P. 1
JURNAL Bisnis Dan Manajemen (JBM)

JURNAL Bisnis Dan Manajemen (JBM)

|Views: 199|Likes:

More info:

Published by: Tubagus Donny Syafardan on May 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/25/2014

pdf

text

original

BISNIS & MANAJEMEN

Jurnal Ilmiah Berkala Empat Bulanan, ISSN 1411 - 9366 Volume 2 No. 3 Mei 2006 Pengembangan Konsep Manajemen Mutu Terpadu Bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung Ernie Hendrawaty Kajian Modal Kerja Usaha Kecil Dalam Rangka Peningkatan Kinerja Usaha Menghadapi Era Pasar Bebas di Bandar Lampung Iban Sofyan Analisis Faktor Penentu Ekuitas Merek (Studi Pada Produk Tabungan, Tiga Bank Umum Terbesar Di Provinsi Lampung) Mahrinasari MS. Analisis Efektivitas Dan Efisiensi Tata Niaga Kopi Biji Di Propinsi Lampung Mustafid Penilaian Saham, Memahami Cara Berinventasi Saham Di Pasar Modal Sri Hasnawati Faktor-Faktor Fundamental Keuangan Yang Mempengaruhi Resiko Saham A. Zubaidi Indra

Jurnal

JURNAL BISNIS dan MANAJEMEN

Vol. 2

No.3

Hal. 159 -256

Bandarlampung Mei 2006

ISSN 1411 - 9366

Volume 2 No. 3, Mei 2006

ISSN 1411 - 9366

JURNAL BISNIS DAN MANAJEMEN
TIM REDAKSI
Penanggung Jawab : Prof. Dr. Ir. Muhajir Utomo, M.Sc. (Rektor Universitas Lampung) : Prof. Dr. Ir. Tirza Hanum, M.Sc. (Pembantu Rektor I Universitas Lampung) : Dr. John Hendri, M.S. (Ketua Lembaga Penelitian Universitas Lampung) : Toto Gunarto, S.E., M.S. (Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Lampung) : Ketua Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Lampung

Pembina

Pemimpin Umum

Dewan Editor Ketua Anggota

: Dr. Satria Bangsawan, S.E., M.Si. : Dr. Irham Lihan, S.E., M.Si. : Dr. Wispandono, S.E.. S.Si. Iban Sofyan, S.E., M.Si. Mahrinasari M.S., S.E., M.P.M. Asep Unik, S.E., M.Si. M. Syatibi Ch., S.E.

Redaksi Pelaksana Ketua Wakil Ketua Sekretaris Bendahara Tata Usaha dan Kearsipan Distribusi dan Sirkulasi Alamat Redaksi

: : : : : : :

Habibullah Djimat, S.E., M.Si. Rinaldi Bursan, S.E., M.Si. Muslimin, S.E. Aida Sari, S.E., M.Si. Nasir Teguh Gedung A Lantai 2, Fakultas Ekonomi Universitas Lampung Jl. Prof. Sumantri Brojonegoro no. 1 Gedungmeneng - Bandarlampung, 35145 Telp. (0721)704622

Jumal Bisnis dan Manajemen merupakan media komunikasi ilmiah, diterbitkan tiga kali setahun oleh Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Lampung, berisikan ringkasan hasil penelitian, skripsi, tesis, dan disertasi.

Volume 2 No. 3, Mei 2006

ISSN 1411 - 9366

JURNAL BISNIS DAN MANAJEMEN

DAFTAR ISI
Pengembangan Konsep Manajemen Mutu Terpadu Bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung Ernie Hendrawaty ………………………………………………………….. 159 Kajian Modal Kerja Usaha Kecil Dalam Rangka Peningkatan Kinerja Usaha Menghadapi Era Pasar Bebas di Bandar Lampung Iban Sofyan ……………………………………..………………………….. 173 Analisis Faktor Penentu Ekuitas Merek (Studi Pada Produk Tabungan, Tiga Bank Umum Terbesar Di Provinsi Lampung) Mahrinasari MS. …………………………….…………………………….. 189 Analisis Efektivitas Dan Efisiensi Tata Niaga Kopi Biji Di Propinsi Lampung Mustafid …………………………………………………………………….. 205 Penilaian Saham, Memahami Cara Berinventasi Saham Di Pasar Modal Sri Hasnawati ………………………………….………………………….. 213 Faktor-Faktor Fundamental Keuangan Yang Mempengaruhi Resiko Saham A. Zubaidi Indra ……………………………….………………………….. 239

Management Commitment and Quality Leadership. Mesurement and Benchmarking. The respondents who participate in this study are branch managers and head of department from each of branch office. Number of respondent companies involved in this study is 21 branch offices. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai suatu badan usaha yang bergerak hampir di seluruh aspek ekonomi juga tak terkecuali menghadapi tantangan ketatnya persaingan global. Those factors are Education and Analysis Tools Supporting. Facility Management.DAFTAR ISI Pengembangan Konsep Manajemen Mutu Terpadu Bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung Oleh : Ernie Hendrawaty1 ABSTRACT This research was aimed to develop TQM concept for State Owner’s Financial Service Company Bandarlampung Branch by determining which elements stated important for developing TQM for State Owner’s Financial Service Company Bandarlampung Branch and this study was willing to know the adoption of those elements at State Owner’s Financial Service Company Bandarlampung Branch. Fakultas Ekonomi. Customer Focus. The validation TQM is done by conducting Factor Analysis. perkembangan teknologi yang cepat dan kondisi dinamis lainnya yang pada akhirnya menuntut BUMN untuk menjadi Badan Usaha berkarakteristik 1 Dosen Jurusan Manajemen. Keywords : Total Quality Management. Manajemen Mutu Terpadu 1.1 Latar Belakang Dalam era perdagangan bebas masalah daya saing merupakan isu kunci dan sekaligus sebagai tantangan yang tidak ringan. The result from the survey is that the original of 72 elements of MMT is remain 45 elements which are grouped into 6 (six) factors. The study was conducted to determine the perception of respondent managers and head of departments as to the critical strategy that should define a particular MMT. PENDAHULUAN 1. Universitas Lampung .

DAFTAR ISI

perusahaan kelas dunia, sehingga BUMN perlu melakukan reorientasi terhadap struktur dan strategi usahanya untuk mencapai sasaran menjadi Badan Usaha berkarakteristik perusahaan kelas dunia. Untuk menerapkan kebijakan-kebijakan yang telah digariskan dalam Master Plan BUMN tersebut harus didukung oleh suatu sistim Manajemen yang handal. Manajemen Badan Usaha harus melakukan perubahan (transformasi) dari paradigma manajemen tradisional menuju paradigma Total Quality Management (TQM) atau Manajemen Mutu Terpadu (MMT). Bagi BUMN, MMT telah menjadi suatu program yang harus dilaksanakan karena sesuai dengan amanat Menneg BUMN No. S-910/M-MBU/2003 tanggal 18 Februari 2003. MMT adalah suatu pendekatan berorientasi pelanggan yang memperkenalkan perubahan manajemen yang sistematik dan perbaikan terus menerus terhadap proses, produk dan pelayanan suatu organisasi. Manfaat bagi badan usaha dengan diterapkannya MMT adalah perbaikan pelayanan, pengurangan biaya dan kepuasan pelanggan. Perbaikan progresif dalam sistem manajemen dan kualitas pelayanan menghasilkan peningkatan kepuasan pelanggan. Sebagai tambahan, manfaat lain yang bisa dilihat adalah peningkatan keahlian, semangat dan rasa percaya diri karyawan, peningkatan akuntabilitas dan transparansi serta peningkatan produktifitas dan efisiensi pelayanan pelanggan. Namun demikian, di sisi lain sesungguhnya masih banyak para pelaku bisnis masih mengahadapi kesulitan dalam memahami kekuatan dan manfaat MMT dalam memenuhi kualitas dan kinerja usaha yang direncanakan. Penyebabnya adalah adalah sebagai suatu bidang ilmu belum ada suatu definisi standar atau tunggal dan menyeluruh tentang program-program MMT. MMT hanya merujuk pada sebuah pendekatan, sebuah sistem, sebuah alat, sebuah teknik dan atau atau filosofi yang ditujukan untuk mencapai target kualitas tertentu (V. Talavera, 2004, 356). 1.2 Rumusan Masalah Dengan demikian maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian ini adalah : “Elemen-elemen MMT mana sajakah yang dipersepsikan penting dalam Pengembangan Konsep MMT bagi BUMN Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung ?” 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan BUMN Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung. Konsep MMT bagi

160

DAFTAR ISI

1.4 Kerangka Penelitian 1.4.1. Penelitian Terdahulu Penelitian tentang MMT telah banyak dilakukan untuk menghasilkan suatu konsep untuk merumuskan komponen-komponen yang penting dalam MMT. Sebelumnya terdapat beberapa penelitian terdahulu yang mencoba untuk mengumpulkan dan mensintesa berbagai macam elemen MMT. Diantaranya seperti yang dikutip dari V. Talavera (2004, 357) adalah penelitian Saraph (1989); Powell (1995); Ahire (1996); Flynn (1996) dan Black dan Porter (1996). Masingmasing penelitian menghasilkan suatu konsep MMT yang memiliki elemenelemen yang tidak sama, mengingat penelitian yang dilakukan memiliki perbedaan dalam hal jenis industri, sampling frame dan uji kevalidan maupun kereliabelan. Penelitian V. Talavera (2004) dilakukan terhadap 347 orang manajer yang berasal dari 63 perusahaan responden yang meliputi industri elektronik, pengolahan makanan, otomotive, farmasi, semen dan lain-lain. Hasil analisis pada survey tahap pertama menunjukkan semula terdapat 12 elemen (72 item program MMT) yang dipersepsikan penting dalam system manajemen mutu. Namun sesudah dilakukan uji kevalidan dengan Analisis Faktor ternyata hanya terdapat 7 elemen ( terdiri dari 35 item pernyataan strategi ) yang dipersepsikan penting oleh responden, yaitu (1) Getting feedback in designing QM Strategies (2) Customer Focus (3) Employement of Kaizen and 5S (4) Quality Monitoring and Control (5) QM Technique Orientation (6) Employee Involvement dan (7) Incentive and Recognition System. 1.4.2 Landasan Teori 1.4.2.1 Mengapa Mutu itu Penting Mutu sangat penting. Dimulai pada tahun 1970an, perusahaan manufacture di Jepang dengan bantuan konsultan Amerika, yang bernama W. Edward Demming mulai menggunakan mutu sebagai daya saing perusahaan. Mutu menjadi salah satu faktor selain harga yang menentukan tingkat permintaan konsumen. Perusahaan yang mampu memenuhi bahkan melebihi harapan pelanggannya akan menjadi perusahaan yang berhasil. Pada dasarnya mutu dapat mempengaruhi perusahaan dalam empat cara, yaitu : (1) Biaya dan Pangsa Pasar (2) Reputasi Perusahaan (3) Pertanggungjawaban produk dan (4) Implikasi internasional. Mutu yang baik dapat mengarah pada peningkatan pangsa pasar, produktivitas dan penghematan biaya. Perbaikan mutu juga berarti penurunan kerusakan produk 161

DAFTAR ISI

dan biaya jasa. Selanjutnya reputasi perusahaan akan ditentukan oleh reputasi mutu yang dihasilkan buruk atau baik. 1.4.2.2 Konsep Manajemen Mutu Terpadu a. Definisi Manajemen Mutu Terpadu Manajemen Mutu Terpadu mengambarkan penekanan mutu yang memacu seluruh organisasi, mulai dari pemasok sampai konsumen. Definisi MMT juga bermacam-macam. Definisi yang berbeda-beda akan menurunkan perbedaan pula dalam unsur atau prinsip pokok dalam MMT. Pengertian mutu yang diadopsi oleh American Society for Quality Control : bahwa Mutu adalah totalitas bentuk dan karakteristik barang atau jasa yang menunjukkan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang tampak jelas maupun yang tersembunyi (Render dan Haizer, 2001 : 92). Meskipun demikian pendapat lain mengatakan bahwa definisi mutu menyangkut berbagai kategori. Beberapa dari definisi tersebut berorientasi pada pengguna dan berorientasi pada produk. Krajewski (1996, 14) menyatakan bahwa pelanggan mendefinisikan mutu dengan berbagai macam cara, yaitu (1) Conformance to Specifications atau kesesuain dengan spesifikasi (2) Value atau nilai/harga (3) Fitness of Use atau modelnya, keawetannya, pelayanannya (4) Support atau dukungan layanan (5) Psychological Impressions atau image, keindahan, kebersihan. Menurut Goetsch dan Davis (1997:3) Mutu adalah keadaan dinamik yang diasosiasikan dengan produk, jasa, orang, proses, lingkungan yang mencapai atau melebihi harapan. Definisi MMT menurut Ishikawa (Tjiptono dan Diana, 2000 :4), MMT diartikan sebagai perpaduan semua fungsi dari perusahaan ke dalam falsafah holistik yang dibangun berdasarkan konsep kualitas, teamwork, produktivitas dan kepuasan pelanggan. Santosa (Tjiptono dan Diana, 2000 :4) menyatakan bahwa MMT adalah: MMT merupakan sistim yang mengangkat mutu sebagai strategi usaha dan berorientasi kepada kepuasan pelanggan dan melibatkan seluruh anggota organisasi. Menurut Goetsch, dan Davis (1997:3) Manajemen Mutu Terpadu adalah : Suatu pendekatan untuk menjalankan bisnis yang berusaha untuk memaksimalkan persaingan sebuah organisasi melalui perbaikan yang terusmenerus atas mutu produk, jasa, orang, proses, dan lingkungannya. Hingga saat ini belum ada definisi mutu yang diterima secara universal, namun dari beberapa definisi mutu terdapat beberapa kesamaan, yaitu dalam elemenelemen sebagai berikut :

162

b. Mutu meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan Mutu mencakup produk. pendekatan ilmiah. jasa. focus kepada pelanggan. kebebasan melalui kontrol. 358-360) juga berhasil merumuskan konsep MMT hasil telaah pustaka yang terdiri dari 12 (dua belas) elemen MMT. peningkatan terus-menerus. dan Keterlibatan dan pemberian wewenang kepada karyawan. kesatuan tujuan. yaitu (1) Perbaikan yang terus menerus (2) Pemberdayaan karyawan (3) Perbandingan kinerja (Patok duga/Benchmark) (4) Penyediaan kebutuhan yang tepat waktu (Just In Time) dan (5) Pengetahuan mengenai peralatan MMT. komitmen jangka panjang. Pendapat yang lain mengenai MMT dikemukakan oleh Tenner dan Detoro yang dikutip oleh Hamidah (2003. seperti Metode Taguchi. yaitu : (1) Komitmen Manajemen Puncak (Top Management Commitment ) (2) Perencanaan Mutu Strategis (Strategic Quality Planning) (3) Orientasi Pelanggan (Customer Focus) (4) Manajemen Mutu Pemasok (Supplier Quality Management) (5) Manajemen Sumber Daya Manusia (Human Resources Management) (6) Pendidikan dan Pelatihan Karyawan (Employee Education and Trainging) (7) Perancangan Produk / Jasa ( Product/Service Design) (8) Ketertiban Organisasi Tempat Kerja (Workplace Organization Orderliness) (9) Manajemen dan Pengawasan Proses (Process Management Control) (10) Manajemen Informasi Mutu (Quality Information Management) (11) Patok Duga (Benchmarking) Perbaikan Berkelanjutan (Continous Improvement). V. 276) yang menyatakan bahwa MMT dapat diuraikan menjadi tiga subsistem yaitu (1) Fokus pada pelanggan (customer focus) (2) Perbaikan proses berkesinambungan (continous process improvement) dan (3). employee involvement dan continous improvement. dan Davis (1997:3) adalah : MMT didasarkan pada strategi. 3. 2. proses dan lingkungan Mutu merupakan suatu kondisi yang selalu berubah. Talavera (2004. 98) mengembangkan lima konsep MMT yang efektif. Variabel-varibel MMT menurut Goetsch. manusia. yaitu customer satisfaction. 140-141) adalah MMT menekankan tiga prinsip. 163 . Diagram Pareto. Diagram Sebab Akibat dan pengendalian Proses secara statistik. Render dan Heizer (2001. Prinsip dan Unsur Pokok dalam Manajemen Mutu Terpadu Prinsip-prinsip dan unsur pokok dalam MMT menurut Krajewski (1996. obsesi terhadap mutu. kerja kelompok.DAFTAR ISI 1. Keterlibatan terpadu (total involvement) dimana ketiga sub sistem tersebut saling berkaitan.

1. yang berkedudukan sebagai kantor cabang utama.5 Metode Penelitian 1.DAFTAR ISI Penelitian ini akan menggunakan prinsip dan unsur pokok atau variablevariabel MMT yang berasal dari konsep yang disusun oleh V.5. Tabel 1 : BUMN Jasa Keuangan Kelompok Bank Badan Usaha BRI BTN BNI Bank Mandiri Jiwasraya Jasaraharja Taspen Jamsostek Askes Jasindo Pegadaian Jumlah KC 2 1 3 5 1 1 1 1 1 1 4 Asuransi Pembiayaan Penelitian ini akan mengumpulkan data dari seluruh populasi obyek penelitian. Populasi responden adalah kepala cabang masing-masing badan usaha dan kepala departemen atau setingkat dengannya dari departemen-departemen yang berbeda. yaitu sebanyak 21 buah.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan studi deskriptif. Data tentang populasi dan sample tersaji pada table berikut ini : 164 . Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dan menggunakan daftar pertanyaan (questioner) sebagai alat pengumpul data yang pokok.5. Talavera (2004) karena memiliki cakupan yang luas. 1.2 Populasi dan Sample Populasi obyek penelitian adalah seluruh BUMN Jasa Keuangan yang beroperasi di Bandarlampung yang berasal dari kelompok usaha Perbankan. Asuransi dan Jasa Pembiayaan.

yaitu data persepsi dari responden mengenai tingkat kepentingan (perception of importance) elemen MMT.5. harus dilakukan uji kereliabelan (reliability) dan uji kevalidan (validity) daftar pertanyaan Penelitian ini menggunakan uji kevalidan internal menggunakan Teknik Alpha. Talavera (2004). Pada penelitian ini uji kevalidan yang digunakan adalah Construct Validity.5.3 Variabel Penelitian Variabel penelitian ini adalah elemen-elemen MMT hasil kajian pustaka V. Variabel tersebut adalah: (1) Komitmen Manajemen Puncak (Top Management Commitment ) (2) Perencanaan Mutu Strategis (Strategic Quality Planning) (3) Orientasi Pelanggan (Customer Focus) (4) Manajemen Mutu Pemasok (Supplier Quality Management) (5) Manajemen Sumber Daya Manusia (Human Resources Management) (6) Pendidikan dan Pelatihan Karyawan (Employee Education and Trainging) (7) Perancangan Produk / Jasa ( Product/Service Design) (8) Ketertiban Organisasi Tempat Kerja (Workplace Organization Orderliness) (9) Manajemen dan Pengawasan Proses (Process Management Control) (10) Manajemen Informasi Mutu (Quality Information Management) (11) Patok Duga (Benchmarking) (12) Perbaikan Berkelanjutan (Continous Improvement). 165 . 1. 1. Menurut Sekaran (1992: 173) Construct Validity testifies how well the result obtained from the use of measure fits theories around which the test is designed.DAFTAR ISI Tabel 2 : Populasi Obyek Penelitian dan Responden Tahap Pengujian MMT Pengujian dengan menggunakan ‘perception of importance’ sebagai dasar Target Ukuran Populasi 21 Badan Usaha 102 responden Teknik Sensus Realisasi 21 Badan Usaha 100 responden Pendapat responden dibutuhkan untuk melakukan validasi konsep MMT. Sebelum dilakukan pengujian. Untuk menguji construct validity dilakukan Analisis Faktor dengan software SPSS 10.4 Instrumen Penelitian Pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian berupa daftar pertanyaan.

Memilih variable yang layak dimasukkan dalam analisis faktor. 166 . Output Analisis Faktor dengan menggunakan SPSS adalah ternyata dari 72 variabel awal. Analisis factor berupaya mengelompokkan sejumlah variable.9552.733. Analisis Data 1.DAFTAR ISI 1.1 Pengujian Reliabilitas Alat Ukur Hasil Uji Reliabilitas menunjukkan bahwa nilai koefisien reliabilitas instrument daftar pertanyaan sebesar 0. Dalam hal ini digunakan metode Principal Component Melakukan rotasi factor untuk memperjelas apakah factor yang terbentuk sudah secara signifikan berbeda dengan factor lain. Tabel 3 menunjukkan distribusi variable MMT pada ke-6 faktor. Untuk itu digunakan alat analisis Measure of Sampling Adequacy (MSA) atau Barlett’s test.52%. Melakukan uji Anova untuk melihat apakah factor yang terbentuk berbeda nyata dengan factor lain. 3. 2.5. HASIL DAN PEMBAHASAN 2. Melakukan ekstrasi variable menjadi satu atau beberapa factor. yang tersisa atau tereduksi hanya 45 variabel dengan rata-rata loading 0. Untuk menguji construct validity dilakukan Analisis Faktor dengan software SPSS 10. 5. variabel yang diproses dengan analisis factor sebanyak 72 variabel dengan jumlah populasi sebanyak 100 responden. 2. 4. ANALISIS FAKTOR Analisis factor akan meringkas beberapa variable MMT menjadi beberapa faktor saja yang paling penting dalam mendukung keberhasilan MMT.2 Analisis Faktor Dalam penelitian ini. Faktor yang sebenarnya terbentuk adalah factor-faktor yang merupakan komponen MMT yang dipersepsikan sebagai factor yang penting oleh BUMN Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung.5. 2. Uji construct validity dengan Analisis Faktor. Nilai ini memberi makna bahwa tingkat kepercayaan dan konsistensi pertanyaan maupun pernyataan bernilai tinggi yaitu sebesar 95. Tahap-tahap pada analisis faktor : 1.

692 0. run chart dll) dan piranti data verbal (flow chart.851 PTM 1 0.605 IKC 4 0.717 PTM 2 0.736 IKC 5 0.705 0.686 IKC 3 0.719 0.732 0.766 167 . diagram Pareto. diagram sebab akibat) guna mendiagnosis masalah kualitas dan masalah kelemahan proses Pengendalian kinerja proses dilakukan pada setiap tahap . output dan customer Melakukan pengawasan kualitas dengan menggunakan survey kepuasan pelanggan metode statistik atau teknik lain untuk memonitor kualitas produk / jasa yang dihasilkan Menggunakan siklus PDCA (PlanDo-Check-Action) untuk melakukan perbaikan dan pengendalian proses secara berkesinambungan Membuat perencanaan dan program yang berkesinambungan untuk mengurangi siklus waktu operasi perusahaan Item Loading 1 12. mulai dari tahap input. proses/transformasi. brainstorming.862 0.864 SDM DIK 3 DIK 5 DIK 6 IKC 1 Nama Variabel Manajemen memberikan balas jasa (imbalan) kepada karyawan untuk usaha-usaha perbaikan kualitas Semua karyawan dilatih tentang Team Building / Group Dynamics Mengintegrasikan materi pelatihan pada proses pekerjaan sehari-hari Melakukan pelatihan karyawan secara berkala (rutin) Investasi dalam peralatan dan teknologi untuk meningkatkan kualitas dalam operasi /proses Menggunakan piranti data numerik (check sheet.DAFTAR ISI Tabel 3 Distribusi variable MMT Initial Eigenvalues No Faktor Total % of Variance 17.

926 0. finansial dan pendidikan bagi program manajemen kualitas perusahaan Memfasilitasi program pengembangan produk untuk dapat segera merespon kebutuhan pasar Kejelasan dan keformalan dalam menuliskan sasaran kualitas Manajemen memiliki rencana kualitas untuk pemasok Kualitas menjadi pertimbangan utama dalam memilih pemasok Bekerjasama dengan tidak terlalu banyak pemasok namun dapat diandalkan Memasukkan umpan balik dari pemasok untuk memperbaiki produk. bersih dan teratur/rapi Adanya sistim manajemen pencatatan/arsip yang efektif Karyawan memiliki disiplin dan inisiatif untuk mematuhi peraturan dengan tertib Pemeliharaan fasilitas dilakukan secara berkala dan dilakukan monitoring serta evaluasi terhadapnya Penyediaan peralatan kantor.796 168 .779 IKD 5 PKS 2 2 10.902 MKP 4 MKP 5 MKP 6 RAP 1 RAP 2 RAP 3 RAP 4 0.703 0.834 0.859 0.798 PTM 4 0.DAFTAR ISI Initial Eigenvalues No Faktor Total % of Variance Nama Variabel Membuat perencanaan dan program yang berkesinambungan untuk memikirkan berbagai cara untuk memperbaiki kualitas produk dan pelayanan Manajemen puncak menyediakan bantuan teknis.848 0.93 RAP 5 0. office supplies hanya yang benar-benar dibutuhkan saja Item Loading PTM 3 0.742 0.286 14.868 0.756 0. pelayanan dan perancangan proses Menerapkan program evaluasi terhadap pemasok Manajemen bekerjasama dengan pemasok untuk meningkatkan kualitas Fasilitas yang nyaman.936 0.849 0.286 MKP 1 MKP 2 MKP 3 0. dokumen.

pelayanan dan perancangan proses Mengumpulkan umpan balik dari para ahli dalam perancangan produk/jasa Pengkajian (review) sasaran dan tujuan departemen-departemen untuk menyelaraskan dengan rencana organisasi secara keseluruhan Melakukan tindakan pencegahan dan pemeliharaan secara berkala terhadap peralatan/perangkat sistim operasional perusahaan Item Loading RAP 6 0.788 0.708 IKD 4 0.626 5 4.851 0.762 9.714 0.405 6.816 4 6.DAFTAR ISI Initial Eigenvalues No Faktor Total % of Variance Nama Variabel Pemberian tanda/papan penunjuk/label terhadap assetasset. departemen-departemen untuk keperluan identifikasi dan memudahkan mencari lokasi/letaknya.139 KMP 1 0.708 169 .876 SDM 5 DIK 1 DIK 2 MKI 4 MKI 5 PTM 6 0.392 IKD 2 0.703 0.864 0. Manajemen Puncak terlibat secara penuh dalam implementasi dan tindak lanjut program Manajemen Mutu Pemberian penghargaan kepada karyawan yang mencapai sasaran kualitas Semua karyawan dilatih tentang konsep Manajemen Mutu Terpadu Semua karyawan dilatih tentang Quality Control Menyediakan data kualitas yang terbaru dan lengkap dan dilaporkan pada semua departemen Seluruh karyawan dapat mengakses data kualitas Manajemen melakukan audit sistim manajemen kualitas secara periodic baik audit internal maupun eksternal Terdapat suatu proses efektif untuk memproses informasi tentang ekspektasinasabah Mempertimbangkan keinginan pelanggan dan umpan balik pemasok untuk memperbaiki produk.905 3 7.118 IKC 6 0.3 10.621 PKS 5 0.762 FKP 5 0.

737 PDG 4 0.634 PDG 6 0.626 6 3. Faktor 2 terdiri dari 12 item yang dinamakan Manajemen Fasilitas 170 . Faktor 1 terdiri dari 14 item yang dinamakan Faktor Pendidikan dan Dukungan Perangkat Analisis.691 Nama ke-6 faktor tersebut adalah : 1.781 5. mengadopsi dan mengimplementasikan praktek terbaik strategi manajemen kualitas dari perusahaan mitra patok duga yang menjadi teladan patok duga Memastikan bahwa kegiatan patok duga yang dilakukan menghasilkan perbaikan kualitas yang signifikan Sepanjang waktu target patok duga dan metode-metode patok duga dievaluasi kembali Item Loading MKI 2 0. mengontrol dan menyimpan data kualitas kegiatan operasi untuk menyediakan informasi yang relevan yang dibutuhkan untuk mengukur kualitas dari output yang dihasilkan Menerapkan sertifikat ISO 9000 untuk memenuhi standar kualitas internasional Manajemen mempelajari praktek fungsi-fungsi usaha dari perusahaan terkemuka dalam industri yang sama dan dari pesaing utama untuk mengembangkan sasaran kualitasdan untuk memperbaiki operasi perusahaan Manajemen mempelajari praktek fungsi-fungsi usaha dari perusahaan terkemuka dalam industri yang berbeda untuk mengembangkan sasaran kualitas dan untuk memperbaiki operasi perusahaan Menganalisis.251 PDG 1 0.DAFTAR ISI Initial Eigenvalues No Faktor Total % of Variance Nama Variabel Adanya sistim database untuk mengumpulkan.621 PDG 3 0.765 PDG 2 0.683 PDG 5 0. 2.

Jurnal Riset Ekonomi dan Manajemen. Usahawan No. maka bagi BUMN Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung yang akan mengadopsi konsep MMT sebaiknya memprioritaskan keenam factor dari hasil analisis factor tersebut dalam program MMTnya. SIMPULAN DAN SARAN 3. 171 . Stanley B. 03. Repositioning dan Perubahan Peran Fungsi Departemen Sumber Daya Manusia Sebagai Upaya Mencapai Keunggulan Kompetitif. Evi Silvana. Inc. 3-8. maka disimpulkan bahwa konsep MMT bagi BUMN Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung adalah : (1) Faktor Pendidikan dan Dukungan Perangkat Analisis (2) Faktor Manajemen Fasilitas (3) Faktor Komitemen Manajemen dan Kepemimpinan Kualitas (4) Faktor Fokus pada Pelanggan (5) Faktor Pengukuran dan (6) Faktor Patok Duga 3. Faktor 3 terdiri dari 8 item yang dinamakan Komitmen Manajemen dan Kepemimpinan Kualitas.2 Saran Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan. 4. and Larry P. Addison-Wesley P:ublishing Company. 2003. 2002. Maret 2001. DAFTAR PUSTAKA Goetssch. Operations Management : Strategy and Analysis. 275-290. Lee J. September 2003. 6. Ritzman. 1996. Th XXX.DAFTAR ISI 3. Muchsinati. Edisi ke dua.1 Simpulan Berdasarkan analisis dan pembahasan. Hamidah. 5. Faktor 4 terdiri dari 3 item yang dinamakan Fokus Pelanggan Faktor 5 terdiri dari 3 item yang dinamakan Pengukuran Faktor 6 terdiri dari 5 item yang dinamakan Patok Duga 3. Jakarta Krajewski. Pengaruh Manajemen Mutu Terpadu terhadap Perilaku Produktif Karyawan Industri Tekstil Berskala Besar di Kota Bandung. Penerbit PT Prenhalindo. Manajemen Mutu Total. David L and Davis. 2001.

Penerbit Ghalia Indonesia. 5 Th XXX Mei 2001. Jakarta Sekaran. Talavera. Edisi Pertama. Research Methods For Business: A Skill Building Approach. Prinsip-prinsip Manajemen Operasi. Barry dan Jay Haizer.DAFTAR ISI Nasution. John Wiley & Sons.N.M. The Philippine Experience. Master Plan BUMN 2002-2006.Jakarta. 172 . Jakarta. 2001. Bogor Selatan Render. Second Edition. No.2004. Gramedia Pustaka Utama. 3-6 Tjiptono. Development and Validation of TQM Construct. 3 September 2004: 355-380. Supranto. Suwandi. Ma Gloria. Usahawan No. Analisis Multivariat. Riset Sumber Daya Manusia dalam Organisasi. 2004. Umar. Husen. V. Penerbit Rineka Cipta. Arah Privatisasi BUMN. Inc.Gadjah Mada International Journal of Business Volume 6. J . Penerbit Andi Offset Yogyakarta. Total Quality Management. 1992. Adig. Salemba Empat. Fandy dan Anastasia Diana.2004. 2001.2000. Manajemen Mutu Terpadu. __________BUMN On Line.2000. Uma.

Fakultas Ekonomi.justru usaha kecil semakin bergairah untuk berkembang. (2) alternative strategic management from small business. Based on the result of this reseach.143. Key words: Working Capital management. (3) making commitment about business efficiency and competitiveness. I. researcher is prepairing strategic standar and business commitment for the small business to enter global business. .yang berkembang dari 1.600 orang tahun 1999.5 persen per tahun ( Puji Wahono. The result shows that the small business in Bandar lampung need to improve their working capital trough : (1) the increasing level of effectivities from their business. PENDAHULUAN Usaha kecil di Indonesia di era reformasi ini mempunyai peranan yang sangat berarti dalam menunjang perekonomian.000 unit usaha tahun 1997 menjadi 2.DAFTAR ISI Kajian Modal Kerja Usaha Kecil Dalam Rangka Peningkatan Kinerja Usaha Menghadapi Era Pasar Bebas di Bandar Lampung Oleh : Iban Sofyan2 ABTRACT The reseach aims to analyze : (1) the influencing factors of working capital from small business and determining alternative solution. sementara jumlah tenaga kerja yang diserap juga meningkat dari 5. The types of data are : (1) the secondary time series data which analyzed by financial models and (2) the primery data of owner from the small business which analyzed by description approach. Lebih jauh lagi jika dilihat dari sumbangannya pada ekspor nonmigas yaitu dari 102 juta dollar Amerika tahun 1998 terus naik menjadi 136.755. Banyak usaha besar pada saat ini mengalami keterpurukan sebagai akibat resesi ekonomi berkepanjangan. Universitas Lampung.308. secara persentase rata-rata kenaikan nilai ekspor usaha kecil meningkat dengan 30.800 orang tahun 1997 menjadi 10.8 juta dollar Amerika pada akhir tahun 2001. (2) the creating of business innovation.113.2000) 2 Dosen Jurusan Manajemen.500 unit usaha pada tahun 1999. secara kuantitatif dapat dibuktikan dari pemerataan usaha dan peluasan lapangan kerja.

Bukti-bukti telah mununjukkan pada kita betapa kewalahannya usaha otomatif kita menghadapi serbuan produk –produk otomotif China. Korea. Kenyataan di lapangan dapat kita lihat pada saat ini banyak usaha kecil kita kewalahan dalam menghadapi serbuan produk-produk dari luar negari yang sampai saat ini sudah meramba ke berbagai pelosok Indonesia.dewasa ini. jika kurang mendapat binaan yang serius di masa mendatang. (2) masih lemahnya komitmen dalam pembinaan usaha kecil. dimana kita tidak dapat lagi membantasi barang masuk dengan pembatasan tarif masuk antar negara-negara ASEAN. yaitu : (1) Indonesia belum memiliki undang-undang yang mengatur usaha kecil. Situasi ini akan menjadi siutasi sulit bagi usaha-usaha kita khususnya usaha kecil jika dikaitkan dengan kelemahan usaha kecil kita yang telah diuangkapkan sebelumnya.DAFTAR ISI Peranan usaha kecil yang penting ini. baik yang disuarakan oleh pemerintah maupun oleh pengusaha besar selaku mitra usaha. kerena didorong oleh kebutuhan hidup. Penghambat lain yang juga dapat dikatakan secara structural usaha kecil umumnya di Indonesia menghadapi kendala-kndala bersifat internal. Kondisi usaha kecil Indonesia yang demikian ini. dan Singapura yang sudah lama beroperasi di Negara kita.walaupun sekarang rancangan undang-undang (RUU) itu mungkin sudah disahkan menjadi undang-undang namun realisasinya dan sosialisasi sampai saat ini belum jelas adanya . sehingga dapat dikatakan bahwa usaha kecil itu ada dan berkembang sepenuhnya atas usaha mereka sendiri.benar sudah direalisasikan.permodalan. Malaysia.1999).1998). Apalagi jika penerapan pasar bebas AFTA ini benar.maupun pembinaan manajemen baru sebatas pernyataan atau retorika politik.sehingga semua kebijakan selalu tidak menyentu pengembangan usaha kecil. terutama yang berhabungan dengan modal khususnya modal kerja.termasuk dalam manajemen modal kerja( Suryadi Soedirdja.yaitu kualitas sumberdaya manusia yang masih rendah. Janji-janji untuk memberi kemudahan baik dalam perizinan.khususnya dalam menghadapi pasar bebas versi AFTA ataupun versi Dunia nantinya akan berdampak serius bagi perkembangan usaha kecil di Indonesia umumnya dan secara khusus pada usaha kecil di Bandar Lampung.dan mungkin juga akan dialami oleh perusahaan besar yang tidak efisien.Taiwan. Kenyataan ini akan menambah beban berat bagi usaha kecil. Hasil pengamatan ada beberapa hal yang menghambat pembinaan usaha kecil di Indonesia ( Indra Ismawan. tetapi pada kenyataan sekjarang banyak hambatan dan pembinaan yang kurang serius baik dari pemerintah maupun pihak-pihak lain yang terkait termasuk perguruan tinggi. masih banyak lagi produk-produk dari Negara jiran seperti Thailand. Usaha kecil menurut Levi dan Sarnat (1989) justru membutuhkan tambahan modal kerja relatif lebih besar dari kebutuhan usaha menengah 174 . kelemahan dalam struktur permodalan.dan kelemahan dalam mengakses permodalan. seyogyanyalah mendapat perhatian kita semua.

apalagi dihubungkan dengan inovatif. Jumlah usaha kecil juga meningkat dari 12. ini jelas apabilah usaha kecil itu lemah dalam modal kerja akan berdampak serius pada keunggulan bersaing baik secara lokal apalagi dalam mengahadapi persaingan di pasar bebas.2001).488 unit usaha kecil sampai tahun tahaun 1998( BPS). ini berarti bahwa manajemen usaha kecil itu merupakan suatu sistem. apakah itu versi AFTA atau secara global. yaitu kesenjangan antara usaha menengah dan usaha besar semakin melebar. sementara perusahaan besar dan menengah justru mengalamai stagnan karena masih dipengaruhi oleh dampak resesi ekonomi yang sampai saat ini belum dikatakan membaik. Kelemahan ini tentunya berdampak luas pada daya saing dan kemantapan berusaha. A. Hal ini terjadi kerena usaha kecil umumnya tidak mampu mengakses modal. Kunci keberhasilan usaha kecil menurut Steiner.sehinga salah satu dari sistem ini terganggu akan berdampak serius pada sistem secara keseluruhan ( Collins and Devana.kelemahan dalam manajemen. Kedala yang dihadapi dalam pengembangkan usaha kecil di Lampung khususnya usaha kecil di Bandar Lampung hampir sama dengan masalah yang dihadapi oleh usaha kecil secara nasional.Goerge(1985) justru terletak pada usaha inovatifnya.0 persen ekspor komoditi non migas yang dihasilkan oleh Lampung (BPS.067 unit usaha kecil telah meningkat menjadi 18. Perumusan Masalah Masalah yang dapat ditarik dari uraian sebelumnya adalah: (1) Apakah pengelolaan modal kerja usaha kecil yang telah dioperasikan oleh usaha kecil di Bandar Lampung telah dilakukan secara efektif atau secara optimal.1993). dan rendahnya kualitas sumberdaya manusia. Kesulitan yang terbesar pada usaha kecil dalam modal kerja terletak pada usaha pemisahan antara kebutuhan modal kerja dengan kebutuhan hidup pengusaha dan keluarga sehari-hari. 175 . Peranan usaha kecil di Lampung khususnya di Bandar Lampung tidak terlalu berbeda dengan peranan usaha kecil secara nasional. Dan diperkirakan jumlah ini akan naik lagi selama era reformasi ini.terutama jika berhubungan degan pihak ketiga ( bank maupun mitra usaha lainnya yang sifatnya sangat selektif ). Usaha kecil di Bandar Lampung umumnya lemah dalam permodalan. sulitnya mendapatkan modal termasuk modal kerja. Kondisi ini setelah ditelusuri lebih jauh merupakan suatu sistem dalam kegiatan manajemen.ini terlihat dari sumbangan industri kecilnya mampu memberi 21.DAFTAR ISI maupun usaha besar.

KERANGKA PENDEKATAN Kerangka pendekatan yang digunakan dalam pemecahan maslah ini dapat dilihat dari bagan alur berikut : 176 .DAFTAR ISI (2) Teknik manajemen apa yang tepat yang harus diterapkan oleh pengusaha kecil di Bandar Lampung dalam menghadapi ketatnya persaingan di era basar bebas. B. (4) Merumuskan teknik Pembinaan yang tepat dan fleksibel untuk usaha ecil di Bandar Lampung. (3) Merumuskan strategi bersaing yang sesuai dengan kekuatan . memperhitungan kebutuhan modal kerja. peluang dan ancaman yang bakal dihadapi di masa yang akan datang. (2) Memberikan solusi manajemen dalam mengatasi masalah manajemen modal kerja setelah menganalisis modal kerja. Tujuan dan Kegunaan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) Mendapatkan gambaran yang jelas mengenai kondisi usaha kecil di Bandar Lampung terutama yang berhubungan dengan manajemen modal kerjanya. II. (3) Strategi apa sebaiknya digunakan oleh usaha kecil di Bandar Lampung dalam menghadapi ancaman persaingan degan produk-produk luar sekarang dan di era pasar bebas. dan teknik mengakses modal khususnya modal kerja.kelemahan.

dan menumbuhkan inovatif digunakan konsep dari Glueck(1998).(b) tahap pengolahan data dengan tabulasi. ini menujukkan bahwa penyelesaian masalah penelitian akan dilakukan melalui empat tahap. Bagan Alur Pemecahan Masalah Penelitian Gambar 1. yaitu : (a) tahap penelitian. Memisah-misah hasil sesuai Dengan tujuan penelitian yang sudah di Tetapkan.menggunakan metode penelitian yang sesuai sehingga didapatkan data yang valid dari respondenyang telah dipilih. (c ) tahap menganalisis hasil yang telah dipisahkan secara jelas.R (1998). (b) Pengolahan data : Tabulasi. (d) tahap penyusunan pedoman pembinaan mananjemen berdasarkan’manajemen modal kerja dan manajemen strategi bersaing.yaitu berdasarkan konsep manajemen keuangan khususnya manajemen modal kerja dan konsep manajemen stratetegi bersaing. Weston and Copland (1987).Konsep Collins and Devanna (1995). Fred. beberapa konsep dari David. Solusi berdasarkan Manajemen modal Kerja (c) Solusi berdasarkan manajemen strategi bersaing Penyusun Pedoman Manajemen usaha kecil Terutama yang berhubungan Manajemen modal kerja dan Teknik inovatif untuk mening. Vanhorn(2000). dan banyak sistesa yang dibuat oleh peneliti dan pengalaman mengajar manajemen strategi.Levi and Sarnad ( 1983).DAFTAR ISI (a) Peneliti melakukan survey Usaha kecil yang telah ditentukan Mendapatkan data manajemen Modal kerja. Konsep yang digunakan untuk mencari teknik bersaing. Pendekatan yang digunakan untuk penyelesaian masalah modal kerja digunakan pendekatan Keown. memisah-misah hasil sesuai dengan tujuan untuk analisis.perhitungan Dan analisis.katkan daya saing Gambar 1. 177 . Kenichi Ohmae(1996). menghitung. et al (2000).

B. Usaha kecil yang diambil satu unit berdasarkan jenisjenis usaha. Lokasi Penelitian. yaitu sebagai berikut: Tabel 1. yang diambil usaha kecil yang yang potensial yang ada di Kota Madya Bandar lampung. METODE PENELITIAN A. Responden No 1. pada bulan Mei 2006. Hiptesis (1) (2) Pengololaan modal kerja usaha kecil di Bandar Lampung belum optimal. Penelitian ini telah dilakukan di Kotamadya Bandar Lampung.DAFTAR ISI III. Metode Penarikan Sampel Metode penarik sampel adalah menggunakan metode Purposive random Sampling. 178 . 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jenis Usaha Kerajinan Keripik Tanaman hias Tukang Jahit Warung P&D Restoran Toko Meubel Apotik Kecil Kerajinan Bambu Usaha Ikan Asin Usaha bengkel Motor Usaha Bengkel mobil Usaha Toko Kue Toko Manisan Katering Krupuk Ikan Total Jumlah(unit) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 15 C. 2 3 4 5 6. Strategi inovasi adalah pilihan yang tepat untuk usaha kecil untuk tetap bertahan hidup dan bersaing di era pasar bebas.

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Rumus hipotesisnya: Ho = usaha kecil tidak inovatif H1 ≠ Usaha kecil inovatif E. H1 ≠ Nilai modal kerja yang optmal (2) Untuk membuktikan hipotesis keduadigunakan pendekatan manajemen strategi. Alat analisis. Alat analisis yang digunakan untuk membuktikan hipotesis yang diangkat adalah menggunakan : (1) Untuk membuktikan bahwa modal kerja usaha kecil belum optimal digunakan pendekatan manajemen keuangan konsep dari Weston and Copland (1998).dapat dilihat dari Tabel 2 berikut : 179 .dari data yang ada dikaji berdasarkan TOWS Matrix dari David. dibandingkan dengan realiasi modal kerja dan realisasi volume penjualan.kebutuhan modal kerja. yaitu dengan cara membagikan volume penjualan yang dicapai dengan jumlah hari perputaran seruhan modal kerja yang digunakan dalam usaha kecil.sedangkan untuk memilih dan menerapkan konsep manajemen strategi.menghitung kebutuhan modal kerja optimal sesuai dengan perkembangan jumlah permintaan. Hasil Perhitungan Hasil perhitungan dimulai dari perputran modal kerja. IV. dan dianalisis berdasarkan konsep manajemen modal kerja yaitu menghitung perputaran modal kerja. dihitung.DAFTAR ISI D. Pengolahan Data Data yang sudah terkumpul diolah secara tabulasi. Modal kerja optmal bila Working Capitan (WC)≤ 0. Rumus hipotesisnya : Ho = Nilai modal yang terpakai.Fred (1998).

360.953.38 12.89 Volume Penjuan yang dicapai/hr (Rp) 45. Hasil Perhitungan Berdasarkan Manajemen Modal Kerja Usaha Kecil No Jenis Usaha (1 unit) Modal KerjaYang dioperasikan /hr (Rp) 12.288.06 +141.360. 56 23.67 36.11 466.130.666.471.74 109.130.44 Jumlah hari Perputaran modal kerja (satu tahun) 68.01 +86.034.26 480.299.43 591.43 591.750.16.126.44 113.96 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Jenis Usaha Kecil Kripik Singkong Tanaman hias Tukang jahit Warung P&D Restoran Toko Meubel Apotik Kecil Kerajinan Bambu Usaha Ikan Asin Bengkel Motor Bengkel Mobil Keterangan +11.291.77 328.28 189.00 56.540.67 20.937.52 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kripik Singkong Tanaman hias Tukang jahit Warung P&D Restoran Toko Meubel Apotik Kecil Kerajinan Bambu Usaha Ikan Asin Bengkel Motor Bengkel Mobil Toko Kue Toko Manisan Katering Krupuk ikan Sumber : Data diolah (2006) Tabel 3.434.288.502.877.611.540.666.190.126.405.26 480.28 82.69 73.90 77.448.29 109.05 +91.398.666.953.301.444.56 321.89 60.363.56 321.66 309.502.33 123.67 60. 56 23.805.00 Jumlah Kebutuhan Modal Kerja seharusnya berdasarkan volume Penjualan/Hr (Rp) 24.523.DAFTAR ISI Tabel 2.488.448.72 195.190.66 309.29 109.79 +49.42 223.14 70.666.95 16.11 113.89 142.28 31.80 158.96 180 .444.28 31. Perbandingan Modal Kerja Yang Diopersikan Dengan Kebutuhan Modal Kerja Seharusnya Berdasarkan Volume Penjualan Modal Kerja yang dioperasikan/hr (Rp) 12.291.87 +269.415.67 223.96 36.000.64 590.68 443.87 338.611.44 45.45 104.67 366.342.97 +25.35 37.288.875.35 37.45 236.55 -9.76 390.43 169.916.67 223.48 -118.53 Jumlah Kebutuhan Modal kerja seharusnya/hr (Rp) 24.805.811.500.301.21 +96.888.26 208.33 123.50 12.69 73.67 46.811.118.715.38 12.50 12.44 291.916.548.826.112.23 +17.112.833.946.76 557.665.78 599.89 142.715.95 283.320.78 154.11 26.78 599.666.826.95 283.58 80.33 68.711.194.21.67 744.95 16.875.11 26.586.90 77.937.67 388.229.893.664.398.67 60.034.

44 45.833.50 13.49 44.33 193.88 38.44 113.78 154.99 43.ini dibuktikan oleh adanya kelebihan ( bertanda +) dalam penggunaan modal kerja.471.920.52 Keterangan +15.16.89 Jumlah Kebutuhan Modal Kerja seharusnya berdasarkan volume Penjualan/Hr (Rp) 36.DAFTAR ISI No 12 13 14 15 Jenis Usaha Kecil Toko Kue Toko Manisan Katering Krupuk ikan Modal Kerja yang dioperasikan/hr (Rp) 21.444. Tingkat Pencapaian Margin Usaha Kesil Di Bandar Lampung No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 NamaJenis Usaha Kecil Kripik Singkong Tanaman hias Tukang jahit Warung P&D Restoran Toko Meubel Apotik Kecil Kerajinan Bambu Usaha Ikan Asin Bengkel Motor Bengkel Mobil Toko Kue Toko Manisan Katering Krupuk ikan Pencapaian Volume Penjualan harian(Rp) 45.666.67 46.67 388.24 44.000.78 31.761.44 Biaya Variabel Harian(Rp) 32.54 20.58 80.30 58.77 328.888.34 20.771.711.44 +113.40 73.666.34 310.00 226.00 25.415.235.67 20.00 56.421.72 195.233.679.666.28 82.405.63 Sumber : Data Diolah (2006) Tabel 4.548.750.900.288.666.14 70.299.066.91 Sumber : Data Diolah (2006) B.33 68.93 54.444.308.44 291.11 113.349.126.33 21. Kajian Berdasarkan Manajemen Modal Kerja Hasil dari riset terhadap lima belas jenis usaha kecil yang beroperasi di Bandar Lampung setelah diuji berdasarkan kebutuhan modal yang seharusnya berdasarkan rumusan yang membagi total penjualan dengan lamanya hari rata perputaran setiap item modal kerja maka didapatlah hasil lengkap seperti yang diperlihatkan oleh Tabel 1.67 744.014.23 54. dan hanya 13% (bertanda .00 229.488.500.70 21.33 11.666.66 34.11.020.194.183.00 34.77 61.877.45 104.66 +214.38 56.210.89 60.33 63.946.29 50.76 Persentase Kontribusi margin 28. Hasil ini menunjukkan bahwa hampir rata-rata perusahaan kecil atau 87% usaha kecil di Bandar Lampung umum belum optimal dalam penggunaan modal kerjanya.44 +10. Pembahasan 1.67 366.14 42.900.) yang efektif dalam penggunaan modal kerjanya.902. Ketentuan 181 .48 107.

KUK dari koperasi atau instansi pemerintah umumnya masih jarang.kelemahan. Berdasarkan kajian ini kekuatan. peluang. Kajian Berdasarkan Manajemen Strategi Hasil perhitungan dimulai dari Tabel 1. karena kesulitan dalam mengakses modal kerja. Kemampuan menggunakan sumberdana dari bantuan bank. diantaranya banyak perusahaan harus menalang atau menggunakan persekot uang muka dalam pengadaan pesediaan untuk menjaga stabilitas produksi. dan Tabel 3. Akibatnya banyak usaha kecil berjalan seadanya dan orientasi usaha hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari.DAFTAR ISI penggunaan modal kerja yang optimal menurut Weston dan Copland (1998).dan persyatan ini tidak dapat dipenuhi oleh banyak perusahaan kecil. Guna menyusun strategi pengembangan usaha kecil sekarang dan yang akan datang digunakan pendekatan David. sehingga banyak usaha kecil memiliki tingkat perputuran persediaan yang rendah . dan ancaman dari manajemen usaha kecil itu dituangkan dalam matrik TOWS sebagai berikut: Matrik TOWS Usaha Kecil Di Bandar Lampung 182 . dapat dijadikan dasar dalam kajian lingkungan usaha kecil. 2. Kalaupun ada pada umumnya mereka tidak begitu tertarik menggunakan sumberdana ini karena dipandang terlalu sulit dan sangat birokrasi. Kelemahan ini juga umumnya disebabkan adanya keterbatasan modal kerja secara umum.Fred (1998) yang dikenal dengan TWOS Marix Analysis. adalah tercapai jika WC ≤ 0 .sehingga perputaran piutang rendah. Tabel 2. Kelemahan ini umumnya karena lemahnya manajemen modal kerja sebagai akibat dari banyaknya keterbatasan sumberdaya dari usaha kecil itu sendiri.disisi lain kurang efektif dalam penagihan piutang. ditambah dengan fakta lingkungan yang ada pada usaha kecil sekarang dan prediksi di masa yang akan datang. Kondisi seperti ini tentukannya akan mempersulit usaha kecil untuk dapat eksis di era pasar bebas pada tingkat AFTA apalagi pada tingkat dunia. Sumber-sumber dana yang ada umumnya adalah bersifat individu dengan ratarata tingkat suku bunga yang tinggi.

ini menunjukkan bahwa usaha kecil ini secara bisnis masih cukup potensial kalau dikelola dengan benar. dan ancaman dari keberadaan usaha kecil di masa yang akan datang . (2) Rata-rata pengusaha kecil ini memiliki keuletan dalam berusaha karena terdorong oleh motivasi untuk mempertahan hidup secara mandiri. (3) Selain itu kekuatan lain adalah hampir semua produk yang ditawarkan oleh usaha kecil dapat diterima pasar local karena itu sampai saat ini masalah penjualan tetap baik.jangka menengah. 2. Kontrak BB W.DAFTAR ISI Gambar 1. KSF O= Peluang 1. W=Kelemahan Ketergantung Tinggi Manajemen Akses modal W. 5. 6. 3.T Menambah wawasan SDM tentang Persaingan dan pening katan modal kerja Hasil kajian lingkungan berdasarkan TOWS ini secara umum menggambarkan peta kekuatan. Usaha Kecil di Bandar Lampung S= Kekuatan KSF Internal 1. 3. Kontribusi margin (ratarata ±41% ) pada bahan baku Keuletan berusaha Volume Penjualan Modal kerja Naik terus S-O Melakukan inovasi Pengembangan usaha Peningkatan mutu S. jika biaya operasional rutin ini dapat diefisienkan maka usaha tersebut akan tetap eksis dan berkembang secara mandiri apalagi jika menggunkan dana binaan pemerintah atau yang disalurkan melalui Bank atau non Bank. 1. Pelatihan SDM 3. 2. 1.selain itu melalui matriks TOWS ini dapat dirancang strategi apa yang layak diterapkan dalam jangka pendek . 2. Matriks TOWS. 183 . Masalahnya terletak pada kemampuan mengatur biaya operasional usaha. Persaingan Teknologi Perubahan trand/mode 1.O Memperbaiki manajemen modal kerja 2. 3. 2. kelemahan. dan jangka panjang terutama dikaitkan dengan persaingan secara bebas di era AFTA maupun era Global. Kekuatan dari saha kecil di Bandar Lampung berdasarkan kajian hasil survei ada tiga pilar yaitu (1) setiap usaha kecil umumnya memiliki kontribusi margin yang tinggi yaitu berkisar rata-rata antara 41%. Prospek pasar lokal Prospek pasar luar Binaan Pemerintah T= Ancaman 4.. 3.T Penguatan Penguasaan pasar Antipasi Perubahan tek nologi 1. peluang. 2.

(2 ) ancaman datang di era pasar bebas adalah semakin cepatnya trend/perubahan mode yang berpengaruh pada perubahan salera konsumen. cara mengatur seluruh kebutuhan operasional termasuk melakukan efisiensi usaha. dengan cara meningkatkan pengetahuan mengenai modal kerja. memgatur persediaan. (3) Melatih SDM agar mampu menguasai ketearampilan bisnis moderen dan mampu menyerap binaan atau bantuan modal kerja dari pemerintah yang disalurkan melalui Bank atau dana KUK. apakah itu di era pasar bebas AFTA atau pada era Global. (3) Masalah pengadaan bahan baku belum diatur berdasarkan perkiraan kebutuhan produksi. (2) Menerapkan sistem pemasaran yang moderen dengan memperbaiki pelayanan. Tindakan jangka menengah adalah : (1) Meningkatkan mutu dan perbaikan sistem pelayanan kepada setiap konsumen baik secara lokal maupun untuk meningkatkan pelayanan di luar Bandar Lampung. sehingga mereka belum sadar dan sungguh-sungguh mengatur penagihan piutang. cara mengatur persediaan. (3) selain itu ancaman datang dari peningkatan mutu dan pe layanan sebagai akibat adanya perkembangan teknologi produksi yang baru.maupun bentuk pelayanan purna servis. dimulai dari perbaikan kemasan.DAFTAR ISI Kelemahan usaha kecil di Bandar Lampung umumnya (1) masih rendahnya pengetahuan mengena modal kerja. termasuk sulitnya memisahkan kebutuhan rumah tangga dengan kebutuhan usaha. (2) Kelemahan ini hampir dilakukan oleh setiap usaha kecil sebagai akibat masih rendahnya SDM yang ada. yaitu keterampilan berbisnis secara profesional . (2) Tingginya dukukung pemerintah melalaui binaan manajemen ataupun bantuan modal yang dapat dimanfaat untuk mengembangkan usaha kecil. Peluang usaha kecil di Bandar Lampung diantaranya (1) masih terbukanya peluang untuk menggarap pasar local maupun non local. 184 .tetapi lebih banyak didorong oleh adanya rasa takut kehabisan bahan baku.peningkatan daya kerja produk.sehingga mereka banyak yang bertjaga-jaga secara berkelebihan pada pengaadaan bahan baku dan pelengkap.dll. (2) Melakukan peningkatan dengan suplier lokal sehingga terjalin harmonisasi hubungan dan kontinyuitas pemasokan dapat terjamin sesuai dengan kebutuhan. Tindakan strategi yang harus diambail dalam jangka pendek adalah : (1) Memperbaiki modal kerja. cara mengatur piutang. Kajian –kajian TOWS inilah yang dijadikan dasar untuk menyusun langkah atau strategi usaha kecil ke depan agar dapat bertahan dan bekembang terutama di era pasar bebas. Ancaman usaha kecil kedepan antara lain (1) datang dari semakin ketatnya persaingan baik secara lokal maupun global .

hal ini dap. maupun masyakat yang peduli seperti masyarakat kampus untuk melakukan binaan manajemen modal kerja dan teknik mengakses modal serta peningkatan wawasan SDM usaha kecil mengenai keterampilan bisnis moderen. KESIMPULAN DAN SARAN 5. Strategi itu adalah : 185 . Saran a) Dianjurkan kepada semua pihak yang terkait dimulai dari Departemen atau dinas Perindustrian. Hal dapat dikembangkan berkat kesadaran mengenai pemahaman salera konsumen dan ketersediaan teknologi. sehingga dapat mengkuti perkembangan pasar dan perubahan salera konsumen secara tepat dan cepat b) Hasil penelitian ini harus disosialisasikan sehingga setiap usaha kecil mengetahui strategi apa yang harus mereka terapkan. V. sehingga mampu membaca kebutuhan pasar dengan cepat.1 Kesimpulan Hasil perhitungan dan kajian yang telah dilakukankan meunjukkan bahwa secara umum hipotesis yang diungkapkan pada penelitian ini dapat dibuktikan.( 2) strategi inovasi menjadi andalan utama. 2. (b) Efek dari buruknya manajemen modal kerja ini juga berpengaruh pada kemampuan bersaing dari usaha kecil sehingga jika ini diteruskan tanpa dicari solusi tidak tertutup kemungkinannya akan berpengaruh pada keberadaan dan daya saing usaha kecil itu di masa yang akan datang terutama pada era AFTA ataupun era Global.DAFTAR ISI Tidakan strategi jangka panjang adalah (1) berusaha untuk mengganti teknologi yang ada dengan teknologi yang baru sesuai dengan kemajuan zaman . dan UKM ataupun instansi pemerintah atau swasta yang terkait. Menurut ketentuan manajemen kerja yang diungkapkan oleh Weston dan Copland yang menyatakan bahwa modal kerja yang optimum adalah jika working of capital (WC) ≤0. agar tetap bertahan dan berkembang di masa yang akan datang . dengan alasan sebagai berikut : (a) Hasil perhitungan kebutuhan modal kerja berdasarkan besaran pencapaian volume penjualan umumnya menunjukkan hampir ( 87% ) usaha kecil itu menggunakan modal kerjanya secara berkelebihan ( WC>0). Koperasi.

The Portable MBA.DAFTAR ISI 1. Keown..Martin. Managing in a borderless World. Strategi jangka pendek : (a) Memperbaiki modal kerja.2001. Strategi jangkah menengah yang perlu diambil oleh usaha kecil adalah : (a) meningkatkan mutu dan sistem pelayanan kepada konsumen lokal maupun di luar Bandar Lampung. 2. Virginia: Pearson Education-Prentice Hall.p 153. Manajemen Keuangan. Menghapus Kesenjangan: Makalah Seminar Pembinaan Usaha Kecil. Konsep dan Aplikasi Lampung: Penerbit Lamda Sains.Virginia 186 . Indra Ismawan.Inc. Strategi jangka panjang yang perlu diambil adalah : (a) berusaha mengganti teknologi dengan teknologi yang moderen sesuai dengan kemajuan zaman . perbaikan kemasan.1996. Daftar Pustaka Bernard W. dengan memperhatikan lebih intensif pada item persediaan dan piutang. Intoduction to Management Science. sehingga kedua item ini dapat efektif dimanfaatkan sebagai bagian dari modal kerja yang dapat memperbaiki kinerja modal kerja. The Skill of Communicating.New York : John Wiley & Sons.67.Jakarta. Iban Sofyan.England: Wildwood House. (b) menerapkan sistem pemasaran moderen dengan memperbaiki pelayanan. yang secara tidak lansung berpengaruhi terhadap efektivitas item persediaan. Collin and Devana.Taylor III.2000.and Petty. daya kerja produk maupun pelayanan purna servis.2000.1999. :Prentioce-Hall. 8th. September 21.Inc. 3. (c) Usaha kecil perlu mengikuti pelatihan SDM khususnya untuk menambah wawasan bisnis moderen.Bandar Kenoichi Ohmae.ed Bill Scott.1997.New York: Harvard University Review .(b)Usaha kecil perlu meningkatkan hubungan baik dengan supliernya sehingga terjamin kontinyuitas produksi.9th-ed Basic Financial Management. sebagai keunggulan bersaing di era AFTA maupun era global. (b) mengembangkan inovasi produk.David.

George.di Ketiga.1989. Feinberg-Valeriana Kallap. Punji Wahono.1998.DAFTAR ISI Levi and Sarnat. Richard E. New Yersey : Printice Hall. Starting A Successful Small Business.1983.PerbankanKomersil.2000. Faktor Penghambat Pengembangan Usaha Kecil: Makalah Seminar Antar Instasi. Fundamentals of Financial Management.Philip. 187 . Steiner.Jakarta. Capital Investment and Financial Decisions.2000. Dunia Vanhorn.Jakarta: Penerbit Bumi Aksara.2000. Great Britain: Kogan Page Limited. . Kunci Pengembangan Usaha Kecil: Makalah Seminar-Kerja sama antar Lembaga.2001.Singapore: Prentice Hall International. New York : Collier Macmilan Publishers. Copetitive Advantage. 19 Juni.1998. Suryadi Soedirdja.23 April. Jakata.Weston and Copland.Inc.

50. 7) be Satisfied with supporting facilities. 14) customers loyalty because of no brand swiching. determined by 67 indicators. Brand Asociation. 10) Satisfied with keeping in promise. 2004. Unila . Pendahuluan Merek produk berkembang menjadi sumber aset terbesar dan merupakan faktor penting dalam kegiatan pemasaran perusahaan. 2) Aware the brand because of Advertising. Sedangkan 3 Dosen Jurusan Manajemen. Tiga Bank Umum Terbesar Di Provinsi Lampung) Oleh : Analisis Faktor Penentu Ekuitas Merek Mahrinasari MS. 3)Aware the brand because of On Line Mareketng. as follows: 1) Top Of Mind of the saving account brand. 11) mengungkapkan bahwa merek merupakan indikator nilai (Value) suatu produk. Fakultas Ekonomi. 4) Asociate the brand with the product function. and Services offered by human Resources. Brand Awareness. The research result shows that the determining factors of the equity brand value are 14 factors. 11) Satisfied with easily transaction. hal.3 ABSTRACT The objective of this research is to explore what the brand equity factors especially study in the biggest three general is banking in Lampung Province. 12)Satisfied with additonal benefit. Brand Perceived Quality. 8)Satisfied with fisical facilities. and Brand Loyalty.DAFTAR ISI (Studi Pada Produk Tabungan. Key Words: Brand Equity. 6) Asociate the brand with the product atributes. Hermawan Kertajaya (On Brand. 9)Satisfied with office location. dan Emosional. 13)CustomerLoyalty because of customers Liking and commits. On-Line Technology. These 14 factors are taken from the KMO’s and MSA’s values of The Factor Analysis more than 0. Nilai bagi konsumen adalah perolehan Manfaat Fungsional. Manfaat fungsional adalah manfaat langsung berkaitan dengan fungsi-fungsi yang diciptakan oleh suatu produk. 5) Asociate the brand with the facilities and services.

c. mencerminkan tingkat keterikatan konsumen dengan suatu merek produk.DAFTAR ISI manfaat emosional adalah manfaat yang diperoleh berupa stimulasi terhadap emosi dan perasaannya. dan hanya produk yang memiliki ekuitas merek yang kuat akan tetap mampu bersaing. mencerminkan pencitraan suatu merek terhadap suatu kesan tertentu dalam kaitannya dengan kebiasaan. Menurut David A. b. yaitu : a. mencerminkan persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas/keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkenaan dengan maksud yang diharapkan. sehingga menciptakan kepuasan pelanggan. hal. manfaat. Elemen ekuitas merek yang kelima ini secara langsung dipengaruhi oleh kualitas dari empat elemen utama tersebut. Agar aset dan liabilitas mendasari ekuitas merek. 4). ekuitas merek memiliki beberapa elemen. Persepsi Kualitas (Perceived Quality). Aset-aset Merek Lainnya (Other Proprietary Brand Assets). yang mampu menambah atau mengurangi nilai sebuah produk atau jasa baik pada perusahaan maupun pada pelanggan. gaya hidup. e. 2001. 3). Ekuitas Merek menurut Darmadi Durianto. simbol. Sugiarto. geografis.4). Darmadi. maka aset dan liabilitas merek harus berhubungan dengan nama atau sebuah simbol sehingga jika dilakukan perubahan terhadap nama dan simbol merek. nama. merebut dan menguasai pasar (Durianto. Sitinjak Tony (2001. Sitinjak Tony. Sitinjak Tony (2001. harga pesaing. hal. Sugiarto. beberapa atau semua aset dan liabilitas yang menjadi dasar ekuitas merek akan berubah pula. Kesadaran Merek (Brand Awareness). d. atribut produk. Perbankan nasional di Indonesia saat ini memperlihatkan persaingan yang ketat dalam merebut konsumen dan mengembangkan pangsa pasar. khususnya pada 190 . Asosiasi Merek (Brand Association). menunjukkan kesanggupan seseorang calon pembeli untuk mengenali atau mengingat kembali bahwa suatu merek merupakan bagian dari kategori produk tertentu. adalah Seperangkat aset dan liabilitas merek yang terkait dengan suatu merek. selebritis dan lainlain. Aaker (1998) yang dikutip oleh Darmadi Durianto. Loyalitas Merek (Brand Loyalty). Sugiarto. hal. Persaingan di antara merek yang beroperasi di pasar semakin meningkat.

191 . SKEM. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya tawaran promosi yang begitu agresif dan menarik dalam bentuk iklan di media elektronik. September 2005). dan peringkat berikutnya diikuti oleh BRI. dalam InfoBank. Vol. kemudian menyusul PT Bank Mandiri. dan PT Bank Mandiri (Sumber: Mark Plus dan Biro Riset Info Bank. Posisi dana demikian berdampak terhadap perolehan pangsa pasar bank atas produk simpanannya.297 Juta menawarkan beberapa ratus hadiah mobil mewah dan intensitas iklan melalui program tayangan di Indosiar TV “Gebyar BCA” . BNI. terdapat 3 bank Indonesia yang memiliki aset terbesar posisi september 2005. dan PT BNI (persero) Tbk di Provinsi Lampung (Sumber: Bank Indonesia Bandarlampung. hal. hal. begitupun pada Bank BCA dengan aset Rp148. Di Propinsi Lampung eksistensi ke tiga perbankan tersebut menunjukkan suatu bank yang besar baik dari jumlah aset. XXI. 15. dan Lippo. Volume XXVII. Sebagai contoh. PT BCA memiliki pangsa pasar tabungan tertinggi dibandingkan dengan PT BNI. Juli – Agustus 2005. dan bahkan nilai pengendapan dana cukup lama dibandingkan dengan giro dan deposito. dimana pangsa pasar produk tabungan selama tiga tahun terakhir tertinggi dimiliki oleh PT BCA. dan hal. Tabungan merupakan sumber dana pihak III yang masih menjadi primadona sebab biaya dana yang dikeluarkan berada pada nilai tengah dan relatif stabil. 44) menunjukkan bahwa BCA memiliki peringkat pertama sebagai “The Best Corporate Brand”.675. XXVII. SWA. 14) Hasil survey MARS tahun 2005 (Siti Sumaryati dalam artikel Sajian Utama. hal. Desember 2005. No.550. dengan produk tabungan Mandiri Fiesta. dengan produk tabungan Tahapan BCA. maupun perolehan dana pihak III. iklan di media cetak. Mandiri. dan tawaran hadiah beberapa mobil mewah BMW dan Mercy.DAFTAR ISI produk tabungan.083 Juta menawarkan program tayangan “Layar BNI dan Undian Berhadiah menarik” dengan produk tabungan “Taplus BNI” (Info Bank. yaitu Bank mandiri dengan aset Rp256.783. Vol. Secara Nasional. serta Bank Negara Indonesia dengan aset Rp147. dan pemberian hadiah.842 Juta menawarkan program iklan “Berburu Hadiah. 14). Faktor – faktor apakah yang menentukan nilai ekuitas merek ?. Perumusan Masalah Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. 36.

Brand is a word.DAFTAR ISI Tujuan dan Kegunaan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah: • • Untuk mengetahui fator-faktor yang menentukan ekuitas merek.9) Merek menurut bahasa kamus dalam menyebutkan: Encyclopedia Americana. Tinjauan Teori Merek adalah nama dan atau simbol yang bersifat membedakan (seperti sebuah logo. and maintain a corporate image. associated with the Brand of the product or service and its owne. Hasil Penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk: 1. atau kemasan) dengan maksud mengidentifikasikan barang atau jasa dari seorang penjual tertentu. A Brand name has value to both the owner of the name and the consumer. differentiate products or services. dengan demikian membedakannya dari barangbarang dan jasa yang dihasilkan para kompetitor. kelebihan-kelebihan produk.(David A. salah satunya adalah menjembatani harapan konsumen pada saat kita menjanjikan sesuatu kepada konsumen. term. hal. thus differentiating the product or service from others. it helps to assure him of Quality. 1997 hal.Aaker. aid promotional efforts. For the consumer. Pengembangan ilmu pengetahuan di bidang manajemen pemasaran perusahaan. cap. Sebagai bahan informasi bagi manajemen bank dalam mengeksekusi atau merencanakan program pemasaran produk Tabungan pada masa depan. 2. khususnya pada perusahaan perbankan. Defenisi tersebut di atas juga menunjukkan bahwa begitu pentingnya arti dan keberadaan sebuah merek. 438. Suatu merek pada gilirannya memberi tanda pada konsumen mengenai sumber produk tersebut. used to identify a product or service of a seller. kualitas produk. and offer him the security. For the owner it helps to stimulate buying. dan melindungi konsumen maupun produsen dari para pesaing yang berusaha memberikan produk-produk yang tampak identik. Dengan demikian dapat diketahui adanya ikatan emosional yang tercipta antara 192 . and sometime the prestige. Sebagai bahan informasi bagi pengambil keputusan yang terkait dengan produk perbankan pada umumnya. 1989. Merek memegang peranan sangat penting. maintain prices. symbol or design or a combination of two or more of these.

Pesaing bisa saja menawarkan produk yang mirip. Bisa dilihat bahwa suatu merek yang kuat mampu diterima diseluruh dunia dan budaya. potensi ini akan meningkatkan Citra Merek. David A. Merek sangat berpengaruh dalam membentuk perilaku konsumen. Merek yang kuat akan sanggup merubah perilaku konsumen. Aset yang dikandungnya dapat membantu pelanggan dalam 193 . Dengan adanya merek. makin kuat pula interaksinya dengan konsumen dan makin banyak Asosiasi Merek yang terbentuk dalam merek tersebut. Hasil sebuah penelitian menunjukkan bahwa Coca Cola Company yang memiliki Stock Market Value (SMV) yang besar ternyata 97 % dari SMV tersebut merupakan nilai merek.DAFTAR ISI konsumen dengan perusahaan penghasil produk melalui merek. Ekuitas merek menurut Aaker. Contoh yang paling fenomenal adalah Coca Cola yang berhasil menjadi “Global Brand”. 3. Ekuitas Merek merupakan aset yang dapat memberikan nilai tersendiri dimata pelanggannya. Merek mampu menciptakan komunikasi interaksi dengan konsumen. 4. karena beberapa faktor seperti: 1. Merek memudahkan proses pengambilan keputusan pembelian oleh konsumen. 5. Emosi konsumen terkadang turun naik. 6. Merek mampu membuat janji emosi menjadi konsisten dan stabil. Semakin kuat suatu merek. kepuasan. tapi mereka tidak mungkin menawarkan janji emosional yang sama. kebanggaan ataupun atribut lain yang melekat pada merek tersebut. diterima dimana saja dan kapan saja di seluruh dunia. nama dan simbol yang menambah atau mengurangi nilai yang diberikan oleh sebuah barang atau jasa kepada perusahaan atau para pelanggan perusahaan. Merek menjadi sangat penting saat ini. konsumen dapat dengan mudah membedakan produk yang akan dibelinya dengan produk lain sehubungan dengan kualitas. 2. Jika Asosiasi Merek yang terbentuk memiliki kualitas dan kuantitas yang kuat. Merek berkembang menjadi sumber aset terbesar bagi perusahaan. Merek mampu menembus setiap pagar budaya dan pasar. (1997: 22) adalah seperangkat aset dan liabilitas merek yang berkaitan dengan suatu merek.

3. Loyalitas merek adalah salah satu elemen Ekuitas Merek yang dipengaruhi oleh elemen ekuitas merek lainnya. Menurut Durianto Darmadi . 6. 194 .DAFTAR ISI menafsirkan. memproses. 2. Ekuitas Merek dapat mempengaruhi rasa percaya diri konsumen dalam pengambilkan keputusan pembelian atas dasar pengalaman masa lalu dalam penggunaan atau kedekatan asosiasi dengan berbagai karakteristik merek. Asosiasi-asosiasi merek.Sugiarto . Bahkan jika Kesadaran merek.Tony Sitinjak. ketiganya tetap dapat mengurangi keinginan atau rangsangan konsumen untuk mencoba merek-merek lain. Kualitas yang dipersepsikan atas merek. dan loyalitas merek dapat mempengaruhi alasan pembelian konsumen. Ekuitas Merek yang kuat memungkinkan perusahaan memperoleh imbuhan nilai yang lebih tinggi dengan menerapkan harga premium. Promosi yang dilakukan akan lebih efektif jika merek dikenal. Ekuitas Merek yang kuat dapat mempertinggi keberhasilan program dalam memikat konsumen baru atau merangkul kembali konsumen lama. 4. Asosiasi Merek juga sangat penting sebagai dasar penciptaan Kesan Merek yang kuat dan strategi perluasan produk. Empat dimensi Ekuitas Merek: Kesadaran merek. Ekuitas Merek juga memberikan nilai bagi perusahaan dalam bentuk : 1. dan Asosiasi-asosiasi merek tidak begitu penting diperhatikan dalam proses pemilihan merek. dan menyimpan informasi yang terkait dengan produk dan merek tersebut. Loyalitas merek yang telah diperkuat merupakan hal penting dalam merespon inovasi yang dilakukan para pesaing. 2001 hal. Ekuitas Merek yang kuat dapat digunakan sebagai dasar untuk pertumbuhan dan perluasan merek kepada produk lainnya atau menciptakan bidang bisnis baru yang terkait yang biayanya akan jauh lebih mahal untuk dimasuki tanpa merek yang memiliki Ekuitas Merek tersebut. Ekuitas Merek yang kuat dapat menghilangkan keraguan konsumen terhadap kualitas merek. dan mengurangi ketergantungan pada promosi sehingga dapat diperoleh laba yang lebih tinggi. 7) disamping memberi nilai bagi konsumen. Kualitas yang dipersepsikan atas merek. Salah satu cara memperkuat Ekuitas Merek adalah dengan melakukan promosi besar-besaran yang membutuhkan biaya besar. 5.

DAFTAR ISI

7.

Ekuitas Merek yang kuat dapat meningkatkan nilai penjualan karena mampu menciptakan loyalitas saluran distribusi. Produk dengan Ekuitas Merek yang kuat akan dicari oleh pedagang karena mereka yakin bahwa produk dengan merek tersebut akan memberikan keuntungan bagi mereka. Dengan Ekuitas Merek yang kuat, saluran distribusi dapat berkembang sehingga semakin banyak tempat penjualan yang pada akhirnya akan memperbesar nilai/volume penjualan produk tersebut, dan mempertinggi perolehan pangsa pasar. Aset-aset Ekutias Merek lainnya dapat memberikan keuntungan kompetitif bagi perusahaan dengan memanfaatkan celah-celah yang tidak dimiliki pesaing. Biasanya, bila empat faktor penentu utama dari Ekuitas Merek yaitu Kesadaran Merek, Asosiasi Merek, Kualitas Merek, dan Loyalitas Merek sudah sangat kuat, secara otomatis aset Ekuitas Merek lainnya juga akan kuat.

8.

Dengan demikian, perusahaan yang ingin tetap bertahan dan melangkah lebih maju untuk memenangkan persaingan, sangat perlu mengetahui kondisi Ekuitas Merek produknya melalui penelitian faktor-faktor penentu elemen Ekuitas Merek (Kesadaran Merek, Asosiasi Merek, Kualitas Merek, dan Loyalitas Merek). Metode Penelitian Objek penelitian pada produk Tabungan Bank Umum PT. Bank Mandiri Tbk, PT BCA Tbk, dan PT BNI Tbk (Persero) di Provinsi Lampung. Penelitian dilakukan selama 6 bulan dengan pengambilan data melalui survey lapangan pada bulan September 2005 hingga bulan Desember 2005. Jumlah sampel terpilih menggunakan pendapat Slovin (Husein Umar, 1997, hal. 59-60) dengan mengasumsikan populasi berdistibusi normal dan tingkat kesalahan pengambilan sampel sebesar 10%. Populasi nasabah tabungan pada ketiga bank masing-masing sebanyak di atas 50.000, sehingga besarnya jumlah sampel diperoleh minimal sebesar 100. Dengan demikian jumlah sampel keseluruhan adalah 300 responden. Responden terpilih disurvey pada kantor cabang utama, dan kantor cabang pembantu dengan lokasi kantor di kota/kota kabupaten terpadat atau terbanyak respondennya melebihi 5000 nasabah, sehingga jumlah sampel pada masing-masing kantor cabang dan cabang pembantu dipilih secara proporsional. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik non -probability sampling, khususnya dengan jugjemen sampling atau sampling pertimbangan (Moh. Nasir, 1999, hal.332). Pendekatan 195

DAFTAR ISI

ini dilakukan karena karakteristik populasi nasabah bank responden tidak dapat diketahui dengan pasti dan nasabah diperkirakan homogen. Oleh karena itu, penulis menentukan pertimbangan yang menjadi responden adalah nasabah aktif yang berarti nasabah melakukan transaksi menabung minimal satu kali dalam satu bulan pada bank responden dan pernah menjadi dan atau sedang menjadi nasabah pada produk tabungan bank lainnya. Hasil Dan Analisis Uji Validitas dan Reliabilitas Hasil pengujian validitas dengan metode analisis Korelasi Pearson yang dapat dilihat pada Tabel 1. berdasarkan aplikasi komputer Software SPSS Versi 11.5, dan mengunakan 30 sampel responden pada peubah Kesadaran Merek, Asosiasi Merek, Kepentingan, Kepuasan, dan Loyalitas menunjukkan nilai tingkat signifikansi P lebih kecil (<) dari 0.05. Dengan demikian, alat ukur yang digunakan dalam pengukuran Ekuitas Merek dapat diyakini kevalidannya/keakuratannya. Hasil uji reliabilitas dengan menggunakan metode statistik “Cronbach’s Alpha menunjukkan nilai reliabilitas Cronbach’s Alpha sebesar 0,9468 atau 95%. Nilai Cronbach’s Alpha ini masuk dalam kategori tingkat kereliabelan sangat tinggi. Dengan demikian, skala pengukuran dikatakan reliabel atau tepat untuk digunakan pada penelitian selanjutnya. Tabel 1. No Hasil Pengujian Validitas Pengukuran Ekuitas Merek Peubah Ekuitas Merek Nilai Korelasi Pearson 0,553 0,406 0,464 0,648 0,646 Hasil Signifikansi= < 0,05, Berarti Valid 0.002 0,026 0,010 0,000 0,000

1 Loyalitas pada Merek 2 Kesadaran pada merek 3 Asosiasi atas Merek 4 Kepentingan pada Merek 5 Kepuasan atas Merek Sumber: Data diolah, 2005 Analisis Faktor Penentu Ekuitas Merek

Analisis faktor penentu ekuitas merek menggunakan model analisis faktor. Hasil Model analisis faktor I dilakukan tampa terjadi reduksi indikator menunjukkan bahwa angka KMO (Kaiser-Meyer-Olkin,) – MSA (Mesure of Sampling Adequacy) sebesar 0,874. Angka ini berarti bahwa pengukuran atas 196

DAFTAR ISI

peubah ekuitas merek dapat diproses dan digunakan dalam model selanjutnya. Nilai Bartlett’s Test yang dilihat pada angka Kai Kuadrat (Chi-Square) sebesar 10890,365 dengan signifikansi sebesar 0,000, yang berarti bahwa model analisis faktor dapat dilanjutkan. Namun, besaran MSA pada peubah Loyalitas, khususnya pada indikator Pembeli Kebiasaan sebagai bagian dari peubah ekuitas merek menunjukkan nilai di bawah 0,50. Hal ini berarti perhitungan analisis faktor I perlu diulang dengan cara menghilangkan peubah indikator “kebiasaan”. Model analisis faktor II setelah menghilangkan peubah kebiasaan menunjukkan bahwa nilai KMO- MSA (Kaiser-Meyer-Olkin, Measure of Sampling Adequacy) sebagai pengukuran ketepatan model dapat digunakan sebesar 0,876. Nilai Bartlett’sTest of Sphericity yang dilihat pada angka Kai Kuadrat sebesar 10823,739 dengan signifikansi sebesar 0,000 yaitu kurang dari nilai signifikansi kepercayaan 0,05, yang berarti bahwa model analisis faktor dapat dilanjutkan. Nilai MSA pada Model faktor II menunjukkan bahwa masing-masing peubah ekuitas merek memiliki nilai lebih tinggi dari 0,50. Kemudian nilai faktor komponen matrik korelasi terdiri 15 faktor. Penentuan masing-masing indikator yang masuk dalam suatu faktor komponen matrik korelasi yaitu dilihat dari nilai korelasi matrik terbesar pada masing-masing komponen. Namun, nilai komponen matrik korelasi pada faktor 13 yang terdiri dari indikator KPS 6 ( Lokasi Strategis dekat dengan tempat tinggal) serta faktor 12 yang terdiri dari indikator BA 13 (Asosiasi Penggunaan layanan Auto Debet) dan BA 14 (komunikasi Pemasaran On-Line)_memiliki 2 nilai faktor komponen matrik korelasi yang berdekatan hampir sama, maka peneliti mencoba menggabungkan faktor 13 nilai indikator KPS 6 ke dalam faktor 3 serta faktor 12 nilai indikator BA 13 ke dalam faktor 4, dan nilai indikator BA14 pada faktor komponen 12 ke dalam faktor komponen 14. Sehingga jumlah faktor penentu nilai ekuitas merek secara keseluruhan menjadi 14 faktor. 14 faktor ini adalah 1) Pengingatan atas Merek Paling Tinggi (Top Of Mind); 2) Pengenalan Merek karena Promosi Media Iklan Dalam dan Luar Ruangan; 3) Pengenalan Merek Karena Komunikasi Pemasaran On-Line; 4) Asosiasi yang dibentuk karena fungsi produk tabungan menawarkan biaya administrasi rendah, suku bunga tinggi, dan aman; 5) Asosiasi terbentuk karena pemanfaatan fasilitas dan akses layanan aman dan nyaman; 6) Asosiasi yang terbentuk karena atribut produk berkesan: profesional, Layanan Simpati, dan Tanggung Jawab serta Integritas; 7) Kepuasan atas produk tabungan karena tawaran fasilitas teknologi on-line dan layanan oleh SDM tepat, cepat, dan aman; 8) Kepuasan atas tawaran fasilitas fisik yang melekat pada ruang kantor (Gedung mewah, ruang tunggu, dan halaman parkir luas); 9) Kepuasan Atas Lokasi Strategis, 10) Kepuasan atas kepastian dan ketepatan janji sesuai fungsi inti produk berupa: suku bunga 197

Berupa: 1. serta 14) Loyalitas nasabah terbentuk karena tidak adanya perpindahan merek.504 0. Nilai ini menunjukkan hubungan yang cukup erat.769 0. Tampa Batasan Jumlah 5. dan hadiah undian serta hadiah langsung menarik. desain kartu ATM menarik. Kapan Saja. 13) Loyalitas nasabah terbentuk karena kepuasan. Berupa.648 0.765 0. berikut ini.522 0. Akses layanan cepat. Tayangan “Bill Board” Ruangan. Tabel 1.600 0. aman dan nyaman 2.676 0.789 0. Pameran 7.742 0.465 0. Iklan Radio Pengenalan Merek 3. 11) Kepuasan atas Kemudahan Transaksi. Bebas Pulsa 3. Pemasaran On-Line 1. Aman 1. Majalah dan Luar 5.476 0. Suku Bunga Tinggi 3. 12) Kepuasan atas manfaat tambahan berupa tampilan fisik karyawan menarik. Rekomendasi Teman 3 4 5 Pengenalan Merek karena Asosiasi Terbentuk Karena Fungsi Produk. parkir gratis. Biaya Administrasi Rendah 2.728 0. Tabel 1 menunjukkan bahwa nilai korelasi matrik antara indikator dan faktor menunjukkan rerata korelasi di atas 50% (0. biaya administrasi rendah. Berupa: Asosiasi Terbentuk karena Pemanfaatan Fasilitas dan Akses Layanan. dan komitmen nasabah terhadap merek produk tabungan pada ke tiga bank responden. Fasilitas Transaksi penarikan Dana . Tabulasi hasil faktor komponen matrik korelasi terdiri dari 14 faktor dapat dilihat pada Tabel 1. kesukaan.689 2 198 . Surat Kabar Karena Promosi Iklan Media Dalam 4. Akses layanan Phone Banking 24 Jam.605 0.536).418 0.DAFTAR ISI tinggi. Dimana Saja. Fasilitas Antrian Nyaman 4. yang berarti jika ada tawaran yang menarik dari bank lain. 6.303 0. Rekapitulasi Hasil Faktor Komponen Matrik Korelasi Nomor Faktor Komponen Matrik Rotasi I Nama Faktor Pengingatan Puncak Atas Merek Indikator Pikiran Puncak (Top of Mind) 1. Akses Jaringan Kantor Luas danj Akses ATM banyak 2.766 0. Iklan TV Nilai Korelasi Faktor Komponen Matrik Rotasi 0. nasabah akan cenderung berpindah walaupun nasabah harus mengeluarkan biaya perpindahan atas merek.

547 0. Pelayanan prima oleh Karyawan 14.573 0.465 0. Teknologi dan Layanan SDM. Fasiltias Layanan “ Auto Debet ” Pembayaran Listrik.683 0. Tanggung jawab dan Integritas 1.692 0.446 0. Ruang antrian nyaman 2. Layanan transaksi oleh karyawan cepat 7. Aman dan terpercaya terbukti dengan penarikan dana kapan saja dan tampa batasan jumlah dana 10. FasilitasJaminan Asuransi kepada keluarga penabung 9. Dilengkapi dengan Buku Transaksi 4. Karyawan penuh semangat bersedia membantu menjawab pertanyaan nasabah 13.817 0. Layanan Simpati Atribut Produk Berkesan: 3.DAFTAR ISI Nomor Faktor Komponen Matrik Rotasi Nama Faktor Indikator 6.757 0. Karyawan cepat tanggap atas keluhan dan masalah nasabah 12.832 0. Profesional 7 Kepuasan Atas Fasilitas Pelengkap. Karyawan mengesankan keyakinan dan percaya diri yang tinggi kepada nasabah 8.832 0.629 0. Karyawan ramah dalam memberikan informasi yang dibutuhkan nasabah dengan tepat 11.412 0. Ruang Tunggu Bertransaksi Nyaman 1.633 0. Profesionalisme karyawan dalam pelayanan 5. Kepuasan atas Fasilitas Fisik yang Melekat pada Ruang kantor. Ruang tunggu Bertransaksi Bersih 4. Gedung Mewah 2.678 0.754 0.533 0.780 0. Fasilitas Undian Tabungan Berhadiah 7.343 0.325 0. kemampuan Karyawan dalam menjelaskan produk dan layanan denagn baik dan tepat 6.481 0. Fasilitas Aplikasi kartu Debit Belanja Nilai Korelasi Faktor Komponen Matrik Rotasi 0.780 6 Asosiasi Terbentuk Karena 2. Ruang Tunggu Bertransaksi Sejuk 5. dan Air 8. Berupa: 199 .717 0. Berupa: 8.607 0. Telephone.607 0. Karyawan peduli terhadap kepuasan nasabah 1. Teknologi Informasi On-Line 3. Ruang Tunggu Bertransakasi Luas 3.573 0.

Kesukaan 3.663 0. Komitmen 1.526 0. Memanfaatkan Jaringan ATM Bank Lain 5. Fasilitas Internet Banking 2.DAFTAR ISI Nomor Faktor Komponen Matrik Rotasi Nama Faktor Indikator 6.5.768 0. Berupa: Loyalitas Nasabah Terbentuk Karena: Loyalitas Nasabah Terbentuk . Tidak Adanya Perpindahan Merek 12 Kepuasan atas Manfaat Tambahan.396 0.780 0.494 0. Memanfaatkan Fasilitas Ruang Antrian Kantor 6. Dekat dengan tempat tinggal/Usaha 2.Aplikasi SPSS Versi 11. Suku bunga tinggi dan menarik 2.799 0. dan menarik 3. Januari 2006 Tabel 1. Fasilitas SMS Banking 3.50. Halaman Parkir Luas Nilai Korelasi Faktor Komponen Matrik Rotasi 0. tersebut memberikan makna bahwa nilai korelasi faktor matrik yang besar diperoleh dari nilai di atas 0.784 0. Hadiah langsung menarik 1.50.497 0. Sehingga penentu ekuitas merek yang kuat dari masing-masing indikator adalah nilai yang menghasilkan korelasi faktor di atas 0. Tampilan fisik karyawan cantik/ ganteng.403 0. Karena: 13 14 Sumber: Data Diolah dengan Metode Analisis Faktor . Mudah Dijangkau dengan Alat Transportasi 1.437 0.748 0.481 0. Dengan: 4. 200 Analisis faktor membuktikan ada 14 Faktor dari 67 Indikator Peubah .832 0. Biaya administrasi rendah 3. Memanfaatkan fasilitas Auto Debit 1. Kepuasan 2.387 0.749 9 Kepuasan Atas Lokasi Strategis Kepuasan atas Kepastian dan Ketepatan Janji Sesuai Fungsi Inti Produk 1.691 menarik 0.789 0. Hadiah undian tabungan 4.604 0. Desain Kartu ATM menarik 1. Simpulan a.634 0. Halaman parkir gratis 2. Memanfattkan fasilitas ATM sendiri yang banyak 7. Fasilitas Call Center 10 11 Kepuasan atas Kemudahan Bertransaksi.775 0.

b. 6) Asosiasi yang terbentuk karena atribut produk berkesan: profesional. Layanan Simpati. 8) Kepuasan atas Fasilitas Fisik yang melekat pada Ruang Kantor (Ruang tunggu Bertransaksi Bersih. dan komitmen nasabah. Aman dan terpercaya terbukti dengan penarikan dana kapan saja dan tampa batasan jumlah dana. 5) Asosiasi terbentuk karena pemanfaatan fasilitas dan akses layanan berupa: Akses Jaringan Kantor Luas dan Akses ATM banyak. Teknologi on-line dan Layanan oleh SDM berupa: Profesionalisme karyawan. 9) Kepuasan Atas Lokasi . Sejuk.50 adalah 1) Pengingatan atas Merek Paling Tinggi (Top Of Mind). serta Halaman Parkir Luas). dan Nyaman. Call Center. Fasilitas Transaksi penarikan Dana. Kapan Saja.. 13) Loyalitas nasabah terbentuk karena kepuasan. Majalah dan Bill Board . 11) Kepuasan atas Kemudahan Transaksi: internet banking. dan suku bunga tinggi. Karyawan ramah dalam memberikan informasi yang dibutuhkan nasabah dengan tepat. Layanan transaksi oleh karyawan cepat. aman dan nyaman. 14 Faktor penentu Ekuitas Merek yang kuat dilihat dari hasil nilai korelasi faktor matrik rotasi indikator di atas 0. Dimana Saja. 4) Asosiasi Terbentuk karena fungsi produk tabungan menawarkan biaya administrasi rendah. 3) Pengenalan Merek Karena Pemasaran On-Line. Fasiltias Layanan “ Auto Debet ” Pembayaran Listrik. 7) Kepuasan atas Fasilitas Pendukung. dan Tampa Batasan Jumlah. Fasilitas Antrian Nyaman. Measure of Sampling Adequacy). 201 . Biaya administrasi rendah Hadiah undian tabungan menarik Hadiah langsung menarik. dan Karyawan peduli terhadap kepuasan nasabah. dan Air. kesukaan. dan Tanggung Jawab serta Integritas. Surat Kabar. Karyawan penuh semangat bersedia membantu menjawab pertanyaan nasabah. Karyawan cepat tanggap atas keluhan dan masalah nasabah. Akses layanan Phone Banking 24 Jam dan Bebas Pulsa. Karyawan mengesankan keyakinan dan percaya diri yang tinggi kepada nasabah. Fasilitas Undian Tabungan Berhadiah. Radio. Akses layanan cepat. dan pemanfaatan Auto Debit. Telephone. FasilitasJaminan Asuransi kepada keluarga penabung. 12) Kepuasan atas Manfaat Tambahan berupa tampilan fisik karyawan menarik. 10) Kepuasan atas kepastian dan ketepatan janji sesuai dengan fungsi inti produk berupa: Suku bunga tinggi dan menarik.5. SMS banking. dan Fasilitas Aplikasi kartu Debit Belanja. serta 14) Loyalitas nasabah terbentuk karena tidak adanya perpindahan merek.DAFTAR ISI penentu ekuitas merek dengan memiliki nilai KMO-MSA (Kayser-MeyerOlkin. Pelayanan prima oleh Karyawan. yaitu nilai penentu kecukupan sampling sebagai penentu faktor model yang tepat untuk digunakan sebesar di atas 0. 2) Pengenalan Merek karena Promosi Iklan Media Dalam dan Luar Ruangan berupa: Iklan TV. Strategis.

c. Toni. d. Sugiarto. Jakarta.DAFTAR ISI Saran Ekuitas merek dapat ditingkatkan dengan memperbaiki beberapa aspek yaitu: a. Hermawan Kartajaya. Prentice Hall International. 6th. Strategic Marketing. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. b. A. 202 . Cravens. Peningkatan kepuasan nasabah dengan memberikan beban biaya administrasi rendah. akses layanan 24 jam. dan layanan prima. layanan cepat dan aman. 1997. Chicago Durianto. Menciptakan biaya peralihan tinggi sehingga menyulitkan nasabah untuk berpaling ke bank lain Menciptakan program relationship marketing terpadu. Sitinjak. Kottler Phillip. Jakarta. Strategi Menaklukkan Pasar. Marketing Management. Irwin. Spektrum Mitra UtamaPrentice Hall. dan agresif. Husein Umar. Bandung Indonesia. 2004. Aspek kesadaran ditingkatkan melalui pengenalan dan penyadaran merek untuk menciptakan Pikiran Puncak atas Merek produk (Top of Mind) melalui program promosi intensif. Darmadi. Alih Bahasa Ananda Aris. Penguatan kesan pada merek dengan penciptaan asosiasi seperti merek memiliki makna profesional. Riset Strategi Pemasaran. dan biaya administrasi rendah. Jakarta. Melalui Riset Ekuitas dan Perilaku Merek. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. DAFTAR PUSTAKA Aaker. David. e. layanan simpati. Kasmir. DW. Ed. 2000. Hermawan Kertajaya On Branding. The Millenium Edition. 2000. 2000. 2000. Mizan Media Utama. Manajemen Ekuitas Merek: Memanfaatkan Nilai dari Suatu Merek. Manajemen Perbankan. 2001. Gramedia Pustaka Utama.

. dikutif dalam “Jurnal Ilmiah – Entrepreneurship”. International Edition. No.. Agustus 2003. Zeithaml. cetakan kesebelas. McGraw Hill. Yogyakarta. Penerbit: Prenada Media. 1989. Zeithaml. Majalah SWA. 1997. No. Brand Management. 203 . A. dkk. _______________. 2001. 2003. alih Bahasa. Alih bahasa Suminto. Paul. Hari. Susanto. 3. Inc. ISSN 1693-1696. Jakarta. 2001. Sugiarto. Pahlawan Jauhari. Penerbit: Quantum Bisnis dan Manajemen (PT Mizan Publika). Moh. Himawan. Branding in Asia (Membangun Merek di Asia). 1990. Interaksara. A. Rineka Cipta. Ghalia Indonesia. PT. A. Syaifudin Anwar. Journal Mandiri. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. oleh Sugiri. 1999. Printed and Manufactured in the USA Buletin Mandiri. Nicolino. Nasir. Edisi Volume XIX. Suharsimi Arikunto. Jakarta Temporal. 14. Encyclopedia Americana. Service Marketing. L. Bitner. Volume 1. edisi revisi. The Free Press A. Jakarta. Penerbit Galia Indonesia. Penerbit Pustaka Pelajar. Jakarta Indonesia. Manajemen Perbankan. Jakarta. Parasuraman and Leonard. Valerie. “Power Branding”. Juli 2003. A. Berry.. Delivering Quality Service: Balancing Customer Perception and Expectations. 2004. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan. Division of Macmillan. 2001-2005. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama. Metode Penelitian. Analsis Elemen Ekuitas Merek pada PT Bank Mandiri Tbk (Persero). Jakarta. Patricia F. 1999. Teknik Sampling. Untuk Menaikkan pangsa pasar. dan Wijarnako. Mary Jo. Valerie.DAFTAR ISI Lukman Dendawijaya.B. Reliabilitas dan Validitas. 1997. Jakarta. Jakarta -------------------. 1996. Penerbit Rineka Cipta. 2004.. 2003. Indonesian Best Brand 2003.

-------------------. No. Edisi Volume XXI. 21 Juli – 3 Agustus 2005. Edisi Volume XX. Majalah SWA. Peringkat Merek Memuaskan 2005. No. 15. 15. Juni 2004. Edisi Volume XXVII. 321. Juli – Agustus 2004. No. Peringkat Merek Memuaskan. Edisi Volume XXI. Majalah SWA. Jakarta. 303.DAFTAR ISI -------------------. No. Desember 2005. Majalah SWA. Indonesian Best Brand 2004. Jakarta. Indonesian Best Brand 2005. 19. Jakarta. Nasabah Mulai Gelisah. Edisi Volume XX. September 2005. Jakarta. Majalah SWA. 204 . Edisi Volume XXVI. -------------------. 19. Majalah SWA. -------------------. No. Rating 134 Bank. -------------------. Jakarta. Juli 2003. -------------------. Majalah Info Bank. No.

Bank Indonesia Cabang Bandar Lampung.99.99 . Fakultas Ekonomi. at distribution channel II 0. it is necessary to activate association to be involved in blocking marketing of coffee commodity in general and especially helping coffee farmers in carrying out their farming.33% dari Kabupaten Tulang Bawang. and exporters is 0.88 ton dengan nilai seharga US$ 250.94. 29.617. village traders. satu4 Dosen Jurusan Manajemen. district traders 0. yaitu dari Kabupaten Lampung Barat.345. 4. village traders 0.21% dari Kabupaten Tanggamus.375) than that from others. and at distribution channel III 0.73% dari Kabupaten Way Kanan.50% dari Kabupaten Lampung Selatan.97. dan 0. district traders. regency traders. and it is better for exporters to help coffee commodity farmers to increase margin. it proves that exporters are more efficient than collecting traders and farmers (exporters 0.79% dari Kabupaten Lampung Tengah. Dan Kopi Biji menduduki tempat yang penting dalam devisa dimana luas dan hasil produksi kopi biji di Propinsi Lampung sekitar 41. in marketing of coffee commodity. Farming PENDAHULUAN Ekspor dari sektor pertanian dan kehutanan Propinsi Lampung memberikan devisa negara sebanyak 271. it is suggested.300. Based on the conclusion. The value of distribution from farmers. 9. 14. Unila . 0.DAFTAR ISI Analisis Efektivitas Dan Efisiensi Tata Niaga Kopi Biji Di Propinsi Lampung Oleh : Mustafid4 ABSTRACT The research analysis result shows that the distribution channel I form farmers.83). The average efficiency level at distribution channel I is 0.333. and farmers 0.12% dari Kabupaten Lampung Utara.05% dari Kota Bandar Lampung.69% dari Kabupaten Lampung Timur. Keywords : Coffee. 0. While in efficiency and margin. to use distribution from farmers district traders exporters. 2004.95.98. district traders. Therefore. Exporters. regency traders 0. and exporters is more effective (0.93. 0.453. And the value of distribution from farmers. and exporters is 0. village traders.14%.

dan 4 dari Kabupaten Way Kanan. Pedagang kabupaten sebanyak 7 pedagang. Pedagang kecamatan sebanyak 20 pedagang. Hal ini didasarkan pada proporsi hasil produksi di wilayah tersebut. Jumlah sampel tersebut di ambil secara proporsif (proporsive random sampling) atas dasar homogenitas (relatif sama) yang diharapkan dapat mewakili dari populasi yang ada. Sedangkan Eksportir sebanyak 2 responden. Dalam analisis kualitatif akan digunakan analisis berdasarkan teori pemasaran dengan membandingkannya. 9 dari Kabupaten Lampung Barat. Dalam menyusun penelitian ini akan digunakan analisis kualitatif dan kuantitatif yang ada kaitannya dengan masalah yang terjadi. Jumlah sampel yang diambil dari petani produsen sebanyak 47 rensponden. 5 dari Kabupaten Tanggamus. hal ini didasarkan dari pendapat Mubiarto (1993:95). Selain analisis kualitatif juga akan dilakukan analisis dengan pendekatan kuantitatif. 2. 2004). 206 .DAFTAR ISI satunya daerah yang tidak menghasilkan kopi biji adalah Kota Metro (Dinas Perkebunan Propinsi Lampung. 2 dari Kabupaten Tanggamus. yaitu Kabupaten Lampung Barat. bahwa besarnya sampel produk hasil pertanian dapat di ambil antara 10% sampai dengan 20% dari populasi petani produsen komoditas kopi biji sebanyak 410 orang di sentra produksi komoditas kopi biji di Lampung yang terdiri dari 21 dari Kabupaten Lampung Barat. 10 dari Kabupaten Way Kanan. Ruang lingkup penelitian lapangan meliputi: 1. METODE PENELITIAN Penelitian lapangan terdiri dari observasi dan mempelajari hal-hal yang ada hubungannya dengan penelitian ini. dan 2 dari Kabupaten Way Kanan. khususnya dengan tata niaganya. 7 dari Kabupaten Tanggamus. dan Kabupaten Way Kanan. Daerah penelitian adalah daerah Propinsi Lampung. 10 pedangang dari Kabupaten Lampung Barat. 1. dan 2 dari Kabupaten Way Kanan. 16 dari Kabupaten Tanggamus. Pedagang desa sebanyak 17 pedagang. 3 dari Kabupaten Lampung Barat. Kabupaten Tanggamus. yaitu: 2. antara lain menganalisis tentang efektivitas dan efisiensi tata niaga pemasaran komoditas kopi biji di Propinsi Lampung.

pada 0 ≤ Fij ≤ 0. harga. Faktor-faktor itu tidak dapat berdiri sendiri.5). Untuk mengukur tingkat efisiensi pemasaran kopi biji di Lampung sehingga dapat diketahui margin yang diperoleh masing-masing lembaga yang terkait dalam pemasaran kopi biji termasuk margin yang diperoleh produsen. Asumsi-asumsi untuk metode ini adalah: 1. = 1.Fij j=1 Keterangan: Ni Tj j n ∑ j Fij = Nilai total untuk kebijaksanaan saluran disrtibusi(I). 3. = Timbangan pada faktorj. Timbangan faktor tidak dapat dipisahkan dengan nilai faktornya.DAFTAR ISI a.. dan Irawan (2000:314) digunakan rumus: n Ni = ∑ Tj.1 sampai dengan 0. b. Produk. . promosi. C + Cm 207 . 2.5 Kriteria penentuan efektif adalah jika Ni > 0.H.H. dan Irawan 2000:314). 2. dan lingkungan dianggap tetap. 4.30 (Basu Swastha D. n dan 0 ≤ Tj ≤ 1. 3. Untuk Mengetahui tingkat efisiensi tata niaga pada setiap lembaga menurut Noegroho Besar Koesnadi (1990:5) adalah dengan rumus sebagai berikut: e = Z + Zm .. Menggunakan skala jarak tertentu (0. Tj = 1 = 1 = Nilai kebijaksanaan I pada faktor j. bahwa ntuk mengukur tingkat efektivitas digunakan metode faktor tertimbang menurut Basu Swastha D.

2. 4. Biaya penyaluran dan pemasaran yang dikeluarkan oleh produsen persatuan barang. 5. Keuntungan yang diterima oleh lembaga tata niaga persatuan barang.yang perubahannya relatif lambat.DAFTAR ISI Keterangan: e Z C Zm Cm = = = = = Efisiensi saluran perlembaga. Peraturan Pemerintah. Biaya saluran persatuan barang. Faktor kebudayaan. Kebijaksanaan promosi yang dilaksanakan relatif terbatas. Teknologi. dengan alasan komoditas kopi biji sangat dipangaruhi olah faktor alam. karena peraturan pemerintah harus dipatuhi. 6. hal ini didasarkan berlakunya bersifat umum dan tidak setiap perubahan teknologi langsung dapat diikuti. 208 . Kriteria penentuan efisien adalah jika e > 1. Asumsi-asumsi yang dianggap konstan. dengan demikian bersifat given. Kondisi perekonomian yang tidak dapat dipengaruhi secara parsial atauperubahannya berlaku umum. Pendapatan produsen dari hasil penjualan persatuan barang. Kebijaksanaan produk. 3. yaitu: 1.

120 5 0.5 Nilai Faktor (Fij) 0.3 0.15 konsumen Laba yang diperoleh jika alt ernat if saluran 0.20 x 0.DAFTAR ISI HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Efektivitas Tabel 1.30 x 0.100 x 0.2 0.060 0. 1 Faktor Efektivitas untuk mencapai pembeli atau konsumen Laba yang diperoleh jika alternatif saluran yang digunakan dilakukan dengan baik Pengalaman perusahaan dalam memasarkan produk Jumlah investasi atau biaya yang diperlukan Kemampuan perusahaan untuk menutupi kerugian Tj 0.345 Nilai Total Sumber: Data Diolah dari Hasil Penelitian.5 Nilai Fakt or (Fij) 0.1 Tj .10 perusahaan dalam memasarkan produk Jumlah invest asi at au biaya yang diperlukan Kemampuan perusahaan unt uk menut upi kerugian 0.10 x 0. 1 Fakt or Tj 0.20 Nilai T ot al x 0.4 0.045 2 3 Efekt ivitas unt uk mencapai pembeli at au 0.Fij 0. Hasil Perhitungan Metode Faktor Tertimbang yang Diterapkan pada Strategi Saluran II No.075 3 0.Fij 0.3 0.060 0.375 Sumber: Data Diolah dari Hasil Penelitian.25 x 0.2 x 0.030 4 0. Tabel 2.4 0.25 yang digunakan dilakukan dengan baik Pengalaman 0.1 x T j .15 0.050 4 x 0.120 5 0. Hasil Perhitungan Metode Faktor Tertimbang yang Diterapkan pada Strategi Saluran I No. 209 .30 x 0.060 2 0.

3 0. Hasil Perhitungan Tingkat Efisiensi Tata Niaga I.5 x Nilai Faktor (Fij) 0.4 0. Analisis Efisiensi Tabel 4.25 x 0.300.Fij 0.1 Tj .090 5 0. Berdasarkan analisis efektivitas tata niaga komoditas kopi biji Propinsi Lampung bahwa tata niaga I ( Petani Produsen ---> Pedagang Kecamatan ---> Eksportir) lebih efektif dengan nilai 0.2 0.94 Pedagang Kabupaten Eksportir Sumber: Data Diolah dari Hasil Penelitian.15 0.075 3 0. 1 Faktor Efektivitas untuk mencapai pembeli atau konsumen Laba yang diperoleh jika alternatif saluran yang digunakan dilakukan dengan baik Pengalaman perusahaan dalam memasarkan produk Jumlah investasi atau biaya yang diperlukan Kemampuan perusahaan untuk menutupi kerugian Tj 0. dan III Komoditas Kopi Biji Propinsi Lampung No. 210 . II. 1 Keterangan Saluran I Saluran II Saluran III 2 3 Petani 0.10 x 0. Hasil Perhitungan Metode Faktor Tertimbang yang Diterapkan pada Strategi Saluran III No.DAFTAR ISI Tabel 3.345 dan tata niaga III (Petani Produsen --->Pedagang Kabupaten --> Eksportir) dengan nilai 0.075 2 0.95 Pedagang Kecamatan Eksportir Petani Pedagang Desa 0.300 Nilai Total Sumber: Data Diolah dari Hasil Penelitian.93 Pedagang Kecamatan Eksportir Petani Pedagang Desa 0.30 x 0.040 0.375 dari bentuk tata niaga II (Petani Produsen ---> Pedagang Desa ---> Pedagang Kecamatan ---> Eksportir} dengan nilai 0.20 x 0.020 4 0.

S. 07. International Marketing. Siswoputranto. P.1. Yogyakarta: LPFE UGM. Craven. maka sebaiknya menggunakan bentuk tata niaga II (petani.95. 1999.375. 1999. D. New York: Irwin McGraw – Hill. terlihat adanya usaha untuk menyelenggarakan tata niaga komoditas kopi biji di Lampung seefektif dan seefisien mungkin terlihat dari angka perhitungannya yang lebih dari 70 %. Untuk itu perlu diaktifkannya peran serta lembaga asosiasi untuk ikut serta meningkatkan pendapatan pada tata niaga kopi biji. Jakarta: Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Manajemen Pemasaran. eksportir) lebih efektif daripada bentuk saluran distibusi lainnya dengan nilai 0. Kotler. dan tata niaga III rata-rata sebesar 0. tata niaga I rata-rata sebesar 0.H. pedagang kecamatan. 211 .94. 2004.Kotler. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Industri dan Perdagangan Departemen Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia. Buletin Ilmiah Penelitian dan Pengembangan Industri dan Perdagangan No. 2000. Sedangkan bila mengutamakan efisiensinya. 2004. Prentice Hall.W. 2000. Jakarta: Salemba Empat. pedagang kecamatan. Efektivitas tata niaga I (petani. Analisis efisiensi pada tata niaga II lebih tinggi daripada tata niaga yang lain. DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik Propinsi Lampung. eksportir). 2000. Indonesian Commodity Review. Basu dan Irawan. Eksportir juga dapat membantu petani komoditas kopi agar marjin yang diperolehnya meningkat.. Berdasarkan kesimpulan tersebut disarankan.DAFTAR ISI KESIMPULAN Kesimpulan penelitian jika dilihat secara parsial. jika lebih mengutamakan efektivitasnya. maka sebaiknya menggunakan bentuk tata niaga I (petani. Swastha D. yaitu 0. Departemen Perindustrian dan Perdagangan.35. pedagang kecamatan. pedagang desa. Marketing Management Millenium Edition. Lampung: Bappeda Tingkat I Lampung dan Badan Pusat Statistik Propinsi Lampung. Lampung Dalam Angka. Philip. Philip. Strategic Marketing International Edition. eksportir).00.93.

Universitas Lampung Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. 1999.DAFTAR ISI Universitas Lampung. Lampung: 212 .

Faculty of Economy. Management Dept. earning growth. Kelangkaan bunga tulip yang disebabkan oleh hama telah menyebabkan harga bibit bunga tulip dalam bentuk siung (bulb) meningkat dengan cepat. Constant Discounted Dividend Model. The Discounted Dividend Model is a fundamental approach to investment that looks into the earning growth of the companies in question. Memahami Cara Berinventasi Saham di Pasar Modal Oleh : Sri Hasnawati5 ABSTRACT This paper is to discuss the Discounted Dividend Model for investing in stocks. Three varieties of the model are presented here. Keywords : Discounted divident. Long term investment in stocks based on a fundamental approach seems more promising. Gejala mi telah 5 Doctor of Finance. Sejarah telah mencatat bagaimana misalnya masyarakat di Negeri Belanda pada abad ke enam belas beramai-ramai memborong bibit bunga tulip dalam rangka mendapatkan keuntungan yang tinggi dalam waktu yang singkat. and Multi Stages Discounted Dividend Model. . Keinginan manusia seperti itu adalah naluri manusia di mana saja. Latar Belakang “The madness of crowds” itulah istilah yang digunakan oleh Burton G. Lecturer of University of Lampung.Malkiel dalam bukunya yang berjudul: “A Random Walk Down Wall Street”. Constant Growth Discounted Dividend Model. untuk menggambarkan masyarakat yang ingin mencari keuntungan sebesar-besarnya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya tanpa dasar pemikiran yang rasional.. Stocks are one of the investment alternatives with both high expected return and high risk.DAFTAR ISI Penilaian Saham. but long-term investment based on rumors may not be profitable. Rumors might work well for short-term investment. varietes model I.

Dutron. Keuntungan yang dinikmati oleh segelintir orang ini telah mendorong yang lain untuk membeli bunga tulip lebih banyak lagi. tambahan permintaan akan menyebabkan harga akan meningkat (ceteris paribus). lalu terjun menjadi 398. Akibatnya banyak masyarakat yang menderita kerugian. Pada tahun enampuluhan di Amerika Serikat. Hukum ekonomi mengatakan bahwa dengan suplai yang tetap. Kalau para profesional ikut-ikutan “mad” tentunya sudah sangat keterlaluan. Kejadian di Negeri Belanda terulang kembali di Inggris pada Abad ke delapan belas.DAFTAR ISI memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi mereka yang telah terlanjur membeli bibit tersebut. Demiikianlah harga meningkat dari hari ke hari sampai pada suatu titik di mana harga sudah menjadi terlalu tinggi untuk bibit bunga tulip yang nilai intrinsiknya rendah. vicieotronics dan masih banyak lagi. masyarakat sangat menyenangi saham-saham yang namanya berbau “trons” seperti Astron.4 . Vulcatron dan Transitron dan juga yang berbau “onics” seperti circuitronics. 214 . Masyarakat lagi-lagi beramai-ramai membeli saham perusahaan pelayaran “The South Sea” yang tidak jelas benar kinerja keuangannya. Kejadian seperti ini lagi-lagi membawa korban. Kemudian seperti telah dapat diduga hargaharga saham meluncur ke indeks 240 pada bulan November 1991. Akhir cenita sama dengan kejadian di Belanda. Harga-harga saham meningkat dengan cepat dari indeks sebesar 68 menjadi sekitar 600 dalam waktu kurang dari tiga tahun. Harga saham yang berbau dua kata ajaib tersebut meningkat dengan cepat walaupun tanpa didukung oleh kinerja keuangan ( financial performance) perusahaan yang jelas. “The madness of crowds” juga terjadi di Indonesia. Akibatnya setelah meningkat dengan cepat. Masyarakat membeli saham semata-mata karena meinbeli saham memberikan status simbol tertentu. supronics. Nampaknya masyarakat di manapun tidak pernah mau belajar dan sejarah. Pada akhirnya tulip tetaplah tulip yang tidak dapat menghasilkan emas. harga kembali turun juga dalam waktu yang singkat dan timbul korban. Di abad keduapuluh sekarangpun masyarakat mengulangi kesalahan yang sama. syukur-syukur kalau yang menjadi korban adalah mereka orang lugu (the innocent).Kemudian tahun 1992 IHSG meningkat dari 274. sebagian inasyarakat mengalami kerugian karena perusahaan itu sendini tidak pernah mendatangkan dividen. Menyadari hal tersebut di atas masyarakat tidak lagi mau membeli tulip sehingga harga turun dengan cepat.3 menjadi 637.0 ditahun 1998 karena situasi krisis.

. tengah tahunan. 3. penulis merasa perlu untuk mencoba menjelaskan teori atau forsula yang lazim digunakan untuk menghitung nilai sesungguhnya dari suatu aset atau saham.. r atau required rate of return atau risk adjusted discount rate atau “hurdle rate” adalah tingkat bunga yang dituntut oleh investor sehubungan dengan oppurtunity cost7 dan resiko yang 6 7 Yang dimaksud umur ekonomis dapat didefinisikan sebagai jangka waktu suatu aset dapat dimanfaatkan secara ekonomis ( man faat lebih besar dan biaya)... Misal.. Oppurtunity cost dapat didefinisikan sebagai pengorbanan yang timbul karena alternatif investasi tertentu dipilih. Selain itu juga akan dibahas asumsi-asumsi.. t adalah periode (tahun..... seseorang memilih saham sebagai alternatif investasi maka oppurtunity costnya adalah nilai manfaat dan bunga yang dihasilkai~ oleh obligasi atau alternatif investasi lainnya seperti bunga deposito kalau investor berniat memegang (hold) saham dalam jangka pendek kurang dari satu tahun.... Secara matematis nilai intrinsik suatu aset (P0) adalah: C1 -----(1+r)1 C2 -------(1+r)2 C3 -------(l+r)3 Ct --------(l+r)t P 0= + + + N Ct ... Ruang Lingkup dan Tujuan Penulisan Tulisan ini bertujuan untuk membahas teori.... pokok pemikiran yang melandasi teori....DAFTAR ISI Untuk nenghindari “madness” atau kegilaan tersebut. metode dan formula yang digunakan untuk menghitung nilai intrinsik suatu aset tersebut. 2....................(1) Po = Ʃ -----------t =l (l+r)t Ct adalah arus kas (cash flow) untuk peniode t......... Penilaian Aset Secara Umum Nilai intrinsik (intrinsic value) atau harga yang pantas suatu aset baik aset fisik (phisical assets) maupun aset keuangan adalah penjumlahan nilai sekarang (present value) dari arus uang (cash flow) yang diciptakan oleh aset yang bersangkutan selama umur ekonomis aset tersebut 6. 215 ........ kuartalan. Penghitungan oppurtunity cost ini dimaksudkan agar investor mengetahui alternatif terbaik dari sumber dana yang terbatas... bulanan atau harian).... pendekatan yang lazim digunakan untuk menghitung nilai sesungguhnya sari suatu aset khususnya saham.....

......... Oleh karena itu Persamaan satu di atas dapat dirubah menjadi: N Po = Dt ..... Besarnya resiko ini dapat dinyatakan oleh besarnya deviasi standar dari return dan koefisien ß yang akan dijelaskan kemudian....... Oleh karena itu tidak aneh kalau tingkat bunga meningkat.. rpi= risk premium atau premium resiko adalah tambahan return yang dituntut oleh investor karena ia mau menanggung resiko.(2) Ʃ ------------t=1 (l+r) di mana: r = required rate of return t = peniode Dt= dividen untuk peniode t P0= Nilai intrinsik atau harga saham pada saat sekarang. Konsekuensi dari perbedaan ini . Profit mempunyai kelemahan karena keuntungan diperoleh berdasarkan prinsip dan metode akuntansi yang menawarkan angka profit yang berbeda-beda tergantung pada pninsip dan metode akuntansi yang digunakan 216 ... Persamaan dua di atas disebut juga Discounted Dividen Model atau DDM..... Semakin tinggi dividen yang dibagikan semakin tinggi harga saham dan sebaliknya.. return bagi akuntan adalah profit sementara return bagi ekonom adalah cash flow yang lebih mencerminkan return yang sesungguhnya . untuk peniode mana suatu biaya itu akan dibebankan (konsep accrual accounting dan defferral accounting)....... Konsep oppurtunity cost inii diyakini oleh para ekonom yang berbeda dengan konsep biaya yang diyakini oleh para akuntan. Untuk saham maka cash flow yang dihasilkan adalah arus dividen yang akan diterima oleh investor di masa yang akan datang.... 4.DAFTAR ISI melekat pada aset i. r1 = rf + rpi rf = risk free rate atau tingkat bunga bebas default risk. harga saham akan turun seperti terjadi di Indonesia tatkala pemenintah memberlakukan TMP (Tight Money Policy). Menurut model ini nilai intrinsik dari saham akan sangat tergantung pada d!viden yang dibagikan dan required rate of return.............. Akuntan di dalam melihat biaya lebih memperhatikan kapan biaya itu mulai benlaku (historic cost)...... Semakin tinggi required rate of return semakin rendah harga atau nila! intrinsik saham..... Menentukan Nilai Intrinsik Saham Seperti telah dijelaskan sebelumnya nilai intninsik suatu aset adalah penjumlahan nilai sekarang dari cash flow yang dihasilkan oleh aset yang bersangkutan....

c. Dividen tetap (saham preferen atau preferred stock sama dengan obligasi) akan menghasilkan Discounted Fixed Dividen Model. Konsep keuntungan adakalanya tidak dapat dibandingkan satu dengan yang lain kanena keuntungan merupakan definisi return yang diturunkan (derived) oleh akuntan yang dilandasi oleh metode dan prinsip akuntansi tententu. b. Saham bonus baru merupakan potensi daya beli.DAFTAR ISI Dari persamaan di atas akhinnya kita dapat menyimpulkan bahwa estimasi harga saham akan sangat tergantung pada keakuratan kita mengestimasi dividen dan required rate of return di masa yang akan datang. Konsep nilai waktu dari uang merupakan konsep yang memperhatikan oppurtunity cost dari sumber ekonomi (dana) yang tenbatas sehingga keputusan investasi yang dibuat secara otomatis mencerminkan keputusan yang optimal. Penjelasan bagaimana kita dapat mengestimasi dividen dan required nate of return di masa yang akan datang akan dijelaskan kemudian. Dari persamaan di atas. dapat ditarik kesimpulan bahwa dividen yang dihargai adalah dividen tunai sementara saham bonus atau Pay In Kind (P1K) dividen tidak dapat dimasukkan sebagai “final return”. Metode dan prinsip yang berbeda akan menghas!lkan def inisi keuntungan atau kerugian yang berbeda. Dividen berkembang dengan laju pertumbuhan yang konstan akan menghasilkan Constant Growth Discounted Dividen Model. Saham bonus dapat menjadi final return kalau saham tersebut 217 . Dividen berkembang dengan laju pertumbuhan yang berbeda untuk berbagai tahap (stages) suatu penusahaan akan menghasilkan Multi Stages Growth Discounted Dividen Model. Secana teoritis terdapat tiga kemungkinan pola perkembangan dividen di masa yang akan datang yang sekaligus pula akan memberikan model atau formula yang berbeda. Pola tersebut adalah: a. Keunggulan Discounted Dividen Model: Dari persamaan dua di atas dapat dilihat bahwa model ini diturunkan dani konsep nilai waktu dari uang (time value of money) dan konsep arus kas (cash flow). Konsep arus kas (cash flow) merupakan konsep yang lebih baik bila d!bandingkan dengan konsep keuntungan (profit) kanena arus kas lebih mencerminkan final return dan lebih dapat dibandingkan (comparable).

Sehingga Price Earning Ratio adalah 10 (diasums!kan pula bahwa PER =10 ini adalah ideal dalam arti sesuai denga PER ratarata industn). Pemilik perusahaan yakin bahwa dengan penundaan pembagian dividen tunai (perusahaan hanya membagikan saham bonus) dapat melaksanakan pengembangan usaha yang mendatangkan ROE sebesar 35 %. Sekarang setelah saham bonus dibagikan Earning Per Share turun menjad! Rpi400. Sebaliknya di Indonesia saham bonus diambilkan dari pos agio. Earning per share saham perusahaan X adalah Rp 600 dan harga saham adalah Rp 6000. Dalam kasus ini pembagian saham bonus sama sekali tidak merugikan investor karena mereka memperoleh kelebihan sebesar 5% (net) atas pengorbanan mereka menenima “kertas” atau saham bonus sebagai balas jasa.-.. Dalam kasus yang terakhir ini investor hanya menunda sementara penerimaan uang tunai.8 Sesungguhnya pembagian saham bonus tidak selalu berarti negatif. maka harga saham cenderung akan turun. Idealnya saham bonus diambilkan dani pos retained earnings perusahaan dan ini lazim dilakukan di Amenika. Penundaan itu diberi imbalan. kekayaan pemegang saham akan bertambah secara riil. Untuk labih jelasnya lihat contoh berikut. ini sudah keterlaluan atau istilah Kwik Kian Gie disebutnya sebagai brutal. maka harga yang pantas adalah Rp 4000. Alasannya itu tadi. Dengan asumsi PER adalah tetap. Dengan demikian untuk mempertahankan PER=l0. Modus operandi pembagian saham bonus biasanya dikombinasikan dengan merger dan akuisis perusahaan lain. 218 . Merger dan akuisisi ini adalah cara yang digunakan untuk menarik kas yang ada diperusahaan di dalam pos tambahan modal disetor berupa agio. Di Amenika serikat bila suatu perusahaan membagikan stock dividen itu benarti berita baik investor. 8 Saham bonus berdampak pada penambahan jumlah saham yang beredar yang pada akhirnya akan menurunkan earning pen share (EPS).DAFTAR ISI telah diuangkan. Pembagian saham bonus dapat berarti positif kalau pembagian tersebut dilandasi oleh pemikiran bahwa pemilik perusahaan merasa yakin bahwa perusahaaan mempunyai “proyek” atau peluang investasi yang menawarkan ROE (return on equity) yang lebih besar dari required rate of return perusahaan. Misal sebelum dibagikan saham bonus. Pemilik perusahaan (pemegang saham) mempunyai required of return 27% (22 % merupakan balas jasa risk free rate dan 5% adalah premium resiko). Dengan perkataan lain para pengelola penusahaan merasa yakin bahwa dengan menunda pembagian dividen tunai. pengelola perusahaan merasa yakin bahwa tersedia peluang business yang bagus.

Adalah Lord Keynes (seorang investor yang sukses) yang menyatakan bahwa sesungguhnya tugas seorang analis adalah bagaimana ia dapat menangkap mood (suasana hati) investor khususnya pada saat perekonomian mengalami booming. Adapun kelebihan dari nilal intrinsik tersebut merupakan hasil dari faktor-faktor di luar model seperti faktor psikologis investor.Yang penting bagi analis. masyarakat akan membentuk “The castle in the air” atau angan-angan mereka tentang masa depan bahwa perekonomian akan baik. meminjam istilah Bapak Charles Naibaho dan Dana Reksa dan Bapak DR Wahyudi Prakasa dari UI “janganlah menjadi ekstrimis atau terlalu fanatik pada konsep atau pandangan fundamentalis di satu pihak dan technical analysis di lain pihak”.DAFTAR ISI Kelemahan Discounted Dividen Model: Dani persamaan dua di atas dapat dilihat bahwa model ini secana tidak langsung mengasumsikan bahwa investor akan memegang saham untuk jangka waktu yang tak terhingga dan mengabaikan capital gain. 9 Teori ini berdasarkan faktor-faktor psikis investor. Manusia tidak mungkin dapat menjelaskan seluruh fenomena yang ada di dunia ini. perusahaan akan mendatangkan keuntungan. Hanya “X” yang Maha mengetahui. Asumsi-asumsi ini jelas sangat tidak realistis karena investor sangat mementingkan capital gain dan jarang sekali atau mungkin tidak ada investor yang bersedia memegang saham untuk jangka waktu yang tak terhingga. Bisa saja harga saham ditentukan oleh faktor—faktor di luar faktor fundamental seperti earning dan deviden seperti dijelaskan oleh “The Castle In The Air Theory”9 ****. iklim investasi akan baik. dividen akan meningkat dan demikian juga harga saham akan meningkat 219 . Kemudian dengan model ini paling tidak kita mengetahui berapa nilai intrinsik suatu aset khususnya saham sebagai batas bawah atau standar. Dengan demikian akan timbul pentanyaan “Buat apa kita mempelajari model tensebut kalau kita ketahui model tensebut dilandasi oleh asums! yang tidak realistis ?“ Jawabnya pasti: “Tetap ada manfaat mempelajari model tersebut meskipun asumsinya tidak masuk akal” Asumsi yang tidak masuk akal tersebut dipilih sebagai cerminan kita sebagai manusia yang penuh keterbatasan. akan tetapi pada titik tertentu harga saham akan ditentukan oleh nilai intrinsik saham. Pada periode booming investor merasa optimistis terhadap masa depan. Kapas tetaplah kapas dan tidak pernah akan berubah menjadi emas. Yang pasti kita ketahui (sejarah telah membuktikannya) saham-saham yang harganya sangat jauh di atas nilai intrinsiknya pada akhirnya akan jatuh. Tidak ada salahnya kita menggunakan keduanya dengan bijaksana.

.........................................= 0 (l+r) nilai dari persamaan tiga (3) di atas dapat diubah menjadi: D0 P0= Do x 1/r = ----------......................................... nilai intrinsiknya secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut: N Dt Po = Ʃ ______ ............ maka: 1 --------------------............... .... maka dapat disederhanakan menjadi: 1 1 ....................................... 220 ......... = Dt...............................................1 Constant Discounted Deviden Model: Untuk saham yang menjanjikan deviden dalarn jumlah tetap.. Persamaan tersebut membantu kita untuk memahami model yang lebih rumit seperti model yang akan dijelaskan kemudian...(1) t=l (l+r)t Karena D0=D1=D2= ................. (3) r Rumus di atas tidak lain adalah rumus penghitungan nilai sekarang dari cash flow yang diterima di masa yang akan datang dalam jumlah yang sama untuk setiap periode atau anuitas (annuity).............. hanya dapat digunakan untuk saham preferen dan atau obligasi..... Karena t inendekati tak terhingga.................. Kelemahan: Penggunaannya relatif terbatas...........(4) r Keunggulan: Persamaan empat tersebut di atas karena kesederhanaannya relatif mudah untuk diaplikasikan.....DAFTAR ISI 4... ..----------------(1 + r)t \P0= D0 x---------------------.........

.... Nilai intninsik kemudian dibandingkan dengan harga yang berlaku (current market price) .......... Decision rules: if current price > intrinsic value =>over priced => sell if current price < intrinsic value =>under pniced=> buy 221 ......(6) Di mana: R = requiered rate of return g = laju pertumbuhan deviden Do = besarnya deviden terakhir yang dibagikan D1 = estimasi deviden untuk satu tahun yang akan datang....(5) Di mana: P0 = Harga saham sekarang r = required rate of return g =laju pertumbuhan deviden (cosntant untuk jangka waktu tak terhingga)....+ ...= -----------(r-g) (r-g) P0= .. Sebaliknya jika harga yang berlaku lebih rendah bila dibandingkan dengan nilai intrinsiknya maka berarti saham tersebut “under priced” dan harus dibeli....+ ----------.... Secara matematis dapat dinyatakan sebagai benkut: D0(l+g)1 D0(1+g)2 D0(l-1-g)3 D0(1+g)t P0= ---------.................... jika harga yang berlaku lebih nendah bila dibandingkan dengan nilai intrinsiknya maka saham perusahaan adalah “over priced” atau terlalu mahal....... Karena jangka waktu adalah tak terhingga maka persamaan 5 di atas dapat dirubah menjadi: D1 D0(1+g) --------...... Dalam kasus ini berarti saham tersebut harus dijual.. + ----------(l+r)1 (l+r)2 (1-r)3 (l+r)t .....+ ---------.............................DAFTAR ISI Nilai Intrinsik Saham Yang Membagikan Dividen Yang Berkembang Pada Tingkat Pertumbuhan Yang Tetap (Constant Growth Discounted Dividen Model)...

............. Kemungkinan pola perkembangan pertumbuhan deviden di masa yang akan datang secara detail akan dibahas kemudian..... 222 . 4.. Asumsi ini adalah terlalu naif karena di dalam dunia nyata tidak ada saham yangmenawarkan dividen yang berkembang secara terus menerus pada tingkat yang tetap.....DAFTAR ISI Keunggulan Persamaan enam (6): Secara umum persamaan enam jauh lebih baik bila dibandingkan dengan persamaan dua (3) di atas................... Model ini pada dasarnya merupakan modifikasi dan rumus dasar pada persamaan 1 di atas.. Pensamaan enam dapat digunakan untuk mengestiniasikan nilai intrinsik saham yang menawarkan pertumbuhan yang kosntan......3 Nilai Intrinsik Saham Yang Menawarkan Pertumbuhan Deviden Yang Berbeda Untuk Masing-Masing Periode/Tahap (Multi Stages Discounted Dividen Model).......(1) Persamaan di atas dapat dimodifikasi ke dalam berbagai fase atau tahap. Kelemahan: Persamaan tersebut secara langsung mengasumsikan bahwa pertumbuhan saham di masa yang akan datang adalah tetap (constant) ........ Untuk memudahkan pembahasan berikut akan disajikan model dua tahap (Two Stages Model) Model Dua Tahap (Two Stages Model): Misal pola perkembangan perusahaan hanya ada dua yaitu fase pertumbuhan cepat dan fase pertumbuhan melambat (tidak tenlalu cepat bila dibandingkan fase sebelumnya).. Kelemahan dua model terdahulu telah medorong para pakar untuk memodifikasinya lebih lanjut..... Untuk memudahkan kita cantumkan lagi: N P 0= Ʃ t=1 Dt ------(l+r)t .

x P4 (l+r)1 (l+r)2 (1+r)3 (l+r)4 (1+r) 4 1 -------.+ t=l (l+r)t di mana: n < N n = jumlah periode tahap I 223 ..+ ------. ---------. ---------.X Pn (1+r)n Po = n Dt P0= Ʃ -----. --------.DAFTAR ISI g1=15% <-------------------.+ -------. -------------------------------------------1 2 3 4 -------->g2=10% Fase I Fase II n= 4 Langkah perhitungan: a) Menghitung perkiraan harga saham pada akhir periode keempat: D5 ---------r-g2 D4(1+g2) ---------------r-g2 P 4= = b) Menghitung D4: D4 = D0(l+g1)4 c) Hasil langkah a dan langkah b digabung: D0(1+g1)4(1+g2) P4= ------------------------r .. D1 D2 D3 D4 1 -----+ --------+ -------.g2 Menghitung harga saham sekarang (nilai intrinsik) P0 yaitu penjumlahan nilai sekarang dari cash flow yang akan diterima sampai dengan periode 4.

Deviden tahun terakhir (D0) =Rp 300.12 menghitung harga saham Bank BNI yang wajar.= --------------.959.20—0.+ ------------. Jawaban: a) menghitung perkiraan harga saham pada akhir periode keempat: D5 D5 D4(l+g2) = ----------------.12 Rp439(1+0.DAFTAR ISI Contoh: Misal Bank BNI untuk peniode 4 tahun mendatang menjanjikan pentumbuhan deviden sebesar 10 % per tahun. Harga saham yang wajar adalah harga saham yang sama dengan nilal intrinsiknya. Nilai intrinsik merupakan penjumlahan nilai sekarang (present value) dan cash flow yang diciptakan oleh saham Bank BNI berupa deviden selama empat periode berturut-turut dan harga saham pada periode keempat. D0(1+g1) -----------. per lembar saham.+ ----------.08) -------------------.08 0.= 0.12 P 4= b) menghitung deviden pada akhir tahun keempat: P4 = D0(1+g1)4 = Rp300 (14-0. Pertanyaan: Berapa harga saham Bank Duta yang pantas dengan asumsi pola pertumbuhan seperti di atas dan required rate of return 20 %.+ (l+r)1 D0(l+g1)2 D0(1+g1)3 D0(1+g1)4 1 ----------.+ ----------x P4 (l+r)2 (1+r)3 (1+r)4 (1+ r)4 Po = 224 .4641 = Rp439.- c) menggabungkan hasil perhitungan langkah a dan langkah b: D4(l+g2) P4= ---------. Untuk peniode setelahnya diperkirakan laju pertumbuhan deviden tunun menjadi 8%.0.10) Rp300xl.= ------------------r — g2 0.= Rp 3.

1)2 ------------------(1+0. profit margin dan penerimaan dari hasil penjualan .855.+ -------------x Rp3. Kelemahan: Dari contoh perhitungan di atas jelas model ini lebih rumit bila dibandingkan dengan dua model sebelumnya. —Jika hanga saham Bank BNI pada saat tententu adalah Rp 2600.1)3 + -----------------.-.20)1 Rp300(1+0. Profit Margin dan Earnings.l.20)3 Rp300(1+0. 5.1)1 -----------------. Decision Rules: If V0 = P0 = lntrinsic Value > current market prcie ==> Buy If V0= P0 =I ntrinsic Value < current market price ==>Sell Keunggulan: Model dua tahap ini dapat dikembangkan menjadi model tiga tahap dan seterusnya. Memperkirakan Pola Perkembangan Pertumbuhan Dividen Suatu Perusahaan Dengan memperhatikan constant growth discounted dividend model maupun multi stages growth discounted dividend kita dapat melihat bahwa hasil perhitungan nilai intrinsik suatu saham sangat tergantung pada besarnya laju pertumbuhan deviden atau besarnya g.34 =Rp2 .+ (1+0. maka harga saham Bank BNI adalah “under priced ”.953.20)4 Po = Rp275. Pola Umum Pertumbuhan Revenue. Dividen yang dapat diterima oleh pemegang saham akan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan menghasilkan “earning”. Oleh karena itu pemahaman tentang berbagai kemungkinan pola pertumbuhan devidem dan metode yang digunakan memperkinakan pertumbuhan deviden mutlak diperlukan 5. Dengan demikian model ini (Multi Stages Dividen Growth Model) lebih realistis bila dibandingkan dengan dua model sebelumnya.82 +Rpl906.0 + Rp 250.(1+0.l)4 1 +-----------------. Hubungan ketiga komponen tersebut dapat digambarkan oleh siklus keuntungan perusahaan berikut ini: 225 .DAFTAR ISI Po = Rp300(1+0.0 + Rp210.2)4 (1+0.+ (1+0.20)2 Rp300(1+o.0 +Rp 211.

Skenario seperti ini adalah skenario yang lazim terjadi di pasar modal yang telah maju. Perusahaan yang go public adalah perusahaan yang sungguh—sungghuh menawarkan keuntungan bagi investor dalam jangka panjang atau mempunyai prospek yang baik. Keterangan: Tahap I (Early Development): Fase pertumbuhan awal ditandai oleh peningkatan laju pertumbuhan penerimaan penjualan. pada tahap ini perusahaan baru saja mengalami titik pulang pokok. Seperti digambarkan pada gamban 1 di atas. Bukan perusahaan yang untung karena akal-akalan akuntan yang menyajikan laporan keuangan. Jerome B. Edward D. Zinbarg and Anthun Zeikel. margin keuntungan dan earning perusahaan. 226 . Keuntungan yang diperoleh dari hasil operasi perusahaan (profit margin) dan keuntungan bersih adalah positif dan memberikan trend yang positif.DAFTAR ISI Gambar 1: Life Cycle of Profit: : : + + + * * * : : : : : : I : : + + + + : : : * : : : : : : + : * : + ? Revenue * : * : : : : : : : IV Profit Margin Earnings II : : III time Sumber: 1992 CFA Reading:Industry Analysis.Cohen.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat gambar fungsi biaya rata-rata berikut ini: Gambar 2: Fungsi Biaya Rata-rata Average Cost/Marginal Cost * * * : MC * : * : : * * II Quantity Produced 227 * AC I 0 . Dengan perkataan lain masalah “timing” sangat penting di dalam proses pengambilan keputusan investasi. Gejala ini sering juga disebut dengan “economic of scale”.DAFTAR ISI Saham perusahaan yang ada pada tahap ini lazim disebut saham pertumbuhan (growth stock). Saham ini tidak memberikan “current dividend” dalam jumlah yang besar akan tetapi menjanjikan pertumbuhan dividen yang tinggi di masa yang akan datang. Tahap ini ditandai oleh laju pertumbuhan revenue. Tahap II (Rapid Expansion): Tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap satu. profit margin dan earning yang sangat tinggi bila dibandingkan dengan periode sebelumnya dan periode sesudahnya. Tugas analis adalah menernukan “growth stock” seperti ini dan jika telah menemukan jenis saham seperti itu segera melaksanakan pembelian. profit margin dan earning yang tinggi dimungkinkan oleh kemampuan perusahaan meningkatkan produksi sedemikian rupa sehingga biaya per unit menjadi minimum. Pertumbuhan revenue. Pertumbuhan deviden pada tahap ini belum akan begitu cepat karena perusahaan baru saja melewati batas kritis yaitu titik pulang pokok. karena kalau terlambat harganya sudah terlanjur tinggi.

Selain itu gejala yang nampak adalah penurunan margin keuntungan (profit margin) perusahaan. Analis keuangan yang baik harus menghindari perusahaan yang memberikan gejala seperti di atas.DAFTAR ISI Kalau kita perhatikan tahap I dari gamban 2 di atas nampak biaya rata—rata per unit barang yang dihasilkan semakin lama menurun sampai pada titik minimum. 228 . Perusahaan-penusahaan keluarga yang sangat agnesif di dalam upaya pengembangannya harus dihindari. harus segera dilaksanakan. Perusahaan-perusahaan yang “higly geared” atau perusahaan yang terlalu banyak menggunakan hutang apapun bentuknya (termasuk Convertible Bonds) harus ditelaah secara hati-hati. Secara alamiah akan timbul masalah antara lain “span of control” berbagai aspek perusahaan seperti keuangan. Taflap III (Mature Growtfl): Tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap sebelumnya. Tambahan produksi justru meningkatkan biaya secara lebih cepat. Akibat dari semua gejala ini tentunya adalah penurunan keuntungan perusahaan. upaya pemasaran yang lebih efektif dan lain sebagainya. Pada tahap ini laju pertumbuhan dividen mengalami penurunan bila dibandingkan dengan laju pertumbuhan deviden pada tahap selanjutnya. Dari gambar 1 di atas kita dapat melihat gejala di mana revenue dan earning perusahaan secara absolut masih meningkat akan tetapi dengan laju pertumbuhan yang lebih rendah bila dibandingkan dengan periode sebelumnya (rapid expansion). Kebijaksanaan mendasar seperti penggantian direksi dan pemilik lama (kelompok keluarga) ke kelompok profesional. Penurunan biaya per unit tidak mungkin terjadi selamanya. Pada tingkat tertentu akan timbul ketidakefisienan di dalam pengelolaan perusahaan yang ditanda! oleh peningkatan biaya marjinal yang lebih cepat bila dibandingkan dengan peningkatan biaya ratarata. produks!. Kalau tidak ada upaya serius maka perusahaan akan memasuki tahap selanjutnya yaitu tahap penurunan yang merupakan gambaran kematian suatu perusahaan. Biaya produksi yang menurun memungkinkan perusahaan untuk menjual lebih banyak dan memperoleh keuntungan yang lebih besar. pemilihan teknologi perusahaan. Apabila perusahaan memasuki tahap ini. pemasaran dan lain sebagainya. Pada tahap ini kemungkinan besar laju pertumbuhan deviden akan lebih tinggi bila dibandingkan dengan periode sebelumnya. Pada tahap ini perusahaan justru memasuki tahap “disenomic of scale”. Gejala ini sejalan dengan pola perkembangan biaya perusahaan yang digambarkan oleh gambar 2 di atas. pimpinan/pemilik perusahaan harus berhati-hati.

.....DAFTAR ISI Tahap IV menurun (Decline): Tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap III kalau tidak ada upaya yang serius dan berhasil untuk mengatasi berbagai masalah yang terjadi di dalam lingkungan perusahaan... Pola tersebut seperti telah dijelaskan pada bagian terdahulu sangat ditentukan oleh tahap-tahap yang dilewati oleh suatu perusahaan di dalam siklus pertumbuhan/perkembangan perusahaan................... Perusahaan yang memasuki tahap IV ini akan diambil alih oleh pihak lain dan selalu akan terjadi penggantian pimpinan perusahaan............. persaingan dengan perusahaan lain dan lain sebagainya....... 5..................... Kalau suatu perusahaan sampai pada tahap ini berarti terjadi kesalahan di dalam pengelolaan perusahaan yangterjadi pada periodeperiode sebelumnya.............(7) (r-g) (n-g) b = Plow back ratio = (1 DividendPayOutRatio) ... Pada tahap ini kemungkinan besar perusahaan tidak akan membagikan deviden karena perusahaan mengalami kerugian.......2 Model Dupont: Sejauh ini k!ta belum lagi membahas bagaimana cara memperkirakan besarnya pertumbuhan deviden secara mendalam..... Kita baru sampai pada tahap pengenalan kemungkinan pola pertumbuhan deviden di masa yang akan datang..= ------------------.. Di dalam pasar modal yang telah maju selalu ada mekanisme yang mengatur kejadian seperti di atas................ Berikut ini kita akan melihat model yang dapat digunakan untuk memperkinakan pertumbuhan deviden di masa yang akan datang.......... Misal kesalahan pihak direksi di dalam mengantisipasi perubahan teknologi.........(9) Earning per Share R = required rate of return 229 .... selera konsumen....(8) Dividend per Share Dividend Pay Out Ratio = --------------------------........... Sekarang kita lihat rumus penentuan nilai intrinsik saham secara detail: E(D1) E(E1)x(1—b) P0 = V0 = -----------...........

....... Expected dividend itu sendiri ditentukan oleh perkalian expected earnings per share satu tahun yang akan datang dengan Dividend Payout Ratio. Dividend Pay Out Ratio (DPR) sama dengan 40%. 10) = Rp2133.....x -----------------.... Hubungan tersebut dapat dinyatakan oleh persamaan berikut: g = ROE x (1-Dividen Pay Out Ratio) 10 ........DAFTAR ISI Dari persamaan tujuh di atas dapat dilihat bahwa nilai intrinsik saham akan ditentukan oleh expected dividen setahun yang akan datang.................x ------.......= ------........... required rate of return sama dengan 25%......... Contoh: Misal Saham Bank BNI satu tahun yang akan datang diperkirakan akan menghasilkan Earning per Share sebesan Rp 800. pertumbuhan dividen sama dengan 10 % maka besarnya nilai intrinsik Saham Bank BNI adalah: E(E1) x (1—b) = ---------------------(r-g) Rp800 x 0...40 = ---------------------(0. (10) 10 Untuk mendapatkan rumus g=ROEx(l-Dividen Pay Out Ratio) perhatikan penjelasan berikut: Per definisi.............- P0 = V0 = nilai intrinsik saham Benikut ini akan dilihat hubungan antara laju pertumbuhan dividen dengan Return On Equity dan Plowback Ratio.x -------------------......x ----------------Pretax Income EBIT Sales Total Assets Equity (a) (b) ( c) (d) (e) ............ required rate of return dan laju pertumbuhan dividen.................-..x ------E0 E0 I ROE dapat diubah menjadi : Net Income Pretax Income EBIT Sales Total Assets ROE = -------------------. expected growth rate of earnings = perubahan earnings dibagi current earnings: ∆E I ∆E g = --------.. 25—0.......11) Catatan : EBIT= Earning Before Interest and Tax 230 ...

Tax Burden: Semakin besar tax rate.4)= 9% Persamaan 12 tesebut di atas kalau dilihat lebih jauh ternyata terdiri dari lima komponen utama yaitu: • • • • • komponen a merupakan Tax Burden komponen b merupakan Interest Burden komponen c merupakan Profit Margin (profit on sales) komponen d merupakan Assets Turn Over komponen e merupakan Financial Leverage Dengan memahami kelima komponen ROE di atas kita dapat dengan mudah memahami faktor—faktor apa yang menentukan besar kecilnya ROE yang juga menentukan besar kecilnya g atau pertumbuhan deviden.DAFTAR ISI dimana : Net Income ROE = Return On Equity = ----------------Equity Lebih lanjut dengan menggunakan Du pont Mode Dari persamaan 11 tersebut di atas pertumbuhan dividen dapat dihitung asalkan besarnya ROE dan besarnya retention ratio dan plowback ratio diketahui. Semakin besar tax burden per definis! (ceteris paribus) ROE semakin kecil. Maka besarnya laju pertumbuhan dividen adalah: g= ROE x (1—b)= 15% x (1—0. semakin besar tax burden .4. Tax burden yang meningkat dinyatakan oleh rasio antara Net Income dan Pretax Income yang semakin keci1. Contoh perhitungan: ROE saham Bank BNI satu tahun yang akan datang diperkirakan akan menjadi 15% dan Dividend Pay Out Ratio sama dengan 0. 231 .

. Semakin tinggi interest burden .......(13) Equity Equity Profit Magin Per definii EBIT Profit Margin = ----------------------Sales 232 .. Interest Burden: Komponen Interest Burden (Pretax Prof it/EBIT) yang dirubah menjadi: Pretax Profit -----------------EBIT EBIT-Intenest Expense = --------------------------------------..= Equity Equity+ Debt Debt ---------------. Jika dua perusahaan berada pada tax bracket yang sama maka tax burden tidak terlalu berpengaruh pada hasil perhitungan ROE....(12) EBIT Dari rumus interest burden di atas dapat dilihat bahwa jika suatu perusahaan sama sekali tidak menggunakan pinjaman atau interest expense sama dengan nol. Sebaliknya jika kita membedakan dua perusahaan yang berada pada tax bracket yang berbeda pajak dapat mempenganuhi hasil perhitungan ROE....... Semakin tinggi financial leverage (semakin banyak debt digunakan) semakin tinggi interest burden... Jika perusahaan banyak menggunakan pinjaman beranti interest expensenya besar... .. maka interest burden atau rasio antara pretax profit dengan EBIT sama dengan satu.= 1+ -------------.... per definisi (ceteris paribus) ROE semakin kecil.. Perlu diingat bahwa Interest burden yang tinggi dinyatakan oleh rendahnya rasio antara Pretax Income dan Earnings Before Interest and Tax Adapun hubungan financial leverage (Assets/Equity) dengan debt to equity ratio dapat dinyatakan oleh persamaan benikut: (Financial Leverage) Assets = -------------.... Tax Burden yang berbeda dapat pula disebabkan oleh kemampuan perusahaan memanipulasi pajak yang harus dibayarkan kepada pemerintah.DAFTAR ISI Hal ini disebabkan karena pajak selamanya akan mengurangi earning yang dapat dibagikan kepada pemilik perusahaan atau pemegang saham.. Rasio sama dengan satu adalah angka yang maksimum... maka rasio ini akan semakin kecil (kurang dan satu)... Interest burden mempunyai hubungan yang erat dengan financial leverage suatu perusahaan.

.(14) Dari pensamaan 15 di atas dapat dilihat bahwa jika ROA lebih kecil bila dibandingkan dengan interest rate maka ROE akan turun berarti akan terjadi dilusi (dilution) dari earning yang dapat diterima oleh pemegang saham...= 1.. Financial Leverage: Per definisi: Financial Leverage = Assets -----------------.= 1 + Equity Debt -----------Equity Jika Financial Leverage = l.. Profit margin 10% berarti untuk set!ap dollar penjualan keuntungan sebesar 10 sen dollar.. Assets Turn Over Komponen ini menggambankan efisiensi pemanfaatan aset perusahaan...67 maka... Semakin efisien pemanfaatan aset suatu penusahaan (yang dicerminkan assets turn over yang tinggi) semakin tinggi ROE. Debt ----------.. semakin tinggi ROE suatu perusahaan.. Profit margin disebut juga sebagai return on sales menunjukkan keuntungan untuk setiap satu dollar atau rupiah penjualan. Dengan perkataan lain pemegang saham dirugikan... Untuk jelasnya lihat modifikas! Persamaan dua belas di atas benikut ini: Debt ROE = (1-TaxRate) ⃒ ROA + (ROA-InterestRate) --------Equity .DAFTAR ISI Semakin tinggi profit margin. 233 .. Financial Leverage dapat mem”boost” atau meningkatkan ROE dengan ketentuan bahwa ROA (Return On Assets) lebih besar bila dibandingkan dengan tingkat bunga yang harus dibayarkan oleh perusahaan...... semakin tinggi ROE.67.1 = Equity 67 ---------100 Debt to Equity Rat!o = Dan persamaan duabelas tersebut di atas dapat dilihat bahwa semakin tinggi financial leverage...

maka usaha yang harus dilakukan adalah meningkatkan Financial Leverage setinggi mungkin.= EBIT 0. Contoh Perhitungan Laju Pertumbuhan Deviden: Perusahaan metniliki ROE = 35 %.7 Pretax Income Atau Tax Rate = 30% Perusahaan B 0. Masalahnya adalah kalau financial leverage terlalu tinggi.67 0. Kemungkinan besar hal itu disebabkan misalnya oleh perusahaan tensebut tidak efisien dalam memanfaatkan asetnya. resiko keuangan (financial risk) suatu perusahaan menjadi tinggi dalam arti kalau terjadi sesuatu dengan hasil penjualan (misal menurun tajam) maka perusahaan kemungkinan besar tidak dapat memenuhi kewajibannya dan dapat dinyatakan bangkrut dan dilikuidasi. Dari uraian ini jelaslah bahwa salah satu motivasi perusahaan go public adalah dalam rangka menurunkan financial risk.= 0.73 234 .65 maka dengan mudah kita dapat memperkinakan benapa besarnya g atau laju pertumbuhan deviden di masa yang akan datang ya!tu 22. KESIMPULAN: Jadi jelaslah dengan memahami berbagai komponen dari ROE kita lebih dapat memahami mengapa ROE suatu perusahaan lebih rendah bila dibandingkan oleh perusahaan lain yang sejenis.DAFTAR ISI Dan persamaan 15 tersebut di atas dapat pula disimpulkan bahwa kalau pemilik perusahaan yang ada yakin bahwa ROA akan leb!h besar bila dibandingkan dengan interest rate yang akan dibayarkan. Dengan mengetahui ROE dan Dividen Pay Out Ratio kita dapat menentukan berapa besannya pertumbuhan deviden di masa yang akan datang. Dividen Pay Out Ratio adalah 0.75% Contoh Perhitungan ROE: Perusahaan A Ta x Burden Net Income = -------------------------.7 Pretax Income Interest Burden = ---------------------.

= Sales 12% 17% Sales Assets Turn Over = ------------------.1 ROE 0.1. Benikut adalah perhitungan ROA untuk Perusahaan A dan Perusahaan B: ROA = Profit Margin x Assets Turn Over Perusahaan A Operating Margin EBIT = -------Sales Sales = ---------Total Assets 12% Perusahaan B 17% Assets Turn Ove 3x 2.5. Hal ini utamanya disebabkan oleh: a) Perusahaan A lebih efisien dalam menggunakan asetnya.5 x ROA 36% 42.DAFTAR ISI Profit Margin EBIT = -----------------.2388).2532 0.5 1.5 kali dibandingkan dengan 1. dibandingkan dengan 1.2388 Dan contoh perhitungan ROE tersebut kita dapat melihat bahwa ROE Perusahaan A (0.5 x Leverage Financial Total Assets = ------------------------------Equity = 1. Seperti telah dijelaskan sebelumnya financial leverage dapat mem~boost” ROE aset ROA lebih besar bila dibandingkan dengan interest rate yang harus dibayarkan.1 kali b) Financial Leverage perusahaan B lebih rendah bila dibandingkan dengan financial leverage perusahaan B yaitu 1.5% 235 .2532) lebih tinggi bila dibandingkan dengan ROE Perusahaan B (0.= Total Assets 3x 2. Hal ini terbukti dengan angka assets turnover yang lebih besar yaitu 1.

07 interes rate 0.238=32.Interest Rate) ----------Equity Interest rate Perusahaan A: ROE = (1-0.0.7146.DAFTAR ISI Berikut ini adalah hasil perhitungan tingkat bunga yang harus dibayarkan oleh Perusahaan A dan Perusahaan B: Debt ROE(1-Tax Rate) ⃒ ROA + (ROA.94% Interest rate Perusahaan B : ROE=(1—0. 236 .35 interest rate 0.725%-0. Tingkat bunga yang dibayarkan oleh Perusahaan B terlalu tinggi yaitu 127.1188 Interest rate = 0.3) 136% + ( 36%-interest rate) x 0.5% interest rate Dan Contoh perhitungan di atas yang menjadi penyebab utama mengapa Perusahaari B memiliki ROE yang yang rendah bila dibandingkan dengan Perusahaan A walaupun Perusahaan B memiliki ROA yang lebih baik dan Financial Leverage yang tidak terlalu tinggi adalah kenyataan bahwa Perusahaan B memilih pembiayaan yang salah.l interest rate l 0.7x 54% — 0.5%—interes rate)x 0.7 x 0.5%.2532=0.5 interest rate l 0.7) 136% + 0.35 interes rate = 0.7) 142.l interest rate l 0.5 1 0.5 interest rate) = 37.23. Tingkat bunga ini tidak sebanding dengan ROA yang dimiliki oleh Perusahaan B yaitu hanya 42.008925 = 127.5%+(42.238=0.378—0.7J42.11 0.2532 = (0.8% = 0.3394 x 100 % = 33.725% .07 interest rate = 32.25%—0.18% — 0.8% .238=0.2532 = 0.75%—0.5%+4.5%.

KESIMPULAN Berdasarkan pada uraian tulisan di atas maka dapat disimpulkan bahwa seorang investor atau analis sekuritas khususnya saham di pasar modal apabila akan melakukan investasi pada saham tidak boleh hanya ikut-ikutan .W Norton & Company. Kedua yang tidak kalah penting adalah perlu memperhatikan laverage perusahaan. Nilai intrinsik saham dapat digunakan sebagai cut of point untuk memutuskan belu atau menjual saham apabila sudah dimiliki saham tersebut. karena akan mempengaruhi tingkat suku bunga yang harus dibayarkan perusahaan yang pada akhirnya akan mempengaruhi ROE yang akan dihasilkan. Irwin. A Random Walk Down Wall Street. Karena earning akan menentukan besarnya dividen dan pertumbuhan dividen yang akan menentuakan nilai intrisik saham.DAFTAR ISI Kalau seandainya Perusahaan B menggunakan tingkat bunga yang tidak tenlalu tinggi maka ROE Perusahaan B kemungkinan akan lebih tinggi bila dibandingkan dengan Perusahaan A. 2006. DAFTAR PUSTAKA Bodie. Kane and Marcus. W. akan tetapi perlu menganalisa secara detail fundamental perusahaan.Homewood Burton G.Malkiel. Hal penting yang harus diperhatikan adalah earning perusahaan. New York-London 1990 237 . Investment.

Kegiatan investasi yang dilakukan investor adalah kegiatan untuk menempatkan dana pada suatu atau lebih suatu aset selama periode tertentu dengan harapan dapat memperoleh sejumlah keuntungan dimasa yang akan datang. jika memang perusahaan memperoleh untung. PENDAHULUAN Latar Belakang Pasar modal saat ini dipandang sebagai sarana efektif untuk mempercepat pembangunan suatu negara. Satu keunggulan penting yang dimiliki pasar modal dibandingkan bank adalah bahwa untuk mendapatkan dana sebuah perusahaan tidak perlu menyediakan agunan. Sumber pembiayaan yang sudah sangat populer adalah bank yang digolongkan sebagai sumber pembiayaan tradisional. Keywords : faktor fundamental. stakeholder. Dengan menunjukkan prospek yang baik. ROE. EPS. Faktor-faktor fundamental seperti DER. maka surat berharga perusahaan tersebut akan laku dijual di pasar modal.DAFTAR ISI Faktor-Faktor Fundamental Keuangan Yang Mempengaruhi Resiko Saham Oleh : A. Biasanya para pemodal 11 Dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Lampung . Hal ini terjadi karena banyak perusahaan yang memiliki tingkat DER yang tinggi sementara tingkat ROE nya rendah. rasio A. Hal ini sejalan dengan fungsi pasar modal yaitu meningkatkan dan menghubungkan aliran dana jangka panjang dengan kriteria pasarnya secara efisien yang akan menunjang pertumbuhan riil ekonomi secara keseluruhan. Melalui pasar modal dimungkinkan terciptanya usahawan yang dapat menggalang penyerahan dana jangka panjang dari masyarakat untuk disalurkan ke sektor-sektor produktif. Sebagai gantinya perusahaan harus membayar dividen pada investor. Di samping itu. dengan memanfaatkan dana dari pasar modal perusahaan tidak perlu menyediakan dana tiap bulan atau setiap tahun untuk membayar bunga. PER dan OPM mempunyai berpengaruh terhadap risiko sistematis Beta. sebagaimana dituntut oleh bank. Zubaidi Indra11 ABSTRAK Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai referensi bagi perusahaan untuk lebih memperhatikan faktor fundamental perusahaan dalam mengeliminir pengaruh risiko pasar sehingga nilai perusahaan akan lebih tinggi dan akhirnya akan bisa memberikan kemakmuran bagi stakeholders.

the larger the value. menunjukkan bahwa pengumuman laporan keuangan perusahaan emiten juga mempunyai pengaruh terhadap kegiatan perdagangan saham dan variabilitas tingkat keuntungan. Faktor-faktor fundamental adalah merupakan data akuntansi berupa ratio-ratio yang dapat membantu investor untuk memprediksi risiko suatu saham. Risiko sistematis menurut Beaver. Laporan keuangan yang diumumkan tampaknya dipergunakan oleh investor dalam kegiatan di bursa. ini terlihat dari relatif tingginya perdagangan di hari pengumuman dibanding dengan kegiatan diluar hari pengumuman tersebut. dan investor sudah sangat sadar untuk memperhatikan faktor fundamental perusahaan. Dari hasil penelitian ini bisa dikatakan bahwa peranan laporan keuangan sudah sangat penting. Mahduh. Laporan keuangan Desember mempunyai dampak yang lebih besar dibanding dengan bulan Maret. Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai referensi bagi perusahaan untuk lebih 240 .. Hanafi dan Ari Wibowo (Kelola. Hasil penelitian Suad Husnan. Terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara perdagangan pada saat sebelum dan sesudah pengumuman laporan keuangan. Kettle dan Scholes (1970) : “A. 1997). Jika kaitan antara aspek fundamental tersebut diketahui maka akan sangat membantu investor dalam menganalisa kepekaan pergerakan return saham terhadap pergerakan saham. 1997) yang tetap menyatakan bahwa pengumuman informasi laporan keuangan perusahaan emiten menunjukkan dampak yang besar terhadap aktivitas perdagangan saham di pasar modal Indonesia. Sumber risiko dapat dibagi atas 2 (dua) kelompok yaitu risiko sistematis yang merupakan risiko yang mempengaruhi semua (banyak) perusahaan dan resiko tidak sistematis yang merupakan risiko yang mempengaruhi atau (sekelompok kecil) perusahaan. the greater the riskiness of the security a β of the implies an averages riskiness” dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa beta atau risiko sistematis suatu saham merupakan indikator yang menunjukkan sensitivitas pergerakan return saham terhadap pergerakan return saham-saham lainnya di pasar. Penggunaan data akuntansi juga dapat menghasilkan peningkatan kualitas pengambilan keputusan pada setiap lini dari pembuat keputusan individu. 3. Dari latar belakang di atas maka permasahan yang diangkat adalah bagaimanakah pengaruh faktor-faktor fundamental keuangan perusahaan terhadap risiko saham. Hasil penelitian ini juga didukung dengan hasil penelitian lainnya oleh Hanafi (Kelola. Dari hasil penelitian tersebut bisa disimpulkan sebagai berikut : 1. systematic component reflects common movement of a single security’s return with the average return of all other securities in the market. Adanya kaitan antara saham individual dengan pasar membawa pemikiran bahwa besarnya risiko sistematis suatu saham seharusnya dapat diperkirakan dari aspek fundamental perusahaan dengan karakteristik pasar. Hal ini menunjukkan bahwa ada factor yang harus dipertimbangkan sebelum memilih jenis investasi yang akan dimasuki seperti risiko yang akan ditanggung.DAFTAR ISI tidak akan menempatkan seluruh dana yang tersedianya pada satu jenis aset. M. 2.

Investor terlebih dahulu harus mengetahui bagaimana konsep dasar investasi yang menjadi dasar pijakan dalam setiap tahap pembuatan keputusan investasi yang akan dibuat. Pendapat lain dari Jogiyanto (1998). diperlukan satu analisis yang cermat. dan mendukung dengan risiko yang akurat. investasi dapat didefinisikan sebagai penundaan konsumsi sekarang untuk digunakan di dalam produksi yang efisien selama periode waktu yang tertentu. Pemilihan teknik yang benar dalam analisis akan mengurangi risiko investor dalam investasi. bahwa risiko total terdiri dari risiko dan risiko tidak sistematis. Analisis ini sangat berhubungan dengan kondisi perusahaan. Formula CAPM dapat ditulis sebagai berikut : Ri = RF + (RM – RF) βi 241 . TINJAUAN TEORITIS 1. Konsep Model Security Market Line Seperti dijelaskan sebelumnya. Untuk dapat mewujudkan tujuan tersebut manager keuangan harus mampu memanfaatkan dana yang tersedia untuk investasi pada suatu investasi yang menguntungkan. Hal penting dan mendasar dalam setiap proses keputusan investasi adalah pemahaman hubungan antara return yang diharapkan dengan risiko suatu investasi. 2. Proses keputusan investasi berkenaan dengan bagaimana seharusnya seorang investor membuat keputusan mengenai pemilihan sekuritas. Untuk dapat memilih investasi yang aman. B. Alat yang dipakai untuk melakukan analisis adalah rasio keuangan yang pada dasarnya melihat hubungan antar pos dalam laporan keuangan perusahaan yang mencerminkan keadaan keuangan serta hasil operasional perusahaan. seberapa ekspansi investasi yang dilakukan dan kapan investasi seharusnya dilaksanakan. Salah satu analisis yang dapat digunakan oleh calon investor adalah analisis fundamental. teliti. Untuk mengukur nondiversifiable risk ini dapat menggunakan koefisien beta untuk mengukur Nondiversifiable risk. Keputusan Investasi Dalam teori manajemen keuangan modern disebutkan bahwa tujuan perusahaan adalah untuk memaksimumkan kekayaan para pemegang saham. sementara itu risiko tidak sistematis atau sering disebut risiko financial adalah risiko yang berhubungan dengan risiko usaha yang ditunjukkan oleh variabilitas ini akan semakin besar jika penggunaan hutang semakin besar yang pada akhirnya akan mempengaruhi risiko financial.DAFTAR ISI memperhatikan faktor fundamental perusahaan dalam mengeliminir pengaruh risiko pasar sehingga nilai perusahaan akan lebih tinggi dan akhirnya akan bisa memberikan kemakmuran bagi stakeholders. Data yang dipakai sebenarnya adalah data historis yaitu risiko yang telah lewat.

242 .DAFTAR ISI Keterangan: = Tingkat return yang diucapkan Ri RF = Tingkat bunga bebas risiko βi = Koefisien beta saham RM = Tingkat Keuntungan portofolio pasar Dari formula di atas dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi risiko. maka akan diperoleh gambar sebagai berikut : Gambar 1. Makin besar beta maka return yang diharapkan juga semakin besar. dan sebaliknya semakin rendah risiko semakin rendah pula return yang diharapkan.0 Market Risk Premium 4% Asset Z’s Risk Premium (6%) Gambar di atas menunjukkan adanya hubungan yang linier antara return dan beta atau risiko. Jika hubungan antara beta dan return digambarkan dalam sebuah gambar. Garis yang menghubungkan return dan beta ini disebut sebagai Security Market Line. semakin tinggi return yang diharapkan.0 br 1.5 bz 2.5 1. Hubungan Antara Beta dengan Return yang Dinyatakan Sebagai Security Market Line Return 17 15 Rz =13 Rm=11 9 Rf = 7 5 3 1 Beta 0 brf .

Menurut Jogiyanto.Dari definisi tersebut di atas risiko dipandang sebagai peluang menderita kerugian keuangan. Semakin besar risiko suatu sekuritas. maka tingkat return yang diharapkan juga semakin besar. Ketidakpastian tingkat return (rate of return) ini berkaitan dengan risiko. Risk dan Return Pengertian risiko pada umumnya sering dikaitkan dengan memperoleh hasil yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Hubungan positif antara tingkat return yang diharapkan dengan risiko dapat digambarkan sebagai berikut. sebenarnya investor belum mengetahui tingkat return (rate of return) karena return yang diharapkan (expected return) memang belum terjadi. (1998): Dalam membuat keputusan investasi. sehingga belum diketahui dengan tepat berapa nilainya. Assets with greater chances of loss are viewer as more risky than those with lesser chance of loss”. Gambar 2. ataupun sebaliknya. Menurut William (1997) risiko didefinisikan sebagai berikut : “Risk can be defined as the chance of financial loss. Hubungan Positif antara Return Ekspektasi dengan Risiko Return Ekspektasi opsi Saham Waran Obligasi Pemerintah RBR Obligasi Perusahaan Risiko 243 .DAFTAR ISI 3.

Perubahan pasar dipengaruhi oleh banyak faktor serta munculnya resesi ekonomi. Risiko suku bunga dimana perubahan suku bunga akan mempengaruhi harga saham secara terbalik. Risiko nilai tukar mata uang. Risiko financial. (1998) menyatakan bahwa: return total merupakan return keseluruhan dari suatu 244 . demikian sebaliknya jika suku bunga turun harga saham akan naik. Risiko tidak sistematis bisa diminimalkan dengan melakukan diversifikasi investasi pada setiap jenis saham. Return atau hasil investasi merupakan tujuan utama bagi investor. 7. sering disebut sebagai capital gain atau menunggu dividend. 2. semakin cepat suatu saham bisa diperdagangkan maka semakin likuid saham tersebut. jika inflasi meningkat biasanya menuntut tambahan premium inflasi untuk mengkompensasikan penurunan daya beli yang dialaminya. Investasi saham akan memberikan keuntungan atau return dalam dua cara. Risiko sistematis merupakan risiko yang berkaitan dengan perubahan yang terjadi secara keseluruhan dimana perubahan pasar tersebut akan mempengaruhi variabilitas return atas suatu investasi. Ada beberapa sumber risiko yang bisa mempengaruhi besarnya risiko suatu investasi menurut Tandelin (2001) yaitu : 1. 5. Menurut Jogiyanto. Semakin besar kemungkinan perbedaannya berarti semakin besar risiko investasi tersebut. 3. Risiko ini berkaitan dengan keputusan perusahaan untuk menggunakan pinjaman dalam pembiayaan modalnya. 6. Sedangkan risiko tidak sistematis merupakan risiko yang tidak terkait dengan perubahan pasar secara keseluruhan tetapi lebih terkait pada perubahan kondisi mikro perusahaan penerbit saham. artinya jika suku bunga meningkat maka harga saham akan turun. Risiko inflasi. yaitu risiko sistematis dan risiko tidak sistematis. Risiko ini berkaitan dengan fluktuasi nilai mata uang domestik terhadap nilai mata uang Negara lain dan sering disebut sebagai currency risk atau exchange rate risk. Risiko pasar. yaitu bagian laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Risiko Negara atau country risk. kerusuhan. Semakin besar proporsi utang yang digunakan. Risiko ini berkaitan dengan kondisi stabilitas politik suatu negara. semakin besar risiko financial yang diahadapi perusahaan. 4. Risiko likuiditas. ataupun perubahan politik. yaitu menjual saham hingga harganya menguat. Dalam manajemen investasi modern dikenal pembagian risiko total investasi ke dalam dua jenis risiko. Risiko inflasi biasa disebut sebagai risiko daya beli. Fluktuasi pasar biasanya ditunjukkan oleh berubahnya indeks pasar saham secara keseluruhan. ceteris paribus.DAFTAR ISI Dari pengertian di atas dapat disebutkan bahwa risiko merupakan kemungkinan perbedaan antara return yang sebenarnya diterima dengan return yang diharapkan. Risiko ini berkaitan dengan kecepatan suatu saham yang diterbitkan perusahaan bisa diperdagangkan di pasar sekunder.

dan yield dianggap tidak diperhitungkan sehingga dengan demikian. investor juga perlu menghitung berapa besarnya risiko yang terkait dengan investasi pada saham yang bersangkutan. E (Ri) = ∑R P i =t i n i Keterangan : E (Ri) = Perolehan diekspektasi suatu aktiva atau sekuritas Ri = Hasil masa depan ke-i Pi = Probabilitas hasil masa depan ke-i n = jumlah dari hasil masa depan Disamping mengestimasi return yang diharapkan dari suatu investasi saham. Jika digunakan IHSG adalah : Rmt = IHSG t − IHSG IHSG t -1 t -1 Rmt IHSG t IHSG t-1 = Return pasar untuk periode t = merupakan indeks pasar periode t = merupakan indeks pasar periode t-1 Return ekspektasi (expected return) dapat dihitung dengan mengalikan masing-masing hasil masa depan (outcome) dengan probabilitas kejadiannya dan menjumlah semua produk perkalian tersebut. return ekspektasi dapat dirumuskan sebagai berikut (Jogiyanto.DAFTAR ISI investasi dalam suatu periode tertentu. return total sering disebut return saja. Risiko sebagai sisi lain dari return menunjukkan kemungkinan penyimpangan return yang diharapkan dari return actual yang diperoleh. 1998). tingkat pengembalian pasar (rate of market return). return total dapat di nyatakan sebagai berikut : Return = Pt Pt-1 Pt − Pt −1 Pt −1 = Harga saham sekarang (periode t) = Harga saham periode lalu (periode t-1) Dengan cara yang sama. Return total terdiri dari Capital gain dan yield Return = Capital gain (loss) + Yield Capital gain (loss) merupakan selisih dari harga investasi sekarang relatif dengan harga periode yang lalu. Banyak 245 . secara matematik.

Lebih lanjut Beaver. tetapi secara umum risiko diukur dalam bentuk probabilistik atau dalam bentuk varians (standar deviasi). Debt Equity Ratio (DER) Setiap sumber dana selalu mempunyai biaya masing-masing yang biasa disebut cost of funds.DAFTAR ISI metode yang tersedia untuk mengukur risiko. Kettler dan Scholes menyatakan jika data akuntansi dapat digunakan untuk meramalkan risiko. pi ⎞⎟⎠ i =1 C. Kettler. meskipun tidak ada metode yang standar. Mengingat begitu bervariasinya biaya dari luar maupun dari dalam perusahaan. semakin besar penyebarannya. maka 246 . Alat ukur yang paling umum digunakan untuk menjelaskan sejauh mana penyimpangan expected return dari actual return adalah dengan varians atau standard deviasi. If these relationship could be determined. Pada saat akan digunakan. akan timbul biaya yang tidak kelihatan yang merupakan opportunity cost dari modal tersebut. Menurut Beaver. dan Scholes yaitu beberapa variabel fundamental dapat digunakan sebagai dugaan awal untuk penelitian tesis ini. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor fundamental terhadap risiko pasar. Kettler dan Scholes (Grubber:1995) menyatakan : “Beta is risk measure that arises from the relationship between the return on a stock and the return on the market. Varians maupun standar deviasi merupakan besarnya penyebaran variabel random diantara rata-ratanya.1. PEMBAHASAN C. they would help us to understand betas and to better forecast betas”. dengan hanya membatasi variabel-variabel penelitian sebagai berikut : 1. we should know that the risk a firm should be determined by some combination on the firm’s fundamental of the firm’s stock. Sementara jika dari modal sendiri (equity). dana dari luar perusahaan dalam bentuk hutang atau obligasi dan biasanya akan timbul biaya-biaya (cost of debt) yang minimal harus ditanggung adalah sebesar biaya bunga. however. Secara matematis rumus untuk menghitung varians atau standar deviasi adalah sebagai berikut : M Var R = i ( ) ∑ ⎛⎜⎝ [Ri − E (Ri)]2 . Meskipun tidak ada standar untuk menetapkan variabel-variabel mana yang diduga memiliki pengaruh terhadap risiko sistematis (beta saham) namun variabel-variabel yang digunakan Beaver. semakin besar varians atau standar deviasi investasi tersebut. Faktor-faktor Fundamental Beta merupakan ukuran risiko yang dinyatakan dalam “Sensitivity to market” yaitu ukuran risiko yang didasarkan pada sensitivitas pergerakan return suatu saham terhadap market return. hal itu akan merupakan peningkatan dalam pengambilan keputusan bagi investor untuk keperluan analisis portofolio.

investor dapat melihat sejauh mana pertumbuhan profitabilitas perusahaan. Atau dengan kata lain dikatakan bahwa 247 . maka semakin tinggi DER akan mengakibatkan saham perusahaan tersebut semakin dihindari investor. Return On Equity (ROE) Return on equity menggambarkan sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang tersedia bagi pemegang saham (earning available for common stockholder’s) agar bisa terlihat seberapa besar kemampuan modal sendiri dalam menghasilkan laba. Indikator ROE sangat penting diperhatikan untuk mengetahui sejauh mana investasi yang akan dilakukan investor di suatu perusahaan mampu memberikan return yang sesuai dengan tingkat yang diharapkan investor. Dengan mengetahui tingkat ROE. Penggunaan hutang dalam valuta asing juga akan menimbulkan currency risk dimana risiko ini berkaitan dengan fluktuasi nilai mata uang domestik terhadap mata uang Negara lain. Dengan penggunaan hutang yang semakin besar akan mengakibatkan semakin tingginya risiko untuk tidak mampu membayar hutang. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa hubungan DER dengan beta saham adalah positif artinya semakin tinggi tingkat DER akan mengakibatkan semakin tinggi risiko pasar dan sebaliknya tingkat DER yang rendah akan mengakibatkan risiko sahamnya rendah. maka diperlukan perhitungan laba bersih yang sudah dikurangi dengan biaya bunga dari modal asing (cost of debt) dan pajak perseroan (income tax). Sedangkan modal yang dihitung adalah modal sendiri yang bekerja dalam perusahaan. investor biasanya akan mempertimbangkan perusahaan yang mampu memberikan kontribusi ROE yang lebih besar. Investor biasanya selalu menghindari risiko. Bagi investor semakin tinggi ROE menunjukkan risiko investasi kecil. Formulasi struktur modal itu sendiri adalah sebagai berikut : DER = Long Term Debt Equity DER yang semakin besar akan mengakibatkan risiko financial perusahaan yang semakin tinggi. Dengan mengetahui tingkat ROE. Dalam menentukan pilihannya. 2.DAFTAR ISI perlu dipertimbangkan dengan seksama sebaiknya dari sumber dana mana investasi yang harus dibiayai. ROE bisa dihitung dengan formula sebagai berikut : Return On Equity (ROE) = Earnings after Tax and Interest equity Dari sudut pandang investor ROE merupakan salah satu indikator penting untuk menilai prospek perusahaan di masa mendatang. sehingga harga saham akan semakin rendah. karena akan berpengaruh terhadap harga saham di bursa. ROE akan berubah jika EAT atau equity mengalami perubahan. investor dapat menilai prospek perusahaan di masa mendatang.

Besarnya EPS suatu perusahaan bisa diketahui dari informasi laporan keuangan perusahaan. yaitu : a.DAFTAR ISI semakin tinggi ROE akan mengakibatkan beta saham tersebut semakin rendah sebaliknya bila ROE rendah akan mengakibatkan beta sahamnya semakin tinggi. besarnya EPS dapat dihitung berdasarkan laporan neraca dan laporan rugi laba perusahaan. Meskipun tidak semua perusahaan mencantumkan besarnya EPS perusahaan bersangkutan dalam laporan keuangannya. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa PER juga merupakan ukuran harga relatif dari saham perusahaan. Rumus untuk menghitung EPS suatu perusahaan adalah sebagai berikut : Earning Per Share (EPS) = Earning after Tax (EAT) and Interest Number of Share EPS = ROE X Book Value per Share EPS = Earning after Tax and Investment Equity x Number of share Equity 4. 3. Rumus PER juga dapat ditulis sebagai berikut : PER = D1 / E1 k−g Keterangan : D1/E1 = Tingkat dividend payout ratio yang diharapkan k = Tingkat return yang diharapkan g = Tingkat pertumbuhan yang diharapkan Dari persamaan di atas. PER menunjukkan besarnya harga setiap satu Rupiah earning perusahaan. Dividend payout ratio (DPR) yang diharapkan yang menunjukkan besarnya dividen yang akan dibayarkan perusahaan dari total earning yang diperoleh perusahaan 248 . ada tiga komponen untuk menghitung PER. Earning Per Share (EPS) Informasi earning per share suatu perusahaan menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan yang siap dibagikan bagi semua pemegang saham perusahaan. Price Earning Ratio Informasi PER mengindikasikan besarnya Rupiah yang harus dibayarkan investor untuk memperoleh satu Rupiah earnings perusahaan atau dengan kata lain.

Bagi investor yang diinginkan tentunya adalah operating profit margin. Mengetahui beta suatu sekuritas atau beta suatu portofolio merupakan hal yang penting untuk menganalisis sekuritas atau portofolio tersebut. Beta portofolio merupakan rata-rata tertimbang dari beta masing-masing sekuritas.Beta suatu sekuritas menunjukkan risiko sistematiknya yang tidak dapat dihilangkan dengan diversifikasi. maka beta masing-masing sekuritas perlu dihitung terlebih dahulu. Formula untuk menghitung operating profit margin sudah dikenal luas sebagai berikut : Operating Profit Margin = Operating Profit Sales OPM adalah salah satu alat untuk mengukur profitabilitas suatu perusahaan. 1998). investor akan memilih perusahaan yang memiliki OPM yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang hanya memiliki OPM rendah. 249 . Beta Beta adalah pengukur risiko sistematik dari suatu sekuritas atau portofolio relatif terhadap risiko pasar. Mengetahui beta masing-masing sekuritas juga berguna untuk pertimbangan memasukkan sekuritas tersebut kedalam portofolio yang akan dibentuk (Jogiyanto. Tanpa profit. Secara matematis tingkat return yang diisyaratkan adalah : k = R f + Rp Keterangan: K = tingkat return bebas risiko + premi risiko c. C. perusahaan tidak akan menarik bagi investor.2. Untuk menghitung beta portofolio. sebaliknya semakin rendah OPM akan mengakibatkan beta sahamnya semakin tinggi. OPM menunjukkan laba murni (pure profit) yang diperoleh dari setiap penjualan. Tingkat return yang diisyaratkan (k) yang menunjukkan tingkat return yang diisyaratkan investor atas suatu saham.DAFTAR ISI b. yang merupakan fungsi dari besarnya ROE dan tingkat laba ditahan perusahaan. Bagi investor perusahaan yang memiliki tingkat OPM yang tinggi memberikan indikasi bahwa risiko pada perusahaan tersebut adalah rendah. Tingkat pertumbuhan dividen yang diharapkan (g). Operating Profit Margin (OPM) Operating profit margin mengukur presentase setiap penjualan setelah semua cost and expenses diluar biaya bunga dan pajak. 5. Dalam memilih investasi saham. Oleh karena itu rasio ini sangat penting bagi investor untuk menilai masa depan perusahaan. sebagai kompesasi atas risiko yang harus ditanggung investor. Dapat dikatakan semakin tinggi OPM akan semakin rendah beta sahamnya.

Bagian dari risiko sekuritas yang dapat dihilangkan dengan membentuk portofolio yang well-diversified disebut dengan risiko yang dapat didiversifikasi (diversifiable risk) atau risiko perusahaan (company risk) atau risiko spesifik (specific risk) atau risiko unik (Unique risk) atau risiko yang tidak sistematik (unsystematic risk). tuntutan dari pihak lain. Beta akuntansi Beta akuntansi dapat dihitung dengan menggunakan data histories yang berupa data akuntansi seperti laba perusahaan dan laba indeks pasar. 3. resesi. 2000). Beta fundamental Dapat diestimasi dengan menggunakan data histories berupa variabel-variabel fundamental perusahaan (Dividen pay out. 250 . dan lain sebagainya. Risiko ini terjadi karena kejadian-kejadian di luar kegiatan perusahaan. Beta yang dihitung berdasarkan data historis ini selanjutnya dapat digunakan untuk mengestimasi beta masa mendatang. (Jogiyanto. berikut ini menunjukkan risiko total dan komponennya yang berupa risiko yang dapat di-diversifikasi dan risiko yang dapat didiversifikasi. 2. risiko yang tidak dapat didiversifikasikan oleh portofolio disebut dengan nondiversifible risk atau risiko pasar (market risk) atau risiko umum (general risk) atau risiko sistematik (systematic risk). Beta pasar Dapat diestimasi dengan mengumpulkan nilai-nilai histories return dari sekuritas dan return dari pasar selama periode tertentu. misalnya 60 bulan untuk return bulanan atau 200 hari untuk return harian. Contoh dari diversifiable risk adalah pemogokan buruh. Beberapa beta historis berdasarkan jenis data yang akan digunakan yaitu: 1. seperti inflasi. dan lainnya) (Jogiyanto. Sebaliknya. Karena risiko ini unik untuk suatu perusahaan. Risiko total (total risk) merupakan penjumlahan dari diversifiable dan nondiversifiable risk sebagai berikut : Risiko total = Risiko dapat di-diversifikasi + Risiko tidak dapat di-diversifikasi = Risiko perusahaan + risiko pasar = Risiko tidak sistematik + risiko sistematik = Risiko spesifik (unik) + risiko umum Gambar 3. penelitian yang berhasil atau tidak berhasil dan lain sebagainya. asset growth. 2000). Bukti-bukti empiris menunjukkan bahwa beta histories mampu menyediakan informasi tentang beta masa depan (Elton dan Gruber : 1994). leverage. yaitu hal yang buruk terjadi di suatu perusahaan dapat diimbangi dengan hal yang baik terjadi diperusahaan lain. maka risiko ini dapat didiversifikasi di dalam portofolio.DAFTAR ISI Beta sekuritas dapat dihitung dengan teknik estimasi yang menggunakan data histories.

risiko yang dapat di-diversifikasi dan yang tidak dapat risiko fortofolio (%) Risiko dapat di-diversifikasi Atau risiko perusahaan Atau risiko spesifik Atau risiko unik Atau risiko tidak sistematik Risiko total Risiko tidak dapat di-diversikfikasi Atau risiko pasar atau risiko umum Atau risiko sistematik Jumlah saham Estimasi Nilai Beta Metode yang paling banyak digunakan untuk menetukan beta adalah cara penaksiran dengan menggunakan data histories untuk menghitung beta masa itu. Semakin besar beta. Beta menunjukkan pergerakan vertikal (stock return) per unit pergerakan horizontal (market return). menunjukkan semakin peka pergerakan harga saham tersebut terhadap pergerakan haraga saham di pasar. Risiko Total. yang kemudian dipergunakan sebagai taksiran beta masa datang. sehingga semakin tinggi risikonya. 251 . Dengan menggunakan persamaan regresi dari single indeks model maka beta untuk tiap saham dapat dihitung seperti tampak pada Gambar 4. Beta saham tidak akan merupakan kemiringan (scope) garis regresi tersebut.DAFTAR ISI Gambar 3.

keuntungan saham ini berfluktuasi kurang dari kondisi pasar secara keseluruhan. negatif atau nol. Estimasi besarnya risiko sistematis (β) dihitung dengan menggunakan formula standar (Elton/Gruber: 1995) sebagai berikut : βi = σ im σ 2m t =1 = ∑ [(Rit − R it )(Rmt . Saham-saham dengan beta sama dengan satu.DAFTAR ISI Gambar 4. Saham-saham dengan beta lebih besar dari satu (β > 1) digolongkan sebagai sahamsaham agresif (aggressive stock) karena saham melonjak lebih cepat daripada pasar dalam situasi boom (bull market) sebaliknya jatuh lebih tajam daripada pasar pada situasi lesu (bear market). Saham-saham dengan beta kurang dari satu (β < 1) digolongkan sebagai saham-saham defensive (defensive stocks).R mt )] N ∑ [(R N t =1 mt .R mt ) 2 ] 252 . Jerome (1987). nilai alpha merepresentasikan return saham yang diakibatkan oleh faktor-faktor di luar pergerakan pasar atau dikenal sebagai independent component. merupakan saham-saham netral karena pergerakan return saham sejalan dengan market return. saham-saham jenis ini lebih peka sehingga mempunyai risiko yang tinggi. Nilai alpha dan beta dapat bernilai positif. Garis Regresi Untuk Mengukur Beta Saham Rit β α Rmt Alpha merupakan intersep dari garis regresi.

model indeks tunggal adalah sebagai berikut : Ri =αi + βiRm + ei Keterangan: Ri : return saham i Rm : return indeks pasar : bagian return saham i yang tidak dipengaruhi kinerja pasar : ukuran kepekaan return saham i terhadap perubahan return saham : kesalahan residual αi βi ei Persamaan tersebut hanyalah memecah tingkat keuntungan suatu saham menjadi dua bagian. : varian market return. E (Ri) = αi + βi E (Rm) . : Rata-rata dari return on security : rata-rata dari market return Rit Rmt Penggunaan konsep model indeks tunggal dalam menaksir. : Resiko sistematis untuk saham i βi σ σ im 2 im : kovarian antara return saham Ri dengan market return RM. σei = βiβjσm2 253 . deviasi standar tingkat keuntungan dan covariance antar saham sebagai berikut : Tingkat keuntungan yang diharapkan.Variance tingkat keuntungan. Secara sistematis.DAFTAR ISI Keterangan. Persamaan di atas juga merupakan persamaan regresi linier sederhana yang dihitung dengan Ri sebagai variabel dependent dan Rm sebagai variabel independent. σi2 = βi2σm2 + σei2 Covariance tingkat keuntungan saham i dan j. yaitu yang independent dari perubahan pasar dan yang dipengaruhi oleh pasar. Penggunaan model indeks tunggal menghasilkan tingkat keuntungan yang diharapkan. Cara lain adalah dengan menggunakan data histories untuk menghitung beta waktu lalu yang dipergunakan sebagai taksiran beta di masa yang akan datang. beta memerlukan penaksiran beta dari saham-saham yang akan dimasukkan ke dalam portofolio.

Sehubungan dengan hal tersebut. sebaliknya covariance semata-mata tergantung pada risiko pasar. Faktor-faktor fundamental seperti DER. Pada masa krisis juga diduga banyak perusahaan yang memiliki tingkat earning per share yang rendah karena kemampuan menghasilkan laba yang rendah. EPS. βp = ∑ X i βi Demikian juga alpha portofolio (αp) adalah. 254 . Salah satu alasan penggunaan model indeks tunggal adalah untuk mengurangi jumlah variabel yang perlu ditaksir karena untuk portofolio model indeks tunggal mempunyai karakteristik yaitu bahwa beta portofolio (βp) merupakan rata-rata tertimbang dari beta saham-saham yang membentuk portofolio tersebut. Demikian juga variance tingkat keuntungan terdiri dari dua bagian. PER dan OPM mempunyai berpengaruh terhadap risiko sistematis Beta. α p = ∑ X iα i Untuk variance portofolio rumusnya adalah sebagai berikut: α p 2 = β p 2σ m 2 + ∑ X i 2σ ei 2 Resiko yang tidak bisa dihilangkan kalau bentuk portofolio merupakan risiko yang berkaitan dengan βp.DAFTAR ISI Model indeks tunggal menunjukkan bahwa tingkat keuntungan yang diharapkan terdiri dari dua komponen yaitu αi dan bagian yang berhubungan dengan pasar yaitu βiE(Rm). Hal ini terjadi karena banyak perusahaan yang memiliki tingkat DER yang tinggi sementara tingkat ROE nya rendah. maka penelitian ini menganalisis variabelvariabel yang didasarkan pada faktor-faktor fundamental yang diperkirakan dapat menjelaskan risiko sistematis. ROE. maka risiko portofolio akan mendekati : σ p = β p 2σ m 2 = βpσm = σm [ ∑ X i β i ] D. kalau resiko residual dianggap nol. Yaitu risiko yang unik (σei2) dan risiko yang berhubungan dengan pasar βi2σm2. KESIMPULAN DAN SARAN Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai referensi bagi perusahaan untuk lebih memperhatikan faktor fundamental perusahaan dalam mengeliminir pengaruh risiko pasar sehingga nilai perusahaan akan lebih tinggi dan akhirnya akan bisa memberikan kemakmuran bagi stakeholders.

Rineka Cipta. (Januari 1979).S. “The Forecasting Ability of Accounting Risk Measure Some Additional Evidence”. 5th Edition. Scholes. Zaki dan H. 1995. Eskew. Inc. Gitman. Jakarta. Myers. “Analisis Perataan Penghasilan (Income Smoothing) : Faktor-faktor yang Mempengaruhi dan Kaitannya dengan kinerja Saham Perusahaan Publik di Indonesia. 1993. “Investment Decision – A Quantitative Approach”. Jakarta. Penerbit Airlangga. Hargitay.3 No. DAFTAR PUSTAKA Anoraga. P. 1995. Mc Graw Hill. Edisi Kedelapan. J. “Pengantar Pasar Modal”. London. 9th Edition. Jhon Wiley & Sons. Hal 654-682. .1 Ikantan Akuntan Indonesia. USA. Bildersee. Indonesia.Steward C. and Gruber. “The Association Between Market Determined and Accounting Determined Risk Measures”. A Erich. Accounting Review 45. New York. Baridwan. and Ming Yu Shi. R. “Principles of Managerial Finance”. “Fundmental of corporate Finance” Fifth Edition. Alih Bahasa.DAFTAR ISI Alasan yang lain pada penggunaan variabel-variabel fundamental adalah karena dalam berbagai studi literatur menunjukkan masih kurangnya penelitian yang mengkaitkan antara risiko sistematis saham dengan faktor-faktor fundamental yang dapat menjelaskannya. New York.1997. Beaver. Richard. (October 1970). “The Association Between Market Determined Measure of Risk and Alternative Measure of risk” Accounting Review 50 (January 1975).K. Brealey. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Vol. 255 . PT. Elton. Di lain pihak telah banyak studi dan penelitian yang dilakukan kurang meneliti hubungan faktor-faktor makro ekonomi terhadap risiko sistematis seperti perubuhan tingkat inflasi dan tingkat suku bunga terhadap risiko sistematis. 2000. “Teknik Analisis Keuangan”. Pandji dan Piji Pakarti.” Modern Portfolio Theory and Investment Analysis”. Lawrence J. Berbagai alasan dikemukakan terhadap kurangnya penelitian yang menitikberatkan pada pengaruh faktor-faktor fundamental terhadap risiko sistematis (risiko pasar) diantaranya adalah masih dalam dugaan bahwa faktor-faktor tersebut kurang memberikan penjelasan yang berarti pada risiko sistematis suatu saham. E&FN Spon. Edwin J. Herman Wibowo. 1998.Kettler. Accounting Review 54. Stephen E. Helfert.M. Martin J. 2000.A. dan M. Salno.

Eduardus. Sixth Edition. Megginson. Munawir. 2000.. L. Edisi Pertama. “SPSS / Statistical Product and Service Solution” Elex Media Komputindo. 7th edition. Edisi Kedelapan. Sembel. John Wiley & Sons. Penerbit Erlangga. Fred.”. JR. UPP AMP YKPN. Yogyakarta. “Pengaruh Operating And Financial Leverage Terhadap Risiko Sistematis Pada Beberapa Perusahaan Unggulan di Bursa Efek Jakarta Periode 1998—2001” Tahun 2004. Yogyakarta. 1st edition. Edisi kedua. Jogiyanto. Van Horne. 1996. “Basic Financial Management” 7th New York. Jones.. David F. 1998. Scott. J. John D. Suad Husnan DR. James. S. Petty. Gramedia Pustaka Utama. 1997. 1997. Edisi Keempat. Jakarta. Santoso.DAFTAR ISI Institude for Economic and Financial Research. “Analisa Laporan Keuangan”. 1986. “Indonesia Capital market Directory 2000. J. BPFE. Addison-Wesley Educational Publisher Inc. Arthur J. 2001. “Investment”. Positioning. Tandellilin. Prentice Hall. BPFE-Yogyakarta. “Membidik Pasar Indonesia. Segmentasi. “Corporate Finance Theory”. “Manajemen Keuangan”. Yogyakarta. Kasali. 2003”. Po. Rhenald. 1996. MBA. Elex Media Komputindo.2001. Yogyakarta. Prasetio Utomo. Prentice Hall International. Roy. Weston. 2001. Martin. Edisi ke-2. Inc. Jakarta. Haryanto. Singgih. PT.William. “Berfikir Ekonomis di Masa Krisis”. “Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio”. Keown. Targeting. “A Financial Management and Policy”. Teori Portfoliodan Analisis Investasi”. New York. Copeland. Edisi Pertama. Penerbit Liberty. Charles P. Jakarta. Thomas E. William. “Dasar-dasar Teori Portfolio dan analisa sekuritas”. Jakarta. 256 . 1994.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->