P. 1
Kompilasi Hukum Islam

Kompilasi Hukum Islam

|Views: 461|Likes:
Published by razakakanih

More info:

Published by: razakakanih on May 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/18/2013

pdf

text

original

UNDANG-UNDANG NO 1 TAHUN 1974 DAN KOMPILASI HUKUM ISLAM

(Dihimpun dan disajikan oleh : H. Zainal Arifin)
A. Latar Belakang.

Pelaksanaan atas Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor : 1 tahun 1991, tentang Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, yang dilakukan oleh para petugas yang menangani masalah perkawinan, waris dan wakaf dalam kehidupan masyarakat masih ditemukan berbagai hambatan, hal ini disebabkan para petugas tersubut dan masyarakat belum banyak memahami menganai Kompilasi Hukum Islam tersebut. Hal ini disebabkan sosialisasinya yang belum menyentuh banyak pihak termasuk kepada para petugas yang menangani masalah perkawianan, waris dan wakaf, apalagi masyaraakat pada umumnya. Padahal perwujudan pelaksanaan hukum, sangat bergantung kepada tiga pilar hukum yaitu:
1. Penegak hukum. 2. Undang-undang atau peraturan hukum 3. Kesadaran masyarakat terhadap hukum.

Walaupun suatu Undang-undang atau Peraturan Hukum sudah diberlakukan sejak lama, namun penegak hukum/petugas yang menangani masalah hukum tersebut tidak akan bisa melaksanakan dan menetapkan hukum dengan optimal, bila tidak memahami Undang-undang atau Peraturan Hukum yang berlaku. Oleh karena itu seyogyanyalah kita selalu mengikuti perkembangan dan memahami peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, agar kita dalam menerapkan hukum sesuai dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kemungkinan diantara kita sebagai petugas yang menangani masalah perkawinan, waris dan wakaf masih ada yang belum memahami dan mendalami In struksi Presiden RI Nomor : 1 tahun 1991 tersebut. Demikian halnya dengan masyarakat, mereka tidak akan mematuhi dan menaati hukum, bila tidak memiliki kesadaran hukum, dan masyarakat tidak akan sadar hukum bila tidak memahami Undang-undang atau peraturan yang berlaku. Dalam diktat sederhana ini akan disajikan hanya berkisar ³ Hukum Perkawinan ³ yang memuat : Dasar-dasar Perkawinan, Peminangan, Rukun dan syarat Perkawinan,
Tik by : H. Zainal Arifin Page

1

Mahar, Larangan kawin, perjanjian dalam perkawinan, Kawin hamil, beristeri lebih dari satu dll.
B. Hukum Perkawinan.

BAB I. Ketentuan Umum. Pasal 1. Yang dimaksud dengan : a. Peminangan ialah kegiatan kearah terjadinya hubungan perjodohan antara seorang pria dengan seorang wanita. b. Wali Hakim ialah Wali nikah yang ditunjuk oleh Menteri Agama atau pejabat yang ditunjuk olehnya, yang diberi hak dan kewajiban untuk bertindak sebagai wali nikah. c. Akad Nikah ialah rangkaian ijab yang diucapkan oleh wali dan kabul yang diucapkan oleh mempelai pria atau wakilnya disaksikan oleh dua orang saksi.. d. Mahar adalah pemberian dari calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita, baik berupa barang, uang atau jasa yang btidak bertentangan dengan hukum Islam. e. Taklik Talak ialah perjanjian yang diucapkan calon mempelai pria setelah akad nikah yang dicantumkan dalam Akta Nikah berupa janji talak yang digantungkan kepada suatu keadaan tertentu yang mungkin terjadi di masa yang akan datang.
f.

Harta kekayaan dalam perkawinan atau syirkah antara harta yang diperoleh baik sendiri-sendiri atau bersama suami isteri selama ikatan perkawinan berlangsung dan selanjutnya disebut harta bersama, tanpa mempersoalkan terdaftar atas nama siapapun.

g. Pemeliharaan anak atau hadhanah adalah kegiatan mengasuh, memelihara dan

mendidik anak hingga dewasa atau mampu berdiri sendiri.
h. Perwalian adalah kewenangan yang diberi kepada seseorang untuk melakukan suatu

perbuatan hukum sebagai wakil untuk kepentingan dan atas nama anak, yang tidak mempunyai kedua orang tua yang masih hidup, tidak cakap melakukan perbuatan hukum.
i. j.

Khuluk adalah perceraian yang terjadi atas permintaan isteri dengan memberikan tebusan atau iwadl dan atas persetujuan suaminya. Mut¶ah adalah pemberian bekas suami kepada isteri yang dijatuhi talak berupa benda, uang atau lainnya.

BAB II DASAR-DASAR PERKAWINAN (pasal 2 s/d pasal 10) Penjelasan.

Tik by : H. Zainal Arifin

Page

2

Berdasarkan ketentuan pasal 2 KHI, bahwa pernikahan dilakukan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah, perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah warrahmah. Demikian menurut pasal 3. Pada pasal 4 dijelaskan bahwa perkawinan dianggap sah, bila dilakukan menurut hukum sesuai dengan pasal 2 ayat (1) UU No 1 tahun 1974 ttg Perkawinan yang berbunyi ³ Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing -masing agamanya dan kepercayaannya itu´. Artinya perkawinan seorang muslim atau muslimah, dianggap sah bila dilakukan menurut hukum Islam, namun bila dilakukan menurut hukum agama lain, maka perkawinan seorang muslim atau muslimah, dianggap tidak sah. Pada Pasal 5 dijelaskan bahwa setiap perkawinan itu harus dicatat oleh Pegawai Pencatat Nikah sebagaimana yang diatur dalam UU No 22 tahun 1946 Jo. UU No 32 tahun 1954 dan pada pasal 6 disebutkan bahwa setiap perkawinan harus dilangsungkan dan dibawah pengawasan Pegawai Pencatat Nikah, maka perkawinan yang dilaksanakan diluar pengawasan Pegawai Pencatat Nikah, tidak mempunyai kekuatan hukum. Oleh karena itu pada pasal 7 dijelaskan, bahwa perkawinan yang sah hanya dapat dibuktikan dengan Akta Nikah yang dikeluarkan oleh Pegawai Pencatat Nikah. Bila perkawinan yang dilaksanakan diluar pengawasan Pegawai Pencatat Nikah dan tidak dapat dibuktikan dengan Akta Nikah, dapat mengajukan Itsbat nikah di Pengadilan Agama. Adapun yang berhak mengajukan permohonan itsbat nikah ialah, suami isteri, anak-anak mereka, wali nikah dan pihak yang berkepentingan dengan perkawinan itu. Pada pasal 8 dijelaskan bahwa putusnya perkawinan selain cerai mati, hanya dapat dibuktikan dengan surat cerai berupa putusan Pengadilan Agama, baik yang berbentuk putusan perceraian, ikrar talak, khuluk atau putusan taklik talak. Sedangkan pada pasal 9 dijelaskan bahwa bila Putusan Pengadilan Agama itu hilang, dapat dimintakan salinan putusannya kepada Pengadilan Agama ybs. Pasal 10 menjelaskan tentang rujuk, yaitu hanya dapat dibuktikan dengan Kutipan Buku Pendaftaran Rujuk yang dikeluarkan oleh Pegawai Pencatat Nikah. BAB III PEMINANGAN (pasal 11 s/d pasal 13) Penjelasan : Berdasarkan ketentuan pasal 11 KHI, bahwa peminangan dapat langsung dilakukan oleh orang yang ingin mencari pasangan jodoh, tapi dapat pula dilakukan oleh perantara yang dapat dipercaya. Artinya seorang pria yang bermaksud menikah dengan
Tik by : H. Zainal Arifin Page

3

seorang wanita, boleh meminang sendiri wanita yang ia inginkan atau menyuruh orang lain, misalnya orang tuanya, saudaranya atau temannya dll. Pada pasal 12 ayat (1) dijelaskan bahwa wanita yang boleh dipinang adalah wanita yang masih perawan atau janda yangt telah habis masa iddahnya. Maka menurut pasal 12 ayat (2) bahwa wanita yang ditalak suaminya yang masih berada dalam masa iddah raj¶iyah, haram dan dilarang dipinang. Demikian jua wanita yang sedang dipinang oleh pria lain, selama pinangan pria tersebut belum putus atau belum ada penolakan dari pihak wanita, sebagaimana dijelaskan pada pasal 12 ayat (3). Artinya seorang wanita yang sedang dipinang oleh seorang pria, boleh dipinang oleh pria lain, bila sudah putus atau pihak wanita menolak pinangannya. Adapun putusnya piangan tersebut karena adanya pernyataan tentang putusnya hubungan pinangan atau secara diam-diam pria yang meminang telah menjauhi dan meninggalkan wanita yang dipinang, seperti dijelaskan pada pasal 12 ayat (4). Menurut pasal 13 ayat (1) bahwa pinangan belum menimbulkan akibat hukum dan para pihak bebas memutuskan hubungan pinangan. Namun dalam memutuskan hubungan peminangan harus dilakukan dengan cara yang baik, sesuai dengan tuntunan agama dan kebiasaan setempat, sehingga tetap terbina kerukunan dan saling mengahargai, seperti dijelaskan pasal 13 ayat (2).

BAB IV RUKUN DAN SYARAT PERKAWINAN (pasal 14 s/d pasal 29) Terdiri dari lima bagian : Bagian ke satu : Rukun Pasal 14 Untuk melangsungkan pernikahan harus ada : Calon suami dan calon isteri, Wali nikah, Dua orang saksi dan Ijab kabul. Penjelasan : Berdasarkan ketentuan pasal 14 KHI, bahwa untuk melangsungkan pernikahan harus terpenuhi rukun nikah yaitu : Adanya calon suami, adanya calon isteri, adanya wali nikah, adanya dua orang saksi serta adanya Ijab dan kabul.
Tik by : H. Zainal Arifin Page

4

Bagian ke dua : Calon mempelai (pasal 15 s/d pasal 18) Penjelasan : Calon mempelai (calon suami dan isteri). Untuk calon mempelai sebagaimana tercantum pada pasal 15 ayat (1), harus sudah mencapai umur yang ditetapkan dalam pasal 7 UU No 1 tahun 1974, yakni cvalon suami sekurang-kurangnya 19 tahun dan calon isteri sekurang-kurangnya 16 tahun. Hal ini adalah antara lain untuk menjaga kesehatan suami isteri dan keturunannya, seperti disebutkan dalam penjelasan pasal tersebut. Sedangkan pada ayat (2) disebutkan bahwa bagi calon mempelai yang belum mencapai umur 21 tahun, harus mendapat izin sebagaimana diatur dalam pasal 6 ayat (2) UU No 1 tahun 1974, yaitu harus mendapat izin dari orang tua. Pada pasal 16 ayat (1) dijelaskan bahwa perkawinan harus berdasarkan atas persetujuan calon mempelai. Karena tujuan perkawinan itu adalahg agar suami isteri dapat membentuk keluarga yangt kekal dan bahagia, atau dalam ajaran Islam disebut keluarga sakinah mawaddah warrahmah, maka perkawinannharus disetujui oleh kedua calon mempelai dan ini sejalan dengan hak azasi manusia. Adapun bentuk persetujuan calon mempelai wanita, seperti disebutkan pada ayat (2), bisa tertulis, lisan, isyarat atau diam, karena diamnya seorang wanita berarti tanda setuju. Oleh karena itu pada pasal 17 dijelaskan bahwa sebelum berlangsungnya perkawinan, Pegawai Pencatat Nikah harus menanyakan lebih dahulu persetujuan calon mempelai dihadapan saksi nikah. Bila ternyata perkawinan tidak disetujui oleh salah seorang calon mempelai, maka perkawinan itu tidak dapat dilangsungkan. Bagian ke tiga : Wali Nikah (pasal 19 s/d pasal 23) Penjelasan : Wali Nikah. Seperti dijelaskan pada pasal 19, bahwa Wali Nikah termasuk rukun Nikah yang harus dipenuhi dalam perkawinan, karena ia yang bertindak dan berhak menikahkan calon mempelai wanita dengan calon mempelai pria.

Adapun syarat-untuk bertindak sebagi wali nikah seperti tercantum pada pasal 20, adalah seorang laki-laki muslim yang berakal dan sudah dewasa (baligh). Yang bertindak sebagai wali nikah boleh wali nasab atau wali hakim.
Tik by : H. Zainal Arifin Page

5

Wali nasab adalah wali karena keturunan, seperti ayah, kakek, saudara laki-laki sekandung atau seayah dan keturunan laki-laki mereka, paman (saudara laki-laki ayah) dan keturunannya. Adapun yang dimaksud dengan Wali Hakim adalah Kepala KUA Kecamatan atau Penghulu.

Wali hakim baru dapat bertindak sebagai wali nikah, bila wali nassab tidak ada atau tidak mungkin mengahdirkannya atau tidak diketahui tempat tinggalnya atau gaib atau adlal atau enggan, setelah ada putusan pengadilan Agama tentang wali tersebut. Demikian dijelaskan pada pasal 23. Bagaian ke empat : Saksi Nikah (pasal 24 s/d pasal 26) Penjelasan : Saksi Nikah. Menurut ketentuan pasal 24, bahwa saksi termasuk rukun nikah. Artinya setiap pernikahan harus disaksikan oleh dua orang saksi dan tidak sah jika tidak disaksikan oleh dua orang saksi. Adapun persyaratan untukm dapat ditunjuk menjadi saksi dalam akad nikah ialah seorang laki-laki muslim yang adil, berakal, sudah dewasa, tidak terganggu ingatan dan tidak tuna rungu atau tuli. Demikiana dijelaskan pada pasal 25. Saksi harus hadir dan menyaksikan secara langsung akad nikah serta menandatangani Akta Nikah (jika Nikannya dilangsungkan di balai Nikah) dan menandatangani Daftar Pemeriksaan Nikah pada waktu dan di tempat akad nikah, jika akad nikah dilangsungkan di luar balai nikah. Demikian menurut pasal 26. Bagian ke lima : Akad Nikah (pasal 27 s/d pasal 29) Penjelasan : Ijab Kabul. Berdasarkan ketentuan paal 27, bahwa ijab dan kabul antara wali dan calon mempelai pria harus jelas, beruntun dan tidak berselang waktu. Akad nikah bisa dilaksanakan sendiri oleh wali nikah atau mewakilkan kepada orang lain, demikian menurut pasal 28. Demikian juga menurut pasal 29 calon mempelai pria berhak mengucapkan kabul secara pribadi, namun dapat mewakilkan kepada pria lain dengan memberi kuasa tertulis,
Tik by : H. Zainal Arifin Page

6

bahwa penerimaan wakil atas akad nikah itu adalah untuk mempelai pria. Namun bila pihak calon mempelai wanita atau walinya berkeberatan calon mempelai mempelai pria diwakili, maka akad nikah tidak boleh dilangsungkan. BAB V MAHAR (pasal 30 s/d pasal 38) Penjelasan : Menurut ketentuan pasal 30 bahwa calon mempelai pria wajib membayar mahar kepada calon mempelai wanita yang jumlah, bentuk dan jenisnya disepakati oleh kedua belah pihak. Namun menurut pasal 31 penentuan mahar harus berdasarkan atas kesederhanaan dan kemudahan yang dianjurkan oleh ajaran Islam. Artinya mahar yang disepakati kedua belah pihak jangan sampai memberatkan calon mempelai pria aatau melebihi kemampuannya. Menurut pasal 32 mahar diberikan langsung kepada calon mempelai wanita dan menjadi hak pribadinya. Sebaiknya penyerahan mahar dilakukan dengan tunai, namun bila calon mempelai wanita menyetujui penyerahan mahar boleh ditangguhkan, baik seluruhnya atau sebagian. Hanya saja mahar yang belum ditunaikan penyerahannya, menjadi hutang mempelai pria. Demikian menurut pasal 33. Sedangkan menurut pasal 34 bahwa kewajiban menyerahkan mahar bukan merupakan rukun dalam pernikahan. Oleh karena itu kelalaian menyebut jenis dan jumlah pada waktu akad, tidak menyebabkan batalnya pernikahan. Begitu pula halnya dalam keadaan mahar maasih terhutang, tidak mengurangi sahnya pernikahan. Menurut ketentuan pasal 35 bahwa suami yang mentalak isterinya qabla dukhul, artinya belum pernah melakukan hubungan suami isteri, maka ia wajib membayar setengah dari mahar yang ditentukan dalam akad nikah. Namun bila suaminya meninggal dunia qabla dukhul, seluruh mahar ditetapkan menjaadi hak penuh isterinya. Sedangkan bila perceraian terjadi qabla dukhul, tetapi besar maharnya belum ditetapkan, maka suami wajib membayar mahar mitsil. Bila mahar itu hilang sebelum diserahkan, maka dapat diganti dengan barang lain yang sama bentuk dan jenisnya atau dengan barang lain yang sama nilainya atau dengan uang yang senilai dengan harga barang mahar yang hilang. Demikian menurut pasal 36. Sedangkan bila terjadi selisih pendapat mengenai jenis dan nilai mahar yang ditetapkan, maka penyelesaiannya dapat diajukan kepada Pengadilan Agama. Seperti yang tercantum pada pasal 37.

Tik by : H. Zainal Arifin

Page

7

Menurut pasal 38 bila mahar yang diserahkan mengandun cacat atau kurang, g tetapi calon mempelai wanita tetap bersedia menerimanya tanpa syarat, maka penyerahan mahar dianggap lunas. Namun bila calon isteri menolak menerima mahar karena cacat, maka calon suami harus mengganti dengan mahar lain yang tidak cacat. Selama penggantinya belum diserahkan, maka mahar dianggap masih belum dibayar. BAB VI LARANGAN KAWIN (pasal 39 s/d pasal 44) Penjelasan : Menurut ketentuan pasal 39 bahwa seorang pria dilarang melangsungkan pernikahan dengan seorang wanita, disebabkan :
1. Karena adanya pertalian nasab atau keturunan yaitu dengan : a) Ibu yang melahirkan

atau keturunannya. b) Keturunan ayah atau ibu yaitu saudara sekandung, seayah atau seibu, dan c) wanita saudara ibu. 2. Karena pertalian kerabat semenda atau hubungan perkawinan, yaitu dengan : a) Wanita yang melahirkan isterinya (mertua) atau berkas isteri mertuanya. b) Bekas isteri ayahnya. c) Anak atau keturunan isteri atau anak bekas isterinya, kecuali putusnya hubungan perkawinan dengan bekas isterinya itu qabla dukhul. d) Bekas isteri anak (mantan menantu) dan keturunannya.
3. Karena pertalian sesusuan, yaitu dengan : a) Wanita yang menyusuinya dan

seterusnya menurut garis ke atas, b) Wanita sesusuan dan seterusnya menurut garis ke bawah, c) Wanita saudara sesusuan dan kemenakan sesusuan ke bawah, d) Wanita bibi sesusuan dan nenek bibi sesusuan ke atas, e) Anak yang disusui oleh isterinya dan keturunannya. (Ketentuan ini berdasarkan surat An Nisa ayat 22 dan 23) Demikian juga seorang pria dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang wanita : a) yang masih terkait perkawinan dengan pria lain, b) Yang masih berada dalam masa iddah dengan pria lain, c) Tidak beragama Islam, demikian menurut pasal 40. Seorang pria dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang wanita yang masih terkait perkawinan dengan pria lain, demikian juga dengan wanita yang masih berada dalam masa Iddah. Seorang pria dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang wanita yang tidak beragama Islam, karena dikhawatirkan ia tidak mampu mendidik dan mengarahkan anaknya untuk menjadi seorang muslim yang shaleh, yang mampu mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan bisa jadi karena sehari-hari si anak lebih dekat dengan ibunya, justru ia akan mengikuti agama ibunya, itu akan lebih patal lagi. Maka sebaiknya seorang pria

Tik by : H. Zainal Arifin

Page

8

muslim jangan melangsungkan perkawinan dengan seorang wanita yang tidak beragama Islam. (Al Baqarah ayat 221) Pada pasal 41 dijelaskan bahwa seorang pria dilarang memadu isterinya dengan seorang wanita yang mempunyai hubungan pertalian nasab atau susuan dengan isterinya, seperti saudara kandung seayah atau seibu serta keturunannya, atau wanita dengan bibinya atau keponakannya. Larangan ini tetap berlaku walaupun isteri-isterinya telah ditalak raj¶I, tapi masih dalam masa iddah. (Lihat An Nisa ayat 23/penjelasan pasal 39) Seorang pria dilarang melangsungkan pernikahan dengan seorang wanita, bila ia sudah mempunyai 4 (empat) orang isteri, yang keempat-empatnya masih terkait tali pernikahan atau maasih dalam iddah talak raj¶I atau salah seorang diantara mereka masih terikat tali pernikahan sedang yang lainnya dalam iddah talak raj¶I, seperti tercantum pada pasal 42. (An Nisaa ayat 3) Pada pasal 43 dijelaskan bahwa seorang pria dilarang menikah dengan wanita bekas isterinya yang ditalak tiga. Baru boleh menikah lagi bila bekas isterinya itu telah kawin dengan pria lain, lalu mereka bercerai ba¶da dukhul dan telah habis masa iddahnya. (Al Baqarah ayat : 230) Seorang pria juga dilarang menikah dengan wanita bekas isterinya yang dili¶an. Li¶an ialah sumpah seorang suami yang menuduh isterinya berzina, sumpah itu diucapkan empat kali dan pada sumpah yang kelima diikuti dengan kata-kata ³laknat Allah atas diriku, jika tuduhanku itu dusta´. Siisteri dapat menolak tuduhan suaminya bahwa ia berzina, yaitu dengan mengucapkan sumpah empat kali dan pada sumpah yang kelima diikuti dengan kata-kata ³ Murka Allah atas diriku, jika tuduhan itu benar´ (An Nur ayat : 6 ± 9 ). Akibat li¶an ini, antara suami isteri tersebut tidak boleh rujuk dan tidak boleh menikah lagi untuk selamanya. Seorang wanita Islam dilarang melangsungkan pernikahan dengan seorang pria yang tidak beragama Islam, demikian pasal 44. (Al Baqarah ayat : 221) BAB VII PERJANJIAN PERKAWINAN (Pasal 45 s/d 52) Penjelasan : Berdasarkan ketetntuan pasal 45 bahwa kedua calon mempelai dapat mengadakan perjanjian perkawinan dalam bentuk taklik talak atau perjanjian lain yang tidak bertentangan dengan hukum Islam. Pasal 46 isi taklik talak tidak boleh bertentangan dengan hukum Islam dan taklik talak bukan suatu perjanjian yang wajib diadakan pada setiap perkawinan, maka walaupun calon mempelai pria tidak mengucapkan taklik talak, pernikahan tetap sah.

Tik by : H. Zainal Arifin

Page

9

Bila dikemudian hari taklik talak betul-betul terjadi, tidak dengan sendirinya talak menjadi jatuh. Dan bila isteri ingin agar talak itu jatuh, maka ia harus mengajukan persoalannya ke Pengadilan Agama. Menurut Pasal 47 pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan, kedua calon mempelai dapat membuat perjanjian tertulis mengenai kedudukan harta dalam perkawinan, apakah meliputi percampuran harta pribadi atau pemisahan harta pencaharian masing-masing sepanjang hal itu tidak bertentanagan dengan hukum Islam, harus disahkan oleh Pegawai Pencatat Nikah. Sedangkan menurut pasal 48 bahwa perjanjian pemisahan harta bersama atau harta syarikat, tidak boleh menghilangkan kewajiban suami untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga atau pemisahan harta bersama atau harta syarikat dengan kewajiban suami menanggung biaya kebutuhan rumah tangga. Perjanjian pencampuran harta pribadi dapat meliputi semua harta, baik yang dibawa masing-masing ke dalam perkawinan maupun diperoleh masing-masing selama perkawinan. Namun dapat juga diperjanjikan bahwa pencampuran harta pribadi hanya terbatas pada harta pribadi yang dibawa pada saat perkawinan dilangsungkan, sehingga percampuran itu tidak meliputi harta pribadi yang diperoleh selama perkawinan atau sebaliknya. Demikian pasal 49. Menurut pasal 50 bahwa perjanjian mengenai harta, mengikat kepada para pihak dan pihak ketiga terhitung mulai tanggal dilangsungkan perkawinan di hadapan PPN dan dapat dicabut atas persetujuan bersama suami isteri dan wajib mendaftarkannya di Kantor PPN tempat perkawinan dilangsungkan, namun tidak boleh merugikan pihak ketiga. Sejak pendaftaran tersebut, pencabutan telah mengikat kepada suami isteri, tetapi terhadap pihak ketiga pencabutan itu baru mengikat sejak pendaftaran itu diumumkan oleh suami isteri melalui surat kabar setempat. Namun bila dalam tempo 6 bulan, pengumuman tida juga dilakukan, maka pencabutan dengan sendirinya gugur dan tidak mengikat kepada pihak ketiga. Pelanggaran atas perjanjian perkawinan tersebut, memberi hak kepada isteri untuk meminta pembatalan nikah atau mengajukannya sebagai alasan gugat cerai ke Pengadilan Agama. Demikian menurut pasal 51. Sedangkan menurut pasal 52 bahwa pada saat dilangsungkan perkawinan dengan isteri kedua, ketiga dan keempat, boleh dibuat perjanjian mengenai tempat kediaman, waktu giliran, dan biaya rumah tangga bagi isteri yang akan dinikahinya. BAB VIII KAWIN HAMIL (Pasal 53 s/d 54) Penjelasan :

Tik by : H. Zainal Arifin

Page

10

Berdasarkana ketentuan pasal 53 bahwa wanita yang hamil di luar nikah, dapat dinikahkankan dengan pria yang menghamilinya tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anak yang dikandungnya dan tidak diperlukan pernikahan ulang setelah anak yang dikandungnya lahir. (berdasarkan berdasarkan surah An Nur ayat 3). Pasal 54 adalah larangan melangsungkan perkawinan dan tidak boleh bertindak sebagai wali nikah, jika sedang dalam keadaan berihram . Jika terjadi maka perkawinannya tidak sah. BAB IX BERISTERI LEBIH DARI SATU ORANG (pasal 55 s/d 59) Penjelasan : Menurut pasal 55 bahwa beristeri lebih dari satu orang pada waktu bersamaan, terbatas hanya 4 isteri, dengan syarat utama suami harus berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-anaknya, bila tidak mungkin dipenuhi, maka seorang suami dilarang beristeri lebih dari satu orang. (An Nisaa ayat : 3) Namun menurut pasal 56 bahwa suami yang hendak beristeri lebih dari satu orang, harus mendapat izin dari Pengadilan Agama, perkawinan dengan isteri kedua, ketiga dan keempat yang dilakukan tanpa izin dari Pengadilan Agama, tidak mempunyai kekuatan hukum. Adapun pengajuan izin tersebut, diatur dalam BAB VIII PP No 9 tahun 1975. Yaitu Setelah suami emngajukan permohonan secara tertulis, lalu pengadilan memeriksa mengenai :
a. Alasan seperti tercantum pada pasal 57 KHI ini, yaitu :

Isteri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai isteri, atau Isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan, atau Isteri tidak dapat melahirkan keturunan.
b. Persetujuan isteri atau isteri-isteri secara tertulis atau lisan, seperti pada pasal 58 KHI. c. Kepastian bahwa suami menjamin keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anaknya,

yang dibuktikan dengan surat keterangan penghasilan yang ditanda tangani oleh bendaharawan tempat bekerja.
d. Jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-anaknya,

dengan surat pernyataan dari suami.

Tik by : H. Zainal Arifin

Page

11

Menurut pasal 42 PP No 9 tahun 1975, Pemanggilan harus memanggil dan mendengar isteri yang bersangkutan. Pemeriksaan oleh hakim selambat-lambatnya 30 hari setelah diterimanya surat permohonan tersebut.

Bila pengadilan berpendapat bahwa cukup alasan bagi pemohon untuk beristeri lebih dari seorang, maka pengadilan memberikan putusannya berupa izin beristeri lebih dari seorang, demikian PP No 9 / 1975. Menurut pasal 58 ayat (5) KHI ini, bahwa persetujuan tertulis dari isteri atau isteri-isteri, haqrus dipertegas lagi dengan persetujuan lisan pada sidang di P engadilan Agama. Namun menurut pasal 58 ayat (6) persetujuan tidak diperlukan bila isteri atau isteri-isterinya tidak mungkin dimintai persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian atau apabila tidak ada kabar dari isteri atau isteri isterinya sekurangkurangnya 2 tahun atau karena sebab lain yang perlu mendapat penilaian hakim. Bila isteri tidak mau memberikan persetujuan, dan permohonan izin untuk beristeri lebih dari satu orang berdasarkan atas salah satu alasan dalam sebagaimana dalam pasal 55 ayat (2) dan 57, Pengadilan Agama dapat menetapkan tentang pemberian izin setelah memeriksa dan mendengar isteri ybs di persidangan Pengadilan Agama, dan terhadap penetapan ini isteri atau suami dapat mengajukan banding atau kasasi. Demikian pasal 59 KHI.

Demikian makalah ini dihimpun dan disajikan, semoga bermanfaat, terimakasih atas segala perhatian, mohon maaf atas segala kekurangan. Wassalaam

H. ZAINAL ARIFIN
196210101985031004
KASI KEPENGHULUAN BIDANG URAIS

Tik by : H. Zainal Arifin

Page

12

KANTOR WILAYAH KEMENTERIAN AGAMA PROVINSI KALIMANTAN SELATAN
2010

UNDANG-UNDANG NOMOR : 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN DAN INSTRUKSI PRESIDEN NOMOR : 1 TAHUN 1991 TENTANG KOMPILASI HUKUM ISLAM
DIHIMPUN DAN DISAJIKAN
O L E H

H. ZAINAL ARIFIN
NIP. 196210101985031004

KASI KEPENGHULUAN BIDANG URAIS
The image cannot be display ed. Your computer may not hav e enough memory to open the image, or the image may hav e been corrupt ed. Restart y our computer, and then open the file again. If the red x still appears, y ou may hav e to delete the image and then insert it again.

Tik by : H. Zainal Arifin

Page

13

KANTOR WILAYAH KEMENTERIAN AGAMA PROVINSI KALIMANTAN SELATAN 2010
KATA PENGANTAR Puji dan syukur selalu dipanjatkan kehadirat Allah SWT, atas Inayah pertolonganNya, makalah yang berjudul Undang -undang Nomor : 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Instruksi Presiden Nomor : 1 Tahun 1991 Tentang Kompilasi Hukum Islam dapat dihimpun walau disana -sini terdapat banyak kekurangan. Makalah ini disusun untuk kebutuhan materi Diklat, bagi para peserta Diklat Keagamaan Banjarmasin, namun mengingat keterbatasan waktu untuk penyusunannya, maka yang dapat disuguhkan dalam makalah ini hanya berkisar pada : Hukum Perkawinan yang memuat : Dasar-dasar Perkawinan, Peminangan, Rukun dan syarat Perkawinan, Mahar, Larangan kawin, perjanjian dalam perkawinan, Kawin hamil, beristeri lebih dari satu orang, padahal materi lainnya sama perlunya untuk kita suguhkan. Penyusun menyadari, bahwa materi yang ada dalam makalah ini sangat jauh dari sempurna, untuk itu saran dan kritikan yang membangun sangat diharapkan untuk lebih sempurnanya makalah ini. Penyusun mengucapkan terimakasih terutama kepada Kepala Balai Diklat Keagamaan Banjarmasin, yang telah memberi kepercayaan kepada penyusun untuk menyusun dan menyajikan makalah ini dihadapan peserta Diklat. Semoga bermanfaat bagi penyusun dan bagi siapa saja yang membaca makalah ini. Banjarmasin, 11 Maret 2010 Penyusun

Tik by : H. Zainal Arifin

Page

14

Tik by : H. Zainal Arifin

Page

15

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->