Abstrak Dalam rangka memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan jamaah haji Indonesia diperlukan Tim Tenaga Keseahatan

Haji. Penunjukkan anggota Tim tenaga kesehatan Haji tersebut diatur melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.00.SJ.SK.VIIe.0644 tanggal 30 juli 1998 tentang Pedoman Rekrutmen Petugas Tim Kesehatan Haji Indonesia. Kepetusan tersebut antara lain Kebijaksanaan Rekrutmen, Pokok-pokok Kegiatan Rekrutmen, sistem penghargaan dan sanksi. Pada pokok-pokok kegiatan rekurtmen, khususnya dalam penetapan calon ditetapkan persyaratan umum dan persyaratan khusus. Dalam persyarakat khusus ditetapkan adanya TKHI non kloter dimana salah satu anggota TKHI non kloter tersebut adalah Petugas Gizi. Petugas gizi dimaksud adalah petugas gizi yang berijazah Akademi/D3 Gizi dan memiliki pengalaman di bidang etik.

SK.SJ. J A K A R TA .KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Nomor HK.0644 tentang PEDOMAN REKRUTMEN PETUGAS TIM KESEHATAN HAJI INDONESIA Diperbanyak oleh Panitia Kerja Tetap Tim Kesehatan Haji Indonesia Tingkat Pusat DEPARTEMEN KESEHATAN R.OO.I.VIIe.

SJ.1998 LAMPIRAN KEPUTIJSAN MENTERI KESEHATAN R.SK. NOMOR HK.OO.0644 TANGGAL 303 JULI 1998 PEDOMAN REKRUTMEN PETUGAS TIM KESEHATAN HAJI INDONESIA .Vlle.I.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 558/MENKES/SK/1984 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 1984 tentang Susunan Organisasi Departemen.kop surat menteri REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.VIIe. 4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Urusan Haji.O0.SK. c. Tambahan Lembaran Nomor 3495). bahwa untuk pernunjukan tenaga kesehatan dimaksud.O644 TENTANG PEDOMAN REKRUTMEN PETUGAS TIM KESEHATAN HAJI INDONESIA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. b. bahwa sehubungan dengan huruf a dan b tersebut di atas perlu ditetapkan Pedoman Rekrutmen Petugas Tim Kesehatan Haji Indonesia dengan keputusan Menteri Kesehatan. perlu dipenuhi persyaratan tertentu. bahwa dalam rangka memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan jamaah haji Indonesia perlu ditunjuk tenaga kesehatan sebagai anggota Tim Kesehatan Haji. 3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100. 2. Mengingat : 1. .SJ.

Sutarto. SKM . tercantum dalam Lampiran Keputusan mi.MEMUTUSKAN Menetapkan Pertama : : KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA tentang PEDOMAN REKRUTMEN PETUGAS TIM KESEHATAN HAJI INDONESIA. MENTERI KESEHATAN RI SEKRETARIS JENDERAL Kedua Ketiga Dr.n. : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. E. : Pedoman Rekrutmen Petugas Tim Kesehatan Haji Indonesia sebagaimana dimaksud dalam diktum pertama. DITETAPKAN DI : JAKARTA TANGGAL: 30 JULI 1998 a.

… 4 B.… 5 C. PENDAHULUAN A. SISTEM PENGHARGAAN DAN SANKSI A.………………………. 14 B. Penetapan Calon ……………………………………………………….………………………. Keadaan dan Masalah ………………………………………………………. Kebijaksanaan Umum ……………………………………………………….. 14 BAB V.……………….…………… 1 B. PENUTUP .…………… 3 BAB III. Sanksi ……………………………………………………..DAFTAR ISI BAB I. POKOK-POKOK KEGIATAN REKRUTMEN A. Tujuan ……………………………………………………….10 D. Pengorganisasian ……………………………………………………….…………… 3 B..………………………………….. 2 BAB II.………………. KEBIJAKSANAAN REKRUTMEN A. Sistem Penilaian …………………………………………………. 11 BAB IV. Penghargaan ………………………………………………………. Kebijaksanaan Khusus ………………………………………………………. Pembinaan dan pengendalian…………………………………………………….………………………………….

2. Membma hubungan dengan Departemen Kesehatan Arab Saudi. Untuk melaksanakan tugas tersebut. keuangan dan ketatausahaan. 4. penlu didukung oleh tersedianya petugas kesehatan yang terampil. Menyelenggarakan pelayanan perbekalan kesehatan untuk BPHI dan ambulans. Menyelenggarakan pengamatan penyakit. Pasal 12 Bab IV Keputusan Presiden RI Nomor 62 tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Urusan Haji. Pelayanan kesehatan terhadap jamaah haji meliputi upaya-upaya promotif preventif dan kuratif agar setiap jamaah haji dapat menunaikan ibadah dengan kondisi kesehatan yang tetap terjaga. pemantauan rujukan kesehatan di RS. 3.Arab Saudi serta pelayanan rawat inap di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI). Keadaan dan Masalah Sesuai dengan Garis-gaiis Besar Haitian Negara. mandiri. penyuluhan kesehatan. Sehubungan dengan hal tersebut diatas Departemen Kesehatan menetapkan petugas Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) yang terdini dan TKHI Kloter yang bertugas melaksanakan pelayanan dan bimbingan kesehatan jamaah haji di kelompok terbang masing-masing dan TKHI Non Kloter yang bertugas melaksanakan pelayanan dan bimbingan kesehatan . pengawasan pemukiman dan lingkungan. pelayanan kesehatan jamaah haji Indonesia merupakan salah satu bagian daxi upaya peningkatan pelayanan haji yang merupakan tugas nasional dan menjadi bagian integral dan pelayanan urusan haji. berdedikasi tinggi dan dapat melaksanakan tugas secara berhasil guna serta mampu: 1.Arab Saudi serta pengawasan dan bimbingan terhadap pelayanan jasaboga. pelayanan dan pemeliharaan kesehatan calon/jamaah haji. Menyelenggarakan pdayanan rawat jalan dan rujukan medis ke RS. 5.BABI PENDAHULUAN A. Penyelenggaraan kesehatan haji di Tanah Suci berlandaskan pada pelayanan kesehatan dasar (primary health care) dan rujukan medis dengan memanfaatkan fasilitas Rumah Sakit Pemerintah Arab Saudi. Menyelenggarakan kegiatan administrasi yang meliputi ketenagaan. menyebutkan bahwa Departemen Kesehatan bertugas dan bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pemetiksaan.

Ditetapkannya organisasi rekrutmen TKHI di Daerah Tingkat I dan di Tingkat Pusat. Tujuan Tujuan Umum : Menyelenggarakan pelayanan kesehatan kepada jamaah haji dengan sebaik-baiknya.jamaah haji di Daerah Kerja (Daker) Jeddah. Makkah dan Satuan Operasional Arafah Mina ( Satop Armina). Panjatap juga bertugas mengendalikan rekrutmen dan membina petugas TKHI. Madinah. merata dan obyektif. Ditetapkannya sistem penilaian (skoring) dan cara penyeleksian calon TKHI. B. Ditetapkannya persyaratan umum dan khusus calon TKHI. Tujuan Khusus : 1. 3. Agar diperoleh tenaga yang sesuai dengan kebutuhan. . sehingga dapat memberikan kesempatan bagi semua petugas kesehatan dilingkungan Departemen Kesehatan yang memiliki kualifikasi sesuai di bidang kesehatan untuk menjadi petugas TKHI secara adil. Tingkat I dan Tingkat Pusat. 2. Oleh karena itu dalam menetapkan petugas TKHI diperlukan sistem rekrutmen yang terarah dan berazaskan profesionalisme. maka rekrutmen petugas TKHI dilaksanakan oleh Panitia Kerja Tetap (Panjatap) TKHI yang dibentuk di Daerah Tingkat II.

secara teknis TKHI bertanggung jawab kepada Menteri Kesehatan RI sedangkan secara administratif bertanggungjawab kepada Menteri Agama RI. 2. 4. Sistem rekrutmen petugas kesehatan haji diarahkan untuk memperoleh petugas kesehatan yang berdedikasi tinggi. . Kewenangan rekrutmen petugas TKHI Kloter Provinsi berada pada Panjatap TKHI Dati I. 5. 3. memahami benar misi dan tugas pokoknya serta lebih mendahulukan kepentingan tugas dan pada kepentmgan pribadi dalam bentuk apapun. Kebijaksanaan Umum. Penanggung jawab pelaksanaan pelayanan kesehatan haji adalah TKHI Kloter I Non Kloter sedangkan TKHI dan tenaga kesehatan yang direkrut Penyelenggara ONH Plus berada didalam koordinasi TKHI. Anggota calon TKI-ll ditetapkan oleh Menteri Kesehatan RI atas usul Ketua Panjatap Tingkat Pusat. Provinsi Dati I hingga tingkat pusat. 6. Sistem Reknitmen Petugas TKHI diselenggarakan melalui sistem penilaian (skoring) secara berjenjang dan Kabupaten/Kotamadya Dati II. Kebijaksanaan Khusus. sedangkan rekrutmen petugas Non Kioter dan petugas TKHI Kloter yang berasal dari Unit Utama Depkes dan Instansi Luar Depkes merupakan kewenangan Panjatap TKHI Tingkat Pusat. sedangkan untuk petugas Kloter diutamakan petugas baru. mempunyai keahlian didalam tugasnya. 1. Untuk menjaga kesinambungan penyelenggaraan pelayanan kesehatan haji maka perbandingan jumlah antara petugas baru dan petugas lama untuk TKHI Non Kloter adalah 70 % dan 30 %. B. Dalam menjalankan tugasnya.BAB II KEBIJAKSANAAN REKRUTM EN A.

Pelaksanaan rekrutmen TKHI dilakukan secara berjenjang dan Daerah Tingkat II.kandepkes maka Ketua dijabat oleh Kadinkes Dati II.BAB III POKOK-POKOK KEGIATAN REKRUTMEN Pokok-pokok kegiatan rekrutmen TKHI meliputi pengorganisasian. UPT Daerah Catatan: Jika di tingkat II tidak ada Ka. Panjatap Dati II terdiri dan: Ketua Wakil Ketua Sekretanis Anggota : : : : Kakandepkes Kadinkes Unsur Kandepkes Unsur Kepegawaian. Unsur P2M / P2P. 1. Unsur P2M I P2P. A. Panjatap Dati I terdini dan: Penanggung jawab Ketua Sekretaris Anggota : Kakanwil Depkes : Kormin (Tipe A) atau Kabag TU (Tipe B) : Unsur Tata Usaha (Tipe A) atau Unsur Kepegawaian (Tipe A/B) : Unsur Dinkes Dali I. UPT Vertikal . Daerah Tingkat I dan Tingkat Pusat. penilaian serta pembinaan dan pengendalian. Unsur Kepegawian. 2. penetapan calon. Pengorganisasian.

c. Umur sekurang-kurangnya 25 tahun dan maksimum 55 tahun kecuali yang mempunyai predikat Teladan I Provinsi. d. h. Menpunyai DP3 rata-rata balk dan tidak ada nilai cukup. Bersedia bekerja sesuai jadual yang sewaktu-waktu dapat berubah sesuai kebutuhan. b. yang dinyatakan dengan surat keterangan dan atasan langsung. Mempunyai pendidikan atau keahlian sesuai dengan bidang tugasnya. Ditjen P2M dan PLP : Unsur Unsur Unsur Unsur Sekretaniat Jenderal. Dicalonkan secana resmi oleh Pimpinan. g. Ijin tertulis dari suami. Inspektorat Jenderal.Hub. Tidak diikuti oleh suami / isteri baik sebagai TKHI / TKHD maupun sebagai jamaah dan tidak memuhrimi anggota keluarga yang dinyatakan dengan surat pernyataan. e.Luar Negeri. Direktorat Jenderal dan Badan Litbang Kesehatan. Berbadan sehat. tidak cacat tubuh yang dapat mengganggu pelaksanaan tugasnya dan bagi wanita tidak dalam keadaan hamil yang dinyatakan dengan surat keterangan dokter. Penetapan Calon. . Tidak dalam proses peradilan pidana. f. Biro Umum : Kepala Subdit Kesehatan Haji.3. B. Warga Negara Indonesia yang beragama Islam / Pegawai Negeri/ BUMN/ ABRI / PU. j. Persyaratan Umum a. i. Dalam rekrutmen calon petugas TKHI ditetapkan persyaratan sebagai benkut: I. Panjatap Tingkat Pusat Ketua Wakil Ketua I Wakil Ketua II Sekretaris I Sekretaris II Anggota : : : : Sekretans Jenderal Kepala Biro Umum Sekretaris Ditjen P2M & PLP Kepala Bagian TU.

TKHI Non Kloter 1). Asisten Koordinator Bidang Administrasi a) Pria b) Sarjana kesehatan atau Sarjana Muda Kesehatan c) Pernah bertugas sebagai TKHI. Pengatur Rawat/SPR. f) Mahir menggunakan komputer. Koordinator a) Pria b) Dokter. 3).2. d) Minimal menduduki jabatan eselon IV atau sekurangkurangnya golongan III/c e) Menguasai bahasa Inggris dan atau bahasa Arab secara aktif. c) Pernah bertugas sebagai TKHI. berpengalaman dibidang Epidemiologi. b) Dokter. Asisten Koordinator Bidang Sanitasi Surveilans (Sansur) a) Pria. Ahli Madya Keperawatan/D3. c) Usia minimal 40 tahun d) Pernah bertugas sebagai TKHI minimal 2 tahun terakhir. b. d) Minimal menduduki jabatan eselon IV atau sekurangkurangnya golongan Ill/c. Maluku dan Irian Jaya. Bidan. berpengalaman dibidang manajemen kesehatan. Perawat/SPK. e) Menduduki jabatan eselon III atau sekurangkurangnya golongan IV/a f) Menguasai bahasa Inggris dan atau bahasa Arab secara aktif. Timor Timur. Perawat Bidan e) Bagi penjenjang kesehatan minimal golongan II dan telah mengikuti pendidikan penyetaraan kecuali provinsi Nusa Tenggara Timur. 2). . Persyaratan Khusus a. TKHI Kloter a) Telah bekerja sekurang-kurangnya 3 tahun bagi tenaga dokter dan 5 tahun bagi tenaga perawat dan bidan b) Bagi dokter dan bidan PTT telah bekerja sekurang-kurangnya 2 tahun c) Bagi dokter mempunyai surat penugasan (SP) yang masih berlaku d) Bagi tenaga keperawatan berijazah Sarjana Keperawatan.

Kepala Sub Koordinator a) Pria b) Pernah bertugas sebagai TKHI. Mampu menggunakan komputer. c).e) Menguasai bahasa Inggris secara aktif.Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM/MPH dengan pendidikan dasar Akademi Kesehatan Lingkungan). Pria. 8). Pria. g) Mahir menggunakan komputer 4). c) Minimal menduduki jabatan eselon IV atau sekurangkurangnya golongan IV/c d) Menguasai bahasa Inggris dan atau bahasa Arab secara aktif. Waksubko Bidang Perbekalan (Khusus di Makkah merangkap Kepala Depo) a). Wakasubko Bidang Administrasi a). Mampu mengolah data dengan mempergunakan komputer. Minimal menduduki jabatan eselon IV atau sekurangkurangnya golongan Ill/c. f) Pemah mengikuti penataran khusus surveilans. Menguasai bahasa Inggris dan atau bahasa Arab secara aktif. e). Mahir menggunakan komputer 5). Kepala Balai Pengobatan Haji Indonesia. c). d). Mampu mengolah data dengan mempergunakan komputer. c) Pernah bertugas sebagai TKHI. d). b). b). Pernah bertugas sebagai TKHI. Pria. pernah bertugas sebagai TKHI (khusus di Makkah) b). Pernah bertugas sebagai TKHI (Khusus di Makkah). 7). b) Sarjana Kesehatan atau Sarjana Muda Kesehatan. 6). Wakasubko Bidang Sansur a). 9). Apoteker. f). e). c). Menguasai bahasa Inggris dan atau bahasa Arab secara aktif. . Apoteker. Asisten Koordinator Bidang Perbekalan a).

ICU). (1). Anggota Sansur. Diutamakan pernah bertugas sebagai TKHI atau bekerja di Rumah Sakit Arab Saudi (Khusus di Makkah). Anggota Sub Depo. Diutamakan yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat atau Instalasi Perawatan Intensif (ICCU. Kepala Apotik. pernah bertugas sebagai TKHI Non Kloter. d). Perawat/Bidan. (1). (2). (I). Anggota Balai Pengobatan Haji Indonesia a). a). Asisten Apoteker. 10). .a. Khusus untuk daker Makkah. 12). Berijazah Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM/MPH dengan dasar pendidikan dari Akademi Kesehatan Lingkungan) atau Sarjana Muda dari Akademi Kèsehatan Lingkungan atau Sekolah Pembantu Penilik Higiene. Kepala Perawatan. c). b). 13). (2). (2). ICU). Diutamakan yang bertugas di Instalasi Gawat Danuzat atau Instalasi Perawatan Intensif (ICCU. pernah bertugas sebagai TKHI atau bekerja di Rumah Sakit Arab Saudi. Dokter. Khusus untuk daker Makkah. Diutamakan dokter spesialis penyakit dalam atau bedah atau anestesi yang mempunyai SP yang masih berlaku. Berijazah minimal D3 Keperawatan. b) Dokter umum yang mempunyai kemampuan penanganan kasus gawat darurat. Pernah bertugas sebagai TKHI. Menguasai bahasa Inggris dan atau bahasa Arab secara aktif. Apoteker 11). c).

Jenis Pekerjaan. Lulus pelatihan khusus surveilans/sanitasi untuk tugas khusus di Arab Saudi. a. Contoh : Iamaran yang ke-4..d 29 tahun ……………………… b... 6 s. PetugasGizi. b. 11 s. 2. d. 3 s. 15. : nilai b.d 55 tahun ……………………… : : : : : : : : nilai nilai nilai nilai nilai nilai nilai nilai 5. Frekwensi Permohonan.d 5 tahun………………………. 51 s. Sistem Penilaian. Berijazah Akademi/D3 Gizi.. d. c. Penyaringan tahap pertama untuk TKHI Kloter dilaksanakan oleh Kakandepkes Kabupaten/Kotamadya dan penyaringan tahap kedua oleh Panjatap TKHI Tingkat Provinsi dengan mempergunakan sistem penilaian. 15. 21 tahun keatas …………………. 20 15 10 3. 14). Mampu mengolah data dengan mempergunakan komputer. : nilai 4.d 20 tahun …………………….d 34 tahun ……………………. 10. 30 s. C. Administrasi (pekerjaan Iainnya) ……………. Memiliki pengalaman di bidang dietetik. 25 s. a.d 10 tahun ……………………. a. nilainya =4. Jumlahnya disesuaikan dengan jumlah jamaah (kloter) di kabupaten yang bersangkutan. Sesuai profesi (langsung menangani pasien) …. Penyaringan TKHI Non Kloter dilaksanakan langsung oleh Panjatap TKHI Tingkat Pusat juga dengan sistem penilaian. Umur. 20.d 50 tahun ………………………. 15.. Teknis di kantor (masih berkaitan dengan profesinya) ………………………………………………… : nilai c.b). Masa Kerja.. . 10. b). 20. c). Setiap kali permohonan mendapat nilai 1. dan seterusnya. Aspek-aspek yang dinilai dan bobot penilaian sebagai berikut: 1. c. a). 35 s.

a. Bagi dokter puskesmas. O kali ………………………………………. Penghargaan dari Menteri ……………………………. b. : nilai 5 10 7. Tanda Penghargaan/Keteladanan di bidang pelayanan. a. 8. Terpencil ………………………………………. 3). : nilai 20 c. maka keteladanan yang diajukan hanya yang mempunyai nilai tertinggi. Kloter. Apabila calon mempunyai tanda penghargaan/ keteladanan Iebih dali satu. 1 kali …………………………………………. O kali ………………………………………. : nilai : nilal : nilai : nilai : nilal : nilai 25 20 10 5 10 15 6. Penghargaan dari Presiden ………………………………… : nilai 25 b..5. Sangat terpencil ……………………………… : nilai 25 b. Frekwensi Penugasan Sebagai TKHI: a. Penghargaan lainnya …………………………………….. Non 1). Sebagai jamaah biasa ……………………………………… : nilai b.. 1). Pengalaman Ibadah Haji... 2). : nilai 15 9. : nilai 10 e.. Disamping penilaian tersebut diatas masing-masing aspek diberikan bobot sebagai berikut: . c. : nilai 15 d. tenaga keperawatan dan bidan di desa yang muslim. a.. 2). >1 kali ………………………………………. Penghargaan dan Bupati/Walikota………………. Tempat tugas dan alan pernah bertugas minimal 2 tahun di kecamatan/desa sangat terpencil dan terpencil. b.. berminat dan mendapat Teladan I Provinsi dapat ditunjuk langsung sebagai TKHI. >1 kali ………………………………………. Tanda penghargaan/keteladanan hanya berlaku untuk 1 (satu) kali menjadi TKHI. Kloter. : nilai 5 Catatan : a. 3). 1 kali …………………………………………. Bobot Penilaian. Penghargaan dari Gubernur …………………………. Dokter/tenaga keperawatan sebagai jamaah biasa yang diminta untuk menjadi petugas kesehatan di kloternya …………………………………...

Pengalaman Ibadah Haji ………………….. g. Frekwensi Penugasan Sebagai TKHI …. d. . Umur ……………………………………………. h. Masa Kerja ……………………………………. Tanda Penghargaan/Keteladanan ……. Pembinaan dan Pengendalian..a. I. D. : : : : : : : : bobot bobot bobot bobot bobot bobot bobot bobot I 1 3 2 I 1 2 2 Cara penilai/pembobotan dilampirkan secara tersendiri . Frekwensi Permohonan …………………. Pembinaan dan pengendalian terhadap penyelenggaraan rekrutmen di tingkat Kabupaten/Kotamadya Dali II dilaksanakan oleh Ka. 2. f. Pembinaan dan pengendalian rekrutmen di tingkat provinsi dilaksanakan oleh Panjatap TKHI Tingkat Pusat.Kanwil Depkes Provinsi. c. b.. Jenis Pekerjaan ……………………………. e. Tempat Tugas ……………………………………..

b. 1. Sanksi. Bila diketahui sebelum berangkat maka penugasan sebagai TKHI dibatalkan.Dikenakan sanksi sesuai ketentuan Peraturan Pemenintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil yang akan dilaksankan oleh atasan Iangsung di Unit Kerja masing-masing. . Setiap petugas TKHI yang dalam melaksanakan tugasnya dinilai baik akan diberikan piagam penghargaan. Bagi TKHI yang tidak melaksanakan tugas sebagaimana mestinya atau melakukan penyimpangan dan pelanggaran seperti tidak mengurus jamaah serta tindakan lain yang merugikan pelayanan kesehatan bagi jamaah dikenakan sanksi sesuai ketentuan Paraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeni Sipil yang akan dilaksanakan oleh atasan langsung di Unit Kerja masingmasing. 3.Hak untuk menjadi TKHI selanjutnya dinyatakan gugur. Penghargaan. . Bagi yang berprestasi menonjol dapat diusulkan untuk menjadi petugas TKHI pada tahun-tahun berikutnya B. Dalam rangka mengupayakan agar petugas TKHI melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.BAB IV SISTEM PENGHARGAAN DAN SANKSI A. 1. Bila calon TKHI yang telah ditunjuk mengundurkan diri tanpa alasan yang dapat diterima maka yang bersangkutan tidak diijinkan mengajukan permohonan TKHI selama 5 (lima) tahun berturut-turut. Bila diketahui diArab Saudi: . 2. TKHI yang disertai oleh suami/isteri walaupun kloternya berbeda: a. 2.

BAB V PENUTUP 1. SKM . 2.n. E. MENTERI KESEHATAN RI SEKRETARIS JENDERAL Dr. Sutarto. Pedoman rekrutmen petugas kesehatan haji Indonesia disusun dalam upaya untuk mendapatkan petugas TKHI yang mampu dan mau melaksanakan pelayanan kesehatan kepada jamaah haji secara berdayaguna dan berhasilguna Jumlah petugas kesehatan yang terpilih disesuaikan dengan jumlah jamaah yang ada. a.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful