P. 1
doktrin

doktrin

5.0

|Views: 18,362|Likes:
Published by Widya Setiabudi

More info:

Published by: Widya Setiabudi on May 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/28/2015

pdf

text

original

Sections

Copyright © 2007, Departemen Pertahanan Republik Indonesia ISBN 978-979-8878-01-5

DEPARTEMEN PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTAHANAN NOMOR : Per/23/M/XII/2007 TENTANG DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTAHANAN, Menimbang : a. bahwa pertahanan negara sebagai salah satu fungsi pemerintahan negara bertujuan untuk menjaga kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan keselamatan segenap bangsa dari segala bentuk ancaman dan gangguan baik yang berasal dari luar maupun yang timbul di dalam negeri; bahwa dalam penyelenggaraan pertahanan negara memerlukan suatu tuntutan dan pedoman berupa Doktrin Pertahanan Negara yang berisi ajaran dan prinsip-prinsip fundamental yang diyakini kebenarannya;

b.

c.

bahwa perkembangan yang terjadi dalam penyelenggaraan pertahanan negara menyebabkan Doktrin Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia yang ditetapkan pada tanggal 5 Oktober 1991 sudah tidak sesuai lagi untuk dijadikan doktrin dasar dan oleh karenanya perlu disusun suatu Doktrin Pertahanan Negara yang baru; bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, dan c, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pertahanan tentang Pengesahan Doktrin Pertahanan Negara. Pasal 30 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-Undang RI Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. Undang-Undang RI Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia. Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan Nomor : Kep/17/X/1991 tanggal 5 Oktober 1991 tentang Doktrin Pertahanan Keamanan Nasional Republik Indonesia. Peraturan Menteri Pertahanan RI Nomor : Per/01/M/VIII/2005, tanggal 25 Agustus 2005 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pertahanan. MEMUTUSKAN :

d.

Mengingat : 1. 2. 3. 4.

5.

Menetapkan

:

PERATURAN MENTERI PERTAHANAN TENTANG DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Pasal 1 Mengesahkan Doktrin Pertahanan Negara Republik Indonesia sebagaimana terlampir dalam Peraturan Menteri Pertahanan ini untuk digunakan sebagai doktrin dasar dalam penyelenggaraan pertahanan negara. Pasal 2 Doktrin Pertahanan Negara Republik Indonesia sebagaimana terlampir dalam Peraturan Menteri Pertahanan ini wajib difahami, dihayati, dan dilaksanakan oleh semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pertahanan negara. Pasal 3 Dengan berlakunya Peraturan Menteri Pertahanan ini, maka Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan Nomor:Kep/17/ X/1991 tanggal 5 Oktober 1991 tentang Doktrin Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia dinyatakan tidak berlaku. Pasal 4 Peraturan Menteri Pertahanan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 28 Desember 2007 MENTERI PERTAHANAN,

JUWONO SUDARSONO

KATA PENGANTAR

Persatuan dan Kesatuan bangsa merupakan faktor penentu dalam menjaga dan mengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang harus selalu dibangun, dipupuk dan digelorakan. Semangat pantang menyerah Bangsa Indonesia dalam mengusir penjajah telah menanamkan rasa percaya diri dan keyakinan akan kekuatan sendiri untuk menyelenggarakan keberlangsungan NKRI. Indonesia dengan karakteristik geografi sebagai Negara kepulauan dan terletak dalam posisi silang dengan segala kandungan kekayaan sumber dayanya wajib dilindungi dan dipertahankan. Kondisi Indonesia tersebut di satu sisi mengandung kekuatan besar untuk dimanfaatkan dan didayagunakan sebesarbesarnya bagi kemakmuran rakyat. Tetapi di sisi lain juga mengisyaratkan suatu tantangan yang besar bagi pengelolaan dan pengamanannya yang berimplikasi terhadap pentingnya pembangunan dan pengelolaan sistem pertahanan negara. Dengan kondisi tersebut, maka negara memerlukan pendekatan pertahanan yang komprehensif dalam menghadapi setiap ancaman dengan memadukan seluruh kekuatan bangsa, baik kekuatan militer maupun nirmiliter. Keterpaduan kekuatan militer dan nirmiliter merupakan pengejawantahan sistem pertahanan yang dianut Bangsa Indonesia, yakni sistem pertahanan yang bersifat semesta. Upaya pertahanan negara merupakan tanggung jawab dan kehormatan setiap warga negara Indonesia

yang diselenggarakan melalui fungsi pemerintah. Agar penyelenggaraan fungsi pertahanan negara terlaksana secara efektif sesuai dengan nilai – nilai ke-Indonesiaan sebagai negara demokrasi yang merdeka. untuk itu diperlukan suatu prinsip penuntun yakni Doktrin Pertahanan Negara. Perkembangan yang terjadi dalam penyelenggaraan pertahanan negara menyebabkan Doktrin Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia yang ditetapkan pada tanggal 5 Oktober 1991 sudah tidak sesuai lagi untuk dijadikan doktrin dasar. Oleh karena itu perlu disusun suatu Doktrin Pertahanan Negara yang baru guna menyikapi perkembangan yang ada. Doktrin Pertahanan Negara ditetapkan sebagai pengejawatahan tekad, prinsip dan kehendak untuk menyelenggarakan pertahanan negara. Doktrin Pertahanan Negara mewujudkan kerangka landasan yang harus dipahami dan dipedomani oleh semua pihak yang terkait sesuai tugas dan fungsi masing-masing. Dalam rangka itu, Doktrin Pertahanan Negara selanjutnya menjadi salah satu perangkat utama dalam mengembangkan kebijakan dan strategi, postur pertahanan negara. Dengan telah terbitnya Doktrin Pertahanan Negara ini, segenap aparat penyelenggara pemerintahan RI khususnya penyelenggara pertahanan negara maupun seluruh rakyat Indonesia hendaknya dapat menghayati dan mempedomani isi Doktrin Pertahanan Negara sehingga tampak dalam pola pikir, pola sikap dan pola tindaknya dalam menjamin tegaknya NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Saya selaku pimpinan Departemen Pertahanan Republik Indonesia menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas terbitnya Buku Doktrin Pertahanan Negara sesuai rencana. Tidak lupa saya menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperanserta dalam penyiapan Buku Doktrin Pertahanan Negara. Saya yakin, peran serta tersebut merupakan Dharma Bhakti bagi Bangsa dan Negara Indonesia yang kita cintai. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan rahmat dan hidayah Nya kepada seluruh Bangsa Indonesia.

Jakarta, 28 Desember 2007 Menteri Pertahanan

Juwono Sudarsono

LATAR BELAKANG .....................................................................1 HAKIKAT, KEDUDUKAN, DAN LANDASAN ................................4 Hakikat Doktrin Pertahanan Negara ............................................ 4 Kedudukan dan Stratifikasi Doktrin Pertahanan Negara ................ 5 Kedudukan Doktrin ................................................................ 5 Stratifikasi Doktrin ................................................................. 5 Landasan Doktrin Pertahanan Negara ......................................... 7 Landasan Idiil ........................................................................ 7 Landasan Konstitusional ......................................................... 7 Landasan Yuridis ................................................................... 9 Landasan Sejarah ................................................................ 11 Landasan Visional ................................................................ 13 Landasan Konseptual ........................................................... 14 PERJUANGAN BANGSA INDONESIA .......................................15 Jati Diri Bangsa ....................................................................... 15 Hakikat Perjuangan Bangsa ..................................................... 16 Cita-Cita Bangsa Indonesia ...................................................... 16 Tujuan Nasional ...................................................................... 16 Kepentingan Nasional .............................................................. 17 HAKIKAT ANCAMAN ...............................................................19 Penilaian Ancaman .................................................................. 19 Penggolongan Ancaman .......................................................... 22

i

Ancaman Militer................................................................... 22 Ancaman Nirmiliter .............................................................. 28 KONSEPSI PERTAHANAN NEGARA .........................................37 Hakikat Pertahanan Negara ..................................................... 37 Tujuan dan Kepentingan Pertahanan Negara ............................. 38 Fungsi Pertahanan Negara ....................................................... 40 Pandangan tentang Damai dan Perang ..................................... 44 Spektrum Konflik dan Pelibatan Unsur Pertahanan ................. 46 Penyelenggaraan Perdamaian .................................................. 48 Asas-asas Damai ................................................................. 49 Penyelenggaraan Peperangan .................................................. 51 Asas-asas Perang................................................................. 55 Pusat Kekuatan Pertahanan Negara .......................................... 59 Sumber Daya Manusia ......................................................... 60 Manajemen Sumber Daya Pertahanan ...................................... 68 PENYELENGGARAAN PERTAHANAN NEGARA .........................71 Sistem Pertahanan Negara....................................................... 71 Pertahanan Militer................................................................ 74 Pertahanan Nirmiliter ........................................................... 76 Strategi Pertahanan Negara ..................................................... 80 Penangkalan ........................................................................... 83 Instrumen Politik ................................................................. 86 Instrumen Ekonomi ............................................................. 88 Instrumen Psikologi ............................................................. 89 Instrumen Teknologi ............................................................ 90 Instrumen Militer ................................................................. 91

ii

Mengatasi Ancaman Militer ...................................................... 93 Menghadapi Ancaman Agresi ................................................ 93 Menghadapi Ancaman Militer yang Bukan Agresi .................... 94 Menghadapi Ancaman Nirmiliter melalui Peran Lintas Lembaga ............................................................................. 95 Mewujudkan Perdamaian Dunia dan Stabilitas Regional ............. 97 Perang Rakyat Semesta ........................................................... 99 PEMBINAAN KEMAMPUAN PERTAHANAN NEGARA ..............102 Pokok-Pokok Pembinaan Kemampuan Pertahanan Negara ........ 102 Postur Pertahanan Negara ..................................................... 103 Postur Pertahanan Militer ................................................... 104 Postur Pertahanan Nirmiliter ............................................... 106 Intelijen Pertahanan Negara ............................................... 108 Logistik Pertahanan ........................................................... 109 Wewenang Pembinaan .......................................................... 109 Presiden............................................................................ 109 Menteri Pertahanan ........................................................... 111 Menteri/Kepala LPND ......................................................... 113 Panglima TNI .................................................................... 114 P E N U T U P.........................................................................115 Perlakuan ............................................................................. 115 Petunjuk Akhir ...................................................................... 115

iii

LATAR BELAKANG

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. NKRI terbentuk melalui hasil perjuangan gigih dan pantang menyerah dari seluruh rakyat Indonesia untuk menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, dan berdaulat. Keberhasilan merebut kemerdekaan dengan mengusir penjajah yang persenjataannya jauh lebih modern telah mengangkat derajat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang heroik, disegani, dan diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Keberhasilan tersebut juga menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari sedikit bangsa di dunia yang kemerdekaannya bukan pemberian dari suatu bangsa atau hadiah dari bangsa lain, melainkan sungguh-sungguh dari hasil perjuangan seluruh warga bangsa Indonesia yang di ridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa. Dengan menyadari keragaman suku bangsa, agama, ras, dan antargolongan, bangsa Indonesia bersepakat untuk bersatu dalam wadah NKRI dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika (‘Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu’). Kesepakatan untuk berbangsa satu, bangsa Indonesia; bertanah air satu, tanah air Indonesia; dan berbahasa satu, bahasa Indonesia, harus terus dipertahankan dan dikawal sepanjang waktu.

1

Persatuan dan kesatuan bangsa merupakan faktor penentu dalam menjaga dan mengawal NKRI yang harus selalu dibangun, dipupuk, dan digelorakan. Semangat pantang menyerah dalam mengusir penjajah telah menanamkan rasa percaya diri dan keyakinan akan kekuatan sendiri untuk menyelenggarakan pertahanan negara dalam membela, menegakkan, dan mempertahankan keberlangsungan NKRI. Indonesia dengan karakteristik geografi yang terdiri atas gugusan Kepulauan Nusantara, yang terletak di posisi silang dengan aneka ragam sumber daya alam dan demografi yang majemuk wajib dilindungi dan dipertahankan. Kondisi Indonesia tersebut di satu sisi mengandung kekuatan besar untuk didayagunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, tetapi di sisi lain juga mengisyaratkan suatu tantangan yang besar bagi pengelolaan dan

2

pengamanannya yang berimplikasi terhadap diperlukannya pembangunan dan pengelolaan sistem pertahanan negara yang handal. Negara memerlukan pendekatan pertahanan yang komprehensif dalam menghadapi setiap ancaman dengan memadukan seluruh kekuatan bangsa, baik kekuatan militer maupun nirmiliter. Keterpaduan kekuatan militer dan nirmiliter merupakan pengejawantahan sistem pertahanan yang dianut bangsa Indonesia, yakni sistem pertahanan yang bersifat semesta. Upaya pertahanan negara merupakan tanggung jawab dan kehormatan setiap warga negara Indonesia yang diselenggarakan melalui fungsi pemerintah. Agar penyelenggaraan fungsi pertahanan negara terlaksana secara efektif sesuai dengan nilai-nilai keindonesiaan sebagai negara demokrasi yang merdeka, berdaulat, dan berdasarkan hukum, diperlukan suatu doktrin untuk menuntun setiap unsur yang terlibat. Atas dasar itu, Doktrin Pertahanan Negara ditetapkan sebagai pengejawantahan tekad, prinsip, dan kehendak untuk menyelenggarakan pertahanan negara. Doktrin Pertahanan Negara selanjutnya dijadikan sebagai salah satu perangkat utama dalam mengembangkan kebijakan dan strategi pertahanan negara.

3

HAKIKAT, KEDUDUKAN, DAN LANDASAN

Hakikat Doktrin Pertahanan Negara
Doktrin pertahanan pada hakikatnya adalah suatu ajaran tentang prinsip-prinsip fundamental pertahanan negara yang diyakini kebenarannya, digali dari nilai-nilai perjuangan bangsa dan pengalaman masa lalu untuk dijadikan pelajaran dalam mengembangkan konsep pertahanan sesuai dengan tuntutan tugas pertahanan dalam dinamika perubahan, serta dikemas dalam bingkai kepentingan nasional. Doktrin Pertahanan Negara tidak bersifat dogmatis, tetapi penerapannya disesuaikan dengan perkembangan kepentingan nasional. Doktrin Pertahanan Negara memiliki arti penting, yakni sebagai penuntun dalam pengelolaan sistem dan penyelenggaraan pertahanan negara. Pada tataran strategis, Doktrin Pertahanan Negara berfungsi untuk mewujudkan sistem pertahanan yang bersifat semesta, baik pada masa damai maupun pada keadaan perang. Dalam kerangka penyelenggaraan pertahanan negara, esensi Doktrin Pertahanan Negara adalah acuan bagi setiap penyelenggara pertahanan dalam menyinergikan pertahanan militer dan pertahanan nirmiliter secara terpadu, terarah, dan berlanjut sebagai satu kesatuan pertahanan. Pada masa damai, Doktrin Pertahanan Negara digunakan sebagai penuntun dan pedoman bagi penyelenggara pertahanan negara dalam menyiapkan kekuatan dan pertahanan dalam kerangka kekuatan untuk daya tangkal yang mampu mencegah setiap hakikat ancaman serta kesiapsiagaan dalam meniadakan ancaman, baik yang berasal dari luar maupun yang timbul di dalam negeri. Pada keadaan perang,

4

Doktrin Pertahanan Negara memberikan tuntutan dan pedoman dalam mendayagunakan segenap kekuatan nasional dalam upaya pertahanan guna menyelamatkan negara dan bangsa dari ancaman yang dihadapi.

Kedudukan dan Stratifikasi Doktrin Pertahanan Negara
Kedudukan Doktrin Doktrin Pertahanan Negara berada pada tingkatan strategis berskala nasional dalam mengelola sistem pertahanan negara. Dalam mengembangkan kebijakan dan strategi pertahanan negara, Doktrin Pertahanan Negara berkedudukan sebagai instrumen dasar dalam mengembangkan seluruh doktrin yang berhubungan dengan pertahanan negara. Stratifikasi Doktrin Dalam pengelolaan sistem dan penyelenggaraan pertahanan negara terdapat sejumlah doktrin dengan level dan penggunaannya masing-masing, tetapi satu dengan yang lainnya berada dalam suatu kesatuan yang membentuk strata doktrin. Stratifikasi doktrin terdiri atas doktrin dasar, doktrin induk, dan doktrin pelaksanaan. Doktrin Pertahanan Negara berada pada tingkatan sebagai doktrin dasar bagi semua doktrin yang berhubungan dengan pertahanan, serta berlaku secara nasional. Tugas dan tanggung jawab penyusunan Doktrin Pertahanan Negara berada dalam lingkup fungsi dan kewenangan Departemen Pertahanan. Sebagai doktrin dasar, Doktrin Pertahanan Negara memberikan tuntunan bagi seluruh doktrin dalam lingkup pertahanan negara. Doktrin induk adalah Doktrin Pertahanan Militer

5

dan Doktrin Pertahanan Nirmiliter. Doktrin Pertahanan Militer dijabarkan oleh TNI menjadi Doktrin Tri Dharma Eka Karma atau disingkat Doktrin Tridek. Doktrin Pertahanan Militer berlaku bagi TNI dan komponen penggandanya. Doktrin-doktrin yang bersifat kematraan berinduk pada Doktrin Pertahanan Militer. Doktrin Pertahanan Nirmiliter merupakan bagian dari Doktrin Pertahanan Negara, yang penjabarannya disesuaikan dengan kompleksitas fungsi-fungsi nirmiliter serta tuntutan kebutuhan. Wewenang penyusunan Doktrin Pertahanan Nirmiliter berada pada salah satu fungsi Departemen Pertahanan yang membidangi pertahanan nirmiliter. Doktrin pelaksanaan dibedakan atas doktrin pelaksanaan pada lingkup pertahanan militer dan doktrin pelaksanaan pada lingkup pertahanan nirmiliter. Doktrin pelaksanaan pada lingkup pertahanan militer merupakan doktrin-doktrin pada tingkat matra. Doktrin matra terdiri atas doktrin pertahanan militer matra darat, yakni Doktrin Kartika Eka Paksi, doktrin pertahanan militer matra laut, yakni Doktrin Eka Sasana Jaya, serta doktrin pertahanan militer matra udara, yakni Doktrin Swa Bhuwana Pakça. Doktrin Pertahanan Nirmiliter dapat dijabarkan ke dalam doktrin-doktrin pelaksanaan sesuai dengan kebutuhan. Dalam hal ini setiap fungsi pemerintahan di luar bidang pertahanan dapat membuat doktrin pelaksanaan sesuai dengan bidangnya yang menginduk pada Doktrin Pertahanan Nirmiliter, serta pelaksanaannya di bawah supervisi Departemen Pertahanan.

6

Landasan Doktrin Pertahanan Negara
Sebagai prinsip fundamental yang diyakini kebenarannya serta penuntun dalam penyelenggaraan pertahanan negara, Doktrin Pertahanan dikembangkan dari nilai-nilai bangsa Indonesia yang bersifat mengikat. Landasan Idiil Pancasila merupakan dasar, falsafah, dan ideologi negara, yang berisi nilai-nilai moral dan etika dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sebagai nilai moral dan etika kebangsaan, pengamalan Pancasila harus diwujudkan dalam pola pikir, pola sikap dan pola tindak setiap warga negara Indonesia untuk mengabdikan dirinya dalam penyelenggaraan pertahanan negara sesuai dengan kedudukan dan fungsinya masing-masing. Nilai-nilai tersebut meliputi keselarasan, keserasian, keseimbangan, persatuan dan kesatuan, kerakyatan, kekeluargaan, dan kebersamaan. Nilai-nilai Pancasila telah teruji dan diyakini kebenarannya sebagai pemersatu bangsa dalam membangun dan menata kehidupan berbangsa serta bernegara yang lebih baik dan berdaya saing. Landasan Konstitusional Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 (UUD 1945) adalah sumber dari segala sumber hukum. UUD 1945 memberikan landasan serta arah dalam pengembangan sistem serta penyelenggaraan pertahanan negara. Substansi pertahanan negara yang terangkum dalam Pembukaan dan Pasal-pasal UUD 1945 di antaranya adalah pandangan bangsa Indonesia dalam melihat diri dan lingkungannya, tujuan negara, sistem pertahanan negara, serta keterlibatan warga negara. UUD

7

1945 merefleksikan sikap bangsa Indonesia yang menentang segala bentuk penjajahan. Bangsa Indonesia akan senantiasa berjuang untuk mencegah dan mengatasi usaha-usaha pihak tertentu yang mengarah pada penindasan dan penjajahan. Penjajahan bagi bangsa Indonesia merupakan tindakan keji yang tidak berperikemanusiaan serta bertentangan dengan nilai-nilai keadilan. Pertahanan negara tidak dapat dipisahkan dari kemerdekaan yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Kemerdekaan Indonesia bukan merupakan hadiah, melainkan diperoleh dari hasil perjuangan pergerakan bangsa Indonesia melalui pengorbanan jiwa dan raga. Oleh karena itu, bangsa Indonesia menempatkan kemerdekaan sebagai kehormatan bangsa yang harus tetap dijaga dan dipertahankan sepanjang masa. Kemerdekaan selain sebagai hasil perjuangan fisik, juga merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang menghendaki bangsa Indonesia berkehidupan kebangsaan yang bebas dan merdeka. Selanjutnya, UUD 1945 menetapkan sistem pertahanan negara yang menempatkan rakyat sebagai pemeran yang vital, bahwa pertahanan negara dilaksanakan dengan Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta. Makna yang terkandung dalam Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta adalah bahwa rakyat adalah yang utama dan dalam kesemestaan, baik dalam semangat maupun dalam mendayagunakan segenap kekuatan dan sumber daya nasional, untuk kepentingan pertahanan dalam membela eksistensi NKRI. Keikutsertaan rakyat dalam sistem pertahanan negara pada dasarnya perwujudan dari hak dan kewajiban setiap warga negara untuk ikut serta dalam usahausaha pertahanan negara. Keikutsertaan warga negara dalam pertahanan negara adalah wujud kehormatan warga negara untuk merefleksikan

8

haknya. Keikutsertaan warga negara dalam upaya pertahanan negara dapat secara langsung, yakni menjadi prajurit sukarela Tentara Nasional Indonesia (TNI), tetapi dapat juga secara tidak langsung, yakni dalam profesinya masingmasing yang memberikan kontribusi terhadap pertahanan negara, atau menjadi prajurit wajib. Terkait dengan kewajiban warga negara dalam upaya pertahanan negara, hal mendasar adalah bahwa negara dapat mewajibkan warga negara untuk ikut dalam upaya pertahanan negara. Mewajibkan warga negara untuk ikut dalam upaya pertahanan negara adalah konteks yang konstitusional sebagai konsekuensi menjadi warga negara dari suatu negara yang berdaulat. Namun, mewajibkan warga negara dalam upaya pertahanan negara harus didukung oleh perangkat perundang-undangan sebagai pelaksanaan dari UUD 1945.

Landasan Yuridis Landasan yuridis Doktrin Pertahanan Negara adalah UU RI Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. UU tersebut mengatur, antara lain, penyelenggaraan pertahanan negara, pengelolaan sistem pertahanan negara, dan pembinaan kemampuan pertahanan negara. Pertahanan negara bertujuan untuk menjaga dan melindungi kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan segenap bangsa dari segala bentuk ancaman. Pertahanan negara diselenggarakan dan dipersiapkan secara dini oleh pemerintah melalui usaha membangun dan membina kemampuan daya tangkal bangsa dan negara yang

9

pengejawantahannya melalui sistem pertahanan negara. Sistem Pertahanan Negara adalah sistem pertahanan yang bersifat semesta yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah, dan sumber daya nasional lainnya, yang dipersiapkan pemerintah secara dini dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan berlanjut untuk menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa dari segala ancaman. Sistem Pertahanan Negara dikembangkan untuk menghadapi segala bentuk ancaman yang dinilai membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa, baik yang berasal dari luar negeri maupun yang timbul di dalam negeri, baik ancaman militer maupun ancaman nirmiliter. Sistem Pertahanan Semesta dalam menghadapi ancaman militer menempatkan TNI sebagai Komponen Utama serta segenap sumber daya nasional lainnya sebagai Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung. Sumber daya nasional yang wujudnya berupa sumber daya manusia (SDM), sumber daya alam (SDA), dan sumber daya buatan (SDB), nilai-nilai, dan teknologi dapat didayagunakan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan negara. Sistem Pertahanan Negara dalam menghadapi ancaman nirmiliter menempatkan lembaga pemerintah di luar bidang pertahanan sebagai unsur utama, sesuai dengan bentuk dan sifat ancaman yang dihadapi dengan didukung oleh unsur-unsur lain dari kekuatan bangsa. Selanjutnya, dalam menghadapi bentuk dan sifat ancaman nirmiliter di luar wewenang ins-tansi pertahanan, penanggulangannya dikoordinasikan oleh pimpinan instansi sesuai dengan bidangnya. 10

Landasan Sejarah Perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari penjajah, serta upaya mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dengan pembangunan nasional, sarat dengan nilai-nilai heroik, patriotik, dan nasionalisme yang menjadi ciri dan kekhasan bangsa Indonesia. Nilai-nilai tersebut telah lama teraktualisasi dalam kehidupan bangsa Indonesia sehari-hari dalam wujud persaudaraan, gotong-royong, keuletan, ketangguhan, percaya kepada kekuatan sendiri, tidak kenal menyerah, keyakinan meraih kemenangan, serta rela berkorban demi kebenaran dan keadilan. Perjuangan mewujudkan negara yang merdeka, bersatu, dan berdaulat adalah perjuangan panjang yang pantang berhenti serta pantang menyerah. Sejak zaman Sriwijaya berlanjut sampai Majapahit, nilai-nilai kesatuan dan persatuan, kebangsaan, patriotisme, dan heroik telah tertanam dan berkembang menjadi jati diri. Jati diri tersebut kemudian menjadi pendorong untuk menyatukan usaha dan perjuangan dalam melawan Kemerdekaan tidak menyudahi penjajah, dari Zaman Kerajaan soal-soal, kemerdekaan malah Mataram, Kebangkitan Nasional membangun soal-soal, tetapi kemerdekaan juga memberi jalan 1908, Sumpah Pemuda 1928, untuk memecahkan soal soal itu. Hanya ketidak kemerdekaanlah yang sampai dengan puncaknya yang tidak memberi jalan untuk memecahkan soal-soal. Rumah kita mengantarkan bangsa Indonesia dikepung, rumah kita dihancurkan. berhasil memproklamasikan keBersatulah Bhinneka Tunggal Ika. Kalau mau dipersatukan, tentulah merdekaannya pada tanggal 17 bersatu pula. (Pidat o Presiden Soekarno, t anggal 17-8-1948 Agustus 1945.

11

ancaman yang dahsyat berupa kekuatan militer Belanda yang ingin menjajah kembali Indonesia serta rongrongan dari dalam negeri yang dilakukan oleh pihak-pihak yang ingin memisahkan diri dari NKRI. Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, bangsa Indonesia diberi kekuatan dan keyakinan untuk menyatukan usaha dalam semangat persatuan dan kesatuan yang mampu mengusir penjajah serta mengatasi ancaman dalam negeri. Proklamasi 17 Agustus 1945 menorehkan kemenangan sehingga menjadi lambang keberhasilan perjuangan seluruh rakyat Indonesia yang sepakat untuk mempertahankan kebhinnekaan dalam wadah NKRI. Hal ini membuktikan bahwa jika bangsa Indonesia bersatu padu, tujuan bersama akan dapat diraih. Sebaliknya, apabila bercerai-berai, bangsa Indonesia akan mudah dihancurkan. Keberhasilan Indonesia mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan NKRI telah dibuktikan kepada dunia melalui perjuangan dan perlawanan pantang menyerah serta diselenggarakan secara bahumembahu oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan seluruh rakyat Indonesia, baik melalui perlawanan secara militer maupun nirmiliter. Kerja sama yang terpadu antara TNI dan rakyat tersebut ditanamkan oleh Panglima Besar Sudirman beserta seluruh kekuatan TNI dalam berjuang bahu-membahu dengan rakyat untuk melawan penjajah.

Bahwa Negara Indonesia tidak tjukup dipertahankan oleh tentara sadja, maka perlu sekali mengadakan kerdja sama jang seerat-eratnja dengan golongan serta badan-badan di luar tentara. (Panglima Besar S udir man pada Konf er ensi T ent ar a Keamanan Rakyat di Mar kas T KR Y ogyakar t a, 12 N ovember 1945)

Indonesia menghadapi ujian yang berat, baik dari luar maupun dari dalam negeri. Dalam usianya yang sangat muda, Indonesia menghadapi

12

Kebersamaan TNI dan rakyat selama perjuangan tersebut telah mengilhami kemanunggalan TNI-rakyat yang dapat diaplikasikan dalam berbagai konteks bagi terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa. Kemanunggalan TNI-rakyat yang lahir dari pengalaman sejarah tersebut merupakan inti kekuatan pertahanan Indonesia yang tetap relevan dan tidak lekang oleh perubahan. Sistem pertahanan yang modern tidak akan ada artinya manakala TNI tidak bersama rakyat. Penolakan atau pengingkaran akan kemanunggalan TNI-rakyat adalah pengkhianatan akan sejarah bangsa sendiri, yakni sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Atas dasar itulah, menjadi kewajiban setiap anak bangsa untuk selalu waspada terhadap setiap usaha yang ingin memecah dan memisahkan TNI dari rakyat, baik usaha pihak luar maupun usaha pembusukan dari dalam yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu. Hancurnya kemanunggalan TNI-rakyat dan dipisahkannya TNI dari rakyat pada akhirnya akan menghancurkan NKRI. Landasan Visional Wawasan Nusantara merupakan cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungannya sebagai satu kesatuan yang utuh. Kemerdekaan jang telah dimiliki dan dipertahankan djangan sekali-sekali Wawasan Nusantara adalah dilepaskan dan diserahkan kepada geopolitik Indonesia di mana wilayah siapa pun jang akan mendjadjah dan menindas kita. (A manat Panglima Besar Indonesia tersusun dari gugusan S udir man, disampaikan dalam Pidat o di Kepulauan Nusantara beserta Yogyakar t a pada t anggal 22 J uli 19 47 , sehar i sesudah Count er Command segenap isinya sebagai suatu dikeluar kan). kesatuan wadah serta sarana untuk membangun dan menata dirinya

13

menjadi bangsa yang berdaya saing tinggi dalam dinamika lingkungan strategis. Perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai suatu kesatuan pertahanan mengandung arti bahwa setiap ancaman terhadap sebagian wilayah Indonesia pada hakikatnya merupakan ancaman terhadap kedaulatan nasional yang harus dihadapi bersama dengan mengerahkan segenap daya dan kemampuan. Landasan Konseptual Ketahanan Nasional merupakan geostrategi Indonesia sebagai implementasi dari konsep geopolitik Wawasan Nusantara, dalam mewujudkan daya tangkal nasional serta mempengaruhi ketahanan regional dan supraregional. Ketahanan Nasional pada hakikatnya berisi keuletan dan ketangguhan bangsa dan negara dalam menghadapi setiap ancaman dengan memberdayakan faktor ideologi, politik, ekonomi, militer, sosial budaya, agama, serta informasi, dan teknologi. Faktorfaktor tersebut merupakan kekuatan nasional yang harus dipersiapkan dan dibangun sehingga menghasilkan suatu kondisi yang dinamis dan kondusif dalam mewujudkan daya tangkal bangsa.

14

PERJUANGAN BANGSA INDONESIA

Bangsa Indonesia terlahir melalui kancah perjuangan yang panjang. Perjuangan tersebut membentuk karakter dan jati diri bangsa yang mewujud dalam semangat persatuan dan kesatuan dalam wadah NKRI. Nilai-nilai dasar tersebut mengilhami cita-cita bangsa, tujuan nasional, serta kepentingan nasional bangsa Indonesia. Tekad dan semangat bangsa Indonesia untuk berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang merdeka dan berdaulat telah mendasari perjuangan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, dengan cucuran darah serta pengorbanan jiwa raga bangsa Indonesia.

Jati Diri Bangsa
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk, terbentuk bukan karena kesamaan ras, agama, suku, dan golongan, melainkan karena kesamaan tekad dan kehendak untuk bersatu dalam wadah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Kesamaan tekad dan kehendak tersebut merupakan daya rekat segenap warga bangsa yang mewujud dalam nilai-nilai persatuan dan kesatuan, kesetiakawanan sosial, kekeluargaan, gotong-royong, dan rasa cinta tanah air. Jati diri bangsa Indonesia terejawantahkan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang bermakna berbeda-beda tetapi satu jua. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika menjadi semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang wajib digelorakan oleh setiap generasi.

15

Hakikat Perjuangan Bangsa
Perjuangan bangsa Indonesia pada hakikatnya merupakan segala upaya untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Upaya tersebut dilaksanakan melalui pendayagunaan seluruh sumber daya nasional secara terpadu sesuai dengan peran serta fungsi masing-masing yang dilandasi tekad dan semangat cinta tanah air dalam bingkai persatuan dan kesatuan bangsa.

Cita-Cita Bangsa Indonesia
Cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945 adalah bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia telah mengukuhkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka, bersatu, dan berdaulat dalam wadah NKRI. Tugas generasi bangsa Indonesia adalah melindungi dan mempertahankan cita-cita yang sudah dicapai serta melanjutkannya dengan melaksanakan pembangunan nasional secara berkesinambungan untuk mewujudkan masyarakat adil, makmur, dan berdaya saing.

Tujuan Nasional
Tujuan nasional bangsa Indonesia adalah membentuk pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

16

Kepentingan Nasional
Kepentingan nasional Indonesia adalah tetap tegaknya NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta terjaminnya kelancaran dan keamanan pembangunan nasional yang berkelanjutan guna mewujudkan tujuan pembangunan dan tujuan nasional. Kepentingan nasional diwujudkan dengan memperhatikan tiga kaidah pokok, yaitu (1) tata kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945; (2) upaya pencapaian tujuan nasional dilaksanakan melalui pembangunan nasional yang berkelanjutan, berwawasan lingkungan, dan berketahanan nasional berdasarkan Wawasan Nusantara; (3) sarana yang digunakan adalah seluruh potensi dan kekuatan nasional yang didayagunakan secara menyeluruh dan terpadu. Tetap tegaknya NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 merupakan kepentingan nasional Indonesia yang bersifat permanen, berlaku sepanjang masa. Makna kepentingan nasional yang bersifat permanen tersebut adalah melindungi kedaulatan negara dan mempertahankan keutuhan wilayah NKRI dengan tidak membiarkan setiap jengkal tanah air dikuasai atau diceraiberaikan oleh pihak mana pun. Keamanan nasional yang stabil merupakan prakondisi bagi terselenggaranya kelancaran pelaksanaan pembangunan nasional yang berkelanjutan guna mewujudkan tujuan pembangunan dan tujuan

17

nasional. Dalam kerangka itu, keamanan nasional merupakan kepentingan nasional yang sifatnya dinamis. Keamanan nasional dipengaruhi oleh dinamika perubahan lingkungan strategis serta faktor-faktor dari dalam negeri, di antaranya pembangunan ekonomi, pendidikan, kesejahteraan masyarakat, dinamika politik, serta interaksi antar masyarakat.

18

HAKIKAT ANCAMAN

Ancaman pada hakikatnya adalah setiap usaha dan kegiatan, baik yang berasal dari luar negeri atau bersifat lintas negara maupun yang timbul di dalam negeri, yang dinilai membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa. Dalam Doktrin Pertahanan Negara, terminologi ancaman mencakup setiap ancaman termasuk gangguan yang dapat membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI dan keselamatan bangsa atau yang bersifat penghambat atau penghalang terhadap kepentingan nasional. Identifikasi tentang ancaman merupakan faktor utama yang menjadi dasar dalam penyusunan desain Sistem Pertahanan Negara. Upaya pertahanan negara diselenggarakan untuk mencegah dan mengatasi setiap ancaman, baik yang bersifat aktual maupun yang potensial, baik yang berasal dari luar maupun yang timbul di dalam negeri. Setiap bentuk ancaman memiliki karakteristik serta tingkat risiko yang berbeda yang mempengaruhi pola penanganannya. Identifikasi terhadap ancaman diselenggarakan dengan menganalisis perkembangan lingkungan strategis sebagai faktor luar yang berpengaruh, baik langsung maupun tidak langsung terhadap kepentingan nasional yang berwujud peluang, tantangan, dan hakikat ancaman, serta kondisi dalam negeri yang dapat berkembang dan berakumulasi menjadi ancaman.

Penilaian Ancaman
Dalam penyelenggaraan pertahanan negara, hal yang mendasar adalah penilaian tentang ancaman yang didasari oleh kemampuan untuk

19

memahami, mengidentifikasi, dan menganalisis ancaman. Penilaian tentang ada atau tidaknya ancaman dari negara lain ditentukan oleh sejumlah faktor dominan yang meliputi faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal berkaitan dengan aktor atau pelaku yang meliputi niat, tujuan, indikasi, serta besarnya kekuatan dan kemampuan, sedangkan faktor internal merupakan faktor-faktor yang memfasilitasi atau memberikan ruang terjadinya ancaman, baik yang bersifat statis maupun dinamis. Penilaian tentang faktor eksternal terkait dengan geopolitik dan geostrategi Indonesia yang terkait dengan posisi silang Indonesia. Implikasi dari posisi silang Indonesia yakni antara Benua Asia dan Australia serta antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, menempatkan Indonesia dikelilingi oleh sejumlah negara yang memiliki perbedaan latar belakang budaya dan filosofi, pandangan dan paham politik, serta tingkat kemajuan. Beberapa di antaranya adalah negara maju yang menjadi kekuatan utama dunia. Negara-negara tersebut memiliki kekuatan militer dan ekonomi yang jauh lebih kuat daripada kekuatan yang dimiliki Indonesia. Di sisi lain, juga terdapat negara-negara yang tingkat ekonomi dan kemajuannya setara dan ada pula yang berada di bawah kekuatan Indonesia. Interaksi antarnegara dengan kondisi dan tingkat kemampuan yang berbeda-beda tidak dapat dimungkiri sering menimbulkan implikasi yang berdimensi politik, ekonomi, dan pertahanan. Dalam skala tertentu, implikasi tersebut dapat berpotensi menjadi suatu ancaman. Penilaian ancaman juga mencermati faktor-faktor internal baik yang bersifat statis maupun yang bersifat dinamis. Faktor yang bersifat statis meliputi karakteristik dan kondisi geografi sebagai negara kepulauan yang luas dan terbuka dengan garis pantai yang panjang serta banyaknya

20

pulau-pulau kecil terluar yang tidak berpenghuni, kondisi dan komposisi demografi yang sangat beragam, serta sumber daya alam yang bernilai strategis. Sebaliknya, faktor internal yang bersifat dinamis mencakup faktor-faktor yang berkembang menjadi sumber-sumber terjadinya suatu ancaman atau konflik. Faktor dinamis diantaranya berupa pahampaham yang mengancam nilai-nilai kebangsaan, persaingan politik yang mengarah kepada penguatan identitas lokal, primordialisme, benturan nilai akibat kemajemukan masyarakat, termasuk ancaman yang diakibatkan oleh peredaran narkoba. Dengan mencermati konteks strategis global, kepentingan negara-negara maju yang menonjol dalam beberapa dekade yang akan datang adalah mencapai keunggulan yang maksimal dalam globalisasi dan perdagangan bebas. Kondisi tersebut akan mendorong terjadinya persaingan antarnegara, baik di kalangan negara maju, antara negara maju dan negara berkembang, maupun antarnegara berkembang. Bersamaan dengan itu, dalam menggerakkan roda perekonomian dan industri negaranegara maju akan selalu bergantung pada kebutuhan energi dan sumber daya alam sehingga kelak dapat mendorong persaingan antarnegara di masa mendatang. Di satu sisi, negara-negara maju memiliki keunggulan di bidang teknologi, modal dan sumber daya manusia yang berkemampuan tinggi, tetapi memiliki keterbatasan dalam hal sumber energi dan sumber daya alam untuk menjamin ketersediaan bahan baku industri. Di sisi lain, negara-negara berkembang memiliki kemampuan di bidang sumber daya energi dan sumber daya alam, namun memiliki keterbatasan dalam hal kemampuan teknologi, modal dan sumber daya manusia. Paradoks antara kelangkaan sumber daya alam dan peningkatan kebutuhan yang besar berpotensi mendorong konflik antarnegara di masa datang. Semakin

21

rendah daya tangkal suatu negara, akan semakin tinggi kemungkinan potensi ancaman untuk berkembang menjadi ancaman nyata. Pada tataran internal, distribusi hak-hak politik dan kesejahteraan serta penegakan hukum yang buruk dapat menjadi faktor pendorong terciptanya ketidakstabilan yang kemudian berkembang menjadi ancaman. Kondisi tersebut menjadi fenomena global sehingga mendorong berkembangnya kejahatan baik lintas negara dan bentuk-bentuk gangguan keamanan yang timbul di dalam negeri.

Penggolongan Ancaman
Ancaman dapat digolongkan ke dalam jenis, sumber, dan aktor. Berdasarkan jenisnya, ancaman pertahanan negara digolongkan dalam ancaman militer dan ancaman nirmiliter. Jika dilihat dari sumbernya, ancaman yang dihadapi Indonesia dapat berasal dari luar Indonesia atau kejahatan lintas negara, baik yang dilakukan oleh aktor negara maupun aktor yang bukan negara, serta ancaman yang timbul di dalam negeri. Ancaman tersebut secara sistematis mengancam atau diperkirakan dapat mengancam kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan bangsa. Ancaman Militer Ancaman militer memiliki karakteristik serta spektrum yang dapat mengancam kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan bangsa, baik secara langsung maupun tidak langsung. Karakteristik ancaman militer tersebut berimplikasi terhadap kebutuhan akan kesiapsiagaan kekuatan pertahanan baik dalam kapasitas sebagai

22

kekuatan penangkal maupun kekuatan pertahanan untuk kebutuhan responsif. Ancaman militer memiliki beberapa karakter. Ancaman militer dapat berupa jenis ancaman yang sifatnya terorganisasi dengan menggunakan kekuatan bersenjata yang dinilai mempunyai kemampuan yang membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa. Ancaman militer dapat pula berupa jenis ancaman yang dilakukan oleh militer suatu negara atau ancaman bersenjata yang datangnya dari gerakan kekuatan bersenjata yang dinilai mengancam atau membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa. Dari batasan tentang ancaman seperti diuraikan di atas, ancaman yang dikategorikan sebagai ancaman militer yang dapat membahayakan kedaulatan, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa dapat berupa agresi atau invasi, pelanggaran wilayah, spionase, sabotase, aksi teror bersenjata, pemberontakan bersenjata, ancaman keamanan laut atau udara, serta perang saudara atau yang sering disebut konflik komunal. Agresi atau invasi merupakan bentuk ancaman militer yang dilakukan oleh suatu negara dengan penggunaan kekuatan bersenjata yang mengancam kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa. Agresi militer atau invasi suatu negara ditempatkan pada tingkat paling tinggi dalam susunan kategorisasi ancaman pertahanan negara. Penempatan ancaman agresi pada tingkat yang paling tinggi adalah berdasarkan tingkat risiko yang ditimbulkan oleh ancaman tersebut, yakni dapat memorakporandakan struktur dan eksistensi kedaulatan, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan bangsa. Agresi

23

militer atau invasi dari suatu negara bahkan dapat menghancurkan secara total suatu negara. Selain agresi militer atau invasi, terdapat pula bentuk ancaman militer yang tingkat risikonya dapat merugikan eksistensi dan kepentingan nasional. Ancaman militer tersebut adalah bombardemen senjata, blokade sebagian atau seluruh wilayah Indonesia, atau serangan unsur angkatan bersenjata negara lain. Keberadaan atau tindakan unsur kekuatan bersenjata asing dalam wilayah NKRI yang bertentangan dengan ketentuan atau perjanjian yang disepakati, tindakan suatu negara yang membantu negara yang hendak menyerang Indonesia, tindakan unsur tentara negara lain yang melakukan kekerasan di wilayah Indonesia, atau pengiriman kelompok bersenjata atau tentara bayaran untuk melakukan tindak kekerasan di wilayah NKRI merupakan ancaman yang dikategorikan sebagai agresi. Wilayah yang sangat luas dan berada pada posisi silang berpotensi bagi terjadinya pelanggaran wilayah oleh negara lain. Pelanggaran wilayah yang secara sengaja dan sistematis dilakukan oleh negara lain merupakan bentuk ancaman militer yang mengancam kedaulatan negara Indonesia. Bentuk ancaman tersebut dapat terjadi setiap waktu secara cepat sehingga memerlukan mekanisme pengambilan putusan yang khusus pada tingkat nasional untuk mengatur pengerahan dan penggunaan kekuatan pertahanan yang dilibatkan. Pemberontakan bersenjata melawan pemerintah Indonesia yang sah merupakan bentuk ancaman militer yang dapat merongrong kewibawaan negara dan jalannya roda pemerintahan Indonesia. Dalam sejarah perjalanan bangsa, Indonesia pernah mengalami sejumlah aksi pemberontakan bersenjata yang dilakukan oleh gerakan radikal, seperti

24

Darul Islam (DI) dan Tentara Islam Indonesia (TII), Kahar Muzakar, serta G-30-S/PKI. Sejumlah aksi pemberontakan bersenjata tersebut tidak hanya mengancam pemerintahan yang sah, tetapi juga mengancam tegaknya NKRI yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Dalam beberapa dekade terakhir, pemberontakan bersenjata telah berkembang dalam bentuk gerakan separatisme yang pola perkembangannya seperti api dalam sekam. Gerakan radikal di masa lalu serta sisa-sisa G-30-S/PKI berhasil melakukan regenerasi dan berubah bentuk ke dalam berbagai organisasi kemasyarakatan dengan memanfaatkan dinamika Reformasi untuk masuk ke segala lini dan elemen nasional. Kecenderungan tersebut memerlukan kecermatan dengan membangun kewaspadaan nasional dari seluruh komponen bangsa Indonesia untuk mewaspadai perkembangannya. Indonesia memiliki sejumlah objek vital nasional dan instalasi strategis yang rawan terhadap aksi sabotase sehingga harus dilindungi. Aksi-aksi sabotase tersebut didukung oleh adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak lawan untuk merancang ancaman sehingga memiliki intensitas yang lebih tinggi dan kompleks. Fungsi pertahanan negara ditujukan untuk memberikan perlindungan, di antaranya, terhadap objek vital nasional dan instalasi strategis dari setiap kemungkinan aksi sabotase. Hal ini dilakukan dengan menggelar kekuatan pertahanan serta mempertinggi kewaspadaan yang

25

didukung oleh teknologi yang mampu mendeteksi dan mencegah secara dini setiap kemungkinan ancaman. Pada abad modern, kegiatan spionase dilakukan oleh agen-agen rahasia dalam mencari dan mendapatkan rahasia pertahanan negara lain. Kegiatan spionase dilakukan secara tertutup dengan menggunakan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sehingga tidak mudah dideteksi. Kegiatan tersebut merupakan bentuk ancaman militer yang memerlukan penanganan secara khusus dengan pendekatan kontraspionase untuk melindungi kepentingan pertahanan dari kebocoran yang akan dimanfaatkan oleh pihak lawan. Aksi teror bersenjata merupakan bentuk kegiatan terorisme yang mengancam keselamatan bangsa dengan menebarkan rasa ketakutan yang mendalam serta menimbulkan korban tanpa mengenal rasa perikemanusiaan. Sasaran aksi teror bersenjata dapat menimpa siapa saja sehingga sulit diprediksi dan ditangani dengan cara-cara biasa. Perkembangan aksi teror bersenjata yang dilakukan oleh teroris pada dekade terakhir meningkat cukup pesat dengan mengikuti perkembangan politik, lingkungan strategis, dan iptek. Sejak terorisme internasional berkembang menjadi ancaman global, aksi teror bersenjata yang berskala lokal ikut pula mengadopsi pola dan metode terorisme internasional atau bahkan berkolaborasi dengan jaringan-jaringan teroris internasional yang ada. Sejumlah aksi teror yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia menunjukkan adanya hubungan dengan jaringan teroris internasional, terutama jaringan teroris yang beroperasi di wilayah Asia Tenggara. Kondisi masyarakat dengan latar belakang pendidikan dan kemampuan ekonomi rendah menjadi incaran para tokoh teroris untuk memperluas jaringan dengan

26

membangun kader-kader baru. Guna menjamin dan melindungi keselamatan bangsa dari ancaman terorisme, terutama aksi teror bersenjata, fungsi pertahanan militer melalui unsur-unsur intelijen, unsur-unsur Komando Kewilayahan, berkewajiban untuk meningkatkan kewaspadaan dengan mengefektifkan fungsi deteksi dan cegah dini. Dalam hal penanggulangan aksi teror bersenjata yang dilakukan teroris, kesiapan dan kemampuan pasukan khusus antiteror yang dimiliki oleh TNI harus terus ditingkatkan dan dikembangkan, dan penggunaannya sesuai keputusan politik dan peraturan perundang-undangan. Gangguan keamanan di laut dan udara merupakan bentuk ancaman militer yang mengganggu stabilitas keamanan wilayah yurisdiksi nasional Indonesia. Kondisi geografi Indonesia dengan wilayah perairan serta wilayah udara Indonesia yang terbentang pada pelintasan transportasi dunia yang padat, baik transportasi maritim maupun dirgantara, berimplikasi terhadap tingginya potensi gangguan ancaman keamanan laut dan udara. Bentuk-bentuk gangguan keamanan di laut dan udara yang memiliki tingkat risiko membahayakan kepentingan nasional dan kehormatan bangsa meliputi pembajakan atau perompakan, penyelundupan senjata, amunisi, dan bahan peledak atau bahan lain yang dapat membahayakan keselamatan bangsa, penangkapan ikan secara ilegal, atau pencurian kekayaan di laut, termasuk pencemaran lingkungan. Konflik komunal pada dasarnya merupakan gangguan keamanan dalam negeri yang terjadi antarkelompok masyarakat, yang dalam skala besar dapat membahayakan keselamatan bangsa.

27

Ancaman Nirmiliter Ancaman nirmiliter pada hakikatnya ancaman yang menggunakan faktor-faktor nirmiliter yang dinilai mempunyai kemampuan yang membahayakan atau berimplikasi mengancam kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa. Ancaman nirmiliter dapat berdimensi ideologi, politik, ekonomi, sosial, informasi, dan teknologi serta berdimensi keselamatan umum. Ancaman nirmiliter memiliki karakteristik yang berbeda dengan ancaman militer, tidak bersifat fisik, serta bentuknya tidak kelihatan seperti ancaman militer, namun dapat berkembang atau berakumulasi menjadi ancaman terhadap kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI dan keselamatan bangsa. Ancaman nirmiliter dapat pula terjadi secara bersamaan dengan ancaman militer, sehingga memerlukan kecermatan baik dalam mengidentifikasi maupun dalam penanganannya. Sejak keruntuhan Uni Soviet, sistem politik internasional mengalami perubahan, dan paham komunis semakin tidak populer lagi. Namun, bagi Indonesia yang pernah menjadi basis perjuangan kekuatan komunis ancaman ideologi komunis masih tetap merupakan bahaya laten yang harus diperhitungkan. Bangsa Indonesia telah berketetapan bahwa ideologi negara adalah Pancasila. Sementara itu, ancaman terhadap ideologi negara masih tetap berpotensi cukup tinggi; ini terbukti dari adanya pihak-pihak yang ingin menghidupkan kembali Piagam Jakarta atau berusaha untuk menggantikan ideologi Pancasila dengan ideologi lain. Ancaman terhadap ideologi negara juga dapat berbentuk tindakan anarkis yang dilakukan oleh kelompok-kelompok radikalisme dengan berlindung di balik selimut keagamaan atau golongan politik fundamental. Ancaman berbasis ideologi dapat pula bersumber dari luar dalam bentuk penetrasi

28

nilai-nilai kebebasan (liberalisme) yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia. Nilai-nilai individualisme dan materialisme dari luar cenderung mengancam nilai-nilai kebangsaan yang sudah berakar dalam masyarakat. Ancaman berbasis ideologi ini dapat menjadi pemicu proses disintegrasi di dalam masyarakat Indonesia yang bersifat pluralis dalam agama, suku, dan adat-istiadat. Selain itu, ancaman berbasis ideologi dapat pula timbul dari dalam negeri, antara lain yang dilakukan oleh kelompok-kelompok metamorfosis sisa-sisa G-30-S/PKI, kelompok radikal di masa lalu atau yang telah melebur ke dalam elemen-elemen masyarakat. Dalam perspektif pertahanan negara, politik merupakan instrumen yang utama, bahkan dalam teori politik yang paling tua tentang perang dari Clausewitz yang masih tetap relevan menyebutkan bahwa perang merupakan kelanjutan dari politik dengan cara lain. Dari pengalaman membuktikan bahwa ancaman politik dapat menumbangkan suatu rezim pemerintahan, bahkan dapat menghancurkan suatu negara secara total. Ancaman berdimensi politik dapat menggunakan berbagai macam aspek sebagai kendaraan untuk menyerang suatu negara, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ancaman berdimensi politik dapat bersumber dari luar negeri dan dapat pula bersumber dari dalam. Ancaman berdimensi politik yang berasal dari luar dapat dilakukan oleh aktor negara dan aktor yang non-negara dengan menggunakan isu-isu global sebagai kendaraan untuk menyerang atau menekan Indonesia. Pelaksanaan penegakan HAM, demokratisasi, penanganan lingkungan hidup, serta penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan akuntabel selalu menjadi komoditas politik bagi masyarakat internasional untuk mengintervensi suatu negara, dan hal ini dirasakan pula oleh Indonesia.

29

Dari dalam negeri, pertumbuhan instrumen politik mencerminkan kadar pertumbuhan demokrasi suatu negara. Iklim politik yang berkembang secara sehat menggambarkan suksesnya proses demokrasi. Bagi Indonesia, faktor politik menjadi penentu kelanjutan sistem pemerintahan. Dalam sejarah Indonesia, pemerintahan negara sering mengalami pasang-surut yang diakibatkan oleh gejolak politik yang sulit dikendalikan. Ancaman yang berdimensi politik yang bersumber dari dalam negeri dapat berupa penggunaan kekuatan berupa mobilisasi massa untuk menumbangkan suatu pemerintahan yang berkuasa, atau dapat pula dalam bentuk menggalang kekuatan politik untuk melemahkan kekuasaan pemerintah. Ancaman separatisme merupakan bentuk ancaman politik yang timbul di dalam negeri. Sebagai bentuk ancaman politik, separatisme dapat menempuh pola perjuangan politik (tanpa senjata) dan perjuangan bersenjata. Pola perjuangan tidak bersenjata sering ditempuh untuk menarik simpati masyarakat internasional dan karena itu sulit dihadapi dengan menggunakan instrumen militer, sementara ancaman separatisme dengan bersenjata tidak jarang sulit dihadapi sebagai akibat dari politisasi penanganan yang dilakukan pemerintah dengan menggunakan pendekatan operasi militer. Hal ini membuktikan bahwa ancaman berdimensi politik memiliki tingkat risiko yang besar yang mengancam kedaulatan, keutuhan, dan keselamatan bangsa. Faktor ekonomi selain merupakan kekuatan, juga menjadi instrumen yang dimanfaatkan oleh suatu negara untuk mengancam negara lain. Dalam kehidupan negara, ekonomi merupakan salah satu faktor yang vital di samping politik dan militer. Oleh karena itu, ekonomi menjadi salah satu faktor stabilitas suatu negara. Ekonomi juga menjadi alat penentu posisi tawar negara dalam hubungan antarnegara atau

30

pergaulan internasional. Negara dengan kondisi perekonomian yang lemah sering berada dalam posisi tawar yang rendah dalam berhubungan dengan negara lain yang posisi ekonominya lebih kuat. Negara yang ekonominya kuat biasanya diikuti pula dengan politik dan militer yang kuat. Dalam konteks ancaman, ekonomi memiliki potensi untuk menjadi ancaman yang menghancurkan suatu negara. Sejarah membuktikan bahwa banyak negara atau kerajaan yang hancur karena ancaman berdimensi ekonomi. Indonesia bahkan pernah mengalami ancaman berdimensi ekonomi pada tahun 1998 ketika inflasi sangat tinggi dan nilai tukar mata uang rupiah sangat tertekan oleh dolar Amerika sehingga menimbulkan guncangan keamanan yang besar di dalam negeri yang memaksa Presiden Soeharto berhenti dari jabatannya sebagai presiden. Ancaman berdimensi ekonomi dapat berasal dari dalam dan dari luar. Ancaman berdimensi ekonomi dari dalam Indonesia memiliki bentuk, antara lain, sistem ekonomi yang belum ditetapkan secara jelas yang berdampak konstruksi ekonomi yang dibangun menjadi tidak jelas pula. Sistem Ekonomi Pancasila yang pernah dinyatakan di masa lalu ternyata wujudnya tidak jelas. Negara-negara lain memiliki sistem ekonomi yang jelas. Negara-negara sosialis menganut sistem ekonomi campuran dengan porsi kebebasan pasar kecil dan porsi peran pemerintah besar. Amerika Serikat menganut pula sistem ekonomi campuran dengan porsi peran pemerintah kecil dan porsi kebebasan pasar besar. Pendapatan per kapita masyarakat yang sangat rendah merupakan bentuk ancaman berdimensi ekonomi yang berakibat terhadap kemiskinan yang berpengaruh langsung terhadap pendidikan dan kesehatan. Distribusi pendapatan yang tidak merata telah mengakibatkan ketimpangan yang

31

besar yakni kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin menjadi semakin lebar. Kondisi ini berpengaruh terhadap kondisi ketidakstabilan keamanan nasional. Sarana dan prasarana transportasi yang buruk juga menyebabkan distribusi ekonomi belum menyentuh daerah-daerah terpencil dan pulau-pulau kecil terluar. Di samping itu, kesenjangan ekonomi yang makin tinggi yang menimpa penduduk di daerah-daerah perbatasan, serta ketimpangan dalam distribusi kepemilikan kekayaan sumber daya alam antardaerah berpotensi mengakibatkan terjadinya konflik antardaerah yang mengganggu kohesi nasional. Korupsi, kolusi, dan nepotisme masih menjadi persoalan utama yang dihadapi Indonesia dan merupakan bentuk ancaman berdimensi ekonomi yang mengakibatkan pemborosan keuangan yang sangat tinggi dan berakibat terhadap kelesuan pembangunan dalam jangka panjang. Demikian pula inflasi dan pengangguran merupakan persoalan yang saling mempengaruhi, yang menyulitkan dalam melakukan pemilihan prioritas, yakni menurunkan inflasi dengan risiko naiknya angka pengangguran atau menurunkan pengangguran dengan risiko inflasi naik. Ancaman berdimensi ekonomi yang bersumber dari luar terdiri atas beberapa bentuk. Tingkat ketergantungan Indonesia terhadap pihak asing dalam hal modal melalui pinjaman luar negeri berakibat terhadap utang negara yang sangat besar. Daya saing Indonesia yang sangat rendah berakibat posisi tawar Indonesia di fora internasional menjadi rendah pula. Di samping itu, globalisasi dalam berbagai bidang, termasuk pasar bebas, semakin dekat pelaksanaannya, sementara kesiapan Indonesia masih prematur. Indikator kinerja ekonomi Indonesia pada tingkat dunia berada pada tingkat yang rendah yang berdampak terhadap besarnya potensi krisis ekonomi di waktu-waktu mendatang. Dan yang sering 32

digunakan pihak luar untuk menekan Indonesia di antaranya pembatasan kuota, pembatasan atau restriksi, embargo sebagian atau seluruhnya, dan blokade ekonomi. Sumber-sumber ekonomi nasional yang bernilai strategis atau yang menyangkut hajat hidup orang pada kenyataannya banyak yang dikuasai pihak asing. Dalam hal ini, penguasaan sumber-sumber ekonomi seperti sumber daya energi dan pertambangan oleh pemodal yang hanya berorientasi keuntungan, apalagi oleh pihak asing, merupakan wujud ancaman nyata yang berdimensi ekonomi. Dalam interaksi antarbangsa dan antarmasyarakat, terdapat sejumlah implikasi yang berdimensi sosial budaya yang bersifat positif, sekaligus bersifat negatif, dan dalam skala tertentu dapat berkembang menjadi ancaman. Ancaman yang berdimensi sosial budaya dapat berasal dari dalam dan dari luar Indonesia. Ancaman dari dalam didorong oleh faktor-faktor kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan ketidakadilan (4K). Bentuk-bentuk ancaman seperti separatisme, terorisme, dan infiltrasi melalui budaya dan nilai-nilai sosial kerap dilakukan oleh pihak tertentu untuk mengancam keutuhan dan eksistensi NKRI. Selain itu, bentuk-bentuk kekerasan yang melekat dan berurat berakar, serta bencana akibat perbuatan manusia banyak didorong oleh faktor 4K. Watak kekerasan yang melekat dan berurat berakar berkembang seperti api dalam sekam di kalangan masyarakat yang menjadi pendorong konflik bernuansa SARA atau konflik vertikal antara pemerintah pusat dan daerah. Watak kekerasan itu pula yang mendorong tindakan kejahatan, termasuk perusakan lingkungan dan bencana buatan manusia. Ancaman dari luar berupa penetrasi nilai-nilai budaya dari luar negeri yang sulit dibendung mempengaruhi tata nilai sampai pada tingkat

33

lokal. Kemajuan teknologi informasi mengakibatkan dunia menjadi desa global, tempat interaksi antarmasyarakat terjadi secara langsung. Yang terjadi tidak hanya transfer informasi, tetapi juga transformasi dan sublimasi nilai-nilai luar secara serta-merta dan sulit dikontrol. Akibatnya, terjadi benturan peradaban, sehingga lambat-laun nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa semakin terdesak oleh nilai-nilai individualisme. Diakui bahwa nilai-nilai luar tidak semuanya negatif banyak pula nilai positif yang memberikan efek kemajuan untuk diterapkan. Nilai-nilai luar yang positif antara lain kedisiplinan, keuletan bekerja dan belajar, serta pemanfaatan waktu untuk hal-hal yang produktif sehingga masyarakatnya menjadi sejahtera. Nilai-nilai positif tersebut patut diadopsi dan diterapkan dalam membangun masyarakat Indonesia. Dimensi sosial budaya yang menjadi ancaman yang melemahkan bangsa Indonesia di antaranya peredaran narkotik dan obat-obatan terlarang yang mengancam generasi muda Indonesia. Di samping itu, peredaran media pornografi serta perdagangan wanita, selain mengancam moral, juga menjadi media penyebaran virus HIV/AIDS. Penetrasi nilai-nilai budaya dari luar negeri yang sulit dibendung sering kali menyebabkan terjadinya benturan peradaban yang mengancam nilai-nilai lokal di Indonesia. Dalam perspektif pertahanan negara, kemajuan Iptek di satu sisi memberikan nilai positif bagi umat manusia, namun di sisi lain sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk melaksanakan tindakan kejahatan seperti kejahatan cyber, kejahatan perbankan, penyadapan, dan pembajakan hak cipta. Sebalik-nya, hak untuk mendapatkan transfer teknologi, peng-hargaan atas hasil karya Iptek, serta perlindungan hakhak intelektual belum tampak kemajuannya. Kondisi tersebut tanpa disadari menjadi penghambat pertumbuhan kreativitas dan inovasi masyarakat Indonesia yang lambat-laun berimplikasi berkembangnya

34

mentalitas masyarakat untuk lebih menghargai produk-produk asing daripada produk anak bangsa sendiri. Hal ini dapat terlihat dari membanjirnya produk-produk asing di Indonesia, sementara produk Iptek hasil dalam negeri kurang diminati. Dikaitkan dengan era perdagangan bebas yang akan berlangsung dalam waktu dekat, sinyalemen ini berpotensi menjadi ancaman yang cukup serius. Keselamatan umum merupakan salah satu faktor yang berdimensi pertahanan yakni berkaitan langsung dengan keselamatan bangsa. Keselamatan umum memiliki dimensi yang luas, mencakupi antara lain bencana alam, bencana buatan manusia, narkotik dan obat-obatan terlarang, keamanan transportasi, bencana kelaparan, dan wabah penyakit. Secara geografis Indonesia berada pada kawasan yang rawan terhadap bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, dan banjir. Bencana alam juga dapat mengancam keselamatan transportasi, bencana kelaparan, dan wabah penyakit. Bencana yang disebabkan oleh ulah manusia justru jauh lebih serius mengancam keselamatan umum, antara lain perusakan lingkungan akibat pembalakan hutan secara liar, peredaran narkotik dan obat-obatan terlarang, dan pembuangan limbah industri. Bencana alam yang terjadi selama ini lebih banyak disebabkan oleh ulah manusia, antara lain bencana banjir, bencana tanah longsor, bencana kekeringan, dan bencana kebakaran hutan. Di samping itu, salah satu faktor yang mengancam keselamatan

35

umum adalah kecelakaan transportasi. Kecelakaan transportasi disebabkan oleh berbagai faktor, seperti masalah teknik, kelalaian manusia dan faktor alam, serta masih lemahnya kinerja aparat dalam penegakkan hukum dan peraturan perundang-undangan. Globalisasi menghadirkan pengaruh positif dan pengaruh negatif secara bersamaan. Sisi positif dari globalisasi adalah berlangsungnya transformasi nilai dari bangsa-bangsa yang maju, seperti nilai kedisiplinan dalam bekerja dan belajar, keuletan dalam bekerja, pemanfaatan waktu untuk kegiatan yang produktif, penerapan manajemen modern, serta penyelenggaraan pemerintahan yang bersih, akuntabel, dan transparan. Globalisasi juga mempunyai sisi negatif, di antaranya pergaulan bebas, semakin terkikisnya nilai-nilai kekeluargaan dan gotongroyong, menguatnya nilai-nilai individualisme, terutama yang melanda masyarakat pedesaan, serta penerapan nilai-nilai kebebasan yang tidak berbasis budaya Indonesia, termasuk tumbuhnya ajaran–ajaran sesat yang berusaha mempengaruhi masyarakat.

36

KONSEPSI PERTAHANAN NEGARA

Hakikat Pertahanan Negara
Pertahanan negara pada hakikatnya merupakan segala upaya pertahanan yang bersifat semesta, yang penyelenggaraannya didasarkan pada kesadaran akan hak dan kewajiban seluruh warga negara serta keyakinan akan kekuatan sendiri untuk mempertahankan kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Kesemestaan mengandung makna pelibatan seluruh rakyat dan segenap sumber daya nasional, sarana dan prasarana nasional, serta seluruh wilayah negara sebagai satu kesatuan pertahanan yang utuh dan menyeluruh. Upaya pertahanan yang bersifat semesta adalah model yang dikembangkan sebagai pilihan yang paling tepat bagi pertahanan Indonesia yang diselenggarakan dengan keyakinan pada kekuatan sendiri serta Sekarang tibalah saatnya kita berdasarkan atas hak dan kewajiban benar-benar mengambil nasib bangsa dengan nasib tanah air warga negara dalam usaha pertahanan di dalam tangan kita sendiri. negara. Meskipun Indonesia telah Hanya bangsa yang berani mencapai tingkat kemajuan yang mengambil nasib dalam tangan cukup tinggi nantinya, model tersebut sendiri, akan dapat berdiri sendiri dengan kuatnya. tetap menjadi pilihan strategis untuk (Pidato Presiden Soekarno, dikembangkan, dengan menempatkan t anggal 17 A gust us 194 5 ). warga negara sebagai subjek pertahanan

37

negara sesuai dengan perannya masing-masing. Sistem Pertahanan Negara yang bersifat semesta bercirikan kerakyatan, kesemestaan, dan kewilayahan. Ciri kerakyatan mengandung makna bahwa orientasi pertahanan diabdikan oleh dan untuk kepentingan seluruh rakyat. Ciri kesemestaan mengandung makna bahwa seluruh sumber daya nasional didayagunakan bagi upaya pertahanan. Sedangkan ciri kewilayahan mengandung makna bahwa gelar kekuatan pertahanan dilaksanakan secara menyebar di seluruh wilayah NKRI, sesuai dengan kondisi geografi sebagai negara kepulauan.

Tujuan dan Kepentingan Pertahanan Negara
Pertahanan negara bertujuan untuk menjaga dan melindungi kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan segenap bangsa dari segala bentuk ancaman. Ancaman terhadap sebagian wilayah merupakan ancaman terhadap seluruh wilayah NKRI dan menjadi tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia. Penyelenggaraan pertahanan negara harus didudukkan pada tiga aspek fundamental yang menjadi tujuan pertahanan negara, yakni mencakupi aspek kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan serta kehormatan bangsa. Tujuan dan kepentingan pertahanan negara dalam menjaga kedaulatan negara tidak sekadar bersifat fisik, yakni kedaulatan teritorial yang berhubungan dengan batas negara. Fungsi pertahanan juga untuk menjaga sistem ideologi negara dan sistem politik negara. Dalam menjaga sistem ideologi negara, upaya pertahanan negara diarahkan untuk mengawal dan mengamankan Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara. Setiap usaha untuk mengganti ideologi Pancasila akan berhadapan dengan

38

instrumen pertahanan negara yang setiap saat siap sedia untuk membela dan mempertahankannya. Dalam menjaga sistem politik negara, upaya pertahanan negara diarahkan untuk mendukung terwujudnya pemerintahan negara yang stabil, demokratis, bersih, dan akuntabel, sebagai prasyarat yang memungkinkan terselenggaranya pembangunan nasional dengan baik dan efektif. Bangsa Indonesia pada dasarnya adalah bangsa yang demokratis. Nilai-nilai demokratis tersebut terangkum dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yaitu bangsa Indonesia yang bernegara dalam wadah NKRI yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, hukum, hak asasi manusia, dan lingkungan hidup, dan bukan berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan. Tujuan dan kepentingan pertahanan negara juga diarahkan untuk menjaga keutuhan NKRI. Pelaksanaannya didasarkan pada pandangan bangsa Indonesia yang menempatkan NKRI sebagai keputusan final yang harus tetap dipelihara dan dipertahankan. Setiap usaha pemisahan diri atau yang bertujuan mengubah dan memecah-belah NKRI merupakan ancaman terhadap keutuhan wilayah NKRI dan menjadi ancaman yang berdimensi pertahanan. Separatisme merupakan bentuk ancaman pertahanan yang mengancam keutuhan wilayah NKRI, sehingga menjadi ancaman pertahanan yang utama. Pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa usaha separatisme dilakukan dalam dua pola gerakan, yakni gerakan separatisme tidak bersenjata yang dikategorikan sebagai ancaman nirmiliter dan gerakan separatisme bersenjata yang menjadi ancaman militer. Selanjutnya, tujuan dan kepentingan pertahanan negara dalam menjamin keselamatan bangsa merupakan hal fundamental dalam

39

penyelenggaraan fungsi pertahanan negara untuk melindungi warga dari segala bentuk ancaman. Menjamin keselamatan bangsa mencakupi upayaupaya pertahanan negara dalam menghadapi setiap ancaman baik dari luar maupun dalam negeri. Dimensi keselamatan bangsa juga mencakupi kewajiban untuk melaksanakan penanggulangan dampak bencana alam dan kerusuhan sosial, mengatasi tindakan terorisme serta menegakkan keamanan di laut dan udara Indonesia, termasuk dari kejahatan lintas negara.

Fungsi Pertahanan Negara
Pertahanan negara berfungsi untuk mewujudkan satu kesatuan pertahanan yang mampu melindungi kedaulatan negara, keutuhan wilayah, serta keselamatan bangsa dari setiap ancaman, baik yang datang dari luar maupun yang timbul di dalam negeri. Upaya mewujudkan dan mempertahankan seluruh wilayah NKRI sebagai satu kesatuan pertahanan diselenggarakan dalam fungsi penangkalan, penindakan, dan pemulihan. Fungsi penangkalan merupakan perwujudan usaha pertahanan dari seluruh kekuatan nasional yang memiliki efek psikologis untuk mencegah dan meniadakan setiap ancaman, baik dari luar maupun yang timbul di dalam negeri, terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan segenap bangsa. Karakter penangkalan adalah tidak bersifat pasif, tetapi aktif melakukan upaya pertahanan melalui usaha membangun dan membina kemampuan dan daya tangkal negara, baik secara militer maupun nirmiliter. Fungsi penangkalan dilaksanakan dengan strategi penangkalan yang bertumpu pada instrumen penangkalan berupa instrumen politik, ekonomi, psikologi, sosial budaya, teknologi, dan militer. 40

Dalam kerangka penangkalan, instrumen politik menyelenggarakan pembangunan sistem politik yang sehat dan kuat serta usaha-usaha diplomasi sebagai lini terdepan pertahanan negara untuk mencegah dan meniadakan setiap potensi ancaman yang dapat mengancam kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa. Instrumen ekonomi menyelenggarakan pembangunan ekonomi dengan sistem ekonomi yang jelas untuk mencapai pertumbuhan yang sehat dan cukup tinggi bagi terwujudnya pencapaian tujuan nasional yakni masyarakat yang sejahtera, berkeadilan, dan berdaya saing pada lingkup regional dan global. Instrumen psikologis yang diemban oleh semua komponen bangsa, baik lembaga pemerintah maupun nonpemerintah, mewujudkan upaya penangkalan melalui usaha memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa serta menumbuhkembangkan nasionalisme, patriotisme, dan heroisme bangsa di segala bidang. Instrumen sosial menyelenggarakan pembangunan dan pendayagunaan sistem nilai serta segenap pranata sosial dalam mewujudkan kehidupan dan interaksi sosial yang harmonis serta saling menghargai. Instrumen teknologi menyelenggarakan usaha untuk memadukan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mewujudkan industri nasional yang kuat serta industri pertahanan dalam negeri yang berdaya saing. Instrumen militer, yakni TNI, sebagai Komponen Utama pertahanan negara menyelenggarakan usaha-usaha membangun dan membina kekuatan dan kemampuan dengan mengembangkan strategi militer yang memiliki efek daya tangkal yang tinggi serta profesional dalam melaksanakan setiap tugas operasi, baik OMP maupun OMSP. Fungsi penindakan merupakan keterpaduan usaha pertahanan dari seluruh kekuatan nasional, baik secara militer maupun secara nirmiliter,

41

untuk menghadapi dan mengatasi segala bentuk ancaman, baik dari luar maupun yang timbul di dalam negeri, yang mengancam kedaulatan, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa. Fungsi penindakan dilaksanakan dengan usaha pengerahan dan penggunaan kekuatan pertahanan dalam sistem pertahanan semesta untuk melakukan tindakan preemptive, penanggulangan, atau perlawanan yang pelaksanaannya disesuaikan dengan jenis ancaman serta tingkat risiko yang ditimbulkan. Fungsi penindakan dalam menghadapi ancaman militer menempatkan TNI sebagai kekuatan utama pertahanan didukung oleh seluruh kekuatan nasional, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam susunan Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung. Dalam menghadapi ancaman militer yang berasal dari luar, penyelenggaraan fungsi penindakan disesuaikan dengan bentuk ancaman untuk menentukan jenis tindakan yang diambil serta kekuatan pertahanan yang digunakan. Ancaman militer berupa agresi atau invasi dihadapi dengan pendekatan perang, dan bagi Indonesia penyelenggaraan perang dilaksanakan secara total dalam wujud perang semesta. Fungsi penindakan dalam menghadapi ancaman nirmiliter menempatkan lembaga pemerintah sebagai unsur utama sesuai dengan bentuk dan sifat ancaman yang dihadapi, didukung oleh unsur-unsur lain dari kekuatan bangsa. Penindakan terhadap ancaman nirmiliter dilakukan dengan pendekatan fungsional oleh lembaga pemerintah di luar bidang pertahanan berdasarkan jenis dan sifat ancaman. Fungsi penindakan diwujudkan dalam bentuk langkah-langkah penyelamatan dengan mengerahkan segala kemampuan bangsa. Bentuk-bentuk penindakan terhadap ancaman yang bersumber dari dalam negeri disesuaikan dengan jenis ancaman dan tingkat risiko

42

yang ditimbulkan, serta dilakukan dengan memperhatikan nilai-nilai hukum yang berlaku dalam negara demokrasi. Tindakan preemptive merupakan bentuk penindakan yang dilakukan terhadap pihak lawan atau terhadap ancaman, baik yang bersifat militer maupun nirmiliter, yang nyata-nyata akan menyerang Indonesia. Tindakan preemptive dilaksanakan melalui pengerahan kekuatan pertahanan untuk mendahului pihak lawan yang sedang dalam persiapan untuk menyerang Indonesia. Tindakan preemptive dilaksanakan di wilayah pihak lawan atau di dalam perjalanan sebelum memasuki wilayah Indonesia. Tindakan preemptive juga diterapkan dalam menghadapi ancaman nirmiliter yang pelaksanaannya disesuaikan dengan jenis dan sifat ancaman. Tindakan perlawanan merupakan bentuk penindakan terhadap pihak lawan yang sedang menyerang Indonesia atau telah menguasai sebagai atau seluruh wilayah Indonesia dengan cara mengerahkan seluruh kekuatan negara, baik secara militer maupun nirmiliter. Tindakan perlawanan diselenggarakan dengan sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta melalui pengerahan kekuatan pertahanan yang berintikan TNI didukung oleh segenap kekuatan bangsa dalam susunan Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung. Fungsi pemulihan memiliki cakupan ke dalam dan ke luar. Dalam lingkup ke dalam, fungsi pemulihan merupakan keterpaduan usaha pertahanan negara yang dilaksanakan secara nirmiliter dan militer untuk mengembalikan kondisi keamanan negara yang telah terganggu akibat kekacauan keamanan karena perang, pemberontakan atau serangan separatis, konflik vertikal atau konflik horizontal, huru-hara, serangan teroris, atau bencana alam atau akibat ancaman nirmiliter. TNI bersama

43

dengan instansi pemerintah lainnya serta masyarakat melaksanakan fungsi pemulihan sebagai wujud pertahanan semesta yang utuh. Dalam lingkup ke luar, fungsi pemulihan diwujudkan melalui pelibatan unsur kekuatan pertahanan dalam mengambil bagian mewujudkan perdamaian dunia dan stabilitas regional. Secara militer, hal ini diwujudkan antara lain dalam bentuk pengiriman pasukan penjaga perdamaian atau pengamat penjaga perdamaian. Secara nirmiliter hal ini diwujudkan dalam keikutsertaan dalam berbagai usaha, antara lain melalui keanggotaan PBB dan organisasi regional, serta dalam memfasilitasi usaha-usaha internasional untuk mewujudkan perdamaian dunia dan stabilitas regional.

Pandangan tentang Damai dan Perang
Setiap negara memiliki pandangan masing-masing terhadap damai dan perang. Damai dan perang adalah dua kondisi yang saling mengikuti dalam usaha suatu negara memperjuangkan kepentingan nasionalnya. Tidak ada perang yang abadi, demikian juga tidak ada damai yang abadi. Perang menentukan hidup dan mati serta jatuh-bangunnya suatu negara, sehingga harus dipahami dan dipelajari segala seluk-beluknya. Damai adalah suatu kondisi ketika kehidupan masyarakat serta roda pemerintahan dan pembangunan nasional berjalan secara normal. Damai tidak berarti tanpa konflik atau sengketa. Dalam kondisi damai, dapat saja terdapat gangguan-gangguan keamanan, namun dalam tingkatan intensitas rendah. Kondisi damai tidak terjadi dengan sendirinya tanpa suatu usaha. Kondisi damai adalah hasil usaha. Pandangan bangsa Indonesia tentang damai dan perang adalah bangsa Indonesia cinta damai tetapi lebih cinta kemerdekaan dan kedaulatan. Perang merupakan jalan terakhir apabila usaha-

44

usaha diplomasi mengalami jalan buntu serta dilaksanakan dalam rangka melawan kekuatan negara lain yang secara nyata mengancam kemerdekaan, kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan bangsa Indonesia. Penyelenggaraan pertahanan negara pada dasarnya tidak ditujukan untuk perang, tetapi untuk mewujudkan perdamaian, menjamin keutuhan NKRI, mengamankan kepentingan nasional, serta menjamin terlaksananya pembangunan nasional. Perang terjadi akibat kegagalan upaya pertahanan. Untuk mewujudkan perdamaian, negara harus membangun kekuatan serta memelihara kesiapsiagaan yang memiliki efek penangkalan yang disegani pihak lawan. Indonesia menganut prinsip Si Vis Pacem Para Bellum, yakni untuk memelihara kondisi damai, negara membangun kemampuan pertahanan yang kuat yang berdaya tangkal tinggi. Daya tangkal bangsa dan negara bersandar pada sistem pertahanan semesta yang diselenggarakan melalui pertahanan militer dan pertahanan nirmiliter. Fungsi pertahanan militer diemban oleh TNI untuk melaksanakan OMP dan OMSP. OMP merupakan bentuk pengerahan dan penggunaan kekuatan TNI untuk melawan kekuatan militer negara lain yang melaksanakan agresi terhadap Indonesia, termasuk dalam konflik bersenjata dengan negara lain. Pelaksanaan OMP berdasarkan keputusan politik oleh Presiden dengan menyatakan perang melawan negara lain yang menyerang atau mengancam kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan bangsa. OMSP merupakan bentuk penggunaan kekuatan TNI untuk kepentingan pertahanan negara dan dalam rangka mendukung kepentingan nasional, baik untuk mengatasi ancaman militer maupun dalam membantu fungsi pemerintahan dalam menghadapi ancaman nirmiliter, termasuk dalam tugas perdamaian dunia. 45

Inti pertahanan nirmiliter adalah pemberdayaan sumber daya nasional yang meliputi fungsi kekuatan pertahanan nirmiliter dalam kerangka menghadapi ancaman militer, yakni dalam wujud Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung, serta dalam kerangka pertahanan sipil untuk menghadapi ancaman nirmiliter sesuai dengan lingkup fungsi dan kewenangan instansi pemerintah di luar bidang pertahanan. Spektrum Konflik dan Pelibatan Unsur Pertahanan Dalam hubungan antarnegara selalu terjadi kondisi pasang-surut yang berkembang dalam suatu spektrum di antara kondisi damai dan perang. Konflik merupakan kondisi terganggunya hubungan antarnegara yang berkembang dalam spektrum paling rendah hingga perang terbuka. GAMBAR 1
DAMAI SPEKTRUM KONFLIK DAN PELIBATAN UNSUR PERTAHANAN

KONFLIK INTENSITAS RENDAH
TERTIB SIPIL
D A R U R A T S I P I L

KONFLIK INTENSITAS TINGGI
D A R U R A T P E R A N G

M I L I T E R

1 2

PELIBATAN FUNGSI PERTAHANAN MILITER PELIBATAN FUNGSI PERTAHANAN NIRMILITER

PERANG

46

Pemahaman terhadap spektrum konflik menjadi dasar dalam pencegahan konflik, pengelolaan konflik, pelibatan kekuatan pertahanan, termasuk keikutsertaan dalam tugas-tugas perdamaian dunia dan bantuan kemanusiaan, serta bantuan kemampuan pertahanan negara pada departemen atau otoritas sipil lainnya. Pelibatan fungsi pertahanan militer dan fungsi pertahanan nirmiliter diselenggarakan sejak kondisi keamanan nasional dalam keadaan damai hingga perang. Dalam kondisi damai, pelibatan fungsi pertahanan militer ditekankan pada efektivitas penangkalan, yakni untuk mencegah setiap ancaman, baik dari luar maupun yang timbul di dalam negeri. Dalam keadaan damai dan dalam rentangan kondisi keamanan nasional dengan spektrum konflik intensitas rendah fungsi pertahanan militer, yakni TNI, dilibatkan untuk menyelenggarakan OMSP untuk menangani ancaman atau tugas yang diembankan kepada TNI yang pelaksanaannya berdasarkan keputusan politik pemerintah. Dalam spektrum konflik ketika kondisi keamanan suatu berada pada level yang kritis dan pemerintah memberlakukan keadaan darurat seperti darurat sipil, darurat militer, atau keadaan perang, pelibatan fungsi pertahanan militer semakin besar. Dalam keadaan darurat militer dan keadaan perang, di samping menjalankan fungsi pertahanan negara, sesuai dengan keputusan politik dan peraturan perundang-undangan, TNI dapat mengambil alih fungsifungsi pemerintahan di wilayah tempat diberlakukannya keadaan darurat militer atau keadaan perang. Seperti halnya pada pelibatan fungsi pertahanan militer, fungsi pertahanan nirmiliter dilibatkan baik pada masa damai maupun pada keadaan perang. Dalam masa damai, pelibatan fungsi pertahanan nirmiliter diselenggarakan secara fungsional, yang penekanannya

47

pada pendekatan pembangunan nasional yang berefek kesejahteraan dan penangkalan. Pada kondisi keamanan nasional dengan spektrum konflik intensitas rendah, fungsi pertahanan nirmiliter, yakni unsur-unsur pemerintahan di luar bidang pertahanan, dilibatkan secara maksimal sampai pada kondisi darurat sipil. Pada darurat militer dan keadaan perang, pelibatan fungsi pertahanan nirmiliter disesuaikan dengan kondisi dan tingkat risiko yang dihadapi berdasarkan hak-hak masyarakat sipil sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Penyelenggaraan Perdamaian
Penyelenggaraan perdamaian bertujuan untuk menciptakan kondisi yang aman, harmonis, dan tenteram, baik dalam sistem global maupun nasional. Dalam sistem global, Indonesia berinteraksi dengan negaranegara lain, baik dengan sesama kawasan maupun di luar kawasan, sehingga akan saling membutuhkan satu sama lain. Dalam hal ini, penyelenggaraan perdamaian bertujuan untuk menciptakan hubungan yang aman dan harmonis dengan memandang negara lain bukan sebagai ancaman dan sebaliknya negara lain tidak memandang Indonesia sebagai ancaman. Setiap pertikaian dengan negara lain diselesaikan dengan mengedepankan usaha-usaha damai. Perwujudan perdamaian ditempuh melalui peningkatan kerja sama bilateral, regional, dan internasional dengan mengembangkan prinsip saling percaya, mengedepankan diplomasi, serta melakukan upaya-upaya penanganan dan penyelesaian konflik lainnya. Indonesia sebagai negara yang cinta damai akan selalu tampil dalam setiap usaha bagi terwujudnya perdamaian dunia, baik secara politik maupun melalui pelibatan kekuatan pertahanan dalam tugas-tugas perdamaian dunia dan regional.

48

Penyelenggaraan perdamaian juga berefek ke dalam, yakni dalam rangka stabilitas nasional bagi terwujudnya tata tenteram kerta raharja di seluruh wilayah Indonesia. Dalam membangun stabilitas nasional, setiap konflik dalam negeri, baik vertikal maupun horizontal, diselesaikan dengan cara-cara yang bermartabat dan berperikemanusiaan melalui pendekatan hukum, kesejahteraan, keadilan, dan dialogis dalam membangun kohesi nasional serta persatuan dan kesatuan bangsa. Keputusan menggunakan kekuatan pertahanan dalam mengatasi isu-isu keamanan dalam negeri didasarkan atas pertimbangan yang saksama terhadap perkembangan situasi serta ditempuh melalui keputusan politik.

Asas-asas Damai Komitmen bangsa Indonesia dalam penyelenggaraan perdamaian adalah hidup berdampingan dengan bangsa lain secara damai, dengan berpedoman pada delapan asas perdamaian. Ke-delapan asas tersebut adalah tujuan, waspada, kekenyalan, kekuatan, kolektif, kelanggengan, transparansi, dan prioritas.

Asas Tujuan Tujuan penyelenggaraan perdamaian pada hakikatnya tetap tegaknya kemerdekaan, kedaulatan negara, keutuhan wilayah, keselamatan dan kesejahteraan rakyat, serta pengamanan kepentingan nasional seiring dengan perjalanan waktu dan dinamika lingkungan strategis.

49

Asas Waspada Waspada terhadap setiap kemungkinan perubahan situasi dan pendadakan strategis, tidak ada yang abadi selain kepentingan. Asas Kekenyalan Damai bukan berarti tidak perang. Mewujudkan perdamaian terkadang harus melalui penggunaan kekuatan fisik untuk tujuan perang. Kalau ingin damai, negara harus bersiap untuk perang. Asas Kekuatan Damai dapat diwujudkan atau dipertahankan apabila memiliki kekuatan dan kemampuan yang memadai. Pembinaan kekuatan dan kemampuan harus selalu dikembangkan guna meningkatkan kesiapsiagaan. Asas Kolektif Damai merupakan kebutuhan bersama dan dalam mewujudkannya melibatkan semua pihak, bukan untuk satu golongan atau satu pihak. Upaya mewujudkan perdamaian merupakan integrasi baik secara militer maupun nirmiliter. Asas Keberlanjutan Damai tidak akan terjadi dengan sendirinya, tetapi merupakan hasil upaya bersama yang berkesinambungan. Upaya mewujudkan kondisi damai dilaksanakan sepanjang waktu dan tidak boleh terhenti.

50

Asas Transparansi Setiap upaya untuk mewujudkan kondisi damai harus mengedepankan prinsip saling percaya. Prinsip transparansi dalam rangka mewujudkan rasa saling percaya juga dikembangkan dalam pembangunan dan penggunaan kekuatan pertahanan. Asas Prioritas Pada hakikatnya setiap usaha untuk mewujudkan kondisi damai yang sejati sebagai dasar kepentingan bersama diletakkan pada prinsip cinta damai, tetapi lebih cinta kemerdekaan.

Penyelenggaraan Peperangan
Perang diselenggarakan untuk membela kemerdekaan dan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah negara, serta melindungi keselamatan segenap bangsa. Perang bagi bangsa Indonesia adalah perang semesta yang melibatkan seluruh rakyat Indonesia dan segenap kekuatan nasional. Pernyataan perang dengan bangsa lain dilakukan oleh Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Demikian pula dalam mengakhiri perang atau membuat perdamaian, pernyataan dilakukan oleh Presiden melalui pernyataan politik secara resmi. Hal mendasar yang harus menjadi pegangan dalam pelaksanaan peperangan: keyakinan akan kekuatan sendiri, tidak mengenal menyerah dan tidak akan menyerahkan diri atau menyerahkan wilayah Indonesia kepada pihak lawan, keyakinan akan kemenangan, dan perlawanan tidak akan berhenti sebelum mencapai kemenangan. Perang diselenggarakan

51

dengan strategi pertahanan berlapis dan mendalam dengan mendayagunakan seluruh kekuatan dan kemampuan nasional ke dalam konsep Perang Rakyat Semesta. Keberhasilan Perang Rakyat Semesta ditentukan oleh kemanunggalan TNI-Rakyat. Karena itu, pembangunan pertahanan dan gelar kekuatan berdimensi kewilayahan (teritorial) dan diselenggarakan dengan tujuan untuk membangun dan memelihara kemanunggalan TNI-Rakyat bagi terwujudnya daya tangkal bangsa. Penyelenggaraan peperangan pada hakikatnya penataan sistem pertahanan yang mencakupi penyiapan kekuatan, penyiapan wilayah negara sebagai medan pertahanan, penyiapan logistik pertahanan, pelaksanaan peperangan, dan pemulihan terhadap dampak kerusakan akibat peperangan. Perang di masa depan akan semakin kompleks, mengandalkan keunggulan teknologi, presisi, dan penguasaan ruang. Oleh karena itu, penataan sistem pertahanan tersebut harus disesuaikan dengan perkembangan sifat atau karakteristik peperangan di masa depan. Penyiapan kekuatan diselenggarakan oleh pemerintah sejak dini dan berkesinambungan melalui pembangunan sumber daya nasional untuk menjadi kekuatan pertahanan. Kekuatan pertahanan tersebut diorganisasikan ke dalam Komponen Utama, yakni TNI, serta Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung, yakni warga negara, sumber daya alam dan buatan, serta sarana dan prasarana nasional. Penyiapan kekuatan juga mencakupi penggelaran kekuatan yang pelaksanaannya berdasarkan pertimbangan hakikat ancaman yang dihadapi. Penyiapan wilayah negara sebagai medan pertahanan diselenggarakan berdasarkan perkiraan strategis tentang kemungkinan ancaman yang dihadapi dan diproyeksikan dalam tiga lapis medan

52

pertahanan, yakni medan pertahanan penyanggah, medan pertahanan utama, dan daerah perlawanan. Medan pertahanan penyanggah merupakan lapis terdepan, yakni medan pertahanan yang berada di luar Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan wilayah udara di atasnya. Medan pertahanan utama merupakan lapis inti dari medan pertahanan mulai dari Zona Ekonomi Eksklusif sampai dengan laut teritorial, dasar laut, daratan serta wilayah udara di atasnya, yang menjadi mandala perang. Daerah-daerah perlawanan merupakan lapis ketiga yang berada pada wilayah-wilayah belakang di luar mandala perang, termasuk wilayah perairan Nusantara dan wilayah udara di atasnya yang dibangun dan dipersiapkan sebagai daerah pangkal perlawanan untuk memelihara kesinambungan perlawanan. Penyiapan wilayah negara sebagai medan pertahanan pada dasarnya merupakan fungsi pertahanan nirmiliter yang diselenggarakan secara terpadu, terkoordinasi, dan lintas departemen/lembaga. Perwujudannya melalui penataan ruang nasional, di dalamnya penataan ruang kawasan pertahanan. Penyiapan logistik pertahanan diselenggarakan secara dini dan terpadu dengan pembangunan nasional untuk tujuan kesejahteraan. Penyiapan logistik pertahanan merupakan hal yang fundamental dalam mendukung penyelenggaraan peperangan. Penyiapan logistik pertahanan merupakan bagian dari pembangunan pertahanan nirmiliter yang diselenggarakan secara terpadu, terkoordinasi, dan lintas departemen/ lembaga. Perwujudannya melalui pembangunan ekonomi yang kuat dengan pertumbuhan yang cukup tinggi serta industri nasional yang berdaya saing dan mandiri, yang pada gilirannya akan dapat mewujudkan kemandirian sarana pertahanan serta pusat-pusat logistik yang tersebar di tiap wilayah. 53

Pelaksanaan peperangan diselenggarakan dengan strategi pertahanan berlapis dan mendalam yang memancarkan penangkalan yang kuat serta kemampuan untuk mengatasi ancaman manakala menghadapi ancaman nyata. Strategi penangkalan dikembangkan dengan menyinergikan kemampuan nasional dari aspek politik, ekonomi, psikologi, teknologi, sosial budaya, dan militer yang berefek penolakan dan pembalasan sekaligus. Pelaksanaan peperangan ditentukan pula oleh gelar kekuatan pertahanan yang disesuaikan dengan hakikat ancaman dengan mengutamakan kesiapsiagaan dan mobilitas yang tinggi. Gelar kekuatan TNI dikembangkan secara fleksibel bagi terwujudnya Tri Matra Terpadu sekaligus keterpaduan dengan pertahanan nirmiliter. Perang selalu menimbulkan dampak kerusakan yang hebat, baik secara psikis maupun secara fisik, sehingga fungsi pertahanan negara pascaperang adalah memulihkan kembali kondisi negara melalui rehabilitasi terhadap dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh peperangan. Rehabilitasi merupakan fungsi pemerintah yang pelaksanaannya secara lintas departemen dan instansi, melibatkan fungsi pertahanan nirmiliter sesuai dengan fungsinya masing-masing, dibantu oleh fungsi pertahanan militer. Upaya pemulihan secara psikis diarahkan pada tata nilai, yakni menata kembali nilai-nilai kebangsaan dan nilai sosial serta memulihkan kondisi psikologis masyarakat yang terkena dampak peperangan. Bersamaan dengan upaya pemulihan secara psikis, diselenggarakan upaya pemulihan secara fisik. Upaya pemulihan secara fisik diarahkan pada rekonstruksi lingkungan yang mengalami kerusakan selama berlangsungnya peperangan.

54

Asas-asas Perang Komitmen bangsa Indonesia untuk hidup berdampingan secara damai dengan bangsa lain tidak hanya bergantung pada bangsa Indonesia semata. Negara lain juga mempunyai kewajiban untuk bersama-sama mewujudkan saling percaya yang didudukkan di atas rasa saling percaya dan saling menghormati hak kedaulatan masing-masing negara. Jika upaya perdamaian mengalami jalan buntu dan perang tidak dapat dihindari, penyelenggaraan suatu peperangan berpedoman pada asasasas perang yang ditetapkan berikut ini. Asas perang mempunyai kegunaan sebagai pedoman untuk menuntun tindakan dalam penyelenggaraan peperangan. Asas perang pada hakikatnya adalah kebenaran fundamental yang berlaku dalam penyelenggaraan perang dan mempunyai pengaruh tetap terhadap kesudahan dari suatu perang atau persengketaan bersenjata. Asas perang bukan merupakan hukum atau peraturan yang kepatuhannya bersifat kaku. Meskipun asas perang bukan merupakan hukum atau peraturan, apabila diabaikan, akan menuai risiko yang memberikan keuntungan bagi pihak lawan/musuh. Asas perang pada dasarnya bersifat universal. Namun, pengalaman sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam perang melawan penjajah, perang revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan, serta usaha pertahanan dalam menjaga proses pembangunan nasional dan hasil-hasilnya memberikan pelajaran untuk memperluas asas universal tersebut, seperti tertuang berikut ini.

55

Asas Tujuan Tujuan harus tetap dipegang teguh. Penyelenggaraan pertahanan negara dilaksanakan untuk mencapai tujuan, yakni menegakkan kemerdekaan dan kedaulatan negara, menjaga keutuhan wilayah NKRI, serta menjamin keselamatan segenap bangsa dari setiap ancaman. Asas Mobilitas Kemampuan mobilitas diwujudkan dalam keleluasaan bertindak, responsif, serta ketanggapsegeraan dalam mengembangkan strategi pertahanan negara serta keleluasaan dalam mendayagunakan segenap sumber daya nasional untuk menjadi kekuatan pertahanan, baik pertahanan militer maupun pertahanan nirmiliter. Asas Pemusatan Kunci utama untuk memenangi perang terletak pada sumber daya manusia yang diperlengkapi dengan sistem senjata baik sistem senjata, yang bersifat fisik, maupun tata nilai, yang didukung oleh manajemen yang andal dalam mendinamisasi segenap usaha pertahanan secara berdaya dan berhasil guna. Pemusatan kekuatan dilakukan untuk menghasilkan daya tangkal yang maksimal serta dalam menghadapi dan merespons setiap ancaman nyata, baik ancaman militer maupun nirmiliter. Asas Keamanan Asas keamanan menempatkan keamanan pada porsi yang cukup tinggi dalam setiap kegiatan, informasi, alat utama dan sistem persenjataan, serta personel agar tujuan pertahanan negara dapat terlaksana dan mencapai keberhasilan yang optimal.

56

Asas Kedalaman Asas kedalaman diwujudkan dalam pola penggelaran kekuatan militer secara berlapis serta pendayagunaan kekuatan nirmiliter secara efektif, saling menyokong, dan memperkuat satu sama lain, sehingga penyelenggaraan perang dapat mencapai sasaran dan berlangsung secara berkelanjutan. Asas Keunggulan Moril Menyadari bahwa faktor keunggulan moril merupakan salah satu kunci keberhasilan tugas, maka setiap perjuangan atau usaha pertahanan negara didasari motivasi yang kuat, semangat juang pantang menyerah, manajemen yang sehat dan berdaya dukung, serta kepemimpinan yang berwibawa dan berkemampuan. Asas Informasi Perang di masa datang mengandalkan keunggulan informasi dan teknologi. Keunggulan informasi diperoleh melalui usaha mengembangkan kemampuan dalam menganalisis setiap perkembangan lingkungan strategis serta situasi dalam negeri sehingga terwujud keunggulan informasi secara akurat dan berlanjut. Asas Kesemestaan Kesemestaan diwujudkan dalam keikutsertaan seluruh rakyat dalam perannya masing-masing, baik melalui pertahanan militer maupun pertahanan nirmiliter, serta pemberdayaan segenap sumber daya nasional secara maksimal dalam usaha pertahanan negara. Kesemestaan

57

mengandung makna totalitas bangsa Indonesia dalam menyelenggarakan perang dan dalam menyelenggarakan pertahanan negara dalam arti luas untuk mengamankan eksistensi bangsa dan negara serta kepentingan nasional. Asas Pendadakan Tindakan pendadakan diwujudkan melalui persiapan dan kesiapsiagaan yang dilaksanakan dengan mempertimbangkan faktor waktu, tempat, dan sasaran. Persiapan dan kesiapsiagaan mencegah pendadakan dari pihak lawan/musuh sekaligus juga dapat menjadi pendadakan terhadap lawan/musuh sebelum didahului.

Asas Kesatuan Komando Kesatuan komando adalah hal yang mutlak dalam suatu peperangan. Perang terikat pada satu tujuan, ruang dan waktu, serta pembagian/pemisahan dalam sasaran, sehingga diperlukan pengendalian, baik terpusat maupun desentralisasi, dalam pelaksanaannya.

Asas Perlawanan Secara Berlanjut Perang harus dapat diselesaikan secepat mungkin untuk menghindarkan rakyat dari penderitaan yang besar dan berkepanjangan. Namun, apabila perang tidak diselesaikan secara singkat, perjuangan melalui perlawanan yang gigih dan menentukan harus dapat dijaga keberlanjutannya sampai mencapai tujuan.

58

Asas Tidak Kenal Menyerah Prinsip dasar bangsa Indonesia dalam menghadapi ancaman atau lawan yang lebih besar sekalipun adalah semangat dan motivasi untuk mencapai keberhasilan. Keberhasilan dalam usaha perang adalah memenangi perang. Sumber daya dapat saja terbatas, tetapi perjuangan tidak boleh terhenti, yang didasari oleh semangat pantang menyerah. Asas Keutuhan dan Kesatuan Ideologi dan Politik Pelaksanaan perang harus didasari oleh keutuhan dan kesatuan ideologi dan politik. Keanekaragaman ideologi dan politik hanya akan membawa perpecahan, dan perpecahan selalu berujung kehancuran. Keutuhan dan kesatuan ideologi dan politik harus didasarkan pada Pancasila dan UUD 1945 yang telah diyakini kebenarannya dan telah teruji sepanjang waktu. Asas Kekenyalan dalam Pikiran dan Tindakan Situasi selalu berkembang sesuai dengan ruang dan waktu, maka perlu daya dan kreasi untuk bertindak secara kenyal. Kekenyalan diperlukan untuk mampu merespons setiap perubahan situasi yang terjadi dalam dinamika operasi sehingga mampu melaksanakan tugas secara berhasil.

Pusat Kekuatan Pertahanan Negara
Penyelenggaraan pertahanan negara bertumpu pada kekuatan dan kemampuan sumber daya manusia, yakni rakyat Indonesia, baik militer maupun nirmiliter, didukung oleh sistem senjata dan manajemen

59

pertahanan yang handal. Keterpaduan ketiga unsur tersebut menghasilkan pertahanan negara yang berdaya tangkal tinggi. Sumber Daya Manusia Inti kekuatan pertahanan negara terletak pada unsur sumber daya manusia. Sumber daya manusia adalah faktor determinan kemampuan pertahanan negara. Indikator sumber daya manusia pertahanan sebagai inti kekuatan pertahanan terletak pada kualitas intelektual, mental, dan fisik yang tercermin dalam kondisi yang tanggap, tanggon, dan trengginas. Untuk mencapai kekuatan pertahanan negara yang andal, kekuatan militer dan kekuatan nirmiliter harus manunggal dan menguasai sendisendi pertahanan negara. GAMBAR 2
Tanggap (Konseptual) * Konsep/Prinsip damai & Perang * Doktrin an * Implementasi Pemikiran Konseptual

Tanggon (Moral dan Moril) * Kepemimpinan * Manajemen * Motivasi

Trengginas (Fisik) * Jumlah & kualitas kekuatan * Sistem senjata * Kinerja Kolektif * Kesiapsiagaan * Dukungan Sumda

SDM SEBAGAI PUSAT KEKUATAN PERTAHANAN

60

Tanggap Tanggap berarti berdaya tangkap dan penalaran yang tinggi yang menempatkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai hal yang fundamental dalam membangun pertahanan. Tanggap merupakan faktor yang berhubungan dengan kecakapan dalam mengerahkan segenap indra sehingga secara cepat mengetahui, mencerna dan memahami gejala yang terjadi. Sumber daya manusia yang tanggap tidak sekedar diukur dari pribadinya, tetapi menyangkut kemampuan kesatuan yang berhubungan dengan aspek intelektual yang ditentukan oleh kemampuan berpikir konseptual, penguasaan akan prinsip damai dan prinsip perang, serta penguasaan doktrin. Tanggap atau tidaknya sumber daya manusia ditentukan oleh faktor konseptual yang mencakupi penguasaan akan konsep dan prinsip penyelenggaraan perang dan perdamaian, doktrin, serta bagaimana mengimplementasikan pemikiran konseptual tersebut dalam pola sikap dan pola tindak. Penguasaan Konsep tentang Prinsip Damai dan Perang Perang adalah jalan terakhir setelah upaya-upaya diplomasi menemui jalan buntu. Pertahanan negara disusun dengan strategi berlapis dan, bila belum berhasil, perang rakyat semesta dalam bentuk perang gerilya diselenggarakan secara berlanjut sampai dapat mengusir musuh dari bumi pertiwi. Penguasaan Doktrin Doktrin pertahanan menuntun penyelenggaraan pertahanan negara tentang apa yang harus dipertahankan dan dengan apa

61

mempertahankannya. Doktrin digali dari nilai-nilai perjuangan bangsa serta dari pengalaman dalam menyelenggarakan usaha-usaha pertahanan, baik keberhasilan maupun kegagalan, untuk dijadikan pelajaran berharga dalam mengembangkan konsep-konsep pertahanan selanjutnya. Atas dasar itu, doktrin harus dipahami, dikembangkan, dan dipedomani. Implementasi Pemikiran Konseptual Konsepsi pertahanan negara pada hakikatnya merupakan hasil pemikiran konseptual dan strategis. Pemikiran konseptual selalu mengembangkan konsepsi pertahanan negara untuk menjawab tantangan masa mendatang. Pemikiran konseptual tersebut akan melahirkan pemikiran-pemikiran atau gagasan-gagasan baru dan maju yang mendorong pengembangan kemampuan pertahanan yang diperlukan dalam menghadapi kecenderungan perkembangan lingkungan dan perkembangan zaman. Pemikiran atau gagasan baru dan maju sangat penting dalam mengembangkan strategi dan kebijakan pertahanan yang efektif. Pemikiran konseptual mengedepankan sejumlah kemampuan fundamental pertahanan yang saling berhubungan dan terintegrasi serta tidak berdiri sendiri. Kemampuan fundamental tersebut meliputi komando, informasi, persiapan untuk mencegah pendadakan, pengerahan kekuatan, daya tahan, dan daya dukung. Komando berhubungan dengan kewenangan atau otoritas, yang dalam hal ini ditentukan oleh faktor kepemimpinan. Komando adalah alat kepemimpinan untuk mencapai tujuan. Komando memerlukan sarana yang jelas dan responsif untuk mengarahkan, mengkoordinasi, dan mengontrol kekuatan pertahanan. Informasi adalah hal vital dalam penyelenggaraan fungsi pertahanan. Informasi merupakan bahan penting

62

suatu Komando. Unsur-unsur penting dalam informasi suatu komando adalah akurasi, kecepatan, ketepatan, sumber, dan proses. Persiapan merupakan tahapan yang fundamental untuk mencegah pendadakan dari pihak lawan. Persiapan kekuatan pertahanan merupakan fase yang menentukan dalam gelar kekuatan. Persiapan menyangkut kegiatan untuk merumuskan kebutuhan, sumber daya, memproses, hingga mencapai kesiapsiagaan. Pengerahan kekuatan diselenggarakan dalam ruang dan waktu yang tepat dengan didasari oleh kejelasan tujuan, sasaran, dan tugas yang diemban. Pengerahan kekuatan menuntut persiapan dan kesiapsiagaan. Daya tahan meliputi sarana untuk mempertahankan semangat dan menjaga kesinambungan kemampuan pertahanan dalam menjamin kelangsungan penyelenggaraan suatu operasi. Tugas pertahanan baik yang berbentuk perang maupun tugas-tugas pertahanan lainnya, memerlukan daya tahan yang tinggi. Kekalahan sering terjadi karena ketidakmampuan memelihara daya tahan. Perang biasanya berlangsung lama serta menguras energi, semangat, dan sumber daya, sehingga diperlukan upaya membangun daya tahan yang handal. Daya dukung meliputi ketersediaan sumber daya guna memelihara kekuatan untuk mendukung penyelenggaraan pertahanan sampai tujuan tercapai. Daya dukung sumber daya tidak akan terwujud dengan sendirinya sehingga penyiapan sumber daya nasional dilaksanakan secara dini melalui sistem pertahanan negara. Tanggon Tanggon berarti dapat diandalkan, ulet, dan tahan uji. Tanggon

63

merupakan faktor yang berhubungan dengan aspek moral sebagai penentu karakter kesatuan. Tanggon ditentukan oleh moral dan moril yang terkait langsung dengan semangat tempur, motivasi, kepemimpinan, dan manajemen. Motivasi menentukan keberhasilan pelaksanaan tugas, yang menyangkut hasrat yang timbul atas dasar rasa memiliki, tanggung jawab dan komitmen akan tujuan bersama. Motivasi adalah hal yang sensitif sehingga perlu dibangun, dipelihara, dan dipertahankan. Membangun motivasi membutuhkan sarana, yakni kepemimpinan dan manajemen. Awal tumbuhnya motivasi adalah kepercayaan pengikut akan apa yang menjadi tujuan serta kepemimpinan dan manajemen yang mengantarnya menuju tujuan. Produk motivasi adalah iman dan takwa, jiwa korsa, kebersamaan, dan kinerja. Kepemimpinan adalah unsur vital untuk membangun, memelihara, dan mempertahankan moril. Kepemimpinan berada di segala tingkatan, dari satuan terkecil sampai yang paling tinggi. Semua pemimpin harus mengakui bahwa keberhasilan atau kegagalan bergantung pada keseriusan dan kesungguhan dalam menjalankan tanggung jawab kepemimpinannya. Kepemimpinan adalah proyeksi dari kepribadian dan karakter untuk membawa bawahannya melakukan apa yang baik dan benar untuk organisasi, bukan apa yang baik bagi pemimpin. Potensi kepemimpinan dapat dikembangkan melalui pendidikan, latihan, dan penugasan

64

yang terancang dan tertata. Kepemimpinan diawali dari disiplin pribadi sang pemimpin dan merupakan proses yang berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Pemimpin mempromosikan kepada bawahannya keputusan yang akurat dan tindakan yang menentukan, memberikan contoh dan nasehat, mendorong dan membangkitkan semangat, memberikan kesempatan kepada bawahan untuk berkembang, serta mampu mengukur kemampuan dan batas kemampuan bawahan. Manajemen adalah pengelolaan sumber daya, yang meliputi sumber daya manusia, sarana, dan prasarana. Manajemen merupakan elemen penting bagi tumbuhnya moril. Tanpa manajemen sumber daya yang baik disertai dukungan administrasi yang memadai, niscaya pembangunan moril akan sia-sia. Manajemen merupakan atribut komando, yang menyangkut pemberdayaan sumber daya yang sebaikbaiknya. Dalam pertahanan, manajemen menjalankan dua peran penting, yakni aspek ekonomis dari usaha pertahanan serta kesinambungan usaha pertahanan. Ukuran manajemen yang baik adalah kecakapan atau kemampuan untuk mencapai keseimbangan yang sehat, bukan karena surplusnya sumber daya, bukan pula karena keterbatasan sumber daya. Trengginas Trengginas memiliki makna ketangkasan dalam bertindak, yang merupakan kemampuan kesatuan yang berhubungan dengan aspek penampilan yang memancarkan kekuatan dan kesiapsiagaan kesatuan. Trengginas mencakupi kekuatan, baik secara kuantitas maupun kualitas.

65

Jumlah dan kualitas kekuatan berkaitan dengan SDM; inti kekuatan pertahanan negara adalah sumber daya manusia pertahanan, yang secara kuantitas mencukupi kebutuhan pertahanan dan secara kualitas berkemampuan dan berdaya tahan. SDM pertahanan adalah unsur yang hidup dinamis, dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungan. SDM berhubungan dengan faktor kesejahteraan dan keadilan sebagai kebutuhan yang mendasar. SDM sensitif terhadap perubahan ekonomi, sosial, dan politik sehingga memerlukan penanganan secara komprehensif. Selain dengan kekuatan, manusia perlu ditopang dengan penguasaan sistem senjata. Kinerja Kolektif dapat dicapai melalui pemahaman yang komprehensif akan doktrin, strategi, konsep-konsep pertahanan tentang damai dan perang sehingga mencapai kemahiran dalam mengaplikasikannya ke dalam latihan dan pelaksanaan tugas seharihari. Kinerja kolektif menjadi tanggung jawab pemimpin kesatuan. Keberhasilan usaha pertahanan sangat ditentukan oleh kinerja kolektif yang perwujudannya ditentukan oleh faktor kepemimpinan. Pemimpin harus mempunyai kemahiran dalam mengembangkan organisasi yang dipimpinnya. Kinerja kolektif juga harus didukung oleh sarana yang cukup berupa sumber daya yang siap didayagunakan. Kesiapsiagaan sebagai faktor trengginas diukur dari tingkat kesiapsiagaan dari kekuatan pertahanan sebagai hal yang mendasar dalam usaha pertahanan. Kesiapsiagaan kekuatan pertahanan akan mencegah pendadakan dari pihak lain, yang memungkinkan keleluasaan dalam mengembangkan strategi. Perang tidak dapat diperkirakan secara pasti kapan terjadinya dan kapan berakhirnya, sehingga memerlukan kepastian dukungan sumber daya dalam jangka panjang.

66

Sosok SDM pertahanan yang tanggap, tanggon, dan trengginas menghasilkan kinerja pertahanan secara utuh, sebagai kunci menuju sukses dalam berperang dan memenangi perang. Untuk mencapainya, diperlukan suatu usaha yang dirancang sesuai dengan tuntutan kebutuhan dan perkembangan lingkungan strategis dan teknologi. Sistem Senjata dimaksudkan sebagai seluruh kekuatan dan kemampuan nasional, baik yang bersifat fisik maupun yang tidak berbentuk fisik, yang diberdayakan bagi kepentingan pertahanan negara. Sistem senjata yang bersifat fisik adalah alat utama sistem senjata (Alutsista) dan peralatan yang memiliki efek penangkal yang tinggi yang disegani lawan. Kebutuhan untuk memperlengkapi diri dengan sistem senjata yang berefek daya tangkal perlu ditopang oleh bidang industri pertahanan yang kuat untuk memproduksi alat utama sistem senjata yang disegani lawan. Kemandirian di bidang pertahanan harus dibangun dengan memberdayakan sebesar-besarnya kemampuan bangsa dan dijaga keberlangsungannya. Sistem senjata yang bersifat fisik mengikuti perkembangan pada bidang militer. Sistem senjata juga berupa sistem dan tata nilai yang diwujudkan dalam semangat patriotisme, nasionalisme, kepemimpinan nasional, manajemen nasional, diplomasi, psikologi, informasi, sosial budaya, serta kekuatan ekonomi. Sistem dan tata nilai tersebut merupakan kekuatan

67

bangsa melalui peran serta negara dalam memerankan fungsi bela negara. Esensi untuk memperlengkapi diri dengan sistem senjata dengan sistem dan tata nilai diletakkan pada komitmen Bhinneka Tunggal Ika yang mengejawantah dalam semangat bela negara.

Manajemen Sumber Daya Pertahanan
Penyelenggaraan pertahanan negara sangat bergantung pada dukungan sumber daya nasional yang dapat ditransformasikan menjadi sumber daya pertahanan. Esensi manajemen sumber daya pertahanan adalah pengelolaan sumber daya pertahanan pada masa damai dan dalam keadaan perang. Manajemen sumber daya pertahanan sangat kompleks, mencakupi perencanaan, pengorganisasian, penggunaan, pengawasan, dan pengkomunikasian segenap sumber daya pertahanan, dari tingkat kebijakan sampai dengan tingkat operasional. Prinsip fundamental dalam penyelenggaraan manajemen sumber daya pertahanan adalah efektivitas pendayagunaan sumber daya untuk mencapai tujuan. Dalam manajemen sumber daya pertahanan, faktor efisiensi hendaknya tidak menghambat pencapaian tujuan pertahanan. Kegiatan perencanaan, pengorganisasian, dan penggunaan sumber daya harus dilakukan secara profesional melalui kalkulasi yang cermat dan didukung oleh pengawasan dan komunikasi yang efektif.

68

Efektivitas penyelenggaraan manajemen sumber daya pertahanan ditentukan oleh organisasi dan kepemimpinan yang kenyal dan profesional. Organisasi pertahanan memiliki karakteristik yang kenyal, yakni mampu beradaptasi dengan dan mewadahi setiap perubahan, tanpa melakukan perubahan yang radikal. Sifat profesional ditunjukkan oleh pengawakan organisasi oleh tenaga manusia dengan tingkat kecakapan yang tinggi yang didukung oleh sistem rekrutmen yang sangat selektif serta suasana lingkungan kerja yang dinamis. Dalam kerangka itu, organisasi markasmarkas besar termasuk Departemen Pertahanan harus ramping dan padat teknologi, bukan padat manusia. Tingkat markas besar tidak menganut sistem kerucut, tetapi lebih mengutamakan pendekatan fungsi yang berbasis kinerja. Organisasi pada tingkat operasional sampai dengan kesatuan tingkat lapangan yang terdepan dari pertahanan militer disusun dengan sistem kerucut, terutama untuk matra darat dan berdasarkan

69

fungsi Alutsista untuk matra laut dan udara. Organisasi untuk pertahanan nirmiliter, yakni Komponen Cadangan, disesuaikan dengan sifatnya sebagai komponen untuk memperkuat dan memperbesar Komponen Utama, yakni TNI. Susunan dan pembinaan Komponen Cadangan disesuaikan dengan organisasi dan pembinaan TNI yang terdiri atas matra darat, laut, dan udara dengan kekhasan masingmasing. Pengorganisasian Komponen Pendukung berdasarkan pada pengelompokan atau suku komponen pendukung untuk memudahkan pembinaannya dan berada dalam lingkup kewenangan instansi pemerintah di luar bidang pertahanan. Pembinaan Komponen Pendukung disesuaikan dengan garis kebijakan pembangunan nasional yang pelaksanaannya dipadukan dengan kepentingan pertahanan.

70

PENYELENGGARAAN PERTAHANAN NEGARA

Pertahanan negara diselenggarakan melalui usaha membangun dan membina kekuatan pertahanan yang menghasilkan daya tangkal bangsa serta kemampuan mengatasi dan menanggulangi setiap ancaman. Pertahanan diselenggarakan oleh pemerintah secara dini dengan sistem pertahanan negara serta strategi pertahanan negara.

Sistem Pertahanan Negara
Pertahanan Negara Indonesia diselenggarakan dalam suatu Sistem Pertahanan Semesta yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah, serta segenap sumber daya nasional yang dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan berlanjut. Sistem Pertahanan Semesta memadukan pertahanan militer dan pertahanan nirmiliter yang saling menyokong dalam menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman. Sistem Pertahanan Semesta dipersiapkan secara dini oleh pemerintah melalui usaha membangun kekuatan dan kemampuan pertahanan yang kuat dan disegani baik kawan maupun calon lawan. Dipersiapkan secara dini berarti Sistem Pertahanan Semesta dibangun secara terus-menerus sejak masa damai sampai masa perang. Pada masa damai, Sistem Pertahanan Semesta dibangun untuk menghasilkan daya tangkal yang tangguh dengan menutup setiap ruang kelemahan yang dapat menjadi titik lemah. Pembangunan Sistem Pertahanan Semesta pada masa damai dilaksanakan dalam kerangka pembangunan nasional yang tertuang dalam program pemerintah yang berlaku secara nasional. 71

Pada masa perang atau pada kondisi negara menghadapi ancaman nyata, pemerintah mendayagunakan Sistem Pertahanan Negara sesuai dengan hakikat ancaman atau tantangan yang dihadapi. Sistem Pertahanan Negara dalam menghadapi ancaman militer memadukan pertahanan militer dan pertahanan nirmiliter dalam susunan Komponen Utama Pertahanan, yaitu TNI, serta Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung yang terdiri atas warga negara, sumber daya alam, sumber daya buatan, serta sarana dan prasarana nasional. Komponen Cadangan dibentuk dari sumber daya nasional yang dipersiapkan untuk dikerahkan melalui mobilisasi guna memperbesar dan memperkuat kekuatan dan kemampuan TNI. Mobilisasi merupakan tindakan politik dari pemerintah melalui pernyataan Presiden untuk mengerahkan dan menggunakan secara serentak sumber daya nasional serta sarana dan prasarana nasional sebagai kekuatan pertahanan. Komponen Pendukung adalah sumber daya nasional selain Komponen Utama dan Komponen Cadangan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kekuatan dan kemampuan Komponen Utama dan Komponen Cadangan. Komponen Pendukung dikelompokkan dalam lima suku komponen pendukung, yakni Garda Bangsa, tenaga ahli sesuai dengan profesi dan bidang keahliannya, warga negara lainnya, industri nasional, sarana dan prasarana, serta sumber daya buatan dan sumber daya alam yang dapat digunakan untuk kepentingan pertahanan. Garda Bangsa adalah salah satu unsur utama dalam Komponen Pendukung, yang terdiri atas warga negara yang memiliki kecakapan dan keterampilan khusus, jiwa juang, kedisiplinan, serta berada dalam satu garis komando yang sewaktu-waktu dapat dikerahkan untuk membantu tugas-tugas pertahanan pada saat negara membutuhkan Komponen Pendukung. Unsur-unsur Garda Bangsa berasal dari unsur Kepolisian

72

Negara, Satuan Polisi Pamong Praja yang dimiliki Pemerintah Daerah (Pemda), unsur Perlindungan Masyarakat (Linmas) yang dikoordinir oleh Pemda, Resimen Mahasiswa yang pembinaannya di bawah perguruan tinggi, Alumni Resimen Mahasiswa, serta organisasi kepemudaan. Posisi Polisi Negara ditempatkan dalam Komponen Pendukung didasarkan pada statusnya sebagai alat negara yang lingkup fungsi dan pendekatan dalam pelaksanaan fungsinya berbeda dengan tentara. Polisi Negara adalah warga negara yang memiliki kualifikasi dan keterampilan tinggi seperti tentara, namun status dan perlakuannya sebagai masyarakat sipil sehingga tidak dapat secara serta-merta ditransfer sebagai Komponen Utama. Untuk menjadi Komponen Utama, Polisi Negara terlebih dahulu menanggalkan status kepolisiannya, dan selanjutnya mengikuti tahapan rekrutmen sesuai dengan mekanisme untuk menjadi calon prajurit TNI. Dalam Sistem Pertahanan Semesta, posisi yang paling tepat bagi Polisi adalah berada dalam Komponen Pendukung dan, karena keterampilannya, ditempatkan dalam suku Garda Bangsa. Visualisasi komponen pertahanan negara tampak dalam gambar berikut ini.

73

GAMBAR 3

KOMPONEN PERTAHANAN NEGARA
TNI
KOMPONEN UTAMA

KOMPONEN CADANGAN KOMPONEN PENDUKUNG
5 4

- Warga Negara - SDA - SDB - Sar/Pras Nas

SDA, SDB & Sar / Pras Industri Nasional

WN lainnya

TA/Profesi :  Doktor  Paramedis  Montir  Ahli Kimia  dll

Garda Bangsa  Polisi  Polisi PP  Linmas  Satpam  Menwa  Organisasi Kepemudaan  dll

Pertahanan Militer Pertahanan militer bertumpu pada TNI sebagai Komponen Utama yang didukung oleh Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung yang dipersiapkan dan dikembangkan untuk menghadapi ancaman militer. Tentara Nasional Indonesia mendinamisasi pertahanan militer sebagai lapis utama pertahanan negara untuk melaksanakan OMP dan OMSP. Pertahanan militer dalam melaksanakan OMP didasarkan atas keputusan politik melalui pengerahan kekuatan oleh Presiden. Dalam melaksanakan OMP, TNI mengembangkan strategi militer sesuai dengan hakikat ancaman yang dihadapi dengan memperhatikan kondisi geografi Indonesia serta sumber daya pertahanan yang tersedia. OMP yang diselenggarakan TNI dikemas dalam keterpaduan tiga matra (Tri Matra

74

Terpadu). Dalam menyelenggarakan OMP, TNI menggunakan segenap komponen pertahanan negara yang terdiri atas Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung. Dalam kerangka pertahanan militer, TNI menyelenggarakan perencanaan strategi dan operasi militer, membina profesionalisme organisasi dan kekuatan TNI, serta memelihara kesiapsiagaan operasional. Gelar kekuatan TNI merupakan bagian vital dari upaya pertahanan militer, yang pelaksanaannya didasarkan pada pertahanan sebagai fungsi pemerintahan negara yang tidak diotonomikan. Dalam rangka itu, TNI digelar di seluruh wilayah Indonesia secara kenyal berdasarkan strategi pertahanan. Gelar kekuatan TNI di daerah tidak berdasarkan struktur dan gelar instansi pemerintah, tetapi didasarkan pada strategi pertahanan dan strategi militer untuk kepentingan penangkalan dan pelaksanaan operasi militer. Oleh karena itu, kekuatan TNI yang digelar di daerah bukan merupakan kekuatan organik daerah yang bersangkutan. Dalam gelar kekuatan TNI tidak mengenal kekuatan organik dan kekuatan non-organik. Kekuatan TNI adalah organik di seluruh wilayah Indonesia, bukan pada suatu daerah berdasarkan batas wilayah administratif sebagaimana ditentukan dalam Otonomi Daerah. Gelar kekuatan TNI dilaksanakan oleh TNI pada masa damai dan pada keadaan perang. Gelar kekuatan TNI diselenggarakan berdasarkan strategi pertahanan negara dan kekenyalan pelaksanaan strategi militer. Gelar kekuatan

75

TNI pada masa damai ditujukan untuk mewujudkan daya tangkal pertahanan, diproyeksikan ke dalam gelar secara Tri Matra Terpadu. Pertahanan negara adalah fungsi pemerintahan yang tidak diotonomikan. Maka, wilayah gelar kekuatan TNI adalah seluruh wilayah Indonesia. Penggunaan Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung disesuaikan dengan bobot ancaman yang dihadapi, dengan memegang teguh prinsip-prinsip pembatasan penggunaan masyarakat sipil. Komponen Cadangan disiapkan guna memperbesar dan memperkuat Komponen Utama. Status Komponen Cadangan berubah menjadi kombatan setelah dimobilisasi, dan statusnya sebagai kombatan berakhir melalui demobilisasi. Komponen Pendukung dengan unsur-unsur yang terdiri atas warga negara, sumber daya alam, sumber daya buatan, serta sarana dan prasarana nasional didayagunakan untuk meningkatkan kemampuan Komponen Utama dan Komponen Cadangan. Pendayagunaan Komponen Pendukung tersebut dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung tergantung kondisi, urgensi kebutuhan, serta fungsi hakiki unsur Komponen Pendukung yang bersangkutan. Komponen Pendukung yang tidak dimobilisasikan menjadi kombatan. Status dan perlakuannya diatur berdasarkan ketentuan mengenai hak-hak sipil. Pertahanan Nirmiliter Pertahanan nirmiliter adalah peran serta rakyat dan segenap sumber daya nasional dalam pertahanan negara, baik sebagai Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung yang dipersiapkan untuk menghadapi ancaman militer maupun sebagai fungsi pertahanan

76

sipil dalam menghadapi ancaman nirmiliter. Fungsi pertahanan nirmiliter yang diwujudkan dalam Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung merupakan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara Pasal 7 Ayat (2) dalam menghadapi ancaman militer.

Bahwa Negara Indonesia tidak cukup dipertahankan oleh tentara saja, maka perlu sekali mengadakan kerjasama yang seerat-eratnya dengan golongan serta badan-badan di luar tentara. (A manat Pangsar diucapkan dihadapan Konf er ensi T ent ar a Keamanan Rakyat pada t anggal 12 N opember 1945 dan ber t empat di MT - T KR Yogyakar t a)

Fungsi pertahanan sipil dalam menghadapi ancaman nirmiliter sebagaimana dimaksud UU Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara Pasal 7 Ayat (3) terdiri atas fungsi untuk penanganan bencana alam, operasi kemanusiaan, sosial budaya, ekonomi, psikologi pertahanan yang berkaitan dengan kesadaran bela negara, dan pengembangan teknologi. Fungsi-fungsi tersebut merupakan tanggung jawab instansi pemerintah di luar bidang pertahanan sesuai dengan jenis dan sifat ancaman yang dihadapi. Dalam menghadapi ancaman nirmiliter, pengorganisasian pertahanan nirmiliter disusun ke dalam pertahanan sipil untuk mencegah dan menghadapi ancaman yang berdimensi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan teknologi. Dalam kerangka menghadapi ancaman yang berdimensi keselamatan umum, bentuk pertahanan sipil dilaksanakan melalui fungsi-fungsi keamanan, antara lain penanggulangan dampak bencana alam dan bencana yang ditimbulkan manusia, operasi kemanusiaan, SAR, wabah penyakit dan kelaparan, gangguan pada pembangkit tenaga listrik dan transportasi, serta aksi pemogokan.

77

Pengorganisasian pertahanan sipil dalam kerangka pertahanan nirmiliter berbeda dengan struktur sistem pertahanan negara dalam menghadapi ancaman militer. Pertahanan sipil sebagai bentuk pertahanan nirmiliter bersifat fungsional dan berada dalam lingkup kewenangan instansi pemerintah di luar bidang pertahanan (Gambar 4). GAMBAR 4 Gambar 4

P E R T AHANAN S E ME S T A
HAN MIL (T N I )
K U AT NIR MIL

HAN NIR MIL (S U M DA N A S ) HAN S IP IL
. Kam Publik . Penanganan Bencana Alam . Ops Kemanusiaan . Bantuan Sosial . Ekonomi . Psikologi Han . Teknologi

OMP

. Komp. cad 1. Atasi separatis . Komp. duk 2. Atasi pemberontak 3. Atasi terorisme 4. Pam perbatasan 5. Pam obvitstrat 6. Pam penerb/pelayaran 7. Pam Presiden/Wapres 8. Bantu pem. binpotnas 9. Bantu Pemda 10. Bantu Polri 11. Bantu pam tamu neg. 12. Disaster relief 13. Tugas SAR 14. Tugas perdamaian dunia

OMS P

Inti pertahanan nirmiliter adalah pertahanan melalui usaha tanpa menggunakan kekuatan senjata dengan pemberdayaan faktor-faktor ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan teknologi. Keterlibatan warga negara dalam pertahanan nirmiliter diwujudkan melalui profesi, pengetahuan dan keahlian, serta kecerdasan dalam pembangunan nasional dan dalam penyelenggaraan pertahanan negara, baik langsung

78

maupun tidak langsung, untuk mencapai kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan, sehingga merupakan daya tangkal bangsa. Dalam penyelenggaraan fungsi pemerintahan, pertahanan nirmiliter berada dalam lingkup fungsi departemen/lembaga pemerintah non departemen (LPND) melalui penyelenggaraan pembangunan nasional yang dirancang dengan mengintegrasikan kepentingan kesejahteraan dan kepentingan pertahanan. Unsur utama dalam pertahanan nirmiliter adalah unsur pemerintah dan nonpemerintah dalam fungsi dan kapasitasnya memberdayakan sumber daya nasional. Pertahanan nirmiliter tidak terbatas pada perwujudan daya tangkal bangsa melalui pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan. Dalam kondisi negara menghadapi agresi atau invasi dari negara lain yang mengancam NKRI, fungsi pertahanan nirmiliter berperan dalam upaya pertahanan sesuai dengan lingkup fungsinya masing-masing dalam Sistem Pertahanan Semesta. Pertahanan nirmiliter tampil untuk mendinamisasi segenap potensi dan kekuatan nasional untuk memperkuat upaya pertahanan secara militer. Pertahanan nirmiliter dalam hal ini melaksanakan langkah-langkah nirmiliter untuk memberikan tekanan politik melalui upaya diplomasi, diperkuat oleh pendinamisasian kekuatan ekonomi, keuangan dan moneter, sosial, psikologi, serta teknologi dan informasi untuk menggagalkan niat lawan. Langkah-langkah nirmiliter dikerahkan sebagai bentuk perlawanan pantang menyerah dalam mempertahankan kelangsungan bangsa dan negara. Kerangka perang rakyat semesta diwujudkan dalam Perang gerilya dengan perlawanan bersenjata dan perlawanan tidak bersenjata sebagai satu kesatuan perjuangan. Perang gerilya dengan perlawanan fisik bersenjata dilaksanakan oleh pertahanan militer sebagai inti kekuatan

79

dan diselenggarakan dalam unit-unit perlawanan dalam satuan kecil dan terbesar untuk menguras kekuatan lawan sampai akhirnya dapat melancarkan serangan yang menentukan untuk menghancurkan dan mengusir lawan dari bumi Indonesia. Perlawanan tidak bersenjata adalah bentuk perlawanan yang dilaksanakan dengan mendayagunakan faktorfaktor diplomasi, politik, ekonomi, sosial budaya, agama, teknologi, dan informasi.

Strategi Pertahanan Negara
Strategi pertahanan adalah hal yang sangat vital yang menentukan keberhasilan upaya pertahanan negara. Strategi pertahanan tidak statis, tetapi selalu dinamis mengikuti perkembangan sifat dan karakteristik perang serta revolusi pada bidang militer secara global. Perang pada Abad XXI memiliki sifat dan karakteristik yang jauh berbeda dengan perang pada abad sebelumnya. Perang pada Abad XXI adalah perang yang sifatnya semakin kompleks yang melibatkan faktor-faktor nirmiliter dan militer. Penghancuran suatu negara tidak selalu dengan perang fisik dengan iring-iringan konvoi kekuatan militer, tetapi dapat pula dengan melemahkan kekuatan ideologi, politik, ekonomi, dan sosial budaya. Perang yang berbasis nirmiliter lebih mengemuka dibandingkan dengan perang yang berbasis kekuatan militer. Persaingan antarnegara di era globalisasi akan jauh lebih ketat. Setiap negara akan berlomba untuk lebih unggul dan mengembangkan hegemoni atas negara lain. Perang yang berdimensi nirmiliter jauh lebih berbahaya karena mandala perangnya bersifat maya, tidak kelihatan, tidak bersifat fisik, sehingga tidak mudah untuk dideteksi dan sering kali terlambat untuk diantisipasi. Perang pada Abad XXI mengandalkan keunggulan teknologi

80

persenjataan, profesionalisme prajurit, dan manajemen yang modern. Perang di masa mendatang yang berbasis kekuatan militer akan lebih banyak mempertontonkan kecanggihan persenjataan dengan akurasi tinggi dan penguasaan ruang untuk melumpuhkan kekuatan strategis suatu negara serta mobilisasi logistik yang sangat tinggi. Perang antarnegara dengan pola “satu-lawan-satu” akan semakin ditinggalkan dan beralih kepada pola kekuatan multinasional atau kekuatan sekutu melawan suatu negara yang kekuatannya lebih kecil. Karena itu, penyusunan strategi pertahanan harus secara cermat dan cerdas mengikuti perkembangan lingkungan strategis dan revolusi di bidang militer sehingga secara tepat dapat mempersiapkan alokasi sumber daya nasional yang didayagunakan menjadi kekuatan pertahanan. Strategi pertahanan negara berada pada tataran politis, berbeda dengan strategi militer yang berada pada tataran operasional militer. Strategi pertahanan negara berhubungan erat dengan politik pertahanan negara yang bertujuan untuk mempertahankan kedaulatan negara dan keutuhan wilayah NKRI serta menjamin keselamatan segenap bangsa dari segala bentuk ancaman, baik dari luar maupun yang timbul di dalam negeri. Untuk mewujudkan tujuan pertahanan, strategi pertahanan dirancang dalam kerangka politik Indonesia yang bebas aktif disesuaikan dengan karakteristik geografi, demografi, serta kondisi sosial Indonesia yang berada dalam posisi silang yang menjadi pelintasan dunia. Efektivitas strategi pertahanan ditentukan oleh desain postur pertahanan yang memadukan pertahanan militer dan pertahanan nirmiliter sebagai satu kesatuan pertahanan yang saling memperkuat dan saling menyokong. Dalam kerangka defensif aktif, pertahanan Indonesia yang berefek keluar tidak agresif dan tidak ekspansif sejauh kedaulatan negara,

81

keutuhan wilayah, serta keselamatan segenap bangsa serta kepentingan nasional tidak terancam. Pertahanan dengan sifat defensif aktif menjadi dasar untuk tidak terikat atau ikut serta dalam suatu pakta pertahanan dengan negara lain. Politik pertahanan yang defensif aktif tersebut mendasari pengelolaan pertahanan dengan strategi pertahanan berlapis yang bertumpu pada kemampuan sendiri dari bangsa Indonesia tanpa menggantungkan pertahanan negara pada negara lain. Atas dasar sikap dan pandangan tersebut, strategi pertahanan berlapis merupakan pilihan strategi yang tepat yang memadukan lapis pertahanan militer dan lapis pertahanan nirmiliter sebagai satu kesatuan pertahanan yang saling menyokong dalam menangkal dan menghadapi setiap bentuk ancaman. Lapis pertahanan militer yang berintikan TNI merupakan kekuatan utama pertahanan negara serta diperkuat oleh Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung sebagai kekuatan pertahanan negara yang dibangun dan dipersiapkan dalam menangkal dan menghadapi ancaman militer. Lapis pertahanan nirmiliter dibangun dan dipersiapkan dalam menangkal dan menghadapi ancaman nirmiliter. Berdasarkan sifat dan jenis ancaman nirmiliter, susunan lapis pertahanan nirmiliter menggambarkan fungsi-fungsi keamanan publik serta fungsi-fungsi yang merespons dampak bencana, operasi kemanusiaan, fungsi sosial, ekonomi, psikologi, dan teknologi. Strategi pertahanan berlapis dengan sifat defensif aktif dikembangkan sedemikian rupa guna mencapai fleksibilitas yang tinggi dalam mencegah dan meniadakan setiap ancaman serta menghindari pendadakan oleh pihak lawan. Strategi pertahanan berlapis pada hakikatnya pertahanan total yang diselenggarakan dengan pusat

82

kekuatan melalui dukungan rakyat dengan memadukan komponen pertahanan militer dan nirmiliter baik dalam penangkalan maupun dalam mengatasi ancaman. Konsep pertahanan negara disusun secara fleksibel dan aktif sehingga apabila terdapat usaha atau niat negara lain yang ingin menyerang Indonesia, sistem pertahanan negara mampu mengambil inisiatif untuk melakukan langkah-langkah atau tindakan sebelum lawan menyerang Indonesia. Konsepsi pertahanan negara dengan strategi pertahanan berlapis dikembangkan dalam kerangka untuk menjawab tuntutan kebutuhan pertahanan dalam menghadapi tantangan dan dinamika lingkungan strategis yang berimplikasi pada spektrum ancaman terhadap eksistensi negara. Kerangka strategis pertahanan berlapis tersebut disusun dalam tiga kerangka utama strategi pertahanan, yakni penangkalan, menghadapi dan mengatasi ancaman militer, serta menghadapi dan menanggulangi ancaman nirmiliter yang berimplikasi terhadap eksistensi NKRI serta dalam keikutsertaan bangsa Indonesia untuk mewujudkan perdamaian dan ketertiban dunia.

Penangkalan
Penangkalan adalah substansi yang paling fundamental dari strategi pertahanan. Strategi pertahanan modern tidak sekadar bagaimana upaya pertahanan negara menghancurkan musuh, tetapi bagaimana menciptakan kondisi yang mempengaruhi calon lawan mengurungkan niatnya untuk menyerang. Upaya penangkalan diarahkan untuk semaksimal mungkin membangun kesan bagi calon lawan bahwa menyerang Indonesia akan berujung pada kegagalan dan kehancuran memalukan.

83

Sebagai bangsa yang tidak berada dalam suatu sekutu pertahanan dengan negara lain, kemampuan penangkalan Indonesia menjadi tumpuan dalam mempertahankan diri di tengah dinamika lingkungan strategis. Penangkalan Indonesia dibangun dalam strategi pertahanan berlapis yang memadukan lapis pertahanan militer dan lapis pertahanan nirmiliter sebagai satu kesatuan pertahanan. Lapis pertahanan militer mengandalkan kekuatan senjata yakni Alutsista yang andal dengan prajurit yang terampil dan profesional untuk melaksanakan OMP dan OMSP. Sedangkan lapis pertahanan nirmiliter mengandalkan kemampuan dan usaha pertahanan tidak bersenjata dengan mendayagunakan faktorfaktor ideologi, diplomasi dan politik, ekonomi, psikologi, sosial budaya, dan teknologi. Penangkalan dibangun untuk mewujudkan kesiapsiagaan segenap kekuatan dan kemampuan yang menampilkan efek penangkalan ke luar dan ke dalam. Efek penangkalan ke luar diarahkan untuk mengembangkan kekuatan dan kemampuan pertahanan yang disegani minimal di tingkat regional, yakni di kawasan Asia Tenggara dan kawasan yang mengitari Indonesia. Penangkalan yang berefek ke dalam adalah membangun kemampuan pertahanan untuk menghasilkan daya penangkal bagi setiap potensi ancaman yang bersumber dari dalam negeri sekaligus memberikan efek ganda dalam mendorong percepatan pembangunan nasional mencapai tingkat kemajuan yang cukup tinggi. Konsep penangkalan yang dibangun dan dikembangkan untuk mencegah setiap bentuk ancaman adalah penangkalan dengan cara penolakan sekaligus penangkalan dengan cara pembalasan. Penangkalan dengan cara penolakan mengandalkan kekuatan pertahanan militer dengan keunggulan Alutsista yang dimiliki serta

84

dukungan pertahanan nirmiliter yang membuat pihak-pihak yang berniat mengancam Indonesia, baik aktor negara maupun aktor bukan negara, merasa gentar dan membatalkan niatnya. Penangkalan secara penolakan diwujudkan ke dalam postur pertahanan militer yang dibangun sampai pada tingkat kekuatan, kemampuan, dan gelar kekuatan yang mampu mengawal dan mengamankan wilayah NKRI dari ancaman militer lawan yang bersifat konvensional. Untuk mewujudkan penangkalan secara penolakan, postur pertahanan militer berbasis kemampuan Alutsista yang modern dengan ukuran kekuatan jauh di atas kemampuan kolektif yang dimiliki oleh negara-negara di sekeliling. Penangkalan secara penolakan dalam tingkatan tertentu, khususnya menghadapi ancaman agresi, merupakan pertahanan berbasis Alutsista yang ideal yang berkonsekuensi memerlukan pengalokasian anggaran pertahanan yang sangat besar. Upaya untuk membangun kekuatan pertahanan dengan standar penolakan akan mengorbankan sektor-sektor pembangunan nasional di luar bidang pertahanan, sehingga model ini sangat sulit diwujudkan tanpa diikuti dengan pertumbuhan dan kesejahteraan yang cukup tinggi. Penangkalan dengan cara pembalasan adalah konsep penangkalan yang mengandalkan kemampuan balas yang hebat yang timbul dari perlawanan rakyat tanpa mengenal menyerah. Penangkalan dengan pendekatan pembalasan adalah pilihan strategi bagi negara yang tidak memiliki kekuatan senjata nuklir atau yang tidak memiliki keunggulan kekuatan militer konvensional. Konsep penangkalan dengan pendekatan pembalasan sangat efektif untuk menghadapi ancaman agresi atau invasi militer dari negara yang kekuatan militernya lebih kuat. Konsep penangkalan dengan

85

pembalasan dikembangkan untuk mampu menyelenggarakan perang berlarut dengan keunggulan pada perlawanan gerilya yang efektif untuk menguras kekuatan lawan yang unggul teknologi persenjataan sehingga membuatnya frustrasi dan pada akhirnya tidak mampu lagi melanjutkan tindakannya. Indonesia di masa perjuangan merebut kemerdekaan berhasil menggunakan strategi penangkalan dengan pola pembalasan dengan memadukan perlawanan secara bersenjata dan perlawanan tanpa senjata dengan taktik perang gerilya dan pada saat menentukan melakukan aksi balas yang dahsyat memaksa penjajah menelan kekalahan. Untuk mewujudkan penangkalan yang efektif dan andal, pembangunan nasional menjadi kunci keberhasilan yang harus didorong bersama. Langkah-langkah strategis untuk mewujudkan penangkalan harus ditempuh dengan cakupan pembangunan SDM berkualitas, sehat, cerdas, dan berdaya saing pengelolaan SDM dan SDB secara tetap dalam suatu manajemen nasional yang sehat, serta pembangunan dan penataan sarana dan prasarana nasional untuk membuka akses secara luas di seluruh wilayah Indonesia. Strategi penangkalan Indonesia menyinergikan instrumen politik, ekonomi, psikologi, teknologi, dan militer. Instrumen Politik Politik merupakan salah satu instrumen utama yang menopang suatu bangsa di samping instrumen lainnya seperti ekonomi, sosial budaya, teknologi, dan militer. Dalam konteks pertahanan negara, instrumen politik merupakan kekuatan nasional yang efektif untuk menyelesaikan bentuk-bentuk konflik. Kekuatan politik terletak pada kemampuan

86

diplomasi untuk memperjuangkan kepentingan nasional, termasuk untuk membangun kepercayaan dalam kerangka mencegah konflik antarnegara. Kemampuan diplomasi bersandar pada kualitas dan integritas pengemban fungsi diplomasi. Di samping itu, kemampuan diplomasi ditentukan oleh reputasi dan kredibilitas pemerintah dalam mengelola pemerintahan negara. Upaya diplomasi akan efektif apabila didukung oleh instrumen ekonomi dan militer yang memadai dan berkemampuan tinggi sehingga menghasilkan posisi tawar yang tinggi. Pertahanan militer merupakan kekuatan yang efektif untuk memperkuat upaya diplomasi yang dilakukan oleh fungsi pertahanan nirmiliter. Pertahanan militer pada akhirnya menjadi kekuatan negara yang disiapkan untuk dikerahkan guna melakukan tahapan lanjutan dari upaya pertahanan apabila diplomasi mengalami jalan buntu. Pertahanan Indonesia yang diselenggarakan dengan bersandar pada kekuatan sendiri adalah semangat untuk mengandalkan penyelenggaraan pertahanan negara pada kekuatan nasional sebagai modal dasar untuk diberdayakan semaksimal mungkin tanpa menggantungkan diri kepada negara lain. Namun, hal itu tidak berarti menutup kemungkinan bekerja sama dengan negara lain. Meskipun tidak melibatkan diri dalam suatu pakta pertahanan, Indonesia dengan kemampuan diplomasi tetap menggalang komunikasi dengan negaranegara lain yang memberikan efek penangkalan dengan mengembangkan pola jaringan laba-laba yang terintegrasi pada tingkat nasional, regional dan supra regional. Pada tingkat nasional, hal itu dikembangkan dalam wujud jaringan terpadu ketahanan nasional di tingkat pusat dan daerah, di perkotaan dan pedesaan, serta wilayah perbatasan dan daerah terpencil, termasuk pulau-pulau kecil terdepan. Di tingkat regional, hal itu berupa jaringan kerja sama dengan negara-negara di kawasan

87

Asia Tenggara (ASEAN), yakni Masyarakat Ekonomi ASEAN, Masyarakat Budaya ASEAN, serta Masyarakat Keamanan ASEAN, untuk membangun kohesi sesama anggota kawasan yang mampu mereduksi potensi konflik serta bersama-sama mencegah potensi ancaman dari luar kawasan. Di tingkat supraregional, dilakukan pemberdayaan ASEAN plus Enam, Forum Regional ASEAN (ARF), Organisasi Negara-negara Non-Blok, serta PBB untuk mempromosikan konsep-konsep penyelesaian damai sebagai modalitas untuk mencegah konflik serta mewujudkan dunia yang damai. Instrumen Ekonomi Ekonomi merupakan hal mendasar yang menyangkut kelangsungan hidup suatu bangsa. Instrumen ekonomi mencakupi sumber daya alam, sumber daya buatan, moneter, fiskal, dan perdagangan. Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi akan memberikan kontribusi penting bagi stabilitas nasional. Ekonomi yang sehat dan stabil akan memungkinkan pembangunan pertahanan berjalan dengan baik. Indonesia dengan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki perlu dikelola dengan baik sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan. Masyarakat Indonesia yang sejahtera akan memiliki kebanggaan untuk menjadi bangsa Indonesia. Tumbuhnya nasionalisme untuk rela berkorban bagi bangsa dan negara bermula dari kebanggaan menjadi bangsa Indonesia. Dalam strategi pertahanan defensif aktif, sektor ekonomi harus mengambil peran konkret, melalui pembangunan sektor ekonomi yang sehat sehingga mencapai tingkat pertumbuhan yang cukup tinggi. Kerja sama ekonomi dan perdagangan dengan negara-negara lain dibangun secara mutualistik, dengan memanfaatkan sektor-sektor ekonomi unggulan yang memiliki posisi tawar tinggi

88

sehingga dapat digunakan dalam menerapkan strategi defensif aktif. Indonesia harus dapat bertahan dalam menghadapi tekanan ekonomi negara lain. Dalam kondisi Indonesia dikenai restriksi, embargo, atau sanksi ekonomi dalam skala besar berupa blokade ekonomi, Indonesia harus dapat mengatasinya dengan kemampuan ekonomi sendiri. Oleh karena itu aspek ekonomi harus dibangun pada tingkat yang cukup tinggi untuk menghindari risiko ekonomi yang berimplikasi pada pertahanan. Dalam konteks defensif aktif, ekonomi harus menjadi instrumen penekan terhadap negara lain yang mengancam Indonesia. Sumber daya alam yang menjadi andalan dan menjadi ketergantungan negara-negara industri perlu dikelola dan dimanfaatkan untuk mempertinggi posisi tawar Indonesia, baik dalam hubungan bilateral maupun hubungan yang lebih luas. Dalam era globalisasi, ekonomi dan perdagangan menjadi faktor utama. Dalam hal ini, Indonesia perlu menempatkan diri sebagai pemain, tidak sekedar hanya menjadi pasar dari produk-produk negara lain. Instrumen Psikologi Dalam perang modern, aspek psikologis merupakan salah satu faktor penting yang dikembangkan dalam menyusun strategi pertahanan. Aspek psikologis sebagai instrumen penangkalan dikembangkan melalui pembangunan nasional untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa serta menumbuhkan nasionalisme, patriotisme, dan militansi bangsa Indonesia untuk mencintai dan membela NKRI. Untuk menumbuhkan rasa kebangsaan dan percaya diri bangsa sebagai faktor psikologis yang berdimensi penangkalan, pemerintah perlu menghidupkan kembali upaya-upaya untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme dengan menggunakan media massa dan alat-alat komunikasi massa seperti film, tayangan televisi, surat kabar, dan

89

buku-buku pelajaran. Film-film perjuangan dapat menjadi media untuk mengomunikasikan kepada generasi muda tentang pahit-getirnya usaha untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam hal ini, pemerintah dapat memfasilitasi pembuatan film-film dokumenter dan mengikutsertakan pengusaha-pengusaha dalam negeri untuk ikut terlibat dalam pembuatannya dan mempromosikannya kepada masyarakat. Instrumen Teknologi Ciri pertahanan modern adalah pertahanan berbasis teknologi sesuai perkembangan dalam bidang militer (Revolution in Military Affairs - RMA). Instrumen teknologi mencakupi dimensi Alutsista, sistem informasi, serta industri yang mendukung pertahanan. Secara global, revolusi di bidang militer berkembang sangat pesat dan mempengaruhi konsepsi pertahanan di bidang doktrin, strategi pertahanan, serta postur dan kebijakan pertahanan setiap negara. Substansi RMA yang paling menonjol adalah di bidang teknologi. Dalam strategi penangkalan, teknologi memegang peranan penting. Ketergantungan pada negara lain di bidang teknologi akan berdampak terhadap daya tangkal bangsa. Sebaliknya, kemandirian dalam bidang teknologi, terutama teknologi militer, berefek terhadap peningkatan daya tangkal bangsa. Dalam rangka mewujudkan penangkalan di bidang teknologi, sektor pertahanan negara mendorong usaha-usaha untuk tumbuh dan berkembangnya industri pertahanan yang kuat dan berdaya saing. Industri pertahanan dikembangkan untuk mampu memproduksi Alutsista dan alat peralatan

90

kebutuhan sektor pertahanan secara berkesinambungan. Untuk mewujudkan kemandirian pertahanan di bidang teknologi, khususnya industri pertahanan, kemampuan SDM Indonesia akan didorong dan diberi ruang sebesar-besarnya untuk mengembangkan karya-karyanya. Instrumen Militer TNI merupakan instrumen utama kekuatan nasional dalam rangka mendukung kepentingan nasional bersama-sama dengan instrumen lainnya. Kekuatan militer digunakan sebagai langkah terakhir apabila cara-cara nirmiliter gagal untuk melindungi kepentingan nasional. Penggunaan kekuatan militer sebagai jalan terakhir merupakan filosofi bahwa perang merupakan kelanjutan dari politik dengan cara lain. Upaya diplomasi akan mencapai hasil yang maksimal apabila didukung oleh kekuatan militer. Pada tataran politis, dukungan kekuatan militer terhadap upaya diplomasi ditentukan oleh kondisi instrumen militer yang dibangun dalam postur pertahanan negara yang kuat dan berdaya tangkal tinggi yang mencakupi prajurit yang profesional, Alutsista yang andal dan sebanyak mungkin diproduksi sendiri, manajemen pertahanan yang efektif, serta kepemimpinan militer yang kuat dan disegani. Pada tataran strategis, dukungan militer terhadap upaya diplomasi diwujudkan dalam pamer kekuatan militer, kesiapsiagaan kekuatan militer yang prima, serta hubungan TNI-rakyat yang harmonis dan bersinergi.

91

Dalam pola defensif aktif, kekuatan militer harus dibangun untuk mempunyai kemampuan yang berdaya tangkal memadai sehingga disegani oleh negara lain. Pembangunan kemampuan militer tersebut dilakukan selain atas dasar pertimbangan kemampuan ekonomi negara, juga analisis risiko kemungkinan ancaman terhadap NKRI. Susunan kekuatan pertahanan militer meliputi TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, dan TNI Angkatan Udara, didukung oleh Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung. Pertahanan militer dikembangkan dalam keterpaduan Tri Matra, yakni matra darat, matra laut dan matra udara, tanpa meninggalkan ciri khas matra, baik dalam operasi gabungan maupun operasi khas matra masing-masing. Penggunaan kekuatan TNI, baik dalam rangka menghadapi ancaman maupun dalam hal membantu fungsi pemerintahan di luar fungsi pertahanan, diselenggarakan dalam pola operasi militer. Dalam menghadapi ancaman militer yang berakibat langsung terhadap kedaulatan negara dan keutuhan wilayah, TNI menyelenggarakan operasi militer untuk perang (OMP). Pelaksanaannya melalui keputusan politik yang tertuang dalam pengerahan kekuatan TNI oleh Presiden. Bentuk-bentuk ancaman yang dihadapi dengan pola OMP mencakupi agresi militer dari negara lain atau jenis ancaman militer lainnya yang secara langsung mengancam kedaulatan negara dan keutuhan wilayah, seperti pelanggaran wilayah dan pemberontakan bersenjata. Sedangkan ancaman militer yang bentuknya bukan agresi militer dan tingkat risikonya diperkirakan tidak berpengaruh langsung terhadap kedaulatan negara dan keutuhan wilayah dihadapi dengan OMSP. Bentuk-bentuk ancaman militer dimaksud termasuk kegiatan spionase, sabotase, aksi teror bersenjata oleh jaringan terorisme, ancaman keamanan di laut dan

92

udara, penangkapan ikan secara ilegal, dan konflik komunal. Tugas-tugas perbantuan TNI melalui pelibatan kekuatan TNI dalam fungsi instansi pemerintah di luar fungsi pertahanan, termasuk tugas perdamaian dunia, diselenggarakan dalam pola OMSP. Pelaksanaannya atas permintaan dari pihak yang memerlukan bantuan. Khusus untuk tugas perdamaian dunia, pelibatan kekuatan TNI dilaksanakan atas keputusan politik pemerintah serta berada di bawah mandat PBB, atau atas kesepakatan regional yang bersifat mengikat untuk tugas perdamaian di kawasan.

Mengatasi Ancaman Militer
Lingkungan strategis yang sangat dinamis menyebabkan kondisi global dan regional yang tidak menentu. Kondisi ketidakpastian tersebut juga mengakibatkan hakikat ancaman menjadi semakin kompleks dan sulit diprediksi. Dinamika lingkungan strategis yang tidak menentu tersebut menuntut pertahanan negara untuk dipersiapkan dalam menghadapi kemungkinan yang berubah secara tiba-tiba sehingga tidak terdadak oleh ancaman yang berkembang cepat. Menghadapi Ancaman Agresi Dengan kondisi ketidakpastian, perkiraan ancaman dalam beberapa waktu mendatang sulit diprediksi. Atas dasar itu, pertahanan negara harus dipersiapkan untuk menghadapi kondisi terburuk atau perkembangan yang berlangsung secara tiba-tiba, termasuk untuk menghadapi ancaman agresi atau ancaman militer lain yang bersifat aktual. Strategi pertahanan dalam menghadapi ancaman aktual disesuaikan dengan jenis ancaman dan besarnya risiko yang dihadapi.

93

Dalam menghadapi ancaman militer yang berbentuk agresi, strategi pertahanan yang dipersiapkan adalah strategi pertahanan berlapis dalam kerangka perang total dengan menempatkan pertahanan militer sebagai inti kekuatan. Hal itu dilaksanakan dengan OMP melalui pengerahan dan pendayagunaan segenap kekuatan nasional yang mengintegrasikan kekuatan bersenjata dan perlawanan rakyat secara terpadu dan saling menyokong. Perang di masa datang adalah perang yang mengandalkan keunggulan teknologi, kecanggihan Alutsista dengan presisi tinggi, serta penguasaan ruang sebagai medan laga yang jauh lebih efektif. Menghadapi ancaman militer yang berbentuk agresi dalam konteks perang masa datang menuntut penguasaan ruang dan waktu serta pendayagunaan sumber daya nasional secara efektif yang dilandasi oleh persatuan dan kesatuan dengan semangat pantang menyerah untuk membela NKRI. Fungsi pertahanan militer harus tetap memelihara keutuhan organisasi sehingga perlawanan tetap dapat dikendalikan dan diorganisasikan. Fungsi pertahanan nirmiliter pun harus mampu memberikan dukungan bagi kelanjutan usaha pertahanan menghadapi ancaman nyata. Menghadapi Ancaman Militer yang Bukan Agresi Ancaman militer tidak selalu dihadapi dengan kekuatan pertahanan penuh melalui OMP. Ancaman militer yang bukan agresi mempunyai skala yang lebih terbatas serta aktor-aktor yang tidak selalu harus dihadapi dengan pengerahan kekuatan secara total. Untuk itu, strategi pertahanan

94

untuk menghadapinya diselenggarakan melalui OMSP dan penerapan pertahanan berlapis yang disesuaikan dengan skala ancaman. Dalam menghadapi ancaman militer yang bukan agresi, pertahanan yang dimiliki, baik militer maupun yang bersifat nirmiliter, harus dapat memainkan strategi untuk secepat-cepatnya menuntaskannya, sehingga tidak berdampak terhadap aspek-aspek kehidupan secara meluas. Strategi pertahanan dengan pendekatan militer dan nirmiliter dikembangkan secara efektif untuk menekan risiko sampai sekecil-kecilnya dan memperbesar hasil yang dicapai. Menghadapi Ancaman Nirmiliter melalui Peran Lintas Lembaga Menghadapi ancaman nirmiliter yang berimplikasi melemahkan kekuatan bangsa merupakan fungsi lembaga pemerintah di luar bidang pertahanan. Departemen Pertahanan selaku pengemban fungsi pemerintah di bidang pertahanan berfungsi dalam memberikan “koridor” untuk dapat disinkronkan dengan penyelenggaraan pertahanan negara dengan pendekatan pertahanan militer. Sebagaimana ancaman yang berdimensi nirmiliter, pada skala atau eskalasi tertentu dia berimplikasi mengganggu eksistensi dan kepentingan nasional, penanganannya dilakukan melalui pola yang berbeda dengan pendekatan penanganan ancaman militer. Sistem pertahanan negara dalam menghadapi kondisi ketika negara menghadapi ancaman aktual berupa ancaman nirmiliter menempatkan lapis pertahanan nirmiliter sebagai unsur utama. Lapis pertahanan nirmiliter yang menjadi unsur utama diperankan oleh departemen/LPND yang fungsinya terkait langsung atau paling dominan dengan ancaman nirmiliter yang dihadapi.

95

Pertahanan nirmiliter dalam menghadapi ancaman nirmiliter diwujudkan dalam peran dan lingkup fungsi departemen/LPND di luar bidang pertahanan melalui penyelenggaraan pembangunan nasional sesuai dengan bidangnya masing-masing. Secara konseptual, penanganan isu-isu kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan ketidakadilan menjadi fokus dari strategi pertahanan nirmiliter. Langkah-langkah strategis ditempuh melalui pendidikan, kesehatan, penegakan hukum, dan keteladanan kepemimpinan yang pelaksanaannya diselaraskan dengan pembangunan di bidang ekonomi dan sektor pembangunan lainnya seperti politik, ideologi, dan militer. Pendidikan tidak sekadar untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi harus dapat menanamkan hal fundamental, yakni wawasan kebangsaan, rasa cinta tanah air, nasionalisme, dan patriotisme, maka pendidikan harus dikelola secara profesional dengan orientasi membangun manusia Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing untuk menghadapi tantangan di era globalisasi. Sektor kesehatan menjalankan fungsi layanan publik untuk mengatasi permasalahan di bidang kesehatan bagi pembentukan masyarakat Indonesia yang berkualitas dengan memberikan porsi yang cukup besar bagi masyarakat yang tingkat ekonominya rendah. Penegakan hukum adalah hal yang vital dalam mengatasi ancaman nirmiliter, melalui pembenahan kinerja aparat penegak hukum serta distribusi keadilan tanpa diskriminasi. Penegakan hukum juga ditekankan pada penanganan penyebaran narkoba dan penyebaran virus HIV/AIDS serta penanganan kasus-kasus kejahatan dengan seadil-adilnya tanpa pandang bulu. Di atas semuanya, kepemimpinan yang diteladankan menjadi kunci bagi terlaksananya strategi mengatasi isu-isu yang berdimensi sosial. Kepemimpinan yang diteladankan harus dapat ditegakkan ditingkat nasional (eksekutif, legislatif, dan kekuasaan peradilan), di tingkat

96

partai politik serta organisasi kemasyarakatan, ilmuwan, dan agama. Selanjutnya, kepemimpinan yang diteladankan mendinamisasi penguatan karakter dan identitas bangsa Indonesia dengan mengelola keberagaman masyarakat Indonesia dalam suku bangsa, bahasa, dan budaya sehingga menjadi kekuatan pemersatu bangsa dalam menggerakkan roda pembangunan nasional, sekaligus kekuatan yang mencegah nilai-nilai luar yang merugikan. Dengan mengingat pada skala tertentu penanganan ancaman nirmiliter memerlukan bantuan fungsi lain di luar unsur utama yang menanganinya dalam kerangka pertahanan berlapis, lapis pertahanan militer dapat menyokong lapis pertahanan nirmiliter, yang pelaksanaannya dalam wujud bantuan dan disesuaikan dengan jenis dan sifat ancaman nirmiliter. Keterlibatan fungsi pertahanan militer dalam menghadapi ancaman nirmiliter bersifat tidak langsung dan lebih mengedepankan fungsi penangkalan. Namun, dalam skala tertentu, pertahanan militer dapat terlibat dalam wujud yang lebih konkret atas dasar keputusan politik pemerintah atau atas permintaan dari unsur utama nirmiliter yang membutuhkannya, misalnya dalam mengatasi wabah penyakit yang meluas serta dalam mengatasi dampak bencana alam atau pencarian dan pertolongan (SAR).

Mewujudkan Perdamaian Dunia dan Stabilitas Regional
Pencapaian sasaran pertahanan dalam mewujudkan perdamaian dunia dan stabilitas regional adalah bagian dari misi pertahanan negara yang sepanjang waktu diperjuangkan Indonesia sebagai bagian dari masyarakat internasional yang berada dalam pengaruh global dan regional. Perwujudan perdamaian dunia dan stabilitas regional merupakan

97

kepentingan nasional yang harus diperjuangkan dan ditegakkan. Dalam konteks tersebut, kerja sama pertahanan akan dikembangkan sebagai salah satu instrumen dalam mewujudkan rasa saling percaya di antara bangsa-bangsa di dunia melalui bidang pertahanan. Sejalan dengan itu, diplomasi pertahanan akan lebih diefektifkan melalui langkah-langkah yang lebih konkret dan bermartabat. Kerja sama pertahanan dilaksanakan dalam lingkup kerja sama bilateral, regional, dan internasional. Pada lingkup internasional, kerja sama pertahanan diwujudkan melalui keikutsertaan dalam usaha-usaha pertahanan melalui tugas perdamaian dunia di bawah bendera PBB, antara lain, melalui kontingen pemelihara perdamaian dunia atau sebagai peninjau perdamaian dunia di berbagai negara. Untuk menjamin kesiapan pasukan yang akan mengemban misi perdamaian, keberadaan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI adalah sangat vital sehingga perlu diberdayakan secara profesional. Pada lingkup regional, kerja sama pertahanan diarahkan bagi terwujudnya kawasan regional yang stabil melalui upaya bersama antarnegara di kawasan. Prioritas kerja sama pertahanan adalah dengan negara-negara di Kawasan Asia Tenggara untuk menciptakan kawasan regional yang stabil. Indonesia juga mengembangkan kerja sama pertahanan secara bilateral dengan negara-negara di luar Kawasan Asia Tenggara yang berbatasan dengan Indonesia serta negara-negara besar yang memiliki pengaruh penting bagi kawasan, termasuk mempengaruhi kepentingan nasional Indonesia. Kerja sama pertahanan tersebut ditujukan selain untuk membangun rasa saling percaya dan dalam rangka perdamaian dunia, juga untuk pembangunan kemampuan pertahanan seperti pengadaan

98

Alutsista, transfer teknologi, dan peningkatan SDM, baik prajurit TNI maupun unsur nirmiliter.

Perang Rakyat Semesta
Perang Rakyat Semesta pada hakikatnya perang total seluruh rakyat Indonesia dengan mengerahkan segenap kekuatan dan sumber daya nasional untuk menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa dari bangsa lain yang mengancam atau menduduki wilayah NKRI. Perang Rakyat Semesta bersifat kerakyatan, kesemestaan, dan kewilayahan. Kerakyatan diwujudkan melalui keikutsertaan seluruh rakyat Indonesia sesuai dengan peran, kemampuan, profesi, dan keahliannya sebagai manifestasi hak dan kewajiban setiap warga negara dalam bela negara. Kesemestaan diwujudkan melalui pengerahan seluruh kekuatan dan sumber daya nasional Indonesia untuk dapat dimobilisasi guna kepentingan menghadapi bentuk ancaman, baik dari luar maupun dalam negeri. Kewilayahan diwujudkan dalam pendayagunaan seluruh wilayah negara sebagai ruang juang dalam mengembangkan strategi pertahanan guna mencapai tujuan. Perang Rakyat Semesta diselenggarakan berdasarkan tatanan unsur kekuatan, perwujudan usaha, dan sarana perjuangan. Tatanan segenap unsur kekuatan diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu, dan terarah di bawah kesatuan komando dan strategi sehingga merupakan satu totalitas perjuangan. Perwujudan usaha secara total

99

mencakupi perlawanan bersenjata yang berintikan TNI, didukung oleh perlawanan tidak bersenjata yang berintikan unsur pertahanan nirmiliter dalam kesatuan kesemestaan, untuk menghadapi setiap kekuatan asing yang menyerang dan menduduki sebagian atau seluruh wilayah Indonesia. Sarana perjuangan bangsa bertumpu pada kekuatan rakyat yang dipersenjatai secara fisik dengan kemampuan bela negara yang tinggi serta secara psikis dengan ideologi Pancasila. Dipersenjatai secara psikis diwujudkan dalam usaha menanamkan kecintaan kepada tanah air dan NKRI, menumbuhkembangkan kesadaran berbangsa dan bernegara, persatuan dan kesatuan bangsa dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika, dan kesadaran dan tanggung jawab akan hak dan kewajiban dalam usaha pembelaan negara, serta melengkapi diri dengan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai pengejawantahan dari sistem senjata sosial. Dipersenjatai secara fisik diwujudkan ke dalam pemberian bekal keterampilan fisik, baik melalui wadah prajurit TNI maupun sebagai rakyat terlatih yang dipersiapkan untuk menjadi Komponen Cadangan, yang didukung oleh pengetahuan dan keterampilan menggunakan peralatan dan persenjataan militer serta menguasai taktik dan strategi bertempur sebagai pengejawantahan sistem senjata teknologi. Dalam menghadapi Perang Rakyat Semesta dalam bentuk perang berlarut, terdapat lima hal yang harus dibangun dan dijaga, yakni yang terkait dengan sistem politik, sistem ekonomi, sistem sosial, sistem teknologi, dan sistem pertahanan. Sistem politik harus tetap diarahkan untuk menjaga dan memelihara Pancasila sebagai dasar falsafah seluruh bangsa Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta dijadikan sebagai dasar perjuangan. Sistem politik juga

100

menjamin keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa serta kelangsungan perjuangan sampai perjuangan membuahkan kemenangan. Dalam mewujudkan sistem politik tersebut, revitalisasi nilai-nilai Pancasila harus menjadi prioritas utama untuk dilaksanakan secara berlanjut. Sistem ekonomi Indonesia harus mampu menopang kesinambungan perjuangan dengan membangun struktur ekonomi yang kuat, mandiri, dan berdaya saing serta didukung oleh sistem distribusi yang menjangkau seluruh wilayah Nusantara. Sistem sosial budaya Indonesia harus memacu kehidupan masyarakat yang kompetitif dan produktif, yang dilandasi oleh nilai dan semangat juang, disiplin yang tinggi, dan kerja keras untuk mengejar kemajuan sehingga pada gilirannya akan menghadirkan masyarakat Indonesia yang tangguh dan berdaya saing. Bersamaan dengan sistem yang lain, sistem teknologi dibangun untuk memacu pertumbuhan industri nasional untuk mewujudkan kemandirian dengan menghasilkan produkproduk dalam negeri, baik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat maupun kebutuhan pertahanan. Selanjutnya sistem, pertahanan dibangun dan dikembangkan untuk dapat menjaga dan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan negara serta keutuhan wilayah NKRI. Sistem pertahanan diperankan oleh TNI yang tangguh dan profesional, didukung oleh seluruh rakyat dalam sistem pertahanan semesta yang berdaya tangkal tinggi serta menjamin stabilitas keamanan nasional yang memungkinkan terselenggaranya pembangunan nasional.

101

PEMBINAAN KEMAMPUAN PERTAHANAN NEGARA

Pokok-Pokok Pembinaan Kemampuan Pertahanan Negara
Penyelenggaraan pembinaan kekuatan dan kemampuan pertahanan negara dilaksanakan sesuai dengan kebijakan penyelenggaraan pertahanan negara dan tetap berpedoman pada ketentuan pokok penyelenggaraan pertahanan negara. Pembinaan kekuatan dan kemampuan pertahanan negara mencakupi pertahanan militer dan pertahanan nirmiliter. Tingkat kebijakan dijabarkan dalam pokok-pokok pembinaan kekuatan dan kemampuan dalam tataran kewenangan pembinaan. Pemerintah bertanggung jawab dan berkewajiban mewujudkan kekuatan dan kemampuan pertahanan yang tangguh dan berdaya tangkal tinggi melalui pembangunan kekuatan dan kemampuan pertahanan negara. Pelaksanaannya dilakukan secara dini dan berlanjut serta ditujukan untuk terselenggaranya sistem pertahanan negara. Pembinaan kekuatan dan kemampuan pertahanan negara meliputi pembinaan sumber daya manusia, sumber daya alam, sumber daya buatan, sarana dan prasarana, teknologi dan industri pertahanan, serta sistem tata nilai untuk meningkatkan kemampuan pertahanan negara. Pendayagunaan sumber daya alam dan buatan harus memperhatikan prinsip-prinsip berkelanjutan, keragaman, dan kelestarian lingkungan hidup. Wilayah Indonesia dapat dimanfaatkan untuk pembinaan kemampuan pertahanan negara dengan memperhatikan hak masyarakat. Wilayah yang digunakan sebagai instalasi militer dan daerah latihan militer

102

yang strategis disiapkan oleh pemerintah. Dalam mendukung kepentingan penyelenggaraan pertahanan negara, penataan ruang yang dilakukan untuk tujuan kesejahteraan diintegrasikan dengan tujuan pertahanan. Oleh karena itu, penataan ruang kawasan pertahanan berada dalam sistem penataan ruang nasional dan dijamin kepastian hukumnya. Selanjutnya, pembangunan di daerah harus memperhatikan kepentingan pertahanan dan pembinaan kemampuan pertahanan dan dilaksanakan melalui koordinasi antar lembaga. Perencanaan pembangunan sarana dan prasarana vital nasional dan di daerah mengakomodinasi kepentingan pertahanan negara untuk tujuan jangka panjang.

Postur Pertahanan Negara
Postur pertahanan negara merupakan wujud penampilan kekuatan pertahanan negara yang mencerminkan kekuatan, kemampuan, dan gelar kekuatan pertahanan negara. Postur pertahanan negara mengintegrasikan kekuatan, kemampuan, dan gelar kekuatan pertahanan militer serta kekuatan, kemampuan, dan penyebaran pertahanan nirmiliter sebagai satu kesatuan pertahanan negara yang utuh dan terpadu. Postur pertahanan negara dibangun dan dipersiapkan secara dini oleh pemerintah. Pembangunan postur pertahanan militer menjadi kewenangan dan tanggung jawab Menteri Pertahanan. Pembangunan postur pertahanan nirmiliter menjadi tanggung jawab pemerintah melalui koordinasi antara menteri/kepala LPND dan Menteri Pertahanan. Pembangunan Postur Pertahanan Negara sangat tergantung pada anggaran pertahanan negara yang dialokasikan pemerintah, namun tidak

103

berarti bahwa postur pertahanan dibangun atas dasar alokasi anggaran. Penyusunan Postur Pertahanan Negara bersifat jangka panjang dan didasarkan atas visi negara di tengah-tengah persaingan global. Dalam konteks ini Postur Pertahanan Negara disusun untuk memenuhi kebutuhan pertahanan negara dalam 20 tahun ke depan yakni sampai tahun 2029. Oleh karena itu, dalam kerangka penyusunan anggaran pertahanan harus mengacu pada perencanaan pembangunan pertahanan jangka panjang, sehingga kesinambungan pembangunan kekuatan dapat terjaga dan terpelihara. Dalam kondisi dimana anggaran pertahanan negara tidak mampu mendukung kebutuhan pembangunan pertahanan sebagaimana tertuang dalam perencanaan jangka panjang tentang postur pertahanan, perlu disusun skenario yang tepat agar kepentingan pertahanan tidak dikorbankan. Postur Pertahanan Militer Postur pertahanan militer dibangun berdasarkan tiga kaidah utama, yakni faktor ancaman, standar penangkalan, dan organisasi. Rancang bangun postur pertahanan militer serta pembangunannya didasarkan pada perkembangan ancaman yang dihadapi. Dalam kerangka itu, pembangunan kapabilitas pertahanan adalah berdasarkan perkiraan ancaman, baik yang potensial maupun ancaman nyata, dalam kurun waktu tertentu. Selanjutnya, postur pertahanan militer yang telah dirancang tersebut dibangun untuk mencapai standar penangkalan. Standar penangkalan adalah ukuran kemampuan suatu tentara yang harus dicapai oleh Tentara Nasional Indonesia dalam mengawal NKRI. Ukuran kemampuan tersebut mencakupi kekuatan prajurit (personel) dan Alutsista serta profesionalitas prajurit dan dukungan anggaran, yang tercermin dalam gelar kekuatan yang mewujudkan efek penangkalan

104

yang disegani. Pembangunan postur TNI harus diakselerasi untuk sampai pada pencapaian standar penangkalan dimaksud. Implikasi dari TNI sebagai komponen utama pertahanan negara, pembangunan postur TNI menjadi prioritas dalam pembangunan pertahanan negara. Dalam rangka pembinaan postur pertahanan militer, maka pembinaan TNI ditempatkan dalam kerangka TNI sebagai alat negara di bidang pertahanan yang menjalankan tugas negara atas dasar kebijakan dan keputusan politik pemerintah untuk menjaga dan melindungi kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, serta keselamatan bangsa. TNI sebagai alat negara bertugas untuk kepentingan negara dan di atas kepentingan daerah, suku, agama, ras, dan golongan. Dalam kerangka itu, pembinaan TNI diarahkan untuk mewujudkan profesionalitas prajurit, yaitu tentara yang terlatih, terdidik, diperlengkapi secara baik, tidak berpolitik praktis, tidak berbisnis, dan dijamin kesejahteraannya yang layak oleh negara dan pemerintah sehingga dapat mengonsentrasikan diri pada misi dan tugas yang diembannya, serta TNI yang mengikuti kebijakan politik negara yang menganut prinsip demokrasi, tunduk pada pemerintah yang sah, dan menghargai hak asasi manusia serta ketentuan hukum nasional dan hukum internasional yang diratifikasi Indonesia sehingga menjadi kekuatan yang disegani minimal pada lingkup kawasan Asia Tenggara dan kawasan yang mengitari wilayah NKRI. Pembinaan pertahanan militer juga menyentuh organisasi untuk mewujudkan kinerja organisasi yang efektif. Dalam rangka itu, penataan organisasi pada tingkat Departemen Pertahanan diarahkan pada terselenggaranya manajemen pemerintahan di bidang pertahanan yang berkualitas dan efektif dengan kinerja yang tinggi. Organisasi TNI

105

diarahkan untuk mewujudkan TNI yang profesional, berdaya tangkal, dan disegani. Postur Pertahanan Nirmiliter Postur pertahanan nirmiliter merupakan refleksi dari hasil pembangunan seluruh sumber daya nasional. Unsur-unsur pertahanan nirmiliter berada dalam lingkup wewenang dan tanggung jawab setiap instansi pemerintah di luar Departemen Pertahanan. Oleh karena itu, pembangunan postur pertahanan nirmiliter menjadi tanggung jawab seluruh departemen/LPND yang pelaksanaannya tertuang dalam pembangunan sektor masing-masing. Pelaksanaannya dikoordinasikan oleh Menteri Pertahanan. Komponen Cadangan dan Pendukung merupakan elemen kekuatan pertahanan nirmiliter yang dibentuk dan disiapkan sejak dini berupa pemberdayaan potensi sumber daya nasional (SDM, SDA, SDB, serta sarana dan prasarana nasional) menjadi kekuatan pertahanan yang dapat memperbesar dan memperkuat Komponen Utama. Pada kondisi tertentu, kedua komponen tersebut dapat dikerahkan untuk menghadapi ancaman nirmiliter, khususnya untuk penanggulangan bencana dan operasi kemanusiaan lainnya. Kekuatan Komponen Cadangan dibangun dengan pendekatan yang realistis, yaitu dengan mempertimbangkan kemampuan anggaran pemerintah. Kemampuan Komponen Cadangan dibentuk sesuai dengan kebutuhan tiap-tiap matra. 106

Dalam kerangka mewujudkan pertahanan yang mandiri, pembangunan industri pertahanan strategis merupakan kunci menuju sukses. Terwujudnya industri pertahanan strategis akan memiliki efek penangkalan yang tinggi, serta menjamin keberlanjutan pemenuhan kebutuhan Alutsista dan kebutuhan pertahanan dalam arti luas. Pembangunan industri pertahanan strategis berada dalam lingkup fungsi pertahanan nirmiliter, oleh karena itu menjadi tanggung jawab para Menteri/Kepala LPND serta sektor swasta untuk menggerakkannya. Dalam mewujudkan pembangunan industri pertahanan strategis, Departemen Pertahanan dan TNI bekerjasama dengan para pimpinan Departemen dan instansi pemerintah serta pihak swasta, termasuk dalam menyusun dan melaksanakan perencanaan strategis pengelolaan sumber daya nasional untuk kepentingan pertahanan. Gelar Komponen Cadangan bersifat lokal atau kedaerahan, yaitu dibentuk, dibina, dan ditempatkan di mana potensi sumber daya nasional tersebut berada. Pada masa, Komponen Cadangan damai tidak mempunyai dampak kekuatan militer, tetapi pada saat dimobilisasi dan diproyeksikan ke daerah pertempuran dapat memperbesar kekuatan TNI. Komponen Pendukung dibangun untuk melipatgandakan kekuatan pertahanan dalam melaksanakan perlindungan dan penyelamatan terhadap rakyat sesuai dengan profesinya. Pembinaan pertahanan nirmiliter dalam kerangka menghadapi ancaman nirmiliter diselenggarakan untuk menyiapkan dan mengembangkan fungsi pertahanan sipil yang diselaraskan dengan penyelenggaraan pembangunan nasional. Dalam rangka itu, setiap departemen berkewajiban menyusun kebijakan dan strategi di bidangnya masing-masing yang berefek pertahanan sipil. Pembinaan pertahanan

107

nirmiliter untuk mengemban fungsi pertahanan sipil mencakupi pembangunan manusia Indonesia yang berkualitas secara utuh dan menyeluruh untuk memiliki daya saing di era globalisasi, serta membina segenap sumber daya nasional berupa sumber daya alam, sumber daya buatan, sarana dan prasarana, serta teknologi untuk mewujudkan Indonesia yang aman, bersatu, dan berkesejahteraan.

Intelijen Pertahanan Negara Intelijen pertahanan negara merupakan elemen vital dalam pertahanan negara untuk mendapatkan dan mengolah informasi. Intelijen adalah lapis yang menentukan pertahanan negara dengan fungsi memberikan dukungan informasi intelijen sejak kondisi damai, pada spektrum keamanan nasional dalam konflik intensitas rendah, sampai keadaan perang. Instrumen intelijen terdiri atas intelijen pertahanan militer dan intelijen lainnya untuk pertahanan nirmiliter sesuai dengan fungsinya masing-masing. Fungsi intelijen tidak saja untuk memberikan dukungan informasi tentang lawan, tetapi juga memberikan perlindungan dari usaha-usaha intelijen pihak lawan. Sesuai dengan perkembangan di bidang teknologi dan militer, kualifikasi intelijen yang diperlukan ke depan mencakupi intelijen berbasis manusia (human intelligence), intelijen citra, intelijen perhubungan dan pengukuran (measurement and signal intelligence), intelijen komunikasi, intelijen telemetri, intelijen elektronik, dan intelijen terbuka. Untuk dapat bersaing dalam kecenderungan perang ke depan, kemampuan intelijen dibangun untuk dapat menyelenggarakan perang berbasis jaringan (network centric warfare).

108

Logistik Pertahanan Logistik pertahanan memberikan efek dukungan yang bernilai vital dalam penyelenggaraan pertahanan negara. Logistik tidak memenangi perang, tetapi tidak ada perang yang dapat dimenangkan tanpa logistik. Oleh karena itu, pemerintah mempersiapkan logistik pertahanan secara cepat dan tepat serta menjamin ketersediaannya bagi keberlangsungan usaha pertahanan negara. Pokok-pokok penyelenggaraan logistik pertahanan negara sebagai berikut. Pertama, dalam pembinaan logistik pertahanan negara, satuan-satuan operasional sejauh mungkin dihindarkan dari urusan administrasi. Kedua, sistem dukungan logistik dalam rangka menjamin keberlangsungan usaha pertahanan negara disusun dalam logistik strategis pada lingkup nasional serta logistik wilayah. Ketiga, gelar logistik berbasis kewilayahan ditujukan untuk menjamin keberlangsungan usaha pertahanan negara.

Wewenang Pembinaan
Presiden Pada tingkat politik, Presiden selaku Kepala Negara memiliki wewenang dalam mengelola sistem pertahanan negara. Wewenang pengelolaan sistem pertahanan negara diwujudkan dalam penetapan kebijakan umum pertahanan negara. Dalam menetapkan kebijakan umum pertahanan negara, Presiden dibantu oleh Menteri Pertahanan dan Dewan Keamanan Nasional atau Dewan Pertahanan Nasional atau dewan

109

mana pun yang menurut undang-undang berfungsi untuk membantu Presiden di bidang pertahanan negara. Kebijakan pertahanan negara mencakupi pembangunan, pemeliharaan, dan pengembangan kekuatan pertahanan negara pelaksanaannya, secara terpadu dan terarah bagi segenap komponen pertahanan negara baik pertahanan militer maupun pertahanan nirmiliter. Kebijakan umum pertahanan negara menjadi acuan bagi perencanaan, penyelenggaraan, dan pengawasan sistem pertahanan negara. Presiden selaku pemegang kekuasaan tertinggi atas TNI yang terdiri atas TNI AD, TNI AL, dan TNI AU berwenang mengangkat dan memberhentikan Panglima TNI serta para Kepala Staf Angkatan. Dalam penyelenggaraan peperangan dan perdamaian, Presiden membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain dengan persetujuan DPR. Dalam kondisi negara menghadapi bahaya secara nasional atau ancaman yang membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan bangsa, Presiden menetapkan keadaan bahaya berdasarkan peraturan perundang-undangan. Dalam menghadapi keadaan bahaya, Presiden mengerahkan kekuatan TNI untuk menyelenggarakan operasi militer dan memobilisasi kekuatan nasional untuk menjadi Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung. Dalam hal menghadapi ancaman agresi atau ancaman bersenjata yang membahayakan eksistensi negara dan memerlukan pengerahan kekuatan melalui mobilisasi, Presiden melakukan pengerahan kekuatan TNI dan mobilisasi kekuatan nasional untuk menjadi kekuatan pertahanan negara.

110

Menteri Pertahanan Menteri Pertahanan adalah pembantu Presiden dan representasi pemerintah yang menjadi penanggung jawab politik di bidang pertahanan negara. Selain sebagai pembantu Presiden, Menteri Pertahanan memiliki kewenangan dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan pertahanan serta mengkoordinasikan penyelenggaraan pertahanan negara dengan semua instansi pemerintah. Sebagai pembantu Presiden, Menteri Pertahanan memiliki kewenangan untuk membantu Presiden dalam merumuskan kebijakan umum pertahanan negara. Perumusan kebijakan umum pertahanan negara mencakupi penyiapan ketetapan kebijakan Presiden yang memuat arah pembangunan kekuatan pertahanan negara serta pemeliharaan dan pengembangan kekuatan pertahanan negara yang memadukan pertahanan militer dan pertahanan nirmiliter. Kebijakan umum pertahanan negara juga termasuk untuk tujuan pengerahan kekuatan pertahanan negara untuk menghadapi ancaman agresi atau keadaan darurat yang menjadi bahaya nasional. Menteri Pertahanan selaku pemimpin departemen yang membidangi pertahanan negara merupakan triumvirat yang melaksanakan tugas kepresidenan bersama-sama dengan Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri dalam hal Presiden dan Wakil Presiden berhalangan tetap. Dengan posisinya sebagai triumvirat tersebut, Menteri Pertahanan merupakan salah satu dari tiga posisi vital yang dijamin keberadaannya dalam susunan kabinet yang dibentuk oleh setiap Presiden. Penyelenggaraan pertahanan negara dalam pengelolaan sistem pertahanan dan sumber daya nasional maka Menteri Pertahanan

111

menetapkan kebijakan di bidang penyelenggaraan pertahanan negara berdasarkan kebijakan umum pertahanan negara yang ditetapkan Presiden. Dalam rangka menciptakan saling percaya dengan negaranegara lain serta meniadakan potensi konflik, kebijakan pertahanan yang ditetapkan Menteri Pertahanan perlu disebarluaskan kepada masyarakat umum, baik domestik maupun internasional dalam bentuk Buku Putih Pertahanan. Dalam pengelolaan sistem pertahanan negara, Menteri Pertahanan menetapkan kebijakan pertahanan di bidang penganggaran, pengadaan, perekrutan, pengelolaan sumber daya nasional, serta pembinaan teknologi dan industri pertahanan. Khusus tentang perekrutan sumber daya nasional untuk Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung, Menteri Pertahanan melaksanakan kerja sama dengan menteri/kepala LPND di luar bidang pertahanan untuk penentuan alokasi, publikasi, dan pemanggilan. Dalam pengelolaan komponen pertahanan negara, Menteri Pertahanan merumuskan kebijakan umum penggunaan komponen pertahanan negara. Perumusan kebijakan umum dimaksud mencakupi penyiapan ketetapan kebijakan yang menyangkut tujuan penggunaan Komponen Utama, Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung. Dalam meningkatkan hubungan dengan bidang lain di luar bidang pertahanan serta hubungan internasional, Menteri Pertahanan menetapkan kebijakan pertahanan negara untuk kerja sama dengan departemen/ LPND bagi kepentingan pertahanan negara serta menetapkan kebijakan kerja sama, di bidang pertahanan bilateral, regional, dan internasional. Dalam menyusun dan melaksanakan perencanaan strategis

112

pengelolaan sumber daya nasional untuk kepentingan pertahanan, Menteri Pertahanan bekerja sama dengan pemimpin departemen dan instansi pemerintah lainnya sesuai dengan lingkup kewenangannya.

Menteri/Kepala LPND Menteri dan kepala lembaga nondepartemen adalah pembantu Presiden dan representasi pemerintah yang berwenang menetapkan kebijakan yang berhubungan dengan kepentingan pertahanan di bidangnya masing-masing. Menteri dan kepala lembaga nondepartemen bertanggung jawab membina dan meningkatkan sumber daya nasional untuk kebutuhan kesejahteraan dalam mendukung kepentingan pertahanan negara. Dalam menghadapi ancaman nirmiliter di bidangnya, Menteri dan kepala lembaga nondepartemen menyusun kebijakan dan strategi pertahanan nirmiliter di bidangnya masing-masing dan mengkoordinasikannya dengan Menteri Pertahanan. Menteri dan kepala lembaga non departemen menyiapkan sumber daya nasional untuk kebutuhan Komponen Cadangan dan Pendukung. Menteri/Kepala LPND ikut serta dalam mendukung pembinaan sumber daya nasional untuk kepentingan pertahanan negara. Menteri/kepala LPND dalam menyusun rencana pembangunan di bidangnya masing-masing mengakomodasi kepentingan pertahanan negara untuk tujuan jangka panjang. Pembinaan sumber daya alam, sumber daya buatan, serta sarana dan prasarana yang dilakukan oleh departemen/LPND diselenggarakan dengan memperhatikan kepentingan pertahanan.

113

Panglima TNI Panglima TNI menyelenggarakan perencanaan strategi dan operasi militer, baik untuk tujuan OMP maupun OMSP. Untuk memelihara kesiapsiagaan operasional, Panglima TNI mengkoordinasikan pelaksanaan pembinaan profesi dan pembinaan kekuatan pertahanan militer yang dilakukan oleh tiap Kepala Staf Angkatan. Dalam menghadapi ancaman militer, Panglima TNI menggunakan segenap komponen pertahanan serta menyelenggarakan operasi militer yang disesuaikan dengan jenis ancaman militer yang dihadapi. Panglima TNI merumuskan dan menetapkan Doktrin Pertahanan Militer dan mengembangkan Strategi Pertahanan Militer dengan mengacu pada Doktrin Pertahanan Negara dan Strategi Pertahanan Negara.

114

PENUTUP

Perlakuan
Doktrin Pertahanan Negara Republik Indonesia merupakan landasan doktriner penyelenggaraan pertahanan negara yang harus dipahami dan dipedomani oleh semua pihak yang terlibat sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Doktrin Pertahanan Negara merupakan dasar dalam mengembangkan Strategi Pertahanan Negara, pembangunan Postur Pertahanan Negara, dan penyusunan Kebijakan Pertahanan Negara.

Petunjuk Akhir
Penghayatan dan pengamalan akan isi Doktrin Pertahanan Negara harus tampak dalam pola pikir, pola sikap, dan pola tindak para penyelenggara pertahanan negara, serta segenap pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pertahanan negara, dalam menjamin tegaknya NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Doktrin Pertahanan Negara berlaku secara nasional untuk dipedomani oleh Lembaga Pemerintah, Legislatif, Yudikatif, dan seluruh rakyat Indonesia.

115

Doktrin ini juga berisi pesan bahwa pertahanan Indonesia dipersiapkan dan diselenggarakan dengan sungguh-sungguh untuk membela kehormatan bangsa dan kepentingan nasional Indonesia. Jakarta, 28 Desember 2007

Menteri Pertahanan

Juwono Sudarsono

116

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->