auditor dapat berkunjung ke pabrik untuk melihat bagaimana proses produksi di perusahaan. Inquiries) Tanya jawab dapat dilakukan secara lisan maupun tertulis.2) Membandingkan data keuangan yang ada di laporan keuangan perusahaan yang diaudit dengan data perusahaan yang sejenis untuk tahun/periode yang sama. Observasi Observasi adalah penggunaan penglihatan dan indera lain untuk menilai atau memeriksa kegiatan – kegiatan tertentu misalnya jika di catatan kepegawaian ada 15 personil di bagian akuntansi. 2) Bukti dokumenter yang dibuat oleh pihak luar yang independen yang disimpan dalam arsip klien.

000 unit produk per jam. Menurut Arens. Dokumentasi audit Dokumentasi audit juga dapat dianggap sebagai kertas kerja. Pada umumnya spesialis yang digunakan auditor bukan orang yang mempunyai hubungan dengan klien. 5 juta. tetapi tidak boleh menerima begitu saja hasil – hasil penemuan spesialis tersebut. dokumentasi audit yang berkaitan dengan audit tahun berjalan. 5. Pengerjaan Kembali Pengerjaan kembali adalah mengulangi apa yang telah dilakukan atas suatu data atau informasi. insinyur. sehingga diperoleh angka Rp. kapasitasnya dapat menghasilkan 1. Misalnya suatu faktur penjualan. kemudian menguranginya jika ada diskon dan sebagainya.misalnya menurut catatan dan informasi di perusahaan mesin yang baru dibeli perusahaan. ahli teknik dan lain – lain. File itu meliputi berbagai macam informasi perencanaan sebagai informasi deskriptif Universitas Sumatera Utara . Elder dan Beasley (2008 : 241 – 243) secara lebih khusus. jumlah rupiah di faktur tersebut Rp. misalnya pengacara. auditor dapat meminta untuk melakukan observasi beroperasinya mesin tersebut. geologist. Bukti dari spesialis Spesialis adalah seorang yang memiliki keahlian atau pengetahuan khusus dalam bidang selain akuntansi dan auditing. 5 juta. Untuk memeriksa hal diatas. g. Auditor harus membuat surat perjanjian kerja dengan spesialis. memberikan : 1) Dasar bagi Perencanaan Audit Jika auditor akan merencanakan audit yang memadai. meskipun semakin banyak dokumentasi audit yang diselenggarakan dalam file komputerisasi. h. Dokumentasi audit adalah catatan utama yang mencakup semua informasi yang perlu dipertimbangkan oleh auditor untuk melakukan audit secara memadai dan untuk mendukung laporan audit. Auditor akan menghitung kembali dengan mengalikan kuantitas barang yang dijual dengan harga per unit dari barang tersebut. Tujuan dokumentasi audit adalah untuk membantu auditor dalam memberikan kepastian yang memadai bahwa audit telah sesuai dengan standar audit yang berlaku umum dan juga membantu auditor dalam melaksanakan dan mensupervisi audit. informasi tentang referensi yang diperlukan harus tersedia dalam file audit.

tentang pengendalian internal. Ada dasar pemikiran mengenai jenis dokumentasi audit yang disiapkan untuk suatu audit dan cara dokumentasi itu diatur dalam file. dan dasar kesimpulan yang dicapai. Apabila prosedur audit melibatkan sampling transaksi atau saldo . tindakan yang diambil untuk menanganinya. auditor harus mampu memperlihatkan kepada lembaga pembuat peraturan dan pengadilan bahwa audit telah direncanakan dengan baik dan diawasi secara memadai. Bukti yang dikumpulkan telah tepat dan mencukupi dan laporan audit tepat dengan mempertimbangkan hasil audit. Review yang cermat oleh supervisor juga memberikan bukti bahwa audit telah diawasi secara memadai. maka dokumentasi audit harus mengidentifikasi item –item yang diuji. a. 4) Dasar bagi Review oleh Supervisor dan Partner File audit adalah kerangka referensi utama yang digunakan oleh supervisor untuk mereview pekerjaan asisten. Kantor akuntan publik diharuskan untuk menjaga kerahasiaan mengenai informasi perusahaan tersebut. Jika muncul kebutuhan.saldo. Isi dan Organisasi Dokumentasi Audit Setiap kantor akuntan publik menetapkan pendekatannya sendiri untuk menyiapkan serta mengatur file audit dan auditor pemula harus menggunakan pendekatan kantornya. kecuali jika ada izin dari perusahaan yang diaudit tersebut atau ada perkara pengadilan. 2) Catatan Bukti yang Dikumpulkan dan Hasil Pengujian Dokumentasi audit adalah sarana utama untuk mendokumentasikan bahwa audit yang memadai telah dilaksanakan sesuai standar auditing. 3) Data untuk menentukan Jenis Laporan Audit yang Tepat Dokumentasi audit menyediakan sumber informasi yang penting untuk membantu auditor dalam memutuskan apakah bukti yang tepat dan mencukupi telah dikumpulkan guna menjustifikasi laporan audit berdasarkan situasi tertentu. program audit tahun sebelumnya. File audit juga harus mendokumentasikan temuan atau masalah audit yang signifikan. Data yang ada dalam file memiliki kegunaan yang sama untuk mengevaluasi bukti bahwa audit telah diawasi secara memadai. Universitas Sumatera Utara . Dokumentasi yang berupa kertas kerja audit merupakan milik kantor akuntan publik walaupun kertas kerja tersebut berisi informasi mengenai perusahaan. anggaran waktu untuk masing – masing area audit.

yang berisi semua hal yang penting yang benar – benar terlibat dalam audit.1. Isi dan organisasi Dokumentasi Audit Sumber : Arens. seperti data perusahaan pada file permanen. file audit dimulai dengan informasi umum.walaupun perusahaan yang berbeda dapat mengikuti pendekatan yang agak berbeda. Laporan Keuangan dari Laporan Audit Neraca Saldo berjalan Ayat Jurnal Penyesuaian Kewajiban Kontinjen Operasi Kewajiban dan Ekuitas Active Prosedur Analitis Pengajuan pengendalian & Pengajuan Substansif Pengendalian Internal Informasi Umum Program Audit File Permanen Gambar 2. Gambar 2. Dalam gambar berikut. Elder dan Beasley (2008) Universitas Sumatera Utara . mengilustrasikan isi dan organisasi dari serangkaian file audit yang tipikal. dan diakhiri dengan laporan keuangan serta laporan audit.1.

Dengan memiliki informasi ini dalam file permanen auditor dapat berkonsentrasi dalam menganalisis perubahan saldo tahun berjalan saja. karena aspek sistem itu sering kali tidak berubah dari tahun ke tahun. Elder dan Beasley (2008 : 245 – 246) File permanen umumnya meliputi hal – hal berikut : 1) Kutipan atau salinan dari dokumen perusahaan yang terus penting artinya seperti akte pendirian. dan aktiva tetap. c. File Tahun Berjalan File tahun berjalan mencakup semua dokumentasi audit yang diterapkan pada tahun yang diaudit. Menurut Arens. goodwill. dan lainnya. anggaran rumah tangga. File ini menjadi sumber informasi yang kaya tentang audit yang terus penting adanya dari tahun ke tahun. Informasi ini berguna dalam membantu auditor memutuskan apakah ada perubahan tidak biasa dalam saldo akun tahun berjalan yang harus diselidiki secara lebih ekstensif. 2) Analisis akun tahun – tahun sebelumnya yang terus penting artinya bagi auditor. kuesioner. Mencakup akun seperti utang jangka – panjang. 3) Informasi yang berhubungan dengan pemahaman atas pengendalian internal dan penilaian risiko pengendalian. File Permanen File permanen berisi data yang bersifat historis atau berlanjut yang bersangkutan dengan audit saat ini. dan informasi tentang pengendalian internal lainnya termasuk identifikasi pengendalian dan kelemahan sistem tersebut. Di antara data ini terdapat rasio dan persentase yang dihitung oleh auditor dan total saldo atau saldo per bulan untuk akun tertentu. 4) Hasil prosedur analisis dari audit tahun sebelumnya. Ada satu set file permanen untuk klien dan satu set file tahun berjalan untuk audit setiap tahun.b. opsi saham. Berikut ini adalah jenis Universitas Sumatera Utara . Catatan ini digunakan sebagai titik awal untuk mendokumentasikan pemahaman auditor atas pengendalian internal. Kontrak dapat mencakup program pensiun. bagan arus. akun ekuitas pemegang saham. Informasi ini mencakup bagan organisasi. karena telah menyimpan hasil audit tahun sebelumnya dalam bentuk yang bias diakses untuk review. Masing – masing dokumen ini penting bagi auditor selama tahun – tahun masa berlalunya. lease. perjanjian obligasi dan kontrak.

Karena acuan untuk menyiapkan laporan keuangan adalah buku besar. 5) Skedul pendukung. komentar review penyelia. salinan notulen rapat dewan direksi. yang disiapkan oleh klien atau auditor untuk mendukung jumlah yang spesifik pada laporan keuangan. bukannya bukti yang dirancang untuk mendukung jumlah laporan keuangan tertentu. Bagian terbesar dari dokumentasi audit meliputi skedul pendukung terinci. Pencantuman program audit yang dirancang dengan baik dan diselesaikan dengan cara yang seksama dalam file audit adalah bukti dari audit yang bermutu tinggi. Setiap akun yang terinci pada skedul utama itu pada gilirannya didukung oleh skedul pendukung yang tepat bagi pekerjaan audit yang dilakukan dan kesimpulan yang dicapai. Sedini mungkin setelah tanggal neraca. meskipun beberapa kantor akuntan juga menyertakan salinan program audit untuk setiap bagian audit pada dokumentasi audit. Skedul ini disebut tahun berjalan. Auditor harus memilih jenis skedul yang tepat bagi aspek audit tertentu untuk mendokumentasikan kecukupan audit dan memenuhi tujuan lain dari dokumentasi audit. meskipun saldo akun buku besar sudah benar. Standar auditing mewajibkan program audit tertulis untuk setiap audit. Walaupun ayat jurnal penyesuaian yang ditemukan dalam audit seringkali dibuat oleh auditor. auditor harus memperoleh atau menyiapkan daftar akun buku besar umum dan saldo akhir tahunnya. jumlah yang dicantumkan dalam catatan tersebut akan menjadi pusat perhatian audit. Jenis utama skedul pendukung yaitu : Universitas Sumatera Utara . hal itu harus disetujui oleh klien karena tanggung jawab utama manajemen adalah menyajikan laporan secara wajar. catatan tentang diskusi dengan klien. 2008 : 246 – 251) 1) Program Audit. 2) Informasi umum.informasi yang sering tercakup dalam arsip tahun berjalan (Arens. dan kesimpulan umum. Apabila auditor menemukan salah saji yang material dalam catatan akuntansi. 4) Ayat jurnal penyesuaian dan Reklasifikasi. setiap auditor menandatangani program untuk prosedur audit yang dilakukan dan menunjukkan tanggal penyelesaian. Program audit ini biasanya dicatat dalam file terpisah untuk memperbaiki koordinasi dan integrasi semua bagian audit. Ayat jurnal reklasifikasi sering kali dibuat dalam laporan audit untuk menyajikan informasi akuntansi secara tepat. Selama audit berlangsung. laporan keuangan harus dikoreksi. Elder dan Beasley. Teknik yang digunakan oleh banyak perusahaan memformat neraca saldo berjalan auditor dalam format yang sama dengan laporan keuangan. Ini mencakup item – item seperti memo perencanaan audit. 3) Neraca saldo berjalan. Setiap baris pos pada neraca saldo didukung oleh skedul utama yang berisi rincian akun – akun dari buku besar yang membentuk total baris pos. Beberapa file audit mencakup informasi periode berjalan yang bersifat umum. salinan kontrak atau perjanjian yang tidak dicantumkan dalam file permanen.

dan kode indeks. tanggal persiapan. (e) Ikhtisar prosedur. Skedul ini tidak memperlihatkan jumlah total dan tidak terkait dengan buku besar karena tujuannya adalah mendokumentasikan pengujian yang dilakukan dan hasil yang diperoleh. (g) Informasional. (c) Rekonsiliasi jumlah. Sebagian besar isi file audit ini terdiri dari dokumentasi luar yang dikumpulkan oleh auditor. 3) Dokumentasi audit yang lengkap harus dengan jelas menunjukkan pekerjaan audit yang dilakukan. (h) Dokumentasi dari luar. Penyusunan Dokumentasi Audit Dokumentasi audit harus memiliki karakteristik tertentu yaitu : 1) Setiap file audit harus diidentifikasi secara wajar dengan informasi seperti nama klien. Skedul pengujian kelayakan berisi informasi yang memungkinkan auditor untuk mengevaluasi apakah saldo klien tampak mengandung salah saji salah saji dengan mempertimbangkan situasi penugasan. gambaran tentang isi. d. salah saji yang ditemukan. Sejumlah skedul bertujuan khusus yang dirancang untuk memperlihatkan pengujian terinci yang dilaksanakan. Namun. Skedul ikhtisar mendokumentasikan luas pengujian. yang dapat dicapai dengan tiga cara : dengan Universitas Sumatera Utara . 2) Dokumentasi audit harus memiliki indeks dan referensi silang untuk membantu pengaturan dan pengarsipannya. dan kesimpulan auditor berdasarkan pengujian. Jenis skedul lainnya mengikhtisarkan hasil dari prosedur audit khusus. Rekonsiliasi yang mendukung jumlah tertentu dan biasanya diharapkan akan mengaitkan jumlah yang dicatat dalam catatan klien dengan sumber informasi lainnya. tanda tangan orang yang menyiapkan. yaitu menghubungkan saldo awal dan akhir. (b) Neraca saldo atau daftar. Jenis skedul ini terdiri dari rincian yang membentuk saldo akhir tahun dari akun buku besar umum. Analisis dirancang untuk memperlihatkan aktivitas dalam akun buku besar umum selama keseluruhan periode audit. seperti jawaban konfirmasi dan salinan perjanjian dengan klien. (f) Pemeriksaan dokumen pendukung. skedul itu harus menyatakan kesimpulan positif atau negatif tentang tujuan pengujian itu. Jenis skedul ini berisi informasi yang berlawanan dengan bukti audit.(a) Analisis. (d) Pengujian kelayakan. periode yang dicakup.

Untuk memiliki dasar yang memadai bagi pemberian pendapat. Johnson dan Kell (2002 : 195) mendefinisikan evaluasi bukti audit adalah : Persyaratan dasar yang memadai berkaitan dengan tingkat keyakinan menyeluruh yang diperlukan oleh auditor untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan. Evaluasi Bukti Audit Evaluasi bukti audit diperlukan untuk menyiapkan laporan audit yang tepat sehingga auditor harus bersifat obyektif. dengan menandatangani prosedur audit dalam program audit. seorang auditor memerlukan bukti audit yang lebih meyakinkan. auditor harus mengetahui tujuannya. dan menyeluruh dalam mengevaluasi bukti audit. 6. Untuk menyiapkan dokumentasi audit dengan benar. bagi setiap asersi laporan keuangan yang material. Boynton. 5) Kesimpulan yang dicapai tentang segmen audit yang dipertimbangkan harus dinyatakan dengan jelas. dan dengan notasi langsung pada skedul. Menurut Fachrudin (2007 : 13) ada beberapa tipe pengujian atau evaluasi untuk bukti audit. Notasi pada skedul dilakukan dengan menggunakan tanda centang (tick marks) yaitu simbol yang berdekatan dengan rincian skedul. hati – hati. yaitu : Universitas Sumatera Utara . Auditor harus secara mendalam mencari bukti audit dan tidak memihak (bias) dalam mengevaluasinya.pernyataan tertulis dalam bentuk memorandum. 4) Dokumentasi audit harus meliputi informasi yang cukup untuk memenuhi tujuan yang telah dirancang.

c. pengevaluasian bukti audit dengan dilakukannya verifikasi atas asersi manajemen dan kesesuaian bukti audit dengan Universitas Sumatera Utara . d. Prosedur untuk mendapatkan pengertian mengenai internal control (pengawasan internal) perusahaan. Pengujian pengawasan (test of controls) Setelah pengertian mengenai internal control perusahaan diketahui.saldo Pengujian ini terfokus pada saldo akhir buku besar. tetapi untuk mencapai tujuan tersebut. tujuan – tujuan lainnya harus diikutsertakan. tidak ada yang tertinggal. evaluasi kompetensi dan kecukupan bukti audit. 3) Transaksi yang dicatat telah akurat. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui apakah : 1) Transaksi yang dicatat telah benar – benar terjadi dan untuk kepentingan dan berkaitan dengan perusahaan. Pengujian Terinci atas Saldo . Evaluasi bukti audit dapat dilakukan selama dan pada akhir audit atau pada akhir pekerjaan lapangan. Tujuan utama pengujian terinci atas saldo – saldo adalah keakurasian saldo – saldo perkiraan. 6) Transaksi telah dicatat ke buku besar (general ledger) dan buku tambahan (subsidiary ledger) yang tepat. Pengujian Substantif atas Transaksi Pengujian ini dilakukan untuk mendapatkan kemungkinan adanya salah saji dalam mata uang yang langsung mempengaruhi keakurasian saldo – saldo di laporan keuangan. 2) Transaksi yang dicatat telah lengkap. 5) Transaksi telah dicatat pada tanggal/waktu yang tepat. Pelaksanaan pengevaluasian bukti audit akan mempertimbangkan evaluasi risiko salah saji yang diperkirakan. 4) Transaksi yang dicatat telah sesuai dengan klasifikasinya di laporan keuangan. baik untuk perkiraan neraca maupun perkiraan laba – rugi. Pengertian mengenai internal control perusahaan dapat diperoleh melalui : 1) Manual mengenai internal control jika ada 2) Melakukan tanya jawab (inquiries) dengan personil perusahaan 3) Memeriksa dokumen – dokumen dan catatan – catatan perusahaan 4) Melakukan observasi atas kegiatan – kegiatan dan operasi perusahaan b. auditor melakukan pengujian apakah kontrol yang telah ditetapkan perusahaan telah berjalan (efektif). misalnya apakah prosedur pengeluaran kas yang telah ditetapkan oleh perusahaan telah berjalan dengan baik.a.

Salah saji dapat terjadi sebagai akibat dari kekeliruan atau kecurangan. Evaluasi Risiko Salah Saji yang Diperkirakan Laporan keuangan mengandung salah saji material jika laporan tersebut berisikan kekeliruan dan kecurangan yang dampaknya. Dalam keadaan ini. salah saji dapat terjadi sebagai akibat penerapan secara keliru prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia. penyimpangan dari fakta atau penghilangan informasi yang diperlukan. semakin rendah rsiko audit yang Universitas Sumatera Utara . Konsep keseluruhan mengenai resiko audit ini merupakan kebalikan dari keyakinan yang memadai. baik yang disebabkan oleh kekeliruan maupun kecurangan. dan pengevaluasian pada akhir pekerjaan lapangan dilakukan pada saat auditor memutuskan pendapat yang akan dinyatakannya dalam laporan audit. SA Seksi 312 paragraf 4 menyatakan bahwa : Laporan keuangan mengandung salah saji material apabila laporan keuangan tersebut mengandung salah saji yang dampaknya. secara individual atau keseluruhan. cukup signifikan sehingga dapat mengakibatkan laporan keuangan tidak disajikan secara wajar. Auditor bertanggungjawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit guna mendapatkan keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Resiko audit merupakan risiko kesalahan auditor dalam memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian atas laporan keuangan yang salah saji secara material.tujuan audit spesifik. sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. a. secara individual atau gabungan sedemikian signifikan sehingga mencegah penyajian secara wajar laporan keuangan tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum. Semakin tinggi kepastian yang ingin diperoleh auditor dalam menyatakan pendapat yang benar. dalam semua hal yang material.

merupakan risiko bahwa auditor tidak dapat mendeteksi salah saji material dalam suatu penugasan. Bukti audit yang tepat dan cukup dapat menjadi dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit.diterima. auditor harus memperhatikan kompetensi. yaitu kerentanan asersi terhadap salah saji material dengan mengasumsikan bahwa tidak ada pengendalian yang berhubungan. Hubungan ketiga resiko ini dapat digambarkan dengan rumus Model Resiko Audit sebagai berikut : AR = IR x CR x DR Dimana : AR = Risiko Audit IR = Risko bawaan CR = Risiko Pengendalian DR = Risiko Deteksi b. yaitu resiko bawaan. Resiko pengendalian. yang berarti relevansi dan reliabilitasnya memenuhi tujuan audit untuk Universitas Sumatera Utara . Risiko deteksi. 1) Evaluasi Ketepatan Bukti Audit Arens. Elder dan Beasley (2008 : 227) menyatakan bahwa : Ketepatan Bukti (Appropriateness of evidence) adalah ukuran mutu bukti. yaitu risiko bahwa suatu salah saji yang material yang akan terjadi dalam asersi tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh pengendalian perusahaan. Ada tiga komponen resiko audit. ketepatan dan kecukupan dari bukti yang telah dikumpulkan untuk dievaluasi. Evaluasi Kompetensi dan Kecukupan Bukti Audit yang Dikumpulkan Di dalam mengevaluasi bukti.

2) Evaluasi Kecukupan Bukti Audit Guy. Bukti harus berkaitan atau relevan dengan tujuan audit yang akan diuji oleh auditor sebelum bukti tersebut dianggap tepat. tetapi tidak relevan untuk tujuan audit lainnya. Jika bahan bukti dianggap sangat kompeten dan tepat maka akan sangat membantu meyakinkan auditor bahwa laporan keuangan telah disajikan dengan wajar. Pada saat menentukan apakah bukti sudah mencukupi. Relevansi hanya dapat dipertimbangkan dalam tujuan audit khusus. auditor Universitas Sumatera Utara . sebaliknya struktur pengendalian intern yang lemah seringkali tidak dapat mencegah atau mendeteksi kekeliruan dan ketidakberesan yang terjadi dalam proses akuntansi. Relevansi bukti audit yang berupa catatan akuntansi dipengaruhi secara langsung oleh efektivitas struktur pengendalian intern. Jika suatu bukti dianggap sangat tepat. dan pengungkapan yang berkaitan. saldo akun. Struktur pengendalian intern yang kuat akan lebih menjamin keandalan catatan akuntansi dan bukti – bukti lainnya yang dibuat dalam organisasi klien.kelas transaksi. hal itu hal itu akan sangat membantu dalam meyakinkan auditor bahwa laporan keuangan telah disajikan dengan wajar. Kompetensi atau ketepatan bukti audit berkaitan dengan kualitas atau keandalan suatu bahan bukti. karena bukti audit mungkin relevan untuk satu tujuan audit. Misalnya kalau auditor menghitung persediaan maka bahan bukti tersebut akan melebihi kompeten daripada kalau pihak manajemen yang memberikan auditor gambarannya sendiri. Alderman dan Winters (2002 : 165) mendefinisikan kecukupan bukti audit sebagai berikut : Kecukupan berkaitan dengan kualitas dan kuantitas bukti audit yang diperoleh.

Sebaliknya. materialitas kemungkinan kesalahan dan kecurangan. kecuali unsur ini merupakan bagian yang besar dari jumlah total populasi. Pengumpulan bukti audit dan pengevaluasian bukti audit dilakukan berdasarkan atas uji petik atau teknik sampling. Pada dasarnya kecukupan bukti audit lebih berkaitan dengan kuantitas bukti audit. tingkat resiko terkait dan jenis serta kompetensi bukti yang tersedia.harus menggunakan pertimbangan profesional mengenai berapa banyak dan apa saja bukti audit yang dibutuhkan. maka auditor dapat mengambil sampel yang lebih sedikit untuk audit atas aktiva tetap. Jumlah diukur terutama dengan besarnya sampel yang dipilih auditor. Auditor tidak mungkin mengumpulkan dan mengevaluasi seluruh bukti audit yang ada untuk mendukung pendapatnya karena hal tersebut sangat tidak efisien. Sampel yang berisi unsur populasi dengan nilai rupiah yang besar. Misalnya dalam mengaudit PT. pos tertentu yang diuji akan mempengaruhi kecukupan bukti audit. Menurut Boynton. X. unsur dengan kemungkinan salah saji yang tinggi. Jumlah bahan bukti audit yang dikumpulkan menentukan kecukupannya. berdasarkan sifat akun yang sedang diuji. dan unsur yang mewakili populasi biasanya dipertimbangkan mencukupi. sebagian besar auditor biasanya mempertimbangkan suatu sampel yang hanya berisi jumlah rupiah yang terbesar dari populasi sebagai hal yang tidak mencukupi. Johnson dan Kell (2002 : 206) ada empat faktor – Universitas Sumatera Utara . Ada beberapa faktor yang menentukan kelayakan besar sampel dalam audit. dan yang paling penting adalah perkiraan atau ekspektasi auditor atas terjadinya kekeliruan dan salah saji dan efektivitas struktur pengendalian intern klien. Selain besarnya sampel. auditor menyimpulkan bahwa klien mempunyai pengendalian yang efektif atas pencatatan aktiva tetap.

berdasarkan temuan salah saji yang material. dan pengungkapan di mana salah saji paling mungkin terjadi. Standar pekerjaan lapangan kedua mengharuskan auditor memahami entitas dan lingkungannya. Semakin rendah tingkat materialitas maka akan semakin banyak kuantitas bukti audit yang diperlukan dan juga demikian sebaliknya. Jika klien menolak untuk mengoreksi laporan keuangan itu. auditor harus mengeluarkan pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar. dimana semakin tinggi tingkat resiko bawaan maka semakin banyak bukti yang diperlukan. yaitu : a). Rendahnya salah saji yang dapat ditoleransi mengharuskan auditor untuk mengumpulkan lebih banyak bukti sehingga auditor yakin tidak ada salah saji material yang terjadi. Rendahnya resiko audit berarti juga tingginya tingkat kepastian yang diyakini auditor mengenai ketepatan pendapatnya sehingga bukti yang dikumpulkan juga harus lebih banyak. Auditor harus dapat membedakan dengan jelas antara tingkat materialitas saldo akun dengan akun yang material.faktor yang mempengaruhi kecukupan bukti audit. Untuk mendukung pendapat auditor atas laporan keuangan. Hubungan terbalik juga terdapat antara resiko deteksi dengan jumlah bukti yang diperlukan. b). Semakin rendah tingkat resiko audit yang dapat diterima auditor maka semakin banyak juga kuantitas bukti yang diperlukan. Universitas Sumatera Utara . Demikian juga jika semakin tinggi tingkat resiko pengendalian maka semakin banyak bukti yang diperlukan. auditor harus. dan akun yang mempunyai resiko tinggi terhadap salah saji dalam laporan keuangan juga memerlukan lebih banyak bukti daripada akun yang beresiko rendah terjadi salah saji. Karena bertanggungjawab menentukan apakah laporan keuangan salah saji secara material. kelas transaksi. Auditor menggunakan model resiko audit untuk mengidentifikasi lebih jauh salah saji yang potensial dalam laporan keuangan secara keseluruhan serta saldo akun khusus. tergantung pada seberapa material salah saji tersebut. Materialitas Materialitas adalah pertimbangan utama dalam menentukan laporan audit yang harus dikeluarkan. untuk menilai resiko salah saji yang material dalam laporan keuangan klien. termasuk pengendalian internalnya. dan sebaliknya terdapat hubungan searah antara resiko bawaan dan resiko pengendalian dengan kuantits bukti yang diperlukan. Resiko audit Terdapat hubungan erat antara resiko audit dengan materialitas. Terdapat hubungan terbalik antara tingkat materialitas dengan kuantitas bukti audit yang diperlukan. Pada umumnya akun yang material terhadap laporan keuangan memerlukan bukti yang lebih banyak daripada akun yang tidak material. menyampaikan hal itu kepada klien sehingga bisa dilakukan tindakan koreksi.

000. seorang auditor seringkali menghadapi keputusan apakah penambahan waktu dan biaya akan memberikan manfaat yang sepadan berupa perolehan bukti yang lebih meyakinkan. Faktor – faktor ekonomi Seorang auditor bekerja dalam batasan ekonomi yang menentukan bahwa kecukupan bukti harus diperoleh dalam batasan waktu dan biaya yang memadai. Auditor akan mengevaluasi kecukupan bukti audit yang dikumpulkannya dengan tahap awal mengevaluasi resiko audit yang dicapai berdasarkan akun dan siklus dan kemudian mengevaluasi laporan keuangan secara keseluruhan dengan menggunakan cara yang sama. 9. Selain itu auditor juga harus mengevaluasi apakah bahan bukti mendukung pendapat auditor dengan cara mengestimasi kekeliruan (salah saji) material dalam masing – masing akun dan kemudian mengestimasikannya untuk keseluruhan laporan keuangan. Ukuran dan Karakteristik Populasi ukuran populasi berkaitan dengan jumlah item yang terdapat dalam populasi tersebut. seperti jumlah transaksi penjualan dalam jurnal penjualan. semakin besar populasinya akan semakin besar pula jumlah bukti yang diperlukan untuk memperoleh dasar yang memadai guna menarik kesimpulan tentang hal itu.c). Misalnya auditor kemudian menemukan salah saji sebesar Rp. Hubungan yang pasti antara ukuran populasi. karakteristik populasi dan ukuran sampel bergantung pada tujuan dan sifat rencana penarikan sampel yang sedang digunakan. maka Universitas Sumatera Utara .000 dianggap material untuk total aktiva maka jumlah ini kemudian akan dipakai oleh auditor untuk mengevaluasi bukti audit yang dikumpulkan dalam membuktikan berbagai asersi yang terkandung dalam akun – akun aktiva dalam neraca. Dengan demikian. d). Secara umum.000 dalam akun persediaan.000. Misalnya jika pada tahap perencanaan audit auditor mengestimasikan bahwa salah saji sebesar Rp. 3. Ukuran populasi akuntansi mendasari banyak item laporan keuangan yang digunakan dalam penarikan sampel yang diperlukan untuk pengumpulan bukti audit.

(2) Auditor berkesimpulan bahwa laporan keuangan sebagai keseluruhan Universitas Sumatera Utara .000 Berdasarkan data diatas maka ada dua kemungkinan yang ditempuh auditor sehubungan dengan kesimpulannya tentang materialitas. 3. 8.000.000. auditor dapat menaikkan batas materialitas yang ditentukan dari jumlah Rp. Auditor akan menjumlah berbagai kekeliruan yang ditemukan dalam audit atas berbagai akun yang termasuk dalam kelompok aktiva. 11.000. karena batas salah saji yang digunakan untuk mengevaluasi bukti audit telah dinaikkan menjadi Rp.000 tersebut. 11.000 Rp.000 untuk mengevaluasi bukti audit. 9. Misalnya auditor mengumpulkan salah saji yang terdapat dalam akun – akun yang termasuk dalam kelompok aktiva seperti berikut ini : Salah saji dalam akun persediaan Salah saji dalam akun – akun aktiva lain Jumlah salah saji Rp. yaitu : (1) Dengan berbagai alasan tertentu.11.auditor tidak akan langsung mengambil kesimpulan bahwa laporan keuangan secara keseluruhan berisi salah saji material.000 Rp.000. sehingga persentase materialitas diterapkan pada jumlah yang berbeda. Dalam contoh ini.000.000.000 pada tahap perencanaan auditnya menjadi Rp. auditor memandang bahwa laporan keuangan tidak berisi salah saji material karena adanya gabungan salah saji sebesar Rp.000.000. Hal ini kemungkinan disebabkan jumlah aktiva yang dipakai sebagai dasar penentuan materialitas pada tahap perencanaan berbeda dengan jumlah aktiva yang terdapat dalam laporan keuangan akhir. 11.

Alderman dan Winters (2002 : 148) • Eksistensi atau Kejadian. merupakan pernyataan manajemen bahwa aktiva dan kewajiban yang dicatat dalam laporan keuangan secara aktual ada pada tanggal neraca dan transaksi yang dicatat dalam laporan keuangan yang terjadi selama periode laporan keuangan.000. 9. Asersi merupakan proporsi yang menyangkut setiap akun dalam laporan keuangan. Setiap akun laporan keuangan dapat dibagi lima asersi menurut Guy. Asersi Manajemen dan Kesesuaian Bukti Audit dengan Tujuan Audit Boynton. hak dan kewajiban. auditor dapat meyakinkan kliennya untuk melakukan koreksi atas jumlah salah saji yang terdapat dalam akun – akun yang bersangkutan atau jika klien menolak untuk melakukan koreksi maka auditor dapat memberikan pendapat wajar dengan kecuali atau pendapat tidak wajar.000. Asersi manajemen adalah pernyataan manajemen yang terkandung dalam komponen laporan keuangan.000.tidak disajikan secara wajar karena salah saji Rp. berdasarkan pertimbangan materialitas ini. Tujuan audit spesifik ditentukan berdasarkan pada asersi – asersi yang dibuat oleh pihak manajemen yang tercantum dalam laporan keuangan. Johnson dan Kell (2002 : 211) menyatakan bahwa : “ Asersi manajemen merupakan representasi eksplisit atau implisit oleh manajemen. c. “ Dalam mengevaluasi bukti. yang berarti semua transaksi dan akun yang seharusnya tercatat dalam laporan keuangan telah dicatat.000 melebihi jumlah materialitas Rp. Oleh karena itu. Auditor harus menguji proposisi tersebut dengan mengumpulkan bukti untuk mendukung atau menyangkalnya. kelengkapan. 11. auditor harus memperhatikan tentang apakah aktiva • • Universitas Sumatera Utara . auditor harus mempertimbangkan apakah tujuan audit spesifik telah tercapai.

transaksi dicatat pada tanggal yang benar dan periode yang tepat. (2) Kelengkapan. kewajiban. semua transaksi yang ada telah dicatat (3) Akurasi. yaitu apakah aktiva. merupakan pernyataan manajemen bahwa komponen – komponen laporan keuangan telah diklasifikasikan. Ada enam tujuan audit umum berkait transaksi. (5) Timing. seorang auditor harus mempertimbangkan apakah tujuan audit spesifik berkait transaksi ini telah terpenuhi atau belum. pendapatan dan beban yang tercatat dalam laporan keuangan pada jumlah yang tepat. yaitu : (1) Occurence. Universitas Sumatera Utara . Berdasarkan asersi – asersi tersebut maka dapat ditentukan tujuan audit umum yang berkait transaksi dan tujuan audit umum berkait saldo. transaksi yang dicantumkan dalam jurnal diklasifikasikan dengan tepat. transaksi yang tercatat memang ada atau sudah terjadi. Hanya ada tiga asersi yaitu keberadaan. transaksi yang tercatat disajikan pada nilai yang benar (4) Klasifikasi. penyajian atau pengungkapan. 1) Tujuan audit umum berkait transaksi Tujuan audit umum berkait transaksi ini ditentukan berdasarkan asersi manajemen. diuraikan dan diungkapkan secara tepat sesuai dengan prinsip – prinsip akuntansi yang berlaku umum. Dari tujuan audit umum berkait transaksi ini akan dikembangkan tujuan audit spesifik berkait transaksi yang dalam tahap pengevaluasian bukti. kelengkapan dan penilaian.• • yang dicatat secara aktual merupakan hak klien dan apakah kewajiban yang dicatat secara aktual merupakan hutang perusahaan penilaian atau alokasi. transaksi yang tercatat secara tepat dimasukkan dalam berkas induk dan diikhtisarkan dengan benar. tetapi tidak semua asersi diterapkan dalam tujuan ini. (6) Posting pengikhtisaran.

Tujuan Audit Umum Berkait Tujuan Audit Spesifik Berkait Transaksi Transaksi Penjualan Occurence (keterjadian) Penjualan yang dicatat adalah untuk pengiriman kepada konsumen yang benar – benar ada.Tabel 2. Kelengkapan Transaksi penjualan yang ada seluruhnya telah dicatat Akurasi Penjualan yang dicatat adalah sejumlah barang yang dikirim dan ditagih dan dicatat dengan benar klasifikasi Transaksi penjualan diklasifikasikan dengan tepat Penjualan dicatat pada tanggal yang benar dan Timing periode yang tepat Posting dan pengikhtisaran Transaksi penjualan dicatat dalam buku tambahan dengan benar dan diikhtisarkan dengan benar Sumber : Arens. Elder dan Beasley (2001) Dalam mengevaluasi bukti audit. Misalnya untuk eksistensi maka auditor harus memperhatikan atau mempertimbangkan apakah penjualan yang dicatat adalah penjualan yang benar – benar terjadi dan dikirim kepada konsumen yang benar – benar ada.” Tujuan audit berkait saldo ini ditentukan berdasarkan asersi manajemen dan dari tujuan audit umum berkait saldo ini akan dikembangkan tujuan audit spesifik berkait saldo dimana dalam tahap pengevaluasian bukti audit auditor Universitas Sumatera Utara .1 Ikhtisar enam tujuan audit berkait transaksi yang diterapkan pada transaksi penjualan. 2) Tujuan audit Berkait Saldo Menurut Katijo (2008 : 162) “Tujuan audit atas saldo berfokus pada perolehan bukti secara langsung mengenai saldo akun dan unsur – unsur individual yang membentuk saldo akun. maka auditor harus melihat dan mempertimbangkan apakah tujuan audit spesifik berkait transaksi penjualan telah tercapai. Ini dilakukan agar auditor dapat mendeteksi kemungkinan terjadinya penjualan fiktif.

persediaan. Tujuan audit umum berkait saldo ada delapan.2 berikut mengikhtisarkan tujuan audit umum berkait saldo dan tujuan audit spesifik berkait saldo persediaan. Dalam tujuan audit umum berkait saldo ini. jumlah yang ada disajikan pada jumlah yang benar (4) Cut – off . (5) Detail Tie In. rincian dalam saldo akun sesuai dan berkaitan dengan angka – angka buku besar tambahan. aktiva dinyatakan pada jumlah yang diestimasi dapat direalisasi. Tabel 2. angka – angka yang dicantumkan memang eksis (2) Kelengkapan. aktiva dan hutang yang dicatat adalah benar – benar merupakan hak dan kewajiban perusahaan klien (8) Penyajian dan pengungkapan. angka – angka yang ada telah dimasukkan seluruhnya. Universitas Sumatera Utara . transaksi yang dekat dengan tanggal neraca dicatat pada periode yang tepat. Tujuan audit berkait saldo hampir selalu diterapkan pada saldo akhir di akun – akun neraca seperti akun piutang usaha. yaitu : (1) Eksistensi. (7) Hak dan kewajiban. (6) Nilai realisasi.harus mempertimbangkan apakah tujuan audit spesifik berkait saldo ini telah terpenuhi atau belum. semua asersi manajemen diterapkan didalamnya. (3) Akurasi.. saldo akun dan persyaratan pengungkapan yang berkaitan telah disajikan dengan pantas dalam laporan keuangan.

Tujuan audit umum berkait saldo Tujuan audit spesifik berkait saldo persediaan Eksistensi Semua persediaan yang dicatat memang terdapat pada tanggal neraca Kelengkapan Semua persediaan yang ada telah dihitung dan dicantumkan dalam ikhtisar persediaan Akurasi Jumlah persediaan sesuai dengan setiap rincian barang – barang yang secara fisik ada di tangan.2 Ikhtisar sembilan tujuan audit berkait saldo yang diterapkan pada saldo persediaan. Universitas Sumatera Utara .Tabel 2. auditor meminta daftar berkas induk piutang usaha dari klien yang sesuai dengan saldo buku besarnya. Harga yang digunakan untuk menilai persediaan sudah wajar Perhitungan harga dikalikan dengan jumlah sudah benar dan rincian ditambahkan secara benar Pisah batas pembelian pada akhir tahun Cut – off adalah pantas Pisah batas penjualan pada akhir tahun adalah pantas Total persediaan sesuai dan berkaitan dengan Detail Tie in angka – angka yang ada di buku besar Nilai realisasi Persediaan telah diturunkan nilainya dimana ada pengurangan nilai bersih yang direalisasikan Hak dan Kewajiban aktiva dan hutang yang dicatat adalah benar – benar merupakan hak dan kewajiban perusahaan klien. Elder dan Beasley (2001) Setelah mengumpulkan bukti audit. bukan memverifikasi saldo akun itu sendiri. Penyajian dan pengungkapan Kategori utama persediaan dan basis penilaiannya telah diungkapkan Persediaan yang digadaikan atau diserahkan telah diungkapkan Sumber : Arens. auditor akan memverifikasi rincian – rincian yang mendukung saldo akun. Misalnya dalam mengaudit piutang usaha.

auditor harus memberikan pendapatnya atas laporan keuangan yang diauditnya. Setelah auditor mengumpulkan dan mengevaluasi bukti audit yang kompeten dan cukup. auditor harus mempertimbangkan relevansi bukti audit. Oleh karena itu auditor harus hati – hati dan seksama dalam memberikan pendapatnya. menyeluruh. Agar dapat memberikan pendapat auditor harus mengevaluasi bukti audit kompeten yang cukup dan dokumen pendukung lainnya yang telah dikumpulkannya. terlepas dari apakah bukti audit tersebut mendukung atau berlawanan dengan asersi dalam laporan keuangan. Evaluasi itu harus dilakukan dengan hati – hati. Evaluasi Bukti Audit Sebagai Dasar yang Memadai dalam Pemberian Pendapat Auditor Independen Mulyadi (2002 : 78) menyatakan bahwa “dasar yang layak berkaitan dengan tingkat keyakinan secara keseluruhan yang diperlukan oleh auditor untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan” Pendapat auditor sangat mempengaruhi pengambilan keputusan para pemakai laporan keuangan. Ada lima jenis laporan pendapat auditor Independen menurut Arens.C. Dalam merumuskan pendapatnya itu. dan obyektif karena evaluasi bukti audit ini diperlukan untuk menyiapkan laporan audit dengan pendapat yang tepat. maka ia harus menangguhkan pemberian pendapatnya sampai ia mendapatkan bukti yang kompeten dan cukup untuk menghilangkan keraguannya atau ia harus menyatakan pendapat wajar dengan pengecualian atau menolak memberikan pendapat. Elder Universitas Sumatera Utara . Bila auditor masih tetap ragu – ragu untuk mempercayai suatu asersi yang material.

Keempat laporan yang pertama memerlukan suatu paragraf penjelasan. Laporan audit wajar tanpa pengecualian dengan paragraf penjelasan atau modifikasi kata . 5) Laporan yang melibatkan auditor lain.kata Pada situasi tertentu. Pada setiap kasus. dan paragraf penjelasan yang terpisah akan diikuti dengan paragraf pendapat. Hal itu juga berarti bahwa pengungkapan yang memadai telah tercantum dalam catatan kaki dan bagian – bagian lain dari laporan keuangan. Laporan audit wajar tanpa pengecualian dengan paragraf penjelasan atau modifikasi kata – kata sesuai dengan kriteria audit yang lengkap dengan hasil yang memuaskan dan laporan keuangan yang disajikan secara wajar. laporan laba ditahan. 2) Keraguan yang substansial mengenai going concern. b. 4) Penekanan pada suatu hal atau masalah. 5) Tidak terdapat situasi yang membuat auditor merasa perlu untuk menambahkan sebuah paragraf penjelasan atau modifikasi kata – kata dalam laporan audit. Laporan pendapat wajar dengan pengecualian dapat diterbitkan hanya apabila auditor Universitas Sumatera Utara .dan Beasley (2008 : 61) yaitu : a. 3) Auditor setuju dengan penyimpangan dari prinsip akuntansi yang dirumuskan. dan auditor telah melaksanakan penugasan audit ini dengan cara yang memungkinkannya untuk menyimpulkan bahwa ketiga standar pekerjaan lapangan telah dipenuhi. Laporan audit standar tanpa pengecualian (unqualified opinion) Laporan audit standar tanpa pengecualian diterbitkan bile kondisi – kondisi berikut terpenuhi : 1) Semua laporan yaitu neraca. tiga paragraf laporan standar tetap disertakan tanpa modifikasi. c. 2) Ketiga standar umum telah dipatuhi dalam semua hal yang berkaitan dengan penugasan. dan laporan arus kas dan sudah termasuk dalam laporan keuangan. Pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion) Dapat diterbitkan akibat pembatasan ruang lingkup audit atau kalalaian untuk mematuhi prinsip akuntansi yang berlaku umum. diterbitkan laporan audit wajar tanpa pengecualian atas laporan keuangan. Berikut ini adalah penyebab paling penting dari penambahan paragraf penjelasan atau modifikasi kata – kata pada laporan wajar tanpa pengecualian standar : 1) Tidak adanya aplikasi yang konsisten dari prinsip – prinsip akuntansi yang berlaku umum. laporan rugi laba. tetapi auditor merasa penting atau wajib untuk memberikan informasi tambahan. 4) Laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan prinsip – prinsip akuntansi yang berlaku umum. tetapi dengan kata – kata yang berlainan dari laporan wajar tanpa pengecualian. 3) Bukti audit yang cukup memadai telah terkumpul.

Menolak memberikan pendapat (disclaimers opinion) Pernyataan ini diberikan auditor. Laporan pendapat tidak wajar atau menolak memberikan pendapat harus diterbitkan jika auditor merasa yakin bahwa kondisi yang dilaporkan tersebut bersifat sangat material.menyimpulkan bahwa laporan keuangan secara keseluruhan telah disajikan secara wajar. Auditor juga memiliki opsi untuk menolak memberikan pendapat pada masalah kelangsungan hidup perusahaan (going concern) Universitas Sumatera Utara . bahwa tidak ada kesesuaian dengan GAAP/PABUI. Hal ini jarang terjadi sehingga pendapat tidak wajar jarang sekali diterbitkan. Laporan pendapat tidak wajar hanya dapat diterbitkan apabila auditor memiliki pengetahuan. Pendapat tidak wajar (adverse opinion) Pendapat tidak wajar digunakan hanya apabila auditor yakin bahwa laporan keuangan secara keseluruhan mengandung salah saji yang material atau menyesatkan sehingga tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan atau hasil operasi dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. apabila auditor tidak dapat meyakinkan dirinya sendiri bahwa laporan keuangan secara keseluruhan telah disajikan secara wajar. setelah melakukan investigasi yang mendalam. Kedua situasi ini menghalangi auditor untuk mengeluarkan pendapat atas laoran keuangan secara keseluruhan. Kebutuhan untuk menolak memberikan pendapat akan timbul apabila terdapat pembatasan ruang lingkup audit atau terdapat hubungan yang tidak independen menurut kode perilaku profesional antara auditor dengan kliennya. Oleh karena itu pendapat wajar dengan pengecualian dianggap sebagai penyimpangan yang paling ringan dari laporan wajar tanpa pengecualian. e. d.

Dokumentasi audit Menerbitkan laporan auditor independen Gambar 2. kompetensi dan kecukupan bukti audit.1 : Kerangka Konseptual Sumber : Penulis. lalu mendokumentasikannya. Berdasarkan hasil evaluasi bukti audit tersebut. asersi manajemen dan kesesuaian bukti audit dengan tujuan audit spesifik. Universitas Sumatera Utara . Evaluasi bukti audit diperlukan sebagai dasar yang memadai bagi auditor untuk menyiapkan laporan audit dan memberikan pendapatnya. auditor dapat mempertimbangkan pendapat apa yang akan diberikannya atas laporan keuangan yang diauditnya dan kemudian menerbitkan laporan audit. Kerangka Konseptual KAP Joachim Sulistyo & Rekan Cabang Medan Bukti Audit Aktual Evaluasi Bukti Audit .Resiko Salah saji material yang diperkirakan .Kompetensi dan kecukupan bukti audit .Asersi manajemen dan kesesuaian bukti audit dengan tujuan audit spesifik . 2010 Auditor akan mengumpulkan bukti – bukti audit aktual lalu mengevaluasi kecukupan bukti audit aktual yang dikumpulkan dengan tahap awal mengevaluasi resiko salah saji material yang dicapai.B.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful