P. 1
an Jauh Dasar - Kontribusi Penginderaan Jauh Dalam Pembangunan

an Jauh Dasar - Kontribusi Penginderaan Jauh Dalam Pembangunan

|Views: 982|Likes:
Published by Brianardi Widagdo

More info:

Published by: Brianardi Widagdo on May 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/15/2012

pdf

text

original

PENGINDERAAN JAUH DASAR TUGAS PENGINDERAAN JAUH DASAR (GKP 1201

)

Brianardi Widagdo 10/301014/GE/06821

KONTRIBUSI PENGINDERAAN JAUH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL NASIONAL INDONESIA

Disusun oleh : Nama : Brianardi Widagdo NIM : 2010/301014/GE/06821

FAKULTAS GEOGRAFI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2011 2011

UGM | KONTRIBUSI PENGINDERAAN JAUH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA

1

PENGINDERAAN JAUH DASAR

Brianardi Widagdo 10/301014/GE/06821

ARTIKEL PENGINDERAAN JAUH

UGM | KONTRIBUSI PENGINDERAAN JAUH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA

2

PENGINDERAAN JAUH DASAR Wednesday, February 23, 2011 Inderaja Dukung Pemantauan Wilayah Indonesia

Brianardi Widagdo 10/301014/GE/06821

Jakarta - Penginderaan jauh (inderaja) dapat dimanfaatkan untuk pemantauan wilayah Indonesia. Pemantauan ini akan mendukung pertahanan negara Hal tersebut diungkapkan Kadislahtal Laksamana Pertama Iwan Kustiawan, MM saat pembukaan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengolahan Data Penginderaan Jauh untuk Mendukung Pertahanan dan Keamanan, di Pusat Pengolahan Data Pengindraan Jauh Lapan, Pekayon, Jakarta Timur, Senin (21/2). Menurut Iwan, untuk memantau wilayah perairan Indonesia, TNI Angkatan Laut perlu memperoleh bantuan teknis dalam bidang teknologi penginderaan jauh yang dikembangkan Lapan. Dengan demikian, TNI Angkatan Laut dapat memanfaatkannya dalam upaya pengembangan sistem pertahanan negara. Sistem pertahanan yang dapat didukung melalui inderaja yaitu pengamatan, identifikasi dan komunikasi, serta pemetaan. Iwan menjelaskan, inilah yang menjadi motivasi TNI Angkatan Laut bekerja sama dengan Lapan dalam melaksanakan bimtek. Sementara itu, Deputi Bidang Penginderaan Jauh Lapan, Ir. Nurhidayat, Dipl. Ing. dalam sambutannya mengatakan bahwa Lapan memiliki tugas dalam bidang inderaja. “Tugas Lapan menghasilkan data penginderaan jauh dan mendistribusikannya pada pengguna. Data tersebut digunakan bersama oleh berbagai instansi agar bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya. Bimtek ini merupakan cara meningkatkan kemampuan sumber daya pengguna dalam penginderaan jauh. Bimtek diikuti oleh 22 peserta yang terdiri dari TNI Angkatan Laut, Pustopad, Bakorkamla, dan Badan Inteligen Negara. Pelatihan berlangsung pada 21 Februari hingga 4 Maret 2011. Materi bimtek meliputi praktikum pengolahan data, konversi format, penajaman citra, pembuatan citra komposit, koreksi geometric, cropping dan mosaic data, interpretasi visual, labelling, layout, penggunaan Global Position System (GPS), serta survei lapangan. Dari hasil survei lapangan dilanjutkan dengan praktikum pengolahan DEM dan deteksi garis pantai. (LAPAN/WDN)

Sumber : http://www.mik-news.co.cc/2011/02/inderaja-dukung-pemantauan-wilayah.html

UGM | KONTRIBUSI PENGINDERAAN JAUH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA

3

PENGINDERAAN JAUH DASAR Teknologi Inderaja Bantu Mitigasi Bencana Oleh Redaksi Suaramandiri.com Rabu, 14 Juli 2010 00:32

Brianardi Widagdo 10/301014/GE/06821

JAKARTA (suaramandiri.com)- Mitigasi bencana alam dan kebakaran hutan merupakan contoh pemanfaatan teknologi penginderaan jauh (inderaja). Hal tersebut dijelaskan oleh Peneliti Pusat Data Penginderaan Jauh (Pusdata) Lapan, Andi Setyoko, MT, saat menerima kunjungan siswa kelas X SMA Talenta Taman Kopo Bandung di Kedeputian Penginderaan jauh Lapan, Pekayon, Jakarta Timur, Rabu (9/2). Andi juga memaparkan bahwa Lapan menyediakan data hasil perekaman inderaja. Data tersebut diolah, diproses, kemudian dianalisis. Data ini kemudian digunakan untuk perencanaan tata ruang perkotaan, pemetaan zona potensi penangkapan ikan, pemantauan perubahan penutupan lahan, mitigasi bencana alam, dan pemutakhiran peta topografi. Sementara itu, dalam kunjungan ini, peneliti Pusdata Lapan Danang Surya Candra, M. Sc. menjelaskan mengenai prinsip penginderaan jauh. Ia menjelaskan, penginderaan jauh artinya mengamati permukaan bumi. Salah satu cara kerja teknologi penginderaan jauh adalah dengan menempatkan peralatan pengindera seperti kamera di atmosfer. Kamera yang digunakan oleh satelit beresolusi tinggi sehingga obyek pengamatan terlihat jelas. Kamera satelit tersebut digunakan untuk mengambil gambar obyek rupa bumi seperti kepulauan, perkotaan, dan perkebunan. Danang menambahkan, satelit menggunakan sensor untuk menangkap gelombang elektromagnetik yang dipantulkan oleh objek-objek di permukaan bumi. Ada dua jenis sensor yaitu sensor optik dan sensor radar. Sifat hamburan sensor radar tidak terganggu oleh awan sehingga dalam keadaan gelap sensor ini tetap dapat mendeteksi objek. Prinsip sensor dalam satelit yaitu, semakin tinggi intensitas gelombang yang dipantulkan maka semakin baik perekaman yang didapatkan. Oleh karena itu, penginderaan jauh satelit baik sekali untuk memantau kebakaran hutan. Hal ini disebabkan, panas yang diakibatkan oleh pembakaran hutan dapat ditangkap sensor satelit dengan baik. Ternyata, terdapat dua sistem orbit satelit yaitu orbit polar dan ekuatorial. Dalam sistem orbit polar, satelit mengelilingi bumi dengan melewati kutub. Sementara itu, dalam orbit ekuatorial, satelit bergerak sejajar garis ekuator. Peserta kunjungan terdiri dari 115 siswa dan enam guru pembimbing. Menurut guru pembimbing, Wawan Safturi, kunjungan ini bertujuan untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi penginderaan jauh. Kunjungan tersebut sekaligus berkaitan dengan mata pelajaran geografi dan fisika. Dalam kegiatan ini, para siswa mengunjungi fasilitas pengolahan data penginderaan jauh Lapan.

Sumber
http://www.suaramandiri.com/index.php?option=com_content&view=article&id=119:contohberita-iptek-2&catid=161:iptek&Itemid=119
UGM | KONTRIBUSI PENGINDERAAN JAUH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA

:

4

PENGINDERAAN JAUH DASAR

Brianardi Widagdo 10/301014/GE/06821

Citra Satelit Perlihatkan Kawah Merapi Meluas Tim Liputan 6 SCTV

11/11/2010 17:51 Liputan6.com, Jakarta: Letusan Gunung Merapi berdampak hebat bagi vegetasi dan lingkungan sekitar lereng Merapi. Citra satelit yang diterima Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (Lapan), Kamis (11/11), memperlihatkan ada penambahan luas kawah akibat letusan Merapi. Demikian diungkapkan Kepala Teknologi Pengindraan Jauh Lapan Agus Hidayat. Jika dibandingkan dengan foto-foto kawasan Gunung Merapi pada 2008 silam, sebelum meletus, tampak di kawasan puncak Merapi masih tertutup vegetasi pohon-pohon. Sedangkan pada foto-foto sekarang, puncak Merapi terlihat ada penambahan kawah akibat erupsi besar pada 5 November silam. Tak hanya itu, dari foto tersebut juga tampak lelehan lava berupa garis-garis lava yang mengalir ke arah lereng selatan Merapi. Adapun citra satelit Gunung Merapi itu diperoleh Lapan melalui satelit internasional dengan metode pencitraan potis maupun

radar.(BJK/ANS)

Sumber :
http://tekno.liputan6.com/berita/201011/306070/citra_satelit_perlihatkan_kawah_merapi_meluas

UGM | KONTRIBUSI PENGINDERAAN JAUH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA

5

PENGINDERAAN JAUH DASAR Teknologi Penginderaan Jauh Untuk Pemetaan Terumbu Karang 17 Januari 2003

Brianardi Widagdo 10/301014/GE/06821

Wilayah laut Indonesia yang luas dengan garis pantai yang panjang dan dengan posisi geografisnya yang unik memiliki sumber daya terumbu karang yang kaya dan luas. Untuk pengelolaannya yang efektif dan efisien sangat diperlukan informasi mengenai luas dan sebaran terumbu karang di seluruh perairan Indonesia. Permasalahannya adalah bahwa sangat sulit untuk dapat menyediakan data dan informasi mengenai luas dan sebaran terumbu karang secara nasional dalam waktu yang cepat melalui pengamatan dan pengukuran langsung, karena akan memerlukan tenaga yang berat, biaya mahal dan waktu yang sangat lama. Oleh karena itu perlu digunakan alternatif teknologi yang dapat mempercepat penyediaan data dan informasi mengenai luasan terumbu karang tersebut, misalnya penggunaan teknologi penginderaan jauh. Atas dasar pertimbangan itu, maka COREMAP melalui Deputi I bidang Informasi dan Pelatihan Terumbu Karang, bekerjasama dengan Bank Data Inderaja LandsatTM LAPAN, melakukan kegiatan pemetaan untuk memperoleh data mengenai luas dan sebaran terumbu karang serta panjang garis pantai di Indonesia menggunakan teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografi (SIG). Yang dimaksud dengan data dan informasi mengenai luas dan sebaran terumbu karang dalam pemetaan ini mencakup luas dan sebaran pasir karang, rataan terumbu tengah, tubir dan lereng terumbu. Dengan kata lain dalam kegiatan ini terumbu karang terdiri dari binatang karang, derivatnya dan habitat yang ada di dalamnya. Pemetaan terumbu karang menggunakan teknologi inderaja Landsat-TM ini dilakukan sampai batas kedalaman yang dapat dideteksi oleh sensor satelit. Untuk daerah yang datar atau agak landai, penghitungan luas dilakukan secara langsung berdasarkan jumlah piksel. Untuk daerah dengan sudut kemiringan yang agak besar, perhitungan luas terumbu karang dibantu dengan suatu transformasi yang memasukan komponen batimetri. Sedangkan untuk daerah yang sangat curam atau yang berbentuk dinding terjal, penentuan luas terumbu karang dilakukan secara visual dan dengan bantuan echosounder. Adapun batasan-batasan mengenai peristilahan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah: Luas terumbu karang: di ukur mulai dari garis pantai dengan dasar pasir karang, rataan terumbu, tubir dan lereng terumbu sampai kedalaman di mana karang masih hidup dan membentuk terumbu; Takat (patch reef); diukur sesuai dengan kondisi yang terekam oleh citra Landsat -TM Karang tepi (fringing reef ); diukur mulai dari garis pantai sampai batas kedalaman di mana karang masih hidup dan membentuk terumbu. Karang penghalang (barrier); di ukur luasnya di kedua sisi, baik yang menghadap ke laut lepas maupun yang menghadap ke pulau utama;

UGM | KONTRIBUSI PENGINDERAAN JAUH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA

6

PENGINDERAAN JAUH DASAR

Brianardi Widagdo 10/301014/GE/06821

Atol; diukur di kedua sisi, baik yang menghadap ke laut lepas maupun ke lagoon (goba). Goba yang kedalamannya kurang dari 10 meter dianggap sebagai satu kesatuan luas karang di atol tersebut; Panjang garis pantai; diukurmengikuti garis pantai yang ada pada citra Landsat-TM Untuk mencapai hasil yang optimal, Deputi I COREMAP membagi pelaksanaan kegiatan pemetaan ini dalam dua tahap, yaitu: Tahap I (tahun anggaran 1999/2000) untuk daerah Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi. Tahap II (tahun anggaran 2000/2001) untuk daerah Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Irian Jaya Pemetaan tahap pertama saat ini telah selesai dilakasanakan dan hasilnya sebagai berikut:ÿ Data luas terumbu karang dalam bentuk tabular untuk setiap wilayah; Data sebaran spasial terumbu karang skala 1 : 100.000 digital dalam media perekam CDROM untuk setiap wilayah;ÿ Data sebaran spasial terumbu karang dalam bentuk hardcopy skala 1 : 500.000 dan rekaman digital dalam media CD-ROM untuk wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi;ÿ Data garis pantai hasil pembaharuan dengan menggunakan citra satelit dalam bentuk media rekaman CD-ROM.ÿ

Kegiatan pemetaan tahap kedua waktu ini masih dalam proses awal. Berbekal pengalaman yang diperoleh pada pelaksanaan tahap pertama serta dengan peralatan dan fasilitas yang tersedia diharapkan implementasi tahap kedua akan berjalan lebih lancar

Geryanto Nugrahadi Source : Kalawarta ,Vol 4 No.1 Jun'2000

Sumber : http://www.coremap.or.id/berita/article.php?id=156

UGM | KONTRIBUSI PENGINDERAAN JAUH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA

7

PENGINDERAAN JAUH DASAR

Brianardi Widagdo 10/301014/GE/06821

KOMENTAR DAN PEMBAHASAN

UGM | KONTRIBUSI PENGINDERAAN JAUH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA

8

PENGINDERAAN JAUH DASAR

Brianardi Widagdo 10/301014/GE/06821

Penginderaan Jauh pada dasarnya berfungsi memberikan data/informasi spasial dari suatu tempat. Didalam citra penginderaan jauh terdapat banyak informasi yang dapat direkam didalamnya, hal ini juga dapat membantu dalam menerapkan tiga pendekatan tersebut, antara lain untuk pendekatan ekologikal, yaitu dengan mengetahui bentukan lahan, serta penggunaan lahan existing yang ada, maka secara ekologikal dapat di lakukan analisis apakah pemanfaatan lahan yang ada saat ini telah sesuai dengan proses ekologi, atau justru menyalahi fungsi ekologi yang seharusnya. Pendekatan yang kedua adalah pendekatan spasial, dalam membantu menerapkan pendekatan ini untuk menyelesaiakan suatu masalah, memang pada dasarnya diperlukan peta. Akan tetapi seperti apa yang telah dijelaskan lebih awal bahwa keberadaan penginderaan jauh mampun meminimalisir biaya, tenaga, dan waktu untuk mengahsilkan informasi spasial melalui peta tersebut. Pendekatan yang terakhir adalah tentang kompelks kewilayahan, artinya didalam dinamika yang dimiliki oleh setiap wilayah mampun untuk direkam oleh pengideraan jauh, dan digunakan untuk melakukan perencanaan terhadap pembangunan kedepan. Integrasi antara ketiga pendekatan ini yang berhubungan pada berbagai permasalahan wilayah, kemudian muncul sebuah bidang di dalam sains geografi yaitu pengideraan jauh untuk pembangunan wilayah. Artikel-artikel diatas menunjukan peran penting Penginderaan Jauh dalam menangani atau dimanfaatkan untuk membantu mengatasi masalah-masalah keruangan di Indonesia pada khususnya. Dalam berbagai disiplin Ilmu , penerapan Penginderaan Jauh sesuai dengan kebutuhan akan informasi yang akan diolah sebagai hasil dari informasi keruangan. Penginderaan Jauh dapat menyajikan model, relief, kemiringan lereng suatu lahan dan memberikan gambaran atau pemetaan daerah bencana alam, seperti banjir, gempa Bumi, tsunami, dan daerah letusan gunungapi sehingga dapat dimanfaatkan untuk proses pencegahan dan evakuasi. Sejalan dengan kemajuan yang dicapai di bidang teknologi tersebut, sekarang telah memiliki kemampuan menyajikan informasi spatial (keruangbumian) yang semakin luas dan semakin akurat. Kemampuan teknologi Inderaja Satelit yang dapat meliput daerah secara luas dalam waktu singkat serta dilakukan secara periodik, telah menjadikan teknologi ini tidak saja sekedar pengumpul data/informasi spatial, tetapi juga sebagai sarana pemantauan dinamika perkembangan wilayah dan sarana/alat guna mengevaluasi dampak pembangunan terhadap ruang muka bumi. Indonesia yang mempunyai luas wilayah yang cukup luas memerlukan penginderaan jauh untuk memantau perkembangan kewilayahan dengan data spasial yang aktual. Penginderaan Jauh mempunyai kemampuan dalam penyampaian informasi yang lebih cepat dan efesien dengan cakupan wilayah yang luas, sehingga kita bisa mengetahui perkembangan wilayah secara periodik. Pertahanan kesatuan Republik Indonesia memerlukan informasi dengan cepat, berikut kemampuan penginderaan jauh dalam pertahanan nasional : 1. Proses Pembuatan Analisa Daerah Operasi (ADO), terutama untuk mengidentifikasi guna menentukan : 5 aspek militer dari medan, Dropping Zone, tempat pendapatan, daya dukung tanah, keadaan land cover, sumber air, kondisi cuaca. 2. Dalam mengolah Informasi/lntelejen antara lain: dapat membantu mencari dan menentukan :
UGM | KONTRIBUSI PENGINDERAAN JAUH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA

9

PENGINDERAAN JAUH DASAR

Brianardi Widagdo 10/301014/GE/06821

3.

4. 5. 6. 7.

• Disposisi dan dislokasi pasukan musuh • Dislokasi logistik militer musuh • Tempat pengintaian atau peninjauan • Mendeteksi samaran • Menentukan jalan-jalan pendekat, perlindungan, medan kritis dan rintangan. Untuk keperluan SAR di darat dan di laut Citra Satelit beresolusi tinggi dapat menjadi alat bantu pencarian lokasi bencana/kecelakaan yang menghendaki pertolongan segera. Dapat membantu pembuatan peta militer skala besar untuk daerah yang belum ada petanya atau untuk pembaharuan peta yang datanya sudah usang. Dapat membantu pembuatan Laporan Geografi Militer (LGM) atau Laporan Medan (LM) dan memperbaharui datalinformasi LGM/LM yang usang. Dapat membantu menganalisis dan meramalkan kondisi cuaca (suhu, awan, tekanan udara, angin, kelembaban udara, cahaya dan kabut). Sebagai sarana untuk memantau kondisi wilayah/medan tempur.

Penginderaan Jauh mempunyai fungsi lain selain untuk pemantauan kewilayahan secara nasional. Dari artikel diatas, Penginderaan Jauh berfungsi dalam penanganan Bencana dan Sumberdaya Alam. Sebelum bencana alam terjadi biasanya didahului oleh adanya gejalagejala tertentu. Contohnya, sebelum gunung api meletus biasanya didahului oleh adanya peningkatan suhu permukaan bumi di sekitar gunung api tersebut. Peningkatan panas ini dapat diketahui dari perubahan yang terjadi pada citra Satelit Penginderaan Jauh. Bahaya longsoran tanah atau pergeseran tanah pada umumnya diawali dengan adanya retakan atau rekahan atau patahan bidang tanah secara vertikal. Gejala demikian dapat diketahui dari hasil analisis citra foto atau citra radar. Bahaya badai atau angin ribut sebelumnya dapat diketahui dari adanya dua blok massa udara bertekanan sangat tinggi dan di lain pihak massa udara bertekanan rendah. Gejata udara ini dapat diketahui dari citra satellt GMS (Geostationary Meteorological Satellite). Demikian pula dengan bencana alam lainnya seperti banjir, kebakaran hutan, secara tidak langsung dapat diramalkan sebelumnya melalui perubahan gejala tertentu pada lingkungan setempat. Perubahan gejata ini dapat diketahui dari perubahan citra satelit dalam kurun waktu yang relatif singkat (Mahdi Kartasasmita, dkk, 1998). Dengan citra satelit, kebakaran hutan dapat diketahui secara dini, bahkan dapat diantisipasi. Guguran daun dari pohon-pohon pada suatu areal hutan yang luas akibat kekeringan pada musim kemarau sangat rentan menimbulkan kebakaran yang hebat bilamana pada areal hutan tersebut berhembus angin kencang. Kondisi tersebut dapat diketahui dari citra Satelit. Kita, bahkan penduduk negara tetangga kita dapat mengetahui jumlah titik api pada kebakaran hutan di Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, dll. Untuk bencana alam yang ditimbulkan oleh dampak perbuatan manusia, seperti pertanian liar di daerah terlarang, illegal logging, illegal mining, dan lain-lain, dengan data citra satelit dapat diketahui dan bahayanya dapat diantisipasi secara dini. Kerusakan lingkungan, khususnya hutan yang sekarang marak terjadi dengan demikian dapat diminimalisasi, karena segera dapat diketahui sejak dini melalui citra satelit (Agus Hidayat, 1995).
UGM | KONTRIBUSI PENGINDERAAN JAUH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA

10

PENGINDERAAN JAUH DASAR

Brianardi Widagdo 10/301014/GE/06821

Sumberdaya alam Indonesia sangatlah melimpah. Potensi sumberdaya alam (SDA) bagi nagara sedang berkembang (developing country) seperti Indonesia belum dapat diketahui secara pasti dan menyeluruh, terutama untuk daerah luar Jawa yang berpenduduk relatif jarang. Dengan adanya teknologi Inderaja Satelit, proses inventarisasi SDA tersebut dapat dipercepat. Salah satu kegiatan yang telah hampir selesai dilaksanakan adalah inventarisasi sumberdaya lahan Nasional (SDLN) yang diwujudkan dalam bentuk peta tematik RePPProT (Regional Physical Planning Program for Transmigration), proyek bersama Deptrans PPH, BPN dan Bakosurtanal di era Orba. Daerah dengan potensi sumberdaya lahan (SDL) yang miskin, namun padat penduduknya diplot sebagai daerah sumber penyedia transmigran, sedangkan daerah dengan potensi SDL yang kaya SDA di luar Jawa diplot sebagai daerah tujuan/penerima transmigran. Dalam peta RePPProT tersebut tergambar pula kondisi vegetasi/tutupan lahan di setiap daerah. Potensi-potensi SDA yang lain seperti sumberdaya mineral tambang, air tanah, sumberdaya maritim, dll., semuanya dapat diketahui melalui teknologi Inderaja. Penerapan di Bidang Kehutanan, Pertanian, Perkebunan dan Perikanan. Kemampuan citra Landsat TM dan SPOT/P yang dihasilkan Multiband Scanner telah mampu mengidentifikasi jenis-jenis tanaman, kondisi tanaman dan menentukan jenis tanah serta sifat-sifat tanah lainnya. Bahkan dengan penggunaan Landsat TM beresolusi tinggi, kematangan tanaman dan ukuran rata-rata pohon di hutan dapat diketahui. Dengan kemampuan pemantauan Inderaja yang bersifat periodik dapat diketahui dan dievaluasi perkembangan/perubahan areal tanaman atau tumbuhan hutan setiap waktu. Sehingga dengan demikian teknologi ini merupakan sarana pengawasan pembangunan yang efektif dan efisien. Di bidang perikanan, jasa teknologi ini juga dapat dirasakan manfaatnya, sekalipun tidak langsung. Hal-hal yang diketahui secara langsung adalah kondisi kekeruhan air, gerakan massa air (arus, panas atau dingin) dan sifat air lainnya. Dengan mengetahui kondisi air seperti itu dapat diperkirakan di tempat mana saja terdapat kumpulan ikan jenis tertentu. Para pencuri ikan (illegal fishing) juga menggunakan data peta/citra hasil teknologi Inderaja Satelit ketika mencuri ikan di perairan Indonesia. Sehubungan dengan itu, dengan memahami hasil anaIisis Inderaja di perairan, aparat Kamla dapat memperkirakan keberadaan para pencuri ikan (Hasyim B., 1995). Wilayah laut Indonesia yang luas dengan garis pantai yang panjang dan dengan posisi geografisnya yang unik memiliki sumber daya terumbu karang yang kaya dan luas. Untuk pengelolaannya yang efektif dan efisien sangat diperlukan informasi mengenai luas dan sebaran terumbu karang di seluruh perairan Indonesia. Untuk perencanaan dan pengelolaan daerah pesisir yang lebih baik, maka para pengambil keputusan membutuhkan data yang teliti, lengkap, aktual dan mudah diintegrasikan dengan data yang lain. Hal ini dapat dipenuhi oleh data atau informasi yang berasal dari Sistem Informasi Geografis melalui analisis ekologi dan penginderaan jauh. Metode Penginderaan Jauh dapat berguna dalam perencanaan dan pengelolaan wilayah pesisir sehingga dapat dilakukan dengan baik dan terarah serta dapat menghindari eksploitasi yang tidak terkendali. Penelitian yang lebih mendalam tentang metode Penginderaan Jauh yang ditawarkan masih sangat luas dan belum sempurna mengingat setiap kasus yang dihadapi dapat menimbulkan permasalahan baru yang dapat menimbulkan pemikiran dan teknik-teknik tertentu.
UGM | KONTRIBUSI PENGINDERAAN JAUH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA

11

PENGINDERAAN JAUH DASAR

Brianardi Widagdo 10/301014/GE/06821

Penggabungan disiplin ilmu pengetahuan sangat memungkinkan dan sangat diperlukan dalam pengembangan Penginderaan Jauh, mengingat kehandalan dari Penginderaan Jauh sangat ditentukan oleh data dan informasi yang diperoleh dari pakar yang benar-benar mengetahui bidang ilmu tersebut. SIG juga memungkinkan untuk mengintegrasikan semua disiplin ilmu dalam suatu sistem yang terkoordinasi.

UGM | KONTRIBUSI PENGINDERAAN JAUH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA

12

PENGINDERAAN JAUH DASAR PENGINDERAAN JAUH DAN PEMBANGUNAN

Brianardi Widagdo 10/301014/GE/06821

Pembangunan wilayah memiliki hakekat yaitu bidang dari geografi yang difungsikan untuk memahami berbagai macam elemen dari wilayah baik fisik lingkungan, sosial, budaya, ekonomi, kelembagaan, maupun berbagai macam keluaran untuk organisasi spasial, seperti RTRW, RDTR, dll. Berbagai macam elemen inilah yang kemudian dirancang dalam suatu perencanaan untuk diterapkan proses pembangunan kedepan, artinya dengan memahami banyak tentang elemen tersebut pembangunan yang dilakukan didalam wilayah tersebut mampu dilakukan secara berkelanjutan (sustainable). Penerapan bidang penginderaan jauh untuk pembangunan wilayah yang secara hakekat adalah keberadaan penginderaan jauh yang menghasilkan citra maupun foto udara mampu untuk melakukan perekaman terhadap berbagai elemen wilayah yang telah disebutkan sebelumnya. Hal ini akan menjadi bahan dalam usaha melakukan proses pembangunan baik mulai dari perencanaan sampai dengan monitoring dan evaluasi. Proses pemahaman elemen-elemen wilayah melalui penginderaan jauh tersebut, nantinya akan menghasilkan keluaran berupa peta tentang informasi-informasi yang diperlukan untuk melakukan perencanaan. Dapat dimisalkan untuk pemahaman tentang kondisi fisik lingkungan suatu wilayah, dapat menggunakan citra Landsat yang akan menunjukkan adanya berbagai bentukan lahan dengan melihat pola punggungan ataupun pola penutup lahan yang berasal dari variasi tampilan bandnya. Jikalau tidak dengan menggunakan penginderaan jauh, maka keberadaan perencanaan akan justru memakan waktu dalam mencari informasi tentang karakter bentukan lahan di suatu daerah, dan harus melakukan survei pemetaan terestrial seluruh wilayah dalam memperoleh data tersebut. Sedangkan untuk aktivitas sosial serta ekonomi juga dapat direkam melalui penginderaan jauh, yaitu dengan mengetahui berbagai penggunaan serta pemanfaatan lahan yang ada di suatu wilayah. Suatu wilayah baik di pedesaan maupun di perkotaan menampilkan wujud yang rumit, tidak teratur dan dimensi yang heterogen. Kenampakan wilayah perkotaan jauh lebih rumit dari pada kenampakan daerah pedesaan. Hal ini disebabkan persil lahan kota pada umumnya sempit, bangunannya padat, dan fungsi bangunannya beraneka. Oleh karena itu sistem penginderaan jauh yang diperlukan untuk penyusunan tata ruang harus disesuaikan dengan resolusi spasial yang sepadan. Untuk keperluan perencanan tata ruang detail, maka resolusi spasial yang tinggi akan mampu menyajikan data spasial secara rinci. Data satelit seperti Landsat TM dan SPOT dapat pula digunakan untuk keperluan penyusunan tata ruang hingga tingkat kerincian tertentu, misalnya tingkat I (membedakan kota dan bukan kota). hingga sebagian tingkat II (perumahan, industri, perdagangan, dsb.).Sedangkan untuk tingkat III (rincian dari tingkat II, misalnya perumahan teratur dan tidak teratur) dan tingkat IV (rincian dari tingkat III, misalnya perumahan teratur yang padat, sedang, dan jarang. Welch (1982) menyatakan bahwa untuk penyusunan tata ruang perkotaan di Amerika Serikat dengan memanfaatkan data penginderaan jauh, menggunakan konsep hubungan antara resolusi spasial data penginderaan jauh dan tingkat kerincian data yang dihasilkan.

UGM | KONTRIBUSI PENGINDERAAN JAUH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA

13

PENGINDERAAN JAUH DASAR

Brianardi Widagdo 10/301014/GE/06821

Penggunaan lahan tersebut akan menunjukkan berbagai macam variasi kehidupan sosial, dan juga dapat mempengaruhi tingkat perekonomian wilayah tersebut. Misalnya untuk perekaman fenomena sosial ekonomi wilayah yang ditampilkan pada citra yaitu dengan penggunaan lahan untuk permukiman dan perumahan. Pola permukiman dan perumahan dapat menunjukkan fenomena sosial ekonominya. Antara lain untuk permukiman dengan pola teratur dengan luasan blok bangunan cukup lebar, maka hal itu menunjukkan permukiman dengan kondisi ekonomi penduduk yang tinggi, akan tetapi terdapat kecenderungan bahwa kondisi sosialnya kurang baik, karena banyak bersifat individual. Berbeda dengan pola permukiman yang berasosiasi dengan sungai yang membelah kota. Keberadaan pola yang sangat rapat, kemudian ditandai blok rumah yang sangat sempit, menunjukkan kondisi ekonomi penduduk di kawasan tersebut termasuk golongan menengah kebawah, atau kawasan ini sering disebut sebagai kawasan Slum area. Sedangkan untuk kondisi sosialnya, yaitu kerekatan antar penduduk justru sangat tinggi, karena aktivitas mereka yang justru sangat dekat dengan ruang untuk untuk bergerak sangatlah sempit. Berbagai fenomena permukiman dan permumahan yang dapat direkam melalui penginderaan jauh ini, dapat dijadikan suatu referensi oleh seorang perencana dalam melakukan regionalisasi suatu kawasan, dan mempengaruhi penanganan pembangunan di setiap kawasan yang akan berbeda-beda. Salah satu masalah di Indonesia adalah pengembangan wilyah di daerah perbatasan. Untuk mengembangkan wilayah perbatasan berdasarkan opsi pembangunan pulau-pulau kecil, arahan pemanfaatan pulau-pulau kecil, prospek pengembangan wilayah. Berikut pendapat dari Dietrich.G. Bengen Dr.Ir. (2003) tentang pembangunan : 1. Pembangunan yang tidak berdampak negatif sama sekali pada lingkungan, misalnya dengan menentukan suatu pulau dengan perairannya sebagai kawasan “wildlife sanctuary”. 2. Pembangunan yang hanya sedikit dampak negatifnya, misalnya pengembangan subsistem untuk memenuhi kebutuhan lokal secara berkelanjutan; dan 3. Pembangunan yang berakibat perubahan radikal dalam lingkungan, seperti pertambangan skala besar, kegiatan militer, pengujian nuklir dan pengembangan wisata yang intensif. Untuk mengembangkan wilayah perbatasan sebaiknya diambil opsi 1 dan 2 yaitu wildlife sanctuary (konservasi) dan pengembangan untuk memenuhi kebutuhan lokal secara berkelanjutan. Pembangunan daerah perbatasan diperlukan data spasial yang mencakup keseluruhan wilayah sehingga pembangunan daerah perbatasan dapat dilakukan secara maksimal tanpa mengganggu stabiltas nasional. Penginderaan Jauh dapat memberi informasi tentang batas-batas kenegaraan, sekaligus juga memberi informasi tentang Sumberdaya yang terdapat dan berpontensi dalam suatu daerah, sehingga data spasial dari penginderaan jauh diperlukan agar pembangunan di daerah perbatasan berjalan lancar dan maksimal. Deskripsi fungsi penginderaan jauh untuk pembangunan wilayah diatas hanyalah salah satu contoh pemanfaatan semata, dan masih banyak fungsi yang dimiliki penginderaan jauh dalam usaha melakukan pembangunan disuatu wilayah, seperti halnya untuk penyelesaian konflik sektor kelingkunganan, kebencanaan, bahkan yang sedang berkembang saat ini adalah penginderaan jauh yang digunakan dalam usaha pertahanan dan keamanan kedaulatan negara. Oleh sebab itulah perkembangan era global saat ini, sangatlah membantu dalam
UGM | KONTRIBUSI PENGINDERAAN JAUH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA

14

PENGINDERAAN JAUH DASAR

Brianardi Widagdo 10/301014/GE/06821

melakukan proses pembangunan yang pada hakekatnya memang difungsikan untuk kesejahteraan manusia. Dan alangkah lebih baik jikalau pemanfaatan teknologi pengideraan jauh dilakukan kearah yang bersifat positif, bukan hal-hal yang bersifat negatif seperti untuk melakukan kejahatan, penjajahan, korupsi, dan lain-lain.

UGM | KONTRIBUSI PENGINDERAAN JAUH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA

15

PENGINDERAAN JAUH DASAR

Brianardi Widagdo 10/301014/GE/06821

KESIMPULAN

UGM | KONTRIBUSI PENGINDERAAN JAUH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA

16

PENGINDERAAN JAUH DASAR Kesimpulan dari berbagai pembahasan dan artikel diatas antara lain :

Brianardi Widagdo 10/301014/GE/06821

1. Penginderaan Jauh terdapat banyak informasi yang dapat direkam, terutama data spasial yang dapat digunakan dalam berbagai disiplin ilmu. 2. Identifikasi Penginderaan Jauh dapat menggunakan tiga pendekatan yaitu Pendekatan Spasial, Ekologi dan Kompleks Wilayah. 3. Pemanfaatan Penginderaan Jauh sangat luas, diantaranya untuk Pertahanan Nasional dalam pemantauan kewilayahan, Memberi informasi tentang Bencana lebih cepat sehingga penyelesaian masalah Bencana akan lebih cepat teratasi dan Pemanfaatan Sumberdaya Alam sesuai dengan potensi SDA di semua daerah. 4. Penginderaan Jauh yang menghasilkan citra maupun foto udara mampu untuk melakukan perekaman terhadap berbagai elemen wilayah sehingga dapat menjadi bahan dalam usaha melakukan proses pembangunan baik mulai dari perencanaan sampai dengan monitoring dan evaluasi. 5. Pembangunan di daerah perbatasan memerlukan data spasial yang akurat dan aktual sehingga pembangunan di daerah perbatasan dapat maksimal dan cepat.

UGM | KONTRIBUSI PENGINDERAAN JAUH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA

17

PENGINDERAAN JAUH DASAR

Brianardi Widagdo 10/301014/GE/06821

Daftar Pustaka
CPLO. 1996. Penginderaan Jauh Terapan. Jakarta: U Press. Lillesand, Thomas M. 1990. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Sutanto. 1992. Penginderaan Jauh; Jilid I. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 2000. Sumberdaya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Bogor : Puslit Tanah dan Agroklimat. Sumodiningrat, G. Kemiskinan dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan. Makalah pada Seminar Kritik Atas Kebijakan Pembangunan Perdesaan di Indonesia. (2005). diselenggarakan oleh Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W). Institut Pertanian Bogor.

http://journal.uii.ac.id/index.php/Snati/article/viewFile/1200/1018 http://journal.uii.ac.id/index.php/Snati/article/viewFile/818/742 http://journal.ui.ac.id/upload/artikel/05-Penggunaan%20Metode%20Analisa_Bangun.PDF http://oc.its.ac.id/ambilfile.php?idp=505

UGM | KONTRIBUSI PENGINDERAAN JAUH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA

18

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->