Abstrak Dalam rangka memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan jamaah haji Indonesia diperlukan Tim Tenaga Keseahatan

Haji. Penunjukkan anggota Tim tenaga kesehatan Haji tersebut diatur melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.00.SJ.SK.VIIe.0644 tanggal 30 juli 1998 tentang Pedoman Rekrutmen Petugas Tim Kesehatan Haji Indonesia. Kepetusan tersebut antara lain Kebijaksanaan Rekrutmen, Pokok-pokok Kegiatan Rekrutmen, sistem penghargaan dan sanksi. Pada pokok-pokok kegiatan rekurtmen, khususnya dalam penetapan calon ditetapkan persyaratan umum dan persyaratan khusus. Dalam persyarakat khusus ditetapkan adanya TKHI non kloter dimana salah satu anggota TKHI non kloter tersebut adalah Petugas Gizi. Petugas gizi dimaksud adalah petugas gizi yang berijazah Akademi/D3 Gizi dan memiliki pengalaman di bidang etik.

OO.SJ. J A K A R TA .0644 tentang PEDOMAN REKRUTMEN PETUGAS TIM KESEHATAN HAJI INDONESIA Diperbanyak oleh Panitia Kerja Tetap Tim Kesehatan Haji Indonesia Tingkat Pusat DEPARTEMEN KESEHATAN R.SK.KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Nomor HK.VIIe.I.

I.OO.Vlle.1998 LAMPIRAN KEPUTIJSAN MENTERI KESEHATAN R.SJ.SK.0644 TANGGAL 303 JULI 1998 PEDOMAN REKRUTMEN PETUGAS TIM KESEHATAN HAJI INDONESIA . NOMOR HK.

b.SK. bahwa sehubungan dengan huruf a dan b tersebut di atas perlu ditetapkan Pedoman Rekrutmen Petugas Tim Kesehatan Haji Indonesia dengan keputusan Menteri Kesehatan.VIIe. bahwa untuk pernunjukan tenaga kesehatan dimaksud. 2. 4. bahwa dalam rangka memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan jamaah haji Indonesia perlu ditunjuk tenaga kesehatan sebagai anggota Tim Kesehatan Haji. Tambahan Lembaran Nomor 3495).O644 TENTANG PEDOMAN REKRUTMEN PETUGAS TIM KESEHATAN HAJI INDONESIA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. . Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 558/MENKES/SK/1984 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 3.O0.kop surat menteri REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK. c. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Urusan Haji.SJ. Mengingat : 1. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 1984 tentang Susunan Organisasi Departemen. perlu dipenuhi persyaratan tertentu. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100.

DITETAPKAN DI : JAKARTA TANGGAL: 30 JULI 1998 a. : Pedoman Rekrutmen Petugas Tim Kesehatan Haji Indonesia sebagaimana dimaksud dalam diktum pertama. E. Sutarto.MEMUTUSKAN Menetapkan Pertama : : KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA tentang PEDOMAN REKRUTMEN PETUGAS TIM KESEHATAN HAJI INDONESIA. : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. SKM . tercantum dalam Lampiran Keputusan mi. MENTERI KESEHATAN RI SEKRETARIS JENDERAL Kedua Ketiga Dr.n.

. Penetapan Calon ………………………………………………………. Tujuan ………………………………………………………. Kebijaksanaan Umum ……………………………………………………….…………… 3 B. SISTEM PENGHARGAAN DAN SANKSI A. 14 B.. KEBIJAKSANAAN REKRUTMEN A. Kebijaksanaan Khusus ……………………………………………………….DAFTAR ISI BAB I. 11 BAB IV.10 D. Pembinaan dan pengendalian…………………………………………………….………………. Sanksi ……………………………………………………. 2 BAB II.………………………………….………………………. PENDAHULUAN A. Penghargaan ……………………………………………………….…………… 3 BAB III. PENUTUP .………………………………….……………………….…………… 1 B. Keadaan dan Masalah ………………………………………………………. 14 BAB V. Sistem Penilaian ………………………………………………….………………. POKOK-POKOK KEGIATAN REKRUTMEN A.… 5 C...… 4 B. Pengorganisasian ……………………………………………………….

berdedikasi tinggi dan dapat melaksanakan tugas secara berhasil guna serta mampu: 1. pelayanan dan pemeliharaan kesehatan calon/jamaah haji. Menyelenggarakan pengamatan penyakit. Keadaan dan Masalah Sesuai dengan Garis-gaiis Besar Haitian Negara. Membma hubungan dengan Departemen Kesehatan Arab Saudi. Penyelenggaraan kesehatan haji di Tanah Suci berlandaskan pada pelayanan kesehatan dasar (primary health care) dan rujukan medis dengan memanfaatkan fasilitas Rumah Sakit Pemerintah Arab Saudi. pelayanan kesehatan jamaah haji Indonesia merupakan salah satu bagian daxi upaya peningkatan pelayanan haji yang merupakan tugas nasional dan menjadi bagian integral dan pelayanan urusan haji. 3. Menyelenggarakan pelayanan perbekalan kesehatan untuk BPHI dan ambulans. menyebutkan bahwa Departemen Kesehatan bertugas dan bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pemetiksaan. mandiri. 2. Pasal 12 Bab IV Keputusan Presiden RI Nomor 62 tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Urusan Haji. pengawasan pemukiman dan lingkungan. Menyelenggarakan kegiatan administrasi yang meliputi ketenagaan. 4.Arab Saudi serta pengawasan dan bimbingan terhadap pelayanan jasaboga.BABI PENDAHULUAN A. penyuluhan kesehatan. Menyelenggarakan pdayanan rawat jalan dan rujukan medis ke RS. Pelayanan kesehatan terhadap jamaah haji meliputi upaya-upaya promotif preventif dan kuratif agar setiap jamaah haji dapat menunaikan ibadah dengan kondisi kesehatan yang tetap terjaga. Untuk melaksanakan tugas tersebut.Arab Saudi serta pelayanan rawat inap di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI). keuangan dan ketatausahaan. penlu didukung oleh tersedianya petugas kesehatan yang terampil. pemantauan rujukan kesehatan di RS. Sehubungan dengan hal tersebut diatas Departemen Kesehatan menetapkan petugas Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) yang terdini dan TKHI Kloter yang bertugas melaksanakan pelayanan dan bimbingan kesehatan jamaah haji di kelompok terbang masing-masing dan TKHI Non Kloter yang bertugas melaksanakan pelayanan dan bimbingan kesehatan . 5.

Panjatap juga bertugas mengendalikan rekrutmen dan membina petugas TKHI. Oleh karena itu dalam menetapkan petugas TKHI diperlukan sistem rekrutmen yang terarah dan berazaskan profesionalisme. Ditetapkannya persyaratan umum dan khusus calon TKHI. 2. Ditetapkannya organisasi rekrutmen TKHI di Daerah Tingkat I dan di Tingkat Pusat. maka rekrutmen petugas TKHI dilaksanakan oleh Panitia Kerja Tetap (Panjatap) TKHI yang dibentuk di Daerah Tingkat II. sehingga dapat memberikan kesempatan bagi semua petugas kesehatan dilingkungan Departemen Kesehatan yang memiliki kualifikasi sesuai di bidang kesehatan untuk menjadi petugas TKHI secara adil. B. Agar diperoleh tenaga yang sesuai dengan kebutuhan. Tujuan Tujuan Umum : Menyelenggarakan pelayanan kesehatan kepada jamaah haji dengan sebaik-baiknya. Ditetapkannya sistem penilaian (skoring) dan cara penyeleksian calon TKHI. merata dan obyektif.jamaah haji di Daerah Kerja (Daker) Jeddah. 3. . Tingkat I dan Tingkat Pusat. Makkah dan Satuan Operasional Arafah Mina ( Satop Armina). Madinah. Tujuan Khusus : 1.

Sistem Reknitmen Petugas TKHI diselenggarakan melalui sistem penilaian (skoring) secara berjenjang dan Kabupaten/Kotamadya Dati II. B. Kebijaksanaan Khusus. 4. mempunyai keahlian didalam tugasnya. sedangkan rekrutmen petugas Non Kioter dan petugas TKHI Kloter yang berasal dari Unit Utama Depkes dan Instansi Luar Depkes merupakan kewenangan Panjatap TKHI Tingkat Pusat. sedangkan untuk petugas Kloter diutamakan petugas baru. Dalam menjalankan tugasnya. Kewenangan rekrutmen petugas TKHI Kloter Provinsi berada pada Panjatap TKHI Dati I. secara teknis TKHI bertanggung jawab kepada Menteri Kesehatan RI sedangkan secara administratif bertanggungjawab kepada Menteri Agama RI. 1. Provinsi Dati I hingga tingkat pusat. Untuk menjaga kesinambungan penyelenggaraan pelayanan kesehatan haji maka perbandingan jumlah antara petugas baru dan petugas lama untuk TKHI Non Kloter adalah 70 % dan 30 %.BAB II KEBIJAKSANAAN REKRUTM EN A. memahami benar misi dan tugas pokoknya serta lebih mendahulukan kepentingan tugas dan pada kepentmgan pribadi dalam bentuk apapun. Sistem rekrutmen petugas kesehatan haji diarahkan untuk memperoleh petugas kesehatan yang berdedikasi tinggi. Penanggung jawab pelaksanaan pelayanan kesehatan haji adalah TKHI Kloter I Non Kloter sedangkan TKHI dan tenaga kesehatan yang direkrut Penyelenggara ONH Plus berada didalam koordinasi TKHI. . 3. 6. 5. Kebijaksanaan Umum. 2. Anggota calon TKI-ll ditetapkan oleh Menteri Kesehatan RI atas usul Ketua Panjatap Tingkat Pusat.

UPT Vertikal . UPT Daerah Catatan: Jika di tingkat II tidak ada Ka. Panjatap Dati II terdiri dan: Ketua Wakil Ketua Sekretanis Anggota : : : : Kakandepkes Kadinkes Unsur Kandepkes Unsur Kepegawaian. Unsur P2M I P2P. Daerah Tingkat I dan Tingkat Pusat. Unsur Kepegawian. 2. penetapan calon. Unsur P2M / P2P. Pelaksanaan rekrutmen TKHI dilakukan secara berjenjang dan Daerah Tingkat II.kandepkes maka Ketua dijabat oleh Kadinkes Dati II. A. penilaian serta pembinaan dan pengendalian.BAB III POKOK-POKOK KEGIATAN REKRUTMEN Pokok-pokok kegiatan rekrutmen TKHI meliputi pengorganisasian. Pengorganisasian. 1. Panjatap Dati I terdini dan: Penanggung jawab Ketua Sekretaris Anggota : Kakanwil Depkes : Kormin (Tipe A) atau Kabag TU (Tipe B) : Unsur Tata Usaha (Tipe A) atau Unsur Kepegawaian (Tipe A/B) : Unsur Dinkes Dali I.

Inspektorat Jenderal. Ijin tertulis dari suami. j. Warga Negara Indonesia yang beragama Islam / Pegawai Negeri/ BUMN/ ABRI / PU. Mempunyai pendidikan atau keahlian sesuai dengan bidang tugasnya.3. Dicalonkan secana resmi oleh Pimpinan. Tidak dalam proses peradilan pidana. e. . Panjatap Tingkat Pusat Ketua Wakil Ketua I Wakil Ketua II Sekretaris I Sekretaris II Anggota : : : : Sekretans Jenderal Kepala Biro Umum Sekretaris Ditjen P2M & PLP Kepala Bagian TU. f.Hub. Berbadan sehat. Penetapan Calon. tidak cacat tubuh yang dapat mengganggu pelaksanaan tugasnya dan bagi wanita tidak dalam keadaan hamil yang dinyatakan dengan surat keterangan dokter.Luar Negeri. d. Menpunyai DP3 rata-rata balk dan tidak ada nilai cukup. yang dinyatakan dengan surat keterangan dan atasan langsung. h. Bersedia bekerja sesuai jadual yang sewaktu-waktu dapat berubah sesuai kebutuhan. i. g. Ditjen P2M dan PLP : Unsur Unsur Unsur Unsur Sekretaniat Jenderal. Tidak diikuti oleh suami / isteri baik sebagai TKHI / TKHD maupun sebagai jamaah dan tidak memuhrimi anggota keluarga yang dinyatakan dengan surat pernyataan. Umur sekurang-kurangnya 25 tahun dan maksimum 55 tahun kecuali yang mempunyai predikat Teladan I Provinsi. c. Dalam rekrutmen calon petugas TKHI ditetapkan persyaratan sebagai benkut: I. Direktorat Jenderal dan Badan Litbang Kesehatan. Persyaratan Umum a. B. b. Biro Umum : Kepala Subdit Kesehatan Haji.

c) Usia minimal 40 tahun d) Pernah bertugas sebagai TKHI minimal 2 tahun terakhir. Timor Timur. Koordinator a) Pria b) Dokter. Perawat Bidan e) Bagi penjenjang kesehatan minimal golongan II dan telah mengikuti pendidikan penyetaraan kecuali provinsi Nusa Tenggara Timur. b. berpengalaman dibidang manajemen kesehatan. Pengatur Rawat/SPR. Asisten Koordinator Bidang Sanitasi Surveilans (Sansur) a) Pria. Persyaratan Khusus a. 3). c) Pernah bertugas sebagai TKHI. TKHI Non Kloter 1). Ahli Madya Keperawatan/D3. Perawat/SPK. d) Minimal menduduki jabatan eselon IV atau sekurangkurangnya golongan III/c e) Menguasai bahasa Inggris dan atau bahasa Arab secara aktif. Maluku dan Irian Jaya. Bidan. TKHI Kloter a) Telah bekerja sekurang-kurangnya 3 tahun bagi tenaga dokter dan 5 tahun bagi tenaga perawat dan bidan b) Bagi dokter dan bidan PTT telah bekerja sekurang-kurangnya 2 tahun c) Bagi dokter mempunyai surat penugasan (SP) yang masih berlaku d) Bagi tenaga keperawatan berijazah Sarjana Keperawatan. . b) Dokter. Asisten Koordinator Bidang Administrasi a) Pria b) Sarjana kesehatan atau Sarjana Muda Kesehatan c) Pernah bertugas sebagai TKHI. e) Menduduki jabatan eselon III atau sekurangkurangnya golongan IV/a f) Menguasai bahasa Inggris dan atau bahasa Arab secara aktif.2. 2). f) Mahir menggunakan komputer. d) Minimal menduduki jabatan eselon IV atau sekurangkurangnya golongan Ill/c. berpengalaman dibidang Epidemiologi.

Pernah bertugas sebagai TKHI. 8). f) Pemah mengikuti penataran khusus surveilans. d). Pernah bertugas sebagai TKHI (Khusus di Makkah). c). Mampu menggunakan komputer. Waksubko Bidang Perbekalan (Khusus di Makkah merangkap Kepala Depo) a). Menguasai bahasa Inggris dan atau bahasa Arab secara aktif. e). Menguasai bahasa Inggris dan atau bahasa Arab secara aktif.Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM/MPH dengan pendidikan dasar Akademi Kesehatan Lingkungan). 9). c) Minimal menduduki jabatan eselon IV atau sekurangkurangnya golongan IV/c d) Menguasai bahasa Inggris dan atau bahasa Arab secara aktif. Apoteker. d). g) Mahir menggunakan komputer 4). 6). Wakasubko Bidang Sansur a).e) Menguasai bahasa Inggris secara aktif. Mampu mengolah data dengan mempergunakan komputer. . b) Sarjana Kesehatan atau Sarjana Muda Kesehatan. Kepala Balai Pengobatan Haji Indonesia. e). f). b). Wakasubko Bidang Administrasi a). 7). c) Pernah bertugas sebagai TKHI. Kepala Sub Koordinator a) Pria b) Pernah bertugas sebagai TKHI. Minimal menduduki jabatan eselon IV atau sekurangkurangnya golongan Ill/c. Mampu mengolah data dengan mempergunakan komputer. pernah bertugas sebagai TKHI (khusus di Makkah) b). c). Pria. c). Mahir menggunakan komputer 5). b). Pria. Pria. Asisten Koordinator Bidang Perbekalan a). Apoteker.

. Khusus untuk daker Makkah. (1). (2). Diutamakan yang bertugas di Instalasi Gawat Danuzat atau Instalasi Perawatan Intensif (ICCU. Anggota Balai Pengobatan Haji Indonesia a). b). Anggota Sub Depo. ICU). Pernah bertugas sebagai TKHI. Berijazah minimal D3 Keperawatan. Dokter. c). Kepala Apotik. Khusus untuk daker Makkah. 12). (I). d). (2). Kepala Perawatan. Asisten Apoteker. Diutamakan dokter spesialis penyakit dalam atau bedah atau anestesi yang mempunyai SP yang masih berlaku. Anggota Sansur. pernah bertugas sebagai TKHI Non Kloter. 10). c). b) Dokter umum yang mempunyai kemampuan penanganan kasus gawat darurat. a). (1). 13). Perawat/Bidan. Diutamakan pernah bertugas sebagai TKHI atau bekerja di Rumah Sakit Arab Saudi (Khusus di Makkah). Diutamakan yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat atau Instalasi Perawatan Intensif (ICCU. ICU).a. (2). Menguasai bahasa Inggris dan atau bahasa Arab secara aktif. Apoteker 11). Berijazah Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM/MPH dengan dasar pendidikan dari Akademi Kesehatan Lingkungan) atau Sarjana Muda dari Akademi Kèsehatan Lingkungan atau Sekolah Pembantu Penilik Higiene. pernah bertugas sebagai TKHI atau bekerja di Rumah Sakit Arab Saudi.

. d.b).d 50 tahun ………………………. 30 s.d 55 tahun ……………………… : : : : : : : : nilai nilai nilai nilai nilai nilai nilai nilai 5. 20. Mampu mengolah data dengan mempergunakan komputer. : nilai b. Teknis di kantor (masih berkaitan dengan profesinya) ………………………………………………… : nilai c. 10. 2. Sistem Penilaian. c. a). Sesuai profesi (langsung menangani pasien) …. 51 s. Penyaringan TKHI Non Kloter dilaksanakan langsung oleh Panjatap TKHI Tingkat Pusat juga dengan sistem penilaian. a. 6 s. 14).. c). Lulus pelatihan khusus surveilans/sanitasi untuk tugas khusus di Arab Saudi. Memiliki pengalaman di bidang dietetik. nilainya =4. a. Contoh : Iamaran yang ke-4. Masa Kerja. d. 11 s. b.d 10 tahun ……………………. 10. Aspek-aspek yang dinilai dan bobot penilaian sebagai berikut: 1. 35 s. 15. 15..d 34 tahun …………………….d 20 tahun ……………………. Penyaringan tahap pertama untuk TKHI Kloter dilaksanakan oleh Kakandepkes Kabupaten/Kotamadya dan penyaringan tahap kedua oleh Panjatap TKHI Tingkat Provinsi dengan mempergunakan sistem penilaian. 25 s. Umur. c. PetugasGizi. Jenis Pekerjaan. a. 15. Frekwensi Permohonan. dan seterusnya. Jumlahnya disesuaikan dengan jumlah jamaah (kloter) di kabupaten yang bersangkutan. Administrasi (pekerjaan Iainnya) …………….. Setiap kali permohonan mendapat nilai 1.. : nilai 4. . b). C.d 29 tahun ……………………… b. 3 s.. 20 15 10 3. Berijazah Akademi/D3 Gizi. 21 tahun keatas …………………. 20.d 5 tahun……………………….

Tanda penghargaan/keteladanan hanya berlaku untuk 1 (satu) kali menjadi TKHI. 2)...5. Disamping penilaian tersebut diatas masing-masing aspek diberikan bobot sebagai berikut: .. Non 1). berminat dan mendapat Teladan I Provinsi dapat ditunjuk langsung sebagai TKHI. 8. Tempat tugas dan alan pernah bertugas minimal 2 tahun di kecamatan/desa sangat terpencil dan terpencil. Sangat terpencil ……………………………… : nilai 25 b. : nilai 15 d. Sebagai jamaah biasa ……………………………………… : nilai b. : nilai 5 10 7.. 2). : nilai 10 e.. Penghargaan lainnya ……………………………………. Bobot Penilaian. Penghargaan dari Gubernur …………………………. a. 1 kali …………………………………………. maka keteladanan yang diajukan hanya yang mempunyai nilai tertinggi. Bagi dokter puskesmas. Frekwensi Penugasan Sebagai TKHI: a. Penghargaan dari Presiden ………………………………… : nilai 25 b. : nilai 15 9. Apabila calon mempunyai tanda penghargaan/ keteladanan Iebih dali satu. 1 kali …………………………………………. Dokter/tenaga keperawatan sebagai jamaah biasa yang diminta untuk menjadi petugas kesehatan di kloternya …………………………………. c. a.. : nilai 5 Catatan : a.. Kloter. 3). a. Penghargaan dari Menteri ……………………………. : nilai 20 c. Tanda Penghargaan/Keteladanan di bidang pelayanan. O kali ……………………………………….. O kali ………………………………………. b. Pengalaman Ibadah Haji.. 3). b. >1 kali ………………………………………. Terpencil ………………………………………. Penghargaan dan Bupati/Walikota………………. >1 kali ………………………………………. : nilai : nilal : nilai : nilai : nilal : nilai 25 20 10 5 10 15 6.. Kloter. tenaga keperawatan dan bidan di desa yang muslim. 1).

g. Pembinaan dan pengendalian terhadap penyelenggaraan rekrutmen di tingkat Kabupaten/Kotamadya Dali II dilaksanakan oleh Ka. c.a. h. 2. Pembinaan dan Pengendalian. b. Umur ……………………………………………. D. : : : : : : : : bobot bobot bobot bobot bobot bobot bobot bobot I 1 3 2 I 1 2 2 Cara penilai/pembobotan dilampirkan secara tersendiri ... Frekwensi Permohonan …………………. I. Tempat Tugas ……………………………………. . e.. d. Frekwensi Penugasan Sebagai TKHI ….Kanwil Depkes Provinsi. Tanda Penghargaan/Keteladanan …….. f. Jenis Pekerjaan ……………………………. Pengalaman Ibadah Haji …………………. Pembinaan dan pengendalian rekrutmen di tingkat provinsi dilaksanakan oleh Panjatap TKHI Tingkat Pusat. Masa Kerja …………………………………….

TKHI yang disertai oleh suami/isteri walaupun kloternya berbeda: a. Bila calon TKHI yang telah ditunjuk mengundurkan diri tanpa alasan yang dapat diterima maka yang bersangkutan tidak diijinkan mengajukan permohonan TKHI selama 5 (lima) tahun berturut-turut.BAB IV SISTEM PENGHARGAAN DAN SANKSI A.Dikenakan sanksi sesuai ketentuan Peraturan Pemenintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil yang akan dilaksankan oleh atasan Iangsung di Unit Kerja masing-masing. 1. b. Bagi TKHI yang tidak melaksanakan tugas sebagaimana mestinya atau melakukan penyimpangan dan pelanggaran seperti tidak mengurus jamaah serta tindakan lain yang merugikan pelayanan kesehatan bagi jamaah dikenakan sanksi sesuai ketentuan Paraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeni Sipil yang akan dilaksanakan oleh atasan langsung di Unit Kerja masingmasing.Hak untuk menjadi TKHI selanjutnya dinyatakan gugur. Penghargaan. . 2. . 2. Setiap petugas TKHI yang dalam melaksanakan tugasnya dinilai baik akan diberikan piagam penghargaan. Bila diketahui diArab Saudi: . 3. Bila diketahui sebelum berangkat maka penugasan sebagai TKHI dibatalkan. Dalam rangka mengupayakan agar petugas TKHI melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Sanksi. Bagi yang berprestasi menonjol dapat diusulkan untuk menjadi petugas TKHI pada tahun-tahun berikutnya B. 1.

E.BAB V PENUTUP 1. SKM . Sutarto.n. Pedoman rekrutmen petugas kesehatan haji Indonesia disusun dalam upaya untuk mendapatkan petugas TKHI yang mampu dan mau melaksanakan pelayanan kesehatan kepada jamaah haji secara berdayaguna dan berhasilguna Jumlah petugas kesehatan yang terpilih disesuaikan dengan jumlah jamaah yang ada. MENTERI KESEHATAN RI SEKRETARIS JENDERAL Dr. 2. a.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful