POKOK – POKOK MATERI PERKULIAHAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Arwin Zoelfatas BAB I PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN PERILAKU A. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini, diharapkan Anda dapat : 1. Mendefinisik an psikologi dan psikologi pendidikan 2. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan in dividu, indikator-indikator motivasi, bentukbentuk konflik, bentuk-bentuk perila ku salah-suai dan taksonomi perilaku individu. 3. Menjelaskan psikologi pendidik an sebagai ilmu, arti penting psikologi pendidikan bagi guru, peranan dan pengar uh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku individu. 4. Mengurai kan mekanisme pembentukan perilaku menurut pandangan behaviorisme dan holistik. B. Pokok Bahasan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan. 2. Perilaku Individu. 3. Ta ksonomi Perilaku Individu. 4. Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan Perilaku da n Pribadi Individu. C. Intisari Bacaan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup , dan “logos” atau ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut seolah-olah psikologi merup akan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu pada s alah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat ji ka kita mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tenta ng jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diam ati secara langsung. Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mung kin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dala m bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demik ian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tenta ng perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Psikologi terbagi ke dalam dua bagian yaitu psikologi umum (general phsychology) yang mengkaji per ilaku pada umumnya dan psikologi khusus yang mengkaji perilaku individu dalam si tuasi khusus, diantaranya :

Psikologi Perkembangan; mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perk embangan mulai dari masa konsepsi sampai dengan akhir hayat. Psikologi Kepribadi an; mengkaji perilaku individu khusus dilihat dari aspek – aspek kepribadiannya. P sikologi Klinis; mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan (klinis) Psikologi Abnormal; mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal. Psikolo gi Industri; mengkaji perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia industri. P sikologi Pendidikan; mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan Disampi ng jenis – jenis psikologi yang disebutkan di atas, masih terdapat berbagai jenis psikologi lainnya, bahkan sangat mungkin ke depannya akan semakin terus berkemba ng, sejalan dengan perkembangan kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks. Psi kologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah mem iliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni : Ontologis; obyek dari psikologi p endidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, oran g tua peserta didik dan masyarakat pendidikan. Epistemologis; teori-teori, konse p-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdas arkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross se ctional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif. Aksiol ogis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapa ian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan. Dengan demikian, psikologi pend idikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus me ngkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk me nemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapai an efektivitas proses pendidikan. Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari p sikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pen didikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Prose s Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupak an beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya membutuhkan psikolo gi. Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang di dalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik, adminsitrator, masyarakat dan orang tua pes erta didik. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efekti f dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogya nya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilak unya secara efektif.

Di bawah ini akan diuraikan mekanisme pembentukan p erilaku dilihat dari kedua pendekatan tersebut dengan merujuk pada tulisan Abin Syamsuddin Makmun (2003). Untuk memahami perilaku individu dapat dilihat dari dua pendekatan. (d) memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling kepada peserta didiknya. Di sinilah arti penting Psikolog i Pendidikan. yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyat a bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. pendidik dan pelatih bagi pa ra peserta didiknya. pengelolaan kelas. (b) memilih strategi atau metode pembelajaran. pembimbingan serta berbagai kegiatan pendidikan lainnya. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bah wa diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adal ah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar menga jar peserta didik. .--terutama peri laku peserta didik dengan segala aspeknya--. baik untuk kepentingan pembelajaran. a.Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing. seorang guru melalui pertimb angan-pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat : (a) merumuskan tujuan pembel ajaran. dan (i) dapat me ngadministrasikan pembelajaran secara efektif dan efisien. dengan memahami psikologi pendidikan. (c) memilih alat bantu da n media pembelajaran yang tepat. (f) menciptakan iklim belajar yang kondusif. agar perilaku peserta didi k dapat berkembang optimal. Selain itu. Dalam hal ini. (e) memfasilitasi dan memotivasi belajar pes erta didik. tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya. (h) menilai hasil pembelajaran. 2. sehingga dapat menjalankan tugas da n perannya secara efektif. Abin Syamsuddin Makm un (2003) menyebutkan bahwa tugas guru antara lain sebagai pengubah perilaku pes erta didik (behavioral changes). yaitu: (1) behaviorisme dan (2) holistik atau humanisme. dengan me mahami Psikologi Pendidikan para guru juga dapat memahami dan mengembangkan diri -pribadinya untuk menjadi seorang guru yang efektif dan patut diteladani. (g) berinteraksi secara bijak dengan peserta didiknya. tentu saja seorang guru seyogyanya dapat memahami te ntang bagaimana proses dan mekanisme terbentuknya perilaku para peserta didiknya . Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Behav iorisme Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melal ui proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau me nciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan. Perilaku Individu Salah satu tugas utama guru adalah berus aha mengembangkan perilaku peserta didiknya. yakni kompetensi pedagogik. Pengua saan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang haru s dikuasai guru. Ke dua pendekatan ini memiliki implikasi yang luas terhadap proses pendidikan. yang salin g bertolak belakang. Oleh karena itu itu.

Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga d itujukan kepadanya. dan cuaca mendung merupakan lingkungan (W ).Behaviorisme menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya perilaku in dividu dapat digambarkan dalam bagan berikut : S R atau S O R S = stimulus (rangsangan). secara spontan mahasiswa tersebut mengipasngipaskan buku untuk meredam kegerahannya. Ruan gan kelas yang gelap. R = Respons (perilaku. aktivitas) dan O=organisme (in dividu/manusia). waktu sore hari. -- . ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow). (2) Lingkungan efektif (umwelt=segala sesu atu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga me nimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia meresponsnya) Perilaku y ang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan peri laku spontan. Contoh : seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa panas. sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan. seca ra spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan respons (R) yang dilakukan mahas iswa. Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W) setelah mengipas-ngipaskan buku. maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini : W S O R W Yang dimaksud dengan lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua je nis yaitu : (1) Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu da n secara potensial dapat melahirkan S). a da seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di ruangan kelas. Ruangan kelas yang panas mer upakan lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S) bagi mahasiswa tersebut (O). Sedangkan perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut: W S Ow R W Contoh : ketika sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kel as yang terasa agak gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung.

.

yang berarti aspek-aspek intrinsik (niat. Sebenarnya. how (bagaimana). baik bersumber dari diri indiv idu itu sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (m otivasi ekstrinsik). tekad) dari dalam d iri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku. b. tangan men ekan saklar lampu merupakan effector. bagan di atas dapat dijelaskan bahw a mahasiswa yang sadar (Ow) mungkin merasakan penglihatannya (receptor) menjadi tidak jelas. dapat dijelaskan dalam bagan berikut : Kebutuhan dirasakan (felt needs) Dorongan (motivation) Aktivitas yang dilakukan (Instrumental behavior) Tujuan dihayati (goals/ incentive) .meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak meny adari terhadap keadaan sekelilingnya--. suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyama n dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W). What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/ purpose) a pa yang hendak dicapai dengan perilaku itu. masih ada dua unsur pen ting lainnya dalam diri setiap individu yang mempengaruhi efektivitas mekanisme proses perilaku yaitu receptors (panca indera sebagai alat penerima stimulus) da n effectors (syaraf. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Holistik (Humanisme) Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan. mengucapkan minta izin kepada dosen. Sele ngkapnya mekanisme perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut : Ow W S r e R W Dengan mengambil contoh perilaku sadar tadi. dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa yang sada r tersebut (R). meminta ijin ke dosen . Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggera kan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how). Holistik atau humanisme menjelas kan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa). Secara skematik rangkaian. Me nggerakkan kaki menuju ke depan. sehingga tulisan dosen di papan tulis tidak terbaca dengan baik. meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan. proses dan mekanisme terjadinya perilaku menurut pandangan Holistik. motif. berjalan ke depan. dan w hy (mengapa). otot dan sebagainya yang merupakan pelaksana gerak R). How (bagaimana) menunjukkan kepada j enis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose). yakni perilakuny a itu sendiri.

yaitu kebutuhan untuk berkompetisi. Jika kebutuhan yang serupa muncul kembali maka po la mekanisme perilaku itu akan dilakukan pengulangan (sterotype behavior). tidak dalam arti fisi k. (2) kebutuhan keamanan. akan merasakan adanya kekurangan-kekurangan atau kebutu han-kebutuhan tertentu dalam dirinya. Stranger (Nana Syaodih Sukmadinata. organisasi ataupun p ersahabatan. demi mempertahankan kelangsungan dan meningk atkan kualitas hidupnya. Tingkatan kebutuhan tersebut dapat diragakan seperti tampak dalam gambar beri kut ini : SELF ACTUALIZATION ESTEEM NEEDS LOVE NEEDS SAFETY NEEDS PHYSIOLOGICAL NEEDS Sementara itu. Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motiva si) yang merupakan kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat pe rsistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu aktivitas.Berdasarkan bagan di atas tampak bahwa terjadinya perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan. yang dapat digambarkan sebagai berikut : Motif Rasa puas atau kecewa Perilaku Instrumental Tujuan . (4) kebutuhan prestise atau harga diri. psikologikal dan intelektual. (3) kebutuhan kasih sa yang atau penerimaan. (3) Kebutuhan untuk membentuk ikatan (need for affiliation). Maslow mengungkapkan jenisjenis kebutuhan-individu secara hierarkis. se perti : sandang. sehin gga membentuk suatu siklus. akan tetapi juga mental. baik yang bersum ber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar i ndividu (motivasi ekstrinsik). yaitu: (1) Kebutuhan berprestasi (need for achievement). yaitu kebutu han untuk mengikat diri dalam kelompok. yaitu kebutuhan untuk mencari dan memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang lain. Setiap individu. pangan dan papan. (2) Kebutuhan berkuasa (need for power).2005) mengetengahkan empat jen is kebutuhan individu. Dalam hal ini. yaitu: (1) kebutuhan fisiologikal. yait u kebutuhan untuk menghindar diri dari kegagalan atau sesuatu yang menghambat pe rkembangannya. dan (5) kebutuhan aktualisasi dir i. (4) Kebutuhan takut akan kegagalan (need for fear of failure). baik dengan dirinya atau dengan orang lain d alam mencapai prestasi yang tertinggi. membentuk keluarga. yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status.

konformitas dan sebag ainya). maksu d dan aspirasi serta motif berprestasi. untuk keperluan studi psikologis. (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakuk an. menyelamatkan diri dan sejenisnya. Untuk memahami motivasi individu dapat d ilihat dari indikator-indikatornya. j ika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sam a-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. Motif primer (basic motive dan emergency motive). Dalam pandangan holistik. melarikan diri. 2. 3. adakalanya individu harus berh adapan dengan motif yang saling bertentangan atau biasa disebut konflik. keuletan dan kemampuan da lam mengahadapi rintangan dan kesulitan. minum. dikenal de ngan istilah drive. yang satu positif dan dikehendaki dan yang lainnya motif negatif serta tidak dikehendaki namun sama k uatnya. menye rang. menunjukkan kepada motif yang tidak pelajari. seperti : dorongan untuk makan. Jika seorang individu dihadapkan pada bentuk-bentuk motif seperti dikemukakan di atas tentunya dia akan mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dan sangat mungkin menjadi perang batin yang berkepanjangan. (4) ketabahan. (5) devosi dan pengorbanan untuk mencap ai tujuan. Approach-approach conflict. motif individ u dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan. (3) persistensi pada kegiatan. Approach-avoidance con flict. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih. dis ebutkan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam dirinya. yaitu : 1. yaitu : (1) durasi kegiatan. (2) frekuensi k egiatan. Dalam diri indiv idu akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada tujuan tertentu. j ika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sam a-sama kuat. (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari keg iatan yang dilakukan. motif-motif obyektif dan interest (eksplorasi. Deng an beragamnya motif yang terdapat dalam individu. dikehendaki serta bersifat positif. menunjukkan kepada m otif yang berkembang dalam individu karena pengalaman dan dipelajari. motif-motif sosial (ingin diterima. (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan. Avoidance-avoidance conflict. Bentukbentuk konflik tersebut diantaranya adalah : 1. seperti : takut yang dipelajari. minat).Berkaitan dengan motif individu. Motif sekunder. manipulasi. 2. setiap aktivitas ya ng dilakukan individu akan mengarah pada tujuan .

sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan psikologi pendidikan. sikap dan keterampilannya dalam bidang Psikologi Pendidikan sehingga dia me nyadari Psikologi Pendidikan merupakan kebutuhan bagi dirinya (need felt) dalam rangka mencapai tujuan-tujuannya (goals/incentives). dan setelah mempertimbangkan segala sesuatunya (moralitas). m aka dia akan mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment). Reaksi individu terhadap frustrasi akan beragam bentuk perilaku nya. (7) proyeksi (melemparkan kesalaha n kepada lingkungan). inteligensi). yang dipe rolehnya dari setiap pertemuan tatap muka dengan dosen. Namun. (3) regresi (kemunduran perilaku). tercapai atau tidak tercapai tujuan tersebut. Jika tercapai tentunya individu merasa puas dan memperoleh kese imbangan diri (homeostatis). .tertentu. Untuk tujuan jangka pendekn ya. (5) represi (menekan p erasaan). (8) sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang sejenis). jika tujuan tersebut tidak tercap ai dan kebutuhannya tidak terpenuhi maka dia akan kecewa atau dalam psikologi di sebut frustrasi. di bawah ini akan dikemukaka n contoh terbentuknya perilaku berdasarkan pendekatan holistik. terdapat dua kemungkinan. (2) kecemasan tak berdaya. (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di bi dang lain). Ketika mengikuti perkul iahan Psikologi Pendidikan yang merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diik uti para mahasiswa. perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya. sejak awal dia sudah menyadari bahwa dia kekurangan pengetah uan. Sekaligus juga dapat membe rikan bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan frustrasi. (4) fiksasi. dia berharap dapat memperoleh kemampuan baru berupa pengetahuan . (6) rasionalisasi (mencari alasan). Contoh 1 : Karen a gagal mengikuti mengikuti testing pada salah satu Fakultas di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). Dalam hal ini. diantaranya : (1) agresi marah. jika akal sehatnya tidak berfungs i sebagaimana mestinya. dengan berbekal kesadaran diri bahwa dia memiliki potensi dalam bidang psiko logi pendidikan. bergantung kepada akal sehatnya (reasoning. Untuk lebih jelasnya. (10) berfantasi (dalam angan-angannya. Bentuk peril aku salah suai (maldjustment). secara sukarela Arjuna memutuskan untuk melanjutkan pada salah program studi yang ada di FKIP UNIKU (sublimasi). Jika akal sehatny a berani mengahadapi kenyataan maka dia akan lebih dapat menyesuaikan diri secar a sehat dan rasional (well adjustment). Namun sebaliknya. Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membant u para peserta didiknya agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat menimbulkan perilaku salah-suai. seakan-akan ia dapat mencapai tujuan yang didambakannya).

Pada saat mengikuti lomba pemilihan guru berprestasi tingkat k abupaten. keingi nan menjadi guru yang efektif dan kompeten kemudian berkembang menjadi dorongan yang kuat dalam dirinya (motivasi intrinsik) Pada saat mengikuti perkuliahan Psi kologi Pendidikan dia senantiasa aktif bertanya dan mengemukakan pendapatnya ten tang materi yang disampaikan. Begitu juga. dia benar-benar berharap dapat menjadi guru yang efektif dan kompet en. Dia juga sangat menyukai diskusi te ntang psikologi pendidikan dengan teman-temannya di luar kelas (perilaku instrum ental). Contoh 2 : Astrajingga rekan seangkatan Arjuna. rekan-rekan seprofesinya sangat hormat dan kagum atas kinerja nya sebagai guru. dia belum menemukan apa tujuan kuliahnya. para peserta d idik sangat menyenangi dia karena dia sangat dekat dan akrab dengan peserta didi knya. baik ketika selama menjadi mahasiswa maupun setelah menj adi guru (homeostatis). memperoleh kesuksesan belajar dengan mendapatkan nilai A. Selain itu.Tujuan jangka menengah. dia berhasil meraih sebagai juara pertama. Keinginan dan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam bid ang psikologi pendidikan. Setiap tugas yang diberikan diseles aikan dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu. Perkuliahan Psikologi Pendidikan telah men dasari dia menjadi seorang yang sukses. memperoleh kesuksesan dalam mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). bahkan kepa la sekolahnya meminta dia untuk menjadi guru di sekolah menjadi tempat praktekny a. dia memperoleh pengetahuan yang luas. pada akhir semester dia berharap lulus mata kuliah Psiko logi Pendidikan dengan mendapatkan nilai A (kebutuhan harga diri). sehingga selama kuliah. dia memperoleh nilai terbaik di kelasnya. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai untuk jan gka panjang. sikap yang positif dan memil iki keterampilan yang bisa dibanggakan dalam menerapkan prinsip-prinsip psikolog i. Setelah dia selesai kuliah dia menjadi guru di sebuah sekolah. . karena gagal mengikuti mengikut i testing pada Fakultas Ekonomi di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). Berkat aktivitas dan kesungguhannya dalam mengikuti perkuliahan Psikolog i Pendidikan. n anti pada saat mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). pada saat PPL dia termasuk mahasiswa praktikan yang disukai oleh peserta didiknya. Pada akhir semester. kemudian dia dipaksa orang tuanya untuk melanjutkan pada salah sa tu program studi di FKIP UNIKU (motivasi ekstrinsik/substitusi). dia berharap dapat mela ksanakannya dengan sebaik-baiknya. Bagi dirinya. Dia bercita-cita menjadi seorang ekonom. Dia sangat mensyukuri atas segala keberhasilannya. membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidika n yang diwajibkan dan dianjurkan oleh dosen.

dia hanya memperoleh sebagian kecil saja pengetahuan. peristiwa. kebu dayaan masyarakat tertentu. dia menyalahkan dosen bahwa dosennya tidak becus mengajar (proy eksi). Tugas-tugas yang diberik an dosen pun jarang dikerjakan. kejadian masa lalu. definisi. teori. yakni : a. Selama satu semester meng ikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. atau kesimpulan. termas uk mata kuliah Psikologi Pendidikan (kurang merasakan adanya kebutuhan dan kekur angan motivasi). Dia dihadapkan pada perang batin antara terus melanjutkan stu di yang tidak sesuai dengan cita-citanya atau keluar dari kuliah dengan resiko o rang tua akan marah besar terhadap dirinya (conflict). Kawasan Kognitif.Dalam konteks pendidi kan. betapa banyak kata yang harus dipergunakan untuk mendeskripsikan nya. Dilihat dari objek yang diketahui (isi) pengetahuan dapat digolongk an sebagai berikut : a) Mengetahui sesuatu secara khusus. Taksonomi Perilaku Individu Kalau perilaku individu mencakup segala pe rnyataan hidup. id e prosedur. baik berbentuk verbal maupun non verbal. kalaupun dikerjakan hanya alakadarnya dan selalu telat disetorkan. sekal ipun dia masuk kuliah hanya sebatas takut dimarahi oleh dosen yang bersangkutan dan takut dinyatakan tidak lulus (kebutuhan rasa aman). Mengetahui fakta tertentu yaitu mengenal atau mengingat kemb ali tanggal. rumus. Dia sering tidak masuk kuliah. Mengetahui kebiasaan atau cara mengetengahkan ide atau pengalaman . konsep. Pikirannya selalu terganggu bahwa seolah-olah dia sedang kuliah pada Fakutas Ekonomi di Perguruan Tinggi yang diidam-idamkannya dan dia merasa seolah-olah bakal menjadi Ekonom (fantasi). nama. 3. Pengetahuan merupakan aspek kognitif yang paling rendah tetapi paling mendasar. Sambil men angis (regresi). terdiri dari : Mengeta hui terminologi yaitu berhubungan dengan mengenal atau mengingat kembali istilah atau konsep tertentu yang dinyatakan dalam bentuk simbol. tahun. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan dan pada akhir nya dia dinyatakan tidak lulus dan terpaksa harus mengikuti remedial. Dengan pengetahuan individu dapat mengenal dan mengingat kembali suatu objek. dan ciri-ciri yang tampak dari keadaan alam tertentu . peristiwa. Bloom mengungkapkan tiga kawasan (domain) perilaku individu beserta sub kaw asan dari masing-masing kawasan. Untuk keperluan studi tentang perilaku kiranya perlu ada sistematika pengel ompokan berdasarkan kerangka berfikir tertentu (taksonomi).Dia tidak begitu berminat mengikuti perkuliahan mata kuliah kependidikan. orang tempat. daftar. b) Mengetahui tentang cara untuk memproses atau melakukan sesuatu. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau berfikir/nalar. 1) Pengetahuan (knowledge). sumber informasi.

yaitu perangkat cara yang digunakan untuk mencari. peristiwa. Temuantemuan ini diakomodasikan dan kemudian berasimilasi dengan struktur kognitif yang ada. Mengetahui prinsip dan generalisasi Mengetahui teori dan strukt ur. informasi. pendapat atau perlakuan. Mengetahui meto dologi. yaitu ide. dan c) Ekstrapolasi. Jika ditemukan bahwa kelima bilangan te rsebut adalah urutan bilangan prima. 5. baik dalam bentuk simbol verbal maupun non verbal. Mengetahui hal-hal yang universal dan abstrak dalam bidang tert entu. 3. sehingga membentuk struktur kognitif baru. kelompok. Untuk bisa seperti itu. terlebih dahulu dicari prinsip apa ya ng bekerja diantara kelima bilangan itu. Tingkatan dalam pemahaman ini meliputi : a) translasi yaitu mengubah simbol tertentu menjadi simbol lain tanpa perubahan makna. perangkat atau susunan yang digunakan di d alam bidang tertentu. atau memproses sesuatu. Contoh sesesorang dapat dikatakan telah mengerti konsep tentang “motivasi kerja” dan dia telah dapat membedakannya dengan konsep tentang ”motivasi belajar”. Mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi fakta. . Seseorang dapat dikatakan telah da pat menginterpretasikan tentang suatu konsep atau prinsip tertentu jika dia tela h mampu membedakan. b agan atau grafik. menemukan atau menyel esaikan masalah. prinsip. yaitu melihat kecenderungan. den gan kemapuan ekstrapolasinya tentu dia akan mengatakan bilangan ke-6 adalah 13 d an ke-7 adalah 19. fakta d isusun kembali dalam struktur kognitif yang ada. Mengetahui kelas. 2) Pemahaman (comprehension) Pemahaman atau dapat dijuga disebut dengan istilah mengerti merupakan kegiatan m ental intelektual yang mengorganisasikan materi yang telah diketahui. kepada siswa dihadapkan rangkaian bilangan 2. 7.Mengetahui urutan dan kecenderungan yaitu proses. 11. Misalkan simbol dalam bentuk kata-kata diubah menjadi gambar. Misalnya. Mengetahui penggolongan atau pengkatego risasian. Temuan-tem uan yang didapat dari mengetahui seperti definisi. b) interpretasi yaitu menjelaskan makna yang terdapat dalam simbol. arah atau kelanjutan dari suatu temuan. arah dan gerakan suatu gejala atau fenomena pada waktu yang berkaitan. bagan dan pola yang digunakan untuk mengorganisasi suatu fenome na atau pikiran. memperbandingkan atau mempertentangkannya dengan sesuatu yan g lain. maka kelanjutannnya dapat dinyatakan berdas arkan prinsip tersebut.

mereka berusaha untuk memberi nama yang cocok bagi alat angkutan tersebut.3) Penerapan (application) Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dal am kehidupan sehari-hari. Kemampuan untuk mengidentifikasi motif-motif da n membedakan mekanisme perilaku antara individu dan kelompok. Satu-satunya alat transportasi yang suda h dikenal pada waktu itu adalah kuda. Kemampuan untuk mengenal unsur-unsur khusus yang membenarkan suatu pern yataan. Bagi mereka. yaitu : a) Menganalisis unsur : Kemampuan melihat asumsi -asumsi yang tidak dinyatakan secara eksplisit pada suatu pernyataan Kemampuan u ntuk membedakan fakta dengan hipotesa. menggunakan. maka mereka memberi nama pada kereta api tersebut d engan iron horse (kuda besi). Kemampuan untuk me misahkan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang mendukungnya. melihat penyebab-penyebab dari suatu peristiwa atau memberi argumenargumen yang menyokong suatu pernyataan. Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah dan menunjukkan hubungan antar-bagia n tersebut. Kemampuan untuk membedakan pernyataan fak tual dengan pernyataan normatif. mengklasifikasikan. Seseorang dikatakan menguasai kemampuan ini jika ia da pat memberi contoh. memanfaatkan. Kemampuan untu k memastikan konsistensinya hipotesis dengan informasi atau asumsi yang ada. . Kemampuan untuk mengenal fakta atau asumsi yang esensial yang mendasari suatu pendapat atau tesis atau argumen-argumen yang mendukungnya. 4) Penguraian (analysis). Dengan pemahaman demikian. menyelesaikan dan mengidentifikasi hal-hal yang sama. ingat kuda ingat transportasi . dulu ketika pertama kali diperk enalkan kereta api kepada petani di Amerika. Contoh. Hal ini menunjukkan bagaimana mereka menerapkan ko nsep terhadap sebuah temuan baru. Secara rinci Bloom mengemukakan tiga je nis kemampuan analisis. b) Menganalisi s hubungan Kemampuan untuk melihat secara komprehensif interrelasi antar ide den gan ide.

Kemampuan untuk melihat teknik yang digunakan dalam meyusun suatu mat eri yang bersifat persuasif seperti advertensi dan propaganda. misalnya kesesuaiannya dengan aspirasi umum atau kecocokannya dengan kebutuhan pemakai. c) Menganalisis prinsip-prinsip organisasi Kemampuan untuk menguraikan antara ba han dan alat Kemampuan untuk mengenal bentuk dan pola karya seni dalam rangka me mahami maknanya. b) Pembenaran berdasarkan kriteria eksternal. Kemampuan untuk mengenal hubung an kausal dan unsur-unsur yang penting dan yang tidak penting di dalam perhitung an historis. Contoh: memilih nada dan irama dan kemudian manggabun gkannya sehingga menjadi gubahan musik yang baru. yang dilakukan dengan memperhatikan k onsistensi atau kecermatan susunan secara logis unsurunsur yang ada di dalam obj ek yang diamati. . yaitu : a) Pembenaran berdasarkan kriteria internal. 6) Penilaian (evaluation) Mempertimbangkan. atau merangkai berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau menjadi suatu hal yang baru. Kemampuan untuk mengetahui maksud dari pengarang suatu karya tu lis. Kemampuan untuk mendeteksi hal-hal yang tidak logis di dalam suatu argumen. yang dilakukan be rdasarkan kriteria-kriteria yang bersumber di luar objek yang diamati. Terdapat dua kriteria pembenaran yang digunakan.. menilai dan mengambil keputusan benar-salah.Kemampuan untuk menganalisis hubungan di antara pernyataan dan argumen guna memb edakan mana pernyataan yang relevan mana yang tidak. sudut pandang atau ciri berfikirnya dan perasaan yang dapat diperoleh dalam karyanya. menciptakan logo organisasi. Kemampuan berfikir induktif dan konvergen mer upakan ciri kemampuan ini. atau bermanfaat – tak bermanfaat berdasarkan kriteria-kriteria tertentu baik kualitatif maupun kuantitatif. meramu. 5) Memadukan (synthesis) Menggabungkan. baik-buruk. memberi nama yang sesuai bagi suatu temuan baru.

Kagum atas keberanian seseorang. yaitu : a) Kesiapan untuk mene rima (awareness). kagum. 3) Penghargaan (valuing) Pada tahap ini sudah mulai timbul proses internalisasi untuk memiliki dan mengha yati nilai dari stimulus yang dihadapi. Komitmen ini dinyatak an dengan rasa senang. yang ditandai dengan kehadiran dan usaha untuk memberi perhatian pada stimulus yang bersangkutan. me nempelkan gambar dari tokoh yang disenangi pada tembok kamar yang bersangkutan. c) Kepuasan menanggapi (satisfaction in r esponse). Kawasan Afektif. Contoh : mengajukan pertanyaan. Mungkin perhatian itu hanya tertuju pada warna. 4) Pengorganisasian (organization) . yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek emosional. membuat coretan atau gambar. memotret dari objek yang me njadi pusat perhatiannya. yaitu usaha untuk melihat hal-hal khusus di dalam bagian yang diperhatikan. misalnya lukisan yang memil iki yang memuaskan. minat. seperti perasaan. yaitu kelanjutan dari usah a memuaskan diri untuk menanggapi secara lebih intensif. terpesona. yaitu adanya aksi atau kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk me muaskan keinginan mengetahui. Penilaian terbagi atas empat tahap sebag ai berikut : a) Menerima nilai (acceptance of value). c) Komitmen yaitu kesetujuan terhadap suatu nilai dengan ala san-alasan tertentu yang muncul dari rangkaian pengalaman. b) Menyeleksi nilai yan g lebih disenangi (preference for a value) yang dinyatakan dalam usaha untuk men cari contoh yang dapat memuaskan perilaku menikmati. yang meliputi proses sebagai berikut : a) Kes iapan menanggapi (acquiescene of responding). yaitu adanya kesiapan untuk berinteraksi dengan stimulus (feno mena atau objek yang akan dipelajari).b. Misalnya pada desain atau warna saja. kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. b) Kemauan untuk meneri ma (willingness to receive). b) Kemauan menanggapi (willingness to respo nd). Contoh kegiatan yang tampak dari kepuasan menangga pi ini adalah bertanya. menunj ukkan komitmen terhadap nilai keberanian yang dihargainya. suara atau kata-kata ter tentu saja. atau mentaati peraturan lalu lintas. yaitu usaha untuk mengalokasikan perhatian pada sti mulus yang bersangkutan. c) Mengkhususkan perhatian (controlled or selected atte ntion). sikap. dan sebagainya. 1) Penerimaan (receiving/attending) Kawasan penerimaan diperinci ke dalam tiga tahap. 2) Sambutan (responding) Mengadakan aksi terhadap stimulus.

menyesuaikan diri dengan situasi. tetapi mulai melihat beberapa nilai yang relevan untuk disusun menjadi satu sistem nilai. yaitu mengembangkan pandangan hidup tertentu yang memberi corak tersen diri pada kepribadian diri yang bersangkutan. Proses ini terjadi dalam dua tahapan. menyusul k emudian nilai yang dirasakan agak penting. maka susunan itu belum konsisten di dalam diri yang bersangkutan.Pada tahap ini yang bersangkutan tidak hanya menginternalisasi satu nilai terten tu seperti pada tahap komitmen. (b) penirua n (imitation). . yaitu keinginan untuk menilai hasil karya oran g lain. Proses ini terdiri atas dua tahap. Dalam sistem nilai ini yang bersangkutan menempatkan nilai yang paling disukai pada tingkat yang amat penting. 2) Meniru adalah kemampuan untuk melakukan sesuai dengan conto h yang diamatinya walaupun belum mengerti hakikat atau makna dari keterampilan i tu. Kawasan Psikomotor. atau menemukan asumsi-asumsi yang mendasari suatu moral atau kebiasaan. 3) Membiasakan yaitu seseorang dapat melakukan suatu keterampilan tanpa harus melihat contoh. yaitu k emampuan untuk melihat suatu masalah dari suatu sudut pandang tertentu. Kawasan ini terdiri dari : (a) kesiapan (set). c. (d) menyesuaikan (adaptation) dan (e) menciptakan (origination) 1) Kesiapan yaitu berhubungan dengan kesediaan untuk melatih diri tentang keterampilan tertentu yang dinyatakan dengan usaha untuk me laporkan kehadirannya. sekalipun ia belum dapat mengubah polanya. yaitu : a) Generalisasi. yakni : a) Konseptualisasi nilai. (c) membiasakan (habitual). 5) Karakterisasi (characterization).atau kesenangan dari diri yang bersangkutan. mempersiapkan alat. Karakterisasi yaitu kemampuan untuk menghayati atau mempribadikan sistem nilai K alau pada tahap pengorganisasian di atas sistem nilai sudah dapat disusun. Artinya mudah berub ah-ubah sesuai situasi yang dihadapi. yaitu menyusun perangkat nilai dalam suatu sis tem berdasarkan tingkat preferensinya. yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular syste m) dan fungsi psikis. b) Pengorganisasian sistem nilai. sistem itu selal u konsisten. b) Karak terisasi. Pada tahap karakterisasi. men jawab pertanyaan. Seperti anak yang baru belajar bahasa meniru kata-kata orang tanpa mengerti artinya. dan seterusnya menurut urutan kepenti ngan.

Melihat begit u pentingnya pendidikan bagi umat manusia. dan cekatan dala m melakukan gerakan yang sulit dan rumit (kompleks). Sementara kalangan humanisme. alat pelatihan keterampilan. Bagi kalangan behaviorisme. s erta media untuk meningkatkan keterampilan. pendid ikan lebih diyakini sebagai suatu media atau wahana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan ajaran keagamaan. ser ta wahana untuk pembebasan manusia. S ementara itu. pendidikan dipahami sebagai se bagai alat pembentukan watak. Abin Syamsuddin Makmun( 2003) memerinci dengan tahapan yang berbed a. atau sebagai wahana untuk memanusiakan manusia. yang terpola dan dapat ditebak. Gerakan dasar biasa (Basic fundamental movements) yaitu gerakan yang mun cul tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik. misalnya : melompat. yaitu : sub kawasan ini 1) Gerakan refleks (reflex movements). Gerakan terampil (skilled movements) yaitu dapa t mengontrol berbagai tingkatan gerak secara terampil. 2) 3) 4) 5) 6) 4. Basis semua perilaku bergerak atau respon s terhadap stimulus tanpa sadar. 5) Menciptaka n (origination) di mana seseorang sudah mampu menciptakan sendiri suatu karya. menunduk. berjalan. kelentu ran (flexibility) dan kegesitan. Gerakan fisik (Physical Abilities) yai tu gerakan yang menunjukkan daya tahan (endurance). Gerakan Persepsi (Perceptual abilities) yaitu gerakan sudah lebih menin gkat karena dibantu kemampuan perseptual. tangkas. . b aik dalam bentuk gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah maupun gerak kreatif: gerakangerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasi kan peran. Peranan dan Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan dan Perkembangan Perilaku Pendidikan memang sejak zaman dahulu kala menjadi salah satu bentuk usaha manusi a dalam rangka mempertahankan keberlangsungan eksistensi kehidupan maupun budaya manusia itu sendiri. Gerakan indah dan kreatif ( Non-discursive communication) yaitu mengkomunikasikan perasan melalui gerakan. Penyelenggaraan pendidikan selanjutnya menja di kewajiban kemanusiaan dalam rangka mempertahankan kehidupannya. dan seba gainya. banyak peradaban manusia yang “mewajibk an” masyarakatnya untuk tetap menjaga keberlangsungan pendidikan. kekuatan (strength). alat mengasah otak.4) Adaptasi yaitu seseorang sudah mampu melakukan modifikasi untuk disesuaikan d engan kebutuhan atau situasi tempat keterampilan itu dilaksanakan.

selanjutnya dengan bantuan atau tanpa bantuan orang l ain. Walaupun demiki an. perilaku) f = function (fungsi) S=stimulus (pendidikan/belaj ar) O=organisme Contoh : Untuk memiliki pengetahuan. menurut pandangan behaviorisme. yang diman ifestasikan dalam bentuk perubahan dan perkembangan perilaku. sikap dan keterampilan tent ang Psikologi Pendidikan (P). Dengan menggunakan konsep dasa r psikologis.Dengan demik ian. sejauhmanakah pendidikan dapat mempengaruhi perubahan da n perkembangan perilaku individu. Menurut pandangan behaviorisme hasil belajar individu merup akan hasil reaktif dari lingkungan. bakat. Bagaimana pula kontribusi individu itu sendiri terhadap perubahan dan perkembangan perilakunya. maupun psikomotor. khususnya dalam pandangan behaviorisme. afektif.O) P= person (pribadi.Yang menjadi persoalan. pengaruh fungsional pendidikan terhadap perubahan dan pe rkembangan perilaku. dapat dijelaskan dalam bagan berikut ini : P = f (S. seorang mahasiswa (O) dengan segala karakteristikn ya (kondisi fisik. arah dan kualifikasi perubahan dan perkemba ngan perilaku akan sangat bergantung pada faktor S (conditioning). Jika kita amati dari kedua pandangan tersebut tampak a da hal yang kontras. minat. dalam pandangan humanisme bahwa justru organisme atau individu itu sendiri yan g memegang peranan penting dalam suatu proses belajar atau proses pendidikannya. . individu yang bersangkutan berupaya aktif mengembangkan segenap potensi yan g dimilikinya melalui interaksi dengan lingkungannya. Dengan adanya perbedaan pandangan tersebut menyebabkan pula terjadinya pe rbedaan-perbedaan dalam pendekatan dan teknis proses pendidikan. baik dalam aspek k ognitif. Sementara itu . pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha conditioning (penciptaan seperangkat stimulus) yang diharapkan dapat menghasilkan pola-pola perilaku (seperangkat respons) tertentu. harus diakui bahwa kedua pandangan tersebut memiliki peranan penting dan mem berikan kontribusi terhadap perubahan dan perkembangan pribadi atau perilaku ind ividu. Sehingga potensi yang semula masih bersifat laten (terpendam) dapat diaktuali sasikan menjadi prestasi. hasil b elajar individu merupakan hasil dari upaya aktif dan pro-aktifnya terhadap lingk ungan. ter utama potensi intelektual. Sedangkan dalam pandangan humanisme. Secara skematik. Seberapa besar tingkat atau derajat perubah an dan perkembangan perilaku yang dicapai melalui usaha – usaha conditioning diken al dengan istilah prestasi belajar atau hasil belajar (achievement). termasuk lingkungan sekola h. Pada dasarnya individu sejak lahir sudah dibekali potensi-potensi tertentu.

b. b. W S S S O WS Ow R R O R R W W . D. mengobservasi perilaku di kelas. Dengan demikian. baik untuk kepentingan diri-pribadi sehari-hari maupun dalam rangka mempers iapkan diri untuk menjadi guru kelak di kemudian hari. Memiliki obyek yang jelas yaitu perilaku individu yang terlibat dalam pendidi kan. Arti penting Psi kologi Pendidikan bagi guru adalah : a. dis amping dihasilkan melalui kegiatan pendidikan (belajar) juga dipengaruhi oleh fa ktor internal dari individu itu sendiri. Beberapa persyaratan ilmu yang sudah dipenuhi oleh Psikologi Pendidikan. Mekanisme terbentuknya perilaku sadar menurut pandangan Behaviorisme a. d. Psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai : 1) 2) 3) 4) I lmu Jiwa Ilmu yang mempelajari tentang perilaku peserta didik . Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilih lah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. baik melalui pendekatan kuantitatif maupun kualitatif. d. kiranya bisa dipahami bahwa perubahan perilaku atau diperolehnya kemampuan individu. membaca dan mengkaji buku-buku yang relevan. 4. c. 5. Konsep dan teori Psikologi Pendidikan diperoleh berdasarkan upaya yang s istematis. b. Memberikan man faat untuk kepentingan efektivitas dan efisiensi pendidikan. misalnya melalui: diskusi dengan teman. bahkan melakukan penelitian. dia mendapa tkan pengetahuan. Guru dapat menjalankan peran tu gas dan fungsinya secara efektif dan efisien Guru dapat merencanakan pembelajara n dengan sebaik-baiknya Guru dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif. Ilmu yang mempel ajari perilaku individu dalam situasi pendidikan. hasil belajar sebelumnya serta karakteristik lainnya) mengikuti kegiat an belajar Psikologi Pendidikan.motivasi. dengan cara memberikan ta nda silang (X) ! 2. b. kecu ali : a. dia memperoleh sejumlah pengalaman belajar. a. d. c. dan c benar 3. c. maka pada akhirnya. Menjadi ped oman bagi para pendidik dalam mengembangkan proses pendidikan. Gur u dapat menilai peserta didiknya secara efisien. Melalui interaksi belajar mengajar yang disepak ati dengan Dosen. sikap dan memiliki keterampilan baru tentang psikologi pendidi kan.

b. agresi b. keuleta n dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan. menghubungkan. a. d. a. me nggabungkan merupakan indikator atau kata kerja operasional untuk mengukur perub ahan perilaku dalam aspek : a. Kebutuhan akan rasa aman. Di bawah ini merupakan jenis-jenis kebutuhan individu yang dikemukakan oleh M aslow. regresi c. 7. characterization by valu e or value complex d. analysis c. Non-discursive communication c. a. a. application b. c. Kebutuhan akan prestasi. Di bawah ini merupakan indikator untuk mengetahui tingkat motivas i individu. a. a. Konflik yang dialami jik a individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif samasama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. Reaksi frustasi ind ividu atas kegagalan dalam mencapai tujuan dan tidak terpenuhinya kebutuhan indi vidu dengan cara mencari kambing hitam. c. evaluasi b. b. b. kecuali : a. Approach. evaluatio n Uraian 1. Kebutuhan akan harga diri.avoidance c onflict b. tingkat kualifikas i prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan dan a rah sikap terhadap sasaran kegiatan. Jelaskan peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perk embangan perilaku individu ! 2. b dan c benar 11. d. a. Di bawah ini merupakan kemampuan yang berkaitan dengan perilaku kawasan afektif. dan c benar 9. dan c benar 8. Dapat menyimpulkan. b . frekuensi dan persistensi kegiatan. Approach-approach conflict c. proye ksi 10. durasi.6. fiksasi d. synthesis d. Uraikan dan berikan gambaran secara skematik ten tang mekanisme pembentukan perilaku dan pribadi individu menurut aliran holistik ! . Avoidance-avoidance conflict d. Kebutuhan akan aktualisasi diri. ketabahan.

seorang guru mungkin akan dihadapkan dengan puluhan atau b ahkan ratusan peserta didiknya. Pokok Bahasan 1. 3.Dari segi kecepatan belajar. Di antara sekian banyak karakteristik yang dimiliki peserta didik. dalam Kecakapan dan C. ada peserta didik yang menunjukka n cepat dalam menangkap pelajaran. diharapkan Anda dapat : 1. Fakto r-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman Kepribadian. Dari segi . Mengid entifikasi tentang indikator kecerdasan. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian Dalam m elaksanakan tugasnya. 4. Menganalis faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya ke ragaman dalam kecakapan dan kepribadian. dan kepribadian 2. ciri-ciri keberbakat an. kecakapan potensial. dengan masing-masing karakateristik yang dimilik inya. Intisari Bacaan 1. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian. ukuran kecerdasan. Menjelaskan tentang teori-teori kecerdasan dan p engukuran kecerdasan. aspek-aspek kepribadian. 2. yang pe nting dan perlu diketahui guru adalah berkenaan dengan kecakapan dan kepribadian peserta didiknya. namun sebaliknya ada juga yang sangat lambat. kecerdasan (inteligensi). B. T Setelah mempelajari Bab ini. Mendefinisikan kecakapan nyata.BAB II KERAGAMAN INDIVIDU DALAM KECAKAPAN DAN KEPRIBADIAN ujuan : A.

di bawah ini akan diuraikan dua jenis keragaman individu yaitu keragaman dalam keca kapan dan kepribadian. adaka lanya guru dibuat frustrasi. Jika saja guru tersebut dapat memah ami tentang keragaman individu. a. Terlebih dahulu mungkin dia akan mempelajari latar belakang sosio-psikologis peserta didiknya. Membicarakan tentang keragaman individu secara luas dan mendala m sebetulnya sudah merupakan kajian tersendiri yaitu dalam bidang Psikologi Dife rensial. sehingga akan diketahui secar a akurat kenapa peserta didik itu lambat dalam belajar. Menurut pendapatnya bahwa inteligensi terdiri dari kem ampuan umum yang diberi . Peserta didik dianggap kurang rajin. maka kemampuan tersebut merupakan atau kecakapan nyata (achievement).P. Chaplin (1975) memberikan pengertian int eligensi sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi bar u secara cepat dan efektif. Berhadapan dengan peserta didik yang memiliki kecep atan belajar dan memiliki ciri-ciri kepribadian yang positif. Namun ketika berhadapan dengan pesert a didik yang lambat dalam belajar atau ciri-ciri kepribadian yang negatif. bodoh. guru mungkin akan menganggap seolah-olah tidak ada hambatan. belum tentu dia akan langsung menarik kesimpulan bahwa peserta didiklah yang salah. selanjutnya dia berusaha untuk menemukan solusinya dan menetukan tindakan apa yang paling mungkin bisa d ilakukan agar peserta didik tersebut dapat mengembangkan perilaku dan pribadinya secara optimal. seperti teori inteligensi yang dikemukakan oleh Charles Spearman (1904) de ngan teori “Two Factors”-nya. kurang sungguh-sungguh dan sebagainya. C. Sedangkan kecakapan potensial mer upakan aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri individu dan diperoleh d ari faktor keturunan (herediter). Ketika mahasi swa mampu menjawab dengan baik tentang pertanyaan dosen. pada akhir perkuliahan mahasiswa d iuji oleh dosen tentang materi yang disampaikannya (tes formatif). Pada awalnya teori inteligensi masih bersifat unidim ensional (kecerdasan tunggal). yakni hanya berhubungan dengan aspek intelektual saja. setelah selesai mengikuti prose s perkuliahan (kegiatan tatap muka di kelas). Misalkan. m alas. Untuk kepentingan pengetahuan guru dalam memahami peserta didiknya. guru akan berhadapan dengan ciri-ciri kepribadian para peserta didi knyanya yang khas atau unik.kepribadian. Keragaman Individu dalam Kecakapan Kecakapan individu dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu kecakapan nyata (actual ability) dan kecak apan potensial (potential ability). yang dapat seger a didemonstrasikan dan diuji sekarang. Kecakapan nyata (actual ability) yaitu kecak apan yang diperoleh melalui belajar (achivement atau prestasi). Ujung-ujungnya dia langsung saja akan menyimpulkan bahwa peserta didiklah yang salah. Kecakapan potensial dapat dibagi ke dalam dua bagian yaitu kecakapan dasar umum (inteligensi atau kecerdasan) dan kecakapan da sar khusus (bakat atau aptitudes).

Guilford mengemukakan bahwa inteligensi dapat dilihat dari tiga kategori dasar atau “faces of intellect”. Divergent Production (berfikir mel ebar=banyak kemungkinan jawaban/ alternatif). Product (Hasil Berfikir) a. Belakangan ini banyak orang meng gugat tentang kecerdasan intelektual (unidimensional). dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual s peed). c. Cognition (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang baru). kata-kata atau angka dan notasi musik). 3. ekspresi muka at au suara). akurat. f. e. atau memadai). Unit (item tunggal informasi). b. yaitu : (1) kemampuan berb ahasa (verbal comprehension). (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor). d. Symbolic (i nformasi dalam bentuk lambang. f. atau redefinisi informasi). e. ( 5) kemampuan bilangan (numerical ability). yaitu : 1. J. Sementara itu. Auditory. 2. Content (Isi yang Dipikirkan) a. (6) kemampuan menggunakan kata-kata ( word fluency). Evaluation (mengambil keputusan tentang apakah suatu itu baik. d. Thurstone (1938) mengemukakan teori “Primary Mental Abilities”. Word Meaning (semantic). b. Transform asi (perubahan. c. bahwa in teligensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer. Kela s (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama). modifikasi.P. S elanjutnya. Operasi Mental (Pros es Befikir) a. Behavi oral (interaksi non verbal yang diperoleh melalui penginderaan. yang konon dianggap sebag ai anugerah yang dapat mengantarkan . Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi item lain). e.kode “g” (genaral factor) dan kemampuan khusus yang diberi kode “s” (specific factor). Relasi (keterkaitan an tar informasi). Memory Retention (ingatan yang berkaitan dengan kehidupan seharihari). (2) kemampuan mengingat (memory). b. Convergent Production (berfikir memusat= hanya satu kemungkinan jawaban/alternatif). Visual (bentuk konkret atau gambaran). c. d. Memory Recording (ingatan yang segera). Sistem (kompleksitas bagian saling berhubungan). (3) kemampuan na lar atau berfikir (reasoning).

maka pada dasarnya indikator kecerdasa n akan mengerucut ke dalam tiga ciri yaitu : kecepatan (waktu yang singkat). Nada dan bentukbentuk ekspresi musik. ata u Maradona dan Pele sang legenda sepakbola dunia. Kemampuan untuk mengamati dan merespons suasana hati. Linguistic 3. Logical – Mathematica l 2. temper amen. Intrapersonal KEMAMPUAN INTI Kepekaan dan kemampuan untuk mengamati pola-pola lo gis dan bilangan serta kemampuan untuk berfikir rasional. H oward Gardner (1993). Dengan indikator-indikator perilaku inteligensi tersebut. Dalam hal ini. Apakah mereka termasuk juga o rang-orang yang genius atau cerdas ? Dalam teori kecerdasan tunggal (uni-dimensi onal). Spatial 5. kekuatan dan k elemahan serta inteligensi sendiri. Kemampuan untuk mengontrol gerakan tubuh dan mengenai objek-obj ek secara terampil. Musical 4.walaupun sebetulnya menurut hemat penulis alat ukur tersebut masih terbatas untuk mengukur inteligensi atau bakat persekol ahan (scholastic aptitude). Pertanyaan muncul. Kemampuan untuk m enghasilkan dan mengapresiasikan ritme. Kecakapan potensial seseorang hanya dapat dideteksi dengan mengidentifikasi indi kator-indikatornya. dengan aspek-aspe knya sebagai tampak dalam tabel di bawah ini: INTELIGENSI 1.kesuksesan hidup seseorang. seperti Mozart dan Bethoven dengan karya-karya musiknya yang mengagumkan. belum dapat mengukur . Kemampuan untuk memahami perasaan. mengemukakan teori Multiple Inteligence. dan keragaman fungsi-fungsi bahasa. Bodily Kinesthetic 6. ket epatan (hasilnya sesuai dengan yang diharapkan) dan kemudahan (tanpa menghadapi hambatan dan kesulitan yang berarti) dalam bertindak. bagaimana dengan tokoh-tokoh duni a.. makna kata-kata. teori inteligensi yang berusaha mengakomodir kemampuan-kemampuan ind ividu yang tidak hanya berkenaan dengan aspek intelektual saja. Jika kita perhatikan penjelasan tentang aspek-aspek intelige nsi dari teori-teori inteligensi di atas. para ahli mengembangkan instrumen-instrumen stan dar untuk mengukur perkiraan kecakapan umum (kecerdasan) dan kecakapan khusus (b akat) seseorang. Maka muncullah. Kepekaan terhadap suar a. kemampuan mereka yang demikian hebat ternyata tidak terakomodasikan. ritme. dan motivasi orang lain. Ke mampuan mempersepsi dunia ruangvisual secara akurat dan melakukan tranformasi pe rsepsi tersebut. Interpersonal 7. Alat ukur inteligensi yang paling dikenal dan banyak digunakan di Indonesia ialah Tes Binet Simon -.

yaitu dengan cara memperhatikan kecenderungan kecepatan ketepatan. (2) kefasihan mengungkapkan kata. Alat tes ini dapat mengungkap tenta ng : (1) pemahaman kata.89 70 . (5) daya ingat. baik men ggunakan instrumen standar atau hanya berdasarkan pengamatan sistematis guru buk anlah bersifat memastikan tingkat kecerdasan atau bakat seseorang namun hanya se kedar memperkirakan (prediksi) . FA CT (Flanagan Aptitude Calassification Test). dan kem udahan peserta didik dalam dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan me ngerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian. Selain itu.75 % 0.79 50 . sehingga pada akhirnya akan di ketahui kelompok peserta didik yang tergolong cepat (upper group).75 % 6% 13 % 60 % 13 % 6% 0.25 % 0.49 < 25 KAT EGORI Jenius (Genius) Sangat Unggul (Very Superior) Unggul (Superior) Diatas rat a-rata (High Average) Rata-rata (Average) Dibawah Rata-Rata (Low Average) Bodoh (Dull) Debil (Moron) Imbecil Idiot PERSENTASE 0. SRA-PMA (Science Research Action – Primary Mental Ability). dan (8) kecakapan gerak. (6) kecepatan pengamatan. Untuk mengukur bakat seseo rang. rata-rata (mi dle group) dan lambat (lower group) dalam belajarnya. melalui pengamatan yang s istematis tentang indikator – indikator kecerdasan yang dimiliki para peserta didi knya. (7) berfikir l ogis. IQ > 140 130-139 120-129 110-119 90-109 80 . diantaranya : DAT (Different ial Aptitude Test). dapat menggunakan beberapa instrumen standar. Perlu dicatat bahwa pengukuran tersebut.05 % Selain menggunakan instrumen standar. Dari hasil pengukuran inteligensi tersebut dapat diketahui seberapa besar tingkat integensi (biasa disebut IQ = Intelligen t Quotient yaitu ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang.20 % 0. Rumus yang b iasa digunakan untuk menghitung IQ seseorang adalah : MA (Mental Age) IQ= 100 x CA (Chronological Age) Di bawah ini disajikan norma ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang. a da juga tes intelegensi yang bersifat lintas budaya yaitu Tes Progressive Metric es (PM) yang dikembangkan oleh Raven.69 25 . (4) tilikan ruangan. seorang guru pada dasarnya dapat pula mend eteksi dan memperkirakan inteligensi peserta didiknya. (3) pemahaman bilanga n.aspek – aspek inteligensi secara keseluruhan (multiple inteligence).

8. Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengata si kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. akhirnya d ia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. 7. ketegangan emosional.saja. Dalam rangka Program Percepatan Belajar (Accelerated L earning). Lancar berbahasa (mampu mengutarakan pikirannya). untuk kepentingan pengembangan diri. Keragaman Individu dalam Kepribadian Para ahli tampaknya masih sangat beragam dalam memberikan rumusan tentang kepribadian. 2. Balitbang Depdiknas (1986) telah mengidentifikasi ciri-ciri keberbakat an peserta didik dilihat dari aspek kecerdasan. 12. 11. 3. Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau pe rbuatannya Cermat atau teliti dalam mengamati. 10. 14. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa). kreativitas dan komitmen terhada p tugas. Memiliki kemampuan memikirkan beb erapa macam pemecahan masalah. . Belajar dengan dan cepat. b. 4. Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan. misalnya k onstitusi dan kondisi fisik. Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar. Hall dan Gardner Lindzey. Memiliki kemampuan yang tinggi dalam berfikir l ogis dan kritis Mampu belajar/bekerja secara mandiri. tergantung sudut pandang masing-m asing. Mampu berkonsentrasi. 5. yaitu: 1. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penye suaian diri. Berangkat dari studi yang dilakukannya. 6. Menur ut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. 13. Mempunyai daya imajinasi ya ng tinggi. Begitu juga kecerdasan atau bakat ses eorang bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan tingkat keberhasilan atau ke suksesan hidup seseorang. Mempunyai minat luas. 9. Mampu mengemukakan dan mempertahankan penda pat. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tu ntutan (norma) lingkungan. Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas pe rilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu la innya. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbedabeda. Allport (Calvin S. frustrasi dan konf lik.

Ketid akmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang 6. f. 2003) mengemukakan ciri-ciri kepribadian yang sehat atau tidak sehat. Sikap. Horney dan Sullivan. teori Medan dari Kurt Lewin. Stabilitas emosi. Temperamen. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpen garuh. 6. hormon. cuci tangan. Seperti mudah tidaknya tersinggung. Fromm. Watson. teori P ersonologi dari Murray. Responsibilitas (tanggung jawab). Mudah marah 2. atau putus asa e. m arah. Seperti mau menerim a resiko secara wajar. Abin Syamsuddin (2003) mengemu kakan kepribadian. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. 4. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. di antaranya : teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. Sering merasa tertekan (stress atau depresi) 4. Karakter. negatif atau ambivalen d. yaitu kadar kestabilan reaksi emos ional terhadap rangsangan dari lingkungan. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersang kutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. 5. Menunjukkan kekhawatiran dan kece masan 3. 8. sebagai berikut : KEPRIBADIAN YANG SEHAT 1. teori Analitik dari Carl Gust av Jung. Kebiasaan berbohong 7. teori Stimulus-Respons dari Throndike. Sementara itu. teori Psikologi Individual dari Allport. atau melarikan diri dari resiko yang dihadap i. Setiap individu memiliki ciri-ciri kepribadian terse ndiri. 2. sambutan terhadap objek yang bersifat positif . b. c. yang di dalamnya mencakup : tentang aspek-aspek a. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Bersikap kejam 5. yaitu disposisi re aktif seorang. Sosiabilitas. Dalam hal ini. 3. sedih. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan inter personal. teori The Sel f dari Carl Rogers dan sebagainya. Untuk menjelaskan tentang kepriba dian individu. mulai dari yang menunjukkan ciri-ciri kepribadian yang sehat sampai denga n ciri-ciri kepribadian yang tidak sehat. Elizabeth Hurlock (Syam su Yusuf. Hull. konsiten ti daknya dalam memegang pendirian atau pendapat. Seperti : sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berko munikasi dengan orang lain. teori Sosial Psikologis dari Adler.tampang. Mampu menilai diri sendiri secara realistik Mampu menilai situasi secara realist ik Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik Menerima tanggung jawa b Kemandirian Dapat mengontrol emosi Berorientasi tujuan Berorientasi keluar (ek strovert) KEPRIBADIAN YANG TIDAK SEHAT 1. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. Hi peraktif . 7.

Sering mengalami pusing kepala 13. Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas 9. Senang mengkritik/ mencemooh 10. Hasil percobaan Mendel ini menjelas kan kepada kita bahwa faktor keturunan memegang peranan penting bagi perilaku da n pribadi individu. Kendati demikian. dengan memperhatikan aspek perbedaan atau keragaman kecakapan dan kepri badian yang dimiliki peserta didiknya. dan tiap-tiap sel kelaminnya menerima sa lah satu faktor dari pasangan keturunan itu. Asas Reproduksi Menurut asas ini bahwa kecakapan (achievemen t) dari masing-masing ayah atau ibunya tidak dapat diturunkan kepada anak-anakny a. Gregor Mendel mengemukakan pandangannya. S ulit tidur 11. Kurang be rgairah Berdasarkan uraian diatas kita dapat memahami bahwa ketika seorang guru berhadap an dengan peserta didiknya di kelas. Memiliki filsafat hidup 11. se yogyanya guru dapat memperlakukan peserta didik dan mengembangkan strategi pembe lajaran. para ahli sepakat bahwa pada d asarnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh tiga faktor u tama. Kurang rasa tanggung jawab 12.9. (2) tiap-tiap pasangan faktor keturunan me nentukan bentuk alternatif sesamanya. Sifat-sifat atau ciri-ciri perilaku yang diturunkan orang tua kepada anaknya hanyalah bersifat . kecakapan potensial (bakat dan kecerdasan). Seberapa kuat pengaruh keturunan sangat bergantung pada besarnya kualitas gen yang dimiliki oleh orang tuanya (ayah atau ibu). seperti : konstitusi dan struktur fisik. Berbahagia 8. Penerimaan sosial 10. Oleh karena itu. yaitu : a. dan satu dari pada pasangan alternatif itu memegang pengaruh besar. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman dalam Kecakapan dan Kepribadian Timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian d ipengaruhi oleh bebagai faktor. pasangan faktor keturunan itu memisah. dia dihadapkan dengan sejumlah keragaman ke cakapan dan kepribadian yang dimiliki para peserta didiknya. pembawaan sejak lahir atau berdasarkan keturunan yan g bersifat kodrati. Berdasar kan percobaannya dengan cara mengawinkan bunga merah dengan bunga putih. 2. Herediter. bahwa : (1) tiap-tiap sifat (traits) makhluk h idup itu dikendalikan oleh keturunan. Beberapa asas tentang keturunan di bawah ini akan memberikan gambaran pembanding kepada kita tentang apa-apa yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya : 1. dan (3) pada waktu proses pembentukan sel-sel kelamin. Pesimis 15. Sehingga peserta didik dapat mengembangka n diri sesuai dengan kecepatan belajar dan karakteristik perilaku dan kepribadia nnya masing-masing. Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama 14.

Misalnya. akan didapati beberapa perbedaan sifat dan cir i-ciri perilaku individu dari orang yang bersaudara. Sedangkan perbandingannya mana yang lebih besar antara sifat-s ifat ayah dan ibunya ini sangat tergantung kepada daya kekuatan tarik menarik da ri pada masing-masing sifat keturunan tersebut. Hal ini disebabkan karena pad a waktu terjadinya pembuahan komposisi gen berbeda-beda. karena lingkungan itu senantiasa tersedi a di sekitarnya. Oleh karena itu. sehingga akan didapati sebagian kecil dari sifat-sifat ayahnya dan sebagian kecil pula dari si fat-sifat ibunya. 5. sedangkan bagi anak laki-laki akan le bih banyak memilki sifat pada ibunya. 3. Asas Varia si Bahwa penurunan sifat pembawaan dari orang tua kepada anak-anaknya akan berva riasi. Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mu tlak dari pada pengaruh lingkungan itu. termasuk didalamnya ad alah belajar. sehingga mungkin saja kakaknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ayahnya sedangkan adiknya lebih banyak menyerupai sifat d an ciri-ciri perilaku ibunya atau sebaliknya. dapat k ita ikuti pada uraian berikut : 1. karena dengan lingkungan itu individu mulai meng alami dan mengecap alam sekitarnya. baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis. Asas Jenis Menyilang Menurut asa s ini bahwa apa yang diturunkan oleh masing-masing orang tua kepada anak-anaknya mempunyai sasaran menyilang jenis. lingkungan tempat di mana individu itu berada dan berinteraksi. Sejauh mana pengaruh lingkungan itu bagi diri individu. baik mengenai kuantitas maupun kualitasnya. Environment. Lingkungan membuat individu sebagai makhluk s osial . baik yang berasal dari ayah maupun ibu. b. Asas Regresi Filial Terjadi pensur utan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan o leh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai e mpirik yang berarti pengalaman. reproduksi. dan bukan didasarkan pada perilaku orang tua yang diperolehny a melalui hasil belajar atau hasil berinteraksi dengan lingkungannya. Seorang anak perempuan akan lebih banyak mem ilki sifat-sifat dan tingkah laku ayahnya. orang Eropa akan menyerupai sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku seperti orang -orang Eropa lainnya dibandingkan dengan orang-orang Asia. walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama. Asas konformitas Berdasarkan asas konformi tas ini bahwa seorang anak akan lebih banyak memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku yang diturunkan oleh kelompok rasnya atau suku bangsanya.2. yaitu memunculkan kembali mengenai apa yang sudah ada pada hasil per paduan benih saja. 4.

Dapat kita bayangkan andaikata seorang anak manusia yang sejak lahirnya dipisahkan dari pergaulan manusia sampai kira-kira berusia 10 tahun saja. Obyek penyesuaian diri bagi individu. akan mengakibatkan berubahnya tabiat manusia sebagai manusia. Lingkungan membuat wajah budaya bagi individu Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah m enjadi kekayaan budaya bagi dirinya. individu melakukan manipulation yaitu mengadakan usa ha untuk . Sesuatu yang diikuti individu. walau pun diberinya cukup makanan dan minuman. Sehingga kalaup un dia kemudian dididik. sehin gga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya. Contoh : dalam keadaan cuaca panas individu memasang kipas angin sehingga dikamarnya me njadi sejuk. 2. Dalam hal ini. Contoh : seorang anak yang senantiasa bergaul dengan temannya yang rajin belajar. d. Lingkungan me miliki peranan bagi individu. apabila dianggap sesuai de ngan dirinya. Lingkungan yang beraneka ragam senant iasa memberikan rangsangan kepada individu untuk berpartisipasi dan mengikutinya serta berupaya untuk meniru dan mengidentifikasinya. Penyesuaian dir i alloplastis artinya individu itu berusaha untuk merubah lingkungannya. Berubahnya tabiat manusia sebagai ma nusia dalam arti bahwa ia tidak akan mampu bergaul dan bertingkah laku dengan se samanya. akan tetapi serentak dia dihadapkan kep ada pergaulan manusia. Contoh : a ir banjir pada musim hujan mendorong manusia untuk mencari cara-cara untuk menga tasinya. Contoh : air dapat dipergunakan untuk minum atau menjamu teman ketika berkunjung ke rumah. canggung pemalu dan lain-lain. b. sebagai : a. Alat untuk kepentingan dan kelangsung an hidup individu dan menjadi alat pergaulan sosial individu. Terputusnya hubungan manusia dengan m asyarakat manusia pada tahun-tahun permulaan perkembangannya. c.Yang dimaksud dengan lingkungan pada uraian ini hanya meliputi orang-orang atau manusia-manusia lain yang dapat memberikan pengaruh dan dapat dipengaruhi. Tant angan bagi individu dan individu berusaha untuk dapat menundukkannya. maka sudah dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mampu be rbicara dengan bahasa yang biasa. Lingkungan dapat membentuk pribadi seseoran g. sedikit banyaknya sifat rajin dari temannya akan diikutinya sehi ngga lama kelamaan dia pun berubah menjadi anak yang rajin. maka penyesuaian dirinya itu akan berlangsung sangat la mbat sekali. karena manusia hidup adalah manusia yang berfikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba terhadap segala apa yang tersedia di alam sekitarnya. baik secara alloplastis maupun autoplastis.

emosi. kecepatan ketepatan. religius. otot. pada awalnya dia merasa mual karena bau obat-obatan. namun lama-kelamaan dia me njadi terbiasa dan tidak menjadi gangguan lagi. hasil belajar yang diperoleh peserta didik. Contoh : seorang juru rawat di rumah sakit.M) P= Pribadi atau perilaku f = fungsi H= Herediter (pembawaan) E=Environment (ling kungan. Kematangan pada awalnya merupakan hasil dari adanya peru bahan-perubahan tertentu dan penyesuaian struktural pada diri individu. Maturity.memalsukan lingkungan panas menjadi sejuk sehingga sesuai dengan dirinya. Kematangan aspek psikis ini diperlukan adanya latihan dan belajar tert entu. Kecakapan khusus indivi du yang merupakan hasil pembawaan. Ketiga faktor tersebut di atas dapat dibuat formulasi sebagai berikut : P= f (H. Inteligensi d. penyesusian diri yang dilakukan individu agar dirinya sesuai dengan lingkungannya. a. Kepribadian 2. . Aptitude c. sosial. Achievement b. dan kemudahan peserta didiknya dalam m enyelesaikan tugastugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulang an atau ujian. Latihan Soal : Pilihan Ganda Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda pa ling tepat. seperti adanya kematangan jaringan-jaringan tubuh. Sedang kan penyesuaian diri autoplastis. karena dirinya telah sesuai deng an lingkungannya. moral.E. seorang guru dapat melakukan pengamatan dengan melihat indikator sebagai berikut : a. Kematangan terjadi pula pada aspek-asp ek psikis. Untuk mengenali tingkat kecerdasan peserta didiknya. c. dan kepribadian. seperti : kemampuan berfikir. terutama dalam mata pelajaran Matematika d an bahasa Inggris b. Kematangan seperti ini disebut kematangan biologis. syaraf dan kelenjar. termasuk belajar) M=Maturity (tingkat kematangan) D. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. kematangan yang mengacu pada tahap-tahap atau fase-fase perkembanga n yang dijalani individu.

cara berbicara dan bertindak peserta didik sehari-hari. b. d. dan c benar 4. kemampuan usia prestasi belajar a.c. b. dan c benar terhadap rangsangan8. d. tidak memerlukan dorongan (motivas i) dari luar. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa X memiliki kecerdasan tergolong : a. dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual speed). c. atau cepat lambatnya mereaksi rangsangan yang data ng dari lingkungan. c. d. b. b. d. b. Di bawah ini merupakan ciri-ciri keberbakatan dalam rangka percepatan belajar (accelerated learning). b. kecuali : a. Disposisi reaktif seorang. karakter . (5) kemampuan b ilangan (numerical ability). Berdasarkan hasil test kecerdasan. c. c. mampu belajar/bekerja secara mandiri. d. c. a. siswa X memperoleh ukuran kecerdasan (IQ) sebesar 135. d. karakter dan temperamen stabilitas emosi sikap dan stabilitas emo si responsibilitas dan sosiabilitas a. b. (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency). Two Factors Primary Mental Abilities Multiple Intlelligence a. (3) kemampuan nalar atau berfi kir (reasoning). selalu memperoleh peringkat pertama di kelas memiliki kemampuan me mikirkan beberapa macam pemecahan masalah. Merupak an teori inteligensi : a. b. Di bawah ini merupakan aspek-aspek kepribadian menurut Abin Syamsuddin Makmun : a. dan c benar 5. 7. 3. b dan c benar. Inteligensi merupakan penjelmaan dari : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension). Intelligence Quotient (IQ) merupakan ukuran tingkat kecerdasan seseorang diba ndingkan dengan : a. (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor). Very Superior Superior Genius Di atas rata-rata 6. (2) kemampuan mengingat (memory). a.

c. Penyesuaian diri yang dilakukan individu dengan berusaha merubah lingkungann ya. a. d. Terjadi pensu rutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. sikap dan stabilitas emosi 9. mal-adjusment d. temperamen c. stabilitas emosi d.b. autoplastis c. a. J elaskan tentang teori Multiple Inteligensi menurut Howard Gardner ! 2. Jelaskan bagaimana cara mengukur kecerdasan seseorang ? 3. Jelaskan bahwa faktor heredite r. A sas Reproduksi Asas Variasi Asas konformitas Asas Jenis Menyilang 10. lingkungan dan kematangan dapat mempengaruhi terhadap timbulnya keragaman dal am kecakapan dan kepribadian ! . well-adjusment Uraian 1. alloplastis b. b.

Menguraikan tugas-tugas perkembangan individu pada masa bayi kanak-kanak. B. 3. 4. 2. dan model pentahapa n perkembangan individu. aspek-aspek perkembangan perilaku dan pribadi pada masa remaja. 5. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Pe rkembangan Pada Masa Remaja C. 6. Pokok Bahasan 1. Aspek – Aspek Perkembangan Individu. tugas perkembangan individu dan masa remaja. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. serta problema yang dihadapi pada masa remaja. dan remaja. prinsip-prinsip perkembangan. 5. .BAB III PERKEMBANGAN INDIVIDU A. diharapkan Anda dapat : 1. Menjelaskan tahapan perkembangan individu berdasarka n pendekatan didaktis. 4. 2. 3. Intisari Bacaan 1. Peng ertian Perkembangan. Mendefinisik an perkembangan. Mengidentifikas i ciri-ciri umum perkembangan. Pengertian Perkembangan Perkembangan dapat diartikan sebag ai perubahan yang sistematis. progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – p erubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Model Pentahapan Perke mbangan. Menjelaskan tentang aspek-aspek perkembangan individu.

seperti : berat dan tinggi badan.Yang dimaksud dengan sistematis adalah bahwa perubahan dalam perkembangan itu be rsifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. baik fisik maupun psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmon is. Contoh : kemampuan berbicara seseorang akan sejalan dengan kematangan dalam perkembangan intelektual atau kognitifnya. Fisik. Berkesinamb ungan artinya bahwa perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan. 3. f. Diferensiasi ke integrasi. Psikis. 6. Contoh : perubahan prop orsi dan ukuran fisik (dari pendek menjadi tinggi dan dari kecil menjadi besar). e. d. Yelon dan Winstein (Syamsu Yusuf. meningkat dan meluas. Contoh : untuk dapat berdiri. b. Terjadinya perubahan dalam aspek : 1. individu. seperti : berbicara dan berfikir. Setiap individu normal akan mengalami tahap an/fase perkembangan. Struktur mendahului fungsi. Terja dinya perubahan dalam proporsi. Dari outer control ke inner control. 2. paru dan sebagainya) ke sampin g (tangan). 2003) mengemukakan tentang arah atau pola perkembangan s ebagai berikut : 1. Cephalocaudal & proximal-distal (perkembangan manusia itu mu lai dari kepala ke kaki dan dari tengah (jantung. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan. ba ik secara kuantitatif (fisik) mapun kualitatif (psikis). c. yaitu : a. b. Kemampuan berjalan seseorang akan sei ring dengan kesiapan otot-otot kaki. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Perkembangan individu mempunyai ciri-cir i umum sebagai berikut : a. Semua aspek perkembang an saling berhubungan. Dari konkret ke abstrak. beberapa prinsip perkembangan Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti. . perubahan pengetahuan dan keterampilan dari sederhana sampai kepada yang komple ks (mulai dari mengenal huruf sampai dengan kemampuan membaca buku). Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu. Progresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju. Syamsu Yusuf (2003) memerinci. Setiap fa se perkembangan mempunyai ciri khas. Lebih jauh lagi. 2. seorang anak terl ebih dahulu harus menguasai tahapan perkembangan sebelumnya yaitu kemampuan dudu k dan merangkak. Begitu juga ketertarikan seorang remaja ter hadap jenis kelamin lain akan seiring dengan kematangan organ-organ seksualnya. Dari egosentris ke perspektivisme. 5. 2. 4.

Fisik.25 th 0-2 th 2-12 th 12-15 th 15-20 th 0-3 th 3-7 th 7-13 th 13-20th 9 bln-280 hr 10 hr-14 h r 2 mng -2 th 2 th-remaja 11-13 th 16-17 th 18-21 th 21-25 th 25-30 th 30. Para ahli mengemukakan pe ndapat tentang model – model petahapan yang beragam. perilaku impulsif. 2. ilmu pengetahuan. didaktis. terutama yang berkaitan den gan sex. nilai-nilai moral dan keyakinan beragama.6 th 6-12 th 12-18 th 18. kelenjar thymus dan kelenjar pineal. seperti : lenyapnya masa mengo ceh.Early Adolesen ce . Psikis. seperti berkembangnya rasa ingin tahu. 1. dan psikologis.1. 3. tumbuh uban pada masa tu a.wafat Syamsu Yusuf Rosseau Kretschmer Elizabeth Hurlock . seperti: rambut-rambut halus dan gigi susu .Late Adolesence Adulthood (masa dewasa) Middle age (tengah baya) Old Age (m asa tua) Waktu 0-7 th 7-14 th 14-21 th 0. seperti : proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangann ya. Di bawah ini disajikan tabel tentang model tahapan perkembangan yang dikemukakan oleh beberapa ahli. c. Diperolehnya tanda-tanda baru. d. 1. seperti : pe rgantian gigi dan karakteristik sex pada usia remaja.Pre Adolesence . Nama Ahli Aristoteles Tahapan Masa Kanak-Kanak Masa Anak Sekolah Masa Remaja Mas a Usia Pra Sekolah Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Menengah Masa Usia Mahapeserta didik Tahap I Masa Asuhan Tahap II Masa Pendidikan Jasmani dan latih an Panca Indera Tahap III Masa Pendidikan Akal Tahap IV Masa Pendidikan Watak da n Agama Fullungs (Pengisisian) I Streckungs (Rentangan) I Fullungs (Pengisisian) II Streckungs (Rentangan)II Pranatal Infancy (orok) Babyhood (bayi) Childhood ( kanak-kanak) Adolesence/puberty (masa remaja): . Fisik. maka untuk kepentingan studi para ahli telah mencoba mengembangkan m odel pentahapan (stages) mengenai proses perkembangan. yang secara garis besarnya da pat dikelompokkan ke dalam tiga pendekatan yaitu pendekatan biologis. seperti : perubahan imajinasi dari fantasi ke realistis. 2. Model Pe ntahapan Perkembangan Individu Memperhatikan kompleksitas dari sifat perkembanga n individu. Fisik. seperti kumis dan jakun pa da laki dan tumbuh payudara dan menstruasi pada wanita. Psikis. Psikis. 2. Lenya pnya tanda-tanda yang lama.

Melihat kehidupan sebagai “zero-sum game” 5. 3. Perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal 8. Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan 3. Mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik 3. yaitu : Tahap Impulsif Ciri – Ciri Identitas diri terpisah dari orang lain Bergantung pada lingkungan Beorientasi hari ini Individu tidak menempatkan diri sebagai penyeba b perilaku Peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berh ubungan dengan orang lain 2. Menjadi lebi h toleran terhadap diri sendiri dan orang lain 4. Takut tidak diterima k elompok 9. Dan perspektif diri 4. motif. Berfikir lebih kom pleks dan atas dasar analisis 1. Merasa berdosa jika melang gar aturan 1. Peduli akan hubungan mutualistik 5. Perlindungan Diri Konformistik Seksama Individualistik Otonomi . 1. Peduli akan paham abstrak. Memiliki pandanga n hidup sebagai suatu keseluruhan 2. 4. Peduli akan aturan eksternal 4. Kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan 3.Piaget Sensori-motor Pra-operasional : . Memiliki tujuan jangka p anjang 6. Kurang introspeks i 7. Peduli terhadap penampilan di ri 2.Pre-konseptual . Mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan 1. Tidak sensitif terhadap keindividualan 10. 4. Berfikir sterotip dan klise 3. Berfikir tidak logis dan stereotip 4. Bertindak d engan motif dangkal 5. Mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan 6. Peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial 1.Intuitif Konkret -Operasional Formal . Mengenal eksistensi perbedaan individual 5. Peningkatan kesadaran invidualitas 2. Bersikap realistis dan obyektif terhadap di ri sendiri maupun orang lain 3. 2. Me mbedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya 7.operasional 0-2 th 2-7 th 2-4 th 4-7 th 7-11 th 11-15 th Loevenger sebagaimana dikemukakan oleh Sunaryo dkk (2003) mengemukakan tentang f ase-fase perkembangan individu beserta ciri-cirinya. Mengenal kompleksitas diri 8. Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain 1. Cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial 7. Bertindak atas dasar nilai internal 2. Mampu melihat keragaman emosi. Menyamakan diri dalam ekspresi emosi 6. seperti keadilan sosi al.

mulai dari yang paling dekat sampai dengan ruang yang jauh. Melalui latihan ke bersihan. Masa Vital. karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan merupakan alat untuk melakukan eks plorasi dan belajar.5. 2. 7. 5. 4. Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual. Selanjutnya. 6. Anak bereksplorasi dan belajar melalui panca inderanya. 2. Peduli akan self fulfillment Ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal Respek terhadap kemandirian orang lain Sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain Mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan kece riaan Dengan memperhatikan fase dan ciri-ciri perkembangan di atas. tela h mengembangkan suatu instrumen untuk melacak tugas-tugas perkembangan individu. Sunaryo. pada masa ini individu menggunakan fungsi-fungsi biologis un tuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. de ngan merujuk pada pemikiran Syamsu Yusuf (2003). 8. anak belajar mengendalikan impulsimpuls atau dorongan-dorongan yang da tang dari dalam dirinya. Masa Estetik. b. . 3.Pada tahun kedua anak belajar berjalan sehingga anak belajar menguasai ruang. di bawah ini dikemukakan tahapa n perkembangan individu dengan menggunakan pendekatan didaktis: a. Yang dikenal dengan sebutan Inventori Tugas Perkembangan (ITP). Freud menyebutnya sebagai masa oral (mulut). maka soal itu dianggap tidak penting. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 – 9/10 tahun) : 1. Masa Usia Sekolah Da sar terbagi dua. Pada masa i ni panca indera masih sangat peka. Adanya k orelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional. atau masa keserasian bersekolah pada umur 6 -7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. Untuk masa belajar pada tahun pertama dalam kehidupan individu . Masa Usia Pra Sekolah Masa Usia Pra Sekolah terbagi dua yaitu (1) Masa Vital dan (2) Masa Est etik 1. dkk. yaitu : (a) masa kelas-kelas rendah dan (b) masa kelas tinggi. 9. Pa da tahun kedua umunya terjadi pembiasaan terhadap kebersihan. Adanya kecenderungan memuji di ri sendiri Membandingkan dirinya dengan anak yang lain Apabila tidak dapat menye lesaikan suatu soal. dianggap sebagai masa perkembangan ras a keindahan.

Masa Usia Kemahas iswaan (18.6. pantas dijunjung dan dipuja. Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus 4.Aspek Perkembangan Individu a. setelah remaja dap at menentukan pendirian hidupnya. yang terbagai ke dalam 3 bagia n yaitu : 1. masa remaja akhir. adanya perubahan kuantitatif pada struktur tulang. Masa Usia Sekolah Menegah Masa usi a sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja. indeks tinggi dan berat bad an. Perkembangan anatomis . 2. pada dasarnya telah tercapai masa remaja akhir dan telah terpenuhi tugas-tugas perkembangan pada masa remaja. biasanya ditandai dengan sifat-sifat negatif. rasa ingin t ahu dan ingin belajar 3. masa remaja. tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak. Pada masa ini sebagai masa mencari sesuatu yang dipandang bernilai. pada masa i ni mulai tumbuh dorongan untuk hidup. prestasi. 3. . Aspek. 4. proporsi tinggi kepala dengan tinggi garis keajegan badan secara secara kese luruhan. Dalam perma inan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sud ah ada). Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi s ekolahnya. kebutuhan akan adanya teman yang dapat mem ahami dan menolongnya. Perkembangan F isik Perkembangan fisik individu mencakup aspek-aspek : 1. serta sikap sosial. mereka membuat peraturan sendiri. yang intinya pada masa ini merupakan pem antapan pendirian hidup. masa remaja awal. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) : 1. Samp ai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesa ikan tugas dan memenuhi keinginannya. 6. c.00 tahun) Masa ini dapat digolongkan pada masa remaja akhir sam pai masa dewasa awal atau dewasa madya. d. dal am jasmani dan mental. Minat ter hadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret 2. Selepas usia ini pada umumnya anak menghad api tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya 5. Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor ya ng baik. yang akan member ikan dasar bagi memasuki masa berikutnya yaitu masa dewasa. Amat realistik.00-25. Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama.

lukisan gerak . mulai masa remaja t erjadi amat mencolok. dan (2) dari yang kasar dan g lobal (gross bodily movements) kepada yang halus dan spesifik dan terkoordinasik an (finely coordinated movements). sekresi kelenjar dan pencernaan . seperti konstraksi otot-ot ot. tulisan. me ngkodifikasikan.gerik. Jones dan Conrad (Loree. yaitu : (1) bahwa perkembangan itu ber langsung dari yang sederhana kepada yang kompleks.kembangan menurun sangat lamb at bahkan menjadi mapan. Loree dalam Abin Syamsuddin (2003) mengatakan bahwa ada dua macam perilaku psikomotorik utama yang bersifat universal harus d ikuasai oleh setiap individu pada masa bayi atau masa kanak-kanak yaitu berjalan (walking) dan memegang benda (prehension). pada permulaan masa remaja akhir bagi wanita dan penghujung masa remaja akhir bagi pria. gambar. Puncak perkembangan pada umumnya tercapai di penghuju ng masa remaja akhir. Kedua jenis keterampilan ini menjadi dasar bagi perkembangan keterampilan yang lebih kompleks untuk bermain (playing ) dan bekerja (working). dan s etelah itu terjadi plateau (mapan) sampai dengan usia 60 tahun selanjutnya beran gsur menurun. Perkembangan bahasa dimulai dengan ma sa meraban. manusia. Perkembangan Perilaku Psikomotorik Perkembangan psik omotorik memerlukan adanya koordinasi fungsional antara neuronmuscular system (s istem syaraf dan otot) dan fungsi psikis (kognitif. . kuantitaif dan fungsional dari sistem kerja biologis. afektif. baik dalam bentuk lisan. dan mimik serta simbol ekspresif lainnya. Laju perkembangan berjalan secara berirama. setelah itu kepes atannya berangsur menurun. Kemudian. ditandai dengan adanya perubahan secara kualitatif. b. bicara monolog. pada masa bayi dan kanak-kanak per ubahan fisik sangat pesat. membaca dan menggambar permulaan.1970) menunjukkan bahwa laju perkemb angan inteligensi berlangsung sangat pesat sampai masa remaja. d. Dua prins ip utama dalam perkembangan psikomotorik. Perkembangan fisiologis. Melalui bahasa. Perubahan-perubahan amat tipis sampai usia 50 tahun. pada usia sekolah menjadi lambat. membuat kalimat sederhana. menyimpan.2. mengekspresikan dan mengkomunikasikan berb agai informasi. konatif). Perkembangan Bahasa Kemampuan berbahasa merupakan ke mampuan yang membedakan antara manusia dengan hewan. dan bahasa ekspresif dengan belajar menul is. peredaran darah dan pernafasan. Perkembangan Perilaku Kognitif Dengan m enggunakan hasil pengukuran tes inteligensi yang mencakup General Information an d Verbal Analogies. persyarafan. haus nama-nama. laju per. mencatat. c. gemar bertanya yang tidak selalu har us dijawab.

pandangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dengan pandangan pada periode sensori motor. yakni tidak bergantung lagi pada pengamatannya belaka. Namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya.24 bulan barulah kemampuan object permanence anak ters ebut muncul secara bertahap dan sistematis. tidak i a sentuh. atau tidak ia dengar dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya benda it u ada.Dengan berpatokan kepada hasil tes IQ. Artinya. Tahap Pra Operasional (2 – 7) Pada tahap ini anak sudah memiliki penguasaan sempurna tentang object permanence. Tahap Sensori-Motor (0-2) Inteligensi sensori-motor dipandang seb agai inteligensi praktis (practical intelligence). insight learning dan kemampuan berbahasa. Sebelum usia 18 bulan. anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yan g harus ada atau biasa ada. Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. sebaga i berikut : 1. Jadi. 3 . Bloom (1964) mengungkapkan prosentase tar af perkembangan sebagai berikut : Usia 1 tahun 4 tahun 8 tahun 13 tahun Perkembangan Sekitar 20 % Sekitar 50 % Sek itar 80 % Sekitar 92 % Secara kualitatif perkembangan perilaku kognitif diungkapkan oleh Piaget. Pada periode in i anak baru mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristi wa yang konkret. didengar atau disentuh lagi. dengan menggunakan kata-kata yang benar serta mampu mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif. anak belu m mengenal object permanence. Pada periode ditandai oleh adanya eg osentris serta pada periode ini memungkinkan anak untuk mengembangkan diferred-i mitation. Tahap konkret-operasional (7-11) Pada periode ditandai oleh adanya tambahan ke mampuan yang disebut system of operation (satuan langkah berfikir) yang bermanfa at untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dal am pemikirannya sendiri. Art inya. 2.dewasa) . namun me rupakan inteligensi dasar yang amat berarti untuk menjadi fondasi tipe-tipe inte ligensi tertentu yang akan dimiliki anak kelak. benda apapun yang tidak ia lihat. walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sud ah tak dilihat. Dalam rentang 18 . 4. Inteligensi individu pada tahap ini masih bersifat primitif. Tahap formal-operasional (11 . yang berfaedah untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum mampu berfikir mengenai apa yang sedang i a perbuat.

3. Pada awalnya. Proses tersebut biasa disebut sosialisasi. al. Kecenderungan peranan (role disposition). Kapasit as menggunakan hipotesis Kemampuan berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkun gan yang dia respons dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. Kecenderungan ekspresif (expressive disposition). dapat dilihat dari ciri-ciri respons interpersonalnya. e. d an kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam masyarakat. Sementara itu Gilmore (1974) mengemukakan bahwa “…socialization is the proc ess whereby an individual is prepared or trainned to participate in his environm ent”. yang d ibagi ke dalam tiga kategori : 1. ciri-ciri respons interpersonal yang bertalian dengan kesukaan. Akhirnya. kepercayaan terhadap individu lain. . Kecenderungan sosiom etrik (sociometric disposition). ia mempelajari segala yang terjadi dal am lingkungan keluarga. ciri-ciri respons interpersonal yan g merujuk kepada tugas dan kewajiban dari posisi tertentu. dengan menampilkan kebiasaan-kebiasaan khasnya (particular fashio n). Kapas itas menggunakan prinsip-prinsip abstrak Kemampuan untuk mempelajari materi-mate ri pelajaran yang abstrak secara luas dan mendalam. Kagan (1972) mengartikan sosialisasi sebagai: “…the process by which the child is integrated int o the society throgh exposure to the actions and opnions of older members of the society”. norma. ia menyadari bahwa d irinya merupakan bagian dari masyrakat dan dituntut untuk berperilaku sesuai den gan tuntutan masyarakat. Ia mencoba meniru. Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sosialisasi pada intinya merupakan upaya mempersiapkan individu untuk dapat berperilaku sesuai dengan li ngkungan sosialnya. mengidentifikasi dan mengamati segala sesuatu yang ditampilkan orang tua dan anggota keluarga lainnya. Selanjutnya ia mempelajari keadaan-keadaan di luar rumah. Krech et.Pada periode ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yaitu : a. baik yang menyangkut nilai. ciri-ciri respons interpersonal yang bertautan dengan ekspresi diri. b. 2. Perkembangan Perilaku Sos ial Sejak individu dilahirkan ke muka bumi ini ia telah mulai belajar tentang ke adaan lingkungan sosialnya. (1962) mengemukan bahwa untuk memahami perilak u sosial individu.

bersamaan itu pula individu mulai meny adari bahwa dalam lingkungan sosialnya terdapat aturan-aturan. Kohlberg mengemukakan tahapan perkembangan mor alitas individu.4 ) Trozt Alter Kanak – Ka nak Akhir ( 4 – 6 ) Masa Subyektif Menuju Masa Obyektif Anak Sekolah ( 6 – 12 ) Masa Obyektif Kritis II ( 12 – 13 ) Masa Pre Puber Remaja Awal ( 13 – 16 ) Masa Subyekti f Menuju Masa Obyektif Remaja Akhir ( 16 – 18 ) Masa Obyektif Ciri-Ciri Segala sesuatu dilihat berdasarkan pandangan sendiri Pembantah. Dalam hal ini. Perkembangan Moralitas Ketika individu mulai menyadari bahwa ia merupakan bagian dari lingkungan sosial dimana ia berada. norma-norma/nilai -nilai sebagai dasar atau patokan dalam berperilaku. keras kepala Mulai bisa menyesuaikan diri dengan aturan Membandingkan dengan aturan – at uran Perilaku coba-coba. 2003) mengemukakan tahapan dan ci ri-ciri perkembangan perilaku sosial individu sebagaimana dapat dilihat dalam ta bel berikut : Tahap Kanak-Kanak Awal ( 0 – 3 ) Subyektif Kritis I ( 3 . serba salah. Keputusan untuk melakukan s esuatu berdasarkan pertimbangan norma yang berlaku dan nilai yang dianutnya itu disebut moralitas. ingin diuji Mulai menyadari adanya kenyata an yang berbeda dengan sudut pandangnya Berperilaku sesuai dengan tuntutan masya rakat dan kemampuan dirinya f. Buhler (Abin Syamsuddin Makmun. sebagaimana tampak dalam tabel berikut : Tingkat Pre Conventional (0 – 9) 1.Sementara itu. Tahap Orientasi terhadap kepatuhan dan huku man Relativistik hedonism . 2.

Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan ata s kebaradaan-Nya. namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari. pada saat-saat tertentu. melaksanakan ke giatan ritual diterima sebagai keharusan moral Sikap negatif disebabkan alam pik irannya yang kritis melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pur a) Masa Sekolah Masa Remaja Awal Masa Remaja Akhir Pandangan ke-Tuhan-an menjadi kacau.Conventional (9 – 15) Post Conventional ( > 15 ) 3. sehingga banyak yang enggan melaksanakan ritual yang selama ini dilakukan dengan penuh kepatuhan Sikap kembali ke arah positif. 5. Oleh karena itu. manus ia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan diserta i penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu. 1970). 4. Abin Sy amsuddin (2003) menjelaskan tahapan sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Tahapan Ciri-Ciri Sikap reseptif meskipun banyak bertanya Masa Kanak-Kanak Panda ngan ke-Tuhan-an yang dipersonifikasi Penghayatan secara rohaniah yang belum men dalam Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadin ya) Sikap reseptif yang disertai pengertian Pandangan ke-Tuhan-an yang diterangk an secara rasional Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam. Penghayatan seperti itu disebut peng alaman keagamaan (religious experience) (Zakiah Darajat. 6. Orientasi mengenai anak yang baik Mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas Orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial Prinsip e tis universal g. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan Penghayatan roha niahnya cenderung skeptik. dan konatifnya. baik secara individual maupun ko lektif. kognitif. bersa maan dengan kedewasaan intelektual bahkan akan agama menjadi pegangan hidupnya P andangan ke-Tuhan-an dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihny a Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja. individu akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agu ng yang melebihi apa pun. ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran manu sia perkembangan keagamaan . Perkembangan Penghayatan Keagamaan Dengan melalui pertimbangan fungsi afektif . termasuk dirinya.

menunjukkan alat kelaminnya melihat. MASA BAYI DAN KANAK-KANAK (INFANCY PERIOD) Infantile Sexuality Mulut dan bend a Menghisap ibu jari Menggigit. MASA ANAK SEKOLAH (LATENCY PERIOD) Represi Reaksi formasi Sublimasi dan kecen . MASA REMAJA (ADOLESENCE PERIOD) Mengurangi cara-cara waktu masa kanakkanak Munculnya cara orang memperoleh pemua san dewasa Menyenangi diri sendiri (narcisism) atau objeck oediphus-nya Objek pemuasannya m ungkin diri sendiri/sejenis (homosexual) atau lain jenis (heterosexual) . memilih dan memasukkan benda kemulut Memilih benda dan digigitnya secara sadis Dubur dan ben da Memeriksa dan memainkan duburnya Memainkan dan memperhatikan duburnya Menyent uh. merusak dengan mulut Mulut sendiri. siap berfungsinya alat kelamin Cara Pemuasan Sasaran Pemuasan A. Perkembangan Perilaku Konatif Perilaku konatif merupakan perilaku yang berhub ungan dengan motivasi atau faktor penggerak perilaku seseorang yang bersumber da ri kebutuhan-kebutuhannya.h.2003 ) mengemukakan tentang tahapan-tahapan perkembangan perilaku yang berhubungan ob yek pemuasan psychosexual. Freud (Di Vesta & Thompson dalam Abin Syamsuddin. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Daerah Sensitif Pre Genital Period Oral Stage Early Oral Late Oral Anal Stage Ea rly Anal Late Anal Early Genital Period (phalic stage) No New Zone (tidak ada da erah sensitif baru) Late Genital Period Hidup kembali daerah sensitif waktu masa kanak-kanak Akhirnya. memegang.derungan kasih sayang Berkembangnya perasaan sosial perasaan– C. Ditujukan kepada orang tuanya (oediphus atau electra phantaties) Memilih benda dan menyentuhnya/memasukkan ke dubur B.

berdiri. Erikson dalam Nana Syaodih Sukmadinata. doubt. 1970) menjelaskan proses perkembangan dan diferensiasi emosional pada anak-anak. Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan autonomy – shame. dan (3) pola s ambutan. Bridges (Loree. tetapi orang yang dianggap as ing dia tidak akan mempercayainya. Yang mungkin dirubah dan dipengaruhi adalah variabel yang kesatu (stimu s) dan yang ketiga (respons). terutama dipengaruhi oleh faktor lingkungan dari pada faktor fisik . Oleh karena itu kadang-kadang bayi menangis b ila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. Ia bukan saja tidak percaya kepa da orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di se kitarnya. bermain. Pada masa ini sampai-batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut s eringkali bayi menangis. cahaya. tempat asing. nam un dalam kenyataannya sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian dapat dan mun gkin terjadi. suara as ing.i. 2005 mengemukakan perkembangan kepriba dian dengan kecenderungan yang bipolar : tahapan 1. (2) perubahan– perubahan fisiologis yang terjadi pada individu. Perkembangan Emosional Aspek emosional dari suatu perilaku. dalam arti duduk. perlakuan asing dan sebagainya. Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust – mistrust. sedangkan variabel yang kedua merupakan yang tidak mungkin dirubah karena terjadinya pada individu secara mekanis. cemas dan kecewa sedangkan kesenangn berdiferensiasi ke dala m harapan dam kasih sayang j. Perkembangan Kepribadian Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan.3 bln 3 – 6 bln 9 – 12 bln 18 bulan pertama 2 th 5 th Ciri-Ciri Bayi dilengkapi kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. pada umumnya selalu melibatkan tiga variabel. sebag ai berikut : Usia Pada saat dilahirkan 0 . temperatur) Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan. berjalan. yaitu : (1) rangsangan yang menimbulkan emosi (stimulu s). 2. dan (2) intensitasnya (kuat-lemah). Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya. minum dari . kebencian dan ketakutan Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kecemburuan mulai berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kenikmata n dan keasyikan berdiferensiasi dari kesenangan Ketidaksenangan berdiferensiasi di dalam rasa malu. Terdapat dua di mensi emosional yang sangat penting untuk dipahami yaitu : (1) senang – tidak sena ng (suka-tidak suka).

Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity – stagnation. dan kurang akrab atau renggang deng an yang lainnya. sehingga perkembangan individu sangat pesat. sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelo mpok sebayanya. Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. dengan kecakapan-k ecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan–kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihat kan identitas diri. tetapi di pihak lain dia ga tela h mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat. Kalau pada masa sebelumnya. namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar. 6. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy – isolation. 3. pada tahap ini individu telah men capai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. Merek a sudah mulai selektif. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebab kan anak merasa rendah diri. sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity – Identity Confusion. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di satu piha k. 4. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan. dia membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubu ngan yang intim dengan orang-orang tertentu. pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Sesuai dengan namanya masa dewasa. Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative – guilty. pada para remaja sering sekali sangat ekstrim da n berlebihan.botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya. sehingga . sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimp angan atau kenakalan. Pengetahuannya cukup luas. 7. ciri-ciri yang khas dari dirinya. dan untuk sementa ra waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat. dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masi ng anggota. Dorongan membentuk dan mem perlihatkan identitas diri ini. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran. tetapi karena kemam puan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar. Kegagalankegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah. hambatan bahkan kegagalan. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas. individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya. tetapi dia tidak mungkin dapat m enguasai segala macam ilmu dan kecakapan. tetapi di pihak lain karena ke terbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadangkadang dia menghadapi kesukaran. k ecakapannya cukup banyak. 5.

semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. berkenaan dengan tahapan perkembangan karier. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. sebagaimana tampak dalam tabel beriku t ini : Tahap Growth Exploratory Ciri-Ciri Development of capacity. Keberhasilan seseorang dalam suatu pekerjaan bukanlah sesuatu yang diperoleh secara tiba-tiba atau secara kebetulan. Doubt Initiative vs Guilt Industry vs Inferiority Identity vs Identi ty Confusion Intimacy vs Isolation Generativity vs Stagnation Ego Integrity vs D espair k. Selanjutnya. tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan t ersebut. namun merupakan suatu proses p anjang dari tahapan perkembangan karier yang dilalui sepanjang hayatnya. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity – despair. D alam situasi ini individu merasa putus asa.1983) mengemukakan lima tahapan perkembangan karier individu. sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya. eksplorasi karier. Arifin. hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi. and needs associated with self concept Tentative phase in which choices are nar rowed but not finalized Usia (birth -14 or 15) (15 – 24) . Perkembangan Karier Perkembangan karier sangat erat kaitannya dengan pekerjaa n seseorang. mulai d ari usaha memperoleh kesadaran karier.tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. persiapan karier hingg a sampai pada penempatan kariernya. Kedelapan tahapan perkemb angan kepribadian dapat digambarkan dalam tabel berikut ini : Developmental Stage Infancy Early childhood Preschool age School age Adolescence Young adulthood Adulthood Senescence Basic Components Trust vs Mistrust Autonom y vs Shame. Zunker (Popon Sy. Tylor & Walsh (1979) menyebutkan bahwa kemat angan karier individu diperoleh manakala ada kesesuaian antara perilaku karier d engan perilaku yang diharapkan pada umur tertentu. 8. attitudes. Dorongan untuk terus berprestasi mas ih ada. Untuk mengerjakan atau mencapai hal – hal tertentu ia mengalami hambatan. interest. Adapun yang dimaksud dengan p erilaku karier yaitu segenap perilaku yang ditampilkan individu dalam usaha meny iapkan masa depan untuk memperoleh kematangan kariernya. Mu ngkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya teta pi karena faktor usia.

perilaku dan keterampilan yang seyogyanya dikuasai sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. 2 th) Masa O rok (10 –14 hari) Masa Konsepsi (Pranatal) (0-9 bln) Pada setiap fase perkembangan menuntut untuk tertuntaskannya tugas-tugas perkembangan. while failu re leads to unhappiness in the individual. sehingga dapat berti ndak wajar sesuai dengan tingkat usianya. Pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengantarkan individu mencapai kedewasaan. difficulty wit h later task.…) 5. (3) tuntutan dan dorongan dan cit a-cita individu iru sendiri. work out put. .Establishment Maintenance Decline Trial and stabilization trhough work experiences A continual adjustment process to improve working position and situation Preretirement consideration.d. and eventual retirement. disaproval by society. Oleh karena itu segenap proses pendidi kan seyogyanya diarahkan untuk tercapainya tugastugas perkembangannya para peser ta didik. Tugas–tugas perkembangan ini berkenaan dengan sikap. yang merentang sepanjang h idupnya fase-fase perkembangan tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut ini : Masa Dewasa : Masa Tua Tengah Baya Masa Dewasa Awal Masa Remaja (Adolesence) : ( 1) Late Adolesence (18 – 21 th) (2) Early Adolesence (16 – 17 th) (3) Pre Adolesence (11 – 13 th) Masa Kanak-Kanak (2 th – Remaja) Masa Bayi (2 Minggu s. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Salah satu prinsip perkembangan bahwa setia p individu akan mengalami fase perkembangan tertentu. (25 – 44) (45 – 64) (65 . Yang dimaksud dengan ked ewasaan adalah dapat terpenuhinya tugas-tugas perkembangan. (2) tuntutan masyarakat secara kultural. Di bawah ini dikemukakan tugas-tugas perkembangan dari setiap fase men urut Havighurst. dan (4) norma-norma agama. Havighurst (1961) memberikan penge rtian tugas-tugas perkembangan bahwa : “ A developmental task is a task which aris es at or about a certain period in the life of the individual. succesful achieve ment of which leads to his happiness and to success with later task. Tugas perkembangan bersumber pada faktor – faktor : (1) kematangan f isik.

6.0-12.0–6. b. 3. c. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya.a. 9. Belajar bergaul dengan teman sebaya. 2. 6.0) 1. 8. 3. 3. 9. Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari -hari. Memilih dan mempersiapkan karier.0) 1.0-21. Memilih pasangan.0) Belajar berjalan pada usia 9. 10. 4. 3. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang d iperlukan bagi warga negara. Mengembangkan kata hati. Belajar hidup dengan pasangan. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi. Belajar memakan makan padat. Mencapai peran sosial sebagai pria atau w anita. dan orang lain. 4. Tugas Perkembangan Masa Bayi dan Kanak-Kanak Awal 1. Belajar keterampilan dasar dal am membaca. 8. Mempersiapkan pernikahan dan hi dup berkeluarga. Tugas Perkembangan Masa Kanak-Kanak Akhir dan Anak Sekolah (6. Tugas Perkembangan Masa Remaja (12. 2. 5. Belajar berbicara. Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal 1. Mencapai kemand irian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk mela kukan permainan. d. 7. 5. Belajar buang air kecil dan buang air besar. Memulai hidup dengan pasangan. saudara. 7. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial.0 bulan. Membentuk konsep-kon sep sederhana kenyataan sosial dan alam. Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis. 9. Belajar mengadakan hubungan baik da n buruk dan pengembangan kata hati. Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif. Belajar mem ainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya. (0. 6. Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial.0 – 15. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis. 8. 7. menulis dan berhitung. Belajar mengenal perbeda an jenis kelamin. Mencapai jaminan kemand irian ekonomi.Memperoleh seperangkat nilai sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam berperilaku. 4. 5. Belajar mengadakan hubungan emosional d engan orang tua. 2. . 2.

Tugas Perkembangan Peserta didik SLTA 1. sosial dan ekonomi. Memulai bekerja. 5. Mengambil tanggung jaw ab sebagai warga negara. Men capai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. Tugas Perkembangan Tingkat SLTP 1. 5. Mempersiapkan diri. yaitu : a. Mengenal gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. Menemukan suatu kelompok yang serasi. dan minat serta arah kecenderu ngan karier dan apresiasi seni. Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat 4. Mencap ai kematangan dalam hubungan teman sebaya. 3. Mengenal kemampuan bakat. 2. Sementara itu. Me ngenal sistem etika dan nilai-nilai sebagai pedoman hidup sebagai pribadi. 7. teknologi. Depdiknas (2003) memberikan rincian tentang tugas perkembangan ma sa remaja untuk usia tingkat SLTP dan SMTA. persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi serta berperan dalam ke hidupan masyarakat yang lebih luas. Mengelola rumah tangga. Me mantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sos ial yang lebih luas. anggo ta masyarakat dan minat manusia. 8. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan se suai dengan kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan atau memp ersiapkan karier serta berperan dalam kehidupan masyarakat. dan kesenian sesuai dengan program kuri kulum. men erima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yan g terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat. 6. Memelihara anak. Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. b. yang dijadikan sebagai rujukan Stand ar Kompetensi Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah.4. 6. 7. serta kematangan dalam perannya sebag ai pria dan wanita. M engembangkan penguasaan ilmu. 4. 3. . 8. Mencapai pola hubunga n yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita.

intelektual dan ekonomi . b. Karakteristik Perilaku dan Pribadi Pada Masa Remaja . dan (2) remaja akhir (14-16 th s. 6. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang berkehidupan berkeluarga.18-20 th). 2. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang am at kritis yang mungkin dapat merupakan the best of time and the worst of time. 8.d. 9. 7. sosial. 5.d. Kita menemukan berbagai tafsir an dari para ahli tentang masa remaja : 1. P ara ahli umumnya sepakat bahwa rentangan masa remaja berlangsung dari usia 1113 tahun sampai dengan 18-20 th (Abin Syamsuddin. para ahli mengklasikasikan masa remaja ini ke dalam dua bagian yaitu: (1) remaja awal (11-13 th s. 2003). be rmasyarakat. Spran ger memberikan tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan perubahan st ruktur kejiwaan yang fundamental. Mencapai kematangan gambaran dan s ikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. 1415 t h). 4. Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai dan topan). Oleh karena itu. Pengetian dan Makna Masa Remaja Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting. Mencapai kematangan dalam sistem eti ka dan nilai. berbangsa dan bernegara. 3. Perkembangan Pada Masa Remaja a.5. Charl otte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isi-mengisi. Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode dalam perkembangan yang d ijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak sampai deng an awal masa dewasa. Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai sua tu masa pembentukan sikapsikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu. Pada rentangan periode ini (sekitar 6 – 7 th) terdapat beberapa indikator perbedaan yang signifikan. Mencapai kematangan dalam pilihan karir 6. Mengembangkan kemampuan komunikasi sosi al dan intelektual serta apresiasi seni. baik se cara kuantitatif maupun kualitatif. G. Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang mempunyai bentuk yang definitif.

es tetik. otot mengembang pad a bagian – bagian tertentu).18-20 Th) 1.d. meskipun relatif terbatas. Psikomotor 1. Berkembangnya penggunaan bahasa sandi 1. bahasa. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan lebih seimbang m endekati kekuatan orang dewasa. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif dan terbatas pada keterampil an yang menunjang kepada persiapan kerja. Remaja Akhir (14-16 Th. Laju perkembangan secara umum kembali me nurun. 2. religius. 2.d. sangat lambat. 1. Perilaku Kognitif 1. Aktif dalam perma inan.d. emosi afektif dan kepribadian. 2. Tercapainya titik puncak kedewasaan bahkan mungkin mapan (plateau) yang . kognitif. Menggemari literatur yang bernafaska n mengandung segi erotik. moralitas. sosial. asing.14-15 Th) Fisik 1. 3. Gerak gerik mulai mantap. Siap berfungsinya organ-organ reproduktif sep erti pada orang dewasa. 2. psikomotor. komparasi. Lebih memantapkan diri pada bahasa d an mulai tertarik mempelajari bahasa asing tertentu yang dipilihnya.d.Dengan merujuk pada berbagai ciri-ciri dari aspek perkembangan individu sebagaim ana telah dikemukakan terdahulu. Remaja Awal (11-13 Th s. Gerak – gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasikan. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region. kona tif. Kecakapan dasar intele ktual menjalani laju perkembangan yang terpesat. diferen-siasi. di bawah ini disajikan berbagai karakteristik p erilaku dan masa remaja. 2. 3. 2. 2. Bahasa 1. keagamaan. Proses berfikir sudah mampu mengope rasikan kaidah-kaidah logika formal (asosiasi. fantastik dan dan mengandung nilai-nilai filosofis. 14-15 tahun) dan remaja akhir (14-16 s. yang terbagi ke dalam bagian dua kelompok yaitu remaja awal (11-13 s. Laju perkembangan secara umum berla ngsung pesat. ethis. M enggemari literatur yang bernafaskan dan 2. berbagai jenis cabang 1.kali kurang seim bang. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelami n (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki. kausali tas) yang bersifat abstrak. Sudah mampu meng-operasikan kaidahkaidah logika formal disertai kemampuan membuat generalisasi yang lebih be rsifat konklusif dan komprehensif. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan sering.s. 18-20 tahun) meliputi aspek : fisik.

K alau kondisi psikososialnya menunjang secara positif maka mulai tampak dan . Emosi. Perilaku Sosial 1. Masih mencari dan mencoba m enemukan pegangan hidup Konatif. 2. yang juga akan memberi warna kepada tipe kepribadiannya. 2. sosial. dan religius). Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua de ngan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari mula i dilakukan atas dasar kesadaran dan pertimbangan hati nuraninya sendiri secara tulus ikhlas 3. harga diri dan aktualisasi diri) m ulai menunjukkan arah kecenderungannya 2. 2.suatu saat (usia 50-60) menjadi deklinasi. 1. 4. Sudah dapa t memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari para pe ndukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. Sudah menunjukkan arah kecenderungan tertentu yang akan mewarnai pola dasar k epribadiannya. estetis. Adanya kebergantungan yang kuat kepa da kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalny a masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan marah. Kecender ungan-kecenderungan arah sikap nilai mulai tampak (teoritis. 3. 1. Kecenderungan titik berat ke arah sikap nilai tertentu sudah mulai jelas sepe rti yang akan ditunjukkan oleh kecenderungan minat dan pilihan karier atau pendi dikan lanjutannya. Mulai dapat memelihara jarak dan batasbatas kebebasan. Sudah berangsur dapat menentukan dan menilai tindakannya sendiri atas norma atau sistem nilai y ang dipilih dan dianutnya sesuai dengan hati nuraninya. 2. 3. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyaka n secara kritis dan skeptis. Dengan sikapnya dan cara berfikirn ya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyata annya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. Merupakan masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat 3. meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencobaco ba. 1. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosinalnya tampak mulai terkendali dan dapat menguasai dirinya. 3. 4. Lima kebutuha n dasar (fisiologis. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). Kecakapan dasar khusus (bakat) mul ai 3. Mengidentifikasi den gan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya. Afektif dan Kepribadian 1. Eksistensi dan sifat kemur ah-an dan keadilan Tuhan mulai dipahamkan dan dihayati menurut sistem kepercayaa n atau agama yang dianutnya. kasih sayang. Kecenderungan bakat tertentu mencapai menujukkan kecenderungan-kecendetiti k puncak dan kemantapannya rungan yang lebih jelas.nya mana yang harus di rundingkan dengan orang tuanya. Diawali d engan kecenderungan ambivalensi keinginan menyendiri dan keinginan bergaul denga n banyak teman tetapi bersifat temporer. 2. rasa aman. 2. kecuali dengan tem an dekat pilihannya yang banyak memiliki kesamaan minat. 2. gembira atau kesed ihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat 3. ekonomis. politis. Penghayatan kehidupan keagamaan seharihari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. Moralitas 1. Kebergantungan kepada kelompok sebaya berangsur fleksibel. 3. Mulai menemukan pegangan hidup 1. Perilaku Keagamaan 1.

3. Penolakan dari peer group dapat menimbulkan frustrasi dan menja dikan dia sebagai isolated dan merasa rendah diri. moralitas dan keagamaan. Tid ak bisa dipungkiri. sosial. Namun ketika. yang mungkin saja dapat menimbulkan problem a tertentu bagi si remaja. menyebabkan si remaja kesulitan untuk menguasai bahasa asing. Problema pada Masa Remaja Masa remaja ditandai dengan adanya berbagai perubah an. Masa r emaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial). Pada masa re maja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat.dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya. yang akan membentuk kepribadiannnya. Kematangan organ reproduksi pada masa r emaja membutuhkan upaya pemuasan dan jika tidak terbimbing oleh norma-norma dapa t menjurus pada penyimpangan perilaku seksual. Namun dengan adanya hambatan dalam pengembangan ketidakmampuan berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak berpengaruh terhadap kesuksesan hidup dan karierny a. baik secara fisik maupun psikis. yang ditandai d engan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayan ya (peer group). Namun sebaliknya apabila rema ja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan . terutama melalui pendidikan di sekol ah. Pada masa remaja awal ditandai dengan perkembangan kemampuan intelektual yang pesat. bahkan dapat menjurus pada berbagai tindakan kena kalan remaja dan kriminal. Keadaan fisik pada mas a remaja dipandang sebagai suatu hal yang penting. per kembangan fisik yang tidak proporsional. Namun dikarenakan keterbatasan kesempatan dan sarana d an pra sarana. si remaja tidak mendapatkan kes empatan pengembangan kemampuan intelektual. c. Begitu juga. Problem a berkaitan dengan perkembangan perilaku sosial. Problema berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik. 2. dalam era globalisasi sekarang ini. maka boleh jadi potensi intelektualnya tidak akan berkembang optimal. namun ketika keadaan fisik ti dak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian antara body image dengan self pict ure) dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri. dan aspek-aspek perilaku dan kepribadian lainnya. Problema yang mungkin timbul pada masa remaja diantar anya : 1. Terhambatnya perkembangan kognitif dan bahasa dapat berakibat pula pada aspek emosional. penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting untuk menunjang kesuksesan hidup dan karier seseorang . ditemukan identitas kepriba-diannya yang relatif definitif yang akan mewarnai hi dupnya sampai masa dewasa. pabila tidak disertai dengan upaya pemahaman diri dan pengarahan diri secara tepat. Begitu juga masa remaja. Problema berkaitan dengan perk embangan kognitif dan bahasa. terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk mengenal da n mendalami bahasa asing.

Pada masa remaja juga ditandai dengan ad anya keinginan untuk mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya.dalam dirinya. 4. Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilihlah salah satu j awaban yang menurut Anda paling tepat. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional ya ng masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidu pan pribadi maupun sosialnya. Perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. term asuk dengan guru di sekolah. Dalam hal ini. Agar remaja dapat terhindar dari berbagai kesulitan dan problema kiranya diperlukan kearifan dari semua pihak. sekolah. Hal ini disebabkan pada masa remaja. Problema berkaitan dengan perkembangan kepribadi an. namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan dewasa lainnya. Problema perilaku sosial remaja tidak hanya terjadi dengan kelomp ok sebayanya. di satu sisi adanya keing inan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan pilihannya sendiri. Seja lan dengan pertumbuhan organ reproduksi. dia akan mengalami krisis identitas atau identity c onfusion. Usaha pencarian identitas pun. Upaya untuk memfasilitasi perkembangan rem aja menjadi amat penting. banyak dilakukan dengan menunjuk kan perilaku coba-coba. peranan orang tua. Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). Timbu lnya problema remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram du rja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. baik internal maupun ekst ernal. Selain yang te lah dipaparkan di atas. mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. jika tid ak terbimbing. terutama secara ekonomis. tentunya masih banyak problema keremajaan lainnya. khususnya rema ja awal akan ditandai adanya keinginan yang ambivalen. na mun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua. D. perilaku imitasi atau identifikasi. serta masya rakat sangat diharapkan. sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan men ggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. . Pertengkaran dan per kelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya. dan emosional. hubungan sosial yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan lain jenis dan jika tidak terbimbing dapat menjurus tindakan penyimpanga n perilaku sosial dan perilaku seksual.

kecuali : a. Meraban. a. d. Meraban. b. bahasa ekspresif. d. Meraban. d. Diperolehnya tanda-tanda baru S etiap individu menjadi lebih matang. b dan c benar 2. ya itu : a. Perkembangan psikomotorik utama yang harus dikuasai pada masa bayi dan masa k anakkanak : a. Perkembangan bersifat sistematis Perkembangan b erkesinambungan. c. h aus nama-nama. membuat kalimat sederhana. b. Perkembangan fisik yang sangat pesat terjadi pada masa : a. d. c. b. Kemampuan kognitif anak sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. b. tahapan perkembangan tertinggi untuk siswa tingkat SMTA. Rosseau Kretschmer Piaget Elizabeth Hurlock 4. Merangkak dan memegang Memegang dan berjalan Berjalan da n berbicara Memegang dan berbicara 7. kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th) bayi (0 -2 th) dan remaja (12-20 th). d. namun masih ada keterbatasan kapasitas d alam mengkoordinasikan pemikirannya. bahasa ekspresif. Ahli yang mengelompokkan tahapan perkembangan berdasarkan pendekatan didaktis . a. c. a. bicara monolog. Di bawah ini merupakan ciri-ciri umum perkembangan individu. b. c. bahasa ekspresif. d. gemar bertanya. Lenyapnya tanda-tanda yang lama. haus nama-nama. kanak-kanak (2-7 th) dan sekolah (7-12 th). c. dan b ahasa ekspresif. kanak-kanak (2 -7 th) dan remaja (12-20 th). haus nama-nama. membuat kalimat sederhana. membuat kalimat sederhana. haus nama-nama. c. b. Terjadinya perubahan dalam proporsi. gemar bert anya. gemar bertanya. Tahap Pra-Operasi onal . 8. bicara monolog. bayi (02 th). c.a. gemar be rtanya. 3. Perkembangan bersifat progresif. bicara monolog.. bayi (0-2 th). Meraban. 6. d. Konformistik Seksama Individualistik Otonomi 5. Menurut Lovenger. b. bicara monolog. Tahap Sensori-Motor b. Pola urutan perkembangan bahasa adalah : a.

a. terjadi p ada masa : a. Perkembangan karier yang ditandai oleh adanya proses penyesuaian yang berkesinambungan untuk meningkatkan posisi dalam pekerjaan. Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic. Perkembangan kepribadia n yang ditandai oleh adanya dorongan untuk membentuk dan memperlihatkan identita s diri. 13. terjadi pada masa : a. sehingga enggan melaksanakan ritual. d. Sikap negatif yang disebabkan melihat realita orang – orang beragama yang hypoc rit (pura-pura). b. Kesenangan da n kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya. Perkembangan penghayatan keagamaan pada masa kanak-kanak ditandai oleh adany a : a. kebencian dan ketakutan. Tahap Konkret-Operasional d. d. c. Post Conventional d. Kepekaan umum terh adap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. Tahap perkembangan moralitas yang ditandai dengan orientasi mengenai anak ya ng baik dan mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas. d. c. 14. d. Perkembangan perilak u sosial yang ditandai dengan usaha untuk membandingkan aturan – aturan. c. Tahap Formal-Operasional 9. Kanak-Kanak Awal (0–3 th) Kanak – Kanak Akhir (4–6 th) Anak Sek olah (6–12 th) Remaja Awal (13–16 th) 10. Ketidaksenang an berdiferensiasi ke dalam kemarahan. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentanga n. d. Non Conventional 11. b. Pre Conventional b. b. b. b. Perkembangan emosi pada usia 0-3 bulan ditandai oleh adanya : a. c. Growth Exploratory Establishment Maintenance . Infancy Early Childhood Pre-Schoolage Ad olescence. Penghayatan rohaniah yang skeptik. terjadi pada tahap: a. Kegembiraan b erdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang. Conventional c. temperatur) c. 12 . cahaya.c. Pandanga n ke-Tuhan-an yang kacau.

. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. 17. estetis. c. b . b. harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya. b. dan religius). Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat. dan c benar 16. d. 19. Ciri-ciri Perkembangan perilaku keagamaan pada masa remaja awal. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seper ti pernya-taan marah. Aktif dalam berbagai jen is cabang permainan. c. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyaka n secara kritis dan skeptis. Proporsi ukuran tinggi da n berat badan seringkali kurang seimbang. d. . b. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif. politis. d. Perkembangan perilaku sosial pada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbu l bulu pada pubic region. mes ki masih dalam taraf eksplorasi dan mencoba-coba. 18. a. Perkembangan perilaku moralitas pada masa remaja akhir ditandai oleh adanya : a. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idol anya. Perkembangan fisik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya: a. d. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup. rasa aman. ekonomis. b. kecuali : a. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari dila kukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. Gerak ger ik mulai mantap. gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan sil ih berganti dalam yang cepat. c. Dengan sikap dan cara berfikirny a yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataa nnya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. b. dan c benar. Kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semang at konformitas yang tinggi. Di bawah ini merupakan ciri perkembangan konatif pada masa remaja awal. Lima kebutuhan dasar (fisiologis. c. a. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day d reaming pada laki-laki. otot mengembang pada bagian – bagian tertentu). Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama ( teman dekat). Menarik diri dari lingkungan sosialnya. a. Perkembangan perilaku motorik p ada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. sosial. b. d. c. Berupa ya mempelajari norma-norma yang berlaku di lingkungan sosialnya. Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam. 20. b. Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang uni versal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap dan nila i mulai tampak (teoritis. c. kasih say ang.15.

pendekatan .d. Mendefinisik an belajar dan pengelolaan kelas. Intisari Bacaan 1. 4. Pokok Bahasan 1. J elaskan problema-problema yang terjadi pada masa remaja ! dan bagaimana pula per an orang tua. Teori-Teori Pok ok Belajar. guru serta masyarakat dalam upaya mencegah timbulnya berbagai prol ema pada remaja ? BAB IV PROSES BELAJAR MENGAJAR A. masalah-masalah dalam pengelolaan kelas. apa sesungguhnya belajar itu ? Di bawah ini disampaikan tent ang pengertian belajar dari para ahli : . Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. 5. Menjelaskan secara skematik t entang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar. 2. yang akan membentuk kepribadiannnya. Uraian 1. C. 2. Lantas. peran da n kompetensi guru.pendekatan pembela jaran. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) meny ebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiat an belajar. Jelaskan tugas-tugas perkembang an individu pada masa remaja ! Bagaimana implikasinya terhadap pendidikan ? 3. Masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat dipengaru hi oleh kondisi psiko-sosialnya. Pembelajaran Peran dan Kompetensi Guru Pengelolaan Kelas. diharapkan Anda dapat : 1. 3. bentukbentuk perubahan perilaku sebagai hasil belajar. 3. B. Hakekat Belajar. Hakekat Belajar Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. 4. Menerapkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah pen gelolaan kelas. Mengidentifikasi ciri-ciri belajar. Apa yang dimaksud dengan tugas perkembangan ? 2.

sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu. pengetahuan dan sikap baru”. Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya mer upakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelum nya. . maka penget ahuan. Perubahan yang disadari dan disen gaja (intensional). Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah di perolehnya kebiasaan-kebiasaan. sebaga i hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkunga nnya”. pengetahuan. dengan memperoleh sejumlah pengetahuan. akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan. setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku. b. sikap dan keterampilan yang be rhubungan dengan Psikologi Pendidikan. Begitu juga. indi vidu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan. seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakek at Belajar”. dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. mi salnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat. Gag e & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul ka rena pengalaman” Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas. kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan o leh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan. Dalam hal ini. Misalnya. Begitu juga dengan hasil-hasilnya. sikap. yaitu : a. kebiasaan. Hilgard (1962) : “belaj ar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karen a adanya respons terhadap sesuatu situasi” Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”. Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan di sengaja dari individu yang bersangkutan. Perubahan yang berkesinambungan (konti nyu). sikap dan keterampilan berikut nya.Moh. Misalnya. Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dim anifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan. Begitu juga. seorang mahas iswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. pengetahuan dan kecakapan”. Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku. sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapa t dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”.

namun setelah mengikuti pembelajaran Ps ikologi Pendidikan. d. tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperole h pengetahuan. Perubahan yang bersifat pemanen. dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prins ip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia ke lak menjadi guru. Mis alnya. Perubahan yang bersifat aktif. Perubahan yang bertujuan dan terarah. Contoh : seorang mahasiswa belajar tenta ng psikologi pendidikan. Perubahan yang bersifat positif. Sedangkan tujuan jangka pan jangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang mema dai tentang Psikologi Pendidikan. Perubahan yang fungsional. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudk an dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. f. baik untuk kepenting an masa sekarang maupun masa mendatang. g. maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pe ndidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kel ak ketika dia menjadi guru. Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat diman faatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan. seorang mahasiswa sebelum belaj ar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Menga jar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembanga n perilaku dan pribadi peserta didiknya. individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. Misalnya. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan unt uk mencapai tujuan-tujuan tersebut. berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya . jangka mene ngah maupun jangka panjang. . baik tujuan jangka pendek. Misalnya. Untuk memperoleh perilaku ba ru. mah asiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan. e. Perubahan perilaku yang diperoleh dari pro ses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. maka penguasaan keterampilan m engoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa te rsebut. seorang mahasiswa belajar psikologi pendid ikan. Perubahan perilaku yang terjadi bersifat nor matif dan menujukkan ke arah kemajuan. maka maha siswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan. Individu melakukan kegiatan bel ajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai. mahasiswa belajar mengoperasikan komputer.c. Misalnya.

sikap keterampilannya tent ang “TeoriTeori Belajar” (Post Learning). Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata.h. sikap keterampilannya tentang “Metode-Metode Pembelajara n” (Post Learning). dengan bertambah pengetahuan. terjadinya perubahan perilaku diperoleh tidak secara tiba-tiba. Contoh 3 : Mahasiswa Z memiliki kebiasaan merokok yang ingin d ihilangkannya. Latihan (Learning Experience) Contoh 1 : Mahasiswa X belajar akan mempelajari tentang “Teori-Teori Belajar” dalam perkuliahan Psikologi Pendidikan pada semester 1. disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Bel ajar”. dalam perkuliahan Strategi Belajar Mengajar pada semester 2. sikap dan keterampilan tentang “Teori-Teori Belajar” (Pre learning). tetapi melalui berbagai tahapan dan kegiatan yang harus ditempuh individu. mahasiswa belajar tentang “Teori-Teor i Belajar”. Kemudian oleh . lalu dia datang meminta bantuan dari konselor yang ada di kampus (PreLearning). deng an bertambah pengetahuan. namun setelah dia membaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Teori-Teori Belajar” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). Begitu juga. maka kemampuannya akan meningkat. Belajar merupakan suatu proses. dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Te ori Belajar”. tetapi termasuk memperoleh pula perubaha n dalam sikap dan keterampilannya. Contoh 2 : Mahasiswa Y akan mempelajari te ntang “Metode-Metode Pembelajaran”. Di Vesta dan Tompson dalam Abin Syamsuddin (2003:157) mengga mbarkan perubahan perilaku atau pribadi yang terjadi dari suatu proses belajar s eperti tampak dalam bagan berikut: Perilaku/Pribadi sebelum belajar (Pre Learning) X=0 Y=1 Z= 1 Perilaku/Pribadi se telah belajar (Post Learning) X = (X+1) = 1 Y = (Y+1) = 2 Z = (Z-1) = 0 Pengalaman. Setelah dia me mbaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Metode-Metode Pembelajaran” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). Misalnya. Pada awalnya dia tidak memilik i pengetahuan. Perubahan perilaku secara keseluruhan. Praktik. maka dalam dirinya telah bertambah kemampuannya. dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”. Pada semester 1 dia telah menguasai tentang “Teori-Teori Belajar” yang akan mendasari penguasaan “MetodeMetode Pembelajaran” (Pre Learning).

Dengan tekun dan penuh kesungguhan dia mengikuti apa-apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya (Learning Experience). lalu dia bersamasama ka wan-kawannya melakukan observasi langsung ke kelas. baik secara tertulis maupun tulisan. dalam belajar individu juga memp eroleh berbagai pengalaman sosial melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya. yaitu keterampilan individu dala m melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol. kecakapan individu untuk melakukan penge ndalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya.dan seberapa kuat komitmen individ u terhadap tujuan belajarnya akan menentukan kualitas perubahan perilaku belajar nya. Informasi verbal. --khususnya motif berprestasi-. Dia dapat mengamati langsung bagaimana guru mempraktekkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah-masala h yang muncul dalam pengelolaan kelas. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi p emecahan masalah. Akhirnya. Strategi kognitif. mis alnya: penggunaan simbol matematika. seorang mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidika n. dia memiliki motivasi yang sangat kuat untuk menjadi yang terbaik (the best) di kelasnya. c. dan sebagainya. memahami konsep konkrit. Termasuk dalam keterampilan intelektual ada lah kecakapan dalam membedakan (discrimination). Misalnya.konselor dia dilatih untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya. yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal. defi nisi. Belajar terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong (motivasi) da n ada suatu tujuan yang ingin dicapai. dia memiliki komitmen yang kuat serta memiliki tujuantujuan yang ingin dicapainya secara jelas. merab a/menjamah. Dalam konteks proses pembelaja ran. konsep abstrak.menggunakan tek nikteknik konseling tertentu-. Men urut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun. Selain itu. 2003). dan mencium. mencicipi. aturan dan hukum.-. individu memperoleh pengalaman langsung melalui pengalaman indraw i yang memungkinkan mereka memperoleh pengetahuan dari melihat. Begitu juga. Selain itu. Dalam belajar. strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfi kir agar . perubahan perilaku yang merupakan has il belajar dapat berbentuk : a. Seberapa kuat motivasi belajar yang dimil iki individu. dia dapat berhasil menghilangkan kebiasaan merokoknya (Po st Learning). mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan ingin memp eroleh pengetahuan tentang “Keterampilan Pengelolaan Kelas”. Kecakapan intelektual. mendengar. maka sangat mungkin mahasiswa tersebu t akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi dalam mata kuliah Psikologi Pendi dikan Belajar juga merupakan bentuk pengalaman kehidupan melalui situasi nyata. misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda. Misalnya. dia juga memperoleh pengalama n bagaimana bekerjasama dengan temannya dan berkomunikasi dengan orang lain. b.

marah. b. afektif dan psikomotor. yaitu: (a) teori behaviorisme. menafsirkan. i. d. c. keterampilan -keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tin ggi. sedih. Inhibisi (menghindari hal yang mubazir). yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. g. perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil bel ajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif. Sedangkan menurut Bloom. Berfikir asosiatif.Namun dalam kesempatan ini hanya akan di kemukakan lima jenis teori belajar saja. dan memberi arti rangsan gan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mamp u mencapai pengertian yang benar. (lihat tentang taksonomi perilaku individu pa da Bab I) 2. f . Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut. seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik. Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan ke yakinan. seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali men ghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tamp ak dalam : a. Kecakapan motorik. Pengamatan. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran. e. h. perasaan y ang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak. (b) teor i belajar . Dengan kata lain. Ber fikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar peng ertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why). was-was dan sebaga inya. Sementara itu. sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pem ikiran. didalamnya terdapat unsur pemikiran. beserta tingkatan aspek-aspeknya. yakni berfikir dengan c ara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat. Sikap. benci.terjadi aktivitas yang efektif. yakni proses menerima. Apresiasi (menghargai ka rya-karya bermutu). Kebiasaan. gembira. sehingga akhir nya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar. kecewa. senang. kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. iala h hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fi sik. Keterampilan. e. Teori-Teori Pokok Belajar Jika menelaah literatur psikologi. Moh. d. Sikap adalah keada an dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam mengha dapi suatu obyek atau peristiwa.

(4) teori pemrosesan informasi dari Gagne. diantaran ya: a. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah. Teori Behaviorisme Sebagaimana telah dikemukakan pada Bab II bahwa behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku in dividu. Peristi wa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. c. J ika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer). dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari di antaranya : 1. jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tid ak dilatih. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike. Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar. artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertam bah erat. pendekatan behaviorisme ini . Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. b.Respons akan semakin kuat. maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat. bakat. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov Dari eksperimen yang d ilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar.kognitif menurut Piaget. Sebaliknya. Dengan kata lain. dan mengabaikan aspek – aspek mental.Respons. 2. Law of Effect. semaki n tidak memuaskan efek yang dicapai respons. behaviorisme tidak mengakui ad anya kecerdasan. maka hubungan Stimulus . minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. maka kekuatannya akan menurun. artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang m emuaskan. Jika refleks yang s udah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa men ghadirkan reinforcer. Law of Exe rcise. a. diantar anya : a. Law of Readiness. . artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan sat uan pengantar (conduction unit). dan (5) teor i belajar gestalt. b. maka semakin lemah pula hubungan ya ng terjadi antara Stimulus. Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut.

seorang individu akan berfikir d an memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.F.3. namun tidak sengaja di adakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning. b. Law of operant conditining yaitu jika timbuln ya perilaku diiringi dengan stimulus penguat. Miller dan Dollard dengan teori pengu rangan dorongan. maka kekuatan perilaku tersebut ak an meningkat. Berbeda dengan penganut Behavi orisme lainnya. 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Prinsip dasar belajar menurut teori ini. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meni ngkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu. (3) concrete operational dan (4) for mal operational.F. seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan huk um-hukum belajar. bahwa belajar akan lebih berhasil apabila dises uaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan . melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Teori ini juga masih memandang pentingnya conditi oning. Teori Belajar Kognitif menurut Piaget Dalam bab sebelumnya t elah dikemukan tentang aspek aspek perkembangan kognitif menurut Piaget yaitu ta hap (1) sensory motor. maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. diantaranya : a. Social Learning menurut Albert Bandura Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Melalui pemberian reward dan punishment. Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the tre shold method). b. Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks ot omatis atas stimulus (S-R Bond). Reber (Muhibin Sya h. 4 . Operant Conditioning menurut B. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat . melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebaga i hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini. Respons dalam operant conditio ning terjadi tanpa didahului oleh stimulus. Menurut Piaget. (2) pre operational. bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyaji an contoh perilaku (modeling). Skinner Dari eksperimen yang dilakukan B. metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method).

Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang ses uai dengan cara berfikir anak. 2. potongan. Guru harus membantu anak agar dapat berinte raksi dengan lingkungan sebaik-baiknya. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda denga n orang dewasa.obyek fisik. ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu : 1. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapa i hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. 3. (2) pemahaman. Teori Be lajar Gestalt Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti seb agai “bentuk atau konfigurasi”. Perkembangan merup akan hasil kumulatif dari pembelajaran. (5) i ngatan kembali. maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. Implikasi teori perkembangan kognitif P iaget dalam pembelajaran adalah : 1. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif. 4. Sedangkan kondi si eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu. anak-anak hendaknya diberi peluan g untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya. (1) motivasi. Menurut Koffka dan Kohler. mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. Di dalam kelas. (7) perlakuan dan (8) umpan balik. Bahan yang harus dipelajari anak hend aknya dirasakan baru tetapi tidak asing. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapa t menghadapi lingkungan dengan baik. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship). Berikan peluang agar anak belajar se suai tahap perkembangannya. (4) penyimpanan. (6) generalisasi. (3) pemerolehan. yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. . Bila figure dan latar bersifat samar-sama r. d. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya i nteraksi antara kondisikondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran t erjadi proses penerimaan informasi. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peri stiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. c. warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. Teori Pemrosesan I nformasi dari Robert Gagne Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelaj aran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. 5. untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar.

Per ilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”. Organisme tidak mereaksi terhadap rangs angan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa. 3. gemini dan sebagainya adalah contoh dari pr insip ini. virgo. Perilaku “Molar“ h endaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana. 4. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. dan Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. hendaknya peserta didik memiliki . bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderun g akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertent u. mengikuti kuliah. seperti : sagitarius. berjalan. pisces. adanya penamaan kumpulan bintang. yaitu: 1. Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. Kesederhanaan (simpl icity). Hal yang p enting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis d engan lingkungan behavioral. Kedekatan (proxmity). sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : 1. 6. padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hut an yang lebat (lingkungan geografis). Dalam proses pembelajaran.2. Berlari. (lingkungan be havioral). Perilaku “Molecul ar” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar. Pengalaman tilikan (insight). gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang terten tu. sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. Contoh lain. 4. 5. 3. akan tetapi mereaksi terhada p keseluruhan obyek atau peristiwa. Arah bersama (common direction ). 2. penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan su sunan simetris dan keteraturan. Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt. Misal nya. Misalnya. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenar nya ada. Proses pengamat an merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsa ngan yang diterima. bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan di pandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki. Kesamaan (similarity). bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”.

Orang tua memiliki keterbatasan dalam menjalankan fungsinya se bagai pendidik di rumah. kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu o byek atau peristiwa. Prinsip ruang h idup (life space). Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons . Belajar tidak hanya berlangsung sekolah saja. Proses pemb elajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dic apainya.2. transfer belajar terjadi de ngan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tert entu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susuna n yang tepat. 5. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. sopan santun berhadapan deng an orang tua dan sebagainya. Misalnya. 3. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prins ip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. seorang anak perempuan memiliki keterampilan bagaima na cara mencuci piring. . Transfe r dalam Belajar. maka kegiatan belajar di sekolah dijadikan pilihan untuk meng embangkan perilaku dan pribadi individu dalam rangka memenuhi berbagai tuntutan kehidupan. Oleh karena itu. namun juga dilaksanakan di rumah m aupun masyarakat. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yan g dipelajari. Oleh karena itu. memasak. 4. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generali sasi). kebermakn aan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pem belajaran. biasanya lebih banyak diperoleh dari pengalaman bel ajarnya di rumah. tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). 3. Hal-hal ya ng dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. Perilaku bertujuan (pusposive behavior). Oleh karena itu. khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. guru hen daknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari m ateri yang diajarkannya. menyeterikan baju. Menurut pandangan Gestalt. materi yang diajarkan hendaknya memiliki ke terkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkunga n dimana ia berada. sementara tuntutan kehidupan yang harus dipenuhi indivi du semakin tinggi. bahwa perilaku te rarah pada tujuan. Pembelajaran. guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain.

Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems). Guru seb agai pelaksana (organizer). konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber n orma kedewasaan. atau peserta didik dengan peserta didik untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. di mana ia bertindak sebagai orang sumber (resource person). eksperimen. serta Tuhan yang menciptakannya). Pendekatan ini lebih menekankan kepada aktivitas siswa dan guru lebih b anyak berperan sebagai fasilitator. Sedangkan dalam pengertia n pendidikan yang terbatas. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan bahwa dalam pengerti an pendidikan secara luas. motivator dan pembimbing untuk kepentingan b elajar peserta didiknya. disengaja dan direncanakan. dalam proses interaksi dengan sasaran didik. term asuk metode ceramah dan sejenisnya. observasi dan sej enisnya. terdapat dua pendekat an pembelajaran. d. b. menggerakkan. mengemukakan peran guru dalam proses pembelajaran peserta didik. Kegiatan belajar di sekolah ditandai dengan adanya intera ksi antara atau pendidik dengan peserta didik. b. b. baik secar a formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (k epada sasaran didik. inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan. c. Interaksi pendidikan seperti itu biasa disebut pembelajaran. Peran dan Kompetensi Guru Efektivitas dan efisien belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada per an dan kompetensi guru. Pendekatan Heuristik yaitu yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya praktek. mera ngsang.Berbeda dengan kegiatan belajar di rumah. Bentuk-bentuk kegiatan belajar yang dil akukan peserta didik di sekolah sangat ditentukan oleh pendekatan-pendekatan pem belajaran yang diberikan oleh guru. seorang guru yang ideal seyogyanya dapat berperan seb agai : a. Pendekatan ini lebih berpusat kepada guru da n pada umumnya guru bertindak sebagai sumber informasi yang utama. 4. organisator (penyele nggara) terciptanya proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan. dengan bimbingan guru atau pendidik lainnya. Pendekatan Ekspositorik adalah pendekatan yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya penyampaian informasi. yaitu : a. termasuk discovery-inquiry. transformator (pen terjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan p erilakunya.. Secara garis besarnya. kegiatan belajar yang berlangsung di s ekolah lebih bersifat formal. Abin Syamsuddin dengan mengutip pemikiran Gage dan B erliner. yang m encakup : a. . transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik. yang harus dapat menciptakan situasi. dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan re ncana. memimpin. e.

baik mengenai aspek keefektifan pr osesnya maupun kualifikasi produknya. yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknolo gi kepada masyarakat. dalam konteks proses belajar mengajar di Indonesia. yaitu menguasai bahan yang harus diajarkannya. yaitu seorang yang harus senantiasa b elajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya. menganalisa. diri pribadi (self oriented). dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivit as pengajaran dan administrasi pendidikan. Penegak di siplin. Pelaksana administrasi pendidikan. L ebih jauh. dan agen masyarakat (social agent). yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik melaksanakan disiplin. guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga (family educator). Penterjemah kepada masyarakat. Wakil masyarakat di sekolah. artinya guru bertan ggung jawab untuk mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda y ang akan menjadi pewaris masa depan. atas tingkat keberhasilan proses pembel ajaran. b. Guru sebagai penil ai (evaluator) yang harus mengumpulkan. di mana guru dituntut untuk mampu mengidentifikas i peserta didik yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar. e. seor ang guru berperan sebagai : a. dan kalau masih dalam batas kewenangannya. penemu masyarakat (social inovator). pengarah. c.konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik & humanistik (manusi awi) selama proses berlangsung (during teaching problems). b. Selanjutnya. Seorang pak ar dalam bidangnya. Pengambil inisiatif. yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat. Di sekolah. guru berperan sebag ai perancang pembelajaran. harus membantu pemecahan nya (remedial teaching). dan dar i sudut pandang psikologis. melakukan diagnos a. f. Pelajar dan ilmuwan. pengarah pembelajaran dan pembimbing peserta didik. dan g. guru berperan sebagai : a. keluarga dan masyarakat. Di lain pihak. pengelola pembelajaran. c. Pekerja sosial (social worker). Surya (1997) mengemukakan tentang p eranan guru di sekolah. Seme ntara itu di masyarakat. d. artinya guru berperan s ebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan. Di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented). penilai hasil pembelajaran pe serta didik. . Moh. guru berperan sebagai pembina masyarakat (social develo per). yaitu guru bertanggung jawab agar pendidik an dapat berlangsung dengan baik. Sedangkan dalam keluarga. prognosa. Pemimpin generasi muda. dan penilai pendidikan. Dalam hubungannya dengan aktivitas pengajaran dan ad ministrasi pendidikan. menafsirkan dan akhirnya ha rus memberikan pertimbangan (judgement). Abin Syamsuddin menambahkan satu peran lagi yaitu sebagai pembimbing (teacher counsel). berdasarkan kriteria yang ditetapkan.

artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap pese rta didik di sekolah. Di masa depan. d. artinya gu ru adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar manus ia. guru berperan sebagai : a. Paka r psikologi pendidikan. guru bukan satu-s atunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya. Kalau hal ini terjadi. Yang dimaksud keteraturan di sini mencakup hal-hal yang terkait langsung atau tidak langsung dengan proses pembelajaran. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didika n gurunya. peran dan tanggung jawab guru pada masa mendat ang akan semakin kompleks. Doyle sebagaimana dikutip oleh S udarwan Danim (2002) mengemukan dua peran utama guru yaitu menciptakan keteratur an (establishing order) dan memfasilitasi proses belajar (facilitating learning) . prosedur dan sistem yang mendukung proses pembelajaran. d. orang tua maupun masyarakat. c. Sejalan d engan tantangan kehidupan global. di siplin peserta didik di kelas. Pemberi keselamatan bagi set iap peserta didik. jam masuk dan keluar untuk setiap sesi mata pelaja ran. ia akan terpuruk secara profesional. Pembentuk kelompok (group builder). seperti : tata letak tempat duduk. model keteladanan. artinya guru bertanggung jawab bagi terciptanya kesehat an mental para peserta didik. Sementara itu. Orang tua. interak si peserta didik dengan guru. pengelolaan bahan belajar. berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. a.c. pengelolaan sumber belajar. sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan ber bagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. b. Jika guru tida k memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat. dan e. yaitu guru merupakan orang yang yang mampu menciptakan suat u pembaharuan bagi membuat suatu hal yang baik. Untuk menghadapi . interaksi peserta didik dengan sesamanya. dan lain-lain. Gu ru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well info rmed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh. Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker). Catalyc agent atau inovator. artinya guru merupakan seorang yang memahami psikologi p endidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. ia akan kehilangan kepercaya an baik dari peserta didik. khususnya dengan para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pendidika n. Guru harus harus leb ih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. dan e. Dari sudut pandang secara psikologis. lingkungan belajar. berkembang. yaitu mampu mambentuk menciptakan kelo mpok dan aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan. artinya guru adalah model perilaku y ang harus dicontoh oleh mpara peserta didik. seniman dalam hubungan antar manusia (artist in human relations).

6. dan mengembangkan diri secara berkelanjutan. 4. yang di dalamnya mengatur berbagai hal yang berkaitan dengan profesi guru . mengevaluasi kinerja s endiri. arif dan bijaksana. perancangan pembelaj aran. diantaranya adalah berkenaan dengan kualifikasi. Artinya. 2. 2. Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyara kat untuk : 1. menggunakan teknologi komunik asi dan informasi secara fungsional. stabil. Untuk meningkatkan profesionalisme guru di Indones ia. berwibawa. 5. 3. sehingga dengan dukungan hasil penelitiaan guru tidak terjebak pada praktek pengajaran y ang menurut asumsi mereka sudah efektif. 7. guru masa depan harus paham peneliti an guna mendukung terhadap efektivitas pengajaran yang dilaksanakannya. dewasa. Begitu juga. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat. Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang : 1. pemaha man terhadap peserta didik. b. Disamping itu. kompetensi. berkomunikasi lisan dan tulisan. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan. sertifikasi dan r emunerasi guru. dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang melipu ti: 1. 4. 9. 7. 2. disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan tekno logi yang sedang berlangsung. . pengembangan kurikulum/silabus. 3.tantangan profesionalitas tersebut. c. dengan dukungan hasil penelitian ya ng mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari ta hun ke tahun. mantap. dalam Undang-Undang tersebut d ikemukakan empat jenis kompetensi yang harus dikuasai guru yaitu : a. namum kenyataannya justru mematikan kre ativitas para peserta didiknya. guru perlu berfikir secara antisipatif dan p roaktif. 8. 6. guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimil ikinya secara terus menerus. pemerintah telah menetapkan Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Berkenaan dengan kompetensi guru. 5. berakhlak mulia. evaluasi hasil belaja r.

dapat memilih dan menggunakan berbagai metode me ngajar di dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya. c. yaitu kemampuan yang di perlukan oleh seorang guru agar berhasil dalam berhubungan dengan orang lain. Da lam kompetensi sosial ini termasuk keterampilan interaksi sosial dan melaksanaka n tanggung jawab sosial. tu t wuri handayani. dan perwujudan diri. ing madya mangun karsa. Kompetensi per sonal ini mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri. maup un masyarakat luas. bergaul secara efektif dengan peserta didik. Kompetensi k emasyarakatan. memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani. 4. b. 3. dan 5. Dengan demikian. Sementara itu. yaitu : a. yaitu berbagai kemampuan yang diperlukan untuk dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional . d. Kompetensi profesional. dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/ koheren dengan materi ajar. dan rasa kebers amaan dengan sejawat guru lainnya. rasa tanggung jawab akan tugasnya. hubungan konsep antar mata pelajaran terk ait. tenaga kependid ikan. bergaul secara santun dengan masyaraka t sekitar. konsep. Kompetensi intelektual. b. Kompetensi personal.3. pengarahan diri. memiliki pengetahuan yang luas dari bidang studi yang diajarkannya. sesama guru. struktur. baik dengan peserta didik. materi aja r yang ada dalam kurikulum sekolah. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembe lajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: 1. c. yai tu penguasaan berbagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan tugasnya sebagai guru. pener imaan diri. Kompetensi personal. mampu berkomunikasi. orangtua/wali peserta didik. kom petisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai d an budaya nasional. meliputi : Moh. mengetengahka n lima jenis kompetensi guru. seorang guru akan mampu menjadi seorang pemi mpin yang menjalankan peran : ing ngarso sung tulada. Kompetensi profesional. d. sesama pendidik. dan 4. Raka Joni sebagaimana dikutip oleh Suyanto da n Djihad Hisyam (2000) mengemukakan tiga jenis kompetensi yang seyogyanya dimili ki guru. yaitu kualitas kemampuan pribad i seorang guru yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. . Kompetensi sosial. Kompetensi profesional meliputi as pek kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus di ajarkannya beserta metodenya. Dengan jumlah yang berbeda namun esensinya sama. 2. penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari. Surya (1997) a.

yang menjadi dasar b agi guru untuk mendapatkan sertifikasi guru. b. Teachers are Members of Learning Communities: 1. 2. dengan rumusan What Teachers Should Know and Be Able to Do. Guru dapat menarik keuntungan dari berbagai sumber daya masyarakat. 3. 2. d. e. 4. Kompetensi spiritual. Guru meminta saran dari piha k lain dan melakukan berbagai riset tentang pendidikan untuk meningkatkan prakte k pembelajaran. di dalamnya terdiri dari lima proposisi utama. National Board for Profesional Teaching Skill (NBPTS) merumuskan standar kompetensi bagi guru di Amerika. yaitu kualitas keimanan dan ketaqwaan sebagai seorang y ang beragama. Teachers are Committed to Students and Their Learning : 1. disusun dan dihubungkan dengan mata pelajaran lain. 2. 2. Teachers Think Systematically About Their Practice and Learn from Experience : 1. kemampuan untuk memberikan ganjaran (reward) atas keber hasilan peserta didik. Mengembangkan usaha untuk memperoleh pengetahu an dengan berbagai cara (multiple path). 2. Penghargaa n guru terhadap perbedaan individual peserta didik. c. Teachers Know the Subjects They Teach and How to Teach Those Subjects to Stud ents : 1. 3. yaitu: a . . Guru bekerja sama dengan tua orang peserta didik. Teachers are Responsible for Managin g and Monitoring Student Learning : 1. dan Misi guru dalam memperluas cakrawala berfikir peserta didik.e. Guru secara terus menerus menguji diri untuk memilih keputusan-keputusan terbaik. 3. Penggunaan berbagai metode dalam pencapai an tujuan pembelajaran. 3. dan 4. Sebagai pembanding. Guru memberi kan kontribusi terhadap efektivitas sekolah melalui kolaborasi dengan kalangan p rofesional lainnya. Kesadaran akan tujuan utama pembelajaran. Kemampuan guru untuk menyampaikan materi pelajaran. Perlakuan guru terhadap seluruh peserta didik sec ara adil. Apresiasi guru tentang pemahaman materi mata pelajaran untuk dikreasik an. Menilai kemajuan peserta didik secara teratur. Menyusun proses pembelajaran dalam berbagai setting k elompok (group setting). Pemahaman guru tentang perke mbangan belajar peserta didik.

Memiliki kemampuan interpe rsonal. Mampu me mberikan respon yang membantu kepada peserta didik yang lamban belajar. b. Ke mampuan yang terkait dengan iklim kelas. Pengelolaan Kelas Dalam uraian di atas telah disinggung bahwa salah satu keterampilan yang harus d imiliki guru adalah keterampilan dalam mengelola kelas. dan 8. Kemampuan yang terkait de ngan peningkatan diri. Memiliki kemampuan secara rutin untuk mengahadapi peserta didik yang tidak memiliki perhatian. c. mengalihkan pembicara an. Kemampuan yang ter kait dengan pemberian umpan balik dan penguatan (reinforcement). Pengelolaan kelas merupa kan hal yang berbeda dengan pengelolaan pembelajaran. Memiliki hubungan baik dengan peserta didik 3. 2. 2.Mengutip pemikiran Davis dan Margareth A. Melibatkan peserta didik dalam mengorganisasi kan dan merencanakan kegiatan pembelajaran. 6. antara lain: 1. Mm eminimalkan friksi-friksi di kelas jika ada. 2. pelaksanaan. Mampu menerapkan kurikulum dan metode men gajar secara inovatif. Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) memaparkan tentang beb erapa kemampuan guru yang mencerminkan guru yang efektif. 2. yaitu mencakup : a. Mamp u memberikan umpan balik yang positif terhadap respon peserta didik. yaitu : 1. 4. 4. Mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban yang kurang memuaskan. Menunjukkan minat dan enthusi as yang tinggi dalam mengajar. Pengelolaan pembelajaran l ebih menekankan pada kegiatan perencanaan. Mampu bertanya atau memberi kan tugas yang memerlukan tingkatan berfikir yang berbeda. suka menyela. Mampu memperluas dan menambah pengetahuan metode-metod e pengajaran. Mampu menciptakan atmosfer untuk bekerja sama dan kohesivitas dalam kelompok. Kemampuan yang terkait dengan st rategi manajemen. dan mampu memberikan transisi dalam mengajar. seperti: 1. Mampu mendengarkan peserta didik dan menghargai hak peserta didik untuk berbicara dalam setiap diskusi. penghargaan kepada peserta didik. Mampu membe rikan bantuan kepada peserta didik yang diperlukan. 3. 7. 5. 5. dan ketulusan. 3. evaluasi dan tindak lanj ut dalam suatu . Secara tulus menerima dan memperhatikan peserta didik. Mampu memanfaatkan perencanaan kelompok guru untuk menciptakan metode pengajaran. d. khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati. seperti : 1. Thomas dalam bukunya Effective Schools and Effective Teachers.

dan sebagainya. Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan) Revenge seeking behavior s (pola perilaku menunjukkan balas dendam). Terdapat dua macam masalah pengelo laan kelas. penetapan norma kelompok yang produktif). suku. penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas. y aitu : a. Behavior . helplessness (peragaan ketidakmampua n).pembelajaran. Kelas mereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggot anya. didalamnya mencakup pe ngaturan orang (peserta didik) dan fasilitas. Masalah Individual : 1. tingkatan sosial eko nomi. Rogers mengemukakan pentingnya sikap tu lus dari guru (realness. Kelas kurang mampu menyesuakan diri dengan keadaa n baru. pemberian ganjaran. 4.Modification Approach (Behaviorism Apparoach) Asumsi yang m endasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu mer upakan hasil belajar. Carl A. Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakuka n melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). 2. 6. 5. genuiness.guru dan atau peserta didik – pe serta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim. Socio-Emotional C limate Approach (Humanistic Approach) Asumsi yang mendasari penggunaan pendekata n ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubung an interpersonal yang baik antara peserta didik . Dalam hal ini. congruence). terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam pengelolaan kelas. yaitu : a. 7. Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disep akati sebelumnya. penyelesaian tugas oleh peserta didik seca ra tepat waktu. 3. karena menganggap tugas yang diberikan kurang fair. 3. Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya unt uk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses be lajar (pembinaan rapport. b. Sema ngat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru. Berangkat dari teori-teori belajar sebagaimana telah dikemukakan terdahu lu. Kelas kurang kohesif. b. Kelompo k cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap. Masalah Kelompok : 1. 4. karena alasan jenis kelamin. 2. Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian). sosio-emo sional yang baik. menerima dan menghargai peserta didik sebagai . “Membombong” anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok.

memupuk keberanian menanggung akib at “kurang menyenangkan”. dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik unt uk dapat memikul tanggung jawab. positif. dan permanen Perubahan yang bersifat fungsional. memperlakukan peserta didik sebagai manusia yan g dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya. g. Belajar sebagai usaha untuk memperoleh pengetahuan. Sementara itu. (b) leadership. Sedangkan Haim C. Di bawah ini merupakan hakekat belajar. (d) cohesiveness D. c. caring. Belajar merupakan kegiatan individu di sekolah u ntuk memperoleh pengetahuan 2. Perubahan yang bersifat intensional. c.manusia (acceptance. Belajar merupaka n usaha individu. G roup Process Approach Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bah wa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru a dalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. Latihan : Soal : Pilihan Ganda 1. b dan c benar . serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaia n. dan membe ri kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat. kecuali : a. Di bawah ini merupakan ciri-ciri perubahan perilaku dari kegiatan belajar : e . (c) attractio n (pola persahabatan). b. Ginnot mengemuk akan bahwa dalam memecahkan masalah. mengarahkan peserta didik agar committed terhadap rencana yang telah dibuat. Schmuck menegemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendeka tan group proses. menyusun rencana pemecahannya. trust) dan mengerti dari sudut pandangan p eserta didik sendiri (emphatic understanding). f. kontinyu. bertujuan dan terarah. (c) norm. prizing. serta membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik. guru berusaha untuk membicarakan situasi. a. Belajar merupakan usaha individu memperoleh perubahan perilaku. yaitu : (a) mutual expectations. Sch muck & Patricia A. dari tidak tahu menjadi tahu. (d) communication. menganalisis dan menilai masalah. Perubahan yang bersif at aktif dan menyeluruh. Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Dem ocratic Classroom Process. b ukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasaka n. h. Richard A. Hal senada dikemukakan William Glasser bahwa guru seyogyanya membantu mengara hkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi. d.

a. Sebaliknya. henda knya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkait an unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. memimpin. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : a. Dalam proses pembelajaran. d. semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons. a. c. c. dan c benar. maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus. d. adalah : a. b . b. Pendekatan pembelajaran yang dianggap paling sesuai untuk pembentukan kompete nsi peserta didik. b. dan me ngarahkan kegiatan belajar mengajar merupakan peran guru sebagai : a. Behaviorisme Gestalt Kog nitif Pemrosesan Informasi 8. d. b. 7. a. maka hubungan Stimulus Respons akan semakin kuat. b. c. Materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondi si lingkungan kehidupan peserta didik merupakan salah satu aplikasi dalam pembel ajaran yang dihasilkan dari teori belajar : a. Connectionism (S-R Bond) Classical Conditioning Social Learning Oper ant Conditioning 6. Pentingnya reinforcement dalam pembentukan perilaku individu Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. menggerakkan. Keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan m enggunakan simbol-simbol merupakan bentuk perubahan perilaku dalam : a.Respons . b. Ekspositorik Heuristik Discovery Inquiry 9. d. d. b. c. merangsang. Teori belajar yang menganggap pentingnya imitation dan modelling dalam belaja r. c. c. Informasi verbal Kecakapan intelektual Strategi kognitif Sikap dan kecakapan mo torik 4. Dapat menciptakan situasi belajar. b. Jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. d.3. Perenca na Pembelajaran Pelaksana Pembelajaran . Law of Effect Law of Readiness Law of Exercise Law of Respondent C onditioning 5.

3. 6. d. b. Menjelaskan peran kepala sekolah dan guru mata pelajaran dalam Bimbingan dan Konseling. b. Komp etensi akademik Kompetensi personal Kompetensi pedagogik Kompetensi sosial BAB V BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH A. a. Kompetensi guru yang berhubungan dengan pemahaman perkembangan peserta didik . B. jenis lay anan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling. Sebagai guru. Uraian 1 . asas. Mendefinisik an bimbingan dan konseling. apa yang akan dilakukan jika di kelas menemukan: a. 3.c. siswa yang sedang asy ik ngobrol dengan temannya. bimbingan terhadap peserta didik bermasal ah. 3. Proses dan Teknik Konseling. Mengidentifikasi fungsi. 2. Peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pela jaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling. 5. merencanakan. Menerapkan teknik – teknik dalam konseling. orientasi baru. c. Apa yang dimaksud dengan pengelolaan kelas ? 2. Menganalis is kasus dan mengatasi masalah yang dihadapi peserta didik. d. 2. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. Evaluator Pembelajaran Fasilitator Pembelajaran 10. diharapkan Anda dapat : 1. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling. Pokok Bahasan 1. Bimb ingan terhadap Peserta Didik Bermasalah. para siswa kurang kompak dan selalu berisik. 4. 5. Kegiatan Layanan dan Pend ukung Bimbingan dan Konseling. Jelaskan secara skematik tenta ng perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar !. . proses konseling. melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. 4. prinsip. prosedur umum bimbingan dan konseling.

Djumhur dan Moh. Sertzer & Stone (1966) menemukakan bahwa guidance beras al kata guide yang mempunyai arti to direct. misalnya problema kependidikan. Surya. menentukan. I. leading (memimpin). 2004) mendefiniskan bimbingan sebagai : the process of helping the individual to understand himself and his world so that he can utili ze his potentialities. Intisari Bacaan 1. Dalam pelaksanaannya. Penggunaan istilah bimbingan seperti dikemukak an di atas tampaknya proses bimbingan lebih menekankan kepada peranan pihak pemb imbing. kesehatan. 1978) memberik an rumusan bimbingan sebagai kegiatan yang terorganisir untuk memberikan bantuan secara sistematis kepada peserta didik dalam membuat penyesuaian diri terhadap berbagai bentuk problema yang dihadapinya. Pengertian Bimbing an dan Konseling Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang didalamnya te rkandung beberapa makna. Winkel (198 1) mengemukakan bahwa guidance mempunyai hubungan dengan guiding : “ showing a way” (menunjukkan jalan). conducting (menuntun). keluarga dan masyarakat. governing (mengarahkan) dan gi ving advice (memberikan nasehat). jabat an. Djumhur dan Moh. bimbingan harus mengara hkan kegiatannya agar peserta didik mengetahui tentang diri pribadinya sebagai i ndividu maupun sebagai anggota masyarakat. kemampuan untuk menerima dir inya (self acceptance). Untuk memahami lebih jauh tentang penger tian bimbingan. Jones et. giving instructi ons (memberikan petunjuk). or steer (menunjukk an. mengatur. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling a. (1975) berpendapat bahwa bimb ingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis ke pada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Hal ini tentu saja tidak sesuai lagi dengan arah perkembangan dewasa ini . 1975) mengartikan bimbingan sebagai proses bantuan ter hadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan pen yesuaian diri secara maksimum di sekolah.al. Surya.S. di bawah ini dikemukakan pendapat dari beberapa ahli : Miller (I . pilot. dimana pada saat ini klien lah yang justru dianggap lebih memiliki peranan pen ting dan aktif dalam proses pengambilan keputusan serta bertanggungjawab sepenuh nya terhadap keputusan yang diambilnya. United States Office of Education (Arifin. manager. Sedangkan menurut W. kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) . (1970) mengemukakan : “gui dance is the help given by one person to another in making choice and adjusment and in solving problem.C. sosial dan pribadi. Willis. agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirinya (self understanding). Peters dan Sh ertzer (Sofyan S. atau mengemudikan). regulating (mengatur).

dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan pote nsi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan, baik ke luarga, sekolah dan masyarakat. Dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 ten tang Pendidikan Menengah dikemukakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diber ikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan, d an merencanakan masa depan”. Prayitno, dkk. (2003) mengemukakan bahwa bimbingan da n konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bimbingan pri badi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karier, melalui berbaga i jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku. Da ri beberapa pendapat di atas, tampaknya para ahli masih beragam dalam memberikan pengertian bimbingan, kendati demikian kita dapat melihat adanya benang merah, bahwa : Bimbingan merupakan upaya untuk memberikan bantuan kepada individu atau peserta didik.. Bantuan dimaksud adalah bantuan yang bersifat psikologis. Tercap ainya penyesuaian diri, perkembangan optimal dan kemandirian merupakan tujuan ya ng ingin dicapai dari bimbingan. Dari pendapat Prayitno, dkk. yang memberikan pe ngertian bimbingan disatukan dengan konseling merupakan pengertian formal dan me nggambarkan penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dal am sistem pendidikan nasional. Keberadaan layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang panjang, sejak kuran g lebih 40 tahun yang lalu. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali p ergantian istilah, semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 d an sebelumnya), kemudian pada Kurikulum 1994 dan Kurikulum 2004 berganti nama me njadi Bimbingan dan Konseling. Akhir-akhir ini para ahli mulai meluncurkan sebut an Profesi Konseling, meski secara formal istilah ini belum digunakan. Untuk kep entingan penulisan ini, penulis akan menggunakan istilah Bimbingan dan Konseling sesuai dengan istilah formal yang saat ini dipergunakan dalam sistem pendidikan nasional. b. Orientasi Baru Bimbingan dan Konseling Pada masa sebelumnya (atau mungkin masa sekarang pun, dalam prakteknya masih ditemukan) bahwa penyelenggara an Bimbingan dan Konseling cenderung bersifat klinis-therapeutis atau menggunaka n pendekatan kuratif, yakni hanya berupaya menangani para peserta didik yang ber masalah saja. Padahal kenyataan di sekolah

jumlah peserta didik yang bermasalah atau berperilaku menyimpang mungkin hanya s atu atau dua orang saja. Dari 100 orang peserta didik paling banyak 5 hingga 10 (5% - 10%). Selebihnya, peserta didik yang tidak memiliki masalah (90% -95%) ker apkali tidak tersentuh oleh layanan bimbingan dan konseling. Akibatnya, bimbinga n dan konseling memiliki citra buruk dan sering dipersepsi keliru oleh peserta d idik, guru bahkan kepala sekolah. Ada anggapan bimbingan dan konseling merupakan “polisi sekolah”, tempat menangkap, merazia, dan menghukum para peserta didik yang melakukan tindakan indisipliner. Anggapan lain yang keliru bahwa bimbingan dan k onseling sebagai “keranjang sampah” tempat untuk menampung semua masalah peserta did ik, seperti peserta didik yang bolos, terlambat SPP, berkelahi, bodoh, menentang guru dan sebagainya. Masalah-masalah kecil seperti itu dapat diantisipasi dan d iatasi oleh para guru mata pelajaran atau wali kelas dan tidak perlu diselesaika n oleh guru pembimbing. Mengingat keadaan seperti itu, kiranya perlu adanya orie ntasi baru bimbingan dan konseling yang bersifat pengembangan atau developmental dan pencegahan pendekatan preventif. . Sofyan. S. Willis (2004) mengemukakan ba ru bimbingan dan konseling, yaitu : landasan-landasan filosofis dari orientasi 1. Pedagogis; artinya menciptakan kondisi sekolah yang kondusif bagi perkembanga n peserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual diantara peserta didik . 2. Potensial, artinya setiap peserta didik adalah individu yang memiliki poten si untuk dikembangkan, sedangkan kelemahannya secara berangsur-angsur akan diata sinya sendiri. 3. Humanistik-religius, artinya pendekatan terhadap peserta didik haruslah manusiawi dengan landasan ketuhanan. peserta didik sebagai manusia dia nggap sanggup mengembangkan diri dan potensinya. 4. Profesional, yaitu proses bi mbingan dan konseling harus dilakukan secara profesional atas dasar filosofis, t eoritis, yang berpengetahuan dan berketerampilan berbagi teknik bimbingan dan ko nseling. Dengan adanya orientasi baru ini, bukan berarti upaya-upaya bimbingan d an konseling yang bersifat klinis ditiadakan, tetapi upaya pemberian layanan bim bingan dan konseling lebih dikedepankan dan diutamakan yang bersifat pengembanga n dan pencegahan. Dengan demikian, kehadiran bimbingan dan konseling di sekolah akan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh peserta didik, tidak hanya bagi pes erta didik yang bermasalah saja. c. Fungsi Bimbingan dan Konseling Dengan orient asi baru Bimbingan dan konseling terdapat beberapa fungsi yang hendak dipenuhi m elalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. yaitu:

1. Pemahaman; 2. 3. 4. 5. menghasilkan pemahaman pihak-pihak tertentu untuk pengembangan dan pemacahan mas alah peserta didik meliputi : (a) pemahaman diri dan kondisi peserta didik, oran g tua, guru pembimbing; (2) lingkungan peserta didik termasuk di dalamnya lingku ngan sekolah; dan keluarga peserta didik dan orang tua; lingkungan yang lebih lu as, informasi pendidikan, jabatan/pekerjaan, dan sosial budaya/terutama nilai-ni lai oleh peserta didik. Pencegahan; menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya p eserta didik dari berbagai permasalahan yang timbul dan menghambat proses perkem bangannya. Pengentasan; menghasilkan terentaskannya atau teratasinya berbagai pe rmasalahan yang dialami peserta didik. Advokasi; menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hakhak dan/atau kepentingan pendidikan. Pemeliharaan dan pengembangan; terpelihara dan terkembangkannya berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berke lanjutan. d. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling : Sejumlah prinsip mendasari gerak langk ah penyelenggaraan kegiatan bimbingan dan konseling. Prinsip-prinsip ini berkait an dengan tujuan, sasaran layanan, jenis layanan dan kegiatan pendukung, serta b erbagai aspek operasionalisasi pelayanan bimbingan dan konseling. Prinsip-prinsi p tersebut adalah : 1. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan; (a ) melayani semua individu tanpa memandang usia, jenis kelamin, suku, agama dan s tatus sosial; (b) memperhatikan tahapan perkembangan; (c) perhatian adanya perbe daan individu dalam layanan. 2. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan permasalah an yang dialami individu; (a) menyangkut pengaruh kondisi mental maupun fisik in dividu terhadap penyesuaian pengaruh lingkungan, baik di rumah, sekolah dan masy arakat sekitar, (b) timbulnya masalah pada individu oleh karena adanya kesenjang an sosial, ekonomi dan budaya. 3. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program pelayanan Bimbingan dan Konseling; (a) bimbingan dan konseling bagian integral d ari pendidikan dan pengembangan individu, sehingga program bimbingan dan konseli ng diselaraskan dengan program pendidikan dan pengembangan diri peserta didik; ( b) program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutu han peserta didik maupun lingkungan; (c) program bimbingan dan konseling disusun dengan mempertimbangkan adanya tahap perkembangan individu; (d) program pelayan an bimbingan dan konseling perlu diadakan penilaian hasil layanan.

Dalam hal ini. 2.asas bimbingan dan kon seling tersebut adalah : 1. (b) pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya at as kemauan diri sendiri. 3.4. juga dituntut untuk memenuhi sejumlah asas bimbi ngan. yaitu asas yang menghendaki adanya kesuka an dan kerelaan peserta didik (klien) mengikuti/ menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya. Guru Pembimbing (konselor) berkewajiban membina dan meng embangkan kesukarelaan seperti itu. Apabila asas-asas ini tidak di jalankan dengan baik. e. (a) diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimb ing diri sendiri. guru pembimbing (konselor) berkewajiban m emelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar -benar terjamin. Asas. Pemenuhan asas-asas bimbingan itu akan memperlancar pelaksanaan dan lebih menjamin keberhasilan layanan/kegiatan. Asas Kesukarelaan. Guru pembimbing (konselor) berkewajiban mengembang kan keterbukaan peserta didik (klien). Agar peserta didik (klien) mau terbuka. (d) perlu adanya kerja sama dengan personil sekolah dan orang tua dan bila perlu dengan pihak lain yang berk ewenangan dengan permasalahan individu. g uru pembimbing (konselor) terlebih dahulu bersikap terbuka dan . yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak laya k diketahui orang lain. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan. (c) permasalahan individu dilayani oleh tenaga ahli/pro fesional yang relevan dengan permasalahan individu. Betapa pentingnya as as-asas bimbingan konseling ini sehingga dikatakan sebagai jiwa dan nafas dari s eluruh kehidupan layanan bimbingan dan konseling. yaitu asas yang menghen daki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap t erbuka dan tidak berpura-pura. baik dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang bergu na bagi pengembangan dirinya. dan (e) proses pelayanan bimbingan dan k onseling melibatkan individu yang telah memperoleh hasil pengukuran dan penilaia n layanan. maka penyelenggaraan bimbingan dan konseling akan berjalan tersendat-sendat atau bahkan terhenti sama sekali. Asas Keterbukaan. yaitu asas yang men untut dirahasiakannya segenap data dan keterangan peserta didik (klien) yang men jadi sasaran layanan. serta mengurangi atau mengaburkan hasil layanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu sendiri. Asas-Asas Bimbingan dan Konseling Penyelenggaraan layanan dan kegi atan pendukung bimbingan dan konseling selain dimuati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu. Asas Kerahasiaan (confidential). sedangkan pengingkarannya akan dapat men ghambat atau bahkan menggagalkan pelaksanaan.

Profesionalitas guru pembimbing (konselor) harus terwujud baik . Asas Kekinian. 4. peraturan.tidak berpura-pura. para pelaksana layanan dan kegiatan bimbinga n dan konseling lainnya hendaknya tenaga yang benar-benar ahli dalam bimbingan d an konseling. 7. dan terus berkembang serta ber kelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu . Dalam hal ini. Asas Kedinamisan. tidak monoton. yaitu asa s yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (peserta didik/klie n) hendaknya selalu bergerak maju. baik norma agama. saling menunjang. Asas keterbukaan ini bertalian erat dengan asas kerahasiaan dan dan kekarelaan. dan kebiasaan – kebiasaan yang berlaku. yaitu asas yang menghendaki agar peserta d idik (klien) yang menjadi sasaran layanan dapat berpartisipasi aktif di dalam pe nyelenggaraan/kegiatan bimbingan. yaitu asas yang menghenda ki agar obyek sasaran layanan bimbingan dan konseling yakni permasalahan yang di hadapi peserta didik/klien dalam kondisi sekarang. serta mewujudkan diri sendiri. Guru Pembimbing (konselor) perlu mendorong dan memotivasi peserta didik untuk dapat aktif dalam setiap layanan/kegiatan yang d iberikan kepadanya. 5. Asas Keterpaduan. 6. menghayati dan men gamalkan norma-norma tersebut. Kondisi masa lampau dan masa depan dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan dengan apa yang ada dan di perbuat peserta didik (klien) pada saat sekarang. Asas Kemandirian. hukum. dengan ciri-ciri mengenal diri sendiri dan lingkungannya. mampu mengambil keputusan. Dalam hal ini. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun p ihak lain. melalui segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling ini harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (klien) dalam memahami. kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi amat penting dan harus dilaksanakan sebaikbaiknya. mengarahkan. Bahkan lebih jau h lagi. yaitu peserta didik (klien) sebagai sasaran layan an/kegiatan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang ma ndiri. Asas Keahlian. yaitu asas yang menunjukkan pada tujuan umum bimbingan dan konseling. Asas Kenormatifan . Guru Pembimbing (konselo r) hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling bagi berk embangnya kemandirian peserta didik. 9. yaitu asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan keg iatan bimbingan dan konseling. ilmu pengetahuan. harmonis dan terpadukan. Asas Kegiatan. yaitu asas yang menghendaki ag ar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselnggarakan atas dasar kaidah -kaidah profesional. 8. 10. yaitu asas yang menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan ko nseling didasarkan pada norma-norma. adat is tiadat.

Asas Tut Wuri Handa yani. 2. dan karier”. . penilaian dan upaya tidak lanjut pelayanan bimbingan dan kon seling. maka setiap seko lah mutlak harus menyelenggarakan bimbingan dan konseling. pe nyelenggaraan Bimbingan dan konseling di sekolah. Guru pembimbing (konselor)dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. belajar. yaitu asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggaraka n layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalaha n peserta didik (klien) kiranya dapat mengalihtangankan kepada pihak yang lebih ahli. 11. Menyediakan prasarana. 12. tenaga. dan be rbagai kemudahan bagi terlaksananya pelayanan bimbingan dan konseling yang efekt if dan efisien. dan dinamis. Demikian pula. peran. tidak lepas dari peranan berbagai pi hak di sekolah. Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan p elaksanaan program. Mengkoo rdinir segenap kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di sekolah. Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan da n Konseling Dalam kurikulum 2004. latihan. guru-guru lain. Secara garis besarn ya. yaitu asas yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa aman). sebaliknya guru pembimbing (kons elor).dalam penyelenggaraaan jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling dan dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. sehingga p elayanan pengajaran. Kepala sekolah selaku penanggung ja wab seluruh penyelenggaraan pendidikan di sekolah memegang peranan strategis dal am mengembangkan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Asas Alih Tangan Kasu s. dan bimbingan dan konseling merupakan suatu kesatu an yang terpadu. serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk maju. sosial. Keberhasilan penyelen ggaraan bimbingan dan konseling di sekolah. dapat mengalihtangankan kasus kepada pihak yang lebih kompeten. secara tegas dikemukakan bahwa : “Sekolah berkew ajiban memberikan bimbingan dan konseling kepada siswa yang menyangkut tentang p ribadi. dan memberikan rangsangan dan dorongan. Dengan adanya kata “kewajiban”. baik yang berada di dalam lembaga sekolah maupun di luar sekolah. atau ahli lain. Selain Guru Pembimbing atau Konselor sebagai pelaksana utama. sebagai berikut : a. b. tugas dan tanggung jawab kepala sekolah. guru mata pelajaran dan wali kelas. mengemba ngkan keteladanan. harmonis. c. juga perlu melibatkan kepala s ekolah . Peranan Kepala Sekolah.

Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan la yanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani layanan/kegiat an yang dimaksudkan itu. mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan ko nseling kepada Guru Pembimbing. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masa lah siswa. seperti konferensi kasus. khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. d. Willis (2005) mengemukakan bahwa gur u-guru mata pelajaran dalam melakukan pendekatan kepada siswa harus manusiawi-re ligius. jujur dan asli. dan e. membantu memberikan kesempatan d an kemudahan bagi siswa. Membantu memasyarakatkan pelayan an bimbingan dan konseling kepada siswa b. untuk mengikuti/menjalani layanan dan/atau kegiatan bimbingan dan konseling. hubungan guru-siswa dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan k onseling. b. tugas dan tanggung jawab guru-guru mata pela jaran dalam bimbingan dan konseling adalah : a. peran. dan dukungan dalam kegiatan kepengawasan yang dilakukan oleh Pengawas S ekolah Bidang BK. . c. ramah. Sofyan S. f. Sebagai pengelola kelas tertentu dalam pelayanan bimbingan dan kon seling. e. Membantu mengembangkan suasana kelas. memahami dan meng hargai tanpa syarat. kes empatan. Membantu pengumpulan informasi yang dipe rlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tind ak lanjutnya. Menyediakan fasilitas. seperti konferens i kasus. membantu Guru Pembimbing melaksanakan tugas-tug asnya. Berkenaan peran guru mata pelajaran dan wali kel as dalam bimbingan dan konseling. berpa rtisipasi aktif dalam kegiatan khusus bimbingan dan konseling. Mengalihtangankan siswa yang memerluka n pelayanan bimbingan dan konseling kepada Guru Pembimbing d. membantu Guru Mata Pelajaran melaksanakan peranannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling Di sekol ah kepada Dinas Pendidikan yang menjadi atasannya. Membantu Guru Pembimbing mengidentifi kasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling. c. e. yaitu siswa yang menuntut Guru Pembimbing memerlu kan pelayanan pengajar /latihan khusus (seperti pengajaran/ latihan perbaikan. khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya. h. Sedangkan. p rogram pengayaan). khusu snya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. g.d. bersahabat. Menerima siswa ali h tangan dari Guru Pembimbing. konkret. mendorong. Wali Kelas berperan : a. serta pengumpu lan data tentang siswa-siswa tersebut.

m agang. jurusan/program studi. a. Layanan Penempatan dan Penyaluran. dalam bidang pribadi. program latihan. Layanan orientasi merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memahami ling kungan baru. sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awa l semester. Para ahli bimbingan di Indonesia saat ini sudah mulai meluncurkan dua je nis layanan baru yaitu layanan konsultasi dan layanan mediasi. dengan tujuan agar peserta didik dapat meng embangkan segenap . kelompok belajar. Layanan informasi pun berfungsi untu k pencegahan dan pemahaman. baik dalam jenis layanan maupun kegiatan pen dukung. 4. Tujuan layanan inf ormasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. m erupakan layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyal uran di dalam kelas. yang ber fungsi untuk pencegahan dan pemahaman. 2. pergaulan. karier. Untuk lebih jelasnya. Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling Kegiatan layanan merup akan kegiatan dalam rangka memenuhi fungsi-fungsi bimbingan dan konseling. Layanan Orientasi. Namun sangat mungkin k e depannya akan semakin berkembang. Namun. Layanan Pembelajaran. di bawah ini akan diuraikan tujuh jenis layanan dan lima k egiatan pendukung bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam pendidi kan nasional. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru i tu. sosial. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai materi belaj ar atau penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. belajar maupun karier berdasarka n informasi yang diperolehnya yang memadai. dengan tujuan agar pes erta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. Kegiatan Layanan Bimbingan dan Konseling 1. kedua jeni s layanan ini belum dijadikan sebagai kebijakan formal dalam sistem pendidikan. Sedan gkan kegiatan pendukung merupakan kegiatan untuk menopang terhadap keberhasilan layanan yang diberikan. kegiatan ko/ekstra kurikuler. Layanan Informasi.3. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. Layanan pe mbelajaran berfungsi untuk pengembangan. merupakan layanan y ang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. pendidikan lanjutan). 3. Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional saat ini terdapat tujuh jenis layanan dan lima kegiatan pendukung.

yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen. Layanan Konseling Kelompok. terpadu dan sifatnya tertutup. b. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman da n Pengembangan 7. merupakan layanan yang memungkinan sejumlah pesert a didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan memba has pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan ke mampuan sosial. yaitu : 1. Apl ikasi Instrumentasi Data. . baik tes maupun non tes. merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keteran gan tentang peserta didik. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembang an kemampuan sosial. tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainn ya. Himpunan Data. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. 6 .bakat. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan da n pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. minat dan segenap potensi lainnya. merupakan kegiatan u ntuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengem bangan peserta didik. komprehensif. terdapat lima jenis kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. 5. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengenta skan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan perm asalahan pribadi melalui dinamika kelompok. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu me lalui dinamika kelompok. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan. kiranya perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung Dalam hal ini . Kegiatan Pendukung Bimbingan dan Konseling U ntuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukak an di atas. Layanan Penempatan dan Penyaluran berf ungsi untuk pengembangan. Tujuan layanan kons eling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihad apinya. dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristikn ya dan memahami karakteristik lingkungan. Layanan Bimbingan Kelompok. sistem atik. 2. Layanan Konseling Perorangan.

kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien.3. yakni : 1. 4. merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didi k dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan ket erangan. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih ko mpeten. 4. Kunjungan Rumah. . melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik sec ara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. prosedur bimbingan dan konseling dapat ditempuh melalui prosedur seperti tampak dalam bagan beriku t : Datang Sendiri/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari In formasi yang Ada/Dicari Identifikasi Kasus Identifikasi Masalah Diagnosis Prognosis Remedial/Referal Eva luasi/Follow Up a. dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarg a untuk mengentaskan permasalahan klien. Call them approach. 5. Konferensi Kasus. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan. dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kun jungan rumah klien. Alih Tangan Kasus. Identifikasi kasus. merupakan kegiatan untuk memperoleh data. merupakan upaya untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. dokter serta ahli lainnya. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling Secara umum. seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makm un (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi p eserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling. Pertemua n konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. keterangan. Tujuan konferensi kasus adala h untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan kli en. ke mudahan. merupakan kegiata n untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalaha n yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebi h kompeten.

karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. (3) behavioral . Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan . (2) diri pribadi. langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahan nya. menciptakan hubungan yang baik. Melakukan analisis sosiometris. c. 5. Prayit no dkk. 4. d. langkah ini merupakan upaya untuk memaha mi jenis.2. ataupun out put belajarnya. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pad a hubungan kegiatan belajar mengajar saja. permasalahan peserta didik dapat berkenaan de ngan aspek : (1) substansial – material. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan pese rta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes. kecerdasan. dan (2) faktor eksternal. Burton mem bagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik. (7) agama. upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. (8) hubungan muda-mudi. (4) ekonomi d an keuangan. bakat. Dala m konteks Proses Belajar Mengajar. menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta did ik akan masalah yang dihadapinya. seperti tes inteligens i. (3) hubungan sosial. dan atau (4) personality. rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. Developing a desire for counseling. misalnya melalui kegiatan ekstra kuri kuler. Identifikasi Masalah. W. kepribadian. dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kega galan belajar yang dihadapi peserta didik. faktor yang b esumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri. (6) pendidikan dan pelajaran. dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupay akan berbagai tindak lanjutnya. Instrumen ini sangat membant u untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik. penuh keakraban s ehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik . seperti : kondisi jasmani dan kesehatan. 3. Maintain good relationship. de ngan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan peny esuaian sosial b. b isa dilihat dari segi input. Melakukan analisis terhadap hasil belajar pes erta didik. proses. tes bakat. dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). yaitu : (1) faktor internal. (9) keadaan dan hubungan keluarga.H. Prognosis. Diagnosis. dan (10) waktu senggang. sikap serta kondisi-kondisi p sikis lainnya. nilai dan moral. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar peserta didik. emosi. seperti : lingkungan rumah. (2) struktural – fungsional. lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. (5) karier dan pekerjaan. seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan. Untuk mengidentifikasi masalah peserta didik.

dan 3. Peserta didik telah menurun keteg angan emosinya (emotion stress release). jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbi ng sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten. Proses mengambil keput usan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus. Evaluas i dan Follow Up. Sementara itu. 5. Peserta didik telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perba ikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Peserta didik telah menurun penentan gan terhadap lingkungannya 6. Pese rta didik telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan ma salahnya secara obyektif (self acceptance). untuk melihat seberapa penga ruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik.kasus yang dihadapi. Pese rta didik telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. Rencana kegiatan yang ak an dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewu judkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. Peserta didik telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. f. Namun. cara manapun yang ditempuh. 2. 2. Peserta didik mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan. 3. . Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu : 1. yaitu apabila: 1. 4.menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. de ngan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani k asus . 7. mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan r asional. evaluasi atas usaha pemecahan masal ah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut. Perasaan positif sebagai dampak dari p roses dan materi yang dibawakan melalui layanan. sesuai dengan dasar pertimbang an dan keputusan yang telah diambilnya. e. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas. pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimb ing itu sendiri. Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus). Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling. Ro binson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari k eberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan. jika j enis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembel ajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pem bimbing.

guru dan sebagainya. sebagaimana dalam bagan berikut : Ringan Masalah peserta didik Sedang Berat Semua Guru/Wali Kelas Guru Pembimbing Alih Tangan Kasus a. kecand uan alkohol dan narkotika. Masalah (kasus) berat. mencuri kelas sedang. dengan berkonsultasi dengan kepala seko lah. Dalam prakteknya. b. poli si. minum minuman keras ta hap awal. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kas us. seperti : membolos. Dapat pula mengadakan konfer ensi kasus. tampaknya untuk lay anan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. berkelahi antar sekolah. bertengkar. Sofyan S. seperti : gangguan emosional. memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebi h dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan . pelaku kriminalitas. mencuri kelas ringan. c. berpacaran. Oleh karena itu.5. 6. Kasus berat dilaku kan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik . Masalah (kasus) ringan. dokter. karena gangguan di keluarga. peserta didik hamil. percobaan b unuh diri. malas. namun perlu diingat bahwa tidak semua masalah peserta didik harus ditangani oleh Guru Pembimbing (ko nselor). polisi. berkelahi dengan teman sekolah. ahli/profesional. berpacaran. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah b erserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. Dalam hal ini. Kasus sedang di bimbing oleh guru pembimbing (konselor). perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. seperti : gangguan emosional berat. Proses Konseling dan Teknik-Teknik Konseling Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah Bimbingan terhadap peserta didik bermasalah tetap menjadi perhatian bimbingan dan konseling. Karena layanan yang sa tu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. dengan perbuatan menyimpang. minum minuman keras tahap pertengah an. Masalah (kasus) sedang. kesulitan belajar pada bid ang tertentu. melakukan gangguan sosial dan asusila. kes ulitan belajar. Kasus ringan dibimbing oleh wali kel as dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing ) dan mengadakan kunjungan rumah. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan.

Kunci keberhasilan m embangun hubungan terletak pada terpenuhinya asasasas bimbingan dan konseling. t erutama asas kerahasiaan. yaitu berapa la ma waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. proses konseli ng selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. Kontrak tugas. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). 1.konseling. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama a ntara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. a. diantaranya : a. maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. 2 . Kontrak waktu. d. 3. Proses Konseli ng Secara umum. kesukarelaan. keterbukaan. dan menentukan berbagai alterna tif yang sesuai bagi antisipasi masalah. Taha p Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. dan (3) tahap akh ir (tahap perubahan dan tindakan). diantaranya : a. (2) tahap inti (tahap kerja). Pada tahap ini terda pat beberapa hal yang harus dilakukan. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. 2. sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pen gentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. dan kegiatan. berisi : 1. b. Me mbangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). Menjelajahi dan mengeksp lorasi masalah klien lebih dalam. Membuat penaksiran dan perjajagan Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masa lah klien. . Memperjela s dan mendefinisikan masalah. c. Menegosiasikan kontrak Membangun per janjian antara konselor dengan klien. Kontrak kerja sama dalam proses konseling.

Menurunnya kecemasan klien Perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. a. Konselor bersama klien membua t kesimpulan mengenai hasil proses konseling b. 3. b. d. 2. d. baik oleh pihak konselor maupun klien. yaitu : (1) teknik umum dan (2) teknik khusus. Menyusun rencana tindakan yang a kan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik kons eling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konse ling. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. Konselor melakukan reassessment (p enilaian kembali). yaitu : a. b. c. Teknik U mum Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapantah apan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh kon selor. sehat dan dinamis. Hal ini bisa terj adi jika : 1. diantaranya : . ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. c.Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. Pemahaman baru dari klien t entang masalah yang dihadapinya. Untuk lebih jelasnya. di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian sege ra). yaitu . Adanya rencana hidup masa yang akan datang deng an program yang jelas. c. Tahap Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terd apat beberapa hal yang perlu dilakukan. 1. b. Teknik-Teknik Konseling Dalam konseling perorangan terdapat dua jenis teknik yang biasa dilakukan. serta menampakan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadap i klien.

Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. Contoh perilaku attending yang tidak baik : 1. tidak melihat saat klien sedang bicara. Contoh ungkapan empati primer : . 4. 5. 5. mudah buyar oleh gangguan luar. ceria. pikiran dan keinginan klien. duduk akrab berhadapan atau berdamping an. Empati dilakukan sejalan dengan per ilaku attending. Empati Empati ialah kemamp uan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien. menunggu ucapan klien hingga selesai. Menciptakan suasa na yang aman 3. duduk kurang akrab dan berpaling. jarak antara konselor dengan klien agak dekat. yaitu : a. diam (menanti saat kesempatan bereaksi). jarak duduk dengan klien menjauh. Empati primer. 3. merasa dan berfikir bersa ma klien dan bukan untuk atau tentang klien. ekspresi melamun. Perilaku at tending yang baik dapat : 1. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. Mendengar kan : aktif penuh perhatian. dan bahasa lisan. bersandar. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. 2. b. Terdapat du a macam empati. dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka. 4. Kepala : kaku 2. miring. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. Memutuskan pembicaraan. berbicara terus tan pa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. Ekspresi w ajah : tenang. menggunakan tangan sebagai isyarat. Posisi tubuh : tegak kaku. Muka : kaku. mata melotot. Kepala : melakukan anggukan jika setuju 2. senyum 3. Contoh perilak u attending yang baik : 1. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. mengalihkan pandangan. bahasa tubuh.a. perhatian terarah pada lawan bicara. yaitu bentuk empati yang hanya berusah a memahami perasaan. Per hatian : terpecah. Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. Meningkatkan harga diri klien.

.” ” Adakah yang Anda maksudkan. yaitu : 1. dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terha dap perilaku verbal dan non verbal klien. Refleksi pikiran. dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : ”Saya dapat merasakan apa yang Anda ras akan. Empati tingkat tinggi..” 3. .. c. yaitu teknik u ntuk memantulkan ide. Refleksi peras aan. pikiran. yaitu empati apabila kepaha man konselor terhadap perasaan.... berupa perasaan.. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentan g perasaan. b.(kiasan)” ” Adakah yang Anda maksudkan. ” Sa ya mengerti keinginan Anda”..” 2. pikiran.. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan. Ref leksi pengalaman.” ” Barangkali Anda merasa.. yaitu teknik untuk memantulkan pengalamanpengalaman klien seba gai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. pengalaman termasuk penderitaanny a.” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”.... Contoh : ” Tamp aknya yang Anda katakan adalah .” ” Hal itu rupanya sep erti . . ” Saya dapat memahami pikiran Anda”..” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah. Terdapat tiga jenis refleksi. dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku v erbal dan non verbalnya.. pikiran. yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebag ai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih m endalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. Keiku tan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam.

pikiran. biasanya ditandai . Contoh : ” Sa ya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bek erja” ” Saya kira pendapat Anda mengenai hal itu baik. atau tidak m ampu mengemukakan pendapatnya. yaitu teknik untuk menggali ide. mengungkapkan kalim at yang mudah dan sederhana..” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah..” ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam..” d. yaitu : 1. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ?” 2. pikiran.. Hal ini penting d ilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin. dan pendapat klien. Eksplorasi pi kiran. Contoh : ” Saya terkesan dengan pengalaman yan g Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut da n pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” e. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangka p Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien. Contoh : ” B isakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan . tertekan dan terancam. menutup diri.... terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi. Eksplorasi pengalaman.. Dapatkah Anda menguraikannya lebih lanjut ? 3. yaitu keterampilan atau teknik untuk me nggali pengalaman-pengalaman klien. dan pengalaman klien.” ” Adakah yang Anda maksudkan peristiwa. Seperti halnya pada teknik re fleksi.Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu.. yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. Eksplorasi peras aan.

dan mengamati respons klien terhada p konselor. : ” Itu suatu pe kerjaan yang baik. : ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”. lebih baik gunakan kata tanya apakah. yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-ka ta singkat. Pertanyaan yang d iajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. (2) m enjernihkan atau memperjelas sesuatu.” Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk meman cing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan . akan tetapi saya tidak mengambilnya. bagaimana. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatk an prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”. Contoh dialog : Klien Konselor f. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan perta nyaan tertutup. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-s ebabnya. Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada kli en bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan kli en. (3) mem beri arah wawancara konseling. pengalaman dan pemikiranny a dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” : ” Tampaknya Anda masih ragu. : ” Empat ” : ” Sekarang berapa ” Konselor Klien Konselor .dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya. adakah . dan (3) menghentikan pembicaraan klien yan g melantur atau menyimpang jauh. Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” ” Bagaimana perasaan Anda saat ini ?” ” Dapatkah Anda mengemukakan hal itu lebih lanju t ?” g. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus m enggunakan pertanyaan terbuka. dapatkah. Oleh karenanya. Pertan yaan semacam ini akan menyulitkan klien. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tent ang apa yang dikemukakan klien.

Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh.” : ” Pendidikan t ingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara. Konselor j. Terutama hi dup di kota besar seperti Anda.... n amun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalka n SMA”. Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa.dan. . dan saya nyaris. Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemuk akan klien. Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhent i sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga.... bukan pandangan subyektif konselor. lalu....... Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau me nghayalkan sesuatu..” Konselor Klien : ” nekad bunuh diri” : ” lalu. ya...Klien : ” Sebelas ” h. maka d ibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas... karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan me ngurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien.. perasaan dan pengalaman klien dengan meru juk pada teori-teori. terus.. . ” (klien menghentika n pembicaraan) : ” ya.” Konselor i. Membantu orang tua memang harus. Karena tantangan masa depan makin banyak.... Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melaku kan sesuatu. dengan tujuan untuk me mberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dar i hasil rujukan baru tersebut. Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran.

Saya tak dapat lagi menahan diri. Ak hirnya terjadi pertengkaran sengit.” Konselor k. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. baga imana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pemb icaraan secara bertahap. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembi caraan. (4) mempertajam foku s pada wawancara konseling. klien akan mengungkapkan sejumla h permasalahan yang sedang dihadapinya. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alan gkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” m. konselor seyogyanya dap at membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. Oleh karena itu. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. Tapi bagaimana ya?” masalah : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntuta n dari perusahaan yang akan Anda masuki. C ontoh dialog : Klien Konselor :” Saya mungkin berfikir juga tentang hubungan denga n pacar. namun masih ada hambatan yang akan hadapi.” l. kedua. (3) meningkatkan kualitas diskusi. Misalnya den gan mengatakan : . Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan.” : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya. Tujuan menyimpulkan semen tara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan A nda segera menyelesaikan studi. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementar a pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas.Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. Pada umumnya dalam wawancara konseling. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . kita sudah sampai pada dua hal: pertama.

senyum dengan kepedihan. (2) meningkatkan potensi klien.” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan A nda dengan orang tua yang kurang harmonis ”. Contoh : ” Tanti. (3) dilakukan dengan perilaku att ending dan empati. Ada beberapa yang dapat dilakukan. Fokus mengenai budaya. (3) membawa klien ke pada kesadaran adanya diskrepansi. yaitu dengan : (1) membe ri komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yan g tepat. wa jah murung. Contoh dialog : Klien : ” Saya baik-baik saja”. ide awal dengan ide berikutnya. Peng gunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. Co ntoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri o leh kaum wanita. 4. konflik. Konfrontasi Yaitu t eknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan d engan perbuatan atau bahasa badan. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan pe nelitian diri secara jujur. Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki. ” Tampaknya Anda berjuang sendirian” 2.(2) tidak menilai apalagi menyalahkan. telah membuat kamu menderita. Fokus pada orang lain. atau kontradiksi dalam dirinya. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. dan sebagainya. Fokus pada diri klien. Fokus pada topik.” n.” . Co ntoh : ” Roni. (suara rendah. posisi tubuh gelisah). di antaranya : 1. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? P ikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”.

paling lama 5 – 10 detik.. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pem impin di rumah itu.. Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi d i keluarga saya membuat saya bingung....... Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar. Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien de ngan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan. mengulang da n mengilustrasikan perasaannya. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir..” (diam) Konselor Klien :” Saya. Tujuannya adalah : (1) mengu ndang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas. ibu.. Saya. kurang jelas dan agak meragukan. (2) agar klien menjelaskan.. dan dengan alasan-alasan yang logis. :”. dan penga lamannya secara bebas Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya.. Diam Teknik diam dilakukan deng an cara attending. komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal.harus bagaimana. Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” :”. ungkapan kata-kata yang tega s.” (diam) Konselor r.... (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara.... pikiran. tapi kelihatannya ada yang tidak beres” ”Saya melih at ada perbedaan antara kenyataan diri ”.. tidak tahu. ucapan dengan o..... atau saudara-saudara Anda...Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja..” : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya... Mengambil Inisiatif ..” q..” Konselor p.. (2) sev agai protes jika klien ngomong berbelit-belit.

Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling y akni kemandirian klien harus tetap tercapai. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan. Contoh : ” Nah. p erbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. Kalau pu n konselor mengetahuinya.com di internet”. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat. saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www. Contoh respons konselor terhadap pe rmintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kur ang semangat. dan kurang parisipatif. u. terutama mengenai kecemasan. saya pikir Anda mempunyai s atu keputusan namun masih belum keluar. (2) memantapkan rencana klien. apakah tidak lebih b aik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” v. Contoh: ” Baiklah. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir ses i konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action).” t. konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nase hat atau tidak. dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya . Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembic araan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini. sering d iam.upi. Walaupun dem ikian. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam me nuntaskan diskusi. (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan. Memberi N asehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya.Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara. s. (3) pemahaman baru . Coba Anda renungkan kembali”. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia. sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya.

d. Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling. di samping menggunakan teknik-teknik umum. dan ia menyertakan respon yang b erlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengaj arkan klien untuk rileks. 2. Stimulus yang tidak menyenangkan yan g disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang t idak dikehendaki kemunculannya. jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikeh endaki dapat dihilangkan secara bertahap. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. yaitu : a. Ration al Emotive Theraphy. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilak u baru pada klien. dalam hal-hal te rtentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Dalam hal ini k onselor . dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. b. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. c.klien. dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutny a. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya a dalah layak atau benar. Diskusi-diskusi kelomp ok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Teknik-Teknik Khu sus Dalam konseling. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang d iperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku y ang akan dihilangkan. Teknik-teknik khusus ini dikemban gkan dari berbagai pendekatan konseling. seperti pendekatan Behaviorisme. Jadi desensitisasi sistematis hakekatn ya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperku at secara negatif biasanya merupakan kecemasan. kesulitan menyata kan tidak. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disen anginya dengan kebalikan stimulus tersebut.

Permainan Dial og Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kec enderungan yang saling bertentangan. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderung an under dog. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “ku rsi kosong”. dapat menggunakan model audio.. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya kl ien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resik o. model fisik. Kecenderungan otonom lawan kecende rungan tergantung. “Saya malas. Dalam teknik ini konselor memint a klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pern yataan itu dengan kalimat : “. dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahu an itu”. e. f. misalnya : 1. Misalnya : “Saya merasa jenuh. g. Kecenderungan orang tua lawan kecenderun gan anak. Bermain Proyeksi P royeksi : . 2. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. 3. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu a pa yang harus saya katakan sekarang. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampakny a mekanis. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan u ntuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada me mproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. 4. Kecend erungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah.dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari k onselor. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. Melalui dialog yang kontradiktif ini. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien ak an perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. 5..menunjukkan kepada klien tentang perilaku model.

Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. perasaan-perasaan yang dipantulkan k epada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Misalnya : konselor member i kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu ya ng berlebihan. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perila ku yang diharapkan. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang ber kebalikan dengan perasaanperasaan yang dikeluhkannya. Home work assigments. i. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klie n yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sa ngat ingin menghindarinya. Dalam teknik bermain proyek si konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang di proyeksikan kepada orang lain. T eknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. Sering terjadi. j. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakuta n atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk men yelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu . Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku t ertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mend asarinya. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah a spek-aspek . Dengan tugas rumah yang diberikan. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenang kan. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang le bih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. h. klien diharapkan dapat me ngurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional da n tidak logis. membiasaka n diri.Memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau m elihat atau menerimanya Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memant ulkannya kepada orang lain.

Bimbingan dan konseling meru pakan upaya untuk membantu mengatasi masalahmasalah yang dihadapi peserta didik. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. d. da lam bimbingan pribadi. keluarga dan masyarakat. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. bimbingan sosial. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian r upa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui pera n tertentu. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus meny esuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. c. m engenal lingkungan. m. dan merencanakan masa depan. Di bawah ini merupakan pengertian bimbingan dan konseling. k. kepercayaan pad a diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. kecuali : a. l. Bimbingan dan konseling merupak an bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi.kognisinya yang keliru. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas ya ng diberikan. bimbingan belajar. D. Bimbingan dan konseling merupakan layanan bantuan untuk peserta didik. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tert entu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif . b. Teknik ini dimaksu dkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. Bimbi ngan dan konseling merupakan proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah. . Latihan : Soal : 1. mendorong. dan bimbingan karier .

Pemahaman dan pencegahan Pengembangan Advokasi Pengentasan 3. kemandirian. d. c. c. kek inian. b. d. Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang usia. keterbukaan. c. Pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas kemauan diri sen diri b. suku. alih tangan kasus. kerahasiaan. a. a. a. c. b. Tujuan dilaksanakan kegiatan konferensi kasus. Prinsip bimbingan dan konseling berkenaan dengan sasaran layanan a. keterpaduan kenormatifan. je nis kelamin. d. 6. d. agama dan status sosial. Orientasi Informasi Konseling Perorangan Pembelajaran 7. Jenis layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tat ap muka untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan diriny a. keahlian kegiatan. b. 2. . Fungsi bimbingan dan konseling yang menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hak-hak dan/atau kepentingan pendidikan. Memperoleh keterangan yang lebih lengkap tentang klien dan membangun komitmen dari para pes erta konferensi dalam rangka pengentasan masalah klien. kedinamisan. Mencari cara yang terbaik g una menyelamatkan kepentingan dan nama baik klien maupun sekolah. b. Oleh karena itu. a. Bimbingan dan konseling diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri. dan c benar 8. tut wuri handay ani a. d. a. b. b. Di bawah ini merupakan beberapa asas yang harus dipenuhi dalam layanan bimbingan dan konseling. Bimbingan dan konseling merupakan pekerjaan ilmiah. 4. c. dan c benar Orientasi dan Informasi Konseling Perorangan dan Konseling Kelompok Pembelajaran dan Bimbingan Kelompok Penempatan 5. Program bimbingan dan konseling h arus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan. b. Layanan bimbingan dan konseling yang memiliki fungsi pemahaman dan pencegahan .melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. Petugas bimbingan yang profesional Data yang lengkap dan memadai Bekerja sama d engan kalangan profesional lainnya a. d. setiap l ayanan yang diberikan kepada peserta didik hendaknya didukung oleh : a. sukarela. c. b. berdasarkan norma-norma y ang berlaku.

d. ”Saya dapat memahami pikiran Anda”. b. seperti bolos. ”Anda mengatakan baik-baik saja. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). a. c. Di bawah ini merupakan hal-hal yang perlu dilakukan pada tahap awal konselin g. d. Menjelajahi dan mengeksplorasi mas alah klien lebih. d. b. Membangun komitmen dari para peserta konferensi dalam rangka disiplin sekolah . Penanganan peserta didik yang menunjukkan permasalahan atau perilaku menyimp ang tingkat ringan.” b. Contoh ungkapan pengg unaan teknik konfrontasi : a. d. Membuat penaksiran dan perjajagan 13. apabila kasus yang dita ngani berada diluar kemampuan atau kewenangannya.c. c. karena s aya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. a. dapat dilakukan oleh : a. a. b. a. Aversi Desensitisasi Latihan asertif Pembentukan Perilaku Model 15. berkelahi dengan teman. Teknik konseling dengan menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timb ulnya masalah peserta didik. Kegiatan pendukung yang dilakukan guru atau konselor. a. ta pi kelihatannya ada yang tidak beres”. ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendala m. Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanp erasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingg a klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. c. b. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. kecuali a. Kunjungan rumah Ko nferensi kasus Alih tangan kasus Aplikasi instrumentasi data 10. Identifikasi kasus Diagnosis Prognosis Treatment 12. c. dan c benar penegakan 9. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ? ” d. d. c. Imitasi b. c. Permainan dialog . d. b. b dan c ben ar 11. ”Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. Guru pembimbing/konselor Guru dan wali kelas Polisi a. 14. b.

c. Bermain peran d. Home work assigments Uraian 1. Jelaskan orientasi baru bimbi ngan dan konseling ! 2. Jelaskan peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran da lam Bimbingan dan Konseling ! 3. Mengapa guru pembimbing (konselor) perlu menjag a kerahasiaan data klien ? 4. Analisis Kasus : Fulan seorang siswa kelas XI SMA Negeri 1 Nunjauh Disana. Ketika dia masih duduk di bangku kelas VIII SMP, dia te lah menjadi anak yatim dan semenjak itu dia hidup bersama dengan kakek-neneknya, dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Sementara itu, sang ibu sudah satu tahun ini pergi merantau ke Malaysia menjadi TKI di sana namun jarang memberi khabar apalagi memberi kiriman uang untuk anaknya. Berdasarkan catatan absensi yang ada di wali kelas, pada semester yang lalu dia sering tidak masuk sekolah, tanpa al asan yang jelas. Selama bulan Februari 2006, tercatat sudah tujuh hari dia tidak masuk kelas. Padahal ketika masih duduk di kelas X kehadirannya termasuk bagus. Berdasarkan informasi dari rekan sekelasnya, bahwa jika dia tidak masuk kelas, dia suka nongkrong di terminal. Bahkan Andi, kawan sekelasnya, pernah menyaksika n dia dalam keadaan teler di terminal dan sempat meminta paksa uang kepadanya. D alam buku Laporan Pendidikan semester yang lalu, prestasi belajarnya sungguh san gat tidak memuaskan, hampir terjadi pada semua mata pelajaran, kecuali untuk Mat a Pelajaran Kesenian, prestasinya malah jauh berada di atas kawan-kawannya. Keti ka dia masih duduk dibangku SD, dia pernah meraih predikat sebagai Siswa Berpres tasi seKecamatan Nunjauh Disana dan pernah menjadi Juara Pertama Lomba Nyanyi An akAnak se- Kabupaten Nun Jauh Disana. Melihat kondisi demikian, jika dibiarkan t entunya Fulan sangat beresiko tinggi untuk tidak naik kelas bahkan mungkin dikel uarkan dari sekolah. Tugas : Tuntaskan kasus tersebut di atas dengan memperhatik an dan menggunakan prinsipprinsip dan prosedur bimbingan dan konseling !

DAFTAR PUSTAKA Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Rem aja. Calvin S. Hall & Gardner Lidzey (editor A. Supratiknya). 2005. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Chaplin, J.P. (terj. Kartini Kartono ).2005. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : P.T. Raja Grafindo Persada. Depdiknas , 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkata n Tenaga Akdemik Dirjen Dikti --------- 2003. Pedoman Penyelenggaraaan Program P ercepatan Belajar SD, SMP dan SMA. Jakarta : Dirjen Dikdasmen. E. Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep,Karakteristik dan Implementasi.Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya. ---------. 2004. Implementasi Kurikulum 2004; Panduan Pe mbelajaran KBK. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya. Gendler, Margaret E..1992. Lea rning & Instruction; Theory Into Practice. Publishing. New York : McMillan H.M. Arifin. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta. PT Golden Tera yon Press. Hurlock, Elizabeth B. 1980. Developmental Phsychology. New Yuork : Mc Graw-Hill Book Company Moh. Surya. 1997. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung PPB - IKIP Bandung. Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : PT Raja Grafindo. Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendid ikan. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya. National Board for Professional Teaching Standards. 2002 . Five Core Propositions. NBPTS Home Page. <http://www.nbpts.or g/ standards/fivecore.html>. (Accessed, 31 Oct 2002). Prayitno, dkk. 2004. Pedom an Khusus Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdiknas. ----------, dkk. 2004. P anduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Rineka Cipta.

Sofyan S. Willis. 2004.Konseling Individual; Teori dan Praktek. Bandung : Alfabe ta Sudarwan Danim. 2002. Inovasi Pendidikan : Dalam Upaya Meningkatkan Profesion alisme Tenaga Kependidikan. Bandung : Pustaka Setia. Sugiharto.(2005. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Jakarta : PPPG Sumadi Suryabrata. 1984. Psikologi Ke pribadian. Jakarta : Rajawali. Sunaryo Kartadinata.2003. Inventori Tugas Perkemb angan. Bandung : Lab. PPB-UPI Bandung Suyanto dan Djihad Hisyam. 2000. Refleksi dan Reformasi Pendidikan Indonesia Memasuki Millenium III. Yogyakarta : Adi Cita . Syamsu Yusuf LN. 2003. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.. Bandung : PT R osda Karya Remaja. www.puskur.go.id.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful