P. 1
8108112

8108112

|Views: 33|Likes:
Published by Syamsu Rizali

More info:

Published by: Syamsu Rizali on May 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/14/2011

pdf

text

original

v

Dimensi Baru Kejahatan Korporasi di Rumah Sakit Yang Oapat Terjadi Pada Pasien

Sutarno

Abstract: A crime done by a hospital can be a new dimension of corporate crime. Such crime are very difficult to solve. The crimes may be using a complex medical equipment that is not really needed by the patients, or using the large gap of knowledge between doctor and their patients. It is argued that clear mechanisms to prevent or at least minimize such crime is needed. These include the clear, detail and transparant standart of procedure (SOP) in all diagnose and treatment processes as well as intens training in medico legal aspect for the personel of the hospital, including doctors and all personel of structural management. While these proposed SOP should be accessible easily, it is proposed that increasing of medical and hospital law is needed. However, such mechanisms should not overweight the development of medical sciences and the disclosur of new medical equipments.

Keywords: hospital's crime, new dimension of corporate crime, medical law ccrrespcndence : Faculty of Law, Hang Tuah University, JI. Arif Rahman Hakim No.150, Sukolilo - Surabaya 60111

PENDAHULUAN

"Ka/au ingin menjadi dokter jadi/ah dokter yang baik. Ka/au ingin menjadi pengusaha / bisnis, berbisnislah yang baik. Tetapi jangan sekali-kali menyatukan dua profesi ini (dokter dan bisnis), wa/aupun keduanya sama-sama baik karena hasilnya ada/ah tidak baik (neraka)". Masalah besar yang sering dihadapi saat ini dalam bidang kesehatan antara lain: tingginya biaya pengobatan yang makin hari makin terasa berat, kesenjangan pelayanan kesehatan antara simiskin dan sikaya serta kesenjangan pengetahuan kedokteran antara dokter dan pasien. Padahal untuk mengatasi segala persoalan kesehatan tersebut harus ada percepatan pembiayaan kesehatan oleh pemerintah, sistem perundangan yang memihak kepada seluruh penduduk tanpa pandang bulu dan pendidikan yang berhasi!.

Usia harapan hidup manusia Indonesia makin panjang, makin banyak orang yang berusia Ianjut, makin banyak jumlah orang yang berpenyakit degeneratif dan kanker, makin banyak yang memerJukan pengobatan yang sulit-sulit, untuk itu harus disediakan dana yang makin besar. Banyak penyakit yang "tidak bisa diobati" (misalnya kanker stadium lanjut). Banyak orang miskin, tidak kuat berobat, negara belum sepenuhnya mengambiJ alih pendanaan pengobatan orang miskin, walaupun sudah

Perspektif Hukum. Vol. 8 No.1 Mei 2008 : 1 - 12

ada asuransi, tetapi moral bisnis di Indonesia belum baik (masih banyak pembedaan perlakuan antara yang membayar langsung dengan yang dibayar oleh asuransi).

Penggunaan ventilator di Unit Perawatan Intensif (intensive Care Unit, ICU) yang berkepanjangan dapat sangat memberatkan pasien dan keluarganya dalam hal pembiayaan.

Penderita yang sudah tidak sadar lama dan memerlukan pemasangan ventilator, ( karena otak sudah tidak bisa mengendalikan fungsi organ-organ penting), tetapi masih dipertahankan terus. Hal ini memang harus dilakukan untuk mempertahankan kehidupan, tetapi tidakkah hal ini juga bisa menimbulkan masalah yang lebih besar bila kondisi ini dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, karena mung kin bisa disalahgunakan oleh oknum tertentu.

Banyak keluhan berobat di luar negeri (misalnya di Negara Singapura, Malaysia) lebih murah dari pada berobat di beberapa rumah sakit di Jakarta). Oi Jakarta dapat kita jumpai rumah sa kit yang memasang tarif yang sangat mahal pada pasien. Serobat di Unit Gawat Darurat ( UGD ) saja dapat menqhablekan uang yang cukup besar I berjuta-juta rupiah. Hal ini bisa saja sang at merugikan pasien, namun adajuqa pasien yang bangga dengan berobat di rumah sa kit yang mahal semacam ini. Faktor gengsi juga dapat mengambil peran suburnya expensive medicine. Hal ini tentu saja rawan untuk disalahgunakan oleh pihak-pihak rumah sakit yang tidak bertanggung jawab.

Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran LNRI No.116 tahun 2004, TLNRI No. 4431 Tahun 2006 (untuk selanjutnya d;singkat Undang-Undang Praktik Kedokteran) bertujuan antara lain untuk melindungi pasien ( dalam hal ini sebagai konsumen jasa praktik dokter). Namun dalam undang-undang ini belum cukup memberikan perlindungan pada pasien. Adapun pengaturan khusus dalam Undang-undang NO.8 tahun 1999 tentang Perlingunga Konsumen LNRI No. 42 tahun 1999, TLNRI NO.3821 tahun 1999 (selanjutnya disebut Undang-Undang Perlindungan Konsumen), Bab VI pasal19 sampai denqan 28 ditetapkan tentang tanggung jawab pelaku usaha. Pada intinya dianut prinsip strict liability, yakni pelaku usaha be bas dari kewajiban untuk memberikan ganti rugi kepada konsumen, dalam hal pelaku usaha dapat membuktikan bahwa kesalahan tersebut adalah kesalahan konsumen (Wila Chandrawila, 2001 :45).

Kesenjangan pengetahuan antara dokter dan pasien.

Pengetahuan kedokteran memang tidak terlalu banyak diketahui oleh orang awam. Dengan demikian sering terjadi antara dokter dan pasien terjadi kesenjangan yang sanqat besar mengenai pengetahuan penyakitnya. Dengan adanya kesenjangan

2

Sutarno, Dimensi Baru Kejahatan .

yang besar, maka sering terjadi kesalahpahaman sehingga akan menimbulkan ketidak puasan pasien. atau sebaliknya pasien hanya menurut saja apa yang dikerjakan oleh dokter atau rumah sakit terhadapnya.

Standarl of Procedures (SOP) yang debatable, proses penentuan diagnose yang dianggap suatu "art' oleh dokternya dan harga normallaboratorium yang bervariasi. Sebaiknya SOP dibuat sedetail mungkin, sehingga bisa dipakai sebagai pedoman bila terjadi hal-hal yang memerlukan pembuktian. Namun ada juga yang dibuat secara garis besar saja, tidak sampai yang sekecil-kecilnya, sehingga masih perlu penjelasan lebih lanjut. Selain itu dikatakan bahwa proses pengobatan oleh seorang dokter adalah suatu "art' atau seni, Dengan dianggapnya seni maka ketidakpastian prosedur menjadi lebih besar, karena sangat tergantung dari "mood' dokternya. Ditambah lagi, walaupun ada patokan-patokan, misalnya harga-harga normal suatu hasil pemeriksaan laboratorium, namun karena manusia bukan benda mati, maka harga normal tersebut juga bukan harga mati. Hal ini makin memudahkan seseorang untuk memberikan penilaian lain terhadap hasil pemeriksaan itu,

Menurut pendapat Kartono Muhammad dalam bukunya yang disunting oleh Anny I sfandyarie : "adanya unsur ketidakpastian memang kadangkala dapat dijadikan dokter untuk menutupi kesalahannya, disamping itu peran pasien pun sangat diperlukan untuk membantu kesembuhan dirinya (Anny Isfandyarie,2005:84)

Peralatan Kedokteran yang canggih dan berharga mahal.

Dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang semakin pes at. maka perkembangan peralatan kedokteran baik peralatan untuk diagnosa maupun peraJatan untuk pemberian terapi semakin canggih dan berkembang cepat pula. Suatu rumah sakit swasta yang besar, untuk menarik minat para pasien dan dokter, mengadakan pembelian peralatan-peralatan canggih yang sangat mahal, dan pada akhirnya harga yang mahal ini dibebankan kepada pasien, dan harus secepatnya kembali. Dengan demikian ada kemungkinan bahwa pasien yang seharusnya tidak perlu diperiksa dengan peralatan canggih tersebut, dicari-carikan atasan untuk menggunakannya.

Keputusan Dirjen Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI No.

HK.OO.06.3.S.S797 tentang Petunjuk Pelaksanaan Upaya Pelayanan Kesehatan Swasta Dibidang Medik Spesialis, dalam hal kegiatan pelayanan hanya dituliskan: memberikan pelayanan kesehatan di rumah sa kit sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit, standar pelayanan medik dan prosedur tetap (titik 8. a). Disini sangat tergantung dari prosedur tetap yang dibuat oleh rumah sakit ini. Padahal SOP bisa

3

Perspektif Hukum, Vol. 8 No.1 Mei 2008 ; 1 - 12

hanya dibuat seeara garis besardan ti.dak bisa dibuat seeara tegas untuk setiap persangkaan psnyakit.

Bekerja sarna dengan pabrik obat •.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa sering terjadi kerjasama antara rumah sakit atau dokter dengan pabrik obat tertentu. Tidak semua kerjasama ini berkonotasi jelek, banyak juga yang balk, Namun kemungkinan untuk berbuat yang tidak baik sangat terbuka lebar. Oengan .keeenderungan mempergunakan hanya obat-obat tertentu saja untuk penyakit dan atau gejala tertentu, dengan alasan memang obat itu yang dipereayai terbaik.bagi dokternya, Padahal peneJitian seeara ilmiah belum tentu telah dilakukan terhadap keyakinannya tersebut. Tentu saja dengan "imbalan" yang bisa betmacam-macarn, mulaidari tiket ke seminar/simposium sampai denqan. pendanaan sesuatu.yanq eukupbesar di rumah sakit. Tentu saja semua pengeluaran pab"rik obat ini akan kernball menjadi beban para pasien yang bersangkutan. Peringatan seeara halus oleh manajemen rumah sakit kepada dokter yang memasukkan pendapatan rumah .sakit yang keeil.

Hal ini bisa terjadi, karenadengan pemasukan yang keeil maka keuntungan rumah saklt juga keeil. Peringatan ini bisa diberikan, karena memang jumlah pasien dari dokter yang bersangkutan tersebut sedikit, atau dokter yang bersangkutan kurang memanfaatkan peralatan eanggih ( misalnya CT Scan, MRI dll) atau laboratorium rumah sakit. Dalam hal ini akan terasa tidak nyaman bagi para dokter yang terkena. Bahkan mungkin akan menimbulkan perasaan stres para dokter tersebut, mengingat mereka merasa harus berpihak .kepada pasien, namun bisa saja merasa ditekan oleh pihak manajemen rumah sakit.

Rumusan Masalah

Oengan rnelihat berbagai problematika dalam praktek yang berkaitan hubungan antara dokter, rumah sa kit dan pasien maka dapat dirumuskan permasalahan sebaqai berlkut: bagaimana dimensi baru kejahatan korporasi di Rumah Sakit bisa terjadi terhadap pasien ?

PEMBAHASAN

Pada awalnya rurnah sakit adalah badan sosial, saat ini sudah sang at berubah, rumah sakit banyak yang eenderung berorientasi ke bisnis, tetapi anehnya pembayaran pajak, air, llstrlk. blsa mendapatkan tarif sosial. Oi Indonesia hukum kesehatan dan hukum kedokteran sudah mulai tumbuh berkembang. Ada yang

4

Sutarno, Dimensi Baru Kejahatan .

berpendapat bahwa hukum kesehatan adalah untuk kesehatan masyarakat dan hukum kedokteran adalah hukum kesehatan individu (Wila Chandrawila Supriadi, 2001 :7) . Sesuai hukum kesehatan, tanggung jawab rumah sakit di Indonesia secara yuridis adalah : (J. Guwandi,2005 : 12 ) a.tanggung jawab manajemen; b.tanggung jawab Personel ( dokter, perawat, tenaga kesehatan lain dan tenaga administrasi).

Di negara lain doktrin Corporate Uability sudah diterapkan pada rumah sakit (Amerika, Inggris, Selanda). Dapat dikatakan bahwa doktrin ini sudah berlaku secara universal dan sudah banyak dianut di berbaqai negara, sehingga masuk menjadi pengertian Hospital Liability. Dengan berlakunya doktrin ini, maka rumah sa kit menurut hukum bisa dimintakan pertanggung-jawabannya atas segala perlstiwa yang terjadi di dalam din ding rumah sakit (within hospital wails). ( J. Guwandi,2005: 12 ) Perbuatan yang dilakukan oleh pihak Rumah Sakit ini merupakan kejahatan dimensi baru dari kejahatan korporasi yang memiliki ciri-ciri: ( JBR Supancana, 2007)

a.Merupakan Super White Collar Crime (SWCC)

Dalam hal kejahatan korporasi yang dfmaksud, memang tingkat tinggi. Kalau dilihat pelakunya belum merupakan SWCC ditingkat yang sang at super, namun pelakupelaku ini juga sudah bukan orang sembarangan, bukan orang yang tidak terdidik, tetapi melibatkan para pejabat dan pegawai Rumah Sakit yang didalarnnya bisa termasuk para dokternya. ApabiJa kejahatan ini dilakukan, akan merugikan masyarakat terus menerus tanpa disadari oleh masyarakat secara luas, kecuali orang-orang yang berpikir kritis

b. Bersifat Lintas Batas Nasional (Across National BorderlTrans-Nasional)

Yang dimaksud disini adalah Jintas batas seperti pad a ranah cyber dan betulbetullintas batas neqara secara illegal. Dalam hal hubungan antara Rumah Sakit dan pasien, kejadian ini tidak illegal, tetapi lalu lintas pasien antar negara ini sudah biasa terjadi. Sudah sering terjadi, pasien-pasien yang sesunqquhnya bisa diobati di Indonesia, tetapi ada agen-agen Rumah Sakit luar negeri yang berusaha membujuk pasien untuk diobati di Singapura, Malaysia dan Australia.

c.Menggunakan alat teknologi tinggf sebagai alat bantu (Enabler)

. Saat ini di bidang medis sangat banyak alat bantu, peralatan diagnostik dan peralatan terapi yang canggih, seperti alat-alat CT Scan, MRI yang sangat canggih dan sangat mahal. Dapat terjadi pasien yang seharusnya tidak perlu diperiksa dengan alat-alat tersebut (termasuk pemeriksaan laboratorium tertentu) ternyata diperiksa, dengan alasan lebih akuratnya pertimbangan penegakan diagnosis.

5

Perspektif Hukum, Vol. 8 No.1 Mei 2008: 1 - 12

d. Sangat terorganisir (Organized Crime)

Apabila terjadi kejahatan korporasi di rumah sa kit, organisasi rumah sakitnya sendiri sudah mapan, sangat terorganisir dan berjalan dengan sangat balk, karena perusahaan in! umumnya tidak terlalu besar dan rumit. Justru sulitnya pembuktian bukan karena kecanggihan organisasi, tetapi kemungkinan otoritas dari pimpinan RS Swasta terhadap para dokter / pegawai dibawahnya dengan ancaman tidak dipakai lagi (tentu saja secara sangat halus ), ilmu dari doktemya yang sangat kompleks dan sulit dimengerti oleh orang awam (kesenjangan pengetahuan antara dokter dan pasien).

e. Melibatkan kerjasama Pengusaha dan Penguasa (Korporatokrasi)

Oi Rumah Sakit, bisa terjadi kejahatan yang bukan dilakukan oleh adanya kerja sama antara pengusaha dan penguasa pemerintahan, tetapi antara pengusaha RS . Swasta dan dokter yang merupakan penguasa terhadap pasiennya. Dokter berkuasa terhadap pasien lewat ifmu, lewat otoritas yang telah diberikan oleh pasien untuk menyembuhkannya.

f. Menggunakan cara rekayasa korporasi yang canggih

Sangat jarang terjadi seorang dokter merekayasa cara pengobatan pasiennya untuk kepentingan dirinya, tetapi kalau sampai terjadi, cara rekayasa disini sebetulnya tidak canggih bahkan sangat sederhana, tetapi sangat efektif, karena faktor kepercayaan pasien terhadap dokternya ( dengan alasan yang sangat masuk akal seperti untuk lebih teliti, untuk tidak merasa sakit, untuk hasil yang lebih baik dll).

Ada pendapat di masyarakat: dokter ahli mestinya tidak usah bertele-tele pemeriksaannya. Dalam rumah sa kit swasta di kota-kota besar di Indonesia saat ini, tenaga dokter spesialis sudah merupakan keperluan yang sangat diutamakan. Pikiran orang awam dibidang kedokteran akan berpendapat bahwa: dalam pendidikannya, dokter spesialis memerlukan waktu dan tenaga serta biaya yang banyak. Untuk itu, maka ilmunya juga sangat berbeda dengan yang dipunyai dokter umum, mereka lebih ahli dibidangnya. Dengan demikian, penyelesaian suatu masalah penyakit pasien yang ditangani tentu akan sang at berbeda pula. Untuk seorang spesiatis, atau bahkan seorang super / sub spesialis mestinya lebih ahll dart pada dokter umum. Kenyataan di rumah sakit swasta di kota-kota besardi Indonesia, bila berobat ke dokterspesialis, pemeriksaan penunjangnya terkesan banyak yang justru lebih banyak, dibanding dengan kalau berobat di dokter yang kurang ahli / dokter umum. Mestinya karena lebih ahli, tentu dengan pemeriksaan penunjang sedikit atau bahkan tanpa pemeriksaan penunjang sama sekalipun pasti dokter speslails / dokter super/sub

6

Sutarno, Dirnensi Baru Kejahatan ".

spesialis sudah bisa menyelesaikannya, tidakjustru harus lebih banyak pemeriksaan penunjang dibanding dokter yang belum menjadi spesialis.

Etika, Hukum dan Sumpah Hypocrates

Sebetulnya apablla sea rang dokter betul-betul melaksanakan profesi berdasarkan etika profesinya, hukum kedokteran dan sumpahnya sebagai dokter, maka dia tidak akan terpengaruh dengan pertimbangan lain dan tidak akan merugikan pasiennya. Sumpah Hypocrates diucapkan oleh setiap dokter baru. Inilah yang menyebabkan seorang dokter dianggap menjalankan profesj yang luhur.

Dalam lafal sumpah dokter yang harus diucapkan oleh seorang dokter sa at dilantik, terdapat klausul akan memperlakukan ternan sejawatnya sebagaimana dia sendiri ingin diperlakukan. Klausul ini sebetulnya merupakan perubahan dari yang sebelumnya, yaitu menganggap teman sejawatnya sebagai saudara sekandung (dirubah tahun 1981). Dengan memperlakukan ternan sejawatnya seperti dia sendiri ingin diperJakukan, maka apabila teman sejawatnya tersebut melakukan kelalaian atau bahkan kejahatan, maka dokter yang harus menjadi saksi ahli akan berpikir lain, tidak seperti saksi ahli yang seharusnya.

Perlukah sumpah dokterdi rubah? Dengan isi sumpah yang seperti ini, seorang dokter selalu ingin melindungi ternan sejawatnya, walaupun teman sejawatnya tersebut salah. Dengan demikian, saksi ahli yang diajukan, apabila saksi ahlinya adalah dokter dan terdakwanya juga dokter akan sulit 'berjalan dengan yang seharusnya.

Siapa yang berhak rnenilal apakah pemeriksaan atau tindakan seorang dokter terhadap pasiennya itu berlebihan? Misalnya tindakan yang sering dilakukan dibidang kebidanan yaitu operasi caesar, kadang terdengar sebetulnya seseorang tidak perlu menjalani operasi ini sa at melahirkan bayinya. Tetapi bisa terjadi si ibu yang sedang cemas menanti saat-saat mendebarkan ini diberi penjelasan yang mung kin kurang jelas sehingga bila persalinan diJakukan secara spontan I alamiah dikira akan kuranq nyaman. Memang sulit membuktikan apakah ini mau mengenakkan pasien (membuat pasien nyaman) apakah seorang oknum memanfaatkankeadaan. Harian kornpas tanggal22 Januari 2001 menurunkan berita yang judulnyaTlndakan Operasi Caesar Akan Diaudit" lsi berita pada intinya : akan dilakukan uji coba audit khusus untuk mengetahuai apakah tindakan operasi caesar dalam persalinan yang dilakukan oleh dokter spesialis Obstetri Ginekologi dilakukan dengan indikasi medik atau tanpa

. indikasi medik. Sampai saat ini berdasarkan aturan profesi kedokteran kebidanan dan ginekologi melakukan tindakan caesar harus dengan indikasi medik dan jika

7

Perspektif Hukum, Vol. 8 No.1 Mei 2008 : 1 - 12

dilakukan tanpa indikasi medik, maka telah menyalahi aturan (Wila Chandrawila Supriadi: 88)

Dalam hal meningkatkan jumlah operasi caesar di rumah sakit, apabila ini dilakukan tanpa indikasl medik, apalagi hal ini merupakan kebijakan rumah sa kit lewat dokter obstetri ginekologinya, maka hal ini merupakan tindak kejahatan korporasi. Namun biasanya pasien yang menjadi sasaran tldak mengeluh adanya tindak pidana ini, bahkan merasa bangga, karena membayar tinggi dirumah sakit yang terpandang. Apabila ada yang mempermasalahkan, pembuktiannyapun sangat sutlt, Apakah pad a waktu itu ada indikasi medik atau tidak.

Hubungan dokter dan pasien di rurnah sakit, secara hukum seharusnya terjadi melalui suatu perjanjian atau kontrak. Dimulai dengan tanya jawab ( anamnesis) antara dokter dan pasien, kemudian diikuti dengan pemeriksaan fisik ( dan, pemeriksaan penunjang lain), akhirnya dokter menegakkan suatu diagnosis. Selanjutnya secara material, suatu tinadakan medis itu sifatnya tidak bertentangan dengan hukurn apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: ( Danny Wlradharma, 1996)

a. mempunyai indikasi medis, untuk mencapai tujuan yang konkret;

b. diJakukan menurut atoran-aturan yang berlaku di dalam ilmu kedokteran;

c. sudah mendapatkan persetujuan dahulu dari pasien.

Sedangkan dalam ilmu hukum, dikenal dua [enls perjanjian:

a. resultaatsverbintenis. yang berdasarkan hasil kerja,

b. inspanningsverbinfenis, yang berdasarkan usaha yang maksimal.

Pad a umumnya hubungan antara dokter dan pasien dalarn hal pengobatan adaJah berdasar pad a hubungan ikhtiar atau usaha maksimal. Dokter tidak menjanjikan kepastian kesembuhan, akan tetapi akan berikhtiar sekuatnya agar pasien sembuh. ( kecuali keadaan-keadaan tertentu, seperti pembuatan gigi palsu, d1l).

Selanjutnya, kapan sebetulnya kontrak terapeutik ini dimulai? Tentu saja begitu ada proses hubungan dokter-paslen kontrak lni sudah dimulai. Dengan Rumah Sakit bagaimana? Kontrak: kapan dimulai? Begitu masuk Rumah Sakit?, rnulai diperiksa?, haruskah membubuhkan tanda tangan? Ada yang berpendapat bahwa kontrak terapeutik ini sudah mulai terjadi sa at pasien mulai diwawancarai (anamnesis) oleh dokter, tidak harus ada kontrak tertulis.

8

; ,

, .

Sutarno, Dimensi Baru Kejahatan . .

Euthanasia

Euthanasia belum diatur secara tegas dalam hukum di Indonesia. Padahal biaya yang harus dikeluarkan oleh pasien yang sedang dirawat di bagian ICU RS sangat besar. Pada pasien yang sudah tidak ada harapan sembuh, maka selalu sulit menentukan pili han diteruskan atau dihentikan proses pengobatannya. Juga dl pihak dokter sendiri tidak bisa memutuskan apa sebaiknya euthanasia dilakukan, mengingat ancaman hukumnya adalah sebagai pembunuhan terencana. Dengan alasan seperti ini, rnaka Rumah Sa kit yang jahat dapat memanfaatkan untuk pasien bisa berlarnalama dl ICU dalam rangka meningkatkan pendapatan rumah sakit, dan dapat diperoleh alas an pembenar.

Fungsi Sosial Rumah Sakit

Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 159bJMEN.KESJPERJIIJ1988 tentang Rumah Sakit, Bab VII, pasal 25; Setiap RS harus melaksanakan fungsi sosialnya dengan antara lain menyediakan fasilitas untuk merawat penderita yang tidakJkurang mampu untuk:

a, Rumah Sakit Pemerintah sekurang-kurangnya 75% dari kapasitas tempat tidur yang tersedia.

b, Rumah Sakit Swasta sekurang-kurangnya 25% dari kapasitas tempat tidur yang tersedia.

Yang menjadi masalah, saat ini banyak rumah sa kit yang sangat mengutamakan segi bisnisnya, sehingga terkesan rumah sakit swasta sering menolak pasien tidak mampu dengan alasan tempat perawatannya penuh. Padahal mungkin tidak seperti itu keadaannya. Kalau yang dirawat dapat lebih banyak yang memilih tempat perawatan dengan kelas yang lebih tinggi, maka rumah sakit akan menerima pemasukan yang lebih banyak. Tetapi sekali lagi ini harus dlbuktikan dan ternyata memerlukan orang-orang khusus yang mau dan mampu melaksanakan hal ini. Penolakan pasien yang akan masuk dan dirawat di rumah sakit dengan alasan seperti ini, kalau ini memang kebijakan rumah sa kit, rnaka hal ini adalah salah satu bentuk dari kejahatan korporasi.

Dalam peraturan menteri ini tidak tercantum pengaturan mengenai pelayanannya sendiri. Hal ini perlu dicantumkan dalam SOP dan harus dibuat sampai detail dan tidak multi interpretasi.

9

Perspektif Hukum, Vol. 8 No.1 Mei 2008 : 1 ·12

Doktrin Fiduciary Duty_

Fiduciari duty diartikan sebagai tugas dan kepercayaan yang diberikan kepada seseorang untuk kepentingan orang lain. Doktrin in! sangat penting dalam hukum perseroan, yang merupakan tugas dengan derajad tinggi yang mendasari pada itikad baik, kepercayaan, kejujuran, loyalitas, memiliki kapasitas untuk dipercaya, memiliki kemampuan dan pengetahuan yang diberikan oleh pihak lain. Sesuai dengan Un dangUndang Perseroan Terbatas, fiduciary dutydiberikan kepada organ perseroan, yaitu Direksi, Dewan Komisaris, dan Pemegang Saham melalui RUPS. (IBR Supancana,2008 )

Di rumah sakit, kepercayaan yang diberikan kepada seseorang untuk kepentingan orang lain adalah sangat tepat diterapkan kepada para dokter yang bekerja di rumah sa kit. Seharusnya kepercayaan ini betuf-betul diberikan, tidak harus . diperingatkan / ditegur kalau penggunaan peralatan / laboratorium kurang banyak, sehingga tidak memasukkan uang banyak ke rumah sakit.

Sedangkan asas Respondeat superior atau Captain of the Ship berlaku juga di rumah sakit. Namun demikian pad a dasarnya setiap orang bertolak dari hakikat siapa berbuat dialah yang bertanggung jawab. I ni berarti tidak semua tanggung jawab yang dilakukan oleh masing-masing anggota tim menurut deskripsi pembagian tugasnya lalu menjadi tanggung jawab ketua tim. Dalam hal demikian dapat saja "error"itu terjadi karena obyeknya.(Hermien Hadiati Koeswadji, 1998:112-113)

Expensive Medicine

Mahalnya pembiayaan pemeriksaan dan pengobatan di rumah sakit antara lain adalah akibat dart

a. mahalnya Investasi Rumah Sakit;

b. mahalnya obat-obatan atau bekal kesehatan yang lain;

c. mahalnya dan lamanya pendidikan dokter dan tenaga kesehatan lainnya;

d. asuransi terhadap malpraktjk;

e. citra yang diciptakan oleh masyarakat terhadap seorang dokter;

f. kemungkinan kejahatan oknum atau koorporasi (Rumah Sakit)

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

a. Suatu kejahatan yang dllakukan oleh sebuah Rumah Sakit dapat merupakan dimensi baru kejahatan korporasi, antara lain dengan memanfaatkan peralatan

10

Sutarno, bim'en~i Baru Kejahatan .

canggih di Rumah Sakit tersebut untuk dikenakan pada pasiennya dan kesenjangan pengetahuan antara dokter dan pasien.

b. Sangat sulit membuktikan kejahatan yang dilakukan.

Saran

a. Perlu adanya usaha preventif, berujud:

t).SOP yang detail, transparan dan dapat diakses siapa saja.

"2). Etika dan hukum kedokteran, Pendidikan/latihan para dokter dalam hal .' nledikolegal

3). Melengkapi hukum-hukurn kedokteran yang sudah ada.

b .. Kalau perlulafal sumpah dokter direvisi (pada klausul menganggapteman sejawat sebagai saudara sekandung I memperlakukan teman sejawat seperti dia sendiri ingin diperlakukan).

c. Walaupun usaha-usaba diatas sangat bag us, tetapijangan sarnpai rnenqharnbat perkembangan ilmu kedokteran dengan menghadirkan peralatan-peralatan baru.

DAFTAR PUSTAKA

a. Buku-Buku

Guwandi, J., Hospital Law (Emerging doctrnes & Jurisprudence), Balai Penerbit FK UI, Jakarta, 2005

Hanafiah, Jusuf M., AmriAmir, Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan, EGC, Jakarta, 1999.

Isfandyarie, Anny, Malpraktek & Resiko Medik dalam Kajian Hukum Pidana, Prestasi Pustaka, Jakarta, 2005

Kansil C.ST., Pengantar timu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1989.

Koeswadji, Hermien Hadiati, Hukum Kedokteran (Studi Tentang Hubungan Hukum Da/am Mana Dokter Sebagai Salah Satu Pihak) . Citra Aditya Bakti, Bandung, 1998

Shannon, Thomas A., Pengantar Bioetika,Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,1995. Supancana, tBR., Dimensi Baru Kejahatan Korporasi (/mp/ikasi, Prevensi dan Penanggulangan), Paparan pad a Forum Continuing Legal Education BadanPembinaan Hukum Nasional Tanggal4 Desember 2007.

Supriadi, Wila Chandrawila, Hukum Kedokteran, Mandar Maju, Jakarta, 2001

11

Perspektif Hukum, Vol. 8 No.1 Mei 2008 : 1 • 12

Suriasumantri, Jujun S., Filsafat IImu Sebuah pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2007.

Wiradharma, Danny, Penuntun KuJiah Hukum Kedokteran, Bina Rupa Aksara, Jakarta, 1996

b.Peraturan Perundang-Undangan

Undang-Undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, LNRI No.100 tahun 1992, TLNRI No. 3495 tahun 1992

Undang-Undang No.8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, LNRI No. 42 tahun 1999, TLNRI No.3821 tahun 1999

Undang-Undang No. 29 tahun 2007 tentang Praktek Kedokteran, LNRI No.116 tahun . 2004, TLNRI No. 4431 Tahun 200

Kep. Dirjen Pelayanan Medik Departemen Kesehatan No. HK.00.OB.3.5.5797 tentang Petunjuk Pelaksanaan Upaya Pelayanan Kesehatan Swasta Dibidang Medik Spesialis

12

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->