P. 1
54581108-Psikologi-Pendidikan

54581108-Psikologi-Pendidikan

|Views: 625|Likes:
Published by f4hr13

More info:

Published by: f4hr13 on May 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/03/2013

pdf

text

original

POKOK – POKOK MATERI PERKULIAHAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Arwin Zoelfatas BAB I PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN PERILAKU A. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini, diharapkan Anda dapat : 1. Mendefinisik an psikologi dan psikologi pendidikan 2. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan in dividu, indikator-indikator motivasi, bentukbentuk konflik, bentuk-bentuk perila ku salah-suai dan taksonomi perilaku individu. 3. Menjelaskan psikologi pendidik an sebagai ilmu, arti penting psikologi pendidikan bagi guru, peranan dan pengar uh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku individu. 4. Mengurai kan mekanisme pembentukan perilaku menurut pandangan behaviorisme dan holistik. B. Pokok Bahasan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan. 2. Perilaku Individu. 3. Ta ksonomi Perilaku Individu. 4. Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan Perilaku da n Pribadi Individu. C. Intisari Bacaan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup , dan “logos” atau ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut seolah-olah psikologi merup akan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu pada s alah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat ji ka kita mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tenta ng jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diam ati secara langsung. Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mung kin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dala m bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demik ian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tenta ng perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Psikologi terbagi ke dalam dua bagian yaitu psikologi umum (general phsychology) yang mengkaji per ilaku pada umumnya dan psikologi khusus yang mengkaji perilaku individu dalam si tuasi khusus, diantaranya :

Psikologi Perkembangan; mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perk embangan mulai dari masa konsepsi sampai dengan akhir hayat. Psikologi Kepribadi an; mengkaji perilaku individu khusus dilihat dari aspek – aspek kepribadiannya. P sikologi Klinis; mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan (klinis) Psikologi Abnormal; mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal. Psikolo gi Industri; mengkaji perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia industri. P sikologi Pendidikan; mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan Disampi ng jenis – jenis psikologi yang disebutkan di atas, masih terdapat berbagai jenis psikologi lainnya, bahkan sangat mungkin ke depannya akan semakin terus berkemba ng, sejalan dengan perkembangan kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks. Psi kologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah mem iliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni : Ontologis; obyek dari psikologi p endidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, oran g tua peserta didik dan masyarakat pendidikan. Epistemologis; teori-teori, konse p-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdas arkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross se ctional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif. Aksiol ogis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapa ian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan. Dengan demikian, psikologi pend idikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus me ngkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk me nemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapai an efektivitas proses pendidikan. Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari p sikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pen didikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Prose s Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupak an beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya membutuhkan psikolo gi. Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang di dalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik, adminsitrator, masyarakat dan orang tua pes erta didik. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efekti f dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogya nya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilak unya secara efektif.

seorang guru melalui pertimb angan-pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat : (a) merumuskan tujuan pembel ajaran. Pengua saan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang haru s dikuasai guru. Perilaku Individu Salah satu tugas utama guru adalah berus aha mengembangkan perilaku peserta didiknya. Di bawah ini akan diuraikan mekanisme pembentukan p erilaku dilihat dari kedua pendekatan tersebut dengan merujuk pada tulisan Abin Syamsuddin Makmun (2003). a. dengan me mahami Psikologi Pendidikan para guru juga dapat memahami dan mengembangkan diri -pribadinya untuk menjadi seorang guru yang efektif dan patut diteladani. (d) memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling kepada peserta didiknya. yang salin g bertolak belakang. Ke dua pendekatan ini memiliki implikasi yang luas terhadap proses pendidikan. (g) berinteraksi secara bijak dengan peserta didiknya. Oleh karena itu itu. sehingga dapat menjalankan tugas da n perannya secara efektif. yakni kompetensi pedagogik. agar perilaku peserta didi k dapat berkembang optimal. yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyat a bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. pengelolaan kelas. Selain itu. dan (i) dapat me ngadministrasikan pembelajaran secara efektif dan efisien. Untuk memahami perilaku individu dapat dilihat dari dua pendekatan.Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing. (c) memilih alat bantu da n media pembelajaran yang tepat. (h) menilai hasil pembelajaran. Abin Syamsuddin Makm un (2003) menyebutkan bahwa tugas guru antara lain sebagai pengubah perilaku pes erta didik (behavioral changes). (e) memfasilitasi dan memotivasi belajar pes erta didik. Di sinilah arti penting Psikolog i Pendidikan. Dalam hal ini. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bah wa diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adal ah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar menga jar peserta didik. baik untuk kepentingan pembelajaran. (f) menciptakan iklim belajar yang kondusif.--terutama peri laku peserta didik dengan segala aspeknya--. 2. pembimbingan serta berbagai kegiatan pendidikan lainnya. tentu saja seorang guru seyogyanya dapat memahami te ntang bagaimana proses dan mekanisme terbentuknya perilaku para peserta didiknya . . (b) memilih strategi atau metode pembelajaran. dengan memahami psikologi pendidikan. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Behav iorisme Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melal ui proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau me nciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan. pendidik dan pelatih bagi pa ra peserta didiknya. yaitu: (1) behaviorisme dan (2) holistik atau humanisme. tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya.

Behaviorisme menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya perilaku in dividu dapat digambarkan dalam bagan berikut : S R atau S O R S = stimulus (rangsangan). maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini : W S O R W Yang dimaksud dengan lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua je nis yaitu : (1) Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu da n secara potensial dapat melahirkan S). waktu sore hari. Contoh : seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa panas. Ruan gan kelas yang gelap. ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow). Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W) setelah mengipas-ngipaskan buku. aktivitas) dan O=organisme (in dividu/manusia). Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga d itujukan kepadanya. secara spontan mahasiswa tersebut mengipasngipaskan buku untuk meredam kegerahannya. seca ra spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan respons (R) yang dilakukan mahas iswa. -- . (2) Lingkungan efektif (umwelt=segala sesu atu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga me nimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia meresponsnya) Perilaku y ang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan peri laku spontan. a da seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di ruangan kelas. R = Respons (perilaku. Sedangkan perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut: W S Ow R W Contoh : ketika sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kel as yang terasa agak gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung. Ruangan kelas yang panas mer upakan lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S) bagi mahasiswa tersebut (O). sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan. dan cuaca mendung merupakan lingkungan (W ).

.

bagan di atas dapat dijelaskan bahw a mahasiswa yang sadar (Ow) mungkin merasakan penglihatannya (receptor) menjadi tidak jelas. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Holistik (Humanisme) Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan. meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan. Holistik atau humanisme menjelas kan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa). otot dan sebagainya yang merupakan pelaksana gerak R). meminta ijin ke dosen . Sele ngkapnya mekanisme perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut : Ow W S r e R W Dengan mengambil contoh perilaku sadar tadi.meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak meny adari terhadap keadaan sekelilingnya--. Secara skematik rangkaian. suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyama n dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W). motif. proses dan mekanisme terjadinya perilaku menurut pandangan Holistik. dan w hy (mengapa). yakni perilakuny a itu sendiri. Me nggerakkan kaki menuju ke depan. yang berarti aspek-aspek intrinsik (niat. Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggera kan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how). dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa yang sada r tersebut (R). Sebenarnya. b. berjalan ke depan. dapat dijelaskan dalam bagan berikut : Kebutuhan dirasakan (felt needs) Dorongan (motivation) Aktivitas yang dilakukan (Instrumental behavior) Tujuan dihayati (goals/ incentive) . What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/ purpose) a pa yang hendak dicapai dengan perilaku itu. how (bagaimana). mengucapkan minta izin kepada dosen. tangan men ekan saklar lampu merupakan effector. How (bagaimana) menunjukkan kepada j enis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose). tekad) dari dalam d iri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku. baik bersumber dari diri indiv idu itu sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (m otivasi ekstrinsik). masih ada dua unsur pen ting lainnya dalam diri setiap individu yang mempengaruhi efektivitas mekanisme proses perilaku yaitu receptors (panca indera sebagai alat penerima stimulus) da n effectors (syaraf. sehingga tulisan dosen di papan tulis tidak terbaca dengan baik.

Dalam hal ini.Berdasarkan bagan di atas tampak bahwa terjadinya perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan. Stranger (Nana Syaodih Sukmadinata. (4) Kebutuhan takut akan kegagalan (need for fear of failure). yaitu: (1) kebutuhan fisiologikal. Maslow mengungkapkan jenisjenis kebutuhan-individu secara hierarkis. yaitu: (1) Kebutuhan berprestasi (need for achievement). membentuk keluarga. yang dapat digambarkan sebagai berikut : Motif Rasa puas atau kecewa Perilaku Instrumental Tujuan . se perti : sandang. (4) kebutuhan prestise atau harga diri. psikologikal dan intelektual. dan (5) kebutuhan aktualisasi dir i. pangan dan papan. (3) Kebutuhan untuk membentuk ikatan (need for affiliation). Jika kebutuhan yang serupa muncul kembali maka po la mekanisme perilaku itu akan dilakukan pengulangan (sterotype behavior). (2) Kebutuhan berkuasa (need for power). baik dengan dirinya atau dengan orang lain d alam mencapai prestasi yang tertinggi. baik yang bersum ber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar i ndividu (motivasi ekstrinsik).2005) mengetengahkan empat jen is kebutuhan individu. yaitu kebutu han untuk mengikat diri dalam kelompok. akan tetapi juga mental. demi mempertahankan kelangsungan dan meningk atkan kualitas hidupnya. yaitu kebutuhan untuk mencari dan memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang lain. Setiap individu. (2) kebutuhan keamanan. tidak dalam arti fisi k. yaitu kebutuhan untuk berkompetisi. yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status. Tingkatan kebutuhan tersebut dapat diragakan seperti tampak dalam gambar beri kut ini : SELF ACTUALIZATION ESTEEM NEEDS LOVE NEEDS SAFETY NEEDS PHYSIOLOGICAL NEEDS Sementara itu. (3) kebutuhan kasih sa yang atau penerimaan. yait u kebutuhan untuk menghindar diri dari kegagalan atau sesuatu yang menghambat pe rkembangannya. organisasi ataupun p ersahabatan. sehin gga membentuk suatu siklus. Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motiva si) yang merupakan kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat pe rsistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu aktivitas. akan merasakan adanya kekurangan-kekurangan atau kebutu han-kebutuhan tertentu dalam dirinya.

manipulasi. dikenal de ngan istilah drive. motif-motif obyektif dan interest (eksplorasi. Dalam pandangan holistik. untuk keperluan studi psikologis. menyelamatkan diri dan sejenisnya. menunjukkan kepada motif yang tidak pelajari. (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakuk an. minat). Untuk memahami motivasi individu dapat d ilihat dari indikator-indikatornya. (4) ketabahan. dikehendaki serta bersifat positif. (2) frekuensi k egiatan. menye rang. (3) persistensi pada kegiatan. keuletan dan kemampuan da lam mengahadapi rintangan dan kesulitan. 3. (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan. adakalanya individu harus berh adapan dengan motif yang saling bertentangan atau biasa disebut konflik. yang satu positif dan dikehendaki dan yang lainnya motif negatif serta tidak dikehendaki namun sama k uatnya. 2. maksu d dan aspirasi serta motif berprestasi. motif individ u dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan.Berkaitan dengan motif individu. motif-motif sosial (ingin diterima. 2. yaitu : 1. setiap aktivitas ya ng dilakukan individu akan mengarah pada tujuan . Motif sekunder. konformitas dan sebag ainya). Motif primer (basic motive dan emergency motive). Avoidance-avoidance conflict. (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari keg iatan yang dilakukan. melarikan diri. seperti : dorongan untuk makan. Deng an beragamnya motif yang terdapat dalam individu. Bentukbentuk konflik tersebut diantaranya adalah : 1. yaitu : (1) durasi kegiatan. Dalam diri indiv idu akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada tujuan tertentu. j ika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sam a-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. seperti : takut yang dipelajari. Jika seorang individu dihadapkan pada bentuk-bentuk motif seperti dikemukakan di atas tentunya dia akan mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dan sangat mungkin menjadi perang batin yang berkepanjangan. Approach-approach conflict. Approach-avoidance con flict. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih. (5) devosi dan pengorbanan untuk mencap ai tujuan. dis ebutkan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam dirinya. minum. j ika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sam a-sama kuat. menunjukkan kepada m otif yang berkembang dalam individu karena pengalaman dan dipelajari.

Reaksi individu terhadap frustrasi akan beragam bentuk perilaku nya. jika tujuan tersebut tidak tercap ai dan kebutuhannya tidak terpenuhi maka dia akan kecewa atau dalam psikologi di sebut frustrasi. (7) proyeksi (melemparkan kesalaha n kepada lingkungan). diantaranya : (1) agresi marah. Ketika mengikuti perkul iahan Psikologi Pendidikan yang merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diik uti para mahasiswa. seakan-akan ia dapat mencapai tujuan yang didambakannya). sejak awal dia sudah menyadari bahwa dia kekurangan pengetah uan. Dalam hal ini. (6) rasionalisasi (mencari alasan). Sekaligus juga dapat membe rikan bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan frustrasi. Bentuk peril aku salah suai (maldjustment). bergantung kepada akal sehatnya (reasoning. jika akal sehatnya tidak berfungs i sebagaimana mestinya. yang dipe rolehnya dari setiap pertemuan tatap muka dengan dosen. (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di bi dang lain). (4) fiksasi. inteligensi). Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membant u para peserta didiknya agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat menimbulkan perilaku salah-suai. (10) berfantasi (dalam angan-angannya. dia berharap dapat memperoleh kemampuan baru berupa pengetahuan . perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya. (8) sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang sejenis). Untuk lebih jelasnya. Untuk tujuan jangka pendekn ya. Namun sebaliknya. Contoh 1 : Karen a gagal mengikuti mengikuti testing pada salah satu Fakultas di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). (3) regresi (kemunduran perilaku). (5) represi (menekan p erasaan). sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan psikologi pendidikan. sikap dan keterampilannya dalam bidang Psikologi Pendidikan sehingga dia me nyadari Psikologi Pendidikan merupakan kebutuhan bagi dirinya (need felt) dalam rangka mencapai tujuan-tujuannya (goals/incentives). . tercapai atau tidak tercapai tujuan tersebut. terdapat dua kemungkinan. (2) kecemasan tak berdaya. secara sukarela Arjuna memutuskan untuk melanjutkan pada salah program studi yang ada di FKIP UNIKU (sublimasi).tertentu. di bawah ini akan dikemukaka n contoh terbentuknya perilaku berdasarkan pendekatan holistik. dengan berbekal kesadaran diri bahwa dia memiliki potensi dalam bidang psiko logi pendidikan. Jika akal sehatny a berani mengahadapi kenyataan maka dia akan lebih dapat menyesuaikan diri secar a sehat dan rasional (well adjustment). Namun. dan setelah mempertimbangkan segala sesuatunya (moralitas). Jika tercapai tentunya individu merasa puas dan memperoleh kese imbangan diri (homeostatis). m aka dia akan mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment).

Berkat aktivitas dan kesungguhannya dalam mengikuti perkuliahan Psikolog i Pendidikan. para peserta d idik sangat menyenangi dia karena dia sangat dekat dan akrab dengan peserta didi knya. memperoleh kesuksesan belajar dengan mendapatkan nilai A. pada akhir semester dia berharap lulus mata kuliah Psiko logi Pendidikan dengan mendapatkan nilai A (kebutuhan harga diri). memperoleh kesuksesan dalam mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). keingi nan menjadi guru yang efektif dan kompeten kemudian berkembang menjadi dorongan yang kuat dalam dirinya (motivasi intrinsik) Pada saat mengikuti perkuliahan Psi kologi Pendidikan dia senantiasa aktif bertanya dan mengemukakan pendapatnya ten tang materi yang disampaikan. Selain itu. bahkan kepa la sekolahnya meminta dia untuk menjadi guru di sekolah menjadi tempat praktekny a. Dia juga sangat menyukai diskusi te ntang psikologi pendidikan dengan teman-temannya di luar kelas (perilaku instrum ental). n anti pada saat mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). Begitu juga. pada saat PPL dia termasuk mahasiswa praktikan yang disukai oleh peserta didiknya. Setelah dia selesai kuliah dia menjadi guru di sebuah sekolah. dia benar-benar berharap dapat menjadi guru yang efektif dan kompet en. dia berharap dapat mela ksanakannya dengan sebaik-baiknya. kemudian dia dipaksa orang tuanya untuk melanjutkan pada salah sa tu program studi di FKIP UNIKU (motivasi ekstrinsik/substitusi). dia memperoleh pengetahuan yang luas. Keinginan dan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam bid ang psikologi pendidikan. dia berhasil meraih sebagai juara pertama. membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidika n yang diwajibkan dan dianjurkan oleh dosen. Dia bercita-cita menjadi seorang ekonom. . baik ketika selama menjadi mahasiswa maupun setelah menj adi guru (homeostatis). Dia sangat mensyukuri atas segala keberhasilannya. dia memperoleh nilai terbaik di kelasnya. Setiap tugas yang diberikan diseles aikan dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu. dia belum menemukan apa tujuan kuliahnya. Contoh 2 : Astrajingga rekan seangkatan Arjuna. sikap yang positif dan memil iki keterampilan yang bisa dibanggakan dalam menerapkan prinsip-prinsip psikolog i. Pada saat mengikuti lomba pemilihan guru berprestasi tingkat k abupaten. Bagi dirinya. Pada akhir semester. sehingga selama kuliah. Perkuliahan Psikologi Pendidikan telah men dasari dia menjadi seorang yang sukses. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai untuk jan gka panjang.Tujuan jangka menengah. karena gagal mengikuti mengikut i testing pada Fakultas Ekonomi di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). rekan-rekan seprofesinya sangat hormat dan kagum atas kinerja nya sebagai guru.

rumus. dia menyalahkan dosen bahwa dosennya tidak becus mengajar (proy eksi). sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan dan pada akhir nya dia dinyatakan tidak lulus dan terpaksa harus mengikuti remedial. peristiwa. baik berbentuk verbal maupun non verbal. peristiwa. Sambil men angis (regresi). Taksonomi Perilaku Individu Kalau perilaku individu mencakup segala pe rnyataan hidup. 3. Dengan pengetahuan individu dapat mengenal dan mengingat kembali suatu objek. daftar. kebu dayaan masyarakat tertentu. kejadian masa lalu. nama. definisi. 1) Pengetahuan (knowledge). sekal ipun dia masuk kuliah hanya sebatas takut dimarahi oleh dosen yang bersangkutan dan takut dinyatakan tidak lulus (kebutuhan rasa aman). yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau berfikir/nalar. b) Mengetahui tentang cara untuk memproses atau melakukan sesuatu. atau kesimpulan. Untuk keperluan studi tentang perilaku kiranya perlu ada sistematika pengel ompokan berdasarkan kerangka berfikir tertentu (taksonomi). id e prosedur. termas uk mata kuliah Psikologi Pendidikan (kurang merasakan adanya kebutuhan dan kekur angan motivasi). teori. kalaupun dikerjakan hanya alakadarnya dan selalu telat disetorkan.Dalam konteks pendidi kan. betapa banyak kata yang harus dipergunakan untuk mendeskripsikan nya. tahun. Pengetahuan merupakan aspek kognitif yang paling rendah tetapi paling mendasar.Dia tidak begitu berminat mengikuti perkuliahan mata kuliah kependidikan. konsep. Pikirannya selalu terganggu bahwa seolah-olah dia sedang kuliah pada Fakutas Ekonomi di Perguruan Tinggi yang diidam-idamkannya dan dia merasa seolah-olah bakal menjadi Ekonom (fantasi). yakni : a. Kawasan Kognitif. Mengetahui fakta tertentu yaitu mengenal atau mengingat kemb ali tanggal. Dia sering tidak masuk kuliah. Dilihat dari objek yang diketahui (isi) pengetahuan dapat digolongk an sebagai berikut : a) Mengetahui sesuatu secara khusus. Dia dihadapkan pada perang batin antara terus melanjutkan stu di yang tidak sesuai dengan cita-citanya atau keluar dari kuliah dengan resiko o rang tua akan marah besar terhadap dirinya (conflict). orang tempat. Bloom mengungkapkan tiga kawasan (domain) perilaku individu beserta sub kaw asan dari masing-masing kawasan. terdiri dari : Mengeta hui terminologi yaitu berhubungan dengan mengenal atau mengingat kembali istilah atau konsep tertentu yang dinyatakan dalam bentuk simbol. Tugas-tugas yang diberik an dosen pun jarang dikerjakan. Mengetahui kebiasaan atau cara mengetengahkan ide atau pengalaman . dia hanya memperoleh sebagian kecil saja pengetahuan. Selama satu semester meng ikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. sumber informasi. dan ciri-ciri yang tampak dari keadaan alam tertentu .

. maka kelanjutannnya dapat dinyatakan berdas arkan prinsip tersebut. 7. menemukan atau menyel esaikan masalah. prinsip. perangkat atau susunan yang digunakan di d alam bidang tertentu. informasi. Contoh sesesorang dapat dikatakan telah mengerti konsep tentang “motivasi kerja” dan dia telah dapat membedakannya dengan konsep tentang ”motivasi belajar”. memperbandingkan atau mempertentangkannya dengan sesuatu yan g lain. den gan kemapuan ekstrapolasinya tentu dia akan mengatakan bilangan ke-6 adalah 13 d an ke-7 adalah 19. fakta d isusun kembali dalam struktur kognitif yang ada. Mengetahui hal-hal yang universal dan abstrak dalam bidang tert entu. 2) Pemahaman (comprehension) Pemahaman atau dapat dijuga disebut dengan istilah mengerti merupakan kegiatan m ental intelektual yang mengorganisasikan materi yang telah diketahui. peristiwa. 11. pendapat atau perlakuan. kepada siswa dihadapkan rangkaian bilangan 2. Misalnya. kelompok. Mengetahui meto dologi. Jika ditemukan bahwa kelima bilangan te rsebut adalah urutan bilangan prima. yaitu ide. arah atau kelanjutan dari suatu temuan. 3. baik dalam bentuk simbol verbal maupun non verbal. Tingkatan dalam pemahaman ini meliputi : a) translasi yaitu mengubah simbol tertentu menjadi simbol lain tanpa perubahan makna. b agan atau grafik. Mengetahui prinsip dan generalisasi Mengetahui teori dan strukt ur. 5. terlebih dahulu dicari prinsip apa ya ng bekerja diantara kelima bilangan itu. Temuantemuan ini diakomodasikan dan kemudian berasimilasi dengan struktur kognitif yang ada. b) interpretasi yaitu menjelaskan makna yang terdapat dalam simbol. dan c) Ekstrapolasi. arah dan gerakan suatu gejala atau fenomena pada waktu yang berkaitan. Seseorang dapat dikatakan telah da pat menginterpretasikan tentang suatu konsep atau prinsip tertentu jika dia tela h mampu membedakan. Mengetahui penggolongan atau pengkatego risasian. Temuan-tem uan yang didapat dari mengetahui seperti definisi. Misalkan simbol dalam bentuk kata-kata diubah menjadi gambar. yaitu melihat kecenderungan. Untuk bisa seperti itu. Mengetahui kelas. Mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi fakta.Mengetahui urutan dan kecenderungan yaitu proses. sehingga membentuk struktur kognitif baru. atau memproses sesuatu. bagan dan pola yang digunakan untuk mengorganisasi suatu fenome na atau pikiran. yaitu perangkat cara yang digunakan untuk mencari.

Kemampuan untuk mengidentifikasi motif-motif da n membedakan mekanisme perilaku antara individu dan kelompok. mereka berusaha untuk memberi nama yang cocok bagi alat angkutan tersebut. yaitu : a) Menganalisis unsur : Kemampuan melihat asumsi -asumsi yang tidak dinyatakan secara eksplisit pada suatu pernyataan Kemampuan u ntuk membedakan fakta dengan hipotesa.3) Penerapan (application) Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dal am kehidupan sehari-hari. Bagi mereka. memanfaatkan. Kemampuan untuk mengenal unsur-unsur khusus yang membenarkan suatu pern yataan. b) Menganalisi s hubungan Kemampuan untuk melihat secara komprehensif interrelasi antar ide den gan ide. Kemampuan untuk membedakan pernyataan fak tual dengan pernyataan normatif. menyelesaikan dan mengidentifikasi hal-hal yang sama. Dengan pemahaman demikian. 4) Penguraian (analysis). dulu ketika pertama kali diperk enalkan kereta api kepada petani di Amerika. Kemampuan untu k memastikan konsistensinya hipotesis dengan informasi atau asumsi yang ada. Kemampuan untuk mengenal fakta atau asumsi yang esensial yang mendasari suatu pendapat atau tesis atau argumen-argumen yang mendukungnya. Kemampuan untuk me misahkan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang mendukungnya. mengklasifikasikan. . melihat penyebab-penyebab dari suatu peristiwa atau memberi argumenargumen yang menyokong suatu pernyataan. maka mereka memberi nama pada kereta api tersebut d engan iron horse (kuda besi). Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah dan menunjukkan hubungan antar-bagia n tersebut. Satu-satunya alat transportasi yang suda h dikenal pada waktu itu adalah kuda. Secara rinci Bloom mengemukakan tiga je nis kemampuan analisis. Hal ini menunjukkan bagaimana mereka menerapkan ko nsep terhadap sebuah temuan baru. Seseorang dikatakan menguasai kemampuan ini jika ia da pat memberi contoh. ingat kuda ingat transportasi . Contoh. menggunakan.

menilai dan mengambil keputusan benar-salah.. Kemampuan untuk mengenal hubung an kausal dan unsur-unsur yang penting dan yang tidak penting di dalam perhitung an historis. yang dilakukan dengan memperhatikan k onsistensi atau kecermatan susunan secara logis unsurunsur yang ada di dalam obj ek yang diamati. Contoh: memilih nada dan irama dan kemudian manggabun gkannya sehingga menjadi gubahan musik yang baru. . 6) Penilaian (evaluation) Mempertimbangkan. Kemampuan untuk mengetahui maksud dari pengarang suatu karya tu lis. menciptakan logo organisasi. atau bermanfaat – tak bermanfaat berdasarkan kriteria-kriteria tertentu baik kualitatif maupun kuantitatif. Kemampuan berfikir induktif dan konvergen mer upakan ciri kemampuan ini.Kemampuan untuk menganalisis hubungan di antara pernyataan dan argumen guna memb edakan mana pernyataan yang relevan mana yang tidak. Kemampuan untuk mendeteksi hal-hal yang tidak logis di dalam suatu argumen. atau merangkai berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau menjadi suatu hal yang baru. b) Pembenaran berdasarkan kriteria eksternal. c) Menganalisis prinsip-prinsip organisasi Kemampuan untuk menguraikan antara ba han dan alat Kemampuan untuk mengenal bentuk dan pola karya seni dalam rangka me mahami maknanya. baik-buruk. meramu. 5) Memadukan (synthesis) Menggabungkan. misalnya kesesuaiannya dengan aspirasi umum atau kecocokannya dengan kebutuhan pemakai. sudut pandang atau ciri berfikirnya dan perasaan yang dapat diperoleh dalam karyanya. yaitu : a) Pembenaran berdasarkan kriteria internal. Kemampuan untuk melihat teknik yang digunakan dalam meyusun suatu mat eri yang bersifat persuasif seperti advertensi dan propaganda. yang dilakukan be rdasarkan kriteria-kriteria yang bersumber di luar objek yang diamati. memberi nama yang sesuai bagi suatu temuan baru. Terdapat dua kriteria pembenaran yang digunakan.

yaitu usaha untuk melihat hal-hal khusus di dalam bagian yang diperhatikan. c) Mengkhususkan perhatian (controlled or selected atte ntion). Contoh kegiatan yang tampak dari kepuasan menangga pi ini adalah bertanya. 1) Penerimaan (receiving/attending) Kawasan penerimaan diperinci ke dalam tiga tahap. menunj ukkan komitmen terhadap nilai keberanian yang dihargainya. memotret dari objek yang me njadi pusat perhatiannya. misalnya lukisan yang memil iki yang memuaskan. Kawasan Afektif. Komitmen ini dinyatak an dengan rasa senang. terpesona. c) Kepuasan menanggapi (satisfaction in r esponse). yaitu adanya aksi atau kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk me muaskan keinginan mengetahui. Penilaian terbagi atas empat tahap sebag ai berikut : a) Menerima nilai (acceptance of value). c) Komitmen yaitu kesetujuan terhadap suatu nilai dengan ala san-alasan tertentu yang muncul dari rangkaian pengalaman. b) Menyeleksi nilai yan g lebih disenangi (preference for a value) yang dinyatakan dalam usaha untuk men cari contoh yang dapat memuaskan perilaku menikmati. Mungkin perhatian itu hanya tertuju pada warna. atau mentaati peraturan lalu lintas. dan sebagainya. 2) Sambutan (responding) Mengadakan aksi terhadap stimulus. Contoh : mengajukan pertanyaan. b) Kemauan menanggapi (willingness to respo nd). suara atau kata-kata ter tentu saja. 4) Pengorganisasian (organization) . b) Kemauan untuk meneri ma (willingness to receive). kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. me nempelkan gambar dari tokoh yang disenangi pada tembok kamar yang bersangkutan. membuat coretan atau gambar. 3) Penghargaan (valuing) Pada tahap ini sudah mulai timbul proses internalisasi untuk memiliki dan mengha yati nilai dari stimulus yang dihadapi. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek emosional. kagum. Kagum atas keberanian seseorang.b. yang ditandai dengan kehadiran dan usaha untuk memberi perhatian pada stimulus yang bersangkutan. yaitu adanya kesiapan untuk berinteraksi dengan stimulus (feno mena atau objek yang akan dipelajari). minat. seperti perasaan. yaitu : a) Kesiapan untuk mene rima (awareness). Misalnya pada desain atau warna saja. sikap. yaitu kelanjutan dari usah a memuaskan diri untuk menanggapi secara lebih intensif. yaitu usaha untuk mengalokasikan perhatian pada sti mulus yang bersangkutan. yang meliputi proses sebagai berikut : a) Kes iapan menanggapi (acquiescene of responding).

c. Proses ini terjadi dalam dua tahapan. Proses ini terdiri atas dua tahap. Artinya mudah berub ah-ubah sesuai situasi yang dihadapi. b) Karak terisasi. 2) Meniru adalah kemampuan untuk melakukan sesuai dengan conto h yang diamatinya walaupun belum mengerti hakikat atau makna dari keterampilan i tu. . (b) penirua n (imitation). Karakterisasi yaitu kemampuan untuk menghayati atau mempribadikan sistem nilai K alau pada tahap pengorganisasian di atas sistem nilai sudah dapat disusun. (c) membiasakan (habitual). Dalam sistem nilai ini yang bersangkutan menempatkan nilai yang paling disukai pada tingkat yang amat penting. 5) Karakterisasi (characterization). yaitu keinginan untuk menilai hasil karya oran g lain. (d) menyesuaikan (adaptation) dan (e) menciptakan (origination) 1) Kesiapan yaitu berhubungan dengan kesediaan untuk melatih diri tentang keterampilan tertentu yang dinyatakan dengan usaha untuk me laporkan kehadirannya. yakni : a) Konseptualisasi nilai. mempersiapkan alat. yaitu : a) Generalisasi. Kawasan ini terdiri dari : (a) kesiapan (set). Seperti anak yang baru belajar bahasa meniru kata-kata orang tanpa mengerti artinya. menyusul k emudian nilai yang dirasakan agak penting. tetapi mulai melihat beberapa nilai yang relevan untuk disusun menjadi satu sistem nilai. dan seterusnya menurut urutan kepenti ngan.Pada tahap ini yang bersangkutan tidak hanya menginternalisasi satu nilai terten tu seperti pada tahap komitmen. Kawasan Psikomotor. sekalipun ia belum dapat mengubah polanya. sistem itu selal u konsisten. yaitu mengembangkan pandangan hidup tertentu yang memberi corak tersen diri pada kepribadian diri yang bersangkutan. menyesuaikan diri dengan situasi. men jawab pertanyaan. 3) Membiasakan yaitu seseorang dapat melakukan suatu keterampilan tanpa harus melihat contoh. b) Pengorganisasian sistem nilai. yaitu menyusun perangkat nilai dalam suatu sis tem berdasarkan tingkat preferensinya. yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular syste m) dan fungsi psikis. Pada tahap karakterisasi.atau kesenangan dari diri yang bersangkutan. maka susunan itu belum konsisten di dalam diri yang bersangkutan. yaitu k emampuan untuk melihat suatu masalah dari suatu sudut pandang tertentu. atau menemukan asumsi-asumsi yang mendasari suatu moral atau kebiasaan.

5) Menciptaka n (origination) di mana seseorang sudah mampu menciptakan sendiri suatu karya. yang terpola dan dapat ditebak. yaitu : sub kawasan ini 1) Gerakan refleks (reflex movements). Gerakan dasar biasa (Basic fundamental movements) yaitu gerakan yang mun cul tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik. dan cekatan dala m melakukan gerakan yang sulit dan rumit (kompleks). pendid ikan lebih diyakini sebagai suatu media atau wahana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan ajaran keagamaan. Penyelenggaraan pendidikan selanjutnya menja di kewajiban kemanusiaan dalam rangka mempertahankan kehidupannya. misalnya : melompat. alat mengasah otak. S ementara itu. Gerakan indah dan kreatif ( Non-discursive communication) yaitu mengkomunikasikan perasan melalui gerakan. menunduk. 2) 3) 4) 5) 6) 4. alat pelatihan keterampilan. banyak peradaban manusia yang “mewajibk an” masyarakatnya untuk tetap menjaga keberlangsungan pendidikan. berjalan. Gerakan fisik (Physical Abilities) yai tu gerakan yang menunjukkan daya tahan (endurance). Abin Syamsuddin Makmun( 2003) memerinci dengan tahapan yang berbed a. tangkas. ser ta wahana untuk pembebasan manusia. Basis semua perilaku bergerak atau respon s terhadap stimulus tanpa sadar. Gerakan Persepsi (Perceptual abilities) yaitu gerakan sudah lebih menin gkat karena dibantu kemampuan perseptual. pendidikan dipahami sebagai se bagai alat pembentukan watak. kekuatan (strength). Gerakan terampil (skilled movements) yaitu dapa t mengontrol berbagai tingkatan gerak secara terampil. Bagi kalangan behaviorisme. Sementara kalangan humanisme. Peranan dan Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan dan Perkembangan Perilaku Pendidikan memang sejak zaman dahulu kala menjadi salah satu bentuk usaha manusi a dalam rangka mempertahankan keberlangsungan eksistensi kehidupan maupun budaya manusia itu sendiri. b aik dalam bentuk gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah maupun gerak kreatif: gerakangerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasi kan peran. . dan seba gainya. s erta media untuk meningkatkan keterampilan. atau sebagai wahana untuk memanusiakan manusia. Melihat begit u pentingnya pendidikan bagi umat manusia. kelentu ran (flexibility) dan kegesitan.4) Adaptasi yaitu seseorang sudah mampu melakukan modifikasi untuk disesuaikan d engan kebutuhan atau situasi tempat keterampilan itu dilaksanakan.

sejauhmanakah pendidikan dapat mempengaruhi perubahan da n perkembangan perilaku individu. afektif. Secara skematik. Pada dasarnya individu sejak lahir sudah dibekali potensi-potensi tertentu. perilaku) f = function (fungsi) S=stimulus (pendidikan/belaj ar) O=organisme Contoh : Untuk memiliki pengetahuan. pengaruh fungsional pendidikan terhadap perubahan dan pe rkembangan perilaku. khususnya dalam pandangan behaviorisme. arah dan kualifikasi perubahan dan perkemba ngan perilaku akan sangat bergantung pada faktor S (conditioning). dalam pandangan humanisme bahwa justru organisme atau individu itu sendiri yan g memegang peranan penting dalam suatu proses belajar atau proses pendidikannya. Jika kita amati dari kedua pandangan tersebut tampak a da hal yang kontras.Yang menjadi persoalan. maupun psikomotor. Sehingga potensi yang semula masih bersifat laten (terpendam) dapat diaktuali sasikan menjadi prestasi.O) P= person (pribadi. individu yang bersangkutan berupaya aktif mengembangkan segenap potensi yan g dimilikinya melalui interaksi dengan lingkungannya. yang diman ifestasikan dalam bentuk perubahan dan perkembangan perilaku. sikap dan keterampilan tent ang Psikologi Pendidikan (P). pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha conditioning (penciptaan seperangkat stimulus) yang diharapkan dapat menghasilkan pola-pola perilaku (seperangkat respons) tertentu. Walaupun demiki an. selanjutnya dengan bantuan atau tanpa bantuan orang l ain. dapat dijelaskan dalam bagan berikut ini : P = f (S. ter utama potensi intelektual. seorang mahasiswa (O) dengan segala karakteristikn ya (kondisi fisik.Dengan demik ian. minat. Dengan menggunakan konsep dasa r psikologis. Seberapa besar tingkat atau derajat perubah an dan perkembangan perilaku yang dicapai melalui usaha – usaha conditioning diken al dengan istilah prestasi belajar atau hasil belajar (achievement). Dengan adanya perbedaan pandangan tersebut menyebabkan pula terjadinya pe rbedaan-perbedaan dalam pendekatan dan teknis proses pendidikan. Sementara itu . . Sedangkan dalam pandangan humanisme. bakat. Bagaimana pula kontribusi individu itu sendiri terhadap perubahan dan perkembangan perilakunya. menurut pandangan behaviorisme. termasuk lingkungan sekola h. harus diakui bahwa kedua pandangan tersebut memiliki peranan penting dan mem berikan kontribusi terhadap perubahan dan perkembangan pribadi atau perilaku ind ividu. baik dalam aspek k ognitif. hasil b elajar individu merupakan hasil dari upaya aktif dan pro-aktifnya terhadap lingk ungan. Menurut pandangan behaviorisme hasil belajar individu merup akan hasil reaktif dari lingkungan.

b. Beberapa persyaratan ilmu yang sudah dipenuhi oleh Psikologi Pendidikan. d. mengobservasi perilaku di kelas. bahkan melakukan penelitian. dengan cara memberikan ta nda silang (X) ! 2. Melalui interaksi belajar mengajar yang disepak ati dengan Dosen. Guru dapat menjalankan peran tu gas dan fungsinya secara efektif dan efisien Guru dapat merencanakan pembelajara n dengan sebaik-baiknya Guru dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif. hasil belajar sebelumnya serta karakteristik lainnya) mengikuti kegiat an belajar Psikologi Pendidikan. kecu ali : a. kiranya bisa dipahami bahwa perubahan perilaku atau diperolehnya kemampuan individu. baik untuk kepentingan diri-pribadi sehari-hari maupun dalam rangka mempers iapkan diri untuk menjadi guru kelak di kemudian hari. Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilih lah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. dis amping dihasilkan melalui kegiatan pendidikan (belajar) juga dipengaruhi oleh fa ktor internal dari individu itu sendiri. Arti penting Psi kologi Pendidikan bagi guru adalah : a. d. W S S S O WS Ow R R O R R W W . 5. Memiliki obyek yang jelas yaitu perilaku individu yang terlibat dalam pendidi kan. dia mendapa tkan pengetahuan. d. Dengan demikian. Psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai : 1) 2) 3) 4) I lmu Jiwa Ilmu yang mempelajari tentang perilaku peserta didik . Menjadi ped oman bagi para pendidik dalam mengembangkan proses pendidikan. Konsep dan teori Psikologi Pendidikan diperoleh berdasarkan upaya yang s istematis. c. 4. a. D. baik melalui pendekatan kuantitatif maupun kualitatif. Ilmu yang mempel ajari perilaku individu dalam situasi pendidikan. c. dia memperoleh sejumlah pengalaman belajar. dan c benar 3. misalnya melalui: diskusi dengan teman. c. b. Memberikan man faat untuk kepentingan efektivitas dan efisiensi pendidikan. membaca dan mengkaji buku-buku yang relevan. sikap dan memiliki keterampilan baru tentang psikologi pendidi kan.motivasi. maka pada akhirnya. Mekanisme terbentuknya perilaku sadar menurut pandangan Behaviorisme a. b. b. Gur u dapat menilai peserta didiknya secara efisien.

c. analysis c. Kebutuhan akan prestasi. application b. Reaksi frustasi ind ividu atas kegagalan dalam mencapai tujuan dan tidak terpenuhinya kebutuhan indi vidu dengan cara mencari kambing hitam. dan c benar 8. synthesis d. Approach. dan c benar 9. evaluatio n Uraian 1. c. Avoidance-avoidance conflict d. Dapat menyimpulkan. Uraikan dan berikan gambaran secara skematik ten tang mekanisme pembentukan perilaku dan pribadi individu menurut aliran holistik ! . Di bawah ini merupakan kemampuan yang berkaitan dengan perilaku kawasan afektif.6. a. tingkat kualifikas i prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan dan a rah sikap terhadap sasaran kegiatan. a. frekuensi dan persistensi kegiatan. a. evaluasi b. keuleta n dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan. d. b . Jelaskan peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perk embangan perilaku individu ! 2. characterization by valu e or value complex d. ketabahan. b. me nggabungkan merupakan indikator atau kata kerja operasional untuk mengukur perub ahan perilaku dalam aspek : a. a. Kebutuhan akan aktualisasi diri. b. Di bawah ini merupakan indikator untuk mengetahui tingkat motivas i individu. agresi b. d. proye ksi 10. fiksasi d. a. a. menghubungkan.avoidance c onflict b. Non-discursive communication c. Approach-approach conflict c. b dan c benar 11. Konflik yang dialami jik a individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif samasama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. regresi c. 7. kecuali : a. Di bawah ini merupakan jenis-jenis kebutuhan individu yang dikemukakan oleh M aslow. durasi. Kebutuhan akan harga diri. Kebutuhan akan rasa aman. a. b.

kecerdasan (inteligensi).Dari segi kecepatan belajar. Pokok Bahasan 1. ukuran kecerdasan. dengan masing-masing karakateristik yang dimilik inya. ciri-ciri keberbakat an. kecakapan potensial. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian Dalam m elaksanakan tugasnya. Menganalis faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya ke ragaman dalam kecakapan dan kepribadian.BAB II KERAGAMAN INDIVIDU DALAM KECAKAPAN DAN KEPRIBADIAN ujuan : A. seorang guru mungkin akan dihadapkan dengan puluhan atau b ahkan ratusan peserta didiknya. 2. Mengid entifikasi tentang indikator kecerdasan. T Setelah mempelajari Bab ini. ada peserta didik yang menunjukka n cepat dalam menangkap pelajaran. Menjelaskan tentang teori-teori kecerdasan dan p engukuran kecerdasan. Dari segi . namun sebaliknya ada juga yang sangat lambat. yang pe nting dan perlu diketahui guru adalah berkenaan dengan kecakapan dan kepribadian peserta didiknya. Intisari Bacaan 1. Di antara sekian banyak karakteristik yang dimiliki peserta didik. aspek-aspek kepribadian. 4. B. dalam Kecakapan dan C. diharapkan Anda dapat : 1. Fakto r-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman Kepribadian. Mendefinisikan kecakapan nyata. 3. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian. dan kepribadian 2.

m alas. selanjutnya dia berusaha untuk menemukan solusinya dan menetukan tindakan apa yang paling mungkin bisa d ilakukan agar peserta didik tersebut dapat mengembangkan perilaku dan pribadinya secara optimal. adaka lanya guru dibuat frustrasi. belum tentu dia akan langsung menarik kesimpulan bahwa peserta didiklah yang salah. guru akan berhadapan dengan ciri-ciri kepribadian para peserta didi knyanya yang khas atau unik. yang dapat seger a didemonstrasikan dan diuji sekarang. Namun ketika berhadapan dengan pesert a didik yang lambat dalam belajar atau ciri-ciri kepribadian yang negatif. C. a.P. Sedangkan kecakapan potensial mer upakan aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri individu dan diperoleh d ari faktor keturunan (herediter). seperti teori inteligensi yang dikemukakan oleh Charles Spearman (1904) de ngan teori “Two Factors”-nya. Kecakapan potensial dapat dibagi ke dalam dua bagian yaitu kecakapan dasar umum (inteligensi atau kecerdasan) dan kecakapan da sar khusus (bakat atau aptitudes). kurang sungguh-sungguh dan sebagainya. Menurut pendapatnya bahwa inteligensi terdiri dari kem ampuan umum yang diberi . Untuk kepentingan pengetahuan guru dalam memahami peserta didiknya. Kecakapan nyata (actual ability) yaitu kecak apan yang diperoleh melalui belajar (achivement atau prestasi). pada akhir perkuliahan mahasiswa d iuji oleh dosen tentang materi yang disampaikannya (tes formatif). Ujung-ujungnya dia langsung saja akan menyimpulkan bahwa peserta didiklah yang salah. Terlebih dahulu mungkin dia akan mempelajari latar belakang sosio-psikologis peserta didiknya. guru mungkin akan menganggap seolah-olah tidak ada hambatan.kepribadian. di bawah ini akan diuraikan dua jenis keragaman individu yaitu keragaman dalam keca kapan dan kepribadian. Berhadapan dengan peserta didik yang memiliki kecep atan belajar dan memiliki ciri-ciri kepribadian yang positif. Jika saja guru tersebut dapat memah ami tentang keragaman individu. yakni hanya berhubungan dengan aspek intelektual saja. Keragaman Individu dalam Kecakapan Kecakapan individu dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu kecakapan nyata (actual ability) dan kecak apan potensial (potential ability). Membicarakan tentang keragaman individu secara luas dan mendala m sebetulnya sudah merupakan kajian tersendiri yaitu dalam bidang Psikologi Dife rensial. Pada awalnya teori inteligensi masih bersifat unidim ensional (kecerdasan tunggal). Chaplin (1975) memberikan pengertian int eligensi sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi bar u secara cepat dan efektif. Ketika mahasi swa mampu menjawab dengan baik tentang pertanyaan dosen. bodoh. setelah selesai mengikuti prose s perkuliahan (kegiatan tatap muka di kelas). Peserta didik dianggap kurang rajin. sehingga akan diketahui secar a akurat kenapa peserta didik itu lambat dalam belajar. Misalkan. maka kemampuan tersebut merupakan atau kecakapan nyata (achievement).

Behavi oral (interaksi non verbal yang diperoleh melalui penginderaan. Unit (item tunggal informasi). yaitu : (1) kemampuan berb ahasa (verbal comprehension). Memory Retention (ingatan yang berkaitan dengan kehidupan seharihari). b.P. Operasi Mental (Pros es Befikir) a. Visual (bentuk konkret atau gambaran). c. Cognition (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang baru). c. atau redefinisi informasi). Word Meaning (semantic). c. S elanjutnya. Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi item lain). e. Memory Recording (ingatan yang segera). kata-kata atau angka dan notasi musik). Belakangan ini banyak orang meng gugat tentang kecerdasan intelektual (unidimensional). d. f. f. atau memadai). e. Relasi (keterkaitan an tar informasi). d. (2) kemampuan mengingat (memory). Kela s (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama). b. Divergent Production (berfikir mel ebar=banyak kemungkinan jawaban/ alternatif). Guilford mengemukakan bahwa inteligensi dapat dilihat dari tiga kategori dasar atau “faces of intellect”. Convergent Production (berfikir memusat= hanya satu kemungkinan jawaban/alternatif). yaitu : 1. (3) kemampuan na lar atau berfikir (reasoning).kode “g” (genaral factor) dan kemampuan khusus yang diberi kode “s” (specific factor). J. modifikasi. ekspresi muka at au suara). Sistem (kompleksitas bagian saling berhubungan). ( 5) kemampuan bilangan (numerical ability). Thurstone (1938) mengemukakan teori “Primary Mental Abilities”. d. Sementara itu. b. (6) kemampuan menggunakan kata-kata ( word fluency). akurat. Content (Isi yang Dipikirkan) a. Symbolic (i nformasi dalam bentuk lambang. dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual s peed). (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor). Evaluation (mengambil keputusan tentang apakah suatu itu baik. Transform asi (perubahan. 2. Product (Hasil Berfikir) a. 3. yang konon dianggap sebag ai anugerah yang dapat mengantarkan . Auditory. e. bahwa in teligensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer.

Pertanyaan muncul. dengan aspek-aspe knya sebagai tampak dalam tabel di bawah ini: INTELIGENSI 1. Musical 4. Spatial 5. Kemampuan untuk mengontrol gerakan tubuh dan mengenai objek-obj ek secara terampil. seperti Mozart dan Bethoven dengan karya-karya musiknya yang mengagumkan. Linguistic 3. kemampuan mereka yang demikian hebat ternyata tidak terakomodasikan. bagaimana dengan tokoh-tokoh duni a. mengemukakan teori Multiple Inteligence. maka pada dasarnya indikator kecerdasa n akan mengerucut ke dalam tiga ciri yaitu : kecepatan (waktu yang singkat). Nada dan bentukbentuk ekspresi musik.. Ke mampuan mempersepsi dunia ruangvisual secara akurat dan melakukan tranformasi pe rsepsi tersebut. Maka muncullah. ritme. H oward Gardner (1993).kesuksesan hidup seseorang. ket epatan (hasilnya sesuai dengan yang diharapkan) dan kemudahan (tanpa menghadapi hambatan dan kesulitan yang berarti) dalam bertindak. para ahli mengembangkan instrumen-instrumen stan dar untuk mengukur perkiraan kecakapan umum (kecerdasan) dan kecakapan khusus (b akat) seseorang. makna kata-kata. Kemampuan untuk memahami perasaan. ata u Maradona dan Pele sang legenda sepakbola dunia. Alat ukur inteligensi yang paling dikenal dan banyak digunakan di Indonesia ialah Tes Binet Simon -. Bodily Kinesthetic 6.walaupun sebetulnya menurut hemat penulis alat ukur tersebut masih terbatas untuk mengukur inteligensi atau bakat persekol ahan (scholastic aptitude). Apakah mereka termasuk juga o rang-orang yang genius atau cerdas ? Dalam teori kecerdasan tunggal (uni-dimensi onal). Intrapersonal KEMAMPUAN INTI Kepekaan dan kemampuan untuk mengamati pola-pola lo gis dan bilangan serta kemampuan untuk berfikir rasional. Kepekaan terhadap suar a. teori inteligensi yang berusaha mengakomodir kemampuan-kemampuan ind ividu yang tidak hanya berkenaan dengan aspek intelektual saja. Kemampuan untuk mengamati dan merespons suasana hati. Logical – Mathematica l 2. temper amen. dan keragaman fungsi-fungsi bahasa. kekuatan dan k elemahan serta inteligensi sendiri. dan motivasi orang lain. Jika kita perhatikan penjelasan tentang aspek-aspek intelige nsi dari teori-teori inteligensi di atas. Dalam hal ini. Kecakapan potensial seseorang hanya dapat dideteksi dengan mengidentifikasi indi kator-indikatornya. belum dapat mengukur . Dengan indikator-indikator perilaku inteligensi tersebut. Kemampuan untuk m enghasilkan dan mengapresiasikan ritme. Interpersonal 7.

(7) berfikir l ogis.20 % 0. (6) kecepatan pengamatan. Alat tes ini dapat mengungkap tenta ng : (1) pemahaman kata. Untuk mengukur bakat seseo rang.49 < 25 KAT EGORI Jenius (Genius) Sangat Unggul (Very Superior) Unggul (Superior) Diatas rat a-rata (High Average) Rata-rata (Average) Dibawah Rata-Rata (Low Average) Bodoh (Dull) Debil (Moron) Imbecil Idiot PERSENTASE 0. SRA-PMA (Science Research Action – Primary Mental Ability). baik men ggunakan instrumen standar atau hanya berdasarkan pengamatan sistematis guru buk anlah bersifat memastikan tingkat kecerdasan atau bakat seseorang namun hanya se kedar memperkirakan (prediksi) . (2) kefasihan mengungkapkan kata.05 % Selain menggunakan instrumen standar. diantaranya : DAT (Different ial Aptitude Test). rata-rata (mi dle group) dan lambat (lower group) dalam belajarnya. seorang guru pada dasarnya dapat pula mend eteksi dan memperkirakan inteligensi peserta didiknya. IQ > 140 130-139 120-129 110-119 90-109 80 .75 % 6% 13 % 60 % 13 % 6% 0. Selain itu. Dari hasil pengukuran inteligensi tersebut dapat diketahui seberapa besar tingkat integensi (biasa disebut IQ = Intelligen t Quotient yaitu ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang. (4) tilikan ruangan. dan kem udahan peserta didik dalam dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan me ngerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian.89 70 . (5) daya ingat.25 % 0.aspek – aspek inteligensi secara keseluruhan (multiple inteligence). dan (8) kecakapan gerak. Rumus yang b iasa digunakan untuk menghitung IQ seseorang adalah : MA (Mental Age) IQ= 100 x CA (Chronological Age) Di bawah ini disajikan norma ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang. (3) pemahaman bilanga n.69 25 . melalui pengamatan yang s istematis tentang indikator – indikator kecerdasan yang dimiliki para peserta didi knya. dapat menggunakan beberapa instrumen standar. sehingga pada akhirnya akan di ketahui kelompok peserta didik yang tergolong cepat (upper group).79 50 . FA CT (Flanagan Aptitude Calassification Test). a da juga tes intelegensi yang bersifat lintas budaya yaitu Tes Progressive Metric es (PM) yang dikembangkan oleh Raven.75 % 0. yaitu dengan cara memperhatikan kecenderungan kecepatan ketepatan. Perlu dicatat bahwa pengukuran tersebut.

11. misalnya k onstitusi dan kondisi fisik. untuk kepentingan pengembangan diri. yaitu: 1. Memiliki kemampuan memikirkan beb erapa macam pemecahan masalah. Hall dan Gardner Lindzey. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbedabeda. ketegangan emosional. 9. 14. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penye suaian diri. Lancar berbahasa (mampu mengutarakan pikirannya). 7. Menur ut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. akhirnya d ia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Berangkat dari studi yang dilakukannya. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tu ntutan (norma) lingkungan. 6. 5. Mampu mengemukakan dan mempertahankan penda pat. 12. Memiliki kemampuan yang tinggi dalam berfikir l ogis dan kritis Mampu belajar/bekerja secara mandiri. Dalam rangka Program Percepatan Belajar (Accelerated L earning). 3. Mempunyai daya imajinasi ya ng tinggi. frustrasi dan konf lik.saja. 10. Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas pe rilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu la innya. Mampu berkonsentrasi. Keragaman Individu dalam Kepribadian Para ahli tampaknya masih sangat beragam dalam memberikan rumusan tentang kepribadian. 13. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa). Balitbang Depdiknas (1986) telah mengidentifikasi ciri-ciri keberbakat an peserta didik dilihat dari aspek kecerdasan. 4. Allport (Calvin S. Mempunyai minat luas. tergantung sudut pandang masing-m asing. 2. Belajar dengan dan cepat. Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan. Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar. . Begitu juga kecerdasan atau bakat ses eorang bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan tingkat keberhasilan atau ke suksesan hidup seseorang. Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau pe rbuatannya Cermat atau teliti dalam mengamati. kreativitas dan komitmen terhada p tugas. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. 8. Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengata si kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. b.

yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan inter personal. Menunjukkan kekhawatiran dan kece masan 3. f. negatif atau ambivalen d. teori P ersonologi dari Murray. 5. konsiten ti daknya dalam memegang pendirian atau pendapat. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. Responsibilitas (tanggung jawab). Sosiabilitas. 6. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpen garuh. 3. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. atau melarikan diri dari resiko yang dihadap i. Karakter. atau putus asa e. Seperti mau menerim a resiko secara wajar. 4. hormon. teori Stimulus-Respons dari Throndike. sambutan terhadap objek yang bersifat positif . di antaranya : teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. Seperti : sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berko munikasi dengan orang lain. Dalam hal ini. Watson. m arah. Elizabeth Hurlock (Syam su Yusuf. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. Kebiasaan berbohong 7. teori The Sel f dari Carl Rogers dan sebagainya. teori Sosial Psikologis dari Adler. mulai dari yang menunjukkan ciri-ciri kepribadian yang sehat sampai denga n ciri-ciri kepribadian yang tidak sehat. yaitu disposisi re aktif seorang. Hi peraktif . yaitu kadar kestabilan reaksi emos ional terhadap rangsangan dari lingkungan. Ketid akmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang 6. 2003) mengemukakan ciri-ciri kepribadian yang sehat atau tidak sehat. Mampu menilai diri sendiri secara realistik Mampu menilai situasi secara realist ik Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik Menerima tanggung jawa b Kemandirian Dapat mengontrol emosi Berorientasi tujuan Berorientasi keluar (ek strovert) KEPRIBADIAN YANG TIDAK SEHAT 1. Horney dan Sullivan. Bersikap kejam 5. yang di dalamnya mencakup : tentang aspek-aspek a. teori Medan dari Kurt Lewin. Mudah marah 2. Seperti mudah tidaknya tersinggung. 7. Fromm. Untuk menjelaskan tentang kepriba dian individu. Sering merasa tertekan (stress atau depresi) 4. Setiap individu memiliki ciri-ciri kepribadian terse ndiri. Abin Syamsuddin (2003) mengemu kakan kepribadian. Sementara itu. 2. Temperamen.tampang. Stabilitas emosi. Sikap. cuci tangan. 8. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. Hull. sebagai berikut : KEPRIBADIAN YANG SEHAT 1. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersang kutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. b. c. sedih. teori Analitik dari Carl Gust av Jung. teori Psikologi Individual dari Allport.

Memiliki filsafat hidup 11. bahwa : (1) tiap-tiap sifat (traits) makhluk h idup itu dikendalikan oleh keturunan. Penerimaan sosial 10. S ulit tidur 11. Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama 14. Beberapa asas tentang keturunan di bawah ini akan memberikan gambaran pembanding kepada kita tentang apa-apa yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya : 1. para ahli sepakat bahwa pada d asarnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh tiga faktor u tama. Kendati demikian. Berbahagia 8. se yogyanya guru dapat memperlakukan peserta didik dan mengembangkan strategi pembe lajaran. Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas 9. Seberapa kuat pengaruh keturunan sangat bergantung pada besarnya kualitas gen yang dimiliki oleh orang tuanya (ayah atau ibu). Kurang be rgairah Berdasarkan uraian diatas kita dapat memahami bahwa ketika seorang guru berhadap an dengan peserta didiknya di kelas. Sifat-sifat atau ciri-ciri perilaku yang diturunkan orang tua kepada anaknya hanyalah bersifat . Sehingga peserta didik dapat mengembangka n diri sesuai dengan kecepatan belajar dan karakteristik perilaku dan kepribadia nnya masing-masing. Sering mengalami pusing kepala 13. kecakapan potensial (bakat dan kecerdasan). Senang mengkritik/ mencemooh 10. seperti : konstitusi dan struktur fisik. Berdasar kan percobaannya dengan cara mengawinkan bunga merah dengan bunga putih. Oleh karena itu. Pesimis 15. pasangan faktor keturunan itu memisah. dan tiap-tiap sel kelaminnya menerima sa lah satu faktor dari pasangan keturunan itu.9. dan satu dari pada pasangan alternatif itu memegang pengaruh besar. yaitu : a. Hasil percobaan Mendel ini menjelas kan kepada kita bahwa faktor keturunan memegang peranan penting bagi perilaku da n pribadi individu. pembawaan sejak lahir atau berdasarkan keturunan yan g bersifat kodrati. (2) tiap-tiap pasangan faktor keturunan me nentukan bentuk alternatif sesamanya. dan (3) pada waktu proses pembentukan sel-sel kelamin. Gregor Mendel mengemukakan pandangannya. dengan memperhatikan aspek perbedaan atau keragaman kecakapan dan kepri badian yang dimiliki peserta didiknya. Kurang rasa tanggung jawab 12. Herediter. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman dalam Kecakapan dan Kepribadian Timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian d ipengaruhi oleh bebagai faktor. 2. dia dihadapkan dengan sejumlah keragaman ke cakapan dan kepribadian yang dimiliki para peserta didiknya. Asas Reproduksi Menurut asas ini bahwa kecakapan (achievemen t) dari masing-masing ayah atau ibunya tidak dapat diturunkan kepada anak-anakny a.

baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis. yaitu memunculkan kembali mengenai apa yang sudah ada pada hasil per paduan benih saja. dan bukan didasarkan pada perilaku orang tua yang diperolehny a melalui hasil belajar atau hasil berinteraksi dengan lingkungannya. sedangkan bagi anak laki-laki akan le bih banyak memilki sifat pada ibunya.Misalnya. lingkungan tempat di mana individu itu berada dan berinteraksi. Asas konformitas Berdasarkan asas konformi tas ini bahwa seorang anak akan lebih banyak memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku yang diturunkan oleh kelompok rasnya atau suku bangsanya. Lingkungan membuat individu sebagai makhluk s osial . 4. Asas Regresi Filial Terjadi pensur utan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan o leh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. 3. karena dengan lingkungan itu individu mulai meng alami dan mengecap alam sekitarnya. akan didapati beberapa perbedaan sifat dan cir i-ciri perilaku individu dari orang yang bersaudara. Seorang anak perempuan akan lebih banyak mem ilki sifat-sifat dan tingkah laku ayahnya. Environment. Hal ini disebabkan karena pad a waktu terjadinya pembuahan komposisi gen berbeda-beda. Asas Jenis Menyilang Menurut asa s ini bahwa apa yang diturunkan oleh masing-masing orang tua kepada anak-anaknya mempunyai sasaran menyilang jenis. Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai e mpirik yang berarti pengalaman. Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mu tlak dari pada pengaruh lingkungan itu.2. Sedangkan perbandingannya mana yang lebih besar antara sifat-s ifat ayah dan ibunya ini sangat tergantung kepada daya kekuatan tarik menarik da ri pada masing-masing sifat keturunan tersebut. sehingga akan didapati sebagian kecil dari sifat-sifat ayahnya dan sebagian kecil pula dari si fat-sifat ibunya. baik yang berasal dari ayah maupun ibu. sehingga mungkin saja kakaknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ayahnya sedangkan adiknya lebih banyak menyerupai sifat d an ciri-ciri perilaku ibunya atau sebaliknya. 5. Sejauh mana pengaruh lingkungan itu bagi diri individu. baik mengenai kuantitas maupun kualitasnya. karena lingkungan itu senantiasa tersedi a di sekitarnya. orang Eropa akan menyerupai sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku seperti orang -orang Eropa lainnya dibandingkan dengan orang-orang Asia. Asas Varia si Bahwa penurunan sifat pembawaan dari orang tua kepada anak-anaknya akan berva riasi. reproduksi. termasuk didalamnya ad alah belajar. walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama. b. dapat k ita ikuti pada uraian berikut : 1. Oleh karena itu.

apabila dianggap sesuai de ngan dirinya. akan tetapi serentak dia dihadapkan kep ada pergaulan manusia. canggung pemalu dan lain-lain. Berubahnya tabiat manusia sebagai ma nusia dalam arti bahwa ia tidak akan mampu bergaul dan bertingkah laku dengan se samanya. Contoh : seorang anak yang senantiasa bergaul dengan temannya yang rajin belajar. Obyek penyesuaian diri bagi individu. maka penyesuaian dirinya itu akan berlangsung sangat la mbat sekali. c. 2. sedikit banyaknya sifat rajin dari temannya akan diikutinya sehi ngga lama kelamaan dia pun berubah menjadi anak yang rajin. Dapat kita bayangkan andaikata seorang anak manusia yang sejak lahirnya dipisahkan dari pergaulan manusia sampai kira-kira berusia 10 tahun saja. Lingkungan yang beraneka ragam senant iasa memberikan rangsangan kepada individu untuk berpartisipasi dan mengikutinya serta berupaya untuk meniru dan mengidentifikasinya. Lingkungan dapat membentuk pribadi seseoran g. akan mengakibatkan berubahnya tabiat manusia sebagai manusia.Yang dimaksud dengan lingkungan pada uraian ini hanya meliputi orang-orang atau manusia-manusia lain yang dapat memberikan pengaruh dan dapat dipengaruhi. d. Contoh : dalam keadaan cuaca panas individu memasang kipas angin sehingga dikamarnya me njadi sejuk. baik secara alloplastis maupun autoplastis. walau pun diberinya cukup makanan dan minuman. Dalam hal ini. sebagai : a. Sehingga kalaup un dia kemudian dididik. sehin gga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya. Contoh : air dapat dipergunakan untuk minum atau menjamu teman ketika berkunjung ke rumah. Alat untuk kepentingan dan kelangsung an hidup individu dan menjadi alat pergaulan sosial individu. Lingkungan membuat wajah budaya bagi individu Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah m enjadi kekayaan budaya bagi dirinya. b. Terputusnya hubungan manusia dengan m asyarakat manusia pada tahun-tahun permulaan perkembangannya. maka sudah dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mampu be rbicara dengan bahasa yang biasa. Tant angan bagi individu dan individu berusaha untuk dapat menundukkannya. Penyesuaian dir i alloplastis artinya individu itu berusaha untuk merubah lingkungannya. karena manusia hidup adalah manusia yang berfikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba terhadap segala apa yang tersedia di alam sekitarnya. Sesuatu yang diikuti individu. Lingkungan me miliki peranan bagi individu. Contoh : a ir banjir pada musim hujan mendorong manusia untuk mencari cara-cara untuk menga tasinya. individu melakukan manipulation yaitu mengadakan usa ha untuk .

hasil belajar yang diperoleh peserta didik. religius. Kematangan pada awalnya merupakan hasil dari adanya peru bahan-perubahan tertentu dan penyesuaian struktural pada diri individu. .M) P= Pribadi atau perilaku f = fungsi H= Herediter (pembawaan) E=Environment (ling kungan. pada awalnya dia merasa mual karena bau obat-obatan. Kematangan seperti ini disebut kematangan biologis. Kematangan aspek psikis ini diperlukan adanya latihan dan belajar tert entu. seperti : kemampuan berfikir. seorang guru dapat melakukan pengamatan dengan melihat indikator sebagai berikut : a. kecepatan ketepatan. dan kepribadian. sosial. Achievement b. moral. Inteligensi d. Contoh : seorang juru rawat di rumah sakit. otot. Latihan Soal : Pilihan Ganda Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda pa ling tepat. Kematangan terjadi pula pada aspek-asp ek psikis. Untuk mengenali tingkat kecerdasan peserta didiknya. seperti adanya kematangan jaringan-jaringan tubuh. c. kematangan yang mengacu pada tahap-tahap atau fase-fase perkembanga n yang dijalani individu. karena dirinya telah sesuai deng an lingkungannya. a. Ketiga faktor tersebut di atas dapat dibuat formulasi sebagai berikut : P= f (H. namun lama-kelamaan dia me njadi terbiasa dan tidak menjadi gangguan lagi. penyesusian diri yang dilakukan individu agar dirinya sesuai dengan lingkungannya. termasuk belajar) M=Maturity (tingkat kematangan) D. terutama dalam mata pelajaran Matematika d an bahasa Inggris b. emosi. Sedang kan penyesuaian diri autoplastis. Kepribadian 2. dan kemudahan peserta didiknya dalam m enyelesaikan tugastugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulang an atau ujian. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. Kecakapan khusus indivi du yang merupakan hasil pembawaan. Maturity. syaraf dan kelenjar. Aptitude c.memalsukan lingkungan panas menjadi sejuk sehingga sesuai dengan dirinya.E.

d. b dan c benar. tidak memerlukan dorongan (motivas i) dari luar. d. Intelligence Quotient (IQ) merupakan ukuran tingkat kecerdasan seseorang diba ndingkan dengan : a. c. b.c. (5) kemampuan b ilangan (numerical ability). karakter . cara berbicara dan bertindak peserta didik sehari-hari. b. (3) kemampuan nalar atau berfi kir (reasoning). Hasil ini menunjukkan bahwa siswa X memiliki kecerdasan tergolong : a. dan c benar terhadap rangsangan8. dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual speed). kemampuan usia prestasi belajar a. (2) kemampuan mengingat (memory). b. mampu belajar/bekerja secara mandiri. c. Merupak an teori inteligensi : a. Disposisi reaktif seorang. d. b. Inteligensi merupakan penjelmaan dari : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension). b. c. 7. b. dan c benar 5. selalu memperoleh peringkat pertama di kelas memiliki kemampuan me mikirkan beberapa macam pemecahan masalah. d. Berdasarkan hasil test kecerdasan. c. siswa X memperoleh ukuran kecerdasan (IQ) sebesar 135. Very Superior Superior Genius Di atas rata-rata 6. Di bawah ini merupakan ciri-ciri keberbakatan dalam rangka percepatan belajar (accelerated learning). kecuali : a. b. (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency). d. Di bawah ini merupakan aspek-aspek kepribadian menurut Abin Syamsuddin Makmun : a. Two Factors Primary Mental Abilities Multiple Intlelligence a. a. c. d. dan c benar 4. (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor). 3. b. atau cepat lambatnya mereaksi rangsangan yang data ng dari lingkungan. karakter dan temperamen stabilitas emosi sikap dan stabilitas emo si responsibilitas dan sosiabilitas a. a.

a. Terjadi pensu rutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. d. alloplastis b. A sas Reproduksi Asas Variasi Asas konformitas Asas Jenis Menyilang 10. temperamen c. a. well-adjusment Uraian 1. Penyesuaian diri yang dilakukan individu dengan berusaha merubah lingkungann ya. J elaskan tentang teori Multiple Inteligensi menurut Howard Gardner ! 2. c. sikap dan stabilitas emosi 9. Jelaskan bahwa faktor heredite r. stabilitas emosi d. b. mal-adjusment d. autoplastis c. lingkungan dan kematangan dapat mempengaruhi terhadap timbulnya keragaman dal am kecakapan dan kepribadian ! .b. Jelaskan bagaimana cara mengukur kecerdasan seseorang ? 3.

Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. . 4. 3. progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – p erubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya. diharapkan Anda dapat : 1.BAB III PERKEMBANGAN INDIVIDU A. Mendefinisik an perkembangan. 3. Menjelaskan tahapan perkembangan individu berdasarka n pendekatan didaktis. 6. 5. tugas perkembangan individu dan masa remaja. prinsip-prinsip perkembangan. 2. Peng ertian Perkembangan. dan model pentahapa n perkembangan individu. 4. Pengertian Perkembangan Perkembangan dapat diartikan sebag ai perubahan yang sistematis. Menjelaskan tentang aspek-aspek perkembangan individu. 5. dan remaja. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Pe rkembangan Pada Masa Remaja C. Aspek – Aspek Perkembangan Individu. 2. Mengidentifikas i ciri-ciri umum perkembangan. Intisari Bacaan 1. aspek-aspek perkembangan perilaku dan pribadi pada masa remaja. B. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Model Pentahapan Perke mbangan. serta problema yang dihadapi pada masa remaja. Menguraikan tugas-tugas perkembangan individu pada masa bayi kanak-kanak. Pokok Bahasan 1.

baik fisik maupun psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmon is. 2. seorang anak terl ebih dahulu harus menguasai tahapan perkembangan sebelumnya yaitu kemampuan dudu k dan merangkak. perubahan pengetahuan dan keterampilan dari sederhana sampai kepada yang komple ks (mulai dari mengenal huruf sampai dengan kemampuan membaca buku). 5. Syamsu Yusuf (2003) memerinci. meningkat dan meluas. Semua aspek perkembang an saling berhubungan. Contoh : untuk dapat berdiri. seperti : berbicara dan berfikir. 6. Fisik. seperti : berat dan tinggi badan.Yang dimaksud dengan sistematis adalah bahwa perubahan dalam perkembangan itu be rsifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. f. Dari konkret ke abstrak. yaitu : a. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan. Struktur mendahului fungsi. 4. Contoh : kemampuan berbicara seseorang akan sejalan dengan kematangan dalam perkembangan intelektual atau kognitifnya. Terja dinya perubahan dalam proporsi. Lebih jauh lagi. Terjadinya perubahan dalam aspek : 1. beberapa prinsip perkembangan Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti. Dari egosentris ke perspektivisme. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Perkembangan individu mempunyai ciri-cir i umum sebagai berikut : a. b. Yelon dan Winstein (Syamsu Yusuf. Contoh : perubahan prop orsi dan ukuran fisik (dari pendek menjadi tinggi dan dari kecil menjadi besar). 2003) mengemukakan tentang arah atau pola perkembangan s ebagai berikut : 1. paru dan sebagainya) ke sampin g (tangan). d. Kemampuan berjalan seseorang akan sei ring dengan kesiapan otot-otot kaki. Begitu juga ketertarikan seorang remaja ter hadap jenis kelamin lain akan seiring dengan kematangan organ-organ seksualnya. individu. Diferensiasi ke integrasi. Setiap individu normal akan mengalami tahap an/fase perkembangan. 2. c. Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu. Berkesinamb ungan artinya bahwa perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan. Dari outer control ke inner control. b. ba ik secara kuantitatif (fisik) mapun kualitatif (psikis). Progresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju. 2. e. . Setiap fa se perkembangan mempunyai ciri khas. Psikis. 3. Cephalocaudal & proximal-distal (perkembangan manusia itu mu lai dari kepala ke kaki dan dari tengah (jantung.

25 th 0-2 th 2-12 th 12-15 th 15-20 th 0-3 th 3-7 th 7-13 th 13-20th 9 bln-280 hr 10 hr-14 h r 2 mng -2 th 2 th-remaja 11-13 th 16-17 th 18-21 th 21-25 th 25-30 th 30. dan psikologis.6 th 6-12 th 12-18 th 18. 3. seperti : pe rgantian gigi dan karakteristik sex pada usia remaja.Pre Adolesence . seperti : proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangann ya. 2. Para ahli mengemukakan pe ndapat tentang model – model petahapan yang beragam.wafat Syamsu Yusuf Rosseau Kretschmer Elizabeth Hurlock . seperti berkembangnya rasa ingin tahu. maka untuk kepentingan studi para ahli telah mencoba mengembangkan m odel pentahapan (stages) mengenai proses perkembangan. kelenjar thymus dan kelenjar pineal. seperti: rambut-rambut halus dan gigi susu . Model Pe ntahapan Perkembangan Individu Memperhatikan kompleksitas dari sifat perkembanga n individu. Di bawah ini disajikan tabel tentang model tahapan perkembangan yang dikemukakan oleh beberapa ahli. c.1. 1. nilai-nilai moral dan keyakinan beragama. Nama Ahli Aristoteles Tahapan Masa Kanak-Kanak Masa Anak Sekolah Masa Remaja Mas a Usia Pra Sekolah Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Menengah Masa Usia Mahapeserta didik Tahap I Masa Asuhan Tahap II Masa Pendidikan Jasmani dan latih an Panca Indera Tahap III Masa Pendidikan Akal Tahap IV Masa Pendidikan Watak da n Agama Fullungs (Pengisisian) I Streckungs (Rentangan) I Fullungs (Pengisisian) II Streckungs (Rentangan)II Pranatal Infancy (orok) Babyhood (bayi) Childhood ( kanak-kanak) Adolesence/puberty (masa remaja): . terutama yang berkaitan den gan sex. Lenya pnya tanda-tanda yang lama.Late Adolesence Adulthood (masa dewasa) Middle age (tengah baya) Old Age (m asa tua) Waktu 0-7 th 7-14 th 14-21 th 0. Psikis. Psikis. ilmu pengetahuan. Fisik. seperti : lenyapnya masa mengo ceh.Early Adolesen ce . 1. tumbuh uban pada masa tu a. Diperolehnya tanda-tanda baru. Psikis. 2. 2. Fisik. didaktis. yang secara garis besarnya da pat dikelompokkan ke dalam tiga pendekatan yaitu pendekatan biologis. seperti : perubahan imajinasi dari fantasi ke realistis. Fisik. seperti kumis dan jakun pa da laki dan tumbuh payudara dan menstruasi pada wanita. d. perilaku impulsif.

Peduli akan hubungan mutualistik 5. Bersikap realistis dan obyektif terhadap di ri sendiri maupun orang lain 3. Peduli terhadap penampilan di ri 2. Tidak sensitif terhadap keindividualan 10. motif. Memiliki tujuan jangka p anjang 6. Berfikir lebih kom pleks dan atas dasar analisis 1. Dan perspektif diri 4. 4. Mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan 1. Kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan 3.Intuitif Konkret -Operasional Formal . Mengenal kompleksitas diri 8. Mengenal eksistensi perbedaan individual 5. Peningkatan kesadaran invidualitas 2. Berfikir sterotip dan klise 3. Me mbedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya 7. Mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik 3. Peduli akan paham abstrak. yaitu : Tahap Impulsif Ciri – Ciri Identitas diri terpisah dari orang lain Bergantung pada lingkungan Beorientasi hari ini Individu tidak menempatkan diri sebagai penyeba b perilaku Peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berh ubungan dengan orang lain 2. Melihat kehidupan sebagai “zero-sum game” 5. 2. 1.Pre-konseptual . Bertindak atas dasar nilai internal 2. Merasa berdosa jika melang gar aturan 1. Perlindungan Diri Konformistik Seksama Individualistik Otonomi . Takut tidak diterima k elompok 9. Mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan 6. Peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial 1. Perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal 8. Bertindak d engan motif dangkal 5. Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan 3. Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain 1. 4. seperti keadilan sosi al. Mampu melihat keragaman emosi. Menjadi lebi h toleran terhadap diri sendiri dan orang lain 4. Berfikir tidak logis dan stereotip 4.operasional 0-2 th 2-7 th 2-4 th 4-7 th 7-11 th 11-15 th Loevenger sebagaimana dikemukakan oleh Sunaryo dkk (2003) mengemukakan tentang f ase-fase perkembangan individu beserta ciri-cirinya. Cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial 7. Kurang introspeks i 7. 3. Peduli akan aturan eksternal 4. Memiliki pandanga n hidup sebagai suatu keseluruhan 2. Menyamakan diri dalam ekspresi emosi 6.Piaget Sensori-motor Pra-operasional : .

mulai dari yang paling dekat sampai dengan ruang yang jauh. 3. di bawah ini dikemukakan tahapa n perkembangan individu dengan menggunakan pendekatan didaktis: a. Masa Estetik. . Freud menyebutnya sebagai masa oral (mulut). tela h mengembangkan suatu instrumen untuk melacak tugas-tugas perkembangan individu. Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual. b. Selanjutnya. Anak bereksplorasi dan belajar melalui panca inderanya. 6. yaitu : (a) masa kelas-kelas rendah dan (b) masa kelas tinggi. Adanya k orelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional. Pada masa i ni panca indera masih sangat peka. 8. anak belajar mengendalikan impulsimpuls atau dorongan-dorongan yang da tang dari dalam dirinya. atau masa keserasian bersekolah pada umur 6 -7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. 2. 5. dianggap sebagai masa perkembangan ras a keindahan. Adanya kecenderungan memuji di ri sendiri Membandingkan dirinya dengan anak yang lain Apabila tidak dapat menye lesaikan suatu soal.5. dkk. Peduli akan self fulfillment Ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal Respek terhadap kemandirian orang lain Sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain Mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan kece riaan Dengan memperhatikan fase dan ciri-ciri perkembangan di atas. 2.Pada tahun kedua anak belajar berjalan sehingga anak belajar menguasai ruang. 4. maka soal itu dianggap tidak penting. karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan merupakan alat untuk melakukan eks plorasi dan belajar. Yang dikenal dengan sebutan Inventori Tugas Perkembangan (ITP). 9. Sunaryo. de ngan merujuk pada pemikiran Syamsu Yusuf (2003). pada masa ini individu menggunakan fungsi-fungsi biologis un tuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Masa Vital. Untuk masa belajar pada tahun pertama dalam kehidupan individu . Masa Usia Sekolah Da sar terbagi dua. Pa da tahun kedua umunya terjadi pembiasaan terhadap kebersihan. Masa Usia Pra Sekolah Masa Usia Pra Sekolah terbagi dua yaitu (1) Masa Vital dan (2) Masa Est etik 1. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 – 9/10 tahun) : 1. 7. Melalui latihan ke bersihan.

yang terbagai ke dalam 3 bagia n yaitu : 1. Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor ya ng baik. dal am jasmani dan mental. tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak. Perkembangan anatomis . pada masa i ni mulai tumbuh dorongan untuk hidup. Pada masa ini sebagai masa mencari sesuatu yang dipandang bernilai.00 tahun) Masa ini dapat digolongkan pada masa remaja akhir sam pai masa dewasa awal atau dewasa madya. proporsi tinggi kepala dengan tinggi garis keajegan badan secara secara kese luruhan. Samp ai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesa ikan tugas dan memenuhi keinginannya. Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus 4. mereka membuat peraturan sendiri. Minat ter hadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret 2. 6. Perkembangan F isik Perkembangan fisik individu mencakup aspek-aspek : 1. adanya perubahan kuantitatif pada struktur tulang. 4. Amat realistik. Masa Usia Sekolah Menegah Masa usi a sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja. d.00-25. setelah remaja dap at menentukan pendirian hidupnya. c. biasanya ditandai dengan sifat-sifat negatif. 2. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) : 1. rasa ingin t ahu dan ingin belajar 3. Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi s ekolahnya.6. pada dasarnya telah tercapai masa remaja akhir dan telah terpenuhi tugas-tugas perkembangan pada masa remaja. prestasi. indeks tinggi dan berat bad an. serta sikap sosial. Aspek. Dalam perma inan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sud ah ada).Aspek Perkembangan Individu a. Selepas usia ini pada umumnya anak menghad api tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya 5. yang akan member ikan dasar bagi memasuki masa berikutnya yaitu masa dewasa. masa remaja. 3. kebutuhan akan adanya teman yang dapat mem ahami dan menolongnya. Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. yang intinya pada masa ini merupakan pem antapan pendirian hidup. masa remaja akhir. . pantas dijunjung dan dipuja. Masa Usia Kemahas iswaan (18. masa remaja awal.

yaitu : (1) bahwa perkembangan itu ber langsung dari yang sederhana kepada yang kompleks. seperti konstraksi otot-ot ot. dan mimik serta simbol ekspresif lainnya. b. Puncak perkembangan pada umumnya tercapai di penghuju ng masa remaja akhir. dan bahasa ekspresif dengan belajar menul is. gambar. Perkembangan fisiologis. Perkembangan bahasa dimulai dengan ma sa meraban. menyimpan. lukisan gerak . mulai masa remaja t erjadi amat mencolok. setelah itu kepes atannya berangsur menurun.gerik. Kedua jenis keterampilan ini menjadi dasar bagi perkembangan keterampilan yang lebih kompleks untuk bermain (playing ) dan bekerja (working). ditandai dengan adanya perubahan secara kualitatif. membaca dan menggambar permulaan. konatif). peredaran darah dan pernafasan. persyarafan. laju per. Kemudian. membuat kalimat sederhana. gemar bertanya yang tidak selalu har us dijawab. Dua prins ip utama dalam perkembangan psikomotorik. pada permulaan masa remaja akhir bagi wanita dan penghujung masa remaja akhir bagi pria.1970) menunjukkan bahwa laju perkemb angan inteligensi berlangsung sangat pesat sampai masa remaja. haus nama-nama. mencatat. manusia. Melalui bahasa. Loree dalam Abin Syamsuddin (2003) mengatakan bahwa ada dua macam perilaku psikomotorik utama yang bersifat universal harus d ikuasai oleh setiap individu pada masa bayi atau masa kanak-kanak yaitu berjalan (walking) dan memegang benda (prehension).2. Jones dan Conrad (Loree. d. Perubahan-perubahan amat tipis sampai usia 50 tahun. mengekspresikan dan mengkomunikasikan berb agai informasi. c. me ngkodifikasikan. dan s etelah itu terjadi plateau (mapan) sampai dengan usia 60 tahun selanjutnya beran gsur menurun. bicara monolog. Perkembangan Perilaku Psikomotorik Perkembangan psik omotorik memerlukan adanya koordinasi fungsional antara neuronmuscular system (s istem syaraf dan otot) dan fungsi psikis (kognitif. Perkembangan Perilaku Kognitif Dengan m enggunakan hasil pengukuran tes inteligensi yang mencakup General Information an d Verbal Analogies. baik dalam bentuk lisan. Perkembangan Bahasa Kemampuan berbahasa merupakan ke mampuan yang membedakan antara manusia dengan hewan.kembangan menurun sangat lamb at bahkan menjadi mapan. kuantitaif dan fungsional dari sistem kerja biologis. pada masa bayi dan kanak-kanak per ubahan fisik sangat pesat. tulisan. sekresi kelenjar dan pencernaan . . Laju perkembangan berjalan secara berirama. afektif. dan (2) dari yang kasar dan g lobal (gross bodily movements) kepada yang halus dan spesifik dan terkoordinasik an (finely coordinated movements). pada usia sekolah menjadi lambat.

benda apapun yang tidak ia lihat. Sebelum usia 18 bulan. Tahap konkret-operasional (7-11) Pada periode ditandai oleh adanya tambahan ke mampuan yang disebut system of operation (satuan langkah berfikir) yang bermanfa at untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dal am pemikirannya sendiri. tidak i a sentuh. 2. walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sud ah tak dilihat. Artinya. pandangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dengan pandangan pada periode sensori motor. Bloom (1964) mengungkapkan prosentase tar af perkembangan sebagai berikut : Usia 1 tahun 4 tahun 8 tahun 13 tahun Perkembangan Sekitar 20 % Sekitar 50 % Sek itar 80 % Sekitar 92 % Secara kualitatif perkembangan perilaku kognitif diungkapkan oleh Piaget.24 bulan barulah kemampuan object permanence anak ters ebut muncul secara bertahap dan sistematis. didengar atau disentuh lagi. Tahap formal-operasional (11 . Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. Namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. Jadi. atau tidak ia dengar dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya benda it u ada. anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yan g harus ada atau biasa ada. namun me rupakan inteligensi dasar yang amat berarti untuk menjadi fondasi tipe-tipe inte ligensi tertentu yang akan dimiliki anak kelak. anak belu m mengenal object permanence. sebaga i berikut : 1. Pada periode in i anak baru mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristi wa yang konkret. yakni tidak bergantung lagi pada pengamatannya belaka. Art inya.dewasa) . Dalam rentang 18 . dengan menggunakan kata-kata yang benar serta mampu mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif.Dengan berpatokan kepada hasil tes IQ. 3 . insight learning dan kemampuan berbahasa. yang berfaedah untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum mampu berfikir mengenai apa yang sedang i a perbuat. Inteligensi individu pada tahap ini masih bersifat primitif. Tahap Sensori-Motor (0-2) Inteligensi sensori-motor dipandang seb agai inteligensi praktis (practical intelligence). Tahap Pra Operasional (2 – 7) Pada tahap ini anak sudah memiliki penguasaan sempurna tentang object permanence. Pada periode ditandai oleh adanya eg osentris serta pada periode ini memungkinkan anak untuk mengembangkan diferred-i mitation. 4.

3. yang d ibagi ke dalam tiga kategori : 1. b. . Kecenderungan ekspresif (expressive disposition). baik yang menyangkut nilai. Selanjutnya ia mempelajari keadaan-keadaan di luar rumah. Kapasit as menggunakan hipotesis Kemampuan berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkun gan yang dia respons dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. Kapas itas menggunakan prinsip-prinsip abstrak Kemampuan untuk mempelajari materi-mate ri pelajaran yang abstrak secara luas dan mendalam.Pada periode ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yaitu : a. ia menyadari bahwa d irinya merupakan bagian dari masyrakat dan dituntut untuk berperilaku sesuai den gan tuntutan masyarakat. e. 2. ciri-ciri respons interpersonal yang bertalian dengan kesukaan. ciri-ciri respons interpersonal yan g merujuk kepada tugas dan kewajiban dari posisi tertentu. Perkembangan Perilaku Sos ial Sejak individu dilahirkan ke muka bumi ini ia telah mulai belajar tentang ke adaan lingkungan sosialnya. mengidentifikasi dan mengamati segala sesuatu yang ditampilkan orang tua dan anggota keluarga lainnya. ia mempelajari segala yang terjadi dal am lingkungan keluarga. Krech et. Proses tersebut biasa disebut sosialisasi. (1962) mengemukan bahwa untuk memahami perilak u sosial individu. kepercayaan terhadap individu lain. Ia mencoba meniru. al. dengan menampilkan kebiasaan-kebiasaan khasnya (particular fashio n). d an kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam masyarakat. Akhirnya. Pada awalnya. dapat dilihat dari ciri-ciri respons interpersonalnya. ciri-ciri respons interpersonal yang bertautan dengan ekspresi diri. Kagan (1972) mengartikan sosialisasi sebagai: “…the process by which the child is integrated int o the society throgh exposure to the actions and opnions of older members of the society”. Kecenderungan peranan (role disposition). Kecenderungan sosiom etrik (sociometric disposition). norma. Sementara itu Gilmore (1974) mengemukakan bahwa “…socialization is the proc ess whereby an individual is prepared or trainned to participate in his environm ent”. Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sosialisasi pada intinya merupakan upaya mempersiapkan individu untuk dapat berperilaku sesuai dengan li ngkungan sosialnya.

sebagaimana tampak dalam tabel berikut : Tingkat Pre Conventional (0 – 9) 1. Perkembangan Moralitas Ketika individu mulai menyadari bahwa ia merupakan bagian dari lingkungan sosial dimana ia berada. bersamaan itu pula individu mulai meny adari bahwa dalam lingkungan sosialnya terdapat aturan-aturan. ingin diuji Mulai menyadari adanya kenyata an yang berbeda dengan sudut pandangnya Berperilaku sesuai dengan tuntutan masya rakat dan kemampuan dirinya f. 2003) mengemukakan tahapan dan ci ri-ciri perkembangan perilaku sosial individu sebagaimana dapat dilihat dalam ta bel berikut : Tahap Kanak-Kanak Awal ( 0 – 3 ) Subyektif Kritis I ( 3 . Tahap Orientasi terhadap kepatuhan dan huku man Relativistik hedonism . Dalam hal ini. Kohlberg mengemukakan tahapan perkembangan mor alitas individu. Keputusan untuk melakukan s esuatu berdasarkan pertimbangan norma yang berlaku dan nilai yang dianutnya itu disebut moralitas. keras kepala Mulai bisa menyesuaikan diri dengan aturan Membandingkan dengan aturan – at uran Perilaku coba-coba. norma-norma/nilai -nilai sebagai dasar atau patokan dalam berperilaku. Buhler (Abin Syamsuddin Makmun. serba salah. 2.Sementara itu.4 ) Trozt Alter Kanak – Ka nak Akhir ( 4 – 6 ) Masa Subyektif Menuju Masa Obyektif Anak Sekolah ( 6 – 12 ) Masa Obyektif Kritis II ( 12 – 13 ) Masa Pre Puber Remaja Awal ( 13 – 16 ) Masa Subyekti f Menuju Masa Obyektif Remaja Akhir ( 16 – 18 ) Masa Obyektif Ciri-Ciri Segala sesuatu dilihat berdasarkan pandangan sendiri Pembantah.

secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari. baik secara individual maupun ko lektif. melaksanakan ke giatan ritual diterima sebagai keharusan moral Sikap negatif disebabkan alam pik irannya yang kritis melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pur a) Masa Sekolah Masa Remaja Awal Masa Remaja Akhir Pandangan ke-Tuhan-an menjadi kacau. dan konatifnya. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan Penghayatan roha niahnya cenderung skeptik. Orientasi mengenai anak yang baik Mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas Orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial Prinsip e tis universal g. ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran manu sia perkembangan keagamaan . kognitif.Conventional (9 – 15) Post Conventional ( > 15 ) 3. 1970). Oleh karena itu. manus ia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan diserta i penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu. individu akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agu ng yang melebihi apa pun. termasuk dirinya. 6. Penghayatan seperti itu disebut peng alaman keagamaan (religious experience) (Zakiah Darajat. 4. namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. Abin Sy amsuddin (2003) menjelaskan tahapan sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Tahapan Ciri-Ciri Sikap reseptif meskipun banyak bertanya Masa Kanak-Kanak Panda ngan ke-Tuhan-an yang dipersonifikasi Penghayatan secara rohaniah yang belum men dalam Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadin ya) Sikap reseptif yang disertai pengertian Pandangan ke-Tuhan-an yang diterangk an secara rasional Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam. pada saat-saat tertentu. bersa maan dengan kedewasaan intelektual bahkan akan agama menjadi pegangan hidupnya P andangan ke-Tuhan-an dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihny a Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja. 5. sehingga banyak yang enggan melaksanakan ritual yang selama ini dilakukan dengan penuh kepatuhan Sikap kembali ke arah positif. Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan ata s kebaradaan-Nya. Perkembangan Penghayatan Keagamaan Dengan melalui pertimbangan fungsi afektif .

menunjukkan alat kelaminnya melihat.h. Freud (Di Vesta & Thompson dalam Abin Syamsuddin. MASA REMAJA (ADOLESENCE PERIOD) Mengurangi cara-cara waktu masa kanakkanak Munculnya cara orang memperoleh pemua san dewasa Menyenangi diri sendiri (narcisism) atau objeck oediphus-nya Objek pemuasannya m ungkin diri sendiri/sejenis (homosexual) atau lain jenis (heterosexual) .2003 ) mengemukakan tentang tahapan-tahapan perkembangan perilaku yang berhubungan ob yek pemuasan psychosexual. memegang. MASA ANAK SEKOLAH (LATENCY PERIOD) Represi Reaksi formasi Sublimasi dan kecen . siap berfungsinya alat kelamin Cara Pemuasan Sasaran Pemuasan A. Ditujukan kepada orang tuanya (oediphus atau electra phantaties) Memilih benda dan menyentuhnya/memasukkan ke dubur B. MASA BAYI DAN KANAK-KANAK (INFANCY PERIOD) Infantile Sexuality Mulut dan bend a Menghisap ibu jari Menggigit.derungan kasih sayang Berkembangnya perasaan sosial perasaan– C. Perkembangan Perilaku Konatif Perilaku konatif merupakan perilaku yang berhub ungan dengan motivasi atau faktor penggerak perilaku seseorang yang bersumber da ri kebutuhan-kebutuhannya. memilih dan memasukkan benda kemulut Memilih benda dan digigitnya secara sadis Dubur dan ben da Memeriksa dan memainkan duburnya Memainkan dan memperhatikan duburnya Menyent uh. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Daerah Sensitif Pre Genital Period Oral Stage Early Oral Late Oral Anal Stage Ea rly Anal Late Anal Early Genital Period (phalic stage) No New Zone (tidak ada da erah sensitif baru) Late Genital Period Hidup kembali daerah sensitif waktu masa kanak-kanak Akhirnya. merusak dengan mulut Mulut sendiri.

1970) menjelaskan proses perkembangan dan diferensiasi emosional pada anak-anak. minum dari . Pada masa ini sampai-batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri. temperatur) Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan. nam un dalam kenyataannya sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian dapat dan mun gkin terjadi. terutama dipengaruhi oleh faktor lingkungan dari pada faktor fisik . tetapi orang yang dianggap as ing dia tidak akan mempercayainya. dan (3) pola s ambutan.3 bln 3 – 6 bln 9 – 12 bln 18 bulan pertama 2 th 5 th Ciri-Ciri Bayi dilengkapi kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. cahaya. 2. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya. bermain. pada umumnya selalu melibatkan tiga variabel. tempat asing. (2) perubahan– perubahan fisiologis yang terjadi pada individu. berjalan.i. Yang mungkin dirubah dan dipengaruhi adalah variabel yang kesatu (stimu s) dan yang ketiga (respons). Ia bukan saja tidak percaya kepa da orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing. Erikson dalam Nana Syaodih Sukmadinata. yaitu : (1) rangsangan yang menimbulkan emosi (stimulu s). cemas dan kecewa sedangkan kesenangn berdiferensiasi ke dala m harapan dam kasih sayang j. sebag ai berikut : Usia Pada saat dilahirkan 0 . Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut s eringkali bayi menangis. doubt. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di se kitarnya. Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan autonomy – shame. Bridges (Loree. berdiri. dalam arti duduk. 2005 mengemukakan perkembangan kepriba dian dengan kecenderungan yang bipolar : tahapan 1. suara as ing. perlakuan asing dan sebagainya. Perkembangan Emosional Aspek emosional dari suatu perilaku. Terdapat dua di mensi emosional yang sangat penting untuk dipahami yaitu : (1) senang – tidak sena ng (suka-tidak suka). kebencian dan ketakutan Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kecemburuan mulai berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kenikmata n dan keasyikan berdiferensiasi dari kesenangan Ketidaksenangan berdiferensiasi di dalam rasa malu. sedangkan variabel yang kedua merupakan yang tidak mungkin dirubah karena terjadinya pada individu secara mekanis. dan (2) intensitasnya (kuat-lemah). Perkembangan Kepribadian Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan. Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust – mistrust. Oleh karena itu kadang-kadang bayi menangis b ila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya.

dengan kecakapan-k ecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan. 5. Dorongan membentuk dan mem perlihatkan identitas diri ini. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan–kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihat kan identitas diri. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity – stagnation. Merek a sudah mulai selektif. tetapi di pihak lain karena ke terbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadangkadang dia menghadapi kesukaran. individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya. Pengetahuannya cukup luas. dan kurang akrab atau renggang deng an yang lainnya. 7. Sesuai dengan namanya masa dewasa. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy – isolation. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas. 3. 4. tetapi karena kemam puan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan. Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative – guilty. sehingga . pada para remaja sering sekali sangat ekstrim da n berlebihan. pada tahap ini individu telah men capai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. ciri-ciri yang khas dari dirinya. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubu ngan yang intim dengan orang-orang tertentu. sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimp angan atau kenakalan. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya. dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masi ng anggota.botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya. sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelo mpok sebayanya. sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity – Identity Confusion. Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. tetapi dia tidak mungkin dapat m enguasai segala macam ilmu dan kecakapan. hambatan bahkan kegagalan. Kalau pada masa sebelumnya. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di satu piha k. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebab kan anak merasa rendah diri. pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. k ecakapannya cukup banyak. dia membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran. namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar. sehingga perkembangan individu sangat pesat. dan untuk sementa ra waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat. tetapi di pihak lain dia ga tela h mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat. 6. Kegagalankegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah.

and needs associated with self concept Tentative phase in which choices are nar rowed but not finalized Usia (birth -14 or 15) (15 – 24) . Kedelapan tahapan perkemb angan kepribadian dapat digambarkan dalam tabel berikut ini : Developmental Stage Infancy Early childhood Preschool age School age Adolescence Young adulthood Adulthood Senescence Basic Components Trust vs Mistrust Autonom y vs Shame. Adapun yang dimaksud dengan p erilaku karier yaitu segenap perilaku yang ditampilkan individu dalam usaha meny iapkan masa depan untuk memperoleh kematangan kariernya. Untuk mengerjakan atau mencapai hal – hal tertentu ia mengalami hambatan. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi. Keberhasilan seseorang dalam suatu pekerjaan bukanlah sesuatu yang diperoleh secara tiba-tiba atau secara kebetulan. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity – despair. Tylor & Walsh (1979) menyebutkan bahwa kemat angan karier individu diperoleh manakala ada kesesuaian antara perilaku karier d engan perilaku yang diharapkan pada umur tertentu. Mu ngkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya teta pi karena faktor usia. semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. attitudes. sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya. 8. sebagaimana tampak dalam tabel beriku t ini : Tahap Growth Exploratory Ciri-Ciri Development of capacity.1983) mengemukakan lima tahapan perkembangan karier individu. mulai d ari usaha memperoleh kesadaran karier. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. berkenaan dengan tahapan perkembangan karier. interest. Perkembangan Karier Perkembangan karier sangat erat kaitannya dengan pekerjaa n seseorang. Doubt Initiative vs Guilt Industry vs Inferiority Identity vs Identi ty Confusion Intimacy vs Isolation Generativity vs Stagnation Ego Integrity vs D espair k. Selanjutnya.tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. eksplorasi karier. Zunker (Popon Sy. persiapan karier hingg a sampai pada penempatan kariernya. tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan t ersebut. D alam situasi ini individu merasa putus asa. hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. Dorongan untuk terus berprestasi mas ih ada. namun merupakan suatu proses p anjang dari tahapan perkembangan karier yang dilalui sepanjang hayatnya. Arifin.

. and eventual retirement. Pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengantarkan individu mencapai kedewasaan. Tugas perkembangan bersumber pada faktor – faktor : (1) kematangan f isik. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Salah satu prinsip perkembangan bahwa setia p individu akan mengalami fase perkembangan tertentu.Establishment Maintenance Decline Trial and stabilization trhough work experiences A continual adjustment process to improve working position and situation Preretirement consideration. Yang dimaksud dengan ked ewasaan adalah dapat terpenuhinya tugas-tugas perkembangan. work out put. Di bawah ini dikemukakan tugas-tugas perkembangan dari setiap fase men urut Havighurst. (25 – 44) (45 – 64) (65 . dan (4) norma-norma agama. Oleh karena itu segenap proses pendidi kan seyogyanya diarahkan untuk tercapainya tugastugas perkembangannya para peser ta didik. Tugas–tugas perkembangan ini berkenaan dengan sikap. (3) tuntutan dan dorongan dan cit a-cita individu iru sendiri.d. Havighurst (1961) memberikan penge rtian tugas-tugas perkembangan bahwa : “ A developmental task is a task which aris es at or about a certain period in the life of the individual. yang merentang sepanjang h idupnya fase-fase perkembangan tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut ini : Masa Dewasa : Masa Tua Tengah Baya Masa Dewasa Awal Masa Remaja (Adolesence) : ( 1) Late Adolesence (18 – 21 th) (2) Early Adolesence (16 – 17 th) (3) Pre Adolesence (11 – 13 th) Masa Kanak-Kanak (2 th – Remaja) Masa Bayi (2 Minggu s. perilaku dan keterampilan yang seyogyanya dikuasai sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. difficulty wit h later task. sehingga dapat berti ndak wajar sesuai dengan tingkat usianya.…) 5. (2) tuntutan masyarakat secara kultural. while failu re leads to unhappiness in the individual. succesful achieve ment of which leads to his happiness and to success with later task. disaproval by society. 2 th) Masa O rok (10 –14 hari) Masa Konsepsi (Pranatal) (0-9 bln) Pada setiap fase perkembangan menuntut untuk tertuntaskannya tugas-tugas perkembangan.

5. Tugas Perkembangan Masa Remaja (12. menulis dan berhitung. 5. Belajar mengadakan hubungan emosional d engan orang tua. Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial. Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif. Membentuk konsep-kon sep sederhana kenyataan sosial dan alam. 5. 7. Memilih pasangan. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang d iperlukan bagi warga negara. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya. 4.0-12. Belajar bergaul dengan teman sebaya. dan orang lain. Memilih dan mempersiapkan karier. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial. 3. 9. 6. 9. Tugas Perkembangan Masa Kanak-Kanak Akhir dan Anak Sekolah (6.0) Belajar berjalan pada usia 9. Tugas Perkembangan Masa Bayi dan Kanak-Kanak Awal 1. 3. Mempersiapkan pernikahan dan hi dup berkeluarga.0-21. 2. 7. . Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari -hari. Belajar memakan makan padat. 3. Belajar mem ainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya. saudara. Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis. d. Belajar mengadakan hubungan baik da n buruk dan pengembangan kata hati. b. 8. 3. Mengembangkan kata hati. 2. Belajar buang air kecil dan buang air besar. 7. 8. Mencapai peran sosial sebagai pria atau w anita. 6. Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal 1.Memperoleh seperangkat nilai sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam berperilaku.a.0) 1. 4.0 – 15. Mencapai kemand irian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. Belajar mengenal perbeda an jenis kelamin. (0. 8. 6. Belajar berbicara. Belajar keterampilan dasar dal am membaca. Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk mela kukan permainan.0) 1. Memulai hidup dengan pasangan.0–6. c. 2. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi. Belajar hidup dengan pasangan.0 bulan. 4. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis. Mencapai jaminan kemand irian ekonomi. 9. 2. 10.

Tugas Perkembangan Tingkat SLTP 1. 5. 3. Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 5. . serta kematangan dalam perannya sebag ai pria dan wanita. Memelihara anak. Mencapai pola hubunga n yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita. 4. Me ngenal sistem etika dan nilai-nilai sebagai pedoman hidup sebagai pribadi. Sementara itu. 7. Menemukan suatu kelompok yang serasi. men erima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yan g terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat. dan kesenian sesuai dengan program kuri kulum. yaitu : a. 3. Mengambil tanggung jaw ab sebagai warga negara. Tugas Perkembangan Peserta didik SLTA 1. sosial dan ekonomi. Men capai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. yang dijadikan sebagai rujukan Stand ar Kompetensi Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. anggo ta masyarakat dan minat manusia. Mencap ai kematangan dalam hubungan teman sebaya. 8. Mengenal kemampuan bakat. Mengenal gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. Mengelola rumah tangga.4. 8. 6. Me mantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sos ial yang lebih luas. 6. Depdiknas (2003) memberikan rincian tentang tugas perkembangan ma sa remaja untuk usia tingkat SLTP dan SMTA. Mempersiapkan diri. dan minat serta arah kecenderu ngan karier dan apresiasi seni. b. Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat 4. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan se suai dengan kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan atau memp ersiapkan karier serta berperan dalam kehidupan masyarakat. 2. M engembangkan penguasaan ilmu. Memulai bekerja. persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi serta berperan dalam ke hidupan masyarakat yang lebih luas. teknologi. 7.

Karakteristik Perilaku dan Pribadi Pada Masa Remaja . berbangsa dan bernegara. b. Kita menemukan berbagai tafsir an dari para ahli tentang masa remaja : 1. Pada rentangan periode ini (sekitar 6 – 7 th) terdapat beberapa indikator perbedaan yang signifikan. 2. intelektual dan ekonomi . be rmasyarakat. Mencapai kematangan dalam sistem eti ka dan nilai. G. Mengembangkan kemampuan komunikasi sosi al dan intelektual serta apresiasi seni. 9. Spran ger memberikan tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan perubahan st ruktur kejiwaan yang fundamental. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang am at kritis yang mungkin dapat merupakan the best of time and the worst of time. Oleh karena itu. Mencapai kematangan gambaran dan s ikap tentang kehidupan mandiri secara emosional.5. Mencapai kematangan dalam pilihan karir 6. P ara ahli umumnya sepakat bahwa rentangan masa remaja berlangsung dari usia 1113 tahun sampai dengan 18-20 th (Abin Syamsuddin. Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai sua tu masa pembentukan sikapsikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu. Charl otte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isi-mengisi. Pengetian dan Makna Masa Remaja Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting. 4.18-20 th). Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang berkehidupan berkeluarga. sosial. 7. 8. 6. para ahli mengklasikasikan masa remaja ini ke dalam dua bagian yaitu: (1) remaja awal (11-13 th s. baik se cara kuantitatif maupun kualitatif. Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai dan topan). 3. 1415 t h). Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode dalam perkembangan yang d ijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak sampai deng an awal masa dewasa. Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang mempunyai bentuk yang definitif. dan (2) remaja akhir (14-16 th s. 2003). 5.d. Perkembangan Pada Masa Remaja a.d.

Kecakapan dasar intele ktual menjalani laju perkembangan yang terpesat. 3. psikomotor. Berkembangnya penggunaan bahasa sandi 1. meskipun relatif terbatas. Siap berfungsinya organ-organ reproduktif sep erti pada orang dewasa. Gerak – gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasikan. 2.d. fantastik dan dan mengandung nilai-nilai filosofis. Gerak gerik mulai mantap. Bahasa 1. otot mengembang pad a bagian – bagian tertentu). 2. sangat lambat. 2. 2. religius. Psikomotor 1. komparasi. Sudah mampu meng-operasikan kaidahkaidah logika formal disertai kemampuan membuat generalisasi yang lebih be rsifat konklusif dan komprehensif. kausali tas) yang bersifat abstrak.Dengan merujuk pada berbagai ciri-ciri dari aspek perkembangan individu sebagaim ana telah dikemukakan terdahulu. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan lebih seimbang m endekati kekuatan orang dewasa. 2. bahasa.18-20 Th) 1. Menggemari literatur yang bernafaska n mengandung segi erotik.d. 2. Remaja Akhir (14-16 Th. di bawah ini disajikan berbagai karakteristik p erilaku dan masa remaja. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelami n (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki. ethis. Lebih memantapkan diri pada bahasa d an mulai tertarik mempelajari bahasa asing tertentu yang dipilihnya. M enggemari literatur yang bernafaskan dan 2.kali kurang seim bang. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region. 3. kognitif. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif dan terbatas pada keterampil an yang menunjang kepada persiapan kerja. Laju perkembangan secara umum berla ngsung pesat.14-15 Th) Fisik 1. asing. emosi afektif dan kepribadian.d. Perilaku Kognitif 1. 2. berbagai jenis cabang 1. 14-15 tahun) dan remaja akhir (14-16 s. diferen-siasi. Tercapainya titik puncak kedewasaan bahkan mungkin mapan (plateau) yang . Aktif dalam perma inan. 18-20 tahun) meliputi aspek : fisik.d. es tetik. kona tif. yang terbagi ke dalam bagian dua kelompok yaitu remaja awal (11-13 s. 1. Laju perkembangan secara umum kembali me nurun. sosial. Remaja Awal (11-13 Th s. moralitas. keagamaan. Proses berfikir sudah mampu mengope rasikan kaidah-kaidah logika formal (asosiasi.s. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan sering.

Eksistensi dan sifat kemur ah-an dan keadilan Tuhan mulai dipahamkan dan dihayati menurut sistem kepercayaa n atau agama yang dianutnya. Dengan sikapnya dan cara berfikirn ya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyata annya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. K alau kondisi psikososialnya menunjang secara positif maka mulai tampak dan . Emosi. 2. Diawali d engan kecenderungan ambivalensi keinginan menyendiri dan keinginan bergaul denga n banyak teman tetapi bersifat temporer. Adanya kebergantungan yang kuat kepa da kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi. 2. Perilaku Keagamaan 1. ekonomis. 4. gembira atau kesed ihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat 3. Penghayatan kehidupan keagamaan seharihari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. kasih sayang. harga diri dan aktualisasi diri) m ulai menunjukkan arah kecenderungannya 2. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari mula i dilakukan atas dasar kesadaran dan pertimbangan hati nuraninya sendiri secara tulus ikhlas 3. Sudah menunjukkan arah kecenderungan tertentu yang akan mewarnai pola dasar k epribadiannya. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). Kecender ungan-kecenderungan arah sikap nilai mulai tampak (teoritis.nya mana yang harus di rundingkan dengan orang tuanya. 2. sosial. 1. 2. 1. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyaka n secara kritis dan skeptis. Mulai dapat memelihara jarak dan batasbatas kebebasan.suatu saat (usia 50-60) menjadi deklinasi. dan religius). Moralitas 1. 3. politis. Kecakapan dasar khusus (bakat) mul ai 3. Sudah berangsur dapat menentukan dan menilai tindakannya sendiri atas norma atau sistem nilai y ang dipilih dan dianutnya sesuai dengan hati nuraninya. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua de ngan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. Merupakan masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat 3. Mulai menemukan pegangan hidup 1. Lima kebutuha n dasar (fisiologis. 3. estetis. 2. rasa aman. Masih mencari dan mencoba m enemukan pegangan hidup Konatif. Afektif dan Kepribadian 1. 4. Kecenderungan bakat tertentu mencapai menujukkan kecenderungan-kecendetiti k puncak dan kemantapannya rungan yang lebih jelas. Sudah dapa t memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari para pe ndukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. yang juga akan memberi warna kepada tipe kepribadiannya. meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencobaco ba. kecuali dengan tem an dekat pilihannya yang banyak memiliki kesamaan minat. 3. Kecenderungan titik berat ke arah sikap nilai tertentu sudah mulai jelas sepe rti yang akan ditunjukkan oleh kecenderungan minat dan pilihan karier atau pendi dikan lanjutannya. 2. Mengidentifikasi den gan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya. 1. 2. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosinalnya tampak mulai terkendali dan dapat menguasai dirinya. Kebergantungan kepada kelompok sebaya berangsur fleksibel. Perilaku Sosial 1. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalny a masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan marah. 3.

moralitas dan keagamaan. c. 3. sosial. Begitu juga masa remaja. menyebabkan si remaja kesulitan untuk menguasai bahasa asing. 2. terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk mengenal da n mendalami bahasa asing. bahkan dapat menjurus pada berbagai tindakan kena kalan remaja dan kriminal. Problema berkaitan dengan perk embangan kognitif dan bahasa. Keadaan fisik pada mas a remaja dipandang sebagai suatu hal yang penting. Problem a berkaitan dengan perkembangan perilaku sosial. penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting untuk menunjang kesuksesan hidup dan karier seseorang . pabila tidak disertai dengan upaya pemahaman diri dan pengarahan diri secara tepat. dan aspek-aspek perilaku dan kepribadian lainnya. Kematangan organ reproduksi pada masa r emaja membutuhkan upaya pemuasan dan jika tidak terbimbing oleh norma-norma dapa t menjurus pada penyimpangan perilaku seksual. baik secara fisik maupun psikis. ditemukan identitas kepriba-diannya yang relatif definitif yang akan mewarnai hi dupnya sampai masa dewasa. Namun dikarenakan keterbatasan kesempatan dan sarana d an pra sarana. Tid ak bisa dipungkiri. terutama melalui pendidikan di sekol ah. Begitu juga. Penolakan dari peer group dapat menimbulkan frustrasi dan menja dikan dia sebagai isolated dan merasa rendah diri.dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya. yang akan membentuk kepribadiannnya. Pada masa remaja awal ditandai dengan perkembangan kemampuan intelektual yang pesat. Masa r emaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial). Pada masa re maja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat. Problema pada Masa Remaja Masa remaja ditandai dengan adanya berbagai perubah an. Problema yang mungkin timbul pada masa remaja diantar anya : 1. per kembangan fisik yang tidak proporsional. Problema berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik. maka boleh jadi potensi intelektualnya tidak akan berkembang optimal. yang ditandai d engan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayan ya (peer group). namun ketika keadaan fisik ti dak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian antara body image dengan self pict ure) dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri. si remaja tidak mendapatkan kes empatan pengembangan kemampuan intelektual. dalam era globalisasi sekarang ini. Terhambatnya perkembangan kognitif dan bahasa dapat berakibat pula pada aspek emosional. yang mungkin saja dapat menimbulkan problem a tertentu bagi si remaja. Namun dengan adanya hambatan dalam pengembangan ketidakmampuan berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak berpengaruh terhadap kesuksesan hidup dan karierny a. Namun sebaliknya apabila rema ja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan . Namun ketika.

Problema perilaku sosial remaja tidak hanya terjadi dengan kelomp ok sebayanya. Upaya untuk memfasilitasi perkembangan rem aja menjadi amat penting. sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan men ggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. dan emosional. serta masya rakat sangat diharapkan. Timbu lnya problema remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor. term asuk dengan guru di sekolah. peranan orang tua.dalam dirinya. dia akan mengalami krisis identitas atau identity c onfusion. . Problema berkaitan dengan perkembangan kepribadi an. Pertengkaran dan per kelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional ya ng masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidu pan pribadi maupun sosialnya. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya. Pada masa remaja juga ditandai dengan ad anya keinginan untuk mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada. mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya. namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan dewasa lainnya. Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). Seja lan dengan pertumbuhan organ reproduksi. khususnya rema ja awal akan ditandai adanya keinginan yang ambivalen. D. na mun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua. Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilihlah salah satu j awaban yang menurut Anda paling tepat. sekolah. Agar remaja dapat terhindar dari berbagai kesulitan dan problema kiranya diperlukan kearifan dari semua pihak. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. Usaha pencarian identitas pun. jika tid ak terbimbing. Perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. hubungan sosial yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan lain jenis dan jika tidak terbimbing dapat menjurus tindakan penyimpanga n perilaku sosial dan perilaku seksual. terutama secara ekonomis. 4. di satu sisi adanya keing inan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan pilihannya sendiri. tentunya masih banyak problema keremajaan lainnya. Hal ini disebabkan pada masa remaja. baik internal maupun ekst ernal. banyak dilakukan dengan menunjuk kan perilaku coba-coba. perilaku imitasi atau identifikasi. Dalam hal ini. Selain yang te lah dipaparkan di atas. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram du rja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif.

c. bahasa ekspresif. bayi (0-2 th). kanak-kanak (2-7 th) dan sekolah (7-12 th). Perkembangan bersifat progresif. 8. tahapan perkembangan tertinggi untuk siswa tingkat SMTA. Tahap Sensori-Motor b. Meraban. d. h aus nama-nama. d. gemar bertanya. b. haus nama-nama. b dan c benar 2. Pola urutan perkembangan bahasa adalah : a. Di bawah ini merupakan ciri-ciri umum perkembangan individu. b. bicara monolog. a. kecuali : a. Meraban. 3. d. Perkembangan fisik yang sangat pesat terjadi pada masa : a. dan b ahasa ekspresif. Tahap Pra-Operasi onal . Diperolehnya tanda-tanda baru S etiap individu menjadi lebih matang. c. c. membuat kalimat sederhana. d. bahasa ekspresif. Ahli yang mengelompokkan tahapan perkembangan berdasarkan pendekatan didaktis . kanak-kanak (2 -7 th) dan remaja (12-20 th). c. c.a. a. Perkembangan bersifat sistematis Perkembangan b erkesinambungan. a. bayi (02 th). b. Lenyapnya tanda-tanda yang lama. kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th) bayi (0 -2 th) dan remaja (12-20 th). gemar bertanya. Merangkak dan memegang Memegang dan berjalan Berjalan da n berbicara Memegang dan berbicara 7. haus nama-nama. Rosseau Kretschmer Piaget Elizabeth Hurlock 4. Meraban. Kemampuan kognitif anak sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. bicara monolog. Terjadinya perubahan dalam proporsi. c. b.. d. b. Menurut Lovenger. 6. b. c. membuat kalimat sederhana. gemar bert anya. bahasa ekspresif. d. ya itu : a. b. gemar be rtanya. d. Perkembangan psikomotorik utama yang harus dikuasai pada masa bayi dan masa k anakkanak : a. Konformistik Seksama Individualistik Otonomi 5. membuat kalimat sederhana. namun masih ada keterbatasan kapasitas d alam mengkoordinasikan pemikirannya. Meraban. bicara monolog. bicara monolog. haus nama-nama.

d. 13. c. b. Kanak-Kanak Awal (0–3 th) Kanak – Kanak Akhir (4–6 th) Anak Sek olah (6–12 th) Remaja Awal (13–16 th) 10. d. Conventional c. 14. Kesenangan da n kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya. c. d. temperatur) c. c. Kepekaan umum terh adap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. Ketidaksenang an berdiferensiasi ke dalam kemarahan. Penghayatan rohaniah yang skeptik. Sikap negatif yang disebabkan melihat realita orang – orang beragama yang hypoc rit (pura-pura). b. terjadi p ada masa : a. d. c. kebencian dan ketakutan. cahaya. Kegembiraan b erdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang. 12 .c. sehingga enggan melaksanakan ritual. Perkembangan emosi pada usia 0-3 bulan ditandai oleh adanya : a. b. Pre Conventional b. Perkembangan perilak u sosial yang ditandai dengan usaha untuk membandingkan aturan – aturan. d. Pandanga n ke-Tuhan-an yang kacau. Perkembangan penghayatan keagamaan pada masa kanak-kanak ditandai oleh adany a : a. b. Tahap Formal-Operasional 9. Perkembangan karier yang ditandai oleh adanya proses penyesuaian yang berkesinambungan untuk meningkatkan posisi dalam pekerjaan. Growth Exploratory Establishment Maintenance . Perkembangan kepribadia n yang ditandai oleh adanya dorongan untuk membentuk dan memperlihatkan identita s diri. terjadi pada tahap: a. Tahap perkembangan moralitas yang ditandai dengan orientasi mengenai anak ya ng baik dan mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas. Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic. terjadi pada masa : a. a. Infancy Early Childhood Pre-Schoolage Ad olescence. Tahap Konkret-Operasional d. Post Conventional d. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentanga n. b. Non Conventional 11.

a. politis.15. Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam. b. b . b. c. b. d. dan religius). c. harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbu l bulu pada pubic region. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup. Perkembangan perilaku sosial pada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. 20. Dengan sikap dan cara berfikirny a yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataa nnya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. rasa aman. sosial. estetis. Perkembangan perilaku moralitas pada masa remaja akhir ditandai oleh adanya : a. d. d. d. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idol anya. Ciri-ciri Perkembangan perilaku keagamaan pada masa remaja awal. b. a. Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang uni versal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. d. ekonomis. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day d reaming pada laki-laki. . b. Perkembangan perilaku motorik p ada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif. 19. dan c benar 16. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama ( teman dekat). 17. Lima kebutuhan dasar (fisiologis. Perkembangan fisik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya: a. Gerak ger ik mulai mantap. dan c benar. Di bawah ini merupakan ciri perkembangan konatif pada masa remaja awal. 18. c. b. kecuali : a. a. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap dan nila i mulai tampak (teoritis. b. . Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyaka n secara kritis dan skeptis. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari dila kukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. c. gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan sil ih berganti dalam yang cepat. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat. otot mengembang pada bagian – bagian tertentu). kasih say ang. Kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semang at konformitas yang tinggi. mes ki masih dalam taraf eksplorasi dan mencoba-coba. c. Menarik diri dari lingkungan sosialnya. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seper ti pernya-taan marah. Proporsi ukuran tinggi da n berat badan seringkali kurang seimbang. c. Berupa ya mempelajari norma-norma yang berlaku di lingkungan sosialnya. Aktif dalam berbagai jen is cabang permainan.

B. Lantas. Hakekat Belajar Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. pendekatan . Menjelaskan secara skematik t entang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar. Teori-Teori Pok ok Belajar. 3. J elaskan problema-problema yang terjadi pada masa remaja ! dan bagaimana pula per an orang tua. diharapkan Anda dapat : 1. Pembelajaran Peran dan Kompetensi Guru Pengelolaan Kelas. 5. yang akan membentuk kepribadiannnya. 4. Masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat dipengaru hi oleh kondisi psiko-sosialnya. Apa yang dimaksud dengan tugas perkembangan ? 2. 4. Jelaskan tugas-tugas perkembang an individu pada masa remaja ! Bagaimana implikasinya terhadap pendidikan ? 3. apa sesungguhnya belajar itu ? Di bawah ini disampaikan tent ang pengertian belajar dari para ahli : . masalah-masalah dalam pengelolaan kelas. Mengidentifikasi ciri-ciri belajar.pendekatan pembela jaran. Hakekat Belajar. Mendefinisik an belajar dan pengelolaan kelas. 2. Uraian 1. peran da n kompetensi guru. 3.d. guru serta masyarakat dalam upaya mencegah timbulnya berbagai prol ema pada remaja ? BAB IV PROSES BELAJAR MENGAJAR A. Pokok Bahasan 1. C. 2. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) meny ebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiat an belajar. bentukbentuk perubahan perilaku sebagai hasil belajar. Menerapkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah pen gelolaan kelas. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. Intisari Bacaan 1.

pengetahuan. b. sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapa t dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. Perubahan yang disadari dan disen gaja (intensional). sebaga i hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkunga nnya”. sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu. pengetahuan dan sikap baru”. Begitu juga. sikap dan keterampilan yang be rhubungan dengan Psikologi Pendidikan. Perubahan yang berkesinambungan (konti nyu). sikap. Gag e & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul ka rena pengalaman” Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas. Hilgard (1962) : “belaj ar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karen a adanya respons terhadap sesuatu situasi” Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”. Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan di sengaja dari individu yang bersangkutan. mi salnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat. sikap dan keterampilan berikut nya. Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah di perolehnya kebiasaan-kebiasaan. dengan memperoleh sejumlah pengetahuan. Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan. indi vidu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya. Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dim anifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan. Misalnya. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. seorang mahas iswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan.Moh. kebiasaan. Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya mer upakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelum nya. pengetahuan dan kecakapan”. dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. Misalnya. maka penget ahuan. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan o leh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan. setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku. kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku. Dalam hal ini. yaitu : a. . seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakek at Belajar”. Begitu juga.

maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pe ndidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kel ak ketika dia menjadi guru. seorang mahasiswa sebelum belaj ar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Menga jar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembanga n perilaku dan pribadi peserta didiknya. Perubahan yang bertujuan dan terarah. Perubahan yang bersifat pemanen. Misalnya. Sedangkan tujuan jangka pan jangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang mema dai tentang Psikologi Pendidikan. Misalnya. Perubahan yang bersifat aktif. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan unt uk mencapai tujuan-tujuan tersebut. mahasiswa belajar mengoperasikan komputer. dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prins ip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia ke lak menjadi guru. berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya . Perubahan perilaku yang terjadi bersifat nor matif dan menujukkan ke arah kemajuan. Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat diman faatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan. g. baik untuk kepenting an masa sekarang maupun masa mendatang. seorang mahasiswa belajar psikologi pendid ikan. maka maha siswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan. tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperole h pengetahuan. f. individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. Perubahan yang bersifat positif. mah asiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan. Untuk memperoleh perilaku ba ru. Misalnya. Individu melakukan kegiatan bel ajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai. Perubahan perilaku yang diperoleh dari pro ses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. baik tujuan jangka pendek. maka penguasaan keterampilan m engoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa te rsebut. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudk an dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. Mis alnya. e.c. jangka mene ngah maupun jangka panjang. d. Contoh : seorang mahasiswa belajar tenta ng psikologi pendidikan. namun setelah mengikuti pembelajaran Ps ikologi Pendidikan. . Perubahan yang fungsional.

Kemudian oleh . Praktik.h. sikap keterampilannya tent ang “TeoriTeori Belajar” (Post Learning). Contoh 2 : Mahasiswa Y akan mempelajari te ntang “Metode-Metode Pembelajaran”. maka dalam dirinya telah bertambah kemampuannya. Pada awalnya dia tidak memilik i pengetahuan. mahasiswa belajar tentang “Teori-Teor i Belajar”. tetapi melalui berbagai tahapan dan kegiatan yang harus ditempuh individu. Di Vesta dan Tompson dalam Abin Syamsuddin (2003:157) mengga mbarkan perubahan perilaku atau pribadi yang terjadi dari suatu proses belajar s eperti tampak dalam bagan berikut: Perilaku/Pribadi sebelum belajar (Pre Learning) X=0 Y=1 Z= 1 Perilaku/Pribadi se telah belajar (Post Learning) X = (X+1) = 1 Y = (Y+1) = 2 Z = (Z-1) = 0 Pengalaman. Begitu juga. Misalnya. Latihan (Learning Experience) Contoh 1 : Mahasiswa X belajar akan mempelajari tentang “Teori-Teori Belajar” dalam perkuliahan Psikologi Pendidikan pada semester 1. disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Bel ajar”. deng an bertambah pengetahuan. sikap dan keterampilan tentang “Teori-Teori Belajar” (Pre learning). lalu dia datang meminta bantuan dari konselor yang ada di kampus (PreLearning). dalam perkuliahan Strategi Belajar Mengajar pada semester 2. dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Te ori Belajar”. Belajar merupakan suatu proses. tetapi termasuk memperoleh pula perubaha n dalam sikap dan keterampilannya. Contoh 3 : Mahasiswa Z memiliki kebiasaan merokok yang ingin d ihilangkannya. dengan bertambah pengetahuan. terjadinya perubahan perilaku diperoleh tidak secara tiba-tiba. Pada semester 1 dia telah menguasai tentang “Teori-Teori Belajar” yang akan mendasari penguasaan “MetodeMetode Pembelajaran” (Pre Learning). maka kemampuannya akan meningkat. namun setelah dia membaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Teori-Teori Belajar” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata. dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”. sikap keterampilannya tentang “Metode-Metode Pembelajara n” (Post Learning). Setelah dia me mbaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Metode-Metode Pembelajaran” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). Perubahan perilaku secara keseluruhan.

Akhirnya. Belajar terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong (motivasi) da n ada suatu tujuan yang ingin dicapai. mencicipi. b.dan seberapa kuat komitmen individ u terhadap tujuan belajarnya akan menentukan kualitas perubahan perilaku belajar nya. defi nisi. Kecakapan intelektual. dan sebagainya. dan mencium. kecakapan individu untuk melakukan penge ndalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. mis alnya: penggunaan simbol matematika. Dengan tekun dan penuh kesungguhan dia mengikuti apa-apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya (Learning Experience). dia dapat berhasil menghilangkan kebiasaan merokoknya (Po st Learning). maka sangat mungkin mahasiswa tersebu t akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi dalam mata kuliah Psikologi Pendi dikan Belajar juga merupakan bentuk pengalaman kehidupan melalui situasi nyata. --khususnya motif berprestasi-. Dalam belajar. Strategi kognitif. lalu dia bersamasama ka wan-kawannya melakukan observasi langsung ke kelas. mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan ingin memp eroleh pengetahuan tentang “Keterampilan Pengelolaan Kelas”. merab a/menjamah. Selain itu. Selain itu. Informasi verbal. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi p emecahan masalah. Termasuk dalam keterampilan intelektual ada lah kecakapan dalam membedakan (discrimination). Begitu juga. individu memperoleh pengalaman langsung melalui pengalaman indraw i yang memungkinkan mereka memperoleh pengetahuan dari melihat. yaitu keterampilan individu dala m melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol.-. dia memiliki komitmen yang kuat serta memiliki tujuantujuan yang ingin dicapainya secara jelas. seorang mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidika n. dia juga memperoleh pengalama n bagaimana bekerjasama dengan temannya dan berkomunikasi dengan orang lain. baik secara tertulis maupun tulisan. Dalam konteks proses pembelaja ran. perubahan perilaku yang merupakan has il belajar dapat berbentuk : a. c. memahami konsep konkrit. dalam belajar individu juga memp eroleh berbagai pengalaman sosial melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya. konsep abstrak. mendengar. dia memiliki motivasi yang sangat kuat untuk menjadi yang terbaik (the best) di kelasnya. 2003). Dia dapat mengamati langsung bagaimana guru mempraktekkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah-masala h yang muncul dalam pengelolaan kelas. misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda. Misalnya. aturan dan hukum. Seberapa kuat motivasi belajar yang dimil iki individu. strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfi kir agar .konselor dia dilatih untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya. yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal. Men urut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun. Misalnya.menggunakan tek nikteknik konseling tertentu-.

b. menafsirkan. Keterampilan. Sedangkan menurut Bloom. didalamnya terdapat unsur pemikiran. gembira. (b) teor i belajar . e. yaitu: (a) teori behaviorisme. sedih. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tamp ak dalam : a. Dengan kata lain. yakni berfikir dengan c ara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat. keterampilan -keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tin ggi. e. was-was dan sebaga inya.Namun dalam kesempatan ini hanya akan di kemukakan lima jenis teori belajar saja. d. kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil bel ajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif. Teori-Teori Pokok Belajar Jika menelaah literatur psikologi. i. seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik. (lihat tentang taksonomi perilaku individu pa da Bab I) 2.terjadi aktivitas yang efektif. Sikap adalah keada an dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam mengha dapi suatu obyek atau peristiwa. benci. Sementara itu. f . Inhibisi (menghindari hal yang mubazir). yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. kecewa. g. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran. marah. Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan ke yakinan. Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut. dan memberi arti rangsan gan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mamp u mencapai pengertian yang benar. h. seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali men ghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru. beserta tingkatan aspek-aspeknya. Ber fikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar peng ertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why). afektif dan psikomotor. Moh. senang. Apresiasi (menghargai ka rya-karya bermutu). Pengamatan. perasaan y ang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak. sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pem ikiran. Kebiasaan. c. sehingga akhir nya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar. iala h hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fi sik. Kecakapan motorik. Berfikir asosiatif. d. Sikap. yakni proses menerima.

Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari di antaranya : 1.kognitif menurut Piaget. 2. diantaran ya: a. Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut.Respons. Teori Behaviorisme Sebagaimana telah dikemukakan pada Bab II bahwa behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku in dividu. bakat. maka kekuatannya akan menurun. Sebaliknya. a. Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tid ak dilatih. artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang m emuaskan. dan mengabaikan aspek – aspek mental. b. behaviorisme tidak mengakui ad anya kecerdasan. pendekatan behaviorisme ini . Law of Exe rcise. .Respons akan semakin kuat. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike. semaki n tidak memuaskan efek yang dicapai respons. b. minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. maka semakin lemah pula hubungan ya ng terjadi antara Stimulus. Peristi wa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat. (4) teori pemrosesan informasi dari Gagne. Jika refleks yang s udah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa men ghadirkan reinforcer. dan (5) teor i belajar gestalt. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov Dari eksperimen yang d ilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar. Law of Effect. dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan sat uan pengantar (conduction unit). c. Dengan kata lain. Law of Readiness. maka hubungan Stimulus . J ika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer). artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertam bah erat. diantar anya : a. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah.

4 . Operant Conditioning menurut B. b. namun tidak sengaja di adakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning. Menurut Piaget. b. Teori ini juga masih memandang pentingnya conditi oning. seorang individu akan berfikir d an memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan. Reber (Muhibin Sya h. Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the tre shold method).F. melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Miller dan Dollard dengan teori pengu rangan dorongan. Skinner Dari eksperimen yang dilakukan B. Teori Belajar Kognitif menurut Piaget Dalam bab sebelumnya t elah dikemukan tentang aspek aspek perkembangan kognitif menurut Piaget yaitu ta hap (1) sensory motor.3. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan . Melalui pemberian reward dan punishment. maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyaji an contoh perilaku (modeling). bahwa belajar akan lebih berhasil apabila dises uaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. diantaranya : a. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat . Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks ot omatis atas stimulus (S-R Bond). Respons dalam operant conditio ning terjadi tanpa didahului oleh stimulus.F. Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini. (2) pre operational. Law of operant conditining yaitu jika timbuln ya perilaku diiringi dengan stimulus penguat. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan huk um-hukum belajar. melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebaga i hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method). Berbeda dengan penganut Behavi orisme lainnya. Prinsip dasar belajar menurut teori ini. (3) concrete operational dan (4) for mal operational. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meni ngkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu. maka kekuatan perilaku tersebut ak an meningkat. Social Learning menurut Albert Bandura Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan.

warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Implikasi teori perkembangan kognitif P iaget dalam pembelajaran adalah : 1. Berikan peluang agar anak belajar se suai tahap perkembangannya. 3. (1) motivasi. . maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. Perkembangan merup akan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu. c. 5. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship). mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. anak-anak hendaknya diberi peluan g untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya. (4) penyimpanan. ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu : 1. 2. Sedangkan kondi si eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Bahan yang harus dipelajari anak hend aknya dirasakan baru tetapi tidak asing. Teori Be lajar Gestalt Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti seb agai “bentuk atau konfigurasi”. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda denga n orang dewasa. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapa i hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. (5) i ngatan kembali. (7) perlakuan dan (8) umpan balik. Bila figure dan latar bersifat samar-sama r. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran t erjadi proses penerimaan informasi. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya i nteraksi antara kondisikondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu.obyek fisik. d. (2) pemahaman. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peri stiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. potongan. yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. (6) generalisasi. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapa t menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinte raksi dengan lingkungan sebaik-baiknya. Di dalam kelas. Teori Pemrosesan I nformasi dari Robert Gagne Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelaj aran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. Menurut Koffka dan Kohler. 4. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif. untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. (3) pemerolehan. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang ses uai dengan cara berfikir anak.

Berlari. 6. Perilaku “Molar“ h endaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. Hal yang p enting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis d engan lingkungan behavioral. bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan di pandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki. Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. pisces. Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt. akan tetapi mereaksi terhada p keseluruhan obyek atau peristiwa. Organisme tidak mereaksi terhadap rangs angan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa. (lingkungan be havioral). gemini dan sebagainya adalah contoh dari pr insip ini. virgo. sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. Dalam proses pembelajaran. padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hut an yang lebat (lingkungan geografis). 5. Proses pengamat an merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsa ngan yang diterima. bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderun g akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. 4. 4. yaitu: 1. 3. bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana. bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertent u. mengikuti kuliah. Misalnya. gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : 1.2. Misal nya. gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang terten tu. penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan su sunan simetris dan keteraturan. seperti : sagitarius. Perilaku “Molecul ar” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar. sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenar nya ada. 2. Contoh lain. Kedekatan (proxmity). berjalan. adanya penamaan kumpulan bintang. 3. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Kesamaan (similarity). Per ilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”. bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. Pengalaman tilikan (insight). Arah bersama (common direction ). Kesederhanaan (simpl icity). hendaknya peserta didik memiliki . dan Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap.

Proses pemb elajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dic apainya. kebermakn aan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pem belajaran. guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. . bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkunga n dimana ia berada. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Oleh karena itu. namun juga dilaksanakan di rumah m aupun masyarakat. sopan santun berhadapan deng an orang tua dan sebagainya. Belajar tidak hanya berlangsung sekolah saja. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yan g dipelajari. 4. Menurut pandangan Gestalt. guru hen daknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari m ateri yang diajarkannya. seorang anak perempuan memiliki keterampilan bagaima na cara mencuci piring. 5. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generali sasi).2. menyeterikan baju. materi yang diajarkan hendaknya memiliki ke terkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. Hal-hal ya ng dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. 3. bahwa perilaku te rarah pada tujuan. Oleh karena itu. maka kegiatan belajar di sekolah dijadikan pilihan untuk meng embangkan perilaku dan pribadi individu dalam rangka memenuhi berbagai tuntutan kehidupan. Transfe r dalam Belajar. Oleh karena itu. Misalnya. transfer belajar terjadi de ngan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tert entu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susuna n yang tepat. Prinsip ruang h idup (life space). Pembelajaran. biasanya lebih banyak diperoleh dari pengalaman bel ajarnya di rumah. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons . Perilaku bertujuan (pusposive behavior). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prins ip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. 3. Orang tua memiliki keterbatasan dalam menjalankan fungsinya se bagai pendidik di rumah. memasak. sementara tuntutan kehidupan yang harus dipenuhi indivi du semakin tinggi. kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu o byek atau peristiwa. tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai.

konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber n orma kedewasaan. dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan re ncana. 4. memimpin. mera ngsang. menggerakkan. e. b. yang m encakup : a. Interaksi pendidikan seperti itu biasa disebut pembelajaran. motivator dan pembimbing untuk kepentingan b elajar peserta didiknya. Pendekatan ini lebih menekankan kepada aktivitas siswa dan guru lebih b anyak berperan sebagai fasilitator. seorang guru yang ideal seyogyanya dapat berperan seb agai : a. mengemukakan peran guru dalam proses pembelajaran peserta didik. Abin Syamsuddin dengan mengutip pemikiran Gage dan B erliner.Berbeda dengan kegiatan belajar di rumah. transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik. b. c. term asuk metode ceramah dan sejenisnya. Peran dan Kompetensi Guru Efektivitas dan efisien belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada per an dan kompetensi guru. . inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan. disengaja dan direncanakan. Secara garis besarnya. organisator (penyele nggara) terciptanya proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan. dalam proses interaksi dengan sasaran didik. Bentuk-bentuk kegiatan belajar yang dil akukan peserta didik di sekolah sangat ditentukan oleh pendekatan-pendekatan pem belajaran yang diberikan oleh guru. eksperimen. Pendekatan ini lebih berpusat kepada guru da n pada umumnya guru bertindak sebagai sumber informasi yang utama. atau peserta didik dengan peserta didik untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. d. yaitu : a. termasuk discovery-inquiry. baik secar a formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (k epada sasaran didik. Guru seb agai pelaksana (organizer). di mana ia bertindak sebagai orang sumber (resource person). Pendekatan Ekspositorik adalah pendekatan yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya penyampaian informasi. serta Tuhan yang menciptakannya). observasi dan sej enisnya. terdapat dua pendekat an pembelajaran. dengan bimbingan guru atau pendidik lainnya. b. Pendekatan Heuristik yaitu yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya praktek. yang harus dapat menciptakan situasi. Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems). Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan bahwa dalam pengerti an pendidikan secara luas.. kegiatan belajar yang berlangsung di s ekolah lebih bersifat formal. Sedangkan dalam pengertia n pendidikan yang terbatas. transformator (pen terjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan p erilakunya. Kegiatan belajar di sekolah ditandai dengan adanya intera ksi antara atau pendidik dengan peserta didik.

Moh. dan kalau masih dalam batas kewenangannya. b. Di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented). guru berperan sebag ai perancang pembelajaran. Penterjemah kepada masyarakat. penemu masyarakat (social inovator). Di lain pihak. dan penilai pendidikan. Seme ntara itu di masyarakat. Pekerja sosial (social worker). guru berperan sebagai pembina masyarakat (social develo per). e. dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivit as pengajaran dan administrasi pendidikan. pengarah pembelajaran dan pembimbing peserta didik. Seorang pak ar dalam bidangnya. Guru sebagai penil ai (evaluator) yang harus mengumpulkan. dan g. yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik melaksanakan disiplin. yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknolo gi kepada masyarakat. melakukan diagnos a. b.konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik & humanistik (manusi awi) selama proses berlangsung (during teaching problems). yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat. . dan agen masyarakat (social agent). Pelaksana administrasi pendidikan. guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga (family educator). L ebih jauh. Sedangkan dalam keluarga. penilai hasil pembelajaran pe serta didik. keluarga dan masyarakat. guru berperan sebagai : a. Pemimpin generasi muda. c. c. Surya (1997) mengemukakan tentang p eranan guru di sekolah. menganalisa. artinya guru berperan s ebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan. Abin Syamsuddin menambahkan satu peran lagi yaitu sebagai pembimbing (teacher counsel). Selanjutnya. seor ang guru berperan sebagai : a. dan dar i sudut pandang psikologis. yaitu guru bertanggung jawab agar pendidik an dapat berlangsung dengan baik. yaitu seorang yang harus senantiasa b elajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya. di mana guru dituntut untuk mampu mengidentifikas i peserta didik yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar. menafsirkan dan akhirnya ha rus memberikan pertimbangan (judgement). pengarah. prognosa. baik mengenai aspek keefektifan pr osesnya maupun kualifikasi produknya. artinya guru bertan ggung jawab untuk mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda y ang akan menjadi pewaris masa depan. atas tingkat keberhasilan proses pembel ajaran. diri pribadi (self oriented). Pelajar dan ilmuwan. berdasarkan kriteria yang ditetapkan. d. harus membantu pemecahan nya (remedial teaching). Wakil masyarakat di sekolah. Penegak di siplin. dalam konteks proses belajar mengajar di Indonesia. pengelola pembelajaran. f. Di sekolah. Dalam hubungannya dengan aktivitas pengajaran dan ad ministrasi pendidikan. Pengambil inisiatif. yaitu menguasai bahan yang harus diajarkannya.

di siplin peserta didik di kelas. dan e. artinya guru merupakan seorang yang memahami psikologi p endidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Sejalan d engan tantangan kehidupan global. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didika n gurunya. Gu ru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well info rmed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh. a. dan lain-lain. Dari sudut pandang secara psikologis. artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap pese rta didik di sekolah. berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. lingkungan belajar.c. dan e. b. Doyle sebagaimana dikutip oleh S udarwan Danim (2002) mengemukan dua peran utama guru yaitu menciptakan keteratur an (establishing order) dan memfasilitasi proses belajar (facilitating learning) . Guru harus harus leb ih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. artinya gu ru adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar manus ia. Yang dimaksud keteraturan di sini mencakup hal-hal yang terkait langsung atau tidak langsung dengan proses pembelajaran. interak si peserta didik dengan guru. Jika guru tida k memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat. Pemberi keselamatan bagi set iap peserta didik. sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan ber bagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. seperti : tata letak tempat duduk. interaksi peserta didik dengan sesamanya. guru bukan satu-s atunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya. orang tua maupun masyarakat. Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker). pengelolaan bahan belajar. c. peran dan tanggung jawab guru pada masa mendat ang akan semakin kompleks. artinya guru bertanggung jawab bagi terciptanya kesehat an mental para peserta didik. Sementara itu. Catalyc agent atau inovator. artinya guru adalah model perilaku y ang harus dicontoh oleh mpara peserta didik. Untuk menghadapi . Pembentuk kelompok (group builder). ia akan terpuruk secara profesional. yaitu guru merupakan orang yang yang mampu menciptakan suat u pembaharuan bagi membuat suatu hal yang baik. d. Kalau hal ini terjadi. prosedur dan sistem yang mendukung proses pembelajaran. d. ia akan kehilangan kepercaya an baik dari peserta didik. Di masa depan. model keteladanan. seniman dalam hubungan antar manusia (artist in human relations). guru berperan sebagai : a. khususnya dengan para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pendidika n. pengelolaan sumber belajar. Orang tua. yaitu mampu mambentuk menciptakan kelo mpok dan aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan. Paka r psikologi pendidikan. jam masuk dan keluar untuk setiap sesi mata pelaja ran. berkembang.

pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat. 5. Berkenaan dengan kompetensi guru. evaluasi hasil belaja r. namum kenyataannya justru mematikan kre ativitas para peserta didiknya. yang di dalamnya mengatur berbagai hal yang berkaitan dengan profesi guru . Disamping itu. disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan tekno logi yang sedang berlangsung. 5. berwibawa. 7. c. dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. . guru masa depan harus paham peneliti an guna mendukung terhadap efektivitas pengajaran yang dilaksanakannya. menggunakan teknologi komunik asi dan informasi secara fungsional. pengembangan kurikulum/silabus. pemerintah telah menetapkan Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. mantap. mengevaluasi kinerja s endiri. Artinya. 7. Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang : 1. Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang melipu ti: 1. 4. Untuk meningkatkan profesionalisme guru di Indones ia. berkomunikasi lisan dan tulisan. 9. kompetensi. pemaha man terhadap peserta didik. dan mengembangkan diri secara berkelanjutan. 6. 3. sehingga dengan dukungan hasil penelitiaan guru tidak terjebak pada praktek pengajaran y ang menurut asumsi mereka sudah efektif. stabil. guru perlu berfikir secara antisipatif dan p roaktif. 4. 2. b. perancangan pembelaj aran. guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimil ikinya secara terus menerus. 2. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan.tantangan profesionalitas tersebut. berakhlak mulia. dalam Undang-Undang tersebut d ikemukakan empat jenis kompetensi yang harus dikuasai guru yaitu : a. 2. arif dan bijaksana. 6. sertifikasi dan r emunerasi guru. Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyara kat untuk : 1. 8. Begitu juga. dengan dukungan hasil penelitian ya ng mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari ta hun ke tahun. 3. diantaranya adalah berkenaan dengan kualifikasi. dewasa.

maup un masyarakat luas. konsep. hubungan konsep antar mata pelajaran terk ait. dan rasa kebers amaan dengan sejawat guru lainnya. Da lam kompetensi sosial ini termasuk keterampilan interaksi sosial dan melaksanaka n tanggung jawab sosial. bergaul secara santun dengan masyaraka t sekitar. Kompetensi k emasyarakatan. memiliki pengetahuan yang luas dari bidang studi yang diajarkannya. yaitu berbagai kemampuan yang diperlukan untuk dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional . Sementara itu. kom petisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai d an budaya nasional. rasa tanggung jawab akan tugasnya.3. c. orangtua/wali peserta didik. sesama guru. meliputi : Moh. penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari. struktur. dan perwujudan diri. Surya (1997) a. pengarahan diri. 4. Kompetensi profesional meliputi as pek kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus di ajarkannya beserta metodenya. dapat memilih dan menggunakan berbagai metode me ngajar di dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya. . 3. yai tu penguasaan berbagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan tugasnya sebagai guru. d. pener imaan diri. materi aja r yang ada dalam kurikulum sekolah. yaitu kemampuan yang di perlukan oleh seorang guru agar berhasil dalam berhubungan dengan orang lain. Dengan jumlah yang berbeda namun esensinya sama. Kompetensi profesional. d. sesama pendidik. Kompetensi personal. tenaga kependid ikan. Dengan demikian. b. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembe lajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: 1. b. Raka Joni sebagaimana dikutip oleh Suyanto da n Djihad Hisyam (2000) mengemukakan tiga jenis kompetensi yang seyogyanya dimili ki guru. dan 4. Kompetensi personal. 2. memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani. seorang guru akan mampu menjadi seorang pemi mpin yang menjalankan peran : ing ngarso sung tulada. Kompetensi per sonal ini mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri. mampu berkomunikasi. c. bergaul secara efektif dengan peserta didik. tu t wuri handayani. baik dengan peserta didik. Kompetensi intelektual. dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/ koheren dengan materi ajar. Kompetensi sosial. mengetengahka n lima jenis kompetensi guru. yaitu kualitas kemampuan pribad i seorang guru yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. yaitu : a. Kompetensi profesional. ing madya mangun karsa. dan 5.

Menyusun proses pembelajaran dalam berbagai setting k elompok (group setting). Teachers are Committed to Students and Their Learning : 1. Guru dapat menarik keuntungan dari berbagai sumber daya masyarakat. dan 4. Teachers Think Systematically About Their Practice and Learn from Experience : 1. c. 2. d. Menilai kemajuan peserta didik secara teratur. Guru memberi kan kontribusi terhadap efektivitas sekolah melalui kolaborasi dengan kalangan p rofesional lainnya. kemampuan untuk memberikan ganjaran (reward) atas keber hasilan peserta didik. 3. 2. 2. Apresiasi guru tentang pemahaman materi mata pelajaran untuk dikreasik an. Perlakuan guru terhadap seluruh peserta didik sec ara adil. 2. e. Sebagai pembanding. Teachers Know the Subjects They Teach and How to Teach Those Subjects to Stud ents : 1. 3. b. 3. 2. Teachers are Responsible for Managin g and Monitoring Student Learning : 1. Guru bekerja sama dengan tua orang peserta didik. Kemampuan guru untuk menyampaikan materi pelajaran. Penggunaan berbagai metode dalam pencapai an tujuan pembelajaran. Pemahaman guru tentang perke mbangan belajar peserta didik. yaitu kualitas keimanan dan ketaqwaan sebagai seorang y ang beragama. dengan rumusan What Teachers Should Know and Be Able to Do. . Guru secara terus menerus menguji diri untuk memilih keputusan-keputusan terbaik. Penghargaa n guru terhadap perbedaan individual peserta didik. Teachers are Members of Learning Communities: 1. disusun dan dihubungkan dengan mata pelajaran lain. 4. Kompetensi spiritual. Guru meminta saran dari piha k lain dan melakukan berbagai riset tentang pendidikan untuk meningkatkan prakte k pembelajaran. 3. Mengembangkan usaha untuk memperoleh pengetahu an dengan berbagai cara (multiple path). dan Misi guru dalam memperluas cakrawala berfikir peserta didik. di dalamnya terdiri dari lima proposisi utama. yaitu: a . yang menjadi dasar b agi guru untuk mendapatkan sertifikasi guru. Kesadaran akan tujuan utama pembelajaran.e. National Board for Profesional Teaching Skill (NBPTS) merumuskan standar kompetensi bagi guru di Amerika.

Mampu bertanya atau memberi kan tugas yang memerlukan tingkatan berfikir yang berbeda. Memiliki kemampuan interpe rsonal. 4. Melibatkan peserta didik dalam mengorganisasi kan dan merencanakan kegiatan pembelajaran. dan mampu memberikan transisi dalam mengajar. Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) memaparkan tentang beb erapa kemampuan guru yang mencerminkan guru yang efektif. Secara tulus menerima dan memperhatikan peserta didik. Mampu mendengarkan peserta didik dan menghargai hak peserta didik untuk berbicara dalam setiap diskusi. 2. 3. seperti: 1. Thomas dalam bukunya Effective Schools and Effective Teachers. Pengelolaan Kelas Dalam uraian di atas telah disinggung bahwa salah satu keterampilan yang harus d imiliki guru adalah keterampilan dalam mengelola kelas. suka menyela. 4. Kemampuan yang ter kait dengan pemberian umpan balik dan penguatan (reinforcement). Mm eminimalkan friksi-friksi di kelas jika ada. d. Kemampuan yang terkait dengan st rategi manajemen. 5. c. evaluasi dan tindak lanj ut dalam suatu . dan ketulusan. 2. Mamp u memberikan umpan balik yang positif terhadap respon peserta didik. Mampu me mberikan respon yang membantu kepada peserta didik yang lamban belajar. Pengelolaan pembelajaran l ebih menekankan pada kegiatan perencanaan. 3. antara lain: 1. mengalihkan pembicara an. Mampu menerapkan kurikulum dan metode men gajar secara inovatif. Mampu memanfaatkan perencanaan kelompok guru untuk menciptakan metode pengajaran. seperti : 1. Mampu memperluas dan menambah pengetahuan metode-metod e pengajaran. Memiliki kemampuan secara rutin untuk mengahadapi peserta didik yang tidak memiliki perhatian. 5. dan 8. pelaksanaan. Mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban yang kurang memuaskan. Pengelolaan kelas merupa kan hal yang berbeda dengan pengelolaan pembelajaran. yaitu mencakup : a. b. yaitu : 1. Memiliki hubungan baik dengan peserta didik 3. Ke mampuan yang terkait dengan iklim kelas. Menunjukkan minat dan enthusi as yang tinggi dalam mengajar. penghargaan kepada peserta didik. 7. Mampu menciptakan atmosfer untuk bekerja sama dan kohesivitas dalam kelompok. 2. 6. Mampu membe rikan bantuan kepada peserta didik yang diperlukan.Mengutip pemikiran Davis dan Margareth A. Kemampuan yang terkait de ngan peningkatan diri. 2. khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati.

Masalah Kelompok : 1. terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam pengelolaan kelas. sosio-emo sional yang baik. Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan) Revenge seeking behavior s (pola perilaku menunjukkan balas dendam). Kelas kurang mampu menyesuakan diri dengan keadaa n baru. Masalah Individual : 1. b. Kelas mereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggot anya. “Membombong” anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok. Rogers mengemukakan pentingnya sikap tu lus dari guru (realness.pembelajaran. 4. Kelas kurang kohesif. Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya unt uk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses be lajar (pembinaan rapport. 3. 2. Dalam hal ini. pemberian ganjaran. 6. congruence). Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disep akati sebelumnya. penetapan norma kelompok yang produktif). 4. suku. tingkatan sosial eko nomi.guru dan atau peserta didik – pe serta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim. penyelesaian tugas oleh peserta didik seca ra tepat waktu.Modification Approach (Behaviorism Apparoach) Asumsi yang m endasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu mer upakan hasil belajar. 2. menerima dan menghargai peserta didik sebagai . yaitu : a. Carl A. 3. karena menganggap tugas yang diberikan kurang fair. Sema ngat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru. 5. 7. karena alasan jenis kelamin. y aitu : a. dan sebagainya. penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas. didalamnya mencakup pe ngaturan orang (peserta didik) dan fasilitas. Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian). helplessness (peragaan ketidakmampua n). Terdapat dua macam masalah pengelo laan kelas. Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakuka n melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). Kelompo k cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap. genuiness. b. Behavior . Berangkat dari teori-teori belajar sebagaimana telah dikemukakan terdahu lu. Socio-Emotional C limate Approach (Humanistic Approach) Asumsi yang mendasari penggunaan pendekata n ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubung an interpersonal yang baik antara peserta didik .

trust) dan mengerti dari sudut pandangan p eserta didik sendiri (emphatic understanding). serta membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik. menyusun rencana pemecahannya. b dan c benar . b. dan permanen Perubahan yang bersifat fungsional. bertujuan dan terarah. Perubahan yang bersifat intensional. memperlakukan peserta didik sebagai manusia yan g dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya. b ukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasaka n. Belajar merupaka n usaha individu. Di bawah ini merupakan hakekat belajar. Belajar sebagai usaha untuk memperoleh pengetahuan. (c) attractio n (pola persahabatan). (d) communication. Belajar merupakan usaha individu memperoleh perubahan perilaku. (b) leadership. d. dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik unt uk dapat memikul tanggung jawab. caring. g. f. guru berusaha untuk membicarakan situasi. G roup Process Approach Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bah wa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru a dalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif.manusia (acceptance. mengarahkan peserta didik agar committed terhadap rencana yang telah dibuat. yaitu : (a) mutual expectations. Sedangkan Haim C. dari tidak tahu menjadi tahu. menganalisis dan menilai masalah. Ginnot mengemuk akan bahwa dalam memecahkan masalah. Belajar merupakan kegiatan individu di sekolah u ntuk memperoleh pengetahuan 2. kontinyu. Sementara itu. h. kecuali : a. serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaia n. (c) norm. (d) cohesiveness D. positif. Perubahan yang bersif at aktif dan menyeluruh. Sch muck & Patricia A. memupuk keberanian menanggung akib at “kurang menyenangkan”. dan membe ri kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat. c. c. a. Schmuck menegemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendeka tan group proses. Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Dem ocratic Classroom Process. Latihan : Soal : Pilihan Ganda 1. Di bawah ini merupakan ciri-ciri perubahan perilaku dari kegiatan belajar : e . prizing. Hal senada dikemukakan William Glasser bahwa guru seyogyanya membantu mengara hkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi. Richard A.

b. a. semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons. maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus. d. c. d. c. merangsang. a.3. Keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan m enggunakan simbol-simbol merupakan bentuk perubahan perilaku dalam : a. menggerakkan. d. a.Respons . d. b. Dalam proses pembelajaran. Teori belajar yang menganggap pentingnya imitation dan modelling dalam belaja r. b. b. d. b . Sebaliknya. Law of Effect Law of Readiness Law of Exercise Law of Respondent C onditioning 5. Perenca na Pembelajaran Pelaksana Pembelajaran . dan me ngarahkan kegiatan belajar mengajar merupakan peran guru sebagai : a. adalah : a. Informasi verbal Kecakapan intelektual Strategi kognitif Sikap dan kecakapan mo torik 4. Pendekatan pembelajaran yang dianggap paling sesuai untuk pembentukan kompete nsi peserta didik. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : a. Connectionism (S-R Bond) Classical Conditioning Social Learning Oper ant Conditioning 6. b. c. dan c benar. memimpin. b. c. Behaviorisme Gestalt Kog nitif Pemrosesan Informasi 8. Jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. maka hubungan Stimulus Respons akan semakin kuat. c. c. 7. d. Pentingnya reinforcement dalam pembentukan perilaku individu Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. b. Ekspositorik Heuristik Discovery Inquiry 9. henda knya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkait an unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. Materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondi si lingkungan kehidupan peserta didik merupakan salah satu aplikasi dalam pembel ajaran yang dihasilkan dari teori belajar : a. Dapat menciptakan situasi belajar.

proses konseling. Bimb ingan terhadap Peserta Didik Bermasalah. orientasi baru. Menganalis is kasus dan mengatasi masalah yang dihadapi peserta didik. c. bimbingan terhadap peserta didik bermasal ah. merencanakan. apa yang akan dilakukan jika di kelas menemukan: a. d. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling. 3. . B. Uraian 1 . melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. Kompetensi guru yang berhubungan dengan pemahaman perkembangan peserta didik . jenis lay anan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. 3. Mengidentifikasi fungsi. Menerapkan teknik – teknik dalam konseling. 2. Sebagai guru. Proses dan Teknik Konseling. 4. 6. 5. Jelaskan secara skematik tenta ng perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar !. Komp etensi akademik Kompetensi personal Kompetensi pedagogik Kompetensi sosial BAB V BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH A. 5. Evaluator Pembelajaran Fasilitator Pembelajaran 10. prosedur umum bimbingan dan konseling. a. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling. Apa yang dimaksud dengan pengelolaan kelas ? 2. 3. Peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pela jaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling. b. Pokok Bahasan 1. 4. asas. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. 2. Mendefinisik an bimbingan dan konseling. para siswa kurang kompak dan selalu berisik. d. prinsip. Menjelaskan peran kepala sekolah dan guru mata pelajaran dalam Bimbingan dan Konseling. siswa yang sedang asy ik ngobrol dengan temannya.c. b. Kegiatan Layanan dan Pend ukung Bimbingan dan Konseling. diharapkan Anda dapat : 1.

conducting (menuntun). misalnya problema kependidikan. agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirinya (self understanding). menentukan. Dalam pelaksanaannya. Sedangkan menurut W. 1975) mengartikan bimbingan sebagai proses bantuan ter hadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan pen yesuaian diri secara maksimum di sekolah. Surya.S. (1975) berpendapat bahwa bimb ingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis ke pada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. manager. Surya. (1970) mengemukakan : “gui dance is the help given by one person to another in making choice and adjusment and in solving problem. kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) . Hal ini tentu saja tidak sesuai lagi dengan arah perkembangan dewasa ini . United States Office of Education (Arifin. dimana pada saat ini klien lah yang justru dianggap lebih memiliki peranan pen ting dan aktif dalam proses pengambilan keputusan serta bertanggungjawab sepenuh nya terhadap keputusan yang diambilnya. Intisari Bacaan 1. leading (memimpin). Sertzer & Stone (1966) menemukakan bahwa guidance beras al kata guide yang mempunyai arti to direct. governing (mengarahkan) dan gi ving advice (memberikan nasehat). atau mengemudikan). regulating (mengatur). or steer (menunjukk an. Penggunaan istilah bimbingan seperti dikemukak an di atas tampaknya proses bimbingan lebih menekankan kepada peranan pihak pemb imbing. mengatur. bimbingan harus mengara hkan kegiatannya agar peserta didik mengetahui tentang diri pribadinya sebagai i ndividu maupun sebagai anggota masyarakat. kemampuan untuk menerima dir inya (self acceptance). 2004) mendefiniskan bimbingan sebagai : the process of helping the individual to understand himself and his world so that he can utili ze his potentialities. di bawah ini dikemukakan pendapat dari beberapa ahli : Miller (I . Winkel (198 1) mengemukakan bahwa guidance mempunyai hubungan dengan guiding : “ showing a way” (menunjukkan jalan). I.C. Djumhur dan Moh. jabat an. Peters dan Sh ertzer (Sofyan S. Djumhur dan Moh. Jones et. Pengertian Bimbing an dan Konseling Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang didalamnya te rkandung beberapa makna. sosial dan pribadi.al. Willis. Untuk memahami lebih jauh tentang penger tian bimbingan. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling a. kesehatan. giving instructi ons (memberikan petunjuk). pilot. 1978) memberik an rumusan bimbingan sebagai kegiatan yang terorganisir untuk memberikan bantuan secara sistematis kepada peserta didik dalam membuat penyesuaian diri terhadap berbagai bentuk problema yang dihadapinya. keluarga dan masyarakat.

dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan pote nsi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan, baik ke luarga, sekolah dan masyarakat. Dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 ten tang Pendidikan Menengah dikemukakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diber ikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan, d an merencanakan masa depan”. Prayitno, dkk. (2003) mengemukakan bahwa bimbingan da n konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bimbingan pri badi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karier, melalui berbaga i jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku. Da ri beberapa pendapat di atas, tampaknya para ahli masih beragam dalam memberikan pengertian bimbingan, kendati demikian kita dapat melihat adanya benang merah, bahwa : Bimbingan merupakan upaya untuk memberikan bantuan kepada individu atau peserta didik.. Bantuan dimaksud adalah bantuan yang bersifat psikologis. Tercap ainya penyesuaian diri, perkembangan optimal dan kemandirian merupakan tujuan ya ng ingin dicapai dari bimbingan. Dari pendapat Prayitno, dkk. yang memberikan pe ngertian bimbingan disatukan dengan konseling merupakan pengertian formal dan me nggambarkan penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dal am sistem pendidikan nasional. Keberadaan layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang panjang, sejak kuran g lebih 40 tahun yang lalu. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali p ergantian istilah, semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 d an sebelumnya), kemudian pada Kurikulum 1994 dan Kurikulum 2004 berganti nama me njadi Bimbingan dan Konseling. Akhir-akhir ini para ahli mulai meluncurkan sebut an Profesi Konseling, meski secara formal istilah ini belum digunakan. Untuk kep entingan penulisan ini, penulis akan menggunakan istilah Bimbingan dan Konseling sesuai dengan istilah formal yang saat ini dipergunakan dalam sistem pendidikan nasional. b. Orientasi Baru Bimbingan dan Konseling Pada masa sebelumnya (atau mungkin masa sekarang pun, dalam prakteknya masih ditemukan) bahwa penyelenggara an Bimbingan dan Konseling cenderung bersifat klinis-therapeutis atau menggunaka n pendekatan kuratif, yakni hanya berupaya menangani para peserta didik yang ber masalah saja. Padahal kenyataan di sekolah

jumlah peserta didik yang bermasalah atau berperilaku menyimpang mungkin hanya s atu atau dua orang saja. Dari 100 orang peserta didik paling banyak 5 hingga 10 (5% - 10%). Selebihnya, peserta didik yang tidak memiliki masalah (90% -95%) ker apkali tidak tersentuh oleh layanan bimbingan dan konseling. Akibatnya, bimbinga n dan konseling memiliki citra buruk dan sering dipersepsi keliru oleh peserta d idik, guru bahkan kepala sekolah. Ada anggapan bimbingan dan konseling merupakan “polisi sekolah”, tempat menangkap, merazia, dan menghukum para peserta didik yang melakukan tindakan indisipliner. Anggapan lain yang keliru bahwa bimbingan dan k onseling sebagai “keranjang sampah” tempat untuk menampung semua masalah peserta did ik, seperti peserta didik yang bolos, terlambat SPP, berkelahi, bodoh, menentang guru dan sebagainya. Masalah-masalah kecil seperti itu dapat diantisipasi dan d iatasi oleh para guru mata pelajaran atau wali kelas dan tidak perlu diselesaika n oleh guru pembimbing. Mengingat keadaan seperti itu, kiranya perlu adanya orie ntasi baru bimbingan dan konseling yang bersifat pengembangan atau developmental dan pencegahan pendekatan preventif. . Sofyan. S. Willis (2004) mengemukakan ba ru bimbingan dan konseling, yaitu : landasan-landasan filosofis dari orientasi 1. Pedagogis; artinya menciptakan kondisi sekolah yang kondusif bagi perkembanga n peserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual diantara peserta didik . 2. Potensial, artinya setiap peserta didik adalah individu yang memiliki poten si untuk dikembangkan, sedangkan kelemahannya secara berangsur-angsur akan diata sinya sendiri. 3. Humanistik-religius, artinya pendekatan terhadap peserta didik haruslah manusiawi dengan landasan ketuhanan. peserta didik sebagai manusia dia nggap sanggup mengembangkan diri dan potensinya. 4. Profesional, yaitu proses bi mbingan dan konseling harus dilakukan secara profesional atas dasar filosofis, t eoritis, yang berpengetahuan dan berketerampilan berbagi teknik bimbingan dan ko nseling. Dengan adanya orientasi baru ini, bukan berarti upaya-upaya bimbingan d an konseling yang bersifat klinis ditiadakan, tetapi upaya pemberian layanan bim bingan dan konseling lebih dikedepankan dan diutamakan yang bersifat pengembanga n dan pencegahan. Dengan demikian, kehadiran bimbingan dan konseling di sekolah akan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh peserta didik, tidak hanya bagi pes erta didik yang bermasalah saja. c. Fungsi Bimbingan dan Konseling Dengan orient asi baru Bimbingan dan konseling terdapat beberapa fungsi yang hendak dipenuhi m elalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. yaitu:

1. Pemahaman; 2. 3. 4. 5. menghasilkan pemahaman pihak-pihak tertentu untuk pengembangan dan pemacahan mas alah peserta didik meliputi : (a) pemahaman diri dan kondisi peserta didik, oran g tua, guru pembimbing; (2) lingkungan peserta didik termasuk di dalamnya lingku ngan sekolah; dan keluarga peserta didik dan orang tua; lingkungan yang lebih lu as, informasi pendidikan, jabatan/pekerjaan, dan sosial budaya/terutama nilai-ni lai oleh peserta didik. Pencegahan; menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya p eserta didik dari berbagai permasalahan yang timbul dan menghambat proses perkem bangannya. Pengentasan; menghasilkan terentaskannya atau teratasinya berbagai pe rmasalahan yang dialami peserta didik. Advokasi; menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hakhak dan/atau kepentingan pendidikan. Pemeliharaan dan pengembangan; terpelihara dan terkembangkannya berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berke lanjutan. d. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling : Sejumlah prinsip mendasari gerak langk ah penyelenggaraan kegiatan bimbingan dan konseling. Prinsip-prinsip ini berkait an dengan tujuan, sasaran layanan, jenis layanan dan kegiatan pendukung, serta b erbagai aspek operasionalisasi pelayanan bimbingan dan konseling. Prinsip-prinsi p tersebut adalah : 1. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan; (a ) melayani semua individu tanpa memandang usia, jenis kelamin, suku, agama dan s tatus sosial; (b) memperhatikan tahapan perkembangan; (c) perhatian adanya perbe daan individu dalam layanan. 2. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan permasalah an yang dialami individu; (a) menyangkut pengaruh kondisi mental maupun fisik in dividu terhadap penyesuaian pengaruh lingkungan, baik di rumah, sekolah dan masy arakat sekitar, (b) timbulnya masalah pada individu oleh karena adanya kesenjang an sosial, ekonomi dan budaya. 3. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program pelayanan Bimbingan dan Konseling; (a) bimbingan dan konseling bagian integral d ari pendidikan dan pengembangan individu, sehingga program bimbingan dan konseli ng diselaraskan dengan program pendidikan dan pengembangan diri peserta didik; ( b) program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutu han peserta didik maupun lingkungan; (c) program bimbingan dan konseling disusun dengan mempertimbangkan adanya tahap perkembangan individu; (d) program pelayan an bimbingan dan konseling perlu diadakan penilaian hasil layanan.

g uru pembimbing (konselor) terlebih dahulu bersikap terbuka dan . (a) diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimb ing diri sendiri. (b) pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya at as kemauan diri sendiri. 3. Asas Kesukarelaan.4. sedangkan pengingkarannya akan dapat men ghambat atau bahkan menggagalkan pelaksanaan. Pemenuhan asas-asas bimbingan itu akan memperlancar pelaksanaan dan lebih menjamin keberhasilan layanan/kegiatan. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan. yaitu asas yang men untut dirahasiakannya segenap data dan keterangan peserta didik (klien) yang men jadi sasaran layanan. (c) permasalahan individu dilayani oleh tenaga ahli/pro fesional yang relevan dengan permasalahan individu. 2. yaitu asas yang menghendaki adanya kesuka an dan kerelaan peserta didik (klien) mengikuti/ menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya. Asas. yaitu asas yang menghen daki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap t erbuka dan tidak berpura-pura. Betapa pentingnya as as-asas bimbingan konseling ini sehingga dikatakan sebagai jiwa dan nafas dari s eluruh kehidupan layanan bimbingan dan konseling. (d) perlu adanya kerja sama dengan personil sekolah dan orang tua dan bila perlu dengan pihak lain yang berk ewenangan dengan permasalahan individu.asas bimbingan dan kon seling tersebut adalah : 1. juga dituntut untuk memenuhi sejumlah asas bimbi ngan. maka penyelenggaraan bimbingan dan konseling akan berjalan tersendat-sendat atau bahkan terhenti sama sekali. Guru Pembimbing (konselor) berkewajiban membina dan meng embangkan kesukarelaan seperti itu. Dalam hal ini. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak laya k diketahui orang lain. Asas Kerahasiaan (confidential). Agar peserta didik (klien) mau terbuka. e. baik dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang bergu na bagi pengembangan dirinya. serta mengurangi atau mengaburkan hasil layanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu sendiri. Guru pembimbing (konselor) berkewajiban mengembang kan keterbukaan peserta didik (klien). dan (e) proses pelayanan bimbingan dan k onseling melibatkan individu yang telah memperoleh hasil pengukuran dan penilaia n layanan. Asas-Asas Bimbingan dan Konseling Penyelenggaraan layanan dan kegi atan pendukung bimbingan dan konseling selain dimuati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu. guru pembimbing (konselor) berkewajiban m emelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar -benar terjamin. Apabila asas-asas ini tidak di jalankan dengan baik. Asas Keterbukaan.

6. Bahkan lebih jau h lagi. Profesionalitas guru pembimbing (konselor) harus terwujud baik . mampu mengambil keputusan. Guru Pembimbing (konselor) perlu mendorong dan memotivasi peserta didik untuk dapat aktif dalam setiap layanan/kegiatan yang d iberikan kepadanya. yaitu asa s yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (peserta didik/klie n) hendaknya selalu bergerak maju. tidak monoton. hukum. yaitu asas yang menunjukkan pada tujuan umum bimbingan dan konseling. dengan ciri-ciri mengenal diri sendiri dan lingkungannya. menghayati dan men gamalkan norma-norma tersebut. saling menunjang. serta mewujudkan diri sendiri. para pelaksana layanan dan kegiatan bimbinga n dan konseling lainnya hendaknya tenaga yang benar-benar ahli dalam bimbingan d an konseling. Asas keterbukaan ini bertalian erat dengan asas kerahasiaan dan dan kekarelaan. Guru Pembimbing (konselo r) hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling bagi berk embangnya kemandirian peserta didik. Asas Kekinian. Asas Kenormatifan . baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun p ihak lain. Asas Kedinamisan. Asas Kemandirian. Dalam hal ini. Kondisi masa lampau dan masa depan dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan dengan apa yang ada dan di perbuat peserta didik (klien) pada saat sekarang. mengarahkan. 8. 7. yaitu asas yang menghenda ki agar obyek sasaran layanan bimbingan dan konseling yakni permasalahan yang di hadapi peserta didik/klien dalam kondisi sekarang. yaitu asas yang menghendaki ag ar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselnggarakan atas dasar kaidah -kaidah profesional. dan terus berkembang serta ber kelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu . melalui segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling ini harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (klien) dalam memahami. yaitu peserta didik (klien) sebagai sasaran layan an/kegiatan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang ma ndiri. peraturan. adat is tiadat. Dalam hal ini. kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi amat penting dan harus dilaksanakan sebaikbaiknya. yaitu asas yang menghendaki agar peserta d idik (klien) yang menjadi sasaran layanan dapat berpartisipasi aktif di dalam pe nyelenggaraan/kegiatan bimbingan. 4.tidak berpura-pura. 5. Asas Keterpaduan. Asas Kegiatan. yaitu asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan keg iatan bimbingan dan konseling. yaitu asas yang menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan ko nseling didasarkan pada norma-norma. ilmu pengetahuan. Asas Keahlian. dan kebiasaan – kebiasaan yang berlaku. harmonis dan terpadukan. baik norma agama. 10. 9.

Secara garis besarn ya. atau ahli lain. guru mata pelajaran dan wali kelas. sosial. c. Guru pembimbing (konselor)dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. Keberhasilan penyelen ggaraan bimbingan dan konseling di sekolah. harmonis. 11.dalam penyelenggaraaan jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling dan dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. 12. mengemba ngkan keteladanan. tidak lepas dari peranan berbagai pi hak di sekolah. Mengkoo rdinir segenap kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di sekolah. b. dan karier”. dan dinamis. 2. Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan p elaksanaan program. Dengan adanya kata “kewajiban”. sebaliknya guru pembimbing (kons elor). serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk maju. Selain Guru Pembimbing atau Konselor sebagai pelaksana utama. Menyediakan prasarana. sebagai berikut : a. sehingga p elayanan pengajaran. secara tegas dikemukakan bahwa : “Sekolah berkew ajiban memberikan bimbingan dan konseling kepada siswa yang menyangkut tentang p ribadi. belajar. juga perlu melibatkan kepala s ekolah . Asas Tut Wuri Handa yani. Asas Alih Tangan Kasu s. guru-guru lain. penilaian dan upaya tidak lanjut pelayanan bimbingan dan kon seling. Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan da n Konseling Dalam kurikulum 2004. . yaitu asas yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa aman). Peranan Kepala Sekolah. dan be rbagai kemudahan bagi terlaksananya pelayanan bimbingan dan konseling yang efekt if dan efisien. baik yang berada di dalam lembaga sekolah maupun di luar sekolah. pe nyelenggaraan Bimbingan dan konseling di sekolah. dapat mengalihtangankan kasus kepada pihak yang lebih kompeten. dan bimbingan dan konseling merupakan suatu kesatu an yang terpadu. yaitu asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggaraka n layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalaha n peserta didik (klien) kiranya dapat mengalihtangankan kepada pihak yang lebih ahli. tugas dan tanggung jawab kepala sekolah. Kepala sekolah selaku penanggung ja wab seluruh penyelenggaraan pendidikan di sekolah memegang peranan strategis dal am mengembangkan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Demikian pula. maka setiap seko lah mutlak harus menyelenggarakan bimbingan dan konseling. peran. tenaga. latihan. dan memberikan rangsangan dan dorongan.

e. Membantu mengembangkan suasana kelas. membantu Guru Mata Pelajaran melaksanakan peranannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling. kes empatan.d. Sebagai pengelola kelas tertentu dalam pelayanan bimbingan dan kon seling. Membantu pengumpulan informasi yang dipe rlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tind ak lanjutnya. khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. tugas dan tanggung jawab guru-guru mata pela jaran dalam bimbingan dan konseling adalah : a. memahami dan meng hargai tanpa syarat. dan dukungan dalam kegiatan kepengawasan yang dilakukan oleh Pengawas S ekolah Bidang BK. khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling Di sekol ah kepada Dinas Pendidikan yang menjadi atasannya. h. peran. . Membantu Guru Pembimbing mengidentifi kasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling. serta pengumpu lan data tentang siswa-siswa tersebut. hubungan guru-siswa dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan k onseling. jujur dan asli. b. mendorong. yaitu siswa yang menuntut Guru Pembimbing memerlu kan pelayanan pengajar /latihan khusus (seperti pengajaran/ latihan perbaikan. Wali Kelas berperan : a. c. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan la yanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani layanan/kegiat an yang dimaksudkan itu. membantu memberikan kesempatan d an kemudahan bagi siswa. konkret. e. Berkenaan peran guru mata pelajaran dan wali kel as dalam bimbingan dan konseling. bersahabat. mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan ko nseling kepada Guru Pembimbing. d. Willis (2005) mengemukakan bahwa gur u-guru mata pelajaran dalam melakukan pendekatan kepada siswa harus manusiawi-re ligius. dan e. Sedangkan. untuk mengikuti/menjalani layanan dan/atau kegiatan bimbingan dan konseling. berpa rtisipasi aktif dalam kegiatan khusus bimbingan dan konseling. Mengalihtangankan siswa yang memerluka n pelayanan bimbingan dan konseling kepada Guru Pembimbing d. Menerima siswa ali h tangan dari Guru Pembimbing. c. Sofyan S. seperti konferens i kasus. khusu snya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. membantu Guru Pembimbing melaksanakan tugas-tug asnya. g. ramah. Membantu memasyarakatkan pelayan an bimbingan dan konseling kepada siswa b. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masa lah siswa. f. seperti konferensi kasus. Menyediakan fasilitas. p rogram pengayaan).

Layanan Orientasi. baik dalam jenis layanan maupun kegiatan pen dukung. sosial. dengan tujuan agar peserta didik dapat meng embangkan segenap . m erupakan layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyal uran di dalam kelas. a. m agang. di bawah ini akan diuraikan tujuh jenis layanan dan lima k egiatan pendukung bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam pendidi kan nasional. kelompok belajar. Namun. Layanan pe mbelajaran berfungsi untuk pengembangan. pendidikan lanjutan).3. karier. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. Layanan orientasi merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memahami ling kungan baru. belajar maupun karier berdasarka n informasi yang diperolehnya yang memadai. dengan tujuan agar pes erta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. yang ber fungsi untuk pencegahan dan pemahaman. 2. Layanan Informasi. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru i tu. 4. Untuk lebih jelasnya. Layanan Penempatan dan Penyaluran. Layanan Pembelajaran. Para ahli bimbingan di Indonesia saat ini sudah mulai meluncurkan dua je nis layanan baru yaitu layanan konsultasi dan layanan mediasi. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai materi belaj ar atau penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. 3. pergaulan. Sedan gkan kegiatan pendukung merupakan kegiatan untuk menopang terhadap keberhasilan layanan yang diberikan. Kegiatan Layanan Bimbingan dan Konseling 1. Namun sangat mungkin k e depannya akan semakin berkembang. sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awa l semester. jurusan/program studi. Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling Kegiatan layanan merup akan kegiatan dalam rangka memenuhi fungsi-fungsi bimbingan dan konseling. kedua jeni s layanan ini belum dijadikan sebagai kebijakan formal dalam sistem pendidikan. Layanan informasi pun berfungsi untu k pencegahan dan pemahaman. merupakan layanan y ang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. program latihan. dalam bidang pribadi. Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional saat ini terdapat tujuh jenis layanan dan lima kegiatan pendukung. kegiatan ko/ekstra kurikuler. Tujuan layanan inf ormasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu.

terpadu dan sifatnya tertutup. baik tes maupun non tes. Layanan Konseling Perorangan. 6 . 2. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengenta skan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keteran gan tentang peserta didik. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. merupakan kegiatan u ntuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengem bangan peserta didik. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan perm asalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Himpunan Data. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan da n pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. yaitu : 1. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Apl ikasi Instrumentasi Data. minat dan segenap potensi lainnya. sistem atik.bakat. tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainn ya. yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu me lalui dinamika kelompok. Tujuan layanan kons eling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihad apinya. kiranya perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung Dalam hal ini . b. . Kegiatan Pendukung Bimbingan dan Konseling U ntuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukak an di atas. merupakan layanan yang memungkinan sejumlah pesert a didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan memba has pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan ke mampuan sosial. terdapat lima jenis kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. 5. Layanan Penempatan dan Penyaluran berf ungsi untuk pengembangan. Layanan Bimbingan Kelompok. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman da n Pengembangan 7. dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristikn ya dan memahami karakteristik lingkungan. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembang an kemampuan sosial. komprehensif. Layanan Konseling Kelompok.

Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling Secara umum.3. 4. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan. merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didi k dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan ket erangan. merupakan kegiata n untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalaha n yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebi h kompeten. ke mudahan. Call them approach. Konferensi Kasus. dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarg a untuk mengentaskan permasalahan klien. Alih Tangan Kasus. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makm un (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi p eserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling. merupakan upaya untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. prosedur bimbingan dan konseling dapat ditempuh melalui prosedur seperti tampak dalam bagan beriku t : Datang Sendiri/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari In formasi yang Ada/Dicari Identifikasi Kasus Identifikasi Masalah Diagnosis Prognosis Remedial/Referal Eva luasi/Follow Up a. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih ko mpeten. seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor. keterangan. . Tujuan konferensi kasus adala h untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan kli en. yakni : 1. kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Identifikasi kasus. merupakan kegiatan untuk memperoleh data. dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kun jungan rumah klien. 5. Pertemua n konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. dokter serta ahli lainnya. melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik sec ara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. Kunjungan Rumah. 4.

langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahan nya. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pad a hubungan kegiatan belajar mengajar saja. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar peserta didik. (6) pendidikan dan pelajaran. seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan.H. Diagnosis. dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupay akan berbagai tindak lanjutnya. Prognosis. Prayit no dkk. yaitu : (1) faktor internal. (3) behavioral . sikap serta kondisi-kondisi p sikis lainnya. Untuk mengidentifikasi masalah peserta didik. b isa dilihat dari segi input. Developing a desire for counseling. c. seperti : lingkungan rumah. 4. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan pese rta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes. kecerdasan. (4) ekonomi d an keuangan. W. rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. kepribadian. bakat. upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. Maintain good relationship. (5) karier dan pekerjaan. Dala m konteks Proses Belajar Mengajar. de ngan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan peny esuaian sosial b. ataupun out put belajarnya. menciptakan hubungan yang baik. langkah ini merupakan upaya untuk memaha mi jenis. dan atau (4) personality. (2) struktural – fungsional. dan (2) faktor eksternal. Melakukan analisis terhadap hasil belajar pes erta didik. d. dan (10) waktu senggang. dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membant u untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik. menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta did ik akan masalah yang dihadapinya. dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kega galan belajar yang dihadapi peserta didik.2. (8) hubungan muda-mudi. faktor yang b esumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri. penuh keakraban s ehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik . emosi. (9) keadaan dan hubungan keluarga. tes bakat. 3. lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. seperti : kondisi jasmani dan kesehatan. permasalahan peserta didik dapat berkenaan de ngan aspek : (1) substansial – material. Burton mem bagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik. proses. nilai dan moral. (7) agama. Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan . misalnya melalui kegiatan ekstra kuri kuler. karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. (2) diri pribadi. (3) hubungan sosial. Melakukan analisis sosiometris. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik. 5. Identifikasi Masalah. seperti tes inteligens i.

Perasaan positif sebagai dampak dari p roses dan materi yang dibawakan melalui layanan. dan 3. . Peserta didik telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perba ikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. jika j enis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembel ajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pem bimbing. Peserta didik telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. Evaluas i dan Follow Up. Peserta didik telah menurun penentan gan terhadap lingkungannya 6. Ro binson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari k eberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan. Proses mengambil keput usan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus. untuk melihat seberapa penga ruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. de ngan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani k asus . mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan r asional. jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbi ng sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten. evaluasi atas usaha pemecahan masal ah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut. 2. Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu : 1. sesuai dengan dasar pertimbang an dan keputusan yang telah diambilnya. Pese rta didik telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan ma salahnya secara obyektif (self acceptance). 4. Rencana kegiatan yang ak an dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewu judkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. Namun.menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. 3. Peserta didik telah menurun keteg angan emosinya (emotion stress release). Sementara itu. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling. 2. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas. Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus).kasus yang dihadapi. e. Pese rta didik telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. yaitu apabila: 1. f. 5. Peserta didik mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan. cara manapun yang ditempuh. 7. pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimb ing itu sendiri.

Kasus ringan dibimbing oleh wali kel as dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing ) dan mengadakan kunjungan rumah. perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik . c. Sofyan S. kesulitan belajar pada bid ang tertentu. Kasus sedang di bimbing oleh guru pembimbing (konselor). ahli/profesional. berkelahi dengan teman sekolah. Masalah (kasus) ringan. minum minuman keras tahap pertengah an. seperti : gangguan emosional. mencuri kelas ringan. poli si. Masalah (kasus) berat. seperti : gangguan emosional berat. tampaknya untuk lay anan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. Dapat pula mengadakan konfer ensi kasus. Oleh karena itu. namun perlu diingat bahwa tidak semua masalah peserta didik harus ditangani oleh Guru Pembimbing (ko nselor). b. percobaan b unuh diri. mencuri kelas sedang. Dalam hal ini. memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebi h dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan . dengan berkonsultasi dengan kepala seko lah. malas. polisi. Karena layanan yang sa tu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah b erserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. pelaku kriminalitas.5. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. karena gangguan di keluarga. berpacaran. Masalah (kasus) sedang. berkelahi antar sekolah. Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah Bimbingan terhadap peserta didik bermasalah tetap menjadi perhatian bimbingan dan konseling. sebagaimana dalam bagan berikut : Ringan Masalah peserta didik Sedang Berat Semua Guru/Wali Kelas Guru Pembimbing Alih Tangan Kasus a. kes ulitan belajar. berpacaran. Dalam prakteknya. Proses Konseling dan Teknik-Teknik Konseling Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. minum minuman keras ta hap awal. dengan perbuatan menyimpang. Kasus berat dilaku kan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. melakukan gangguan sosial dan asusila. 6. peserta didik hamil. kecand uan alkohol dan narkotika. guru dan sebagainya. dokter. bertengkar. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kas us. seperti : membolos.

dan kegiatan. Taha p Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. proses konseli ng selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. kesukarelaan. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. . proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). dan menentukan berbagai alterna tif yang sesuai bagi antisipasi masalah. b. Menegosiasikan kontrak Membangun per janjian antara konselor dengan klien. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama a ntara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. Proses Konseli ng Secara umum. Pada tahap ini terda pat beberapa hal yang harus dilakukan. 2 . 1. Memperjela s dan mendefinisikan masalah. keterbukaan. 3.konseling. (2) tahap inti (tahap kerja). yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. diantaranya : a. maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. Kunci keberhasilan m embangun hubungan terletak pada terpenuhinya asasasas bimbingan dan konseling. Kontrak kerja sama dalam proses konseling. Menjelajahi dan mengeksp lorasi masalah klien lebih dalam. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. a. Kontrak waktu. c. yaitu berapa la ma waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. diantaranya : a. d. sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pen gentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. 2. t erutama asas kerahasiaan. Membuat penaksiran dan perjajagan Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. berisi : 1. Kontrak tugas. Me mbangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masa lah klien. dan (3) tahap akh ir (tahap perubahan dan tindakan).

bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadap i klien. 1. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian sege ra). Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. Teknik U mum Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapantah apan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh kon selor. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. c. b. Untuk lebih jelasnya. Pemahaman baru dari klien t entang masalah yang dihadapinya. Hal ini bisa terj adi jika : 1. ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konse ling. baik oleh pihak konselor maupun klien. sehat dan dinamis. yaitu . c. b. 2. d. d. Konselor bersama klien membua t kesimpulan mengenai hasil proses konseling b. Tahap Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terd apat beberapa hal yang perlu dilakukan. Menurunnya kecemasan klien Perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. Menyusun rencana tindakan yang a kan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. a. di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. 3. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik kons eling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. c.Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. Teknik-Teknik Konseling Dalam konseling perorangan terdapat dua jenis teknik yang biasa dilakukan. Konselor melakukan reassessment (p enilaian kembali). diantaranya : . Adanya rencana hidup masa yang akan datang deng an program yang jelas. serta menampakan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. b. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. yaitu : (1) teknik umum dan (2) teknik khusus. yaitu : a.

5. Kepala : melakukan anggukan jika setuju 2. diam (menanti saat kesempatan bereaksi). Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. Muka : kaku. Empati primer. mengalihkan pandangan. 4. miring. menggunakan tangan sebagai isyarat. mata melotot. menunggu ucapan klien hingga selesai. dan bahasa lisan. Empati dilakukan sejalan dengan per ilaku attending. Terdapat du a macam empati. berbicara terus tan pa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. 3. tidak melihat saat klien sedang bicara. Meningkatkan harga diri klien. jarak antara konselor dengan klien agak dekat. Menciptakan suasa na yang aman 3. duduk kurang akrab dan berpaling. Kepala : kaku 2. Contoh perilaku attending yang tidak baik : 1. perhatian terarah pada lawan bicara. bersandar. Contoh ungkapan empati primer : . 4. yaitu : a. 5. bahasa tubuh. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. duduk akrab berhadapan atau berdamping an. Contoh perilak u attending yang baik : 1. 2. dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka. yaitu bentuk empati yang hanya berusah a memahami perasaan. Posisi tubuh : tegak kaku. Memutuskan pembicaraan. ceria. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata.a. ekspresi melamun. jarak duduk dengan klien menjauh. Mendengar kan : aktif penuh perhatian. Perilaku at tending yang baik dapat : 1. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. Per hatian : terpecah. merasa dan berfikir bersa ma klien dan bukan untuk atau tentang klien. Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. senyum 3. mudah buyar oleh gangguan luar. Ekspresi w ajah : tenang. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. Empati Empati ialah kemamp uan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien. pikiran dan keinginan klien. b.

yaitu teknik u ntuk memantulkan ide. b.” 3. Ref leksi pengalaman. dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terha dap perilaku verbal dan non verbal klien... dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku v erbal dan non verbalnya. dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”. yaitu empati apabila kepaha man konselor terhadap perasaan. Contoh : ” Tamp aknya yang Anda katakan adalah . pikiran.. yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebag ai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Refleksi pikiran. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”. c..... pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih m endalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut..” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah... pengalaman termasuk penderitaanny a.” ” Hal itu rupanya sep erti . pikiran. Keiku tan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam.” ” Adakah yang Anda maksudkan. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentan g perasaan... Refleksi peras aan. berupa perasaan.” ” Barangkali Anda merasa. Empati tingkat tinggi..” 2.” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”. Terdapat tiga jenis refleksi. . Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : ”Saya dapat merasakan apa yang Anda ras akan. ” Sa ya mengerti keinginan Anda”. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan. .. pikiran. yaitu : 1.(kiasan)” ” Adakah yang Anda maksudkan.. yaitu teknik untuk memantulkan pengalamanpengalaman klien seba gai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien.

” ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ?” 2. dan pendapat klien.” ” Adakah yang Anda maksudkan peristiwa. mengungkapkan kalim at yang mudah dan sederhana. biasanya ditandai . dan pengalaman klien... terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi... yaitu : 1.” d. Contoh : ” Sa ya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bek erja” ” Saya kira pendapat Anda mengenai hal itu baik. Eksplorasi pi kiran. pikiran. Eksplorasi pengalaman.. Dapatkah Anda menguraikannya lebih lanjut ? 3.. Seperti halnya pada teknik re fleksi. tertekan dan terancam. yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. yaitu keterampilan atau teknik untuk me nggali pengalaman-pengalaman klien. Contoh : ” B isakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan . Hal ini penting d ilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin.” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah..Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu. atau tidak m ampu mengemukakan pendapatnya. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan. menutup diri. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangka p Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien. Contoh : ” Saya terkesan dengan pengalaman yan g Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut da n pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” e. yaitu teknik untuk menggali ide... pikiran. Eksplorasi peras aan.

: ” Empat ” : ” Sekarang berapa ” Konselor Klien Konselor . dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tent ang apa yang dikemukakan klien.dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya. Contoh dialog : Klien Konselor f. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus m enggunakan pertanyaan terbuka. pengalaman dan pemikiranny a dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). jika dia tidak tahu alasan atau sebab-s ebabnya. Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” ” Bagaimana perasaan Anda saat ini ?” ” Dapatkah Anda mengemukakan hal itu lebih lanju t ?” g. Pertanyaan yang d iajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. (2) m enjernihkan atau memperjelas sesuatu. dan mengamati respons klien terhada p konselor. akan tetapi saya tidak mengambilnya. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan . Oleh karenanya. Pertan yaan semacam ini akan menyulitkan klien. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. : ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”. lebih baik gunakan kata tanya apakah. (3) mem beri arah wawancara konseling. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan perta nyaan tertutup. : ” Itu suatu pe kerjaan yang baik. bagaimana. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” : ” Tampaknya Anda masih ragu. dan (3) menghentikan pembicaraan klien yan g melantur atau menyimpang jauh. adakah . dapatkah. Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada kli en bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan kli en.” Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk meman cing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-ka ta singkat. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatk an prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”.

.. karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya. Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhent i sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga. ” (klien menghentika n pembicaraan) : ” ya. dengan tujuan untuk me mberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dar i hasil rujukan baru tersebut. Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemuk akan klien. . maka d ibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas.. dan saya nyaris.Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh.. Terutama hi dup di kota besar seperti Anda. Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan...” Konselor i. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melaku kan sesuatu.. Membantu orang tua memang harus. terus.dan.Klien : ” Sebelas ” h...... Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran... Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau me nghayalkan sesuatu. perasaan dan pengalaman klien dengan meru juk pada teori-teori.” Konselor Klien : ” nekad bunuh diri” : ” lalu.. Karena tantangan masa depan makin banyak...” : ” Pendidikan t ingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara. ya. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan me ngurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien... . Konselor j... n amun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalka n SMA”. lalu. bukan pandangan subyektif konselor..

Tapi bagaimana ya?” masalah : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pemb icaraan secara bertahap. kedua. namun masih ada hambatan yang akan hadapi. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” m. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan. kita sudah sampai pada dua hal: pertama. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementar a pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan A nda segera menyelesaikan studi. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . konselor seyogyanya dap at membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah.” Konselor k. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntuta n dari perusahaan yang akan Anda masuki. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. Saya tak dapat lagi menahan diri.Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alan gkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. baga imana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda. (4) mempertajam foku s pada wawancara konseling. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembi caraan. Misalnya den gan mengatakan : . Oleh karena itu. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. Pada umumnya dalam wawancara konseling. Tujuan menyimpulkan semen tara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan.” l. (3) meningkatkan kualitas diskusi. klien akan mengungkapkan sejumla h permasalahan yang sedang dihadapinya. C ontoh dialog : Klien Konselor :” Saya mungkin berfikir juga tentang hubungan denga n pacar. Ak hirnya terjadi pertengkaran sengit.” : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya.

Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan pe nelitian diri secara jujur. (2) meningkatkan potensi klien.” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan A nda dengan orang tua yang kurang harmonis ”. Co ntoh : ” Roni. Ada beberapa yang dapat dilakukan. Konfrontasi Yaitu t eknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan d engan perbuatan atau bahasa badan. 4. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki. (3) membawa klien ke pada kesadaran adanya diskrepansi. ide awal dengan ide berikutnya. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. Fokus pada orang lain. (3) dilakukan dengan perilaku att ending dan empati. di antaranya : 1. Fokus pada diri klien. senyum dengan kepedihan. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? P ikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. Co ntoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri o leh kaum wanita. yaitu dengan : (1) membe ri komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yan g tepat.” . posisi tubuh gelisah).(2) tidak menilai apalagi menyalahkan. Peng gunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati.” n. telah membuat kamu menderita. Contoh dialog : Klien : ” Saya baik-baik saja”. Contoh : ” Tanti. ” Tampaknya Anda berjuang sendirian” 2. Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. wa jah murung. konflik. atau kontradiksi dalam dirinya. dan sebagainya. Fokus pada topik. (suara rendah. Fokus mengenai budaya.

... tidak tahu. :”. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Diam Teknik diam dilakukan deng an cara attending.. dan dengan alasan-alasan yang logis. mengulang da n mengilustrasikan perasaannya... tapi kelihatannya ada yang tidak beres” ”Saya melih at ada perbedaan antara kenyataan diri ”..” (diam) Konselor Klien :” Saya.. ucapan dengan o.. Saya.. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pem impin di rumah itu.. dan penga lamannya secara bebas Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar.... Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi d i keluarga saya membuat saya bingung. komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal... kurang jelas dan agak meragukan. (2) agar klien menjelaskan.” Konselor p.. ibu.” q. atau saudara-saudara Anda. (2) sev agai protes jika klien ngomong berbelit-belit.harus bagaimana. (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara..... paling lama 5 – 10 detik.” : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah.. ungkapan kata-kata yang tega s....Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja. pikiran. Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” :”.. Tujuannya adalah : (1) mengu ndang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas.. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir... Mengambil Inisiatif ..” (diam) Konselor r. Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien de ngan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan..

(2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan.” t. terutama mengenai kecemasan. apakah tidak lebih b aik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” v. u. dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya . (2) memantapkan rencana klien. Contoh respons konselor terhadap pe rmintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab. Coba Anda renungkan kembali”. s. saya pikir Anda mempunyai s atu keputusan namun masih belum keluar.Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara. Kalau pu n konselor mengetahuinya.upi. sering d iam. Walaupun dem ikian. konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nase hat atau tidak. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia. sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembic araan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan. Memberi N asehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kur ang semangat. saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www. dan kurang parisipatif.com di internet”. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir ses i konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action). Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling y akni kemandirian klien harus tetap tercapai. p erbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. Contoh : ” Nah. jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. Contoh: ” Baiklah. (3) pemahaman baru . Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam me nuntaskan diskusi.

d. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang d iperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku y ang akan dihilangkan. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disen anginya dengan kebalikan stimulus tersebut. b. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengaj arkan klien untuk rileks. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikeh endaki dapat dihilangkan secara bertahap. Dalam hal ini k onselor . Ration al Emotive Theraphy. dalam hal-hal te rtentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. Teknik-teknik khusus ini dikemban gkan dari berbagai pendekatan konseling. dan ia menyertakan respon yang b erlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. 2. Diskusi-diskusi kelomp ok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini.klien. dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutny a. yaitu : a. Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya a dalah layak atau benar. Teknik-Teknik Khu sus Dalam konseling. di samping menggunakan teknik-teknik umum. kesulitan menyata kan tidak. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan. dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilak u baru pada klien. Stimulus yang tidak menyenangkan yan g disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang t idak dikehendaki kemunculannya. Jadi desensitisasi sistematis hakekatn ya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperku at secara negatif biasanya merupakan kecemasan. c. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. seperti pendekatan Behaviorisme.

tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien ak an perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu a pa yang harus saya katakan sekarang. Kecenderungan orang tua lawan kecenderun gan anak. dapat menggunakan model audio. Permainan Dial og Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kec enderungan yang saling bertentangan.. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampakny a mekanis. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. g. Melalui dialog yang kontradiktif ini.. model fisik. Kecenderungan otonom lawan kecende rungan tergantung. f. misalnya : 1. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya kl ien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resik o. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari k onselor. Dalam teknik ini konselor memint a klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pern yataan itu dengan kalimat : “. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial.dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. Bermain Proyeksi P royeksi : . 3. Misalnya : “Saya merasa jenuh. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “ku rsi kosong”. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderung an under dog. 4. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. 2.menunjukkan kepada klien tentang perilaku model. “Saya malas. dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahu an itu”. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan u ntuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada me mproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. Kecend erungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”. e. 5. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah.

Memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau m elihat atau menerimanya Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memant ulkannya kepada orang lain. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah a spek-aspek . Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenang kan. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku t ertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mend asarinya. h. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klie n yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sa ngat ingin menghindarinya. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang le bih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. j. perasaan-perasaan yang dipantulkan k epada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Misalnya : konselor member i kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu ya ng berlebihan. T eknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. Home work assigments. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Dengan tugas rumah yang diberikan. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang ber kebalikan dengan perasaanperasaan yang dikeluhkannya. Dalam teknik bermain proyek si konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang di proyeksikan kepada orang lain. Sering terjadi. i. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perila ku yang diharapkan. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakuta n atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk men yelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu . membiasaka n diri. klien diharapkan dapat me ngurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional da n tidak logis.

mendorong. m engenal lingkungan. Bimbi ngan dan konseling merupakan proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah. m. Bimbingan dan konseling merupak an bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi. da lam bimbingan pribadi. Bimbingan dan konseling meru pakan upaya untuk membantu mengatasi masalahmasalah yang dihadapi peserta didik. D. baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal. Latihan : Soal : 1. Bimbingan dan konseling merupakan layanan bantuan untuk peserta didik.kognisinya yang keliru. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian r upa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui pera n tertentu. d. Teknik ini dimaksu dkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. Di bawah ini merupakan pengertian bimbingan dan konseling. bimbingan sosial. dan merencanakan masa depan. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas ya ng diberikan. l. kepercayaan pad a diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. c. . kecuali : a. bimbingan belajar. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tert entu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif . k. keluarga dan masyarakat. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. b. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus meny esuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. dan bimbingan karier .

d. c. alih tangan kasus. c. Fungsi bimbingan dan konseling yang menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hak-hak dan/atau kepentingan pendidikan. berdasarkan norma-norma y ang berlaku. agama dan status sosial. dan c benar Orientasi dan Informasi Konseling Perorangan dan Konseling Kelompok Pembelajaran dan Bimbingan Kelompok Penempatan 5. Oleh karena itu. Pemahaman dan pencegahan Pengembangan Advokasi Pengentasan 3. d. b. a. a. je nis kelamin. d. Di bawah ini merupakan beberapa asas yang harus dipenuhi dalam layanan bimbingan dan konseling. b. d. a. 4. b. . Memperoleh keterangan yang lebih lengkap tentang klien dan membangun komitmen dari para pes erta konferensi dalam rangka pengentasan masalah klien. b. Tujuan dilaksanakan kegiatan konferensi kasus. Prinsip bimbingan dan konseling berkenaan dengan sasaran layanan a. a. kerahasiaan.melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. a. Bimbingan dan konseling diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri. c. c. tut wuri handay ani a. Bimbingan dan konseling merupakan pekerjaan ilmiah. dan c benar 8. kek inian. 6. b. Pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas kemauan diri sen diri b. keterbukaan. b. 2. Jenis layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tat ap muka untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan diriny a. Layanan bimbingan dan konseling yang memiliki fungsi pemahaman dan pencegahan . d. suku. Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang usia. b. d. keterpaduan kenormatifan. Mencari cara yang terbaik g una menyelamatkan kepentingan dan nama baik klien maupun sekolah. kedinamisan. kemandirian. c. Program bimbingan dan konseling h arus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan. Petugas bimbingan yang profesional Data yang lengkap dan memadai Bekerja sama d engan kalangan profesional lainnya a. keahlian kegiatan. b. Orientasi Informasi Konseling Perorangan Pembelajaran 7. setiap l ayanan yang diberikan kepada peserta didik hendaknya didukung oleh : a. c. sukarela.

”Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya.c. Aversi Desensitisasi Latihan asertif Pembentukan Perilaku Model 15. b. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanp erasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingg a klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. c. Membangun komitmen dari para peserta konferensi dalam rangka disiplin sekolah . a. apabila kasus yang dita ngani berada diluar kemampuan atau kewenangannya. Teknik konseling dengan menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. d. a. b. c. ”Saya dapat memahami pikiran Anda”. Guru pembimbing/konselor Guru dan wali kelas Polisi a. dan c benar penegakan 9.” b. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ? ” d. b dan c ben ar 11. Identifikasi kasus Diagnosis Prognosis Treatment 12. ”Anda mengatakan baik-baik saja. c. c. a. ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendala m. b. ta pi kelihatannya ada yang tidak beres”. Membuat penaksiran dan perjajagan 13. kecuali a. dapat dilakukan oleh : a. c. c. Upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timb ulnya masalah peserta didik. d. d. a. Kunjungan rumah Ko nferensi kasus Alih tangan kasus Aplikasi instrumentasi data 10. Penanganan peserta didik yang menunjukkan permasalahan atau perilaku menyimp ang tingkat ringan. d. d. 14. d. b. a. b. Contoh ungkapan pengg unaan teknik konfrontasi : a. b. berkelahi dengan teman. seperti bolos. Kegiatan pendukung yang dilakukan guru atau konselor. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. Imitasi b. Menjelajahi dan mengeksplorasi mas alah klien lebih. Di bawah ini merupakan hal-hal yang perlu dilakukan pada tahap awal konselin g. Permainan dialog . karena s aya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya.

c. Bermain peran d. Home work assigments Uraian 1. Jelaskan orientasi baru bimbi ngan dan konseling ! 2. Jelaskan peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran da lam Bimbingan dan Konseling ! 3. Mengapa guru pembimbing (konselor) perlu menjag a kerahasiaan data klien ? 4. Analisis Kasus : Fulan seorang siswa kelas XI SMA Negeri 1 Nunjauh Disana. Ketika dia masih duduk di bangku kelas VIII SMP, dia te lah menjadi anak yatim dan semenjak itu dia hidup bersama dengan kakek-neneknya, dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Sementara itu, sang ibu sudah satu tahun ini pergi merantau ke Malaysia menjadi TKI di sana namun jarang memberi khabar apalagi memberi kiriman uang untuk anaknya. Berdasarkan catatan absensi yang ada di wali kelas, pada semester yang lalu dia sering tidak masuk sekolah, tanpa al asan yang jelas. Selama bulan Februari 2006, tercatat sudah tujuh hari dia tidak masuk kelas. Padahal ketika masih duduk di kelas X kehadirannya termasuk bagus. Berdasarkan informasi dari rekan sekelasnya, bahwa jika dia tidak masuk kelas, dia suka nongkrong di terminal. Bahkan Andi, kawan sekelasnya, pernah menyaksika n dia dalam keadaan teler di terminal dan sempat meminta paksa uang kepadanya. D alam buku Laporan Pendidikan semester yang lalu, prestasi belajarnya sungguh san gat tidak memuaskan, hampir terjadi pada semua mata pelajaran, kecuali untuk Mat a Pelajaran Kesenian, prestasinya malah jauh berada di atas kawan-kawannya. Keti ka dia masih duduk dibangku SD, dia pernah meraih predikat sebagai Siswa Berpres tasi seKecamatan Nunjauh Disana dan pernah menjadi Juara Pertama Lomba Nyanyi An akAnak se- Kabupaten Nun Jauh Disana. Melihat kondisi demikian, jika dibiarkan t entunya Fulan sangat beresiko tinggi untuk tidak naik kelas bahkan mungkin dikel uarkan dari sekolah. Tugas : Tuntaskan kasus tersebut di atas dengan memperhatik an dan menggunakan prinsipprinsip dan prosedur bimbingan dan konseling !

DAFTAR PUSTAKA Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Rem aja. Calvin S. Hall & Gardner Lidzey (editor A. Supratiknya). 2005. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Chaplin, J.P. (terj. Kartini Kartono ).2005. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : P.T. Raja Grafindo Persada. Depdiknas , 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkata n Tenaga Akdemik Dirjen Dikti --------- 2003. Pedoman Penyelenggaraaan Program P ercepatan Belajar SD, SMP dan SMA. Jakarta : Dirjen Dikdasmen. E. Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep,Karakteristik dan Implementasi.Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya. ---------. 2004. Implementasi Kurikulum 2004; Panduan Pe mbelajaran KBK. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya. Gendler, Margaret E..1992. Lea rning & Instruction; Theory Into Practice. Publishing. New York : McMillan H.M. Arifin. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta. PT Golden Tera yon Press. Hurlock, Elizabeth B. 1980. Developmental Phsychology. New Yuork : Mc Graw-Hill Book Company Moh. Surya. 1997. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung PPB - IKIP Bandung. Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : PT Raja Grafindo. Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendid ikan. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya. National Board for Professional Teaching Standards. 2002 . Five Core Propositions. NBPTS Home Page. <http://www.nbpts.or g/ standards/fivecore.html>. (Accessed, 31 Oct 2002). Prayitno, dkk. 2004. Pedom an Khusus Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdiknas. ----------, dkk. 2004. P anduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Rineka Cipta.

Sofyan S. Willis. 2004.Konseling Individual; Teori dan Praktek. Bandung : Alfabe ta Sudarwan Danim. 2002. Inovasi Pendidikan : Dalam Upaya Meningkatkan Profesion alisme Tenaga Kependidikan. Bandung : Pustaka Setia. Sugiharto.(2005. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Jakarta : PPPG Sumadi Suryabrata. 1984. Psikologi Ke pribadian. Jakarta : Rajawali. Sunaryo Kartadinata.2003. Inventori Tugas Perkemb angan. Bandung : Lab. PPB-UPI Bandung Suyanto dan Djihad Hisyam. 2000. Refleksi dan Reformasi Pendidikan Indonesia Memasuki Millenium III. Yogyakarta : Adi Cita . Syamsu Yusuf LN. 2003. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.. Bandung : PT R osda Karya Remaja. www.puskur.go.id.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->