P. 1
Manajemen Penjaminan Mutu

Manajemen Penjaminan Mutu

|Views: 1,270|Likes:
Published by Faizal

More info:

Published by: Faizal on May 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/23/2013

pdf

text

original

DEFENISI MANAJEMEN PENJAMIN MUTU Sistem Penjaminan mutu merupakan sebuah perwujudan peningkatan upaya untuk menjaminkan proses

perguruan tinggi yang berkualitas, namun secara umum defisnisnya adalah: Sistem Penjaminan Mutu adalah suatu sistem manajemen untuk mengarahkan dan mengendalikan suatu organisasi/institusi dalam penetapan kebijakan, Sasaran , Rencana dan Proses/prosedur mutu serta pencapaiannya secara berkelanjutan (Continous improvement). Sistem Penjaminan Mutu adalah suatu sistem manajemen yang menjamin kesesuaian antara proses dengan output yang dihasilkan yang akan memberikan kepuasan stakeholders. Sistem Penjaminan Mutu merupakan sistem manajemen yang terdiri dari struktur organisasi, tanggungjawab, proses-proses, prosedur dan sumber daya yang digunakan untuk mencapai standar yang ditentukan berdasarkan persyaratan dan kebutuhan stakeholders dan organisasi Sistem Penjaminan Mutu adalah Sistem manajemen yang mengikutsertakan seluruh karyawan dari tingkatan organisasi, dengan penerapan konsep pengendalian kualitas dan metode statistik untuk mencapai kepuasan pelanggan dan yang mengerjakannya

Konsep Penjaminan Mutu 
Konsep Kualitas/mutu Kualitas telah menjadi isu kritis dalam persaingan modern dewasa ini, dan hal itu telah menjadi beban tugas bagi para manager menengah. Dalam tataran abstrak kualitas telah didefinisikan oleh dua pakar penting bidang kualitas yaitu Joseph Juran dan Edward Deming. Mereka berdua telah berhasil menjadikan kualitas sebagai mindset yang berkembang terus dalam kajian managemen, khususnya managemen kualitas. Menurut Juran Kualitas adalah kesesuaian untuk penggunaan (fitness for use), ini berarti bahwa suatu produk atau jasa hendaklah sesuai dengan apa yang diperlukan atau diharapkan oleh pengguna, lebih jauh Juran mengemukakan lima dimensi kualitas yaitu : a. b. Rancangan (design), sebagai spesifikasi produk Kesesuaian (conformance), yakni kesesuaian antara maksud desain dengan penyampaian produk aktual Ketersediaan (availability), mencakup aspek kedapatdipercayaan, ketahanan. Dan produk itu tersedia bagi konsumen untuk digunakan serta

c.

d. Keamanan (safety), aman dan tidak membahayakan konsumen e. Guna praktis (field use) , kegunaan praktis yang dapat dimanfaatkan pada penggunaannya oleh konsumen.

Tokoh lain yang mengembangkan managemen kualitas adalah Edward Deming. Menurut Deming meskipun kualitas mencakup kesesuaian atribut produk dengan tuntutan konsumen, namun kualitas harus lebih dari itu. Menurut Deming terdapat empatbelas poin penting yang dapat membawa/membantu manager mencapai perbaikan dalam kualitas yaitu : 1. Menciptakan kepastian tujuan perbaikan produk dan jasa 2. Mengadopsi filosofi baru dimana cacat tidak bisa diterima 3. Berhenti tergantung pada inspeksi missal 4. Berhenti melaksanakan bisnis atas dasar harga saja 5. Tetap dan continue memperbaiki system produksi dan jasa 6. Melembagakan metode pelatihan kerja modern 7. Melembagakan kepemimpinan 8. Menghilangkan rintangan antar departemen 9. Hilangkan ketakutan 10. Hilangkan/kurangi tujuan-tujuan jumlah pada pekerja 11. Hilangkan managemen berdasarkan sasaran 12. Hilangkan rintangan yang merendahkan pekerja jam-jaman 13. Melembagakan program pendidikan dan pelatihan yang cermat 14. Menciptakan struktur dalam managemen puncak yang dapat melaksanakan transformasi seperti dalam poin-poin di atas. Dengan memperhatikan pendapat dua tokoh kualitas di atas, nampak bahwa mereka menawarkan beberapa pandangan yang penting dalam bidang kualitas, pada intinya dapat difahami bahwa semua yang berkaitan dengan managemen kualitas atau perbaikan kualis yang diperlukan adalah penerapan pengetahuan dalam upaya meningkatkan/mengembangkan kualitas produk atau jasa secara berkesinambungan. Sementara itu David A Garvin mengemukakan delapan dimensi atau kategoro kritis dari kualitas yaitu : y Performance (Kinerja). Karakteristik kinerja utama produk.

y

Feature (profil). Aspek sekunder dari kinerja, atau kinerja tambahan dari suatu produk Reliability (kedapat dipercayaan). Kemungkinan produk malfungsi, atau tidak berfungsi dengan baik, dalam konteks ini produk/jasa dapat dipercaya dalam menjalankan fungsingan Conformance (kesesuaian). Kesesuaianatau cocok dengan keinginan/kebutuhan konsumen Durability (Daya tahan). Daya tahan produk/masa hidup produk baik secara ekonomis maupun teknis Serviceability (kepelayanan), diperbaiki kecepatan, kesopanan, kompetensi, mudah

y

y

y

y

y

Aesthetics (keindahan). Keindahan produk, dalam desain, rasa, suara atau bau dari produk, dan ini bersifat subjektif Perceived quality (kualitas yang dipersepsi). Kualitas dalam pandagan pelanggan/konsumen

y

Selain itu Banyak pakar lain yang mencoba mendefinisikan kualitas berdasarkan sudut pandangnya masing-masing. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut (Fandy Tjiptono. 2003:3) y Performance to the standard expected by the customer y Meeting the customer¶s needs the first time and every time y Providing our customers with products and services that consistently meet their needs and expectations. y Doing the right thing right the first time, always striving for improvement, and always satisfying the customer y A pragmatic system of continual improvement, a way to successfully organize man and machines y The meaning of excellence y The unyielding and continuing effort by everyone in an organization to understand, meet, and exceed the needs of its customers

y The best product that you can produce with the materials that you have to work with y Continuous good product which a customer can trust y Not only satisfying customers, but delighting them, innovating, creating. Meskipun tidak ada definisi mengenai kualitas yang diterima secara universal, dari definisi-definisi yang ada terdapat beberapa kesamaan, yaitu dalam elemen-elemen sebagai berikut: y Kualitas meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan. y Kualitas mencakup produk, ;jasa, manusia, proses, dan lingkungan. y Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah (misalnya apa Yang dianggap merupakan kualitas saat ini mungkin dianggap kurang berkualitas pada masa mendatang). 

Konsep Penjaminan Kualitas/mutu (quality assurance) Penjaminan kualitas adalah seluruh rencana dan lndakan sistematis yang penting untuk menyediakan kepercayaan yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan tertentu dari kualitas (Elliot, 1993). Kebutuhan tersebut merupakan refleksi dari kebutuhan pelanggan. Penjaminan kualitas biasanya membutuhkan evaluasi secara terus-menerus dan biasanya digunakan sebagai alat bagi manajemen. Menurut Gryna (1988), penjaminan kualitas merupakan kegiatan untuk memberikan bukti-bukti untuk membangun kepercayaan bahwa kualitas dapat berfungsi secara efektif (Pike dan Barnes, 1996). Sementara itu Cartin (1999:312) memberikan definisi penjaminan kualitas sebagai berikut : Quality Assurance is all planned and systematic activities implemented within the the quality system that can be demonstrated to provide confidence that a product or service will fulfill requirements for quality  Tujuan Penjaminan Kualitas/mutu Tujuan kegiatan penjaminan mutu bermanfaat, baik bagi pihak internal maupun eksternal organisasi. Menurut Yorke (1997), tujuan penjaminan (Assurance) terhadap kualitas tersebut antara lain sebagai berikut. 1. Membantu perbaikan dan peningkatan secara terus-menerus dan berkesinambungan melalui praktek yang terbaik dan mau mengadakan inovasi. 2. Memudahkan mendapatkan bantuan, baik pinjaman uang atau fasilitas atau bantuan lain dari lembaga yang kuat clan dapat dipercaya.

3.

Menyediakan informasi pada masyarakat sesuai sasaran dan waktu secara konsisten, dan bila mungkin, membandingkan standar yang telah dicapai dengan standar pesaing.

4. Menjamin tidak akan adanya hal-hal yang tidak dikehendaki. Selain itu, tujuan dari diadakannya penjaminan kualitas (quality assurance) ini adalah agar dapat memuaskan berbagai pihak yang terkait di dalamnya, sehingga dapat berhasil mencapai sasaran masing-masing. Penjaminan kualitas merupakan bagian yang menyatu dalam membentuk kualitas produk dan jasa suatu organisasi atau perusahaan. Mekanisme penjaminan kualitas yang digunakan juga harus dapat menghentikan perubahan bila dinilai perubahan tersebut menuju ke arah penurunan atau kemunduran. Berkaitan dengan penjaminan kualitas, Stebbing dalam Dorothea E. Wahyuni (2003) menguraikan mengenai kegiatan penjaminan kualitas sebagai berikut : y Penjaminan kualitas bukan pengendalian kualitas atau inspeksi. Meskipun program penjaminan kualitas (quality assurance) mencakup pengendalian kualitas dan inspeksi, namun kedua kegiatan tersebut hanya merupakan bagian dari komitmen terhadap mutu secara menyeluruh. y Penjaminan kualitas bukan kegiatan pengecekan yang luar biasa. Dengan kata lain, departemen pengendali kualitas tidak harus bertanggung jawab dalam pengecekan segala sesuatu yang dikerjakan oleh orang lain. y Penjaminan kualitas bukan menjadi tanggung jawab bagian perancangan. Dengan kata lain, departemen penjaminan kualitas bukan murupakan keputusan bidang perancangan atau teknik, tetapi membutuhkan orang yang dapat bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan dalam bidang-bidang yang dibutuhkan dalam perancangan.

y Penjaminan kualitas bukan bidang yang membutuhkan biaya vang sangat besar. Pendokumentasian dan sertifikasi yang berkaitan dengan penjaminan kualitas bukan pernborosan. y Kegiatan penjaminan kualitas merupakan kegiatm pengendalian melalui prosedur secara benar, selungga dapat mencapai perbaikan dalam efisiensi, produktivitns, dan profitabilitas. Penjaminan kualitas bukan merupakan obat yang mujarab untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Dengan penjaminan kualitas, justru akan dapat mengerjakan segala sesuatu dengan baik sejak awal dan setiap waktu (do it right the first time and every time). Penjaminan kualitas merupakan kegiatan untuk mencapai biaya yang efektif, membantu meningkatkan produktivitas.

y

y 

Perkembangan konsep Kualitas/mutu Mutu merupakan konsep yang terus mengalami perkembangan dalam pemaknaannya, menurut Garvin perspektif tentang Konsep mutu mengalami evolusi sebagai berikut, dia mengidentifikasi adanya lima alternatif perspektif kualitas yang biasa digunakan, yaitu: 1. Transcendental Approach Kualitas dalam pendekatan ini dapat dirasakan atau diketahui, tetapi sulit didefinisikan dan dioperasionalkan. Sudut pandang ini biasanya diterapkan dalam seni musik, drama, seni tari, dan seni rupa. Selain itu perusahaan dapat mempromosikan produknya dengan pernyataan-pernyataan seperti tempat berbelanja yang menyenangkan (supermarket), elegan (mobil), kecantikan wajah (kosmetik), kelembutan dan kehalusan kulit (sabun mandi), dan lain-lain. Dengan demikian fungsi perencanaan, produksi, dan pelayanan suatu perusahaan sulit sekali menggunakan definisi seperti ini sebagai dasar manajemen kualitas. 2. Product-based Approach Pendekatan ini menganggap kualitas sebagai karakteristik atau atribut yang dapat dikuantifikasikan dan dapat diukur. Perbedaan dalam kualitas mencerminkan perbedaan dalam jumlah beberapa unsur atau atribut yang dimiliki produk. Karena pandangan ini sangat objektif, maka tidak dapat menjelaskan perbedaan dalam selera, kebutuhan, dan preferensi individual. 3. User-based Approach Pendekatan didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada orang yang memandangnya, dan produk yang paling memuaskan preferensi seseorang (misalnya perceived quality) merupakan produk yang berkualitas paling tinggi. Perspektif yang subjektif dan demand-oriented ini juga menyatakan bahwa pelanggan yang berbeda memiliki kebutuhan dan keinginan yang berbeda pula, sehingga kualitas bagi seseorang adalah sama dengan kepuasan maksimum yang dirasakannya. 4. Manufacturing-based Approach Perspektif ini bersifat supply-based dan terutama memperhatikan praktik-praktik perekayasaan dan pemanufakturan, serta mendefinisikan kualitas sebagai sama dengan persyaratannya (conformance to requirements). Dalam sektor jasa, dapat dikatakan bahwa kualitasnya bersifat operations-driven. Pendekatan ini berfokus pada penyesuaian spesifikasi yang dikembangkan secara internal, yang seringkali didorong oleh tujuan peningkatan produktivitas dan penekanan biaya. Jadi yang menentukan kualitas adalah standar-standar yang ditetapkan perusahaan, bukan konsumen yang menggunakannya. Dalam konteks ini konsumen dipandang sebagai fihak yang harus menerima standar-standar yang ditetapkan oleh produsen atau penghasil produk 5. Value-based Approach

Pendekatan ini memandang kualitas dari segi nilai dan harga. Dengan mempertimbangkan trade-off antara kinerja dan harga, kualitas didefinisikan sebagai ³affordable excellence´. Kualitas dalam perspektif ini bersifat relatif, sehingga produk yang memiliki kualitas paling tinggi belum tentu produk yang paling bernilai. Akan tetapi yang paling bernilai adalah produk atau jasa yang paling tepat dibeli (best-buy).

sebagai isyu di perguruan tinggi Indonesia beberapa tahun lalu memang masih dipertentangkan namun sejalan dengan ³diakuinya´ oleh beberapa perguruan tinggi besar termasuk perguruan tinggi negeri Islam maka optimalisasi web webometrics sudah menjadi tujuan dan dijadikan program tahunan dan banyak yang menggunakan konsultan webometrics dari luar institusi. Konsultan webometrics merupakan tim yang secara khusus dan strategis digunakan untuk memantau dan analisa web perguruan tinggi dan berkelanjutan sebagai inspirasi program terencana untuk memperbaiki sistem terutama dalam web dan manajemen tim web yang diharapkan menjadi tumpuan harapan institusi klien nya untuk mencoba melihat keluar ,yaitu membuka mata terhadap perkembangan web perguruan tinggi lain dan tantangan global. Dalam beberapa bulan ini saya diminta mengisi workshop webometrics di beberapa perguruan tinggi baik swasta maupun negeri berkenaan dengan Strategi Penaikan Ranking Webometrics dan nilai strategis konsultan webometrics. Dalam materi ini saya sampaikan nilai strategis dan nilai minus pengunaan konsultan webometrics. Konsultan Webometrics Konsultam webometrics dapat diposisikan sebagai piha ekternal yang independen dan obyektif untuk melihat kedalam sebuah institusi dengan teknik reviewer yang sistematism sehingga keberadaan konsultasn webometrics adalah upaya untuk membangun kesetaraaan dengan tantangan dunia luar. Konsultan webometrics sebagai kekuatan eksternal yang lebur Menjadi konsultan webometrics pun perlu upaya memahami faktor SDM dibidang IT dalam sebuah perguruan tinggi secara melebur ke dalam gambaran sistem dan insfrastuktur. Disadari awarness terhadap kemanfaaatan webometrics terkadang belum merata disemua lini yang seharusnya membantu kesuksesan dalam mencapai ranking webometrics. Sehingga konsultan webometrics menjadi acuan utama untuk menjadikan web perguruan tinggi dan SDM ITnya bergeralk secara simultan menuju persaiangan global dengan salah satu faktornya yaitu keterbukaan perguruan tinggi terhadap hasil karya ilmiah, jurnal, skripsi, dan materi lainnya. Sehingga konsultan webometrics harus visioner dan dapat menjadi kekuatan eksternal untuk menggambarkan tantangan keluar dengan optimalisasi ke dalam perguruan tinggi. Sehingga kebuntuan dari Intenal perguruan tinggi dalam perbaikan kinerja bidang IT utamanya Sistem Web yang mendukung webometrics bisa dimenggunakan konsultan webometrics yang berkekuatan eksternal, sebagai kepanjangan tangan kepentingan internal dai perguruan tinggi/

Posted in Webometrics | No Comments »

Sistem Penjaminan Mutu : Struktur Badan Penjaminan Mutu UII

Posted by ipan on May 19th, 2009 Badan Penjaminan Mutu Universitas Islam Indonesia yang dibentuk tahun 1999, mempunyai stuktur organisasi sebagai berikut:

Struktur di atas terdiri dari: - Kepala Badan Penjaminan Mutu - Kepala Bidang Pelatihan dan Kerjasama - Kepala BIdang Pengukuran Statistik & SIstem Informasi - Kepala Bidang Pengendali Sistem Mutu - Kepala Bidang Audit Mutu Internal Di tingkat fakultas: - Pengendali Sistem Mutu Fakultas (2-3 orang) Untuk penjelesan fumgsi akan saya jelaskan pada artikel penjaminan mutu berikutnya. Posted in Sistem Penjaminan Mutu | No Comments »

Siklus Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi (UII)
Posted by ipan on May 19th, 2009 Dalam implementasi Sistem Penjaminan Mutu Perguruan TInggi, maka perlu adanya penjelasan dan sosialisasi SIklus Penjaminan MUtu agar semua elemen peguruan tinggi memahami bahwa Badan Penjaminan Mutu mempunyai agenda perbaikan yang terus menerus.

Gambar : Siklus Sistem Penjaminan Mutu Universitas Islam Indonesia Posted in Sistem Penjaminan Mutu | 3 Comments »

Sistem Penjaminan Mutu : Perbedaan mendasar Prosedur Mutu, Prosedur Kerja dan Instruksi Kerja
Posted by ipan on May 19th, 2009 Dalam sistem penjaminan mutu perguruan tinggi istilah-istilah perangkat penjaminan mutu seperri Prosedur Sistem Mutu, Prosedur KErja dan Instruksi Kerja, mungkin masih asing bagi kebanyakan orang. Atau mungkin sudah menjadi biasa namun tidak mempunyai kesatuan pemahaman yang utuh. Dalam satu bulan ini saya mendapatkan telepon dari personel unit penjaminan mutu perguruan tinggi yang pernah mengikuti pelatihan sistem penjaminan mutu UII, termasuk juga klien dari program pendampingan implementasi penjaminan mutu UII. Pertanyaan ini muncul justru karena mereka mendapatkan dana hibah PHKI dan mengontrak konsultan ISO. Read the rest of this entry » Posted in Sistem Penjaminan Mutu | 1 Comment »

Strategi Webometric : Pengaruh Google, Yahoo dalam menaikkan ranking PT Webometric
Posted by ipan on March 2nd, 2009 Webometric dengan bentuk webnya yang sederhana namun saat ini mampu membangkitkan banyak perguruan tinggi dunia untuk menyadari atas kelemahan di sector publikasi webnya dengan azas kemanfaatan yang luas dan tanpa batas. Ada sebuah perguruan tinggi besar dan ternama di Indonesia yang sampai membentuk Tim lengkap dengan struktural yang formal dan ber ST (Surat Tugas) yang terdiri dari para Profesor dan Doktor. Apakah yang terjadi? Mereka mencoba memacu kenaikan ranking Perguruan Tinginya agar ranking di webometric naik drastis. Setelah 6 bulan kemudian memang ranking nya naik, sangat signifikan. Setalah saya amati ternyata Tim itu telah menaikkan 15.000 file-file Dokumen nya selama 3 bulan, untuk memenuhi asas R dalam Webometric : Rich Files (R) Jumlah muatan atau volume file yang ada di situs Universitas dengan kententuan format file adalah: pdf, doc, ppt, ps Read the rest of this entry » Posted in Strategi Menang Webometric | 3 Comments »

Seputar Webometric : Faktor penentu rangking perguruan tinggi di Webometric
Posted by ipan on February 27th, 2009 Saat ini berbagai upaya pencapaian untuk meningkatkan performa perguruan tinggi sangat beraneka ragam mulai dari sistem penjaminan mutu sampai ke sistem perangking-an webomatric. Selain Webometric sebenarnya masih ada media sebagai parameter yang lain, namun saat ini webometric masih menjadi tujuan utama. Webometric bukanlah tujuan akhir, namun webometric yang merupakaan pemetaan dari kekuatan pergurua tinggi dibidang Social Networking baik interneal sekaligue ekternal. Apapun tujuan webomteric sangatlah kita hargai untuk memacu perguruan tinggi memacu partisipasi nya ke masyarakat luas, salah satunya dari publikasi penelitian. Webometric mengindikasikan 4 faktor penentu rangking antara lain: Read the rest of this entry » Posted in Strategi Menang Webometric | 1 Comment »

Konsep Sistem Penjaminan Mutu UII dalam Power point
Posted by ipan on February 6th, 2009 Sistem Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi di Indonesia kemunculannya sedikit terlambat dari negara lain, namun UII yogyakarta, setikdanya sudah memulai sebelum adanya regulasi dari DIKTi tentang Sistem Penjaminan Mutu. UII mendirikan unit penjaminan mutu dengan nama BKMPP pada tahun 1999, selanjutnya pada 2006, berganti nama BPM, Badan Penjaminan Mutu. Berikut materi untuk di download, Konsep Sistem Penjaminan Mutu UII Posted in Sistem Penjaminan Mutu | 1 Comment »

Resistensi dalam implementasi Sistem Penjaminan Mutu diperguruan tinggi
Posted by ipan on February 6th, 2009 Perguruan tinggi dalam implementasi sistem penjaminan mutu secara umum memunculakan resistensi, baik secara mayoritas maupun mioritas. Hal ini disebabkan karena tidak adanya kesadaran dan kebutuhan untuk menajdi baik secara sistemik, rata-rata perbaikan insitusi lebih kepada harapan dan cara pandang personal, sehingga muatan integrasi sistem penjaminan mutu tidak begitu sempurna. Dari hasil diskusi ketika menjadi pemateri pelatihan sistem penjaminan mutu BPM UII, paparan peserta dari berbagai perguruan tinggi tersebut dapat ditulis bahwa secara umum resistensi dalam implementasi sistem penjaminan mutu bisa muncul secara tiba tiba karena Read the rest of this entry » Posted in Sistem Penjaminan Mutu | No Comments »

Hambatan implementasi Sistem Penjaminan Mutu di Perguruan Tinggi
Posted by ipan on February 6th, 2009 Dalam implementasi Sistem Penjaminan Mutu di Perguruan Tinggi hambatan terbesar bukan pada konsep yang akan diimplementasikan, karena kemungkinan konsep dapat mengadopsi dari perguruan tinggi lain atau dengan sitem eksternal, ISO misalnya. Lalu apakah hambatan terbesar dari implementasi itu? Dari sekian hambatan implementasi Sistem Penjaminan Mutu yang diutarakan dari berbagai sumber dan saat bertemu diskui langsung dengan perguruan tinggi yang mengadakan

kunjungan studi banding ke Badan Penjaminan Mutu UII, kelom[ok besar nya antara lain: Read the rest of this entry » Posted in Sistem Penjaminan Mutu | 1 Comment »

Presentasi Perwakilan Mendiknas di Seminar Sistem Penjaminan Mutu UII
Posted by ipan on February 5th, 2009 Dalam acara Materi Seminar dan Workshop Nasional, ³Membangun Model Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi di Indonesia´ tanggal 27-28 Maret 2007 di Hotel garuda yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Indonesia, Dr Baedhowi, M.Si STAF AHLI MENDIKNAS BIDANG PENGEMBANGAN KURIKULUM DAN MEDIA PENDIDIKAN menyampaikan sambutan dan keynote speake sbb: PROLOG Read the rest of this entry » Posted in Sistem Penjaminan Mutu | 1 Comment »

Perangkat Sistem Penjaminan Mutu UII Yogyakarta
Posted by ipan on February 5th, 2009 Sistem Penjaminan Mutu PErguruan Tinggi Universitas Islam Indonesia di tahun 2008 ini memasuki tahun ke-10. Seperti dalam perjalanan menuju perbaikan tentu memiliki hambatanhambatan strategis baik secara admisnistrati maupun filosofis. Dalam perlanan pembangunan Sistem Penjaminan Mutu UII yang dikawal oleh Badan Penjaminan Mutu memiliki perangkat sistem penjaminan mutu agar implementasinya efektif, antara lain Read the rest of this entry » Posted in Sistem Penjaminan Mutu | 3 Comments »

Sistem Penjaminan Mutu UII : Kebijakan Mutu, Sasaran Mutu dan Prosedur Mutu
Posted by ipan on February 5th, 2009 Kebijakan Mutu UII Universitas Islam Indonesia sebagai Universitas bermutu menghasilkan

lulusan yang bermanfaat bagi masyarakat, menguasai ilmu ke-Islaman dan mampu menerapkan nilai-nilai Islami serta berdaya saing tinggi Sasaran Mutu UII Tepat Waktu Studi Lulusan, minimal 80 % Lulusan Berkarya pada satu tahun pertama, minimal 70 % Lulusan memenuhi standar kompetensi, minimal 80% Lulusan Berkarja Sesuai dengan Kompetensi, minimal 90% Nilai Kinerja Dosen 3,00, minimal 90 % Indeks Kepuasan Mahasiswa 3,00, minimal 80% Indeks Kepuasan User Lulusan 3,00, minimal 80% Jumlah lulusan dengan IPK Mata Kuliah Agama Tingkat Universitas 3,00, minimal 90 % 9. Jumlah Lulusan dengan Nilai Praktek Ibadah dan Baca Tulis Al-Qur¶an minimal B, minimal 90 % 10. Jumlah Lulusan dengan Nilai LKID minimal B,minimal 80 % Read the rest of this entry » Posted in Sistem Penjaminan Mutu | No Comments » 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Tujuan Sistem Penjaminan Mutu UII Yogyakartai
Posted by ipan on February 5th, 2009 Sistem Penjaminan Mutu Universitas Islam Indonesia telah diwujudkan pada thaun 1999 dengan pembentukan Badan Kendali Mutu dan Pengembangan Pendidikan, kemudian Berubah menjadi Badan Kendali Mutu dan sejak tahun 2006 sesuai dengan Resturukturisasi menjadi Badan Penjaminan Mutu Tujuan Sistem Penjaminan Mutu UII Yogyakarta 1. Menjamin Penyelenggaraan Pendidikan Sesuai Dengan Kebijakan Dan Peraturan Akademik Serta Standar Mutu Akademik Yang Telah Ditetapkan 2. Menjamin Lulusan Memiliki Standar Kompetensi Yang Telah Ditentukan Read the rest of this entry »

Posted in Sistem Penjaminan Mutu | No Comments »

Analisis Kritis terhadap Sistem Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi di AS

Posted by ipan on February 5th, 2009 Kriteria Peran Pemerintah Analisis Sangat minim. Karena memang sejak awal, UU sangat membatasi pemerintah terlibat dalam urusan publik. Kriteria Peran institusi-institusi pendidikan tinggi Analisis Sangat tinggi Read the rest of this entry » Posted in Sistem Penjaminan Mutu | No Comments »

Analisis Kritis terhadap Sistem Penjaminan Mutu Perguruan TInggi di Inggris
Posted by ipan on February 5th, 2009 Kriteria Peran Pemerintah Analisis Sangat kuat. Hal ini sesuai dengan kondisi di Inggris yang semua universitas adalah milik Pemerintah (public university). Implementasi QA bisa dilihat sebagai upaya Pemerintah untuk lebih mengendalikan atau mengontrol universitas dalam pemanfaatan dana-dana publik. Kriteria Peran institusi-institusi pendidikan tinggi Analisis Institusi pendidikan tinggi adalah pihak yang dikontrol. Kerangka QA telah ditetapkan secara nasional. Institusi mengembangkan kerangka organisasi dan kerangka prosedur untuk internal QA Read the rest of this entry » Posted in Sistem Penjaminan Mutu | No Comments »

Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi di Inggris
Posted by ipan on February 5th, 2009 Sistem penjaminan mutu pendidikan tinggi di Inggris telah dimulai sejak 1960-an ketika Council for National Academic Awards (CNAA) didirikan dengan tujuan memvalidasi program-program pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga non-universitas. Di era PM Margareth Thacther, µvalue for money¶, merupakan isu utama dengan adanya gerakan µnew public management¶. Gerakan ini mengharuskan adanya pertanggungjawaban terhadap dana-dana publik yang dialokasikan ke perguruan tinggi. Pada era sebelum PM Margareth Thacther, perguruan tinggi di Inggris, yang seluruhnya merupakan perguruan tinggi pemerintah, tidak pernah tersentuh oleh inspeksi atau penilaian kinerja dari pihak luar. Sejak awal berdirinya sekitar abad 12, universitas-

universitas di Inggris adalah institusi publik yang memiliki independensi dan otonomi penuh. Read the rest of this entry » Posted in Sistem Penjaminan Mutu | No Comments »

Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi di Amerika Serikat
Posted by ipan on February 5th, 2009 Di Amerika Serikat perkembangan sistem penjaminan mutu pendidikan tinggi sangat berbeda dengan di Inggris. Pendiri Republik Amerika Serikat sangat membatasi kekuasaan pemerintah di dalam meregulasi pendidikan tinggi yang dilandasi pada kekhawatiran timbulnya regulasi yang tersentralisir oleh pemerintah pusat. Oleh karena itu di dalam UU Republik Amerika Serikat, institusi sosial yang berbasis sukarela (voluntary associations) memainkan peran cukup kuat di dalam regulasi berbagai urusan masyarakat, termasuk pendidikan tinggi. Perkembangan sistem penjaminan mutu pendidikan tinggi di AS dimulai pada permulaan tahun 1780-an ketika the University State of New York diberi wewenang oleh Negara Bagiannya untuk mereview akademi-akademi yang ada di wilayahnya, khususnya meregistrasi kurikulum yang digunakan oleh setiap institusi pendidikan tinggi. Negara bagian lain ikut mengadopsi cara ini, misalnya Iowa pada tahun 1846, Washington pada tahun 1909, Virginia pada tahun 1912 dan Maryland pada tahun 1914. Read the rest of this entry » Posted in Sistem Penjaminan Mutu | No Comments »

Definisi Sistem Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi
Posted by ipan on February 5th, 2009 Sistem Penjaminan mutu merupakan sebuah perwujudan peningkatan upaya untuk menjaminkan proses perguruan tinggi yang berkualitas, namun secara umum defisnisnya adalah: Sistem Penjaminan Mutu adalah suatu sistem manajemen untuk mengarahkan dan mengendalikan suatu organisasi/institusi dalam penetapan kebijakan, Sasaran , Rencana dan Proses/prosedur mutu serta pencapaiannya secara berkelanjutan (Continous improvement). Sistem Penjaminan Mutu adalah suatu sistem manajemen yang menjamin kesesuaian antara proses dengan output yang dihasilkan yang akan memberikan kepuasan stakeholders. Sistem Penjaminan Mutu merupakan sistem manajemen yang terdiri dari struktur organisasi, tanggungjawab, proses-proses, prosedur dan sumber daya yang digunakan untuk mencapai standar yang ditentukan berdasarkan persyaratan dan kebutuhan stakeholders dan organisasi

Sistem Penjaminan Mutu adalah Sistem manajemen yang mengikutsertakan seluruh karyawan dari tingkatan organisasi, dengan penerapan konsep pengendalian kualitas dan metode statistik untuk mencapai kepuasan pelanggan dan yang mengerjakannya Posted in Sistem Penjaminan Mutu | No Comments »

Tujuan Penerapan Sistem Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi di Indonesia
Posted by ipan on February 5th, 2009 Sistem Penjaminan Mutu telah disadari bentuk dan manfaatnya dalam peningkatan kualitas secara berkala di perguruan tinggi. Walau secara umum masih bersifat simboliasi dalam rancangan mutu dalam almari dan kertas. Namun setidaknya merupakan gambaran sebuah itikad perbaikan secara kelembagaan. Secara umum penerapan sistem penjaminan mutu diperguruan tinggi mempunyai tujuan 1. Memberikan pedoman tentang satu siklus penjaminan mutu di perguruan tinggi 2. Memelihara dan meningkatkan mutu pendidikan tinggi secara berkelanjutan yang dijalankan perguruan tinggi secara internal untuk mewujudkan visi dan misinya serta untuk memenuhi kebutuhan stakeholder melalui penyelenggaraan tridharma perguruan tinggi 3. Memastikan seluruh kegitatan institussi berjalan dengan baik dan terus meningkat secara berkesinambungan 4. Membuktikan kepada seluruh stakeholder bahwa institusi bertanggungjawab untuk mutu seluruh kegiatannya Landasan penerapan Sistem Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi adalah untuk proses penetapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan pendidikan tinggi secara konsisten dan berkelanjutan sehingga stakeholder memperoleh kepuasan. Sistem Penjaminan MUtu sebagai bentuk sistem yang terus memonitor dan evaluasi proses pencapaian standar merupakan sebuah sistem yang harus diterima karena dampak kedepan sangatlah progresif. Baik untuk kepentingan mahasiswa maupun kepentingan perguruan tinggi. Tentu orangtua mahasiswa selalu berharap perguruan tempat anaknya bernaung adalah pilihan terbaik, nah apakah yang bisa dijaminmkan ke orangtua mahasiswa? Sistem Penjaminan MUtu yang terimplementasi dengan baik.

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah Perusahaan pada hakekatanya terdiri dari kumpulan orang-orang dan peralatan operasionalnya. Sehingga upaya pencapaian tujuan dalam memaksimalkan keuntungan dan berhasil atau tidaknya suatu misi perusahaan untuk mencapai tujuan ditentukan oleh individu-individu yang menjalankan manajemen yang dilaksanakan perusahaan.

Masalah Manajemen itu akan selalu ada bila perusahaan masih menjalankan aktivitasnya. Jadi manajemen sangat penting bagi seorang manajer dalam menentukan otoritas tertinggi untuk menggerakkan karyawan. Agar dapat melakukan aktivitas atau bekerja secara efektif bagi perusahaan demi tercapainya tujuan yang telah ditentukan. Seorang manajer dalam menggerakkan orang-orang untuk mendapatkan sesuatu haruslah mempunyai ilmu pengetahuan dan seni, agar orang mau melakukannya. Untuk itulah diperlukan suatu wadah yang dapat menghimpun setiap orang, wadah itulah yang disebut dengan organisasi.(Abdul Syani, 1987) Organisasi itu sendiri merupakan alat yang paling berhubungan dengan satuan-satuan kerja, yang diberikan kepada orang-orang yang ditempatkan dalam struktur wewenang. Sehingga pekerjaan yang akan dilaksanakan dapat dikoordinasikan oleh perintah para atasan kepada bawahan dari bagian puncak manajemen sampai kebawah dari seluruh unit/bagian. Perusahaan yang mempunyai organisasi yang baik dan teratur kemungkinan besar tidak akan mengalami hambatan-hambatan dalam mengerjakan tugasnya dengan efektif (sebaiknya/semaksimal mungkin). Dan begitu pula sebaliknya bila perusahaan tidak mempunyai organisasi yang baik dan teratur. Sehingga dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan yang diberikan oleh pimpinan kepada bawahan akan mengalami hambatan. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya rasa tanggung jawab dalam melaksanakan tugas yang diberikan oleh pimpinan kepada bawahan. Hubungan organisasi itu sangat penting bagi karyawan untuk melakukan tugasnya sehingga dapat mencapai efektivitas kerja karyawan yang diinginkan oleh pihak perusahaan, bila organisasi itu berjalan dengan baik pada perusahaan itu maka karyawan secara tidak langsung dapat melakukan tugasnya dengan semaksimal mungkin. Sehingga akan berdampak bagi kelangsungan dan perkembangan perusahaan untuk mencapai tujuan dan dapat bersaing dengan perusahaan lain. Karena itu bagi seorang pimpinan harus mampu untuk menggerakkan karyawan dalam melaksanakan pekerjaannya. Disamping itu juga pemimpin harus dapat mengatasi semua masalah yang ada pada perusahaan tersebut sebaik mungkin.(Sarwoto, 1989) PT Bank Bukopin Cabang Palembang adalah salah satu badan usaha yang kegiatannya bergerak dibidang jasa perbankan. Yang berusaha agar tetap hidup dan berkembang sehingga dapat mencapai tujuan atau

keuntungan serta tujuannya yang lain adalah dapat melayani dan memenuhi keinginan masyarakat sebaik mungkin. Dalam melaksanakan kegiatannya PT Bank Bukopin Cabang Palembang ini menginginkan agar semua karyawan dapat melakukan pekerjaan atau tugas dengan baik. Tapi dalam hal ini PT Bank Bukopin masih mengalami suatu masalah atau hambatan yaiu bagian atau unit kerja Back Office yang mempunyai subbagian kliring, bagian kontrol, bagian administrasi kredit, bagian transfer, bagian pajak, bagian deposito, bagian sundris. Pada bagian atau unit kerja ini terlihat masih adanya pembagian kerja yang kurang baik, dimana suatu pekerjaan yang dikerjakan oleh seorang karyawan bagian administrasi kredit melakukan juga pekerjaan bagian transfer, sehingga menyebabkan karyawan tersbeut tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya sesuai jadwal yang ditentukan dan sering terjadi penundaan pekerjaan sehingga bedampak pada lambatanya pelayanan bagian administrasi kredit pada PT Bank Bukopin Cabang Palembang terhadap nasabah, sehingga nasabah merasa tidak pusa terhadap pelayanan tersebut. Ini berarti masih adanya perangkapan pelaksanaan tugas dari pembagian kerja tersebut. Sehingga fungsi dari organisasi yang sesungguhnya itu kuag berjalan dengan baik atau semestinya. Seharusnya bagian administrasi kredit melakukan tugasnya sendiri dan bagian transfer dilakukan oleh karyawan tersendiri. Karena pada masing-masing tugas memerlukan waktu dan konsentrasi dalam melaksanakan pekerjaan tersebut selesai secara maksimal. Dengan kata lain karyawan dapat bekerja secara efektif bila karyawan melakukan pekerjaan sesuai dengan pembagian kerja yang baik. Serta masih kurang tegas dan luasnya pimpinan dalam memberikan pendelegasian wewenang kepada bawahan. Dalam hal ini pimpinan masih turut campur dalam pelaksanaan pekerjaan. Sehingga manajer operasi pada saat membuat suatu keputusan tidak dapat membuat keputusan itu sendiri dengan cepat dan mengakibatkan terhambatnya kegiatan operasional perusahaan yang lain tertunda. Akibatnya aktivitas kerja di dalam perusahaan tersebut mengalami kemacetan dan sangat jelas berdampak merugikan perusahaan. Selain itu juga mengakibatkan timbulnya karyawan tersebut menjadi merasa tidak dipercaya dan tida dapat melakukan pekerjaan dalam melaksanakan tugas yang sebelumnya telah diserahkan kepadat. Di karenakan pembagian kerja dan pendelegasian wewenang itu sangat penting. Penulis melihat hal tersebut merupakan masalah penting bagi kelangsungan hidup organisasi perusahaan, terutama bagi karyawa dalam menjalankan tugasnya dengan efektif. Karena masalah tersebut sangat penting bagi pelaksanaan atau aktivitas kerja untuk mencapai tujuan perusahaan maka penulis tertarik meneliti masalah tersebut yang terjadi pada PT Bank Bukopin yaitu dengan judul HUBUNGAN PEMBAGIAN KERJA DAN WEWENANG KARYAWAN TERHADAP PRESTASI KERJA PADA BANK BUKOPIN CABANG PALEMBANG BULAN MEI 2007. 1.2 Perumusan Masalah 1. Apakah ada hubungan pembagian kerja dan wewenang karyawan secara simultan terhadap prestasi kerja karyawan ?

2. Apakah ada hubungan secara partial pembagian kerja dengan prestasi kerja karyawan ? 3. Apakah ada hubungan secara partial wewenang karyawan dengan prestasi kerja karyawan ? Manajemen penjaminan mutu

Sistem Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi, unsur ke 3 (tiga) adalah seperangkat (alat) yang digunakan digunakan untuk menjamin mutu. Alat ini merupakan sebuah sistem manajemen. Banyak sistem manajemen, namun sistem manajemen yang bisa digunakan untuk menjamin proses produk tidaklah banyak. Sistem Manajemen Mutu (SMM) berbasis ISO 9000, salah satunya. SMM ISO 9000, ini merupakan sistem manajemen berbasis proses (by process). Artinya, untuk menghasilkan produk yang baik sesuai dengan produk yang direncanakan, maka proses awal sampai akhir juga harus bermutu baik. Sistem manajemen ini pada pencegahan proses penyimpangan, sehingga sejak proses awal sudah harus baik. Fokus sistem manajemen ini, menekankan kepada kepuasan pelanggan (mahasiswa dan pihak pengguna jasa lainnya). Ada juga sistem manajemen mutu yang berbasis pada hasil (by result). Sistem manajemen ini, titik tekannya pada pengukuran hasilnya. Tidak memandang bahwa proses bukan hal yang penting namun hasil itulah hal yang utama. Sistem manajemen ini lebih mengede-pankan pencapaian hasil yang maksimal sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh lembaga sertifikasi atau akreditasi.Sistem manajemen mutu yang berbasis pada hasil ini misalnya Malcom Balgride, Deming Award, dsb. Sistem yang demikian ini, lebih tepat digunakan oleh perguruan tinggi yang sistem manajemennya telah tertata dan sistem dokumentasinya sudah baik. Adapun sistem manajemen mutu berbasis proses ini dibutuhkan oleh perguruan tinggi yang tata kelola baik sistem manajemennya maupun dokumentasinya belum tertata baik. Karena perguruan tinggi di Indonesia pada umumnya tata kelola manajemennya belum tertata baik, maka penggunaan sistem manajemen berbasis proses ini lebih baik. Sistem manajemen yang berbasis proses yang terkenal dan telah menjadi acuan di dunia internasional adalah ISO 9000:2000. ISO 9000:2000 sebagai Alat Penjaminan Mutu Sistem Manajemen Mutu ISO 9000:2000, merupakan sistem manajemen yang mensyaratkan sebuah organisasi bermutu bila telah mengimplementasikan 5 (lima) standar ISO, yaitu : Tanggungjawab Manajemen, Pengelolaan Sumberdaya, Pengelolaan Proses, Pengelolaan Pengukuran dan Penilaian serta Sistem Terdokumentasi. Kelima standar ini disebut Klausulklausul ISO 9000:2000. Adanya standar ini maka perguruan tinggi dapat dinilai apakah proses penyelenggaraannya telah dilakukan secara efektif dan efisien ataukah tidak. Sistem Manajemen Mutu ISO 9000:2000 ini, sistem yang menyinergikan semua kegiatan untuk mencapai tujuan perguruan tinggi, yang tercermin dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan utama dari perguruan tinggi adalah pendidikan dan pengajaran. Kegiatan pendidikan dan pengajaran ini akan menghasilkan suatu produk pendidikan berupa seorang sarjana. Bagaimana agar proses yang diselenggarakan dapat menghasilan seorang sarjana yang memenuhi kebutuhan masyarakat? Oleh karena itu proses menghasilkan ini harus ada lembaga menjaminnya, dalam hal ini adalah unit penja-minan mutu. Alat yang digunakan untuk menjamin mutu proses adalah SMM ISO 9000:2000.

SISTEM PENJAMINAN MUTU Meskipun bermacam-macam nama. Namun tetap satu tugas utama dari Unit Penjaminan Mutu, yaitu menjamin mutu penyelenggaraan dan pengelolaan lembaga perguruan tinggi, sehingga jasa layanan yang disediakan benar-benar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan stakeholder lainnya. Melihat dari tugas yang diemban oleh unit ini, tidaklah mungkin lembaga ini hanya sebagai unit pelengkap. Karena unit ini sangat strategis maka sudah sewajarnya DIKTI mewajibkan keberadaan unit ini disetiap Perguruan Tinggi. Tuntutan yang demikian ini, berkonsekuensi bagi Pimpinan Perguruan Tinggi untuk tidak main-main dalam membentuk unit penjaminan mutu ini. Lembaga ini sarat data-data yang diperlukan untuk pengambilan keputusan pimpinan. Sangat naïf, memandang lembaga ini sebagai lembaga pelengkap atau sekedar memenuhi persyaratan akreditasi saja. Bagaimana Struktur Organisasi Unit Penjaminan Mutu Ini? Untuk memudahkan dan memperoleh gambaran tentang struktur organisasi dari unit penjaminan mutu ini, maka bisa dilihat peran Management Representative (MR) dalam ISO 9000. MR ini merupakan Wakil Manajemen. Artinya, sebenarnya MR ini memiliki kewenangan yang lebih besar dalam bidang penjaminan mutu. Karena kedudukannya sebagai mewakili pimpinan Perguruan Tinggi, meskipun bukan Wakil Rektor secara struktural. MR ini sifatnya independen, diluar struktur, dan berfungsi sebagai unit yang memelihara, mengawal dan memberi informasi serta bertanggungjawab kepada Pimpinan Perguruan Tinggi (langsung Rektor). Berikut ini wewenang dan tanggungjawab MR menurut ISO 9000, yaitu: 1. Memastikan proses yang dibutuhkan untuk sistem manajemen mutu dibuat, diterapkan dan dipelihara, 2. Melaporkan kepada Pimpinan Puncak tentang kinerja sistem manajemen mutu dan kebutuhan-kebutuhan apa yang diperlukan untuk peningkatannya, 3. Memastikan promosi dan sosialisasi kepedulian persyaratan pelanggan keseluruh organisasi. Dari wewenang dan tanggungjawab MR tersebut, maka dapat dirumuskan bahwa di setiap tingkatan (level) pimpinan dari Pucuk Pimpinan, Pimpinan Tengah, dan Pimpinan Bawah ada unit yang berfungsi seperti MR. Misal di tingkat Universitas maka MR ini lembaganya Badan Penjaminan Mutu Universitas. Tingkat Fakultas maka MR ini lembaganya BPM-Fakultas. Tingkat Program Studi, MR ini lembaganya BPM-Program Studi. Namun, agar tidak terlalu banyak unit-unit penjaminan mutu dan lebih mengefektifkan dan mengefisienkan kerja BPM, maka semua unit itu diintegrasikan menjadi satu. BPM hanya di tingkat Universitas. Unit BPM ditingkat Fakultas cukup Penjamin Mutu Fakultas, ditingkat Prodi Penjamin Mutu Prodi. Siapakah personil Management Representative ? Personil yang menduduki sebagai MR haruslah orang yang kompeten. Artinya, bukan sembarang orang yang dapat duduk sebagai MR. Persyaratan utama seorang MR, harus memiliki kapasitas dalam sistem manajemen mutu. Kapasitas yang diperoleh tidak sekedar dari pelatihan saja tetapi juga dari sisi pengalaman dan komitmen terhadap keberlangsungan sistem manajemen mutu.

Independen, bebas dari jabatan struktural dan jabatan lainnya yang mengikat sehingga mengurangi independensinya. Baik personil yang duduk di Badan Penjaminan Mutu Universitas, Penjamin Mutu Fakultas maupun Penjamin Mutu Prodi memiliki persyaratan yang sama. Personil-personil Badan Penjaminan Mutu Tingkat Universitas Selain Kepala Badan Penjaminan Mutu, maka perlu ditambah Kepala Bidang yang dibutuhkan. Misalnya, Kepala Bidang Penjamin Mutu, Kepala Bidang Pengukuran, dan Kepala Bidang Audit Mutu Internal. Kepala Bidang Penjamin Mutu membawahi Penjamin Mutu Fakultas dan Penjamin Mutu Prodi. Kepala bidang Penjamin Mutu dibantu oleh seorang staff Pengendali Dokumen. Bagaimanapun juga, kompetensi dari personil merupakan hal yang tidak dapat ditawar. Karena unit ini bukan unit structural tetapi unit professional dan strategis persyaratan kompetensi lebih utama dibanding persyaratan lainnya. Demikian, gambaran sekilas tentang unit penjaminan mutu bagi perguruan tinggi. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi para perguruan tinggi ketika akan membentuk atau melengkapi personilpersonil unit penjaminan mutu. Namun, demikian semuanya itu bergantung pada sumberdaya yang dimiliki, tidak perlu dipaksakan seperti gambaran tersebut. Terpenting semuanya itu disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi dari masing-masing perguruan tinggi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->