POKOK – POKOK MATERI PERKULIAHAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Arwin Zoelfatas BAB I PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN PERILAKU A. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini, diharapkan Anda dapat : 1. Mendefinisik an psikologi dan psikologi pendidikan 2. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan in dividu, indikator-indikator motivasi, bentukbentuk konflik, bentuk-bentuk perila ku salah-suai dan taksonomi perilaku individu. 3. Menjelaskan psikologi pendidik an sebagai ilmu, arti penting psikologi pendidikan bagi guru, peranan dan pengar uh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku individu. 4. Mengurai kan mekanisme pembentukan perilaku menurut pandangan behaviorisme dan holistik. B. Pokok Bahasan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan. 2. Perilaku Individu. 3. Ta ksonomi Perilaku Individu. 4. Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan Perilaku da n Pribadi Individu. C. Intisari Bacaan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup , dan “logos” atau ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut seolah-olah psikologi merup akan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu pada s alah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat ji ka kita mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tenta ng jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diam ati secara langsung. Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mung kin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dala m bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demik ian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tenta ng perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Psikologi terbagi ke dalam dua bagian yaitu psikologi umum (general phsychology) yang mengkaji per ilaku pada umumnya dan psikologi khusus yang mengkaji perilaku individu dalam si tuasi khusus, diantaranya :

Psikologi Perkembangan; mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perk embangan mulai dari masa konsepsi sampai dengan akhir hayat. Psikologi Kepribadi an; mengkaji perilaku individu khusus dilihat dari aspek – aspek kepribadiannya. P sikologi Klinis; mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan (klinis) Psikologi Abnormal; mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal. Psikolo gi Industri; mengkaji perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia industri. P sikologi Pendidikan; mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan Disampi ng jenis – jenis psikologi yang disebutkan di atas, masih terdapat berbagai jenis psikologi lainnya, bahkan sangat mungkin ke depannya akan semakin terus berkemba ng, sejalan dengan perkembangan kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks. Psi kologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah mem iliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni : Ontologis; obyek dari psikologi p endidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, oran g tua peserta didik dan masyarakat pendidikan. Epistemologis; teori-teori, konse p-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdas arkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross se ctional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif. Aksiol ogis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapa ian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan. Dengan demikian, psikologi pend idikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus me ngkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk me nemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapai an efektivitas proses pendidikan. Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari p sikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pen didikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Prose s Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupak an beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya membutuhkan psikolo gi. Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang di dalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik, adminsitrator, masyarakat dan orang tua pes erta didik. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efekti f dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogya nya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilak unya secara efektif.

agar perilaku peserta didi k dapat berkembang optimal. tentu saja seorang guru seyogyanya dapat memahami te ntang bagaimana proses dan mekanisme terbentuknya perilaku para peserta didiknya . dengan memahami psikologi pendidikan. Selain itu. Di bawah ini akan diuraikan mekanisme pembentukan p erilaku dilihat dari kedua pendekatan tersebut dengan merujuk pada tulisan Abin Syamsuddin Makmun (2003).Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing. Dalam hal ini. (e) memfasilitasi dan memotivasi belajar pes erta didik. a. (b) memilih strategi atau metode pembelajaran. baik untuk kepentingan pembelajaran.--terutama peri laku peserta didik dengan segala aspeknya--. Di sinilah arti penting Psikolog i Pendidikan. pembimbingan serta berbagai kegiatan pendidikan lainnya. 2. tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bah wa diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adal ah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar menga jar peserta didik. sehingga dapat menjalankan tugas da n perannya secara efektif. Abin Syamsuddin Makm un (2003) menyebutkan bahwa tugas guru antara lain sebagai pengubah perilaku pes erta didik (behavioral changes). pengelolaan kelas. (g) berinteraksi secara bijak dengan peserta didiknya. yaitu: (1) behaviorisme dan (2) holistik atau humanisme. Perilaku Individu Salah satu tugas utama guru adalah berus aha mengembangkan perilaku peserta didiknya. dan (i) dapat me ngadministrasikan pembelajaran secara efektif dan efisien. (d) memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling kepada peserta didiknya. yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyat a bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. pendidik dan pelatih bagi pa ra peserta didiknya. seorang guru melalui pertimb angan-pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat : (a) merumuskan tujuan pembel ajaran. Oleh karena itu itu. Ke dua pendekatan ini memiliki implikasi yang luas terhadap proses pendidikan. . (c) memilih alat bantu da n media pembelajaran yang tepat. dengan me mahami Psikologi Pendidikan para guru juga dapat memahami dan mengembangkan diri -pribadinya untuk menjadi seorang guru yang efektif dan patut diteladani. Pengua saan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang haru s dikuasai guru. yakni kompetensi pedagogik. yang salin g bertolak belakang. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Behav iorisme Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melal ui proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau me nciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan. Untuk memahami perilaku individu dapat dilihat dari dua pendekatan. (f) menciptakan iklim belajar yang kondusif. (h) menilai hasil pembelajaran.

Ruangan kelas yang panas mer upakan lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S) bagi mahasiswa tersebut (O). Ruan gan kelas yang gelap. maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini : W S O R W Yang dimaksud dengan lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua je nis yaitu : (1) Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu da n secara potensial dapat melahirkan S). sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan.Behaviorisme menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya perilaku in dividu dapat digambarkan dalam bagan berikut : S R atau S O R S = stimulus (rangsangan). ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow). waktu sore hari. Contoh : seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa panas. Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga d itujukan kepadanya. R = Respons (perilaku. aktivitas) dan O=organisme (in dividu/manusia). seca ra spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan respons (R) yang dilakukan mahas iswa. a da seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di ruangan kelas. -- . dan cuaca mendung merupakan lingkungan (W ). Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W) setelah mengipas-ngipaskan buku. Sedangkan perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut: W S Ow R W Contoh : ketika sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kel as yang terasa agak gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung. secara spontan mahasiswa tersebut mengipasngipaskan buku untuk meredam kegerahannya. (2) Lingkungan efektif (umwelt=segala sesu atu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga me nimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia meresponsnya) Perilaku y ang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan peri laku spontan.

.

Holistik atau humanisme menjelas kan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa). Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Holistik (Humanisme) Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan. otot dan sebagainya yang merupakan pelaksana gerak R). sehingga tulisan dosen di papan tulis tidak terbaca dengan baik. motif. b. berjalan ke depan. yakni perilakuny a itu sendiri. yang berarti aspek-aspek intrinsik (niat. tekad) dari dalam d iri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku. bagan di atas dapat dijelaskan bahw a mahasiswa yang sadar (Ow) mungkin merasakan penglihatannya (receptor) menjadi tidak jelas. Me nggerakkan kaki menuju ke depan. Sebenarnya. dan w hy (mengapa). How (bagaimana) menunjukkan kepada j enis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose). baik bersumber dari diri indiv idu itu sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (m otivasi ekstrinsik). dapat dijelaskan dalam bagan berikut : Kebutuhan dirasakan (felt needs) Dorongan (motivation) Aktivitas yang dilakukan (Instrumental behavior) Tujuan dihayati (goals/ incentive) . how (bagaimana). mengucapkan minta izin kepada dosen. proses dan mekanisme terjadinya perilaku menurut pandangan Holistik.meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak meny adari terhadap keadaan sekelilingnya--. Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggera kan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how). masih ada dua unsur pen ting lainnya dalam diri setiap individu yang mempengaruhi efektivitas mekanisme proses perilaku yaitu receptors (panca indera sebagai alat penerima stimulus) da n effectors (syaraf. What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/ purpose) a pa yang hendak dicapai dengan perilaku itu. meminta ijin ke dosen . tangan men ekan saklar lampu merupakan effector. meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan. Sele ngkapnya mekanisme perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut : Ow W S r e R W Dengan mengambil contoh perilaku sadar tadi. suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyama n dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W). Secara skematik rangkaian. dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa yang sada r tersebut (R).

Stranger (Nana Syaodih Sukmadinata.Berdasarkan bagan di atas tampak bahwa terjadinya perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan. yang dapat digambarkan sebagai berikut : Motif Rasa puas atau kecewa Perilaku Instrumental Tujuan . dan (5) kebutuhan aktualisasi dir i. akan merasakan adanya kekurangan-kekurangan atau kebutu han-kebutuhan tertentu dalam dirinya. tidak dalam arti fisi k. Dalam hal ini. (4) kebutuhan prestise atau harga diri. pangan dan papan. yaitu kebutu han untuk mengikat diri dalam kelompok. (2) kebutuhan keamanan. yaitu kebutuhan untuk berkompetisi. akan tetapi juga mental. Setiap individu. Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motiva si) yang merupakan kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat pe rsistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu aktivitas. membentuk keluarga. baik yang bersum ber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar i ndividu (motivasi ekstrinsik). demi mempertahankan kelangsungan dan meningk atkan kualitas hidupnya. (3) kebutuhan kasih sa yang atau penerimaan. se perti : sandang. Tingkatan kebutuhan tersebut dapat diragakan seperti tampak dalam gambar beri kut ini : SELF ACTUALIZATION ESTEEM NEEDS LOVE NEEDS SAFETY NEEDS PHYSIOLOGICAL NEEDS Sementara itu. yaitu: (1) Kebutuhan berprestasi (need for achievement). psikologikal dan intelektual.2005) mengetengahkan empat jen is kebutuhan individu. yait u kebutuhan untuk menghindar diri dari kegagalan atau sesuatu yang menghambat pe rkembangannya. (4) Kebutuhan takut akan kegagalan (need for fear of failure). organisasi ataupun p ersahabatan. Maslow mengungkapkan jenisjenis kebutuhan-individu secara hierarkis. (2) Kebutuhan berkuasa (need for power). Jika kebutuhan yang serupa muncul kembali maka po la mekanisme perilaku itu akan dilakukan pengulangan (sterotype behavior). baik dengan dirinya atau dengan orang lain d alam mencapai prestasi yang tertinggi. yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status. (3) Kebutuhan untuk membentuk ikatan (need for affiliation). yaitu kebutuhan untuk mencari dan memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang lain. yaitu: (1) kebutuhan fisiologikal. sehin gga membentuk suatu siklus.

(7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari keg iatan yang dilakukan. Bentukbentuk konflik tersebut diantaranya adalah : 1. 3. yaitu : 1. (3) persistensi pada kegiatan. melarikan diri. minum. seperti : dorongan untuk makan. dikehendaki serta bersifat positif. menunjukkan kepada m otif yang berkembang dalam individu karena pengalaman dan dipelajari. menunjukkan kepada motif yang tidak pelajari. maksu d dan aspirasi serta motif berprestasi. (4) ketabahan. Dalam diri indiv idu akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada tujuan tertentu. konformitas dan sebag ainya). Approach-approach conflict. 2. j ika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sam a-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. setiap aktivitas ya ng dilakukan individu akan mengarah pada tujuan . untuk keperluan studi psikologis. Untuk memahami motivasi individu dapat d ilihat dari indikator-indikatornya. dikenal de ngan istilah drive.Berkaitan dengan motif individu. manipulasi. Approach-avoidance con flict. menye rang. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih. dis ebutkan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam dirinya. Motif sekunder. motif-motif obyektif dan interest (eksplorasi. menyelamatkan diri dan sejenisnya. (5) devosi dan pengorbanan untuk mencap ai tujuan. (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakuk an. (2) frekuensi k egiatan. motif individ u dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan. (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan. Deng an beragamnya motif yang terdapat dalam individu. seperti : takut yang dipelajari. yaitu : (1) durasi kegiatan. 2. Avoidance-avoidance conflict. Motif primer (basic motive dan emergency motive). motif-motif sosial (ingin diterima. Jika seorang individu dihadapkan pada bentuk-bentuk motif seperti dikemukakan di atas tentunya dia akan mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dan sangat mungkin menjadi perang batin yang berkepanjangan. keuletan dan kemampuan da lam mengahadapi rintangan dan kesulitan. Dalam pandangan holistik. j ika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sam a-sama kuat. yang satu positif dan dikehendaki dan yang lainnya motif negatif serta tidak dikehendaki namun sama k uatnya. adakalanya individu harus berh adapan dengan motif yang saling bertentangan atau biasa disebut konflik. minat).

Contoh 1 : Karen a gagal mengikuti mengikuti testing pada salah satu Fakultas di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration).tertentu. Reaksi individu terhadap frustrasi akan beragam bentuk perilaku nya. dan setelah mempertimbangkan segala sesuatunya (moralitas). Namun sebaliknya. m aka dia akan mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment). (5) represi (menekan p erasaan). Bentuk peril aku salah suai (maldjustment). Jika akal sehatny a berani mengahadapi kenyataan maka dia akan lebih dapat menyesuaikan diri secar a sehat dan rasional (well adjustment). jika akal sehatnya tidak berfungs i sebagaimana mestinya. . secara sukarela Arjuna memutuskan untuk melanjutkan pada salah program studi yang ada di FKIP UNIKU (sublimasi). (4) fiksasi. sejak awal dia sudah menyadari bahwa dia kekurangan pengetah uan. diantaranya : (1) agresi marah. perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya. (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di bi dang lain). tercapai atau tidak tercapai tujuan tersebut. Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membant u para peserta didiknya agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat menimbulkan perilaku salah-suai. jika tujuan tersebut tidak tercap ai dan kebutuhannya tidak terpenuhi maka dia akan kecewa atau dalam psikologi di sebut frustrasi. Untuk lebih jelasnya. (6) rasionalisasi (mencari alasan). inteligensi). dengan berbekal kesadaran diri bahwa dia memiliki potensi dalam bidang psiko logi pendidikan. (3) regresi (kemunduran perilaku). Namun. (2) kecemasan tak berdaya. (10) berfantasi (dalam angan-angannya. seakan-akan ia dapat mencapai tujuan yang didambakannya). yang dipe rolehnya dari setiap pertemuan tatap muka dengan dosen. Dalam hal ini. Ketika mengikuti perkul iahan Psikologi Pendidikan yang merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diik uti para mahasiswa. Untuk tujuan jangka pendekn ya. (7) proyeksi (melemparkan kesalaha n kepada lingkungan). bergantung kepada akal sehatnya (reasoning. sikap dan keterampilannya dalam bidang Psikologi Pendidikan sehingga dia me nyadari Psikologi Pendidikan merupakan kebutuhan bagi dirinya (need felt) dalam rangka mencapai tujuan-tujuannya (goals/incentives). di bawah ini akan dikemukaka n contoh terbentuknya perilaku berdasarkan pendekatan holistik. (8) sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang sejenis). Jika tercapai tentunya individu merasa puas dan memperoleh kese imbangan diri (homeostatis). dia berharap dapat memperoleh kemampuan baru berupa pengetahuan . Sekaligus juga dapat membe rikan bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan frustrasi. terdapat dua kemungkinan. sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan psikologi pendidikan.

kemudian dia dipaksa orang tuanya untuk melanjutkan pada salah sa tu program studi di FKIP UNIKU (motivasi ekstrinsik/substitusi). Setiap tugas yang diberikan diseles aikan dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu. sikap yang positif dan memil iki keterampilan yang bisa dibanggakan dalam menerapkan prinsip-prinsip psikolog i. Pada akhir semester. Keinginan dan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam bid ang psikologi pendidikan. dia benar-benar berharap dapat menjadi guru yang efektif dan kompet en. dia berharap dapat mela ksanakannya dengan sebaik-baiknya. dia belum menemukan apa tujuan kuliahnya. rekan-rekan seprofesinya sangat hormat dan kagum atas kinerja nya sebagai guru. dia berhasil meraih sebagai juara pertama. baik ketika selama menjadi mahasiswa maupun setelah menj adi guru (homeostatis). Setelah dia selesai kuliah dia menjadi guru di sebuah sekolah. Bagi dirinya. dia memperoleh nilai terbaik di kelasnya. Contoh 2 : Astrajingga rekan seangkatan Arjuna. Dia bercita-cita menjadi seorang ekonom. Begitu juga. Dia sangat mensyukuri atas segala keberhasilannya. . n anti pada saat mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). Dia juga sangat menyukai diskusi te ntang psikologi pendidikan dengan teman-temannya di luar kelas (perilaku instrum ental). dia memperoleh pengetahuan yang luas. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai untuk jan gka panjang. pada saat PPL dia termasuk mahasiswa praktikan yang disukai oleh peserta didiknya. memperoleh kesuksesan belajar dengan mendapatkan nilai A. bahkan kepa la sekolahnya meminta dia untuk menjadi guru di sekolah menjadi tempat praktekny a. Selain itu. pada akhir semester dia berharap lulus mata kuliah Psiko logi Pendidikan dengan mendapatkan nilai A (kebutuhan harga diri). keingi nan menjadi guru yang efektif dan kompeten kemudian berkembang menjadi dorongan yang kuat dalam dirinya (motivasi intrinsik) Pada saat mengikuti perkuliahan Psi kologi Pendidikan dia senantiasa aktif bertanya dan mengemukakan pendapatnya ten tang materi yang disampaikan. karena gagal mengikuti mengikut i testing pada Fakultas Ekonomi di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). sehingga selama kuliah. Perkuliahan Psikologi Pendidikan telah men dasari dia menjadi seorang yang sukses.Tujuan jangka menengah. para peserta d idik sangat menyenangi dia karena dia sangat dekat dan akrab dengan peserta didi knya. memperoleh kesuksesan dalam mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). Pada saat mengikuti lomba pemilihan guru berprestasi tingkat k abupaten. Berkat aktivitas dan kesungguhannya dalam mengikuti perkuliahan Psikolog i Pendidikan. membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidika n yang diwajibkan dan dianjurkan oleh dosen.

baik berbentuk verbal maupun non verbal. 1) Pengetahuan (knowledge). peristiwa. Pikirannya selalu terganggu bahwa seolah-olah dia sedang kuliah pada Fakutas Ekonomi di Perguruan Tinggi yang diidam-idamkannya dan dia merasa seolah-olah bakal menjadi Ekonom (fantasi). kalaupun dikerjakan hanya alakadarnya dan selalu telat disetorkan. Selama satu semester meng ikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. konsep.Dalam konteks pendidi kan. sekal ipun dia masuk kuliah hanya sebatas takut dimarahi oleh dosen yang bersangkutan dan takut dinyatakan tidak lulus (kebutuhan rasa aman). 3.Dia tidak begitu berminat mengikuti perkuliahan mata kuliah kependidikan. Tugas-tugas yang diberik an dosen pun jarang dikerjakan. atau kesimpulan. rumus. Pengetahuan merupakan aspek kognitif yang paling rendah tetapi paling mendasar. dan ciri-ciri yang tampak dari keadaan alam tertentu . Dengan pengetahuan individu dapat mengenal dan mengingat kembali suatu objek. betapa banyak kata yang harus dipergunakan untuk mendeskripsikan nya. dia hanya memperoleh sebagian kecil saja pengetahuan. Untuk keperluan studi tentang perilaku kiranya perlu ada sistematika pengel ompokan berdasarkan kerangka berfikir tertentu (taksonomi). b) Mengetahui tentang cara untuk memproses atau melakukan sesuatu. Dia dihadapkan pada perang batin antara terus melanjutkan stu di yang tidak sesuai dengan cita-citanya atau keluar dari kuliah dengan resiko o rang tua akan marah besar terhadap dirinya (conflict). termas uk mata kuliah Psikologi Pendidikan (kurang merasakan adanya kebutuhan dan kekur angan motivasi). teori. Sambil men angis (regresi). Mengetahui fakta tertentu yaitu mengenal atau mengingat kemb ali tanggal. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau berfikir/nalar. id e prosedur. nama. orang tempat. tahun. peristiwa. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan dan pada akhir nya dia dinyatakan tidak lulus dan terpaksa harus mengikuti remedial. dia menyalahkan dosen bahwa dosennya tidak becus mengajar (proy eksi). sumber informasi. kejadian masa lalu. terdiri dari : Mengeta hui terminologi yaitu berhubungan dengan mengenal atau mengingat kembali istilah atau konsep tertentu yang dinyatakan dalam bentuk simbol. Dilihat dari objek yang diketahui (isi) pengetahuan dapat digolongk an sebagai berikut : a) Mengetahui sesuatu secara khusus. Bloom mengungkapkan tiga kawasan (domain) perilaku individu beserta sub kaw asan dari masing-masing kawasan. kebu dayaan masyarakat tertentu. Taksonomi Perilaku Individu Kalau perilaku individu mencakup segala pe rnyataan hidup. definisi. yakni : a. daftar. Dia sering tidak masuk kuliah. Mengetahui kebiasaan atau cara mengetengahkan ide atau pengalaman . Kawasan Kognitif.

Mengetahui prinsip dan generalisasi Mengetahui teori dan strukt ur. fakta d isusun kembali dalam struktur kognitif yang ada. kelompok. 2) Pemahaman (comprehension) Pemahaman atau dapat dijuga disebut dengan istilah mengerti merupakan kegiatan m ental intelektual yang mengorganisasikan materi yang telah diketahui. yaitu perangkat cara yang digunakan untuk mencari. kepada siswa dihadapkan rangkaian bilangan 2. memperbandingkan atau mempertentangkannya dengan sesuatu yan g lain. Mengetahui meto dologi. Tingkatan dalam pemahaman ini meliputi : a) translasi yaitu mengubah simbol tertentu menjadi simbol lain tanpa perubahan makna. yaitu ide. b agan atau grafik. .Mengetahui urutan dan kecenderungan yaitu proses. informasi. Misalnya. perangkat atau susunan yang digunakan di d alam bidang tertentu. Misalkan simbol dalam bentuk kata-kata diubah menjadi gambar. Untuk bisa seperti itu. Mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi fakta. terlebih dahulu dicari prinsip apa ya ng bekerja diantara kelima bilangan itu. peristiwa. 5. 3. bagan dan pola yang digunakan untuk mengorganisasi suatu fenome na atau pikiran. yaitu melihat kecenderungan. Temuan-tem uan yang didapat dari mengetahui seperti definisi. menemukan atau menyel esaikan masalah. Mengetahui kelas. maka kelanjutannnya dapat dinyatakan berdas arkan prinsip tersebut. Mengetahui penggolongan atau pengkatego risasian. prinsip. Contoh sesesorang dapat dikatakan telah mengerti konsep tentang “motivasi kerja” dan dia telah dapat membedakannya dengan konsep tentang ”motivasi belajar”. dan c) Ekstrapolasi. b) interpretasi yaitu menjelaskan makna yang terdapat dalam simbol. atau memproses sesuatu. Jika ditemukan bahwa kelima bilangan te rsebut adalah urutan bilangan prima. Temuantemuan ini diakomodasikan dan kemudian berasimilasi dengan struktur kognitif yang ada. arah dan gerakan suatu gejala atau fenomena pada waktu yang berkaitan. sehingga membentuk struktur kognitif baru. baik dalam bentuk simbol verbal maupun non verbal. Seseorang dapat dikatakan telah da pat menginterpretasikan tentang suatu konsep atau prinsip tertentu jika dia tela h mampu membedakan. den gan kemapuan ekstrapolasinya tentu dia akan mengatakan bilangan ke-6 adalah 13 d an ke-7 adalah 19. 11. 7. arah atau kelanjutan dari suatu temuan. pendapat atau perlakuan. Mengetahui hal-hal yang universal dan abstrak dalam bidang tert entu.

Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah dan menunjukkan hubungan antar-bagia n tersebut.3) Penerapan (application) Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dal am kehidupan sehari-hari. mereka berusaha untuk memberi nama yang cocok bagi alat angkutan tersebut. menyelesaikan dan mengidentifikasi hal-hal yang sama. mengklasifikasikan. yaitu : a) Menganalisis unsur : Kemampuan melihat asumsi -asumsi yang tidak dinyatakan secara eksplisit pada suatu pernyataan Kemampuan u ntuk membedakan fakta dengan hipotesa. Seseorang dikatakan menguasai kemampuan ini jika ia da pat memberi contoh. menggunakan. Kemampuan untuk mengidentifikasi motif-motif da n membedakan mekanisme perilaku antara individu dan kelompok. 4) Penguraian (analysis). Kemampuan untu k memastikan konsistensinya hipotesis dengan informasi atau asumsi yang ada. ingat kuda ingat transportasi . Kemampuan untuk mengenal unsur-unsur khusus yang membenarkan suatu pern yataan. Kemampuan untuk mengenal fakta atau asumsi yang esensial yang mendasari suatu pendapat atau tesis atau argumen-argumen yang mendukungnya. Secara rinci Bloom mengemukakan tiga je nis kemampuan analisis. Bagi mereka. b) Menganalisi s hubungan Kemampuan untuk melihat secara komprehensif interrelasi antar ide den gan ide. Satu-satunya alat transportasi yang suda h dikenal pada waktu itu adalah kuda. Contoh. memanfaatkan. maka mereka memberi nama pada kereta api tersebut d engan iron horse (kuda besi). Kemampuan untuk membedakan pernyataan fak tual dengan pernyataan normatif. Dengan pemahaman demikian. Kemampuan untuk me misahkan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang mendukungnya. melihat penyebab-penyebab dari suatu peristiwa atau memberi argumenargumen yang menyokong suatu pernyataan. dulu ketika pertama kali diperk enalkan kereta api kepada petani di Amerika. . Hal ini menunjukkan bagaimana mereka menerapkan ko nsep terhadap sebuah temuan baru.

b) Pembenaran berdasarkan kriteria eksternal. 5) Memadukan (synthesis) Menggabungkan. sudut pandang atau ciri berfikirnya dan perasaan yang dapat diperoleh dalam karyanya. atau merangkai berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau menjadi suatu hal yang baru. Kemampuan untuk mengenal hubung an kausal dan unsur-unsur yang penting dan yang tidak penting di dalam perhitung an historis. yaitu : a) Pembenaran berdasarkan kriteria internal. baik-buruk. memberi nama yang sesuai bagi suatu temuan baru. meramu. menciptakan logo organisasi. .. yang dilakukan be rdasarkan kriteria-kriteria yang bersumber di luar objek yang diamati. menilai dan mengambil keputusan benar-salah. Kemampuan berfikir induktif dan konvergen mer upakan ciri kemampuan ini. Kemampuan untuk mengetahui maksud dari pengarang suatu karya tu lis. Kemampuan untuk melihat teknik yang digunakan dalam meyusun suatu mat eri yang bersifat persuasif seperti advertensi dan propaganda. misalnya kesesuaiannya dengan aspirasi umum atau kecocokannya dengan kebutuhan pemakai. c) Menganalisis prinsip-prinsip organisasi Kemampuan untuk menguraikan antara ba han dan alat Kemampuan untuk mengenal bentuk dan pola karya seni dalam rangka me mahami maknanya.Kemampuan untuk menganalisis hubungan di antara pernyataan dan argumen guna memb edakan mana pernyataan yang relevan mana yang tidak. Terdapat dua kriteria pembenaran yang digunakan. 6) Penilaian (evaluation) Mempertimbangkan. Contoh: memilih nada dan irama dan kemudian manggabun gkannya sehingga menjadi gubahan musik yang baru. atau bermanfaat – tak bermanfaat berdasarkan kriteria-kriteria tertentu baik kualitatif maupun kuantitatif. Kemampuan untuk mendeteksi hal-hal yang tidak logis di dalam suatu argumen. yang dilakukan dengan memperhatikan k onsistensi atau kecermatan susunan secara logis unsurunsur yang ada di dalam obj ek yang diamati.

1) Penerimaan (receiving/attending) Kawasan penerimaan diperinci ke dalam tiga tahap. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek emosional. kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. menunj ukkan komitmen terhadap nilai keberanian yang dihargainya. Contoh : mengajukan pertanyaan. yang ditandai dengan kehadiran dan usaha untuk memberi perhatian pada stimulus yang bersangkutan. yaitu : a) Kesiapan untuk mene rima (awareness). 3) Penghargaan (valuing) Pada tahap ini sudah mulai timbul proses internalisasi untuk memiliki dan mengha yati nilai dari stimulus yang dihadapi. terpesona. membuat coretan atau gambar. yaitu adanya aksi atau kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk me muaskan keinginan mengetahui. c) Mengkhususkan perhatian (controlled or selected atte ntion). suara atau kata-kata ter tentu saja. yaitu usaha untuk mengalokasikan perhatian pada sti mulus yang bersangkutan. b) Kemauan untuk meneri ma (willingness to receive). yaitu kelanjutan dari usah a memuaskan diri untuk menanggapi secara lebih intensif. memotret dari objek yang me njadi pusat perhatiannya. b) Kemauan menanggapi (willingness to respo nd). Penilaian terbagi atas empat tahap sebag ai berikut : a) Menerima nilai (acceptance of value). Contoh kegiatan yang tampak dari kepuasan menangga pi ini adalah bertanya. Mungkin perhatian itu hanya tertuju pada warna. 4) Pengorganisasian (organization) . dan sebagainya. c) Komitmen yaitu kesetujuan terhadap suatu nilai dengan ala san-alasan tertentu yang muncul dari rangkaian pengalaman. 2) Sambutan (responding) Mengadakan aksi terhadap stimulus. me nempelkan gambar dari tokoh yang disenangi pada tembok kamar yang bersangkutan. yaitu usaha untuk melihat hal-hal khusus di dalam bagian yang diperhatikan. Kawasan Afektif. Misalnya pada desain atau warna saja. minat. yang meliputi proses sebagai berikut : a) Kes iapan menanggapi (acquiescene of responding). Komitmen ini dinyatak an dengan rasa senang. misalnya lukisan yang memil iki yang memuaskan. sikap. Kagum atas keberanian seseorang. c) Kepuasan menanggapi (satisfaction in r esponse). atau mentaati peraturan lalu lintas. b) Menyeleksi nilai yan g lebih disenangi (preference for a value) yang dinyatakan dalam usaha untuk men cari contoh yang dapat memuaskan perilaku menikmati. kagum. seperti perasaan.b. yaitu adanya kesiapan untuk berinteraksi dengan stimulus (feno mena atau objek yang akan dipelajari).

Karakterisasi yaitu kemampuan untuk menghayati atau mempribadikan sistem nilai K alau pada tahap pengorganisasian di atas sistem nilai sudah dapat disusun. yaitu k emampuan untuk melihat suatu masalah dari suatu sudut pandang tertentu. tetapi mulai melihat beberapa nilai yang relevan untuk disusun menjadi satu sistem nilai. Kawasan ini terdiri dari : (a) kesiapan (set). Proses ini terjadi dalam dua tahapan. b) Karak terisasi. dan seterusnya menurut urutan kepenti ngan. mempersiapkan alat. 5) Karakterisasi (characterization). sistem itu selal u konsisten. 3) Membiasakan yaitu seseorang dapat melakukan suatu keterampilan tanpa harus melihat contoh. yaitu : a) Generalisasi. Dalam sistem nilai ini yang bersangkutan menempatkan nilai yang paling disukai pada tingkat yang amat penting. c. (b) penirua n (imitation).atau kesenangan dari diri yang bersangkutan. . yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular syste m) dan fungsi psikis. yaitu mengembangkan pandangan hidup tertentu yang memberi corak tersen diri pada kepribadian diri yang bersangkutan.Pada tahap ini yang bersangkutan tidak hanya menginternalisasi satu nilai terten tu seperti pada tahap komitmen. 2) Meniru adalah kemampuan untuk melakukan sesuai dengan conto h yang diamatinya walaupun belum mengerti hakikat atau makna dari keterampilan i tu. yaitu menyusun perangkat nilai dalam suatu sis tem berdasarkan tingkat preferensinya. men jawab pertanyaan. atau menemukan asumsi-asumsi yang mendasari suatu moral atau kebiasaan. Proses ini terdiri atas dua tahap. sekalipun ia belum dapat mengubah polanya. maka susunan itu belum konsisten di dalam diri yang bersangkutan. Artinya mudah berub ah-ubah sesuai situasi yang dihadapi. Pada tahap karakterisasi. menyesuaikan diri dengan situasi. yakni : a) Konseptualisasi nilai. Seperti anak yang baru belajar bahasa meniru kata-kata orang tanpa mengerti artinya. yaitu keinginan untuk menilai hasil karya oran g lain. menyusul k emudian nilai yang dirasakan agak penting. b) Pengorganisasian sistem nilai. (d) menyesuaikan (adaptation) dan (e) menciptakan (origination) 1) Kesiapan yaitu berhubungan dengan kesediaan untuk melatih diri tentang keterampilan tertentu yang dinyatakan dengan usaha untuk me laporkan kehadirannya. (c) membiasakan (habitual). Kawasan Psikomotor.

tangkas. Peranan dan Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan dan Perkembangan Perilaku Pendidikan memang sejak zaman dahulu kala menjadi salah satu bentuk usaha manusi a dalam rangka mempertahankan keberlangsungan eksistensi kehidupan maupun budaya manusia itu sendiri. pendid ikan lebih diyakini sebagai suatu media atau wahana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan ajaran keagamaan. ser ta wahana untuk pembebasan manusia. pendidikan dipahami sebagai se bagai alat pembentukan watak. Penyelenggaraan pendidikan selanjutnya menja di kewajiban kemanusiaan dalam rangka mempertahankan kehidupannya. s erta media untuk meningkatkan keterampilan. Sementara kalangan humanisme. yaitu : sub kawasan ini 1) Gerakan refleks (reflex movements). alat mengasah otak. 2) 3) 4) 5) 6) 4. Abin Syamsuddin Makmun( 2003) memerinci dengan tahapan yang berbed a. alat pelatihan keterampilan. menunduk. b aik dalam bentuk gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah maupun gerak kreatif: gerakangerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasi kan peran. Gerakan dasar biasa (Basic fundamental movements) yaitu gerakan yang mun cul tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik. Gerakan Persepsi (Perceptual abilities) yaitu gerakan sudah lebih menin gkat karena dibantu kemampuan perseptual. Gerakan fisik (Physical Abilities) yai tu gerakan yang menunjukkan daya tahan (endurance). atau sebagai wahana untuk memanusiakan manusia. dan cekatan dala m melakukan gerakan yang sulit dan rumit (kompleks). Melihat begit u pentingnya pendidikan bagi umat manusia. banyak peradaban manusia yang “mewajibk an” masyarakatnya untuk tetap menjaga keberlangsungan pendidikan. kelentu ran (flexibility) dan kegesitan. dan seba gainya. S ementara itu. yang terpola dan dapat ditebak. berjalan. Gerakan indah dan kreatif ( Non-discursive communication) yaitu mengkomunikasikan perasan melalui gerakan. Bagi kalangan behaviorisme. 5) Menciptaka n (origination) di mana seseorang sudah mampu menciptakan sendiri suatu karya. Basis semua perilaku bergerak atau respon s terhadap stimulus tanpa sadar. misalnya : melompat. .4) Adaptasi yaitu seseorang sudah mampu melakukan modifikasi untuk disesuaikan d engan kebutuhan atau situasi tempat keterampilan itu dilaksanakan. Gerakan terampil (skilled movements) yaitu dapa t mengontrol berbagai tingkatan gerak secara terampil. kekuatan (strength).

Walaupun demiki an. Dengan menggunakan konsep dasa r psikologis. sejauhmanakah pendidikan dapat mempengaruhi perubahan da n perkembangan perilaku individu. Dengan adanya perbedaan pandangan tersebut menyebabkan pula terjadinya pe rbedaan-perbedaan dalam pendekatan dan teknis proses pendidikan.O) P= person (pribadi. seorang mahasiswa (O) dengan segala karakteristikn ya (kondisi fisik.Yang menjadi persoalan. pengaruh fungsional pendidikan terhadap perubahan dan pe rkembangan perilaku. hasil b elajar individu merupakan hasil dari upaya aktif dan pro-aktifnya terhadap lingk ungan. Sementara itu . Jika kita amati dari kedua pandangan tersebut tampak a da hal yang kontras. perilaku) f = function (fungsi) S=stimulus (pendidikan/belaj ar) O=organisme Contoh : Untuk memiliki pengetahuan. harus diakui bahwa kedua pandangan tersebut memiliki peranan penting dan mem berikan kontribusi terhadap perubahan dan perkembangan pribadi atau perilaku ind ividu. maupun psikomotor.Dengan demik ian. Secara skematik. ter utama potensi intelektual. Pada dasarnya individu sejak lahir sudah dibekali potensi-potensi tertentu. bakat. selanjutnya dengan bantuan atau tanpa bantuan orang l ain. Sedangkan dalam pandangan humanisme. dapat dijelaskan dalam bagan berikut ini : P = f (S. dalam pandangan humanisme bahwa justru organisme atau individu itu sendiri yan g memegang peranan penting dalam suatu proses belajar atau proses pendidikannya. Sehingga potensi yang semula masih bersifat laten (terpendam) dapat diaktuali sasikan menjadi prestasi. pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha conditioning (penciptaan seperangkat stimulus) yang diharapkan dapat menghasilkan pola-pola perilaku (seperangkat respons) tertentu. termasuk lingkungan sekola h. . Bagaimana pula kontribusi individu itu sendiri terhadap perubahan dan perkembangan perilakunya. yang diman ifestasikan dalam bentuk perubahan dan perkembangan perilaku. baik dalam aspek k ognitif. arah dan kualifikasi perubahan dan perkemba ngan perilaku akan sangat bergantung pada faktor S (conditioning). sikap dan keterampilan tent ang Psikologi Pendidikan (P). individu yang bersangkutan berupaya aktif mengembangkan segenap potensi yan g dimilikinya melalui interaksi dengan lingkungannya. khususnya dalam pandangan behaviorisme. afektif. minat. menurut pandangan behaviorisme. Menurut pandangan behaviorisme hasil belajar individu merup akan hasil reaktif dari lingkungan. Seberapa besar tingkat atau derajat perubah an dan perkembangan perilaku yang dicapai melalui usaha – usaha conditioning diken al dengan istilah prestasi belajar atau hasil belajar (achievement).

kiranya bisa dipahami bahwa perubahan perilaku atau diperolehnya kemampuan individu. b. b. dia mendapa tkan pengetahuan.motivasi. dengan cara memberikan ta nda silang (X) ! 2. dis amping dihasilkan melalui kegiatan pendidikan (belajar) juga dipengaruhi oleh fa ktor internal dari individu itu sendiri. Beberapa persyaratan ilmu yang sudah dipenuhi oleh Psikologi Pendidikan. d. mengobservasi perilaku di kelas. 4. Guru dapat menjalankan peran tu gas dan fungsinya secara efektif dan efisien Guru dapat merencanakan pembelajara n dengan sebaik-baiknya Guru dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif. c. hasil belajar sebelumnya serta karakteristik lainnya) mengikuti kegiat an belajar Psikologi Pendidikan. Psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai : 1) 2) 3) 4) I lmu Jiwa Ilmu yang mempelajari tentang perilaku peserta didik . c. maka pada akhirnya. Dengan demikian. dia memperoleh sejumlah pengalaman belajar. c. baik melalui pendekatan kuantitatif maupun kualitatif. sikap dan memiliki keterampilan baru tentang psikologi pendidi kan. misalnya melalui: diskusi dengan teman. W S S S O WS Ow R R O R R W W . Memberikan man faat untuk kepentingan efektivitas dan efisiensi pendidikan. b. d. Arti penting Psi kologi Pendidikan bagi guru adalah : a. d. Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilih lah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. Konsep dan teori Psikologi Pendidikan diperoleh berdasarkan upaya yang s istematis. kecu ali : a. a. b. Ilmu yang mempel ajari perilaku individu dalam situasi pendidikan. dan c benar 3. bahkan melakukan penelitian. Gur u dapat menilai peserta didiknya secara efisien. Melalui interaksi belajar mengajar yang disepak ati dengan Dosen. Mekanisme terbentuknya perilaku sadar menurut pandangan Behaviorisme a. membaca dan mengkaji buku-buku yang relevan. D. baik untuk kepentingan diri-pribadi sehari-hari maupun dalam rangka mempers iapkan diri untuk menjadi guru kelak di kemudian hari. Menjadi ped oman bagi para pendidik dalam mengembangkan proses pendidikan. Memiliki obyek yang jelas yaitu perilaku individu yang terlibat dalam pendidi kan. 5.

ketabahan. fiksasi d. Reaksi frustasi ind ividu atas kegagalan dalam mencapai tujuan dan tidak terpenuhinya kebutuhan indi vidu dengan cara mencari kambing hitam. application b. a. b. agresi b. d. a.6. synthesis d. a. Approach. evaluatio n Uraian 1. dan c benar 8. d. a. keuleta n dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan. Avoidance-avoidance conflict d. durasi. 7. Konflik yang dialami jik a individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif samasama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. regresi c. frekuensi dan persistensi kegiatan. proye ksi 10. Approach-approach conflict c. Di bawah ini merupakan kemampuan yang berkaitan dengan perilaku kawasan afektif.avoidance c onflict b. dan c benar 9. Non-discursive communication c. menghubungkan. characterization by valu e or value complex d. tingkat kualifikas i prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan dan a rah sikap terhadap sasaran kegiatan. b. c. me nggabungkan merupakan indikator atau kata kerja operasional untuk mengukur perub ahan perilaku dalam aspek : a. kecuali : a. evaluasi b. a. Kebutuhan akan rasa aman. Di bawah ini merupakan indikator untuk mengetahui tingkat motivas i individu. Di bawah ini merupakan jenis-jenis kebutuhan individu yang dikemukakan oleh M aslow. analysis c. Dapat menyimpulkan. Kebutuhan akan prestasi. a. b . Kebutuhan akan aktualisasi diri. Jelaskan peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perk embangan perilaku individu ! 2. a. b dan c benar 11. c. b. Kebutuhan akan harga diri. Uraikan dan berikan gambaran secara skematik ten tang mekanisme pembentukan perilaku dan pribadi individu menurut aliran holistik ! .

Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian. Intisari Bacaan 1. dalam Kecakapan dan C. kecerdasan (inteligensi). Fakto r-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman Kepribadian. dengan masing-masing karakateristik yang dimilik inya. 2. B. Mengid entifikasi tentang indikator kecerdasan.BAB II KERAGAMAN INDIVIDU DALAM KECAKAPAN DAN KEPRIBADIAN ujuan : A. aspek-aspek kepribadian. Dari segi . namun sebaliknya ada juga yang sangat lambat. ukuran kecerdasan. seorang guru mungkin akan dihadapkan dengan puluhan atau b ahkan ratusan peserta didiknya. 4. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian Dalam m elaksanakan tugasnya. dan kepribadian 2. Di antara sekian banyak karakteristik yang dimiliki peserta didik. kecakapan potensial. Menjelaskan tentang teori-teori kecerdasan dan p engukuran kecerdasan.Dari segi kecepatan belajar. Mendefinisikan kecakapan nyata. Pokok Bahasan 1. ciri-ciri keberbakat an. T Setelah mempelajari Bab ini. yang pe nting dan perlu diketahui guru adalah berkenaan dengan kecakapan dan kepribadian peserta didiknya. 3. diharapkan Anda dapat : 1. Menganalis faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya ke ragaman dalam kecakapan dan kepribadian. ada peserta didik yang menunjukka n cepat dalam menangkap pelajaran.

Sedangkan kecakapan potensial mer upakan aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri individu dan diperoleh d ari faktor keturunan (herediter). yakni hanya berhubungan dengan aspek intelektual saja. bodoh. Namun ketika berhadapan dengan pesert a didik yang lambat dalam belajar atau ciri-ciri kepribadian yang negatif. m alas. Ketika mahasi swa mampu menjawab dengan baik tentang pertanyaan dosen. a. Jika saja guru tersebut dapat memah ami tentang keragaman individu. Untuk kepentingan pengetahuan guru dalam memahami peserta didiknya. seperti teori inteligensi yang dikemukakan oleh Charles Spearman (1904) de ngan teori “Two Factors”-nya. Ujung-ujungnya dia langsung saja akan menyimpulkan bahwa peserta didiklah yang salah. belum tentu dia akan langsung menarik kesimpulan bahwa peserta didiklah yang salah.kepribadian. setelah selesai mengikuti prose s perkuliahan (kegiatan tatap muka di kelas).P. Peserta didik dianggap kurang rajin. Pada awalnya teori inteligensi masih bersifat unidim ensional (kecerdasan tunggal). adaka lanya guru dibuat frustrasi. Terlebih dahulu mungkin dia akan mempelajari latar belakang sosio-psikologis peserta didiknya. Menurut pendapatnya bahwa inteligensi terdiri dari kem ampuan umum yang diberi . maka kemampuan tersebut merupakan atau kecakapan nyata (achievement). guru mungkin akan menganggap seolah-olah tidak ada hambatan. Keragaman Individu dalam Kecakapan Kecakapan individu dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu kecakapan nyata (actual ability) dan kecak apan potensial (potential ability). C. di bawah ini akan diuraikan dua jenis keragaman individu yaitu keragaman dalam keca kapan dan kepribadian. Berhadapan dengan peserta didik yang memiliki kecep atan belajar dan memiliki ciri-ciri kepribadian yang positif. Misalkan. pada akhir perkuliahan mahasiswa d iuji oleh dosen tentang materi yang disampaikannya (tes formatif). guru akan berhadapan dengan ciri-ciri kepribadian para peserta didi knyanya yang khas atau unik. Membicarakan tentang keragaman individu secara luas dan mendala m sebetulnya sudah merupakan kajian tersendiri yaitu dalam bidang Psikologi Dife rensial. Chaplin (1975) memberikan pengertian int eligensi sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi bar u secara cepat dan efektif. yang dapat seger a didemonstrasikan dan diuji sekarang. sehingga akan diketahui secar a akurat kenapa peserta didik itu lambat dalam belajar. Kecakapan nyata (actual ability) yaitu kecak apan yang diperoleh melalui belajar (achivement atau prestasi). Kecakapan potensial dapat dibagi ke dalam dua bagian yaitu kecakapan dasar umum (inteligensi atau kecerdasan) dan kecakapan da sar khusus (bakat atau aptitudes). kurang sungguh-sungguh dan sebagainya. selanjutnya dia berusaha untuk menemukan solusinya dan menetukan tindakan apa yang paling mungkin bisa d ilakukan agar peserta didik tersebut dapat mengembangkan perilaku dan pribadinya secara optimal.

Visual (bentuk konkret atau gambaran). yaitu : (1) kemampuan berb ahasa (verbal comprehension). Kela s (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama). atau memadai). Convergent Production (berfikir memusat= hanya satu kemungkinan jawaban/alternatif). Divergent Production (berfikir mel ebar=banyak kemungkinan jawaban/ alternatif). (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor). yang konon dianggap sebag ai anugerah yang dapat mengantarkan . Sementara itu. b. Evaluation (mengambil keputusan tentang apakah suatu itu baik. f. dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual s peed). Memory Retention (ingatan yang berkaitan dengan kehidupan seharihari). d. f. Product (Hasil Berfikir) a. Symbolic (i nformasi dalam bentuk lambang. Operasi Mental (Pros es Befikir) a. modifikasi. b. c. Unit (item tunggal informasi). Belakangan ini banyak orang meng gugat tentang kecerdasan intelektual (unidimensional). (6) kemampuan menggunakan kata-kata ( word fluency). b. 3.kode “g” (genaral factor) dan kemampuan khusus yang diberi kode “s” (specific factor). Guilford mengemukakan bahwa inteligensi dapat dilihat dari tiga kategori dasar atau “faces of intellect”. ( 5) kemampuan bilangan (numerical ability). Transform asi (perubahan.P. e. Behavi oral (interaksi non verbal yang diperoleh melalui penginderaan. Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi item lain). yaitu : 1. akurat. d. Memory Recording (ingatan yang segera). Thurstone (1938) mengemukakan teori “Primary Mental Abilities”. e. Auditory. ekspresi muka at au suara). J. c. c. Word Meaning (semantic). Relasi (keterkaitan an tar informasi). atau redefinisi informasi). S elanjutnya. Sistem (kompleksitas bagian saling berhubungan). e. bahwa in teligensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer. 2. (2) kemampuan mengingat (memory). d. Content (Isi yang Dipikirkan) a. Cognition (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang baru). kata-kata atau angka dan notasi musik). (3) kemampuan na lar atau berfikir (reasoning).

Kemampuan untuk memahami perasaan. maka pada dasarnya indikator kecerdasa n akan mengerucut ke dalam tiga ciri yaitu : kecepatan (waktu yang singkat). Logical – Mathematica l 2. ata u Maradona dan Pele sang legenda sepakbola dunia. Apakah mereka termasuk juga o rang-orang yang genius atau cerdas ? Dalam teori kecerdasan tunggal (uni-dimensi onal). dan motivasi orang lain. makna kata-kata. teori inteligensi yang berusaha mengakomodir kemampuan-kemampuan ind ividu yang tidak hanya berkenaan dengan aspek intelektual saja. Alat ukur inteligensi yang paling dikenal dan banyak digunakan di Indonesia ialah Tes Binet Simon -.kesuksesan hidup seseorang. Kemampuan untuk mengamati dan merespons suasana hati. Dengan indikator-indikator perilaku inteligensi tersebut. para ahli mengembangkan instrumen-instrumen stan dar untuk mengukur perkiraan kecakapan umum (kecerdasan) dan kecakapan khusus (b akat) seseorang. Spatial 5. bagaimana dengan tokoh-tokoh duni a. Bodily Kinesthetic 6. dengan aspek-aspe knya sebagai tampak dalam tabel di bawah ini: INTELIGENSI 1.walaupun sebetulnya menurut hemat penulis alat ukur tersebut masih terbatas untuk mengukur inteligensi atau bakat persekol ahan (scholastic aptitude). Kemampuan untuk m enghasilkan dan mengapresiasikan ritme. dan keragaman fungsi-fungsi bahasa. Kemampuan untuk mengontrol gerakan tubuh dan mengenai objek-obj ek secara terampil. Ke mampuan mempersepsi dunia ruangvisual secara akurat dan melakukan tranformasi pe rsepsi tersebut. Dalam hal ini. Kecakapan potensial seseorang hanya dapat dideteksi dengan mengidentifikasi indi kator-indikatornya. belum dapat mengukur . kekuatan dan k elemahan serta inteligensi sendiri. Nada dan bentukbentuk ekspresi musik.. H oward Gardner (1993). temper amen. Linguistic 3. Musical 4. Maka muncullah. ket epatan (hasilnya sesuai dengan yang diharapkan) dan kemudahan (tanpa menghadapi hambatan dan kesulitan yang berarti) dalam bertindak. ritme. Jika kita perhatikan penjelasan tentang aspek-aspek intelige nsi dari teori-teori inteligensi di atas. seperti Mozart dan Bethoven dengan karya-karya musiknya yang mengagumkan. mengemukakan teori Multiple Inteligence. kemampuan mereka yang demikian hebat ternyata tidak terakomodasikan. Interpersonal 7. Intrapersonal KEMAMPUAN INTI Kepekaan dan kemampuan untuk mengamati pola-pola lo gis dan bilangan serta kemampuan untuk berfikir rasional. Pertanyaan muncul. Kepekaan terhadap suar a.

(4) tilikan ruangan. melalui pengamatan yang s istematis tentang indikator – indikator kecerdasan yang dimiliki para peserta didi knya. Untuk mengukur bakat seseo rang.49 < 25 KAT EGORI Jenius (Genius) Sangat Unggul (Very Superior) Unggul (Superior) Diatas rat a-rata (High Average) Rata-rata (Average) Dibawah Rata-Rata (Low Average) Bodoh (Dull) Debil (Moron) Imbecil Idiot PERSENTASE 0.25 % 0.75 % 0. Rumus yang b iasa digunakan untuk menghitung IQ seseorang adalah : MA (Mental Age) IQ= 100 x CA (Chronological Age) Di bawah ini disajikan norma ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang. baik men ggunakan instrumen standar atau hanya berdasarkan pengamatan sistematis guru buk anlah bersifat memastikan tingkat kecerdasan atau bakat seseorang namun hanya se kedar memperkirakan (prediksi) . Selain itu.79 50 . a da juga tes intelegensi yang bersifat lintas budaya yaitu Tes Progressive Metric es (PM) yang dikembangkan oleh Raven. rata-rata (mi dle group) dan lambat (lower group) dalam belajarnya. (6) kecepatan pengamatan. dapat menggunakan beberapa instrumen standar. FA CT (Flanagan Aptitude Calassification Test).20 % 0. diantaranya : DAT (Different ial Aptitude Test). SRA-PMA (Science Research Action – Primary Mental Ability). seorang guru pada dasarnya dapat pula mend eteksi dan memperkirakan inteligensi peserta didiknya. (5) daya ingat. IQ > 140 130-139 120-129 110-119 90-109 80 .89 70 . dan kem udahan peserta didik dalam dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan me ngerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian.aspek – aspek inteligensi secara keseluruhan (multiple inteligence). dan (8) kecakapan gerak. Dari hasil pengukuran inteligensi tersebut dapat diketahui seberapa besar tingkat integensi (biasa disebut IQ = Intelligen t Quotient yaitu ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang.05 % Selain menggunakan instrumen standar. Perlu dicatat bahwa pengukuran tersebut. (2) kefasihan mengungkapkan kata. (7) berfikir l ogis.75 % 6% 13 % 60 % 13 % 6% 0. sehingga pada akhirnya akan di ketahui kelompok peserta didik yang tergolong cepat (upper group). Alat tes ini dapat mengungkap tenta ng : (1) pemahaman kata. (3) pemahaman bilanga n. yaitu dengan cara memperhatikan kecenderungan kecepatan ketepatan.69 25 .

Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar. Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengata si kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. 6. 10. 4. kreativitas dan komitmen terhada p tugas. Lancar berbahasa (mampu mengutarakan pikirannya). Mampu berkonsentrasi.saja. Belajar dengan dan cepat. 13. Berangkat dari studi yang dilakukannya. Begitu juga kecerdasan atau bakat ses eorang bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan tingkat keberhasilan atau ke suksesan hidup seseorang. . Dalam rangka Program Percepatan Belajar (Accelerated L earning). Mempunyai daya imajinasi ya ng tinggi. 3. 5. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tu ntutan (norma) lingkungan. 2. Keragaman Individu dalam Kepribadian Para ahli tampaknya masih sangat beragam dalam memberikan rumusan tentang kepribadian. Menur ut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Memiliki kemampuan memikirkan beb erapa macam pemecahan masalah. Balitbang Depdiknas (1986) telah mengidentifikasi ciri-ciri keberbakat an peserta didik dilihat dari aspek kecerdasan. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Mampu mengemukakan dan mempertahankan penda pat. b. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa). yaitu: 1. misalnya k onstitusi dan kondisi fisik. Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau pe rbuatannya Cermat atau teliti dalam mengamati. Memiliki kemampuan yang tinggi dalam berfikir l ogis dan kritis Mampu belajar/bekerja secara mandiri. Mempunyai minat luas. Allport (Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey. 11. Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas pe rilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu la innya. 7. Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penye suaian diri. frustrasi dan konf lik. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. 8. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbedabeda. akhirnya d ia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. tergantung sudut pandang masing-m asing. 12. ketegangan emosional. untuk kepentingan pengembangan diri. 9. 14.

Fromm. sambutan terhadap objek yang bersifat positif . hormon. Seperti mau menerim a resiko secara wajar. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. Elizabeth Hurlock (Syam su Yusuf. Karakter. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. Sementara itu.tampang. teori Sosial Psikologis dari Adler. Hi peraktif . Watson. teori Stimulus-Respons dari Throndike. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. Mampu menilai diri sendiri secara realistik Mampu menilai situasi secara realist ik Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik Menerima tanggung jawa b Kemandirian Dapat mengontrol emosi Berorientasi tujuan Berorientasi keluar (ek strovert) KEPRIBADIAN YANG TIDAK SEHAT 1. Horney dan Sullivan. atau putus asa e. teori P ersonologi dari Murray. konsiten ti daknya dalam memegang pendirian atau pendapat. Mudah marah 2. di antaranya : teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. Sosiabilitas. 5. Setiap individu memiliki ciri-ciri kepribadian terse ndiri. f. negatif atau ambivalen d. atau melarikan diri dari resiko yang dihadap i. Untuk menjelaskan tentang kepriba dian individu. Seperti mudah tidaknya tersinggung. 4. teori Analitik dari Carl Gust av Jung. teori The Sel f dari Carl Rogers dan sebagainya. b. m arah. 7. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersang kutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Bersikap kejam 5. 3. Temperamen. 2. c. Sering merasa tertekan (stress atau depresi) 4. 8. yaitu kadar kestabilan reaksi emos ional terhadap rangsangan dari lingkungan. Stabilitas emosi. Hull. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Abin Syamsuddin (2003) mengemu kakan kepribadian. Sikap. Ketid akmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang 6. teori Psikologi Individual dari Allport. Kebiasaan berbohong 7. 2003) mengemukakan ciri-ciri kepribadian yang sehat atau tidak sehat. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpen garuh. yaitu disposisi re aktif seorang. Menunjukkan kekhawatiran dan kece masan 3. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan inter personal. sedih. 6. yang di dalamnya mencakup : tentang aspek-aspek a. sebagai berikut : KEPRIBADIAN YANG SEHAT 1. Responsibilitas (tanggung jawab). cuci tangan. mulai dari yang menunjukkan ciri-ciri kepribadian yang sehat sampai denga n ciri-ciri kepribadian yang tidak sehat. Seperti : sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berko munikasi dengan orang lain. teori Medan dari Kurt Lewin. Dalam hal ini.

Sifat-sifat atau ciri-ciri perilaku yang diturunkan orang tua kepada anaknya hanyalah bersifat . Kurang be rgairah Berdasarkan uraian diatas kita dapat memahami bahwa ketika seorang guru berhadap an dengan peserta didiknya di kelas. (2) tiap-tiap pasangan faktor keturunan me nentukan bentuk alternatif sesamanya. Senang mengkritik/ mencemooh 10. Pesimis 15. Herediter. dan satu dari pada pasangan alternatif itu memegang pengaruh besar. Memiliki filsafat hidup 11. Berdasar kan percobaannya dengan cara mengawinkan bunga merah dengan bunga putih. pasangan faktor keturunan itu memisah. dengan memperhatikan aspek perbedaan atau keragaman kecakapan dan kepri badian yang dimiliki peserta didiknya. Oleh karena itu. Gregor Mendel mengemukakan pandangannya. Asas Reproduksi Menurut asas ini bahwa kecakapan (achievemen t) dari masing-masing ayah atau ibunya tidak dapat diturunkan kepada anak-anakny a. para ahli sepakat bahwa pada d asarnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh tiga faktor u tama. pembawaan sejak lahir atau berdasarkan keturunan yan g bersifat kodrati. yaitu : a. Sehingga peserta didik dapat mengembangka n diri sesuai dengan kecepatan belajar dan karakteristik perilaku dan kepribadia nnya masing-masing. Kendati demikian. Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas 9. seperti : konstitusi dan struktur fisik.9. Kurang rasa tanggung jawab 12. S ulit tidur 11. Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama 14. se yogyanya guru dapat memperlakukan peserta didik dan mengembangkan strategi pembe lajaran. Sering mengalami pusing kepala 13. Hasil percobaan Mendel ini menjelas kan kepada kita bahwa faktor keturunan memegang peranan penting bagi perilaku da n pribadi individu. Beberapa asas tentang keturunan di bawah ini akan memberikan gambaran pembanding kepada kita tentang apa-apa yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya : 1. 2. bahwa : (1) tiap-tiap sifat (traits) makhluk h idup itu dikendalikan oleh keturunan. kecakapan potensial (bakat dan kecerdasan). Seberapa kuat pengaruh keturunan sangat bergantung pada besarnya kualitas gen yang dimiliki oleh orang tuanya (ayah atau ibu). dan tiap-tiap sel kelaminnya menerima sa lah satu faktor dari pasangan keturunan itu. dia dihadapkan dengan sejumlah keragaman ke cakapan dan kepribadian yang dimiliki para peserta didiknya. Penerimaan sosial 10. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman dalam Kecakapan dan Kepribadian Timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian d ipengaruhi oleh bebagai faktor. dan (3) pada waktu proses pembentukan sel-sel kelamin. Berbahagia 8.

yaitu memunculkan kembali mengenai apa yang sudah ada pada hasil per paduan benih saja.2. lingkungan tempat di mana individu itu berada dan berinteraksi. dan bukan didasarkan pada perilaku orang tua yang diperolehny a melalui hasil belajar atau hasil berinteraksi dengan lingkungannya. termasuk didalamnya ad alah belajar. Lingkungan membuat individu sebagai makhluk s osial . dapat k ita ikuti pada uraian berikut : 1.Misalnya. Sejauh mana pengaruh lingkungan itu bagi diri individu. Asas Varia si Bahwa penurunan sifat pembawaan dari orang tua kepada anak-anaknya akan berva riasi. baik mengenai kuantitas maupun kualitasnya. Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai e mpirik yang berarti pengalaman. Seorang anak perempuan akan lebih banyak mem ilki sifat-sifat dan tingkah laku ayahnya. baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis. Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mu tlak dari pada pengaruh lingkungan itu. karena dengan lingkungan itu individu mulai meng alami dan mengecap alam sekitarnya. akan didapati beberapa perbedaan sifat dan cir i-ciri perilaku individu dari orang yang bersaudara. sehingga mungkin saja kakaknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ayahnya sedangkan adiknya lebih banyak menyerupai sifat d an ciri-ciri perilaku ibunya atau sebaliknya. karena lingkungan itu senantiasa tersedi a di sekitarnya. orang Eropa akan menyerupai sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku seperti orang -orang Eropa lainnya dibandingkan dengan orang-orang Asia. 4. Asas konformitas Berdasarkan asas konformi tas ini bahwa seorang anak akan lebih banyak memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku yang diturunkan oleh kelompok rasnya atau suku bangsanya. sehingga akan didapati sebagian kecil dari sifat-sifat ayahnya dan sebagian kecil pula dari si fat-sifat ibunya. Oleh karena itu. walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama. 3. b. Environment. baik yang berasal dari ayah maupun ibu. 5. Asas Regresi Filial Terjadi pensur utan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan o leh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. Hal ini disebabkan karena pad a waktu terjadinya pembuahan komposisi gen berbeda-beda. sedangkan bagi anak laki-laki akan le bih banyak memilki sifat pada ibunya. reproduksi. Asas Jenis Menyilang Menurut asa s ini bahwa apa yang diturunkan oleh masing-masing orang tua kepada anak-anaknya mempunyai sasaran menyilang jenis. Sedangkan perbandingannya mana yang lebih besar antara sifat-s ifat ayah dan ibunya ini sangat tergantung kepada daya kekuatan tarik menarik da ri pada masing-masing sifat keturunan tersebut.

c. Terputusnya hubungan manusia dengan m asyarakat manusia pada tahun-tahun permulaan perkembangannya. baik secara alloplastis maupun autoplastis. Penyesuaian dir i alloplastis artinya individu itu berusaha untuk merubah lingkungannya. maka sudah dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mampu be rbicara dengan bahasa yang biasa. Contoh : a ir banjir pada musim hujan mendorong manusia untuk mencari cara-cara untuk menga tasinya. b. 2. Obyek penyesuaian diri bagi individu. Dapat kita bayangkan andaikata seorang anak manusia yang sejak lahirnya dipisahkan dari pergaulan manusia sampai kira-kira berusia 10 tahun saja.Yang dimaksud dengan lingkungan pada uraian ini hanya meliputi orang-orang atau manusia-manusia lain yang dapat memberikan pengaruh dan dapat dipengaruhi. Contoh : seorang anak yang senantiasa bergaul dengan temannya yang rajin belajar. Lingkungan me miliki peranan bagi individu. individu melakukan manipulation yaitu mengadakan usa ha untuk . Contoh : air dapat dipergunakan untuk minum atau menjamu teman ketika berkunjung ke rumah. sebagai : a. sedikit banyaknya sifat rajin dari temannya akan diikutinya sehi ngga lama kelamaan dia pun berubah menjadi anak yang rajin. Tant angan bagi individu dan individu berusaha untuk dapat menundukkannya. karena manusia hidup adalah manusia yang berfikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba terhadap segala apa yang tersedia di alam sekitarnya. Sesuatu yang diikuti individu. canggung pemalu dan lain-lain. maka penyesuaian dirinya itu akan berlangsung sangat la mbat sekali. akan tetapi serentak dia dihadapkan kep ada pergaulan manusia. apabila dianggap sesuai de ngan dirinya. walau pun diberinya cukup makanan dan minuman. d. akan mengakibatkan berubahnya tabiat manusia sebagai manusia. Contoh : dalam keadaan cuaca panas individu memasang kipas angin sehingga dikamarnya me njadi sejuk. sehin gga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya. Berubahnya tabiat manusia sebagai ma nusia dalam arti bahwa ia tidak akan mampu bergaul dan bertingkah laku dengan se samanya. Lingkungan dapat membentuk pribadi seseoran g. Dalam hal ini. Alat untuk kepentingan dan kelangsung an hidup individu dan menjadi alat pergaulan sosial individu. Lingkungan membuat wajah budaya bagi individu Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah m enjadi kekayaan budaya bagi dirinya. Lingkungan yang beraneka ragam senant iasa memberikan rangsangan kepada individu untuk berpartisipasi dan mengikutinya serta berupaya untuk meniru dan mengidentifikasinya. Sehingga kalaup un dia kemudian dididik.

Sedang kan penyesuaian diri autoplastis. c. Kematangan pada awalnya merupakan hasil dari adanya peru bahan-perubahan tertentu dan penyesuaian struktural pada diri individu. pada awalnya dia merasa mual karena bau obat-obatan. Maturity. Kematangan terjadi pula pada aspek-asp ek psikis. religius. dan kemudahan peserta didiknya dalam m enyelesaikan tugastugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulang an atau ujian. hasil belajar yang diperoleh peserta didik. Aptitude c. terutama dalam mata pelajaran Matematika d an bahasa Inggris b. kecepatan ketepatan. otot. namun lama-kelamaan dia me njadi terbiasa dan tidak menjadi gangguan lagi. moral.E. Kematangan seperti ini disebut kematangan biologis. sosial. Achievement b. kematangan yang mengacu pada tahap-tahap atau fase-fase perkembanga n yang dijalani individu. Kepribadian 2. emosi. seperti adanya kematangan jaringan-jaringan tubuh. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. termasuk belajar) M=Maturity (tingkat kematangan) D. Ketiga faktor tersebut di atas dapat dibuat formulasi sebagai berikut : P= f (H. Latihan Soal : Pilihan Ganda Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda pa ling tepat. penyesusian diri yang dilakukan individu agar dirinya sesuai dengan lingkungannya. . Inteligensi d. dan kepribadian. Untuk mengenali tingkat kecerdasan peserta didiknya.memalsukan lingkungan panas menjadi sejuk sehingga sesuai dengan dirinya. syaraf dan kelenjar. Kecakapan khusus indivi du yang merupakan hasil pembawaan.M) P= Pribadi atau perilaku f = fungsi H= Herediter (pembawaan) E=Environment (ling kungan. seorang guru dapat melakukan pengamatan dengan melihat indikator sebagai berikut : a. karena dirinya telah sesuai deng an lingkungannya. seperti : kemampuan berfikir. a. Kematangan aspek psikis ini diperlukan adanya latihan dan belajar tert entu. Contoh : seorang juru rawat di rumah sakit.

(5) kemampuan b ilangan (numerical ability). b.c. d. c. (2) kemampuan mengingat (memory). a. d. Berdasarkan hasil test kecerdasan. (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor). 3. Di bawah ini merupakan aspek-aspek kepribadian menurut Abin Syamsuddin Makmun : a. mampu belajar/bekerja secara mandiri. b. cara berbicara dan bertindak peserta didik sehari-hari. (3) kemampuan nalar atau berfi kir (reasoning). karakter dan temperamen stabilitas emosi sikap dan stabilitas emo si responsibilitas dan sosiabilitas a. Disposisi reaktif seorang. kemampuan usia prestasi belajar a. dan c benar terhadap rangsangan8. selalu memperoleh peringkat pertama di kelas memiliki kemampuan me mikirkan beberapa macam pemecahan masalah. Very Superior Superior Genius Di atas rata-rata 6. dan c benar 5. d. a. (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency). b. Intelligence Quotient (IQ) merupakan ukuran tingkat kecerdasan seseorang diba ndingkan dengan : a. 7. b. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa X memiliki kecerdasan tergolong : a. b. d. Di bawah ini merupakan ciri-ciri keberbakatan dalam rangka percepatan belajar (accelerated learning). Two Factors Primary Mental Abilities Multiple Intlelligence a. dan c benar 4. atau cepat lambatnya mereaksi rangsangan yang data ng dari lingkungan. c. b dan c benar. c. Inteligensi merupakan penjelmaan dari : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension). b. dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual speed). Merupak an teori inteligensi : a. c. tidak memerlukan dorongan (motivas i) dari luar. karakter . b. siswa X memperoleh ukuran kecerdasan (IQ) sebesar 135. c. d. b. kecuali : a. d.

alloplastis b. lingkungan dan kematangan dapat mempengaruhi terhadap timbulnya keragaman dal am kecakapan dan kepribadian ! . stabilitas emosi d. well-adjusment Uraian 1. sikap dan stabilitas emosi 9. temperamen c. mal-adjusment d. Penyesuaian diri yang dilakukan individu dengan berusaha merubah lingkungann ya. autoplastis c. d. J elaskan tentang teori Multiple Inteligensi menurut Howard Gardner ! 2.b. a. Jelaskan bahwa faktor heredite r. a. A sas Reproduksi Asas Variasi Asas konformitas Asas Jenis Menyilang 10. b. Jelaskan bagaimana cara mengukur kecerdasan seseorang ? 3. Terjadi pensu rutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. c.

dan remaja.BAB III PERKEMBANGAN INDIVIDU A. aspek-aspek perkembangan perilaku dan pribadi pada masa remaja. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Pe rkembangan Pada Masa Remaja C. Menjelaskan tentang aspek-aspek perkembangan individu. tugas perkembangan individu dan masa remaja. progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – p erubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya. 2. serta problema yang dihadapi pada masa remaja. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. B. dan model pentahapa n perkembangan individu. Menguraikan tugas-tugas perkembangan individu pada masa bayi kanak-kanak. Pengertian Perkembangan Perkembangan dapat diartikan sebag ai perubahan yang sistematis. Menjelaskan tahapan perkembangan individu berdasarka n pendekatan didaktis. 5. 2. 5. Peng ertian Perkembangan. Mendefinisik an perkembangan. 4. 3. Intisari Bacaan 1. 3. prinsip-prinsip perkembangan. 6. 4. . Mengidentifikas i ciri-ciri umum perkembangan. Aspek – Aspek Perkembangan Individu. Pokok Bahasan 1. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Model Pentahapan Perke mbangan. diharapkan Anda dapat : 1.

Struktur mendahului fungsi. Setiap individu normal akan mengalami tahap an/fase perkembangan. b. Syamsu Yusuf (2003) memerinci. Contoh : perubahan prop orsi dan ukuran fisik (dari pendek menjadi tinggi dan dari kecil menjadi besar). e. Cephalocaudal & proximal-distal (perkembangan manusia itu mu lai dari kepala ke kaki dan dari tengah (jantung. Diferensiasi ke integrasi. Berkesinamb ungan artinya bahwa perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan. Fisik. paru dan sebagainya) ke sampin g (tangan). Dari outer control ke inner control. 5. Dari egosentris ke perspektivisme. seperti : berbicara dan berfikir. Semua aspek perkembang an saling berhubungan. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Perkembangan individu mempunyai ciri-cir i umum sebagai berikut : a. Terjadinya perubahan dalam aspek : 1. yaitu : a. 2. Progresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju. f. b. seperti : berat dan tinggi badan. Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu. Yelon dan Winstein (Syamsu Yusuf. baik fisik maupun psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmon is. Psikis. 2. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan.Yang dimaksud dengan sistematis adalah bahwa perubahan dalam perkembangan itu be rsifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. Contoh : kemampuan berbicara seseorang akan sejalan dengan kematangan dalam perkembangan intelektual atau kognitifnya. Setiap fa se perkembangan mempunyai ciri khas. seorang anak terl ebih dahulu harus menguasai tahapan perkembangan sebelumnya yaitu kemampuan dudu k dan merangkak. Contoh : untuk dapat berdiri. Dari konkret ke abstrak. ba ik secara kuantitatif (fisik) mapun kualitatif (psikis). Lebih jauh lagi. c. meningkat dan meluas. 2003) mengemukakan tentang arah atau pola perkembangan s ebagai berikut : 1. perubahan pengetahuan dan keterampilan dari sederhana sampai kepada yang komple ks (mulai dari mengenal huruf sampai dengan kemampuan membaca buku). Terja dinya perubahan dalam proporsi. 4. . individu. beberapa prinsip perkembangan Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti. 3. Begitu juga ketertarikan seorang remaja ter hadap jenis kelamin lain akan seiring dengan kematangan organ-organ seksualnya. 6. 2. Kemampuan berjalan seseorang akan sei ring dengan kesiapan otot-otot kaki. d.

Lenya pnya tanda-tanda yang lama. perilaku impulsif.Late Adolesence Adulthood (masa dewasa) Middle age (tengah baya) Old Age (m asa tua) Waktu 0-7 th 7-14 th 14-21 th 0. Di bawah ini disajikan tabel tentang model tahapan perkembangan yang dikemukakan oleh beberapa ahli. seperti : proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangann ya. 2. Fisik. d. seperti kumis dan jakun pa da laki dan tumbuh payudara dan menstruasi pada wanita. 2. Para ahli mengemukakan pe ndapat tentang model – model petahapan yang beragam. 2. Fisik. Psikis. terutama yang berkaitan den gan sex. seperti : lenyapnya masa mengo ceh.Pre Adolesence . Psikis. nilai-nilai moral dan keyakinan beragama. 1. Diperolehnya tanda-tanda baru. seperti : pe rgantian gigi dan karakteristik sex pada usia remaja. ilmu pengetahuan. Model Pe ntahapan Perkembangan Individu Memperhatikan kompleksitas dari sifat perkembanga n individu. 1. seperti berkembangnya rasa ingin tahu. c. Fisik. maka untuk kepentingan studi para ahli telah mencoba mengembangkan m odel pentahapan (stages) mengenai proses perkembangan. seperti: rambut-rambut halus dan gigi susu . 3. seperti : perubahan imajinasi dari fantasi ke realistis.Early Adolesen ce . Psikis. didaktis. kelenjar thymus dan kelenjar pineal. yang secara garis besarnya da pat dikelompokkan ke dalam tiga pendekatan yaitu pendekatan biologis. tumbuh uban pada masa tu a.1.wafat Syamsu Yusuf Rosseau Kretschmer Elizabeth Hurlock . Nama Ahli Aristoteles Tahapan Masa Kanak-Kanak Masa Anak Sekolah Masa Remaja Mas a Usia Pra Sekolah Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Menengah Masa Usia Mahapeserta didik Tahap I Masa Asuhan Tahap II Masa Pendidikan Jasmani dan latih an Panca Indera Tahap III Masa Pendidikan Akal Tahap IV Masa Pendidikan Watak da n Agama Fullungs (Pengisisian) I Streckungs (Rentangan) I Fullungs (Pengisisian) II Streckungs (Rentangan)II Pranatal Infancy (orok) Babyhood (bayi) Childhood ( kanak-kanak) Adolesence/puberty (masa remaja): .25 th 0-2 th 2-12 th 12-15 th 15-20 th 0-3 th 3-7 th 7-13 th 13-20th 9 bln-280 hr 10 hr-14 h r 2 mng -2 th 2 th-remaja 11-13 th 16-17 th 18-21 th 21-25 th 25-30 th 30. dan psikologis.6 th 6-12 th 12-18 th 18.

Kurang introspeks i 7. yaitu : Tahap Impulsif Ciri – Ciri Identitas diri terpisah dari orang lain Bergantung pada lingkungan Beorientasi hari ini Individu tidak menempatkan diri sebagai penyeba b perilaku Peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berh ubungan dengan orang lain 2. Berfikir tidak logis dan stereotip 4. Peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial 1. Berfikir sterotip dan klise 3. Peduli terhadap penampilan di ri 2. Bertindak atas dasar nilai internal 2. Mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan 6. Peduli akan paham abstrak. Takut tidak diterima k elompok 9. Memiliki tujuan jangka p anjang 6. Mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik 3. Peduli akan hubungan mutualistik 5. Mengenal eksistensi perbedaan individual 5. Menjadi lebi h toleran terhadap diri sendiri dan orang lain 4. Mampu melihat keragaman emosi. Bersikap realistis dan obyektif terhadap di ri sendiri maupun orang lain 3. Merasa berdosa jika melang gar aturan 1. Me mbedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya 7. Dan perspektif diri 4. Tidak sensitif terhadap keindividualan 10. Bertindak d engan motif dangkal 5. 4. 1. Peduli akan aturan eksternal 4. Mengenal kompleksitas diri 8. Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan 3. Perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal 8. Memiliki pandanga n hidup sebagai suatu keseluruhan 2. Peningkatan kesadaran invidualitas 2. Perlindungan Diri Konformistik Seksama Individualistik Otonomi . 2.operasional 0-2 th 2-7 th 2-4 th 4-7 th 7-11 th 11-15 th Loevenger sebagaimana dikemukakan oleh Sunaryo dkk (2003) mengemukakan tentang f ase-fase perkembangan individu beserta ciri-cirinya.Intuitif Konkret -Operasional Formal . Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain 1. Menyamakan diri dalam ekspresi emosi 6. Melihat kehidupan sebagai “zero-sum game” 5. motif. Kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan 3. Cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial 7. 4. Berfikir lebih kom pleks dan atas dasar analisis 1. 3.Pre-konseptual . seperti keadilan sosi al.Piaget Sensori-motor Pra-operasional : . Mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan 1.

Masa Usia Pra Sekolah Masa Usia Pra Sekolah terbagi dua yaitu (1) Masa Vital dan (2) Masa Est etik 1. 3. Adanya k orelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional. 2. tela h mengembangkan suatu instrumen untuk melacak tugas-tugas perkembangan individu. Masa Usia Sekolah Da sar terbagi dua. mulai dari yang paling dekat sampai dengan ruang yang jauh. 7. Sunaryo. dkk. anak belajar mengendalikan impulsimpuls atau dorongan-dorongan yang da tang dari dalam dirinya. Melalui latihan ke bersihan. Adanya kecenderungan memuji di ri sendiri Membandingkan dirinya dengan anak yang lain Apabila tidak dapat menye lesaikan suatu soal. Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual. Peduli akan self fulfillment Ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal Respek terhadap kemandirian orang lain Sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain Mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan kece riaan Dengan memperhatikan fase dan ciri-ciri perkembangan di atas. b. 4. di bawah ini dikemukakan tahapa n perkembangan individu dengan menggunakan pendekatan didaktis: a. Masa Vital. yaitu : (a) masa kelas-kelas rendah dan (b) masa kelas tinggi. Pa da tahun kedua umunya terjadi pembiasaan terhadap kebersihan.5. de ngan merujuk pada pemikiran Syamsu Yusuf (2003). Selanjutnya. atau masa keserasian bersekolah pada umur 6 -7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. dianggap sebagai masa perkembangan ras a keindahan.Pada tahun kedua anak belajar berjalan sehingga anak belajar menguasai ruang. Untuk masa belajar pada tahun pertama dalam kehidupan individu . karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan merupakan alat untuk melakukan eks plorasi dan belajar. Anak bereksplorasi dan belajar melalui panca inderanya. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 – 9/10 tahun) : 1. maka soal itu dianggap tidak penting. Pada masa i ni panca indera masih sangat peka. 6. Freud menyebutnya sebagai masa oral (mulut). Masa Estetik. 2. Yang dikenal dengan sebutan Inventori Tugas Perkembangan (ITP). pada masa ini individu menggunakan fungsi-fungsi biologis un tuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. 8. 5. . 9.

yang intinya pada masa ini merupakan pem antapan pendirian hidup.00 tahun) Masa ini dapat digolongkan pada masa remaja akhir sam pai masa dewasa awal atau dewasa madya. 3. biasanya ditandai dengan sifat-sifat negatif. rasa ingin t ahu dan ingin belajar 3. masa remaja awal.00-25. pada masa i ni mulai tumbuh dorongan untuk hidup.6. Samp ai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesa ikan tugas dan memenuhi keinginannya. 4. dal am jasmani dan mental. Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi s ekolahnya. Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus 4. setelah remaja dap at menentukan pendirian hidupnya. Masa Usia Sekolah Menegah Masa usi a sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja. yang terbagai ke dalam 3 bagia n yaitu : 1. Pada masa ini sebagai masa mencari sesuatu yang dipandang bernilai. proporsi tinggi kepala dengan tinggi garis keajegan badan secara secara kese luruhan. Aspek. . indeks tinggi dan berat bad an. Masa Usia Kemahas iswaan (18. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) : 1. c. serta sikap sosial. masa remaja akhir. kebutuhan akan adanya teman yang dapat mem ahami dan menolongnya. prestasi. d. Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. masa remaja. 6. Perkembangan anatomis . Perkembangan F isik Perkembangan fisik individu mencakup aspek-aspek : 1. Minat ter hadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret 2. adanya perubahan kuantitatif pada struktur tulang. Dalam perma inan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sud ah ada). pada dasarnya telah tercapai masa remaja akhir dan telah terpenuhi tugas-tugas perkembangan pada masa remaja. pantas dijunjung dan dipuja. Amat realistik. yang akan member ikan dasar bagi memasuki masa berikutnya yaitu masa dewasa. mereka membuat peraturan sendiri. Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor ya ng baik. 2. tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak.Aspek Perkembangan Individu a. Selepas usia ini pada umumnya anak menghad api tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya 5.

Loree dalam Abin Syamsuddin (2003) mengatakan bahwa ada dua macam perilaku psikomotorik utama yang bersifat universal harus d ikuasai oleh setiap individu pada masa bayi atau masa kanak-kanak yaitu berjalan (walking) dan memegang benda (prehension).2. laju per. dan bahasa ekspresif dengan belajar menul is. Puncak perkembangan pada umumnya tercapai di penghuju ng masa remaja akhir. dan s etelah itu terjadi plateau (mapan) sampai dengan usia 60 tahun selanjutnya beran gsur menurun. manusia. dan (2) dari yang kasar dan g lobal (gross bodily movements) kepada yang halus dan spesifik dan terkoordinasik an (finely coordinated movements). ditandai dengan adanya perubahan secara kualitatif.gerik. setelah itu kepes atannya berangsur menurun. b. yaitu : (1) bahwa perkembangan itu ber langsung dari yang sederhana kepada yang kompleks. pada usia sekolah menjadi lambat. mengekspresikan dan mengkomunikasikan berb agai informasi. baik dalam bentuk lisan. gemar bertanya yang tidak selalu har us dijawab.kembangan menurun sangat lamb at bahkan menjadi mapan. afektif. membuat kalimat sederhana. mencatat. lukisan gerak . Perkembangan bahasa dimulai dengan ma sa meraban. Perkembangan Perilaku Kognitif Dengan m enggunakan hasil pengukuran tes inteligensi yang mencakup General Information an d Verbal Analogies. seperti konstraksi otot-ot ot. Melalui bahasa. Kedua jenis keterampilan ini menjadi dasar bagi perkembangan keterampilan yang lebih kompleks untuk bermain (playing ) dan bekerja (working). haus nama-nama. persyarafan. pada permulaan masa remaja akhir bagi wanita dan penghujung masa remaja akhir bagi pria. Jones dan Conrad (Loree.1970) menunjukkan bahwa laju perkemb angan inteligensi berlangsung sangat pesat sampai masa remaja. Perkembangan Bahasa Kemampuan berbahasa merupakan ke mampuan yang membedakan antara manusia dengan hewan. peredaran darah dan pernafasan. Perkembangan fisiologis. Laju perkembangan berjalan secara berirama. Kemudian. menyimpan. konatif). Perkembangan Perilaku Psikomotorik Perkembangan psik omotorik memerlukan adanya koordinasi fungsional antara neuronmuscular system (s istem syaraf dan otot) dan fungsi psikis (kognitif. Perubahan-perubahan amat tipis sampai usia 50 tahun. c. kuantitaif dan fungsional dari sistem kerja biologis. . Dua prins ip utama dalam perkembangan psikomotorik. me ngkodifikasikan. sekresi kelenjar dan pencernaan . pada masa bayi dan kanak-kanak per ubahan fisik sangat pesat. membaca dan menggambar permulaan. tulisan. d. mulai masa remaja t erjadi amat mencolok. bicara monolog. dan mimik serta simbol ekspresif lainnya. gambar.

sebaga i berikut : 1.dewasa) . benda apapun yang tidak ia lihat. Sebelum usia 18 bulan. Tahap Sensori-Motor (0-2) Inteligensi sensori-motor dipandang seb agai inteligensi praktis (practical intelligence). yang berfaedah untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum mampu berfikir mengenai apa yang sedang i a perbuat. didengar atau disentuh lagi. yakni tidak bergantung lagi pada pengamatannya belaka. Tahap Pra Operasional (2 – 7) Pada tahap ini anak sudah memiliki penguasaan sempurna tentang object permanence. Jadi. 4. Pada periode in i anak baru mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristi wa yang konkret.24 bulan barulah kemampuan object permanence anak ters ebut muncul secara bertahap dan sistematis. atau tidak ia dengar dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya benda it u ada. anak belu m mengenal object permanence. Bloom (1964) mengungkapkan prosentase tar af perkembangan sebagai berikut : Usia 1 tahun 4 tahun 8 tahun 13 tahun Perkembangan Sekitar 20 % Sekitar 50 % Sek itar 80 % Sekitar 92 % Secara kualitatif perkembangan perilaku kognitif diungkapkan oleh Piaget. Pada periode ditandai oleh adanya eg osentris serta pada periode ini memungkinkan anak untuk mengembangkan diferred-i mitation. Dalam rentang 18 . Inteligensi individu pada tahap ini masih bersifat primitif. pandangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dengan pandangan pada periode sensori motor. namun me rupakan inteligensi dasar yang amat berarti untuk menjadi fondasi tipe-tipe inte ligensi tertentu yang akan dimiliki anak kelak. Tahap formal-operasional (11 . 3 . Tahap konkret-operasional (7-11) Pada periode ditandai oleh adanya tambahan ke mampuan yang disebut system of operation (satuan langkah berfikir) yang bermanfa at untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dal am pemikirannya sendiri. anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yan g harus ada atau biasa ada. Artinya. tidak i a sentuh. 2. Namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. insight learning dan kemampuan berbahasa. dengan menggunakan kata-kata yang benar serta mampu mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif.Dengan berpatokan kepada hasil tes IQ. Art inya. walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sud ah tak dilihat. Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa.

baik yang menyangkut nilai. ia menyadari bahwa d irinya merupakan bagian dari masyrakat dan dituntut untuk berperilaku sesuai den gan tuntutan masyarakat. e. dengan menampilkan kebiasaan-kebiasaan khasnya (particular fashio n). Krech et. Pada awalnya. mengidentifikasi dan mengamati segala sesuatu yang ditampilkan orang tua dan anggota keluarga lainnya. al. (1962) mengemukan bahwa untuk memahami perilak u sosial individu. Perkembangan Perilaku Sos ial Sejak individu dilahirkan ke muka bumi ini ia telah mulai belajar tentang ke adaan lingkungan sosialnya. Selanjutnya ia mempelajari keadaan-keadaan di luar rumah. .Pada periode ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yaitu : a. Kagan (1972) mengartikan sosialisasi sebagai: “…the process by which the child is integrated int o the society throgh exposure to the actions and opnions of older members of the society”. ia mempelajari segala yang terjadi dal am lingkungan keluarga. b. Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sosialisasi pada intinya merupakan upaya mempersiapkan individu untuk dapat berperilaku sesuai dengan li ngkungan sosialnya. yang d ibagi ke dalam tiga kategori : 1. 3. kepercayaan terhadap individu lain. Kapasit as menggunakan hipotesis Kemampuan berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkun gan yang dia respons dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. ciri-ciri respons interpersonal yan g merujuk kepada tugas dan kewajiban dari posisi tertentu. Kecenderungan sosiom etrik (sociometric disposition). dapat dilihat dari ciri-ciri respons interpersonalnya. 2. Kecenderungan ekspresif (expressive disposition). Akhirnya. Sementara itu Gilmore (1974) mengemukakan bahwa “…socialization is the proc ess whereby an individual is prepared or trainned to participate in his environm ent”. d an kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam masyarakat. Kecenderungan peranan (role disposition). Proses tersebut biasa disebut sosialisasi. Ia mencoba meniru. ciri-ciri respons interpersonal yang bertautan dengan ekspresi diri. ciri-ciri respons interpersonal yang bertalian dengan kesukaan. Kapas itas menggunakan prinsip-prinsip abstrak Kemampuan untuk mempelajari materi-mate ri pelajaran yang abstrak secara luas dan mendalam. norma.

norma-norma/nilai -nilai sebagai dasar atau patokan dalam berperilaku.4 ) Trozt Alter Kanak – Ka nak Akhir ( 4 – 6 ) Masa Subyektif Menuju Masa Obyektif Anak Sekolah ( 6 – 12 ) Masa Obyektif Kritis II ( 12 – 13 ) Masa Pre Puber Remaja Awal ( 13 – 16 ) Masa Subyekti f Menuju Masa Obyektif Remaja Akhir ( 16 – 18 ) Masa Obyektif Ciri-Ciri Segala sesuatu dilihat berdasarkan pandangan sendiri Pembantah. 2. Dalam hal ini. Kohlberg mengemukakan tahapan perkembangan mor alitas individu. sebagaimana tampak dalam tabel berikut : Tingkat Pre Conventional (0 – 9) 1. Keputusan untuk melakukan s esuatu berdasarkan pertimbangan norma yang berlaku dan nilai yang dianutnya itu disebut moralitas. Tahap Orientasi terhadap kepatuhan dan huku man Relativistik hedonism .Sementara itu. serba salah. Perkembangan Moralitas Ketika individu mulai menyadari bahwa ia merupakan bagian dari lingkungan sosial dimana ia berada. ingin diuji Mulai menyadari adanya kenyata an yang berbeda dengan sudut pandangnya Berperilaku sesuai dengan tuntutan masya rakat dan kemampuan dirinya f. keras kepala Mulai bisa menyesuaikan diri dengan aturan Membandingkan dengan aturan – at uran Perilaku coba-coba. Buhler (Abin Syamsuddin Makmun. bersamaan itu pula individu mulai meny adari bahwa dalam lingkungan sosialnya terdapat aturan-aturan. 2003) mengemukakan tahapan dan ci ri-ciri perkembangan perilaku sosial individu sebagaimana dapat dilihat dalam ta bel berikut : Tahap Kanak-Kanak Awal ( 0 – 3 ) Subyektif Kritis I ( 3 .

baik secara individual maupun ko lektif. Orientasi mengenai anak yang baik Mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas Orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial Prinsip e tis universal g. kognitif. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan Penghayatan roha niahnya cenderung skeptik. pada saat-saat tertentu. Perkembangan Penghayatan Keagamaan Dengan melalui pertimbangan fungsi afektif . ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran manu sia perkembangan keagamaan . 5. 6. Oleh karena itu. individu akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agu ng yang melebihi apa pun. namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. termasuk dirinya. bersa maan dengan kedewasaan intelektual bahkan akan agama menjadi pegangan hidupnya P andangan ke-Tuhan-an dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihny a Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja. sehingga banyak yang enggan melaksanakan ritual yang selama ini dilakukan dengan penuh kepatuhan Sikap kembali ke arah positif. dan konatifnya. secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari. Penghayatan seperti itu disebut peng alaman keagamaan (religious experience) (Zakiah Darajat. Abin Sy amsuddin (2003) menjelaskan tahapan sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Tahapan Ciri-Ciri Sikap reseptif meskipun banyak bertanya Masa Kanak-Kanak Panda ngan ke-Tuhan-an yang dipersonifikasi Penghayatan secara rohaniah yang belum men dalam Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadin ya) Sikap reseptif yang disertai pengertian Pandangan ke-Tuhan-an yang diterangk an secara rasional Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam. melaksanakan ke giatan ritual diterima sebagai keharusan moral Sikap negatif disebabkan alam pik irannya yang kritis melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pur a) Masa Sekolah Masa Remaja Awal Masa Remaja Akhir Pandangan ke-Tuhan-an menjadi kacau. manus ia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan diserta i penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu. 4. Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan ata s kebaradaan-Nya.Conventional (9 – 15) Post Conventional ( > 15 ) 3. 1970).

menunjukkan alat kelaminnya melihat. Perkembangan Perilaku Konatif Perilaku konatif merupakan perilaku yang berhub ungan dengan motivasi atau faktor penggerak perilaku seseorang yang bersumber da ri kebutuhan-kebutuhannya. memilih dan memasukkan benda kemulut Memilih benda dan digigitnya secara sadis Dubur dan ben da Memeriksa dan memainkan duburnya Memainkan dan memperhatikan duburnya Menyent uh. merusak dengan mulut Mulut sendiri. MASA REMAJA (ADOLESENCE PERIOD) Mengurangi cara-cara waktu masa kanakkanak Munculnya cara orang memperoleh pemua san dewasa Menyenangi diri sendiri (narcisism) atau objeck oediphus-nya Objek pemuasannya m ungkin diri sendiri/sejenis (homosexual) atau lain jenis (heterosexual) . Ditujukan kepada orang tuanya (oediphus atau electra phantaties) Memilih benda dan menyentuhnya/memasukkan ke dubur B.2003 ) mengemukakan tentang tahapan-tahapan perkembangan perilaku yang berhubungan ob yek pemuasan psychosexual.derungan kasih sayang Berkembangnya perasaan sosial perasaan– C.h. siap berfungsinya alat kelamin Cara Pemuasan Sasaran Pemuasan A. Freud (Di Vesta & Thompson dalam Abin Syamsuddin. MASA ANAK SEKOLAH (LATENCY PERIOD) Represi Reaksi formasi Sublimasi dan kecen . memegang. MASA BAYI DAN KANAK-KANAK (INFANCY PERIOD) Infantile Sexuality Mulut dan bend a Menghisap ibu jari Menggigit. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Daerah Sensitif Pre Genital Period Oral Stage Early Oral Late Oral Anal Stage Ea rly Anal Late Anal Early Genital Period (phalic stage) No New Zone (tidak ada da erah sensitif baru) Late Genital Period Hidup kembali daerah sensitif waktu masa kanak-kanak Akhirnya.

tetapi orang yang dianggap as ing dia tidak akan mempercayainya. dan (3) pola s ambutan. tempat asing. Perkembangan Kepribadian Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan. suara as ing. 1970) menjelaskan proses perkembangan dan diferensiasi emosional pada anak-anak. Terdapat dua di mensi emosional yang sangat penting untuk dipahami yaitu : (1) senang – tidak sena ng (suka-tidak suka). Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya. sedangkan variabel yang kedua merupakan yang tidak mungkin dirubah karena terjadinya pada individu secara mekanis. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut s eringkali bayi menangis. berdiri. Bridges (Loree. kebencian dan ketakutan Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kecemburuan mulai berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kenikmata n dan keasyikan berdiferensiasi dari kesenangan Ketidaksenangan berdiferensiasi di dalam rasa malu. Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan autonomy – shame. pada umumnya selalu melibatkan tiga variabel.3 bln 3 – 6 bln 9 – 12 bln 18 bulan pertama 2 th 5 th Ciri-Ciri Bayi dilengkapi kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. Perkembangan Emosional Aspek emosional dari suatu perilaku. Ia bukan saja tidak percaya kepa da orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing. Pada masa ini sampai-batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri. cemas dan kecewa sedangkan kesenangn berdiferensiasi ke dala m harapan dam kasih sayang j. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di se kitarnya. cahaya. (2) perubahan– perubahan fisiologis yang terjadi pada individu. perlakuan asing dan sebagainya. terutama dipengaruhi oleh faktor lingkungan dari pada faktor fisik . berjalan. temperatur) Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan. doubt.i. Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust – mistrust. bermain. minum dari . 2005 mengemukakan perkembangan kepriba dian dengan kecenderungan yang bipolar : tahapan 1. dalam arti duduk. yaitu : (1) rangsangan yang menimbulkan emosi (stimulu s). 2. dan (2) intensitasnya (kuat-lemah). Oleh karena itu kadang-kadang bayi menangis b ila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. Yang mungkin dirubah dan dipengaruhi adalah variabel yang kesatu (stimu s) dan yang ketiga (respons). nam un dalam kenyataannya sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian dapat dan mun gkin terjadi. Erikson dalam Nana Syaodih Sukmadinata. sebag ai berikut : Usia Pada saat dilahirkan 0 .

botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar. dengan kecakapan-k ecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya. 6. dan kurang akrab atau renggang deng an yang lainnya. namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar. tetapi di pihak lain karena ke terbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadangkadang dia menghadapi kesukaran. sehingga . Kegagalankegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah. hambatan bahkan kegagalan. Merek a sudah mulai selektif. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan. sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy – isolation. Kalau pada masa sebelumnya. pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebab kan anak merasa rendah diri. 3. tetapi karena kemam puan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan. tetapi dia tidak mungkin dapat m enguasai segala macam ilmu dan kecakapan. 7. Pengetahuannya cukup luas. dia membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. pada para remaja sering sekali sangat ekstrim da n berlebihan. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity – stagnation. 5. ciri-ciri yang khas dari dirinya. sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelo mpok sebayanya. dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masi ng anggota. Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative – guilty. dan untuk sementa ra waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat. individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya. 4. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran. sehingga perkembangan individu sangat pesat. pada tahap ini individu telah men capai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity – Identity Confusion. Sesuai dengan namanya masa dewasa. sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimp angan atau kenakalan. k ecakapannya cukup banyak. tetapi di pihak lain dia ga tela h mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di satu piha k. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubu ngan yang intim dengan orang-orang tertentu. Dorongan membentuk dan mem perlihatkan identitas diri ini. Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan–kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihat kan identitas diri.

D alam situasi ini individu merasa putus asa. Keberhasilan seseorang dalam suatu pekerjaan bukanlah sesuatu yang diperoleh secara tiba-tiba atau secara kebetulan. sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya. Zunker (Popon Sy. eksplorasi karier. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan t ersebut. Dorongan untuk terus berprestasi mas ih ada. Adapun yang dimaksud dengan p erilaku karier yaitu segenap perilaku yang ditampilkan individu dalam usaha meny iapkan masa depan untuk memperoleh kematangan kariernya. mulai d ari usaha memperoleh kesadaran karier. namun merupakan suatu proses p anjang dari tahapan perkembangan karier yang dilalui sepanjang hayatnya. berkenaan dengan tahapan perkembangan karier. Selanjutnya. attitudes. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity – despair. interest. Arifin. Untuk mengerjakan atau mencapai hal – hal tertentu ia mengalami hambatan. Kedelapan tahapan perkemb angan kepribadian dapat digambarkan dalam tabel berikut ini : Developmental Stage Infancy Early childhood Preschool age School age Adolescence Young adulthood Adulthood Senescence Basic Components Trust vs Mistrust Autonom y vs Shame. Doubt Initiative vs Guilt Industry vs Inferiority Identity vs Identi ty Confusion Intimacy vs Isolation Generativity vs Stagnation Ego Integrity vs D espair k. hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai.1983) mengemukakan lima tahapan perkembangan karier individu. semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya.tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Mu ngkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya teta pi karena faktor usia. and needs associated with self concept Tentative phase in which choices are nar rowed but not finalized Usia (birth -14 or 15) (15 – 24) . persiapan karier hingg a sampai pada penempatan kariernya. 8. Perkembangan Karier Perkembangan karier sangat erat kaitannya dengan pekerjaa n seseorang. Tylor & Walsh (1979) menyebutkan bahwa kemat angan karier individu diperoleh manakala ada kesesuaian antara perilaku karier d engan perilaku yang diharapkan pada umur tertentu. sebagaimana tampak dalam tabel beriku t ini : Tahap Growth Exploratory Ciri-Ciri Development of capacity.

Tugas perkembangan bersumber pada faktor – faktor : (1) kematangan f isik. Di bawah ini dikemukakan tugas-tugas perkembangan dari setiap fase men urut Havighurst. and eventual retirement. work out put. dan (4) norma-norma agama. . while failu re leads to unhappiness in the individual. Havighurst (1961) memberikan penge rtian tugas-tugas perkembangan bahwa : “ A developmental task is a task which aris es at or about a certain period in the life of the individual. yang merentang sepanjang h idupnya fase-fase perkembangan tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut ini : Masa Dewasa : Masa Tua Tengah Baya Masa Dewasa Awal Masa Remaja (Adolesence) : ( 1) Late Adolesence (18 – 21 th) (2) Early Adolesence (16 – 17 th) (3) Pre Adolesence (11 – 13 th) Masa Kanak-Kanak (2 th – Remaja) Masa Bayi (2 Minggu s. Tugas–tugas perkembangan ini berkenaan dengan sikap. difficulty wit h later task. Oleh karena itu segenap proses pendidi kan seyogyanya diarahkan untuk tercapainya tugastugas perkembangannya para peser ta didik.…) 5. 2 th) Masa O rok (10 –14 hari) Masa Konsepsi (Pranatal) (0-9 bln) Pada setiap fase perkembangan menuntut untuk tertuntaskannya tugas-tugas perkembangan. disaproval by society. (25 – 44) (45 – 64) (65 . perilaku dan keterampilan yang seyogyanya dikuasai sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Salah satu prinsip perkembangan bahwa setia p individu akan mengalami fase perkembangan tertentu. (2) tuntutan masyarakat secara kultural. sehingga dapat berti ndak wajar sesuai dengan tingkat usianya. (3) tuntutan dan dorongan dan cit a-cita individu iru sendiri.Establishment Maintenance Decline Trial and stabilization trhough work experiences A continual adjustment process to improve working position and situation Preretirement consideration.d. Pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengantarkan individu mencapai kedewasaan. Yang dimaksud dengan ked ewasaan adalah dapat terpenuhinya tugas-tugas perkembangan. succesful achieve ment of which leads to his happiness and to success with later task.

Tugas Perkembangan Masa Kanak-Kanak Akhir dan Anak Sekolah (6. Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk mela kukan permainan. 5. 6. 7. Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari -hari. Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis.0 – 15. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi. Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif. Membentuk konsep-kon sep sederhana kenyataan sosial dan alam. Mengembangkan kata hati. . Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial.0) 1. Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal 1. 9. 10. dan orang lain. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial. 4. (0. Memulai hidup dengan pasangan.0-12. 7. c. 8.0) Belajar berjalan pada usia 9.0) 1. Belajar mem ainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya. Belajar mengadakan hubungan emosional d engan orang tua. Mencapai peran sosial sebagai pria atau w anita. 9. Belajar mengenal perbeda an jenis kelamin. 5. Belajar buang air kecil dan buang air besar. 4. Belajar hidup dengan pasangan. 3. 2. 2. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya. menulis dan berhitung. 6. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis. 7. 8. Mencapai jaminan kemand irian ekonomi. Mempersiapkan pernikahan dan hi dup berkeluarga. saudara. 3. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang d iperlukan bagi warga negara. 8.0–6. 2.Memperoleh seperangkat nilai sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam berperilaku. Belajar memakan makan padat. Belajar mengadakan hubungan baik da n buruk dan pengembangan kata hati.0-21. 9. Tugas Perkembangan Masa Bayi dan Kanak-Kanak Awal 1. 4.a.0 bulan. Memilih dan mempersiapkan karier. Belajar keterampilan dasar dal am membaca. Mencapai kemand irian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. Belajar bergaul dengan teman sebaya. 3. 5. Memilih pasangan. b. 3. Tugas Perkembangan Masa Remaja (12. 6. 2. d. Belajar berbicara.

Mengambil tanggung jaw ab sebagai warga negara. Sementara itu. 8. 6. 6. 7. Mengenal gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. Mengelola rumah tangga. Me ngenal sistem etika dan nilai-nilai sebagai pedoman hidup sebagai pribadi. Men capai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. 5. 3. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan se suai dengan kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan atau memp ersiapkan karier serta berperan dalam kehidupan masyarakat. men erima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yan g terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat. Tugas Perkembangan Peserta didik SLTA 1. 5. . Menemukan suatu kelompok yang serasi. Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat 4. Mempersiapkan diri. 4. 3. Mencap ai kematangan dalam hubungan teman sebaya. M engembangkan penguasaan ilmu. teknologi. serta kematangan dalam perannya sebag ai pria dan wanita. Mengenal kemampuan bakat. Tugas Perkembangan Tingkat SLTP 1. 8. Memulai bekerja. yaitu : a. 7. Mencapai pola hubunga n yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita. Me mantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sos ial yang lebih luas. anggo ta masyarakat dan minat manusia. dan minat serta arah kecenderu ngan karier dan apresiasi seni. 2. b. yang dijadikan sebagai rujukan Stand ar Kompetensi Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah.4. Depdiknas (2003) memberikan rincian tentang tugas perkembangan ma sa remaja untuk usia tingkat SLTP dan SMTA. Memelihara anak. dan kesenian sesuai dengan program kuri kulum. Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi serta berperan dalam ke hidupan masyarakat yang lebih luas. sosial dan ekonomi.

be rmasyarakat.18-20 th). Mencapai kematangan dalam sistem eti ka dan nilai. 4. Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode dalam perkembangan yang d ijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak sampai deng an awal masa dewasa. Mengembangkan kemampuan komunikasi sosi al dan intelektual serta apresiasi seni. para ahli mengklasikasikan masa remaja ini ke dalam dua bagian yaitu: (1) remaja awal (11-13 th s. 1415 t h). Oleh karena itu. Kita menemukan berbagai tafsir an dari para ahli tentang masa remaja : 1. Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai sua tu masa pembentukan sikapsikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu. baik se cara kuantitatif maupun kualitatif. Pengetian dan Makna Masa Remaja Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting.d. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang am at kritis yang mungkin dapat merupakan the best of time and the worst of time. 5. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang berkehidupan berkeluarga. Perkembangan Pada Masa Remaja a. Mencapai kematangan gambaran dan s ikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. Spran ger memberikan tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan perubahan st ruktur kejiwaan yang fundamental. Mencapai kematangan dalam pilihan karir 6. 3. b. 7. Charl otte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isi-mengisi. intelektual dan ekonomi . dan (2) remaja akhir (14-16 th s. Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang mempunyai bentuk yang definitif. 6. 2003). 9. 2. Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai dan topan). Karakteristik Perilaku dan Pribadi Pada Masa Remaja . sosial.d. P ara ahli umumnya sepakat bahwa rentangan masa remaja berlangsung dari usia 1113 tahun sampai dengan 18-20 th (Abin Syamsuddin. G.5. Pada rentangan periode ini (sekitar 6 – 7 th) terdapat beberapa indikator perbedaan yang signifikan. 8. berbangsa dan bernegara.

Remaja Awal (11-13 Th s. Gerak gerik mulai mantap. 18-20 tahun) meliputi aspek : fisik. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif dan terbatas pada keterampil an yang menunjang kepada persiapan kerja. 3. Siap berfungsinya organ-organ reproduktif sep erti pada orang dewasa. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region. 3. Tercapainya titik puncak kedewasaan bahkan mungkin mapan (plateau) yang . keagamaan. komparasi. Sudah mampu meng-operasikan kaidahkaidah logika formal disertai kemampuan membuat generalisasi yang lebih be rsifat konklusif dan komprehensif. Laju perkembangan secara umum kembali me nurun. religius. 2. ethis. 2. M enggemari literatur yang bernafaskan dan 2.d.d.d.Dengan merujuk pada berbagai ciri-ciri dari aspek perkembangan individu sebagaim ana telah dikemukakan terdahulu. diferen-siasi. kausali tas) yang bersifat abstrak. kona tif. 2. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan sering. di bawah ini disajikan berbagai karakteristik p erilaku dan masa remaja. Bahasa 1. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelami n (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki. emosi afektif dan kepribadian. sangat lambat. Menggemari literatur yang bernafaska n mengandung segi erotik. 14-15 tahun) dan remaja akhir (14-16 s. bahasa. Lebih memantapkan diri pada bahasa d an mulai tertarik mempelajari bahasa asing tertentu yang dipilihnya. otot mengembang pad a bagian – bagian tertentu). meskipun relatif terbatas. Berkembangnya penggunaan bahasa sandi 1. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan lebih seimbang m endekati kekuatan orang dewasa. Laju perkembangan secara umum berla ngsung pesat. fantastik dan dan mengandung nilai-nilai filosofis.s. moralitas.14-15 Th) Fisik 1. 1. asing. Remaja Akhir (14-16 Th. sosial. berbagai jenis cabang 1. 2. Aktif dalam perma inan. Perilaku Kognitif 1.d. yang terbagi ke dalam bagian dua kelompok yaitu remaja awal (11-13 s. Psikomotor 1. psikomotor. Proses berfikir sudah mampu mengope rasikan kaidah-kaidah logika formal (asosiasi. kognitif. Kecakapan dasar intele ktual menjalani laju perkembangan yang terpesat.18-20 Th) 1. Gerak – gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasikan. es tetik. 2. 2. 2.kali kurang seim bang.

Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyaka n secara kritis dan skeptis. 3. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari mula i dilakukan atas dasar kesadaran dan pertimbangan hati nuraninya sendiri secara tulus ikhlas 3. Adanya kebergantungan yang kuat kepa da kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi. meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencobaco ba. Perilaku Sosial 1. Kecakapan dasar khusus (bakat) mul ai 3. 2. 3. Mengidentifikasi den gan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya. gembira atau kesed ihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat 3. 2. 1. dan religius). Eksistensi dan sifat kemur ah-an dan keadilan Tuhan mulai dipahamkan dan dihayati menurut sistem kepercayaa n atau agama yang dianutnya. ekonomis. politis. Masih mencari dan mencoba m enemukan pegangan hidup Konatif. Merupakan masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat 3. Moralitas 1. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua de ngan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. 4. harga diri dan aktualisasi diri) m ulai menunjukkan arah kecenderungannya 2. estetis. Kecenderungan bakat tertentu mencapai menujukkan kecenderungan-kecendetiti k puncak dan kemantapannya rungan yang lebih jelas. Sudah dapa t memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari para pe ndukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. Sudah berangsur dapat menentukan dan menilai tindakannya sendiri atas norma atau sistem nilai y ang dipilih dan dianutnya sesuai dengan hati nuraninya. 2. Kecenderungan titik berat ke arah sikap nilai tertentu sudah mulai jelas sepe rti yang akan ditunjukkan oleh kecenderungan minat dan pilihan karier atau pendi dikan lanjutannya. 2. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosinalnya tampak mulai terkendali dan dapat menguasai dirinya. 2.nya mana yang harus di rundingkan dengan orang tuanya. kasih sayang. Mulai dapat memelihara jarak dan batasbatas kebebasan. rasa aman. Penghayatan kehidupan keagamaan seharihari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. Lima kebutuha n dasar (fisiologis. 1. Afektif dan Kepribadian 1.suatu saat (usia 50-60) menjadi deklinasi. 1. sosial. 3. 2. Kecender ungan-kecenderungan arah sikap nilai mulai tampak (teoritis. kecuali dengan tem an dekat pilihannya yang banyak memiliki kesamaan minat. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). Perilaku Keagamaan 1. Dengan sikapnya dan cara berfikirn ya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyata annya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. 4. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalny a masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan marah. Sudah menunjukkan arah kecenderungan tertentu yang akan mewarnai pola dasar k epribadiannya. yang juga akan memberi warna kepada tipe kepribadiannya. Mulai menemukan pegangan hidup 1. 3. Emosi. Kebergantungan kepada kelompok sebaya berangsur fleksibel. 2. Diawali d engan kecenderungan ambivalensi keinginan menyendiri dan keinginan bergaul denga n banyak teman tetapi bersifat temporer. K alau kondisi psikososialnya menunjang secara positif maka mulai tampak dan .

maka boleh jadi potensi intelektualnya tidak akan berkembang optimal. Keadaan fisik pada mas a remaja dipandang sebagai suatu hal yang penting. terutama melalui pendidikan di sekol ah.dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya. penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting untuk menunjang kesuksesan hidup dan karier seseorang . Namun dengan adanya hambatan dalam pengembangan ketidakmampuan berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak berpengaruh terhadap kesuksesan hidup dan karierny a. c. pabila tidak disertai dengan upaya pemahaman diri dan pengarahan diri secara tepat. 2. Tid ak bisa dipungkiri. Problema berkaitan dengan perk embangan kognitif dan bahasa. dan aspek-aspek perilaku dan kepribadian lainnya. Kematangan organ reproduksi pada masa r emaja membutuhkan upaya pemuasan dan jika tidak terbimbing oleh norma-norma dapa t menjurus pada penyimpangan perilaku seksual. Problema yang mungkin timbul pada masa remaja diantar anya : 1. Terhambatnya perkembangan kognitif dan bahasa dapat berakibat pula pada aspek emosional. terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk mengenal da n mendalami bahasa asing. Problem a berkaitan dengan perkembangan perilaku sosial. baik secara fisik maupun psikis. si remaja tidak mendapatkan kes empatan pengembangan kemampuan intelektual. yang mungkin saja dapat menimbulkan problem a tertentu bagi si remaja. moralitas dan keagamaan. Namun ketika. ditemukan identitas kepriba-diannya yang relatif definitif yang akan mewarnai hi dupnya sampai masa dewasa. Namun dikarenakan keterbatasan kesempatan dan sarana d an pra sarana. yang akan membentuk kepribadiannnya. Problema pada Masa Remaja Masa remaja ditandai dengan adanya berbagai perubah an. Masa r emaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial). sosial. yang ditandai d engan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayan ya (peer group). Namun sebaliknya apabila rema ja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan . per kembangan fisik yang tidak proporsional. bahkan dapat menjurus pada berbagai tindakan kena kalan remaja dan kriminal. Penolakan dari peer group dapat menimbulkan frustrasi dan menja dikan dia sebagai isolated dan merasa rendah diri. Pada masa re maja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat. menyebabkan si remaja kesulitan untuk menguasai bahasa asing. Problema berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik. namun ketika keadaan fisik ti dak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian antara body image dengan self pict ure) dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri. Pada masa remaja awal ditandai dengan perkembangan kemampuan intelektual yang pesat. dalam era globalisasi sekarang ini. Begitu juga masa remaja. 3. Begitu juga.

peranan orang tua. D.dalam dirinya. Problema perilaku sosial remaja tidak hanya terjadi dengan kelomp ok sebayanya. sekolah. Upaya untuk memfasilitasi perkembangan rem aja menjadi amat penting. na mun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua. baik internal maupun ekst ernal. Usaha pencarian identitas pun. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya. jika tid ak terbimbing. namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan dewasa lainnya. Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). khususnya rema ja awal akan ditandai adanya keinginan yang ambivalen. Perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. tentunya masih banyak problema keremajaan lainnya. mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya. dia akan mengalami krisis identitas atau identity c onfusion. Hal ini disebabkan pada masa remaja. Pada masa remaja juga ditandai dengan ad anya keinginan untuk mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada. di satu sisi adanya keing inan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan pilihannya sendiri. Agar remaja dapat terhindar dari berbagai kesulitan dan problema kiranya diperlukan kearifan dari semua pihak. terutama secara ekonomis. 4. Pertengkaran dan per kelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional ya ng masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidu pan pribadi maupun sosialnya. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram du rja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilihlah salah satu j awaban yang menurut Anda paling tepat. sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan men ggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. . Selain yang te lah dipaparkan di atas. banyak dilakukan dengan menunjuk kan perilaku coba-coba. dan emosional. Timbu lnya problema remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor. Seja lan dengan pertumbuhan organ reproduksi. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. term asuk dengan guru di sekolah. Problema berkaitan dengan perkembangan kepribadi an. Dalam hal ini. perilaku imitasi atau identifikasi. serta masya rakat sangat diharapkan. hubungan sosial yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan lain jenis dan jika tidak terbimbing dapat menjurus tindakan penyimpanga n perilaku sosial dan perilaku seksual.

bayi (02 th). haus nama-nama. kanak-kanak (2-7 th) dan sekolah (7-12 th).. d. Menurut Lovenger. bicara monolog. d. Meraban. b. gemar bertanya. d. Konformistik Seksama Individualistik Otonomi 5. Ahli yang mengelompokkan tahapan perkembangan berdasarkan pendekatan didaktis . a. bicara monolog. bayi (0-2 th). Tahap Sensori-Motor b. bahasa ekspresif. c. c. Merangkak dan memegang Memegang dan berjalan Berjalan da n berbicara Memegang dan berbicara 7. Diperolehnya tanda-tanda baru S etiap individu menjadi lebih matang. c. Lenyapnya tanda-tanda yang lama. Perkembangan bersifat sistematis Perkembangan b erkesinambungan. c. Meraban. bicara monolog. 8. Tahap Pra-Operasi onal .a. gemar bert anya. c. bicara monolog. Perkembangan fisik yang sangat pesat terjadi pada masa : a. gemar be rtanya. Terjadinya perubahan dalam proporsi. membuat kalimat sederhana. membuat kalimat sederhana. ya itu : a. kecuali : a. kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th) bayi (0 -2 th) dan remaja (12-20 th). bahasa ekspresif. b. 6. d. tahapan perkembangan tertinggi untuk siswa tingkat SMTA. haus nama-nama. c. h aus nama-nama. namun masih ada keterbatasan kapasitas d alam mengkoordinasikan pemikirannya. Perkembangan psikomotorik utama yang harus dikuasai pada masa bayi dan masa k anakkanak : a. kanak-kanak (2 -7 th) dan remaja (12-20 th). d. gemar bertanya. a. Di bawah ini merupakan ciri-ciri umum perkembangan individu. d. b. membuat kalimat sederhana. Pola urutan perkembangan bahasa adalah : a. Perkembangan bersifat progresif. Meraban. b. b. Kemampuan kognitif anak sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. b. Rosseau Kretschmer Piaget Elizabeth Hurlock 4. bahasa ekspresif. dan b ahasa ekspresif. a. b. 3. Meraban. c. b dan c benar 2. haus nama-nama. d.

Infancy Early Childhood Pre-Schoolage Ad olescence. 14. c. terjadi p ada masa : a. Tahap Formal-Operasional 9. Kanak-Kanak Awal (0–3 th) Kanak – Kanak Akhir (4–6 th) Anak Sek olah (6–12 th) Remaja Awal (13–16 th) 10. d. Penghayatan rohaniah yang skeptik. a. c. Conventional c. Sikap negatif yang disebabkan melihat realita orang – orang beragama yang hypoc rit (pura-pura). Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic. Non Conventional 11. Perkembangan kepribadia n yang ditandai oleh adanya dorongan untuk membentuk dan memperlihatkan identita s diri. Pre Conventional b. Growth Exploratory Establishment Maintenance . Perkembangan penghayatan keagamaan pada masa kanak-kanak ditandai oleh adany a : a. b. Kegembiraan b erdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang. kebencian dan ketakutan. d. 12 . terjadi pada masa : a. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentanga n. Tahap perkembangan moralitas yang ditandai dengan orientasi mengenai anak ya ng baik dan mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas. Kesenangan da n kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya. b. c. c. d. d. b. sehingga enggan melaksanakan ritual. Kepekaan umum terh adap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. b. 13. Pandanga n ke-Tuhan-an yang kacau. d. b. Tahap Konkret-Operasional d. terjadi pada tahap: a. cahaya.c. Perkembangan karier yang ditandai oleh adanya proses penyesuaian yang berkesinambungan untuk meningkatkan posisi dalam pekerjaan. Ketidaksenang an berdiferensiasi ke dalam kemarahan. temperatur) c. Perkembangan perilak u sosial yang ditandai dengan usaha untuk membandingkan aturan – aturan. Perkembangan emosi pada usia 0-3 bulan ditandai oleh adanya : a. Post Conventional d.

c. d. 20. harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya. kasih say ang. Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang uni versal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. b. 18. c. Di bawah ini merupakan ciri perkembangan konatif pada masa remaja awal. estetis. Ciri-ciri Perkembangan perilaku keagamaan pada masa remaja awal. b. Perkembangan fisik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya: a. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat. a. Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam. Perkembangan perilaku sosial pada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. . b. rasa aman. Gerak ger ik mulai mantap. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbu l bulu pada pubic region. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama ( teman dekat). c. Dengan sikap dan cara berfikirny a yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataa nnya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. dan c benar. b. b. a. d. kecuali : a. Menarik diri dari lingkungan sosialnya. Perkembangan perilaku motorik p ada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. b. sosial. Lima kebutuhan dasar (fisiologis. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. c. d. dan c benar 16. otot mengembang pada bagian – bagian tertentu). Proporsi ukuran tinggi da n berat badan seringkali kurang seimbang. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup. 19.15. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seper ti pernya-taan marah. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap dan nila i mulai tampak (teoritis. Perkembangan perilaku moralitas pada masa remaja akhir ditandai oleh adanya : a. b . Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari dila kukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idol anya. gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan sil ih berganti dalam yang cepat. b. Kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semang at konformitas yang tinggi. politis. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyaka n secara kritis dan skeptis. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day d reaming pada laki-laki. d. a. 17. mes ki masih dalam taraf eksplorasi dan mencoba-coba. Berupa ya mempelajari norma-norma yang berlaku di lingkungan sosialnya. c. d. Aktif dalam berbagai jen is cabang permainan. ekonomis. c. . dan religius).

Mengidentifikasi ciri-ciri belajar. bentukbentuk perubahan perilaku sebagai hasil belajar. Menerapkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah pen gelolaan kelas. Lantas. Intisari Bacaan 1. diharapkan Anda dapat : 1. Apa yang dimaksud dengan tugas perkembangan ? 2. Teori-Teori Pok ok Belajar. Pokok Bahasan 1. Masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat dipengaru hi oleh kondisi psiko-sosialnya. peran da n kompetensi guru. 3. Uraian 1. apa sesungguhnya belajar itu ? Di bawah ini disampaikan tent ang pengertian belajar dari para ahli : . Jelaskan tugas-tugas perkembang an individu pada masa remaja ! Bagaimana implikasinya terhadap pendidikan ? 3. pendekatan . Pembelajaran Peran dan Kompetensi Guru Pengelolaan Kelas. Hakekat Belajar Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. J elaskan problema-problema yang terjadi pada masa remaja ! dan bagaimana pula per an orang tua. Mendefinisik an belajar dan pengelolaan kelas. masalah-masalah dalam pengelolaan kelas. C. 5. 2.pendekatan pembela jaran. guru serta masyarakat dalam upaya mencegah timbulnya berbagai prol ema pada remaja ? BAB IV PROSES BELAJAR MENGAJAR A.d. Menjelaskan secara skematik t entang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar. 3. 4. 2. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) meny ebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiat an belajar. Hakekat Belajar. B. 4. yang akan membentuk kepribadiannnya.

Dalam hal ini. b. akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan. Perubahan yang berkesinambungan (konti nyu). setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku. Misalnya. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan o leh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan. seorang mahas iswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. sebaga i hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkunga nnya”. Begitu juga. sikap dan keterampilan berikut nya. indi vidu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan. Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku. yaitu : a. dengan memperoleh sejumlah pengetahuan. Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dim anifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya. kebiasaan. kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku. seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakek at Belajar”. sikap dan keterampilan yang be rhubungan dengan Psikologi Pendidikan. Gag e & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul ka rena pengalaman” Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas. dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah di perolehnya kebiasaan-kebiasaan. pengetahuan. Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya mer upakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelum nya. pengetahuan dan kecakapan”. Hilgard (1962) : “belaj ar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karen a adanya respons terhadap sesuatu situasi” Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. pengetahuan dan sikap baru”. Begitu juga. . Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan di sengaja dari individu yang bersangkutan. sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. maka penget ahuan. mi salnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat. sikap. sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapa t dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”.Moh. Misalnya. Perubahan yang disadari dan disen gaja (intensional).

seorang mahasiswa sebelum belaj ar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Menga jar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembanga n perilaku dan pribadi peserta didiknya. maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pe ndidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kel ak ketika dia menjadi guru. . namun setelah mengikuti pembelajaran Ps ikologi Pendidikan. g. e. Individu melakukan kegiatan bel ajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai. Perubahan yang fungsional. individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. seorang mahasiswa belajar psikologi pendid ikan. f. Perubahan perilaku yang diperoleh dari pro ses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya . Misalnya.c. Misalnya. maka penguasaan keterampilan m engoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa te rsebut. jangka mene ngah maupun jangka panjang. tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperole h pengetahuan. Perubahan yang bersifat positif. Untuk memperoleh perilaku ba ru. Sedangkan tujuan jangka pan jangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang mema dai tentang Psikologi Pendidikan. Mis alnya. Perubahan perilaku yang terjadi bersifat nor matif dan menujukkan ke arah kemajuan. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudk an dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. baik tujuan jangka pendek. Perubahan yang bersifat aktif. Perubahan yang bertujuan dan terarah. Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat diman faatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan. d. Contoh : seorang mahasiswa belajar tenta ng psikologi pendidikan. baik untuk kepenting an masa sekarang maupun masa mendatang. mah asiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan. mahasiswa belajar mengoperasikan komputer. maka maha siswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan. Misalnya. dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prins ip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia ke lak menjadi guru. Perubahan yang bersifat pemanen. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan unt uk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

sikap keterampilannya tent ang “TeoriTeori Belajar” (Post Learning). Contoh 2 : Mahasiswa Y akan mempelajari te ntang “Metode-Metode Pembelajaran”. sikap dan keterampilan tentang “Teori-Teori Belajar” (Pre learning). deng an bertambah pengetahuan. tetapi melalui berbagai tahapan dan kegiatan yang harus ditempuh individu. Begitu juga. Pada awalnya dia tidak memilik i pengetahuan. Contoh 3 : Mahasiswa Z memiliki kebiasaan merokok yang ingin d ihilangkannya. sikap keterampilannya tentang “Metode-Metode Pembelajara n” (Post Learning). Praktik. dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”. Misalnya. namun setelah dia membaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Teori-Teori Belajar” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). Belajar merupakan suatu proses. Setelah dia me mbaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Metode-Metode Pembelajaran” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). lalu dia datang meminta bantuan dari konselor yang ada di kampus (PreLearning). Di Vesta dan Tompson dalam Abin Syamsuddin (2003:157) mengga mbarkan perubahan perilaku atau pribadi yang terjadi dari suatu proses belajar s eperti tampak dalam bagan berikut: Perilaku/Pribadi sebelum belajar (Pre Learning) X=0 Y=1 Z= 1 Perilaku/Pribadi se telah belajar (Post Learning) X = (X+1) = 1 Y = (Y+1) = 2 Z = (Z-1) = 0 Pengalaman. disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Bel ajar”. Perubahan perilaku secara keseluruhan. maka kemampuannya akan meningkat. tetapi termasuk memperoleh pula perubaha n dalam sikap dan keterampilannya. maka dalam dirinya telah bertambah kemampuannya.h. dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Te ori Belajar”. Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata. Kemudian oleh . terjadinya perubahan perilaku diperoleh tidak secara tiba-tiba. dalam perkuliahan Strategi Belajar Mengajar pada semester 2. Latihan (Learning Experience) Contoh 1 : Mahasiswa X belajar akan mempelajari tentang “Teori-Teori Belajar” dalam perkuliahan Psikologi Pendidikan pada semester 1. dengan bertambah pengetahuan. mahasiswa belajar tentang “Teori-Teor i Belajar”. Pada semester 1 dia telah menguasai tentang “Teori-Teori Belajar” yang akan mendasari penguasaan “MetodeMetode Pembelajaran” (Pre Learning).

dalam belajar individu juga memp eroleh berbagai pengalaman sosial melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya. yaitu keterampilan individu dala m melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol.konselor dia dilatih untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya. Strategi kognitif. perubahan perilaku yang merupakan has il belajar dapat berbentuk : a. individu memperoleh pengalaman langsung melalui pengalaman indraw i yang memungkinkan mereka memperoleh pengetahuan dari melihat. aturan dan hukum. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi p emecahan masalah. dia juga memperoleh pengalama n bagaimana bekerjasama dengan temannya dan berkomunikasi dengan orang lain. Selain itu. memahami konsep konkrit. Kecakapan intelektual. Informasi verbal. merab a/menjamah. mis alnya: penggunaan simbol matematika. --khususnya motif berprestasi-.menggunakan tek nikteknik konseling tertentu-. Termasuk dalam keterampilan intelektual ada lah kecakapan dalam membedakan (discrimination). lalu dia bersamasama ka wan-kawannya melakukan observasi langsung ke kelas. b. dia memiliki komitmen yang kuat serta memiliki tujuantujuan yang ingin dicapainya secara jelas. Misalnya. c. Dengan tekun dan penuh kesungguhan dia mengikuti apa-apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya (Learning Experience). mencicipi. konsep abstrak. Belajar terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong (motivasi) da n ada suatu tujuan yang ingin dicapai. dan sebagainya.-. Akhirnya. Misalnya. yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal. dia dapat berhasil menghilangkan kebiasaan merokoknya (Po st Learning). Men urut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun. Seberapa kuat motivasi belajar yang dimil iki individu. 2003). defi nisi. Dia dapat mengamati langsung bagaimana guru mempraktekkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah-masala h yang muncul dalam pengelolaan kelas. dia memiliki motivasi yang sangat kuat untuk menjadi yang terbaik (the best) di kelasnya. kecakapan individu untuk melakukan penge ndalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. mendengar. misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda. Dalam belajar. Begitu juga. mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan ingin memp eroleh pengetahuan tentang “Keterampilan Pengelolaan Kelas”. seorang mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidika n. Dalam konteks proses pembelaja ran. dan mencium. Selain itu.dan seberapa kuat komitmen individ u terhadap tujuan belajarnya akan menentukan kualitas perubahan perilaku belajar nya. baik secara tertulis maupun tulisan. strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfi kir agar . maka sangat mungkin mahasiswa tersebu t akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi dalam mata kuliah Psikologi Pendi dikan Belajar juga merupakan bentuk pengalaman kehidupan melalui situasi nyata.

Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut. menafsirkan. g. b. Pengamatan. gembira. perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil bel ajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif. Sedangkan menurut Bloom. Teori-Teori Pokok Belajar Jika menelaah literatur psikologi. c. Kebiasaan. kecewa. Dengan kata lain. Inhibisi (menghindari hal yang mubazir).terjadi aktivitas yang efektif. h. e. kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. Sikap. benci. iala h hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fi sik. d. beserta tingkatan aspek-aspeknya. didalamnya terdapat unsur pemikiran. keterampilan -keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tin ggi. Berfikir asosiatif. e. d. Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan ke yakinan. was-was dan sebaga inya. perasaan y ang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak. senang. sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pem ikiran. dan memberi arti rangsan gan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mamp u mencapai pengertian yang benar. Keterampilan. Apresiasi (menghargai ka rya-karya bermutu). (b) teor i belajar . sehingga akhir nya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar. yakni berfikir dengan c ara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat. f . yakni proses menerima. Kecakapan motorik. marah. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran. i. Ber fikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar peng ertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why). Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tamp ak dalam : a. yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali men ghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru. Moh. sedih. (lihat tentang taksonomi perilaku individu pa da Bab I) 2. afektif dan psikomotor. Sementara itu.Namun dalam kesempatan ini hanya akan di kemukakan lima jenis teori belajar saja. yaitu: (a) teori behaviorisme. Sikap adalah keada an dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam mengha dapi suatu obyek atau peristiwa. seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik.

behaviorisme tidak mengakui ad anya kecerdasan. a. maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat. artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang m emuaskan. . (4) teori pemrosesan informasi dari Gagne. dan (5) teor i belajar gestalt. diantaran ya: a. Law of Exe rcise. Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar. Law of Effect. Sebaliknya. b. maka kekuatannya akan menurun. artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan sat uan pengantar (conduction unit). Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari di antaranya : 1. maka semakin lemah pula hubungan ya ng terjadi antara Stimulus.Respons. bakat. semaki n tidak memuaskan efek yang dicapai respons. c. 2. Peristi wa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Jika refleks yang s udah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa men ghadirkan reinforcer. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov Dari eksperimen yang d ilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar. minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. J ika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer). b. Teori Behaviorisme Sebagaimana telah dikemukakan pada Bab II bahwa behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku in dividu. artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertam bah erat. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah. diantar anya : a. pendekatan behaviorisme ini . maka hubungan Stimulus .Respons akan semakin kuat.kognitif menurut Piaget. dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Dengan kata lain. dan mengabaikan aspek – aspek mental. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Law of Readiness. jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tid ak dilatih.

metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method). Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meni ngkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu. maka kekuatan perilaku tersebut ak an meningkat. (2) pre operational. namun tidak sengaja di adakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning. Law of operant conditining yaitu jika timbuln ya perilaku diiringi dengan stimulus penguat. Operant Conditioning menurut B. Berbeda dengan penganut Behavi orisme lainnya. Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the tre shold method). melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks ot omatis atas stimulus (S-R Bond). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditi oning. seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan. Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini. Teori Belajar Kognitif menurut Piaget Dalam bab sebelumnya t elah dikemukan tentang aspek aspek perkembangan kognitif menurut Piaget yaitu ta hap (1) sensory motor. 4 . diantaranya : a. Reber (Muhibin Sya h. 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. bahwa belajar akan lebih berhasil apabila dises uaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik.3. melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebaga i hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Respons dalam operant conditio ning terjadi tanpa didahului oleh stimulus. Skinner Dari eksperimen yang dilakukan B.F. maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyaji an contoh perilaku (modeling). b. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat . Melalui pemberian reward dan punishment. (3) concrete operational dan (4) for mal operational. Prinsip dasar belajar menurut teori ini. Social Learning menurut Albert Bandura Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Menurut Piaget. Miller dan Dollard dengan teori pengu rangan dorongan.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan huk um-hukum belajar. b. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan . seorang individu akan berfikir d an memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.

Penampilan suatu obyek seperti ukuran. 3. (2) pemahaman. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda denga n orang dewasa. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship). Sedangkan kondi si eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Di dalam kelas. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapa t menghadapi lingkungan dengan baik. (4) penyimpanan. Implikasi teori perkembangan kognitif P iaget dalam pembelajaran adalah : 1. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapa i hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peri stiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. anak-anak hendaknya diberi peluan g untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya. Perkembangan merup akan hasil kumulatif dari pembelajaran. 2. Teori Be lajar Gestalt Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti seb agai “bentuk atau konfigurasi”.obyek fisik. (1) motivasi. Bahan yang harus dipelajari anak hend aknya dirasakan baru tetapi tidak asing. warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. (3) pemerolehan. yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. d. mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. potongan. yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. c. untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang ses uai dengan cara berfikir anak. (5) i ngatan kembali. Berikan peluang agar anak belajar se suai tahap perkembangannya. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya i nteraksi antara kondisikondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran t erjadi proses penerimaan informasi. ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu : 1. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif. 4. 5. (6) generalisasi. (7) perlakuan dan (8) umpan balik. . Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu. Bila figure dan latar bersifat samar-sama r. Guru harus membantu anak agar dapat berinte raksi dengan lingkungan sebaik-baiknya. Teori Pemrosesan I nformasi dari Robert Gagne Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelaj aran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Menurut Koffka dan Kohler. maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure.

Kesederhanaan (simpl icity). 3. yaitu: 1. gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang terten tu. bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana. Contoh lain. (lingkungan be havioral). Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt. Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderun g akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. virgo. akan tetapi mereaksi terhada p keseluruhan obyek atau peristiwa. Berlari.2. gemini dan sebagainya adalah contoh dari pr insip ini. Perilaku “Molecul ar” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar. 2. Per ilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”. 3. seperti : sagitarius. 6. Perilaku “Molar“ h endaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenar nya ada. Dalam proses pembelajaran. 5. 4. gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. Organisme tidak mereaksi terhadap rangs angan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa. adanya penamaan kumpulan bintang. Hal yang p enting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis d engan lingkungan behavioral. pisces. 4. penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan su sunan simetris dan keteraturan. padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hut an yang lebat (lingkungan geografis). bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. Misal nya. Kedekatan (proxmity). Misalnya. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : 1. bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan di pandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki. Pengalaman tilikan (insight). bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. dan Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. hendaknya peserta didik memiliki . Arah bersama (common direction ). sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. berjalan. mengikuti kuliah. sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. Proses pengamat an merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsa ngan yang diterima. bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertent u. Kesamaan (similarity).

bahwa perilaku te rarah pada tujuan. 3. Pembelajaran. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons . sopan santun berhadapan deng an orang tua dan sebagainya. Transfe r dalam Belajar. biasanya lebih banyak diperoleh dari pengalaman bel ajarnya di rumah. Misalnya. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generali sasi). guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. Menurut pandangan Gestalt. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. Hal-hal ya ng dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. sementara tuntutan kehidupan yang harus dipenuhi indivi du semakin tinggi. 5. . Prinsip ruang h idup (life space). Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yan g dipelajari. Orang tua memiliki keterbatasan dalam menjalankan fungsinya se bagai pendidik di rumah. Belajar tidak hanya berlangsung sekolah saja. transfer belajar terjadi de ngan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tert entu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susuna n yang tepat. maka kegiatan belajar di sekolah dijadikan pilihan untuk meng embangkan perilaku dan pribadi individu dalam rangka memenuhi berbagai tuntutan kehidupan. Oleh karena itu. 3. seorang anak perempuan memiliki keterampilan bagaima na cara mencuci piring. kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu o byek atau peristiwa. yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkunga n dimana ia berada. Oleh karena itu. memasak. namun juga dilaksanakan di rumah m aupun masyarakat. kebermakn aan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pem belajaran. menyeterikan baju. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). 4. Perilaku bertujuan (pusposive behavior).2. tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. guru hen daknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari m ateri yang diajarkannya. khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. materi yang diajarkan hendaknya memiliki ke terkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. Proses pemb elajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dic apainya. Oleh karena itu. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prins ip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain.

b. yaitu : a. memimpin. mera ngsang. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan bahwa dalam pengerti an pendidikan secara luas. Sedangkan dalam pengertia n pendidikan yang terbatas. . term asuk metode ceramah dan sejenisnya. Abin Syamsuddin dengan mengutip pemikiran Gage dan B erliner. eksperimen. Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems). 4. serta Tuhan yang menciptakannya). atau peserta didik dengan peserta didik untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. mengemukakan peran guru dalam proses pembelajaran peserta didik.. d. baik secar a formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (k epada sasaran didik. yang m encakup : a. transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik. b. termasuk discovery-inquiry. terdapat dua pendekat an pembelajaran. c. Bentuk-bentuk kegiatan belajar yang dil akukan peserta didik di sekolah sangat ditentukan oleh pendekatan-pendekatan pem belajaran yang diberikan oleh guru. motivator dan pembimbing untuk kepentingan b elajar peserta didiknya. Pendekatan Ekspositorik adalah pendekatan yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya penyampaian informasi. b. dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan re ncana. menggerakkan. konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber n orma kedewasaan. seorang guru yang ideal seyogyanya dapat berperan seb agai : a. Guru seb agai pelaksana (organizer). Peran dan Kompetensi Guru Efektivitas dan efisien belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada per an dan kompetensi guru. dalam proses interaksi dengan sasaran didik. transformator (pen terjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan p erilakunya. Interaksi pendidikan seperti itu biasa disebut pembelajaran. Kegiatan belajar di sekolah ditandai dengan adanya intera ksi antara atau pendidik dengan peserta didik. inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan. disengaja dan direncanakan. yang harus dapat menciptakan situasi. dengan bimbingan guru atau pendidik lainnya. Pendekatan ini lebih berpusat kepada guru da n pada umumnya guru bertindak sebagai sumber informasi yang utama. e. Pendekatan Heuristik yaitu yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya praktek. observasi dan sej enisnya. Pendekatan ini lebih menekankan kepada aktivitas siswa dan guru lebih b anyak berperan sebagai fasilitator. organisator (penyele nggara) terciptanya proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan.Berbeda dengan kegiatan belajar di rumah. kegiatan belajar yang berlangsung di s ekolah lebih bersifat formal. Secara garis besarnya. di mana ia bertindak sebagai orang sumber (resource person).

yaitu guru bertanggung jawab agar pendidik an dapat berlangsung dengan baik. d. Abin Syamsuddin menambahkan satu peran lagi yaitu sebagai pembimbing (teacher counsel). melakukan diagnos a. dalam konteks proses belajar mengajar di Indonesia. Guru sebagai penil ai (evaluator) yang harus mengumpulkan. harus membantu pemecahan nya (remedial teaching). Surya (1997) mengemukakan tentang p eranan guru di sekolah. Wakil masyarakat di sekolah. L ebih jauh. menafsirkan dan akhirnya ha rus memberikan pertimbangan (judgement). b. berdasarkan kriteria yang ditetapkan. guru berperan sebagai : a. prognosa.konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik & humanistik (manusi awi) selama proses berlangsung (during teaching problems). baik mengenai aspek keefektifan pr osesnya maupun kualifikasi produknya. dan penilai pendidikan. artinya guru bertan ggung jawab untuk mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda y ang akan menjadi pewaris masa depan. Pekerja sosial (social worker). Moh. dan kalau masih dalam batas kewenangannya. atas tingkat keberhasilan proses pembel ajaran. seor ang guru berperan sebagai : a. Pengambil inisiatif. Selanjutnya. artinya guru berperan s ebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan. Pelaksana administrasi pendidikan. Penegak di siplin. f. dan g. penemu masyarakat (social inovator). yaitu menguasai bahan yang harus diajarkannya. Seorang pak ar dalam bidangnya. Sedangkan dalam keluarga. diri pribadi (self oriented). Pelajar dan ilmuwan. pengelola pembelajaran. Seme ntara itu di masyarakat. pengarah. dan agen masyarakat (social agent). penilai hasil pembelajaran pe serta didik. Pemimpin generasi muda. yaitu seorang yang harus senantiasa b elajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya. yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik melaksanakan disiplin. Dalam hubungannya dengan aktivitas pengajaran dan ad ministrasi pendidikan. c. yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknolo gi kepada masyarakat. Di sekolah. Penterjemah kepada masyarakat. guru berperan sebag ai perancang pembelajaran. Di lain pihak. di mana guru dituntut untuk mampu mengidentifikas i peserta didik yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar. keluarga dan masyarakat. b. guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga (family educator). dan dar i sudut pandang psikologis. menganalisa. guru berperan sebagai pembina masyarakat (social develo per). yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat. e. Di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented). pengarah pembelajaran dan pembimbing peserta didik. c. dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivit as pengajaran dan administrasi pendidikan. .

Guru harus harus leb ih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. artinya guru merupakan seorang yang memahami psikologi p endidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. seniman dalam hubungan antar manusia (artist in human relations). interak si peserta didik dengan guru. model keteladanan. dan e. Di masa depan. yaitu mampu mambentuk menciptakan kelo mpok dan aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan. orang tua maupun masyarakat. artinya guru adalah model perilaku y ang harus dicontoh oleh mpara peserta didik.c. Pemberi keselamatan bagi set iap peserta didik. yaitu guru merupakan orang yang yang mampu menciptakan suat u pembaharuan bagi membuat suatu hal yang baik. artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap pese rta didik di sekolah. pengelolaan bahan belajar. guru bukan satu-s atunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya. Orang tua. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didika n gurunya. pengelolaan sumber belajar. Pembentuk kelompok (group builder). Paka r psikologi pendidikan. artinya guru bertanggung jawab bagi terciptanya kesehat an mental para peserta didik. dan lain-lain. Doyle sebagaimana dikutip oleh S udarwan Danim (2002) mengemukan dua peran utama guru yaitu menciptakan keteratur an (establishing order) dan memfasilitasi proses belajar (facilitating learning) . dan e. Sejalan d engan tantangan kehidupan global. ia akan terpuruk secara profesional. guru berperan sebagai : a. jam masuk dan keluar untuk setiap sesi mata pelaja ran. berkembang. Jika guru tida k memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat. interaksi peserta didik dengan sesamanya. b. ia akan kehilangan kepercaya an baik dari peserta didik. sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan ber bagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. d. berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. Kalau hal ini terjadi. Gu ru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well info rmed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh. khususnya dengan para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pendidika n. artinya gu ru adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar manus ia. a. Yang dimaksud keteraturan di sini mencakup hal-hal yang terkait langsung atau tidak langsung dengan proses pembelajaran. lingkungan belajar. Dari sudut pandang secara psikologis. peran dan tanggung jawab guru pada masa mendat ang akan semakin kompleks. prosedur dan sistem yang mendukung proses pembelajaran. Sementara itu. Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker). c. seperti : tata letak tempat duduk. Untuk menghadapi . Catalyc agent atau inovator. d. di siplin peserta didik di kelas.

c. 3. 5. Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang melipu ti: 1. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan. Berkenaan dengan kompetensi guru. 4. namum kenyataannya justru mematikan kre ativitas para peserta didiknya. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. pemaha man terhadap peserta didik. . menggunakan teknologi komunik asi dan informasi secara fungsional. perancangan pembelaj aran. pengembangan kurikulum/silabus. kompetensi. sehingga dengan dukungan hasil penelitiaan guru tidak terjebak pada praktek pengajaran y ang menurut asumsi mereka sudah efektif. guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimil ikinya secara terus menerus. 7. berakhlak mulia. 6. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat. mengevaluasi kinerja s endiri. guru masa depan harus paham peneliti an guna mendukung terhadap efektivitas pengajaran yang dilaksanakannya. arif dan bijaksana. stabil. Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyara kat untuk : 1. dan mengembangkan diri secara berkelanjutan. 8.tantangan profesionalitas tersebut. dewasa. Artinya. dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. 5. pemerintah telah menetapkan Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. evaluasi hasil belaja r. Begitu juga. berkomunikasi lisan dan tulisan. 2. 9. Untuk meningkatkan profesionalisme guru di Indones ia. Disamping itu. sertifikasi dan r emunerasi guru. mantap. berwibawa. 7. yang di dalamnya mengatur berbagai hal yang berkaitan dengan profesi guru . dengan dukungan hasil penelitian ya ng mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari ta hun ke tahun. disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan tekno logi yang sedang berlangsung. dalam Undang-Undang tersebut d ikemukakan empat jenis kompetensi yang harus dikuasai guru yaitu : a. guru perlu berfikir secara antisipatif dan p roaktif. diantaranya adalah berkenaan dengan kualifikasi. 6. 2. 2. 4. b. Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang : 1. 3.

Surya (1997) a. yaitu kemampuan yang di perlukan oleh seorang guru agar berhasil dalam berhubungan dengan orang lain. bergaul secara santun dengan masyaraka t sekitar. orangtua/wali peserta didik. tu t wuri handayani. Kompetensi k emasyarakatan. Kompetensi personal. b. rasa tanggung jawab akan tugasnya. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembe lajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: 1. dan 5. Dengan jumlah yang berbeda namun esensinya sama. yaitu berbagai kemampuan yang diperlukan untuk dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional . 2. memiliki pengetahuan yang luas dari bidang studi yang diajarkannya. konsep. Kompetensi profesional. dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/ koheren dengan materi ajar. Kompetensi profesional. tenaga kependid ikan. Sementara itu. mengetengahka n lima jenis kompetensi guru. seorang guru akan mampu menjadi seorang pemi mpin yang menjalankan peran : ing ngarso sung tulada. c. Raka Joni sebagaimana dikutip oleh Suyanto da n Djihad Hisyam (2000) mengemukakan tiga jenis kompetensi yang seyogyanya dimili ki guru. 4. Kompetensi sosial. memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani.3. b. mampu berkomunikasi. dapat memilih dan menggunakan berbagai metode me ngajar di dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya. pener imaan diri. d. yaitu : a. yai tu penguasaan berbagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan tugasnya sebagai guru. Da lam kompetensi sosial ini termasuk keterampilan interaksi sosial dan melaksanaka n tanggung jawab sosial. Dengan demikian. . sesama guru. struktur. Kompetensi profesional meliputi as pek kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus di ajarkannya beserta metodenya. d. yaitu kualitas kemampuan pribad i seorang guru yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. materi aja r yang ada dalam kurikulum sekolah. dan 4. penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari. Kompetensi intelektual. meliputi : Moh. Kompetensi personal. maup un masyarakat luas. pengarahan diri. 3. Kompetensi per sonal ini mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri. bergaul secara efektif dengan peserta didik. sesama pendidik. kom petisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai d an budaya nasional. hubungan konsep antar mata pelajaran terk ait. c. baik dengan peserta didik. dan rasa kebers amaan dengan sejawat guru lainnya. dan perwujudan diri. ing madya mangun karsa.

d. Teachers Know the Subjects They Teach and How to Teach Those Subjects to Stud ents : 1. kemampuan untuk memberikan ganjaran (reward) atas keber hasilan peserta didik. 3. Menilai kemajuan peserta didik secara teratur. Apresiasi guru tentang pemahaman materi mata pelajaran untuk dikreasik an. Guru bekerja sama dengan tua orang peserta didik. e. Penggunaan berbagai metode dalam pencapai an tujuan pembelajaran. dan 4. 2. yang menjadi dasar b agi guru untuk mendapatkan sertifikasi guru. c. Teachers are Responsible for Managin g and Monitoring Student Learning : 1. 4. 2. 3. 3. Kemampuan guru untuk menyampaikan materi pelajaran. 2. 2. Guru memberi kan kontribusi terhadap efektivitas sekolah melalui kolaborasi dengan kalangan p rofesional lainnya. di dalamnya terdiri dari lima proposisi utama. Guru dapat menarik keuntungan dari berbagai sumber daya masyarakat. Sebagai pembanding. 3. Teachers are Members of Learning Communities: 1. disusun dan dihubungkan dengan mata pelajaran lain. yaitu kualitas keimanan dan ketaqwaan sebagai seorang y ang beragama.e. Guru secara terus menerus menguji diri untuk memilih keputusan-keputusan terbaik. Teachers Think Systematically About Their Practice and Learn from Experience : 1. Kesadaran akan tujuan utama pembelajaran. . Pemahaman guru tentang perke mbangan belajar peserta didik. Menyusun proses pembelajaran dalam berbagai setting k elompok (group setting). dengan rumusan What Teachers Should Know and Be Able to Do. 2. yaitu: a . Penghargaa n guru terhadap perbedaan individual peserta didik. Mengembangkan usaha untuk memperoleh pengetahu an dengan berbagai cara (multiple path). Kompetensi spiritual. dan Misi guru dalam memperluas cakrawala berfikir peserta didik. National Board for Profesional Teaching Skill (NBPTS) merumuskan standar kompetensi bagi guru di Amerika. Guru meminta saran dari piha k lain dan melakukan berbagai riset tentang pendidikan untuk meningkatkan prakte k pembelajaran. Teachers are Committed to Students and Their Learning : 1. Perlakuan guru terhadap seluruh peserta didik sec ara adil. b.

Mampu memanfaatkan perencanaan kelompok guru untuk menciptakan metode pengajaran. b. Memiliki hubungan baik dengan peserta didik 3. Kemampuan yang terkait de ngan peningkatan diri. Pengelolaan pembelajaran l ebih menekankan pada kegiatan perencanaan. Secara tulus menerima dan memperhatikan peserta didik. yaitu : 1. 3. Mampu menciptakan atmosfer untuk bekerja sama dan kohesivitas dalam kelompok. Mampu bertanya atau memberi kan tugas yang memerlukan tingkatan berfikir yang berbeda. 6. mengalihkan pembicara an. 2. 3. Mampu menerapkan kurikulum dan metode men gajar secara inovatif. seperti : 1.Mengutip pemikiran Davis dan Margareth A. Mampu memperluas dan menambah pengetahuan metode-metod e pengajaran. seperti: 1. 5. penghargaan kepada peserta didik. Kemampuan yang ter kait dengan pemberian umpan balik dan penguatan (reinforcement). 7. Memiliki kemampuan interpe rsonal. Ke mampuan yang terkait dengan iklim kelas. pelaksanaan. Menunjukkan minat dan enthusi as yang tinggi dalam mengajar. yaitu mencakup : a. dan 8. dan mampu memberikan transisi dalam mengajar. antara lain: 1. 4. Thomas dalam bukunya Effective Schools and Effective Teachers. 2. 4. Mampu mendengarkan peserta didik dan menghargai hak peserta didik untuk berbicara dalam setiap diskusi. 5. Mm eminimalkan friksi-friksi di kelas jika ada. Mampu me mberikan respon yang membantu kepada peserta didik yang lamban belajar. dan ketulusan. khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati. Kemampuan yang terkait dengan st rategi manajemen. evaluasi dan tindak lanj ut dalam suatu . Pengelolaan kelas merupa kan hal yang berbeda dengan pengelolaan pembelajaran. Memiliki kemampuan secara rutin untuk mengahadapi peserta didik yang tidak memiliki perhatian. Pengelolaan Kelas Dalam uraian di atas telah disinggung bahwa salah satu keterampilan yang harus d imiliki guru adalah keterampilan dalam mengelola kelas. d. 2. Mampu membe rikan bantuan kepada peserta didik yang diperlukan. Melibatkan peserta didik dalam mengorganisasi kan dan merencanakan kegiatan pembelajaran. Mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban yang kurang memuaskan. 2. suka menyela. Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) memaparkan tentang beb erapa kemampuan guru yang mencerminkan guru yang efektif. Mamp u memberikan umpan balik yang positif terhadap respon peserta didik. c.

penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas. 2. 4. Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian). karena alasan jenis kelamin. dan sebagainya. 6. Carl A. suku. Kelas kurang kohesif. y aitu : a. Masalah Kelompok : 1. 3. tingkatan sosial eko nomi. penetapan norma kelompok yang produktif). menerima dan menghargai peserta didik sebagai . Kelas mereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggot anya. yaitu : a. 5. congruence). Kelas kurang mampu menyesuakan diri dengan keadaa n baru. Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan) Revenge seeking behavior s (pola perilaku menunjukkan balas dendam). penyelesaian tugas oleh peserta didik seca ra tepat waktu. 3. b. Behavior . 4. Rogers mengemukakan pentingnya sikap tu lus dari guru (realness. Socio-Emotional C limate Approach (Humanistic Approach) Asumsi yang mendasari penggunaan pendekata n ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubung an interpersonal yang baik antara peserta didik . genuiness. Masalah Individual : 1. karena menganggap tugas yang diberikan kurang fair. Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya unt uk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses be lajar (pembinaan rapport. terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam pengelolaan kelas. Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakuka n melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). helplessness (peragaan ketidakmampua n). 7. b. “Membombong” anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok. didalamnya mencakup pe ngaturan orang (peserta didik) dan fasilitas. Dalam hal ini. Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disep akati sebelumnya.guru dan atau peserta didik – pe serta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim. sosio-emo sional yang baik. Kelompo k cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap.Modification Approach (Behaviorism Apparoach) Asumsi yang m endasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu mer upakan hasil belajar. Terdapat dua macam masalah pengelo laan kelas. Sema ngat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru. pemberian ganjaran. 2. Berangkat dari teori-teori belajar sebagaimana telah dikemukakan terdahu lu.pembelajaran.

serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaia n. kecuali : a. Belajar sebagai usaha untuk memperoleh pengetahuan. (b) leadership. (c) norm. (d) communication. Di bawah ini merupakan ciri-ciri perubahan perilaku dari kegiatan belajar : e . Perubahan yang bersifat intensional. b ukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasaka n. serta membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik. positif. Belajar merupaka n usaha individu. memperlakukan peserta didik sebagai manusia yan g dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya. G roup Process Approach Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bah wa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru a dalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. dari tidak tahu menjadi tahu. Sch muck & Patricia A. Belajar merupakan kegiatan individu di sekolah u ntuk memperoleh pengetahuan 2. Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Dem ocratic Classroom Process. Richard A. g. Belajar merupakan usaha individu memperoleh perubahan perilaku. h. Hal senada dikemukakan William Glasser bahwa guru seyogyanya membantu mengara hkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi. Ginnot mengemuk akan bahwa dalam memecahkan masalah. (c) attractio n (pola persahabatan). (d) cohesiveness D. Sementara itu. f. Latihan : Soal : Pilihan Ganda 1. c. dan membe ri kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat. d. a.manusia (acceptance. Di bawah ini merupakan hakekat belajar. guru berusaha untuk membicarakan situasi. memupuk keberanian menanggung akib at “kurang menyenangkan”. bertujuan dan terarah. caring. b. Sedangkan Haim C. mengarahkan peserta didik agar committed terhadap rencana yang telah dibuat. kontinyu. dan permanen Perubahan yang bersifat fungsional. menyusun rencana pemecahannya. Schmuck menegemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendeka tan group proses. dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik unt uk dapat memikul tanggung jawab. prizing. b dan c benar . menganalisis dan menilai masalah. yaitu : (a) mutual expectations. Perubahan yang bersif at aktif dan menyeluruh. trust) dan mengerti dari sudut pandangan p eserta didik sendiri (emphatic understanding). c.

Dapat menciptakan situasi belajar. a. menggerakkan. memimpin. c. d. Perenca na Pembelajaran Pelaksana Pembelajaran . Law of Effect Law of Readiness Law of Exercise Law of Respondent C onditioning 5. c. d. c. b . c. semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons. b. d. b. b. Ekspositorik Heuristik Discovery Inquiry 9. Pentingnya reinforcement dalam pembentukan perilaku individu Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. c. Keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan m enggunakan simbol-simbol merupakan bentuk perubahan perilaku dalam : a. Informasi verbal Kecakapan intelektual Strategi kognitif Sikap dan kecakapan mo torik 4. Behaviorisme Gestalt Kog nitif Pemrosesan Informasi 8. henda knya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkait an unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. Sebaliknya.3. d.Respons . maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus. Teori belajar yang menganggap pentingnya imitation dan modelling dalam belaja r. d. a. a. b. Dalam proses pembelajaran. 7. Pendekatan pembelajaran yang dianggap paling sesuai untuk pembentukan kompete nsi peserta didik. d. merangsang. Materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondi si lingkungan kehidupan peserta didik merupakan salah satu aplikasi dalam pembel ajaran yang dihasilkan dari teori belajar : a. adalah : a. dan c benar. b. b. maka hubungan Stimulus Respons akan semakin kuat. c. Connectionism (S-R Bond) Classical Conditioning Social Learning Oper ant Conditioning 6. b. dan me ngarahkan kegiatan belajar mengajar merupakan peran guru sebagai : a. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : a. Jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan.

Evaluator Pembelajaran Fasilitator Pembelajaran 10. Mendefinisik an bimbingan dan konseling. 3. d. Kompetensi guru yang berhubungan dengan pemahaman perkembangan peserta didik . b. Menganalis is kasus dan mengatasi masalah yang dihadapi peserta didik. Mengidentifikasi fungsi. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. 4.c. siswa yang sedang asy ik ngobrol dengan temannya. prinsip. Peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pela jaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling. diharapkan Anda dapat : 1. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling. asas. Sebagai guru. jenis lay anan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. Jelaskan secara skematik tenta ng perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar !. 3. Uraian 1 . 5. 2. melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. Komp etensi akademik Kompetensi personal Kompetensi pedagogik Kompetensi sosial BAB V BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH A. . apa yang akan dilakukan jika di kelas menemukan: a. Apa yang dimaksud dengan pengelolaan kelas ? 2. orientasi baru. para siswa kurang kompak dan selalu berisik. d. Proses dan Teknik Konseling. merencanakan. b. Menjelaskan peran kepala sekolah dan guru mata pelajaran dalam Bimbingan dan Konseling. Kegiatan Layanan dan Pend ukung Bimbingan dan Konseling. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling. 6. 2. a. 5. 4. Bimb ingan terhadap Peserta Didik Bermasalah. 3. prosedur umum bimbingan dan konseling. Pokok Bahasan 1. B. Menerapkan teknik – teknik dalam konseling. bimbingan terhadap peserta didik bermasal ah. proses konseling. c.

di bawah ini dikemukakan pendapat dari beberapa ahli : Miller (I . 2004) mendefiniskan bimbingan sebagai : the process of helping the individual to understand himself and his world so that he can utili ze his potentialities. misalnya problema kependidikan. Penggunaan istilah bimbingan seperti dikemukak an di atas tampaknya proses bimbingan lebih menekankan kepada peranan pihak pemb imbing. Intisari Bacaan 1. giving instructi ons (memberikan petunjuk). Djumhur dan Moh. Surya. Hal ini tentu saja tidak sesuai lagi dengan arah perkembangan dewasa ini . 1978) memberik an rumusan bimbingan sebagai kegiatan yang terorganisir untuk memberikan bantuan secara sistematis kepada peserta didik dalam membuat penyesuaian diri terhadap berbagai bentuk problema yang dihadapinya. Sertzer & Stone (1966) menemukakan bahwa guidance beras al kata guide yang mempunyai arti to direct. United States Office of Education (Arifin.S. Winkel (198 1) mengemukakan bahwa guidance mempunyai hubungan dengan guiding : “ showing a way” (menunjukkan jalan). pilot. Dalam pelaksanaannya. Peters dan Sh ertzer (Sofyan S. (1970) mengemukakan : “gui dance is the help given by one person to another in making choice and adjusment and in solving problem. kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) . kesehatan. 1975) mengartikan bimbingan sebagai proses bantuan ter hadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan pen yesuaian diri secara maksimum di sekolah. sosial dan pribadi. (1975) berpendapat bahwa bimb ingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis ke pada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. kemampuan untuk menerima dir inya (self acceptance). or steer (menunjukk an. Djumhur dan Moh. Untuk memahami lebih jauh tentang penger tian bimbingan. I. jabat an. atau mengemudikan). bimbingan harus mengara hkan kegiatannya agar peserta didik mengetahui tentang diri pribadinya sebagai i ndividu maupun sebagai anggota masyarakat. keluarga dan masyarakat. menentukan. regulating (mengatur). agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirinya (self understanding). governing (mengarahkan) dan gi ving advice (memberikan nasehat). Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling a. leading (memimpin). Pengertian Bimbing an dan Konseling Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang didalamnya te rkandung beberapa makna.C. Willis. manager. Sedangkan menurut W. Jones et. mengatur.al. conducting (menuntun). dimana pada saat ini klien lah yang justru dianggap lebih memiliki peranan pen ting dan aktif dalam proses pengambilan keputusan serta bertanggungjawab sepenuh nya terhadap keputusan yang diambilnya. Surya.

dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan pote nsi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan, baik ke luarga, sekolah dan masyarakat. Dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 ten tang Pendidikan Menengah dikemukakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diber ikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan, d an merencanakan masa depan”. Prayitno, dkk. (2003) mengemukakan bahwa bimbingan da n konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bimbingan pri badi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karier, melalui berbaga i jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku. Da ri beberapa pendapat di atas, tampaknya para ahli masih beragam dalam memberikan pengertian bimbingan, kendati demikian kita dapat melihat adanya benang merah, bahwa : Bimbingan merupakan upaya untuk memberikan bantuan kepada individu atau peserta didik.. Bantuan dimaksud adalah bantuan yang bersifat psikologis. Tercap ainya penyesuaian diri, perkembangan optimal dan kemandirian merupakan tujuan ya ng ingin dicapai dari bimbingan. Dari pendapat Prayitno, dkk. yang memberikan pe ngertian bimbingan disatukan dengan konseling merupakan pengertian formal dan me nggambarkan penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dal am sistem pendidikan nasional. Keberadaan layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang panjang, sejak kuran g lebih 40 tahun yang lalu. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali p ergantian istilah, semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 d an sebelumnya), kemudian pada Kurikulum 1994 dan Kurikulum 2004 berganti nama me njadi Bimbingan dan Konseling. Akhir-akhir ini para ahli mulai meluncurkan sebut an Profesi Konseling, meski secara formal istilah ini belum digunakan. Untuk kep entingan penulisan ini, penulis akan menggunakan istilah Bimbingan dan Konseling sesuai dengan istilah formal yang saat ini dipergunakan dalam sistem pendidikan nasional. b. Orientasi Baru Bimbingan dan Konseling Pada masa sebelumnya (atau mungkin masa sekarang pun, dalam prakteknya masih ditemukan) bahwa penyelenggara an Bimbingan dan Konseling cenderung bersifat klinis-therapeutis atau menggunaka n pendekatan kuratif, yakni hanya berupaya menangani para peserta didik yang ber masalah saja. Padahal kenyataan di sekolah

jumlah peserta didik yang bermasalah atau berperilaku menyimpang mungkin hanya s atu atau dua orang saja. Dari 100 orang peserta didik paling banyak 5 hingga 10 (5% - 10%). Selebihnya, peserta didik yang tidak memiliki masalah (90% -95%) ker apkali tidak tersentuh oleh layanan bimbingan dan konseling. Akibatnya, bimbinga n dan konseling memiliki citra buruk dan sering dipersepsi keliru oleh peserta d idik, guru bahkan kepala sekolah. Ada anggapan bimbingan dan konseling merupakan “polisi sekolah”, tempat menangkap, merazia, dan menghukum para peserta didik yang melakukan tindakan indisipliner. Anggapan lain yang keliru bahwa bimbingan dan k onseling sebagai “keranjang sampah” tempat untuk menampung semua masalah peserta did ik, seperti peserta didik yang bolos, terlambat SPP, berkelahi, bodoh, menentang guru dan sebagainya. Masalah-masalah kecil seperti itu dapat diantisipasi dan d iatasi oleh para guru mata pelajaran atau wali kelas dan tidak perlu diselesaika n oleh guru pembimbing. Mengingat keadaan seperti itu, kiranya perlu adanya orie ntasi baru bimbingan dan konseling yang bersifat pengembangan atau developmental dan pencegahan pendekatan preventif. . Sofyan. S. Willis (2004) mengemukakan ba ru bimbingan dan konseling, yaitu : landasan-landasan filosofis dari orientasi 1. Pedagogis; artinya menciptakan kondisi sekolah yang kondusif bagi perkembanga n peserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual diantara peserta didik . 2. Potensial, artinya setiap peserta didik adalah individu yang memiliki poten si untuk dikembangkan, sedangkan kelemahannya secara berangsur-angsur akan diata sinya sendiri. 3. Humanistik-religius, artinya pendekatan terhadap peserta didik haruslah manusiawi dengan landasan ketuhanan. peserta didik sebagai manusia dia nggap sanggup mengembangkan diri dan potensinya. 4. Profesional, yaitu proses bi mbingan dan konseling harus dilakukan secara profesional atas dasar filosofis, t eoritis, yang berpengetahuan dan berketerampilan berbagi teknik bimbingan dan ko nseling. Dengan adanya orientasi baru ini, bukan berarti upaya-upaya bimbingan d an konseling yang bersifat klinis ditiadakan, tetapi upaya pemberian layanan bim bingan dan konseling lebih dikedepankan dan diutamakan yang bersifat pengembanga n dan pencegahan. Dengan demikian, kehadiran bimbingan dan konseling di sekolah akan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh peserta didik, tidak hanya bagi pes erta didik yang bermasalah saja. c. Fungsi Bimbingan dan Konseling Dengan orient asi baru Bimbingan dan konseling terdapat beberapa fungsi yang hendak dipenuhi m elalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. yaitu:

1. Pemahaman; 2. 3. 4. 5. menghasilkan pemahaman pihak-pihak tertentu untuk pengembangan dan pemacahan mas alah peserta didik meliputi : (a) pemahaman diri dan kondisi peserta didik, oran g tua, guru pembimbing; (2) lingkungan peserta didik termasuk di dalamnya lingku ngan sekolah; dan keluarga peserta didik dan orang tua; lingkungan yang lebih lu as, informasi pendidikan, jabatan/pekerjaan, dan sosial budaya/terutama nilai-ni lai oleh peserta didik. Pencegahan; menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya p eserta didik dari berbagai permasalahan yang timbul dan menghambat proses perkem bangannya. Pengentasan; menghasilkan terentaskannya atau teratasinya berbagai pe rmasalahan yang dialami peserta didik. Advokasi; menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hakhak dan/atau kepentingan pendidikan. Pemeliharaan dan pengembangan; terpelihara dan terkembangkannya berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berke lanjutan. d. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling : Sejumlah prinsip mendasari gerak langk ah penyelenggaraan kegiatan bimbingan dan konseling. Prinsip-prinsip ini berkait an dengan tujuan, sasaran layanan, jenis layanan dan kegiatan pendukung, serta b erbagai aspek operasionalisasi pelayanan bimbingan dan konseling. Prinsip-prinsi p tersebut adalah : 1. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan; (a ) melayani semua individu tanpa memandang usia, jenis kelamin, suku, agama dan s tatus sosial; (b) memperhatikan tahapan perkembangan; (c) perhatian adanya perbe daan individu dalam layanan. 2. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan permasalah an yang dialami individu; (a) menyangkut pengaruh kondisi mental maupun fisik in dividu terhadap penyesuaian pengaruh lingkungan, baik di rumah, sekolah dan masy arakat sekitar, (b) timbulnya masalah pada individu oleh karena adanya kesenjang an sosial, ekonomi dan budaya. 3. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program pelayanan Bimbingan dan Konseling; (a) bimbingan dan konseling bagian integral d ari pendidikan dan pengembangan individu, sehingga program bimbingan dan konseli ng diselaraskan dengan program pendidikan dan pengembangan diri peserta didik; ( b) program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutu han peserta didik maupun lingkungan; (c) program bimbingan dan konseling disusun dengan mempertimbangkan adanya tahap perkembangan individu; (d) program pelayan an bimbingan dan konseling perlu diadakan penilaian hasil layanan.

Pemenuhan asas-asas bimbingan itu akan memperlancar pelaksanaan dan lebih menjamin keberhasilan layanan/kegiatan.asas bimbingan dan kon seling tersebut adalah : 1. (a) diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimb ing diri sendiri. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak laya k diketahui orang lain. yaitu asas yang menghendaki adanya kesuka an dan kerelaan peserta didik (klien) mengikuti/ menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya. maka penyelenggaraan bimbingan dan konseling akan berjalan tersendat-sendat atau bahkan terhenti sama sekali. serta mengurangi atau mengaburkan hasil layanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu sendiri. 3. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan. sedangkan pengingkarannya akan dapat men ghambat atau bahkan menggagalkan pelaksanaan. Asas Kerahasiaan (confidential). juga dituntut untuk memenuhi sejumlah asas bimbi ngan. 2. e. yaitu asas yang men untut dirahasiakannya segenap data dan keterangan peserta didik (klien) yang men jadi sasaran layanan. Asas. Guru pembimbing (konselor) berkewajiban mengembang kan keterbukaan peserta didik (klien). dan (e) proses pelayanan bimbingan dan k onseling melibatkan individu yang telah memperoleh hasil pengukuran dan penilaia n layanan. guru pembimbing (konselor) berkewajiban m emelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar -benar terjamin. (d) perlu adanya kerja sama dengan personil sekolah dan orang tua dan bila perlu dengan pihak lain yang berk ewenangan dengan permasalahan individu. Apabila asas-asas ini tidak di jalankan dengan baik. (b) pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya at as kemauan diri sendiri. Asas Keterbukaan.4. Agar peserta didik (klien) mau terbuka. Asas Kesukarelaan. Guru Pembimbing (konselor) berkewajiban membina dan meng embangkan kesukarelaan seperti itu. Dalam hal ini. g uru pembimbing (konselor) terlebih dahulu bersikap terbuka dan . Betapa pentingnya as as-asas bimbingan konseling ini sehingga dikatakan sebagai jiwa dan nafas dari s eluruh kehidupan layanan bimbingan dan konseling. (c) permasalahan individu dilayani oleh tenaga ahli/pro fesional yang relevan dengan permasalahan individu. Asas-Asas Bimbingan dan Konseling Penyelenggaraan layanan dan kegi atan pendukung bimbingan dan konseling selain dimuati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu. baik dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang bergu na bagi pengembangan dirinya. yaitu asas yang menghen daki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap t erbuka dan tidak berpura-pura.

dan kebiasaan – kebiasaan yang berlaku. 8. yaitu asa s yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (peserta didik/klie n) hendaknya selalu bergerak maju. 6. yaitu asas yang menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan ko nseling didasarkan pada norma-norma. hukum. dan terus berkembang serta ber kelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu . Asas Kenormatifan . 10. Asas Kemandirian. 4. adat is tiadat. yaitu asas yang menghendaki ag ar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselnggarakan atas dasar kaidah -kaidah profesional. harmonis dan terpadukan. mampu mengambil keputusan. mengarahkan. Guru Pembimbing (konselor) perlu mendorong dan memotivasi peserta didik untuk dapat aktif dalam setiap layanan/kegiatan yang d iberikan kepadanya. Kondisi masa lampau dan masa depan dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan dengan apa yang ada dan di perbuat peserta didik (klien) pada saat sekarang. saling menunjang. Dalam hal ini. tidak monoton. 5. Asas Keterpaduan. 9. menghayati dan men gamalkan norma-norma tersebut.tidak berpura-pura. serta mewujudkan diri sendiri. 7. peraturan. ilmu pengetahuan. Dalam hal ini. Asas Kekinian. Asas Kegiatan. Profesionalitas guru pembimbing (konselor) harus terwujud baik . dengan ciri-ciri mengenal diri sendiri dan lingkungannya. Bahkan lebih jau h lagi. melalui segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling ini harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (klien) dalam memahami. yaitu asas yang menunjukkan pada tujuan umum bimbingan dan konseling. yaitu asas yang menghendaki agar peserta d idik (klien) yang menjadi sasaran layanan dapat berpartisipasi aktif di dalam pe nyelenggaraan/kegiatan bimbingan. Asas keterbukaan ini bertalian erat dengan asas kerahasiaan dan dan kekarelaan. yaitu asas yang menghenda ki agar obyek sasaran layanan bimbingan dan konseling yakni permasalahan yang di hadapi peserta didik/klien dalam kondisi sekarang. baik norma agama. Asas Kedinamisan. para pelaksana layanan dan kegiatan bimbinga n dan konseling lainnya hendaknya tenaga yang benar-benar ahli dalam bimbingan d an konseling. Guru Pembimbing (konselo r) hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling bagi berk embangnya kemandirian peserta didik. yaitu peserta didik (klien) sebagai sasaran layan an/kegiatan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang ma ndiri. yaitu asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan keg iatan bimbingan dan konseling. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun p ihak lain. kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi amat penting dan harus dilaksanakan sebaikbaiknya. Asas Keahlian.

peran. penilaian dan upaya tidak lanjut pelayanan bimbingan dan kon seling. Dengan adanya kata “kewajiban”. maka setiap seko lah mutlak harus menyelenggarakan bimbingan dan konseling. dan karier”. Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan p elaksanaan program. belajar. tenaga. guru-guru lain. tugas dan tanggung jawab kepala sekolah. Menyediakan prasarana. Guru pembimbing (konselor)dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. dan memberikan rangsangan dan dorongan. secara tegas dikemukakan bahwa : “Sekolah berkew ajiban memberikan bimbingan dan konseling kepada siswa yang menyangkut tentang p ribadi. . juga perlu melibatkan kepala s ekolah . sebagai berikut : a. Selain Guru Pembimbing atau Konselor sebagai pelaksana utama. latihan. dapat mengalihtangankan kasus kepada pihak yang lebih kompeten. Mengkoo rdinir segenap kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di sekolah. sehingga p elayanan pengajaran. Asas Alih Tangan Kasu s. yaitu asas yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa aman). Secara garis besarn ya. 11. baik yang berada di dalam lembaga sekolah maupun di luar sekolah. Asas Tut Wuri Handa yani. Keberhasilan penyelen ggaraan bimbingan dan konseling di sekolah. Peranan Kepala Sekolah. Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan da n Konseling Dalam kurikulum 2004. Demikian pula. 2. tidak lepas dari peranan berbagai pi hak di sekolah. sebaliknya guru pembimbing (kons elor). c.dalam penyelenggaraaan jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling dan dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. yaitu asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggaraka n layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalaha n peserta didik (klien) kiranya dapat mengalihtangankan kepada pihak yang lebih ahli. atau ahli lain. b. dan dinamis. serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk maju. dan be rbagai kemudahan bagi terlaksananya pelayanan bimbingan dan konseling yang efekt if dan efisien. mengemba ngkan keteladanan. Kepala sekolah selaku penanggung ja wab seluruh penyelenggaraan pendidikan di sekolah memegang peranan strategis dal am mengembangkan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. 12. dan bimbingan dan konseling merupakan suatu kesatu an yang terpadu. guru mata pelajaran dan wali kelas. pe nyelenggaraan Bimbingan dan konseling di sekolah. sosial. harmonis.

dan e. . Membantu memasyarakatkan pelayan an bimbingan dan konseling kepada siswa b. dan dukungan dalam kegiatan kepengawasan yang dilakukan oleh Pengawas S ekolah Bidang BK. b. khusu snya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. f. membantu Guru Mata Pelajaran melaksanakan peranannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling. kes empatan. khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. e. membantu memberikan kesempatan d an kemudahan bagi siswa. g. Wali Kelas berperan : a. berpa rtisipasi aktif dalam kegiatan khusus bimbingan dan konseling. Membantu mengembangkan suasana kelas. h. p rogram pengayaan). d. peran. c. bersahabat.d. yaitu siswa yang menuntut Guru Pembimbing memerlu kan pelayanan pengajar /latihan khusus (seperti pengajaran/ latihan perbaikan. mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan ko nseling kepada Guru Pembimbing. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan la yanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani layanan/kegiat an yang dimaksudkan itu. tugas dan tanggung jawab guru-guru mata pela jaran dalam bimbingan dan konseling adalah : a. Mengalihtangankan siswa yang memerluka n pelayanan bimbingan dan konseling kepada Guru Pembimbing d. Menyediakan fasilitas. jujur dan asli. Sofyan S. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masa lah siswa. Membantu Guru Pembimbing mengidentifi kasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling. memahami dan meng hargai tanpa syarat. Berkenaan peran guru mata pelajaran dan wali kel as dalam bimbingan dan konseling. membantu Guru Pembimbing melaksanakan tugas-tug asnya. mendorong. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling Di sekol ah kepada Dinas Pendidikan yang menjadi atasannya. untuk mengikuti/menjalani layanan dan/atau kegiatan bimbingan dan konseling. Membantu pengumpulan informasi yang dipe rlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tind ak lanjutnya. Sebagai pengelola kelas tertentu dalam pelayanan bimbingan dan kon seling. konkret. Menerima siswa ali h tangan dari Guru Pembimbing. c. seperti konferens i kasus. khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya. e. Sedangkan. ramah. seperti konferensi kasus. serta pengumpu lan data tentang siswa-siswa tersebut. hubungan guru-siswa dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan k onseling. Willis (2005) mengemukakan bahwa gur u-guru mata pelajaran dalam melakukan pendekatan kepada siswa harus manusiawi-re ligius.

pergaulan. dengan tujuan agar pes erta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. program latihan. Tujuan layanan inf ormasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling Kegiatan layanan merup akan kegiatan dalam rangka memenuhi fungsi-fungsi bimbingan dan konseling. Untuk lebih jelasnya. karier. kelompok belajar. Layanan Orientasi. Para ahli bimbingan di Indonesia saat ini sudah mulai meluncurkan dua je nis layanan baru yaitu layanan konsultasi dan layanan mediasi. Layanan orientasi merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memahami ling kungan baru. Sedan gkan kegiatan pendukung merupakan kegiatan untuk menopang terhadap keberhasilan layanan yang diberikan. Namun. kegiatan ko/ekstra kurikuler. dalam bidang pribadi. baik dalam jenis layanan maupun kegiatan pen dukung. di bawah ini akan diuraikan tujuh jenis layanan dan lima k egiatan pendukung bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam pendidi kan nasional. yang ber fungsi untuk pencegahan dan pemahaman. merupakan layanan y ang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. belajar maupun karier berdasarka n informasi yang diperolehnya yang memadai. Namun sangat mungkin k e depannya akan semakin berkembang. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. Layanan pe mbelajaran berfungsi untuk pengembangan. dengan tujuan agar peserta didik dapat meng embangkan segenap . m agang. 2. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai materi belaj ar atau penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. Layanan informasi pun berfungsi untu k pencegahan dan pemahaman. sosial. 3. kedua jeni s layanan ini belum dijadikan sebagai kebijakan formal dalam sistem pendidikan. 4. a. Kegiatan Layanan Bimbingan dan Konseling 1. Layanan Informasi. Layanan Pembelajaran. pendidikan lanjutan). sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awa l semester. Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional saat ini terdapat tujuh jenis layanan dan lima kegiatan pendukung. Layanan Penempatan dan Penyaluran. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru i tu. m erupakan layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyal uran di dalam kelas. jurusan/program studi.3. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari.

terdapat lima jenis kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. minat dan segenap potensi lainnya. merupakan layanan yang memungkinan sejumlah pesert a didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan memba has pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan ke mampuan sosial. merupakan kegiatan u ntuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengem bangan peserta didik. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan da n pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristikn ya dan memahami karakteristik lingkungan. kiranya perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung Dalam hal ini . Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. sistem atik. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengenta skan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. yaitu : 1. 5. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok.bakat. tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainn ya. merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keteran gan tentang peserta didik. Layanan Bimbingan Kelompok. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman da n Pengembangan 7. Layanan Konseling Kelompok. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembang an kemampuan sosial. terpadu dan sifatnya tertutup. 6 . dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan perm asalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Tujuan layanan kons eling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihad apinya. Kegiatan Pendukung Bimbingan dan Konseling U ntuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukak an di atas. Himpunan Data. b. komprehensif. Apl ikasi Instrumentasi Data. Layanan Konseling Perorangan. . baik tes maupun non tes. Layanan Penempatan dan Penyaluran berf ungsi untuk pengembangan. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu me lalui dinamika kelompok. 2. yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen.

4. dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kun jungan rumah klien. 5. ke mudahan. Konferensi Kasus. yakni : 1. kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik sec ara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling Secara umum. merupakan kegiata n untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalaha n yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebi h kompeten. keterangan. Call them approach. Kunjungan Rumah. merupakan upaya untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarg a untuk mengentaskan permasalahan klien. Pertemua n konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup.3. seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor. Alih Tangan Kasus. merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didi k dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan ket erangan. prosedur bimbingan dan konseling dapat ditempuh melalui prosedur seperti tampak dalam bagan beriku t : Datang Sendiri/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari In formasi yang Ada/Dicari Identifikasi Kasus Identifikasi Masalah Diagnosis Prognosis Remedial/Referal Eva luasi/Follow Up a. Identifikasi kasus. dokter serta ahli lainnya. 4. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makm un (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi p eserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling. Tujuan konferensi kasus adala h untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan kli en. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih ko mpeten. merupakan kegiatan untuk memperoleh data. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan. .

(8) hubungan muda-mudi. nilai dan moral. 4. Developing a desire for counseling. langkah ini merupakan upaya untuk memaha mi jenis. faktor yang b esumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pad a hubungan kegiatan belajar mengajar saja. Prognosis. menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta did ik akan masalah yang dihadapinya. (2) diri pribadi. karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. yaitu : (1) faktor internal. proses. dan atau (4) personality. Identifikasi Masalah. dan (2) faktor eksternal. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik.2. d. Dala m konteks Proses Belajar Mengajar. bakat. kepribadian.H. 3. dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kega galan belajar yang dihadapi peserta didik. menciptakan hubungan yang baik. seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan. lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. 5. (2) struktural – fungsional. permasalahan peserta didik dapat berkenaan de ngan aspek : (1) substansial – material. penuh keakraban s ehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik . seperti : lingkungan rumah. dan (10) waktu senggang. de ngan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan peny esuaian sosial b. Prayit no dkk. dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupay akan berbagai tindak lanjutnya. c. upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). ataupun out put belajarnya. (3) behavioral . kecerdasan. Burton mem bagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik. (6) pendidikan dan pelajaran. Melakukan analisis terhadap hasil belajar pes erta didik. Melakukan analisis sosiometris. (7) agama. (5) karier dan pekerjaan. langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahan nya. b isa dilihat dari segi input. (9) keadaan dan hubungan keluarga. emosi. tes bakat. seperti : kondisi jasmani dan kesehatan. Instrumen ini sangat membant u untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik. misalnya melalui kegiatan ekstra kuri kuler. Untuk mengidentifikasi masalah peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar peserta didik. (3) hubungan sosial. Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan . sikap serta kondisi-kondisi p sikis lainnya. Maintain good relationship. W. (4) ekonomi d an keuangan. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan pese rta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes. seperti tes inteligens i. rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. Diagnosis.

Peserta didik telah menurun penentan gan terhadap lingkungannya 6. yaitu apabila: 1. untuk melihat seberapa penga ruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. 5. Proses mengambil keput usan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus. 3. pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimb ing itu sendiri. Peserta didik telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perba ikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Peserta didik telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. 4.menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. de ngan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani k asus . Namun. Perasaan positif sebagai dampak dari p roses dan materi yang dibawakan melalui layanan. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas. f. 2. jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbi ng sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten. jika j enis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembel ajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pem bimbing. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling. Sementara itu. evaluasi atas usaha pemecahan masal ah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut. Evaluas i dan Follow Up. Peserta didik telah menurun keteg angan emosinya (emotion stress release). cara manapun yang ditempuh. Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu : 1. Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus). Pese rta didik telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan r asional. Peserta didik mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan. 2. . sesuai dengan dasar pertimbang an dan keputusan yang telah diambilnya. Pese rta didik telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan ma salahnya secara obyektif (self acceptance).kasus yang dihadapi. dan 3. 7. Rencana kegiatan yang ak an dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewu judkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. Ro binson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari k eberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan. e.

Dalam hal ini. kecand uan alkohol dan narkotika. Dapat pula mengadakan konfer ensi kasus. Masalah (kasus) sedang. c. Kasus berat dilaku kan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. dokter. seperti : gangguan emosional. minum minuman keras tahap pertengah an. 6. seperti : membolos. berkelahi antar sekolah. mencuri kelas ringan. Proses Konseling dan Teknik-Teknik Konseling Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. minum minuman keras ta hap awal. tampaknya untuk lay anan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. Masalah (kasus) berat.5. percobaan b unuh diri. sebagaimana dalam bagan berikut : Ringan Masalah peserta didik Sedang Berat Semua Guru/Wali Kelas Guru Pembimbing Alih Tangan Kasus a. Kasus sedang di bimbing oleh guru pembimbing (konselor). guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik . Karena layanan yang sa tu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. dengan berkonsultasi dengan kepala seko lah. berpacaran. pelaku kriminalitas. polisi. karena gangguan di keluarga. bertengkar. Oleh karena itu. malas. perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. berkelahi dengan teman sekolah. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. ahli/profesional. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah b erserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. kes ulitan belajar. Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah Bimbingan terhadap peserta didik bermasalah tetap menjadi perhatian bimbingan dan konseling. peserta didik hamil. Kasus ringan dibimbing oleh wali kel as dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing ) dan mengadakan kunjungan rumah. berpacaran. dengan perbuatan menyimpang. Sofyan S. Dalam prakteknya. namun perlu diingat bahwa tidak semua masalah peserta didik harus ditangani oleh Guru Pembimbing (ko nselor). memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebi h dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan . melakukan gangguan sosial dan asusila. b. seperti : gangguan emosional berat. kesulitan belajar pada bid ang tertentu. mencuri kelas sedang. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kas us. Masalah (kasus) ringan. guru dan sebagainya. poli si.

sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pen gentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. diantaranya : a. t erutama asas kerahasiaan. Menjelajahi dan mengeksp lorasi masalah klien lebih dalam. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama a ntara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. dan (3) tahap akh ir (tahap perubahan dan tindakan). proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). Pada tahap ini terda pat beberapa hal yang harus dilakukan. d.konseling. 2 . 1. . maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. Taha p Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. Menegosiasikan kontrak Membangun per janjian antara konselor dengan klien. 3. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. keterbukaan. Kontrak waktu. Kunci keberhasilan m embangun hubungan terletak pada terpenuhinya asasasas bimbingan dan konseling. yaitu berapa la ma waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. Membuat penaksiran dan perjajagan Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. berisi : 1. Proses Konseli ng Secara umum. Memperjela s dan mendefinisikan masalah. Me mbangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). (2) tahap inti (tahap kerja). yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. proses konseli ng selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. c. Kontrak kerja sama dalam proses konseling. dan menentukan berbagai alterna tif yang sesuai bagi antisipasi masalah. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. a. 2. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. kesukarelaan. dan kegiatan. Kontrak tugas. diantaranya : a. b. Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masa lah klien.

Menurunnya kecemasan klien Perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian sege ra). 1.Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. yaitu : (1) teknik umum dan (2) teknik khusus. Hal ini bisa terj adi jika : 1. d. di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. Teknik-Teknik Konseling Dalam konseling perorangan terdapat dua jenis teknik yang biasa dilakukan. b. Untuk lebih jelasnya. Pemahaman baru dari klien t entang masalah yang dihadapinya. ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. d. sehat dan dinamis. c. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. c. yaitu . Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konse ling. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. Adanya rencana hidup masa yang akan datang deng an program yang jelas. diantaranya : . 2. Tahap Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terd apat beberapa hal yang perlu dilakukan. c. bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadap i klien. Konselor melakukan reassessment (p enilaian kembali). Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik kons eling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. Menyusun rencana tindakan yang a kan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. yaitu : a. b. a. serta menampakan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Konselor bersama klien membua t kesimpulan mengenai hasil proses konseling b. baik oleh pihak konselor maupun klien. b. 3. Teknik U mum Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapantah apan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh kon selor.

jarak duduk dengan klien menjauh. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. Contoh ungkapan empati primer : . 4. Contoh perilaku attending yang tidak baik : 1. Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. berbicara terus tan pa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. bahasa tubuh. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. jarak antara konselor dengan klien agak dekat. perhatian terarah pada lawan bicara. miring. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. Memutuskan pembicaraan. mudah buyar oleh gangguan luar. Empati Empati ialah kemamp uan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien. b. Ekspresi w ajah : tenang. duduk kurang akrab dan berpaling. 5. merasa dan berfikir bersa ma klien dan bukan untuk atau tentang klien. Mendengar kan : aktif penuh perhatian. Kepala : melakukan anggukan jika setuju 2. Kepala : kaku 2. dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka. Meningkatkan harga diri klien. Perilaku at tending yang baik dapat : 1. Terdapat du a macam empati. bersandar. Per hatian : terpecah. yaitu : a. Muka : kaku. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. ekspresi melamun. 5. mengalihkan pandangan. yaitu bentuk empati yang hanya berusah a memahami perasaan.a. pikiran dan keinginan klien. ceria. Contoh perilak u attending yang baik : 1. 2. dan bahasa lisan. duduk akrab berhadapan atau berdamping an. Empati primer. Menciptakan suasa na yang aman 3. mata melotot. 3. 4. Empati dilakukan sejalan dengan per ilaku attending. menggunakan tangan sebagai isyarat. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. tidak melihat saat klien sedang bicara. menunggu ucapan klien hingga selesai. senyum 3. diam (menanti saat kesempatan bereaksi). Posisi tubuh : tegak kaku.

dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku v erbal dan non verbalnya. Refleksi pikiran. b. pikiran.. Keiku tan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam.” ” Barangkali Anda merasa. Terdapat tiga jenis refleksi. Ref leksi pengalaman...(kiasan)” ” Adakah yang Anda maksudkan. c. pikiran. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”. dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terha dap perilaku verbal dan non verbal klien.. yaitu empati apabila kepaha man konselor terhadap perasaan... Contoh : ” Tamp aknya yang Anda katakan adalah .. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : ”Saya dapat merasakan apa yang Anda ras akan. ” Sa ya mengerti keinginan Anda”. Refleksi peras aan..” ” Adakah yang Anda maksudkan. yaitu : 1... yaitu teknik untuk memantulkan pengalamanpengalaman klien seba gai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien..” 2.. pikiran.” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”.. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentan g perasaan. yaitu teknik u ntuk memantulkan ide. .” ” Hal itu rupanya sep erti . pengalaman termasuk penderitaanny a. dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”. .” 3.” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah. pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih m endalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. berupa perasaan. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan. Empati tingkat tinggi... yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebag ai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien.

biasanya ditandai . dan pengalaman klien.Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu. Contoh : ” B isakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan . Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangka p Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien. dan pendapat klien.. Seperti halnya pada teknik re fleksi. tertekan dan terancam. mengungkapkan kalim at yang mudah dan sederhana..” d.. pikiran. terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi..” ” Adakah yang Anda maksudkan peristiwa. Dapatkah Anda menguraikannya lebih lanjut ? 3. pikiran... Hal ini penting d ilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin. Eksplorasi pi kiran.. yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. yaitu keterampilan atau teknik untuk me nggali pengalaman-pengalaman klien. Contoh : ” Sa ya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bek erja” ” Saya kira pendapat Anda mengenai hal itu baik. atau tidak m ampu mengemukakan pendapatnya. yaitu : 1.” ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam.” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah... Contoh : ” Saya terkesan dengan pengalaman yan g Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut da n pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” e. Eksplorasi pengalaman. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ?” 2. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan. menutup diri. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut. Eksplorasi peras aan. yaitu teknik untuk menggali ide.

: ” Empat ” : ” Sekarang berapa ” Konselor Klien Konselor . yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-ka ta singkat.dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan perta nyaan tertutup. Oleh karenanya. Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” ” Bagaimana perasaan Anda saat ini ?” ” Dapatkah Anda mengemukakan hal itu lebih lanju t ?” g. : ” Itu suatu pe kerjaan yang baik. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus m enggunakan pertanyaan terbuka. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan . akan tetapi saya tidak mengambilnya. adakah . dapatkah. lebih baik gunakan kata tanya apakah. : ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”. dan mengamati respons klien terhada p konselor. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tent ang apa yang dikemukakan klien. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” : ” Tampaknya Anda masih ragu. Contoh dialog : Klien Konselor f. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada kli en bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan kli en. bagaimana. (3) mem beri arah wawancara konseling. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-s ebabnya. dan (3) menghentikan pembicaraan klien yan g melantur atau menyimpang jauh. Pertan yaan semacam ini akan menyulitkan klien. Pertanyaan yang d iajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatk an prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”.” Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk meman cing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. (2) m enjernihkan atau memperjelas sesuatu. pengalaman dan pemikiranny a dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question).

” : ” Pendidikan t ingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara. maka d ibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas. Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemuk akan klien.” Konselor Klien : ” nekad bunuh diri” : ” lalu..... bukan pandangan subyektif konselor...” Konselor i.. karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya.Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh. perasaan dan pengalaman klien dengan meru juk pada teori-teori.... Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran..Klien : ” Sebelas ” h. ya. .. dengan tujuan untuk me mberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dar i hasil rujukan baru tersebut. Konselor j. Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan.. ” (klien menghentika n pembicaraan) : ” ya. Terutama hi dup di kota besar seperti Anda. terus. Membantu orang tua memang harus. lalu.. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau me nghayalkan sesuatu. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhent i sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga.... Dorongan ini diberikan pada saat klien akan me ngurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien. Karena tantangan masa depan makin banyak. . Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa.....dan.. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melaku kan sesuatu. n amun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalka n SMA”. dan saya nyaris.

yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan A nda segera menyelesaikan studi. Oleh karena itu. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” m.” l. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntuta n dari perusahaan yang akan Anda masuki. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementar a pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. Tapi bagaimana ya?” masalah : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. (4) mempertajam foku s pada wawancara konseling. Tujuan menyimpulkan semen tara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembi caraan. C ontoh dialog : Klien Konselor :” Saya mungkin berfikir juga tentang hubungan denga n pacar. Ak hirnya terjadi pertengkaran sengit. Pada umumnya dalam wawancara konseling. kita sudah sampai pada dua hal: pertama. Saya tak dapat lagi menahan diri.Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab.” : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya. baga imana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alan gkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. namun masih ada hambatan yang akan hadapi. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pemb icaraan secara bertahap. kedua. klien akan mengungkapkan sejumla h permasalahan yang sedang dihadapinya. (3) meningkatkan kualitas diskusi. Misalnya den gan mengatakan : . tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling .” Konselor k. konselor seyogyanya dap at membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan.

Co ntoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri o leh kaum wanita. (3) membawa klien ke pada kesadaran adanya diskrepansi. (suara rendah. ” Tampaknya Anda berjuang sendirian” 2. Fokus pada diri klien. 4. yaitu dengan : (1) membe ri komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yan g tepat. Contoh dialog : Klien : ” Saya baik-baik saja”. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? P ikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. dan sebagainya. ide awal dengan ide berikutnya. Fokus pada topik. posisi tubuh gelisah). Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. atau kontradiksi dalam dirinya. telah membuat kamu menderita. Konfrontasi Yaitu t eknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan d engan perbuatan atau bahasa badan. (2) meningkatkan potensi klien. Peng gunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. Ada beberapa yang dapat dilakukan.(2) tidak menilai apalagi menyalahkan. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan pe nelitian diri secara jujur. Contoh : ” Tanti. di antaranya : 1.” . Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki. Fokus mengenai budaya. senyum dengan kepedihan. (3) dilakukan dengan perilaku att ending dan empati. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3.” n. Co ntoh : ” Roni. konflik. Fokus pada orang lain. wa jah murung.” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan A nda dengan orang tua yang kurang harmonis ”.

.” : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah. ungkapan kata-kata yang tega s.. dan dengan alasan-alasan yang logis...harus bagaimana....... Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien de ngan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan. :”. Diam Teknik diam dilakukan deng an cara attending.. Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar. komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal.” (diam) Konselor r. Mengambil Inisiatif . karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. (2) sev agai protes jika klien ngomong berbelit-belit... Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir. kurang jelas dan agak meragukan. pikiran..” Konselor p... ibu... (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara.. Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi d i keluarga saya membuat saya bingung.... Saya..Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja.” q. Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” :”. tapi kelihatannya ada yang tidak beres” ”Saya melih at ada perbedaan antara kenyataan diri ”. atau saudara-saudara Anda... Tujuannya adalah : (1) mengu ndang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas..... Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pem impin di rumah itu.. ucapan dengan o. dan penga lamannya secara bebas Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya.. paling lama 5 – 10 detik. (2) agar klien menjelaskan.” (diam) Konselor Klien :” Saya. mengulang da n mengilustrasikan perasaannya. tidak tahu.

Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembic araan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini. Kalau pu n konselor mengetahuinya. dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya . Contoh: ” Baiklah. Contoh : ” Nah. Contoh respons konselor terhadap pe rmintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab.Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kur ang semangat. saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam me nuntaskan diskusi.” t. Walaupun dem ikian. u. sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. s. terutama mengenai kecemasan. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling y akni kemandirian klien harus tetap tercapai. (3) pemahaman baru . Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir ses i konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action). p erbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. dan kurang parisipatif. Memberi N asehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya.upi. (2) memantapkan rencana klien. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan. saya pikir Anda mempunyai s atu keputusan namun masih belum keluar. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat. Coba Anda renungkan kembali”.com di internet”. apakah tidak lebih b aik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” v. (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan. konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nase hat atau tidak. sering d iam. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia.

Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Ration al Emotive Theraphy. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikeh endaki dapat dihilangkan secara bertahap. Stimulus yang tidak menyenangkan yan g disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang t idak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. seperti pendekatan Behaviorisme. b. kesulitan menyata kan tidak. Teknik-teknik khusus ini dikemban gkan dari berbagai pendekatan konseling. d. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang d iperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku y ang akan dihilangkan. dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutny a. Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disen anginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Diskusi-diskusi kelomp ok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. dan ia menyertakan respon yang b erlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. c. dalam hal-hal te rtentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. yaitu : a. Teknik-Teknik Khu sus Dalam konseling. dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. 2. Dalam hal ini k onselor . Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya a dalah layak atau benar. Jadi desensitisasi sistematis hakekatn ya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperku at secara negatif biasanya merupakan kecemasan. jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan.klien. di samping menggunakan teknik-teknik umum. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilak u baru pada klien. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengaj arkan klien untuk rileks. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya.

menurut pandangan Gestalt pada akhirnya kl ien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resik o. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu a pa yang harus saya katakan sekarang. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari k onselor. dapat menggunakan model audio. dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahu an itu”. misalnya : 1. Permainan Dial og Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kec enderungan yang saling bertentangan. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien ak an perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya.. 3. Kecenderungan orang tua lawan kecenderun gan anak.. 4. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan u ntuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada me mproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. Dalam teknik ini konselor memint a klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pern yataan itu dengan kalimat : “. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. model fisik. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. 5. 2. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderung an under dog. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “ku rsi kosong”.dan saya bertanggung jawab atas hal itu”.menunjukkan kepada klien tentang perilaku model. Kecenderungan otonom lawan kecende rungan tergantung. Misalnya : “Saya merasa jenuh. Kecend erungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”. Bermain Proyeksi P royeksi : . model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. e. Melalui dialog yang kontradiktif ini. g. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampakny a mekanis. f. “Saya malas.

mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah a spek-aspek . Dalam teknik bermain proyek si konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang di proyeksikan kepada orang lain. Misalnya : konselor member i kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu ya ng berlebihan. klien diharapkan dapat me ngurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional da n tidak logis. Sering terjadi. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang ber kebalikan dengan perasaanperasaan yang dikeluhkannya. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku t ertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mend asarinya. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klie n yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sa ngat ingin menghindarinya. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakuta n atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk men yelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu . h. Dengan tugas rumah yang diberikan. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenang kan. membiasaka n diri.Memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau m elihat atau menerimanya Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memant ulkannya kepada orang lain. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perila ku yang diharapkan. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang le bih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. perasaan-perasaan yang dipantulkan k epada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Home work assigments. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. T eknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. i. j.

dan bimbingan karier . mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas ya ng diberikan. Bimbingan dan konseling meru pakan upaya untuk membantu mengatasi masalahmasalah yang dihadapi peserta didik. bimbingan sosial. kepercayaan pad a diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. m engenal lingkungan. Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. Teknik ini dimaksu dkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tert entu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif . Bimbingan dan konseling merupak an bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi. baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal. kecuali : a. b. Di bawah ini merupakan pengertian bimbingan dan konseling. mendorong. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. D. da lam bimbingan pribadi. Latihan : Soal : 1. l. k. c. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus meny esuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian r upa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui pera n tertentu. keluarga dan masyarakat. .kognisinya yang keliru. Bimbi ngan dan konseling merupakan proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah. d. Bimbingan dan konseling merupakan layanan bantuan untuk peserta didik. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. bimbingan belajar. dan merencanakan masa depan. m.

d. Prinsip bimbingan dan konseling berkenaan dengan sasaran layanan a. tut wuri handay ani a. Pemahaman dan pencegahan Pengembangan Advokasi Pengentasan 3. d. 2. kek inian. je nis kelamin. Bimbingan dan konseling merupakan pekerjaan ilmiah. kemandirian. c. Fungsi bimbingan dan konseling yang menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hak-hak dan/atau kepentingan pendidikan. dan c benar Orientasi dan Informasi Konseling Perorangan dan Konseling Kelompok Pembelajaran dan Bimbingan Kelompok Penempatan 5. kerahasiaan. berdasarkan norma-norma y ang berlaku. a. b. setiap l ayanan yang diberikan kepada peserta didik hendaknya didukung oleh : a. Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang usia. c. keterbukaan. . Orientasi Informasi Konseling Perorangan Pembelajaran 7. sukarela. Bimbingan dan konseling diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri. a. kedinamisan. d. b. keahlian kegiatan. b. Layanan bimbingan dan konseling yang memiliki fungsi pemahaman dan pencegahan . b. a. Jenis layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tat ap muka untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan diriny a. c. d. Tujuan dilaksanakan kegiatan konferensi kasus. agama dan status sosial. Di bawah ini merupakan beberapa asas yang harus dipenuhi dalam layanan bimbingan dan konseling. d. c. keterpaduan kenormatifan. 4. dan c benar 8. Pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas kemauan diri sen diri b. suku. c. Memperoleh keterangan yang lebih lengkap tentang klien dan membangun komitmen dari para pes erta konferensi dalam rangka pengentasan masalah klien.melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. c. b. a. a. 6. Mencari cara yang terbaik g una menyelamatkan kepentingan dan nama baik klien maupun sekolah. d. alih tangan kasus. Petugas bimbingan yang profesional Data yang lengkap dan memadai Bekerja sama d engan kalangan profesional lainnya a. b. Program bimbingan dan konseling h arus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan. b. b. Oleh karena itu.

berkelahi dengan teman. kecuali a. Imitasi b. Aversi Desensitisasi Latihan asertif Pembentukan Perilaku Model 15. Permainan dialog . Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanp erasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingg a klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. a. b. c. Identifikasi kasus Diagnosis Prognosis Treatment 12. dapat dilakukan oleh : a. b. d. Teknik konseling dengan menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Kegiatan pendukung yang dilakukan guru atau konselor. d. ”Saya dapat memahami pikiran Anda”.” b. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ? ” d. Kunjungan rumah Ko nferensi kasus Alih tangan kasus Aplikasi instrumentasi data 10. a. a. dan c benar penegakan 9. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). d. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. d.c. Upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timb ulnya masalah peserta didik. ”Anda mengatakan baik-baik saja. seperti bolos. c. Penanganan peserta didik yang menunjukkan permasalahan atau perilaku menyimp ang tingkat ringan. Guru pembimbing/konselor Guru dan wali kelas Polisi a. b. b. c. c. Contoh ungkapan pengg unaan teknik konfrontasi : a. Membangun komitmen dari para peserta konferensi dalam rangka disiplin sekolah . karena s aya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. d. Membuat penaksiran dan perjajagan 13. apabila kasus yang dita ngani berada diluar kemampuan atau kewenangannya. a. ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendala m. Di bawah ini merupakan hal-hal yang perlu dilakukan pada tahap awal konselin g. c. Menjelajahi dan mengeksplorasi mas alah klien lebih. ta pi kelihatannya ada yang tidak beres”. b. c. 14. ”Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. a. b dan c ben ar 11. b. d.

c. Bermain peran d. Home work assigments Uraian 1. Jelaskan orientasi baru bimbi ngan dan konseling ! 2. Jelaskan peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran da lam Bimbingan dan Konseling ! 3. Mengapa guru pembimbing (konselor) perlu menjag a kerahasiaan data klien ? 4. Analisis Kasus : Fulan seorang siswa kelas XI SMA Negeri 1 Nunjauh Disana. Ketika dia masih duduk di bangku kelas VIII SMP, dia te lah menjadi anak yatim dan semenjak itu dia hidup bersama dengan kakek-neneknya, dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Sementara itu, sang ibu sudah satu tahun ini pergi merantau ke Malaysia menjadi TKI di sana namun jarang memberi khabar apalagi memberi kiriman uang untuk anaknya. Berdasarkan catatan absensi yang ada di wali kelas, pada semester yang lalu dia sering tidak masuk sekolah, tanpa al asan yang jelas. Selama bulan Februari 2006, tercatat sudah tujuh hari dia tidak masuk kelas. Padahal ketika masih duduk di kelas X kehadirannya termasuk bagus. Berdasarkan informasi dari rekan sekelasnya, bahwa jika dia tidak masuk kelas, dia suka nongkrong di terminal. Bahkan Andi, kawan sekelasnya, pernah menyaksika n dia dalam keadaan teler di terminal dan sempat meminta paksa uang kepadanya. D alam buku Laporan Pendidikan semester yang lalu, prestasi belajarnya sungguh san gat tidak memuaskan, hampir terjadi pada semua mata pelajaran, kecuali untuk Mat a Pelajaran Kesenian, prestasinya malah jauh berada di atas kawan-kawannya. Keti ka dia masih duduk dibangku SD, dia pernah meraih predikat sebagai Siswa Berpres tasi seKecamatan Nunjauh Disana dan pernah menjadi Juara Pertama Lomba Nyanyi An akAnak se- Kabupaten Nun Jauh Disana. Melihat kondisi demikian, jika dibiarkan t entunya Fulan sangat beresiko tinggi untuk tidak naik kelas bahkan mungkin dikel uarkan dari sekolah. Tugas : Tuntaskan kasus tersebut di atas dengan memperhatik an dan menggunakan prinsipprinsip dan prosedur bimbingan dan konseling !

DAFTAR PUSTAKA Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Rem aja. Calvin S. Hall & Gardner Lidzey (editor A. Supratiknya). 2005. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Chaplin, J.P. (terj. Kartini Kartono ).2005. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : P.T. Raja Grafindo Persada. Depdiknas , 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkata n Tenaga Akdemik Dirjen Dikti --------- 2003. Pedoman Penyelenggaraaan Program P ercepatan Belajar SD, SMP dan SMA. Jakarta : Dirjen Dikdasmen. E. Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep,Karakteristik dan Implementasi.Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya. ---------. 2004. Implementasi Kurikulum 2004; Panduan Pe mbelajaran KBK. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya. Gendler, Margaret E..1992. Lea rning & Instruction; Theory Into Practice. Publishing. New York : McMillan H.M. Arifin. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta. PT Golden Tera yon Press. Hurlock, Elizabeth B. 1980. Developmental Phsychology. New Yuork : Mc Graw-Hill Book Company Moh. Surya. 1997. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung PPB - IKIP Bandung. Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : PT Raja Grafindo. Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendid ikan. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya. National Board for Professional Teaching Standards. 2002 . Five Core Propositions. NBPTS Home Page. <http://www.nbpts.or g/ standards/fivecore.html>. (Accessed, 31 Oct 2002). Prayitno, dkk. 2004. Pedom an Khusus Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdiknas. ----------, dkk. 2004. P anduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Rineka Cipta.

Sofyan S. Willis. 2004.Konseling Individual; Teori dan Praktek. Bandung : Alfabe ta Sudarwan Danim. 2002. Inovasi Pendidikan : Dalam Upaya Meningkatkan Profesion alisme Tenaga Kependidikan. Bandung : Pustaka Setia. Sugiharto.(2005. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Jakarta : PPPG Sumadi Suryabrata. 1984. Psikologi Ke pribadian. Jakarta : Rajawali. Sunaryo Kartadinata.2003. Inventori Tugas Perkemb angan. Bandung : Lab. PPB-UPI Bandung Suyanto dan Djihad Hisyam. 2000. Refleksi dan Reformasi Pendidikan Indonesia Memasuki Millenium III. Yogyakarta : Adi Cita . Syamsu Yusuf LN. 2003. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.. Bandung : PT R osda Karya Remaja. www.puskur.go.id.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful