TUGAS SOSIO-PSIKOLOGI SASTRA

ANALISIS SOSIOLOGIS CERPEN “DI MALAM TAKBIRAN” KARYA SABILAA
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sosio-Psikologi Sastra Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2009/A Dosen Pembimbing : Drs. Heru Subakti, M.M

Oleh : INGGIT RETNA PALUPI NIM. 096093

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA JOMBANG 2011

DAFTAR ISI

Halaman Judul ......................................................................... Daftar Isi ................................................................................... BAB I : PENDAHULUAN ....................................................... BAB II : LANDASAN TEORI ................................................ 2.1 Pengertian Sosiologis Sastra................................................. 2.2 Unsur-unsur Dalam Sosiologis Sastra................................... 2.2.1 Unsur Intrinsik Cerpen....................................................... A. Tema dan Amanat......................................................... B. Alur dan Plot.................................................................. C. Perwatakan atau Penokohan ………………… D. Sudut Pandang atau Titik Pandang................................ E. Latar atau Setting........................................................... F. Gaya Bahasa................................................................... 2.2.2 Unsur Ekstrinsik Cerpen.................................................... 2.2.3 Nilai-Nilai Psikologis Cerpen............................................ BAB III : PEMBAHASAN ...................................................... 3.1 Sosiologi Pengarang Cerpen “Di Malam Takbiran” ……… 3.2 Sosiologi Karya Sastra “Di Malam Takbiran”...................... 3.3 Sosiologi Pembaca Cerpen “Di Malam Takbiran”............... BAB IV : PENUTUP ................................................................

1 2 3 6 6 7 6 8 9 10 13 14 15 7 7 17 17 18 20 22

1 KESIMPULAN …………………………………………. … SINOPSIS …………………………………………………… … DAFTAR PUSTAKA …………………………………… … 22 22 22 .4.

dan tetap mempunyai tujuan estetik ( Wellek & Waren. Suatu karya sastra menjadi cermin keadaan masyarakat dimana dia di lahirkan. Betapapun saratnya pengalaman dan permasalahan kehidupan yang ditawarkan. Hal kedua.BAB I PENDAHULUAN Pada suatu karya sastra yang diciptakan oleh pengarang memiliki maksud dan tujuan yang ditawarkan pengarang yaitu untuk dinikmati. Pada umumnya memang begitu. dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat. karena kemampuannya menembus suatu kurun waktu. Persoalan yang digarapnya mungkin belum terasa actual sementara ini. 1956:212) Pada pendekatan sosiologis berpandangan bahwa sastra merupakan pencerminan kehidupan masyarakat. Tentu saja dengan itu tidak dikatakan bahwa sastra seharusnya suatu yang serba asing dari kehidupan masyarakat. Bertolak dari pandangan itu telaah atau kritik sastra yang dilakukan terfokus atau lebih banyak mamperhatikan segi-segi sosial kemasyarakatan yang terdapat dalam suatu karya sastra serta mempersoalkan segi-segi yang menunjang pembinaan dan pengembangan tata kehidupan. Membaca sebuah karya fiksi berati menikmati cerita. tetapi hal itu tidak harus Ignas Kleden (1981) menyebutkan bahwa sastra adalah karya individualyang didasarkan pada kebebasan mencipta dan dikembangkan lewat imajinasi. Dia pertama-tama. Bila dia kebetulan mengucapkan suatu keadaan umum masyarakat. tetap merupakan bangun struktur yang koheren. menghibur diri untuk memperoleh kepuasan batin. Cerpen merupakan karya sastra fiksi karena terkandung tujuan didalamnya dengan memberikan hiburan kepada pembaca disamping adanya tujuan estetik. karena merupakan cermin diri sang pengarang itu sendiri: persoalan dan motif-motif pribadinya. Dia dapat juga menyampaikan beberapa keluhan masyarakat . maka hanya lantaran persoalan umum itu terasa sebagai masalah pribadinya sendiri. sebuah karya fiksi haruslah tetap merupakan cerita yang menarik. dia juga tidak terikat dengan masa kininya. Melalui sastra pengarang mengungkapkan tentang suka duka kehidupan masyarakat.

Dikatakan bahwa pendekatan sosiologis atau ekstrinsik biasanya mempermasalahkan sesuatu diseputar sastra dan masyarakat bersifat sempit dan eksternal. adat-istiadat. harapan. dan politik.masanya. . memainkan tokoh-tokoh ciptaannya itu dalam suatu situasi nasib mereka sendiri. Dan karena sastra juga akan selalu mencerminkan rekaan agar mencari nilai-nilai dan perasaan sosial. untuk selanjutnya menemukan nilai dan makna dalam dunia sosial. Kekurangan didalam sebuah cerpen yang memang hampir banyak ditemukan diberbagai Penggunaan pendekatan sosiologis dalam melakukan kritik sastra ternyata mendapat tantangan daripada tokoh. Pengarang-pengarang besar. Sastra karya pengarang besar melukiskan kecemasan. diantaranya Rene Wellek dan Austin Warren (1956). tetapi itu tanpa pretense mau menjadi juru bicara jamannya dalam arti yang lengkap. Kata demi kata di uraikan dengan baik. Oleh karena itu barangkali ia merupakan salah satu barometer sosiologis yang paling efektif untuk mengukur tanggapan manusia terhadap kekuatan-kekuatan sosial. Pembaca disuguhkan dengan kepiawaian pengarang dalam menceritakan kejadian sehingga pembaca semakin tertantang dan tidak mengalami kejenuhan. menurut Sapardi Djoko Damono (1978). dapat diramalkan bahwa semakin sulit nantinya mengadakan analisis terhadap astra sebagai cermin masyarakat. sistem ekonomi. Yang dipersoalkan biasanya mengenai hubungan sastra dan situasi sosial tertentu. Didalam makalah ini penulis ingin lebih mengkhususkan membahas mengenai pendekatan sosio-psikologi sastra yang terdapat didalam cerpen yang berjudul “di malam takbiran” oleh pengarang bernama Sabilaa didalam majalah Femina. Ia mengemban tugas yang mendesak. Kelebihan didalam cerpen tersebut yang khas yang dapat dilihat adalah kemampuan pengarang dalam menggemukakan secara lebih banyak makna tersirat daripada tersurat yang ditangkap oleh para pembaca secara implisit dari sekedar apa yang diceritakan yang terdapat dalam cerpen tersebut. sosial. sebab masyarakat semakin menjadi rumit. tidak sekedar menggambarkan dunia sosial secara mentah. dan aspirasi manusia.

. cerpen yang ditulis yaitu plot. Penokohan.Bahkan penampilan berbagai peristiwa yang saling menyusul yang membentuk plot. namun tetap saling berkaitan secara logika. plot yang disajikan dalam cerpen ini hanya terdiri dari satu urutan peristiwa yang diikuti sampai cerita berakhir bahkan penyelesaian diserahkan kepada interpretasi pembaca. khususnya yang berkaitan dengan perwatakan. baik yang menyangkut jumlah maupun data-data jati diri tokoh. jumlah tokoh cerita yang terlibat dalam cerpen ini terbatas. sehingga pembaca harus merekonstruksi sendiri gambaran yang lebih lengkap tentang tokoh dalam cerpen tersebut.

termasuk perubahan-perubahan sosial. Hubungan dan pengaruh timbale-balik antara gejala sosial dengan gejala-gejala non sosial. telaah tentang lembaga dan proses sosial. Keempat. Ketiga studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra. mempelajari dampak sastra pada pembaca (psikologi pembaca). Pendekatan sosiologis bertolak dari pandangan bahwa sastra merupakan pencerminan kehidupan masyarakat. Psikologi sastra mempunyai kemungkinan pengertian. Sedangkan dua pengertian lainnya merupakan bagian dari psikologi seni. Bertolak dari pandangan itu telaah atau kritik sastra yang dilakukan terfokus atau lebih banyak . Yang berkaitan dengan bidang sastra adalah pengertian ketiga. adalah studi proses kreatif. Kedua. Selo Soemarjand dan Soelaiman Soemardi (1990:20) menyatakan bahwa sosiologi atau ilmu kemasyarakatan ialah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial. Pittirin Sorokin mengatakan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal-balik antara aneka macam gejala-gejala social. tetapi sebaiknya asal-usul adan proses penciptaan sastra tidak dijadikan pegangan untuk memberikan penilaian. Psikologi pengarang dan proses kreatif sering di pakai dalam pengajaran sastra.BAB II LANDASAN TEORI 2. adalah studi psikologi pengarang sebagai tipe atau sebagai pribadi. Melalui sastra pengarang mengungkapkan tentang suka-duka kehidupan masyarakat yang mereka ketahui dengan sejelas-jelasnya. Yang pertama. Pengertian yang keempat berkaitan dengan sastra dan masyarakat.1 Pengertian Psikologis Sastra Cerpen Sosiologi adalah merupakan telaah yang objektif dan ilmiah tentang masyarakat.

Jika berkiblat pada teori Taine (Junus. Hal ini terjadi disebabkan timbulnya kesadaran bagi para pengarang. yang dengan sendirinya juga bagi kritikus sastra.memperhatikan segi-segi social kemasyarakatan yang terdapat dalam suatu karya satra serta mempersoalkan segi-segi yang menunjang pembinaan dan pengembangan tata kehidupan. itu pun belum mampu menerbitkna semua karya sastrawan. sastra akan dipengaruhi oleh kondisi sejarah dan kelas masyarakat. yaitu ras. waktu. karena yayasan ini juga memiliki hegemoni tersendiri. Bahkan. karena memang tidak ada dana lagi. kalaupun ada sedikit pertolongan dari Ford Foundation. lebih jauh lagi super struktur masyarakat kadang-kadang sangat besar penagruhnya terhadap kehidupan sastra. Tidak sedikit karya sastra yang harus “mengeram” sampai tidak menetas di penerbit. 2.2 Unsur-Unsur Dalam Psikologis Sastra Dalam Cerpen Unsur-unsur yang menjadi kajian dalam psikologi sastra yang berupa unsur intrinsic maupun ekstrinsik. Dan pendekatan psikologis adalah merupakan pendekatan penelaah sastra yang menekankan pada segi-segi psikologis yang terdapat dalam suatu karya sastra. Pendekatan yang mengungkap “konsep pengaruh”. Segi-segi psikologis ini mendapat perhatian dalam penelaah dan penelitian sastra. tetapi juga dari segi rohaniah atau kejiwaan. ketika bangsa Indonesia mengalami krisis ekonomi dan krisis kepercayaan yang panjang. ternyata telah menyempitkan penerbitan karya sastra. 1986:19) karya sastra memang dapat dipengaruhi oleh kondisi sosiobudaya masyarakat. bahwa perkembangan dan kemajuan masyarakat di zaman modern ini tidaklah semata-mata dapat di ukur dari segi materi saja. Dalam hal ini. . merepresentasikan bahwa kondisi sosiobudaya memiliki peranan penting bagi sastra. yang akan tampak pada gaya maupun bentuk sastra. dan lingkungan. Hal semacam ini sulit disangkal.

sasaran tujuan penggarapan cerita. Pemahaman satuanm peristiwa. pokok pikiran serta tahapan peristiwa 4. karena dengan dasar itu pengarang dapat membayangkan dalam fantasinya bagaimana cerita akan dibangun dan berakhir.1 Unsur Intrinsik Cerpen Unsure intrinsic dalam cerpen terdiri atas tema dan amanat. Lebiha jauh lagi Aminuddin memberikan beberapa langkah untuk memahami tema. Pemahaman plot dan alur 5. tema mempunyai tiga fungsi. Jadi tema adalah ide sentral yang mendasari suatu cerita. Identifikasi pengarang memaparkan cerita . latar. Memahami penokohan 3. Menentukan sikap penyair terhadap pokok-pokok pikiran yang ditampilkan 7. Pemahaman setting.2. dan gaya bahasa.2. 2. yaitu sebagai pedoman bagi pengarang dalam mengarap cerita. Aminuddin (1987 : 91) mendefinisikan ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperan juga sebagai pangkal tokoh pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. perwatakan. Tema dan Amanat Tema merupakan omensional yang amat penting dari suatu cerita. A. dan mengikat peristiwa-peristiwa cerita dalam suatu alur. Hubungan pokok pikiran yang satu dengan yang lainnya yang disimpulkan dari satuan-satuan peristiwa 6. Langkah-langkah tersebut melalui: 1. Dengan adanya tema pengarang mempunyai pedoman dalam ceritanya pada sasaran. sudut pandang. alur.

1984 :149) Aminudin (1987 : 83) mendifinisikan alur adalah rangkai cerita yang dibetuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita. Suatu cerita yang tidak mempunyai tema tentu taka ada gunanya dan artinya. rising action (keadaan mulai memuncak ) d. Dengan demikian tidak berlebihan bila dikatakan bahwa tema merupakan hal yang paling penting dalam seluruh cerita. S. generating sircumstances (peristiwa ang bersangkut paut mulai bergerak ) c. Menafsirkan tema dalam cerita yang dibaca serta menyimpulkannya.8. Puser dan Warren dalam buku lain mengatakan bahwa “ tema adalah pandangan hidup tertentu atau perasaan tertentu mengenai kehidupan atau rangkaian nilai-nilai tertentu yang membentuk atau yang membangun dasar atau gagasan utama dari suatu karya sastra”. Dalam Tarigan (1986 :125) B. Tarif menyebutkan bahwa setiap cerita dapat dibagi dalam lima again: a. Penulis melukiskan watak para tokoh dalam karyanya dengan dasar itu. Alur atau Plot Pendapat Jan Van Luxemburk yang di indonesiakan oleh Dick Hartono mengemukakan bahwa alur atau plot adalah kontruksi yang dibuat pengarang mengenai sebuah deretan peristiwa yang logis dan kronologis saling berkaitan dan yang diakibatkan atau dialami para pelaku ( Hartoko. Setiap fiksi haruslah mempunyai dasar atau tema yang merupakan sasaran tujuan. situation (pengarang mulai melukiskan suatu keadaan) b. Brooks. climax (peristiwa-peristiwa mencapai klimaks) .

Ditinjau dari peranan dan keterlibatan dalam cerita. 1984:91-92). dapat dibedakan atas tokoh yang mempunyai karakter sederhana dan kompleks (Aminuddin. 1987:160. Tokoh dalam karya rekaan selalu mempunyai sikap. karena terpengaruh oleh temannya yang serakah.peristiwa yang disajikan dalam karaya sastra disela denga peristiwa yang terjadi sebelumnya. Ad avo. Bila dilihat dari masalah yang dihadapi tokoh. 1984:85). In medis res. 1988 : 31 ). tingkah laku. jika cerita dimulai ditengah kisah kemudian dipertautkan dengan semua peristiwa sebelum dan sesudahnya. c. 1986 : 128) Didalam memahami buku cerita rekaan dijelaskan pengaluran adalah pengaturan peristiwa membentuk cerita ( sudjiman. Tokoh dinamis adalah tokoh yang kepribadiaanya selalu berkembang. Dilihat dari perkembangan kepribadian tokoh. sifat. Aminuddin:85-87). C.e. Alih bakih atau sorot balik jika urutan kronologisnya peristawa. Sukada. sedangkan cara sastrawan menampilkan tokoh tersebut disebut penokohan (Aminuddin. 1988:17-20. tokoh dapat dibedakan atas tokoh dinamis dan tokoh statis. tokoh dapat dibedakan atas : (a) Tokoh primer/utama (b) Tokoh sekunder/tokoh bawahan (c) Tokoh komplementer/tokoh tambahan (Sudjiman. Ada beberapa cara yang dilakuakan untuk mengetahui pengaluran dalam sebuah cerita yaitu : a. tokoh yang semula jujur. Pemberian watak pada tokoh suatu karya oleh sastrawan disebut perwatakan. akhirnya .denonement (pengarang mulai memberikan pemecahan persoalan dari semua peristiwa) dalam ( tarigan. Perwatakan atau Penokohan Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita rekaan sehingga peristiwa itu menjalin suatu cerita. jika sebuah cerita disusun dan dimulai pada awal peristiwa b. Sebagai contoh . atau watak-watak tertentu.

Sebagai contoh. Selain kebaikan.menjadi tokoh yang tidak jujur. cerdik. 1984:85). Contoh berikutnya bisa kita lihat. dapat dibedakan atas tokoh protagonis dan tokoh antagonis (Aminuddin. ada juga tokoh-tokoh antagonis yang bercampur dengan sifat-sifat yang baik. misalnya. Meskipun demikian. culas. iri. tetapi ia begitu sayang kepada anak dan istrinya sehingga anak dan istrinya juga begitu sayang kepadanya. tetapi dengan kejujurannya itu justru mencelakakan temanya. Tokoh ini menjadi jujur kembali setelah ia sadar bahwa dengan tidak jujur penyakit jantungnya menjadi parah. ternyata ia juga menjadi Bandar judi. Biasanya. orang mempunyai kelemahan. pembohong. pada tokoh yang dikenal masyarakat sebagai orang yang pelit. rendah hati. ada juga watak protagonis yang menggambarkan dua sisi kepribadian yang berbeda. padahal dia adalah pemilik panti asuhan itu. pandai. Ia memang jahat. Oleh karena itu. Ia takut tidak ikhlas dalam beramal saleh. Tokoh yang mempunyai karakter sederhana adalah tokoh yang hanya mempunyai karakter seragam atau tunggal. Tokoh protagonis adalah tokoh yang wataknya disukai pembacanya. Dilihat dari watak yang dimiliki oleh tokoh. misalnya tokoh yang di mata masyarakat dikenal sebagai orang yang dermawan. watak tokoh semacam ini adalah watak yang baik dan positif. Tokoh statis adalah tokoh yang mempunyai kepribadian tetap. seperti dermawan. Tokoh ini biasanya digambarkan sebagai tokoh yang berwatak buruk dan negative. mandiri. Sukada (1987:160) merangkum keempat pembagian di atas menjadi tokoh datar (flat character). ada tokoh yang mempunyai profesi sebagai pencuri. Sedangkan tokoh yang mempunyai karakter kompleks adalah tokoh yang mempunyai karakter beraneka ragam kepribadian. suka pamer. tokoh yang setia kepada negara. Pembela kaum miskin. berusaha mengentaskan kemiskinan. menghalalkan segala cara. seperti pendendam. yakni tokoh yang memiliki kekompleksan watak dan bersifat dinamis. Tokoh antagonis adalah tokoh yang wataknya dibenci pembacanya. Ia berbuat seakan-akan pelit untuk menutupi kedermawanannya. tokoh yang jujur. dan setia kawan. dan ambisius. Contohnya. jujur. yakni tokoh yang sederhana dan bersifat statis. Dalam kehidupan sehari-hari. padahal negaranya adalah . jarang ada orang yang mempunyai watak yang seluruhnya baik. dan tokoh bulat (round character). sombong. pembela.

misalnya kancil. 1984:87-88). tokoh yang memegang teguh janji. pelaku dapat berupa manusia atau tokoh makhluk lain yang diberi sifat seperti manusia. yaitu : a) Physical description. Suardi Tasrif (dalam Mochtar Lubis. kacau. Cara itu adalah melalui : (a) Tuturan pengarang terhadap karakteristik pelakunya (b) Gambaran yang diberikan pengarang lewat gambaran lingkungan kehidupannya maupun caranya berpakaian (c) Menunjukkan bagaimana perilakunya (d) Melihat bagaimana tokoh itu berbicara tentang dirinya sendiri (e) Memahami bagaimana jalan pikirannya (f) Melihat bagaimana tokoh lain berbicara dengannya (g) Melihat bagaimana tokoh lain berbicara tentangnya (h) Melihat bagaimanakah tokoh-tokoh yang lain itu member reaksi terhadapnya (i) Melihat bagaimana tokoh itu dalam mereaksi tokoh yang lain (Aminuddin. Mungkin sastrawan menampilkan tokoh sebagai pelaku yang hanya hidup di alam mimpi. 1960:18) mengemukakan 7 macam cara melukiskan perwatakan tokoh cerita. Boulton (dalam Aminuddin. dan mementingkan diri sendiri. kaset. c) Reaction to event: penggambaran tentang bagaimana reaksi pelaku terhadap kejadian-kejadian. tetapi janji itu diucapkan pada orang yang salah dan berakibat fatal. Ada beberapa cara memahami watak tokoh. kucing. pelukisan jalan pikiran atau apa yang terlintas dalam pikiran tokoh. pelaku yang memiliki semangat perjuangan dalam mempertahankan hidupnya. pelaku yang memiliki cara yang sesuai dengan kehidupan manusia yang sebenarnya atau pelaku egois. . 1984:85) mengungkapkan bahwa cara sastrawan menggambarkan atau memunculkan tokohnya dapat menempuh berbagai cara. dan sepatu.negara penebar kejahatan di dunia. menggambarkan bentuk lahir dari pelaku cerita. Dalam cerita fiksi. b) Portroyal of throught streem of conscious .

d) e) Direct auther analysis: menganalisis langsung watak tokoh. g) Conversation of about to character: perbincangan oleh pelaku-pelaku lain terhadap tokoh utama. Discussion of environment: pelukisan keadaan sekitar lingkungan pelaku. D. kedua. atau ketiga. yaitu perasaan dan sikap pengarang terhadap masalah dalam cerita • Sudut pandang pribadi. tempat. dsb. 1988:76) menyatakan titik pandang terdiri atas : • Sudut pandang fisik. yaitu hubungan yang dipilih pengarang dalam membawa cerita. Dari empat itulah sastrawan bercerita tentang tokoh. titik pandang diartikan sebagai cara pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkannya. Titik pandang meliputi : • Narrator omniscient • Narrator observer • Narrator observer omniscient • Narrator the third person omniscient Harry Shaw (dalam Sudjiman. seperti keadaan kamar yang bias memberi kesan jorok. f) Rection of others about to character: pelukisan mengenai bagaimana pandangan pelaku lain terhadap tokoh utama. dengan gayanya sendiri. Sudut pandang pribadi dibagi atas :  Pengarang menggunakan sudut pandang tokoh . yaitu posisi dalam waktu dan ruang yang digunakan pengarang dalam pendekatan materi cerita • Sudut pandang mental. Sudut Pandang atau Titik Pandang Pengarang serba tahu (auther emniscient) Titik pandang adalah tempat sastrawan memandang ceritanya. Sedangkan menurut Aminuddin ((1984:105-107). untuk memberi kesan terhadap tokoh utama. sebagai orang pertama. peristiwa. waktu.

adat kebiasaan. Leo Hamalian dan Frederick R. ada pula yang tidak. waktu berlakunya kejadian. ada yang gabungan antara kenyataan dengan khayalan. Mungkin dalam sebuah cerita rekaan. moral. maupun gaya hidup suatu masyarakat dalam menanggapi suatu problema tertentu. Hudson (dalam Sudjiman. Setting sosial menggambarkan keadaan masyarakat. musim terjadinya sebuah tahun. dan sebagainya. Ada latar yang dijelaskan secara persis seperti kenyataannya. Aminuddin (1984:64) memberi batasan setting sebagai latar peristiwa dalam karya fiksi berupa tempat. Latar atau Setting Setting diterjemahkan sebagai latar cerita. waktu kesejarahan (jistorical time). Penggambaran latar ini ada yang terperinci. perincian perlengkapan sebuah ruangan. bahasa. serta memilih fungsi fisik maupun fungsi psikologis. daerah. ada juga latar yang merupakan hasil imajinasi sastrawannya. cara hidup. masa sejarahnya. suasana. dan emosional para tokoh. E. sosial. Tidak semua jenis latar cerita itu ada di dalam sebuah cerita rekaan. dan kebiasaan masyarakat (social circumstances) dalam setiap episode atau bagian-bagian tempat. waktu maupun peristiwa. 1988:44) mengungkapkan cakupan latar cerita dalam cerita fiksi yang meliputi penggambaran lokasi geografis. Latar fisik mengacu pada wujud fisikal. Abrams (1981:173) mengemukakan latar cerita adalah tempat umum(general locale). waktu. atau kesibukan sehari-hari para tokoh. Pengarang menggunakan sudut pandang tokoh bawahan  Pengarang menggunakan sudut pandang yang impersonal. 1984:64) menjelaskan bahwa latar cerita dalam karya fiksi bukan hanya berupa tempat. ia sama sekali berdiri di luar cerita. prasangka. karell (dalam Aminuddin. intelektual. lingkungan agama. latar cerita yang menonjol adalah latar sosial. tetapi juga dapat berupa suasana yang berhubungan dengan sikap. peristiwa. dan lain-lain yang melatari peristiwa. pemandangan. Kenney (dalam Sudjiman. . pekerjaan. jalan pikiran. 1988:44) membagi setting atas setting sosial dan setting fisik. serta benda-benda dalam lingkungan tertentu. yaitu bangunan. kelompok-kelompok sosial dan sikapnya.

Bagi sastrawan. waktu. tema. maupun dalam rangka mewujudkan tema suatu cerita. setting harus benar-benar mutlak untuk menggarap tema dan karakter cerita. Setting dalam cerpen telah menjadi begitu kompleks terjalin dengan unsur-unsur dan waktu tertentu tetapi juga hal-hal yang hakiki dari suatu wilayah. gaya bahasa mempunyai fungsi: a) Memberi warna pada karangan.Selain latar yang digambarkan secara jelas. Sastrawan juga bisa menggunakan latar cerita untuk menggambarkan watak tokoh. gaya hidup mereka. kegilaan mereka. sehingga gaya bahasa mencerminkan ekspresi individual. Sastrawan juga bisa menggunakan latar cerita sebagai simbol atau lambang bagi peristiwa yang telah. dan suasana yang dialami tokoh. alur. ada juga latar cerita yang digambarkan secara umum. atau akan terjadi. sedang. Dalam cerpen yang baik. sampai pada macam debunya. Dari setting wilayah tertentu harus menghasilkan perwatakan tokoh tertentu. dan sebagainya. Dalam kesusastraan Indonesia dikenal bermacam-macam gaya bahasa. tema tertentu. Metafora b. Dalam cerpen modern setting telah digarap para penulis menjadi unsur cerita yang penting. latar cerita dapat digunakan untuk mengembangkan cerita. Latar cerita berguna bagi sastrawan dan pembacanya. b) Alat melukiskan suasana cerita dan mengintensifkan penceritaan. waktu. Ia terjalin erat dengan karakter. suasana cerita. Gaya Bahasa Dalam karya sastra seperti cerpen. suasana cerita dapat membantu untuk membayangkan tentang tempat. F. yang dialami tokoh. suasana cerita. diantaranya: a. pemikiran rakyatnya. dan suasana. kecurigaan mereka. Hiperbola . Latar cerita dapa digunakan sebagai penjelas tentang tempat. Latar juga bisa membantu pembaca dalam memahami watak tokoh. Hanya tahu dimana suatu cerita terjadi tidak cukup.

Wellek & Warren (1956). bagaimanapun. Asideton h. Asosiasi e.2. Sarkasme f. unsur ekstrinsik cukup berpengaruh terhadap totalitas bangun cerita yang dihasilkan. secara lebih khusus ia dapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra.2 Unsur Ekstrinsik Cerpen Unsur ekstrinsik (extrinsic) adalah unsur-unsur yang berada diluar karya sastra itu. tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organism karya sastra. Litotes l. akan membantu dalam hal pemahaman makna karya itu mengingat bahwa karya sastra tak muncul dari situasi kekosongan budaya. walau membicarakan unsur ekstrinsik tersebut cukup panjang. Atau. Paradox 2. Walau demikian. unsur ekstrinsik sebuah novel haruslah tetap dipandang sebagai sesuatu yang penting. kurang penting. Repetisi j.c. Sinisme g. Oleh kaerena itu. . Simbolik d. Eufemisme k. namun sendiri tidak ikut menjadi bagian didalamnya. Pemahaman unsur ekstrinsik suatu karya. tampaknya memandang unsur itu sebagai sesuatu yang agak negative. Polisendeton i.

2. Nilai Moral Nilai yang berkaitan dengan akhlak atau budi pekerti (baik dan buruk). 2. cita-cita. Nilai Sosial . dan kepercayaan yang dianut/dilakukan pada suatu masyarakat. falsafah.2. tradisi.Unsur yang membangun struktur fiksi ekstrinsik ialah permasalahan kehidupan. aturan. ide-ide dan gagasan serta latar budaya yang menopang pada kisahan cerita dalam cerpen. dll. Nilai-nilai tersebut antara lain :  Nilai moral  Nilai social  Nilai budaya/tradisi  Nilai religi/agama 1. Nilai-nilai tersebut menggambarkan norma. Misalnya :   Berbakti kepada orang tua Jujur   Sabar Ikhlas.3 Nilai-Nilai Psikologis Dalam sebuah karya sastra pasti terkandung nilai-nilai kehidupan yang berlaku pada masyarakat di mana karya sastra tersebut diciptakan.

kematian. Contoh :   Cara beribadah kepada Tuhan Sistem kepercayaan/agama Adat istiadat : perkawinan.Nilai-nilai yang terkait dengan norma/aturan dalam kehidupan bermasyarakat dan berhubungan dengan orang lain Contoh :  Saling memberi  Tenggang rasa  Saling menghormati pendapat 3. . dll. dll. 4. Contoh :     Cara berpakaian Kesenian Upacara adat. Nilai Religi/Agama Nilai-nilai yang berkaitan dengan kehidupan beragama. Nilai Budaya/Tradisi Nilai-nilai yang terkait dengan kebiasaan/ tradisi yang berlaku dalam masyarakat.

Ignas Kleden (1981) menyebutkan bahwa sastra adalah karya individual yang didasarkan pada kebebasan mencipta dan dikembangkan lewat imajinasi. Ambar yang . Ketika kami mulai besar. Bukan karena kami tak mampu. adikku. Bapak mendidik anak-anaknya dengan tegas dan penuh kedisiplinan. tetapi itulah salah satu cara Bapak dan ibu mendidik kami.BAB III ANALISA CERPEN 3. dan lain-lain. Tapi. yang menyangkut diri pengarang. Meskipun kedua orang tua kami bekerja. Saat aku diterima bekerja sebagai teller disebuah bank pemerintahan dan Ambar di bagian keuangan sebagai biro perjalanan. Ibu juga seorang wanita yang aktif dan mandiri. Ia bekerja sebagai karyawan bagian administrasi sebuah perusaaan batik yang cukup terkenal di kota kami. kamu tak boleh bergantung pada orang lain. Bapak. Aku sendiri tak mengerti. ideology politik. Bapak dan ibu begitu bangga kepada kami. Meski tak banyak bicara. Pagi-pagi adalah tugas ibu menyiapkan saarapan untuk kami berempat.1 Sosiologis Pengarang Cerpen “Di Malam Takbiran” Sosiologi pengarang yang mempermasalahkan tentang status sosial. tak ada seorang pembantu lah pun yang dipekerjakan.”Biarpun kamu anak perempuan.” itu selalu yang ditanamkan Bapak pada kami. Bapak punya perasaan yang lembut. Sebagai guru di sebuah SMP negeri dikota kami. Ia tak pernah memarahi aku maupun Ambar. bukan berarti kami di manjakan. kenapa tiba-tiba aku ingin pulang lebaran kali ini. Ah. Semua kebagian tugas. Aku kebagian mencuci dan menyetrika pakaian sepulang sekolah. Barang kali karena sejak awal bulan puasa aku terus dibayangi mimpi tentang Bapak. kami hidup dalam kesederhanaan. dia orang yang paling ku kagumi.

Kemarahan menyesakkan dadaku. Aku tak sanggup berdamai dengan Ambar. sosial. kenapa Ambar begitu teledor? Bukankah seharusnya ia menjaga Bapak dengan baik? Kemarahan itu tak pernah mau beranjak dari hatiku. adat-istiadat. pun tak berhasil membujukku. mencabuti daun-daun yang kuning dan menyapu halaman. Tidak juga Pras. Misalnya. meski ia berkali-kali minta maaf kepadaku. Aku pernah protes. dan politik. jika ada rezeki lebih. kenapa Bapak lebih suka memberinya kepada orang lain. Sementara Bapak . tentu penyakit jantung Bapak masih bias diatasi. Aku tak sempat menunggui kepergian Bapak. Dikatakan bahwa pendekatan sosiologis atau ekstrinsik biasanya mempermasalahkan sesuatu diseputar sastra dan masyarakat bersifat sempit dan eksternal. menyesali semua yang terjadi. Memasak. Membersihkan kamar—aku berbagi kamar dengan Ambar---kami lakukan secara bergantian. Yang dipersoalkan biasanya mengenai hubungan sastra dan situasi sosial tertentu.2 Sosiologis Karya Sastra Cerpen “Di Malam Takbiran” Sosiologi karya sastra. ngepel.dua tahun lebih muda dariku. Kepada kami. Anton. Sering orang dating kepada kami. . Rene Wellek dan Austin Warren (1956). menangis sekencangkencangnya. menyirami tanaman. sudah tentu bagian ibu. Bahkan suaminya. 3. Aku tak bisa bicara. Bapak maupun Ibu menyisihkannya untuk mereka yang membutuhkan. Ah. secara tidak langsung. yakni mempermasalahkan tentang suatu karya sastra yang menjadi pokok telaah adalah tentang apa yang tersirat dalam karya sastra tersebut dan apa tujuan atau amanat yang hendak disampaikan seorang pengarang. sistem ekonomi. Itu karena kebodohan Ambar! Bodoh sekali!kalau saja ia segera membawa ke rumah sakit jauh-jauh hari sebelumnya. Rasanya aku ingin berteriak. membutuhkan bantuan dan Bapak seolah tak mampu untuk menolaknya. mereka selalu mengajarkan rasa berbagi dengan orang lain. kebagian menyapu. Bapak baru saja dimakamkan di samping Ibu. padahal kami jarang sekali berpergian di hari libur.

Setelah itu. Laki-laki yang kukagumi itu memintaku untuk dating menjengguknya.3 Sosiologis Pembaca Cerpen “ Di Malam Takbiran” . dari bagaimana konflik batin dan fisik yang melanda tiap tokohnya. Lalu. aku bermimpi bertemu Bapak. kami berdua jarang sekali bertengkar. Tidak juga Pras. tentu penyakit jantung Bapak masih bias diatasi. Lalu. Biasanya sore-sore seperti itu kami saling bercerita tentang pengalaman hari itu. Mimpi itu seperti menyadarkan aku bahwa sikapku selama ini kepada Ambar adalah siksaan yang tak berampun. Aku tak sempat menunggui kepergian Bapak. Bapak menceritakannya secara ekspresif. apa arti ajaran orang tua kami selama ini?Aku menangis diam-diam. menyesali semua yang terjadi. 3. menangis sekencangkencangnya. ingat Ambar. Kami sering tertawa mendengarnya. Bapak senang bercerita tentang murid-muridnya yang bandel tapi dianggap lucu. Itu karena kebodohan Ambar! Bodoh sekali!kalau saja ia segera membawa ke rumah sakit jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan suaminya. Ketika kami dudukduduk di teras samping. Aku menyisir rambut Ambar yang panjang dan mengepangnya. Boleh dibilang. Aku tak sanggup berdamai dengan Ambar. kenapa Ambar begitu teledor? Bukankah seharusnya ia menjaga Bapak dengan baik? Kemarahan itu tak pernah mau beranjak dari hatiku. aku dan Ambar duduk berdekatan. Apalagi. Bapak baru saja dimakamkan di samping Ibu. Kami saling menyayangi satu sama lain. Dimulai dari kemarahan yang dialami oleh tokoh aku terhadap adiknya yaitu Ambar akan keteledoran dan kurang perhatian adiknya dengan kondisi Bapaknya sehingga mengakibatkan kematian sang Bapak. faforit Ambar. Aku tak bisaa bicara.Sampai akhirnya—dua minggu lalu—setelah melakukan salat tasbih. Dalam mimpi itu. aku seperti dilemparkan kembali ke masa lalu. Siksaan yang berkepanjangan. Rasanya aku ingin berteriak. Anton. meski ia berkali-kali minta maaf kepadaku. Ah. Kemarahan menyesakkan dadaku. pun tak berhasil membujukku. Kuberi pita kecil warna ungu muda.

Hanya masakan Bude Atmo yang agak berbeda. kami membagi-bagikan uang itu kepada fakir miskin yang kami temui dijalan-jalan. Panembahan. Biasanya. Bagaimana tidak. Sambil menikmati keramaian malam takbiran. Uang itu adalah sisa-sisa belanja yang dikumpulkan Ibu setelah lebaran tahun lalu. Ibu sendiri membeli abon hanya jika membuat nasi kuning ketika ulang tahunku atau Ambar. Apalagi di kompleks tempat tinggalku di selatan Jakarta. Para tetangga saling berkirim ketupat. Hanya suara takbir di mesjid yang menandai bahwa lebaran akan tiba. Ada sekotak kecil uang yang kami bawa. Suara beduk terdengar sayup-sayup dari sebuah surau kecil yang terletak di perumahan penduduk asli di belakang kompleks kami. Bagi mereka yang tak pernah merasakan berlebaran di kampong. Maklum. Biasanya kami mengutamakan para pembersih jalan. Bapak kemudian mengajak kami berkelililng. sepi. kadang-kadang kami memasak lauk yang sama. ada beberapa orang lain yang ikut makan bersama kami. Selebihnya. Lebaran di kampong jauh berbeda dengan di Jakarta. perjalanan harus ditempuh dua sampai tiga kali lipat kondisi biasa. suasana malam takbiran begitu menyenangkan. kelelahan ini tak seberapa artinya disbanding dengan kegembiraan yang akan kami peroleh di kampong. Padahal. bagi orang-orang seperti kami. Kata bapak. . tukang sampah. Sementara di kampungku. Tetapi. Mereka adalah penjaga mesjid. seperti oseng kedelai dengan abon pedas. barangkali pulang mudik seperti ini di anggap sebagai suatu penggorbanan besar. kami menyantap hidangan yang lezat sambil lesehan di teras samping. ini sebagai pertanda bahwa di antara kami selalu ada rasa ingin berbagi. Ia punnya menu tambahan. Masakan Ibu yang menurutku tak ada tandingannya adalah.Sosiologi sastra yang mempermasalahkan tentang pembaca dan pengaruh sosialnya terhadap lingkungan atau masyarakat. bagi kami dulu makanan yang bernama abon cukup mahal. Menu ini keluar hanya pada saatsaat khusus. yang sengaja di undang Bapak. Sehabis salat magrib berjamaah. atau orang-orang tua yang tidak terurus. opor ayam kuning dan sambal cabai hijau yang diberi potongan daging kecil-kecil. Kami makan sekenyangnya sampai sulit bernafas.

” lanjutku. Suasana di alun-alun cukup ramai. Tetapi. Mbar. . seperti kita. Pengarang seolah-olah menunjukkan kepada para pembaca bahwa dendam yang berlebihan hanya akan merugikan dirinya sendiri dan juga orang lain. “ujar Bapak di kbiran di suatu malam takbiran.”Mbak. ingin membimbingku masuk ke dalam rumah. Air mataku tumpah. Maafkan aku…. masuklah. aku…. Nah. Tapsegera kutarik. Meskipun kejadian tersebut telah merenggut kehidupan sang Bapak namun bukan seutuhnya kesalahan sang adik karena kondisi tubuh sang Bapak telah renta dan sakit-sakitan. Kami baru pulang menjelang pukul sepuluh malam dengan perasaan puas. tetapi hanya dalam hati.” sulit kulanjutkan kata-kata. Ia menarik tanganku. membersihkan hati dan harta kita. Mbar. Kutahan sekuat daya agar air mataku tidak tumpah. Ambar memeluku makin erat. Kerongkongan terasa sakit. tangan itu hingga kami berdiri begitu dekat. Penggarang seolah ingin menunjukkan bahwa hanya dengan berdamai lah kemarahan dan kedengkian yang tak beralasan akan semakin memperkeruh suasana hati apalagi kepada saudara kandung.” Aku ingin minta maaf. Saat itu kami duduk di sebuah kursi kayu dekat alun-alun karena kecapekan. Mbakmassih lelah. Hingga akhirnya kematian merenggutnya. kami saling berpelukan. kita juga harus begitu. keadaan mengharuskan mereka bekerja. supaya besok di hari Lebaran. Dan dengan saling meminta maaf dan saling memaafkan lah kedamaian tercipta. Ambar menatapku dalam-dalam.” ujarku bijak. “Mbar. Sesaat kemudian entah siapa yang memulai.” ujarku tersendat-sendat. “Maafkan aku. suasana kota ini benar-benar bersih.“ Kita jauh lebih beruntung daripada mereka. Begitu pula Ambar. Pembaca seolah digiring mengenai sebuah dendam masa lalu pada tokoh aku yang mempunyai dendam sejak lama kepada adiknya yang telah melakukan sebuah keteledoran. Malam ini seharusnya mereka duduk berkumpul bersama keluarga mereka. Nanti kita bicara lagi.

Kedua. .1 Kesimpulan Pada suatu karya sastra yang diciptakan oleh pengarang memiliki maksud dan tujuan yang ditawarkan pengarang yaitu untuk dinikmati. ideology politik. dan lain-lain. yang menyangkut diri pengarang. dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat. 1956:212) Wilayah sosiologi sastra cukup luas. sosiologi karya sastra. sebuah karya fiksi haruslah tetap merupakan cerita yang menarik. sosiologi sastra yang mempermasalahkan tentang pembaca dan pengaruh sosialnya terhadap lingkungan atau masyarakat.BAB IV PENUTUP 4. yakni mempermasalahkan tentang suatu karya sastra yang menjadi pokok telaah adalah tentang apa yang tersirat dalam karya sastra tersebut dan apa tujuan atau amanat yang hendak disampaikan seorang pengarang. Membaca sebuah karya fiksi berati menikmati cerita. Pertama. tetap merupakan bangun struktur yang koheren. Ketiga. dan tetap mempunyai tujuan estetik ( Wellek & Waren. Rene Wellek dan Austin Warren membagi telaah sosiologi menjadi tiga klasifikasi. menghibur diri untuk memperoleh kepuasan batin. sosiologi pengarang yang mempermasalahkan tentang status sosial. Betapapun saratnya pengalaman dan permasalahan kehidupan yang ditawarkan. Cerpen merupakan karya sastra fiksi karena terkandung tujuan didalamnya dengan memberikan hiburan kepada pembaca disamping adanya tujuan estetik.

Klasifikasi tersebut hampir senada dengan apa yang dikatakan oleh Ian Watt dalam bagannya bila dilihat hubungan timbal balik antara sastrawan. Telaah suatu karya sastra menurutnya mencakup tiga hal. Pendekatan ini bertolak dari anggapan bahwa karya sastra tak lahir dari kekosongan budaya. Termasuk pula penelitian tentang penerimaan masyarakat terhadap sebuah karya sastra penulis tertentu dan apa sebabnya. karya sastra itu mencerminkan masyarakatnya dan secara tak terhindarkan dipersiapkan oleh keadaan masyarakat pada jamannya tersebut. Umar Junus mengemukakan. sastra. Sastra sebagai cermin masyarakat menelaah sampai sejauh mana sastra dianggap sebagai pencerminan keadaan masyarakat. bahwa yang menjadi pencerminan dalam sosiologi sastra yakni karya sastra dilihat sebagai dokumen sosial budaya. Selain itu juga berkaitan dengan pengaruh sosial budaya terhadap penciptaan karya sastra. Ia juga menyangkut penelitian mengenai hasil pemasaran dan penghasilan karya sastra. pendekatan Taine yang berhubungan dengan bangsa. Konteks sosial pengarang adalah yang menyangkut posisi sosial masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca. Sastrawan memilih dan menyusun bahan-bahan itu dengan berpedoman pada asas dan tujuan tertentu. yakni konteks sosial pengarang. Bagaimanapun. Demikian juga objek karya sastra adalah realitas kehidupan. meskipun dalam menangkap realitas tersebut sastrawan tidak mengambilnya secara acak. termasuk sastra. dan fungsi sosial sastra. sastra sebagai cermin masyarakat. termasuk di dalamnya faktor-faktor sosial yang bisa mempengaruhi diri pengarang sebagai personal di samping mempengaruhi isi karya sastranya. Sastra bisa dilihat sebagai dokumen sosial budaya yang mencatat sosiobudaya masyarakat pada suatu masa tertentu. dan masyarakat. Henry James mengatakan bahwa sastrawan menganalisa “data” kehidupan . pendekatan strukturalisme genetic dari Goldmann dan pendekatan Devignaud yang melihat mekanisme universal seni. dan pendekatan Marxis berkenaan dengan pertentangan kelas. Tak boleh diabaikan pula. misa. dalah hal ini ditelaah sampai sejauh mana nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial. Fungsi sosial sastra. dan sampai seberapa jauh pula sastra dapat berfungsi sebagai alat penghibur dan pendidikan.

Ah. Setelah itu. karya sastra dapat merupakan penciptaan ulang peristiwa sejarah dengan pengetahuan dan daya imajinasi pengarang. menyesali semua yang terjadi. Dan. memahami dan mencoba untuk menentukan tanda yang esensial untuk dipindahkan ke dalam karya sastra. Kecuali itu. Rasanya aku ingin berteriak. karya sastra dapat menjadi alat bagi pengarangnya untuk menyampaikan pikiran. menangis sekencangkencangnya. Apabila realitas tersebut adalah sebuah peristiwa sejarah. Anton. Itu karena kebodohan Ambar! Bodoh sekali!kalau saja ia segera membawa ke rumah sakit jauh-jauh hari sebelumnya. perasaan. Aku tak bisa bicara. sepert juga karya sejarah. Tidak juga Pras. meski ia berkali-kali minta maaf kepadaku. Bahkan suaminya. Bapak baru saja dimakamkan di samping Ibu. tentu penyakit jantung Bapak masih bias diatasi. Dimulai dari kemarahan yang dialami oleh tokoh aku terhadap adiknya yaitu Ambar akan keteledoran dan kurang perhatian adiknya dengan kondisi Bapaknya sehingga mengakibatkan kematian sang Bapak.sosialnya. . Kemarahan menyesakkan dadaku. pun tak berhasil membujukku. Aku tak sanggup berdamai dengan Ambar. kenapa Ambar begitu teledor? Bukankah seharusnya ia menjaga Bapak dengan baik? Kemarahan itu tak pernah mau beranjak dari hatiku. dari bagaimana konflik batin dan fisik yang melanda tiap tokohnya. dan tanggapannya mengenai peristiwa sejarah. Aku tak sempat menunggui kepergian Bapak. maka karya sastra dapat mencoba menerjemahkan peristiwa itu dalam bahasa imajiner dengan maksud untuk memahami pperistiwa itu menurut kadar kemampuan pengarang.

Subakti. Nurgiantoro. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. 2005. 2002.K. 2011.& S. 1987. Suparman. 1990. Jombang: STKIP Jombang. Soerjono. Burhan.Yogyakarta: Gadjah Mada Univercity Press. Apresiasi Sastra dan Budaya. 1996. P.DAFTAR PUSTAKA Askuri. Kediri: Pelita Media. Heru. Apreasiasi Kesusastraan. Soekanto. Teori Sastra. J. Teori Pengkajian Fiksi. Pengantar Kesusastraan Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Dasar Dan Menengah tahun 1997/1998 . Zulfahnur. Ahmad. Sosiologi Suatu Pengantar. 1999. Jakarta: Intermasa. Z.Cerpen Di Malam Takbiran Natawidjaya.M.S. Bandung Sabilaa. 1980. F. Sosio-Psikologi Sastra.