P. 1
Anakku Belajar Membaca Syahadat

Anakku Belajar Membaca Syahadat

|Views: 271|Likes:
Published by fatahillah3358

More info:

Published by: fatahillah3358 on May 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/14/2012

pdf

text

original

Sections

iii

ii

j

Anakku Belajar Membaca Syahadat
Penulis: Edi Warsidi Penyunting: Dewi Mulyani Pewajah Sampul: Gumilar Nugraha Penata Letak: Ratna Suparti Diterbitkan oleh Pustaka Madani Jln. Pasirwangi No.1–2 Soekarno-Hatta, Bandung 40254 Telepon (022) 5206178, 5226062 Faks. (022) 5202097 Cetakan I, 2007 ISBN 979-9177-17-0 PM 13-14-03-01-006 Hak cipta yang dilindungi undang-undang ada pada pengarang. Dilarang keras mengutip, menjiplak, dan memfotokopi sebagian atau seluruh isi buku ini serta memperjualbelikannya tanpa mendapat izin tertulis dari Pustaka Madani.

iv

Prakata
Manusia secara fitrah tercipta dalam kebertahapan dan keseimbangan yang nyata. Kebertahapan selalu melekat dalam seluruh kiprah manusia, baik secara individu maupun kolektif. Kita pun mengenal fase/tahap kehidupan, dari alam rahim, alam dunia, alam kubur, dan seterusnya. Al-Quran pun diturunkan secara bertahap ke dunia melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw., tidak diturunkan secara langsung keseluruhan. Surah yang pertama kali diturunkan adalah al-Alaq, ayat 1–5. Dalam mengenalkan Islam kepada seluruh manusia juga ada tahapannya, sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad saw. Dalam proses belajar pun kita melakukannya secara bertahap, diawali dengan mempelajari ilmu-ilmu dasar sampai tingkat lanjut. Hidup ini tidak terlepas dari yang namanya kebertahapan. Bertahap juga bisa diartikan tidak tergesa-gesa. Hubungan antara kebertahapan dan Islam, misalnya dalam menerapkan Islam ada tahap bersungguh-sungguh mulai dari menguatkan akidah, ibadah, dan seterusnya hingga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sejak dini dekatkanlah anak-anak kita untuk mengenal Islam, mulai dari akidah, misalnya tentang syahadat, Allah, rasul, kiamat, dan seterusnya.
v

Setelah meyakinkan diri dengan semangat syahadat, tentu saja kita ajak anak-anak kita secara bertahap berlomba-lomba menuju tingkat takwa. Dengan demikian, kita tidak diarahkan untuk menjadi muslim yang stagnan, tidak ada peningkatan keimanan. Sebagaimana firman Allah Swt. berikut.

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. (Q.S. al-Hujurat [49]: 13) Atau yang lebih parah lagi, jangan sampai kita justru secara bertahap kian terpuruk, kian jauh dari iman dan takwa (beridentitas Islam hanya di KTP). Jangan sampai di kemudian hari anak-anak kita secara gradual akidahnya terkikis, digantikan ideologi lain, semisal hedonisme (pemuja keindahan dunia) dengan bersenang-senang belaka atau paham sejenisnya: komunisme, ateisme, dan kapitalisme. Hal yang lebih mengerikan lagi kalau ada saudara atau anak-anak kita yang pelan-pelan mengingkari syahadat, berpindah ke lain agama. Naudzubillahi min dzalik! Manusia yang normal tentu menginginkan derajat yang mulia, dan itu hanya ada di dalam Islam. Nabi Ibrahim a.s. berpesan, sebagaimana tertera di dalam al-Quran berikut.

vi

(Ibrahim berkata): Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam. (Q.S. al-Baqarah [2]: 132) Buku ini hanyalah secuil pengalaman penulis tatkala mengenalkan syahadat kepada sang buah hati. Tiba-tiba, sepulang sekolah dari Taman Kanak-Kanak, sang buah hati melafalkan kalimat tauhid itu dengan terbata-bata dan polos, seperti senandung yang menggugah. Bagaimana perasaan orangtua tatkala sang anak sudah mulai lancar melafalkan kalimat syahadat, sebagaimana digambarkan dalam nukilan puisi karya Soni Farid Maulana: Anakku belajar membaca syahadat/Dengan suara lantang ia mengaji/Tiada Tuhan selain Allah/dan Nabi Muhammad utusan-Nya//Kalimah yang sarat cahaya itu/Berkilauan di mulut juga hati kanak-kanak/Lebih rekah dari berbagai kuntum mawar/Lebih wangi dari berbagai jenis parfum.... Betapa indahnya peristiwa itu. Tiba-tiba, melelehlah air mata itu. Ada keharuan yang tidak terduga. Namun, bukan berarti kita larut dalam rasa bangga dan haru seperti itu. Sebagai orangtua, kita wajib menjaga dan mempertahankan anak-anak kita dengan semangat syahadat
vii

dan senantiasa merenungkan–apakah kita sudah memahami makna syahadat? Apakah syarat dan rukunnya? Apakah pula konsekuensi dan pembatalnya? Dengan demikian, kita akan kian menghayati makna ber-Islam sebagai penyerahan diri kepada Allah yang Mahaagung, tunduk kepada-Nya, membenarkan perkataan-Nya, dan terikat dengan seluruh perintah-Nya.

Penulis

viii

Daftar Isi
Prakata ........................................................................... Membina Fitrah Anak ................................................. • Memberikan Rangsangan Kalimat Tauhid ............... • Upaya Pembinaan ..................................................... Anakku Belajar Membaca Syahadat .......................... • Syarat Laa Ilaaha Illallah ........................................... 1. Ilmu ....................................................................... 2. Menurut as-Sunnah ............................................. 3. Al-Qabul ............................................................... 4. Al-Inqiyad ............................................................. 5. Ash-Shiddiq .......................................................... 6. Al-Ikhlash ............................................................. 7. Mahabbah ............................................................. • Rukun Laa Ilaaha Illallah ........................................... 1. An-Nafyu .............................................................. 2. Al-Itsbat ................................................................ v 1 3 7 11 16 16 17 18 20 22 23 25 27 27 27

ix

• Konsekuensi Laa Ilaaha Illallah ................................. 27 • Pembatal Laa Ilaaha Illallah ....................................... 27 Lebih Dekat dengan Makna dan Konsekuensi Syahadat.......................................... 39 • Makna Syahadat Muhammadur rasulullah .......................................... 40 • Konsekuensi Syahadat Muhammadur rasulullah .......................................... 41 Daftar Pustaka ............................................................... 45 Tentang Penulis ............................................................. 46

x

Membina Fitrah Anak

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 2

Setiap insan yang dilahirkan di jagat ini memiliki naluri beragama. Dengan perkataan lain, ada benih kepercayaan terhadap Allah Yang Maha Esa. Benih tauhid ini bisa tumbuh dengan subur, tetapi juga bisa layu dan seterusnya terkubur oleh pengaruh lingkungan yang mengotorinya. Hal ini bergantung pada keadaan di luar pribadi anak itu. Barangkali lingkungan anak yang membuat ketauhidannya layu atau menjadi subur. Mungkin pula karena tempat anak bersekolah atau karena pergaulan dengan rekan-rekannya. Allah Swt. berfirman dalam al-Quran surah Ar-Rum ayat 30 berikut.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S. Ar-Rum [30]: 30)

Membina Fitrah Anak itrah 3

Fitrah Allah maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan oleh-Nya memiliki naluri beragama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, hal itu tidaklah wajar. Mereka yang tidak beragama tauhid itu karena pengaruh lingkungan. Hadis Rasulullah juga menyatakan tentang fitrah seperti maksud ayat tersebut, yakni: Setiap anak yang lahir tentu telah dibekali dengan fitrah. (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah) Fitrah manusia adalah suatu kesediaan untuk menerima Islam. Manusia diciptakan Allah dengan dibekali kesediaan yang sempurna untuk menerima Islam. Kesediaan ini harus dikembangkan, dibimbing, dan dididik. Dengan didikan dan bimbingan, manusia akan mendapat petunjuk karena telah memiliki kesediaan. Akan tetapi sebaliknya, jika didikan dan bimbingan itu diabaikan, kesediaan anak yang telah dimilikinya itu akan berganti dengan kepercayaan yang bukan tauhid. Hal itu karena pengaruh didikan kedua orangtua ataupun karena pengaruh dari lingkungan. Kemudian, bagaimana pembinaan fitrah anak agar berkembang dengan baik dan subur?

Memberikan Rangsangan Kalimat Tauhid
Kalau memerhatikan hadis Rasulullah ini, Siapa yang dilahirkan dari kandungan ibunya, kemudian dibacakan azan di

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 4

telinga kanannya dan dibacakan ikamat pada telinga kirinya, si bayi itu tidak akan diganggu oleh Ummu Shibyan (setan)–kita tahu, bahwa Rasulullah telah memberikan tuntunan kepada kita agar mempersiapkan diri di waktu menjelang kelahiran anak kita agar kita bersiap-siap membacakan azan dan ikamat pada kedua telinganya setelah lahir dari ibunya. Hukum membacakan azan dan kiamat hanya sunat, tetapi memiliki nilai lebih dan hikmat yang besar dalam perkembangan kepribadian anak. Rangsangan kalimat tauhid itu merupakan permulaan pendidikan agama kepada anak sebab jiwanya yang masih bersih dan kosong itu seakan-akan mendapat rekaman kalimat tauhid (kalimat syahadat) melalui kedua telinga anak itu. Sebagaimana firman Allah pada surah berikut.

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dengan tidak mengetahui apa pun, dan kemudian dijadikan-Nya pendengaran, penglihatan, dan hati. Agar kamu bersyukur. (Q.S. An-Nahl [16]: 78)

Membina Fitrah Anak itrah 5

Hal ini menunjukkan bahwa pendengaran, penglihatan, dan pemikiran anak sudah mulai bisa berfungsi. Dari ayat tersebut diketahui, bahwa kedua telinga bayi telah mulai berfungsi dan dapat mendengar kalimat azan yang mengandung asma-asma Allah dan mengandung persaksian adanya Allah serta persaksian, bahwa Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. Lalu, kalimat itu diteruskan ke dalam otak untuk direkam, yang kemudian disimpan di dalamnya. Dengan demikian, otak pun mulai berfungsi. Jelaslah, bahwa rekaman pertama di otak bayi yang diazani dan diikamati setelah dia lahir adalah kalimat tauhid, yang merupakan unsur utama dalam pengembangan dan pertumbuhan fitrah anak. Setelah anak berusia tujuh hari, orangtua memberikan nama (tasmiyah). Pemberian nama biasanya bersamaan waktunya dengan pelaksanaan akikah. Orangtua tentu sudah mempersiapkan nama yang mengandung asma Allah, nama rasul-Nya, atau nama lain yang bermakna baik serta mengandung pengharapan (tafaul), seperti berakhlak mulia. Ada hadis yang menyatakan, nama yang tidak baik akan mendapat malu jika mendapatkan panggilan di Padang Mahsyar.

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 6

Adapun akikah ialah menyembelih kambing untuk kepentingan bayi pada hari ketujuh setelah kelahiran. Daging kambing dimasak dan dibagikan kepada fakir miskin dan tetangga. Hal ini sebagai tanda syukur kepada Allah. Akikah hukumnya sunat berdasar atas hadis Rasulullah: Tiap-tiap anak yang dilahirkan itu tergadai dengan akikah-nya. Disembelih untuk dia seekor kibas pada hari ketujuh, dicukur rambut anak dan kemudian diberi nama. (Hadis dari Samurah) Hadis lain dari Ibnu Abbas, Nabi Muhammad saw. melakukan akikah sebagai tebusan/gadai untuk Hasan dan Hussein (cucu) masing-masing dua kibas. Pelaksanaan akikah dan tasmiyah adalah sebagai tanda syukur kepada Allah Swt. atas karunia-Nya karena mendapatkan keturunan (zuriyat). Selain itu, orangtua memperkenalkan anak yang baru lahir kepada jiran atau tetangga, dan handai taulan bahwa anak itu kelak akan menjadi anggota masyarakat dan semua yang hadir dalam upacara itu berdoa agar semua anak tersebut menjadi anak yang saleh serta taat kepada orangtuanya. Adapun faedah untuk orangtua, ialah menghubungkan silaturahmi dengan tetangga dan anggota keluarganya.

Membina Fitrah Anak itrah 7

Upaya Pembinaan
Anak adalah amanat Allah Swt. Setiap amanat harus dijaga dan dipelihara; dan setiap pemeliharaan mengandung unsur kewajiban serta tanggung jawab sebagaimana Allah berfirman dalam surah An-Nisa [4]: 9 berikut.

Dan hendaknya takut kepada Allah orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak yang lemah, yang mereka khawatirkan terhadap kesejahteraan mereka. (Q.S. An-Nisa [4]: 9) Proses perkembangan mental dan fisik anak selalu diamati oleh ibu, dengan tanpa mengenal lelah dan merasakan keluh-kesah melaksanakan bermacam tugas sejak dini hari hingga larut malam, sambil berserah diri dan bertawakal kepada Allah. Itulah tugas ibu, tugas mulia karena melaksanakan amanat Allah. Ibulah yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan anak. Walaupun demikian, tanggung jawab pendidikan anak

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 8

tidak semata-mata bergantung pada ibu, tetapi ayah pun memiliki tanggung jawab juga. Namun, pada kenyataannya waktu kehidupan si anak itu lebih banyak bersama ibunya. Ibu mengandung, melahirkan, dan menyusui sampai menyapihnya dalam tempo paling sedikit dua tahun. Lingkungan pertama yang berpengaruh terhadap pembentukan watak dan kepribadian anak adalah lingkungan keluarga. Oleh karena itu, lingkungan keluarga yang cocok dan serasi serta senapas dengan kehidupan beragama yang baik dan benar harus diciptakan. Sebagaimana diketahui dari ayat terdahulu, pancaindra itu sudah berfungsi. Tentu anak akan merasa cemas jika mendengar suara orang yang bertengkar di rumah. Anak dapat mendengar dan merasakan suara yang kasar dan keras, kejam, dan menakutkan. Demikian pula jika anak melihat ayahnya bermuka cemberut dan menampakkan kemarahan kepada ibu, tampaklah di wajah anak itu perasaan takut dan cemas. Apabila penglihatan dan pendengaran anak itu selalu dipertemukan dengan hal-hal yang negatif, seperti itu dan terjadi berulang-ulang, lambat-laun akan terbentuk pribadi anak dengan tabiat kasar dan keras atau sebaliknya, anak itu akan menjadi penakut setelah menjadi dewasa.

Membina Fitrah Anak itrah 9

Perhatian yang kurang dari ibu kepada anak akan dirasakan dan membekas pada anak. Seorang ahli kejiwaan, Frued menyatakan, "Anak yang tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian orangtuanya akan timbul dalam dirinya perasaan jengkel. Jika hal ini terjadi berulang-ulang maka akan menimbulkan pengaruh negatif pada kehidupannya setelah dewasa kelak." Agar terhindar dari hal negatif, perlu upaya pembinaan dan perhatian berikut. Orangtua, terutama ibu harus selalu menunjukkan perhatian dan kasih sayang kepada anaknya. Hindarkan perhatian anak dari pertengkaran yang terjadi di dalam rumah dan hindarkan pula pendengarannya dari kata-kata keji, cacian, sumpah serapah, atau kata-kata kutukan. Kalimat thayyibah (baik) hendaknya selalu diperdengarkan di telinga anak. Kalimat thayyibah ada dua macam, yaitu kalimat yang menunjukkan kasih sayang dan biasanya bernada lembut serta ramah dan kalimat yang mengandung asma Allah dan puji-pujian kepada-Nya, seperti bismilah, hamdalah, dan insya Allah, dengan maksud untuk memperkenalkan kebesaran Allah Swt.

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 10

Alangkah bijaknya seorang ibu yang meninabobokan anaknya dengan nyanyian dan puji-pujian yang mengandung asma Allah di waktu tidurnya.

Anakku Belajar Membaca Syahadat

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 12

Judul tulisan ini diilhami oleh sebuah puisi karya penyair Soni Farid Maulana yang dimuat dalam antologi Malam 1000 Bulan (1997) dan kemudian dimuat lagi dalam antologi Kita Lahir sebagai Dongengan (2000). Berikut ini nukilan puisi tersebut.

Anakku Belajar Membaca Syahadat
Bersama anak-anak yang lain Pada sebuah kelas taman kanak-kanak Anakku belajar membaca syahadat Dengan suara yang lantang ia mengaji: Tiada tuhan selain Allah Dan Nabi Muhammad utusan-Nya Kalimah yang sarat cahaya itu Berkilauan di mulut juga hati anak-anak Lebih rekah dari berbagai kuntum mawar Lebih wangi dari berbagai jenis parfum Yang menempel di baju ibu guru Pulang sekolah dengan hati riang Anakku berulang-ulang melafal syahadat Dari kalbunya yang bening Berpancaran cahaya-Nya. Air mataku

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 13

Meleleh seketika saat mengulang Kalimah tersebut tak seberkas pun Sinar terpancar dari kedalaman Dadaku yang kelam 1996

Sebagaimana halnya sebuah karya seni lain, puisi sebagai salah satu media pendidikan juga banyak memberikan hiburan rohani. Puisi merupakan medan yang sangat luas pemaknaannya. Setiap orang dimerdekakan memaknai puisi dengan berbagai tingkat pengalaman, pembacaan, dan pemaknaannya. Oleh karena itu, ada saja sebuah peristiwa yang diusung penyair dalam syairnya, tiba-tiba menggugah perasaan pembacanya. Boleh jadi, peristiwa dalam puisi mampu mewakili kecamuk perasaan si pembaca dan bahkan puisi itu menjadi penghilang gundah. Bagiku, puisi itu mengandung daya gugah. Setidaknya, peristiwa dalam puisi itu di suatu waktu terulang pada diriku. Setidaknya, ada semangat yang memercik dan menautkan dengan sejumlah acuan yang justru menambah luas pemaknaannya. Aku menjadi tersungkur ke kedalaman semangat syahadat tatkala anakku diajarkan membaca kalimat tauhid tersebut, sebagai landasan hidup. Makna kalimat Laa Ilaaha Illallah menyatakan, bahwa tidak ada sesembahan melainkan hanya kepada Allah Swt. (la ma'buda illallah). Berarti pula adanya penolakan terhadap tuhantuhan yang menyamai-Nya dan menetapkan satu-satunya pilihan hanya kepada Allah azza wajalla.

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 14

Di dalam tafsirnya, al-Qurthuby mengatakan pengertian Laa Ilaaha Illallah adalah tiada zat yang patut diibadahi kecuali hanyalah Dia semata. Ibnu Taymiyyah mengatakan, bahwa pengertian Ilah di sana adalah zat yang disembah dan ditaati (ma' budul mutha). Ibnu Rajab menambahkan, bahwa al-llah adalah yang harus ditaati. Kita pantang memaksiati-Nya dan harus menganggap-Nya hebat dan agung, dengan penuh rasa cinta, rasa takut, dan tawakal kepada-Nya. Hanya kepada-Nya kita patut berdoa dan memohon. Ibnu Qayyim berkomentar, bahwa al-Ilah adalah zat yang harus dipertuhankan dengan sepenuh hati; bahwa Dia penuh mahabbah (cinta), ijlal (keagungan), inabah (ampunan), ikram (kemuliaan), dan adzim (kebesaran). Hal itu harus kita yakinkan dengan rasa rendah diri, kepasrahan, rasa takut, harapan, dan tawakal. Secara ringkas menurut pandangan Syekh Muhammad Sa'id al-Qahthani, pengertian Laa Ilaaha Illallah adalah Laa ma' buda bihaqqin illallah (tiada yang berhak diibadahi kecuali Allah), Laa hakima illallah (hukum mutlak bersumber dari Allah), Laa malika Illallah (tiada penguasa mutlak kecuali Allah), Laa raazik illallah (tiada yang bisa memberi rezeki kecuali Allah), Laa ilaha illa huwa yuhyi wa yumit (tiada Ilah yang bisa menghidupkan dan mematikan kecuali hanyalah Dia), Laa nafi wa laa dlarr illallah (tiada yang membei manfaat dan mudharat kecuali Allah), Laa haula wa laa quwwata illa billah

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 15

(tiada daya dan upaya selain dengan kekuasaan Allah), Laa yatawakal illallah (tidak bertawakal kecuali hanya kepada Allah), Laa mujiba da'wat illallah (tidak ada yang bisa mengabulkan doa kecuali Allah), Laa dina illa dinallah (tiada Din kecuali Din Allah), Laa khasy-yata wa laa khaufa ilia 'alallah (tiada rasa takut kecuali kepada Allah), La ghayatal hubb illa lillah (tiada pusat kerinduan kecuali untuk Allah). Oleh karena itu, jika berpihak dan memalingkan diri dari Allah Swt. berarti telah mengadakan tandingan terhadapNya. Allah Swt. berfirman.

Dan sesembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafaat; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafaat ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini (nya). (Q.S. Az Zukhruf [43]: ayat 86) Dengan demikian, kalimat Laa Ilaaha Illallah mencakup walla yang berarti patuh dan setia kepada Allah Swt., dan barra yang berarti bersih diri dari kendali berhala. Juga melahirkan nafyun, yang berarti peniadaan selain Allah, dan itsbat yang berarti penetapan hanyalah Allah.

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 16

Syarat Laa Ilaaha Illallah
Pengakuan kalimat syahadat akan mantap apabila tidak dibarengi dengan persyaratan yang utuh. Persyaratan tersebut mutlak adanya untuk menunjang pemahaman yang kaffah tentang Laa Ilaaha Illallah. Syarat-syarat itu, di antaranya sebagai berikut.

1. Ilmu
Dengan adanya ilmu ini diharapkan, bahwa kita mampu meresapi kalimat tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Segala amaliah tauhid harus berdasarkan ilmu agar segala amal tetap berada dalam kontrol rabbaniyah. Tanpa ilmu, pemahaman kalimat tauhid ini akan menyimpang dari kebenaran ilahiyyah. Rasulullah saw. bersabda. Barang siapa mati, sedangkan dia itu mengetahui bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah, maka dia itu masuk surga. (H.R. Muslim dari Utsman bin Affan) Kalimat mengetahui dalam hadis tersebut tentunya memiliki kriteria yang dalam. Tidak hanya mengetahui, tetapi pemahaman dan pengetahuan tentang Laa ilaaha Illallah itu harus berdasarkan ilmu Allah dan Rasul-Nya sehingga akan melahirkan pengamalan yang utuh sebagai manhajul hayah (pedoman hidup).

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 17

Berkenaan dengan hal itu, Allah Swt. menegaskan dalam firman berikut.

Allah menyatakan bahwasannya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang berilmu (juga menyatakan yang demikian). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (Q.S. Ali Imran [3]: 18)

2. Yakin
Keyakinan ini dimaksudkan, bahwa keimanan kita kepada Laa Ilaaha Illallah harus dibarengi dengan keyakinan sebab keimanan itu tidak bisa dilandasi dengan praduga. Rasulullah saw. bersabda. Keyakinan dalam iman haruslah secara bulat dan kesabaran itu setengah dari iman. (H.R. Abu Nu'aim)

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 18

Allah Swt. menegaskan mengenai keimanan seperti dalam firman-Nya berikut.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orangorang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (Q.S. al-Hujurat [49]: 15) Hadis dari Abu Hurairah. Tidaklah bertemu Allah seorang hamba yang membawa kedua kalimat syahadat dan dia betul-betul tidak ragu-ragu kecuali dia masuk surga. (H.R. Muslim)

3. Al-Qabul
Al-Qabul berarti penerimaan secara bulat terhadap ketentuan dan segala tuntutan yang dilahirkan dari kalimat tauhid. Penerimaan yang kaffah dan pengabdian yang utuh merupakan

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 19

tuntutan yang harus melahirkan amal islami dalam segala dimensi kehidupan. Allah Swt. berfirman.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S. Ar-Rum [30]: 30) Dalam ayat yang lain Allah Swt. menegaskan.

Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (kedatangannya); pada hari itu mereka terpisah-pisah. (Q.S. Ar-Rum [30]: 43)

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 20

Dalam surah yang lain Allah Swt. melukiskan ucapan Ibrahim a.s.

Sesungguhnya aku hadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (Q.S. al-An'am [6]: 79)

4. Al-Inqiyad
Al-Inqiyad ialah keterikatan dengan kalimat tauhid. Segala usaha dan segenap amal senantiasa memiliki keterkaitan dengan kalimat tauhid. Manhajul hayah yang diterapkannya senantiasa mengacu kepada nilai-nilai kalimat tauhid. Dengan lain kata, al-Inqiyad adalah tunduk dan patuh melaksanakan hak-hak kalimat ini, dengan cara melaksanakan kewajiban atas dasar ikhlas dan mencari rida Allah.

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 21

Allah berfirman.

Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. (Q.S. Luqman [31]: 22) Dalam ayat yang lain, Allah berfirman.

(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedangkan ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q.S. al-Baqarah [2]: 112)

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 22

5. Ash-Shiddiq
Ash-Shiddiq ialah jujur dan menolak segala bentuk al-kidzb (pendustaan). Dengan kata lain, adanya keselarasan antara hati dan lisan. Ibnu Qayyim berkata, "Pengakuan dan keyakinan terhadap kalimat tauhid harus menyiratkan ketundukan dan ikrar terhadap syariat Islam dengan menerapkan segala perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya." Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan, Rasul saw. bersabda, "Tidak ada seorang pun yang bersaksi, bahwa tidak ada Ilah melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu hambaNya dan utusan-Nya, secara jujur keluar dari batinnya, kecuali Allah mengharamkan baginya api neraka." Dengan tegas Allah berfirman.

Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian" padahal mereka itu

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 23

sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (Q.S. al-Baqarah [2]: 8-10) Ayat ini menggambarkan sikap manusia yang nifaq terhadap aturan Allah Swt. dan secara tegas Allah telah membeberkan sikap mereka terhadap din.

6. Al-Ikhlash
Al-Ikhlash ini berarti memurnikan amal, hanya mengharap rida Allah Swt. dan menghindarkan dari segala bentuk syirik. Allah Swt. berfirman.

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dan (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Q. S. al-Bayyinah [98]: 5)

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 24

Dalam ayat yang lain, Allah Swt. berfirman.

Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya. (Q.S. An-Nisa [4[: 125) Rasulullah saw. bersabda. Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan "Laa ilaaha illallah" dengan semata mengharap agar mendapat rida Allah Swt. (H.R. Bukhari-Muslim) Rasulullah saw. juga bersabda. Aku akan membahagiakan manusia dengan syafaatku bagi yang mengatakan "Laa Ilaaha Illallah" dengan ikhlas keluar dari hatinya atau dari jiwanya. (H.R. Bukhari)

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 25

7. Mahabbah
Mahabbah berarti mengamalkan Laa Ilaaha Illallah dengan penuh kecintaan. Ini merupakan unsur yang penting dalam menegakkan kalimat tauhid sebab di dalamnya ada cinta dan pengorbanan. Allah Swt. berfirman.

Dan di antara tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (Q.S. al-Baqarah [2]: 165)

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 26

Dalam hadis sahih dari Anas bin Malik r.a. Rasulullah saw. bersabda bahwa tiga perkara jika dimiliki seseorang, ia akan mendapat manisnya iman, yaitu mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih daripada yang lain, mencintai seseorang karena Allah semata, dan membenci kembali kepada kekafiran setelah ia membenci jika dicampakkan ke dalam api neraka. Syaikh Sayyid Quthb mengatakan dalam Dirasat Islamiyyahnya, "Inilah akidah Islam! Akidah itu sendiri tidak mencegah berproduksi atau menghambat kemajuan teknologi, atau menghalang-halangi kebebasan intelek, atau membatasi perkembangan hidup manusia. Tidak! Di sinilah letak keunggulan akidah islamiah dan keistimewaan dakwah islamiah. Kebutuhan setiap manusia kepada akidah islamiah adalah kebutuhan kepada pengakuan eksistensi, kemanusiaan, dan fitrahnya sebagai manusia, kebutuhan pada perlindungan, keseimbangan, dan stabilitas." Tentunya iman kepada Laa Ilaaha Illallah merupakan rukun terpenting dari ajaran Nabi Muhammad saw. Kalimat tauhid merupakan fondasi dan sumber kekuatan Islam. Ketentuan dan kewajiban Islam lainnya berdiri tegak di atas kalimat ini. Untuk itulah, dengan segenap jiwa raga kita mengimaninya.

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 27

Rukun Laa Ilaaha Illallah
1. An-Nafyu
An-Nafyu (peniadaan) artinya membatalkan syirik dengan segala bentuknya dan mewajibkan kekafiran terhadap segala yang disembah selain Allah.

2. Al-Itsbat
Al-Itsbat (penetapan) artinya menetapkan, bahwa tidak ada yang berhak disembah, kecuali Allah dan mewajibkan pengamalan sesuai dengan konsekuensinya.

Konsekuensi Laa Ilaaha Illallah
Konsekuensi Laa Ilaaha Illallah adalah mengamalkannya. Melafalkan lafad Laa Ilaaha Illallah merupakan sebentuk kesaksian atas zat yang satu Ilah. Kesaksian tersebut berupa pengakuan akan keberadaan Allah sebagai zat yang harus disembah.

Pembatal Laa Ilaaha Illallah
Pembatal Laa Ilaaha Illallah atau pembatal keislaman adalah hal-hal yang merusak keislaman seseorang. Muhammad Ismail dalam Al Fikru Al Islamiy (Bunga Rampai Pemikiran Islam, 1998: 35-41) menguraikan makna Laa Ilaaha Illallah.

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 28

Secara fitri, dalam diri manusia terdapat kecenderungan untuk menyucikan sesuatu (taqdis). Berdasarkan fitrahnya itulah, manusia melakukan ibadah terhadap sesuatu. Berarti ibadah merupakan perwujudan (hasil reaksi) alami dari naluri beragama (gharizah tadayyun). Oleh karena itu, manusia akan merasakan suatu ketenteraman dan kebahagiaan tatkala melakukan ibadah sebab ketika itu ia telah memenuhi tuntutan gharizah tadayyunnya. Namun, masalah ibadah tidak boleh diserahkan begitu saja kepada hati sanubari (wijdan) untuk menentukan apa yang seharusnya diibadahi. Jika hanya mengandalkan wijdan, manusia akan cenderung terjerumus dalam kesalahan dan kesesatan. Sebagian besar sesembahan manusia yang didasarkan dorongan wijdan saja, adalah suatu hal yang sebenarnya harus dilenyapkan dan sebagian besar yang disucikan oleh manusia berdasarkan wijdan saja adalah suatu hal yang harus direndahkan. Apabila wijdan dibiarkan menentukan sendiri apa yang selayaknya disembah oleh manusia. Hal ini dapat membawa kepada kesesatan dalam beribadah, yaitu selain kepada al Khaliq atau dapat menjerumuskannya pada perbuatan khurafat dengan maksud untuk mendekatkan diri kepada al Khaliq, tetapi justru menjauhkan diri dari-Nya. Hal seperti itu bisa saja terjadi sebab wijdan adalah suatu perasaan yang terbentuk dari naluriah semata (ihsaas gharizy); atau suatu perasaan yang muncul dari dalam manusia akibat

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 29

adanya suatu kenyataan yang diindra atau dirasakan berinteraksi dengan manusia. Hal itu bisa juga muncul dari suatu proses pemikiran yang dapat membangkitkan perasaan itu apabila manusia kembali hanya mengandalkan perasaannya untuk sampai pada kesimpulan tersebut tanpa disertai proses berpikir. Misalnya saja, pada suatu malam kita melihat sebuah bayang-bayang hitam sehingga menyangka itu adalah musuh. Oleh karena itu, kita akan digerakkan oleh naluri mempertahankan diri (gharizatul baqa') sebagai bentuk rasa takut. Kemudian, perasaan kita mengambil reaksi terbaik, yaitu dengan cara berlari. Tindakan seperti ini tentu saja merupakan suatu kesalahan sebab kita telah berlari karena takut terhadap sesuatu yang mungkin tidak ada. Kita pun lari dari sesuatu yang seharusnya dilawan. Akan tetapi, jika kita menggunakan akal dan memikirkan perasaan yang mencengkeram diri kita sehingga kita putuskan sikap reaksi yang seharusnya, maka akan jelaslah bagi kita tindakan yang seharusnya dilakukan. Barangkali akan jelas kemudian, bahwa bayangan itu hanyalah sebuah tiang listrik, pohon, atau hewan sehingga lenyaplah rasa takut dalam diri kita dan kita dapat terus berlalu. Mungkin juga akan jelas bagi kita bahwa bayangan itu adalah seekor binatang buas sehingga kita tidak mungkin berlari. Kita harus berusaha mencari perlindungan; dengan memanjat pohon misalnya atau berlindung di dalam rumah. Oleh karena itu, kita pun akan selamat.

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 30

Demikian juga, manusia tidak diperbolehkan (begitu saja) memenuhi tuntutan gharizah, kecuali disertai dengan penggunaan akal. Dengan kata lain, tidak boleh ia melakukan suatu tindakan yang semata-mata berasal dari dorongan wijdan saja, tetapi sebaliknya harus menggabungkan akal dengan wijdan. Berdasarkan hal ini, taqdis (menyucikan sesuatu) harus dibangun berdasarkan proses berpikir yang disertai perasaan wijdan sebab taqdis adalah hasil perwujudan gharizah tadayyun. Bentuk manifestasi ini tidak boleh ada tanpa melalui proses berpikir karena dapat menjerumuskan manusia ke jurang kesesatan dan kesalahan. Manusia wajib memenuhi gharizah tadayyun, tetapi setelah melalui proses berpikir, yaitu setelah menggunakan akalnya. Oleh karena itu, ibadah tidak boleh dikerjakan, kecuali sesuai dengan hasil penunjukan akal sehingga ibadah itu benar-benar ditujukan kepada zat yang secara fitri patut disembah, Dialah al Khaliq, yang mengatur segala sesuatu, yang senantiasa dibutuhkan manusia. Akal manusia memastikan, bahwa ibadah hanya dilakukan kepada al Khaliq karena Dialah yang memiliki sifat azali (tidak berawal dan tidak berakhir) dan wajibul wujud (wajib keberadaannya). Manusia tidak boleh melakukan ibadah kepada selain al Khaliq. Dialah yang telah menciptakan manusia, alam semesta, dan kehidupan ini. Dia, memiliki sifatsifat sempurna secara mutlak. Jika seseorang telah meyakini

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 31

keberadaan-Nya, ia akan mengharuskan dirinya untuk menyembah dan melakukan ibadah kepada-Nya semata. Adanya pengakuan bahwa Dia adalah al Khaliq, baik secara fitri maupun aqli, mengharuskan seseorang yang mengakuinya untuk beribadah kepada-Nya sebab ibadah adalah suatu bentuk manifestasi perasaannya terhadap keberadaan al Khaliq. Ibadah merupakan bentuk manifestasi rasa syukur tertinggi yang wajib dilakukan oleh makhluk kepada Zat yang telah memberinya nikmat penciptaan dan pengadaan. Fitrah manusia dan akal manusia mengharuskan adanya ibadah, sedangkan akal memastikan bahwa yang berhak disembah, disyukuri, dan dipuji adalah al Khaliq, bukan selain-Nya (makhluk). Oleh karena itu, kita menyaksikan bahwa orang-orang yang pasrah (menyerahkan diri) hanya kepada wijdan sebagai bentuk manisfestasi taqdis-nya tanpa menggunakan akalnya, terjerumus dalam kesesatan sehingga menyembah banyak sesembahan, di samping pengakuannya terhadap wujud al Khaliq yang wajibul wujud dan bersifat tunggal. Akan tetapi, ketika membangkitkan manifestasi gharizah tadayyun, mereka menyucikan yang lain. Mereka melakukan ibadah kepada al Khaliq, tetapi juga sekaligus kepada makhluk-makhluk-Nya, baik dengan anggapan sebagai Tuhan yang layak disembah dengan menyangka bahwa al Khaliq mewujud pada suatu benda ataupun menganggap al Khaliq akan ridha apabila

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 32

dilakukan taqarrub kepada-Nya melalui penyembahan kepada benda-benda tersebut. Fitrah manusia telah memastikan adanya al Khaliq, tetapi perwujudan taqdis yang harus dilakukan tatkala muncul sesuatu yang menggerakkan rasa keberagamaannya akan menyebabkan taqdis terhadap apa saja yang dianggapnya layak untuk disembah. Mungkin sesuatu itu dianggap sebagai al Khaliq, atau yang disangkanya sebagai al Khaliq akan rida dengan tindakannya itu, atau dianggap al Khaliq menjelma pada benda yang ia sembah, di samping al Khaliq Yang Maha Esa. Oleh karena itu, adanya sangkaan banyaknya tuhan yang disembah dialihkan kepada zat yang disembah, bukan terhadap ada atau tidaknya al Khaliq. Penolakan terhadap adanya banyak tuhan yang disembah harus dijadikan sebagai penolakan zat yang disembah (selain Allah), mengharuskan dan menjadikan ibadah semata-mata kepada al Khaliq yang azali dan wajibul wujud. Berdasarkan hal ini, Islam datang sebagai landasan (hidup) bagi seluruh manusia. Islam menyatakan bahwa ibadah hanyalah dilakukan terhadap zat yang wajibul wujud. Dialah Allah Swt. Islam telah menjelaskan secara rinci tentang semua itu melalui dorongan akal secara jelas. Islam melontarkan pertanyaan tentang sesuatu yang wajib disembah. Mereka pun menjawab, bahwa Dia adalah Allah. Mereka sendiri yang menetapkan buktinya.

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 33

Allah Swt. berfirman.

Katakanlah, 'Kepunyaan siapakah bumi ini dan semua yang ada padanya jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah'. Maka, apakah kamu tidak ingat? Katakanlah; 'Siapakah yang mempunyai langit yang tujuh dan

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 34

yang mempunyai Arsy yang agung?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah.' Katakanlah, 'Maka apakah kamu tidak bertakwa?' Katakanlah, 'Siapakah yang ditangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi dari (adzab)-Nya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah.' Maka dari jalan manakah kamu ditipu? Sebenarnya kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orangorang yang berdusta. Allah sekali-kali tidak memiliki anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan lain beserta-Nya. Kalau ada tuhan lain beserta-Nya masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakan-Nya, dan sebagian tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lainnya. (Q.S. al-Mu'minun [23]: 84-91) Dengan pengakuan, bahwa Allah pencipta segala sesuatu, di tangan-Nyalah terletak kekuasaan atas segala sesuatu, maka mereka pun telah mengharuskan diri mereka sendiri untuk beribadah kepada Allah semata sebab sesuai dengan pengakuan mereka ini, hanya Dialah (Allah) yang berhak disembah. Dalam banyak ayat lainnya dijelaskan, bahwa selain Allah, tidak dapat berbuat apa pun yang dapat menjadikannya layak disembah, sebagaimana ayat-ayat berikut.

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 35

"Katakanlah! Tunjukkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup mata hati-mu. Siapakah Tuhan selain Allah yang mampu mengembalikan kepadamu?" (Q.S. al-An'am [6]: 46)

"Ataukah mereka memiliki Tuhan selain Allah?" (Q.S. Ath-Thur [52]: 43)

"(Dan) Tuhanmu adalah Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." (Q.S. al-Baqarah [2]: 163)

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 36

"Tidak ada Tuhan selain Dia (Allah)." (Q.S. al-Baqarah [2]: 255)

"(Dan) sekali-kali tidak ada Tuhan selain Allah. Yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan." (Q.S. Shaad [38]: 65)

"Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain Tuhan Yang Maha Esa (Allah)." (Q.S. al-Maidah [5]: 73). Semua ayat tersebut menunjukkan tidak ada yang berhak disembah, kecuali Zat yang wajibul wujud. Dialah Allah Yang Maha Esa. Islam datang dengan ajaran tauhidul ibadah terhadap Zat yang wajibul wujud, yang secara aqliyah maupun fitri, telah ditetapkan keberadaan-Nya. Banyak ayat al-Quran memberi

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 37

petunjuk yang gamblang, yang menolak adanya banyak sesembahan. Ilaah, menurut arti bahasa, "yang disembah" (al Ma'buud). Secara syar'i, tidak ditemukan adanya arti lain, selain arti itu. Oleh karena itu, arti laa Ilaaha, baik secara lughawi (secara bahasa) atau syar'i, adalah laa ma'buuda. Illallah secara lughawi ataupun syar'i, artinya adalah Zat yang wajibul wujud, yaitu Allah Swt. Berdasarkan hal ini, makna syahadat pertama dalam Islam bukanlah kesaksian atas keesaan al Khaliq semata, sebagaimana anggapan kebanyakan orang, melainkan arti yang dimaksud dalam syahadat tersebut adalah adanya kesaksian, bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, yang memiliki sifat wajibul wujud sehingga peribadahan dan taqdis semata-mata hanya untuk-Nya. Secara pasti menolak serta menyingkirkan segala bentuk ibadah kepada selain Allah Swt. Jadi, pengakuan terhadap adanya Allah, tidaklah cukup sekadar pengakuan tentang keesaan al Khaliq, tetapi harus disertai adanya konsekuensi pengakuan terhadap keesaan sebab arti laa Ilaaha Illallah adalah laa ma'buuda illallaahu. Oleh karena itu, syahadat seorang muslim adalah meniadakan Tuhan selain Allah, mewajibkan kepada dirinya untuk melakukan ibadah hanya kepada Allah, dan membatasi ibadahnya semata-mata kepada

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 38

Allah saja sehingga arti tauhid di sini adalah tauhidut taqdis terhadap al Khaliq, yakni tauhidul ibadah kepada Allah Yang Maha Esa.

Lebih Dekat dengan Makna dan Konsekuensi Syahadat

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 40

Makna Syahadat Muhammadur rasulullah
Seseorang dikatakan beragama Islam jika ia telah mengucapkan kalimat syahadat. Apakah hanya cukup dengan mengucapkan, tetapi tidak mengetahui dan meyakini akan kebenaran yang diucapkan serta tidak mengamalkan konsekuensi yang terkandung di dalamnya? Tentu saja tidak, sebab syarat sah keimanan seseorang adalah dengan meyakini dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan. Agar syahadat yang kita ucapkan ini sah dan memenuhi syarat seperti yang diinginkan Allah Swt. dan Rasul-Nya, kita harus mengetahui makna dan konsekuensinya. Pada tulisan sebelumnya, makna Laa Illaaha Illallah telah dipaparkan. Sekarang, kita harus mengenal makna syahadat Muhammadur rasulullah. Makna syahadat Muhammadur rasulullah ialah mengakui secara lahir dan batin bahwa beliau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya ('abduhu wa rasuluh) yang diutus kepada umat manusia secara keseluruhan serta mengamalkan konsekuensinya. Jadi, kita harus meyakini bahwa Muhammad saw. adalah hamba dan Rasul-Nya. Kita tidak boleh terlalu berlebihlebihan terhadap beliau melebihi kedudukan sebagaimana harusnya serta tidak menunjukkan ibadah kepada beliau sebab beliau tidak menguasai kemanfaatan dan kumudharatan sedikit pun dan tidak pula mengetahui perkara yang gaib, kecuali yang telah diwahyukan Allah kepadanya.

Lebih Dekat dengan Makna dan Konsekuensi Syahadat akna 41

Arti menyakini Muhammad saw. sebagai Rasulullah ialah dengan mengimani dan membenarkan berita yang datang dari beliau, melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan dari apa-apa yang dibawa Rasulullah saw. serta beribadah hanya dengan yang disyariatkan Rasulullah saw. sehingga dapat disimpulkan, bahwa makna syahadat ini mengandung beberapa konsekuensi yang wajib kita laksanakan dan tidak kita tinggalkan satu pun dari konsekuensi yang ada, sebab satu konsekuensi melazimkan dilaksanakannya konsekuensi yang lain.

Konsekuensi Syahadat Muhammadur rasulullah
Konsekuensi syahadat Muhammadur rasulullah adalah menerima dan beriman pada ajarannya. Sebenarnya, wahyu itu bukan hanya al-Quran. Apa pun yang dibawa oleh Rasulullah saw. termasuk wahyu yang datang dari Allah. Jadi, sedikit pun tidak boleh kita mendustakannya. Allah Swt. berfirman.

Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. (Q.S. An-Najm [53]: 3-4)

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 42

Ketika suatu saat ada kabar yang kelihatannya bertentangan dengan akalnya, dia harus tetap tunduk dan menerima kabar yang dibawa Rasulullah tersebut sebab boleh jadi akalnya sendirilah yang terbatas, sedangkan ilmu Allah itu Mahaluas. Barang siapa yang meragukan atau tidak mengimani satu saja dari kabar yang dibawa beliau, dia jatuh dalam kekafiran. Melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya. Konsekuensi selanjutnya setelah mengalami kabar tersebut adalah jika kabar tersebut berisi suatu perintah atau larangan, konsekuensinya ialah dengan mengamalkan perintah dari isi kabar tersebut dan meninggalkan segala sesuatu yang dilarang sebab apa pun yang diperintahkan dan dilarang Allah pasti ada hikmahnya bagi kita, walaupun terkadang kita tidak dapat menjangkaunya. Allah Swt. berfirman. .... Barang siapa yang menaati Rasul, maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. (Q.S. An-Nisa [4]: 80) Beribadah hanya dengan cara yang disyariatkan. Syarat diterimanya amal ibadah selain ikhlas adalah mutaba'ah (mengikuti yang dicontohkan Nabi Muhammad saw.). Amal ibadah kita tidak akan diterima jika tidak ada contohnya,

Lebih Dekat dengan Makna dan Konsekuensi Syahadat akna 43

misalnya melaksanakan shalat Subuh empat rakaat, maka shalat Subuhnya tidak diterima sebab tidak sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw. Contoh lain, melaksanakan maulid nabi, hal ini tidak dicontohkan Rasulullah saw. Oleh karena itu, barang siapa melaksanakannya, termasuk mengada-adakan hal baru dalam agama. Inilah termasuk ke dalam bid'ah. Sebagaimana disabdakan Rasulullah saw. Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dari ajaran kami, maka amalan itu tertolak. (H.R. Muslim) Tidak bersikap berlebihan kepada Nabi Muhammad saw. Dia adalah seorang hamba seperti manusia lainnya. Sekali lagi, kita jangan bersikap berlebihan kepada beliau, baik dalam pujian, penghormatan maupun yang lainnya agar kita tidak terperosok ke dalam hal yang diharamkan paling besar yakni syirik. Misalnya dengan menjadikan Rasulullah saw. sebagai sekutu bagi Allah, termasuk di dalamnya berdoa kepada Rasulullah, meminta syafaat pada Rasulullah, mendekatkan diri kepada Allah (bertawasul) dengan perantara Rasulullah yang sekarang telah meninggal, dan perbuatan syirik lainnya. Nabi Muhammad saw. bersabda.

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 44

Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang nashara telah berlebih-lebihan memuji Isa putra Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya. (H.R. Bukhari)

Daftar Pustaka 45

Daftar Pustaka

Elsafatiy, Sh. 2002. Memahami Islam. Majalah Swara Quran No. 4/Th.II/Oktober. Ismail, Muhammad.1998. Bunga Rampai Pemikiran Islam. Jakarta: GIP. Jafari, M.T. 1995. Tujuan Hidup. Bandung: Pustaka Hidayah. Latief, Musthofa. 2000. Kesempurnaan Islam. Majalah Swara Quran No. 4/Th.II/Oktober. Syafii, Agus. Dimensi Ajaran Islam. www.archive.com./ filsafat@yahoogroups.com Yahya, Harun. 2003. Semangat dan Gairah Orang Beriman. Surabaya: Risalah Gusti.

Anakku Belajar Membaca Syahadat ajar 46

Tentang Penulis
Edi Warsidi, alumnus Fakultas Sastra UNPAD. Jagat tulis-menulis digelutinya sejak mahasiswa sampai sekarang. Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Mandala, Bandung Pos, Berita Buku, Galamedia, dan Matabaca, pernah memuat tulisan-tulisannya. Dia juga mengarang cerita anak di berbagai media massa. Kumpulan cerpen anaknya dikumpulkan dalam Adikku Suka Berkhayal (DAR! Mizan, 2004), dan Koin Ajaib (DAR! Mizan, 2007). Karya-karya cerpen dan puisinya dimuat dalam antologi Perempuan Berbibir Kupu-Kupu (Pustaka Latifah, 2005), Reservation Blues (Terjemahan diterbitkan oleh Banana Publisher, 2007), dan Bandung dalam Puisi (YJSB, 1999). Buku yang pernah ditulisnya salah satunya berjudul Pentingnya Pendidikan Agama sejak Dini (Pustaka Madani, 2007). Sekarang, dia masih tetap menikmati dunianya: editor!

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->