POKOK – POKOK MATERI PERKULIAHAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Arwin Zoelfatas BAB I PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN PERILAKU A. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini, diharapkan Anda dapat : 1. Mendefinisik an psikologi dan psikologi pendidikan 2. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan in dividu, indikator-indikator motivasi, bentukbentuk konflik, bentuk-bentuk perila ku salah-suai dan taksonomi perilaku individu. 3. Menjelaskan psikologi pendidik an sebagai ilmu, arti penting psikologi pendidikan bagi guru, peranan dan pengar uh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku individu. 4. Mengurai kan mekanisme pembentukan perilaku menurut pandangan behaviorisme dan holistik. B. Pokok Bahasan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan. 2. Perilaku Individu. 3. Ta ksonomi Perilaku Individu. 4. Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan Perilaku da n Pribadi Individu. C. Intisari Bacaan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup , dan “logos” atau ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut seolah-olah psikologi merup akan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu pada s alah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat ji ka kita mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tenta ng jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diam ati secara langsung. Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mung kin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dala m bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demik ian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tenta ng perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Psikologi terbagi ke dalam dua bagian yaitu psikologi umum (general phsychology) yang mengkaji per ilaku pada umumnya dan psikologi khusus yang mengkaji perilaku individu dalam si tuasi khusus, diantaranya :

Psikologi Perkembangan; mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perk embangan mulai dari masa konsepsi sampai dengan akhir hayat. Psikologi Kepribadi an; mengkaji perilaku individu khusus dilihat dari aspek – aspek kepribadiannya. P sikologi Klinis; mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan (klinis) Psikologi Abnormal; mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal. Psikolo gi Industri; mengkaji perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia industri. P sikologi Pendidikan; mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan Disampi ng jenis – jenis psikologi yang disebutkan di atas, masih terdapat berbagai jenis psikologi lainnya, bahkan sangat mungkin ke depannya akan semakin terus berkemba ng, sejalan dengan perkembangan kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks. Psi kologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah mem iliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni : Ontologis; obyek dari psikologi p endidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, oran g tua peserta didik dan masyarakat pendidikan. Epistemologis; teori-teori, konse p-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdas arkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross se ctional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif. Aksiol ogis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapa ian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan. Dengan demikian, psikologi pend idikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus me ngkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk me nemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapai an efektivitas proses pendidikan. Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari p sikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pen didikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Prose s Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupak an beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya membutuhkan psikolo gi. Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang di dalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik, adminsitrator, masyarakat dan orang tua pes erta didik. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efekti f dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogya nya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilak unya secara efektif.

Muhibbin Syah (2003) mengatakan bah wa diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adal ah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar menga jar peserta didik. Dalam hal ini. Perilaku Individu Salah satu tugas utama guru adalah berus aha mengembangkan perilaku peserta didiknya. agar perilaku peserta didi k dapat berkembang optimal. dengan memahami psikologi pendidikan. Di bawah ini akan diuraikan mekanisme pembentukan p erilaku dilihat dari kedua pendekatan tersebut dengan merujuk pada tulisan Abin Syamsuddin Makmun (2003). Ke dua pendekatan ini memiliki implikasi yang luas terhadap proses pendidikan. yakni kompetensi pedagogik. Oleh karena itu itu. (e) memfasilitasi dan memotivasi belajar pes erta didik. (d) memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling kepada peserta didiknya. (c) memilih alat bantu da n media pembelajaran yang tepat. dengan me mahami Psikologi Pendidikan para guru juga dapat memahami dan mengembangkan diri -pribadinya untuk menjadi seorang guru yang efektif dan patut diteladani.Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing. (f) menciptakan iklim belajar yang kondusif. dan (i) dapat me ngadministrasikan pembelajaran secara efektif dan efisien. . pengelolaan kelas. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Behav iorisme Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melal ui proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau me nciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan. yang salin g bertolak belakang. Selain itu. Untuk memahami perilaku individu dapat dilihat dari dua pendekatan.--terutama peri laku peserta didik dengan segala aspeknya--. yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyat a bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. Pengua saan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang haru s dikuasai guru. (g) berinteraksi secara bijak dengan peserta didiknya. (b) memilih strategi atau metode pembelajaran. seorang guru melalui pertimb angan-pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat : (a) merumuskan tujuan pembel ajaran. tentu saja seorang guru seyogyanya dapat memahami te ntang bagaimana proses dan mekanisme terbentuknya perilaku para peserta didiknya . a. yaitu: (1) behaviorisme dan (2) holistik atau humanisme. baik untuk kepentingan pembelajaran. sehingga dapat menjalankan tugas da n perannya secara efektif. Abin Syamsuddin Makm un (2003) menyebutkan bahwa tugas guru antara lain sebagai pengubah perilaku pes erta didik (behavioral changes). pendidik dan pelatih bagi pa ra peserta didiknya. (h) menilai hasil pembelajaran. Di sinilah arti penting Psikolog i Pendidikan. 2. tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya. pembimbingan serta berbagai kegiatan pendidikan lainnya.

seca ra spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan respons (R) yang dilakukan mahas iswa.Behaviorisme menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya perilaku in dividu dapat digambarkan dalam bagan berikut : S R atau S O R S = stimulus (rangsangan). Ruan gan kelas yang gelap. ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow). Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga d itujukan kepadanya. aktivitas) dan O=organisme (in dividu/manusia). waktu sore hari. sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan. Ruangan kelas yang panas mer upakan lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S) bagi mahasiswa tersebut (O). Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W) setelah mengipas-ngipaskan buku. (2) Lingkungan efektif (umwelt=segala sesu atu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga me nimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia meresponsnya) Perilaku y ang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan peri laku spontan. a da seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di ruangan kelas. -- . Contoh : seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa panas. Sedangkan perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut: W S Ow R W Contoh : ketika sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kel as yang terasa agak gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung. maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini : W S O R W Yang dimaksud dengan lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua je nis yaitu : (1) Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu da n secara potensial dapat melahirkan S). dan cuaca mendung merupakan lingkungan (W ). R = Respons (perilaku. secara spontan mahasiswa tersebut mengipasngipaskan buku untuk meredam kegerahannya.

.

yakni perilakuny a itu sendiri. tangan men ekan saklar lampu merupakan effector. proses dan mekanisme terjadinya perilaku menurut pandangan Holistik. Sele ngkapnya mekanisme perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut : Ow W S r e R W Dengan mengambil contoh perilaku sadar tadi. Secara skematik rangkaian. yang berarti aspek-aspek intrinsik (niat. Holistik atau humanisme menjelas kan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa). Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggera kan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how). mengucapkan minta izin kepada dosen. bagan di atas dapat dijelaskan bahw a mahasiswa yang sadar (Ow) mungkin merasakan penglihatannya (receptor) menjadi tidak jelas. tekad) dari dalam d iri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku. dapat dijelaskan dalam bagan berikut : Kebutuhan dirasakan (felt needs) Dorongan (motivation) Aktivitas yang dilakukan (Instrumental behavior) Tujuan dihayati (goals/ incentive) . How (bagaimana) menunjukkan kepada j enis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose). sehingga tulisan dosen di papan tulis tidak terbaca dengan baik. dan w hy (mengapa). motif. b. suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyama n dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W). meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan. baik bersumber dari diri indiv idu itu sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (m otivasi ekstrinsik). otot dan sebagainya yang merupakan pelaksana gerak R). how (bagaimana). dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa yang sada r tersebut (R). What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/ purpose) a pa yang hendak dicapai dengan perilaku itu. masih ada dua unsur pen ting lainnya dalam diri setiap individu yang mempengaruhi efektivitas mekanisme proses perilaku yaitu receptors (panca indera sebagai alat penerima stimulus) da n effectors (syaraf. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Holistik (Humanisme) Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan. Sebenarnya. meminta ijin ke dosen . berjalan ke depan.meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak meny adari terhadap keadaan sekelilingnya--. Me nggerakkan kaki menuju ke depan.

Maslow mengungkapkan jenisjenis kebutuhan-individu secara hierarkis. (2) kebutuhan keamanan. (3) Kebutuhan untuk membentuk ikatan (need for affiliation). se perti : sandang. (4) kebutuhan prestise atau harga diri. psikologikal dan intelektual.2005) mengetengahkan empat jen is kebutuhan individu. yang dapat digambarkan sebagai berikut : Motif Rasa puas atau kecewa Perilaku Instrumental Tujuan . yaitu: (1) Kebutuhan berprestasi (need for achievement). tidak dalam arti fisi k. yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status. (4) Kebutuhan takut akan kegagalan (need for fear of failure). dan (5) kebutuhan aktualisasi dir i. (2) Kebutuhan berkuasa (need for power). membentuk keluarga. Setiap individu. Jika kebutuhan yang serupa muncul kembali maka po la mekanisme perilaku itu akan dilakukan pengulangan (sterotype behavior). yaitu kebutuhan untuk mencari dan memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang lain. Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motiva si) yang merupakan kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat pe rsistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu aktivitas. (3) kebutuhan kasih sa yang atau penerimaan. yaitu: (1) kebutuhan fisiologikal. sehin gga membentuk suatu siklus. baik dengan dirinya atau dengan orang lain d alam mencapai prestasi yang tertinggi.Berdasarkan bagan di atas tampak bahwa terjadinya perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan. yait u kebutuhan untuk menghindar diri dari kegagalan atau sesuatu yang menghambat pe rkembangannya. Tingkatan kebutuhan tersebut dapat diragakan seperti tampak dalam gambar beri kut ini : SELF ACTUALIZATION ESTEEM NEEDS LOVE NEEDS SAFETY NEEDS PHYSIOLOGICAL NEEDS Sementara itu. baik yang bersum ber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar i ndividu (motivasi ekstrinsik). yaitu kebutuhan untuk berkompetisi. Dalam hal ini. demi mempertahankan kelangsungan dan meningk atkan kualitas hidupnya. Stranger (Nana Syaodih Sukmadinata. akan merasakan adanya kekurangan-kekurangan atau kebutu han-kebutuhan tertentu dalam dirinya. yaitu kebutu han untuk mengikat diri dalam kelompok. organisasi ataupun p ersahabatan. akan tetapi juga mental. pangan dan papan.

(7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari keg iatan yang dilakukan. (3) persistensi pada kegiatan. yang satu positif dan dikehendaki dan yang lainnya motif negatif serta tidak dikehendaki namun sama k uatnya. Dalam diri indiv idu akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada tujuan tertentu. manipulasi. 2. adakalanya individu harus berh adapan dengan motif yang saling bertentangan atau biasa disebut konflik. j ika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sam a-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih. (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakuk an. yaitu : 1. Bentukbentuk konflik tersebut diantaranya adalah : 1. Approach-approach conflict. untuk keperluan studi psikologis. motif-motif obyektif dan interest (eksplorasi. konformitas dan sebag ainya). keuletan dan kemampuan da lam mengahadapi rintangan dan kesulitan. (5) devosi dan pengorbanan untuk mencap ai tujuan. menunjukkan kepada m otif yang berkembang dalam individu karena pengalaman dan dipelajari. seperti : dorongan untuk makan. menyelamatkan diri dan sejenisnya. dis ebutkan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam dirinya.Berkaitan dengan motif individu. motif-motif sosial (ingin diterima. Approach-avoidance con flict. Motif sekunder. seperti : takut yang dipelajari. (4) ketabahan. maksu d dan aspirasi serta motif berprestasi. menye rang. melarikan diri. Dalam pandangan holistik. j ika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sam a-sama kuat. Deng an beragamnya motif yang terdapat dalam individu. Jika seorang individu dihadapkan pada bentuk-bentuk motif seperti dikemukakan di atas tentunya dia akan mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dan sangat mungkin menjadi perang batin yang berkepanjangan. setiap aktivitas ya ng dilakukan individu akan mengarah pada tujuan . Motif primer (basic motive dan emergency motive). Avoidance-avoidance conflict. (2) frekuensi k egiatan. minat). dikehendaki serta bersifat positif. yaitu : (1) durasi kegiatan. 2. menunjukkan kepada motif yang tidak pelajari. Untuk memahami motivasi individu dapat d ilihat dari indikator-indikatornya. 3. dikenal de ngan istilah drive. motif individ u dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan. minum. (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan.

di bawah ini akan dikemukaka n contoh terbentuknya perilaku berdasarkan pendekatan holistik. Namun. Namun sebaliknya. (2) kecemasan tak berdaya. terdapat dua kemungkinan. (7) proyeksi (melemparkan kesalaha n kepada lingkungan). yang dipe rolehnya dari setiap pertemuan tatap muka dengan dosen. perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya. inteligensi). . Reaksi individu terhadap frustrasi akan beragam bentuk perilaku nya. (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di bi dang lain). Jika akal sehatny a berani mengahadapi kenyataan maka dia akan lebih dapat menyesuaikan diri secar a sehat dan rasional (well adjustment). (6) rasionalisasi (mencari alasan). Untuk tujuan jangka pendekn ya. Jika tercapai tentunya individu merasa puas dan memperoleh kese imbangan diri (homeostatis). m aka dia akan mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment). tercapai atau tidak tercapai tujuan tersebut. dan setelah mempertimbangkan segala sesuatunya (moralitas). (4) fiksasi. bergantung kepada akal sehatnya (reasoning. Dalam hal ini. Bentuk peril aku salah suai (maldjustment). (5) represi (menekan p erasaan). (10) berfantasi (dalam angan-angannya. Sekaligus juga dapat membe rikan bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan frustrasi. Untuk lebih jelasnya. sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan psikologi pendidikan. Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membant u para peserta didiknya agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat menimbulkan perilaku salah-suai. (3) regresi (kemunduran perilaku). secara sukarela Arjuna memutuskan untuk melanjutkan pada salah program studi yang ada di FKIP UNIKU (sublimasi). diantaranya : (1) agresi marah. jika tujuan tersebut tidak tercap ai dan kebutuhannya tidak terpenuhi maka dia akan kecewa atau dalam psikologi di sebut frustrasi. Contoh 1 : Karen a gagal mengikuti mengikuti testing pada salah satu Fakultas di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). sejak awal dia sudah menyadari bahwa dia kekurangan pengetah uan. dia berharap dapat memperoleh kemampuan baru berupa pengetahuan . Ketika mengikuti perkul iahan Psikologi Pendidikan yang merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diik uti para mahasiswa. dengan berbekal kesadaran diri bahwa dia memiliki potensi dalam bidang psiko logi pendidikan.tertentu. jika akal sehatnya tidak berfungs i sebagaimana mestinya. (8) sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang sejenis). sikap dan keterampilannya dalam bidang Psikologi Pendidikan sehingga dia me nyadari Psikologi Pendidikan merupakan kebutuhan bagi dirinya (need felt) dalam rangka mencapai tujuan-tujuannya (goals/incentives). seakan-akan ia dapat mencapai tujuan yang didambakannya).

memperoleh kesuksesan belajar dengan mendapatkan nilai A. Bagi dirinya. n anti pada saat mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). dia benar-benar berharap dapat menjadi guru yang efektif dan kompet en. baik ketika selama menjadi mahasiswa maupun setelah menj adi guru (homeostatis).Tujuan jangka menengah. para peserta d idik sangat menyenangi dia karena dia sangat dekat dan akrab dengan peserta didi knya. membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidika n yang diwajibkan dan dianjurkan oleh dosen. Pada saat mengikuti lomba pemilihan guru berprestasi tingkat k abupaten. memperoleh kesuksesan dalam mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). sehingga selama kuliah. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai untuk jan gka panjang. karena gagal mengikuti mengikut i testing pada Fakultas Ekonomi di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). keingi nan menjadi guru yang efektif dan kompeten kemudian berkembang menjadi dorongan yang kuat dalam dirinya (motivasi intrinsik) Pada saat mengikuti perkuliahan Psi kologi Pendidikan dia senantiasa aktif bertanya dan mengemukakan pendapatnya ten tang materi yang disampaikan. Dia sangat mensyukuri atas segala keberhasilannya. Dia juga sangat menyukai diskusi te ntang psikologi pendidikan dengan teman-temannya di luar kelas (perilaku instrum ental). Dia bercita-cita menjadi seorang ekonom. pada saat PPL dia termasuk mahasiswa praktikan yang disukai oleh peserta didiknya. Contoh 2 : Astrajingga rekan seangkatan Arjuna. dia memperoleh pengetahuan yang luas. sikap yang positif dan memil iki keterampilan yang bisa dibanggakan dalam menerapkan prinsip-prinsip psikolog i. Setelah dia selesai kuliah dia menjadi guru di sebuah sekolah. dia memperoleh nilai terbaik di kelasnya. . Setiap tugas yang diberikan diseles aikan dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu. Berkat aktivitas dan kesungguhannya dalam mengikuti perkuliahan Psikolog i Pendidikan. bahkan kepa la sekolahnya meminta dia untuk menjadi guru di sekolah menjadi tempat praktekny a. rekan-rekan seprofesinya sangat hormat dan kagum atas kinerja nya sebagai guru. Pada akhir semester. dia berhasil meraih sebagai juara pertama. pada akhir semester dia berharap lulus mata kuliah Psiko logi Pendidikan dengan mendapatkan nilai A (kebutuhan harga diri). dia berharap dapat mela ksanakannya dengan sebaik-baiknya. Selain itu. dia belum menemukan apa tujuan kuliahnya. Perkuliahan Psikologi Pendidikan telah men dasari dia menjadi seorang yang sukses. Keinginan dan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam bid ang psikologi pendidikan. Begitu juga. kemudian dia dipaksa orang tuanya untuk melanjutkan pada salah sa tu program studi di FKIP UNIKU (motivasi ekstrinsik/substitusi).

dia hanya memperoleh sebagian kecil saja pengetahuan. kalaupun dikerjakan hanya alakadarnya dan selalu telat disetorkan.Dia tidak begitu berminat mengikuti perkuliahan mata kuliah kependidikan. Pengetahuan merupakan aspek kognitif yang paling rendah tetapi paling mendasar. Dengan pengetahuan individu dapat mengenal dan mengingat kembali suatu objek. teori. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan dan pada akhir nya dia dinyatakan tidak lulus dan terpaksa harus mengikuti remedial. Mengetahui kebiasaan atau cara mengetengahkan ide atau pengalaman . konsep. betapa banyak kata yang harus dipergunakan untuk mendeskripsikan nya. b) Mengetahui tentang cara untuk memproses atau melakukan sesuatu. rumus. Bloom mengungkapkan tiga kawasan (domain) perilaku individu beserta sub kaw asan dari masing-masing kawasan. atau kesimpulan. definisi. Kawasan Kognitif. nama. Dilihat dari objek yang diketahui (isi) pengetahuan dapat digolongk an sebagai berikut : a) Mengetahui sesuatu secara khusus. Selama satu semester meng ikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. Dia sering tidak masuk kuliah. orang tempat. yakni : a. sekal ipun dia masuk kuliah hanya sebatas takut dimarahi oleh dosen yang bersangkutan dan takut dinyatakan tidak lulus (kebutuhan rasa aman). id e prosedur. Dia dihadapkan pada perang batin antara terus melanjutkan stu di yang tidak sesuai dengan cita-citanya atau keluar dari kuliah dengan resiko o rang tua akan marah besar terhadap dirinya (conflict). dia menyalahkan dosen bahwa dosennya tidak becus mengajar (proy eksi). Sambil men angis (regresi).Dalam konteks pendidi kan. kebu dayaan masyarakat tertentu. dan ciri-ciri yang tampak dari keadaan alam tertentu . Mengetahui fakta tertentu yaitu mengenal atau mengingat kemb ali tanggal. sumber informasi. Taksonomi Perilaku Individu Kalau perilaku individu mencakup segala pe rnyataan hidup. baik berbentuk verbal maupun non verbal. kejadian masa lalu. 3. termas uk mata kuliah Psikologi Pendidikan (kurang merasakan adanya kebutuhan dan kekur angan motivasi). peristiwa. daftar. peristiwa. Tugas-tugas yang diberik an dosen pun jarang dikerjakan. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau berfikir/nalar. 1) Pengetahuan (knowledge). Untuk keperluan studi tentang perilaku kiranya perlu ada sistematika pengel ompokan berdasarkan kerangka berfikir tertentu (taksonomi). tahun. Pikirannya selalu terganggu bahwa seolah-olah dia sedang kuliah pada Fakutas Ekonomi di Perguruan Tinggi yang diidam-idamkannya dan dia merasa seolah-olah bakal menjadi Ekonom (fantasi). terdiri dari : Mengeta hui terminologi yaitu berhubungan dengan mengenal atau mengingat kembali istilah atau konsep tertentu yang dinyatakan dalam bentuk simbol.

den gan kemapuan ekstrapolasinya tentu dia akan mengatakan bilangan ke-6 adalah 13 d an ke-7 adalah 19. Mengetahui prinsip dan generalisasi Mengetahui teori dan strukt ur. terlebih dahulu dicari prinsip apa ya ng bekerja diantara kelima bilangan itu. Mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi fakta. perangkat atau susunan yang digunakan di d alam bidang tertentu. b) interpretasi yaitu menjelaskan makna yang terdapat dalam simbol. arah dan gerakan suatu gejala atau fenomena pada waktu yang berkaitan. baik dalam bentuk simbol verbal maupun non verbal. Mengetahui kelas. . dan c) Ekstrapolasi. yaitu perangkat cara yang digunakan untuk mencari. pendapat atau perlakuan. fakta d isusun kembali dalam struktur kognitif yang ada. yaitu ide. Jika ditemukan bahwa kelima bilangan te rsebut adalah urutan bilangan prima. Seseorang dapat dikatakan telah da pat menginterpretasikan tentang suatu konsep atau prinsip tertentu jika dia tela h mampu membedakan. bagan dan pola yang digunakan untuk mengorganisasi suatu fenome na atau pikiran. peristiwa. memperbandingkan atau mempertentangkannya dengan sesuatu yan g lain.Mengetahui urutan dan kecenderungan yaitu proses. Misalnya. kelompok. 2) Pemahaman (comprehension) Pemahaman atau dapat dijuga disebut dengan istilah mengerti merupakan kegiatan m ental intelektual yang mengorganisasikan materi yang telah diketahui. Mengetahui hal-hal yang universal dan abstrak dalam bidang tert entu. arah atau kelanjutan dari suatu temuan. 11. Untuk bisa seperti itu. yaitu melihat kecenderungan. kepada siswa dihadapkan rangkaian bilangan 2. prinsip. Temuantemuan ini diakomodasikan dan kemudian berasimilasi dengan struktur kognitif yang ada. atau memproses sesuatu. 3. sehingga membentuk struktur kognitif baru. Tingkatan dalam pemahaman ini meliputi : a) translasi yaitu mengubah simbol tertentu menjadi simbol lain tanpa perubahan makna. 5. Temuan-tem uan yang didapat dari mengetahui seperti definisi. Mengetahui meto dologi. maka kelanjutannnya dapat dinyatakan berdas arkan prinsip tersebut. menemukan atau menyel esaikan masalah. 7. informasi. Misalkan simbol dalam bentuk kata-kata diubah menjadi gambar. b agan atau grafik. Mengetahui penggolongan atau pengkatego risasian. Contoh sesesorang dapat dikatakan telah mengerti konsep tentang “motivasi kerja” dan dia telah dapat membedakannya dengan konsep tentang ”motivasi belajar”.

Contoh. Secara rinci Bloom mengemukakan tiga je nis kemampuan analisis. . Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah dan menunjukkan hubungan antar-bagia n tersebut. ingat kuda ingat transportasi . dulu ketika pertama kali diperk enalkan kereta api kepada petani di Amerika. Kemampuan untuk membedakan pernyataan fak tual dengan pernyataan normatif. mengklasifikasikan. memanfaatkan. Bagi mereka. Kemampuan untuk mengidentifikasi motif-motif da n membedakan mekanisme perilaku antara individu dan kelompok. Kemampuan untuk me misahkan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang mendukungnya. b) Menganalisi s hubungan Kemampuan untuk melihat secara komprehensif interrelasi antar ide den gan ide. Seseorang dikatakan menguasai kemampuan ini jika ia da pat memberi contoh. yaitu : a) Menganalisis unsur : Kemampuan melihat asumsi -asumsi yang tidak dinyatakan secara eksplisit pada suatu pernyataan Kemampuan u ntuk membedakan fakta dengan hipotesa. menggunakan. Kemampuan untuk mengenal fakta atau asumsi yang esensial yang mendasari suatu pendapat atau tesis atau argumen-argumen yang mendukungnya. Satu-satunya alat transportasi yang suda h dikenal pada waktu itu adalah kuda.3) Penerapan (application) Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dal am kehidupan sehari-hari. 4) Penguraian (analysis). menyelesaikan dan mengidentifikasi hal-hal yang sama. mereka berusaha untuk memberi nama yang cocok bagi alat angkutan tersebut. Kemampuan untu k memastikan konsistensinya hipotesis dengan informasi atau asumsi yang ada. melihat penyebab-penyebab dari suatu peristiwa atau memberi argumenargumen yang menyokong suatu pernyataan. Dengan pemahaman demikian. maka mereka memberi nama pada kereta api tersebut d engan iron horse (kuda besi). Hal ini menunjukkan bagaimana mereka menerapkan ko nsep terhadap sebuah temuan baru. Kemampuan untuk mengenal unsur-unsur khusus yang membenarkan suatu pern yataan.

Kemampuan untuk melihat teknik yang digunakan dalam meyusun suatu mat eri yang bersifat persuasif seperti advertensi dan propaganda. yang dilakukan dengan memperhatikan k onsistensi atau kecermatan susunan secara logis unsurunsur yang ada di dalam obj ek yang diamati. misalnya kesesuaiannya dengan aspirasi umum atau kecocokannya dengan kebutuhan pemakai. Kemampuan untuk mengenal hubung an kausal dan unsur-unsur yang penting dan yang tidak penting di dalam perhitung an historis. menciptakan logo organisasi. 6) Penilaian (evaluation) Mempertimbangkan. menilai dan mengambil keputusan benar-salah. Terdapat dua kriteria pembenaran yang digunakan. b) Pembenaran berdasarkan kriteria eksternal. baik-buruk. Kemampuan untuk mengetahui maksud dari pengarang suatu karya tu lis. yang dilakukan be rdasarkan kriteria-kriteria yang bersumber di luar objek yang diamati. meramu.. c) Menganalisis prinsip-prinsip organisasi Kemampuan untuk menguraikan antara ba han dan alat Kemampuan untuk mengenal bentuk dan pola karya seni dalam rangka me mahami maknanya.Kemampuan untuk menganalisis hubungan di antara pernyataan dan argumen guna memb edakan mana pernyataan yang relevan mana yang tidak. memberi nama yang sesuai bagi suatu temuan baru. Kemampuan untuk mendeteksi hal-hal yang tidak logis di dalam suatu argumen. sudut pandang atau ciri berfikirnya dan perasaan yang dapat diperoleh dalam karyanya. 5) Memadukan (synthesis) Menggabungkan. . atau bermanfaat – tak bermanfaat berdasarkan kriteria-kriteria tertentu baik kualitatif maupun kuantitatif. atau merangkai berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau menjadi suatu hal yang baru. Kemampuan berfikir induktif dan konvergen mer upakan ciri kemampuan ini. Contoh: memilih nada dan irama dan kemudian manggabun gkannya sehingga menjadi gubahan musik yang baru. yaitu : a) Pembenaran berdasarkan kriteria internal.

minat. b) Kemauan menanggapi (willingness to respo nd). Misalnya pada desain atau warna saja. yaitu usaha untuk melihat hal-hal khusus di dalam bagian yang diperhatikan. yaitu usaha untuk mengalokasikan perhatian pada sti mulus yang bersangkutan. Kagum atas keberanian seseorang. b) Menyeleksi nilai yan g lebih disenangi (preference for a value) yang dinyatakan dalam usaha untuk men cari contoh yang dapat memuaskan perilaku menikmati. Contoh : mengajukan pertanyaan. Penilaian terbagi atas empat tahap sebag ai berikut : a) Menerima nilai (acceptance of value). sikap. yang ditandai dengan kehadiran dan usaha untuk memberi perhatian pada stimulus yang bersangkutan. yang meliputi proses sebagai berikut : a) Kes iapan menanggapi (acquiescene of responding). menunj ukkan komitmen terhadap nilai keberanian yang dihargainya. terpesona. 1) Penerimaan (receiving/attending) Kawasan penerimaan diperinci ke dalam tiga tahap. suara atau kata-kata ter tentu saja. kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. 4) Pengorganisasian (organization) . dan sebagainya. c) Mengkhususkan perhatian (controlled or selected atte ntion). Contoh kegiatan yang tampak dari kepuasan menangga pi ini adalah bertanya. 2) Sambutan (responding) Mengadakan aksi terhadap stimulus. yaitu : a) Kesiapan untuk mene rima (awareness). c) Kepuasan menanggapi (satisfaction in r esponse). Kawasan Afektif. memotret dari objek yang me njadi pusat perhatiannya. Mungkin perhatian itu hanya tertuju pada warna. misalnya lukisan yang memil iki yang memuaskan. Komitmen ini dinyatak an dengan rasa senang. yaitu adanya aksi atau kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk me muaskan keinginan mengetahui. yaitu kelanjutan dari usah a memuaskan diri untuk menanggapi secara lebih intensif. me nempelkan gambar dari tokoh yang disenangi pada tembok kamar yang bersangkutan. 3) Penghargaan (valuing) Pada tahap ini sudah mulai timbul proses internalisasi untuk memiliki dan mengha yati nilai dari stimulus yang dihadapi. atau mentaati peraturan lalu lintas. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek emosional. yaitu adanya kesiapan untuk berinteraksi dengan stimulus (feno mena atau objek yang akan dipelajari). seperti perasaan. b) Kemauan untuk meneri ma (willingness to receive). membuat coretan atau gambar.b. c) Komitmen yaitu kesetujuan terhadap suatu nilai dengan ala san-alasan tertentu yang muncul dari rangkaian pengalaman. kagum.

maka susunan itu belum konsisten di dalam diri yang bersangkutan. (b) penirua n (imitation). Kawasan ini terdiri dari : (a) kesiapan (set). Proses ini terdiri atas dua tahap. Proses ini terjadi dalam dua tahapan. yaitu keinginan untuk menilai hasil karya oran g lain. yakni : a) Konseptualisasi nilai. tetapi mulai melihat beberapa nilai yang relevan untuk disusun menjadi satu sistem nilai. men jawab pertanyaan. mempersiapkan alat. sekalipun ia belum dapat mengubah polanya. b) Pengorganisasian sistem nilai. atau menemukan asumsi-asumsi yang mendasari suatu moral atau kebiasaan. Kawasan Psikomotor. yaitu menyusun perangkat nilai dalam suatu sis tem berdasarkan tingkat preferensinya.Pada tahap ini yang bersangkutan tidak hanya menginternalisasi satu nilai terten tu seperti pada tahap komitmen. b) Karak terisasi. Artinya mudah berub ah-ubah sesuai situasi yang dihadapi. dan seterusnya menurut urutan kepenti ngan.atau kesenangan dari diri yang bersangkutan. yaitu : a) Generalisasi. 2) Meniru adalah kemampuan untuk melakukan sesuai dengan conto h yang diamatinya walaupun belum mengerti hakikat atau makna dari keterampilan i tu. yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular syste m) dan fungsi psikis. . menyesuaikan diri dengan situasi. (d) menyesuaikan (adaptation) dan (e) menciptakan (origination) 1) Kesiapan yaitu berhubungan dengan kesediaan untuk melatih diri tentang keterampilan tertentu yang dinyatakan dengan usaha untuk me laporkan kehadirannya. Seperti anak yang baru belajar bahasa meniru kata-kata orang tanpa mengerti artinya. Pada tahap karakterisasi. yaitu mengembangkan pandangan hidup tertentu yang memberi corak tersen diri pada kepribadian diri yang bersangkutan. yaitu k emampuan untuk melihat suatu masalah dari suatu sudut pandang tertentu. sistem itu selal u konsisten. 5) Karakterisasi (characterization). c. 3) Membiasakan yaitu seseorang dapat melakukan suatu keterampilan tanpa harus melihat contoh. Karakterisasi yaitu kemampuan untuk menghayati atau mempribadikan sistem nilai K alau pada tahap pengorganisasian di atas sistem nilai sudah dapat disusun. (c) membiasakan (habitual). menyusul k emudian nilai yang dirasakan agak penting. Dalam sistem nilai ini yang bersangkutan menempatkan nilai yang paling disukai pada tingkat yang amat penting.

Basis semua perilaku bergerak atau respon s terhadap stimulus tanpa sadar.4) Adaptasi yaitu seseorang sudah mampu melakukan modifikasi untuk disesuaikan d engan kebutuhan atau situasi tempat keterampilan itu dilaksanakan. Abin Syamsuddin Makmun( 2003) memerinci dengan tahapan yang berbed a. yaitu : sub kawasan ini 1) Gerakan refleks (reflex movements). dan seba gainya. Bagi kalangan behaviorisme. menunduk. tangkas. pendid ikan lebih diyakini sebagai suatu media atau wahana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan ajaran keagamaan. b aik dalam bentuk gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah maupun gerak kreatif: gerakangerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasi kan peran. Peranan dan Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan dan Perkembangan Perilaku Pendidikan memang sejak zaman dahulu kala menjadi salah satu bentuk usaha manusi a dalam rangka mempertahankan keberlangsungan eksistensi kehidupan maupun budaya manusia itu sendiri. 5) Menciptaka n (origination) di mana seseorang sudah mampu menciptakan sendiri suatu karya. kelentu ran (flexibility) dan kegesitan. S ementara itu. misalnya : melompat. 2) 3) 4) 5) 6) 4. Sementara kalangan humanisme. yang terpola dan dapat ditebak. alat mengasah otak. Gerakan Persepsi (Perceptual abilities) yaitu gerakan sudah lebih menin gkat karena dibantu kemampuan perseptual. Melihat begit u pentingnya pendidikan bagi umat manusia. atau sebagai wahana untuk memanusiakan manusia. kekuatan (strength). Gerakan fisik (Physical Abilities) yai tu gerakan yang menunjukkan daya tahan (endurance). . Gerakan dasar biasa (Basic fundamental movements) yaitu gerakan yang mun cul tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik. pendidikan dipahami sebagai se bagai alat pembentukan watak. Gerakan indah dan kreatif ( Non-discursive communication) yaitu mengkomunikasikan perasan melalui gerakan. banyak peradaban manusia yang “mewajibk an” masyarakatnya untuk tetap menjaga keberlangsungan pendidikan. alat pelatihan keterampilan. berjalan. dan cekatan dala m melakukan gerakan yang sulit dan rumit (kompleks). Penyelenggaraan pendidikan selanjutnya menja di kewajiban kemanusiaan dalam rangka mempertahankan kehidupannya. s erta media untuk meningkatkan keterampilan. ser ta wahana untuk pembebasan manusia. Gerakan terampil (skilled movements) yaitu dapa t mengontrol berbagai tingkatan gerak secara terampil.

Dengan menggunakan konsep dasa r psikologis. selanjutnya dengan bantuan atau tanpa bantuan orang l ain. Walaupun demiki an. afektif.Yang menjadi persoalan. sejauhmanakah pendidikan dapat mempengaruhi perubahan da n perkembangan perilaku individu. yang diman ifestasikan dalam bentuk perubahan dan perkembangan perilaku.Dengan demik ian. khususnya dalam pandangan behaviorisme. harus diakui bahwa kedua pandangan tersebut memiliki peranan penting dan mem berikan kontribusi terhadap perubahan dan perkembangan pribadi atau perilaku ind ividu. Sedangkan dalam pandangan humanisme. ter utama potensi intelektual. minat. Dengan adanya perbedaan pandangan tersebut menyebabkan pula terjadinya pe rbedaan-perbedaan dalam pendekatan dan teknis proses pendidikan. baik dalam aspek k ognitif. perilaku) f = function (fungsi) S=stimulus (pendidikan/belaj ar) O=organisme Contoh : Untuk memiliki pengetahuan. Secara skematik. dapat dijelaskan dalam bagan berikut ini : P = f (S. arah dan kualifikasi perubahan dan perkemba ngan perilaku akan sangat bergantung pada faktor S (conditioning). Bagaimana pula kontribusi individu itu sendiri terhadap perubahan dan perkembangan perilakunya. menurut pandangan behaviorisme. seorang mahasiswa (O) dengan segala karakteristikn ya (kondisi fisik. pengaruh fungsional pendidikan terhadap perubahan dan pe rkembangan perilaku. Jika kita amati dari kedua pandangan tersebut tampak a da hal yang kontras. . Seberapa besar tingkat atau derajat perubah an dan perkembangan perilaku yang dicapai melalui usaha – usaha conditioning diken al dengan istilah prestasi belajar atau hasil belajar (achievement). bakat. hasil b elajar individu merupakan hasil dari upaya aktif dan pro-aktifnya terhadap lingk ungan. dalam pandangan humanisme bahwa justru organisme atau individu itu sendiri yan g memegang peranan penting dalam suatu proses belajar atau proses pendidikannya. Sehingga potensi yang semula masih bersifat laten (terpendam) dapat diaktuali sasikan menjadi prestasi. Menurut pandangan behaviorisme hasil belajar individu merup akan hasil reaktif dari lingkungan. Pada dasarnya individu sejak lahir sudah dibekali potensi-potensi tertentu. sikap dan keterampilan tent ang Psikologi Pendidikan (P). pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha conditioning (penciptaan seperangkat stimulus) yang diharapkan dapat menghasilkan pola-pola perilaku (seperangkat respons) tertentu.O) P= person (pribadi. termasuk lingkungan sekola h. individu yang bersangkutan berupaya aktif mengembangkan segenap potensi yan g dimilikinya melalui interaksi dengan lingkungannya. Sementara itu . maupun psikomotor.

Memberikan man faat untuk kepentingan efektivitas dan efisiensi pendidikan. d. dan c benar 3. membaca dan mengkaji buku-buku yang relevan. b. c. dengan cara memberikan ta nda silang (X) ! 2. maka pada akhirnya. b. b. 4. hasil belajar sebelumnya serta karakteristik lainnya) mengikuti kegiat an belajar Psikologi Pendidikan. Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilih lah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. W S S S O WS Ow R R O R R W W . Guru dapat menjalankan peran tu gas dan fungsinya secara efektif dan efisien Guru dapat merencanakan pembelajara n dengan sebaik-baiknya Guru dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif. c.motivasi. baik melalui pendekatan kuantitatif maupun kualitatif. Konsep dan teori Psikologi Pendidikan diperoleh berdasarkan upaya yang s istematis. Mekanisme terbentuknya perilaku sadar menurut pandangan Behaviorisme a. Ilmu yang mempel ajari perilaku individu dalam situasi pendidikan. dis amping dihasilkan melalui kegiatan pendidikan (belajar) juga dipengaruhi oleh fa ktor internal dari individu itu sendiri. c. d. Menjadi ped oman bagi para pendidik dalam mengembangkan proses pendidikan. misalnya melalui: diskusi dengan teman. b. mengobservasi perilaku di kelas. dia memperoleh sejumlah pengalaman belajar. Psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai : 1) 2) 3) 4) I lmu Jiwa Ilmu yang mempelajari tentang perilaku peserta didik . D. baik untuk kepentingan diri-pribadi sehari-hari maupun dalam rangka mempers iapkan diri untuk menjadi guru kelak di kemudian hari. kecu ali : a. bahkan melakukan penelitian. Beberapa persyaratan ilmu yang sudah dipenuhi oleh Psikologi Pendidikan. d. a. sikap dan memiliki keterampilan baru tentang psikologi pendidi kan. Arti penting Psi kologi Pendidikan bagi guru adalah : a. dia mendapa tkan pengetahuan. Memiliki obyek yang jelas yaitu perilaku individu yang terlibat dalam pendidi kan. Melalui interaksi belajar mengajar yang disepak ati dengan Dosen. Dengan demikian. Gur u dapat menilai peserta didiknya secara efisien. kiranya bisa dipahami bahwa perubahan perilaku atau diperolehnya kemampuan individu. 5.

evaluatio n Uraian 1. dan c benar 8. regresi c.6. proye ksi 10. frekuensi dan persistensi kegiatan. characterization by valu e or value complex d. fiksasi d. a. b. Non-discursive communication c. Avoidance-avoidance conflict d. kecuali : a. agresi b. application b. d. analysis c. a. Approach-approach conflict c. me nggabungkan merupakan indikator atau kata kerja operasional untuk mengukur perub ahan perilaku dalam aspek : a. Kebutuhan akan prestasi. b. ketabahan. evaluasi b. tingkat kualifikas i prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan dan a rah sikap terhadap sasaran kegiatan. Di bawah ini merupakan jenis-jenis kebutuhan individu yang dikemukakan oleh M aslow. a. c. b . menghubungkan. c. b. a.avoidance c onflict b. keuleta n dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan. d. Uraikan dan berikan gambaran secara skematik ten tang mekanisme pembentukan perilaku dan pribadi individu menurut aliran holistik ! . a. 7. Konflik yang dialami jik a individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif samasama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. synthesis d. Kebutuhan akan harga diri. Kebutuhan akan aktualisasi diri. a. Jelaskan peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perk embangan perilaku individu ! 2. a. Di bawah ini merupakan kemampuan yang berkaitan dengan perilaku kawasan afektif. Dapat menyimpulkan. dan c benar 9. Kebutuhan akan rasa aman. durasi. b dan c benar 11. Approach. Di bawah ini merupakan indikator untuk mengetahui tingkat motivas i individu. Reaksi frustasi ind ividu atas kegagalan dalam mencapai tujuan dan tidak terpenuhinya kebutuhan indi vidu dengan cara mencari kambing hitam.

dengan masing-masing karakateristik yang dimilik inya. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian Dalam m elaksanakan tugasnya. Mendefinisikan kecakapan nyata. namun sebaliknya ada juga yang sangat lambat.BAB II KERAGAMAN INDIVIDU DALAM KECAKAPAN DAN KEPRIBADIAN ujuan : A. B. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian. 2. T Setelah mempelajari Bab ini.Dari segi kecepatan belajar. 4. 3. ciri-ciri keberbakat an. Menganalis faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya ke ragaman dalam kecakapan dan kepribadian. seorang guru mungkin akan dihadapkan dengan puluhan atau b ahkan ratusan peserta didiknya. dalam Kecakapan dan C. Pokok Bahasan 1. Mengid entifikasi tentang indikator kecerdasan. Intisari Bacaan 1. yang pe nting dan perlu diketahui guru adalah berkenaan dengan kecakapan dan kepribadian peserta didiknya. Di antara sekian banyak karakteristik yang dimiliki peserta didik. Dari segi . ada peserta didik yang menunjukka n cepat dalam menangkap pelajaran. ukuran kecerdasan. kecakapan potensial. diharapkan Anda dapat : 1. kecerdasan (inteligensi). Menjelaskan tentang teori-teori kecerdasan dan p engukuran kecerdasan. dan kepribadian 2. Fakto r-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman Kepribadian. aspek-aspek kepribadian.

yakni hanya berhubungan dengan aspek intelektual saja. bodoh. guru mungkin akan menganggap seolah-olah tidak ada hambatan. Ketika mahasi swa mampu menjawab dengan baik tentang pertanyaan dosen. kurang sungguh-sungguh dan sebagainya. Kecakapan potensial dapat dibagi ke dalam dua bagian yaitu kecakapan dasar umum (inteligensi atau kecerdasan) dan kecakapan da sar khusus (bakat atau aptitudes). m alas. selanjutnya dia berusaha untuk menemukan solusinya dan menetukan tindakan apa yang paling mungkin bisa d ilakukan agar peserta didik tersebut dapat mengembangkan perilaku dan pribadinya secara optimal. sehingga akan diketahui secar a akurat kenapa peserta didik itu lambat dalam belajar. adaka lanya guru dibuat frustrasi. belum tentu dia akan langsung menarik kesimpulan bahwa peserta didiklah yang salah. Membicarakan tentang keragaman individu secara luas dan mendala m sebetulnya sudah merupakan kajian tersendiri yaitu dalam bidang Psikologi Dife rensial. Untuk kepentingan pengetahuan guru dalam memahami peserta didiknya. Sedangkan kecakapan potensial mer upakan aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri individu dan diperoleh d ari faktor keturunan (herediter). C. Ujung-ujungnya dia langsung saja akan menyimpulkan bahwa peserta didiklah yang salah. a. Berhadapan dengan peserta didik yang memiliki kecep atan belajar dan memiliki ciri-ciri kepribadian yang positif. Kecakapan nyata (actual ability) yaitu kecak apan yang diperoleh melalui belajar (achivement atau prestasi). Menurut pendapatnya bahwa inteligensi terdiri dari kem ampuan umum yang diberi . guru akan berhadapan dengan ciri-ciri kepribadian para peserta didi knyanya yang khas atau unik. Jika saja guru tersebut dapat memah ami tentang keragaman individu. seperti teori inteligensi yang dikemukakan oleh Charles Spearman (1904) de ngan teori “Two Factors”-nya.kepribadian. pada akhir perkuliahan mahasiswa d iuji oleh dosen tentang materi yang disampaikannya (tes formatif). Terlebih dahulu mungkin dia akan mempelajari latar belakang sosio-psikologis peserta didiknya. Namun ketika berhadapan dengan pesert a didik yang lambat dalam belajar atau ciri-ciri kepribadian yang negatif.P. Misalkan. Chaplin (1975) memberikan pengertian int eligensi sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi bar u secara cepat dan efektif. setelah selesai mengikuti prose s perkuliahan (kegiatan tatap muka di kelas). yang dapat seger a didemonstrasikan dan diuji sekarang. Peserta didik dianggap kurang rajin. maka kemampuan tersebut merupakan atau kecakapan nyata (achievement). Keragaman Individu dalam Kecakapan Kecakapan individu dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu kecakapan nyata (actual ability) dan kecak apan potensial (potential ability). Pada awalnya teori inteligensi masih bersifat unidim ensional (kecerdasan tunggal). di bawah ini akan diuraikan dua jenis keragaman individu yaitu keragaman dalam keca kapan dan kepribadian.

Memory Retention (ingatan yang berkaitan dengan kehidupan seharihari). Evaluation (mengambil keputusan tentang apakah suatu itu baik. ekspresi muka at au suara). Sistem (kompleksitas bagian saling berhubungan). atau redefinisi informasi). Auditory. atau memadai). bahwa in teligensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer. yaitu : (1) kemampuan berb ahasa (verbal comprehension). kata-kata atau angka dan notasi musik). Word Meaning (semantic). Sementara itu. b. f. c. Cognition (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang baru). d.kode “g” (genaral factor) dan kemampuan khusus yang diberi kode “s” (specific factor). modifikasi. e. Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi item lain). Kela s (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama). yang konon dianggap sebag ai anugerah yang dapat mengantarkan . S elanjutnya. Operasi Mental (Pros es Befikir) a. Convergent Production (berfikir memusat= hanya satu kemungkinan jawaban/alternatif). Product (Hasil Berfikir) a. b. Divergent Production (berfikir mel ebar=banyak kemungkinan jawaban/ alternatif). yaitu : 1. e. 3. Symbolic (i nformasi dalam bentuk lambang. dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual s peed). d. (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor). (2) kemampuan mengingat (memory). akurat. d. c. Belakangan ini banyak orang meng gugat tentang kecerdasan intelektual (unidimensional). Behavi oral (interaksi non verbal yang diperoleh melalui penginderaan. c. Guilford mengemukakan bahwa inteligensi dapat dilihat dari tiga kategori dasar atau “faces of intellect”. 2. Content (Isi yang Dipikirkan) a.P. Memory Recording (ingatan yang segera). f. Unit (item tunggal informasi). J. ( 5) kemampuan bilangan (numerical ability). (6) kemampuan menggunakan kata-kata ( word fluency). Thurstone (1938) mengemukakan teori “Primary Mental Abilities”. Relasi (keterkaitan an tar informasi). (3) kemampuan na lar atau berfikir (reasoning). e. Transform asi (perubahan. Visual (bentuk konkret atau gambaran). b.

ritme.. Dengan indikator-indikator perilaku inteligensi tersebut. Spatial 5.kesuksesan hidup seseorang. H oward Gardner (1993). Alat ukur inteligensi yang paling dikenal dan banyak digunakan di Indonesia ialah Tes Binet Simon -. dan motivasi orang lain. Kemampuan untuk m enghasilkan dan mengapresiasikan ritme. Interpersonal 7. belum dapat mengukur . ata u Maradona dan Pele sang legenda sepakbola dunia. bagaimana dengan tokoh-tokoh duni a. Kemampuan untuk mengamati dan merespons suasana hati. Intrapersonal KEMAMPUAN INTI Kepekaan dan kemampuan untuk mengamati pola-pola lo gis dan bilangan serta kemampuan untuk berfikir rasional. Kepekaan terhadap suar a. Logical – Mathematica l 2. Jika kita perhatikan penjelasan tentang aspek-aspek intelige nsi dari teori-teori inteligensi di atas. maka pada dasarnya indikator kecerdasa n akan mengerucut ke dalam tiga ciri yaitu : kecepatan (waktu yang singkat).walaupun sebetulnya menurut hemat penulis alat ukur tersebut masih terbatas untuk mengukur inteligensi atau bakat persekol ahan (scholastic aptitude). Apakah mereka termasuk juga o rang-orang yang genius atau cerdas ? Dalam teori kecerdasan tunggal (uni-dimensi onal). Ke mampuan mempersepsi dunia ruangvisual secara akurat dan melakukan tranformasi pe rsepsi tersebut. ket epatan (hasilnya sesuai dengan yang diharapkan) dan kemudahan (tanpa menghadapi hambatan dan kesulitan yang berarti) dalam bertindak. Linguistic 3. para ahli mengembangkan instrumen-instrumen stan dar untuk mengukur perkiraan kecakapan umum (kecerdasan) dan kecakapan khusus (b akat) seseorang. Bodily Kinesthetic 6. Musical 4. Nada dan bentukbentuk ekspresi musik. Pertanyaan muncul. Kemampuan untuk memahami perasaan. mengemukakan teori Multiple Inteligence. kemampuan mereka yang demikian hebat ternyata tidak terakomodasikan. Kecakapan potensial seseorang hanya dapat dideteksi dengan mengidentifikasi indi kator-indikatornya. Maka muncullah. dengan aspek-aspe knya sebagai tampak dalam tabel di bawah ini: INTELIGENSI 1. Dalam hal ini. temper amen. seperti Mozart dan Bethoven dengan karya-karya musiknya yang mengagumkan. Kemampuan untuk mengontrol gerakan tubuh dan mengenai objek-obj ek secara terampil. teori inteligensi yang berusaha mengakomodir kemampuan-kemampuan ind ividu yang tidak hanya berkenaan dengan aspek intelektual saja. kekuatan dan k elemahan serta inteligensi sendiri. makna kata-kata. dan keragaman fungsi-fungsi bahasa.

Selain itu. yaitu dengan cara memperhatikan kecenderungan kecepatan ketepatan. (6) kecepatan pengamatan. (4) tilikan ruangan. (5) daya ingat. (7) berfikir l ogis. Alat tes ini dapat mengungkap tenta ng : (1) pemahaman kata.05 % Selain menggunakan instrumen standar. dan kem udahan peserta didik dalam dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan me ngerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian. (3) pemahaman bilanga n. sehingga pada akhirnya akan di ketahui kelompok peserta didik yang tergolong cepat (upper group). diantaranya : DAT (Different ial Aptitude Test). IQ > 140 130-139 120-129 110-119 90-109 80 . a da juga tes intelegensi yang bersifat lintas budaya yaitu Tes Progressive Metric es (PM) yang dikembangkan oleh Raven. melalui pengamatan yang s istematis tentang indikator – indikator kecerdasan yang dimiliki para peserta didi knya. dapat menggunakan beberapa instrumen standar. FA CT (Flanagan Aptitude Calassification Test).20 % 0. Rumus yang b iasa digunakan untuk menghitung IQ seseorang adalah : MA (Mental Age) IQ= 100 x CA (Chronological Age) Di bawah ini disajikan norma ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang. (2) kefasihan mengungkapkan kata. rata-rata (mi dle group) dan lambat (lower group) dalam belajarnya.75 % 6% 13 % 60 % 13 % 6% 0.69 25 .75 % 0. seorang guru pada dasarnya dapat pula mend eteksi dan memperkirakan inteligensi peserta didiknya. Dari hasil pengukuran inteligensi tersebut dapat diketahui seberapa besar tingkat integensi (biasa disebut IQ = Intelligen t Quotient yaitu ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang.25 % 0. baik men ggunakan instrumen standar atau hanya berdasarkan pengamatan sistematis guru buk anlah bersifat memastikan tingkat kecerdasan atau bakat seseorang namun hanya se kedar memperkirakan (prediksi) .49 < 25 KAT EGORI Jenius (Genius) Sangat Unggul (Very Superior) Unggul (Superior) Diatas rat a-rata (High Average) Rata-rata (Average) Dibawah Rata-Rata (Low Average) Bodoh (Dull) Debil (Moron) Imbecil Idiot PERSENTASE 0. Untuk mengukur bakat seseo rang.aspek – aspek inteligensi secara keseluruhan (multiple inteligence). Perlu dicatat bahwa pengukuran tersebut. dan (8) kecakapan gerak.89 70 . SRA-PMA (Science Research Action – Primary Mental Ability).79 50 .

misalnya k onstitusi dan kondisi fisik. ketegangan emosional. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbedabeda. Mampu berkonsentrasi.saja. Mempunyai minat luas. 14. Hall dan Gardner Lindzey. Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau pe rbuatannya Cermat atau teliti dalam mengamati. 5. 11. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa). Dalam rangka Program Percepatan Belajar (Accelerated L earning). Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengata si kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. b. 4. 9. Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan. kreativitas dan komitmen terhada p tugas. Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas pe rilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu la innya. 3. Belajar dengan dan cepat. Mampu mengemukakan dan mempertahankan penda pat. yaitu: 1. Berangkat dari studi yang dilakukannya. tergantung sudut pandang masing-m asing. Menur ut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. Mempunyai daya imajinasi ya ng tinggi. Memiliki kemampuan memikirkan beb erapa macam pemecahan masalah. Begitu juga kecerdasan atau bakat ses eorang bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan tingkat keberhasilan atau ke suksesan hidup seseorang. 13. 8. 6. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. untuk kepentingan pengembangan diri. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penye suaian diri. 2. Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar. 10. . akhirnya d ia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. 12. Memiliki kemampuan yang tinggi dalam berfikir l ogis dan kritis Mampu belajar/bekerja secara mandiri. frustrasi dan konf lik. Balitbang Depdiknas (1986) telah mengidentifikasi ciri-ciri keberbakat an peserta didik dilihat dari aspek kecerdasan. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tu ntutan (norma) lingkungan. Allport (Calvin S. Lancar berbahasa (mampu mengutarakan pikirannya). Keragaman Individu dalam Kepribadian Para ahli tampaknya masih sangat beragam dalam memberikan rumusan tentang kepribadian. 7.

teori Psikologi Individual dari Allport. 3. 5. b. 4. Mudah marah 2. teori Analitik dari Carl Gust av Jung. di antaranya : teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. Karakter. sambutan terhadap objek yang bersifat positif . sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersang kutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Watson. c. Hi peraktif . Sering merasa tertekan (stress atau depresi) 4. Fromm. 8. f. Horney dan Sullivan. teori Medan dari Kurt Lewin. 6. Abin Syamsuddin (2003) mengemu kakan kepribadian. Responsibilitas (tanggung jawab). Bersikap kejam 5. yaitu disposisi re aktif seorang. yang di dalamnya mencakup : tentang aspek-aspek a. teori P ersonologi dari Murray. atau putus asa e. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpen garuh. Mampu menilai diri sendiri secara realistik Mampu menilai situasi secara realist ik Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik Menerima tanggung jawa b Kemandirian Dapat mengontrol emosi Berorientasi tujuan Berorientasi keluar (ek strovert) KEPRIBADIAN YANG TIDAK SEHAT 1. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. Untuk menjelaskan tentang kepriba dian individu. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan.tampang. Setiap individu memiliki ciri-ciri kepribadian terse ndiri. atau melarikan diri dari resiko yang dihadap i. 7. hormon. Seperti mau menerim a resiko secara wajar. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. Stabilitas emosi. cuci tangan. yaitu kadar kestabilan reaksi emos ional terhadap rangsangan dari lingkungan. Seperti : sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berko munikasi dengan orang lain. sedih. teori Stimulus-Respons dari Throndike. Sosiabilitas. Ketid akmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang 6. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan inter personal. Kebiasaan berbohong 7. teori Sosial Psikologis dari Adler. Dalam hal ini. Sikap. mulai dari yang menunjukkan ciri-ciri kepribadian yang sehat sampai denga n ciri-ciri kepribadian yang tidak sehat. Menunjukkan kekhawatiran dan kece masan 3. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. Seperti mudah tidaknya tersinggung. Hull. teori The Sel f dari Carl Rogers dan sebagainya. m arah. Elizabeth Hurlock (Syam su Yusuf. Sementara itu. 2. sebagai berikut : KEPRIBADIAN YANG SEHAT 1. Temperamen. 2003) mengemukakan ciri-ciri kepribadian yang sehat atau tidak sehat. negatif atau ambivalen d. konsiten ti daknya dalam memegang pendirian atau pendapat.

Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama 14. dia dihadapkan dengan sejumlah keragaman ke cakapan dan kepribadian yang dimiliki para peserta didiknya. dan tiap-tiap sel kelaminnya menerima sa lah satu faktor dari pasangan keturunan itu.9. Senang mengkritik/ mencemooh 10. 2. seperti : konstitusi dan struktur fisik. pembawaan sejak lahir atau berdasarkan keturunan yan g bersifat kodrati. dengan memperhatikan aspek perbedaan atau keragaman kecakapan dan kepri badian yang dimiliki peserta didiknya. Kurang rasa tanggung jawab 12. Oleh karena itu. (2) tiap-tiap pasangan faktor keturunan me nentukan bentuk alternatif sesamanya. Sifat-sifat atau ciri-ciri perilaku yang diturunkan orang tua kepada anaknya hanyalah bersifat . para ahli sepakat bahwa pada d asarnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh tiga faktor u tama. Herediter. dan satu dari pada pasangan alternatif itu memegang pengaruh besar. Kendati demikian. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman dalam Kecakapan dan Kepribadian Timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian d ipengaruhi oleh bebagai faktor. Sering mengalami pusing kepala 13. dan (3) pada waktu proses pembentukan sel-sel kelamin. Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas 9. Penerimaan sosial 10. bahwa : (1) tiap-tiap sifat (traits) makhluk h idup itu dikendalikan oleh keturunan. Seberapa kuat pengaruh keturunan sangat bergantung pada besarnya kualitas gen yang dimiliki oleh orang tuanya (ayah atau ibu). Kurang be rgairah Berdasarkan uraian diatas kita dapat memahami bahwa ketika seorang guru berhadap an dengan peserta didiknya di kelas. Beberapa asas tentang keturunan di bawah ini akan memberikan gambaran pembanding kepada kita tentang apa-apa yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya : 1. Memiliki filsafat hidup 11. Hasil percobaan Mendel ini menjelas kan kepada kita bahwa faktor keturunan memegang peranan penting bagi perilaku da n pribadi individu. se yogyanya guru dapat memperlakukan peserta didik dan mengembangkan strategi pembe lajaran. S ulit tidur 11. kecakapan potensial (bakat dan kecerdasan). Sehingga peserta didik dapat mengembangka n diri sesuai dengan kecepatan belajar dan karakteristik perilaku dan kepribadia nnya masing-masing. yaitu : a. Pesimis 15. Berdasar kan percobaannya dengan cara mengawinkan bunga merah dengan bunga putih. pasangan faktor keturunan itu memisah. Gregor Mendel mengemukakan pandangannya. Asas Reproduksi Menurut asas ini bahwa kecakapan (achievemen t) dari masing-masing ayah atau ibunya tidak dapat diturunkan kepada anak-anakny a. Berbahagia 8.

Environment. Lingkungan membuat individu sebagai makhluk s osial . Asas Jenis Menyilang Menurut asa s ini bahwa apa yang diturunkan oleh masing-masing orang tua kepada anak-anaknya mempunyai sasaran menyilang jenis.Misalnya. karena dengan lingkungan itu individu mulai meng alami dan mengecap alam sekitarnya. Asas Varia si Bahwa penurunan sifat pembawaan dari orang tua kepada anak-anaknya akan berva riasi. dapat k ita ikuti pada uraian berikut : 1. baik mengenai kuantitas maupun kualitasnya. orang Eropa akan menyerupai sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku seperti orang -orang Eropa lainnya dibandingkan dengan orang-orang Asia. walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama. sehingga akan didapati sebagian kecil dari sifat-sifat ayahnya dan sebagian kecil pula dari si fat-sifat ibunya. Sedangkan perbandingannya mana yang lebih besar antara sifat-s ifat ayah dan ibunya ini sangat tergantung kepada daya kekuatan tarik menarik da ri pada masing-masing sifat keturunan tersebut. Asas konformitas Berdasarkan asas konformi tas ini bahwa seorang anak akan lebih banyak memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku yang diturunkan oleh kelompok rasnya atau suku bangsanya. b. sehingga mungkin saja kakaknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ayahnya sedangkan adiknya lebih banyak menyerupai sifat d an ciri-ciri perilaku ibunya atau sebaliknya. Asas Regresi Filial Terjadi pensur utan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan o leh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. reproduksi. Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mu tlak dari pada pengaruh lingkungan itu. dan bukan didasarkan pada perilaku orang tua yang diperolehny a melalui hasil belajar atau hasil berinteraksi dengan lingkungannya. karena lingkungan itu senantiasa tersedi a di sekitarnya. Sejauh mana pengaruh lingkungan itu bagi diri individu. lingkungan tempat di mana individu itu berada dan berinteraksi. termasuk didalamnya ad alah belajar.2. Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai e mpirik yang berarti pengalaman. 5. Oleh karena itu. baik yang berasal dari ayah maupun ibu. sedangkan bagi anak laki-laki akan le bih banyak memilki sifat pada ibunya. Hal ini disebabkan karena pad a waktu terjadinya pembuahan komposisi gen berbeda-beda. baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis. akan didapati beberapa perbedaan sifat dan cir i-ciri perilaku individu dari orang yang bersaudara. Seorang anak perempuan akan lebih banyak mem ilki sifat-sifat dan tingkah laku ayahnya. yaitu memunculkan kembali mengenai apa yang sudah ada pada hasil per paduan benih saja. 3. 4.

Contoh : dalam keadaan cuaca panas individu memasang kipas angin sehingga dikamarnya me njadi sejuk. Contoh : a ir banjir pada musim hujan mendorong manusia untuk mencari cara-cara untuk menga tasinya. Dalam hal ini. Contoh : air dapat dipergunakan untuk minum atau menjamu teman ketika berkunjung ke rumah. Tant angan bagi individu dan individu berusaha untuk dapat menundukkannya. Sesuatu yang diikuti individu. Alat untuk kepentingan dan kelangsung an hidup individu dan menjadi alat pergaulan sosial individu. akan mengakibatkan berubahnya tabiat manusia sebagai manusia. akan tetapi serentak dia dihadapkan kep ada pergaulan manusia. individu melakukan manipulation yaitu mengadakan usa ha untuk . walau pun diberinya cukup makanan dan minuman.Yang dimaksud dengan lingkungan pada uraian ini hanya meliputi orang-orang atau manusia-manusia lain yang dapat memberikan pengaruh dan dapat dipengaruhi. Lingkungan dapat membentuk pribadi seseoran g. baik secara alloplastis maupun autoplastis. Sehingga kalaup un dia kemudian dididik. Lingkungan me miliki peranan bagi individu. 2. sehin gga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya. maka sudah dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mampu be rbicara dengan bahasa yang biasa. Berubahnya tabiat manusia sebagai ma nusia dalam arti bahwa ia tidak akan mampu bergaul dan bertingkah laku dengan se samanya. apabila dianggap sesuai de ngan dirinya. b. Dapat kita bayangkan andaikata seorang anak manusia yang sejak lahirnya dipisahkan dari pergaulan manusia sampai kira-kira berusia 10 tahun saja. Obyek penyesuaian diri bagi individu. sedikit banyaknya sifat rajin dari temannya akan diikutinya sehi ngga lama kelamaan dia pun berubah menjadi anak yang rajin. c. Contoh : seorang anak yang senantiasa bergaul dengan temannya yang rajin belajar. d. karena manusia hidup adalah manusia yang berfikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba terhadap segala apa yang tersedia di alam sekitarnya. Terputusnya hubungan manusia dengan m asyarakat manusia pada tahun-tahun permulaan perkembangannya. sebagai : a. Lingkungan membuat wajah budaya bagi individu Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah m enjadi kekayaan budaya bagi dirinya. Lingkungan yang beraneka ragam senant iasa memberikan rangsangan kepada individu untuk berpartisipasi dan mengikutinya serta berupaya untuk meniru dan mengidentifikasinya. canggung pemalu dan lain-lain. maka penyesuaian dirinya itu akan berlangsung sangat la mbat sekali. Penyesuaian dir i alloplastis artinya individu itu berusaha untuk merubah lingkungannya.

karena dirinya telah sesuai deng an lingkungannya. terutama dalam mata pelajaran Matematika d an bahasa Inggris b. Kematangan aspek psikis ini diperlukan adanya latihan dan belajar tert entu. Ketiga faktor tersebut di atas dapat dibuat formulasi sebagai berikut : P= f (H. Kematangan pada awalnya merupakan hasil dari adanya peru bahan-perubahan tertentu dan penyesuaian struktural pada diri individu. sosial. Untuk mengenali tingkat kecerdasan peserta didiknya. Contoh : seorang juru rawat di rumah sakit. kecepatan ketepatan. seorang guru dapat melakukan pengamatan dengan melihat indikator sebagai berikut : a. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. Maturity.memalsukan lingkungan panas menjadi sejuk sehingga sesuai dengan dirinya. c. religius. seperti adanya kematangan jaringan-jaringan tubuh. penyesusian diri yang dilakukan individu agar dirinya sesuai dengan lingkungannya. Achievement b.M) P= Pribadi atau perilaku f = fungsi H= Herediter (pembawaan) E=Environment (ling kungan. Latihan Soal : Pilihan Ganda Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda pa ling tepat. Kecakapan khusus indivi du yang merupakan hasil pembawaan. syaraf dan kelenjar. emosi. namun lama-kelamaan dia me njadi terbiasa dan tidak menjadi gangguan lagi. . dan kepribadian.E. Kematangan terjadi pula pada aspek-asp ek psikis. kematangan yang mengacu pada tahap-tahap atau fase-fase perkembanga n yang dijalani individu. Aptitude c. moral. a. Inteligensi d. seperti : kemampuan berfikir. Kematangan seperti ini disebut kematangan biologis. Sedang kan penyesuaian diri autoplastis. termasuk belajar) M=Maturity (tingkat kematangan) D. hasil belajar yang diperoleh peserta didik. pada awalnya dia merasa mual karena bau obat-obatan. dan kemudahan peserta didiknya dalam m enyelesaikan tugastugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulang an atau ujian. otot. Kepribadian 2.

b. b. 7. c. a. karakter . a. (2) kemampuan mengingat (memory). b. Disposisi reaktif seorang. Intelligence Quotient (IQ) merupakan ukuran tingkat kecerdasan seseorang diba ndingkan dengan : a. c. Two Factors Primary Mental Abilities Multiple Intlelligence a. b. cara berbicara dan bertindak peserta didik sehari-hari. siswa X memperoleh ukuran kecerdasan (IQ) sebesar 135. Di bawah ini merupakan aspek-aspek kepribadian menurut Abin Syamsuddin Makmun : a. b. tidak memerlukan dorongan (motivas i) dari luar. b dan c benar. d. b. b. selalu memperoleh peringkat pertama di kelas memiliki kemampuan me mikirkan beberapa macam pemecahan masalah. Berdasarkan hasil test kecerdasan. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa X memiliki kecerdasan tergolong : a. d. mampu belajar/bekerja secara mandiri. c. (5) kemampuan b ilangan (numerical ability). c. c. d. Merupak an teori inteligensi : a. Di bawah ini merupakan ciri-ciri keberbakatan dalam rangka percepatan belajar (accelerated learning). Very Superior Superior Genius Di atas rata-rata 6. (3) kemampuan nalar atau berfi kir (reasoning). kemampuan usia prestasi belajar a. karakter dan temperamen stabilitas emosi sikap dan stabilitas emo si responsibilitas dan sosiabilitas a. atau cepat lambatnya mereaksi rangsangan yang data ng dari lingkungan. dan c benar 5. d. dan c benar 4. Inteligensi merupakan penjelmaan dari : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension). kecuali : a. 3. (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor). dan c benar terhadap rangsangan8. d. dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual speed).c. b. d. (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency).

Jelaskan bagaimana cara mengukur kecerdasan seseorang ? 3. sikap dan stabilitas emosi 9. lingkungan dan kematangan dapat mempengaruhi terhadap timbulnya keragaman dal am kecakapan dan kepribadian ! . mal-adjusment d. temperamen c. stabilitas emosi d. a. well-adjusment Uraian 1. J elaskan tentang teori Multiple Inteligensi menurut Howard Gardner ! 2. Penyesuaian diri yang dilakukan individu dengan berusaha merubah lingkungann ya. autoplastis c. alloplastis b.b. b. Jelaskan bahwa faktor heredite r. A sas Reproduksi Asas Variasi Asas konformitas Asas Jenis Menyilang 10. d. c. Terjadi pensu rutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. a.

dan model pentahapa n perkembangan individu. dan remaja. aspek-aspek perkembangan perilaku dan pribadi pada masa remaja. Menjelaskan tahapan perkembangan individu berdasarka n pendekatan didaktis. serta problema yang dihadapi pada masa remaja. 4. 2. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Model Pentahapan Perke mbangan. 3. Mengidentifikas i ciri-ciri umum perkembangan. . Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. Peng ertian Perkembangan. Menguraikan tugas-tugas perkembangan individu pada masa bayi kanak-kanak. Pengertian Perkembangan Perkembangan dapat diartikan sebag ai perubahan yang sistematis.BAB III PERKEMBANGAN INDIVIDU A. diharapkan Anda dapat : 1. prinsip-prinsip perkembangan. 5. 2. Pokok Bahasan 1. tugas perkembangan individu dan masa remaja. Mendefinisik an perkembangan. progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – p erubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya. 4. 5. B. Aspek – Aspek Perkembangan Individu. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Pe rkembangan Pada Masa Remaja C. Menjelaskan tentang aspek-aspek perkembangan individu. Intisari Bacaan 1. 6. 3.

2003) mengemukakan tentang arah atau pola perkembangan s ebagai berikut : 1. Terja dinya perubahan dalam proporsi. Contoh : untuk dapat berdiri. yaitu : a. 2.Yang dimaksud dengan sistematis adalah bahwa perubahan dalam perkembangan itu be rsifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. Diferensiasi ke integrasi. d. Setiap fa se perkembangan mempunyai ciri khas. paru dan sebagainya) ke sampin g (tangan). b. ba ik secara kuantitatif (fisik) mapun kualitatif (psikis). Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan. 2. Contoh : kemampuan berbicara seseorang akan sejalan dengan kematangan dalam perkembangan intelektual atau kognitifnya. Berkesinamb ungan artinya bahwa perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan. perubahan pengetahuan dan keterampilan dari sederhana sampai kepada yang komple ks (mulai dari mengenal huruf sampai dengan kemampuan membaca buku). Dari egosentris ke perspektivisme. 3. e. Struktur mendahului fungsi. Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu. Syamsu Yusuf (2003) memerinci. baik fisik maupun psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmon is. seorang anak terl ebih dahulu harus menguasai tahapan perkembangan sebelumnya yaitu kemampuan dudu k dan merangkak. beberapa prinsip perkembangan Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti. seperti : berat dan tinggi badan. meningkat dan meluas. Psikis. b. individu. Begitu juga ketertarikan seorang remaja ter hadap jenis kelamin lain akan seiring dengan kematangan organ-organ seksualnya. Cephalocaudal & proximal-distal (perkembangan manusia itu mu lai dari kepala ke kaki dan dari tengah (jantung. Fisik. 6. Dari konkret ke abstrak. 5. Terjadinya perubahan dalam aspek : 1. Lebih jauh lagi. . 4. Semua aspek perkembang an saling berhubungan. 2. Setiap individu normal akan mengalami tahap an/fase perkembangan. seperti : berbicara dan berfikir. c. f. Progresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju. Contoh : perubahan prop orsi dan ukuran fisik (dari pendek menjadi tinggi dan dari kecil menjadi besar). Kemampuan berjalan seseorang akan sei ring dengan kesiapan otot-otot kaki. Dari outer control ke inner control. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Perkembangan individu mempunyai ciri-cir i umum sebagai berikut : a. Yelon dan Winstein (Syamsu Yusuf.

Psikis. maka untuk kepentingan studi para ahli telah mencoba mengembangkan m odel pentahapan (stages) mengenai proses perkembangan. Model Pe ntahapan Perkembangan Individu Memperhatikan kompleksitas dari sifat perkembanga n individu. c. terutama yang berkaitan den gan sex.Early Adolesen ce . seperti : lenyapnya masa mengo ceh. Diperolehnya tanda-tanda baru. Fisik. perilaku impulsif. 2. 1. Lenya pnya tanda-tanda yang lama. Psikis. 1. tumbuh uban pada masa tu a. yang secara garis besarnya da pat dikelompokkan ke dalam tiga pendekatan yaitu pendekatan biologis.Pre Adolesence . kelenjar thymus dan kelenjar pineal. Fisik. seperti: rambut-rambut halus dan gigi susu .1. Fisik. 2. Psikis. 3.Late Adolesence Adulthood (masa dewasa) Middle age (tengah baya) Old Age (m asa tua) Waktu 0-7 th 7-14 th 14-21 th 0.25 th 0-2 th 2-12 th 12-15 th 15-20 th 0-3 th 3-7 th 7-13 th 13-20th 9 bln-280 hr 10 hr-14 h r 2 mng -2 th 2 th-remaja 11-13 th 16-17 th 18-21 th 21-25 th 25-30 th 30. d. seperti kumis dan jakun pa da laki dan tumbuh payudara dan menstruasi pada wanita. dan psikologis. Nama Ahli Aristoteles Tahapan Masa Kanak-Kanak Masa Anak Sekolah Masa Remaja Mas a Usia Pra Sekolah Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Menengah Masa Usia Mahapeserta didik Tahap I Masa Asuhan Tahap II Masa Pendidikan Jasmani dan latih an Panca Indera Tahap III Masa Pendidikan Akal Tahap IV Masa Pendidikan Watak da n Agama Fullungs (Pengisisian) I Streckungs (Rentangan) I Fullungs (Pengisisian) II Streckungs (Rentangan)II Pranatal Infancy (orok) Babyhood (bayi) Childhood ( kanak-kanak) Adolesence/puberty (masa remaja): . Para ahli mengemukakan pe ndapat tentang model – model petahapan yang beragam. Di bawah ini disajikan tabel tentang model tahapan perkembangan yang dikemukakan oleh beberapa ahli.wafat Syamsu Yusuf Rosseau Kretschmer Elizabeth Hurlock . seperti : perubahan imajinasi dari fantasi ke realistis. seperti berkembangnya rasa ingin tahu. seperti : proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangann ya. didaktis. seperti : pe rgantian gigi dan karakteristik sex pada usia remaja.6 th 6-12 th 12-18 th 18. nilai-nilai moral dan keyakinan beragama. 2. ilmu pengetahuan.

4. Peduli akan hubungan mutualistik 5. motif. Melihat kehidupan sebagai “zero-sum game” 5. seperti keadilan sosi al. 2. Tidak sensitif terhadap keindividualan 10.Intuitif Konkret -Operasional Formal . yaitu : Tahap Impulsif Ciri – Ciri Identitas diri terpisah dari orang lain Bergantung pada lingkungan Beorientasi hari ini Individu tidak menempatkan diri sebagai penyeba b perilaku Peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berh ubungan dengan orang lain 2. Peduli akan paham abstrak. Mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan 6. Kurang introspeks i 7. Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan 3. Dan perspektif diri 4. Cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial 7.Pre-konseptual . Mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik 3. Perlindungan Diri Konformistik Seksama Individualistik Otonomi . Takut tidak diterima k elompok 9. 4.Piaget Sensori-motor Pra-operasional : . Berfikir tidak logis dan stereotip 4. Mampu melihat keragaman emosi. Mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan 1. Bersikap realistis dan obyektif terhadap di ri sendiri maupun orang lain 3. Kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan 3. Mengenal eksistensi perbedaan individual 5. Mengenal kompleksitas diri 8. Merasa berdosa jika melang gar aturan 1. Menjadi lebi h toleran terhadap diri sendiri dan orang lain 4. Peduli akan aturan eksternal 4. Bertindak d engan motif dangkal 5. Me mbedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya 7. Memiliki tujuan jangka p anjang 6. Peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial 1. Berfikir lebih kom pleks dan atas dasar analisis 1. Menyamakan diri dalam ekspresi emosi 6. Berfikir sterotip dan klise 3.operasional 0-2 th 2-7 th 2-4 th 4-7 th 7-11 th 11-15 th Loevenger sebagaimana dikemukakan oleh Sunaryo dkk (2003) mengemukakan tentang f ase-fase perkembangan individu beserta ciri-cirinya. Bertindak atas dasar nilai internal 2. Memiliki pandanga n hidup sebagai suatu keseluruhan 2. Perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal 8. 1. Peningkatan kesadaran invidualitas 2. Peduli terhadap penampilan di ri 2. 3. Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain 1.

2. Pada masa i ni panca indera masih sangat peka. pada masa ini individu menggunakan fungsi-fungsi biologis un tuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. . 4. dkk. 6. Pa da tahun kedua umunya terjadi pembiasaan terhadap kebersihan. 5.5. Sunaryo. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 – 9/10 tahun) : 1. Peduli akan self fulfillment Ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal Respek terhadap kemandirian orang lain Sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain Mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan kece riaan Dengan memperhatikan fase dan ciri-ciri perkembangan di atas. b. maka soal itu dianggap tidak penting. dianggap sebagai masa perkembangan ras a keindahan. karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan merupakan alat untuk melakukan eks plorasi dan belajar. 2. Masa Vital. 7. yaitu : (a) masa kelas-kelas rendah dan (b) masa kelas tinggi. de ngan merujuk pada pemikiran Syamsu Yusuf (2003). Masa Usia Pra Sekolah Masa Usia Pra Sekolah terbagi dua yaitu (1) Masa Vital dan (2) Masa Est etik 1.Pada tahun kedua anak belajar berjalan sehingga anak belajar menguasai ruang. Anak bereksplorasi dan belajar melalui panca inderanya. atau masa keserasian bersekolah pada umur 6 -7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. mulai dari yang paling dekat sampai dengan ruang yang jauh. Freud menyebutnya sebagai masa oral (mulut). 8. Yang dikenal dengan sebutan Inventori Tugas Perkembangan (ITP). anak belajar mengendalikan impulsimpuls atau dorongan-dorongan yang da tang dari dalam dirinya. 3. Masa Usia Sekolah Da sar terbagi dua. tela h mengembangkan suatu instrumen untuk melacak tugas-tugas perkembangan individu. Selanjutnya. Adanya kecenderungan memuji di ri sendiri Membandingkan dirinya dengan anak yang lain Apabila tidak dapat menye lesaikan suatu soal. Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual. Adanya k orelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional. Melalui latihan ke bersihan. 9. Untuk masa belajar pada tahun pertama dalam kehidupan individu . di bawah ini dikemukakan tahapa n perkembangan individu dengan menggunakan pendekatan didaktis: a. Masa Estetik.

Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. biasanya ditandai dengan sifat-sifat negatif. adanya perubahan kuantitatif pada struktur tulang. masa remaja awal. masa remaja. yang intinya pada masa ini merupakan pem antapan pendirian hidup. Dalam perma inan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sud ah ada). 6. pantas dijunjung dan dipuja. Aspek. prestasi. proporsi tinggi kepala dengan tinggi garis keajegan badan secara secara kese luruhan. masa remaja akhir. d.Aspek Perkembangan Individu a. 2.00 tahun) Masa ini dapat digolongkan pada masa remaja akhir sam pai masa dewasa awal atau dewasa madya. Samp ai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesa ikan tugas dan memenuhi keinginannya. pada masa i ni mulai tumbuh dorongan untuk hidup. Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi s ekolahnya. indeks tinggi dan berat bad an. . Pada masa ini sebagai masa mencari sesuatu yang dipandang bernilai. mereka membuat peraturan sendiri. Perkembangan F isik Perkembangan fisik individu mencakup aspek-aspek : 1. c. Minat ter hadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret 2. Perkembangan anatomis . tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak. Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor ya ng baik. Amat realistik. yang akan member ikan dasar bagi memasuki masa berikutnya yaitu masa dewasa. serta sikap sosial. Masa Usia Sekolah Menegah Masa usi a sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja. 3. setelah remaja dap at menentukan pendirian hidupnya. Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus 4. dal am jasmani dan mental.6. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) : 1. kebutuhan akan adanya teman yang dapat mem ahami dan menolongnya. Masa Usia Kemahas iswaan (18. Selepas usia ini pada umumnya anak menghad api tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya 5. pada dasarnya telah tercapai masa remaja akhir dan telah terpenuhi tugas-tugas perkembangan pada masa remaja. rasa ingin t ahu dan ingin belajar 3. yang terbagai ke dalam 3 bagia n yaitu : 1. 4.00-25.

yaitu : (1) bahwa perkembangan itu ber langsung dari yang sederhana kepada yang kompleks. laju per. setelah itu kepes atannya berangsur menurun. Melalui bahasa. mulai masa remaja t erjadi amat mencolok. dan s etelah itu terjadi plateau (mapan) sampai dengan usia 60 tahun selanjutnya beran gsur menurun. mengekspresikan dan mengkomunikasikan berb agai informasi. Kemudian. gambar. dan mimik serta simbol ekspresif lainnya. pada permulaan masa remaja akhir bagi wanita dan penghujung masa remaja akhir bagi pria. gemar bertanya yang tidak selalu har us dijawab. d. Dua prins ip utama dalam perkembangan psikomotorik.gerik. Jones dan Conrad (Loree. Laju perkembangan berjalan secara berirama. persyarafan. . b.kembangan menurun sangat lamb at bahkan menjadi mapan. membuat kalimat sederhana. Puncak perkembangan pada umumnya tercapai di penghuju ng masa remaja akhir. Perkembangan Bahasa Kemampuan berbahasa merupakan ke mampuan yang membedakan antara manusia dengan hewan. Perkembangan Perilaku Psikomotorik Perkembangan psik omotorik memerlukan adanya koordinasi fungsional antara neuronmuscular system (s istem syaraf dan otot) dan fungsi psikis (kognitif. Perkembangan bahasa dimulai dengan ma sa meraban. manusia. me ngkodifikasikan. pada masa bayi dan kanak-kanak per ubahan fisik sangat pesat. dan (2) dari yang kasar dan g lobal (gross bodily movements) kepada yang halus dan spesifik dan terkoordinasik an (finely coordinated movements). membaca dan menggambar permulaan. dan bahasa ekspresif dengan belajar menul is. sekresi kelenjar dan pencernaan . peredaran darah dan pernafasan. haus nama-nama. Perubahan-perubahan amat tipis sampai usia 50 tahun. c. Kedua jenis keterampilan ini menjadi dasar bagi perkembangan keterampilan yang lebih kompleks untuk bermain (playing ) dan bekerja (working).1970) menunjukkan bahwa laju perkemb angan inteligensi berlangsung sangat pesat sampai masa remaja. baik dalam bentuk lisan. seperti konstraksi otot-ot ot. Perkembangan Perilaku Kognitif Dengan m enggunakan hasil pengukuran tes inteligensi yang mencakup General Information an d Verbal Analogies. pada usia sekolah menjadi lambat.2. mencatat. lukisan gerak . menyimpan. Loree dalam Abin Syamsuddin (2003) mengatakan bahwa ada dua macam perilaku psikomotorik utama yang bersifat universal harus d ikuasai oleh setiap individu pada masa bayi atau masa kanak-kanak yaitu berjalan (walking) dan memegang benda (prehension). tulisan. afektif. konatif). Perkembangan fisiologis. ditandai dengan adanya perubahan secara kualitatif. bicara monolog. kuantitaif dan fungsional dari sistem kerja biologis.

Dengan berpatokan kepada hasil tes IQ.dewasa) . didengar atau disentuh lagi. 3 . insight learning dan kemampuan berbahasa. Artinya. Jadi. Tahap konkret-operasional (7-11) Pada periode ditandai oleh adanya tambahan ke mampuan yang disebut system of operation (satuan langkah berfikir) yang bermanfa at untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dal am pemikirannya sendiri. Art inya. tidak i a sentuh. sebaga i berikut : 1. 4. Inteligensi individu pada tahap ini masih bersifat primitif.24 bulan barulah kemampuan object permanence anak ters ebut muncul secara bertahap dan sistematis. yang berfaedah untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum mampu berfikir mengenai apa yang sedang i a perbuat. 2. Tahap Sensori-Motor (0-2) Inteligensi sensori-motor dipandang seb agai inteligensi praktis (practical intelligence). pandangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dengan pandangan pada periode sensori motor. atau tidak ia dengar dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya benda it u ada. Pada periode ditandai oleh adanya eg osentris serta pada periode ini memungkinkan anak untuk mengembangkan diferred-i mitation. Bloom (1964) mengungkapkan prosentase tar af perkembangan sebagai berikut : Usia 1 tahun 4 tahun 8 tahun 13 tahun Perkembangan Sekitar 20 % Sekitar 50 % Sek itar 80 % Sekitar 92 % Secara kualitatif perkembangan perilaku kognitif diungkapkan oleh Piaget. Dalam rentang 18 . anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yan g harus ada atau biasa ada. Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. namun me rupakan inteligensi dasar yang amat berarti untuk menjadi fondasi tipe-tipe inte ligensi tertentu yang akan dimiliki anak kelak. walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sud ah tak dilihat. Pada periode in i anak baru mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristi wa yang konkret. Sebelum usia 18 bulan. Tahap Pra Operasional (2 – 7) Pada tahap ini anak sudah memiliki penguasaan sempurna tentang object permanence. Namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. benda apapun yang tidak ia lihat. Tahap formal-operasional (11 . dengan menggunakan kata-kata yang benar serta mampu mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif. yakni tidak bergantung lagi pada pengamatannya belaka. anak belu m mengenal object permanence.

Krech et. Kagan (1972) mengartikan sosialisasi sebagai: “…the process by which the child is integrated int o the society throgh exposure to the actions and opnions of older members of the society”. (1962) mengemukan bahwa untuk memahami perilak u sosial individu. Kecenderungan sosiom etrik (sociometric disposition). Akhirnya. Kapasit as menggunakan hipotesis Kemampuan berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkun gan yang dia respons dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. d an kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam masyarakat. al. mengidentifikasi dan mengamati segala sesuatu yang ditampilkan orang tua dan anggota keluarga lainnya. yang d ibagi ke dalam tiga kategori : 1. kepercayaan terhadap individu lain. ciri-ciri respons interpersonal yan g merujuk kepada tugas dan kewajiban dari posisi tertentu. Ia mencoba meniru. Pada awalnya.Pada periode ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yaitu : a. norma. ciri-ciri respons interpersonal yang bertalian dengan kesukaan. 2. Selanjutnya ia mempelajari keadaan-keadaan di luar rumah. b. e. dengan menampilkan kebiasaan-kebiasaan khasnya (particular fashio n). Sementara itu Gilmore (1974) mengemukakan bahwa “…socialization is the proc ess whereby an individual is prepared or trainned to participate in his environm ent”. Kecenderungan ekspresif (expressive disposition). . ia mempelajari segala yang terjadi dal am lingkungan keluarga. Proses tersebut biasa disebut sosialisasi. ia menyadari bahwa d irinya merupakan bagian dari masyrakat dan dituntut untuk berperilaku sesuai den gan tuntutan masyarakat. 3. Kapas itas menggunakan prinsip-prinsip abstrak Kemampuan untuk mempelajari materi-mate ri pelajaran yang abstrak secara luas dan mendalam. baik yang menyangkut nilai. Perkembangan Perilaku Sos ial Sejak individu dilahirkan ke muka bumi ini ia telah mulai belajar tentang ke adaan lingkungan sosialnya. ciri-ciri respons interpersonal yang bertautan dengan ekspresi diri. Kecenderungan peranan (role disposition). Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sosialisasi pada intinya merupakan upaya mempersiapkan individu untuk dapat berperilaku sesuai dengan li ngkungan sosialnya. dapat dilihat dari ciri-ciri respons interpersonalnya.

Dalam hal ini. 2. norma-norma/nilai -nilai sebagai dasar atau patokan dalam berperilaku. Tahap Orientasi terhadap kepatuhan dan huku man Relativistik hedonism . Perkembangan Moralitas Ketika individu mulai menyadari bahwa ia merupakan bagian dari lingkungan sosial dimana ia berada.Sementara itu. Keputusan untuk melakukan s esuatu berdasarkan pertimbangan norma yang berlaku dan nilai yang dianutnya itu disebut moralitas.4 ) Trozt Alter Kanak – Ka nak Akhir ( 4 – 6 ) Masa Subyektif Menuju Masa Obyektif Anak Sekolah ( 6 – 12 ) Masa Obyektif Kritis II ( 12 – 13 ) Masa Pre Puber Remaja Awal ( 13 – 16 ) Masa Subyekti f Menuju Masa Obyektif Remaja Akhir ( 16 – 18 ) Masa Obyektif Ciri-Ciri Segala sesuatu dilihat berdasarkan pandangan sendiri Pembantah. 2003) mengemukakan tahapan dan ci ri-ciri perkembangan perilaku sosial individu sebagaimana dapat dilihat dalam ta bel berikut : Tahap Kanak-Kanak Awal ( 0 – 3 ) Subyektif Kritis I ( 3 . Buhler (Abin Syamsuddin Makmun. Kohlberg mengemukakan tahapan perkembangan mor alitas individu. ingin diuji Mulai menyadari adanya kenyata an yang berbeda dengan sudut pandangnya Berperilaku sesuai dengan tuntutan masya rakat dan kemampuan dirinya f. serba salah. bersamaan itu pula individu mulai meny adari bahwa dalam lingkungan sosialnya terdapat aturan-aturan. keras kepala Mulai bisa menyesuaikan diri dengan aturan Membandingkan dengan aturan – at uran Perilaku coba-coba. sebagaimana tampak dalam tabel berikut : Tingkat Pre Conventional (0 – 9) 1.

Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan ata s kebaradaan-Nya. 6. 5. secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari. Orientasi mengenai anak yang baik Mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas Orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial Prinsip e tis universal g.Conventional (9 – 15) Post Conventional ( > 15 ) 3. termasuk dirinya. 4. namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. Abin Sy amsuddin (2003) menjelaskan tahapan sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Tahapan Ciri-Ciri Sikap reseptif meskipun banyak bertanya Masa Kanak-Kanak Panda ngan ke-Tuhan-an yang dipersonifikasi Penghayatan secara rohaniah yang belum men dalam Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadin ya) Sikap reseptif yang disertai pengertian Pandangan ke-Tuhan-an yang diterangk an secara rasional Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam. kognitif. manus ia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan diserta i penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu. 1970). Penghayatan seperti itu disebut peng alaman keagamaan (religious experience) (Zakiah Darajat. individu akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agu ng yang melebihi apa pun. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan Penghayatan roha niahnya cenderung skeptik. baik secara individual maupun ko lektif. sehingga banyak yang enggan melaksanakan ritual yang selama ini dilakukan dengan penuh kepatuhan Sikap kembali ke arah positif. melaksanakan ke giatan ritual diterima sebagai keharusan moral Sikap negatif disebabkan alam pik irannya yang kritis melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pur a) Masa Sekolah Masa Remaja Awal Masa Remaja Akhir Pandangan ke-Tuhan-an menjadi kacau. ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran manu sia perkembangan keagamaan . Perkembangan Penghayatan Keagamaan Dengan melalui pertimbangan fungsi afektif . pada saat-saat tertentu. bersa maan dengan kedewasaan intelektual bahkan akan agama menjadi pegangan hidupnya P andangan ke-Tuhan-an dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihny a Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja. Oleh karena itu. dan konatifnya.

memegang. memilih dan memasukkan benda kemulut Memilih benda dan digigitnya secara sadis Dubur dan ben da Memeriksa dan memainkan duburnya Memainkan dan memperhatikan duburnya Menyent uh. merusak dengan mulut Mulut sendiri. Perkembangan Perilaku Konatif Perilaku konatif merupakan perilaku yang berhub ungan dengan motivasi atau faktor penggerak perilaku seseorang yang bersumber da ri kebutuhan-kebutuhannya. MASA REMAJA (ADOLESENCE PERIOD) Mengurangi cara-cara waktu masa kanakkanak Munculnya cara orang memperoleh pemua san dewasa Menyenangi diri sendiri (narcisism) atau objeck oediphus-nya Objek pemuasannya m ungkin diri sendiri/sejenis (homosexual) atau lain jenis (heterosexual) . menunjukkan alat kelaminnya melihat. Ditujukan kepada orang tuanya (oediphus atau electra phantaties) Memilih benda dan menyentuhnya/memasukkan ke dubur B.h. MASA BAYI DAN KANAK-KANAK (INFANCY PERIOD) Infantile Sexuality Mulut dan bend a Menghisap ibu jari Menggigit.2003 ) mengemukakan tentang tahapan-tahapan perkembangan perilaku yang berhubungan ob yek pemuasan psychosexual. Freud (Di Vesta & Thompson dalam Abin Syamsuddin. MASA ANAK SEKOLAH (LATENCY PERIOD) Represi Reaksi formasi Sublimasi dan kecen .derungan kasih sayang Berkembangnya perasaan sosial perasaan– C. siap berfungsinya alat kelamin Cara Pemuasan Sasaran Pemuasan A. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Daerah Sensitif Pre Genital Period Oral Stage Early Oral Late Oral Anal Stage Ea rly Anal Late Anal Early Genital Period (phalic stage) No New Zone (tidak ada da erah sensitif baru) Late Genital Period Hidup kembali daerah sensitif waktu masa kanak-kanak Akhirnya.

yaitu : (1) rangsangan yang menimbulkan emosi (stimulu s). 2005 mengemukakan perkembangan kepriba dian dengan kecenderungan yang bipolar : tahapan 1. terutama dipengaruhi oleh faktor lingkungan dari pada faktor fisik . Bridges (Loree. dan (3) pola s ambutan. tetapi orang yang dianggap as ing dia tidak akan mempercayainya. suara as ing. Terdapat dua di mensi emosional yang sangat penting untuk dipahami yaitu : (1) senang – tidak sena ng (suka-tidak suka). (2) perubahan– perubahan fisiologis yang terjadi pada individu. Oleh karena itu kadang-kadang bayi menangis b ila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. 2. minum dari . Pada masa ini sampai-batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri. Perkembangan Emosional Aspek emosional dari suatu perilaku. Perkembangan Kepribadian Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan. nam un dalam kenyataannya sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian dapat dan mun gkin terjadi. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut s eringkali bayi menangis. berdiri. kebencian dan ketakutan Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kecemburuan mulai berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kenikmata n dan keasyikan berdiferensiasi dari kesenangan Ketidaksenangan berdiferensiasi di dalam rasa malu. Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust – mistrust. dalam arti duduk. sebag ai berikut : Usia Pada saat dilahirkan 0 . berjalan. perlakuan asing dan sebagainya.i.3 bln 3 – 6 bln 9 – 12 bln 18 bulan pertama 2 th 5 th Ciri-Ciri Bayi dilengkapi kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di se kitarnya. cahaya. dan (2) intensitasnya (kuat-lemah). Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan autonomy – shame. Ia bukan saja tidak percaya kepa da orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing. pada umumnya selalu melibatkan tiga variabel. Yang mungkin dirubah dan dipengaruhi adalah variabel yang kesatu (stimu s) dan yang ketiga (respons). bermain. cemas dan kecewa sedangkan kesenangn berdiferensiasi ke dala m harapan dam kasih sayang j. doubt. temperatur) Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan. tempat asing. Erikson dalam Nana Syaodih Sukmadinata. 1970) menjelaskan proses perkembangan dan diferensiasi emosional pada anak-anak. sedangkan variabel yang kedua merupakan yang tidak mungkin dirubah karena terjadinya pada individu secara mekanis. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya.

sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di satu piha k. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas. dia membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. pada para remaja sering sekali sangat ekstrim da n berlebihan. individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya. tetapi di pihak lain karena ke terbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadangkadang dia menghadapi kesukaran. sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimp angan atau kenakalan. hambatan bahkan kegagalan. Kegagalankegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah. dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masi ng anggota. 5. ciri-ciri yang khas dari dirinya. dengan kecakapan-k ecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan. 4. tetapi karena kemam puan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan. 7. k ecakapannya cukup banyak. Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative – guilty. namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran. tetapi di pihak lain dia ga tela h mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat. Merek a sudah mulai selektif. sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelo mpok sebayanya. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya. pada tahap ini individu telah men capai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. sehingga perkembangan individu sangat pesat. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity – stagnation. Dorongan membentuk dan mem perlihatkan identitas diri ini. tetapi dia tidak mungkin dapat m enguasai segala macam ilmu dan kecakapan. Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. dan kurang akrab atau renggang deng an yang lainnya. sehingga . Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubu ngan yang intim dengan orang-orang tertentu. pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan–kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihat kan identitas diri. 3. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity – Identity Confusion.botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya. Kalau pada masa sebelumnya. Pengetahuannya cukup luas. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy – isolation. Sesuai dengan namanya masa dewasa. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebab kan anak merasa rendah diri. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar. 6. dan untuk sementa ra waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat.

Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. 8. tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan t ersebut. D alam situasi ini individu merasa putus asa. berkenaan dengan tahapan perkembangan karier. and needs associated with self concept Tentative phase in which choices are nar rowed but not finalized Usia (birth -14 or 15) (15 – 24) . Dorongan untuk terus berprestasi mas ih ada.1983) mengemukakan lima tahapan perkembangan karier individu. Zunker (Popon Sy. Kedelapan tahapan perkemb angan kepribadian dapat digambarkan dalam tabel berikut ini : Developmental Stage Infancy Early childhood Preschool age School age Adolescence Young adulthood Adulthood Senescence Basic Components Trust vs Mistrust Autonom y vs Shame. sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya. Tylor & Walsh (1979) menyebutkan bahwa kemat angan karier individu diperoleh manakala ada kesesuaian antara perilaku karier d engan perilaku yang diharapkan pada umur tertentu. namun merupakan suatu proses p anjang dari tahapan perkembangan karier yang dilalui sepanjang hayatnya. Adapun yang dimaksud dengan p erilaku karier yaitu segenap perilaku yang ditampilkan individu dalam usaha meny iapkan masa depan untuk memperoleh kematangan kariernya. semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai.tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Mu ngkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya teta pi karena faktor usia. Arifin. Untuk mengerjakan atau mencapai hal – hal tertentu ia mengalami hambatan. eksplorasi karier. Perkembangan Karier Perkembangan karier sangat erat kaitannya dengan pekerjaa n seseorang. Selanjutnya. Doubt Initiative vs Guilt Industry vs Inferiority Identity vs Identi ty Confusion Intimacy vs Isolation Generativity vs Stagnation Ego Integrity vs D espair k. sebagaimana tampak dalam tabel beriku t ini : Tahap Growth Exploratory Ciri-Ciri Development of capacity. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity – despair. persiapan karier hingg a sampai pada penempatan kariernya. interest. mulai d ari usaha memperoleh kesadaran karier. Keberhasilan seseorang dalam suatu pekerjaan bukanlah sesuatu yang diperoleh secara tiba-tiba atau secara kebetulan. attitudes.

dan (4) norma-norma agama. Havighurst (1961) memberikan penge rtian tugas-tugas perkembangan bahwa : “ A developmental task is a task which aris es at or about a certain period in the life of the individual. disaproval by society. sehingga dapat berti ndak wajar sesuai dengan tingkat usianya. Tugas perkembangan bersumber pada faktor – faktor : (1) kematangan f isik. (2) tuntutan masyarakat secara kultural. Di bawah ini dikemukakan tugas-tugas perkembangan dari setiap fase men urut Havighurst. difficulty wit h later task. (3) tuntutan dan dorongan dan cit a-cita individu iru sendiri. succesful achieve ment of which leads to his happiness and to success with later task. Yang dimaksud dengan ked ewasaan adalah dapat terpenuhinya tugas-tugas perkembangan.…) 5. Pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengantarkan individu mencapai kedewasaan. . work out put. yang merentang sepanjang h idupnya fase-fase perkembangan tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut ini : Masa Dewasa : Masa Tua Tengah Baya Masa Dewasa Awal Masa Remaja (Adolesence) : ( 1) Late Adolesence (18 – 21 th) (2) Early Adolesence (16 – 17 th) (3) Pre Adolesence (11 – 13 th) Masa Kanak-Kanak (2 th – Remaja) Masa Bayi (2 Minggu s.d. Tugas–tugas perkembangan ini berkenaan dengan sikap.Establishment Maintenance Decline Trial and stabilization trhough work experiences A continual adjustment process to improve working position and situation Preretirement consideration. while failu re leads to unhappiness in the individual. (25 – 44) (45 – 64) (65 . 2 th) Masa O rok (10 –14 hari) Masa Konsepsi (Pranatal) (0-9 bln) Pada setiap fase perkembangan menuntut untuk tertuntaskannya tugas-tugas perkembangan. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Salah satu prinsip perkembangan bahwa setia p individu akan mengalami fase perkembangan tertentu. and eventual retirement. perilaku dan keterampilan yang seyogyanya dikuasai sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. Oleh karena itu segenap proses pendidi kan seyogyanya diarahkan untuk tercapainya tugastugas perkembangannya para peser ta didik.

3. 9. 10.Memperoleh seperangkat nilai sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam berperilaku. Tugas Perkembangan Masa Remaja (12. Mencapai peran sosial sebagai pria atau w anita. 3. menulis dan berhitung. 5. 8. 7. . 6. Belajar buang air kecil dan buang air besar. Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif. d.0–6.0 bulan.0 – 15. Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial.a. 4. Belajar memakan makan padat.0-21. Belajar berbicara. Memilih pasangan. Belajar mengenal perbeda an jenis kelamin. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya. 2. 6. 8. 3. Tugas Perkembangan Masa Bayi dan Kanak-Kanak Awal 1.0) 1. Memilih dan mempersiapkan karier. c. Mencapai kemand irian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang d iperlukan bagi warga negara. 4. Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari -hari.0-12. Mempersiapkan pernikahan dan hi dup berkeluarga. b. Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk mela kukan permainan. Belajar mem ainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya. 8. Membentuk konsep-kon sep sederhana kenyataan sosial dan alam. 2. 2. saudara.0) Belajar berjalan pada usia 9. Belajar mengadakan hubungan emosional d engan orang tua. Belajar mengadakan hubungan baik da n buruk dan pengembangan kata hati. 5. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi. (0. Belajar hidup dengan pasangan. Mengembangkan kata hati. 3. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis. 9. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial. Memulai hidup dengan pasangan. 2. Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis. Belajar keterampilan dasar dal am membaca. Tugas Perkembangan Masa Kanak-Kanak Akhir dan Anak Sekolah (6. 9. 7. dan orang lain. Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal 1. 4.0) 1. 6. Mencapai jaminan kemand irian ekonomi. 7. 5. Belajar bergaul dengan teman sebaya.

M engembangkan penguasaan ilmu. Mengelola rumah tangga.4. Sementara itu. Mencapai pola hubunga n yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita. Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Memelihara anak. yaitu : a. b. Menemukan suatu kelompok yang serasi. Mencap ai kematangan dalam hubungan teman sebaya. Mengenal gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. Mengenal kemampuan bakat. teknologi. 7. 3. yang dijadikan sebagai rujukan Stand ar Kompetensi Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. serta kematangan dalam perannya sebag ai pria dan wanita. 3. 8. 6. 6. Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat 4. men erima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yan g terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat. 5. 5. Tugas Perkembangan Tingkat SLTP 1. Me mantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sos ial yang lebih luas. dan minat serta arah kecenderu ngan karier dan apresiasi seni. 7. anggo ta masyarakat dan minat manusia. Mengambil tanggung jaw ab sebagai warga negara. sosial dan ekonomi. Mempersiapkan diri. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan se suai dengan kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan atau memp ersiapkan karier serta berperan dalam kehidupan masyarakat. Memulai bekerja. . 8. Tugas Perkembangan Peserta didik SLTA 1. Men capai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. 2. dan kesenian sesuai dengan program kuri kulum. 4. persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi serta berperan dalam ke hidupan masyarakat yang lebih luas. Depdiknas (2003) memberikan rincian tentang tugas perkembangan ma sa remaja untuk usia tingkat SLTP dan SMTA. Me ngenal sistem etika dan nilai-nilai sebagai pedoman hidup sebagai pribadi.

P ara ahli umumnya sepakat bahwa rentangan masa remaja berlangsung dari usia 1113 tahun sampai dengan 18-20 th (Abin Syamsuddin.d. intelektual dan ekonomi . b.5. 9. 5. 8. 7. Pengetian dan Makna Masa Remaja Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting. Kita menemukan berbagai tafsir an dari para ahli tentang masa remaja : 1. Pada rentangan periode ini (sekitar 6 – 7 th) terdapat beberapa indikator perbedaan yang signifikan. Mengembangkan kemampuan komunikasi sosi al dan intelektual serta apresiasi seni. para ahli mengklasikasikan masa remaja ini ke dalam dua bagian yaitu: (1) remaja awal (11-13 th s. Oleh karena itu. 6. dan (2) remaja akhir (14-16 th s. Perkembangan Pada Masa Remaja a. Mencapai kematangan dalam sistem eti ka dan nilai.18-20 th). 2003). 3. Mencapai kematangan dalam pilihan karir 6. Charl otte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isi-mengisi. Mencapai kematangan gambaran dan s ikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai sua tu masa pembentukan sikapsikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu. 4. Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai dan topan). Spran ger memberikan tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan perubahan st ruktur kejiwaan yang fundamental. Karakteristik Perilaku dan Pribadi Pada Masa Remaja .d. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang berkehidupan berkeluarga. Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode dalam perkembangan yang d ijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak sampai deng an awal masa dewasa. 2. baik se cara kuantitatif maupun kualitatif. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang am at kritis yang mungkin dapat merupakan the best of time and the worst of time. G. Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang mempunyai bentuk yang definitif. berbangsa dan bernegara. 1415 t h). be rmasyarakat. sosial.

religius. Sudah mampu meng-operasikan kaidahkaidah logika formal disertai kemampuan membuat generalisasi yang lebih be rsifat konklusif dan komprehensif.Dengan merujuk pada berbagai ciri-ciri dari aspek perkembangan individu sebagaim ana telah dikemukakan terdahulu. kausali tas) yang bersifat abstrak. 1. diferen-siasi. Laju perkembangan secara umum berla ngsung pesat.d. Remaja Akhir (14-16 Th. ethis. yang terbagi ke dalam bagian dua kelompok yaitu remaja awal (11-13 s. Tercapainya titik puncak kedewasaan bahkan mungkin mapan (plateau) yang . psikomotor. 2. 2. Siap berfungsinya organ-organ reproduktif sep erti pada orang dewasa. Perilaku Kognitif 1. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif dan terbatas pada keterampil an yang menunjang kepada persiapan kerja. kona tif. 2. Aktif dalam perma inan. 3. bahasa. 2. fantastik dan dan mengandung nilai-nilai filosofis. emosi afektif dan kepribadian. Proses berfikir sudah mampu mengope rasikan kaidah-kaidah logika formal (asosiasi.s. Laju perkembangan secara umum kembali me nurun. 3. Kecakapan dasar intele ktual menjalani laju perkembangan yang terpesat. sangat lambat.d. Gerak – gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasikan. Remaja Awal (11-13 Th s. berbagai jenis cabang 1. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelami n (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan lebih seimbang m endekati kekuatan orang dewasa.d. Gerak gerik mulai mantap. asing. di bawah ini disajikan berbagai karakteristik p erilaku dan masa remaja. kognitif. 18-20 tahun) meliputi aspek : fisik. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan sering. Psikomotor 1. 2. komparasi. sosial. meskipun relatif terbatas. 2. M enggemari literatur yang bernafaskan dan 2. es tetik. Lebih memantapkan diri pada bahasa d an mulai tertarik mempelajari bahasa asing tertentu yang dipilihnya. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region. 14-15 tahun) dan remaja akhir (14-16 s. otot mengembang pad a bagian – bagian tertentu).14-15 Th) Fisik 1. moralitas. Bahasa 1. 2.18-20 Th) 1. Menggemari literatur yang bernafaska n mengandung segi erotik. keagamaan.d. Berkembangnya penggunaan bahasa sandi 1.kali kurang seim bang.

Kebergantungan kepada kelompok sebaya berangsur fleksibel. sosial. politis. 1. 3. Sudah berangsur dapat menentukan dan menilai tindakannya sendiri atas norma atau sistem nilai y ang dipilih dan dianutnya sesuai dengan hati nuraninya. 2. harga diri dan aktualisasi diri) m ulai menunjukkan arah kecenderungannya 2. 2. Mengidentifikasi den gan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya. 3. Perilaku Sosial 1. 4. Masih mencari dan mencoba m enemukan pegangan hidup Konatif. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalny a masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan marah. yang juga akan memberi warna kepada tipe kepribadiannya.suatu saat (usia 50-60) menjadi deklinasi. Emosi. 2. Kecenderungan titik berat ke arah sikap nilai tertentu sudah mulai jelas sepe rti yang akan ditunjukkan oleh kecenderungan minat dan pilihan karier atau pendi dikan lanjutannya. 1. Adanya kebergantungan yang kuat kepa da kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosinalnya tampak mulai terkendali dan dapat menguasai dirinya. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). Moralitas 1. Merupakan masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat 3. 2. Perilaku Keagamaan 1. Eksistensi dan sifat kemur ah-an dan keadilan Tuhan mulai dipahamkan dan dihayati menurut sistem kepercayaa n atau agama yang dianutnya. kecuali dengan tem an dekat pilihannya yang banyak memiliki kesamaan minat. 1. Afektif dan Kepribadian 1. 3. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari mula i dilakukan atas dasar kesadaran dan pertimbangan hati nuraninya sendiri secara tulus ikhlas 3. Sudah menunjukkan arah kecenderungan tertentu yang akan mewarnai pola dasar k epribadiannya. meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencobaco ba. Dengan sikapnya dan cara berfikirn ya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyata annya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. rasa aman. kasih sayang. Mulai menemukan pegangan hidup 1. Kecender ungan-kecenderungan arah sikap nilai mulai tampak (teoritis. 3. Lima kebutuha n dasar (fisiologis. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua de ngan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. ekonomis. 4. K alau kondisi psikososialnya menunjang secara positif maka mulai tampak dan . 2. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyaka n secara kritis dan skeptis. estetis. Diawali d engan kecenderungan ambivalensi keinginan menyendiri dan keinginan bergaul denga n banyak teman tetapi bersifat temporer. Kecakapan dasar khusus (bakat) mul ai 3. 2. dan religius). Sudah dapa t memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari para pe ndukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. 2. Penghayatan kehidupan keagamaan seharihari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. Mulai dapat memelihara jarak dan batasbatas kebebasan.nya mana yang harus di rundingkan dengan orang tuanya. gembira atau kesed ihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat 3. Kecenderungan bakat tertentu mencapai menujukkan kecenderungan-kecendetiti k puncak dan kemantapannya rungan yang lebih jelas.

si remaja tidak mendapatkan kes empatan pengembangan kemampuan intelektual. Namun ketika. terutama melalui pendidikan di sekol ah. Penolakan dari peer group dapat menimbulkan frustrasi dan menja dikan dia sebagai isolated dan merasa rendah diri. namun ketika keadaan fisik ti dak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian antara body image dengan self pict ure) dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri. Tid ak bisa dipungkiri. baik secara fisik maupun psikis. yang akan membentuk kepribadiannnya. Pada masa remaja awal ditandai dengan perkembangan kemampuan intelektual yang pesat. Problema yang mungkin timbul pada masa remaja diantar anya : 1. Masa r emaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial). dan aspek-aspek perilaku dan kepribadian lainnya. Kematangan organ reproduksi pada masa r emaja membutuhkan upaya pemuasan dan jika tidak terbimbing oleh norma-norma dapa t menjurus pada penyimpangan perilaku seksual.dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya. per kembangan fisik yang tidak proporsional. Keadaan fisik pada mas a remaja dipandang sebagai suatu hal yang penting. yang mungkin saja dapat menimbulkan problem a tertentu bagi si remaja. dalam era globalisasi sekarang ini. yang ditandai d engan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayan ya (peer group). Problema berkaitan dengan perk embangan kognitif dan bahasa. Terhambatnya perkembangan kognitif dan bahasa dapat berakibat pula pada aspek emosional. Begitu juga masa remaja. maka boleh jadi potensi intelektualnya tidak akan berkembang optimal. terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk mengenal da n mendalami bahasa asing. penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting untuk menunjang kesuksesan hidup dan karier seseorang . 3. Pada masa re maja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat. Namun dikarenakan keterbatasan kesempatan dan sarana d an pra sarana. Namun sebaliknya apabila rema ja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan . Namun dengan adanya hambatan dalam pengembangan ketidakmampuan berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak berpengaruh terhadap kesuksesan hidup dan karierny a. 2. c. menyebabkan si remaja kesulitan untuk menguasai bahasa asing. sosial. Problema berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik. Begitu juga. moralitas dan keagamaan. Problem a berkaitan dengan perkembangan perilaku sosial. ditemukan identitas kepriba-diannya yang relatif definitif yang akan mewarnai hi dupnya sampai masa dewasa. bahkan dapat menjurus pada berbagai tindakan kena kalan remaja dan kriminal. Problema pada Masa Remaja Masa remaja ditandai dengan adanya berbagai perubah an. pabila tidak disertai dengan upaya pemahaman diri dan pengarahan diri secara tepat.

baik internal maupun ekst ernal. 4. khususnya rema ja awal akan ditandai adanya keinginan yang ambivalen. sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan men ggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. sekolah. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional ya ng masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidu pan pribadi maupun sosialnya. Pertengkaran dan per kelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya. D. mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya. namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan dewasa lainnya. Problema berkaitan dengan perkembangan kepribadi an. na mun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua. . term asuk dengan guru di sekolah. dia akan mengalami krisis identitas atau identity c onfusion. tentunya masih banyak problema keremajaan lainnya.dalam dirinya. Problema perilaku sosial remaja tidak hanya terjadi dengan kelomp ok sebayanya. Timbu lnya problema remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor. dan emosional. peranan orang tua. Dalam hal ini. perilaku imitasi atau identifikasi. Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). Seja lan dengan pertumbuhan organ reproduksi. banyak dilakukan dengan menunjuk kan perilaku coba-coba. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram du rja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. terutama secara ekonomis. jika tid ak terbimbing. Upaya untuk memfasilitasi perkembangan rem aja menjadi amat penting. Selain yang te lah dipaparkan di atas. Pada masa remaja juga ditandai dengan ad anya keinginan untuk mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada. di satu sisi adanya keing inan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan pilihannya sendiri. Usaha pencarian identitas pun. Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilihlah salah satu j awaban yang menurut Anda paling tepat. Agar remaja dapat terhindar dari berbagai kesulitan dan problema kiranya diperlukan kearifan dari semua pihak. serta masya rakat sangat diharapkan. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya. hubungan sosial yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan lain jenis dan jika tidak terbimbing dapat menjurus tindakan penyimpanga n perilaku sosial dan perilaku seksual. Hal ini disebabkan pada masa remaja. Perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya.

bicara monolog. Perkembangan bersifat progresif. c. Perkembangan fisik yang sangat pesat terjadi pada masa : a. a. b. a. namun masih ada keterbatasan kapasitas d alam mengkoordinasikan pemikirannya. Di bawah ini merupakan ciri-ciri umum perkembangan individu. haus nama-nama. kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th) bayi (0 -2 th) dan remaja (12-20 th). c. h aus nama-nama. bicara monolog. bicara monolog. Meraban. Konformistik Seksama Individualistik Otonomi 5. gemar bertanya. d. b. c. haus nama-nama. b. d. Lenyapnya tanda-tanda yang lama. kanak-kanak (2 -7 th) dan remaja (12-20 th). tahapan perkembangan tertinggi untuk siswa tingkat SMTA. membuat kalimat sederhana. bayi (02 th). Meraban. d. d. Tahap Sensori-Motor b.. gemar bert anya. Menurut Lovenger. Ahli yang mengelompokkan tahapan perkembangan berdasarkan pendekatan didaktis . a. c. gemar be rtanya. d. Rosseau Kretschmer Piaget Elizabeth Hurlock 4. 3. b. b. kanak-kanak (2-7 th) dan sekolah (7-12 th). Meraban. Diperolehnya tanda-tanda baru S etiap individu menjadi lebih matang.a. bahasa ekspresif. membuat kalimat sederhana. bahasa ekspresif. d. Perkembangan psikomotorik utama yang harus dikuasai pada masa bayi dan masa k anakkanak : a. Tahap Pra-Operasi onal . b. gemar bertanya. c. b. c. bayi (0-2 th). haus nama-nama. 8. Pola urutan perkembangan bahasa adalah : a. bahasa ekspresif. kecuali : a. Terjadinya perubahan dalam proporsi. membuat kalimat sederhana. Kemampuan kognitif anak sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. d. Meraban. b dan c benar 2. ya itu : a. c. bicara monolog. 6. dan b ahasa ekspresif. Perkembangan bersifat sistematis Perkembangan b erkesinambungan. Merangkak dan memegang Memegang dan berjalan Berjalan da n berbicara Memegang dan berbicara 7.

Kegembiraan b erdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang. Pandanga n ke-Tuhan-an yang kacau. a. d. Infancy Early Childhood Pre-Schoolage Ad olescence. terjadi p ada masa : a. Perkembangan penghayatan keagamaan pada masa kanak-kanak ditandai oleh adany a : a. temperatur) c. b. Kesenangan da n kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya. d. d. terjadi pada masa : a. Penghayatan rohaniah yang skeptik. Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic. Post Conventional d. Non Conventional 11. c. Kanak-Kanak Awal (0–3 th) Kanak – Kanak Akhir (4–6 th) Anak Sek olah (6–12 th) Remaja Awal (13–16 th) 10. kebencian dan ketakutan. sehingga enggan melaksanakan ritual. Perkembangan emosi pada usia 0-3 bulan ditandai oleh adanya : a. Conventional c. terjadi pada tahap: a. 12 . Ketidaksenang an berdiferensiasi ke dalam kemarahan. d. b. Growth Exploratory Establishment Maintenance . b. Tahap Formal-Operasional 9. Perkembangan perilak u sosial yang ditandai dengan usaha untuk membandingkan aturan – aturan. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentanga n. 13. Perkembangan karier yang ditandai oleh adanya proses penyesuaian yang berkesinambungan untuk meningkatkan posisi dalam pekerjaan. 14. c. b. Kepekaan umum terh adap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. Sikap negatif yang disebabkan melihat realita orang – orang beragama yang hypoc rit (pura-pura). b. c. Perkembangan kepribadia n yang ditandai oleh adanya dorongan untuk membentuk dan memperlihatkan identita s diri. c. Tahap Konkret-Operasional d. cahaya. d.c. Pre Conventional b. Tahap perkembangan moralitas yang ditandai dengan orientasi mengenai anak ya ng baik dan mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas.

Perkembangan perilaku moralitas pada masa remaja akhir ditandai oleh adanya : a. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbu l bulu pada pubic region. dan c benar. Di bawah ini merupakan ciri perkembangan konatif pada masa remaja awal. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama ( teman dekat). Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif. a. Perkembangan fisik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya: a. b. d. c. gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan sil ih berganti dalam yang cepat. 19. Perkembangan perilaku motorik p ada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. Gerak ger ik mulai mantap. a. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seper ti pernya-taan marah. sosial. b. ekonomis. d. Kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semang at konformitas yang tinggi. d. kasih say ang. c. 18. Ciri-ciri Perkembangan perilaku keagamaan pada masa remaja awal. Aktif dalam berbagai jen is cabang permainan. Perkembangan perilaku sosial pada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. b . dan c benar 16. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup.15. c. c. . d. Dengan sikap dan cara berfikirny a yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataa nnya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya. b. dan religius). d. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idol anya. Lima kebutuhan dasar (fisiologis. Berupa ya mempelajari norma-norma yang berlaku di lingkungan sosialnya. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap dan nila i mulai tampak (teoritis. estetis. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day d reaming pada laki-laki. Menarik diri dari lingkungan sosialnya. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyaka n secara kritis dan skeptis. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat. b. Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam. rasa aman. c. b. 17. mes ki masih dalam taraf eksplorasi dan mencoba-coba. . Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang uni versal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. c. 20. Proporsi ukuran tinggi da n berat badan seringkali kurang seimbang. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari dila kukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. politis. b. a. otot mengembang pada bagian – bagian tertentu). b. kecuali : a.

bentukbentuk perubahan perilaku sebagai hasil belajar. Hakekat Belajar Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Lantas. 5. Pokok Bahasan 1. 4. apa sesungguhnya belajar itu ? Di bawah ini disampaikan tent ang pengertian belajar dari para ahli : . Jelaskan tugas-tugas perkembang an individu pada masa remaja ! Bagaimana implikasinya terhadap pendidikan ? 3. Mengidentifikasi ciri-ciri belajar. Uraian 1. B. yang akan membentuk kepribadiannnya. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini.d. J elaskan problema-problema yang terjadi pada masa remaja ! dan bagaimana pula per an orang tua. Apa yang dimaksud dengan tugas perkembangan ? 2. guru serta masyarakat dalam upaya mencegah timbulnya berbagai prol ema pada remaja ? BAB IV PROSES BELAJAR MENGAJAR A. Pembelajaran Peran dan Kompetensi Guru Pengelolaan Kelas. pendekatan . 3. Teori-Teori Pok ok Belajar. 4. 2. Intisari Bacaan 1. 2. diharapkan Anda dapat : 1. 3. C. Masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat dipengaru hi oleh kondisi psiko-sosialnya.pendekatan pembela jaran. Hakekat Belajar. Menjelaskan secara skematik t entang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar. Menerapkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah pen gelolaan kelas. peran da n kompetensi guru. Mendefinisik an belajar dan pengelolaan kelas. masalah-masalah dalam pengelolaan kelas. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) meny ebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiat an belajar.

seorang mahas iswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. sikap dan keterampilan berikut nya. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. Hilgard (1962) : “belaj ar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karen a adanya respons terhadap sesuatu situasi” Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”. Perubahan yang disadari dan disen gaja (intensional). Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah di perolehnya kebiasaan-kebiasaan. indi vidu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan. mi salnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat. Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya mer upakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelum nya. setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku. Begitu juga. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan o leh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan. Begitu juga. seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakek at Belajar”. dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. maka penget ahuan. Dalam hal ini. Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dim anifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan. pengetahuan dan kecakapan”. sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapa t dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. sebaga i hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkunga nnya”. sikap dan keterampilan yang be rhubungan dengan Psikologi Pendidikan. pengetahuan. Perubahan yang berkesinambungan (konti nyu). akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan. Misalnya. kebiasaan. b. kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku. yaitu : a.Moh. . Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu. Gag e & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul ka rena pengalaman” Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas. Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku. dengan memperoleh sejumlah pengetahuan. Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan di sengaja dari individu yang bersangkutan. sikap. Begitu juga dengan hasil-hasilnya. pengetahuan dan sikap baru”. Misalnya.

Contoh : seorang mahasiswa belajar tenta ng psikologi pendidikan. baik untuk kepenting an masa sekarang maupun masa mendatang. Mis alnya. namun setelah mengikuti pembelajaran Ps ikologi Pendidikan. mah asiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan. Misalnya. dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prins ip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia ke lak menjadi guru. g. Perubahan yang bersifat aktif. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan unt uk mencapai tujuan-tujuan tersebut. . tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperole h pengetahuan. Perubahan yang fungsional. maka penguasaan keterampilan m engoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa te rsebut. maka maha siswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan. Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat diman faatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan. Perubahan yang bersifat pemanen.c. d. Perubahan perilaku yang diperoleh dari pro ses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pe ndidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kel ak ketika dia menjadi guru. f. Perubahan yang bertujuan dan terarah. Untuk memperoleh perilaku ba ru. jangka mene ngah maupun jangka panjang. berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya . Misalnya. mahasiswa belajar mengoperasikan komputer. Misalnya. e. individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. Perubahan yang bersifat positif. Individu melakukan kegiatan bel ajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai. Perubahan perilaku yang terjadi bersifat nor matif dan menujukkan ke arah kemajuan. seorang mahasiswa sebelum belaj ar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Menga jar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembanga n perilaku dan pribadi peserta didiknya. Sedangkan tujuan jangka pan jangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang mema dai tentang Psikologi Pendidikan. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudk an dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. seorang mahasiswa belajar psikologi pendid ikan. baik tujuan jangka pendek.

Begitu juga.h. sikap keterampilannya tentang “Metode-Metode Pembelajara n” (Post Learning). dengan bertambah pengetahuan. lalu dia datang meminta bantuan dari konselor yang ada di kampus (PreLearning). dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”. dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Te ori Belajar”. deng an bertambah pengetahuan. Setelah dia me mbaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Metode-Metode Pembelajaran” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). terjadinya perubahan perilaku diperoleh tidak secara tiba-tiba. Contoh 2 : Mahasiswa Y akan mempelajari te ntang “Metode-Metode Pembelajaran”. tetapi termasuk memperoleh pula perubaha n dalam sikap dan keterampilannya. Pada awalnya dia tidak memilik i pengetahuan. Contoh 3 : Mahasiswa Z memiliki kebiasaan merokok yang ingin d ihilangkannya. disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Bel ajar”. maka dalam dirinya telah bertambah kemampuannya. Di Vesta dan Tompson dalam Abin Syamsuddin (2003:157) mengga mbarkan perubahan perilaku atau pribadi yang terjadi dari suatu proses belajar s eperti tampak dalam bagan berikut: Perilaku/Pribadi sebelum belajar (Pre Learning) X=0 Y=1 Z= 1 Perilaku/Pribadi se telah belajar (Post Learning) X = (X+1) = 1 Y = (Y+1) = 2 Z = (Z-1) = 0 Pengalaman. sikap dan keterampilan tentang “Teori-Teori Belajar” (Pre learning). Latihan (Learning Experience) Contoh 1 : Mahasiswa X belajar akan mempelajari tentang “Teori-Teori Belajar” dalam perkuliahan Psikologi Pendidikan pada semester 1. Belajar merupakan suatu proses. Praktik. Perubahan perilaku secara keseluruhan. Kemudian oleh . mahasiswa belajar tentang “Teori-Teor i Belajar”. Pada semester 1 dia telah menguasai tentang “Teori-Teori Belajar” yang akan mendasari penguasaan “MetodeMetode Pembelajaran” (Pre Learning). namun setelah dia membaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Teori-Teori Belajar” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). tetapi melalui berbagai tahapan dan kegiatan yang harus ditempuh individu. sikap keterampilannya tent ang “TeoriTeori Belajar” (Post Learning). maka kemampuannya akan meningkat. Misalnya. dalam perkuliahan Strategi Belajar Mengajar pada semester 2. Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata.

lalu dia bersamasama ka wan-kawannya melakukan observasi langsung ke kelas. dia juga memperoleh pengalama n bagaimana bekerjasama dengan temannya dan berkomunikasi dengan orang lain. Dalam belajar.konselor dia dilatih untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya. misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda. strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfi kir agar . memahami konsep konkrit. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi p emecahan masalah. Dia dapat mengamati langsung bagaimana guru mempraktekkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah-masala h yang muncul dalam pengelolaan kelas. yaitu keterampilan individu dala m melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol. Akhirnya. kecakapan individu untuk melakukan penge ndalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. mendengar. Begitu juga. Seberapa kuat motivasi belajar yang dimil iki individu. c. Dengan tekun dan penuh kesungguhan dia mengikuti apa-apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya (Learning Experience). mis alnya: penggunaan simbol matematika. baik secara tertulis maupun tulisan. mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan ingin memp eroleh pengetahuan tentang “Keterampilan Pengelolaan Kelas”. dia memiliki komitmen yang kuat serta memiliki tujuantujuan yang ingin dicapainya secara jelas. Termasuk dalam keterampilan intelektual ada lah kecakapan dalam membedakan (discrimination). yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal.-. mencicipi. Selain itu. Informasi verbal.menggunakan tek nikteknik konseling tertentu-. dia memiliki motivasi yang sangat kuat untuk menjadi yang terbaik (the best) di kelasnya. Selain itu. defi nisi.dan seberapa kuat komitmen individ u terhadap tujuan belajarnya akan menentukan kualitas perubahan perilaku belajar nya. Misalnya. Misalnya. dalam belajar individu juga memp eroleh berbagai pengalaman sosial melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya. aturan dan hukum. dia dapat berhasil menghilangkan kebiasaan merokoknya (Po st Learning). individu memperoleh pengalaman langsung melalui pengalaman indraw i yang memungkinkan mereka memperoleh pengetahuan dari melihat. Dalam konteks proses pembelaja ran. --khususnya motif berprestasi-. 2003). dan mencium. seorang mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidika n. Men urut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun. merab a/menjamah. b. Kecakapan intelektual. Strategi kognitif. konsep abstrak. dan sebagainya. maka sangat mungkin mahasiswa tersebu t akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi dalam mata kuliah Psikologi Pendi dikan Belajar juga merupakan bentuk pengalaman kehidupan melalui situasi nyata. perubahan perilaku yang merupakan has il belajar dapat berbentuk : a. Belajar terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong (motivasi) da n ada suatu tujuan yang ingin dicapai.

yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. e. Moh. Sedangkan menurut Bloom. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tamp ak dalam : a. Dengan kata lain. Sikap adalah keada an dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam mengha dapi suatu obyek atau peristiwa. Sementara itu. Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut. menafsirkan. sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pem ikiran. Ber fikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar peng ertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why). senang. keterampilan -keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tin ggi. Keterampilan.Namun dalam kesempatan ini hanya akan di kemukakan lima jenis teori belajar saja. kecewa. sedih. benci. iala h hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fi sik. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran. (lihat tentang taksonomi perilaku individu pa da Bab I) 2.terjadi aktivitas yang efektif. didalamnya terdapat unsur pemikiran. seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali men ghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru. Inhibisi (menghindari hal yang mubazir). sehingga akhir nya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar. d. (b) teor i belajar . h. gembira. b. kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. afektif dan psikomotor. yakni berfikir dengan c ara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat. Apresiasi (menghargai ka rya-karya bermutu). marah. Sikap. Teori-Teori Pokok Belajar Jika menelaah literatur psikologi. f . seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik. Pengamatan. d. Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan ke yakinan. c. beserta tingkatan aspek-aspeknya. yakni proses menerima. Kecakapan motorik. Berfikir asosiatif. Kebiasaan. yaitu: (a) teori behaviorisme. perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil bel ajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif. was-was dan sebaga inya. g. perasaan y ang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak. e. i. dan memberi arti rangsan gan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mamp u mencapai pengertian yang benar.

jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tid ak dilatih. bakat. diantar anya : a. Law of Effect. artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertam bah erat. 2. maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat. semaki n tidak memuaskan efek yang dicapai respons. Law of Readiness. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. c. b. . artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan sat uan pengantar (conduction unit). pendekatan behaviorisme ini . J ika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer). minat dan perasaan individu dalam suatu belajar.Respons. maka kekuatannya akan menurun. Law of Exe rcise.kognitif menurut Piaget. Teori Behaviorisme Sebagaimana telah dikemukakan pada Bab II bahwa behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku in dividu. Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar. b. Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. diantaran ya: a. (4) teori pemrosesan informasi dari Gagne. dan (5) teor i belajar gestalt. maka hubungan Stimulus . Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah. dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Peristi wa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari di antaranya : 1. Sebaliknya.Respons akan semakin kuat. Dengan kata lain. a. artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang m emuaskan. dan mengabaikan aspek – aspek mental. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov Dari eksperimen yang d ilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar. behaviorisme tidak mengakui ad anya kecerdasan. Jika refleks yang s udah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa men ghadirkan reinforcer. maka semakin lemah pula hubungan ya ng terjadi antara Stimulus.

F. (3) concrete operational dan (4) for mal operational. bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyaji an contoh perilaku (modeling). 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. namun tidak sengaja di adakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment.F. bahwa belajar akan lebih berhasil apabila dises uaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan. seorang individu akan berfikir d an memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan. b. Teori ini juga masih memandang pentingnya conditi oning. b. Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini. Prinsip dasar belajar menurut teori ini. Menurut Piaget. Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the tre shold method). Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat . Berbeda dengan penganut Behavi orisme lainnya. Reber (Muhibin Sya h. Miller dan Dollard dengan teori pengu rangan dorongan. Respons dalam operant conditio ning terjadi tanpa didahului oleh stimulus. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meni ngkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu. melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Law of operant conditining yaitu jika timbuln ya perilaku diiringi dengan stimulus penguat. (2) pre operational. Operant Conditioning menurut B. 4 . Skinner Dari eksperimen yang dilakukan B. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan . diantaranya : a. maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. Teori Belajar Kognitif menurut Piaget Dalam bab sebelumnya t elah dikemukan tentang aspek aspek perkembangan kognitif menurut Piaget yaitu ta hap (1) sensory motor. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan huk um-hukum belajar. Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks ot omatis atas stimulus (S-R Bond). melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebaga i hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method).3. Social Learning menurut Albert Bandura Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. maka kekuatan perilaku tersebut ak an meningkat.

Perkembangan merup akan hasil kumulatif dari pembelajaran. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda denga n orang dewasa. Guru harus membantu anak agar dapat berinte raksi dengan lingkungan sebaik-baiknya. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapa t menghadapi lingkungan dengan baik. (4) penyimpanan. Bila figure dan latar bersifat samar-sama r. warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya i nteraksi antara kondisikondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship). Menurut Koffka dan Kohler. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran t erjadi proses penerimaan informasi. maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. Di dalam kelas. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapa i hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif. (1) motivasi.obyek fisik. d. Berikan peluang agar anak belajar se suai tahap perkembangannya. Implikasi teori perkembangan kognitif P iaget dalam pembelajaran adalah : 1. Teori Pemrosesan I nformasi dari Robert Gagne Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelaj aran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. 3. (3) pemerolehan. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang ses uai dengan cara berfikir anak. c. anak-anak hendaknya diberi peluan g untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya. (7) perlakuan dan (8) umpan balik. yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. potongan. 5. yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu. Teori Be lajar Gestalt Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti seb agai “bentuk atau konfigurasi”. (6) generalisasi. Sedangkan kondi si eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Bahan yang harus dipelajari anak hend aknya dirasakan baru tetapi tidak asing. (2) pemahaman. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peri stiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. . (5) i ngatan kembali. 4. mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu : 1. 2.

4. 4. gemini dan sebagainya adalah contoh dari pr insip ini. seperti : sagitarius. 3. akan tetapi mereaksi terhada p keseluruhan obyek atau peristiwa. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenar nya ada. dan Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : 1. bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. Contoh lain.2. Perilaku “Molar“ h endaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. 3. Kedekatan (proxmity). Misal nya. sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. yaitu: 1. bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertent u. bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan di pandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki. Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt. Kesederhanaan (simpl icity). bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana. Proses pengamat an merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsa ngan yang diterima. pisces. mengikuti kuliah. gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang terten tu. Misalnya. 2. Organisme tidak mereaksi terhadap rangs angan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa. adanya penamaan kumpulan bintang. Perilaku “Molecul ar” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar. Kesamaan (similarity). Berlari. padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hut an yang lebat (lingkungan geografis). bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderun g akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. Hal yang p enting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis d engan lingkungan behavioral. Arah bersama (common direction ). 5. virgo. berjalan. Pengalaman tilikan (insight). Per ilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”. hendaknya peserta didik memiliki . Dalam proses pembelajaran. 6. gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan su sunan simetris dan keteraturan. (lingkungan be havioral). bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku.

sopan santun berhadapan deng an orang tua dan sebagainya. namun juga dilaksanakan di rumah m aupun masyarakat. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). Belajar tidak hanya berlangsung sekolah saja. yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generali sasi). Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yan g dipelajari. bahwa perilaku te rarah pada tujuan. sementara tuntutan kehidupan yang harus dipenuhi indivi du semakin tinggi. seorang anak perempuan memiliki keterampilan bagaima na cara mencuci piring. guru hen daknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari m ateri yang diajarkannya. Pembelajaran. kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu o byek atau peristiwa. Transfe r dalam Belajar. transfer belajar terjadi de ngan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tert entu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susuna n yang tepat. tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Menurut pandangan Gestalt. 4. Proses pemb elajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dic apainya. bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkunga n dimana ia berada. Oleh karena itu. Misalnya. . 5. Oleh karena itu. Prinsip ruang h idup (life space). Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. biasanya lebih banyak diperoleh dari pengalaman bel ajarnya di rumah. memasak. Orang tua memiliki keterbatasan dalam menjalankan fungsinya se bagai pendidik di rumah. Hal-hal ya ng dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. maka kegiatan belajar di sekolah dijadikan pilihan untuk meng embangkan perilaku dan pribadi individu dalam rangka memenuhi berbagai tuntutan kehidupan. Oleh karena itu. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prins ip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. 3. 3. kebermakn aan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pem belajaran. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons . khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. materi yang diajarkan hendaknya memiliki ke terkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. Perilaku bertujuan (pusposive behavior).2. guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. menyeterikan baju.

motivator dan pembimbing untuk kepentingan b elajar peserta didiknya. Secara garis besarnya. terdapat dua pendekat an pembelajaran. disengaja dan direncanakan. menggerakkan. c. e. Kegiatan belajar di sekolah ditandai dengan adanya intera ksi antara atau pendidik dengan peserta didik. mera ngsang. Pendekatan Ekspositorik adalah pendekatan yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya penyampaian informasi. Pendekatan Heuristik yaitu yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya praktek. atau peserta didik dengan peserta didik untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. mengemukakan peran guru dalam proses pembelajaran peserta didik. Interaksi pendidikan seperti itu biasa disebut pembelajaran. Abin Syamsuddin dengan mengutip pemikiran Gage dan B erliner. Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems). seorang guru yang ideal seyogyanya dapat berperan seb agai : a. inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan. d. dengan bimbingan guru atau pendidik lainnya. Peran dan Kompetensi Guru Efektivitas dan efisien belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada per an dan kompetensi guru. memimpin. baik secar a formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (k epada sasaran didik. term asuk metode ceramah dan sejenisnya.. Pendekatan ini lebih menekankan kepada aktivitas siswa dan guru lebih b anyak berperan sebagai fasilitator. eksperimen. transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik. transformator (pen terjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan p erilakunya. Sedangkan dalam pengertia n pendidikan yang terbatas. dalam proses interaksi dengan sasaran didik. Bentuk-bentuk kegiatan belajar yang dil akukan peserta didik di sekolah sangat ditentukan oleh pendekatan-pendekatan pem belajaran yang diberikan oleh guru. . konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber n orma kedewasaan. 4. organisator (penyele nggara) terciptanya proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan. di mana ia bertindak sebagai orang sumber (resource person). b. dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan re ncana.Berbeda dengan kegiatan belajar di rumah. Guru seb agai pelaksana (organizer). termasuk discovery-inquiry. b. yang m encakup : a. serta Tuhan yang menciptakannya). observasi dan sej enisnya. b. kegiatan belajar yang berlangsung di s ekolah lebih bersifat formal. yang harus dapat menciptakan situasi. yaitu : a. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan bahwa dalam pengerti an pendidikan secara luas. Pendekatan ini lebih berpusat kepada guru da n pada umumnya guru bertindak sebagai sumber informasi yang utama.

dan penilai pendidikan. yaitu seorang yang harus senantiasa b elajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya. penilai hasil pembelajaran pe serta didik. prognosa. Abin Syamsuddin menambahkan satu peran lagi yaitu sebagai pembimbing (teacher counsel). f. pengarah pembelajaran dan pembimbing peserta didik. berdasarkan kriteria yang ditetapkan. keluarga dan masyarakat. dan dar i sudut pandang psikologis. dalam konteks proses belajar mengajar di Indonesia. guru berperan sebagai pembina masyarakat (social develo per).konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik & humanistik (manusi awi) selama proses berlangsung (during teaching problems). Moh. Pengambil inisiatif. melakukan diagnos a. Seorang pak ar dalam bidangnya. dan agen masyarakat (social agent). penemu masyarakat (social inovator). Pemimpin generasi muda. Penterjemah kepada masyarakat. atas tingkat keberhasilan proses pembel ajaran. pengelola pembelajaran. guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga (family educator). Di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented). baik mengenai aspek keefektifan pr osesnya maupun kualifikasi produknya. yaitu menguasai bahan yang harus diajarkannya. Dalam hubungannya dengan aktivitas pengajaran dan ad ministrasi pendidikan. Sedangkan dalam keluarga. seor ang guru berperan sebagai : a. Guru sebagai penil ai (evaluator) yang harus mengumpulkan. c. harus membantu pemecahan nya (remedial teaching). Wakil masyarakat di sekolah. Di sekolah. Penegak di siplin. guru berperan sebagai : a. Selanjutnya. yaitu guru bertanggung jawab agar pendidik an dapat berlangsung dengan baik. diri pribadi (self oriented). yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknolo gi kepada masyarakat. artinya guru bertan ggung jawab untuk mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda y ang akan menjadi pewaris masa depan. L ebih jauh. e. . Pekerja sosial (social worker). yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat. guru berperan sebag ai perancang pembelajaran. b. b. Surya (1997) mengemukakan tentang p eranan guru di sekolah. menafsirkan dan akhirnya ha rus memberikan pertimbangan (judgement). c. Pelaksana administrasi pendidikan. pengarah. di mana guru dituntut untuk mampu mengidentifikas i peserta didik yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar. yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik melaksanakan disiplin. dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivit as pengajaran dan administrasi pendidikan. dan g. Pelajar dan ilmuwan. menganalisa. dan kalau masih dalam batas kewenangannya. d. Di lain pihak. Seme ntara itu di masyarakat. artinya guru berperan s ebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan.

Gu ru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well info rmed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh. Paka r psikologi pendidikan. Catalyc agent atau inovator. b. interaksi peserta didik dengan sesamanya. artinya guru adalah model perilaku y ang harus dicontoh oleh mpara peserta didik. artinya guru bertanggung jawab bagi terciptanya kesehat an mental para peserta didik. Pembentuk kelompok (group builder). Kalau hal ini terjadi. berkembang. Orang tua. artinya guru merupakan seorang yang memahami psikologi p endidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. a. sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan ber bagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. Pemberi keselamatan bagi set iap peserta didik. peran dan tanggung jawab guru pada masa mendat ang akan semakin kompleks. ia akan kehilangan kepercaya an baik dari peserta didik. prosedur dan sistem yang mendukung proses pembelajaran. pengelolaan bahan belajar. Sementara itu. Doyle sebagaimana dikutip oleh S udarwan Danim (2002) mengemukan dua peran utama guru yaitu menciptakan keteratur an (establishing order) dan memfasilitasi proses belajar (facilitating learning) . Jika guru tida k memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat. pengelolaan sumber belajar. artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap pese rta didik di sekolah. Guru harus harus leb ih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. khususnya dengan para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pendidika n. dan e. model keteladanan. orang tua maupun masyarakat. interak si peserta didik dengan guru. artinya gu ru adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar manus ia. jam masuk dan keluar untuk setiap sesi mata pelaja ran. yaitu guru merupakan orang yang yang mampu menciptakan suat u pembaharuan bagi membuat suatu hal yang baik. berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. di siplin peserta didik di kelas. Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker). Di masa depan. dan lain-lain. Untuk menghadapi . Yang dimaksud keteraturan di sini mencakup hal-hal yang terkait langsung atau tidak langsung dengan proses pembelajaran. seperti : tata letak tempat duduk. c. Dari sudut pandang secara psikologis. d. ia akan terpuruk secara profesional. seniman dalam hubungan antar manusia (artist in human relations). dan e. d. yaitu mampu mambentuk menciptakan kelo mpok dan aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan. guru bukan satu-s atunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya. guru berperan sebagai : a.c. lingkungan belajar. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didika n gurunya. Sejalan d engan tantangan kehidupan global.

perancangan pembelaj aran.tantangan profesionalitas tersebut. 5. 2. sertifikasi dan r emunerasi guru. Berkenaan dengan kompetensi guru. 5. Disamping itu. berkomunikasi lisan dan tulisan. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat. 4. disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan tekno logi yang sedang berlangsung. sehingga dengan dukungan hasil penelitiaan guru tidak terjebak pada praktek pengajaran y ang menurut asumsi mereka sudah efektif. Untuk meningkatkan profesionalisme guru di Indones ia. Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyara kat untuk : 1. berwibawa. 3. dan mengembangkan diri secara berkelanjutan. Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang melipu ti: 1. dewasa. guru perlu berfikir secara antisipatif dan p roaktif. pemaha man terhadap peserta didik. evaluasi hasil belaja r. yang di dalamnya mengatur berbagai hal yang berkaitan dengan profesi guru . berakhlak mulia. arif dan bijaksana. dalam Undang-Undang tersebut d ikemukakan empat jenis kompetensi yang harus dikuasai guru yaitu : a. 2. . mengevaluasi kinerja s endiri. guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimil ikinya secara terus menerus. stabil. 6. Begitu juga. mantap. dengan dukungan hasil penelitian ya ng mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari ta hun ke tahun. Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang : 1. dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. namum kenyataannya justru mematikan kre ativitas para peserta didiknya. 7. diantaranya adalah berkenaan dengan kualifikasi. pengembangan kurikulum/silabus. b. guru masa depan harus paham peneliti an guna mendukung terhadap efektivitas pengajaran yang dilaksanakannya. Artinya. c. kompetensi. 3. pemerintah telah menetapkan Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan. 7. menggunakan teknologi komunik asi dan informasi secara fungsional. 9. 6. 2. 8. 4. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis.

pener imaan diri. sesama guru. bergaul secara santun dengan masyaraka t sekitar. b. yaitu kualitas kemampuan pribad i seorang guru yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. meliputi : Moh. hubungan konsep antar mata pelajaran terk ait. c. dapat memilih dan menggunakan berbagai metode me ngajar di dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya. seorang guru akan mampu menjadi seorang pemi mpin yang menjalankan peran : ing ngarso sung tulada. dan 4. Kompetensi k emasyarakatan. d. orangtua/wali peserta didik. Kompetensi sosial. baik dengan peserta didik. dan perwujudan diri. pengarahan diri. Kompetensi profesional. bergaul secara efektif dengan peserta didik. Dengan demikian. yaitu berbagai kemampuan yang diperlukan untuk dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional . yai tu penguasaan berbagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan tugasnya sebagai guru. Da lam kompetensi sosial ini termasuk keterampilan interaksi sosial dan melaksanaka n tanggung jawab sosial. tenaga kependid ikan. materi aja r yang ada dalam kurikulum sekolah. yaitu : a. rasa tanggung jawab akan tugasnya. Kompetensi personal. memiliki pengetahuan yang luas dari bidang studi yang diajarkannya. Raka Joni sebagaimana dikutip oleh Suyanto da n Djihad Hisyam (2000) mengemukakan tiga jenis kompetensi yang seyogyanya dimili ki guru. penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari. Kompetensi profesional meliputi as pek kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus di ajarkannya beserta metodenya. dan rasa kebers amaan dengan sejawat guru lainnya. memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani. yaitu kemampuan yang di perlukan oleh seorang guru agar berhasil dalam berhubungan dengan orang lain. konsep.3. 3. Surya (1997) a. Kompetensi personal. 4. ing madya mangun karsa. dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/ koheren dengan materi ajar. Dengan jumlah yang berbeda namun esensinya sama. Kompetensi intelektual. Sementara itu. sesama pendidik. struktur. tu t wuri handayani. mengetengahka n lima jenis kompetensi guru. mampu berkomunikasi. maup un masyarakat luas. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembe lajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: 1. . kom petisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai d an budaya nasional. d. 2. Kompetensi profesional. dan 5. c. Kompetensi per sonal ini mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri. b.

3. Mengembangkan usaha untuk memperoleh pengetahu an dengan berbagai cara (multiple path). b. yang menjadi dasar b agi guru untuk mendapatkan sertifikasi guru. Kesadaran akan tujuan utama pembelajaran. dan Misi guru dalam memperluas cakrawala berfikir peserta didik. dengan rumusan What Teachers Should Know and Be Able to Do. 2. e. Penggunaan berbagai metode dalam pencapai an tujuan pembelajaran. Apresiasi guru tentang pemahaman materi mata pelajaran untuk dikreasik an. . d. 3. Teachers Think Systematically About Their Practice and Learn from Experience : 1. dan 4. 2. National Board for Profesional Teaching Skill (NBPTS) merumuskan standar kompetensi bagi guru di Amerika. 2. c. di dalamnya terdiri dari lima proposisi utama. Guru dapat menarik keuntungan dari berbagai sumber daya masyarakat. Kompetensi spiritual. Guru bekerja sama dengan tua orang peserta didik. Teachers Know the Subjects They Teach and How to Teach Those Subjects to Stud ents : 1. yaitu: a . Menilai kemajuan peserta didik secara teratur. Sebagai pembanding. Menyusun proses pembelajaran dalam berbagai setting k elompok (group setting). Pemahaman guru tentang perke mbangan belajar peserta didik. 4. yaitu kualitas keimanan dan ketaqwaan sebagai seorang y ang beragama. Perlakuan guru terhadap seluruh peserta didik sec ara adil. 3. Guru secara terus menerus menguji diri untuk memilih keputusan-keputusan terbaik. Guru meminta saran dari piha k lain dan melakukan berbagai riset tentang pendidikan untuk meningkatkan prakte k pembelajaran. disusun dan dihubungkan dengan mata pelajaran lain. 3.e. Guru memberi kan kontribusi terhadap efektivitas sekolah melalui kolaborasi dengan kalangan p rofesional lainnya. Kemampuan guru untuk menyampaikan materi pelajaran. kemampuan untuk memberikan ganjaran (reward) atas keber hasilan peserta didik. Teachers are Members of Learning Communities: 1. 2. Teachers are Responsible for Managin g and Monitoring Student Learning : 1. Teachers are Committed to Students and Their Learning : 1. 2. Penghargaa n guru terhadap perbedaan individual peserta didik.

6. 4. antara lain: 1. Pengelolaan kelas merupa kan hal yang berbeda dengan pengelolaan pembelajaran. Mampu me mberikan respon yang membantu kepada peserta didik yang lamban belajar. 2. Mm eminimalkan friksi-friksi di kelas jika ada. Mampu memanfaatkan perencanaan kelompok guru untuk menciptakan metode pengajaran. 4. evaluasi dan tindak lanj ut dalam suatu . b. 7. d.Mengutip pemikiran Davis dan Margareth A. penghargaan kepada peserta didik. Mampu bertanya atau memberi kan tugas yang memerlukan tingkatan berfikir yang berbeda. dan mampu memberikan transisi dalam mengajar. dan ketulusan. 2. 5. khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati. Melibatkan peserta didik dalam mengorganisasi kan dan merencanakan kegiatan pembelajaran. suka menyela. Pengelolaan Kelas Dalam uraian di atas telah disinggung bahwa salah satu keterampilan yang harus d imiliki guru adalah keterampilan dalam mengelola kelas. pelaksanaan. Memiliki kemampuan secara rutin untuk mengahadapi peserta didik yang tidak memiliki perhatian. 3. Menunjukkan minat dan enthusi as yang tinggi dalam mengajar. yaitu : 1. 2. seperti: 1. Kemampuan yang ter kait dengan pemberian umpan balik dan penguatan (reinforcement). Ke mampuan yang terkait dengan iklim kelas. Memiliki hubungan baik dengan peserta didik 3. Pengelolaan pembelajaran l ebih menekankan pada kegiatan perencanaan. 5. mengalihkan pembicara an. yaitu mencakup : a. Secara tulus menerima dan memperhatikan peserta didik. Mampu menciptakan atmosfer untuk bekerja sama dan kohesivitas dalam kelompok. Mampu menerapkan kurikulum dan metode men gajar secara inovatif. Mampu membe rikan bantuan kepada peserta didik yang diperlukan. Kemampuan yang terkait de ngan peningkatan diri. Mampu memperluas dan menambah pengetahuan metode-metod e pengajaran. 2. c. Mamp u memberikan umpan balik yang positif terhadap respon peserta didik. Mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban yang kurang memuaskan. Thomas dalam bukunya Effective Schools and Effective Teachers. Mampu mendengarkan peserta didik dan menghargai hak peserta didik untuk berbicara dalam setiap diskusi. 3. Memiliki kemampuan interpe rsonal. dan 8. seperti : 1. Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) memaparkan tentang beb erapa kemampuan guru yang mencerminkan guru yang efektif. Kemampuan yang terkait dengan st rategi manajemen.

penyelesaian tugas oleh peserta didik seca ra tepat waktu. Masalah Kelompok : 1. yaitu : a. suku. 2. terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam pengelolaan kelas. karena alasan jenis kelamin. Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakuka n melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). congruence). dan sebagainya. Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan) Revenge seeking behavior s (pola perilaku menunjukkan balas dendam). Dalam hal ini. Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disep akati sebelumnya. Kelas kurang kohesif. b. 6. Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian). Berangkat dari teori-teori belajar sebagaimana telah dikemukakan terdahu lu. Kelas mereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggot anya. Carl A. b.guru dan atau peserta didik – pe serta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim. penetapan norma kelompok yang produktif). didalamnya mencakup pe ngaturan orang (peserta didik) dan fasilitas. 5. tingkatan sosial eko nomi.Modification Approach (Behaviorism Apparoach) Asumsi yang m endasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu mer upakan hasil belajar. y aitu : a. 7. “Membombong” anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok. Socio-Emotional C limate Approach (Humanistic Approach) Asumsi yang mendasari penggunaan pendekata n ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubung an interpersonal yang baik antara peserta didik . helplessness (peragaan ketidakmampua n). Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya unt uk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses be lajar (pembinaan rapport. 4. Terdapat dua macam masalah pengelo laan kelas. 2. 4. Rogers mengemukakan pentingnya sikap tu lus dari guru (realness. Kelas kurang mampu menyesuakan diri dengan keadaa n baru. menerima dan menghargai peserta didik sebagai . Sema ngat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru. sosio-emo sional yang baik. Behavior . Masalah Individual : 1. genuiness. 3.pembelajaran. Kelompo k cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap. penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas. karena menganggap tugas yang diberikan kurang fair. pemberian ganjaran. 3.

(d) communication. memupuk keberanian menanggung akib at “kurang menyenangkan”. b ukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasaka n. Sementara itu. dan membe ri kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat. b dan c benar . a. b. (c) attractio n (pola persahabatan). Belajar merupaka n usaha individu. bertujuan dan terarah. menganalisis dan menilai masalah. serta membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik. caring. Belajar merupakan usaha individu memperoleh perubahan perilaku. kontinyu.manusia (acceptance. d. Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Dem ocratic Classroom Process. Di bawah ini merupakan hakekat belajar. kecuali : a. Ginnot mengemuk akan bahwa dalam memecahkan masalah. Sedangkan Haim C. (c) norm. serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaia n. yaitu : (a) mutual expectations. c. mengarahkan peserta didik agar committed terhadap rencana yang telah dibuat. Sch muck & Patricia A. memperlakukan peserta didik sebagai manusia yan g dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya. f. (d) cohesiveness D. Perubahan yang bersif at aktif dan menyeluruh. menyusun rencana pemecahannya. Belajar merupakan kegiatan individu di sekolah u ntuk memperoleh pengetahuan 2. g. G roup Process Approach Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bah wa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru a dalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. dan permanen Perubahan yang bersifat fungsional. positif. Richard A. Belajar sebagai usaha untuk memperoleh pengetahuan. dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik unt uk dapat memikul tanggung jawab. dari tidak tahu menjadi tahu. c. Latihan : Soal : Pilihan Ganda 1. (b) leadership. guru berusaha untuk membicarakan situasi. Perubahan yang bersifat intensional. prizing. Hal senada dikemukakan William Glasser bahwa guru seyogyanya membantu mengara hkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi. Di bawah ini merupakan ciri-ciri perubahan perilaku dari kegiatan belajar : e . Schmuck menegemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendeka tan group proses. trust) dan mengerti dari sudut pandangan p eserta didik sendiri (emphatic understanding). h.

c. Teori belajar yang menganggap pentingnya imitation dan modelling dalam belaja r. c. Dalam proses pembelajaran. Perenca na Pembelajaran Pelaksana Pembelajaran . c. d. dan me ngarahkan kegiatan belajar mengajar merupakan peran guru sebagai : a. Pendekatan pembelajaran yang dianggap paling sesuai untuk pembentukan kompete nsi peserta didik. b. Dapat menciptakan situasi belajar. a. Materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondi si lingkungan kehidupan peserta didik merupakan salah satu aplikasi dalam pembel ajaran yang dihasilkan dari teori belajar : a. Pentingnya reinforcement dalam pembentukan perilaku individu Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. dan c benar. Connectionism (S-R Bond) Classical Conditioning Social Learning Oper ant Conditioning 6. d. maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus. Informasi verbal Kecakapan intelektual Strategi kognitif Sikap dan kecakapan mo torik 4. b. a. d. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : a. Sebaliknya. b . d. b. b. adalah : a. d. d. b.Respons . Behaviorisme Gestalt Kog nitif Pemrosesan Informasi 8. memimpin. 7. b. c. b. c. Law of Effect Law of Readiness Law of Exercise Law of Respondent C onditioning 5. henda knya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkait an unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. Keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan m enggunakan simbol-simbol merupakan bentuk perubahan perilaku dalam : a. menggerakkan. Ekspositorik Heuristik Discovery Inquiry 9. c. a. Jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons.3. merangsang. maka hubungan Stimulus Respons akan semakin kuat.

a. proses konseling. diharapkan Anda dapat : 1. 3. asas. Kegiatan Layanan dan Pend ukung Bimbingan dan Konseling. 5. d. Mengidentifikasi fungsi. prosedur umum bimbingan dan konseling. Proses dan Teknik Konseling. Apa yang dimaksud dengan pengelolaan kelas ? 2. 2. Sebagai guru. 4. Menerapkan teknik – teknik dalam konseling. orientasi baru. Pokok Bahasan 1. Peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pela jaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling. para siswa kurang kompak dan selalu berisik. . Menganalis is kasus dan mengatasi masalah yang dihadapi peserta didik. merencanakan. melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. Bimb ingan terhadap Peserta Didik Bermasalah. b. siswa yang sedang asy ik ngobrol dengan temannya. d. 6. bimbingan terhadap peserta didik bermasal ah. 3. 5. Kompetensi guru yang berhubungan dengan pemahaman perkembangan peserta didik .c. B. Menjelaskan peran kepala sekolah dan guru mata pelajaran dalam Bimbingan dan Konseling. Jelaskan secara skematik tenta ng perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar !. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling. 4. 3. b. jenis lay anan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. c. prinsip. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling. Mendefinisik an bimbingan dan konseling. Uraian 1 . Evaluator Pembelajaran Fasilitator Pembelajaran 10. apa yang akan dilakukan jika di kelas menemukan: a. 2. Komp etensi akademik Kompetensi personal Kompetensi pedagogik Kompetensi sosial BAB V BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH A.

conducting (menuntun). 1978) memberik an rumusan bimbingan sebagai kegiatan yang terorganisir untuk memberikan bantuan secara sistematis kepada peserta didik dalam membuat penyesuaian diri terhadap berbagai bentuk problema yang dihadapinya. Surya. Willis. menentukan. Hal ini tentu saja tidak sesuai lagi dengan arah perkembangan dewasa ini . or steer (menunjukk an.C. manager. atau mengemudikan). dimana pada saat ini klien lah yang justru dianggap lebih memiliki peranan pen ting dan aktif dalam proses pengambilan keputusan serta bertanggungjawab sepenuh nya terhadap keputusan yang diambilnya. keluarga dan masyarakat. governing (mengarahkan) dan gi ving advice (memberikan nasehat). (1975) berpendapat bahwa bimb ingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis ke pada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. mengatur. bimbingan harus mengara hkan kegiatannya agar peserta didik mengetahui tentang diri pribadinya sebagai i ndividu maupun sebagai anggota masyarakat. giving instructi ons (memberikan petunjuk). Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling a. (1970) mengemukakan : “gui dance is the help given by one person to another in making choice and adjusment and in solving problem. Peters dan Sh ertzer (Sofyan S. Penggunaan istilah bimbingan seperti dikemukak an di atas tampaknya proses bimbingan lebih menekankan kepada peranan pihak pemb imbing. regulating (mengatur). I. Djumhur dan Moh. Sedangkan menurut W. Pengertian Bimbing an dan Konseling Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang didalamnya te rkandung beberapa makna. Surya. Winkel (198 1) mengemukakan bahwa guidance mempunyai hubungan dengan guiding : “ showing a way” (menunjukkan jalan).al. Jones et. Sertzer & Stone (1966) menemukakan bahwa guidance beras al kata guide yang mempunyai arti to direct. pilot.S. jabat an. United States Office of Education (Arifin. agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirinya (self understanding). leading (memimpin). kesehatan. Untuk memahami lebih jauh tentang penger tian bimbingan. Dalam pelaksanaannya. Intisari Bacaan 1. di bawah ini dikemukakan pendapat dari beberapa ahli : Miller (I . kemampuan untuk menerima dir inya (self acceptance). 2004) mendefiniskan bimbingan sebagai : the process of helping the individual to understand himself and his world so that he can utili ze his potentialities. misalnya problema kependidikan. Djumhur dan Moh. sosial dan pribadi. 1975) mengartikan bimbingan sebagai proses bantuan ter hadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan pen yesuaian diri secara maksimum di sekolah. kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) .

dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan pote nsi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan, baik ke luarga, sekolah dan masyarakat. Dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 ten tang Pendidikan Menengah dikemukakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diber ikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan, d an merencanakan masa depan”. Prayitno, dkk. (2003) mengemukakan bahwa bimbingan da n konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bimbingan pri badi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karier, melalui berbaga i jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku. Da ri beberapa pendapat di atas, tampaknya para ahli masih beragam dalam memberikan pengertian bimbingan, kendati demikian kita dapat melihat adanya benang merah, bahwa : Bimbingan merupakan upaya untuk memberikan bantuan kepada individu atau peserta didik.. Bantuan dimaksud adalah bantuan yang bersifat psikologis. Tercap ainya penyesuaian diri, perkembangan optimal dan kemandirian merupakan tujuan ya ng ingin dicapai dari bimbingan. Dari pendapat Prayitno, dkk. yang memberikan pe ngertian bimbingan disatukan dengan konseling merupakan pengertian formal dan me nggambarkan penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dal am sistem pendidikan nasional. Keberadaan layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang panjang, sejak kuran g lebih 40 tahun yang lalu. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali p ergantian istilah, semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 d an sebelumnya), kemudian pada Kurikulum 1994 dan Kurikulum 2004 berganti nama me njadi Bimbingan dan Konseling. Akhir-akhir ini para ahli mulai meluncurkan sebut an Profesi Konseling, meski secara formal istilah ini belum digunakan. Untuk kep entingan penulisan ini, penulis akan menggunakan istilah Bimbingan dan Konseling sesuai dengan istilah formal yang saat ini dipergunakan dalam sistem pendidikan nasional. b. Orientasi Baru Bimbingan dan Konseling Pada masa sebelumnya (atau mungkin masa sekarang pun, dalam prakteknya masih ditemukan) bahwa penyelenggara an Bimbingan dan Konseling cenderung bersifat klinis-therapeutis atau menggunaka n pendekatan kuratif, yakni hanya berupaya menangani para peserta didik yang ber masalah saja. Padahal kenyataan di sekolah

jumlah peserta didik yang bermasalah atau berperilaku menyimpang mungkin hanya s atu atau dua orang saja. Dari 100 orang peserta didik paling banyak 5 hingga 10 (5% - 10%). Selebihnya, peserta didik yang tidak memiliki masalah (90% -95%) ker apkali tidak tersentuh oleh layanan bimbingan dan konseling. Akibatnya, bimbinga n dan konseling memiliki citra buruk dan sering dipersepsi keliru oleh peserta d idik, guru bahkan kepala sekolah. Ada anggapan bimbingan dan konseling merupakan “polisi sekolah”, tempat menangkap, merazia, dan menghukum para peserta didik yang melakukan tindakan indisipliner. Anggapan lain yang keliru bahwa bimbingan dan k onseling sebagai “keranjang sampah” tempat untuk menampung semua masalah peserta did ik, seperti peserta didik yang bolos, terlambat SPP, berkelahi, bodoh, menentang guru dan sebagainya. Masalah-masalah kecil seperti itu dapat diantisipasi dan d iatasi oleh para guru mata pelajaran atau wali kelas dan tidak perlu diselesaika n oleh guru pembimbing. Mengingat keadaan seperti itu, kiranya perlu adanya orie ntasi baru bimbingan dan konseling yang bersifat pengembangan atau developmental dan pencegahan pendekatan preventif. . Sofyan. S. Willis (2004) mengemukakan ba ru bimbingan dan konseling, yaitu : landasan-landasan filosofis dari orientasi 1. Pedagogis; artinya menciptakan kondisi sekolah yang kondusif bagi perkembanga n peserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual diantara peserta didik . 2. Potensial, artinya setiap peserta didik adalah individu yang memiliki poten si untuk dikembangkan, sedangkan kelemahannya secara berangsur-angsur akan diata sinya sendiri. 3. Humanistik-religius, artinya pendekatan terhadap peserta didik haruslah manusiawi dengan landasan ketuhanan. peserta didik sebagai manusia dia nggap sanggup mengembangkan diri dan potensinya. 4. Profesional, yaitu proses bi mbingan dan konseling harus dilakukan secara profesional atas dasar filosofis, t eoritis, yang berpengetahuan dan berketerampilan berbagi teknik bimbingan dan ko nseling. Dengan adanya orientasi baru ini, bukan berarti upaya-upaya bimbingan d an konseling yang bersifat klinis ditiadakan, tetapi upaya pemberian layanan bim bingan dan konseling lebih dikedepankan dan diutamakan yang bersifat pengembanga n dan pencegahan. Dengan demikian, kehadiran bimbingan dan konseling di sekolah akan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh peserta didik, tidak hanya bagi pes erta didik yang bermasalah saja. c. Fungsi Bimbingan dan Konseling Dengan orient asi baru Bimbingan dan konseling terdapat beberapa fungsi yang hendak dipenuhi m elalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. yaitu:

1. Pemahaman; 2. 3. 4. 5. menghasilkan pemahaman pihak-pihak tertentu untuk pengembangan dan pemacahan mas alah peserta didik meliputi : (a) pemahaman diri dan kondisi peserta didik, oran g tua, guru pembimbing; (2) lingkungan peserta didik termasuk di dalamnya lingku ngan sekolah; dan keluarga peserta didik dan orang tua; lingkungan yang lebih lu as, informasi pendidikan, jabatan/pekerjaan, dan sosial budaya/terutama nilai-ni lai oleh peserta didik. Pencegahan; menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya p eserta didik dari berbagai permasalahan yang timbul dan menghambat proses perkem bangannya. Pengentasan; menghasilkan terentaskannya atau teratasinya berbagai pe rmasalahan yang dialami peserta didik. Advokasi; menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hakhak dan/atau kepentingan pendidikan. Pemeliharaan dan pengembangan; terpelihara dan terkembangkannya berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berke lanjutan. d. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling : Sejumlah prinsip mendasari gerak langk ah penyelenggaraan kegiatan bimbingan dan konseling. Prinsip-prinsip ini berkait an dengan tujuan, sasaran layanan, jenis layanan dan kegiatan pendukung, serta b erbagai aspek operasionalisasi pelayanan bimbingan dan konseling. Prinsip-prinsi p tersebut adalah : 1. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan; (a ) melayani semua individu tanpa memandang usia, jenis kelamin, suku, agama dan s tatus sosial; (b) memperhatikan tahapan perkembangan; (c) perhatian adanya perbe daan individu dalam layanan. 2. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan permasalah an yang dialami individu; (a) menyangkut pengaruh kondisi mental maupun fisik in dividu terhadap penyesuaian pengaruh lingkungan, baik di rumah, sekolah dan masy arakat sekitar, (b) timbulnya masalah pada individu oleh karena adanya kesenjang an sosial, ekonomi dan budaya. 3. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program pelayanan Bimbingan dan Konseling; (a) bimbingan dan konseling bagian integral d ari pendidikan dan pengembangan individu, sehingga program bimbingan dan konseli ng diselaraskan dengan program pendidikan dan pengembangan diri peserta didik; ( b) program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutu han peserta didik maupun lingkungan; (c) program bimbingan dan konseling disusun dengan mempertimbangkan adanya tahap perkembangan individu; (d) program pelayan an bimbingan dan konseling perlu diadakan penilaian hasil layanan.

juga dituntut untuk memenuhi sejumlah asas bimbi ngan. e. Agar peserta didik (klien) mau terbuka. (b) pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya at as kemauan diri sendiri. Betapa pentingnya as as-asas bimbingan konseling ini sehingga dikatakan sebagai jiwa dan nafas dari s eluruh kehidupan layanan bimbingan dan konseling. 3. Dalam hal ini. yaitu asas yang menghen daki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap t erbuka dan tidak berpura-pura. guru pembimbing (konselor) berkewajiban m emelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar -benar terjamin. serta mengurangi atau mengaburkan hasil layanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu sendiri. dan (e) proses pelayanan bimbingan dan k onseling melibatkan individu yang telah memperoleh hasil pengukuran dan penilaia n layanan. baik dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang bergu na bagi pengembangan dirinya. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan. (d) perlu adanya kerja sama dengan personil sekolah dan orang tua dan bila perlu dengan pihak lain yang berk ewenangan dengan permasalahan individu. (c) permasalahan individu dilayani oleh tenaga ahli/pro fesional yang relevan dengan permasalahan individu. Apabila asas-asas ini tidak di jalankan dengan baik. Pemenuhan asas-asas bimbingan itu akan memperlancar pelaksanaan dan lebih menjamin keberhasilan layanan/kegiatan.4.asas bimbingan dan kon seling tersebut adalah : 1. Guru Pembimbing (konselor) berkewajiban membina dan meng embangkan kesukarelaan seperti itu. Guru pembimbing (konselor) berkewajiban mengembang kan keterbukaan peserta didik (klien). Asas-Asas Bimbingan dan Konseling Penyelenggaraan layanan dan kegi atan pendukung bimbingan dan konseling selain dimuati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu. g uru pembimbing (konselor) terlebih dahulu bersikap terbuka dan . Asas Kerahasiaan (confidential). 2. (a) diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimb ing diri sendiri. yaitu asas yang menghendaki adanya kesuka an dan kerelaan peserta didik (klien) mengikuti/ menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya. Asas Kesukarelaan. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak laya k diketahui orang lain. Asas. Asas Keterbukaan. yaitu asas yang men untut dirahasiakannya segenap data dan keterangan peserta didik (klien) yang men jadi sasaran layanan. sedangkan pengingkarannya akan dapat men ghambat atau bahkan menggagalkan pelaksanaan. maka penyelenggaraan bimbingan dan konseling akan berjalan tersendat-sendat atau bahkan terhenti sama sekali.

6. Asas Kegiatan. Guru Pembimbing (konselor) perlu mendorong dan memotivasi peserta didik untuk dapat aktif dalam setiap layanan/kegiatan yang d iberikan kepadanya. yaitu asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan keg iatan bimbingan dan konseling. saling menunjang. yaitu asas yang menghendaki agar peserta d idik (klien) yang menjadi sasaran layanan dapat berpartisipasi aktif di dalam pe nyelenggaraan/kegiatan bimbingan. Kondisi masa lampau dan masa depan dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan dengan apa yang ada dan di perbuat peserta didik (klien) pada saat sekarang. kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi amat penting dan harus dilaksanakan sebaikbaiknya. serta mewujudkan diri sendiri. tidak monoton.tidak berpura-pura. mampu mengambil keputusan. yaitu asas yang menunjukkan pada tujuan umum bimbingan dan konseling. Asas Kenormatifan . Dalam hal ini. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun p ihak lain. 9. ilmu pengetahuan. mengarahkan. Dalam hal ini. baik norma agama. Asas keterbukaan ini bertalian erat dengan asas kerahasiaan dan dan kekarelaan. Asas Keahlian. Asas Keterpaduan. yaitu asa s yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (peserta didik/klie n) hendaknya selalu bergerak maju. dan kebiasaan – kebiasaan yang berlaku. Asas Kedinamisan. Profesionalitas guru pembimbing (konselor) harus terwujud baik . 10. Asas Kekinian. hukum. Guru Pembimbing (konselo r) hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling bagi berk embangnya kemandirian peserta didik. 4. 8. yaitu peserta didik (klien) sebagai sasaran layan an/kegiatan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang ma ndiri. melalui segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling ini harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (klien) dalam memahami. 5. harmonis dan terpadukan. Bahkan lebih jau h lagi. Asas Kemandirian. dan terus berkembang serta ber kelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu . yaitu asas yang menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan ko nseling didasarkan pada norma-norma. adat is tiadat. yaitu asas yang menghenda ki agar obyek sasaran layanan bimbingan dan konseling yakni permasalahan yang di hadapi peserta didik/klien dalam kondisi sekarang. menghayati dan men gamalkan norma-norma tersebut. peraturan. 7. dengan ciri-ciri mengenal diri sendiri dan lingkungannya. yaitu asas yang menghendaki ag ar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselnggarakan atas dasar kaidah -kaidah profesional. para pelaksana layanan dan kegiatan bimbinga n dan konseling lainnya hendaknya tenaga yang benar-benar ahli dalam bimbingan d an konseling.

12. 11. latihan. dan be rbagai kemudahan bagi terlaksananya pelayanan bimbingan dan konseling yang efekt if dan efisien. Dengan adanya kata “kewajiban”. maka setiap seko lah mutlak harus menyelenggarakan bimbingan dan konseling. dan karier”. sehingga p elayanan pengajaran. Mengkoo rdinir segenap kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di sekolah. sosial. dan dinamis. yaitu asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggaraka n layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalaha n peserta didik (klien) kiranya dapat mengalihtangankan kepada pihak yang lebih ahli. peran. Asas Alih Tangan Kasu s. juga perlu melibatkan kepala s ekolah . dan bimbingan dan konseling merupakan suatu kesatu an yang terpadu. yaitu asas yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa aman). Kepala sekolah selaku penanggung ja wab seluruh penyelenggaraan pendidikan di sekolah memegang peranan strategis dal am mengembangkan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. tugas dan tanggung jawab kepala sekolah. . atau ahli lain. pe nyelenggaraan Bimbingan dan konseling di sekolah. Secara garis besarn ya. sebagai berikut : a. sebaliknya guru pembimbing (kons elor). dapat mengalihtangankan kasus kepada pihak yang lebih kompeten. Guru pembimbing (konselor)dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. Keberhasilan penyelen ggaraan bimbingan dan konseling di sekolah. 2. Selain Guru Pembimbing atau Konselor sebagai pelaksana utama. Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan da n Konseling Dalam kurikulum 2004. Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan p elaksanaan program. serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk maju. c. belajar. Demikian pula. Peranan Kepala Sekolah. tidak lepas dari peranan berbagai pi hak di sekolah. tenaga. b. penilaian dan upaya tidak lanjut pelayanan bimbingan dan kon seling. harmonis. Menyediakan prasarana. secara tegas dikemukakan bahwa : “Sekolah berkew ajiban memberikan bimbingan dan konseling kepada siswa yang menyangkut tentang p ribadi. guru mata pelajaran dan wali kelas. guru-guru lain.dalam penyelenggaraaan jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling dan dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. Asas Tut Wuri Handa yani. mengemba ngkan keteladanan. baik yang berada di dalam lembaga sekolah maupun di luar sekolah. dan memberikan rangsangan dan dorongan.

Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masa lah siswa. e. e. Menerima siswa ali h tangan dari Guru Pembimbing. seperti konferens i kasus. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling Di sekol ah kepada Dinas Pendidikan yang menjadi atasannya. serta pengumpu lan data tentang siswa-siswa tersebut. Membantu pengumpulan informasi yang dipe rlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tind ak lanjutnya. hubungan guru-siswa dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan k onseling. membantu Guru Mata Pelajaran melaksanakan peranannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling. p rogram pengayaan). membantu Guru Pembimbing melaksanakan tugas-tug asnya. seperti konferensi kasus. c. dan e. memahami dan meng hargai tanpa syarat. berpa rtisipasi aktif dalam kegiatan khusus bimbingan dan konseling. khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. Wali Kelas berperan : a. untuk mengikuti/menjalani layanan dan/atau kegiatan bimbingan dan konseling. jujur dan asli. Sedangkan. Membantu memasyarakatkan pelayan an bimbingan dan konseling kepada siswa b. konkret. tugas dan tanggung jawab guru-guru mata pela jaran dalam bimbingan dan konseling adalah : a. d. peran. mendorong. . Berkenaan peran guru mata pelajaran dan wali kel as dalam bimbingan dan konseling. mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan ko nseling kepada Guru Pembimbing. bersahabat. Membantu Guru Pembimbing mengidentifi kasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling. g. h. yaitu siswa yang menuntut Guru Pembimbing memerlu kan pelayanan pengajar /latihan khusus (seperti pengajaran/ latihan perbaikan. khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya. Sebagai pengelola kelas tertentu dalam pelayanan bimbingan dan kon seling. Membantu mengembangkan suasana kelas. b. Mengalihtangankan siswa yang memerluka n pelayanan bimbingan dan konseling kepada Guru Pembimbing d.d. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan la yanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani layanan/kegiat an yang dimaksudkan itu. Willis (2005) mengemukakan bahwa gur u-guru mata pelajaran dalam melakukan pendekatan kepada siswa harus manusiawi-re ligius. Sofyan S. ramah. membantu memberikan kesempatan d an kemudahan bagi siswa. f. khusu snya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. kes empatan. c. dan dukungan dalam kegiatan kepengawasan yang dilakukan oleh Pengawas S ekolah Bidang BK. Menyediakan fasilitas.

Tujuan layanan inf ormasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. kelompok belajar. Layanan Orientasi. baik dalam jenis layanan maupun kegiatan pen dukung.3. Layanan pe mbelajaran berfungsi untuk pengembangan. Namun. m erupakan layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyal uran di dalam kelas. merupakan layanan y ang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. karier. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai materi belaj ar atau penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. Layanan Penempatan dan Penyaluran. m agang. Layanan Informasi. program latihan. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. Layanan Pembelajaran. Sedan gkan kegiatan pendukung merupakan kegiatan untuk menopang terhadap keberhasilan layanan yang diberikan. Kegiatan Layanan Bimbingan dan Konseling 1. Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling Kegiatan layanan merup akan kegiatan dalam rangka memenuhi fungsi-fungsi bimbingan dan konseling. yang ber fungsi untuk pencegahan dan pemahaman. dengan tujuan agar pes erta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. Layanan orientasi merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memahami ling kungan baru. dalam bidang pribadi. sosial. Namun sangat mungkin k e depannya akan semakin berkembang. kegiatan ko/ekstra kurikuler. 4. Layanan informasi pun berfungsi untu k pencegahan dan pemahaman. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. dengan tujuan agar peserta didik dapat meng embangkan segenap . 3. belajar maupun karier berdasarka n informasi yang diperolehnya yang memadai. sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awa l semester. a. di bawah ini akan diuraikan tujuh jenis layanan dan lima k egiatan pendukung bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam pendidi kan nasional. Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional saat ini terdapat tujuh jenis layanan dan lima kegiatan pendukung. Untuk lebih jelasnya. pergaulan. pendidikan lanjutan). 2. kedua jeni s layanan ini belum dijadikan sebagai kebijakan formal dalam sistem pendidikan. jurusan/program studi. Para ahli bimbingan di Indonesia saat ini sudah mulai meluncurkan dua je nis layanan baru yaitu layanan konsultasi dan layanan mediasi. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru i tu.

Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman da n Pengembangan 7. Layanan Penempatan dan Penyaluran berf ungsi untuk pengembangan.bakat. merupakan layanan yang memungkinan sejumlah pesert a didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan memba has pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan ke mampuan sosial. Apl ikasi Instrumentasi Data. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengenta skan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. b. terdapat lima jenis kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. komprehensif. Kegiatan Pendukung Bimbingan dan Konseling U ntuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukak an di atas. Layanan Konseling Perorangan. sistem atik. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. yaitu : 1. 5. Himpunan Data. yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen. 2. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan da n pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. baik tes maupun non tes. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembang an kemampuan sosial. terpadu dan sifatnya tertutup. merupakan kegiatan u ntuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengem bangan peserta didik. dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristikn ya dan memahami karakteristik lingkungan. Tujuan layanan kons eling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihad apinya. . Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Layanan Konseling Kelompok. tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainn ya. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan perm asalahan pribadi melalui dinamika kelompok. minat dan segenap potensi lainnya. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu me lalui dinamika kelompok. merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keteran gan tentang peserta didik. 6 . kiranya perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung Dalam hal ini . Layanan Bimbingan Kelompok.

Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling Secara umum. dokter serta ahli lainnya. 4. merupakan kegiatan untuk memperoleh data. Alih Tangan Kasus. Kunjungan Rumah. ke mudahan. Identifikasi kasus. Konferensi Kasus. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan. prosedur bimbingan dan konseling dapat ditempuh melalui prosedur seperti tampak dalam bagan beriku t : Datang Sendiri/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari In formasi yang Ada/Dicari Identifikasi Kasus Identifikasi Masalah Diagnosis Prognosis Remedial/Referal Eva luasi/Follow Up a. melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik sec ara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. yakni : 1. Call them approach. dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kun jungan rumah klien. merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didi k dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan ket erangan. dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarg a untuk mengentaskan permasalahan klien. 4.3. 5. merupakan kegiata n untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalaha n yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebi h kompeten. merupakan upaya untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. Pertemua n konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. . kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makm un (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi p eserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih ko mpeten. Tujuan konferensi kasus adala h untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan kli en. keterangan.

misalnya melalui kegiatan ekstra kuri kuler. penuh keakraban s ehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik . c. 4. Instrumen ini sangat membant u untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik. (2) diri pribadi. (2) struktural – fungsional. dan atau (4) personality. langkah ini merupakan upaya untuk memaha mi jenis. menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta did ik akan masalah yang dihadapinya. faktor yang b esumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar peserta didik. (4) ekonomi d an keuangan. (9) keadaan dan hubungan keluarga. dan (2) faktor eksternal. d. Identifikasi Masalah. seperti : kondisi jasmani dan kesehatan. kecerdasan. emosi. 3. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pad a hubungan kegiatan belajar mengajar saja. nilai dan moral. de ngan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan peny esuaian sosial b. Burton mem bagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik. dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupay akan berbagai tindak lanjutnya. seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan. lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. (3) behavioral . Prayit no dkk. seperti tes inteligens i. sikap serta kondisi-kondisi p sikis lainnya. menciptakan hubungan yang baik. Maintain good relationship. Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan . Melakukan analisis sosiometris. Developing a desire for counseling. 5. b isa dilihat dari segi input.2. upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. Melakukan analisis terhadap hasil belajar pes erta didik.H. dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). seperti : lingkungan rumah. ataupun out put belajarnya. (8) hubungan muda-mudi. Prognosis. proses. Untuk mengidentifikasi masalah peserta didik. permasalahan peserta didik dapat berkenaan de ngan aspek : (1) substansial – material. (3) hubungan sosial. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan pese rta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes. Diagnosis. dan (10) waktu senggang. rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. kepribadian. dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kega galan belajar yang dihadapi peserta didik. bakat. (6) pendidikan dan pelajaran. (7) agama. langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahan nya. yaitu : (1) faktor internal. karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. W. tes bakat. (5) karier dan pekerjaan. Dala m konteks Proses Belajar Mengajar.

Sementara itu. 2. Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu : 1. Namun. sesuai dengan dasar pertimbang an dan keputusan yang telah diambilnya. yaitu apabila: 1. Peserta didik telah menurun penentan gan terhadap lingkungannya 6. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling. Evaluas i dan Follow Up. evaluasi atas usaha pemecahan masal ah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut. 2. Rencana kegiatan yang ak an dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewu judkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus). 4. de ngan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani k asus . jika j enis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembel ajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pem bimbing. f. jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbi ng sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten. Peserta didik telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perba ikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. 5.kasus yang dihadapi. Pese rta didik telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. 3. mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan r asional. Proses mengambil keput usan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus. Perasaan positif sebagai dampak dari p roses dan materi yang dibawakan melalui layanan. Peserta didik telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. dan 3. e. Peserta didik telah menurun keteg angan emosinya (emotion stress release). Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas. Peserta didik mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan. pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimb ing itu sendiri. Pese rta didik telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan ma salahnya secara obyektif (self acceptance). . 7. untuk melihat seberapa penga ruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik.menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. cara manapun yang ditempuh. Ro binson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari k eberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan.

namun perlu diingat bahwa tidak semua masalah peserta didik harus ditangani oleh Guru Pembimbing (ko nselor). Masalah (kasus) ringan. Karena layanan yang sa tu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. bertengkar. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah b erserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. c. dengan perbuatan menyimpang. memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebi h dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan . dengan berkonsultasi dengan kepala seko lah. b. Kasus berat dilaku kan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. pelaku kriminalitas. karena gangguan di keluarga. Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah Bimbingan terhadap peserta didik bermasalah tetap menjadi perhatian bimbingan dan konseling. 6. Sofyan S. Kasus ringan dibimbing oleh wali kel as dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing ) dan mengadakan kunjungan rumah. berkelahi dengan teman sekolah. Dapat pula mengadakan konfer ensi kasus. Proses Konseling dan Teknik-Teknik Konseling Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. mencuri kelas ringan. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kas us. minum minuman keras tahap pertengah an. percobaan b unuh diri. berpacaran. berpacaran. malas. kes ulitan belajar. Oleh karena itu. kecand uan alkohol dan narkotika. Masalah (kasus) sedang. sebagaimana dalam bagan berikut : Ringan Masalah peserta didik Sedang Berat Semua Guru/Wali Kelas Guru Pembimbing Alih Tangan Kasus a. Dalam hal ini.5. guru dan sebagainya. Kasus sedang di bimbing oleh guru pembimbing (konselor). kesulitan belajar pada bid ang tertentu. minum minuman keras ta hap awal. polisi. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik . ahli/profesional. peserta didik hamil. dokter. Dalam prakteknya. tampaknya untuk lay anan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. seperti : membolos. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. mencuri kelas sedang. berkelahi antar sekolah. melakukan gangguan sosial dan asusila. seperti : gangguan emosional berat. perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. poli si. seperti : gangguan emosional. Masalah (kasus) berat.

kesukarelaan. Menjelajahi dan mengeksp lorasi masalah klien lebih dalam. Membuat penaksiran dan perjajagan Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. Taha p Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. 3. c. dan (3) tahap akh ir (tahap perubahan dan tindakan). diantaranya : a. Kontrak kerja sama dalam proses konseling. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama a ntara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. proses konseli ng selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. Kunci keberhasilan m embangun hubungan terletak pada terpenuhinya asasasas bimbingan dan konseling. Kontrak tugas. Menegosiasikan kontrak Membangun per janjian antara konselor dengan klien. diantaranya : a. 2 . . yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. 2. maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. Pada tahap ini terda pat beberapa hal yang harus dilakukan. t erutama asas kerahasiaan. Proses Konseli ng Secara umum. berisi : 1. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. keterbukaan.konseling. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. d. 1. dan kegiatan. Me mbangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). Memperjela s dan mendefinisikan masalah. yaitu berapa la ma waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. dan menentukan berbagai alterna tif yang sesuai bagi antisipasi masalah. Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masa lah klien. b. (2) tahap inti (tahap kerja). sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pen gentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. Kontrak waktu. a.

d. d. b. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. Adanya rencana hidup masa yang akan datang deng an program yang jelas. b. 2. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik kons eling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. baik oleh pihak konselor maupun klien. Konselor melakukan reassessment (p enilaian kembali). serta menampakan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. Menyusun rencana tindakan yang a kan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. Pemahaman baru dari klien t entang masalah yang dihadapinya. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. yaitu : a. Hal ini bisa terj adi jika : 1. Teknik-Teknik Konseling Dalam konseling perorangan terdapat dua jenis teknik yang biasa dilakukan. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. c. Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konse ling. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian sege ra). 3. Menurunnya kecemasan klien Perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. c. ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. sehat dan dinamis. b.Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. Tahap Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terd apat beberapa hal yang perlu dilakukan. Teknik U mum Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapantah apan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh kon selor. diantaranya : . c. a. yaitu . bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadap i klien. Konselor bersama klien membua t kesimpulan mengenai hasil proses konseling b. 1. Untuk lebih jelasnya. yaitu : (1) teknik umum dan (2) teknik khusus.

ceria. senyum 3. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. yaitu bentuk empati yang hanya berusah a memahami perasaan. 5. perhatian terarah pada lawan bicara. menunggu ucapan klien hingga selesai. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. Per hatian : terpecah. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. Terdapat du a macam empati. Contoh ungkapan empati primer : . bersandar. Perilaku at tending yang baik dapat : 1. mengalihkan pandangan. duduk akrab berhadapan atau berdamping an. Empati primer. miring. jarak antara konselor dengan klien agak dekat. Menciptakan suasa na yang aman 3. mata melotot. Mendengar kan : aktif penuh perhatian. 4. jarak duduk dengan klien menjauh. 3. tidak melihat saat klien sedang bicara. b. ekspresi melamun. berbicara terus tan pa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. Kepala : kaku 2. Contoh perilak u attending yang baik : 1. menggunakan tangan sebagai isyarat. Posisi tubuh : tegak kaku. Empati Empati ialah kemamp uan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien. mudah buyar oleh gangguan luar. Muka : kaku. 5. diam (menanti saat kesempatan bereaksi). merasa dan berfikir bersa ma klien dan bukan untuk atau tentang klien. Meningkatkan harga diri klien. Empati dilakukan sejalan dengan per ilaku attending. Memutuskan pembicaraan.a. Ekspresi w ajah : tenang. 4. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. bahasa tubuh. 2. duduk kurang akrab dan berpaling. Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. dan bahasa lisan. Kepala : melakukan anggukan jika setuju 2. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. Contoh perilaku attending yang tidak baik : 1. yaitu : a. dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka. pikiran dan keinginan klien.

” 2. yaitu teknik untuk memantulkan pengalamanpengalaman klien seba gai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien...” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”. ..(kiasan)” ” Adakah yang Anda maksudkan. yaitu empati apabila kepaha man konselor terhadap perasaan. Keiku tan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam. yaitu teknik u ntuk memantulkan ide.. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentan g perasaan. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”. Ref leksi pengalaman.. ” Sa ya mengerti keinginan Anda”. pikiran. pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih m endalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. Terdapat tiga jenis refleksi.. Empati tingkat tinggi. b.... c. yaitu : 1. dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terha dap perilaku verbal dan non verbal klien.. pikiran.” ” Barangkali Anda merasa.. pikiran. yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebag ai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien.” 3. berupa perasaan.” ” Hal itu rupanya sep erti .” ” Adakah yang Anda maksudkan.. dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”. Refleksi peras aan.” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah. pengalaman termasuk penderitaanny a. .. Contoh : ” Tamp aknya yang Anda katakan adalah . Refleksi pikiran. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : ”Saya dapat merasakan apa yang Anda ras akan.. dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku v erbal dan non verbalnya..

.” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah. Eksplorasi peras aan. pikiran. yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan..” d. mengungkapkan kalim at yang mudah dan sederhana. Dapatkah Anda menguraikannya lebih lanjut ? 3.. terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi..Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut. atau tidak m ampu mengemukakan pendapatnya. Contoh : ” B isakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan .. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangka p Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien.” ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam. yaitu : 1. menutup diri. Seperti halnya pada teknik re fleksi. Eksplorasi pi kiran. Contoh : ” Sa ya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bek erja” ” Saya kira pendapat Anda mengenai hal itu baik. biasanya ditandai .. pikiran. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan. dan pengalaman klien. yaitu teknik untuk menggali ide. Hal ini penting d ilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin. Eksplorasi pengalaman.. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ?” 2.” ” Adakah yang Anda maksudkan peristiwa.. Contoh : ” Saya terkesan dengan pengalaman yan g Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut da n pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” e. tertekan dan terancam.. dan pendapat klien. yaitu keterampilan atau teknik untuk me nggali pengalaman-pengalaman klien.

(3) mem beri arah wawancara konseling. yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-ka ta singkat. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan perta nyaan tertutup. Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” ” Bagaimana perasaan Anda saat ini ?” ” Dapatkah Anda mengemukakan hal itu lebih lanju t ?” g. Pertanyaan yang d iajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya.” Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk meman cing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada kli en bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan kli en. dapatkah. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus m enggunakan pertanyaan terbuka. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatk an prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”. pengalaman dan pemikiranny a dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). Oleh karenanya. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tent ang apa yang dikemukakan klien. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-s ebabnya. : ” Empat ” : ” Sekarang berapa ” Konselor Klien Konselor . dan mengamati respons klien terhada p konselor. Pertan yaan semacam ini akan menyulitkan klien. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. : ” Itu suatu pe kerjaan yang baik. lebih baik gunakan kata tanya apakah. bagaimana. akan tetapi saya tidak mengambilnya.dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan . dan (3) menghentikan pembicaraan klien yan g melantur atau menyimpang jauh. adakah . : ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”. Contoh dialog : Klien Konselor f. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” : ” Tampaknya Anda masih ragu. (2) m enjernihkan atau memperjelas sesuatu.

.. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melaku kan sesuatu. ya. . Membantu orang tua memang harus. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan me ngurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien..Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh....” Konselor i.... Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan.” Konselor Klien : ” nekad bunuh diri” : ” lalu.. Karena tantangan masa depan makin banyak. Terutama hi dup di kota besar seperti Anda. bukan pandangan subyektif konselor. Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemuk akan klien..” : ” Pendidikan t ingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara.dan..... . karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya. dengan tujuan untuk me mberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dar i hasil rujukan baru tersebut. ” (klien menghentika n pembicaraan) : ” ya. maka d ibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau me nghayalkan sesuatu. Konselor j.. perasaan dan pengalaman klien dengan meru juk pada teori-teori.. n amun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalka n SMA”. Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhent i sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga.. lalu.. terus.. Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran. dan saya nyaris..Klien : ” Sebelas ” h..

Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan.” : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pemb icaraan secara bertahap. namun masih ada hambatan yang akan hadapi. kita sudah sampai pada dua hal: pertama. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” m. Oleh karena itu. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. Ak hirnya terjadi pertengkaran sengit. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembi caraan. konselor seyogyanya dap at membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. (3) meningkatkan kualitas diskusi. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . kedua. (4) mempertajam foku s pada wawancara konseling. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. Saya tak dapat lagi menahan diri.” Konselor k. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan A nda segera menyelesaikan studi. Tujuan menyimpulkan semen tara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan. baga imana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda. Tapi bagaimana ya?” masalah : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alan gkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita.Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementar a pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. Misalnya den gan mengatakan : . klien akan mengungkapkan sejumla h permasalahan yang sedang dihadapinya. C ontoh dialog : Klien Konselor :” Saya mungkin berfikir juga tentang hubungan denga n pacar.” l. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntuta n dari perusahaan yang akan Anda masuki. Pada umumnya dalam wawancara konseling.

Konfrontasi Yaitu t eknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan d engan perbuatan atau bahasa badan. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan pe nelitian diri secara jujur. Co ntoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri o leh kaum wanita. konflik. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? P ikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. di antaranya : 1. (2) meningkatkan potensi klien. Fokus pada topik. Fokus pada diri klien. Contoh dialog : Klien : ” Saya baik-baik saja”. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki.” . telah membuat kamu menderita. ” Tampaknya Anda berjuang sendirian” 2. posisi tubuh gelisah). (suara rendah. Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. Fokus mengenai budaya. Fokus pada orang lain. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. Ada beberapa yang dapat dilakukan. Co ntoh : ” Roni. Contoh : ” Tanti.” n. Peng gunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. wa jah murung. 4.(2) tidak menilai apalagi menyalahkan. senyum dengan kepedihan. (3) membawa klien ke pada kesadaran adanya diskrepansi. yaitu dengan : (1) membe ri komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yan g tepat. (3) dilakukan dengan perilaku att ending dan empati. dan sebagainya.” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan A nda dengan orang tua yang kurang harmonis ”. atau kontradiksi dalam dirinya. ide awal dengan ide berikutnya.

Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir. mengulang da n mengilustrasikan perasaannya. dan penga lamannya secara bebas Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya.harus bagaimana.” q. :”. tidak tahu. Diam Teknik diam dilakukan deng an cara attending.. Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” :”..” Konselor p. dan dengan alasan-alasan yang logis. (2) sev agai protes jika klien ngomong berbelit-belit..... Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar.. Saya... Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pem impin di rumah itu. Tujuannya adalah : (1) mengu ndang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas. ucapan dengan o. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya.Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja. Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi d i keluarga saya membuat saya bingung.. tapi kelihatannya ada yang tidak beres” ”Saya melih at ada perbedaan antara kenyataan diri ”...” (diam) Konselor r... pikiran. komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal. ibu.... Mengambil Inisiatif ... Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien de ngan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan... atau saudara-saudara Anda.. (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara.... paling lama 5 – 10 detik.. kurang jelas dan agak meragukan. ungkapan kata-kata yang tega s..” : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah.. (2) agar klien menjelaskan..” (diam) Konselor Klien :” Saya...

saya pikir Anda mempunyai s atu keputusan namun masih belum keluar. dan kurang parisipatif. terutama mengenai kecemasan. sering d iam. Contoh respons konselor terhadap pe rmintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab. dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya . Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam me nuntaskan diskusi. Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembic araan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini. sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www.com di internet”. konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nase hat atau tidak. Kalau pu n konselor mengetahuinya. (3) pemahaman baru . apakah tidak lebih b aik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” v. (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan.Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara. jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat. Coba Anda renungkan kembali”. Walaupun dem ikian. Contoh : ” Nah.” t. s. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia.upi. Contoh: ” Baiklah. (2) memantapkan rencana klien. p erbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir ses i konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action). u. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling y akni kemandirian klien harus tetap tercapai. Memberi N asehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kur ang semangat.

dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. kesulitan menyata kan tidak. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. d. dan ia menyertakan respon yang b erlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. dalam hal-hal te rtentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus.klien. Teknik-Teknik Khu sus Dalam konseling. 2. Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. yaitu : a. Jadi desensitisasi sistematis hakekatn ya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperku at secara negatif biasanya merupakan kecemasan. seperti pendekatan Behaviorisme. dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutny a. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengaj arkan klien untuk rileks. jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan. c. Stimulus yang tidak menyenangkan yan g disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang t idak dikehendaki kemunculannya. Dalam hal ini k onselor . Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disen anginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilak u baru pada klien. Ration al Emotive Theraphy. Teknik-teknik khusus ini dikemban gkan dari berbagai pendekatan konseling. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya a dalah layak atau benar. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikeh endaki dapat dihilangkan secara bertahap. di samping menggunakan teknik-teknik umum. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. b. Diskusi-diskusi kelomp ok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang d iperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku y ang akan dihilangkan.

Misalnya : “Saya merasa jenuh. Bermain Proyeksi P royeksi : . Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. dapat menggunakan model audio. 2. e. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya kl ien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resik o. Melalui dialog yang kontradiktif ini. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien ak an perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. Kecenderungan otonom lawan kecende rungan tergantung. g. Kecend erungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”. misalnya : 1. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan u ntuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada me mproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. Kecenderungan orang tua lawan kecenderun gan anak. model fisik. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh..dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. Permainan Dial og Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kec enderungan yang saling bertentangan. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh.. 5. “Saya malas. f. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “ku rsi kosong”. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu a pa yang harus saya katakan sekarang. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampakny a mekanis. Dalam teknik ini konselor memint a klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pern yataan itu dengan kalimat : “. 3. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari k onselor.menunjukkan kepada klien tentang perilaku model. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderung an under dog. dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahu an itu”. 4.

Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku t ertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mend asarinya. perasaan-perasaan yang dipantulkan k epada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perila ku yang diharapkan.Memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau m elihat atau menerimanya Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memant ulkannya kepada orang lain. membiasaka n diri. Home work assigments. Misalnya : konselor member i kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu ya ng berlebihan. i. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klie n yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sa ngat ingin menghindarinya. Sering terjadi. Dalam teknik bermain proyek si konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang di proyeksikan kepada orang lain. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenang kan. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakuta n atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk men yelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu . Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. klien diharapkan dapat me ngurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional da n tidak logis. Dengan tugas rumah yang diberikan. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang le bih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. T eknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah a spek-aspek . j. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang ber kebalikan dengan perasaanperasaan yang dikeluhkannya. h.

pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. keluarga dan masyarakat. Bimbi ngan dan konseling merupakan proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah. bimbingan belajar. baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal. D. c. Latihan : Soal : 1. dan bimbingan karier . Di bawah ini merupakan pengertian bimbingan dan konseling. kecuali : a.kognisinya yang keliru. b. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tert entu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif . k. Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. m. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus meny esuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. mendorong. . Bimbingan dan konseling meru pakan upaya untuk membantu mengatasi masalahmasalah yang dihadapi peserta didik. m engenal lingkungan. l. da lam bimbingan pribadi. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. d. kepercayaan pad a diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. Teknik ini dimaksu dkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. Bimbingan dan konseling merupakan layanan bantuan untuk peserta didik. Bimbingan dan konseling merupak an bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian r upa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui pera n tertentu. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas ya ng diberikan. bimbingan sosial. dan merencanakan masa depan.

2. b. alih tangan kasus. Program bimbingan dan konseling h arus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan. suku. Bimbingan dan konseling merupakan pekerjaan ilmiah. je nis kelamin. kemandirian. agama dan status sosial. a. Pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas kemauan diri sen diri b. . d. b. d. keahlian kegiatan. c. b. keterbukaan. b. b. d. Jenis layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tat ap muka untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan diriny a. setiap l ayanan yang diberikan kepada peserta didik hendaknya didukung oleh : a. kek inian. d. Mencari cara yang terbaik g una menyelamatkan kepentingan dan nama baik klien maupun sekolah. Tujuan dilaksanakan kegiatan konferensi kasus. b. berdasarkan norma-norma y ang berlaku. a. d. Di bawah ini merupakan beberapa asas yang harus dipenuhi dalam layanan bimbingan dan konseling. 6. kerahasiaan. b. b. d. Pemahaman dan pencegahan Pengembangan Advokasi Pengentasan 3. Memperoleh keterangan yang lebih lengkap tentang klien dan membangun komitmen dari para pes erta konferensi dalam rangka pengentasan masalah klien. tut wuri handay ani a. c. Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang usia. Prinsip bimbingan dan konseling berkenaan dengan sasaran layanan a.melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. kedinamisan. Orientasi Informasi Konseling Perorangan Pembelajaran 7. Oleh karena itu. dan c benar Orientasi dan Informasi Konseling Perorangan dan Konseling Kelompok Pembelajaran dan Bimbingan Kelompok Penempatan 5. a. c. c. dan c benar 8. c. keterpaduan kenormatifan. c. sukarela. Bimbingan dan konseling diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri. Layanan bimbingan dan konseling yang memiliki fungsi pemahaman dan pencegahan . Petugas bimbingan yang profesional Data yang lengkap dan memadai Bekerja sama d engan kalangan profesional lainnya a. a. Fungsi bimbingan dan konseling yang menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hak-hak dan/atau kepentingan pendidikan. 4. a.

c.c. Membangun komitmen dari para peserta konferensi dalam rangka disiplin sekolah . c. Guru pembimbing/konselor Guru dan wali kelas Polisi a. b. ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendala m. d.” b. Menjelajahi dan mengeksplorasi mas alah klien lebih. Di bawah ini merupakan hal-hal yang perlu dilakukan pada tahap awal konselin g. b. Imitasi b. apabila kasus yang dita ngani berada diluar kemampuan atau kewenangannya. a. a. b. a. Penanganan peserta didik yang menunjukkan permasalahan atau perilaku menyimp ang tingkat ringan. berkelahi dengan teman. c. dapat dilakukan oleh : a. c. ”Anda mengatakan baik-baik saja. ta pi kelihatannya ada yang tidak beres”. b dan c ben ar 11. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). Membuat penaksiran dan perjajagan 13. a. c. ”Saya dapat memahami pikiran Anda”. karena s aya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. c. Permainan dialog . d. d. b. Identifikasi kasus Diagnosis Prognosis Treatment 12. dan c benar penegakan 9. Upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timb ulnya masalah peserta didik. 14. Contoh ungkapan pengg unaan teknik konfrontasi : a. a. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. kecuali a. Kegiatan pendukung yang dilakukan guru atau konselor. Aversi Desensitisasi Latihan asertif Pembentukan Perilaku Model 15. Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanp erasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingg a klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. seperti bolos. Teknik konseling dengan menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. b. Kunjungan rumah Ko nferensi kasus Alih tangan kasus Aplikasi instrumentasi data 10. ”Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. d. d. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ? ” d. b. d.

c. Bermain peran d. Home work assigments Uraian 1. Jelaskan orientasi baru bimbi ngan dan konseling ! 2. Jelaskan peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran da lam Bimbingan dan Konseling ! 3. Mengapa guru pembimbing (konselor) perlu menjag a kerahasiaan data klien ? 4. Analisis Kasus : Fulan seorang siswa kelas XI SMA Negeri 1 Nunjauh Disana. Ketika dia masih duduk di bangku kelas VIII SMP, dia te lah menjadi anak yatim dan semenjak itu dia hidup bersama dengan kakek-neneknya, dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Sementara itu, sang ibu sudah satu tahun ini pergi merantau ke Malaysia menjadi TKI di sana namun jarang memberi khabar apalagi memberi kiriman uang untuk anaknya. Berdasarkan catatan absensi yang ada di wali kelas, pada semester yang lalu dia sering tidak masuk sekolah, tanpa al asan yang jelas. Selama bulan Februari 2006, tercatat sudah tujuh hari dia tidak masuk kelas. Padahal ketika masih duduk di kelas X kehadirannya termasuk bagus. Berdasarkan informasi dari rekan sekelasnya, bahwa jika dia tidak masuk kelas, dia suka nongkrong di terminal. Bahkan Andi, kawan sekelasnya, pernah menyaksika n dia dalam keadaan teler di terminal dan sempat meminta paksa uang kepadanya. D alam buku Laporan Pendidikan semester yang lalu, prestasi belajarnya sungguh san gat tidak memuaskan, hampir terjadi pada semua mata pelajaran, kecuali untuk Mat a Pelajaran Kesenian, prestasinya malah jauh berada di atas kawan-kawannya. Keti ka dia masih duduk dibangku SD, dia pernah meraih predikat sebagai Siswa Berpres tasi seKecamatan Nunjauh Disana dan pernah menjadi Juara Pertama Lomba Nyanyi An akAnak se- Kabupaten Nun Jauh Disana. Melihat kondisi demikian, jika dibiarkan t entunya Fulan sangat beresiko tinggi untuk tidak naik kelas bahkan mungkin dikel uarkan dari sekolah. Tugas : Tuntaskan kasus tersebut di atas dengan memperhatik an dan menggunakan prinsipprinsip dan prosedur bimbingan dan konseling !

DAFTAR PUSTAKA Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Rem aja. Calvin S. Hall & Gardner Lidzey (editor A. Supratiknya). 2005. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Chaplin, J.P. (terj. Kartini Kartono ).2005. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : P.T. Raja Grafindo Persada. Depdiknas , 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkata n Tenaga Akdemik Dirjen Dikti --------- 2003. Pedoman Penyelenggaraaan Program P ercepatan Belajar SD, SMP dan SMA. Jakarta : Dirjen Dikdasmen. E. Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep,Karakteristik dan Implementasi.Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya. ---------. 2004. Implementasi Kurikulum 2004; Panduan Pe mbelajaran KBK. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya. Gendler, Margaret E..1992. Lea rning & Instruction; Theory Into Practice. Publishing. New York : McMillan H.M. Arifin. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta. PT Golden Tera yon Press. Hurlock, Elizabeth B. 1980. Developmental Phsychology. New Yuork : Mc Graw-Hill Book Company Moh. Surya. 1997. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung PPB - IKIP Bandung. Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : PT Raja Grafindo. Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendid ikan. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya. National Board for Professional Teaching Standards. 2002 . Five Core Propositions. NBPTS Home Page. <http://www.nbpts.or g/ standards/fivecore.html>. (Accessed, 31 Oct 2002). Prayitno, dkk. 2004. Pedom an Khusus Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdiknas. ----------, dkk. 2004. P anduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Rineka Cipta.

Sofyan S. Willis. 2004.Konseling Individual; Teori dan Praktek. Bandung : Alfabe ta Sudarwan Danim. 2002. Inovasi Pendidikan : Dalam Upaya Meningkatkan Profesion alisme Tenaga Kependidikan. Bandung : Pustaka Setia. Sugiharto.(2005. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Jakarta : PPPG Sumadi Suryabrata. 1984. Psikologi Ke pribadian. Jakarta : Rajawali. Sunaryo Kartadinata.2003. Inventori Tugas Perkemb angan. Bandung : Lab. PPB-UPI Bandung Suyanto dan Djihad Hisyam. 2000. Refleksi dan Reformasi Pendidikan Indonesia Memasuki Millenium III. Yogyakarta : Adi Cita . Syamsu Yusuf LN. 2003. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.. Bandung : PT R osda Karya Remaja. www.puskur.go.id.