Makalah Industri Tuna

BAB I. Banyak kendala dan masalah yang harus dihadapi untuk memanfaatkan sumberdaya perikanan tuna secara optimal dan lestari. Bahkan. Negara tujuan utama ekspor produk tuna Indonesia adalah Jepang.865 Kg dengan nilai ekspor sebesar 110.52 %.000 ton permintaan terhadap produk tuna kaleng dan 580. mengingat luasnya wilayah ZEE Indonesia dengan sumberdaya ikan tersebut cukup besar dengan sentra sentra pengusahaanya yang perlu diintensifkan seperti di perairan Maluku. Latar Belakang Upaya memanfaatkan sumberdaya perikanan secara optimal dan lestari merupakan tuntutan yang sangat mendesak bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat.178. mengalami kenaikan bila dibandingkan tahun 2002 sebesar 92. Sehubungan dengan itu ekspor tuna dan cakalang masih perlu ditingkatkan.684. PENDAHULUAN 1. Sulawesi dan Pantai Barat Sumatera.091.438 US$.025. kedua tuna tergolong hewan yang hight miggration sehingga pengeloaannya terkadang melewati batas-batas negara sementara Indonesia belum menjadi anggota dalam pengelolaan tuna dunia. tentunya diperlukan kerja keras dan keberpihakkan semua sektor dalam mendukung infrastruktur dan permodalan yang memadai guna menciptakan bisnis yang kondusif khususnya di sentra-sentra produksi tuna di kawasan Timur Indonesia.841 US$.920. Ekspor komoditi tuna Indonesia hingga bulan November 2004 berdasarkan data BPS.612 Kg dengan nilai 212. dari peluang tersebut Indonesia baru mencapai pangsa pasar dunia sebesar 7. Peningkatan tersebut dipacu dengan kesadaran masyarakat khususnya di Eropa dan Amerika serta negara-negara di kawasan Timur Tengah yang mulai sadar akan sumber makanan yang sehat . Ketiga. Papua. disamping memperluas lapangan kerja. berkaitan dengan sistem perbankan yang kurang kondusif bagi investasi usaha perikanan.984 Kg dengan nilai 213. ke empat pelayanan di pelabuhan perikanan yang mengakibatkan biaya ekonomi tinggi. Negara–negara pesaing Indonesia di pasar internasional antara lain Australia. terutama untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan / petani ikan dan memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. sehingga hal itu mengurangi kepastian hukum dalam berusaha dan menimbulkan . Tuna sebagai komoditas perikanan andalan Indonesia setelah udang mempunyai prospek cerah dalam pengusahaanya. Taiwan dan Guam.000 ton tuna segar untuk konsumsi sashimi. Peluang pasar tuna dan cakalang dibeberapa negara importir utama masih terbuka lebar. negara tersebut mendominasi permintaan tuna dengan total volume konsumsi sebesar 660. potensi di perairan ZEE Indonesia khususnya tuna dan cakalang serta ikan pelagis besar lainnya masih lebih banyak dimanfaatkan oleh kapal ikan asing dengan berbagai akibat yang merugikan kepentingan nasional. Sedangkan 1. Pada tahun 2003 sebesar 117. mereka beralih dari daging ke ikan khususnya tuna. Ekspor komoditi tuna Indonesia sebagian besar dalam bentuk beku.1.000 ton yang terdiri dari 80.796. 2005 sebesar 39. Spanyol. Eropa dan Thailand.425. Jepang merupakan sentral pasar tuna dunia. masih maraknya illegal fishing yang mempengaruhi produksi tangkapan kapal tuna nasional. pertama. kesempatan berusaha. dan ekspor untuk menghasilkan devisa Negara. mengingat permintaan produk tersebut di pasar domestik dan ekspor cenderung meningkat. ke lima kurang terpadunya rencana tata ruang di dalam wilayah laut dan pantai. segar dan tuna dalam kaleng. Tuntutan yang sangat mendesak tersebut mengingat potensi sumberdaya perikanan Indonesia yang saat ini belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Korea Selatan.3 juta ton berasal dari permintaan negara lain. Amerika Serikat.

ke enam. 4. Tujuan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah : 1. Melalui kerja keras dan kebersamaan dari berbagai sector diharapkan ke depan Indonesia menjadi sentral industri tuna dunia. Menyusun strategi dan kebijakan pengembangannya . 3. dan pengawasan keamanan.kesenjangan sosial. Mengetahui kendala dan permasalahan yang dihadapi industri perikanan . disamping itu perlu adanya upaya peningkatan SDM dan relokasi nelayan dari wilayah padat tangkap seperti di perairan pantai Utara Jawa ke sentra usaha tuna di kawasan Timur Indonesia. kurang tegasnya tindakan terhadap pelanggaran peraturan. 1. Mengetahui perkembangan industri perikanan tuna Indonesia. 2.tuna Indonesia.2. Mengetahui potensi dan tingkat pemanfaatannya.

Pelabuhan Benoa-Bali dan Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap. dan terus dikembangkan hingga ke Sabang-Aceh. Kapal Tuna Long Line yang beroperasi di Pelabuhan Perikanan Cilacap hingga tahun 2004.BAB II. Basis perikanan terkonsentrasi di Benoa Bali. dan Cilacap. Penangkapan tuna biasanya dilakukan dengan alat bantu rumpon. Di Indonesia perikanan tuna mulai diperkenalkan pada awal tahun 1960 dan baru 1 (satu) perusahaan yang mengusahakan secara komersial yaitu PN. Ukuran kapal hand line relatif kecil <10 GT. Sementara di NTT.2. Khusus untuk produk segar (fresh tuna). dengan ukuran 60 – 100 GT. Kapal tuna long liner yang beroperasai di Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia saat ini diperkirakan berjumlah 1600 kapal berbagai ukuran dengan pangkalan utama Pelabuhan Perikanan Samudera Jakarta.1. sebanyak 127 kapal. setelah PT. dikembangkan kapal-kapal yang berukuran lebih kecil (< 60 GT) dinilai lebih effesien dan ekonomis dengan lama operasi tidak lebih dari 2 minggu untuk menjaga mutu produk tersebut. sejalan dengan adanya peningkatan sarana dan prasarana perikanan tangkap (Pelabuhan Perikanan) dan sarana penunjang lainnya. . sekarang Papua). Namun dewasa ini hanya sebahagian kecil dari tangkapan nelayan dengan hand line yang dapat menembus pasar tuna segar karena mutu. Disamping ditangkap dengan rawai tuna dan pukat cincin. tuna juga ditangkap oleh para nelayan dengan menggunakan jenis alat tangkap hand line. daerah tersebut dipilih karena dekat dengan fishing ground tuna. Perkembangan industri perikanan tuna nasional demikian pesat hal ini dikarenakan produk tersebut bernilai tinggi dan permintaannya di pasar dunia terus meningkat tidak hanya produk beku (frozen tuna). NTB hingga ke kawasan timur Indonesa (Sulawesi. purseiner dan hand liner yang melibatkan nelayan dalam jumlah besar dengan pola kemitraan dengan pengusaha. segar (Fresh tuna) tetapi juga dalam bentuk tuna kaleng (canning tuna). INDUSTRI PERIKANAN TUNA INDONESIA 2. jika dikelola dengan baik dan bijaksana. Jakarta. Maluku dan Irian Jaya. khususnya sebagai pemasok bahan baku industri tuna kaleng. Basis perikanan tidak hanya terkonsentrasi di Bali tetapi sudah menyebar di sentra-sentara penangkapan tuna seperti di Jakarta. dikembangkan pole and liner. Perikanan Samudera Besar (PSB) berdiri. Baru pada awal tahun 1970. PERKEMBANGAN ARMADA Pengusaha Perikanan Tuna. tergabung dalam satu wadah yaitu Asosiasi Tuna Indonesia (Astuin). Gambaran Umum. Namun demikian penangkapan tuna dengan alat tangkap hand line ini cukup memberikan harapan untuk menopang industri tuna nasional. Perkembangannya diikuti oleh perusahaan-perusahaan Nasional dan Penanaman Modal Asing (PMA). yang memiliki armada tuna longliner dengan jumlah kapal sebanyak 485 kapal yang berpangkalan di Pelabuhan Nizam Zahman. Pada tahun 1980 armada perikanan PSB beroperasi hampir diseluruh perairan Indonesia. khusus untuk industri tuna longliner skala besar. Perikani dengan armada dan SDM yang sangat terbatas. penanganan hasil tangkapan dan peralatan yang kurang memadai. usaha penangkapan tuna secara komersial benar-benar terealisasi. Kapal yang digunakan pada saat ini berukuran > 100 Gross Tonage (GT) yang dilengkapi dengan unit refrigrasi hingga (-) 50 °C. 2. dengan lama operasi lebih dari 30 hari/tripnya.

membutuhkan bahan baku sebanyak 208. Sementara itu bila dilihat dari produksi tuna kaleng negara produsen tuna kaleng dunia. 2.3 %) yang masuk pasar ekspor dunia atau setara dengan 2. sementara untuk Indonesia.5 juta ton/ tahun dan perairan Indonesia sebesar 0. Bila dibandingkan dengan nilai ekspor tuna kaleng dari negara lainnya. artinya baru 20 % kapasitas produksi yang dapat dimanfaatkan.2 juta ton/ tahun. Mexico. Spanyol. produk tuna dunia juga dipasarkan dalam bentuk tuna kaleng. melalui industri pengalengan maupun olahan tuna lainnya. Cote d´lvoire.3. Secara geografis Perairan Indonesia sebenarnya sangat menguntungkan bila ditinjau dari penyediaan bahan baku bagi industri pengolahan khususnya industri pengalengan tuna. Diharapkan melalui kegiatan tersebut dapat dicari jawabannya guna mengatasi permasalahan di atas. Ecuador. steak.6). Produksi dan ekspor tuna kaleng Indonesia tumbuh dari 0. dengan total produksi 253. Problem yang muncul ke permukaan pada industri pengalengan nasional adalah tidak dapat bersaing dengan industri pengalengan dari negara tetaga seperti Thailand dan Philiphina. loin. Estimasi penerimaan devisa negara dari industri pengolahan nasional. serta negara pengekspor tuna kaleng utama lainnya dikarenakan kurangnya pasokan bahan baku dari industri penangkapan tuna nasional yang lebih cenderung mengekspornya dalam bentuk segar atau beku karena harganya jauh lebih tinggi dan menguntungkan. ironis memang bila industri pengalengangan nasional mengalami kekurangan pasokan bahan baku. Sementara selama lima . Selain dipasarkan (ekspor) dalam bentuk tuna segar. beku dan bentuk olahan (tuna kaleng.000 MT dalam 260 hari kerja/ tahunnya. posisi Indonesia berada pada urutan ke 11 setelah Thailand. Indonesia selain sebagai produsen tuna juga sebagai negara pengolah tuna.2 milyard US$.8 ribu ton (55. untuk itulah Direktorat Kelembagaan Dunia Usaha. Kapasitas industri pengolahan yang ada sebesar 800 MT/ hari.1 ribu ton (Tabel. Philiphina dan Iran. Jepang. tuna beku dan produk olahan beku. Disamping itu industri pengalengan tuna nasioanal umumnya tidak memiliki armada penangkapan sendiri sehingga kontinuitas bahan baku kurang terjamin karena hanya mengandalkan pasokan dari nelayan tradisonal dengan hasil tangkapan yang kurang memadai dan kualitasnya rendah. produksi tuna kalengnya 100 % untuk ekspor. bila permasalahan kelangkaan bahan baku dapat teratasi. Seychelles dan Philiphina (Tabel. Cote d´lvoire. tapi kenyataanya demikian. Sejak tahun 1981 – 2000. ikan tuna umumnya dipasarkan dalam bentuk segar.5 Oz).). 2004. setelah Thailand.5 juta karton menjadi 5 juta karton. PRODUKSI DAN PERKEMBANGAN EKSPOR Dalam perdagangan tuna dunia. tuna saku dll. melalui Workshop Revitalisasi Industri Pengolahan Hasil Perikanan.029. hal ini dikarenakan sebagian dikonsumsi di dalam negeri negara produsen tersebut. 2. Amerika Serikat. Tidak semua produksi tuna kaleng masuk ke pasar ekpor. Kemampuan produksi industri pengalengan nasional 24. devisa yang didapat sebesar 490 juta US$ setiap tahunnya. sisanya sejumlah 857. awal September 2004. apabila harga perkartonnya 18 US$. 5). Spanyol.2. Perkembangan produksi dan ekspor komoditi tuna Indonesia hingga November. posisi ekspor tuna kaleng Indonesia berada pada urutan ke 7. Sumber bahan baku dapat diperoleh dari perairan Pasifik Barat dengan produksi 1 – 1. Ecuador Italia. Pada tahun 2001 Indonesia menempati urutan ke 3 sebagai negara produsen utama tuna dunia.5 juta karton (48 x 6. Direktorat Jenderal Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Pemasaran Departemen Kelautan dan Perikanan mencoba menjembatani dengan mempertemukan pelaku usaha (stakeholder ).

Tabel 3. Tahun 1998 dengan volume ekspor 39. PENCURIAN OLEH KAPAL ASING Sampai September 2001.4.70 %) dari sekitar 7. 2. Tuna besar terdiri dari jenis ikan tuna mata besar (bigeye-Thunnus obesus). Permasalahanpermasalahan tersebut diantaranya adalah masalah pencurian oleh kapal asing. Beberapa permasalahan tersebut akan dibahas sebagai berikut : IV. Kelompok tuna merupakan jenis kelompok ikan pelagis besar. nilai ekspor sebesar 104. 2004). Berikut disajikan data produksi tuna di Samudera Hindia. Dalam rangka pengembangan industri perikanan tuna Indonesia untuk tujuan peningkatan kesejahteraan rakyat maka diperlukan suatu konsep strategi optimalisasi pemanfaatan sumberdaya ikan tuna di Indonesia yang mengacu pada strategi potensi wilayah perairan dan strategi implementasi teknologi penangkapan. Pada wilayah perairan ZEE Indonesia. yang secara komersial dibagi atas kelompok tuna besar dan tuna kecil.6 juta US$.tahun berturut-turut dari hasil ekspor tuna kaleng indonesia cederung mengalami penurunan.6 juta US$. Keberadaan tuna di suatu perairan sangat bergantung pada beberapa hal yang terkait dengan spesies tuna. sedangkan yang termasuk tuna kecil adalah cakalang (skipjack – Katsuwonus pelamis). nilai ekspornya sebesar 82. Dalam pengembangan sektor perikanan terdapat berbagai masalah yang selain terkait juga berpengaruh cukup besar.dan tuna abu-abu (longtail tuna – Thunnus tonggol).2 menyajikan estimasi potensi. tahun 2000 sebesar 87. produksi.1 juta US$ dan pada tahun 2002 dengan total ekspor 38.5.8 juta US$.1. kondisi hidrooseanografi perairan. adanya hambatan tarif dan non tarif serta kebijakan pemerintah tentang otonomi daerah.9 ribu ton. teritorial dan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Indonesia. (Fishdap. 2. Keadaan tersebut menyebabkan kerugian negara yang diperkirakan mencapai US $ 1.362 miliar per tahun dengan rincian (1) kerugian dari kehilangan devisa US $ 1 miliar. tuna albakora (albacore – thunnus alalunga). diduga sebagian besar (+. dan tingkat pemanfaatan sumber daya ikan pelagis besar di wilayah penangkapan.2 juta US$. POTENSI DAN PEMANFAATAN SUMBERDAYA IKAN TUNA Ikan tuna tergolong jenis scombrid yang sangat aktif dan umumnya menyebar di perairan yang oseanik sampai ke perairan dekat pantai. Pergerakan (migrasi) kelompok ikan tuna di wilayah perairan indonesia mencakup wilayah perairan pantai. migrasi jenis ikan tuna di perairan Indonesia merupakan bagian dari jalur migrasi tuna dunia karena wilayah Indonesia terletak pada lintasan perbatasan perairan antara samudera Hindia dan Samudera Pasifik. terutama Thailand. tuna sirip biru Selatan (southern bluefin – Thunnus maccoyii). Taiwan dan RRC. (2) Kerugian dari .3 ribu ton. KENDALA DAN PERMASALAHAN INDUSTRI PERIKANAN TUNA.000 kapal perikanan berbendera Indonesia yang memperoleh izin untuk beroperasi di perairan ZEE masih dimiliki pihak asing. rendahnya kualitas produk. Philipina. Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik. tahun 1999 sebesar 82.madidihang (yellowfin – Thunnus albacares). tahun 2001 sebesar 84. Sumber daya ikan tuna menyebar tidak merata di seluruh wilayah perairan Indonesia demikian juga dengan tingkat pemanfaatannya.

UE menerapkan sistem pengujian laboratorium secara acak (Random Sampling) atau dikenal dengan Rapid Alert System untuk mengatasi standar sanitasi dan mutu produk perikanan. Kerang-kerangan yang diimpor dari luar UE harus bebas bakteri E. Ecolabel. Negara-negara maju mulai mempermasalahkan ikut tertangkapnya shark (cucut) dan burung laut dalam penangkapan tuna. Setiap produk perikanan diwajibkan dilengkapi dengan serifikat mutu (quality certificate). Untuk memblok ekspor tuna dan embargo udang. Pakistan. Terhitung sejak tanggal 23 September 2000 terdapat 247 Approval Number dari Indonesia yang berhak mengekspor produk perikanan ke Uni Eropa. Standar Mutu. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan sebagai berikut : Ekuivalensi. AS meniupkan dolphin issue untuk tuna longliner dan berkaitan dengan penggunaan TED / BED (turtle excluder device) untuk penangkapan udang. Suatu perusahaan perikanan akan dicabut dari detention list jika secara 3 kali berturut-turut mutunya tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan. Selain sertifikat tersebut ditandatangani oleh inspektur yang terakreditasi dengan tinta yang warnanya sesuai. sertifikat ekspor. Beberapa negara Eropa juga mulai mengeluhkan tentang ukuran ikan. Isu Lingkungan. Ecolabelling yang awalnya bersifat sukarela (Voluntary) diganti dengan pelabelan bersifat wajib (Compulsary) dan berlaku universal. Standar Sanitasi. Setiap ekspor perikanan dimasukkan dalam detention list dan diperiksa secara acak. Sidang dispute settlement body menyatakan AS kalah dan harus mencabut embargo ekspor udang dari India. Rapid Alert System dan Automatic Detention dan lain-lain. Rapid Alert System. Misalnya UE mensyaratkan bebas salmonella untuk udang beku (kecuali udang rebus beku) tetapi untuk anggota UE aturannya lebih lunak. 2001). . Semua ekspor udang beku hanya bebas bakteri patogen.2. Namun pengujian organoleptik masih lazim digunakan untuk menentukan kualitas dan penerimaan suatu produk di pelabuhan masuk. Standar mutu yang diterapkan negara pengimpor umumnya lebih lunak daripada standar sanitasi. Sistem yang diberlakukan di AS ini pada dasarnya sama dengan RAS di UE. dan (3) kerugian dari fee yang harus dibayar sekitar US $ 100 juta (Dahuri. Coli sedangkan produk sejenis yang diproduksi di wilayah UE yang mengandung bakteri patogen pun tetap dapat dijual asal diberi label “B Area Product”. Untuk uji iji. IV. Malaysia dan Thailand. Sertifikat Ekspor. eksportir dikenakan biaya sebesar 10 % dari total nilai ekspor. standar sanitasi. isu lingkungan. Masalah by catch. dan sertifikat kesehatan (Health Certificate) dalam bahasa nasional negara tujuan. Penerapan RAS oleh UE sering menghambat ekspor hasil perikanan Indonesia karena hasil pengujian bersifat final dan merupakan hak prerogatif inspektur veteriner UE sehingga sulit dikaji ulang atau dibantah. Uni Eropa mensyaratkan bahwa hanya approved packers (unit pengolah yang disetujui) dari negara harmonized country yang diizinkan mengekspor komoditas perikanannya. yang dieksport negara berkembang (termasuk Indonesia) karena dianggap melanggar code of conduct for responsible fishing dan CITES. Banyak produk perikanan dari negara berkembang ditolak masuk karena tidak lolos uji organoleptik. Autamatic Detention. Hal ini terlihat dari resolusi sidang PBB ke-55 pada mata acara 34 ocean and the law of the sea.selisih iuran DPKK US $ 22 juta. HAMBATAN-HAMBATAN EKSPOR NON TARIF Hambatan non tarif yang diberlakukan terhadap komoditas perikanan impor adalah ekuivalensi. beberapa negara maju telah mendesak FAO untuk segera menyiapkan rancangan kriteria prosedur ecolabelling bagi produk perikanan yang diperdagangkan secara global. standar mutu. Standar Sanitasi yang tidak transparan atau standar ganda adalah masalah yang sering kita dengar.

Berdasarkan data di atas sangatlah jelas. Sebagai contoh di forum-forum internasional nelayan Indonesia sering menjadi pembicaraan karena dicurigai mengembangkan ”deep long line” untuk menangkap bluefin tuna dalam kondisi matang telur. Hongkong. . Pada saat ini hampir 75 % kapal tuna long line Indonesia beroperasi di luar ZEEI Saudera Hindia ke arah barat hingga Srilangka. Terdapat 20 pelabuhan yang telah ditetapkan dan untuk Indonesia pelabuhan yang terpilih adalah Singapura. nama produsen . mengakibatkan banyak nelayan yang tidak bisa melaut karena mahalnya biaya operasional. Saat ini (Maret 2003) sedang dikaji penetapan pajak ekspor untuk cakalang .Irradiasi. bahkan ada yang beroperasi di Samudera Atlantik untuk menangkap swordfish. Dengan sistem ini waktu pengapalan menjadi lebih lama dan beresiko bagi produk-produk yang tidak tahan lama. Eksportir harus menyampaikan dengan rinci pada USFDA tentang deskripsi produk. Sementara UE kecuali Perancis. Diperlukan pengawasan mutu yang ketat. kelemahan disektor pengawasan mutu terhadap produk ekspor khususnya tuna sehingga menempatkan posisi Indonesia pada urutan teratas dalam kasus RAS tersebut. Keanggotaan tuna dunia.Kendala dan masalah yang dihadapi untuk memanfaatkan sumberdaya perikanan secara optimal dan lestari. pergudangan. Pajak Ekspor Cakalang. Oleh karena itu pengelolaan ikan dimaksud di masa depan harus mengacu pada aturan-aturan internasional yang menjadi kesepakatan bersama. Namun demikian bila diperhatikan alat tangkap tuna long line yang dikembangkan di Indonesia umumnya tidak terlalu dalam untuk menangkap yelowfin tuna. Kenaikan Harga BBM. Tokyo dan Kobe. sehingga tuduhan tersebut tidak mendasar dan diaragukan kebenarannya. Permasalahan ini akhirnya dengan merevisi kenaikan harga BBM dan pendirian SPBU khususnya untuk solar di pusat-pusat penangkapan oleh DKP bekerja sama dengan Pertamina. Amerika serikat. CCSBT dan lainnya. Sektor industri yang terkena peraturan tersebut khususnya adalah produk makanan dan minuman. merupakan sistem terbaru untuk setiap kargo yang akan masuk ke Amerika harus terlebih dahulu diinfeksi di pelabuhan-pelabuhan yang telah ditetapkan AS. Belgia dan Belanda menetang digunakannya teknik irradiasi untuk pengawetan produk perikanan. mengingat tuna tergolong hewan yang high migration sehingga pengeloaannya melewati batas-batas negara sementara Indonesia belum menjadi anggota dalam pengelolaan tuna dunia seperti IOTC. UU bio-terorisme merupakan bagian dari kebijakan keamanan nasional Amerika untuk mencegah masuknya teror berupa penyakit. negara asal serta pelabuhan tujuan untuk selanjutnya diterbitkan prior of notice . Dengan kata lain peraturan ini mewajibkan setiap eksportir untuk mendaftarkan diri ke USFDA. Pemerintah AS menyatakan akan menanggung seluruh biaya pemeriksaan. Industri pengalengan ikan cakalang mengalami kesulitan untuk mendapatkan bahan baku karena sebagian besar produksi cakalang diekspor dalam bentuk mentah. kuman dan virus melalui produk-produk yang diimpor. Undang-Undang Bioterorisme atau The Bioterorisme Act telah disetujui Presiden Amerika Serikat dan dinyatakan berlaku mulai 12 Desember 2003. Shanghai. ada kekhawatiran kita dianggap ilegal walaupun menangkap diperairan sendiri. Maldives. Kenaikan harga BBM khususnya solar. kapal pengangkut. namun hal tersebut tidak menjamin kerugian eksportir karena adanya opportunity cost lainnya. Australia dan Jepang memberikan toleransi terhadap teknik irradiasi sepanjang tidak disalah gunakan untuk mengganti sistem pembinaan mutu yang kurang baik. Cargo Securuty Inisiative (CSI). disinilah kinerja laboratorium/ BPMHP/LPPMHP perlu ditingkatkan agar tingkat kepercayaan negara importir terhadap produk tuna Indonesia tidak terus merosot.

IV. KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN KEBIJAKAN Pembangunan sektor kelautan dan perikanan memiliki target yang spesifik diantaranya . PT. PT. Kebutuhan bahan bakar (BBM) untuk usaha perikanan tangkap belum mencukupi Perlu penyediaan sarana distribusi (SPBU/SPBB/Pool konsumen) di setiap pelabuhan perikanan atau pangkalan pendaratan ikan serta penambahan pasokan BBM untuk kapal-kapal perikanan sesuai kebutuhan yang sangat memerlukan dukungan dari Dep. Tirta Raya Mina. Selain itu ditargetkan juga peningkatan konsumsi ikan per kapita sebesar 21. (c) penerimaan negara bukan pajak (PNBP) penangkapan ikan yang akan mencapai Rp.3.54 juta orang. PERMASALAHAN INTERNAL No. (b) sumbangan terhadap PDB mencapai 10 % pada tahun 2004. Usaha Mina. 2. Secara bertahap sedang dilakukan penyesuaian kurikulum dan masih diperlukan peningkatan kualitas tenaga pengajar dan penyediaan kelengkapan sarana dan prasarana pendidikan profesional perikanan. 2. Samodra Besa. Target dalam peningkatan dan pemerataan kesejahteraan nelayan dan pembididaya ikan Target dalam pemeliharaan daya dukung dan kualitas lingkungan ekosistem laut dan perairan tawar Target dalam peningkatan budaya bahari bangsa dan menjadikan laut sebagai pemersatu bangsa . Tanjung Pinang Riau dan pengembangan beberapa program studi di Pesantren dll). V. Kota Agung-Lampung. Target dalam pertumbuhan ekonomi yaitu (a) pada tahun 2004 penerimaan devisa kelautan dan perikanan diharapkan mencapai US$ 5 Milyar. Kualitas sumberdaya manusia perikanan masih lemah : Kurangnya kesadaran masyarakat dan pemerintah daerah akan kebutuhan sumberdaya manusia yang berkualitas. Kinerja BUMN perikanan cenderung menurun karena mengalami krisis keuangan Perlu dilakukan revitalisasi BUMN perikanan (PT. Sumberdaya manusia kelautan dan perikanan belum memenuhi standar internasional yang ditetapkan IMO yaitu STCW-F (Standar Training Sertification and Watchkeeping for Fisheries). 1. Permasalahan Dukungan yang diharapkan 1. Peningkatan Investasi bidang kelautan dan perikanan di daerah potensial Sangat diperlukan iklim kondusif untuk pengembangan usaha perikanan disamping terus dilakukan safari investasi 3. ESM dan Pertamina. 4. Pangkal Pinang – Bangka-Belitung. 295 milyar serta PNBP penangkapan di ZEEI sebesar US$ 65 juta. V. Perikani) dengan dukungan dari Kantor Kementerian Negara BUMN. Sekolah Usaha Perikanan Menengah di Sikka NTT. Dukungan terhadap pembentukan sekolah-sekolah perikanan (saat ini sedang diproses : Akademi Perikanan di Nagroe Aceh Darussalam. (d) sumbangan terhadap PAD sebesar US$ 53 juta. dan PT.1. dari budidaya dan US$ 120 juta dari kegiatan penangkapan.93 kg/kapita/tahun dan penyerapan tenaga kerja sebesar 6.

Kluster ini sangat kompetitif dalam hal kualitas ekspor ikan segar dengan tujuan Jepang (misalnya tuna dalam bentuk sashimi dan katsoubochi) namun dalam segi biaya jika dibandingkan dengan produsen lain di dunia. mackarell dan sardin). Indonesia masih kurang kompetitif khususnya untuk produk kalengan (tuna. Dalam rangka menjaga kelestarian sumberdaya alam Pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan yang mengharuskan distribusi . Dalam rangka mendukung hal tersebut di atas. Oleh karena itu praktek perusahaan-perusahaan multinasional dengan merk global (misalnya Bumble Bee. beberapa hal yang diperlukan adalah : Memanfaatkan sumberdaya dan jasa kelautan secara optimal. Dengan memperhatikan struktur sumberdaya dan intensitas tenaga kerja global (dunia) dalam pemrosesan tuna kaleng. Kebijakan untuk mengembangkan potensi perikanan ini sangat tepat untuk mengentaskan kemiskinan dan melakukan pemerataan.7 juta ton / tahun). Marjin keuntungan dari industri pengalengan ikan domestik tidak besar sehingga setiap ada perubahan kebijakan dan lingkungan bisnis yang kontraproduktif akan meningkatkan biaya proses dan biaya-biaya lainnya yang dapat mengancam kelangsungan hidup perusahaan pengalengan. Komoditi perikanan merupakan komoditi yang dianggap sangat kompetitif di pasa dunia namun tingkat kompetitifnya masih belum optimal bahkan masih lemah. Hukum-hukum tentang lingkungan dan peraturanperaturannya umumnya tidak diterapkan secara terbuka dan konsisten. pemerintah mengambil beberapa langkah yang dinilai cukup strategis. Hambatan utamanya adalah lemahnya keterkaitan industri pengalengan dengan suplier ikan segar dan ikan beku. Komoditi perikanan menunjukkan rasio biaya pengolahan terhadap sumberdaya yang cukup baik dibandingkan Philipina.000 Km) dan sumberdaya ikan yang sangat kaya (6. Keterkaitan dengan supplier global selain mengurangi biaya juga akan dapat memfasilitasi alih teknologi pemrosesan yang efisien dan teknologi distribusi secara global. Starkist dan Chicken of the Sea) yang sudah “mapan” mempunyai potensi yang sangat besar. untuk penangkapan ikan dan pengalengan Indonesia lebih kompetitif karena adanya subsidi BBM.Dalam upaya meningkatkan ekspor komoditi perikanan Indonesia.efisien dan berkelanjutan Meningkatkan pengawasan dan pengendalian SDKP Menerapkan IPTEK dan manajemen profesional pada setiap mata rantai usaha bidang kelautan dan perikanan Merehabilitasi ekosistem habitat pesisir dan laut Membangun dukungan fiskal dan moneter yang kondusif Memberdayakan sosial ekonomi masyarakat kelautan dan perikanan Mengembangkan dan memperkuat jaringan ekonomi Mengembangkan dan memperkuat sistem informasi kelautan dan perikanan Mengembangkan sistem dan mekanisme hukum dan kelembagaan Nasional dan Internasional Menanamkan wawasan kelautan pada seluruh masyarakat. Potensi ekonomi kluster pengolahan dan pengalengan ikan sangat melimpah. Zona Ekonomi khusus di wilayah timur Indonesia misalnya Bitung dan Biak dapat dikembangkan menjadi sentra industri tuna modern. Hambatan lainya adalah semakin meningkatnya kompetisi global dalam pengalengan ikan sebagaimana diperlihatkan oleh kecenderungan menurunnya harga produk tersebut di dunia. harga es yang murah dan sumberdaya ikan yang melimpah. Di Indonesia. Indonesia dianugerahi dengan garis pantai yang sangat panjang (81. penerapan kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan masih belum efektif. keuntungan jangka panjang yang bisa diambil adalah murahnya tenaga kerja dan melimpahnya bahan baku dari negara-negara suplier (misalnya ASEAN).

. perjanjian bilateral dan pasar potensial seperti China. · Mendorong keterkaitan usaha yang kompetitif dan marketing intelligent untuk meningkatkan pangsa pasar dunia.pendapatan negara dari pengumpulan ikan terhadap pemerintah daerah. Keempat. diferensiasi produk dan kualitas (didukung dengan industri downstream yang dinamis) dan penetrasi pasar yang proaktif misalnya melalui lobby perdagangan. Kelima. misalnya bea masuk 24 % untuk tuna kalengan di Eropa. · Menerapkan upstream dan downstream penelitian dan pengembangan.2. dan Eropa.meningkatkan akurasi data sumberdaya ikan ekonomis di wilayah pengelolaan perikanan Indonesia. Ketiga. · Melakukan pemasaran yang strategis dengan market intelligent. Memulihkan pembiayaan jangka pendek sampai jangka panjang bagi usaha para produsen. Mesir dan negara-negara ASEAN. V. penolakan ekspor dan automatic detention di AS. pengembangan dan pendidikan serta pengembangan sumberdaya manusia untuk meningkatkan produktivitas. Keenam.penghentian ijin operasi ikan kapal asing di wilayah pengelolaan perikanan Indonesia diikuti dengan peningkatan kemampuan penangkapan dan modernisasi armada penangkapan ikan/ memberdayakan industri perkapalan nasional . Melakukan langkah-langkah progresif dalam perjanjian bilateral dan multilateral (ASEAN dan APEC) dengan menegosiasikan hambatan diskriminasi tarif dan non tarif yang tidak adil. Pakistan. Hal ini dilakukan untuk membiayai konservasi dan rehabilitasi alam. Rekomendasi Kebijakan Pertama. Australia. kualitas produk. memproduksi produk dengan nilai yang lebih tinggi (divefikasi). fokus pengembangannya adalah melalui : · Meningkatkan akses nelayan kecil dan menengah terhadap daerah penangkapan ikan yang lebih kaya (melalui kapal-kapal modern dan teknologi penangkapan ikan) dan teknologi pendinginan. · Mengembangkan handliner dan mengorganisasikan dalam suatu wadah armada nasional yang dilengkapi dengan mother boat dengan sstem prosesing yang memadai · Mengembangkan coolchain system di sentra-sentra penangkapan tuna khususnya kawasan Timur · Mengembangkan safe belt system melalui pengembangaan akses pulau terluar sebagai sentra perikanan tuna/cakalang dan berfungsi sebagai pagkalan kapal pengawas. India. pajak dan pengembangan sumberdaya manusia serta insentif finansial untuk mengembangkan industri inti dan industri pendukung khususnya pada pengolahan dan sub sektor permesinan. usaha pemrosesan dan aktivitas perdagangan internasional apabila cukup layak untuk dipulihkan. STRATEGI PERIKANAN REVITALISASI INDUSTRI PENGOLAHAN HASIL a). Memberikan kemudahan dalam hal investasi. Sektor produksi . Untuk industri pengalengan dan pemrosesan ikan. mempertahankan kelestarian alam dan mengurangi biaya untuk teknologi. Mengalokasikan investasi publik yang lebih besar pada fasilitas infrastruktur untuk meminimalkan biaya distribusi dan mengurangi waktu antrian dalam pengapalan barang. mempercepat keanggataan Indonesia dalam organisasi tuna dunia dan ikut berperan aktif dalam forum-forum internasional mengenai strategi dan kebijakan pengeloalaan tuna. promosi. Meningkatkan Investasi dalam bidang penelitian. Kedua. ukuran persyaratan sanitasi dan phytosanitasi yang keras dari AS dan Jepang.

lokal. dengan memperhatikan faktor keamanan konsumen . surat kabar nasional sebagai iklan layanan sosial . kemudahan regulasi dsb. .meningkatkan kesadaran dan pengetahuan aplikasi sistem HACCP serta HACCP PLUS (own check system) pada industri pengolahan berorientasi ekspor.menghapuskan biaya produksi tinggi untuk tingkatkan efisiensi dan daya saing produk · Untuk pasar .melakukan negosiasi secara intensif dengan negara importir untuk menurunkan tarrief dan non-tarrief barriers. b).penghapusan PPN 10 % dan peningkatan pungutan ekspor bahan baku ikan.melakukan kampanye makan ikan secara intensif dengan metode kreatif dan edukatif secara luas. rri. tvri.pemberian ijin operasi kapal asing hanya diberikan bila mendirikan industri pengolahan dan menjual sebagian hasil tangkapannya di indonesia .mengatur kebijaksanaan perdagangan bahan baku ikan antar daerah.. menteri kesehatan.melakukan harmonisasi standar mutu dengan negara-negara pengimpor dan standar internasional. . menteri pemuda. misalnya melalui kebijakan harga.memperluas skala pendidikan informal teknik pengolahan ikan secara baik dan benar (sesuai GHP dan GMP) .mendorong unit pengolahan ikan yang telah memenuhi syarat untuk melakukan ekspor.menghilangkan image Indonesia yang selama ini dikenal sebagai pemasok bahan baku industri perikanan di luar negeri. dengan pemberian kompensasi logis bagi industri pensuplai bahan baku ikan.penempatan atase perdagangan perikanan di pasar utama produk hasil . dan mencabut ijin (approval number) bagi unit pengolahan ikan yang tidak kontinyu melakukan ekspor ke UE. dengan meningkatkan produksi produk bernilai tambah .melakukan pengaturan ekspor bahan baku ikan. menteri informasi. mempertimbangkan kecukupan pasokan bahan baku ikan pada industri dan pemenuhan gizi konsumen di daerah asal .meningkatkan aplikasi teknologi yang lebih tinggi dan mutakhir dalam pengolahan hasil perikanan. menteri pendidikan.meningkatkan keragaman produk olahan hasil perikanan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi . . melalui pemberdayaan riset dan pengembangan maupun kerjasama riset dan pengembangan dengan lembaga riset/pendidikan . Strategi pemasaran meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait penguasaan industri pendukung memberikan konsekuensi logis perbaikan peraturan dan persaingan usaha meningkatkan kampanye makan ikan .pembentukan regulasi pengadaan bahan baku ikan impor pada industri lokal .sinkronisai/harmonisasi persepsi Pemerintah Pusat –Daerah . bekerjasama dengan menteri perempuan. · Sektor Untuk konsumsi pengolahan. . . c). .melakukan edukasi secara intensif dan kontinyu pada konsumen tentang bahaya mengkonsumsi food additive ilegal .memperbaiki mutu produk olahan hasil perikanan.menerapkan sistem pengawasan jaminan mutu pada industri-industri dilakukan secara intensif oleh competent authority. fasilitas.

KERANGKA PENGEMBANGAN INDUSTRI PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN a).mengundang investor yang punya visi pro poor dan pro job.meningkatnya utilisasi kapasitas menjadi sekitar 60% dengan rata-rata peningkatan 5% per tahun meningkatnya ekspor rata-rata 5.Tercapainya angka kecukupan protein asal ikan bagi penduduk Indonesia seperti yang direkomendasikan oleh Widya Karya Pangan dan Gizi .Tercapainya 50% ekspor produk perikanan dalam bentuk olahan .meningkatnya penyerapan tenaga kerja di bidang industri pengolahan hasil perikanan sebanyak 36 ribu orang . Sasaran Jangka Menengah (2004-2009) .0% per tahun .perikanan Indonesia meningkatkan market iteliegence .3. d).meningkatnya devisa dari sektor perikanan rata-rata 2 % pertahun b) Sasaran Jangka Panjang (2010-2024) . Penguatan pemberdayaan revitalisasi seluruh BUMN dan pembangunan klaster-klaster sentra distribusi pusat penjualan memperkuat basis dan struktur kelembagaan koperasi UPT Perikanan produk unggulan BBM nelayan industri perikanan V.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful