P. 1
EKSISTENSI PANCASILA

EKSISTENSI PANCASILA

|Views: 213|Likes:
Published by Titania Kendarto

More info:

Published by: Titania Kendarto on May 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/03/2014

pdf

text

original

EKSISTENSI PANCASILA & UUD 1945 DI ERA GLOBALISASI[1] Oleh: Hariyono[2] Sejak proses pergerakan nasional, para pendiri bangsa

telah berupaya mencari format kehidupan berbangsa dan bernegara secara modern. Mereka melakukan posisioning secara baru dalam mengantisipasi realitas yang dihadapi masyarakat nusantara saat itu. Tidak semua warisan sosio-kultural nenek moyang ingin dipertahankan. Demikian halnya tidak semua pengaruh budaya asing, -khususnya Barat-- diterima begitu saja. Walaupun sebagian besar diantara mereka mendapat pendidikan Barat, anak-anak pergerakan justru tidak ³kebarat-baratan´. Mereka mampu bersikap kritis terhadap budaya Barat sekaligus tradisi yang telah melembaga di masyarakat. Tatanan kapitalis, feodalis dan facis dianggap sebagai tatanan yang tidak sesuai dengan masyarakat Indonesia yang modern. Kemampuan anak-anak pergerakan dalam menseleksi warisan nenek moyang dan warisan dunia mencerminkan kecerdasan dan visi mereka dalam memperjuangkan dan membangun masyarakat Indonesia ke depan. Kemampuan ³local genius´ mereka mampu menghasilkan karya cultural yang dapat menjadi pijakan sekaligus pencerah kehidupan berbangsa dan bernegara. Contoh dari hasil pemikiran dan renungan yang berciri ³local genius´ adalah Pancasila dan UUD 1945. Proses kreatif para pendiri bangsa dalam menghasilkan karya besar tidak terjadi secara tiba-tiba. Kecerdasan anak-anak pergerakan dalam memperjuangkan bangsanya dilalui melalui keterlibatan dan pergulatan sejarah jamannya. Memang sebagian besar dipengaruhi oleh persentuhan mereka dengan dunia pendidikan modern. Namun, tidak semua anak-anak nusantara yang mendapat pendidikan modern mampu memposisikan dirinya sebagai agen transformasi masyarakatnya. Hanya sebagian kecil di antara mereka yang tertarik dan terlibat dalam dunia pergerakan. [3] Proses mereka dalam merekonstruksi negara kebangsaan memerlukan proses yang panjang dan penuh Pancasila termasuk Filsafat Pancasila sebagai suatu kajian ilmiah harus memenuhi syarat-syarat ilmiah, menurut Ir. Poedjowijatno dalam bukunya ³Tahu &Pengetahuan´ mencatumkan syarat-syarat ilmiah sebagai berikut : berobyek, bermetode, bersistem d a n b e r

s i f a t u n i v e r s a l . 1.Berobyek Objek material Pancasila adalah suatu obyek yang merupakan sasaran pembahasan dan pengkajian Pancasila baik yang bersifat empiris maupun non empiris. Bangsa Indonesia sebagai kausa material (asal mula nilainilai Pancasila), maka obyek material pembahasan Pancasila adalah bangsa Indonesiadengan segala aspek budaya dalam bermayarakat, berbangsa dan bernegara. Obyek material empiris berupa lembaran sejarah, bukti-bukti sejarah, benda-benda sejarah dan budaya, Lembaran Negara, naskah-naskah kenegaraan, dsb. Obyek material non empiris meliputi nilai-nilai budaya, nilai-nilai moral, nilai-nilai religius yang tercermin dalam kepribadian, sifat, karakter dan pola-pola budaya. 2.Bermetode Metode dalam pembahasan Pancasila sangat tergantung pada karakteristik obyek

formal dan material Pancasila.Oleh karena obyek Pancasila dinamika. Pada mulanya dimensi lokalitas, ...

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->