Latar belakang

Akhir-akhir ini muncul kembali isu di Indonesia tentang pembahasan Rancangan UndangUndang mengenai Keistimewaan DIY sudah disampaikan ke pemerintah dan DPR sejak 2002. Namun hingga kini rancangan itu belum juga dapat disahkan. Salah satu kendalanya berkutat pada cara penentuan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY, apakah melalui pemilihan atau penetapan.

Masalah ini kian menyulut kontroversi setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan sistem yang akan dianut dalam pemerintahan DIY tidak mungkin monarki. Sejumlah tokoh dan warga Yogya marah terhadap pernyataan itu. Mereka menginginkan agar pengisian jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY dilakukan melalui penetapan. Demonstrasi pun mereka gelar, termasuk di gedung DPRD DIY.

Atas kontroversi yang muncul ihwal keistimewaan DIY, Menteri Dalam Negeri menyatakan Presiden setelah rapat kabinetn dijadwalkan akan memberi keterangan panjang-lebar apa yang menjadi isu sekarang.

Presidenpun menepati janjinya pada hari Kamis tanggal 2 desember 2010. Beliau memberi keterangan dan menegaskan bahwa dari sisi politik praktis, sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan Belaiau dengan posisinya sebagai presiden berpendapat bahwa posisi gubernur DIY lima tahun mendatang yang terbaik tetap dipegang sultan HB X. namun, presiden menekankan RUU keistimewaan DIY yang akan diajukan pemerintah sama sekali tidak berkaitan dengan politik praktis.

Penjelasan presiden di atas dinilai tidak tegas oleh masyarakat jogjakarta yang mana penjelasan tersebut tidak mendukung mekanisme penetapan kepala daerah DIY. Pidato presiden hanya bersifat normatif sajadan tidak mengarah pada suatu putusan yang sesuai aspirasi rakyat DIY.

Hasil sidang kabinet paripurna pun menyatakan bahwa pemerintah sepakat menempatkan sultan dan paku alam sebagai pemimpin tertinggi di DIY. Namun, gubrnur sebagai penyelenggara keks.eksek di daerah itu akn dipilih secara demokratis karena untuk

begitu juga dengan Yogyakarta. Hukum adat ini juga perlu sebagai sumber pertimbangan pembuatan perat perUUan karena hukum adat dapat memberi karakteristik nasional pada setiap perat perUUan sehingga tidak mengabaikan nilai nilai dan aspirasi hukum yng hidup dan berkembang di dlm masyarakat. punya hukum adat yang keberlakuannya diamini dalam sanubari masyarakatnya. Sayidin Panatagama. yaitu Senopati Ing Ngalogo. Secara turun temurun sesuai adat-istiadat & paugeran Jawi (hukum non formal) Sultan sebagai pimpinan kultural bertanggung jawab penuh untuk menjaga aturan adat. sifatnya terbuka dan menyelaraskan diri pada perubahan masyarakat. sekaligus mengemban mandat (amanah) sebagaimana gelar yang disandangnya. Jelas bahwa disini terdapat perbedaan keinginan antara pemerintah RI dengan masyarakat jogja. . Pemerintah menginginkan adanya pemilihan gubernur dengan cara demokratis (pilkada) tapi masyarakat jogja menginginkan adanya suatu penetapan. Hasil sidang ini semakin menambah kekecewaan rakyat DIY dimana aspirasi mereka j ga u tidak menjadi dasar pertimbangan pemerintah dalam pembahasan RUUKDIY. Hukum adat itu dinamis. Kalifatullah.melaksanakan amanat UUD. Abdurachman. Penulis akan mencoba untuk menjelaskan mengenai bagaimana sebenarnya hukum adat (paugeran jawi) menentukan kepemimpinan DIY dan bagaimana peranan hukum adat dalam penyelesaian isu ini. Yogyakarta punya kekhasannya sendiri. Disinilah. tradisi & budaya. terdapat pertentangan antar hukum adat (paugeran jawi) sebagai sumber hukum non formal dengan hukum nasional (perat perUUan) sebagai hukum formal dalam menentukan gubernur DIY. Bagaimana sebenarnya hukum adat (paugeran jawi) mengatur mengenai cara penentuan gubernur DIY? Apakah untuk jaman sekarang ini masih efektif bila diberlakukan hukum adat (paugeran jawi) sebagai sumber hukum pembentukan RUUK DIY? Salah satu sumber hukum di indonesia adalah hukum adat.

Kalau dilihat dari reaksi masyarakat jogjakarta terhadap penjelasan presiden SBY. Nama.Sri Paduka Paku Alam yang masih sangat tinggi di masyarakat jogja. budaya & status Daerah Istimewa Yogyakarta dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Regalia (alat kelengkapan Upacara). tradisi. secara yuridis Sultan diakui hak-hak politiknya untuk menjadi kepala daerah (penguasa daerah) sekaligus sebagai wakil pemerintah pusat (gubernur) dalam pemerintahan NKRI. Dua setengah abad lebih (kira-kira 263 tahun dalam hitungan kalender Jawa). Hal ini tidak perlu dipertentangkan lagi. Kedudukan.Secara yuridis (hukum formal). 19 Agustus 1945. Hal ini bisa dikarenakan selain mulai ditinggalkannya hukum adat sebagai sumber hukum nasional yang menurut pemerintah ketinggalan jaman dan tidak sesuai dengan amant UUD juga bisa . Amanat 30 Oktober 1945 & UU No.d HB X selalu berpijak atas dasar Paugeran Jawi yang secara genekologis pengganti raja adalah anak raja yang laki-laki dengan syarat-syarat kecakapan tertentu sesuai paugeran adat. Maklumat HB IX & Paku Alam VIII tanggal 5 september 1945 maupun tanggal 30 Oktober 1945. Istimewa merupakan hak politiknya dalam pemerintahan daerah setingkat propinsi. Pusaka. maka dapat disimpulkan bahwa sebenarnya mereka MASIH menghendaki adanya suatu penetapan dimana penetapan ini tidak lain adalah bersumber dari hukum adat yang diberlakukan secara turun temurun. setiap Suksesi Sultan dari HB I s. Amanat 5 September 1945. Sejak Kemerdekaan RI. sedangkan Sultan sebagai Raja adalah hak kulturalnya dalam mempertahankan adat.3/1950 adalah kontrak politik yang memberikan ruang dan waktu untuk itu dalam mewujudkan kemerdekaan sekaligus menjamin tidak akan ada Negara dalam Negara (enclave) . Pemerintah seakan-akan µsengaja¶ melupakan hukum adat dan adat istiadat jogja sebagai sumber penyelesaian isu ini. Gelar. Tahta & Mahkota Kekhalifahan diperuntukkan khusus untuk lakilaki yang berhak menjadi raja. demikian juga Panji-Panji. mengingat Piagam Kedudukan 19 Agustus 1945. Menrurut penulis. Bagaimana peranan hukum adat dalam penyelsaian isu mengenai cara penentuan gubernur-wagub DIY yang masih menjadi perdebatan saat ini? Peranan hukum adat dalam isu mnegenai cara pnentuan gub wagub DIY makin surut. Bukti yuridisnya adalah dalam hal Kepala Pemerintahan DIY yang dijabat oleh Sultan & Adipati yang bertahta sesuai Piagam Kedudukan. Hal ini mengingat bahwa karena kharisma dwitunggal Sri Sultan . keistimewaan DIY akan lebih Istimewa jika Sultan tetap sebagai Gubernur.

maka peranan hukum adat masih perlu dan pentng digunakan sebagai sumber hukum nasional. maka akan lebih baik jika dalam rangka penyelesaian isu ini diikut sertakan pula paugeran jawi sebagai alternatif penyelesaiannya. 2. tradisi & . sebenarnya hukum adat mempunyai peranan yang cukup besar dalam penyelesaian isu ini karena : 1. sebenarnya masyarakat jogja masih menjunjung tinggi adat jawa dan paugeran jawi (hukum non formal) dan masy jogja pun menilai hkm adat msh bisa diberlakukan di DIY sampai skrg ini.karena adanya kekuatan politik tertentu yang ingin memakai isu ini untuk keuntungan gpolongannya. Namun. Bahwa dengan melihat kenyataan bahwa jogja adalah daerah yang khas dan istimewa dengan kebudayaan dan paugeran jawi . Hukum adat dikatakan ketingalan jaman apabila hukum adat itu sudah tidak sesuai dengan nilai-niali yang hidup dalam masyrakat dan sudah tidak dapat lagi digunakan sebagai sumber hukum. Bahwa bagaimanapun juga hukum adat statusnya maisih sebagai sumber hukum nasinal sehingga harus digunakan secara maksimal biarpun cara penyelesaian hukum adat tidak disetujui oleh pemerintah tapi kalau masy jogja sendiri masih menginginkannya pemerintah harus menyetujuinya dan tidak bolejh memaksakan kehendak. Pemerintah juga jangan sampai mengabaikan aspirasi masy jogja. masy jogja tetap ingin gub wagub ditentukan melalui penetapan. Kalau dilihat faktanya. tidak sekedar memasukkan unsur paugeran jawi. Padahal tidak semua hukum adat ketinggalan jaman. tp jg harus memperhatikan aaspirasi masy jogja . buktinya sampai saat ni tidak ada maslah yg serius mnegenai kepemimpinan sultan dan masy jogja masih menjaga kesetiaannya kepada sang sultan dan paku alam hal ini dikarenakan kharisma dwitungal ini masih sangat tinggi di mata masy. bukan pemilihan. maka PENUTUP KESIMPULAN Secara turun temurun sesuai adat-istiadat & paugeran Jawi (hukum non formal) Sultan sebagai pimpinan kultural bertanggung jawab penuh untuk menjaga aturan adat. Maka dari itulah. karena bagaimanapun juga sebenarnya masy jogja masih mengakui keberadaan hukum adat yang hidup di jogja. Begitu pentingnya peranan hukum adat dalam penyelesaian isu ini serta pentingnya hukum adat ini sebagai sumber hukum RUUKDIY maka sebaiknya pemerintah tetap memperhatikan dan menggunakann hukum adat ini. Masyarakat jogja masih sangat kental dengan budaya jawanya dan masih tingginya kharisma sultan dan paku alam dalam diri masy jogja. 3.

Percuma juga pemerintah menggulirkan wacana pemilihan gubernur DIY secara demokratis sebagai amanah dr UUD kalau memang masy jogja sendiri ternyata tidak menghenadaki adanya pemilihan. SARAN Menurut penulis yang paling utama adalah keterlibatan dan aspirasi msyarakay jogja. mengenai bentuk pemerintahan daerah yang kerajaan serta penetapan Sri Sultan sebagai Gubernur dan Paku Alam sebagai wakil gubernur. maka peranan hukum adat masih perlu dan pentng digunakan sebagai sumber hukum nasional. Kalifatullah. sebenarnya hukum adat mempunyai peranan yang cukup besar dalam penyelesaian isu ini karena jogja adalah daerah yang khas dan istimewa dengan kebudayaan dan paugeran jawi . bagaimanapun juga hukum adat statusnya maisih sebagai sumber hukum nasinal sehingga harus digunakan secara maksimal biarpun cara penyelesa hukum ian adat tidak disetujui oleh pemerintah tapi kalau masy jogja sendiri masih menginginkannya maka pemerintah harus menyetujuinya dan tidak bolejh memaksakan kehendak. Abdurachman.. yaitu Senopati Ing Ngalogo. jika mekanisme pemilihan tetap diterapkan. sebenarnya yang menjadi soal bukan penetapan ato pemilihan tapi pada pelestarian budaya lokal. Kalau dilihat dari reaksi masyarakat jogjakarta terhadap penjelasan presiden SBY. maka akan lebih baik jika dalam rangka penyelesaian isu ini diikut sertakan pula paugeran jawi sebagai alternatif penyelesaiannya. keraton adalah salah satu cagar budaya di Yogyakarta. maka dapat disimpulkan bahwa sebenarnya mereka MASIH menghendaki adanya suatu penetapan dimana penetapan ini tidak lain adalah bersumber dari hukum adat yang diberlakukan secara turun temurun. sekaligus mengemban mandat (amanah) sebagaimana gelar yang disandangnya. Namun.budaya. Brati kalo pemerintah tetap memaksa mengadakan pemilihan brati pemerintah tidak melaksankaan demokrasi itu sendiri.Sri Paduka Paku Alam yang masih sangat tinggi di masyarakat jogja. tp jg harus memperhatikan aaspirasi masy jogja. Masyarakat jogja masih sangat kental dengan budaya jawanya dan masih tingginya kharisma sultan dan paku alam dalam diri masy jogja. Sayidin Panatagama. yang terjadi adalah hilangnya nilai-nilai budaya yang tumbuh di dalam keraton itu sendiri. hal itu dapat dilihat dalam sejarah keistimewaan dan sejarah . Hal ini mengingat bahwa karena kharisma dwitunggal Sri Sultan . tidak sekedar memasukkan unsur paugeran jawi. dan sri sultan serta Paku Alam adalah bagian dari keraton.

php?p=322994797 http://id. Jadi keputusan sidang kabinet yang memaksakan pemilijan gubernur-wagub sejatinya sebagai bentuk keputusan berwatak monarki yang mematikan tatanan demokrasi serta adat istiadat yang hidup di DIY.FAK.2004.detik.wikisource.com/tag/hukum-adat/ ttp://forum. DAFTAR PUSTAKA MOHAMMAD JAMIN.terbentuknya Yogyakarta.html?s=5520e45d620fb2782841b3d0e59d567a&amp.us/showthread.HUKM UNS HARIAN KOMPAS 3 DESEMBER 2010 (PEMERINTAH USUL GUB DIPILIH) HARIAN MEDIA INDONESIA 30 NOV 2010(SBY HRS PELAJARI SEJAR AH) HARIAN KOMPAS 4 DESEMBER 2010 (SIKAP PEMERINTAH DISESALKAN) http://liapadma.wordpress.kaskus.t=2891 4&page=10 http://www.BAHAN PERKULIAHAN HUKUM ADAT DAN SISTEM HUKUM NASIONAL.org/wiki/Rancangan_UndangUndang_Republik_Indonesia_tentang_Keistimewaan_Provinsi_Daerah_Istimewa_Yogyakarta .com/setujukah-anda-dengan-pilkada-di-jogja-untuk-pemilihan-gubernurt28914p10.