PROBLEMATIKA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN

UPAYA-UPAYA PEMECAHANNYA DI SMA WIDYA
DHARMA TUREN MALANG



SKRIPSI



Oleh:

SAIMAH
04120054












PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
2008

PROBLEMATIKA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN
UPAYA-UPAYA PEMECAHANNYA DI SMA WIDYA
DHARMA TUREN MALANG



SKRIPSI



Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang
Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar
Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)


Oleh :

SAIMAH
04120054





















PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG

LEMBAR PERSETUJUAN

PROBLEMATIKA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN
UPAYA-UPAYA PEMECAHANNYA DI SMA WIDYA
DHARMA TUREN-MALANG




SKRIPSI





Oleh:

Saimah
04120054




Telah disetujui pada tanggal, 20 Desember 2008

Oleh:
Dosen Pembimbing



Drs. Muchlis Usman, M.A
NIP. 15009539


Mengetahui,
Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam




Drs. Moh. Padil, M. Pd.I
NIP. 150 267 235
HALAMAN PENGESAHAN

PROBLEMATIKA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN UPAYA-UPAYA
PEMECAHANNYA DI SMA WIDYA DHARMA TUREN MALANG


SKRIPSI

Dipersiapkan dan disusun oleh
Saimah (0410054)
Telah dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal 17 januari 2009
dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan
untuk memperoleh gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam ( S.Pd.I)


PANINIA UJIAN

Ketua Penguji,




Drs. Muchlis Usman, M.A
Nip. 15009539
Sekertaris Sidang,




Dr. Baharuddin, M.Ag
150 215 385



Penguji Utama,



Dra. H.J Sulala. M.A
150267279
Dosen Pembimbing,



Drs. Muchlis Usman, M.A
Nip. 15009539


Mengesahkan,
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang




Prof. Dr. H. M. Djunaidi Ghony
NIP. 150 042 031

LEMBAR PERSEMBAHAN
Ya Rabb
Inilah kata-kataku
Bahasa paling wadag
Dari gairah cintaku
Hasrat untuk bertemu dengan-Mu
Ya Rabb
Betapa masih jauh
Jarak antara ketika
Masih kubutuhkan
Ungkapan
Ya Rabb
Dari hari kehari terus kunanti
Saat mereka dari tubuh ruang waktu ini
Tak perlu kupanggil lagi
Dimana senyum-Mu
Langsung mengasihi
Rohku ini.
Skripsi ini ku persembahkan
Untuk mutiara hatiku
Ama dan Inaku (Abdullah&Khairunnas)
ama, ina terimakasih banyak atas segala
pengorbananmu yang telah memberikan
cinta kasihmu pada ananda
SURAT PERNYATAAN


Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan tinggi,
dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau hasil penelitian
orang lain, kecuali yang tertulis dan mengacu dalam naskah ini serta disebutkan
dalam daftar pustaka.




Malang, 20 Desember 2008




Saimah
NIM. 04120054






















PERNYATAAN PEMBIMBING

Drs. Muchlis Usman, M.A
Dosen Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri Malang
NOTA DINAS PEMBIMBING
Malang, 20 Desember 2008

Lamp : 4 (empat) Eksemplar
Hal : Pernyataan Pembimbing Skripsi Saimah


Kepada Yth.
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang
Di
Malang


Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Sesudah beberapa kali melakukan bimbingan, baik dari segi isi, bahasa
maupun teknik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di
bawah ini :

Nama : Saimah
NIM : 04120054
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Judul Skripsi : Problematika Pendidikan Agama Islam dan Upaya-Upaya
Pemecahannya Di SMA Widya Dharma Turen -Malang

melalui metode kajian pustaka.

Maka selaku pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak
di ajukan untuk ujikan.

Demikian mohon dimaklumi adanya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.



Pembimbing,



Drs. Muchlis Usman M.A
NIP. 15009539
DEPARTEMEN AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
FAKULTAS TARBIYAH
Jalan Gajayana No.50 Telepon (0341) 552398 Faksimile (0341) 552398


BUKTI KONSULTASI

Nama :Saimah
Nim :04120054
Dosen Pembimbing :Drs. Muchlis Usman M.A
Judul Skripsi :Problematika Pendidikan Agama Islam dan Upaya-upaya
Pemecahannya Di SMA Widya Dharma Turen Malang.


No Tanggal Hal Yang Dikonsultasi Tanda Tangan
1. 17 Juli 2008 Refisi Proposal 1.
2. 27 Juli 2008 Refisi Bab I 2.
3. 9 Agustus 2008 Refisi Bab I 3.
4. 13 Agustus 2008 ACC Bab I 4.
5. 25 Agustus 2008 Refisi Bab II 5.
6. 28 Oktober 2008 Acc bab ii 6.
7. 31 Oktober 2008 Refisi Bab II 7.
8. 8 November 2008 ACC Bab III 8.
9. 2 Desember 2008 Refisi Bab IV 9.
10. 5 Desember 2008 Revisi Bab IV 10.
11. 20 Desember 208 Acc Bab, I,II,II,IV,V,VI 11.



Malang, 5 desember 2008
Mengetahui,
Dekan Fakultas Tarbiyah



Prof. Dr. H. M. Djunaidin Ghony
NIP. 150 042 031

KATA PENGANTAR




Alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melmpahlam segala nikmat, rahmat dan inayahnya kepada penulis, sehingga
penulisan skripsi yang berjudul “Problematika Pendidikan Agama Islam dan
Upaya-upaya Pemecahanya di SMA Widya Dharma Turen-Malang”.
Shalawatullah wasalamuhu semoaga senantiasa terlimpahkan kepada serta
revolusioner penggagas kedamaian dan kebenaran serta kebajikan yaitu baginda
Rasulullah saw. yang telah memberikan satu solusi dalam rahmatulil’alami
sebagai peran moral dan cita-cita islam.
Dalam menyelesaikan skripsi ini, tentunya tidak terlepas dari beberapa
pihak terkait yang telah banyak memberi motivasi serta kritikan yang konstruktif
dalam menyelesaikan skripsi, maka sudah barang tentu menjadi suatu kewajiban
bagi kami khususnya penulis untuk mengucapkan terimakasih yang setinggi-
tingginya kepada:
1. Amaku dan inaku (Abdullah & Khairunnas) tercinta yang telah melahirkan
dengan sepenuh kasih sayang dan kesabaran untuk memberikan dorongan
moril, sprituil maupun material dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.
2. Bpk. Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku rektor Universitas Islam Negeri
(UIN) Malang.
3. Bpk. Prof. Dr. H. M. Djunaidin Ghony selaku dekan Fakultas Tarbiyah
Universitas Negeri Islam (UIN) Malang.
4. Bpk Drs. Moh. Padil M.Pd.I selaku ketua jurusan Fakultas Tarbiyah
Universitas Negeri Islam (UIN) Malang.
5. Drs. Muchlis Usman, M.A selaku dosen pembimbing yang penuh kesabaran
dan ketelitian memberikan pengarahan kepada penulis sehingga dalam
penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan.
6. Bpk Drs. Tri Djoko Kusminto selaku kepala sekolah SMA Widya Dharma
Turen yang telah berkenan memberi izin dan kesempatan untuk mengadakan
penelitian dan sekaligus memberikan bantuan berupa informasi-informasi
yang berkenaan dengan pembahasana dalam skripsi ini.
7. Segenap dewan guru dan karyawan serta siswa-siswi di SMA Widya Dharma
Turen yang telah membantu memberikan informasi-informasi yang berkenaan
dengan pembahasan skripsi dalam skripsi ini.
8. Kakak-kakakku yang tercinta yang selalu memberikan motivasi sehingga
penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan.
9. Teman-teman seperjuangan yang selalu menghibur penulis disaat-saat
penulisan skripsi ini terlaksana. Pieta makasi ya, mbk ima sangat sayang kamu
walaupun kita berpisah nanti.
Semoga atas bantuan dan dorongan yang dicurahkan kepada penulis, akan
menjadi amal ibada yang diterima di sisi Allah SWT.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini jauh dari
kesempurnaan, semua itu karena keterbatasan pengetahuan serta ketajaman
analisis yang kami miliki. Oleh karena itu saran dan kritikan yang konstruktif
selalu kami dambakan demi perbaikan penelitian berikutnya.
Akhirnya semoga amal bhakti mereka diterima di sisi Allah SWT. dan
semoga mendapatkan balasan yang setimpal dari-Nya. Harapan penulis mudah-
mudahan karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya, dan
para pembaca pada umumnya, untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam
pengembangan pendidikan agama islam ke depan, amiin.




penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i
LEMBAR PERSETUJUAN............................................................................ ii
BUKTI KONSULTASI ................................................................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN......................................................................... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN...................................................................... v
HALAMAN MOTTO...................................................................................... vi
HALAMAN NOTA DINAS............................................................................ vii
HALAMAN PERNYATAAN......................................................................... viii
KATA PENGANTAR..................................................................................... ix
DAFTAR ISI .................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL............................................................................................ xiv
ABSTRAK........................................................................................................ xv

BAB I: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................ 7
C. Tujuan Penelitian.......................................................................... 7
D. Kegunaan Penelitian..................................................................... 8
E. Sistematika Pembahasan .............................................................. 9

BAB II: KAJIAN PUSTAKA
A. Tinjauan Tentang Pendidikan Agama Islam................................ 12
1. Pengertian Pendidikian Agama Islam.................................... 12
2. Tujuan Pendidikan Agama Islam........................................... 13
B. Tinjauan Tentang Problematika Pendidikan Agama Islam.......... 16
1. Pengertian Problematika Pendidikan Agama Islam............... 16
2. Faktor-faktor yang Timbul dalam Pelaksanaan Pendidikan
Agama Islam.......................................................................... 19
3. Upaya yang Dilakukan Dalam Mengatasi Problematika
Pendidikan Agama Islam....................................................... 40

BAB III: METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian................................................... 53
B. Instrumen Penelitian..................................................................... 54
C. Lokasi Penelitian.......................................................................... 55
D. Sumber Data................................................................................. 56
E. Prosedur Pengumpulan Data ........................................................ 57
F. Metode Pembahasan..................................................................... 60
G. Tekhnik Analisis Data.................................................................. 62
H. Pengecakan Keabsahan Data........................................................ 63
I. Tahap-tahap Penelitian................................................................. 64

BAB IV: HASIL PENELITIAN
A. Latar Belakang Objek Penelitian.................................................. 66
1. Sejarah Singkat Berdirinya SMA Widya Dharma Turen....... 66
2. Visi dan Misi SMA Widya Dharma Turen ........................... 69
3. Struktur Organisasi SMU Widya Dharma Turen................... 70
4. Keadaan Guru dan Karyawan SMA Widya Dharma Turen . 71
5. Tugas Dan Tanggung Jawab Kepala dan Guru...................... 77
6. Keadaan Siswa-siswi SMU Widya Dharma Turen................ 84
7. Keadaan Kegiatan SMA Widya Dharma Turen ................... 88
8. Keadaan Sarana dan Prasarana SMA Widya Dharma Turen. 90
B. Temuan Hasil Penelitian .............................................................. 97

BAB V: KAJIAN DAN ANALISIS DATA
A. Problematika yang Dihadapi Pendidikan Agama Islam di
SMU Widya Dharma Turen Malang............................................ 109
B. Faktor-faktor yang Timbul Dalam pelaksanaan Problematika
Pendidikan Agama Islam di SMU Widya Dharma Turen-
Malang.......................................................................................... 123
C. Upaya yang Dilakukan Oleh Guru Dalam Pemecahan
Problematika Pendidikan Agama Islam di SMU Widya
Dharma Turen Malang ................................................................. 126

BAB VI: PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................... 136
B. Saran............................................................................................. 139

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
ABSTRAK

Saimah, Problematika Pendidikan Agama Islam dan Upaya-upaya
Pemecahannya di SMA Widya Dharma Turen-Malang. Skripsi, Jurusan
Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbinyah Universitas Negeri (UIN) Malang.
Drs. Muchlis Usman, M.A

Pendidikan adalah suatu kebutuhan bagi manusia untuk meningkatkan
pengetahuan. Dalam dunia pendidikan agama islam akhir-akhir ini sering
dilandasi oleh berbagai tantangan global yang menjadi problem, jika menengok ke
masa lalu yaitu pada masa abasyiah di mana pendidikan waktu itu sangat maju
sehingga melahirkan kaum intelektual dan jenius dalam bidang keagamaan.
Dengan melihat hal seperti itu bila dikaitkan pada era global seperti pada saat ini
sesungguhnya pendidikan khususnya pendidikan agama islam malah semakain
terpuruk. Dengan semakian majunya dunia tekhnologi maka akan berdampak
pada keterpuruknya dunia pendidikan islam khususnya dikalangan anak-anak
remaja, bentuk problematika pendidikan agama islam seperti ini pemerintah perlu
menginovasinya agar pendidian islam bisa mencapai puncak seperti pada zaman
keemasan dahulu. Sebagaimana pendapatnya Syamsul Ma’rif pendidikan agama
islam saat ini, sungguh masih dalam kondisi yang mengenaskan dan
memprihatinka karena pendidikan agama islam mengalami keterpurukan jauh
tertinggal denan pendidikan Barat. Akibata dari timbulnya problem tersebut baik
dari segi anak didik, pendidik, kurikulum dan sarana dan prasarana serta
lingkungan hampir adanya problematika. Berangkat dari latar belakang itulah
penulis kemudian ingin membahasnya dalam skripsi dan mengambil judul
problematika pendidikan agama islam dan upaya-upaya pemecahannya.
Problematikan yang timbul dalam dunia pendidikan agama islam akhir-
akhir ini disebabkan karena beberapa faktor yaitu faktor internal, faktor
institusional dan faktor eksterna, selain itu karena adanya dikotomisasi antara
pendidikan umum dan pendidikan agama islam sehingga pendidikan agama islam
tidak terlalu diperohatikan oleh pemerintah dan akhirnya masyarakatpun tidak
menganggap penting terhadap pembelajaran pendidikan agama islam.
Adapun tujuannya dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui latar
belakang timbulnya problematikan pendidikan agama islam, untuk mengetahui
kendala-kendala yang terjadi dalam pemecahan problematika pendidikan agama
islam, serta untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan oleh guru dalam
pemecahan problematika pendidikan agama islam.
Penelitian yang penulis lakukan ini adalah termasuk dalam penelitian
deskriptif kualitatif. Dan selama mengumpulkan data, penulis menggunakan
metode observasi, interview, dan dokumetasi. Sedangkan untuk analisisnya,
penulis menggunakan tekhnik analisisis deskriptif kualitatif, yaitu berupa data-
data yang tertulis, data lisan dari pihak-pihak yang berkaitan di lokasi penelitian
sehingga dalam hal ini penulis berupaya mengadakan penelitian yang bersifat
menggambarkan kata-kata secara menyeluruh tentang keadaan yang terjadi di
lapangan.


Hasil dari peneletian yang dilakukan penulis dapat disampaikan
bahwasanya peneliti mencoba menawarkan solusi sebagai suatu alternatif untuk
memecahkan problematika pendidikan agama islam yaitu meningkatkan motivasi
belajar siswa, melengkapi sarana dan prasarana dan memperbaiki lingkungan
sekolah dan sekitarnya. Bila ada alternatif lain maka hal itu dapat dijadikan suatu
masukan untuk memperbaiki pendidikan agama islam dalam skripsi ini.

Kata Kunci: Problematika, Pendidikan Agama Islam,Upaya, Pemecahanya




BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Hampir semua tujuan pendidikan baik dalam kacamata umum maupun
agama selalu mengidealkan terciptanya sikap anak didik yang dewasa. Proses
pendidikan yang hanya menekan kedewasaan intelektual akan memunculkan
manusia yang cerdas tapi tidak bermoral, emosional, intolern, miskin
solidaritas dan tidak humanis. Selama ini pendidikan agama secara normative
diakui mampu menformulasikan dan mengakumulasi idealitas tujuan
pendidikan tersebut. Namun secara empiris, lembaga pendidikan agama
maupun lembaga umum yang terkait dengan timbul keagamaan dalam
prakteknya sering mengecewakan dan tidak konsisten terhadap misi
idealnya.
1

Pendidikan adalah salah satu bentuk interaksi manusia dan sebagai
tindakan sosial. Hal tersebut disebabkan karena adanya aspek-aspek social
yang digambarkan karena individu-individu satu sama lain saling
ketergantungan dalam proses belajar. Sekolah, yang merupakan institusi
formal untuk belajar, mengharuskan sejumla persyaratan kepada pendidikan.
Akibatnya belajar di sekolah sangat berlainan dengan yang berlaku di dalam
keluarga. Jadi pendidikan dalam pengertiannya mempunyai makna yang
sangat luas dan dapat dianggap sebagai proses sosialisasi seseorang yang
mempelajari cara hidupnya.
2



1
Roibin, Menuju Pendidikan Berwawasan Berkerukunan, Malang: Jurnal El-Harakah Edisi 58,
2002, hlm.11
2
Hasan, Laggulung, Asas-Asas Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1992), hlm. 17
”Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang system pendidikan
nasional mendefinisikan pendidikan sebagai ”usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat,bangsa, dan Negara”
3


Ini berarti pendidikan merupakan proses atau upaya sadar untuk
menjadikan manusia kearah yang lebih baik. Untuk mengembangkan potensi
siswa diperlukan suatu strategis yang sistematis dan terarah. Pendidikan dapat
pula diartikan sebagai bimbingan jasmani dan rohani peserta didik menuju
terbentuknya kepribadian yang utama. Oleh karena itu, pendidikan dipandang
sebagai salah satu aspek yang memiliki peranan pokok dalam membentuk
generasi muda agar memiliki kepribadian yang utama.
4

Walaupun tujuan pendidikan mengarah ke arah yang positif, tetapi
tidak terlepas dari tantangan global seperti yang marak terjadi saat ini. Di
dalam berbagai analisis mengenai trend kehidupan global , termasuk trend
pula dalam mengembangkan system pendidikan. Terkait dengan fenomena
sekarang kehidupan umat manusia dalam millenium baru mempunyai dimensi
yang bukan hanya dimensi domestik tetapi global.
5
Kehidupan global akan
melahirkan budaya global. Dewasa ini kita melihat betapa kebudayaan global,
telah mulai melanda kehidupan umat islam yang tanpa batasan kepada
berbagai bentuk “life style” yang mulai melanda kehidupan generasi muda
terutama di kota-kota besar. Cara hidup global, tontonan global, cita rasa
global telah memasuki kehidupan siswa sebagai generasi muda. Di satu pihak

3
Undang-undang RI Tahun 2003 Tentang System Pendidikan Nasional Pasal 1,(Bandung: Cita
Umbara, 2003), hlm.3
4
Zuhairini & Abdul Ghofir, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Malang: UIN
Malang Press 2004), hlm.1.
5
H.A.R, Tilar, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hlm.15.
budaya global atau modernisasi dapat membuka horizon pemikiran yang
positif, akan tetapi juga kemungkinan masuknya unsur-unsur budaya global
yang penuh modern seperi yang terjadi saat ini bisa berdampak negatif yang
meracuni kehidupan generasi muda. Hal ini telah merasuki pemikiran para
generasi jauh dari pemahaman tentang islam.
Adapun usaha Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah agar mampu
membentuk kesalehan pribadi dan sekaligus kesalehan sosial sehingga dapat
membentuk ukhuwah yang baik dalam lembaga pendidikan maupun
lingkungan masyarakat. Kualitas kesalehan diharapkan mampu membentuk
hubungan keseharian dengan manusia lain, baik sesama muslim maupun non
muslim, serta dalam berbangsa dan bernegara sehingga dapat terwujud
persatuan dan kesatuan umat manusia.
6

Selain usaha guru dalam mendidik siswa, Pendidikan Agama Islam
masih memerlukan bantuan kita bersama, demi mewujudkan hasil dan kualitas
pendidikan yang dicita-citakan. Pendidikan sekarang ini kurang bisa
menciptakan siswa untuk memahami hakekat pembelajaran yang telah
disampaiakan sehingga di luar sekolah siswa cenderung melakukan hal-hal
yang tidak wajar (kenakalan remaja), melanggar norma dan etika agama.
Dalam agama Islam terkandung suatu potensi yang mengacu pada dua
fenomena yang berkembang yaitu:




6
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan Pendidikan Islam Di Sekolah,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm.75
1. Potensi psikologi dan pedagogis yang mempengaruhi manusia untuk
menjadi pribadi yang berkualitas baik dan menyandang derajat mulia.
2. Potensi pengembangan kehidupan manusia sebagai khalifah dimuka bumi
yang dinamis dan kreatif serta responsif terhadap lingkungan sekitarnya.
Lingkungan yang alamiah maupun yang ijtimaiah, di mana Tuhan menjadi
potensi sentral berkembanganya.
7

Untuk mengaktualisasikan dan menfungsikan potensi tersebut
diperlukan ikhtiar kependidikan yang sistematis berencana berdasarkan
pendekatan dan wawasan yang interdisipliner. Karena manusia semakin
terlibat terhadap proses perkembangan sosial itu sendiri menunjukkan adanya
interelasi dan interaksi dari berbagai fungsi.
Nilai pendidikan islam telah menjadi ilmu yang ilmiah dan amaliah,
maka ia akan dapat berfungsi sebagai sarana pembudayaan manusia yang
bernafaskan islam yang lebih efektif dan efisien. Telah diketahui bahwa sejak
islam diartikulasikan melalui dakwahnya dalam masyarakat sampai kini,
proses kependidikan islam yang mengacu pada masyarakat yang beraneka
ragam kultur dan struktur. Akhir-akhir ini, akibat timbulnya perubahan sosial
diberbagai sektor kehidupan umat manusia, beserta nilai-nilanya ikut
mengalami pergeseran yang belum mapan. Pendidikan islam seperti yang
dikehendaki umat islam harus mengubah strategi dan titik operasional. Oleh
karena itu pula akan timbul suatu problem dalam dunia pendidikan islam yang
akan dicari solusinya dan pada akhirnya akan memberikan kesejahteraan pada
kehidupan masyarakat.

7
Muzayyin, Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam, ( Jakarta: PT.Bumi Aksara, 2003), hlm. 3-4
Pendidikan Islam tidak menutup kemungkinan dapat mengkombinasi
antara pandangan islam dengan pemikirn pendidikan modern sepanjang
memiliki relevansi yang kuat dalam menkonstruksi pemikiran pendidikannya.
Pada prinsipnya, pendidikan islam harus dengan akal dan antara wahyu
dengan alam. Sebagaimana agama yang sesuai dengan sunnatullah tentu
ummat islam diwajibkan belajar dari fenomena alam.
Di samping itu, pergeseran idealitas masyarakat yang menunjukkan
kearah pola pikir rasional tekhnologis yang cenderung melepaskan diri dari
tradisionalisme kultural edukatif makin membengkak. Inilah berbagai
pencerminan kemelut yang terjadi pada masyarakat terutama dalam dunia
pendidikan agama islam, Namun demikian lembaga pendidikan islam kita
yang masih bersifat konservatif dan statis dalam menyerap tendensi dan
aspirasi masyarakat masa kini. Dalam problem ini kita perlu mengacu diri
untuk melakukan inovasi dalam wawasan, strategi dan program sedemikian
rupa, sehingga mampu menjawab secara aktual dan fungsional terhadap
tantangan baru. Apalagi bila kita mengingat bahwa misi pendidikan agama
islam lebih berorientasi kepada nilai-nilai luhur dari Tuhan yang harus
diinternalisasikan ke dalam lubuk hati sehinggga muncul kepribadian yang
mencerminkan nilai-nilai islam.
Problem lain juga yang dirasakan dalam pendidikan agama islam
selama ini adalah adanya kesenjangan antara pendidikan agama dan perilaku
peserta didik secara khusus yang menyimpang dari norma-norma ajaran
agama. Problem ini muncul karena diakibatkan oleh budaya orientasi
pendidikan agama islam di sekolah yang kurang tepat.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan kurang efektifnya Pendidikan
Agama Islam di sekolah, antara lain:


a. Faktor internal
Faktor internal adalah faktor yang muncul dari dalam diri guru
agama itu sendiri yang meliputi kompetensi yang masih relative rendah,
pendekatan metodologi guru yang tidak mampu menarik minat siswa pada
pembelajaran agama islam, solidaritas guru agama dengan guru non agama
masih sangat terbatas, kurangnya persiapan guru agama untuk
menyampaikan mata pelajaran, hubungan guru agama dengan siswa yang
formal.
b. Faktor institusional
Adapun faktor institusional meliputi alokasi jam pelajaran
pendidikan agama islam pada kurikulum yang terlalu overloaded.
Ketiga hal tersebut diharapkan akan bisa dicari solusinya dan bisa
memberi konstribusi yang bagus bagi peserta didik nantinya, karena
dengan melihat problem-problem yang terjadi dalam dunia pendidikan,
terutama Pendidikan Agama Islam dan mengaktualisasikan pendidikan
agama islam sebagai pelajaran penting untuk mewujudkan keselamatan
dunia dan akhirat.
c. Faktor eksternal
Adapun problem dalam faktor ini adalah sikap masyarakat dan
orang tua kurang concer terhadap pendidikan agama yang berkelajutan,
situasi lingkungan sekitar sekolah yang banyak pengaruh buruk, pengaruh
negative dari perkembangan teknologi seperti internet, play station (PS),
dan lain sebagainya.

Sehubungan dengan latar belakang masalah tersebut, maka menarik
sekali untuk diteliti atau dikaji oleh karena itu dalam penelitian skripsi ini
penulis mengambil judul ”Problematika Pendidikan Agama Islam dan
Upaya-upaya Pemecahannya di SMU Widya Dharma Turen-Malang”.

B. Rumusan Masalah
1. Apa problem yang dihadapi Pendidikan Agama Islam di SMU Widya
Dharma Turen Malang?
2. Kendala-Kendala Apa Yang Dihadapi Dalam Pemecahan Problematika
Pendidikan Agma Islam di SMU Widya Dharma Turen-Malang.
3. Upaya apa yang dilakukan oleh guru dalam pemecahan problematika
Pendidikan Agama Islam di SMU Widya Dharma Turen Malang?

C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di SMU Widya
Dharma Turen Malang.
2. Untuk mengetahui Kendala-Kendala Yang Dihadapi Dalam Pemecahan
Problematika Pendidikan Agma Islam di SMU Widya Dharma Turen
Malang.
3. Untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan oleh guru dalam
pemecahan problem Pendidikan Agama Islam di SMU Widya Dharma
Turen Malang.


D. Kegunaan Penelitian
Dalam melaksanakan penelitian ini tentuya akan membawa suatu
kegunaan, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis, dan hasil penelitian
ini diharapkan dapat berguna bagi:
1. Bagi Lembaga Pendidikan:
ƒ Sebagai tambahan informasi tentang bagaimana pelaksanaan
Pendidikan Agama Islam.
ƒ Sebagai bahan kajian tentang problematika dan pemecahan dalam
Pendidikan Agama Islam.
ƒ Sebagai acuan atau bandingan agar dapat mengambil kebaikan dan
mengatasi keburukannya.
2. Bagi Almamater
ƒ Sebagai suatu masukan bagi pelaksanaan pendidikan, dalam rangka
untuk meningkatka kualitas belajar terhadap Pendidikan Agama Islam.
ƒ Sebagai bahan dokumentasi dan masukan yang akan dipakai sebagai
dasar atau perbandingan pada penelitian selanjutnya.
3. Bagi Peneliti
ƒ Sebagai pedoman dalam rangka melaksanakan tugas sebagai pendidik
yang akan terjun langsung untuk mengamalkan segala ilmu yang telah
dipelajari.
ƒ Sebagai penambahan pengetahuan keilmuan sehingga dapat
mengembangkan wawasan baik secara teori maupun praktek.


G. Sistematikan Pembahasan
Sistematika yang dimaksud merupakan isi dari pembahasan secara
singkat yang terdiri dari enam bab, dan untuk lebih mengarahkan skripsi ini,
maka penulis membuat sistematika pembahasan sebagai berikut:
Bab Pertama, Pendahuluan yang merupakan titik tolak dari penulisan
skripsi ini yang berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan penelitian, kegunaan penelitian, dan sistematika pembahasan.
Bab Kedua, Kajian teoritis diantaranya membahas tentang (A) PAI:
pengertian Pendidikan Agama Islam, tujuan dan fungsi pendidikan agama
islam, dasar-dasar Pendidikan Agama Islam. (B) problematika Pendidikan
Agama Islam, yang meliputi: problem anak didik dalam Pendidikan Agama
Islam, problem manajemen dalam pendidikan agama islam, problem
kurikulum dalam Pendidikan Agama Islam, problem sarana dan prasarana
dalam Pendidikan Agama Islam, (C) langkah-langkah dalam mengatasi
problem pendidikan agama islam, yang meliputi: perkembangan anak didik
dalam Pendidikan Agama Islam, perkembangan pendidikan dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam, perkembangan manajemen dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam, perkembangan kurikulum dalam
Pendidikan Agama Islam, perkembangan sarana dan prasarana dalam
pembelajaran pendidikan agama islam, perkembangan dalam Pendidikan
Agama Islam.
Bab Ketiga, Metode penelitian yang terdiri dari pendekatan dan jenis
penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, prosedur
pengumpulan data, analisa data dan pengecekan keabsahan temuan serta
tahap-tahap penelitian.
Bab Keempat, Laporan hasil penelitian, meliputi: (A) latar belakang
obyek: sejarah singkat lembaga pendidikan Widya Dharma Turen-Malang,
visi misi, struktur organisasi, keadaan guru dan karyawan, tugas dan tanggung
jawab guru dan karyawan, keadaan siswa SMA Widya Dharma Turen,
keadaan kegiatan siswa SMA Widya Dharma Turen, keadaan sarana dan
prasarana SMA Widya Dharma Turen . (B) temuan hasil penelitian:
pengertian pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen, kendala
dalam pemecahan problematika pendidikan agama islam SMA Widya Dharma
Turen, upaya pemecahannya dalam problematika pendidikan agama islam di
SMA Widya Dharma Turen.
Bab Kelima, Pembahasan hasil penelitian yang dilakukan di SMU
Widya Dharma Turen Malang. Dari sinilah peneliti dapat mengklasifikasikan
data-data dalam rangka mengambil kesimpulan penyajian.
Bab Keenam, Kesimpulan dan saran, menjelaskan tentang kesimpulan
dan saran yang berkaitan dengan problematikan Pendidikan Agama Islam dan
upaya pemecahanya di SMU Widya Dharma Turen-Malang.










BAB II
KAJIAN TEORI
A. TINJAUAN TENTANG PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
1. Pengertian Pendidikana Agama Islam
Sebelum penulis uraikan lebih lanjut tentang pengertian
problematika pendidikan agama islam, terlebih dahulu akan penulis
uraiakan tentang pengertian pendidikan agama islam.
Pendidikan agama islam adalah upaya sadar dan terencana dalam
menyiapkan anak didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga
mengimani ajaran agama islam, dibarengi dengan tuntutan untuk
menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan
antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.
8

Dan untuk mencapai pengertian tersebut maka harus ada
serangkaian yang saling mendukung antara lain:
a. Pendidikan agama islam sebagai usaha sadar, yakni suatu kegiatan
bimbingan, pengajaran dan atau latihan yang dilakukan secara
berencana dan sadar akan tujuan yang hendak dicapai.

8
Kurikulum PAI, 2002, hlm. 3
b. Peserta didik yang hendak disiapkan untuk mencapai tujuan, dalam
arti yang dibimbing, diajari dan atau dilatih dalam peningkatan
keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengalaman terhadap ajaran
agama islam.
c. Pendidik atau guru (gbpai) yang melakukan kegiatan bimbingan,
pengajaran dan latihan secara sadar terhadap pesereta didiknya untuk
mencapai tujuan tertentu.
d. Kegiatan pai diarahkan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman,
penghayatan, dan pengamalan terhadap peserta didik yang di samping
untuk dengan cita-cita islam, karena nilai oslam menjiwai dan
mewarnai corak kepribadiannya.
Dengan istilah lain, manusia yang telah mendapatkan pendidikan
islam itu harus mampu hidup di dalam kedamaian dan kesejahteraan
sebagaimana cita-cita islam.
Pengertian pendidikan agama islam dengan sendirinya adalah suatu
sistem pendidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang
dibutuhkan oleh hamba Allah. Pendidikan islam bersumber pada nilai-nilai
tersebut yang melandasinya adalah merupakan proses ikhtiarah yang
secara pedagogis kematangan yang menguntungkan.
9

2. Tujuan Pedidikan Agama Islam
Sebelum lebih jauh menjelaskan tujuan pendidikan islam terlebih
dahulu dijelaskan apa sebenarnya makna dari ”tujuan” tersebut. Secara
etimologi ”tujuan” adalah diistilahkan dengan ”ghayat, ahdaf, atau

9
H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1991) hlm.13
maqashid. Sementara dalam bahasa inggris diistilahkan dengan ”goal,
purpose, objectives atau ”aim”. Sedangkan secara terminologi, tujuan
berarti ” sesuatu yang diharapkan tercapai setelah sebuah usaha atau
kegiatan selesai”10 H.M. Arifin menyebutkan, bahwa tujuan proses
pendidikan islam adalah ”idealitas (cita-cita) yang mengandung nilai-nilai
islam yang hendak dicapai dalam proses kependidikan yang berdasarkan
ajara islam secara bertahap”.11
Berdasarkan pada pengertian pendidikan islam yaitu sebuah proses
yang dilakukan untuk menciptakan manusia-manusia yang seutuhnya;
beriman dan bertaqwa kepada Allah serta mampu mewujudkan
eksistensinya sebagai khalifah Allah di muka bumi, yang berdasarkan
kepada ajaran Al-Qur’an dan sunnah, maka tujuan dalam konteks ini
berarti terciptanya insan kamil setelah proses pendidikan berakhir.
a) Fungsi tujuan
Mengapa dibutuhkan tujuan? Untuk menjawab pertanyaan ini,
Ahma D Marimba dalam bukunya ”pengantar filsafat pendidikan
islam” menyebutkan bahwa setiap usaha mengalami akhir. Ada usaha
yang terhenti karena gagal sebelum mencapai tujuan, tetapi usaha
tersebut belum dapat disebut berakhir. Karena pada umumnya suatu
usaha baru berakhir setelah tujuan akhir tercapai. Dengan demikian
fungsi tujuan yang pertama mengakhiri usaha.

10
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 1995), Edisi ke-2 hlm.1077
11
Zakiyah Daradjat, dkk., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara dan Departemen Agama
RI, 1992) hlm. 29
Fungsi kedua, dari tujuan adalah mengarahkan usaha. Tanpa
adanya antisipasi atau pandangan ke arah tujuan, maka penyelewengan
akan banyak terjadi, dan kegagalan-kegagalan akan selalu di ambang
pintu.
Fungsi ketiga, dari tujuan sebagai titik tolak untuk mencapai
tujuan-tujuan lain. Baik tujuan baru maupun tujuan lanjutan dari tujuan
pertama. Oleh karena itu, dapat dikatakan, bahwa dari satu segi tujuan
bisa membatasi ruang gerak usaha, sementara dari segi lain tujuan
dapat mempengaruhi dinamika usaha.
Fungsi keempat, memberi nilai (sifat) pada usaha-usaha tersebut.
Ada usaha-usaha yang bertujuan lebih luhur daripada usaha-usaha
lainnya. Ada usaha yang bertujuan lebih besar dari yang lain, di
samping ada juga usaha yang bertujuan lebih dari itu.
12

b) Prinsip Pengembangan Tujuan Pendidikan Islam
Omar Muhammad Al-Toumyal-Syaibany dalam bukunya ”filsafat
pendidikan islam” mengatakan bahwa ada beberapa prinsip dalam
mengembangkan tujuan pendidikan islam, antara lain:
1) Peinsip universal (menyeluruh)
Dalam merumuskan tujuan pendidikan islam, seharusnya
memperhatikan seluruh aspek kehidupan yang mengitari
kehidupan manusia, baik aspek agama, budaya sosial
kemasyarakatan, ibada, akhlak dan muamalah.
2) Prinsip keseimbangan dan kesederhanaan

12
Ahmad D Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Al-ma’arif, 1989),
hlm. 45
Islam memiliki prinsip dasar keseimbangan dalam kehidupan, baik
antara dunia dan akhirat, jasmani dan rohani, kepentingan pribadi
dan kepentingan umum. Oleh karena itu dalam pengembangan
pendidikan agama islam harus ada sistem kesederhanaan agar
proses untuk mencapai tujuan lebih besar.
3) Prinsip kejelasan
Prinsip yang mengandung ajaran dan hukum yang memberi
kejelasan terhadap aspek spritual dan aspek intelektual manusia.
Dengan berpegang teguh kepada prinsip ini akan terwujud tujuan,
kurikulum, dan metode pendidikan yang jelas pula.
Agar proses belajar mengajar pendidikan agama islam dapat
berjalan dengan lancar sehingga tujuan dalam pembelajaran pendidikan
agama islam dapat diraih secara maksimal, maka perlu adanya solusi untuk
menyelesaikan permasalah-permasalah yang ada dalam proses belajar
mengajar pendidikan agama islam.
3. Tinjauan Tentang Pengertian Problematika Pendidikan Agama Islam
Secara etimologi kata problematika berasal dari kata problem
(masalah, perkara sulit, persoalan). Problema (perkara sulit), problematika
(merupakan sulit, ragu-ragu, tak menentukan, tak tertentu) dan
problematika (berbagai permasalahan).
13

Banyak para “pakar pendidikan” telah berusaha dengan segala cara
untuk ikut andil dan terlibat aktif memikirkan atau menyelesaikan
beberapa problema yang “menggerogoti” sistem pendidikan agama islam

13
Pius A. Pertanto, M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmia Popular (Surabaya: Arkola, 1994), hlm.
626.
dewasa ini. Pendidikan saat ini, sungguh masih dalam kondisi yang
sangat mengenaskan dan memprihatinkan. Karena pendidikan agama
islam mengalami keterpurukan akibat adanya pengaruh global dari dunia
Barat dan juga adanya dikotomi system pembelajaran antara mata
pelajaran islam dan mata pelajaran umum. Melihat realitas yang terjadi
sekarang bahwa pendidikan agama islam tidak bisa kembali seperti pada
zaman keemasan (Andalusia dan Baghdad) yang bisa menjadi pusat
peradaban islam, yang terjadi sekarang justru sebaliknya, pendidikan
agama islam sekarang mengekor dan berkiblat pada Barat.
14

Lebih lanjut dikatakan oleh Samsul Ma’arif akibat pendidikan islam
masih sangat jauh tertinggal pendidikan Barat, karena disebabkan
beberapa hal, adalah sebagai berikut:
15

a. Orientasi pendidikan masih terlantar tak tahu arah dan tujuan yang
mana mestinya sesuai dengan orientasi Islam. Pendidikan agama islam
masih berorientasi atau menitik beratkan pada pembentukkan abd’
(hamba Allah). Akhirnya di sini, tentu saja adalah segala-galanya,
sementara urusan dunia belakang. Dan masih bersifat devinitive artinya
menyelamatkan kaum muslim dari segala pencemaran dan pengrusakan
akibat ditimbulkan oleh gagasan Barat yang datang dari berbagai
disiplin ilmu yang dapat mengancam standar-standar moralitas
tradisional islam.

14
Samsul Ma’arif, Revitalisasi Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007), hlm. 1
15
Ibid. Hlm. 2-3.
b. Praktek pendidikan agama islam masih memelihara warisan lama,
sehingga ilmu yang dipelajari adalah ilmu klasik dan ilmu modern yang
tidak tersentuh.
c. Umat islam masih sibuk terbuai dengan ”romantisme” masa lalu hingga
bisanya mengandalkan kebesaran masa lampau. Akibatnya kebanyakan
ummat islam sendiri tidak melakukan pembaharuan terhadap
pendidikan agama islam.
d. Model pembelajaran pendidikan agama islam masih menekan pada
pendekatan intelektual verbalistik dan menegasi interakasi edukatif
dan komunikasi humastik antara guru dan murid. Sehingga sistem
pendidikan masih mandul, terbelakang dan mematikan daya kritis
anak, atau belum mencerdaskan dan memerdekakan.
Persoalan tersebut masih ada tantangan internal yaitu, umat islam
masih terbelenggu dan terjebak dengan adanya dikotomisasi pendidikan
agama islam, kurangnya pemahaman tentang ajaran islam, format
kurikulum yang tidak jelas orientasinya dan minimnya kualitas sumber
daya manusia (SDM), sistem dan strategi yang dikembangkannya,
metodologi dan evaluasinya, serta pelaksanaan dan penyelenggaraan
pendidikan agama islam itu sendiri yang masih bersikap ekslusif dan
belum mampu berinteraksi dan bersinkrinisasi dengan lainnya.
Terkait dengan problematikan terdapat tiga faktor yang menjadi
dasar pembahasan ini aalah sebagai berikut:
a. Faktor Internal
1) Anak Didik
Sebagai peserta didik adalah pihak yang hendak disiapkan untuk
mencapai tujuan, dalam arti yang dibimbing, diajari dan atau dilatih
dalam peningkatan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan
pengamalan terhadap ajaran agama Islam. Diantara komponen
terpenting dalam pendidikan Islam adalah peserta didik, dalam
perspektif pendidikan islam, peserta didik merupakan subyek dan
obyek. Oleh karena itu aktivitas kependidikan tidak akan
terlaksanakan tanpa keterlibatan peserta didik di dalamnya.
Dalam paradigma pendidikan islam, peserta didik merupakan
orang yang belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi
(kemampuan) dasar yang masih perlu dikembangkan.
16
Disisi lain,
pendidikan itu berfungsi membentuk kepribadian anak,
mengembangkan agar mereka percaya diri dan menggapai
kemerdekaan kepribadian, pendidikan itu bergerak untuk mewujudkan
perkembangan yang sempurna dan mempersiapkannya dalam
kehidupan, membantu untuk berinteraksi sosial yang positif di
masyarakat, menumbuhkan kekuatan dan kemampuan dan
memberikan sesuatu yang dimilikinya semaksimal mungkin. Juga
menimbulkan kekuatan atau ruh kreativitas, pencerahan dan
transparansi serta pembahasan atau analisis di dalamnya.
Maka dari itu problem yang ada pada anak didik perlu
diperhatikan untuk ditindaklanjuti dalam mengatasinya, sehingga
tujuan dalam pendidikan itu dapat terealisasi dengan baik.

16
Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Histories, Teoritis Dan Praktis, (Jakarta:
Ciputat Pers, 2002), hlm.47
Adapun problem yang ada pada anak didik adalah segala yang
mengakibatkan adanya kelambanan dalam belajar. Dan hal tersebut
problem dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, santara lain:
a) Karakteristik Kelainan Psikologi.
Fairuz Stone menjelaskan bahwa keseimbangan perkembangan
anak yng tertinggal dalam belajarnya itu lebih sedikit
dibandingkan teman-temanya secara umum. Misalnya, mereka
dikenal sebagai anak yang kurang pengindraannya, khususnya
lemah pendengaran dan penglihatannya.
b) Karakter Kelainan Daya Pikir
Kelainan yang satu ini dianggap yang paling banyak yang
menimpa anak berkaitan dengan kegiatan belajar. Banyak teori
para pakar yang menjelaskan adanya keterkaitan erat antara
kecerdasan umumnya bagi anak dan tingkat keberhasilannya
dalam belajar.
Bila kita mengamati tingkat kecerdasan dari sisi lain, maka
kita jumpai adanya perilaku yang menyebabkan adanya
keterkaitan antara daya pikir dan anak yang lamban belajarnya,
seperti lemahnya daya ingat hingga mudah melupakan materi yang
baru dipelajari, lemah kemampuan berfikir jerni, tidak adanya
kemampuan beradaptasi dengan temannya, rendah dalam bidang
kebahasaannya, anak yang mempunyai kategori karakteristik
seperti ini mereka juga tidak bisa berkonsentrasi dalam waktu
lama. Sehingga kemampuan dalam penerapan suatu ilmu,
pemilihan, dan analisisnya rendah. Terkadang mereka sulit
berpikir secara rasional dan cenderung berdasarkan perkiraan.
Istilah-istilah tersebut besar pengaruhnya terhadap proses kegiatan
belajar anak.
17

2) Pendidik (Guru)
Kelambanan dalam belajar kadang disebabkan oleh tidak
mencukupinya kegiatan belajar mengajar, buruknya pengajaran,
guru yang tidak memadai, materi pelajaran yang sulit sehingga
tidak dapat diikuti anak, atau tidak ada kesesuaian antara
pelajaran-pelajaran yang ditetapkan dan bakat anak.
18

Dalam proses pendidikan khususnya pendidikan di sekolah,
pendidikan memegang peranan yang paling utama. Sebagaimana
dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 151
$ϑ. $´Ζ=™¯‘& ¯Ν6‹ù ωθ™´‘ ¯Ν6ΖΒ #θ=G ƒ ¯Ν3‹=æ $ΨG≈ƒ#´ ™ ¯Ν6Š.“`ƒ´ρ
`Ν6ϑ=è`ƒ´ρ =≈G39# πϑ6t:#´ρ Ν3ϑ=è`ƒ´ρ $Β ¯Ν9 #θΡθ3? βθϑ=è? ∩⊇∈⊇∪
“Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu)
Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang
membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan
mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan
kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”.
19


17
Abdul Aziz As - Asykhs, Kelambanan Dalam Belajar Dan Cara Penanggulanginnya (Jakarta:
Gema Insani, 1991), hlm. 25
18
Ibid. hlm.30
19
Departemen Agama Republik Inonesia, Al-Qur’an Terjemah semarang CV: Al-
Waah
Ayat ini menjelaskan bahwa seorang pendidik (guru) adalah
pewaris Nabi yang mempunyai perana penting dalam merubah
dinamika kehidupan primitif menuju kehidupan madani. Pendidikan
dalam islam juga dikatakan sebagai siapa saja yang bertanggung
jawab terhadap perkembangan anak didik.
20

Muhammad Fadhli Al-Djamali menyatakan bahwa pendidikan
adalah orang yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik
sehingga terangkat derajat kemampuannya sesuai dengan kemampuan
dasar yang dimiliki oleh manusia.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat At- Tahrim
ayat 6 yang berbunyi:
$κš‰ '≈ƒ ⎦⎪%!# #θ`ΖΒ#´ ™ #θ% ¯/3¡Ρ& ¯/3‹=δ&´ρ #´‘$Ρ $δŠθ%´ρ '¨$Ζ9# ο´‘$ft:#´ρ $κ¯=æ
π3×≈= Β âŸξî Š# ‰© ω βθ´Áè ƒ ´!# $Β ¯Νδ Β& βθ= èƒ´ρ $Β βρ'∆σ`ƒ ∩∉∪
”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu
dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak
mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada
mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.
21

Dari ayat tersebut sudah jelas bahwsanya pendidikan merupakan
kewajiban setiap manusia. Pendidikan dalam pendidikan agama islam
dituntut untuk berkomitmen terhadap profesionalsme dalam
mengemban tugsnya. Seseorang dikatakan profesional bilamana pada

20
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005),
hlm.74
21
Al-Qur’an Terjemah Op, Cit.,
dirinya melekat sikap dedikatif yang tinggi terhadap tugasnya, sikap
komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja, serta sikap continous
improvement, yaitu selalu berusaha memperbaiki dan pembaharui
model-model yang sesuai dengan tuntutan zamannya, yang dilandasi
oleh kesadaran tinggi bahwa tugas mendidik adalah tugas menyiapkan
generasi penerus yang akan hidup pada masa zamannya.
22

Pendidik dalam proses belajar mengajar harus menguasai serta
menerapkan prinsip-prinsip didaktikan dan metodik agar usahanya
dapat berhasil dengan baik dan dapat dipertanggung jawabkan.
Pengertian didaktikan adalah ilmu mengajar yang memberikan
prinsip-prinsip tentang cara-cara menyampaikan bahan pelajaran
sehingga dikuasai dan dimiliki peserta didik.
b. Faktor institusional
1) Kurikulum
Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat
menentukan dalam suatu sistem pendidikan. Karena kurikulum
merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan sekaligus sebagai
pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat
pendidikan.
Dalam pengertian yang sempit, kurikulum merupakan
seperangkat rencana dan pengaturan tentang isi dan bahan pengajaran
serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelanggaraan kegiatan
belajar mengajar di sekolah. Pengertian ini digaris bawahi ada empat

22
Muhamin, Op, Cit., hlm. 4
komponen pokok dalam kurikulum, yaitu: tujuan, isi atau bahan,
organisasi dan strategi.
Sedangkan pengertian yang luas, kurikulum merupakan segala
kegiatan yang dirancang oleh lembaga pendidikan untuk disajikan
kepada peserta didik guna mencapai tujuan pendidikan (institusional,
kurikuler dan intruksional). Pengertian ini menggambarkan segala
bentuk aktivitas sekolah yang sekiranya mempunyai efek bagi
pengembangan peserta didik, adalah termasuk kurikulum dan bukan
terbatas pada kegiatan belajar mengajar saja.
23

Dari sini dapat diketahui bahwa kurikulum sangat berperan
penting dalam dunia pendidikan, yang dapat mengantarkan pendidikan
dalam dunia modern karena bentuknya telah tersusun secara sistematis
dan terperinci.
Menurut Rasdianah ada beberapa kelemahan dalam pemahaman
kurikulum pendidikan agama islam maupun pelaksanaanya, yaitu:
a) Terlalu padatnya program yang berakibat tidak terlaksananya
tujuan dari program yang direncanakan.
b) Kurangnya jam pelajaran yang digunakan untuk menyelesaikan
materi Pendidikan Agama Islam.
c) Kurikulum yang tidak terorganisir dengan baik, sehingga sering
terjadi pengulangan pokok bahasan (materi).

23
Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam (Pemberdayaan, Pengembangan,
Kurikulum Hingga Redefinisi Islamiah Pengetahuan), (Bandung: Nuansa Cendekia, 2003), hlm.
182
Sedangkan pendapat pakar pendidikan non tarbiyah yaitu Amin
Abdullah yang telah menyoroti kurikulum dan kegiatan pendidikan
islam yang selama ini terjung langsung di sekolah, antara lain:
a) Pendidikan islam lebih banyak terkonsentrasi pada persoalan-
persoalan teoritis keagamaan yang bersifat kognitif.
b) Pendidikan islam kurang concer terhadap persoalan bagaimana
mengubah pengetahuan agama yang kognitif menjadi ”makna”
dan nilai yang perlu diinternalisasikan dalam diri peserta didik
lewat berbagai cara dan media.
c) Pendidikan islam lebih menitik beratkan pada aspek
korenspondensi tekstual, yang lebih menitik beratkan pada hafalan
teks keagamaan yang sudah ada.
d) Sistem evaluasi, bentuk-bentuk soal ujian agama islam
menunjukkan prioritas utama pada aspek kognitif, dan jarang
pertanyaan tersebut mempunyai bobot muatan ”nilai” dan ”spritual
keagamaan yang fungsional dalam kehidupan sehari-hari.
24

2) Manajemen
Manajemen merupakan terjemahan dari kata management
yang berarti pengelolaan, ketatalaksanaan. Management berakar
dari kata to manage yang baik tujuan jangka pendek, menengah,
maupun jangka panjang.
25

Manajemen atau pengelolaan merupakan komponen
integral yang tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara

24
Muhaimin, Op, Cit.,hlm. 264
25
E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 25
keseluruhan. Alasanya tanpa manajemen tidak mungkin tujuan
pendidikan dapat direalisasikan secara optimal, efektif dan efisien.
Manajemen pendidikan islam mengandung arti sebagai
suatu proses kerja sama yang sistematik, dan komprehensif dalam
rangka mewujudkan tujuan pendidikan. Dari kerangka inilah
tumbuh kesadaran untuk melakukan upaya perbaikan dan
peningkatan kualitas manajemen pendidikan, baik yang dilakukan
pemerintah maupun lembaga pendidikan.
Manajemen pendidikan agama islam merupakan tanggung
jawab departemen agama, sehingga hal ini mempunyai dampak
pada pendanaan pendidikan. Artinya anggaran belanja negara
bidang pendidikan hanya dialokasikan kepada lembaga-lembaga
pendidikan umum yang berada di bawah departemen pendidikan
nasional, sedangkan pendidikan islam tidak diambil dari anggara
negara bidang pendidikan, tetapi dari anggaran bidang agama,
sehingga anggaran pembiayaan pemerintah untuk pendidikan
islam jauh lebih kecil dibanding untuk pendidikan umum. Inilah
realitas yang dihadapai, sehingga menjadikan pendidikan islam
secara umum kurang diminati dan kurang mendapat perhatian. Hal
ini didukung dengan materi kurikulum dan manajemen pendidikan
yang kurang memadai, kurang releven dengan kebutuhan
masyarakat dan dunia kerja. Lulusannya kurang memiliki
keterampilan untuk bersaing dalam dunia kerja. Melihat kenyataan
ini, maka reformasi manajemen pendidikan islam menjadi suatu
keharusan. Sebab dengan langkah-langkah berusaha pembenahan
dan peningkatan profesionalisme penyelenggaraan pendidikan
akan mampu menjawab berbagai tantangan dan dapat
memberdayakan pendidikan islam di masa depan. Dalam hal ini
pendidikan agama islam menerapkan manajemen berbasis sekolah
artinya pengelolaan pendidikan mengarah kepada pengelolaan
manajemen berbasi sekolah.
Penerapan manajemen berbasis sekolah juga perlu
disesuaikan dengan kebutuhan dan minat peserta didik, pendidik,
serta kebutuhan masyarakat setempat.
Bank dunia telah mengkaji beberapa faktor yang perlu
diperhatikan dalam penerapan manajemen berbais sekolah. Faktor
tersebut berkaitan dengan kewajiban sekolah yang menawarkan
keluasan pengelolaan masyarakat, kebijakan dan prioritas
pemerintah sebagai penanggung jawab pendidikan berhak
merumuskan kebijakan yang menjadi prioritas terutama yang
berkaitan dengan program peningkatan mutu dan pemerataan
pendidikan, perana orang tua dan masyarakat perlu dihimpun
dalam satu badan sekolah yang dapat berpartisipasi dalam
pembuatan keputusan sekolah, peranan profesioanlisme kepala
sekolah, pendidik, administrasi dalam mengoperasikan sekolah.
26

3) Sarana dan Prasarana

26
Hujair, Paradigma Pendidikan Islam (Membangun Masyarakat Madani Indonesia),
(Yogyakarta: Tiara Wacana, 2003), hlm. 220

Masih banyak persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa
Indonesia kaitannya dengan keberhasilan pendidikan agama ini, sebab
pendidikan agama dalam pelaksanaannya terkait dengan berbagai
komponen yang melingkupnya, salah satunya adalah sarana dan
prasarana pendidikan agama islam.
Sarana pendidikan agama islam adalah peralatan dan
perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dalam menunjang
proses pendidikan khususnya proses belajar mangajar seperti gedung,
ruang kelas, meja, kursi serta peralatan dan media pengajaran yang
lain. Adapun yang dimaksud dengan prasarana pendidikan adalah
fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalanya proses
pendidikan atau pengajaran seperti kebun, halaman, taman sekolah,
jalan menuju sekolah.
27

Sarana pendidikan agama islam diharapkan dapat memberikan
konstribusi secara optimal dan berarti pada jalannya proses
pendidikan. Dengan demikian apabila pendidikan islam
memanfaatkan dan menggunakan sarana pendidikan, maka peserta
didik akan memiliki pemahaman yang bagus tentang materi yang
diperoleh, dan juga diharapkan akan memiliki moral yang baik.
Sarana dan prasrana pendidikan agama islam yang baik,
diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih, rapi dan indah

27
Muhammad Surya, Psikologi Pembelajaran Dan Pengajaran, (Jakarta: Mahaputra Adidaya,
2003) hlm. 118
sehingga menciptakan sekolah yang menyenangkan bagi pendidikan
maupun peserta didik yang berada di sekolah.
28



c. Faktor Eksternal
Pendidikan tidak hanya terpacu pada lingkup sekolah saja, akan tetapi
lingkungan selain sekolah seringkali mengambilperan penting dalam
pendidikan tersebut, begitu juga dengan pendidikan agama Islam.
Berhasil atau tidaknya pendiikan agama Islam, lingkungan sosial
berperan penting terhadap keberhasilan pendidikan agama Islam,
karena perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan
melalui lingkungandapat ditemukan pengaruh yang baik dan pengaruh
buruk. Dalam problem lingkungan meliputi:
1) lingkang masyarakat yang kurang agamis, akan mengganggu
perjalanan proses belajar mengajar.
29

2) Lingkungan keluarga yang mempunyai berbagai macam faktor
yaitu, anak yang dibesarkan dalam keluarga yang bermasalah,
terlalu keras alam mendidik anak, orang tua tidak mendidika anak
dengan kedisiplin waktu pada anak, ana terlalu sibuk dengan
pekerjaan rumah,
3) Lingkungan sekolah

28
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), hlm. 181
29
Sumardi s. Psikologi Pendidikan (Jakarta Raja Grafindo Persada, 2004), hlm.
184
Dalam lingkungan sekolah sering terjadi beberapa problem yaitu,
kerasnya guru dalam mempengaruhi paa anak, anak kurang minat
dengan materi pembelajaran, guru terlalu sering mengancam anak,
tidak ana hubungan timbal balik yang baik antara guru dan anak
didik, rendahnya tingkat persiapan guru.

B. UPAYA DALAM PEMECAHAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM DI SMA WIDYA DHARMA TUREN MALANG
Melihat prolem yang dihadapi manusia modern sekarang ini dengan
filsafat pendidikan islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits
diyakini dapat menjadi solusi alternatif dari kekacauan dunia yang
ditimbulkan filsafat barat.
Dalam menghadapi tantangan-tantangan global semacam itu, Pendidikan
Agama Islam harus mampu menjadi lembaga pendidikan ”alternatif” yang
dapat ”mencerahkan” manusia modern sekarang. Pendidikan Agama Islam
harus mampu menjadi ”obor” dan menjelaskan problem-problem
kemanusiaan modern, seperti dehumanisasi yang hanya menjadikan manusia
sebagai alat produksi dan perbudakan seperti robot. Bukan malah terseret
arus globalisasi dan ikut-ikutan menerapkan paradigma pendidikan yang
sudah terhegemoni barat. Khususnya paradigma warisan ideologi kapitalisme
dan liberalisme.
1. Proses Dalam Mengatasi Problematika Pendidikan Agama Islam
a. Pada Faktor Internal
Untuk menghadapi problem yang terjadi dalam dunia pendidikan
agama islam yang sering terjadi diperlukan beberapa proses baik dari
segi guru, murid, kurikulum, tujuan, sarana dan prasarana, maupun
metodologi yang kesemuanya diharapkan bisa memecahkan problem-
problem yang terjadi. Setiap masalah tidak terlepas dari proses untuk
mengatasinya. Adapun proses bisa ditinjau dari beberapa aspek yaitu:

1) Pendidik
Guru pendidikan agama islam yang tingkat pendidikannya
masih rendah perlu mendapatkan didikan yang lebih tinggi untuk
meningkatkan profesionalisme guru dalam pengajara pendidikan
agama islam. Reorientasi pengembangan guru bisa ditelaah
historis penelitian tentang efektivitas keberhasilan guru dalam
menjalankan tugas kependidikannya, Medly dalam bukunya
Muhaimin berpendapat bahwa:
”Ada beberapa asumsi keberhasilan guru, yang pada gilirannya
dijadikan titik tolak dalam pengembangannya, yaitu: pertama,
asumsi sukses guru tergantung pada kepribadiannya; kedua,
asumsi sukses guru tergantung pada penguasaan metode; ketiga,
asumsi sukses guru tergantung pada frekuensi dan intensitas
aktivitas interaktif guru dengan siswa; dan keempat, asumsi bahwa
apa pun dasar dan alasanya penampilan gurulah yang terpenting
sebagai tanda memiliki wawasan, bisa menguasai indikator,
menguasasi materi, dan penguasaan terhadap strategi belajar-
mengajar, dan lainya”
30

2) Murid (anak didik)
Siswa tidak terlepas dari yang namanya pendidikan, ada
siswa pasti ada guru, begitu pula sebaliknya ada guru pasti ada
siswa. Namun siswa adalah orang yang dididik agar mendapatkan
pendidikan yang layak sehingga menjadi manusia yang berbudaya.
Problem yang terkait dengan siswa tidak terlepas dari proses untuk
menyelesaikannya karena seperti yang diuraikan proses adalah
langkah awal untuk mencapai suatu tujuan yaitu menjadikan
peserta didik tersebut manusia yang berbudaya dan bermoral.
Dari beberapa analisis penulis tentang proses untuk
mengatasi problematika pendidikan agama islam, siswa adalah
salah satu pokok yang terjadi dan sangat berperan penting.
Beberapa hal yang perlu diproses untuk mengatasi problematika
pendidikan agama islam antara lain:
a) Siswa perlu dididik secara intensif
b) Siswa sebagai obyek utama perlu meningkatkan daya nalar
agar berpikir kritis sehingga melahirkan generasi yang cerdas,
kedalaman spritual, dan berakhlak mulia.
c) Murid dan guru melakukan studi banding pada lembaga
pendidikan yang kualitasnya lebih bagus dari pada lembaga

30
Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, ( Surabaya: Pustaka Pelajar, 2003), hlm.
213-214
yang ditempatinya untuk meningkatkan pengetahuan sehingga
dapat memperbaiki mutu yag ada di lembaga tersebut.
b. Faktor Institusional
1) Kurikulum
Kurikulum adalah salah satu komponen penting dalam
pendidikan, kurikulum sebagai tujuan utama yang ditingkatkan,
problem mengenai kurikulum akhir-akhir ini sudah menjadi
problem yang sangat aktual yang diperbincangkan dalam dunia
pendidikan. Apalagi kurikulum adalah inti yang harus dicapai
karena berhasil atau tidaknya pendidikan bisa dilihat bagaimana
kurikulum yang diterapkan.
Dalam hal kurikulumpun tidak terlepas dari proses untuk
memperbaiki pendidikan, adapun proses terbut adalah sebagai
berikut:
a) Proses pengembangan kurikulum itu sendiri yaitu, perlu
menggali secara terus menerus tentang model-model
kurikulum yang sering bergantian tiap periode.
b) Dalam menggunakan kurikulum guru harus memilih kurikulum
yang tepat yang sesuai dengan visi misi lembaga agar arah
penerapatnya tidak jauh berbeda.
c) Dalam pengembangn harus punya prinsip-prinsip yang dilihat
dari mata pelajaran apa yang diajarkan pada siswa.
2) Sarana dan prasarana
Dalam proses mengatasi problematika pendidikan agama
islam sarana dan prasarana pendidikan agama islam diharapkan
dapat memberikan konstribusi secara optimal dan berarti pada
jalannya proses pendidikan. Dengan demikian apabila pendidikan
agama islam memanfaatkan dan menggunakan sarana pendidikan,
maka peserta didik akan memiliki pemahaman yang bagus tentang
materi yang diperoleh dan juga memiliki moral yang baik.
Dalam proses mengatasi problem pendidikan juga
memerlukan sarana dan prasaran perlu alat bantu untuk
menghadapi permasalah yang terjadi dalam dunia pendidikan
agama islam, dan alat bantu tersebut adalah sarana dan prasarana
yang tersedia dalam pendidikan seperti komputer, lab bahasa, lab
IPA, ruang organisasi siswa buku-buku dan sebagainya. Dari
kesemuanya ini untuk mempraktekan ilmu-ilmu sebagai suatu teori
yang didapat dari kelas atau dari guru agar tercapai proses belajar
mengajar yang lebih efektif dan efsien.
Sarana dan prasaran pendidikan agama islam yang baik
adalah memanfaatkan mushalah untuk mempraktekkan cara
beribada dan juga dapat menciptakan sekolah yang bersih, rapi dan
indah sehingga menciptakan sekolah yang menyenangkan bagi
pendidik maupun peserta didik yang berada di lembaga tersebut.
c. faktor eksternal
1) Lingkungan masyarakat
Salah satu solusi pada problem lingkungan adalah sebagia
berikut, masyarakat harus bisa memberikan contoh yang baik
pada anak atau siswa agar anak didik menjadikan tauladan dan
akan berampak positif terhadap perkembangan prosesbelajar anak
didik baik di sekolah maupun di lingkungan masyrakat itu
2) Keluarga (orang tua)
Sebagaimana yang dijelaskan pada problem di atas bahwa orang
tua yang terlalu menekan anak agar selalu berprestasi di sekolah
justruakan membuat anak menjadi antipatiterhadappelajaran,
maka dari itu orang tua harus bisa menghargai hasil dari apa yang
dicapai anak, selayaknya orang tua mengahrgainya, berikan
penghragaan yang sepantasnya atas prestasi yang telah diperoleh
anak.
31

2. Kendala Yang Timbul Dalam Mengatasi Problematika Pendidikan
Agama Islam
Dalam mengatasi problem pendidikan tidak terlepas dari kendala-
kendala yang sering timbul, adapun kendala-kendala tersebut adalah
sebagai berikut:
a. Faktor internal
1) Kendala Pada Guru
Guru dipercaya oleh orang tua murid untuk memberikan
pendidikan dan pengajaran kepada anak-anaknya. Sebagai pendidik
dan pengajar yang memiliki peran strategis dalam upaya

31
W. nugroho, belajar mengatasi hambatan belajar, ( jakarta: prestasi pustaka,
2007 ), hlm. 39
menanamkan dan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan
peserta didik, guru merupakan faktor utama yang mempengaruhi
keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu guru pada semua jenis
dan jenjang pendidikan dalam jumlah dan kualitas yang optimal.
32

Pendayagunaan guru meliputi perencanaan kebutuhan,
pengadaan, penempatan, dan mutasi guru. Di samping itu
pendayagunaan guru meliputi juga peningkatan karir dan
kesejahteraan guru dalam pendayagunaan guru yang merupakan
kendala utama yang dihadapi adalah adanya kesenjangan antara
formasi yang tersedia dengan kebutuhan nyata. Upaya
pendayagunaan guru melalui pembinaan pendidikan dan pelatihan
hingga saat ini belum mencapai hasil yang maksimal.
Permasalahan yang perlu mendapat perbaikan bahwa penataran
yang dilakukan oleh berbagai unit masih belum dapat memberikan
kesempatan yang merata kepada semua guru khususnya retrening
guru sebagai akibat perubahan kurikulum.
Sistem rekrumen guru yang ada selama ini masih belum
menjamin terjaringnya calon guru yang berkualitas yang menguasai
bidang studi dan mempunyai motivasi yang tinggi untuk menjadi
guru. Salah satu penyebab karena adanya ujian masuk atau seleksi
hanya berupa pengetahuan umum yang sifatnya sementara. Upaya
seleksi dengan ujian bidang studi dan ujian kemampuan mengajar

32
M.Ali Hasan & Mukti Ali, Kapita Selekta Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Pedoman Ilmu
Jaya, 2003), hlm. 34-35
di depan kelas diharapkan mampu dapat memperkecil dampak
yang ditimbulkan.
Kendala lainnya adalah upaya pemindahan guru dalam
rangka pemerataan. Secara teoritis pemerataan bukanlah hal yang
sulit. Di tingkat SD mutasi guru ditentukan oleh Pemda\ Dinas
sehingga Depdiknas mengalami kesulitan mengatur pemerataan
guru SD berdasarkan kepentingan atau tuntutan proses belajar
mengajar. Di tingkat SLTP/SMA wewenang sepenuhnya berada
ditingkat Depdiknas, keadaannya tidak lebih baik. Kanwil
Depdiknas belum mampu memindahkan seseorang yang
kekurangan guru, dengan alasan yang macam-macam. Dalam hal
ini guru sebagai PNS harus menyadari bahwa selain mempunyai
hak, juga mempunyai kewajiban untuk taat kepada atasan dan
tersedia ditempatkan di mana saja. Tentu hal ini harus diimbangi
dengan anggaran yang memadai untuk mutasi.
2) Kendala Pada Anak Didik
Anak didik dalam UUSPN adalah anggota masyarakat yang
berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada
jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Pendidikan merupakan
sarana penting untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM)
dalam menjamin kelangsungan pembangunan suatu bangsa dan
agama. Pada masa akan datang peningkatan daya saing suatu
bangsa perlu mendapat perhatian serius khususnya dalam
memanfaatkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, guna
menghasilkan anak didik yang berkualitas khususnya pada mata
pelajaran agama islam dengan harga yang kompetitif.
Program wajib belajar 9 tahun yang lebih direncanakan
pemerintah, dikhawatirkan akan mengalami hambatan akibat krisis.
Perkembangan pendidikan agama islam dihadapkan pada kendala-
kendala berkurangnya dukungan masyarakat terutama kelas
menengah ke bawah untuk turut serta mensukseskannya. Selain itu
kendala yang terjadi pada pendidikan agama islam tidak diminati
karena anak didik tidak terbiasa diperhatikan oleh orang tuanya
sehingga anak didik menganggap bahwa pendidikan agama islam
tidak terlalu penting bagi siswa.

b. Faktor Institusional
1) Kendala Pada Kurikulum
Ahli kurikulum seperti Print.
33
Pentingnya kebudayaan
sebagai landasan bagi kurikulum. Kebudayaan adalah
keseluruhan totalitas cara manusia hidup dan mengembangkan
pola kehidupan sehingga ia tidak saja menjadi landasan
kurikulum dikembangkan, tetapi untuk menjadi target hasil
pengembangan kurikulum.
Kedudukan kebudayaan dalam suatu proses kurikulum
teramat penting tetapi dalam proses pengembangan seringkali
para pengembang kurikulum kurang memperhatikannya.

33
M.Ali Hasan & Mukti Ali, Op, Cit., hlm. 34-35
Dalam realitas proses pengembangan kurikulum sering
diwarnai oleh pengaruh pandangan para pengembangan
kurikulum terhadap pengembang ilmu pengetahuan dan
tekhnologi sehingga kurikulum yang diterapkan disekolah
masih belum di kuasai oleh guru, maupun pihak-pihak sekolah
lainnya. Pertimbangan mengenai kebutuhan anak didik dan
masyarakat sering dijawab dengan jawaban mengenai
perkembangan dalam ilmu pengetahuan. Oleh karena itu,
kedudukan yang penting dari kebudayaan terbaik pula seperti
halnya landasan lainnya yang harus diperhatikan dalam
pengembangan kurikulum. Inilah yang menjadi kendala utama
dalam kurikulum sehingga dalam pendidikan agama islam
tidak bisa dikembangkan seoptimal mungkin.
3. Solusi Yang Dilakukakan Dalam Mengatasi Problematika
Pendidikan Agama Islam
a. Faktor Internal
1) Upaya pada Peserta Didik
Dalam dunia pendidikan agama islam peserta didik
merupakan salah satu faktor yang terpenting oleh karena itu,
segala sesuatu yang ada kaitannya dengan individu anak didik,
pendidik harus tanggap dan berusaha mencari solusinya. Hal ini
disebabkan karena anak didik selalu mengalami perkembangan,
dimana perkembangan ini sedikit banyak dipengaruhi oleh tingkat
kecerdasan dari masing-masing peserta didik.
Adapun upaya yang ditempuh oleh pendidikn agama islam
dalam mengatasi masalah tersebut adalah dengan cara memberikan
motivasi belajar pada anak didik sebagai berikut:
1) Memberi tugas rumah.
2) Membentuk kelompok belajar.
3) Menambah jam pelajaran.
4) Mengadakan persaingan atau kompetisi
5) Memberi nasehat tentang pentingnya belajar terutama di era
globalisasi ini
Jika dilihat dari problem psikologis pada anak didik tidak terlepas
juga dari permasalah, untuk memecahkan problem ini, maka langkah yang
harus dilakukan meliputi:
1) Pada karakter kelainan psikologi:
Mengadakan pemeriksaan medis pada anak sebelum memasuki
sekolah. Karena kebanyakan mereka memasuki taman kanak-kanak
pada usia dini, sehingga dapat mencegahnya dari penyakit berbahaya
yang dapat melumpuhkan kekuatannya, mempengaruhi
perkembanganya saat memenuhi kebutuhan hidupnya yang
mempengaruhi berbagai aspek psikologis, juga dalam keberhasilan.
2) Pada karakter kelainan daya pikir (kognitif)
Pada problem tersebut maka pendidik sebaiknya mengadakan test
untuk mengetahui kemampuan peserta didik. Apabila peserta didik
memiliki cenderung kemampuan intelegence rendah perlu diusahakan
dengan cara jalan lain yaitu dengan menempatkan peserta didik dalam
kelas yang memiliki kemampuan rata-rata yang sama.
3) Karakter kelainan kemauan motivasi
Sesuai dengan problem yang ada pada siswa yakni rendahnya
kemauan atau motivasi maka ada beberapa langkah antara lain:
a) Menarik minat
Melalui minat ditemukan kemauan dan motivasi karena, kondisi
belajar mengajar yang efektif adalah adanya minat dan perhatian
siswa dalam belajar. Minat merupakan suatu sifat yang relatif
menetap pada diri seseorang. Minat ini besar sekali pengaruhnya
terhadap belajar sebab dengan minat seseorang akan melakukan
sesuatu yang diminatinya, sebaliknya, tanpa minat seseorang tidak
mungki melakukan sesuatu.
34

b) Membangkitkan motivasi siswa
Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya
untuk melakukan sesuatu atau keadaan seseorang atau organisme
yang menyebabkan kesiapan untuk memulai serangkaian tingkah
laku atau perbuatan.
Sedangkan motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan
motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi
kebutuhan dan pencapaian tujuan atau keadaan dan kesiapan
dalam individu yang tertentu.

34
Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 9
Tugas guru adalah membangkitkan motivasi anak sehingga ia
mau melakukan belajar. Motivasi dapat timbul dari dalam diri
individu dan dapat pula timbul akibat pengaruh dari luar.
Cara menimbulkan motiv tertentu pada diri anak didik, cara
menimbulkan dapat bermacam-macam, namun cara-cara yang
paling efektif adalah sebagai berikut: menjelaskan tujuan yang
akan dicapai dengan sejelas-jelasnya, menjelaskan pentingnya
mencapai tujuan, menjelaskan insentif-insentif yang akan
diperoleh akibat tindakan itu, perjalanan soal insetif ini harus
benar-benar real berdasarkan bukti-bukti yang nyata.


a. Upaya pada Pendidik (Guru)
Bukan rahasia lagi kalau pendidik (guru) memiliki posisi yang
strategis dalam pengembangan segenap potensi yang dimiliki anak
didik. Selagi ada kegiatan pembelajaran, maka disanalah pendidikan
sangat dibutuhkan karena pada diri pendidiklah kejayaan dan
keselamatan masa depan bangsa dan terjamin. Hal ini dikarena
pendidik mempunyai kewajiban dalam membenuk pribadi yang
sejahtera lahir dan batin, baik itu yang ditempuh melalui pembelajaran
pendidikan agama islam maupun umum. Berkaitan dengan ini, maka
pendidik harus mampu menjadi pendidik yang profesional,
berorientasi pada anak didik secara penuh dalam kreatifitas maupun
aktifitas keseharian dalam pembelajaran pendidikan agama islam.
Untuk meningkatkan profesionalisme guru pendidikan agama islam,
perlu ditingkatkan melelui cara sebagai berikut:
1) Mengikuti penataran-penataran
Yang dimaksud dengan penataran ialah semua usaha pendidikan
dan pengalaman untuk meingkatkan keahlian pendidik dan
pegawai guna menyelamatkan pengetahuan dan keterampilan
mereka dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan ini
adalah sebagai berikut:
a) Mempertinggi mutu para petugas dalam bidang posisinya
masing-masing.
35

b) Meningkatkan efisiensi kerja menuju kearah tercapainya hasil
yang optimal
c) Mengembangkan kegairahan kerja dalam meningkatkan
kesejahteraan pendidik (guru).36
2) Mengikuti kursus-kursus pembelajaran
Dalam menambah wawasan pendidikan agama islam disarankan
juga mengikuti kursus-kursu guna untuk meningkatkan
pengetahuan dan menamabah engalaman baru. Dengan begitu
pendidik akan lebih mengetahui kebutuhan peserta didik yang
sesungguhnya.
Terkait dengan perkembangan dunia globalisasi guru harus
mampu memberikan araha yang yang bisa meningkatkan motivasi

35
Muhammad Djumhur Surya., Bimbingan Dan Penyuluhan Di Sekolah, (Bandung: C.V. Ilmu,
1991), hlm. 115
36
ibid., hlm. 115
siswa untuk belajar dan mengembangkan potensinya yaitu
memberi kasih sayang.
3) Melakukan studi banding
Studi banding suatu strategi yang tepat, apalagi
mengadakan studi banding guna bertukar fikiran dan pengalaman
serta saling melengkapi dan mengatasi problem yang dihadapi.
Dengan begitu kita mampu mengetahui kekurangan sebagai
kendala kita dan kelebihan kita sekaligus dapat meningkatkan
mutu pendidikan yang baik dari pendidik (guru) agama islam
sendiri maupun faktor lainnya.
4) Tugas pendidik yang paling utama adalah mengajar, dalam
pengertian menata lingkungan agar terjadi kegiatan belajar pada
anak didik. Berbagai kasus menunjukkan bahwa di antara para
pendidik banyak yang merasa dirinya sudah dapat mengajar
dengan baik, meskipun tidak dapat menunjukkan alasan yang
mendasari asumsi itu, asumsi keliru tersebut seringkali
menyesatkan dan menurunkan kreatifitas, sehingga banyak
pendidik yang suka mengambil jalan pintas dalam pembelajaran,
baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi.
Sedangkan pendapat Abu Ahmadi dalam meningkatkan
etos kerja guru sebagai seorang pendidik terutama dalam mutu
pendidikan agama, maka yang perlu diperhatikan antara lain:
a) Penghasilan pendidik dalam mencukupi kebutuhan hidupnya.
b) Seorang pendidik memahami tabiat, kemampuan dan kesiapan
peserta didik.
c) Seorang pendidik harus mampu menggunakan variasi metode
mengajar dengan baik, sesuai dengan karakter materi pelajaran
dan situasi belajar.
37

Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap guru itu ada kesanggupan
dan kemampuan meningkatkan keahlian dengan usaha mereka
sendiri agar sesuai dengan kebutuhan maupun tuntutan belajar
mengajar di sekolah/ madrasah. Adapun peningkatan kualitas
yang dilakukan secara individu sebagaimana pendapatnya Suryo
Subroto yang meliputi:
a) Peningkatan profesi melalui penataran
b) Peningkatan profesi melalui belajar mengajar.
c) Peningkatan profesi melalui media massa.
38

Pendidikan harus menyadari bahwa mengajar memiliki sifat
yang sangat kompleks karena melibatkan aspek pedagogis,
psiokologis, dan didaktis secara bersama. Aspek pedagogis
menunjuk pada kenyataan bahwa mengajar disekolah berlangsung
dalam suatu lingkungan pendidikan, karena itu pendidikan harus
mendampingi anak didik menuju kesuksesan belajar atau
kedewasaan. Aspek psikologis menunjuk pada kenyataan bahwa
anak didik yang belajar pada umumnya memiliki taraf

37
Abu Ahmadi, Strategi Belajar (Bandung: Pustaka Setia, 1992), hlm. 87
38
Suryo Subroto, Dimensi-dimensi Administrasi Pendidikan Di Sekolah (Jakarta: Bina Aksara,
1984), hlm. 141
perkembangan yang berbeda satu dengan lainnya, sehingga
menuntut materi yang berbeda pula. Demikian halnya kondisi
anak didik, kompetensi, dan tujuan yang harus mereka capai juga
berbeda. Selain itu, aspek psikologis menunjuk pada kenyataan
bahwa proses belajar iu sendiri mengandung variasi, seperti
belajar menghafal, belajar keterampilan motorik, belajar konsep,
belajar sikap, dan seterusnya. Perbedaan tersebut menuntut model
belajar yang berbeda sesuai dengan jenis belajar yang sedang
berlangsung. Aspek didaktis, berbagai cara mengelompokkan anak
didik, dan beraneka ragam media pembelajaran yang digunakan
dengan tujuan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa
sehingga tercapai tujuan yang maksimal. Oleh karena itu, pendidik
harus menentukan secara tepat jenis belajar yang paling berperan
dalam proses pembelajaran tertentu, dengan mengingat
kompetensi dasar yang harus dicapai.
Kondisi eksternal yang harus diciptakan oleh pendidik
menunjuk variasi juga dan tidak sama antara jenis belajar yang
satu dengan jenis belajar yang lain, meskipun adapula kondisi
yang paling didomiasi dalam segala jenis belajar. Dengan
demikian, pendidikan harus memiliki pengetahuan yang cukup
luas mengenai jenis-jenis belajar yang ada dan kondisi-kondisi
internal peserta didik, serta kondisi eksternal yang
mempengaruhinya.
Tugas pendidik sebagai seorang pengajar dalam memberikan
pendidikan agama islam tidak hanya terbatas pada penyampaian
informasi atau materi saja kepada peserta didik. Sesuai kemajuan
dan tuntutan zaman, pendidik harus memiliki kemampuan untuk
memahami anak didik dengan berbagai keunikannya agar mampu
membantu mereka dalam menghadapi kualitas belajar. Dalam
pada itu, pendidik dituntut memahami berbagai model
pembelajaran yang efektif agar dapat membimbing anak didik.
Dalam kaitannya dengan perencanaan, pendidik dituntut
untuk membuat persiapan mengajar yang efektif dan efisien.
Namun dalam kenyataannya dengan berbagai alasan, banyak
pendidik yang mengambil jalan pintas dengan tidak membuat
persiapan ketika mau mengajar, sehingga pendidik mengajar tanpa
persiapan. Disamping merugikan pendidik sebagai tenaga
profesional juga akan mempengaruhi perkembangan anak didik.
Banyak perilaku pendidik yang negatif dan menghambat
perkembangan anak didik yang diakibatkan oleh perilaku
pendidikan yang suka mengambil jalan pintas dalam mengajar.
Agar tidak tergiur untuk mengambil jalan pintas dalam
mengajar, pendidik hendaknya memandang pembelajaran sebagai
suatu sistem, yang jika salah satu komponennya terganggu, maka
mengganggu seluruh sistem tersebut.
Jika keadaan kurang siap dalam memberikan pelajaran
terhadap anak didik, maka langkah yang harus dikembangkan
potensi dirinya dan jalan keluarnya adalah sebagai berikut:
a) Pemerintah menaikkan gaji para pendidik yang pegawai negeri
sipil (PNS), dengan demikian diharapkan supaya para pendidik
itu bisa fokus terhadap pendidikan atau profesinya sebagai
seorang pendidik, dengan kenaikan gaji itu diharapkan juga
supaya pendidik bisa mengembangkan potensi dirinya
misalnya dengan membeli buku dan mengikuti kursus
kependidikan.
b) Harus ada perhatian dari lembaga pendidikan terhadap
pendidik dalam artinya lembaga mengusahakan untuk
memberikan kesejahteraan para pendidikan, misalnya yang
sepantasnya hal ini bisa diimplementasikan lewat minta
bantuan Swadaya masyarakat (wali murid).
c) Pihak lembaga menyediakan buku-buku yang berkaitan
dengan pendidikan agama islam agar supaya pendidik bisa
mengembangkan potensi dirinya lewat membaca buku
tersebut.
b. Faktor Institusional
1) Upaya pada Kurikulum
Kurikulum adalah salah satu komponen operasional
pendidikan agama islam sabagai sistem materi atau disebut juga
sebagai kurikulum. Jika demikian, maka materi yang disampaikan
oleh pendidikan (khususnya pendidik agama islam) hendaknya
mampu menjabarkan seluruh materi yang terdapat di dalam buku
dan tentunya juga harus ditunjang oleh buku pegangan pendidik
lainnya agar pengetahuan anak didik tidak sempit. Disamping itu
materi yang diberikan harus sesuai dengan tingkat perkembangan
anak didik dan tujuan pembelajaran. Sesuai dengan pernyataan
Nur Uhbiyati mengenai definisi kurikulum:
”Kurikulum adalah sejumlah pengalaman pembelajaran,
kebudayaan sosial, olah raga dan kesenian yang tersedia di
sekolah bagi anak didik dan tujuan didik di dalam dan di luar
sekolah dengan maksud menolongnya untuk perkembangan
menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku
mereka sesuai dengan tujuan pembelajaran”.
39

Namun merealisasikan kurikulum yang ada disuatu lembaga
pendidikan bukanlah suatu hal yang mudah, sedangkan alokasi
waktu untuk pembelajaran pendidikan agama islam sangat sedikit.
Dengan demikian dapat menjadi problem dalam pembelajaran
pandidikan agama islam.
Upaya mengatasi kurikulum terhadap problem kurikulum
maka pembuatan kurikulum haruslah memperhatikan kesesuaian
kurikulum dengan perkembangan zaman pada masa kini serta
masa-masa yang akan datang, sehingga peserta didik memiliki
bekal dalam menghadapi kompetensi dalam kehidupan nyata yang
cenderung hedonis dan materialis. Pembuatan kurikulum juga
harus menyeimbangkan antara teoritis dan praktis dalam
keagamaan. Peserta didik harus dilatih bagaimana ia

39
Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam (Bandung: C.V. Pustaka Setia, , 1997), hlm. 75.
mempraktekan teori yang ada dalam kehidupan sehari-hari
sehingga peserta didik mengerti bagaimana ia nantinya harus
mempraktekkannya dalam kehidupan bermasyarakat.
Maka dari itu pendidik harus pandai mencari upaya-upaya
jalan keluarnya, jalan keluar tersebut sebagai berikut:
c. Faktor eksternal
1) Menambah jam pelajaran.
Alokasi waktu pembelajaran pendidikan agama islam yang
terdapat dalam GBPP yang hanya 2 jam merupakan kendala,
sebab materi yang disampaikan sangat banyak berdasarkan
rumusan kurikulum yang ada. Oleh karena itu perlu penambahan
jam pelajaran.
Penambahan jam pelajaran ini untuk mengimbangi
padatnya isi kurikulum. Adapun maksud dari penambahan jam
pelajaran ini agar materi pembelajaran agama islam yang
disampaikan dapat terpenuhi seluruhnya, pendidik memiliki
waktu yang cukup sehingga dapat menerangkan materi yang ada
secara jelas sesuai yang direncanakan.
2) Menganjurkan belajar kelompok
Membentuk kelompok agama islam yang berpengetahuan
tinggi dengan kelompok belajar agama islam yang
berpengetahuannya rendah tentang agama. Hal ini dilakukan
untuk memberikan motivasi terhadap anak didik dengan cara
belajar kelompok dan bisa lebih semangat dalam belajar
pendidikan agama islam. Selain itu juga untuk melatih anak
didik menjalin rasa persahabatan dengan temannya yang lain
sehingga mereka belajar bagaimana menjalin hubungan yang erat
dalam persahabatan dan kekeluargaan. Secara tidak langsung
pendidik telah menerapkan pendidikan yang sesuai dengan
tuntutan islam.






BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Dalam penelitian skripsi ini, penulis menggunakan pendekatan
kualitatif karena penelitian ini merupakan suatu bentuk penelitian yang
bersifat deskriptif kualitatif. Dikatakan deskriptif kualitatif karena penelitian
ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil pengolahan data yang berupa kata-
kata, gambaran umum yang terjadi di lapangan.
Arikunto Suharsini menjelaskan bahwa; jika penelitian yang dalam
pengumpulan data dan penafsiran hasilnya tidak menggunakan angka, maka
penelitian tersebut dinamakan penelitian kualitatif. Meskipun demikian, bukan
berarti bahwa dalam penelitian kualitatif tidak diperbolehkan menggunakan
angka. Dalam hal tertentu bisa menggunakan angka, seperti menggambarkan
kondisi suatu keluarga (menyebutkan jumlah anggota keluarga, menyebutkan
banyaknya biaya belanja sehari-hari, dan sebagainya), tentu saja bisa. Yang
tidak diperbolehkan angka dalam hal ini adalah jika dalam pengumpulan data
dan penafsiran datanya menggunakan rumus-rumus statistik. Sedangkan
penelitian yamg dalam pengumpulan data dan penafsiran datanya
menggunakan angka, maka penelitian tersebut dinamakan penelitian
kualitatif.
40

Berdasarkan pengertian di atas, dapat dipahami bahwa jika
pengumpulan dan penafsiran datanya tidak menggunakan angka, maka disebut

40
Suharsini Arikunto, Prosesdur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta,
2002), hlm. 10
penelitian kualitatif. Sedangkan dalam pengumpulan dan penafsiran
menggunakan angka disebut penelitian kualitatif. Oleh karena itu, jenis data
yang digunakan adalah kualitatif, karena data yang diperoleh dalam penelitian
ini adalah berupa gambaran, gejala, dan fenomena yang terjadi.
Sehingga dengan demikian, karena jenis datanya hanya berupa
gambaran, gejala dan fenomena yang terjadi, maka jenis penelitian ini adalah
penelitian kualitatif. Dan dilihat dari jenis penelitiannya, penelitian ini disebut
penelitian lapangan (studi kasus), “yaitu suatu penelitian yang dilakukan
secara intensif, teinci, dan berdasarkan tentang suatu organisme, lembaga atau
gejala tertentu. Jadi tujuan penelitian kasus atau lapangan adalah mempelajari
secara intensif tentang latar belakang berdasarkan keadaan sekarang, interaksi
lingkungan suatu unit sosial, individu, kelompok, lembaga, atau masyarakat.
41

Dengan demikian jenis studi kasus karena penelitian akan menggali data
tentang “Problematika Pendidikan Agama Islam dan Upaya-upaya
Pemecahannya” sesuai dengan judul yang akan diteliti nantinya.

B. Instrument Penelitian
Data penelitian kualitatif, yang menjadi instrument atau alat penelitian
adalah peneliti itu sendiri. Atau dengan bantuan orang lain yang merupakan
pengumpulan data utama. Dalam hal ini, sebagaimana dinyatakan oleh
Moleong (2006), kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif cukup rumit.

41
S. Margono, Metode Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, Cet II, 2000), hlm. 9
Ia sekaligus merupakan perencana, pelaksana pengumpulan data, analisis,
penafsir data, dan pada akhirnya ia menjadi pelapor hasil penelitiannya.
42

Pengertian instrument atau alat penelitian di sini tepat karena ia
menjadi segalanya dari seluruh proses penelitian. Berdasarkan pada
pandangan di atas, maka pada dasarnya kehadiran peneliti di sini, disamping
sebagai instrument juga hadir untuk menemukan data yang berkaitan dengan
“Problematika Pendidikan Agama Islam Dan Upaya Pemecahannya”. Sebagai
penunjang dalam rangka mengumpulkan data, peneliti juga menggunakan alat
instrument lain sebagai pendukung dengan metode pengumpulan data.

C. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini di SMU Widya Dharma Turen-Malang yang
beralamat di jl. Mayor Dammar No. 167 Turen. Pemilihan lokasi penelitian
ini, penulis berdasarkan atas beberapa hal, yaitu: untuk mengetahui
“Problematika Pendidikan Agama Islam Dan Upaya-Upaya Pemecahannya di
SMA Widya Dharma Turen-Malang”.
Adapun peneliti memilih lokasi ini karena tempatnya sangat strategis,
bisa dijangkau oleh alat transportasi sehingga memudahkan peneliti dalam
proses penelitian.

D. Sumber Data
Sumber data merupakan asal informasi yang diperoleh dalam kegiatan
penelitian. Sumber data dalam penelitian ini adalah: pertama, data primer

42
Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005),
hlm.168
adalah data yang dikumpulkan langsung dari sumbernya dan diolah sendiri
oleh suatu organisasi atau perorangan.
43

Adapun yang dimaksud dengan sumber data adalah subyek dari mana
data dapat diperoleh, jadi sumber data ini menunjukkan asal informasi. Data
ini diperoleh dari sumber data yang tepat. Jika sumber data tidak tepat maka
akan mengakibatkan data yang terkumpul tidak relevan dengan masalah yang
diteliti.
Menurut Lofland dan Lofland (1987:47), sumber data utama dalam
penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data
tambahan seperti dokumen dan lain-lain.
44
Sumber data yang dapat digunakan
dalam penelitian ini adalah:
a. Data Primer: adalah data yang didapat secara langsung dari subyek terteliti
pada saat penelitian dilakukan. Untuk mendapat data primer maka peneliti
melakukan dengan cara observasi dan wawancara. Dalam penelitian ini
data primer berupa data lisan dan tulisan serta catatan lapangan sebagai
hasil observasi. Data lisan yang diperoleh dari beberapa informen sebagai
berikut:
1) Kepala sekolah dan guru Pendidikan Agama Islam
Kepala sekolah dan guru Pendidikan Agama Islam yang dijadikan
responden karena dianggap menguasai permasalahan yang diperlukan.
2) Peserta didik
Adapun peserta didik dijadikan responden karena mereka ada
keterkaitannya dengan permasalahan yang sedang dikaji.

43
J. Supranto, Metode Ramalan Kualitatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), hlm.8
44
Lexi. J. Moleong, op. cit., hlm. 112
Adapun teknik yang digunakan dalam menentukan sampel
(responden) yaitu dengan menggunakan Purposive Sample (sampel
bertujuan), yaitu secara sengaja atas pertimbangan mantap terhadap
sampel dengan alasan dapat mewakili populasi dalam memperoleh
data-data serta permasalahan yang diperlukan.
b. Data Sekunder: adalah data yang dimaksudkan untuk melengkapi data
primer yang tidak diperoleh secara langsung dari kegiatan lapangan.

E. Prosedur Pengumpulan Data
Dalam upaya pengumpulan data yang diperlukan, maka penulis
menggunakan beberapa metode yang dapat mempermudah penelitian ini,
antara lain:
a. Metode Observasi
Menurut Suharsini Arikunto mengatakan bahwa observasi adalah
pengamatan yang meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu
obyek dengan menggunakan seluruh alat indera.
45
dalam metode ini
peneliti mengadakan pengamatan dan pencatatan secara langsung. Metode
ini digunakan peneliti untuk mengamati tentang keadaan obyek penelitian
dan saranan prasana serta semua fasilitas yang menunjang proses belajar
mengajar Pendidikan Agama Islam.
Metode observasi dapat dibagi menjadi dua macam yaitu:



45
Suharsini Arikunto, Op, Cit., hlm.133
1) Observasi Partisipatif
Di sini peneliti terjun langsung ke lapangan dengan mengadakan
pengamatan terhadap subyek yang diteliti dengan mengambil bagian
sesuatu dalam suatu kegiatan.
2) Observasi Non Partisipatif
Di sini peneliti menggunakan pendekatan-pendekatan melalui
pengamatan secara langsung terhadap obyek penelitian, akan tetapi
peneliti tidak mengambil tempat dalam suatu kegiatan.
b. Metode interview
Metode interview adalah suatu proses tanya jawab lisan yang mana
dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik, yaitu satu dapat
melihat yang lain dan mendengarkan dengan telinga sendiri, tampaknya
merupakan alat pengumpulan informasi langsung tentang beberapa jenis
data sosial.
46
Sedangkan kebutuhan peneliti ini dalam menggunakan
metode interview, peneliti menggunakan beberapa pendekatan antara lain:
1) Interview terpimpin adalah interview yang terikat pada pedoman
penelitian yang telah disediakan sebelum kegiatan dilaksanakan.
Interview ini dilakukan pewawancara dengan membawa sederetan
pertanyaan lengkap dan terperinci, keluwesan untuk mengadakan
pertanyaan pendalaman terbatas. Wawancara ini dilakukan untuk
mengurangi sedapat-dapatnya variasi atau hal yang kemungkinan bisa
terjadi pada informan yang jumlahnya lebih dari satu. Peneliti

46
Sutrisno Hadi, Metodologi Reseaarch II (Yogyakarta: Yayasan Penelitian Fakultas Psikologi
UGM, 1989), hlm.192
menggunakan data informasi guru agama, siswa, dan problem-
problem yang ada pada lembaga tersebut.
2) Interview tak terpimpin adalah interview yang tidak terikat pada
pedoman interview untuk mengarahkan pada tanya jawab atau pokok
persoalan yang terjadi pada penelitian.
3) Interview bebas terpimpin adalah kombinasi antara interview
terpimpin dan interview tak terpimpin. Jenis wawancara ini kerangka
dan garis besar. Pokok-pokok yang ditanyakan yang ada dalam proses
wawancara. Namun tidak perlu ditanya secara berurutan, sehingga ada
peluang mengadakan pendalaman atas pertanyaan yang diajukan.
Peneliti menggunakan interview ini sama halnya dengan interview
terpimpin yaitu untuk mendapatkan data dari informan guru agama,
siswa, dan pihak-pihak sekolah lain. Akan tetapi dalam wawancara ini
peneliti tidak membawa sederetan pertanyaan yang lengkap dan
terperinci, penulis hanya membawa kerangka pertanyaan beberapa hal
tentang Problematikan Pendidikan Agama Islam dan Upaya
Pemecahannya di SMU Widya Dharma Turen Malang.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode interview bebas
terpimpin, dimana dalam pelaksanaannya penulis berbicara tanpa
meninggalkan pedoman yang telah dipersiapkan sebelumnya. Jadi di sini
peneliti benar-benar memperhatikan data-data yang telah dicatat,
diwawancara maupun yang telah diteliti agar tidak tertinggal sehingga
data-data tersebut bisa dimanfaankan dengan sebaik-baiknya.

c. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau
variable-variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar,
majalah, prasarti, agenda dan sebagainya.
47

Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang: preoblematika
pendidikan agama islam, proses untuk mengatasi problematika
pendidikan agama islam, kendala yang timbul dalam mengatasi
problematika pendidikan agama islam, solusi yang dilakukan dalam
mengatasi problematika pendidikan agama islam, sejarah berdirinya
sekolah, struktur organisasi, perkembangan siswa, keadaan guru, tingkat
pendidikannya, serta keadaan sarana dan prasanan yang dimiliki sekolah,
dan lainnya yang mendukung kelengkapan data yang dibutuhkan dalam
penulisan skripsi.

F. Metode Pembahasan
Penulisan skripsi ini dibahas secara teoritis dan empiri. Pembahasan
teoritis bersumber pada perpustakaan, yaitu dengan merujuk pada beberapa
pendapat para ahli yang ada hubungannya dengan penulisan skripsi ini,
sedangkan data empiris penulis peroleh dari obyek penelitian. Adapun metode
pembahsan dalam bagian ini antara lain:
1. Metode Induktif
Metode induktif adalah berangkat dari faktor-faktor yang khusus,
peristiwa-peristiwa yang kongkrit, kemudian faktor-faktor atau peristiwa-

47
Suharsini Arikunto, Op. Cit., 2002 135
peristiwa yang khusus itu ditarik generalisasi yang mempunyai sifat
umum.
48

Pendapat tersebut dapatlah dipahami bahwa metode induktif adalah proses
menggeneralisasikan atau menarik kesimpulan umum berdasarkan fakta-
fakta atau peristiwa yang khusus. Sedangkan dalam kaitannya dengan
pembahsan skripsi ini penulis terangkan secara terperinci
2. Metode Deduktif
Metode deduktif merupakan kebalikan dari metode induktif yaitu suatu
cara berfikir yang berdasarkan atas rumusan-rumusan teori yang bersifat
umum kemudian ditarik kepada yang bersifat khusus. Sebagaimana yang
dikemukakan oleh sutrisno hadi bahwa deduksi ini berangkat dari
pengetahuan yang bersifat umum. Dan bertitik tolak pada pengetahuan
yang umum itu kemudian hendaklah menilai kejadian yang khusus.
49

3. Metode Reflektif
Metode reflektif adalah berfikir reflektif yaitu dengan cara
mengkombinasikan antara berpikir induktif dengan berpikir deduktif.

G. Teknik Analisis Data
Sebelum semua data yang diperlukan terkumpul, kemudian langkah
penulis berikutnya adalah menggunakan analisis data, yaitu memperoleh
gambaran atau kesimpulan yang jelas tentang permasalahan dari obyek yang
diteliti.

48
Sutrisno Hadi, Op, Cit., hlm. 193
49
Ibid., hlm. 36
Metode analisis data merupakan salah satu cara yang digunakan telah
dilakukan guna membuktikan dan menguji kebenarannya. Data yang telah
terkumpul disusun secara teratur dalam bentuk pengujian data, dan siap untuk
dianalisis dalam arti ditafsirkan, dihubung-hubungkan, dibanding-bandingkan,
dan sebagainya antara golongan data yang satu dengan data yang lainnya,
sehingga mudah dibaca dan dipahami dengan menggunakan metode analisis
teknik tertentu.
Dalam menganalisis data penulis menggunakan teknik analisis deskriptif
kualitatif dimana peneliti ini adalah menggambarkan atau melukiskan secara
nyata bagaimana setelah data-data terkumpul kemudian dianalisa, dicari
jawaban yang sesuai dengan permasalahan di atas.
50

Penelitian diskriptif ialah penelitian non hipotesis sebagaimana pendapat
Suharsini Arakunto yang mengemukakan bahwa penelitian deskriptif itu
untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan apa adanya
tentang suatu variable, gejala, atau keadaan.
Analisis deskriptif kualitatif merupkan suatu teknik yang
menggambarkan, menguraikan, dan menginterpresentasikan arti data-data
yang terkumpul dengan memberi perhatian dan merekam sebanyak mungkin
aspek situasi yang observasi, sehingga memperoleh gambaran secara umum
dan menyeluruh tentang keadaan yang sebenarnya. Menurut muhammad nizar
bahwa tujuan deskriptif ini ialah untuk membuat deskriptif, lukisan secara
sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan
antara fenomena yang diselidiki.
51


50
Suharsini Arikunto, Op. Cit., hlm. 213
51
Muhammad Nizar, Op, Cit., hlm. 63
Untuk menganalisa data yang bersifat kualitatif ini akan digunakan
teknik reflektif thinking yaitu dengan mengkombinasikan cara berfikir
dedukatif dan indukatif, dengan cara ini maka analisanya bersumber dari hasil
interview yang ada hubungannya dengan pokok bahasan di atas yaitu
mengkombinasi antara befikir dedukatif dan induktif untuk kemudian ditarik
kesimpulan.

H. Penegecekan Keabsahan Data
Pengecekan keabsahan temuan atau juga dikenal dengan validatas data
merupakan pembuktian bahwa apa yang telah di amati oleh penelitian sesuai
dengan apa yang sesungguhnya yang ada di lapangan (dunia kenyata), dan
apakah penjelasan yang diberikan tentang dunia memang sesuai dengan yang
sebenarnya ada atau tidak.
52
Maka dalam penelitian ini penulis menggunakan
beberapa tekni untuk mengetahui validitas data dengan mengadakan beberapa
hal antara lain:
1. Triangulasi, diartikan sebagai pengecekan keabsahan data dari berbagai
sumber dengan berbagai cara, dan waktu.
53
Moleong yang dikutip dari
bukunya ida bagoes mantra mengemukakn, membandingkan hasil
penelitian dengan hasil perhitungan dengan menggunakan metode analisis
yang berbeda.
54


52
Nasution, Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif , (Bandung: Trasito, 1996), hlm. 105
53
Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabet, 2005), hlm. 125
54
Ida Bagoes Mantra, Filsafat Penelitian Dan Metode Penelitian Sosial, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2004), hlm. 91
2. memggunakan bahan reference, adanya pendukung untuk membuktikan
data yang telah ditemukan oleh peneliti.
55
peneliti memperoleh data
mengenai “Problematika Pendidikan Agama Islam dan Upaya-upaya
Pemecahannya”.
3. member chek, adalah proses pengecekan keabsahan data yang diperoleh
peneliti kepada pemberi wawasan atau menuntut hasil pengamatan atau
pengamatan atau mempelajari dokumen, kemudian mendeskripsikan,
menginterpresentasikan dan memaknai data secara tertulis, kemudian
dikembalikan kepada sumber data untuk diperiksa kebenaran, ditanggapi,
dan jika perlu ada penambahan data baru. Member chek dilakukan segera
setelah draf skripsi sesudah jadi secara utuh.

I. Tahap-tahap Penelitian
Untuk mendapatkan data tentang problematika pendidikan agama islam
dan upaya pemecahannya, penulis mendatangi langsung obyek penelitian dan
pengambil data-data yang diperlukan dengan menggunakan beberapa teknik
pengumpulan data. Lebih jelasnya langkah-langkah dalam penelitian ini
adalah sebagaimana di bawah ini:
1. Persiapan
Dalam suatu kegiatan, persiapan merupakan unsur-unsur yang sangat
penting. Begitu juga dalam kegiatan penelitian, persiapan merupakan
unsur yang diperlukan diperhitungkan dengan baik sebab yang baik akan
memperlancar jalannya penelitian. Sehubungan dengan judul dan rumusan

55
Sugiono, Op, Cit., hlm. 128
masalah yang telah disebutkan pada bab terdahulu, maka persiapan dalam
melaksanakan penelitian ini adalah menyusun rencana penelitian dalam
bentuk proposal penelitian problematika pendidikan agama islam dan
upaya pemecahannya kemudian mengurus surat pengantar izin
melaksanakan penelitian dan mempersiapkan instrumen penelitian.
2. Pelaksanaan
Setelah persiapan dianggap matang, maka tahap selanjjutnya adalah
melaksanakan penelitian. Dalam pelaksanaan tahap ini penelitian
mengumpulkan data-data yang diperlukan dengan menggunakan beberapa
metode antara lain: wawancara, interview, dan dokumentasi.
3. Penyelesaian
Setelah kegiatan peneliti selesai, penulis mulai menysun kerangka
laporan hasil penelitian dengan mentabulasikan dan menganalisis data
yang telah diperoleh dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif,
yaitu analisis data dilakukan dengan menata dan menelan secara sistematis
semua data yang diperoleh. Kemudian dari hasil penelitian tersebut
dibahas dengan menggunakan teori-teori yang sudah ada pada bab
sebelumnya.












BAB IV
HASIL PENELITIAN


A. LATAR BELAKANG OBJEK PENELITIAN
1. Sejarah singkat berdirinya SMA Widya Dharma Turen
SMU Widya Dharma Turen yang sejak berdirinya bersama SMA
PGRI Turen mempunyai sejarah yang menarik, karena sejak berdirinya
sampai sekarang mengalami 5 sampai 6 kali perubahan nama seiring
dengan situasi dn kondisi negara serta adanya perkembangan pendidikan.
Perubahan nama sekolah yang dimaksud adalah sebagai berikut:
a. Tahun 1963-1973 : SMA PGRI Turen
b. Tahun 1974-1979 : SMA Turen
c. Tahun 1980-1983 : SMA Bersubsidi
d. Tahun 1984-200 : SMA Widya Dharma
e. Tahun 2001-2003 : SMU Widya Dharma Turen
f. Tahun 2003-sekarang : kembali lagi ke SMA Widya Dharma Turen
SMA Widya Dharma merupakan tuntutan dari pemerintah, yaitu
bahwa sekolah swasta harus mempunyai ciri khas. Hal ini merupakan
ketentuan yang diterima kepala sekolah saat penataran kepala sekolah
SMU Swasta di Cilot, Jakarta pada Tahun 1980. Atas dasar itu yayasan
pendidikan SMA Widya Dharma Turen berubah menjadi yayasan
pendidikan Widya Dharma Turen dengan Akte Notaris G. Kamarudzaman
No 115 tanggal 21 januari 1983.
Sekolah SMA Widya Dharma Turen di Jawa Timur, yang disusul
dengan akreditasi pertama pada tahun 1985 yang mana setelah diadakan
penilaian SMA Widya Dharma Turen ini termasuk 20 SMA swasta se
Jawa Timur yang diberi status disamakan oleh Mentri pendidikan dan
kebudayaan RI. Dengan demikian dari 20 SMA itu, malang hanya enam
sekolah yaitu: 5 SMA di kodya (SAMK Dempu, SMA Cor Yesus, SMA
Santa Maria, SMA Santeyusuf, SMA Islam), dan satu sekolah di
kabupaten malang yaitu SMA Widya Dharama Turen. Karena itulah
dikatakan SMA swasta faforit sampai sekarang.
Adapun pihak SMA Widya Dharma Turen yang baru khususnya
guru-guru, perlu hal ini dikaji bahwa status disamakan itu kategorinya
adalah sangat baik. Jadi boleh dikatakan tanpa dinilai atau diakreditasipun
SMA Widya Dharma Turen memang sudah termasuk yang diperhitungkan
untuk menjadi SMA yang berkualitas dibanding SMA lainnya. Atas dasar
itu sekolah menerapkan disiplin dan tertib disegala bidang, agar
memudahkan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang efektif. Di
samping itu sekolah berpedoman, mengolah sekolah swasta harus selalu
efektif dan kreatif dalam melaksanakan tugas, agar sekolah tetap menarik.
Dalam mengelolah sekolah SMA Widya Dharma Turen mempunyai
banyak cerita yang menarik yang salah satunya adalah tentang pedoman
pengelolaan sekolah, yaitu pada pelaksanaan Ebtanas 1980-an dalam
rangka menghadapi problem kelulusan, pemerintah menaikkan norma
syarat lulusan, yang mengakibatkan jatuhnya SMA-SMA swasta di Jawa
Timur terutama yang memilih program A1 (ilmu-ilmu fisika) dan A2
(ilmu-ilmu biologi), karena banyak siswa dari progaram A1 dan A2 yang
tidak lulus. Lulusan SMA Widya Dharma Turen saat ini tidak banyak
mengalami perubahan, karena sudah dibiasakan untuk menjuruskan ke
program A2 dengan ketat, sehingga yang dapat masuk program A1 dan A2
tidak menghawatirkan dalam Ebtanas. Jadi meskipun ada problem yang
timbul dalam Ebtanas sekolah tidak goyah.
Dengan demikian, pelaksanaan KBM yang efektif didukung
disiplin dan tertib di segala bidang serta menerapkan norma kenaikan dan
lulusan dengan baik, maka dapat merubah hasil lulusan yang berprestasi.
Bahwasannya SMA Widya Dharma Turen menggunakan
kurikulum 1984, ada 4 program, yaitu A1 (IIF: Ilmu-ilmu fisika), A2
(IIB:Ilmu-ilmu Biologi), A3 (IIS: Ilmu-ilmu Sosial) dan A4 (IIB:
Pengetahuan Budaya), hal ini tidak dimilki SMA pada umumnya.
Kebanyakan SMA swasta yang lain hanya memilki 2 sampai 3 program
saja.
SMA Widya Dharma sampai sekarang sudah mengikuti akreditasi
sampai empat kali pada tahun 1985, 1990, dan tahun 1995 dan 2000
dengan hasil disamakan atau nilai amat baik. Tentang prestasi sekolah,
sudah tidak bisa dipungkiri bahwa sejak dulu sampai sekarang ini tidak
mengecewakan, selalu mendapatkan 4 besar dalam lomba baik ditingkat
kabupaten atau kota sampai dengan jawa timur. Misalnya lomba
Matematika, Fisika, Bahasa Inggris.
Adapun masalah perkembanga gedung sejak 1977 sampai sekarang
dilaksanakan secara bertahap, disesuaikan dengan dana yang ada.


2. Visi dan Misi SMA Widya Dharma Turen
VISI:
Mewujudkan Sekolah Yang Berkualitas
MISI:
a. Meningkatkan disiplin kepada Tuhan Yang Maha Esa
b. Meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan
c. Meningkatkan kemampuan guru dalam rangka menguasai metode
pembelajaran yang berorientasi life skill
d. Meningkatkan layanan kegiatan belajar mengajar dengan
menggunakan audio visual
e. Pengembangan sistem jaringan sekolah
f. Meningkatkan bimbingan di luar jam sekolah
g. Meningkatkan pelatihan: computer, bahasa inggris, bahasa jepang, tata
rias, dll
h. Meningkatkan kegiatan ektrakulikuler









3. Struktur Organisai
GAMBAR 1
STRUKTUR ORGANISASI SMA WIDYA DHARMA TUREN 2008-2009
56























56
Dokumentasi SMA Widya Dharma Turen 2008-2009
KEPALA
SEKOLAH
KOORDINATOR
TATA
WAKASEK
KURIKULUM
WAKASEK
KESISWAAN
WAKASEK
SARANA
WAKASEK
HUMAS
STAF
KURIKULUM
STAF
KESISWAAN
KOORDINATOR
MGMP
KEPUTRIAN WALI KELAS
BP / BK PERPUSTAKAAN
LABORATORIUM
IPA – BHS - KOMP
DANSOS
EKSTRA
KULIKULER
GURU
SISWA
4. Keadaan Guru dan Karyawan SMA Widya Dharma Turen
Guru merupakan pembimbing langsung anak didik di dalam kelas
sehingga peran dan keberadaan guru sangat mempengaruhi kelangsungan
siswa dalam belajar, kualitas kelulusan juga tergantung bagaimana guru
mengajar secara profesional
Seiring dengan perkembangan serta semakin pesatnya kemajuan
SMA Widya Dharma, maka lembaga pendidikan ini terus berbenah diri,
salah satunya dilakukan melalui penambahan dan pembinaan tenaga
pendidik yang sesuai dengan kompetensinya dengan harapan bahwa
problema yang timbul dalam proses belajar mengajar bisa teratasi dengan
baik. Dan siswa bisa memperoleh apa yang menjadi tujuan dalam
belajarnya, tidak hanya itu saja SMA Widya Dharma juga menambah
karyawan sebagai bentuk penataan dan perwujudan menuju lembaga
pendidikan yang berkualitas.
Hasil observasi peneliti, SMA Widya Dharma Turen saat ini
memliki 56 guru dan 27 karyawan yang terdiri dari karyawan TU,
Perpustakaan dan operasional lainnya. Sesuai dengan kompetensi dan
profesionalisme guru, para guru yang ada di SMA Widya Dharma
menjalankan peran dan tugasnya dalam mengajar memiliki latar belakang
yang sesuai dengan bidang kependidikan masing-masing, yang mana
sebagian besar dari mereka telah menempuh jenjang pendidikan sarjana
strata satu (SI), ada juga guru yang masih menempuh jenjang pendidikan
yang lebih tinggi atau sarjana strata dua (S2), para guru mengakui bahwa
untuk memecahkan problem yang ada di SMA Widya Dharma Turen
Malang ini saling membantu antara guru yang ngajar mata pelajaran lain
dengan guru yang ngajar mata pelajaran pendidikan agama islam, selain
itu seorang guru juga harus memiliki modal keilmuan yang matang dan
sesuai dengan latar belakang pendidikannya.
57

Selain keberadaan guru dan karyawan di SMA Widya Dharma juga
memiliki arti yang sangat penting dalam membantu kelancaran proses
pendidikan adanya kualitas kinerja karyawan dalam melaksanakan tugas
dan kewajibannya tentunya sangat dibutuhkan oleh berbagai pihak yang
terkait dengan proses pendidikan itu sendiri, untuk SMA Widya Dharma
Turen Malang terus berusaha melakukan peningkatan SDM terhadap
karyawannya dengan cara pembinaan kerja dan memperhatikan
kesejahteraan hidup mereka. Mengenai jumlah guru dan karyawan dapat
dilihat pada tabelnya tentang keberadaan guru di lembaga ini memang
dibagi menjadi 2 ada yang bersifat tetap/pegawai negeri dan yang kedua
sebagai tenaga honorer, demikian pula dengan tenaga kepegawaian yang
ada di lembaga ini. Kerja sama yang baik antara guru yang bersifat tetap
maupun yang tidak tetap ini ternyata tidak menutup kemungkinaan untuk
bisa menciptakan lingkungan yang dapat menjamin kelangsungan kegiatan
pembelajaran yang lebih baik dan lebih kondusif. Kebanyakan dari para
guru yang ada di lembaga ini lulusan/alumni perguruan tinggi yang ada di
jawa timur, khususnya dari daerah Malang.



57
Sumber Data Dokumentasi Dan Wawancara Dengan staf TU SMA Widya Dharma Turen
Tanggal 21 November. 2008
TABEL 1.1
DAFTAR NAMA GURU
SMA WIDYA DHARMA TUREN
TAHUN PELAJARAN 2008-2009
58

Kode Nama/NIP Bidang Studi/Mata
Pelajaran yang
Diajarkan
Pendidikan
Terakhir
Keterangan
1 Tri Djoko Kusminto.
Drs.
F Mipa, Kimia,
IKIP, Mlg
Non PNS
2 Samsul Hadi, Drs. Sejarah Pendidikan
Sejarah IKIP
Negeri
Non PNS
3 Titik Wahyuni, S.Pd.
130900425
Bahasa Indonesia/Koor
Piket
Sastra Bhs.
Indonesia, IKIP
Mlg
PNS
4 Drs.Prihadi Hendro
Rudhito,
131405886
Ekonomi /Koor
Ketrampilan
Ilmu Sosial, IKIP
Mlg
PNS
5 Dra.Rina Juniarsi,
131614188
Kimia Ilmu Eksekta
IKIP Mlg
PNS
6 Ananta Santi, BA. Bahasa Inggris UT, BHS. Inggris
Blng
PNS
7 Drs.Elok Sanyoto, Pendidikan Kristen Pend. Agama
Kristen, STKIP
Non PNS
8 Suliono, BA. Bahasa Inggris, Bahasa
Perancis/Wak Sarana
Akademik BHS.
Asing
Non PNS
9 Titik Mustikowati,
BA.
Bahasa Inggris/Koor
LAB BAH + B.
Vokalia
Akademik Bhs.
Asing
Non PNS
10 Musalamah BA. Sejarah Nasional,
Sosiologi
Pendidikan
Sejarah Nas.
Sarjana Muda,
UNEJ
Non PNS
11 Dra.Endri Mulyati Sosiologi Pend. Ilmu Peng.
PMP dan KN
IKIP PGRI
Non PNS
12 Dra.PinastiHendrawati,
1320099357
Kimia /Koor Penilaian
+ Lab IPA
Mipa Kimia IKIP
Negeri Mlg
PNS
13 Dra.Siti Maisaroh, Kewarganegaraan,
PPKN /Wak Kur
Pend.
Kewarganegaraan
, PPKN
IKIP PGRI Mlg
Non PNS
14 Dewu Rini
Ambarwti, S.Pd.
Akutansi +
Kewiausahaan
(MULOK) Koor Kopsis
Ekonomi UM Non PNS
15 Drs.Abu Bakar, BP/BK / Koor BK / Pend. BP/BK PNS

58
Dokumentasi SMA Widya Dharma Turen 2008-2009
131158166 Ekstra IKIP PGRI
16 Dra.Sri Sukmawati, Sej. Nasional, Sosio
Antropologi
IPS, Sej. Nas,
IKIP Mlg
Non PNS
17 Dra Endah Ernayani,
131466205
Biologi Biologi IKIP Mlg PNS
18 Drs. Tiktoyo Ekonomi, Ekonometri /
Wak KUR
Ilmu. Peng. Sosial
IKIP PGRI
Non PNS
19 Joko Sukisworo S.Pd.
12171520
Biologi FMIPA IKIP Mlg PNS
20 Atik Siswanti, S.Pd.
132700892
Bahasa Inggris FKIP Umm PNS
21 Dra. Suciati Matematika FMIPA IKPI
PGRI
Non PNS
22 Yeni Jektiningsih
S.Pd.
BP/Bk / Koor Dansos/
PAG Kris
Psikologi Univ.
17-8-45
Non Pns
23 Wiwik Indah, S.Pd. Ekonomi FP IPS Akuntansi
IKIP Negeri Mlg
Non PNS
24 M. Lutfiono, S.Pd. Geografi / Wak
Kesiswaan
IPS Geografi
IKIP PGRI
Non PNS
25 Eny Widayati, S.Pd. Kewarganegaraan
PPKN
Kewarganegaraan
, PPKN IKIP
PGRI
Non PNS
26 Drs. Supriono,
6513101008
Sosiologi / HUMAS Fips, Geografi
IKIP PGRI
PNS
27 Ir.Intan Altina Fisika Peternakan
STIKIP PGRI
PAS.
Non Pns
28 Dra. Wahyuni Rini P Bahasa Inggris FBBS Pend. Bhs
Inggris IKIP
PGRI
Non PNS
29 Drs. Agung Raharjo Pend. Jas. Kes. Olah Raga Budi
Utomo Mlg
Non PNS
30 Ariyanto, S.Pd Pendidikan Seni Pend. Seni Rupa
IKIP Mlg
Non PNS
31 Rini Dwi H. S.Pd. Geogarfi FIPS Geograrafi
IKIP PGRI
Non PNS
32 Drs. Suparlan
132280924
Matematika FPMIPA IKIP
Budi Utomo Mlg
PNS
33 Atmitko
Pratnawihardi, S.Pd.
Matematika FPMIPA UMM Non PNS
34 Rudi Hartono, S.Pd.
040505837
BP/BK Pend. BP/BK
IKIP PGRI
PNS
35 Relia Widaryati S.Pd, Fisika KIP Fisika Unej. Non PNS
36 Mamik Caturwati, S.Pd. Bahasa Indonesia FBBS IKIP PGRI Non PNS
37 M. Koliq, S.Pd. Bahasa Indonesia Bhs. Indo IKIP
Mlg
Non PNS
38 Abdul Kholiq, S.Pd. Bahasa Indonesia FKIP, IKIP Non PNS
39 Sri Sulastri, S.Pd. PPKN / Staf Kesiswaan PMP/Kn IKIP
PGRI
Non PNS
40 Arik Susianto, S.Pd.
350709070770003
Matematika Mipa UM PNS
41 Octavia Eko Susanti,
S.Pd.
Fisika Mipa UM Non PNS
42 Abdul Halim, S.Ag. Pendidikan Agama
Islam
Tarbiyah/PAI
Unisma
Non PNS
43 Muh. Ali, KH. Drs. Pendidikan Agama
Islam/Koordinator
Tarbiyah/PAI
IAIN Mlg
Non PNS
44 Drs. Rimbun Kularso
6513100979
Ekonomi +
Kewirausahaan (Mulok)
FKIP Bisnis
Tataniaga PT
UNS
PNS
45 Rochma Ulfi F. ST. Tek. Infor. Komputer /
Koordinatoor
Tek. Industri
Kimia Kanjuruan
Non PNS
46 Dra. Nawang
Tedjowati, 13032680
Bahasa Inggris /
Convrsation
F Pend. PPKN,
IKIP Mlg
PNS
47 Imam Tabroni, S.Pd Sejarah Sastra, UM Non PNS
48 Waris Suwarno, Drs.
13214449
Geogarafi FPIPS, IKIP PNS
49 Juma’ali S. Kom. Tek. Infor. Komputer /
Programer
Analisis
Menejemen
STIKI
Non PNS
50 Wuryanto, S.Pd Bahasa Indonesia /
Wakasek Kesiswa
Fkip S-P Non PNS
51 Teguh Hendri Kimia MIPA, UM Non PNS
52 Suhardi, S.Pd. Seni dan Budaya FBBS, IKIP
Negeri Mlg
Non PNS
53 Aulia Kurnia, S.Ag Pend. Agama Islam - -
54 Wiyoto, Drs. Pend. Jasmani - -
55 Titik, S.Pd Pend. Jasamani - -
56 B. Sita BASEP - -

Dari hasil paparan Tabel dia atas, bahwa guru SMA Widya
Dharma Turen yang sudah PNS 16 orang namun, yang belum PNS
sebanyak 40 orang. Beliau tersebut sudah menempuh di perguruan tinggi
yang berada di Jawa Timur, namun datanya ada yang belum masuk pada
buku induk inventaris sekolah Widya Dharma Turen. Walaupun guru
belum PNS tapi dalam hal mengajar sudah mencapai standar kualifikasi
yang profesional.


TABEL 1.2
KEADAAN KARYAWAN SMA WIDYA DHARMA TUREN
2008-2009
59

Kode Nama Jabatan keteranagan
1 EndangwarDaningsih ka. T.U
2 Darminingsih T.U -
3 Hariadi T.U -
4 Siono T.U -
5 Ernawati T.U -
6 SriKasih T.U -
7 Bambang Sungkono T.U -
8 Slamet Budiono T.U -
9 Sutik T.U -
10 Elia Dwi Martastuti T.U -
11 Johan Wijaya T.U -
12 Lilik Masita Rini T.U -
13 Imam kholil Petugas. Perpus -
14 Wanda Santiawan Petugas. Perpust -
15 Ani Yuli Prianti Petugas. komp -
16 Nur Hatib Petugas komp -
-17 Fendi Suharsono Petugas.komp -
18 M. Fahrurrozi Petugas. komp -
19 Elmi Amalia Petugas.koprsi -
20 Mulyo Sri Rahayu Petugas.koperasi -
21 Sumadi Driver -
22 Saib Pesuruh -
23 Sugito Pesuruh -
24 Slamet Pirit Pesuruh -
25 Mugeni Pesuruh -
26 Suharyono Satpam -
27 Sugeng Satpam

5. Tugas Dan Tanggung Jawab Kepala dan Guru
a. Kepala sekolah
Kepala sekolah bertugas sebagai educator, manajer administrasi
dan supervisor, pemimpin inovator, dan motivator. Adapun tugas-
tugas yang dilaksanakan kepala sekolah adalah sebagai berikut:
1) Kepala sekolah sebagai educator.

59
Dokumentasi SMA Widya Dharma Turen Tahun 2008-2009.
Adapun tugas kepala sekolah sebagai educator bertugas
melaksanakan proses belajar secara efektif dan efisien dengan
memantau bagaimana guru mengajar dan keadaan siswa dalam
kelas sehingga kepala sekolah bisa memberikan motivasi agar
perkembangan proses belajar mengajar semakin meningkan. Hal
ini dilakukan agar tidak terjadi problem yang berkaitan dengan
proses belajar mengajar.
2) Kepala sekolah selaku manajer
Adapun tugas kepala sekolah selaku manajer adalah sebagai
berikut:
a) Menyusun perencanaan
b) Mengorganisasikan kegiatan
c) Mengarahkan kegiatan
d) Melaksanakan pengawasan
e) Melakukan evaluasi terhadap kegiatan
f) Menentukan kebijaksanaan
g) Mengadakan rapat
h) Mengambil keputusan dan mengatur proses belajar mengajar
i) Mengatur administrasi: ketatausahaan, kesiswaan, ketenagaan,
sarana dan prasarana, keuangan atau RAPBS.
j) Mengatur organisasi siswa intra sekolah (OSIS).
k) Mengatur hubungan sekolah dengan masyarakat dan instansi
yang terkait.
3) Kepala sekolah selaku administrator menyelenggarakan
administrasi adalah sebagai berikut:
a) Perencanaa
b) Pengorganisasian
c) Pengarahan
d) Pengkoordinasian
e) Pengawasan
f) Kurikulum
g) Kesiswaan
h) Ketatausahaan
4) Kepala sekolah selaku supervisor bertugas menyelenggarakan
supervisi mengenai:
a) Proses belajar mengajar
b) Kegiatan bimbingan konseling
c) Kegiatan ekstrakurikuler
d) Kegiatan ketatausahaan
e) Kegiatan kerjasama dengan masyarakat dan instansi yang
terkait
f) Kegiatan osis
5) Kepala sekolah sebagai inovator
a) Melakukan pembaharuan bidang
b) Melaksanakan pembinaan guru dan karyawan
c) Melakukan pembaharuan dalam menggali sumber daya di BP3
d) Tugas wakil kepala sekolah
Wakil kepala sekolah mempunyai peran penting dalam
membantu kepala sekolah dalam mengatasi problem-problem atau
kegiatan yang ada di lemabag tersebut adalah sebagai berikut:
6) Menyusun perencanaan, membuat program kegiatan dan
pelaksanaan program.
7) Pengorganisasian
8) Pengarahan
9) Ketenangan
10) Pengkordiasian
11) Pengawasan
12) Penilaian
13) Identifikasi dan pengumpulan data.
Selain kegiatan-kegiatan di atas, wakil kepala sekolah membantu
kepala sekolah dalam hal sebagai berikut:
1) Waka kurikulum
a) Menyusun dan menjabarkan kelender pendidikan
b) Menyusun pembagian tugas-tugas guru dan jadwal pelajaran
c) Mengatur penysunan program pengajaran tahunan (Prota)
d) Mengatur penysunan program pengajaran semester (Promes)
2) Waka kesiswaan
3) Waka sarana dan prasarana
4) Hubungan dengan masyarakat (Humas)


b. Tugas guru
Guru bertanggung jawab kepada kepala sekolah dan mempunyai
tugas untuk melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar secara
efektif dan efisien. Tugas dan tanggung jawab guru di SMA Widya
Dharma Turen meliputi:
1) Membuat perangkat program pengajaran
2) Melaksanakan kegiatan pembelajaran
3) Melaksanakan kegiatan penilaian proses belajar ulangan harian,
ulangan umum, dan ulangan akhir
4) Melaksanakan analisis hasil ulangan harian
5) Menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan
6) Mengisi daftar nilai siswa
7) Melaksanakan kegiatan membimbing (pengimbasan pengetahuan)
kepada guru lain dalam proses belajar mengajar
8) Membuat alat pelajaran, alat media
9) Menumbuh kembangkan sikap menghargai karya seni
10) Mengikuti kegiatan pengembangan dan persyaratan kurikulum
11) Membuat catatan tentang kemajuan hasil belajar siswa
12) Mengisi dan meneliti daftar hadir siswa sebelum memulai
pengajaran
c. Wali kelas
Wali kelas salah satu mediator yang selalu memantau siswa dari
dekat dan membantu kepala sekolah dalam kegiatan-kegiatan sebagai
berikut:
1) Pengelolaan kelas
2) Penyelenggaraan administrasi kelas meliputi:
a) Dena tempat duduk siswa
b) Papan absen siswa
c) Daftar pelajaran kelas
d) Daftar piket kelas siswa
e) Buku absensi siswa
f) Buku kegiatan pembelajaran
g) Tata tertib siswa
3) Penyusunan pembuatan statistik bulanan siswa
4) Mengisi daftar kumpulan nilai siswa
5) Pencatatan mutasi siswa
6) Pengisian laporan penilaian hasil belajar
7) Pembagian buku laporan penilaian hasil belajar
d. Guru Bimbingan Dan Konseling (BK)
Bimbingan dan konseling untuk mengetahui perkembangan
siswa yang mempunyai problem baik dalam hal belajar maupun dalam
lingkup sosial. Dalam hal ini siswa yang akan bermasalah akan di
upayakan untuk menyelesaikan masalahnya, maka dari itu bimbingan
dan konseling tugas adalah sebagai berikut:
1) Penyusunan program dan pelaksanaan bimbingan dan konseling
2) Koordinasi dengan wali kelas dalam rangka mengatasi problem-
problem yang dihadapi siswa tentang kesulitan belajar
3) Memberikan layanan dan bimbingan kepada siswa dalam
pemecahan problematikan dalam kegiatan belajar.
4) Memberikan saran dan pertimbangan kepada siswa dalam
memperoleh gambaran tentang lanjutan pendidikan dan lapangan
kerja
5) Melaksanakan kegiatan analisis hasil evaluasi belajar
e. Pustakawan
Pustakawan sekolah membantu kepala sekolah dalam kegiatan-
kegiatan sebagai beriku:
1) Perencanaan pengadaan buku-buku atau baha pustaka lainnya
2) Mengurus pelayanan perpustakaan
3) Perencanaan pengembangan pustakaan
4) Pemeliharaan dan perbaikan buku-buku yang ada di perputakaan
5) Investasi dan pengadministrasian buku-buku dan alat-alat
perpustakaan lainnya
6) Melakukan pelayanan kebutuhan siswa di perpustakaan
7) Menyusun tata tertib bukuk-buku di perpustakaan
8) Menyusssun laporan pelaksanaan kegiatan perpustakaan kegiatan
perpustakaan secara berkala.
f. Laboran
Kepala tata uasaha sekolah mempunyai tugas melaksanakan
ketatausahaan sekolah, dan bertanggung jawa kepada kela sekolah
dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1) Menyusun program kerja tata usaha sekolah
2) Mengolah keuangan sekolah
3) Pengurusan administrasi ketenagaan dan siswa
4) Pembinaan dan pengembangan karir pegawai tata usaha sekolah
5) Menyusun administrasi perlengkapan sekolah
6) Penyusun dan penyajian data sekolah
g. Kepala Tata Usaha
Kepala tata usaha sekolah SMA Widya Dharma Turen Malang
mempunyai tugas melaksanakan ketatausahaan sekolah dan
bertanggung jawab kepada kepala sekolah dalam kegiatan-kegiatan
sebagai berikut:
1) Menyusun program kerja tata usaha sekolah
2) Pengelolaan keuangan sekolah
3) Pengurusan administrasi ketenagaan dan siswa
4) Pembinaan dan karir pegawai tata usaha sekolah
5) Penyusun administrasi perlengkapan sekolah
6) Penyusun laporan pelaksanaan kegiatan pengurusan ketatausahaan
secara berkala
h. Tekhnis media
Teknisi media membantu kepala sekolah dalam kegiatan-
kegiatan sebagai berikut:
1) Merencanakan pengadaan alat-alat media
2) Menyusun jadwal dan tata tertib penggunaan media
3) Menyusun programkegiatan teknisi media
4) Mengatur penyimpanan, pemeliharaan, dan perbaikan alat-alat
media inventarisasi dan administrasian alat media
5) Menyusun laporan pemanfaatan alat-alat media
6. Keadaan Siswa SMA Widya Dharma Turen
Keberadaan siswa merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam
kegiatan proses belajar mengajar. Bahwa SMA Widya Dharma Turen
tahun ajaran 2008/2009 sampai sekarang nominal yang tinggi sekecamatan
Turen, yaitu 601 siswa yang terdiri dari 280 laki-laki dan 321 siswi putri,
mayoritas siswa SMA Widya Dharma Turen berasal dari kecamatan Turen
sendiri, secara keseluruhan jumlah siswa terbagi dalam tiga kelas, yaitu
kelas X, kelas XI, dan kelas XII, dan masing-masing kelas terdiri dari
tujuh ruang belajar, setiap ruang belajar menampung kurang lebih 42
siswa, sehingga secara keseluruhan jumlah ruang belajar di SMA Widya
Dharma Turen terdiri dari 21 ruang belajar belum termasuk ruang Lab dan
ruang praktek lain.
Pembinaan dan pelatihan siswa di SMA widya Dharma Turen
dimulai sejak kelas bawah/kelas X. Hal tersebut dimaksudkan agar tingkat
pengetahuan bisa diketahui sesuai yang mereka miliki secara jelas dapat
disalurkan melalui pemilihan jurusan di kelas atas/kelas XI nantinya,
karena di SMA Widya Dharma Turen ini telah memiliki tiga jurusan yang
terdiri dari jurusan IPS, jurusan IPA dan jurusan Bahasa. Dan untuk kelas
X masih belum ada pembagian jurusan karena siswa baru masih dididik
untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah.

TABEL 3
PERKEMBANGAN JUMLAH SISWA TAHUN 1999-2008
60


No Tahun Jumlah siswa
1 1998-1999 987
2 1999-2000 991
3 2001-2002 1063
4 2002-2003 1100
5 2003-2004 1165
6 2004-2005 1137
7 2005-2006 1126
8 2006-2007 1045
9 2007-2008 895
10 2008-2009 601

Adapun penjelasan tentang tabel di atas bahwa jumlah siswa di tahun
1998- 2006 mempunyai angka nominal yang cukup tinggi di SMA se
Kecamatan Turen, namun pada tahun berikutnya yaitu mulai tahun 2007-
sekarang sudah semakin menurun. Hal ini disebabkan karena
perkembangan dunia pendidikan di Kecamatan Turen semakin maju,
sehingga persaingan antara lembaga yang satu dengan lembaga lain
semakin ketat dan berdampak pada menurunnya jumlah siswa di SMA
Widya Dharma Turen.
Terkait dengan semakin menurunnya jumlah siswa di SMA Widya
Dharma Turen dari hasil wawancara peneliti dengan ibu
EndangwarDaningsih (ka. TU) yang mengemukakan sebagai berikut:

60
Dokumentasi SMA Widya Dharma Turen tahun 2008-2009 dan Hasil Wawancara dengan
Bapak Kepala Sekolah Tri Djoko Kusminto Tgl 13 November. 2008
“Memang benar jumlah siswa di SMA Widya Dharma ini makin
menurun, soalnya sekarangkan lembaga ini gencar jadi dua lembaga
yaitu lembaga ini (SMA Widya Dharma Turen) dan SMK Widya
Dharma yang ada di Talok sana mbak! Jadi untuk mempromosikan
juga kami bagi-bagikan sama SMK sana. Dhulu sebelum di
bangunnya SMK Widya Dharma yang ada di Talok, sekolah ini
memang jumlah siswanya mencapai angka seperti yang ada dalam
dokumentasi yaitu seribu lebih tapi karena ada SMK Widya Dharma
itu jadi siswanya sebagian ada yang masuk di SMA dan juga ada
yang masuk di SMK”
61


Untuk menemukan kebenaran tentang paparan ka.TU di atas, peneliti
mencoba mewawancarai Bpk Rudi Hartono (guru BK) yang
mengayatakan bahwa:
”Lembaga SMK Widya Dharma yang ada di Talok mulai dibangun
antara tahun 2006-2007. mulai tahun itu sekolah ini jumlah siswanya
menurun, tapi menurunnya jumlah siswa bukan karena lembaga ini
gak maju lagi, melainkan karena memang jumlah siswa dibagikan
untuk lembaga SMK Widya Dharma yang ada di Talok itu. Apalagi
sekarang di Turen ini jumlah lembagakan sudah makin banyak
contohnya adanya sekolah Kelautan, sekolah Brimob dan masih
banyak lembaga-lembaga lain yang baru dibangun oleh pemerintah,
jadi lembaga pendidikan di Turen ini tidak hanya SMA Widya
Dharma saja. Tapi kami sebagai pihak sekolah tetap
mempromosikannya semaksimal mungkin dan tetap menunjukkan
sekolah ini yang terbaik dan berkualitas”
62


Adapun latar belakang siswa SMA Widya Dharma Turen tidak
hanya menganut agama islam saja, melainkan juga ada beberapa siswa
yang menganut agama lain, seperti agama kristen. Sehingga dalam hal
saling menghargai antara guru dan siswa yang latar belakang agama yang
berbeda ini kepala sekolah menerapkan untuk saling menghargai kegiatan
agama masing-masing terutama dalam hal peribadatan. Jadi, tidak bisa
dipungkiran antara siswa muslim dengan siswa yang nonmuslim sudah
berbaur sangat jauh dan bahkan dihari raya besar agama kristen maupun
islam mereka saling merayakannya. Di sinilah letak problem yang sering
muncul dalam pendidikan agama islam di sekolah ini, karena ketika guru
mau berceramapun di lembaga ini harus tahu waktu yang tepat dan

61
Wawancara Dengan ka. TU. ibu Endang warDaningsih Pada Tanggal 25 November 2008
62
Wawancara Dengan Bpk Rudi Hartono, Guru Bimbingan Konseling Pada Tanggal 25 November
2008
suasana yang sesuai agar tidak terjadi konlik agama dalam kehidupan
bermasyarakat di lemabaga SMA Widya Dharma Turen ini. Karena di
lembaga ini juga terdapat beberapa guru-guru yang beragama nonislam.

TABEL 4
JUMLAH SISWA YANG BERAGAMA MUSLIM
DAN BERAGAMA NASRANI
63

No Kelas Muslim Non Muslim Jumlah
1 X 179 26 205
2 XI 170 30 200
3 XII 170 26 196
Jumlah 519 82 601


7. Keadaan Kegiatan SMA Widya Dharma Turen
Jika dilihat dari kegiatan yang ada di SMA Widya Dharma Turen
yang paling diutamakan adalah kegiatan belajar mengajar, dalam kegiatan
belajar adalah tujuan pokok dalam dunia pendidikan. Kegiatan belajar
mengajar berlangsung dimulai pukul 06.45-13.10, Dalam rentan waktu
belajar tersebut para siswa diberikan satu kali jam istirahat untuk
melepaskan kelelahannya. Setelah kegiatan belajar mengajar di dalam
kelas selesai para siswa juga diberikan kesempatan mengikuti kegiatan
Intra yang ada di sekolah, di antaranya adalah kegiatan Pramuka, Osis,
PMR, dan Teater dan lain sebagainya. Semua kegiatan ini ditujukan untuk
perkembangang siswa dan kemajuan siswa di sekolah, sehingga ketika
mereka melanjutkan ke jenjang selanjutnya mereka sudah memiliki bekal
pengetahuan yang cukup.

63
Dokumentasi SMA Widya Dharma Turen Tahun 2008/2009
Selain kegiatan di atas di lemabaga SMA Widya Dharma Turen juga
terdapat beberapa kegiatan-kegiatan lain, program kegiatan kesiswa
dilaksanakan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Penerimaan siswa baru
b. Masa orientasi siswa baru (MOS)
c. Upacara rutin hari senin dan sabtu
d. Operasi ketertiban sekolah setiap satu atau dua bulan sekali,
diantaranya:
1) Operasi kelengkapan seragam siswa
2) Operasi rokok dan narkoba yang mungkin dibawa anak-anak ke
sekolah
3) Operasi rambut siswa
e. Upacara hari besar nasional
f. Berpartisipasi dalam lomba olah raga/seni dalam rangka HUT RI
tingkat kecamatan atau kabupaten
g. Peringatan hari besar agama Islam, di antaranya:
1) Shalat Idul Adha di sekolah
2) Penyembelihan hewan kurban
3) Pondok Ramadhan
4) Penerimaan dan pembagian zakat fitrah
h. Peringatan hari besar agama nasrani, diantaranya: Natal dan paskah
i. Berpartisipasi dalam lomba OR, seni dan bidang studi yang
diselenggarakan berbagai lembaga setingkat dan perguruan tinggi di
Malang
j. Seleksi pelajar teladan Diknas kab. Malang
k. Olimpiade bidang studi IPA di Diknas kab. Malang
l. Seleksi paskibraka tingkat nasional di kab. Malang
m. Kegiatan tengah semester dan pasca semester dalam bentuk lomba
OR dan pentas seni
n. Peringatan bulan bahas, ditandai dengan pementasan Teater, lomba
Pidato, MC dan baca puisi
o. Menyelenggarakan lomba cerdas cermat matematika tingkat SMA
Kab. Malang
p. Mengevaluasi kegiatan ekstra kulikuler (tari, karawitan, voli, sepak
bola, basket, beladiri, pramuka, PMR, senam), ektra komputer, bahasa
Inggris, jepang internet.
q. Latihan dasar kepemimpinan calon pengurus OSIS dan MPK
r. Pemilihan ketua OSIS baru
s. Pelantikan pengurus OSIS baru
t. Laporan pertanggungjawaban pengurus OSIS lama dan serah terima
jabatan
u. Rapat anggota tahunan koperasi sekolah
v. Peringatan HUT Widya Dharma Turen
w. Wisuda kelas III
8. Keadaan Sarana dan Prasarana SMA Widya Dharma Turen
SMA Widya Dharma Turen merupakan salah satu lembaga yang
memiliki sarana dan prasarana yang relatif lengkap, hal tersebut terlihat
dari berbagai perlengkapan sekolah yang ada, mulai dari gedung sampai
alat-alat kebutuhan penunjang kegiatan belajar siswa, kesemuanya ditata
dengan baik dan rapi.
SMA Widya Dharma Turen memiliki luas tanah lebih kurang 10300
M yang terdiri dari: (1) bangunan seluas 2629 M. (2) halaman seluas 7600
M (3) lapangan olah raga seluas 100 M. Sehubungan dengan kebutuhan
dan keinginan para guru dan siswa untuk selalu melaksanakan belajar
dengan suasana yang nyaman dan tenang, maka SMA Widya Dharma
Turen terus menginovasi agar memenuhi kebutuhan dan penyediaan
sarana dan prasarana untuk menunjanga kegiatan belajar mengajar.
64

Ruangan kegiatan pembelajaran merupakan sarana terpenting yang
digunakan di sini, dari beberapa ruangan ini kebanyakan digunakan untuk
ruang belajar mengajar. Di SMA Widya Dharma Turen telah memiliki
ruang belajar yang cukup representive bagi penyelenggaraan proses belajar
mengajar diantaranya jumlah ruangan pembelajaran sebanyak dua puluh
satu ruang. untuk kelas X yang di gunakan sebagai ruang belajar ada tuju
kelas yaitu untuk kelas X-1 sampai kelas X-7, kelas XI ruang yang
digunakan terdapat tuju kelas yaitu, satu kelas untuk kelas XI jurusan IPA,
satu kelas untuk kelas XI jurusan Bahasa dan lima kelas untuk kelas
jurusan IPS, yang terdiri dari IPS-1, IPS-2, IPS-3, IPS-4, dan IPS-5.
sedangkan untuk kelas XII terdapat tuju kelas pula yaitu, untuk kelas XII
jurusan IPA terdapat dua kelas yaitu kelas XII IPA-1 dan XII IPA-2, untuk
jurusan Bahasa hanya satu kelas sedangkan untuk jurusan IPS terdapat

64
Sumber Data Dokumen SMA Widya Dharma Turen dan Hasil Penjelasan Drs. Tri djoko
Kusminto Kepala Sekolah Sebagai Kepala Sekolah dan Ibu Endang warDaningsih Sebagai Kepala
Tata Usaha, Pada Hari Kamis Tanggal 13-25 november 2008.
empat kelas, yaitu kelas XII IPS-1, kelas XII IPS-2, kelas XII IPS-3 dan
kelas XII IPS-4.
Selain beberapa ruangan di atas masih terdapat beberapa ruangan
lainnya yang menunjang proses belajar yang meliputi ruang UKS,
Koperasi, ruang BP/BK, ruang Kepala Sekolah, ruang guru, ruang Wak.
Kepala Sekolah, ruang TU, kamar mandi siswa dan guru, Mushalla serta
ruang penunjang kegiatan siswa seperti ruang OSIS, ruang kegiatan Teater
dan Seni dan ruang kegiatan pramuka. Dari masing ruangan tersebut di
gunakan sesuai fungsinya
Sarana dan prasarana yang ada tesebut disesuaikan dengan
kebutuhan siswa dan guru dalam proses belajar mengajar, hal tersebut
memiliki arti penting bagi penyelenggaraan pendidikan yang baik dan
berkualitas, tentunya apabila penggunaan sarana dan prasarana tersebut
oleh siswa maupun guru dapat dilakukkan secara baik dan maksimal
sesuai dengan kebutuhan kegiatan pendidikan maka proses pendidikan
akan mencapai tujuan dan hasil yang baik.
Sarana dan prasarana yang telah ada seperti yang telah disebutkan di
atas, maka sekolah ini berupaya penuh dalam menumbuh kembangkan
sekolah dengan pendayagunaan sarana dan prasarana secara efektif, seperti
di bawah ini:
a. Perlengkapan Sekolah
SMA Widya Dharma Turen dalam perlengkapa sekolah sudah
lebih dari cukup, hal tersebut dapat dilihat dari data yang menujukkan
kelengkapan sarana perlengkapan Kantor dan lain sebagainya seperti
mesin komputer, mesin foto copy dan lain sebagainya.
Fasilitas yang diperuntukkan bagi siswa ini sudah dapat
dikatakan cukup, mulai dari fasilitas belajar mengajar, ruang kelas dan
bangku, alat-alat olah raga seperti bola voli, sepak bola basket, dan lain
sebagainya. Perlengkapan yang tidak kalah pentingnya adalah Lab.
b. Fasilitas Tempat
Tempat yang tersedia di sekolah ini terdiri dari dua bagian, yaitu
fasilitas yang berkaitan langsung dengan kegiatan belajar maupun
fasilitas yang tidak berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar.
Adapun tempat yang berkaitan dengan kegiatan belajar adalah sebagai
berikut:
1) Ruang belajar
2) Ruang Lab Bahasa dan Kimia
3) Ruang Lab komputer
Sedangkan tempat untuk menunjang kelengkapan proses belajar
mengajar adalah sebagai berikut:
1) Lapangan: lapangan di sini dipergunakan sebagai tempat upacara
sekolah dan kegiatan olah raga yang lokasinya berada di tengah-
tengah sekolahan, lapangan ini terbagi menjadi dua tempat, yaitu
lapangan depan untuk bola basket dan lapangan tengah untuk bola
volly dan lompat jauh.
2) Tempat parkir: tempat parkir di sini berada di depan sekolah,
tepatnya di samping pintu masuk deket gerbang.
3) Tempat parkir guru berada di bagian utara lembaga SMA Widya
Dharma Turen.
4) Ruang kesehatan: sebagai ruang sarana kesehata/ruang UKS.
5) Perpustakaan: merupakan sarana belajar langsung bagi siswa ketika
jam istirahat tiba, perpustakaan ini juga dipakai sebagai tempat
istirahat siswa ketika mengalami kejenuhan di dalam kelas setelah
mengikuti pelajaran sepanjang waktu.
6) Mushalla: digunakan sebagai tempat untuk menunaikan ibadah
sholat (Dhuha) serta ibadah sholat jum’at.
7) Aula: aula di samping digunakan sebagai tempat pertemuan juga
dipakai sebagai tempat kegiatan siswa seperti tempat ruang duduk
siswa, bahkan juga digunakan sebagai tempat kajian keislaman
badan dakwah Islam secara besar-besar.
8) Kopsis (koperasi siswa) menjadi tempat para siswa mencari
kebutuhan belajar seperti buku tulis, pensil, dan lainsebagainya.
9) Ruang guru: lokasi ruang guru ini bersebelahan dengan ruang
kepala sekolah dan waka sekolah. Dalam ruangan guru ini selain
digunakan tempat pergantian jam pelajaran, tempat ini juga
digunakana untuk mendiskusikan problem-problem yang terjadi
pada siswa dan yang nantinya akan di cari solusinya secara
bersama.
10) Ruang BK: dipergunakan sebagai tempat bimbingan terhadap
siswa yang mengalami beberapa problematika tertentu, baik
mengenai masalah belajar mengajar maupun masalah pribadi
lainnya.
11) Ruang kepala sekolah: ruang kepala sekolah tersebut berada di
dekat pintu masuk sekolah ruang ini selain dipergunakan sebagai
tempat ruang khusus kepala sekolah juga digunakan menerima
tamu dari luar serta untuk rapat dan diskusi dengan guru-guru yang
berkaitan dengan problem yang timbul pada diri siswa, materi,
guru dan lembaga itu sendiri.
Dari beberapa fasilitas yang ada di SMA Widya Dharma Turen
malang ini tujuannya untuk menunjang keberhasilan belajar siswa dan agar
problem yang timbul dalam dunia pendidikan bisa diselesaikan.
Dalam era modern dengan teknologi yang mutahir ini, fasilitas
fasilitas sebagai pelengkap sangat dibutuhkan. Selain sebagai memperluas
wawasan juga untuk mendapatkan informasi dari tentang dunia luar.
Adapun fasilitasa yang sangat penting tersebut adalah sebagai berikut:
1) Laboratium Bahasa
Lab bahasa di SMU ini sangat baik dan lengkap, setiap siswa dapat
mempergunakan hedphone sebanyak 48 unit, sehingga setiap siswa
dapat memakai saru persatu da siswa dapat berkomunikasi langsung
dengan guru melalui alat tersebut. Dengan alat tersebut nantinya siswa
dapat berkomunikasi dengan bahasa inggris dengan baik khususnya
jurusan bahasa.
2) Laboratium IPA
Keberadaan Lab IPA di SMA sudah lengkap, sehingga siswa dapat
mepraktekkan sesuai dengan teori yang ada serta dapat memahami
sendiri yang akhirnya siswa tidak merasa tertinggal di dunia modern
ini terhadap siswa lain khususnya di Kota.
3) Perpustakaan
Perpustakaan di SMA Widya Dharma ini semakin tahun semakin
lengkap berkat kerja sama antara siswa dengan sekolah khususnya
siswa kelas 3 yang baru keluar. Perpustakaan sebagai sarana untuk
mendorong siswa agar giat belajar membaca buku, karena dengan
membaca buku siswa akan giat bertanya di dalam kelas serta
mempunyai wawasan yang luas yang belum mereka ketahui.
4) Sistem pengajaran dengan menggunakan VCD
Bahwasannya di era globalisasi ini SMA Widya Dharma menerapkan
cara pengajaran dengan menggunakan VCD. Dengan demikian, siswa
diharapkan mampu mengamati contoh-contoh yang ada pada media
tersebut. Dengan mengetahui contoh tersebut siswa secara langsung
mengetahui teori dan prakteknya. Dengan cara ini diharapkan nantinya
dapat mencetak siswa yang profesional dan berkualitas.
5) Komputerisasi
Sekolah SMA Widya Dharma ini menyedikan komputer 25 unit untuk
siswa serta guru dan karyawan sebanyak 8 unit. Dengan adanya
komputer ini sistem penilaian menggunakan scaner serta setiap
ulangan sudah menggunakan bentuk objektif. Tujuan sistem
koputerisasi diharapkan hasil siswa dapat diketahui secara langsung
dan siswa mampu bersaing dengan siswa yang lain dan bagi siswa
mendapatkan nilai di bawah rata-rata dapat secepatnya berbenah diri
dengan meningkatkan hasilnya pada ulangan berikutnya.

B. TEMUAN HASIL PENELITIAN
1. Problematika Pendidikan Agama Islam Di SMA Widya Dharma
Turen Malang

Dalam menghadapi problematika pendidikan agama islam di SMA
Widya Dharma Turen, dari hasil penelitian telah menemukan beberapa
problematika yang dihadapi pendidikan agama islam. Adapun beberapa
problem yang terjadi di SMA Widya Dharma Turen ini tidak hanya terjadi
pada anak didik, tetapi dari sisi lain juga telah menunjukkan kejanggalan
seperti problem pada pendidik, problem pada sarana dan prasarana,
problem pada dan lingkungan. Dari beberapa problem yang telah
disebutkan secara garis besar di atas, peneliti akan menguraikan tiga faktor
sebagai berikut:
a. faktor internal
1) Problem Anak Didik
Pendidikan agama islam adalah salah satu materi yang wajib
diterapkan disetiap lembaga pendidikan baik itu lembaga yang
bernafaskan islam maupun lembaga umum seperti di SMA Widya
Dharma Turen ini. Keberadaan pendidikan agama di SMA Widya
Dharma Turen diharapkan akan membantu perbaikan tingkah laku dan
membina kepribadian siswa di SMA Widya Dharma Turen. Dalam
materi pendidikan agam islam itu sendiri bagi siswa di SMA Widya
Dharma Turen Malang tidak terhindar dari problem yang
menghampiri. Problem yang sering di hadapi di SMA Widya Dharma
Turen yang berkaitan dengan siswa dalam hal materi adalah menerapa
materi yang disampaikan oleh guru kurang diminati oleh siswa di
SMA Widya Djharma Turen Malang. Problem ini timbul karena
didasari oleh beberapa faktor yang antara lain, yaitu: satu, jika dilihat
dari latar belakang keluarga siswa kebanyakan siswa yang sekolah di
SMA Widya Dharma Turen ini mayoritas islam, namun pada
kenyataan yang terjadi pengalaman siswa tentang ilmu pendidikan
agama islam masih sangat minim sekali, hal inilah yang menjadi faktor
awal munculnya problematika pendidikan agama islam, orang tua yang
kurang perhatian pada perkembangan pelajaran anaknya sehingga
ketika sudah terlanjur jauh seorang anak sangat tidak mungkin untuk
bisa membiasakan diri dalam mempelajari ilmu pendidikan agama
islam.
Dari penjelasan di atas sama hal yang di jelaskan ole guru
pendidikan agama kelas XII yaitu bapak H M. Ali. Fattar. Berikut
penjelasananya:
” Pada dasar problem awal yang terjadi pada siswa itukan karena
latar belakang keluarga, orang tua yang kurang memperhatikan
perkembangan belajar anaknya akan berdampak pada
kesuskesannya di sekolah. Jadi selain belajar di sekolah siswa
harus lebih giat belajar di rumah atau dalam lingkungan
keluarga, atau bagaimana cara orang tua memperhatikan
anaknya agar si anak tahulah tentang agama”
65



65
Wawancara Dengan Bapak H.M. Ali Fattar Guru PAI, Pada Tanggal 21 November 2008. di
Ruang BK
Selain problem di atas problem yang ada di SMA Widya
Dharma dari Ibu Aulia Kurnia S.Pd.I guru pendidikan agama islam
kelas X yang memberikan pernyataan yang sama bahwa:

“Siswa terutama siswa kelas satu SMA Widya Dharma ini
pengetahuannya tentang agama sangat kurang, dalam hal baca
Al-Qur’an misalnya itu anak-anak yang bisa membaca Al-
Qur’an dengan benar masih dibawah rata-rata. Padahal
seumuran anak SMA sudah seharusnya membaca bisa Al-
Qur’an dengan benar. Tetapi karena perhatian dan kurang
minatnya mereka pada pendidikan agama islam karena mereka
menganggap bahwa pendidikan agama kurang penting dan
menganggap enteng sehingga anak-anak tidak bisa membaca
dan bahkan menulis Al-Qur’an sangat kurang sekali”
66


Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa problematika
pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen yang
berkaitan dengan pada anak didik sangat memprihatinkan. Maka untuk
mencari upaya pemecahannya akan dibahas pada bab selanjutnya.
2) Problem Pada Guru
Di SMA Widya Dharma Turen Malang jika dilihat dari tingkat
pendidikan guru yang sudah ditempuh sudah memenuhi standar
kualifikasi dan sudah selayaknya mendapatkan pelayanan yang baik
dari pemerintah khususnya guru pendidikan agama islam. Guru
pendidikan agama islam sudah menempuh jenjang pendidikan S.1
(strata satu) dan bisa dikatakan profesional dalam hal mengajar. Dari
hasil wawancara dengan kepala sekolah tentang keprofesionalnya guru
pendidikan agama islam di SMA Widya Dharama Turen, berikut hasil
wawancara dengan bapak Tri Djoko Kusminto yang menjelaskan

66
Wawancara Dengan Ibu Auliah Kurnia Pada Tanggal 18 November 2008 di Ruang Guru
bahwa, seorang guru dikatakan profesional bila sudah memiliki
kompetensi sebagai seorang pendidik, baik itu cara menghadapi siswa
yang bemasalah maupun cara guru itu mengajar. Guru juga harus
memiliki kemampuan dalam proses belajar mengajar, bahan ajar yang
disampaikan oleh guru sudah dikuasai dan pengelolaan kelas. Hal ini
menurut saya sebagai kepala sekolah dari pantauan dari jauh bahwa
guru di SMA Widya Dharma Turen sudah termasuk guru yang
profesional hal ini bisa dilihat dari latar belakang sekolahnya dan
karakter guru itu sendiri.
67

b. Faktor Institusional
Problem Sarana Dan Prasarana.
Keadaan sarana dan prasarana sebagai alat penunjang di SMA
Widya Dharma Turen belum layak dan memadai khusus untuk
pendidikan agama islam, dari hasil observasi dan melihat
dokumentasinya sudah memberikan pelayanan untuk mata pelajaran
umum. Namun kembali pada pembahasan utama tentang sarana
pendidikan agama islam masih kurang memadai.
Memang tidak bisa dipungkiri kalau media untuk pendidikan
agama islam tidak ada yang terlalu tepat, sebenar bukan itu yang
menjadi problem utamanya. Adapun problem yang perlu diperhatikan
di SMA Widya Dharma Turen yang berkaitan tentang buku paket
pendidikan agama islam, buku paket yang manjadi fasilitas utama di
SMA Widya Dharma Turen ini dari pemaparan bpk Drs.H.M.Ali

67
Wawancara Dengan Kepala Sekolah , Bpk Tri Djoko Kusminto. Pada hari selasa pukul 10.30-
1145 tanggal 25 november 2008 (di Ruang Kepala Sekolah)
Fattar. Bahwa salah satu problem dari segi sarana yaitu buku paket
masih kurang dan sarana penunjang lainnya seperti sarana masjid. Di
SMA Widya Dharma Turen ini untuk kelas XII saja jumlah siswanya
lebih dari seratu siswa sedangkan jika dilihat dari buku paket hanya 39.
dari hasil wawancara ini penulis mencoba menelusuri tentang jumlah
buku paket yang ada di perpustakaan. Dan di perpustakaan penulis
meminta izin untuk mencari kebenaran tentang buku paket ternyata
benar. Dari penjelasan salah satu staf perpustakaan bahwa anak-anak
yang mau pinjam buku paket harus antri karena berkaitan dengan
jumlah bukunya masih kurang maka mau tidak mau siswa harus
menunggu temannya mengebalikan buku paket itu khususnya buku
pendidikan agama islam. Padahal jika dilihat dari keadaan
perpustakaan sudah menunjukkan suasana yang bagus namun buku-
buku yang ada diperpustakaan masih perlu ditambah.
Sedang buku paket yang ada di lembaga tersebut masih
memakai sistem kurikulum 1999, kurikulum yang ditetapkan di SMA
Widya Dharma Turen sudah menggunakan kurikulum KBK dan
KTSP, pada dasarnya kurikulum ini kurikulum baru dan bagi guru-
guru di SMA Widya Dharma masih belum mengetahui secara
maksimal jika ditinjau dari penerapanya dalam materi. Sehingga dalam
pengelolaan kurikulum guru-guru kurang mengauasai, sehingga akan
berdampak pada kurang kondusif terhadap proses belajar mengajar di
kelas.
Terkait dengan kurikulum dan buku paket sebagai sarana seperti
yang dijelaskan sebelumnya bahwa antara kurikulum dan buku paket
bertolak belakang. Buku paket yang di gunakan SMA Widya Dharma
Turen di masih kurikulum suplement (1999) seperti yang di jelaskan di
atas sedangkan kurikulum yang dituntut menggunakan kurikulum
KBK dan kurikulum KTSP. Inilah yang merupakan faktor dalam hal
kurikulum. Bagi guru khususnya guru agama islam memadukan kedua
kurikulum ini perlu pengetahuan yang lebih. Untuk itu kepala sekolah
mengikutkan beberapa guru khususnya guru agama untuk mengadakan
belajar lebih lanjut dengan pendidikan agama atau yang lebih disebut
MGMP, untuk mempelajari lebih jauh tentang kurikulum dan
pendidikan agama yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Kota
Malang.
68

Selain buku paket, problem tentang sarana dan prasarana yang
ada di SMA Widya Dharma Turen juga yang berkaitan mushala sudah
memberikan pelayanan yang baik. Di mushala fasilitasnya seperti
mukena sudah berjumlah 39, sedangkan Al-Qur’an 7 buah namun yang
itu bukan problem tentang fasilitas ini. Yang menjadi problem dalam
hal ini tempa wudlu masih belum memadai untuk dijadikan fasilitas.
Pada saat shalat jum’at siswa repot mencari tempat yang tertutup
khususnya yang perempuan dan tempatnya hanya satu kamar mandi di
dekat mushalat sehingga siswa walaupun sudah mulai shalat jum’at
siswa masih ada yang antri untuk berwudlu. Inilah salah satu problem

68
Wawancara Dengan Waka Kurikulum yaitu ibu Rina Z. Pada Hari Jum’at Tanggal 21 November
2008 di Ruang Waka Kurikulum SMA Widya Dharma Turen Malang
yang mesti diperbaiki oleh lembaga pendidikan SMA Widya Dharma.
Mushala adalah fasilitas pendidikan agama islam yang sangat konkret
untuk menunjang keberhasilan proses pembelajaran siswa dan guru
khususnya guru pendidikan agama islam.
c. Faktor eksternal
Problem Pada Lingkungan
Lingkungan pendidikan yang baik akan menciptakan pergaulan
yang baik terutama bagi anak-anak usia remaja. Di lingkungan sekitar
SMA Widya Dharma Turen jika dilihat dari lingkungan sekitarnya
kebanyakan siswa yang tinggal kos dan yang pasti jauh dari pantauan
orang tua. Maka dari itu pihak sekolah harus memperhatikan
lingkungan sekitar sekolah yang menjadi tempat tinggal siswa.
Lingkungan lembaga di SMA Widya Dharma Turen tidak
menjamin untuk mengarahkan siswa menjadi orang yang sesuai
dengan syar’at agama islam. Karena pengaruh lingkungan akan
berdampak pada perkembangan anak, baik itu dari tingkah laku dan
ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Di lingkungan sekitar
SMA Widya Dharma Turen seperti yang dijelaskan dalam tabel pada
bab sebelumnya bahwa lembaga ini tidak hanya menampung siswa
yang beragama islam akan tetapi ada beberapa siswa yang beragama
kristen. Kemungkinan besar pengaruh lingkungan yang terjadi antara
siswa dengan siswa, siswa dengan masyarakat akan berdampak buruk.
Dari hasil observasi tentang lingkungan yang dilakukan jauh
sebelum penelitian bahwa lingkungan di SMA Widya Dharma Turen
tentang lingkungan masyarakatnya tidak kondusif dalam hal
keagamaan. Pada waktu shalat jum’at misalnya masyarakat yang shalat
jum’atpun masih minim sekali apalagi siswa sebagai orang yang perlu
dididik dalampendidikan agamadari lingkungan setempat.
2. Kendala-Kendala Dalam Mengatasi Problematika Problematika
Pendidikan Agama Islam di SMA Widya Dharma Turen Malang

Ada beberapa kendala yang berkaitan dengan cara mengatasi
problem yang akan di uraikan secara umum di bawah ini. Kendala-
kendala tersebut adalah
a. Faktor Internal
1) Anak didik: adapun yang menjadi kendala dalam pemecahan
problematika pendidikan agama islam pada siswa yaitu kurang
minat siswa pada pendidikan agama islam. Siswa yang berada di
SMA Widya Dharma Turen dalam mempelajari pendidikan agama
islam pengetahuannya tentang agama yang kurang ditambah lagi
tidak minatnya maka sangat tidak mungkin siswa tersebut untuk
menguasai pendidikan agama islam.
2) Guru: Guru pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma
Turen belum menjadi guru PNS sehingga guru yang mengajar di
SMA Widya Dharma Turen ini selain mengajar di lembaga SMA
Widya Dharma Turen beliau juga mengajar dibeberapa lembaga
lain yaitu lembaga non forma seperti pesantren. Sehingga
waktunya untuk lembaga SMA Widya Dharma Turen sangat
terbatas.

3) Faktor Institusional
Sarana dan Prasarana: Dalam pengembangan sarana dan
prasarana kendala utamanya adalah kurangnya dana, berkaitan dengan
dana kepala sekolah belum bisa mengatakan ia untuk menambah
sarana dan prasarana yang berkaitan dengan fasilitas pendidikan
agama karena dana yang masuk selama ini masih digunakan untuk
perluan lain seperti memperbaiki pintu kelas, tembok karena di kelas
masih memakai tembok dari teriplen. Tetapi keinginan untuk
menambah buku paket khususnya buku paket pendidikan agama islam
tetap direncanakan, karena biar bagaimanapun pendidikan agama
islam juga sangat penting untuk ditingkatkan mutunya.
69

b. Faktor Eksternal
Lingkungan: Lingkungan masyarakat yang ada di SMA Widya
Dharma Turen tidak memberikan pengaruh baik terhadap
perkembangan pendidikan agama islam. Lingkungan yang ada di
SMA Widya Dharma masih perlu diperbaiki dengan berkerja sama
antara masyarakat sekitar dengan pihak lembaga agar siswa bisa
menjadi anak bangsa yang sukses dalam bidak pendidikan agama
islam. Di lingkungan SMA Widya Dharma Turen sekitarnya bahwa di
belakang lembaga tersebut ada rental play station (PS). Tempat ini
memberikan berpengaruh yang kurang baik terhadap siswa karena
pada jam pelajaranpun beberapa siswa bermain selama berjam-jam di
tempat ini.

69
Hasil Wawancara Dengan Bapak Kepala Sekolah Pada Thari Selasa Anggal 25 November 2008
3. Upaya-Upaya Yang Dilakukan Dalam Pemecahan Problematikan
Pendidikan Agama Islam di SMA Widya Dharma Turen

Dalam pembahasan ini akan dipaparkan secara gamblang tentang
upaya untuk mengatasi problematikan pendidikan agama islam di SMA
Widya Dharma Turen-Malang. Adapun problem yang diupayakan adalah
sebagai berikut:
a. Faktor internal
1) Anak didik
Adapun upaya dalam pemecahan problematiaka pendidikan
agama islam yang berkaitan dengan anak didik adalah, yang pertama,
orang tua dan guru selalu memberi motivasi terhadap perkembangan
belajar anak terhadap pendidikan agama islam, karena motivasi dari
orang-orang terdekat akan menjadikan siswa lebih giat belajar dalam
pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen Malang.
2) Pendidik
Adapun upaya pada guru bahwa guru harus mendapat perhatian
dari pemerintah untuk lebih meningkatkan kinerja guru terhadap
pseserta didik, walaupun sebernanya guru tidak perlu mengharapkan
imbalan yang lebih. selain itu guru diupayakan untuk meningkatkan
keprofesionalnya dalam hal pengetahuan khususnya pengetahuannya
tentang pendidikan agama islam, guru harus banyak membaca
referensi dan mengikuti seminar yang berkaitan dengan pendidikan
agama islam.


b. Faktor Institusional
- Sarana dan prasarana
Sarana dan prasarana di SMA Widya Dharma Turen perlu
diupayakan untuk menambah jumlah buku paket, karen buku paket
adalah sarana penunjang utama dalam keberhasilan pendidikan. Harus
diadakan perbaikan pada fasilitas mushala seperti kamar mandi
mushala agar siswa tidak terlalu antri ketika berwudlu pada saat shalat
jum’at dengan tujuan ketika melakukan shalat jum’at tetap kondusif
dan efisien.
c. Faktor Eksternal
- Lingkungan
Dalam pemecahannya problematika pada lingkungan diperlukan
bekerjasama antara guru dan masyarakat serta orang tua juga harus
ikut berperan dalam mengatasi problem tersebut. Problem yang diatasi
tersebut bisa meningkatkan minat belajar siswa terhadap pendidikan
agama islam di SMA Widya Dharma Turen Malang. Siswa juga harus
patuh pada perintah guru selama guru memberikan arahan yang baik
dan sesuai syar’at islam.











BAB V
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

A. Problematika Pendidikan Agama Islam di SMA Widya Dharma Turen
Malang
Sesuai dengan fokus penelitian dalam rumusan masalah yang mengkaji
tentang beberapa problematika pendidikan agama islam di SMA Widya
Dharma Turen. Adapun fokus permasalahan pada penelitian ini adalah tentang
problematika pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen-malang,
kendala-kendala dalam mengatasi problematika pendidikan agama islam, dan
upaya-upaya memecahkan problematika pendidikan agama islam di SMA
Widya Dharma Turen Malang.
Dari hasil penelitian beberapa problem yang dihadapi di SMA Widya
Dharma yang ditemukan selama melakukan penelitian yang berkaitan tentang
pendidikan agama islam. Tentu saja dalam problem ini ada beberapa faktor
yang menjadi dasar adanya problem tersebut. Adapun faktor tersebut adalah
sebagai berikut:
a. Faktor Internal
1) Problem Anak Didik
Dari awal hingga akhir kehidupan tentang problem pada anak
didik pasti membutuhkan bimbingan dan arahan. Walaupun pada
dasarnya manusia itu sudah mendapat fitrah dalam dirinya, anak didik
adalah manusia pedagogis yang sangat membutuhkan bimbingan dan
pemdidikan dari orang dewasa dengan tujuan menjadikan manusia
yang dewasa. Dari pendapatnya Zuhairini bahwa anak lahir sudah
membawa fitrah beragama kemudian tergantung kepada orang-orang
disekitarnya yang mengasah dan membimbingnya untuk menjadi
manusia yang baik.
70
Apabila anak tersebut mendapatkan pendidikan
dan tidak dibina untuk menjadi orang yang lebih paham dalam hal
agama, dari paparan tokoh pendidikan tentang perkembangan
kejiwaan anak pada pendidikan agama islam bahwa setiap anak didik
mempunyai tingkat pengetahuan agama yang berbeda. Kadangkala
anak didik pada saat masuk sekolah sudah mempunyai pengetahuan
agama yang lebih dibanding temannya, karena ini tergantung
bagaimana cara orang tua mendidik di rumah sehingga ketika berada
di sekolah anak tidak seperti botol kosong yang diisi air. Akan tetapi
untuk anak yang sama sekali belum paham tentang agama seperti
kebanyakan pada anak yang ada di SMA Widya Dharma Turen
sebagian besar siswa masih banyak problem yang terjadi, karena
orang tua yang kurang perhatian pada perkembangan pendidikan
agama islam pada anak didik di SMA Widya Dharma Turen Malang,
sehingga bekal untuk kedepannya tentang agama, anak harus memulai
dari awal dan pengetahuannya sudah ketinggalan di banding temannya
yang sudah punya dasar tentang agama.
Di SMA Widya Dharma Turen masih banyak sekali siswa yang
kurang pengetahuan agamanya. Dalam hal baca tulis Al-Qur’an
misalnya, anak didik harus benar-benar diajari secara intensif untuk
bisa menulis satu kata tentang ayat-ayat Al-Qur’an, dan yang
berkaitan tentang pengamalannya siswa tentang pendidikan agama

70
Zuhairini, dkk, Methodik Khusus Pendidikan Agama (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), hlm. 32
islam dalam hal praktek ibada seperti shalat, puasa ngaji masih minim
sekali apalagi untuk praktek slahat jum’at di sekolah itu yang dilihat
peneliti slama penelitian bahwa kebanyakan anak-anak ngobrol
dengan temannya saat shalat jum’at. Bagi siswa di SMA Widya
Dharma Turen, shalat bagi mereka bukan sesuatu yang wajib. Padahal
kita tahu untuk anak seumur anak SMA seperti yang ada di SMA
Widya Dharma Turen sudah selayaknya mengerjakan tugas yang
menjadi kewajibannya.
Dari penjelasan di atas dapat dibenarkan oleh guru PAI kelas
XII yaitu bpk Drs. H. M. Ali Fattar yang mengungkapkan sebagai
berikut:
“Siswa di SMA Widya Dharma Turen yang bisa saya lihat pada
bulan ramadhan itu kebanyakan mereka gak puasa, terbukti
ketika berada di kelaspun anak-anak masih ada yang rokok.
Khususnya anak cowok. Apalagi diluar kelas tindakan seperti itu
jelas bisa membuktikan bahwa pengamalannya dalam
pendidikan agama islam tentang praktek shalat, ngaji, dan puasa
itu masih minim”

Lebih lanjut bapak H.M Ali Fattar yang mengungkapkan
sebagai berikut mengatakan bahwa:
“Dalam hal baca Al-Qur’an itu susah sekali apalagi kalau saya
memberikan materi baca tulis Al-Qur’an di dalam kelas karena
sub pokok pembahasannya memang seperti itukan, itu anak-anak
kebanyakan tidak bisa ngaji, khususnya di kelas XII bahasa itu
kebanyakan belum bisa membaca Al-Qur’an” bahkan tulis huruf
arabpun masih banyak yang tidak bisa.
71


Dari penjelasan guru pendidikan agama islam tersebut di atas
tentang kondisi siswa yang menjadi problem pendidikan agama islam
di SMA Widya Dharma Turen kurangnya minat siswa terhadap

71
Wawancara Dengan Guru Pendidikan Agama Islam SMA Widya Dharma Turen (bpk Drs. Tri
Djoko Kusminto) Pada Tanggal 21 November 2008, di Ruang Guru.
pendidikan agama islam karena siswa tidak terbiasa mempelajari
pendidikan agama islam di rumah dan juga orang tua yang tidak
memperhatikan dengan kondisi anaknya yang masih membutuhkan
bimbingannya. Problem itu terjadi bukan karena dari diri siswa itu
semata, akan tetapi bisa terjadi karena adanya faktor-faktor lain seperti
adanya pengaruh lingkungan masyarakat dan kurangnya motivasi dari
luar diri siswa yang merespon perkembangan pendidikan anak itu.
Selain problem di atas terdapat beberapa problem yang terjadi
karena pengaturan jam pelajaran di sekolah SMA Widya Dharma
Turen dan penempatan jam terutama pada jam terakhir. Maksudnya
apabila jam pendidikan agama islam di tempatkan pada jam terakhir
maka akan sangat besar kemungkinan timbulnya problem dan untuk
mempelajari pendidikan agama islam anak-anak sudah merasa
kelelahan. Dari hasil wawancara dengan guru PAI SMA Widya
Dharma Turen kelas X yaitu ibu Auliah Kurnia, S.Pd.I menjelaskan
bahwa:
“Setiap jam pelajaran pendidikan yang saya ajarkan pada anak
selalu mintanya istrahat padahal itu bukan jam istrahat dan
kadang-kadang anak-anak minta pulang padahal bukan waktunya
untuk pulang. Kalau sudah masuk jam pendidikan agama islam
anak-anak di kelas x kebanyakan tidur dan ngomong sendiri
kalau guru tidak bisa mengatur strategi untuk menarik minat
siswa ya proses belajar mengajar tidak akan kondusif dan
efisien”
72


Dari paparan di atas memang pengaturan jam pelajaran
khususnya jam pelajaran pendidikan agama islam perlu diperhatikan,
agar tidak terjadi problem karena pada dasarnya untuk media

72
Wawancara Dengan Guru Pendidikan Agama Kelas X (ibu Auliah Kurnia SPdI) Pada Tanggal
21 November 2008, di Ruang Guru
pendidikan agama memang tidak ada media yang menarik seperti
pada pelajaran IPA dan mata pelajaran lainnya.
Untuk membuktikan lebih jauh tentang paparan ibu Auliah
Kurnia di atas, maka peneliti mencoba mewawancara siswa kelas X.
Dari hasil wawancara dengan salah satu murid kelas X tersebut
membenarkan kebanyakan siswa kurang minat terhadap pendidikan
agama islam, karena pada jam terakhir siswa sudah sangat lelah,
capek, dan membosankan serta tidak ada media yang mendukung
untuk meningkatkan daya ingat hasil belajar tersebut. Siswa tersebut
mengungkapkannya secara gamblang seharusnya guru-guru tahu mata
pelajaran yang tepat untuk jam terkhir dan mata pelajaran untuk jam
pertama.
73
Sedangkan menurut penulis bahwa mata pelajaran
pendidikan agama islam ditempatkan pada jam pertama karena
keadaan otak siswa masih fress dan bisa menerima pelajaran dengan
baik. Akan tetapi untuk pelajaran umum seperti IPA dan lainnya yang
banyak prakterk daripada teori bisa ditempatkan pada jam-jam
terakhir.
Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa siswa di SMA Widya
Dharma Turen dalam hal pendidikan agama islam masih menganggap
bukan materi yang penting, dan menganggap itu bukan suatu
kewajiban yang harus dipelajari secara intensi seperti mata pelajaran
lain sehingga siswa tidak berminat untuk mempelajarinya.


73
Wawancara Dengan Nur Alinda Siswa Kelas XI Diruang Ruang Kelas XI IPA Pada Tanggal 18
November 2008
2) Problem Pendidik.
Pendidik merupakan salah satu faktor penting dalam proses
pendidikan, karena pendidik akan bertanggung jawab untuk mendidik
dan membina dalam proses belajar mengajar kearah pembentukan
pribadi yang baik, cerdas, terampil dan mempunyai wawasan yang luas
untuk dunia dan akhirat.
Perwujudan guru yang diharapkan itu tidak semudah yang
dibayangkan, karena faktor yang terkait tidak semudah yang
dibayangkan, karena banyak faktor yang terkait dan saling
mempengaruhi. Kaum guru sendiri sesungguhnya mempunyai
keinginan untuk tampil sebagai guru idaman. Namun perlu diingat
bahwa semuanya tidak hanya terletak pada diri para guru saja, sebagian
besar faktornya di luar para guru itu sendiri. Guru tidak mungkin
meewujudkan kinerjanya dengan optimal tanpa dukungan dari pihak
lain termasuk siswa, orang tua, pemerintah dan masyarakat sekitar.
Yang paling dituntut saat ini guru harus menunjukkan kinerja yang
ideal sementara yang menjadi hak-hak guru belum sepenuhnya diterima
oleh guru.
Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa pendidikan anak
didik tidak hanya di serahkan sepenuhnya oleh guru akan tetapi orang
tua yang mempunyai peran utama yang lebih tahu kepribadian dan
kemauan anak. Walaupun keberadaan guru pendidikan agama islam
tetap diperhitungkan apalagi di SMA Widya Dharma Turen ini siswa
masih membutuhkan bimbingan dari seorang guru yang mempunyai
akhlak yang baik khususnya dari guru pendidikan agama islam,
keberadaan guru di SMA Widya Dharma Turen sangat penting apalagi
di era globalisasi seperti saat ini yang pergaulannya bercampur ala
barat, dan di situlah guru mempunyai peran penting dalam membina
siswa khususnya guru pendidikan agama islam. Guru pendidikan
agama islam di SMA Widya Dharma Turen dituntut untuk
memperbaiki citra kehidupan siswa untuk menjadi generasi yang
intelektual baik dalam hal ilmu umum maupun dalam ilmu pendidikan
agama itu sendiri.
Pendapat di atas sama halnya seperti yang diungkapkan oleh
kepala sekolah dari hasil wawancara dengan bapak Tri Djoko Kusminto
sebagai seorang pemimpin yang memandangnya secara pribadi tentang
guru pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen
mempunyai pribadi yang unggul dalam Keprofesionalnya, di sini
menurut kepala sekolah, guru di SMA Widya Dharma Turen khususnya
guru pendidikan agam islam sudah memenuhi standar kualifikasi untuk
menjadi seorang yang patut di teladani oleh orang lain khususnya untuk
siswa di SMA Widya Dharma Turen. Jika dilihat dari latar belakang
kependidikan guru seperti yang diterapkan dalam tabel bahwa guru
pendidikan agama islam sudah sesuai seperti yang diharapkan karena
guru pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen sudah
menempuh pendidikan sarjana yaitu S.1 (strata satu) maka dari itu guru
pendidikan agama islam bisa dikatakan profesional. Akan tetapi harus
kembali lagi pada kehidupan pribadi guru itu sendiri yaitu guru
pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma belum mendapat
pelayanan yang baik dari pemerintah. Sebab guru pendidikan agama
islam di sini belum PNS, untuk itu guru pendidikan agama islam di
SMA Widya Dharma Turen harus mengajar dibeberapa lembaga lain
untuk menambah biaya hidup sehingga waktunya untuk lembaga SMA
Widya Dharma Turen ini sangat terbatas.
74

Dari penjelasan di atas kalau dikaitkan dengan pendapat Mukti Ali,
yang memberi penjelasan tentang kegunaan guru dalam membina dan
mendidik siswa yaitu; pekerjaan guru adalah pekerjaan yang muliah
dan luhur, baik ditinjau dari sudut masyarakat dan Negara dan ditinjau
dari sudut keagamaan. Tinggin rendahnya kebudayaan suatu
masyarakat , maju atau mundurnya tingkat kebudayaan suatu
masyarakat, tergantung kepada pendidikan dan pengajaran yang
diberikan oleh guru-guru terutama guru pendidikan agama islam, makin
baik pula pendidikan dan pengajaran yang diterima oleh anak didik dan
makin tinggi pula derajat masyarakat.
75

Di SMA Widya Dharma Turen selain problem pada guru karena
pada dasar guru pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen
tidak hanya satu tetapi ada tiga orang, untuk itu tingkat
pengetahuannyapun berbeda-beda. Tentang guru pendidikan agama
islam yang mengajar kelas X seperti yang jelaskan bapak kepala
sekolah, kurang menguasai tentang kurikulum atau tidak terlalu
profesional karena guru tersebut baru lulus, sehingga dalam hal

74
Hasi Wawancara Dengan Kepala Sekolah SMA Widya Dharma Turen, Bapak Tri Djoko
Kusminto Pada Hari Selasa Tanggal 25 November 2008
75
Mukti Ali, Op, Cit., hlm.81-82
menguasai materipun bisa dikatakan masih perlu menambah wawasan
agar mencapai standar kualifikasi seperti yang diharapkan semua pihak.
Tetapi pihak sekolah memberi kebijakan pada guru tersebut untuk
mengikut sertakannya dalam pembinaan guru atau seminar yang
diadakan di kota Malang khusususnya dalam pendidikan agama islam.
b. Faktor Institusional
1) Problem Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana adalah penunjang untuk keberhasilan proses
belajar mengajar. Dengan adanya sarana dan prasarana proses belajar
mengajar yang ada di SMA Widya Dharmna Turen bisa
mempraktekkan teori yang dipelajari di dalam kelas.
Di SMA Widya Dharma Turen tentang problem yang dihadapi
yang berkaitan dengan sarana dan prasarana salah satunya tentang
keberadaan buku paket. Buku paket yang ada di SMA Widya Dharma
belum bisa memadai proses belajar mengajar terhadap pendidikan
agama islam, buku paket adalah sarana yang sangat intim yang harus
dimiliki oleh lembaga, kekurangan buku paket di SMA Widya
Dharma Turen akan berdampak buruk pada perkembangan
pengetahuan siswa tentang pendidikan agama islam.
Jumlah buku paket yang ada dimiliki SMA Widya Dharma tidak
sesuai dengan kebutuhan siswa, karena buku paket yang jumlah
sangat sedikit bila dibandingkan dengan jumlah siswa yang relatif
banyak tidak bisa memadainya. Masih terkait problem buku paket,
seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa di SMA Widya Dharma
Turen sudah menggunakan kurikulum KBK dan kurikulum KTSP
sementara buku paket yang menjadi penunjang pokok dalam
pembelajaran pendidikan agama islam masih sistim kurikulum 1999
(suplemen). bisa dibayangkan bahwa memadukan kedua hal tersebut
bagi guru dan siswa sangat sulit walaupun mungkin bagi guru mudah
tetapi murid yang belum mengetahui apa itu kurikulum sangat sulit
untuk mengerti ketika guru menerapkan sesuai tuntutan kurikulum.
76

Selain problem pada sarana dan prasaran tentang buku paket
masih ada problem lain tentang keberadaan sarana ibada di SMA
Widya Dharma yang perlu ditelusuri, di belakang gedung kelas XII
Bahasa terdapat masjid. Masjid adalah sarana dan prasarana
pendidikan agama islam yang sangat penting keberadaannya. Fasilitas
yang ada di masjid seperti mukena, Al-Qur’an sudah memenuhi
syarat. Namu dari segi penunjang lain seperti kamar mandi yang
terdapat di samping masjid masih perlu direnovasi. Karena
keberadaan kamar mandi akan memberikan kenyamanan tersendiri
untuk kelancaran beribada, kamar mandi itu masih dalam keadaan
terbuka dan untuk tempat berwudlupun hanya satu, maka dari itu bagi
siswa yang berjumlah sangat banyak belum bisa memadai proses
kelancara praktek peribadatan, sebab dari hasil observasi yang
kebetulan peneliti melakukan penelitian pada hari jum’at ketika siswa
mengadakan shalat berjama’ah dan berwudlu masih banyak siswa
yang antri sehingga pada saat shalat jum’at sudah dimulaipun siswa
masih banyak yang belum berwudlu dan pada akhirnya banyak siswa

76
Polarisasi Di Atas Merupakan Hasilwawancara Penelitian Seacar Umum Terhadap Beberapa
Tenaga Kependidikan Dan Wakakurikulum Di SMA Widya Dharma Turen Malang, Pada Tanggal
25 November 2008 Di Ruang Waka Kurikulum.
yang pulang karena malas antri tempat untuk mengambil air wudlu.
Ini adalah bentuk problem yang terjadi di SMA Widya Dharma Turen
yang berkaitan dengan sarana dan prasarana. Untuk itu pihak sekolah
terutama kepala sekolah bisa memberikan kebijakan untuk sarana
pendidikan agama islam agar apa yang menjadi problem pendidikan
di dalam kelas bisa di selesaikan di masjid.
c. Faktor Eksternal
1) Problem Lingkungan
Pergaualan dengan teman dan lingkungan lainnya juga sangat
menentukan kesuksesan anak didik dalam mempealajari ilmu
pendidikan agama islam. Terlebih dengan menjamurnya tempat-
tempat permainan yang tersedia dalam lingkungan tempat tinggal
siswa sehingga akan menjadi factor utama dalam menghabat
keinginan anak untuk konsentrasi dengan baik pada pendidikan
agama islam mapun ilmu pendidikan umum. Di beberapa tempat di
SMA Widya Dharma Turen tersedia beberapa tempat permainan
seperti play station (PS), tempat permainan beliar, cukup bayar Rp.
3000-5000 anak-anak bisa menikmati permainan sampai tiga jam
bahkan sampai puas. Dalam waktu tiga jam ini kalau digunakan
untuk belajar maka anak didik sudah bisa menghafal beberapa ayat-
ayat yang menjadi tugasnya di sekolah, dalam hal tersebut bisa
dibayangkan ini kondisi fisik dan pikiran anakpun akan merasa
kelelahan.
77


77
N. Nugroho, Belajar Mengatasi Hambatan Belajar, (Jakarta: Prestasi Pustaka 2007), hlm. 47-48
Dari uraian di atas adalah gambaran yang terjadi pada
lingkungan anak didik di sekitar lingkungan SMA Widya Dharma
Turen yang di jelaskan lebih dalam sebagai berikut:
Pertma, mengenai lingkungan keluarga dimana orang tua dan
anak seharusnya saling membagi untuk memecahkan problem yang
terjadi pada diri anak. Orang tua siswa yang ada di SMA Widya
Dharma Turen kurang memperhatikan keadaan anaknya dalam hal
pendidikan maupun pendidikan agama islam. Hal ini bisa dipastikan
dengan melihat realita yang terjadi pada diri siswa di SMA Widya
Dharma Turen, lingkungan keluarga inilah yang menjadi dasar
timbulnya problematika pada anak, tidak adanya junjungan dari
orang tua untuk menerapkan pada anak agar mempelajari pendidikan
agama islam lebih dalam, sehingga pengetahuan anak tentang
agamapun sangat kurang. Perhatian orang untuk membina ilmu
agama sebagai bekal dunia dan akhirat harus diperhatikan sejak awal
sehingga pada waktu anak masuk SMA pun anak-anak sudah bisa
atau terbiasa dengan hal yang berbau religius.
Kedua, lingkungan masyarakat, di sekitar SMA Widya
Dharma Turen, lingkungan masyrakatnya belum bisa dikatakan baik
karena masyarakat tidak menunjukkan perhatian yang positif
terhadap siswa yang tinggal kos. Walaupun lingkungan tersebut bisa
dikatakan mayoritas beragama islam di sekitar lingkungan sekolah
SMA Widya Dharma Turen ini akan tetapi untuk praktek
lapangannya masih minim. Karena dari hasil pantauan peneliti jauh
sebelum diadakan penelitian di SMA Widya Dharma Turen, kondisi
lingkungan tidak menunjukkan perilaku yang bisa mencontoh bagi
siswa. Padahal di lingkungan tersebut yang sekolah di SMA Widya
Dharma kebanyak siswa pendatang dan otomatis siswa tinggal kos
sehingga siswapun jauh dari pantauan orang tua.
Tentang kondisi lingkungan masyarakat yang ada di sekitar
SMA Widya Dharma Turen ini pada waktu shalatpun kebanyakan
orang tua maupun anak muda masih ngobrol di tempat khusus,
biasanya tempat tersebut digunakan oleh sebagian masyarakat atau
anak muda untuk minum-minum dan di tempat itu juga tersedia
tempat untuk bermain beliar. Hal itu bukan tidak mungkin akan
mempengaruhi perkembangan pembelajaran siswa apalagi untuk
belajar pendidikan agama islam untuk mempelajar yang lain seperti
ilmu umumpun pasti akan berpengaruh.
Dari hasil penelitian observasi di atas sama halnya seperti yang
diungkapkan bpk. kepala sekolah yaitu:
“Tentang pengaruh lingkunan terhadap perkembangan siswa
tetap ada, apalagi di belakang sekolah ini terdapat tempat
permainan yang namanya play station (PS), kadang anak
keluarnya meloncat pagar belakang itu (sambil menunjukkan
pagar yang ada di belakang gedung) di situ siswa bermain
sampai proses belajar usai. Kami sebagai pihak guru merasa
prihatin dengan keadaan seperti itu, biasanya saya kalau sudah
tahu ada siswa yang main di tempat tersebut saya akan
menjemput dan besoknya akan dipanggil orang tuanya. Dan
pihak guru, orang tua dan siswa tersebut akan duduk
berdampingan untuk membicarakan masalah ini yang nantinya
akan diselesai bersama”
78



78
Wawancara Dengan Kepala Sekolah bpk. Drs. Tri Djoko Kusminto,Pada Tanggal 18 November
2008 di Ruang Kepala Sekolah
Adapun lebih jelasnya tentang problem lingkungan di SMA
Widya Dharma Turen ini menurut peneliti tidak adanya kerjasama
antara guru dan masyarakat sekitar sehingga apapun yang terjadi
pada diri bagi masyarakat lepas tangan. Padahal jika dilihat tentang
tanggung jawab seseorang misalnya masyarakat walaupun bukan
anaknya sendiri tetap saja bertanggung jawab apabila melihat anak
atau siswa melakukan hal-hal di luar syar’at islam.
Dari beberapa problem di atas akan di cari solusinya pada
pembahasan selanjutnya yang nantinya bisa menjadi masukan dan
arahan untuk kelancaran proses pendidikan agama islam di SMA
Widya Dharma Turen Malang.

B. Kendala-Kendala Dalam Mengatasi Problematika Pendidikan Agama
Islam
a. Faktor internal
1) Kendala Pada Anak Didik
Adapun kendala pada anak didik tentang problematika pendidikan
agama islam di SMA Widya Dharma Turen ini terkait dengan minat
siswa, minat siswa pada pembelajaran pendidikan agama islam sangat
minim sekali. Sehingga bagi guru dalam pemecahanya problem susah,
karena tidak ada kemauan siswa untuk belajar pendidikan agama islam.
Seharusnya siswa mempunyai kemauan yang tinggi baik dalam
mempelajari ilmu umum maupun ilmu pendidikan agama islam walaupun
pada dasarnya siswa tidak mempunyai dasar pengetahuan. apabila ada
kemauan pasti akan sukses dalam mempelajari pendidikan agama islam.
Hasil wawancara dengan ibu Auliah Kurniah bahwa minat anak
sangat minim, ketika disuruh hafal Al-Qur’an untuk tugas minggu depan
masih belum mencapai separoh dari siswa yang bisa hafal, dalam hal
materipun juga seperti itu. Bagi siswa masih menganggap tidak penting,
ilmu agama dianggap enteng sehingga tidak memperhatikan tentang
pelajaran pendidiakna agama islam. Selain itu siswa di SMA Widya
Dharma Turen masih berpikir kalau ilmu pendidikan agama islam tidak
termasuk materi UNAS maka dari itu siswa kebanyakan tidak
memperhatikan pendidikan agama.
79

2) Kendala Pada Pendidik
Kendala pada guru sebenarnya tidak terlalu ditemukan, cuman
waktu guru pendidikan agama islam sangat kurang sehingga untuk lebih
memantau perkembangan pendidikan agama islampun masih sedikit.
Pemerintah kurang memperhatikan keadaan guru, agar guru bisa tetap
mengajar di satu lembaga, guru belum bisa menguasasi kurikulum baru
karena memang kurikulum yang dipakai masih termasuk kurikulum baru.
Akhir-akhir ini banyak guru yang tidak bangga dengan profesinya
khususnya guru pendidikan agama islam, bahkan ketika ditanyapun pasti
guru menjawabnya malu-malu. Dan tidak sedikit gurupun yang bertahan
menjadi guru hanya karena tidak memperoleh alternative kehidupan lain.
Sebagaimana pendapat Mukti Ali yang mengatakan: guru sendiri sudah
semakin tidak bangga dengan profesinya, artinya guru selalu identik
dengan kemiskinan, sehingga siswapun semakin tidak berminat dengan

79
Wawancara Ibu Auliah Kurnia S.Pd.I Guru Pendidikan Agama Islam 18 November 2008 di
Ruang Guru
pendidikan agama islam karena takut berprofesi menjadi seorang guru
kalaupun itu banyak siswa yang masuk jurusan pendidikan khususnya
pendidikan agama islam itu karena terpaksa bukan atas dasar
kemauannya.
80

Dengan adanya penjelasan di atas pemerintah juga harus
memperhatikan keadaan guru, kurangnya perhatian pemerinta terhadap
kelayakan biaya hidup guru akan berdampak pada tidak minatnya siswa
pada jurusan atau materi pendidikan agama islam.
b. Factor Institusional
1) Sarana dan Prasarana
Tidak bisa dipungkiri kalau masalah dana adalah pokok dari segala
problem, untuk meningkatkan fasilitas sekolah SMA Widya Dharma.
Tentang dana untuk membeli buku paket yang masih belum bisa teratasi
karena masih banyak yang perlu diperbaiki seperti fasilitas kelas, akan
berdampak pada penundaan memperbaiki fasilitas pendidikan agama
islam seperti buku paket, sarana masjid yang berkaitan dengan sarana
ibada. Kendala ini bisa juga terjadi karena hubungan timbal balik pihak
yayasan SMA Widya Dharma Turen dan masyarakat kurang harmonis
sehingga bantuan yang masukpun berkurang.
c. Factor Eksternal
1) Lingkungan
Kendala pada lingkungan di SMA Widya Dharma Turen seperti yang
diutarakan pada problem tersebut di atas bahwa keluarga dan lingkungan
masyarakat kurang memperhatikan keadaan anak didik sehingga anak

80
M. Ali Hasan & Mukti Ali, Op Cit., hlm.
terbengkalai begitu saja tanpa ada motivasi dan didikan dari orang yang
menjadi dasar pengetahuan anak. Adanya tempat-tempat permainan di
dekat lingkungan SMA Widya Dharma Turen akan menjadikan anak didik
kurang minat pada pendidikan agama islam dan kebanyakan anak didik
menghabiskan waktu pada tempat tersebut.

C. Upaya-Upaya Yang Dilakukan Dalam Mengatasi Mproblematika
Pendidikan Agama Islam di SMA Widya Dharma Turen Malang
Dari beberapa problem yang ditemukan selama penelitian penulis akan
menguraikan beberapa upaya untuk memecahkan problem yang terjadi di
SMA Widya Dharma Turen, dengan pendapat dari pihak-pihak yang terkait
seperti para guru pendidikan agama islam maupun pihak-pihak yang ada di
SMA Widya Dharma Turen serta dengan mematokkan dari pendapatnya para
tokoh-tokoh pendidikan pada umumnya dan dari pendapat penulis itu sendiri.
Adapun beberapa problem yang perlu diselesaikan dalam pembahasan kali ini
adalah tentang hal-hal sebagai berikut:
a. Faktor internal
1) Anak Didik
Untuk mengatasi beberapa problem yang terjadi pada anak didik di
SMA Widya Dharma Turen diperlukan keuletan dan kesabaran pihak-
pihak yang terkait seperti guru, dan orang tua. Karena biar bagaimanapun
anak didik adalah orang yang masih perlu mendapat bimbingan dan arahan
dari orang dewasa sehingga segala sesuatu harus ada pihak untuk
menunjukan jalan pada anak ke jalan yang lurus. Dari beberapa problem
seperti yang diuaraikan sebelumnya bahwa minat dan kemauan siswa
untuk mempelajari pendidikan agama islam agar lebih optimal dan cerdas
dalam hal agama yaitu guru harus pintar-pintar mengatur strategi agar bisa
menarik minat siswa.
Guru dan pihak sekolah yang ada di SMA Widya Dharma Turen
mencoba mengatasi problem yang timbul pada diri siswa, guru mencoba
menggunakan strategi-strategi dan metode yang bervariasi untuk
mengatasi problem yang terjadi pada setiap anak, dan waktu agar anak
tidak merasa bosan dengan pelajaran yang diberikan oleh gurunya.
Adapun beberapa upaya untuk mengatasi problematika pendidikan
agama islam pada anak didik bagi setiap guru berbeda-beda. Menurut ibu
Auliah Kurnia guru pendidikan agama kelas X dalam mengatasi problem
yang terjadi pada anak didik menyampaikan beberapa strategi bahwa :
“Dalam mengatasi problem terhadap siswa yang kurang minat
terhadap pendidikan agama islam, sebelum memualai proses belajar
mengajar yaitu pada waktu pertama masuk kelas saya perhatikan
tingkat minatnya siswa, kemudian apabila ada problem seperti itu
maka saya ajak guyon, rileks, dan memberikan pertanyaan yang
membuat anak ceriah akat tetapi sesuai dengan inti materi, dan selain
itu memberi motivasi juga penting agar siswa tidak merasa lelah dan
bosan kemudian dilakukan pertanyaan umpan balik dengan tujuan
untuk menarik minat siswa”
81


Dari paparan di atas suatu cara untuk mengatasi problem yang timbul
dalam pendidikan agama islam. Karena pada dasarnya untuk mata
pelajaran pendidikan agama islam tidak ada media yang terlalu menarik
sehingga bagi anak-anak pendidikan agama islam bukan suatu yang
penting karena tidak ada perhatian khusus terhadap mata pelajaran

81
Wawancara Dengan Ibu Aullia Kurnia Pada Tanggal 18 November 2008
tersebut. Maka dari itu guru mencoba memberikan keceriaan untuk
meningkatkan daya minat siswa terhadap prndidikan agama islam.
Selain itu masih banyak cara lain untuk menumbuhkan minat siswa
terhadap pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen. Menurut
Mc. Donal dalam bukunya Sardiman untuk mengatasi problematika
pembelajaran siswa terhadap mata pelajaran “diperlukan motivasi,
motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai
dengan munculnya “feeling” dan didahului tanggapan terhadap tujuan”
82

Seperti yang dijelaskan tersebut bahwa motivasi sangat penting untuk
meningkatkan minat belajar siswa SMA Widya Dharma Turen dalam
pendidikan agama islam karena motivasi adalah serangkaian usaha untuk
menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga siswa mau dan ingin
melakukan sesuatu. Jadi motivasi itu untuk merangsang agar siswa yang
tidak berminat dengan pembelajaran pendidikan agama islam di SMA
Widya Dharma Turen bisa teratasi.
Hal di atas seringkali digunakan oleh para guru termasuk guru
pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen sebagaimana
penjelasan bpk. H. Abdul Halim guru pendidikan agama islam kelas XI
tentang memotivasi adalah salah satu upaya untuk memecahkan
problematika pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen
adalah seabgai berikut:



82
Sardiman, Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar, (PT. Raja Grafindo Persada, 1986), hlm.
73
“Untuk memotivasi biasanya saya menyediakan benda yang berupa
hadia, seperti buku bacaan agama islam, dan juga agenda muslim.
Kadang kalau ada rezki itu mbak, saya memberikan Al-Qur’an kecil
bagi anak yang pintar, hal itu saya lakukan agar siswa yang tidak
bisa mau belajar kaya membaca Al-Qur’an bisa menarik hatinya agar
mau belajar seperti temannya yang dikasih hadia. Dengan harapan
saya, anak yang tidak bisa merespon bahwa orang bisa itu selalu
mendapat imbalan yang baik, tetapi untuk anak yang tidak bisa tetap
diperhatikan, melakukan pendekatan baik di dalam kelas maupun di
luar kelas”
83


Dari element yang yang dijelaskan oleh bpk Abdul Halim di atas
disimpulkan bawa motivasi itu sebagai sesuatu yang kompleks. Motivasi
akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri
anak, sehingga akan bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan, perasaan,
dan juga emosi, untuk bertindak atau melakukan sesuatu. Semua ini
tentunya didorong oleh karena adaya kebutuhan atau suatu keinginan dari
dalam diri itu sendiri.
Sedangkan menurut bapak H.M. Ali Fattar guru pendidikan agama
islam yang mengajar kelas XII yang mengatakan bahwa dalam mengatasi
problem siswa diperlukan pendekatan secara intensif, sehingga anak-anak
merasa dihargai dan di sayangi. Di SMA Widya Dharma Turen salah satu
fakto problem pegamalan anak terhadap shalat berjama’ah, puasa dan
membaca Al-Qur’an diperlukan penganganan serius dari orang tua dan
guru khususnya guru pendidikan agama islam. Untuk mengatasi problem
yang tidak mengikuti shalat jum’at menurut bpk. H.M. Ali Fattar yang
mengungkapkan sebagai berikut:



83
Wawancara Dengan bpk. Abdul Halim S.Pd.I, (Guru Pendidikan Agama Islam Kelas XI), Pada
Tanggal 18 November 2008.
“Kalau anak-anak yang tidak mengikuti shalat jum’at tetap ada
sanksi, akan tetapi sanksi yang diberikan yang bersifat mendidik
seperti anak disuruh rangkum hasil khutbah, merangkum
diperpustakaan sesuai judul khutbah, kadang orang tuangya juga di
panggil kalau memang kesalahan anak tersebut sudah sangat
kelewatan untuk ikut andil dalam menyelesaikan problem pada
siswa”
84


Jadi kesimpulannya dalam memberikan hukuman sebagai upaya
untuk memecahlan problematikan pendidikan agama islam harus bersifat
mendidik, karena anak usia remaja perkembangan kejiwaannya masih
belum stabil jadi perlukan keuletan dan perhatian yang lebih dari orang
terdekat seperti guru agama, orang tua dan lain-lain.
2) Upaya Pendidik
Sebenarnya guru adalah orang yang dituntut untuk bisa
menyelesaikan problem yang terjadi pada diri seseorang khususnya
siswa, Untuk mengatasi problem tersebut seorang guru juga turut
memegang peranan yang tidak kala pentingnya dalam proses belajar
mengajar. Bagaimana guru bisa menyampaian materi pelajaran agar
bisa menarik dan mudah dipahami anak didiknya sehingga pelajaran
tidak terasa memobasankan. Seorang guru harus mampu menjadi
inovator dan inspirator bagi anak didiknya dalam belajar. Semangat
guru dalam menyampaikan sebuah materi pelajaran tentu saja sangat
menentukan langkah selanjutnya dari para anak didiknya dalam
memperdalam materi tersebut. Jika pada saat awal menyampaikan
materi seorang guru sudah terlihat tidak bersemangat dan tidak memiliki
antusiasme yang tinggi maka akan berdampak pada keberhasilannya
dalam menyampaikan materi pelajaran.
Tentang problem guru yang perlu diperhatikan penampilannya,
penampilan guru sangat mempengaruhi minat siswa dalam belajar.
Namun dalam hal pendidikan agama islam, guru harus mempunyai

84
Wawancara Dengan Bapak H.M. Ali Fattar Guru PAI, Pada Tanggal 21 November 2008. di
Ruang Kepala Sekolah
akhlak yang baik dan bisa menjadi contoh tauladan bagi siswanya.
Tentang problem yang terjadi pada guru di SMA Widya Dharma Turen
tentang keterbatasan waktu guru untuk lebih mengabdi pada lembaga
SMA Widya Dharma Turen ini, keterbatasan waktu ini bukan atas dasar
timbul karena kemauan dari pendidik itu sendiri, namun dari beberapa
factor yang berkaitan dengan keadaan pendidik misalnya kurang biaya
hidup. Untuk mengatasi hal tersebut menurut bapak kepala sekolah
diharapkan pada pemerintah untuk lebih memperhatikan keadaan guru
pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen, dengan adanya
perhatian itu makan guru pendidikan agama islam bisa mendidik anak-
anak secara intensif sesuai dengan yang diinginkan oleh sekolah.
Selain problem itu masih ada beberapa problem lain yang perlu di
cari solusinya seperti kualitas guru, tidak semua guru mempunyai
pengetahuan lebih. Kadangkala guru pandidikan agama pengetahuannya
tentang agama bisa saja kurang. Karena guru yang mengajar di SMA
Widya Dharma ini terdapat tiga orang guru, maka tingkat
pengetahuannyapun berbeda-beda. Untuk guru yang belum professional
khususnya dalam pendidikan agama islam kepala sekolah
mengupayakan untuk mengikuti seminar, dan MGMP yang diadakan
khusus untuk ilmu pengetahuan pendidikan agama islam. Dengan begitu
harapan kami sebagai kepala sekolah bisa menjadi guru yang
professional baik dalam hal penyampaian materi, kurikulum, dan
menghadapi anak didik di SMA Widya Dharma Turen.

b. Factor institusional
1) Upaya Sarana Dan Prasarana
Dalam upaya untuk memecahkan problematika pendidikan agama
islam pada sarana dan prasarana di SMA Widya Dharma Turen,
diperlukan peningkatan sarana yaitu tentang jumlah buku paket
diperbanyak agar siswa bisa memiliki dan bisa pinjam sesering mungkin
apabila diperlukan. Untuk meningkatkan sarana pendidikan agama islam
di SMA Widya Dharma Turen, guru hendaknya berusaha memperoleh
sesuatu bila sesuai dengan obyek pendidikannya, maka pencapaian tujuan
bisa sesuai seperti yang diharapkan.
Dari segi sarana dan prasarana pendidikan agama islam diperlukan
adanya usaha untuk meningkatkan yaitu dengan melakukan beberapa hal
sebagai berikut:
1) Mengajukan proposal kepada pemerintah agar bisa membantu baik
berupa dana atau berupa buku paket terutama buku paket pendidikan
agama islam.
2) Kepala sekolah harus mempunyai hubungan timbal balik yang baik
dengan masyarakat agar masyarakat bisa memberikan bantuan untuk
membeli instansi-instansi sekolah.
c. Faktor eksternal
1) Upaya Pada Lingkungan
Suasana lingkungan akan sangat berpengaruh terhadap
perkembangan proses belajar anak terhadap pndidikan agama islam.
Upaya untuk mengatasi problem yang terjadi pada lingkungan di SMA
Widya Dharma Turen harus ada kerja sama antara masyarakat dan
pihak sekolah. Lingkungan masyarakat yang memberikan pengaruh
baik akan berdampak positif pada perkembangan pendidikan agama
islam di SMA Widya Dharma Turen.
Lingkungan pendidikan tidak hanyak mengacu pada lingkungan
di dalam sekolah saja akan tetapi lingkungan keluarga juga perlu
memperhatikan problem yang timbul pada anak sebagai peserta didik.
Keluarga sangat berpengaruh sekali pada tingkah laku dan pola pikir
anak didik untuk memantau apa yang menjadi kegiatan siswa sehari-
hari, tidak mungkin guru melakukan seorang diri apa yang menjadi
kegiatan siswa, akan tetapi peran orang tua sangat penting untuk
dilakukan. Apalagi orang tua pada umumnya tidak mengauasai
masalah-masalah mengenai pendidikan terutama pendidikan agama
islam.
Di lingkungan SMA Widya Dharma Turen mengenai lingkungan
keluarga kurang memperhatikan perkembangan pendidikan agama
islam, sehingga anak didikpun terpengaruh dengan kondisi dan situasi
yang ada. Kurangnya perhatian orang tua pada anaknya dalam hal
pendidikan agama islam ini akan memerlukan upaya untuk
pemecahannya, yaitu dengan mengadakan pertemuan antara wali
murid (orang tua anak didik) dengan guru di sekolah dalam satu
semester atau pada saat penerimaan rapor, dengan begitu orang tua
bisa mengetahui sejauh mana perkembangan pendidikan anaknya,
khususnya dalam pendidikan agama islam di SMA Widaya Dharma
Turen.
Berkaitan dengan paparan di atas bisa mematokkan dari
pendapatnya Muhammad Nurdin yang berpendapat sebagai berikut:
beberapa alternatif lain yang menjadi upaya dalam memecahkan
problematika pendidikan agama islam, dalam hal lingkungan
diperlukan penatan lingkungan sekolah di SMA Widya Dharma Turen,
penataan lingkungan sekolah yang mencakup gedung, halaman, kebun,
ruang perpustakaan, kantor, mushalah, WC, lapangan olahraga, dan
taman sebagai halaman untuk belajar.Tujuan dari penataan lingkungan
ini agar terciptanya suatu kondisi edukatif yang nyaman, karena pada
dasarnya anak adalah merupakan figur manusia yang ingin bebas dan
bergerak. Dengan adanya gedung sekolah yang bersih dan asri, ruang
belajar yang nyaman dan menyenangkan akan mempengaruhi
keefisiensinya proses belajar mengajar siswa dengan guru di dalam
kelas maupun di luar kelas.
85

Makan langkah yang diambil oleh pihak SMA Widya Dharma
Turen dalam pemecahan problem pada lingkungan, diadakan satpan
sebagai pengatur lingkungan keamanan dan staf kebun (tukang kebun)
sebagai penata lingkungan sekolah dengan tujuan agar lingkungan di
SMA Widya Dharmaturen Malang lebih nyaman sehingga siswa tidak
merasa jenuh.



85
Muhammad Nurdin, Pendidikan Yang Menyebalkan, (Ogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2005),
hlm.72
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pemahasan maka dapat disimpulkan
sebagai berikut:
Problematikan pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen
dilihat dari beberapafaktor yaitu.
1. factor Internal
a. Problem pada anak didik
1) Siswa kurang berminat pada pendidikan agama ialam.
2) Siswa masih mengaggap bahwa pendidikan agama islam hanya
sebuah persyaratan, bukan sebagai kewajiban yang harus dipelajari
sebagaimana mestinya.
Problem pada pendidik
1) Masih ada beberapa guru yang mengajar di lembaga lain sehingga
waktunya sangat terbatas untuk SMA Widya Dharma Turen.
2) Kurangnya profesional guru dalam menjalankan tugasnya sebagai
pendidik, baik dari segiri ilmu maupun keadaan.
2. faktor Institusional
a. Problem pada sarana dan prasarana
1) Jumlah buku paker yang sangat minim sehingga siswa merasa
kesulitan mencari reference.
2) Fasilitas masjid yang kurang memadai sehingga praktek shalat
jum’at tidak kondusif

3. factor Eksternal
a. Problem pada lingkungan
1) Lingkungan keluarga siswa kurang memperhatikan perkembangan
pendidikan agama islam
2) Orang tua siswa lebih mengacu pada pendidikan umum dan
mengabaikan pendidikan agama islam yang menjadi kewajiban.
3) Lingkungan masyarakat yang kurang mendukung terhadap
kelangsungan pendidikan agama islam.
4) Adanya tempat permainan yang mempengaruhi siswa sehingga
waktunya dihabiskan ditempat tersebut.
Upaya pemecahannya dalam problematika pendidikan agama islam di
SMA Widya Dharma Turen.
Berdasarkan hasil temuan dan pembahasan skripsi bahwa upaya yang
dilakukan terhadap problem-problem yang terjadi di SMA Widya Dharma
turen adalah sebagai berikut:
1. Faktor Internal
a. Upaya pada anak didik
1) Siswa yang kurang minat belajar, diperhatikan secara khusus
dengan melakukan pendekatan yaitu merangkum buku agama
yang berkaitan dengan materi pendidikan agama islam di
perpustakaan
2) Bagi siswa yang tidak ikut shalat jum’at di sekolah dikasi sanksi
yaitu merangkum hasil khutbah yang sesuai dengan judul khutbah.

b. Upaya pada pendidik
1) Kepala sekolah mengambil kebijakan bagi guru khususnya guru
pendidikan agama islam untuk mengikut sertakannya dalam
seminar.
2) Guru banyak mebaca buku tentang pendidikan agama untuk
menambah wawasan.
3) Guru banyak mempelajari tentang agama islam dan yang dilihat
TV maupun radio untuk menambah wawasan.
2. Factor Institusional
-Upaya pada srana dan sarana
1) Jumlah buku paket di usahakan lebih banyak agar siswa tidak
kesulitan mendapatkan reference.
2) Sarana masjid tidak memadai
Sarana atau fasilitas masjid di usahakan untuk memperbaiki agar
shalat jum’an lebih efisien.
3. factor Eksternal
Upaya pada lingkungan
1) Untuk lingkungan harus bekerja sama antara masyarakat dan
lingkungan sekitar untuk mengatasi problem yang terjadi pada diri
siswa.
2) Lingkungan sekitar memberikan contoh yang baik pada siswa.



B. Saran
Dari hasil penelitian maka penulis masih perlu memberikan saran sebagai
pelengakap dalam meningkatkan kualitas pendidikan agama islam sebagai
berikut:
1. Dalam usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan agama islam di
SMA Widya Darma Turen belum cukup hanya mengandalkan
keprofesionalnya guru saja, disamping guru yang profesional harus
diimbangi dengan fasilitas yang lengkap agar proses belajar mengajar
lebih efisien.
2. Anak didik hendaknya meningkatkan disiplin dalam mempelajari
pendidikan agama islam, dengan mengasah otak dengan cara membaca
terus maka ilmu akan bertamabah luas.
3. Lingkungan pada segenap pihak yang berhubungan dengan anak didik
akan lebih diperhatikan sehingga anak didik termotivasi untuk
mempelajari pendidikan agama islam, baik di sekolah maupun di rumah.
4. Untuk sarana dan prasarana diharapkan pada pihak sekolah bisa
melakukan hubungan timbal balik yang baik kepada masyarakat,
pemerintah agar segenap pihak bisa memberikan bantuan untuk
memperbaiki fasilitas sekolah.























BAB VI
PENUTUP
C. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pemahasan maka dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. Problematikan pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen.
a. Problem pada anak didik
3) Siswa kurang berminat pada pendidikan agama ialam.
4) Siswa masih mengaggap bahwa pendidikan agama islam hanya
sebuah persyaratan, bukan sebagai kewajiban yang harus dipelajari
sebagaimana mestinya.
a. Problem pada pendidik
3) Masih ada beberapa guru yang mengajar di lembaga lain sehingga
waktunya sangat terbatas untuk SMA Widya Dharma Turen.
4) Kurangnya profesional guru dalam menjalankan tugasnya sebagai
pendidik, baik dari segiri ilmu maupun keadaan.
b. Problem pada sarana dan prasarana
3) Jumlah buku paker yang sangat minim sehingga siswa merasa
kesulitan mencari reference.
4) Fasilitas masjid yang kurang memadai sehingga praktek shalat
jum’at tidak kondusif
c. Problem pada lingkungan
1) Lingkungan keluarga siswa kurang memperhatikan perkembangan
pendidikan agama islam
2) Orang tua siswa lebih mengacu pada pendidikan umum dan
mengabaikan pendidikan agama islam yang menjadi kewajiban.
3) Lingkungan masyarakat yang kurang mendukung terhadap
kelangsungan pendidikan agama islam.
4) Adanya tempat permainan yang mempengaruhi siswa sehingga
waktunya dihabiskan ditempat tersebut.
2. Upaya pemecahannya dalam problematika pendidikan agama islam di
SMA Widya Dharma Turen.
Berdasarkan hasil temuan dan pembahasan skripsi bahwa upaya yang
dilakukan terhadap problem-problem yang terjadi di sma widya dharma
turen adalah sebagai berikut:
c. Upaya pada anak didik
1) Siswa yang kurang minat belajar, diperhatikan secara khusus
dengan melakukan pendekatan yaitu merangkum buku agama
yang berkaitan dengan materi pendidikan agama islam di
perpustakaan
2) Bagi siswa yang tidak ikut shalat jum’at di sekolah dikasi sanksi
yaitu merangkum hasil khutbah yang sesuai dengan judul khutbah.
d. Upaya pada pendidik
4) Kepala sekolah mengambil kebijakan bagi guru khususnya guru
pendidikan agama islam untuk mengikut sertakannya dalam
seminar.
5) Guru banyak mebaca buku tentang pendidikan agama untuk
menambah wawasan.
6) Guru banyak mempelajari tentang agama islam dan yang dilihat
TV maupun radio untuk menambah wawasan.
e. Upaya pada srana dan sarana
3) Jumlah buku paket di usahakan lebih banyak agar siswa tidak
kesulitan mendapatkan reference.
4) Sarana atau fasilitas masjid di usahakan untuk memperbaiki agar
shalat jum’an lebih efisien.
f. Upaya pada lingkungan
3) Untuk lingkungan harus bekerja sama antara masyarakat dan
lingkungan sekitar untuk mengatasi problem yang terjadi pada diri
siswa.
4) Lingkungan sekitar memberikan contoh yang baik pada siswa
D. Saran
Dari hasil penelitian maka penulis masih perlu memberikan saran sebagai
pelengakap dalam meningkatkan kualitas pendidikan agama islam sebagai
berikut:
1. Dalam usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan agama islam di
SMA Widya Darma Turen belum cukup hanya mengandalkan
keprofesionalnya guru saja, disamping guru yang profesional harus
diimbangi dengan fasilitas yang lengkap agar proses belajar mengajar
lebih efisien.
2. Anak didik hendaknya meningkatkan disiplin dalam mempelajari
pendidikan agama islam, dengan mengasah otak dengan cara membaca
terus maka ilmu akan bertamabah luas.
3. Lingkungan pada segenap pihak yang berhubungan dengan anak didik
akan lebih diperhatikan sehingga anak didik termotivasi untuk
mempelajari pendidikan agama islam, baik di sekolah maupun di rumah.
4. Untuk sarana dan prasarana diharapkan pada pihak sekolah bisa
melakukan hubungan timbal balik yang baik kepada masyarakat,
pemerintah agar segenap pihak bisa memberikan bantuan untuk
memperbaiki fasilitas sekolah.
DAFTA PUSTAKA
Ali, Mukti. 2003. Kapita Selekta Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Pedoman
Ilmu Jaya.

Ahmadi, Abu. 1992. Strategi Belajar. Bandung: Pustaka Setia
Arifin, Muzayyin. 2003. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta: PT.Bumi
Aksara.

Arikunto, Suharsini. 2002. Prosesdur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,
Jakarta: Rineka Cipta.

Aziz As-Asykhs, Abdul. Kelambanan Dalam Belajar Dan Cara
Penanggulanginnya, Jakarta: Gema Insani.

Daradjat, Zakiyah dkk., 1992. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara dan
Departemen Agama RI

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka, Edisi ke-2

Djumhur, Muhammad& Surya. 1991. Bimbingan Dan Penyuluhan Di Sekolah.
Bandung: C.V. Ilmu.

D.Marimba, Ahmad. 1989. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: PT.
Al-ma’arif.

Hadi Sutrisno.1989. Metodologi Reseaarch II. Yogyakarta: Yayasan Penelitian
Fakultas Psikologi UGM.

Hasan, Laggulung 1992. Asas-Asas Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Al-Husna.

Hasan. M.Ali & Mukti Ali. 2003. Kapita Selekta Pendidikan Agama Islam.
Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya.

Hujair. 2003. Paradigma Pendidikan Islam (Membangun Masyarakat Madani
Indonesia). Yogyakarta: Tiara Wacana.

J.Moleong, Lexy. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.

Ma’arif, Samsul. 2007. Revitalisasi Pendidikan Islam. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Mantra, Ida Bagoes. 2004. Filsafat Penelitian Dan Metode Penelitian Sosial.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Margono S. 2000, Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Muhamin.2002, Paradigma Pendidikan Isla,(Upaya Mengefektifkan Pendidikan
Islam Di Sekolah). Bandung: Remaja Rosdakarya

. 2003. Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam Pemberdayaan,
Pengembangan, Kurikulum Hingga Redefinisi Islamiah Pengetahuan.
Bandung: Nuansa Cendekia.

. 2003. Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. Surabaya: Pustaka
Pelajar.

Mulyasa, E. 2004. Manajemen Berbasis Sekolah., Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nizar, Samsul. 2002. Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Histories, Teoritis
Dan Praktis. Jakarta: Ciputat Pers.

Nasution. 1996. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Trasito.

Nugroho, N. 2007. Belajar Mengatasi Hambatan Belajar. Jakarta: Prestasi
Pustaka.

Nurdin, Muhammad.2005. Pendidikan Yang Menyebalkan. Yogyakarta: Ar-Ruzz
Media

Purtanto Pius A. & M. Dahlan Al-Barry. 1994. Kamus Ilmia Popular. Surabaya:
Arkola.

Ramayulis. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Roibin, 2002. Menuju Pendidikan Berwawasan Berkerukunan. Malang: Jurnal El-
Harakah Edisi 58.

Sardiman. 1986. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar, PT. Raja Grafindo
Persada.

Subroto Suryo. 1984. Dimensi-dimensi Administrasi Pendidikan Di Sekolah.
Jakarta: Bina Aksara.

Sugiono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabet.

Supranto J. 1993. Metode Ramalan Kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta.

Surya, Muhammad. 2003. Psikologi Pembelajaran Dan Pengajaran. Jakarta:
Mahaputra Adidaya.

Tafsir, Ahmad. 2005. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja
Rosdakarya.

Tilar, H.A.R. 2004. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta.

Uhbiyati Nur. 1997. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: C.V. Pustaka Setia.

Undang-undang RI Tahun. 2003. Tentang System Pendidikan Nasional Pasal 1.
Bandung: Cita Umbara.

Uzer Usman, Moh. 2004. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.

Zuhairini, & Ghofir, Abdul. 2004. Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam. Malang: UIN Mlang Press.

Zuhairini, dkk.1983. Metodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya, Usaha
Nasional.

Zein, M. 1995. Metodologi Pengajaran Agam. Jakarta: PT. AK. Group dan Indra
Bunga.



PROBLEMATIKA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN UPAYA-UPAYA PEMECAHANNYA DI SMA WIDYA DHARMA TUREN MALANG

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh :

SAIMAH 04120054

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG

LEMBAR PERSETUJUAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN UPAYA-UPAYA PEMECAHANNYA DI SMA WIDYA DHARMA TUREN-MALANG

SKRIPSI

Oleh: Saimah 04120054

Telah disetujui pada tanggal, 20 Desember 2008

Oleh: Dosen Pembimbing

Drs. Muchlis Usman, M.A NIP. 15009539

Mengetahui, Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam

Drs. Moh. Padil, M. Pd.I NIP. 150 267 235

Dra. 150 042 031 . Dr.I) PANINIA UJIAN Ketua Penguji. M.A Nip. Drs. Sekertaris Sidang.HALAMAN PENGESAHAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN UPAYA-UPAYA PEMECAHANNYA DI SMA WIDYA DHARMA TUREN MALANG SKRIPSI Dipersiapkan dan disusun oleh Saimah (0410054) Telah dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal 17 januari 2009 dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam ( S. 15009539 Dr. H.A 150267279 Drs. H.Ag 150 215 385 Penguji Utama. M.A Nip. Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang Prof.Pd. 15009539 Mengesahkan. M.J Sulala. M. Djunaidi Ghony NIP. M. Baharuddin. Muchlis Usman. Dosen Pembimbing. Muchlis Usman.

LEMBAR PERSEMBAHAN Ya Rabb Betapa masih jauh Jarak antara ketika Masih kubutuhkan Ungkapan Ya Rabb Inilah kata-kataku Bahasa paling wadag Dari gairah cintaku Hasrat untuk bertemu dengan-Mu Ya Rabb Dari hari kehari terus kunanti Saat mereka dari tubuh ruang waktu ini Tak perlu kupanggil lagi Dimana senyum-Mu Langsung mengasihi Rohku ini. Skripsi ini ku persembahkan Untuk mutiara hatiku Ama dan Inaku (Abdullah&Khairunnas) ama. ina terimakasih banyak atas segala pengorbananmu yang telah memberikan cinta kasihmu pada ananda .

dan sepanjang pengetahuan saya. juga tidak terdapat karya atau hasil penelitian orang lain. Malang.SURAT PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan. 20 Desember 2008 Saimah NIM. 04120054 . bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan tinggi. kecuali yang tertulis dan mengacu dalam naskah ini serta disebutkan dalam daftar pustaka.

bahasa maupun teknik penulisan.PERNYATAAN PEMBIMBING Drs. baik dari segi isi.A NIP. Wb. Pembimbing. Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang Di Malang Assalamu’alaikum Wr. 20 Desember 2008 Lamp : 4 (empat) Eksemplar Hal : Pernyataan Pembimbing Skripsi Saimah Kepada Yth. Muchlis Usman. Drs. Demikian mohon dimaklumi adanya. Muchlis Usman M. M. kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak di ajukan untuk ujikan. Maka selaku pembimbing. Wb. dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di bawah ini : Nama NIM Jurusan Judul Skripsi : Saimah : 04120054 : Pendidikan Agama Islam : Problematika Pendidikan Agama Islam dan Upaya-Upaya Pemecahannya Di SMA Widya Dharma Turen -Malang melalui metode kajian pustaka.A Dosen Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang NOTA DINAS PEMBIMBING Malang. 15009539 . Sesudah beberapa kali melakukan bimbingan. Wassalamu’alaikum Wr.

Dekan Fakultas Tarbiyah Prof. Djunaidin Ghony NIP. 6. Malang.IV.II. Dr. No Tanggal Hal Yang Dikonsultasi Refisi Proposal Refisi Bab I Refisi Bab I ACC Bab I Refisi Bab II Acc bab ii Refisi Bab II ACC Bab III Refisi Bab IV Revisi Bab IV Acc Bab. 31 Oktober 2008 8. I. 25 Agustus 2008 6. 5 desember 2008 Mengetahui. 27 Juli 2008 3. 4. 11. 9. Muchlis Usman M. 28 Oktober 2008 7. 9 Agustus 2008 4. 3. 20 Desember 208 2. 2 Desember 2008 10. 7.A :Problematika Pendidikan Agama Islam dan Upaya-upaya Pemecahannya Di SMA Widya Dharma Turen Malang. 8 November 2008 9. H. 17 Juli 2008 2.DEPARTEMEN AGAMA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG FAKULTAS TARBIYAH Jalan Gajayana No.50 Telepon (0341) 552398 Faksimile (0341) 552398 BUKTI KONSULTASI Nama Nim Dosen Pembimbing Judul Skripsi :Saimah :04120054 :Drs. 5 Desember 2008 11. 13 Agustus 2008 5. 5.V.II. 8.VI 1. Tanda Tangan 1. M. 150 042 031 . 10.

4. Bpk Drs. Prof. sprituil maupun material dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.I selaku ketua jurusan Fakultas Tarbiyah Universitas Negeri Islam (UIN) Malang.KATA PENGANTAR Alhamdulillah. penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melmpahlam segala nikmat. Bpk.A selaku dosen pembimbing yang penuh kesabaran dan ketelitian memberikan pengarahan kepada penulis sehingga dalam penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan. M. Tri Djoko Kusminto selaku kepala sekolah SMA Widya Dharma Turen yang telah berkenan memberi izin dan kesempatan untuk mengadakan penelitian dan sekaligus memberikan bantuan berupa informasi-informasi yang berkenaan dengan pembahasana dalam skripsi ini. yang telah memberikan satu solusi dalam rahmatulil’alami sebagai peran moral dan cita-cita islam. Prof. Bpk Drs. Dr. tentunya tidak terlepas dari beberapa pihak terkait yang telah banyak memberi motivasi serta kritikan yang konstruktif dalam menyelesaikan skripsi. 6. Moh. maka sudah barang tentu menjadi suatu kewajiban bagi kami khususnya penulis untuk mengucapkan terimakasih yang setinggitingginya kepada: 1. Dalam menyelesaikan skripsi ini. M. Amaku dan inaku (Abdullah & Khairunnas) tercinta yang telah melahirkan dengan sepenuh kasih sayang dan kesabaran untuk memberikan dorongan moril. Muchlis Usman. sehingga penulisan skripsi yang berjudul “Problematika Pendidikan Agama Islam dan Upaya-upaya Pemecahanya di SMA Widya Dharma Turen-Malang”. rahmat dan inayahnya kepada penulis. 3. H. H. 5. Dr. Bpk. Imam Suprayogo selaku rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Drs. Padil M. Djunaidin Ghony selaku dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Negeri Islam (UIN) Malang. . 2.Pd. Shalawatullah wasalamuhu semoaga senantiasa terlimpahkan kepada serta revolusioner penggagas kedamaian dan kebenaran serta kebajikan yaitu baginda Rasulullah saw.

dan para pembaca pada umumnya. Segenap dewan guru dan karyawan serta siswa-siswi di SMA Widya Dharma Turen yang telah membantu memberikan informasi-informasi yang berkenaan dengan pembahasan skripsi dalam skripsi ini. Oleh karena itu saran dan kritikan yang konstruktif selalu kami dambakan demi perbaikan penelitian berikutnya. Semoga atas bantuan dan dorongan yang dicurahkan kepada penulis. Akhirnya semoga amal bhakti mereka diterima di sisi Allah SWT. semua itu karena keterbatasan pengetahuan serta ketajaman analisis yang kami miliki. akan menjadi amal ibada yang diterima di sisi Allah SWT. Harapan penulis mudahmudahan karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya. dan semoga mendapatkan balasan yang setimpal dari-Nya. untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam pengembangan pendidikan agama islam ke depan. mbk ima sangat sayang kamu walaupun kita berpisah nanti. Kakak-kakakku yang tercinta yang selalu memberikan motivasi sehingga penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan. Teman-teman seperjuangan yang selalu menghibur penulis disaat-saat penulisan skripsi ini terlaksana. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini jauh dari kesempurnaan. penulis . amiin. Pieta makasi ya. 9. 8.7.

... v HALAMAN MOTTO............................................................. 16 1.......................................... Latar Belakang ..................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................ Kegunaan Penelitian............................. D................................................................ Tinjauan Tentang Problematika Pendidikan Agama Islam......... Tujuan Penelitian.......... xiv ABSTRAK....................................................... Tujuan Pendidikan Agama Islam............................ Tinjauan Tentang Pendidikan Agama Islam .................. Faktor-faktor yang Timbul dalam Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam ........................................................................ xv BAB I: PENDAHULUAN A... Upaya yang Dilakukan Dalam Mengatasi Problematika Pendidikan Agama Islam ................................................................................................................... BAB II: KAJIAN PUSTAKA A.......... iii HALAMAN PENGESAHAN ...... Rumusan Masalah ................. Sistematika Pembahasan ............................................ E.................................................................................................................................. Pengertian Pendidikian Agama Islam ................................ 19 3...................... 40 1 7 7 8 9 ...................... C....................... ix DAFTAR ISI .................................. vii HALAMAN PERNYATAAN ........................................................ 13 B...................................................... i ii BUKTI KONSULTASI .....................................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL............................................... 16 2.................................................... 12 1..................................................................................... LEMBAR PERSETUJUAN..... viii KATA PENGANTAR ........................................................................................ B............................................................................................................................. vi HALAMAN NOTA DINAS ..... Pengertian Problematika Pendidikan Agama Islam............................................................................... 12 2............... xi DAFTAR TABEL ........................................

..... Tekhnik Analisis Data............... 60 G....................................................... Lokasi Penelitian ..... Sejarah Singkat Berdirinya SMA Widya Dharma Turen............................... Temuan Hasil Penelitian ..... 69 3. 64 BAB IV: HASIL PENELITIAN A................................................. 84 7. Latar Belakang Objek Penelitian..... Upaya yang Dilakukan Oleh Guru Dalam Pemecahan Problematika Pendidikan Agama Islam di SMU Widya Dharma Turen Malang .................................. 66 1....................... 57 F.................................................... 71 5............................................ 55 D........... 70 4................................................................. 66 2...... Struktur Organisasi SMU Widya Dharma Turen................ Prosedur Pengumpulan Data ........................................................................................... 123 C.. Keadaan Kegiatan SMA Widya Dharma Turen ........ Pendekatan dan Jenis Penelitian. Visi dan Misi SMA Widya Dharma Turen ..................... 54 C............. Pengecakan Keabsahan Data.. 77 6............. 90 B..................... 56 E................................................ Tahap-tahap Penelitian .............. Metode Pembahasan.......... Keadaan Guru dan Karyawan SMA Widya Dharma Turen .............................. 62 H................ Keadaan Sarana dan Prasarana SMA Widya Dharma Turen............... 63 I................. Instrumen Penelitian........... 97 BAB V: KAJIAN DAN ANALISIS DATA A...... 53 B......... Problematika yang Dihadapi Pendidikan Agama Islam di SMU Widya Dharma Turen Malang ........................................................BAB III: METODE PENELITIAN A..................................... 88 8................................. 109 B....................................... Tugas Dan Tanggung Jawab Kepala dan Guru.... Faktor-faktor yang Timbul Dalam pelaksanaan Problematika Pendidikan Agama Islam di SMU Widya Dharma TurenMalang... Keadaan Siswa-siswi SMU Widya Dharma Turen......................................................... 126 . Sumber Data................................

............................BAB VI: PENUTUP A....... 136 B......... Saran................................ Kesimpulan.................. 139 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN .....................................................................................

kurikulum dan sarana dan prasarana serta lingkungan hampir adanya problematika. faktor institusional dan faktor eksterna. Dengan melihat hal seperti itu bila dikaitkan pada era global seperti pada saat ini sesungguhnya pendidikan khususnya pendidikan agama islam malah semakain terpuruk. jika menengok ke masa lalu yaitu pada masa abasyiah di mana pendidikan waktu itu sangat maju sehingga melahirkan kaum intelektual dan jenius dalam bidang keagamaan. dan dokumetasi. Dalam dunia pendidikan agama islam akhir-akhir ini sering dilandasi oleh berbagai tantangan global yang menjadi problem. pendidik.ABSTRAK Saimah. Penelitian yang penulis lakukan ini adalah termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif. penulis menggunakan tekhnik analisisis deskriptif kualitatif. M. Fakultas Tarbinyah Universitas Negeri (UIN) Malang. Drs. yaitu berupa datadata yang tertulis. . Problematikan yang timbul dalam dunia pendidikan agama islam akhirakhir ini disebabkan karena beberapa faktor yaitu faktor internal. Dengan semakian majunya dunia tekhnologi maka akan berdampak pada keterpuruknya dunia pendidikan islam khususnya dikalangan anak-anak remaja. bentuk problematika pendidikan agama islam seperti ini pemerintah perlu menginovasinya agar pendidian islam bisa mencapai puncak seperti pada zaman keemasan dahulu.A Pendidikan adalah suatu kebutuhan bagi manusia untuk meningkatkan pengetahuan. Akibata dari timbulnya problem tersebut baik dari segi anak didik. Adapun tujuannya dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui latar belakang timbulnya problematikan pendidikan agama islam. Berangkat dari latar belakang itulah penulis kemudian ingin membahasnya dalam skripsi dan mengambil judul problematika pendidikan agama islam dan upaya-upaya pemecahannya. serta untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan oleh guru dalam pemecahan problematika pendidikan agama islam. Muchlis Usman. Sebagaimana pendapatnya Syamsul Ma’rif pendidikan agama islam saat ini. Dan selama mengumpulkan data. Skripsi. interview. selain itu karena adanya dikotomisasi antara pendidikan umum dan pendidikan agama islam sehingga pendidikan agama islam tidak terlalu diperohatikan oleh pemerintah dan akhirnya masyarakatpun tidak menganggap penting terhadap pembelajaran pendidikan agama islam. Sedangkan untuk analisisnya. penulis menggunakan metode observasi. untuk mengetahui kendala-kendala yang terjadi dalam pemecahan problematika pendidikan agama islam. Problematika Pendidikan Agama Islam dan Upaya-upaya Pemecahannya di SMA Widya Dharma Turen-Malang. sungguh masih dalam kondisi yang mengenaskan dan memprihatinka karena pendidikan agama islam mengalami keterpurukan jauh tertinggal denan pendidikan Barat. data lisan dari pihak-pihak yang berkaitan di lokasi penelitian sehingga dalam hal ini penulis berupaya mengadakan penelitian yang bersifat menggambarkan kata-kata secara menyeluruh tentang keadaan yang terjadi di lapangan. Jurusan Pendidikan Agama Islam.

Upaya. Bila ada alternatif lain maka hal itu dapat dijadikan suatu masukan untuk memperbaiki pendidikan agama islam dalam skripsi ini.Hasil dari peneletian yang dilakukan penulis dapat disampaikan bahwasanya peneliti mencoba menawarkan solusi sebagai suatu alternatif untuk memecahkan problematika pendidikan agama islam yaitu meningkatkan motivasi belajar siswa. Pendidikan Agama Islam. melengkapi sarana dan prasarana dan memperbaiki lingkungan sekolah dan sekitarnya. Pemecahanya . Kata Kunci: Problematika.

mengharuskan sejumla persyaratan kepada pendidikan. 2002. intolern. Selama ini pendidikan agama secara normative diakui mampu menformulasikan dan mengakumulasi idealitas tujuan pendidikan tersebut. miskin solidaritas dan tidak humanis. Namun secara empiris. yang merupakan institusi formal untuk belajar.BAB I PENDAHULUAN A. Akibatnya belajar di sekolah sangat berlainan dengan yang berlaku di dalam keluarga. Jadi pendidikan dalam pengertiannya mempunyai makna yang sangat luas dan dapat dianggap sebagai proses sosialisasi seseorang yang mempelajari cara hidupnya.11 2 Hasan. lembaga pendidikan agama maupun lembaga umum yang terkait dengan timbul keagamaan dalam prakteknya sering mengecewakan dan idealnya.1 Pendidikan adalah salah satu bentuk interaksi manusia dan sebagai tindakan sosial. emosional. 17 . Sekolah. Latar Belakang Masalah Hampir semua tujuan pendidikan baik dalam kacamata umum maupun agama selalu mengidealkan terciptanya sikap anak didik yang dewasa. hlm. 1992). Asas-Asas Pendidikan Islam. Laggulung. Malang: Jurnal El-Harakah Edisi 58. Hal tersebut disebabkan karena adanya aspek-aspek social yang digambarkan karena individu-individu satu sama lain saling tidak konsisten terhadap misi ketergantungan dalam proses belajar.2 1 Roibin. (Jakarta: Pustaka Al-Husna. Proses pendidikan yang hanya menekan kedewasaan intelektual akan memunculkan manusia yang cerdas tapi tidak bermoral. Menuju Pendidikan Berwawasan Berkerukunan. hlm.

telah mulai melanda kehidupan umat islam yang tanpa batasan kepada berbagai bentuk “life style” yang mulai melanda kehidupan generasi muda terutama di kota-kota besar. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. kepribadian. 2004). pendidikan dipandang sebagai salah satu aspek yang memiliki peranan pokok dalam membentuk generasi muda agar memiliki kepribadian yang utama. tontonan global. hlm. 2003).5 Kehidupan global akan melahirkan budaya global.”Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional mendefinisikan pendidikan sebagai ”usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Cara hidup global. (Jakarta: Rineka Cipta. hlm. Di dalam berbagai analisis mengenai trend kehidupan global .A. Untuk mengembangkan potensi siswa diperlukan suatu strategis yang sistematis dan terarah. Pendidikan dapat pula diartikan sebagai bimbingan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Dewasa ini kita melihat betapa kebudayaan global. masyarakat. Tilar.R. serta ketrampilan yang diperlukan dirinya. termasuk trend pula dalam mengembangkan system pendidikan. akhlak mulia. pengendalian diri. Di satu pihak Undang-undang RI Tahun 2003 Tentang System Pendidikan Nasional Pasal 1. 5 H.3 4 Zuhairini & Abdul Ghofir. (Malang: UIN Malang Press 2004).15.1.(Bandung: Cita Umbara.bangsa.4 Walaupun tujuan pendidikan mengarah ke arah yang positif. cita rasa global telah memasuki kehidupan siswa sebagai generasi muda. hlm. kecerdasan. 3 . tetapi tidak terlepas dari tantangan global seperti yang marak terjadi saat ini. Terkait dengan fenomena sekarang kehidupan umat manusia dalam millenium baru mempunyai dimensi yang bukan hanya dimensi domestik tetapi global. Oleh karena itu. dan Negara”3 Ini berarti pendidikan merupakan proses atau upaya sadar untuk menjadikan manusia kearah yang lebih baik.

Dalam agama Islam terkandung suatu potensi yang mengacu pada dua fenomena yang berkembang yaitu: 6 Muhaimin. Pendidikan Agama Islam masih memerlukan bantuan kita bersama. Adapun usaha Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah agar mampu membentuk kesalehan pribadi dan sekaligus kesalehan sosial sehingga dapat membentuk ukhuwah yang baik dalam lembaga pendidikan maupun lingkungan masyarakat. 2002). melanggar norma dan etika agama.75 . (Bandung: Remaja Rosdakarya. serta dalam berbangsa dan bernegara sehingga dapat terwujud persatuan dan kesatuan umat manusia.budaya global atau modernisasi dapat membuka horizon pemikiran yang positif. Upaya Mengefektifkan Pendidikan Islam Di Sekolah. akan tetapi juga kemungkinan masuknya unsur-unsur budaya global yang penuh modern seperi yang terjadi saat ini bisa berdampak negatif yang meracuni kehidupan generasi muda. baik sesama muslim maupun non muslim. Kualitas kesalehan diharapkan mampu membentuk hubungan keseharian dengan manusia lain. Hal ini telah merasuki pemikiran para generasi jauh dari pemahaman tentang islam. hlm. Paradigma Pendidikan Islam. demi mewujudkan hasil dan kualitas pendidikan yang dicita-citakan. Pendidikan sekarang ini kurang bisa menciptakan siswa untuk memahami hakekat pembelajaran yang telah disampaiakan sehingga di luar sekolah siswa cenderung melakukan hal-hal yang tidak wajar (kenakalan remaja).6 Selain usaha guru dalam mendidik siswa.

Bumi Aksara. 2.1. ( Jakarta: PT. di mana Tuhan menjadi potensi sentral berkembanganya. Nilai pendidikan islam telah menjadi ilmu yang ilmiah dan amaliah. hlm. 7 Muzayyin. maka ia akan dapat berfungsi sebagai sarana pembudayaan manusia yang bernafaskan islam yang lebih efektif dan efisien. proses kependidikan islam yang mengacu pada masyarakat yang beraneka ragam kultur dan struktur. Pendidikan islam seperti yang dikehendaki umat islam harus mengubah strategi dan titik operasional. Telah diketahui bahwa sejak islam diartikulasikan melalui dakwahnya dalam masyarakat sampai kini. Akhir-akhir ini. Potensi pengembangan kehidupan manusia sebagai khalifah dimuka bumi yang dinamis dan kreatif serta responsif terhadap lingkungan sekitarnya. beserta nilai-nilanya ikut mengalami pergeseran yang belum mapan. 3-4 .7 Untuk mengaktualisasikan dan menfungsikan potensi tersebut diperlukan ikhtiar kependidikan yang sistematis berencana berdasarkan pendekatan dan wawasan yang interdisipliner. Karena manusia semakin terlibat terhadap proses perkembangan sosial itu sendiri menunjukkan adanya interelasi dan interaksi dari berbagai fungsi. Arifin. akibat timbulnya perubahan sosial diberbagai sektor kehidupan umat manusia. Potensi psikologi dan pedagogis yang mempengaruhi manusia untuk menjadi pribadi yang berkualitas baik dan menyandang derajat mulia. Oleh karena itu pula akan timbul suatu problem dalam dunia pendidikan islam yang akan dicari solusinya dan pada akhirnya akan memberikan kesejahteraan pada kehidupan masyarakat. Kapita Selekta Pendidikan Islam. 2003). Lingkungan yang alamiah maupun yang ijtimaiah.

strategi dan program sedemikian rupa. pendidikan islam harus dengan akal dan antara wahyu dengan alam. Sebagaimana agama yang sesuai dengan sunnatullah tentu ummat islam diwajibkan belajar dari fenomena alam. . Problem ini muncul karena diakibatkan oleh budaya orientasi pendidikan agama islam di sekolah yang kurang tepat. Di samping itu. pergeseran idealitas masyarakat yang menunjukkan kearah pola pikir rasional tekhnologis yang cenderung melepaskan diri dari tradisionalisme kultural edukatif makin membengkak. Apalagi bila kita mengingat bahwa misi pendidikan agama islam lebih berorientasi kepada nilai-nilai luhur dari Tuhan yang harus diinternalisasikan ke dalam lubuk hati sehinggga muncul kepribadian yang mencerminkan nilai-nilai islam. Pada prinsipnya. Dalam problem ini kita perlu mengacu diri untuk melakukan inovasi dalam wawasan. Inilah berbagai pencerminan kemelut yang terjadi pada masyarakat terutama dalam dunia pendidikan agama islam. Problem lain juga yang dirasakan dalam pendidikan agama islam selama ini adalah adanya kesenjangan antara pendidikan agama dan perilaku peserta didik secara khusus yang menyimpang dari norma-norma ajaran agama. sehingga mampu menjawab secara aktual dan fungsional terhadap tantangan baru. Namun demikian lembaga pendidikan islam kita yang masih bersifat konservatif dan statis dalam menyerap tendensi dan aspirasi masyarakat masa kini.Pendidikan Islam tidak menutup kemungkinan dapat mengkombinasi antara pandangan islam dengan pemikirn pendidikan modern sepanjang memiliki relevansi yang kuat dalam menkonstruksi pemikiran pendidikannya.

kurangnya persiapan guru agama untuk menyampaikan mata pelajaran. Faktor institusional Adapun faktor institusional meliputi alokasi jam pelajaran pendidikan agama islam pada kurikulum yang terlalu overloaded. Faktor eksternal Adapun problem dalam faktor ini adalah sikap masyarakat dan orang tua kurang concer terhadap pendidikan agama yang berkelajutan. .Ada beberapa faktor yang menyebabkan kurang efektifnya Pendidikan Agama Islam di sekolah. terutama Pendidikan Agama Islam dan mengaktualisasikan pendidikan agama islam sebagai pelajaran penting untuk mewujudkan keselamatan dunia dan akhirat. Ketiga hal tersebut diharapkan akan bisa dicari solusinya dan bisa memberi konstribusi yang bagus bagi peserta didik nantinya. pendekatan metodologi guru yang tidak mampu menarik minat siswa pada pembelajaran agama islam. solidaritas guru agama dengan guru non agama masih sangat terbatas. Faktor internal Faktor internal adalah faktor yang muncul dari dalam diri guru agama itu sendiri yang meliputi kompetensi yang masih relative rendah. b. karena dengan melihat problem-problem yang terjadi dalam dunia pendidikan. c. antara lain: a. hubungan guru agama dengan siswa yang formal.

Rumusan Masalah 1. Untuk mengetahui Kendala-Kendala Yang Dihadapi Dalam Pemecahan Problematika Pendidikan Agma Islam di SMU Widya Dharma Turen Malang. . 2. pengaruh negative dari perkembangan teknologi seperti internet. Upaya apa yang dilakukan oleh guru dalam pemecahan problematika Pendidikan Agama Islam di SMU Widya Dharma Turen Malang? C. Sehubungan dengan latar belakang masalah tersebut. dan lain sebagainya. 3. B. Tujuan Penelitian 1. Apa problem yang dihadapi Pendidikan Agama Islam di SMU Widya Dharma Turen Malang? 2.situasi lingkungan sekitar sekolah yang banyak pengaruh buruk. Untuk mengetahui pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di SMU Widya Dharma Turen Malang. play station (PS). maka menarik sekali untuk diteliti atau dikaji oleh karena itu dalam penelitian skripsi ini penulis mengambil judul ”Problematika Pendidikan Agama Islam dan Upaya-upaya Pemecahannya di SMU Widya Dharma Turen-Malang”. Kendala-Kendala Apa Yang Dihadapi Dalam Pemecahan Problematika Pendidikan Agma Islam di SMU Widya Dharma Turen-Malang.

Untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan oleh guru dalam pemecahan problem Pendidikan Agama Islam di SMU Widya Dharma Turen Malang. Bagi Lembaga Pendidikan: Sebagai tambahan informasi tentang bagaimana pelaksanaan Pendidikan Agama Islam.3. baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Bagi Peneliti . Kegunaan Penelitian Dalam melaksanakan penelitian ini tentuya akan membawa suatu kegunaan. 3. Bagi Almamater Sebagai suatu masukan bagi pelaksanaan pendidikan. dalam rangka untuk meningkatka kualitas belajar terhadap Pendidikan Agama Islam. D. Sebagai acuan atau bandingan agar dapat mengambil kebaikan dan mengatasi keburukannya. Sebagai bahan dokumentasi dan masukan yang akan dipakai sebagai dasar atau perbandingan pada penelitian selanjutnya. Sebagai bahan kajian tentang problematika dan pemecahan dalam Pendidikan Agama Islam. dan hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi: 1. 2.

Pendahuluan yang merupakan titik tolak dari penulisan skripsi ini yang berisi tentang latar belakang masalah. perkembangan manajemen dalam . kegunaan penelitian. dasar-dasar Pendidikan Agama Islam. problem sarana dan prasarana dalam Pendidikan Agama Islam.Sebagai pedoman dalam rangka melaksanakan tugas sebagai pendidik yang akan terjun langsung untuk mengamalkan segala ilmu yang telah dipelajari. Kajian teoritis diantaranya membahas tentang (A) PAI: pengertian Pendidikan Agama Islam. perkembangan pendidikan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. (C) langkah-langkah dalam mengatasi problem pendidikan agama islam. problem manajemen dalam pendidikan agama islam. Bab Kedua. dan sistematika pembahasan. Sistematikan Pembahasan Sistematika yang dimaksud merupakan isi dari pembahasan secara singkat yang terdiri dari enam bab. tujuan penelitian. G. Sebagai penambahan pengetahuan keilmuan sehingga dapat mengembangkan wawasan baik secara teori maupun praktek. dan untuk lebih mengarahkan skripsi ini. (B) problematika Pendidikan Agama Islam. maka penulis membuat sistematika pembahasan sebagai berikut: Bab Pertama. tujuan dan fungsi pendidikan agama islam. rumusan masalah. yang meliputi: perkembangan anak didik dalam Pendidikan Agama Islam. problem kurikulum dalam Pendidikan Agama Islam. yang meliputi: problem anak didik dalam Pendidikan Agama Islam.

perkembangan dalam Pendidikan Agama Islam. kendala dalam pemecahan problematika pendidikan agama islam SMA Widya Dharma Turen. keadaan kegiatan siswa SMA Widya Dharma Turen. prosedur pengumpulan data. analisa data dan pengecekan keabsahan temuan serta tahap-tahap penelitian.pembelajaran Pendidikan Agama Islam. visi misi. Bab Ketiga. menjelaskan tentang kesimpulan dan saran yang berkaitan dengan problematikan Pendidikan Agama Islam dan upaya pemecahanya di SMU Widya Dharma Turen-Malang. (B) temuan hasil penelitian: pengertian pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen. perkembangan kurikulum dalam Pendidikan Agama Islam. perkembangan sarana dan prasarana dalam pembelajaran pendidikan agama islam. Metode penelitian yang terdiri dari pendekatan dan jenis penelitian. . keadaan siswa SMA Widya Dharma Turen. Kesimpulan dan saran. kehadiran peneliti. tugas dan tanggung jawab guru dan karyawan. Bab Keempat. Bab Keenam. Pembahasan hasil penelitian yang dilakukan di SMU Widya Dharma Turen Malang. struktur organisasi. sumber data. Dari sinilah peneliti dapat mengklasifikasikan data-data dalam rangka mengambil kesimpulan penyajian. meliputi: (A) latar belakang obyek: sejarah singkat lembaga pendidikan Widya Dharma Turen-Malang. upaya pemecahannya dalam problematika pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen. lokasi penelitian. keadaan sarana dan prasarana SMA Widya Dharma Turen . keadaan guru dan karyawan. Laporan hasil penelitian. Bab Kelima.

BAB II KAJIAN TEORI A. 2002. TINJAUAN TENTANG PENDIDIKAN AGAMA ISLAM 1. Pendidikan agama islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan anak didik untuk mengenal. hingga mengimani ajaran agama islam. Pendidikan agama islam sebagai usaha sadar. dibarengi dengan tuntutan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa. memahami. 3 . hlm.8 Dan untuk mencapai pengertian tersebut maka harus ada serangkaian yang saling mendukung antara lain: a. pengajaran dan atau latihan yang dilakukan secara berencana dan sadar akan tujuan yang hendak dicapai. 8 Kurikulum PAI. Pengertian Pendidikana Agama Islam Sebelum penulis uraikan lebih lanjut tentang pengertian problematika pendidikan agama islam. yakni suatu kegiatan bimbingan. terlebih dahulu akan penulis uraiakan tentang pengertian pendidikan agama islam. menghayati.

Pendidik atau guru (gbpai) yang melakukan kegiatan bimbingan. dalam arti yang dibimbing. Tujuan Pedidikan Agama Islam Sebelum lebih jauh menjelaskan tujuan pendidikan islam terlebih dahulu dijelaskan apa sebenarnya makna dari ”tujuan” tersebut. Pendidikan islam bersumber pada nilai-nilai tersebut yang melandasinya adalah merupakan proses ikhtiarah yang secara pedagogis kematangan yang menguntungkan. karena nilai oslam menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya. Kegiatan pai diarahkan untuk meningkatkan keyakinan. diajari dan atau dilatih dalam peningkatan keyakinan. penghayatan. Pengertian pendidikan agama islam dengan sendirinya adalah suatu sistem pendidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah. d. ahdaf. Arifin. 1991) hlm. Dengan istilah lain. pengajaran dan latihan secara sadar terhadap pesereta didiknya untuk mencapai tujuan tertentu.13 . c. Peserta didik yang hendak disiapkan untuk mencapai tujuan. manusia yang telah mendapatkan pendidikan islam itu harus mampu hidup di dalam kedamaian dan kesejahteraan sebagaimana cita-cita islam. pemahaman. Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara.9 2.b. pemahaman. dan pengamalan terhadap peserta didik yang di samping untuk dengan cita-cita islam.M. Secara etimologi ”tujuan” adalah diistilahkan dengan ”ghayat. atau 9 H. penghayatan dan pengalaman terhadap ajaran agama islam.

Sedangkan secara terminologi.11 Berdasarkan pada pengertian pendidikan islam yaitu sebuah proses yang dilakukan untuk menciptakan manusia-manusia yang seutuhnya.1077 11 Zakiyah Daradjat. (Jakarta: Balai Pustaka. Ada usaha yang terhenti karena gagal sebelum mencapai tujuan. bahwa tujuan proses pendidikan islam adalah ”idealitas (cita-cita) yang mengandung nilai-nilai islam yang hendak dicapai dalam proses kependidikan yang berdasarkan ajara islam secara bertahap”. objectives atau ”aim”.M. Ilmu Pendidikan Islam. Sementara dalam bahasa inggris diistilahkan dengan ”goal. (Jakarta: Bumi Aksara dan Departemen Agama RI. purpose. maka tujuan dalam konteks ini berarti terciptanya insan kamil setelah proses pendidikan berakhir. a) Fungsi tujuan Mengapa dibutuhkan tujuan? Untuk menjawab pertanyaan ini. Edisi ke-2 hlm. Dengan demikian fungsi tujuan yang pertama mengakhiri usaha. dkk. 1995). Kamus Besar Bahasa Indonesia. tetapi usaha tersebut belum dapat disebut berakhir. Ahma D Marimba dalam bukunya ”pengantar filsafat pendidikan islam” menyebutkan bahwa setiap usaha mengalami akhir. tujuan berarti ” sesuatu yang diharapkan tercapai setelah sebuah usaha atau kegiatan selesai”10 H. Karena pada umumnya suatu usaha baru berakhir setelah tujuan akhir tercapai. 29 10 .. beriman dan bertaqwa kepada Allah serta mampu mewujudkan eksistensinya sebagai khalifah Allah di muka bumi. yang berdasarkan kepada ajaran Al-Qur’an dan sunnah. Arifin menyebutkan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1992) hlm.maqashid.

Al-ma’arif. memberi nilai (sifat) pada usaha-usaha tersebut. Ada usaha yang bertujuan lebih besar dari yang lain. 1989). baik aspek budaya kemasyarakatan. dapat dikatakan. akhlak dan muamalah. yang seharusnya mengitari sosial memperhatikan kehidupan seluruh aspek manusia.Fungsi kedua. sementara dari segi lain tujuan dapat mempengaruhi dinamika usaha. Ada usaha-usaha yang bertujuan lebih luhur daripada usaha-usaha lainnya. islam. maka penyelewengan akan banyak terjadi. dari tujuan adalah mengarahkan usaha. Fungsi ketiga. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. di samping ada juga usaha yang bertujuan lebih dari itu. hlm. bahwa dari satu segi tujuan bisa membatasi ruang gerak usaha. ibada. 2) Prinsip keseimbangan dan kesederhanaan 12 Ahmad D Marimba. Oleh karena itu. dan kegagalan-kegagalan akan selalu di ambang pintu. Fungsi keempat. dari tujuan sebagai titik tolak untuk mencapai tujuan-tujuan lain. Tanpa adanya antisipasi atau pandangan ke arah tujuan. antara lain: 1) Peinsip universal (menyeluruh) Dalam merumuskan tujuan pendidikan kehidupan agama. (Bandung: PT. 45 .12 b) Prinsip Pengembangan Tujuan Pendidikan Islam Omar Muhammad Al-Toumyal-Syaibany dalam bukunya ”filsafat pendidikan islam” mengatakan bahwa ada beberapa prinsip dalam mengembangkan tujuan pendidikan islam. Baik tujuan baru maupun tujuan lanjutan dari tujuan pertama.

tak tertentu) dan problematika (berbagai permasalahan). kepentingan pribadi dan kepentingan umum. ragu-ragu. Pertanto. maka perlu adanya solusi untuk menyelesaikan permasalah-permasalah yang ada dalam proses belajar mengajar pendidikan agama islam. baik antara dunia dan akhirat. hlm. Oleh karena itu dalam pengembangan pendidikan agama islam harus ada sistem kesederhanaan agar proses untuk mencapai tujuan lebih besar. Kamus Ilmia Popular (Surabaya: Arkola. dan metode pendidikan yang jelas pula. problematika (merupakan sulit. 1994).Islam memiliki prinsip dasar keseimbangan dalam kehidupan. Problema (perkara sulit). perkara sulit. Dengan berpegang teguh kepada prinsip ini akan terwujud tujuan. . jasmani dan rohani. M. Agar proses belajar mengajar pendidikan agama islam dapat berjalan dengan lancar sehingga tujuan dalam pembelajaran pendidikan agama islam dapat diraih secara maksimal. persoalan). Dahlan Al-Barry. 3. tak menentukan. Tinjauan Tentang Pengertian Problematika Pendidikan Agama Islam Secara etimologi kata problematika berasal dari kata problem (masalah. kurikulum. 626. 3) Prinsip kejelasan Prinsip yang mengandung ajaran dan hukum yang memberi kejelasan terhadap aspek spritual dan aspek intelektual manusia.13 Banyak para “pakar pendidikan” telah berusaha dengan segala cara untuk ikut andil dan terlibat aktif memikirkan atau menyelesaikan beberapa problema yang “menggerogoti” sistem pendidikan agama islam 13 Pius A.

karena disebabkan beberapa hal. pendidikan agama islam sekarang mengekor dan berkiblat pada Barat. Hlm. 2-3. Revitalisasi Pendidikan Islam. . Pendidikan agama islam masih berorientasi atau menitik beratkan pada pembentukkan abd’ (hamba Allah). adalah sebagai berikut:15 a. 1 Ibid.14 Lebih lanjut dikatakan oleh Samsul Ma’arif akibat pendidikan islam masih sangat jauh tertinggal pendidikan Barat. Pendidikan saat ini.dewasa ini. sementara urusan dunia belakang. sungguh masih dalam kondisi yang sangat mengenaskan dan memprihatinkan. 14 15 Samsul Ma’arif. Orientasi pendidikan masih terlantar tak tahu arah dan tujuan yang mana mestinya sesuai dengan orientasi Islam. Dan masih bersifat devinitive artinya menyelamatkan kaum muslim dari segala pencemaran dan pengrusakan akibat ditimbulkan oleh gagasan Barat yang datang dari berbagai disiplin ilmu yang dapat mengancam standar-standar moralitas tradisional islam. Melihat realitas yang terjadi sekarang bahwa pendidikan agama islam tidak bisa kembali seperti pada zaman keemasan (Andalusia dan Baghdad) yang bisa menjadi pusat peradaban islam. hlm. yang terjadi sekarang justru sebaliknya. 2007). (Yogyakarta: Graha Ilmu. Akhirnya di sini. Karena pendidikan agama islam mengalami keterpurukan akibat adanya pengaruh global dari dunia Barat dan juga adanya dikotomi system pembelajaran antara mata pelajaran islam dan mata pelajaran umum. tentu saja adalah segala-galanya.

d. Sehingga sistem pendidikan masih mandul. serta pelaksanaan dan penyelenggaraan pendidikan agama islam itu sendiri yang masih bersikap ekslusif dan belum mampu berinteraksi dan bersinkrinisasi dengan lainnya. Praktek pendidikan agama islam masih memelihara warisan lama. atau belum mencerdaskan dan memerdekakan. Faktor Internal 1) Anak Didik .b. c. sehingga ilmu yang dipelajari adalah ilmu klasik dan ilmu modern yang tidak tersentuh. Akibatnya kebanyakan ummat islam sendiri tidak melakukan pembaharuan terhadap pendidikan agama islam. terbelakang dan mematikan daya kritis anak. format kurikulum yang tidak jelas orientasinya dan minimnya kualitas sumber daya manusia (SDM). Persoalan tersebut masih ada tantangan internal yaitu. umat islam masih terbelenggu dan terjebak dengan adanya dikotomisasi pendidikan agama islam. sistem dan strategi yang dikembangkannya. Model pembelajaran pendidikan agama islam masih menekan pada pendekatan intelektual verbalistik dan menegasi interakasi edukatif dan komunikasi humastik antara guru dan murid. metodologi dan evaluasinya. kurangnya pemahaman tentang ajaran islam. Umat islam masih sibuk terbuai dengan ”romantisme” masa lalu hingga bisanya mengandalkan kebesaran masa lampau. Terkait dengan problematikan terdapat tiga faktor yang menjadi dasar pembahasan ini aalah sebagai berikut: a.

membantu untuk berinteraksi sosial yang positif di masyarakat. dalam arti yang dibimbing. peserta didik merupakan subyek dan obyek. Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Histories. peserta didik merupakan orang yang belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi (kemampuan) dasar yang masih perlu dikembangkan. pencerahan dan transparansi serta pembahasan atau analisis di dalamnya. Oleh karena itu aktivitas kependidikan tidak akan terlaksanakan tanpa keterlibatan peserta didik di dalamnya. Diantara komponen terpenting dalam pendidikan Islam adalah peserta didik. diajari dan atau dilatih dalam peningkatan keyakinan.16 Disisi lain. mengembangkan menggapai kemerdekaan kepribadian. 16 Samsul Nizar. 2002). Teoritis Dan Praktis. sehingga tujuan dalam pendidikan itu dapat terealisasi dengan baik. menumbuhkan kekuatan dan kemampuan dan memberikan sesuatu yang dimilikinya semaksimal mungkin. (Jakarta: Ciputat Pers. pendidikan itu berfungsi agar mereka membentuk percaya kepribadian diri dan anak. dalam perspektif pendidikan islam. Juga menimbulkan kekuatan atau ruh kreativitas. pendidikan itu bergerak untuk mewujudkan perkembangan yang sempurna dan mempersiapkannya dalam kehidupan.47 . penghayatan dan pengamalan terhadap ajaran agama Islam. pemahaman. Dalam paradigma pendidikan islam.Sebagai peserta didik adalah pihak yang hendak disiapkan untuk mencapai tujuan. hlm. Maka dari itu problem yang ada pada anak didik perlu diperhatikan untuk ditindaklanjuti dalam mengatasinya.

. lemah kemampuan berfikir jerni. maka kita jumpai adanya perilaku yang menyebabkan adanya keterkaitan antara daya pikir dan anak yang lamban belajarnya. mereka dikenal sebagai anak yang kurang pengindraannya. anak yang mempunyai kategori karakteristik seperti ini mereka juga tidak bisa berkonsentrasi dalam waktu lama. tidak adanya kemampuan beradaptasi dengan temannya. Sehingga kemampuan dalam penerapan suatu ilmu. Dan hal tersebut problem dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. seperti lemahnya daya ingat hingga mudah melupakan materi yang baru dipelajari. khususnya lemah pendengaran dan penglihatannya. b) Karakter Kelainan Daya Pikir Kelainan yang satu ini dianggap yang paling banyak yang menimpa anak berkaitan dengan kegiatan belajar. Banyak teori para pakar yang menjelaskan adanya keterkaitan erat antara kecerdasan umumnya bagi anak dan tingkat keberhasilannya dalam belajar. rendah dalam bidang kebahasaannya. santara lain: a) Karakteristik Kelainan Psikologi. Bila kita mengamati tingkat kecerdasan dari sisi lain. Fairuz Stone menjelaskan bahwa keseimbangan perkembangan anak yng tertinggal dalam belajarnya itu lebih sedikit dibandingkan teman-temanya secara umum.Adapun problem yang ada pada anak didik adalah segala yang mengakibatkan adanya kelambanan dalam belajar. Misalnya.

buruknya pengajaran. Terkadang mereka sulit berpikir secara rasional dan cenderung berdasarkan perkiraan.pemilihan. hlm. guru yang tidak memadai. materi pelajaran yang sulit sehingga tidak dapat diikuti anak. dan analisisnya rendah.30 19 Departemen Agama Republik Inonesia.Asykhs.19 17 Abdul Aziz As . Istilah-istilah tersebut besar pengaruhnya terhadap proses kegiatan belajar anak.17 2) Pendidik (Guru) Kelambanan dalam belajar kadang disebabkan oleh tidak mencukupinya kegiatan belajar mengajar. serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”. Kelambanan Dalam Belajar Dan Cara Penanggulanginnya (Jakarta: Gema Insani.18 Dalam proses pendidikan khususnya pendidikan di sekolah. 25 18 Ibid. atau tidak ada kesesuaian antara pelajaran-pelajaran yang ditetapkan dan bakat anak. Al-Qur’an Terjemah semarang CV: AlWaah . Sebagaimana dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 151 !$yϑx. $uΖù=y™ö‘r& öΝà6‹Ïù Zωθß™u‘ öΝà6ΖÏiΒ (#θè=÷Gtƒ öΝä3ø‹n=tæ $oΨÏG≈tƒ#u™ öΝà6ŠÏj. pendidikan memegang peranan yang paling utama. hlm.t“ãƒuρ ãΝà6ßϑÏk=yèãƒuρ |=≈tGÅ3ø9$# sπyϑò6Ïtø:$#ρ Νä3ßϑÏk=yèãƒuρ $¨Β öΝs9 (#θçΡθä3s? tβθßϑn=÷ès? ∩⊇∈⊇∪ u “Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah. 1991).

2005). Pendidikan dalam islam juga dikatakan sebagai siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik.21 Dari ayat tersebut sudah jelas bahwsanya pendidikan merupakan kewajiban setiap manusia. Cit. peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.20 Muhammad Fadhli Al-Djamali menyatakan bahwa pendidikan adalah orang yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik sehingga terangkat derajat kemampuannya sesuai dengan kemampuan dasar yang dimiliki oleh manusia. Seseorang dikatakan profesional bilamana pada Ahmad Tafsir. keras. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.74 21 20 Al-Qur’an Terjemah Op. Pendidikan dalam pendidikan agama islam dituntut untuk berkomitmen terhadap profesionalsme dalam mengemban tugsnya. hlm.Ayat ini menjelaskan bahwa seorang pendidik (guru) adalah pewaris Nabi yang mempunyai perana penting dalam merubah dinamika kehidupan primitif menuju kehidupan madani.. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat At. . (Bandung: Remaja Rosdakarya.Tahrim ayat 6 yang berbunyi: $pκš‰r'¯≈tƒ t⎦⎪Ï%©!$# #θãΖtΒ#u™ (#þθè% ö/ä3|¡àΡr& ö/ä3‹Î=÷δr&uρ #Y‘$tΡ $yδߊθè%uρ â¨$¨Ζ9$# äοu‘$yfÏtø:$#uρ $pκö=tæ ( n t îπs3Íׯ≈n=tΒ ÔâŸξÏî ׊#y‰Ï© ω tβθÝÁ÷ètƒ ©!$# !$tΒ öΝèδttΒr& tβθè=yèøƒuρ $tΒ tβρâs∆÷σム∩∉∪ ”Hai orang-orang yang beriman. penjaganya malaikat-malaikat yang kasar.

Karena kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan. Faktor institusional 1) Kurikulum Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan. kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang isi dan bahan pengajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelanggaraan kegiatan belajar mengajar di sekolah. b. Cit.. sikap komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja. Op. Pengertian didaktikan adalah ilmu mengajar yang memberikan prinsip-prinsip tentang cara-cara menyampaikan bahan pelajaran sehingga dikuasai dan dimiliki peserta didik. yaitu selalu berusaha memperbaiki dan pembaharui model-model yang sesuai dengan tuntutan zamannya.22 Pendidik dalam proses belajar mengajar harus menguasai serta menerapkan prinsip-prinsip didaktikan dan metodik agar usahanya dapat berhasil dengan baik dan dapat dipertanggung jawabkan. yang dilandasi oleh kesadaran tinggi bahwa tugas mendidik adalah tugas menyiapkan generasi penerus yang akan hidup pada masa zamannya. hlm. serta sikap continous improvement. 4 . Pengertian ini digaris bawahi ada empat 22 Muhamin.dirinya melekat sikap dedikatif yang tinggi terhadap tugasnya. Dalam pengertian yang sempit.

kurikulum merupakan segala kegiatan yang dirancang oleh lembaga pendidikan untuk disajikan kepada peserta didik guna mencapai tujuan pendidikan (institusional. (Bandung: Nuansa Cendekia. yang dapat mengantarkan pendidikan dalam dunia modern karena bentuknya telah tersusun secara sistematis dan terperinci. Pengembangan. adalah termasuk kurikulum dan bukan terbatas pada kegiatan belajar mengajar saja. c) Kurikulum yang tidak terorganisir dengan baik. organisasi dan strategi. 182 23 . Muhaimin. sehingga sering terjadi pengulangan pokok bahasan (materi). Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam (Pemberdayaan.23 Dari sini dapat diketahui bahwa kurikulum sangat berperan penting dalam dunia pendidikan. 2003). yaitu: a) Terlalu padatnya program yang berakibat tidak terlaksananya tujuan dari program yang direncanakan. Pengertian ini menggambarkan segala bentuk aktivitas sekolah yang sekiranya mempunyai efek bagi pengembangan peserta didik. b) Kurangnya jam pelajaran yang digunakan untuk menyelesaikan materi Pendidikan Agama Islam. Menurut Rasdianah ada beberapa kelemahan dalam pemahaman kurikulum pendidikan agama islam maupun pelaksanaanya. yaitu: tujuan.komponen pokok dalam kurikulum. Kurikulum Hingga Redefinisi Islamiah Pengetahuan). kurikuler dan intruksional). isi atau bahan. hlm. Sedangkan pengertian yang luas.

Mulyasa.hlm. d) Sistem evaluasi. (Bandung: Remaja Rosdakarya. Management berakar dari kata to manage yang baik tujuan jangka pendek. 25 . c) Pendidikan islam lebih menitik beratkan pada aspek korenspondensi tekstual. yang lebih menitik beratkan pada hafalan teks keagamaan yang sudah ada. Op. 264 E. dan jarang pertanyaan tersebut mempunyai bobot muatan ”nilai” dan ”spritual keagamaan yang fungsional dalam kehidupan sehari-hari. Cit.24 2) Manajemen Manajemen merupakan terjemahan dari kata management yang berarti pengelolaan.25 Manajemen atau pengelolaan merupakan komponen integral yang tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara 24 25 Muhaimin.Sedangkan pendapat pakar pendidikan non tarbiyah yaitu Amin Abdullah yang telah menyoroti kurikulum dan kegiatan pendidikan islam yang selama ini terjung langsung di sekolah. maupun jangka panjang. 2004).. Manajemen Berbasis Sekolah. ketatalaksanaan. hlm. b) Pendidikan islam kurang concer terhadap persoalan bagaimana mengubah pengetahuan agama yang kognitif menjadi ”makna” dan nilai yang perlu diinternalisasikan dalam diri peserta didik lewat berbagai cara dan media. menengah. antara lain: a) Pendidikan islam lebih banyak terkonsentrasi pada persoalanpersoalan teoritis keagamaan yang bersifat kognitif. bentuk-bentuk soal ujian agama islam menunjukkan prioritas utama pada aspek kognitif.

Lulusannya kurang memiliki keterampilan untuk bersaing dalam dunia kerja. Alasanya tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan dapat direalisasikan secara optimal. sehingga anggaran pembiayaan pemerintah untuk pendidikan islam jauh lebih kecil dibanding untuk pendidikan umum. Melihat kenyataan ini. baik yang dilakukan pemerintah maupun lembaga pendidikan. tetapi dari anggaran bidang agama. Manajemen pendidikan agama islam merupakan tanggung jawab departemen agama. kurang releven dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Inilah realitas yang dihadapai. Dari kerangka inilah tumbuh kesadaran untuk melakukan upaya perbaikan dan peningkatan kualitas manajemen pendidikan. efektif dan efisien. maka reformasi manajemen pendidikan islam menjadi suatu . sedangkan pendidikan islam tidak diambil dari anggara negara bidang pendidikan. dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan. sehingga hal ini mempunyai dampak pada pendanaan pendidikan. Artinya anggaran belanja negara bidang pendidikan hanya dialokasikan kepada lembaga-lembaga pendidikan umum yang berada di bawah departemen pendidikan nasional. sehingga menjadikan pendidikan islam secara umum kurang diminati dan kurang mendapat perhatian. Manajemen pendidikan islam mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematik.keseluruhan. Hal ini didukung dengan materi kurikulum dan manajemen pendidikan yang kurang memadai.

2003). perana orang tua dan masyarakat perlu dihimpun dalam satu badan sekolah yang dapat berpartisipasi dalam pembuatan keputusan sekolah. administrasi dalam mengoperasikan sekolah. Faktor tersebut berkaitan dengan kewajiban sekolah yang menawarkan keluasan pengelolaan masyarakat. 220 26 . Sebab dengan langkah-langkah berusaha pembenahan dan peningkatan profesionalisme penyelenggaraan pendidikan akan mampu menjawab berbagai tantangan dan dapat memberdayakan pendidikan islam di masa depan. Dalam hal ini pendidikan agama islam menerapkan manajemen berbasis sekolah artinya pengelolaan pendidikan mengarah kepada pengelolaan manajemen berbasi sekolah. pendidik. peranan profesioanlisme kepala sekolah.keharusan. pendidik. (Yogyakarta: Tiara Wacana. Paradigma Pendidikan Islam (Membangun Masyarakat Madani Indonesia). Bank dunia telah mengkaji beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penerapan manajemen berbais sekolah. kebijakan dan prioritas pemerintah sebagai penanggung jawab pendidikan berhak merumuskan kebijakan yang menjadi prioritas terutama yang berkaitan dengan program peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan.26 3) Sarana dan Prasarana Hujair. Penerapan manajemen berbasis sekolah juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan minat peserta didik. hlm. serta kebutuhan masyarakat setempat.

2003) hlm. Dengan demikian apabila pendidikan islam memanfaatkan dan menggunakan sarana pendidikan. 118 27 . salah satunya adalah sarana dan prasarana pendidikan agama islam.27 Sarana pendidikan agama islam diharapkan dapat memberikan konstribusi secara optimal dan berarti pada jalannya proses pendidikan. sebab pendidikan agama dalam pelaksanaannya terkait dengan berbagai komponen yang melingkupnya. halaman. diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih. Sarana dan prasrana pendidikan agama islam yang baik. taman sekolah. kursi serta peralatan dan media pengajaran yang lain. ruang kelas. rapi dan indah Muhammad Surya. Adapun yang dimaksud dengan prasarana pendidikan adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalanya proses pendidikan atau pengajaran seperti kebun. dan juga diharapkan akan memiliki moral yang baik.Masih banyak persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia kaitannya dengan keberhasilan pendidikan agama ini. (Jakarta: Mahaputra Adidaya. jalan menuju sekolah. maka peserta didik akan memiliki pemahaman yang bagus tentang materi yang diperoleh. Psikologi Pembelajaran Dan Pengajaran. meja. Sarana pendidikan agama islam adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dalam menunjang proses pendidikan khususnya proses belajar mangajar seperti gedung.

29 2) Lingkungan keluarga yang mempunyai berbagai macam faktor yaitu. Ilmu Pendidikan Islam. Faktor Eksternal Pendidikan tidak hanya terpacu pada lingkup sekolah saja. 3) Lingkungan sekolah 28 29 Ramayulis. 2002). karena perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan melalui lingkungandapat ditemukan pengaruh yang baik dan pengaruh buruk. anak yang dibesarkan dalam keluarga yang bermasalah. hlm. hlm. ana terlalu sibuk dengan pekerjaan rumah. (Jakarta: Kalam Mulia.28 c. orang tua tidak mendidika anak dengan kedisiplin waktu pada anak. 184 .sehingga menciptakan sekolah yang menyenangkan bagi pendidikan maupun peserta didik yang berada di sekolah. Psikologi Pendidikan (Jakarta Raja Grafindo Persada. Dalam problem lingkungan meliputi: 1) lingkang masyarakat yang kurang agamis. terlalu keras alam mendidik anak. lingkungan sosial berperan penting terhadap keberhasilan pendidikan agama Islam. 2004). akan mengganggu perjalanan proses belajar mengajar. Berhasil atau tidaknya pendiikan agama Islam. 181 Sumardi s. akan tetapi lingkungan selain sekolah seringkali mengambilperan penting dalam pendidikan tersebut. begitu juga dengan pendidikan agama Islam.

Pada Faktor Internal . tidak ana hubungan timbal balik yang baik antara guru dan anak didik. rendahnya tingkat persiapan guru. Pendidikan Agama Islam harus mampu menjadi ”obor” dan menjelaskan problem-problem kemanusiaan modern. guru terlalu sering mengancam anak. seperti dehumanisasi yang hanya menjadikan manusia sebagai alat produksi dan perbudakan seperti robot. Proses Dalam Mengatasi Problematika Pendidikan Agama Islam a. Khususnya paradigma warisan ideologi kapitalisme dan liberalisme. UPAYA DALAM PEMECAHAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMA WIDYA DHARMA TUREN MALANG Melihat prolem yang dihadapi manusia modern sekarang ini dengan filsafat pendidikan islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits diyakini dapat menjadi solusi alternatif dari kekacauan dunia yang ditimbulkan filsafat barat. B. anak kurang minat dengan materi pembelajaran. Bukan malah terseret arus globalisasi dan ikut-ikutan menerapkan paradigma pendidikan yang sudah terhegemoni barat. 1. kerasnya guru dalam mempengaruhi paa anak. Dalam menghadapi tantangan-tantangan global semacam itu.Dalam lingkungan sekolah sering terjadi beberapa problem yaitu. Pendidikan Agama Islam harus mampu menjadi lembaga pendidikan ”alternatif” yang dapat ”mencerahkan” manusia modern sekarang.

kurikulum. ketiga. asumsi sukses guru tergantung pada frekuensi dan intensitas aktivitas interaktif guru dengan siswa. yaitu: pertama. murid. maupun metodologi yang kesemuanya diharapkan bisa memecahkan problemproblem yang terjadi. asumsi bahwa apa pun dasar dan alasanya penampilan gurulah yang terpenting sebagai tanda memiliki wawasan. dan keempat. .Untuk menghadapi problem yang terjadi dalam dunia pendidikan agama islam yang sering terjadi diperlukan beberapa proses baik dari segi guru. Setiap masalah tidak terlepas dari proses untuk mengatasinya. Reorientasi pengembangan guru bisa ditelaah historis penelitian tentang efektivitas keberhasilan guru dalam menjalankan tugas kependidikannya. asumsi sukses guru tergantung pada kepribadiannya. Medly dalam bukunya Muhaimin berpendapat bahwa: ”Ada beberapa asumsi keberhasilan guru. sarana dan prasarana. tujuan. kedua. asumsi sukses guru tergantung pada penguasaan metode. bisa menguasai indikator. Adapun proses bisa ditinjau dari beberapa aspek yaitu: 1) Pendidik Guru pendidikan agama islam yang tingkat pendidikannya masih rendah perlu mendapatkan didikan yang lebih tinggi untuk meningkatkan profesionalisme guru dalam pengajara pendidikan agama islam. yang pada gilirannya dijadikan titik tolak dalam pengembangannya.

dan lainya” 30 2) Murid (anak didik) Siswa tidak terlepas dari yang namanya pendidikan. Beberapa hal yang perlu diproses untuk mengatasi problematika pendidikan agama islam antara lain: a) Siswa perlu dididik secara intensif b) Siswa sebagai obyek utama perlu meningkatkan daya nalar agar berpikir kritis sehingga melahirkan generasi yang cerdas. Dari beberapa analisis penulis tentang proses untuk mengatasi problematika pendidikan agama islam. Problem yang terkait dengan siswa tidak terlepas dari proses untuk menyelesaikannya karena seperti yang diuraikan proses adalah langkah awal untuk mencapai suatu tujuan yaitu menjadikan peserta didik tersebut manusia yang berbudaya dan bermoral. kedalaman spritual. Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. ( Surabaya: Pustaka Pelajar. dan penguasaan terhadap strategi belajarmengajar. ada siswa pasti ada guru. siswa adalah salah satu pokok yang terjadi dan sangat berperan penting. dan berakhlak mulia.menguasasi materi. 213-214 30 . 2003). begitu pula sebaliknya ada guru pasti ada siswa. hlm. Namun siswa adalah orang yang dididik agar mendapatkan pendidikan yang layak sehingga menjadi manusia yang berbudaya. c) Murid dan guru melakukan studi banding pada lembaga pendidikan yang kualitasnya lebih bagus dari pada lembaga Muhaimin.

b. Apalagi kurikulum adalah inti yang harus dicapai karena berhasil atau tidaknya pendidikan bisa dilihat bagaimana kurikulum yang diterapkan. adapun proses terbut adalah sebagai berikut: a) Proses pengembangan kurikulum itu sendiri yaitu. problem mengenai kurikulum akhir-akhir ini sudah menjadi problem yang sangat aktual yang diperbincangkan dalam dunia pendidikan. perlu menggali secara terus menerus tentang model-model kurikulum yang sering bergantian tiap periode. c) Dalam pengembangn harus punya prinsip-prinsip yang dilihat dari mata pelajaran apa yang diajarkan pada siswa. Dalam hal kurikulumpun tidak terlepas dari proses untuk memperbaiki pendidikan. b) Dalam menggunakan kurikulum guru harus memilih kurikulum yang tepat yang sesuai dengan visi misi lembaga agar arah penerapatnya tidak jauh berbeda. kurikulum sebagai tujuan utama yang ditingkatkan.yang ditempatinya untuk meningkatkan pengetahuan sehingga dapat memperbaiki mutu yag ada di lembaga tersebut. Faktor Institusional 1) Kurikulum Kurikulum adalah salah satu komponen penting dalam pendidikan. 2) Sarana dan prasarana .

Dengan demikian apabila pendidikan agama islam memanfaatkan dan menggunakan sarana pendidikan. ruang organisasi siswa buku-buku dan sebagainya. Sarana dan prasaran pendidikan agama islam yang baik adalah memanfaatkan mushalah untuk mempraktekkan cara beribada dan juga dapat menciptakan sekolah yang bersih. Dalam proses mengatasi problem pendidikan juga memerlukan sarana dan prasaran perlu alat bantu untuk menghadapi permasalah yang terjadi dalam dunia pendidikan agama islam. rapi dan indah sehingga menciptakan sekolah yang menyenangkan bagi pendidik maupun peserta didik yang berada di lembaga tersebut. Dari kesemuanya ini untuk mempraktekan ilmu-ilmu sebagai suatu teori yang didapat dari kelas atau dari guru agar tercapai proses belajar mengajar yang lebih efektif dan efsien. lab bahasa. faktor eksternal 1) Lingkungan masyarakat . c. dan alat bantu tersebut adalah sarana dan prasarana yang tersedia dalam pendidikan seperti komputer.Dalam proses mengatasi problematika pendidikan agama islam sarana dan prasarana pendidikan agama islam diharapkan dapat memberikan konstribusi secara optimal dan berarti pada jalannya proses pendidikan. maka peserta didik akan memiliki pemahaman yang bagus tentang materi yang diperoleh dan juga memiliki moral yang baik. lab IPA.

( jakarta: prestasi pustaka. masyarakat harus bisa memberikan contoh yang baik pada anak atau siswa agar anak didik menjadikan tauladan dan akan berampak positif terhadap perkembangan prosesbelajar anak didik baik di sekolah maupun di lingkungan masyrakat itu 2) Keluarga (orang tua) Sebagaimana yang dijelaskan pada problem di atas bahwa orang tua yang terlalu menekan anak agar selalu berprestasi di sekolah justruakan membuat anak menjadi antipatiterhadappelajaran. 39 31 . nugroho. belajar mengatasi hambatan belajar. 2007 ). Sebagai pendidik dan pengajar yang memiliki peran strategis dalam upaya W.Salah satu solusi pada problem lingkungan adalah sebagia berikut. maka dari itu orang tua harus bisa menghargai hasil dari apa yang dicapai anak. selayaknya orang tua mengahrgainya. berikan penghragaan yang sepantasnya atas prestasi yang telah diperoleh anak.31 2. hlm. adapun kendala-kendala tersebut adalah sebagai berikut: a. Faktor internal 1) Kendala Pada Guru Guru dipercaya oleh orang tua murid untuk memberikan pendidikan dan pengajaran kepada anak-anaknya. Kendala Yang Timbul Dalam Mengatasi Problematika Pendidikan Agama Islam Dalam mengatasi problem pendidikan tidak terlepas dari kendalakendala yang sering timbul.

Sistem rekrumen guru yang ada selama ini masih belum menjamin terjaringnya calon guru yang berkualitas yang menguasai bidang studi dan mempunyai motivasi yang tinggi untuk menjadi guru. Upaya pendayagunaan guru melalui pembinaan pendidikan dan pelatihan hingga saat ini belum mencapai hasil yang maksimal. Oleh karena itu guru pada semua jenis dan jenjang pendidikan dalam jumlah dan kualitas yang optimal.menanamkan dan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan peserta didik. (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya. Permasalahan yang perlu mendapat perbaikan bahwa penataran yang dilakukan oleh berbagai unit masih belum dapat memberikan kesempatan yang merata kepada semua guru khususnya retrening guru sebagai akibat perubahan kurikulum.Ali Hasan & Mukti Ali. guru merupakan faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan. 34-35 . hlm. penempatan. dan mutasi guru. pengadaan. Salah satu penyebab karena adanya ujian masuk atau seleksi hanya berupa pengetahuan umum yang sifatnya sementara.32 Pendayagunaan guru meliputi perencanaan kebutuhan. Upaya seleksi dengan ujian bidang studi dan ujian kemampuan mengajar 32 M. Di samping itu pendayagunaan guru meliputi juga peningkatan karir dan kesejahteraan guru dalam pendayagunaan guru yang merupakan kendala utama yang dihadapi adalah adanya kesenjangan antara formasi yang tersedia dengan kebutuhan nyata. Kapita Selekta Pendidikan Agama Islam. 2003).

Pendidikan merupakan sarana penting untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) dalam menjamin kelangsungan pembangunan suatu bangsa dan agama. Di tingkat SLTP/SMA wewenang sepenuhnya berada ditingkat Depdiknas. Pada masa akan datang peningkatan daya saing suatu bangsa perlu mendapat perhatian serius khususnya dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Dalam hal ini guru sebagai PNS harus menyadari bahwa selain mempunyai hak. Tentu hal ini harus diimbangi dengan anggaran yang memadai untuk mutasi. juga mempunyai kewajiban untuk taat kepada atasan dan tersedia ditempatkan di mana saja. Secara teoritis pemerataan bukanlah hal yang sulit.di depan kelas diharapkan mampu dapat memperkecil dampak yang ditimbulkan. Di tingkat SD mutasi guru ditentukan oleh Pemda\ Dinas sehingga Depdiknas mengalami kesulitan mengatur pemerataan guru SD berdasarkan kepentingan atau tuntutan proses belajar mengajar. keadaannya tidak lebih baik. guna . jenjang dan jenis pendidikan tertentu. dengan alasan yang macam-macam. Kendala lainnya adalah upaya pemindahan guru dalam rangka pemerataan. Kanwil Depdiknas belum mampu memindahkan seseorang yang kekurangan guru. 2) Kendala Pada Anak Didik Anak didik dalam UUSPN adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur.

33 M.Ali Hasan & Mukti Ali. Perkembangan pendidikan agama islam dihadapkan pada kendalakendala berkurangnya dukungan masyarakat terutama kelas menengah ke bawah untuk turut serta mensukseskannya. Faktor Institusional 1) Kendala Pada Kurikulum Ahli kurikulum seperti Print. Cit. Op. Selain itu kendala yang terjadi pada pendidikan agama islam tidak diminati karena anak didik tidak terbiasa diperhatikan oleh orang tuanya sehingga anak didik menganggap bahwa pendidikan agama islam tidak terlalu penting bagi siswa.menghasilkan anak didik yang berkualitas khususnya pada mata pelajaran agama islam dengan harga yang kompetitif. Program wajib belajar 9 tahun yang lebih direncanakan pemerintah. tetapi untuk menjadi target hasil pengembangan kurikulum. dikhawatirkan akan mengalami hambatan akibat krisis. 34-35 . Kebudayaan adalah keseluruhan totalitas cara manusia hidup dan mengembangkan pola kehidupan sehingga ia tidak saja menjadi landasan kurikulum dikembangkan. b.33 Pentingnya kebudayaan sebagai landasan bagi kurikulum.. Kedudukan kebudayaan dalam suatu proses kurikulum teramat penting tetapi dalam proses pengembangan seringkali para pengembang kurikulum kurang memperhatikannya. hlm.

Hal ini disebabkan karena anak didik selalu mengalami perkembangan. maupun pihak-pihak sekolah lainnya. Oleh karena itu. dimana perkembangan ini sedikit banyak dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan dari masing-masing peserta didik. pendidik harus tanggap dan berusaha mencari solusinya. 3. Inilah yang menjadi kendala utama dalam kurikulum sehingga dalam pendidikan agama islam tidak bisa dikembangkan seoptimal mungkin. Solusi Yang Dilakukakan Dalam Mengatasi Problematika Pendidikan Agama Islam a. Pertimbangan mengenai kebutuhan anak didik dan masyarakat sering dijawab dengan jawaban mengenai perkembangan dalam ilmu pengetahuan. kedudukan yang penting dari kebudayaan terbaik pula seperti halnya landasan lainnya yang harus diperhatikan dalam pengembangan kurikulum. segala sesuatu yang ada kaitannya dengan individu anak didik.Dalam realitas proses pengembangan kurikulum sering diwarnai oleh pengaruh pandangan para pengembangan kurikulum terhadap pengembang ilmu pengetahuan dan tekhnologi sehingga kurikulum yang diterapkan disekolah masih belum di kuasai oleh guru. Faktor Internal 1) Upaya pada Peserta Didik Dalam dunia pendidikan agama islam peserta didik merupakan salah satu faktor yang terpenting oleh karena itu. .

kebutuhan mempengaruhi hidupnya yang perkembanganya mempengaruhi berbagai aspek psikologis. Apabila peserta didik memiliki cenderung kemampuan intelegence rendah perlu diusahakan . maka langkah yang harus dilakukan meliputi: 1) Pada karakter kelainan psikologi: Mengadakan pemeriksaan medis pada anak sebelum memasuki sekolah. 2) Membentuk kelompok belajar. 2) Pada karakter kelainan daya pikir (kognitif) Pada problem tersebut maka pendidik sebaiknya mengadakan test untuk mengetahui kemampuan peserta didik. 3) Menambah jam pelajaran. 4) Mengadakan persaingan atau kompetisi 5) Memberi nasehat tentang pentingnya belajar terutama di era globalisasi ini Jika dilihat dari problem psikologis pada anak didik tidak terlepas juga dari permasalah.Adapun upaya yang ditempuh oleh pendidikn agama islam dalam mengatasi masalah tersebut adalah dengan cara memberikan motivasi belajar pada anak didik sebagai berikut: 1) Memberi tugas rumah. untuk memecahkan problem ini. juga dalam keberhasilan. Karena kebanyakan mereka memasuki taman kanak-kanak pada usia dini. sehingga dapat mencegahnya dari penyakit berbahaya yang dapat melumpuhkan saat memenuhi kekuatannya.

kondisi belajar mengajar yang efektif adalah adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar. Sedangkan motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan pencapaian tujuan atau keadaan dan kesiapan dalam individu yang tertentu. Minat merupakan suatu sifat yang relatif menetap pada diri seseorang.dengan cara jalan lain yaitu dengan menempatkan peserta didik dalam kelas yang memiliki kemampuan rata-rata yang sama. 9 . Minat ini besar sekali pengaruhnya terhadap belajar sebab dengan minat seseorang akan melakukan sesuatu yang diminatinya. sebaliknya. Uzer Usman. hlm. 2004). 3) Karakter kelainan kemauan motivasi Sesuai dengan problem yang ada pada siswa yakni rendahnya kemauan atau motivasi maka ada beberapa langkah antara lain: a) Menarik minat Melalui minat ditemukan kemauan dan motivasi karena. Menjadi Guru Profesional (Bandung: Remaja Rosdakarya.34 b) Membangkitkan motivasi siswa Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu atau keadaan seseorang atau organisme yang menyebabkan kesiapan untuk memulai serangkaian tingkah laku atau perbuatan. 34 Moh. tanpa minat seseorang tidak mungki melakukan sesuatu.

Tugas guru adalah membangkitkan motivasi anak sehingga ia mau melakukan belajar. Motivasi dapat timbul dari dalam diri individu dan dapat pula timbul akibat pengaruh dari luar. Cara menimbulkan motiv tertentu pada diri anak didik, cara menimbulkan dapat bermacam-macam, namun cara-cara yang paling efektif adalah sebagai berikut: menjelaskan tujuan yang akan dicapai dengan sejelas-jelasnya, menjelaskan pentingnya mencapai tujuan, menjelaskan insentif-insentif yang akan diperoleh akibat tindakan itu, perjalanan soal insetif ini harus benar-benar real berdasarkan bukti-bukti yang nyata.

a. Upaya pada Pendidik (Guru) Bukan rahasia lagi kalau pendidik (guru) memiliki posisi yang strategis dalam pengembangan segenap potensi yang dimiliki anak didik. Selagi ada kegiatan pembelajaran, maka disanalah pendidikan sangat dibutuhkan karena pada diri pendidiklah kejayaan dan keselamatan masa depan bangsa dan terjamin. Hal ini dikarena pendidik mempunyai kewajiban dalam membenuk pribadi yang sejahtera lahir dan batin, baik itu yang ditempuh melalui pembelajaran pendidikan agama islam maupun umum. Berkaitan dengan ini, maka pendidik harus mampu menjadi pendidik yang profesional,

berorientasi pada anak didik secara penuh dalam kreatifitas maupun aktifitas keseharian dalam pembelajaran pendidikan agama islam.

Untuk meningkatkan profesionalisme guru pendidikan agama islam, perlu ditingkatkan melelui cara sebagai berikut: 1) Mengikuti penataran-penataran Yang dimaksud dengan penataran ialah semua usaha pendidikan dan pengalaman untuk meingkatkan keahlian pendidik dan pegawai guna menyelamatkan pengetahuan dan keterampilan mereka dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan ini adalah sebagai berikut: a) Mempertinggi mutu para petugas dalam bidang posisinya masing-masing.35 b) Meningkatkan efisiensi kerja menuju kearah tercapainya hasil yang optimal c) Mengembangkan kegairahan kerja dalam meningkatkan kesejahteraan pendidik (guru).36 2) Mengikuti kursus-kursus pembelajaran Dalam menambah wawasan pendidikan agama islam disarankan juga mengikuti kursus-kursu guna untuk meningkatkan

pengetahuan dan menamabah engalaman baru. Dengan begitu pendidik akan lebih mengetahui kebutuhan peserta didik yang sesungguhnya. Terkait dengan perkembangan dunia globalisasi guru harus mampu memberikan araha yang yang bisa meningkatkan motivasi

Muhammad Djumhur Surya., Bimbingan Dan Penyuluhan Di Sekolah, (Bandung: C.V. Ilmu, 1991), hlm. 115 36 ibid., hlm. 115

35

siswa untuk belajar dan mengembangkan potensinya yaitu memberi kasih sayang. 3) Melakukan studi banding Studi banding suatu strategi yang tepat, apalagi

mengadakan studi banding guna bertukar fikiran dan pengalaman serta saling melengkapi dan mengatasi problem yang dihadapi. Dengan begitu kita mampu mengetahui kekurangan sebagai kendala kita dan kelebihan kita sekaligus dapat meningkatkan mutu pendidikan yang baik dari pendidik (guru) agama islam sendiri maupun faktor lainnya. 4) Tugas pendidik yang paling utama adalah mengajar, dalam pengertian menata lingkungan agar terjadi kegiatan belajar pada anak didik. Berbagai kasus menunjukkan bahwa di antara para pendidik banyak yang merasa dirinya sudah dapat mengajar dengan baik, meskipun tidak dapat menunjukkan alasan yang mendasari asumsi itu, asumsi keliru tersebut seringkali

menyesatkan dan menurunkan kreatifitas, sehingga banyak pendidik yang suka mengambil jalan pintas dalam pembelajaran, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi. Sedangkan pendapat Abu Ahmadi dalam meningkatkan etos kerja guru sebagai seorang pendidik terutama dalam mutu pendidikan agama, maka yang perlu diperhatikan antara lain: a) Penghasilan pendidik dalam mencukupi kebutuhan hidupnya.

Strategi Belajar (Bandung: Pustaka Setia.37 Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap guru itu ada kesanggupan dan kemampuan meningkatkan keahlian dengan usaha mereka sendiri agar sesuai dengan kebutuhan maupun tuntutan belajar mengajar di sekolah/ madrasah.38 Pendidikan harus menyadari bahwa mengajar memiliki sifat yang sangat kompleks karena melibatkan aspek pedagogis. karena itu pendidikan harus mendampingi anak didik menuju kesuksesan belajar atau kedewasaan. Aspek pedagogis menunjuk pada kenyataan bahwa mengajar disekolah berlangsung dalam suatu lingkungan pendidikan. 1992). hlm. sesuai dengan karakter materi pelajaran dan situasi belajar. 1984). 87 Suryo Subroto. dan didaktis secara bersama. c) Peningkatan profesi melalui media massa. Dimensi-dimensi Administrasi Pendidikan Di Sekolah (Jakarta: Bina Aksara. c) Seorang pendidik harus mampu menggunakan variasi metode mengajar dengan baik. psiokologis. hlm.b) Seorang pendidik memahami tabiat. Adapun peningkatan kualitas yang dilakukan secara individu sebagaimana pendapatnya Suryo Subroto yang meliputi: a) Peningkatan profesi melalui penataran b) Peningkatan profesi melalui belajar mengajar. 141 38 37 . kemampuan dan kesiapan peserta didik. Aspek psikologis menunjuk pada kenyataan bahwa anak didik yang belajar pada umumnya memiliki taraf Abu Ahmadi.

pendidikan harus memiliki pengetahuan yang cukup luas mengenai jenis-jenis belajar yang ada dan kondisi-kondisi internal peserta didik. dan tujuan yang harus mereka capai juga berbeda. kompetensi.perkembangan yang berbeda satu dengan lainnya. dengan mengingat kompetensi dasar yang harus dicapai. dan seterusnya. Oleh karena itu. meskipun adapula kondisi yang paling didomiasi dalam segala jenis belajar. seperti belajar menghafal. pendidik harus menentukan secara tepat jenis belajar yang paling berperan dalam proses pembelajaran tertentu. belajar konsep. belajar sikap. berbagai cara mengelompokkan anak didik. aspek psikologis menunjuk pada kenyataan bahwa proses belajar iu sendiri mengandung variasi. belajar keterampilan motorik. Kondisi eksternal yang harus diciptakan oleh pendidik menunjuk variasi juga dan tidak sama antara jenis belajar yang satu dengan jenis belajar yang lain. . Dengan demikian. Demikian halnya kondisi anak didik. serta kondisi eksternal yang mempengaruhinya. Perbedaan tersebut menuntut model belajar yang berbeda sesuai dengan jenis belajar yang sedang berlangsung. sehingga menuntut materi yang berbeda pula. Selain itu. Aspek didaktis. dan beraneka ragam media pembelajaran yang digunakan dengan tujuan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga tercapai tujuan yang maksimal.

pendidik dituntut untuk membuat persiapan mengajar yang efektif dan efisien. banyak pendidik yang mengambil jalan pintas dengan tidak membuat persiapan ketika mau mengajar. pendidik hendaknya memandang pembelajaran sebagai suatu sistem. maka mengganggu seluruh sistem tersebut.Tugas pendidik sebagai seorang pengajar dalam memberikan pendidikan agama islam tidak hanya terbatas pada penyampaian informasi atau materi saja kepada peserta didik. Dalam pada itu. Disamping merugikan pendidik sebagai tenaga profesional juga akan mempengaruhi perkembangan anak didik. Banyak perilaku pendidik yang negatif dan menghambat perkembangan anak didik yang diakibatkan oleh perilaku pendidikan yang suka mengambil jalan pintas dalam mengajar. sehingga pendidik mengajar tanpa persiapan. . pendidik harus memiliki kemampuan untuk memahami anak didik dengan berbagai keunikannya agar mampu membantu mereka dalam menghadapi kualitas belajar. Namun dalam kenyataannya dengan berbagai alasan. yang jika salah satu komponennya terganggu. Sesuai kemajuan dan tuntutan zaman. pendidik dituntut memahami berbagai model pembelajaran yang efektif agar dapat membimbing anak didik. Dalam kaitannya dengan perencanaan. Agar tidak tergiur untuk mengambil jalan pintas dalam mengajar.

Jika keadaan kurang siap dalam memberikan pelajaran terhadap anak didik. misalnya yang sepantasnya hal ini bisa diimplementasikan lewat minta bantuan Swadaya masyarakat (wali murid). dengan kenaikan gaji itu diharapkan juga supaya pendidik bisa mengembangkan potensi dirinya misalnya dengan membeli buku dan mengikuti kursus kependidikan. c) Pihak lembaga menyediakan buku-buku yang berkaitan dengan pendidikan agama islam agar supaya pendidik bisa mengembangkan potensi dirinya lewat membaca buku tersebut. Faktor Institusional 1) Upaya pada Kurikulum Kurikulum adalah salah satu komponen operasional pendidikan agama islam sabagai sistem materi atau disebut juga sebagai kurikulum. maka materi yang disampaikan . Jika demikian. b) Harus ada perhatian dari lembaga pendidikan terhadap pendidik dalam artinya lembaga mengusahakan untuk memberikan kesejahteraan para pendidikan. maka langkah yang harus dikembangkan potensi dirinya dan jalan keluarnya adalah sebagai berikut: a) Pemerintah menaikkan gaji para pendidik yang pegawai negeri sipil (PNS). dengan demikian diharapkan supaya para pendidik itu bisa fokus terhadap pendidikan atau profesinya sebagai seorang pendidik. b.

Upaya mengatasi kurikulum terhadap problem kurikulum maka pembuatan kurikulum haruslah memperhatikan kesesuaian kurikulum dengan perkembangan zaman pada masa kini serta masa-masa yang akan datang. kebudayaan sosial. Pustaka Setia. hlm. Pembuatan kurikulum juga harus menyeimbangkan antara teoritis dan praktis dalam keagamaan. . olah raga dan kesenian yang tersedia di sekolah bagi anak didik dan tujuan didik di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolongnya untuk perkembangan menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan pembelajaran”. Dengan demikian dapat menjadi problem dalam pembelajaran pandidikan agama islam.39 Namun merealisasikan kurikulum yang ada disuatu lembaga pendidikan bukanlah suatu hal yang mudah. sehingga peserta didik memiliki bekal dalam menghadapi kompetensi dalam kehidupan nyata yang cenderung hedonis dan materialis. 75. 1997). Ilmu Pendidikan Islam (Bandung: C.oleh pendidikan (khususnya pendidik agama islam) hendaknya mampu menjabarkan seluruh materi yang terdapat di dalam buku dan tentunya juga harus ditunjang oleh buku pegangan pendidik lainnya agar pengetahuan anak didik tidak sempit. Peserta didik harus dilatih bagaimana ia 39 Nur Uhbiyati. Disamping itu materi yang diberikan harus sesuai dengan tingkat perkembangan anak didik dan tujuan pembelajaran. sedangkan alokasi waktu untuk pembelajaran pendidikan agama islam sangat sedikit. Sesuai dengan pernyataan Nur Uhbiyati mengenai definisi kurikulum: ”Kurikulum adalah sejumlah pengalaman pembelajaran. .V.

sebab materi yang disampaikan sangat banyak berdasarkan rumusan kurikulum yang ada. jalan keluar tersebut sebagai berikut: c. Hal ini dilakukan untuk memberikan motivasi terhadap anak didik dengan cara belajar kelompok dan bisa lebih semangat dalam belajar . pendidik memiliki waktu yang cukup sehingga dapat menerangkan materi yang ada secara jelas sesuai yang direncanakan. Adapun maksud dari penambahan jam pelajaran ini agar materi pembelajaran agama islam yang disampaikan dapat terpenuhi seluruhnya. Alokasi waktu pembelajaran pendidikan agama islam yang terdapat dalam GBPP yang hanya 2 jam merupakan kendala. Penambahan jam pelajaran ini untuk mengimbangi padatnya isi kurikulum.mempraktekan teori yang ada dalam kehidupan sehari-hari sehingga peserta didik mengerti bagaimana ia nantinya harus mempraktekkannya dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu perlu penambahan jam pelajaran. Maka dari itu pendidik harus pandai mencari upaya-upaya jalan keluarnya. 2) Menganjurkan belajar kelompok Membentuk kelompok agama islam yang berpengetahuan tinggi dengan kelompok belajar agama islam yang berpengetahuannya rendah tentang agama. Faktor eksternal 1) Menambah jam pelajaran.

.pendidikan agama islam. Secara tidak langsung pendidik telah menerapkan pendidikan yang sesuai dengan tuntutan islam. Selain itu juga untuk melatih anak didik menjalin rasa persahabatan dengan temannya yang lain sehingga mereka belajar bagaimana menjalin hubungan yang erat dalam persahabatan dan kekeluargaan.

bukan berarti bahwa dalam penelitian kualitatif tidak diperbolehkan menggunakan angka. penulis menggunakan pendekatan kualitatif karena penelitian ini merupakan suatu bentuk penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif. gambaran umum yang terjadi di lapangan. Dikatakan deskriptif kualitatif karena penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil pengolahan data yang berupa katakata. hlm. Pendekatan dan Jenis Penelitian Dalam penelitian skripsi ini. dapat dipahami bahwa jika pengumpulan dan penafsiran datanya tidak menggunakan angka. 10 40 . 2002). seperti menggambarkan kondisi suatu keluarga (menyebutkan jumlah anggota keluarga. Prosesdur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek.BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. maka disebut Suharsini Arikunto. Arikunto Suharsini menjelaskan bahwa. maka penelitian tersebut dinamakan penelitian kualitatif. jika penelitian yang dalam pengumpulan data dan penafsiran hasilnya tidak menggunakan angka. Meskipun demikian. Dalam hal tertentu bisa menggunakan angka. Yang tidak diperbolehkan angka dalam hal ini adalah jika dalam pengumpulan data dan penafsiran datanya menggunakan rumus-rumus statistik. menyebutkan banyaknya biaya belanja sehari-hari.40 Berdasarkan pengertian di atas. (Jakarta: Rineka Cipta. maka penelitian tersebut dinamakan penelitian kualitatif. dan sebagainya). tentu saja bisa. Sedangkan penelitian yamg dalam pengumpulan data dan penafsiran datanya menggunakan angka.

kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif cukup rumit. jenis data yang digunakan adalah kualitatif. “yaitu suatu penelitian yang dilakukan secara intensif. penelitian ini disebut penelitian lapangan (studi kasus). Jadi tujuan penelitian kasus atau lapangan adalah mempelajari secara intensif tentang latar belakang berdasarkan keadaan sekarang. atau masyarakat. Cet II. Atau dengan bantuan orang lain yang merupakan pengumpulan data utama. gejala. yang menjadi instrument atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri.41 Dengan demikian jenis studi kasus karena penelitian akan menggali data tentang “Problematika Pendidikan Agama Islam dan Upaya-upaya Pemecahannya” sesuai dengan judul yang akan diteliti nantinya. Oleh karena itu. teinci. lembaga atau gejala tertentu. Sedangkan dalam pengumpulan dan penafsiran menggunakan angka disebut penelitian kualitatif. gejala dan fenomena yang terjadi. Instrument Penelitian Data penelitian kualitatif. kelompok. dan berdasarkan tentang suatu organisme. 9 .penelitian kualitatif. dan fenomena yang terjadi. (Jakarta: Rineka Cipta. Metode Penelitian Pendidikan. sebagaimana dinyatakan oleh Moleong (2006). karena data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah berupa gambaran. Sehingga dengan demikian. hlm. individu. 2000). interaksi lingkungan suatu unit sosial. Dan dilihat dari jenis penelitiannya. 41 S. Margono. lembaga. B. maka jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. karena jenis datanya hanya berupa gambaran. Dalam hal ini.

Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini di SMU Widya Dharma Turen-Malang yang beralamat di jl. Mayor Dammar No. Berdasarkan pada pandangan di atas. analisis. Sumber data dalam penelitian ini adalah: pertama. 167 Turen. dan pada akhirnya ia menjadi pelapor hasil penelitiannya. Pemilihan lokasi penelitian ini. Sumber Data Sumber data merupakan asal informasi yang diperoleh dalam kegiatan penelitian. pelaksana pengumpulan data. peneliti juga menggunakan alat instrument lain sebagai pendukung dengan metode pengumpulan data. Metodologi Penelitian Kualitatif. Adapun peneliti memilih lokasi ini karena tempatnya sangat strategis. yaitu: untuk mengetahui “Problematika Pendidikan Agama Islam Dan Upaya-Upaya Pemecahannya di SMA Widya Dharma Turen-Malang”. hlm. penulis berdasarkan atas beberapa hal. 2005).168 . (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. data primer 42 Lexy J Moleong. C. penafsir data. Sebagai penunjang dalam rangka mengumpulkan data. disamping sebagai instrument juga hadir untuk menemukan data yang berkaitan dengan “Problematika Pendidikan Agama Islam Dan Upaya Pemecahannya”. maka pada dasarnya kehadiran peneliti di sini.Ia sekaligus merupakan perencana. D. bisa dijangkau oleh alat transportasi sehingga memudahkan peneliti dalam proses penelitian.42 Pengertian instrument atau alat penelitian di sini tepat karena ia menjadi segalanya dari seluruh proses penelitian.

(Jakarta: Rineka Cipta. sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. 2) Peserta didik Adapun peserta didik dijadikan responden karena mereka ada keterkaitannya dengan permasalahan yang sedang dikaji. Jika sumber data tidak tepat maka akan mengakibatkan data yang terkumpul tidak relevan dengan masalah yang diteliti. Dalam penelitian ini data primer berupa data lisan dan tulisan serta catatan lapangan sebagai hasil observasi.44 Sumber data yang dapat digunakan dalam penelitian ini adalah: a. Supranto. hlm. Untuk mendapat data primer maka peneliti melakukan dengan cara observasi dan wawancara.8 Lexi. 43 44 J. op.43 Adapun yang dimaksud dengan sumber data adalah subyek dari mana data dapat diperoleh.adalah data yang dikumpulkan langsung dari sumbernya dan diolah sendiri oleh suatu organisasi atau perorangan. Data ini diperoleh dari sumber data yang tepat. Data Primer: adalah data yang didapat secara langsung dari subyek terteliti pada saat penelitian dilakukan. hlm. jadi sumber data ini menunjukkan asal informasi. Metode Ramalan Kualitatif. 112 . Menurut Lofland dan Lofland (1987:47). 1993). J. cit.. Data lisan yang diperoleh dari beberapa informen sebagai berikut: 1) Kepala sekolah dan guru Pendidikan Agama Islam Kepala sekolah dan guru Pendidikan Agama Islam yang dijadikan responden karena dianggap menguasai permasalahan yang diperlukan. Moleong.

Metode ini digunakan peneliti untuk mengamati tentang keadaan obyek penelitian dan saranan prasana serta semua fasilitas yang menunjang proses belajar mengajar Pendidikan Agama Islam. Metode observasi dapat dibagi menjadi dua macam yaitu: 45 Suharsini Arikunto. antara lain: a.45 dalam metode ini peneliti mengadakan pengamatan dan pencatatan secara langsung. hlm. Prosedur Pengumpulan Data Dalam upaya pengumpulan data yang diperlukan. Data Sekunder: adalah data yang dimaksudkan untuk melengkapi data primer yang tidak diperoleh secara langsung dari kegiatan lapangan. Metode Observasi Menurut Suharsini Arikunto mengatakan bahwa observasi adalah pengamatan yang meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indera.Adapun teknik yang digunakan dalam menentukan sampel (responden) yaitu dengan menggunakan Purposive Sample (sampel bertujuan). Cit.133 . maka penulis menggunakan beberapa metode yang dapat mempermudah penelitian ini. Op.. E. yaitu secara sengaja atas pertimbangan mantap terhadap sampel dengan alasan dapat mewakili populasi dalam memperoleh data-data serta permasalahan yang diperlukan. b.

hlm. Metodologi Reseaarch II (Yogyakarta: Yayasan Penelitian Fakultas Psikologi UGM. akan tetapi peneliti tidak mengambil tempat dalam suatu kegiatan. yaitu satu dapat melihat yang lain dan mendengarkan dengan telinga sendiri. b.1) Observasi Partisipatif Di sini peneliti terjun langsung ke lapangan dengan mengadakan pengamatan terhadap subyek yang diteliti dengan mengambil bagian sesuatu dalam suatu kegiatan. Metode interview Metode interview adalah suatu proses tanya jawab lisan yang mana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik. Wawancara ini dilakukan untuk mengurangi sedapat-dapatnya variasi atau hal yang kemungkinan bisa terjadi pada informan yang jumlahnya lebih dari satu. 2) Observasi Non Partisipatif Di sini peneliti menggunakan pendekatan-pendekatan melalui pengamatan secara langsung terhadap obyek penelitian.46 Sedangkan kebutuhan peneliti ini dalam menggunakan metode interview.192 46 . tampaknya merupakan alat pengumpulan informasi langsung tentang beberapa jenis data sosial. keluwesan untuk mengadakan pertanyaan pendalaman terbatas. Peneliti Sutrisno Hadi. 1989). Interview ini dilakukan pewawancara dengan membawa sederetan pertanyaan lengkap dan terperinci. peneliti menggunakan beberapa pendekatan antara lain: 1) Interview terpimpin adalah interview yang terikat pada pedoman penelitian yang telah disediakan sebelum kegiatan dilaksanakan.

siswa. . Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode interview bebas terpimpin. siswa. penulis hanya membawa kerangka pertanyaan beberapa hal tentang Problematikan Pendidikan Agama Islam dan Upaya Pemecahannya di SMU Widya Dharma Turen Malang. Akan tetapi dalam wawancara ini peneliti tidak membawa sederetan pertanyaan yang lengkap dan terperinci. 2) Interview tak terpimpin adalah interview yang tidak terikat pada pedoman interview untuk mengarahkan pada tanya jawab atau pokok persoalan yang terjadi pada penelitian. dan pihak-pihak sekolah lain.menggunakan data informasi guru agama. Jadi di sini peneliti benar-benar memperhatikan data-data yang telah dicatat. Peneliti menggunakan interview ini sama halnya dengan interview terpimpin yaitu untuk mendapatkan data dari informan guru agama. Namun tidak perlu ditanya secara berurutan. diwawancara maupun yang telah diteliti agar tidak tertinggal sehingga data-data tersebut bisa dimanfaankan dengan sebaik-baiknya. dan problemproblem yang ada pada lembaga tersebut. 3) Interview bebas terpimpin adalah kombinasi antara interview terpimpin dan interview tak terpimpin. Pokok-pokok yang ditanyakan yang ada dalam proses wawancara. Jenis wawancara ini kerangka dan garis besar. sehingga ada peluang mengadakan pendalaman atas pertanyaan yang diajukan. dimana dalam pelaksanaannya penulis berbicara tanpa meninggalkan pedoman yang telah dipersiapkan sebelumnya.

c. Metode Dokumentasi Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variable-variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasarti, agenda dan sebagainya.47 Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang: preoblematika pendidikan agama islam, proses untuk mengatasi problematika

pendidikan agama islam, kendala yang timbul dalam mengatasi problematika pendidikan agama islam, solusi yang dilakukan dalam mengatasi problematika pendidikan agama islam, sejarah berdirinya sekolah, struktur organisasi, perkembangan siswa, keadaan guru, tingkat pendidikannya, serta keadaan sarana dan prasanan yang dimiliki sekolah, dan lainnya yang mendukung kelengkapan data yang dibutuhkan dalam penulisan skripsi.

F. Metode Pembahasan Penulisan skripsi ini dibahas secara teoritis dan empiri. Pembahasan teoritis bersumber pada perpustakaan, yaitu dengan merujuk pada beberapa pendapat para ahli yang ada hubungannya dengan penulisan skripsi ini, sedangkan data empiris penulis peroleh dari obyek penelitian. Adapun metode pembahsan dalam bagian ini antara lain: 1. Metode Induktif Metode induktif adalah berangkat dari faktor-faktor yang khusus, peristiwa-peristiwa yang kongkrit, kemudian faktor-faktor atau peristiwa-

47

Suharsini Arikunto, Op. Cit., 2002 135

peristiwa yang khusus itu ditarik generalisasi yang mempunyai sifat umum.48 Pendapat tersebut dapatlah dipahami bahwa metode induktif adalah proses menggeneralisasikan atau menarik kesimpulan umum berdasarkan faktafakta atau peristiwa yang khusus. Sedangkan dalam kaitannya dengan pembahsan skripsi ini penulis terangkan secara terperinci 2. Metode Deduktif Metode deduktif merupakan kebalikan dari metode induktif yaitu suatu cara berfikir yang berdasarkan atas rumusan-rumusan teori yang bersifat umum kemudian ditarik kepada yang bersifat khusus. Sebagaimana yang dikemukakan oleh sutrisno hadi bahwa deduksi ini berangkat dari pengetahuan yang bersifat umum. Dan bertitik tolak pada pengetahuan yang umum itu kemudian hendaklah menilai kejadian yang khusus.49 3. Metode Reflektif Metode reflektif adalah berfikir reflektif yaitu dengan cara

mengkombinasikan antara berpikir induktif dengan berpikir deduktif.

G. Teknik Analisis Data Sebelum semua data yang diperlukan terkumpul, kemudian langkah penulis berikutnya adalah menggunakan analisis data, yaitu memperoleh gambaran atau kesimpulan yang jelas tentang permasalahan dari obyek yang diteliti.

48
49

Sutrisno Hadi, Op, Cit., hlm. 193 Ibid., hlm. 36

Metode analisis data merupakan salah satu cara yang digunakan telah dilakukan guna membuktikan dan menguji kebenarannya. Data yang telah terkumpul disusun secara teratur dalam bentuk pengujian data, dan siap untuk dianalisis dalam arti ditafsirkan, dihubung-hubungkan, dibanding-bandingkan, dan sebagainya antara golongan data yang satu dengan data yang lainnya, sehingga mudah dibaca dan dipahami dengan menggunakan metode analisis teknik tertentu. Dalam menganalisis data penulis menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif dimana peneliti ini adalah menggambarkan atau melukiskan secara nyata bagaimana setelah data-data terkumpul kemudian dianalisa, dicari jawaban yang sesuai dengan permasalahan di atas.50 Penelitian diskriptif ialah penelitian non hipotesis sebagaimana pendapat Suharsini Arakunto yang mengemukakan bahwa penelitian deskriptif itu untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan apa adanya tentang suatu variable, gejala, atau keadaan. Analisis deskriptif kualitatif merupkan suatu teknik yang

menggambarkan, menguraikan, dan menginterpresentasikan arti data-data yang terkumpul dengan memberi perhatian dan merekam sebanyak mungkin aspek situasi yang observasi, sehingga memperoleh gambaran secara umum dan menyeluruh tentang keadaan yang sebenarnya. Menurut muhammad nizar bahwa tujuan deskriptif ini ialah untuk membuat deskriptif, lukisan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki.51
50 51

Suharsini Arikunto, Op. Cit., hlm. 213 Muhammad Nizar, Op, Cit., hlm. 63

membandingkan hasil penelitian dengan hasil perhitungan dengan menggunakan metode analisis yang berbeda. 125 54 Ida Bagoes Mantra. diartikan sebagai pengecekan keabsahan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara. 2005). dengan cara ini maka analisanya bersumber dari hasil interview yang ada hubungannya dengan pokok bahasan di atas yaitu mengkombinasi antara befikir dedukatif dan induktif untuk kemudian ditarik kesimpulan. (Bandung: Trasito. (Bandung: Alfabet. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif . H.53 Moleong yang dikutip dari bukunya ida bagoes mantra mengemukakn. 91 53 52 . Filsafat Penelitian Dan Metode Penelitian Sosial. 2004).52 Maka dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa tekni untuk mengetahui validitas data dengan mengadakan beberapa hal antara lain: 1. Penegecekan Keabsahan Data Pengecekan keabsahan temuan atau juga dikenal dengan validatas data merupakan pembuktian bahwa apa yang telah di amati oleh penelitian sesuai dengan apa yang sesungguhnya yang ada di lapangan (dunia kenyata). Memahami Penelitian Kualitatif. 105 Sugiono. Triangulasi. hlm.Untuk menganalisa data yang bersifat kualitatif ini akan digunakan teknik reflektif thinking yaitu dengan mengkombinasikan cara berfikir dedukatif dan indukatif. dan apakah penjelasan yang diberikan tentang dunia memang sesuai dengan yang sebenarnya ada atau tidak.54 Nasution. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1996). hlm. hlm. dan waktu.

menginterpresentasikan dan memaknai data secara tertulis. Member chek dilakukan segera setelah draf skripsi sesudah jadi secara utuh. persiapan merupakan unsur-unsur yang sangat penting. Tahap-tahap Penelitian Untuk mendapatkan data tentang problematika pendidikan agama islam dan upaya pemecahannya. hlm. 128 . Op. adanya pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan oleh peneliti.. kemudian mendeskripsikan. I. ditanggapi. Begitu juga dalam kegiatan penelitian. memggunakan bahan reference. Sehubungan dengan judul dan rumusan 55 Sugiono. Lebih jelasnya langkah-langkah dalam penelitian ini adalah sebagaimana di bawah ini: 1. 3. penulis mendatangi langsung obyek penelitian dan pengambil data-data yang diperlukan dengan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data. member chek.2. kemudian dikembalikan kepada sumber data untuk diperiksa kebenaran. adalah proses pengecekan keabsahan data yang diperoleh peneliti kepada pemberi wawasan atau menuntut hasil pengamatan atau pengamatan atau mempelajari dokumen. Cit.55peneliti memperoleh data mengenai “Problematika Pendidikan Agama Islam dan Upaya-upaya Pemecahannya”. dan jika perlu ada penambahan data baru. persiapan merupakan unsur yang diperlukan diperhitungkan dengan baik sebab yang baik akan memperlancar jalannya penelitian. Persiapan Dalam suatu kegiatan.

Pelaksanaan Setelah persiapan dianggap matang. dan dokumentasi. Penyelesaian Setelah kegiatan peneliti selesai. maka tahap selanjjutnya adalah melaksanakan penelitian.masalah yang telah disebutkan pada bab terdahulu. yaitu analisis data dilakukan dengan menata dan menelan secara sistematis semua data yang diperoleh. 3. penulis mulai menysun kerangka laporan hasil penelitian dengan mentabulasikan dan menganalisis data yang telah diperoleh dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif. . Kemudian dari hasil penelitian tersebut dibahas dengan menggunakan teori-teori yang sudah ada pada bab sebelumnya. Dalam pelaksanaan tahap ini penelitian mengumpulkan data-data yang diperlukan dengan menggunakan beberapa metode antara lain: wawancara. 2. interview. maka persiapan dalam melaksanakan penelitian ini adalah menyusun rencana penelitian dalam bentuk proposal penelitian problematika pendidikan agama islam dan upaya pemecahannya kemudian mengurus surat pengantar izin melaksanakan penelitian dan mempersiapkan instrumen penelitian.

yaitu bahwa sekolah swasta harus mempunyai ciri khas. karena sejak berdirinya sampai sekarang mengalami 5 sampai 6 kali perubahan nama seiring dengan situasi dn kondisi negara serta adanya perkembangan pendidikan. Tahun 1984-200 e. Tahun 1974-1979 c. Sejarah singkat berdirinya SMA Widya Dharma Turen SMU Widya Dharma Turen yang sejak berdirinya bersama SMA PGRI Turen mempunyai sejarah yang menarik. yang disusul dengan akreditasi pertama pada tahun 1985 yang mana setelah diadakan . Atas dasar itu yayasan pendidikan SMA Widya Dharma Turen berubah menjadi yayasan pendidikan Widya Dharma Turen dengan Akte Notaris G. Perubahan nama sekolah yang dimaksud adalah sebagai berikut: a. Tahun 1963-1973 b. Hal ini merupakan ketentuan yang diterima kepala sekolah saat penataran kepala sekolah SMU Swasta di Cilot. Tahun 1980-1983 d. Kamarudzaman No 115 tanggal 21 januari 1983. LATAR BELAKANG OBJEK PENELITIAN 1. Sekolah SMA Widya Dharma Turen di Jawa Timur. Jakarta pada Tahun 1980. Tahun 2001-2003 : SMA PGRI Turen : SMA Turen : SMA Bersubsidi : SMA Widya Dharma : SMU Widya Dharma Turen f. Tahun 2003-sekarang : kembali lagi ke SMA Widya Dharma Turen SMA Widya Dharma merupakan tuntutan dari pemerintah.BAB IV HASIL PENELITIAN A.

agar sekolah tetap menarik. SMA Cor Yesus. Jadi boleh dikatakan tanpa dinilai atau diakreditasipun SMA Widya Dharma Turen memang sudah termasuk yang diperhitungkan untuk menjadi SMA yang berkualitas dibanding SMA lainnya. agar memudahkan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang efektif. yaitu pada pelaksanaan Ebtanas 1980-an dalam rangka menghadapi problem kelulusan. SMA Islam). pemerintah menaikkan norma syarat lulusan. Lulusan SMA Widya Dharma Turen saat ini tidak banyak . dan satu sekolah di kabupaten malang yaitu SMA Widya Dharama Turen. yang mengakibatkan jatuhnya SMA-SMA swasta di Jawa Timur terutama yang memilih program A1 (ilmu-ilmu fisika) dan A2 (ilmu-ilmu biologi). mengolah sekolah swasta harus selalu efektif dan kreatif dalam melaksanakan tugas. Adapun pihak SMA Widya Dharma Turen yang baru khususnya guru-guru. Atas dasar itu sekolah menerapkan disiplin dan tertib disegala bidang. SMA Santa Maria. SMA Santeyusuf. karena banyak siswa dari progaram A1 dan A2 yang tidak lulus. malang hanya enam sekolah yaitu: 5 SMA di kodya (SAMK Dempu.penilaian SMA Widya Dharma Turen ini termasuk 20 SMA swasta se Jawa Timur yang diberi status disamakan oleh Mentri pendidikan dan kebudayaan RI. Dalam mengelolah sekolah SMA Widya Dharma Turen mempunyai banyak cerita yang menarik yang salah satunya adalah tentang pedoman pengelolaan sekolah. perlu hal ini dikaji bahwa status disamakan itu kategorinya adalah sangat baik. Di samping itu sekolah berpedoman. Karena itulah dikatakan SMA swasta faforit sampai sekarang. Dengan demikian dari 20 SMA itu.

Tentang prestasi sekolah. ada 4 program. selalu mendapatkan 4 besar dalam lomba baik ditingkat kabupaten atau kota sampai dengan jawa timur. A2 (IIB:Ilmu-ilmu Biologi). Kebanyakan SMA swasta yang lain hanya memilki 2 sampai 3 program saja. maka dapat merubah hasil lulusan yang berprestasi. hal ini tidak dimilki SMA pada umumnya. dan tahun 1995 dan 2000 dengan hasil disamakan atau nilai amat baik. Misalnya lomba Matematika. pelaksanaan KBM yang efektif didukung disiplin dan tertib di segala bidang serta menerapkan norma kenaikan dan lulusan dengan baik. . Bahasa Inggris. Fisika. sudah tidak bisa dipungkiri bahwa sejak dulu sampai sekarang ini tidak mengecewakan. Dengan demikian. karena sudah dibiasakan untuk menjuruskan ke program A2 dengan ketat. SMA Widya Dharma sampai sekarang sudah mengikuti akreditasi sampai empat kali pada tahun 1985.mengalami perubahan. Bahwasannya SMA Widya Dharma Turen menggunakan kurikulum 1984. sehingga yang dapat masuk program A1 dan A2 tidak menghawatirkan dalam Ebtanas. yaitu A1 (IIF: Ilmu-ilmu fisika). A3 (IIS: Ilmu-ilmu Sosial) dan A4 (IIB: Pengetahuan Budaya). disesuaikan dengan dana yang ada. Jadi meskipun ada problem yang timbul dalam Ebtanas sekolah tidak goyah. 1990. Adapun masalah perkembanga gedung sejak 1977 sampai sekarang dilaksanakan secara bertahap.

Meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan c. Meningkatkan bimbingan di luar jam sekolah g. Meningkatkan kemampuan guru dalam rangka menguasai metode pembelajaran yang berorientasi life skill d. bahasa jepang. tata rias. Meningkatkan disiplin kepada Tuhan Yang Maha Esa b. Pengembangan sistem jaringan sekolah f. Meningkatkan pelatihan: computer.2. Meningkatkan kegiatan ektrakulikuler . bahasa inggris. Visi dan Misi SMA Widya Dharma Turen VISI: Mewujudkan Sekolah Yang Berkualitas MISI: a. Meningkatkan layanan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan audio visual e. dll h.

KOMP EKSTRA KULIKULER DANSOS GURU SISWA 56 Dokumentasi SMA Widya Dharma Turen 2008-2009 . Struktur Organisai GAMBAR 1 STRUKTUR ORGANISASI SMA WIDYA DHARMA TUREN 2008-200956 KEPALA SEKOLAH TATA KOORDINATOR WAKASEK KURIKULUM WAKASEK KESISWAAN WAKASEK SARANA WAKASEK HUMAS STAF KURIKULUM STAF KESISWAAN KOORDINATOR MGMP KEPUTRIAN WALI KELAS BP / BK PERPUSTAKAAN LABORATORIUM IPA – BHS .3.

Dan siswa bisa memperoleh apa yang menjadi tujuan dalam belajarnya. Perpustakaan dan operasional lainnya. SMA Widya Dharma Turen saat ini memliki 56 guru dan 27 karyawan yang terdiri dari karyawan TU. para guru yang ada di SMA Widya Dharma menjalankan peran dan tugasnya dalam mengajar memiliki latar belakang yang sesuai dengan bidang kependidikan masing-masing. salah satunya dilakukan melalui penambahan dan pembinaan tenaga pendidik yang sesuai dengan kompetensinya dengan harapan bahwa problema yang timbul dalam proses belajar mengajar bisa teratasi dengan baik. maka lembaga pendidikan ini terus berbenah diri.4. para guru mengakui bahwa untuk memecahkan problem yang ada di SMA Widya Dharma Turen . Sesuai dengan kompetensi dan profesionalisme guru. Keadaan Guru dan Karyawan SMA Widya Dharma Turen Guru merupakan pembimbing langsung anak didik di dalam kelas sehingga peran dan keberadaan guru sangat mempengaruhi kelangsungan siswa dalam belajar. Hasil observasi peneliti. ada juga guru yang masih menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau sarjana strata dua (S2). tidak hanya itu saja SMA Widya Dharma juga menambah karyawan sebagai bentuk penataan dan perwujudan menuju lembaga pendidikan yang berkualitas. yang mana sebagian besar dari mereka telah menempuh jenjang pendidikan sarjana strata satu (SI). kualitas kelulusan juga tergantung bagaimana guru mengajar secara profesional Seiring dengan perkembangan serta semakin pesatnya kemajuan SMA Widya Dharma.

demikian pula dengan tenaga kepegawaian yang ada di lembaga ini. untuk SMA Widya Dharma Turen Malang terus berusaha melakukan peningkatan SDM terhadap karyawannya dengan cara pembinaan kerja dan memperhatikan kesejahteraan hidup mereka. Mengenai jumlah guru dan karyawan dapat dilihat pada tabelnya tentang keberadaan guru di lembaga ini memang dibagi menjadi 2 ada yang bersifat tetap/pegawai negeri dan yang kedua sebagai tenaga honorer. Kebanyakan dari para guru yang ada di lembaga ini lulusan/alumni perguruan tinggi yang ada di jawa timur. selain itu seorang guru juga harus memiliki modal keilmuan yang matang dan sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Sumber Data Dokumentasi Dan Wawancara Dengan staf TU SMA Widya Dharma Turen Tanggal 21 November. Kerja sama yang baik antara guru yang bersifat tetap maupun yang tidak tetap ini ternyata tidak menutup kemungkinaan untuk bisa menciptakan lingkungan yang dapat menjamin kelangsungan kegiatan pembelajaran yang lebih baik dan lebih kondusif. khususnya dari daerah Malang.57 Selain keberadaan guru dan karyawan di SMA Widya Dharma juga memiliki arti yang sangat penting dalam membantu kelancaran proses pendidikan adanya kualitas kinerja karyawan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya tentunya sangat dibutuhkan oleh berbagai pihak yang terkait dengan proses pendidikan itu sendiri. 2008 57 .Malang ini saling membantu antara guru yang ngajar mata pelajaran lain dengan guru yang ngajar mata pelajaran pendidikan agama islam.

BP/BK / Koor BK / Pend. F Mipa.TABEL 1. Bahasa Akademik BHS. 131405886 5 Dra. Bahasa Inggris/Koor Asing BA.Pd. BP/BK 58 Keterangan Non PNS Non PNS PNS PNS PNS PNS Non PNS Non PNS Non PNS Non PNS Non PNS PNS Non PNS Non PNS PNS Dokumentasi SMA Widya Dharma Turen 2008-2009 . IKIP Mlg Ekonomi /Koor Ilmu Sosial. Kimia /Koor Penilaian Mipa Kimia IKIP 1320099357 + Lab IPA Negeri Mlg 13 Dra. BHS.Abu Bakar. Kewarganegaraan. Bahasa Indonesia/Koor Sastra Bhs. IKIP.Elok Sanyoto. S. Inggris Blng 7 Drs. Pendidikan Sosiologi Sejarah Nas.Siti Maisaroh. Sejarah Nasional. LAB BAH + B. 9 Titik Mustikowati.Rina Juniarsi. Bahasa Inggris. PPKN /Wak Kur Kewarganegaraan . STKIP 8 Suliono. Pend. Drs.Endri Mulyati Sosiologi Pend. Sarjana Muda. S. 130900425 Piket Indonesia. Mlg 2 Samsul Hadi. PPKN IKIP PGRI Mlg Ekonomi UM 14 Dewu Rini Akutansi + Ambarwti. BA. IKIP 4 Drs. Ilmu Peng. Sejarah Pendidikan Sejarah IKIP Negeri 3 Titik Wahyuni.Prihadi Hendro Ketrampilan Mlg Rudhito. BA. Kimia. Agama Kristen. Kewiausahaan (MULOK) Koor Kopsis 15 Drs. Kimia Ilmu Eksekta 131614188 IKIP Mlg 6 Ananta Santi.1 DAFTAR NAMA GURU SMA WIDYA DHARMA TUREN TAHUN PELAJARAN 2008-200958 Pendidikan Kode Nama/NIP Bidang Studi/Mata Terakhir Pelajaran yang Diajarkan 1 Tri Djoko Kusminto. Pendidikan Kristen Pend. UNEJ 11 Dra. Perancis/Wak Sarana Asing Akademik Bhs. Bahasa Inggris UT. Vokalia 10 Musalamah BA. Drs.PinastiHendrawati. PMP dan KN IKIP PGRI 12 Dra.Pd.

Pd Rini Dwi H. S. Seni Rupa IKIP Mlg FIPS Geograrafi IKIP PGRI FPMIPA IKIP Budi Utomo Mlg FPMIPA UMM Pend. Sosial Non PNS IKIP PGRI FMIPA IKIP Mlg PNS FKIP Umm FMIPA IKPI PGRI Psikologi Univ. Bhs Inggris IKIP PGRI Olah Raga Budi Utomo Mlg Pend. BP/Bk / Koor Dansos/ PAG Kris Ekonomi Geografi / Wak Kesiswaan Kewarganegaraan PPKN Sosiologi / HUMAS Fisika 131158166 Dra. Koliq. Biologi 131466205 Drs.Pd. Lutfiono. IKIP PNS Non PNS Non Pns Non PNS Non PNS Non PNS 26 27 Drs. Ekonometri / Wak KUR Joko Sukisworo S. Sej. Kes. Wahyuni Rini P Bahasa Inggris Non PNS 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 Drs. S. Jas. FBBS IKIP PGRI Bhs.Pd.Pd. 17-8-45 FP IPS Akuntansi IKIP Negeri Mlg IPS Geografi IKIP PGRI Kewarganegaraan . Sosio Antropologi Dra Endah Ernayani.Pd. S. Suciati Matematika Yeni Jektiningsih S. Geografi IKIP PGRI Peternakan STIKIP PGRI PAS. Bahasa Indonesia . Biologi 12171520 Atik Siswanti. FBBS Pend. Agung Raharjo Ariyanto.Pd.Pd. Suparlan 132280924 Atmitko Pratnawihardi. S. S.Pd. Tiktoyo Ekonomi. Eny Widayati. S. 040505837 Relia Widaryati S. IKIP PGRI IPS. Rudi Hartono. Nas.Pd.Pd. S. Pendidikan Seni Geogarfi Matematika Matematika BP/BK Fisika Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia Non PNS Non PNS Non PNS PNS Non PNS PNS Non PNS Non PNS Non PNS Non PNS Mamik Caturwati. M.Intan Altina PNS Non Pns 28 Dra. S. S.16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Ekstra Sej. Drs. BP/BK IKIP PGRI KIP Fisika Unej. S. 6513101008 Ir.Pd. Non PNS IKIP Mlg Biologi IKIP Mlg PNS Ilmu. Indo IKIP Mlg FKIP. PPKN IKIP PGRI Fips. Supriono. Bahasa Inggris 132700892 Dra. S.Pd.Pd. Nasional. Peng. M.Sri Sukmawati. Pend. Abdul Kholiq.Pd. Wiwik Indah.

Pd. Jasamani B.Pd. Seni dan Budaya FBBS.39 40 41 42 43 44 Sri Sulastri. Tek. S. PPKN / Staf Kesiswaan PMP/Kn IKIP PGRI Matematika Mipa UM Fisika Mipa UM Non PNS PNS Non PNS Non PNS Non PNS PNS 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 Tarbiyah/PAI Unisma Tarbiyah/PAI IAIN Mlg FKIP Bisnis Tataniaga PT UNS Rochma Ulfi F. Tek. S. S. Agama Islam Wiyoto. Pendidikan Agama Islam/Koordinator Drs. yang belum PNS sebanyak 40 orang. namun datanya ada yang belum masuk pada buku induk inventaris sekolah Widya Dharma Turen. Drs.Pd. Rimbun Kularso Ekonomi + 6513100979 Kewirausahaan (Mulok) Abdul Halim. bahwa guru SMA Widya Dharma Turen yang sudah PNS 16 orang namun. Drs. Ali. Sita BASEP - Pendidikan Agama Islam Muh. Tedjowati. UM Waris Suwarno. S. PPKN. S. . Kom. Pend.Ag Pend. KH. Geogarafi FPIPS. IKIP Negeri Mlg Aulia Kurnia.Pd Sejarah Sastra. Komputer / Tek. S. Nawang Bahasa Inggris / F Pend. Infor. ST. Arik Susianto. Walaupun guru belum PNS tapi dalam hal mengajar sudah mencapai standar kualifikasi yang profesional. Jasmani Titik. Beliau tersebut sudah menempuh di perguruan tinggi yang berada di Jawa Timur. IKIP 13214449 Juma’ali S. Infor.Pd Pend.Pd.Ag. 350709070770003 Octavia Eko Susanti. Komputer / Analisis Programer Menejemen STIKI Wuryanto. 13032680 Convrsation IKIP Mlg Imam Tabroni.Pd Bahasa Indonesia / Fkip S-P Wakasek Kesiswa Teguh Hendri Kimia MIPA. Industri Koordinatoor Kimia Kanjuruan Dra. S. Non PNS PNS Non PNS PNS Non PNS Non PNS Non PNS Non PNS - Dari hasil paparan Tabel dia atas. Drs. S. UM Suhardi. S.

U Petugas. Fahrurrozi Elmi Amalia Mulyo Sri Rahayu Sumadi Saib Sugito Slamet Pirit Mugeni Suharyono Sugeng Jabatan ka.komp Petugas.U T. dan motivator. pemimpin inovator.U T. komp Petugas.2 KEADAAN KARYAWAN SMA WIDYA DHARMA TUREN 2008-200959 Kode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 -17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Nama EndangwarDaningsih Darminingsih Hariadi Siono Ernawati SriKasih Bambang Sungkono Slamet Budiono Sutik Elia Dwi Martastuti Johan Wijaya Lilik Masita Rini Imam kholil Wanda Santiawan Ani Yuli Prianti Nur Hatib Fendi Suharsono M.U T. . Tugas Dan Tanggung Jawab Kepala dan Guru a.U T. Perpust Petugas.TABEL 1. komp Petugas komp Petugas. manajer administrasi dan supervisor.U T.U T.U T. 59 Dokumentasi SMA Widya Dharma Turen Tahun 2008-2009.koperasi Driver Pesuruh Pesuruh Pesuruh Pesuruh Satpam Satpam keteranagan - 5. Perpus Petugas.U T.U T.koprsi Petugas. Adapun tugastugas yang dilaksanakan kepala sekolah adalah sebagai berikut: 1) Kepala sekolah sebagai educator. Kepala sekolah Kepala sekolah bertugas sebagai educator.U T.U T. T.

ketenagaan. keuangan atau RAPBS. kesiswaan. sarana dan prasarana. 2) Kepala sekolah selaku manajer Adapun tugas kepala sekolah selaku manajer adalah sebagai berikut: a) Menyusun perencanaan b) Mengorganisasikan kegiatan c) Mengarahkan kegiatan d) Melaksanakan pengawasan e) Melakukan evaluasi terhadap kegiatan f) Menentukan kebijaksanaan g) Mengadakan rapat h) Mengambil keputusan dan mengatur proses belajar mengajar i) Mengatur administrasi: ketatausahaan. k) Mengatur hubungan sekolah dengan masyarakat dan instansi yang terkait.Adapun tugas kepala sekolah sebagai educator bertugas melaksanakan proses belajar secara efektif dan efisien dengan memantau bagaimana guru mengajar dan keadaan siswa dalam kelas sehingga kepala sekolah bisa memberikan motivasi agar perkembangan proses belajar mengajar semakin meningkan. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi problem yang berkaitan dengan proses belajar mengajar. . j) Mengatur organisasi siswa intra sekolah (OSIS).

3) Kepala sekolah selaku administrator menyelenggarakan administrasi adalah sebagai berikut: a) Perencanaa b) Pengorganisasian c) Pengarahan d) Pengkoordinasian e) Pengawasan f) Kurikulum g) Kesiswaan h) Ketatausahaan 4) Kepala sekolah selaku supervisor bertugas menyelenggarakan supervisi mengenai: a) Proses belajar mengajar b) Kegiatan bimbingan konseling c) Kegiatan ekstrakurikuler d) Kegiatan ketatausahaan e) Kegiatan kerjasama dengan masyarakat dan instansi yang terkait f) Kegiatan osis 5) Kepala sekolah sebagai inovator a) Melakukan pembaharuan bidang b) Melaksanakan pembinaan guru dan karyawan c) Melakukan pembaharuan dalam menggali sumber daya di BP3 d) Tugas wakil kepala sekolah .

7) Pengorganisasian 8) Pengarahan 9) Ketenangan 10) Pengkordiasian 11) Pengawasan 12) Penilaian 13) Identifikasi dan pengumpulan data. Selain kegiatan-kegiatan di atas. membuat program kegiatan dan pelaksanaan program.Wakil kepala sekolah mempunyai peran penting dalam membantu kepala sekolah dalam mengatasi problem-problem atau kegiatan yang ada di lemabag tersebut adalah sebagai berikut: 6) Menyusun perencanaan. wakil kepala sekolah membantu kepala sekolah dalam hal sebagai berikut: 1) Waka kurikulum a) Menyusun dan menjabarkan kelender pendidikan b) Menyusun pembagian tugas-tugas guru dan jadwal pelajaran c) Mengatur penysunan program pengajaran tahunan (Prota) d) Mengatur penysunan program pengajaran semester (Promes) 2) Waka kesiswaan 3) Waka sarana dan prasarana 4) Hubungan dengan masyarakat (Humas) .

Wali kelas Wali kelas salah satu mediator yang selalu memantau siswa dari dekat dan membantu kepala sekolah dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut: . dan ulangan akhir 4) Melaksanakan analisis hasil ulangan harian 5) Menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan 6) Mengisi daftar nilai siswa 7) Melaksanakan kegiatan membimbing (pengimbasan pengetahuan) kepada guru lain dalam proses belajar mengajar 8) Membuat alat pelajaran. alat media 9) Menumbuh kembangkan sikap menghargai karya seni 10) Mengikuti kegiatan pengembangan dan persyaratan kurikulum 11) Membuat catatan tentang kemajuan hasil belajar siswa 12) Mengisi dan meneliti daftar hadir siswa sebelum memulai pengajaran c. ulangan umum.b. Tugas guru Guru bertanggung jawab kepada kepala sekolah dan mempunyai tugas untuk melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar secara efektif dan efisien. Tugas dan tanggung jawab guru di SMA Widya Dharma Turen meliputi: 1) Membuat perangkat program pengajaran 2) Melaksanakan kegiatan pembelajaran 3) Melaksanakan kegiatan penilaian proses belajar ulangan harian.

maka dari itu bimbingan dan konseling tugas adalah sebagai berikut: 1) Penyusunan program dan pelaksanaan bimbingan dan konseling 2) Koordinasi dengan wali kelas dalam rangka mengatasi problemproblem yang dihadapi siswa tentang kesulitan belajar . Dalam hal ini siswa yang akan bermasalah akan di upayakan untuk menyelesaikan masalahnya. Guru Bimbingan Dan Konseling (BK) Bimbingan dan konseling untuk mengetahui perkembangan siswa yang mempunyai problem baik dalam hal belajar maupun dalam lingkup sosial.1) Pengelolaan kelas 2) Penyelenggaraan administrasi kelas meliputi: a) Dena tempat duduk siswa b) Papan absen siswa c) Daftar pelajaran kelas d) Daftar piket kelas siswa e) Buku absensi siswa f) Buku kegiatan pembelajaran g) Tata tertib siswa 3) Penyusunan pembuatan statistik bulanan siswa 4) Mengisi daftar kumpulan nilai siswa 5) Pencatatan mutasi siswa 6) Pengisian laporan penilaian hasil belajar 7) Pembagian buku laporan penilaian hasil belajar d.

3) Memberikan layanan dan bimbingan kepada siswa dalam pemecahan problematikan dalam kegiatan belajar. f. Pustakawan Pustakawan sekolah membantu kepala sekolah dalam kegiatankegiatan sebagai beriku: 1) Perencanaan pengadaan buku-buku atau baha pustaka lainnya 2) Mengurus pelayanan perpustakaan 3) Perencanaan pengembangan pustakaan 4) Pemeliharaan dan perbaikan buku-buku yang ada di perputakaan 5) Investasi dan pengadministrasian buku-buku dan alat-alat perpustakaan lainnya 6) Melakukan pelayanan kebutuhan siswa di perpustakaan 7) Menyusun tata tertib bukuk-buku di perpustakaan 8) Menyusssun laporan pelaksanaan kegiatan perpustakaan kegiatan perpustakaan secara berkala. Laboran Kepala tata uasaha sekolah mempunyai tugas melaksanakan ketatausahaan sekolah. dan bertanggung jawa kepada kela sekolah dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut: 1) Menyusun program kerja tata usaha sekolah . 4) Memberikan saran dan pertimbangan kepada siswa dalam memperoleh gambaran tentang lanjutan pendidikan dan lapangan kerja 5) Melaksanakan kegiatan analisis hasil evaluasi belajar e.

2) Mengolah keuangan sekolah 3) Pengurusan administrasi ketenagaan dan siswa 4) Pembinaan dan pengembangan karir pegawai tata usaha sekolah 5) Menyusun administrasi perlengkapan sekolah 6) Penyusun dan penyajian data sekolah g. Kepala Tata Usaha Kepala tata usaha sekolah SMA Widya Dharma Turen Malang mempunyai tugas melaksanakan ketatausahaan sekolah dan bertanggung jawab kepada kepala sekolah dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut: 1) Menyusun program kerja tata usaha sekolah 2) Pengelolaan keuangan sekolah 3) Pengurusan administrasi ketenagaan dan siswa 4) Pembinaan dan karir pegawai tata usaha sekolah 5) Penyusun administrasi perlengkapan sekolah 6) Penyusun laporan pelaksanaan kegiatan pengurusan ketatausahaan secara berkala h. Tekhnis media Teknisi media membantu kepala sekolah dalam kegiatankegiatan sebagai berikut: 1) Merencanakan pengadaan alat-alat media 2) Menyusun jadwal dan tata tertib penggunaan media 3) Menyusun programkegiatan teknisi media .

dan perbaikan alat-alat media inventarisasi dan administrasian alat media 5) Menyusun laporan pemanfaatan alat-alat media 6. sehingga secara keseluruhan jumlah ruang belajar di SMA Widya Dharma Turen terdiri dari 21 ruang belajar belum termasuk ruang Lab dan ruang praktek lain. dan kelas XII. Pembinaan dan pelatihan siswa di SMA widya Dharma Turen dimulai sejak kelas bawah/kelas X. TABEL 3 . Bahwa SMA Widya Dharma Turen tahun ajaran 2008/2009 sampai sekarang nominal yang tinggi sekecamatan Turen. mayoritas siswa SMA Widya Dharma Turen berasal dari kecamatan Turen sendiri. Dan untuk kelas X masih belum ada pembagian jurusan karena siswa baru masih dididik untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah.4) Mengatur penyimpanan. pemeliharaan. dan masing-masing kelas terdiri dari tujuh ruang belajar. kelas XI. Hal tersebut dimaksudkan agar tingkat pengetahuan bisa diketahui sesuai yang mereka miliki secara jelas dapat disalurkan melalui pemilihan jurusan di kelas atas/kelas XI nantinya. jurusan IPA dan jurusan Bahasa. setiap ruang belajar menampung kurang lebih 42 siswa. yaitu kelas X. karena di SMA Widya Dharma Turen ini telah memiliki tiga jurusan yang terdiri dari jurusan IPS. secara keseluruhan jumlah siswa terbagi dalam tiga kelas. Keadaan Siswa SMA Widya Dharma Turen Keberadaan siswa merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kegiatan proses belajar mengajar. yaitu 601 siswa yang terdiri dari 280 laki-laki dan 321 siswi putri.

2008 60 . Terkait dengan semakin menurunnya jumlah siswa di SMA Widya Dharma Turen dari hasil wawancara peneliti dengan ibu EndangwarDaningsih (ka. Hal ini disebabkan karena perkembangan dunia pendidikan di Kecamatan Turen semakin maju.2006 mempunyai angka nominal yang cukup tinggi di SMA se Kecamatan Turen. TU) yang mengemukakan sebagai berikut: Dokumentasi SMA Widya Dharma Turen tahun 2008-2009 dan Hasil Wawancara dengan Bapak Kepala Sekolah Tri Djoko Kusminto Tgl 13 November. namun pada tahun berikutnya yaitu mulai tahun 2007sekarang sudah semakin menurun. sehingga persaingan antara lembaga yang satu dengan lembaga lain semakin ketat dan berdampak pada menurunnya jumlah siswa di SMA Widya Dharma Turen.PERKEMBANGAN JUMLAH SISWA TAHUN 1999-200860 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tahun 1998-1999 1999-2000 2001-2002 2002-2003 2003-2004 2004-2005 2005-2006 2006-2007 2007-2008 2008-2009 Jumlah siswa 987 991 1063 1100 1165 1137 1126 1045 895 601 Adapun penjelasan tentang tabel di atas bahwa jumlah siswa di tahun 1998.

soalnya sekarangkan lembaga ini gencar jadi dua lembaga yaitu lembaga ini (SMA Widya Dharma Turen) dan SMK Widya Dharma yang ada di Talok sana mbak! Jadi untuk mempromosikan juga kami bagi-bagikan sama SMK sana. peneliti mencoba mewawancarai Bpk Rudi Hartono (guru BK) yang mengayatakan bahwa: ”Lembaga SMK Widya Dharma yang ada di Talok mulai dibangun antara tahun 2006-2007. Apalagi sekarang di Turen ini jumlah lembagakan sudah makin banyak contohnya adanya sekolah Kelautan. Guru Bimbingan Konseling Pada Tanggal 25 November 2008 62 61 . Dhulu sebelum di bangunnya SMK Widya Dharma yang ada di Talok. melainkan juga ada beberapa siswa yang menganut agama lain. melainkan karena memang jumlah siswa dibagikan untuk lembaga SMK Widya Dharma yang ada di Talok itu. Di sinilah letak problem yang sering muncul dalam pendidikan agama islam di sekolah ini. Sehingga dalam hal saling menghargai antara guru dan siswa yang latar belakang agama yang berbeda ini kepala sekolah menerapkan untuk saling menghargai kegiatan agama masing-masing terutama dalam hal peribadatan. mulai tahun itu sekolah ini jumlah siswanya menurun. Tapi kami sebagai pihak sekolah tetap mempromosikannya semaksimal mungkin dan tetap menunjukkan sekolah ini yang terbaik dan berkualitas”62 Adapun latar belakang siswa SMA Widya Dharma Turen tidak hanya menganut agama islam saja. jadi lembaga pendidikan di Turen ini tidak hanya SMA Widya Dharma saja. TU.TU di atas.“Memang benar jumlah siswa di SMA Widya Dharma ini makin menurun. seperti agama kristen. tapi menurunnya jumlah siswa bukan karena lembaga ini gak maju lagi. Jadi. karena ketika guru mau berceramapun di lembaga ini harus tahu waktu yang tepat dan Wawancara Dengan ka. ibu Endang warDaningsih Pada Tanggal 25 November 2008 Wawancara Dengan Bpk Rudi Hartono. tidak bisa dipungkiran antara siswa muslim dengan siswa yang nonmuslim sudah berbaur sangat jauh dan bahkan dihari raya besar agama kristen maupun islam mereka saling merayakannya. sekolah ini memang jumlah siswanya mencapai angka seperti yang ada dalam dokumentasi yaitu seribu lebih tapi karena ada SMK Widya Dharma itu jadi siswanya sebagian ada yang masuk di SMA dan juga ada yang masuk di SMK”61 Untuk menemukan kebenaran tentang paparan ka. sekolah Brimob dan masih banyak lembaga-lembaga lain yang baru dibangun oleh pemerintah.

suasana yang sesuai agar tidak terjadi konlik agama dalam kehidupan bermasyarakat di lemabaga SMA Widya Dharma Turen ini. Karena di lembaga ini juga terdapat beberapa guru-guru yang beragama nonislam.

No 1 2 3

TABEL 4 JUMLAH SISWA YANG BERAGAMA MUSLIM DAN BERAGAMA NASRANI63 Kelas Muslim Non Muslim Jumlah X XI XII Jumlah 179 170 170 519 26 30 26 82 205 200 196 601

7. Keadaan Kegiatan SMA Widya Dharma Turen Jika dilihat dari kegiatan yang ada di SMA Widya Dharma Turen yang paling diutamakan adalah kegiatan belajar mengajar, dalam kegiatan belajar adalah tujuan pokok dalam dunia pendidikan. Kegiatan belajar mengajar berlangsung dimulai pukul 06.45-13.10, Dalam rentan waktu belajar tersebut para siswa diberikan satu kali jam istirahat untuk melepaskan kelelahannya. Setelah kegiatan belajar mengajar di dalam kelas selesai para siswa juga diberikan kesempatan mengikuti kegiatan Intra yang ada di sekolah, di antaranya adalah kegiatan Pramuka, Osis, PMR, dan Teater dan lain sebagainya. Semua kegiatan ini ditujukan untuk perkembangang siswa dan kemajuan siswa di sekolah, sehingga ketika mereka melanjutkan ke jenjang selanjutnya mereka sudah memiliki bekal pengetahuan yang cukup.
63

Dokumentasi SMA Widya Dharma Turen Tahun 2008/2009

Selain kegiatan di atas di lemabaga SMA Widya Dharma Turen juga terdapat beberapa kegiatan-kegiatan lain, program kegiatan kesiswa dilaksanakan tersebut adalah sebagai berikut: a. Penerimaan siswa baru b. Masa orientasi siswa baru (MOS) c. Upacara rutin hari senin dan sabtu d. Operasi ketertiban sekolah setiap satu atau dua bulan sekali, diantaranya: 1) Operasi kelengkapan seragam siswa 2) Operasi rokok dan narkoba yang mungkin dibawa anak-anak ke sekolah 3) Operasi rambut siswa e. Upacara hari besar nasional f. Berpartisipasi dalam lomba olah raga/seni dalam rangka HUT RI tingkat kecamatan atau kabupaten g. Peringatan hari besar agama Islam, di antaranya: 1) Shalat Idul Adha di sekolah 2) Penyembelihan hewan kurban 3) Pondok Ramadhan 4) Penerimaan dan pembagian zakat fitrah h. Peringatan hari besar agama nasrani, diantaranya: Natal dan paskah i. Berpartisipasi dalam lomba OR, seni dan bidang studi yang diselenggarakan berbagai lembaga setingkat dan perguruan tinggi di Malang

j. k. l.

Seleksi pelajar teladan Diknas kab. Malang Olimpiade bidang studi IPA di Diknas kab. Malang Seleksi paskibraka tingkat nasional di kab. Malang

m. Kegiatan tengah semester dan pasca semester dalam bentuk lomba OR dan pentas seni n. Peringatan bulan bahas, ditandai dengan pementasan Teater, lomba Pidato, MC dan baca puisi o. Menyelenggarakan lomba cerdas cermat matematika tingkat SMA Kab. Malang p. Mengevaluasi kegiatan ekstra kulikuler (tari, karawitan, voli, sepak bola, basket, beladiri, pramuka, PMR, senam), ektra komputer, bahasa Inggris, jepang internet. q. r. s. t. Latihan dasar kepemimpinan calon pengurus OSIS dan MPK Pemilihan ketua OSIS baru Pelantikan pengurus OSIS baru Laporan pertanggungjawaban pengurus OSIS lama dan serah terima jabatan u. Rapat anggota tahunan koperasi sekolah v. Peringatan HUT Widya Dharma Turen w. Wisuda kelas III 8. Keadaan Sarana dan Prasarana SMA Widya Dharma Turen SMA Widya Dharma Turen merupakan salah satu lembaga yang memiliki sarana dan prasarana yang relatif lengkap, hal tersebut terlihat dari berbagai perlengkapan sekolah yang ada, mulai dari gedung sampai

untuk kelas X yang di gunakan sebagai ruang belajar ada tuju kelas yaitu untuk kelas X-1 sampai kelas X-7. IPS-2. satu kelas untuk kelas XI jurusan IPA. Pada Hari Kamis Tanggal 13-25 november 2008. kesemuanya ditata dengan baik dan rapi. dan IPS-5. untuk jurusan Bahasa hanya satu kelas sedangkan untuk jurusan IPS terdapat 64 Sumber Data Dokumen SMA Widya Dharma Turen dan Hasil Penjelasan Drs. maka SMA Widya Dharma Turen terus menginovasi agar memenuhi kebutuhan dan penyediaan sarana dan prasarana untuk menunjanga kegiatan belajar mengajar. satu kelas untuk kelas XI jurusan Bahasa dan lima kelas untuk kelas jurusan IPS. . Tri djoko Kusminto Kepala Sekolah Sebagai Kepala Sekolah dan Ibu Endang warDaningsih Sebagai Kepala Tata Usaha. Sehubungan dengan kebutuhan dan keinginan para guru dan siswa untuk selalu melaksanakan belajar dengan suasana yang nyaman dan tenang. Di SMA Widya Dharma Turen telah memiliki ruang belajar yang cukup representive bagi penyelenggaraan proses belajar mengajar diantaranya jumlah ruangan pembelajaran sebanyak dua puluh satu ruang. untuk kelas XII jurusan IPA terdapat dua kelas yaitu kelas XII IPA-1 dan XII IPA-2.64 Ruangan kegiatan pembelajaran merupakan sarana terpenting yang digunakan di sini. IPS-4. kelas XI ruang yang digunakan terdapat tuju kelas yaitu. SMA Widya Dharma Turen memiliki luas tanah lebih kurang 10300 M yang terdiri dari: (1) bangunan seluas 2629 M. dari beberapa ruangan ini kebanyakan digunakan untuk ruang belajar mengajar.alat-alat kebutuhan penunjang kegiatan belajar siswa. sedangkan untuk kelas XII terdapat tuju kelas pula yaitu. yang terdiri dari IPS-1. IPS-3. (2) halaman seluas 7600 M (3) lapangan olah raga seluas 100 M.

tentunya apabila penggunaan sarana dan prasarana tersebut oleh siswa maupun guru dapat dilakukkan secara baik dan maksimal sesuai dengan kebutuhan kegiatan pendidikan maka proses pendidikan akan mencapai tujuan dan hasil yang baik. Sarana dan prasarana yang telah ada seperti yang telah disebutkan di atas. hal tersebut dapat dilihat dari data yang menujukkan . ruang TU. maka sekolah ini berupaya penuh dalam menumbuh kembangkan sekolah dengan pendayagunaan sarana dan prasarana secara efektif. yaitu kelas XII IPS-1. Perlengkapan Sekolah SMA Widya Dharma Turen dalam perlengkapa sekolah sudah lebih dari cukup. kelas XII IPS-2. ruang kegiatan Teater dan Seni dan ruang kegiatan pramuka. Selain beberapa ruangan di atas masih terdapat beberapa ruangan lainnya yang menunjang proses belajar yang meliputi ruang UKS. ruang Wak. ruang BP/BK. ruang Kepala Sekolah. Kepala Sekolah. seperti di bawah ini: a.empat kelas. Mushalla serta ruang penunjang kegiatan siswa seperti ruang OSIS. hal tersebut memiliki arti penting bagi penyelenggaraan pendidikan yang baik dan berkualitas. kamar mandi siswa dan guru. kelas XII IPS-3 dan kelas XII IPS-4. Koperasi. Dari masing ruangan tersebut di gunakan sesuai fungsinya Sarana dan prasarana yang ada tesebut disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan guru dalam proses belajar mengajar. ruang guru.

ruang kelas dan bangku. yaitu fasilitas yang berkaitan langsung dengan kegiatan belajar maupun fasilitas yang tidak berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar. Fasilitas yang diperuntukkan bagi siswa ini sudah dapat dikatakan cukup. Fasilitas Tempat Tempat yang tersedia di sekolah ini terdiri dari dua bagian. tepatnya di samping pintu masuk deket gerbang. Perlengkapan yang tidak kalah pentingnya adalah Lab. mulai dari fasilitas belajar mengajar. alat-alat olah raga seperti bola voli. dan lain sebagainya. . yaitu lapangan depan untuk bola basket dan lapangan tengah untuk bola volly dan lompat jauh. 2) Tempat parkir: tempat parkir di sini berada di depan sekolah. lapangan ini terbagi menjadi dua tempat. sepak bola basket. Adapun tempat yang berkaitan dengan kegiatan belajar adalah sebagai berikut: 1) Ruang belajar 2) Ruang Lab Bahasa dan Kimia 3) Ruang Lab komputer Sedangkan tempat untuk menunjang kelengkapan proses belajar mengajar adalah sebagai berikut: 1) Lapangan: lapangan di sini dipergunakan sebagai tempat upacara sekolah dan kegiatan olah raga yang lokasinya berada di tengahtengah sekolahan.kelengkapan sarana perlengkapan Kantor dan lain sebagainya seperti mesin komputer. b. mesin foto copy dan lain sebagainya.

6) Mushalla: digunakan sebagai tempat untuk menunaikan ibadah sholat (Dhuha) serta ibadah sholat jum’at. perpustakaan ini juga dipakai sebagai tempat istirahat siswa ketika mengalami kejenuhan di dalam kelas setelah mengikuti pelajaran sepanjang waktu. 8) Kopsis (koperasi siswa) menjadi tempat para siswa mencari kebutuhan belajar seperti buku tulis. 4) Ruang kesehatan: sebagai ruang sarana kesehata/ruang UKS. 10) Ruang BK: dipergunakan sebagai tempat bimbingan terhadap siswa yang mengalami beberapa problematika tertentu. bahkan juga digunakan sebagai tempat kajian keislaman badan dakwah Islam secara besar-besar. 5) Perpustakaan: merupakan sarana belajar langsung bagi siswa ketika jam istirahat tiba. tempat ini juga digunakana untuk mendiskusikan problem-problem yang terjadi pada siswa dan yang nantinya akan di cari solusinya secara bersama. dan lainsebagainya. pensil. 7) Aula: aula di samping digunakan sebagai tempat pertemuan juga dipakai sebagai tempat kegiatan siswa seperti tempat ruang duduk siswa.3) Tempat parkir guru berada di bagian utara lembaga SMA Widya Dharma Turen. Dalam ruangan guru ini selain digunakan tempat pergantian jam pelajaran. baik . 9) Ruang guru: lokasi ruang guru ini bersebelahan dengan ruang kepala sekolah dan waka sekolah.

Selain sebagai memperluas wawasan juga untuk mendapatkan informasi dari tentang dunia luar. Adapun fasilitasa yang sangat penting tersebut adalah sebagai berikut: 1) Laboratium Bahasa Lab bahasa di SMU ini sangat baik dan lengkap. 11) Ruang kepala sekolah: ruang kepala sekolah tersebut berada di dekat pintu masuk sekolah ruang ini selain dipergunakan sebagai tempat ruang khusus kepala sekolah juga digunakan menerima tamu dari luar serta untuk rapat dan diskusi dengan guru-guru yang berkaitan dengan problem yang timbul pada diri siswa.mengenai masalah belajar mengajar maupun masalah pribadi lainnya. setiap siswa dapat mempergunakan hedphone sebanyak 48 unit. Dalam era modern dengan teknologi yang mutahir ini. 2) Laboratium IPA . materi. guru dan lembaga itu sendiri. fasilitas fasilitas sebagai pelengkap sangat dibutuhkan. Dengan alat tersebut nantinya siswa dapat berkomunikasi dengan bahasa inggris dengan baik khususnya jurusan bahasa. Dari beberapa fasilitas yang ada di SMA Widya Dharma Turen malang ini tujuannya untuk menunjang keberhasilan belajar siswa dan agar problem yang timbul dalam dunia pendidikan bisa diselesaikan. sehingga setiap siswa dapat memakai saru persatu da siswa dapat berkomunikasi langsung dengan guru melalui alat tersebut.

5) Komputerisasi Sekolah SMA Widya Dharma ini menyedikan komputer 25 unit untuk siswa serta guru dan karyawan sebanyak 8 unit. Tujuan sistem koputerisasi diharapkan hasil siswa dapat diketahui secara langsung dan siswa mampu bersaing dengan siswa yang lain dan bagi siswa . Dengan mengetahui contoh tersebut siswa secara langsung mengetahui teori dan prakteknya. Dengan adanya komputer ini sistem penilaian menggunakan scaner serta setiap ulangan sudah menggunakan bentuk objektif. 4) Sistem pengajaran dengan menggunakan VCD Bahwasannya di era globalisasi ini SMA Widya Dharma menerapkan cara pengajaran dengan menggunakan VCD.Keberadaan Lab IPA di SMA sudah lengkap. Perpustakaan sebagai sarana untuk mendorong siswa agar giat belajar membaca buku. sehingga siswa dapat mepraktekkan sesuai dengan teori yang ada serta dapat memahami sendiri yang akhirnya siswa tidak merasa tertinggal di dunia modern ini terhadap siswa lain khususnya di Kota. 3) Perpustakaan Perpustakaan di SMA Widya Dharma ini semakin tahun semakin lengkap berkat kerja sama antara siswa dengan sekolah khususnya siswa kelas 3 yang baru keluar. karena dengan membaca buku siswa akan giat bertanya di dalam kelas serta mempunyai wawasan yang luas yang belum mereka ketahui. Dengan cara ini diharapkan nantinya dapat mencetak siswa yang profesional dan berkualitas. siswa diharapkan mampu mengamati contoh-contoh yang ada pada media tersebut. Dengan demikian.

mendapatkan nilai di bawah rata-rata dapat secepatnya berbenah diri dengan meningkatkan hasilnya pada ulangan berikutnya. faktor internal 1) Problem Anak Didik Pendidikan agama islam adalah salah satu materi yang wajib diterapkan disetiap lembaga pendidikan baik itu lembaga yang bernafaskan islam maupun lembaga umum seperti di SMA Widya Dharma Turen ini. tetapi dari sisi lain juga telah menunjukkan kejanggalan seperti problem pada pendidik. problem pada sarana dan prasarana. problem pada dan lingkungan. Problematika Pendidikan Agama Islam Di SMA Widya Dharma Turen Malang Dalam menghadapi problematika pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen. TEMUAN HASIL PENELITIAN 1. Dalam materi pendidikan agam islam itu sendiri bagi siswa di SMA Widya Dharma Turen Malang tidak terhindar dari problem yang . peneliti akan menguraikan tiga faktor sebagai berikut: a. Adapun beberapa problem yang terjadi di SMA Widya Dharma Turen ini tidak hanya terjadi pada anak didik. Dari beberapa problem yang telah disebutkan secara garis besar di atas. B. dari hasil penelitian telah menemukan beberapa problematika yang dihadapi pendidikan agama islam. Keberadaan pendidikan agama di SMA Widya Dharma Turen diharapkan akan membantu perbaikan tingkah laku dan membina kepribadian siswa di SMA Widya Dharma Turen.

Jadi selain belajar di sekolah siswa harus lebih giat belajar di rumah atau dalam lingkungan keluarga. atau bagaimana cara orang tua memperhatikan anaknya agar si anak tahulah tentang agama”65 Wawancara Dengan Bapak H. Ali. di Ruang BK 65 . Pada Tanggal 21 November 2008.M. yaitu: satu. Dari penjelasan di atas sama hal yang di jelaskan ole guru pendidikan agama kelas XII yaitu bapak H M. hal inilah yang menjadi faktor awal munculnya problematika pendidikan agama islam. orang tua yang kurang memperhatikan perkembangan belajar anaknya akan berdampak pada kesuskesannya di sekolah. Ali Fattar Guru PAI. Problem yang sering di hadapi di SMA Widya Dharma Turen yang berkaitan dengan siswa dalam hal materi adalah menerapa materi yang disampaikan oleh guru kurang diminati oleh siswa di SMA Widya Djharma Turen Malang.menghampiri. namun pada kenyataan yang terjadi pengalaman siswa tentang ilmu pendidikan agama islam masih sangat minim sekali. orang tua yang kurang perhatian pada perkembangan pelajaran anaknya sehingga ketika sudah terlanjur jauh seorang anak sangat tidak mungkin untuk bisa membiasakan diri dalam mempelajari ilmu pendidikan agama islam. Problem ini timbul karena didasari oleh beberapa faktor yang antara lain. Fattar. jika dilihat dari latar belakang keluarga siswa kebanyakan siswa yang sekolah di SMA Widya Dharma Turen ini mayoritas islam. Berikut penjelasananya: ” Pada dasar problem awal yang terjadi pada siswa itukan karena latar belakang keluarga.

Selain problem di atas problem yang ada di SMA Widya Dharma dari Ibu Aulia Kurnia S.Pd. 2) Problem Pada Guru Di SMA Widya Dharma Turen Malang jika dilihat dari tingkat pendidikan guru yang sudah ditempuh sudah memenuhi standar kualifikasi dan sudah selayaknya mendapatkan pelayanan yang baik dari pemerintah khususnya guru pendidikan agama islam. Guru pendidikan agama islam sudah menempuh jenjang pendidikan S. Padahal seumuran anak SMA sudah seharusnya membaca bisa AlQur’an dengan benar. dalam hal baca Al-Qur’an misalnya itu anak-anak yang bisa membaca AlQur’an dengan benar masih dibawah rata-rata. Dari hasil wawancara dengan kepala sekolah tentang keprofesionalnya guru pendidikan agama islam di SMA Widya Dharama Turen. Maka untuk mencari upaya pemecahannya akan dibahas pada bab selanjutnya. Tetapi karena perhatian dan kurang minatnya mereka pada pendidikan agama islam karena mereka menganggap bahwa pendidikan agama kurang penting dan menganggap enteng sehingga anak-anak tidak bisa membaca dan bahkan menulis Al-Qur’an sangat kurang sekali”66 Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa problematika pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen yang berkaitan dengan pada anak didik sangat memprihatinkan. berikut hasil wawancara dengan bapak Tri Djoko Kusminto yang menjelaskan 66 Wawancara Dengan Ibu Auliah Kurnia Pada Tanggal 18 November 2008 di Ruang Guru .1 (strata satu) dan bisa dikatakan profesional dalam hal mengajar.I guru pendidikan agama islam kelas X yang memberikan pernyataan yang sama bahwa: “Siswa terutama siswa kelas satu SMA Widya Dharma ini pengetahuannya tentang agama sangat kurang.

Pada hari selasa pukul 10.M.67 b. Hal ini menurut saya sebagai kepala sekolah dari pantauan dari jauh bahwa guru di SMA Widya Dharma Turen sudah termasuk guru yang profesional hal ini bisa dilihat dari latar belakang sekolahnya dan karakter guru itu sendiri. dari hasil observasi dan melihat dokumentasinya sudah memberikan pelayanan untuk mata pelajaran umum. Bpk Tri Djoko Kusminto.Ali 67 Wawancara Dengan Kepala Sekolah . Memang tidak bisa dipungkiri kalau media untuk pendidikan agama islam tidak ada yang terlalu tepat. Faktor Institusional Problem Sarana Dan Prasarana. Keadaan sarana dan prasarana sebagai alat penunjang di SMA Widya Dharma Turen belum layak dan memadai khusus untuk pendidikan agama islam. Guru juga harus memiliki kemampuan dalam proses belajar mengajar. sebenar bukan itu yang menjadi problem utamanya.bahwa.H. buku paket yang manjadi fasilitas utama di SMA Widya Dharma Turen ini dari pemaparan bpk Drs. baik itu cara menghadapi siswa yang bemasalah maupun cara guru itu mengajar. seorang guru dikatakan profesional bila sudah memiliki kompetensi sebagai seorang pendidik.301145 tanggal 25 november 2008 (di Ruang Kepala Sekolah) . Namun kembali pada pembahasan utama tentang sarana pendidikan agama islam masih kurang memadai. bahan ajar yang disampaikan oleh guru sudah dikuasai dan pengelolaan kelas. Adapun problem yang perlu diperhatikan di SMA Widya Dharma Turen yang berkaitan tentang buku paket pendidikan agama islam.

Fattar. Di SMA Widya Dharma Turen ini untuk kelas XII saja jumlah siswanya lebih dari seratu siswa sedangkan jika dilihat dari buku paket hanya 39. dari hasil wawancara ini penulis mencoba menelusuri tentang jumlah buku paket yang ada di perpustakaan. Dan di perpustakaan penulis meminta izin untuk mencari kebenaran tentang buku paket ternyata benar. pada dasarnya kurikulum ini kurikulum baru dan bagi guruguru di SMA Widya Dharma masih belum mengetahui secara maksimal jika ditinjau dari penerapanya dalam materi. Sedang buku paket yang ada di lembaga tersebut masih memakai sistem kurikulum 1999. . Padahal jika dilihat dari keadaan perpustakaan sudah menunjukkan suasana yang bagus namun bukubuku yang ada diperpustakaan masih perlu ditambah. Sehingga dalam pengelolaan kurikulum guru-guru kurang mengauasai. Bahwa salah satu problem dari segi sarana yaitu buku paket masih kurang dan sarana penunjang lainnya seperti sarana masjid. Dari penjelasan salah satu staf perpustakaan bahwa anak-anak yang mau pinjam buku paket harus antri karena berkaitan dengan jumlah bukunya masih kurang maka mau tidak mau siswa harus menunggu temannya mengebalikan buku paket itu khususnya buku pendidikan agama islam. sehingga akan berdampak pada kurang kondusif terhadap proses belajar mengajar di kelas. kurikulum yang ditetapkan di SMA Widya Dharma Turen sudah menggunakan kurikulum KBK dan KTSP.

68 Selain buku paket. Inilah yang merupakan faktor dalam hal kurikulum. Di mushala fasilitasnya seperti mukena sudah berjumlah 39. Pada Hari Jum’at Tanggal 21 November 2008 di Ruang Waka Kurikulum SMA Widya Dharma Turen Malang . Yang menjadi problem dalam hal ini tempa wudlu masih belum memadai untuk dijadikan fasilitas. Bagi guru khususnya guru agama islam memadukan kedua kurikulum ini perlu pengetahuan yang lebih. Untuk itu kepala sekolah mengikutkan beberapa guru khususnya guru agama untuk mengadakan belajar lebih lanjut dengan pendidikan agama atau yang lebih disebut MGMP.Terkait dengan kurikulum dan buku paket sebagai sarana seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa antara kurikulum dan buku paket bertolak belakang. problem tentang sarana dan prasarana yang ada di SMA Widya Dharma Turen juga yang berkaitan mushala sudah memberikan pelayanan yang baik. Buku paket yang di gunakan SMA Widya Dharma Turen di masih kurikulum suplement (1999) seperti yang di jelaskan di atas sedangkan kurikulum yang dituntut menggunakan kurikulum KBK dan kurikulum KTSP. Pada saat shalat jum’at siswa repot mencari tempat yang tertutup khususnya yang perempuan dan tempatnya hanya satu kamar mandi di dekat mushalat sehingga siswa walaupun sudah mulai shalat jum’at siswa masih ada yang antri untuk berwudlu. sedangkan Al-Qur’an 7 buah namun yang itu bukan problem tentang fasilitas ini. Inilah salah satu problem 68 Wawancara Dengan Waka Kurikulum yaitu ibu Rina Z. untuk mempelajari lebih jauh tentang kurikulum dan pendidikan agama yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Kota Malang.

Di lingkungan sekitar SMA Widya Dharma Turen seperti yang dijelaskan dalam tabel pada bab sebelumnya bahwa lembaga ini tidak hanya menampung siswa yang beragama islam akan tetapi ada beberapa siswa yang beragama kristen. Kemungkinan besar pengaruh lingkungan yang terjadi antara siswa dengan siswa. Di lingkungan sekitar SMA Widya Dharma Turen jika dilihat dari lingkungan sekitarnya kebanyakan siswa yang tinggal kos dan yang pasti jauh dari pantauan orang tua. Faktor eksternal Problem Pada Lingkungan Lingkungan pendidikan yang baik akan menciptakan pergaulan yang baik terutama bagi anak-anak usia remaja. Mushala adalah fasilitas pendidikan agama islam yang sangat konkret untuk menunjang keberhasilan proses pembelajaran siswa dan guru khususnya guru pendidikan agama islam. Dari hasil observasi tentang lingkungan yang dilakukan jauh sebelum penelitian bahwa lingkungan di SMA Widya Dharma Turen . Karena pengaruh lingkungan akan berdampak pada perkembangan anak. Lingkungan lembaga di SMA Widya Dharma Turen tidak menjamin untuk mengarahkan siswa menjadi orang yang sesuai dengan syar’at agama islam. siswa dengan masyarakat akan berdampak buruk.yang mesti diperbaiki oleh lembaga pendidikan SMA Widya Dharma. Maka dari itu pihak sekolah harus memperhatikan lingkungan sekitar sekolah yang menjadi tempat tinggal siswa. baik itu dari tingkah laku dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. c.

Siswa yang berada di SMA Widya Dharma Turen dalam mempelajari pendidikan agama islam pengetahuannya tentang agama yang kurang ditambah lagi tidak minatnya maka sangat tidak mungkin siswa tersebut untuk menguasai pendidikan agama islam. Sehingga waktunya untuk lembaga SMA Widya Dharma Turen sangat terbatas. 2. 2) Guru: Guru pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen belum menjadi guru PNS sehingga guru yang mengajar di SMA Widya Dharma Turen ini selain mengajar di lembaga SMA Widya Dharma Turen beliau juga mengajar dibeberapa lembaga lain yaitu lembaga non forma seperti pesantren. Kendala-Kendala Dalam Mengatasi Problematika Problematika Pendidikan Agama Islam di SMA Widya Dharma Turen Malang Ada beberapa kendala yang berkaitan dengan cara mengatasi problem yang akan di uraikan secara umum di bawah ini. Pada waktu shalat jum’at misalnya masyarakat yang shalat jum’atpun masih minim sekali apalagi siswa sebagai orang yang perlu dididik dalampendidikan agamadari lingkungan setempat.tentang lingkungan masyarakatnya tidak kondusif dalam hal keagamaan. Kendalakendala tersebut adalah a. . Faktor Internal 1) Anak didik: adapun yang menjadi kendala dalam pemecahan problematika pendidikan agama islam pada siswa yaitu kurang minat siswa pada pendidikan agama islam.

berkaitan dengan dana kepala sekolah belum bisa mengatakan ia untuk menambah sarana dan prasarana yang berkaitan dengan fasilitas pendidikan agama karena dana yang masuk selama ini masih digunakan untuk perluan lain seperti memperbaiki pintu kelas. 69 Hasil Wawancara Dengan Bapak Kepala Sekolah Pada Thari Selasa Anggal 25 November 2008 .69 b. Tetapi keinginan untuk menambah buku paket khususnya buku paket pendidikan agama islam tetap direncanakan. Faktor Eksternal Lingkungan: Lingkungan masyarakat yang ada di SMA Widya Dharma Turen tidak memberikan pengaruh baik terhadap perkembangan pendidikan agama islam. Lingkungan yang ada di SMA Widya Dharma masih perlu diperbaiki dengan berkerja sama antara masyarakat sekitar dengan pihak lembaga agar siswa bisa menjadi anak bangsa yang sukses dalam bidak pendidikan agama islam. Tempat ini memberikan berpengaruh yang kurang baik terhadap siswa karena pada jam pelajaranpun beberapa siswa bermain selama berjam-jam di tempat ini.3) Faktor Institusional Sarana dan Prasarana: Dalam pengembangan sarana dan prasarana kendala utamanya adalah kurangnya dana. tembok karena di kelas masih memakai tembok dari teriplen. Di lingkungan SMA Widya Dharma Turen sekitarnya bahwa di belakang lembaga tersebut ada rental play station (PS). karena biar bagaimanapun pendidikan agama islam juga sangat penting untuk ditingkatkan mutunya.

Upaya-Upaya Yang Dilakukan Dalam Pemecahan Problematikan Pendidikan Agama Islam di SMA Widya Dharma Turen Dalam pembahasan ini akan dipaparkan secara gamblang tentang upaya untuk mengatasi problematikan pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen-Malang. Adapun problem yang diupayakan adalah sebagai berikut: a. orang tua dan guru selalu memberi motivasi terhadap perkembangan belajar anak terhadap pendidikan agama islam. . Faktor internal 1) Anak didik Adapun upaya dalam pemecahan problematiaka pendidikan agama islam yang berkaitan dengan anak didik adalah. guru harus banyak membaca referensi dan mengikuti seminar yang berkaitan dengan pendidikan agama islam. walaupun sebernanya guru tidak perlu mengharapkan imbalan yang lebih. karena motivasi dari orang-orang terdekat akan menjadikan siswa lebih giat belajar dalam pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen Malang. yang pertama.3. 2) Pendidik Adapun upaya pada guru bahwa guru harus mendapat perhatian dari pemerintah untuk lebih meningkatkan kinerja guru terhadap pseserta didik. selain itu guru diupayakan untuk meningkatkan keprofesionalnya dalam hal pengetahuan khususnya pengetahuannya tentang pendidikan agama islam.

b. Faktor Institusional .Sarana dan prasarana Sarana dan prasarana di SMA Widya Dharma Turen perlu diupayakan untuk menambah jumlah buku paket. Siswa juga harus patuh pada perintah guru selama guru memberikan arahan yang baik dan sesuai syar’at islam. Problem yang diatasi tersebut bisa meningkatkan minat belajar siswa terhadap pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen Malang. Faktor Eksternal . . c.Lingkungan Dalam pemecahannya problematika pada lingkungan diperlukan bekerjasama antara guru dan masyarakat serta orang tua juga harus ikut berperan dalam mengatasi problem tersebut. karen buku paket adalah sarana penunjang utama dalam keberhasilan pendidikan. Harus diadakan perbaikan pada fasilitas mushala seperti kamar mandi mushala agar siswa tidak terlalu antri ketika berwudlu pada saat shalat jum’at dengan tujuan ketika melakukan shalat jum’at tetap kondusif dan efisien.

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. Adapun fokus permasalahan pada penelitian ini adalah tentang problematika pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen-malang. dan upaya-upaya memecahkan problematika pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen Malang. Tentu saja dalam problem ini ada beberapa faktor yang menjadi dasar adanya problem tersebut. Faktor Internal 1) Problem Anak Didik Dari awal hingga akhir kehidupan tentang problem pada anak didik pasti membutuhkan bimbingan dan arahan. Adapun faktor tersebut adalah sebagai berikut: a. anak didik adalah manusia pedagogis yang sangat membutuhkan bimbingan dan pemdidikan dari orang dewasa dengan tujuan menjadikan manusia yang dewasa. Walaupun pada dasarnya manusia itu sudah mendapat fitrah dalam dirinya. Problematika Pendidikan Agama Islam di SMA Widya Dharma Turen Malang Sesuai dengan fokus penelitian dalam rumusan masalah yang mengkaji tentang beberapa problematika pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen. kendala-kendala dalam mengatasi problematika pendidikan agama islam. Dari hasil penelitian beberapa problem yang dihadapi di SMA Widya Dharma yang ditemukan selama melakukan penelitian yang berkaitan tentang pendidikan agama islam. Dari pendapatnya Zuhairini bahwa anak lahir sudah membawa fitrah beragama kemudian tergantung kepada orang-orang .

anak didik harus benar-benar diajari secara intensif untuk bisa menulis satu kata tentang ayat-ayat Al-Qur’an. Akan tetapi untuk anak yang sama sekali belum paham tentang agama seperti kebanyakan pada anak yang ada di SMA Widya Dharma Turen sebagian besar siswa masih banyak problem yang terjadi. Kadangkala anak didik pada saat masuk sekolah sudah mempunyai pengetahuan agama yang lebih dibanding temannya. 32 .disekitarnya yang mengasah dan membimbingnya untuk menjadi manusia yang baik. Dalam hal baca tulis Al-Qur’an misalnya. dkk. karena ini tergantung bagaimana cara orang tua mendidik di rumah sehingga ketika berada di sekolah anak tidak seperti botol kosong yang diisi air. dan yang berkaitan tentang pengamalannya siswa tentang pendidikan agama 70 Zuhairini. Di SMA Widya Dharma Turen masih banyak sekali siswa yang kurang pengetahuan agamanya. 1983). karena orang tua yang kurang perhatian pada perkembangan pendidikan agama islam pada anak didik di SMA Widya Dharma Turen Malang.70 Apabila anak tersebut mendapatkan pendidikan dan tidak dibina untuk menjadi orang yang lebih paham dalam hal agama. sehingga bekal untuk kedepannya tentang agama. dari paparan tokoh pendidikan tentang perkembangan kejiwaan anak pada pendidikan agama islam bahwa setiap anak didik mempunyai tingkat pengetahuan agama yang berbeda. Methodik Khusus Pendidikan Agama (Surabaya: Usaha Nasional. hlm. anak harus memulai dari awal dan pengetahuannya sudah ketinggalan di banding temannya yang sudah punya dasar tentang agama.

Khususnya anak cowok. puasa ngaji masih minim sekali apalagi untuk praktek slahat jum’at di sekolah itu yang dilihat peneliti slama penelitian bahwa kebanyakan anak-anak ngobrol dengan temannya saat shalat jum’at. terbukti ketika berada di kelaspun anak-anak masih ada yang rokok.71 Dari penjelasan guru pendidikan agama islam tersebut di atas tentang kondisi siswa yang menjadi problem pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen kurangnya minat siswa terhadap Wawancara Dengan Guru Pendidikan Agama Islam SMA Widya Dharma Turen (bpk Drs.islam dalam hal praktek ibada seperti shalat. Padahal kita tahu untuk anak seumur anak SMA seperti yang ada di SMA Widya Dharma Turen sudah selayaknya mengerjakan tugas yang menjadi kewajibannya. khususnya di kelas XII bahasa itu kebanyakan belum bisa membaca Al-Qur’an” bahkan tulis huruf arabpun masih banyak yang tidak bisa. Dari penjelasan di atas dapat dibenarkan oleh guru PAI kelas XII yaitu bpk Drs. Tri Djoko Kusminto) Pada Tanggal 21 November 2008. di Ruang Guru. M. dan puasa itu masih minim” Lebih lanjut bapak H.M Ali Fattar yang mengungkapkan sebagai berikut mengatakan bahwa: “Dalam hal baca Al-Qur’an itu susah sekali apalagi kalau saya memberikan materi baca tulis Al-Qur’an di dalam kelas karena sub pokok pembahasannya memang seperti itukan. Ali Fattar yang mengungkapkan sebagai berikut: “Siswa di SMA Widya Dharma Turen yang bisa saya lihat pada bulan ramadhan itu kebanyakan mereka gak puasa. H. itu anak-anak kebanyakan tidak bisa ngaji. shalat bagi mereka bukan sesuatu yang wajib. Bagi siswa di SMA Widya Dharma Turen. 71 . ngaji. Apalagi diluar kelas tindakan seperti itu jelas bisa membuktikan bahwa pengamalannya dalam pendidikan agama islam tentang praktek shalat.

Problem itu terjadi bukan karena dari diri siswa itu semata.I menjelaskan bahwa: “Setiap jam pelajaran pendidikan yang saya ajarkan pada anak selalu mintanya istrahat padahal itu bukan jam istrahat dan kadang-kadang anak-anak minta pulang padahal bukan waktunya untuk pulang. akan tetapi bisa terjadi karena adanya faktor-faktor lain seperti adanya pengaruh lingkungan masyarakat dan kurangnya motivasi dari luar diri siswa yang merespon perkembangan pendidikan anak itu. di Ruang Guru 72 . agar tidak terjadi problem karena pada dasarnya untuk media Wawancara Dengan Guru Pendidikan Agama Kelas X (ibu Auliah Kurnia SPdI) Pada Tanggal 21 November 2008. Dari hasil wawancara dengan guru PAI SMA Widya Dharma Turen kelas X yaitu ibu Auliah Kurnia. S. Kalau sudah masuk jam pendidikan agama islam anak-anak di kelas x kebanyakan tidur dan ngomong sendiri kalau guru tidak bisa mengatur strategi untuk menarik minat siswa ya proses belajar mengajar tidak akan kondusif dan efisien”72 Dari paparan di atas memang pengaturan jam pelajaran khususnya jam pelajaran pendidikan agama islam perlu diperhatikan.pendidikan agama islam karena siswa tidak terbiasa mempelajari pendidikan agama islam di rumah dan juga orang tua yang tidak memperhatikan dengan kondisi anaknya yang masih membutuhkan bimbingannya. Maksudnya apabila jam pendidikan agama islam di tempatkan pada jam terakhir maka akan sangat besar kemungkinan timbulnya problem dan untuk mempelajari pendidikan agama islam anak-anak sudah merasa kelelahan.Pd. Selain problem di atas terdapat beberapa problem yang terjadi karena pengaturan jam pelajaran di sekolah SMA Widya Dharma Turen dan penempatan jam terutama pada jam terakhir.

Wawancara Dengan Nur Alinda Siswa Kelas XI Diruang Ruang Kelas XI IPA Pada Tanggal 18 November 2008 73 . dan membosankan serta tidak ada media yang mendukung untuk meningkatkan daya ingat hasil belajar tersebut. capek. Untuk membuktikan lebih jauh tentang paparan ibu Auliah Kurnia di atas. Akan tetapi untuk pelajaran umum seperti IPA dan lainnya yang banyak prakterk daripada teori bisa ditempatkan pada jam-jam terakhir. karena pada jam terakhir siswa sudah sangat lelah.pendidikan agama memang tidak ada media yang menarik seperti pada pelajaran IPA dan mata pelajaran lainnya. maka peneliti mencoba mewawancara siswa kelas X.73 Sedangkan menurut penulis bahwa mata pelajaran pendidikan agama islam ditempatkan pada jam pertama karena keadaan otak siswa masih fress dan bisa menerima pelajaran dengan baik. dan menganggap itu bukan suatu kewajiban yang harus dipelajari secara intensi seperti mata pelajaran lain sehingga siswa tidak berminat untuk mempelajarinya. Siswa tersebut mengungkapkannya secara gamblang seharusnya guru-guru tahu mata pelajaran yang tepat untuk jam terkhir dan mata pelajaran untuk jam pertama. Dari hasil wawancara dengan salah satu murid kelas X tersebut membenarkan kebanyakan siswa kurang minat terhadap pendidikan agama islam. Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa siswa di SMA Widya Dharma Turen dalam hal pendidikan agama islam masih menganggap bukan materi yang penting.

2) Problem Pendidik. Pendidik merupakan salah satu faktor penting dalam proses pendidikan, karena pendidik akan bertanggung jawab untuk mendidik dan membina dalam proses belajar mengajar kearah pembentukan pribadi yang baik, cerdas, terampil dan mempunyai wawasan yang luas untuk dunia dan akhirat. Perwujudan guru yang diharapkan itu tidak semudah yang dibayangkan, karena faktor yang terkait tidak semudah yang dibayangkan, mempengaruhi. karena Kaum banyak guru faktor sendiri yang terkait dan saling

sesungguhnya

mempunyai

keinginan untuk tampil sebagai guru idaman. Namun perlu diingat bahwa semuanya tidak hanya terletak pada diri para guru saja, sebagian besar faktornya di luar para guru itu sendiri. Guru tidak mungkin meewujudkan kinerjanya dengan optimal tanpa dukungan dari pihak lain termasuk siswa, orang tua, pemerintah dan masyarakat sekitar. Yang paling dituntut saat ini guru harus menunjukkan kinerja yang ideal sementara yang menjadi hak-hak guru belum sepenuhnya diterima oleh guru. Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa pendidikan anak didik tidak hanya di serahkan sepenuhnya oleh guru akan tetapi orang tua yang mempunyai peran utama yang lebih tahu kepribadian dan kemauan anak. Walaupun keberadaan guru pendidikan agama islam tetap diperhitungkan apalagi di SMA Widya Dharma Turen ini siswa masih membutuhkan bimbingan dari seorang guru yang mempunyai

akhlak yang baik khususnya dari guru pendidikan agama islam, keberadaan guru di SMA Widya Dharma Turen sangat penting apalagi di era globalisasi seperti saat ini yang pergaulannya bercampur ala barat, dan di situlah guru mempunyai peran penting dalam membina siswa khususnya guru pendidikan agama islam. Guru pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen dituntut untuk memperbaiki citra kehidupan siswa untuk menjadi generasi yang intelektual baik dalam hal ilmu umum maupun dalam ilmu pendidikan agama itu sendiri. Pendapat di atas sama halnya seperti yang diungkapkan oleh kepala sekolah dari hasil wawancara dengan bapak Tri Djoko Kusminto sebagai seorang pemimpin yang memandangnya secara pribadi tentang guru pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen mempunyai pribadi yang unggul dalam Keprofesionalnya, di sini menurut kepala sekolah, guru di SMA Widya Dharma Turen khususnya guru pendidikan agam islam sudah memenuhi standar kualifikasi untuk menjadi seorang yang patut di teladani oleh orang lain khususnya untuk siswa di SMA Widya Dharma Turen. Jika dilihat dari latar belakang kependidikan guru seperti yang diterapkan dalam tabel bahwa guru pendidikan agama islam sudah sesuai seperti yang diharapkan karena guru pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen sudah menempuh pendidikan sarjana yaitu S.1 (strata satu) maka dari itu guru pendidikan agama islam bisa dikatakan profesional. Akan tetapi harus kembali lagi pada kehidupan pribadi guru itu sendiri yaitu guru

pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma belum mendapat pelayanan yang baik dari pemerintah. Sebab guru pendidikan agama islam di sini belum PNS, untuk itu guru pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen harus mengajar dibeberapa lembaga lain untuk menambah biaya hidup sehingga waktunya untuk lembaga SMA Widya Dharma Turen ini sangat terbatas.74 Dari penjelasan di atas kalau dikaitkan dengan pendapat Mukti Ali, yang memberi penjelasan tentang kegunaan guru dalam membina dan mendidik siswa yaitu; pekerjaan guru adalah pekerjaan yang muliah dan luhur, baik ditinjau dari sudut masyarakat dan Negara dan ditinjau dari sudut keagamaan. Tinggin rendahnya kebudayaan suatu

masyarakat , maju atau mundurnya tingkat kebudayaan suatu masyarakat, tergantung kepada pendidikan dan pengajaran yang diberikan oleh guru-guru terutama guru pendidikan agama islam, makin baik pula pendidikan dan pengajaran yang diterima oleh anak didik dan makin tinggi pula derajat masyarakat.75 Di SMA Widya Dharma Turen selain problem pada guru karena pada dasar guru pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen tidak hanya satu tetapi ada tiga orang, untuk itu tingkat

pengetahuannyapun berbeda-beda. Tentang guru pendidikan agama islam yang mengajar kelas X seperti yang jelaskan bapak kepala sekolah, kurang menguasai tentang kurikulum atau tidak terlalu profesional karena guru tersebut baru lulus, sehingga dalam hal
74 Hasi Wawancara Dengan Kepala Sekolah SMA Widya Dharma Turen, Bapak Tri Djoko Kusminto Pada Hari Selasa Tanggal 25 November 2008 75 Mukti Ali, Op, Cit., hlm.81-82

kekurangan buku paket di SMA Widya Dharma Turen akan berdampak buruk pada perkembangan pengetahuan siswa tentang pendidikan agama islam. karena buku paket yang jumlah sangat sedikit bila dibandingkan dengan jumlah siswa yang relatif banyak tidak bisa memadainya. Buku paket yang ada di SMA Widya Dharma belum bisa memadai proses belajar mengajar terhadap pendidikan agama islam. Di SMA Widya Dharma Turen tentang problem yang dihadapi yang berkaitan dengan sarana dan prasarana salah satunya tentang keberadaan buku paket. Faktor Institusional 1) Problem Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana adalah penunjang untuk keberhasilan proses belajar mengajar. Masih terkait problem buku paket. Dengan adanya sarana dan prasarana proses belajar mengajar yang ada di SMA Widya Dharmna Turen bisa mempraktekkan teori yang dipelajari di dalam kelas. Jumlah buku paket yang ada dimiliki SMA Widya Dharma tidak sesuai dengan kebutuhan siswa.menguasai materipun bisa dikatakan masih perlu menambah wawasan agar mencapai standar kualifikasi seperti yang diharapkan semua pihak. Tetapi pihak sekolah memberi kebijakan pada guru tersebut untuk mengikut sertakannya dalam pembinaan guru atau seminar yang diadakan di kota Malang khusususnya dalam pendidikan agama islam. buku paket adalah sarana yang sangat intim yang harus dimiliki oleh lembaga. b. seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa di SMA Widya Dharma Turen sudah menggunakan kurikulum KBK dan kurikulum KTSP .

kamar mandi itu masih dalam keadaan terbuka dan untuk tempat berwudlupun hanya satu.sementara buku paket yang menjadi penunjang pokok dalam pembelajaran pendidikan agama islam masih sistim kurikulum 1999 (suplemen). Namu dari segi penunjang lain seperti kamar mandi yang terdapat di samping masjid masih perlu direnovasi.76 Selain problem pada sarana dan prasaran tentang buku paket masih ada problem lain tentang keberadaan sarana ibada di SMA Widya Dharma yang perlu ditelusuri. maka dari itu bagi siswa yang berjumlah sangat banyak belum bisa memadai proses kelancara praktek peribadatan. Karena keberadaan kamar mandi akan memberikan kenyamanan tersendiri untuk kelancaran beribada. bisa dibayangkan bahwa memadukan kedua hal tersebut bagi guru dan siswa sangat sulit walaupun mungkin bagi guru mudah tetapi murid yang belum mengetahui apa itu kurikulum sangat sulit untuk mengerti ketika guru menerapkan sesuai tuntutan kurikulum. . sebab dari hasil observasi yang kebetulan peneliti melakukan penelitian pada hari jum’at ketika siswa mengadakan shalat berjama’ah dan berwudlu masih banyak siswa yang antri sehingga pada saat shalat jum’at sudah dimulaipun siswa masih banyak yang belum berwudlu dan pada akhirnya banyak siswa 76 Polarisasi Di Atas Merupakan Hasilwawancara Penelitian Seacar Umum Terhadap Beberapa Tenaga Kependidikan Dan Wakakurikulum Di SMA Widya Dharma Turen Malang. Masjid adalah sarana dan prasarana pendidikan agama islam yang sangat penting keberadaannya. Fasilitas yang ada di masjid seperti mukena. Pada Tanggal 25 November 2008 Di Ruang Waka Kurikulum. di belakang gedung kelas XII Bahasa terdapat masjid. Al-Qur’an sudah memenuhi syarat.

yang pulang karena malas antri tempat untuk mengambil air wudlu. Nugroho. Terlebih dengan menjamurnya tempattempat permainan yang tersedia dalam lingkungan tempat tinggal siswa sehingga akan menjadi factor utama dalam menghabat keinginan anak untuk konsentrasi dengan baik pada pendidikan agama islam mapun ilmu pendidikan umum. Untuk itu pihak sekolah terutama kepala sekolah bisa memberikan kebijakan untuk sarana pendidikan agama islam agar apa yang menjadi problem pendidikan di dalam kelas bisa di selesaikan di masjid. 3000-5000 anak-anak bisa menikmati permainan sampai tiga jam bahkan sampai puas. c. Dalam waktu tiga jam ini kalau digunakan untuk belajar maka anak didik sudah bisa menghafal beberapa ayatayat yang menjadi tugasnya di sekolah.77 77 N. 47-48 . Ini adalah bentuk problem yang terjadi di SMA Widya Dharma Turen yang berkaitan dengan sarana dan prasarana. dalam hal tersebut bisa dibayangkan ini kondisi fisik dan pikiran anakpun akan merasa kelelahan. tempat permainan beliar. Di beberapa tempat di SMA Widya Dharma Turen tersedia beberapa tempat permainan seperti play station (PS). hlm. Belajar Mengatasi Hambatan Belajar. Faktor Eksternal 1) Problem Lingkungan Pergaualan dengan teman dan lingkungan lainnya juga sangat menentukan kesuksesan anak didik dalam mempealajari ilmu pendidikan agama islam. (Jakarta: Prestasi Pustaka 2007). cukup bayar Rp.

di sekitar SMA Widya Dharma Turen. mengenai lingkungan keluarga dimana orang tua dan anak seharusnya saling membagi untuk memecahkan problem yang terjadi pada diri anak. sehingga pengetahuan anak tentang agamapun sangat kurang. lingkungan keluarga inilah yang menjadi dasar timbulnya problematika pada anak. lingkungan masyarakat. Orang tua siswa yang ada di SMA Widya Dharma Turen kurang memperhatikan keadaan anaknya dalam hal pendidikan maupun pendidikan agama islam. Walaupun lingkungan tersebut bisa dikatakan mayoritas beragama islam di sekitar lingkungan sekolah SMA Widya Dharma Turen ini akan tetapi untuk praktek lapangannya masih minim. Hal ini bisa dipastikan dengan melihat realita yang terjadi pada diri siswa di SMA Widya Dharma Turen. lingkungan masyrakatnya belum bisa dikatakan baik karena masyarakat tidak menunjukkan perhatian yang positif terhadap siswa yang tinggal kos. tidak adanya junjungan dari orang tua untuk menerapkan pada anak agar mempelajari pendidikan agama islam lebih dalam. Kedua. Karena dari hasil pantauan peneliti jauh . Perhatian orang untuk membina ilmu agama sebagai bekal dunia dan akhirat harus diperhatikan sejak awal sehingga pada waktu anak masuk SMA pun anak-anak sudah bisa atau terbiasa dengan hal yang berbau religius.Dari uraian di atas adalah gambaran yang terjadi pada lingkungan anak didik di sekitar lingkungan SMA Widya Dharma Turen yang di jelaskan lebih dalam sebagai berikut: Pertma.

Dari hasil penelitian observasi di atas sama halnya seperti yang diungkapkan bpk. apalagi di belakang sekolah ini terdapat tempat permainan yang namanya play station (PS). kondisi lingkungan tidak menunjukkan perilaku yang bisa mencontoh bagi siswa. Dan pihak guru. Hal itu bukan tidak mungkin akan mempengaruhi perkembangan pembelajaran siswa apalagi untuk belajar pendidikan agama islam untuk mempelajar yang lain seperti ilmu umumpun pasti akan berpengaruh. Tri Djoko Kusminto. Kami sebagai pihak guru merasa prihatin dengan keadaan seperti itu.sebelum diadakan penelitian di SMA Widya Dharma Turen.Pada Tanggal 18 November 2008 di Ruang Kepala Sekolah 78 . orang tua dan siswa tersebut akan duduk berdampingan untuk membicarakan masalah ini yang nantinya akan diselesai bersama”78 Wawancara Dengan Kepala Sekolah bpk. biasanya tempat tersebut digunakan oleh sebagian masyarakat atau anak muda untuk minum-minum dan di tempat itu juga tersedia tempat untuk bermain beliar. kadang anak keluarnya meloncat pagar belakang itu (sambil menunjukkan pagar yang ada di belakang gedung) di situ siswa bermain sampai proses belajar usai. Drs. Tentang kondisi lingkungan masyarakat yang ada di sekitar SMA Widya Dharma Turen ini pada waktu shalatpun kebanyakan orang tua maupun anak muda masih ngobrol di tempat khusus. Padahal di lingkungan tersebut yang sekolah di SMA Widya Dharma kebanyak siswa pendatang dan otomatis siswa tinggal kos sehingga siswapun jauh dari pantauan orang tua. kepala sekolah yaitu: “Tentang pengaruh lingkunan terhadap perkembangan siswa tetap ada. biasanya saya kalau sudah tahu ada siswa yang main di tempat tersebut saya akan menjemput dan besoknya akan dipanggil orang tuanya.

Faktor internal 1) Kendala Pada Anak Didik Adapun kendala pada anak didik tentang problematika pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen ini terkait dengan minat siswa. Kendala-Kendala Dalam Mengatasi Problematika Pendidikan Agama Islam a. B. apabila ada kemauan pasti akan sukses dalam mempelajari pendidikan agama islam.Adapun lebih jelasnya tentang problem lingkungan di SMA Widya Dharma Turen ini menurut peneliti tidak adanya kerjasama antara guru dan masyarakat sekitar sehingga apapun yang terjadi pada diri bagi masyarakat lepas tangan. Sehingga bagi guru dalam pemecahanya problem susah. karena tidak ada kemauan siswa untuk belajar pendidikan agama islam. . minat siswa pada pembelajaran pendidikan agama islam sangat minim sekali. Dari beberapa problem di atas akan di cari solusinya pada pembahasan selanjutnya yang nantinya bisa menjadi masukan dan arahan untuk kelancaran proses pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen Malang. Seharusnya siswa mempunyai kemauan yang tinggi baik dalam mempelajari ilmu umum maupun ilmu pendidikan agama islam walaupun pada dasarnya siswa tidak mempunyai dasar pengetahuan. Padahal jika dilihat tentang tanggung jawab seseorang misalnya masyarakat walaupun bukan anaknya sendiri tetap saja bertanggung jawab apabila melihat anak atau siswa melakukan hal-hal di luar syar’at islam.

bahkan ketika ditanyapun pasti guru menjawabnya malu-malu. Pemerintah kurang memperhatikan keadaan guru. ilmu agama dianggap enteng sehingga tidak memperhatikan tentang pelajaran pendidiakna agama islam. dalam hal materipun juga seperti itu. cuman waktu guru pendidikan agama islam sangat kurang sehingga untuk lebih memantau perkembangan pendidikan agama islampun masih sedikit.I Guru Pendidikan Agama Islam 18 November 2008 di Ruang Guru . ketika disuruh hafal Al-Qur’an untuk tugas minggu depan masih belum mencapai separoh dari siswa yang bisa hafal.Pd. artinya guru selalu identik dengan kemiskinan. Bagi siswa masih menganggap tidak penting. agar guru bisa tetap mengajar di satu lembaga. sehingga siswapun semakin tidak berminat dengan 79 Wawancara Ibu Auliah Kurnia S. Akhir-akhir ini banyak guru yang tidak bangga dengan profesinya khususnya guru pendidikan agama islam. guru belum bisa menguasasi kurikulum baru karena memang kurikulum yang dipakai masih termasuk kurikulum baru.Hasil wawancara dengan ibu Auliah Kurniah bahwa minat anak sangat minim. Selain itu siswa di SMA Widya Dharma Turen masih berpikir kalau ilmu pendidikan agama islam tidak termasuk materi UNAS maka dari itu siswa kebanyakan tidak memperhatikan pendidikan agama. Sebagaimana pendapat Mukti Ali yang mengatakan: guru sendiri sudah semakin tidak bangga dengan profesinya. Dan tidak sedikit gurupun yang bertahan menjadi guru hanya karena tidak memperoleh alternative kehidupan lain.79 2) Kendala Pada Pendidik Kendala pada guru sebenarnya tidak terlalu ditemukan.

. hlm. . akan berdampak pada penundaan memperbaiki fasilitas pendidikan agama islam seperti buku paket.pendidikan agama islam karena takut berprofesi menjadi seorang guru kalaupun itu banyak siswa yang masuk jurusan pendidikan khususnya pendidikan agama islam itu karena terpaksa bukan atas dasar kemauannya. Factor Eksternal 1) Lingkungan Kendala pada lingkungan di SMA Widya Dharma Turen seperti yang diutarakan pada problem tersebut di atas bahwa keluarga dan lingkungan masyarakat kurang memperhatikan keadaan anak didik sehingga anak 80 M. b. Factor Institusional 1) Sarana dan Prasarana Tidak bisa dipungkiri kalau masalah dana adalah pokok dari segala problem. Ali Hasan & Mukti Ali. Op Cit. Kendala ini bisa juga terjadi karena hubungan timbal balik pihak yayasan SMA Widya Dharma Turen dan masyarakat kurang harmonis sehingga bantuan yang masukpun berkurang. Tentang dana untuk membeli buku paket yang masih belum bisa teratasi karena masih banyak yang perlu diperbaiki seperti fasilitas kelas. kurangnya perhatian pemerinta terhadap kelayakan biaya hidup guru akan berdampak pada tidak minatnya siswa pada jurusan atau materi pendidikan agama islam. sarana masjid yang berkaitan dengan sarana ibada.80 Dengan adanya penjelasan di atas pemerintah juga harus memperhatikan keadaan guru. untuk meningkatkan fasilitas sekolah SMA Widya Dharma. c.

Dari beberapa problem seperti yang diuaraikan sebelumnya bahwa minat dan kemauan siswa . dengan pendapat dari pihak-pihak yang terkait seperti para guru pendidikan agama islam maupun pihak-pihak yang ada di SMA Widya Dharma Turen serta dengan mematokkan dari pendapatnya para tokoh-tokoh pendidikan pada umumnya dan dari pendapat penulis itu sendiri.terbengkalai begitu saja tanpa ada motivasi dan didikan dari orang yang menjadi dasar pengetahuan anak. Faktor internal 1) Anak Didik Untuk mengatasi beberapa problem yang terjadi pada anak didik di SMA Widya Dharma Turen diperlukan keuletan dan kesabaran pihakpihak yang terkait seperti guru. dan orang tua. Adanya tempat-tempat permainan di dekat lingkungan SMA Widya Dharma Turen akan menjadikan anak didik kurang minat pada pendidikan agama islam dan kebanyakan anak didik menghabiskan waktu pada tempat tersebut. Karena biar bagaimanapun anak didik adalah orang yang masih perlu mendapat bimbingan dan arahan dari orang dewasa sehingga segala sesuatu harus ada pihak untuk menunjukan jalan pada anak ke jalan yang lurus. Upaya-Upaya Yang Dilakukan Dalam Mengatasi Mproblematika Pendidikan Agama Islam di SMA Widya Dharma Turen Malang Dari beberapa problem yang ditemukan selama penelitian penulis akan menguraikan beberapa upaya untuk memecahkan problem yang terjadi di SMA Widya Dharma Turen. Adapun beberapa problem yang perlu diselesaikan dalam pembahasan kali ini adalah tentang hal-hal sebagai berikut: a. C.

sebelum memualai proses belajar mengajar yaitu pada waktu pertama masuk kelas saya perhatikan tingkat minatnya siswa. dan waktu agar anak tidak merasa bosan dengan pelajaran yang diberikan oleh gurunya. dan selain itu memberi motivasi juga penting agar siswa tidak merasa lelah dan bosan kemudian dilakukan pertanyaan umpan balik dengan tujuan untuk menarik minat siswa”81 Dari paparan di atas suatu cara untuk mengatasi problem yang timbul dalam pendidikan agama islam. kemudian apabila ada problem seperti itu maka saya ajak guyon. Menurut ibu Auliah Kurnia guru pendidikan agama kelas X dalam mengatasi problem yang terjadi pada anak didik menyampaikan beberapa strategi bahwa : “Dalam mengatasi problem terhadap siswa yang kurang minat terhadap pendidikan agama islam. Adapun beberapa upaya untuk mengatasi problematika pendidikan agama islam pada anak didik bagi setiap guru berbeda-beda. rileks. guru mencoba menggunakan strategi-strategi dan metode yang bervariasi untuk mengatasi problem yang terjadi pada setiap anak. Guru dan pihak sekolah yang ada di SMA Widya Dharma Turen mencoba mengatasi problem yang timbul pada diri siswa. dan memberikan pertanyaan yang membuat anak ceriah akat tetapi sesuai dengan inti materi. Karena pada dasarnya untuk mata pelajaran pendidikan agama islam tidak ada media yang terlalu menarik sehingga bagi anak-anak pendidikan agama islam bukan suatu yang penting karena tidak ada perhatian khusus terhadap mata pelajaran 81 Wawancara Dengan Ibu Aullia Kurnia Pada Tanggal 18 November 2008 .untuk mempelajari pendidikan agama islam agar lebih optimal dan cerdas dalam hal agama yaitu guru harus pintar-pintar mengatur strategi agar bisa menarik minat siswa.

(PT. hlm. 1986). H. sehingga siswa mau dan ingin melakukan sesuatu. Menurut Mc. Hal di atas seringkali digunakan oleh para guru termasuk guru pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen sebagaimana penjelasan bpk. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. 73 82 . motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului tanggapan terhadap tujuan”82 Seperti yang dijelaskan tersebut bahwa motivasi sangat penting untuk meningkatkan minat belajar siswa SMA Widya Dharma Turen dalam pendidikan agama islam karena motivasi adalah serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu. Donal dalam bukunya Sardiman untuk mengatasi problematika pembelajaran siswa terhadap mata pelajaran “diperlukan motivasi. Jadi motivasi itu untuk merangsang agar siswa yang tidak berminat dengan pembelajaran pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen bisa teratasi. Selain itu masih banyak cara lain untuk menumbuhkan minat siswa terhadap pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen. Maka dari itu guru mencoba memberikan keceriaan untuk meningkatkan daya minat siswa terhadap prndidikan agama islam. Abdul Halim guru pendidikan agama islam kelas XI tentang memotivasi adalah salah satu upaya untuk memecahkan problematika pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen adalah seabgai berikut: Sardiman.tersebut. Raja Grafindo Persada.

saya memberikan Al-Qur’an kecil bagi anak yang pintar. sehingga akan bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan. perasaan. Ali Fattar guru pendidikan agama islam yang mengajar kelas XII yang mengatakan bahwa dalam mengatasi problem siswa diperlukan pendekatan secara intensif. anak yang tidak bisa merespon bahwa orang bisa itu selalu mendapat imbalan yang baik.M. hal itu saya lakukan agar siswa yang tidak bisa mau belajar kaya membaca Al-Qur’an bisa menarik hatinya agar mau belajar seperti temannya yang dikasih hadia. dan juga emosi. Sedangkan menurut bapak H. Motivasi akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri anak.Pd. puasa dan membaca Al-Qur’an diperlukan penganganan serius dari orang tua dan guru khususnya guru pendidikan agama islam. tetapi untuk anak yang tidak bisa tetap diperhatikan. untuk bertindak atau melakukan sesuatu.M. Kadang kalau ada rezki itu mbak. 83 . dan juga agenda muslim. Di SMA Widya Dharma Turen salah satu fakto problem pegamalan anak terhadap shalat berjama’ah.“Untuk memotivasi biasanya saya menyediakan benda yang berupa hadia. Dengan harapan saya. Semua ini tentunya didorong oleh karena adaya kebutuhan atau suatu keinginan dari dalam diri itu sendiri. Untuk mengatasi problem yang tidak mengikuti shalat jum’at menurut bpk.I. sehingga anak-anak merasa dihargai dan di sayangi. seperti buku bacaan agama islam. Ali Fattar yang mengungkapkan sebagai berikut: Wawancara Dengan bpk. Pada Tanggal 18 November 2008. Abdul Halim S. melakukan pendekatan baik di dalam kelas maupun di luar kelas”83 Dari element yang yang dijelaskan oleh bpk Abdul Halim di atas disimpulkan bawa motivasi itu sebagai sesuatu yang kompleks. H. (Guru Pendidikan Agama Islam Kelas XI).

M. guru harus mempunyai Wawancara Dengan Bapak H. di Ruang Kepala Sekolah 84 . merangkum diperpustakaan sesuai judul khutbah. Namun dalam hal pendidikan agama islam. Pada Tanggal 21 November 2008. Jika pada saat awal menyampaikan materi seorang guru sudah terlihat tidak bersemangat dan tidak memiliki antusiasme yang tinggi maka akan berdampak pada keberhasilannya dalam menyampaikan materi pelajaran. penampilan guru sangat mempengaruhi minat siswa dalam belajar. akan tetapi sanksi yang diberikan yang bersifat mendidik seperti anak disuruh rangkum hasil khutbah. Tentang problem guru yang perlu diperhatikan penampilannya. kadang orang tuangya juga di panggil kalau memang kesalahan anak tersebut sudah sangat kelewatan untuk ikut andil dalam menyelesaikan problem pada siswa”84 Jadi kesimpulannya dalam memberikan hukuman sebagai upaya untuk memecahlan problematikan pendidikan agama islam harus bersifat mendidik. Bagaimana guru bisa menyampaian materi pelajaran agar bisa menarik dan mudah dipahami anak didiknya sehingga pelajaran tidak terasa memobasankan. karena anak usia remaja perkembangan kejiwaannya masih belum stabil jadi perlukan keuletan dan perhatian yang lebih dari orang terdekat seperti guru agama. Seorang guru harus mampu menjadi inovator dan inspirator bagi anak didiknya dalam belajar. Ali Fattar Guru PAI. Untuk mengatasi problem tersebut seorang guru juga turut memegang peranan yang tidak kala pentingnya dalam proses belajar mengajar. orang tua dan lain-lain. Semangat guru dalam menyampaikan sebuah materi pelajaran tentu saja sangat menentukan langkah selanjutnya dari para anak didiknya dalam memperdalam materi tersebut. 2) Upaya Pendidik Sebenarnya guru adalah orang yang dituntut untuk bisa menyelesaikan problem yang terjadi pada diri seseorang khususnya siswa.“Kalau anak-anak yang tidak mengikuti shalat jum’at tetap ada sanksi.

Untuk guru yang belum professional khususnya dalam pendidikan agama islam kepala sekolah mengupayakan untuk mengikuti seminar. tidak semua guru mempunyai pengetahuan lebih.akhlak yang baik dan bisa menjadi contoh tauladan bagi siswanya. dan menghadapi anak didik di SMA Widya Dharma Turen. Karena guru yang mengajar di SMA Widya Dharma ini terdapat tiga orang guru. kurikulum. dengan adanya perhatian itu makan guru pendidikan agama islam bisa mendidik anakanak secara intensif sesuai dengan yang diinginkan oleh sekolah. Kadangkala guru pandidikan agama pengetahuannya tentang agama bisa saja kurang. Dengan begitu harapan kami sebagai kepala sekolah bisa menjadi guru yang professional baik dalam hal penyampaian materi. keterbatasan waktu ini bukan atas dasar timbul karena kemauan dari pendidik itu sendiri. maka tingkat pengetahuannyapun berbeda-beda. namun dari beberapa factor yang berkaitan dengan keadaan pendidik misalnya kurang biaya hidup. Tentang problem yang terjadi pada guru di SMA Widya Dharma Turen tentang keterbatasan waktu guru untuk lebih mengabdi pada lembaga SMA Widya Dharma Turen ini. dan MGMP yang diadakan khusus untuk ilmu pengetahuan pendidikan agama islam. . Selain problem itu masih ada beberapa problem lain yang perlu di cari solusinya seperti kualitas guru. Untuk mengatasi hal tersebut menurut bapak kepala sekolah diharapkan pada pemerintah untuk lebih memperhatikan keadaan guru pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen.

Upaya untuk mengatasi problem yang terjadi pada lingkungan di SMA . maka pencapaian tujuan bisa sesuai seperti yang diharapkan.b. c. Dari segi sarana dan prasarana pendidikan agama islam diperlukan adanya usaha untuk meningkatkan yaitu dengan melakukan beberapa hal sebagai berikut: 1) Mengajukan proposal kepada pemerintah agar bisa membantu baik berupa dana atau berupa buku paket terutama buku paket pendidikan agama islam. 2) Kepala sekolah harus mempunyai hubungan timbal balik yang baik dengan masyarakat agar masyarakat bisa memberikan bantuan untuk membeli instansi-instansi sekolah. guru hendaknya berusaha memperoleh sesuatu bila sesuai dengan obyek pendidikannya. Factor institusional 1) Upaya Sarana Dan Prasarana Dalam upaya untuk memecahkan problematika pendidikan agama islam pada sarana dan prasarana di SMA Widya Dharma Turen. diperlukan peningkatan sarana yaitu tentang jumlah buku paket diperbanyak agar siswa bisa memiliki dan bisa pinjam sesering mungkin apabila diperlukan. Untuk meningkatkan sarana pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen. Faktor eksternal 1) Upaya Pada Lingkungan Suasana lingkungan akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan proses belajar anak terhadap pndidikan agama islam.

Apalagi orang tua pada umumnya tidak mengauasai masalah-masalah mengenai pendidikan terutama pendidikan agama islam. tidak mungkin guru melakukan seorang diri apa yang menjadi kegiatan siswa. yaitu dengan mengadakan pertemuan antara wali murid (orang tua anak didik) dengan guru di sekolah dalam satu semester atau pada saat penerimaan rapor. Kurangnya perhatian orang tua pada anaknya dalam hal pendidikan agama islam ini akan memerlukan upaya untuk pemecahannya. akan tetapi peran orang tua sangat penting untuk dilakukan. sehingga anak didikpun terpengaruh dengan kondisi dan situasi yang ada. Di lingkungan SMA Widya Dharma Turen mengenai lingkungan keluarga kurang memperhatikan perkembangan pendidikan agama islam. Lingkungan masyarakat yang memberikan pengaruh baik akan berdampak positif pada perkembangan pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen. Keluarga sangat berpengaruh sekali pada tingkah laku dan pola pikir anak didik untuk memantau apa yang menjadi kegiatan siswa seharihari. dengan begitu orang tua bisa mengetahui sejauh mana perkembangan pendidikan anaknya. Lingkungan pendidikan tidak hanyak mengacu pada lingkungan di dalam sekolah saja akan tetapi lingkungan keluarga juga perlu memperhatikan problem yang timbul pada anak sebagai peserta didik.Widya Dharma Turen harus ada kerja sama antara masyarakat dan pihak sekolah. .

WC. ruang belajar yang nyaman dan menyenangkan akan mempengaruhi keefisiensinya proses belajar mengajar siswa dengan guru di dalam kelas maupun di luar kelas. Dengan adanya gedung sekolah yang bersih dan asri. Berkaitan dengan paparan di atas bisa mematokkan dari pendapatnya Muhammad Nurdin yang berpendapat sebagai berikut: beberapa alternatif lain yang menjadi upaya dalam memecahkan problematika pendidikan agama islam. dalam hal lingkungan diperlukan penatan lingkungan sekolah di SMA Widya Dharma Turen. kantor. Muhammad Nurdin. mushalah.85 Makan langkah yang diambil oleh pihak SMA Widya Dharma Turen dalam pemecahan problem pada lingkungan. penataan lingkungan sekolah yang mencakup gedung. kebun. 2005).72 85 . diadakan satpan sebagai pengatur lingkungan keamanan dan staf kebun (tukang kebun) sebagai penata lingkungan sekolah dengan tujuan agar lingkungan di SMA Widya Dharmaturen Malang lebih nyaman sehingga siswa tidak merasa jenuh.khususnya dalam pendidikan agama islam di SMA Widaya Dharma Turen. halaman. lapangan olahraga. ruang perpustakaan. hlm. dan taman sebagai halaman untuk belajar. karena pada dasarnya anak adalah merupakan figur manusia yang ingin bebas dan bergerak. (Ogyakarta: Ar-Ruzz Media. Pendidikan Yang Menyebalkan.Tujuan dari penataan lingkungan ini agar terciptanya suatu kondisi edukatif yang nyaman.

Problem pada sarana dan prasarana 1) Jumlah buku paker yang sangat minim sehingga siswa merasa kesulitan mencari reference. Problem pada pendidik 1) Masih ada beberapa guru yang mengajar di lembaga lain sehingga waktunya sangat terbatas untuk SMA Widya Dharma Turen. 2) Kurangnya profesional guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik. faktor Institusional a.BAB VI PENUTUP A. 2. bukan sebagai kewajiban yang harus dipelajari sebagaimana mestinya. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pemahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Problematikan pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen dilihat dari beberapafaktor yaitu. baik dari segiri ilmu maupun keadaan. 2) Fasilitas masjid yang kurang memadai sehingga praktek shalat jum’at tidak kondusif . 2) Siswa masih mengaggap bahwa pendidikan agama islam hanya sebuah persyaratan. 1. factor Internal a. Problem pada anak didik 1) Siswa kurang berminat pada pendidikan agama ialam.

4) Adanya tempat permainan yang mempengaruhi siswa sehingga waktunya dihabiskan ditempat tersebut. Berdasarkan hasil temuan dan pembahasan skripsi bahwa upaya yang dilakukan terhadap problem-problem yang terjadi di SMA Widya Dharma turen adalah sebagai berikut: 1.3. factor Eksternal a. diperhatikan secara khusus dengan melakukan pendekatan yaitu merangkum buku agama yang berkaitan dengan materi pendidikan agama islam di perpustakaan 2) Bagi siswa yang tidak ikut shalat jum’at di sekolah dikasi sanksi yaitu merangkum hasil khutbah yang sesuai dengan judul khutbah. Upaya pemecahannya dalam problematika pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen. Faktor Internal a. Problem pada lingkungan 1) Lingkungan keluarga siswa kurang memperhatikan perkembangan pendidikan agama islam 2) Orang tua siswa lebih mengacu pada pendidikan umum dan mengabaikan pendidikan agama islam yang menjadi kewajiban. 3) Lingkungan masyarakat yang kurang mendukung terhadap kelangsungan pendidikan agama islam. . Upaya pada anak didik 1) Siswa yang kurang minat belajar.

Factor Institusional -Upaya pada srana dan sarana 1) Jumlah buku paket di usahakan lebih banyak agar siswa tidak kesulitan mendapatkan reference. 2. 2) Guru banyak mebaca buku tentang pendidikan agama untuk menambah wawasan. 2) Lingkungan sekitar memberikan contoh yang baik pada siswa. 3) Guru banyak mempelajari tentang agama islam dan yang dilihat TV maupun radio untuk menambah wawasan. 2) Sarana masjid tidak memadai Sarana atau fasilitas masjid di usahakan untuk memperbaiki agar shalat jum’an lebih efisien.b. factor Eksternal Upaya pada lingkungan 1) Untuk lingkungan harus bekerja sama antara masyarakat dan lingkungan sekitar untuk mengatasi problem yang terjadi pada diri siswa. Upaya pada pendidik 1) Kepala sekolah mengambil kebijakan bagi guru khususnya guru pendidikan agama islam untuk mengikut sertakannya dalam seminar. 3. .

disamping guru yang profesional harus diimbangi dengan fasilitas yang lengkap agar proses belajar mengajar lebih efisien. Anak didik hendaknya meningkatkan disiplin dalam mempelajari pendidikan agama islam. . Dalam usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan agama islam di SMA Widya Darma Turen belum cukup hanya mengandalkan keprofesionalnya guru saja.B. baik di sekolah maupun di rumah. 4. Lingkungan pada segenap pihak yang berhubungan dengan anak didik akan lebih diperhatikan sehingga anak didik termotivasi untuk mempelajari pendidikan agama islam. 3. 2. Saran Dari hasil penelitian maka penulis masih perlu memberikan saran sebagai pelengakap dalam meningkatkan kualitas pendidikan agama islam sebagai berikut: 1. dengan mengasah otak dengan cara membaca terus maka ilmu akan bertamabah luas. pemerintah agar segenap pihak bisa memberikan bantuan untuk memperbaiki fasilitas sekolah. Untuk sarana dan prasarana diharapkan pada pihak sekolah bisa melakukan hubungan timbal balik yang baik kepada masyarakat.

a. 4) Siswa masih mengaggap bahwa pendidikan agama islam hanya sebuah persyaratan.BAB VI PENUTUP C. baik dari segiri ilmu maupun keadaan. 4) Kurangnya profesional guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Problem pada pendidik 3) Masih ada beberapa guru yang mengajar di lembaga lain sehingga waktunya sangat terbatas untuk SMA Widya Dharma Turen. Problem pada anak didik 3) Siswa kurang berminat pada pendidikan agama ialam. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pemahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. bukan sebagai kewajiban yang harus dipelajari sebagaimana mestinya. a. Problem pada sarana dan prasarana . b. Problematikan pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen.

diperhatikan secara khusus dengan melakukan pendekatan yaitu merangkum buku agama yang berkaitan dengan materi pendidikan agama islam di perpustakaan . 4) Adanya tempat permainan yang mempengaruhi siswa sehingga waktunya dihabiskan ditempat tersebut. Upaya pemecahannya dalam problematika pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen. Problem pada lingkungan 1) Lingkungan keluarga siswa kurang memperhatikan perkembangan pendidikan agama islam 2) Orang tua siswa lebih mengacu pada pendidikan umum dan mengabaikan pendidikan agama islam yang menjadi kewajiban. 2. 4) Fasilitas masjid yang kurang memadai sehingga praktek shalat jum’at tidak kondusif c. 3) Lingkungan masyarakat yang kurang mendukung terhadap kelangsungan pendidikan agama islam. Upaya pada anak didik 1) Siswa yang kurang minat belajar. Berdasarkan hasil temuan dan pembahasan skripsi bahwa upaya yang dilakukan terhadap problem-problem yang terjadi di sma widya dharma turen adalah sebagai berikut: c.3) Jumlah buku paker yang sangat minim sehingga siswa merasa kesulitan mencari reference.

d. Upaya pada lingkungan 3) Untuk lingkungan harus bekerja sama antara masyarakat dan lingkungan sekitar untuk mengatasi problem yang terjadi pada diri siswa. f. Upaya pada pendidik 4) Kepala sekolah mengambil kebijakan bagi guru khususnya guru pendidikan agama islam untuk mengikut sertakannya dalam seminar. 4) Lingkungan sekitar memberikan contoh yang baik pada siswa D. 5) Guru banyak mebaca buku tentang pendidikan agama untuk menambah wawasan. e. 4) Sarana atau fasilitas masjid di usahakan untuk memperbaiki agar shalat jum’an lebih efisien. 6) Guru banyak mempelajari tentang agama islam dan yang dilihat TV maupun radio untuk menambah wawasan. Saran Dari hasil penelitian maka penulis masih perlu memberikan saran sebagai pelengakap dalam meningkatkan kualitas pendidikan agama islam sebagai berikut: . Upaya pada srana dan sarana 3) Jumlah buku paket di usahakan lebih banyak agar siswa tidak kesulitan mendapatkan reference.2) Bagi siswa yang tidak ikut shalat jum’at di sekolah dikasi sanksi yaitu merangkum hasil khutbah yang sesuai dengan judul khutbah.

dengan mengasah otak dengan cara membaca terus maka ilmu akan bertamabah luas. Lingkungan pada segenap pihak yang berhubungan dengan anak didik akan lebih diperhatikan sehingga anak didik termotivasi untuk mempelajari pendidikan agama islam. 2.1. baik di sekolah maupun di rumah. Untuk sarana dan prasarana diharapkan pada pihak sekolah bisa melakukan hubungan timbal balik yang baik kepada masyarakat. Anak didik hendaknya meningkatkan disiplin dalam mempelajari pendidikan agama islam. pemerintah agar segenap pihak bisa memberikan bantuan untuk memperbaiki fasilitas sekolah. . 4. disamping guru yang profesional harus diimbangi dengan fasilitas yang lengkap agar proses belajar mengajar lebih efisien. Dalam usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan agama islam di SMA Widya Darma Turen belum cukup hanya mengandalkan keprofesionalnya guru saja. 3.

Ilmu. Lexy. Kapita Selekta Pendidikan Agama Islam. Metodologi Penelitian Kualitatif.Moleong. Hasan. Asas-Asas Pendidikan Islam. Ma’arif. M.1989.V. Hasan. Kapita Selekta Pendidikan Agama Islam. 2007. Muzayyin. Muhammad& Surya. D. Abdul. . Jakarta: Rineka Cipta. Arikunto. 2004. 2003. Ahmadi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Bumi Aksara. Hujair. Belajar Dan Cara Daradjat. Jakarta: Gema Insani. Ida Bagoes. Jakarta: Rineka Cipta. Paradigma Pendidikan Islam (Membangun Masyarakat Madani Indonesia). Prosesdur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Metodologi Reseaarch II. Edisi ke-2 Djumhur. Jakarta: Pustaka Al-Husna. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ahmad. Yogyakarta: Yayasan Penelitian Fakultas Psikologi UGM. Suharsini. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1991. Yogyakarta: Tiara Wacana. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya. 2005.Ali & Mukti Ali. 2000. Margono S. Kelambanan Dalam Penanggulanginnya. 2003. Ilmu Pendidikan Islam. Mantra. Mukti. Kapita Selekta Pendidikan Islam.. 2003. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Metode Penelitian Pendidikan. Laggulung 1992. Yogyakarta: Graha Ilmu. 1995. 1989.DAFTA PUSTAKA Ali. J. Bandung: C. 2003. Jakarta: Balai Pustaka. Aziz As-Asykhs. Revitalisasi Pendidikan Islam. Al-ma’arif. Jakarta: PT. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya. 2002.Marimba. 1992. Filsafat Penelitian Dan Metode Penelitian Sosial. Strategi Belajar. 1992. Abu. Samsul. Zakiyah dkk. Jakarta: Bumi Aksara dan Departemen Agama RI Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Hadi Sutrisno. Bimbingan Dan Penyuluhan Di Sekolah. Bandung: PT. Bandung: Pustaka Setia Arifin.

Jakarta: Bina Aksara. Raja Grafindo Persada. 2005. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Jakarta: Rineka Cipta.R.2002. Bandung: Remaja Rosdakarya . Nasution. Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam Pemberdayaan. 2003. Sardiman. Jakarta: Prestasi Pustaka. Tafsir. Malang: Jurnal ElHarakah Edisi 58. Samsul. Teoritis Dan Praktis. Nurdin. 2002. Bandung: Remaja Rosdakarya. Surya. Jakarta: Ciputat Pers. Belajar Mengatasi Hambatan Belajar. Ilmu Pendidikan Islam. Nizar. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Purtanto Pius A. 1993. Bandung: Alfabet. Bandung: Remaja Rosdakarya. Muhammad. Pengembangan. 1994. Ahmad. Paradigma Pendidikan Isla. Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Histories.Muhamin. Pendidikan Yang Menyebalkan. Surabaya: Pustaka Pelajar. 2004. 1984. Jakarta: Rineka Cipta. Muhammad.2005. Kamus Ilmia Popular. H. 1986. Psikologi Pembelajaran Dan Pengajaran. E. 2003.A. Supranto J. Surabaya: Arkola. Bandung: Nuansa Cendekia. Tilar. . Dahlan Al-Barry. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Ramayulis.. Memahami Penelitian Kualitatif. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif.(Upaya Mengefektifkan Pendidikan Islam Di Sekolah). Nugroho. Metode Ramalan Kualitatif. Jakarta: Mahaputra Adidaya. Jakarta: Kalam Mulia. . 2002. N. Menuju Pendidikan Berwawasan Berkerukunan. 1996. & M. Mulyasa. Bandung: Trasito. 2002. 2003. Manajemen Berbasis Sekolah. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. 2004. Kurikulum Hingga Redefinisi Islamiah Pengetahuan. Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. 2007. PT. Roibin. Dimensi-dimensi Administrasi Pendidikan Di Sekolah. 2005. Sugiono. Subroto Suryo.

2004. M. 2003. Ilmu Pendidikan Islam. Uzer Usman. 1995. Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Menjadi Guru Profesional.V. Surabaya. Zuhairini. Metodologi Pengajaran Agam. Malang: UIN Mlang Press. Moh. Pustaka Setia. Zuhairini. & Ghofir. Bandung: C. dkk.1983. AK. Abdul. Bandung: Cita Umbara. Metodik Khusus Pendidikan Agama.Uhbiyati Nur. Usaha Nasional. Jakarta: PT. 1997. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Group dan Indra Bunga. . Zein. Tentang System Pendidikan Nasional Pasal 1. 2004. Undang-undang RI Tahun.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful