NO. 1. VOL. I.

2008 55
Pengelolaan Sumber Daya Manusia
(Tinjauan Aspek Rekrutmen
dan Seleksi)
Nanang Nuryanta
1
Abstrak
Pengelolaan sumber daya manusia adalah merupakan aspek yang sangat
penting dalam proses pendidikan secara umum. Oleh karena itu fungsi-fungsi dalam
pengelolaan sumber daya manusia harus dilaksanakan secara optimal sehingga
kebutuhan yang menyangkut tujuan individu, perusahaan, organisasi ataupun
kelembagaan dapat tercapai. Disamping itu dengan prosedur pengelolaan sumber
daya manusia yang baik diharapkan kekurangan dan problem yang dihadapi
oleh bangsa Indonesia, yaitu yang terkait dengan kemampuan daya saing dapat
teratasi.
Suatu bukti bahwa bangsa Indonesia masih belum siap untuk bersaing dalam
dunia global dapat dilihat dari kemampuan daya saing sumber daya manusianya.
Tenaga ahli kita belum cukup memadai untuk bersaing di tingkat global. Dilihat
dari pendidikannya, angkatan kerja kita saat ini sungguh memprihatinkan. Sebagian
besar angkatan keria (53º) tiaak berpenaiaikan.
Mereka yang berpendidikan dasar sebanyak 34%, berpendidikan menengah
11º. aan vang berpenaiaikan tinggi (universitas) hanva 2º. Paaahal tuntutan aari
dunia kerja pada akhir pembangunan pada jangka panjang II nanti mengharuskan
angkatan kerja kita berpendidikan. Dari angkatan kerja yang ada hanya 11% saja
yang tidak berpendidikan; 52% berpendidikan dasar; 32% berpendidikan menengah;
dan 5% dari angkatan kerja harus telah berpendidikan universitas.
Kata kunci: Sumber Daya Manusia, Pendidikan.
1
Dosen Tetap Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia
Yogyakarta.
56
NO. 1. VOL. I. 2008
A. Pendahuluan
Era globalisasi adalah era yang sedang dihadapi oleh setiap
bangsa pada saat ini dan merupakan era di mana dunia menjadi
terbuka dan ini menuntut kesiapan sumber daya manusia untuk
semakin sadar akan adanya keterbukaan juga menuntut kesadaran
akan hak dan kewajibannya sebagai insan berbudaya. Pengaruh
budaya global tersebut secara disadari maupun tidak, pada suatu
saat akan sampai kepada setiap bangsa di dunia, tidak terkecuali
bangsa Indonesia. Oleh karenanya, apapun unsur yang terkandung
di dalam era global tersebut menuntut kesiapan suatu bangsa dalam
menghadapinya, khususnya kesiapan sumber daya manusianya.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang
merupakan ciri era globalisasi secara eksponensial akan mengubah
dengan sangat cepat cara dan gaya hidup manusia, yaitu dari
masyarakat prehistoris kepada suatu masyarakat postindustri.
Kondisi semacam itu secara jelas menuntut suatu bangsa
untuk mempersiapkan sumber daya manusianya, khususnya
melalui bidang pendidikan. Melihat fenomena pendidikan yang
diselenggarakan oleh pemerintah Indonesia saat ini, perlu kiranya
dilakukan reformasi pendidikan, yaitu mempersiapkan pendidikan
yang mampu menghasilkan sumber daya manusia Indonesia untuk
dapat berkompetisi dalam abad 21 atau abad milenium ketiga yang
ditandai oleh adanya persaingan global yang sangat ketat. Jikalau
pcncriniaI Indoncsia iidal scgcra dapai lcrflir lc dcpan laIwa
salah satu upaya untuk mempersiapkan sumber daya manusia
yang unggul ini adalah ditempuh melalui pendidikan, maka sudah
barang tentu bangsa Indonesia akan selalu tertinggal dengan
bangsa lain di dunia. Jadi fenomena bahwa pemerintah Indonesia
masih memandang pendidikan dengan sebelah mata harus mulai
direformasi. Pemerintah seyogyanya mulai memiliki polical will untuk
memprioritaskan pendidikan dalam pembangunan yang sedang
digalakkan saat ini, sebagai wahana untuk mempersiapkan sumber
daya manusia.
Suatu bukti bahwa bangsa Indonesia masih belum siap untuk
bersaing dalam dunia global dapat dilihat dari kemampuan daya saing
sumber daya manusianya, sebagaimana dikemukakan oleh Boediono
(1997:82) dalam Suyanto dan Hisyam (2000:3) yang menyatakan
bahwa berbicara kemampuan sebagai bangsa, tampaknya kita
belum siap benar menghadapi persaingan pada milenium ketiga.
Tenaga ahli kita belum cukup memadai untuk bersaing di tingkat
Pengelolaan Sumber Daya Manusia ... (Nanang Nuryanta)
57
global. Dilihat dari pendidikannya, angkatan kerja kita saat ini
sungguh memprihatinkan. Sebagian besar angkatan kerja (53%)
tidak berpendidikan. Mereka yang berpendidikan dasar sebanyak
34%, berpendidikan menengah 11%, dan yang berpendidikan tinggi
(universitas) hanya 2%. Padahal tuntutan dari dunia kerja pada
akhir pembangunan pada jangka panjang II nanti mengharuskan
angkatan kerja kita berpendidikan. Dari angkatan kerja yang ada
hanya 11% saja yang tidak berpendidikan; 52% berpendidikan dasar;
32% berpendidikan menengah; dan 5% dari angkatan kerja harus
telah berpendidikan universitas.
Bahkan lebih khusus, Suyanto dan Hisyam (2000) menyatakan
bahwa kualitas sumber daya manusia (SDM) kita masih rendah. Oleh
karena itu, sebenarnya kita patut khawatir terhadap kemampuan
bersaing SDM kita dalam era globalisasi dalam milenium ketiga nanti.
Menurut data yang dipublikasikan oleh United Nation Development
Report Programme (UNDP) yang diberi judul Human Development
Report 1996, kualitas SDM kita berada pada posisi memprihatinkan.
Laporan UNDP itu memuat angka indeks kualitas SDM (Human
Dcucíopmcnt Indcx-HDI) dari 174 negara di dunia. Hasil laporan itu
sangat mengejutkan dan memprihatinkan, yaitu Indonesia berada
pada peringkat 102. Dapat dibayangkan betapa rendahnya daya
saing Indonesia untuk memperoleh posisi kerja yang baik dalam era
global. Pada tahun 1999, daya saing bangsa Indonesia tentu lebih
jelek lagi. Hal ini terjadi sebagai akibat adanya krisis ekonomi dan
politik yang sampai saat ini kita tidak pernah tahu kapan krisis itu
akan berakhir.
Kondisi di atas, memberikan informasi kepada kita bahwa
secara tegas pendidikan yang sedang dilaksanakan oleh bangsa
Indonesia perlu dioptimalkan, khususnya yang menyangkut
pengelolaan sumber daya manusianya. Pengelolaan sumber daya
manusia ini merupakan aspek yang sangat penting untuk menunjang
keberlangsungan suatu bangsa dalam dataran makro dan organisasi
atau lembaga dalam dataran mikro.
Dalam setting organisasi atau perusahaan, suatu pengelolaan
sumber daya manusia perlu diarahkan pada suatu model yang
dapat menarik seluruh potensi sumber daya manusia tersebut
bagi kepentingan organisasi atau dengan kata lain pengelolaan
sumber daya manusia harus dapat diarahkan pada upaya yang
mampu menggali potensi SDM agar dapat memberikan kontribusi
yang positif bagi perusahaan atau organisasi. Pada kenyataannya
58
NO. 1. VOL. I. 2008
pula pengelolaan ditingkat mikro, khususnya yang dilakukan oleh
lembaga pemerintah (negeri) seringkali terjadi perbedaan dengan
yang dilakukan oleh pihak swasta. Ini memberikan indikasi bahwa
dalam pengelolaan sumber daya manusia di Indonesia secara ideal
belum mempunyai standar yang jelas.
Dcrdasarlan laiar lclalang di aias, dapailaI diidcniiflasilan
bahwa untuk mengelola sumber daya manusia, khususnya yang
dapat diarahkan untuk dapat memberikan kontribusi positif bagi
lembaga atau perusahaan, maka perlu dilakukan standarisasi
yang jelas. Standarisasi pengelolaan sumber daya manusia inilah
yang nampaknya menjadi permasalahan yang dihadapi oleh setiap
lembaga, organisasi atau perusahaan saat ini. Disamping itu masalah
etika dalam mengelola sumber daya manusia ini perlu dikedepankan
agar tidak menimbulkan efek negatif bagi masyarakat.
Namun demikian, karena aspek yang ada dalam pengelolaan
sumber daya manusia ini cukup banyak, yaitu mencakup proses
perencanaan, rekrutmen, seleksi, induksi, penilaian, pengembangan,
kompensasi, bargaining, keamanan, kontinuitas dan informasi
maka penulis mencoba membatasinya pembahasan masalah pada
aspek rekrutmen dan seleksi saja. Dalam hal rekrutmen, masalah
yang sangat mendasar yang dihadapi oleh banyak organisasi,
lembaga atau perusahaan adalah bagaimana menarik para pelamar
atau peminat pekerjaan agar dapat bekerja secara optimal dalam
perusahaan, bahkan lebih dari itu para pekerja nantinya dapat
menopang keberlangsungan organisasi, lembaga atau perusahaan
dimana mereka bekerja bahkan setelah mereka bekerja. Karena
kenyataannya rekrutmen yang banyak dilakukan oleh lembaga,
perusahaan dan organisasi tertentu cenderung hanya pada taraf
pendaftaran atau registration saja. ScIinga lualiflasi pclcrja
yang diharapkan tidak berhasil didapatkan. Belum lagi proses
rekrutmen dan seleksi yang dilakukan perusahaan kadangkala
justru mengabaikan aspek etika dalam melakukan rekrutmen dan
seleksi. Suatu bukti yang menarik dan aktual di era reformasi pada
bangsa Indonesia, adalah kecenderungan pada setiap rekrutmen
dan seleksi pegawai, baik pada instansi pemerintah maupun swasta,
yang masih mengunakan prinsip kolusi, korupsi, dan nepotisme
(KKN). Bahkan prinsip utama rekrutmen dan seleksi, yang menuntut
lualiflasi calon pclanar yang ncncnuIi syarai uniul lclcrja,
seringkali harus rela dan “digagalkan” untuk bekerja karena tidak
berani membayar dengan mahal. Ini berarti bahwa uang cukup
memainkan peran yang tinggi dalam proses rekrutmen dan seleksi
Pengelolaan Sumber Daya Manusia ... (Nanang Nuryanta)
59
pada segmen organisasi, perusahaan atau lembaga apapun di
Indonesia. Kalau pun ada perusahaan, lembaga atau organisasi yang
bersih dari praktek KKN dan “main uang” di Indonesia saat ini tentu
persentasenya sangat kecil, bahkan hampir tidak ada. Hal ini sangat
“naif” sekali bila dikembalikan pada semangat reformasi yang akan
berupaya menghapus KKN, tetapi pada kenyataannya justru praktek
tersebut masih berjalan dengan subur. Sebagai akibatnya kualitas
kinerja perusahaan juga rendah dan tidak mempunyai kemampuan
daya saing dengan perusahaan lainnya, apalagi dengan perusahaan
yang sudah Ionu]t, demikian pula dalam scope pengelolaan sumber
daya manusia secara makro. Ini menunjukkan bahwa pendidikan
yang dilakukan di Indonesia belum mampu memberikan landasan
yang kuat bagi proses penanaman nilai-nilai luhur bagi sumber daya
manusia Indonesia.
Namun demikian dalam makalah ini penulis tidak akan
mengarahkan pembahasan paper ini pada suatu kondisi obyektif,
misalnya perusahaan atau lembaga pendidikan tertentu, dengan
alasan agar paper ini dapat menjadi “term paper” yang applicable
untuk organisasi, perusahaan, atau lembaga manapun yang
memerlukannya. Untuk itulah dalam makalah singkat ini penulis
hanya akan mencoba membahas mengenai pengelolaan sumber daya
manusia secara umum, tinjauan mengenai rekrutmen dan seleksi
dan diakhiri dengan kesimpulan.
B. Tinjauan Mengenai Pengelolaan Sumber Daya
Manusia
1. Konsep Pengelolaan Sumber Daya Manusia
Pengelolaan sumber daya manusia dalam istilah lain sering
disebut: “personal management”; °pc)sonuí udmíníst)utíon¨; °Iumun
resources administration”. (Umi Sukamti, 1989:4). Beberapa istilah
tersebut dalam bidang pendidikan merupakan salah satu substansi
dari manajemen pendidikan.
Untuk memperjelas konsep pengelolaan sumber daya manusia,
perlu kiranya penulis menampilkan beberapa pandangan dari para
pakar sebagai berikut.
Edwin B. Flippo (1984) menyatakan bahwa pengelolaan sumber
daya manusia merupakan proses perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan dan pengendalian dari pengadaan tenaga kerja,
60
NO. 1. VOL. I. 2008
pengembangan, kompensasi, integrasi, pemeliharaan dan pemutusan
hubungan kerja dengan maksud untuk mencapai tujuan atau
sasaran perorangan, organisasi, dan masyarakat.
Menurut Haneman (1989:2) menyatakan bahwa:“ Personal or
Iumun )csou)ccs munugcmcnt ís u sct o] o)gunízutíon uídc ]unctíon o)
uctíuítícs tIut u)c dcsígncd to ín{ucncc tIc uctíuítícuncss í] cmpíouccs
ín tIc o)gunízutíon¨. Sedangkan menurut Wayne dan Elias (1981:3)
“human resources management is the attraction, selection, retention,
dcucíopmcnt, und utííízutíon o] Iumun )csou)ccs ín o)dc) to ucIícuc
IotI índíuíduuí und o)gunízutíon oI]cctíucs¨.
2. Fungsi Pengelolaan Sumber Daya Manusia.
Pengelolaan sumber daya manusia pada dasarnya merupakan
deskripsi dari administrasi atau manajemen pendidikan dengan
ncngidcniiflasi fungsi-fungsinya sclagai suaiu setting proses
administrasi atau manajemen pendidikan yang didesain untuk
saling berkaitan antara tujuan individu maupun organisasi. Menurut
Castetter (1981:3) proses administrasi atau manajemen tersebut
meliputi planning, recruitment, selection, induction, appraisal,
development, compensation, bargaining, security, continuity, and
information. Sedangkan Randall (1987:29) ncngindcniiflasilan
fungsi-fungsi tersebut ke dalam proses sumber daya manusia
yang meliputi °píunníng, stu]]ng, upp)uísíng, compcnsutíon, und
training”.
Dari lclcrapa dcfnisi dan lonscp pcngclolaan sunlcr daya
manusia di atas dapat dipahami bahwa suatu pengelolaan sumber
daya manusia merupakan suatu proses yang berhubungan dengan
implementasi indikator fungsi-fungsi pengelolaan atau manajemen
yang berperan penting dan efektif dalam menunjang tercapainya
tujuan individu, lembaga, maupun organisasi atau perusahaan.
Bagi suatu organisasi, pengelolaan sumber daya manusia
menyangkut keseluruhan urusan organisasi dan tujuan yang telah
ditetapkan. Untuk itu seluruh komponen atau unsur yang ada di
dalannya, yaiiu para pcngclola dcngan lcrlagai aliifiasnya Iarus
memfokuskan pada perencanaan yang menyangkut penyusunan
staff, penetapan program latihan jabatan dan lain sebagainya. Hal ini
perlu dilakukan untuk mengantisipasi perkembangan jangka pendek
dan jangka panjang dari suatu organisasi tersebut, khususnya yang
menyangkut kesiapan sumber daya manusianya. Alasan lainnya
Pengelolaan Sumber Daya Manusia ... (Nanang Nuryanta)
61
adalah bahwa suatu pengelolaan sumber daya manusia dalam
suatu organisasi tidak dapat terlepas dari lingkungan internal
maupun eksternal, yang pada suatu saat akan dapat mempengaruhi
keberadaan organisasi tersebut.
C. Rekrutmen dan Seleksi Sumber Daya Manusia
Diantara beberapa unsur dari pengelolaan sumber daya manusia
yang sangat terkait dengan keberadaan organisasi atau perusahaan
adalah unsur rekrutmen dan seleksi SDM. Untuk lebih memperjelas
mengenai beberapa konsep tentang rekrutmen dan seleksi, berikut
ini akan dipaparkan mengenai kedua hal tersebut.
1. Rekrutmen
Menurut Randall S. Schuler dan Susan E. Jackson (1997:227)
rekrutmen antara lain meliputi upaya pencarian sejumlah calon
karyawan yang memenuhi syarat dalam jumlah tertentu sehingga
dari mereka perusahaan dapat menyeleksi orang-orang yang paling
tepat untuk mengisi lowongan pekerjaan yang ada. Sebagai akibatnya
rekrutmen tidak hanya menarik simpati atau minat seseorang untuk
bekerja pada perusahaan tersebut, melainkan juga memperbesar
kemungkinan untuk mempertahankan mereka setelah bekerja.
Jadi intinya rekrutmen merupakan usaha yang dilakukan untuk
memperoleh sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam mengisi
jabatan-jabatan terntu yang masih kosong. Selain itu rekrutmen
merupakan usaha-usaha mengatur komposisi sumber daya manusia
secara seimbang sesuai dengan tuntutan melalui penyeleksian yang
dilakukan.
Melalui rekrutmen organisasi dapat melakukan komunikasi
dengan pihak-pihak tertentu untuk memperoleh sumber daya manusia
yang potensial, sehingga akan banyak pencari kerja dapat mengenal
dan mengetahui organisasi yang pada akhirnya akan memutuskan
kepastian atau tidaknya dalam bekerja. Dengan rekrutmen
diharapkan pencari kerja yang berkualitas tinggi akan mengetahui
adanya kesempatan kerja. Selain itu perlu juga diusahakan
adanya kesan dan image yang positif mengenai organisasi dengan
memberikan informasi yang cukup mengenai pekerjaan sehingga
pcncari lcrja dapai ncnpcriinlanglan ninai dan lualiflasinya.
Menurut Umi Sukamti (1989), dalam proses rekrutmen terdiri dari
62
NO. 1. VOL. I. 2008
dua fase, yaitu: (a) untuk memonitor perubahan lingkungan dan
organisasi yang menimbulkan kebutuhan sumber daya manusia
baru, dan menetapkan pekerjaan-pekerjaan yang harus diisi dan
tipe-tipe pelamar yang diperlukan; (b) untuk menyebarluaskan
kepada pelamar yang potensial bahwa ada lowongan pekerjaan,
sehingga menarik pelamar yang bersangkutan dan menyisihkan
pclanar yang lurang ncncnuIi lualiflasi yang dipcrlulan.
Lebih lanjut Randall S. Schuler dan Susan E. Jackson (1997:227)
menjelaskan bahwa kegiatan kunci yang merupakan bagian dari
rekrutmen adalah (1) menentukan kebutuhan jangka pendek dan
jangka panjang perusahaan dalam hal jenis pekerjaan (job title)
dan levelnya dalam perusahaan; (2) terus berupaya mendapatkan
informasi mengenai perkembangan kondisi pasar tenaga kerja; (3)
menyusun bahan-bahan rekrutmen yang efektif; (4) menyusun
program rekrutmen yang sistematis dan terpadu yang berhubungan
dengan kegiatan sumber daya manusia lain dan dengan kerja sama
antara manajer lini dan karyawan; (5) mendapatkan pool calon
karyawan yang berbobot atau memenuhi syarat; (6) mencatat kualitas
dan jumlah pelamar dari berbagai sumber dan masing-masing
metode rekrutmennya; dan (7) melakukan tindak lanjut terhadap
para calon karyawan baik yang diterima maupun yang ditolak, guna
mengevaluasi efektif tidaknya rekrutmen yang dilakukan. Dan yang
paling penting semua kegiatan ini harus dilakukan sesuai konteks
hukum yang berlaku.
Adapun Iasil lcgiaian rclruincn adalaI idcniiflasi icrIadap
suatu pool yang berisikan para calon karyawan yang memenuhi
syarat yang kemungkinan besar akan terpilih dan ditempatkan.
Meskipun demikian, ternyata dalam kenyataannya rekrutmen belum
tentu berhasil dengan baik, hal ini sangat terkait dengan berbagai
kendala yang dihadapi. Menurut Sondang P. Siagaan (1999) berbagai
kendala yang dihadapi menurut berbagai penelitian dan pengalaman
banyak orang dalam hal rekrutmen menunjukkan bahwa kendala
yang biasa dihadapi itu dapat mengambil tiga bentuk, yaitu kendala
yang bersumber dari organisasi yang bersangkutan sendiri, kebiasaan
pcncu)í tcnugu Ic)]u scndí)í dun ]uIto)-]uIto) cIstc)nuí uung
bersumber dari lingkungan di mana organisasi bergerak.
Lebih jelasnya, ketiga faktor tersebut dapat digambarkan pada
tabel di bawah ini:
Pengelolaan Sumber Daya Manusia ... (Nanang Nuryanta)
63
Faktor
Organisasional
Kebiasaan Pencari
Tenaga Kerja
Kondisi Eksternal
(Lingkungan)
1. Kebijaksanaan
Promosi dari
dalam.
2. Kebijaksanaan
tentang imbalan,
yang tergantung
pada:
3. Kepentingan para
anggota organisasi.
4. Kemampuan
organisasi yang
bersangkutan.
5. Keharusan
mentaati berbagai
peraturan
perundangan.
6. Pertimbangan
lokasi.
7. Kebijaksanaan
tentang status
kepegawaian.
8. Rencana sumber
daya manusia.
Pada satuan kerja yang
mengelola sumber daya
manusia biasanya ada
tenaga spesialis yang terdiri
dari sekelompok orang yang
tugasnya adalah melakukan
rekrutmen. Tenaga spesialis
ini mempunyai dua segi:
1. Segi Positifnya, yaitu
proses rekrutmen dapat
berlangsung dengan cepat
karena pengetahuan dan
pengalamannya mengenai
lualiflasi icnaga lcrja
yang dibutuhkan.
2. Segi negatipnya, yaitu
kecenderungan untuk
berbuat kesalahan dalam
merekrut pegawai bila
tidak berpengaruh pada
organisasi dan juga sikap
yang sering menganggap
enteng terhadap usaha
rekrutmen, khususnya
berkaitan dengan
persyaratan kuantitas
pelamar.
1. Tingkat pengangguran.
2. Kedudukan organisasi
pencari tenaga kerja
terhadap organisasi/
perusahaan lain yang
bergerak pada bidang yang
sama dan menghasilkan
produk sejenis.
3. Langka tidaknya keahlian
atau ketrampilan tertentu.
4. Proyeksi angkatan kerja
pada umumnya.
5. Peraturan perundang-
undangan di bidang
ketenagakerjaan.
6. Praktek rekrutmen oleh
organisasi lain.
7. Tuntutan tugas yang kelak
akan dikerjakan oleh para
pekerja baru itu, yang
menyangkut: persyaratan
khusus, pengalaman kerja
sebelumnya, tenaga, waktu
dan biaya yang besar,
persepsi terhadap imbalan,
dan juga tenaga kerja yang
telah terekrut ternyata
iidal ncncnuIi lualiflasi
yang ditetapkan.
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa rekrutmen
dimaksudkan untuk mendapatkan calon karyawan yang memenuhi
syarat. Oleh karena itu proses rekrutmen hendaknya perlu
memperhatikan sumber-sumber yang dapat dijadikan wahananya,
yaitu meliputi sumber internal dan sumber eksternal. Menurut
Randall S. Schuler dan Susan E. Jackson (1997) sumber-sumber
dan metode tersebut adalah:
a. Sumber internal. Sumber-sumber internal meliputi karyawan
yang ada sekarang yang dapat dicalonkan untuk dipromosikan,
dipindahtugaskan atau dirotasi tugasnya, serta mantan karyawan
yang bisa dikaryakan dan dipanggil kembali. Adapun metode yang
dapat digunakan adalah dengan menempelkan pemberitahuan
pada papan pengumuman, pengumuman lisan, penelitian riwayat
kerja karyawan (personnel records), penelitian daftar promosi
berdasarkan kinerja, melakukan pemeringkatan dari kegiatan
penilaian, melakukan pengecekan daftar senioritas, dan melihat
daftar yang dibuat menurut ketrampilan pada Sistem Informasi
Sumber Daya Manusia perusahaan. Itu semua dapat dilakukan
64
NO. 1. VOL. I. 2008
dengan membuat job posting dan daftar ketrampilan (skill
inventories).
b. Sumber eksternal, adalah sumber untuk mendapatkan karyawan
dari luar pcrusaIaan yang ncnilili loloi aiau lualiflasi
tertentu. sumber yang dapat dilakukan adalah dengan program
referal karyawan, yaitu iklan secara lisan; uuíI-ín upííícunt, di
mana sejumlah pelamar mencalonkan diri dengan mendatangi
langsung bagian rekrutmen di perusahaan tersebut; melalui
Ií)o-Ií)o tcnugu Ic)]u; melalui perusahaan lain; melaui Ií)o-
biro bantuan sementara; melalui asosiasi dan serikat dagang;
sekolah, WNA (warga negara asing). Adapun metode yang dapat
digunakan adalah melalui iklan radio dan televisi, iklan di koran
dan jurnal perdagangan, Computc)ízcd Service Listings, akuisisi
dan merger, open house, rekrutmen berdasarkan kontrak (contract
recruiting), Contingent Workforce Recruiting (perekrutan tenaga
kerja sementara).
Selain melalui metode yang telah disebutkan oleh Randall S.
Schuler dan Susan E. Jacson tersebut, Sondang P. Siagian (1999) juga
menambahkan berbagai sumber metode yaitu melalui perusahaan
pencari tenaga kerja profesional, organisasi profesi, dan balai latihan
kerja milik pemerintah.
Untuk mendukung suatu rekrutmen agar dapat berjalan
dengan baik maka perlu adanya legalisasi hukum. Hal ini untuk
memberikan jaminan perlindungan bagi perusahaan atau organisasi
yang melakukan rekrutmen maupun bagi calon pelamar, khususnya
berkaitan dengan asas keadilan. Oleh karena itu di Indonesia pun,
masalah undang-undang ketenagakerjaan ini telah dibuat sebagai
upaya untuk melindungi hak-hak dan kewajiban pekerja.
Untuk lebih memperjelas hubungan pada aspek rekrutmen
dalam pengelolaan sumber daya manusia dapat dilihat pada gambar
di bawah ini:
Pengelolaan Sumber Daya Manusia ... (Nanang Nuryanta)
65
Gambar 1:
Sumber: dari Randall S. Schuler dan Susan E. Jackson (1997). Manajemen
SumIc) Duuu Mnusíu McngIudupí AIud Kc-2l. JuIu)tu. Pcnc)Iít
Erlangga, hal. 231
Berdasarkan gambaran di atas dan penjelasan sebelumnya, ada
beberapa aspek penting yang merupakan bagian dari rekrutmen,
antara lain berupa penetapan kebutuhan sumber daya manusia baik
dalam jangka pendek maupun jangka panjang dan aspek lainnya
lcrupa pcngcnlangan cfcliifias rclruincn, upaya ncnpcrolcI
lualiflasi pclanar dan lain sclagainya. Mcnurui Randall (1987:125)
esensi dari efektivitas rekrutmen adalah membantu lembaga dalam
memperoleh tujuan umum yang meliputi produktivitas kerja, kualitas
kehidupan kerja, dan kepatuhan kerja.
2. Seleksi
Proses seleksi merupakan salah satu bagian yang terpenting
dalam keseluruhan proses manajemen sumber daya manusia.
Pernyataan ini didasarkan pada suatu alasan bahwa suatu organisasi
ataupun perusahaan akan mendapatkan sejumlah pegawai yang
ncncnuIi lualiflasi yang dipcrsyarailan aiau iidal adalaI sangai
tergantung pada cermat tidaknya proses seleksi ini dilakukan. Dan
proses seleksi ini merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan
dengan rekrutmen.
66
NO. 1. VOL. I. 2008
Menurut Umi Sukamti (1989:153) ncndcfnisilan sclclsi sclagai
suatu proses penetapan pelamar yang mana diantara mereka direkrut
dengan melalui pertimbangan persyaratan-persyaratan untuk dapat
diterima dalam melakukan pekerjaan dengan baik.
Sedangkan menurut Randall S. Schuler dan Susan E. Jackson
(1997), yang mengaitkan seleksi dan penempatan menyebutkan
bahwa seleksi adalah proses mendapatkan dan mempergunakan
informasi mengenai pelamar kerja untuk menentukan siapa yang
seharusnya diterima menduduki posisi jangka pendek dan jangka
panjang. Penempatan (placement) berkaitan dengan pencocokan
seseorang dengan jabatan yang akan dipegangnya, berdasarkan pada
kebutuhan jabatan dan pengetahuan, ketrampilan, kemampuan,
preferensi, dan kepribadian karyawan tersebut.
Dcrdasarlan dcfnisi icrsclui, dapai dipaIani laIwa sclclsi
merupakan salah satu cara yang dilakukan organisasi atau
perusahaan untuk melihat kesesuaian atau tidaknya antara
individu, pekerjaan, organisasi, dan lingkungan. Oleh karena itu,
prosedur seleksi yang cermat dan penempatan yang sesuai adalah
merupakan esensi dari pengelolaan sumber daya manusia dalam
suatu perusahaan atau organisasi. Jikalau dilakukan dengan baik,
niscaya prosedur ini akan menjamin bahwa sebuah perusahaan
atau organisasi mempunyai karyawan yang dapat menjalankan
tugasnya dengan baik dan menghasilkan produktivitas yang tinggi.
Namun demikian, dalam proses seleksi menurut Sondang P. Siagian
(1999:133) ada empat macam tantangan yang perlu diperhatikan
dan dihadapi oleh para petugas seleksi dalam menentukan jenis
dan langkah-langkah dalam proses seleksi, yaitu: penawaran tenaga
kerja, tantangan etis, tantangan organisasional, dan kesamaan
kesempatan memperoleh pekerjaan.
Lebih lanjut (Sondang P. Siagian, 1999:133) menjelaskan bahwa
langkah-langkah dalam proses seleksi minimal ada delapan langkah,
yaitu:
a. penerimaan surat lamaran,
b. penyelenggaraan ujian,
c. wawancara seleksi,
d. pengecekan l atar bel akang pel amar dan surat-surat
referensinya,
e. evaluasi kesehatan,
f. wawancara ol eh manaj er yang akan menj adi atasan
langsungnya,
g. pengenalan pekerjaan, dan
Pengelolaan Sumber Daya Manusia ... (Nanang Nuryanta)
67
h. keputusan atas lamaran.
Sedangkan tentang isi langkah-langkah seleksi, menurut
Hunduíí S. ScIuíc) dun Susun E. JucIson (l99?.2b4-2S5), yang
didasarkan pada hasil riset tentang reaksi pelamar dalam prosedur
seleksi menunjukkan bahwa pelamar lebih menyukai proses yang
melibatkan mereka dalam kegiatan yang benar-benar berkaitan
dengan lowongan pekerjaan. Bagi pelamar, simulasi dan contoh kerja
biasanya dianggap lebih relevan daripada tes kognitif tertulis dan
analisis tulisan tangan misalnya, dan mungkin karena alasan ini,
pelamar menganggap cara seperti itu lebih adil. Pelamar mungkin
bereaksi negatif terhadap wawancara yang dilakukan secara buruk.
Pertanyaan diskriminatif atau menyerang jelas menimbulkan kesan
negatif. Demikian juga pertanyaan dangkal dan tak berkaitan dengan
masalahnya.
Untuk itulah dalam upaya mendapatkan berbagai informasi
untuk meramalkan performasi, organisasi seharusnya mengupayakan
berbagai alat seleksi dari yang biasa dipakai dan yang tidak biasa
dipakai. Dalam hal ini menurut Umi Sukamti (1989:164) ada empat
standar yang dapat digunakan organisasi dalam proses seleksi, yaitu:
(a) relevansi, yaitu sejauhmana alat seleksi dapat mencerminkan
sampel yang representatif dari pekerjaan; (b) reliabilitas, yaitu
sejauhmana suatu alat seleksi memberikan hasil yang sama apabila
dipakai dalam waktu yang tidak sama atau oleh orang yang berbeda;
(c) validitas, yaitu hubungan statis antara skor-skor pada alat seleksi
dengan kriteria atau ukuran performasi pekerjaan; dan (d) faktor
keadilan, yaitu setiap alat seleksi harus dinilai standar keadilannya
yang mana kecenderungan alat ini memperlakukan dan memberi
kesempatan sama kepada semua pelamar untuk mendapatkan
pekerjaan.
Dari berbagai penjelasan dan konsep mengenai seleksi tersebut,
apabila dilakukan dengan prosedur yang benar dan didukung dengan
alai sclclsi yang icpai dan alurai, sudaI larang icniu lualiflasi
sumber daya manusia yang dibutuhkan oleh setiap organisasi akan
dapat terpenuhi. Karena prosedur yang benar dalam melakukan
seleksi ini akan mempunyai dampak positif bukan saja bagi
perusahaan tetapi juga bagi para pelamar pekerjaan yang diseleksi.
Bagi perusahaan keuntungan yang dapat diperoleh adalah mudah
uniul ncncniulan lualiflasi pclanar yang dinyaialan lolos sclclsi.
Sedangkan keuntungan bagi para pelamar adalah dapat merasa
puas dan tidak menimbulkan kecurigaan-kecurigaan dalam proses
seleksi. Pelamar akan merasakan adanya sikap dan tindakan yang
68
NO. 1. VOL. I. 2008
fair dari perusahaan atau organisasi penyelenggara seleksi, sehingga
apabila pelamar mengalami kegagalan dalam seleksi, mereka akan
dapat merasakan “kepuasan” atau paling tidak dapat mengadakan
introspeksi diri bahwa mereka belum dapat memenuhi standar yang
ditentukan oleh perusahaan atau organisasi untuk bekerja.
Seangkan bagi para pelamar yang dapat lolos dalam seleksi,
tentunya mereka diharapkan dapat bekerja sesuai dengan
jol spcsiflasinya nasing-nasing yang pada alIirnya dapai
menampilkan seluruh potensi yang dimilikinya, baik itu berupa
pengetahuan, kemampuan, ketrampilan, minat, kesukaan, dan
kepribadiannya bagi kepentingan dan tujuan perusahaan atau
organisasi tempat mereka bekerja.
D. Kesimpulan
Setelah mencermati latar belakang permasalahan dan
pembahasan mengenai pengelolaan sumber daya manusia,
khususnya yang berkenaan dengan aspek rekrutmen dan seleksi,
maka penulis dapat menarik beberapa kesimpulan:
1. Pengelolaan sumber daya manusia adalah merupakan aspek
yang sangat penting dalam proses pendidikan secara umum.
Oleh karena itu fungsi-fungsi dalam pengelolaan sumber
daya manusia harus dilaksanakan secara optimal sehingga
kebutuhan yang menyangkut tujuan individu, perusahaan,
organisasi ataupun kelembagaan dapat tercapai. Disamping itu
dengan prosedur pengelolaan sumber daya manusia yang baik
diharapkan kekurangan dan problem yang dihadapi oleh bangsa
Indonesia, yaitu yang terkait dengan kemampuan daya saing
dapat teratasi.
2. Rekrutmen yang merupakan upaya untuk menghasilkan suatu
pool pelamar kerja untuk ditempatkan pada posisi pekerjaan
yang lowong diperoleh melalui sumber eksternal maupun internal.
Rekrutmen harus diupayakan untuk dapat memenuhi kebutuhan
perusahaan, individu pelamar dan masyarakat. Kebutuhan
individu dalam rekrutmen ini mempunyai dua aspek, yaitu
menarik calon pelamar dan mempertahankan karyawan yang
diinginkan. Untuk melakukan rekrutmen hendaknya perusahaan
benar-benar mempertimbangkan pelamar yang benar-benar
memiliki potensi yang unggul dan memenuhi persyaratan serta
harus disesuaikan dengan jumlah yang diperlukan sehingga orang
yang terpilih benar-benar sesuai dengan pekerjaanya.
Pengelolaan Sumber Daya Manusia ... (Nanang Nuryanta)
69
3. Seleksi yang dilakukan oleh perusahaan, organisasi ataupun
lembaga tertentu harus dapat dipastikan bahwa sumber daya
manusia yang terseleksi tersebut adalah orang yang mampu
memenuhi kebutuhan kerja dan dapat bekerja di perusahaan. Oleh
karena itu, perusahaan ingin menyesuaikan antara kebutuhan
pelamar dan imbalan yang ditawarkan menurut kualitas kerja
dan konteks perusahaan. Untuk menyesuaikan pengetahuan,
ketrampilan, dan kemampuan seseorang terhadap kebutuhan
kerja dan untuk menyesuaikan kepribadian, minat, dan kesukaan
seseorang dengan kerja dan karakteristik perusahaan maka
perusahaan harus mampu mengumpulkan informasi tentang para
pelamar. Dengan informasi yang jelas tersebut perusahaan dapat
melakukan penempatan pelamar sesuai dengan kemampuan,
pengetahuan dan ketrampilannya atau dapat dikatakan bahwa
perusahaan akan dapat menentukan pelamar sesuai dengan job
spcsiflasinya yang pada alaIirnya alan nanpu ncnlcrilan
kontribusi positif bagi produktivitas perusahaan.
DAFTAR PUSTAKA
Cascio K. Wayne dan Awad A. Yulk. (1981). Human Resources
Management: An Information System Approach. Virginia: Reston
Publishing Company. Inc.
Castetter, W.B. (1982). The Personnel Function in Education
Administration. New York: Mac Millan Publishing Co. Inc.
Flippo B. Edwin. (1984). The Personnel Management. Mc Graw Hill
Book Company.
Haneman H.G. (1981). Managing Personnel and Human Resources:
Strategies and Programs. Illinois: Richard D. Irwin Inc.
Randall S. Schuler. (1987). Personnel and Human Resources
Management. New York University: Kelogg Borkvard.
Randall S. Schuler dan Susan E. Jackson. (1997). Manajemen Sumber
Duuu Munusíu McngIudupí AIud Kc-2l Jíííd l. Edisi Keenam.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
Siagian, Sondang P. (1999). Manajemen Sumber Daya Manusia.
Jakarta: Bumi Aksara.
Suyanto dan Hisyam, Djihad. (2000). Hc{cIsí Dun Hc]o)musí
Pendidikan Di Indonesia Memasuki Milenium III, Yogyakarta:
Adicita Karya Nusa.
Sukamti, Umi. (1989). Management Personalia/Sumber Daya
Manusia. Jakarta: P2LPTK Dikti Depdikbud.

sebagai wahana untuk mempersiapkan sumber daya manusia. Pemerintah seyogyanya mulai memiliki polical will untuk memprioritaskan pendidikan dalam pembangunan yang sedang digalakkan saat ini. yaitu mempersiapkan pendidikan yang mampu menghasilkan sumber daya manusia Indonesia untuk dapat berkompetisi dalam abad 21 atau abad milenium ketiga yang ditandai oleh adanya persaingan global yang sangat ketat. VOL. sebagaimana dikemukakan oleh Boediono (1997:82) dalam Suyanto dan Hisyam (2000:3) yang menyatakan bahwa berbicara kemampuan sebagai bangsa. Pengaruh budaya global tersebut secara disadari maupun tidak. pada suatu saat akan sampai kepada setiap bangsa di dunia. Oleh karenanya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. apapun unsur yang terkandung di dalam era global tersebut menuntut kesiapan suatu bangsa dalam menghadapinya. khususnya melalui bidang pendidikan. Kondisi semacam itu secara jelas menuntut suatu bangsa untuk mempersiapkan sumber daya manusianya. maka sudah barang tentu bangsa Indonesia akan selalu tertinggal dengan bangsa lain di dunia.NO. tampaknya kita belum siap benar menghadapi persaingan pada milenium ketiga. yang merupakan ciri era globalisasi secara eksponensial akan mengubah dengan sangat cepat cara dan gaya hidup manusia. Tenaga ahli kita belum cukup memadai untuk bersaing di tingkat 56 . yaitu dari masyarakat prehistoris kepada suatu masyarakat postindustri. I. perlu kiranya dilakukan reformasi pendidikan. Jadi fenomena bahwa pemerintah Indonesia masih memandang pendidikan dengan sebelah mata harus mulai direformasi. Jikalau salah satu upaya untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul ini adalah ditempuh melalui pendidikan. khususnya kesiapan sumber daya manusianya. 1. Suatu bukti bahwa bangsa Indonesia masih belum siap untuk bersaing dalam dunia global dapat dilihat dari kemampuan daya saing sumber daya manusianya. Pendahuluan Era globalisasi adalah era yang sedang dihadapi oleh setiap bangsa pada saat ini dan merupakan era di mana dunia menjadi terbuka dan ini menuntut kesiapan sumber daya manusia untuk semakin sadar akan adanya keterbukaan juga menuntut kesadaran akan hak dan kewajibannya sebagai insan berbudaya. Melihat fenomena pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah Indonesia saat ini. 2008 A. tidak terkecuali bangsa Indonesia.

Sebagian besar angkatan kerja (53%) tidak berpendidikan. Pengelolaan sumber daya manusia ini merupakan aspek yang sangat penting untuk menunjang keberlangsungan suatu bangsa dalam dataran makro dan organisasi atau lembaga dalam dataran mikro. Mereka yang berpendidikan dasar sebanyak 34%.Pengelolaan Sumber Daya Manusia . 32% berpendidikan menengah. yaitu Indonesia berada pada peringkat 102. Oleh karena itu. daya saing bangsa Indonesia tentu lebih jelek lagi. 52% berpendidikan dasar. Menurut data yang dipublikasikan oleh United Nation Development Report Programme (UNDP) yang diberi judul Human Development Report 1996. sebenarnya kita patut khawatir terhadap kemampuan bersaing SDM kita dalam era globalisasi dalam milenium ketiga nanti. kualitas SDM kita berada pada posisi memprihatinkan. angkatan kerja kita saat ini sungguh memprihatinkan. dan 5% dari angkatan kerja harus telah berpendidikan universitas. berpendidikan menengah 11%. Bahkan lebih khusus. (Nanang Nuryanta) global. Padahal tuntutan dari dunia kerja pada akhir pembangunan pada jangka panjang II nanti mengharuskan angkatan kerja kita berpendidikan.. Laporan UNDP itu memuat angka indeks kualitas SDM (Human dari 174 negara di dunia. Kondisi di atas. Pada tahun 1999. Pada kenyataannya 57 . suatu pengelolaan sumber daya manusia perlu diarahkan pada suatu model yang dapat menarik seluruh potensi sumber daya manusia tersebut bagi kepentingan organisasi atau dengan kata lain pengelolaan sumber daya manusia harus dapat diarahkan pada upaya yang mampu menggali potensi SDM agar dapat memberikan kontribusi yang positif bagi perusahaan atau organisasi. Hal ini terjadi sebagai akibat adanya krisis ekonomi dan politik yang sampai saat ini kita tidak pernah tahu kapan krisis itu akan berakhir. dan yang berpendidikan tinggi (universitas) hanya 2%. memberikan informasi kepada kita bahwa secara tegas pendidikan yang sedang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia perlu dioptimalkan. khususnya yang menyangkut pengelolaan sumber daya manusianya. Hasil laporan itu sangat mengejutkan dan memprihatinkan. Dalam setting organisasi atau perusahaan. Suyanto dan Hisyam (2000) menyatakan bahwa kualitas sumber daya manusia (SDM) kita masih rendah. Dilihat dari pendidikannya.. Dari angkatan kerja yang ada hanya 11% saja yang tidak berpendidikan. Dapat dibayangkan betapa rendahnya daya saing Indonesia untuk memperoleh posisi kerja yang baik dalam era global.

kompensasi. bahkan lebih dari itu para pekerja nantinya dapat menopang keberlangsungan organisasi. bahwa untuk mengelola sumber daya manusia. organisasi atau perusahaan saat ini.NO. khususnya yang dapat diarahkan untuk dapat memberikan kontribusi positif bagi lembaga atau perusahaan. Disamping itu masalah etika dalam mengelola sumber daya manusia ini perlu dikedepankan agar tidak menimbulkan efek negatif bagi masyarakat. Belum lagi proses rekrutmen dan seleksi yang dilakukan perusahaan kadangkala justru mengabaikan aspek etika dalam melakukan rekrutmen dan seleksi. perusahaan dan organisasi tertentu cenderung hanya pada taraf pendaftaran atau registration yang diharapkan tidak berhasil didapatkan. yaitu mencakup proses perencanaan. adalah kecenderungan pada setiap rekrutmen dan seleksi pegawai. baik pada instansi pemerintah maupun swasta. lembaga atau perusahaan dimana mereka bekerja bahkan setelah mereka bekerja. Suatu bukti yang menarik dan aktual di era reformasi pada bangsa Indonesia. bargaining. induksi. khususnya yang dilakukan oleh lembaga pemerintah (negeri) seringkali terjadi perbedaan dengan yang dilakukan oleh pihak swasta. penilaian. Bahkan prinsip utama rekrutmen dan seleksi. lembaga atau perusahaan adalah bagaimana menarik para pelamar atau peminat pekerjaan agar dapat bekerja secara optimal dalam perusahaan. keamanan. I. Ini berarti bahwa uang cukup memainkan peran yang tinggi dalam proses rekrutmen dan seleksi 58 . yang menuntut seringkali harus rela dan “digagalkan” untuk bekerja karena tidak berani membayar dengan mahal. VOL. korupsi. karena aspek yang ada dalam pengelolaan sumber daya manusia ini cukup banyak. masalah yang sangat mendasar yang dihadapi oleh banyak organisasi. 1. Standarisasi pengelolaan sumber daya manusia inilah yang nampaknya menjadi permasalahan yang dihadapi oleh setiap lembaga. Ini memberikan indikasi bahwa dalam pengelolaan sumber daya manusia di Indonesia secara ideal belum mempunyai standar yang jelas. seleksi. pengembangan. 2008 pula pengelolaan ditingkat mikro. dan nepotisme (KKN). kontinuitas dan informasi maka penulis mencoba membatasinya pembahasan masalah pada aspek rekrutmen dan seleksi saja. yang masih mengunakan prinsip kolusi. Dalam hal rekrutmen. Namun demikian. maka perlu dilakukan standarisasi yang jelas. Karena kenyataannya rekrutmen yang banyak dilakukan oleh lembaga. rekrutmen.

Flippo (1984) menyatakan bahwa pengelolaan sumber daya manusia merupakan proses perencanaan. tinjauan mengenai rekrutmen dan seleksi dan diakhiri dengan kesimpulan.Pengelolaan Sumber Daya Manusia . Untuk memperjelas konsep pengelolaan sumber daya manusia. 59 . perlu kiranya penulis menampilkan beberapa pandangan dari para pakar sebagai berikut. Untuk itulah dalam makalah singkat ini penulis hanya akan mencoba membahas mengenai pengelolaan sumber daya manusia secara umum.. 1989:4). Namun demikian dalam makalah ini penulis tidak akan mengarahkan pembahasan paper ini pada suatu kondisi obyektif. (Nanang Nuryanta) pada segmen organisasi.. (Umi Sukamti. lembaga atau organisasi yang bersih dari praktek KKN dan “main uang” di Indonesia saat ini tentu persentasenya sangat kecil. atau lembaga manapun yang memerlukannya. misalnya perusahaan atau lembaga pendidikan tertentu. Ini menunjukkan bahwa pendidikan yang dilakukan di Indonesia belum mampu memberikan landasan yang kuat bagi proses penanaman nilai-nilai luhur bagi sumber daya manusia Indonesia. Hal ini sangat “naif” sekali bila dikembalikan pada semangat reformasi yang akan berupaya menghapus KKN. resources administration”. pengorganisasian. Sebagai akibatnya kualitas kinerja perusahaan juga rendah dan tidak mempunyai kemampuan daya saing dengan perusahaan lainnya. perusahaan. Konsep Pengelolaan Sumber Daya Manusia Pengelolaan sumber daya manusia dalam istilah lain sering disebut: “personal management”. demikian pula dalam scope pengelolaan sumber daya manusia secara makro. Beberapa istilah tersebut dalam bidang pendidikan merupakan salah satu substansi dari manajemen pendidikan. Kalau pun ada perusahaan. tetapi pada kenyataannya justru praktek tersebut masih berjalan dengan subur. perusahaan atau lembaga apapun di Indonesia. apalagi dengan perusahaan yang sudah . bahkan hampir tidak ada. B. dengan alasan agar paper ini dapat menjadi “term paper” yang applicable untuk organisasi. pengarahan dan pengendalian dari pengadaan tenaga kerja. Tinjauan Mengenai Pengelolaan Sumber Daya Manusia 1. Edwin B.

appraisal. Menurut Haneman (1989:2) menyatakan bahwa:“ Personal or Sedangkan menurut Wayne dan Elias (1981:3) “human resources management is the attraction. penetapan program latihan jabatan dan lain sebagainya. Alasan lainnya 60 . manusia di atas dapat dipahami bahwa suatu pengelolaan sumber daya manusia merupakan suatu proses yang berhubungan dengan implementasi indikator fungsi-fungsi pengelolaan atau manajemen yang berperan penting dan efektif dalam menunjang tercapainya tujuan individu. khususnya yang menyangkut kesiapan sumber daya manusianya. Menurut Castetter (1981:3) proses administrasi atau manajemen tersebut meliputi planning. bargaining. selection.NO. organisasi. 2. pemeliharaan dan pemutusan hubungan kerja dengan maksud untuk mencapai tujuan atau sasaran perorangan. VOL. selection. induction. compensation. Sedangkan Randall (1987:29) fungsi-fungsi tersebut ke dalam proses sumber daya manusia yang meliputi training”. pengelolaan sumber daya manusia menyangkut keseluruhan urusan organisasi dan tujuan yang telah ditetapkan. 2008 pengembangan. Untuk itu seluruh komponen atau unsur yang ada di memfokuskan pada perencanaan yang menyangkut penyusunan staff. development. Hal ini perlu dilakukan untuk mengantisipasi perkembangan jangka pendek dan jangka panjang dari suatu organisasi tersebut. Fungsi Pengelolaan Sumber Daya Manusia. continuity. retention. recruitment. dan masyarakat. integrasi. 1. and information. maupun organisasi atau perusahaan. security. kompensasi. Bagi suatu organisasi. Pengelolaan sumber daya manusia pada dasarnya merupakan deskripsi dari administrasi atau manajemen pendidikan dengan setting proses administrasi atau manajemen pendidikan yang didesain untuk saling berkaitan antara tujuan individu maupun organisasi. I. lembaga.

sehingga akan banyak pencari kerja dapat mengenal dan mengetahui organisasi yang pada akhirnya akan memutuskan kepastian atau tidaknya dalam bekerja. Rekrutmen dan Seleksi Sumber Daya Manusia Diantara beberapa unsur dari pengelolaan sumber daya manusia yang sangat terkait dengan keberadaan organisasi atau perusahaan adalah unsur rekrutmen dan seleksi SDM.. Untuk lebih memperjelas mengenai beberapa konsep tentang rekrutmen dan seleksi. dalam proses rekrutmen terdiri dari 61 . (Nanang Nuryanta) adalah bahwa suatu pengelolaan sumber daya manusia dalam suatu organisasi tidak dapat terlepas dari lingkungan internal maupun eksternal. Jadi intinya rekrutmen merupakan usaha yang dilakukan untuk memperoleh sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam mengisi jabatan-jabatan terntu yang masih kosong. Melalui rekrutmen organisasi dapat melakukan komunikasi dengan pihak-pihak tertentu untuk memperoleh sumber daya manusia yang potensial. 1. Rekrutmen Menurut Randall S. Dengan rekrutmen diharapkan pencari kerja yang berkualitas tinggi akan mengetahui adanya kesempatan kerja. melainkan juga memperbesar kemungkinan untuk mempertahankan mereka setelah bekerja.. berikut ini akan dipaparkan mengenai kedua hal tersebut. Sebagai akibatnya rekrutmen tidak hanya menarik simpati atau minat seseorang untuk bekerja pada perusahaan tersebut. yang pada suatu saat akan dapat mempengaruhi keberadaan organisasi tersebut. C.Pengelolaan Sumber Daya Manusia . Selain itu rekrutmen merupakan usaha-usaha mengatur komposisi sumber daya manusia secara seimbang sesuai dengan tuntutan melalui penyeleksian yang dilakukan. Schuler dan Susan E. Selain itu perlu juga diusahakan adanya kesan dan image yang positif mengenai organisasi dengan memberikan informasi yang cukup mengenai pekerjaan sehingga Menurut Umi Sukamti (1989). Jackson (1997:227) rekrutmen antara lain meliputi upaya pencarian sejumlah calon karyawan yang memenuhi syarat dalam jumlah tertentu sehingga dari mereka perusahaan dapat menyeleksi orang-orang yang paling tepat untuk mengisi lowongan pekerjaan yang ada.

Menurut Sondang P. Siagaan (1999) berbagai kendala yang dihadapi menurut berbagai penelitian dan pengalaman banyak orang dalam hal rekrutmen menunjukkan bahwa kendala yang biasa dihadapi itu dapat mengambil tiga bentuk. sehingga menarik pelamar yang bersangkutan dan menyisihkan Lebih lanjut Randall S. (6) mencatat kualitas dan jumlah pelamar dari berbagai sumber dan masing-masing metode rekrutmennya.NO. I. hal ini sangat terkait dengan berbagai kendala yang dihadapi. 1. suatu pool yang berisikan para calon karyawan yang memenuhi syarat yang kemungkinan besar akan terpilih dan ditempatkan. VOL. Dan yang paling penting semua kegiatan ini harus dilakukan sesuai konteks hukum yang berlaku. (2) terus berupaya mendapatkan informasi mengenai perkembangan kondisi pasar tenaga kerja. ternyata dalam kenyataannya rekrutmen belum tentu berhasil dengan baik. kebiasaan bersumber dari lingkungan di mana organisasi bergerak. (4) menyusun program rekrutmen yang sistematis dan terpadu yang berhubungan dengan kegiatan sumber daya manusia lain dan dengan kerja sama antara manajer lini dan karyawan. Jackson (1997:227) menjelaskan bahwa kegiatan kunci yang merupakan bagian dari rekrutmen adalah (1) menentukan kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang perusahaan dalam hal jenis pekerjaan (job title) dan levelnya dalam perusahaan. guna mengevaluasi efektif tidaknya rekrutmen yang dilakukan. ketiga faktor tersebut dapat digambarkan pada tabel di bawah ini: 62 . yaitu: (a) untuk memonitor perubahan lingkungan dan organisasi yang menimbulkan kebutuhan sumber daya manusia baru. dan menetapkan pekerjaan-pekerjaan yang harus diisi dan tipe-tipe pelamar yang diperlukan. Meskipun demikian. 2008 dua fase. (3) menyusun bahan-bahan rekrutmen yang efektif. Schuler dan Susan E. (5) mendapatkan pool calon karyawan yang berbobot atau memenuhi syarat. dan (7) melakukan tindak lanjut terhadap para calon karyawan baik yang diterima maupun yang ditolak. yaitu kendala yang bersumber dari organisasi yang bersangkutan sendiri. Lebih jelasnya. (b) untuk menyebarluaskan kepada pelamar yang potensial bahwa ada lowongan pekerjaan.

Kedudukan organisasi pencari tenaga kerja terhadap organisasi/ perusahaan lain yang bergerak pada bidang yang sama dan menghasilkan produk sejenis. 2. 8. Schuler dan Susan E. 3. khususnya berkaitan dengan persyaratan kuantitas pelamar. Langka tidaknya keahlian atau ketrampilan tertentu. 1. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa rekrutmen dimaksudkan untuk mendapatkan calon karyawan yang memenuhi syarat. yaitu proses rekrutmen dapat berlangsung dengan cepat karena pengetahuan dan pengalamannya mengenai yang dibutuhkan. Praktek rekrutmen oleh organisasi lain. Tenaga spesialis ini mempunyai dua segi: 1. 3. persepsi terhadap imbalan. waktu dan biaya yang besar. tenaga. Rencana sumber daya manusia. 2. Kebijaksanaan tentang status kepegawaian. (Nanang Nuryanta) 1. 6. Tuntutan tugas yang kelak akan dikerjakan oleh para pekerja baru itu. Proyeksi angkatan kerja pada umumnya. yang tergantung pada: Kepentingan para anggota organisasi. 7. dan juga tenaga kerja yang telah terekrut ternyata yang ditetapkan.. Adapun metode yang dapat digunakan adalah dengan menempelkan pemberitahuan pada papan pengumuman. Pertimbangan lokasi. Kemampuan organisasi yang bersangkutan. penelitian daftar promosi berdasarkan kinerja. yaitu meliputi sumber internal dan sumber eksternal. 5. Oleh karena itu proses rekrutmen hendaknya perlu memperhatikan sumber-sumber yang dapat dijadikan wahananya.Pengelolaan Sumber Daya Manusia . Menurut Randall S. Sumber-sumber internal meliputi karyawan yang ada sekarang yang dapat dicalonkan untuk dipromosikan. 5. Segi Positifnya. Faktor Organisasional Kebijaksanaan Promosi dari dalam. 4. Kondisi Eksternal (Lingkungan) Tingkat pengangguran. Sumber internal. pengumuman lisan. Kebijaksanaan tentang imbalan. 6. melakukan pemeringkatan dari kegiatan penilaian. yang menyangkut: persyaratan khusus. 4. serta mantan karyawan yang bisa dikaryakan dan dipanggil kembali. pengalaman kerja sebelumnya. melakukan pengecekan daftar senioritas. 7. Keharusan mentaati berbagai peraturan perundangan. Itu semua dapat dilakukan 63 . Segi negatipnya. Kebiasaan Pencari Tenaga Kerja Pada satuan kerja yang mengelola sumber daya manusia biasanya ada tenaga spesialis yang terdiri dari sekelompok orang yang tugasnya adalah melakukan rekrutmen. dan melihat daftar yang dibuat menurut ketrampilan pada Sistem Informasi Sumber Daya Manusia perusahaan. Jackson (1997) sumber-sumber dan metode tersebut adalah: a.. Peraturan perundangundangan di bidang ketenagakerjaan. yaitu kecenderungan untuk berbuat kesalahan dalam merekrut pegawai bila tidak berpengaruh pada organisasi dan juga sikap yang sering menganggap enteng terhadap usaha rekrutmen. 2. penelitian riwayat kerja karyawan (personnel records). dipindahtugaskan atau dirotasi tugasnya.

Service Listings. WNA (warga negara asing). dan balai latihan kerja milik pemerintah. open house. sumber yang dapat dilakukan adalah dengan program referal karyawan. organisasi profesi. Jacson tersebut. khususnya berkaitan dengan asas keadilan. Contingent Workforce Recruiting (perekrutan tenaga kerja sementara). Adapun metode yang dapat digunakan adalah melalui iklan radio dan televisi. Oleh karena itu di Indonesia pun. akuisisi dan merger. yaitu iklan secara lisan. iklan di koran dan jurnal perdagangan. melalui asosiasi dan serikat dagang. Selain melalui metode yang telah disebutkan oleh Randall S. Untuk mendukung suatu rekrutmen agar dapat berjalan dengan baik maka perlu adanya legalisasi hukum. melalui perusahaan lain. I. Sondang P.NO. rekrutmen berdasarkan kontrak (contract recruiting). 1. Siagian (1999) juga menambahkan berbagai sumber metode yaitu melalui perusahaan pencari tenaga kerja profesional. . melaui biro bantuan sementara. masalah undang-undang ketenagakerjaan ini telah dibuat sebagai upaya untuk melindungi hak-hak dan kewajiban pekerja. VOL. sekolah. Schuler dan Susan E. b. Sumber eksternal. Untuk lebih memperjelas hubungan pada aspek rekrutmen dalam pengelolaan sumber daya manusia dapat dilihat pada gambar di bawah ini: 64 . 2008 dengan membuat job posting dan daftar ketrampilan (skill inventories). Hal ini untuk memberikan jaminan perlindungan bagi perusahaan atau organisasi yang melakukan rekrutmen maupun bagi calon pelamar. melalui . di mana sejumlah pelamar mencalonkan diri dengan mendatangi langsung bagian rekrutmen di perusahaan tersebut. adalah sumber untuk mendapatkan karyawan tertentu.

Jackson (1997). Seleksi Proses seleksi merupakan salah satu bagian yang terpenting dalam keseluruhan proses manajemen sumber daya manusia. ada beberapa aspek penting yang merupakan bagian dari rekrutmen.Pengelolaan Sumber Daya Manusia . Manajemen Erlangga. hal. (Nanang Nuryanta) Gambar 1: Sumber: dari Randall S. dan kepatuhan kerja. Pernyataan ini didasarkan pada suatu alasan bahwa suatu organisasi ataupun perusahaan akan mendapatkan sejumlah pegawai yang tergantung pada cermat tidaknya proses seleksi ini dilakukan.. 2.. 231 Berdasarkan gambaran di atas dan penjelasan sebelumnya. Dan proses seleksi ini merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dengan rekrutmen. antara lain berupa penetapan kebutuhan sumber daya manusia baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang dan aspek lainnya Randall (1987:125) esensi dari efektivitas rekrutmen adalah membantu lembaga dalam memperoleh tujuan umum yang meliputi produktivitas kerja. kualitas kehidupan kerja. Schuler dan Susan E. 65 .

organisasi. kemampuan. pengenalan pekerjaan. c. dan 66 . Siagian. b. dan kesamaan kesempatan memperoleh pekerjaan. merupakan salah satu cara yang dilakukan organisasi atau perusahaan untuk melihat kesesuaian atau tidaknya antara individu. tantangan organisasional. penyelenggaraan ujian. w a w a n c a r a o l e h m a n a j e r y a n g a k a n m e n j a d i a t a s a n langsungnya. Oleh karena itu. berdasarkan pada kebutuhan jabatan dan pengetahuan. yaitu: a. preferensi. Namun demikian. prosedur seleksi yang cermat dan penempatan yang sesuai adalah merupakan esensi dari pengelolaan sumber daya manusia dalam suatu perusahaan atau organisasi. niscaya prosedur ini akan menjamin bahwa sebuah perusahaan atau organisasi mempunyai karyawan yang dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan menghasilkan produktivitas yang tinggi. yaitu: penawaran tenaga kerja. wawancara seleksi. Sedangkan menurut Randall S. f. pekerjaan. yang mengaitkan seleksi dan penempatan menyebutkan bahwa seleksi adalah proses mendapatkan dan mempergunakan informasi mengenai pelamar kerja untuk menentukan siapa yang seharusnya diterima menduduki posisi jangka pendek dan jangka panjang.s u r a t referensinya. evaluasi kesehatan. penerimaan surat lamaran. Lebih lanjut (Sondang P. Jikalau dilakukan dengan baik. VOL. Schuler dan Susan E. g. d. Penempatan (placement) berkaitan dengan pencocokan seseorang dengan jabatan yang akan dipegangnya. 1. tantangan etis. dan kepribadian karyawan tersebut. dan lingkungan. p e n g e c e k a n l a t a r b e l a k a n g p e l a m a r d a n s u r a t . ketrampilan.NO. dalam proses seleksi menurut Sondang P. 2008 Menurut Umi Sukamti (1989:153) suatu proses penetapan pelamar yang mana diantara mereka direkrut dengan melalui pertimbangan persyaratan-persyaratan untuk dapat diterima dalam melakukan pekerjaan dengan baik. Siagian (1999:133) ada empat macam tantangan yang perlu diperhatikan dan dihadapi oleh para petugas seleksi dalam menentukan jenis dan langkah-langkah dalam proses seleksi. e. Jackson (1997). I. 1999:133) menjelaskan bahwa langkah-langkah dalam proses seleksi minimal ada delapan langkah.

apabila dilakukan dengan prosedur yang benar dan didukung dengan sumber daya manusia yang dibutuhkan oleh setiap organisasi akan dapat terpenuhi. keputusan atas lamaran. Pelamar mungkin bereaksi negatif terhadap wawancara yang dilakukan secara buruk. yaitu setiap alat seleksi harus dinilai standar keadilannya yang mana kecenderungan alat ini memperlakukan dan memberi kesempatan sama kepada semua pelamar untuk mendapatkan pekerjaan.Pengelolaan Sumber Daya Manusia . (c) validitas.. (b) reliabilitas. Sedangkan tentang isi langkah-langkah seleksi. Bagi perusahaan keuntungan yang dapat diperoleh adalah mudah Sedangkan keuntungan bagi para pelamar adalah dapat merasa puas dan tidak menimbulkan kecurigaan-kecurigaan dalam proses seleksi. pelamar menganggap cara seperti itu lebih adil. Dalam hal ini menurut Umi Sukamti (1989:164) ada empat standar yang dapat digunakan organisasi dalam proses seleksi. menurut . yang didasarkan pada hasil riset tentang reaksi pelamar dalam prosedur seleksi menunjukkan bahwa pelamar lebih menyukai proses yang melibatkan mereka dalam kegiatan yang benar-benar berkaitan dengan lowongan pekerjaan. dan mungkin karena alasan ini. Karena prosedur yang benar dalam melakukan seleksi ini akan mempunyai dampak positif bukan saja bagi perusahaan tetapi juga bagi para pelamar pekerjaan yang diseleksi. Demikian juga pertanyaan dangkal dan tak berkaitan dengan masalahnya. Dari berbagai penjelasan dan konsep mengenai seleksi tersebut. yaitu: (a) relevansi. Pertanyaan diskriminatif atau menyerang jelas menimbulkan kesan negatif. Bagi pelamar. yaitu sejauhmana suatu alat seleksi memberikan hasil yang sama apabila dipakai dalam waktu yang tidak sama atau oleh orang yang berbeda. organisasi seharusnya mengupayakan berbagai alat seleksi dari yang biasa dipakai dan yang tidak biasa dipakai. dan (d) faktor keadilan. yaitu hubungan statis antara skor-skor pada alat seleksi dengan kriteria atau ukuran performasi pekerjaan.. yaitu sejauhmana alat seleksi dapat mencerminkan sampel yang representatif dari pekerjaan. simulasi dan contoh kerja biasanya dianggap lebih relevan daripada tes kognitif tertulis dan analisis tulisan tangan misalnya. Pelamar akan merasakan adanya sikap dan tindakan yang 67 . (Nanang Nuryanta) h. Untuk itulah dalam upaya mendapatkan berbagai informasi untuk meramalkan performasi.

dan kepribadiannya bagi kepentingan dan tujuan perusahaan atau organisasi tempat mereka bekerja. yaitu menarik calon pelamar dan mempertahankan karyawan yang diinginkan. khususnya yang berkenaan dengan aspek rekrutmen dan seleksi. sehingga apabila pelamar mengalami kegagalan dalam seleksi. 2008 fair dari perusahaan atau organisasi penyelenggara seleksi. 68 . Rekrutmen yang merupakan upaya untuk menghasilkan suatu pool pelamar kerja untuk ditempatkan pada posisi pekerjaan yang lowong diperoleh melalui sumber eksternal maupun internal. 2. individu pelamar dan masyarakat. maka penulis dapat menarik beberapa kesimpulan: 1. baik itu berupa pengetahuan. Untuk melakukan rekrutmen hendaknya perusahaan benar-benar mempertimbangkan pelamar yang benar-benar memiliki potensi yang unggul dan memenuhi persyaratan serta harus disesuaikan dengan jumlah yang diperlukan sehingga orang yang terpilih benar-benar sesuai dengan pekerjaanya. yaitu yang terkait dengan kemampuan daya saing dapat teratasi. kemampuan. VOL. ketrampilan. Oleh karena itu fungsi-fungsi dalam pengelolaan sumber daya manusia harus dilaksanakan secara optimal sehingga kebutuhan yang menyangkut tujuan individu. Disamping itu dengan prosedur pengelolaan sumber daya manusia yang baik diharapkan kekurangan dan problem yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Pengelolaan sumber daya manusia adalah merupakan aspek yang sangat penting dalam proses pendidikan secara umum. I. kesukaan. mereka akan dapat merasakan “kepuasan” atau paling tidak dapat mengadakan introspeksi diri bahwa mereka belum dapat memenuhi standar yang ditentukan oleh perusahaan atau organisasi untuk bekerja. tentunya mereka diharapkan dapat bekerja sesuai dengan menampilkan seluruh potensi yang dimilikinya. perusahaan.NO. Kesimpulan Setelah mencermati latar belakang permasalahan dan pembahasan mengenai pengelolaan sumber daya manusia. Rekrutmen harus diupayakan untuk dapat memenuhi kebutuhan perusahaan. 1. Seangkan bagi para pelamar yang dapat lolos dalam seleksi. Kebutuhan individu dalam rekrutmen ini mempunyai dua aspek. minat. organisasi ataupun kelembagaan dapat tercapai. D.

(1984).Pengelolaan Sumber Daya Manusia . Virginia: Reston Publishing Company. Manajemen Sumber Daya Manusia. Castetter. Yulk. organisasi ataupun lembaga tertentu harus dapat dipastikan bahwa sumber daya manusia yang terseleksi tersebut adalah orang yang mampu memenuhi kebutuhan kerja dan dapat bekerja di perusahaan. Irwin Inc. Wayne dan Awad A. Untuk menyesuaikan pengetahuan. Sukamti. Management Personalia/Sumber Daya Manusia.G. Inc.. (1981). Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. Jakarta: P2LPTK Dikti Depdikbud. Manajemen Sumber . New York University: Kelogg Borkvard. Illinois: Richard D. Flippo B. Umi.. Jackson. (1987). (1997). Inc. W. DAFTAR PUSTAKA Cascio K. perusahaan ingin menyesuaikan antara kebutuhan pelamar dan imbalan yang ditawarkan menurut kualitas kerja dan konteks perusahaan. (1982). Haneman H. (Nanang Nuryanta) 3. New York: Mac Millan Publishing Co. minat. ketrampilan. Pendidikan Di Indonesia Memasuki Milenium III. Mc Graw Hill Book Company.B. Suyanto dan Hisyam. Siagian. Schuler dan Susan E. Sondang P. Jakarta: Penerbit Erlangga. Seleksi yang dilakukan oleh perusahaan. Jakarta: Bumi Aksara. (1981). dan kesukaan seseorang dengan kerja dan karakteristik perusahaan maka perusahaan harus mampu mengumpulkan informasi tentang para pelamar. Managing Personnel and Human Resources: Strategies and Programs. Djihad. Personnel and Human Resources Management. Oleh karena itu. Randall S. Edwin. Schuler. Edisi Keenam. The Personnel Function in Education Administration. The Personnel Management. dan kemampuan seseorang terhadap kebutuhan kerja dan untuk menyesuaikan kepribadian. (1999). 69 . pengetahuan dan ketrampilannya atau dapat dikatakan bahwa perusahaan akan dapat menentukan pelamar sesuai dengan job kontribusi positif bagi produktivitas perusahaan. Dengan informasi yang jelas tersebut perusahaan dapat melakukan penempatan pelamar sesuai dengan kemampuan. (2000). Human Resources Management: An Information System Approach. Randall S. (1989).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful