P. 1
04120054

04120054

|Views: 210|Likes:
Published by Yukpi Yungkangkaeng

More info:

Published by: Yukpi Yungkangkaeng on May 17, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/05/2014

pdf

text

original

PROBLEMATIKA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN

UPAYA-UPAYA PEMECAHANNYA DI SMA WIDYA
DHARMA TUREN MALANG



SKRIPSI



Oleh:

SAIMAH
04120054












PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
2008

PROBLEMATIKA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN
UPAYA-UPAYA PEMECAHANNYA DI SMA WIDYA
DHARMA TUREN MALANG



SKRIPSI



Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang
Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar
Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)


Oleh :

SAIMAH
04120054





















PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG

LEMBAR PERSETUJUAN

PROBLEMATIKA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN
UPAYA-UPAYA PEMECAHANNYA DI SMA WIDYA
DHARMA TUREN-MALANG




SKRIPSI





Oleh:

Saimah
04120054




Telah disetujui pada tanggal, 20 Desember 2008

Oleh:
Dosen Pembimbing



Drs. Muchlis Usman, M.A
NIP. 15009539


Mengetahui,
Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam




Drs. Moh. Padil, M. Pd.I
NIP. 150 267 235
HALAMAN PENGESAHAN

PROBLEMATIKA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN UPAYA-UPAYA
PEMECAHANNYA DI SMA WIDYA DHARMA TUREN MALANG


SKRIPSI

Dipersiapkan dan disusun oleh
Saimah (0410054)
Telah dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal 17 januari 2009
dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan
untuk memperoleh gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam ( S.Pd.I)


PANINIA UJIAN

Ketua Penguji,




Drs. Muchlis Usman, M.A
Nip. 15009539
Sekertaris Sidang,




Dr. Baharuddin, M.Ag
150 215 385



Penguji Utama,



Dra. H.J Sulala. M.A
150267279
Dosen Pembimbing,



Drs. Muchlis Usman, M.A
Nip. 15009539


Mengesahkan,
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang




Prof. Dr. H. M. Djunaidi Ghony
NIP. 150 042 031

LEMBAR PERSEMBAHAN
Ya Rabb
Inilah kata-kataku
Bahasa paling wadag
Dari gairah cintaku
Hasrat untuk bertemu dengan-Mu
Ya Rabb
Betapa masih jauh
Jarak antara ketika
Masih kubutuhkan
Ungkapan
Ya Rabb
Dari hari kehari terus kunanti
Saat mereka dari tubuh ruang waktu ini
Tak perlu kupanggil lagi
Dimana senyum-Mu
Langsung mengasihi
Rohku ini.
Skripsi ini ku persembahkan
Untuk mutiara hatiku
Ama dan Inaku (Abdullah&Khairunnas)
ama, ina terimakasih banyak atas segala
pengorbananmu yang telah memberikan
cinta kasihmu pada ananda
SURAT PERNYATAAN


Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan tinggi,
dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau hasil penelitian
orang lain, kecuali yang tertulis dan mengacu dalam naskah ini serta disebutkan
dalam daftar pustaka.




Malang, 20 Desember 2008




Saimah
NIM. 04120054






















PERNYATAAN PEMBIMBING

Drs. Muchlis Usman, M.A
Dosen Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri Malang
NOTA DINAS PEMBIMBING
Malang, 20 Desember 2008

Lamp : 4 (empat) Eksemplar
Hal : Pernyataan Pembimbing Skripsi Saimah


Kepada Yth.
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang
Di
Malang


Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Sesudah beberapa kali melakukan bimbingan, baik dari segi isi, bahasa
maupun teknik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di
bawah ini :

Nama : Saimah
NIM : 04120054
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Judul Skripsi : Problematika Pendidikan Agama Islam dan Upaya-Upaya
Pemecahannya Di SMA Widya Dharma Turen -Malang

melalui metode kajian pustaka.

Maka selaku pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak
di ajukan untuk ujikan.

Demikian mohon dimaklumi adanya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.



Pembimbing,



Drs. Muchlis Usman M.A
NIP. 15009539
DEPARTEMEN AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
FAKULTAS TARBIYAH
Jalan Gajayana No.50 Telepon (0341) 552398 Faksimile (0341) 552398


BUKTI KONSULTASI

Nama :Saimah
Nim :04120054
Dosen Pembimbing :Drs. Muchlis Usman M.A
Judul Skripsi :Problematika Pendidikan Agama Islam dan Upaya-upaya
Pemecahannya Di SMA Widya Dharma Turen Malang.


No Tanggal Hal Yang Dikonsultasi Tanda Tangan
1. 17 Juli 2008 Refisi Proposal 1.
2. 27 Juli 2008 Refisi Bab I 2.
3. 9 Agustus 2008 Refisi Bab I 3.
4. 13 Agustus 2008 ACC Bab I 4.
5. 25 Agustus 2008 Refisi Bab II 5.
6. 28 Oktober 2008 Acc bab ii 6.
7. 31 Oktober 2008 Refisi Bab II 7.
8. 8 November 2008 ACC Bab III 8.
9. 2 Desember 2008 Refisi Bab IV 9.
10. 5 Desember 2008 Revisi Bab IV 10.
11. 20 Desember 208 Acc Bab, I,II,II,IV,V,VI 11.



Malang, 5 desember 2008
Mengetahui,
Dekan Fakultas Tarbiyah



Prof. Dr. H. M. Djunaidin Ghony
NIP. 150 042 031

KATA PENGANTAR




Alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melmpahlam segala nikmat, rahmat dan inayahnya kepada penulis, sehingga
penulisan skripsi yang berjudul “Problematika Pendidikan Agama Islam dan
Upaya-upaya Pemecahanya di SMA Widya Dharma Turen-Malang”.
Shalawatullah wasalamuhu semoaga senantiasa terlimpahkan kepada serta
revolusioner penggagas kedamaian dan kebenaran serta kebajikan yaitu baginda
Rasulullah saw. yang telah memberikan satu solusi dalam rahmatulil’alami
sebagai peran moral dan cita-cita islam.
Dalam menyelesaikan skripsi ini, tentunya tidak terlepas dari beberapa
pihak terkait yang telah banyak memberi motivasi serta kritikan yang konstruktif
dalam menyelesaikan skripsi, maka sudah barang tentu menjadi suatu kewajiban
bagi kami khususnya penulis untuk mengucapkan terimakasih yang setinggi-
tingginya kepada:
1. Amaku dan inaku (Abdullah & Khairunnas) tercinta yang telah melahirkan
dengan sepenuh kasih sayang dan kesabaran untuk memberikan dorongan
moril, sprituil maupun material dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.
2. Bpk. Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku rektor Universitas Islam Negeri
(UIN) Malang.
3. Bpk. Prof. Dr. H. M. Djunaidin Ghony selaku dekan Fakultas Tarbiyah
Universitas Negeri Islam (UIN) Malang.
4. Bpk Drs. Moh. Padil M.Pd.I selaku ketua jurusan Fakultas Tarbiyah
Universitas Negeri Islam (UIN) Malang.
5. Drs. Muchlis Usman, M.A selaku dosen pembimbing yang penuh kesabaran
dan ketelitian memberikan pengarahan kepada penulis sehingga dalam
penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan.
6. Bpk Drs. Tri Djoko Kusminto selaku kepala sekolah SMA Widya Dharma
Turen yang telah berkenan memberi izin dan kesempatan untuk mengadakan
penelitian dan sekaligus memberikan bantuan berupa informasi-informasi
yang berkenaan dengan pembahasana dalam skripsi ini.
7. Segenap dewan guru dan karyawan serta siswa-siswi di SMA Widya Dharma
Turen yang telah membantu memberikan informasi-informasi yang berkenaan
dengan pembahasan skripsi dalam skripsi ini.
8. Kakak-kakakku yang tercinta yang selalu memberikan motivasi sehingga
penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan.
9. Teman-teman seperjuangan yang selalu menghibur penulis disaat-saat
penulisan skripsi ini terlaksana. Pieta makasi ya, mbk ima sangat sayang kamu
walaupun kita berpisah nanti.
Semoga atas bantuan dan dorongan yang dicurahkan kepada penulis, akan
menjadi amal ibada yang diterima di sisi Allah SWT.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini jauh dari
kesempurnaan, semua itu karena keterbatasan pengetahuan serta ketajaman
analisis yang kami miliki. Oleh karena itu saran dan kritikan yang konstruktif
selalu kami dambakan demi perbaikan penelitian berikutnya.
Akhirnya semoga amal bhakti mereka diterima di sisi Allah SWT. dan
semoga mendapatkan balasan yang setimpal dari-Nya. Harapan penulis mudah-
mudahan karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya, dan
para pembaca pada umumnya, untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam
pengembangan pendidikan agama islam ke depan, amiin.




penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i
LEMBAR PERSETUJUAN............................................................................ ii
BUKTI KONSULTASI ................................................................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN......................................................................... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN...................................................................... v
HALAMAN MOTTO...................................................................................... vi
HALAMAN NOTA DINAS............................................................................ vii
HALAMAN PERNYATAAN......................................................................... viii
KATA PENGANTAR..................................................................................... ix
DAFTAR ISI .................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL............................................................................................ xiv
ABSTRAK........................................................................................................ xv

BAB I: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................ 7
C. Tujuan Penelitian.......................................................................... 7
D. Kegunaan Penelitian..................................................................... 8
E. Sistematika Pembahasan .............................................................. 9

BAB II: KAJIAN PUSTAKA
A. Tinjauan Tentang Pendidikan Agama Islam................................ 12
1. Pengertian Pendidikian Agama Islam.................................... 12
2. Tujuan Pendidikan Agama Islam........................................... 13
B. Tinjauan Tentang Problematika Pendidikan Agama Islam.......... 16
1. Pengertian Problematika Pendidikan Agama Islam............... 16
2. Faktor-faktor yang Timbul dalam Pelaksanaan Pendidikan
Agama Islam.......................................................................... 19
3. Upaya yang Dilakukan Dalam Mengatasi Problematika
Pendidikan Agama Islam....................................................... 40

BAB III: METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian................................................... 53
B. Instrumen Penelitian..................................................................... 54
C. Lokasi Penelitian.......................................................................... 55
D. Sumber Data................................................................................. 56
E. Prosedur Pengumpulan Data ........................................................ 57
F. Metode Pembahasan..................................................................... 60
G. Tekhnik Analisis Data.................................................................. 62
H. Pengecakan Keabsahan Data........................................................ 63
I. Tahap-tahap Penelitian................................................................. 64

BAB IV: HASIL PENELITIAN
A. Latar Belakang Objek Penelitian.................................................. 66
1. Sejarah Singkat Berdirinya SMA Widya Dharma Turen....... 66
2. Visi dan Misi SMA Widya Dharma Turen ........................... 69
3. Struktur Organisasi SMU Widya Dharma Turen................... 70
4. Keadaan Guru dan Karyawan SMA Widya Dharma Turen . 71
5. Tugas Dan Tanggung Jawab Kepala dan Guru...................... 77
6. Keadaan Siswa-siswi SMU Widya Dharma Turen................ 84
7. Keadaan Kegiatan SMA Widya Dharma Turen ................... 88
8. Keadaan Sarana dan Prasarana SMA Widya Dharma Turen. 90
B. Temuan Hasil Penelitian .............................................................. 97

BAB V: KAJIAN DAN ANALISIS DATA
A. Problematika yang Dihadapi Pendidikan Agama Islam di
SMU Widya Dharma Turen Malang............................................ 109
B. Faktor-faktor yang Timbul Dalam pelaksanaan Problematika
Pendidikan Agama Islam di SMU Widya Dharma Turen-
Malang.......................................................................................... 123
C. Upaya yang Dilakukan Oleh Guru Dalam Pemecahan
Problematika Pendidikan Agama Islam di SMU Widya
Dharma Turen Malang ................................................................. 126

BAB VI: PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................... 136
B. Saran............................................................................................. 139

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
ABSTRAK

Saimah, Problematika Pendidikan Agama Islam dan Upaya-upaya
Pemecahannya di SMA Widya Dharma Turen-Malang. Skripsi, Jurusan
Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbinyah Universitas Negeri (UIN) Malang.
Drs. Muchlis Usman, M.A

Pendidikan adalah suatu kebutuhan bagi manusia untuk meningkatkan
pengetahuan. Dalam dunia pendidikan agama islam akhir-akhir ini sering
dilandasi oleh berbagai tantangan global yang menjadi problem, jika menengok ke
masa lalu yaitu pada masa abasyiah di mana pendidikan waktu itu sangat maju
sehingga melahirkan kaum intelektual dan jenius dalam bidang keagamaan.
Dengan melihat hal seperti itu bila dikaitkan pada era global seperti pada saat ini
sesungguhnya pendidikan khususnya pendidikan agama islam malah semakain
terpuruk. Dengan semakian majunya dunia tekhnologi maka akan berdampak
pada keterpuruknya dunia pendidikan islam khususnya dikalangan anak-anak
remaja, bentuk problematika pendidikan agama islam seperti ini pemerintah perlu
menginovasinya agar pendidian islam bisa mencapai puncak seperti pada zaman
keemasan dahulu. Sebagaimana pendapatnya Syamsul Ma’rif pendidikan agama
islam saat ini, sungguh masih dalam kondisi yang mengenaskan dan
memprihatinka karena pendidikan agama islam mengalami keterpurukan jauh
tertinggal denan pendidikan Barat. Akibata dari timbulnya problem tersebut baik
dari segi anak didik, pendidik, kurikulum dan sarana dan prasarana serta
lingkungan hampir adanya problematika. Berangkat dari latar belakang itulah
penulis kemudian ingin membahasnya dalam skripsi dan mengambil judul
problematika pendidikan agama islam dan upaya-upaya pemecahannya.
Problematikan yang timbul dalam dunia pendidikan agama islam akhir-
akhir ini disebabkan karena beberapa faktor yaitu faktor internal, faktor
institusional dan faktor eksterna, selain itu karena adanya dikotomisasi antara
pendidikan umum dan pendidikan agama islam sehingga pendidikan agama islam
tidak terlalu diperohatikan oleh pemerintah dan akhirnya masyarakatpun tidak
menganggap penting terhadap pembelajaran pendidikan agama islam.
Adapun tujuannya dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui latar
belakang timbulnya problematikan pendidikan agama islam, untuk mengetahui
kendala-kendala yang terjadi dalam pemecahan problematika pendidikan agama
islam, serta untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan oleh guru dalam
pemecahan problematika pendidikan agama islam.
Penelitian yang penulis lakukan ini adalah termasuk dalam penelitian
deskriptif kualitatif. Dan selama mengumpulkan data, penulis menggunakan
metode observasi, interview, dan dokumetasi. Sedangkan untuk analisisnya,
penulis menggunakan tekhnik analisisis deskriptif kualitatif, yaitu berupa data-
data yang tertulis, data lisan dari pihak-pihak yang berkaitan di lokasi penelitian
sehingga dalam hal ini penulis berupaya mengadakan penelitian yang bersifat
menggambarkan kata-kata secara menyeluruh tentang keadaan yang terjadi di
lapangan.


Hasil dari peneletian yang dilakukan penulis dapat disampaikan
bahwasanya peneliti mencoba menawarkan solusi sebagai suatu alternatif untuk
memecahkan problematika pendidikan agama islam yaitu meningkatkan motivasi
belajar siswa, melengkapi sarana dan prasarana dan memperbaiki lingkungan
sekolah dan sekitarnya. Bila ada alternatif lain maka hal itu dapat dijadikan suatu
masukan untuk memperbaiki pendidikan agama islam dalam skripsi ini.

Kata Kunci: Problematika, Pendidikan Agama Islam,Upaya, Pemecahanya




BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Hampir semua tujuan pendidikan baik dalam kacamata umum maupun
agama selalu mengidealkan terciptanya sikap anak didik yang dewasa. Proses
pendidikan yang hanya menekan kedewasaan intelektual akan memunculkan
manusia yang cerdas tapi tidak bermoral, emosional, intolern, miskin
solidaritas dan tidak humanis. Selama ini pendidikan agama secara normative
diakui mampu menformulasikan dan mengakumulasi idealitas tujuan
pendidikan tersebut. Namun secara empiris, lembaga pendidikan agama
maupun lembaga umum yang terkait dengan timbul keagamaan dalam
prakteknya sering mengecewakan dan tidak konsisten terhadap misi
idealnya.
1

Pendidikan adalah salah satu bentuk interaksi manusia dan sebagai
tindakan sosial. Hal tersebut disebabkan karena adanya aspek-aspek social
yang digambarkan karena individu-individu satu sama lain saling
ketergantungan dalam proses belajar. Sekolah, yang merupakan institusi
formal untuk belajar, mengharuskan sejumla persyaratan kepada pendidikan.
Akibatnya belajar di sekolah sangat berlainan dengan yang berlaku di dalam
keluarga. Jadi pendidikan dalam pengertiannya mempunyai makna yang
sangat luas dan dapat dianggap sebagai proses sosialisasi seseorang yang
mempelajari cara hidupnya.
2



1
Roibin, Menuju Pendidikan Berwawasan Berkerukunan, Malang: Jurnal El-Harakah Edisi 58,
2002, hlm.11
2
Hasan, Laggulung, Asas-Asas Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1992), hlm. 17
”Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang system pendidikan
nasional mendefinisikan pendidikan sebagai ”usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat,bangsa, dan Negara”
3


Ini berarti pendidikan merupakan proses atau upaya sadar untuk
menjadikan manusia kearah yang lebih baik. Untuk mengembangkan potensi
siswa diperlukan suatu strategis yang sistematis dan terarah. Pendidikan dapat
pula diartikan sebagai bimbingan jasmani dan rohani peserta didik menuju
terbentuknya kepribadian yang utama. Oleh karena itu, pendidikan dipandang
sebagai salah satu aspek yang memiliki peranan pokok dalam membentuk
generasi muda agar memiliki kepribadian yang utama.
4

Walaupun tujuan pendidikan mengarah ke arah yang positif, tetapi
tidak terlepas dari tantangan global seperti yang marak terjadi saat ini. Di
dalam berbagai analisis mengenai trend kehidupan global , termasuk trend
pula dalam mengembangkan system pendidikan. Terkait dengan fenomena
sekarang kehidupan umat manusia dalam millenium baru mempunyai dimensi
yang bukan hanya dimensi domestik tetapi global.
5
Kehidupan global akan
melahirkan budaya global. Dewasa ini kita melihat betapa kebudayaan global,
telah mulai melanda kehidupan umat islam yang tanpa batasan kepada
berbagai bentuk “life style” yang mulai melanda kehidupan generasi muda
terutama di kota-kota besar. Cara hidup global, tontonan global, cita rasa
global telah memasuki kehidupan siswa sebagai generasi muda. Di satu pihak

3
Undang-undang RI Tahun 2003 Tentang System Pendidikan Nasional Pasal 1,(Bandung: Cita
Umbara, 2003), hlm.3
4
Zuhairini & Abdul Ghofir, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Malang: UIN
Malang Press 2004), hlm.1.
5
H.A.R, Tilar, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hlm.15.
budaya global atau modernisasi dapat membuka horizon pemikiran yang
positif, akan tetapi juga kemungkinan masuknya unsur-unsur budaya global
yang penuh modern seperi yang terjadi saat ini bisa berdampak negatif yang
meracuni kehidupan generasi muda. Hal ini telah merasuki pemikiran para
generasi jauh dari pemahaman tentang islam.
Adapun usaha Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah agar mampu
membentuk kesalehan pribadi dan sekaligus kesalehan sosial sehingga dapat
membentuk ukhuwah yang baik dalam lembaga pendidikan maupun
lingkungan masyarakat. Kualitas kesalehan diharapkan mampu membentuk
hubungan keseharian dengan manusia lain, baik sesama muslim maupun non
muslim, serta dalam berbangsa dan bernegara sehingga dapat terwujud
persatuan dan kesatuan umat manusia.
6

Selain usaha guru dalam mendidik siswa, Pendidikan Agama Islam
masih memerlukan bantuan kita bersama, demi mewujudkan hasil dan kualitas
pendidikan yang dicita-citakan. Pendidikan sekarang ini kurang bisa
menciptakan siswa untuk memahami hakekat pembelajaran yang telah
disampaiakan sehingga di luar sekolah siswa cenderung melakukan hal-hal
yang tidak wajar (kenakalan remaja), melanggar norma dan etika agama.
Dalam agama Islam terkandung suatu potensi yang mengacu pada dua
fenomena yang berkembang yaitu:




6
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan Pendidikan Islam Di Sekolah,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm.75
1. Potensi psikologi dan pedagogis yang mempengaruhi manusia untuk
menjadi pribadi yang berkualitas baik dan menyandang derajat mulia.
2. Potensi pengembangan kehidupan manusia sebagai khalifah dimuka bumi
yang dinamis dan kreatif serta responsif terhadap lingkungan sekitarnya.
Lingkungan yang alamiah maupun yang ijtimaiah, di mana Tuhan menjadi
potensi sentral berkembanganya.
7

Untuk mengaktualisasikan dan menfungsikan potensi tersebut
diperlukan ikhtiar kependidikan yang sistematis berencana berdasarkan
pendekatan dan wawasan yang interdisipliner. Karena manusia semakin
terlibat terhadap proses perkembangan sosial itu sendiri menunjukkan adanya
interelasi dan interaksi dari berbagai fungsi.
Nilai pendidikan islam telah menjadi ilmu yang ilmiah dan amaliah,
maka ia akan dapat berfungsi sebagai sarana pembudayaan manusia yang
bernafaskan islam yang lebih efektif dan efisien. Telah diketahui bahwa sejak
islam diartikulasikan melalui dakwahnya dalam masyarakat sampai kini,
proses kependidikan islam yang mengacu pada masyarakat yang beraneka
ragam kultur dan struktur. Akhir-akhir ini, akibat timbulnya perubahan sosial
diberbagai sektor kehidupan umat manusia, beserta nilai-nilanya ikut
mengalami pergeseran yang belum mapan. Pendidikan islam seperti yang
dikehendaki umat islam harus mengubah strategi dan titik operasional. Oleh
karena itu pula akan timbul suatu problem dalam dunia pendidikan islam yang
akan dicari solusinya dan pada akhirnya akan memberikan kesejahteraan pada
kehidupan masyarakat.

7
Muzayyin, Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam, ( Jakarta: PT.Bumi Aksara, 2003), hlm. 3-4
Pendidikan Islam tidak menutup kemungkinan dapat mengkombinasi
antara pandangan islam dengan pemikirn pendidikan modern sepanjang
memiliki relevansi yang kuat dalam menkonstruksi pemikiran pendidikannya.
Pada prinsipnya, pendidikan islam harus dengan akal dan antara wahyu
dengan alam. Sebagaimana agama yang sesuai dengan sunnatullah tentu
ummat islam diwajibkan belajar dari fenomena alam.
Di samping itu, pergeseran idealitas masyarakat yang menunjukkan
kearah pola pikir rasional tekhnologis yang cenderung melepaskan diri dari
tradisionalisme kultural edukatif makin membengkak. Inilah berbagai
pencerminan kemelut yang terjadi pada masyarakat terutama dalam dunia
pendidikan agama islam, Namun demikian lembaga pendidikan islam kita
yang masih bersifat konservatif dan statis dalam menyerap tendensi dan
aspirasi masyarakat masa kini. Dalam problem ini kita perlu mengacu diri
untuk melakukan inovasi dalam wawasan, strategi dan program sedemikian
rupa, sehingga mampu menjawab secara aktual dan fungsional terhadap
tantangan baru. Apalagi bila kita mengingat bahwa misi pendidikan agama
islam lebih berorientasi kepada nilai-nilai luhur dari Tuhan yang harus
diinternalisasikan ke dalam lubuk hati sehinggga muncul kepribadian yang
mencerminkan nilai-nilai islam.
Problem lain juga yang dirasakan dalam pendidikan agama islam
selama ini adalah adanya kesenjangan antara pendidikan agama dan perilaku
peserta didik secara khusus yang menyimpang dari norma-norma ajaran
agama. Problem ini muncul karena diakibatkan oleh budaya orientasi
pendidikan agama islam di sekolah yang kurang tepat.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan kurang efektifnya Pendidikan
Agama Islam di sekolah, antara lain:


a. Faktor internal
Faktor internal adalah faktor yang muncul dari dalam diri guru
agama itu sendiri yang meliputi kompetensi yang masih relative rendah,
pendekatan metodologi guru yang tidak mampu menarik minat siswa pada
pembelajaran agama islam, solidaritas guru agama dengan guru non agama
masih sangat terbatas, kurangnya persiapan guru agama untuk
menyampaikan mata pelajaran, hubungan guru agama dengan siswa yang
formal.
b. Faktor institusional
Adapun faktor institusional meliputi alokasi jam pelajaran
pendidikan agama islam pada kurikulum yang terlalu overloaded.
Ketiga hal tersebut diharapkan akan bisa dicari solusinya dan bisa
memberi konstribusi yang bagus bagi peserta didik nantinya, karena
dengan melihat problem-problem yang terjadi dalam dunia pendidikan,
terutama Pendidikan Agama Islam dan mengaktualisasikan pendidikan
agama islam sebagai pelajaran penting untuk mewujudkan keselamatan
dunia dan akhirat.
c. Faktor eksternal
Adapun problem dalam faktor ini adalah sikap masyarakat dan
orang tua kurang concer terhadap pendidikan agama yang berkelajutan,
situasi lingkungan sekitar sekolah yang banyak pengaruh buruk, pengaruh
negative dari perkembangan teknologi seperti internet, play station (PS),
dan lain sebagainya.

Sehubungan dengan latar belakang masalah tersebut, maka menarik
sekali untuk diteliti atau dikaji oleh karena itu dalam penelitian skripsi ini
penulis mengambil judul ”Problematika Pendidikan Agama Islam dan
Upaya-upaya Pemecahannya di SMU Widya Dharma Turen-Malang”.

B. Rumusan Masalah
1. Apa problem yang dihadapi Pendidikan Agama Islam di SMU Widya
Dharma Turen Malang?
2. Kendala-Kendala Apa Yang Dihadapi Dalam Pemecahan Problematika
Pendidikan Agma Islam di SMU Widya Dharma Turen-Malang.
3. Upaya apa yang dilakukan oleh guru dalam pemecahan problematika
Pendidikan Agama Islam di SMU Widya Dharma Turen Malang?

C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di SMU Widya
Dharma Turen Malang.
2. Untuk mengetahui Kendala-Kendala Yang Dihadapi Dalam Pemecahan
Problematika Pendidikan Agma Islam di SMU Widya Dharma Turen
Malang.
3. Untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan oleh guru dalam
pemecahan problem Pendidikan Agama Islam di SMU Widya Dharma
Turen Malang.


D. Kegunaan Penelitian
Dalam melaksanakan penelitian ini tentuya akan membawa suatu
kegunaan, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis, dan hasil penelitian
ini diharapkan dapat berguna bagi:
1. Bagi Lembaga Pendidikan:
ƒ Sebagai tambahan informasi tentang bagaimana pelaksanaan
Pendidikan Agama Islam.
ƒ Sebagai bahan kajian tentang problematika dan pemecahan dalam
Pendidikan Agama Islam.
ƒ Sebagai acuan atau bandingan agar dapat mengambil kebaikan dan
mengatasi keburukannya.
2. Bagi Almamater
ƒ Sebagai suatu masukan bagi pelaksanaan pendidikan, dalam rangka
untuk meningkatka kualitas belajar terhadap Pendidikan Agama Islam.
ƒ Sebagai bahan dokumentasi dan masukan yang akan dipakai sebagai
dasar atau perbandingan pada penelitian selanjutnya.
3. Bagi Peneliti
ƒ Sebagai pedoman dalam rangka melaksanakan tugas sebagai pendidik
yang akan terjun langsung untuk mengamalkan segala ilmu yang telah
dipelajari.
ƒ Sebagai penambahan pengetahuan keilmuan sehingga dapat
mengembangkan wawasan baik secara teori maupun praktek.


G. Sistematikan Pembahasan
Sistematika yang dimaksud merupakan isi dari pembahasan secara
singkat yang terdiri dari enam bab, dan untuk lebih mengarahkan skripsi ini,
maka penulis membuat sistematika pembahasan sebagai berikut:
Bab Pertama, Pendahuluan yang merupakan titik tolak dari penulisan
skripsi ini yang berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan penelitian, kegunaan penelitian, dan sistematika pembahasan.
Bab Kedua, Kajian teoritis diantaranya membahas tentang (A) PAI:
pengertian Pendidikan Agama Islam, tujuan dan fungsi pendidikan agama
islam, dasar-dasar Pendidikan Agama Islam. (B) problematika Pendidikan
Agama Islam, yang meliputi: problem anak didik dalam Pendidikan Agama
Islam, problem manajemen dalam pendidikan agama islam, problem
kurikulum dalam Pendidikan Agama Islam, problem sarana dan prasarana
dalam Pendidikan Agama Islam, (C) langkah-langkah dalam mengatasi
problem pendidikan agama islam, yang meliputi: perkembangan anak didik
dalam Pendidikan Agama Islam, perkembangan pendidikan dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam, perkembangan manajemen dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam, perkembangan kurikulum dalam
Pendidikan Agama Islam, perkembangan sarana dan prasarana dalam
pembelajaran pendidikan agama islam, perkembangan dalam Pendidikan
Agama Islam.
Bab Ketiga, Metode penelitian yang terdiri dari pendekatan dan jenis
penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, prosedur
pengumpulan data, analisa data dan pengecekan keabsahan temuan serta
tahap-tahap penelitian.
Bab Keempat, Laporan hasil penelitian, meliputi: (A) latar belakang
obyek: sejarah singkat lembaga pendidikan Widya Dharma Turen-Malang,
visi misi, struktur organisasi, keadaan guru dan karyawan, tugas dan tanggung
jawab guru dan karyawan, keadaan siswa SMA Widya Dharma Turen,
keadaan kegiatan siswa SMA Widya Dharma Turen, keadaan sarana dan
prasarana SMA Widya Dharma Turen . (B) temuan hasil penelitian:
pengertian pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen, kendala
dalam pemecahan problematika pendidikan agama islam SMA Widya Dharma
Turen, upaya pemecahannya dalam problematika pendidikan agama islam di
SMA Widya Dharma Turen.
Bab Kelima, Pembahasan hasil penelitian yang dilakukan di SMU
Widya Dharma Turen Malang. Dari sinilah peneliti dapat mengklasifikasikan
data-data dalam rangka mengambil kesimpulan penyajian.
Bab Keenam, Kesimpulan dan saran, menjelaskan tentang kesimpulan
dan saran yang berkaitan dengan problematikan Pendidikan Agama Islam dan
upaya pemecahanya di SMU Widya Dharma Turen-Malang.










BAB II
KAJIAN TEORI
A. TINJAUAN TENTANG PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
1. Pengertian Pendidikana Agama Islam
Sebelum penulis uraikan lebih lanjut tentang pengertian
problematika pendidikan agama islam, terlebih dahulu akan penulis
uraiakan tentang pengertian pendidikan agama islam.
Pendidikan agama islam adalah upaya sadar dan terencana dalam
menyiapkan anak didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga
mengimani ajaran agama islam, dibarengi dengan tuntutan untuk
menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan
antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.
8

Dan untuk mencapai pengertian tersebut maka harus ada
serangkaian yang saling mendukung antara lain:
a. Pendidikan agama islam sebagai usaha sadar, yakni suatu kegiatan
bimbingan, pengajaran dan atau latihan yang dilakukan secara
berencana dan sadar akan tujuan yang hendak dicapai.

8
Kurikulum PAI, 2002, hlm. 3
b. Peserta didik yang hendak disiapkan untuk mencapai tujuan, dalam
arti yang dibimbing, diajari dan atau dilatih dalam peningkatan
keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengalaman terhadap ajaran
agama islam.
c. Pendidik atau guru (gbpai) yang melakukan kegiatan bimbingan,
pengajaran dan latihan secara sadar terhadap pesereta didiknya untuk
mencapai tujuan tertentu.
d. Kegiatan pai diarahkan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman,
penghayatan, dan pengamalan terhadap peserta didik yang di samping
untuk dengan cita-cita islam, karena nilai oslam menjiwai dan
mewarnai corak kepribadiannya.
Dengan istilah lain, manusia yang telah mendapatkan pendidikan
islam itu harus mampu hidup di dalam kedamaian dan kesejahteraan
sebagaimana cita-cita islam.
Pengertian pendidikan agama islam dengan sendirinya adalah suatu
sistem pendidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang
dibutuhkan oleh hamba Allah. Pendidikan islam bersumber pada nilai-nilai
tersebut yang melandasinya adalah merupakan proses ikhtiarah yang
secara pedagogis kematangan yang menguntungkan.
9

2. Tujuan Pedidikan Agama Islam
Sebelum lebih jauh menjelaskan tujuan pendidikan islam terlebih
dahulu dijelaskan apa sebenarnya makna dari ”tujuan” tersebut. Secara
etimologi ”tujuan” adalah diistilahkan dengan ”ghayat, ahdaf, atau

9
H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1991) hlm.13
maqashid. Sementara dalam bahasa inggris diistilahkan dengan ”goal,
purpose, objectives atau ”aim”. Sedangkan secara terminologi, tujuan
berarti ” sesuatu yang diharapkan tercapai setelah sebuah usaha atau
kegiatan selesai”10 H.M. Arifin menyebutkan, bahwa tujuan proses
pendidikan islam adalah ”idealitas (cita-cita) yang mengandung nilai-nilai
islam yang hendak dicapai dalam proses kependidikan yang berdasarkan
ajara islam secara bertahap”.11
Berdasarkan pada pengertian pendidikan islam yaitu sebuah proses
yang dilakukan untuk menciptakan manusia-manusia yang seutuhnya;
beriman dan bertaqwa kepada Allah serta mampu mewujudkan
eksistensinya sebagai khalifah Allah di muka bumi, yang berdasarkan
kepada ajaran Al-Qur’an dan sunnah, maka tujuan dalam konteks ini
berarti terciptanya insan kamil setelah proses pendidikan berakhir.
a) Fungsi tujuan
Mengapa dibutuhkan tujuan? Untuk menjawab pertanyaan ini,
Ahma D Marimba dalam bukunya ”pengantar filsafat pendidikan
islam” menyebutkan bahwa setiap usaha mengalami akhir. Ada usaha
yang terhenti karena gagal sebelum mencapai tujuan, tetapi usaha
tersebut belum dapat disebut berakhir. Karena pada umumnya suatu
usaha baru berakhir setelah tujuan akhir tercapai. Dengan demikian
fungsi tujuan yang pertama mengakhiri usaha.

10
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 1995), Edisi ke-2 hlm.1077
11
Zakiyah Daradjat, dkk., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara dan Departemen Agama
RI, 1992) hlm. 29
Fungsi kedua, dari tujuan adalah mengarahkan usaha. Tanpa
adanya antisipasi atau pandangan ke arah tujuan, maka penyelewengan
akan banyak terjadi, dan kegagalan-kegagalan akan selalu di ambang
pintu.
Fungsi ketiga, dari tujuan sebagai titik tolak untuk mencapai
tujuan-tujuan lain. Baik tujuan baru maupun tujuan lanjutan dari tujuan
pertama. Oleh karena itu, dapat dikatakan, bahwa dari satu segi tujuan
bisa membatasi ruang gerak usaha, sementara dari segi lain tujuan
dapat mempengaruhi dinamika usaha.
Fungsi keempat, memberi nilai (sifat) pada usaha-usaha tersebut.
Ada usaha-usaha yang bertujuan lebih luhur daripada usaha-usaha
lainnya. Ada usaha yang bertujuan lebih besar dari yang lain, di
samping ada juga usaha yang bertujuan lebih dari itu.
12

b) Prinsip Pengembangan Tujuan Pendidikan Islam
Omar Muhammad Al-Toumyal-Syaibany dalam bukunya ”filsafat
pendidikan islam” mengatakan bahwa ada beberapa prinsip dalam
mengembangkan tujuan pendidikan islam, antara lain:
1) Peinsip universal (menyeluruh)
Dalam merumuskan tujuan pendidikan islam, seharusnya
memperhatikan seluruh aspek kehidupan yang mengitari
kehidupan manusia, baik aspek agama, budaya sosial
kemasyarakatan, ibada, akhlak dan muamalah.
2) Prinsip keseimbangan dan kesederhanaan

12
Ahmad D Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Al-ma’arif, 1989),
hlm. 45
Islam memiliki prinsip dasar keseimbangan dalam kehidupan, baik
antara dunia dan akhirat, jasmani dan rohani, kepentingan pribadi
dan kepentingan umum. Oleh karena itu dalam pengembangan
pendidikan agama islam harus ada sistem kesederhanaan agar
proses untuk mencapai tujuan lebih besar.
3) Prinsip kejelasan
Prinsip yang mengandung ajaran dan hukum yang memberi
kejelasan terhadap aspek spritual dan aspek intelektual manusia.
Dengan berpegang teguh kepada prinsip ini akan terwujud tujuan,
kurikulum, dan metode pendidikan yang jelas pula.
Agar proses belajar mengajar pendidikan agama islam dapat
berjalan dengan lancar sehingga tujuan dalam pembelajaran pendidikan
agama islam dapat diraih secara maksimal, maka perlu adanya solusi untuk
menyelesaikan permasalah-permasalah yang ada dalam proses belajar
mengajar pendidikan agama islam.
3. Tinjauan Tentang Pengertian Problematika Pendidikan Agama Islam
Secara etimologi kata problematika berasal dari kata problem
(masalah, perkara sulit, persoalan). Problema (perkara sulit), problematika
(merupakan sulit, ragu-ragu, tak menentukan, tak tertentu) dan
problematika (berbagai permasalahan).
13

Banyak para “pakar pendidikan” telah berusaha dengan segala cara
untuk ikut andil dan terlibat aktif memikirkan atau menyelesaikan
beberapa problema yang “menggerogoti” sistem pendidikan agama islam

13
Pius A. Pertanto, M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmia Popular (Surabaya: Arkola, 1994), hlm.
626.
dewasa ini. Pendidikan saat ini, sungguh masih dalam kondisi yang
sangat mengenaskan dan memprihatinkan. Karena pendidikan agama
islam mengalami keterpurukan akibat adanya pengaruh global dari dunia
Barat dan juga adanya dikotomi system pembelajaran antara mata
pelajaran islam dan mata pelajaran umum. Melihat realitas yang terjadi
sekarang bahwa pendidikan agama islam tidak bisa kembali seperti pada
zaman keemasan (Andalusia dan Baghdad) yang bisa menjadi pusat
peradaban islam, yang terjadi sekarang justru sebaliknya, pendidikan
agama islam sekarang mengekor dan berkiblat pada Barat.
14

Lebih lanjut dikatakan oleh Samsul Ma’arif akibat pendidikan islam
masih sangat jauh tertinggal pendidikan Barat, karena disebabkan
beberapa hal, adalah sebagai berikut:
15

a. Orientasi pendidikan masih terlantar tak tahu arah dan tujuan yang
mana mestinya sesuai dengan orientasi Islam. Pendidikan agama islam
masih berorientasi atau menitik beratkan pada pembentukkan abd’
(hamba Allah). Akhirnya di sini, tentu saja adalah segala-galanya,
sementara urusan dunia belakang. Dan masih bersifat devinitive artinya
menyelamatkan kaum muslim dari segala pencemaran dan pengrusakan
akibat ditimbulkan oleh gagasan Barat yang datang dari berbagai
disiplin ilmu yang dapat mengancam standar-standar moralitas
tradisional islam.

14
Samsul Ma’arif, Revitalisasi Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007), hlm. 1
15
Ibid. Hlm. 2-3.
b. Praktek pendidikan agama islam masih memelihara warisan lama,
sehingga ilmu yang dipelajari adalah ilmu klasik dan ilmu modern yang
tidak tersentuh.
c. Umat islam masih sibuk terbuai dengan ”romantisme” masa lalu hingga
bisanya mengandalkan kebesaran masa lampau. Akibatnya kebanyakan
ummat islam sendiri tidak melakukan pembaharuan terhadap
pendidikan agama islam.
d. Model pembelajaran pendidikan agama islam masih menekan pada
pendekatan intelektual verbalistik dan menegasi interakasi edukatif
dan komunikasi humastik antara guru dan murid. Sehingga sistem
pendidikan masih mandul, terbelakang dan mematikan daya kritis
anak, atau belum mencerdaskan dan memerdekakan.
Persoalan tersebut masih ada tantangan internal yaitu, umat islam
masih terbelenggu dan terjebak dengan adanya dikotomisasi pendidikan
agama islam, kurangnya pemahaman tentang ajaran islam, format
kurikulum yang tidak jelas orientasinya dan minimnya kualitas sumber
daya manusia (SDM), sistem dan strategi yang dikembangkannya,
metodologi dan evaluasinya, serta pelaksanaan dan penyelenggaraan
pendidikan agama islam itu sendiri yang masih bersikap ekslusif dan
belum mampu berinteraksi dan bersinkrinisasi dengan lainnya.
Terkait dengan problematikan terdapat tiga faktor yang menjadi
dasar pembahasan ini aalah sebagai berikut:
a. Faktor Internal
1) Anak Didik
Sebagai peserta didik adalah pihak yang hendak disiapkan untuk
mencapai tujuan, dalam arti yang dibimbing, diajari dan atau dilatih
dalam peningkatan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan
pengamalan terhadap ajaran agama Islam. Diantara komponen
terpenting dalam pendidikan Islam adalah peserta didik, dalam
perspektif pendidikan islam, peserta didik merupakan subyek dan
obyek. Oleh karena itu aktivitas kependidikan tidak akan
terlaksanakan tanpa keterlibatan peserta didik di dalamnya.
Dalam paradigma pendidikan islam, peserta didik merupakan
orang yang belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi
(kemampuan) dasar yang masih perlu dikembangkan.
16
Disisi lain,
pendidikan itu berfungsi membentuk kepribadian anak,
mengembangkan agar mereka percaya diri dan menggapai
kemerdekaan kepribadian, pendidikan itu bergerak untuk mewujudkan
perkembangan yang sempurna dan mempersiapkannya dalam
kehidupan, membantu untuk berinteraksi sosial yang positif di
masyarakat, menumbuhkan kekuatan dan kemampuan dan
memberikan sesuatu yang dimilikinya semaksimal mungkin. Juga
menimbulkan kekuatan atau ruh kreativitas, pencerahan dan
transparansi serta pembahasan atau analisis di dalamnya.
Maka dari itu problem yang ada pada anak didik perlu
diperhatikan untuk ditindaklanjuti dalam mengatasinya, sehingga
tujuan dalam pendidikan itu dapat terealisasi dengan baik.

16
Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Histories, Teoritis Dan Praktis, (Jakarta:
Ciputat Pers, 2002), hlm.47
Adapun problem yang ada pada anak didik adalah segala yang
mengakibatkan adanya kelambanan dalam belajar. Dan hal tersebut
problem dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, santara lain:
a) Karakteristik Kelainan Psikologi.
Fairuz Stone menjelaskan bahwa keseimbangan perkembangan
anak yng tertinggal dalam belajarnya itu lebih sedikit
dibandingkan teman-temanya secara umum. Misalnya, mereka
dikenal sebagai anak yang kurang pengindraannya, khususnya
lemah pendengaran dan penglihatannya.
b) Karakter Kelainan Daya Pikir
Kelainan yang satu ini dianggap yang paling banyak yang
menimpa anak berkaitan dengan kegiatan belajar. Banyak teori
para pakar yang menjelaskan adanya keterkaitan erat antara
kecerdasan umumnya bagi anak dan tingkat keberhasilannya
dalam belajar.
Bila kita mengamati tingkat kecerdasan dari sisi lain, maka
kita jumpai adanya perilaku yang menyebabkan adanya
keterkaitan antara daya pikir dan anak yang lamban belajarnya,
seperti lemahnya daya ingat hingga mudah melupakan materi yang
baru dipelajari, lemah kemampuan berfikir jerni, tidak adanya
kemampuan beradaptasi dengan temannya, rendah dalam bidang
kebahasaannya, anak yang mempunyai kategori karakteristik
seperti ini mereka juga tidak bisa berkonsentrasi dalam waktu
lama. Sehingga kemampuan dalam penerapan suatu ilmu,
pemilihan, dan analisisnya rendah. Terkadang mereka sulit
berpikir secara rasional dan cenderung berdasarkan perkiraan.
Istilah-istilah tersebut besar pengaruhnya terhadap proses kegiatan
belajar anak.
17

2) Pendidik (Guru)
Kelambanan dalam belajar kadang disebabkan oleh tidak
mencukupinya kegiatan belajar mengajar, buruknya pengajaran,
guru yang tidak memadai, materi pelajaran yang sulit sehingga
tidak dapat diikuti anak, atau tidak ada kesesuaian antara
pelajaran-pelajaran yang ditetapkan dan bakat anak.
18

Dalam proses pendidikan khususnya pendidikan di sekolah,
pendidikan memegang peranan yang paling utama. Sebagaimana
dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 151
$ϑ. $´Ζ=™¯‘& ¯Ν6‹ù ωθ™´‘ ¯Ν6ΖΒ #θ=G ƒ ¯Ν3‹=æ $ΨG≈ƒ#´ ™ ¯Ν6Š.“`ƒ´ρ
`Ν6ϑ=è`ƒ´ρ =≈G39# πϑ6t:#´ρ Ν3ϑ=è`ƒ´ρ $Β ¯Ν9 #θΡθ3? βθϑ=è? ∩⊇∈⊇∪
“Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu)
Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang
membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan
mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan
kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”.
19


17
Abdul Aziz As - Asykhs, Kelambanan Dalam Belajar Dan Cara Penanggulanginnya (Jakarta:
Gema Insani, 1991), hlm. 25
18
Ibid. hlm.30
19
Departemen Agama Republik Inonesia, Al-Qur’an Terjemah semarang CV: Al-
Waah
Ayat ini menjelaskan bahwa seorang pendidik (guru) adalah
pewaris Nabi yang mempunyai perana penting dalam merubah
dinamika kehidupan primitif menuju kehidupan madani. Pendidikan
dalam islam juga dikatakan sebagai siapa saja yang bertanggung
jawab terhadap perkembangan anak didik.
20

Muhammad Fadhli Al-Djamali menyatakan bahwa pendidikan
adalah orang yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik
sehingga terangkat derajat kemampuannya sesuai dengan kemampuan
dasar yang dimiliki oleh manusia.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat At- Tahrim
ayat 6 yang berbunyi:
$κš‰ '≈ƒ ⎦⎪%!# #θ`ΖΒ#´ ™ #θ% ¯/3¡Ρ& ¯/3‹=δ&´ρ #´‘$Ρ $δŠθ%´ρ '¨$Ζ9# ο´‘$ft:#´ρ $κ¯=æ
π3×≈= Β âŸξî Š# ‰© ω βθ´Áè ƒ ´!# $Β ¯Νδ Β& βθ= èƒ´ρ $Β βρ'∆σ`ƒ ∩∉∪
”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu
dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak
mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada
mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.
21

Dari ayat tersebut sudah jelas bahwsanya pendidikan merupakan
kewajiban setiap manusia. Pendidikan dalam pendidikan agama islam
dituntut untuk berkomitmen terhadap profesionalsme dalam
mengemban tugsnya. Seseorang dikatakan profesional bilamana pada

20
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005),
hlm.74
21
Al-Qur’an Terjemah Op, Cit.,
dirinya melekat sikap dedikatif yang tinggi terhadap tugasnya, sikap
komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja, serta sikap continous
improvement, yaitu selalu berusaha memperbaiki dan pembaharui
model-model yang sesuai dengan tuntutan zamannya, yang dilandasi
oleh kesadaran tinggi bahwa tugas mendidik adalah tugas menyiapkan
generasi penerus yang akan hidup pada masa zamannya.
22

Pendidik dalam proses belajar mengajar harus menguasai serta
menerapkan prinsip-prinsip didaktikan dan metodik agar usahanya
dapat berhasil dengan baik dan dapat dipertanggung jawabkan.
Pengertian didaktikan adalah ilmu mengajar yang memberikan
prinsip-prinsip tentang cara-cara menyampaikan bahan pelajaran
sehingga dikuasai dan dimiliki peserta didik.
b. Faktor institusional
1) Kurikulum
Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat
menentukan dalam suatu sistem pendidikan. Karena kurikulum
merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan sekaligus sebagai
pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat
pendidikan.
Dalam pengertian yang sempit, kurikulum merupakan
seperangkat rencana dan pengaturan tentang isi dan bahan pengajaran
serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelanggaraan kegiatan
belajar mengajar di sekolah. Pengertian ini digaris bawahi ada empat

22
Muhamin, Op, Cit., hlm. 4
komponen pokok dalam kurikulum, yaitu: tujuan, isi atau bahan,
organisasi dan strategi.
Sedangkan pengertian yang luas, kurikulum merupakan segala
kegiatan yang dirancang oleh lembaga pendidikan untuk disajikan
kepada peserta didik guna mencapai tujuan pendidikan (institusional,
kurikuler dan intruksional). Pengertian ini menggambarkan segala
bentuk aktivitas sekolah yang sekiranya mempunyai efek bagi
pengembangan peserta didik, adalah termasuk kurikulum dan bukan
terbatas pada kegiatan belajar mengajar saja.
23

Dari sini dapat diketahui bahwa kurikulum sangat berperan
penting dalam dunia pendidikan, yang dapat mengantarkan pendidikan
dalam dunia modern karena bentuknya telah tersusun secara sistematis
dan terperinci.
Menurut Rasdianah ada beberapa kelemahan dalam pemahaman
kurikulum pendidikan agama islam maupun pelaksanaanya, yaitu:
a) Terlalu padatnya program yang berakibat tidak terlaksananya
tujuan dari program yang direncanakan.
b) Kurangnya jam pelajaran yang digunakan untuk menyelesaikan
materi Pendidikan Agama Islam.
c) Kurikulum yang tidak terorganisir dengan baik, sehingga sering
terjadi pengulangan pokok bahasan (materi).

23
Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam (Pemberdayaan, Pengembangan,
Kurikulum Hingga Redefinisi Islamiah Pengetahuan), (Bandung: Nuansa Cendekia, 2003), hlm.
182
Sedangkan pendapat pakar pendidikan non tarbiyah yaitu Amin
Abdullah yang telah menyoroti kurikulum dan kegiatan pendidikan
islam yang selama ini terjung langsung di sekolah, antara lain:
a) Pendidikan islam lebih banyak terkonsentrasi pada persoalan-
persoalan teoritis keagamaan yang bersifat kognitif.
b) Pendidikan islam kurang concer terhadap persoalan bagaimana
mengubah pengetahuan agama yang kognitif menjadi ”makna”
dan nilai yang perlu diinternalisasikan dalam diri peserta didik
lewat berbagai cara dan media.
c) Pendidikan islam lebih menitik beratkan pada aspek
korenspondensi tekstual, yang lebih menitik beratkan pada hafalan
teks keagamaan yang sudah ada.
d) Sistem evaluasi, bentuk-bentuk soal ujian agama islam
menunjukkan prioritas utama pada aspek kognitif, dan jarang
pertanyaan tersebut mempunyai bobot muatan ”nilai” dan ”spritual
keagamaan yang fungsional dalam kehidupan sehari-hari.
24

2) Manajemen
Manajemen merupakan terjemahan dari kata management
yang berarti pengelolaan, ketatalaksanaan. Management berakar
dari kata to manage yang baik tujuan jangka pendek, menengah,
maupun jangka panjang.
25

Manajemen atau pengelolaan merupakan komponen
integral yang tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara

24
Muhaimin, Op, Cit.,hlm. 264
25
E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 25
keseluruhan. Alasanya tanpa manajemen tidak mungkin tujuan
pendidikan dapat direalisasikan secara optimal, efektif dan efisien.
Manajemen pendidikan islam mengandung arti sebagai
suatu proses kerja sama yang sistematik, dan komprehensif dalam
rangka mewujudkan tujuan pendidikan. Dari kerangka inilah
tumbuh kesadaran untuk melakukan upaya perbaikan dan
peningkatan kualitas manajemen pendidikan, baik yang dilakukan
pemerintah maupun lembaga pendidikan.
Manajemen pendidikan agama islam merupakan tanggung
jawab departemen agama, sehingga hal ini mempunyai dampak
pada pendanaan pendidikan. Artinya anggaran belanja negara
bidang pendidikan hanya dialokasikan kepada lembaga-lembaga
pendidikan umum yang berada di bawah departemen pendidikan
nasional, sedangkan pendidikan islam tidak diambil dari anggara
negara bidang pendidikan, tetapi dari anggaran bidang agama,
sehingga anggaran pembiayaan pemerintah untuk pendidikan
islam jauh lebih kecil dibanding untuk pendidikan umum. Inilah
realitas yang dihadapai, sehingga menjadikan pendidikan islam
secara umum kurang diminati dan kurang mendapat perhatian. Hal
ini didukung dengan materi kurikulum dan manajemen pendidikan
yang kurang memadai, kurang releven dengan kebutuhan
masyarakat dan dunia kerja. Lulusannya kurang memiliki
keterampilan untuk bersaing dalam dunia kerja. Melihat kenyataan
ini, maka reformasi manajemen pendidikan islam menjadi suatu
keharusan. Sebab dengan langkah-langkah berusaha pembenahan
dan peningkatan profesionalisme penyelenggaraan pendidikan
akan mampu menjawab berbagai tantangan dan dapat
memberdayakan pendidikan islam di masa depan. Dalam hal ini
pendidikan agama islam menerapkan manajemen berbasis sekolah
artinya pengelolaan pendidikan mengarah kepada pengelolaan
manajemen berbasi sekolah.
Penerapan manajemen berbasis sekolah juga perlu
disesuaikan dengan kebutuhan dan minat peserta didik, pendidik,
serta kebutuhan masyarakat setempat.
Bank dunia telah mengkaji beberapa faktor yang perlu
diperhatikan dalam penerapan manajemen berbais sekolah. Faktor
tersebut berkaitan dengan kewajiban sekolah yang menawarkan
keluasan pengelolaan masyarakat, kebijakan dan prioritas
pemerintah sebagai penanggung jawab pendidikan berhak
merumuskan kebijakan yang menjadi prioritas terutama yang
berkaitan dengan program peningkatan mutu dan pemerataan
pendidikan, perana orang tua dan masyarakat perlu dihimpun
dalam satu badan sekolah yang dapat berpartisipasi dalam
pembuatan keputusan sekolah, peranan profesioanlisme kepala
sekolah, pendidik, administrasi dalam mengoperasikan sekolah.
26

3) Sarana dan Prasarana

26
Hujair, Paradigma Pendidikan Islam (Membangun Masyarakat Madani Indonesia),
(Yogyakarta: Tiara Wacana, 2003), hlm. 220

Masih banyak persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa
Indonesia kaitannya dengan keberhasilan pendidikan agama ini, sebab
pendidikan agama dalam pelaksanaannya terkait dengan berbagai
komponen yang melingkupnya, salah satunya adalah sarana dan
prasarana pendidikan agama islam.
Sarana pendidikan agama islam adalah peralatan dan
perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dalam menunjang
proses pendidikan khususnya proses belajar mangajar seperti gedung,
ruang kelas, meja, kursi serta peralatan dan media pengajaran yang
lain. Adapun yang dimaksud dengan prasarana pendidikan adalah
fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalanya proses
pendidikan atau pengajaran seperti kebun, halaman, taman sekolah,
jalan menuju sekolah.
27

Sarana pendidikan agama islam diharapkan dapat memberikan
konstribusi secara optimal dan berarti pada jalannya proses
pendidikan. Dengan demikian apabila pendidikan islam
memanfaatkan dan menggunakan sarana pendidikan, maka peserta
didik akan memiliki pemahaman yang bagus tentang materi yang
diperoleh, dan juga diharapkan akan memiliki moral yang baik.
Sarana dan prasrana pendidikan agama islam yang baik,
diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih, rapi dan indah

27
Muhammad Surya, Psikologi Pembelajaran Dan Pengajaran, (Jakarta: Mahaputra Adidaya,
2003) hlm. 118
sehingga menciptakan sekolah yang menyenangkan bagi pendidikan
maupun peserta didik yang berada di sekolah.
28



c. Faktor Eksternal
Pendidikan tidak hanya terpacu pada lingkup sekolah saja, akan tetapi
lingkungan selain sekolah seringkali mengambilperan penting dalam
pendidikan tersebut, begitu juga dengan pendidikan agama Islam.
Berhasil atau tidaknya pendiikan agama Islam, lingkungan sosial
berperan penting terhadap keberhasilan pendidikan agama Islam,
karena perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan
melalui lingkungandapat ditemukan pengaruh yang baik dan pengaruh
buruk. Dalam problem lingkungan meliputi:
1) lingkang masyarakat yang kurang agamis, akan mengganggu
perjalanan proses belajar mengajar.
29

2) Lingkungan keluarga yang mempunyai berbagai macam faktor
yaitu, anak yang dibesarkan dalam keluarga yang bermasalah,
terlalu keras alam mendidik anak, orang tua tidak mendidika anak
dengan kedisiplin waktu pada anak, ana terlalu sibuk dengan
pekerjaan rumah,
3) Lingkungan sekolah

28
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), hlm. 181
29
Sumardi s. Psikologi Pendidikan (Jakarta Raja Grafindo Persada, 2004), hlm.
184
Dalam lingkungan sekolah sering terjadi beberapa problem yaitu,
kerasnya guru dalam mempengaruhi paa anak, anak kurang minat
dengan materi pembelajaran, guru terlalu sering mengancam anak,
tidak ana hubungan timbal balik yang baik antara guru dan anak
didik, rendahnya tingkat persiapan guru.

B. UPAYA DALAM PEMECAHAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM DI SMA WIDYA DHARMA TUREN MALANG
Melihat prolem yang dihadapi manusia modern sekarang ini dengan
filsafat pendidikan islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits
diyakini dapat menjadi solusi alternatif dari kekacauan dunia yang
ditimbulkan filsafat barat.
Dalam menghadapi tantangan-tantangan global semacam itu, Pendidikan
Agama Islam harus mampu menjadi lembaga pendidikan ”alternatif” yang
dapat ”mencerahkan” manusia modern sekarang. Pendidikan Agama Islam
harus mampu menjadi ”obor” dan menjelaskan problem-problem
kemanusiaan modern, seperti dehumanisasi yang hanya menjadikan manusia
sebagai alat produksi dan perbudakan seperti robot. Bukan malah terseret
arus globalisasi dan ikut-ikutan menerapkan paradigma pendidikan yang
sudah terhegemoni barat. Khususnya paradigma warisan ideologi kapitalisme
dan liberalisme.
1. Proses Dalam Mengatasi Problematika Pendidikan Agama Islam
a. Pada Faktor Internal
Untuk menghadapi problem yang terjadi dalam dunia pendidikan
agama islam yang sering terjadi diperlukan beberapa proses baik dari
segi guru, murid, kurikulum, tujuan, sarana dan prasarana, maupun
metodologi yang kesemuanya diharapkan bisa memecahkan problem-
problem yang terjadi. Setiap masalah tidak terlepas dari proses untuk
mengatasinya. Adapun proses bisa ditinjau dari beberapa aspek yaitu:

1) Pendidik
Guru pendidikan agama islam yang tingkat pendidikannya
masih rendah perlu mendapatkan didikan yang lebih tinggi untuk
meningkatkan profesionalisme guru dalam pengajara pendidikan
agama islam. Reorientasi pengembangan guru bisa ditelaah
historis penelitian tentang efektivitas keberhasilan guru dalam
menjalankan tugas kependidikannya, Medly dalam bukunya
Muhaimin berpendapat bahwa:
”Ada beberapa asumsi keberhasilan guru, yang pada gilirannya
dijadikan titik tolak dalam pengembangannya, yaitu: pertama,
asumsi sukses guru tergantung pada kepribadiannya; kedua,
asumsi sukses guru tergantung pada penguasaan metode; ketiga,
asumsi sukses guru tergantung pada frekuensi dan intensitas
aktivitas interaktif guru dengan siswa; dan keempat, asumsi bahwa
apa pun dasar dan alasanya penampilan gurulah yang terpenting
sebagai tanda memiliki wawasan, bisa menguasai indikator,
menguasasi materi, dan penguasaan terhadap strategi belajar-
mengajar, dan lainya”
30

2) Murid (anak didik)
Siswa tidak terlepas dari yang namanya pendidikan, ada
siswa pasti ada guru, begitu pula sebaliknya ada guru pasti ada
siswa. Namun siswa adalah orang yang dididik agar mendapatkan
pendidikan yang layak sehingga menjadi manusia yang berbudaya.
Problem yang terkait dengan siswa tidak terlepas dari proses untuk
menyelesaikannya karena seperti yang diuraikan proses adalah
langkah awal untuk mencapai suatu tujuan yaitu menjadikan
peserta didik tersebut manusia yang berbudaya dan bermoral.
Dari beberapa analisis penulis tentang proses untuk
mengatasi problematika pendidikan agama islam, siswa adalah
salah satu pokok yang terjadi dan sangat berperan penting.
Beberapa hal yang perlu diproses untuk mengatasi problematika
pendidikan agama islam antara lain:
a) Siswa perlu dididik secara intensif
b) Siswa sebagai obyek utama perlu meningkatkan daya nalar
agar berpikir kritis sehingga melahirkan generasi yang cerdas,
kedalaman spritual, dan berakhlak mulia.
c) Murid dan guru melakukan studi banding pada lembaga
pendidikan yang kualitasnya lebih bagus dari pada lembaga

30
Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, ( Surabaya: Pustaka Pelajar, 2003), hlm.
213-214
yang ditempatinya untuk meningkatkan pengetahuan sehingga
dapat memperbaiki mutu yag ada di lembaga tersebut.
b. Faktor Institusional
1) Kurikulum
Kurikulum adalah salah satu komponen penting dalam
pendidikan, kurikulum sebagai tujuan utama yang ditingkatkan,
problem mengenai kurikulum akhir-akhir ini sudah menjadi
problem yang sangat aktual yang diperbincangkan dalam dunia
pendidikan. Apalagi kurikulum adalah inti yang harus dicapai
karena berhasil atau tidaknya pendidikan bisa dilihat bagaimana
kurikulum yang diterapkan.
Dalam hal kurikulumpun tidak terlepas dari proses untuk
memperbaiki pendidikan, adapun proses terbut adalah sebagai
berikut:
a) Proses pengembangan kurikulum itu sendiri yaitu, perlu
menggali secara terus menerus tentang model-model
kurikulum yang sering bergantian tiap periode.
b) Dalam menggunakan kurikulum guru harus memilih kurikulum
yang tepat yang sesuai dengan visi misi lembaga agar arah
penerapatnya tidak jauh berbeda.
c) Dalam pengembangn harus punya prinsip-prinsip yang dilihat
dari mata pelajaran apa yang diajarkan pada siswa.
2) Sarana dan prasarana
Dalam proses mengatasi problematika pendidikan agama
islam sarana dan prasarana pendidikan agama islam diharapkan
dapat memberikan konstribusi secara optimal dan berarti pada
jalannya proses pendidikan. Dengan demikian apabila pendidikan
agama islam memanfaatkan dan menggunakan sarana pendidikan,
maka peserta didik akan memiliki pemahaman yang bagus tentang
materi yang diperoleh dan juga memiliki moral yang baik.
Dalam proses mengatasi problem pendidikan juga
memerlukan sarana dan prasaran perlu alat bantu untuk
menghadapi permasalah yang terjadi dalam dunia pendidikan
agama islam, dan alat bantu tersebut adalah sarana dan prasarana
yang tersedia dalam pendidikan seperti komputer, lab bahasa, lab
IPA, ruang organisasi siswa buku-buku dan sebagainya. Dari
kesemuanya ini untuk mempraktekan ilmu-ilmu sebagai suatu teori
yang didapat dari kelas atau dari guru agar tercapai proses belajar
mengajar yang lebih efektif dan efsien.
Sarana dan prasaran pendidikan agama islam yang baik
adalah memanfaatkan mushalah untuk mempraktekkan cara
beribada dan juga dapat menciptakan sekolah yang bersih, rapi dan
indah sehingga menciptakan sekolah yang menyenangkan bagi
pendidik maupun peserta didik yang berada di lembaga tersebut.
c. faktor eksternal
1) Lingkungan masyarakat
Salah satu solusi pada problem lingkungan adalah sebagia
berikut, masyarakat harus bisa memberikan contoh yang baik
pada anak atau siswa agar anak didik menjadikan tauladan dan
akan berampak positif terhadap perkembangan prosesbelajar anak
didik baik di sekolah maupun di lingkungan masyrakat itu
2) Keluarga (orang tua)
Sebagaimana yang dijelaskan pada problem di atas bahwa orang
tua yang terlalu menekan anak agar selalu berprestasi di sekolah
justruakan membuat anak menjadi antipatiterhadappelajaran,
maka dari itu orang tua harus bisa menghargai hasil dari apa yang
dicapai anak, selayaknya orang tua mengahrgainya, berikan
penghragaan yang sepantasnya atas prestasi yang telah diperoleh
anak.
31

2. Kendala Yang Timbul Dalam Mengatasi Problematika Pendidikan
Agama Islam
Dalam mengatasi problem pendidikan tidak terlepas dari kendala-
kendala yang sering timbul, adapun kendala-kendala tersebut adalah
sebagai berikut:
a. Faktor internal
1) Kendala Pada Guru
Guru dipercaya oleh orang tua murid untuk memberikan
pendidikan dan pengajaran kepada anak-anaknya. Sebagai pendidik
dan pengajar yang memiliki peran strategis dalam upaya

31
W. nugroho, belajar mengatasi hambatan belajar, ( jakarta: prestasi pustaka,
2007 ), hlm. 39
menanamkan dan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan
peserta didik, guru merupakan faktor utama yang mempengaruhi
keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu guru pada semua jenis
dan jenjang pendidikan dalam jumlah dan kualitas yang optimal.
32

Pendayagunaan guru meliputi perencanaan kebutuhan,
pengadaan, penempatan, dan mutasi guru. Di samping itu
pendayagunaan guru meliputi juga peningkatan karir dan
kesejahteraan guru dalam pendayagunaan guru yang merupakan
kendala utama yang dihadapi adalah adanya kesenjangan antara
formasi yang tersedia dengan kebutuhan nyata. Upaya
pendayagunaan guru melalui pembinaan pendidikan dan pelatihan
hingga saat ini belum mencapai hasil yang maksimal.
Permasalahan yang perlu mendapat perbaikan bahwa penataran
yang dilakukan oleh berbagai unit masih belum dapat memberikan
kesempatan yang merata kepada semua guru khususnya retrening
guru sebagai akibat perubahan kurikulum.
Sistem rekrumen guru yang ada selama ini masih belum
menjamin terjaringnya calon guru yang berkualitas yang menguasai
bidang studi dan mempunyai motivasi yang tinggi untuk menjadi
guru. Salah satu penyebab karena adanya ujian masuk atau seleksi
hanya berupa pengetahuan umum yang sifatnya sementara. Upaya
seleksi dengan ujian bidang studi dan ujian kemampuan mengajar

32
M.Ali Hasan & Mukti Ali, Kapita Selekta Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Pedoman Ilmu
Jaya, 2003), hlm. 34-35
di depan kelas diharapkan mampu dapat memperkecil dampak
yang ditimbulkan.
Kendala lainnya adalah upaya pemindahan guru dalam
rangka pemerataan. Secara teoritis pemerataan bukanlah hal yang
sulit. Di tingkat SD mutasi guru ditentukan oleh Pemda\ Dinas
sehingga Depdiknas mengalami kesulitan mengatur pemerataan
guru SD berdasarkan kepentingan atau tuntutan proses belajar
mengajar. Di tingkat SLTP/SMA wewenang sepenuhnya berada
ditingkat Depdiknas, keadaannya tidak lebih baik. Kanwil
Depdiknas belum mampu memindahkan seseorang yang
kekurangan guru, dengan alasan yang macam-macam. Dalam hal
ini guru sebagai PNS harus menyadari bahwa selain mempunyai
hak, juga mempunyai kewajiban untuk taat kepada atasan dan
tersedia ditempatkan di mana saja. Tentu hal ini harus diimbangi
dengan anggaran yang memadai untuk mutasi.
2) Kendala Pada Anak Didik
Anak didik dalam UUSPN adalah anggota masyarakat yang
berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada
jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Pendidikan merupakan
sarana penting untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM)
dalam menjamin kelangsungan pembangunan suatu bangsa dan
agama. Pada masa akan datang peningkatan daya saing suatu
bangsa perlu mendapat perhatian serius khususnya dalam
memanfaatkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, guna
menghasilkan anak didik yang berkualitas khususnya pada mata
pelajaran agama islam dengan harga yang kompetitif.
Program wajib belajar 9 tahun yang lebih direncanakan
pemerintah, dikhawatirkan akan mengalami hambatan akibat krisis.
Perkembangan pendidikan agama islam dihadapkan pada kendala-
kendala berkurangnya dukungan masyarakat terutama kelas
menengah ke bawah untuk turut serta mensukseskannya. Selain itu
kendala yang terjadi pada pendidikan agama islam tidak diminati
karena anak didik tidak terbiasa diperhatikan oleh orang tuanya
sehingga anak didik menganggap bahwa pendidikan agama islam
tidak terlalu penting bagi siswa.

b. Faktor Institusional
1) Kendala Pada Kurikulum
Ahli kurikulum seperti Print.
33
Pentingnya kebudayaan
sebagai landasan bagi kurikulum. Kebudayaan adalah
keseluruhan totalitas cara manusia hidup dan mengembangkan
pola kehidupan sehingga ia tidak saja menjadi landasan
kurikulum dikembangkan, tetapi untuk menjadi target hasil
pengembangan kurikulum.
Kedudukan kebudayaan dalam suatu proses kurikulum
teramat penting tetapi dalam proses pengembangan seringkali
para pengembang kurikulum kurang memperhatikannya.

33
M.Ali Hasan & Mukti Ali, Op, Cit., hlm. 34-35
Dalam realitas proses pengembangan kurikulum sering
diwarnai oleh pengaruh pandangan para pengembangan
kurikulum terhadap pengembang ilmu pengetahuan dan
tekhnologi sehingga kurikulum yang diterapkan disekolah
masih belum di kuasai oleh guru, maupun pihak-pihak sekolah
lainnya. Pertimbangan mengenai kebutuhan anak didik dan
masyarakat sering dijawab dengan jawaban mengenai
perkembangan dalam ilmu pengetahuan. Oleh karena itu,
kedudukan yang penting dari kebudayaan terbaik pula seperti
halnya landasan lainnya yang harus diperhatikan dalam
pengembangan kurikulum. Inilah yang menjadi kendala utama
dalam kurikulum sehingga dalam pendidikan agama islam
tidak bisa dikembangkan seoptimal mungkin.
3. Solusi Yang Dilakukakan Dalam Mengatasi Problematika
Pendidikan Agama Islam
a. Faktor Internal
1) Upaya pada Peserta Didik
Dalam dunia pendidikan agama islam peserta didik
merupakan salah satu faktor yang terpenting oleh karena itu,
segala sesuatu yang ada kaitannya dengan individu anak didik,
pendidik harus tanggap dan berusaha mencari solusinya. Hal ini
disebabkan karena anak didik selalu mengalami perkembangan,
dimana perkembangan ini sedikit banyak dipengaruhi oleh tingkat
kecerdasan dari masing-masing peserta didik.
Adapun upaya yang ditempuh oleh pendidikn agama islam
dalam mengatasi masalah tersebut adalah dengan cara memberikan
motivasi belajar pada anak didik sebagai berikut:
1) Memberi tugas rumah.
2) Membentuk kelompok belajar.
3) Menambah jam pelajaran.
4) Mengadakan persaingan atau kompetisi
5) Memberi nasehat tentang pentingnya belajar terutama di era
globalisasi ini
Jika dilihat dari problem psikologis pada anak didik tidak terlepas
juga dari permasalah, untuk memecahkan problem ini, maka langkah yang
harus dilakukan meliputi:
1) Pada karakter kelainan psikologi:
Mengadakan pemeriksaan medis pada anak sebelum memasuki
sekolah. Karena kebanyakan mereka memasuki taman kanak-kanak
pada usia dini, sehingga dapat mencegahnya dari penyakit berbahaya
yang dapat melumpuhkan kekuatannya, mempengaruhi
perkembanganya saat memenuhi kebutuhan hidupnya yang
mempengaruhi berbagai aspek psikologis, juga dalam keberhasilan.
2) Pada karakter kelainan daya pikir (kognitif)
Pada problem tersebut maka pendidik sebaiknya mengadakan test
untuk mengetahui kemampuan peserta didik. Apabila peserta didik
memiliki cenderung kemampuan intelegence rendah perlu diusahakan
dengan cara jalan lain yaitu dengan menempatkan peserta didik dalam
kelas yang memiliki kemampuan rata-rata yang sama.
3) Karakter kelainan kemauan motivasi
Sesuai dengan problem yang ada pada siswa yakni rendahnya
kemauan atau motivasi maka ada beberapa langkah antara lain:
a) Menarik minat
Melalui minat ditemukan kemauan dan motivasi karena, kondisi
belajar mengajar yang efektif adalah adanya minat dan perhatian
siswa dalam belajar. Minat merupakan suatu sifat yang relatif
menetap pada diri seseorang. Minat ini besar sekali pengaruhnya
terhadap belajar sebab dengan minat seseorang akan melakukan
sesuatu yang diminatinya, sebaliknya, tanpa minat seseorang tidak
mungki melakukan sesuatu.
34

b) Membangkitkan motivasi siswa
Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya
untuk melakukan sesuatu atau keadaan seseorang atau organisme
yang menyebabkan kesiapan untuk memulai serangkaian tingkah
laku atau perbuatan.
Sedangkan motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan
motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi
kebutuhan dan pencapaian tujuan atau keadaan dan kesiapan
dalam individu yang tertentu.

34
Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 9
Tugas guru adalah membangkitkan motivasi anak sehingga ia
mau melakukan belajar. Motivasi dapat timbul dari dalam diri
individu dan dapat pula timbul akibat pengaruh dari luar.
Cara menimbulkan motiv tertentu pada diri anak didik, cara
menimbulkan dapat bermacam-macam, namun cara-cara yang
paling efektif adalah sebagai berikut: menjelaskan tujuan yang
akan dicapai dengan sejelas-jelasnya, menjelaskan pentingnya
mencapai tujuan, menjelaskan insentif-insentif yang akan
diperoleh akibat tindakan itu, perjalanan soal insetif ini harus
benar-benar real berdasarkan bukti-bukti yang nyata.


a. Upaya pada Pendidik (Guru)
Bukan rahasia lagi kalau pendidik (guru) memiliki posisi yang
strategis dalam pengembangan segenap potensi yang dimiliki anak
didik. Selagi ada kegiatan pembelajaran, maka disanalah pendidikan
sangat dibutuhkan karena pada diri pendidiklah kejayaan dan
keselamatan masa depan bangsa dan terjamin. Hal ini dikarena
pendidik mempunyai kewajiban dalam membenuk pribadi yang
sejahtera lahir dan batin, baik itu yang ditempuh melalui pembelajaran
pendidikan agama islam maupun umum. Berkaitan dengan ini, maka
pendidik harus mampu menjadi pendidik yang profesional,
berorientasi pada anak didik secara penuh dalam kreatifitas maupun
aktifitas keseharian dalam pembelajaran pendidikan agama islam.
Untuk meningkatkan profesionalisme guru pendidikan agama islam,
perlu ditingkatkan melelui cara sebagai berikut:
1) Mengikuti penataran-penataran
Yang dimaksud dengan penataran ialah semua usaha pendidikan
dan pengalaman untuk meingkatkan keahlian pendidik dan
pegawai guna menyelamatkan pengetahuan dan keterampilan
mereka dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan ini
adalah sebagai berikut:
a) Mempertinggi mutu para petugas dalam bidang posisinya
masing-masing.
35

b) Meningkatkan efisiensi kerja menuju kearah tercapainya hasil
yang optimal
c) Mengembangkan kegairahan kerja dalam meningkatkan
kesejahteraan pendidik (guru).36
2) Mengikuti kursus-kursus pembelajaran
Dalam menambah wawasan pendidikan agama islam disarankan
juga mengikuti kursus-kursu guna untuk meningkatkan
pengetahuan dan menamabah engalaman baru. Dengan begitu
pendidik akan lebih mengetahui kebutuhan peserta didik yang
sesungguhnya.
Terkait dengan perkembangan dunia globalisasi guru harus
mampu memberikan araha yang yang bisa meningkatkan motivasi

35
Muhammad Djumhur Surya., Bimbingan Dan Penyuluhan Di Sekolah, (Bandung: C.V. Ilmu,
1991), hlm. 115
36
ibid., hlm. 115
siswa untuk belajar dan mengembangkan potensinya yaitu
memberi kasih sayang.
3) Melakukan studi banding
Studi banding suatu strategi yang tepat, apalagi
mengadakan studi banding guna bertukar fikiran dan pengalaman
serta saling melengkapi dan mengatasi problem yang dihadapi.
Dengan begitu kita mampu mengetahui kekurangan sebagai
kendala kita dan kelebihan kita sekaligus dapat meningkatkan
mutu pendidikan yang baik dari pendidik (guru) agama islam
sendiri maupun faktor lainnya.
4) Tugas pendidik yang paling utama adalah mengajar, dalam
pengertian menata lingkungan agar terjadi kegiatan belajar pada
anak didik. Berbagai kasus menunjukkan bahwa di antara para
pendidik banyak yang merasa dirinya sudah dapat mengajar
dengan baik, meskipun tidak dapat menunjukkan alasan yang
mendasari asumsi itu, asumsi keliru tersebut seringkali
menyesatkan dan menurunkan kreatifitas, sehingga banyak
pendidik yang suka mengambil jalan pintas dalam pembelajaran,
baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi.
Sedangkan pendapat Abu Ahmadi dalam meningkatkan
etos kerja guru sebagai seorang pendidik terutama dalam mutu
pendidikan agama, maka yang perlu diperhatikan antara lain:
a) Penghasilan pendidik dalam mencukupi kebutuhan hidupnya.
b) Seorang pendidik memahami tabiat, kemampuan dan kesiapan
peserta didik.
c) Seorang pendidik harus mampu menggunakan variasi metode
mengajar dengan baik, sesuai dengan karakter materi pelajaran
dan situasi belajar.
37

Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap guru itu ada kesanggupan
dan kemampuan meningkatkan keahlian dengan usaha mereka
sendiri agar sesuai dengan kebutuhan maupun tuntutan belajar
mengajar di sekolah/ madrasah. Adapun peningkatan kualitas
yang dilakukan secara individu sebagaimana pendapatnya Suryo
Subroto yang meliputi:
a) Peningkatan profesi melalui penataran
b) Peningkatan profesi melalui belajar mengajar.
c) Peningkatan profesi melalui media massa.
38

Pendidikan harus menyadari bahwa mengajar memiliki sifat
yang sangat kompleks karena melibatkan aspek pedagogis,
psiokologis, dan didaktis secara bersama. Aspek pedagogis
menunjuk pada kenyataan bahwa mengajar disekolah berlangsung
dalam suatu lingkungan pendidikan, karena itu pendidikan harus
mendampingi anak didik menuju kesuksesan belajar atau
kedewasaan. Aspek psikologis menunjuk pada kenyataan bahwa
anak didik yang belajar pada umumnya memiliki taraf

37
Abu Ahmadi, Strategi Belajar (Bandung: Pustaka Setia, 1992), hlm. 87
38
Suryo Subroto, Dimensi-dimensi Administrasi Pendidikan Di Sekolah (Jakarta: Bina Aksara,
1984), hlm. 141
perkembangan yang berbeda satu dengan lainnya, sehingga
menuntut materi yang berbeda pula. Demikian halnya kondisi
anak didik, kompetensi, dan tujuan yang harus mereka capai juga
berbeda. Selain itu, aspek psikologis menunjuk pada kenyataan
bahwa proses belajar iu sendiri mengandung variasi, seperti
belajar menghafal, belajar keterampilan motorik, belajar konsep,
belajar sikap, dan seterusnya. Perbedaan tersebut menuntut model
belajar yang berbeda sesuai dengan jenis belajar yang sedang
berlangsung. Aspek didaktis, berbagai cara mengelompokkan anak
didik, dan beraneka ragam media pembelajaran yang digunakan
dengan tujuan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa
sehingga tercapai tujuan yang maksimal. Oleh karena itu, pendidik
harus menentukan secara tepat jenis belajar yang paling berperan
dalam proses pembelajaran tertentu, dengan mengingat
kompetensi dasar yang harus dicapai.
Kondisi eksternal yang harus diciptakan oleh pendidik
menunjuk variasi juga dan tidak sama antara jenis belajar yang
satu dengan jenis belajar yang lain, meskipun adapula kondisi
yang paling didomiasi dalam segala jenis belajar. Dengan
demikian, pendidikan harus memiliki pengetahuan yang cukup
luas mengenai jenis-jenis belajar yang ada dan kondisi-kondisi
internal peserta didik, serta kondisi eksternal yang
mempengaruhinya.
Tugas pendidik sebagai seorang pengajar dalam memberikan
pendidikan agama islam tidak hanya terbatas pada penyampaian
informasi atau materi saja kepada peserta didik. Sesuai kemajuan
dan tuntutan zaman, pendidik harus memiliki kemampuan untuk
memahami anak didik dengan berbagai keunikannya agar mampu
membantu mereka dalam menghadapi kualitas belajar. Dalam
pada itu, pendidik dituntut memahami berbagai model
pembelajaran yang efektif agar dapat membimbing anak didik.
Dalam kaitannya dengan perencanaan, pendidik dituntut
untuk membuat persiapan mengajar yang efektif dan efisien.
Namun dalam kenyataannya dengan berbagai alasan, banyak
pendidik yang mengambil jalan pintas dengan tidak membuat
persiapan ketika mau mengajar, sehingga pendidik mengajar tanpa
persiapan. Disamping merugikan pendidik sebagai tenaga
profesional juga akan mempengaruhi perkembangan anak didik.
Banyak perilaku pendidik yang negatif dan menghambat
perkembangan anak didik yang diakibatkan oleh perilaku
pendidikan yang suka mengambil jalan pintas dalam mengajar.
Agar tidak tergiur untuk mengambil jalan pintas dalam
mengajar, pendidik hendaknya memandang pembelajaran sebagai
suatu sistem, yang jika salah satu komponennya terganggu, maka
mengganggu seluruh sistem tersebut.
Jika keadaan kurang siap dalam memberikan pelajaran
terhadap anak didik, maka langkah yang harus dikembangkan
potensi dirinya dan jalan keluarnya adalah sebagai berikut:
a) Pemerintah menaikkan gaji para pendidik yang pegawai negeri
sipil (PNS), dengan demikian diharapkan supaya para pendidik
itu bisa fokus terhadap pendidikan atau profesinya sebagai
seorang pendidik, dengan kenaikan gaji itu diharapkan juga
supaya pendidik bisa mengembangkan potensi dirinya
misalnya dengan membeli buku dan mengikuti kursus
kependidikan.
b) Harus ada perhatian dari lembaga pendidikan terhadap
pendidik dalam artinya lembaga mengusahakan untuk
memberikan kesejahteraan para pendidikan, misalnya yang
sepantasnya hal ini bisa diimplementasikan lewat minta
bantuan Swadaya masyarakat (wali murid).
c) Pihak lembaga menyediakan buku-buku yang berkaitan
dengan pendidikan agama islam agar supaya pendidik bisa
mengembangkan potensi dirinya lewat membaca buku
tersebut.
b. Faktor Institusional
1) Upaya pada Kurikulum
Kurikulum adalah salah satu komponen operasional
pendidikan agama islam sabagai sistem materi atau disebut juga
sebagai kurikulum. Jika demikian, maka materi yang disampaikan
oleh pendidikan (khususnya pendidik agama islam) hendaknya
mampu menjabarkan seluruh materi yang terdapat di dalam buku
dan tentunya juga harus ditunjang oleh buku pegangan pendidik
lainnya agar pengetahuan anak didik tidak sempit. Disamping itu
materi yang diberikan harus sesuai dengan tingkat perkembangan
anak didik dan tujuan pembelajaran. Sesuai dengan pernyataan
Nur Uhbiyati mengenai definisi kurikulum:
”Kurikulum adalah sejumlah pengalaman pembelajaran,
kebudayaan sosial, olah raga dan kesenian yang tersedia di
sekolah bagi anak didik dan tujuan didik di dalam dan di luar
sekolah dengan maksud menolongnya untuk perkembangan
menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku
mereka sesuai dengan tujuan pembelajaran”.
39

Namun merealisasikan kurikulum yang ada disuatu lembaga
pendidikan bukanlah suatu hal yang mudah, sedangkan alokasi
waktu untuk pembelajaran pendidikan agama islam sangat sedikit.
Dengan demikian dapat menjadi problem dalam pembelajaran
pandidikan agama islam.
Upaya mengatasi kurikulum terhadap problem kurikulum
maka pembuatan kurikulum haruslah memperhatikan kesesuaian
kurikulum dengan perkembangan zaman pada masa kini serta
masa-masa yang akan datang, sehingga peserta didik memiliki
bekal dalam menghadapi kompetensi dalam kehidupan nyata yang
cenderung hedonis dan materialis. Pembuatan kurikulum juga
harus menyeimbangkan antara teoritis dan praktis dalam
keagamaan. Peserta didik harus dilatih bagaimana ia

39
Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam (Bandung: C.V. Pustaka Setia, , 1997), hlm. 75.
mempraktekan teori yang ada dalam kehidupan sehari-hari
sehingga peserta didik mengerti bagaimana ia nantinya harus
mempraktekkannya dalam kehidupan bermasyarakat.
Maka dari itu pendidik harus pandai mencari upaya-upaya
jalan keluarnya, jalan keluar tersebut sebagai berikut:
c. Faktor eksternal
1) Menambah jam pelajaran.
Alokasi waktu pembelajaran pendidikan agama islam yang
terdapat dalam GBPP yang hanya 2 jam merupakan kendala,
sebab materi yang disampaikan sangat banyak berdasarkan
rumusan kurikulum yang ada. Oleh karena itu perlu penambahan
jam pelajaran.
Penambahan jam pelajaran ini untuk mengimbangi
padatnya isi kurikulum. Adapun maksud dari penambahan jam
pelajaran ini agar materi pembelajaran agama islam yang
disampaikan dapat terpenuhi seluruhnya, pendidik memiliki
waktu yang cukup sehingga dapat menerangkan materi yang ada
secara jelas sesuai yang direncanakan.
2) Menganjurkan belajar kelompok
Membentuk kelompok agama islam yang berpengetahuan
tinggi dengan kelompok belajar agama islam yang
berpengetahuannya rendah tentang agama. Hal ini dilakukan
untuk memberikan motivasi terhadap anak didik dengan cara
belajar kelompok dan bisa lebih semangat dalam belajar
pendidikan agama islam. Selain itu juga untuk melatih anak
didik menjalin rasa persahabatan dengan temannya yang lain
sehingga mereka belajar bagaimana menjalin hubungan yang erat
dalam persahabatan dan kekeluargaan. Secara tidak langsung
pendidik telah menerapkan pendidikan yang sesuai dengan
tuntutan islam.






BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Dalam penelitian skripsi ini, penulis menggunakan pendekatan
kualitatif karena penelitian ini merupakan suatu bentuk penelitian yang
bersifat deskriptif kualitatif. Dikatakan deskriptif kualitatif karena penelitian
ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil pengolahan data yang berupa kata-
kata, gambaran umum yang terjadi di lapangan.
Arikunto Suharsini menjelaskan bahwa; jika penelitian yang dalam
pengumpulan data dan penafsiran hasilnya tidak menggunakan angka, maka
penelitian tersebut dinamakan penelitian kualitatif. Meskipun demikian, bukan
berarti bahwa dalam penelitian kualitatif tidak diperbolehkan menggunakan
angka. Dalam hal tertentu bisa menggunakan angka, seperti menggambarkan
kondisi suatu keluarga (menyebutkan jumlah anggota keluarga, menyebutkan
banyaknya biaya belanja sehari-hari, dan sebagainya), tentu saja bisa. Yang
tidak diperbolehkan angka dalam hal ini adalah jika dalam pengumpulan data
dan penafsiran datanya menggunakan rumus-rumus statistik. Sedangkan
penelitian yamg dalam pengumpulan data dan penafsiran datanya
menggunakan angka, maka penelitian tersebut dinamakan penelitian
kualitatif.
40

Berdasarkan pengertian di atas, dapat dipahami bahwa jika
pengumpulan dan penafsiran datanya tidak menggunakan angka, maka disebut

40
Suharsini Arikunto, Prosesdur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta,
2002), hlm. 10
penelitian kualitatif. Sedangkan dalam pengumpulan dan penafsiran
menggunakan angka disebut penelitian kualitatif. Oleh karena itu, jenis data
yang digunakan adalah kualitatif, karena data yang diperoleh dalam penelitian
ini adalah berupa gambaran, gejala, dan fenomena yang terjadi.
Sehingga dengan demikian, karena jenis datanya hanya berupa
gambaran, gejala dan fenomena yang terjadi, maka jenis penelitian ini adalah
penelitian kualitatif. Dan dilihat dari jenis penelitiannya, penelitian ini disebut
penelitian lapangan (studi kasus), “yaitu suatu penelitian yang dilakukan
secara intensif, teinci, dan berdasarkan tentang suatu organisme, lembaga atau
gejala tertentu. Jadi tujuan penelitian kasus atau lapangan adalah mempelajari
secara intensif tentang latar belakang berdasarkan keadaan sekarang, interaksi
lingkungan suatu unit sosial, individu, kelompok, lembaga, atau masyarakat.
41

Dengan demikian jenis studi kasus karena penelitian akan menggali data
tentang “Problematika Pendidikan Agama Islam dan Upaya-upaya
Pemecahannya” sesuai dengan judul yang akan diteliti nantinya.

B. Instrument Penelitian
Data penelitian kualitatif, yang menjadi instrument atau alat penelitian
adalah peneliti itu sendiri. Atau dengan bantuan orang lain yang merupakan
pengumpulan data utama. Dalam hal ini, sebagaimana dinyatakan oleh
Moleong (2006), kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif cukup rumit.

41
S. Margono, Metode Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, Cet II, 2000), hlm. 9
Ia sekaligus merupakan perencana, pelaksana pengumpulan data, analisis,
penafsir data, dan pada akhirnya ia menjadi pelapor hasil penelitiannya.
42

Pengertian instrument atau alat penelitian di sini tepat karena ia
menjadi segalanya dari seluruh proses penelitian. Berdasarkan pada
pandangan di atas, maka pada dasarnya kehadiran peneliti di sini, disamping
sebagai instrument juga hadir untuk menemukan data yang berkaitan dengan
“Problematika Pendidikan Agama Islam Dan Upaya Pemecahannya”. Sebagai
penunjang dalam rangka mengumpulkan data, peneliti juga menggunakan alat
instrument lain sebagai pendukung dengan metode pengumpulan data.

C. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini di SMU Widya Dharma Turen-Malang yang
beralamat di jl. Mayor Dammar No. 167 Turen. Pemilihan lokasi penelitian
ini, penulis berdasarkan atas beberapa hal, yaitu: untuk mengetahui
“Problematika Pendidikan Agama Islam Dan Upaya-Upaya Pemecahannya di
SMA Widya Dharma Turen-Malang”.
Adapun peneliti memilih lokasi ini karena tempatnya sangat strategis,
bisa dijangkau oleh alat transportasi sehingga memudahkan peneliti dalam
proses penelitian.

D. Sumber Data
Sumber data merupakan asal informasi yang diperoleh dalam kegiatan
penelitian. Sumber data dalam penelitian ini adalah: pertama, data primer

42
Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005),
hlm.168
adalah data yang dikumpulkan langsung dari sumbernya dan diolah sendiri
oleh suatu organisasi atau perorangan.
43

Adapun yang dimaksud dengan sumber data adalah subyek dari mana
data dapat diperoleh, jadi sumber data ini menunjukkan asal informasi. Data
ini diperoleh dari sumber data yang tepat. Jika sumber data tidak tepat maka
akan mengakibatkan data yang terkumpul tidak relevan dengan masalah yang
diteliti.
Menurut Lofland dan Lofland (1987:47), sumber data utama dalam
penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data
tambahan seperti dokumen dan lain-lain.
44
Sumber data yang dapat digunakan
dalam penelitian ini adalah:
a. Data Primer: adalah data yang didapat secara langsung dari subyek terteliti
pada saat penelitian dilakukan. Untuk mendapat data primer maka peneliti
melakukan dengan cara observasi dan wawancara. Dalam penelitian ini
data primer berupa data lisan dan tulisan serta catatan lapangan sebagai
hasil observasi. Data lisan yang diperoleh dari beberapa informen sebagai
berikut:
1) Kepala sekolah dan guru Pendidikan Agama Islam
Kepala sekolah dan guru Pendidikan Agama Islam yang dijadikan
responden karena dianggap menguasai permasalahan yang diperlukan.
2) Peserta didik
Adapun peserta didik dijadikan responden karena mereka ada
keterkaitannya dengan permasalahan yang sedang dikaji.

43
J. Supranto, Metode Ramalan Kualitatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), hlm.8
44
Lexi. J. Moleong, op. cit., hlm. 112
Adapun teknik yang digunakan dalam menentukan sampel
(responden) yaitu dengan menggunakan Purposive Sample (sampel
bertujuan), yaitu secara sengaja atas pertimbangan mantap terhadap
sampel dengan alasan dapat mewakili populasi dalam memperoleh
data-data serta permasalahan yang diperlukan.
b. Data Sekunder: adalah data yang dimaksudkan untuk melengkapi data
primer yang tidak diperoleh secara langsung dari kegiatan lapangan.

E. Prosedur Pengumpulan Data
Dalam upaya pengumpulan data yang diperlukan, maka penulis
menggunakan beberapa metode yang dapat mempermudah penelitian ini,
antara lain:
a. Metode Observasi
Menurut Suharsini Arikunto mengatakan bahwa observasi adalah
pengamatan yang meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu
obyek dengan menggunakan seluruh alat indera.
45
dalam metode ini
peneliti mengadakan pengamatan dan pencatatan secara langsung. Metode
ini digunakan peneliti untuk mengamati tentang keadaan obyek penelitian
dan saranan prasana serta semua fasilitas yang menunjang proses belajar
mengajar Pendidikan Agama Islam.
Metode observasi dapat dibagi menjadi dua macam yaitu:



45
Suharsini Arikunto, Op, Cit., hlm.133
1) Observasi Partisipatif
Di sini peneliti terjun langsung ke lapangan dengan mengadakan
pengamatan terhadap subyek yang diteliti dengan mengambil bagian
sesuatu dalam suatu kegiatan.
2) Observasi Non Partisipatif
Di sini peneliti menggunakan pendekatan-pendekatan melalui
pengamatan secara langsung terhadap obyek penelitian, akan tetapi
peneliti tidak mengambil tempat dalam suatu kegiatan.
b. Metode interview
Metode interview adalah suatu proses tanya jawab lisan yang mana
dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik, yaitu satu dapat
melihat yang lain dan mendengarkan dengan telinga sendiri, tampaknya
merupakan alat pengumpulan informasi langsung tentang beberapa jenis
data sosial.
46
Sedangkan kebutuhan peneliti ini dalam menggunakan
metode interview, peneliti menggunakan beberapa pendekatan antara lain:
1) Interview terpimpin adalah interview yang terikat pada pedoman
penelitian yang telah disediakan sebelum kegiatan dilaksanakan.
Interview ini dilakukan pewawancara dengan membawa sederetan
pertanyaan lengkap dan terperinci, keluwesan untuk mengadakan
pertanyaan pendalaman terbatas. Wawancara ini dilakukan untuk
mengurangi sedapat-dapatnya variasi atau hal yang kemungkinan bisa
terjadi pada informan yang jumlahnya lebih dari satu. Peneliti

46
Sutrisno Hadi, Metodologi Reseaarch II (Yogyakarta: Yayasan Penelitian Fakultas Psikologi
UGM, 1989), hlm.192
menggunakan data informasi guru agama, siswa, dan problem-
problem yang ada pada lembaga tersebut.
2) Interview tak terpimpin adalah interview yang tidak terikat pada
pedoman interview untuk mengarahkan pada tanya jawab atau pokok
persoalan yang terjadi pada penelitian.
3) Interview bebas terpimpin adalah kombinasi antara interview
terpimpin dan interview tak terpimpin. Jenis wawancara ini kerangka
dan garis besar. Pokok-pokok yang ditanyakan yang ada dalam proses
wawancara. Namun tidak perlu ditanya secara berurutan, sehingga ada
peluang mengadakan pendalaman atas pertanyaan yang diajukan.
Peneliti menggunakan interview ini sama halnya dengan interview
terpimpin yaitu untuk mendapatkan data dari informan guru agama,
siswa, dan pihak-pihak sekolah lain. Akan tetapi dalam wawancara ini
peneliti tidak membawa sederetan pertanyaan yang lengkap dan
terperinci, penulis hanya membawa kerangka pertanyaan beberapa hal
tentang Problematikan Pendidikan Agama Islam dan Upaya
Pemecahannya di SMU Widya Dharma Turen Malang.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode interview bebas
terpimpin, dimana dalam pelaksanaannya penulis berbicara tanpa
meninggalkan pedoman yang telah dipersiapkan sebelumnya. Jadi di sini
peneliti benar-benar memperhatikan data-data yang telah dicatat,
diwawancara maupun yang telah diteliti agar tidak tertinggal sehingga
data-data tersebut bisa dimanfaankan dengan sebaik-baiknya.

c. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau
variable-variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar,
majalah, prasarti, agenda dan sebagainya.
47

Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang: preoblematika
pendidikan agama islam, proses untuk mengatasi problematika
pendidikan agama islam, kendala yang timbul dalam mengatasi
problematika pendidikan agama islam, solusi yang dilakukan dalam
mengatasi problematika pendidikan agama islam, sejarah berdirinya
sekolah, struktur organisasi, perkembangan siswa, keadaan guru, tingkat
pendidikannya, serta keadaan sarana dan prasanan yang dimiliki sekolah,
dan lainnya yang mendukung kelengkapan data yang dibutuhkan dalam
penulisan skripsi.

F. Metode Pembahasan
Penulisan skripsi ini dibahas secara teoritis dan empiri. Pembahasan
teoritis bersumber pada perpustakaan, yaitu dengan merujuk pada beberapa
pendapat para ahli yang ada hubungannya dengan penulisan skripsi ini,
sedangkan data empiris penulis peroleh dari obyek penelitian. Adapun metode
pembahsan dalam bagian ini antara lain:
1. Metode Induktif
Metode induktif adalah berangkat dari faktor-faktor yang khusus,
peristiwa-peristiwa yang kongkrit, kemudian faktor-faktor atau peristiwa-

47
Suharsini Arikunto, Op. Cit., 2002 135
peristiwa yang khusus itu ditarik generalisasi yang mempunyai sifat
umum.
48

Pendapat tersebut dapatlah dipahami bahwa metode induktif adalah proses
menggeneralisasikan atau menarik kesimpulan umum berdasarkan fakta-
fakta atau peristiwa yang khusus. Sedangkan dalam kaitannya dengan
pembahsan skripsi ini penulis terangkan secara terperinci
2. Metode Deduktif
Metode deduktif merupakan kebalikan dari metode induktif yaitu suatu
cara berfikir yang berdasarkan atas rumusan-rumusan teori yang bersifat
umum kemudian ditarik kepada yang bersifat khusus. Sebagaimana yang
dikemukakan oleh sutrisno hadi bahwa deduksi ini berangkat dari
pengetahuan yang bersifat umum. Dan bertitik tolak pada pengetahuan
yang umum itu kemudian hendaklah menilai kejadian yang khusus.
49

3. Metode Reflektif
Metode reflektif adalah berfikir reflektif yaitu dengan cara
mengkombinasikan antara berpikir induktif dengan berpikir deduktif.

G. Teknik Analisis Data
Sebelum semua data yang diperlukan terkumpul, kemudian langkah
penulis berikutnya adalah menggunakan analisis data, yaitu memperoleh
gambaran atau kesimpulan yang jelas tentang permasalahan dari obyek yang
diteliti.

48
Sutrisno Hadi, Op, Cit., hlm. 193
49
Ibid., hlm. 36
Metode analisis data merupakan salah satu cara yang digunakan telah
dilakukan guna membuktikan dan menguji kebenarannya. Data yang telah
terkumpul disusun secara teratur dalam bentuk pengujian data, dan siap untuk
dianalisis dalam arti ditafsirkan, dihubung-hubungkan, dibanding-bandingkan,
dan sebagainya antara golongan data yang satu dengan data yang lainnya,
sehingga mudah dibaca dan dipahami dengan menggunakan metode analisis
teknik tertentu.
Dalam menganalisis data penulis menggunakan teknik analisis deskriptif
kualitatif dimana peneliti ini adalah menggambarkan atau melukiskan secara
nyata bagaimana setelah data-data terkumpul kemudian dianalisa, dicari
jawaban yang sesuai dengan permasalahan di atas.
50

Penelitian diskriptif ialah penelitian non hipotesis sebagaimana pendapat
Suharsini Arakunto yang mengemukakan bahwa penelitian deskriptif itu
untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan apa adanya
tentang suatu variable, gejala, atau keadaan.
Analisis deskriptif kualitatif merupkan suatu teknik yang
menggambarkan, menguraikan, dan menginterpresentasikan arti data-data
yang terkumpul dengan memberi perhatian dan merekam sebanyak mungkin
aspek situasi yang observasi, sehingga memperoleh gambaran secara umum
dan menyeluruh tentang keadaan yang sebenarnya. Menurut muhammad nizar
bahwa tujuan deskriptif ini ialah untuk membuat deskriptif, lukisan secara
sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan
antara fenomena yang diselidiki.
51


50
Suharsini Arikunto, Op. Cit., hlm. 213
51
Muhammad Nizar, Op, Cit., hlm. 63
Untuk menganalisa data yang bersifat kualitatif ini akan digunakan
teknik reflektif thinking yaitu dengan mengkombinasikan cara berfikir
dedukatif dan indukatif, dengan cara ini maka analisanya bersumber dari hasil
interview yang ada hubungannya dengan pokok bahasan di atas yaitu
mengkombinasi antara befikir dedukatif dan induktif untuk kemudian ditarik
kesimpulan.

H. Penegecekan Keabsahan Data
Pengecekan keabsahan temuan atau juga dikenal dengan validatas data
merupakan pembuktian bahwa apa yang telah di amati oleh penelitian sesuai
dengan apa yang sesungguhnya yang ada di lapangan (dunia kenyata), dan
apakah penjelasan yang diberikan tentang dunia memang sesuai dengan yang
sebenarnya ada atau tidak.
52
Maka dalam penelitian ini penulis menggunakan
beberapa tekni untuk mengetahui validitas data dengan mengadakan beberapa
hal antara lain:
1. Triangulasi, diartikan sebagai pengecekan keabsahan data dari berbagai
sumber dengan berbagai cara, dan waktu.
53
Moleong yang dikutip dari
bukunya ida bagoes mantra mengemukakn, membandingkan hasil
penelitian dengan hasil perhitungan dengan menggunakan metode analisis
yang berbeda.
54


52
Nasution, Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif , (Bandung: Trasito, 1996), hlm. 105
53
Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabet, 2005), hlm. 125
54
Ida Bagoes Mantra, Filsafat Penelitian Dan Metode Penelitian Sosial, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2004), hlm. 91
2. memggunakan bahan reference, adanya pendukung untuk membuktikan
data yang telah ditemukan oleh peneliti.
55
peneliti memperoleh data
mengenai “Problematika Pendidikan Agama Islam dan Upaya-upaya
Pemecahannya”.
3. member chek, adalah proses pengecekan keabsahan data yang diperoleh
peneliti kepada pemberi wawasan atau menuntut hasil pengamatan atau
pengamatan atau mempelajari dokumen, kemudian mendeskripsikan,
menginterpresentasikan dan memaknai data secara tertulis, kemudian
dikembalikan kepada sumber data untuk diperiksa kebenaran, ditanggapi,
dan jika perlu ada penambahan data baru. Member chek dilakukan segera
setelah draf skripsi sesudah jadi secara utuh.

I. Tahap-tahap Penelitian
Untuk mendapatkan data tentang problematika pendidikan agama islam
dan upaya pemecahannya, penulis mendatangi langsung obyek penelitian dan
pengambil data-data yang diperlukan dengan menggunakan beberapa teknik
pengumpulan data. Lebih jelasnya langkah-langkah dalam penelitian ini
adalah sebagaimana di bawah ini:
1. Persiapan
Dalam suatu kegiatan, persiapan merupakan unsur-unsur yang sangat
penting. Begitu juga dalam kegiatan penelitian, persiapan merupakan
unsur yang diperlukan diperhitungkan dengan baik sebab yang baik akan
memperlancar jalannya penelitian. Sehubungan dengan judul dan rumusan

55
Sugiono, Op, Cit., hlm. 128
masalah yang telah disebutkan pada bab terdahulu, maka persiapan dalam
melaksanakan penelitian ini adalah menyusun rencana penelitian dalam
bentuk proposal penelitian problematika pendidikan agama islam dan
upaya pemecahannya kemudian mengurus surat pengantar izin
melaksanakan penelitian dan mempersiapkan instrumen penelitian.
2. Pelaksanaan
Setelah persiapan dianggap matang, maka tahap selanjjutnya adalah
melaksanakan penelitian. Dalam pelaksanaan tahap ini penelitian
mengumpulkan data-data yang diperlukan dengan menggunakan beberapa
metode antara lain: wawancara, interview, dan dokumentasi.
3. Penyelesaian
Setelah kegiatan peneliti selesai, penulis mulai menysun kerangka
laporan hasil penelitian dengan mentabulasikan dan menganalisis data
yang telah diperoleh dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif,
yaitu analisis data dilakukan dengan menata dan menelan secara sistematis
semua data yang diperoleh. Kemudian dari hasil penelitian tersebut
dibahas dengan menggunakan teori-teori yang sudah ada pada bab
sebelumnya.












BAB IV
HASIL PENELITIAN


A. LATAR BELAKANG OBJEK PENELITIAN
1. Sejarah singkat berdirinya SMA Widya Dharma Turen
SMU Widya Dharma Turen yang sejak berdirinya bersama SMA
PGRI Turen mempunyai sejarah yang menarik, karena sejak berdirinya
sampai sekarang mengalami 5 sampai 6 kali perubahan nama seiring
dengan situasi dn kondisi negara serta adanya perkembangan pendidikan.
Perubahan nama sekolah yang dimaksud adalah sebagai berikut:
a. Tahun 1963-1973 : SMA PGRI Turen
b. Tahun 1974-1979 : SMA Turen
c. Tahun 1980-1983 : SMA Bersubsidi
d. Tahun 1984-200 : SMA Widya Dharma
e. Tahun 2001-2003 : SMU Widya Dharma Turen
f. Tahun 2003-sekarang : kembali lagi ke SMA Widya Dharma Turen
SMA Widya Dharma merupakan tuntutan dari pemerintah, yaitu
bahwa sekolah swasta harus mempunyai ciri khas. Hal ini merupakan
ketentuan yang diterima kepala sekolah saat penataran kepala sekolah
SMU Swasta di Cilot, Jakarta pada Tahun 1980. Atas dasar itu yayasan
pendidikan SMA Widya Dharma Turen berubah menjadi yayasan
pendidikan Widya Dharma Turen dengan Akte Notaris G. Kamarudzaman
No 115 tanggal 21 januari 1983.
Sekolah SMA Widya Dharma Turen di Jawa Timur, yang disusul
dengan akreditasi pertama pada tahun 1985 yang mana setelah diadakan
penilaian SMA Widya Dharma Turen ini termasuk 20 SMA swasta se
Jawa Timur yang diberi status disamakan oleh Mentri pendidikan dan
kebudayaan RI. Dengan demikian dari 20 SMA itu, malang hanya enam
sekolah yaitu: 5 SMA di kodya (SAMK Dempu, SMA Cor Yesus, SMA
Santa Maria, SMA Santeyusuf, SMA Islam), dan satu sekolah di
kabupaten malang yaitu SMA Widya Dharama Turen. Karena itulah
dikatakan SMA swasta faforit sampai sekarang.
Adapun pihak SMA Widya Dharma Turen yang baru khususnya
guru-guru, perlu hal ini dikaji bahwa status disamakan itu kategorinya
adalah sangat baik. Jadi boleh dikatakan tanpa dinilai atau diakreditasipun
SMA Widya Dharma Turen memang sudah termasuk yang diperhitungkan
untuk menjadi SMA yang berkualitas dibanding SMA lainnya. Atas dasar
itu sekolah menerapkan disiplin dan tertib disegala bidang, agar
memudahkan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang efektif. Di
samping itu sekolah berpedoman, mengolah sekolah swasta harus selalu
efektif dan kreatif dalam melaksanakan tugas, agar sekolah tetap menarik.
Dalam mengelolah sekolah SMA Widya Dharma Turen mempunyai
banyak cerita yang menarik yang salah satunya adalah tentang pedoman
pengelolaan sekolah, yaitu pada pelaksanaan Ebtanas 1980-an dalam
rangka menghadapi problem kelulusan, pemerintah menaikkan norma
syarat lulusan, yang mengakibatkan jatuhnya SMA-SMA swasta di Jawa
Timur terutama yang memilih program A1 (ilmu-ilmu fisika) dan A2
(ilmu-ilmu biologi), karena banyak siswa dari progaram A1 dan A2 yang
tidak lulus. Lulusan SMA Widya Dharma Turen saat ini tidak banyak
mengalami perubahan, karena sudah dibiasakan untuk menjuruskan ke
program A2 dengan ketat, sehingga yang dapat masuk program A1 dan A2
tidak menghawatirkan dalam Ebtanas. Jadi meskipun ada problem yang
timbul dalam Ebtanas sekolah tidak goyah.
Dengan demikian, pelaksanaan KBM yang efektif didukung
disiplin dan tertib di segala bidang serta menerapkan norma kenaikan dan
lulusan dengan baik, maka dapat merubah hasil lulusan yang berprestasi.
Bahwasannya SMA Widya Dharma Turen menggunakan
kurikulum 1984, ada 4 program, yaitu A1 (IIF: Ilmu-ilmu fisika), A2
(IIB:Ilmu-ilmu Biologi), A3 (IIS: Ilmu-ilmu Sosial) dan A4 (IIB:
Pengetahuan Budaya), hal ini tidak dimilki SMA pada umumnya.
Kebanyakan SMA swasta yang lain hanya memilki 2 sampai 3 program
saja.
SMA Widya Dharma sampai sekarang sudah mengikuti akreditasi
sampai empat kali pada tahun 1985, 1990, dan tahun 1995 dan 2000
dengan hasil disamakan atau nilai amat baik. Tentang prestasi sekolah,
sudah tidak bisa dipungkiri bahwa sejak dulu sampai sekarang ini tidak
mengecewakan, selalu mendapatkan 4 besar dalam lomba baik ditingkat
kabupaten atau kota sampai dengan jawa timur. Misalnya lomba
Matematika, Fisika, Bahasa Inggris.
Adapun masalah perkembanga gedung sejak 1977 sampai sekarang
dilaksanakan secara bertahap, disesuaikan dengan dana yang ada.


2. Visi dan Misi SMA Widya Dharma Turen
VISI:
Mewujudkan Sekolah Yang Berkualitas
MISI:
a. Meningkatkan disiplin kepada Tuhan Yang Maha Esa
b. Meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan
c. Meningkatkan kemampuan guru dalam rangka menguasai metode
pembelajaran yang berorientasi life skill
d. Meningkatkan layanan kegiatan belajar mengajar dengan
menggunakan audio visual
e. Pengembangan sistem jaringan sekolah
f. Meningkatkan bimbingan di luar jam sekolah
g. Meningkatkan pelatihan: computer, bahasa inggris, bahasa jepang, tata
rias, dll
h. Meningkatkan kegiatan ektrakulikuler









3. Struktur Organisai
GAMBAR 1
STRUKTUR ORGANISASI SMA WIDYA DHARMA TUREN 2008-2009
56























56
Dokumentasi SMA Widya Dharma Turen 2008-2009
KEPALA
SEKOLAH
KOORDINATOR
TATA
WAKASEK
KURIKULUM
WAKASEK
KESISWAAN
WAKASEK
SARANA
WAKASEK
HUMAS
STAF
KURIKULUM
STAF
KESISWAAN
KOORDINATOR
MGMP
KEPUTRIAN WALI KELAS
BP / BK PERPUSTAKAAN
LABORATORIUM
IPA – BHS - KOMP
DANSOS
EKSTRA
KULIKULER
GURU
SISWA
4. Keadaan Guru dan Karyawan SMA Widya Dharma Turen
Guru merupakan pembimbing langsung anak didik di dalam kelas
sehingga peran dan keberadaan guru sangat mempengaruhi kelangsungan
siswa dalam belajar, kualitas kelulusan juga tergantung bagaimana guru
mengajar secara profesional
Seiring dengan perkembangan serta semakin pesatnya kemajuan
SMA Widya Dharma, maka lembaga pendidikan ini terus berbenah diri,
salah satunya dilakukan melalui penambahan dan pembinaan tenaga
pendidik yang sesuai dengan kompetensinya dengan harapan bahwa
problema yang timbul dalam proses belajar mengajar bisa teratasi dengan
baik. Dan siswa bisa memperoleh apa yang menjadi tujuan dalam
belajarnya, tidak hanya itu saja SMA Widya Dharma juga menambah
karyawan sebagai bentuk penataan dan perwujudan menuju lembaga
pendidikan yang berkualitas.
Hasil observasi peneliti, SMA Widya Dharma Turen saat ini
memliki 56 guru dan 27 karyawan yang terdiri dari karyawan TU,
Perpustakaan dan operasional lainnya. Sesuai dengan kompetensi dan
profesionalisme guru, para guru yang ada di SMA Widya Dharma
menjalankan peran dan tugasnya dalam mengajar memiliki latar belakang
yang sesuai dengan bidang kependidikan masing-masing, yang mana
sebagian besar dari mereka telah menempuh jenjang pendidikan sarjana
strata satu (SI), ada juga guru yang masih menempuh jenjang pendidikan
yang lebih tinggi atau sarjana strata dua (S2), para guru mengakui bahwa
untuk memecahkan problem yang ada di SMA Widya Dharma Turen
Malang ini saling membantu antara guru yang ngajar mata pelajaran lain
dengan guru yang ngajar mata pelajaran pendidikan agama islam, selain
itu seorang guru juga harus memiliki modal keilmuan yang matang dan
sesuai dengan latar belakang pendidikannya.
57

Selain keberadaan guru dan karyawan di SMA Widya Dharma juga
memiliki arti yang sangat penting dalam membantu kelancaran proses
pendidikan adanya kualitas kinerja karyawan dalam melaksanakan tugas
dan kewajibannya tentunya sangat dibutuhkan oleh berbagai pihak yang
terkait dengan proses pendidikan itu sendiri, untuk SMA Widya Dharma
Turen Malang terus berusaha melakukan peningkatan SDM terhadap
karyawannya dengan cara pembinaan kerja dan memperhatikan
kesejahteraan hidup mereka. Mengenai jumlah guru dan karyawan dapat
dilihat pada tabelnya tentang keberadaan guru di lembaga ini memang
dibagi menjadi 2 ada yang bersifat tetap/pegawai negeri dan yang kedua
sebagai tenaga honorer, demikian pula dengan tenaga kepegawaian yang
ada di lembaga ini. Kerja sama yang baik antara guru yang bersifat tetap
maupun yang tidak tetap ini ternyata tidak menutup kemungkinaan untuk
bisa menciptakan lingkungan yang dapat menjamin kelangsungan kegiatan
pembelajaran yang lebih baik dan lebih kondusif. Kebanyakan dari para
guru yang ada di lembaga ini lulusan/alumni perguruan tinggi yang ada di
jawa timur, khususnya dari daerah Malang.



57
Sumber Data Dokumentasi Dan Wawancara Dengan staf TU SMA Widya Dharma Turen
Tanggal 21 November. 2008
TABEL 1.1
DAFTAR NAMA GURU
SMA WIDYA DHARMA TUREN
TAHUN PELAJARAN 2008-2009
58

Kode Nama/NIP Bidang Studi/Mata
Pelajaran yang
Diajarkan
Pendidikan
Terakhir
Keterangan
1 Tri Djoko Kusminto.
Drs.
F Mipa, Kimia,
IKIP, Mlg
Non PNS
2 Samsul Hadi, Drs. Sejarah Pendidikan
Sejarah IKIP
Negeri
Non PNS
3 Titik Wahyuni, S.Pd.
130900425
Bahasa Indonesia/Koor
Piket
Sastra Bhs.
Indonesia, IKIP
Mlg
PNS
4 Drs.Prihadi Hendro
Rudhito,
131405886
Ekonomi /Koor
Ketrampilan
Ilmu Sosial, IKIP
Mlg
PNS
5 Dra.Rina Juniarsi,
131614188
Kimia Ilmu Eksekta
IKIP Mlg
PNS
6 Ananta Santi, BA. Bahasa Inggris UT, BHS. Inggris
Blng
PNS
7 Drs.Elok Sanyoto, Pendidikan Kristen Pend. Agama
Kristen, STKIP
Non PNS
8 Suliono, BA. Bahasa Inggris, Bahasa
Perancis/Wak Sarana
Akademik BHS.
Asing
Non PNS
9 Titik Mustikowati,
BA.
Bahasa Inggris/Koor
LAB BAH + B.
Vokalia
Akademik Bhs.
Asing
Non PNS
10 Musalamah BA. Sejarah Nasional,
Sosiologi
Pendidikan
Sejarah Nas.
Sarjana Muda,
UNEJ
Non PNS
11 Dra.Endri Mulyati Sosiologi Pend. Ilmu Peng.
PMP dan KN
IKIP PGRI
Non PNS
12 Dra.PinastiHendrawati,
1320099357
Kimia /Koor Penilaian
+ Lab IPA
Mipa Kimia IKIP
Negeri Mlg
PNS
13 Dra.Siti Maisaroh, Kewarganegaraan,
PPKN /Wak Kur
Pend.
Kewarganegaraan
, PPKN
IKIP PGRI Mlg
Non PNS
14 Dewu Rini
Ambarwti, S.Pd.
Akutansi +
Kewiausahaan
(MULOK) Koor Kopsis
Ekonomi UM Non PNS
15 Drs.Abu Bakar, BP/BK / Koor BK / Pend. BP/BK PNS

58
Dokumentasi SMA Widya Dharma Turen 2008-2009
131158166 Ekstra IKIP PGRI
16 Dra.Sri Sukmawati, Sej. Nasional, Sosio
Antropologi
IPS, Sej. Nas,
IKIP Mlg
Non PNS
17 Dra Endah Ernayani,
131466205
Biologi Biologi IKIP Mlg PNS
18 Drs. Tiktoyo Ekonomi, Ekonometri /
Wak KUR
Ilmu. Peng. Sosial
IKIP PGRI
Non PNS
19 Joko Sukisworo S.Pd.
12171520
Biologi FMIPA IKIP Mlg PNS
20 Atik Siswanti, S.Pd.
132700892
Bahasa Inggris FKIP Umm PNS
21 Dra. Suciati Matematika FMIPA IKPI
PGRI
Non PNS
22 Yeni Jektiningsih
S.Pd.
BP/Bk / Koor Dansos/
PAG Kris
Psikologi Univ.
17-8-45
Non Pns
23 Wiwik Indah, S.Pd. Ekonomi FP IPS Akuntansi
IKIP Negeri Mlg
Non PNS
24 M. Lutfiono, S.Pd. Geografi / Wak
Kesiswaan
IPS Geografi
IKIP PGRI
Non PNS
25 Eny Widayati, S.Pd. Kewarganegaraan
PPKN
Kewarganegaraan
, PPKN IKIP
PGRI
Non PNS
26 Drs. Supriono,
6513101008
Sosiologi / HUMAS Fips, Geografi
IKIP PGRI
PNS
27 Ir.Intan Altina Fisika Peternakan
STIKIP PGRI
PAS.
Non Pns
28 Dra. Wahyuni Rini P Bahasa Inggris FBBS Pend. Bhs
Inggris IKIP
PGRI
Non PNS
29 Drs. Agung Raharjo Pend. Jas. Kes. Olah Raga Budi
Utomo Mlg
Non PNS
30 Ariyanto, S.Pd Pendidikan Seni Pend. Seni Rupa
IKIP Mlg
Non PNS
31 Rini Dwi H. S.Pd. Geogarfi FIPS Geograrafi
IKIP PGRI
Non PNS
32 Drs. Suparlan
132280924
Matematika FPMIPA IKIP
Budi Utomo Mlg
PNS
33 Atmitko
Pratnawihardi, S.Pd.
Matematika FPMIPA UMM Non PNS
34 Rudi Hartono, S.Pd.
040505837
BP/BK Pend. BP/BK
IKIP PGRI
PNS
35 Relia Widaryati S.Pd, Fisika KIP Fisika Unej. Non PNS
36 Mamik Caturwati, S.Pd. Bahasa Indonesia FBBS IKIP PGRI Non PNS
37 M. Koliq, S.Pd. Bahasa Indonesia Bhs. Indo IKIP
Mlg
Non PNS
38 Abdul Kholiq, S.Pd. Bahasa Indonesia FKIP, IKIP Non PNS
39 Sri Sulastri, S.Pd. PPKN / Staf Kesiswaan PMP/Kn IKIP
PGRI
Non PNS
40 Arik Susianto, S.Pd.
350709070770003
Matematika Mipa UM PNS
41 Octavia Eko Susanti,
S.Pd.
Fisika Mipa UM Non PNS
42 Abdul Halim, S.Ag. Pendidikan Agama
Islam
Tarbiyah/PAI
Unisma
Non PNS
43 Muh. Ali, KH. Drs. Pendidikan Agama
Islam/Koordinator
Tarbiyah/PAI
IAIN Mlg
Non PNS
44 Drs. Rimbun Kularso
6513100979
Ekonomi +
Kewirausahaan (Mulok)
FKIP Bisnis
Tataniaga PT
UNS
PNS
45 Rochma Ulfi F. ST. Tek. Infor. Komputer /
Koordinatoor
Tek. Industri
Kimia Kanjuruan
Non PNS
46 Dra. Nawang
Tedjowati, 13032680
Bahasa Inggris /
Convrsation
F Pend. PPKN,
IKIP Mlg
PNS
47 Imam Tabroni, S.Pd Sejarah Sastra, UM Non PNS
48 Waris Suwarno, Drs.
13214449
Geogarafi FPIPS, IKIP PNS
49 Juma’ali S. Kom. Tek. Infor. Komputer /
Programer
Analisis
Menejemen
STIKI
Non PNS
50 Wuryanto, S.Pd Bahasa Indonesia /
Wakasek Kesiswa
Fkip S-P Non PNS
51 Teguh Hendri Kimia MIPA, UM Non PNS
52 Suhardi, S.Pd. Seni dan Budaya FBBS, IKIP
Negeri Mlg
Non PNS
53 Aulia Kurnia, S.Ag Pend. Agama Islam - -
54 Wiyoto, Drs. Pend. Jasmani - -
55 Titik, S.Pd Pend. Jasamani - -
56 B. Sita BASEP - -

Dari hasil paparan Tabel dia atas, bahwa guru SMA Widya
Dharma Turen yang sudah PNS 16 orang namun, yang belum PNS
sebanyak 40 orang. Beliau tersebut sudah menempuh di perguruan tinggi
yang berada di Jawa Timur, namun datanya ada yang belum masuk pada
buku induk inventaris sekolah Widya Dharma Turen. Walaupun guru
belum PNS tapi dalam hal mengajar sudah mencapai standar kualifikasi
yang profesional.


TABEL 1.2
KEADAAN KARYAWAN SMA WIDYA DHARMA TUREN
2008-2009
59

Kode Nama Jabatan keteranagan
1 EndangwarDaningsih ka. T.U
2 Darminingsih T.U -
3 Hariadi T.U -
4 Siono T.U -
5 Ernawati T.U -
6 SriKasih T.U -
7 Bambang Sungkono T.U -
8 Slamet Budiono T.U -
9 Sutik T.U -
10 Elia Dwi Martastuti T.U -
11 Johan Wijaya T.U -
12 Lilik Masita Rini T.U -
13 Imam kholil Petugas. Perpus -
14 Wanda Santiawan Petugas. Perpust -
15 Ani Yuli Prianti Petugas. komp -
16 Nur Hatib Petugas komp -
-17 Fendi Suharsono Petugas.komp -
18 M. Fahrurrozi Petugas. komp -
19 Elmi Amalia Petugas.koprsi -
20 Mulyo Sri Rahayu Petugas.koperasi -
21 Sumadi Driver -
22 Saib Pesuruh -
23 Sugito Pesuruh -
24 Slamet Pirit Pesuruh -
25 Mugeni Pesuruh -
26 Suharyono Satpam -
27 Sugeng Satpam

5. Tugas Dan Tanggung Jawab Kepala dan Guru
a. Kepala sekolah
Kepala sekolah bertugas sebagai educator, manajer administrasi
dan supervisor, pemimpin inovator, dan motivator. Adapun tugas-
tugas yang dilaksanakan kepala sekolah adalah sebagai berikut:
1) Kepala sekolah sebagai educator.

59
Dokumentasi SMA Widya Dharma Turen Tahun 2008-2009.
Adapun tugas kepala sekolah sebagai educator bertugas
melaksanakan proses belajar secara efektif dan efisien dengan
memantau bagaimana guru mengajar dan keadaan siswa dalam
kelas sehingga kepala sekolah bisa memberikan motivasi agar
perkembangan proses belajar mengajar semakin meningkan. Hal
ini dilakukan agar tidak terjadi problem yang berkaitan dengan
proses belajar mengajar.
2) Kepala sekolah selaku manajer
Adapun tugas kepala sekolah selaku manajer adalah sebagai
berikut:
a) Menyusun perencanaan
b) Mengorganisasikan kegiatan
c) Mengarahkan kegiatan
d) Melaksanakan pengawasan
e) Melakukan evaluasi terhadap kegiatan
f) Menentukan kebijaksanaan
g) Mengadakan rapat
h) Mengambil keputusan dan mengatur proses belajar mengajar
i) Mengatur administrasi: ketatausahaan, kesiswaan, ketenagaan,
sarana dan prasarana, keuangan atau RAPBS.
j) Mengatur organisasi siswa intra sekolah (OSIS).
k) Mengatur hubungan sekolah dengan masyarakat dan instansi
yang terkait.
3) Kepala sekolah selaku administrator menyelenggarakan
administrasi adalah sebagai berikut:
a) Perencanaa
b) Pengorganisasian
c) Pengarahan
d) Pengkoordinasian
e) Pengawasan
f) Kurikulum
g) Kesiswaan
h) Ketatausahaan
4) Kepala sekolah selaku supervisor bertugas menyelenggarakan
supervisi mengenai:
a) Proses belajar mengajar
b) Kegiatan bimbingan konseling
c) Kegiatan ekstrakurikuler
d) Kegiatan ketatausahaan
e) Kegiatan kerjasama dengan masyarakat dan instansi yang
terkait
f) Kegiatan osis
5) Kepala sekolah sebagai inovator
a) Melakukan pembaharuan bidang
b) Melaksanakan pembinaan guru dan karyawan
c) Melakukan pembaharuan dalam menggali sumber daya di BP3
d) Tugas wakil kepala sekolah
Wakil kepala sekolah mempunyai peran penting dalam
membantu kepala sekolah dalam mengatasi problem-problem atau
kegiatan yang ada di lemabag tersebut adalah sebagai berikut:
6) Menyusun perencanaan, membuat program kegiatan dan
pelaksanaan program.
7) Pengorganisasian
8) Pengarahan
9) Ketenangan
10) Pengkordiasian
11) Pengawasan
12) Penilaian
13) Identifikasi dan pengumpulan data.
Selain kegiatan-kegiatan di atas, wakil kepala sekolah membantu
kepala sekolah dalam hal sebagai berikut:
1) Waka kurikulum
a) Menyusun dan menjabarkan kelender pendidikan
b) Menyusun pembagian tugas-tugas guru dan jadwal pelajaran
c) Mengatur penysunan program pengajaran tahunan (Prota)
d) Mengatur penysunan program pengajaran semester (Promes)
2) Waka kesiswaan
3) Waka sarana dan prasarana
4) Hubungan dengan masyarakat (Humas)


b. Tugas guru
Guru bertanggung jawab kepada kepala sekolah dan mempunyai
tugas untuk melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar secara
efektif dan efisien. Tugas dan tanggung jawab guru di SMA Widya
Dharma Turen meliputi:
1) Membuat perangkat program pengajaran
2) Melaksanakan kegiatan pembelajaran
3) Melaksanakan kegiatan penilaian proses belajar ulangan harian,
ulangan umum, dan ulangan akhir
4) Melaksanakan analisis hasil ulangan harian
5) Menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan
6) Mengisi daftar nilai siswa
7) Melaksanakan kegiatan membimbing (pengimbasan pengetahuan)
kepada guru lain dalam proses belajar mengajar
8) Membuat alat pelajaran, alat media
9) Menumbuh kembangkan sikap menghargai karya seni
10) Mengikuti kegiatan pengembangan dan persyaratan kurikulum
11) Membuat catatan tentang kemajuan hasil belajar siswa
12) Mengisi dan meneliti daftar hadir siswa sebelum memulai
pengajaran
c. Wali kelas
Wali kelas salah satu mediator yang selalu memantau siswa dari
dekat dan membantu kepala sekolah dalam kegiatan-kegiatan sebagai
berikut:
1) Pengelolaan kelas
2) Penyelenggaraan administrasi kelas meliputi:
a) Dena tempat duduk siswa
b) Papan absen siswa
c) Daftar pelajaran kelas
d) Daftar piket kelas siswa
e) Buku absensi siswa
f) Buku kegiatan pembelajaran
g) Tata tertib siswa
3) Penyusunan pembuatan statistik bulanan siswa
4) Mengisi daftar kumpulan nilai siswa
5) Pencatatan mutasi siswa
6) Pengisian laporan penilaian hasil belajar
7) Pembagian buku laporan penilaian hasil belajar
d. Guru Bimbingan Dan Konseling (BK)
Bimbingan dan konseling untuk mengetahui perkembangan
siswa yang mempunyai problem baik dalam hal belajar maupun dalam
lingkup sosial. Dalam hal ini siswa yang akan bermasalah akan di
upayakan untuk menyelesaikan masalahnya, maka dari itu bimbingan
dan konseling tugas adalah sebagai berikut:
1) Penyusunan program dan pelaksanaan bimbingan dan konseling
2) Koordinasi dengan wali kelas dalam rangka mengatasi problem-
problem yang dihadapi siswa tentang kesulitan belajar
3) Memberikan layanan dan bimbingan kepada siswa dalam
pemecahan problematikan dalam kegiatan belajar.
4) Memberikan saran dan pertimbangan kepada siswa dalam
memperoleh gambaran tentang lanjutan pendidikan dan lapangan
kerja
5) Melaksanakan kegiatan analisis hasil evaluasi belajar
e. Pustakawan
Pustakawan sekolah membantu kepala sekolah dalam kegiatan-
kegiatan sebagai beriku:
1) Perencanaan pengadaan buku-buku atau baha pustaka lainnya
2) Mengurus pelayanan perpustakaan
3) Perencanaan pengembangan pustakaan
4) Pemeliharaan dan perbaikan buku-buku yang ada di perputakaan
5) Investasi dan pengadministrasian buku-buku dan alat-alat
perpustakaan lainnya
6) Melakukan pelayanan kebutuhan siswa di perpustakaan
7) Menyusun tata tertib bukuk-buku di perpustakaan
8) Menyusssun laporan pelaksanaan kegiatan perpustakaan kegiatan
perpustakaan secara berkala.
f. Laboran
Kepala tata uasaha sekolah mempunyai tugas melaksanakan
ketatausahaan sekolah, dan bertanggung jawa kepada kela sekolah
dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1) Menyusun program kerja tata usaha sekolah
2) Mengolah keuangan sekolah
3) Pengurusan administrasi ketenagaan dan siswa
4) Pembinaan dan pengembangan karir pegawai tata usaha sekolah
5) Menyusun administrasi perlengkapan sekolah
6) Penyusun dan penyajian data sekolah
g. Kepala Tata Usaha
Kepala tata usaha sekolah SMA Widya Dharma Turen Malang
mempunyai tugas melaksanakan ketatausahaan sekolah dan
bertanggung jawab kepada kepala sekolah dalam kegiatan-kegiatan
sebagai berikut:
1) Menyusun program kerja tata usaha sekolah
2) Pengelolaan keuangan sekolah
3) Pengurusan administrasi ketenagaan dan siswa
4) Pembinaan dan karir pegawai tata usaha sekolah
5) Penyusun administrasi perlengkapan sekolah
6) Penyusun laporan pelaksanaan kegiatan pengurusan ketatausahaan
secara berkala
h. Tekhnis media
Teknisi media membantu kepala sekolah dalam kegiatan-
kegiatan sebagai berikut:
1) Merencanakan pengadaan alat-alat media
2) Menyusun jadwal dan tata tertib penggunaan media
3) Menyusun programkegiatan teknisi media
4) Mengatur penyimpanan, pemeliharaan, dan perbaikan alat-alat
media inventarisasi dan administrasian alat media
5) Menyusun laporan pemanfaatan alat-alat media
6. Keadaan Siswa SMA Widya Dharma Turen
Keberadaan siswa merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam
kegiatan proses belajar mengajar. Bahwa SMA Widya Dharma Turen
tahun ajaran 2008/2009 sampai sekarang nominal yang tinggi sekecamatan
Turen, yaitu 601 siswa yang terdiri dari 280 laki-laki dan 321 siswi putri,
mayoritas siswa SMA Widya Dharma Turen berasal dari kecamatan Turen
sendiri, secara keseluruhan jumlah siswa terbagi dalam tiga kelas, yaitu
kelas X, kelas XI, dan kelas XII, dan masing-masing kelas terdiri dari
tujuh ruang belajar, setiap ruang belajar menampung kurang lebih 42
siswa, sehingga secara keseluruhan jumlah ruang belajar di SMA Widya
Dharma Turen terdiri dari 21 ruang belajar belum termasuk ruang Lab dan
ruang praktek lain.
Pembinaan dan pelatihan siswa di SMA widya Dharma Turen
dimulai sejak kelas bawah/kelas X. Hal tersebut dimaksudkan agar tingkat
pengetahuan bisa diketahui sesuai yang mereka miliki secara jelas dapat
disalurkan melalui pemilihan jurusan di kelas atas/kelas XI nantinya,
karena di SMA Widya Dharma Turen ini telah memiliki tiga jurusan yang
terdiri dari jurusan IPS, jurusan IPA dan jurusan Bahasa. Dan untuk kelas
X masih belum ada pembagian jurusan karena siswa baru masih dididik
untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah.

TABEL 3
PERKEMBANGAN JUMLAH SISWA TAHUN 1999-2008
60


No Tahun Jumlah siswa
1 1998-1999 987
2 1999-2000 991
3 2001-2002 1063
4 2002-2003 1100
5 2003-2004 1165
6 2004-2005 1137
7 2005-2006 1126
8 2006-2007 1045
9 2007-2008 895
10 2008-2009 601

Adapun penjelasan tentang tabel di atas bahwa jumlah siswa di tahun
1998- 2006 mempunyai angka nominal yang cukup tinggi di SMA se
Kecamatan Turen, namun pada tahun berikutnya yaitu mulai tahun 2007-
sekarang sudah semakin menurun. Hal ini disebabkan karena
perkembangan dunia pendidikan di Kecamatan Turen semakin maju,
sehingga persaingan antara lembaga yang satu dengan lembaga lain
semakin ketat dan berdampak pada menurunnya jumlah siswa di SMA
Widya Dharma Turen.
Terkait dengan semakin menurunnya jumlah siswa di SMA Widya
Dharma Turen dari hasil wawancara peneliti dengan ibu
EndangwarDaningsih (ka. TU) yang mengemukakan sebagai berikut:

60
Dokumentasi SMA Widya Dharma Turen tahun 2008-2009 dan Hasil Wawancara dengan
Bapak Kepala Sekolah Tri Djoko Kusminto Tgl 13 November. 2008
“Memang benar jumlah siswa di SMA Widya Dharma ini makin
menurun, soalnya sekarangkan lembaga ini gencar jadi dua lembaga
yaitu lembaga ini (SMA Widya Dharma Turen) dan SMK Widya
Dharma yang ada di Talok sana mbak! Jadi untuk mempromosikan
juga kami bagi-bagikan sama SMK sana. Dhulu sebelum di
bangunnya SMK Widya Dharma yang ada di Talok, sekolah ini
memang jumlah siswanya mencapai angka seperti yang ada dalam
dokumentasi yaitu seribu lebih tapi karena ada SMK Widya Dharma
itu jadi siswanya sebagian ada yang masuk di SMA dan juga ada
yang masuk di SMK”
61


Untuk menemukan kebenaran tentang paparan ka.TU di atas, peneliti
mencoba mewawancarai Bpk Rudi Hartono (guru BK) yang
mengayatakan bahwa:
”Lembaga SMK Widya Dharma yang ada di Talok mulai dibangun
antara tahun 2006-2007. mulai tahun itu sekolah ini jumlah siswanya
menurun, tapi menurunnya jumlah siswa bukan karena lembaga ini
gak maju lagi, melainkan karena memang jumlah siswa dibagikan
untuk lembaga SMK Widya Dharma yang ada di Talok itu. Apalagi
sekarang di Turen ini jumlah lembagakan sudah makin banyak
contohnya adanya sekolah Kelautan, sekolah Brimob dan masih
banyak lembaga-lembaga lain yang baru dibangun oleh pemerintah,
jadi lembaga pendidikan di Turen ini tidak hanya SMA Widya
Dharma saja. Tapi kami sebagai pihak sekolah tetap
mempromosikannya semaksimal mungkin dan tetap menunjukkan
sekolah ini yang terbaik dan berkualitas”
62


Adapun latar belakang siswa SMA Widya Dharma Turen tidak
hanya menganut agama islam saja, melainkan juga ada beberapa siswa
yang menganut agama lain, seperti agama kristen. Sehingga dalam hal
saling menghargai antara guru dan siswa yang latar belakang agama yang
berbeda ini kepala sekolah menerapkan untuk saling menghargai kegiatan
agama masing-masing terutama dalam hal peribadatan. Jadi, tidak bisa
dipungkiran antara siswa muslim dengan siswa yang nonmuslim sudah
berbaur sangat jauh dan bahkan dihari raya besar agama kristen maupun
islam mereka saling merayakannya. Di sinilah letak problem yang sering
muncul dalam pendidikan agama islam di sekolah ini, karena ketika guru
mau berceramapun di lembaga ini harus tahu waktu yang tepat dan

61
Wawancara Dengan ka. TU. ibu Endang warDaningsih Pada Tanggal 25 November 2008
62
Wawancara Dengan Bpk Rudi Hartono, Guru Bimbingan Konseling Pada Tanggal 25 November
2008
suasana yang sesuai agar tidak terjadi konlik agama dalam kehidupan
bermasyarakat di lemabaga SMA Widya Dharma Turen ini. Karena di
lembaga ini juga terdapat beberapa guru-guru yang beragama nonislam.

TABEL 4
JUMLAH SISWA YANG BERAGAMA MUSLIM
DAN BERAGAMA NASRANI
63

No Kelas Muslim Non Muslim Jumlah
1 X 179 26 205
2 XI 170 30 200
3 XII 170 26 196
Jumlah 519 82 601


7. Keadaan Kegiatan SMA Widya Dharma Turen
Jika dilihat dari kegiatan yang ada di SMA Widya Dharma Turen
yang paling diutamakan adalah kegiatan belajar mengajar, dalam kegiatan
belajar adalah tujuan pokok dalam dunia pendidikan. Kegiatan belajar
mengajar berlangsung dimulai pukul 06.45-13.10, Dalam rentan waktu
belajar tersebut para siswa diberikan satu kali jam istirahat untuk
melepaskan kelelahannya. Setelah kegiatan belajar mengajar di dalam
kelas selesai para siswa juga diberikan kesempatan mengikuti kegiatan
Intra yang ada di sekolah, di antaranya adalah kegiatan Pramuka, Osis,
PMR, dan Teater dan lain sebagainya. Semua kegiatan ini ditujukan untuk
perkembangang siswa dan kemajuan siswa di sekolah, sehingga ketika
mereka melanjutkan ke jenjang selanjutnya mereka sudah memiliki bekal
pengetahuan yang cukup.

63
Dokumentasi SMA Widya Dharma Turen Tahun 2008/2009
Selain kegiatan di atas di lemabaga SMA Widya Dharma Turen juga
terdapat beberapa kegiatan-kegiatan lain, program kegiatan kesiswa
dilaksanakan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Penerimaan siswa baru
b. Masa orientasi siswa baru (MOS)
c. Upacara rutin hari senin dan sabtu
d. Operasi ketertiban sekolah setiap satu atau dua bulan sekali,
diantaranya:
1) Operasi kelengkapan seragam siswa
2) Operasi rokok dan narkoba yang mungkin dibawa anak-anak ke
sekolah
3) Operasi rambut siswa
e. Upacara hari besar nasional
f. Berpartisipasi dalam lomba olah raga/seni dalam rangka HUT RI
tingkat kecamatan atau kabupaten
g. Peringatan hari besar agama Islam, di antaranya:
1) Shalat Idul Adha di sekolah
2) Penyembelihan hewan kurban
3) Pondok Ramadhan
4) Penerimaan dan pembagian zakat fitrah
h. Peringatan hari besar agama nasrani, diantaranya: Natal dan paskah
i. Berpartisipasi dalam lomba OR, seni dan bidang studi yang
diselenggarakan berbagai lembaga setingkat dan perguruan tinggi di
Malang
j. Seleksi pelajar teladan Diknas kab. Malang
k. Olimpiade bidang studi IPA di Diknas kab. Malang
l. Seleksi paskibraka tingkat nasional di kab. Malang
m. Kegiatan tengah semester dan pasca semester dalam bentuk lomba
OR dan pentas seni
n. Peringatan bulan bahas, ditandai dengan pementasan Teater, lomba
Pidato, MC dan baca puisi
o. Menyelenggarakan lomba cerdas cermat matematika tingkat SMA
Kab. Malang
p. Mengevaluasi kegiatan ekstra kulikuler (tari, karawitan, voli, sepak
bola, basket, beladiri, pramuka, PMR, senam), ektra komputer, bahasa
Inggris, jepang internet.
q. Latihan dasar kepemimpinan calon pengurus OSIS dan MPK
r. Pemilihan ketua OSIS baru
s. Pelantikan pengurus OSIS baru
t. Laporan pertanggungjawaban pengurus OSIS lama dan serah terima
jabatan
u. Rapat anggota tahunan koperasi sekolah
v. Peringatan HUT Widya Dharma Turen
w. Wisuda kelas III
8. Keadaan Sarana dan Prasarana SMA Widya Dharma Turen
SMA Widya Dharma Turen merupakan salah satu lembaga yang
memiliki sarana dan prasarana yang relatif lengkap, hal tersebut terlihat
dari berbagai perlengkapan sekolah yang ada, mulai dari gedung sampai
alat-alat kebutuhan penunjang kegiatan belajar siswa, kesemuanya ditata
dengan baik dan rapi.
SMA Widya Dharma Turen memiliki luas tanah lebih kurang 10300
M yang terdiri dari: (1) bangunan seluas 2629 M. (2) halaman seluas 7600
M (3) lapangan olah raga seluas 100 M. Sehubungan dengan kebutuhan
dan keinginan para guru dan siswa untuk selalu melaksanakan belajar
dengan suasana yang nyaman dan tenang, maka SMA Widya Dharma
Turen terus menginovasi agar memenuhi kebutuhan dan penyediaan
sarana dan prasarana untuk menunjanga kegiatan belajar mengajar.
64

Ruangan kegiatan pembelajaran merupakan sarana terpenting yang
digunakan di sini, dari beberapa ruangan ini kebanyakan digunakan untuk
ruang belajar mengajar. Di SMA Widya Dharma Turen telah memiliki
ruang belajar yang cukup representive bagi penyelenggaraan proses belajar
mengajar diantaranya jumlah ruangan pembelajaran sebanyak dua puluh
satu ruang. untuk kelas X yang di gunakan sebagai ruang belajar ada tuju
kelas yaitu untuk kelas X-1 sampai kelas X-7, kelas XI ruang yang
digunakan terdapat tuju kelas yaitu, satu kelas untuk kelas XI jurusan IPA,
satu kelas untuk kelas XI jurusan Bahasa dan lima kelas untuk kelas
jurusan IPS, yang terdiri dari IPS-1, IPS-2, IPS-3, IPS-4, dan IPS-5.
sedangkan untuk kelas XII terdapat tuju kelas pula yaitu, untuk kelas XII
jurusan IPA terdapat dua kelas yaitu kelas XII IPA-1 dan XII IPA-2, untuk
jurusan Bahasa hanya satu kelas sedangkan untuk jurusan IPS terdapat

64
Sumber Data Dokumen SMA Widya Dharma Turen dan Hasil Penjelasan Drs. Tri djoko
Kusminto Kepala Sekolah Sebagai Kepala Sekolah dan Ibu Endang warDaningsih Sebagai Kepala
Tata Usaha, Pada Hari Kamis Tanggal 13-25 november 2008.
empat kelas, yaitu kelas XII IPS-1, kelas XII IPS-2, kelas XII IPS-3 dan
kelas XII IPS-4.
Selain beberapa ruangan di atas masih terdapat beberapa ruangan
lainnya yang menunjang proses belajar yang meliputi ruang UKS,
Koperasi, ruang BP/BK, ruang Kepala Sekolah, ruang guru, ruang Wak.
Kepala Sekolah, ruang TU, kamar mandi siswa dan guru, Mushalla serta
ruang penunjang kegiatan siswa seperti ruang OSIS, ruang kegiatan Teater
dan Seni dan ruang kegiatan pramuka. Dari masing ruangan tersebut di
gunakan sesuai fungsinya
Sarana dan prasarana yang ada tesebut disesuaikan dengan
kebutuhan siswa dan guru dalam proses belajar mengajar, hal tersebut
memiliki arti penting bagi penyelenggaraan pendidikan yang baik dan
berkualitas, tentunya apabila penggunaan sarana dan prasarana tersebut
oleh siswa maupun guru dapat dilakukkan secara baik dan maksimal
sesuai dengan kebutuhan kegiatan pendidikan maka proses pendidikan
akan mencapai tujuan dan hasil yang baik.
Sarana dan prasarana yang telah ada seperti yang telah disebutkan di
atas, maka sekolah ini berupaya penuh dalam menumbuh kembangkan
sekolah dengan pendayagunaan sarana dan prasarana secara efektif, seperti
di bawah ini:
a. Perlengkapan Sekolah
SMA Widya Dharma Turen dalam perlengkapa sekolah sudah
lebih dari cukup, hal tersebut dapat dilihat dari data yang menujukkan
kelengkapan sarana perlengkapan Kantor dan lain sebagainya seperti
mesin komputer, mesin foto copy dan lain sebagainya.
Fasilitas yang diperuntukkan bagi siswa ini sudah dapat
dikatakan cukup, mulai dari fasilitas belajar mengajar, ruang kelas dan
bangku, alat-alat olah raga seperti bola voli, sepak bola basket, dan lain
sebagainya. Perlengkapan yang tidak kalah pentingnya adalah Lab.
b. Fasilitas Tempat
Tempat yang tersedia di sekolah ini terdiri dari dua bagian, yaitu
fasilitas yang berkaitan langsung dengan kegiatan belajar maupun
fasilitas yang tidak berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar.
Adapun tempat yang berkaitan dengan kegiatan belajar adalah sebagai
berikut:
1) Ruang belajar
2) Ruang Lab Bahasa dan Kimia
3) Ruang Lab komputer
Sedangkan tempat untuk menunjang kelengkapan proses belajar
mengajar adalah sebagai berikut:
1) Lapangan: lapangan di sini dipergunakan sebagai tempat upacara
sekolah dan kegiatan olah raga yang lokasinya berada di tengah-
tengah sekolahan, lapangan ini terbagi menjadi dua tempat, yaitu
lapangan depan untuk bola basket dan lapangan tengah untuk bola
volly dan lompat jauh.
2) Tempat parkir: tempat parkir di sini berada di depan sekolah,
tepatnya di samping pintu masuk deket gerbang.
3) Tempat parkir guru berada di bagian utara lembaga SMA Widya
Dharma Turen.
4) Ruang kesehatan: sebagai ruang sarana kesehata/ruang UKS.
5) Perpustakaan: merupakan sarana belajar langsung bagi siswa ketika
jam istirahat tiba, perpustakaan ini juga dipakai sebagai tempat
istirahat siswa ketika mengalami kejenuhan di dalam kelas setelah
mengikuti pelajaran sepanjang waktu.
6) Mushalla: digunakan sebagai tempat untuk menunaikan ibadah
sholat (Dhuha) serta ibadah sholat jum’at.
7) Aula: aula di samping digunakan sebagai tempat pertemuan juga
dipakai sebagai tempat kegiatan siswa seperti tempat ruang duduk
siswa, bahkan juga digunakan sebagai tempat kajian keislaman
badan dakwah Islam secara besar-besar.
8) Kopsis (koperasi siswa) menjadi tempat para siswa mencari
kebutuhan belajar seperti buku tulis, pensil, dan lainsebagainya.
9) Ruang guru: lokasi ruang guru ini bersebelahan dengan ruang
kepala sekolah dan waka sekolah. Dalam ruangan guru ini selain
digunakan tempat pergantian jam pelajaran, tempat ini juga
digunakana untuk mendiskusikan problem-problem yang terjadi
pada siswa dan yang nantinya akan di cari solusinya secara
bersama.
10) Ruang BK: dipergunakan sebagai tempat bimbingan terhadap
siswa yang mengalami beberapa problematika tertentu, baik
mengenai masalah belajar mengajar maupun masalah pribadi
lainnya.
11) Ruang kepala sekolah: ruang kepala sekolah tersebut berada di
dekat pintu masuk sekolah ruang ini selain dipergunakan sebagai
tempat ruang khusus kepala sekolah juga digunakan menerima
tamu dari luar serta untuk rapat dan diskusi dengan guru-guru yang
berkaitan dengan problem yang timbul pada diri siswa, materi,
guru dan lembaga itu sendiri.
Dari beberapa fasilitas yang ada di SMA Widya Dharma Turen
malang ini tujuannya untuk menunjang keberhasilan belajar siswa dan agar
problem yang timbul dalam dunia pendidikan bisa diselesaikan.
Dalam era modern dengan teknologi yang mutahir ini, fasilitas
fasilitas sebagai pelengkap sangat dibutuhkan. Selain sebagai memperluas
wawasan juga untuk mendapatkan informasi dari tentang dunia luar.
Adapun fasilitasa yang sangat penting tersebut adalah sebagai berikut:
1) Laboratium Bahasa
Lab bahasa di SMU ini sangat baik dan lengkap, setiap siswa dapat
mempergunakan hedphone sebanyak 48 unit, sehingga setiap siswa
dapat memakai saru persatu da siswa dapat berkomunikasi langsung
dengan guru melalui alat tersebut. Dengan alat tersebut nantinya siswa
dapat berkomunikasi dengan bahasa inggris dengan baik khususnya
jurusan bahasa.
2) Laboratium IPA
Keberadaan Lab IPA di SMA sudah lengkap, sehingga siswa dapat
mepraktekkan sesuai dengan teori yang ada serta dapat memahami
sendiri yang akhirnya siswa tidak merasa tertinggal di dunia modern
ini terhadap siswa lain khususnya di Kota.
3) Perpustakaan
Perpustakaan di SMA Widya Dharma ini semakin tahun semakin
lengkap berkat kerja sama antara siswa dengan sekolah khususnya
siswa kelas 3 yang baru keluar. Perpustakaan sebagai sarana untuk
mendorong siswa agar giat belajar membaca buku, karena dengan
membaca buku siswa akan giat bertanya di dalam kelas serta
mempunyai wawasan yang luas yang belum mereka ketahui.
4) Sistem pengajaran dengan menggunakan VCD
Bahwasannya di era globalisasi ini SMA Widya Dharma menerapkan
cara pengajaran dengan menggunakan VCD. Dengan demikian, siswa
diharapkan mampu mengamati contoh-contoh yang ada pada media
tersebut. Dengan mengetahui contoh tersebut siswa secara langsung
mengetahui teori dan prakteknya. Dengan cara ini diharapkan nantinya
dapat mencetak siswa yang profesional dan berkualitas.
5) Komputerisasi
Sekolah SMA Widya Dharma ini menyedikan komputer 25 unit untuk
siswa serta guru dan karyawan sebanyak 8 unit. Dengan adanya
komputer ini sistem penilaian menggunakan scaner serta setiap
ulangan sudah menggunakan bentuk objektif. Tujuan sistem
koputerisasi diharapkan hasil siswa dapat diketahui secara langsung
dan siswa mampu bersaing dengan siswa yang lain dan bagi siswa
mendapatkan nilai di bawah rata-rata dapat secepatnya berbenah diri
dengan meningkatkan hasilnya pada ulangan berikutnya.

B. TEMUAN HASIL PENELITIAN
1. Problematika Pendidikan Agama Islam Di SMA Widya Dharma
Turen Malang

Dalam menghadapi problematika pendidikan agama islam di SMA
Widya Dharma Turen, dari hasil penelitian telah menemukan beberapa
problematika yang dihadapi pendidikan agama islam. Adapun beberapa
problem yang terjadi di SMA Widya Dharma Turen ini tidak hanya terjadi
pada anak didik, tetapi dari sisi lain juga telah menunjukkan kejanggalan
seperti problem pada pendidik, problem pada sarana dan prasarana,
problem pada dan lingkungan. Dari beberapa problem yang telah
disebutkan secara garis besar di atas, peneliti akan menguraikan tiga faktor
sebagai berikut:
a. faktor internal
1) Problem Anak Didik
Pendidikan agama islam adalah salah satu materi yang wajib
diterapkan disetiap lembaga pendidikan baik itu lembaga yang
bernafaskan islam maupun lembaga umum seperti di SMA Widya
Dharma Turen ini. Keberadaan pendidikan agama di SMA Widya
Dharma Turen diharapkan akan membantu perbaikan tingkah laku dan
membina kepribadian siswa di SMA Widya Dharma Turen. Dalam
materi pendidikan agam islam itu sendiri bagi siswa di SMA Widya
Dharma Turen Malang tidak terhindar dari problem yang
menghampiri. Problem yang sering di hadapi di SMA Widya Dharma
Turen yang berkaitan dengan siswa dalam hal materi adalah menerapa
materi yang disampaikan oleh guru kurang diminati oleh siswa di
SMA Widya Djharma Turen Malang. Problem ini timbul karena
didasari oleh beberapa faktor yang antara lain, yaitu: satu, jika dilihat
dari latar belakang keluarga siswa kebanyakan siswa yang sekolah di
SMA Widya Dharma Turen ini mayoritas islam, namun pada
kenyataan yang terjadi pengalaman siswa tentang ilmu pendidikan
agama islam masih sangat minim sekali, hal inilah yang menjadi faktor
awal munculnya problematika pendidikan agama islam, orang tua yang
kurang perhatian pada perkembangan pelajaran anaknya sehingga
ketika sudah terlanjur jauh seorang anak sangat tidak mungkin untuk
bisa membiasakan diri dalam mempelajari ilmu pendidikan agama
islam.
Dari penjelasan di atas sama hal yang di jelaskan ole guru
pendidikan agama kelas XII yaitu bapak H M. Ali. Fattar. Berikut
penjelasananya:
” Pada dasar problem awal yang terjadi pada siswa itukan karena
latar belakang keluarga, orang tua yang kurang memperhatikan
perkembangan belajar anaknya akan berdampak pada
kesuskesannya di sekolah. Jadi selain belajar di sekolah siswa
harus lebih giat belajar di rumah atau dalam lingkungan
keluarga, atau bagaimana cara orang tua memperhatikan
anaknya agar si anak tahulah tentang agama”
65



65
Wawancara Dengan Bapak H.M. Ali Fattar Guru PAI, Pada Tanggal 21 November 2008. di
Ruang BK
Selain problem di atas problem yang ada di SMA Widya
Dharma dari Ibu Aulia Kurnia S.Pd.I guru pendidikan agama islam
kelas X yang memberikan pernyataan yang sama bahwa:

“Siswa terutama siswa kelas satu SMA Widya Dharma ini
pengetahuannya tentang agama sangat kurang, dalam hal baca
Al-Qur’an misalnya itu anak-anak yang bisa membaca Al-
Qur’an dengan benar masih dibawah rata-rata. Padahal
seumuran anak SMA sudah seharusnya membaca bisa Al-
Qur’an dengan benar. Tetapi karena perhatian dan kurang
minatnya mereka pada pendidikan agama islam karena mereka
menganggap bahwa pendidikan agama kurang penting dan
menganggap enteng sehingga anak-anak tidak bisa membaca
dan bahkan menulis Al-Qur’an sangat kurang sekali”
66


Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa problematika
pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen yang
berkaitan dengan pada anak didik sangat memprihatinkan. Maka untuk
mencari upaya pemecahannya akan dibahas pada bab selanjutnya.
2) Problem Pada Guru
Di SMA Widya Dharma Turen Malang jika dilihat dari tingkat
pendidikan guru yang sudah ditempuh sudah memenuhi standar
kualifikasi dan sudah selayaknya mendapatkan pelayanan yang baik
dari pemerintah khususnya guru pendidikan agama islam. Guru
pendidikan agama islam sudah menempuh jenjang pendidikan S.1
(strata satu) dan bisa dikatakan profesional dalam hal mengajar. Dari
hasil wawancara dengan kepala sekolah tentang keprofesionalnya guru
pendidikan agama islam di SMA Widya Dharama Turen, berikut hasil
wawancara dengan bapak Tri Djoko Kusminto yang menjelaskan

66
Wawancara Dengan Ibu Auliah Kurnia Pada Tanggal 18 November 2008 di Ruang Guru
bahwa, seorang guru dikatakan profesional bila sudah memiliki
kompetensi sebagai seorang pendidik, baik itu cara menghadapi siswa
yang bemasalah maupun cara guru itu mengajar. Guru juga harus
memiliki kemampuan dalam proses belajar mengajar, bahan ajar yang
disampaikan oleh guru sudah dikuasai dan pengelolaan kelas. Hal ini
menurut saya sebagai kepala sekolah dari pantauan dari jauh bahwa
guru di SMA Widya Dharma Turen sudah termasuk guru yang
profesional hal ini bisa dilihat dari latar belakang sekolahnya dan
karakter guru itu sendiri.
67

b. Faktor Institusional
Problem Sarana Dan Prasarana.
Keadaan sarana dan prasarana sebagai alat penunjang di SMA
Widya Dharma Turen belum layak dan memadai khusus untuk
pendidikan agama islam, dari hasil observasi dan melihat
dokumentasinya sudah memberikan pelayanan untuk mata pelajaran
umum. Namun kembali pada pembahasan utama tentang sarana
pendidikan agama islam masih kurang memadai.
Memang tidak bisa dipungkiri kalau media untuk pendidikan
agama islam tidak ada yang terlalu tepat, sebenar bukan itu yang
menjadi problem utamanya. Adapun problem yang perlu diperhatikan
di SMA Widya Dharma Turen yang berkaitan tentang buku paket
pendidikan agama islam, buku paket yang manjadi fasilitas utama di
SMA Widya Dharma Turen ini dari pemaparan bpk Drs.H.M.Ali

67
Wawancara Dengan Kepala Sekolah , Bpk Tri Djoko Kusminto. Pada hari selasa pukul 10.30-
1145 tanggal 25 november 2008 (di Ruang Kepala Sekolah)
Fattar. Bahwa salah satu problem dari segi sarana yaitu buku paket
masih kurang dan sarana penunjang lainnya seperti sarana masjid. Di
SMA Widya Dharma Turen ini untuk kelas XII saja jumlah siswanya
lebih dari seratu siswa sedangkan jika dilihat dari buku paket hanya 39.
dari hasil wawancara ini penulis mencoba menelusuri tentang jumlah
buku paket yang ada di perpustakaan. Dan di perpustakaan penulis
meminta izin untuk mencari kebenaran tentang buku paket ternyata
benar. Dari penjelasan salah satu staf perpustakaan bahwa anak-anak
yang mau pinjam buku paket harus antri karena berkaitan dengan
jumlah bukunya masih kurang maka mau tidak mau siswa harus
menunggu temannya mengebalikan buku paket itu khususnya buku
pendidikan agama islam. Padahal jika dilihat dari keadaan
perpustakaan sudah menunjukkan suasana yang bagus namun buku-
buku yang ada diperpustakaan masih perlu ditambah.
Sedang buku paket yang ada di lembaga tersebut masih
memakai sistem kurikulum 1999, kurikulum yang ditetapkan di SMA
Widya Dharma Turen sudah menggunakan kurikulum KBK dan
KTSP, pada dasarnya kurikulum ini kurikulum baru dan bagi guru-
guru di SMA Widya Dharma masih belum mengetahui secara
maksimal jika ditinjau dari penerapanya dalam materi. Sehingga dalam
pengelolaan kurikulum guru-guru kurang mengauasai, sehingga akan
berdampak pada kurang kondusif terhadap proses belajar mengajar di
kelas.
Terkait dengan kurikulum dan buku paket sebagai sarana seperti
yang dijelaskan sebelumnya bahwa antara kurikulum dan buku paket
bertolak belakang. Buku paket yang di gunakan SMA Widya Dharma
Turen di masih kurikulum suplement (1999) seperti yang di jelaskan di
atas sedangkan kurikulum yang dituntut menggunakan kurikulum
KBK dan kurikulum KTSP. Inilah yang merupakan faktor dalam hal
kurikulum. Bagi guru khususnya guru agama islam memadukan kedua
kurikulum ini perlu pengetahuan yang lebih. Untuk itu kepala sekolah
mengikutkan beberapa guru khususnya guru agama untuk mengadakan
belajar lebih lanjut dengan pendidikan agama atau yang lebih disebut
MGMP, untuk mempelajari lebih jauh tentang kurikulum dan
pendidikan agama yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Kota
Malang.
68

Selain buku paket, problem tentang sarana dan prasarana yang
ada di SMA Widya Dharma Turen juga yang berkaitan mushala sudah
memberikan pelayanan yang baik. Di mushala fasilitasnya seperti
mukena sudah berjumlah 39, sedangkan Al-Qur’an 7 buah namun yang
itu bukan problem tentang fasilitas ini. Yang menjadi problem dalam
hal ini tempa wudlu masih belum memadai untuk dijadikan fasilitas.
Pada saat shalat jum’at siswa repot mencari tempat yang tertutup
khususnya yang perempuan dan tempatnya hanya satu kamar mandi di
dekat mushalat sehingga siswa walaupun sudah mulai shalat jum’at
siswa masih ada yang antri untuk berwudlu. Inilah salah satu problem

68
Wawancara Dengan Waka Kurikulum yaitu ibu Rina Z. Pada Hari Jum’at Tanggal 21 November
2008 di Ruang Waka Kurikulum SMA Widya Dharma Turen Malang
yang mesti diperbaiki oleh lembaga pendidikan SMA Widya Dharma.
Mushala adalah fasilitas pendidikan agama islam yang sangat konkret
untuk menunjang keberhasilan proses pembelajaran siswa dan guru
khususnya guru pendidikan agama islam.
c. Faktor eksternal
Problem Pada Lingkungan
Lingkungan pendidikan yang baik akan menciptakan pergaulan
yang baik terutama bagi anak-anak usia remaja. Di lingkungan sekitar
SMA Widya Dharma Turen jika dilihat dari lingkungan sekitarnya
kebanyakan siswa yang tinggal kos dan yang pasti jauh dari pantauan
orang tua. Maka dari itu pihak sekolah harus memperhatikan
lingkungan sekitar sekolah yang menjadi tempat tinggal siswa.
Lingkungan lembaga di SMA Widya Dharma Turen tidak
menjamin untuk mengarahkan siswa menjadi orang yang sesuai
dengan syar’at agama islam. Karena pengaruh lingkungan akan
berdampak pada perkembangan anak, baik itu dari tingkah laku dan
ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Di lingkungan sekitar
SMA Widya Dharma Turen seperti yang dijelaskan dalam tabel pada
bab sebelumnya bahwa lembaga ini tidak hanya menampung siswa
yang beragama islam akan tetapi ada beberapa siswa yang beragama
kristen. Kemungkinan besar pengaruh lingkungan yang terjadi antara
siswa dengan siswa, siswa dengan masyarakat akan berdampak buruk.
Dari hasil observasi tentang lingkungan yang dilakukan jauh
sebelum penelitian bahwa lingkungan di SMA Widya Dharma Turen
tentang lingkungan masyarakatnya tidak kondusif dalam hal
keagamaan. Pada waktu shalat jum’at misalnya masyarakat yang shalat
jum’atpun masih minim sekali apalagi siswa sebagai orang yang perlu
dididik dalampendidikan agamadari lingkungan setempat.
2. Kendala-Kendala Dalam Mengatasi Problematika Problematika
Pendidikan Agama Islam di SMA Widya Dharma Turen Malang

Ada beberapa kendala yang berkaitan dengan cara mengatasi
problem yang akan di uraikan secara umum di bawah ini. Kendala-
kendala tersebut adalah
a. Faktor Internal
1) Anak didik: adapun yang menjadi kendala dalam pemecahan
problematika pendidikan agama islam pada siswa yaitu kurang
minat siswa pada pendidikan agama islam. Siswa yang berada di
SMA Widya Dharma Turen dalam mempelajari pendidikan agama
islam pengetahuannya tentang agama yang kurang ditambah lagi
tidak minatnya maka sangat tidak mungkin siswa tersebut untuk
menguasai pendidikan agama islam.
2) Guru: Guru pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma
Turen belum menjadi guru PNS sehingga guru yang mengajar di
SMA Widya Dharma Turen ini selain mengajar di lembaga SMA
Widya Dharma Turen beliau juga mengajar dibeberapa lembaga
lain yaitu lembaga non forma seperti pesantren. Sehingga
waktunya untuk lembaga SMA Widya Dharma Turen sangat
terbatas.

3) Faktor Institusional
Sarana dan Prasarana: Dalam pengembangan sarana dan
prasarana kendala utamanya adalah kurangnya dana, berkaitan dengan
dana kepala sekolah belum bisa mengatakan ia untuk menambah
sarana dan prasarana yang berkaitan dengan fasilitas pendidikan
agama karena dana yang masuk selama ini masih digunakan untuk
perluan lain seperti memperbaiki pintu kelas, tembok karena di kelas
masih memakai tembok dari teriplen. Tetapi keinginan untuk
menambah buku paket khususnya buku paket pendidikan agama islam
tetap direncanakan, karena biar bagaimanapun pendidikan agama
islam juga sangat penting untuk ditingkatkan mutunya.
69

b. Faktor Eksternal
Lingkungan: Lingkungan masyarakat yang ada di SMA Widya
Dharma Turen tidak memberikan pengaruh baik terhadap
perkembangan pendidikan agama islam. Lingkungan yang ada di
SMA Widya Dharma masih perlu diperbaiki dengan berkerja sama
antara masyarakat sekitar dengan pihak lembaga agar siswa bisa
menjadi anak bangsa yang sukses dalam bidak pendidikan agama
islam. Di lingkungan SMA Widya Dharma Turen sekitarnya bahwa di
belakang lembaga tersebut ada rental play station (PS). Tempat ini
memberikan berpengaruh yang kurang baik terhadap siswa karena
pada jam pelajaranpun beberapa siswa bermain selama berjam-jam di
tempat ini.

69
Hasil Wawancara Dengan Bapak Kepala Sekolah Pada Thari Selasa Anggal 25 November 2008
3. Upaya-Upaya Yang Dilakukan Dalam Pemecahan Problematikan
Pendidikan Agama Islam di SMA Widya Dharma Turen

Dalam pembahasan ini akan dipaparkan secara gamblang tentang
upaya untuk mengatasi problematikan pendidikan agama islam di SMA
Widya Dharma Turen-Malang. Adapun problem yang diupayakan adalah
sebagai berikut:
a. Faktor internal
1) Anak didik
Adapun upaya dalam pemecahan problematiaka pendidikan
agama islam yang berkaitan dengan anak didik adalah, yang pertama,
orang tua dan guru selalu memberi motivasi terhadap perkembangan
belajar anak terhadap pendidikan agama islam, karena motivasi dari
orang-orang terdekat akan menjadikan siswa lebih giat belajar dalam
pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen Malang.
2) Pendidik
Adapun upaya pada guru bahwa guru harus mendapat perhatian
dari pemerintah untuk lebih meningkatkan kinerja guru terhadap
pseserta didik, walaupun sebernanya guru tidak perlu mengharapkan
imbalan yang lebih. selain itu guru diupayakan untuk meningkatkan
keprofesionalnya dalam hal pengetahuan khususnya pengetahuannya
tentang pendidikan agama islam, guru harus banyak membaca
referensi dan mengikuti seminar yang berkaitan dengan pendidikan
agama islam.


b. Faktor Institusional
- Sarana dan prasarana
Sarana dan prasarana di SMA Widya Dharma Turen perlu
diupayakan untuk menambah jumlah buku paket, karen buku paket
adalah sarana penunjang utama dalam keberhasilan pendidikan. Harus
diadakan perbaikan pada fasilitas mushala seperti kamar mandi
mushala agar siswa tidak terlalu antri ketika berwudlu pada saat shalat
jum’at dengan tujuan ketika melakukan shalat jum’at tetap kondusif
dan efisien.
c. Faktor Eksternal
- Lingkungan
Dalam pemecahannya problematika pada lingkungan diperlukan
bekerjasama antara guru dan masyarakat serta orang tua juga harus
ikut berperan dalam mengatasi problem tersebut. Problem yang diatasi
tersebut bisa meningkatkan minat belajar siswa terhadap pendidikan
agama islam di SMA Widya Dharma Turen Malang. Siswa juga harus
patuh pada perintah guru selama guru memberikan arahan yang baik
dan sesuai syar’at islam.











BAB V
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

A. Problematika Pendidikan Agama Islam di SMA Widya Dharma Turen
Malang
Sesuai dengan fokus penelitian dalam rumusan masalah yang mengkaji
tentang beberapa problematika pendidikan agama islam di SMA Widya
Dharma Turen. Adapun fokus permasalahan pada penelitian ini adalah tentang
problematika pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen-malang,
kendala-kendala dalam mengatasi problematika pendidikan agama islam, dan
upaya-upaya memecahkan problematika pendidikan agama islam di SMA
Widya Dharma Turen Malang.
Dari hasil penelitian beberapa problem yang dihadapi di SMA Widya
Dharma yang ditemukan selama melakukan penelitian yang berkaitan tentang
pendidikan agama islam. Tentu saja dalam problem ini ada beberapa faktor
yang menjadi dasar adanya problem tersebut. Adapun faktor tersebut adalah
sebagai berikut:
a. Faktor Internal
1) Problem Anak Didik
Dari awal hingga akhir kehidupan tentang problem pada anak
didik pasti membutuhkan bimbingan dan arahan. Walaupun pada
dasarnya manusia itu sudah mendapat fitrah dalam dirinya, anak didik
adalah manusia pedagogis yang sangat membutuhkan bimbingan dan
pemdidikan dari orang dewasa dengan tujuan menjadikan manusia
yang dewasa. Dari pendapatnya Zuhairini bahwa anak lahir sudah
membawa fitrah beragama kemudian tergantung kepada orang-orang
disekitarnya yang mengasah dan membimbingnya untuk menjadi
manusia yang baik.
70
Apabila anak tersebut mendapatkan pendidikan
dan tidak dibina untuk menjadi orang yang lebih paham dalam hal
agama, dari paparan tokoh pendidikan tentang perkembangan
kejiwaan anak pada pendidikan agama islam bahwa setiap anak didik
mempunyai tingkat pengetahuan agama yang berbeda. Kadangkala
anak didik pada saat masuk sekolah sudah mempunyai pengetahuan
agama yang lebih dibanding temannya, karena ini tergantung
bagaimana cara orang tua mendidik di rumah sehingga ketika berada
di sekolah anak tidak seperti botol kosong yang diisi air. Akan tetapi
untuk anak yang sama sekali belum paham tentang agama seperti
kebanyakan pada anak yang ada di SMA Widya Dharma Turen
sebagian besar siswa masih banyak problem yang terjadi, karena
orang tua yang kurang perhatian pada perkembangan pendidikan
agama islam pada anak didik di SMA Widya Dharma Turen Malang,
sehingga bekal untuk kedepannya tentang agama, anak harus memulai
dari awal dan pengetahuannya sudah ketinggalan di banding temannya
yang sudah punya dasar tentang agama.
Di SMA Widya Dharma Turen masih banyak sekali siswa yang
kurang pengetahuan agamanya. Dalam hal baca tulis Al-Qur’an
misalnya, anak didik harus benar-benar diajari secara intensif untuk
bisa menulis satu kata tentang ayat-ayat Al-Qur’an, dan yang
berkaitan tentang pengamalannya siswa tentang pendidikan agama

70
Zuhairini, dkk, Methodik Khusus Pendidikan Agama (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), hlm. 32
islam dalam hal praktek ibada seperti shalat, puasa ngaji masih minim
sekali apalagi untuk praktek slahat jum’at di sekolah itu yang dilihat
peneliti slama penelitian bahwa kebanyakan anak-anak ngobrol
dengan temannya saat shalat jum’at. Bagi siswa di SMA Widya
Dharma Turen, shalat bagi mereka bukan sesuatu yang wajib. Padahal
kita tahu untuk anak seumur anak SMA seperti yang ada di SMA
Widya Dharma Turen sudah selayaknya mengerjakan tugas yang
menjadi kewajibannya.
Dari penjelasan di atas dapat dibenarkan oleh guru PAI kelas
XII yaitu bpk Drs. H. M. Ali Fattar yang mengungkapkan sebagai
berikut:
“Siswa di SMA Widya Dharma Turen yang bisa saya lihat pada
bulan ramadhan itu kebanyakan mereka gak puasa, terbukti
ketika berada di kelaspun anak-anak masih ada yang rokok.
Khususnya anak cowok. Apalagi diluar kelas tindakan seperti itu
jelas bisa membuktikan bahwa pengamalannya dalam
pendidikan agama islam tentang praktek shalat, ngaji, dan puasa
itu masih minim”

Lebih lanjut bapak H.M Ali Fattar yang mengungkapkan
sebagai berikut mengatakan bahwa:
“Dalam hal baca Al-Qur’an itu susah sekali apalagi kalau saya
memberikan materi baca tulis Al-Qur’an di dalam kelas karena
sub pokok pembahasannya memang seperti itukan, itu anak-anak
kebanyakan tidak bisa ngaji, khususnya di kelas XII bahasa itu
kebanyakan belum bisa membaca Al-Qur’an” bahkan tulis huruf
arabpun masih banyak yang tidak bisa.
71


Dari penjelasan guru pendidikan agama islam tersebut di atas
tentang kondisi siswa yang menjadi problem pendidikan agama islam
di SMA Widya Dharma Turen kurangnya minat siswa terhadap

71
Wawancara Dengan Guru Pendidikan Agama Islam SMA Widya Dharma Turen (bpk Drs. Tri
Djoko Kusminto) Pada Tanggal 21 November 2008, di Ruang Guru.
pendidikan agama islam karena siswa tidak terbiasa mempelajari
pendidikan agama islam di rumah dan juga orang tua yang tidak
memperhatikan dengan kondisi anaknya yang masih membutuhkan
bimbingannya. Problem itu terjadi bukan karena dari diri siswa itu
semata, akan tetapi bisa terjadi karena adanya faktor-faktor lain seperti
adanya pengaruh lingkungan masyarakat dan kurangnya motivasi dari
luar diri siswa yang merespon perkembangan pendidikan anak itu.
Selain problem di atas terdapat beberapa problem yang terjadi
karena pengaturan jam pelajaran di sekolah SMA Widya Dharma
Turen dan penempatan jam terutama pada jam terakhir. Maksudnya
apabila jam pendidikan agama islam di tempatkan pada jam terakhir
maka akan sangat besar kemungkinan timbulnya problem dan untuk
mempelajari pendidikan agama islam anak-anak sudah merasa
kelelahan. Dari hasil wawancara dengan guru PAI SMA Widya
Dharma Turen kelas X yaitu ibu Auliah Kurnia, S.Pd.I menjelaskan
bahwa:
“Setiap jam pelajaran pendidikan yang saya ajarkan pada anak
selalu mintanya istrahat padahal itu bukan jam istrahat dan
kadang-kadang anak-anak minta pulang padahal bukan waktunya
untuk pulang. Kalau sudah masuk jam pendidikan agama islam
anak-anak di kelas x kebanyakan tidur dan ngomong sendiri
kalau guru tidak bisa mengatur strategi untuk menarik minat
siswa ya proses belajar mengajar tidak akan kondusif dan
efisien”
72


Dari paparan di atas memang pengaturan jam pelajaran
khususnya jam pelajaran pendidikan agama islam perlu diperhatikan,
agar tidak terjadi problem karena pada dasarnya untuk media

72
Wawancara Dengan Guru Pendidikan Agama Kelas X (ibu Auliah Kurnia SPdI) Pada Tanggal
21 November 2008, di Ruang Guru
pendidikan agama memang tidak ada media yang menarik seperti
pada pelajaran IPA dan mata pelajaran lainnya.
Untuk membuktikan lebih jauh tentang paparan ibu Auliah
Kurnia di atas, maka peneliti mencoba mewawancara siswa kelas X.
Dari hasil wawancara dengan salah satu murid kelas X tersebut
membenarkan kebanyakan siswa kurang minat terhadap pendidikan
agama islam, karena pada jam terakhir siswa sudah sangat lelah,
capek, dan membosankan serta tidak ada media yang mendukung
untuk meningkatkan daya ingat hasil belajar tersebut. Siswa tersebut
mengungkapkannya secara gamblang seharusnya guru-guru tahu mata
pelajaran yang tepat untuk jam terkhir dan mata pelajaran untuk jam
pertama.
73
Sedangkan menurut penulis bahwa mata pelajaran
pendidikan agama islam ditempatkan pada jam pertama karena
keadaan otak siswa masih fress dan bisa menerima pelajaran dengan
baik. Akan tetapi untuk pelajaran umum seperti IPA dan lainnya yang
banyak prakterk daripada teori bisa ditempatkan pada jam-jam
terakhir.
Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa siswa di SMA Widya
Dharma Turen dalam hal pendidikan agama islam masih menganggap
bukan materi yang penting, dan menganggap itu bukan suatu
kewajiban yang harus dipelajari secara intensi seperti mata pelajaran
lain sehingga siswa tidak berminat untuk mempelajarinya.


73
Wawancara Dengan Nur Alinda Siswa Kelas XI Diruang Ruang Kelas XI IPA Pada Tanggal 18
November 2008
2) Problem Pendidik.
Pendidik merupakan salah satu faktor penting dalam proses
pendidikan, karena pendidik akan bertanggung jawab untuk mendidik
dan membina dalam proses belajar mengajar kearah pembentukan
pribadi yang baik, cerdas, terampil dan mempunyai wawasan yang luas
untuk dunia dan akhirat.
Perwujudan guru yang diharapkan itu tidak semudah yang
dibayangkan, karena faktor yang terkait tidak semudah yang
dibayangkan, karena banyak faktor yang terkait dan saling
mempengaruhi. Kaum guru sendiri sesungguhnya mempunyai
keinginan untuk tampil sebagai guru idaman. Namun perlu diingat
bahwa semuanya tidak hanya terletak pada diri para guru saja, sebagian
besar faktornya di luar para guru itu sendiri. Guru tidak mungkin
meewujudkan kinerjanya dengan optimal tanpa dukungan dari pihak
lain termasuk siswa, orang tua, pemerintah dan masyarakat sekitar.
Yang paling dituntut saat ini guru harus menunjukkan kinerja yang
ideal sementara yang menjadi hak-hak guru belum sepenuhnya diterima
oleh guru.
Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa pendidikan anak
didik tidak hanya di serahkan sepenuhnya oleh guru akan tetapi orang
tua yang mempunyai peran utama yang lebih tahu kepribadian dan
kemauan anak. Walaupun keberadaan guru pendidikan agama islam
tetap diperhitungkan apalagi di SMA Widya Dharma Turen ini siswa
masih membutuhkan bimbingan dari seorang guru yang mempunyai
akhlak yang baik khususnya dari guru pendidikan agama islam,
keberadaan guru di SMA Widya Dharma Turen sangat penting apalagi
di era globalisasi seperti saat ini yang pergaulannya bercampur ala
barat, dan di situlah guru mempunyai peran penting dalam membina
siswa khususnya guru pendidikan agama islam. Guru pendidikan
agama islam di SMA Widya Dharma Turen dituntut untuk
memperbaiki citra kehidupan siswa untuk menjadi generasi yang
intelektual baik dalam hal ilmu umum maupun dalam ilmu pendidikan
agama itu sendiri.
Pendapat di atas sama halnya seperti yang diungkapkan oleh
kepala sekolah dari hasil wawancara dengan bapak Tri Djoko Kusminto
sebagai seorang pemimpin yang memandangnya secara pribadi tentang
guru pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen
mempunyai pribadi yang unggul dalam Keprofesionalnya, di sini
menurut kepala sekolah, guru di SMA Widya Dharma Turen khususnya
guru pendidikan agam islam sudah memenuhi standar kualifikasi untuk
menjadi seorang yang patut di teladani oleh orang lain khususnya untuk
siswa di SMA Widya Dharma Turen. Jika dilihat dari latar belakang
kependidikan guru seperti yang diterapkan dalam tabel bahwa guru
pendidikan agama islam sudah sesuai seperti yang diharapkan karena
guru pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen sudah
menempuh pendidikan sarjana yaitu S.1 (strata satu) maka dari itu guru
pendidikan agama islam bisa dikatakan profesional. Akan tetapi harus
kembali lagi pada kehidupan pribadi guru itu sendiri yaitu guru
pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma belum mendapat
pelayanan yang baik dari pemerintah. Sebab guru pendidikan agama
islam di sini belum PNS, untuk itu guru pendidikan agama islam di
SMA Widya Dharma Turen harus mengajar dibeberapa lembaga lain
untuk menambah biaya hidup sehingga waktunya untuk lembaga SMA
Widya Dharma Turen ini sangat terbatas.
74

Dari penjelasan di atas kalau dikaitkan dengan pendapat Mukti Ali,
yang memberi penjelasan tentang kegunaan guru dalam membina dan
mendidik siswa yaitu; pekerjaan guru adalah pekerjaan yang muliah
dan luhur, baik ditinjau dari sudut masyarakat dan Negara dan ditinjau
dari sudut keagamaan. Tinggin rendahnya kebudayaan suatu
masyarakat , maju atau mundurnya tingkat kebudayaan suatu
masyarakat, tergantung kepada pendidikan dan pengajaran yang
diberikan oleh guru-guru terutama guru pendidikan agama islam, makin
baik pula pendidikan dan pengajaran yang diterima oleh anak didik dan
makin tinggi pula derajat masyarakat.
75

Di SMA Widya Dharma Turen selain problem pada guru karena
pada dasar guru pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen
tidak hanya satu tetapi ada tiga orang, untuk itu tingkat
pengetahuannyapun berbeda-beda. Tentang guru pendidikan agama
islam yang mengajar kelas X seperti yang jelaskan bapak kepala
sekolah, kurang menguasai tentang kurikulum atau tidak terlalu
profesional karena guru tersebut baru lulus, sehingga dalam hal

74
Hasi Wawancara Dengan Kepala Sekolah SMA Widya Dharma Turen, Bapak Tri Djoko
Kusminto Pada Hari Selasa Tanggal 25 November 2008
75
Mukti Ali, Op, Cit., hlm.81-82
menguasai materipun bisa dikatakan masih perlu menambah wawasan
agar mencapai standar kualifikasi seperti yang diharapkan semua pihak.
Tetapi pihak sekolah memberi kebijakan pada guru tersebut untuk
mengikut sertakannya dalam pembinaan guru atau seminar yang
diadakan di kota Malang khusususnya dalam pendidikan agama islam.
b. Faktor Institusional
1) Problem Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana adalah penunjang untuk keberhasilan proses
belajar mengajar. Dengan adanya sarana dan prasarana proses belajar
mengajar yang ada di SMA Widya Dharmna Turen bisa
mempraktekkan teori yang dipelajari di dalam kelas.
Di SMA Widya Dharma Turen tentang problem yang dihadapi
yang berkaitan dengan sarana dan prasarana salah satunya tentang
keberadaan buku paket. Buku paket yang ada di SMA Widya Dharma
belum bisa memadai proses belajar mengajar terhadap pendidikan
agama islam, buku paket adalah sarana yang sangat intim yang harus
dimiliki oleh lembaga, kekurangan buku paket di SMA Widya
Dharma Turen akan berdampak buruk pada perkembangan
pengetahuan siswa tentang pendidikan agama islam.
Jumlah buku paket yang ada dimiliki SMA Widya Dharma tidak
sesuai dengan kebutuhan siswa, karena buku paket yang jumlah
sangat sedikit bila dibandingkan dengan jumlah siswa yang relatif
banyak tidak bisa memadainya. Masih terkait problem buku paket,
seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa di SMA Widya Dharma
Turen sudah menggunakan kurikulum KBK dan kurikulum KTSP
sementara buku paket yang menjadi penunjang pokok dalam
pembelajaran pendidikan agama islam masih sistim kurikulum 1999
(suplemen). bisa dibayangkan bahwa memadukan kedua hal tersebut
bagi guru dan siswa sangat sulit walaupun mungkin bagi guru mudah
tetapi murid yang belum mengetahui apa itu kurikulum sangat sulit
untuk mengerti ketika guru menerapkan sesuai tuntutan kurikulum.
76

Selain problem pada sarana dan prasaran tentang buku paket
masih ada problem lain tentang keberadaan sarana ibada di SMA
Widya Dharma yang perlu ditelusuri, di belakang gedung kelas XII
Bahasa terdapat masjid. Masjid adalah sarana dan prasarana
pendidikan agama islam yang sangat penting keberadaannya. Fasilitas
yang ada di masjid seperti mukena, Al-Qur’an sudah memenuhi
syarat. Namu dari segi penunjang lain seperti kamar mandi yang
terdapat di samping masjid masih perlu direnovasi. Karena
keberadaan kamar mandi akan memberikan kenyamanan tersendiri
untuk kelancaran beribada, kamar mandi itu masih dalam keadaan
terbuka dan untuk tempat berwudlupun hanya satu, maka dari itu bagi
siswa yang berjumlah sangat banyak belum bisa memadai proses
kelancara praktek peribadatan, sebab dari hasil observasi yang
kebetulan peneliti melakukan penelitian pada hari jum’at ketika siswa
mengadakan shalat berjama’ah dan berwudlu masih banyak siswa
yang antri sehingga pada saat shalat jum’at sudah dimulaipun siswa
masih banyak yang belum berwudlu dan pada akhirnya banyak siswa

76
Polarisasi Di Atas Merupakan Hasilwawancara Penelitian Seacar Umum Terhadap Beberapa
Tenaga Kependidikan Dan Wakakurikulum Di SMA Widya Dharma Turen Malang, Pada Tanggal
25 November 2008 Di Ruang Waka Kurikulum.
yang pulang karena malas antri tempat untuk mengambil air wudlu.
Ini adalah bentuk problem yang terjadi di SMA Widya Dharma Turen
yang berkaitan dengan sarana dan prasarana. Untuk itu pihak sekolah
terutama kepala sekolah bisa memberikan kebijakan untuk sarana
pendidikan agama islam agar apa yang menjadi problem pendidikan
di dalam kelas bisa di selesaikan di masjid.
c. Faktor Eksternal
1) Problem Lingkungan
Pergaualan dengan teman dan lingkungan lainnya juga sangat
menentukan kesuksesan anak didik dalam mempealajari ilmu
pendidikan agama islam. Terlebih dengan menjamurnya tempat-
tempat permainan yang tersedia dalam lingkungan tempat tinggal
siswa sehingga akan menjadi factor utama dalam menghabat
keinginan anak untuk konsentrasi dengan baik pada pendidikan
agama islam mapun ilmu pendidikan umum. Di beberapa tempat di
SMA Widya Dharma Turen tersedia beberapa tempat permainan
seperti play station (PS), tempat permainan beliar, cukup bayar Rp.
3000-5000 anak-anak bisa menikmati permainan sampai tiga jam
bahkan sampai puas. Dalam waktu tiga jam ini kalau digunakan
untuk belajar maka anak didik sudah bisa menghafal beberapa ayat-
ayat yang menjadi tugasnya di sekolah, dalam hal tersebut bisa
dibayangkan ini kondisi fisik dan pikiran anakpun akan merasa
kelelahan.
77


77
N. Nugroho, Belajar Mengatasi Hambatan Belajar, (Jakarta: Prestasi Pustaka 2007), hlm. 47-48
Dari uraian di atas adalah gambaran yang terjadi pada
lingkungan anak didik di sekitar lingkungan SMA Widya Dharma
Turen yang di jelaskan lebih dalam sebagai berikut:
Pertma, mengenai lingkungan keluarga dimana orang tua dan
anak seharusnya saling membagi untuk memecahkan problem yang
terjadi pada diri anak. Orang tua siswa yang ada di SMA Widya
Dharma Turen kurang memperhatikan keadaan anaknya dalam hal
pendidikan maupun pendidikan agama islam. Hal ini bisa dipastikan
dengan melihat realita yang terjadi pada diri siswa di SMA Widya
Dharma Turen, lingkungan keluarga inilah yang menjadi dasar
timbulnya problematika pada anak, tidak adanya junjungan dari
orang tua untuk menerapkan pada anak agar mempelajari pendidikan
agama islam lebih dalam, sehingga pengetahuan anak tentang
agamapun sangat kurang. Perhatian orang untuk membina ilmu
agama sebagai bekal dunia dan akhirat harus diperhatikan sejak awal
sehingga pada waktu anak masuk SMA pun anak-anak sudah bisa
atau terbiasa dengan hal yang berbau religius.
Kedua, lingkungan masyarakat, di sekitar SMA Widya
Dharma Turen, lingkungan masyrakatnya belum bisa dikatakan baik
karena masyarakat tidak menunjukkan perhatian yang positif
terhadap siswa yang tinggal kos. Walaupun lingkungan tersebut bisa
dikatakan mayoritas beragama islam di sekitar lingkungan sekolah
SMA Widya Dharma Turen ini akan tetapi untuk praktek
lapangannya masih minim. Karena dari hasil pantauan peneliti jauh
sebelum diadakan penelitian di SMA Widya Dharma Turen, kondisi
lingkungan tidak menunjukkan perilaku yang bisa mencontoh bagi
siswa. Padahal di lingkungan tersebut yang sekolah di SMA Widya
Dharma kebanyak siswa pendatang dan otomatis siswa tinggal kos
sehingga siswapun jauh dari pantauan orang tua.
Tentang kondisi lingkungan masyarakat yang ada di sekitar
SMA Widya Dharma Turen ini pada waktu shalatpun kebanyakan
orang tua maupun anak muda masih ngobrol di tempat khusus,
biasanya tempat tersebut digunakan oleh sebagian masyarakat atau
anak muda untuk minum-minum dan di tempat itu juga tersedia
tempat untuk bermain beliar. Hal itu bukan tidak mungkin akan
mempengaruhi perkembangan pembelajaran siswa apalagi untuk
belajar pendidikan agama islam untuk mempelajar yang lain seperti
ilmu umumpun pasti akan berpengaruh.
Dari hasil penelitian observasi di atas sama halnya seperti yang
diungkapkan bpk. kepala sekolah yaitu:
“Tentang pengaruh lingkunan terhadap perkembangan siswa
tetap ada, apalagi di belakang sekolah ini terdapat tempat
permainan yang namanya play station (PS), kadang anak
keluarnya meloncat pagar belakang itu (sambil menunjukkan
pagar yang ada di belakang gedung) di situ siswa bermain
sampai proses belajar usai. Kami sebagai pihak guru merasa
prihatin dengan keadaan seperti itu, biasanya saya kalau sudah
tahu ada siswa yang main di tempat tersebut saya akan
menjemput dan besoknya akan dipanggil orang tuanya. Dan
pihak guru, orang tua dan siswa tersebut akan duduk
berdampingan untuk membicarakan masalah ini yang nantinya
akan diselesai bersama”
78



78
Wawancara Dengan Kepala Sekolah bpk. Drs. Tri Djoko Kusminto,Pada Tanggal 18 November
2008 di Ruang Kepala Sekolah
Adapun lebih jelasnya tentang problem lingkungan di SMA
Widya Dharma Turen ini menurut peneliti tidak adanya kerjasama
antara guru dan masyarakat sekitar sehingga apapun yang terjadi
pada diri bagi masyarakat lepas tangan. Padahal jika dilihat tentang
tanggung jawab seseorang misalnya masyarakat walaupun bukan
anaknya sendiri tetap saja bertanggung jawab apabila melihat anak
atau siswa melakukan hal-hal di luar syar’at islam.
Dari beberapa problem di atas akan di cari solusinya pada
pembahasan selanjutnya yang nantinya bisa menjadi masukan dan
arahan untuk kelancaran proses pendidikan agama islam di SMA
Widya Dharma Turen Malang.

B. Kendala-Kendala Dalam Mengatasi Problematika Pendidikan Agama
Islam
a. Faktor internal
1) Kendala Pada Anak Didik
Adapun kendala pada anak didik tentang problematika pendidikan
agama islam di SMA Widya Dharma Turen ini terkait dengan minat
siswa, minat siswa pada pembelajaran pendidikan agama islam sangat
minim sekali. Sehingga bagi guru dalam pemecahanya problem susah,
karena tidak ada kemauan siswa untuk belajar pendidikan agama islam.
Seharusnya siswa mempunyai kemauan yang tinggi baik dalam
mempelajari ilmu umum maupun ilmu pendidikan agama islam walaupun
pada dasarnya siswa tidak mempunyai dasar pengetahuan. apabila ada
kemauan pasti akan sukses dalam mempelajari pendidikan agama islam.
Hasil wawancara dengan ibu Auliah Kurniah bahwa minat anak
sangat minim, ketika disuruh hafal Al-Qur’an untuk tugas minggu depan
masih belum mencapai separoh dari siswa yang bisa hafal, dalam hal
materipun juga seperti itu. Bagi siswa masih menganggap tidak penting,
ilmu agama dianggap enteng sehingga tidak memperhatikan tentang
pelajaran pendidiakna agama islam. Selain itu siswa di SMA Widya
Dharma Turen masih berpikir kalau ilmu pendidikan agama islam tidak
termasuk materi UNAS maka dari itu siswa kebanyakan tidak
memperhatikan pendidikan agama.
79

2) Kendala Pada Pendidik
Kendala pada guru sebenarnya tidak terlalu ditemukan, cuman
waktu guru pendidikan agama islam sangat kurang sehingga untuk lebih
memantau perkembangan pendidikan agama islampun masih sedikit.
Pemerintah kurang memperhatikan keadaan guru, agar guru bisa tetap
mengajar di satu lembaga, guru belum bisa menguasasi kurikulum baru
karena memang kurikulum yang dipakai masih termasuk kurikulum baru.
Akhir-akhir ini banyak guru yang tidak bangga dengan profesinya
khususnya guru pendidikan agama islam, bahkan ketika ditanyapun pasti
guru menjawabnya malu-malu. Dan tidak sedikit gurupun yang bertahan
menjadi guru hanya karena tidak memperoleh alternative kehidupan lain.
Sebagaimana pendapat Mukti Ali yang mengatakan: guru sendiri sudah
semakin tidak bangga dengan profesinya, artinya guru selalu identik
dengan kemiskinan, sehingga siswapun semakin tidak berminat dengan

79
Wawancara Ibu Auliah Kurnia S.Pd.I Guru Pendidikan Agama Islam 18 November 2008 di
Ruang Guru
pendidikan agama islam karena takut berprofesi menjadi seorang guru
kalaupun itu banyak siswa yang masuk jurusan pendidikan khususnya
pendidikan agama islam itu karena terpaksa bukan atas dasar
kemauannya.
80

Dengan adanya penjelasan di atas pemerintah juga harus
memperhatikan keadaan guru, kurangnya perhatian pemerinta terhadap
kelayakan biaya hidup guru akan berdampak pada tidak minatnya siswa
pada jurusan atau materi pendidikan agama islam.
b. Factor Institusional
1) Sarana dan Prasarana
Tidak bisa dipungkiri kalau masalah dana adalah pokok dari segala
problem, untuk meningkatkan fasilitas sekolah SMA Widya Dharma.
Tentang dana untuk membeli buku paket yang masih belum bisa teratasi
karena masih banyak yang perlu diperbaiki seperti fasilitas kelas, akan
berdampak pada penundaan memperbaiki fasilitas pendidikan agama
islam seperti buku paket, sarana masjid yang berkaitan dengan sarana
ibada. Kendala ini bisa juga terjadi karena hubungan timbal balik pihak
yayasan SMA Widya Dharma Turen dan masyarakat kurang harmonis
sehingga bantuan yang masukpun berkurang.
c. Factor Eksternal
1) Lingkungan
Kendala pada lingkungan di SMA Widya Dharma Turen seperti yang
diutarakan pada problem tersebut di atas bahwa keluarga dan lingkungan
masyarakat kurang memperhatikan keadaan anak didik sehingga anak

80
M. Ali Hasan & Mukti Ali, Op Cit., hlm.
terbengkalai begitu saja tanpa ada motivasi dan didikan dari orang yang
menjadi dasar pengetahuan anak. Adanya tempat-tempat permainan di
dekat lingkungan SMA Widya Dharma Turen akan menjadikan anak didik
kurang minat pada pendidikan agama islam dan kebanyakan anak didik
menghabiskan waktu pada tempat tersebut.

C. Upaya-Upaya Yang Dilakukan Dalam Mengatasi Mproblematika
Pendidikan Agama Islam di SMA Widya Dharma Turen Malang
Dari beberapa problem yang ditemukan selama penelitian penulis akan
menguraikan beberapa upaya untuk memecahkan problem yang terjadi di
SMA Widya Dharma Turen, dengan pendapat dari pihak-pihak yang terkait
seperti para guru pendidikan agama islam maupun pihak-pihak yang ada di
SMA Widya Dharma Turen serta dengan mematokkan dari pendapatnya para
tokoh-tokoh pendidikan pada umumnya dan dari pendapat penulis itu sendiri.
Adapun beberapa problem yang perlu diselesaikan dalam pembahasan kali ini
adalah tentang hal-hal sebagai berikut:
a. Faktor internal
1) Anak Didik
Untuk mengatasi beberapa problem yang terjadi pada anak didik di
SMA Widya Dharma Turen diperlukan keuletan dan kesabaran pihak-
pihak yang terkait seperti guru, dan orang tua. Karena biar bagaimanapun
anak didik adalah orang yang masih perlu mendapat bimbingan dan arahan
dari orang dewasa sehingga segala sesuatu harus ada pihak untuk
menunjukan jalan pada anak ke jalan yang lurus. Dari beberapa problem
seperti yang diuaraikan sebelumnya bahwa minat dan kemauan siswa
untuk mempelajari pendidikan agama islam agar lebih optimal dan cerdas
dalam hal agama yaitu guru harus pintar-pintar mengatur strategi agar bisa
menarik minat siswa.
Guru dan pihak sekolah yang ada di SMA Widya Dharma Turen
mencoba mengatasi problem yang timbul pada diri siswa, guru mencoba
menggunakan strategi-strategi dan metode yang bervariasi untuk
mengatasi problem yang terjadi pada setiap anak, dan waktu agar anak
tidak merasa bosan dengan pelajaran yang diberikan oleh gurunya.
Adapun beberapa upaya untuk mengatasi problematika pendidikan
agama islam pada anak didik bagi setiap guru berbeda-beda. Menurut ibu
Auliah Kurnia guru pendidikan agama kelas X dalam mengatasi problem
yang terjadi pada anak didik menyampaikan beberapa strategi bahwa :
“Dalam mengatasi problem terhadap siswa yang kurang minat
terhadap pendidikan agama islam, sebelum memualai proses belajar
mengajar yaitu pada waktu pertama masuk kelas saya perhatikan
tingkat minatnya siswa, kemudian apabila ada problem seperti itu
maka saya ajak guyon, rileks, dan memberikan pertanyaan yang
membuat anak ceriah akat tetapi sesuai dengan inti materi, dan selain
itu memberi motivasi juga penting agar siswa tidak merasa lelah dan
bosan kemudian dilakukan pertanyaan umpan balik dengan tujuan
untuk menarik minat siswa”
81


Dari paparan di atas suatu cara untuk mengatasi problem yang timbul
dalam pendidikan agama islam. Karena pada dasarnya untuk mata
pelajaran pendidikan agama islam tidak ada media yang terlalu menarik
sehingga bagi anak-anak pendidikan agama islam bukan suatu yang
penting karena tidak ada perhatian khusus terhadap mata pelajaran

81
Wawancara Dengan Ibu Aullia Kurnia Pada Tanggal 18 November 2008
tersebut. Maka dari itu guru mencoba memberikan keceriaan untuk
meningkatkan daya minat siswa terhadap prndidikan agama islam.
Selain itu masih banyak cara lain untuk menumbuhkan minat siswa
terhadap pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen. Menurut
Mc. Donal dalam bukunya Sardiman untuk mengatasi problematika
pembelajaran siswa terhadap mata pelajaran “diperlukan motivasi,
motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai
dengan munculnya “feeling” dan didahului tanggapan terhadap tujuan”
82

Seperti yang dijelaskan tersebut bahwa motivasi sangat penting untuk
meningkatkan minat belajar siswa SMA Widya Dharma Turen dalam
pendidikan agama islam karena motivasi adalah serangkaian usaha untuk
menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga siswa mau dan ingin
melakukan sesuatu. Jadi motivasi itu untuk merangsang agar siswa yang
tidak berminat dengan pembelajaran pendidikan agama islam di SMA
Widya Dharma Turen bisa teratasi.
Hal di atas seringkali digunakan oleh para guru termasuk guru
pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen sebagaimana
penjelasan bpk. H. Abdul Halim guru pendidikan agama islam kelas XI
tentang memotivasi adalah salah satu upaya untuk memecahkan
problematika pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen
adalah seabgai berikut:



82
Sardiman, Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar, (PT. Raja Grafindo Persada, 1986), hlm.
73
“Untuk memotivasi biasanya saya menyediakan benda yang berupa
hadia, seperti buku bacaan agama islam, dan juga agenda muslim.
Kadang kalau ada rezki itu mbak, saya memberikan Al-Qur’an kecil
bagi anak yang pintar, hal itu saya lakukan agar siswa yang tidak
bisa mau belajar kaya membaca Al-Qur’an bisa menarik hatinya agar
mau belajar seperti temannya yang dikasih hadia. Dengan harapan
saya, anak yang tidak bisa merespon bahwa orang bisa itu selalu
mendapat imbalan yang baik, tetapi untuk anak yang tidak bisa tetap
diperhatikan, melakukan pendekatan baik di dalam kelas maupun di
luar kelas”
83


Dari element yang yang dijelaskan oleh bpk Abdul Halim di atas
disimpulkan bawa motivasi itu sebagai sesuatu yang kompleks. Motivasi
akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri
anak, sehingga akan bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan, perasaan,
dan juga emosi, untuk bertindak atau melakukan sesuatu. Semua ini
tentunya didorong oleh karena adaya kebutuhan atau suatu keinginan dari
dalam diri itu sendiri.
Sedangkan menurut bapak H.M. Ali Fattar guru pendidikan agama
islam yang mengajar kelas XII yang mengatakan bahwa dalam mengatasi
problem siswa diperlukan pendekatan secara intensif, sehingga anak-anak
merasa dihargai dan di sayangi. Di SMA Widya Dharma Turen salah satu
fakto problem pegamalan anak terhadap shalat berjama’ah, puasa dan
membaca Al-Qur’an diperlukan penganganan serius dari orang tua dan
guru khususnya guru pendidikan agama islam. Untuk mengatasi problem
yang tidak mengikuti shalat jum’at menurut bpk. H.M. Ali Fattar yang
mengungkapkan sebagai berikut:



83
Wawancara Dengan bpk. Abdul Halim S.Pd.I, (Guru Pendidikan Agama Islam Kelas XI), Pada
Tanggal 18 November 2008.
“Kalau anak-anak yang tidak mengikuti shalat jum’at tetap ada
sanksi, akan tetapi sanksi yang diberikan yang bersifat mendidik
seperti anak disuruh rangkum hasil khutbah, merangkum
diperpustakaan sesuai judul khutbah, kadang orang tuangya juga di
panggil kalau memang kesalahan anak tersebut sudah sangat
kelewatan untuk ikut andil dalam menyelesaikan problem pada
siswa”
84


Jadi kesimpulannya dalam memberikan hukuman sebagai upaya
untuk memecahlan problematikan pendidikan agama islam harus bersifat
mendidik, karena anak usia remaja perkembangan kejiwaannya masih
belum stabil jadi perlukan keuletan dan perhatian yang lebih dari orang
terdekat seperti guru agama, orang tua dan lain-lain.
2) Upaya Pendidik
Sebenarnya guru adalah orang yang dituntut untuk bisa
menyelesaikan problem yang terjadi pada diri seseorang khususnya
siswa, Untuk mengatasi problem tersebut seorang guru juga turut
memegang peranan yang tidak kala pentingnya dalam proses belajar
mengajar. Bagaimana guru bisa menyampaian materi pelajaran agar
bisa menarik dan mudah dipahami anak didiknya sehingga pelajaran
tidak terasa memobasankan. Seorang guru harus mampu menjadi
inovator dan inspirator bagi anak didiknya dalam belajar. Semangat
guru dalam menyampaikan sebuah materi pelajaran tentu saja sangat
menentukan langkah selanjutnya dari para anak didiknya dalam
memperdalam materi tersebut. Jika pada saat awal menyampaikan
materi seorang guru sudah terlihat tidak bersemangat dan tidak memiliki
antusiasme yang tinggi maka akan berdampak pada keberhasilannya
dalam menyampaikan materi pelajaran.
Tentang problem guru yang perlu diperhatikan penampilannya,
penampilan guru sangat mempengaruhi minat siswa dalam belajar.
Namun dalam hal pendidikan agama islam, guru harus mempunyai

84
Wawancara Dengan Bapak H.M. Ali Fattar Guru PAI, Pada Tanggal 21 November 2008. di
Ruang Kepala Sekolah
akhlak yang baik dan bisa menjadi contoh tauladan bagi siswanya.
Tentang problem yang terjadi pada guru di SMA Widya Dharma Turen
tentang keterbatasan waktu guru untuk lebih mengabdi pada lembaga
SMA Widya Dharma Turen ini, keterbatasan waktu ini bukan atas dasar
timbul karena kemauan dari pendidik itu sendiri, namun dari beberapa
factor yang berkaitan dengan keadaan pendidik misalnya kurang biaya
hidup. Untuk mengatasi hal tersebut menurut bapak kepala sekolah
diharapkan pada pemerintah untuk lebih memperhatikan keadaan guru
pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen, dengan adanya
perhatian itu makan guru pendidikan agama islam bisa mendidik anak-
anak secara intensif sesuai dengan yang diinginkan oleh sekolah.
Selain problem itu masih ada beberapa problem lain yang perlu di
cari solusinya seperti kualitas guru, tidak semua guru mempunyai
pengetahuan lebih. Kadangkala guru pandidikan agama pengetahuannya
tentang agama bisa saja kurang. Karena guru yang mengajar di SMA
Widya Dharma ini terdapat tiga orang guru, maka tingkat
pengetahuannyapun berbeda-beda. Untuk guru yang belum professional
khususnya dalam pendidikan agama islam kepala sekolah
mengupayakan untuk mengikuti seminar, dan MGMP yang diadakan
khusus untuk ilmu pengetahuan pendidikan agama islam. Dengan begitu
harapan kami sebagai kepala sekolah bisa menjadi guru yang
professional baik dalam hal penyampaian materi, kurikulum, dan
menghadapi anak didik di SMA Widya Dharma Turen.

b. Factor institusional
1) Upaya Sarana Dan Prasarana
Dalam upaya untuk memecahkan problematika pendidikan agama
islam pada sarana dan prasarana di SMA Widya Dharma Turen,
diperlukan peningkatan sarana yaitu tentang jumlah buku paket
diperbanyak agar siswa bisa memiliki dan bisa pinjam sesering mungkin
apabila diperlukan. Untuk meningkatkan sarana pendidikan agama islam
di SMA Widya Dharma Turen, guru hendaknya berusaha memperoleh
sesuatu bila sesuai dengan obyek pendidikannya, maka pencapaian tujuan
bisa sesuai seperti yang diharapkan.
Dari segi sarana dan prasarana pendidikan agama islam diperlukan
adanya usaha untuk meningkatkan yaitu dengan melakukan beberapa hal
sebagai berikut:
1) Mengajukan proposal kepada pemerintah agar bisa membantu baik
berupa dana atau berupa buku paket terutama buku paket pendidikan
agama islam.
2) Kepala sekolah harus mempunyai hubungan timbal balik yang baik
dengan masyarakat agar masyarakat bisa memberikan bantuan untuk
membeli instansi-instansi sekolah.
c. Faktor eksternal
1) Upaya Pada Lingkungan
Suasana lingkungan akan sangat berpengaruh terhadap
perkembangan proses belajar anak terhadap pndidikan agama islam.
Upaya untuk mengatasi problem yang terjadi pada lingkungan di SMA
Widya Dharma Turen harus ada kerja sama antara masyarakat dan
pihak sekolah. Lingkungan masyarakat yang memberikan pengaruh
baik akan berdampak positif pada perkembangan pendidikan agama
islam di SMA Widya Dharma Turen.
Lingkungan pendidikan tidak hanyak mengacu pada lingkungan
di dalam sekolah saja akan tetapi lingkungan keluarga juga perlu
memperhatikan problem yang timbul pada anak sebagai peserta didik.
Keluarga sangat berpengaruh sekali pada tingkah laku dan pola pikir
anak didik untuk memantau apa yang menjadi kegiatan siswa sehari-
hari, tidak mungkin guru melakukan seorang diri apa yang menjadi
kegiatan siswa, akan tetapi peran orang tua sangat penting untuk
dilakukan. Apalagi orang tua pada umumnya tidak mengauasai
masalah-masalah mengenai pendidikan terutama pendidikan agama
islam.
Di lingkungan SMA Widya Dharma Turen mengenai lingkungan
keluarga kurang memperhatikan perkembangan pendidikan agama
islam, sehingga anak didikpun terpengaruh dengan kondisi dan situasi
yang ada. Kurangnya perhatian orang tua pada anaknya dalam hal
pendidikan agama islam ini akan memerlukan upaya untuk
pemecahannya, yaitu dengan mengadakan pertemuan antara wali
murid (orang tua anak didik) dengan guru di sekolah dalam satu
semester atau pada saat penerimaan rapor, dengan begitu orang tua
bisa mengetahui sejauh mana perkembangan pendidikan anaknya,
khususnya dalam pendidikan agama islam di SMA Widaya Dharma
Turen.
Berkaitan dengan paparan di atas bisa mematokkan dari
pendapatnya Muhammad Nurdin yang berpendapat sebagai berikut:
beberapa alternatif lain yang menjadi upaya dalam memecahkan
problematika pendidikan agama islam, dalam hal lingkungan
diperlukan penatan lingkungan sekolah di SMA Widya Dharma Turen,
penataan lingkungan sekolah yang mencakup gedung, halaman, kebun,
ruang perpustakaan, kantor, mushalah, WC, lapangan olahraga, dan
taman sebagai halaman untuk belajar.Tujuan dari penataan lingkungan
ini agar terciptanya suatu kondisi edukatif yang nyaman, karena pada
dasarnya anak adalah merupakan figur manusia yang ingin bebas dan
bergerak. Dengan adanya gedung sekolah yang bersih dan asri, ruang
belajar yang nyaman dan menyenangkan akan mempengaruhi
keefisiensinya proses belajar mengajar siswa dengan guru di dalam
kelas maupun di luar kelas.
85

Makan langkah yang diambil oleh pihak SMA Widya Dharma
Turen dalam pemecahan problem pada lingkungan, diadakan satpan
sebagai pengatur lingkungan keamanan dan staf kebun (tukang kebun)
sebagai penata lingkungan sekolah dengan tujuan agar lingkungan di
SMA Widya Dharmaturen Malang lebih nyaman sehingga siswa tidak
merasa jenuh.



85
Muhammad Nurdin, Pendidikan Yang Menyebalkan, (Ogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2005),
hlm.72
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pemahasan maka dapat disimpulkan
sebagai berikut:
Problematikan pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen
dilihat dari beberapafaktor yaitu.
1. factor Internal
a. Problem pada anak didik
1) Siswa kurang berminat pada pendidikan agama ialam.
2) Siswa masih mengaggap bahwa pendidikan agama islam hanya
sebuah persyaratan, bukan sebagai kewajiban yang harus dipelajari
sebagaimana mestinya.
Problem pada pendidik
1) Masih ada beberapa guru yang mengajar di lembaga lain sehingga
waktunya sangat terbatas untuk SMA Widya Dharma Turen.
2) Kurangnya profesional guru dalam menjalankan tugasnya sebagai
pendidik, baik dari segiri ilmu maupun keadaan.
2. faktor Institusional
a. Problem pada sarana dan prasarana
1) Jumlah buku paker yang sangat minim sehingga siswa merasa
kesulitan mencari reference.
2) Fasilitas masjid yang kurang memadai sehingga praktek shalat
jum’at tidak kondusif

3. factor Eksternal
a. Problem pada lingkungan
1) Lingkungan keluarga siswa kurang memperhatikan perkembangan
pendidikan agama islam
2) Orang tua siswa lebih mengacu pada pendidikan umum dan
mengabaikan pendidikan agama islam yang menjadi kewajiban.
3) Lingkungan masyarakat yang kurang mendukung terhadap
kelangsungan pendidikan agama islam.
4) Adanya tempat permainan yang mempengaruhi siswa sehingga
waktunya dihabiskan ditempat tersebut.
Upaya pemecahannya dalam problematika pendidikan agama islam di
SMA Widya Dharma Turen.
Berdasarkan hasil temuan dan pembahasan skripsi bahwa upaya yang
dilakukan terhadap problem-problem yang terjadi di SMA Widya Dharma
turen adalah sebagai berikut:
1. Faktor Internal
a. Upaya pada anak didik
1) Siswa yang kurang minat belajar, diperhatikan secara khusus
dengan melakukan pendekatan yaitu merangkum buku agama
yang berkaitan dengan materi pendidikan agama islam di
perpustakaan
2) Bagi siswa yang tidak ikut shalat jum’at di sekolah dikasi sanksi
yaitu merangkum hasil khutbah yang sesuai dengan judul khutbah.

b. Upaya pada pendidik
1) Kepala sekolah mengambil kebijakan bagi guru khususnya guru
pendidikan agama islam untuk mengikut sertakannya dalam
seminar.
2) Guru banyak mebaca buku tentang pendidikan agama untuk
menambah wawasan.
3) Guru banyak mempelajari tentang agama islam dan yang dilihat
TV maupun radio untuk menambah wawasan.
2. Factor Institusional
-Upaya pada srana dan sarana
1) Jumlah buku paket di usahakan lebih banyak agar siswa tidak
kesulitan mendapatkan reference.
2) Sarana masjid tidak memadai
Sarana atau fasilitas masjid di usahakan untuk memperbaiki agar
shalat jum’an lebih efisien.
3. factor Eksternal
Upaya pada lingkungan
1) Untuk lingkungan harus bekerja sama antara masyarakat dan
lingkungan sekitar untuk mengatasi problem yang terjadi pada diri
siswa.
2) Lingkungan sekitar memberikan contoh yang baik pada siswa.



B. Saran
Dari hasil penelitian maka penulis masih perlu memberikan saran sebagai
pelengakap dalam meningkatkan kualitas pendidikan agama islam sebagai
berikut:
1. Dalam usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan agama islam di
SMA Widya Darma Turen belum cukup hanya mengandalkan
keprofesionalnya guru saja, disamping guru yang profesional harus
diimbangi dengan fasilitas yang lengkap agar proses belajar mengajar
lebih efisien.
2. Anak didik hendaknya meningkatkan disiplin dalam mempelajari
pendidikan agama islam, dengan mengasah otak dengan cara membaca
terus maka ilmu akan bertamabah luas.
3. Lingkungan pada segenap pihak yang berhubungan dengan anak didik
akan lebih diperhatikan sehingga anak didik termotivasi untuk
mempelajari pendidikan agama islam, baik di sekolah maupun di rumah.
4. Untuk sarana dan prasarana diharapkan pada pihak sekolah bisa
melakukan hubungan timbal balik yang baik kepada masyarakat,
pemerintah agar segenap pihak bisa memberikan bantuan untuk
memperbaiki fasilitas sekolah.























BAB VI
PENUTUP
C. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pemahasan maka dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. Problematikan pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen.
a. Problem pada anak didik
3) Siswa kurang berminat pada pendidikan agama ialam.
4) Siswa masih mengaggap bahwa pendidikan agama islam hanya
sebuah persyaratan, bukan sebagai kewajiban yang harus dipelajari
sebagaimana mestinya.
a. Problem pada pendidik
3) Masih ada beberapa guru yang mengajar di lembaga lain sehingga
waktunya sangat terbatas untuk SMA Widya Dharma Turen.
4) Kurangnya profesional guru dalam menjalankan tugasnya sebagai
pendidik, baik dari segiri ilmu maupun keadaan.
b. Problem pada sarana dan prasarana
3) Jumlah buku paker yang sangat minim sehingga siswa merasa
kesulitan mencari reference.
4) Fasilitas masjid yang kurang memadai sehingga praktek shalat
jum’at tidak kondusif
c. Problem pada lingkungan
1) Lingkungan keluarga siswa kurang memperhatikan perkembangan
pendidikan agama islam
2) Orang tua siswa lebih mengacu pada pendidikan umum dan
mengabaikan pendidikan agama islam yang menjadi kewajiban.
3) Lingkungan masyarakat yang kurang mendukung terhadap
kelangsungan pendidikan agama islam.
4) Adanya tempat permainan yang mempengaruhi siswa sehingga
waktunya dihabiskan ditempat tersebut.
2. Upaya pemecahannya dalam problematika pendidikan agama islam di
SMA Widya Dharma Turen.
Berdasarkan hasil temuan dan pembahasan skripsi bahwa upaya yang
dilakukan terhadap problem-problem yang terjadi di sma widya dharma
turen adalah sebagai berikut:
c. Upaya pada anak didik
1) Siswa yang kurang minat belajar, diperhatikan secara khusus
dengan melakukan pendekatan yaitu merangkum buku agama
yang berkaitan dengan materi pendidikan agama islam di
perpustakaan
2) Bagi siswa yang tidak ikut shalat jum’at di sekolah dikasi sanksi
yaitu merangkum hasil khutbah yang sesuai dengan judul khutbah.
d. Upaya pada pendidik
4) Kepala sekolah mengambil kebijakan bagi guru khususnya guru
pendidikan agama islam untuk mengikut sertakannya dalam
seminar.
5) Guru banyak mebaca buku tentang pendidikan agama untuk
menambah wawasan.
6) Guru banyak mempelajari tentang agama islam dan yang dilihat
TV maupun radio untuk menambah wawasan.
e. Upaya pada srana dan sarana
3) Jumlah buku paket di usahakan lebih banyak agar siswa tidak
kesulitan mendapatkan reference.
4) Sarana atau fasilitas masjid di usahakan untuk memperbaiki agar
shalat jum’an lebih efisien.
f. Upaya pada lingkungan
3) Untuk lingkungan harus bekerja sama antara masyarakat dan
lingkungan sekitar untuk mengatasi problem yang terjadi pada diri
siswa.
4) Lingkungan sekitar memberikan contoh yang baik pada siswa
D. Saran
Dari hasil penelitian maka penulis masih perlu memberikan saran sebagai
pelengakap dalam meningkatkan kualitas pendidikan agama islam sebagai
berikut:
1. Dalam usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan agama islam di
SMA Widya Darma Turen belum cukup hanya mengandalkan
keprofesionalnya guru saja, disamping guru yang profesional harus
diimbangi dengan fasilitas yang lengkap agar proses belajar mengajar
lebih efisien.
2. Anak didik hendaknya meningkatkan disiplin dalam mempelajari
pendidikan agama islam, dengan mengasah otak dengan cara membaca
terus maka ilmu akan bertamabah luas.
3. Lingkungan pada segenap pihak yang berhubungan dengan anak didik
akan lebih diperhatikan sehingga anak didik termotivasi untuk
mempelajari pendidikan agama islam, baik di sekolah maupun di rumah.
4. Untuk sarana dan prasarana diharapkan pada pihak sekolah bisa
melakukan hubungan timbal balik yang baik kepada masyarakat,
pemerintah agar segenap pihak bisa memberikan bantuan untuk
memperbaiki fasilitas sekolah.
DAFTA PUSTAKA
Ali, Mukti. 2003. Kapita Selekta Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Pedoman
Ilmu Jaya.

Ahmadi, Abu. 1992. Strategi Belajar. Bandung: Pustaka Setia
Arifin, Muzayyin. 2003. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta: PT.Bumi
Aksara.

Arikunto, Suharsini. 2002. Prosesdur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,
Jakarta: Rineka Cipta.

Aziz As-Asykhs, Abdul. Kelambanan Dalam Belajar Dan Cara
Penanggulanginnya, Jakarta: Gema Insani.

Daradjat, Zakiyah dkk., 1992. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara dan
Departemen Agama RI

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka, Edisi ke-2

Djumhur, Muhammad& Surya. 1991. Bimbingan Dan Penyuluhan Di Sekolah.
Bandung: C.V. Ilmu.

D.Marimba, Ahmad. 1989. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: PT.
Al-ma’arif.

Hadi Sutrisno.1989. Metodologi Reseaarch II. Yogyakarta: Yayasan Penelitian
Fakultas Psikologi UGM.

Hasan, Laggulung 1992. Asas-Asas Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Al-Husna.

Hasan. M.Ali & Mukti Ali. 2003. Kapita Selekta Pendidikan Agama Islam.
Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya.

Hujair. 2003. Paradigma Pendidikan Islam (Membangun Masyarakat Madani
Indonesia). Yogyakarta: Tiara Wacana.

J.Moleong, Lexy. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.

Ma’arif, Samsul. 2007. Revitalisasi Pendidikan Islam. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Mantra, Ida Bagoes. 2004. Filsafat Penelitian Dan Metode Penelitian Sosial.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Margono S. 2000, Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Muhamin.2002, Paradigma Pendidikan Isla,(Upaya Mengefektifkan Pendidikan
Islam Di Sekolah). Bandung: Remaja Rosdakarya

. 2003. Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam Pemberdayaan,
Pengembangan, Kurikulum Hingga Redefinisi Islamiah Pengetahuan.
Bandung: Nuansa Cendekia.

. 2003. Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. Surabaya: Pustaka
Pelajar.

Mulyasa, E. 2004. Manajemen Berbasis Sekolah., Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nizar, Samsul. 2002. Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Histories, Teoritis
Dan Praktis. Jakarta: Ciputat Pers.

Nasution. 1996. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Trasito.

Nugroho, N. 2007. Belajar Mengatasi Hambatan Belajar. Jakarta: Prestasi
Pustaka.

Nurdin, Muhammad.2005. Pendidikan Yang Menyebalkan. Yogyakarta: Ar-Ruzz
Media

Purtanto Pius A. & M. Dahlan Al-Barry. 1994. Kamus Ilmia Popular. Surabaya:
Arkola.

Ramayulis. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Roibin, 2002. Menuju Pendidikan Berwawasan Berkerukunan. Malang: Jurnal El-
Harakah Edisi 58.

Sardiman. 1986. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar, PT. Raja Grafindo
Persada.

Subroto Suryo. 1984. Dimensi-dimensi Administrasi Pendidikan Di Sekolah.
Jakarta: Bina Aksara.

Sugiono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabet.

Supranto J. 1993. Metode Ramalan Kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta.

Surya, Muhammad. 2003. Psikologi Pembelajaran Dan Pengajaran. Jakarta:
Mahaputra Adidaya.

Tafsir, Ahmad. 2005. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja
Rosdakarya.

Tilar, H.A.R. 2004. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta.

Uhbiyati Nur. 1997. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: C.V. Pustaka Setia.

Undang-undang RI Tahun. 2003. Tentang System Pendidikan Nasional Pasal 1.
Bandung: Cita Umbara.

Uzer Usman, Moh. 2004. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.

Zuhairini, & Ghofir, Abdul. 2004. Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam. Malang: UIN Mlang Press.

Zuhairini, dkk.1983. Metodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya, Usaha
Nasional.

Zein, M. 1995. Metodologi Pengajaran Agam. Jakarta: PT. AK. Group dan Indra
Bunga.



PROBLEMATIKA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN UPAYA-UPAYA PEMECAHANNYA DI SMA WIDYA DHARMA TUREN MALANG

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh :

SAIMAH 04120054

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG

LEMBAR PERSETUJUAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN UPAYA-UPAYA PEMECAHANNYA DI SMA WIDYA DHARMA TUREN-MALANG

SKRIPSI

Oleh: Saimah 04120054

Telah disetujui pada tanggal, 20 Desember 2008

Oleh: Dosen Pembimbing

Drs. Muchlis Usman, M.A NIP. 15009539

Mengetahui, Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam

Drs. Moh. Padil, M. Pd.I NIP. 150 267 235

15009539 Dr.HALAMAN PENGESAHAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN UPAYA-UPAYA PEMECAHANNYA DI SMA WIDYA DHARMA TUREN MALANG SKRIPSI Dipersiapkan dan disusun oleh Saimah (0410054) Telah dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal 17 januari 2009 dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam ( S. M. Baharuddin. Dosen Pembimbing.I) PANINIA UJIAN Ketua Penguji. Muchlis Usman. M.J Sulala. Dr. Djunaidi Ghony NIP. Muchlis Usman.A Nip.A 150267279 Drs. M. Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang Prof. 15009539 Mengesahkan. M.Pd. M. H. H. Sekertaris Sidang. 150 042 031 . Drs.Ag 150 215 385 Penguji Utama.A Nip. Dra.

LEMBAR PERSEMBAHAN Ya Rabb Betapa masih jauh Jarak antara ketika Masih kubutuhkan Ungkapan Ya Rabb Inilah kata-kataku Bahasa paling wadag Dari gairah cintaku Hasrat untuk bertemu dengan-Mu Ya Rabb Dari hari kehari terus kunanti Saat mereka dari tubuh ruang waktu ini Tak perlu kupanggil lagi Dimana senyum-Mu Langsung mengasihi Rohku ini. Skripsi ini ku persembahkan Untuk mutiara hatiku Ama dan Inaku (Abdullah&Khairunnas) ama. ina terimakasih banyak atas segala pengorbananmu yang telah memberikan cinta kasihmu pada ananda .

20 Desember 2008 Saimah NIM. kecuali yang tertulis dan mengacu dalam naskah ini serta disebutkan dalam daftar pustaka. dan sepanjang pengetahuan saya.SURAT PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan. 04120054 . Malang. juga tidak terdapat karya atau hasil penelitian orang lain. bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan tinggi.

20 Desember 2008 Lamp : 4 (empat) Eksemplar Hal : Pernyataan Pembimbing Skripsi Saimah Kepada Yth. Pembimbing. baik dari segi isi. Wb. Sesudah beberapa kali melakukan bimbingan.A NIP. Drs. 15009539 . Wb. M.PERNYATAAN PEMBIMBING Drs. Muchlis Usman M. Muchlis Usman. Wassalamu’alaikum Wr. Demikian mohon dimaklumi adanya. Maka selaku pembimbing. dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di bawah ini : Nama NIM Jurusan Judul Skripsi : Saimah : 04120054 : Pendidikan Agama Islam : Problematika Pendidikan Agama Islam dan Upaya-Upaya Pemecahannya Di SMA Widya Dharma Turen -Malang melalui metode kajian pustaka.A Dosen Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang NOTA DINAS PEMBIMBING Malang. Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang Di Malang Assalamu’alaikum Wr. kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak di ajukan untuk ujikan. bahasa maupun teknik penulisan.

3. 11. 10. 4. 28 Oktober 2008 7. Dr. Malang. 7.II. 6. 17 Juli 2008 2. H. 9. 5 Desember 2008 11.DEPARTEMEN AGAMA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG FAKULTAS TARBIYAH Jalan Gajayana No. Muchlis Usman M. 13 Agustus 2008 5. 27 Juli 2008 3. 150 042 031 . 31 Oktober 2008 8. I. 5 desember 2008 Mengetahui. Dekan Fakultas Tarbiyah Prof. 9 Agustus 2008 4. Tanda Tangan 1. 8. 5. 20 Desember 208 2. 25 Agustus 2008 6. M.V.II. Djunaidin Ghony NIP.VI 1. 8 November 2008 9.A :Problematika Pendidikan Agama Islam dan Upaya-upaya Pemecahannya Di SMA Widya Dharma Turen Malang. No Tanggal Hal Yang Dikonsultasi Refisi Proposal Refisi Bab I Refisi Bab I ACC Bab I Refisi Bab II Acc bab ii Refisi Bab II ACC Bab III Refisi Bab IV Revisi Bab IV Acc Bab. 2 Desember 2008 10.IV.50 Telepon (0341) 552398 Faksimile (0341) 552398 BUKTI KONSULTASI Nama Nim Dosen Pembimbing Judul Skripsi :Saimah :04120054 :Drs.

. Padil M.A selaku dosen pembimbing yang penuh kesabaran dan ketelitian memberikan pengarahan kepada penulis sehingga dalam penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan. 6. Muchlis Usman. Dr. yang telah memberikan satu solusi dalam rahmatulil’alami sebagai peran moral dan cita-cita islam. Moh. maka sudah barang tentu menjadi suatu kewajiban bagi kami khususnya penulis untuk mengucapkan terimakasih yang setinggitingginya kepada: 1. rahmat dan inayahnya kepada penulis. M. 3. Bpk. Prof. penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melmpahlam segala nikmat. Djunaidin Ghony selaku dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Negeri Islam (UIN) Malang. Prof. Dalam menyelesaikan skripsi ini. Dr. H. Shalawatullah wasalamuhu semoaga senantiasa terlimpahkan kepada serta revolusioner penggagas kedamaian dan kebenaran serta kebajikan yaitu baginda Rasulullah saw. sehingga penulisan skripsi yang berjudul “Problematika Pendidikan Agama Islam dan Upaya-upaya Pemecahanya di SMA Widya Dharma Turen-Malang”.KATA PENGANTAR Alhamdulillah. Imam Suprayogo selaku rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. sprituil maupun material dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini. 5. Amaku dan inaku (Abdullah & Khairunnas) tercinta yang telah melahirkan dengan sepenuh kasih sayang dan kesabaran untuk memberikan dorongan moril. Bpk Drs. 4. H. Bpk. Tri Djoko Kusminto selaku kepala sekolah SMA Widya Dharma Turen yang telah berkenan memberi izin dan kesempatan untuk mengadakan penelitian dan sekaligus memberikan bantuan berupa informasi-informasi yang berkenaan dengan pembahasana dalam skripsi ini. tentunya tidak terlepas dari beberapa pihak terkait yang telah banyak memberi motivasi serta kritikan yang konstruktif dalam menyelesaikan skripsi. Bpk Drs. Drs. M.Pd.I selaku ketua jurusan Fakultas Tarbiyah Universitas Negeri Islam (UIN) Malang. 2.

Harapan penulis mudahmudahan karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya. akan menjadi amal ibada yang diterima di sisi Allah SWT. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini jauh dari kesempurnaan. untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam pengembangan pendidikan agama islam ke depan. Akhirnya semoga amal bhakti mereka diterima di sisi Allah SWT. mbk ima sangat sayang kamu walaupun kita berpisah nanti. dan semoga mendapatkan balasan yang setimpal dari-Nya.7. penulis . amiin. Segenap dewan guru dan karyawan serta siswa-siswi di SMA Widya Dharma Turen yang telah membantu memberikan informasi-informasi yang berkenaan dengan pembahasan skripsi dalam skripsi ini. semua itu karena keterbatasan pengetahuan serta ketajaman analisis yang kami miliki. dan para pembaca pada umumnya. 9. Pieta makasi ya. 8. Oleh karena itu saran dan kritikan yang konstruktif selalu kami dambakan demi perbaikan penelitian berikutnya. Semoga atas bantuan dan dorongan yang dicurahkan kepada penulis. Kakak-kakakku yang tercinta yang selalu memberikan motivasi sehingga penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan. Teman-teman seperjuangan yang selalu menghibur penulis disaat-saat penulisan skripsi ini terlaksana.

.............. B............................................ LEMBAR PERSETUJUAN................................................................................................... Faktor-faktor yang Timbul dalam Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam ................................. 16 2........................................................... v HALAMAN MOTTO... E.......... Upaya yang Dilakukan Dalam Mengatasi Problematika Pendidikan Agama Islam .......................................................................................................................................... 16 1.......... Sistematika Pembahasan .......................... Kegunaan Penelitian................................................................................................................ BAB II: KAJIAN PUSTAKA A.... iii HALAMAN PENGESAHAN ........ Tujuan Pendidikan Agama Islam..... vii HALAMAN PERNYATAAN .....................................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL....................... Pengertian Problematika Pendidikan Agama Islam.......................... Tinjauan Tentang Problematika Pendidikan Agama Islam....... iv HALAMAN PERSEMBAHAN ......... xv BAB I: PENDAHULUAN A.................. C..................................................................................................... i ii BUKTI KONSULTASI ............................................................ 12 2.......................................................................... 40 1 7 7 8 9 ........................ 13 B.................................. xi DAFTAR TABEL .................................................................................... vi HALAMAN NOTA DINAS .......... viii KATA PENGANTAR ........................................................ Tinjauan Tentang Pendidikan Agama Islam ..................................... Latar Belakang ............................................... D................................... Tujuan Penelitian.... 19 3...... xiv ABSTRAK............................. Pengertian Pendidikian Agama Islam ..................................................................................................................................................................................................... ix DAFTAR ISI ...................................................................... Rumusan Masalah ................. 12 1....................................................

....................................... 56 E................................... Instrumen Penelitian........ Lokasi Penelitian ................ Tekhnik Analisis Data. Upaya yang Dilakukan Oleh Guru Dalam Pemecahan Problematika Pendidikan Agama Islam di SMU Widya Dharma Turen Malang . Faktor-faktor yang Timbul Dalam pelaksanaan Problematika Pendidikan Agama Islam di SMU Widya Dharma TurenMalang........ Sejarah Singkat Berdirinya SMA Widya Dharma Turen................................................. Latar Belakang Objek Penelitian.......................................... Visi dan Misi SMA Widya Dharma Turen ............... Pendekatan dan Jenis Penelitian........................ 53 B......... 71 5........................ 64 BAB IV: HASIL PENELITIAN A.... Keadaan Sarana dan Prasarana SMA Widya Dharma Turen..................................... Metode Pembahasan................ Pengecakan Keabsahan Data....... 66 2.... Tahap-tahap Penelitian .. 54 C.................................................. 84 7...............BAB III: METODE PENELITIAN A............................................. Keadaan Guru dan Karyawan SMA Widya Dharma Turen ...................... Temuan Hasil Penelitian ................................... 60 G.................... Keadaan Kegiatan SMA Widya Dharma Turen ............... Problematika yang Dihadapi Pendidikan Agama Islam di SMU Widya Dharma Turen Malang ................ Keadaan Siswa-siswi SMU Widya Dharma Turen...... 88 8..................... 123 C..... 70 4............. Struktur Organisasi SMU Widya Dharma Turen................. 90 B...... 77 6............................ Tugas Dan Tanggung Jawab Kepala dan Guru............ 69 3.......................... 57 F.. 97 BAB V: KAJIAN DAN ANALISIS DATA A............. 63 I.................................... 126 .................... 109 B....... 55 D.................................................... 66 1........................................................................ Prosedur Pengumpulan Data ................................................................... Sumber Data............................. 62 H..........................................

............ 139 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ............ 136 B........................................... Saran........................................................... Kesimpulan.......BAB VI: PENUTUP A..............................................

sungguh masih dalam kondisi yang mengenaskan dan memprihatinka karena pendidikan agama islam mengalami keterpurukan jauh tertinggal denan pendidikan Barat. Sebagaimana pendapatnya Syamsul Ma’rif pendidikan agama islam saat ini. Skripsi. Dengan melihat hal seperti itu bila dikaitkan pada era global seperti pada saat ini sesungguhnya pendidikan khususnya pendidikan agama islam malah semakain terpuruk.ABSTRAK Saimah. Adapun tujuannya dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui latar belakang timbulnya problematikan pendidikan agama islam. Dengan semakian majunya dunia tekhnologi maka akan berdampak pada keterpuruknya dunia pendidikan islam khususnya dikalangan anak-anak remaja. faktor institusional dan faktor eksterna. Dalam dunia pendidikan agama islam akhir-akhir ini sering dilandasi oleh berbagai tantangan global yang menjadi problem. bentuk problematika pendidikan agama islam seperti ini pemerintah perlu menginovasinya agar pendidian islam bisa mencapai puncak seperti pada zaman keemasan dahulu. . Akibata dari timbulnya problem tersebut baik dari segi anak didik. Fakultas Tarbinyah Universitas Negeri (UIN) Malang. yaitu berupa datadata yang tertulis. penulis menggunakan tekhnik analisisis deskriptif kualitatif.A Pendidikan adalah suatu kebutuhan bagi manusia untuk meningkatkan pengetahuan. untuk mengetahui kendala-kendala yang terjadi dalam pemecahan problematika pendidikan agama islam. penulis menggunakan metode observasi. serta untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan oleh guru dalam pemecahan problematika pendidikan agama islam. Penelitian yang penulis lakukan ini adalah termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Problematikan yang timbul dalam dunia pendidikan agama islam akhirakhir ini disebabkan karena beberapa faktor yaitu faktor internal. Problematika Pendidikan Agama Islam dan Upaya-upaya Pemecahannya di SMA Widya Dharma Turen-Malang. pendidik. M. dan dokumetasi. Drs. Sedangkan untuk analisisnya. Dan selama mengumpulkan data. Muchlis Usman. data lisan dari pihak-pihak yang berkaitan di lokasi penelitian sehingga dalam hal ini penulis berupaya mengadakan penelitian yang bersifat menggambarkan kata-kata secara menyeluruh tentang keadaan yang terjadi di lapangan. kurikulum dan sarana dan prasarana serta lingkungan hampir adanya problematika. Berangkat dari latar belakang itulah penulis kemudian ingin membahasnya dalam skripsi dan mengambil judul problematika pendidikan agama islam dan upaya-upaya pemecahannya. interview. selain itu karena adanya dikotomisasi antara pendidikan umum dan pendidikan agama islam sehingga pendidikan agama islam tidak terlalu diperohatikan oleh pemerintah dan akhirnya masyarakatpun tidak menganggap penting terhadap pembelajaran pendidikan agama islam. jika menengok ke masa lalu yaitu pada masa abasyiah di mana pendidikan waktu itu sangat maju sehingga melahirkan kaum intelektual dan jenius dalam bidang keagamaan.

Kata Kunci: Problematika. Pemecahanya . Pendidikan Agama Islam. Bila ada alternatif lain maka hal itu dapat dijadikan suatu masukan untuk memperbaiki pendidikan agama islam dalam skripsi ini.Upaya.Hasil dari peneletian yang dilakukan penulis dapat disampaikan bahwasanya peneliti mencoba menawarkan solusi sebagai suatu alternatif untuk memecahkan problematika pendidikan agama islam yaitu meningkatkan motivasi belajar siswa. melengkapi sarana dan prasarana dan memperbaiki lingkungan sekolah dan sekitarnya.

Hal tersebut disebabkan karena adanya aspek-aspek social yang digambarkan karena individu-individu satu sama lain saling tidak konsisten terhadap misi ketergantungan dalam proses belajar.BAB I PENDAHULUAN A. Menuju Pendidikan Berwawasan Berkerukunan. Selama ini pendidikan agama secara normative diakui mampu menformulasikan dan mengakumulasi idealitas tujuan pendidikan tersebut. Latar Belakang Masalah Hampir semua tujuan pendidikan baik dalam kacamata umum maupun agama selalu mengidealkan terciptanya sikap anak didik yang dewasa.11 2 Hasan. Sekolah. Proses pendidikan yang hanya menekan kedewasaan intelektual akan memunculkan manusia yang cerdas tapi tidak bermoral. 2002. hlm. 1992). hlm. miskin solidaritas dan tidak humanis. emosional. Akibatnya belajar di sekolah sangat berlainan dengan yang berlaku di dalam keluarga. (Jakarta: Pustaka Al-Husna. lembaga pendidikan agama maupun lembaga umum yang terkait dengan timbul keagamaan dalam prakteknya sering mengecewakan dan idealnya. mengharuskan sejumla persyaratan kepada pendidikan. Namun secara empiris. Asas-Asas Pendidikan Islam.2 1 Roibin. intolern. Laggulung.1 Pendidikan adalah salah satu bentuk interaksi manusia dan sebagai tindakan sosial. 17 . Jadi pendidikan dalam pengertiannya mempunyai makna yang sangat luas dan dapat dianggap sebagai proses sosialisasi seseorang yang mempelajari cara hidupnya. Malang: Jurnal El-Harakah Edisi 58. yang merupakan institusi formal untuk belajar.

Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Pendidikan dapat pula diartikan sebagai bimbingan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. dan Negara”3 Ini berarti pendidikan merupakan proses atau upaya sadar untuk menjadikan manusia kearah yang lebih baik. 5 H.”Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional mendefinisikan pendidikan sebagai ”usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Di dalam berbagai analisis mengenai trend kehidupan global .15. hlm. 2003).A. Tilar.5 Kehidupan global akan melahirkan budaya global. hlm. Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. serta ketrampilan yang diperlukan dirinya. tetapi tidak terlepas dari tantangan global seperti yang marak terjadi saat ini. telah mulai melanda kehidupan umat islam yang tanpa batasan kepada berbagai bentuk “life style” yang mulai melanda kehidupan generasi muda terutama di kota-kota besar.1. pendidikan dipandang sebagai salah satu aspek yang memiliki peranan pokok dalam membentuk generasi muda agar memiliki kepribadian yang utama. 2004). (Malang: UIN Malang Press 2004). pengendalian diri. (Jakarta: Rineka Cipta. termasuk trend pula dalam mengembangkan system pendidikan. Di satu pihak Undang-undang RI Tahun 2003 Tentang System Pendidikan Nasional Pasal 1. Oleh karena itu. kepribadian. Dewasa ini kita melihat betapa kebudayaan global. masyarakat.(Bandung: Cita Umbara.R. hlm.4 Walaupun tujuan pendidikan mengarah ke arah yang positif.bangsa. kecerdasan. Terkait dengan fenomena sekarang kehidupan umat manusia dalam millenium baru mempunyai dimensi yang bukan hanya dimensi domestik tetapi global. tontonan global. akhlak mulia. 3 . Untuk mengembangkan potensi siswa diperlukan suatu strategis yang sistematis dan terarah. cita rasa global telah memasuki kehidupan siswa sebagai generasi muda.3 4 Zuhairini & Abdul Ghofir. Cara hidup global.

Hal ini telah merasuki pemikiran para generasi jauh dari pemahaman tentang islam. akan tetapi juga kemungkinan masuknya unsur-unsur budaya global yang penuh modern seperi yang terjadi saat ini bisa berdampak negatif yang meracuni kehidupan generasi muda. Pendidikan Agama Islam masih memerlukan bantuan kita bersama.75 .6 Selain usaha guru dalam mendidik siswa. melanggar norma dan etika agama.budaya global atau modernisasi dapat membuka horizon pemikiran yang positif. Pendidikan sekarang ini kurang bisa menciptakan siswa untuk memahami hakekat pembelajaran yang telah disampaiakan sehingga di luar sekolah siswa cenderung melakukan hal-hal yang tidak wajar (kenakalan remaja). baik sesama muslim maupun non muslim. (Bandung: Remaja Rosdakarya. Dalam agama Islam terkandung suatu potensi yang mengacu pada dua fenomena yang berkembang yaitu: 6 Muhaimin. Kualitas kesalehan diharapkan mampu membentuk hubungan keseharian dengan manusia lain. demi mewujudkan hasil dan kualitas pendidikan yang dicita-citakan. Adapun usaha Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah agar mampu membentuk kesalehan pribadi dan sekaligus kesalehan sosial sehingga dapat membentuk ukhuwah yang baik dalam lembaga pendidikan maupun lingkungan masyarakat. 2002). Upaya Mengefektifkan Pendidikan Islam Di Sekolah. serta dalam berbangsa dan bernegara sehingga dapat terwujud persatuan dan kesatuan umat manusia. hlm. Paradigma Pendidikan Islam.

2003). Karena manusia semakin terlibat terhadap proses perkembangan sosial itu sendiri menunjukkan adanya interelasi dan interaksi dari berbagai fungsi. Akhir-akhir ini. ( Jakarta: PT. Arifin. di mana Tuhan menjadi potensi sentral berkembanganya. maka ia akan dapat berfungsi sebagai sarana pembudayaan manusia yang bernafaskan islam yang lebih efektif dan efisien. Lingkungan yang alamiah maupun yang ijtimaiah. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Pendidikan islam seperti yang dikehendaki umat islam harus mengubah strategi dan titik operasional. proses kependidikan islam yang mengacu pada masyarakat yang beraneka ragam kultur dan struktur. hlm.7 Untuk mengaktualisasikan dan menfungsikan potensi tersebut diperlukan ikhtiar kependidikan yang sistematis berencana berdasarkan pendekatan dan wawasan yang interdisipliner. 3-4 . akibat timbulnya perubahan sosial diberbagai sektor kehidupan umat manusia. 7 Muzayyin. Nilai pendidikan islam telah menjadi ilmu yang ilmiah dan amaliah. Oleh karena itu pula akan timbul suatu problem dalam dunia pendidikan islam yang akan dicari solusinya dan pada akhirnya akan memberikan kesejahteraan pada kehidupan masyarakat. 2.Bumi Aksara. Potensi psikologi dan pedagogis yang mempengaruhi manusia untuk menjadi pribadi yang berkualitas baik dan menyandang derajat mulia. beserta nilai-nilanya ikut mengalami pergeseran yang belum mapan. Potensi pengembangan kehidupan manusia sebagai khalifah dimuka bumi yang dinamis dan kreatif serta responsif terhadap lingkungan sekitarnya. Telah diketahui bahwa sejak islam diartikulasikan melalui dakwahnya dalam masyarakat sampai kini.1.

Dalam problem ini kita perlu mengacu diri untuk melakukan inovasi dalam wawasan. Problem lain juga yang dirasakan dalam pendidikan agama islam selama ini adalah adanya kesenjangan antara pendidikan agama dan perilaku peserta didik secara khusus yang menyimpang dari norma-norma ajaran agama. Di samping itu. Namun demikian lembaga pendidikan islam kita yang masih bersifat konservatif dan statis dalam menyerap tendensi dan aspirasi masyarakat masa kini. pergeseran idealitas masyarakat yang menunjukkan kearah pola pikir rasional tekhnologis yang cenderung melepaskan diri dari tradisionalisme kultural edukatif makin membengkak. pendidikan islam harus dengan akal dan antara wahyu dengan alam.Pendidikan Islam tidak menutup kemungkinan dapat mengkombinasi antara pandangan islam dengan pemikirn pendidikan modern sepanjang memiliki relevansi yang kuat dalam menkonstruksi pemikiran pendidikannya. strategi dan program sedemikian rupa. Apalagi bila kita mengingat bahwa misi pendidikan agama islam lebih berorientasi kepada nilai-nilai luhur dari Tuhan yang harus diinternalisasikan ke dalam lubuk hati sehinggga muncul kepribadian yang mencerminkan nilai-nilai islam. Inilah berbagai pencerminan kemelut yang terjadi pada masyarakat terutama dalam dunia pendidikan agama islam. . sehingga mampu menjawab secara aktual dan fungsional terhadap tantangan baru. Sebagaimana agama yang sesuai dengan sunnatullah tentu ummat islam diwajibkan belajar dari fenomena alam. Problem ini muncul karena diakibatkan oleh budaya orientasi pendidikan agama islam di sekolah yang kurang tepat. Pada prinsipnya.

. Faktor internal Faktor internal adalah faktor yang muncul dari dalam diri guru agama itu sendiri yang meliputi kompetensi yang masih relative rendah. Faktor eksternal Adapun problem dalam faktor ini adalah sikap masyarakat dan orang tua kurang concer terhadap pendidikan agama yang berkelajutan. Faktor institusional Adapun faktor institusional meliputi alokasi jam pelajaran pendidikan agama islam pada kurikulum yang terlalu overloaded. antara lain: a. Ketiga hal tersebut diharapkan akan bisa dicari solusinya dan bisa memberi konstribusi yang bagus bagi peserta didik nantinya. solidaritas guru agama dengan guru non agama masih sangat terbatas. pendekatan metodologi guru yang tidak mampu menarik minat siswa pada pembelajaran agama islam. terutama Pendidikan Agama Islam dan mengaktualisasikan pendidikan agama islam sebagai pelajaran penting untuk mewujudkan keselamatan dunia dan akhirat. kurangnya persiapan guru agama untuk menyampaikan mata pelajaran. c. hubungan guru agama dengan siswa yang formal. b.Ada beberapa faktor yang menyebabkan kurang efektifnya Pendidikan Agama Islam di sekolah. karena dengan melihat problem-problem yang terjadi dalam dunia pendidikan.

pengaruh negative dari perkembangan teknologi seperti internet. Untuk mengetahui pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di SMU Widya Dharma Turen Malang. Tujuan Penelitian 1. 2. 3. . Untuk mengetahui Kendala-Kendala Yang Dihadapi Dalam Pemecahan Problematika Pendidikan Agma Islam di SMU Widya Dharma Turen Malang. maka menarik sekali untuk diteliti atau dikaji oleh karena itu dalam penelitian skripsi ini penulis mengambil judul ”Problematika Pendidikan Agama Islam dan Upaya-upaya Pemecahannya di SMU Widya Dharma Turen-Malang”. Upaya apa yang dilakukan oleh guru dalam pemecahan problematika Pendidikan Agama Islam di SMU Widya Dharma Turen Malang? C. Sehubungan dengan latar belakang masalah tersebut. Apa problem yang dihadapi Pendidikan Agama Islam di SMU Widya Dharma Turen Malang? 2. play station (PS). B. dan lain sebagainya.situasi lingkungan sekitar sekolah yang banyak pengaruh buruk. Rumusan Masalah 1. Kendala-Kendala Apa Yang Dihadapi Dalam Pemecahan Problematika Pendidikan Agma Islam di SMU Widya Dharma Turen-Malang.

Sebagai bahan dokumentasi dan masukan yang akan dipakai sebagai dasar atau perbandingan pada penelitian selanjutnya. baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Sebagai acuan atau bandingan agar dapat mengambil kebaikan dan mengatasi keburukannya. dalam rangka untuk meningkatka kualitas belajar terhadap Pendidikan Agama Islam.3. Bagi Lembaga Pendidikan: Sebagai tambahan informasi tentang bagaimana pelaksanaan Pendidikan Agama Islam. Untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan oleh guru dalam pemecahan problem Pendidikan Agama Islam di SMU Widya Dharma Turen Malang. dan hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi: 1. D. Bagi Peneliti . 3. Sebagai bahan kajian tentang problematika dan pemecahan dalam Pendidikan Agama Islam. 2. Bagi Almamater Sebagai suatu masukan bagi pelaksanaan pendidikan. Kegunaan Penelitian Dalam melaksanakan penelitian ini tentuya akan membawa suatu kegunaan.

rumusan masalah. Bab Kedua. problem kurikulum dalam Pendidikan Agama Islam. kegunaan penelitian. Kajian teoritis diantaranya membahas tentang (A) PAI: pengertian Pendidikan Agama Islam. tujuan penelitian. (B) problematika Pendidikan Agama Islam. Sebagai penambahan pengetahuan keilmuan sehingga dapat mengembangkan wawasan baik secara teori maupun praktek. problem sarana dan prasarana dalam Pendidikan Agama Islam. Pendahuluan yang merupakan titik tolak dari penulisan skripsi ini yang berisi tentang latar belakang masalah.Sebagai pedoman dalam rangka melaksanakan tugas sebagai pendidik yang akan terjun langsung untuk mengamalkan segala ilmu yang telah dipelajari. yang meliputi: perkembangan anak didik dalam Pendidikan Agama Islam. G. (C) langkah-langkah dalam mengatasi problem pendidikan agama islam. maka penulis membuat sistematika pembahasan sebagai berikut: Bab Pertama. perkembangan pendidikan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. tujuan dan fungsi pendidikan agama islam. Sistematikan Pembahasan Sistematika yang dimaksud merupakan isi dari pembahasan secara singkat yang terdiri dari enam bab. dan sistematika pembahasan. perkembangan manajemen dalam . yang meliputi: problem anak didik dalam Pendidikan Agama Islam. problem manajemen dalam pendidikan agama islam. dan untuk lebih mengarahkan skripsi ini. dasar-dasar Pendidikan Agama Islam.

Bab Kelima. prosedur pengumpulan data. meliputi: (A) latar belakang obyek: sejarah singkat lembaga pendidikan Widya Dharma Turen-Malang. Dari sinilah peneliti dapat mengklasifikasikan data-data dalam rangka mengambil kesimpulan penyajian. .pembelajaran Pendidikan Agama Islam. sumber data. keadaan siswa SMA Widya Dharma Turen. Pembahasan hasil penelitian yang dilakukan di SMU Widya Dharma Turen Malang. kehadiran peneliti. Bab Keempat. analisa data dan pengecekan keabsahan temuan serta tahap-tahap penelitian. perkembangan dalam Pendidikan Agama Islam. perkembangan kurikulum dalam Pendidikan Agama Islam. Bab Ketiga. keadaan guru dan karyawan. (B) temuan hasil penelitian: pengertian pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen. Bab Keenam. upaya pemecahannya dalam problematika pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen. Laporan hasil penelitian. tugas dan tanggung jawab guru dan karyawan. menjelaskan tentang kesimpulan dan saran yang berkaitan dengan problematikan Pendidikan Agama Islam dan upaya pemecahanya di SMU Widya Dharma Turen-Malang. Kesimpulan dan saran. keadaan sarana dan prasarana SMA Widya Dharma Turen . Metode penelitian yang terdiri dari pendekatan dan jenis penelitian. kendala dalam pemecahan problematika pendidikan agama islam SMA Widya Dharma Turen. lokasi penelitian. visi misi. keadaan kegiatan siswa SMA Widya Dharma Turen. perkembangan sarana dan prasarana dalam pembelajaran pendidikan agama islam. struktur organisasi.

hlm.8 Dan untuk mencapai pengertian tersebut maka harus ada serangkaian yang saling mendukung antara lain: a. TINJAUAN TENTANG PENDIDIKAN AGAMA ISLAM 1. hingga mengimani ajaran agama islam. 3 . dibarengi dengan tuntutan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa. Pengertian Pendidikana Agama Islam Sebelum penulis uraikan lebih lanjut tentang pengertian problematika pendidikan agama islam. pengajaran dan atau latihan yang dilakukan secara berencana dan sadar akan tujuan yang hendak dicapai. Pendidikan agama islam sebagai usaha sadar. 2002. memahami. terlebih dahulu akan penulis uraiakan tentang pengertian pendidikan agama islam.BAB II KAJIAN TEORI A. 8 Kurikulum PAI. menghayati. yakni suatu kegiatan bimbingan. Pendidikan agama islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan anak didik untuk mengenal.

Kegiatan pai diarahkan untuk meningkatkan keyakinan. d. pemahaman. diajari dan atau dilatih dalam peningkatan keyakinan. ahdaf. atau 9 H. penghayatan. Pendidik atau guru (gbpai) yang melakukan kegiatan bimbingan.13 . dan pengamalan terhadap peserta didik yang di samping untuk dengan cita-cita islam. Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara. c. pengajaran dan latihan secara sadar terhadap pesereta didiknya untuk mencapai tujuan tertentu.b. Tujuan Pedidikan Agama Islam Sebelum lebih jauh menjelaskan tujuan pendidikan islam terlebih dahulu dijelaskan apa sebenarnya makna dari ”tujuan” tersebut. Pengertian pendidikan agama islam dengan sendirinya adalah suatu sistem pendidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah. penghayatan dan pengalaman terhadap ajaran agama islam. Pendidikan islam bersumber pada nilai-nilai tersebut yang melandasinya adalah merupakan proses ikhtiarah yang secara pedagogis kematangan yang menguntungkan.9 2. pemahaman. Peserta didik yang hendak disiapkan untuk mencapai tujuan. 1991) hlm. dalam arti yang dibimbing. karena nilai oslam menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya. Secara etimologi ”tujuan” adalah diistilahkan dengan ”ghayat. Dengan istilah lain. manusia yang telah mendapatkan pendidikan islam itu harus mampu hidup di dalam kedamaian dan kesejahteraan sebagaimana cita-cita islam. Arifin.M.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dengan demikian fungsi tujuan yang pertama mengakhiri usaha. Ilmu Pendidikan Islam. purpose. Sedangkan secara terminologi. objectives atau ”aim”. Ada usaha yang terhenti karena gagal sebelum mencapai tujuan. tujuan berarti ” sesuatu yang diharapkan tercapai setelah sebuah usaha atau kegiatan selesai”10 H. Sementara dalam bahasa inggris diistilahkan dengan ”goal. (Jakarta: Balai Pustaka. maka tujuan dalam konteks ini berarti terciptanya insan kamil setelah proses pendidikan berakhir. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.M. bahwa tujuan proses pendidikan islam adalah ”idealitas (cita-cita) yang mengandung nilai-nilai islam yang hendak dicapai dalam proses kependidikan yang berdasarkan ajara islam secara bertahap”. tetapi usaha tersebut belum dapat disebut berakhir. 1992) hlm. 1995). Karena pada umumnya suatu usaha baru berakhir setelah tujuan akhir tercapai.1077 11 Zakiyah Daradjat. Arifin menyebutkan. 29 10 .maqashid. dkk.. yang berdasarkan kepada ajaran Al-Qur’an dan sunnah. (Jakarta: Bumi Aksara dan Departemen Agama RI. beriman dan bertaqwa kepada Allah serta mampu mewujudkan eksistensinya sebagai khalifah Allah di muka bumi. a) Fungsi tujuan Mengapa dibutuhkan tujuan? Untuk menjawab pertanyaan ini. Ahma D Marimba dalam bukunya ”pengantar filsafat pendidikan islam” menyebutkan bahwa setiap usaha mengalami akhir.11 Berdasarkan pada pengertian pendidikan islam yaitu sebuah proses yang dilakukan untuk menciptakan manusia-manusia yang seutuhnya. Edisi ke-2 hlm.

Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Al-ma’arif. dapat dikatakan. sementara dari segi lain tujuan dapat mempengaruhi dinamika usaha. Oleh karena itu. 45 .Fungsi kedua. Baik tujuan baru maupun tujuan lanjutan dari tujuan pertama.12 b) Prinsip Pengembangan Tujuan Pendidikan Islam Omar Muhammad Al-Toumyal-Syaibany dalam bukunya ”filsafat pendidikan islam” mengatakan bahwa ada beberapa prinsip dalam mengembangkan tujuan pendidikan islam. 1989). islam. di samping ada juga usaha yang bertujuan lebih dari itu. dan kegagalan-kegagalan akan selalu di ambang pintu. Ada usaha-usaha yang bertujuan lebih luhur daripada usaha-usaha lainnya. ibada. antara lain: 1) Peinsip universal (menyeluruh) Dalam merumuskan tujuan pendidikan kehidupan agama. baik aspek budaya kemasyarakatan. Tanpa adanya antisipasi atau pandangan ke arah tujuan. (Bandung: PT. akhlak dan muamalah. dari tujuan adalah mengarahkan usaha. maka penyelewengan akan banyak terjadi. Fungsi ketiga. Ada usaha yang bertujuan lebih besar dari yang lain. Fungsi keempat. bahwa dari satu segi tujuan bisa membatasi ruang gerak usaha. hlm. memberi nilai (sifat) pada usaha-usaha tersebut. 2) Prinsip keseimbangan dan kesederhanaan 12 Ahmad D Marimba. yang seharusnya mengitari sosial memperhatikan kehidupan seluruh aspek manusia. dari tujuan sebagai titik tolak untuk mencapai tujuan-tujuan lain.

626. ragu-ragu. jasmani dan rohani. Agar proses belajar mengajar pendidikan agama islam dapat berjalan dengan lancar sehingga tujuan dalam pembelajaran pendidikan agama islam dapat diraih secara maksimal. Dengan berpegang teguh kepada prinsip ini akan terwujud tujuan. Tinjauan Tentang Pengertian Problematika Pendidikan Agama Islam Secara etimologi kata problematika berasal dari kata problem (masalah. hlm.13 Banyak para “pakar pendidikan” telah berusaha dengan segala cara untuk ikut andil dan terlibat aktif memikirkan atau menyelesaikan beberapa problema yang “menggerogoti” sistem pendidikan agama islam 13 Pius A.Islam memiliki prinsip dasar keseimbangan dalam kehidupan. perkara sulit. Dahlan Al-Barry. kepentingan pribadi dan kepentingan umum. tak tertentu) dan problematika (berbagai permasalahan). . maka perlu adanya solusi untuk menyelesaikan permasalah-permasalah yang ada dalam proses belajar mengajar pendidikan agama islam. Pertanto. kurikulum. 3. persoalan). Problema (perkara sulit). M. 1994). baik antara dunia dan akhirat. 3) Prinsip kejelasan Prinsip yang mengandung ajaran dan hukum yang memberi kejelasan terhadap aspek spritual dan aspek intelektual manusia. Kamus Ilmia Popular (Surabaya: Arkola. dan metode pendidikan yang jelas pula. tak menentukan. problematika (merupakan sulit. Oleh karena itu dalam pengembangan pendidikan agama islam harus ada sistem kesederhanaan agar proses untuk mencapai tujuan lebih besar.

dewasa ini. 1 Ibid. Pendidikan agama islam masih berorientasi atau menitik beratkan pada pembentukkan abd’ (hamba Allah). sementara urusan dunia belakang. adalah sebagai berikut:15 a. 14 15 Samsul Ma’arif. . hlm. Melihat realitas yang terjadi sekarang bahwa pendidikan agama islam tidak bisa kembali seperti pada zaman keemasan (Andalusia dan Baghdad) yang bisa menjadi pusat peradaban islam. Akhirnya di sini. yang terjadi sekarang justru sebaliknya. tentu saja adalah segala-galanya. Revitalisasi Pendidikan Islam. Orientasi pendidikan masih terlantar tak tahu arah dan tujuan yang mana mestinya sesuai dengan orientasi Islam. Pendidikan saat ini. pendidikan agama islam sekarang mengekor dan berkiblat pada Barat. karena disebabkan beberapa hal. Dan masih bersifat devinitive artinya menyelamatkan kaum muslim dari segala pencemaran dan pengrusakan akibat ditimbulkan oleh gagasan Barat yang datang dari berbagai disiplin ilmu yang dapat mengancam standar-standar moralitas tradisional islam. 2007). 2-3.14 Lebih lanjut dikatakan oleh Samsul Ma’arif akibat pendidikan islam masih sangat jauh tertinggal pendidikan Barat. Hlm. Karena pendidikan agama islam mengalami keterpurukan akibat adanya pengaruh global dari dunia Barat dan juga adanya dikotomi system pembelajaran antara mata pelajaran islam dan mata pelajaran umum. sungguh masih dalam kondisi yang sangat mengenaskan dan memprihatinkan. (Yogyakarta: Graha Ilmu.

umat islam masih terbelenggu dan terjebak dengan adanya dikotomisasi pendidikan agama islam. Sehingga sistem pendidikan masih mandul. Umat islam masih sibuk terbuai dengan ”romantisme” masa lalu hingga bisanya mengandalkan kebesaran masa lampau. terbelakang dan mematikan daya kritis anak. sehingga ilmu yang dipelajari adalah ilmu klasik dan ilmu modern yang tidak tersentuh. Praktek pendidikan agama islam masih memelihara warisan lama. Model pembelajaran pendidikan agama islam masih menekan pada pendekatan intelektual verbalistik dan menegasi interakasi edukatif dan komunikasi humastik antara guru dan murid. d.b. format kurikulum yang tidak jelas orientasinya dan minimnya kualitas sumber daya manusia (SDM). Faktor Internal 1) Anak Didik . kurangnya pemahaman tentang ajaran islam. serta pelaksanaan dan penyelenggaraan pendidikan agama islam itu sendiri yang masih bersikap ekslusif dan belum mampu berinteraksi dan bersinkrinisasi dengan lainnya. Terkait dengan problematikan terdapat tiga faktor yang menjadi dasar pembahasan ini aalah sebagai berikut: a. c. metodologi dan evaluasinya. atau belum mencerdaskan dan memerdekakan. Akibatnya kebanyakan ummat islam sendiri tidak melakukan pembaharuan terhadap pendidikan agama islam. sistem dan strategi yang dikembangkannya. Persoalan tersebut masih ada tantangan internal yaitu.

16 Disisi lain. sehingga tujuan dalam pendidikan itu dapat terealisasi dengan baik. hlm.47 . 2002). peserta didik merupakan orang yang belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi (kemampuan) dasar yang masih perlu dikembangkan. menumbuhkan kekuatan dan kemampuan dan memberikan sesuatu yang dimilikinya semaksimal mungkin. 16 Samsul Nizar. Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Histories. pendidikan itu bergerak untuk mewujudkan perkembangan yang sempurna dan mempersiapkannya dalam kehidupan. Maka dari itu problem yang ada pada anak didik perlu diperhatikan untuk ditindaklanjuti dalam mengatasinya. penghayatan dan pengamalan terhadap ajaran agama Islam. Juga menimbulkan kekuatan atau ruh kreativitas.Sebagai peserta didik adalah pihak yang hendak disiapkan untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu aktivitas kependidikan tidak akan terlaksanakan tanpa keterlibatan peserta didik di dalamnya. pendidikan itu berfungsi agar mereka membentuk percaya kepribadian diri dan anak. pemahaman. membantu untuk berinteraksi sosial yang positif di masyarakat. dalam perspektif pendidikan islam. Teoritis Dan Praktis. peserta didik merupakan subyek dan obyek. mengembangkan menggapai kemerdekaan kepribadian. dalam arti yang dibimbing. Diantara komponen terpenting dalam pendidikan Islam adalah peserta didik. diajari dan atau dilatih dalam peningkatan keyakinan. Dalam paradigma pendidikan islam. (Jakarta: Ciputat Pers. pencerahan dan transparansi serta pembahasan atau analisis di dalamnya.

b) Karakter Kelainan Daya Pikir Kelainan yang satu ini dianggap yang paling banyak yang menimpa anak berkaitan dengan kegiatan belajar. rendah dalam bidang kebahasaannya. anak yang mempunyai kategori karakteristik seperti ini mereka juga tidak bisa berkonsentrasi dalam waktu lama.Adapun problem yang ada pada anak didik adalah segala yang mengakibatkan adanya kelambanan dalam belajar. Fairuz Stone menjelaskan bahwa keseimbangan perkembangan anak yng tertinggal dalam belajarnya itu lebih sedikit dibandingkan teman-temanya secara umum. Misalnya. khususnya lemah pendengaran dan penglihatannya. tidak adanya kemampuan beradaptasi dengan temannya. seperti lemahnya daya ingat hingga mudah melupakan materi yang baru dipelajari. . mereka dikenal sebagai anak yang kurang pengindraannya. maka kita jumpai adanya perilaku yang menyebabkan adanya keterkaitan antara daya pikir dan anak yang lamban belajarnya. santara lain: a) Karakteristik Kelainan Psikologi. Banyak teori para pakar yang menjelaskan adanya keterkaitan erat antara kecerdasan umumnya bagi anak dan tingkat keberhasilannya dalam belajar. lemah kemampuan berfikir jerni. Sehingga kemampuan dalam penerapan suatu ilmu. Dan hal tersebut problem dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Bila kita mengamati tingkat kecerdasan dari sisi lain.

Kelambanan Dalam Belajar Dan Cara Penanggulanginnya (Jakarta: Gema Insani. dan analisisnya rendah. hlm.pemilihan. 25 18 Ibid. pendidikan memegang peranan yang paling utama. guru yang tidak memadai.17 2) Pendidik (Guru) Kelambanan dalam belajar kadang disebabkan oleh tidak mencukupinya kegiatan belajar mengajar.18 Dalam proses pendidikan khususnya pendidikan di sekolah. buruknya pengajaran. 1991). hlm. atau tidak ada kesesuaian antara pelajaran-pelajaran yang ditetapkan dan bakat anak. Istilah-istilah tersebut besar pengaruhnya terhadap proses kegiatan belajar anak. serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”. Terkadang mereka sulit berpikir secara rasional dan cenderung berdasarkan perkiraan.t“ãƒuρ ãΝà6ßϑÏk=yèãƒuρ |=≈tGÅ3ø9$# sπyϑò6Ïtø:$#ρ Νä3ßϑÏk=yèãƒuρ $¨Β öΝs9 (#θçΡθä3s? tβθßϑn=÷ès? ∩⊇∈⊇∪ u “Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah.19 17 Abdul Aziz As . $uΖù=y™ö‘r& öΝà6‹Ïù Zωθß™u‘ öΝà6ΖÏiΒ (#θè=÷Gtƒ öΝä3ø‹n=tæ $oΨÏG≈tƒ#u™ öΝà6ŠÏj. Al-Qur’an Terjemah semarang CV: AlWaah .Asykhs.30 19 Departemen Agama Republik Inonesia. Sebagaimana dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 151 !$yϑx. materi pelajaran yang sulit sehingga tidak dapat diikuti anak.

Cit. Pendidikan dalam islam juga dikatakan sebagai siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik. (Bandung: Remaja Rosdakarya. Pendidikan dalam pendidikan agama islam dituntut untuk berkomitmen terhadap profesionalsme dalam mengemban tugsnya. peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Seseorang dikatakan profesional bilamana pada Ahmad Tafsir. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat At. hlm. dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.Ayat ini menjelaskan bahwa seorang pendidik (guru) adalah pewaris Nabi yang mempunyai perana penting dalam merubah dinamika kehidupan primitif menuju kehidupan madani. .Tahrim ayat 6 yang berbunyi: $pκš‰r'¯≈tƒ t⎦⎪Ï%©!$# #θãΖtΒ#u™ (#þθè% ö/ä3|¡àΡr& ö/ä3‹Î=÷δr&uρ #Y‘$tΡ $yδߊθè%uρ â¨$¨Ζ9$# äοu‘$yfÏtø:$#uρ $pκö=tæ ( n t îπs3Íׯ≈n=tΒ ÔâŸξÏî ׊#y‰Ï© ω tβθÝÁ÷ètƒ ©!$# !$tΒ öΝèδttΒr& tβθè=yèøƒuρ $tΒ tβρâs∆÷σム∩∉∪ ”Hai orang-orang yang beriman.21 Dari ayat tersebut sudah jelas bahwsanya pendidikan merupakan kewajiban setiap manusia. 2005).20 Muhammad Fadhli Al-Djamali menyatakan bahwa pendidikan adalah orang yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik sehingga terangkat derajat kemampuannya sesuai dengan kemampuan dasar yang dimiliki oleh manusia.. penjaganya malaikat-malaikat yang kasar.74 21 20 Al-Qur’an Terjemah Op. keras.

Karena kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan. b.. yaitu selalu berusaha memperbaiki dan pembaharui model-model yang sesuai dengan tuntutan zamannya. sikap komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja. 4 . Pengertian didaktikan adalah ilmu mengajar yang memberikan prinsip-prinsip tentang cara-cara menyampaikan bahan pelajaran sehingga dikuasai dan dimiliki peserta didik. Faktor institusional 1) Kurikulum Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan.dirinya melekat sikap dedikatif yang tinggi terhadap tugasnya. kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang isi dan bahan pengajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelanggaraan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Pengertian ini digaris bawahi ada empat 22 Muhamin. Dalam pengertian yang sempit.22 Pendidik dalam proses belajar mengajar harus menguasai serta menerapkan prinsip-prinsip didaktikan dan metodik agar usahanya dapat berhasil dengan baik dan dapat dipertanggung jawabkan. Cit. yang dilandasi oleh kesadaran tinggi bahwa tugas mendidik adalah tugas menyiapkan generasi penerus yang akan hidup pada masa zamannya. serta sikap continous improvement. hlm. Op.

hlm. Pengembangan. isi atau bahan. Pengertian ini menggambarkan segala bentuk aktivitas sekolah yang sekiranya mempunyai efek bagi pengembangan peserta didik. adalah termasuk kurikulum dan bukan terbatas pada kegiatan belajar mengajar saja. 2003).23 Dari sini dapat diketahui bahwa kurikulum sangat berperan penting dalam dunia pendidikan. Kurikulum Hingga Redefinisi Islamiah Pengetahuan). sehingga sering terjadi pengulangan pokok bahasan (materi). Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam (Pemberdayaan. yaitu: a) Terlalu padatnya program yang berakibat tidak terlaksananya tujuan dari program yang direncanakan. Sedangkan pengertian yang luas. 182 23 . yaitu: tujuan. kurikulum merupakan segala kegiatan yang dirancang oleh lembaga pendidikan untuk disajikan kepada peserta didik guna mencapai tujuan pendidikan (institusional. (Bandung: Nuansa Cendekia. Muhaimin. Menurut Rasdianah ada beberapa kelemahan dalam pemahaman kurikulum pendidikan agama islam maupun pelaksanaanya. c) Kurikulum yang tidak terorganisir dengan baik. b) Kurangnya jam pelajaran yang digunakan untuk menyelesaikan materi Pendidikan Agama Islam. organisasi dan strategi. kurikuler dan intruksional).komponen pokok dalam kurikulum. yang dapat mengantarkan pendidikan dalam dunia modern karena bentuknya telah tersusun secara sistematis dan terperinci.

Manajemen Berbasis Sekolah.hlm. hlm. Cit. 2004).Sedangkan pendapat pakar pendidikan non tarbiyah yaitu Amin Abdullah yang telah menyoroti kurikulum dan kegiatan pendidikan islam yang selama ini terjung langsung di sekolah. ketatalaksanaan.25 Manajemen atau pengelolaan merupakan komponen integral yang tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara 24 25 Muhaimin.24 2) Manajemen Manajemen merupakan terjemahan dari kata management yang berarti pengelolaan. Mulyasa. 264 E. Management berakar dari kata to manage yang baik tujuan jangka pendek. d) Sistem evaluasi. c) Pendidikan islam lebih menitik beratkan pada aspek korenspondensi tekstual. 25 . (Bandung: Remaja Rosdakarya. b) Pendidikan islam kurang concer terhadap persoalan bagaimana mengubah pengetahuan agama yang kognitif menjadi ”makna” dan nilai yang perlu diinternalisasikan dalam diri peserta didik lewat berbagai cara dan media.. antara lain: a) Pendidikan islam lebih banyak terkonsentrasi pada persoalanpersoalan teoritis keagamaan yang bersifat kognitif. maupun jangka panjang. Op. bentuk-bentuk soal ujian agama islam menunjukkan prioritas utama pada aspek kognitif. dan jarang pertanyaan tersebut mempunyai bobot muatan ”nilai” dan ”spritual keagamaan yang fungsional dalam kehidupan sehari-hari. menengah. yang lebih menitik beratkan pada hafalan teks keagamaan yang sudah ada.

Alasanya tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan dapat direalisasikan secara optimal. Hal ini didukung dengan materi kurikulum dan manajemen pendidikan yang kurang memadai. tetapi dari anggaran bidang agama. sehingga anggaran pembiayaan pemerintah untuk pendidikan islam jauh lebih kecil dibanding untuk pendidikan umum. sehingga hal ini mempunyai dampak pada pendanaan pendidikan. kurang releven dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Manajemen pendidikan agama islam merupakan tanggung jawab departemen agama. sehingga menjadikan pendidikan islam secara umum kurang diminati dan kurang mendapat perhatian. Melihat kenyataan ini. Dari kerangka inilah tumbuh kesadaran untuk melakukan upaya perbaikan dan peningkatan kualitas manajemen pendidikan. efektif dan efisien. dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan. Artinya anggaran belanja negara bidang pendidikan hanya dialokasikan kepada lembaga-lembaga pendidikan umum yang berada di bawah departemen pendidikan nasional. Inilah realitas yang dihadapai. maka reformasi manajemen pendidikan islam menjadi suatu .keseluruhan. baik yang dilakukan pemerintah maupun lembaga pendidikan. Manajemen pendidikan islam mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematik. Lulusannya kurang memiliki keterampilan untuk bersaing dalam dunia kerja. sedangkan pendidikan islam tidak diambil dari anggara negara bidang pendidikan.

administrasi dalam mengoperasikan sekolah. kebijakan dan prioritas pemerintah sebagai penanggung jawab pendidikan berhak merumuskan kebijakan yang menjadi prioritas terutama yang berkaitan dengan program peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan. peranan profesioanlisme kepala sekolah. Sebab dengan langkah-langkah berusaha pembenahan dan peningkatan profesionalisme penyelenggaraan pendidikan akan mampu menjawab berbagai tantangan dan dapat memberdayakan pendidikan islam di masa depan. perana orang tua dan masyarakat perlu dihimpun dalam satu badan sekolah yang dapat berpartisipasi dalam pembuatan keputusan sekolah. Dalam hal ini pendidikan agama islam menerapkan manajemen berbasis sekolah artinya pengelolaan pendidikan mengarah kepada pengelolaan manajemen berbasi sekolah. (Yogyakarta: Tiara Wacana. Penerapan manajemen berbasis sekolah juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan minat peserta didik. Paradigma Pendidikan Islam (Membangun Masyarakat Madani Indonesia).26 3) Sarana dan Prasarana Hujair. hlm. pendidik. serta kebutuhan masyarakat setempat. pendidik.keharusan. 220 26 . 2003). Bank dunia telah mengkaji beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penerapan manajemen berbais sekolah. Faktor tersebut berkaitan dengan kewajiban sekolah yang menawarkan keluasan pengelolaan masyarakat.

118 27 .Masih banyak persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia kaitannya dengan keberhasilan pendidikan agama ini. meja. sebab pendidikan agama dalam pelaksanaannya terkait dengan berbagai komponen yang melingkupnya. Adapun yang dimaksud dengan prasarana pendidikan adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalanya proses pendidikan atau pengajaran seperti kebun. ruang kelas. Sarana pendidikan agama islam adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dalam menunjang proses pendidikan khususnya proses belajar mangajar seperti gedung. maka peserta didik akan memiliki pemahaman yang bagus tentang materi yang diperoleh. rapi dan indah Muhammad Surya. 2003) hlm. Dengan demikian apabila pendidikan islam memanfaatkan dan menggunakan sarana pendidikan. (Jakarta: Mahaputra Adidaya. kursi serta peralatan dan media pengajaran yang lain. Sarana dan prasrana pendidikan agama islam yang baik. halaman. taman sekolah.27 Sarana pendidikan agama islam diharapkan dapat memberikan konstribusi secara optimal dan berarti pada jalannya proses pendidikan. dan juga diharapkan akan memiliki moral yang baik. diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih. Psikologi Pembelajaran Dan Pengajaran. salah satunya adalah sarana dan prasarana pendidikan agama islam. jalan menuju sekolah.

terlalu keras alam mendidik anak. Berhasil atau tidaknya pendiikan agama Islam. ana terlalu sibuk dengan pekerjaan rumah. anak yang dibesarkan dalam keluarga yang bermasalah. Faktor Eksternal Pendidikan tidak hanya terpacu pada lingkup sekolah saja. lingkungan sosial berperan penting terhadap keberhasilan pendidikan agama Islam. karena perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan melalui lingkungandapat ditemukan pengaruh yang baik dan pengaruh buruk.sehingga menciptakan sekolah yang menyenangkan bagi pendidikan maupun peserta didik yang berada di sekolah. akan tetapi lingkungan selain sekolah seringkali mengambilperan penting dalam pendidikan tersebut. (Jakarta: Kalam Mulia. Ilmu Pendidikan Islam. begitu juga dengan pendidikan agama Islam. 2004). akan mengganggu perjalanan proses belajar mengajar. 184 . hlm. 3) Lingkungan sekolah 28 29 Ramayulis. 2002). Dalam problem lingkungan meliputi: 1) lingkang masyarakat yang kurang agamis. orang tua tidak mendidika anak dengan kedisiplin waktu pada anak. hlm.28 c. 181 Sumardi s. Psikologi Pendidikan (Jakarta Raja Grafindo Persada.29 2) Lingkungan keluarga yang mempunyai berbagai macam faktor yaitu.

seperti dehumanisasi yang hanya menjadikan manusia sebagai alat produksi dan perbudakan seperti robot.Dalam lingkungan sekolah sering terjadi beberapa problem yaitu. Khususnya paradigma warisan ideologi kapitalisme dan liberalisme. tidak ana hubungan timbal balik yang baik antara guru dan anak didik. Pada Faktor Internal . guru terlalu sering mengancam anak. Proses Dalam Mengatasi Problematika Pendidikan Agama Islam a. Bukan malah terseret arus globalisasi dan ikut-ikutan menerapkan paradigma pendidikan yang sudah terhegemoni barat. B. kerasnya guru dalam mempengaruhi paa anak. 1. UPAYA DALAM PEMECAHAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMA WIDYA DHARMA TUREN MALANG Melihat prolem yang dihadapi manusia modern sekarang ini dengan filsafat pendidikan islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits diyakini dapat menjadi solusi alternatif dari kekacauan dunia yang ditimbulkan filsafat barat. Dalam menghadapi tantangan-tantangan global semacam itu. rendahnya tingkat persiapan guru. anak kurang minat dengan materi pembelajaran. Pendidikan Agama Islam harus mampu menjadi lembaga pendidikan ”alternatif” yang dapat ”mencerahkan” manusia modern sekarang. Pendidikan Agama Islam harus mampu menjadi ”obor” dan menjelaskan problem-problem kemanusiaan modern.

tujuan. yaitu: pertama. Adapun proses bisa ditinjau dari beberapa aspek yaitu: 1) Pendidik Guru pendidikan agama islam yang tingkat pendidikannya masih rendah perlu mendapatkan didikan yang lebih tinggi untuk meningkatkan profesionalisme guru dalam pengajara pendidikan agama islam. sarana dan prasarana. Setiap masalah tidak terlepas dari proses untuk mengatasinya. yang pada gilirannya dijadikan titik tolak dalam pengembangannya. asumsi bahwa apa pun dasar dan alasanya penampilan gurulah yang terpenting sebagai tanda memiliki wawasan. kedua. asumsi sukses guru tergantung pada penguasaan metode. . asumsi sukses guru tergantung pada kepribadiannya. murid. asumsi sukses guru tergantung pada frekuensi dan intensitas aktivitas interaktif guru dengan siswa. dan keempat. Medly dalam bukunya Muhaimin berpendapat bahwa: ”Ada beberapa asumsi keberhasilan guru. Reorientasi pengembangan guru bisa ditelaah historis penelitian tentang efektivitas keberhasilan guru dalam menjalankan tugas kependidikannya. maupun metodologi yang kesemuanya diharapkan bisa memecahkan problemproblem yang terjadi.Untuk menghadapi problem yang terjadi dalam dunia pendidikan agama islam yang sering terjadi diperlukan beberapa proses baik dari segi guru. kurikulum. bisa menguasai indikator. ketiga.

( Surabaya: Pustaka Pelajar. dan lainya” 30 2) Murid (anak didik) Siswa tidak terlepas dari yang namanya pendidikan. 213-214 30 . Namun siswa adalah orang yang dididik agar mendapatkan pendidikan yang layak sehingga menjadi manusia yang berbudaya. Beberapa hal yang perlu diproses untuk mengatasi problematika pendidikan agama islam antara lain: a) Siswa perlu dididik secara intensif b) Siswa sebagai obyek utama perlu meningkatkan daya nalar agar berpikir kritis sehingga melahirkan generasi yang cerdas. c) Murid dan guru melakukan studi banding pada lembaga pendidikan yang kualitasnya lebih bagus dari pada lembaga Muhaimin. siswa adalah salah satu pokok yang terjadi dan sangat berperan penting. kedalaman spritual. Problem yang terkait dengan siswa tidak terlepas dari proses untuk menyelesaikannya karena seperti yang diuraikan proses adalah langkah awal untuk mencapai suatu tujuan yaitu menjadikan peserta didik tersebut manusia yang berbudaya dan bermoral. ada siswa pasti ada guru. begitu pula sebaliknya ada guru pasti ada siswa. dan penguasaan terhadap strategi belajarmengajar.menguasasi materi. Dari beberapa analisis penulis tentang proses untuk mengatasi problematika pendidikan agama islam. hlm. 2003). Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. dan berakhlak mulia.

2) Sarana dan prasarana . b) Dalam menggunakan kurikulum guru harus memilih kurikulum yang tepat yang sesuai dengan visi misi lembaga agar arah penerapatnya tidak jauh berbeda. problem mengenai kurikulum akhir-akhir ini sudah menjadi problem yang sangat aktual yang diperbincangkan dalam dunia pendidikan. perlu menggali secara terus menerus tentang model-model kurikulum yang sering bergantian tiap periode. Apalagi kurikulum adalah inti yang harus dicapai karena berhasil atau tidaknya pendidikan bisa dilihat bagaimana kurikulum yang diterapkan. b.yang ditempatinya untuk meningkatkan pengetahuan sehingga dapat memperbaiki mutu yag ada di lembaga tersebut. Faktor Institusional 1) Kurikulum Kurikulum adalah salah satu komponen penting dalam pendidikan. kurikulum sebagai tujuan utama yang ditingkatkan. adapun proses terbut adalah sebagai berikut: a) Proses pengembangan kurikulum itu sendiri yaitu. Dalam hal kurikulumpun tidak terlepas dari proses untuk memperbaiki pendidikan. c) Dalam pengembangn harus punya prinsip-prinsip yang dilihat dari mata pelajaran apa yang diajarkan pada siswa.

Dari kesemuanya ini untuk mempraktekan ilmu-ilmu sebagai suatu teori yang didapat dari kelas atau dari guru agar tercapai proses belajar mengajar yang lebih efektif dan efsien. dan alat bantu tersebut adalah sarana dan prasarana yang tersedia dalam pendidikan seperti komputer. lab bahasa. faktor eksternal 1) Lingkungan masyarakat . rapi dan indah sehingga menciptakan sekolah yang menyenangkan bagi pendidik maupun peserta didik yang berada di lembaga tersebut.Dalam proses mengatasi problematika pendidikan agama islam sarana dan prasarana pendidikan agama islam diharapkan dapat memberikan konstribusi secara optimal dan berarti pada jalannya proses pendidikan. lab IPA. Dengan demikian apabila pendidikan agama islam memanfaatkan dan menggunakan sarana pendidikan. Sarana dan prasaran pendidikan agama islam yang baik adalah memanfaatkan mushalah untuk mempraktekkan cara beribada dan juga dapat menciptakan sekolah yang bersih. maka peserta didik akan memiliki pemahaman yang bagus tentang materi yang diperoleh dan juga memiliki moral yang baik. Dalam proses mengatasi problem pendidikan juga memerlukan sarana dan prasaran perlu alat bantu untuk menghadapi permasalah yang terjadi dalam dunia pendidikan agama islam. ruang organisasi siswa buku-buku dan sebagainya. c.

adapun kendala-kendala tersebut adalah sebagai berikut: a. masyarakat harus bisa memberikan contoh yang baik pada anak atau siswa agar anak didik menjadikan tauladan dan akan berampak positif terhadap perkembangan prosesbelajar anak didik baik di sekolah maupun di lingkungan masyrakat itu 2) Keluarga (orang tua) Sebagaimana yang dijelaskan pada problem di atas bahwa orang tua yang terlalu menekan anak agar selalu berprestasi di sekolah justruakan membuat anak menjadi antipatiterhadappelajaran. Kendala Yang Timbul Dalam Mengatasi Problematika Pendidikan Agama Islam Dalam mengatasi problem pendidikan tidak terlepas dari kendalakendala yang sering timbul. 39 31 . Faktor internal 1) Kendala Pada Guru Guru dipercaya oleh orang tua murid untuk memberikan pendidikan dan pengajaran kepada anak-anaknya. Sebagai pendidik dan pengajar yang memiliki peran strategis dalam upaya W. ( jakarta: prestasi pustaka. 2007 ). selayaknya orang tua mengahrgainya. maka dari itu orang tua harus bisa menghargai hasil dari apa yang dicapai anak.31 2. nugroho.Salah satu solusi pada problem lingkungan adalah sebagia berikut. hlm. berikan penghragaan yang sepantasnya atas prestasi yang telah diperoleh anak. belajar mengatasi hambatan belajar.

Di samping itu pendayagunaan guru meliputi juga peningkatan karir dan kesejahteraan guru dalam pendayagunaan guru yang merupakan kendala utama yang dihadapi adalah adanya kesenjangan antara formasi yang tersedia dengan kebutuhan nyata. 2003). Upaya seleksi dengan ujian bidang studi dan ujian kemampuan mengajar 32 M.32 Pendayagunaan guru meliputi perencanaan kebutuhan. Upaya pendayagunaan guru melalui pembinaan pendidikan dan pelatihan hingga saat ini belum mencapai hasil yang maksimal.menanamkan dan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan peserta didik. hlm. Kapita Selekta Pendidikan Agama Islam. guru merupakan faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan.Ali Hasan & Mukti Ali. Oleh karena itu guru pada semua jenis dan jenjang pendidikan dalam jumlah dan kualitas yang optimal. dan mutasi guru. Permasalahan yang perlu mendapat perbaikan bahwa penataran yang dilakukan oleh berbagai unit masih belum dapat memberikan kesempatan yang merata kepada semua guru khususnya retrening guru sebagai akibat perubahan kurikulum. 34-35 . (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya. Sistem rekrumen guru yang ada selama ini masih belum menjamin terjaringnya calon guru yang berkualitas yang menguasai bidang studi dan mempunyai motivasi yang tinggi untuk menjadi guru. pengadaan. Salah satu penyebab karena adanya ujian masuk atau seleksi hanya berupa pengetahuan umum yang sifatnya sementara. penempatan.

jenjang dan jenis pendidikan tertentu. dengan alasan yang macam-macam. Kanwil Depdiknas belum mampu memindahkan seseorang yang kekurangan guru. keadaannya tidak lebih baik. Di tingkat SLTP/SMA wewenang sepenuhnya berada ditingkat Depdiknas. Dalam hal ini guru sebagai PNS harus menyadari bahwa selain mempunyai hak. Tentu hal ini harus diimbangi dengan anggaran yang memadai untuk mutasi. 2) Kendala Pada Anak Didik Anak didik dalam UUSPN adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur. Di tingkat SD mutasi guru ditentukan oleh Pemda\ Dinas sehingga Depdiknas mengalami kesulitan mengatur pemerataan guru SD berdasarkan kepentingan atau tuntutan proses belajar mengajar. Pendidikan merupakan sarana penting untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) dalam menjamin kelangsungan pembangunan suatu bangsa dan agama. Secara teoritis pemerataan bukanlah hal yang sulit.di depan kelas diharapkan mampu dapat memperkecil dampak yang ditimbulkan. Kendala lainnya adalah upaya pemindahan guru dalam rangka pemerataan. guna . Pada masa akan datang peningkatan daya saing suatu bangsa perlu mendapat perhatian serius khususnya dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. juga mempunyai kewajiban untuk taat kepada atasan dan tersedia ditempatkan di mana saja.

Selain itu kendala yang terjadi pada pendidikan agama islam tidak diminati karena anak didik tidak terbiasa diperhatikan oleh orang tuanya sehingga anak didik menganggap bahwa pendidikan agama islam tidak terlalu penting bagi siswa. hlm. Kebudayaan adalah keseluruhan totalitas cara manusia hidup dan mengembangkan pola kehidupan sehingga ia tidak saja menjadi landasan kurikulum dikembangkan. Op. Cit. Faktor Institusional 1) Kendala Pada Kurikulum Ahli kurikulum seperti Print. Perkembangan pendidikan agama islam dihadapkan pada kendalakendala berkurangnya dukungan masyarakat terutama kelas menengah ke bawah untuk turut serta mensukseskannya.33 Pentingnya kebudayaan sebagai landasan bagi kurikulum. dikhawatirkan akan mengalami hambatan akibat krisis.. Kedudukan kebudayaan dalam suatu proses kurikulum teramat penting tetapi dalam proses pengembangan seringkali para pengembang kurikulum kurang memperhatikannya.Ali Hasan & Mukti Ali. 33 M. 34-35 . b.menghasilkan anak didik yang berkualitas khususnya pada mata pelajaran agama islam dengan harga yang kompetitif. Program wajib belajar 9 tahun yang lebih direncanakan pemerintah. tetapi untuk menjadi target hasil pengembangan kurikulum.

maupun pihak-pihak sekolah lainnya. 3. Solusi Yang Dilakukakan Dalam Mengatasi Problematika Pendidikan Agama Islam a. Oleh karena itu. pendidik harus tanggap dan berusaha mencari solusinya. Pertimbangan mengenai kebutuhan anak didik dan masyarakat sering dijawab dengan jawaban mengenai perkembangan dalam ilmu pengetahuan. . segala sesuatu yang ada kaitannya dengan individu anak didik.Dalam realitas proses pengembangan kurikulum sering diwarnai oleh pengaruh pandangan para pengembangan kurikulum terhadap pengembang ilmu pengetahuan dan tekhnologi sehingga kurikulum yang diterapkan disekolah masih belum di kuasai oleh guru. Inilah yang menjadi kendala utama dalam kurikulum sehingga dalam pendidikan agama islam tidak bisa dikembangkan seoptimal mungkin. kedudukan yang penting dari kebudayaan terbaik pula seperti halnya landasan lainnya yang harus diperhatikan dalam pengembangan kurikulum. dimana perkembangan ini sedikit banyak dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan dari masing-masing peserta didik. Hal ini disebabkan karena anak didik selalu mengalami perkembangan. Faktor Internal 1) Upaya pada Peserta Didik Dalam dunia pendidikan agama islam peserta didik merupakan salah satu faktor yang terpenting oleh karena itu.

juga dalam keberhasilan. 2) Membentuk kelompok belajar.Adapun upaya yang ditempuh oleh pendidikn agama islam dalam mengatasi masalah tersebut adalah dengan cara memberikan motivasi belajar pada anak didik sebagai berikut: 1) Memberi tugas rumah. 2) Pada karakter kelainan daya pikir (kognitif) Pada problem tersebut maka pendidik sebaiknya mengadakan test untuk mengetahui kemampuan peserta didik. maka langkah yang harus dilakukan meliputi: 1) Pada karakter kelainan psikologi: Mengadakan pemeriksaan medis pada anak sebelum memasuki sekolah. Karena kebanyakan mereka memasuki taman kanak-kanak pada usia dini. 4) Mengadakan persaingan atau kompetisi 5) Memberi nasehat tentang pentingnya belajar terutama di era globalisasi ini Jika dilihat dari problem psikologis pada anak didik tidak terlepas juga dari permasalah. untuk memecahkan problem ini. kebutuhan mempengaruhi hidupnya yang perkembanganya mempengaruhi berbagai aspek psikologis. Apabila peserta didik memiliki cenderung kemampuan intelegence rendah perlu diusahakan . 3) Menambah jam pelajaran. sehingga dapat mencegahnya dari penyakit berbahaya yang dapat melumpuhkan saat memenuhi kekuatannya.

Uzer Usman. Minat merupakan suatu sifat yang relatif menetap pada diri seseorang. 3) Karakter kelainan kemauan motivasi Sesuai dengan problem yang ada pada siswa yakni rendahnya kemauan atau motivasi maka ada beberapa langkah antara lain: a) Menarik minat Melalui minat ditemukan kemauan dan motivasi karena. Minat ini besar sekali pengaruhnya terhadap belajar sebab dengan minat seseorang akan melakukan sesuatu yang diminatinya. 9 .dengan cara jalan lain yaitu dengan menempatkan peserta didik dalam kelas yang memiliki kemampuan rata-rata yang sama. 2004). kondisi belajar mengajar yang efektif adalah adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar. hlm. Menjadi Guru Profesional (Bandung: Remaja Rosdakarya. 34 Moh.34 b) Membangkitkan motivasi siswa Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu atau keadaan seseorang atau organisme yang menyebabkan kesiapan untuk memulai serangkaian tingkah laku atau perbuatan. sebaliknya. Sedangkan motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan pencapaian tujuan atau keadaan dan kesiapan dalam individu yang tertentu. tanpa minat seseorang tidak mungki melakukan sesuatu.

Tugas guru adalah membangkitkan motivasi anak sehingga ia mau melakukan belajar. Motivasi dapat timbul dari dalam diri individu dan dapat pula timbul akibat pengaruh dari luar. Cara menimbulkan motiv tertentu pada diri anak didik, cara menimbulkan dapat bermacam-macam, namun cara-cara yang paling efektif adalah sebagai berikut: menjelaskan tujuan yang akan dicapai dengan sejelas-jelasnya, menjelaskan pentingnya mencapai tujuan, menjelaskan insentif-insentif yang akan diperoleh akibat tindakan itu, perjalanan soal insetif ini harus benar-benar real berdasarkan bukti-bukti yang nyata.

a. Upaya pada Pendidik (Guru) Bukan rahasia lagi kalau pendidik (guru) memiliki posisi yang strategis dalam pengembangan segenap potensi yang dimiliki anak didik. Selagi ada kegiatan pembelajaran, maka disanalah pendidikan sangat dibutuhkan karena pada diri pendidiklah kejayaan dan keselamatan masa depan bangsa dan terjamin. Hal ini dikarena pendidik mempunyai kewajiban dalam membenuk pribadi yang sejahtera lahir dan batin, baik itu yang ditempuh melalui pembelajaran pendidikan agama islam maupun umum. Berkaitan dengan ini, maka pendidik harus mampu menjadi pendidik yang profesional,

berorientasi pada anak didik secara penuh dalam kreatifitas maupun aktifitas keseharian dalam pembelajaran pendidikan agama islam.

Untuk meningkatkan profesionalisme guru pendidikan agama islam, perlu ditingkatkan melelui cara sebagai berikut: 1) Mengikuti penataran-penataran Yang dimaksud dengan penataran ialah semua usaha pendidikan dan pengalaman untuk meingkatkan keahlian pendidik dan pegawai guna menyelamatkan pengetahuan dan keterampilan mereka dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan ini adalah sebagai berikut: a) Mempertinggi mutu para petugas dalam bidang posisinya masing-masing.35 b) Meningkatkan efisiensi kerja menuju kearah tercapainya hasil yang optimal c) Mengembangkan kegairahan kerja dalam meningkatkan kesejahteraan pendidik (guru).36 2) Mengikuti kursus-kursus pembelajaran Dalam menambah wawasan pendidikan agama islam disarankan juga mengikuti kursus-kursu guna untuk meningkatkan

pengetahuan dan menamabah engalaman baru. Dengan begitu pendidik akan lebih mengetahui kebutuhan peserta didik yang sesungguhnya. Terkait dengan perkembangan dunia globalisasi guru harus mampu memberikan araha yang yang bisa meningkatkan motivasi

Muhammad Djumhur Surya., Bimbingan Dan Penyuluhan Di Sekolah, (Bandung: C.V. Ilmu, 1991), hlm. 115 36 ibid., hlm. 115

35

siswa untuk belajar dan mengembangkan potensinya yaitu memberi kasih sayang. 3) Melakukan studi banding Studi banding suatu strategi yang tepat, apalagi

mengadakan studi banding guna bertukar fikiran dan pengalaman serta saling melengkapi dan mengatasi problem yang dihadapi. Dengan begitu kita mampu mengetahui kekurangan sebagai kendala kita dan kelebihan kita sekaligus dapat meningkatkan mutu pendidikan yang baik dari pendidik (guru) agama islam sendiri maupun faktor lainnya. 4) Tugas pendidik yang paling utama adalah mengajar, dalam pengertian menata lingkungan agar terjadi kegiatan belajar pada anak didik. Berbagai kasus menunjukkan bahwa di antara para pendidik banyak yang merasa dirinya sudah dapat mengajar dengan baik, meskipun tidak dapat menunjukkan alasan yang mendasari asumsi itu, asumsi keliru tersebut seringkali

menyesatkan dan menurunkan kreatifitas, sehingga banyak pendidik yang suka mengambil jalan pintas dalam pembelajaran, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi. Sedangkan pendapat Abu Ahmadi dalam meningkatkan etos kerja guru sebagai seorang pendidik terutama dalam mutu pendidikan agama, maka yang perlu diperhatikan antara lain: a) Penghasilan pendidik dalam mencukupi kebutuhan hidupnya.

kemampuan dan kesiapan peserta didik. Aspek pedagogis menunjuk pada kenyataan bahwa mengajar disekolah berlangsung dalam suatu lingkungan pendidikan. 1992). Dimensi-dimensi Administrasi Pendidikan Di Sekolah (Jakarta: Bina Aksara. Adapun peningkatan kualitas yang dilakukan secara individu sebagaimana pendapatnya Suryo Subroto yang meliputi: a) Peningkatan profesi melalui penataran b) Peningkatan profesi melalui belajar mengajar. dan didaktis secara bersama. psiokologis. c) Seorang pendidik harus mampu menggunakan variasi metode mengajar dengan baik.b) Seorang pendidik memahami tabiat. hlm. c) Peningkatan profesi melalui media massa. Strategi Belajar (Bandung: Pustaka Setia. 87 Suryo Subroto. 141 38 37 . hlm.38 Pendidikan harus menyadari bahwa mengajar memiliki sifat yang sangat kompleks karena melibatkan aspek pedagogis. 1984). Aspek psikologis menunjuk pada kenyataan bahwa anak didik yang belajar pada umumnya memiliki taraf Abu Ahmadi. sesuai dengan karakter materi pelajaran dan situasi belajar. karena itu pendidikan harus mendampingi anak didik menuju kesuksesan belajar atau kedewasaan.37 Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap guru itu ada kesanggupan dan kemampuan meningkatkan keahlian dengan usaha mereka sendiri agar sesuai dengan kebutuhan maupun tuntutan belajar mengajar di sekolah/ madrasah.

berbagai cara mengelompokkan anak didik. pendidik harus menentukan secara tepat jenis belajar yang paling berperan dalam proses pembelajaran tertentu. Aspek didaktis. Kondisi eksternal yang harus diciptakan oleh pendidik menunjuk variasi juga dan tidak sama antara jenis belajar yang satu dengan jenis belajar yang lain.perkembangan yang berbeda satu dengan lainnya. belajar konsep. sehingga menuntut materi yang berbeda pula. belajar sikap. dengan mengingat kompetensi dasar yang harus dicapai. meskipun adapula kondisi yang paling didomiasi dalam segala jenis belajar. dan beraneka ragam media pembelajaran yang digunakan dengan tujuan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga tercapai tujuan yang maksimal. dan tujuan yang harus mereka capai juga berbeda. Perbedaan tersebut menuntut model belajar yang berbeda sesuai dengan jenis belajar yang sedang berlangsung. seperti belajar menghafal. Selain itu. belajar keterampilan motorik. aspek psikologis menunjuk pada kenyataan bahwa proses belajar iu sendiri mengandung variasi. pendidikan harus memiliki pengetahuan yang cukup luas mengenai jenis-jenis belajar yang ada dan kondisi-kondisi internal peserta didik. Dengan demikian. dan seterusnya. . Oleh karena itu. Demikian halnya kondisi anak didik. kompetensi. serta kondisi eksternal yang mempengaruhinya.

pendidik dituntut memahami berbagai model pembelajaran yang efektif agar dapat membimbing anak didik. Dalam pada itu. yang jika salah satu komponennya terganggu.Tugas pendidik sebagai seorang pengajar dalam memberikan pendidikan agama islam tidak hanya terbatas pada penyampaian informasi atau materi saja kepada peserta didik. Dalam kaitannya dengan perencanaan. banyak pendidik yang mengambil jalan pintas dengan tidak membuat persiapan ketika mau mengajar. pendidik dituntut untuk membuat persiapan mengajar yang efektif dan efisien. Banyak perilaku pendidik yang negatif dan menghambat perkembangan anak didik yang diakibatkan oleh perilaku pendidikan yang suka mengambil jalan pintas dalam mengajar. Namun dalam kenyataannya dengan berbagai alasan. pendidik harus memiliki kemampuan untuk memahami anak didik dengan berbagai keunikannya agar mampu membantu mereka dalam menghadapi kualitas belajar. sehingga pendidik mengajar tanpa persiapan. Disamping merugikan pendidik sebagai tenaga profesional juga akan mempengaruhi perkembangan anak didik. . Sesuai kemajuan dan tuntutan zaman. Agar tidak tergiur untuk mengambil jalan pintas dalam mengajar. pendidik hendaknya memandang pembelajaran sebagai suatu sistem. maka mengganggu seluruh sistem tersebut.

Jika keadaan kurang siap dalam memberikan pelajaran terhadap anak didik. Jika demikian. misalnya yang sepantasnya hal ini bisa diimplementasikan lewat minta bantuan Swadaya masyarakat (wali murid). dengan demikian diharapkan supaya para pendidik itu bisa fokus terhadap pendidikan atau profesinya sebagai seorang pendidik. b. b) Harus ada perhatian dari lembaga pendidikan terhadap pendidik dalam artinya lembaga mengusahakan untuk memberikan kesejahteraan para pendidikan. Faktor Institusional 1) Upaya pada Kurikulum Kurikulum adalah salah satu komponen operasional pendidikan agama islam sabagai sistem materi atau disebut juga sebagai kurikulum. dengan kenaikan gaji itu diharapkan juga supaya pendidik bisa mengembangkan potensi dirinya misalnya dengan membeli buku dan mengikuti kursus kependidikan. c) Pihak lembaga menyediakan buku-buku yang berkaitan dengan pendidikan agama islam agar supaya pendidik bisa mengembangkan potensi dirinya lewat membaca buku tersebut. maka materi yang disampaikan . maka langkah yang harus dikembangkan potensi dirinya dan jalan keluarnya adalah sebagai berikut: a) Pemerintah menaikkan gaji para pendidik yang pegawai negeri sipil (PNS).

sedangkan alokasi waktu untuk pembelajaran pendidikan agama islam sangat sedikit.oleh pendidikan (khususnya pendidik agama islam) hendaknya mampu menjabarkan seluruh materi yang terdapat di dalam buku dan tentunya juga harus ditunjang oleh buku pegangan pendidik lainnya agar pengetahuan anak didik tidak sempit. hlm. Peserta didik harus dilatih bagaimana ia 39 Nur Uhbiyati. Ilmu Pendidikan Islam (Bandung: C. Pembuatan kurikulum juga harus menyeimbangkan antara teoritis dan praktis dalam keagamaan. Upaya mengatasi kurikulum terhadap problem kurikulum maka pembuatan kurikulum haruslah memperhatikan kesesuaian kurikulum dengan perkembangan zaman pada masa kini serta masa-masa yang akan datang. Sesuai dengan pernyataan Nur Uhbiyati mengenai definisi kurikulum: ”Kurikulum adalah sejumlah pengalaman pembelajaran. Disamping itu materi yang diberikan harus sesuai dengan tingkat perkembangan anak didik dan tujuan pembelajaran. 1997). . sehingga peserta didik memiliki bekal dalam menghadapi kompetensi dalam kehidupan nyata yang cenderung hedonis dan materialis. olah raga dan kesenian yang tersedia di sekolah bagi anak didik dan tujuan didik di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolongnya untuk perkembangan menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan pembelajaran”. kebudayaan sosial. . Pustaka Setia.39 Namun merealisasikan kurikulum yang ada disuatu lembaga pendidikan bukanlah suatu hal yang mudah. 75.V. Dengan demikian dapat menjadi problem dalam pembelajaran pandidikan agama islam.

Maka dari itu pendidik harus pandai mencari upaya-upaya jalan keluarnya. pendidik memiliki waktu yang cukup sehingga dapat menerangkan materi yang ada secara jelas sesuai yang direncanakan. Penambahan jam pelajaran ini untuk mengimbangi padatnya isi kurikulum. Hal ini dilakukan untuk memberikan motivasi terhadap anak didik dengan cara belajar kelompok dan bisa lebih semangat dalam belajar . sebab materi yang disampaikan sangat banyak berdasarkan rumusan kurikulum yang ada. 2) Menganjurkan belajar kelompok Membentuk kelompok agama islam yang berpengetahuan tinggi dengan kelompok belajar agama islam yang berpengetahuannya rendah tentang agama. jalan keluar tersebut sebagai berikut: c. Adapun maksud dari penambahan jam pelajaran ini agar materi pembelajaran agama islam yang disampaikan dapat terpenuhi seluruhnya.mempraktekan teori yang ada dalam kehidupan sehari-hari sehingga peserta didik mengerti bagaimana ia nantinya harus mempraktekkannya dalam kehidupan bermasyarakat. Alokasi waktu pembelajaran pendidikan agama islam yang terdapat dalam GBPP yang hanya 2 jam merupakan kendala. Oleh karena itu perlu penambahan jam pelajaran. Faktor eksternal 1) Menambah jam pelajaran.

pendidikan agama islam. Selain itu juga untuk melatih anak didik menjalin rasa persahabatan dengan temannya yang lain sehingga mereka belajar bagaimana menjalin hubungan yang erat dalam persahabatan dan kekeluargaan. Secara tidak langsung pendidik telah menerapkan pendidikan yang sesuai dengan tuntutan islam. .

maka disebut Suharsini Arikunto. tentu saja bisa. menyebutkan banyaknya biaya belanja sehari-hari. Pendekatan dan Jenis Penelitian Dalam penelitian skripsi ini.40 Berdasarkan pengertian di atas. maka penelitian tersebut dinamakan penelitian kualitatif.BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. seperti menggambarkan kondisi suatu keluarga (menyebutkan jumlah anggota keluarga. bukan berarti bahwa dalam penelitian kualitatif tidak diperbolehkan menggunakan angka. maka penelitian tersebut dinamakan penelitian kualitatif. penulis menggunakan pendekatan kualitatif karena penelitian ini merupakan suatu bentuk penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif. 2002). (Jakarta: Rineka Cipta. 10 40 . dapat dipahami bahwa jika pengumpulan dan penafsiran datanya tidak menggunakan angka. jika penelitian yang dalam pengumpulan data dan penafsiran hasilnya tidak menggunakan angka. hlm. Arikunto Suharsini menjelaskan bahwa. Meskipun demikian. Yang tidak diperbolehkan angka dalam hal ini adalah jika dalam pengumpulan data dan penafsiran datanya menggunakan rumus-rumus statistik. Sedangkan penelitian yamg dalam pengumpulan data dan penafsiran datanya menggunakan angka. gambaran umum yang terjadi di lapangan. Dikatakan deskriptif kualitatif karena penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil pengolahan data yang berupa katakata. Dalam hal tertentu bisa menggunakan angka. dan sebagainya). Prosesdur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek.

(Jakarta: Rineka Cipta. gejala. lembaga atau gejala tertentu. gejala dan fenomena yang terjadi. karena jenis datanya hanya berupa gambaran. yang menjadi instrument atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri. atau masyarakat. Atau dengan bantuan orang lain yang merupakan pengumpulan data utama. sebagaimana dinyatakan oleh Moleong (2006). Sedangkan dalam pengumpulan dan penafsiran menggunakan angka disebut penelitian kualitatif.penelitian kualitatif. interaksi lingkungan suatu unit sosial. B. lembaga. Oleh karena itu. Metode Penelitian Pendidikan. 41 S. “yaitu suatu penelitian yang dilakukan secara intensif. Margono. Dan dilihat dari jenis penelitiannya. Jadi tujuan penelitian kasus atau lapangan adalah mempelajari secara intensif tentang latar belakang berdasarkan keadaan sekarang. penelitian ini disebut penelitian lapangan (studi kasus). teinci. Instrument Penelitian Data penelitian kualitatif. dan fenomena yang terjadi. dan berdasarkan tentang suatu organisme. Sehingga dengan demikian. karena data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah berupa gambaran. Cet II. Dalam hal ini. individu. 9 . kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif cukup rumit. jenis data yang digunakan adalah kualitatif. hlm.41 Dengan demikian jenis studi kasus karena penelitian akan menggali data tentang “Problematika Pendidikan Agama Islam dan Upaya-upaya Pemecahannya” sesuai dengan judul yang akan diteliti nantinya. 2000). maka jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. kelompok.

42 Pengertian instrument atau alat penelitian di sini tepat karena ia menjadi segalanya dari seluruh proses penelitian. dan pada akhirnya ia menjadi pelapor hasil penelitiannya. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini di SMU Widya Dharma Turen-Malang yang beralamat di jl. yaitu: untuk mengetahui “Problematika Pendidikan Agama Islam Dan Upaya-Upaya Pemecahannya di SMA Widya Dharma Turen-Malang”. Sebagai penunjang dalam rangka mengumpulkan data. data primer 42 Lexy J Moleong. Pemilihan lokasi penelitian ini. Mayor Dammar No. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. pelaksana pengumpulan data. Berdasarkan pada pandangan di atas. 167 Turen. disamping sebagai instrument juga hadir untuk menemukan data yang berkaitan dengan “Problematika Pendidikan Agama Islam Dan Upaya Pemecahannya”. maka pada dasarnya kehadiran peneliti di sini. analisis.168 . peneliti juga menggunakan alat instrument lain sebagai pendukung dengan metode pengumpulan data. hlm. bisa dijangkau oleh alat transportasi sehingga memudahkan peneliti dalam proses penelitian. 2005). Sumber data dalam penelitian ini adalah: pertama. Adapun peneliti memilih lokasi ini karena tempatnya sangat strategis. Sumber Data Sumber data merupakan asal informasi yang diperoleh dalam kegiatan penelitian. penafsir data.Ia sekaligus merupakan perencana. C. D. penulis berdasarkan atas beberapa hal. Metodologi Penelitian Kualitatif.

jadi sumber data ini menunjukkan asal informasi. Dalam penelitian ini data primer berupa data lisan dan tulisan serta catatan lapangan sebagai hasil observasi. 43 44 J. Moleong. Jika sumber data tidak tepat maka akan mengakibatkan data yang terkumpul tidak relevan dengan masalah yang diteliti. Data ini diperoleh dari sumber data yang tepat. 2) Peserta didik Adapun peserta didik dijadikan responden karena mereka ada keterkaitannya dengan permasalahan yang sedang dikaji. sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. (Jakarta: Rineka Cipta. cit..44 Sumber data yang dapat digunakan dalam penelitian ini adalah: a.43 Adapun yang dimaksud dengan sumber data adalah subyek dari mana data dapat diperoleh. J. 1993). Data lisan yang diperoleh dari beberapa informen sebagai berikut: 1) Kepala sekolah dan guru Pendidikan Agama Islam Kepala sekolah dan guru Pendidikan Agama Islam yang dijadikan responden karena dianggap menguasai permasalahan yang diperlukan. Metode Ramalan Kualitatif. op. Menurut Lofland dan Lofland (1987:47).adalah data yang dikumpulkan langsung dari sumbernya dan diolah sendiri oleh suatu organisasi atau perorangan. Data Primer: adalah data yang didapat secara langsung dari subyek terteliti pada saat penelitian dilakukan. Untuk mendapat data primer maka peneliti melakukan dengan cara observasi dan wawancara. Supranto. 112 . hlm. hlm.8 Lexi.

Op. hlm. Cit.45 dalam metode ini peneliti mengadakan pengamatan dan pencatatan secara langsung.. Metode ini digunakan peneliti untuk mengamati tentang keadaan obyek penelitian dan saranan prasana serta semua fasilitas yang menunjang proses belajar mengajar Pendidikan Agama Islam.133 . maka penulis menggunakan beberapa metode yang dapat mempermudah penelitian ini. E.Adapun teknik yang digunakan dalam menentukan sampel (responden) yaitu dengan menggunakan Purposive Sample (sampel bertujuan). antara lain: a. Prosedur Pengumpulan Data Dalam upaya pengumpulan data yang diperlukan. b. Metode observasi dapat dibagi menjadi dua macam yaitu: 45 Suharsini Arikunto. yaitu secara sengaja atas pertimbangan mantap terhadap sampel dengan alasan dapat mewakili populasi dalam memperoleh data-data serta permasalahan yang diperlukan. Data Sekunder: adalah data yang dimaksudkan untuk melengkapi data primer yang tidak diperoleh secara langsung dari kegiatan lapangan. Metode Observasi Menurut Suharsini Arikunto mengatakan bahwa observasi adalah pengamatan yang meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indera.

192 46 . 2) Observasi Non Partisipatif Di sini peneliti menggunakan pendekatan-pendekatan melalui pengamatan secara langsung terhadap obyek penelitian. Peneliti Sutrisno Hadi. yaitu satu dapat melihat yang lain dan mendengarkan dengan telinga sendiri. keluwesan untuk mengadakan pertanyaan pendalaman terbatas. Metodologi Reseaarch II (Yogyakarta: Yayasan Penelitian Fakultas Psikologi UGM. akan tetapi peneliti tidak mengambil tempat dalam suatu kegiatan. Wawancara ini dilakukan untuk mengurangi sedapat-dapatnya variasi atau hal yang kemungkinan bisa terjadi pada informan yang jumlahnya lebih dari satu. Metode interview Metode interview adalah suatu proses tanya jawab lisan yang mana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik. hlm. tampaknya merupakan alat pengumpulan informasi langsung tentang beberapa jenis data sosial.46 Sedangkan kebutuhan peneliti ini dalam menggunakan metode interview.1) Observasi Partisipatif Di sini peneliti terjun langsung ke lapangan dengan mengadakan pengamatan terhadap subyek yang diteliti dengan mengambil bagian sesuatu dalam suatu kegiatan. b. peneliti menggunakan beberapa pendekatan antara lain: 1) Interview terpimpin adalah interview yang terikat pada pedoman penelitian yang telah disediakan sebelum kegiatan dilaksanakan. Interview ini dilakukan pewawancara dengan membawa sederetan pertanyaan lengkap dan terperinci. 1989).

. dan problemproblem yang ada pada lembaga tersebut.menggunakan data informasi guru agama. sehingga ada peluang mengadakan pendalaman atas pertanyaan yang diajukan. Namun tidak perlu ditanya secara berurutan. Akan tetapi dalam wawancara ini peneliti tidak membawa sederetan pertanyaan yang lengkap dan terperinci. Peneliti menggunakan interview ini sama halnya dengan interview terpimpin yaitu untuk mendapatkan data dari informan guru agama. siswa. dimana dalam pelaksanaannya penulis berbicara tanpa meninggalkan pedoman yang telah dipersiapkan sebelumnya. 3) Interview bebas terpimpin adalah kombinasi antara interview terpimpin dan interview tak terpimpin. Pokok-pokok yang ditanyakan yang ada dalam proses wawancara. 2) Interview tak terpimpin adalah interview yang tidak terikat pada pedoman interview untuk mengarahkan pada tanya jawab atau pokok persoalan yang terjadi pada penelitian. Jadi di sini peneliti benar-benar memperhatikan data-data yang telah dicatat. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode interview bebas terpimpin. dan pihak-pihak sekolah lain. Jenis wawancara ini kerangka dan garis besar. siswa. diwawancara maupun yang telah diteliti agar tidak tertinggal sehingga data-data tersebut bisa dimanfaankan dengan sebaik-baiknya. penulis hanya membawa kerangka pertanyaan beberapa hal tentang Problematikan Pendidikan Agama Islam dan Upaya Pemecahannya di SMU Widya Dharma Turen Malang.

c. Metode Dokumentasi Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variable-variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasarti, agenda dan sebagainya.47 Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang: preoblematika pendidikan agama islam, proses untuk mengatasi problematika

pendidikan agama islam, kendala yang timbul dalam mengatasi problematika pendidikan agama islam, solusi yang dilakukan dalam mengatasi problematika pendidikan agama islam, sejarah berdirinya sekolah, struktur organisasi, perkembangan siswa, keadaan guru, tingkat pendidikannya, serta keadaan sarana dan prasanan yang dimiliki sekolah, dan lainnya yang mendukung kelengkapan data yang dibutuhkan dalam penulisan skripsi.

F. Metode Pembahasan Penulisan skripsi ini dibahas secara teoritis dan empiri. Pembahasan teoritis bersumber pada perpustakaan, yaitu dengan merujuk pada beberapa pendapat para ahli yang ada hubungannya dengan penulisan skripsi ini, sedangkan data empiris penulis peroleh dari obyek penelitian. Adapun metode pembahsan dalam bagian ini antara lain: 1. Metode Induktif Metode induktif adalah berangkat dari faktor-faktor yang khusus, peristiwa-peristiwa yang kongkrit, kemudian faktor-faktor atau peristiwa-

47

Suharsini Arikunto, Op. Cit., 2002 135

peristiwa yang khusus itu ditarik generalisasi yang mempunyai sifat umum.48 Pendapat tersebut dapatlah dipahami bahwa metode induktif adalah proses menggeneralisasikan atau menarik kesimpulan umum berdasarkan faktafakta atau peristiwa yang khusus. Sedangkan dalam kaitannya dengan pembahsan skripsi ini penulis terangkan secara terperinci 2. Metode Deduktif Metode deduktif merupakan kebalikan dari metode induktif yaitu suatu cara berfikir yang berdasarkan atas rumusan-rumusan teori yang bersifat umum kemudian ditarik kepada yang bersifat khusus. Sebagaimana yang dikemukakan oleh sutrisno hadi bahwa deduksi ini berangkat dari pengetahuan yang bersifat umum. Dan bertitik tolak pada pengetahuan yang umum itu kemudian hendaklah menilai kejadian yang khusus.49 3. Metode Reflektif Metode reflektif adalah berfikir reflektif yaitu dengan cara

mengkombinasikan antara berpikir induktif dengan berpikir deduktif.

G. Teknik Analisis Data Sebelum semua data yang diperlukan terkumpul, kemudian langkah penulis berikutnya adalah menggunakan analisis data, yaitu memperoleh gambaran atau kesimpulan yang jelas tentang permasalahan dari obyek yang diteliti.

48
49

Sutrisno Hadi, Op, Cit., hlm. 193 Ibid., hlm. 36

Metode analisis data merupakan salah satu cara yang digunakan telah dilakukan guna membuktikan dan menguji kebenarannya. Data yang telah terkumpul disusun secara teratur dalam bentuk pengujian data, dan siap untuk dianalisis dalam arti ditafsirkan, dihubung-hubungkan, dibanding-bandingkan, dan sebagainya antara golongan data yang satu dengan data yang lainnya, sehingga mudah dibaca dan dipahami dengan menggunakan metode analisis teknik tertentu. Dalam menganalisis data penulis menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif dimana peneliti ini adalah menggambarkan atau melukiskan secara nyata bagaimana setelah data-data terkumpul kemudian dianalisa, dicari jawaban yang sesuai dengan permasalahan di atas.50 Penelitian diskriptif ialah penelitian non hipotesis sebagaimana pendapat Suharsini Arakunto yang mengemukakan bahwa penelitian deskriptif itu untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan apa adanya tentang suatu variable, gejala, atau keadaan. Analisis deskriptif kualitatif merupkan suatu teknik yang

menggambarkan, menguraikan, dan menginterpresentasikan arti data-data yang terkumpul dengan memberi perhatian dan merekam sebanyak mungkin aspek situasi yang observasi, sehingga memperoleh gambaran secara umum dan menyeluruh tentang keadaan yang sebenarnya. Menurut muhammad nizar bahwa tujuan deskriptif ini ialah untuk membuat deskriptif, lukisan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki.51
50 51

Suharsini Arikunto, Op. Cit., hlm. 213 Muhammad Nizar, Op, Cit., hlm. 63

(Bandung: Trasito. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. dan apakah penjelasan yang diberikan tentang dunia memang sesuai dengan yang sebenarnya ada atau tidak. H. 1996). hlm. hlm. 125 54 Ida Bagoes Mantra. Filsafat Penelitian Dan Metode Penelitian Sosial. Memahami Penelitian Kualitatif. (Bandung: Alfabet. diartikan sebagai pengecekan keabsahan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara. hlm.53 Moleong yang dikutip dari bukunya ida bagoes mantra mengemukakn. Triangulasi. 91 53 52 . 105 Sugiono. 2004). dan waktu. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif .54 Nasution.Untuk menganalisa data yang bersifat kualitatif ini akan digunakan teknik reflektif thinking yaitu dengan mengkombinasikan cara berfikir dedukatif dan indukatif. Penegecekan Keabsahan Data Pengecekan keabsahan temuan atau juga dikenal dengan validatas data merupakan pembuktian bahwa apa yang telah di amati oleh penelitian sesuai dengan apa yang sesungguhnya yang ada di lapangan (dunia kenyata). membandingkan hasil penelitian dengan hasil perhitungan dengan menggunakan metode analisis yang berbeda.52 Maka dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa tekni untuk mengetahui validitas data dengan mengadakan beberapa hal antara lain: 1. dengan cara ini maka analisanya bersumber dari hasil interview yang ada hubungannya dengan pokok bahasan di atas yaitu mengkombinasi antara befikir dedukatif dan induktif untuk kemudian ditarik kesimpulan. 2005).

Lebih jelasnya langkah-langkah dalam penelitian ini adalah sebagaimana di bawah ini: 1. kemudian mendeskripsikan. Begitu juga dalam kegiatan penelitian. member chek. kemudian dikembalikan kepada sumber data untuk diperiksa kebenaran. 3. Persiapan Dalam suatu kegiatan.. persiapan merupakan unsur yang diperlukan diperhitungkan dengan baik sebab yang baik akan memperlancar jalannya penelitian. dan jika perlu ada penambahan data baru. 128 . I. Member chek dilakukan segera setelah draf skripsi sesudah jadi secara utuh. memggunakan bahan reference. menginterpresentasikan dan memaknai data secara tertulis. adalah proses pengecekan keabsahan data yang diperoleh peneliti kepada pemberi wawasan atau menuntut hasil pengamatan atau pengamatan atau mempelajari dokumen. Tahap-tahap Penelitian Untuk mendapatkan data tentang problematika pendidikan agama islam dan upaya pemecahannya.55peneliti memperoleh data mengenai “Problematika Pendidikan Agama Islam dan Upaya-upaya Pemecahannya”. Sehubungan dengan judul dan rumusan 55 Sugiono. ditanggapi. penulis mendatangi langsung obyek penelitian dan pengambil data-data yang diperlukan dengan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data. persiapan merupakan unsur-unsur yang sangat penting. Op. Cit.2. adanya pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan oleh peneliti. hlm.

Dalam pelaksanaan tahap ini penelitian mengumpulkan data-data yang diperlukan dengan menggunakan beberapa metode antara lain: wawancara. Penyelesaian Setelah kegiatan peneliti selesai. dan dokumentasi. . 3. Pelaksanaan Setelah persiapan dianggap matang. yaitu analisis data dilakukan dengan menata dan menelan secara sistematis semua data yang diperoleh.masalah yang telah disebutkan pada bab terdahulu. interview. penulis mulai menysun kerangka laporan hasil penelitian dengan mentabulasikan dan menganalisis data yang telah diperoleh dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif. maka persiapan dalam melaksanakan penelitian ini adalah menyusun rencana penelitian dalam bentuk proposal penelitian problematika pendidikan agama islam dan upaya pemecahannya kemudian mengurus surat pengantar izin melaksanakan penelitian dan mempersiapkan instrumen penelitian. maka tahap selanjjutnya adalah melaksanakan penelitian. Kemudian dari hasil penelitian tersebut dibahas dengan menggunakan teori-teori yang sudah ada pada bab sebelumnya. 2.

LATAR BELAKANG OBJEK PENELITIAN 1. yaitu bahwa sekolah swasta harus mempunyai ciri khas.BAB IV HASIL PENELITIAN A. Tahun 2001-2003 : SMA PGRI Turen : SMA Turen : SMA Bersubsidi : SMA Widya Dharma : SMU Widya Dharma Turen f. Atas dasar itu yayasan pendidikan SMA Widya Dharma Turen berubah menjadi yayasan pendidikan Widya Dharma Turen dengan Akte Notaris G. Tahun 1980-1983 d. yang disusul dengan akreditasi pertama pada tahun 1985 yang mana setelah diadakan . Perubahan nama sekolah yang dimaksud adalah sebagai berikut: a. Tahun 1963-1973 b. Tahun 2003-sekarang : kembali lagi ke SMA Widya Dharma Turen SMA Widya Dharma merupakan tuntutan dari pemerintah. Tahun 1974-1979 c. Sekolah SMA Widya Dharma Turen di Jawa Timur. Tahun 1984-200 e. karena sejak berdirinya sampai sekarang mengalami 5 sampai 6 kali perubahan nama seiring dengan situasi dn kondisi negara serta adanya perkembangan pendidikan. Sejarah singkat berdirinya SMA Widya Dharma Turen SMU Widya Dharma Turen yang sejak berdirinya bersama SMA PGRI Turen mempunyai sejarah yang menarik. Jakarta pada Tahun 1980. Hal ini merupakan ketentuan yang diterima kepala sekolah saat penataran kepala sekolah SMU Swasta di Cilot. Kamarudzaman No 115 tanggal 21 januari 1983.

Karena itulah dikatakan SMA swasta faforit sampai sekarang. pemerintah menaikkan norma syarat lulusan. karena banyak siswa dari progaram A1 dan A2 yang tidak lulus. Jadi boleh dikatakan tanpa dinilai atau diakreditasipun SMA Widya Dharma Turen memang sudah termasuk yang diperhitungkan untuk menjadi SMA yang berkualitas dibanding SMA lainnya. mengolah sekolah swasta harus selalu efektif dan kreatif dalam melaksanakan tugas. SMA Cor Yesus. SMA Santeyusuf. Dalam mengelolah sekolah SMA Widya Dharma Turen mempunyai banyak cerita yang menarik yang salah satunya adalah tentang pedoman pengelolaan sekolah. yang mengakibatkan jatuhnya SMA-SMA swasta di Jawa Timur terutama yang memilih program A1 (ilmu-ilmu fisika) dan A2 (ilmu-ilmu biologi). SMA Islam). dan satu sekolah di kabupaten malang yaitu SMA Widya Dharama Turen. SMA Santa Maria. yaitu pada pelaksanaan Ebtanas 1980-an dalam rangka menghadapi problem kelulusan. Dengan demikian dari 20 SMA itu. Lulusan SMA Widya Dharma Turen saat ini tidak banyak . Di samping itu sekolah berpedoman. agar sekolah tetap menarik. agar memudahkan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang efektif. perlu hal ini dikaji bahwa status disamakan itu kategorinya adalah sangat baik.penilaian SMA Widya Dharma Turen ini termasuk 20 SMA swasta se Jawa Timur yang diberi status disamakan oleh Mentri pendidikan dan kebudayaan RI. malang hanya enam sekolah yaitu: 5 SMA di kodya (SAMK Dempu. Adapun pihak SMA Widya Dharma Turen yang baru khususnya guru-guru. Atas dasar itu sekolah menerapkan disiplin dan tertib disegala bidang.

Dengan demikian. Tentang prestasi sekolah. Jadi meskipun ada problem yang timbul dalam Ebtanas sekolah tidak goyah. pelaksanaan KBM yang efektif didukung disiplin dan tertib di segala bidang serta menerapkan norma kenaikan dan lulusan dengan baik. maka dapat merubah hasil lulusan yang berprestasi. ada 4 program. 1990. SMA Widya Dharma sampai sekarang sudah mengikuti akreditasi sampai empat kali pada tahun 1985. selalu mendapatkan 4 besar dalam lomba baik ditingkat kabupaten atau kota sampai dengan jawa timur. hal ini tidak dimilki SMA pada umumnya. yaitu A1 (IIF: Ilmu-ilmu fisika). Bahwasannya SMA Widya Dharma Turen menggunakan kurikulum 1984.mengalami perubahan. Adapun masalah perkembanga gedung sejak 1977 sampai sekarang dilaksanakan secara bertahap. karena sudah dibiasakan untuk menjuruskan ke program A2 dengan ketat. dan tahun 1995 dan 2000 dengan hasil disamakan atau nilai amat baik. A2 (IIB:Ilmu-ilmu Biologi). Bahasa Inggris. sudah tidak bisa dipungkiri bahwa sejak dulu sampai sekarang ini tidak mengecewakan. disesuaikan dengan dana yang ada. sehingga yang dapat masuk program A1 dan A2 tidak menghawatirkan dalam Ebtanas. Fisika. Kebanyakan SMA swasta yang lain hanya memilki 2 sampai 3 program saja. Misalnya lomba Matematika. A3 (IIS: Ilmu-ilmu Sosial) dan A4 (IIB: Pengetahuan Budaya). .

Pengembangan sistem jaringan sekolah f. bahasa inggris. Meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan c.2. Visi dan Misi SMA Widya Dharma Turen VISI: Mewujudkan Sekolah Yang Berkualitas MISI: a. bahasa jepang. dll h. Meningkatkan disiplin kepada Tuhan Yang Maha Esa b. Meningkatkan kegiatan ektrakulikuler . Meningkatkan bimbingan di luar jam sekolah g. Meningkatkan layanan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan audio visual e. Meningkatkan kemampuan guru dalam rangka menguasai metode pembelajaran yang berorientasi life skill d. Meningkatkan pelatihan: computer. tata rias.

KOMP EKSTRA KULIKULER DANSOS GURU SISWA 56 Dokumentasi SMA Widya Dharma Turen 2008-2009 . Struktur Organisai GAMBAR 1 STRUKTUR ORGANISASI SMA WIDYA DHARMA TUREN 2008-200956 KEPALA SEKOLAH TATA KOORDINATOR WAKASEK KURIKULUM WAKASEK KESISWAAN WAKASEK SARANA WAKASEK HUMAS STAF KURIKULUM STAF KESISWAAN KOORDINATOR MGMP KEPUTRIAN WALI KELAS BP / BK PERPUSTAKAAN LABORATORIUM IPA – BHS .3.

4. para guru yang ada di SMA Widya Dharma menjalankan peran dan tugasnya dalam mengajar memiliki latar belakang yang sesuai dengan bidang kependidikan masing-masing. SMA Widya Dharma Turen saat ini memliki 56 guru dan 27 karyawan yang terdiri dari karyawan TU. ada juga guru yang masih menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau sarjana strata dua (S2). para guru mengakui bahwa untuk memecahkan problem yang ada di SMA Widya Dharma Turen . tidak hanya itu saja SMA Widya Dharma juga menambah karyawan sebagai bentuk penataan dan perwujudan menuju lembaga pendidikan yang berkualitas. yang mana sebagian besar dari mereka telah menempuh jenjang pendidikan sarjana strata satu (SI). kualitas kelulusan juga tergantung bagaimana guru mengajar secara profesional Seiring dengan perkembangan serta semakin pesatnya kemajuan SMA Widya Dharma. Perpustakaan dan operasional lainnya. Hasil observasi peneliti. Keadaan Guru dan Karyawan SMA Widya Dharma Turen Guru merupakan pembimbing langsung anak didik di dalam kelas sehingga peran dan keberadaan guru sangat mempengaruhi kelangsungan siswa dalam belajar. Dan siswa bisa memperoleh apa yang menjadi tujuan dalam belajarnya. Sesuai dengan kompetensi dan profesionalisme guru. maka lembaga pendidikan ini terus berbenah diri. salah satunya dilakukan melalui penambahan dan pembinaan tenaga pendidik yang sesuai dengan kompetensinya dengan harapan bahwa problema yang timbul dalam proses belajar mengajar bisa teratasi dengan baik.

Kebanyakan dari para guru yang ada di lembaga ini lulusan/alumni perguruan tinggi yang ada di jawa timur. khususnya dari daerah Malang. Sumber Data Dokumentasi Dan Wawancara Dengan staf TU SMA Widya Dharma Turen Tanggal 21 November.57 Selain keberadaan guru dan karyawan di SMA Widya Dharma juga memiliki arti yang sangat penting dalam membantu kelancaran proses pendidikan adanya kualitas kinerja karyawan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya tentunya sangat dibutuhkan oleh berbagai pihak yang terkait dengan proses pendidikan itu sendiri. demikian pula dengan tenaga kepegawaian yang ada di lembaga ini.Malang ini saling membantu antara guru yang ngajar mata pelajaran lain dengan guru yang ngajar mata pelajaran pendidikan agama islam. selain itu seorang guru juga harus memiliki modal keilmuan yang matang dan sesuai dengan latar belakang pendidikannya. untuk SMA Widya Dharma Turen Malang terus berusaha melakukan peningkatan SDM terhadap karyawannya dengan cara pembinaan kerja dan memperhatikan kesejahteraan hidup mereka. Mengenai jumlah guru dan karyawan dapat dilihat pada tabelnya tentang keberadaan guru di lembaga ini memang dibagi menjadi 2 ada yang bersifat tetap/pegawai negeri dan yang kedua sebagai tenaga honorer. 2008 57 . Kerja sama yang baik antara guru yang bersifat tetap maupun yang tidak tetap ini ternyata tidak menutup kemungkinaan untuk bisa menciptakan lingkungan yang dapat menjamin kelangsungan kegiatan pembelajaran yang lebih baik dan lebih kondusif.

Sejarah Nasional.PinastiHendrawati.Elok Sanyoto. Drs. Drs. Ilmu Peng.Siti Maisaroh. S. Kimia. BP/BK 58 Keterangan Non PNS Non PNS PNS PNS PNS PNS Non PNS Non PNS Non PNS Non PNS Non PNS PNS Non PNS Non PNS PNS Dokumentasi SMA Widya Dharma Turen 2008-2009 .TABEL 1.1 DAFTAR NAMA GURU SMA WIDYA DHARMA TUREN TAHUN PELAJARAN 2008-200958 Pendidikan Kode Nama/NIP Bidang Studi/Mata Terakhir Pelajaran yang Diajarkan 1 Tri Djoko Kusminto. Bahasa Inggris UT. IKIP Mlg Ekonomi /Koor Ilmu Sosial. Pendidikan Kristen Pend. Mlg 2 Samsul Hadi. Perancis/Wak Sarana Asing Akademik Bhs. PPKN IKIP PGRI Mlg Ekonomi UM 14 Dewu Rini Akutansi + Ambarwti. IKIP 4 Drs. STKIP 8 Suliono. BA.Pd. Bahasa Inggris/Koor Asing BA. Sejarah Pendidikan Sejarah IKIP Negeri 3 Titik Wahyuni. BA. Kewarganegaraan. 130900425 Piket Indonesia.Prihadi Hendro Ketrampilan Mlg Rudhito. PPKN /Wak Kur Kewarganegaraan . 9 Titik Mustikowati. Agama Kristen. UNEJ 11 Dra. 131405886 5 Dra.Rina Juniarsi. BP/BK / Koor BK / Pend. Vokalia 10 Musalamah BA.Abu Bakar. IKIP.Pd. BHS. Kewiausahaan (MULOK) Koor Kopsis 15 Drs. Bahasa Inggris. Pendidikan Sosiologi Sejarah Nas. LAB BAH + B. Kimia Ilmu Eksekta 131614188 IKIP Mlg 6 Ananta Santi. F Mipa. Kimia /Koor Penilaian Mipa Kimia IKIP 1320099357 + Lab IPA Negeri Mlg 13 Dra. Sarjana Muda. Inggris Blng 7 Drs. S.Endri Mulyati Sosiologi Pend. Bahasa Indonesia/Koor Sastra Bhs. PMP dan KN IKIP PGRI 12 Dra. Pend. Bahasa Akademik BHS.

Wiwik Indah. IKIP PGRI IPS.Pd. BP/BK IKIP PGRI KIP Fisika Unej. Agung Raharjo Ariyanto. S. M. Pend.Intan Altina PNS Non Pns 28 Dra. Bahasa Indonesia .Pd. Drs. S. Kes.Pd. Indo IKIP Mlg FKIP. Rudi Hartono. Biologi 12171520 Atik Siswanti.Sri Sukmawati. 17-8-45 FP IPS Akuntansi IKIP Negeri Mlg IPS Geografi IKIP PGRI Kewarganegaraan . Bhs Inggris IKIP PGRI Olah Raga Budi Utomo Mlg Pend. Supriono.16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Ekstra Sej. S. Suciati Matematika Yeni Jektiningsih S.Pd. Tiktoyo Ekonomi. FBBS IKIP PGRI Bhs. Eny Widayati. Sej. PPKN IKIP PGRI Fips.Pd.Pd. Sosial Non PNS IKIP PGRI FMIPA IKIP Mlg PNS FKIP Umm FMIPA IKPI PGRI Psikologi Univ.Pd. S. FBBS Pend.Pd. Wahyuni Rini P Bahasa Inggris Non PNS 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 Drs. S. S.Pd. Abdul Kholiq.Pd. BP/Bk / Koor Dansos/ PAG Kris Ekonomi Geografi / Wak Kesiswaan Kewarganegaraan PPKN Sosiologi / HUMAS Fisika 131158166 Dra. Non PNS IKIP Mlg Biologi IKIP Mlg PNS Ilmu. Suparlan 132280924 Atmitko Pratnawihardi. S.Pd. S. Nas. IKIP PNS Non PNS Non Pns Non PNS Non PNS Non PNS 26 27 Drs. Sosio Antropologi Dra Endah Ernayani. Ekonometri / Wak KUR Joko Sukisworo S. S. Biologi 131466205 Drs.Pd Rini Dwi H. S. Koliq.Pd. Bahasa Inggris 132700892 Dra. Geografi IKIP PGRI Peternakan STIKIP PGRI PAS. Lutfiono. 040505837 Relia Widaryati S. 6513101008 Ir. Jas. M. S.Pd. Seni Rupa IKIP Mlg FIPS Geograrafi IKIP PGRI FPMIPA IKIP Budi Utomo Mlg FPMIPA UMM Pend. Pendidikan Seni Geogarfi Matematika Matematika BP/BK Fisika Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia Non PNS Non PNS Non PNS PNS Non PNS PNS Non PNS Non PNS Non PNS Non PNS Mamik Caturwati. Nasional. Peng.

Pd Bahasa Indonesia / Fkip S-P Wakasek Kesiswa Teguh Hendri Kimia MIPA. S.Ag Pend. PPKN / Staf Kesiswaan PMP/Kn IKIP PGRI Matematika Mipa UM Fisika Mipa UM Non PNS PNS Non PNS Non PNS Non PNS PNS 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 Tarbiyah/PAI Unisma Tarbiyah/PAI IAIN Mlg FKIP Bisnis Tataniaga PT UNS Rochma Ulfi F.Pd Sejarah Sastra.39 40 41 42 43 44 Sri Sulastri. Beliau tersebut sudah menempuh di perguruan tinggi yang berada di Jawa Timur. Pend. Infor.Ag.Pd. Jasamani B. Industri Koordinatoor Kimia Kanjuruan Dra.Pd Pend. Rimbun Kularso Ekonomi + 6513100979 Kewirausahaan (Mulok) Abdul Halim. Geogarafi FPIPS. 350709070770003 Octavia Eko Susanti. Walaupun guru belum PNS tapi dalam hal mengajar sudah mencapai standar kualifikasi yang profesional. Infor. Agama Islam Wiyoto.Pd. IKIP Negeri Mlg Aulia Kurnia. UM Waris Suwarno. Tek. Nawang Bahasa Inggris / F Pend. . Drs. Seni dan Budaya FBBS. S. S. IKIP 13214449 Juma’ali S. S. UM Suhardi. S.Pd. namun datanya ada yang belum masuk pada buku induk inventaris sekolah Widya Dharma Turen. Tedjowati. S. Non PNS PNS Non PNS PNS Non PNS Non PNS Non PNS Non PNS - Dari hasil paparan Tabel dia atas.Pd. Tek. Komputer / Analisis Programer Menejemen STIKI Wuryanto. S. Drs. Arik Susianto. Pendidikan Agama Islam/Koordinator Drs. bahwa guru SMA Widya Dharma Turen yang sudah PNS 16 orang namun. S. KH. S. Sita BASEP - Pendidikan Agama Islam Muh. Drs. yang belum PNS sebanyak 40 orang. PPKN. 13032680 Convrsation IKIP Mlg Imam Tabroni. Kom. Komputer / Tek. Ali. ST. Jasmani Titik.

pemimpin inovator.U T. Perpust Petugas. Fahrurrozi Elmi Amalia Mulyo Sri Rahayu Sumadi Saib Sugito Slamet Pirit Mugeni Suharyono Sugeng Jabatan ka.koperasi Driver Pesuruh Pesuruh Pesuruh Pesuruh Satpam Satpam keteranagan - 5.U T.komp Petugas.U T. 59 Dokumentasi SMA Widya Dharma Turen Tahun 2008-2009.U T. T. Tugas Dan Tanggung Jawab Kepala dan Guru a. komp Petugas.U T. Perpus Petugas. dan motivator.2 KEADAAN KARYAWAN SMA WIDYA DHARMA TUREN 2008-200959 Kode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 -17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Nama EndangwarDaningsih Darminingsih Hariadi Siono Ernawati SriKasih Bambang Sungkono Slamet Budiono Sutik Elia Dwi Martastuti Johan Wijaya Lilik Masita Rini Imam kholil Wanda Santiawan Ani Yuli Prianti Nur Hatib Fendi Suharsono M.U Petugas.U T.U T. manajer administrasi dan supervisor. komp Petugas komp Petugas. . Kepala sekolah Kepala sekolah bertugas sebagai educator.U T.U T.koprsi Petugas.U T.U T. Adapun tugastugas yang dilaksanakan kepala sekolah adalah sebagai berikut: 1) Kepala sekolah sebagai educator.TABEL 1.

keuangan atau RAPBS. . 2) Kepala sekolah selaku manajer Adapun tugas kepala sekolah selaku manajer adalah sebagai berikut: a) Menyusun perencanaan b) Mengorganisasikan kegiatan c) Mengarahkan kegiatan d) Melaksanakan pengawasan e) Melakukan evaluasi terhadap kegiatan f) Menentukan kebijaksanaan g) Mengadakan rapat h) Mengambil keputusan dan mengatur proses belajar mengajar i) Mengatur administrasi: ketatausahaan. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi problem yang berkaitan dengan proses belajar mengajar. kesiswaan.Adapun tugas kepala sekolah sebagai educator bertugas melaksanakan proses belajar secara efektif dan efisien dengan memantau bagaimana guru mengajar dan keadaan siswa dalam kelas sehingga kepala sekolah bisa memberikan motivasi agar perkembangan proses belajar mengajar semakin meningkan. sarana dan prasarana. k) Mengatur hubungan sekolah dengan masyarakat dan instansi yang terkait. j) Mengatur organisasi siswa intra sekolah (OSIS). ketenagaan.

3) Kepala sekolah selaku administrator menyelenggarakan administrasi adalah sebagai berikut: a) Perencanaa b) Pengorganisasian c) Pengarahan d) Pengkoordinasian e) Pengawasan f) Kurikulum g) Kesiswaan h) Ketatausahaan 4) Kepala sekolah selaku supervisor bertugas menyelenggarakan supervisi mengenai: a) Proses belajar mengajar b) Kegiatan bimbingan konseling c) Kegiatan ekstrakurikuler d) Kegiatan ketatausahaan e) Kegiatan kerjasama dengan masyarakat dan instansi yang terkait f) Kegiatan osis 5) Kepala sekolah sebagai inovator a) Melakukan pembaharuan bidang b) Melaksanakan pembinaan guru dan karyawan c) Melakukan pembaharuan dalam menggali sumber daya di BP3 d) Tugas wakil kepala sekolah .

7) Pengorganisasian 8) Pengarahan 9) Ketenangan 10) Pengkordiasian 11) Pengawasan 12) Penilaian 13) Identifikasi dan pengumpulan data. membuat program kegiatan dan pelaksanaan program. Selain kegiatan-kegiatan di atas. wakil kepala sekolah membantu kepala sekolah dalam hal sebagai berikut: 1) Waka kurikulum a) Menyusun dan menjabarkan kelender pendidikan b) Menyusun pembagian tugas-tugas guru dan jadwal pelajaran c) Mengatur penysunan program pengajaran tahunan (Prota) d) Mengatur penysunan program pengajaran semester (Promes) 2) Waka kesiswaan 3) Waka sarana dan prasarana 4) Hubungan dengan masyarakat (Humas) .Wakil kepala sekolah mempunyai peran penting dalam membantu kepala sekolah dalam mengatasi problem-problem atau kegiatan yang ada di lemabag tersebut adalah sebagai berikut: 6) Menyusun perencanaan.

Wali kelas Wali kelas salah satu mediator yang selalu memantau siswa dari dekat dan membantu kepala sekolah dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut: .b. alat media 9) Menumbuh kembangkan sikap menghargai karya seni 10) Mengikuti kegiatan pengembangan dan persyaratan kurikulum 11) Membuat catatan tentang kemajuan hasil belajar siswa 12) Mengisi dan meneliti daftar hadir siswa sebelum memulai pengajaran c. dan ulangan akhir 4) Melaksanakan analisis hasil ulangan harian 5) Menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan 6) Mengisi daftar nilai siswa 7) Melaksanakan kegiatan membimbing (pengimbasan pengetahuan) kepada guru lain dalam proses belajar mengajar 8) Membuat alat pelajaran. Tugas guru Guru bertanggung jawab kepada kepala sekolah dan mempunyai tugas untuk melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar secara efektif dan efisien. Tugas dan tanggung jawab guru di SMA Widya Dharma Turen meliputi: 1) Membuat perangkat program pengajaran 2) Melaksanakan kegiatan pembelajaran 3) Melaksanakan kegiatan penilaian proses belajar ulangan harian. ulangan umum.

maka dari itu bimbingan dan konseling tugas adalah sebagai berikut: 1) Penyusunan program dan pelaksanaan bimbingan dan konseling 2) Koordinasi dengan wali kelas dalam rangka mengatasi problemproblem yang dihadapi siswa tentang kesulitan belajar .1) Pengelolaan kelas 2) Penyelenggaraan administrasi kelas meliputi: a) Dena tempat duduk siswa b) Papan absen siswa c) Daftar pelajaran kelas d) Daftar piket kelas siswa e) Buku absensi siswa f) Buku kegiatan pembelajaran g) Tata tertib siswa 3) Penyusunan pembuatan statistik bulanan siswa 4) Mengisi daftar kumpulan nilai siswa 5) Pencatatan mutasi siswa 6) Pengisian laporan penilaian hasil belajar 7) Pembagian buku laporan penilaian hasil belajar d. Dalam hal ini siswa yang akan bermasalah akan di upayakan untuk menyelesaikan masalahnya. Guru Bimbingan Dan Konseling (BK) Bimbingan dan konseling untuk mengetahui perkembangan siswa yang mempunyai problem baik dalam hal belajar maupun dalam lingkup sosial.

Laboran Kepala tata uasaha sekolah mempunyai tugas melaksanakan ketatausahaan sekolah. f. 4) Memberikan saran dan pertimbangan kepada siswa dalam memperoleh gambaran tentang lanjutan pendidikan dan lapangan kerja 5) Melaksanakan kegiatan analisis hasil evaluasi belajar e.3) Memberikan layanan dan bimbingan kepada siswa dalam pemecahan problematikan dalam kegiatan belajar. Pustakawan Pustakawan sekolah membantu kepala sekolah dalam kegiatankegiatan sebagai beriku: 1) Perencanaan pengadaan buku-buku atau baha pustaka lainnya 2) Mengurus pelayanan perpustakaan 3) Perencanaan pengembangan pustakaan 4) Pemeliharaan dan perbaikan buku-buku yang ada di perputakaan 5) Investasi dan pengadministrasian buku-buku dan alat-alat perpustakaan lainnya 6) Melakukan pelayanan kebutuhan siswa di perpustakaan 7) Menyusun tata tertib bukuk-buku di perpustakaan 8) Menyusssun laporan pelaksanaan kegiatan perpustakaan kegiatan perpustakaan secara berkala. dan bertanggung jawa kepada kela sekolah dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut: 1) Menyusun program kerja tata usaha sekolah .

Kepala Tata Usaha Kepala tata usaha sekolah SMA Widya Dharma Turen Malang mempunyai tugas melaksanakan ketatausahaan sekolah dan bertanggung jawab kepada kepala sekolah dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut: 1) Menyusun program kerja tata usaha sekolah 2) Pengelolaan keuangan sekolah 3) Pengurusan administrasi ketenagaan dan siswa 4) Pembinaan dan karir pegawai tata usaha sekolah 5) Penyusun administrasi perlengkapan sekolah 6) Penyusun laporan pelaksanaan kegiatan pengurusan ketatausahaan secara berkala h. Tekhnis media Teknisi media membantu kepala sekolah dalam kegiatankegiatan sebagai berikut: 1) Merencanakan pengadaan alat-alat media 2) Menyusun jadwal dan tata tertib penggunaan media 3) Menyusun programkegiatan teknisi media .2) Mengolah keuangan sekolah 3) Pengurusan administrasi ketenagaan dan siswa 4) Pembinaan dan pengembangan karir pegawai tata usaha sekolah 5) Menyusun administrasi perlengkapan sekolah 6) Penyusun dan penyajian data sekolah g.

sehingga secara keseluruhan jumlah ruang belajar di SMA Widya Dharma Turen terdiri dari 21 ruang belajar belum termasuk ruang Lab dan ruang praktek lain. Pembinaan dan pelatihan siswa di SMA widya Dharma Turen dimulai sejak kelas bawah/kelas X. Hal tersebut dimaksudkan agar tingkat pengetahuan bisa diketahui sesuai yang mereka miliki secara jelas dapat disalurkan melalui pemilihan jurusan di kelas atas/kelas XI nantinya. Bahwa SMA Widya Dharma Turen tahun ajaran 2008/2009 sampai sekarang nominal yang tinggi sekecamatan Turen. pemeliharaan. dan perbaikan alat-alat media inventarisasi dan administrasian alat media 5) Menyusun laporan pemanfaatan alat-alat media 6. secara keseluruhan jumlah siswa terbagi dalam tiga kelas. yaitu kelas X. jurusan IPA dan jurusan Bahasa.4) Mengatur penyimpanan. dan masing-masing kelas terdiri dari tujuh ruang belajar. dan kelas XII. mayoritas siswa SMA Widya Dharma Turen berasal dari kecamatan Turen sendiri. TABEL 3 . Keadaan Siswa SMA Widya Dharma Turen Keberadaan siswa merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kegiatan proses belajar mengajar. yaitu 601 siswa yang terdiri dari 280 laki-laki dan 321 siswi putri. kelas XI. karena di SMA Widya Dharma Turen ini telah memiliki tiga jurusan yang terdiri dari jurusan IPS. setiap ruang belajar menampung kurang lebih 42 siswa. Dan untuk kelas X masih belum ada pembagian jurusan karena siswa baru masih dididik untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah.

2006 mempunyai angka nominal yang cukup tinggi di SMA se Kecamatan Turen. Terkait dengan semakin menurunnya jumlah siswa di SMA Widya Dharma Turen dari hasil wawancara peneliti dengan ibu EndangwarDaningsih (ka.PERKEMBANGAN JUMLAH SISWA TAHUN 1999-200860 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tahun 1998-1999 1999-2000 2001-2002 2002-2003 2003-2004 2004-2005 2005-2006 2006-2007 2007-2008 2008-2009 Jumlah siswa 987 991 1063 1100 1165 1137 1126 1045 895 601 Adapun penjelasan tentang tabel di atas bahwa jumlah siswa di tahun 1998. Hal ini disebabkan karena perkembangan dunia pendidikan di Kecamatan Turen semakin maju. TU) yang mengemukakan sebagai berikut: Dokumentasi SMA Widya Dharma Turen tahun 2008-2009 dan Hasil Wawancara dengan Bapak Kepala Sekolah Tri Djoko Kusminto Tgl 13 November. sehingga persaingan antara lembaga yang satu dengan lembaga lain semakin ketat dan berdampak pada menurunnya jumlah siswa di SMA Widya Dharma Turen. 2008 60 . namun pada tahun berikutnya yaitu mulai tahun 2007sekarang sudah semakin menurun.

“Memang benar jumlah siswa di SMA Widya Dharma ini makin menurun. sekolah ini memang jumlah siswanya mencapai angka seperti yang ada dalam dokumentasi yaitu seribu lebih tapi karena ada SMK Widya Dharma itu jadi siswanya sebagian ada yang masuk di SMA dan juga ada yang masuk di SMK”61 Untuk menemukan kebenaran tentang paparan ka. Dhulu sebelum di bangunnya SMK Widya Dharma yang ada di Talok. Sehingga dalam hal saling menghargai antara guru dan siswa yang latar belakang agama yang berbeda ini kepala sekolah menerapkan untuk saling menghargai kegiatan agama masing-masing terutama dalam hal peribadatan. TU. Apalagi sekarang di Turen ini jumlah lembagakan sudah makin banyak contohnya adanya sekolah Kelautan. soalnya sekarangkan lembaga ini gencar jadi dua lembaga yaitu lembaga ini (SMA Widya Dharma Turen) dan SMK Widya Dharma yang ada di Talok sana mbak! Jadi untuk mempromosikan juga kami bagi-bagikan sama SMK sana. melainkan karena memang jumlah siswa dibagikan untuk lembaga SMK Widya Dharma yang ada di Talok itu. Tapi kami sebagai pihak sekolah tetap mempromosikannya semaksimal mungkin dan tetap menunjukkan sekolah ini yang terbaik dan berkualitas”62 Adapun latar belakang siswa SMA Widya Dharma Turen tidak hanya menganut agama islam saja. Di sinilah letak problem yang sering muncul dalam pendidikan agama islam di sekolah ini. ibu Endang warDaningsih Pada Tanggal 25 November 2008 Wawancara Dengan Bpk Rudi Hartono. tapi menurunnya jumlah siswa bukan karena lembaga ini gak maju lagi. sekolah Brimob dan masih banyak lembaga-lembaga lain yang baru dibangun oleh pemerintah. tidak bisa dipungkiran antara siswa muslim dengan siswa yang nonmuslim sudah berbaur sangat jauh dan bahkan dihari raya besar agama kristen maupun islam mereka saling merayakannya. melainkan juga ada beberapa siswa yang menganut agama lain. Jadi. karena ketika guru mau berceramapun di lembaga ini harus tahu waktu yang tepat dan Wawancara Dengan ka. seperti agama kristen.TU di atas. jadi lembaga pendidikan di Turen ini tidak hanya SMA Widya Dharma saja. Guru Bimbingan Konseling Pada Tanggal 25 November 2008 62 61 . peneliti mencoba mewawancarai Bpk Rudi Hartono (guru BK) yang mengayatakan bahwa: ”Lembaga SMK Widya Dharma yang ada di Talok mulai dibangun antara tahun 2006-2007. mulai tahun itu sekolah ini jumlah siswanya menurun.

suasana yang sesuai agar tidak terjadi konlik agama dalam kehidupan bermasyarakat di lemabaga SMA Widya Dharma Turen ini. Karena di lembaga ini juga terdapat beberapa guru-guru yang beragama nonislam.

No 1 2 3

TABEL 4 JUMLAH SISWA YANG BERAGAMA MUSLIM DAN BERAGAMA NASRANI63 Kelas Muslim Non Muslim Jumlah X XI XII Jumlah 179 170 170 519 26 30 26 82 205 200 196 601

7. Keadaan Kegiatan SMA Widya Dharma Turen Jika dilihat dari kegiatan yang ada di SMA Widya Dharma Turen yang paling diutamakan adalah kegiatan belajar mengajar, dalam kegiatan belajar adalah tujuan pokok dalam dunia pendidikan. Kegiatan belajar mengajar berlangsung dimulai pukul 06.45-13.10, Dalam rentan waktu belajar tersebut para siswa diberikan satu kali jam istirahat untuk melepaskan kelelahannya. Setelah kegiatan belajar mengajar di dalam kelas selesai para siswa juga diberikan kesempatan mengikuti kegiatan Intra yang ada di sekolah, di antaranya adalah kegiatan Pramuka, Osis, PMR, dan Teater dan lain sebagainya. Semua kegiatan ini ditujukan untuk perkembangang siswa dan kemajuan siswa di sekolah, sehingga ketika mereka melanjutkan ke jenjang selanjutnya mereka sudah memiliki bekal pengetahuan yang cukup.
63

Dokumentasi SMA Widya Dharma Turen Tahun 2008/2009

Selain kegiatan di atas di lemabaga SMA Widya Dharma Turen juga terdapat beberapa kegiatan-kegiatan lain, program kegiatan kesiswa dilaksanakan tersebut adalah sebagai berikut: a. Penerimaan siswa baru b. Masa orientasi siswa baru (MOS) c. Upacara rutin hari senin dan sabtu d. Operasi ketertiban sekolah setiap satu atau dua bulan sekali, diantaranya: 1) Operasi kelengkapan seragam siswa 2) Operasi rokok dan narkoba yang mungkin dibawa anak-anak ke sekolah 3) Operasi rambut siswa e. Upacara hari besar nasional f. Berpartisipasi dalam lomba olah raga/seni dalam rangka HUT RI tingkat kecamatan atau kabupaten g. Peringatan hari besar agama Islam, di antaranya: 1) Shalat Idul Adha di sekolah 2) Penyembelihan hewan kurban 3) Pondok Ramadhan 4) Penerimaan dan pembagian zakat fitrah h. Peringatan hari besar agama nasrani, diantaranya: Natal dan paskah i. Berpartisipasi dalam lomba OR, seni dan bidang studi yang diselenggarakan berbagai lembaga setingkat dan perguruan tinggi di Malang

j. k. l.

Seleksi pelajar teladan Diknas kab. Malang Olimpiade bidang studi IPA di Diknas kab. Malang Seleksi paskibraka tingkat nasional di kab. Malang

m. Kegiatan tengah semester dan pasca semester dalam bentuk lomba OR dan pentas seni n. Peringatan bulan bahas, ditandai dengan pementasan Teater, lomba Pidato, MC dan baca puisi o. Menyelenggarakan lomba cerdas cermat matematika tingkat SMA Kab. Malang p. Mengevaluasi kegiatan ekstra kulikuler (tari, karawitan, voli, sepak bola, basket, beladiri, pramuka, PMR, senam), ektra komputer, bahasa Inggris, jepang internet. q. r. s. t. Latihan dasar kepemimpinan calon pengurus OSIS dan MPK Pemilihan ketua OSIS baru Pelantikan pengurus OSIS baru Laporan pertanggungjawaban pengurus OSIS lama dan serah terima jabatan u. Rapat anggota tahunan koperasi sekolah v. Peringatan HUT Widya Dharma Turen w. Wisuda kelas III 8. Keadaan Sarana dan Prasarana SMA Widya Dharma Turen SMA Widya Dharma Turen merupakan salah satu lembaga yang memiliki sarana dan prasarana yang relatif lengkap, hal tersebut terlihat dari berbagai perlengkapan sekolah yang ada, mulai dari gedung sampai

kelas XI ruang yang digunakan terdapat tuju kelas yaitu. SMA Widya Dharma Turen memiliki luas tanah lebih kurang 10300 M yang terdiri dari: (1) bangunan seluas 2629 M. sedangkan untuk kelas XII terdapat tuju kelas pula yaitu. (2) halaman seluas 7600 M (3) lapangan olah raga seluas 100 M. dari beberapa ruangan ini kebanyakan digunakan untuk ruang belajar mengajar. untuk kelas XII jurusan IPA terdapat dua kelas yaitu kelas XII IPA-1 dan XII IPA-2.alat-alat kebutuhan penunjang kegiatan belajar siswa. IPS-4. maka SMA Widya Dharma Turen terus menginovasi agar memenuhi kebutuhan dan penyediaan sarana dan prasarana untuk menunjanga kegiatan belajar mengajar. Pada Hari Kamis Tanggal 13-25 november 2008. untuk jurusan Bahasa hanya satu kelas sedangkan untuk jurusan IPS terdapat 64 Sumber Data Dokumen SMA Widya Dharma Turen dan Hasil Penjelasan Drs. kesemuanya ditata dengan baik dan rapi. yang terdiri dari IPS-1.64 Ruangan kegiatan pembelajaran merupakan sarana terpenting yang digunakan di sini. Tri djoko Kusminto Kepala Sekolah Sebagai Kepala Sekolah dan Ibu Endang warDaningsih Sebagai Kepala Tata Usaha. untuk kelas X yang di gunakan sebagai ruang belajar ada tuju kelas yaitu untuk kelas X-1 sampai kelas X-7. Di SMA Widya Dharma Turen telah memiliki ruang belajar yang cukup representive bagi penyelenggaraan proses belajar mengajar diantaranya jumlah ruangan pembelajaran sebanyak dua puluh satu ruang. Sehubungan dengan kebutuhan dan keinginan para guru dan siswa untuk selalu melaksanakan belajar dengan suasana yang nyaman dan tenang. IPS-3. IPS-2. satu kelas untuk kelas XI jurusan IPA. . satu kelas untuk kelas XI jurusan Bahasa dan lima kelas untuk kelas jurusan IPS. dan IPS-5.

Selain beberapa ruangan di atas masih terdapat beberapa ruangan lainnya yang menunjang proses belajar yang meliputi ruang UKS. Kepala Sekolah. hal tersebut dapat dilihat dari data yang menujukkan . Dari masing ruangan tersebut di gunakan sesuai fungsinya Sarana dan prasarana yang ada tesebut disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan guru dalam proses belajar mengajar. ruang BP/BK. Mushalla serta ruang penunjang kegiatan siswa seperti ruang OSIS. yaitu kelas XII IPS-1. hal tersebut memiliki arti penting bagi penyelenggaraan pendidikan yang baik dan berkualitas. ruang Wak. kamar mandi siswa dan guru. seperti di bawah ini: a.empat kelas. ruang guru. Koperasi. ruang Kepala Sekolah. kelas XII IPS-3 dan kelas XII IPS-4. tentunya apabila penggunaan sarana dan prasarana tersebut oleh siswa maupun guru dapat dilakukkan secara baik dan maksimal sesuai dengan kebutuhan kegiatan pendidikan maka proses pendidikan akan mencapai tujuan dan hasil yang baik. Sarana dan prasarana yang telah ada seperti yang telah disebutkan di atas. Perlengkapan Sekolah SMA Widya Dharma Turen dalam perlengkapa sekolah sudah lebih dari cukup. ruang TU. kelas XII IPS-2. maka sekolah ini berupaya penuh dalam menumbuh kembangkan sekolah dengan pendayagunaan sarana dan prasarana secara efektif. ruang kegiatan Teater dan Seni dan ruang kegiatan pramuka.

alat-alat olah raga seperti bola voli. 2) Tempat parkir: tempat parkir di sini berada di depan sekolah. lapangan ini terbagi menjadi dua tempat. Fasilitas yang diperuntukkan bagi siswa ini sudah dapat dikatakan cukup. mesin foto copy dan lain sebagainya. dan lain sebagainya. b. mulai dari fasilitas belajar mengajar. tepatnya di samping pintu masuk deket gerbang. Perlengkapan yang tidak kalah pentingnya adalah Lab. Fasilitas Tempat Tempat yang tersedia di sekolah ini terdiri dari dua bagian. Adapun tempat yang berkaitan dengan kegiatan belajar adalah sebagai berikut: 1) Ruang belajar 2) Ruang Lab Bahasa dan Kimia 3) Ruang Lab komputer Sedangkan tempat untuk menunjang kelengkapan proses belajar mengajar adalah sebagai berikut: 1) Lapangan: lapangan di sini dipergunakan sebagai tempat upacara sekolah dan kegiatan olah raga yang lokasinya berada di tengahtengah sekolahan. yaitu lapangan depan untuk bola basket dan lapangan tengah untuk bola volly dan lompat jauh. sepak bola basket. . yaitu fasilitas yang berkaitan langsung dengan kegiatan belajar maupun fasilitas yang tidak berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar.kelengkapan sarana perlengkapan Kantor dan lain sebagainya seperti mesin komputer. ruang kelas dan bangku.

dan lainsebagainya. Dalam ruangan guru ini selain digunakan tempat pergantian jam pelajaran.3) Tempat parkir guru berada di bagian utara lembaga SMA Widya Dharma Turen. 10) Ruang BK: dipergunakan sebagai tempat bimbingan terhadap siswa yang mengalami beberapa problematika tertentu. bahkan juga digunakan sebagai tempat kajian keislaman badan dakwah Islam secara besar-besar. 7) Aula: aula di samping digunakan sebagai tempat pertemuan juga dipakai sebagai tempat kegiatan siswa seperti tempat ruang duduk siswa. 9) Ruang guru: lokasi ruang guru ini bersebelahan dengan ruang kepala sekolah dan waka sekolah. 8) Kopsis (koperasi siswa) menjadi tempat para siswa mencari kebutuhan belajar seperti buku tulis. 6) Mushalla: digunakan sebagai tempat untuk menunaikan ibadah sholat (Dhuha) serta ibadah sholat jum’at. 5) Perpustakaan: merupakan sarana belajar langsung bagi siswa ketika jam istirahat tiba. 4) Ruang kesehatan: sebagai ruang sarana kesehata/ruang UKS. tempat ini juga digunakana untuk mendiskusikan problem-problem yang terjadi pada siswa dan yang nantinya akan di cari solusinya secara bersama. baik . pensil. perpustakaan ini juga dipakai sebagai tempat istirahat siswa ketika mengalami kejenuhan di dalam kelas setelah mengikuti pelajaran sepanjang waktu.

Dengan alat tersebut nantinya siswa dapat berkomunikasi dengan bahasa inggris dengan baik khususnya jurusan bahasa. setiap siswa dapat mempergunakan hedphone sebanyak 48 unit. guru dan lembaga itu sendiri. sehingga setiap siswa dapat memakai saru persatu da siswa dapat berkomunikasi langsung dengan guru melalui alat tersebut. Dalam era modern dengan teknologi yang mutahir ini. fasilitas fasilitas sebagai pelengkap sangat dibutuhkan. 2) Laboratium IPA . Dari beberapa fasilitas yang ada di SMA Widya Dharma Turen malang ini tujuannya untuk menunjang keberhasilan belajar siswa dan agar problem yang timbul dalam dunia pendidikan bisa diselesaikan. 11) Ruang kepala sekolah: ruang kepala sekolah tersebut berada di dekat pintu masuk sekolah ruang ini selain dipergunakan sebagai tempat ruang khusus kepala sekolah juga digunakan menerima tamu dari luar serta untuk rapat dan diskusi dengan guru-guru yang berkaitan dengan problem yang timbul pada diri siswa. Selain sebagai memperluas wawasan juga untuk mendapatkan informasi dari tentang dunia luar. Adapun fasilitasa yang sangat penting tersebut adalah sebagai berikut: 1) Laboratium Bahasa Lab bahasa di SMU ini sangat baik dan lengkap. materi.mengenai masalah belajar mengajar maupun masalah pribadi lainnya.

Perpustakaan sebagai sarana untuk mendorong siswa agar giat belajar membaca buku. Dengan demikian. Dengan cara ini diharapkan nantinya dapat mencetak siswa yang profesional dan berkualitas.Keberadaan Lab IPA di SMA sudah lengkap. 3) Perpustakaan Perpustakaan di SMA Widya Dharma ini semakin tahun semakin lengkap berkat kerja sama antara siswa dengan sekolah khususnya siswa kelas 3 yang baru keluar. Dengan mengetahui contoh tersebut siswa secara langsung mengetahui teori dan prakteknya. Dengan adanya komputer ini sistem penilaian menggunakan scaner serta setiap ulangan sudah menggunakan bentuk objektif. 4) Sistem pengajaran dengan menggunakan VCD Bahwasannya di era globalisasi ini SMA Widya Dharma menerapkan cara pengajaran dengan menggunakan VCD. Tujuan sistem koputerisasi diharapkan hasil siswa dapat diketahui secara langsung dan siswa mampu bersaing dengan siswa yang lain dan bagi siswa . 5) Komputerisasi Sekolah SMA Widya Dharma ini menyedikan komputer 25 unit untuk siswa serta guru dan karyawan sebanyak 8 unit. sehingga siswa dapat mepraktekkan sesuai dengan teori yang ada serta dapat memahami sendiri yang akhirnya siswa tidak merasa tertinggal di dunia modern ini terhadap siswa lain khususnya di Kota. karena dengan membaca buku siswa akan giat bertanya di dalam kelas serta mempunyai wawasan yang luas yang belum mereka ketahui. siswa diharapkan mampu mengamati contoh-contoh yang ada pada media tersebut.

Adapun beberapa problem yang terjadi di SMA Widya Dharma Turen ini tidak hanya terjadi pada anak didik. TEMUAN HASIL PENELITIAN 1. Keberadaan pendidikan agama di SMA Widya Dharma Turen diharapkan akan membantu perbaikan tingkah laku dan membina kepribadian siswa di SMA Widya Dharma Turen. dari hasil penelitian telah menemukan beberapa problematika yang dihadapi pendidikan agama islam. tetapi dari sisi lain juga telah menunjukkan kejanggalan seperti problem pada pendidik.mendapatkan nilai di bawah rata-rata dapat secepatnya berbenah diri dengan meningkatkan hasilnya pada ulangan berikutnya. problem pada sarana dan prasarana. Dari beberapa problem yang telah disebutkan secara garis besar di atas. B. Problematika Pendidikan Agama Islam Di SMA Widya Dharma Turen Malang Dalam menghadapi problematika pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen. faktor internal 1) Problem Anak Didik Pendidikan agama islam adalah salah satu materi yang wajib diterapkan disetiap lembaga pendidikan baik itu lembaga yang bernafaskan islam maupun lembaga umum seperti di SMA Widya Dharma Turen ini. Dalam materi pendidikan agam islam itu sendiri bagi siswa di SMA Widya Dharma Turen Malang tidak terhindar dari problem yang . problem pada dan lingkungan. peneliti akan menguraikan tiga faktor sebagai berikut: a.

Jadi selain belajar di sekolah siswa harus lebih giat belajar di rumah atau dalam lingkungan keluarga. Fattar.menghampiri. Ali. Ali Fattar Guru PAI.M. namun pada kenyataan yang terjadi pengalaman siswa tentang ilmu pendidikan agama islam masih sangat minim sekali. Problem ini timbul karena didasari oleh beberapa faktor yang antara lain. Berikut penjelasananya: ” Pada dasar problem awal yang terjadi pada siswa itukan karena latar belakang keluarga. orang tua yang kurang perhatian pada perkembangan pelajaran anaknya sehingga ketika sudah terlanjur jauh seorang anak sangat tidak mungkin untuk bisa membiasakan diri dalam mempelajari ilmu pendidikan agama islam. hal inilah yang menjadi faktor awal munculnya problematika pendidikan agama islam. yaitu: satu. di Ruang BK 65 . orang tua yang kurang memperhatikan perkembangan belajar anaknya akan berdampak pada kesuskesannya di sekolah. Pada Tanggal 21 November 2008. atau bagaimana cara orang tua memperhatikan anaknya agar si anak tahulah tentang agama”65 Wawancara Dengan Bapak H. jika dilihat dari latar belakang keluarga siswa kebanyakan siswa yang sekolah di SMA Widya Dharma Turen ini mayoritas islam. Dari penjelasan di atas sama hal yang di jelaskan ole guru pendidikan agama kelas XII yaitu bapak H M. Problem yang sering di hadapi di SMA Widya Dharma Turen yang berkaitan dengan siswa dalam hal materi adalah menerapa materi yang disampaikan oleh guru kurang diminati oleh siswa di SMA Widya Djharma Turen Malang.

Guru pendidikan agama islam sudah menempuh jenjang pendidikan S. Padahal seumuran anak SMA sudah seharusnya membaca bisa AlQur’an dengan benar.Selain problem di atas problem yang ada di SMA Widya Dharma dari Ibu Aulia Kurnia S.1 (strata satu) dan bisa dikatakan profesional dalam hal mengajar. berikut hasil wawancara dengan bapak Tri Djoko Kusminto yang menjelaskan 66 Wawancara Dengan Ibu Auliah Kurnia Pada Tanggal 18 November 2008 di Ruang Guru . Maka untuk mencari upaya pemecahannya akan dibahas pada bab selanjutnya. dalam hal baca Al-Qur’an misalnya itu anak-anak yang bisa membaca AlQur’an dengan benar masih dibawah rata-rata.Pd. Tetapi karena perhatian dan kurang minatnya mereka pada pendidikan agama islam karena mereka menganggap bahwa pendidikan agama kurang penting dan menganggap enteng sehingga anak-anak tidak bisa membaca dan bahkan menulis Al-Qur’an sangat kurang sekali”66 Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa problematika pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen yang berkaitan dengan pada anak didik sangat memprihatinkan. Dari hasil wawancara dengan kepala sekolah tentang keprofesionalnya guru pendidikan agama islam di SMA Widya Dharama Turen.I guru pendidikan agama islam kelas X yang memberikan pernyataan yang sama bahwa: “Siswa terutama siswa kelas satu SMA Widya Dharma ini pengetahuannya tentang agama sangat kurang. 2) Problem Pada Guru Di SMA Widya Dharma Turen Malang jika dilihat dari tingkat pendidikan guru yang sudah ditempuh sudah memenuhi standar kualifikasi dan sudah selayaknya mendapatkan pelayanan yang baik dari pemerintah khususnya guru pendidikan agama islam.

Memang tidak bisa dipungkiri kalau media untuk pendidikan agama islam tidak ada yang terlalu tepat. baik itu cara menghadapi siswa yang bemasalah maupun cara guru itu mengajar.Ali 67 Wawancara Dengan Kepala Sekolah . Guru juga harus memiliki kemampuan dalam proses belajar mengajar.bahwa.301145 tanggal 25 november 2008 (di Ruang Kepala Sekolah) .M. Namun kembali pada pembahasan utama tentang sarana pendidikan agama islam masih kurang memadai. Pada hari selasa pukul 10.67 b. buku paket yang manjadi fasilitas utama di SMA Widya Dharma Turen ini dari pemaparan bpk Drs. Hal ini menurut saya sebagai kepala sekolah dari pantauan dari jauh bahwa guru di SMA Widya Dharma Turen sudah termasuk guru yang profesional hal ini bisa dilihat dari latar belakang sekolahnya dan karakter guru itu sendiri. Adapun problem yang perlu diperhatikan di SMA Widya Dharma Turen yang berkaitan tentang buku paket pendidikan agama islam. Faktor Institusional Problem Sarana Dan Prasarana. dari hasil observasi dan melihat dokumentasinya sudah memberikan pelayanan untuk mata pelajaran umum. seorang guru dikatakan profesional bila sudah memiliki kompetensi sebagai seorang pendidik. Bpk Tri Djoko Kusminto. bahan ajar yang disampaikan oleh guru sudah dikuasai dan pengelolaan kelas. sebenar bukan itu yang menjadi problem utamanya.H. Keadaan sarana dan prasarana sebagai alat penunjang di SMA Widya Dharma Turen belum layak dan memadai khusus untuk pendidikan agama islam.

kurikulum yang ditetapkan di SMA Widya Dharma Turen sudah menggunakan kurikulum KBK dan KTSP.Fattar. dari hasil wawancara ini penulis mencoba menelusuri tentang jumlah buku paket yang ada di perpustakaan. Sehingga dalam pengelolaan kurikulum guru-guru kurang mengauasai. Padahal jika dilihat dari keadaan perpustakaan sudah menunjukkan suasana yang bagus namun bukubuku yang ada diperpustakaan masih perlu ditambah. Bahwa salah satu problem dari segi sarana yaitu buku paket masih kurang dan sarana penunjang lainnya seperti sarana masjid. pada dasarnya kurikulum ini kurikulum baru dan bagi guruguru di SMA Widya Dharma masih belum mengetahui secara maksimal jika ditinjau dari penerapanya dalam materi. sehingga akan berdampak pada kurang kondusif terhadap proses belajar mengajar di kelas. Di SMA Widya Dharma Turen ini untuk kelas XII saja jumlah siswanya lebih dari seratu siswa sedangkan jika dilihat dari buku paket hanya 39. Dari penjelasan salah satu staf perpustakaan bahwa anak-anak yang mau pinjam buku paket harus antri karena berkaitan dengan jumlah bukunya masih kurang maka mau tidak mau siswa harus menunggu temannya mengebalikan buku paket itu khususnya buku pendidikan agama islam. Dan di perpustakaan penulis meminta izin untuk mencari kebenaran tentang buku paket ternyata benar. Sedang buku paket yang ada di lembaga tersebut masih memakai sistem kurikulum 1999. .

sedangkan Al-Qur’an 7 buah namun yang itu bukan problem tentang fasilitas ini.68 Selain buku paket. Buku paket yang di gunakan SMA Widya Dharma Turen di masih kurikulum suplement (1999) seperti yang di jelaskan di atas sedangkan kurikulum yang dituntut menggunakan kurikulum KBK dan kurikulum KTSP. Bagi guru khususnya guru agama islam memadukan kedua kurikulum ini perlu pengetahuan yang lebih. Untuk itu kepala sekolah mengikutkan beberapa guru khususnya guru agama untuk mengadakan belajar lebih lanjut dengan pendidikan agama atau yang lebih disebut MGMP. Inilah salah satu problem 68 Wawancara Dengan Waka Kurikulum yaitu ibu Rina Z. Yang menjadi problem dalam hal ini tempa wudlu masih belum memadai untuk dijadikan fasilitas.Terkait dengan kurikulum dan buku paket sebagai sarana seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa antara kurikulum dan buku paket bertolak belakang. Di mushala fasilitasnya seperti mukena sudah berjumlah 39. problem tentang sarana dan prasarana yang ada di SMA Widya Dharma Turen juga yang berkaitan mushala sudah memberikan pelayanan yang baik. Inilah yang merupakan faktor dalam hal kurikulum. Pada saat shalat jum’at siswa repot mencari tempat yang tertutup khususnya yang perempuan dan tempatnya hanya satu kamar mandi di dekat mushalat sehingga siswa walaupun sudah mulai shalat jum’at siswa masih ada yang antri untuk berwudlu. Pada Hari Jum’at Tanggal 21 November 2008 di Ruang Waka Kurikulum SMA Widya Dharma Turen Malang . untuk mempelajari lebih jauh tentang kurikulum dan pendidikan agama yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Kota Malang.

Di lingkungan sekitar SMA Widya Dharma Turen seperti yang dijelaskan dalam tabel pada bab sebelumnya bahwa lembaga ini tidak hanya menampung siswa yang beragama islam akan tetapi ada beberapa siswa yang beragama kristen. Maka dari itu pihak sekolah harus memperhatikan lingkungan sekitar sekolah yang menjadi tempat tinggal siswa. Kemungkinan besar pengaruh lingkungan yang terjadi antara siswa dengan siswa. Karena pengaruh lingkungan akan berdampak pada perkembangan anak. Faktor eksternal Problem Pada Lingkungan Lingkungan pendidikan yang baik akan menciptakan pergaulan yang baik terutama bagi anak-anak usia remaja. Mushala adalah fasilitas pendidikan agama islam yang sangat konkret untuk menunjang keberhasilan proses pembelajaran siswa dan guru khususnya guru pendidikan agama islam. baik itu dari tingkah laku dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Di lingkungan sekitar SMA Widya Dharma Turen jika dilihat dari lingkungan sekitarnya kebanyakan siswa yang tinggal kos dan yang pasti jauh dari pantauan orang tua. c. Lingkungan lembaga di SMA Widya Dharma Turen tidak menjamin untuk mengarahkan siswa menjadi orang yang sesuai dengan syar’at agama islam. siswa dengan masyarakat akan berdampak buruk. Dari hasil observasi tentang lingkungan yang dilakukan jauh sebelum penelitian bahwa lingkungan di SMA Widya Dharma Turen .yang mesti diperbaiki oleh lembaga pendidikan SMA Widya Dharma.

Siswa yang berada di SMA Widya Dharma Turen dalam mempelajari pendidikan agama islam pengetahuannya tentang agama yang kurang ditambah lagi tidak minatnya maka sangat tidak mungkin siswa tersebut untuk menguasai pendidikan agama islam. Pada waktu shalat jum’at misalnya masyarakat yang shalat jum’atpun masih minim sekali apalagi siswa sebagai orang yang perlu dididik dalampendidikan agamadari lingkungan setempat. Sehingga waktunya untuk lembaga SMA Widya Dharma Turen sangat terbatas. Faktor Internal 1) Anak didik: adapun yang menjadi kendala dalam pemecahan problematika pendidikan agama islam pada siswa yaitu kurang minat siswa pada pendidikan agama islam. .tentang lingkungan masyarakatnya tidak kondusif dalam hal keagamaan. Kendala-Kendala Dalam Mengatasi Problematika Problematika Pendidikan Agama Islam di SMA Widya Dharma Turen Malang Ada beberapa kendala yang berkaitan dengan cara mengatasi problem yang akan di uraikan secara umum di bawah ini. 2. 2) Guru: Guru pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen belum menjadi guru PNS sehingga guru yang mengajar di SMA Widya Dharma Turen ini selain mengajar di lembaga SMA Widya Dharma Turen beliau juga mengajar dibeberapa lembaga lain yaitu lembaga non forma seperti pesantren. Kendalakendala tersebut adalah a.

Di lingkungan SMA Widya Dharma Turen sekitarnya bahwa di belakang lembaga tersebut ada rental play station (PS).3) Faktor Institusional Sarana dan Prasarana: Dalam pengembangan sarana dan prasarana kendala utamanya adalah kurangnya dana. 69 Hasil Wawancara Dengan Bapak Kepala Sekolah Pada Thari Selasa Anggal 25 November 2008 . Lingkungan yang ada di SMA Widya Dharma masih perlu diperbaiki dengan berkerja sama antara masyarakat sekitar dengan pihak lembaga agar siswa bisa menjadi anak bangsa yang sukses dalam bidak pendidikan agama islam. tembok karena di kelas masih memakai tembok dari teriplen.69 b. Tempat ini memberikan berpengaruh yang kurang baik terhadap siswa karena pada jam pelajaranpun beberapa siswa bermain selama berjam-jam di tempat ini. berkaitan dengan dana kepala sekolah belum bisa mengatakan ia untuk menambah sarana dan prasarana yang berkaitan dengan fasilitas pendidikan agama karena dana yang masuk selama ini masih digunakan untuk perluan lain seperti memperbaiki pintu kelas. Faktor Eksternal Lingkungan: Lingkungan masyarakat yang ada di SMA Widya Dharma Turen tidak memberikan pengaruh baik terhadap perkembangan pendidikan agama islam. karena biar bagaimanapun pendidikan agama islam juga sangat penting untuk ditingkatkan mutunya. Tetapi keinginan untuk menambah buku paket khususnya buku paket pendidikan agama islam tetap direncanakan.

yang pertama. Faktor internal 1) Anak didik Adapun upaya dalam pemecahan problematiaka pendidikan agama islam yang berkaitan dengan anak didik adalah. selain itu guru diupayakan untuk meningkatkan keprofesionalnya dalam hal pengetahuan khususnya pengetahuannya tentang pendidikan agama islam. . karena motivasi dari orang-orang terdekat akan menjadikan siswa lebih giat belajar dalam pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen Malang. walaupun sebernanya guru tidak perlu mengharapkan imbalan yang lebih. 2) Pendidik Adapun upaya pada guru bahwa guru harus mendapat perhatian dari pemerintah untuk lebih meningkatkan kinerja guru terhadap pseserta didik. guru harus banyak membaca referensi dan mengikuti seminar yang berkaitan dengan pendidikan agama islam. orang tua dan guru selalu memberi motivasi terhadap perkembangan belajar anak terhadap pendidikan agama islam.3. Upaya-Upaya Yang Dilakukan Dalam Pemecahan Problematikan Pendidikan Agama Islam di SMA Widya Dharma Turen Dalam pembahasan ini akan dipaparkan secara gamblang tentang upaya untuk mengatasi problematikan pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen-Malang. Adapun problem yang diupayakan adalah sebagai berikut: a.

Lingkungan Dalam pemecahannya problematika pada lingkungan diperlukan bekerjasama antara guru dan masyarakat serta orang tua juga harus ikut berperan dalam mengatasi problem tersebut. Harus diadakan perbaikan pada fasilitas mushala seperti kamar mandi mushala agar siswa tidak terlalu antri ketika berwudlu pada saat shalat jum’at dengan tujuan ketika melakukan shalat jum’at tetap kondusif dan efisien. Faktor Eksternal .Sarana dan prasarana Sarana dan prasarana di SMA Widya Dharma Turen perlu diupayakan untuk menambah jumlah buku paket. Problem yang diatasi tersebut bisa meningkatkan minat belajar siswa terhadap pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen Malang. . c. Siswa juga harus patuh pada perintah guru selama guru memberikan arahan yang baik dan sesuai syar’at islam. Faktor Institusional .b. karen buku paket adalah sarana penunjang utama dalam keberhasilan pendidikan.

Adapun faktor tersebut adalah sebagai berikut: a. Tentu saja dalam problem ini ada beberapa faktor yang menjadi dasar adanya problem tersebut. Adapun fokus permasalahan pada penelitian ini adalah tentang problematika pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen-malang. Dari hasil penelitian beberapa problem yang dihadapi di SMA Widya Dharma yang ditemukan selama melakukan penelitian yang berkaitan tentang pendidikan agama islam. dan upaya-upaya memecahkan problematika pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen Malang. Faktor Internal 1) Problem Anak Didik Dari awal hingga akhir kehidupan tentang problem pada anak didik pasti membutuhkan bimbingan dan arahan. anak didik adalah manusia pedagogis yang sangat membutuhkan bimbingan dan pemdidikan dari orang dewasa dengan tujuan menjadikan manusia yang dewasa.BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. Problematika Pendidikan Agama Islam di SMA Widya Dharma Turen Malang Sesuai dengan fokus penelitian dalam rumusan masalah yang mengkaji tentang beberapa problematika pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen. kendala-kendala dalam mengatasi problematika pendidikan agama islam. Dari pendapatnya Zuhairini bahwa anak lahir sudah membawa fitrah beragama kemudian tergantung kepada orang-orang . Walaupun pada dasarnya manusia itu sudah mendapat fitrah dalam dirinya.

hlm. Dalam hal baca tulis Al-Qur’an misalnya. karena ini tergantung bagaimana cara orang tua mendidik di rumah sehingga ketika berada di sekolah anak tidak seperti botol kosong yang diisi air. Akan tetapi untuk anak yang sama sekali belum paham tentang agama seperti kebanyakan pada anak yang ada di SMA Widya Dharma Turen sebagian besar siswa masih banyak problem yang terjadi.disekitarnya yang mengasah dan membimbingnya untuk menjadi manusia yang baik. dan yang berkaitan tentang pengamalannya siswa tentang pendidikan agama 70 Zuhairini. anak didik harus benar-benar diajari secara intensif untuk bisa menulis satu kata tentang ayat-ayat Al-Qur’an. anak harus memulai dari awal dan pengetahuannya sudah ketinggalan di banding temannya yang sudah punya dasar tentang agama. dari paparan tokoh pendidikan tentang perkembangan kejiwaan anak pada pendidikan agama islam bahwa setiap anak didik mempunyai tingkat pengetahuan agama yang berbeda. Kadangkala anak didik pada saat masuk sekolah sudah mempunyai pengetahuan agama yang lebih dibanding temannya. Di SMA Widya Dharma Turen masih banyak sekali siswa yang kurang pengetahuan agamanya.70 Apabila anak tersebut mendapatkan pendidikan dan tidak dibina untuk menjadi orang yang lebih paham dalam hal agama. dkk. Methodik Khusus Pendidikan Agama (Surabaya: Usaha Nasional. karena orang tua yang kurang perhatian pada perkembangan pendidikan agama islam pada anak didik di SMA Widya Dharma Turen Malang. 1983). 32 . sehingga bekal untuk kedepannya tentang agama.

islam dalam hal praktek ibada seperti shalat. Bagi siswa di SMA Widya Dharma Turen. Tri Djoko Kusminto) Pada Tanggal 21 November 2008. Khususnya anak cowok. 71 . khususnya di kelas XII bahasa itu kebanyakan belum bisa membaca Al-Qur’an” bahkan tulis huruf arabpun masih banyak yang tidak bisa. puasa ngaji masih minim sekali apalagi untuk praktek slahat jum’at di sekolah itu yang dilihat peneliti slama penelitian bahwa kebanyakan anak-anak ngobrol dengan temannya saat shalat jum’at. itu anak-anak kebanyakan tidak bisa ngaji. shalat bagi mereka bukan sesuatu yang wajib.71 Dari penjelasan guru pendidikan agama islam tersebut di atas tentang kondisi siswa yang menjadi problem pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen kurangnya minat siswa terhadap Wawancara Dengan Guru Pendidikan Agama Islam SMA Widya Dharma Turen (bpk Drs. Dari penjelasan di atas dapat dibenarkan oleh guru PAI kelas XII yaitu bpk Drs. dan puasa itu masih minim” Lebih lanjut bapak H. terbukti ketika berada di kelaspun anak-anak masih ada yang rokok. ngaji.M Ali Fattar yang mengungkapkan sebagai berikut mengatakan bahwa: “Dalam hal baca Al-Qur’an itu susah sekali apalagi kalau saya memberikan materi baca tulis Al-Qur’an di dalam kelas karena sub pokok pembahasannya memang seperti itukan. Padahal kita tahu untuk anak seumur anak SMA seperti yang ada di SMA Widya Dharma Turen sudah selayaknya mengerjakan tugas yang menjadi kewajibannya. Apalagi diluar kelas tindakan seperti itu jelas bisa membuktikan bahwa pengamalannya dalam pendidikan agama islam tentang praktek shalat. di Ruang Guru. M. Ali Fattar yang mengungkapkan sebagai berikut: “Siswa di SMA Widya Dharma Turen yang bisa saya lihat pada bulan ramadhan itu kebanyakan mereka gak puasa. H.

akan tetapi bisa terjadi karena adanya faktor-faktor lain seperti adanya pengaruh lingkungan masyarakat dan kurangnya motivasi dari luar diri siswa yang merespon perkembangan pendidikan anak itu. Dari hasil wawancara dengan guru PAI SMA Widya Dharma Turen kelas X yaitu ibu Auliah Kurnia. Problem itu terjadi bukan karena dari diri siswa itu semata. di Ruang Guru 72 . Selain problem di atas terdapat beberapa problem yang terjadi karena pengaturan jam pelajaran di sekolah SMA Widya Dharma Turen dan penempatan jam terutama pada jam terakhir.I menjelaskan bahwa: “Setiap jam pelajaran pendidikan yang saya ajarkan pada anak selalu mintanya istrahat padahal itu bukan jam istrahat dan kadang-kadang anak-anak minta pulang padahal bukan waktunya untuk pulang. S.pendidikan agama islam karena siswa tidak terbiasa mempelajari pendidikan agama islam di rumah dan juga orang tua yang tidak memperhatikan dengan kondisi anaknya yang masih membutuhkan bimbingannya.Pd. agar tidak terjadi problem karena pada dasarnya untuk media Wawancara Dengan Guru Pendidikan Agama Kelas X (ibu Auliah Kurnia SPdI) Pada Tanggal 21 November 2008. Kalau sudah masuk jam pendidikan agama islam anak-anak di kelas x kebanyakan tidur dan ngomong sendiri kalau guru tidak bisa mengatur strategi untuk menarik minat siswa ya proses belajar mengajar tidak akan kondusif dan efisien”72 Dari paparan di atas memang pengaturan jam pelajaran khususnya jam pelajaran pendidikan agama islam perlu diperhatikan. Maksudnya apabila jam pendidikan agama islam di tempatkan pada jam terakhir maka akan sangat besar kemungkinan timbulnya problem dan untuk mempelajari pendidikan agama islam anak-anak sudah merasa kelelahan.

maka peneliti mencoba mewawancara siswa kelas X.pendidikan agama memang tidak ada media yang menarik seperti pada pelajaran IPA dan mata pelajaran lainnya. Siswa tersebut mengungkapkannya secara gamblang seharusnya guru-guru tahu mata pelajaran yang tepat untuk jam terkhir dan mata pelajaran untuk jam pertama. dan menganggap itu bukan suatu kewajiban yang harus dipelajari secara intensi seperti mata pelajaran lain sehingga siswa tidak berminat untuk mempelajarinya. karena pada jam terakhir siswa sudah sangat lelah. Untuk membuktikan lebih jauh tentang paparan ibu Auliah Kurnia di atas.73 Sedangkan menurut penulis bahwa mata pelajaran pendidikan agama islam ditempatkan pada jam pertama karena keadaan otak siswa masih fress dan bisa menerima pelajaran dengan baik. Dari hasil wawancara dengan salah satu murid kelas X tersebut membenarkan kebanyakan siswa kurang minat terhadap pendidikan agama islam. capek. Akan tetapi untuk pelajaran umum seperti IPA dan lainnya yang banyak prakterk daripada teori bisa ditempatkan pada jam-jam terakhir. Wawancara Dengan Nur Alinda Siswa Kelas XI Diruang Ruang Kelas XI IPA Pada Tanggal 18 November 2008 73 . dan membosankan serta tidak ada media yang mendukung untuk meningkatkan daya ingat hasil belajar tersebut. Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa siswa di SMA Widya Dharma Turen dalam hal pendidikan agama islam masih menganggap bukan materi yang penting.

2) Problem Pendidik. Pendidik merupakan salah satu faktor penting dalam proses pendidikan, karena pendidik akan bertanggung jawab untuk mendidik dan membina dalam proses belajar mengajar kearah pembentukan pribadi yang baik, cerdas, terampil dan mempunyai wawasan yang luas untuk dunia dan akhirat. Perwujudan guru yang diharapkan itu tidak semudah yang dibayangkan, karena faktor yang terkait tidak semudah yang dibayangkan, mempengaruhi. karena Kaum banyak guru faktor sendiri yang terkait dan saling

sesungguhnya

mempunyai

keinginan untuk tampil sebagai guru idaman. Namun perlu diingat bahwa semuanya tidak hanya terletak pada diri para guru saja, sebagian besar faktornya di luar para guru itu sendiri. Guru tidak mungkin meewujudkan kinerjanya dengan optimal tanpa dukungan dari pihak lain termasuk siswa, orang tua, pemerintah dan masyarakat sekitar. Yang paling dituntut saat ini guru harus menunjukkan kinerja yang ideal sementara yang menjadi hak-hak guru belum sepenuhnya diterima oleh guru. Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa pendidikan anak didik tidak hanya di serahkan sepenuhnya oleh guru akan tetapi orang tua yang mempunyai peran utama yang lebih tahu kepribadian dan kemauan anak. Walaupun keberadaan guru pendidikan agama islam tetap diperhitungkan apalagi di SMA Widya Dharma Turen ini siswa masih membutuhkan bimbingan dari seorang guru yang mempunyai

akhlak yang baik khususnya dari guru pendidikan agama islam, keberadaan guru di SMA Widya Dharma Turen sangat penting apalagi di era globalisasi seperti saat ini yang pergaulannya bercampur ala barat, dan di situlah guru mempunyai peran penting dalam membina siswa khususnya guru pendidikan agama islam. Guru pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen dituntut untuk memperbaiki citra kehidupan siswa untuk menjadi generasi yang intelektual baik dalam hal ilmu umum maupun dalam ilmu pendidikan agama itu sendiri. Pendapat di atas sama halnya seperti yang diungkapkan oleh kepala sekolah dari hasil wawancara dengan bapak Tri Djoko Kusminto sebagai seorang pemimpin yang memandangnya secara pribadi tentang guru pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen mempunyai pribadi yang unggul dalam Keprofesionalnya, di sini menurut kepala sekolah, guru di SMA Widya Dharma Turen khususnya guru pendidikan agam islam sudah memenuhi standar kualifikasi untuk menjadi seorang yang patut di teladani oleh orang lain khususnya untuk siswa di SMA Widya Dharma Turen. Jika dilihat dari latar belakang kependidikan guru seperti yang diterapkan dalam tabel bahwa guru pendidikan agama islam sudah sesuai seperti yang diharapkan karena guru pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen sudah menempuh pendidikan sarjana yaitu S.1 (strata satu) maka dari itu guru pendidikan agama islam bisa dikatakan profesional. Akan tetapi harus kembali lagi pada kehidupan pribadi guru itu sendiri yaitu guru

pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma belum mendapat pelayanan yang baik dari pemerintah. Sebab guru pendidikan agama islam di sini belum PNS, untuk itu guru pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen harus mengajar dibeberapa lembaga lain untuk menambah biaya hidup sehingga waktunya untuk lembaga SMA Widya Dharma Turen ini sangat terbatas.74 Dari penjelasan di atas kalau dikaitkan dengan pendapat Mukti Ali, yang memberi penjelasan tentang kegunaan guru dalam membina dan mendidik siswa yaitu; pekerjaan guru adalah pekerjaan yang muliah dan luhur, baik ditinjau dari sudut masyarakat dan Negara dan ditinjau dari sudut keagamaan. Tinggin rendahnya kebudayaan suatu

masyarakat , maju atau mundurnya tingkat kebudayaan suatu masyarakat, tergantung kepada pendidikan dan pengajaran yang diberikan oleh guru-guru terutama guru pendidikan agama islam, makin baik pula pendidikan dan pengajaran yang diterima oleh anak didik dan makin tinggi pula derajat masyarakat.75 Di SMA Widya Dharma Turen selain problem pada guru karena pada dasar guru pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen tidak hanya satu tetapi ada tiga orang, untuk itu tingkat

pengetahuannyapun berbeda-beda. Tentang guru pendidikan agama islam yang mengajar kelas X seperti yang jelaskan bapak kepala sekolah, kurang menguasai tentang kurikulum atau tidak terlalu profesional karena guru tersebut baru lulus, sehingga dalam hal
74 Hasi Wawancara Dengan Kepala Sekolah SMA Widya Dharma Turen, Bapak Tri Djoko Kusminto Pada Hari Selasa Tanggal 25 November 2008 75 Mukti Ali, Op, Cit., hlm.81-82

Tetapi pihak sekolah memberi kebijakan pada guru tersebut untuk mengikut sertakannya dalam pembinaan guru atau seminar yang diadakan di kota Malang khusususnya dalam pendidikan agama islam. kekurangan buku paket di SMA Widya Dharma Turen akan berdampak buruk pada perkembangan pengetahuan siswa tentang pendidikan agama islam. buku paket adalah sarana yang sangat intim yang harus dimiliki oleh lembaga. Buku paket yang ada di SMA Widya Dharma belum bisa memadai proses belajar mengajar terhadap pendidikan agama islam. seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa di SMA Widya Dharma Turen sudah menggunakan kurikulum KBK dan kurikulum KTSP . Jumlah buku paket yang ada dimiliki SMA Widya Dharma tidak sesuai dengan kebutuhan siswa. Faktor Institusional 1) Problem Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana adalah penunjang untuk keberhasilan proses belajar mengajar. Dengan adanya sarana dan prasarana proses belajar mengajar yang ada di SMA Widya Dharmna Turen bisa mempraktekkan teori yang dipelajari di dalam kelas. Masih terkait problem buku paket. Di SMA Widya Dharma Turen tentang problem yang dihadapi yang berkaitan dengan sarana dan prasarana salah satunya tentang keberadaan buku paket. b. karena buku paket yang jumlah sangat sedikit bila dibandingkan dengan jumlah siswa yang relatif banyak tidak bisa memadainya.menguasai materipun bisa dikatakan masih perlu menambah wawasan agar mencapai standar kualifikasi seperti yang diharapkan semua pihak.

.sementara buku paket yang menjadi penunjang pokok dalam pembelajaran pendidikan agama islam masih sistim kurikulum 1999 (suplemen). Al-Qur’an sudah memenuhi syarat. Pada Tanggal 25 November 2008 Di Ruang Waka Kurikulum. maka dari itu bagi siswa yang berjumlah sangat banyak belum bisa memadai proses kelancara praktek peribadatan.76 Selain problem pada sarana dan prasaran tentang buku paket masih ada problem lain tentang keberadaan sarana ibada di SMA Widya Dharma yang perlu ditelusuri. sebab dari hasil observasi yang kebetulan peneliti melakukan penelitian pada hari jum’at ketika siswa mengadakan shalat berjama’ah dan berwudlu masih banyak siswa yang antri sehingga pada saat shalat jum’at sudah dimulaipun siswa masih banyak yang belum berwudlu dan pada akhirnya banyak siswa 76 Polarisasi Di Atas Merupakan Hasilwawancara Penelitian Seacar Umum Terhadap Beberapa Tenaga Kependidikan Dan Wakakurikulum Di SMA Widya Dharma Turen Malang. Namu dari segi penunjang lain seperti kamar mandi yang terdapat di samping masjid masih perlu direnovasi. Masjid adalah sarana dan prasarana pendidikan agama islam yang sangat penting keberadaannya. di belakang gedung kelas XII Bahasa terdapat masjid. kamar mandi itu masih dalam keadaan terbuka dan untuk tempat berwudlupun hanya satu. bisa dibayangkan bahwa memadukan kedua hal tersebut bagi guru dan siswa sangat sulit walaupun mungkin bagi guru mudah tetapi murid yang belum mengetahui apa itu kurikulum sangat sulit untuk mengerti ketika guru menerapkan sesuai tuntutan kurikulum. Karena keberadaan kamar mandi akan memberikan kenyamanan tersendiri untuk kelancaran beribada. Fasilitas yang ada di masjid seperti mukena.

Belajar Mengatasi Hambatan Belajar. c. Di beberapa tempat di SMA Widya Dharma Turen tersedia beberapa tempat permainan seperti play station (PS). tempat permainan beliar. Ini adalah bentuk problem yang terjadi di SMA Widya Dharma Turen yang berkaitan dengan sarana dan prasarana. (Jakarta: Prestasi Pustaka 2007). Nugroho.77 77 N. hlm. Faktor Eksternal 1) Problem Lingkungan Pergaualan dengan teman dan lingkungan lainnya juga sangat menentukan kesuksesan anak didik dalam mempealajari ilmu pendidikan agama islam. 3000-5000 anak-anak bisa menikmati permainan sampai tiga jam bahkan sampai puas. 47-48 . Terlebih dengan menjamurnya tempattempat permainan yang tersedia dalam lingkungan tempat tinggal siswa sehingga akan menjadi factor utama dalam menghabat keinginan anak untuk konsentrasi dengan baik pada pendidikan agama islam mapun ilmu pendidikan umum.yang pulang karena malas antri tempat untuk mengambil air wudlu. cukup bayar Rp. Untuk itu pihak sekolah terutama kepala sekolah bisa memberikan kebijakan untuk sarana pendidikan agama islam agar apa yang menjadi problem pendidikan di dalam kelas bisa di selesaikan di masjid. Dalam waktu tiga jam ini kalau digunakan untuk belajar maka anak didik sudah bisa menghafal beberapa ayatayat yang menjadi tugasnya di sekolah. dalam hal tersebut bisa dibayangkan ini kondisi fisik dan pikiran anakpun akan merasa kelelahan.

mengenai lingkungan keluarga dimana orang tua dan anak seharusnya saling membagi untuk memecahkan problem yang terjadi pada diri anak. Walaupun lingkungan tersebut bisa dikatakan mayoritas beragama islam di sekitar lingkungan sekolah SMA Widya Dharma Turen ini akan tetapi untuk praktek lapangannya masih minim. Perhatian orang untuk membina ilmu agama sebagai bekal dunia dan akhirat harus diperhatikan sejak awal sehingga pada waktu anak masuk SMA pun anak-anak sudah bisa atau terbiasa dengan hal yang berbau religius. Orang tua siswa yang ada di SMA Widya Dharma Turen kurang memperhatikan keadaan anaknya dalam hal pendidikan maupun pendidikan agama islam. Karena dari hasil pantauan peneliti jauh . lingkungan masyarakat. di sekitar SMA Widya Dharma Turen. Hal ini bisa dipastikan dengan melihat realita yang terjadi pada diri siswa di SMA Widya Dharma Turen. sehingga pengetahuan anak tentang agamapun sangat kurang. tidak adanya junjungan dari orang tua untuk menerapkan pada anak agar mempelajari pendidikan agama islam lebih dalam.Dari uraian di atas adalah gambaran yang terjadi pada lingkungan anak didik di sekitar lingkungan SMA Widya Dharma Turen yang di jelaskan lebih dalam sebagai berikut: Pertma. lingkungan keluarga inilah yang menjadi dasar timbulnya problematika pada anak. Kedua. lingkungan masyrakatnya belum bisa dikatakan baik karena masyarakat tidak menunjukkan perhatian yang positif terhadap siswa yang tinggal kos.

kepala sekolah yaitu: “Tentang pengaruh lingkunan terhadap perkembangan siswa tetap ada. Tentang kondisi lingkungan masyarakat yang ada di sekitar SMA Widya Dharma Turen ini pada waktu shalatpun kebanyakan orang tua maupun anak muda masih ngobrol di tempat khusus. Kami sebagai pihak guru merasa prihatin dengan keadaan seperti itu.sebelum diadakan penelitian di SMA Widya Dharma Turen. kadang anak keluarnya meloncat pagar belakang itu (sambil menunjukkan pagar yang ada di belakang gedung) di situ siswa bermain sampai proses belajar usai. kondisi lingkungan tidak menunjukkan perilaku yang bisa mencontoh bagi siswa. Padahal di lingkungan tersebut yang sekolah di SMA Widya Dharma kebanyak siswa pendatang dan otomatis siswa tinggal kos sehingga siswapun jauh dari pantauan orang tua. biasanya tempat tersebut digunakan oleh sebagian masyarakat atau anak muda untuk minum-minum dan di tempat itu juga tersedia tempat untuk bermain beliar. Drs.Pada Tanggal 18 November 2008 di Ruang Kepala Sekolah 78 . apalagi di belakang sekolah ini terdapat tempat permainan yang namanya play station (PS). Dari hasil penelitian observasi di atas sama halnya seperti yang diungkapkan bpk. biasanya saya kalau sudah tahu ada siswa yang main di tempat tersebut saya akan menjemput dan besoknya akan dipanggil orang tuanya. Tri Djoko Kusminto. orang tua dan siswa tersebut akan duduk berdampingan untuk membicarakan masalah ini yang nantinya akan diselesai bersama”78 Wawancara Dengan Kepala Sekolah bpk. Hal itu bukan tidak mungkin akan mempengaruhi perkembangan pembelajaran siswa apalagi untuk belajar pendidikan agama islam untuk mempelajar yang lain seperti ilmu umumpun pasti akan berpengaruh. Dan pihak guru.

karena tidak ada kemauan siswa untuk belajar pendidikan agama islam.Adapun lebih jelasnya tentang problem lingkungan di SMA Widya Dharma Turen ini menurut peneliti tidak adanya kerjasama antara guru dan masyarakat sekitar sehingga apapun yang terjadi pada diri bagi masyarakat lepas tangan. B. Padahal jika dilihat tentang tanggung jawab seseorang misalnya masyarakat walaupun bukan anaknya sendiri tetap saja bertanggung jawab apabila melihat anak atau siswa melakukan hal-hal di luar syar’at islam. minat siswa pada pembelajaran pendidikan agama islam sangat minim sekali. Seharusnya siswa mempunyai kemauan yang tinggi baik dalam mempelajari ilmu umum maupun ilmu pendidikan agama islam walaupun pada dasarnya siswa tidak mempunyai dasar pengetahuan. apabila ada kemauan pasti akan sukses dalam mempelajari pendidikan agama islam. . Kendala-Kendala Dalam Mengatasi Problematika Pendidikan Agama Islam a. Dari beberapa problem di atas akan di cari solusinya pada pembahasan selanjutnya yang nantinya bisa menjadi masukan dan arahan untuk kelancaran proses pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen Malang. Sehingga bagi guru dalam pemecahanya problem susah. Faktor internal 1) Kendala Pada Anak Didik Adapun kendala pada anak didik tentang problematika pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen ini terkait dengan minat siswa.

bahkan ketika ditanyapun pasti guru menjawabnya malu-malu. cuman waktu guru pendidikan agama islam sangat kurang sehingga untuk lebih memantau perkembangan pendidikan agama islampun masih sedikit. Akhir-akhir ini banyak guru yang tidak bangga dengan profesinya khususnya guru pendidikan agama islam. dalam hal materipun juga seperti itu. Dan tidak sedikit gurupun yang bertahan menjadi guru hanya karena tidak memperoleh alternative kehidupan lain.I Guru Pendidikan Agama Islam 18 November 2008 di Ruang Guru .Hasil wawancara dengan ibu Auliah Kurniah bahwa minat anak sangat minim. Sebagaimana pendapat Mukti Ali yang mengatakan: guru sendiri sudah semakin tidak bangga dengan profesinya. ilmu agama dianggap enteng sehingga tidak memperhatikan tentang pelajaran pendidiakna agama islam. Pemerintah kurang memperhatikan keadaan guru.Pd.79 2) Kendala Pada Pendidik Kendala pada guru sebenarnya tidak terlalu ditemukan. Bagi siswa masih menganggap tidak penting. Selain itu siswa di SMA Widya Dharma Turen masih berpikir kalau ilmu pendidikan agama islam tidak termasuk materi UNAS maka dari itu siswa kebanyakan tidak memperhatikan pendidikan agama. agar guru bisa tetap mengajar di satu lembaga. sehingga siswapun semakin tidak berminat dengan 79 Wawancara Ibu Auliah Kurnia S. guru belum bisa menguasasi kurikulum baru karena memang kurikulum yang dipakai masih termasuk kurikulum baru. ketika disuruh hafal Al-Qur’an untuk tugas minggu depan masih belum mencapai separoh dari siswa yang bisa hafal. artinya guru selalu identik dengan kemiskinan.

Factor Eksternal 1) Lingkungan Kendala pada lingkungan di SMA Widya Dharma Turen seperti yang diutarakan pada problem tersebut di atas bahwa keluarga dan lingkungan masyarakat kurang memperhatikan keadaan anak didik sehingga anak 80 M. untuk meningkatkan fasilitas sekolah SMA Widya Dharma.pendidikan agama islam karena takut berprofesi menjadi seorang guru kalaupun itu banyak siswa yang masuk jurusan pendidikan khususnya pendidikan agama islam itu karena terpaksa bukan atas dasar kemauannya. akan berdampak pada penundaan memperbaiki fasilitas pendidikan agama islam seperti buku paket. c. Tentang dana untuk membeli buku paket yang masih belum bisa teratasi karena masih banyak yang perlu diperbaiki seperti fasilitas kelas. Kendala ini bisa juga terjadi karena hubungan timbal balik pihak yayasan SMA Widya Dharma Turen dan masyarakat kurang harmonis sehingga bantuan yang masukpun berkurang. . sarana masjid yang berkaitan dengan sarana ibada. b.80 Dengan adanya penjelasan di atas pemerintah juga harus memperhatikan keadaan guru. Op Cit. kurangnya perhatian pemerinta terhadap kelayakan biaya hidup guru akan berdampak pada tidak minatnya siswa pada jurusan atau materi pendidikan agama islam. Ali Hasan & Mukti Ali. Factor Institusional 1) Sarana dan Prasarana Tidak bisa dipungkiri kalau masalah dana adalah pokok dari segala problem. hlm..

C. Adapun beberapa problem yang perlu diselesaikan dalam pembahasan kali ini adalah tentang hal-hal sebagai berikut: a. Faktor internal 1) Anak Didik Untuk mengatasi beberapa problem yang terjadi pada anak didik di SMA Widya Dharma Turen diperlukan keuletan dan kesabaran pihakpihak yang terkait seperti guru. Dari beberapa problem seperti yang diuaraikan sebelumnya bahwa minat dan kemauan siswa . dengan pendapat dari pihak-pihak yang terkait seperti para guru pendidikan agama islam maupun pihak-pihak yang ada di SMA Widya Dharma Turen serta dengan mematokkan dari pendapatnya para tokoh-tokoh pendidikan pada umumnya dan dari pendapat penulis itu sendiri.terbengkalai begitu saja tanpa ada motivasi dan didikan dari orang yang menjadi dasar pengetahuan anak. dan orang tua. Adanya tempat-tempat permainan di dekat lingkungan SMA Widya Dharma Turen akan menjadikan anak didik kurang minat pada pendidikan agama islam dan kebanyakan anak didik menghabiskan waktu pada tempat tersebut. Upaya-Upaya Yang Dilakukan Dalam Mengatasi Mproblematika Pendidikan Agama Islam di SMA Widya Dharma Turen Malang Dari beberapa problem yang ditemukan selama penelitian penulis akan menguraikan beberapa upaya untuk memecahkan problem yang terjadi di SMA Widya Dharma Turen. Karena biar bagaimanapun anak didik adalah orang yang masih perlu mendapat bimbingan dan arahan dari orang dewasa sehingga segala sesuatu harus ada pihak untuk menunjukan jalan pada anak ke jalan yang lurus.

Karena pada dasarnya untuk mata pelajaran pendidikan agama islam tidak ada media yang terlalu menarik sehingga bagi anak-anak pendidikan agama islam bukan suatu yang penting karena tidak ada perhatian khusus terhadap mata pelajaran 81 Wawancara Dengan Ibu Aullia Kurnia Pada Tanggal 18 November 2008 . sebelum memualai proses belajar mengajar yaitu pada waktu pertama masuk kelas saya perhatikan tingkat minatnya siswa. Menurut ibu Auliah Kurnia guru pendidikan agama kelas X dalam mengatasi problem yang terjadi pada anak didik menyampaikan beberapa strategi bahwa : “Dalam mengatasi problem terhadap siswa yang kurang minat terhadap pendidikan agama islam. dan selain itu memberi motivasi juga penting agar siswa tidak merasa lelah dan bosan kemudian dilakukan pertanyaan umpan balik dengan tujuan untuk menarik minat siswa”81 Dari paparan di atas suatu cara untuk mengatasi problem yang timbul dalam pendidikan agama islam. kemudian apabila ada problem seperti itu maka saya ajak guyon. Guru dan pihak sekolah yang ada di SMA Widya Dharma Turen mencoba mengatasi problem yang timbul pada diri siswa. dan memberikan pertanyaan yang membuat anak ceriah akat tetapi sesuai dengan inti materi. rileks.untuk mempelajari pendidikan agama islam agar lebih optimal dan cerdas dalam hal agama yaitu guru harus pintar-pintar mengatur strategi agar bisa menarik minat siswa. guru mencoba menggunakan strategi-strategi dan metode yang bervariasi untuk mengatasi problem yang terjadi pada setiap anak. dan waktu agar anak tidak merasa bosan dengan pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Adapun beberapa upaya untuk mengatasi problematika pendidikan agama islam pada anak didik bagi setiap guru berbeda-beda.

Raja Grafindo Persada. Jadi motivasi itu untuk merangsang agar siswa yang tidak berminat dengan pembelajaran pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen bisa teratasi. Menurut Mc. 73 82 . Selain itu masih banyak cara lain untuk menumbuhkan minat siswa terhadap pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen.tersebut. hlm. H. 1986). (PT. Maka dari itu guru mencoba memberikan keceriaan untuk meningkatkan daya minat siswa terhadap prndidikan agama islam. Donal dalam bukunya Sardiman untuk mengatasi problematika pembelajaran siswa terhadap mata pelajaran “diperlukan motivasi. motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului tanggapan terhadap tujuan”82 Seperti yang dijelaskan tersebut bahwa motivasi sangat penting untuk meningkatkan minat belajar siswa SMA Widya Dharma Turen dalam pendidikan agama islam karena motivasi adalah serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu. Abdul Halim guru pendidikan agama islam kelas XI tentang memotivasi adalah salah satu upaya untuk memecahkan problematika pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen adalah seabgai berikut: Sardiman. sehingga siswa mau dan ingin melakukan sesuatu. Hal di atas seringkali digunakan oleh para guru termasuk guru pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen sebagaimana penjelasan bpk. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar.

Abdul Halim S. melakukan pendekatan baik di dalam kelas maupun di luar kelas”83 Dari element yang yang dijelaskan oleh bpk Abdul Halim di atas disimpulkan bawa motivasi itu sebagai sesuatu yang kompleks. saya memberikan Al-Qur’an kecil bagi anak yang pintar. untuk bertindak atau melakukan sesuatu.M. Motivasi akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri anak. Ali Fattar yang mengungkapkan sebagai berikut: Wawancara Dengan bpk. dan juga emosi. Ali Fattar guru pendidikan agama islam yang mengajar kelas XII yang mengatakan bahwa dalam mengatasi problem siswa diperlukan pendekatan secara intensif. (Guru Pendidikan Agama Islam Kelas XI). tetapi untuk anak yang tidak bisa tetap diperhatikan. Dengan harapan saya.I.Pd.“Untuk memotivasi biasanya saya menyediakan benda yang berupa hadia. 83 . anak yang tidak bisa merespon bahwa orang bisa itu selalu mendapat imbalan yang baik. Pada Tanggal 18 November 2008. perasaan. Untuk mengatasi problem yang tidak mengikuti shalat jum’at menurut bpk. Kadang kalau ada rezki itu mbak. seperti buku bacaan agama islam. puasa dan membaca Al-Qur’an diperlukan penganganan serius dari orang tua dan guru khususnya guru pendidikan agama islam. sehingga anak-anak merasa dihargai dan di sayangi. dan juga agenda muslim. sehingga akan bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan. Semua ini tentunya didorong oleh karena adaya kebutuhan atau suatu keinginan dari dalam diri itu sendiri.M. Sedangkan menurut bapak H. Di SMA Widya Dharma Turen salah satu fakto problem pegamalan anak terhadap shalat berjama’ah. H. hal itu saya lakukan agar siswa yang tidak bisa mau belajar kaya membaca Al-Qur’an bisa menarik hatinya agar mau belajar seperti temannya yang dikasih hadia.

“Kalau anak-anak yang tidak mengikuti shalat jum’at tetap ada sanksi. Namun dalam hal pendidikan agama islam. Seorang guru harus mampu menjadi inovator dan inspirator bagi anak didiknya dalam belajar. orang tua dan lain-lain. Untuk mengatasi problem tersebut seorang guru juga turut memegang peranan yang tidak kala pentingnya dalam proses belajar mengajar. 2) Upaya Pendidik Sebenarnya guru adalah orang yang dituntut untuk bisa menyelesaikan problem yang terjadi pada diri seseorang khususnya siswa. guru harus mempunyai Wawancara Dengan Bapak H. merangkum diperpustakaan sesuai judul khutbah. Semangat guru dalam menyampaikan sebuah materi pelajaran tentu saja sangat menentukan langkah selanjutnya dari para anak didiknya dalam memperdalam materi tersebut. di Ruang Kepala Sekolah 84 . karena anak usia remaja perkembangan kejiwaannya masih belum stabil jadi perlukan keuletan dan perhatian yang lebih dari orang terdekat seperti guru agama. kadang orang tuangya juga di panggil kalau memang kesalahan anak tersebut sudah sangat kelewatan untuk ikut andil dalam menyelesaikan problem pada siswa”84 Jadi kesimpulannya dalam memberikan hukuman sebagai upaya untuk memecahlan problematikan pendidikan agama islam harus bersifat mendidik.M. Ali Fattar Guru PAI. Pada Tanggal 21 November 2008. Tentang problem guru yang perlu diperhatikan penampilannya. penampilan guru sangat mempengaruhi minat siswa dalam belajar. Bagaimana guru bisa menyampaian materi pelajaran agar bisa menarik dan mudah dipahami anak didiknya sehingga pelajaran tidak terasa memobasankan. akan tetapi sanksi yang diberikan yang bersifat mendidik seperti anak disuruh rangkum hasil khutbah. Jika pada saat awal menyampaikan materi seorang guru sudah terlihat tidak bersemangat dan tidak memiliki antusiasme yang tinggi maka akan berdampak pada keberhasilannya dalam menyampaikan materi pelajaran.

Kadangkala guru pandidikan agama pengetahuannya tentang agama bisa saja kurang. namun dari beberapa factor yang berkaitan dengan keadaan pendidik misalnya kurang biaya hidup. Tentang problem yang terjadi pada guru di SMA Widya Dharma Turen tentang keterbatasan waktu guru untuk lebih mengabdi pada lembaga SMA Widya Dharma Turen ini. dengan adanya perhatian itu makan guru pendidikan agama islam bisa mendidik anakanak secara intensif sesuai dengan yang diinginkan oleh sekolah. maka tingkat pengetahuannyapun berbeda-beda. Selain problem itu masih ada beberapa problem lain yang perlu di cari solusinya seperti kualitas guru. . Untuk guru yang belum professional khususnya dalam pendidikan agama islam kepala sekolah mengupayakan untuk mengikuti seminar. keterbatasan waktu ini bukan atas dasar timbul karena kemauan dari pendidik itu sendiri.akhlak yang baik dan bisa menjadi contoh tauladan bagi siswanya. Untuk mengatasi hal tersebut menurut bapak kepala sekolah diharapkan pada pemerintah untuk lebih memperhatikan keadaan guru pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen. Karena guru yang mengajar di SMA Widya Dharma ini terdapat tiga orang guru. Dengan begitu harapan kami sebagai kepala sekolah bisa menjadi guru yang professional baik dalam hal penyampaian materi. dan MGMP yang diadakan khusus untuk ilmu pengetahuan pendidikan agama islam. tidak semua guru mempunyai pengetahuan lebih. kurikulum. dan menghadapi anak didik di SMA Widya Dharma Turen.

b. Dari segi sarana dan prasarana pendidikan agama islam diperlukan adanya usaha untuk meningkatkan yaitu dengan melakukan beberapa hal sebagai berikut: 1) Mengajukan proposal kepada pemerintah agar bisa membantu baik berupa dana atau berupa buku paket terutama buku paket pendidikan agama islam. maka pencapaian tujuan bisa sesuai seperti yang diharapkan. 2) Kepala sekolah harus mempunyai hubungan timbal balik yang baik dengan masyarakat agar masyarakat bisa memberikan bantuan untuk membeli instansi-instansi sekolah. Factor institusional 1) Upaya Sarana Dan Prasarana Dalam upaya untuk memecahkan problematika pendidikan agama islam pada sarana dan prasarana di SMA Widya Dharma Turen. guru hendaknya berusaha memperoleh sesuatu bila sesuai dengan obyek pendidikannya. Upaya untuk mengatasi problem yang terjadi pada lingkungan di SMA . diperlukan peningkatan sarana yaitu tentang jumlah buku paket diperbanyak agar siswa bisa memiliki dan bisa pinjam sesering mungkin apabila diperlukan. c. Faktor eksternal 1) Upaya Pada Lingkungan Suasana lingkungan akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan proses belajar anak terhadap pndidikan agama islam. Untuk meningkatkan sarana pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen.

Di lingkungan SMA Widya Dharma Turen mengenai lingkungan keluarga kurang memperhatikan perkembangan pendidikan agama islam. Lingkungan masyarakat yang memberikan pengaruh baik akan berdampak positif pada perkembangan pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen. Lingkungan pendidikan tidak hanyak mengacu pada lingkungan di dalam sekolah saja akan tetapi lingkungan keluarga juga perlu memperhatikan problem yang timbul pada anak sebagai peserta didik. akan tetapi peran orang tua sangat penting untuk dilakukan. Keluarga sangat berpengaruh sekali pada tingkah laku dan pola pikir anak didik untuk memantau apa yang menjadi kegiatan siswa seharihari.Widya Dharma Turen harus ada kerja sama antara masyarakat dan pihak sekolah. Apalagi orang tua pada umumnya tidak mengauasai masalah-masalah mengenai pendidikan terutama pendidikan agama islam. sehingga anak didikpun terpengaruh dengan kondisi dan situasi yang ada. dengan begitu orang tua bisa mengetahui sejauh mana perkembangan pendidikan anaknya. tidak mungkin guru melakukan seorang diri apa yang menjadi kegiatan siswa. . Kurangnya perhatian orang tua pada anaknya dalam hal pendidikan agama islam ini akan memerlukan upaya untuk pemecahannya. yaitu dengan mengadakan pertemuan antara wali murid (orang tua anak didik) dengan guru di sekolah dalam satu semester atau pada saat penerimaan rapor.

2005). Dengan adanya gedung sekolah yang bersih dan asri. ruang perpustakaan.Tujuan dari penataan lingkungan ini agar terciptanya suatu kondisi edukatif yang nyaman. WC. halaman. Muhammad Nurdin. mushalah. lapangan olahraga.72 85 .khususnya dalam pendidikan agama islam di SMA Widaya Dharma Turen. dalam hal lingkungan diperlukan penatan lingkungan sekolah di SMA Widya Dharma Turen. kantor. dan taman sebagai halaman untuk belajar. penataan lingkungan sekolah yang mencakup gedung. kebun.85 Makan langkah yang diambil oleh pihak SMA Widya Dharma Turen dalam pemecahan problem pada lingkungan. Berkaitan dengan paparan di atas bisa mematokkan dari pendapatnya Muhammad Nurdin yang berpendapat sebagai berikut: beberapa alternatif lain yang menjadi upaya dalam memecahkan problematika pendidikan agama islam. Pendidikan Yang Menyebalkan. ruang belajar yang nyaman dan menyenangkan akan mempengaruhi keefisiensinya proses belajar mengajar siswa dengan guru di dalam kelas maupun di luar kelas. karena pada dasarnya anak adalah merupakan figur manusia yang ingin bebas dan bergerak. (Ogyakarta: Ar-Ruzz Media. hlm. diadakan satpan sebagai pengatur lingkungan keamanan dan staf kebun (tukang kebun) sebagai penata lingkungan sekolah dengan tujuan agar lingkungan di SMA Widya Dharmaturen Malang lebih nyaman sehingga siswa tidak merasa jenuh.

2. Problem pada pendidik 1) Masih ada beberapa guru yang mengajar di lembaga lain sehingga waktunya sangat terbatas untuk SMA Widya Dharma Turen. 2) Fasilitas masjid yang kurang memadai sehingga praktek shalat jum’at tidak kondusif . Problem pada anak didik 1) Siswa kurang berminat pada pendidikan agama ialam. baik dari segiri ilmu maupun keadaan. 2) Kurangnya profesional guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik. factor Internal a. Problem pada sarana dan prasarana 1) Jumlah buku paker yang sangat minim sehingga siswa merasa kesulitan mencari reference.BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pemahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Problematikan pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen dilihat dari beberapafaktor yaitu. bukan sebagai kewajiban yang harus dipelajari sebagaimana mestinya. 2) Siswa masih mengaggap bahwa pendidikan agama islam hanya sebuah persyaratan. faktor Institusional a. 1.

3. factor Eksternal a. Berdasarkan hasil temuan dan pembahasan skripsi bahwa upaya yang dilakukan terhadap problem-problem yang terjadi di SMA Widya Dharma turen adalah sebagai berikut: 1. Upaya pada anak didik 1) Siswa yang kurang minat belajar. Upaya pemecahannya dalam problematika pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen. Faktor Internal a. . diperhatikan secara khusus dengan melakukan pendekatan yaitu merangkum buku agama yang berkaitan dengan materi pendidikan agama islam di perpustakaan 2) Bagi siswa yang tidak ikut shalat jum’at di sekolah dikasi sanksi yaitu merangkum hasil khutbah yang sesuai dengan judul khutbah. 3) Lingkungan masyarakat yang kurang mendukung terhadap kelangsungan pendidikan agama islam. Problem pada lingkungan 1) Lingkungan keluarga siswa kurang memperhatikan perkembangan pendidikan agama islam 2) Orang tua siswa lebih mengacu pada pendidikan umum dan mengabaikan pendidikan agama islam yang menjadi kewajiban. 4) Adanya tempat permainan yang mempengaruhi siswa sehingga waktunya dihabiskan ditempat tersebut.

2) Guru banyak mebaca buku tentang pendidikan agama untuk menambah wawasan. 2. 3. Upaya pada pendidik 1) Kepala sekolah mengambil kebijakan bagi guru khususnya guru pendidikan agama islam untuk mengikut sertakannya dalam seminar. Factor Institusional -Upaya pada srana dan sarana 1) Jumlah buku paket di usahakan lebih banyak agar siswa tidak kesulitan mendapatkan reference. . 2) Lingkungan sekitar memberikan contoh yang baik pada siswa.b. 2) Sarana masjid tidak memadai Sarana atau fasilitas masjid di usahakan untuk memperbaiki agar shalat jum’an lebih efisien. factor Eksternal Upaya pada lingkungan 1) Untuk lingkungan harus bekerja sama antara masyarakat dan lingkungan sekitar untuk mengatasi problem yang terjadi pada diri siswa. 3) Guru banyak mempelajari tentang agama islam dan yang dilihat TV maupun radio untuk menambah wawasan.

dengan mengasah otak dengan cara membaca terus maka ilmu akan bertamabah luas. pemerintah agar segenap pihak bisa memberikan bantuan untuk memperbaiki fasilitas sekolah. 4. Saran Dari hasil penelitian maka penulis masih perlu memberikan saran sebagai pelengakap dalam meningkatkan kualitas pendidikan agama islam sebagai berikut: 1. Untuk sarana dan prasarana diharapkan pada pihak sekolah bisa melakukan hubungan timbal balik yang baik kepada masyarakat. Lingkungan pada segenap pihak yang berhubungan dengan anak didik akan lebih diperhatikan sehingga anak didik termotivasi untuk mempelajari pendidikan agama islam. . 3. Dalam usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan agama islam di SMA Widya Darma Turen belum cukup hanya mengandalkan keprofesionalnya guru saja.B. baik di sekolah maupun di rumah. 2. disamping guru yang profesional harus diimbangi dengan fasilitas yang lengkap agar proses belajar mengajar lebih efisien. Anak didik hendaknya meningkatkan disiplin dalam mempelajari pendidikan agama islam.

baik dari segiri ilmu maupun keadaan.BAB VI PENUTUP C. a. a. 4) Kurangnya profesional guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Problem pada pendidik 3) Masih ada beberapa guru yang mengajar di lembaga lain sehingga waktunya sangat terbatas untuk SMA Widya Dharma Turen. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pemahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. b. Problem pada sarana dan prasarana . Problem pada anak didik 3) Siswa kurang berminat pada pendidikan agama ialam. bukan sebagai kewajiban yang harus dipelajari sebagaimana mestinya. Problematikan pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen. 4) Siswa masih mengaggap bahwa pendidikan agama islam hanya sebuah persyaratan.

Berdasarkan hasil temuan dan pembahasan skripsi bahwa upaya yang dilakukan terhadap problem-problem yang terjadi di sma widya dharma turen adalah sebagai berikut: c.3) Jumlah buku paker yang sangat minim sehingga siswa merasa kesulitan mencari reference. Upaya pada anak didik 1) Siswa yang kurang minat belajar. Problem pada lingkungan 1) Lingkungan keluarga siswa kurang memperhatikan perkembangan pendidikan agama islam 2) Orang tua siswa lebih mengacu pada pendidikan umum dan mengabaikan pendidikan agama islam yang menjadi kewajiban. 4) Fasilitas masjid yang kurang memadai sehingga praktek shalat jum’at tidak kondusif c. 3) Lingkungan masyarakat yang kurang mendukung terhadap kelangsungan pendidikan agama islam. Upaya pemecahannya dalam problematika pendidikan agama islam di SMA Widya Dharma Turen. 2. diperhatikan secara khusus dengan melakukan pendekatan yaitu merangkum buku agama yang berkaitan dengan materi pendidikan agama islam di perpustakaan . 4) Adanya tempat permainan yang mempengaruhi siswa sehingga waktunya dihabiskan ditempat tersebut.

Saran Dari hasil penelitian maka penulis masih perlu memberikan saran sebagai pelengakap dalam meningkatkan kualitas pendidikan agama islam sebagai berikut: . e. 4) Lingkungan sekitar memberikan contoh yang baik pada siswa D. 4) Sarana atau fasilitas masjid di usahakan untuk memperbaiki agar shalat jum’an lebih efisien. 6) Guru banyak mempelajari tentang agama islam dan yang dilihat TV maupun radio untuk menambah wawasan. 5) Guru banyak mebaca buku tentang pendidikan agama untuk menambah wawasan. f.2) Bagi siswa yang tidak ikut shalat jum’at di sekolah dikasi sanksi yaitu merangkum hasil khutbah yang sesuai dengan judul khutbah. Upaya pada pendidik 4) Kepala sekolah mengambil kebijakan bagi guru khususnya guru pendidikan agama islam untuk mengikut sertakannya dalam seminar. Upaya pada lingkungan 3) Untuk lingkungan harus bekerja sama antara masyarakat dan lingkungan sekitar untuk mengatasi problem yang terjadi pada diri siswa. Upaya pada srana dan sarana 3) Jumlah buku paket di usahakan lebih banyak agar siswa tidak kesulitan mendapatkan reference. d.

3. dengan mengasah otak dengan cara membaca terus maka ilmu akan bertamabah luas. Dalam usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan agama islam di SMA Widya Darma Turen belum cukup hanya mengandalkan keprofesionalnya guru saja. Untuk sarana dan prasarana diharapkan pada pihak sekolah bisa melakukan hubungan timbal balik yang baik kepada masyarakat. 4. 2. baik di sekolah maupun di rumah. . pemerintah agar segenap pihak bisa memberikan bantuan untuk memperbaiki fasilitas sekolah. disamping guru yang profesional harus diimbangi dengan fasilitas yang lengkap agar proses belajar mengajar lebih efisien. Anak didik hendaknya meningkatkan disiplin dalam mempelajari pendidikan agama islam. Lingkungan pada segenap pihak yang berhubungan dengan anak didik akan lebih diperhatikan sehingga anak didik termotivasi untuk mempelajari pendidikan agama islam.1.

Ida Bagoes.Bumi Aksara. Hujair. Hadi Sutrisno. Jakarta: Balai Pustaka. 1989. J. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bandung: C. Yogyakarta: Graha Ilmu. Laggulung 1992. Suharsini. Revitalisasi Pendidikan Islam. 2003. Strategi Belajar. 2003. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya. Prosesdur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Gema Insani. 2003. D. Ilmu Pendidikan Islam.Marimba. Belajar Dan Cara Daradjat. 2000. Bimbingan Dan Penyuluhan Di Sekolah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Abu. Yogyakarta: Yayasan Penelitian Fakultas Psikologi UGM. Samsul. Yogyakarta: Tiara Wacana. 2002. Hasan. Muzayyin. Paradigma Pendidikan Islam (Membangun Masyarakat Madani Indonesia). Jakarta: Rineka Cipta.V. Lexy.Moleong. Muhammad& Surya. Metode Penelitian Pendidikan.. Jakarta: Pustaka Al-Husna. Aziz As-Asykhs. 1995. Margono S.1989. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya. Al-ma’arif. 1991. 2005. Arikunto. Metodologi Penelitian Kualitatif. Metodologi Reseaarch II. Jakarta: Bumi Aksara dan Departemen Agama RI Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bandung: Pustaka Setia Arifin. 1992. Abdul. Mukti. Jakarta: PT. Kapita Selekta Pendidikan Agama Islam. . Ahmad. Jakarta: Rineka Cipta. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Kelambanan Dalam Penanggulanginnya.Ali & Mukti Ali. Ma’arif. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Edisi ke-2 Djumhur. 2007. 2003. 2004. Ahmadi. Filsafat Penelitian Dan Metode Penelitian Sosial. 1992. Hasan. Ilmu. M. Kapita Selekta Pendidikan Agama Islam. Mantra. Zakiyah dkk. Asas-Asas Pendidikan Islam. Bandung: PT.DAFTA PUSTAKA Ali.

Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Roibin. N. Muhammad. Teoritis Dan Praktis. Ilmu Pendidikan Islam. 2004. Dahlan Al-Barry. PT. Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam Pemberdayaan. H. Bandung: Alfabet. Tilar. Nasution. Jakarta: Ciputat Pers. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Purtanto Pius A. 2004. Muhammad. Jakarta: Rineka Cipta. Psikologi Pembelajaran Dan Pengajaran. 2002. Bandung: Remaja Rosdakarya. 1996. Kurikulum Hingga Redefinisi Islamiah Pengetahuan. Pendidikan Yang Menyebalkan. 2003. Surabaya: Pustaka Pelajar. 1986. 2003. E. 2007. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: Bina Aksara. Pengembangan. Jakarta: Rineka Cipta. 2002. Bandung: Nuansa Cendekia. Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. Metode Ramalan Kualitatif. . Jakarta: Kalam Mulia. Memahami Penelitian Kualitatif. Mulyasa.A.2005. Nugroho.Muhamin. Ramayulis. Bandung: Remaja Rosdakarya . 2003. Menuju Pendidikan Berwawasan Berkerukunan.(Upaya Mengefektifkan Pendidikan Islam Di Sekolah). Malang: Jurnal ElHarakah Edisi 58. Paradigma Pendidikan Isla. Belajar Mengatasi Hambatan Belajar. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Bandung: Trasito. Raja Grafindo Persada. Sugiono. Nurdin. Kamus Ilmia Popular. 2005. Tafsir. Nizar.R. Ahmad. Jakarta: Mahaputra Adidaya. 2005. Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Histories. Manajemen Berbasis Sekolah.. 2002. Jakarta: Prestasi Pustaka. Bandung: Remaja Rosdakarya. 1994. Samsul. Surabaya: Arkola. & M. . Dimensi-dimensi Administrasi Pendidikan Di Sekolah. Surya. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. 1993. Supranto J. Sardiman. 1984. Subroto Suryo.2002.

1995. Usaha Nasional. 2003. Malang: UIN Mlang Press. Undang-undang RI Tahun. Bandung: Cita Umbara. Bandung: PT. Tentang System Pendidikan Nasional Pasal 1. Zuhairini. Group dan Indra Bunga. Moh. Zuhairini. M. 1997. 2004. Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. 2004. Menjadi Guru Profesional. Pustaka Setia. dkk. Abdul. Bandung: C.1983. Surabaya. Uzer Usman. Zein. . AK. Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya.V. & Ghofir. Metodologi Pengajaran Agam. Ilmu Pendidikan Islam. Metodik Khusus Pendidikan Agama.Uhbiyati Nur.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->