POKOK – POKOK MATERI PERKULIAHAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Arwin Zoelfatas BAB I PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN PERILAKU A. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini, diharapkan Anda dapat : 1. Mendefinisik an psikologi dan psikologi pendidikan 2. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan in dividu, indikator-indikator motivasi, bentukbentuk konflik, bentuk-bentuk perila ku salah-suai dan taksonomi perilaku individu. 3. Menjelaskan psikologi pendidik an sebagai ilmu, arti penting psikologi pendidikan bagi guru, peranan dan pengar uh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku individu. 4. Mengurai kan mekanisme pembentukan perilaku menurut pandangan behaviorisme dan holistik. B. Pokok Bahasan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan. 2. Perilaku Individu. 3. Ta ksonomi Perilaku Individu. 4. Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan Perilaku da n Pribadi Individu. C. Intisari Bacaan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup , dan “logos” atau ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut seolah-olah psikologi merup akan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu pada s alah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat ji ka kita mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tenta ng jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diam ati secara langsung. Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mung kin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dala m bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demik ian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tenta ng perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Psikologi terbagi ke dalam dua bagian yaitu psikologi umum (general phsychology) yang mengkaji per ilaku pada umumnya dan psikologi khusus yang mengkaji perilaku individu dalam si tuasi khusus, diantaranya :

Psikologi Perkembangan; mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perk embangan mulai dari masa konsepsi sampai dengan akhir hayat. Psikologi Kepribadi an; mengkaji perilaku individu khusus dilihat dari aspek – aspek kepribadiannya. P sikologi Klinis; mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan (klinis) Psikologi Abnormal; mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal. Psikolo gi Industri; mengkaji perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia industri. P sikologi Pendidikan; mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan Disampi ng jenis – jenis psikologi yang disebutkan di atas, masih terdapat berbagai jenis psikologi lainnya, bahkan sangat mungkin ke depannya akan semakin terus berkemba ng, sejalan dengan perkembangan kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks. Psi kologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah mem iliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni : Ontologis; obyek dari psikologi p endidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, oran g tua peserta didik dan masyarakat pendidikan. Epistemologis; teori-teori, konse p-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdas arkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross se ctional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif. Aksiol ogis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapa ian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan. Dengan demikian, psikologi pend idikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus me ngkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk me nemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapai an efektivitas proses pendidikan. Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari p sikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pen didikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Prose s Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupak an beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya membutuhkan psikolo gi. Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang di dalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik, adminsitrator, masyarakat dan orang tua pes erta didik. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efekti f dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogya nya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilak unya secara efektif.

Pengua saan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang haru s dikuasai guru. dengan memahami psikologi pendidikan. (g) berinteraksi secara bijak dengan peserta didiknya. yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyat a bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. (e) memfasilitasi dan memotivasi belajar pes erta didik. (h) menilai hasil pembelajaran. (b) memilih strategi atau metode pembelajaran. (f) menciptakan iklim belajar yang kondusif. agar perilaku peserta didi k dapat berkembang optimal. (c) memilih alat bantu da n media pembelajaran yang tepat. . yakni kompetensi pedagogik. 2. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bah wa diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adal ah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar menga jar peserta didik. Untuk memahami perilaku individu dapat dilihat dari dua pendekatan.Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing. tentu saja seorang guru seyogyanya dapat memahami te ntang bagaimana proses dan mekanisme terbentuknya perilaku para peserta didiknya . Dalam hal ini. dan (i) dapat me ngadministrasikan pembelajaran secara efektif dan efisien. Abin Syamsuddin Makm un (2003) menyebutkan bahwa tugas guru antara lain sebagai pengubah perilaku pes erta didik (behavioral changes).--terutama peri laku peserta didik dengan segala aspeknya--. pembimbingan serta berbagai kegiatan pendidikan lainnya. pendidik dan pelatih bagi pa ra peserta didiknya. Oleh karena itu itu. dengan me mahami Psikologi Pendidikan para guru juga dapat memahami dan mengembangkan diri -pribadinya untuk menjadi seorang guru yang efektif dan patut diteladani. Perilaku Individu Salah satu tugas utama guru adalah berus aha mengembangkan perilaku peserta didiknya. Di sinilah arti penting Psikolog i Pendidikan. Di bawah ini akan diuraikan mekanisme pembentukan p erilaku dilihat dari kedua pendekatan tersebut dengan merujuk pada tulisan Abin Syamsuddin Makmun (2003). yang salin g bertolak belakang. yaitu: (1) behaviorisme dan (2) holistik atau humanisme. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Behav iorisme Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melal ui proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau me nciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan. a. baik untuk kepentingan pembelajaran. sehingga dapat menjalankan tugas da n perannya secara efektif. Ke dua pendekatan ini memiliki implikasi yang luas terhadap proses pendidikan. (d) memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling kepada peserta didiknya. tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya. Selain itu. seorang guru melalui pertimb angan-pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat : (a) merumuskan tujuan pembel ajaran. pengelolaan kelas.

(2) Lingkungan efektif (umwelt=segala sesu atu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga me nimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia meresponsnya) Perilaku y ang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan peri laku spontan. Contoh : seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa panas. Ruangan kelas yang panas mer upakan lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S) bagi mahasiswa tersebut (O). a da seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di ruangan kelas. waktu sore hari. sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan. R = Respons (perilaku. Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga d itujukan kepadanya. ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow).Behaviorisme menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya perilaku in dividu dapat digambarkan dalam bagan berikut : S R atau S O R S = stimulus (rangsangan). Ruan gan kelas yang gelap. secara spontan mahasiswa tersebut mengipasngipaskan buku untuk meredam kegerahannya. dan cuaca mendung merupakan lingkungan (W ). -- . Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W) setelah mengipas-ngipaskan buku. maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini : W S O R W Yang dimaksud dengan lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua je nis yaitu : (1) Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu da n secara potensial dapat melahirkan S). seca ra spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan respons (R) yang dilakukan mahas iswa. aktivitas) dan O=organisme (in dividu/manusia). Sedangkan perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut: W S Ow R W Contoh : ketika sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kel as yang terasa agak gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung.

.

b. How (bagaimana) menunjukkan kepada j enis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose). how (bagaimana). Secara skematik rangkaian. dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa yang sada r tersebut (R). berjalan ke depan. suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyama n dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W). baik bersumber dari diri indiv idu itu sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (m otivasi ekstrinsik). Sebenarnya. dapat dijelaskan dalam bagan berikut : Kebutuhan dirasakan (felt needs) Dorongan (motivation) Aktivitas yang dilakukan (Instrumental behavior) Tujuan dihayati (goals/ incentive) . yang berarti aspek-aspek intrinsik (niat. tangan men ekan saklar lampu merupakan effector. bagan di atas dapat dijelaskan bahw a mahasiswa yang sadar (Ow) mungkin merasakan penglihatannya (receptor) menjadi tidak jelas. masih ada dua unsur pen ting lainnya dalam diri setiap individu yang mempengaruhi efektivitas mekanisme proses perilaku yaitu receptors (panca indera sebagai alat penerima stimulus) da n effectors (syaraf. Sele ngkapnya mekanisme perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut : Ow W S r e R W Dengan mengambil contoh perilaku sadar tadi. Me nggerakkan kaki menuju ke depan.meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak meny adari terhadap keadaan sekelilingnya--. dan w hy (mengapa). meminta ijin ke dosen . Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggera kan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how). motif. otot dan sebagainya yang merupakan pelaksana gerak R). mengucapkan minta izin kepada dosen. tekad) dari dalam d iri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku. sehingga tulisan dosen di papan tulis tidak terbaca dengan baik. meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan. What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/ purpose) a pa yang hendak dicapai dengan perilaku itu. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Holistik (Humanisme) Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan. yakni perilakuny a itu sendiri. proses dan mekanisme terjadinya perilaku menurut pandangan Holistik. Holistik atau humanisme menjelas kan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa).

demi mempertahankan kelangsungan dan meningk atkan kualitas hidupnya. yaitu: (1) kebutuhan fisiologikal. sehin gga membentuk suatu siklus. baik yang bersum ber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar i ndividu (motivasi ekstrinsik). Maslow mengungkapkan jenisjenis kebutuhan-individu secara hierarkis. yaitu: (1) Kebutuhan berprestasi (need for achievement). yaitu kebutu han untuk mengikat diri dalam kelompok. psikologikal dan intelektual. Jika kebutuhan yang serupa muncul kembali maka po la mekanisme perilaku itu akan dilakukan pengulangan (sterotype behavior). Dalam hal ini.Berdasarkan bagan di atas tampak bahwa terjadinya perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan. yaitu kebutuhan untuk berkompetisi. yait u kebutuhan untuk menghindar diri dari kegagalan atau sesuatu yang menghambat pe rkembangannya. Setiap individu. Stranger (Nana Syaodih Sukmadinata.2005) mengetengahkan empat jen is kebutuhan individu. (3) Kebutuhan untuk membentuk ikatan (need for affiliation). membentuk keluarga. yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status. yang dapat digambarkan sebagai berikut : Motif Rasa puas atau kecewa Perilaku Instrumental Tujuan . organisasi ataupun p ersahabatan. (4) Kebutuhan takut akan kegagalan (need for fear of failure). (4) kebutuhan prestise atau harga diri. akan merasakan adanya kekurangan-kekurangan atau kebutu han-kebutuhan tertentu dalam dirinya. pangan dan papan. yaitu kebutuhan untuk mencari dan memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang lain. (2) kebutuhan keamanan. se perti : sandang. baik dengan dirinya atau dengan orang lain d alam mencapai prestasi yang tertinggi. tidak dalam arti fisi k. (2) Kebutuhan berkuasa (need for power). (3) kebutuhan kasih sa yang atau penerimaan. Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motiva si) yang merupakan kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat pe rsistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu aktivitas. dan (5) kebutuhan aktualisasi dir i. Tingkatan kebutuhan tersebut dapat diragakan seperti tampak dalam gambar beri kut ini : SELF ACTUALIZATION ESTEEM NEEDS LOVE NEEDS SAFETY NEEDS PHYSIOLOGICAL NEEDS Sementara itu. akan tetapi juga mental.

yang satu positif dan dikehendaki dan yang lainnya motif negatif serta tidak dikehendaki namun sama k uatnya. Deng an beragamnya motif yang terdapat dalam individu. keuletan dan kemampuan da lam mengahadapi rintangan dan kesulitan. minat). 2. untuk keperluan studi psikologis. j ika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sam a-sama kuat. (4) ketabahan.Berkaitan dengan motif individu. Untuk memahami motivasi individu dapat d ilihat dari indikator-indikatornya. setiap aktivitas ya ng dilakukan individu akan mengarah pada tujuan . minum. motif-motif obyektif dan interest (eksplorasi. (3) persistensi pada kegiatan. seperti : takut yang dipelajari. Approach-approach conflict. 2. konformitas dan sebag ainya). dis ebutkan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam dirinya. j ika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sam a-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. maksu d dan aspirasi serta motif berprestasi. (5) devosi dan pengorbanan untuk mencap ai tujuan. Motif sekunder. seperti : dorongan untuk makan. (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan. menunjukkan kepada m otif yang berkembang dalam individu karena pengalaman dan dipelajari. Avoidance-avoidance conflict. adakalanya individu harus berh adapan dengan motif yang saling bertentangan atau biasa disebut konflik. yaitu : (1) durasi kegiatan. Jika seorang individu dihadapkan pada bentuk-bentuk motif seperti dikemukakan di atas tentunya dia akan mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dan sangat mungkin menjadi perang batin yang berkepanjangan. Dalam diri indiv idu akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada tujuan tertentu. Dalam pandangan holistik. menunjukkan kepada motif yang tidak pelajari. menyelamatkan diri dan sejenisnya. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih. yaitu : 1. motif individ u dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan. (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakuk an. menye rang. manipulasi. (2) frekuensi k egiatan. Approach-avoidance con flict. Bentukbentuk konflik tersebut diantaranya adalah : 1. 3. Motif primer (basic motive dan emergency motive). dikenal de ngan istilah drive. motif-motif sosial (ingin diterima. (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari keg iatan yang dilakukan. melarikan diri. dikehendaki serta bersifat positif.

perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya. (10) berfantasi (dalam angan-angannya. . diantaranya : (1) agresi marah. dengan berbekal kesadaran diri bahwa dia memiliki potensi dalam bidang psiko logi pendidikan. Sekaligus juga dapat membe rikan bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan frustrasi. sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan psikologi pendidikan. secara sukarela Arjuna memutuskan untuk melanjutkan pada salah program studi yang ada di FKIP UNIKU (sublimasi). Untuk lebih jelasnya. jika tujuan tersebut tidak tercap ai dan kebutuhannya tidak terpenuhi maka dia akan kecewa atau dalam psikologi di sebut frustrasi. Contoh 1 : Karen a gagal mengikuti mengikuti testing pada salah satu Fakultas di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). Ketika mengikuti perkul iahan Psikologi Pendidikan yang merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diik uti para mahasiswa. sejak awal dia sudah menyadari bahwa dia kekurangan pengetah uan.tertentu. m aka dia akan mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment). yang dipe rolehnya dari setiap pertemuan tatap muka dengan dosen. inteligensi). Untuk tujuan jangka pendekn ya. bergantung kepada akal sehatnya (reasoning. seakan-akan ia dapat mencapai tujuan yang didambakannya). jika akal sehatnya tidak berfungs i sebagaimana mestinya. (4) fiksasi. dan setelah mempertimbangkan segala sesuatunya (moralitas). (8) sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang sejenis). (3) regresi (kemunduran perilaku). (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di bi dang lain). Jika akal sehatny a berani mengahadapi kenyataan maka dia akan lebih dapat menyesuaikan diri secar a sehat dan rasional (well adjustment). Dalam hal ini. dia berharap dapat memperoleh kemampuan baru berupa pengetahuan . tercapai atau tidak tercapai tujuan tersebut. (6) rasionalisasi (mencari alasan). Namun sebaliknya. Jika tercapai tentunya individu merasa puas dan memperoleh kese imbangan diri (homeostatis). (5) represi (menekan p erasaan). terdapat dua kemungkinan. (2) kecemasan tak berdaya. Reaksi individu terhadap frustrasi akan beragam bentuk perilaku nya. Bentuk peril aku salah suai (maldjustment). Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membant u para peserta didiknya agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat menimbulkan perilaku salah-suai. Namun. sikap dan keterampilannya dalam bidang Psikologi Pendidikan sehingga dia me nyadari Psikologi Pendidikan merupakan kebutuhan bagi dirinya (need felt) dalam rangka mencapai tujuan-tujuannya (goals/incentives). (7) proyeksi (melemparkan kesalaha n kepada lingkungan). di bawah ini akan dikemukaka n contoh terbentuknya perilaku berdasarkan pendekatan holistik.

pada akhir semester dia berharap lulus mata kuliah Psiko logi Pendidikan dengan mendapatkan nilai A (kebutuhan harga diri). Dia sangat mensyukuri atas segala keberhasilannya. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai untuk jan gka panjang. karena gagal mengikuti mengikut i testing pada Fakultas Ekonomi di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). Keinginan dan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam bid ang psikologi pendidikan. Dia juga sangat menyukai diskusi te ntang psikologi pendidikan dengan teman-temannya di luar kelas (perilaku instrum ental). rekan-rekan seprofesinya sangat hormat dan kagum atas kinerja nya sebagai guru. memperoleh kesuksesan dalam mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). dia memperoleh pengetahuan yang luas. Begitu juga. Setiap tugas yang diberikan diseles aikan dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu. sikap yang positif dan memil iki keterampilan yang bisa dibanggakan dalam menerapkan prinsip-prinsip psikolog i. sehingga selama kuliah. baik ketika selama menjadi mahasiswa maupun setelah menj adi guru (homeostatis). bahkan kepa la sekolahnya meminta dia untuk menjadi guru di sekolah menjadi tempat praktekny a. membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidika n yang diwajibkan dan dianjurkan oleh dosen. Berkat aktivitas dan kesungguhannya dalam mengikuti perkuliahan Psikolog i Pendidikan. dia memperoleh nilai terbaik di kelasnya. . Bagi dirinya. keingi nan menjadi guru yang efektif dan kompeten kemudian berkembang menjadi dorongan yang kuat dalam dirinya (motivasi intrinsik) Pada saat mengikuti perkuliahan Psi kologi Pendidikan dia senantiasa aktif bertanya dan mengemukakan pendapatnya ten tang materi yang disampaikan.Tujuan jangka menengah. Perkuliahan Psikologi Pendidikan telah men dasari dia menjadi seorang yang sukses. Pada akhir semester. n anti pada saat mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). dia benar-benar berharap dapat menjadi guru yang efektif dan kompet en. Setelah dia selesai kuliah dia menjadi guru di sebuah sekolah. Dia bercita-cita menjadi seorang ekonom. memperoleh kesuksesan belajar dengan mendapatkan nilai A. pada saat PPL dia termasuk mahasiswa praktikan yang disukai oleh peserta didiknya. dia belum menemukan apa tujuan kuliahnya. dia berhasil meraih sebagai juara pertama. para peserta d idik sangat menyenangi dia karena dia sangat dekat dan akrab dengan peserta didi knya. Pada saat mengikuti lomba pemilihan guru berprestasi tingkat k abupaten. dia berharap dapat mela ksanakannya dengan sebaik-baiknya. kemudian dia dipaksa orang tuanya untuk melanjutkan pada salah sa tu program studi di FKIP UNIKU (motivasi ekstrinsik/substitusi). Selain itu. Contoh 2 : Astrajingga rekan seangkatan Arjuna.

peristiwa. Tugas-tugas yang diberik an dosen pun jarang dikerjakan. kebu dayaan masyarakat tertentu. dia menyalahkan dosen bahwa dosennya tidak becus mengajar (proy eksi). nama.Dalam konteks pendidi kan. konsep. Pikirannya selalu terganggu bahwa seolah-olah dia sedang kuliah pada Fakutas Ekonomi di Perguruan Tinggi yang diidam-idamkannya dan dia merasa seolah-olah bakal menjadi Ekonom (fantasi). Dia sering tidak masuk kuliah. yakni : a. Kawasan Kognitif. daftar. Dia dihadapkan pada perang batin antara terus melanjutkan stu di yang tidak sesuai dengan cita-citanya atau keluar dari kuliah dengan resiko o rang tua akan marah besar terhadap dirinya (conflict). rumus. Selama satu semester meng ikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. betapa banyak kata yang harus dipergunakan untuk mendeskripsikan nya. Mengetahui kebiasaan atau cara mengetengahkan ide atau pengalaman . Bloom mengungkapkan tiga kawasan (domain) perilaku individu beserta sub kaw asan dari masing-masing kawasan. definisi. Untuk keperluan studi tentang perilaku kiranya perlu ada sistematika pengel ompokan berdasarkan kerangka berfikir tertentu (taksonomi). atau kesimpulan. Pengetahuan merupakan aspek kognitif yang paling rendah tetapi paling mendasar. 3. 1) Pengetahuan (knowledge). sekal ipun dia masuk kuliah hanya sebatas takut dimarahi oleh dosen yang bersangkutan dan takut dinyatakan tidak lulus (kebutuhan rasa aman). terdiri dari : Mengeta hui terminologi yaitu berhubungan dengan mengenal atau mengingat kembali istilah atau konsep tertentu yang dinyatakan dalam bentuk simbol. Dilihat dari objek yang diketahui (isi) pengetahuan dapat digolongk an sebagai berikut : a) Mengetahui sesuatu secara khusus. kalaupun dikerjakan hanya alakadarnya dan selalu telat disetorkan. Taksonomi Perilaku Individu Kalau perilaku individu mencakup segala pe rnyataan hidup. sumber informasi. termas uk mata kuliah Psikologi Pendidikan (kurang merasakan adanya kebutuhan dan kekur angan motivasi). b) Mengetahui tentang cara untuk memproses atau melakukan sesuatu.Dia tidak begitu berminat mengikuti perkuliahan mata kuliah kependidikan. tahun. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau berfikir/nalar. Sambil men angis (regresi). baik berbentuk verbal maupun non verbal. peristiwa. kejadian masa lalu. teori. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan dan pada akhir nya dia dinyatakan tidak lulus dan terpaksa harus mengikuti remedial. dan ciri-ciri yang tampak dari keadaan alam tertentu . Dengan pengetahuan individu dapat mengenal dan mengingat kembali suatu objek. orang tempat. dia hanya memperoleh sebagian kecil saja pengetahuan. Mengetahui fakta tertentu yaitu mengenal atau mengingat kemb ali tanggal. id e prosedur.

maka kelanjutannnya dapat dinyatakan berdas arkan prinsip tersebut. kelompok.Mengetahui urutan dan kecenderungan yaitu proses. arah atau kelanjutan dari suatu temuan. yaitu ide. Mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi fakta. 11. Temuan-tem uan yang didapat dari mengetahui seperti definisi. 3. b) interpretasi yaitu menjelaskan makna yang terdapat dalam simbol. kepada siswa dihadapkan rangkaian bilangan 2. . Misalnya. yaitu perangkat cara yang digunakan untuk mencari. Temuantemuan ini diakomodasikan dan kemudian berasimilasi dengan struktur kognitif yang ada. pendapat atau perlakuan. dan c) Ekstrapolasi. 7. bagan dan pola yang digunakan untuk mengorganisasi suatu fenome na atau pikiran. b agan atau grafik. fakta d isusun kembali dalam struktur kognitif yang ada. Untuk bisa seperti itu. memperbandingkan atau mempertentangkannya dengan sesuatu yan g lain. Jika ditemukan bahwa kelima bilangan te rsebut adalah urutan bilangan prima. prinsip. Mengetahui meto dologi. arah dan gerakan suatu gejala atau fenomena pada waktu yang berkaitan. Mengetahui penggolongan atau pengkatego risasian. baik dalam bentuk simbol verbal maupun non verbal. perangkat atau susunan yang digunakan di d alam bidang tertentu. informasi. peristiwa. Mengetahui kelas. Mengetahui hal-hal yang universal dan abstrak dalam bidang tert entu. terlebih dahulu dicari prinsip apa ya ng bekerja diantara kelima bilangan itu. Mengetahui prinsip dan generalisasi Mengetahui teori dan strukt ur. Misalkan simbol dalam bentuk kata-kata diubah menjadi gambar. Contoh sesesorang dapat dikatakan telah mengerti konsep tentang “motivasi kerja” dan dia telah dapat membedakannya dengan konsep tentang ”motivasi belajar”. 2) Pemahaman (comprehension) Pemahaman atau dapat dijuga disebut dengan istilah mengerti merupakan kegiatan m ental intelektual yang mengorganisasikan materi yang telah diketahui. sehingga membentuk struktur kognitif baru. yaitu melihat kecenderungan. Seseorang dapat dikatakan telah da pat menginterpretasikan tentang suatu konsep atau prinsip tertentu jika dia tela h mampu membedakan. menemukan atau menyel esaikan masalah. 5. atau memproses sesuatu. den gan kemapuan ekstrapolasinya tentu dia akan mengatakan bilangan ke-6 adalah 13 d an ke-7 adalah 19. Tingkatan dalam pemahaman ini meliputi : a) translasi yaitu mengubah simbol tertentu menjadi simbol lain tanpa perubahan makna.

menggunakan. ingat kuda ingat transportasi . maka mereka memberi nama pada kereta api tersebut d engan iron horse (kuda besi). Kemampuan untuk mengidentifikasi motif-motif da n membedakan mekanisme perilaku antara individu dan kelompok. Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah dan menunjukkan hubungan antar-bagia n tersebut. melihat penyebab-penyebab dari suatu peristiwa atau memberi argumenargumen yang menyokong suatu pernyataan. memanfaatkan.3) Penerapan (application) Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dal am kehidupan sehari-hari. Bagi mereka. b) Menganalisi s hubungan Kemampuan untuk melihat secara komprehensif interrelasi antar ide den gan ide. mengklasifikasikan. Kemampuan untuk mengenal unsur-unsur khusus yang membenarkan suatu pern yataan. menyelesaikan dan mengidentifikasi hal-hal yang sama. Kemampuan untu k memastikan konsistensinya hipotesis dengan informasi atau asumsi yang ada. Kemampuan untuk membedakan pernyataan fak tual dengan pernyataan normatif. Dengan pemahaman demikian. Hal ini menunjukkan bagaimana mereka menerapkan ko nsep terhadap sebuah temuan baru. mereka berusaha untuk memberi nama yang cocok bagi alat angkutan tersebut. yaitu : a) Menganalisis unsur : Kemampuan melihat asumsi -asumsi yang tidak dinyatakan secara eksplisit pada suatu pernyataan Kemampuan u ntuk membedakan fakta dengan hipotesa. Satu-satunya alat transportasi yang suda h dikenal pada waktu itu adalah kuda. Contoh. Secara rinci Bloom mengemukakan tiga je nis kemampuan analisis. . Seseorang dikatakan menguasai kemampuan ini jika ia da pat memberi contoh. Kemampuan untuk mengenal fakta atau asumsi yang esensial yang mendasari suatu pendapat atau tesis atau argumen-argumen yang mendukungnya. 4) Penguraian (analysis). dulu ketika pertama kali diperk enalkan kereta api kepada petani di Amerika. Kemampuan untuk me misahkan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang mendukungnya.

Contoh: memilih nada dan irama dan kemudian manggabun gkannya sehingga menjadi gubahan musik yang baru. yaitu : a) Pembenaran berdasarkan kriteria internal. 6) Penilaian (evaluation) Mempertimbangkan. Kemampuan untuk mengenal hubung an kausal dan unsur-unsur yang penting dan yang tidak penting di dalam perhitung an historis. c) Menganalisis prinsip-prinsip organisasi Kemampuan untuk menguraikan antara ba han dan alat Kemampuan untuk mengenal bentuk dan pola karya seni dalam rangka me mahami maknanya. yang dilakukan dengan memperhatikan k onsistensi atau kecermatan susunan secara logis unsurunsur yang ada di dalam obj ek yang diamati. Kemampuan untuk mengetahui maksud dari pengarang suatu karya tu lis. Terdapat dua kriteria pembenaran yang digunakan. memberi nama yang sesuai bagi suatu temuan baru. atau merangkai berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau menjadi suatu hal yang baru.. Kemampuan untuk melihat teknik yang digunakan dalam meyusun suatu mat eri yang bersifat persuasif seperti advertensi dan propaganda. baik-buruk. . meramu. Kemampuan untuk mendeteksi hal-hal yang tidak logis di dalam suatu argumen. menciptakan logo organisasi. 5) Memadukan (synthesis) Menggabungkan. menilai dan mengambil keputusan benar-salah. yang dilakukan be rdasarkan kriteria-kriteria yang bersumber di luar objek yang diamati. b) Pembenaran berdasarkan kriteria eksternal. misalnya kesesuaiannya dengan aspirasi umum atau kecocokannya dengan kebutuhan pemakai. Kemampuan berfikir induktif dan konvergen mer upakan ciri kemampuan ini.Kemampuan untuk menganalisis hubungan di antara pernyataan dan argumen guna memb edakan mana pernyataan yang relevan mana yang tidak. atau bermanfaat – tak bermanfaat berdasarkan kriteria-kriteria tertentu baik kualitatif maupun kuantitatif. sudut pandang atau ciri berfikirnya dan perasaan yang dapat diperoleh dalam karyanya.

Penilaian terbagi atas empat tahap sebag ai berikut : a) Menerima nilai (acceptance of value). yaitu adanya kesiapan untuk berinteraksi dengan stimulus (feno mena atau objek yang akan dipelajari). sikap. Kagum atas keberanian seseorang. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek emosional. minat. suara atau kata-kata ter tentu saja. yaitu adanya aksi atau kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk me muaskan keinginan mengetahui. Misalnya pada desain atau warna saja. b) Kemauan untuk meneri ma (willingness to receive). b) Kemauan menanggapi (willingness to respo nd). 2) Sambutan (responding) Mengadakan aksi terhadap stimulus. kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. Kawasan Afektif. Komitmen ini dinyatak an dengan rasa senang. membuat coretan atau gambar. dan sebagainya. memotret dari objek yang me njadi pusat perhatiannya. yang ditandai dengan kehadiran dan usaha untuk memberi perhatian pada stimulus yang bersangkutan. c) Mengkhususkan perhatian (controlled or selected atte ntion). Mungkin perhatian itu hanya tertuju pada warna. yaitu usaha untuk mengalokasikan perhatian pada sti mulus yang bersangkutan. kagum. yaitu kelanjutan dari usah a memuaskan diri untuk menanggapi secara lebih intensif. Contoh kegiatan yang tampak dari kepuasan menangga pi ini adalah bertanya. yaitu usaha untuk melihat hal-hal khusus di dalam bagian yang diperhatikan. seperti perasaan. me nempelkan gambar dari tokoh yang disenangi pada tembok kamar yang bersangkutan. Contoh : mengajukan pertanyaan. misalnya lukisan yang memil iki yang memuaskan. c) Komitmen yaitu kesetujuan terhadap suatu nilai dengan ala san-alasan tertentu yang muncul dari rangkaian pengalaman. terpesona.b. yang meliputi proses sebagai berikut : a) Kes iapan menanggapi (acquiescene of responding). menunj ukkan komitmen terhadap nilai keberanian yang dihargainya. 3) Penghargaan (valuing) Pada tahap ini sudah mulai timbul proses internalisasi untuk memiliki dan mengha yati nilai dari stimulus yang dihadapi. 1) Penerimaan (receiving/attending) Kawasan penerimaan diperinci ke dalam tiga tahap. atau mentaati peraturan lalu lintas. yaitu : a) Kesiapan untuk mene rima (awareness). b) Menyeleksi nilai yan g lebih disenangi (preference for a value) yang dinyatakan dalam usaha untuk men cari contoh yang dapat memuaskan perilaku menikmati. c) Kepuasan menanggapi (satisfaction in r esponse). 4) Pengorganisasian (organization) .

maka susunan itu belum konsisten di dalam diri yang bersangkutan. menyusul k emudian nilai yang dirasakan agak penting. mempersiapkan alat. (d) menyesuaikan (adaptation) dan (e) menciptakan (origination) 1) Kesiapan yaitu berhubungan dengan kesediaan untuk melatih diri tentang keterampilan tertentu yang dinyatakan dengan usaha untuk me laporkan kehadirannya. Dalam sistem nilai ini yang bersangkutan menempatkan nilai yang paling disukai pada tingkat yang amat penting. (c) membiasakan (habitual). yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular syste m) dan fungsi psikis. yaitu mengembangkan pandangan hidup tertentu yang memberi corak tersen diri pada kepribadian diri yang bersangkutan. menyesuaikan diri dengan situasi. Seperti anak yang baru belajar bahasa meniru kata-kata orang tanpa mengerti artinya. yaitu k emampuan untuk melihat suatu masalah dari suatu sudut pandang tertentu. yaitu : a) Generalisasi. 3) Membiasakan yaitu seseorang dapat melakukan suatu keterampilan tanpa harus melihat contoh. men jawab pertanyaan. sekalipun ia belum dapat mengubah polanya. tetapi mulai melihat beberapa nilai yang relevan untuk disusun menjadi satu sistem nilai.Pada tahap ini yang bersangkutan tidak hanya menginternalisasi satu nilai terten tu seperti pada tahap komitmen. atau menemukan asumsi-asumsi yang mendasari suatu moral atau kebiasaan. sistem itu selal u konsisten. yakni : a) Konseptualisasi nilai. Kawasan ini terdiri dari : (a) kesiapan (set).atau kesenangan dari diri yang bersangkutan. 5) Karakterisasi (characterization). Pada tahap karakterisasi. b) Pengorganisasian sistem nilai. b) Karak terisasi. Kawasan Psikomotor. yaitu keinginan untuk menilai hasil karya oran g lain. Artinya mudah berub ah-ubah sesuai situasi yang dihadapi. Proses ini terdiri atas dua tahap. c. (b) penirua n (imitation). dan seterusnya menurut urutan kepenti ngan. Proses ini terjadi dalam dua tahapan. 2) Meniru adalah kemampuan untuk melakukan sesuai dengan conto h yang diamatinya walaupun belum mengerti hakikat atau makna dari keterampilan i tu. . yaitu menyusun perangkat nilai dalam suatu sis tem berdasarkan tingkat preferensinya. Karakterisasi yaitu kemampuan untuk menghayati atau mempribadikan sistem nilai K alau pada tahap pengorganisasian di atas sistem nilai sudah dapat disusun.

. 5) Menciptaka n (origination) di mana seseorang sudah mampu menciptakan sendiri suatu karya. misalnya : melompat. menunduk. dan seba gainya. ser ta wahana untuk pembebasan manusia.4) Adaptasi yaitu seseorang sudah mampu melakukan modifikasi untuk disesuaikan d engan kebutuhan atau situasi tempat keterampilan itu dilaksanakan. pendid ikan lebih diyakini sebagai suatu media atau wahana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan ajaran keagamaan. banyak peradaban manusia yang “mewajibk an” masyarakatnya untuk tetap menjaga keberlangsungan pendidikan. berjalan. Gerakan fisik (Physical Abilities) yai tu gerakan yang menunjukkan daya tahan (endurance). Penyelenggaraan pendidikan selanjutnya menja di kewajiban kemanusiaan dalam rangka mempertahankan kehidupannya. Abin Syamsuddin Makmun( 2003) memerinci dengan tahapan yang berbed a. kekuatan (strength). s erta media untuk meningkatkan keterampilan. alat mengasah otak. Gerakan indah dan kreatif ( Non-discursive communication) yaitu mengkomunikasikan perasan melalui gerakan. 2) 3) 4) 5) 6) 4. S ementara itu. Basis semua perilaku bergerak atau respon s terhadap stimulus tanpa sadar. dan cekatan dala m melakukan gerakan yang sulit dan rumit (kompleks). Sementara kalangan humanisme. Gerakan terampil (skilled movements) yaitu dapa t mengontrol berbagai tingkatan gerak secara terampil. yaitu : sub kawasan ini 1) Gerakan refleks (reflex movements). Peranan dan Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan dan Perkembangan Perilaku Pendidikan memang sejak zaman dahulu kala menjadi salah satu bentuk usaha manusi a dalam rangka mempertahankan keberlangsungan eksistensi kehidupan maupun budaya manusia itu sendiri. Gerakan Persepsi (Perceptual abilities) yaitu gerakan sudah lebih menin gkat karena dibantu kemampuan perseptual. tangkas. Melihat begit u pentingnya pendidikan bagi umat manusia. kelentu ran (flexibility) dan kegesitan. Gerakan dasar biasa (Basic fundamental movements) yaitu gerakan yang mun cul tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik. alat pelatihan keterampilan. b aik dalam bentuk gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah maupun gerak kreatif: gerakangerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasi kan peran. atau sebagai wahana untuk memanusiakan manusia. pendidikan dipahami sebagai se bagai alat pembentukan watak. Bagi kalangan behaviorisme. yang terpola dan dapat ditebak.

Dengan menggunakan konsep dasa r psikologis. .Yang menjadi persoalan. afektif. khususnya dalam pandangan behaviorisme. maupun psikomotor. selanjutnya dengan bantuan atau tanpa bantuan orang l ain. arah dan kualifikasi perubahan dan perkemba ngan perilaku akan sangat bergantung pada faktor S (conditioning). Pada dasarnya individu sejak lahir sudah dibekali potensi-potensi tertentu. Jika kita amati dari kedua pandangan tersebut tampak a da hal yang kontras. sikap dan keterampilan tent ang Psikologi Pendidikan (P).O) P= person (pribadi. termasuk lingkungan sekola h. Walaupun demiki an. sejauhmanakah pendidikan dapat mempengaruhi perubahan da n perkembangan perilaku individu. Secara skematik. yang diman ifestasikan dalam bentuk perubahan dan perkembangan perilaku. individu yang bersangkutan berupaya aktif mengembangkan segenap potensi yan g dimilikinya melalui interaksi dengan lingkungannya. Sehingga potensi yang semula masih bersifat laten (terpendam) dapat diaktuali sasikan menjadi prestasi. perilaku) f = function (fungsi) S=stimulus (pendidikan/belaj ar) O=organisme Contoh : Untuk memiliki pengetahuan. Dengan adanya perbedaan pandangan tersebut menyebabkan pula terjadinya pe rbedaan-perbedaan dalam pendekatan dan teknis proses pendidikan. pengaruh fungsional pendidikan terhadap perubahan dan pe rkembangan perilaku. Sedangkan dalam pandangan humanisme. harus diakui bahwa kedua pandangan tersebut memiliki peranan penting dan mem berikan kontribusi terhadap perubahan dan perkembangan pribadi atau perilaku ind ividu. menurut pandangan behaviorisme. Sementara itu .Dengan demik ian. baik dalam aspek k ognitif. hasil b elajar individu merupakan hasil dari upaya aktif dan pro-aktifnya terhadap lingk ungan. Bagaimana pula kontribusi individu itu sendiri terhadap perubahan dan perkembangan perilakunya. minat. seorang mahasiswa (O) dengan segala karakteristikn ya (kondisi fisik. bakat. dalam pandangan humanisme bahwa justru organisme atau individu itu sendiri yan g memegang peranan penting dalam suatu proses belajar atau proses pendidikannya. Menurut pandangan behaviorisme hasil belajar individu merup akan hasil reaktif dari lingkungan. ter utama potensi intelektual. dapat dijelaskan dalam bagan berikut ini : P = f (S. pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha conditioning (penciptaan seperangkat stimulus) yang diharapkan dapat menghasilkan pola-pola perilaku (seperangkat respons) tertentu. Seberapa besar tingkat atau derajat perubah an dan perkembangan perilaku yang dicapai melalui usaha – usaha conditioning diken al dengan istilah prestasi belajar atau hasil belajar (achievement).

mengobservasi perilaku di kelas. dengan cara memberikan ta nda silang (X) ! 2. W S S S O WS Ow R R O R R W W . Gur u dapat menilai peserta didiknya secara efisien. b. kecu ali : a. Konsep dan teori Psikologi Pendidikan diperoleh berdasarkan upaya yang s istematis. Memiliki obyek yang jelas yaitu perilaku individu yang terlibat dalam pendidi kan. kiranya bisa dipahami bahwa perubahan perilaku atau diperolehnya kemampuan individu. dan c benar 3. b. Menjadi ped oman bagi para pendidik dalam mengembangkan proses pendidikan. Guru dapat menjalankan peran tu gas dan fungsinya secara efektif dan efisien Guru dapat merencanakan pembelajara n dengan sebaik-baiknya Guru dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif. d. dia memperoleh sejumlah pengalaman belajar. c. Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilih lah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. 5. c. c. bahkan melakukan penelitian. Ilmu yang mempel ajari perilaku individu dalam situasi pendidikan. membaca dan mengkaji buku-buku yang relevan. maka pada akhirnya. 4. d. hasil belajar sebelumnya serta karakteristik lainnya) mengikuti kegiat an belajar Psikologi Pendidikan. dis amping dihasilkan melalui kegiatan pendidikan (belajar) juga dipengaruhi oleh fa ktor internal dari individu itu sendiri. b. Mekanisme terbentuknya perilaku sadar menurut pandangan Behaviorisme a. Memberikan man faat untuk kepentingan efektivitas dan efisiensi pendidikan. Psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai : 1) 2) 3) 4) I lmu Jiwa Ilmu yang mempelajari tentang perilaku peserta didik . d. D.motivasi. sikap dan memiliki keterampilan baru tentang psikologi pendidi kan. dia mendapa tkan pengetahuan. baik untuk kepentingan diri-pribadi sehari-hari maupun dalam rangka mempers iapkan diri untuk menjadi guru kelak di kemudian hari. misalnya melalui: diskusi dengan teman. Dengan demikian. Melalui interaksi belajar mengajar yang disepak ati dengan Dosen. a. b. Beberapa persyaratan ilmu yang sudah dipenuhi oleh Psikologi Pendidikan. Arti penting Psi kologi Pendidikan bagi guru adalah : a. baik melalui pendekatan kuantitatif maupun kualitatif.

Kebutuhan akan rasa aman. Dapat menyimpulkan. frekuensi dan persistensi kegiatan. Kebutuhan akan aktualisasi diri. Di bawah ini merupakan jenis-jenis kebutuhan individu yang dikemukakan oleh M aslow. application b. kecuali : a. Konflik yang dialami jik a individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif samasama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. menghubungkan. evaluatio n Uraian 1. tingkat kualifikas i prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan dan a rah sikap terhadap sasaran kegiatan. synthesis d. a. b. keuleta n dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan. Kebutuhan akan prestasi. dan c benar 8. Jelaskan peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perk embangan perilaku individu ! 2. characterization by valu e or value complex d. me nggabungkan merupakan indikator atau kata kerja operasional untuk mengukur perub ahan perilaku dalam aspek : a. Avoidance-avoidance conflict d. dan c benar 9. Reaksi frustasi ind ividu atas kegagalan dalam mencapai tujuan dan tidak terpenuhinya kebutuhan indi vidu dengan cara mencari kambing hitam. fiksasi d. c. a. Di bawah ini merupakan kemampuan yang berkaitan dengan perilaku kawasan afektif. 7. Di bawah ini merupakan indikator untuk mengetahui tingkat motivas i individu. durasi. d. a. Approach-approach conflict c. a. Kebutuhan akan harga diri. a. agresi b. regresi c. evaluasi b. analysis c. b .avoidance c onflict b. a. b dan c benar 11. b. Approach. a. c. ketabahan.6. d. Uraikan dan berikan gambaran secara skematik ten tang mekanisme pembentukan perilaku dan pribadi individu menurut aliran holistik ! . proye ksi 10. b. Non-discursive communication c.

3. namun sebaliknya ada juga yang sangat lambat. Intisari Bacaan 1. kecakapan potensial. yang pe nting dan perlu diketahui guru adalah berkenaan dengan kecakapan dan kepribadian peserta didiknya. diharapkan Anda dapat : 1. Di antara sekian banyak karakteristik yang dimiliki peserta didik. ciri-ciri keberbakat an.Dari segi kecepatan belajar. Menganalis faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya ke ragaman dalam kecakapan dan kepribadian. dan kepribadian 2. ada peserta didik yang menunjukka n cepat dalam menangkap pelajaran. dalam Kecakapan dan C. Dari segi . 4. B. T Setelah mempelajari Bab ini. Mendefinisikan kecakapan nyata. dengan masing-masing karakateristik yang dimilik inya.BAB II KERAGAMAN INDIVIDU DALAM KECAKAPAN DAN KEPRIBADIAN ujuan : A. Pokok Bahasan 1. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian Dalam m elaksanakan tugasnya. Fakto r-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman Kepribadian. 2. Mengid entifikasi tentang indikator kecerdasan. aspek-aspek kepribadian. kecerdasan (inteligensi). Menjelaskan tentang teori-teori kecerdasan dan p engukuran kecerdasan. seorang guru mungkin akan dihadapkan dengan puluhan atau b ahkan ratusan peserta didiknya. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian. ukuran kecerdasan.

seperti teori inteligensi yang dikemukakan oleh Charles Spearman (1904) de ngan teori “Two Factors”-nya. yang dapat seger a didemonstrasikan dan diuji sekarang. Menurut pendapatnya bahwa inteligensi terdiri dari kem ampuan umum yang diberi . Misalkan. pada akhir perkuliahan mahasiswa d iuji oleh dosen tentang materi yang disampaikannya (tes formatif). Chaplin (1975) memberikan pengertian int eligensi sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi bar u secara cepat dan efektif. Untuk kepentingan pengetahuan guru dalam memahami peserta didiknya.P. Sedangkan kecakapan potensial mer upakan aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri individu dan diperoleh d ari faktor keturunan (herediter). guru mungkin akan menganggap seolah-olah tidak ada hambatan. Berhadapan dengan peserta didik yang memiliki kecep atan belajar dan memiliki ciri-ciri kepribadian yang positif. Membicarakan tentang keragaman individu secara luas dan mendala m sebetulnya sudah merupakan kajian tersendiri yaitu dalam bidang Psikologi Dife rensial. Terlebih dahulu mungkin dia akan mempelajari latar belakang sosio-psikologis peserta didiknya.kepribadian. Kecakapan potensial dapat dibagi ke dalam dua bagian yaitu kecakapan dasar umum (inteligensi atau kecerdasan) dan kecakapan da sar khusus (bakat atau aptitudes). adaka lanya guru dibuat frustrasi. guru akan berhadapan dengan ciri-ciri kepribadian para peserta didi knyanya yang khas atau unik. selanjutnya dia berusaha untuk menemukan solusinya dan menetukan tindakan apa yang paling mungkin bisa d ilakukan agar peserta didik tersebut dapat mengembangkan perilaku dan pribadinya secara optimal. Namun ketika berhadapan dengan pesert a didik yang lambat dalam belajar atau ciri-ciri kepribadian yang negatif. Ketika mahasi swa mampu menjawab dengan baik tentang pertanyaan dosen. m alas. Kecakapan nyata (actual ability) yaitu kecak apan yang diperoleh melalui belajar (achivement atau prestasi). Ujung-ujungnya dia langsung saja akan menyimpulkan bahwa peserta didiklah yang salah. di bawah ini akan diuraikan dua jenis keragaman individu yaitu keragaman dalam keca kapan dan kepribadian. sehingga akan diketahui secar a akurat kenapa peserta didik itu lambat dalam belajar. setelah selesai mengikuti prose s perkuliahan (kegiatan tatap muka di kelas). belum tentu dia akan langsung menarik kesimpulan bahwa peserta didiklah yang salah. Peserta didik dianggap kurang rajin. yakni hanya berhubungan dengan aspek intelektual saja. a. Keragaman Individu dalam Kecakapan Kecakapan individu dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu kecakapan nyata (actual ability) dan kecak apan potensial (potential ability). maka kemampuan tersebut merupakan atau kecakapan nyata (achievement). bodoh. kurang sungguh-sungguh dan sebagainya. Pada awalnya teori inteligensi masih bersifat unidim ensional (kecerdasan tunggal). Jika saja guru tersebut dapat memah ami tentang keragaman individu. C.

Behavi oral (interaksi non verbal yang diperoleh melalui penginderaan. (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor). c. Guilford mengemukakan bahwa inteligensi dapat dilihat dari tiga kategori dasar atau “faces of intellect”. dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual s peed).kode “g” (genaral factor) dan kemampuan khusus yang diberi kode “s” (specific factor). yaitu : 1. (2) kemampuan mengingat (memory). e. e. ekspresi muka at au suara). atau redefinisi informasi). atau memadai). Kela s (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama). Divergent Production (berfikir mel ebar=banyak kemungkinan jawaban/ alternatif). d. c. Content (Isi yang Dipikirkan) a.P. Thurstone (1938) mengemukakan teori “Primary Mental Abilities”. Symbolic (i nformasi dalam bentuk lambang. bahwa in teligensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer. (3) kemampuan na lar atau berfikir (reasoning). d. Visual (bentuk konkret atau gambaran). Cognition (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang baru). Product (Hasil Berfikir) a. b. b. yaitu : (1) kemampuan berb ahasa (verbal comprehension). e. f. Memory Retention (ingatan yang berkaitan dengan kehidupan seharihari). Evaluation (mengambil keputusan tentang apakah suatu itu baik. Relasi (keterkaitan an tar informasi). 2. modifikasi. J. S elanjutnya. Operasi Mental (Pros es Befikir) a. Unit (item tunggal informasi). (6) kemampuan menggunakan kata-kata ( word fluency). kata-kata atau angka dan notasi musik). Word Meaning (semantic). d. akurat. Auditory. yang konon dianggap sebag ai anugerah yang dapat mengantarkan . c. Sistem (kompleksitas bagian saling berhubungan). 3. Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi item lain). f. b. Convergent Production (berfikir memusat= hanya satu kemungkinan jawaban/alternatif). Transform asi (perubahan. Sementara itu. Belakangan ini banyak orang meng gugat tentang kecerdasan intelektual (unidimensional). Memory Recording (ingatan yang segera). ( 5) kemampuan bilangan (numerical ability).

seperti Mozart dan Bethoven dengan karya-karya musiknya yang mengagumkan. Intrapersonal KEMAMPUAN INTI Kepekaan dan kemampuan untuk mengamati pola-pola lo gis dan bilangan serta kemampuan untuk berfikir rasional. ritme. Kemampuan untuk mengamati dan merespons suasana hati. Pertanyaan muncul. Kepekaan terhadap suar a. Alat ukur inteligensi yang paling dikenal dan banyak digunakan di Indonesia ialah Tes Binet Simon -. H oward Gardner (1993). Interpersonal 7. makna kata-kata. ata u Maradona dan Pele sang legenda sepakbola dunia..kesuksesan hidup seseorang. teori inteligensi yang berusaha mengakomodir kemampuan-kemampuan ind ividu yang tidak hanya berkenaan dengan aspek intelektual saja. para ahli mengembangkan instrumen-instrumen stan dar untuk mengukur perkiraan kecakapan umum (kecerdasan) dan kecakapan khusus (b akat) seseorang. Jika kita perhatikan penjelasan tentang aspek-aspek intelige nsi dari teori-teori inteligensi di atas. Nada dan bentukbentuk ekspresi musik. bagaimana dengan tokoh-tokoh duni a. Dengan indikator-indikator perilaku inteligensi tersebut. kekuatan dan k elemahan serta inteligensi sendiri. kemampuan mereka yang demikian hebat ternyata tidak terakomodasikan. Ke mampuan mempersepsi dunia ruangvisual secara akurat dan melakukan tranformasi pe rsepsi tersebut. Kemampuan untuk m enghasilkan dan mengapresiasikan ritme. Kecakapan potensial seseorang hanya dapat dideteksi dengan mengidentifikasi indi kator-indikatornya. Musical 4. dan motivasi orang lain. dengan aspek-aspe knya sebagai tampak dalam tabel di bawah ini: INTELIGENSI 1. temper amen. dan keragaman fungsi-fungsi bahasa. Linguistic 3. Bodily Kinesthetic 6. maka pada dasarnya indikator kecerdasa n akan mengerucut ke dalam tiga ciri yaitu : kecepatan (waktu yang singkat). Spatial 5. Maka muncullah. belum dapat mengukur . Kemampuan untuk memahami perasaan. Apakah mereka termasuk juga o rang-orang yang genius atau cerdas ? Dalam teori kecerdasan tunggal (uni-dimensi onal). Kemampuan untuk mengontrol gerakan tubuh dan mengenai objek-obj ek secara terampil. ket epatan (hasilnya sesuai dengan yang diharapkan) dan kemudahan (tanpa menghadapi hambatan dan kesulitan yang berarti) dalam bertindak. Logical – Mathematica l 2.walaupun sebetulnya menurut hemat penulis alat ukur tersebut masih terbatas untuk mengukur inteligensi atau bakat persekol ahan (scholastic aptitude). mengemukakan teori Multiple Inteligence. Dalam hal ini.

SRA-PMA (Science Research Action – Primary Mental Ability). dan kem udahan peserta didik dalam dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan me ngerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian. (4) tilikan ruangan.aspek – aspek inteligensi secara keseluruhan (multiple inteligence).25 % 0. dapat menggunakan beberapa instrumen standar. sehingga pada akhirnya akan di ketahui kelompok peserta didik yang tergolong cepat (upper group). Dari hasil pengukuran inteligensi tersebut dapat diketahui seberapa besar tingkat integensi (biasa disebut IQ = Intelligen t Quotient yaitu ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang. (2) kefasihan mengungkapkan kata.49 < 25 KAT EGORI Jenius (Genius) Sangat Unggul (Very Superior) Unggul (Superior) Diatas rat a-rata (High Average) Rata-rata (Average) Dibawah Rata-Rata (Low Average) Bodoh (Dull) Debil (Moron) Imbecil Idiot PERSENTASE 0. seorang guru pada dasarnya dapat pula mend eteksi dan memperkirakan inteligensi peserta didiknya.89 70 . melalui pengamatan yang s istematis tentang indikator – indikator kecerdasan yang dimiliki para peserta didi knya. IQ > 140 130-139 120-129 110-119 90-109 80 . rata-rata (mi dle group) dan lambat (lower group) dalam belajarnya.75 % 0. Selain itu. Perlu dicatat bahwa pengukuran tersebut. baik men ggunakan instrumen standar atau hanya berdasarkan pengamatan sistematis guru buk anlah bersifat memastikan tingkat kecerdasan atau bakat seseorang namun hanya se kedar memperkirakan (prediksi) . (5) daya ingat.05 % Selain menggunakan instrumen standar.69 25 . Alat tes ini dapat mengungkap tenta ng : (1) pemahaman kata. (3) pemahaman bilanga n. (7) berfikir l ogis. FA CT (Flanagan Aptitude Calassification Test). diantaranya : DAT (Different ial Aptitude Test). yaitu dengan cara memperhatikan kecenderungan kecepatan ketepatan.75 % 6% 13 % 60 % 13 % 6% 0. (6) kecepatan pengamatan. Untuk mengukur bakat seseo rang.20 % 0. Rumus yang b iasa digunakan untuk menghitung IQ seseorang adalah : MA (Mental Age) IQ= 100 x CA (Chronological Age) Di bawah ini disajikan norma ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang. a da juga tes intelegensi yang bersifat lintas budaya yaitu Tes Progressive Metric es (PM) yang dikembangkan oleh Raven.79 50 . dan (8) kecakapan gerak.

12. Menur ut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Berangkat dari studi yang dilakukannya. misalnya k onstitusi dan kondisi fisik. 10. frustrasi dan konf lik. Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa). Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengata si kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. Lancar berbahasa (mampu mengutarakan pikirannya). serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tu ntutan (norma) lingkungan. Mampu berkonsentrasi. Hall dan Gardner Lindzey. 6. 11. Balitbang Depdiknas (1986) telah mengidentifikasi ciri-ciri keberbakat an peserta didik dilihat dari aspek kecerdasan.saja. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. Dalam rangka Program Percepatan Belajar (Accelerated L earning). 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbedabeda. Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau pe rbuatannya Cermat atau teliti dalam mengamati. 13. 4. Belajar dengan dan cepat. 2. Memiliki kemampuan yang tinggi dalam berfikir l ogis dan kritis Mampu belajar/bekerja secara mandiri. untuk kepentingan pengembangan diri. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penye suaian diri. 5. Keragaman Individu dalam Kepribadian Para ahli tampaknya masih sangat beragam dalam memberikan rumusan tentang kepribadian. 8. . yaitu: 1. ketegangan emosional. kreativitas dan komitmen terhada p tugas. Mempunyai minat luas. b. 9. 3. Memiliki kemampuan memikirkan beb erapa macam pemecahan masalah. 14. tergantung sudut pandang masing-m asing. akhirnya d ia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan. 7. Begitu juga kecerdasan atau bakat ses eorang bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan tingkat keberhasilan atau ke suksesan hidup seseorang. Mempunyai daya imajinasi ya ng tinggi. Mampu mengemukakan dan mempertahankan penda pat. Allport (Calvin S. Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas pe rilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu la innya.

yaitu disposisi re aktif seorang. 8. konsiten ti daknya dalam memegang pendirian atau pendapat. m arah.tampang. 7. teori Psikologi Individual dari Allport. Sementara itu. Sosiabilitas. teori Analitik dari Carl Gust av Jung. teori The Sel f dari Carl Rogers dan sebagainya. Horney dan Sullivan. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpen garuh. sedih. negatif atau ambivalen d. Untuk menjelaskan tentang kepriba dian individu. 4. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. f. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersang kutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. teori Medan dari Kurt Lewin. Watson. Seperti mau menerim a resiko secara wajar. cuci tangan. Ketid akmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang 6. atau melarikan diri dari resiko yang dihadap i. Temperamen. Sering merasa tertekan (stress atau depresi) 4. c. Setiap individu memiliki ciri-ciri kepribadian terse ndiri. 3. Bersikap kejam 5. Responsibilitas (tanggung jawab). Hull. Mampu menilai diri sendiri secara realistik Mampu menilai situasi secara realist ik Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik Menerima tanggung jawa b Kemandirian Dapat mengontrol emosi Berorientasi tujuan Berorientasi keluar (ek strovert) KEPRIBADIAN YANG TIDAK SEHAT 1. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. Stabilitas emosi. Seperti mudah tidaknya tersinggung. Abin Syamsuddin (2003) mengemu kakan kepribadian. Sikap. 2. 2003) mengemukakan ciri-ciri kepribadian yang sehat atau tidak sehat. yang di dalamnya mencakup : tentang aspek-aspek a. Kebiasaan berbohong 7. 6. sambutan terhadap objek yang bersifat positif . Menunjukkan kekhawatiran dan kece masan 3. teori Sosial Psikologis dari Adler. Hi peraktif . Karakter. teori Stimulus-Respons dari Throndike. Mudah marah 2. b. Fromm. Seperti : sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berko munikasi dengan orang lain. hormon. 5. di antaranya : teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. atau putus asa e. Elizabeth Hurlock (Syam su Yusuf. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. yaitu kadar kestabilan reaksi emos ional terhadap rangsangan dari lingkungan. mulai dari yang menunjukkan ciri-ciri kepribadian yang sehat sampai denga n ciri-ciri kepribadian yang tidak sehat. Dalam hal ini. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan inter personal. teori P ersonologi dari Murray. sebagai berikut : KEPRIBADIAN YANG SEHAT 1.

Asas Reproduksi Menurut asas ini bahwa kecakapan (achievemen t) dari masing-masing ayah atau ibunya tidak dapat diturunkan kepada anak-anakny a. kecakapan potensial (bakat dan kecerdasan). dan (3) pada waktu proses pembentukan sel-sel kelamin.9. (2) tiap-tiap pasangan faktor keturunan me nentukan bentuk alternatif sesamanya. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman dalam Kecakapan dan Kepribadian Timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian d ipengaruhi oleh bebagai faktor. Senang mengkritik/ mencemooh 10. Kurang be rgairah Berdasarkan uraian diatas kita dapat memahami bahwa ketika seorang guru berhadap an dengan peserta didiknya di kelas. Seberapa kuat pengaruh keturunan sangat bergantung pada besarnya kualitas gen yang dimiliki oleh orang tuanya (ayah atau ibu). se yogyanya guru dapat memperlakukan peserta didik dan mengembangkan strategi pembe lajaran. Kendati demikian. Berdasar kan percobaannya dengan cara mengawinkan bunga merah dengan bunga putih. Sifat-sifat atau ciri-ciri perilaku yang diturunkan orang tua kepada anaknya hanyalah bersifat . para ahli sepakat bahwa pada d asarnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh tiga faktor u tama. Oleh karena itu. S ulit tidur 11. Kurang rasa tanggung jawab 12. Beberapa asas tentang keturunan di bawah ini akan memberikan gambaran pembanding kepada kita tentang apa-apa yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya : 1. Sering mengalami pusing kepala 13. Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama 14. dengan memperhatikan aspek perbedaan atau keragaman kecakapan dan kepri badian yang dimiliki peserta didiknya. Hasil percobaan Mendel ini menjelas kan kepada kita bahwa faktor keturunan memegang peranan penting bagi perilaku da n pribadi individu. Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas 9. Gregor Mendel mengemukakan pandangannya. dan tiap-tiap sel kelaminnya menerima sa lah satu faktor dari pasangan keturunan itu. pasangan faktor keturunan itu memisah. Pesimis 15. 2. dan satu dari pada pasangan alternatif itu memegang pengaruh besar. yaitu : a. pembawaan sejak lahir atau berdasarkan keturunan yan g bersifat kodrati. bahwa : (1) tiap-tiap sifat (traits) makhluk h idup itu dikendalikan oleh keturunan. Penerimaan sosial 10. Herediter. Berbahagia 8. seperti : konstitusi dan struktur fisik. Memiliki filsafat hidup 11. dia dihadapkan dengan sejumlah keragaman ke cakapan dan kepribadian yang dimiliki para peserta didiknya. Sehingga peserta didik dapat mengembangka n diri sesuai dengan kecepatan belajar dan karakteristik perilaku dan kepribadia nnya masing-masing.

Asas Jenis Menyilang Menurut asa s ini bahwa apa yang diturunkan oleh masing-masing orang tua kepada anak-anaknya mempunyai sasaran menyilang jenis. akan didapati beberapa perbedaan sifat dan cir i-ciri perilaku individu dari orang yang bersaudara. sehingga mungkin saja kakaknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ayahnya sedangkan adiknya lebih banyak menyerupai sifat d an ciri-ciri perilaku ibunya atau sebaliknya. Environment. baik yang berasal dari ayah maupun ibu. orang Eropa akan menyerupai sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku seperti orang -orang Eropa lainnya dibandingkan dengan orang-orang Asia. Asas Regresi Filial Terjadi pensur utan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan o leh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. baik mengenai kuantitas maupun kualitasnya. termasuk didalamnya ad alah belajar. karena dengan lingkungan itu individu mulai meng alami dan mengecap alam sekitarnya. yaitu memunculkan kembali mengenai apa yang sudah ada pada hasil per paduan benih saja. reproduksi. karena lingkungan itu senantiasa tersedi a di sekitarnya. Lingkungan membuat individu sebagai makhluk s osial . Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mu tlak dari pada pengaruh lingkungan itu. baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis. walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama. b. 4.Misalnya. dapat k ita ikuti pada uraian berikut : 1. Hal ini disebabkan karena pad a waktu terjadinya pembuahan komposisi gen berbeda-beda. sehingga akan didapati sebagian kecil dari sifat-sifat ayahnya dan sebagian kecil pula dari si fat-sifat ibunya. Sedangkan perbandingannya mana yang lebih besar antara sifat-s ifat ayah dan ibunya ini sangat tergantung kepada daya kekuatan tarik menarik da ri pada masing-masing sifat keturunan tersebut. Seorang anak perempuan akan lebih banyak mem ilki sifat-sifat dan tingkah laku ayahnya. Asas konformitas Berdasarkan asas konformi tas ini bahwa seorang anak akan lebih banyak memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku yang diturunkan oleh kelompok rasnya atau suku bangsanya. Asas Varia si Bahwa penurunan sifat pembawaan dari orang tua kepada anak-anaknya akan berva riasi. Sejauh mana pengaruh lingkungan itu bagi diri individu. 5. Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai e mpirik yang berarti pengalaman. 3. dan bukan didasarkan pada perilaku orang tua yang diperolehny a melalui hasil belajar atau hasil berinteraksi dengan lingkungannya. lingkungan tempat di mana individu itu berada dan berinteraksi. sedangkan bagi anak laki-laki akan le bih banyak memilki sifat pada ibunya. Oleh karena itu.2.

karena manusia hidup adalah manusia yang berfikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba terhadap segala apa yang tersedia di alam sekitarnya. akan mengakibatkan berubahnya tabiat manusia sebagai manusia. Berubahnya tabiat manusia sebagai ma nusia dalam arti bahwa ia tidak akan mampu bergaul dan bertingkah laku dengan se samanya. Alat untuk kepentingan dan kelangsung an hidup individu dan menjadi alat pergaulan sosial individu. walau pun diberinya cukup makanan dan minuman. Dapat kita bayangkan andaikata seorang anak manusia yang sejak lahirnya dipisahkan dari pergaulan manusia sampai kira-kira berusia 10 tahun saja. canggung pemalu dan lain-lain. Lingkungan dapat membentuk pribadi seseoran g. Contoh : dalam keadaan cuaca panas individu memasang kipas angin sehingga dikamarnya me njadi sejuk. Contoh : air dapat dipergunakan untuk minum atau menjamu teman ketika berkunjung ke rumah. Sehingga kalaup un dia kemudian dididik. Obyek penyesuaian diri bagi individu. b. baik secara alloplastis maupun autoplastis. 2. Dalam hal ini. Penyesuaian dir i alloplastis artinya individu itu berusaha untuk merubah lingkungannya. c. apabila dianggap sesuai de ngan dirinya. Contoh : seorang anak yang senantiasa bergaul dengan temannya yang rajin belajar. Terputusnya hubungan manusia dengan m asyarakat manusia pada tahun-tahun permulaan perkembangannya. sehin gga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya. Lingkungan me miliki peranan bagi individu. maka penyesuaian dirinya itu akan berlangsung sangat la mbat sekali.Yang dimaksud dengan lingkungan pada uraian ini hanya meliputi orang-orang atau manusia-manusia lain yang dapat memberikan pengaruh dan dapat dipengaruhi. akan tetapi serentak dia dihadapkan kep ada pergaulan manusia. d. individu melakukan manipulation yaitu mengadakan usa ha untuk . sebagai : a. Lingkungan membuat wajah budaya bagi individu Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah m enjadi kekayaan budaya bagi dirinya. sedikit banyaknya sifat rajin dari temannya akan diikutinya sehi ngga lama kelamaan dia pun berubah menjadi anak yang rajin. maka sudah dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mampu be rbicara dengan bahasa yang biasa. Lingkungan yang beraneka ragam senant iasa memberikan rangsangan kepada individu untuk berpartisipasi dan mengikutinya serta berupaya untuk meniru dan mengidentifikasinya. Tant angan bagi individu dan individu berusaha untuk dapat menundukkannya. Contoh : a ir banjir pada musim hujan mendorong manusia untuk mencari cara-cara untuk menga tasinya. Sesuatu yang diikuti individu.

seorang guru dapat melakukan pengamatan dengan melihat indikator sebagai berikut : a. . Latihan Soal : Pilihan Ganda Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda pa ling tepat. emosi. hasil belajar yang diperoleh peserta didik. kematangan yang mengacu pada tahap-tahap atau fase-fase perkembanga n yang dijalani individu. dan kemudahan peserta didiknya dalam m enyelesaikan tugastugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulang an atau ujian. Ketiga faktor tersebut di atas dapat dibuat formulasi sebagai berikut : P= f (H. penyesusian diri yang dilakukan individu agar dirinya sesuai dengan lingkungannya.memalsukan lingkungan panas menjadi sejuk sehingga sesuai dengan dirinya. Kepribadian 2. sosial. Contoh : seorang juru rawat di rumah sakit. termasuk belajar) M=Maturity (tingkat kematangan) D. Kematangan aspek psikis ini diperlukan adanya latihan dan belajar tert entu. Achievement b. Kematangan terjadi pula pada aspek-asp ek psikis.M) P= Pribadi atau perilaku f = fungsi H= Herediter (pembawaan) E=Environment (ling kungan. pada awalnya dia merasa mual karena bau obat-obatan. terutama dalam mata pelajaran Matematika d an bahasa Inggris b. Aptitude c. Inteligensi d. Maturity. seperti adanya kematangan jaringan-jaringan tubuh. religius. moral. Kematangan pada awalnya merupakan hasil dari adanya peru bahan-perubahan tertentu dan penyesuaian struktural pada diri individu. a. karena dirinya telah sesuai deng an lingkungannya. Sedang kan penyesuaian diri autoplastis. Untuk mengenali tingkat kecerdasan peserta didiknya. seperti : kemampuan berfikir. dan kepribadian. otot.E. kecepatan ketepatan. c. Kematangan seperti ini disebut kematangan biologis. namun lama-kelamaan dia me njadi terbiasa dan tidak menjadi gangguan lagi. syaraf dan kelenjar. Kecakapan khusus indivi du yang merupakan hasil pembawaan. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1.

cara berbicara dan bertindak peserta didik sehari-hari. c. Merupak an teori inteligensi : a. b. (5) kemampuan b ilangan (numerical ability). a. Disposisi reaktif seorang. b. Very Superior Superior Genius Di atas rata-rata 6. d. (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency). dan c benar 4. b. d. dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual speed). b. a. karakter dan temperamen stabilitas emosi sikap dan stabilitas emo si responsibilitas dan sosiabilitas a. b dan c benar. karakter . (3) kemampuan nalar atau berfi kir (reasoning). b. Intelligence Quotient (IQ) merupakan ukuran tingkat kecerdasan seseorang diba ndingkan dengan : a. selalu memperoleh peringkat pertama di kelas memiliki kemampuan me mikirkan beberapa macam pemecahan masalah. tidak memerlukan dorongan (motivas i) dari luar. Inteligensi merupakan penjelmaan dari : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension). Di bawah ini merupakan ciri-ciri keberbakatan dalam rangka percepatan belajar (accelerated learning). mampu belajar/bekerja secara mandiri.c. b. dan c benar terhadap rangsangan8. c. c. b. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa X memiliki kecerdasan tergolong : a. d. siswa X memperoleh ukuran kecerdasan (IQ) sebesar 135. d. (2) kemampuan mengingat (memory). d. atau cepat lambatnya mereaksi rangsangan yang data ng dari lingkungan. Two Factors Primary Mental Abilities Multiple Intlelligence a. Di bawah ini merupakan aspek-aspek kepribadian menurut Abin Syamsuddin Makmun : a. kecuali : a. b. c. d. (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor). c. dan c benar 5. Berdasarkan hasil test kecerdasan. 7. 3. kemampuan usia prestasi belajar a.

b. A sas Reproduksi Asas Variasi Asas konformitas Asas Jenis Menyilang 10. Penyesuaian diri yang dilakukan individu dengan berusaha merubah lingkungann ya. alloplastis b. Jelaskan bahwa faktor heredite r. J elaskan tentang teori Multiple Inteligensi menurut Howard Gardner ! 2. autoplastis c. a.b. d. mal-adjusment d. lingkungan dan kematangan dapat mempengaruhi terhadap timbulnya keragaman dal am kecakapan dan kepribadian ! . temperamen c. c. stabilitas emosi d. well-adjusment Uraian 1. sikap dan stabilitas emosi 9. Terjadi pensu rutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. Jelaskan bagaimana cara mengukur kecerdasan seseorang ? 3. a.

4. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Model Pentahapan Perke mbangan. dan remaja. Menguraikan tugas-tugas perkembangan individu pada masa bayi kanak-kanak. progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – p erubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya. Menjelaskan tentang aspek-aspek perkembangan individu. 5. prinsip-prinsip perkembangan. 2. Mengidentifikas i ciri-ciri umum perkembangan. Aspek – Aspek Perkembangan Individu. . 6. dan model pentahapa n perkembangan individu. Menjelaskan tahapan perkembangan individu berdasarka n pendekatan didaktis. 4. Intisari Bacaan 1. tugas perkembangan individu dan masa remaja. diharapkan Anda dapat : 1. aspek-aspek perkembangan perilaku dan pribadi pada masa remaja. 3. Peng ertian Perkembangan. 3. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Pe rkembangan Pada Masa Remaja C. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. Mendefinisik an perkembangan. Pengertian Perkembangan Perkembangan dapat diartikan sebag ai perubahan yang sistematis. 2. 5. serta problema yang dihadapi pada masa remaja. B. Pokok Bahasan 1.BAB III PERKEMBANGAN INDIVIDU A.

Semua aspek perkembang an saling berhubungan. Syamsu Yusuf (2003) memerinci. Psikis.Yang dimaksud dengan sistematis adalah bahwa perubahan dalam perkembangan itu be rsifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. Dari outer control ke inner control. b. ba ik secara kuantitatif (fisik) mapun kualitatif (psikis). Cephalocaudal & proximal-distal (perkembangan manusia itu mu lai dari kepala ke kaki dan dari tengah (jantung. . c. 2003) mengemukakan tentang arah atau pola perkembangan s ebagai berikut : 1. Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu. seorang anak terl ebih dahulu harus menguasai tahapan perkembangan sebelumnya yaitu kemampuan dudu k dan merangkak. Setiap fa se perkembangan mempunyai ciri khas. b. Berkesinamb ungan artinya bahwa perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan. seperti : berbicara dan berfikir. Terjadinya perubahan dalam aspek : 1. f. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Perkembangan individu mempunyai ciri-cir i umum sebagai berikut : a. 6. Progresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju. d. Dari egosentris ke perspektivisme. Kemampuan berjalan seseorang akan sei ring dengan kesiapan otot-otot kaki. Contoh : perubahan prop orsi dan ukuran fisik (dari pendek menjadi tinggi dan dari kecil menjadi besar). 2. Contoh : untuk dapat berdiri. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan. yaitu : a. paru dan sebagainya) ke sampin g (tangan). 2. Lebih jauh lagi. Terja dinya perubahan dalam proporsi. individu. e. Struktur mendahului fungsi. 3. Setiap individu normal akan mengalami tahap an/fase perkembangan. Begitu juga ketertarikan seorang remaja ter hadap jenis kelamin lain akan seiring dengan kematangan organ-organ seksualnya. Diferensiasi ke integrasi. 5. perubahan pengetahuan dan keterampilan dari sederhana sampai kepada yang komple ks (mulai dari mengenal huruf sampai dengan kemampuan membaca buku). baik fisik maupun psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmon is. Contoh : kemampuan berbicara seseorang akan sejalan dengan kematangan dalam perkembangan intelektual atau kognitifnya. Dari konkret ke abstrak. seperti : berat dan tinggi badan. Yelon dan Winstein (Syamsu Yusuf. beberapa prinsip perkembangan Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti. 4. Fisik. meningkat dan meluas. 2.

seperti : lenyapnya masa mengo ceh.Pre Adolesence . seperti : pe rgantian gigi dan karakteristik sex pada usia remaja. Model Pe ntahapan Perkembangan Individu Memperhatikan kompleksitas dari sifat perkembanga n individu. Diperolehnya tanda-tanda baru. didaktis. Di bawah ini disajikan tabel tentang model tahapan perkembangan yang dikemukakan oleh beberapa ahli. seperti: rambut-rambut halus dan gigi susu . nilai-nilai moral dan keyakinan beragama. Nama Ahli Aristoteles Tahapan Masa Kanak-Kanak Masa Anak Sekolah Masa Remaja Mas a Usia Pra Sekolah Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Menengah Masa Usia Mahapeserta didik Tahap I Masa Asuhan Tahap II Masa Pendidikan Jasmani dan latih an Panca Indera Tahap III Masa Pendidikan Akal Tahap IV Masa Pendidikan Watak da n Agama Fullungs (Pengisisian) I Streckungs (Rentangan) I Fullungs (Pengisisian) II Streckungs (Rentangan)II Pranatal Infancy (orok) Babyhood (bayi) Childhood ( kanak-kanak) Adolesence/puberty (masa remaja): . 2.1. Fisik. c. Lenya pnya tanda-tanda yang lama. kelenjar thymus dan kelenjar pineal. ilmu pengetahuan.6 th 6-12 th 12-18 th 18. seperti : proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangann ya.wafat Syamsu Yusuf Rosseau Kretschmer Elizabeth Hurlock . seperti : perubahan imajinasi dari fantasi ke realistis. Fisik. Psikis. yang secara garis besarnya da pat dikelompokkan ke dalam tiga pendekatan yaitu pendekatan biologis.Late Adolesence Adulthood (masa dewasa) Middle age (tengah baya) Old Age (m asa tua) Waktu 0-7 th 7-14 th 14-21 th 0. 2.25 th 0-2 th 2-12 th 12-15 th 15-20 th 0-3 th 3-7 th 7-13 th 13-20th 9 bln-280 hr 10 hr-14 h r 2 mng -2 th 2 th-remaja 11-13 th 16-17 th 18-21 th 21-25 th 25-30 th 30. 2. Psikis. Fisik. Para ahli mengemukakan pe ndapat tentang model – model petahapan yang beragam. 3. Psikis. terutama yang berkaitan den gan sex. tumbuh uban pada masa tu a. maka untuk kepentingan studi para ahli telah mencoba mengembangkan m odel pentahapan (stages) mengenai proses perkembangan. 1. 1. seperti berkembangnya rasa ingin tahu. d.Early Adolesen ce . seperti kumis dan jakun pa da laki dan tumbuh payudara dan menstruasi pada wanita. dan psikologis. perilaku impulsif.

Peduli akan hubungan mutualistik 5. Memiliki pandanga n hidup sebagai suatu keseluruhan 2. Memiliki tujuan jangka p anjang 6. Peningkatan kesadaran invidualitas 2. Peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial 1. Bersikap realistis dan obyektif terhadap di ri sendiri maupun orang lain 3. Merasa berdosa jika melang gar aturan 1. Kurang introspeks i 7.Intuitif Konkret -Operasional Formal . Peduli akan aturan eksternal 4. Kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan 3. Takut tidak diterima k elompok 9. Berfikir tidak logis dan stereotip 4. Mengenal eksistensi perbedaan individual 5. Bertindak d engan motif dangkal 5. Berfikir sterotip dan klise 3. Menyamakan diri dalam ekspresi emosi 6. seperti keadilan sosi al. Tidak sensitif terhadap keindividualan 10. Mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik 3.Pre-konseptual . 4. Me mbedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya 7. yaitu : Tahap Impulsif Ciri – Ciri Identitas diri terpisah dari orang lain Bergantung pada lingkungan Beorientasi hari ini Individu tidak menempatkan diri sebagai penyeba b perilaku Peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berh ubungan dengan orang lain 2. Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain 1. 2. Perlindungan Diri Konformistik Seksama Individualistik Otonomi . Melihat kehidupan sebagai “zero-sum game” 5. Dan perspektif diri 4. Menjadi lebi h toleran terhadap diri sendiri dan orang lain 4. Mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan 6.Piaget Sensori-motor Pra-operasional : . Mampu melihat keragaman emosi. Berfikir lebih kom pleks dan atas dasar analisis 1.operasional 0-2 th 2-7 th 2-4 th 4-7 th 7-11 th 11-15 th Loevenger sebagaimana dikemukakan oleh Sunaryo dkk (2003) mengemukakan tentang f ase-fase perkembangan individu beserta ciri-cirinya. motif. Cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial 7. Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan 3. Peduli akan paham abstrak. 1. Bertindak atas dasar nilai internal 2. Mengenal kompleksitas diri 8. Peduli terhadap penampilan di ri 2. Mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan 1. 4. Perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal 8. 3.

Masa Usia Sekolah Da sar terbagi dua. Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual. 5. 7. maka soal itu dianggap tidak penting. yaitu : (a) masa kelas-kelas rendah dan (b) masa kelas tinggi. Masa Usia Pra Sekolah Masa Usia Pra Sekolah terbagi dua yaitu (1) Masa Vital dan (2) Masa Est etik 1. Masa Estetik. Peduli akan self fulfillment Ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal Respek terhadap kemandirian orang lain Sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain Mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan kece riaan Dengan memperhatikan fase dan ciri-ciri perkembangan di atas. dianggap sebagai masa perkembangan ras a keindahan.5. 4. karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan merupakan alat untuk melakukan eks plorasi dan belajar.Pada tahun kedua anak belajar berjalan sehingga anak belajar menguasai ruang. 2. . 8. pada masa ini individu menggunakan fungsi-fungsi biologis un tuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. 2. Freud menyebutnya sebagai masa oral (mulut). Sunaryo. atau masa keserasian bersekolah pada umur 6 -7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. mulai dari yang paling dekat sampai dengan ruang yang jauh. 9. Adanya k orelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional. Pa da tahun kedua umunya terjadi pembiasaan terhadap kebersihan. di bawah ini dikemukakan tahapa n perkembangan individu dengan menggunakan pendekatan didaktis: a. Yang dikenal dengan sebutan Inventori Tugas Perkembangan (ITP). tela h mengembangkan suatu instrumen untuk melacak tugas-tugas perkembangan individu. de ngan merujuk pada pemikiran Syamsu Yusuf (2003). anak belajar mengendalikan impulsimpuls atau dorongan-dorongan yang da tang dari dalam dirinya. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 – 9/10 tahun) : 1. dkk. Pada masa i ni panca indera masih sangat peka. 6. b. Selanjutnya. Masa Vital. 3. Melalui latihan ke bersihan. Untuk masa belajar pada tahun pertama dalam kehidupan individu . Anak bereksplorasi dan belajar melalui panca inderanya. Adanya kecenderungan memuji di ri sendiri Membandingkan dirinya dengan anak yang lain Apabila tidak dapat menye lesaikan suatu soal.

Perkembangan anatomis . Masa Usia Sekolah Menegah Masa usi a sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja. prestasi. yang intinya pada masa ini merupakan pem antapan pendirian hidup. pada masa i ni mulai tumbuh dorongan untuk hidup. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) : 1. Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus 4. Masa Usia Kemahas iswaan (18. Minat ter hadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret 2. masa remaja awal. Selepas usia ini pada umumnya anak menghad api tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya 5. Samp ai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesa ikan tugas dan memenuhi keinginannya. 3. proporsi tinggi kepala dengan tinggi garis keajegan badan secara secara kese luruhan.00 tahun) Masa ini dapat digolongkan pada masa remaja akhir sam pai masa dewasa awal atau dewasa madya. Amat realistik. yang akan member ikan dasar bagi memasuki masa berikutnya yaitu masa dewasa. Perkembangan F isik Perkembangan fisik individu mencakup aspek-aspek : 1.Aspek Perkembangan Individu a.00-25. tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak. Pada masa ini sebagai masa mencari sesuatu yang dipandang bernilai.6. Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi s ekolahnya. dal am jasmani dan mental. mereka membuat peraturan sendiri. Dalam perma inan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sud ah ada). masa remaja. indeks tinggi dan berat bad an. pantas dijunjung dan dipuja. rasa ingin t ahu dan ingin belajar 3. c. 2. Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor ya ng baik. biasanya ditandai dengan sifat-sifat negatif. serta sikap sosial. kebutuhan akan adanya teman yang dapat mem ahami dan menolongnya. masa remaja akhir. pada dasarnya telah tercapai masa remaja akhir dan telah terpenuhi tugas-tugas perkembangan pada masa remaja. adanya perubahan kuantitatif pada struktur tulang. yang terbagai ke dalam 3 bagia n yaitu : 1. . d. 6. setelah remaja dap at menentukan pendirian hidupnya. Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. 4. Aspek.

seperti konstraksi otot-ot ot. lukisan gerak . mencatat. ditandai dengan adanya perubahan secara kualitatif. konatif). pada permulaan masa remaja akhir bagi wanita dan penghujung masa remaja akhir bagi pria. manusia. membaca dan menggambar permulaan. haus nama-nama. Jones dan Conrad (Loree. kuantitaif dan fungsional dari sistem kerja biologis.1970) menunjukkan bahwa laju perkemb angan inteligensi berlangsung sangat pesat sampai masa remaja. Perkembangan Perilaku Psikomotorik Perkembangan psik omotorik memerlukan adanya koordinasi fungsional antara neuronmuscular system (s istem syaraf dan otot) dan fungsi psikis (kognitif. Perubahan-perubahan amat tipis sampai usia 50 tahun. Perkembangan bahasa dimulai dengan ma sa meraban. tulisan. baik dalam bentuk lisan. Kemudian. laju per. b.kembangan menurun sangat lamb at bahkan menjadi mapan. Kedua jenis keterampilan ini menjadi dasar bagi perkembangan keterampilan yang lebih kompleks untuk bermain (playing ) dan bekerja (working). yaitu : (1) bahwa perkembangan itu ber langsung dari yang sederhana kepada yang kompleks. sekresi kelenjar dan pencernaan . Melalui bahasa.gerik. Loree dalam Abin Syamsuddin (2003) mengatakan bahwa ada dua macam perilaku psikomotorik utama yang bersifat universal harus d ikuasai oleh setiap individu pada masa bayi atau masa kanak-kanak yaitu berjalan (walking) dan memegang benda (prehension). bicara monolog. dan mimik serta simbol ekspresif lainnya. afektif. membuat kalimat sederhana. pada usia sekolah menjadi lambat. Perkembangan Bahasa Kemampuan berbahasa merupakan ke mampuan yang membedakan antara manusia dengan hewan. c. me ngkodifikasikan. . mulai masa remaja t erjadi amat mencolok. dan (2) dari yang kasar dan g lobal (gross bodily movements) kepada yang halus dan spesifik dan terkoordinasik an (finely coordinated movements). d. gambar. dan bahasa ekspresif dengan belajar menul is. Dua prins ip utama dalam perkembangan psikomotorik. setelah itu kepes atannya berangsur menurun. Laju perkembangan berjalan secara berirama. menyimpan. Perkembangan fisiologis. pada masa bayi dan kanak-kanak per ubahan fisik sangat pesat. Perkembangan Perilaku Kognitif Dengan m enggunakan hasil pengukuran tes inteligensi yang mencakup General Information an d Verbal Analogies.2. persyarafan. peredaran darah dan pernafasan. Puncak perkembangan pada umumnya tercapai di penghuju ng masa remaja akhir. dan s etelah itu terjadi plateau (mapan) sampai dengan usia 60 tahun selanjutnya beran gsur menurun. mengekspresikan dan mengkomunikasikan berb agai informasi. gemar bertanya yang tidak selalu har us dijawab.

tidak i a sentuh. Pada periode in i anak baru mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristi wa yang konkret. 2. atau tidak ia dengar dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya benda it u ada.24 bulan barulah kemampuan object permanence anak ters ebut muncul secara bertahap dan sistematis. 4. didengar atau disentuh lagi. Namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. Tahap Pra Operasional (2 – 7) Pada tahap ini anak sudah memiliki penguasaan sempurna tentang object permanence. dengan menggunakan kata-kata yang benar serta mampu mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif. Inteligensi individu pada tahap ini masih bersifat primitif. Pada periode ditandai oleh adanya eg osentris serta pada periode ini memungkinkan anak untuk mengembangkan diferred-i mitation.dewasa) . Tahap formal-operasional (11 . Jadi. Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. yakni tidak bergantung lagi pada pengamatannya belaka. Artinya. Dalam rentang 18 . 3 . walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sud ah tak dilihat. insight learning dan kemampuan berbahasa. anak belu m mengenal object permanence. pandangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dengan pandangan pada periode sensori motor. Tahap Sensori-Motor (0-2) Inteligensi sensori-motor dipandang seb agai inteligensi praktis (practical intelligence). Sebelum usia 18 bulan. Tahap konkret-operasional (7-11) Pada periode ditandai oleh adanya tambahan ke mampuan yang disebut system of operation (satuan langkah berfikir) yang bermanfa at untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dal am pemikirannya sendiri. anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yan g harus ada atau biasa ada.Dengan berpatokan kepada hasil tes IQ. namun me rupakan inteligensi dasar yang amat berarti untuk menjadi fondasi tipe-tipe inte ligensi tertentu yang akan dimiliki anak kelak. yang berfaedah untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum mampu berfikir mengenai apa yang sedang i a perbuat. Bloom (1964) mengungkapkan prosentase tar af perkembangan sebagai berikut : Usia 1 tahun 4 tahun 8 tahun 13 tahun Perkembangan Sekitar 20 % Sekitar 50 % Sek itar 80 % Sekitar 92 % Secara kualitatif perkembangan perilaku kognitif diungkapkan oleh Piaget. Art inya. sebaga i berikut : 1. benda apapun yang tidak ia lihat.

Selanjutnya ia mempelajari keadaan-keadaan di luar rumah. norma. Ia mencoba meniru. ia menyadari bahwa d irinya merupakan bagian dari masyrakat dan dituntut untuk berperilaku sesuai den gan tuntutan masyarakat. Sementara itu Gilmore (1974) mengemukakan bahwa “…socialization is the proc ess whereby an individual is prepared or trainned to participate in his environm ent”. 2. ia mempelajari segala yang terjadi dal am lingkungan keluarga. . ciri-ciri respons interpersonal yang bertalian dengan kesukaan. al. dengan menampilkan kebiasaan-kebiasaan khasnya (particular fashio n). Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sosialisasi pada intinya merupakan upaya mempersiapkan individu untuk dapat berperilaku sesuai dengan li ngkungan sosialnya. dapat dilihat dari ciri-ciri respons interpersonalnya. (1962) mengemukan bahwa untuk memahami perilak u sosial individu.Pada periode ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yaitu : a. b. Kapasit as menggunakan hipotesis Kemampuan berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkun gan yang dia respons dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. Akhirnya. Pada awalnya. ciri-ciri respons interpersonal yan g merujuk kepada tugas dan kewajiban dari posisi tertentu. mengidentifikasi dan mengamati segala sesuatu yang ditampilkan orang tua dan anggota keluarga lainnya. d an kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam masyarakat. yang d ibagi ke dalam tiga kategori : 1. 3. Perkembangan Perilaku Sos ial Sejak individu dilahirkan ke muka bumi ini ia telah mulai belajar tentang ke adaan lingkungan sosialnya. kepercayaan terhadap individu lain. Proses tersebut biasa disebut sosialisasi. Kagan (1972) mengartikan sosialisasi sebagai: “…the process by which the child is integrated int o the society throgh exposure to the actions and opnions of older members of the society”. ciri-ciri respons interpersonal yang bertautan dengan ekspresi diri. Krech et. e. baik yang menyangkut nilai. Kecenderungan sosiom etrik (sociometric disposition). Kapas itas menggunakan prinsip-prinsip abstrak Kemampuan untuk mempelajari materi-mate ri pelajaran yang abstrak secara luas dan mendalam. Kecenderungan peranan (role disposition). Kecenderungan ekspresif (expressive disposition).

serba salah. keras kepala Mulai bisa menyesuaikan diri dengan aturan Membandingkan dengan aturan – at uran Perilaku coba-coba. Dalam hal ini.Sementara itu.4 ) Trozt Alter Kanak – Ka nak Akhir ( 4 – 6 ) Masa Subyektif Menuju Masa Obyektif Anak Sekolah ( 6 – 12 ) Masa Obyektif Kritis II ( 12 – 13 ) Masa Pre Puber Remaja Awal ( 13 – 16 ) Masa Subyekti f Menuju Masa Obyektif Remaja Akhir ( 16 – 18 ) Masa Obyektif Ciri-Ciri Segala sesuatu dilihat berdasarkan pandangan sendiri Pembantah. Buhler (Abin Syamsuddin Makmun. bersamaan itu pula individu mulai meny adari bahwa dalam lingkungan sosialnya terdapat aturan-aturan. 2003) mengemukakan tahapan dan ci ri-ciri perkembangan perilaku sosial individu sebagaimana dapat dilihat dalam ta bel berikut : Tahap Kanak-Kanak Awal ( 0 – 3 ) Subyektif Kritis I ( 3 . Kohlberg mengemukakan tahapan perkembangan mor alitas individu. Keputusan untuk melakukan s esuatu berdasarkan pertimbangan norma yang berlaku dan nilai yang dianutnya itu disebut moralitas. 2. Perkembangan Moralitas Ketika individu mulai menyadari bahwa ia merupakan bagian dari lingkungan sosial dimana ia berada. sebagaimana tampak dalam tabel berikut : Tingkat Pre Conventional (0 – 9) 1. Tahap Orientasi terhadap kepatuhan dan huku man Relativistik hedonism . ingin diuji Mulai menyadari adanya kenyata an yang berbeda dengan sudut pandangnya Berperilaku sesuai dengan tuntutan masya rakat dan kemampuan dirinya f. norma-norma/nilai -nilai sebagai dasar atau patokan dalam berperilaku.

karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan Penghayatan roha niahnya cenderung skeptik. individu akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agu ng yang melebihi apa pun. secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari. Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan ata s kebaradaan-Nya. sehingga banyak yang enggan melaksanakan ritual yang selama ini dilakukan dengan penuh kepatuhan Sikap kembali ke arah positif. manus ia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan diserta i penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu. 5. Orientasi mengenai anak yang baik Mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas Orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial Prinsip e tis universal g. pada saat-saat tertentu. 6. melaksanakan ke giatan ritual diterima sebagai keharusan moral Sikap negatif disebabkan alam pik irannya yang kritis melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pur a) Masa Sekolah Masa Remaja Awal Masa Remaja Akhir Pandangan ke-Tuhan-an menjadi kacau. Oleh karena itu. 4. baik secara individual maupun ko lektif. termasuk dirinya. 1970). kognitif.Conventional (9 – 15) Post Conventional ( > 15 ) 3. namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. Penghayatan seperti itu disebut peng alaman keagamaan (religious experience) (Zakiah Darajat. bersa maan dengan kedewasaan intelektual bahkan akan agama menjadi pegangan hidupnya P andangan ke-Tuhan-an dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihny a Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja. dan konatifnya. Abin Sy amsuddin (2003) menjelaskan tahapan sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Tahapan Ciri-Ciri Sikap reseptif meskipun banyak bertanya Masa Kanak-Kanak Panda ngan ke-Tuhan-an yang dipersonifikasi Penghayatan secara rohaniah yang belum men dalam Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadin ya) Sikap reseptif yang disertai pengertian Pandangan ke-Tuhan-an yang diterangk an secara rasional Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam. ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran manu sia perkembangan keagamaan . Perkembangan Penghayatan Keagamaan Dengan melalui pertimbangan fungsi afektif .

MASA BAYI DAN KANAK-KANAK (INFANCY PERIOD) Infantile Sexuality Mulut dan bend a Menghisap ibu jari Menggigit. Freud (Di Vesta & Thompson dalam Abin Syamsuddin. Ditujukan kepada orang tuanya (oediphus atau electra phantaties) Memilih benda dan menyentuhnya/memasukkan ke dubur B. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Daerah Sensitif Pre Genital Period Oral Stage Early Oral Late Oral Anal Stage Ea rly Anal Late Anal Early Genital Period (phalic stage) No New Zone (tidak ada da erah sensitif baru) Late Genital Period Hidup kembali daerah sensitif waktu masa kanak-kanak Akhirnya.derungan kasih sayang Berkembangnya perasaan sosial perasaan– C. merusak dengan mulut Mulut sendiri. MASA ANAK SEKOLAH (LATENCY PERIOD) Represi Reaksi formasi Sublimasi dan kecen . memegang. memilih dan memasukkan benda kemulut Memilih benda dan digigitnya secara sadis Dubur dan ben da Memeriksa dan memainkan duburnya Memainkan dan memperhatikan duburnya Menyent uh. MASA REMAJA (ADOLESENCE PERIOD) Mengurangi cara-cara waktu masa kanakkanak Munculnya cara orang memperoleh pemua san dewasa Menyenangi diri sendiri (narcisism) atau objeck oediphus-nya Objek pemuasannya m ungkin diri sendiri/sejenis (homosexual) atau lain jenis (heterosexual) . siap berfungsinya alat kelamin Cara Pemuasan Sasaran Pemuasan A. Perkembangan Perilaku Konatif Perilaku konatif merupakan perilaku yang berhub ungan dengan motivasi atau faktor penggerak perilaku seseorang yang bersumber da ri kebutuhan-kebutuhannya.h. menunjukkan alat kelaminnya melihat.2003 ) mengemukakan tentang tahapan-tahapan perkembangan perilaku yang berhubungan ob yek pemuasan psychosexual.

cemas dan kecewa sedangkan kesenangn berdiferensiasi ke dala m harapan dam kasih sayang j. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya. 2. dan (2) intensitasnya (kuat-lemah). Ia bukan saja tidak percaya kepa da orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing. Yang mungkin dirubah dan dipengaruhi adalah variabel yang kesatu (stimu s) dan yang ketiga (respons). Oleh karena itu kadang-kadang bayi menangis b ila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. temperatur) Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan. sebag ai berikut : Usia Pada saat dilahirkan 0 . terutama dipengaruhi oleh faktor lingkungan dari pada faktor fisik . Perkembangan Emosional Aspek emosional dari suatu perilaku. minum dari . yaitu : (1) rangsangan yang menimbulkan emosi (stimulu s). Terdapat dua di mensi emosional yang sangat penting untuk dipahami yaitu : (1) senang – tidak sena ng (suka-tidak suka). dalam arti duduk. Pada masa ini sampai-batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri. tetapi orang yang dianggap as ing dia tidak akan mempercayainya. Perkembangan Kepribadian Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan. sedangkan variabel yang kedua merupakan yang tidak mungkin dirubah karena terjadinya pada individu secara mekanis. suara as ing. doubt. Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust – mistrust. kebencian dan ketakutan Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kecemburuan mulai berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kenikmata n dan keasyikan berdiferensiasi dari kesenangan Ketidaksenangan berdiferensiasi di dalam rasa malu. pada umumnya selalu melibatkan tiga variabel. 1970) menjelaskan proses perkembangan dan diferensiasi emosional pada anak-anak. perlakuan asing dan sebagainya. Bridges (Loree. nam un dalam kenyataannya sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian dapat dan mun gkin terjadi. tempat asing. berjalan.i.3 bln 3 – 6 bln 9 – 12 bln 18 bulan pertama 2 th 5 th Ciri-Ciri Bayi dilengkapi kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. bermain. Erikson dalam Nana Syaodih Sukmadinata. berdiri. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut s eringkali bayi menangis. Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan autonomy – shame. (2) perubahan– perubahan fisiologis yang terjadi pada individu. 2005 mengemukakan perkembangan kepriba dian dengan kecenderungan yang bipolar : tahapan 1. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di se kitarnya. dan (3) pola s ambutan. cahaya.

6. 4.botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya. 7. tetapi karena kemam puan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy – isolation. k ecakapannya cukup banyak. sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya. dan untuk sementa ra waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat. pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di satu piha k. tetapi di pihak lain karena ke terbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadangkadang dia menghadapi kesukaran. sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimp angan atau kenakalan. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas. Dorongan membentuk dan mem perlihatkan identitas diri ini. 3. namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar. pada para remaja sering sekali sangat ekstrim da n berlebihan. Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. Pengetahuannya cukup luas. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya. hambatan bahkan kegagalan. tetapi dia tidak mungkin dapat m enguasai segala macam ilmu dan kecakapan. dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masi ng anggota. Merek a sudah mulai selektif. ciri-ciri yang khas dari dirinya. Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative – guilty. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebab kan anak merasa rendah diri. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan–kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihat kan identitas diri. sehingga . Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity – Identity Confusion. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan. Kegagalankegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah. sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelo mpok sebayanya. Sesuai dengan namanya masa dewasa. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubu ngan yang intim dengan orang-orang tertentu. dan kurang akrab atau renggang deng an yang lainnya. pada tahap ini individu telah men capai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. sehingga perkembangan individu sangat pesat. tetapi di pihak lain dia ga tela h mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat. dia membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. dengan kecakapan-k ecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan. 5. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity – stagnation. Kalau pada masa sebelumnya. individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya.

Selanjutnya. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi. Zunker (Popon Sy. Mu ngkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya teta pi karena faktor usia. eksplorasi karier. and needs associated with self concept Tentative phase in which choices are nar rowed but not finalized Usia (birth -14 or 15) (15 – 24) . Arifin.tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. persiapan karier hingg a sampai pada penempatan kariernya. Kedelapan tahapan perkemb angan kepribadian dapat digambarkan dalam tabel berikut ini : Developmental Stage Infancy Early childhood Preschool age School age Adolescence Young adulthood Adulthood Senescence Basic Components Trust vs Mistrust Autonom y vs Shame. interest. Perkembangan Karier Perkembangan karier sangat erat kaitannya dengan pekerjaa n seseorang. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. D alam situasi ini individu merasa putus asa. hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai.1983) mengemukakan lima tahapan perkembangan karier individu. Dorongan untuk terus berprestasi mas ih ada. berkenaan dengan tahapan perkembangan karier. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity – despair. 8. mulai d ari usaha memperoleh kesadaran karier. Untuk mengerjakan atau mencapai hal – hal tertentu ia mengalami hambatan. semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. Adapun yang dimaksud dengan p erilaku karier yaitu segenap perilaku yang ditampilkan individu dalam usaha meny iapkan masa depan untuk memperoleh kematangan kariernya. sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya. tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan t ersebut. Tylor & Walsh (1979) menyebutkan bahwa kemat angan karier individu diperoleh manakala ada kesesuaian antara perilaku karier d engan perilaku yang diharapkan pada umur tertentu. sebagaimana tampak dalam tabel beriku t ini : Tahap Growth Exploratory Ciri-Ciri Development of capacity. Doubt Initiative vs Guilt Industry vs Inferiority Identity vs Identi ty Confusion Intimacy vs Isolation Generativity vs Stagnation Ego Integrity vs D espair k. Keberhasilan seseorang dalam suatu pekerjaan bukanlah sesuatu yang diperoleh secara tiba-tiba atau secara kebetulan. attitudes. namun merupakan suatu proses p anjang dari tahapan perkembangan karier yang dilalui sepanjang hayatnya.

Establishment Maintenance Decline Trial and stabilization trhough work experiences A continual adjustment process to improve working position and situation Preretirement consideration. Tugas perkembangan bersumber pada faktor – faktor : (1) kematangan f isik. 2 th) Masa O rok (10 –14 hari) Masa Konsepsi (Pranatal) (0-9 bln) Pada setiap fase perkembangan menuntut untuk tertuntaskannya tugas-tugas perkembangan. Oleh karena itu segenap proses pendidi kan seyogyanya diarahkan untuk tercapainya tugastugas perkembangannya para peser ta didik. Pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengantarkan individu mencapai kedewasaan. (2) tuntutan masyarakat secara kultural. perilaku dan keterampilan yang seyogyanya dikuasai sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. (25 – 44) (45 – 64) (65 . and eventual retirement.d. . Tugas–tugas perkembangan ini berkenaan dengan sikap. while failu re leads to unhappiness in the individual. sehingga dapat berti ndak wajar sesuai dengan tingkat usianya. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Salah satu prinsip perkembangan bahwa setia p individu akan mengalami fase perkembangan tertentu.…) 5. difficulty wit h later task. (3) tuntutan dan dorongan dan cit a-cita individu iru sendiri. succesful achieve ment of which leads to his happiness and to success with later task. dan (4) norma-norma agama. Havighurst (1961) memberikan penge rtian tugas-tugas perkembangan bahwa : “ A developmental task is a task which aris es at or about a certain period in the life of the individual. disaproval by society. Di bawah ini dikemukakan tugas-tugas perkembangan dari setiap fase men urut Havighurst. yang merentang sepanjang h idupnya fase-fase perkembangan tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut ini : Masa Dewasa : Masa Tua Tengah Baya Masa Dewasa Awal Masa Remaja (Adolesence) : ( 1) Late Adolesence (18 – 21 th) (2) Early Adolesence (16 – 17 th) (3) Pre Adolesence (11 – 13 th) Masa Kanak-Kanak (2 th – Remaja) Masa Bayi (2 Minggu s. Yang dimaksud dengan ked ewasaan adalah dapat terpenuhinya tugas-tugas perkembangan. work out put.

dan orang lain. 3. 10. 7. 2. Belajar mem ainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya. c. Belajar mengenal perbeda an jenis kelamin. 6. (0. 6. 9. Membentuk konsep-kon sep sederhana kenyataan sosial dan alam. Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif.0) Belajar berjalan pada usia 9.0) 1. Belajar memakan makan padat. 3. Memilih pasangan. b. saudara. Mencapai peran sosial sebagai pria atau w anita. Belajar berbicara. 9. 8. 3. 4. 7.0 bulan. Tugas Perkembangan Masa Kanak-Kanak Akhir dan Anak Sekolah (6. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang d iperlukan bagi warga negara. Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis. . 6. 8. d. Mencapai kemand irian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. 5. 9. 4. Tugas Perkembangan Masa Bayi dan Kanak-Kanak Awal 1.a. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya. Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari -hari.0-12. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial. 3. 8.0 – 15. Belajar mengadakan hubungan emosional d engan orang tua. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi. 7. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis. 5. Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal 1.0) 1. Belajar buang air kecil dan buang air besar. Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk mela kukan permainan. Memulai hidup dengan pasangan. Belajar keterampilan dasar dal am membaca. 2. Mengembangkan kata hati. Mencapai jaminan kemand irian ekonomi. 2. Belajar hidup dengan pasangan. Memilih dan mempersiapkan karier.Memperoleh seperangkat nilai sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam berperilaku. Tugas Perkembangan Masa Remaja (12. Mempersiapkan pernikahan dan hi dup berkeluarga. 5. menulis dan berhitung. 4.0–6. 2. Belajar mengadakan hubungan baik da n buruk dan pengembangan kata hati.0-21. Belajar bergaul dengan teman sebaya. Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial.

2. Sementara itu. Men capai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. dan minat serta arah kecenderu ngan karier dan apresiasi seni. 6. persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi serta berperan dalam ke hidupan masyarakat yang lebih luas. teknologi. Me ngenal sistem etika dan nilai-nilai sebagai pedoman hidup sebagai pribadi. Mengambil tanggung jaw ab sebagai warga negara. dan kesenian sesuai dengan program kuri kulum. men erima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yan g terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat. Tugas Perkembangan Peserta didik SLTA 1. Tugas Perkembangan Tingkat SLTP 1. yaitu : a. 8. 7. sosial dan ekonomi. 7. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan se suai dengan kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan atau memp ersiapkan karier serta berperan dalam kehidupan masyarakat. Menemukan suatu kelompok yang serasi. 4. Me mantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sos ial yang lebih luas. 8. serta kematangan dalam perannya sebag ai pria dan wanita. Depdiknas (2003) memberikan rincian tentang tugas perkembangan ma sa remaja untuk usia tingkat SLTP dan SMTA. 5. Mengelola rumah tangga. Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 6. 3. b. 3. Memelihara anak. Mempersiapkan diri. anggo ta masyarakat dan minat manusia. 5. . Mengenal kemampuan bakat. Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat 4.4. yang dijadikan sebagai rujukan Stand ar Kompetensi Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Mencapai pola hubunga n yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita. M engembangkan penguasaan ilmu. Memulai bekerja. Mengenal gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. Mencap ai kematangan dalam hubungan teman sebaya.

1415 t h). Mencapai kematangan dalam pilihan karir 6. Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode dalam perkembangan yang d ijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak sampai deng an awal masa dewasa. Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang mempunyai bentuk yang definitif. 9. P ara ahli umumnya sepakat bahwa rentangan masa remaja berlangsung dari usia 1113 tahun sampai dengan 18-20 th (Abin Syamsuddin.5. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang berkehidupan berkeluarga. Perkembangan Pada Masa Remaja a. 8. 6.18-20 th). Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai sua tu masa pembentukan sikapsikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu. baik se cara kuantitatif maupun kualitatif. 4. intelektual dan ekonomi . Mencapai kematangan gambaran dan s ikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. sosial. Oleh karena itu. Spran ger memberikan tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan perubahan st ruktur kejiwaan yang fundamental. berbangsa dan bernegara. 5. 3. b. 2003). G. 2. 7.d. para ahli mengklasikasikan masa remaja ini ke dalam dua bagian yaitu: (1) remaja awal (11-13 th s. Mencapai kematangan dalam sistem eti ka dan nilai. dan (2) remaja akhir (14-16 th s. Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai dan topan). Mengembangkan kemampuan komunikasi sosi al dan intelektual serta apresiasi seni. be rmasyarakat. Charl otte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isi-mengisi. Pengetian dan Makna Masa Remaja Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting. Pada rentangan periode ini (sekitar 6 – 7 th) terdapat beberapa indikator perbedaan yang signifikan. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang am at kritis yang mungkin dapat merupakan the best of time and the worst of time.d. Karakteristik Perilaku dan Pribadi Pada Masa Remaja . Kita menemukan berbagai tafsir an dari para ahli tentang masa remaja : 1.

2. es tetik.Dengan merujuk pada berbagai ciri-ciri dari aspek perkembangan individu sebagaim ana telah dikemukakan terdahulu. 2. Menggemari literatur yang bernafaska n mengandung segi erotik. 2. 1. sangat lambat. Laju perkembangan secara umum kembali me nurun. M enggemari literatur yang bernafaskan dan 2. berbagai jenis cabang 1. meskipun relatif terbatas. 3. Aktif dalam perma inan. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan lebih seimbang m endekati kekuatan orang dewasa. 2. Berkembangnya penggunaan bahasa sandi 1. 2. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region. Remaja Akhir (14-16 Th. Proses berfikir sudah mampu mengope rasikan kaidah-kaidah logika formal (asosiasi. Sudah mampu meng-operasikan kaidahkaidah logika formal disertai kemampuan membuat generalisasi yang lebih be rsifat konklusif dan komprehensif.d. kognitif. kausali tas) yang bersifat abstrak. di bawah ini disajikan berbagai karakteristik p erilaku dan masa remaja.s. Siap berfungsinya organ-organ reproduktif sep erti pada orang dewasa. yang terbagi ke dalam bagian dua kelompok yaitu remaja awal (11-13 s. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelami n (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki. Psikomotor 1. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif dan terbatas pada keterampil an yang menunjang kepada persiapan kerja. 3. Bahasa 1. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan sering. 2. diferen-siasi. Tercapainya titik puncak kedewasaan bahkan mungkin mapan (plateau) yang . emosi afektif dan kepribadian. sosial. Lebih memantapkan diri pada bahasa d an mulai tertarik mempelajari bahasa asing tertentu yang dipilihnya.d.14-15 Th) Fisik 1.d. religius. asing. 14-15 tahun) dan remaja akhir (14-16 s. ethis.d. keagamaan. fantastik dan dan mengandung nilai-nilai filosofis.18-20 Th) 1. kona tif.kali kurang seim bang. moralitas. 18-20 tahun) meliputi aspek : fisik. psikomotor. otot mengembang pad a bagian – bagian tertentu). komparasi. Gerak gerik mulai mantap. Kecakapan dasar intele ktual menjalani laju perkembangan yang terpesat. Laju perkembangan secara umum berla ngsung pesat. 2. Perilaku Kognitif 1. Gerak – gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasikan. Remaja Awal (11-13 Th s. bahasa.

3. Kecender ungan-kecenderungan arah sikap nilai mulai tampak (teoritis. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyaka n secara kritis dan skeptis. 3.nya mana yang harus di rundingkan dengan orang tuanya. Afektif dan Kepribadian 1. 2. Sudah dapa t memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari para pe ndukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. 3. rasa aman. estetis. Sudah berangsur dapat menentukan dan menilai tindakannya sendiri atas norma atau sistem nilai y ang dipilih dan dianutnya sesuai dengan hati nuraninya. kasih sayang. sosial. meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencobaco ba. Diawali d engan kecenderungan ambivalensi keinginan menyendiri dan keinginan bergaul denga n banyak teman tetapi bersifat temporer. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). Penghayatan kehidupan keagamaan seharihari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. 2. 4. Kecenderungan titik berat ke arah sikap nilai tertentu sudah mulai jelas sepe rti yang akan ditunjukkan oleh kecenderungan minat dan pilihan karier atau pendi dikan lanjutannya. Mulai menemukan pegangan hidup 1. 2. 4. kecuali dengan tem an dekat pilihannya yang banyak memiliki kesamaan minat. 1. dan religius). Kecakapan dasar khusus (bakat) mul ai 3. 2. 3. 2. Sudah menunjukkan arah kecenderungan tertentu yang akan mewarnai pola dasar k epribadiannya. Lima kebutuha n dasar (fisiologis. Eksistensi dan sifat kemur ah-an dan keadilan Tuhan mulai dipahamkan dan dihayati menurut sistem kepercayaa n atau agama yang dianutnya. Emosi. Perilaku Sosial 1. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari mula i dilakukan atas dasar kesadaran dan pertimbangan hati nuraninya sendiri secara tulus ikhlas 3. Mulai dapat memelihara jarak dan batasbatas kebebasan. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua de ngan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. Merupakan masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat 3. Adanya kebergantungan yang kuat kepa da kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi. K alau kondisi psikososialnya menunjang secara positif maka mulai tampak dan . Masih mencari dan mencoba m enemukan pegangan hidup Konatif. Kebergantungan kepada kelompok sebaya berangsur fleksibel. Perilaku Keagamaan 1. ekonomis. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalny a masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan marah. 2. harga diri dan aktualisasi diri) m ulai menunjukkan arah kecenderungannya 2. politis. Moralitas 1. Dengan sikapnya dan cara berfikirn ya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyata annya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosinalnya tampak mulai terkendali dan dapat menguasai dirinya. gembira atau kesed ihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat 3.suatu saat (usia 50-60) menjadi deklinasi. Kecenderungan bakat tertentu mencapai menujukkan kecenderungan-kecendetiti k puncak dan kemantapannya rungan yang lebih jelas. 1. 2. 1. Mengidentifikasi den gan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya. yang juga akan memberi warna kepada tipe kepribadiannya.

si remaja tidak mendapatkan kes empatan pengembangan kemampuan intelektual. Namun dengan adanya hambatan dalam pengembangan ketidakmampuan berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak berpengaruh terhadap kesuksesan hidup dan karierny a. Pada masa remaja awal ditandai dengan perkembangan kemampuan intelektual yang pesat. Pada masa re maja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat. maka boleh jadi potensi intelektualnya tidak akan berkembang optimal. yang ditandai d engan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayan ya (peer group). penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting untuk menunjang kesuksesan hidup dan karier seseorang . Problema berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik. Tid ak bisa dipungkiri. Penolakan dari peer group dapat menimbulkan frustrasi dan menja dikan dia sebagai isolated dan merasa rendah diri.dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya. sosial. bahkan dapat menjurus pada berbagai tindakan kena kalan remaja dan kriminal. Problema yang mungkin timbul pada masa remaja diantar anya : 1. Problema pada Masa Remaja Masa remaja ditandai dengan adanya berbagai perubah an. dan aspek-aspek perilaku dan kepribadian lainnya. ditemukan identitas kepriba-diannya yang relatif definitif yang akan mewarnai hi dupnya sampai masa dewasa. baik secara fisik maupun psikis. dalam era globalisasi sekarang ini. Problem a berkaitan dengan perkembangan perilaku sosial. menyebabkan si remaja kesulitan untuk menguasai bahasa asing. per kembangan fisik yang tidak proporsional. Problema berkaitan dengan perk embangan kognitif dan bahasa. Masa r emaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial). Kematangan organ reproduksi pada masa r emaja membutuhkan upaya pemuasan dan jika tidak terbimbing oleh norma-norma dapa t menjurus pada penyimpangan perilaku seksual. Terhambatnya perkembangan kognitif dan bahasa dapat berakibat pula pada aspek emosional. Begitu juga masa remaja. moralitas dan keagamaan. namun ketika keadaan fisik ti dak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian antara body image dengan self pict ure) dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri. Namun ketika. yang mungkin saja dapat menimbulkan problem a tertentu bagi si remaja. Namun dikarenakan keterbatasan kesempatan dan sarana d an pra sarana. pabila tidak disertai dengan upaya pemahaman diri dan pengarahan diri secara tepat. Namun sebaliknya apabila rema ja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan . 3. c. terutama melalui pendidikan di sekol ah. yang akan membentuk kepribadiannnya. Begitu juga. terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk mengenal da n mendalami bahasa asing. 2. Keadaan fisik pada mas a remaja dipandang sebagai suatu hal yang penting.

na mun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua. khususnya rema ja awal akan ditandai adanya keinginan yang ambivalen. sekolah. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. . Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional ya ng masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidu pan pribadi maupun sosialnya. jika tid ak terbimbing. Seja lan dengan pertumbuhan organ reproduksi. Selain yang te lah dipaparkan di atas. banyak dilakukan dengan menunjuk kan perilaku coba-coba. hubungan sosial yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan lain jenis dan jika tidak terbimbing dapat menjurus tindakan penyimpanga n perilaku sosial dan perilaku seksual. Dalam hal ini. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya. di satu sisi adanya keing inan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan pilihannya sendiri. D. Pertengkaran dan per kelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya. term asuk dengan guru di sekolah. Upaya untuk memfasilitasi perkembangan rem aja menjadi amat penting. Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). serta masya rakat sangat diharapkan. 4. peranan orang tua. terutama secara ekonomis. dan emosional. dia akan mengalami krisis identitas atau identity c onfusion. Hal ini disebabkan pada masa remaja. Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilihlah salah satu j awaban yang menurut Anda paling tepat. Timbu lnya problema remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor. namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan dewasa lainnya. Problema perilaku sosial remaja tidak hanya terjadi dengan kelomp ok sebayanya. tentunya masih banyak problema keremajaan lainnya. baik internal maupun ekst ernal. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram du rja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. perilaku imitasi atau identifikasi. Usaha pencarian identitas pun. mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya. Pada masa remaja juga ditandai dengan ad anya keinginan untuk mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada. Perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. Problema berkaitan dengan perkembangan kepribadi an. Agar remaja dapat terhindar dari berbagai kesulitan dan problema kiranya diperlukan kearifan dari semua pihak. sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan men ggambarkan keadaan diri yang sebenarnya.dalam dirinya.

b dan c benar 2. Konformistik Seksama Individualistik Otonomi 5. c. bicara monolog. Perkembangan bersifat sistematis Perkembangan b erkesinambungan. b. Diperolehnya tanda-tanda baru S etiap individu menjadi lebih matang. b. haus nama-nama.a. c. bayi (02 th). Di bawah ini merupakan ciri-ciri umum perkembangan individu. d. bahasa ekspresif. bicara monolog. dan b ahasa ekspresif. haus nama-nama. membuat kalimat sederhana. Ahli yang mengelompokkan tahapan perkembangan berdasarkan pendekatan didaktis . Meraban. kecuali : a. gemar be rtanya. Tahap Sensori-Motor b. membuat kalimat sederhana. membuat kalimat sederhana. Merangkak dan memegang Memegang dan berjalan Berjalan da n berbicara Memegang dan berbicara 7. d. bayi (0-2 th). b. b. gemar bertanya. gemar bertanya. c. namun masih ada keterbatasan kapasitas d alam mengkoordinasikan pemikirannya. d. Meraban. b. bahasa ekspresif. Menurut Lovenger. bicara monolog.. Meraban. a. h aus nama-nama. c. 3. d. b. 8. d. Meraban. a. c. kanak-kanak (2 -7 th) dan remaja (12-20 th). Perkembangan bersifat progresif. Pola urutan perkembangan bahasa adalah : a. c. a. d. 6. Terjadinya perubahan dalam proporsi. Tahap Pra-Operasi onal . ya itu : a. kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th) bayi (0 -2 th) dan remaja (12-20 th). d. Kemampuan kognitif anak sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. Lenyapnya tanda-tanda yang lama. c. b. gemar bert anya. tahapan perkembangan tertinggi untuk siswa tingkat SMTA. bicara monolog. bahasa ekspresif. kanak-kanak (2-7 th) dan sekolah (7-12 th). Perkembangan fisik yang sangat pesat terjadi pada masa : a. haus nama-nama. Perkembangan psikomotorik utama yang harus dikuasai pada masa bayi dan masa k anakkanak : a. Rosseau Kretschmer Piaget Elizabeth Hurlock 4.

terjadi pada masa : a. Sikap negatif yang disebabkan melihat realita orang – orang beragama yang hypoc rit (pura-pura). d. b. 13. b. Pandanga n ke-Tuhan-an yang kacau. c. 12 . c. 14. Perkembangan penghayatan keagamaan pada masa kanak-kanak ditandai oleh adany a : a. d. Post Conventional d. terjadi pada tahap: a. Ketidaksenang an berdiferensiasi ke dalam kemarahan. a. b. Perkembangan emosi pada usia 0-3 bulan ditandai oleh adanya : a. b. kebencian dan ketakutan. d. Infancy Early Childhood Pre-Schoolage Ad olescence. Tahap perkembangan moralitas yang ditandai dengan orientasi mengenai anak ya ng baik dan mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas. Penghayatan rohaniah yang skeptik. b.c. Perkembangan perilak u sosial yang ditandai dengan usaha untuk membandingkan aturan – aturan. terjadi p ada masa : a. Kegembiraan b erdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang. Kesenangan da n kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya. Tahap Konkret-Operasional d. Perkembangan kepribadia n yang ditandai oleh adanya dorongan untuk membentuk dan memperlihatkan identita s diri. Kanak-Kanak Awal (0–3 th) Kanak – Kanak Akhir (4–6 th) Anak Sek olah (6–12 th) Remaja Awal (13–16 th) 10. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentanga n. c. Pre Conventional b. c. Conventional c. Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic. sehingga enggan melaksanakan ritual. Non Conventional 11. d. d. Kepekaan umum terh adap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. Tahap Formal-Operasional 9. Perkembangan karier yang ditandai oleh adanya proses penyesuaian yang berkesinambungan untuk meningkatkan posisi dalam pekerjaan. cahaya. temperatur) c. Growth Exploratory Establishment Maintenance .

. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama ( teman dekat). Aktif dalam berbagai jen is cabang permainan. Perkembangan perilaku sosial pada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. b. ekonomis. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. dan religius). . Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif. Dengan sikap dan cara berfikirny a yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataa nnya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. Berupa ya mempelajari norma-norma yang berlaku di lingkungan sosialnya. 17. d. Di bawah ini merupakan ciri perkembangan konatif pada masa remaja awal. Lima kebutuhan dasar (fisiologis. a. c. politis. b. Gerak ger ik mulai mantap. b . rasa aman. c. otot mengembang pada bagian – bagian tertentu). disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day d reaming pada laki-laki. Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang uni versal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. Perkembangan perilaku motorik p ada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. 20. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup. estetis. b. c. mes ki masih dalam taraf eksplorasi dan mencoba-coba. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbu l bulu pada pubic region. d. Perkembangan fisik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya: a.15. sosial. kecuali : a. b. c. Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam. gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan sil ih berganti dalam yang cepat. dan c benar 16. 18. b. Proporsi ukuran tinggi da n berat badan seringkali kurang seimbang. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap dan nila i mulai tampak (teoritis. d. 19. harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya. Perkembangan perilaku moralitas pada masa remaja akhir ditandai oleh adanya : a. a. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idol anya. b. a. d. Kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semang at konformitas yang tinggi. b. c. c. Ciri-ciri Perkembangan perilaku keagamaan pada masa remaja awal. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyaka n secara kritis dan skeptis. kasih say ang. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari dila kukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat. Menarik diri dari lingkungan sosialnya. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seper ti pernya-taan marah. d. dan c benar.

4. Masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat dipengaru hi oleh kondisi psiko-sosialnya. Intisari Bacaan 1. Pokok Bahasan 1. pendekatan . yang akan membentuk kepribadiannnya. Jelaskan tugas-tugas perkembang an individu pada masa remaja ! Bagaimana implikasinya terhadap pendidikan ? 3. guru serta masyarakat dalam upaya mencegah timbulnya berbagai prol ema pada remaja ? BAB IV PROSES BELAJAR MENGAJAR A. Teori-Teori Pok ok Belajar. Pembelajaran Peran dan Kompetensi Guru Pengelolaan Kelas. Apa yang dimaksud dengan tugas perkembangan ? 2. 2. B. Mengidentifikasi ciri-ciri belajar.d.pendekatan pembela jaran. 3. Mendefinisik an belajar dan pengelolaan kelas. 5. Menerapkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah pen gelolaan kelas. masalah-masalah dalam pengelolaan kelas. apa sesungguhnya belajar itu ? Di bawah ini disampaikan tent ang pengertian belajar dari para ahli : . C. 3. Menjelaskan secara skematik t entang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar. bentukbentuk perubahan perilaku sebagai hasil belajar. peran da n kompetensi guru. J elaskan problema-problema yang terjadi pada masa remaja ! dan bagaimana pula per an orang tua. diharapkan Anda dapat : 1. Hakekat Belajar Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Uraian 1. 4. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) meny ebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiat an belajar. Lantas. 2. Hakekat Belajar.

seorang mahas iswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. indi vidu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan. Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah di perolehnya kebiasaan-kebiasaan. yaitu : a. sikap dan keterampilan berikut nya. setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku. Perubahan yang disadari dan disen gaja (intensional). b. pengetahuan dan sikap baru”. sebaga i hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkunga nnya”. sikap. mi salnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat. Begitu juga dengan hasil-hasilnya. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan o leh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. kebiasaan. Begitu juga. kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku. Dalam hal ini. Begitu juga. . Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapa t dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan. Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku. dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. maka penget ahuan. seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakek at Belajar”. Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya mer upakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelum nya. Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan di sengaja dari individu yang bersangkutan. Hilgard (1962) : “belaj ar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karen a adanya respons terhadap sesuatu situasi” Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”. Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dim anifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan. pengetahuan. sikap dan keterampilan yang be rhubungan dengan Psikologi Pendidikan. Misalnya.Moh. Misalnya. sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu. Perubahan yang berkesinambungan (konti nyu). Gag e & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul ka rena pengalaman” Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas. dengan memperoleh sejumlah pengetahuan. pengetahuan dan kecakapan”.

maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pe ndidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kel ak ketika dia menjadi guru. individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. seorang mahasiswa belajar psikologi pendid ikan. Contoh : seorang mahasiswa belajar tenta ng psikologi pendidikan. e. Perubahan yang bertujuan dan terarah. jangka mene ngah maupun jangka panjang. Perubahan perilaku yang terjadi bersifat nor matif dan menujukkan ke arah kemajuan. Individu melakukan kegiatan bel ajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai. berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya . Misalnya. d. Mis alnya. Perubahan yang bersifat pemanen. Misalnya. Perubahan yang bersifat positif. mah asiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan.c. maka maha siswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan. Untuk memperoleh perilaku ba ru. . Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat diman faatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan. mahasiswa belajar mengoperasikan komputer. Sedangkan tujuan jangka pan jangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang mema dai tentang Psikologi Pendidikan. maka penguasaan keterampilan m engoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa te rsebut. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan unt uk mencapai tujuan-tujuan tersebut. baik tujuan jangka pendek. Perubahan perilaku yang diperoleh dari pro ses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prins ip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia ke lak menjadi guru. baik untuk kepenting an masa sekarang maupun masa mendatang. Perubahan yang bersifat aktif. g. f. tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperole h pengetahuan. Misalnya. namun setelah mengikuti pembelajaran Ps ikologi Pendidikan. Perubahan yang fungsional. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudk an dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. seorang mahasiswa sebelum belaj ar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Menga jar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembanga n perilaku dan pribadi peserta didiknya.

Belajar merupakan suatu proses. disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Bel ajar”. dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”. tetapi melalui berbagai tahapan dan kegiatan yang harus ditempuh individu. namun setelah dia membaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Teori-Teori Belajar” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience).h. Contoh 2 : Mahasiswa Y akan mempelajari te ntang “Metode-Metode Pembelajaran”. dalam perkuliahan Strategi Belajar Mengajar pada semester 2. dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Te ori Belajar”. deng an bertambah pengetahuan. Di Vesta dan Tompson dalam Abin Syamsuddin (2003:157) mengga mbarkan perubahan perilaku atau pribadi yang terjadi dari suatu proses belajar s eperti tampak dalam bagan berikut: Perilaku/Pribadi sebelum belajar (Pre Learning) X=0 Y=1 Z= 1 Perilaku/Pribadi se telah belajar (Post Learning) X = (X+1) = 1 Y = (Y+1) = 2 Z = (Z-1) = 0 Pengalaman. Begitu juga. sikap dan keterampilan tentang “Teori-Teori Belajar” (Pre learning). Praktik. Pada semester 1 dia telah menguasai tentang “Teori-Teori Belajar” yang akan mendasari penguasaan “MetodeMetode Pembelajaran” (Pre Learning). maka kemampuannya akan meningkat. terjadinya perubahan perilaku diperoleh tidak secara tiba-tiba. Perubahan perilaku secara keseluruhan. sikap keterampilannya tentang “Metode-Metode Pembelajara n” (Post Learning). Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata. sikap keterampilannya tent ang “TeoriTeori Belajar” (Post Learning). Setelah dia me mbaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Metode-Metode Pembelajaran” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). mahasiswa belajar tentang “Teori-Teor i Belajar”. lalu dia datang meminta bantuan dari konselor yang ada di kampus (PreLearning). Misalnya. Contoh 3 : Mahasiswa Z memiliki kebiasaan merokok yang ingin d ihilangkannya. maka dalam dirinya telah bertambah kemampuannya. dengan bertambah pengetahuan. Pada awalnya dia tidak memilik i pengetahuan. Latihan (Learning Experience) Contoh 1 : Mahasiswa X belajar akan mempelajari tentang “Teori-Teori Belajar” dalam perkuliahan Psikologi Pendidikan pada semester 1. tetapi termasuk memperoleh pula perubaha n dalam sikap dan keterampilannya. Kemudian oleh .

2003). dalam belajar individu juga memp eroleh berbagai pengalaman sosial melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya. maka sangat mungkin mahasiswa tersebu t akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi dalam mata kuliah Psikologi Pendi dikan Belajar juga merupakan bentuk pengalaman kehidupan melalui situasi nyata. Akhirnya. perubahan perilaku yang merupakan has il belajar dapat berbentuk : a. seorang mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidika n. dia memiliki motivasi yang sangat kuat untuk menjadi yang terbaik (the best) di kelasnya. baik secara tertulis maupun tulisan. Dengan tekun dan penuh kesungguhan dia mengikuti apa-apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya (Learning Experience). dan mencium. dia juga memperoleh pengalama n bagaimana bekerjasama dengan temannya dan berkomunikasi dengan orang lain. aturan dan hukum. mendengar. Men urut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun. Selain itu. c.menggunakan tek nikteknik konseling tertentu-. Misalnya. mencicipi. Termasuk dalam keterampilan intelektual ada lah kecakapan dalam membedakan (discrimination). lalu dia bersamasama ka wan-kawannya melakukan observasi langsung ke kelas. Dalam konteks proses pembelaja ran. Selain itu. Misalnya. Begitu juga. b. memahami konsep konkrit. Kecakapan intelektual. kecakapan individu untuk melakukan penge ndalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi p emecahan masalah. strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfi kir agar . dia memiliki komitmen yang kuat serta memiliki tujuantujuan yang ingin dicapainya secara jelas.konselor dia dilatih untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya. dia dapat berhasil menghilangkan kebiasaan merokoknya (Po st Learning). konsep abstrak. Informasi verbal. --khususnya motif berprestasi-. merab a/menjamah. dan sebagainya. defi nisi. yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal.dan seberapa kuat komitmen individ u terhadap tujuan belajarnya akan menentukan kualitas perubahan perilaku belajar nya. individu memperoleh pengalaman langsung melalui pengalaman indraw i yang memungkinkan mereka memperoleh pengetahuan dari melihat.-. mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan ingin memp eroleh pengetahuan tentang “Keterampilan Pengelolaan Kelas”. yaitu keterampilan individu dala m melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol. mis alnya: penggunaan simbol matematika. Strategi kognitif. Dia dapat mengamati langsung bagaimana guru mempraktekkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah-masala h yang muncul dalam pengelolaan kelas. Seberapa kuat motivasi belajar yang dimil iki individu. Dalam belajar. Belajar terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong (motivasi) da n ada suatu tujuan yang ingin dicapai.

h. senang. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tamp ak dalam : a. i. dan memberi arti rangsan gan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mamp u mencapai pengertian yang benar. marah. perasaan y ang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak. d. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran. Sikap adalah keada an dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam mengha dapi suatu obyek atau peristiwa. Ber fikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar peng ertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why).Namun dalam kesempatan ini hanya akan di kemukakan lima jenis teori belajar saja. kecewa. Kebiasaan. keterampilan -keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tin ggi. e. Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan ke yakinan. seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali men ghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru. menafsirkan. sehingga akhir nya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar. gembira. f . Dengan kata lain. Sementara itu. perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil bel ajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif. (b) teor i belajar . Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut. kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. g. Apresiasi (menghargai ka rya-karya bermutu). was-was dan sebaga inya. yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. yakni berfikir dengan c ara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat. seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik. (lihat tentang taksonomi perilaku individu pa da Bab I) 2. e. yakni proses menerima. Teori-Teori Pokok Belajar Jika menelaah literatur psikologi. benci. iala h hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fi sik. sedih. Moh. beserta tingkatan aspek-aspeknya. Berfikir asosiatif.terjadi aktivitas yang efektif. sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pem ikiran. Inhibisi (menghindari hal yang mubazir). Sikap. afektif dan psikomotor. d. Pengamatan. Kecakapan motorik. b. Sedangkan menurut Bloom. yaitu: (a) teori behaviorisme. didalamnya terdapat unsur pemikiran. c. Keterampilan.

Jika refleks yang s udah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa men ghadirkan reinforcer. dan mengabaikan aspek – aspek mental. J ika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer). Dengan kata lain. Sebaliknya. dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. c. dan (5) teor i belajar gestalt. Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar. Peristi wa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. semaki n tidak memuaskan efek yang dicapai respons. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike. behaviorisme tidak mengakui ad anya kecerdasan. jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tid ak dilatih. Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari di antaranya : 1. maka semakin lemah pula hubungan ya ng terjadi antara Stimulus. Law of Effect. .Respons.kognitif menurut Piaget. Law of Exe rcise.Respons akan semakin kuat. Teori Behaviorisme Sebagaimana telah dikemukakan pada Bab II bahwa behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku in dividu. diantaran ya: a. b. pendekatan behaviorisme ini . bakat. a. maka hubungan Stimulus . (4) teori pemrosesan informasi dari Gagne. artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertam bah erat. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah. b. artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan sat uan pengantar (conduction unit). artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang m emuaskan. Law of Readiness. 2. diantar anya : a. maka kekuatannya akan menurun. minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov Dari eksperimen yang d ilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar. maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.

Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meni ngkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu. Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the tre shold method). melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebaga i hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. (2) pre operational. Teori ini juga masih memandang pentingnya conditi oning. Miller dan Dollard dengan teori pengu rangan dorongan. Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks ot omatis atas stimulus (S-R Bond). bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyaji an contoh perilaku (modeling). seorang individu akan berfikir d an memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan. maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. Teori Belajar Kognitif menurut Piaget Dalam bab sebelumnya t elah dikemukan tentang aspek aspek perkembangan kognitif menurut Piaget yaitu ta hap (1) sensory motor. Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini. maka kekuatan perilaku tersebut ak an meningkat. Skinner Dari eksperimen yang dilakukan B. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan huk um-hukum belajar.3. metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method). Berbeda dengan penganut Behavi orisme lainnya. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat . Melalui pemberian reward dan punishment.F. 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. 4 . Operant Conditioning menurut B. b. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan .F. bahwa belajar akan lebih berhasil apabila dises uaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. diantaranya : a. Social Learning menurut Albert Bandura Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. namun tidak sengaja di adakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning. Respons dalam operant conditio ning terjadi tanpa didahului oleh stimulus. (3) concrete operational dan (4) for mal operational. Prinsip dasar belajar menurut teori ini. b. Reber (Muhibin Sya h. Law of operant conditining yaitu jika timbuln ya perilaku diiringi dengan stimulus penguat. melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Menurut Piaget. seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan.

obyek fisik. Guru harus membantu anak agar dapat berinte raksi dengan lingkungan sebaik-baiknya. (4) penyimpanan. ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu : 1. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peri stiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran t erjadi proses penerimaan informasi. (7) perlakuan dan (8) umpan balik. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya i nteraksi antara kondisikondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Teori Be lajar Gestalt Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti seb agai “bentuk atau konfigurasi”. mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. Bahan yang harus dipelajari anak hend aknya dirasakan baru tetapi tidak asing. warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. c. untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Bila figure dan latar bersifat samar-sama r. 2. (2) pemahaman. 4. Perkembangan merup akan hasil kumulatif dari pembelajaran. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda denga n orang dewasa. 3. Teori Pemrosesan I nformasi dari Robert Gagne Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelaj aran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. (3) pemerolehan. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang ses uai dengan cara berfikir anak. Implikasi teori perkembangan kognitif P iaget dalam pembelajaran adalah : 1. Berikan peluang agar anak belajar se suai tahap perkembangannya. Di dalam kelas. yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. (5) i ngatan kembali. . Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship). Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. anak-anak hendaknya diberi peluan g untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapa t menghadapi lingkungan dengan baik. d. Menurut Koffka dan Kohler. 5. potongan. Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapa i hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Sedangkan kondi si eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. (1) motivasi. (6) generalisasi.

akan tetapi mereaksi terhada p keseluruhan obyek atau peristiwa. 3. bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana. Hal yang p enting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis d engan lingkungan behavioral. 6. Kesamaan (similarity). 2. Dalam proses pembelajaran. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Per ilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”. Arah bersama (common direction ). bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderun g akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. seperti : sagitarius. penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan su sunan simetris dan keteraturan. Perilaku “Molar“ h endaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. virgo. bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertent u. gemini dan sebagainya adalah contoh dari pr insip ini. gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang terten tu. mengikuti kuliah. 5. Berlari. Contoh lain. Pengalaman tilikan (insight). Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hut an yang lebat (lingkungan geografis). hendaknya peserta didik memiliki . pisces. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : 1. Misalnya. bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak.2. Perilaku “Molecul ar” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar. sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. 3. 4. berjalan. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenar nya ada. Kedekatan (proxmity). Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt. Organisme tidak mereaksi terhadap rangs angan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa. yaitu: 1. (lingkungan be havioral). Misal nya. adanya penamaan kumpulan bintang. Proses pengamat an merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsa ngan yang diterima. dan Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. Kesederhanaan (simpl icity). bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan di pandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki. 4.

sopan santun berhadapan deng an orang tua dan sebagainya. sementara tuntutan kehidupan yang harus dipenuhi indivi du semakin tinggi. Belajar tidak hanya berlangsung sekolah saja. Oleh karena itu. khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. 5. maka kegiatan belajar di sekolah dijadikan pilihan untuk meng embangkan perilaku dan pribadi individu dalam rangka memenuhi berbagai tuntutan kehidupan. Orang tua memiliki keterbatasan dalam menjalankan fungsinya se bagai pendidik di rumah. biasanya lebih banyak diperoleh dari pengalaman bel ajarnya di rumah. tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. kebermakn aan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pem belajaran. menyeterikan baju. Pembelajaran. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. Oleh karena itu. bahwa perilaku te rarah pada tujuan. Oleh karena itu. bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkunga n dimana ia berada. Prinsip ruang h idup (life space). Hal-hal ya ng dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generali sasi). Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons . Misalnya. 3. materi yang diajarkan hendaknya memiliki ke terkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. 3. seorang anak perempuan memiliki keterampilan bagaima na cara mencuci piring. transfer belajar terjadi de ngan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tert entu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susuna n yang tepat. namun juga dilaksanakan di rumah m aupun masyarakat. Proses pemb elajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dic apainya. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yan g dipelajari. 4. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prins ip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Transfe r dalam Belajar.2. guru hen daknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari m ateri yang diajarkannya. Menurut pandangan Gestalt. memasak. kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu o byek atau peristiwa. yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. . guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). Perilaku bertujuan (pusposive behavior).

dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan re ncana. mera ngsang.. Pendekatan ini lebih berpusat kepada guru da n pada umumnya guru bertindak sebagai sumber informasi yang utama. Peran dan Kompetensi Guru Efektivitas dan efisien belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada per an dan kompetensi guru. observasi dan sej enisnya. Pendekatan ini lebih menekankan kepada aktivitas siswa dan guru lebih b anyak berperan sebagai fasilitator. Secara garis besarnya. yaitu : a. kegiatan belajar yang berlangsung di s ekolah lebih bersifat formal. term asuk metode ceramah dan sejenisnya. inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan. organisator (penyele nggara) terciptanya proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan. Guru seb agai pelaksana (organizer). b. motivator dan pembimbing untuk kepentingan b elajar peserta didiknya. c. disengaja dan direncanakan. Interaksi pendidikan seperti itu biasa disebut pembelajaran. mengemukakan peran guru dalam proses pembelajaran peserta didik. Pendekatan Heuristik yaitu yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya praktek. atau peserta didik dengan peserta didik untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. e. Kegiatan belajar di sekolah ditandai dengan adanya intera ksi antara atau pendidik dengan peserta didik. yang m encakup : a. Abin Syamsuddin dengan mengutip pemikiran Gage dan B erliner. eksperimen. b. dalam proses interaksi dengan sasaran didik. baik secar a formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (k epada sasaran didik. transformator (pen terjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan p erilakunya.Berbeda dengan kegiatan belajar di rumah. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan bahwa dalam pengerti an pendidikan secara luas. . menggerakkan. Sedangkan dalam pengertia n pendidikan yang terbatas. seorang guru yang ideal seyogyanya dapat berperan seb agai : a. transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik. yang harus dapat menciptakan situasi. dengan bimbingan guru atau pendidik lainnya. terdapat dua pendekat an pembelajaran. 4. di mana ia bertindak sebagai orang sumber (resource person). termasuk discovery-inquiry. Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems). d. memimpin. b. Pendekatan Ekspositorik adalah pendekatan yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya penyampaian informasi. konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber n orma kedewasaan. Bentuk-bentuk kegiatan belajar yang dil akukan peserta didik di sekolah sangat ditentukan oleh pendekatan-pendekatan pem belajaran yang diberikan oleh guru. serta Tuhan yang menciptakannya).

Surya (1997) mengemukakan tentang p eranan guru di sekolah. Wakil masyarakat di sekolah. menganalisa. L ebih jauh. Sedangkan dalam keluarga. guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga (family educator). Seorang pak ar dalam bidangnya. dan dar i sudut pandang psikologis. yaitu menguasai bahan yang harus diajarkannya. b. dalam konteks proses belajar mengajar di Indonesia. pengarah.konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik & humanistik (manusi awi) selama proses berlangsung (during teaching problems). di mana guru dituntut untuk mampu mengidentifikas i peserta didik yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar. artinya guru berperan s ebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan. artinya guru bertan ggung jawab untuk mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda y ang akan menjadi pewaris masa depan. yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknolo gi kepada masyarakat. dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivit as pengajaran dan administrasi pendidikan. Di sekolah. d. f. Guru sebagai penil ai (evaluator) yang harus mengumpulkan. pengelola pembelajaran. dan penilai pendidikan. harus membantu pemecahan nya (remedial teaching). Dalam hubungannya dengan aktivitas pengajaran dan ad ministrasi pendidikan. dan g. seor ang guru berperan sebagai : a. menafsirkan dan akhirnya ha rus memberikan pertimbangan (judgement). yaitu seorang yang harus senantiasa b elajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya. yaitu guru bertanggung jawab agar pendidik an dapat berlangsung dengan baik. Selanjutnya. Moh. Pelaksana administrasi pendidikan. guru berperan sebagai : a. guru berperan sebagai pembina masyarakat (social develo per). yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat. Di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented). keluarga dan masyarakat. baik mengenai aspek keefektifan pr osesnya maupun kualifikasi produknya. Penegak di siplin. berdasarkan kriteria yang ditetapkan. atas tingkat keberhasilan proses pembel ajaran. Penterjemah kepada masyarakat. Pelajar dan ilmuwan. Di lain pihak. Abin Syamsuddin menambahkan satu peran lagi yaitu sebagai pembimbing (teacher counsel). melakukan diagnos a. diri pribadi (self oriented). c. penilai hasil pembelajaran pe serta didik. Pekerja sosial (social worker). pengarah pembelajaran dan pembimbing peserta didik. prognosa. b. dan kalau masih dalam batas kewenangannya. Pemimpin generasi muda. yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik melaksanakan disiplin. . Seme ntara itu di masyarakat. penemu masyarakat (social inovator). c. e. guru berperan sebag ai perancang pembelajaran. dan agen masyarakat (social agent). Pengambil inisiatif.

Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didika n gurunya. dan lain-lain. Gu ru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well info rmed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh. d. jam masuk dan keluar untuk setiap sesi mata pelaja ran. prosedur dan sistem yang mendukung proses pembelajaran. peran dan tanggung jawab guru pada masa mendat ang akan semakin kompleks. dan e. lingkungan belajar. artinya guru merupakan seorang yang memahami psikologi p endidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. d. Untuk menghadapi .c. Sementara itu. Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker). ia akan kehilangan kepercaya an baik dari peserta didik. Catalyc agent atau inovator. guru berperan sebagai : a. Guru harus harus leb ih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. Jika guru tida k memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat. Sejalan d engan tantangan kehidupan global. Pembentuk kelompok (group builder). khususnya dengan para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pendidika n. seniman dalam hubungan antar manusia (artist in human relations). Kalau hal ini terjadi. a. interak si peserta didik dengan guru. seperti : tata letak tempat duduk. Paka r psikologi pendidikan. ia akan terpuruk secara profesional. yaitu mampu mambentuk menciptakan kelo mpok dan aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan. interaksi peserta didik dengan sesamanya. sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan ber bagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap pese rta didik di sekolah. Di masa depan. model keteladanan. c. pengelolaan sumber belajar. guru bukan satu-s atunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya. Yang dimaksud keteraturan di sini mencakup hal-hal yang terkait langsung atau tidak langsung dengan proses pembelajaran. Orang tua. Dari sudut pandang secara psikologis. artinya guru adalah model perilaku y ang harus dicontoh oleh mpara peserta didik. dan e. Pemberi keselamatan bagi set iap peserta didik. b. artinya gu ru adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar manus ia. pengelolaan bahan belajar. Doyle sebagaimana dikutip oleh S udarwan Danim (2002) mengemukan dua peran utama guru yaitu menciptakan keteratur an (establishing order) dan memfasilitasi proses belajar (facilitating learning) . orang tua maupun masyarakat. artinya guru bertanggung jawab bagi terciptanya kesehat an mental para peserta didik. di siplin peserta didik di kelas. berkembang. yaitu guru merupakan orang yang yang mampu menciptakan suat u pembaharuan bagi membuat suatu hal yang baik.

8. dewasa. 6. Disamping itu. pemerintah telah menetapkan Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. . menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat. 4. 3. 9. guru perlu berfikir secara antisipatif dan p roaktif. Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang melipu ti: 1. sehingga dengan dukungan hasil penelitiaan guru tidak terjebak pada praktek pengajaran y ang menurut asumsi mereka sudah efektif. guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimil ikinya secara terus menerus. 3. c. b.tantangan profesionalitas tersebut. mengevaluasi kinerja s endiri. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan. 2. Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang : 1. perancangan pembelaj aran. arif dan bijaksana. berwibawa. disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan tekno logi yang sedang berlangsung. 5. Untuk meningkatkan profesionalisme guru di Indones ia. mantap. namum kenyataannya justru mematikan kre ativitas para peserta didiknya. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. stabil. evaluasi hasil belaja r. Begitu juga. diantaranya adalah berkenaan dengan kualifikasi. dan mengembangkan diri secara berkelanjutan. Artinya. dengan dukungan hasil penelitian ya ng mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari ta hun ke tahun. berakhlak mulia. 7. Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyara kat untuk : 1. pemaha man terhadap peserta didik. guru masa depan harus paham peneliti an guna mendukung terhadap efektivitas pengajaran yang dilaksanakannya. 2. yang di dalamnya mengatur berbagai hal yang berkaitan dengan profesi guru . 5. dalam Undang-Undang tersebut d ikemukakan empat jenis kompetensi yang harus dikuasai guru yaitu : a. pengembangan kurikulum/silabus. 2. Berkenaan dengan kompetensi guru. 6. sertifikasi dan r emunerasi guru. berkomunikasi lisan dan tulisan. dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. menggunakan teknologi komunik asi dan informasi secara fungsional. 7. 4. kompetensi.

2. dan rasa kebers amaan dengan sejawat guru lainnya. mengetengahka n lima jenis kompetensi guru. 3. tenaga kependid ikan. struktur.3. meliputi : Moh. Sementara itu. 4. dan perwujudan diri. kom petisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai d an budaya nasional. rasa tanggung jawab akan tugasnya. b. sesama guru. maup un masyarakat luas. yai tu penguasaan berbagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan tugasnya sebagai guru. dan 4. ing madya mangun karsa. yaitu kualitas kemampuan pribad i seorang guru yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. Kompetensi personal. Da lam kompetensi sosial ini termasuk keterampilan interaksi sosial dan melaksanaka n tanggung jawab sosial. orangtua/wali peserta didik. dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/ koheren dengan materi ajar. Kompetensi per sonal ini mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri. Raka Joni sebagaimana dikutip oleh Suyanto da n Djihad Hisyam (2000) mengemukakan tiga jenis kompetensi yang seyogyanya dimili ki guru. yaitu kemampuan yang di perlukan oleh seorang guru agar berhasil dalam berhubungan dengan orang lain. Kompetensi profesional. d. pener imaan diri. yaitu : a. seorang guru akan mampu menjadi seorang pemi mpin yang menjalankan peran : ing ngarso sung tulada. Kompetensi intelektual. d. Kompetensi personal. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembe lajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: 1. dapat memilih dan menggunakan berbagai metode me ngajar di dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya. yaitu berbagai kemampuan yang diperlukan untuk dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional . pengarahan diri. penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari. dan 5. c. b. baik dengan peserta didik. bergaul secara efektif dengan peserta didik. materi aja r yang ada dalam kurikulum sekolah. memiliki pengetahuan yang luas dari bidang studi yang diajarkannya. Dengan demikian. Kompetensi sosial. Kompetensi profesional meliputi as pek kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus di ajarkannya beserta metodenya. Kompetensi k emasyarakatan. tu t wuri handayani. konsep. c. mampu berkomunikasi. . memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani. Surya (1997) a. Kompetensi profesional. hubungan konsep antar mata pelajaran terk ait. bergaul secara santun dengan masyaraka t sekitar. sesama pendidik. Dengan jumlah yang berbeda namun esensinya sama.

dengan rumusan What Teachers Should Know and Be Able to Do. Guru secara terus menerus menguji diri untuk memilih keputusan-keputusan terbaik. 3. kemampuan untuk memberikan ganjaran (reward) atas keber hasilan peserta didik. 2. Teachers are Committed to Students and Their Learning : 1. Menilai kemajuan peserta didik secara teratur. dan 4. Guru memberi kan kontribusi terhadap efektivitas sekolah melalui kolaborasi dengan kalangan p rofesional lainnya. 3. Penghargaa n guru terhadap perbedaan individual peserta didik. d. Mengembangkan usaha untuk memperoleh pengetahu an dengan berbagai cara (multiple path). b. Teachers Know the Subjects They Teach and How to Teach Those Subjects to Stud ents : 1. 2. Sebagai pembanding. 2. . yaitu kualitas keimanan dan ketaqwaan sebagai seorang y ang beragama. yang menjadi dasar b agi guru untuk mendapatkan sertifikasi guru. Teachers Think Systematically About Their Practice and Learn from Experience : 1. c. Guru bekerja sama dengan tua orang peserta didik. dan Misi guru dalam memperluas cakrawala berfikir peserta didik. yaitu: a .e. di dalamnya terdiri dari lima proposisi utama. Perlakuan guru terhadap seluruh peserta didik sec ara adil. 3. Apresiasi guru tentang pemahaman materi mata pelajaran untuk dikreasik an. Kemampuan guru untuk menyampaikan materi pelajaran. 2. Pemahaman guru tentang perke mbangan belajar peserta didik. Kesadaran akan tujuan utama pembelajaran. 4. 2. National Board for Profesional Teaching Skill (NBPTS) merumuskan standar kompetensi bagi guru di Amerika. Teachers are Responsible for Managin g and Monitoring Student Learning : 1. Kompetensi spiritual. Menyusun proses pembelajaran dalam berbagai setting k elompok (group setting). e. Teachers are Members of Learning Communities: 1. Penggunaan berbagai metode dalam pencapai an tujuan pembelajaran. Guru meminta saran dari piha k lain dan melakukan berbagai riset tentang pendidikan untuk meningkatkan prakte k pembelajaran. disusun dan dihubungkan dengan mata pelajaran lain. 3. Guru dapat menarik keuntungan dari berbagai sumber daya masyarakat.

suka menyela. b.Mengutip pemikiran Davis dan Margareth A. Kemampuan yang ter kait dengan pemberian umpan balik dan penguatan (reinforcement). Kemampuan yang terkait de ngan peningkatan diri. seperti : 1. 4. 5. khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati. Memiliki hubungan baik dengan peserta didik 3. c. Secara tulus menerima dan memperhatikan peserta didik. Pengelolaan pembelajaran l ebih menekankan pada kegiatan perencanaan. yaitu : 1. Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) memaparkan tentang beb erapa kemampuan guru yang mencerminkan guru yang efektif. Mampu me mberikan respon yang membantu kepada peserta didik yang lamban belajar. dan mampu memberikan transisi dalam mengajar. 2. 2. mengalihkan pembicara an. Mampu menerapkan kurikulum dan metode men gajar secara inovatif. Melibatkan peserta didik dalam mengorganisasi kan dan merencanakan kegiatan pembelajaran. antara lain: 1. Mampu memanfaatkan perencanaan kelompok guru untuk menciptakan metode pengajaran. 5. Memiliki kemampuan secara rutin untuk mengahadapi peserta didik yang tidak memiliki perhatian. penghargaan kepada peserta didik. Memiliki kemampuan interpe rsonal. Mampu membe rikan bantuan kepada peserta didik yang diperlukan. Pengelolaan kelas merupa kan hal yang berbeda dengan pengelolaan pembelajaran. 7. d. Menunjukkan minat dan enthusi as yang tinggi dalam mengajar. yaitu mencakup : a. Ke mampuan yang terkait dengan iklim kelas. Mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban yang kurang memuaskan. 3. evaluasi dan tindak lanj ut dalam suatu . 3. Mampu bertanya atau memberi kan tugas yang memerlukan tingkatan berfikir yang berbeda. 2. Mampu memperluas dan menambah pengetahuan metode-metod e pengajaran. seperti: 1. pelaksanaan. 6. Mm eminimalkan friksi-friksi di kelas jika ada. Thomas dalam bukunya Effective Schools and Effective Teachers. Kemampuan yang terkait dengan st rategi manajemen. Mampu menciptakan atmosfer untuk bekerja sama dan kohesivitas dalam kelompok. 2. dan 8. Mamp u memberikan umpan balik yang positif terhadap respon peserta didik. 4. Mampu mendengarkan peserta didik dan menghargai hak peserta didik untuk berbicara dalam setiap diskusi. Pengelolaan Kelas Dalam uraian di atas telah disinggung bahwa salah satu keterampilan yang harus d imiliki guru adalah keterampilan dalam mengelola kelas. dan ketulusan.

b. congruence). Dalam hal ini. karena menganggap tugas yang diberikan kurang fair. Terdapat dua macam masalah pengelo laan kelas.pembelajaran. 2. Masalah Individual : 1. Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan) Revenge seeking behavior s (pola perilaku menunjukkan balas dendam). suku. genuiness. Kelas kurang mampu menyesuakan diri dengan keadaa n baru.guru dan atau peserta didik – pe serta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim. menerima dan menghargai peserta didik sebagai . Masalah Kelompok : 1. penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas. y aitu : a.Modification Approach (Behaviorism Apparoach) Asumsi yang m endasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu mer upakan hasil belajar. 4. Kelas kurang kohesif. Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya unt uk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses be lajar (pembinaan rapport. terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam pengelolaan kelas. Behavior . yaitu : a. Berangkat dari teori-teori belajar sebagaimana telah dikemukakan terdahu lu. Socio-Emotional C limate Approach (Humanistic Approach) Asumsi yang mendasari penggunaan pendekata n ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubung an interpersonal yang baik antara peserta didik . Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakuka n melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). Sema ngat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru. tingkatan sosial eko nomi. 4. 2. 3. b. Kelas mereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggot anya. 6. Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disep akati sebelumnya. “Membombong” anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok. sosio-emo sional yang baik. Carl A. penetapan norma kelompok yang produktif). 7. pemberian ganjaran. helplessness (peragaan ketidakmampua n). karena alasan jenis kelamin. Rogers mengemukakan pentingnya sikap tu lus dari guru (realness. 5. dan sebagainya. 3. Kelompo k cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap. didalamnya mencakup pe ngaturan orang (peserta didik) dan fasilitas. Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian). penyelesaian tugas oleh peserta didik seca ra tepat waktu.

G roup Process Approach Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bah wa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru a dalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. f. positif. Richard A.manusia (acceptance. Perubahan yang bersif at aktif dan menyeluruh. Di bawah ini merupakan hakekat belajar. kontinyu. Belajar merupaka n usaha individu. memperlakukan peserta didik sebagai manusia yan g dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya. Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Dem ocratic Classroom Process. (c) attractio n (pola persahabatan). (d) communication. serta membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik. c. Sedangkan Haim C. b ukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasaka n. Latihan : Soal : Pilihan Ganda 1. menyusun rencana pemecahannya. guru berusaha untuk membicarakan situasi. kecuali : a. (b) leadership. Hal senada dikemukakan William Glasser bahwa guru seyogyanya membantu mengara hkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi. yaitu : (a) mutual expectations. (c) norm. prizing. Belajar merupakan kegiatan individu di sekolah u ntuk memperoleh pengetahuan 2. h. b. Sch muck & Patricia A. Belajar sebagai usaha untuk memperoleh pengetahuan. Perubahan yang bersifat intensional. Ginnot mengemuk akan bahwa dalam memecahkan masalah. caring. (d) cohesiveness D. dan permanen Perubahan yang bersifat fungsional. serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaia n. dari tidak tahu menjadi tahu. mengarahkan peserta didik agar committed terhadap rencana yang telah dibuat. menganalisis dan menilai masalah. dan membe ri kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat. bertujuan dan terarah. g. Di bawah ini merupakan ciri-ciri perubahan perilaku dari kegiatan belajar : e . a. trust) dan mengerti dari sudut pandangan p eserta didik sendiri (emphatic understanding). Schmuck menegemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendeka tan group proses. Sementara itu. b dan c benar . dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik unt uk dapat memikul tanggung jawab. memupuk keberanian menanggung akib at “kurang menyenangkan”. Belajar merupakan usaha individu memperoleh perubahan perilaku. d. c.

Pendekatan pembelajaran yang dianggap paling sesuai untuk pembentukan kompete nsi peserta didik. maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus. c. d. b. b. c.Respons . Sebaliknya. Dapat menciptakan situasi belajar. semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons. a. Behaviorisme Gestalt Kog nitif Pemrosesan Informasi 8. a. d. Law of Effect Law of Readiness Law of Exercise Law of Respondent C onditioning 5. b . merangsang. c. adalah : a. b. Keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan m enggunakan simbol-simbol merupakan bentuk perubahan perilaku dalam : a. henda knya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkait an unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. b. c.3. b. b. Connectionism (S-R Bond) Classical Conditioning Social Learning Oper ant Conditioning 6. menggerakkan. Informasi verbal Kecakapan intelektual Strategi kognitif Sikap dan kecakapan mo torik 4. Ekspositorik Heuristik Discovery Inquiry 9. Jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. 7. c. maka hubungan Stimulus Respons akan semakin kuat. Materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondi si lingkungan kehidupan peserta didik merupakan salah satu aplikasi dalam pembel ajaran yang dihasilkan dari teori belajar : a. memimpin. dan c benar. b. d. Teori belajar yang menganggap pentingnya imitation dan modelling dalam belaja r. d. dan me ngarahkan kegiatan belajar mengajar merupakan peran guru sebagai : a. d. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : a. c. Perenca na Pembelajaran Pelaksana Pembelajaran . d. a. Pentingnya reinforcement dalam pembentukan perilaku individu Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Dalam proses pembelajaran.

jenis lay anan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. . Uraian 1 . Menjelaskan peran kepala sekolah dan guru mata pelajaran dalam Bimbingan dan Konseling. B. d. 6. 4. prosedur umum bimbingan dan konseling. Kompetensi guru yang berhubungan dengan pemahaman perkembangan peserta didik . Proses dan Teknik Konseling. 5. para siswa kurang kompak dan selalu berisik. Sebagai guru. diharapkan Anda dapat : 1. 3. bimbingan terhadap peserta didik bermasal ah. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. Apa yang dimaksud dengan pengelolaan kelas ? 2. Bimb ingan terhadap Peserta Didik Bermasalah. Komp etensi akademik Kompetensi personal Kompetensi pedagogik Kompetensi sosial BAB V BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH A. Evaluator Pembelajaran Fasilitator Pembelajaran 10. 3. apa yang akan dilakukan jika di kelas menemukan: a. Mengidentifikasi fungsi. melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. 2. Menerapkan teknik – teknik dalam konseling. b. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling. Kegiatan Layanan dan Pend ukung Bimbingan dan Konseling. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling. 3. 2. d. Jelaskan secara skematik tenta ng perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar !. merencanakan. siswa yang sedang asy ik ngobrol dengan temannya. Mendefinisik an bimbingan dan konseling. 4. asas. orientasi baru.c. a. prinsip. Menganalis is kasus dan mengatasi masalah yang dihadapi peserta didik. b. c. proses konseling. Peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pela jaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling. 5. Pokok Bahasan 1.

(1970) mengemukakan : “gui dance is the help given by one person to another in making choice and adjusment and in solving problem. United States Office of Education (Arifin. Penggunaan istilah bimbingan seperti dikemukak an di atas tampaknya proses bimbingan lebih menekankan kepada peranan pihak pemb imbing.al. Hal ini tentu saja tidak sesuai lagi dengan arah perkembangan dewasa ini . kemampuan untuk menerima dir inya (self acceptance). keluarga dan masyarakat. conducting (menuntun). pilot. 1975) mengartikan bimbingan sebagai proses bantuan ter hadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan pen yesuaian diri secara maksimum di sekolah. Pengertian Bimbing an dan Konseling Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang didalamnya te rkandung beberapa makna. 2004) mendefiniskan bimbingan sebagai : the process of helping the individual to understand himself and his world so that he can utili ze his potentialities. manager.C. (1975) berpendapat bahwa bimb ingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis ke pada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Jones et.S. I. jabat an. Djumhur dan Moh. atau mengemudikan). Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling a. Winkel (198 1) mengemukakan bahwa guidance mempunyai hubungan dengan guiding : “ showing a way” (menunjukkan jalan). leading (memimpin). Dalam pelaksanaannya. sosial dan pribadi. mengatur. Intisari Bacaan 1. Djumhur dan Moh. Peters dan Sh ertzer (Sofyan S. regulating (mengatur). menentukan. Untuk memahami lebih jauh tentang penger tian bimbingan. Surya. Willis. misalnya problema kependidikan. dimana pada saat ini klien lah yang justru dianggap lebih memiliki peranan pen ting dan aktif dalam proses pengambilan keputusan serta bertanggungjawab sepenuh nya terhadap keputusan yang diambilnya. or steer (menunjukk an. Sertzer & Stone (1966) menemukakan bahwa guidance beras al kata guide yang mempunyai arti to direct. agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirinya (self understanding). kesehatan. kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) . bimbingan harus mengara hkan kegiatannya agar peserta didik mengetahui tentang diri pribadinya sebagai i ndividu maupun sebagai anggota masyarakat. giving instructi ons (memberikan petunjuk). governing (mengarahkan) dan gi ving advice (memberikan nasehat). 1978) memberik an rumusan bimbingan sebagai kegiatan yang terorganisir untuk memberikan bantuan secara sistematis kepada peserta didik dalam membuat penyesuaian diri terhadap berbagai bentuk problema yang dihadapinya. Sedangkan menurut W. Surya. di bawah ini dikemukakan pendapat dari beberapa ahli : Miller (I .

dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan pote nsi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan, baik ke luarga, sekolah dan masyarakat. Dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 ten tang Pendidikan Menengah dikemukakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diber ikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan, d an merencanakan masa depan”. Prayitno, dkk. (2003) mengemukakan bahwa bimbingan da n konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bimbingan pri badi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karier, melalui berbaga i jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku. Da ri beberapa pendapat di atas, tampaknya para ahli masih beragam dalam memberikan pengertian bimbingan, kendati demikian kita dapat melihat adanya benang merah, bahwa : Bimbingan merupakan upaya untuk memberikan bantuan kepada individu atau peserta didik.. Bantuan dimaksud adalah bantuan yang bersifat psikologis. Tercap ainya penyesuaian diri, perkembangan optimal dan kemandirian merupakan tujuan ya ng ingin dicapai dari bimbingan. Dari pendapat Prayitno, dkk. yang memberikan pe ngertian bimbingan disatukan dengan konseling merupakan pengertian formal dan me nggambarkan penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dal am sistem pendidikan nasional. Keberadaan layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang panjang, sejak kuran g lebih 40 tahun yang lalu. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali p ergantian istilah, semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 d an sebelumnya), kemudian pada Kurikulum 1994 dan Kurikulum 2004 berganti nama me njadi Bimbingan dan Konseling. Akhir-akhir ini para ahli mulai meluncurkan sebut an Profesi Konseling, meski secara formal istilah ini belum digunakan. Untuk kep entingan penulisan ini, penulis akan menggunakan istilah Bimbingan dan Konseling sesuai dengan istilah formal yang saat ini dipergunakan dalam sistem pendidikan nasional. b. Orientasi Baru Bimbingan dan Konseling Pada masa sebelumnya (atau mungkin masa sekarang pun, dalam prakteknya masih ditemukan) bahwa penyelenggara an Bimbingan dan Konseling cenderung bersifat klinis-therapeutis atau menggunaka n pendekatan kuratif, yakni hanya berupaya menangani para peserta didik yang ber masalah saja. Padahal kenyataan di sekolah

jumlah peserta didik yang bermasalah atau berperilaku menyimpang mungkin hanya s atu atau dua orang saja. Dari 100 orang peserta didik paling banyak 5 hingga 10 (5% - 10%). Selebihnya, peserta didik yang tidak memiliki masalah (90% -95%) ker apkali tidak tersentuh oleh layanan bimbingan dan konseling. Akibatnya, bimbinga n dan konseling memiliki citra buruk dan sering dipersepsi keliru oleh peserta d idik, guru bahkan kepala sekolah. Ada anggapan bimbingan dan konseling merupakan “polisi sekolah”, tempat menangkap, merazia, dan menghukum para peserta didik yang melakukan tindakan indisipliner. Anggapan lain yang keliru bahwa bimbingan dan k onseling sebagai “keranjang sampah” tempat untuk menampung semua masalah peserta did ik, seperti peserta didik yang bolos, terlambat SPP, berkelahi, bodoh, menentang guru dan sebagainya. Masalah-masalah kecil seperti itu dapat diantisipasi dan d iatasi oleh para guru mata pelajaran atau wali kelas dan tidak perlu diselesaika n oleh guru pembimbing. Mengingat keadaan seperti itu, kiranya perlu adanya orie ntasi baru bimbingan dan konseling yang bersifat pengembangan atau developmental dan pencegahan pendekatan preventif. . Sofyan. S. Willis (2004) mengemukakan ba ru bimbingan dan konseling, yaitu : landasan-landasan filosofis dari orientasi 1. Pedagogis; artinya menciptakan kondisi sekolah yang kondusif bagi perkembanga n peserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual diantara peserta didik . 2. Potensial, artinya setiap peserta didik adalah individu yang memiliki poten si untuk dikembangkan, sedangkan kelemahannya secara berangsur-angsur akan diata sinya sendiri. 3. Humanistik-religius, artinya pendekatan terhadap peserta didik haruslah manusiawi dengan landasan ketuhanan. peserta didik sebagai manusia dia nggap sanggup mengembangkan diri dan potensinya. 4. Profesional, yaitu proses bi mbingan dan konseling harus dilakukan secara profesional atas dasar filosofis, t eoritis, yang berpengetahuan dan berketerampilan berbagi teknik bimbingan dan ko nseling. Dengan adanya orientasi baru ini, bukan berarti upaya-upaya bimbingan d an konseling yang bersifat klinis ditiadakan, tetapi upaya pemberian layanan bim bingan dan konseling lebih dikedepankan dan diutamakan yang bersifat pengembanga n dan pencegahan. Dengan demikian, kehadiran bimbingan dan konseling di sekolah akan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh peserta didik, tidak hanya bagi pes erta didik yang bermasalah saja. c. Fungsi Bimbingan dan Konseling Dengan orient asi baru Bimbingan dan konseling terdapat beberapa fungsi yang hendak dipenuhi m elalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. yaitu:

1. Pemahaman; 2. 3. 4. 5. menghasilkan pemahaman pihak-pihak tertentu untuk pengembangan dan pemacahan mas alah peserta didik meliputi : (a) pemahaman diri dan kondisi peserta didik, oran g tua, guru pembimbing; (2) lingkungan peserta didik termasuk di dalamnya lingku ngan sekolah; dan keluarga peserta didik dan orang tua; lingkungan yang lebih lu as, informasi pendidikan, jabatan/pekerjaan, dan sosial budaya/terutama nilai-ni lai oleh peserta didik. Pencegahan; menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya p eserta didik dari berbagai permasalahan yang timbul dan menghambat proses perkem bangannya. Pengentasan; menghasilkan terentaskannya atau teratasinya berbagai pe rmasalahan yang dialami peserta didik. Advokasi; menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hakhak dan/atau kepentingan pendidikan. Pemeliharaan dan pengembangan; terpelihara dan terkembangkannya berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berke lanjutan. d. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling : Sejumlah prinsip mendasari gerak langk ah penyelenggaraan kegiatan bimbingan dan konseling. Prinsip-prinsip ini berkait an dengan tujuan, sasaran layanan, jenis layanan dan kegiatan pendukung, serta b erbagai aspek operasionalisasi pelayanan bimbingan dan konseling. Prinsip-prinsi p tersebut adalah : 1. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan; (a ) melayani semua individu tanpa memandang usia, jenis kelamin, suku, agama dan s tatus sosial; (b) memperhatikan tahapan perkembangan; (c) perhatian adanya perbe daan individu dalam layanan. 2. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan permasalah an yang dialami individu; (a) menyangkut pengaruh kondisi mental maupun fisik in dividu terhadap penyesuaian pengaruh lingkungan, baik di rumah, sekolah dan masy arakat sekitar, (b) timbulnya masalah pada individu oleh karena adanya kesenjang an sosial, ekonomi dan budaya. 3. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program pelayanan Bimbingan dan Konseling; (a) bimbingan dan konseling bagian integral d ari pendidikan dan pengembangan individu, sehingga program bimbingan dan konseli ng diselaraskan dengan program pendidikan dan pengembangan diri peserta didik; ( b) program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutu han peserta didik maupun lingkungan; (c) program bimbingan dan konseling disusun dengan mempertimbangkan adanya tahap perkembangan individu; (d) program pelayan an bimbingan dan konseling perlu diadakan penilaian hasil layanan.

juga dituntut untuk memenuhi sejumlah asas bimbi ngan. Dalam hal ini. 3. Agar peserta didik (klien) mau terbuka. maka penyelenggaraan bimbingan dan konseling akan berjalan tersendat-sendat atau bahkan terhenti sama sekali. Guru pembimbing (konselor) berkewajiban mengembang kan keterbukaan peserta didik (klien). Apabila asas-asas ini tidak di jalankan dengan baik. guru pembimbing (konselor) berkewajiban m emelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar -benar terjamin. serta mengurangi atau mengaburkan hasil layanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu sendiri. (d) perlu adanya kerja sama dengan personil sekolah dan orang tua dan bila perlu dengan pihak lain yang berk ewenangan dengan permasalahan individu. e. yaitu asas yang menghen daki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap t erbuka dan tidak berpura-pura. (b) pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya at as kemauan diri sendiri. (c) permasalahan individu dilayani oleh tenaga ahli/pro fesional yang relevan dengan permasalahan individu.asas bimbingan dan kon seling tersebut adalah : 1. baik dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang bergu na bagi pengembangan dirinya. Asas. yaitu asas yang menghendaki adanya kesuka an dan kerelaan peserta didik (klien) mengikuti/ menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya. g uru pembimbing (konselor) terlebih dahulu bersikap terbuka dan . Asas Kesukarelaan. (a) diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimb ing diri sendiri. 2. Asas Kerahasiaan (confidential). sedangkan pengingkarannya akan dapat men ghambat atau bahkan menggagalkan pelaksanaan. Pemenuhan asas-asas bimbingan itu akan memperlancar pelaksanaan dan lebih menjamin keberhasilan layanan/kegiatan. Guru Pembimbing (konselor) berkewajiban membina dan meng embangkan kesukarelaan seperti itu. Asas-Asas Bimbingan dan Konseling Penyelenggaraan layanan dan kegi atan pendukung bimbingan dan konseling selain dimuati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu. dan (e) proses pelayanan bimbingan dan k onseling melibatkan individu yang telah memperoleh hasil pengukuran dan penilaia n layanan. yaitu asas yang men untut dirahasiakannya segenap data dan keterangan peserta didik (klien) yang men jadi sasaran layanan. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak laya k diketahui orang lain. Asas Keterbukaan.4. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan. Betapa pentingnya as as-asas bimbingan konseling ini sehingga dikatakan sebagai jiwa dan nafas dari s eluruh kehidupan layanan bimbingan dan konseling.

para pelaksana layanan dan kegiatan bimbinga n dan konseling lainnya hendaknya tenaga yang benar-benar ahli dalam bimbingan d an konseling. peraturan. 8. Asas Kedinamisan. yaitu asas yang menghendaki ag ar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselnggarakan atas dasar kaidah -kaidah profesional. mengarahkan. 7. 9. yaitu asas yang menunjukkan pada tujuan umum bimbingan dan konseling. Bahkan lebih jau h lagi. serta mewujudkan diri sendiri. 6. Profesionalitas guru pembimbing (konselor) harus terwujud baik . baik norma agama. Asas Kegiatan. Asas Keterpaduan. Asas Keahlian. yaitu asa s yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (peserta didik/klie n) hendaknya selalu bergerak maju. yaitu asas yang menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan ko nseling didasarkan pada norma-norma. melalui segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling ini harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (klien) dalam memahami. yaitu peserta didik (klien) sebagai sasaran layan an/kegiatan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang ma ndiri. Guru Pembimbing (konselor) perlu mendorong dan memotivasi peserta didik untuk dapat aktif dalam setiap layanan/kegiatan yang d iberikan kepadanya. yaitu asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan keg iatan bimbingan dan konseling. kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi amat penting dan harus dilaksanakan sebaikbaiknya. dan kebiasaan – kebiasaan yang berlaku. 10. menghayati dan men gamalkan norma-norma tersebut. harmonis dan terpadukan. Guru Pembimbing (konselo r) hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling bagi berk embangnya kemandirian peserta didik. Dalam hal ini. dengan ciri-ciri mengenal diri sendiri dan lingkungannya.tidak berpura-pura. 5. yaitu asas yang menghenda ki agar obyek sasaran layanan bimbingan dan konseling yakni permasalahan yang di hadapi peserta didik/klien dalam kondisi sekarang. tidak monoton. saling menunjang. Asas keterbukaan ini bertalian erat dengan asas kerahasiaan dan dan kekarelaan. Asas Kekinian. yaitu asas yang menghendaki agar peserta d idik (klien) yang menjadi sasaran layanan dapat berpartisipasi aktif di dalam pe nyelenggaraan/kegiatan bimbingan. Asas Kenormatifan . hukum. mampu mengambil keputusan. Asas Kemandirian. dan terus berkembang serta ber kelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu . Kondisi masa lampau dan masa depan dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan dengan apa yang ada dan di perbuat peserta didik (klien) pada saat sekarang. ilmu pengetahuan. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun p ihak lain. Dalam hal ini. 4. adat is tiadat.

Guru pembimbing (konselor)dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. atau ahli lain. dan karier”. tugas dan tanggung jawab kepala sekolah. guru mata pelajaran dan wali kelas. mengemba ngkan keteladanan. Dengan adanya kata “kewajiban”. dapat mengalihtangankan kasus kepada pihak yang lebih kompeten. guru-guru lain. maka setiap seko lah mutlak harus menyelenggarakan bimbingan dan konseling. 12. Demikian pula. Menyediakan prasarana.dalam penyelenggaraaan jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling dan dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. Peranan Kepala Sekolah. dan be rbagai kemudahan bagi terlaksananya pelayanan bimbingan dan konseling yang efekt if dan efisien. pe nyelenggaraan Bimbingan dan konseling di sekolah. secara tegas dikemukakan bahwa : “Sekolah berkew ajiban memberikan bimbingan dan konseling kepada siswa yang menyangkut tentang p ribadi. Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan da n Konseling Dalam kurikulum 2004. juga perlu melibatkan kepala s ekolah . Selain Guru Pembimbing atau Konselor sebagai pelaksana utama. Secara garis besarn ya. tidak lepas dari peranan berbagai pi hak di sekolah. sebaliknya guru pembimbing (kons elor). yaitu asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggaraka n layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalaha n peserta didik (klien) kiranya dapat mengalihtangankan kepada pihak yang lebih ahli. serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk maju. 11. . Kepala sekolah selaku penanggung ja wab seluruh penyelenggaraan pendidikan di sekolah memegang peranan strategis dal am mengembangkan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. b. peran. yaitu asas yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa aman). sehingga p elayanan pengajaran. dan dinamis. harmonis. tenaga. sosial. belajar. Asas Tut Wuri Handa yani. latihan. Keberhasilan penyelen ggaraan bimbingan dan konseling di sekolah. Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan p elaksanaan program. Mengkoo rdinir segenap kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di sekolah. dan memberikan rangsangan dan dorongan. sebagai berikut : a. baik yang berada di dalam lembaga sekolah maupun di luar sekolah. Asas Alih Tangan Kasu s. dan bimbingan dan konseling merupakan suatu kesatu an yang terpadu. 2. c. penilaian dan upaya tidak lanjut pelayanan bimbingan dan kon seling.

Membantu memasyarakatkan pelayan an bimbingan dan konseling kepada siswa b. e. Membantu Guru Pembimbing mengidentifi kasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling. Sebagai pengelola kelas tertentu dalam pelayanan bimbingan dan kon seling. bersahabat. memahami dan meng hargai tanpa syarat. khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya. c. f. untuk mengikuti/menjalani layanan dan/atau kegiatan bimbingan dan konseling. khusu snya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. p rogram pengayaan).d. Menyediakan fasilitas. yaitu siswa yang menuntut Guru Pembimbing memerlu kan pelayanan pengajar /latihan khusus (seperti pengajaran/ latihan perbaikan. hubungan guru-siswa dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan k onseling. Membantu pengumpulan informasi yang dipe rlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tind ak lanjutnya. membantu Guru Pembimbing melaksanakan tugas-tug asnya. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masa lah siswa. jujur dan asli. ramah. dan e. membantu Guru Mata Pelajaran melaksanakan peranannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling. c. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan la yanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani layanan/kegiat an yang dimaksudkan itu. Wali Kelas berperan : a. membantu memberikan kesempatan d an kemudahan bagi siswa. Mengalihtangankan siswa yang memerluka n pelayanan bimbingan dan konseling kepada Guru Pembimbing d. seperti konferens i kasus. dan dukungan dalam kegiatan kepengawasan yang dilakukan oleh Pengawas S ekolah Bidang BK. serta pengumpu lan data tentang siswa-siswa tersebut. kes empatan. seperti konferensi kasus. peran. Sofyan S. Willis (2005) mengemukakan bahwa gur u-guru mata pelajaran dalam melakukan pendekatan kepada siswa harus manusiawi-re ligius. Berkenaan peran guru mata pelajaran dan wali kel as dalam bimbingan dan konseling. g. Sedangkan. tugas dan tanggung jawab guru-guru mata pela jaran dalam bimbingan dan konseling adalah : a. Menerima siswa ali h tangan dari Guru Pembimbing. d. khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan ko nseling kepada Guru Pembimbing. konkret. . Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling Di sekol ah kepada Dinas Pendidikan yang menjadi atasannya. mendorong. berpa rtisipasi aktif dalam kegiatan khusus bimbingan dan konseling. b. Membantu mengembangkan suasana kelas. h. e.

jurusan/program studi. Untuk lebih jelasnya. Tujuan layanan inf ormasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai materi belaj ar atau penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. sosial. Layanan Pembelajaran. baik dalam jenis layanan maupun kegiatan pen dukung. karier. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. Layanan informasi pun berfungsi untu k pencegahan dan pemahaman. Sedan gkan kegiatan pendukung merupakan kegiatan untuk menopang terhadap keberhasilan layanan yang diberikan. kelompok belajar. Layanan Penempatan dan Penyaluran. Kegiatan Layanan Bimbingan dan Konseling 1. 3. dengan tujuan agar peserta didik dapat meng embangkan segenap . Layanan orientasi merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memahami ling kungan baru.3. yang ber fungsi untuk pencegahan dan pemahaman. Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional saat ini terdapat tujuh jenis layanan dan lima kegiatan pendukung. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. a. Layanan pe mbelajaran berfungsi untuk pengembangan. 4. Layanan Informasi. merupakan layanan y ang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. dengan tujuan agar pes erta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. 2. pergaulan. di bawah ini akan diuraikan tujuh jenis layanan dan lima k egiatan pendukung bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam pendidi kan nasional. m erupakan layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyal uran di dalam kelas. Namun. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru i tu. kedua jeni s layanan ini belum dijadikan sebagai kebijakan formal dalam sistem pendidikan. pendidikan lanjutan). kegiatan ko/ekstra kurikuler. dalam bidang pribadi. Para ahli bimbingan di Indonesia saat ini sudah mulai meluncurkan dua je nis layanan baru yaitu layanan konsultasi dan layanan mediasi. Namun sangat mungkin k e depannya akan semakin berkembang. Layanan Orientasi. Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling Kegiatan layanan merup akan kegiatan dalam rangka memenuhi fungsi-fungsi bimbingan dan konseling. m agang. belajar maupun karier berdasarka n informasi yang diperolehnya yang memadai. sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awa l semester. program latihan.

dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan perm asalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok. Layanan Konseling Kelompok. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. baik tes maupun non tes. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman da n Pengembangan 7. merupakan layanan yang memungkinan sejumlah pesert a didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan memba has pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan ke mampuan sosial. Apl ikasi Instrumentasi Data. 6 . . terpadu dan sifatnya tertutup. Kegiatan Pendukung Bimbingan dan Konseling U ntuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukak an di atas. 5. kiranya perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung Dalam hal ini . b. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan. Tujuan layanan kons eling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihad apinya. tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainn ya. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengenta skan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. minat dan segenap potensi lainnya. sistem atik. yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen. dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristikn ya dan memahami karakteristik lingkungan. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keteran gan tentang peserta didik. Himpunan Data.bakat. komprehensif. 2. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu me lalui dinamika kelompok. merupakan kegiatan u ntuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengem bangan peserta didik. Layanan Penempatan dan Penyaluran berf ungsi untuk pengembangan. Layanan Konseling Perorangan. terdapat lima jenis kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. yaitu : 1. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan da n pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembang an kemampuan sosial.

Call them approach. Konferensi Kasus. 5. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih ko mpeten. dokter serta ahli lainnya. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makm un (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi p eserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling. merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didi k dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan ket erangan. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan. merupakan kegiata n untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalaha n yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebi h kompeten. Pertemua n konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. 4. dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kun jungan rumah klien. kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling Secara umum. melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik sec ara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. merupakan kegiatan untuk memperoleh data. merupakan upaya untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor. dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarg a untuk mengentaskan permasalahan klien. . Tujuan konferensi kasus adala h untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan kli en. keterangan. Alih Tangan Kasus. 4. Identifikasi kasus.3. ke mudahan. prosedur bimbingan dan konseling dapat ditempuh melalui prosedur seperti tampak dalam bagan beriku t : Datang Sendiri/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari In formasi yang Ada/Dicari Identifikasi Kasus Identifikasi Masalah Diagnosis Prognosis Remedial/Referal Eva luasi/Follow Up a. Kunjungan Rumah. yakni : 1.

dan atau (4) personality. (5) karier dan pekerjaan. 3. seperti tes inteligens i. tes bakat. (2) struktural – fungsional. 5. (7) agama. dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupay akan berbagai tindak lanjutnya. (9) keadaan dan hubungan keluarga. Developing a desire for counseling. dan (10) waktu senggang. Dala m konteks Proses Belajar Mengajar. menciptakan hubungan yang baik. seperti : kondisi jasmani dan kesehatan. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan pese rta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik. langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahan nya. proses. Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan . emosi. (2) diri pribadi. Prayit no dkk. Melakukan analisis sosiometris. Instrumen ini sangat membant u untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik. (6) pendidikan dan pelajaran. de ngan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan peny esuaian sosial b. karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. (3) hubungan sosial. dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kega galan belajar yang dihadapi peserta didik. dan (2) faktor eksternal. ataupun out put belajarnya. rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. Maintain good relationship. d. yaitu : (1) faktor internal. kepribadian. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar peserta didik. seperti : lingkungan rumah. lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. (8) hubungan muda-mudi. Burton mem bagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik. faktor yang b esumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri. langkah ini merupakan upaya untuk memaha mi jenis. upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. Prognosis. W. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pad a hubungan kegiatan belajar mengajar saja. Untuk mengidentifikasi masalah peserta didik.H. (4) ekonomi d an keuangan. dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Melakukan analisis terhadap hasil belajar pes erta didik. b isa dilihat dari segi input. c. menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta did ik akan masalah yang dihadapinya. 4. Identifikasi Masalah.2. Diagnosis. penuh keakraban s ehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik . bakat. (3) behavioral . seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan. sikap serta kondisi-kondisi p sikis lainnya. permasalahan peserta didik dapat berkenaan de ngan aspek : (1) substansial – material. misalnya melalui kegiatan ekstra kuri kuler. nilai dan moral. kecerdasan.

jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbi ng sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten.menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. 2. 7. dan 3. sesuai dengan dasar pertimbang an dan keputusan yang telah diambilnya. Peserta didik telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perba ikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Ro binson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari k eberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan. Pese rta didik telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan ma salahnya secara obyektif (self acceptance). Rencana kegiatan yang ak an dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewu judkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. e. Sementara itu. Perasaan positif sebagai dampak dari p roses dan materi yang dibawakan melalui layanan. cara manapun yang ditempuh. Namun. 3. Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu : 1. Peserta didik mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling. f. jika j enis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembel ajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pem bimbing. 4. Peserta didik telah menurun penentan gan terhadap lingkungannya 6. Evaluas i dan Follow Up. mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan r asional. Peserta didik telah menurun keteg angan emosinya (emotion stress release). de ngan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani k asus . 5. . untuk melihat seberapa penga ruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. Peserta didik telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. Pese rta didik telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus). 2.kasus yang dihadapi. pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimb ing itu sendiri. Proses mengambil keput usan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas. evaluasi atas usaha pemecahan masal ah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut. yaitu apabila: 1.

berkelahi dengan teman sekolah. berpacaran. Masalah (kasus) berat. Oleh karena itu. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah b erserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. Masalah (kasus) ringan. dengan perbuatan menyimpang. Sofyan S. minum minuman keras ta hap awal. mencuri kelas sedang. Kasus berat dilaku kan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik . namun perlu diingat bahwa tidak semua masalah peserta didik harus ditangani oleh Guru Pembimbing (ko nselor). ahli/profesional. Kasus sedang di bimbing oleh guru pembimbing (konselor). ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kas us. dengan berkonsultasi dengan kepala seko lah. Proses Konseling dan Teknik-Teknik Konseling Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. b. berpacaran. seperti : gangguan emosional. perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. dokter. kes ulitan belajar. berkelahi antar sekolah. seperti : gangguan emosional berat. guru dan sebagainya. Dalam hal ini. memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebi h dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan .5. malas. Masalah (kasus) sedang. melakukan gangguan sosial dan asusila. peserta didik hamil. polisi. tampaknya untuk lay anan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. minum minuman keras tahap pertengah an. kesulitan belajar pada bid ang tertentu. sebagaimana dalam bagan berikut : Ringan Masalah peserta didik Sedang Berat Semua Guru/Wali Kelas Guru Pembimbing Alih Tangan Kasus a. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. mencuri kelas ringan. seperti : membolos. Dalam prakteknya. c. poli si. Dapat pula mengadakan konfer ensi kasus. kecand uan alkohol dan narkotika. 6. bertengkar. Karena layanan yang sa tu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. percobaan b unuh diri. Kasus ringan dibimbing oleh wali kel as dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing ) dan mengadakan kunjungan rumah. pelaku kriminalitas. karena gangguan di keluarga. Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah Bimbingan terhadap peserta didik bermasalah tetap menjadi perhatian bimbingan dan konseling.

diantaranya : a. Taha p Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama a ntara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. kesukarelaan. yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. b. 3. dan (3) tahap akh ir (tahap perubahan dan tindakan). yaitu berapa la ma waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. 2. Menjelajahi dan mengeksp lorasi masalah klien lebih dalam. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). dan kegiatan. Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masa lah klien. Pada tahap ini terda pat beberapa hal yang harus dilakukan. berisi : 1. . diantaranya : a. c. Menegosiasikan kontrak Membangun per janjian antara konselor dengan klien. t erutama asas kerahasiaan. (2) tahap inti (tahap kerja). 1.konseling. a. Kontrak tugas. Proses Konseli ng Secara umum. d. Kontrak waktu. Me mbangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). proses konseli ng selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. dan menentukan berbagai alterna tif yang sesuai bagi antisipasi masalah. Memperjela s dan mendefinisikan masalah. Kunci keberhasilan m embangun hubungan terletak pada terpenuhinya asasasas bimbingan dan konseling. Kontrak kerja sama dalam proses konseling. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pen gentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. 2 . keterbukaan. Membuat penaksiran dan perjajagan Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan.

Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. c. Adanya rencana hidup masa yang akan datang deng an program yang jelas. Teknik-Teknik Konseling Dalam konseling perorangan terdapat dua jenis teknik yang biasa dilakukan. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian sege ra). Untuk lebih jelasnya. Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konse ling. Konselor melakukan reassessment (p enilaian kembali). Menyusun rencana tindakan yang a kan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. Teknik U mum Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapantah apan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh kon selor. c. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. 2. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik kons eling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. Menurunnya kecemasan klien Perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. Hal ini bisa terj adi jika : 1. c. di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. 1. d. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. yaitu : a. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. b. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadap i klien. baik oleh pihak konselor maupun klien. serta menampakan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Konselor bersama klien membua t kesimpulan mengenai hasil proses konseling b. diantaranya : . ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. sehat dan dinamis. b. Tahap Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terd apat beberapa hal yang perlu dilakukan. yaitu : (1) teknik umum dan (2) teknik khusus. Pemahaman baru dari klien t entang masalah yang dihadapinya. a. 3. d. yaitu . b.

mengalihkan pandangan. dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka. Memutuskan pembicaraan. jarak duduk dengan klien menjauh. Empati primer. duduk kurang akrab dan berpaling. Menciptakan suasa na yang aman 3. 4. Kepala : melakukan anggukan jika setuju 2. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. Empati dilakukan sejalan dengan per ilaku attending. yaitu : a. Terdapat du a macam empati. Meningkatkan harga diri klien. berbicara terus tan pa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. 3. menunggu ucapan klien hingga selesai. 4. diam (menanti saat kesempatan bereaksi).a. Perilaku at tending yang baik dapat : 1. tidak melihat saat klien sedang bicara. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. bahasa tubuh. Per hatian : terpecah. duduk akrab berhadapan atau berdamping an. Muka : kaku. yaitu bentuk empati yang hanya berusah a memahami perasaan. Mendengar kan : aktif penuh perhatian. senyum 3. 2. Contoh ungkapan empati primer : . b. mata melotot. merasa dan berfikir bersa ma klien dan bukan untuk atau tentang klien. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. Contoh perilak u attending yang baik : 1. Contoh perilaku attending yang tidak baik : 1. Kepala : kaku 2. 5. bersandar. ceria. Empati Empati ialah kemamp uan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien. Posisi tubuh : tegak kaku. ekspresi melamun. Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. mudah buyar oleh gangguan luar. Ekspresi w ajah : tenang. pikiran dan keinginan klien. jarak antara konselor dengan klien agak dekat. miring. 5. perhatian terarah pada lawan bicara. dan bahasa lisan. menggunakan tangan sebagai isyarat.

. berupa perasaan. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentan g perasaan.” ” Barangkali Anda merasa.. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”. pengalaman termasuk penderitaanny a.” 3.” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”.” ” Hal itu rupanya sep erti . Empati tingkat tinggi. dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku v erbal dan non verbalnya. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : ”Saya dapat merasakan apa yang Anda ras akan. pikiran.. Refleksi pikiran. dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terha dap perilaku verbal dan non verbal klien. yaitu : 1.. b... pikiran. Terdapat tiga jenis refleksi. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan. Refleksi peras aan. Keiku tan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam. yaitu empati apabila kepaha man konselor terhadap perasaan. dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”... yaitu teknik untuk memantulkan pengalamanpengalaman klien seba gai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien..” 2... Ref leksi pengalaman. Contoh : ” Tamp aknya yang Anda katakan adalah .(kiasan)” ” Adakah yang Anda maksudkan. . ” Sa ya mengerti keinginan Anda”. yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebag ai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien.. yaitu teknik u ntuk memantulkan ide.” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah. c. pikiran.. pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih m endalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut.” ” Adakah yang Anda maksudkan... .

yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. Eksplorasi pengalaman. Eksplorasi peras aan. pikiran. yaitu : 1.. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ?” 2..” d. tertekan dan terancam.. Hal ini penting d ilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin. pikiran. dan pendapat klien. Contoh : ” B isakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan .” ” Adakah yang Anda maksudkan peristiwa..” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah. atau tidak m ampu mengemukakan pendapatnya. menutup diri.Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu. Eksplorasi pi kiran. mengungkapkan kalim at yang mudah dan sederhana. Dapatkah Anda menguraikannya lebih lanjut ? 3.. yaitu keterampilan atau teknik untuk me nggali pengalaman-pengalaman klien. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan. terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi. yaitu teknik untuk menggali ide... Seperti halnya pada teknik re fleksi. Contoh : ” Saya terkesan dengan pengalaman yan g Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut da n pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” e.. dan pengalaman klien. biasanya ditandai . Contoh : ” Sa ya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bek erja” ” Saya kira pendapat Anda mengenai hal itu baik. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut.” ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangka p Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien..

” Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk meman cing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. Pertanyaan yang d iajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. Oleh karenanya. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan perta nyaan tertutup. bagaimana. yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-ka ta singkat. akan tetapi saya tidak mengambilnya. dapatkah. dan (3) menghentikan pembicaraan klien yan g melantur atau menyimpang jauh. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus m enggunakan pertanyaan terbuka. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan . : ” Itu suatu pe kerjaan yang baik. Pertan yaan semacam ini akan menyulitkan klien. dan mengamati respons klien terhada p konselor. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” : ” Tampaknya Anda masih ragu. Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada kli en bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan kli en. lebih baik gunakan kata tanya apakah. : ” Empat ” : ” Sekarang berapa ” Konselor Klien Konselor . Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. Contoh dialog : Klien Konselor f. : ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”. (2) m enjernihkan atau memperjelas sesuatu. adakah . dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tent ang apa yang dikemukakan klien. Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” ” Bagaimana perasaan Anda saat ini ?” ” Dapatkah Anda mengemukakan hal itu lebih lanju t ?” g.dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatk an prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”. (3) mem beri arah wawancara konseling. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-s ebabnya. pengalaman dan pemikiranny a dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question).

Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan. Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemuk akan klien.” Konselor Klien : ” nekad bunuh diri” : ” lalu. Membantu orang tua memang harus. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan me ngurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien. Konselor j..Klien : ” Sebelas ” h. dan saya nyaris.. bukan pandangan subyektif konselor..dan... .Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh. maka d ibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas.. Karena tantangan masa depan makin banyak. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhent i sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga.. terus.... n amun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalka n SMA”. ” (klien menghentika n pembicaraan) : ” ya. ya.” Konselor i.. karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya.. dengan tujuan untuk me mberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dar i hasil rujukan baru tersebut. Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran.. Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa. lalu...... Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau me nghayalkan sesuatu. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melaku kan sesuatu. Terutama hi dup di kota besar seperti Anda. perasaan dan pengalaman klien dengan meru juk pada teori-teori. ..” : ” Pendidikan t ingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara....

dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntuta n dari perusahaan yang akan Anda masuki. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” m. klien akan mengungkapkan sejumla h permasalahan yang sedang dihadapinya. kedua. Saya tak dapat lagi menahan diri. baga imana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda. Oleh karena itu. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . C ontoh dialog : Klien Konselor :” Saya mungkin berfikir juga tentang hubungan denga n pacar. Ak hirnya terjadi pertengkaran sengit. (3) meningkatkan kualitas diskusi. kita sudah sampai pada dua hal: pertama. konselor seyogyanya dap at membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alan gkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. Pada umumnya dalam wawancara konseling. (4) mempertajam foku s pada wawancara konseling. Tujuan menyimpulkan semen tara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan.” : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya.Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan A nda segera menyelesaikan studi. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan. Misalnya den gan mengatakan : . Tapi bagaimana ya?” masalah : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja.” Konselor k. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembi caraan. namun masih ada hambatan yang akan hadapi.” l. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementar a pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pemb icaraan secara bertahap.

Peng gunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. (2) meningkatkan potensi klien. ide awal dengan ide berikutnya. (3) membawa klien ke pada kesadaran adanya diskrepansi. dan sebagainya. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki. 4. (suara rendah. Fokus pada orang lain. Fokus pada topik. senyum dengan kepedihan. Fokus pada diri klien.” n. Co ntoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri o leh kaum wanita. konflik.” . telah membuat kamu menderita. Konfrontasi Yaitu t eknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan d engan perbuatan atau bahasa badan. atau kontradiksi dalam dirinya. Contoh dialog : Klien : ” Saya baik-baik saja”. Ada beberapa yang dapat dilakukan. di antaranya : 1. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. yaitu dengan : (1) membe ri komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yan g tepat.(2) tidak menilai apalagi menyalahkan. posisi tubuh gelisah). Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? P ikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. wa jah murung. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan pe nelitian diri secara jujur. Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. (3) dilakukan dengan perilaku att ending dan empati. Fokus mengenai budaya. Contoh : ” Tanti. ” Tampaknya Anda berjuang sendirian” 2.” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan A nda dengan orang tua yang kurang harmonis ”. Co ntoh : ” Roni.

. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya.... ucapan dengan o... tapi kelihatannya ada yang tidak beres” ”Saya melih at ada perbedaan antara kenyataan diri ”. (2) sev agai protes jika klien ngomong berbelit-belit.” : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pem impin di rumah itu..” (diam) Konselor r. ungkapan kata-kata yang tega s.. mengulang da n mengilustrasikan perasaannya. atau saudara-saudara Anda.... dan dengan alasan-alasan yang logis. (2) agar klien menjelaskan... Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir.. (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara.. Diam Teknik diam dilakukan deng an cara attending.Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja. Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” :”.... :”.... pikiran. Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar.. tidak tahu.. kurang jelas dan agak meragukan..” q.. ibu....” (diam) Konselor Klien :” Saya. Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien de ngan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan. dan penga lamannya secara bebas Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal. Tujuannya adalah : (1) mengu ndang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas.harus bagaimana. Saya. paling lama 5 – 10 detik.” Konselor p. Mengambil Inisiatif . Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi d i keluarga saya membuat saya bingung....

Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembic araan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini. Contoh : ” Nah. (3) pemahaman baru . terutama mengenai kecemasan. dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya . u.upi. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia. s.” t. Contoh: ” Baiklah. Memberi N asehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. (2) memantapkan rencana klien. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan. Kalau pu n konselor mengetahuinya. dan kurang parisipatif. saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www. Walaupun dem ikian. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling y akni kemandirian klien harus tetap tercapai. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir ses i konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action). Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat.com di internet”. jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. p erbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. Contoh respons konselor terhadap pe rmintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab. Coba Anda renungkan kembali”.Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara. saya pikir Anda mempunyai s atu keputusan namun masih belum keluar. konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nase hat atau tidak. apakah tidak lebih b aik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” v. sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam me nuntaskan diskusi. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kur ang semangat. sering d iam. (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan.

Dalam hal ini k onselor . Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. yaitu : a. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengaj arkan klien untuk rileks. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya a dalah layak atau benar. jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan. Teknik-Teknik Khu sus Dalam konseling. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikeh endaki dapat dihilangkan secara bertahap. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilak u baru pada klien. dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutny a. Ration al Emotive Theraphy. Teknik-teknik khusus ini dikemban gkan dari berbagai pendekatan konseling. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disen anginya dengan kebalikan stimulus tersebut. d. seperti pendekatan Behaviorisme. c. b.klien. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. dan ia menyertakan respon yang b erlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. dalam hal-hal te rtentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. Stimulus yang tidak menyenangkan yan g disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang t idak dikehendaki kemunculannya. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Jadi desensitisasi sistematis hakekatn ya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperku at secara negatif biasanya merupakan kecemasan. kesulitan menyata kan tidak. di samping menggunakan teknik-teknik umum. dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang d iperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku y ang akan dihilangkan. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. Diskusi-diskusi kelomp ok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling. 2.

menunjukkan kepada klien tentang perilaku model. 5. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari k onselor. f. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampakny a mekanis..dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. Kecenderungan orang tua lawan kecenderun gan anak. Dalam teknik ini konselor memint a klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pern yataan itu dengan kalimat : “. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. dapat menggunakan model audio. 4. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya kl ien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resik o. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien ak an perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderung an under dog. g. dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahu an itu”. Melalui dialog yang kontradiktif ini. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah.. model fisik. 3. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “ku rsi kosong”. misalnya : 1. “Saya malas. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan u ntuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada me mproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. Permainan Dial og Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kec enderungan yang saling bertentangan. Bermain Proyeksi P royeksi : . Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. Kecenderungan otonom lawan kecende rungan tergantung. Kecend erungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”. 2. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu a pa yang harus saya katakan sekarang. e. Misalnya : “Saya merasa jenuh.

mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah a spek-aspek . Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang ber kebalikan dengan perasaanperasaan yang dikeluhkannya.Memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau m elihat atau menerimanya Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memant ulkannya kepada orang lain. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakuta n atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk men yelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu . Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang le bih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. klien diharapkan dapat me ngurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional da n tidak logis. Sering terjadi. Dalam teknik bermain proyek si konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang di proyeksikan kepada orang lain. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku t ertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mend asarinya. Dengan tugas rumah yang diberikan. T eknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. perasaan-perasaan yang dipantulkan k epada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. h. j. Misalnya : konselor member i kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu ya ng berlebihan. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perila ku yang diharapkan. i. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klie n yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sa ngat ingin menghindarinya. membiasaka n diri. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenang kan. Home work assigments.

Latihan : Soal : 1. Bimbingan dan konseling meru pakan upaya untuk membantu mengatasi masalahmasalah yang dihadapi peserta didik. Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. D. mendorong. Bimbingan dan konseling merupak an bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi. d.kognisinya yang keliru. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tert entu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif . baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal. k. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. bimbingan sosial. da lam bimbingan pribadi. Di bawah ini merupakan pengertian bimbingan dan konseling. kecuali : a. Teknik ini dimaksu dkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. kepercayaan pad a diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. dan merencanakan masa depan. bimbingan belajar. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. m engenal lingkungan. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. Bimbi ngan dan konseling merupakan proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah. m. Bimbingan dan konseling merupakan layanan bantuan untuk peserta didik. . dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus meny esuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. dan bimbingan karier . c. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian r upa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui pera n tertentu. l. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas ya ng diberikan. b. keluarga dan masyarakat.

a. dan c benar 8. d. c. d. setiap l ayanan yang diberikan kepada peserta didik hendaknya didukung oleh : a. b. d. d. b. je nis kelamin. Memperoleh keterangan yang lebih lengkap tentang klien dan membangun komitmen dari para pes erta konferensi dalam rangka pengentasan masalah klien. 4. Orientasi Informasi Konseling Perorangan Pembelajaran 7. a. berdasarkan norma-norma y ang berlaku. Tujuan dilaksanakan kegiatan konferensi kasus. b.melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. Pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas kemauan diri sen diri b. d. Oleh karena itu. 2. b. Prinsip bimbingan dan konseling berkenaan dengan sasaran layanan a. suku. Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang usia. Pemahaman dan pencegahan Pengembangan Advokasi Pengentasan 3. tut wuri handay ani a. c. Bimbingan dan konseling merupakan pekerjaan ilmiah. a. Bimbingan dan konseling diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri. kemandirian. b. Jenis layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tat ap muka untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan diriny a. keterbukaan. c. Fungsi bimbingan dan konseling yang menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hak-hak dan/atau kepentingan pendidikan. keahlian kegiatan. Petugas bimbingan yang profesional Data yang lengkap dan memadai Bekerja sama d engan kalangan profesional lainnya a. c. c. a. kedinamisan. d. Program bimbingan dan konseling h arus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan. . 6. b. Mencari cara yang terbaik g una menyelamatkan kepentingan dan nama baik klien maupun sekolah. alih tangan kasus. agama dan status sosial. dan c benar Orientasi dan Informasi Konseling Perorangan dan Konseling Kelompok Pembelajaran dan Bimbingan Kelompok Penempatan 5. b. sukarela. c. Di bawah ini merupakan beberapa asas yang harus dipenuhi dalam layanan bimbingan dan konseling. kerahasiaan. kek inian. keterpaduan kenormatifan. a. b. Layanan bimbingan dan konseling yang memiliki fungsi pemahaman dan pencegahan .

Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ? ” d. Teknik konseling dengan menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. d. karena s aya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. c. 14. a. a. c. Membuat penaksiran dan perjajagan 13. a. ”Anda mengatakan baik-baik saja. b. seperti bolos. b. b. Di bawah ini merupakan hal-hal yang perlu dilakukan pada tahap awal konselin g. ”Saya dapat memahami pikiran Anda”. d. d. b dan c ben ar 11. Guru pembimbing/konselor Guru dan wali kelas Polisi a. a. c. Kegiatan pendukung yang dilakukan guru atau konselor.” b. Menjelajahi dan mengeksplorasi mas alah klien lebih. Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanp erasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingg a klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. Upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timb ulnya masalah peserta didik. berkelahi dengan teman. ta pi kelihatannya ada yang tidak beres”. Kunjungan rumah Ko nferensi kasus Alih tangan kasus Aplikasi instrumentasi data 10. dan c benar penegakan 9. Penanganan peserta didik yang menunjukkan permasalahan atau perilaku menyimp ang tingkat ringan. apabila kasus yang dita ngani berada diluar kemampuan atau kewenangannya. b. Membangun komitmen dari para peserta konferensi dalam rangka disiplin sekolah . Contoh ungkapan pengg unaan teknik konfrontasi : a. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). Aversi Desensitisasi Latihan asertif Pembentukan Perilaku Model 15. kecuali a. d. a. dapat dilakukan oleh : a. d.c. b. c. ”Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. c. d. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendala m. Identifikasi kasus Diagnosis Prognosis Treatment 12. b. c. Imitasi b. Permainan dialog .

c. Bermain peran d. Home work assigments Uraian 1. Jelaskan orientasi baru bimbi ngan dan konseling ! 2. Jelaskan peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran da lam Bimbingan dan Konseling ! 3. Mengapa guru pembimbing (konselor) perlu menjag a kerahasiaan data klien ? 4. Analisis Kasus : Fulan seorang siswa kelas XI SMA Negeri 1 Nunjauh Disana. Ketika dia masih duduk di bangku kelas VIII SMP, dia te lah menjadi anak yatim dan semenjak itu dia hidup bersama dengan kakek-neneknya, dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Sementara itu, sang ibu sudah satu tahun ini pergi merantau ke Malaysia menjadi TKI di sana namun jarang memberi khabar apalagi memberi kiriman uang untuk anaknya. Berdasarkan catatan absensi yang ada di wali kelas, pada semester yang lalu dia sering tidak masuk sekolah, tanpa al asan yang jelas. Selama bulan Februari 2006, tercatat sudah tujuh hari dia tidak masuk kelas. Padahal ketika masih duduk di kelas X kehadirannya termasuk bagus. Berdasarkan informasi dari rekan sekelasnya, bahwa jika dia tidak masuk kelas, dia suka nongkrong di terminal. Bahkan Andi, kawan sekelasnya, pernah menyaksika n dia dalam keadaan teler di terminal dan sempat meminta paksa uang kepadanya. D alam buku Laporan Pendidikan semester yang lalu, prestasi belajarnya sungguh san gat tidak memuaskan, hampir terjadi pada semua mata pelajaran, kecuali untuk Mat a Pelajaran Kesenian, prestasinya malah jauh berada di atas kawan-kawannya. Keti ka dia masih duduk dibangku SD, dia pernah meraih predikat sebagai Siswa Berpres tasi seKecamatan Nunjauh Disana dan pernah menjadi Juara Pertama Lomba Nyanyi An akAnak se- Kabupaten Nun Jauh Disana. Melihat kondisi demikian, jika dibiarkan t entunya Fulan sangat beresiko tinggi untuk tidak naik kelas bahkan mungkin dikel uarkan dari sekolah. Tugas : Tuntaskan kasus tersebut di atas dengan memperhatik an dan menggunakan prinsipprinsip dan prosedur bimbingan dan konseling !

DAFTAR PUSTAKA Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Rem aja. Calvin S. Hall & Gardner Lidzey (editor A. Supratiknya). 2005. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Chaplin, J.P. (terj. Kartini Kartono ).2005. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : P.T. Raja Grafindo Persada. Depdiknas , 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkata n Tenaga Akdemik Dirjen Dikti --------- 2003. Pedoman Penyelenggaraaan Program P ercepatan Belajar SD, SMP dan SMA. Jakarta : Dirjen Dikdasmen. E. Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep,Karakteristik dan Implementasi.Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya. ---------. 2004. Implementasi Kurikulum 2004; Panduan Pe mbelajaran KBK. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya. Gendler, Margaret E..1992. Lea rning & Instruction; Theory Into Practice. Publishing. New York : McMillan H.M. Arifin. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta. PT Golden Tera yon Press. Hurlock, Elizabeth B. 1980. Developmental Phsychology. New Yuork : Mc Graw-Hill Book Company Moh. Surya. 1997. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung PPB - IKIP Bandung. Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : PT Raja Grafindo. Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendid ikan. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya. National Board for Professional Teaching Standards. 2002 . Five Core Propositions. NBPTS Home Page. <http://www.nbpts.or g/ standards/fivecore.html>. (Accessed, 31 Oct 2002). Prayitno, dkk. 2004. Pedom an Khusus Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdiknas. ----------, dkk. 2004. P anduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Rineka Cipta.

Sofyan S. Willis. 2004.Konseling Individual; Teori dan Praktek. Bandung : Alfabe ta Sudarwan Danim. 2002. Inovasi Pendidikan : Dalam Upaya Meningkatkan Profesion alisme Tenaga Kependidikan. Bandung : Pustaka Setia. Sugiharto.(2005. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Jakarta : PPPG Sumadi Suryabrata. 1984. Psikologi Ke pribadian. Jakarta : Rajawali. Sunaryo Kartadinata.2003. Inventori Tugas Perkemb angan. Bandung : Lab. PPB-UPI Bandung Suyanto dan Djihad Hisyam. 2000. Refleksi dan Reformasi Pendidikan Indonesia Memasuki Millenium III. Yogyakarta : Adi Cita . Syamsu Yusuf LN. 2003. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.. Bandung : PT R osda Karya Remaja. www.puskur.go.id.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful