POKOK – POKOK MATERI PERKULIAHAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Arwin Zoelfatas BAB I PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN PERILAKU A. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini, diharapkan Anda dapat : 1. Mendefinisik an psikologi dan psikologi pendidikan 2. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan in dividu, indikator-indikator motivasi, bentukbentuk konflik, bentuk-bentuk perila ku salah-suai dan taksonomi perilaku individu. 3. Menjelaskan psikologi pendidik an sebagai ilmu, arti penting psikologi pendidikan bagi guru, peranan dan pengar uh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku individu. 4. Mengurai kan mekanisme pembentukan perilaku menurut pandangan behaviorisme dan holistik. B. Pokok Bahasan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan. 2. Perilaku Individu. 3. Ta ksonomi Perilaku Individu. 4. Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan Perilaku da n Pribadi Individu. C. Intisari Bacaan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup , dan “logos” atau ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut seolah-olah psikologi merup akan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu pada s alah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat ji ka kita mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tenta ng jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diam ati secara langsung. Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mung kin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dala m bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demik ian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tenta ng perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Psikologi terbagi ke dalam dua bagian yaitu psikologi umum (general phsychology) yang mengkaji per ilaku pada umumnya dan psikologi khusus yang mengkaji perilaku individu dalam si tuasi khusus, diantaranya :

Psikologi Perkembangan; mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perk embangan mulai dari masa konsepsi sampai dengan akhir hayat. Psikologi Kepribadi an; mengkaji perilaku individu khusus dilihat dari aspek – aspek kepribadiannya. P sikologi Klinis; mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan (klinis) Psikologi Abnormal; mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal. Psikolo gi Industri; mengkaji perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia industri. P sikologi Pendidikan; mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan Disampi ng jenis – jenis psikologi yang disebutkan di atas, masih terdapat berbagai jenis psikologi lainnya, bahkan sangat mungkin ke depannya akan semakin terus berkemba ng, sejalan dengan perkembangan kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks. Psi kologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah mem iliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni : Ontologis; obyek dari psikologi p endidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, oran g tua peserta didik dan masyarakat pendidikan. Epistemologis; teori-teori, konse p-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdas arkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross se ctional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif. Aksiol ogis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapa ian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan. Dengan demikian, psikologi pend idikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus me ngkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk me nemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapai an efektivitas proses pendidikan. Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari p sikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pen didikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Prose s Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupak an beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya membutuhkan psikolo gi. Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang di dalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik, adminsitrator, masyarakat dan orang tua pes erta didik. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efekti f dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogya nya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilak unya secara efektif.

Selain itu. (b) memilih strategi atau metode pembelajaran. pendidik dan pelatih bagi pa ra peserta didiknya. dengan memahami psikologi pendidikan.--terutama peri laku peserta didik dengan segala aspeknya--. tentu saja seorang guru seyogyanya dapat memahami te ntang bagaimana proses dan mekanisme terbentuknya perilaku para peserta didiknya . Di bawah ini akan diuraikan mekanisme pembentukan p erilaku dilihat dari kedua pendekatan tersebut dengan merujuk pada tulisan Abin Syamsuddin Makmun (2003). Pengua saan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang haru s dikuasai guru. Di sinilah arti penting Psikolog i Pendidikan. dengan me mahami Psikologi Pendidikan para guru juga dapat memahami dan mengembangkan diri -pribadinya untuk menjadi seorang guru yang efektif dan patut diteladani. tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya. Untuk memahami perilaku individu dapat dilihat dari dua pendekatan. yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyat a bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. Oleh karena itu itu. Ke dua pendekatan ini memiliki implikasi yang luas terhadap proses pendidikan. (d) memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling kepada peserta didiknya. (c) memilih alat bantu da n media pembelajaran yang tepat. (e) memfasilitasi dan memotivasi belajar pes erta didik. Abin Syamsuddin Makm un (2003) menyebutkan bahwa tugas guru antara lain sebagai pengubah perilaku pes erta didik (behavioral changes). yakni kompetensi pedagogik. (g) berinteraksi secara bijak dengan peserta didiknya. pengelolaan kelas. (f) menciptakan iklim belajar yang kondusif. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Behav iorisme Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melal ui proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau me nciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan. dan (i) dapat me ngadministrasikan pembelajaran secara efektif dan efisien. Dalam hal ini. (h) menilai hasil pembelajaran. yang salin g bertolak belakang. baik untuk kepentingan pembelajaran. a. 2. sehingga dapat menjalankan tugas da n perannya secara efektif. yaitu: (1) behaviorisme dan (2) holistik atau humanisme. seorang guru melalui pertimb angan-pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat : (a) merumuskan tujuan pembel ajaran. Perilaku Individu Salah satu tugas utama guru adalah berus aha mengembangkan perilaku peserta didiknya. agar perilaku peserta didi k dapat berkembang optimal.Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing. . pembimbingan serta berbagai kegiatan pendidikan lainnya. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bah wa diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adal ah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar menga jar peserta didik.

Behaviorisme menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya perilaku in dividu dapat digambarkan dalam bagan berikut : S R atau S O R S = stimulus (rangsangan). dan cuaca mendung merupakan lingkungan (W ). Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W) setelah mengipas-ngipaskan buku. -- . Contoh : seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa panas. a da seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di ruangan kelas. Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga d itujukan kepadanya. Sedangkan perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut: W S Ow R W Contoh : ketika sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kel as yang terasa agak gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung. (2) Lingkungan efektif (umwelt=segala sesu atu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga me nimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia meresponsnya) Perilaku y ang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan peri laku spontan. ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow). Ruangan kelas yang panas mer upakan lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S) bagi mahasiswa tersebut (O). seca ra spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan respons (R) yang dilakukan mahas iswa. R = Respons (perilaku. sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan. waktu sore hari. aktivitas) dan O=organisme (in dividu/manusia). Ruan gan kelas yang gelap. maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini : W S O R W Yang dimaksud dengan lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua je nis yaitu : (1) Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu da n secara potensial dapat melahirkan S). secara spontan mahasiswa tersebut mengipasngipaskan buku untuk meredam kegerahannya.

.

meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak meny adari terhadap keadaan sekelilingnya--. Sele ngkapnya mekanisme perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut : Ow W S r e R W Dengan mengambil contoh perilaku sadar tadi. baik bersumber dari diri indiv idu itu sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (m otivasi ekstrinsik). tangan men ekan saklar lampu merupakan effector. berjalan ke depan. otot dan sebagainya yang merupakan pelaksana gerak R). motif. tekad) dari dalam d iri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku. Holistik atau humanisme menjelas kan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa). How (bagaimana) menunjukkan kepada j enis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose). yang berarti aspek-aspek intrinsik (niat. dan w hy (mengapa). suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyama n dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W). dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa yang sada r tersebut (R). Secara skematik rangkaian. proses dan mekanisme terjadinya perilaku menurut pandangan Holistik. how (bagaimana). What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/ purpose) a pa yang hendak dicapai dengan perilaku itu. mengucapkan minta izin kepada dosen. Me nggerakkan kaki menuju ke depan. Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggera kan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how). yakni perilakuny a itu sendiri. meminta ijin ke dosen . masih ada dua unsur pen ting lainnya dalam diri setiap individu yang mempengaruhi efektivitas mekanisme proses perilaku yaitu receptors (panca indera sebagai alat penerima stimulus) da n effectors (syaraf. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Holistik (Humanisme) Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan. Sebenarnya. dapat dijelaskan dalam bagan berikut : Kebutuhan dirasakan (felt needs) Dorongan (motivation) Aktivitas yang dilakukan (Instrumental behavior) Tujuan dihayati (goals/ incentive) . bagan di atas dapat dijelaskan bahw a mahasiswa yang sadar (Ow) mungkin merasakan penglihatannya (receptor) menjadi tidak jelas. sehingga tulisan dosen di papan tulis tidak terbaca dengan baik. meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan. b.

Berdasarkan bagan di atas tampak bahwa terjadinya perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan. yaitu: (1) Kebutuhan berprestasi (need for achievement). Jika kebutuhan yang serupa muncul kembali maka po la mekanisme perilaku itu akan dilakukan pengulangan (sterotype behavior). Tingkatan kebutuhan tersebut dapat diragakan seperti tampak dalam gambar beri kut ini : SELF ACTUALIZATION ESTEEM NEEDS LOVE NEEDS SAFETY NEEDS PHYSIOLOGICAL NEEDS Sementara itu. yaitu kebutuhan untuk berkompetisi. (4) Kebutuhan takut akan kegagalan (need for fear of failure). (3) Kebutuhan untuk membentuk ikatan (need for affiliation). baik yang bersum ber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar i ndividu (motivasi ekstrinsik). membentuk keluarga. akan merasakan adanya kekurangan-kekurangan atau kebutu han-kebutuhan tertentu dalam dirinya. yaitu: (1) kebutuhan fisiologikal. Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motiva si) yang merupakan kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat pe rsistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu aktivitas. Stranger (Nana Syaodih Sukmadinata. yaitu kebutu han untuk mengikat diri dalam kelompok. tidak dalam arti fisi k. akan tetapi juga mental. yang dapat digambarkan sebagai berikut : Motif Rasa puas atau kecewa Perilaku Instrumental Tujuan . (2) Kebutuhan berkuasa (need for power). (4) kebutuhan prestise atau harga diri. Setiap individu. yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status. demi mempertahankan kelangsungan dan meningk atkan kualitas hidupnya. se perti : sandang. psikologikal dan intelektual. Maslow mengungkapkan jenisjenis kebutuhan-individu secara hierarkis. yait u kebutuhan untuk menghindar diri dari kegagalan atau sesuatu yang menghambat pe rkembangannya. pangan dan papan. (3) kebutuhan kasih sa yang atau penerimaan. dan (5) kebutuhan aktualisasi dir i. organisasi ataupun p ersahabatan. Dalam hal ini. baik dengan dirinya atau dengan orang lain d alam mencapai prestasi yang tertinggi. yaitu kebutuhan untuk mencari dan memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang lain. sehin gga membentuk suatu siklus. (2) kebutuhan keamanan.2005) mengetengahkan empat jen is kebutuhan individu.

seperti : takut yang dipelajari. (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari keg iatan yang dilakukan. j ika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sam a-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih. melarikan diri. maksu d dan aspirasi serta motif berprestasi. 2. Dalam pandangan holistik. konformitas dan sebag ainya). j ika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sam a-sama kuat. motif individ u dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan. (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakuk an. yaitu : 1. (3) persistensi pada kegiatan. menunjukkan kepada m otif yang berkembang dalam individu karena pengalaman dan dipelajari. Deng an beragamnya motif yang terdapat dalam individu. dikehendaki serta bersifat positif. keuletan dan kemampuan da lam mengahadapi rintangan dan kesulitan. untuk keperluan studi psikologis. manipulasi. Dalam diri indiv idu akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada tujuan tertentu. menye rang. (2) frekuensi k egiatan.Berkaitan dengan motif individu. seperti : dorongan untuk makan. minum. minat). Bentukbentuk konflik tersebut diantaranya adalah : 1. Motif primer (basic motive dan emergency motive). dikenal de ngan istilah drive. menyelamatkan diri dan sejenisnya. Untuk memahami motivasi individu dapat d ilihat dari indikator-indikatornya. Avoidance-avoidance conflict. Jika seorang individu dihadapkan pada bentuk-bentuk motif seperti dikemukakan di atas tentunya dia akan mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dan sangat mungkin menjadi perang batin yang berkepanjangan. (4) ketabahan. dis ebutkan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam dirinya. 3. motif-motif sosial (ingin diterima. yaitu : (1) durasi kegiatan. Motif sekunder. Approach-approach conflict. (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan. yang satu positif dan dikehendaki dan yang lainnya motif negatif serta tidak dikehendaki namun sama k uatnya. menunjukkan kepada motif yang tidak pelajari. adakalanya individu harus berh adapan dengan motif yang saling bertentangan atau biasa disebut konflik. motif-motif obyektif dan interest (eksplorasi. setiap aktivitas ya ng dilakukan individu akan mengarah pada tujuan . Approach-avoidance con flict. 2. (5) devosi dan pengorbanan untuk mencap ai tujuan.

(5) represi (menekan p erasaan). jika tujuan tersebut tidak tercap ai dan kebutuhannya tidak terpenuhi maka dia akan kecewa atau dalam psikologi di sebut frustrasi. sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan psikologi pendidikan. (2) kecemasan tak berdaya. Jika tercapai tentunya individu merasa puas dan memperoleh kese imbangan diri (homeostatis). (3) regresi (kemunduran perilaku). (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di bi dang lain). jika akal sehatnya tidak berfungs i sebagaimana mestinya. dan setelah mempertimbangkan segala sesuatunya (moralitas). Namun. Untuk lebih jelasnya. Contoh 1 : Karen a gagal mengikuti mengikuti testing pada salah satu Fakultas di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). diantaranya : (1) agresi marah. perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya. Untuk tujuan jangka pendekn ya. (6) rasionalisasi (mencari alasan). tercapai atau tidak tercapai tujuan tersebut. Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membant u para peserta didiknya agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat menimbulkan perilaku salah-suai. (7) proyeksi (melemparkan kesalaha n kepada lingkungan). yang dipe rolehnya dari setiap pertemuan tatap muka dengan dosen. Jika akal sehatny a berani mengahadapi kenyataan maka dia akan lebih dapat menyesuaikan diri secar a sehat dan rasional (well adjustment). Namun sebaliknya. sikap dan keterampilannya dalam bidang Psikologi Pendidikan sehingga dia me nyadari Psikologi Pendidikan merupakan kebutuhan bagi dirinya (need felt) dalam rangka mencapai tujuan-tujuannya (goals/incentives). Bentuk peril aku salah suai (maldjustment). (10) berfantasi (dalam angan-angannya. (4) fiksasi. dengan berbekal kesadaran diri bahwa dia memiliki potensi dalam bidang psiko logi pendidikan.tertentu. dia berharap dapat memperoleh kemampuan baru berupa pengetahuan . seakan-akan ia dapat mencapai tujuan yang didambakannya). sejak awal dia sudah menyadari bahwa dia kekurangan pengetah uan. bergantung kepada akal sehatnya (reasoning. Sekaligus juga dapat membe rikan bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan frustrasi. . di bawah ini akan dikemukaka n contoh terbentuknya perilaku berdasarkan pendekatan holistik. Reaksi individu terhadap frustrasi akan beragam bentuk perilaku nya. m aka dia akan mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment). secara sukarela Arjuna memutuskan untuk melanjutkan pada salah program studi yang ada di FKIP UNIKU (sublimasi). terdapat dua kemungkinan. Ketika mengikuti perkul iahan Psikologi Pendidikan yang merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diik uti para mahasiswa. Dalam hal ini. (8) sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang sejenis). inteligensi).

Perkuliahan Psikologi Pendidikan telah men dasari dia menjadi seorang yang sukses. bahkan kepa la sekolahnya meminta dia untuk menjadi guru di sekolah menjadi tempat praktekny a. memperoleh kesuksesan dalam mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). para peserta d idik sangat menyenangi dia karena dia sangat dekat dan akrab dengan peserta didi knya. rekan-rekan seprofesinya sangat hormat dan kagum atas kinerja nya sebagai guru. pada saat PPL dia termasuk mahasiswa praktikan yang disukai oleh peserta didiknya. Pada saat mengikuti lomba pemilihan guru berprestasi tingkat k abupaten.Tujuan jangka menengah. pada akhir semester dia berharap lulus mata kuliah Psiko logi Pendidikan dengan mendapatkan nilai A (kebutuhan harga diri). Selain itu. Dia juga sangat menyukai diskusi te ntang psikologi pendidikan dengan teman-temannya di luar kelas (perilaku instrum ental). Begitu juga. membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidika n yang diwajibkan dan dianjurkan oleh dosen. Dia sangat mensyukuri atas segala keberhasilannya. keingi nan menjadi guru yang efektif dan kompeten kemudian berkembang menjadi dorongan yang kuat dalam dirinya (motivasi intrinsik) Pada saat mengikuti perkuliahan Psi kologi Pendidikan dia senantiasa aktif bertanya dan mengemukakan pendapatnya ten tang materi yang disampaikan. dia berharap dapat mela ksanakannya dengan sebaik-baiknya. kemudian dia dipaksa orang tuanya untuk melanjutkan pada salah sa tu program studi di FKIP UNIKU (motivasi ekstrinsik/substitusi). Berkat aktivitas dan kesungguhannya dalam mengikuti perkuliahan Psikolog i Pendidikan. Setiap tugas yang diberikan diseles aikan dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu. dia memperoleh nilai terbaik di kelasnya. dia memperoleh pengetahuan yang luas. dia belum menemukan apa tujuan kuliahnya. sehingga selama kuliah. Bagi dirinya. Dia bercita-cita menjadi seorang ekonom. Contoh 2 : Astrajingga rekan seangkatan Arjuna. Setelah dia selesai kuliah dia menjadi guru di sebuah sekolah. sikap yang positif dan memil iki keterampilan yang bisa dibanggakan dalam menerapkan prinsip-prinsip psikolog i. dia berhasil meraih sebagai juara pertama. . memperoleh kesuksesan belajar dengan mendapatkan nilai A. karena gagal mengikuti mengikut i testing pada Fakultas Ekonomi di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). Sedangkan tujuan yang ingin dicapai untuk jan gka panjang. Pada akhir semester. n anti pada saat mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). baik ketika selama menjadi mahasiswa maupun setelah menj adi guru (homeostatis). dia benar-benar berharap dapat menjadi guru yang efektif dan kompet en. Keinginan dan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam bid ang psikologi pendidikan.

Sambil men angis (regresi). dia menyalahkan dosen bahwa dosennya tidak becus mengajar (proy eksi). definisi.Dalam konteks pendidi kan. Dengan pengetahuan individu dapat mengenal dan mengingat kembali suatu objek. peristiwa. dia hanya memperoleh sebagian kecil saja pengetahuan. Mengetahui kebiasaan atau cara mengetengahkan ide atau pengalaman . kebu dayaan masyarakat tertentu. peristiwa. id e prosedur. Pikirannya selalu terganggu bahwa seolah-olah dia sedang kuliah pada Fakutas Ekonomi di Perguruan Tinggi yang diidam-idamkannya dan dia merasa seolah-olah bakal menjadi Ekonom (fantasi). kalaupun dikerjakan hanya alakadarnya dan selalu telat disetorkan.Dia tidak begitu berminat mengikuti perkuliahan mata kuliah kependidikan. Tugas-tugas yang diberik an dosen pun jarang dikerjakan. kejadian masa lalu. termas uk mata kuliah Psikologi Pendidikan (kurang merasakan adanya kebutuhan dan kekur angan motivasi). Bloom mengungkapkan tiga kawasan (domain) perilaku individu beserta sub kaw asan dari masing-masing kawasan. Pengetahuan merupakan aspek kognitif yang paling rendah tetapi paling mendasar. Kawasan Kognitif. yakni : a. terdiri dari : Mengeta hui terminologi yaitu berhubungan dengan mengenal atau mengingat kembali istilah atau konsep tertentu yang dinyatakan dalam bentuk simbol. tahun. atau kesimpulan. orang tempat. Untuk keperluan studi tentang perilaku kiranya perlu ada sistematika pengel ompokan berdasarkan kerangka berfikir tertentu (taksonomi). 3. Dia dihadapkan pada perang batin antara terus melanjutkan stu di yang tidak sesuai dengan cita-citanya atau keluar dari kuliah dengan resiko o rang tua akan marah besar terhadap dirinya (conflict). yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau berfikir/nalar. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan dan pada akhir nya dia dinyatakan tidak lulus dan terpaksa harus mengikuti remedial. baik berbentuk verbal maupun non verbal. 1) Pengetahuan (knowledge). daftar. Taksonomi Perilaku Individu Kalau perilaku individu mencakup segala pe rnyataan hidup. b) Mengetahui tentang cara untuk memproses atau melakukan sesuatu. dan ciri-ciri yang tampak dari keadaan alam tertentu . Mengetahui fakta tertentu yaitu mengenal atau mengingat kemb ali tanggal. rumus. Dilihat dari objek yang diketahui (isi) pengetahuan dapat digolongk an sebagai berikut : a) Mengetahui sesuatu secara khusus. sumber informasi. sekal ipun dia masuk kuliah hanya sebatas takut dimarahi oleh dosen yang bersangkutan dan takut dinyatakan tidak lulus (kebutuhan rasa aman). konsep. teori. Dia sering tidak masuk kuliah. nama. betapa banyak kata yang harus dipergunakan untuk mendeskripsikan nya. Selama satu semester meng ikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan.

Contoh sesesorang dapat dikatakan telah mengerti konsep tentang “motivasi kerja” dan dia telah dapat membedakannya dengan konsep tentang ”motivasi belajar”. Untuk bisa seperti itu. Temuantemuan ini diakomodasikan dan kemudian berasimilasi dengan struktur kognitif yang ada. . kelompok. menemukan atau menyel esaikan masalah. maka kelanjutannnya dapat dinyatakan berdas arkan prinsip tersebut. perangkat atau susunan yang digunakan di d alam bidang tertentu.Mengetahui urutan dan kecenderungan yaitu proses. 11. arah atau kelanjutan dari suatu temuan. prinsip. Misalkan simbol dalam bentuk kata-kata diubah menjadi gambar. memperbandingkan atau mempertentangkannya dengan sesuatu yan g lain. Temuan-tem uan yang didapat dari mengetahui seperti definisi. Seseorang dapat dikatakan telah da pat menginterpretasikan tentang suatu konsep atau prinsip tertentu jika dia tela h mampu membedakan. pendapat atau perlakuan. yaitu perangkat cara yang digunakan untuk mencari. 7. terlebih dahulu dicari prinsip apa ya ng bekerja diantara kelima bilangan itu. Mengetahui hal-hal yang universal dan abstrak dalam bidang tert entu. sehingga membentuk struktur kognitif baru. Mengetahui penggolongan atau pengkatego risasian. baik dalam bentuk simbol verbal maupun non verbal. 2) Pemahaman (comprehension) Pemahaman atau dapat dijuga disebut dengan istilah mengerti merupakan kegiatan m ental intelektual yang mengorganisasikan materi yang telah diketahui. 3. Mengetahui kelas. arah dan gerakan suatu gejala atau fenomena pada waktu yang berkaitan. peristiwa. b agan atau grafik. bagan dan pola yang digunakan untuk mengorganisasi suatu fenome na atau pikiran. dan c) Ekstrapolasi. Mengetahui prinsip dan generalisasi Mengetahui teori dan strukt ur. b) interpretasi yaitu menjelaskan makna yang terdapat dalam simbol. atau memproses sesuatu. informasi. Tingkatan dalam pemahaman ini meliputi : a) translasi yaitu mengubah simbol tertentu menjadi simbol lain tanpa perubahan makna. Mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi fakta. den gan kemapuan ekstrapolasinya tentu dia akan mengatakan bilangan ke-6 adalah 13 d an ke-7 adalah 19. yaitu melihat kecenderungan. Misalnya. Mengetahui meto dologi. yaitu ide. kepada siswa dihadapkan rangkaian bilangan 2. Jika ditemukan bahwa kelima bilangan te rsebut adalah urutan bilangan prima. fakta d isusun kembali dalam struktur kognitif yang ada. 5.

Kemampuan untu k memastikan konsistensinya hipotesis dengan informasi atau asumsi yang ada. mengklasifikasikan. Satu-satunya alat transportasi yang suda h dikenal pada waktu itu adalah kuda. b) Menganalisi s hubungan Kemampuan untuk melihat secara komprehensif interrelasi antar ide den gan ide. yaitu : a) Menganalisis unsur : Kemampuan melihat asumsi -asumsi yang tidak dinyatakan secara eksplisit pada suatu pernyataan Kemampuan u ntuk membedakan fakta dengan hipotesa. maka mereka memberi nama pada kereta api tersebut d engan iron horse (kuda besi). Secara rinci Bloom mengemukakan tiga je nis kemampuan analisis. Kemampuan untuk mengenal unsur-unsur khusus yang membenarkan suatu pern yataan. Kemampuan untuk membedakan pernyataan fak tual dengan pernyataan normatif. memanfaatkan. Seseorang dikatakan menguasai kemampuan ini jika ia da pat memberi contoh. . mereka berusaha untuk memberi nama yang cocok bagi alat angkutan tersebut. Hal ini menunjukkan bagaimana mereka menerapkan ko nsep terhadap sebuah temuan baru. 4) Penguraian (analysis). Contoh. Kemampuan untuk me misahkan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang mendukungnya. menggunakan. Kemampuan untuk mengenal fakta atau asumsi yang esensial yang mendasari suatu pendapat atau tesis atau argumen-argumen yang mendukungnya. dulu ketika pertama kali diperk enalkan kereta api kepada petani di Amerika. ingat kuda ingat transportasi . Dengan pemahaman demikian. melihat penyebab-penyebab dari suatu peristiwa atau memberi argumenargumen yang menyokong suatu pernyataan. Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah dan menunjukkan hubungan antar-bagia n tersebut. menyelesaikan dan mengidentifikasi hal-hal yang sama. Kemampuan untuk mengidentifikasi motif-motif da n membedakan mekanisme perilaku antara individu dan kelompok.3) Penerapan (application) Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dal am kehidupan sehari-hari. Bagi mereka.

misalnya kesesuaiannya dengan aspirasi umum atau kecocokannya dengan kebutuhan pemakai. c) Menganalisis prinsip-prinsip organisasi Kemampuan untuk menguraikan antara ba han dan alat Kemampuan untuk mengenal bentuk dan pola karya seni dalam rangka me mahami maknanya. yaitu : a) Pembenaran berdasarkan kriteria internal.. yang dilakukan be rdasarkan kriteria-kriteria yang bersumber di luar objek yang diamati. menilai dan mengambil keputusan benar-salah. yang dilakukan dengan memperhatikan k onsistensi atau kecermatan susunan secara logis unsurunsur yang ada di dalam obj ek yang diamati. atau bermanfaat – tak bermanfaat berdasarkan kriteria-kriteria tertentu baik kualitatif maupun kuantitatif. memberi nama yang sesuai bagi suatu temuan baru. . Terdapat dua kriteria pembenaran yang digunakan. sudut pandang atau ciri berfikirnya dan perasaan yang dapat diperoleh dalam karyanya. Contoh: memilih nada dan irama dan kemudian manggabun gkannya sehingga menjadi gubahan musik yang baru. 6) Penilaian (evaluation) Mempertimbangkan. Kemampuan untuk mendeteksi hal-hal yang tidak logis di dalam suatu argumen. 5) Memadukan (synthesis) Menggabungkan. baik-buruk. atau merangkai berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau menjadi suatu hal yang baru. menciptakan logo organisasi. Kemampuan berfikir induktif dan konvergen mer upakan ciri kemampuan ini. meramu. Kemampuan untuk mengetahui maksud dari pengarang suatu karya tu lis. b) Pembenaran berdasarkan kriteria eksternal. Kemampuan untuk mengenal hubung an kausal dan unsur-unsur yang penting dan yang tidak penting di dalam perhitung an historis.Kemampuan untuk menganalisis hubungan di antara pernyataan dan argumen guna memb edakan mana pernyataan yang relevan mana yang tidak. Kemampuan untuk melihat teknik yang digunakan dalam meyusun suatu mat eri yang bersifat persuasif seperti advertensi dan propaganda.

seperti perasaan. Mungkin perhatian itu hanya tertuju pada warna. menunj ukkan komitmen terhadap nilai keberanian yang dihargainya. yaitu usaha untuk melihat hal-hal khusus di dalam bagian yang diperhatikan. yaitu adanya aksi atau kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk me muaskan keinginan mengetahui. terpesona. 2) Sambutan (responding) Mengadakan aksi terhadap stimulus. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek emosional. Contoh kegiatan yang tampak dari kepuasan menangga pi ini adalah bertanya. Kagum atas keberanian seseorang. Contoh : mengajukan pertanyaan. yaitu adanya kesiapan untuk berinteraksi dengan stimulus (feno mena atau objek yang akan dipelajari). dan sebagainya. yang meliputi proses sebagai berikut : a) Kes iapan menanggapi (acquiescene of responding). Misalnya pada desain atau warna saja. 3) Penghargaan (valuing) Pada tahap ini sudah mulai timbul proses internalisasi untuk memiliki dan mengha yati nilai dari stimulus yang dihadapi. kagum. 4) Pengorganisasian (organization) . atau mentaati peraturan lalu lintas. suara atau kata-kata ter tentu saja. Penilaian terbagi atas empat tahap sebag ai berikut : a) Menerima nilai (acceptance of value). kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. Komitmen ini dinyatak an dengan rasa senang. b) Kemauan untuk meneri ma (willingness to receive). yaitu usaha untuk mengalokasikan perhatian pada sti mulus yang bersangkutan. c) Komitmen yaitu kesetujuan terhadap suatu nilai dengan ala san-alasan tertentu yang muncul dari rangkaian pengalaman. Kawasan Afektif. minat. me nempelkan gambar dari tokoh yang disenangi pada tembok kamar yang bersangkutan. yaitu : a) Kesiapan untuk mene rima (awareness). 1) Penerimaan (receiving/attending) Kawasan penerimaan diperinci ke dalam tiga tahap. yaitu kelanjutan dari usah a memuaskan diri untuk menanggapi secara lebih intensif. yang ditandai dengan kehadiran dan usaha untuk memberi perhatian pada stimulus yang bersangkutan. b) Kemauan menanggapi (willingness to respo nd). c) Mengkhususkan perhatian (controlled or selected atte ntion). c) Kepuasan menanggapi (satisfaction in r esponse). membuat coretan atau gambar. misalnya lukisan yang memil iki yang memuaskan. sikap. b) Menyeleksi nilai yan g lebih disenangi (preference for a value) yang dinyatakan dalam usaha untuk men cari contoh yang dapat memuaskan perilaku menikmati. memotret dari objek yang me njadi pusat perhatiannya.b.

Artinya mudah berub ah-ubah sesuai situasi yang dihadapi. yaitu mengembangkan pandangan hidup tertentu yang memberi corak tersen diri pada kepribadian diri yang bersangkutan. maka susunan itu belum konsisten di dalam diri yang bersangkutan.atau kesenangan dari diri yang bersangkutan. atau menemukan asumsi-asumsi yang mendasari suatu moral atau kebiasaan. Seperti anak yang baru belajar bahasa meniru kata-kata orang tanpa mengerti artinya.Pada tahap ini yang bersangkutan tidak hanya menginternalisasi satu nilai terten tu seperti pada tahap komitmen. (c) membiasakan (habitual). 2) Meniru adalah kemampuan untuk melakukan sesuai dengan conto h yang diamatinya walaupun belum mengerti hakikat atau makna dari keterampilan i tu. dan seterusnya menurut urutan kepenti ngan. tetapi mulai melihat beberapa nilai yang relevan untuk disusun menjadi satu sistem nilai. yakni : a) Konseptualisasi nilai. Pada tahap karakterisasi. b) Karak terisasi. Dalam sistem nilai ini yang bersangkutan menempatkan nilai yang paling disukai pada tingkat yang amat penting. Proses ini terjadi dalam dua tahapan. yaitu keinginan untuk menilai hasil karya oran g lain. b) Pengorganisasian sistem nilai. men jawab pertanyaan. sistem itu selal u konsisten. c. (b) penirua n (imitation). mempersiapkan alat. Proses ini terdiri atas dua tahap. (d) menyesuaikan (adaptation) dan (e) menciptakan (origination) 1) Kesiapan yaitu berhubungan dengan kesediaan untuk melatih diri tentang keterampilan tertentu yang dinyatakan dengan usaha untuk me laporkan kehadirannya. yaitu menyusun perangkat nilai dalam suatu sis tem berdasarkan tingkat preferensinya. yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular syste m) dan fungsi psikis. yaitu k emampuan untuk melihat suatu masalah dari suatu sudut pandang tertentu. Kawasan ini terdiri dari : (a) kesiapan (set). menyesuaikan diri dengan situasi. sekalipun ia belum dapat mengubah polanya. yaitu : a) Generalisasi. . Kawasan Psikomotor. 5) Karakterisasi (characterization). menyusul k emudian nilai yang dirasakan agak penting. 3) Membiasakan yaitu seseorang dapat melakukan suatu keterampilan tanpa harus melihat contoh. Karakterisasi yaitu kemampuan untuk menghayati atau mempribadikan sistem nilai K alau pada tahap pengorganisasian di atas sistem nilai sudah dapat disusun.

Gerakan Persepsi (Perceptual abilities) yaitu gerakan sudah lebih menin gkat karena dibantu kemampuan perseptual. alat mengasah otak. Gerakan dasar biasa (Basic fundamental movements) yaitu gerakan yang mun cul tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik. misalnya : melompat. s erta media untuk meningkatkan keterampilan. Penyelenggaraan pendidikan selanjutnya menja di kewajiban kemanusiaan dalam rangka mempertahankan kehidupannya. Abin Syamsuddin Makmun( 2003) memerinci dengan tahapan yang berbed a. kelentu ran (flexibility) dan kegesitan. Bagi kalangan behaviorisme.4) Adaptasi yaitu seseorang sudah mampu melakukan modifikasi untuk disesuaikan d engan kebutuhan atau situasi tempat keterampilan itu dilaksanakan. dan seba gainya. 2) 3) 4) 5) 6) 4. Melihat begit u pentingnya pendidikan bagi umat manusia. yang terpola dan dapat ditebak. S ementara itu. tangkas. kekuatan (strength). Gerakan indah dan kreatif ( Non-discursive communication) yaitu mengkomunikasikan perasan melalui gerakan. Peranan dan Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan dan Perkembangan Perilaku Pendidikan memang sejak zaman dahulu kala menjadi salah satu bentuk usaha manusi a dalam rangka mempertahankan keberlangsungan eksistensi kehidupan maupun budaya manusia itu sendiri. b aik dalam bentuk gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah maupun gerak kreatif: gerakangerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasi kan peran. pendid ikan lebih diyakini sebagai suatu media atau wahana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan ajaran keagamaan. berjalan. Basis semua perilaku bergerak atau respon s terhadap stimulus tanpa sadar. pendidikan dipahami sebagai se bagai alat pembentukan watak. . alat pelatihan keterampilan. ser ta wahana untuk pembebasan manusia. dan cekatan dala m melakukan gerakan yang sulit dan rumit (kompleks). atau sebagai wahana untuk memanusiakan manusia. yaitu : sub kawasan ini 1) Gerakan refleks (reflex movements). Gerakan terampil (skilled movements) yaitu dapa t mengontrol berbagai tingkatan gerak secara terampil. 5) Menciptaka n (origination) di mana seseorang sudah mampu menciptakan sendiri suatu karya. menunduk. banyak peradaban manusia yang “mewajibk an” masyarakatnya untuk tetap menjaga keberlangsungan pendidikan. Sementara kalangan humanisme. Gerakan fisik (Physical Abilities) yai tu gerakan yang menunjukkan daya tahan (endurance).

pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha conditioning (penciptaan seperangkat stimulus) yang diharapkan dapat menghasilkan pola-pola perilaku (seperangkat respons) tertentu. Secara skematik. Seberapa besar tingkat atau derajat perubah an dan perkembangan perilaku yang dicapai melalui usaha – usaha conditioning diken al dengan istilah prestasi belajar atau hasil belajar (achievement). pengaruh fungsional pendidikan terhadap perubahan dan pe rkembangan perilaku. Bagaimana pula kontribusi individu itu sendiri terhadap perubahan dan perkembangan perilakunya. seorang mahasiswa (O) dengan segala karakteristikn ya (kondisi fisik. Pada dasarnya individu sejak lahir sudah dibekali potensi-potensi tertentu. khususnya dalam pandangan behaviorisme. . menurut pandangan behaviorisme. hasil b elajar individu merupakan hasil dari upaya aktif dan pro-aktifnya terhadap lingk ungan. ter utama potensi intelektual. individu yang bersangkutan berupaya aktif mengembangkan segenap potensi yan g dimilikinya melalui interaksi dengan lingkungannya. Sehingga potensi yang semula masih bersifat laten (terpendam) dapat diaktuali sasikan menjadi prestasi. bakat. Walaupun demiki an. selanjutnya dengan bantuan atau tanpa bantuan orang l ain. Sedangkan dalam pandangan humanisme. maupun psikomotor. yang diman ifestasikan dalam bentuk perubahan dan perkembangan perilaku. Dengan adanya perbedaan pandangan tersebut menyebabkan pula terjadinya pe rbedaan-perbedaan dalam pendekatan dan teknis proses pendidikan. sikap dan keterampilan tent ang Psikologi Pendidikan (P).Yang menjadi persoalan. Menurut pandangan behaviorisme hasil belajar individu merup akan hasil reaktif dari lingkungan. harus diakui bahwa kedua pandangan tersebut memiliki peranan penting dan mem berikan kontribusi terhadap perubahan dan perkembangan pribadi atau perilaku ind ividu. minat. sejauhmanakah pendidikan dapat mempengaruhi perubahan da n perkembangan perilaku individu. perilaku) f = function (fungsi) S=stimulus (pendidikan/belaj ar) O=organisme Contoh : Untuk memiliki pengetahuan. dalam pandangan humanisme bahwa justru organisme atau individu itu sendiri yan g memegang peranan penting dalam suatu proses belajar atau proses pendidikannya.O) P= person (pribadi.Dengan demik ian. arah dan kualifikasi perubahan dan perkemba ngan perilaku akan sangat bergantung pada faktor S (conditioning). baik dalam aspek k ognitif. termasuk lingkungan sekola h. Dengan menggunakan konsep dasa r psikologis. Sementara itu . Jika kita amati dari kedua pandangan tersebut tampak a da hal yang kontras. dapat dijelaskan dalam bagan berikut ini : P = f (S. afektif.

b. Ilmu yang mempel ajari perilaku individu dalam situasi pendidikan. Memiliki obyek yang jelas yaitu perilaku individu yang terlibat dalam pendidi kan.motivasi. c. Melalui interaksi belajar mengajar yang disepak ati dengan Dosen. kiranya bisa dipahami bahwa perubahan perilaku atau diperolehnya kemampuan individu. Psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai : 1) 2) 3) 4) I lmu Jiwa Ilmu yang mempelajari tentang perilaku peserta didik . b. b. Mekanisme terbentuknya perilaku sadar menurut pandangan Behaviorisme a. 5. c. baik melalui pendekatan kuantitatif maupun kualitatif. Guru dapat menjalankan peran tu gas dan fungsinya secara efektif dan efisien Guru dapat merencanakan pembelajara n dengan sebaik-baiknya Guru dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif. 4. bahkan melakukan penelitian. membaca dan mengkaji buku-buku yang relevan. Memberikan man faat untuk kepentingan efektivitas dan efisiensi pendidikan. Beberapa persyaratan ilmu yang sudah dipenuhi oleh Psikologi Pendidikan. Gur u dapat menilai peserta didiknya secara efisien. dia memperoleh sejumlah pengalaman belajar. baik untuk kepentingan diri-pribadi sehari-hari maupun dalam rangka mempers iapkan diri untuk menjadi guru kelak di kemudian hari. hasil belajar sebelumnya serta karakteristik lainnya) mengikuti kegiat an belajar Psikologi Pendidikan. misalnya melalui: diskusi dengan teman. dengan cara memberikan ta nda silang (X) ! 2. sikap dan memiliki keterampilan baru tentang psikologi pendidi kan. D. dan c benar 3. d. Arti penting Psi kologi Pendidikan bagi guru adalah : a. mengobservasi perilaku di kelas. Menjadi ped oman bagi para pendidik dalam mengembangkan proses pendidikan. kecu ali : a. dis amping dihasilkan melalui kegiatan pendidikan (belajar) juga dipengaruhi oleh fa ktor internal dari individu itu sendiri. a. W S S S O WS Ow R R O R R W W . Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilih lah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. dia mendapa tkan pengetahuan. maka pada akhirnya. Konsep dan teori Psikologi Pendidikan diperoleh berdasarkan upaya yang s istematis. Dengan demikian. b. d. d. c.

avoidance c onflict b. c. tingkat kualifikas i prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan dan a rah sikap terhadap sasaran kegiatan. Avoidance-avoidance conflict d. Non-discursive communication c. c. a. Di bawah ini merupakan jenis-jenis kebutuhan individu yang dikemukakan oleh M aslow. evaluasi b. durasi. b. menghubungkan. Jelaskan peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perk embangan perilaku individu ! 2. synthesis d. analysis c. b. d. Kebutuhan akan rasa aman. Dapat menyimpulkan. regresi c. a. b. keuleta n dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan. evaluatio n Uraian 1. a. Konflik yang dialami jik a individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif samasama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. fiksasi d. d. b . kecuali : a. b dan c benar 11. Approach. frekuensi dan persistensi kegiatan. Di bawah ini merupakan kemampuan yang berkaitan dengan perilaku kawasan afektif.6. application b. proye ksi 10. ketabahan. Di bawah ini merupakan indikator untuk mengetahui tingkat motivas i individu. Reaksi frustasi ind ividu atas kegagalan dalam mencapai tujuan dan tidak terpenuhinya kebutuhan indi vidu dengan cara mencari kambing hitam. dan c benar 8. Kebutuhan akan harga diri. dan c benar 9. Approach-approach conflict c. Kebutuhan akan prestasi. Uraikan dan berikan gambaran secara skematik ten tang mekanisme pembentukan perilaku dan pribadi individu menurut aliran holistik ! . me nggabungkan merupakan indikator atau kata kerja operasional untuk mengukur perub ahan perilaku dalam aspek : a. 7. agresi b. characterization by valu e or value complex d. a. a. a. Kebutuhan akan aktualisasi diri. a.

BAB II KERAGAMAN INDIVIDU DALAM KECAKAPAN DAN KEPRIBADIAN ujuan : A. Pokok Bahasan 1. Fakto r-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman Kepribadian. dengan masing-masing karakateristik yang dimilik inya. namun sebaliknya ada juga yang sangat lambat. Menganalis faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya ke ragaman dalam kecakapan dan kepribadian. 4. B. diharapkan Anda dapat : 1. ada peserta didik yang menunjukka n cepat dalam menangkap pelajaran. seorang guru mungkin akan dihadapkan dengan puluhan atau b ahkan ratusan peserta didiknya. 2. T Setelah mempelajari Bab ini. dan kepribadian 2. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian. Mengid entifikasi tentang indikator kecerdasan. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian Dalam m elaksanakan tugasnya. 3. Menjelaskan tentang teori-teori kecerdasan dan p engukuran kecerdasan. Mendefinisikan kecakapan nyata. dalam Kecakapan dan C. aspek-aspek kepribadian. Di antara sekian banyak karakteristik yang dimiliki peserta didik. kecakapan potensial. kecerdasan (inteligensi).Dari segi kecepatan belajar. Dari segi . ukuran kecerdasan. Intisari Bacaan 1. ciri-ciri keberbakat an. yang pe nting dan perlu diketahui guru adalah berkenaan dengan kecakapan dan kepribadian peserta didiknya.

Membicarakan tentang keragaman individu secara luas dan mendala m sebetulnya sudah merupakan kajian tersendiri yaitu dalam bidang Psikologi Dife rensial. Peserta didik dianggap kurang rajin.P. Untuk kepentingan pengetahuan guru dalam memahami peserta didiknya. kurang sungguh-sungguh dan sebagainya. adaka lanya guru dibuat frustrasi. Menurut pendapatnya bahwa inteligensi terdiri dari kem ampuan umum yang diberi . di bawah ini akan diuraikan dua jenis keragaman individu yaitu keragaman dalam keca kapan dan kepribadian. m alas. Sedangkan kecakapan potensial mer upakan aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri individu dan diperoleh d ari faktor keturunan (herediter). yakni hanya berhubungan dengan aspek intelektual saja. Kecakapan potensial dapat dibagi ke dalam dua bagian yaitu kecakapan dasar umum (inteligensi atau kecerdasan) dan kecakapan da sar khusus (bakat atau aptitudes). Ketika mahasi swa mampu menjawab dengan baik tentang pertanyaan dosen. belum tentu dia akan langsung menarik kesimpulan bahwa peserta didiklah yang salah. Terlebih dahulu mungkin dia akan mempelajari latar belakang sosio-psikologis peserta didiknya. sehingga akan diketahui secar a akurat kenapa peserta didik itu lambat dalam belajar. Kecakapan nyata (actual ability) yaitu kecak apan yang diperoleh melalui belajar (achivement atau prestasi). pada akhir perkuliahan mahasiswa d iuji oleh dosen tentang materi yang disampaikannya (tes formatif). bodoh. Ujung-ujungnya dia langsung saja akan menyimpulkan bahwa peserta didiklah yang salah. seperti teori inteligensi yang dikemukakan oleh Charles Spearman (1904) de ngan teori “Two Factors”-nya. selanjutnya dia berusaha untuk menemukan solusinya dan menetukan tindakan apa yang paling mungkin bisa d ilakukan agar peserta didik tersebut dapat mengembangkan perilaku dan pribadinya secara optimal. Namun ketika berhadapan dengan pesert a didik yang lambat dalam belajar atau ciri-ciri kepribadian yang negatif.kepribadian. Berhadapan dengan peserta didik yang memiliki kecep atan belajar dan memiliki ciri-ciri kepribadian yang positif. a. Jika saja guru tersebut dapat memah ami tentang keragaman individu. Chaplin (1975) memberikan pengertian int eligensi sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi bar u secara cepat dan efektif. guru akan berhadapan dengan ciri-ciri kepribadian para peserta didi knyanya yang khas atau unik. guru mungkin akan menganggap seolah-olah tidak ada hambatan. Pada awalnya teori inteligensi masih bersifat unidim ensional (kecerdasan tunggal). yang dapat seger a didemonstrasikan dan diuji sekarang. Misalkan. setelah selesai mengikuti prose s perkuliahan (kegiatan tatap muka di kelas). Keragaman Individu dalam Kecakapan Kecakapan individu dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu kecakapan nyata (actual ability) dan kecak apan potensial (potential ability). maka kemampuan tersebut merupakan atau kecakapan nyata (achievement). C.

f. c. Symbolic (i nformasi dalam bentuk lambang. ekspresi muka at au suara). b. 2.P. Product (Hasil Berfikir) a. akurat. d. ( 5) kemampuan bilangan (numerical ability). d. Operasi Mental (Pros es Befikir) a. Word Meaning (semantic). Evaluation (mengambil keputusan tentang apakah suatu itu baik. e. Visual (bentuk konkret atau gambaran). modifikasi. Kela s (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama). Sementara itu. 3. yang konon dianggap sebag ai anugerah yang dapat mengantarkan . Thurstone (1938) mengemukakan teori “Primary Mental Abilities”. (2) kemampuan mengingat (memory). S elanjutnya. c. J. b. Memory Recording (ingatan yang segera). Content (Isi yang Dipikirkan) a. Transform asi (perubahan. bahwa in teligensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer. Convergent Production (berfikir memusat= hanya satu kemungkinan jawaban/alternatif). (6) kemampuan menggunakan kata-kata ( word fluency). Belakangan ini banyak orang meng gugat tentang kecerdasan intelektual (unidimensional). Unit (item tunggal informasi). Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi item lain). Memory Retention (ingatan yang berkaitan dengan kehidupan seharihari). Auditory. Cognition (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang baru). Sistem (kompleksitas bagian saling berhubungan). b. dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual s peed). yaitu : 1. f. Behavi oral (interaksi non verbal yang diperoleh melalui penginderaan. yaitu : (1) kemampuan berb ahasa (verbal comprehension). Divergent Production (berfikir mel ebar=banyak kemungkinan jawaban/ alternatif).kode “g” (genaral factor) dan kemampuan khusus yang diberi kode “s” (specific factor). atau memadai). d. (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor). kata-kata atau angka dan notasi musik). Relasi (keterkaitan an tar informasi). e. (3) kemampuan na lar atau berfikir (reasoning). atau redefinisi informasi). e. Guilford mengemukakan bahwa inteligensi dapat dilihat dari tiga kategori dasar atau “faces of intellect”. c.

Jika kita perhatikan penjelasan tentang aspek-aspek intelige nsi dari teori-teori inteligensi di atas. Kecakapan potensial seseorang hanya dapat dideteksi dengan mengidentifikasi indi kator-indikatornya. mengemukakan teori Multiple Inteligence. Dengan indikator-indikator perilaku inteligensi tersebut. Apakah mereka termasuk juga o rang-orang yang genius atau cerdas ? Dalam teori kecerdasan tunggal (uni-dimensi onal). belum dapat mengukur . ket epatan (hasilnya sesuai dengan yang diharapkan) dan kemudahan (tanpa menghadapi hambatan dan kesulitan yang berarti) dalam bertindak. Pertanyaan muncul. Kepekaan terhadap suar a. H oward Gardner (1993). ata u Maradona dan Pele sang legenda sepakbola dunia. Spatial 5. Ke mampuan mempersepsi dunia ruangvisual secara akurat dan melakukan tranformasi pe rsepsi tersebut. Maka muncullah. temper amen. bagaimana dengan tokoh-tokoh duni a. kekuatan dan k elemahan serta inteligensi sendiri.. Kemampuan untuk mengamati dan merespons suasana hati. Musical 4. Nada dan bentukbentuk ekspresi musik. Intrapersonal KEMAMPUAN INTI Kepekaan dan kemampuan untuk mengamati pola-pola lo gis dan bilangan serta kemampuan untuk berfikir rasional. dengan aspek-aspe knya sebagai tampak dalam tabel di bawah ini: INTELIGENSI 1. dan keragaman fungsi-fungsi bahasa. para ahli mengembangkan instrumen-instrumen stan dar untuk mengukur perkiraan kecakapan umum (kecerdasan) dan kecakapan khusus (b akat) seseorang. Kemampuan untuk m enghasilkan dan mengapresiasikan ritme. Kemampuan untuk memahami perasaan. Logical – Mathematica l 2.kesuksesan hidup seseorang. ritme. Dalam hal ini. Interpersonal 7. dan motivasi orang lain. teori inteligensi yang berusaha mengakomodir kemampuan-kemampuan ind ividu yang tidak hanya berkenaan dengan aspek intelektual saja. Linguistic 3.walaupun sebetulnya menurut hemat penulis alat ukur tersebut masih terbatas untuk mengukur inteligensi atau bakat persekol ahan (scholastic aptitude). maka pada dasarnya indikator kecerdasa n akan mengerucut ke dalam tiga ciri yaitu : kecepatan (waktu yang singkat). Bodily Kinesthetic 6. seperti Mozart dan Bethoven dengan karya-karya musiknya yang mengagumkan. Alat ukur inteligensi yang paling dikenal dan banyak digunakan di Indonesia ialah Tes Binet Simon -. kemampuan mereka yang demikian hebat ternyata tidak terakomodasikan. Kemampuan untuk mengontrol gerakan tubuh dan mengenai objek-obj ek secara terampil. makna kata-kata.

Perlu dicatat bahwa pengukuran tersebut. sehingga pada akhirnya akan di ketahui kelompok peserta didik yang tergolong cepat (upper group). (2) kefasihan mengungkapkan kata. diantaranya : DAT (Different ial Aptitude Test).75 % 0. melalui pengamatan yang s istematis tentang indikator – indikator kecerdasan yang dimiliki para peserta didi knya. Alat tes ini dapat mengungkap tenta ng : (1) pemahaman kata.75 % 6% 13 % 60 % 13 % 6% 0.aspek – aspek inteligensi secara keseluruhan (multiple inteligence). (5) daya ingat. (4) tilikan ruangan.89 70 . SRA-PMA (Science Research Action – Primary Mental Ability). yaitu dengan cara memperhatikan kecenderungan kecepatan ketepatan. IQ > 140 130-139 120-129 110-119 90-109 80 .69 25 . (3) pemahaman bilanga n. Untuk mengukur bakat seseo rang. Dari hasil pengukuran inteligensi tersebut dapat diketahui seberapa besar tingkat integensi (biasa disebut IQ = Intelligen t Quotient yaitu ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang. baik men ggunakan instrumen standar atau hanya berdasarkan pengamatan sistematis guru buk anlah bersifat memastikan tingkat kecerdasan atau bakat seseorang namun hanya se kedar memperkirakan (prediksi) .49 < 25 KAT EGORI Jenius (Genius) Sangat Unggul (Very Superior) Unggul (Superior) Diatas rat a-rata (High Average) Rata-rata (Average) Dibawah Rata-Rata (Low Average) Bodoh (Dull) Debil (Moron) Imbecil Idiot PERSENTASE 0. Selain itu.20 % 0. seorang guru pada dasarnya dapat pula mend eteksi dan memperkirakan inteligensi peserta didiknya. dan (8) kecakapan gerak. (6) kecepatan pengamatan. rata-rata (mi dle group) dan lambat (lower group) dalam belajarnya. dan kem udahan peserta didik dalam dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan me ngerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian. FA CT (Flanagan Aptitude Calassification Test). dapat menggunakan beberapa instrumen standar. a da juga tes intelegensi yang bersifat lintas budaya yaitu Tes Progressive Metric es (PM) yang dikembangkan oleh Raven. Rumus yang b iasa digunakan untuk menghitung IQ seseorang adalah : MA (Mental Age) IQ= 100 x CA (Chronological Age) Di bawah ini disajikan norma ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang.79 50 . (7) berfikir l ogis.25 % 0.05 % Selain menggunakan instrumen standar.

8. frustrasi dan konf lik. Mempunyai daya imajinasi ya ng tinggi. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa). akhirnya d ia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Belajar dengan dan cepat. Menur ut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. 14. . 9. Mampu mengemukakan dan mempertahankan penda pat. Hall dan Gardner Lindzey. Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas pe rilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu la innya. kreativitas dan komitmen terhada p tugas. Keragaman Individu dalam Kepribadian Para ahli tampaknya masih sangat beragam dalam memberikan rumusan tentang kepribadian. Lancar berbahasa (mampu mengutarakan pikirannya). Balitbang Depdiknas (1986) telah mengidentifikasi ciri-ciri keberbakat an peserta didik dilihat dari aspek kecerdasan. 4. Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengata si kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. 13. untuk kepentingan pengembangan diri. 7. 5. Memiliki kemampuan yang tinggi dalam berfikir l ogis dan kritis Mampu belajar/bekerja secara mandiri. Dalam rangka Program Percepatan Belajar (Accelerated L earning). ketegangan emosional. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Begitu juga kecerdasan atau bakat ses eorang bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan tingkat keberhasilan atau ke suksesan hidup seseorang. b. Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau pe rbuatannya Cermat atau teliti dalam mengamati. 11. Berangkat dari studi yang dilakukannya. misalnya k onstitusi dan kondisi fisik. 2. 3. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tu ntutan (norma) lingkungan. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbedabeda. 12. tergantung sudut pandang masing-m asing. Mampu berkonsentrasi. Allport (Calvin S. Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan. 6. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penye suaian diri. Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar. 10. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. yaitu: 1. Mempunyai minat luas. Memiliki kemampuan memikirkan beb erapa macam pemecahan masalah.saja.

Hi peraktif . Stabilitas emosi. Karakter. Hull. c. 3. Sosiabilitas. Sementara itu. 8. Seperti mudah tidaknya tersinggung. 2003) mengemukakan ciri-ciri kepribadian yang sehat atau tidak sehat. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan inter personal. teori P ersonologi dari Murray. teori Analitik dari Carl Gust av Jung. Temperamen. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal.tampang. 4. konsiten ti daknya dalam memegang pendirian atau pendapat. Dalam hal ini. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Sikap. f. Seperti mau menerim a resiko secara wajar. 5. sambutan terhadap objek yang bersifat positif . Setiap individu memiliki ciri-ciri kepribadian terse ndiri. Mudah marah 2. yaitu disposisi re aktif seorang. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. 6. atau melarikan diri dari resiko yang dihadap i. teori Psikologi Individual dari Allport. yang di dalamnya mencakup : tentang aspek-aspek a. teori The Sel f dari Carl Rogers dan sebagainya. Mampu menilai diri sendiri secara realistik Mampu menilai situasi secara realist ik Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik Menerima tanggung jawa b Kemandirian Dapat mengontrol emosi Berorientasi tujuan Berorientasi keluar (ek strovert) KEPRIBADIAN YANG TIDAK SEHAT 1. Kebiasaan berbohong 7. b. Watson. teori Stimulus-Respons dari Throndike. mulai dari yang menunjukkan ciri-ciri kepribadian yang sehat sampai denga n ciri-ciri kepribadian yang tidak sehat. negatif atau ambivalen d. Horney dan Sullivan. teori Medan dari Kurt Lewin. 2. Seperti : sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berko munikasi dengan orang lain. m arah. 7. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. di antaranya : teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. sedih. hormon. Bersikap kejam 5. Sering merasa tertekan (stress atau depresi) 4. atau putus asa e. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpen garuh. sebagai berikut : KEPRIBADIAN YANG SEHAT 1. Elizabeth Hurlock (Syam su Yusuf. Fromm. yaitu kadar kestabilan reaksi emos ional terhadap rangsangan dari lingkungan. cuci tangan. teori Sosial Psikologis dari Adler. Ketid akmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang 6. Menunjukkan kekhawatiran dan kece masan 3. Abin Syamsuddin (2003) mengemu kakan kepribadian. Responsibilitas (tanggung jawab). sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersang kutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Untuk menjelaskan tentang kepriba dian individu.

Seberapa kuat pengaruh keturunan sangat bergantung pada besarnya kualitas gen yang dimiliki oleh orang tuanya (ayah atau ibu). Pesimis 15. Gregor Mendel mengemukakan pandangannya. yaitu : a. Herediter. Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas 9. dengan memperhatikan aspek perbedaan atau keragaman kecakapan dan kepri badian yang dimiliki peserta didiknya. pembawaan sejak lahir atau berdasarkan keturunan yan g bersifat kodrati. seperti : konstitusi dan struktur fisik. Beberapa asas tentang keturunan di bawah ini akan memberikan gambaran pembanding kepada kita tentang apa-apa yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya : 1. Sehingga peserta didik dapat mengembangka n diri sesuai dengan kecepatan belajar dan karakteristik perilaku dan kepribadia nnya masing-masing. Memiliki filsafat hidup 11. Senang mengkritik/ mencemooh 10. Sering mengalami pusing kepala 13. Kendati demikian. 2. S ulit tidur 11. Sifat-sifat atau ciri-ciri perilaku yang diturunkan orang tua kepada anaknya hanyalah bersifat . Asas Reproduksi Menurut asas ini bahwa kecakapan (achievemen t) dari masing-masing ayah atau ibunya tidak dapat diturunkan kepada anak-anakny a. bahwa : (1) tiap-tiap sifat (traits) makhluk h idup itu dikendalikan oleh keturunan. dan (3) pada waktu proses pembentukan sel-sel kelamin. dia dihadapkan dengan sejumlah keragaman ke cakapan dan kepribadian yang dimiliki para peserta didiknya. Berbahagia 8. (2) tiap-tiap pasangan faktor keturunan me nentukan bentuk alternatif sesamanya. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman dalam Kecakapan dan Kepribadian Timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian d ipengaruhi oleh bebagai faktor. Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama 14. kecakapan potensial (bakat dan kecerdasan).9. Oleh karena itu. pasangan faktor keturunan itu memisah. se yogyanya guru dapat memperlakukan peserta didik dan mengembangkan strategi pembe lajaran. para ahli sepakat bahwa pada d asarnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh tiga faktor u tama. Penerimaan sosial 10. Kurang be rgairah Berdasarkan uraian diatas kita dapat memahami bahwa ketika seorang guru berhadap an dengan peserta didiknya di kelas. Berdasar kan percobaannya dengan cara mengawinkan bunga merah dengan bunga putih. Hasil percobaan Mendel ini menjelas kan kepada kita bahwa faktor keturunan memegang peranan penting bagi perilaku da n pribadi individu. dan tiap-tiap sel kelaminnya menerima sa lah satu faktor dari pasangan keturunan itu. dan satu dari pada pasangan alternatif itu memegang pengaruh besar. Kurang rasa tanggung jawab 12.

sehingga akan didapati sebagian kecil dari sifat-sifat ayahnya dan sebagian kecil pula dari si fat-sifat ibunya.Misalnya. karena lingkungan itu senantiasa tersedi a di sekitarnya. dapat k ita ikuti pada uraian berikut : 1. Hal ini disebabkan karena pad a waktu terjadinya pembuahan komposisi gen berbeda-beda. Lingkungan membuat individu sebagai makhluk s osial . Oleh karena itu. sehingga mungkin saja kakaknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ayahnya sedangkan adiknya lebih banyak menyerupai sifat d an ciri-ciri perilaku ibunya atau sebaliknya.2. baik mengenai kuantitas maupun kualitasnya. Seorang anak perempuan akan lebih banyak mem ilki sifat-sifat dan tingkah laku ayahnya. 5. Asas konformitas Berdasarkan asas konformi tas ini bahwa seorang anak akan lebih banyak memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku yang diturunkan oleh kelompok rasnya atau suku bangsanya. Asas Jenis Menyilang Menurut asa s ini bahwa apa yang diturunkan oleh masing-masing orang tua kepada anak-anaknya mempunyai sasaran menyilang jenis. yaitu memunculkan kembali mengenai apa yang sudah ada pada hasil per paduan benih saja. b. termasuk didalamnya ad alah belajar. 3. orang Eropa akan menyerupai sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku seperti orang -orang Eropa lainnya dibandingkan dengan orang-orang Asia. reproduksi. sedangkan bagi anak laki-laki akan le bih banyak memilki sifat pada ibunya. karena dengan lingkungan itu individu mulai meng alami dan mengecap alam sekitarnya. 4. Asas Varia si Bahwa penurunan sifat pembawaan dari orang tua kepada anak-anaknya akan berva riasi. Asas Regresi Filial Terjadi pensur utan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan o leh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. lingkungan tempat di mana individu itu berada dan berinteraksi. dan bukan didasarkan pada perilaku orang tua yang diperolehny a melalui hasil belajar atau hasil berinteraksi dengan lingkungannya. Environment. Sejauh mana pengaruh lingkungan itu bagi diri individu. Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai e mpirik yang berarti pengalaman. Sedangkan perbandingannya mana yang lebih besar antara sifat-s ifat ayah dan ibunya ini sangat tergantung kepada daya kekuatan tarik menarik da ri pada masing-masing sifat keturunan tersebut. baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis. Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mu tlak dari pada pengaruh lingkungan itu. akan didapati beberapa perbedaan sifat dan cir i-ciri perilaku individu dari orang yang bersaudara. baik yang berasal dari ayah maupun ibu. walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama.

Contoh : air dapat dipergunakan untuk minum atau menjamu teman ketika berkunjung ke rumah. Alat untuk kepentingan dan kelangsung an hidup individu dan menjadi alat pergaulan sosial individu. b. sedikit banyaknya sifat rajin dari temannya akan diikutinya sehi ngga lama kelamaan dia pun berubah menjadi anak yang rajin. Dapat kita bayangkan andaikata seorang anak manusia yang sejak lahirnya dipisahkan dari pergaulan manusia sampai kira-kira berusia 10 tahun saja. Tant angan bagi individu dan individu berusaha untuk dapat menundukkannya. maka sudah dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mampu be rbicara dengan bahasa yang biasa. karena manusia hidup adalah manusia yang berfikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba terhadap segala apa yang tersedia di alam sekitarnya. c. sebagai : a. Contoh : seorang anak yang senantiasa bergaul dengan temannya yang rajin belajar. maka penyesuaian dirinya itu akan berlangsung sangat la mbat sekali. Contoh : dalam keadaan cuaca panas individu memasang kipas angin sehingga dikamarnya me njadi sejuk. baik secara alloplastis maupun autoplastis. walau pun diberinya cukup makanan dan minuman. Contoh : a ir banjir pada musim hujan mendorong manusia untuk mencari cara-cara untuk menga tasinya. Lingkungan me miliki peranan bagi individu. sehin gga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya. Berubahnya tabiat manusia sebagai ma nusia dalam arti bahwa ia tidak akan mampu bergaul dan bertingkah laku dengan se samanya.Yang dimaksud dengan lingkungan pada uraian ini hanya meliputi orang-orang atau manusia-manusia lain yang dapat memberikan pengaruh dan dapat dipengaruhi. 2. Terputusnya hubungan manusia dengan m asyarakat manusia pada tahun-tahun permulaan perkembangannya. apabila dianggap sesuai de ngan dirinya. Lingkungan yang beraneka ragam senant iasa memberikan rangsangan kepada individu untuk berpartisipasi dan mengikutinya serta berupaya untuk meniru dan mengidentifikasinya. Penyesuaian dir i alloplastis artinya individu itu berusaha untuk merubah lingkungannya. Lingkungan dapat membentuk pribadi seseoran g. Lingkungan membuat wajah budaya bagi individu Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah m enjadi kekayaan budaya bagi dirinya. canggung pemalu dan lain-lain. akan mengakibatkan berubahnya tabiat manusia sebagai manusia. Sesuatu yang diikuti individu. Dalam hal ini. akan tetapi serentak dia dihadapkan kep ada pergaulan manusia. individu melakukan manipulation yaitu mengadakan usa ha untuk . Obyek penyesuaian diri bagi individu. d. Sehingga kalaup un dia kemudian dididik.

Inteligensi d. religius. syaraf dan kelenjar.E. kecepatan ketepatan. Kematangan terjadi pula pada aspek-asp ek psikis. Kematangan pada awalnya merupakan hasil dari adanya peru bahan-perubahan tertentu dan penyesuaian struktural pada diri individu. otot. seperti adanya kematangan jaringan-jaringan tubuh. Maturity. kematangan yang mengacu pada tahap-tahap atau fase-fase perkembanga n yang dijalani individu. karena dirinya telah sesuai deng an lingkungannya. termasuk belajar) M=Maturity (tingkat kematangan) D. Aptitude c. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. dan kemudahan peserta didiknya dalam m enyelesaikan tugastugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulang an atau ujian. Sedang kan penyesuaian diri autoplastis. emosi. moral. pada awalnya dia merasa mual karena bau obat-obatan. Untuk mengenali tingkat kecerdasan peserta didiknya. Kecakapan khusus indivi du yang merupakan hasil pembawaan.memalsukan lingkungan panas menjadi sejuk sehingga sesuai dengan dirinya. Contoh : seorang juru rawat di rumah sakit. terutama dalam mata pelajaran Matematika d an bahasa Inggris b. penyesusian diri yang dilakukan individu agar dirinya sesuai dengan lingkungannya. seorang guru dapat melakukan pengamatan dengan melihat indikator sebagai berikut : a.M) P= Pribadi atau perilaku f = fungsi H= Herediter (pembawaan) E=Environment (ling kungan. Ketiga faktor tersebut di atas dapat dibuat formulasi sebagai berikut : P= f (H. Kematangan aspek psikis ini diperlukan adanya latihan dan belajar tert entu. . c. Kepribadian 2. seperti : kemampuan berfikir. hasil belajar yang diperoleh peserta didik. namun lama-kelamaan dia me njadi terbiasa dan tidak menjadi gangguan lagi. Latihan Soal : Pilihan Ganda Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda pa ling tepat. sosial. Kematangan seperti ini disebut kematangan biologis. a. dan kepribadian. Achievement b.

Hasil ini menunjukkan bahwa siswa X memiliki kecerdasan tergolong : a. Inteligensi merupakan penjelmaan dari : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension). Two Factors Primary Mental Abilities Multiple Intlelligence a. b. (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor). Di bawah ini merupakan ciri-ciri keberbakatan dalam rangka percepatan belajar (accelerated learning). d. c. Merupak an teori inteligensi : a. (3) kemampuan nalar atau berfi kir (reasoning). d. (2) kemampuan mengingat (memory). 3. c. b. b. (5) kemampuan b ilangan (numerical ability). dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual speed). karakter dan temperamen stabilitas emosi sikap dan stabilitas emo si responsibilitas dan sosiabilitas a. Very Superior Superior Genius Di atas rata-rata 6. Intelligence Quotient (IQ) merupakan ukuran tingkat kecerdasan seseorang diba ndingkan dengan : a. Di bawah ini merupakan aspek-aspek kepribadian menurut Abin Syamsuddin Makmun : a. a.c. dan c benar 5. kemampuan usia prestasi belajar a. (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency). siswa X memperoleh ukuran kecerdasan (IQ) sebesar 135. tidak memerlukan dorongan (motivas i) dari luar. d. c. mampu belajar/bekerja secara mandiri. b. b. d. Disposisi reaktif seorang. d. karakter . 7. cara berbicara dan bertindak peserta didik sehari-hari. kecuali : a. c. a. b. atau cepat lambatnya mereaksi rangsangan yang data ng dari lingkungan. dan c benar terhadap rangsangan8. b. d. dan c benar 4. c. selalu memperoleh peringkat pertama di kelas memiliki kemampuan me mikirkan beberapa macam pemecahan masalah. b. Berdasarkan hasil test kecerdasan. b dan c benar.

b. a. c. Jelaskan bahwa faktor heredite r. lingkungan dan kematangan dapat mempengaruhi terhadap timbulnya keragaman dal am kecakapan dan kepribadian ! . mal-adjusment d. Jelaskan bagaimana cara mengukur kecerdasan seseorang ? 3. a. stabilitas emosi d. Penyesuaian diri yang dilakukan individu dengan berusaha merubah lingkungann ya. temperamen c. J elaskan tentang teori Multiple Inteligensi menurut Howard Gardner ! 2. sikap dan stabilitas emosi 9.b. Terjadi pensu rutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. well-adjusment Uraian 1. A sas Reproduksi Asas Variasi Asas konformitas Asas Jenis Menyilang 10. alloplastis b. autoplastis c. d.

Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. aspek-aspek perkembangan perilaku dan pribadi pada masa remaja. . Aspek – Aspek Perkembangan Individu. Peng ertian Perkembangan. 2. 4. Pokok Bahasan 1. Menjelaskan tentang aspek-aspek perkembangan individu. Intisari Bacaan 1. 5. progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – p erubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya. dan remaja. dan model pentahapa n perkembangan individu.BAB III PERKEMBANGAN INDIVIDU A. 6. Pengertian Perkembangan Perkembangan dapat diartikan sebag ai perubahan yang sistematis. prinsip-prinsip perkembangan. B. tugas perkembangan individu dan masa remaja. Menjelaskan tahapan perkembangan individu berdasarka n pendekatan didaktis. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Model Pentahapan Perke mbangan. diharapkan Anda dapat : 1. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Pe rkembangan Pada Masa Remaja C. 5. 3. serta problema yang dihadapi pada masa remaja. 4. 2. 3. Menguraikan tugas-tugas perkembangan individu pada masa bayi kanak-kanak. Mengidentifikas i ciri-ciri umum perkembangan. Mendefinisik an perkembangan.

2. Dari outer control ke inner control. 2. 2. f. Begitu juga ketertarikan seorang remaja ter hadap jenis kelamin lain akan seiring dengan kematangan organ-organ seksualnya. paru dan sebagainya) ke sampin g (tangan). 5. Kemampuan berjalan seseorang akan sei ring dengan kesiapan otot-otot kaki. Diferensiasi ke integrasi. Semua aspek perkembang an saling berhubungan. yaitu : a. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan. beberapa prinsip perkembangan Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti. Contoh : perubahan prop orsi dan ukuran fisik (dari pendek menjadi tinggi dan dari kecil menjadi besar). Fisik. e. 2003) mengemukakan tentang arah atau pola perkembangan s ebagai berikut : 1. seorang anak terl ebih dahulu harus menguasai tahapan perkembangan sebelumnya yaitu kemampuan dudu k dan merangkak. Terjadinya perubahan dalam aspek : 1. ba ik secara kuantitatif (fisik) mapun kualitatif (psikis). Progresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju. Setiap individu normal akan mengalami tahap an/fase perkembangan. b. baik fisik maupun psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmon is. meningkat dan meluas. Syamsu Yusuf (2003) memerinci. Terja dinya perubahan dalam proporsi. 6. Berkesinamb ungan artinya bahwa perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Perkembangan individu mempunyai ciri-cir i umum sebagai berikut : a. Dari konkret ke abstrak. Yelon dan Winstein (Syamsu Yusuf. Struktur mendahului fungsi. Cephalocaudal & proximal-distal (perkembangan manusia itu mu lai dari kepala ke kaki dan dari tengah (jantung. perubahan pengetahuan dan keterampilan dari sederhana sampai kepada yang komple ks (mulai dari mengenal huruf sampai dengan kemampuan membaca buku). Dari egosentris ke perspektivisme. Contoh : kemampuan berbicara seseorang akan sejalan dengan kematangan dalam perkembangan intelektual atau kognitifnya. 3. Lebih jauh lagi. c.Yang dimaksud dengan sistematis adalah bahwa perubahan dalam perkembangan itu be rsifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. individu. d. Contoh : untuk dapat berdiri. seperti : berbicara dan berfikir. Setiap fa se perkembangan mempunyai ciri khas. Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu. b. Psikis. seperti : berat dan tinggi badan. 4. .

1. nilai-nilai moral dan keyakinan beragama. 2. 2. Fisik. 3. seperti : pe rgantian gigi dan karakteristik sex pada usia remaja.25 th 0-2 th 2-12 th 12-15 th 15-20 th 0-3 th 3-7 th 7-13 th 13-20th 9 bln-280 hr 10 hr-14 h r 2 mng -2 th 2 th-remaja 11-13 th 16-17 th 18-21 th 21-25 th 25-30 th 30. seperti: rambut-rambut halus dan gigi susu . 1. didaktis. dan psikologis.Early Adolesen ce . Fisik. yang secara garis besarnya da pat dikelompokkan ke dalam tiga pendekatan yaitu pendekatan biologis. seperti : perubahan imajinasi dari fantasi ke realistis. perilaku impulsif. seperti : lenyapnya masa mengo ceh.Pre Adolesence . c. Psikis. seperti berkembangnya rasa ingin tahu.Late Adolesence Adulthood (masa dewasa) Middle age (tengah baya) Old Age (m asa tua) Waktu 0-7 th 7-14 th 14-21 th 0. Nama Ahli Aristoteles Tahapan Masa Kanak-Kanak Masa Anak Sekolah Masa Remaja Mas a Usia Pra Sekolah Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Menengah Masa Usia Mahapeserta didik Tahap I Masa Asuhan Tahap II Masa Pendidikan Jasmani dan latih an Panca Indera Tahap III Masa Pendidikan Akal Tahap IV Masa Pendidikan Watak da n Agama Fullungs (Pengisisian) I Streckungs (Rentangan) I Fullungs (Pengisisian) II Streckungs (Rentangan)II Pranatal Infancy (orok) Babyhood (bayi) Childhood ( kanak-kanak) Adolesence/puberty (masa remaja): . kelenjar thymus dan kelenjar pineal. seperti : proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangann ya. Model Pe ntahapan Perkembangan Individu Memperhatikan kompleksitas dari sifat perkembanga n individu. Fisik. Psikis. maka untuk kepentingan studi para ahli telah mencoba mengembangkan m odel pentahapan (stages) mengenai proses perkembangan. Psikis. terutama yang berkaitan den gan sex. ilmu pengetahuan. Di bawah ini disajikan tabel tentang model tahapan perkembangan yang dikemukakan oleh beberapa ahli.6 th 6-12 th 12-18 th 18. Diperolehnya tanda-tanda baru. Para ahli mengemukakan pe ndapat tentang model – model petahapan yang beragam.1. Lenya pnya tanda-tanda yang lama.wafat Syamsu Yusuf Rosseau Kretschmer Elizabeth Hurlock . 2. d. seperti kumis dan jakun pa da laki dan tumbuh payudara dan menstruasi pada wanita. tumbuh uban pada masa tu a.

Melihat kehidupan sebagai “zero-sum game” 5. Perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal 8. Mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik 3. Merasa berdosa jika melang gar aturan 1. 1. Perlindungan Diri Konformistik Seksama Individualistik Otonomi .Pre-konseptual . Berfikir lebih kom pleks dan atas dasar analisis 1. 4. 4. Takut tidak diterima k elompok 9. Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain 1. Berfikir tidak logis dan stereotip 4. Peduli akan hubungan mutualistik 5. Peningkatan kesadaran invidualitas 2. Mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan 6. Kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan 3. Memiliki tujuan jangka p anjang 6.Intuitif Konkret -Operasional Formal . Me mbedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya 7. Berfikir sterotip dan klise 3. Memiliki pandanga n hidup sebagai suatu keseluruhan 2. Tidak sensitif terhadap keindividualan 10. Menyamakan diri dalam ekspresi emosi 6. Mengenal kompleksitas diri 8. Mengenal eksistensi perbedaan individual 5. Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan 3. Bertindak atas dasar nilai internal 2. 3. Peduli terhadap penampilan di ri 2. Peduli akan paham abstrak. Mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan 1. Peduli akan aturan eksternal 4. seperti keadilan sosi al. Kurang introspeks i 7. yaitu : Tahap Impulsif Ciri – Ciri Identitas diri terpisah dari orang lain Bergantung pada lingkungan Beorientasi hari ini Individu tidak menempatkan diri sebagai penyeba b perilaku Peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berh ubungan dengan orang lain 2. Peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial 1. Dan perspektif diri 4. Bersikap realistis dan obyektif terhadap di ri sendiri maupun orang lain 3. Bertindak d engan motif dangkal 5. Mampu melihat keragaman emosi. Cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial 7. motif.Piaget Sensori-motor Pra-operasional : . Menjadi lebi h toleran terhadap diri sendiri dan orang lain 4.operasional 0-2 th 2-7 th 2-4 th 4-7 th 7-11 th 11-15 th Loevenger sebagaimana dikemukakan oleh Sunaryo dkk (2003) mengemukakan tentang f ase-fase perkembangan individu beserta ciri-cirinya. 2.

Adanya kecenderungan memuji di ri sendiri Membandingkan dirinya dengan anak yang lain Apabila tidak dapat menye lesaikan suatu soal. dianggap sebagai masa perkembangan ras a keindahan. maka soal itu dianggap tidak penting. atau masa keserasian bersekolah pada umur 6 -7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. dkk. Masa Vital. 7. 9. . Sunaryo. Freud menyebutnya sebagai masa oral (mulut).Pada tahun kedua anak belajar berjalan sehingga anak belajar menguasai ruang. Masa Usia Pra Sekolah Masa Usia Pra Sekolah terbagi dua yaitu (1) Masa Vital dan (2) Masa Est etik 1. Yang dikenal dengan sebutan Inventori Tugas Perkembangan (ITP). Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 – 9/10 tahun) : 1. mulai dari yang paling dekat sampai dengan ruang yang jauh. 2. Masa Usia Sekolah Da sar terbagi dua. Melalui latihan ke bersihan. Untuk masa belajar pada tahun pertama dalam kehidupan individu .5. de ngan merujuk pada pemikiran Syamsu Yusuf (2003). di bawah ini dikemukakan tahapa n perkembangan individu dengan menggunakan pendekatan didaktis: a. anak belajar mengendalikan impulsimpuls atau dorongan-dorongan yang da tang dari dalam dirinya. 4. 2. pada masa ini individu menggunakan fungsi-fungsi biologis un tuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. tela h mengembangkan suatu instrumen untuk melacak tugas-tugas perkembangan individu. Adanya k orelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional. Anak bereksplorasi dan belajar melalui panca inderanya. Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual. Pada masa i ni panca indera masih sangat peka. 6. Selanjutnya. b. Pa da tahun kedua umunya terjadi pembiasaan terhadap kebersihan. yaitu : (a) masa kelas-kelas rendah dan (b) masa kelas tinggi. Peduli akan self fulfillment Ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal Respek terhadap kemandirian orang lain Sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain Mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan kece riaan Dengan memperhatikan fase dan ciri-ciri perkembangan di atas. karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan merupakan alat untuk melakukan eks plorasi dan belajar. 8. 5. 3. Masa Estetik.

Aspek. yang terbagai ke dalam 3 bagia n yaitu : 1. Masa Usia Kemahas iswaan (18. yang akan member ikan dasar bagi memasuki masa berikutnya yaitu masa dewasa. 4. masa remaja awal. yang intinya pada masa ini merupakan pem antapan pendirian hidup. Dalam perma inan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sud ah ada). 6.6. c.00 tahun) Masa ini dapat digolongkan pada masa remaja akhir sam pai masa dewasa awal atau dewasa madya. . mereka membuat peraturan sendiri. Perkembangan anatomis . prestasi. Samp ai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesa ikan tugas dan memenuhi keinginannya. setelah remaja dap at menentukan pendirian hidupnya. 2. serta sikap sosial. masa remaja akhir. d. pada dasarnya telah tercapai masa remaja akhir dan telah terpenuhi tugas-tugas perkembangan pada masa remaja. masa remaja. Perkembangan F isik Perkembangan fisik individu mencakup aspek-aspek : 1. indeks tinggi dan berat bad an. Pada masa ini sebagai masa mencari sesuatu yang dipandang bernilai. Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. rasa ingin t ahu dan ingin belajar 3. Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor ya ng baik. Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi s ekolahnya. Minat ter hadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret 2. biasanya ditandai dengan sifat-sifat negatif. adanya perubahan kuantitatif pada struktur tulang. kebutuhan akan adanya teman yang dapat mem ahami dan menolongnya. Selepas usia ini pada umumnya anak menghad api tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya 5. pada masa i ni mulai tumbuh dorongan untuk hidup. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) : 1. Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus 4. Masa Usia Sekolah Menegah Masa usi a sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja. 3. Amat realistik. pantas dijunjung dan dipuja. proporsi tinggi kepala dengan tinggi garis keajegan badan secara secara kese luruhan.Aspek Perkembangan Individu a.00-25. tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak. dal am jasmani dan mental.

lukisan gerak . dan s etelah itu terjadi plateau (mapan) sampai dengan usia 60 tahun selanjutnya beran gsur menurun.kembangan menurun sangat lamb at bahkan menjadi mapan. pada usia sekolah menjadi lambat. membuat kalimat sederhana. menyimpan. Perkembangan Perilaku Psikomotorik Perkembangan psik omotorik memerlukan adanya koordinasi fungsional antara neuronmuscular system (s istem syaraf dan otot) dan fungsi psikis (kognitif. sekresi kelenjar dan pencernaan . ditandai dengan adanya perubahan secara kualitatif. Kedua jenis keterampilan ini menjadi dasar bagi perkembangan keterampilan yang lebih kompleks untuk bermain (playing ) dan bekerja (working). mencatat.2. dan bahasa ekspresif dengan belajar menul is. Kemudian. Dua prins ip utama dalam perkembangan psikomotorik. tulisan. seperti konstraksi otot-ot ot. bicara monolog. peredaran darah dan pernafasan. Laju perkembangan berjalan secara berirama.gerik. d. gemar bertanya yang tidak selalu har us dijawab. . konatif). Perkembangan bahasa dimulai dengan ma sa meraban. b. haus nama-nama. me ngkodifikasikan. Perkembangan fisiologis. dan mimik serta simbol ekspresif lainnya. pada permulaan masa remaja akhir bagi wanita dan penghujung masa remaja akhir bagi pria.1970) menunjukkan bahwa laju perkemb angan inteligensi berlangsung sangat pesat sampai masa remaja. gambar. Melalui bahasa. Puncak perkembangan pada umumnya tercapai di penghuju ng masa remaja akhir. baik dalam bentuk lisan. Perubahan-perubahan amat tipis sampai usia 50 tahun. yaitu : (1) bahwa perkembangan itu ber langsung dari yang sederhana kepada yang kompleks. laju per. kuantitaif dan fungsional dari sistem kerja biologis. manusia. Perkembangan Bahasa Kemampuan berbahasa merupakan ke mampuan yang membedakan antara manusia dengan hewan. mulai masa remaja t erjadi amat mencolok. mengekspresikan dan mengkomunikasikan berb agai informasi. setelah itu kepes atannya berangsur menurun. Jones dan Conrad (Loree. c. Perkembangan Perilaku Kognitif Dengan m enggunakan hasil pengukuran tes inteligensi yang mencakup General Information an d Verbal Analogies. Loree dalam Abin Syamsuddin (2003) mengatakan bahwa ada dua macam perilaku psikomotorik utama yang bersifat universal harus d ikuasai oleh setiap individu pada masa bayi atau masa kanak-kanak yaitu berjalan (walking) dan memegang benda (prehension). afektif. pada masa bayi dan kanak-kanak per ubahan fisik sangat pesat. persyarafan. dan (2) dari yang kasar dan g lobal (gross bodily movements) kepada yang halus dan spesifik dan terkoordinasik an (finely coordinated movements). membaca dan menggambar permulaan.

Artinya. Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. Tahap konkret-operasional (7-11) Pada periode ditandai oleh adanya tambahan ke mampuan yang disebut system of operation (satuan langkah berfikir) yang bermanfa at untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dal am pemikirannya sendiri. Pada periode in i anak baru mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristi wa yang konkret. Tahap Sensori-Motor (0-2) Inteligensi sensori-motor dipandang seb agai inteligensi praktis (practical intelligence). yang berfaedah untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum mampu berfikir mengenai apa yang sedang i a perbuat.dewasa) . sebaga i berikut : 1. insight learning dan kemampuan berbahasa. 2. atau tidak ia dengar dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya benda it u ada. 3 . Jadi. pandangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dengan pandangan pada periode sensori motor.24 bulan barulah kemampuan object permanence anak ters ebut muncul secara bertahap dan sistematis. dengan menggunakan kata-kata yang benar serta mampu mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif. walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sud ah tak dilihat. Dalam rentang 18 . didengar atau disentuh lagi. anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yan g harus ada atau biasa ada. Art inya. benda apapun yang tidak ia lihat. anak belu m mengenal object permanence. Inteligensi individu pada tahap ini masih bersifat primitif. yakni tidak bergantung lagi pada pengamatannya belaka. namun me rupakan inteligensi dasar yang amat berarti untuk menjadi fondasi tipe-tipe inte ligensi tertentu yang akan dimiliki anak kelak. tidak i a sentuh. Bloom (1964) mengungkapkan prosentase tar af perkembangan sebagai berikut : Usia 1 tahun 4 tahun 8 tahun 13 tahun Perkembangan Sekitar 20 % Sekitar 50 % Sek itar 80 % Sekitar 92 % Secara kualitatif perkembangan perilaku kognitif diungkapkan oleh Piaget. Pada periode ditandai oleh adanya eg osentris serta pada periode ini memungkinkan anak untuk mengembangkan diferred-i mitation. Tahap formal-operasional (11 . 4. Namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. Sebelum usia 18 bulan. Tahap Pra Operasional (2 – 7) Pada tahap ini anak sudah memiliki penguasaan sempurna tentang object permanence.Dengan berpatokan kepada hasil tes IQ.

ciri-ciri respons interpersonal yang bertalian dengan kesukaan. Kecenderungan peranan (role disposition). Pada awalnya. d an kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam masyarakat. Selanjutnya ia mempelajari keadaan-keadaan di luar rumah. Kapasit as menggunakan hipotesis Kemampuan berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkun gan yang dia respons dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. Perkembangan Perilaku Sos ial Sejak individu dilahirkan ke muka bumi ini ia telah mulai belajar tentang ke adaan lingkungan sosialnya. baik yang menyangkut nilai. Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sosialisasi pada intinya merupakan upaya mempersiapkan individu untuk dapat berperilaku sesuai dengan li ngkungan sosialnya. ciri-ciri respons interpersonal yang bertautan dengan ekspresi diri. (1962) mengemukan bahwa untuk memahami perilak u sosial individu. ia mempelajari segala yang terjadi dal am lingkungan keluarga. kepercayaan terhadap individu lain. ciri-ciri respons interpersonal yan g merujuk kepada tugas dan kewajiban dari posisi tertentu. mengidentifikasi dan mengamati segala sesuatu yang ditampilkan orang tua dan anggota keluarga lainnya. yang d ibagi ke dalam tiga kategori : 1. Kagan (1972) mengartikan sosialisasi sebagai: “…the process by which the child is integrated int o the society throgh exposure to the actions and opnions of older members of the society”. ia menyadari bahwa d irinya merupakan bagian dari masyrakat dan dituntut untuk berperilaku sesuai den gan tuntutan masyarakat. Proses tersebut biasa disebut sosialisasi. dapat dilihat dari ciri-ciri respons interpersonalnya. Sementara itu Gilmore (1974) mengemukakan bahwa “…socialization is the proc ess whereby an individual is prepared or trainned to participate in his environm ent”. b. 3. Kapas itas menggunakan prinsip-prinsip abstrak Kemampuan untuk mempelajari materi-mate ri pelajaran yang abstrak secara luas dan mendalam. e. Akhirnya. 2. dengan menampilkan kebiasaan-kebiasaan khasnya (particular fashio n). Kecenderungan ekspresif (expressive disposition).Pada periode ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yaitu : a. Ia mencoba meniru. Krech et. al. norma. Kecenderungan sosiom etrik (sociometric disposition). .

sebagaimana tampak dalam tabel berikut : Tingkat Pre Conventional (0 – 9) 1.4 ) Trozt Alter Kanak – Ka nak Akhir ( 4 – 6 ) Masa Subyektif Menuju Masa Obyektif Anak Sekolah ( 6 – 12 ) Masa Obyektif Kritis II ( 12 – 13 ) Masa Pre Puber Remaja Awal ( 13 – 16 ) Masa Subyekti f Menuju Masa Obyektif Remaja Akhir ( 16 – 18 ) Masa Obyektif Ciri-Ciri Segala sesuatu dilihat berdasarkan pandangan sendiri Pembantah. Keputusan untuk melakukan s esuatu berdasarkan pertimbangan norma yang berlaku dan nilai yang dianutnya itu disebut moralitas. Kohlberg mengemukakan tahapan perkembangan mor alitas individu. Tahap Orientasi terhadap kepatuhan dan huku man Relativistik hedonism . norma-norma/nilai -nilai sebagai dasar atau patokan dalam berperilaku. ingin diuji Mulai menyadari adanya kenyata an yang berbeda dengan sudut pandangnya Berperilaku sesuai dengan tuntutan masya rakat dan kemampuan dirinya f. serba salah. Buhler (Abin Syamsuddin Makmun. 2003) mengemukakan tahapan dan ci ri-ciri perkembangan perilaku sosial individu sebagaimana dapat dilihat dalam ta bel berikut : Tahap Kanak-Kanak Awal ( 0 – 3 ) Subyektif Kritis I ( 3 . Perkembangan Moralitas Ketika individu mulai menyadari bahwa ia merupakan bagian dari lingkungan sosial dimana ia berada. keras kepala Mulai bisa menyesuaikan diri dengan aturan Membandingkan dengan aturan – at uran Perilaku coba-coba. Dalam hal ini.Sementara itu. bersamaan itu pula individu mulai meny adari bahwa dalam lingkungan sosialnya terdapat aturan-aturan. 2.

1970). dan konatifnya. baik secara individual maupun ko lektif. sehingga banyak yang enggan melaksanakan ritual yang selama ini dilakukan dengan penuh kepatuhan Sikap kembali ke arah positif. ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran manu sia perkembangan keagamaan . 4. 5. Oleh karena itu. Perkembangan Penghayatan Keagamaan Dengan melalui pertimbangan fungsi afektif . karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan Penghayatan roha niahnya cenderung skeptik. secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari. Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan ata s kebaradaan-Nya. termasuk dirinya. Orientasi mengenai anak yang baik Mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas Orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial Prinsip e tis universal g. bersa maan dengan kedewasaan intelektual bahkan akan agama menjadi pegangan hidupnya P andangan ke-Tuhan-an dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihny a Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja. pada saat-saat tertentu.Conventional (9 – 15) Post Conventional ( > 15 ) 3. 6. Penghayatan seperti itu disebut peng alaman keagamaan (religious experience) (Zakiah Darajat. individu akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agu ng yang melebihi apa pun. namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. melaksanakan ke giatan ritual diterima sebagai keharusan moral Sikap negatif disebabkan alam pik irannya yang kritis melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pur a) Masa Sekolah Masa Remaja Awal Masa Remaja Akhir Pandangan ke-Tuhan-an menjadi kacau. manus ia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan diserta i penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu. kognitif. Abin Sy amsuddin (2003) menjelaskan tahapan sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Tahapan Ciri-Ciri Sikap reseptif meskipun banyak bertanya Masa Kanak-Kanak Panda ngan ke-Tuhan-an yang dipersonifikasi Penghayatan secara rohaniah yang belum men dalam Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadin ya) Sikap reseptif yang disertai pengertian Pandangan ke-Tuhan-an yang diterangk an secara rasional Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam.

Ditujukan kepada orang tuanya (oediphus atau electra phantaties) Memilih benda dan menyentuhnya/memasukkan ke dubur B. memegang. memilih dan memasukkan benda kemulut Memilih benda dan digigitnya secara sadis Dubur dan ben da Memeriksa dan memainkan duburnya Memainkan dan memperhatikan duburnya Menyent uh.h. Perkembangan Perilaku Konatif Perilaku konatif merupakan perilaku yang berhub ungan dengan motivasi atau faktor penggerak perilaku seseorang yang bersumber da ri kebutuhan-kebutuhannya. Freud (Di Vesta & Thompson dalam Abin Syamsuddin. MASA REMAJA (ADOLESENCE PERIOD) Mengurangi cara-cara waktu masa kanakkanak Munculnya cara orang memperoleh pemua san dewasa Menyenangi diri sendiri (narcisism) atau objeck oediphus-nya Objek pemuasannya m ungkin diri sendiri/sejenis (homosexual) atau lain jenis (heterosexual) . siap berfungsinya alat kelamin Cara Pemuasan Sasaran Pemuasan A.derungan kasih sayang Berkembangnya perasaan sosial perasaan– C. menunjukkan alat kelaminnya melihat. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Daerah Sensitif Pre Genital Period Oral Stage Early Oral Late Oral Anal Stage Ea rly Anal Late Anal Early Genital Period (phalic stage) No New Zone (tidak ada da erah sensitif baru) Late Genital Period Hidup kembali daerah sensitif waktu masa kanak-kanak Akhirnya. MASA ANAK SEKOLAH (LATENCY PERIOD) Represi Reaksi formasi Sublimasi dan kecen . merusak dengan mulut Mulut sendiri. MASA BAYI DAN KANAK-KANAK (INFANCY PERIOD) Infantile Sexuality Mulut dan bend a Menghisap ibu jari Menggigit.2003 ) mengemukakan tentang tahapan-tahapan perkembangan perilaku yang berhubungan ob yek pemuasan psychosexual.

Erikson dalam Nana Syaodih Sukmadinata. 2005 mengemukakan perkembangan kepriba dian dengan kecenderungan yang bipolar : tahapan 1. 1970) menjelaskan proses perkembangan dan diferensiasi emosional pada anak-anak. Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust – mistrust. minum dari . Yang mungkin dirubah dan dipengaruhi adalah variabel yang kesatu (stimu s) dan yang ketiga (respons). cemas dan kecewa sedangkan kesenangn berdiferensiasi ke dala m harapan dam kasih sayang j. Pada masa ini sampai-batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri. Perkembangan Kepribadian Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan. Bridges (Loree. (2) perubahan– perubahan fisiologis yang terjadi pada individu. yaitu : (1) rangsangan yang menimbulkan emosi (stimulu s). Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya. 2. terutama dipengaruhi oleh faktor lingkungan dari pada faktor fisik . Ia bukan saja tidak percaya kepa da orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing. perlakuan asing dan sebagainya. Oleh karena itu kadang-kadang bayi menangis b ila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. cahaya. Terdapat dua di mensi emosional yang sangat penting untuk dipahami yaitu : (1) senang – tidak sena ng (suka-tidak suka). nam un dalam kenyataannya sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian dapat dan mun gkin terjadi. tempat asing. temperatur) Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan. pada umumnya selalu melibatkan tiga variabel. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut s eringkali bayi menangis.i. kebencian dan ketakutan Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kecemburuan mulai berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kenikmata n dan keasyikan berdiferensiasi dari kesenangan Ketidaksenangan berdiferensiasi di dalam rasa malu. suara as ing. dalam arti duduk. dan (2) intensitasnya (kuat-lemah). Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di se kitarnya. sebag ai berikut : Usia Pada saat dilahirkan 0 .3 bln 3 – 6 bln 9 – 12 bln 18 bulan pertama 2 th 5 th Ciri-Ciri Bayi dilengkapi kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. berdiri. bermain. berjalan. Perkembangan Emosional Aspek emosional dari suatu perilaku. dan (3) pola s ambutan. tetapi orang yang dianggap as ing dia tidak akan mempercayainya. doubt. sedangkan variabel yang kedua merupakan yang tidak mungkin dirubah karena terjadinya pada individu secara mekanis. Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan autonomy – shame.

individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebab kan anak merasa rendah diri. pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelo mpok sebayanya. sehingga perkembangan individu sangat pesat. Kegagalankegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan.botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya. dia membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Dorongan membentuk dan mem perlihatkan identitas diri ini. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubu ngan yang intim dengan orang-orang tertentu. pada tahap ini individu telah men capai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. 7. Pengetahuannya cukup luas. 6. dan kurang akrab atau renggang deng an yang lainnya. Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity – stagnation. dan untuk sementa ra waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat. Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative – guilty. namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar. k ecakapannya cukup banyak. tetapi karena kemam puan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan. tetapi di pihak lain karena ke terbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadangkadang dia menghadapi kesukaran. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar. dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masi ng anggota. Kalau pada masa sebelumnya. dengan kecakapan-k ecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan. Sesuai dengan namanya masa dewasa. 3. pada para remaja sering sekali sangat ekstrim da n berlebihan. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy – isolation. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran. ciri-ciri yang khas dari dirinya. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di satu piha k. Merek a sudah mulai selektif. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas. sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya. tetapi dia tidak mungkin dapat m enguasai segala macam ilmu dan kecakapan. hambatan bahkan kegagalan. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan–kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihat kan identitas diri. tetapi di pihak lain dia ga tela h mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat. sehingga . Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity – Identity Confusion. 5. sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimp angan atau kenakalan. 4.

attitudes. sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya. Dorongan untuk terus berprestasi mas ih ada. Doubt Initiative vs Guilt Industry vs Inferiority Identity vs Identi ty Confusion Intimacy vs Isolation Generativity vs Stagnation Ego Integrity vs D espair k. berkenaan dengan tahapan perkembangan karier. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. Selanjutnya. Untuk mengerjakan atau mencapai hal – hal tertentu ia mengalami hambatan. and needs associated with self concept Tentative phase in which choices are nar rowed but not finalized Usia (birth -14 or 15) (15 – 24) . mulai d ari usaha memperoleh kesadaran karier. tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan t ersebut. Keberhasilan seseorang dalam suatu pekerjaan bukanlah sesuatu yang diperoleh secara tiba-tiba atau secara kebetulan. Adapun yang dimaksud dengan p erilaku karier yaitu segenap perilaku yang ditampilkan individu dalam usaha meny iapkan masa depan untuk memperoleh kematangan kariernya. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity – despair. persiapan karier hingg a sampai pada penempatan kariernya.1983) mengemukakan lima tahapan perkembangan karier individu. D alam situasi ini individu merasa putus asa. Perkembangan Karier Perkembangan karier sangat erat kaitannya dengan pekerjaa n seseorang. interest. Arifin. namun merupakan suatu proses p anjang dari tahapan perkembangan karier yang dilalui sepanjang hayatnya. semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi. eksplorasi karier. Zunker (Popon Sy. Mu ngkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya teta pi karena faktor usia. hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. 8. Kedelapan tahapan perkemb angan kepribadian dapat digambarkan dalam tabel berikut ini : Developmental Stage Infancy Early childhood Preschool age School age Adolescence Young adulthood Adulthood Senescence Basic Components Trust vs Mistrust Autonom y vs Shame. sebagaimana tampak dalam tabel beriku t ini : Tahap Growth Exploratory Ciri-Ciri Development of capacity.tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Tylor & Walsh (1979) menyebutkan bahwa kemat angan karier individu diperoleh manakala ada kesesuaian antara perilaku karier d engan perilaku yang diharapkan pada umur tertentu.

d.…) 5. yang merentang sepanjang h idupnya fase-fase perkembangan tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut ini : Masa Dewasa : Masa Tua Tengah Baya Masa Dewasa Awal Masa Remaja (Adolesence) : ( 1) Late Adolesence (18 – 21 th) (2) Early Adolesence (16 – 17 th) (3) Pre Adolesence (11 – 13 th) Masa Kanak-Kanak (2 th – Remaja) Masa Bayi (2 Minggu s. Tugas perkembangan bersumber pada faktor – faktor : (1) kematangan f isik. 2 th) Masa O rok (10 –14 hari) Masa Konsepsi (Pranatal) (0-9 bln) Pada setiap fase perkembangan menuntut untuk tertuntaskannya tugas-tugas perkembangan. Havighurst (1961) memberikan penge rtian tugas-tugas perkembangan bahwa : “ A developmental task is a task which aris es at or about a certain period in the life of the individual. Di bawah ini dikemukakan tugas-tugas perkembangan dari setiap fase men urut Havighurst.Establishment Maintenance Decline Trial and stabilization trhough work experiences A continual adjustment process to improve working position and situation Preretirement consideration. Oleh karena itu segenap proses pendidi kan seyogyanya diarahkan untuk tercapainya tugastugas perkembangannya para peser ta didik. sehingga dapat berti ndak wajar sesuai dengan tingkat usianya. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Salah satu prinsip perkembangan bahwa setia p individu akan mengalami fase perkembangan tertentu. Pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengantarkan individu mencapai kedewasaan. disaproval by society. succesful achieve ment of which leads to his happiness and to success with later task. (3) tuntutan dan dorongan dan cit a-cita individu iru sendiri. perilaku dan keterampilan yang seyogyanya dikuasai sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. while failu re leads to unhappiness in the individual. dan (4) norma-norma agama. (25 – 44) (45 – 64) (65 . and eventual retirement. difficulty wit h later task. Tugas–tugas perkembangan ini berkenaan dengan sikap. Yang dimaksud dengan ked ewasaan adalah dapat terpenuhinya tugas-tugas perkembangan. . work out put. (2) tuntutan masyarakat secara kultural.

Belajar hidup dengan pasangan. 6. dan orang lain. Belajar bergaul dengan teman sebaya. Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk mela kukan permainan. 3. Memilih pasangan. 7. 4. d. 5. 8. (0. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis. 7. 2.0) 1. 2. Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis. 7. menulis dan berhitung. Mengembangkan kata hati. Memulai hidup dengan pasangan. Tugas Perkembangan Masa Bayi dan Kanak-Kanak Awal 1. Memilih dan mempersiapkan karier. Belajar mengenal perbeda an jenis kelamin.0–6. Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif. Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari -hari. 4. 5. 4. 9. Belajar memakan makan padat. 3. 3. 2. Belajar mengadakan hubungan baik da n buruk dan pengembangan kata hati. Membentuk konsep-kon sep sederhana kenyataan sosial dan alam. 6. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang d iperlukan bagi warga negara. b. . Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal 1. c. 9. Belajar berbicara. Mempersiapkan pernikahan dan hi dup berkeluarga. Mencapai jaminan kemand irian ekonomi. 6. 9. Mencapai kemand irian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. 8.0-21. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya. 10. 5.0) 1.0 – 15. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial. Tugas Perkembangan Masa Kanak-Kanak Akhir dan Anak Sekolah (6. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi. Belajar mengadakan hubungan emosional d engan orang tua.a. saudara. Belajar buang air kecil dan buang air besar. 2.Memperoleh seperangkat nilai sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam berperilaku.0) Belajar berjalan pada usia 9.0 bulan.0-12. 8. Mencapai peran sosial sebagai pria atau w anita. Belajar mem ainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya. Belajar keterampilan dasar dal am membaca. Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial. 3. Tugas Perkembangan Masa Remaja (12.

dan kesenian sesuai dengan program kuri kulum. Memelihara anak. Sementara itu. Tugas Perkembangan Tingkat SLTP 1. Mencap ai kematangan dalam hubungan teman sebaya. Tugas Perkembangan Peserta didik SLTA 1. Me ngenal sistem etika dan nilai-nilai sebagai pedoman hidup sebagai pribadi. 6. Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan minat serta arah kecenderu ngan karier dan apresiasi seni.4. persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi serta berperan dalam ke hidupan masyarakat yang lebih luas. Mengenal kemampuan bakat. Mempersiapkan diri. Menemukan suatu kelompok yang serasi. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan se suai dengan kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan atau memp ersiapkan karier serta berperan dalam kehidupan masyarakat. b. 4. 2. Memulai bekerja. 7. Mengelola rumah tangga. 7. 8. Men capai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. 6. Depdiknas (2003) memberikan rincian tentang tugas perkembangan ma sa remaja untuk usia tingkat SLTP dan SMTA. 5. Mencapai pola hubunga n yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita. 5. 8. teknologi. serta kematangan dalam perannya sebag ai pria dan wanita. 3. Me mantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sos ial yang lebih luas. yang dijadikan sebagai rujukan Stand ar Kompetensi Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Mengenal gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. sosial dan ekonomi. 3. M engembangkan penguasaan ilmu. men erima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yan g terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat. Mengambil tanggung jaw ab sebagai warga negara. . anggo ta masyarakat dan minat manusia. yaitu : a. Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat 4.

2. Mengembangkan kemampuan komunikasi sosi al dan intelektual serta apresiasi seni. Oleh karena itu. Charl otte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isi-mengisi. Karakteristik Perilaku dan Pribadi Pada Masa Remaja . para ahli mengklasikasikan masa remaja ini ke dalam dua bagian yaitu: (1) remaja awal (11-13 th s. G. Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai sua tu masa pembentukan sikapsikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu. intelektual dan ekonomi .d. 4.18-20 th). Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode dalam perkembangan yang d ijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak sampai deng an awal masa dewasa. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang am at kritis yang mungkin dapat merupakan the best of time and the worst of time. 9.5. Mencapai kematangan gambaran dan s ikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang berkehidupan berkeluarga. be rmasyarakat. berbangsa dan bernegara. Perkembangan Pada Masa Remaja a. dan (2) remaja akhir (14-16 th s. sosial. 7. Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai dan topan). Pada rentangan periode ini (sekitar 6 – 7 th) terdapat beberapa indikator perbedaan yang signifikan. Pengetian dan Makna Masa Remaja Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting. 2003). Kita menemukan berbagai tafsir an dari para ahli tentang masa remaja : 1.d. P ara ahli umumnya sepakat bahwa rentangan masa remaja berlangsung dari usia 1113 tahun sampai dengan 18-20 th (Abin Syamsuddin. 6. Spran ger memberikan tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan perubahan st ruktur kejiwaan yang fundamental. Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang mempunyai bentuk yang definitif. 3. b. 1415 t h). 8. Mencapai kematangan dalam pilihan karir 6. baik se cara kuantitatif maupun kualitatif. Mencapai kematangan dalam sistem eti ka dan nilai. 5.

Berkembangnya penggunaan bahasa sandi 1.18-20 Th) 1. Aktif dalam perma inan. psikomotor. komparasi. Gerak gerik mulai mantap. 2.d. 3. Sudah mampu meng-operasikan kaidahkaidah logika formal disertai kemampuan membuat generalisasi yang lebih be rsifat konklusif dan komprehensif.d.Dengan merujuk pada berbagai ciri-ciri dari aspek perkembangan individu sebagaim ana telah dikemukakan terdahulu. otot mengembang pad a bagian – bagian tertentu).s. sangat lambat. Remaja Awal (11-13 Th s. kausali tas) yang bersifat abstrak. es tetik. 1. asing. 14-15 tahun) dan remaja akhir (14-16 s. Menggemari literatur yang bernafaska n mengandung segi erotik. Kecakapan dasar intele ktual menjalani laju perkembangan yang terpesat.d. Laju perkembangan secara umum berla ngsung pesat. M enggemari literatur yang bernafaskan dan 2. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan sering. berbagai jenis cabang 1.d. diferen-siasi. 2. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif dan terbatas pada keterampil an yang menunjang kepada persiapan kerja. Lebih memantapkan diri pada bahasa d an mulai tertarik mempelajari bahasa asing tertentu yang dipilihnya. 18-20 tahun) meliputi aspek : fisik. religius. keagamaan. Bahasa 1. Proses berfikir sudah mampu mengope rasikan kaidah-kaidah logika formal (asosiasi. ethis. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan lebih seimbang m endekati kekuatan orang dewasa. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region. di bawah ini disajikan berbagai karakteristik p erilaku dan masa remaja. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelami n (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki. moralitas. Siap berfungsinya organ-organ reproduktif sep erti pada orang dewasa. meskipun relatif terbatas. 2. bahasa. emosi afektif dan kepribadian. 2. yang terbagi ke dalam bagian dua kelompok yaitu remaja awal (11-13 s. 3. Psikomotor 1. 2. Perilaku Kognitif 1. 2. Gerak – gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasikan. kona tif. Remaja Akhir (14-16 Th. kognitif. Tercapainya titik puncak kedewasaan bahkan mungkin mapan (plateau) yang . sosial. fantastik dan dan mengandung nilai-nilai filosofis. 2.kali kurang seim bang.14-15 Th) Fisik 1. Laju perkembangan secara umum kembali me nurun.

Mulai dapat memelihara jarak dan batasbatas kebebasan. Kecenderungan titik berat ke arah sikap nilai tertentu sudah mulai jelas sepe rti yang akan ditunjukkan oleh kecenderungan minat dan pilihan karier atau pendi dikan lanjutannya. K alau kondisi psikososialnya menunjang secara positif maka mulai tampak dan . Reaksi-reaksi dan ekspresi emosinalnya tampak mulai terkendali dan dapat menguasai dirinya. Sudah dapa t memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari para pe ndukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. politis. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalny a masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan marah. Kecenderungan bakat tertentu mencapai menujukkan kecenderungan-kecendetiti k puncak dan kemantapannya rungan yang lebih jelas. sosial. Mengidentifikasi den gan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya. Moralitas 1. meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencobaco ba. Afektif dan Kepribadian 1. Perilaku Sosial 1. estetis. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari mula i dilakukan atas dasar kesadaran dan pertimbangan hati nuraninya sendiri secara tulus ikhlas 3. Kecakapan dasar khusus (bakat) mul ai 3. 2. kecuali dengan tem an dekat pilihannya yang banyak memiliki kesamaan minat. Lima kebutuha n dasar (fisiologis. Kecender ungan-kecenderungan arah sikap nilai mulai tampak (teoritis. Diawali d engan kecenderungan ambivalensi keinginan menyendiri dan keinginan bergaul denga n banyak teman tetapi bersifat temporer. 2.nya mana yang harus di rundingkan dengan orang tuanya. Emosi. 1. Dengan sikapnya dan cara berfikirn ya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyata annya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. gembira atau kesed ihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat 3. Masih mencari dan mencoba m enemukan pegangan hidup Konatif. 4. yang juga akan memberi warna kepada tipe kepribadiannya.suatu saat (usia 50-60) menjadi deklinasi. ekonomis. Merupakan masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat 3. 2. 1. dan religius). harga diri dan aktualisasi diri) m ulai menunjukkan arah kecenderungannya 2. Sudah berangsur dapat menentukan dan menilai tindakannya sendiri atas norma atau sistem nilai y ang dipilih dan dianutnya sesuai dengan hati nuraninya. Sudah menunjukkan arah kecenderungan tertentu yang akan mewarnai pola dasar k epribadiannya. rasa aman. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyaka n secara kritis dan skeptis. 2. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). Penghayatan kehidupan keagamaan seharihari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. kasih sayang. Mulai menemukan pegangan hidup 1. 2. 2. Kebergantungan kepada kelompok sebaya berangsur fleksibel. 3. Eksistensi dan sifat kemur ah-an dan keadilan Tuhan mulai dipahamkan dan dihayati menurut sistem kepercayaa n atau agama yang dianutnya. 3. Perilaku Keagamaan 1. 4. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua de ngan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. 1. Adanya kebergantungan yang kuat kepa da kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi. 3. 2. 3.

terutama melalui pendidikan di sekol ah. Namun ketika. si remaja tidak mendapatkan kes empatan pengembangan kemampuan intelektual. baik secara fisik maupun psikis. namun ketika keadaan fisik ti dak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian antara body image dengan self pict ure) dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri. Begitu juga masa remaja. Keadaan fisik pada mas a remaja dipandang sebagai suatu hal yang penting. per kembangan fisik yang tidak proporsional. sosial. 3. Pada masa remaja awal ditandai dengan perkembangan kemampuan intelektual yang pesat. yang akan membentuk kepribadiannnya. 2. Problema yang mungkin timbul pada masa remaja diantar anya : 1. penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting untuk menunjang kesuksesan hidup dan karier seseorang . pabila tidak disertai dengan upaya pemahaman diri dan pengarahan diri secara tepat. Penolakan dari peer group dapat menimbulkan frustrasi dan menja dikan dia sebagai isolated dan merasa rendah diri. Namun dikarenakan keterbatasan kesempatan dan sarana d an pra sarana. Pada masa re maja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat. menyebabkan si remaja kesulitan untuk menguasai bahasa asing. bahkan dapat menjurus pada berbagai tindakan kena kalan remaja dan kriminal. Namun dengan adanya hambatan dalam pengembangan ketidakmampuan berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak berpengaruh terhadap kesuksesan hidup dan karierny a. Masa r emaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial). Namun sebaliknya apabila rema ja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan . Begitu juga. terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk mengenal da n mendalami bahasa asing. Problema berkaitan dengan perk embangan kognitif dan bahasa. maka boleh jadi potensi intelektualnya tidak akan berkembang optimal. Tid ak bisa dipungkiri. Terhambatnya perkembangan kognitif dan bahasa dapat berakibat pula pada aspek emosional. moralitas dan keagamaan. yang mungkin saja dapat menimbulkan problem a tertentu bagi si remaja. dan aspek-aspek perilaku dan kepribadian lainnya. Problema pada Masa Remaja Masa remaja ditandai dengan adanya berbagai perubah an. dalam era globalisasi sekarang ini. c. yang ditandai d engan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayan ya (peer group). Problem a berkaitan dengan perkembangan perilaku sosial. ditemukan identitas kepriba-diannya yang relatif definitif yang akan mewarnai hi dupnya sampai masa dewasa. Kematangan organ reproduksi pada masa r emaja membutuhkan upaya pemuasan dan jika tidak terbimbing oleh norma-norma dapa t menjurus pada penyimpangan perilaku seksual. Problema berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik.dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya.

di satu sisi adanya keing inan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan pilihannya sendiri. Pertengkaran dan per kelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya. terutama secara ekonomis. perilaku imitasi atau identifikasi. Problema perilaku sosial remaja tidak hanya terjadi dengan kelomp ok sebayanya. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya. tentunya masih banyak problema keremajaan lainnya. Perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram du rja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. khususnya rema ja awal akan ditandai adanya keinginan yang ambivalen. na mun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua. banyak dilakukan dengan menunjuk kan perilaku coba-coba. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. D.dalam dirinya. Timbu lnya problema remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor. Problema berkaitan dengan perkembangan kepribadi an. serta masya rakat sangat diharapkan. mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya. Usaha pencarian identitas pun. . namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan dewasa lainnya. Pada masa remaja juga ditandai dengan ad anya keinginan untuk mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional ya ng masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidu pan pribadi maupun sosialnya. Dalam hal ini. hubungan sosial yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan lain jenis dan jika tidak terbimbing dapat menjurus tindakan penyimpanga n perilaku sosial dan perilaku seksual. 4. term asuk dengan guru di sekolah. Selain yang te lah dipaparkan di atas. baik internal maupun ekst ernal. peranan orang tua. jika tid ak terbimbing. dan emosional. Upaya untuk memfasilitasi perkembangan rem aja menjadi amat penting. dia akan mengalami krisis identitas atau identity c onfusion. Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilihlah salah satu j awaban yang menurut Anda paling tepat. Hal ini disebabkan pada masa remaja. sekolah. Agar remaja dapat terhindar dari berbagai kesulitan dan problema kiranya diperlukan kearifan dari semua pihak. sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan men ggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). Seja lan dengan pertumbuhan organ reproduksi.

6. c. Perkembangan bersifat progresif. b. c. Diperolehnya tanda-tanda baru S etiap individu menjadi lebih matang. haus nama-nama. ya itu : a. Kemampuan kognitif anak sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. membuat kalimat sederhana. a. c. kecuali : a. Menurut Lovenger. d. Ahli yang mengelompokkan tahapan perkembangan berdasarkan pendekatan didaktis . namun masih ada keterbatasan kapasitas d alam mengkoordinasikan pemikirannya. Meraban. c. Konformistik Seksama Individualistik Otonomi 5. bahasa ekspresif. b. gemar bert anya. Meraban. tahapan perkembangan tertinggi untuk siswa tingkat SMTA. a. bahasa ekspresif. gemar bertanya. b. kanak-kanak (2-7 th) dan sekolah (7-12 th). Di bawah ini merupakan ciri-ciri umum perkembangan individu. 3. kanak-kanak (2 -7 th) dan remaja (12-20 th). Perkembangan bersifat sistematis Perkembangan b erkesinambungan. h aus nama-nama. b. membuat kalimat sederhana. bicara monolog. Perkembangan fisik yang sangat pesat terjadi pada masa : a.a. d.. Meraban. a. haus nama-nama. b. membuat kalimat sederhana. kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th) bayi (0 -2 th) dan remaja (12-20 th). c. b. Lenyapnya tanda-tanda yang lama. Rosseau Kretschmer Piaget Elizabeth Hurlock 4. d. Tahap Sensori-Motor b. c. b dan c benar 2. d. Terjadinya perubahan dalam proporsi. Meraban. Merangkak dan memegang Memegang dan berjalan Berjalan da n berbicara Memegang dan berbicara 7. bayi (02 th). bahasa ekspresif. Pola urutan perkembangan bahasa adalah : a. bicara monolog. d. c. bicara monolog. gemar be rtanya. d. gemar bertanya. Perkembangan psikomotorik utama yang harus dikuasai pada masa bayi dan masa k anakkanak : a. d. b. bayi (0-2 th). Tahap Pra-Operasi onal . haus nama-nama. dan b ahasa ekspresif. 8. bicara monolog.

Tahap perkembangan moralitas yang ditandai dengan orientasi mengenai anak ya ng baik dan mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas. d. Post Conventional d. Perkembangan karier yang ditandai oleh adanya proses penyesuaian yang berkesinambungan untuk meningkatkan posisi dalam pekerjaan. cahaya. Non Conventional 11. 13.c. d. 14. Tahap Formal-Operasional 9. sehingga enggan melaksanakan ritual. b. Pre Conventional b. terjadi p ada masa : a. Perkembangan penghayatan keagamaan pada masa kanak-kanak ditandai oleh adany a : a. kebencian dan ketakutan. b. Kanak-Kanak Awal (0–3 th) Kanak – Kanak Akhir (4–6 th) Anak Sek olah (6–12 th) Remaja Awal (13–16 th) 10. d. Pandanga n ke-Tuhan-an yang kacau. c. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentanga n. Sikap negatif yang disebabkan melihat realita orang – orang beragama yang hypoc rit (pura-pura). b. temperatur) c. Ketidaksenang an berdiferensiasi ke dalam kemarahan. c. d. Conventional c. 12 . Perkembangan kepribadia n yang ditandai oleh adanya dorongan untuk membentuk dan memperlihatkan identita s diri. a. Kesenangan da n kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya. b. terjadi pada tahap: a. Tahap Konkret-Operasional d. b. c. Infancy Early Childhood Pre-Schoolage Ad olescence. c. Penghayatan rohaniah yang skeptik. Kepekaan umum terh adap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic. Perkembangan perilak u sosial yang ditandai dengan usaha untuk membandingkan aturan – aturan. d. Kegembiraan b erdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang. Perkembangan emosi pada usia 0-3 bulan ditandai oleh adanya : a. Growth Exploratory Establishment Maintenance . terjadi pada masa : a.

18. c. 17. Berupa ya mempelajari norma-norma yang berlaku di lingkungan sosialnya. a. d. Gerak ger ik mulai mantap. dan c benar. b. Kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semang at konformitas yang tinggi. c. b.15. a. Proporsi ukuran tinggi da n berat badan seringkali kurang seimbang. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyaka n secara kritis dan skeptis. otot mengembang pada bagian – bagian tertentu). Lima kebutuhan dasar (fisiologis. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seper ti pernya-taan marah. d. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari dila kukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. mes ki masih dalam taraf eksplorasi dan mencoba-coba. dan religius). kecuali : a. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idol anya. c. politis. b. Perkembangan perilaku sosial pada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. d. a. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. Di bawah ini merupakan ciri perkembangan konatif pada masa remaja awal. b. rasa aman. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbu l bulu pada pubic region. Perkembangan fisik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya: a. b . c. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day d reaming pada laki-laki. Menarik diri dari lingkungan sosialnya. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama ( teman dekat). Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang uni versal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. dan c benar 16. c. Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam. kasih say ang. estetis. b. ekonomis. b. b. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap dan nila i mulai tampak (teoritis. Dengan sikap dan cara berfikirny a yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataa nnya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. d. Aktif dalam berbagai jen is cabang permainan. . 19. 20. Perkembangan perilaku moralitas pada masa remaja akhir ditandai oleh adanya : a. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat. c. . harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya. gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan sil ih berganti dalam yang cepat. sosial. d. Ciri-ciri Perkembangan perilaku keagamaan pada masa remaja awal. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup. Perkembangan perilaku motorik p ada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a.

Teori-Teori Pok ok Belajar. Hakekat Belajar Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Lantas. yang akan membentuk kepribadiannnya. Menjelaskan secara skematik t entang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar. B. bentukbentuk perubahan perilaku sebagai hasil belajar. 5. pendekatan . masalah-masalah dalam pengelolaan kelas. 4. Uraian 1. Pembelajaran Peran dan Kompetensi Guru Pengelolaan Kelas. C. Intisari Bacaan 1. Jelaskan tugas-tugas perkembang an individu pada masa remaja ! Bagaimana implikasinya terhadap pendidikan ? 3.d. Masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat dipengaru hi oleh kondisi psiko-sosialnya. apa sesungguhnya belajar itu ? Di bawah ini disampaikan tent ang pengertian belajar dari para ahli : . Menerapkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah pen gelolaan kelas. J elaskan problema-problema yang terjadi pada masa remaja ! dan bagaimana pula per an orang tua. 3. Apa yang dimaksud dengan tugas perkembangan ? 2. Mendefinisik an belajar dan pengelolaan kelas. Hakekat Belajar. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. diharapkan Anda dapat : 1.pendekatan pembela jaran. 3. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) meny ebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiat an belajar. guru serta masyarakat dalam upaya mencegah timbulnya berbagai prol ema pada remaja ? BAB IV PROSES BELAJAR MENGAJAR A. 2. peran da n kompetensi guru. Pokok Bahasan 1. 4. 2. Mengidentifikasi ciri-ciri belajar.

sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu. Begitu juga dengan hasil-hasilnya. indi vidu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya mer upakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelum nya. kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku. mi salnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat. Misalnya. dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan. Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah di perolehnya kebiasaan-kebiasaan. maka penget ahuan. sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapa t dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. dengan memperoleh sejumlah pengetahuan. b. sikap dan keterampilan yang be rhubungan dengan Psikologi Pendidikan. Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dim anifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan. pengetahuan dan sikap baru”. seorang mahas iswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. sebaga i hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkunga nnya”. Hilgard (1962) : “belaj ar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karen a adanya respons terhadap sesuatu situasi” Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”. yaitu : a. sikap dan keterampilan berikut nya. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. Perubahan yang berkesinambungan (konti nyu). Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan di sengaja dari individu yang bersangkutan. Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku. setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku. kebiasaan. .Moh. pengetahuan. sikap. Dalam hal ini. seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakek at Belajar”. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan o leh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan. Perubahan yang disadari dan disen gaja (intensional). Misalnya. Gag e & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul ka rena pengalaman” Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas. pengetahuan dan kecakapan”. Begitu juga. Begitu juga.

Perubahan yang bersifat aktif. f. maka penguasaan keterampilan m engoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa te rsebut. Sedangkan tujuan jangka pan jangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang mema dai tentang Psikologi Pendidikan. seorang mahasiswa sebelum belaj ar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Menga jar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembanga n perilaku dan pribadi peserta didiknya. jangka mene ngah maupun jangka panjang. baik untuk kepenting an masa sekarang maupun masa mendatang. Misalnya. Perubahan yang bersifat positif.c. Perubahan yang fungsional. Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat diman faatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan. individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. Perubahan yang bertujuan dan terarah. . dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prins ip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia ke lak menjadi guru. Perubahan yang bersifat pemanen. d. berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya . Perubahan perilaku yang terjadi bersifat nor matif dan menujukkan ke arah kemajuan. Misalnya. maka maha siswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan. seorang mahasiswa belajar psikologi pendid ikan. Contoh : seorang mahasiswa belajar tenta ng psikologi pendidikan. maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pe ndidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kel ak ketika dia menjadi guru. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan unt uk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Mis alnya. mahasiswa belajar mengoperasikan komputer. Untuk memperoleh perilaku ba ru. Perubahan perilaku yang diperoleh dari pro ses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. baik tujuan jangka pendek. g. e. Individu melakukan kegiatan bel ajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai. tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperole h pengetahuan. namun setelah mengikuti pembelajaran Ps ikologi Pendidikan. mah asiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudk an dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. Misalnya.

tetapi melalui berbagai tahapan dan kegiatan yang harus ditempuh individu. sikap keterampilannya tent ang “TeoriTeori Belajar” (Post Learning). dalam perkuliahan Strategi Belajar Mengajar pada semester 2. namun setelah dia membaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Teori-Teori Belajar” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). sikap dan keterampilan tentang “Teori-Teori Belajar” (Pre learning). Pada semester 1 dia telah menguasai tentang “Teori-Teori Belajar” yang akan mendasari penguasaan “MetodeMetode Pembelajaran” (Pre Learning). deng an bertambah pengetahuan. Praktik. Contoh 2 : Mahasiswa Y akan mempelajari te ntang “Metode-Metode Pembelajaran”. Pada awalnya dia tidak memilik i pengetahuan.h. Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata. Latihan (Learning Experience) Contoh 1 : Mahasiswa X belajar akan mempelajari tentang “Teori-Teori Belajar” dalam perkuliahan Psikologi Pendidikan pada semester 1. Begitu juga. Belajar merupakan suatu proses. Kemudian oleh . maka kemampuannya akan meningkat. maka dalam dirinya telah bertambah kemampuannya. lalu dia datang meminta bantuan dari konselor yang ada di kampus (PreLearning). mahasiswa belajar tentang “Teori-Teor i Belajar”. tetapi termasuk memperoleh pula perubaha n dalam sikap dan keterampilannya. Perubahan perilaku secara keseluruhan. sikap keterampilannya tentang “Metode-Metode Pembelajara n” (Post Learning). dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Te ori Belajar”. Setelah dia me mbaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Metode-Metode Pembelajaran” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). Contoh 3 : Mahasiswa Z memiliki kebiasaan merokok yang ingin d ihilangkannya. disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Bel ajar”. dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”. dengan bertambah pengetahuan. Di Vesta dan Tompson dalam Abin Syamsuddin (2003:157) mengga mbarkan perubahan perilaku atau pribadi yang terjadi dari suatu proses belajar s eperti tampak dalam bagan berikut: Perilaku/Pribadi sebelum belajar (Pre Learning) X=0 Y=1 Z= 1 Perilaku/Pribadi se telah belajar (Post Learning) X = (X+1) = 1 Y = (Y+1) = 2 Z = (Z-1) = 0 Pengalaman. terjadinya perubahan perilaku diperoleh tidak secara tiba-tiba. Misalnya.

Seberapa kuat motivasi belajar yang dimil iki individu. Informasi verbal. Misalnya. maka sangat mungkin mahasiswa tersebu t akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi dalam mata kuliah Psikologi Pendi dikan Belajar juga merupakan bentuk pengalaman kehidupan melalui situasi nyata. misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda. Misalnya. yaitu keterampilan individu dala m melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol.-. aturan dan hukum. baik secara tertulis maupun tulisan. Kecakapan intelektual. Dalam konteks proses pembelaja ran. seorang mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidika n. dia memiliki motivasi yang sangat kuat untuk menjadi yang terbaik (the best) di kelasnya. Dengan tekun dan penuh kesungguhan dia mengikuti apa-apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya (Learning Experience). Selain itu. Begitu juga. merab a/menjamah.menggunakan tek nikteknik konseling tertentu-. c. mencicipi. dia memiliki komitmen yang kuat serta memiliki tujuantujuan yang ingin dicapainya secara jelas. strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfi kir agar . mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan ingin memp eroleh pengetahuan tentang “Keterampilan Pengelolaan Kelas”. Dia dapat mengamati langsung bagaimana guru mempraktekkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah-masala h yang muncul dalam pengelolaan kelas. 2003). b. dia dapat berhasil menghilangkan kebiasaan merokoknya (Po st Learning). memahami konsep konkrit. Strategi kognitif. defi nisi. dia juga memperoleh pengalama n bagaimana bekerjasama dengan temannya dan berkomunikasi dengan orang lain.konselor dia dilatih untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya. Akhirnya. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi p emecahan masalah. kecakapan individu untuk melakukan penge ndalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. dalam belajar individu juga memp eroleh berbagai pengalaman sosial melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya. individu memperoleh pengalaman langsung melalui pengalaman indraw i yang memungkinkan mereka memperoleh pengetahuan dari melihat. mis alnya: penggunaan simbol matematika. konsep abstrak. --khususnya motif berprestasi-. mendengar.dan seberapa kuat komitmen individ u terhadap tujuan belajarnya akan menentukan kualitas perubahan perilaku belajar nya. Termasuk dalam keterampilan intelektual ada lah kecakapan dalam membedakan (discrimination). Men urut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun. perubahan perilaku yang merupakan has il belajar dapat berbentuk : a. Dalam belajar. Selain itu. lalu dia bersamasama ka wan-kawannya melakukan observasi langsung ke kelas. Belajar terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong (motivasi) da n ada suatu tujuan yang ingin dicapai. dan sebagainya. yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal. dan mencium.

Sementara itu. (b) teor i belajar . e. keterampilan -keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tin ggi. Sikap adalah keada an dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam mengha dapi suatu obyek atau peristiwa. was-was dan sebaga inya. d.Namun dalam kesempatan ini hanya akan di kemukakan lima jenis teori belajar saja. yaitu: (a) teori behaviorisme. Moh. perasaan y ang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak. Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan ke yakinan. Keterampilan. beserta tingkatan aspek-aspeknya. afektif dan psikomotor. sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pem ikiran. Apresiasi (menghargai ka rya-karya bermutu). kecewa. yakni proses menerima. Kebiasaan. iala h hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fi sik. i. yakni berfikir dengan c ara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat. d. Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut. sehingga akhir nya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar. c. (lihat tentang taksonomi perilaku individu pa da Bab I) 2. Kecakapan motorik. f . gembira. dan memberi arti rangsan gan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mamp u mencapai pengertian yang benar. seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali men ghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru. Ber fikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar peng ertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why). Teori-Teori Pokok Belajar Jika menelaah literatur psikologi. g. Sedangkan menurut Bloom. b. yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. didalamnya terdapat unsur pemikiran. Dengan kata lain. Pengamatan. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran. senang. seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik. Berfikir asosiatif. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tamp ak dalam : a. e.terjadi aktivitas yang efektif. sedih. Sikap. benci. Inhibisi (menghindari hal yang mubazir). perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil bel ajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif. h. marah. kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. menafsirkan.

a. Jika refleks yang s udah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa men ghadirkan reinforcer. diantaran ya: a. Dengan kata lain.kognitif menurut Piaget. Law of Effect.Respons akan semakin kuat. J ika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer). maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike. .Respons. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah. minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. diantar anya : a. Peristi wa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. behaviorisme tidak mengakui ad anya kecerdasan. b. Law of Exe rcise. maka semakin lemah pula hubungan ya ng terjadi antara Stimulus. Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Teori Behaviorisme Sebagaimana telah dikemukakan pada Bab II bahwa behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku in dividu. semaki n tidak memuaskan efek yang dicapai respons. artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertam bah erat. jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tid ak dilatih. artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang m emuaskan. 2. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov Dari eksperimen yang d ilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar. b. dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. c. pendekatan behaviorisme ini . Law of Readiness. bakat. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari di antaranya : 1. dan (5) teor i belajar gestalt. (4) teori pemrosesan informasi dari Gagne. Sebaliknya. Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar. maka kekuatannya akan menurun. artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan sat uan pengantar (conduction unit). dan mengabaikan aspek – aspek mental. maka hubungan Stimulus .

metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method). melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Respons dalam operant conditio ning terjadi tanpa didahului oleh stimulus. bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyaji an contoh perilaku (modeling).F. melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebaga i hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Law of operant conditining yaitu jika timbuln ya perilaku diiringi dengan stimulus penguat. b. Melalui pemberian reward dan punishment. seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan. Social Learning menurut Albert Bandura Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat . maka kekuatan perilaku tersebut ak an meningkat. 4 . (3) concrete operational dan (4) for mal operational. maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. Operant Conditioning menurut B. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan huk um-hukum belajar. Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the tre shold method). Miller dan Dollard dengan teori pengu rangan dorongan. diantaranya : a. Teori Belajar Kognitif menurut Piaget Dalam bab sebelumnya t elah dikemukan tentang aspek aspek perkembangan kognitif menurut Piaget yaitu ta hap (1) sensory motor.F. seorang individu akan berfikir d an memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan. 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Skinner Dari eksperimen yang dilakukan B. Teori ini juga masih memandang pentingnya conditi oning. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan . b. Menurut Piaget.3. namun tidak sengaja di adakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning. Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks ot omatis atas stimulus (S-R Bond). bahwa belajar akan lebih berhasil apabila dises uaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Berbeda dengan penganut Behavi orisme lainnya. Reber (Muhibin Sya h. Prinsip dasar belajar menurut teori ini. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meni ngkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu. Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini. (2) pre operational.

Bahan yang harus dipelajari anak hend aknya dirasakan baru tetapi tidak asing. Di dalam kelas. Implikasi teori perkembangan kognitif P iaget dalam pembelajaran adalah : 1. 4. (7) perlakuan dan (8) umpan balik. Teori Pemrosesan I nformasi dari Robert Gagne Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelaj aran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. (2) pemahaman. untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Guru harus membantu anak agar dapat berinte raksi dengan lingkungan sebaik-baiknya. (4) penyimpanan. yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Perkembangan merup akan hasil kumulatif dari pembelajaran. 5. potongan. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapa i hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondi si eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. . 3. Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu.obyek fisik. (6) generalisasi. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya i nteraksi antara kondisikondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif. 2. yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapa t menghadapi lingkungan dengan baik. (5) i ngatan kembali. warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. (1) motivasi. maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang ses uai dengan cara berfikir anak. Bila figure dan latar bersifat samar-sama r. c. Teori Be lajar Gestalt Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti seb agai “bentuk atau konfigurasi”. ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu : 1. Berikan peluang agar anak belajar se suai tahap perkembangannya. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peri stiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda denga n orang dewasa. d. Menurut Koffka dan Kohler. anak-anak hendaknya diberi peluan g untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran t erjadi proses penerimaan informasi. (3) pemerolehan. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship).

Kesamaan (similarity). Misalnya. Arah bersama (common direction ). virgo. 6. Contoh lain. Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. gemini dan sebagainya adalah contoh dari pr insip ini. berjalan. Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt. Misal nya. akan tetapi mereaksi terhada p keseluruhan obyek atau peristiwa. sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang terten tu. Hal yang p enting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis d engan lingkungan behavioral. Berlari. 5. bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan di pandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki. Proses pengamat an merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsa ngan yang diterima. Perilaku “Molecul ar” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar. (lingkungan be havioral). bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenar nya ada. sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. seperti : sagitarius. padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hut an yang lebat (lingkungan geografis).2. bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertent u. adanya penamaan kumpulan bintang. Perilaku “Molar“ h endaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. Kedekatan (proxmity). 4. Pengalaman tilikan (insight). gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. mengikuti kuliah. Kesederhanaan (simpl icity). 3. Per ilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”. penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan su sunan simetris dan keteraturan. Dalam proses pembelajaran. Organisme tidak mereaksi terhadap rangs angan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa. hendaknya peserta didik memiliki . bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana. pisces. dan Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. 2. bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderun g akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. yaitu: 1. 3. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : 1. 4.

. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yan g dipelajari. Menurut pandangan Gestalt. Perilaku bertujuan (pusposive behavior). Orang tua memiliki keterbatasan dalam menjalankan fungsinya se bagai pendidik di rumah. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. bahwa perilaku te rarah pada tujuan. namun juga dilaksanakan di rumah m aupun masyarakat. sopan santun berhadapan deng an orang tua dan sebagainya. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generali sasi). Oleh karena itu. Proses pemb elajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dic apainya. 5. menyeterikan baju.2. seorang anak perempuan memiliki keterampilan bagaima na cara mencuci piring. guru hen daknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari m ateri yang diajarkannya. Transfe r dalam Belajar. materi yang diajarkan hendaknya memiliki ke terkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkunga n dimana ia berada. sementara tuntutan kehidupan yang harus dipenuhi indivi du semakin tinggi. Oleh karena itu. 3. biasanya lebih banyak diperoleh dari pengalaman bel ajarnya di rumah. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prins ip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. 3. Belajar tidak hanya berlangsung sekolah saja. Prinsip ruang h idup (life space). Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons . yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. transfer belajar terjadi de ngan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tert entu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susuna n yang tepat. Misalnya. memasak. tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu o byek atau peristiwa. khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Oleh karena itu. maka kegiatan belajar di sekolah dijadikan pilihan untuk meng embangkan perilaku dan pribadi individu dalam rangka memenuhi berbagai tuntutan kehidupan. 4. kebermakn aan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pem belajaran. Hal-hal ya ng dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. Pembelajaran.

yang m encakup : a. Secara garis besarnya. Pendekatan ini lebih berpusat kepada guru da n pada umumnya guru bertindak sebagai sumber informasi yang utama. Bentuk-bentuk kegiatan belajar yang dil akukan peserta didik di sekolah sangat ditentukan oleh pendekatan-pendekatan pem belajaran yang diberikan oleh guru. baik secar a formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (k epada sasaran didik. mengemukakan peran guru dalam proses pembelajaran peserta didik. . observasi dan sej enisnya. mera ngsang. d. Sedangkan dalam pengertia n pendidikan yang terbatas. Interaksi pendidikan seperti itu biasa disebut pembelajaran. c. seorang guru yang ideal seyogyanya dapat berperan seb agai : a. Pendekatan Heuristik yaitu yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya praktek. konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber n orma kedewasaan. termasuk discovery-inquiry. Pendekatan ini lebih menekankan kepada aktivitas siswa dan guru lebih b anyak berperan sebagai fasilitator. dengan bimbingan guru atau pendidik lainnya. transformator (pen terjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan p erilakunya. inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan. Kegiatan belajar di sekolah ditandai dengan adanya intera ksi antara atau pendidik dengan peserta didik. transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik. Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems). yang harus dapat menciptakan situasi. terdapat dua pendekat an pembelajaran. b.Berbeda dengan kegiatan belajar di rumah. b. di mana ia bertindak sebagai orang sumber (resource person). memimpin. kegiatan belajar yang berlangsung di s ekolah lebih bersifat formal. dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan re ncana. Pendekatan Ekspositorik adalah pendekatan yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya penyampaian informasi. atau peserta didik dengan peserta didik untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. term asuk metode ceramah dan sejenisnya. Guru seb agai pelaksana (organizer). 4. organisator (penyele nggara) terciptanya proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan. dalam proses interaksi dengan sasaran didik. e. menggerakkan. eksperimen. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan bahwa dalam pengerti an pendidikan secara luas. disengaja dan direncanakan. Peran dan Kompetensi Guru Efektivitas dan efisien belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada per an dan kompetensi guru. yaitu : a.. serta Tuhan yang menciptakannya). Abin Syamsuddin dengan mengutip pemikiran Gage dan B erliner. motivator dan pembimbing untuk kepentingan b elajar peserta didiknya. b.

yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat. b. Pengambil inisiatif. menganalisa. Di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented). Di lain pihak. pengelola pembelajaran. Wakil masyarakat di sekolah. penemu masyarakat (social inovator). artinya guru berperan s ebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan. baik mengenai aspek keefektifan pr osesnya maupun kualifikasi produknya. di mana guru dituntut untuk mampu mengidentifikas i peserta didik yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar. guru berperan sebagai pembina masyarakat (social develo per). dalam konteks proses belajar mengajar di Indonesia. penilai hasil pembelajaran pe serta didik. Pemimpin generasi muda. Seorang pak ar dalam bidangnya. seor ang guru berperan sebagai : a. dan agen masyarakat (social agent). e. dan g. Pekerja sosial (social worker). Penterjemah kepada masyarakat.konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik & humanistik (manusi awi) selama proses berlangsung (during teaching problems). artinya guru bertan ggung jawab untuk mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda y ang akan menjadi pewaris masa depan. yaitu guru bertanggung jawab agar pendidik an dapat berlangsung dengan baik. menafsirkan dan akhirnya ha rus memberikan pertimbangan (judgement). melakukan diagnos a. berdasarkan kriteria yang ditetapkan. prognosa. dan dar i sudut pandang psikologis. Seme ntara itu di masyarakat. Pelaksana administrasi pendidikan. L ebih jauh. dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivit as pengajaran dan administrasi pendidikan. c. b. guru berperan sebag ai perancang pembelajaran. Moh. c. diri pribadi (self oriented). dan penilai pendidikan. Dalam hubungannya dengan aktivitas pengajaran dan ad ministrasi pendidikan. guru berperan sebagai : a. Penegak di siplin. d. Guru sebagai penil ai (evaluator) yang harus mengumpulkan. yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknolo gi kepada masyarakat. Abin Syamsuddin menambahkan satu peran lagi yaitu sebagai pembimbing (teacher counsel). Surya (1997) mengemukakan tentang p eranan guru di sekolah. yaitu menguasai bahan yang harus diajarkannya. f. guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga (family educator). . Di sekolah. keluarga dan masyarakat. yaitu seorang yang harus senantiasa b elajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya. Sedangkan dalam keluarga. harus membantu pemecahan nya (remedial teaching). dan kalau masih dalam batas kewenangannya. yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik melaksanakan disiplin. Selanjutnya. pengarah pembelajaran dan pembimbing peserta didik. pengarah. atas tingkat keberhasilan proses pembel ajaran. Pelajar dan ilmuwan.

Untuk menghadapi . yaitu mampu mambentuk menciptakan kelo mpok dan aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan. peran dan tanggung jawab guru pada masa mendat ang akan semakin kompleks. d. Pemberi keselamatan bagi set iap peserta didik. Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker). ia akan terpuruk secara profesional. di siplin peserta didik di kelas. Pembentuk kelompok (group builder). Guru harus harus leb ih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. artinya guru bertanggung jawab bagi terciptanya kesehat an mental para peserta didik. d.c. dan lain-lain. artinya guru adalah model perilaku y ang harus dicontoh oleh mpara peserta didik. dan e. guru berperan sebagai : a. Doyle sebagaimana dikutip oleh S udarwan Danim (2002) mengemukan dua peran utama guru yaitu menciptakan keteratur an (establishing order) dan memfasilitasi proses belajar (facilitating learning) . yaitu guru merupakan orang yang yang mampu menciptakan suat u pembaharuan bagi membuat suatu hal yang baik. model keteladanan. Jika guru tida k memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat. orang tua maupun masyarakat. interak si peserta didik dengan guru. pengelolaan bahan belajar. Kalau hal ini terjadi. artinya guru merupakan seorang yang memahami psikologi p endidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. khususnya dengan para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pendidika n. prosedur dan sistem yang mendukung proses pembelajaran. pengelolaan sumber belajar. interaksi peserta didik dengan sesamanya. Paka r psikologi pendidikan. guru bukan satu-s atunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya. artinya gu ru adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar manus ia. c. Di masa depan. Dari sudut pandang secara psikologis. berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. b. ia akan kehilangan kepercaya an baik dari peserta didik. sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan ber bagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. Sejalan d engan tantangan kehidupan global. Catalyc agent atau inovator. Orang tua. dan e. seperti : tata letak tempat duduk. Sementara itu. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didika n gurunya. artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap pese rta didik di sekolah. a. jam masuk dan keluar untuk setiap sesi mata pelaja ran. Gu ru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well info rmed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh. berkembang. Yang dimaksud keteraturan di sini mencakup hal-hal yang terkait langsung atau tidak langsung dengan proses pembelajaran. seniman dalam hubungan antar manusia (artist in human relations). lingkungan belajar.

dengan dukungan hasil penelitian ya ng mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari ta hun ke tahun. disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan tekno logi yang sedang berlangsung. guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimil ikinya secara terus menerus. mengevaluasi kinerja s endiri. mantap. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat. Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyara kat untuk : 1. . dewasa. 5. perancangan pembelaj aran. 2. Disamping itu. berwibawa. 7. dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. arif dan bijaksana. guru perlu berfikir secara antisipatif dan p roaktif. c. berakhlak mulia. guru masa depan harus paham peneliti an guna mendukung terhadap efektivitas pengajaran yang dilaksanakannya. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. kompetensi. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan. 2. pengembangan kurikulum/silabus. sertifikasi dan r emunerasi guru. dalam Undang-Undang tersebut d ikemukakan empat jenis kompetensi yang harus dikuasai guru yaitu : a. 6. 5. 3. Untuk meningkatkan profesionalisme guru di Indones ia. pemaha man terhadap peserta didik. sehingga dengan dukungan hasil penelitiaan guru tidak terjebak pada praktek pengajaran y ang menurut asumsi mereka sudah efektif. 7. evaluasi hasil belaja r. 9. dan mengembangkan diri secara berkelanjutan. namum kenyataannya justru mematikan kre ativitas para peserta didiknya. berkomunikasi lisan dan tulisan. menggunakan teknologi komunik asi dan informasi secara fungsional. Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang : 1. 6. Begitu juga. 8.tantangan profesionalitas tersebut. Berkenaan dengan kompetensi guru. 3. yang di dalamnya mengatur berbagai hal yang berkaitan dengan profesi guru . diantaranya adalah berkenaan dengan kualifikasi. 4. 2. Artinya. b. pemerintah telah menetapkan Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang melipu ti: 1. stabil. 4.

Kompetensi k emasyarakatan. hubungan konsep antar mata pelajaran terk ait. c. 2. Kompetensi profesional. yaitu berbagai kemampuan yang diperlukan untuk dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional . dapat memilih dan menggunakan berbagai metode me ngajar di dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya. sesama pendidik. Kompetensi intelektual. struktur. sesama guru. Raka Joni sebagaimana dikutip oleh Suyanto da n Djihad Hisyam (2000) mengemukakan tiga jenis kompetensi yang seyogyanya dimili ki guru. konsep. Kompetensi personal. 3. orangtua/wali peserta didik. 4. seorang guru akan mampu menjadi seorang pemi mpin yang menjalankan peran : ing ngarso sung tulada. mengetengahka n lima jenis kompetensi guru. d. dan 4. ing madya mangun karsa. bergaul secara efektif dengan peserta didik. Kompetensi profesional meliputi as pek kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus di ajarkannya beserta metodenya. meliputi : Moh. Kompetensi per sonal ini mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri. bergaul secara santun dengan masyaraka t sekitar. Dengan jumlah yang berbeda namun esensinya sama. b. dan 5. Sementara itu. Da lam kompetensi sosial ini termasuk keterampilan interaksi sosial dan melaksanaka n tanggung jawab sosial. pener imaan diri. tu t wuri handayani. c. baik dengan peserta didik. yaitu kualitas kemampuan pribad i seorang guru yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. Kompetensi personal. Dengan demikian. memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani. yaitu : a. Kompetensi profesional. tenaga kependid ikan. b. memiliki pengetahuan yang luas dari bidang studi yang diajarkannya. d. rasa tanggung jawab akan tugasnya. dan rasa kebers amaan dengan sejawat guru lainnya. Surya (1997) a. penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari. Kompetensi sosial. . kom petisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai d an budaya nasional.3. yaitu kemampuan yang di perlukan oleh seorang guru agar berhasil dalam berhubungan dengan orang lain. dan perwujudan diri. mampu berkomunikasi. pengarahan diri. materi aja r yang ada dalam kurikulum sekolah. dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/ koheren dengan materi ajar. yai tu penguasaan berbagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan tugasnya sebagai guru. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembe lajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: 1. maup un masyarakat luas.

yaitu: a . Guru dapat menarik keuntungan dari berbagai sumber daya masyarakat. 3. Sebagai pembanding. Perlakuan guru terhadap seluruh peserta didik sec ara adil. c. Apresiasi guru tentang pemahaman materi mata pelajaran untuk dikreasik an. 2. 3. Guru memberi kan kontribusi terhadap efektivitas sekolah melalui kolaborasi dengan kalangan p rofesional lainnya. kemampuan untuk memberikan ganjaran (reward) atas keber hasilan peserta didik. Teachers Know the Subjects They Teach and How to Teach Those Subjects to Stud ents : 1. Menyusun proses pembelajaran dalam berbagai setting k elompok (group setting). 3. dan 4. Teachers are Committed to Students and Their Learning : 1. Kemampuan guru untuk menyampaikan materi pelajaran. 2.e. 2. di dalamnya terdiri dari lima proposisi utama. Menilai kemajuan peserta didik secara teratur. d. Kompetensi spiritual. National Board for Profesional Teaching Skill (NBPTS) merumuskan standar kompetensi bagi guru di Amerika. Penggunaan berbagai metode dalam pencapai an tujuan pembelajaran. Kesadaran akan tujuan utama pembelajaran. Guru bekerja sama dengan tua orang peserta didik. Guru meminta saran dari piha k lain dan melakukan berbagai riset tentang pendidikan untuk meningkatkan prakte k pembelajaran. Penghargaa n guru terhadap perbedaan individual peserta didik. dan Misi guru dalam memperluas cakrawala berfikir peserta didik. yang menjadi dasar b agi guru untuk mendapatkan sertifikasi guru. dengan rumusan What Teachers Should Know and Be Able to Do. . 3. Guru secara terus menerus menguji diri untuk memilih keputusan-keputusan terbaik. Mengembangkan usaha untuk memperoleh pengetahu an dengan berbagai cara (multiple path). Teachers are Responsible for Managin g and Monitoring Student Learning : 1. disusun dan dihubungkan dengan mata pelajaran lain. 4. Teachers are Members of Learning Communities: 1. Teachers Think Systematically About Their Practice and Learn from Experience : 1. e. Pemahaman guru tentang perke mbangan belajar peserta didik. b. yaitu kualitas keimanan dan ketaqwaan sebagai seorang y ang beragama. 2. 2.

Mamp u memberikan umpan balik yang positif terhadap respon peserta didik. Secara tulus menerima dan memperhatikan peserta didik. Kemampuan yang ter kait dengan pemberian umpan balik dan penguatan (reinforcement). Memiliki kemampuan secara rutin untuk mengahadapi peserta didik yang tidak memiliki perhatian. Memiliki kemampuan interpe rsonal. dan ketulusan. Mm eminimalkan friksi-friksi di kelas jika ada. pelaksanaan. d. Memiliki hubungan baik dengan peserta didik 3. Mampu menerapkan kurikulum dan metode men gajar secara inovatif. 3. 4. antara lain: 1. 2. 6. dan 8. 3. seperti: 1. yaitu : 1. evaluasi dan tindak lanj ut dalam suatu . Mampu memanfaatkan perencanaan kelompok guru untuk menciptakan metode pengajaran. Mampu membe rikan bantuan kepada peserta didik yang diperlukan. Melibatkan peserta didik dalam mengorganisasi kan dan merencanakan kegiatan pembelajaran. Mampu memperluas dan menambah pengetahuan metode-metod e pengajaran. yaitu mencakup : a. Pengelolaan pembelajaran l ebih menekankan pada kegiatan perencanaan. 7. b. 2. Mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban yang kurang memuaskan.Mengutip pemikiran Davis dan Margareth A. 2. Mampu mendengarkan peserta didik dan menghargai hak peserta didik untuk berbicara dalam setiap diskusi. 5. suka menyela. Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) memaparkan tentang beb erapa kemampuan guru yang mencerminkan guru yang efektif. Mampu me mberikan respon yang membantu kepada peserta didik yang lamban belajar. Pengelolaan kelas merupa kan hal yang berbeda dengan pengelolaan pembelajaran. Kemampuan yang terkait de ngan peningkatan diri. Menunjukkan minat dan enthusi as yang tinggi dalam mengajar. Thomas dalam bukunya Effective Schools and Effective Teachers. seperti : 1. mengalihkan pembicara an. Mampu menciptakan atmosfer untuk bekerja sama dan kohesivitas dalam kelompok. 2. penghargaan kepada peserta didik. 5. dan mampu memberikan transisi dalam mengajar. Ke mampuan yang terkait dengan iklim kelas. Pengelolaan Kelas Dalam uraian di atas telah disinggung bahwa salah satu keterampilan yang harus d imiliki guru adalah keterampilan dalam mengelola kelas. khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati. Mampu bertanya atau memberi kan tugas yang memerlukan tingkatan berfikir yang berbeda. 4. Kemampuan yang terkait dengan st rategi manajemen. c.

4. Dalam hal ini. Behavior . menerima dan menghargai peserta didik sebagai . Kelas kurang kohesif. helplessness (peragaan ketidakmampua n). congruence). Berangkat dari teori-teori belajar sebagaimana telah dikemukakan terdahu lu. penyelesaian tugas oleh peserta didik seca ra tepat waktu. karena alasan jenis kelamin. Kelas kurang mampu menyesuakan diri dengan keadaa n baru. Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disep akati sebelumnya. yaitu : a. pemberian ganjaran. Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakuka n melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). b. terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam pengelolaan kelas. sosio-emo sional yang baik. 4. 6. Rogers mengemukakan pentingnya sikap tu lus dari guru (realness.pembelajaran. Sema ngat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru. didalamnya mencakup pe ngaturan orang (peserta didik) dan fasilitas. dan sebagainya.Modification Approach (Behaviorism Apparoach) Asumsi yang m endasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu mer upakan hasil belajar. Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya unt uk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses be lajar (pembinaan rapport. 7. 5. 2. genuiness. “Membombong” anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok. Kelompo k cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap. penetapan norma kelompok yang produktif). Kelas mereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggot anya. suku. b. 3. Masalah Kelompok : 1. Terdapat dua macam masalah pengelo laan kelas. Masalah Individual : 1. Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan) Revenge seeking behavior s (pola perilaku menunjukkan balas dendam). tingkatan sosial eko nomi. 3. karena menganggap tugas yang diberikan kurang fair. Socio-Emotional C limate Approach (Humanistic Approach) Asumsi yang mendasari penggunaan pendekata n ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubung an interpersonal yang baik antara peserta didik .guru dan atau peserta didik – pe serta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim. penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas. Carl A. 2. y aitu : a. Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian).

(b) leadership. dan permanen Perubahan yang bersifat fungsional. Latihan : Soal : Pilihan Ganda 1. b ukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasaka n. serta membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik. (c) norm. trust) dan mengerti dari sudut pandangan p eserta didik sendiri (emphatic understanding). yaitu : (a) mutual expectations. Belajar sebagai usaha untuk memperoleh pengetahuan. dan membe ri kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat. Belajar merupakan kegiatan individu di sekolah u ntuk memperoleh pengetahuan 2. guru berusaha untuk membicarakan situasi. Schmuck menegemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendeka tan group proses. mengarahkan peserta didik agar committed terhadap rencana yang telah dibuat. b dan c benar . caring. a. menyusun rencana pemecahannya. menganalisis dan menilai masalah. h. c. prizing. Sementara itu. Sch muck & Patricia A. dari tidak tahu menjadi tahu. c. (d) cohesiveness D. Di bawah ini merupakan ciri-ciri perubahan perilaku dari kegiatan belajar : e . Belajar merupakan usaha individu memperoleh perubahan perilaku. Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Dem ocratic Classroom Process. G roup Process Approach Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bah wa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru a dalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. kontinyu. (c) attractio n (pola persahabatan).manusia (acceptance. g. dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik unt uk dapat memikul tanggung jawab. Richard A. f. bertujuan dan terarah. Hal senada dikemukakan William Glasser bahwa guru seyogyanya membantu mengara hkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi. serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaia n. memperlakukan peserta didik sebagai manusia yan g dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya. Di bawah ini merupakan hakekat belajar. (d) communication. Ginnot mengemuk akan bahwa dalam memecahkan masalah. Perubahan yang bersifat intensional. positif. memupuk keberanian menanggung akib at “kurang menyenangkan”. Perubahan yang bersif at aktif dan menyeluruh. Sedangkan Haim C. b. Belajar merupaka n usaha individu. d. kecuali : a.

Keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan m enggunakan simbol-simbol merupakan bentuk perubahan perilaku dalam : a. b. c. Jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. Behaviorisme Gestalt Kog nitif Pemrosesan Informasi 8. b. 7. Sebaliknya. c. Informasi verbal Kecakapan intelektual Strategi kognitif Sikap dan kecakapan mo torik 4. a. c. Law of Effect Law of Readiness Law of Exercise Law of Respondent C onditioning 5.3. Materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondi si lingkungan kehidupan peserta didik merupakan salah satu aplikasi dalam pembel ajaran yang dihasilkan dari teori belajar : a. Connectionism (S-R Bond) Classical Conditioning Social Learning Oper ant Conditioning 6. Dapat menciptakan situasi belajar. d. dan c benar. maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus. b. henda knya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkait an unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. Dalam proses pembelajaran. merangsang. a. c. b.Respons . d. Pentingnya reinforcement dalam pembentukan perilaku individu Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. b . d. dan me ngarahkan kegiatan belajar mengajar merupakan peran guru sebagai : a. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : a. adalah : a. Ekspositorik Heuristik Discovery Inquiry 9. menggerakkan. d. c. b. d. c. Pendekatan pembelajaran yang dianggap paling sesuai untuk pembentukan kompete nsi peserta didik. semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons. maka hubungan Stimulus Respons akan semakin kuat. a. memimpin. b. Teori belajar yang menganggap pentingnya imitation dan modelling dalam belaja r. b. d. Perenca na Pembelajaran Pelaksana Pembelajaran .

Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling. Kompetensi guru yang berhubungan dengan pemahaman perkembangan peserta didik . orientasi baru. c. proses konseling. 2. siswa yang sedang asy ik ngobrol dengan temannya. asas. Pokok Bahasan 1. Evaluator Pembelajaran Fasilitator Pembelajaran 10. Menganalis is kasus dan mengatasi masalah yang dihadapi peserta didik. 6. para siswa kurang kompak dan selalu berisik. 3. Apa yang dimaksud dengan pengelolaan kelas ? 2. Uraian 1 . prinsip. Bimb ingan terhadap Peserta Didik Bermasalah. Kegiatan Layanan dan Pend ukung Bimbingan dan Konseling. prosedur umum bimbingan dan konseling. . B. Jelaskan secara skematik tenta ng perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar !. jenis lay anan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. Sebagai guru.c. merencanakan. Mendefinisik an bimbingan dan konseling. apa yang akan dilakukan jika di kelas menemukan: a. a. Menerapkan teknik – teknik dalam konseling. Mengidentifikasi fungsi. b. 4. d. Proses dan Teknik Konseling. 5. Komp etensi akademik Kompetensi personal Kompetensi pedagogik Kompetensi sosial BAB V BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH A. Menjelaskan peran kepala sekolah dan guru mata pelajaran dalam Bimbingan dan Konseling. diharapkan Anda dapat : 1. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling. 4. 3. d. b. melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. 2. 3. Peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pela jaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. bimbingan terhadap peserta didik bermasal ah. 5.

Intisari Bacaan 1. Djumhur dan Moh. Dalam pelaksanaannya. giving instructi ons (memberikan petunjuk). kemampuan untuk menerima dir inya (self acceptance). manager. 1975) mengartikan bimbingan sebagai proses bantuan ter hadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan pen yesuaian diri secara maksimum di sekolah. Sedangkan menurut W. keluarga dan masyarakat. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling a. kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) . 1978) memberik an rumusan bimbingan sebagai kegiatan yang terorganisir untuk memberikan bantuan secara sistematis kepada peserta didik dalam membuat penyesuaian diri terhadap berbagai bentuk problema yang dihadapinya. bimbingan harus mengara hkan kegiatannya agar peserta didik mengetahui tentang diri pribadinya sebagai i ndividu maupun sebagai anggota masyarakat. Sertzer & Stone (1966) menemukakan bahwa guidance beras al kata guide yang mempunyai arti to direct. Hal ini tentu saja tidak sesuai lagi dengan arah perkembangan dewasa ini . (1975) berpendapat bahwa bimb ingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis ke pada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. pilot. leading (memimpin). regulating (mengatur). or steer (menunjukk an. 2004) mendefiniskan bimbingan sebagai : the process of helping the individual to understand himself and his world so that he can utili ze his potentialities. agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirinya (self understanding).S. kesehatan. Surya. mengatur. Untuk memahami lebih jauh tentang penger tian bimbingan. United States Office of Education (Arifin. atau mengemudikan). sosial dan pribadi. Surya. Djumhur dan Moh. misalnya problema kependidikan. (1970) mengemukakan : “gui dance is the help given by one person to another in making choice and adjusment and in solving problem. Winkel (198 1) mengemukakan bahwa guidance mempunyai hubungan dengan guiding : “ showing a way” (menunjukkan jalan). dimana pada saat ini klien lah yang justru dianggap lebih memiliki peranan pen ting dan aktif dalam proses pengambilan keputusan serta bertanggungjawab sepenuh nya terhadap keputusan yang diambilnya.al. jabat an.C. Pengertian Bimbing an dan Konseling Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang didalamnya te rkandung beberapa makna. I. conducting (menuntun). governing (mengarahkan) dan gi ving advice (memberikan nasehat). Peters dan Sh ertzer (Sofyan S. di bawah ini dikemukakan pendapat dari beberapa ahli : Miller (I . Penggunaan istilah bimbingan seperti dikemukak an di atas tampaknya proses bimbingan lebih menekankan kepada peranan pihak pemb imbing. Willis. menentukan. Jones et.

dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan pote nsi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan, baik ke luarga, sekolah dan masyarakat. Dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 ten tang Pendidikan Menengah dikemukakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diber ikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan, d an merencanakan masa depan”. Prayitno, dkk. (2003) mengemukakan bahwa bimbingan da n konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bimbingan pri badi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karier, melalui berbaga i jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku. Da ri beberapa pendapat di atas, tampaknya para ahli masih beragam dalam memberikan pengertian bimbingan, kendati demikian kita dapat melihat adanya benang merah, bahwa : Bimbingan merupakan upaya untuk memberikan bantuan kepada individu atau peserta didik.. Bantuan dimaksud adalah bantuan yang bersifat psikologis. Tercap ainya penyesuaian diri, perkembangan optimal dan kemandirian merupakan tujuan ya ng ingin dicapai dari bimbingan. Dari pendapat Prayitno, dkk. yang memberikan pe ngertian bimbingan disatukan dengan konseling merupakan pengertian formal dan me nggambarkan penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dal am sistem pendidikan nasional. Keberadaan layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang panjang, sejak kuran g lebih 40 tahun yang lalu. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali p ergantian istilah, semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 d an sebelumnya), kemudian pada Kurikulum 1994 dan Kurikulum 2004 berganti nama me njadi Bimbingan dan Konseling. Akhir-akhir ini para ahli mulai meluncurkan sebut an Profesi Konseling, meski secara formal istilah ini belum digunakan. Untuk kep entingan penulisan ini, penulis akan menggunakan istilah Bimbingan dan Konseling sesuai dengan istilah formal yang saat ini dipergunakan dalam sistem pendidikan nasional. b. Orientasi Baru Bimbingan dan Konseling Pada masa sebelumnya (atau mungkin masa sekarang pun, dalam prakteknya masih ditemukan) bahwa penyelenggara an Bimbingan dan Konseling cenderung bersifat klinis-therapeutis atau menggunaka n pendekatan kuratif, yakni hanya berupaya menangani para peserta didik yang ber masalah saja. Padahal kenyataan di sekolah

jumlah peserta didik yang bermasalah atau berperilaku menyimpang mungkin hanya s atu atau dua orang saja. Dari 100 orang peserta didik paling banyak 5 hingga 10 (5% - 10%). Selebihnya, peserta didik yang tidak memiliki masalah (90% -95%) ker apkali tidak tersentuh oleh layanan bimbingan dan konseling. Akibatnya, bimbinga n dan konseling memiliki citra buruk dan sering dipersepsi keliru oleh peserta d idik, guru bahkan kepala sekolah. Ada anggapan bimbingan dan konseling merupakan “polisi sekolah”, tempat menangkap, merazia, dan menghukum para peserta didik yang melakukan tindakan indisipliner. Anggapan lain yang keliru bahwa bimbingan dan k onseling sebagai “keranjang sampah” tempat untuk menampung semua masalah peserta did ik, seperti peserta didik yang bolos, terlambat SPP, berkelahi, bodoh, menentang guru dan sebagainya. Masalah-masalah kecil seperti itu dapat diantisipasi dan d iatasi oleh para guru mata pelajaran atau wali kelas dan tidak perlu diselesaika n oleh guru pembimbing. Mengingat keadaan seperti itu, kiranya perlu adanya orie ntasi baru bimbingan dan konseling yang bersifat pengembangan atau developmental dan pencegahan pendekatan preventif. . Sofyan. S. Willis (2004) mengemukakan ba ru bimbingan dan konseling, yaitu : landasan-landasan filosofis dari orientasi 1. Pedagogis; artinya menciptakan kondisi sekolah yang kondusif bagi perkembanga n peserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual diantara peserta didik . 2. Potensial, artinya setiap peserta didik adalah individu yang memiliki poten si untuk dikembangkan, sedangkan kelemahannya secara berangsur-angsur akan diata sinya sendiri. 3. Humanistik-religius, artinya pendekatan terhadap peserta didik haruslah manusiawi dengan landasan ketuhanan. peserta didik sebagai manusia dia nggap sanggup mengembangkan diri dan potensinya. 4. Profesional, yaitu proses bi mbingan dan konseling harus dilakukan secara profesional atas dasar filosofis, t eoritis, yang berpengetahuan dan berketerampilan berbagi teknik bimbingan dan ko nseling. Dengan adanya orientasi baru ini, bukan berarti upaya-upaya bimbingan d an konseling yang bersifat klinis ditiadakan, tetapi upaya pemberian layanan bim bingan dan konseling lebih dikedepankan dan diutamakan yang bersifat pengembanga n dan pencegahan. Dengan demikian, kehadiran bimbingan dan konseling di sekolah akan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh peserta didik, tidak hanya bagi pes erta didik yang bermasalah saja. c. Fungsi Bimbingan dan Konseling Dengan orient asi baru Bimbingan dan konseling terdapat beberapa fungsi yang hendak dipenuhi m elalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. yaitu:

1. Pemahaman; 2. 3. 4. 5. menghasilkan pemahaman pihak-pihak tertentu untuk pengembangan dan pemacahan mas alah peserta didik meliputi : (a) pemahaman diri dan kondisi peserta didik, oran g tua, guru pembimbing; (2) lingkungan peserta didik termasuk di dalamnya lingku ngan sekolah; dan keluarga peserta didik dan orang tua; lingkungan yang lebih lu as, informasi pendidikan, jabatan/pekerjaan, dan sosial budaya/terutama nilai-ni lai oleh peserta didik. Pencegahan; menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya p eserta didik dari berbagai permasalahan yang timbul dan menghambat proses perkem bangannya. Pengentasan; menghasilkan terentaskannya atau teratasinya berbagai pe rmasalahan yang dialami peserta didik. Advokasi; menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hakhak dan/atau kepentingan pendidikan. Pemeliharaan dan pengembangan; terpelihara dan terkembangkannya berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berke lanjutan. d. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling : Sejumlah prinsip mendasari gerak langk ah penyelenggaraan kegiatan bimbingan dan konseling. Prinsip-prinsip ini berkait an dengan tujuan, sasaran layanan, jenis layanan dan kegiatan pendukung, serta b erbagai aspek operasionalisasi pelayanan bimbingan dan konseling. Prinsip-prinsi p tersebut adalah : 1. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan; (a ) melayani semua individu tanpa memandang usia, jenis kelamin, suku, agama dan s tatus sosial; (b) memperhatikan tahapan perkembangan; (c) perhatian adanya perbe daan individu dalam layanan. 2. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan permasalah an yang dialami individu; (a) menyangkut pengaruh kondisi mental maupun fisik in dividu terhadap penyesuaian pengaruh lingkungan, baik di rumah, sekolah dan masy arakat sekitar, (b) timbulnya masalah pada individu oleh karena adanya kesenjang an sosial, ekonomi dan budaya. 3. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program pelayanan Bimbingan dan Konseling; (a) bimbingan dan konseling bagian integral d ari pendidikan dan pengembangan individu, sehingga program bimbingan dan konseli ng diselaraskan dengan program pendidikan dan pengembangan diri peserta didik; ( b) program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutu han peserta didik maupun lingkungan; (c) program bimbingan dan konseling disusun dengan mempertimbangkan adanya tahap perkembangan individu; (d) program pelayan an bimbingan dan konseling perlu diadakan penilaian hasil layanan.

Agar peserta didik (klien) mau terbuka. yaitu asas yang menghen daki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap t erbuka dan tidak berpura-pura. (c) permasalahan individu dilayani oleh tenaga ahli/pro fesional yang relevan dengan permasalahan individu. (b) pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya at as kemauan diri sendiri. e.4. Asas-Asas Bimbingan dan Konseling Penyelenggaraan layanan dan kegi atan pendukung bimbingan dan konseling selain dimuati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu. Asas. baik dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang bergu na bagi pengembangan dirinya. Guru Pembimbing (konselor) berkewajiban membina dan meng embangkan kesukarelaan seperti itu. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan. (a) diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimb ing diri sendiri. maka penyelenggaraan bimbingan dan konseling akan berjalan tersendat-sendat atau bahkan terhenti sama sekali. Dalam hal ini.asas bimbingan dan kon seling tersebut adalah : 1. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak laya k diketahui orang lain. dan (e) proses pelayanan bimbingan dan k onseling melibatkan individu yang telah memperoleh hasil pengukuran dan penilaia n layanan. (d) perlu adanya kerja sama dengan personil sekolah dan orang tua dan bila perlu dengan pihak lain yang berk ewenangan dengan permasalahan individu. juga dituntut untuk memenuhi sejumlah asas bimbi ngan. yaitu asas yang menghendaki adanya kesuka an dan kerelaan peserta didik (klien) mengikuti/ menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya. 3. Asas Kerahasiaan (confidential). Asas Kesukarelaan. Guru pembimbing (konselor) berkewajiban mengembang kan keterbukaan peserta didik (klien). Betapa pentingnya as as-asas bimbingan konseling ini sehingga dikatakan sebagai jiwa dan nafas dari s eluruh kehidupan layanan bimbingan dan konseling. Apabila asas-asas ini tidak di jalankan dengan baik. Pemenuhan asas-asas bimbingan itu akan memperlancar pelaksanaan dan lebih menjamin keberhasilan layanan/kegiatan. yaitu asas yang men untut dirahasiakannya segenap data dan keterangan peserta didik (klien) yang men jadi sasaran layanan. 2. serta mengurangi atau mengaburkan hasil layanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu sendiri. Asas Keterbukaan. g uru pembimbing (konselor) terlebih dahulu bersikap terbuka dan . guru pembimbing (konselor) berkewajiban m emelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar -benar terjamin. sedangkan pengingkarannya akan dapat men ghambat atau bahkan menggagalkan pelaksanaan.

Asas Kedinamisan. Dalam hal ini. Asas Kekinian. yaitu asas yang menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan ko nseling didasarkan pada norma-norma. Guru Pembimbing (konselor) perlu mendorong dan memotivasi peserta didik untuk dapat aktif dalam setiap layanan/kegiatan yang d iberikan kepadanya. 6. Profesionalitas guru pembimbing (konselor) harus terwujud baik . yaitu asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan keg iatan bimbingan dan konseling. mampu mengambil keputusan. yaitu peserta didik (klien) sebagai sasaran layan an/kegiatan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang ma ndiri. 5. Asas Kemandirian. menghayati dan men gamalkan norma-norma tersebut. kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi amat penting dan harus dilaksanakan sebaikbaiknya. Asas Kenormatifan . harmonis dan terpadukan. ilmu pengetahuan. yaitu asas yang menghenda ki agar obyek sasaran layanan bimbingan dan konseling yakni permasalahan yang di hadapi peserta didik/klien dalam kondisi sekarang. Asas Kegiatan. peraturan. Kondisi masa lampau dan masa depan dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan dengan apa yang ada dan di perbuat peserta didik (klien) pada saat sekarang. adat is tiadat.tidak berpura-pura. serta mewujudkan diri sendiri. 4. 7. Asas keterbukaan ini bertalian erat dengan asas kerahasiaan dan dan kekarelaan. Guru Pembimbing (konselo r) hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling bagi berk embangnya kemandirian peserta didik. Asas Keterpaduan. yaitu asas yang menghendaki ag ar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselnggarakan atas dasar kaidah -kaidah profesional. hukum. Dalam hal ini. melalui segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling ini harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (klien) dalam memahami. tidak monoton. yaitu asa s yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (peserta didik/klie n) hendaknya selalu bergerak maju. mengarahkan. para pelaksana layanan dan kegiatan bimbinga n dan konseling lainnya hendaknya tenaga yang benar-benar ahli dalam bimbingan d an konseling. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun p ihak lain. dan kebiasaan – kebiasaan yang berlaku. yaitu asas yang menghendaki agar peserta d idik (klien) yang menjadi sasaran layanan dapat berpartisipasi aktif di dalam pe nyelenggaraan/kegiatan bimbingan. yaitu asas yang menunjukkan pada tujuan umum bimbingan dan konseling. saling menunjang. baik norma agama. 10. Asas Keahlian. dengan ciri-ciri mengenal diri sendiri dan lingkungannya. Bahkan lebih jau h lagi. 8. dan terus berkembang serta ber kelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu . 9.

Kepala sekolah selaku penanggung ja wab seluruh penyelenggaraan pendidikan di sekolah memegang peranan strategis dal am mengembangkan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. b. tugas dan tanggung jawab kepala sekolah. c. sosial.dalam penyelenggaraaan jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling dan dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. dan bimbingan dan konseling merupakan suatu kesatu an yang terpadu. dan karier”. belajar. yaitu asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggaraka n layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalaha n peserta didik (klien) kiranya dapat mengalihtangankan kepada pihak yang lebih ahli. sebaliknya guru pembimbing (kons elor). secara tegas dikemukakan bahwa : “Sekolah berkew ajiban memberikan bimbingan dan konseling kepada siswa yang menyangkut tentang p ribadi. Demikian pula. Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan da n Konseling Dalam kurikulum 2004. guru-guru lain. atau ahli lain. 11. Guru pembimbing (konselor)dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. dan dinamis. maka setiap seko lah mutlak harus menyelenggarakan bimbingan dan konseling. Menyediakan prasarana. dapat mengalihtangankan kasus kepada pihak yang lebih kompeten. serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk maju. yaitu asas yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa aman). mengemba ngkan keteladanan. harmonis. Asas Tut Wuri Handa yani. Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan p elaksanaan program. Mengkoo rdinir segenap kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di sekolah. tidak lepas dari peranan berbagai pi hak di sekolah. 2. tenaga. dan be rbagai kemudahan bagi terlaksananya pelayanan bimbingan dan konseling yang efekt if dan efisien. Selain Guru Pembimbing atau Konselor sebagai pelaksana utama. pe nyelenggaraan Bimbingan dan konseling di sekolah. . Asas Alih Tangan Kasu s. sebagai berikut : a. latihan. juga perlu melibatkan kepala s ekolah . baik yang berada di dalam lembaga sekolah maupun di luar sekolah. dan memberikan rangsangan dan dorongan. peran. Secara garis besarn ya. penilaian dan upaya tidak lanjut pelayanan bimbingan dan kon seling. Dengan adanya kata “kewajiban”. sehingga p elayanan pengajaran. 12. Keberhasilan penyelen ggaraan bimbingan dan konseling di sekolah. Peranan Kepala Sekolah. guru mata pelajaran dan wali kelas.

khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya. b. serta pengumpu lan data tentang siswa-siswa tersebut. mendorong. Membantu Guru Pembimbing mengidentifi kasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling. d. e. Membantu mengembangkan suasana kelas. dan e. berpa rtisipasi aktif dalam kegiatan khusus bimbingan dan konseling. yaitu siswa yang menuntut Guru Pembimbing memerlu kan pelayanan pengajar /latihan khusus (seperti pengajaran/ latihan perbaikan. hubungan guru-siswa dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan k onseling. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan la yanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani layanan/kegiat an yang dimaksudkan itu. membantu Guru Mata Pelajaran melaksanakan peranannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling. mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan ko nseling kepada Guru Pembimbing. c. Sedangkan. dan dukungan dalam kegiatan kepengawasan yang dilakukan oleh Pengawas S ekolah Bidang BK. Membantu memasyarakatkan pelayan an bimbingan dan konseling kepada siswa b. Menerima siswa ali h tangan dari Guru Pembimbing. Willis (2005) mengemukakan bahwa gur u-guru mata pelajaran dalam melakukan pendekatan kepada siswa harus manusiawi-re ligius. seperti konferens i kasus. membantu memberikan kesempatan d an kemudahan bagi siswa. Menyediakan fasilitas. Membantu pengumpulan informasi yang dipe rlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tind ak lanjutnya. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling Di sekol ah kepada Dinas Pendidikan yang menjadi atasannya. g. h.d. peran. tugas dan tanggung jawab guru-guru mata pela jaran dalam bimbingan dan konseling adalah : a. jujur dan asli. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masa lah siswa. membantu Guru Pembimbing melaksanakan tugas-tug asnya. khusu snya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. kes empatan. khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. Sebagai pengelola kelas tertentu dalam pelayanan bimbingan dan kon seling. p rogram pengayaan). konkret. ramah. . Sofyan S. seperti konferensi kasus. Berkenaan peran guru mata pelajaran dan wali kel as dalam bimbingan dan konseling. bersahabat. untuk mengikuti/menjalani layanan dan/atau kegiatan bimbingan dan konseling. Wali Kelas berperan : a. memahami dan meng hargai tanpa syarat. Mengalihtangankan siswa yang memerluka n pelayanan bimbingan dan konseling kepada Guru Pembimbing d. e. f. c.

Untuk lebih jelasnya. a. Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling Kegiatan layanan merup akan kegiatan dalam rangka memenuhi fungsi-fungsi bimbingan dan konseling. pendidikan lanjutan). kegiatan ko/ekstra kurikuler. Layanan Penempatan dan Penyaluran. dalam bidang pribadi. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. m agang. di bawah ini akan diuraikan tujuh jenis layanan dan lima k egiatan pendukung bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam pendidi kan nasional. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru i tu. karier. 2. Layanan Pembelajaran. yang ber fungsi untuk pencegahan dan pemahaman. Namun. Namun sangat mungkin k e depannya akan semakin berkembang. Para ahli bimbingan di Indonesia saat ini sudah mulai meluncurkan dua je nis layanan baru yaitu layanan konsultasi dan layanan mediasi. Layanan pe mbelajaran berfungsi untuk pengembangan. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. 3. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai materi belaj ar atau penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya.3. m erupakan layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyal uran di dalam kelas. Layanan Orientasi. Layanan Informasi. Layanan orientasi merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memahami ling kungan baru. Kegiatan Layanan Bimbingan dan Konseling 1. dengan tujuan agar pes erta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. Sedan gkan kegiatan pendukung merupakan kegiatan untuk menopang terhadap keberhasilan layanan yang diberikan. kedua jeni s layanan ini belum dijadikan sebagai kebijakan formal dalam sistem pendidikan. kelompok belajar. Tujuan layanan inf ormasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. sosial. Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional saat ini terdapat tujuh jenis layanan dan lima kegiatan pendukung. dengan tujuan agar peserta didik dapat meng embangkan segenap . sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awa l semester. belajar maupun karier berdasarka n informasi yang diperolehnya yang memadai. baik dalam jenis layanan maupun kegiatan pen dukung. Layanan informasi pun berfungsi untu k pencegahan dan pemahaman. merupakan layanan y ang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. pergaulan. program latihan. jurusan/program studi. 4.

sistem atik. dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristikn ya dan memahami karakteristik lingkungan. Himpunan Data. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Kegiatan Pendukung Bimbingan dan Konseling U ntuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukak an di atas. merupakan kegiatan u ntuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengem bangan peserta didik. Apl ikasi Instrumentasi Data. 5.bakat. tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainn ya. Tujuan layanan kons eling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihad apinya. 2. kiranya perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung Dalam hal ini . Layanan Konseling Kelompok. 6 . komprehensif. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. merupakan layanan yang memungkinan sejumlah pesert a didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan memba has pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan ke mampuan sosial. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan. Layanan Bimbingan Kelompok. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembang an kemampuan sosial. merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keteran gan tentang peserta didik. Layanan Konseling Perorangan. baik tes maupun non tes. terdapat lima jenis kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu me lalui dinamika kelompok. yaitu : 1. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan perm asalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengenta skan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. b. yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen. . minat dan segenap potensi lainnya. terpadu dan sifatnya tertutup. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman da n Pengembangan 7. Layanan Penempatan dan Penyaluran berf ungsi untuk pengembangan. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan da n pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok.

Identifikasi kasus. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih ko mpeten. Kunjungan Rumah. 4. seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan. . Call them approach. dokter serta ahli lainnya. prosedur bimbingan dan konseling dapat ditempuh melalui prosedur seperti tampak dalam bagan beriku t : Datang Sendiri/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari In formasi yang Ada/Dicari Identifikasi Kasus Identifikasi Masalah Diagnosis Prognosis Remedial/Referal Eva luasi/Follow Up a.3. merupakan upaya untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kun jungan rumah klien. Tujuan konferensi kasus adala h untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan kli en. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makm un (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi p eserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling. kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. ke mudahan. merupakan kegiatan untuk memperoleh data. Konferensi Kasus. 5. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling Secara umum. 4. merupakan kegiata n untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalaha n yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebi h kompeten. keterangan. Alih Tangan Kasus. dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarg a untuk mengentaskan permasalahan klien. Pertemua n konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didi k dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan ket erangan. yakni : 1. melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik sec ara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling.

W. 4. nilai dan moral. (8) hubungan muda-mudi. (3) hubungan sosial. Developing a desire for counseling. 3. emosi. menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta did ik akan masalah yang dihadapinya. tes bakat. dan atau (4) personality. (3) behavioral . (6) pendidikan dan pelajaran. (9) keadaan dan hubungan keluarga. Instrumen ini sangat membant u untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar peserta didik. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pad a hubungan kegiatan belajar mengajar saja. (4) ekonomi d an keuangan. dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kega galan belajar yang dihadapi peserta didik. (2) struktural – fungsional. c. langkah ini merupakan upaya untuk memaha mi jenis. Diagnosis. Maintain good relationship. b isa dilihat dari segi input. permasalahan peserta didik dapat berkenaan de ngan aspek : (1) substansial – material. (2) diri pribadi. Prognosis. dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupay akan berbagai tindak lanjutnya. Identifikasi Masalah. seperti : kondisi jasmani dan kesehatan. Prayit no dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik. misalnya melalui kegiatan ekstra kuri kuler. rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. dan (2) faktor eksternal. Melakukan analisis terhadap hasil belajar pes erta didik. seperti : lingkungan rumah. kepribadian. menciptakan hubungan yang baik. langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahan nya. Melakukan analisis sosiometris. de ngan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan peny esuaian sosial b. Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan . ataupun out put belajarnya. dan (10) waktu senggang. faktor yang b esumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri. (5) karier dan pekerjaan. bakat. yaitu : (1) faktor internal.H. penuh keakraban s ehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik . Untuk mengidentifikasi masalah peserta didik. (7) agama. 5. Burton mem bagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan pese rta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes. karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). proses. seperti tes inteligens i. lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. d. seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan. kecerdasan.2. sikap serta kondisi-kondisi p sikis lainnya. Dala m konteks Proses Belajar Mengajar.

cara manapun yang ditempuh. untuk melihat seberapa penga ruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. Evaluas i dan Follow Up. 2. dan 3. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling. 7. jika j enis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembel ajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pem bimbing. Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus). Peserta didik telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perba ikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya.kasus yang dihadapi.menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Pese rta didik telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. . 2. Peserta didik telah menurun keteg angan emosinya (emotion stress release). Perasaan positif sebagai dampak dari p roses dan materi yang dibawakan melalui layanan. jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbi ng sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten. Pese rta didik telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan ma salahnya secara obyektif (self acceptance). pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimb ing itu sendiri. Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu : 1. Proses mengambil keput usan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus. Peserta didik telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. de ngan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani k asus . Sementara itu. Peserta didik telah menurun penentan gan terhadap lingkungannya 6. mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan r asional. Rencana kegiatan yang ak an dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewu judkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. evaluasi atas usaha pemecahan masal ah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut. Namun. 3. e. yaitu apabila: 1. 5. 4. f. Ro binson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari k eberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan. Peserta didik mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan. sesuai dengan dasar pertimbang an dan keputusan yang telah diambilnya. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas.

percobaan b unuh diri. melakukan gangguan sosial dan asusila. bertengkar. kecand uan alkohol dan narkotika. mencuri kelas sedang. seperti : membolos. Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah Bimbingan terhadap peserta didik bermasalah tetap menjadi perhatian bimbingan dan konseling. peserta didik hamil. dengan berkonsultasi dengan kepala seko lah. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kas us. memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebi h dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan . ahli/profesional. Kasus sedang di bimbing oleh guru pembimbing (konselor). poli si. berkelahi dengan teman sekolah. kes ulitan belajar. karena gangguan di keluarga. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah b erserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. polisi. malas. b. Dapat pula mengadakan konfer ensi kasus. dengan perbuatan menyimpang. pelaku kriminalitas. berpacaran. guru dan sebagainya. berpacaran. Masalah (kasus) berat. Masalah (kasus) ringan. c. Kasus ringan dibimbing oleh wali kel as dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing ) dan mengadakan kunjungan rumah.5. Dalam prakteknya. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. dokter. namun perlu diingat bahwa tidak semua masalah peserta didik harus ditangani oleh Guru Pembimbing (ko nselor). seperti : gangguan emosional berat. mencuri kelas ringan. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik . Karena layanan yang sa tu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. kesulitan belajar pada bid ang tertentu. Sofyan S. Kasus berat dilaku kan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. berkelahi antar sekolah. seperti : gangguan emosional. minum minuman keras ta hap awal. Masalah (kasus) sedang. Oleh karena itu. tampaknya untuk lay anan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. minum minuman keras tahap pertengah an. sebagaimana dalam bagan berikut : Ringan Masalah peserta didik Sedang Berat Semua Guru/Wali Kelas Guru Pembimbing Alih Tangan Kasus a. Proses Konseling dan Teknik-Teknik Konseling Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. 6. Dalam hal ini. perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api.

Kunci keberhasilan m embangun hubungan terletak pada terpenuhinya asasasas bimbingan dan konseling. 1. yaitu berapa la ma waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan.konseling. berisi : 1. d. dan kegiatan. maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. Proses Konseli ng Secara umum. Menjelajahi dan mengeksp lorasi masalah klien lebih dalam. Kontrak kerja sama dalam proses konseling. c. t erutama asas kerahasiaan. diantaranya : a. Menegosiasikan kontrak Membangun per janjian antara konselor dengan klien. 2. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. 2 . Pada tahap ini terda pat beberapa hal yang harus dilakukan. diantaranya : a. Memperjela s dan mendefinisikan masalah. Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masa lah klien. a. Kontrak waktu. kesukarelaan. b. keterbukaan. proses konseli ng selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. dan menentukan berbagai alterna tif yang sesuai bagi antisipasi masalah. Taha p Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama a ntara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. . dan (3) tahap akh ir (tahap perubahan dan tindakan). Kontrak tugas. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). 3. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pen gentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. Membuat penaksiran dan perjajagan Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. (2) tahap inti (tahap kerja). yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. Me mbangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport).

b. Pemahaman baru dari klien t entang masalah yang dihadapinya. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. b. Teknik-Teknik Konseling Dalam konseling perorangan terdapat dua jenis teknik yang biasa dilakukan. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. 2. Menyusun rencana tindakan yang a kan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. Menurunnya kecemasan klien Perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. c. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian sege ra). Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konse ling. Teknik U mum Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapantah apan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh kon selor. sehat dan dinamis. 1.Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. serta menampakan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik kons eling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. Untuk lebih jelasnya. c. d. d. a. di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. yaitu . bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadap i klien. 3. Tahap Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terd apat beberapa hal yang perlu dilakukan. Adanya rencana hidup masa yang akan datang deng an program yang jelas. Konselor bersama klien membua t kesimpulan mengenai hasil proses konseling b. yaitu : (1) teknik umum dan (2) teknik khusus. diantaranya : . baik oleh pihak konselor maupun klien. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. Hal ini bisa terj adi jika : 1. Konselor melakukan reassessment (p enilaian kembali). yaitu : a. b. c.

menunggu ucapan klien hingga selesai. 4. 5. berbicara terus tan pa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. jarak antara konselor dengan klien agak dekat. perhatian terarah pada lawan bicara. Empati Empati ialah kemamp uan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien. 5. Contoh perilaku attending yang tidak baik : 1. yaitu bentuk empati yang hanya berusah a memahami perasaan. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. duduk kurang akrab dan berpaling. dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka. Contoh ungkapan empati primer : .a. Kepala : kaku 2. Per hatian : terpecah. Empati primer. Meningkatkan harga diri klien. duduk akrab berhadapan atau berdamping an. menggunakan tangan sebagai isyarat. mudah buyar oleh gangguan luar. yaitu : a. Posisi tubuh : tegak kaku. Kepala : melakukan anggukan jika setuju 2. 4. senyum 3. dan bahasa lisan. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. Muka : kaku. diam (menanti saat kesempatan bereaksi). mata melotot. Menciptakan suasa na yang aman 3. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. 3. bersandar. Mendengar kan : aktif penuh perhatian. miring. ceria. Empati dilakukan sejalan dengan per ilaku attending. jarak duduk dengan klien menjauh. Perilaku at tending yang baik dapat : 1. 2. Memutuskan pembicaraan. Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. merasa dan berfikir bersa ma klien dan bukan untuk atau tentang klien. Terdapat du a macam empati. tidak melihat saat klien sedang bicara. b. pikiran dan keinginan klien. ekspresi melamun. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. mengalihkan pandangan. bahasa tubuh. Ekspresi w ajah : tenang. Contoh perilak u attending yang baik : 1.

. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentan g perasaan. pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih m endalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut... Keiku tan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam. berupa perasaan.” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”.. yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebag ai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan. Refleksi pikiran. pikiran. dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku v erbal dan non verbalnya. Empati tingkat tinggi. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : ”Saya dapat merasakan apa yang Anda ras akan. b. dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”. pengalaman termasuk penderitaanny a.. Contoh : ” Tamp aknya yang Anda katakan adalah .. Terdapat tiga jenis refleksi..” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah.. yaitu : 1. .” 2.” ” Hal itu rupanya sep erti . . pikiran. c.” 3.(kiasan)” ” Adakah yang Anda maksudkan. yaitu empati apabila kepaha man konselor terhadap perasaan.” ” Barangkali Anda merasa. yaitu teknik u ntuk memantulkan ide.. ” Sa ya mengerti keinginan Anda”. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”. yaitu teknik untuk memantulkan pengalamanpengalaman klien seba gai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terha dap perilaku verbal dan non verbal klien. Refleksi peras aan..” ” Adakah yang Anda maksudkan.. pikiran. Ref leksi pengalaman.....

Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu. Eksplorasi peras aan. Eksplorasi pi kiran.. Contoh : ” Sa ya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bek erja” ” Saya kira pendapat Anda mengenai hal itu baik. pikiran.... yaitu keterampilan atau teknik untuk me nggali pengalaman-pengalaman klien. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangka p Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien.” d. Contoh : ” B isakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan . yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. Dapatkah Anda menguraikannya lebih lanjut ? 3.. yaitu teknik untuk menggali ide.. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ?” 2.” ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam. dan pendapat klien. atau tidak m ampu mengemukakan pendapatnya. pikiran.” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah. yaitu : 1. Hal ini penting d ilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut.. dan pengalaman klien. Eksplorasi pengalaman. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan. Seperti halnya pada teknik re fleksi.. mengungkapkan kalim at yang mudah dan sederhana.. Contoh : ” Saya terkesan dengan pengalaman yan g Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut da n pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” e. menutup diri.” ” Adakah yang Anda maksudkan peristiwa. tertekan dan terancam. terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi. biasanya ditandai .

Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” ” Bagaimana perasaan Anda saat ini ?” ” Dapatkah Anda mengemukakan hal itu lebih lanju t ?” g. (3) mem beri arah wawancara konseling.” Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk meman cing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. adakah . bagaimana. yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-ka ta singkat. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tent ang apa yang dikemukakan klien. lebih baik gunakan kata tanya apakah. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. (2) m enjernihkan atau memperjelas sesuatu. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-s ebabnya. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus m enggunakan pertanyaan terbuka. dapatkah. : ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan .dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya. akan tetapi saya tidak mengambilnya. : ” Empat ” : ” Sekarang berapa ” Konselor Klien Konselor . Contoh dialog : Klien Konselor f. Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada kli en bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan kli en. Oleh karenanya. : ” Itu suatu pe kerjaan yang baik. Pertanyaan yang d iajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” : ” Tampaknya Anda masih ragu. dan (3) menghentikan pembicaraan klien yan g melantur atau menyimpang jauh. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan perta nyaan tertutup. pengalaman dan pemikiranny a dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). Pertan yaan semacam ini akan menyulitkan klien. dan mengamati respons klien terhada p konselor. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatk an prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”.

Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemuk akan klien. perasaan dan pengalaman klien dengan meru juk pada teori-teori.. dan saya nyaris.dan. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melaku kan sesuatu..” Konselor Klien : ” nekad bunuh diri” : ” lalu.... karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya. Karena tantangan masa depan makin banyak. terus.. .. Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran... .. Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa.Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh.. Membantu orang tua memang harus... lalu. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhent i sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga. Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan.” Konselor i.” : ” Pendidikan t ingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara. Konselor j. dengan tujuan untuk me mberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dar i hasil rujukan baru tersebut.. n amun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalka n SMA”.Klien : ” Sebelas ” h.. bukan pandangan subyektif konselor.. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan me ngurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien. Terutama hi dup di kota besar seperti Anda.... ” (klien menghentika n pembicaraan) : ” ya. maka d ibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas... Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau me nghayalkan sesuatu. ya..

Saya tak dapat lagi menahan diri. Tapi bagaimana ya?” masalah : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. namun masih ada hambatan yang akan hadapi.” l. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan A nda segera menyelesaikan studi. Oleh karena itu. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntuta n dari perusahaan yang akan Anda masuki. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembi caraan. Tujuan menyimpulkan semen tara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan.Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab.” Konselor k.” : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya. (3) meningkatkan kualitas diskusi. konselor seyogyanya dap at membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . (4) mempertajam foku s pada wawancara konseling. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” m. klien akan mengungkapkan sejumla h permasalahan yang sedang dihadapinya. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alan gkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. Pada umumnya dalam wawancara konseling. kita sudah sampai pada dua hal: pertama. Misalnya den gan mengatakan : . (2) menyimpulkan kemajuan hasil pemb icaraan secara bertahap. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementar a pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan. Ak hirnya terjadi pertengkaran sengit. baga imana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda. C ontoh dialog : Klien Konselor :” Saya mungkin berfikir juga tentang hubungan denga n pacar. kedua.

atau kontradiksi dalam dirinya. (2) meningkatkan potensi klien. (suara rendah. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? P ikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. dan sebagainya. (3) membawa klien ke pada kesadaran adanya diskrepansi. 4. posisi tubuh gelisah). Co ntoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri o leh kaum wanita.(2) tidak menilai apalagi menyalahkan. Ada beberapa yang dapat dilakukan. Konfrontasi Yaitu t eknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan d engan perbuatan atau bahasa badan. senyum dengan kepedihan.” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan A nda dengan orang tua yang kurang harmonis ”. Fokus pada topik. Peng gunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. telah membuat kamu menderita. (3) dilakukan dengan perilaku att ending dan empati. Co ntoh : ” Roni. Fokus pada orang lain. Contoh : ” Tanti. ide awal dengan ide berikutnya. ” Tampaknya Anda berjuang sendirian” 2. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan pe nelitian diri secara jujur. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. Fokus pada diri klien. Contoh dialog : Klien : ” Saya baik-baik saja”. yaitu dengan : (1) membe ri komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yan g tepat. di antaranya : 1.” n. wa jah murung.” . Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. konflik. Fokus mengenai budaya.

... Tujuannya adalah : (1) mengu ndang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas...... mengulang da n mengilustrasikan perasaannya. pikiran....harus bagaimana.. paling lama 5 – 10 detik. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir. (2) sev agai protes jika klien ngomong berbelit-belit. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pem impin di rumah itu.. Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya.. ungkapan kata-kata yang tega s. Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien de ngan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan. :”..... Mengambil Inisiatif . Saya. tapi kelihatannya ada yang tidak beres” ”Saya melih at ada perbedaan antara kenyataan diri ”. dan penga lamannya secara bebas Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya.. tidak tahu.” q. ucapan dengan o. Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi d i keluarga saya membuat saya bingung. (2) agar klien menjelaskan. Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” :”.. ibu...” (diam) Konselor r.” Konselor p. Diam Teknik diam dilakukan deng an cara attending... (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara.... dan dengan alasan-alasan yang logis. komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal. kurang jelas dan agak meragukan.” (diam) Konselor Klien :” Saya.Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja.. atau saudara-saudara Anda....” : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah.

dan kurang parisipatif. sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. Kalau pu n konselor mengetahuinya. dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya . Coba Anda renungkan kembali”. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir ses i konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action). Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling y akni kemandirian klien harus tetap tercapai. u. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia. Contoh: ” Baiklah.upi. Contoh : ” Nah. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam me nuntaskan diskusi. saya pikir Anda mempunyai s atu keputusan namun masih belum keluar. Memberi N asehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kur ang semangat. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat. s.com di internet”. Contoh respons konselor terhadap pe rmintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab. terutama mengenai kecemasan. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan. (2) memantapkan rencana klien. saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www.” t. p erbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan. (3) pemahaman baru . Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembic araan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini. Walaupun dem ikian. konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nase hat atau tidak. sering d iam. apakah tidak lebih b aik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” v.Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara.

dalam hal-hal te rtentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan. kesulitan menyata kan tidak. 2. Ration al Emotive Theraphy. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengaj arkan klien untuk rileks. di samping menggunakan teknik-teknik umum. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikeh endaki dapat dihilangkan secara bertahap. Stimulus yang tidak menyenangkan yan g disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang t idak dikehendaki kemunculannya. dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutny a. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Teknik-teknik khusus ini dikemban gkan dari berbagai pendekatan konseling.klien. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. Teknik-Teknik Khu sus Dalam konseling. dan ia menyertakan respon yang b erlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Jadi desensitisasi sistematis hakekatn ya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperku at secara negatif biasanya merupakan kecemasan. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilak u baru pada klien. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Dalam hal ini k onselor . Diskusi-diskusi kelomp ok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. seperti pendekatan Behaviorisme. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya a dalah layak atau benar. Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling. d. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. c. b. yaitu : a. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang d iperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku y ang akan dihilangkan. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disen anginya dengan kebalikan stimulus tersebut.

Dalam teknik ini konselor memint a klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pern yataan itu dengan kalimat : “. 2. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampakny a mekanis. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu a pa yang harus saya katakan sekarang. dapat menggunakan model audio. Permainan Dial og Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kec enderungan yang saling bertentangan. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh.dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. misalnya : 1. g. 3. Kecend erungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”. model fisik. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien ak an perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. “Saya malas. dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahu an itu”. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari k onselor. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan u ntuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada me mproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. Melalui dialog yang kontradiktif ini. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. 5.. Kecenderungan orang tua lawan kecenderun gan anak.menunjukkan kepada klien tentang perilaku model. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya kl ien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resik o. e. Kecenderungan otonom lawan kecende rungan tergantung. f. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderung an under dog. 4. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “ku rsi kosong”.. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. Bermain Proyeksi P royeksi : . Misalnya : “Saya merasa jenuh.

Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakuta n atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk men yelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu . perasaan-perasaan yang dipantulkan k epada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perila ku yang diharapkan. Home work assigments. membiasaka n diri. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang le bih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Sering terjadi. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klie n yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sa ngat ingin menghindarinya.Memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau m elihat atau menerimanya Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memant ulkannya kepada orang lain. Dalam teknik bermain proyek si konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang di proyeksikan kepada orang lain. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku t ertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mend asarinya. h. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenang kan. Dengan tugas rumah yang diberikan. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah a spek-aspek . j. klien diharapkan dapat me ngurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional da n tidak logis. Misalnya : konselor member i kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu ya ng berlebihan. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang ber kebalikan dengan perasaanperasaan yang dikeluhkannya. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. T eknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. i.

pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. kepercayaan pad a diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas ya ng diberikan. mendorong. keluarga dan masyarakat. Bimbingan dan konseling merupakan layanan bantuan untuk peserta didik. dan bimbingan karier . m engenal lingkungan. Teknik ini dimaksu dkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. c.kognisinya yang keliru. . baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal. Bimbingan dan konseling merupak an bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi. b. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian r upa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui pera n tertentu. kecuali : a. bimbingan belajar. d. da lam bimbingan pribadi. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus meny esuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. Latihan : Soal : 1. k. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tert entu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif . Di bawah ini merupakan pengertian bimbingan dan konseling. m. bimbingan sosial. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. l. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. dan merencanakan masa depan. Bimbingan dan konseling meru pakan upaya untuk membantu mengatasi masalahmasalah yang dihadapi peserta didik. Bimbi ngan dan konseling merupakan proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah. D. Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih.

kedinamisan. c. d. b. 6. b. b. c. 4. suku. Layanan bimbingan dan konseling yang memiliki fungsi pemahaman dan pencegahan . keterbukaan. sukarela. agama dan status sosial. c. c. Orientasi Informasi Konseling Perorangan Pembelajaran 7. kemandirian. je nis kelamin. b. Oleh karena itu. berdasarkan norma-norma y ang berlaku. d. Pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas kemauan diri sen diri b. dan c benar 8. Petugas bimbingan yang profesional Data yang lengkap dan memadai Bekerja sama d engan kalangan profesional lainnya a. b. a. 2. setiap l ayanan yang diberikan kepada peserta didik hendaknya didukung oleh : a. c. Jenis layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tat ap muka untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan diriny a. Prinsip bimbingan dan konseling berkenaan dengan sasaran layanan a. Tujuan dilaksanakan kegiatan konferensi kasus. tut wuri handay ani a. Mencari cara yang terbaik g una menyelamatkan kepentingan dan nama baik klien maupun sekolah. b. Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang usia. d. Memperoleh keterangan yang lebih lengkap tentang klien dan membangun komitmen dari para pes erta konferensi dalam rangka pengentasan masalah klien. kek inian. Bimbingan dan konseling diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri. Pemahaman dan pencegahan Pengembangan Advokasi Pengentasan 3. d. b.melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. Program bimbingan dan konseling h arus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan. c. . d. alih tangan kasus. kerahasiaan. a. Di bawah ini merupakan beberapa asas yang harus dipenuhi dalam layanan bimbingan dan konseling. a. d. a. keahlian kegiatan. dan c benar Orientasi dan Informasi Konseling Perorangan dan Konseling Kelompok Pembelajaran dan Bimbingan Kelompok Penempatan 5. b. keterpaduan kenormatifan. Bimbingan dan konseling merupakan pekerjaan ilmiah. a. Fungsi bimbingan dan konseling yang menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hak-hak dan/atau kepentingan pendidikan.

c. 14. Teknik konseling dengan menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. ”Anda mengatakan baik-baik saja. kecuali a. Upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timb ulnya masalah peserta didik. dan c benar penegakan 9. berkelahi dengan teman. ”Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. d.c. c. b dan c ben ar 11. d. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. Kunjungan rumah Ko nferensi kasus Alih tangan kasus Aplikasi instrumentasi data 10. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ? ” d. Di bawah ini merupakan hal-hal yang perlu dilakukan pada tahap awal konselin g. b. Penanganan peserta didik yang menunjukkan permasalahan atau perilaku menyimp ang tingkat ringan. c. a. Permainan dialog . c. Contoh ungkapan pengg unaan teknik konfrontasi : a. Aversi Desensitisasi Latihan asertif Pembentukan Perilaku Model 15. c. karena s aya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanp erasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingg a klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. Identifikasi kasus Diagnosis Prognosis Treatment 12. b. Membuat penaksiran dan perjajagan 13. Membangun komitmen dari para peserta konferensi dalam rangka disiplin sekolah . Guru pembimbing/konselor Guru dan wali kelas Polisi a. Kegiatan pendukung yang dilakukan guru atau konselor. ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendala m. d. seperti bolos. ta pi kelihatannya ada yang tidak beres”. b. d. b.” b. a. apabila kasus yang dita ngani berada diluar kemampuan atau kewenangannya. Imitasi b. a. b. ”Saya dapat memahami pikiran Anda”. b. Menjelajahi dan mengeksplorasi mas alah klien lebih. a. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). c. a. dapat dilakukan oleh : a. d. d.

c. Bermain peran d. Home work assigments Uraian 1. Jelaskan orientasi baru bimbi ngan dan konseling ! 2. Jelaskan peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran da lam Bimbingan dan Konseling ! 3. Mengapa guru pembimbing (konselor) perlu menjag a kerahasiaan data klien ? 4. Analisis Kasus : Fulan seorang siswa kelas XI SMA Negeri 1 Nunjauh Disana. Ketika dia masih duduk di bangku kelas VIII SMP, dia te lah menjadi anak yatim dan semenjak itu dia hidup bersama dengan kakek-neneknya, dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Sementara itu, sang ibu sudah satu tahun ini pergi merantau ke Malaysia menjadi TKI di sana namun jarang memberi khabar apalagi memberi kiriman uang untuk anaknya. Berdasarkan catatan absensi yang ada di wali kelas, pada semester yang lalu dia sering tidak masuk sekolah, tanpa al asan yang jelas. Selama bulan Februari 2006, tercatat sudah tujuh hari dia tidak masuk kelas. Padahal ketika masih duduk di kelas X kehadirannya termasuk bagus. Berdasarkan informasi dari rekan sekelasnya, bahwa jika dia tidak masuk kelas, dia suka nongkrong di terminal. Bahkan Andi, kawan sekelasnya, pernah menyaksika n dia dalam keadaan teler di terminal dan sempat meminta paksa uang kepadanya. D alam buku Laporan Pendidikan semester yang lalu, prestasi belajarnya sungguh san gat tidak memuaskan, hampir terjadi pada semua mata pelajaran, kecuali untuk Mat a Pelajaran Kesenian, prestasinya malah jauh berada di atas kawan-kawannya. Keti ka dia masih duduk dibangku SD, dia pernah meraih predikat sebagai Siswa Berpres tasi seKecamatan Nunjauh Disana dan pernah menjadi Juara Pertama Lomba Nyanyi An akAnak se- Kabupaten Nun Jauh Disana. Melihat kondisi demikian, jika dibiarkan t entunya Fulan sangat beresiko tinggi untuk tidak naik kelas bahkan mungkin dikel uarkan dari sekolah. Tugas : Tuntaskan kasus tersebut di atas dengan memperhatik an dan menggunakan prinsipprinsip dan prosedur bimbingan dan konseling !

DAFTAR PUSTAKA Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Rem aja. Calvin S. Hall & Gardner Lidzey (editor A. Supratiknya). 2005. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Chaplin, J.P. (terj. Kartini Kartono ).2005. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : P.T. Raja Grafindo Persada. Depdiknas , 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkata n Tenaga Akdemik Dirjen Dikti --------- 2003. Pedoman Penyelenggaraaan Program P ercepatan Belajar SD, SMP dan SMA. Jakarta : Dirjen Dikdasmen. E. Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep,Karakteristik dan Implementasi.Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya. ---------. 2004. Implementasi Kurikulum 2004; Panduan Pe mbelajaran KBK. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya. Gendler, Margaret E..1992. Lea rning & Instruction; Theory Into Practice. Publishing. New York : McMillan H.M. Arifin. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta. PT Golden Tera yon Press. Hurlock, Elizabeth B. 1980. Developmental Phsychology. New Yuork : Mc Graw-Hill Book Company Moh. Surya. 1997. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung PPB - IKIP Bandung. Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : PT Raja Grafindo. Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendid ikan. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya. National Board for Professional Teaching Standards. 2002 . Five Core Propositions. NBPTS Home Page. <http://www.nbpts.or g/ standards/fivecore.html>. (Accessed, 31 Oct 2002). Prayitno, dkk. 2004. Pedom an Khusus Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdiknas. ----------, dkk. 2004. P anduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Rineka Cipta.

Sofyan S. Willis. 2004.Konseling Individual; Teori dan Praktek. Bandung : Alfabe ta Sudarwan Danim. 2002. Inovasi Pendidikan : Dalam Upaya Meningkatkan Profesion alisme Tenaga Kependidikan. Bandung : Pustaka Setia. Sugiharto.(2005. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Jakarta : PPPG Sumadi Suryabrata. 1984. Psikologi Ke pribadian. Jakarta : Rajawali. Sunaryo Kartadinata.2003. Inventori Tugas Perkemb angan. Bandung : Lab. PPB-UPI Bandung Suyanto dan Djihad Hisyam. 2000. Refleksi dan Reformasi Pendidikan Indonesia Memasuki Millenium III. Yogyakarta : Adi Cita . Syamsu Yusuf LN. 2003. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.. Bandung : PT R osda Karya Remaja. www.puskur.go.id.