Paper

TINJAUAN AKUNTANSI FORENSIK PADA KASUS BLBI
D I S U S U N OLEH

Ansari Abror Rambe Ahmad Hanafi Ade Irma Suryani Hidayati

FAKULTAS
INSTITUT AGAMA

SYARI’AH
ISLAM NEGERI

TINJAUAN AKUNTANSI FORENSIK PADA KASUS BLBI
KRONOLOGI KASUS BLBI Berawal dari krisis ekonomi yang menerpa negara-negara di Asia tahun 1997. Satu per satu mata uang negara-negara di Asia merosot nilainya. Kemajuan

Thailand. Ini merujuk pada kewajiban BI untuk memberikan bantuan kepada bank dalam situasi darurat. Bank Indonesia mulai melakukan pengetatan likuiditas dengan menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dari 6% menjadi 14%. Akibatnya. Sesehat apa pun sebuah bank. Penyimpangan BLBI dapat dianggap sebuah lembaran hitam dalam kehidupan perbankan nasional. menjadi Rp. dari Rp. Sementara penanganan terhadap kasus-kasus penyimpangan BLBI tersebut dapat pula dicatat sebagai sebuah lembaran hitam dalam sejarah kehidupan hukum Indonesia. Penyimpangan BLBI dimulai ketika BI memberikan dispensasi kepada bankbank umum untuk mengikuti kliring meskipun rekening gironya di BI bersaldo debet. Bekas Gubernur Bank Indonesia Soedradjad Djiwandono dianggap bertanggung jawab dalam pengucuran BLBI. Dispensasi diberikan kepada semua bank tanpa melakukan pre-audit untuk mengetahui apakah bank tersebut benar-benar membutuhkan bantuan likuiditas dan kondisinya sehat. 304 (12%). World Bank tahun 1997 menerbitkan laporan berjudul The Asian Miracle yang menunjukkan kisah sukses pembangunan di Asia. . banyak bank yang tidak mampu mengembalikan BLBI. Persis sebelum krisis ekonomi. apabila uang dari masyarakat ditarik serentak tentu tidak akan sanggup memenuhinya. 192 (8%).perekonomian negara-negara di Asia yang banyak dipuji oleh banyak pihak sebelumnya menjadi angin kosong belaka. Guna mengurangi tekanan terhadap rupiah. Untuk mengatasi pelemahan rupiah. Menyusul jatuhnya mata uang Baht. Dana talangan yang dikucurkan oleh BI ini yang dikenal dengan BLBI . Ternyata kesuksesan pembangunan ekonomi di negara-negara Asia tersebut tidak berarti banyak karena pada kenyataannya negara-negara tersebut tidak berdaya menghadapi spekulan mata uang yang tinggi dan berujung pada krisis ekonomi. Akibat kondisi ini bank-bank umum kemudian meminta bantuan BI sebagai lender of the last resort . Bank Indonesia kemudian memperluas rentang intervensi kurs jual dan kurs beli rupiah. nilai rupiah ikut merosot.

164. Semua pemilik Bank penerima dana BLBI Penyelesaian yang telah dilakukan Audit oleh BPK Tanggal 31 Desember 1999. Audit Badan Pemeriksa Keuangan pada Agustus 2008 menunjukkan. Pengalihan hak tagih BLBI dari BI terhadap bank umum penerima kepada pemerintah merupakan tindak lanjut dari pengalihan 54 Bank dalam Penyehatan dari BI ke BPPN pada Maret 1998 dan pelaksanaan program penjaminan pemerintah yang dicanangkan melalui persetujuan bersama Gubernur BI dan Menteri Keuangan pada tanggal 6 Februari 1999. Tidak adanya pengawasan oleh BI terhadap bank pengguna dana BLBI 3. Sepuluh tahun sejak kasus ini mencuat. 80. Sebagian penunggak dana BLBI lolos kewajiban melunasi utang saat pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 8 . sebanyak Rp 138 triliun dari dana itu atau sekitar 96 persennya ternyata diselewengkan pemilik bank untuk kepentingan sendiri. Banyak pemilik bank atau obligor melarikan diri ke luar negeri.536. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah mengeluarkan laporan audit kinerja pada Bank Indonesia per 17 Mei 1999. Tidak adanya pengendalian yang memadai oleh BI terhadap penggunaan dana BLBI Orang-orang yang yang terlibat dan bertanggung jawab dalam kasus BLBI 1.Identifikasi Masalah 1.24 triliun. pemerintah dinilai tak serius menyelesaikannya. Soedradjad Djiwandono (Mantan Gubernur BI) 2. Pengucuran dana BLBI tanpa audit oleh BI 2. Dalam laporan tersebut BPK mengungkapkan jumlah BLBI yang telah disalurkan oleh BI kepada bank penerima telah mencapai jumlah Rp. Tidak adanya sangsi dari BI terhadap penyelewengan dana BLBI 4.10 miliar dan jumlah BLBI yang tidak layak dialihkan kepada pemerintah sebesar Rp.

tindak lanjut pengungkapan kasus itu tak ada kemajuan yang berarti. Sedangkan yang sudah dilimpahkan ke pengadilan hanya enam kasus. Sedangkan BPKP melakukan audit investigasi penggunaan BLBI pada 10 Bank Beku Operasi dan 18 Bank Beku Kegiatan Usaha. Hingga akhir 2002. BPKP melakukan audit terhadap Bank Beku Operasi (BBO) dan Bank Beku Kegiatan Usaha (BBKU).Tahun 2002 yang memungkinkan lepasnya tuntutan dan pembebasan terhadap mereka. BPKP menyebutkan bahwa kerugian negara disebabkan oleh peranan BI yang belum melakukan pengawasan sebagaimana mestinya. BPK melakukan audit terhadap seluruh penyaluran BLBI dari BI kepada 48 bank penerima dan audit investigasi terhadap penggunaan BLBI pada 5 Bank Take Over dan 15 Bank dalam likuidasi. Bahkan. belum menerapkan sanksi terhadap pelanggaran yang terjadi. baru 20 dalam proses penyelidikan dan penyidikan. Namun. Selain itu BPKP juga menganggap tidak adanya pengendalian yang memadai oleh BI terhadap penggunaan dana BLBI oleh para obligor sebagai faktor yang turut memperkeruh . Peraturan ini diterbitkan di masa pemerintahan Megawati Soekarno PutriHamzah Haz. Tuntutan untuk mengusut kasus BLBI memang selalu muncul mewarnai pergantian pemerintahan hingga pergantian jaksa agung baru. dan lalai melakukan pengamanan terhadap bank yang laporannya ada indikasi pelanggaran. Audit oleh BPKP Audit investigasi juga dilakukan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). pada era pemerintahan SBY-JK. tidak ada satu orang terdakwa pun yang diajukan ke pengadilan. Sedangkan BPK melakukan audit investigasi terhadap Bank Dalam Likuidasi (BDL) dan Bank Take Over (BTO). Menteri Keuangan Bambang Sudibyo meminta BPKP melakukan audit investigasi berkoordinasi dengan BPK Untuk mengetahui berbagai penyimpangan dalam kasus BLBI baik yang dilakukan oleh BI maupun bank penerima BLBI. Dalam laporannya. dari 52 kasus BLBI.

Ada beberapa catatan penting terkait dengan kontroversi BLBI : . Jika tidak. Dari jumlah tersebut. pembayaran kontrak derivatif baru atau kerugian karena kontrak derivatif lama yang jatuh tempo. BPKP juga menemukan sejumlah penyimpangan dalam penggunaan BLBI pada bank penerima.54 triliun sudah dialihkan kepada pemerintah lewat BPPN.54 triliun. Penempatan baru di Pasar Uang Antar Bank (PUAB) atau pelunasannya yang tidak sesuai ketentuan. Pernyataan tersebut kemudian disangkal oleh Gubernur BI Syahril Sabirin yang menyatakan bahwa BLBI yang diberikan BI merupakan konsekuensi dari pelaksanaan pemerintah sebagai lender of the last resort di bidang perbankan.penanganan kasus ini. ekonomi sudah hancur dan ambruk.. Kritik Dari data yang kami dapat. 54. Selain itu. Bila dilakukan perhitungan penyimpangan yang dilakukan oleh bank penerima berjumlah Rp. Syahril Sabirin beranggapan BLBI itu seperti ongkos yang harus ditanggung sebagai bagian untuk penyelamatan ekonomi. Rp. Apalagi penyelesaian yang berlarut-larut menunjukkan betapa pemerintah dan khususnya penegak hukum tidak mempunyai sikap yang jelas dan tegas. Sementara Rp. Gubernur BI juga menyampaikan bahwa jumlah BLBI yang sudah dikucurkan sampai pada posisi 29 Januari 1999 adalah Rp. 20 triliun tidak dapat dialihkan ke BPPN karena merupakan penyertaan modal pemerintah lewat Bank Exim. seperti digunakan untuk pembayaran pinjaman subordinasi sebelum tahun 1997. Dalam kesempatan itu. 144.561 Milyar. dan Membiayai over head Bank. pemeriksaan kasus BLBI selalu mengundang kontroversi karena melibatkan para konglomerat besar dan pejabat teras. 164.

Korupsi selalu melibatkan lebih dari satu pihak. Akan tetapi tidak ada upaya yang serius. • Kedua. padahal pada saat yang sama media massa dengan gencar mempersoalkan korupsi dana BI yang diduga juga dipergunakan untuk kepentingan pejabat BI. Kasus BLBI tidak hanya melibatkan pengusaha yang merugikan negara.• Pertama. Jaksa hanya memanggil tersangka tertentu saja. Para jaksa di Gedung Bundar terlihat sibuk melakukan pemeriksaan dengan memanggil banyak saksi. Adalah Inpres No. yang dipanggil adalah Anthony Salim yang mewakili Keluarga Soedono Salim. • Ketiga. Keberadaan Inpres No. 8 tahun 2002 yang membebaskan obligor BLBI dari tuntutan pidana bila telah mengantongi surat keterangan lunas (SKL). 8 tahun 2002 menunjukkan bagaimana jaksa tampak tidak serius menegakan hukum. Bahkan ada obligor yang belum mengantongi SKL tidak pernah diperiksa secara terbuka oleh Kejaksaaan. Bagaimana dengan tersangka yang lain? Ada lebih dari 50 tersangka dalam kasus BLBI tetapi tidak semua diperlakukan sama oleh Kejaksaaan. dalam kasus korupsi ada istilah “it takes two to tango”. mantan pemilik BCA. Seharusnya. Bahkan Kejaksaan Agung juga tidak meninjau kembali SP3 yang dikeluarkan terhadap mantan Direktur Bank Indonesia. Pada bulan Desember 2007 lalu. sebelum melakukan pemeriksaan. dari sisi kebijakan tampak ada inkonsistensi. Dalam perkembangannya. Jaksa bisa meminta Presiden untuk mencabut Inpres yang kontradiktif dengan hukum positif di Indonesia karena pengembalian kerugian negara tidak serta merta menghilangkan aspek pidana. tetapi juga otoritas perbankan yang mengucurkan dana BLBI. tidak tampak upaya Kejaksaan untuk mengejar pertanggungjawaban otoritas perbankan yang memberikan BLBI tanpa melakukan pengawasan dengan benar. . baik yang diperkaya secara tidak sah maupun pejabat publik yang menyalahgunakan kekuasaan. bahkan cenderung tutup mata terhadap kebijakan resmi pemerintah dalam penyelesaian BLBI.

dan pendapatan negara lainnya. ada beberapa langkah yang harus diambil oleh pemerintah : • Pertama. Publik juga akan pesimis bahwa semua tindakan pemanggilan saksi dan tersangka hanya akan berakhir pada “/deal”/ untuk kepentingan penegak hukum dan elit politik. persidangan kasus BLBI juga tidak menunjukkan keseriusan pemerintah dan pengadilan untuk menjatuhkan hukuman seberat-beratnya terhadap tersangka kasus korupsi paling besar dalam sejarah republik ini. Lalu bagaimana dengan yang lain? Sebagian diantaranya telah mengantongi SKL. 600 triliun yang harus dibayar oleh APBN. Dalam kasus . jangan pernah berharap ada penegakan hukum dalam kasus BLBI. Saran Agar kasus BLBI bisa diselesaikan. Sedangkan sisanya mendapat hukuman ringan. pajak. bahkan lebih dari 50% dihukum di bawah dua tahun. sebetulnya secara finansial kerugian yang ditimbulkan oleh BLBI sangat besar. Tanpa pencabutan Inpres itu.53 triliun kini telah membengkak lebih dari Rp. dihentikan proses hukumnya melalui SP3 dan ada pula yang tidak jelas status hukumnya. dari 16 kasus yang sudah dituntaskan di pengadilan. tampak tidak ada pemidanaan yang menjerakan. Utang yang semula dikucurkan Rp. dan tidak menjadi komoditi politik dan hukum serta berujung pada mafia peradilan.• Keempat. pemerintah harus mencabut Inpres No. Coba lihat statistik penanganan kasus korupsi BLBI. 8 tahun 2002 yang memberikan kekebalan hukum bagi obligor dianggap melunasi kewajibannya. hukuman penjara seumur hidup dan 20 tahun hanya dijatuhkan pada terdakwa yang telah melarikan diri. • Kedua. Utang konglomerat kini harus dibayar oleh rakyat melalui APBN yang dibiayai dari berbagai pungutan. 144. Dari dokumentasi ICW.

sesungguhnya asset recovery tidak signifikan lagi. Karenanya. penegakan hukum juga menciptakan rasa takut agar tindakan serupa tidak akan dilakukan lagi di masa depan. Siapa jaksa yang memberi ijin keluar negeri tersangka sehingga mereka berhasil melarikan diri? Siapa jaksa yang memutuskan untuk menghentikan perkara melalui SP3? Pemeriksaan internal menjadi penting terutama agar dugaan pemerasan dan mafia peradilan di balik pengungkapan kasus BLBI juga bisa dituntaskan. Akibat dari kebijakan BLBI. Kebijakan BLBI pada dasarnya adalah pengalihan hutang swasta menjadi hutang publik yang memberatkan keuangan negara. Oleh karena itu. soal keadilan bagi semua menjadi sangat relevan dalam kasus BLBI. . Ada tindak pidana lain seperti terungkapnya Tommy Soeharto membeli kembali asetnya melalui perusahaan lain atau vehicle company. kasus BLBI bukan hanya soal penyalahgunaan dana BI itu. KPK juga bisa turun tangan karena ada banyak tindak pidana yang terjadi setelah KPK didirikan sehingga tidak ada hambatan pelanggaran asas retroaktif. penegakan hukum adalah opsi terbaik karena selain menciptakan kepastian hukum dan keadilan bagi seluruh rakyat. • Ketiga. Ujung-ujungnya. Keadilan dan juga kepastian hukum tidak hanya milik para tersangka. Karena itu. tetapi juga bagi korban. setiap tahun pemerintah harus mengalokasikan pembayaran beban hutang. dalam kasus BLBI. Terutama agar penyelesaian kasus BLBI benar-benar mengedepankan keadilan bagi semua. Besarnya alokasi untuk pembiayaan hutang itu jauh melebihi anggaran pendidikan.BLBI. Kejaksaaan Agung juga harus melakukan pemeriksaan internal. Pembayaran utang konglomerat pengemplang BLBI itu kini tidak sebanding lagi dengan beban yang harus ditanggung oleh APBN. masyarakat yang harus menanggung beban itu. • Keempat. kesehatan dan subsidi sosial lainnya. yakni seluruh rakyat Indonesia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful