P. 1
Makalah Kultur Jaringan 2010

Makalah Kultur Jaringan 2010

|Views: 1,165|Likes:
Published by Faizal
Kultur In Vitro

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat Rahmat dan Hidayah-nyalah sehingga Makalah ini dapat diselesaikan dengan baik dan lancar, Makalah ini disusun dengan tujuan agar pembaca dapat memperluas ilmu dan wawasan tentang Kultur In Vitro Khususnya Penelitian tentang ³ Multiplikasi Tunas Pisang Ambon Secara In Vitro Dengan Menggunakan Medium Murashige Dan Skoog Dengan Penambahan Hormon Benzylaminopurin Dan Kinetin ´. Di dalam proses penyusunan m
Kultur In Vitro

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat Rahmat dan Hidayah-nyalah sehingga Makalah ini dapat diselesaikan dengan baik dan lancar, Makalah ini disusun dengan tujuan agar pembaca dapat memperluas ilmu dan wawasan tentang Kultur In Vitro Khususnya Penelitian tentang ³ Multiplikasi Tunas Pisang Ambon Secara In Vitro Dengan Menggunakan Medium Murashige Dan Skoog Dengan Penambahan Hormon Benzylaminopurin Dan Kinetin ´. Di dalam proses penyusunan m

More info:

Published by: Faizal on May 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/28/2013

pdf

text

original

Kultur In Vitro

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat Rahmat dan Hidayah-nyalah sehingga Makalah ini dapat diselesaikan dengan baik dan lancar, Makalah ini disusun dengan tujuan agar pembaca dapat memperluas ilmu dan wawasan tentang Kultur In Vitro Khususnya Penelitian tentang ³ Multiplikasi Tunas Pisang Ambon Secara In Vitro Dengan Menggunakan Medium Murashige Dan Skoog Dengan Penambahan Hormon Benzylaminopurin Dan Kinetin ´. Di dalam proses penyusunan makalah ini terdapat hambatan yang dihadapi, namun dengan bantuan, bimbingan, dorongan dan petunjuk berbagai pihak, terutama Dosen yang bersangkutan. Olehnya itu kami mengucapkan terima kasih. Kami menyadari bahwa apa yang ditulis dalam Makalah ini masih jauh dari apa yang diharapkan, oleh sebab itu kami mohon adanya kritik dan saran dalam rangka perbaikan/ penyempurnaan dimasa yang akan datang. Demikan penyusunan tugas ini dan semoga dapat bermanfaat bagi kita semua terutama bagi penyusunnya.

Maros, «««««.. 2010

Penyusun

i

Kultur In Vitro

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .......................................................................................... DAFTAR ISI ........................................................................................................ BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... A. B. Latar Belakang ............................................................................................. Tujuan ......................................................................................................... i ii 1 1 4 5 5 5 3 6 7 9 9 9 10

BAB II METODOLOGI PENELITIAN ................................................................. A. B. Alat Dan Bahan ............................................................................................ Metode .........................................................................................................

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................ A. B. Tabel Hasil Pengamatan................................................................................ Pembahasan .................................................................................................

BAB IV PENUTUP ..............................................................................................   Kesimpulan................................................................................................... Saran ...........................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................

ii

Kultur In Vitro BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Tanaman pisang telah ada sejak manusia ada. Namun saat itu pisang masih merupakan tanaman liar yang tidak dibudidayakan, hal ini disebabkan oleh karena manusia pada awal kebudayaan hanya berperan sebagai pengumpul makanan dari alam tanpa perlu untuk menanamnya kembali. Namun setelah kebudayaan pertanian menetap dimulai, pisang termasuk dalam golongan tanaman pertama yang dipelihara (Suyanti dan Supriyadi, 2008). Di kalangan masyarakat yang tinggal di kawasan Asia Tenggara, diduga pisang telah lama dimanfaatkan terutama bagian tunas dan pelepahnya yang diolah sebagai sayur. Sedangkan pada saat ini bagian-bagian lain dari tanaman pisang pun juga telah dimanfaatkan (Suyanti dan Supriyadi, 2008). Pisang merupakan tanaman yang berasal dari Asia Tenggara dan kini tanaman pisang telah menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Buah pisang sangat popular dan disukai oleh semua lapisan masyarakat. Pisang yang dikonsumsi segar sebagai buah meja ini berasal dari persilangan alamiah antara Musa acuminate dengan Musa balbisiana yang kini turunannya dikenal lebih dari ratusan jenis pisang, yaitu pisang meja, pisang rebus (olahan), dan pisang hias. Adapun jenis dari pisang meja yang terkenal antara lain ambon kuning, ambon hijau (ambon lumut), ambon putih dan Cavendish (Sunarjono, 2006). Tanaman pisang yang dibudidayakan pada umumnya diploid, triploid dan tetraploid. Buah pisang banyak yang tidak berbiji (partenokarpi). Jenis pisang yang dikonsumsi segar ( buah meja) tidak berbiji oleh karena jumlah kromosomnya berlipat tiga (3n) yang disebut dengan istilah triploid. Sedangkan pisang meja yang berbiji (diploid) adalah pisang batu (klutuk) dan sedikit biji pisang siem dan kapok (kapok kuning lebih manis daripada kapok putih) (Sunarjono, 2006). Pada umumnya pisang ambon mempunyai daging buah yang lunak, rasa daging buahnya manis dan beraroma kuat. Sebagai buah meja pisang ambon dapat digunakan sebagai makanan pemula pada bayi. Adapun berat tiap tandannya berkisar antara 15 ± 25 kg yang terdiri dari 8 ± 14 sisir dan setiap sisir terdiri dari 14 ± 24 buah pisang. Panjang buahnya antara 15 ± 20 cm dengan diameter 3 ± 4 cm. Selain dikonsumsi sebagai buah segar, jenis pisang ambon ini sangat cocok untuk diolah menjadi sale pisang, sari buah dan selai (Suyanti dan Supriyadi, 2008).
1

Kultur In Vitro Untuk varietas unggul pisang yang diajurkan untuk pengembangan dalam budidaya adalah pisang ambon kuning, cavendish, raja bulu, dan barangan (Sunarjono, 2006). Menurut Suyanti dan Supriyadi (2008) dan Sunarjono (2006) tanaman pisang pada umumnya selalu diperbanyak secara vegetatif, yaitu dengan menggunakan anakan (sucker) yang tumbuh dari bonggolnya Dengan acara pemisahan anakan ini dari satu induk pisang dapat diperoleh sekitar 5 ± 10 anakan pertahun (Imelda, 1991). Sedangkan menurut Cahyono (1995) untuk memperbanyak bibit pisang dapat juga dilakukan dengan cara membelah-belah bonggol dari tanaman pisang (sesuai dengan jumlah mata tunas yang ada), dan setiap potongan itu sering disebut dengan istilah bit. Namun menurut Priyono et al., (2000) kendala pengadaan bibit unggul secara konvensional adalah sulit mendapatkan bibit yang berkualitas dalam jumlah besar dalam waktu yang singkat. Untuk mengatasi kendala tersebut maka pada saat ini tanaman pisang selain dari anakan juga diperbanyak dengan menggunakan kultur jaringan tanaman. Salah satu alternatif pengadaan bibit pisang secara vegetatif adalah dengan cara kultur jaringan atau kultur in vitro. Kultur jaringan merupakan suatu tehnik penanaman dengan menggunakan satu bagian kecil dari tubuh tanaman yang biasa disebut dengan eksplan. Eksplan dapat berupa sel, jaringan atau organ tumbuhan. Eksplan ditanam pada media tertentu (media buatan), serta dalam kondisi aseptic. Dikarenakan ukuran yang kecil, tehnik ini juga disebut dengan istilah teknik mikropropagasi (Katuuk, 1989). Dengan teknik kultur tunas pucuk secara in vitro, maka pelipat gandaan tunas dapat dilakukan dengan cepat, sehingga dalam waktu satu tahun bisa dihasilkan puluhan sampai ratusan ribu bibit yang berasal dari satu tunas pucuk. Meskipun demikian, daya multiplikasinya dapat bervariasi tergantung pada jenis atau kultivar (Vuylsteke dan Lenghe, 1984). Dengan demikian, masalah keterbatasan bibit dapat diatasi. Keunggulan lain dari bibit hasil teknik in vitro adalah bersih dari hama dan penyakit yang ditimbulkan oleh cendawan atau bakteri, karena diproduksi secara aseptic (Imelda, 1991). Saat ini teknik perbanyakan tanaman melalui kultur in vitro telah banyak diterapkan pada tanaman pangan industri salah satunya pada tanaman pisang (Musa paradisiaca L.). Para petani penanam pisang sangat menyukai bibit pisang hasil kultur jaringan karena bila dibandingkan dengan bibit asal biji atau anakan biasa, bibit pisang hasil kultur jaringan pertumbuhannya lebih pesat, seragam, dapat disediakan dalam jumlah banyak dengan waktu yang singkat, dan bebas patogen berbahaya (Avivi dan Ikrarwati, 2004).
2

Kultur In Vitro Dalam kultur jaringan pisang, sampai saat ini yang banyak dikenal adalah kultur dengan eksplan tunas dari bonggol. Sebagai eksplan adalah tunas dari bonggol yang tingginya 5 ± 10 cm. dan biasanya kalau eksplannya berupa tunas dari bonggol mengandung bakteri internal seperti Pseudomonas dan Erwinia (Gunawan, 1995). Pada perbanyakan tanaman hortikultura, dianjurkan melalui tunas aksilair, karena dapat menghasilkan bibit yang true-to-type (sesuai dengan sifat induknya). Tunas adventif , terutama yang melalui fase kalus, tidak dianjurkan dalam perbanyakan tanaman hortikultura, kecuali untuk tujuan seleksi dan variasi. Tunas adventif langsung, juga menunjukkan kemungkinan variasi, hanya dalam taraf lebih rendah daripada regenerasi melalui fase kalus (Gunawan, 1995). Pisang termasuk salah satu jenis tanaman hortikultura. Kultivar pisang yang telah berhasul dikulturkan secara in vitro, antara lain Cavendish (Matsumoto dan Yamaguchi, 1988; Bhagyalaksmi dan Singh, 1995), Dwarf Cavendish (Vuylsteke dan Langhe, 1984; Banerjee dan Langhe, 1985; Jarret dkk., 1985a; Fitchet dan Winnaar, 1988), Ambon (Hoesen, 1990; Setiyoko, 1995), Basrai (Ganapathi dkk., 1992), Maricongo (Gupta, 1986), Poyo ( ateille dan Foncelle, 1988), Saba (Damasco dan Barba, 1984; Jarret dkk., 1985b). Dan Willams (Hamill dkk., 1993). Dari sekian banyak jenis media dasar yang digunakan dalam teknik kultur jaringan, tampaknya media MS (Murashige dan Skoog) mengandung jumlah hara organik yang layak untuk memenuhi kebutuhan banyak jenis sel tanaman dalam kultur (Gunawan, 1990). Pada kultur in vitro tanaman pisang, ada beberapa macam media dasar yang digunakan. Beberapa contoh resep dasar yang digunakan, yaitu medium dasar Murashige dan Skoog (MS) (Swamy dkk., 1983; Cronauer dan Krikorian, 1984; Alvard dkk., 1993; Setiyoko, 1995), media dasar Murashige dan Tucker (MT) (Fitchet dan Winnaar, 1988), atau media dasar White (Ganapathi dkk., 1992). Karena untuk mengumpulkan zat-zat kimia bagi pembuatan suatu media kultur jaringan dibutuhkan biaya besar, juga untuk menimbang dan mencampur bahan-bahan tersebut ternyata cukup banyak menyita waktu, belum lagi ditambah kemungkinan terjadi kesalahan dalam mempersiapkan kultur media tersebut, maka sekarang banyak laboratorium yang menggunakan media kultur siap pakai, yang banyak terdapat dalam perdagangan. Beberapa pabrik sekarang menjual campuran dari bahan kimia penyusun media tersebut, dalam bentuk kering atau serbuk. Sebagai hasil dari pengalaman dalam menanam materi tumbuhan yang cukup banyak macamnya, doctor T. Murashige telah membuat sejumlah formulasi dari media untuk propagasi secara in
3

Kultur In Vitro vitro yang memenuhi kebutuhan masa sekarang. Beberapa industri sekarang telah menjual campuran mineral dan zat organic dari Murashige dan media organic, dengan atau tanpa agar. Juga berbagai formulasi Murashige yang dibuat khusus untuk spesies-species yang biasa dipropagasikan telah terdapat dalam perdagangan. Beberapa jenis media kultur jaringan yang lain juga bisa didapatkan. Untuk membuat media kultur dari campuran serbuk yang siap pakai, dilakukan dengan hanya melarutkan dalam sejumlah tertentu air yang kualitasnya memenuhi persyaratan,lalu menyesuaikan pH-nya, memasukkan dalam wadah-wadah, dan kemudian mensterilkan. (Wetherell, 1982) Menurut Wetherell (1982) peran sitokinin dalam kultur in vitro mempunyai dua peran penting yaitu merangsang pembelahan sel serta pembentukan dan perbanyakan tunas aksilar dan tunas adventif, tetapi kadar sitokinin yang optimum ini dapat menghambat pertumbuhan dan pembentukan akar. Sitokinin alami yang biasa digunakan adalah zeatin (4-hydroksi-3-methyltrans-2-butenylaminopurine) dan 2-iP (N6-(2-isopentenyl adenine). Sitokinin buatan meliputi BAP / BA ( 6-benzylaminopurine/benzyladenine ) dan kinetin (6-furfurylaminopurine) (George dan Sherrington, 1984). Kinetin adalah kelompok sitokinin yang berfungsi untuk pengaturan pembelahan sel dan morfogenesis. (Sriyanti dan Wijayani, 1994). Zat pengatur tumbuh yang sering digunakan untuk merangsang terbentuknya tunas pada kultur in vitro tanaman pisang adalah sitokinin (BAP). Konsentrasi yang ditambahkan ke dalam medium berkisar antara 0,7 ± 10 mgl-1 (Damasco dan Barba, 1984; Gupta, 1986; Hoesen, 1990; Widayati, 1992; Hamill dkk., 1993). Selain itu, ada juga yang menggunakan kinetin dengan konsentrasi antara 0,7 ± 5 mgl-1 (Gupta, 1986; Fitcher dan Winnaar, 1988; Setiyoko, 1995).

B. Tujuan Tujuan penelitian ini adalah mengetahui respon eksplan tunas pisang (Musa paradisiaca L. cv. Ambon) bila konsentrasi BAP dan Kinetin hanya satu kombinasi.

4

Kultur In Vitro BAB II

METODOLOGI PENELITIAN
A. Alat Dan Bahan Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur In Vitro, CV. Agri Bio Tech, Yogyakarta. Pelaksanaan penelitian lebih kurang selama 3 bulan , dimulai dari bulan September 2009 sampai dengan Desember 2009. Pisang yang digunakan untuk penelitian ini adalah pisang ambon ( Musa paradisiaca L. cv. Ambon ) yang diambil dari kebun milik CV. Agri Bio Tech, di kampung Jambon Sleman. Bahan yang digunakan untuk eksplan adalah tunas yang sedang tumbuh dari bonggol tumbuhan pisang, dengan diameter antara 5 ± 10 cm. Sedangkan medium yang digunakan adalah medium dasar MS (Murashige dan Skoog, 1962) siap pakai buatan Duchefa Biochemie, Belanda. Gula yang ditambahkan adalah gula biasa yang banyak dijual di pasaran umum. Agar yang dipakai adalah agar biasa yang banyak dijual di pasaran umum. Hormon yang diitambahkan adalah BAP 9 ppm dan kinetin. 1 ppm. Medium diatur pH-nya kurang lebih 5,8. Medium dimasukkan ke dalam botol-botol kultur dan disterilkan menggunakan autoclave. (121 ºC, 15 menit).

B. Metode Tunas tumbuhan pisang dicuci dan disikat sampai bersih dan bagian luar yang kering dan kotor dibuang. Setelah itu direndam dalam air sabun selama 15 menit dan setelah lima belas menit kemudian air sabun dibuang lalu dibilas dengan air mengalir selama 15 menit. Kemudian diambil dan ditiriskan. Kemudian selanjutnya eksplan yang berupa tunas dari bonggol pisang dilakukan sterilisasi dengan cara pembakaran sebanyak tiga kali. Setelah itu eksplan di bawa ke dalam laminar air flow, lalu tunas dari bonggol pisang tersebut diletakkan dalam cawan petri, lalu dikupas lagi dengan menggunakan scalpel hingga diameter bagian dasarnya berukuran 1 1,5 cm. Eksplan dipegang dengan menggunakan pinset dan ditanam dalam botol kultur. Satu botol kultur berisi 1 eksplan. Untuk tiap perlakuan menggunakan 5 ulangan. Botol kultur dipelihara dalam ruang kultur, dan diberi penyinaran dengan lampu TL 40 watt secara kontinyu selama 8 jam sehari, pada suhu 26 °C. Penggantian medium dilakukan apabila terjadi pencoklatan pada medium. Pengamatan dilakukan pada minggu ke 2, 4, 6, dan 8 setelah tanam. Pengamatan dilakukan secara kualitatif, yaitu ada tidaknya kalus pada eksplan, tumbuh tidaknya tunas, banyaknya tunas yang tumbuh, dan panjang tunas yang terbentuk.
5

Kultur In Vitro BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Tabel Hasil Pengamatan Setelah dilakukan pengamatan tentang ada tidaknya kalus pada eksplan, tumbuh tidaknya tunas, banyaknya tunas yang tumbuh, dan panjang tunas yang terbentuk maka hasilnya bisa dilihat pada tabel 1 sampai dengan tabel 4 di bawah ini : Tabel 1. Pengamatan pembentukan kalus pada eksplan BAP : KIN (ppm) MINGGU KE 2 4 + + + 9:1 + + + Keterangan : + = terbentuk kalus - = tidak terbentuk kalus + + + + 6 + + + + + 8 + + + + +

Tabel 2.Pengamatan pembentukan tunas pada eksplan BAP : KIN (ppm) MINGGU KE 2 4 + 9:1 Keterangan : + = sudah terbentuk tunas - = belum terbentuk tunas + + + + 6 + + + + + 8 + + + + +

6

Kultur In Vitro

Tabel 3.Pengamatan jumlah tunas yang terbentuk pada eksplan BAP : KIN (ppm) MINGGU KE 2 4 1 9:1 Rata-rata Keterangan : - = belum terbentuk tunas 1 1 1 1 1 6 2 1 2 1 3 1,8 8 4 2 3 2 4 3

Tabel 4.Pengamatan panjang tunas yang terbentuk pada eksplan ( dalam cm ) MINGGU KE 2 4 P1 Tunas 9:1 Rata-rata P1 Tunas 0,4 0,7 0,3 0,6 0,5 0,5 6 P1 Tunas 1 1,5 2,5 1,7 3 1,8 1,63 8 P1 Tunas 1 4 5,5 5,2 6,5 2,3 3,83

BAP : KIN (ppm)

P1 Tunas 2 1,2 1,5 1

P1 Tunas 3 0,5

P1 Tunas 2 3 4,8 1,4 5,5 1,7

P1 Tunas 3 2 1,4 1

P1 Tunas 4 2 0,7

B. Pembahasan Pada medium MS yang ditambahkan BAP 9 ppm dan Kinetin 1 ppm memperlihatkan hasil yang bagus, yaitu respon pertumbuhan yang dimulai dengan terbentuknya kalus pada bagian bekas irisan luka di minggu kedua setelah penanaman eksplan. Hal ini terjadi hampir pada seluruh eksplan yang ditanam. Adapun warna kalus yang terbentuk adalah putih kekuningan dan sifat kalus yang terjadi adalah remah. George dan Sherrington ( 1984 )

7

Kultur In Vitro menyebutkan bahwa keseimbangan dan interaksi antara auksin dan sitokinin, juga bisa menyebabkan pembentukkan kalus. Demikian juga dengan keseimbangan dan interaksi antara antara zat pengatur tumbuh endogen dan eksogen . Di duga penambahan BAP dan Kinetin mempengaruhi terbentuknya kalus pada eksplan tunas apikal pisang. Pada pengamatan minggu ke empat setelah penanaman terlihat eksplan sudah mulai membentuk tunas. Pembentukkan tunas ini dimungkinkan karena adanya kandungan sitokinin yang tinggi pada media penanaman eksplan (BAP 9 ppm dan kinetin 1 ppm). Fungsi sitokinin adalah merangsang pembentukan dan perbanyakan tunas aksilar. BAP dan kinetin merupakan zat pengatur tumbuh dari golongan sitokinin, maka proses pembentukan dan perbanyakan tunas dapat berjalan. Pada minggu ke empat, rata-rata tunas yang terbentuk adalah satu tunas dengan rerata panjang tunas 0,5 cm. Pada minggu keenam setelah penanaman, terjadi penambahan jumlah tunas yang terbentuk, yaitu rerata jumlah tunas yang terbentuk 1,8 tunas dengan panjang rerata tunas yang terbentuk 1,63 cm. Adanya penambahan rerata jumlah tunas yang terbentuk dan rerata panjang tunas yang terbentuk ini menunjukkan adanya pengaruh hormon BAP dan kinetin. Proses penambahan jumlah dan panjang tunas yang terjadi tidak berhenti di minggu ke enam saja akan tetapi terus berjalan sampai ke minggu ke delapan. Jumlah tunas yang terbentuk maupun panjang tunas yang terbentuk juga semakin bertambah, yaitu rerata tunas yang terbentuk 3 tunas dengan rerata tunas yang terbentuk 3,13 cm. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh zat pengatur tumbuh baik BAP maupun sitokinin masih berjalan. Dari pengamatan minggu kedua sampai dengan minggu ke delapan, eksplan baru menunjukkan proses pembentukan, multiplikasi, dan pemanjangan tunas, namun eksplan belum membentuk akar. Hal ini disebabkan dalam media kultur hanya terdapat zat pengatur tumbuh BAP dan kinetin dimana keduanya merupakan zat pengatur tumbuh dari golongan sitokinin yang merangsang pembelahan sel, pembentukan serta perbanyakan tunas aksilar, akan tetapi menghambat proses pembentukan dan pemanjangan akar. Diduga kandungan auksin endogen yang terdapat di dalam eksplan belum cukup untuk merangsang terjadinya pembentukkan akar.

8

Kultur In Vitro BAB IV PENUTUP  Kesimpulan Eksplan tunas pisang ( Musa paradisiaca L. cv. Ambon ) yang ditanam pada media MS + BAP 9 ppm dan Kinetin 1 ppm menunjukkan respon pembentukan tunas dan multiplikasi tunas. Jumlah rerata tunas yang terbentuk adalah 3 tunas dengan rerata panjang tunas 3,13 cm.  Saran Sebaiknya dalam melakukan penelitian, kita harus memperhatikan prosedur kerja agar penelitian yang kita lakukan dapat menghasilkan suatu kajian yang selanjutnya bisa diaplikasikan di lapangan.

9

Kultur In Vitro

DAFTAR PUSTAKA 
Himawan Achmad and Surono Agung, 2010, Multiplikasi Tunas Pisang Ambon Secara In Vitro Dengan Menggunakan Medium Murashige Dan Skoog Dengan Penambahan Hormon Benzylaminopurin Dan Kinetin, CV. AGRI BIO TECH, Ruang MP-1. 6 Gedung Fakultas FMIPA Universitas Brawijaya Malang, Malang.  Alvard, D., F. Cote and C Teisson, 1993, Comparison of Methodes of Liquid Medium Culture for Banana Micropropagation, Plant Cell, Tissue and Organ Cult., 32, 55 ± 60.  Avivi, S. dan Ikrarwati, 2004, Mikropropagasi Pisang Abaca ( Musa textillis, Nee ) melalui teknik Kultur Jaringan, Ilmu Pertanian Vol. II No. 2, 27 ± 34.  Banerjee, N. and E. De Langhe., 1985, A Tissue Culture Technique for Rapid Clonal Propagation and Storage Under Minimal Growth Condition of Musa, Plant Cell Reports, 4, 351 ± 354.  Bhagyalakshmi and N. S. Singh, 1995, Role of Liquid Versus Agar-gelled Media in Mass Propagation and Ex Vitro Survival in Bananas, Plant Cell, Tissue and Organ Cult, 41,71-73.  Cahyono, B., 1995, Pisang, Budidaya dan Analisis Usahatani Cetakan Pertama, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.  Cronauer, S. S. and A. D. Krikorian, 1984, Multiplication of Musa from Excised Stem Tips, Ann. Bot., 53, 321 ± 328.  Damasco, O. P. and R. C. Barba, 1984, In Vitro Culture of Saba Banana [ Musa sp. cv. Saba ( BBB ) ] Phil. Agr., 67, 351 ± 358.  Fitchet, M. and W. D. Winnaar, 1988, Effect of Sterillants and Nutrient Media on the Establishment of Shoot Tips of Two Banana Cultivars in Culture, Subtropika 9(3), 12 ± 16.  Ganapathi, T. R., P. Suprasanna, V. A. Bapat and P. S. Rao, 1992, Propagation of Banana Through Encapsulated Shoot Tips, Plant Cell Rep., 11, 571 ± 575.  George, E. F. and P. D. Sherrington., 1984, Plant Propagation by Tissue Culture, Handbook and Directory of Commercial Laboratories, Exegetic Ltd. England, 184-330.  Gunawan, L.W., 1990, Teknik Kultur Jaringan Tumbuhan. Laboratorium Kultur Jaringan, Pusat Antar Universitas (PAU) Bioteknologi. IPB, Bogor, 304  Gunawan, L. W., 1995, Teknik Kultur In Vitro Dalam Hortikultura, Cetakan I, PT. Penebar Swadaya, Jakarta, 35, 87.

10

Kultur In Vitro  Gupta, P. P., 1986, Eradication of Mosaic Disease and Rapid Clonal Multiplication of Bananas and Plantains Through Meristem Tip Culture, Plant Cell, Tissue and Organ Cult., 6, 33 ± 39.  Hamill, S. D, S. L. Sharrock and M. K. Smith, 1993, Comparison of Decontamination Methods Used In Initiation of Banana Tissue Cultures from Field-Collected Suckers, Plant Cell, Tissue and Organ Cult, 33, 343 ± 346.  Hoesen, D. S. H., 1990, Pemberian Zat Pengatur Tumbuh Adenin Dan Benzyl Aminopurine Pada Perbanyakan Tanaman Pisang ( Musa sp ) Kultivar Ambon, Raja Bulu, dan Tanduk Secara In Vitro, Prosiding Seminar Biologi Dasar I, Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi, LIPI, Bogor, 43 ± 48.  Imelda, M., 1991, Penerapan Teknologi In Vitro Dalam Penyediaan Bibit Pisang, dalam Prosiding Seminar Bioteknologi Perkebunan dan Lokakarya Biopolimer Untuk Industri, PAU Bioteknologi IPB, Bogor, 72 ± 76.  Jarret, R. L., J. B. Fisher and R. E. Litz, 1985a, Organ Formation in Musa Tissue Cultures, J. Plant Physiol, 121, 123 ± 130.  Jarret, R. L., W. Rodriguez and R. Fernandez, 1985b, Evaluation, Tissue Culture Propagation, and Dissemination of µSaba¶ and¶Pelipita¶ Plantains In Costa Rica, Sci. Hort., 25, 137 ± 147.  Katuuk, J. R. P., 1989, Teknik Kultur Jaringan Dalam Mikropropagasi Tanaman, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jendral Perguruan Tinggi, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, Jakarta, 3 - 6.  Mateille, T. and Foncelle, B., 1988. Micropropagation of Musa AAA cv Poyo in The Ivory Coast, Tropical Agricultural (Trinidad), 65, 325 - 328.  Matsumoto, K. and H. Yamaguchi, 1989, Nonwogen Materials as a Supporting Agent for In Vitro Culture of Banana Protocorm-Like Bodies, Trop. Agric. ( Trinidad ) 66 ( 1 ), 8-10.  Meldia, Y., Winarno, M., dan Sunyoto., 1992, Pengaruh IAA dan BAP Terhadap Inisiasi dan Multiplikasi Tunas Pada Beberapa Varietas Pisang Secara In Vitro, Penelitian Hortikultura, 5, 23-31.  Priyono, D. Suhandi, dan Matsaleh., 2000, Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh IAA dan 2-IP pada Kultur Jaringan Bakal Buah Pisang, Jurnal Hortikultura. 10 (3) , 183 ± 190.

11

Kultur In Vitro  Setiyoko, B., 1995, Kultur Meristem Tanaman Pisang ( Musa paradisiacal L. ) Kultivar Ambon Untuk Memperoleh Tanaman Yang Bebas Dari Cucumber Mosaic Virus, Skripsi, Fakultas Biologi UGM, Yogyakarta.  Sriyanti, D.P. dan A.Wijayani, 1994, Teknik Kultur Jaringan, Yayasan Kansius. Yogyakarta, 18, 54, 57, 63, 67, 69, 82-83.  Sunarjono, H. Drs., 2006, Berkebun 21 Jenis Tanaman Buah, Penebar Swadaya, Jakarta, 66 67.  Surono, A. dan A. Himawan, 2009, Perbanyakan Tiga Kultivar Pisang ( Musa paradisiaca L. ) Menggunakan Medium Murashige dan Skoog (MS) Instan dan Variasi Hormon Benzylaminopuryn ( BAP ), dalam Prosiding Bioteknologi Seminar Nasional Biologi XX dan Kongres Perhimpunan Biologi Indonesia XIV, UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang, 44 - 49.  Suyanti dan A. Supriyadi, 2008, Pisang, Budidaya, Pengolahan, dan Prospek Pasar, Edisi revisi, Penebar Swadaya, Jakarta, 37, 53 ± 56.  Swamy, D. R., S. Rao dan E. K. Chacko, 1983, Tissue Culture Propagation Of Banana, Scientica Hortic., 18, 247 ± 252.  Vuysteke, D. & E. D. Langhe, 1984, Feasibility of in vitro propagation of bananas and plantains. Trop. Agric. ( Trinidad ) 62(4): 323 ± 328.  Wetherel, D. F., 1982, Pengantar Propagasi Tanaman Secara In Vitro, Avery Publishing Group Inc, New Jersey, 51.  Widayati, E., 1992, Laporan Latihan Kultur Jaringan Pisang di Los Banos dan Davao, Philipina, Sub Balai Penelitian Holtikultura, Malang, 6.

12

Kultur In Vitro

13

Kultur In Vitro

14

Kultur In Vitro

15

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->