P. 1
makalah_eksekusi

makalah_eksekusi

|Views: 207|Likes:
Published by Aulia Amanda

More info:

Published by: Aulia Amanda on May 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/05/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Suatu perkara perdata diajukan oleh pihak yang bersangkutan kepada pengadilan untuk mendapatkan penyelesaian. Pemeriksaan perkara memang diakhiri dengan putusan, akan tetapi dengan dijatuhkan putusan saja belum dapat menyelesaikan persoalan. Putusan itu harus dapat dilaksanakan, sehingga putusan hakim mempunyai kekuatan eksekutorial, yaitu kekuatan untuk dilakasanakan apa yang ditetapkan dalam putusan itu secara paksa oleh alat-alat Negara. Adapun yang memberi kekuatan eksekutorial pada putusan hakim ialah kepala putusan yang berbunyi “ Demi Keadilan berdasarkan Ke-Tuhanan Yang Maha Esa”. Tidak semua putusan hakim dapat dilaksanakan dalam arti kata yang sebenarnya, yaitu secara paksa oleh pengadilan. Hanya putusan condemnatoir sajalah yang dapat dilaksanakan. Putusan declaratoir dan contituf tidaklah memerlukan sarana-sarana pemaksaa untuk melaksanakannya. Karena tidak dimuat adanya hak atas suatu prestasi, maka terjadilanya akibat hukum tidak tergantung pada bantuan atau ketersediaan para pihak yang dikalahkan, maka oleh karena itu tidak diperlukan sarana-sarana pemaksa untuk menjalakannya. Suatu putusan hakim yang telah memperoleh kekuatan hukum yng pasti dapat dilaksanakan secara sukarela oleh yang bersangkutan, yaitu oleh pihak yang dikalahkan. Apabila suatu perkara telah diputus dan telah memperoleh kekuatan hukum yang pasti, maka pihak yang dikalahkan secara sukarela dapat melaksanakan

1

2. Yogyakarta.putusan tersebut. Hukum Acara Perdata Indonesia. Pihak yang dimenangkan dalam putusan dapat mohon pelaksaan putusan (eksekusi) kepada pengadilan yang akan melaksankannya secara paksa (execution force).247 2 . Liberty. sering terjadi bahwa pihak yang dikalahkan tidak mau melaksanakan putusan hakim secara sukarela sehingga diperlukan bantuan dari pengadilan untuk melaksanakan putusan tersebut secara paksa. Rumusan Masalah Bagaimana prosedur pelaksanaan sita eksekusi lelang hak tanggungan? 1 Sudikno Mertokusumo. Dengan demikian maka selesailah perkaranya tanpa mendapat bantuan dari pengadilan dalam melaksanakan putusan tersebut. Pelaksanaan putusan hakim atau eksekusi pada hekekatnya tidak lain adalah realisasi daripada kewajiban pihak yang bersangkutan untuk memenuhi prestasi yang tercantum dalam putusan tersebut.1 1. Akan tetapi. h.

maka tidak perlu dinyatakan sah dan berharga. maka fungsi pembekuan harta kekayaan debiturlah yang lebih penting. Penyitaan ini disebut sita eksekutorial. Putusan yang Dapat Dimohonkan Eksekusi Perdata Secara konkrit dapat dikatakan bahwa pelaksanaan putusan hakim atau eksekusi berarti menguangkan bagian tertentu dari harta kekayaan pihak yang dikalahkan atau debiturdengan tujuan untuk memenuhi putusan guna kepentinagn pihak yang dimenangkan atau kreditur. Oleh karena sita conservatoir itu tujuannya adalah untuk menjamin terlaksananya putusan. maka sita conservatoir ini setelah putusan dijatuhkan memperoleh title eksekutorial oleh karena sita conservatoir itu di dalam putusan tersebut dinyatakan sah dan berharga. suatu penyitaan yang didasarkan atas title eksekutorial.BAB II PEMBAHASAN 2. Untuk dapat menguangkan harta kekayaan debitur. kecuali apabila sebelumnya telah diadakan sita conservatoir.255 3 . Eksekusi suatu putusan perdata itu dimulai dengan sita eksekutorial.1. maka harta kekayaan tersebut haruslah disita atau dibekukan lebih dulu.2 Pelaksanaan putusan harus diminta oleh pihak yang bersangkutan dan tidak 2 Ibid h. sedang pada sita eksekutorial fungsi penjualannyalah yang lebih penting. Oleh karena sita eksekutorial itu didasarkan atas title eksekutorial.

HR 8 Okt. Putusan Pengadilan yang bersifat serta merta. b.dapat dilaksanakan secara ex officio. 117. kecuali dalam hal-hal sebagai berikut: • Gugatan didasarkan pada bukti surat otentik atau surat tulisan tangan yang tidak dibantah kebenaran tentang isi dan tanda tangannya. Putusan yang sudah berkekuatan tetap adalah putusan yang sudah tidak mungkin lagi dilawan dengan upaya hukum verzet. dan kasasi. 1955. gudang dan lain-lain. Ketua Pengadilan Agama dan para hakim Pengadilan Negeri dan hakim Pengadilan Agama menjatuhkan putusan serta merta. rumah. N.J. 3 tahun 2000 pada dasarnya Mahkamah Agung melarang Ketua Pengadilan Negeri.1982.J. yang menurut undang-undang tidak mempunyai kekuatan bukti. • Dikabulkannya gugatan provisional. atau penyewat terbukti melalaikan kewajibannya sebagai penyewa yang beritikad baik. N. dengan pertimbangan hukum yang tegas 3 HR 4 Nov. banding. • Pokok gugatan mengenai tuntutan pembagian harta perkawinan (gono-gini) setelah putusan mengenai gugatan cerai mempunyai kekuatan hukum tetap. Berdasarkan SEMA no. Dan putusan pengadilan yang dapat dilaksanakan adalah: a. 1956. 1984. 58) 4 .3 Pelaksanaan putusan / eksekusi adalah putusan pengadilan yang dapat dilaksanakan. Putusan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde) . di mana hubungan sewa menyewa sudah habos/lampau. • Gugatan tentang sewa-menyewa tanah. • Gugatan tentang hutang-piutang yang jumlahnya sudah pasti dan tidak dibantah.

2. Barang bergerak yang ada di tangan orang lain pun dapat juga disita.. Pasal 231 KUHP mengancam dengan pidana barang siapa yang menjauhkan atau menyembunyikan barang yang disita. 198 HIR.197 ayat 1 HIR.65 5 . surat berharga dan barang bergerak yang bertubuh. Barang bergerak yang telah disita harus dibiarkan menurut keadaan pada waktu disita pada orang yang terkena sita supaya menyimpannya dan tidak mengasingkannya. Pasal 30 PP 10/1961 4 Sudikno Mertokusumo. maka berita acara penyitaan diberitahukan kepada untuk diumumkan. 213 Rbg). Termasuk dalam barang bergerak adalah adalah uang.197 ayat 8 HIR. 208 Rbg).229 Rbg).dan jelas serta memenuhi pasal 332 Rv • Gugatan didasarkan putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dan mempunyai hubungan dengan pokok gugatan yang diajukan. tetapi tidak boleh dijalankan atas hewan dan alat-alat yang digunakan untuk mencarin mata pencaharian (ps. Op. • Pokok sengketa mengenai bezitsrecht (hak penguasaan). Dalam Rbg dimungkinkan untuk menyita piutang dari pihak yang dihukum yang dapat ditagihnya dari pihak ketiga ( ps. Barang bergeraklah yang harus didahulukan untuk disita secara eksekutorial.4 2. h.Cit. Pemberitahuan ini maksudnya tidak lain agar barang yang disita itu tidak diperjual-belikan (ps. Barang yang Dapat Dikenai Sita Eksekusi Barang yang dapat disita secara eksekutorial teruatama adalah barang bergerak milik pihak yang dikalahkan (ps. 211 Rbg). Dalam hal penyitaan barang tetap.

untuk pelunasan hutang tertentu. 114 Rbg)5. dimana objek yang menjadi jaminan suatu hutang (perikatan) 5 Sudikno Mertokusumo. Sejak berita acara oenyitaan diumumkan. Hak Tanggungan dikenal sebagai hak jaminan yang dilahirkan oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA). Tinjauan Tentang Hak Tanggungan Sebelum lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria. 2. pihak yang terkena sita tidak boleh memindahkan.199 HIR. istilah Hak Tanggungan belum dikenal. membebani. Sehingga.1.3. yang selanjutnya disebut Hak Tanggungan adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang peraturan dasar pokok-pokok agraria. dapat disimpulkan yang dimaksud Hak Tanggungan adalah suatu lembaga hak jaminan. Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah memberikan defenisi Hak Tanggungan sebagai berikut: Hak Tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah. Op Cit. 257 6 .3.mewajibkan oanitera Pengadilan Negeri untuk mendaftarkan penyitaan atas tanah kepada Kepala Kantor Pendaftaran Tanah. atau menyewakan barang tetap tersebut (ps. yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap kreditor-kreditor lainnya. Eksekusi Hak Tanggungan 2. h.. berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan suatu kesatuan dengan tanah itu.

Hak milik.adalah benda yang berupa tanah. c. (3) Pembebanan hak tanggungan pada hak pakai atas tanah hak milik akan diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. (4) Hak Tanggungan dapat juga dibebankan pada hak atas tanah berikut bangunan. dan yang merupakan milik pemegang hak atas tanah yaang pembebanannya dengan tegas dinyatakan di dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan yang bersanngkutan. b. Adapun ketentuan objek hak tanggungan dimaksud adalah sebagai berikut: (1) Hak atas tanah yang dapat dibebani hak tanggungan adalah: a. tanaman. dan hasil karya yang telah ada atau akan ada yang merupakan satu kesatuan dengan tanah tersebut. dan hasil karya sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak dimiliki oleh pemegang hak atas tanah. (2) Selain hak-hak atas tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Dalam ketentuan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 4 tahun 1996 tentang Hak Tanggungan ditentukan pula objek hak tanggungan. Hak guna bangunan. tanaman. hak pakai atas tanah negara yang menurut ketentuan yang berlaku wajib didaftar dan menurut sifatnya dapat dipindahtangankan dapat juga dibebani hak tanggungan. pembebanan hak tanggungan atas benda-benda tersebut hanya dapat dilakukan dengan penandatanganan serta pada Akta Pemberian Hak Tanggungan yang bersangkutan oleh pemiliknya atau yang 7 . (5) Apabila bangunan. Hak guna usaha.

tanaman dan hasil karya diatas tanah itu. Hal ini bertujuan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan apabila cidera janji dimana sertifikatnya tidak dapat ditarik.6 Sertifikat hak atas tanah yang dibubuhi catatan pembebanan Hak Tanggungan harus dikembalikan kepada pemberi Hak Tanggungan (pemegang hak atas tanah) kecuali apabila diperjanjikan dalam APHT (Akta Pemberian Hak Tanggungan) bahwa dapat diberikan pada pemegang Hak Tanggungan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3632 8 . Berdasarkan Pasal 4 ayat (4) dan ayat (5) Undang-Undang Nomor 4 tahun 1996 tentang Hak Tanggungan. Hak-hak atas tanah selain yang dimaksud pada Pasal 4 ayat 1. Namun berdasarkan ketentuan tersebut tidak semua hak atas tanah sekalipun merupakan hak atas tanah menurut ketentuan Undang-Undang Pokok Agraria bisa menjadi objek Hak Tanggungan. (Lembaran Negara Tahun Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 42. Sertifikat Hak Tanggungan yang berfungsi sebagai surat tanda bukti adanya Hak Tanggungan dibubuhi “irah-irah” dengan kata-kata Demi Keadilan Ketuhanan Yang Maha Esa untuk memberikan kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.diberi kuasa untuk itu olehnya dengan akta otentik. Menurut Pasal 4 ayat 2 Undang-Undang Nomor 4 tahun 1996 tentang Hak Tanggungan. Hak Pakai atas tanah Negara yang menurut ketentuan yang berlaku wajib didaftar dan menurut sifatnya dapat dipindahtangankan dapat juga dibebani Hak Tanggungan. 6 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan. ada ketentuan yang harus diperhatikan bagi sahnya hak tanggungan agar hak tanggungannya dapat berikut bangunan.

Ketentuan tersebut memberikan kepastian bagi kreditor apabila debitor cidera janji dengan memberikan kemungkinan dan kemudahan untuk pelaksanaan parate eksekusi sebagaimana diatur dalam Pasal 224 HIR dan Pasal 258 Rbg. Salah satu kelebihan dari sertikat Hak Tanggungan adalah adanya hak yang diberikan oleh Undang-Undang kepada pemegang Hak Tanggungan berupa eksekutorial yang sama dengan putusan pengadian yang telah memiliki kekuatan hukum yang tetap dan dapat berfungsi sebagai pengganti grosse akta hipotik pada hak atas tanah. dikunjungi pada tanggal 31 Oktober 2009.7 7 Tirtha Enola Marundu. Pemberi hak tanggungan ini bisa orang perseorangan atau badan hukum dengan syarat mereka mempunyai kewenangan untuk melakukun perbuatan hukum terhadap hak atas tanah yang dimilikinya. 9 .49. apabila dilakukan melalui pelelangan umum. pelaksanaan tetap mengikuti prosedur dan ketentuan yang berlaku.puspasca. www.ugm.id. maka kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap objek hak tanggungan diharuskan ada pada pemberi hak tanggungan pada saat pembuatan buku tanah hak tanggungan. h. Penjualan objek Hak Tanggungan dalam hal cidera janji. Oleh karena itu harus dibuktikan keabsahannya kewenangan tersebut pada saat didaftarnya hak tanggungan yang bersangkutan oleh kantor pertanahan. maka pemegang Hak Tanggungan dapat menjual objek Hak Tanggungan melalui pelelangan umum berdasarkan titel eksekutorial yang dimilikinya.ac. “Eksekusi Hak Tanggungan Sebagai Langkah Terakhir Penyelesaian Kredit Investasi Macet Pada Bank Pemerintah”. Apabila timbul wanprestasi.Lahirnya hak tanggungan adalah pada saat didaftarnya hak tanggungan tersebut.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam ayat (7) Pasal 200 HIR bahwa pemberi Hak Tanggungan yaitu debitur tidak diperkenankan lagi untuk mencegah pelelangan tersebut dan membayar semua hutangnya itu.2 Pelaksanaan Eksekusi Lelang Hak Tanggungan Berdasarkan Pasal 20 Undang-Undang Hak Tanggungan menyebutkan antara lain bahwa obyek Hak Tanggungan dijual melalui pelelangan umum/menurut tata cara yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan untuk pelunasan piutang pemegang Hak Tanggungan. dilaksanakan oleh Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN) dan Kantor Pelayanan Piutang Lelang Negara (KP2LN) adalah dalam kerangka yuridis Undang-Undang Nomor 49 Prp Tahun 1960 yang tetap mengacu pada Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996. Pemegang Hak Tanggungan berdasarkan titel eksekutorial yang terdapat dalam Sertifikat Hak Tanggungan menjual melalui pelelangan umum sesuai 10 . Petunjuk terhadap pelaksanaan lelang hak tanggungan adalah sebagai berikut: 1. Pemegang Hak Tanggungan pertama menjual objek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum Pasal 6 Undang. Pelaksanaan eksekusi lelang hak tanggungan mengacu pada Surat Edaran Nomor : SE-23/PN/2000 yang dikeluarkan oleh Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara Departemen Keuangan Republik Indonesia.3. b.Undang Hak Tanggungan. Berdasarkan pasal 20 ayat [1] Undang-Undang Hak Tanggungan [UUHT]. Eksekusi lelang agunan hutang Hak Tanggungan yang. maka lelang eksekusi Hak Tanggungan dapat dilaksanakan sebagai berikut : a.2.

yaitu apabila debitur cidera janji pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual objek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut. g. Pengumuman lelang mengikuti tata cara pengumuman lelang eksekusi. Tidak diperlukan persetujuan debitur untuk pelaksanaan lelang. Pasal 11 ayat [2] huruf e UUHT.pasal 14 ayat [2] Undang-undang hak tanggungan. f. Dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan harus dimuat janji sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 Jo. b. Nilai limit sedapat mungkin ditentukan oleh Panitia. Penjualan objek Hak Tanggungan tersebut pada dasarnya dilakukan dengan cara lelang dan tidak memerlukan fiat eksekusi dari pengadilan mengingat penjualan berdasarkan pasal 6 UUHT ini merupakan tindakan pelaksanaan perjanjian. Pelaksanaan lelang pasal 6 UUHT ini dapat melibatkan Balai Lelang pada 11 . Lelang Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud pada butir 1 huruf a berdasarkan pasal 6 UUHT memberikan hak kepada kreditur pemegang hak Tanggungan pertama untuk menjual objek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri apabila debitur pemberi Hak Tanggungan cidera janji [wanprestasi]. c. Pelaksanaan lelang melalui Pejabat Lelang Kantor Lelang Negara. e. d. 2. Bertindak sebagai pemohon lelang adalah Kreditur pemegang Hak Tanggungan Pertama. Oleh karenanya dalam pelaksanaan lelangnya harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a.

Penjualan ini merupakan pelaksanaan titel eksekutorial dari sertifikat Hak Tanggungan yang memuat irah-irah “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KE-TUHANAN YANG MAHA ESA” yang mempunyai kekuatan yang sama dengan putusan Hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Lelang Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud pada butir 1 huruf b dilaksanakan dalam hal lelang berdasarkan pasal 6 UUHT tidak dapat dilakukan karena Akta Pemberian Hak Tanggungan tidak memuat janji sebagaimana dimaksud pada pasal 6 Jo. Pelaksanaan 12 . Penjualan objek Hak Tanggungan ini pada dasarnya dilakukan secara lelang dan memerlukan fiat eksekusi dari pengadilan. Salinan/fotocopy bukti bahwa debitur wanprestasi yang dapat berupa peringatan-peringatan maupun pernyataan dari Pimpinan/Direksi Bank yang bersangkutan selaku kreditur.jasa pra-lelang. • • Salinan/fotocopy sertifikat hak atas tanah yang dibebani hak tanggungan. Pasal 11 ayat [2] huruf e atau adanya kendala / gugatan dari debitur / pihak ketiga. • Surat pernyataan dari Pimpinan/Direksi Bank yang bersangkutan selaku kreditur yang isinya akan bertanggung jawab apabila terjadi gugatan. h. Dokumen persyaratan lelang antara lain terdiri dari : • • Salinan/fotocopy Perjanjian Kredit Salinan/fotocopy Sertifikat Hak Tanggungan & Akta Pemberian Hak Tanggungan. 3.

atas kesepakatan pemberi Hak Tanggungan dan Pemegang Hak Tanggungan. Salinan/fotocopy penetapan sita pengadilan. Penjualan semacam ini tidak boleh dilakukan secara lelang. penjualan obyek Hak Tanggungan dapat dilaksanakan dibawah tangan. g. Salinan/fotocopy surat pemberitahuan lelang pada termohon eksekusi. Berdasarkan Pasal 20 ayat [2] UUHT. 4. b. e. Bertindak sebagai pemohon lelang adalah Pengadilan Negeri. Pelaksanaan lelang melalui Pejabat Lelang Kantor Lelang Negara. d. c.lelangnya harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. Tidak diperlukan persetujuan debitur dalam pelaksanaan lelang. Nilai limit sedapat mungkin ditentukan oleh penilai. f. Dokumen persyaratan lelang antara lain terdiri dari : • • • • • • Salinan/fotocopy penetapan aanmaning/teguran. Pelaksanaan lelang ini dapat melibatkan Balai Lelang pada jasa pralelang. Pengumuman lelang mengikuti tata cara pengumuman lelang eksekusi. Salinan/fotocopy berita acara sita.8 8 Surat Edaran Nomor : SE-23/PN/2000 yang dikeluarkan oleh Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara Departemen Keuangan Republik Indonesia Sehubungan dengan dikeluarkannya Surat Edaran Nomor 19/PN/2000 tentang Pelaksanaan Surat Edaran Nomor SE-21/PN/1998 tentang petunjuk Pelaksanaan Pasal 6 Undang-Undang Hak Tanggungan 13 . Salinan/fotocopy penetapan lelang pengadilan Salinan/fotocopy perincian hutang atau jumlah yang harus dipenuhi.

banding. putusan yang dapat dimohonkan 14 . Putusan yang sudah berkekuatan tetap adalah putusan yang sudah tidak mungkin lagi dilawan dengan upaya hukum verzet.1. dan kasasi. Kesimpulan Putusan pengadilan yang dapat dilaksanakan adalah putusan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde). Selain itu.BAB III PENUTUP 3.

apabila dilakukan melalui pelelangan umum. Apabila debitur melakukan wanprestasi. untuk pelunasan hutang tertentu. Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah memberikan defenisi Hak Tanggungan sebagai berikut: Hak Tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah. berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan suatu kesatuan dengan tanah itu. Penjualan objek Hak Tanggungan dalam hal cidera janji. 15 . Ketentuan tersebut memberikan kepastian bagi kreditor apabila debitor cidera janji dengan memberikan kemungkinan dan kemudahan untuk pelaksanaan parate eksekusi sebagaimana diatur dalam Pasal 224 HIR dan Pasal 258 Rbg. maka pemegang Hak Tanggungan dapat menjual objek Hak Tanggungan melalui pelelangan umum berdasarkan titel eksekutorial yang dimilikinya. yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap kreditor-kreditor lainnya. dimana objek yang menjadi jaminan suatu hutang (perikatan) adalah benda yang berupa tanah.untuk eksekusi adalah putusan yang bersifat serta merta. Sehingga. yang selanjutnya disebut Hak Tanggungan adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang peraturan dasar pokok-pokok agraria. Hak Tanggungan dikenal sebagai hak jaminan yang dilahirkan oleh UndangUndang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA). dapat disimpulkan yang dimaksud Hak Tanggungan adalah suatu lembaga hak jaminan.

Prosedur pelaksanaan eksekusi lelang hak tanggungan mengikuti Surat Edaran Nomor : SE23/PN/2000 yang dikeluarkan oleh Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara Departemen Keuangan Republik Indonesia Sehubungan dengan dikeluarkannya Surat Edaran Nomor 19/PN/2000 tentang Pelaksanaan Surat Edaran Nomor SE21/PN/1998 tentang petunjuk Pelaksanaan Pasal 6 Undang-Undang Hak Tanggungan. Politeia. Surat Edaran . Bogor.. LN No. Yogyakarta. 1995 . 3632. Hukum Acara Perdata Indonesia. Liberty. R. DAFTAR PUSTAKA Buku Mertokusumo.pelaksanaan tetap mengikuti prosedur dan ketentuan yang berlaku. RIB / HIR Dengan Penjelasan. Sudikno. TLN No. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan. 2002 Perundang-undangan Soesilo. Surat Edaran Nomor : SE-23/PN/2000 yang dikeluarkan oleh Badan Urusan 16 . 42 tahun 1996.

Piutang dan Lelang Negara Departemen Keuangan Republik Indonesia Sehubungan dengan dikeluarkannya Surat Edaran Nomor 19/PN/2000 tentang Pelaksanaan Surat Edaran Nomor SE-21/PN/1998 tentang petunjuk Pelaksanaan Pasal 6 UndangUndang Hak Tanggungan.ac.ugm. Internet www.puspasca.id 17 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->