POKOK – POKOK MATERI PERKULIAHAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Arwin Zoelfatas BAB I PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN PERILAKU A. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini, diharapkan Anda dapat : 1. Mendefinisik an psikologi dan psikologi pendidikan 2. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan in dividu, indikator-indikator motivasi, bentukbentuk konflik, bentuk-bentuk perila ku salah-suai dan taksonomi perilaku individu. 3. Menjelaskan psikologi pendidik an sebagai ilmu, arti penting psikologi pendidikan bagi guru, peranan dan pengar uh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku individu. 4. Mengurai kan mekanisme pembentukan perilaku menurut pandangan behaviorisme dan holistik. B. Pokok Bahasan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan. 2. Perilaku Individu. 3. Ta ksonomi Perilaku Individu. 4. Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan Perilaku da n Pribadi Individu. C. Intisari Bacaan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup , dan “logos” atau ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut seolah-olah psikologi merup akan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu pada s alah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat ji ka kita mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tenta ng jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diam ati secara langsung. Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mung kin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dala m bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demik ian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tenta ng perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Psikologi terbagi ke dalam dua bagian yaitu psikologi umum (general phsychology) yang mengkaji per ilaku pada umumnya dan psikologi khusus yang mengkaji perilaku individu dalam si tuasi khusus, diantaranya :

Psikologi Perkembangan; mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perk embangan mulai dari masa konsepsi sampai dengan akhir hayat. Psikologi Kepribadi an; mengkaji perilaku individu khusus dilihat dari aspek – aspek kepribadiannya. P sikologi Klinis; mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan (klinis) Psikologi Abnormal; mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal. Psikolo gi Industri; mengkaji perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia industri. P sikologi Pendidikan; mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan Disampi ng jenis – jenis psikologi yang disebutkan di atas, masih terdapat berbagai jenis psikologi lainnya, bahkan sangat mungkin ke depannya akan semakin terus berkemba ng, sejalan dengan perkembangan kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks. Psi kologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah mem iliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni : Ontologis; obyek dari psikologi p endidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, oran g tua peserta didik dan masyarakat pendidikan. Epistemologis; teori-teori, konse p-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdas arkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross se ctional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif. Aksiol ogis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapa ian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan. Dengan demikian, psikologi pend idikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus me ngkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk me nemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapai an efektivitas proses pendidikan. Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari p sikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pen didikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Prose s Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupak an beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya membutuhkan psikolo gi. Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang di dalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik, adminsitrator, masyarakat dan orang tua pes erta didik. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efekti f dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogya nya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilak unya secara efektif.

agar perilaku peserta didi k dapat berkembang optimal.--terutama peri laku peserta didik dengan segala aspeknya--. Oleh karena itu itu. (h) menilai hasil pembelajaran. Di sinilah arti penting Psikolog i Pendidikan. (f) menciptakan iklim belajar yang kondusif.Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing. . baik untuk kepentingan pembelajaran. Selain itu. yakni kompetensi pedagogik. pendidik dan pelatih bagi pa ra peserta didiknya. sehingga dapat menjalankan tugas da n perannya secara efektif. yang salin g bertolak belakang. tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya. yaitu: (1) behaviorisme dan (2) holistik atau humanisme. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bah wa diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adal ah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar menga jar peserta didik. yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyat a bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. (g) berinteraksi secara bijak dengan peserta didiknya. Di bawah ini akan diuraikan mekanisme pembentukan p erilaku dilihat dari kedua pendekatan tersebut dengan merujuk pada tulisan Abin Syamsuddin Makmun (2003). dengan memahami psikologi pendidikan. pengelolaan kelas. tentu saja seorang guru seyogyanya dapat memahami te ntang bagaimana proses dan mekanisme terbentuknya perilaku para peserta didiknya . seorang guru melalui pertimb angan-pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat : (a) merumuskan tujuan pembel ajaran. (d) memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling kepada peserta didiknya. pembimbingan serta berbagai kegiatan pendidikan lainnya. dan (i) dapat me ngadministrasikan pembelajaran secara efektif dan efisien. Ke dua pendekatan ini memiliki implikasi yang luas terhadap proses pendidikan. dengan me mahami Psikologi Pendidikan para guru juga dapat memahami dan mengembangkan diri -pribadinya untuk menjadi seorang guru yang efektif dan patut diteladani. (b) memilih strategi atau metode pembelajaran. (c) memilih alat bantu da n media pembelajaran yang tepat. 2. (e) memfasilitasi dan memotivasi belajar pes erta didik. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Behav iorisme Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melal ui proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau me nciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan. Abin Syamsuddin Makm un (2003) menyebutkan bahwa tugas guru antara lain sebagai pengubah perilaku pes erta didik (behavioral changes). Dalam hal ini. Untuk memahami perilaku individu dapat dilihat dari dua pendekatan. a. Perilaku Individu Salah satu tugas utama guru adalah berus aha mengembangkan perilaku peserta didiknya. Pengua saan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang haru s dikuasai guru.

Behaviorisme menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya perilaku in dividu dapat digambarkan dalam bagan berikut : S R atau S O R S = stimulus (rangsangan). (2) Lingkungan efektif (umwelt=segala sesu atu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga me nimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia meresponsnya) Perilaku y ang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan peri laku spontan. secara spontan mahasiswa tersebut mengipasngipaskan buku untuk meredam kegerahannya. sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan. seca ra spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan respons (R) yang dilakukan mahas iswa. a da seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di ruangan kelas. Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W) setelah mengipas-ngipaskan buku. dan cuaca mendung merupakan lingkungan (W ). -- . ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow). R = Respons (perilaku. waktu sore hari. Ruan gan kelas yang gelap. maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini : W S O R W Yang dimaksud dengan lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua je nis yaitu : (1) Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu da n secara potensial dapat melahirkan S). Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga d itujukan kepadanya. Ruangan kelas yang panas mer upakan lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S) bagi mahasiswa tersebut (O). Contoh : seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa panas. aktivitas) dan O=organisme (in dividu/manusia). Sedangkan perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut: W S Ow R W Contoh : ketika sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kel as yang terasa agak gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung.

.

berjalan ke depan. proses dan mekanisme terjadinya perilaku menurut pandangan Holistik. tangan men ekan saklar lampu merupakan effector. suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyama n dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W). dan w hy (mengapa). Me nggerakkan kaki menuju ke depan. Sebenarnya. mengucapkan minta izin kepada dosen. Holistik atau humanisme menjelas kan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa). Secara skematik rangkaian. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Holistik (Humanisme) Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan. baik bersumber dari diri indiv idu itu sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (m otivasi ekstrinsik). how (bagaimana). Sele ngkapnya mekanisme perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut : Ow W S r e R W Dengan mengambil contoh perilaku sadar tadi. How (bagaimana) menunjukkan kepada j enis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose).meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak meny adari terhadap keadaan sekelilingnya--. masih ada dua unsur pen ting lainnya dalam diri setiap individu yang mempengaruhi efektivitas mekanisme proses perilaku yaitu receptors (panca indera sebagai alat penerima stimulus) da n effectors (syaraf. sehingga tulisan dosen di papan tulis tidak terbaca dengan baik. dapat dijelaskan dalam bagan berikut : Kebutuhan dirasakan (felt needs) Dorongan (motivation) Aktivitas yang dilakukan (Instrumental behavior) Tujuan dihayati (goals/ incentive) . bagan di atas dapat dijelaskan bahw a mahasiswa yang sadar (Ow) mungkin merasakan penglihatannya (receptor) menjadi tidak jelas. b. yakni perilakuny a itu sendiri. motif. otot dan sebagainya yang merupakan pelaksana gerak R). tekad) dari dalam d iri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku. What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/ purpose) a pa yang hendak dicapai dengan perilaku itu. meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan. Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggera kan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how). meminta ijin ke dosen . yang berarti aspek-aspek intrinsik (niat. dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa yang sada r tersebut (R).

Setiap individu. se perti : sandang. membentuk keluarga. (2) kebutuhan keamanan. (3) Kebutuhan untuk membentuk ikatan (need for affiliation). akan tetapi juga mental. yaitu kebutuhan untuk berkompetisi. sehin gga membentuk suatu siklus. yaitu kebutu han untuk mengikat diri dalam kelompok. Stranger (Nana Syaodih Sukmadinata. psikologikal dan intelektual.2005) mengetengahkan empat jen is kebutuhan individu. (4) kebutuhan prestise atau harga diri. Jika kebutuhan yang serupa muncul kembali maka po la mekanisme perilaku itu akan dilakukan pengulangan (sterotype behavior). baik dengan dirinya atau dengan orang lain d alam mencapai prestasi yang tertinggi. baik yang bersum ber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar i ndividu (motivasi ekstrinsik). organisasi ataupun p ersahabatan. pangan dan papan. yaitu: (1) kebutuhan fisiologikal. akan merasakan adanya kekurangan-kekurangan atau kebutu han-kebutuhan tertentu dalam dirinya. Maslow mengungkapkan jenisjenis kebutuhan-individu secara hierarkis. (4) Kebutuhan takut akan kegagalan (need for fear of failure). dan (5) kebutuhan aktualisasi dir i. yaitu: (1) Kebutuhan berprestasi (need for achievement). yait u kebutuhan untuk menghindar diri dari kegagalan atau sesuatu yang menghambat pe rkembangannya. yang dapat digambarkan sebagai berikut : Motif Rasa puas atau kecewa Perilaku Instrumental Tujuan . (3) kebutuhan kasih sa yang atau penerimaan. Tingkatan kebutuhan tersebut dapat diragakan seperti tampak dalam gambar beri kut ini : SELF ACTUALIZATION ESTEEM NEEDS LOVE NEEDS SAFETY NEEDS PHYSIOLOGICAL NEEDS Sementara itu. Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motiva si) yang merupakan kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat pe rsistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu aktivitas. Dalam hal ini. yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status. yaitu kebutuhan untuk mencari dan memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang lain. demi mempertahankan kelangsungan dan meningk atkan kualitas hidupnya. tidak dalam arti fisi k. (2) Kebutuhan berkuasa (need for power).Berdasarkan bagan di atas tampak bahwa terjadinya perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan.

menunjukkan kepada motif yang tidak pelajari. dikenal de ngan istilah drive. seperti : dorongan untuk makan. minum. menunjukkan kepada m otif yang berkembang dalam individu karena pengalaman dan dipelajari. j ika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sam a-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. (4) ketabahan. yaitu : 1. 3. manipulasi. setiap aktivitas ya ng dilakukan individu akan mengarah pada tujuan . Untuk memahami motivasi individu dapat d ilihat dari indikator-indikatornya. yaitu : (1) durasi kegiatan. (5) devosi dan pengorbanan untuk mencap ai tujuan. menye rang. j ika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sam a-sama kuat. minat). yang satu positif dan dikehendaki dan yang lainnya motif negatif serta tidak dikehendaki namun sama k uatnya. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih. (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan. dis ebutkan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam dirinya. 2. Jika seorang individu dihadapkan pada bentuk-bentuk motif seperti dikemukakan di atas tentunya dia akan mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dan sangat mungkin menjadi perang batin yang berkepanjangan. Avoidance-avoidance conflict. Motif sekunder.Berkaitan dengan motif individu. maksu d dan aspirasi serta motif berprestasi. Motif primer (basic motive dan emergency motive). motif-motif obyektif dan interest (eksplorasi. (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari keg iatan yang dilakukan. 2. keuletan dan kemampuan da lam mengahadapi rintangan dan kesulitan. (2) frekuensi k egiatan. dikehendaki serta bersifat positif. motif-motif sosial (ingin diterima. motif individ u dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan. (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakuk an. Approach-approach conflict. Bentukbentuk konflik tersebut diantaranya adalah : 1. untuk keperluan studi psikologis. adakalanya individu harus berh adapan dengan motif yang saling bertentangan atau biasa disebut konflik. menyelamatkan diri dan sejenisnya. melarikan diri. Dalam diri indiv idu akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada tujuan tertentu. (3) persistensi pada kegiatan. Dalam pandangan holistik. seperti : takut yang dipelajari. Deng an beragamnya motif yang terdapat dalam individu. konformitas dan sebag ainya). Approach-avoidance con flict.

di bawah ini akan dikemukaka n contoh terbentuknya perilaku berdasarkan pendekatan holistik. Ketika mengikuti perkul iahan Psikologi Pendidikan yang merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diik uti para mahasiswa. Contoh 1 : Karen a gagal mengikuti mengikuti testing pada salah satu Fakultas di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). Namun sebaliknya. (6) rasionalisasi (mencari alasan). sikap dan keterampilannya dalam bidang Psikologi Pendidikan sehingga dia me nyadari Psikologi Pendidikan merupakan kebutuhan bagi dirinya (need felt) dalam rangka mencapai tujuan-tujuannya (goals/incentives). . (4) fiksasi. (8) sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang sejenis).tertentu. Dalam hal ini. Sekaligus juga dapat membe rikan bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan frustrasi. yang dipe rolehnya dari setiap pertemuan tatap muka dengan dosen. seakan-akan ia dapat mencapai tujuan yang didambakannya). Jika akal sehatny a berani mengahadapi kenyataan maka dia akan lebih dapat menyesuaikan diri secar a sehat dan rasional (well adjustment). dan setelah mempertimbangkan segala sesuatunya (moralitas). secara sukarela Arjuna memutuskan untuk melanjutkan pada salah program studi yang ada di FKIP UNIKU (sublimasi). Jika tercapai tentunya individu merasa puas dan memperoleh kese imbangan diri (homeostatis). perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya. (10) berfantasi (dalam angan-angannya. Bentuk peril aku salah suai (maldjustment). Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membant u para peserta didiknya agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat menimbulkan perilaku salah-suai. (2) kecemasan tak berdaya. inteligensi). Untuk tujuan jangka pendekn ya. dengan berbekal kesadaran diri bahwa dia memiliki potensi dalam bidang psiko logi pendidikan. bergantung kepada akal sehatnya (reasoning. m aka dia akan mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment). (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di bi dang lain). sejak awal dia sudah menyadari bahwa dia kekurangan pengetah uan. jika akal sehatnya tidak berfungs i sebagaimana mestinya. Untuk lebih jelasnya. dia berharap dapat memperoleh kemampuan baru berupa pengetahuan . terdapat dua kemungkinan. sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan psikologi pendidikan. diantaranya : (1) agresi marah. (7) proyeksi (melemparkan kesalaha n kepada lingkungan). tercapai atau tidak tercapai tujuan tersebut. (5) represi (menekan p erasaan). (3) regresi (kemunduran perilaku). jika tujuan tersebut tidak tercap ai dan kebutuhannya tidak terpenuhi maka dia akan kecewa atau dalam psikologi di sebut frustrasi. Reaksi individu terhadap frustrasi akan beragam bentuk perilaku nya. Namun.

dia memperoleh nilai terbaik di kelasnya. Contoh 2 : Astrajingga rekan seangkatan Arjuna. . Dia bercita-cita menjadi seorang ekonom. dia benar-benar berharap dapat menjadi guru yang efektif dan kompet en.Tujuan jangka menengah. Bagi dirinya. Berkat aktivitas dan kesungguhannya dalam mengikuti perkuliahan Psikolog i Pendidikan. pada saat PPL dia termasuk mahasiswa praktikan yang disukai oleh peserta didiknya. sikap yang positif dan memil iki keterampilan yang bisa dibanggakan dalam menerapkan prinsip-prinsip psikolog i. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai untuk jan gka panjang. Setelah dia selesai kuliah dia menjadi guru di sebuah sekolah. bahkan kepa la sekolahnya meminta dia untuk menjadi guru di sekolah menjadi tempat praktekny a. dia berhasil meraih sebagai juara pertama. Perkuliahan Psikologi Pendidikan telah men dasari dia menjadi seorang yang sukses. sehingga selama kuliah. keingi nan menjadi guru yang efektif dan kompeten kemudian berkembang menjadi dorongan yang kuat dalam dirinya (motivasi intrinsik) Pada saat mengikuti perkuliahan Psi kologi Pendidikan dia senantiasa aktif bertanya dan mengemukakan pendapatnya ten tang materi yang disampaikan. membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidika n yang diwajibkan dan dianjurkan oleh dosen. Keinginan dan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam bid ang psikologi pendidikan. dia berharap dapat mela ksanakannya dengan sebaik-baiknya. para peserta d idik sangat menyenangi dia karena dia sangat dekat dan akrab dengan peserta didi knya. kemudian dia dipaksa orang tuanya untuk melanjutkan pada salah sa tu program studi di FKIP UNIKU (motivasi ekstrinsik/substitusi). pada akhir semester dia berharap lulus mata kuliah Psiko logi Pendidikan dengan mendapatkan nilai A (kebutuhan harga diri). Setiap tugas yang diberikan diseles aikan dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu. rekan-rekan seprofesinya sangat hormat dan kagum atas kinerja nya sebagai guru. baik ketika selama menjadi mahasiswa maupun setelah menj adi guru (homeostatis). n anti pada saat mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). Dia juga sangat menyukai diskusi te ntang psikologi pendidikan dengan teman-temannya di luar kelas (perilaku instrum ental). memperoleh kesuksesan belajar dengan mendapatkan nilai A. Pada akhir semester. memperoleh kesuksesan dalam mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). dia belum menemukan apa tujuan kuliahnya. Dia sangat mensyukuri atas segala keberhasilannya. Begitu juga. karena gagal mengikuti mengikut i testing pada Fakultas Ekonomi di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). Pada saat mengikuti lomba pemilihan guru berprestasi tingkat k abupaten. dia memperoleh pengetahuan yang luas. Selain itu.

Dengan pengetahuan individu dapat mengenal dan mengingat kembali suatu objek.Dia tidak begitu berminat mengikuti perkuliahan mata kuliah kependidikan. terdiri dari : Mengeta hui terminologi yaitu berhubungan dengan mengenal atau mengingat kembali istilah atau konsep tertentu yang dinyatakan dalam bentuk simbol. dan ciri-ciri yang tampak dari keadaan alam tertentu . Bloom mengungkapkan tiga kawasan (domain) perilaku individu beserta sub kaw asan dari masing-masing kawasan. Mengetahui fakta tertentu yaitu mengenal atau mengingat kemb ali tanggal. Pikirannya selalu terganggu bahwa seolah-olah dia sedang kuliah pada Fakutas Ekonomi di Perguruan Tinggi yang diidam-idamkannya dan dia merasa seolah-olah bakal menjadi Ekonom (fantasi). Untuk keperluan studi tentang perilaku kiranya perlu ada sistematika pengel ompokan berdasarkan kerangka berfikir tertentu (taksonomi). tahun. orang tempat. Dia dihadapkan pada perang batin antara terus melanjutkan stu di yang tidak sesuai dengan cita-citanya atau keluar dari kuliah dengan resiko o rang tua akan marah besar terhadap dirinya (conflict). sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan dan pada akhir nya dia dinyatakan tidak lulus dan terpaksa harus mengikuti remedial. termas uk mata kuliah Psikologi Pendidikan (kurang merasakan adanya kebutuhan dan kekur angan motivasi). Dia sering tidak masuk kuliah. Taksonomi Perilaku Individu Kalau perilaku individu mencakup segala pe rnyataan hidup. Pengetahuan merupakan aspek kognitif yang paling rendah tetapi paling mendasar. sumber informasi. Sambil men angis (regresi). Selama satu semester meng ikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. Kawasan Kognitif. id e prosedur. dia menyalahkan dosen bahwa dosennya tidak becus mengajar (proy eksi). kalaupun dikerjakan hanya alakadarnya dan selalu telat disetorkan. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau berfikir/nalar. yakni : a. kejadian masa lalu. kebu dayaan masyarakat tertentu. atau kesimpulan. teori. 1) Pengetahuan (knowledge). Mengetahui kebiasaan atau cara mengetengahkan ide atau pengalaman . Dilihat dari objek yang diketahui (isi) pengetahuan dapat digolongk an sebagai berikut : a) Mengetahui sesuatu secara khusus. betapa banyak kata yang harus dipergunakan untuk mendeskripsikan nya. peristiwa. 3. nama. b) Mengetahui tentang cara untuk memproses atau melakukan sesuatu. dia hanya memperoleh sebagian kecil saja pengetahuan. daftar. rumus. Tugas-tugas yang diberik an dosen pun jarang dikerjakan. peristiwa. konsep. sekal ipun dia masuk kuliah hanya sebatas takut dimarahi oleh dosen yang bersangkutan dan takut dinyatakan tidak lulus (kebutuhan rasa aman).Dalam konteks pendidi kan. definisi. baik berbentuk verbal maupun non verbal.

3. kepada siswa dihadapkan rangkaian bilangan 2. den gan kemapuan ekstrapolasinya tentu dia akan mengatakan bilangan ke-6 adalah 13 d an ke-7 adalah 19. bagan dan pola yang digunakan untuk mengorganisasi suatu fenome na atau pikiran. Tingkatan dalam pemahaman ini meliputi : a) translasi yaitu mengubah simbol tertentu menjadi simbol lain tanpa perubahan makna. Mengetahui penggolongan atau pengkatego risasian. Mengetahui prinsip dan generalisasi Mengetahui teori dan strukt ur. . Mengetahui meto dologi. yaitu ide. memperbandingkan atau mempertentangkannya dengan sesuatu yan g lain. Jika ditemukan bahwa kelima bilangan te rsebut adalah urutan bilangan prima. yaitu melihat kecenderungan. Mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi fakta. pendapat atau perlakuan. 2) Pemahaman (comprehension) Pemahaman atau dapat dijuga disebut dengan istilah mengerti merupakan kegiatan m ental intelektual yang mengorganisasikan materi yang telah diketahui. b) interpretasi yaitu menjelaskan makna yang terdapat dalam simbol. fakta d isusun kembali dalam struktur kognitif yang ada. Mengetahui kelas. terlebih dahulu dicari prinsip apa ya ng bekerja diantara kelima bilangan itu. peristiwa. sehingga membentuk struktur kognitif baru. Temuan-tem uan yang didapat dari mengetahui seperti definisi. Contoh sesesorang dapat dikatakan telah mengerti konsep tentang “motivasi kerja” dan dia telah dapat membedakannya dengan konsep tentang ”motivasi belajar”. 5. arah atau kelanjutan dari suatu temuan. Misalnya. Misalkan simbol dalam bentuk kata-kata diubah menjadi gambar. b agan atau grafik. Temuantemuan ini diakomodasikan dan kemudian berasimilasi dengan struktur kognitif yang ada. maka kelanjutannnya dapat dinyatakan berdas arkan prinsip tersebut. Seseorang dapat dikatakan telah da pat menginterpretasikan tentang suatu konsep atau prinsip tertentu jika dia tela h mampu membedakan. arah dan gerakan suatu gejala atau fenomena pada waktu yang berkaitan. 7. informasi.Mengetahui urutan dan kecenderungan yaitu proses. prinsip. dan c) Ekstrapolasi. yaitu perangkat cara yang digunakan untuk mencari. atau memproses sesuatu. 11. kelompok. Mengetahui hal-hal yang universal dan abstrak dalam bidang tert entu. Untuk bisa seperti itu. menemukan atau menyel esaikan masalah. perangkat atau susunan yang digunakan di d alam bidang tertentu. baik dalam bentuk simbol verbal maupun non verbal.

Hal ini menunjukkan bagaimana mereka menerapkan ko nsep terhadap sebuah temuan baru. menggunakan. menyelesaikan dan mengidentifikasi hal-hal yang sama. Bagi mereka. . Kemampuan untuk membedakan pernyataan fak tual dengan pernyataan normatif. Secara rinci Bloom mengemukakan tiga je nis kemampuan analisis. Kemampuan untuk mengenal fakta atau asumsi yang esensial yang mendasari suatu pendapat atau tesis atau argumen-argumen yang mendukungnya. melihat penyebab-penyebab dari suatu peristiwa atau memberi argumenargumen yang menyokong suatu pernyataan. dulu ketika pertama kali diperk enalkan kereta api kepada petani di Amerika. yaitu : a) Menganalisis unsur : Kemampuan melihat asumsi -asumsi yang tidak dinyatakan secara eksplisit pada suatu pernyataan Kemampuan u ntuk membedakan fakta dengan hipotesa. Satu-satunya alat transportasi yang suda h dikenal pada waktu itu adalah kuda. Kemampuan untuk me misahkan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang mendukungnya.3) Penerapan (application) Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dal am kehidupan sehari-hari. 4) Penguraian (analysis). Dengan pemahaman demikian. maka mereka memberi nama pada kereta api tersebut d engan iron horse (kuda besi). Kemampuan untu k memastikan konsistensinya hipotesis dengan informasi atau asumsi yang ada. Kemampuan untuk mengidentifikasi motif-motif da n membedakan mekanisme perilaku antara individu dan kelompok. memanfaatkan. Contoh. Kemampuan untuk mengenal unsur-unsur khusus yang membenarkan suatu pern yataan. Seseorang dikatakan menguasai kemampuan ini jika ia da pat memberi contoh. mengklasifikasikan. mereka berusaha untuk memberi nama yang cocok bagi alat angkutan tersebut. b) Menganalisi s hubungan Kemampuan untuk melihat secara komprehensif interrelasi antar ide den gan ide. Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah dan menunjukkan hubungan antar-bagia n tersebut. ingat kuda ingat transportasi .

atau bermanfaat – tak bermanfaat berdasarkan kriteria-kriteria tertentu baik kualitatif maupun kuantitatif. Kemampuan untuk mendeteksi hal-hal yang tidak logis di dalam suatu argumen. 5) Memadukan (synthesis) Menggabungkan. .. yang dilakukan dengan memperhatikan k onsistensi atau kecermatan susunan secara logis unsurunsur yang ada di dalam obj ek yang diamati. 6) Penilaian (evaluation) Mempertimbangkan. memberi nama yang sesuai bagi suatu temuan baru. Kemampuan untuk mengenal hubung an kausal dan unsur-unsur yang penting dan yang tidak penting di dalam perhitung an historis. meramu. Terdapat dua kriteria pembenaran yang digunakan. menciptakan logo organisasi. Kemampuan untuk mengetahui maksud dari pengarang suatu karya tu lis. c) Menganalisis prinsip-prinsip organisasi Kemampuan untuk menguraikan antara ba han dan alat Kemampuan untuk mengenal bentuk dan pola karya seni dalam rangka me mahami maknanya.Kemampuan untuk menganalisis hubungan di antara pernyataan dan argumen guna memb edakan mana pernyataan yang relevan mana yang tidak. menilai dan mengambil keputusan benar-salah. sudut pandang atau ciri berfikirnya dan perasaan yang dapat diperoleh dalam karyanya. yang dilakukan be rdasarkan kriteria-kriteria yang bersumber di luar objek yang diamati. Kemampuan untuk melihat teknik yang digunakan dalam meyusun suatu mat eri yang bersifat persuasif seperti advertensi dan propaganda. atau merangkai berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau menjadi suatu hal yang baru. yaitu : a) Pembenaran berdasarkan kriteria internal. Contoh: memilih nada dan irama dan kemudian manggabun gkannya sehingga menjadi gubahan musik yang baru. b) Pembenaran berdasarkan kriteria eksternal. misalnya kesesuaiannya dengan aspirasi umum atau kecocokannya dengan kebutuhan pemakai. Kemampuan berfikir induktif dan konvergen mer upakan ciri kemampuan ini. baik-buruk.

yaitu kelanjutan dari usah a memuaskan diri untuk menanggapi secara lebih intensif. Penilaian terbagi atas empat tahap sebag ai berikut : a) Menerima nilai (acceptance of value). atau mentaati peraturan lalu lintas. yaitu adanya kesiapan untuk berinteraksi dengan stimulus (feno mena atau objek yang akan dipelajari).b. 1) Penerimaan (receiving/attending) Kawasan penerimaan diperinci ke dalam tiga tahap. c) Komitmen yaitu kesetujuan terhadap suatu nilai dengan ala san-alasan tertentu yang muncul dari rangkaian pengalaman. 4) Pengorganisasian (organization) . 2) Sambutan (responding) Mengadakan aksi terhadap stimulus. yaitu usaha untuk melihat hal-hal khusus di dalam bagian yang diperhatikan. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek emosional. Mungkin perhatian itu hanya tertuju pada warna. seperti perasaan. kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. yaitu : a) Kesiapan untuk mene rima (awareness). Kawasan Afektif. Contoh : mengajukan pertanyaan. c) Mengkhususkan perhatian (controlled or selected atte ntion). c) Kepuasan menanggapi (satisfaction in r esponse). membuat coretan atau gambar. Komitmen ini dinyatak an dengan rasa senang. suara atau kata-kata ter tentu saja. b) Menyeleksi nilai yan g lebih disenangi (preference for a value) yang dinyatakan dalam usaha untuk men cari contoh yang dapat memuaskan perilaku menikmati. b) Kemauan untuk meneri ma (willingness to receive). 3) Penghargaan (valuing) Pada tahap ini sudah mulai timbul proses internalisasi untuk memiliki dan mengha yati nilai dari stimulus yang dihadapi. Misalnya pada desain atau warna saja. misalnya lukisan yang memil iki yang memuaskan. memotret dari objek yang me njadi pusat perhatiannya. kagum. yaitu adanya aksi atau kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk me muaskan keinginan mengetahui. yaitu usaha untuk mengalokasikan perhatian pada sti mulus yang bersangkutan. b) Kemauan menanggapi (willingness to respo nd). terpesona. dan sebagainya. yang ditandai dengan kehadiran dan usaha untuk memberi perhatian pada stimulus yang bersangkutan. Kagum atas keberanian seseorang. Contoh kegiatan yang tampak dari kepuasan menangga pi ini adalah bertanya. me nempelkan gambar dari tokoh yang disenangi pada tembok kamar yang bersangkutan. menunj ukkan komitmen terhadap nilai keberanian yang dihargainya. yang meliputi proses sebagai berikut : a) Kes iapan menanggapi (acquiescene of responding). sikap. minat.

yaitu menyusun perangkat nilai dalam suatu sis tem berdasarkan tingkat preferensinya. Dalam sistem nilai ini yang bersangkutan menempatkan nilai yang paling disukai pada tingkat yang amat penting. (b) penirua n (imitation). menyusul k emudian nilai yang dirasakan agak penting. maka susunan itu belum konsisten di dalam diri yang bersangkutan. Artinya mudah berub ah-ubah sesuai situasi yang dihadapi. mempersiapkan alat. sekalipun ia belum dapat mengubah polanya. yaitu : a) Generalisasi. (c) membiasakan (habitual). Seperti anak yang baru belajar bahasa meniru kata-kata orang tanpa mengerti artinya. c. 2) Meniru adalah kemampuan untuk melakukan sesuai dengan conto h yang diamatinya walaupun belum mengerti hakikat atau makna dari keterampilan i tu. yakni : a) Konseptualisasi nilai. menyesuaikan diri dengan situasi. Proses ini terjadi dalam dua tahapan. yaitu k emampuan untuk melihat suatu masalah dari suatu sudut pandang tertentu. (d) menyesuaikan (adaptation) dan (e) menciptakan (origination) 1) Kesiapan yaitu berhubungan dengan kesediaan untuk melatih diri tentang keterampilan tertentu yang dinyatakan dengan usaha untuk me laporkan kehadirannya. Kawasan Psikomotor. yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular syste m) dan fungsi psikis. tetapi mulai melihat beberapa nilai yang relevan untuk disusun menjadi satu sistem nilai. yaitu keinginan untuk menilai hasil karya oran g lain. Proses ini terdiri atas dua tahap. Karakterisasi yaitu kemampuan untuk menghayati atau mempribadikan sistem nilai K alau pada tahap pengorganisasian di atas sistem nilai sudah dapat disusun.atau kesenangan dari diri yang bersangkutan. men jawab pertanyaan. 5) Karakterisasi (characterization). . dan seterusnya menurut urutan kepenti ngan. b) Pengorganisasian sistem nilai. atau menemukan asumsi-asumsi yang mendasari suatu moral atau kebiasaan. sistem itu selal u konsisten.Pada tahap ini yang bersangkutan tidak hanya menginternalisasi satu nilai terten tu seperti pada tahap komitmen. yaitu mengembangkan pandangan hidup tertentu yang memberi corak tersen diri pada kepribadian diri yang bersangkutan. 3) Membiasakan yaitu seseorang dapat melakukan suatu keterampilan tanpa harus melihat contoh. Kawasan ini terdiri dari : (a) kesiapan (set). b) Karak terisasi. Pada tahap karakterisasi.

dan cekatan dala m melakukan gerakan yang sulit dan rumit (kompleks). S ementara itu. Sementara kalangan humanisme. atau sebagai wahana untuk memanusiakan manusia. banyak peradaban manusia yang “mewajibk an” masyarakatnya untuk tetap menjaga keberlangsungan pendidikan. pendid ikan lebih diyakini sebagai suatu media atau wahana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan ajaran keagamaan. misalnya : melompat. ser ta wahana untuk pembebasan manusia. yaitu : sub kawasan ini 1) Gerakan refleks (reflex movements). Gerakan indah dan kreatif ( Non-discursive communication) yaitu mengkomunikasikan perasan melalui gerakan. Gerakan dasar biasa (Basic fundamental movements) yaitu gerakan yang mun cul tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik. . berjalan. s erta media untuk meningkatkan keterampilan. Penyelenggaraan pendidikan selanjutnya menja di kewajiban kemanusiaan dalam rangka mempertahankan kehidupannya. b aik dalam bentuk gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah maupun gerak kreatif: gerakangerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasi kan peran.4) Adaptasi yaitu seseorang sudah mampu melakukan modifikasi untuk disesuaikan d engan kebutuhan atau situasi tempat keterampilan itu dilaksanakan. Abin Syamsuddin Makmun( 2003) memerinci dengan tahapan yang berbed a. alat mengasah otak. Bagi kalangan behaviorisme. kelentu ran (flexibility) dan kegesitan. Gerakan fisik (Physical Abilities) yai tu gerakan yang menunjukkan daya tahan (endurance). yang terpola dan dapat ditebak. Basis semua perilaku bergerak atau respon s terhadap stimulus tanpa sadar. Gerakan terampil (skilled movements) yaitu dapa t mengontrol berbagai tingkatan gerak secara terampil. alat pelatihan keterampilan. 5) Menciptaka n (origination) di mana seseorang sudah mampu menciptakan sendiri suatu karya. menunduk. dan seba gainya. Peranan dan Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan dan Perkembangan Perilaku Pendidikan memang sejak zaman dahulu kala menjadi salah satu bentuk usaha manusi a dalam rangka mempertahankan keberlangsungan eksistensi kehidupan maupun budaya manusia itu sendiri. Melihat begit u pentingnya pendidikan bagi umat manusia. Gerakan Persepsi (Perceptual abilities) yaitu gerakan sudah lebih menin gkat karena dibantu kemampuan perseptual. tangkas. pendidikan dipahami sebagai se bagai alat pembentukan watak. kekuatan (strength). 2) 3) 4) 5) 6) 4.

Sedangkan dalam pandangan humanisme. maupun psikomotor. Sementara itu . baik dalam aspek k ognitif. dalam pandangan humanisme bahwa justru organisme atau individu itu sendiri yan g memegang peranan penting dalam suatu proses belajar atau proses pendidikannya. bakat. sejauhmanakah pendidikan dapat mempengaruhi perubahan da n perkembangan perilaku individu. Jika kita amati dari kedua pandangan tersebut tampak a da hal yang kontras. pengaruh fungsional pendidikan terhadap perubahan dan pe rkembangan perilaku. individu yang bersangkutan berupaya aktif mengembangkan segenap potensi yan g dimilikinya melalui interaksi dengan lingkungannya. Secara skematik.O) P= person (pribadi. Bagaimana pula kontribusi individu itu sendiri terhadap perubahan dan perkembangan perilakunya. selanjutnya dengan bantuan atau tanpa bantuan orang l ain. Dengan adanya perbedaan pandangan tersebut menyebabkan pula terjadinya pe rbedaan-perbedaan dalam pendekatan dan teknis proses pendidikan. perilaku) f = function (fungsi) S=stimulus (pendidikan/belaj ar) O=organisme Contoh : Untuk memiliki pengetahuan. hasil b elajar individu merupakan hasil dari upaya aktif dan pro-aktifnya terhadap lingk ungan. khususnya dalam pandangan behaviorisme. . ter utama potensi intelektual. Seberapa besar tingkat atau derajat perubah an dan perkembangan perilaku yang dicapai melalui usaha – usaha conditioning diken al dengan istilah prestasi belajar atau hasil belajar (achievement). arah dan kualifikasi perubahan dan perkemba ngan perilaku akan sangat bergantung pada faktor S (conditioning). Pada dasarnya individu sejak lahir sudah dibekali potensi-potensi tertentu. pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha conditioning (penciptaan seperangkat stimulus) yang diharapkan dapat menghasilkan pola-pola perilaku (seperangkat respons) tertentu. dapat dijelaskan dalam bagan berikut ini : P = f (S. yang diman ifestasikan dalam bentuk perubahan dan perkembangan perilaku. menurut pandangan behaviorisme. termasuk lingkungan sekola h. Dengan menggunakan konsep dasa r psikologis. minat. Menurut pandangan behaviorisme hasil belajar individu merup akan hasil reaktif dari lingkungan. harus diakui bahwa kedua pandangan tersebut memiliki peranan penting dan mem berikan kontribusi terhadap perubahan dan perkembangan pribadi atau perilaku ind ividu. sikap dan keterampilan tent ang Psikologi Pendidikan (P). Walaupun demiki an. seorang mahasiswa (O) dengan segala karakteristikn ya (kondisi fisik. afektif.Yang menjadi persoalan.Dengan demik ian. Sehingga potensi yang semula masih bersifat laten (terpendam) dapat diaktuali sasikan menjadi prestasi.

Psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai : 1) 2) 3) 4) I lmu Jiwa Ilmu yang mempelajari tentang perilaku peserta didik . c. b. d. Ilmu yang mempel ajari perilaku individu dalam situasi pendidikan. b. dengan cara memberikan ta nda silang (X) ! 2. Mekanisme terbentuknya perilaku sadar menurut pandangan Behaviorisme a. kecu ali : a. dis amping dihasilkan melalui kegiatan pendidikan (belajar) juga dipengaruhi oleh fa ktor internal dari individu itu sendiri. kiranya bisa dipahami bahwa perubahan perilaku atau diperolehnya kemampuan individu. Konsep dan teori Psikologi Pendidikan diperoleh berdasarkan upaya yang s istematis. baik untuk kepentingan diri-pribadi sehari-hari maupun dalam rangka mempers iapkan diri untuk menjadi guru kelak di kemudian hari. membaca dan mengkaji buku-buku yang relevan. sikap dan memiliki keterampilan baru tentang psikologi pendidi kan. d. Guru dapat menjalankan peran tu gas dan fungsinya secara efektif dan efisien Guru dapat merencanakan pembelajara n dengan sebaik-baiknya Guru dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif. d. Arti penting Psi kologi Pendidikan bagi guru adalah : a. 5. Melalui interaksi belajar mengajar yang disepak ati dengan Dosen. Menjadi ped oman bagi para pendidik dalam mengembangkan proses pendidikan. bahkan melakukan penelitian. c. D. Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilih lah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. misalnya melalui: diskusi dengan teman. dia mendapa tkan pengetahuan. dan c benar 3.motivasi. c. Memiliki obyek yang jelas yaitu perilaku individu yang terlibat dalam pendidi kan. maka pada akhirnya. a. hasil belajar sebelumnya serta karakteristik lainnya) mengikuti kegiat an belajar Psikologi Pendidikan. 4. dia memperoleh sejumlah pengalaman belajar. baik melalui pendekatan kuantitatif maupun kualitatif. mengobservasi perilaku di kelas. b. W S S S O WS Ow R R O R R W W . b. Dengan demikian. Gur u dapat menilai peserta didiknya secara efisien. Memberikan man faat untuk kepentingan efektivitas dan efisiensi pendidikan. Beberapa persyaratan ilmu yang sudah dipenuhi oleh Psikologi Pendidikan.

tingkat kualifikas i prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan dan a rah sikap terhadap sasaran kegiatan. evaluatio n Uraian 1. kecuali : a. Kebutuhan akan harga diri. application b. dan c benar 9. a. Di bawah ini merupakan jenis-jenis kebutuhan individu yang dikemukakan oleh M aslow. me nggabungkan merupakan indikator atau kata kerja operasional untuk mengukur perub ahan perilaku dalam aspek : a. analysis c. characterization by valu e or value complex d. Kebutuhan akan rasa aman. Uraikan dan berikan gambaran secara skematik ten tang mekanisme pembentukan perilaku dan pribadi individu menurut aliran holistik ! . regresi c. b. ketabahan. Di bawah ini merupakan kemampuan yang berkaitan dengan perilaku kawasan afektif. Kebutuhan akan prestasi. keuleta n dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan. b . a. b. Avoidance-avoidance conflict d. Dapat menyimpulkan. a. a. b dan c benar 11. fiksasi d. d. agresi b.6. 7. b.avoidance c onflict b. Reaksi frustasi ind ividu atas kegagalan dalam mencapai tujuan dan tidak terpenuhinya kebutuhan indi vidu dengan cara mencari kambing hitam. dan c benar 8. Jelaskan peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perk embangan perilaku individu ! 2. Approach-approach conflict c. Konflik yang dialami jik a individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif samasama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. proye ksi 10. c. a. frekuensi dan persistensi kegiatan. Kebutuhan akan aktualisasi diri. evaluasi b. a. synthesis d. Di bawah ini merupakan indikator untuk mengetahui tingkat motivas i individu. Non-discursive communication c. d. a. c. menghubungkan. Approach. durasi.

ada peserta didik yang menunjukka n cepat dalam menangkap pelajaran. Menganalis faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya ke ragaman dalam kecakapan dan kepribadian. dan kepribadian 2. B. dengan masing-masing karakateristik yang dimilik inya. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian Dalam m elaksanakan tugasnya. Mendefinisikan kecakapan nyata.BAB II KERAGAMAN INDIVIDU DALAM KECAKAPAN DAN KEPRIBADIAN ujuan : A. Di antara sekian banyak karakteristik yang dimiliki peserta didik. Intisari Bacaan 1. Mengid entifikasi tentang indikator kecerdasan. Menjelaskan tentang teori-teori kecerdasan dan p engukuran kecerdasan. aspek-aspek kepribadian. namun sebaliknya ada juga yang sangat lambat. 4. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian. seorang guru mungkin akan dihadapkan dengan puluhan atau b ahkan ratusan peserta didiknya. kecerdasan (inteligensi). ciri-ciri keberbakat an. yang pe nting dan perlu diketahui guru adalah berkenaan dengan kecakapan dan kepribadian peserta didiknya. Pokok Bahasan 1. diharapkan Anda dapat : 1. 2. Dari segi . Fakto r-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman Kepribadian. ukuran kecerdasan. dalam Kecakapan dan C. 3. T Setelah mempelajari Bab ini.Dari segi kecepatan belajar. kecakapan potensial.

kurang sungguh-sungguh dan sebagainya. setelah selesai mengikuti prose s perkuliahan (kegiatan tatap muka di kelas). di bawah ini akan diuraikan dua jenis keragaman individu yaitu keragaman dalam keca kapan dan kepribadian.kepribadian. selanjutnya dia berusaha untuk menemukan solusinya dan menetukan tindakan apa yang paling mungkin bisa d ilakukan agar peserta didik tersebut dapat mengembangkan perilaku dan pribadinya secara optimal. a. yakni hanya berhubungan dengan aspek intelektual saja. adaka lanya guru dibuat frustrasi. Membicarakan tentang keragaman individu secara luas dan mendala m sebetulnya sudah merupakan kajian tersendiri yaitu dalam bidang Psikologi Dife rensial. C. maka kemampuan tersebut merupakan atau kecakapan nyata (achievement). Ketika mahasi swa mampu menjawab dengan baik tentang pertanyaan dosen. Berhadapan dengan peserta didik yang memiliki kecep atan belajar dan memiliki ciri-ciri kepribadian yang positif. Misalkan. m alas. Keragaman Individu dalam Kecakapan Kecakapan individu dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu kecakapan nyata (actual ability) dan kecak apan potensial (potential ability). Untuk kepentingan pengetahuan guru dalam memahami peserta didiknya. belum tentu dia akan langsung menarik kesimpulan bahwa peserta didiklah yang salah. sehingga akan diketahui secar a akurat kenapa peserta didik itu lambat dalam belajar. Chaplin (1975) memberikan pengertian int eligensi sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi bar u secara cepat dan efektif. Menurut pendapatnya bahwa inteligensi terdiri dari kem ampuan umum yang diberi . pada akhir perkuliahan mahasiswa d iuji oleh dosen tentang materi yang disampaikannya (tes formatif). Namun ketika berhadapan dengan pesert a didik yang lambat dalam belajar atau ciri-ciri kepribadian yang negatif. Peserta didik dianggap kurang rajin. Ujung-ujungnya dia langsung saja akan menyimpulkan bahwa peserta didiklah yang salah.P. Kecakapan nyata (actual ability) yaitu kecak apan yang diperoleh melalui belajar (achivement atau prestasi). Jika saja guru tersebut dapat memah ami tentang keragaman individu. yang dapat seger a didemonstrasikan dan diuji sekarang. guru akan berhadapan dengan ciri-ciri kepribadian para peserta didi knyanya yang khas atau unik. Sedangkan kecakapan potensial mer upakan aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri individu dan diperoleh d ari faktor keturunan (herediter). guru mungkin akan menganggap seolah-olah tidak ada hambatan. seperti teori inteligensi yang dikemukakan oleh Charles Spearman (1904) de ngan teori “Two Factors”-nya. bodoh. Kecakapan potensial dapat dibagi ke dalam dua bagian yaitu kecakapan dasar umum (inteligensi atau kecerdasan) dan kecakapan da sar khusus (bakat atau aptitudes). Terlebih dahulu mungkin dia akan mempelajari latar belakang sosio-psikologis peserta didiknya. Pada awalnya teori inteligensi masih bersifat unidim ensional (kecerdasan tunggal).

c. Thurstone (1938) mengemukakan teori “Primary Mental Abilities”. ekspresi muka at au suara). modifikasi. Cognition (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang baru). S elanjutnya. b. (3) kemampuan na lar atau berfikir (reasoning). b. J. atau memadai). (6) kemampuan menggunakan kata-kata ( word fluency). Product (Hasil Berfikir) a. Operasi Mental (Pros es Befikir) a. akurat. e. Sistem (kompleksitas bagian saling berhubungan). yaitu : (1) kemampuan berb ahasa (verbal comprehension). f. d.kode “g” (genaral factor) dan kemampuan khusus yang diberi kode “s” (specific factor). c. Auditory. Evaluation (mengambil keputusan tentang apakah suatu itu baik. Guilford mengemukakan bahwa inteligensi dapat dilihat dari tiga kategori dasar atau “faces of intellect”. 3. Convergent Production (berfikir memusat= hanya satu kemungkinan jawaban/alternatif). Memory Recording (ingatan yang segera). c. bahwa in teligensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer. Visual (bentuk konkret atau gambaran). e. Word Meaning (semantic). Kela s (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama). Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi item lain). yaitu : 1. Content (Isi yang Dipikirkan) a. kata-kata atau angka dan notasi musik). b. d. Memory Retention (ingatan yang berkaitan dengan kehidupan seharihari). Transform asi (perubahan. f. (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor). Behavi oral (interaksi non verbal yang diperoleh melalui penginderaan. d. Relasi (keterkaitan an tar informasi). Sementara itu. dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual s peed). (2) kemampuan mengingat (memory). yang konon dianggap sebag ai anugerah yang dapat mengantarkan . atau redefinisi informasi). Belakangan ini banyak orang meng gugat tentang kecerdasan intelektual (unidimensional). 2. Symbolic (i nformasi dalam bentuk lambang. Unit (item tunggal informasi).P. e. Divergent Production (berfikir mel ebar=banyak kemungkinan jawaban/ alternatif). ( 5) kemampuan bilangan (numerical ability).

Kemampuan untuk memahami perasaan. dan motivasi orang lain. Kemampuan untuk mengontrol gerakan tubuh dan mengenai objek-obj ek secara terampil. Spatial 5. H oward Gardner (1993). Pertanyaan muncul. makna kata-kata. Kemampuan untuk mengamati dan merespons suasana hati. dan keragaman fungsi-fungsi bahasa. Apakah mereka termasuk juga o rang-orang yang genius atau cerdas ? Dalam teori kecerdasan tunggal (uni-dimensi onal).. Jika kita perhatikan penjelasan tentang aspek-aspek intelige nsi dari teori-teori inteligensi di atas. Logical – Mathematica l 2. seperti Mozart dan Bethoven dengan karya-karya musiknya yang mengagumkan. ritme. dengan aspek-aspe knya sebagai tampak dalam tabel di bawah ini: INTELIGENSI 1.walaupun sebetulnya menurut hemat penulis alat ukur tersebut masih terbatas untuk mengukur inteligensi atau bakat persekol ahan (scholastic aptitude). Maka muncullah. para ahli mengembangkan instrumen-instrumen stan dar untuk mengukur perkiraan kecakapan umum (kecerdasan) dan kecakapan khusus (b akat) seseorang. Kemampuan untuk m enghasilkan dan mengapresiasikan ritme. Nada dan bentukbentuk ekspresi musik. Kepekaan terhadap suar a. mengemukakan teori Multiple Inteligence. temper amen. kemampuan mereka yang demikian hebat ternyata tidak terakomodasikan. maka pada dasarnya indikator kecerdasa n akan mengerucut ke dalam tiga ciri yaitu : kecepatan (waktu yang singkat). teori inteligensi yang berusaha mengakomodir kemampuan-kemampuan ind ividu yang tidak hanya berkenaan dengan aspek intelektual saja. Dalam hal ini. belum dapat mengukur . ata u Maradona dan Pele sang legenda sepakbola dunia. Interpersonal 7. Kecakapan potensial seseorang hanya dapat dideteksi dengan mengidentifikasi indi kator-indikatornya. Ke mampuan mempersepsi dunia ruangvisual secara akurat dan melakukan tranformasi pe rsepsi tersebut. Linguistic 3. ket epatan (hasilnya sesuai dengan yang diharapkan) dan kemudahan (tanpa menghadapi hambatan dan kesulitan yang berarti) dalam bertindak. Intrapersonal KEMAMPUAN INTI Kepekaan dan kemampuan untuk mengamati pola-pola lo gis dan bilangan serta kemampuan untuk berfikir rasional.kesuksesan hidup seseorang. kekuatan dan k elemahan serta inteligensi sendiri. Bodily Kinesthetic 6. Dengan indikator-indikator perilaku inteligensi tersebut. Alat ukur inteligensi yang paling dikenal dan banyak digunakan di Indonesia ialah Tes Binet Simon -. bagaimana dengan tokoh-tokoh duni a. Musical 4.

sehingga pada akhirnya akan di ketahui kelompok peserta didik yang tergolong cepat (upper group).aspek – aspek inteligensi secara keseluruhan (multiple inteligence). Selain itu. yaitu dengan cara memperhatikan kecenderungan kecepatan ketepatan. (4) tilikan ruangan. rata-rata (mi dle group) dan lambat (lower group) dalam belajarnya. dan (8) kecakapan gerak. (2) kefasihan mengungkapkan kata. melalui pengamatan yang s istematis tentang indikator – indikator kecerdasan yang dimiliki para peserta didi knya. (5) daya ingat.75 % 0.05 % Selain menggunakan instrumen standar.89 70 .25 % 0. a da juga tes intelegensi yang bersifat lintas budaya yaitu Tes Progressive Metric es (PM) yang dikembangkan oleh Raven. Untuk mengukur bakat seseo rang.79 50 . dapat menggunakan beberapa instrumen standar. diantaranya : DAT (Different ial Aptitude Test).20 % 0. Alat tes ini dapat mengungkap tenta ng : (1) pemahaman kata. seorang guru pada dasarnya dapat pula mend eteksi dan memperkirakan inteligensi peserta didiknya. SRA-PMA (Science Research Action – Primary Mental Ability). (7) berfikir l ogis. IQ > 140 130-139 120-129 110-119 90-109 80 . (3) pemahaman bilanga n.75 % 6% 13 % 60 % 13 % 6% 0.69 25 . Perlu dicatat bahwa pengukuran tersebut. dan kem udahan peserta didik dalam dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan me ngerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian. (6) kecepatan pengamatan. FA CT (Flanagan Aptitude Calassification Test). Dari hasil pengukuran inteligensi tersebut dapat diketahui seberapa besar tingkat integensi (biasa disebut IQ = Intelligen t Quotient yaitu ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang.49 < 25 KAT EGORI Jenius (Genius) Sangat Unggul (Very Superior) Unggul (Superior) Diatas rat a-rata (High Average) Rata-rata (Average) Dibawah Rata-Rata (Low Average) Bodoh (Dull) Debil (Moron) Imbecil Idiot PERSENTASE 0. baik men ggunakan instrumen standar atau hanya berdasarkan pengamatan sistematis guru buk anlah bersifat memastikan tingkat kecerdasan atau bakat seseorang namun hanya se kedar memperkirakan (prediksi) . Rumus yang b iasa digunakan untuk menghitung IQ seseorang adalah : MA (Mental Age) IQ= 100 x CA (Chronological Age) Di bawah ini disajikan norma ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang.

Berangkat dari studi yang dilakukannya. Begitu juga kecerdasan atau bakat ses eorang bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan tingkat keberhasilan atau ke suksesan hidup seseorang. Memiliki kemampuan yang tinggi dalam berfikir l ogis dan kritis Mampu belajar/bekerja secara mandiri. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tu ntutan (norma) lingkungan. Hall dan Gardner Lindzey. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbedabeda. Menur ut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. 4. ketegangan emosional. 7. Allport (Calvin S. 8. Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan. Mempunyai minat luas. frustrasi dan konf lik. tergantung sudut pandang masing-m asing. 6. Balitbang Depdiknas (1986) telah mengidentifikasi ciri-ciri keberbakat an peserta didik dilihat dari aspek kecerdasan. yaitu: 1. Dalam rangka Program Percepatan Belajar (Accelerated L earning). Belajar dengan dan cepat. 13. Keragaman Individu dalam Kepribadian Para ahli tampaknya masih sangat beragam dalam memberikan rumusan tentang kepribadian. . 2. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa). Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. 5. Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengata si kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penye suaian diri. Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar. Memiliki kemampuan memikirkan beb erapa macam pemecahan masalah. 12. 3. akhirnya d ia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. untuk kepentingan pengembangan diri. 14. Mempunyai daya imajinasi ya ng tinggi. Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau pe rbuatannya Cermat atau teliti dalam mengamati. Mampu mengemukakan dan mempertahankan penda pat. Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas pe rilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu la innya. kreativitas dan komitmen terhada p tugas. 10.saja. misalnya k onstitusi dan kondisi fisik. 11. 9. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Lancar berbahasa (mampu mengutarakan pikirannya). Mampu berkonsentrasi. b.

Fromm. Sering merasa tertekan (stress atau depresi) 4. Watson. Menunjukkan kekhawatiran dan kece masan 3. 2003) mengemukakan ciri-ciri kepribadian yang sehat atau tidak sehat. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. 4. teori Sosial Psikologis dari Adler. Sementara itu. yang di dalamnya mencakup : tentang aspek-aspek a. sebagai berikut : KEPRIBADIAN YANG SEHAT 1. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. teori P ersonologi dari Murray. Setiap individu memiliki ciri-ciri kepribadian terse ndiri. Seperti : sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berko munikasi dengan orang lain. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. sedih. Elizabeth Hurlock (Syam su Yusuf. Seperti mau menerim a resiko secara wajar. 7. yaitu kadar kestabilan reaksi emos ional terhadap rangsangan dari lingkungan. c. cuci tangan. atau putus asa e. konsiten ti daknya dalam memegang pendirian atau pendapat. di antaranya : teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. atau melarikan diri dari resiko yang dihadap i. sambutan terhadap objek yang bersifat positif . Stabilitas emosi. 5. m arah.tampang. Sikap. teori Psikologi Individual dari Allport. b. yaitu disposisi re aktif seorang. Hull. Temperamen. Responsibilitas (tanggung jawab). Untuk menjelaskan tentang kepriba dian individu. Kebiasaan berbohong 7. Mampu menilai diri sendiri secara realistik Mampu menilai situasi secara realist ik Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik Menerima tanggung jawa b Kemandirian Dapat mengontrol emosi Berorientasi tujuan Berorientasi keluar (ek strovert) KEPRIBADIAN YANG TIDAK SEHAT 1. teori Stimulus-Respons dari Throndike. Seperti mudah tidaknya tersinggung. hormon. Hi peraktif . 2. mulai dari yang menunjukkan ciri-ciri kepribadian yang sehat sampai denga n ciri-ciri kepribadian yang tidak sehat. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan inter personal. teori Medan dari Kurt Lewin. teori Analitik dari Carl Gust av Jung. 3. Abin Syamsuddin (2003) mengemu kakan kepribadian. Karakter. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. 8. Bersikap kejam 5. Sosiabilitas. negatif atau ambivalen d. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpen garuh. Ketid akmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang 6. teori The Sel f dari Carl Rogers dan sebagainya. Dalam hal ini. 6. Horney dan Sullivan. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersang kutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. f. Mudah marah 2.

Hasil percobaan Mendel ini menjelas kan kepada kita bahwa faktor keturunan memegang peranan penting bagi perilaku da n pribadi individu. Kurang rasa tanggung jawab 12. 2. Berdasar kan percobaannya dengan cara mengawinkan bunga merah dengan bunga putih. dengan memperhatikan aspek perbedaan atau keragaman kecakapan dan kepri badian yang dimiliki peserta didiknya. pembawaan sejak lahir atau berdasarkan keturunan yan g bersifat kodrati. Oleh karena itu. bahwa : (1) tiap-tiap sifat (traits) makhluk h idup itu dikendalikan oleh keturunan. kecakapan potensial (bakat dan kecerdasan). Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama 14. Pesimis 15. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman dalam Kecakapan dan Kepribadian Timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian d ipengaruhi oleh bebagai faktor. Berbahagia 8. dan satu dari pada pasangan alternatif itu memegang pengaruh besar. (2) tiap-tiap pasangan faktor keturunan me nentukan bentuk alternatif sesamanya. Sering mengalami pusing kepala 13. yaitu : a. Sifat-sifat atau ciri-ciri perilaku yang diturunkan orang tua kepada anaknya hanyalah bersifat . Herediter. para ahli sepakat bahwa pada d asarnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh tiga faktor u tama. se yogyanya guru dapat memperlakukan peserta didik dan mengembangkan strategi pembe lajaran. Senang mengkritik/ mencemooh 10. Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas 9. Penerimaan sosial 10. Beberapa asas tentang keturunan di bawah ini akan memberikan gambaran pembanding kepada kita tentang apa-apa yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya : 1. Kendati demikian. dan tiap-tiap sel kelaminnya menerima sa lah satu faktor dari pasangan keturunan itu. S ulit tidur 11. Sehingga peserta didik dapat mengembangka n diri sesuai dengan kecepatan belajar dan karakteristik perilaku dan kepribadia nnya masing-masing. seperti : konstitusi dan struktur fisik. Memiliki filsafat hidup 11.9. Kurang be rgairah Berdasarkan uraian diatas kita dapat memahami bahwa ketika seorang guru berhadap an dengan peserta didiknya di kelas. Gregor Mendel mengemukakan pandangannya. Seberapa kuat pengaruh keturunan sangat bergantung pada besarnya kualitas gen yang dimiliki oleh orang tuanya (ayah atau ibu). Asas Reproduksi Menurut asas ini bahwa kecakapan (achievemen t) dari masing-masing ayah atau ibunya tidak dapat diturunkan kepada anak-anakny a. dia dihadapkan dengan sejumlah keragaman ke cakapan dan kepribadian yang dimiliki para peserta didiknya. pasangan faktor keturunan itu memisah. dan (3) pada waktu proses pembentukan sel-sel kelamin.

Asas konformitas Berdasarkan asas konformi tas ini bahwa seorang anak akan lebih banyak memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku yang diturunkan oleh kelompok rasnya atau suku bangsanya. Environment. yaitu memunculkan kembali mengenai apa yang sudah ada pada hasil per paduan benih saja. Sedangkan perbandingannya mana yang lebih besar antara sifat-s ifat ayah dan ibunya ini sangat tergantung kepada daya kekuatan tarik menarik da ri pada masing-masing sifat keturunan tersebut. baik mengenai kuantitas maupun kualitasnya. 5. sehingga mungkin saja kakaknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ayahnya sedangkan adiknya lebih banyak menyerupai sifat d an ciri-ciri perilaku ibunya atau sebaliknya. dan bukan didasarkan pada perilaku orang tua yang diperolehny a melalui hasil belajar atau hasil berinteraksi dengan lingkungannya. 4. sehingga akan didapati sebagian kecil dari sifat-sifat ayahnya dan sebagian kecil pula dari si fat-sifat ibunya. baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis. Lingkungan membuat individu sebagai makhluk s osial . Seorang anak perempuan akan lebih banyak mem ilki sifat-sifat dan tingkah laku ayahnya. Oleh karena itu.Misalnya. sedangkan bagi anak laki-laki akan le bih banyak memilki sifat pada ibunya. reproduksi. Sejauh mana pengaruh lingkungan itu bagi diri individu. Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai e mpirik yang berarti pengalaman. Asas Varia si Bahwa penurunan sifat pembawaan dari orang tua kepada anak-anaknya akan berva riasi. Asas Regresi Filial Terjadi pensur utan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan o leh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. akan didapati beberapa perbedaan sifat dan cir i-ciri perilaku individu dari orang yang bersaudara. karena dengan lingkungan itu individu mulai meng alami dan mengecap alam sekitarnya. 3. baik yang berasal dari ayah maupun ibu. lingkungan tempat di mana individu itu berada dan berinteraksi. b.2. orang Eropa akan menyerupai sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku seperti orang -orang Eropa lainnya dibandingkan dengan orang-orang Asia. Hal ini disebabkan karena pad a waktu terjadinya pembuahan komposisi gen berbeda-beda. termasuk didalamnya ad alah belajar. Asas Jenis Menyilang Menurut asa s ini bahwa apa yang diturunkan oleh masing-masing orang tua kepada anak-anaknya mempunyai sasaran menyilang jenis. dapat k ita ikuti pada uraian berikut : 1. karena lingkungan itu senantiasa tersedi a di sekitarnya. Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mu tlak dari pada pengaruh lingkungan itu. walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama.

Lingkungan yang beraneka ragam senant iasa memberikan rangsangan kepada individu untuk berpartisipasi dan mengikutinya serta berupaya untuk meniru dan mengidentifikasinya. sehin gga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya. Contoh : air dapat dipergunakan untuk minum atau menjamu teman ketika berkunjung ke rumah. sedikit banyaknya sifat rajin dari temannya akan diikutinya sehi ngga lama kelamaan dia pun berubah menjadi anak yang rajin. Berubahnya tabiat manusia sebagai ma nusia dalam arti bahwa ia tidak akan mampu bergaul dan bertingkah laku dengan se samanya. 2. Sesuatu yang diikuti individu. Sehingga kalaup un dia kemudian dididik. Dapat kita bayangkan andaikata seorang anak manusia yang sejak lahirnya dipisahkan dari pergaulan manusia sampai kira-kira berusia 10 tahun saja. sebagai : a. walau pun diberinya cukup makanan dan minuman. Obyek penyesuaian diri bagi individu. c. Alat untuk kepentingan dan kelangsung an hidup individu dan menjadi alat pergaulan sosial individu. Penyesuaian dir i alloplastis artinya individu itu berusaha untuk merubah lingkungannya. canggung pemalu dan lain-lain. d. Contoh : dalam keadaan cuaca panas individu memasang kipas angin sehingga dikamarnya me njadi sejuk. Lingkungan membuat wajah budaya bagi individu Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah m enjadi kekayaan budaya bagi dirinya. karena manusia hidup adalah manusia yang berfikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba terhadap segala apa yang tersedia di alam sekitarnya. individu melakukan manipulation yaitu mengadakan usa ha untuk . Contoh : seorang anak yang senantiasa bergaul dengan temannya yang rajin belajar. Lingkungan dapat membentuk pribadi seseoran g. Terputusnya hubungan manusia dengan m asyarakat manusia pada tahun-tahun permulaan perkembangannya. Contoh : a ir banjir pada musim hujan mendorong manusia untuk mencari cara-cara untuk menga tasinya. baik secara alloplastis maupun autoplastis. akan tetapi serentak dia dihadapkan kep ada pergaulan manusia. Tant angan bagi individu dan individu berusaha untuk dapat menundukkannya. akan mengakibatkan berubahnya tabiat manusia sebagai manusia. Lingkungan me miliki peranan bagi individu. Dalam hal ini. maka sudah dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mampu be rbicara dengan bahasa yang biasa. apabila dianggap sesuai de ngan dirinya.Yang dimaksud dengan lingkungan pada uraian ini hanya meliputi orang-orang atau manusia-manusia lain yang dapat memberikan pengaruh dan dapat dipengaruhi. maka penyesuaian dirinya itu akan berlangsung sangat la mbat sekali. b.

terutama dalam mata pelajaran Matematika d an bahasa Inggris b. namun lama-kelamaan dia me njadi terbiasa dan tidak menjadi gangguan lagi. Latihan Soal : Pilihan Ganda Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda pa ling tepat. Maturity. Achievement b.memalsukan lingkungan panas menjadi sejuk sehingga sesuai dengan dirinya. kematangan yang mengacu pada tahap-tahap atau fase-fase perkembanga n yang dijalani individu. a. dan kemudahan peserta didiknya dalam m enyelesaikan tugastugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulang an atau ujian. Untuk mengenali tingkat kecerdasan peserta didiknya. c. Kepribadian 2. termasuk belajar) M=Maturity (tingkat kematangan) D. emosi. seorang guru dapat melakukan pengamatan dengan melihat indikator sebagai berikut : a. pada awalnya dia merasa mual karena bau obat-obatan. Kematangan aspek psikis ini diperlukan adanya latihan dan belajar tert entu. Kecakapan khusus indivi du yang merupakan hasil pembawaan. religius. Inteligensi d. karena dirinya telah sesuai deng an lingkungannya. seperti adanya kematangan jaringan-jaringan tubuh.E. Aptitude c. kecepatan ketepatan. seperti : kemampuan berfikir. Kematangan pada awalnya merupakan hasil dari adanya peru bahan-perubahan tertentu dan penyesuaian struktural pada diri individu. dan kepribadian. sosial. moral. Contoh : seorang juru rawat di rumah sakit. Kematangan seperti ini disebut kematangan biologis. Sedang kan penyesuaian diri autoplastis. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. syaraf dan kelenjar. otot. . Kematangan terjadi pula pada aspek-asp ek psikis.M) P= Pribadi atau perilaku f = fungsi H= Herediter (pembawaan) E=Environment (ling kungan. Ketiga faktor tersebut di atas dapat dibuat formulasi sebagai berikut : P= f (H. hasil belajar yang diperoleh peserta didik. penyesusian diri yang dilakukan individu agar dirinya sesuai dengan lingkungannya.

c. c. Di bawah ini merupakan ciri-ciri keberbakatan dalam rangka percepatan belajar (accelerated learning). karakter . selalu memperoleh peringkat pertama di kelas memiliki kemampuan me mikirkan beberapa macam pemecahan masalah. tidak memerlukan dorongan (motivas i) dari luar. b. c. Inteligensi merupakan penjelmaan dari : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension). b. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa X memiliki kecerdasan tergolong : a. dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual speed). (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency). dan c benar 5. b. dan c benar 4. cara berbicara dan bertindak peserta didik sehari-hari. Two Factors Primary Mental Abilities Multiple Intlelligence a. siswa X memperoleh ukuran kecerdasan (IQ) sebesar 135. dan c benar terhadap rangsangan8. 3. b. (2) kemampuan mengingat (memory). Merupak an teori inteligensi : a. a. Disposisi reaktif seorang. b. b. d. Very Superior Superior Genius Di atas rata-rata 6. d. c. atau cepat lambatnya mereaksi rangsangan yang data ng dari lingkungan. karakter dan temperamen stabilitas emosi sikap dan stabilitas emo si responsibilitas dan sosiabilitas a. Di bawah ini merupakan aspek-aspek kepribadian menurut Abin Syamsuddin Makmun : a. (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor). Intelligence Quotient (IQ) merupakan ukuran tingkat kecerdasan seseorang diba ndingkan dengan : a. d. a. c. kemampuan usia prestasi belajar a.c. d. d. b. d. Berdasarkan hasil test kecerdasan. b dan c benar. (3) kemampuan nalar atau berfi kir (reasoning). b. mampu belajar/bekerja secara mandiri. 7. kecuali : a. (5) kemampuan b ilangan (numerical ability).

a. Jelaskan bagaimana cara mengukur kecerdasan seseorang ? 3. Jelaskan bahwa faktor heredite r. a. autoplastis c. lingkungan dan kematangan dapat mempengaruhi terhadap timbulnya keragaman dal am kecakapan dan kepribadian ! . Terjadi pensu rutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. alloplastis b. stabilitas emosi d. mal-adjusment d.b. temperamen c. well-adjusment Uraian 1. c. J elaskan tentang teori Multiple Inteligensi menurut Howard Gardner ! 2. d. Penyesuaian diri yang dilakukan individu dengan berusaha merubah lingkungann ya. b. A sas Reproduksi Asas Variasi Asas konformitas Asas Jenis Menyilang 10. sikap dan stabilitas emosi 9.

5. serta problema yang dihadapi pada masa remaja. 6. Mendefinisik an perkembangan. B. . Mengidentifikas i ciri-ciri umum perkembangan. Pokok Bahasan 1.BAB III PERKEMBANGAN INDIVIDU A. dan model pentahapa n perkembangan individu. prinsip-prinsip perkembangan. 5. tugas perkembangan individu dan masa remaja. 2. 2. progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – p erubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Model Pentahapan Perke mbangan. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Pe rkembangan Pada Masa Remaja C. Peng ertian Perkembangan. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. Pengertian Perkembangan Perkembangan dapat diartikan sebag ai perubahan yang sistematis. Menjelaskan tahapan perkembangan individu berdasarka n pendekatan didaktis. Menguraikan tugas-tugas perkembangan individu pada masa bayi kanak-kanak. 4. dan remaja. Intisari Bacaan 1. Aspek – Aspek Perkembangan Individu. 3. 3. diharapkan Anda dapat : 1. Menjelaskan tentang aspek-aspek perkembangan individu. aspek-aspek perkembangan perilaku dan pribadi pada masa remaja. 4.

Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan. seorang anak terl ebih dahulu harus menguasai tahapan perkembangan sebelumnya yaitu kemampuan dudu k dan merangkak. 2003) mengemukakan tentang arah atau pola perkembangan s ebagai berikut : 1. ba ik secara kuantitatif (fisik) mapun kualitatif (psikis). Dari outer control ke inner control. Psikis. 5. yaitu : a. Berkesinamb ungan artinya bahwa perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan. individu. Setiap individu normal akan mengalami tahap an/fase perkembangan. 2. Setiap fa se perkembangan mempunyai ciri khas. b. Progresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju. d.Yang dimaksud dengan sistematis adalah bahwa perubahan dalam perkembangan itu be rsifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Perkembangan individu mempunyai ciri-cir i umum sebagai berikut : a. Struktur mendahului fungsi. paru dan sebagainya) ke sampin g (tangan). Cephalocaudal & proximal-distal (perkembangan manusia itu mu lai dari kepala ke kaki dan dari tengah (jantung. Syamsu Yusuf (2003) memerinci. f. e. Kemampuan berjalan seseorang akan sei ring dengan kesiapan otot-otot kaki. perubahan pengetahuan dan keterampilan dari sederhana sampai kepada yang komple ks (mulai dari mengenal huruf sampai dengan kemampuan membaca buku). Contoh : kemampuan berbicara seseorang akan sejalan dengan kematangan dalam perkembangan intelektual atau kognitifnya. beberapa prinsip perkembangan Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti. 2. Contoh : untuk dapat berdiri. seperti : berbicara dan berfikir. Fisik. c. Dari konkret ke abstrak. 6. Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu. Terja dinya perubahan dalam proporsi. baik fisik maupun psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmon is. Yelon dan Winstein (Syamsu Yusuf. Contoh : perubahan prop orsi dan ukuran fisik (dari pendek menjadi tinggi dan dari kecil menjadi besar). seperti : berat dan tinggi badan. b. 2. Semua aspek perkembang an saling berhubungan. Lebih jauh lagi. Begitu juga ketertarikan seorang remaja ter hadap jenis kelamin lain akan seiring dengan kematangan organ-organ seksualnya. Diferensiasi ke integrasi. Terjadinya perubahan dalam aspek : 1. . 4. meningkat dan meluas. Dari egosentris ke perspektivisme. 3.

Psikis. 2.Late Adolesence Adulthood (masa dewasa) Middle age (tengah baya) Old Age (m asa tua) Waktu 0-7 th 7-14 th 14-21 th 0. yang secara garis besarnya da pat dikelompokkan ke dalam tiga pendekatan yaitu pendekatan biologis. Fisik. seperti : pe rgantian gigi dan karakteristik sex pada usia remaja. Psikis. Fisik.1. kelenjar thymus dan kelenjar pineal.Pre Adolesence . c. perilaku impulsif. 2. seperti : lenyapnya masa mengo ceh.6 th 6-12 th 12-18 th 18. Fisik. terutama yang berkaitan den gan sex.Early Adolesen ce . Lenya pnya tanda-tanda yang lama. 3. Psikis. Model Pe ntahapan Perkembangan Individu Memperhatikan kompleksitas dari sifat perkembanga n individu. maka untuk kepentingan studi para ahli telah mencoba mengembangkan m odel pentahapan (stages) mengenai proses perkembangan. Diperolehnya tanda-tanda baru. seperti: rambut-rambut halus dan gigi susu . Para ahli mengemukakan pe ndapat tentang model – model petahapan yang beragam. Di bawah ini disajikan tabel tentang model tahapan perkembangan yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Nama Ahli Aristoteles Tahapan Masa Kanak-Kanak Masa Anak Sekolah Masa Remaja Mas a Usia Pra Sekolah Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Menengah Masa Usia Mahapeserta didik Tahap I Masa Asuhan Tahap II Masa Pendidikan Jasmani dan latih an Panca Indera Tahap III Masa Pendidikan Akal Tahap IV Masa Pendidikan Watak da n Agama Fullungs (Pengisisian) I Streckungs (Rentangan) I Fullungs (Pengisisian) II Streckungs (Rentangan)II Pranatal Infancy (orok) Babyhood (bayi) Childhood ( kanak-kanak) Adolesence/puberty (masa remaja): . d. seperti berkembangnya rasa ingin tahu. ilmu pengetahuan. seperti : perubahan imajinasi dari fantasi ke realistis. tumbuh uban pada masa tu a. 2.wafat Syamsu Yusuf Rosseau Kretschmer Elizabeth Hurlock . seperti : proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangann ya. dan psikologis. didaktis. 1. nilai-nilai moral dan keyakinan beragama. 1.25 th 0-2 th 2-12 th 12-15 th 15-20 th 0-3 th 3-7 th 7-13 th 13-20th 9 bln-280 hr 10 hr-14 h r 2 mng -2 th 2 th-remaja 11-13 th 16-17 th 18-21 th 21-25 th 25-30 th 30. seperti kumis dan jakun pa da laki dan tumbuh payudara dan menstruasi pada wanita.

Peduli akan hubungan mutualistik 5. Peduli akan aturan eksternal 4. Peningkatan kesadaran invidualitas 2. 2. Peduli terhadap penampilan di ri 2. Peduli akan paham abstrak. Mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan 6. Bersikap realistis dan obyektif terhadap di ri sendiri maupun orang lain 3. Mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik 3. motif. Mampu melihat keragaman emosi. Takut tidak diterima k elompok 9. Menjadi lebi h toleran terhadap diri sendiri dan orang lain 4. Berfikir tidak logis dan stereotip 4. 4. Mengenal kompleksitas diri 8. Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan 3. Bertindak atas dasar nilai internal 2.Piaget Sensori-motor Pra-operasional : . Memiliki tujuan jangka p anjang 6. Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain 1. Cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial 7. yaitu : Tahap Impulsif Ciri – Ciri Identitas diri terpisah dari orang lain Bergantung pada lingkungan Beorientasi hari ini Individu tidak menempatkan diri sebagai penyeba b perilaku Peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berh ubungan dengan orang lain 2.Intuitif Konkret -Operasional Formal .Pre-konseptual . 1. Melihat kehidupan sebagai “zero-sum game” 5. Berfikir lebih kom pleks dan atas dasar analisis 1. seperti keadilan sosi al. Tidak sensitif terhadap keindividualan 10. Memiliki pandanga n hidup sebagai suatu keseluruhan 2. Me mbedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya 7. Bertindak d engan motif dangkal 5. Menyamakan diri dalam ekspresi emosi 6. Dan perspektif diri 4. Mengenal eksistensi perbedaan individual 5. Perlindungan Diri Konformistik Seksama Individualistik Otonomi . Perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal 8. Mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan 1.operasional 0-2 th 2-7 th 2-4 th 4-7 th 7-11 th 11-15 th Loevenger sebagaimana dikemukakan oleh Sunaryo dkk (2003) mengemukakan tentang f ase-fase perkembangan individu beserta ciri-cirinya. Merasa berdosa jika melang gar aturan 1. Peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial 1. Kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan 3. Kurang introspeks i 7. 3. Berfikir sterotip dan klise 3. 4.

9. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 – 9/10 tahun) : 1. Freud menyebutnya sebagai masa oral (mulut). maka soal itu dianggap tidak penting. Sunaryo. b. 3. karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan merupakan alat untuk melakukan eks plorasi dan belajar. Masa Usia Sekolah Da sar terbagi dua. di bawah ini dikemukakan tahapa n perkembangan individu dengan menggunakan pendekatan didaktis: a. Pa da tahun kedua umunya terjadi pembiasaan terhadap kebersihan. atau masa keserasian bersekolah pada umur 6 -7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. 4. mulai dari yang paling dekat sampai dengan ruang yang jauh. . Yang dikenal dengan sebutan Inventori Tugas Perkembangan (ITP). Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual. Peduli akan self fulfillment Ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal Respek terhadap kemandirian orang lain Sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain Mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan kece riaan Dengan memperhatikan fase dan ciri-ciri perkembangan di atas. 8. 2. Untuk masa belajar pada tahun pertama dalam kehidupan individu . Pada masa i ni panca indera masih sangat peka. Masa Estetik. pada masa ini individu menggunakan fungsi-fungsi biologis un tuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. de ngan merujuk pada pemikiran Syamsu Yusuf (2003). 2. 7. tela h mengembangkan suatu instrumen untuk melacak tugas-tugas perkembangan individu. Masa Usia Pra Sekolah Masa Usia Pra Sekolah terbagi dua yaitu (1) Masa Vital dan (2) Masa Est etik 1.Pada tahun kedua anak belajar berjalan sehingga anak belajar menguasai ruang. yaitu : (a) masa kelas-kelas rendah dan (b) masa kelas tinggi. Adanya kecenderungan memuji di ri sendiri Membandingkan dirinya dengan anak yang lain Apabila tidak dapat menye lesaikan suatu soal.5. anak belajar mengendalikan impulsimpuls atau dorongan-dorongan yang da tang dari dalam dirinya. Anak bereksplorasi dan belajar melalui panca inderanya. Melalui latihan ke bersihan. Selanjutnya. 5. Adanya k orelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional. dianggap sebagai masa perkembangan ras a keindahan. Masa Vital. dkk. 6.

Masa Usia Sekolah Menegah Masa usi a sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja. Selepas usia ini pada umumnya anak menghad api tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya 5. Pada masa ini sebagai masa mencari sesuatu yang dipandang bernilai. Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi s ekolahnya. kebutuhan akan adanya teman yang dapat mem ahami dan menolongnya. Aspek. Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor ya ng baik. masa remaja awal. mereka membuat peraturan sendiri. proporsi tinggi kepala dengan tinggi garis keajegan badan secara secara kese luruhan. yang akan member ikan dasar bagi memasuki masa berikutnya yaitu masa dewasa. c. serta sikap sosial. 3. Dalam perma inan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sud ah ada). 4. Perkembangan F isik Perkembangan fisik individu mencakup aspek-aspek : 1. yang intinya pada masa ini merupakan pem antapan pendirian hidup. masa remaja. pantas dijunjung dan dipuja. setelah remaja dap at menentukan pendirian hidupnya.00 tahun) Masa ini dapat digolongkan pada masa remaja akhir sam pai masa dewasa awal atau dewasa madya. 6. pada masa i ni mulai tumbuh dorongan untuk hidup. tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak. biasanya ditandai dengan sifat-sifat negatif. d. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) : 1. Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus 4. Amat realistik. masa remaja akhir. prestasi. adanya perubahan kuantitatif pada struktur tulang.Aspek Perkembangan Individu a. indeks tinggi dan berat bad an. yang terbagai ke dalam 3 bagia n yaitu : 1. dal am jasmani dan mental.00-25. . pada dasarnya telah tercapai masa remaja akhir dan telah terpenuhi tugas-tugas perkembangan pada masa remaja.6. 2. Masa Usia Kemahas iswaan (18. rasa ingin t ahu dan ingin belajar 3. Samp ai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesa ikan tugas dan memenuhi keinginannya. Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. Minat ter hadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret 2. Perkembangan anatomis .

gambar. Loree dalam Abin Syamsuddin (2003) mengatakan bahwa ada dua macam perilaku psikomotorik utama yang bersifat universal harus d ikuasai oleh setiap individu pada masa bayi atau masa kanak-kanak yaitu berjalan (walking) dan memegang benda (prehension). gemar bertanya yang tidak selalu har us dijawab. ditandai dengan adanya perubahan secara kualitatif. afektif.kembangan menurun sangat lamb at bahkan menjadi mapan.2. persyarafan. dan mimik serta simbol ekspresif lainnya. Perkembangan Perilaku Kognitif Dengan m enggunakan hasil pengukuran tes inteligensi yang mencakup General Information an d Verbal Analogies. mengekspresikan dan mengkomunikasikan berb agai informasi. peredaran darah dan pernafasan. Perkembangan fisiologis. membaca dan menggambar permulaan. setelah itu kepes atannya berangsur menurun. mulai masa remaja t erjadi amat mencolok. c. tulisan. yaitu : (1) bahwa perkembangan itu ber langsung dari yang sederhana kepada yang kompleks. b. dan s etelah itu terjadi plateau (mapan) sampai dengan usia 60 tahun selanjutnya beran gsur menurun. Puncak perkembangan pada umumnya tercapai di penghuju ng masa remaja akhir. Kedua jenis keterampilan ini menjadi dasar bagi perkembangan keterampilan yang lebih kompleks untuk bermain (playing ) dan bekerja (working). mencatat.gerik. kuantitaif dan fungsional dari sistem kerja biologis. baik dalam bentuk lisan. membuat kalimat sederhana. Jones dan Conrad (Loree. d.1970) menunjukkan bahwa laju perkemb angan inteligensi berlangsung sangat pesat sampai masa remaja. Kemudian. bicara monolog. haus nama-nama. seperti konstraksi otot-ot ot. Perubahan-perubahan amat tipis sampai usia 50 tahun. sekresi kelenjar dan pencernaan . Melalui bahasa. Perkembangan bahasa dimulai dengan ma sa meraban. lukisan gerak . me ngkodifikasikan. Laju perkembangan berjalan secara berirama. pada permulaan masa remaja akhir bagi wanita dan penghujung masa remaja akhir bagi pria. . konatif). menyimpan. pada masa bayi dan kanak-kanak per ubahan fisik sangat pesat. pada usia sekolah menjadi lambat. Perkembangan Bahasa Kemampuan berbahasa merupakan ke mampuan yang membedakan antara manusia dengan hewan. dan (2) dari yang kasar dan g lobal (gross bodily movements) kepada yang halus dan spesifik dan terkoordinasik an (finely coordinated movements). dan bahasa ekspresif dengan belajar menul is. Dua prins ip utama dalam perkembangan psikomotorik. laju per. manusia. Perkembangan Perilaku Psikomotorik Perkembangan psik omotorik memerlukan adanya koordinasi fungsional antara neuronmuscular system (s istem syaraf dan otot) dan fungsi psikis (kognitif.

anak belu m mengenal object permanence. yakni tidak bergantung lagi pada pengamatannya belaka. Dalam rentang 18 . walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sud ah tak dilihat. Tahap konkret-operasional (7-11) Pada periode ditandai oleh adanya tambahan ke mampuan yang disebut system of operation (satuan langkah berfikir) yang bermanfa at untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dal am pemikirannya sendiri. tidak i a sentuh. namun me rupakan inteligensi dasar yang amat berarti untuk menjadi fondasi tipe-tipe inte ligensi tertentu yang akan dimiliki anak kelak. benda apapun yang tidak ia lihat. Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. 3 . Jadi. Tahap Pra Operasional (2 – 7) Pada tahap ini anak sudah memiliki penguasaan sempurna tentang object permanence. yang berfaedah untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum mampu berfikir mengenai apa yang sedang i a perbuat.24 bulan barulah kemampuan object permanence anak ters ebut muncul secara bertahap dan sistematis. Pada periode ditandai oleh adanya eg osentris serta pada periode ini memungkinkan anak untuk mengembangkan diferred-i mitation. pandangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dengan pandangan pada periode sensori motor. sebaga i berikut : 1. didengar atau disentuh lagi. Namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. Tahap Sensori-Motor (0-2) Inteligensi sensori-motor dipandang seb agai inteligensi praktis (practical intelligence). insight learning dan kemampuan berbahasa. Art inya. Bloom (1964) mengungkapkan prosentase tar af perkembangan sebagai berikut : Usia 1 tahun 4 tahun 8 tahun 13 tahun Perkembangan Sekitar 20 % Sekitar 50 % Sek itar 80 % Sekitar 92 % Secara kualitatif perkembangan perilaku kognitif diungkapkan oleh Piaget. dengan menggunakan kata-kata yang benar serta mampu mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif.dewasa) . Sebelum usia 18 bulan. 4. Inteligensi individu pada tahap ini masih bersifat primitif. anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yan g harus ada atau biasa ada. Artinya. atau tidak ia dengar dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya benda it u ada. 2. Pada periode in i anak baru mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristi wa yang konkret.Dengan berpatokan kepada hasil tes IQ. Tahap formal-operasional (11 .

Ia mencoba meniru. (1962) mengemukan bahwa untuk memahami perilak u sosial individu. mengidentifikasi dan mengamati segala sesuatu yang ditampilkan orang tua dan anggota keluarga lainnya. 3. ciri-ciri respons interpersonal yang bertautan dengan ekspresi diri. Kecenderungan sosiom etrik (sociometric disposition). 2. Kapas itas menggunakan prinsip-prinsip abstrak Kemampuan untuk mempelajari materi-mate ri pelajaran yang abstrak secara luas dan mendalam. Pada awalnya. Kecenderungan peranan (role disposition). e. ia menyadari bahwa d irinya merupakan bagian dari masyrakat dan dituntut untuk berperilaku sesuai den gan tuntutan masyarakat. kepercayaan terhadap individu lain. yang d ibagi ke dalam tiga kategori : 1. d an kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam masyarakat. Kagan (1972) mengartikan sosialisasi sebagai: “…the process by which the child is integrated int o the society throgh exposure to the actions and opnions of older members of the society”. Kecenderungan ekspresif (expressive disposition). dengan menampilkan kebiasaan-kebiasaan khasnya (particular fashio n). Perkembangan Perilaku Sos ial Sejak individu dilahirkan ke muka bumi ini ia telah mulai belajar tentang ke adaan lingkungan sosialnya. norma. Krech et. ia mempelajari segala yang terjadi dal am lingkungan keluarga. Akhirnya. Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sosialisasi pada intinya merupakan upaya mempersiapkan individu untuk dapat berperilaku sesuai dengan li ngkungan sosialnya. ciri-ciri respons interpersonal yan g merujuk kepada tugas dan kewajiban dari posisi tertentu. Sementara itu Gilmore (1974) mengemukakan bahwa “…socialization is the proc ess whereby an individual is prepared or trainned to participate in his environm ent”.Pada periode ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yaitu : a. Proses tersebut biasa disebut sosialisasi. b. Selanjutnya ia mempelajari keadaan-keadaan di luar rumah. al. baik yang menyangkut nilai. Kapasit as menggunakan hipotesis Kemampuan berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkun gan yang dia respons dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. dapat dilihat dari ciri-ciri respons interpersonalnya. ciri-ciri respons interpersonal yang bertalian dengan kesukaan. .

Keputusan untuk melakukan s esuatu berdasarkan pertimbangan norma yang berlaku dan nilai yang dianutnya itu disebut moralitas. serba salah. Perkembangan Moralitas Ketika individu mulai menyadari bahwa ia merupakan bagian dari lingkungan sosial dimana ia berada. Kohlberg mengemukakan tahapan perkembangan mor alitas individu. norma-norma/nilai -nilai sebagai dasar atau patokan dalam berperilaku. Tahap Orientasi terhadap kepatuhan dan huku man Relativistik hedonism . Dalam hal ini. sebagaimana tampak dalam tabel berikut : Tingkat Pre Conventional (0 – 9) 1.4 ) Trozt Alter Kanak – Ka nak Akhir ( 4 – 6 ) Masa Subyektif Menuju Masa Obyektif Anak Sekolah ( 6 – 12 ) Masa Obyektif Kritis II ( 12 – 13 ) Masa Pre Puber Remaja Awal ( 13 – 16 ) Masa Subyekti f Menuju Masa Obyektif Remaja Akhir ( 16 – 18 ) Masa Obyektif Ciri-Ciri Segala sesuatu dilihat berdasarkan pandangan sendiri Pembantah.Sementara itu. bersamaan itu pula individu mulai meny adari bahwa dalam lingkungan sosialnya terdapat aturan-aturan. 2003) mengemukakan tahapan dan ci ri-ciri perkembangan perilaku sosial individu sebagaimana dapat dilihat dalam ta bel berikut : Tahap Kanak-Kanak Awal ( 0 – 3 ) Subyektif Kritis I ( 3 . Buhler (Abin Syamsuddin Makmun. 2. keras kepala Mulai bisa menyesuaikan diri dengan aturan Membandingkan dengan aturan – at uran Perilaku coba-coba. ingin diuji Mulai menyadari adanya kenyata an yang berbeda dengan sudut pandangnya Berperilaku sesuai dengan tuntutan masya rakat dan kemampuan dirinya f.

Orientasi mengenai anak yang baik Mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas Orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial Prinsip e tis universal g. pada saat-saat tertentu.Conventional (9 – 15) Post Conventional ( > 15 ) 3. dan konatifnya. ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran manu sia perkembangan keagamaan . individu akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agu ng yang melebihi apa pun. Abin Sy amsuddin (2003) menjelaskan tahapan sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Tahapan Ciri-Ciri Sikap reseptif meskipun banyak bertanya Masa Kanak-Kanak Panda ngan ke-Tuhan-an yang dipersonifikasi Penghayatan secara rohaniah yang belum men dalam Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadin ya) Sikap reseptif yang disertai pengertian Pandangan ke-Tuhan-an yang diterangk an secara rasional Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam. Oleh karena itu. Perkembangan Penghayatan Keagamaan Dengan melalui pertimbangan fungsi afektif . Penghayatan seperti itu disebut peng alaman keagamaan (religious experience) (Zakiah Darajat. secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari. termasuk dirinya. namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan ata s kebaradaan-Nya. 4. sehingga banyak yang enggan melaksanakan ritual yang selama ini dilakukan dengan penuh kepatuhan Sikap kembali ke arah positif. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan Penghayatan roha niahnya cenderung skeptik. kognitif. melaksanakan ke giatan ritual diterima sebagai keharusan moral Sikap negatif disebabkan alam pik irannya yang kritis melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pur a) Masa Sekolah Masa Remaja Awal Masa Remaja Akhir Pandangan ke-Tuhan-an menjadi kacau. 1970). 5. manus ia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan diserta i penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu. baik secara individual maupun ko lektif. 6. bersa maan dengan kedewasaan intelektual bahkan akan agama menjadi pegangan hidupnya P andangan ke-Tuhan-an dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihny a Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja.

2003 ) mengemukakan tentang tahapan-tahapan perkembangan perilaku yang berhubungan ob yek pemuasan psychosexual. menunjukkan alat kelaminnya melihat. MASA REMAJA (ADOLESENCE PERIOD) Mengurangi cara-cara waktu masa kanakkanak Munculnya cara orang memperoleh pemua san dewasa Menyenangi diri sendiri (narcisism) atau objeck oediphus-nya Objek pemuasannya m ungkin diri sendiri/sejenis (homosexual) atau lain jenis (heterosexual) . memegang. MASA BAYI DAN KANAK-KANAK (INFANCY PERIOD) Infantile Sexuality Mulut dan bend a Menghisap ibu jari Menggigit. siap berfungsinya alat kelamin Cara Pemuasan Sasaran Pemuasan A. Ditujukan kepada orang tuanya (oediphus atau electra phantaties) Memilih benda dan menyentuhnya/memasukkan ke dubur B. merusak dengan mulut Mulut sendiri. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Daerah Sensitif Pre Genital Period Oral Stage Early Oral Late Oral Anal Stage Ea rly Anal Late Anal Early Genital Period (phalic stage) No New Zone (tidak ada da erah sensitif baru) Late Genital Period Hidup kembali daerah sensitif waktu masa kanak-kanak Akhirnya.derungan kasih sayang Berkembangnya perasaan sosial perasaan– C. Freud (Di Vesta & Thompson dalam Abin Syamsuddin.h. Perkembangan Perilaku Konatif Perilaku konatif merupakan perilaku yang berhub ungan dengan motivasi atau faktor penggerak perilaku seseorang yang bersumber da ri kebutuhan-kebutuhannya. memilih dan memasukkan benda kemulut Memilih benda dan digigitnya secara sadis Dubur dan ben da Memeriksa dan memainkan duburnya Memainkan dan memperhatikan duburnya Menyent uh. MASA ANAK SEKOLAH (LATENCY PERIOD) Represi Reaksi formasi Sublimasi dan kecen .

berjalan. yaitu : (1) rangsangan yang menimbulkan emosi (stimulu s). berdiri. Perkembangan Emosional Aspek emosional dari suatu perilaku. cemas dan kecewa sedangkan kesenangn berdiferensiasi ke dala m harapan dam kasih sayang j. 2. temperatur) Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya. Perkembangan Kepribadian Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan. Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust – mistrust. (2) perubahan– perubahan fisiologis yang terjadi pada individu. Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan autonomy – shame. dalam arti duduk.i. sebag ai berikut : Usia Pada saat dilahirkan 0 . Erikson dalam Nana Syaodih Sukmadinata. Yang mungkin dirubah dan dipengaruhi adalah variabel yang kesatu (stimu s) dan yang ketiga (respons).3 bln 3 – 6 bln 9 – 12 bln 18 bulan pertama 2 th 5 th Ciri-Ciri Bayi dilengkapi kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. Ia bukan saja tidak percaya kepa da orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing. 1970) menjelaskan proses perkembangan dan diferensiasi emosional pada anak-anak. sedangkan variabel yang kedua merupakan yang tidak mungkin dirubah karena terjadinya pada individu secara mekanis. suara as ing. nam un dalam kenyataannya sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian dapat dan mun gkin terjadi. terutama dipengaruhi oleh faktor lingkungan dari pada faktor fisik . Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di se kitarnya. minum dari . pada umumnya selalu melibatkan tiga variabel. cahaya. doubt. bermain. kebencian dan ketakutan Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kecemburuan mulai berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kenikmata n dan keasyikan berdiferensiasi dari kesenangan Ketidaksenangan berdiferensiasi di dalam rasa malu. perlakuan asing dan sebagainya. tempat asing. dan (2) intensitasnya (kuat-lemah). tetapi orang yang dianggap as ing dia tidak akan mempercayainya. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut s eringkali bayi menangis. Bridges (Loree. Pada masa ini sampai-batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri. dan (3) pola s ambutan. Oleh karena itu kadang-kadang bayi menangis b ila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. Terdapat dua di mensi emosional yang sangat penting untuk dipahami yaitu : (1) senang – tidak sena ng (suka-tidak suka). 2005 mengemukakan perkembangan kepriba dian dengan kecenderungan yang bipolar : tahapan 1.

Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas. Kalau pada masa sebelumnya. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity – Identity Confusion.botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya. dia membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Sesuai dengan namanya masa dewasa. 4. sehingga . dan untuk sementa ra waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat. Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative – guilty. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar. tetapi dia tidak mungkin dapat m enguasai segala macam ilmu dan kecakapan. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di satu piha k. Pengetahuannya cukup luas. pada tahap ini individu telah men capai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. 6. pada para remaja sering sekali sangat ekstrim da n berlebihan. individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya. Merek a sudah mulai selektif. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan–kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihat kan identitas diri. 5. Kegagalankegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebab kan anak merasa rendah diri. dan kurang akrab atau renggang deng an yang lainnya. tetapi karena kemam puan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan. pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. sehingga perkembangan individu sangat pesat. 7. sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimp angan atau kenakalan. hambatan bahkan kegagalan. tetapi di pihak lain karena ke terbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadangkadang dia menghadapi kesukaran. sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelo mpok sebayanya. dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masi ng anggota. Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. ciri-ciri yang khas dari dirinya. sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubu ngan yang intim dengan orang-orang tertentu. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy – isolation. tetapi di pihak lain dia ga tela h mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat. namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar. dengan kecakapan-k ecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan. Dorongan membentuk dan mem perlihatkan identitas diri ini. k ecakapannya cukup banyak. 3. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity – stagnation.

hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. sebagaimana tampak dalam tabel beriku t ini : Tahap Growth Exploratory Ciri-Ciri Development of capacity. attitudes. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity – despair. Perkembangan Karier Perkembangan karier sangat erat kaitannya dengan pekerjaa n seseorang. persiapan karier hingg a sampai pada penempatan kariernya. Selanjutnya. Adapun yang dimaksud dengan p erilaku karier yaitu segenap perilaku yang ditampilkan individu dalam usaha meny iapkan masa depan untuk memperoleh kematangan kariernya. tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan t ersebut. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. Doubt Initiative vs Guilt Industry vs Inferiority Identity vs Identi ty Confusion Intimacy vs Isolation Generativity vs Stagnation Ego Integrity vs D espair k. Untuk mengerjakan atau mencapai hal – hal tertentu ia mengalami hambatan. semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. namun merupakan suatu proses p anjang dari tahapan perkembangan karier yang dilalui sepanjang hayatnya.tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Dorongan untuk terus berprestasi mas ih ada. eksplorasi karier. Tylor & Walsh (1979) menyebutkan bahwa kemat angan karier individu diperoleh manakala ada kesesuaian antara perilaku karier d engan perilaku yang diharapkan pada umur tertentu. Arifin. Mu ngkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya teta pi karena faktor usia. Keberhasilan seseorang dalam suatu pekerjaan bukanlah sesuatu yang diperoleh secara tiba-tiba atau secara kebetulan. Kedelapan tahapan perkemb angan kepribadian dapat digambarkan dalam tabel berikut ini : Developmental Stage Infancy Early childhood Preschool age School age Adolescence Young adulthood Adulthood Senescence Basic Components Trust vs Mistrust Autonom y vs Shame. berkenaan dengan tahapan perkembangan karier. D alam situasi ini individu merasa putus asa. Zunker (Popon Sy. sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya. interest. 8. and needs associated with self concept Tentative phase in which choices are nar rowed but not finalized Usia (birth -14 or 15) (15 – 24) .1983) mengemukakan lima tahapan perkembangan karier individu. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi. mulai d ari usaha memperoleh kesadaran karier.

dan (4) norma-norma agama.d. Di bawah ini dikemukakan tugas-tugas perkembangan dari setiap fase men urut Havighurst. . work out put. 2 th) Masa O rok (10 –14 hari) Masa Konsepsi (Pranatal) (0-9 bln) Pada setiap fase perkembangan menuntut untuk tertuntaskannya tugas-tugas perkembangan.…) 5. yang merentang sepanjang h idupnya fase-fase perkembangan tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut ini : Masa Dewasa : Masa Tua Tengah Baya Masa Dewasa Awal Masa Remaja (Adolesence) : ( 1) Late Adolesence (18 – 21 th) (2) Early Adolesence (16 – 17 th) (3) Pre Adolesence (11 – 13 th) Masa Kanak-Kanak (2 th – Remaja) Masa Bayi (2 Minggu s. perilaku dan keterampilan yang seyogyanya dikuasai sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. Havighurst (1961) memberikan penge rtian tugas-tugas perkembangan bahwa : “ A developmental task is a task which aris es at or about a certain period in the life of the individual. (2) tuntutan masyarakat secara kultural. (25 – 44) (45 – 64) (65 . Tugas – Tugas Perkembangan Individu Salah satu prinsip perkembangan bahwa setia p individu akan mengalami fase perkembangan tertentu. sehingga dapat berti ndak wajar sesuai dengan tingkat usianya. while failu re leads to unhappiness in the individual. difficulty wit h later task. Tugas–tugas perkembangan ini berkenaan dengan sikap. disaproval by society. Tugas perkembangan bersumber pada faktor – faktor : (1) kematangan f isik. Oleh karena itu segenap proses pendidi kan seyogyanya diarahkan untuk tercapainya tugastugas perkembangannya para peser ta didik.Establishment Maintenance Decline Trial and stabilization trhough work experiences A continual adjustment process to improve working position and situation Preretirement consideration. succesful achieve ment of which leads to his happiness and to success with later task. Yang dimaksud dengan ked ewasaan adalah dapat terpenuhinya tugas-tugas perkembangan. and eventual retirement. Pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengantarkan individu mencapai kedewasaan. (3) tuntutan dan dorongan dan cit a-cita individu iru sendiri.

5. 4. 2. Belajar buang air kecil dan buang air besar. Memulai hidup dengan pasangan. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial. Mengembangkan kata hati. Belajar mengadakan hubungan baik da n buruk dan pengembangan kata hati. Mencapai jaminan kemand irian ekonomi. 2. 3. 3. 3. 7. 9. Mencapai kemand irian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. Belajar mem ainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang d iperlukan bagi warga negara.Memperoleh seperangkat nilai sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam berperilaku. 10.0-12. 4.0–6. Tugas Perkembangan Masa Remaja (12. 2. Memilih dan mempersiapkan karier. 9. c. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi. Memilih pasangan. Belajar memakan makan padat. Tugas Perkembangan Masa Kanak-Kanak Akhir dan Anak Sekolah (6. 5. Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal 1. 6. 5. Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis. 6. Belajar berbicara. Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk mela kukan permainan. Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari -hari. . d. b. 8.a. dan orang lain. 8. 4. Belajar mengadakan hubungan emosional d engan orang tua. Tugas Perkembangan Masa Bayi dan Kanak-Kanak Awal 1. Mencapai peran sosial sebagai pria atau w anita. Belajar hidup dengan pasangan. (0.0) 1. saudara. Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial.0-21. Belajar mengenal perbeda an jenis kelamin.0 bulan. menulis dan berhitung. Mempersiapkan pernikahan dan hi dup berkeluarga. 9. Belajar keterampilan dasar dal am membaca. 3.0) 1. 7. 7. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis. Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif.0) Belajar berjalan pada usia 9. 6. Belajar bergaul dengan teman sebaya. 8.0 – 15. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya. Membentuk konsep-kon sep sederhana kenyataan sosial dan alam. 2.

Tugas Perkembangan Tingkat SLTP 1. Mempersiapkan diri. Men capai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. 2. Sementara itu. 7. Menemukan suatu kelompok yang serasi. 3. Memulai bekerja. yang dijadikan sebagai rujukan Stand ar Kompetensi Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. . 6. dan kesenian sesuai dengan program kuri kulum. Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat 4. persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi serta berperan dalam ke hidupan masyarakat yang lebih luas. M engembangkan penguasaan ilmu. Me mantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sos ial yang lebih luas. Depdiknas (2003) memberikan rincian tentang tugas perkembangan ma sa remaja untuk usia tingkat SLTP dan SMTA. yaitu : a. men erima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yan g terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat. 3. 8. anggo ta masyarakat dan minat manusia. Mengenal kemampuan bakat. 5. 8. Mencap ai kematangan dalam hubungan teman sebaya.4. serta kematangan dalam perannya sebag ai pria dan wanita. 6. Me ngenal sistem etika dan nilai-nilai sebagai pedoman hidup sebagai pribadi. 4. Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 5. Mengenal gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. teknologi. 7. Mengelola rumah tangga. Mencapai pola hubunga n yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita. b. Memelihara anak. Mengambil tanggung jaw ab sebagai warga negara. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan se suai dengan kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan atau memp ersiapkan karier serta berperan dalam kehidupan masyarakat. dan minat serta arah kecenderu ngan karier dan apresiasi seni. Tugas Perkembangan Peserta didik SLTA 1. sosial dan ekonomi.

Pada rentangan periode ini (sekitar 6 – 7 th) terdapat beberapa indikator perbedaan yang signifikan. Spran ger memberikan tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan perubahan st ruktur kejiwaan yang fundamental. Mencapai kematangan gambaran dan s ikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. berbangsa dan bernegara. 5. Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai sua tu masa pembentukan sikapsikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu. para ahli mengklasikasikan masa remaja ini ke dalam dua bagian yaitu: (1) remaja awal (11-13 th s. baik se cara kuantitatif maupun kualitatif. 1415 t h). dan (2) remaja akhir (14-16 th s. Mengembangkan kemampuan komunikasi sosi al dan intelektual serta apresiasi seni. Kita menemukan berbagai tafsir an dari para ahli tentang masa remaja : 1. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang am at kritis yang mungkin dapat merupakan the best of time and the worst of time. Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai dan topan). b. 4. Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang mempunyai bentuk yang definitif. 2003). sosial. Karakteristik Perilaku dan Pribadi Pada Masa Remaja . Charl otte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isi-mengisi. P ara ahli umumnya sepakat bahwa rentangan masa remaja berlangsung dari usia 1113 tahun sampai dengan 18-20 th (Abin Syamsuddin. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang berkehidupan berkeluarga. 6.18-20 th). intelektual dan ekonomi . Perkembangan Pada Masa Remaja a. Mencapai kematangan dalam pilihan karir 6. 2. be rmasyarakat. 3. G. 9. Mencapai kematangan dalam sistem eti ka dan nilai. 7. Pengetian dan Makna Masa Remaja Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting.d.5.d. 8. Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode dalam perkembangan yang d ijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak sampai deng an awal masa dewasa. Oleh karena itu.

yang terbagi ke dalam bagian dua kelompok yaitu remaja awal (11-13 s. emosi afektif dan kepribadian.d. Berkembangnya penggunaan bahasa sandi 1.18-20 Th) 1. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region. kona tif. M enggemari literatur yang bernafaskan dan 2. Bahasa 1. sangat lambat. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelami n (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki. 18-20 tahun) meliputi aspek : fisik. 3. Siap berfungsinya organ-organ reproduktif sep erti pada orang dewasa. moralitas. sosial. Remaja Awal (11-13 Th s.d.d. Menggemari literatur yang bernafaska n mengandung segi erotik. berbagai jenis cabang 1. ethis. Gerak gerik mulai mantap. Perilaku Kognitif 1. 1. 14-15 tahun) dan remaja akhir (14-16 s. 2. meskipun relatif terbatas. keagamaan. diferen-siasi. 2.d.Dengan merujuk pada berbagai ciri-ciri dari aspek perkembangan individu sebagaim ana telah dikemukakan terdahulu. Kecakapan dasar intele ktual menjalani laju perkembangan yang terpesat. 3. Remaja Akhir (14-16 Th. 2. kognitif. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan lebih seimbang m endekati kekuatan orang dewasa. Proses berfikir sudah mampu mengope rasikan kaidah-kaidah logika formal (asosiasi. otot mengembang pad a bagian – bagian tertentu). asing. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif dan terbatas pada keterampil an yang menunjang kepada persiapan kerja. 2. Sudah mampu meng-operasikan kaidahkaidah logika formal disertai kemampuan membuat generalisasi yang lebih be rsifat konklusif dan komprehensif. Aktif dalam perma inan. es tetik.kali kurang seim bang. Gerak – gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasikan. Tercapainya titik puncak kedewasaan bahkan mungkin mapan (plateau) yang . kausali tas) yang bersifat abstrak. Psikomotor 1.s. 2. Laju perkembangan secara umum berla ngsung pesat. psikomotor. 2. di bawah ini disajikan berbagai karakteristik p erilaku dan masa remaja. fantastik dan dan mengandung nilai-nilai filosofis. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan sering. Laju perkembangan secara umum kembali me nurun.14-15 Th) Fisik 1. Lebih memantapkan diri pada bahasa d an mulai tertarik mempelajari bahasa asing tertentu yang dipilihnya. komparasi. bahasa. 2. religius.

Penghayatan kehidupan keagamaan seharihari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari mula i dilakukan atas dasar kesadaran dan pertimbangan hati nuraninya sendiri secara tulus ikhlas 3. Emosi. 1. K alau kondisi psikososialnya menunjang secara positif maka mulai tampak dan . 3. dan religius). Kecakapan dasar khusus (bakat) mul ai 3. Diawali d engan kecenderungan ambivalensi keinginan menyendiri dan keinginan bergaul denga n banyak teman tetapi bersifat temporer. yang juga akan memberi warna kepada tipe kepribadiannya. 4. Moralitas 1. Perilaku Sosial 1. 1. 4. Kecender ungan-kecenderungan arah sikap nilai mulai tampak (teoritis. estetis. Kebergantungan kepada kelompok sebaya berangsur fleksibel. 2. Kecenderungan bakat tertentu mencapai menujukkan kecenderungan-kecendetiti k puncak dan kemantapannya rungan yang lebih jelas. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). Adanya kebergantungan yang kuat kepa da kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi. Lima kebutuha n dasar (fisiologis. 3. 2. 3. Kecenderungan titik berat ke arah sikap nilai tertentu sudah mulai jelas sepe rti yang akan ditunjukkan oleh kecenderungan minat dan pilihan karier atau pendi dikan lanjutannya. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyaka n secara kritis dan skeptis. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalny a masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan marah. Mengidentifikasi den gan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya. gembira atau kesed ihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat 3. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosinalnya tampak mulai terkendali dan dapat menguasai dirinya. Sudah dapa t memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari para pe ndukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. Masih mencari dan mencoba m enemukan pegangan hidup Konatif. politis. Mulai menemukan pegangan hidup 1. 2. rasa aman. Afektif dan Kepribadian 1.suatu saat (usia 50-60) menjadi deklinasi. sosial. meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencobaco ba. 2. Sudah berangsur dapat menentukan dan menilai tindakannya sendiri atas norma atau sistem nilai y ang dipilih dan dianutnya sesuai dengan hati nuraninya. Mulai dapat memelihara jarak dan batasbatas kebebasan. Perilaku Keagamaan 1. 2. kecuali dengan tem an dekat pilihannya yang banyak memiliki kesamaan minat. Sudah menunjukkan arah kecenderungan tertentu yang akan mewarnai pola dasar k epribadiannya. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua de ngan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. harga diri dan aktualisasi diri) m ulai menunjukkan arah kecenderungannya 2. ekonomis. kasih sayang. 1. 3.nya mana yang harus di rundingkan dengan orang tuanya. 2. 2. Dengan sikapnya dan cara berfikirn ya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyata annya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. Merupakan masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat 3. Eksistensi dan sifat kemur ah-an dan keadilan Tuhan mulai dipahamkan dan dihayati menurut sistem kepercayaa n atau agama yang dianutnya.

ditemukan identitas kepriba-diannya yang relatif definitif yang akan mewarnai hi dupnya sampai masa dewasa. Namun dengan adanya hambatan dalam pengembangan ketidakmampuan berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak berpengaruh terhadap kesuksesan hidup dan karierny a. Masa r emaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial). Namun sebaliknya apabila rema ja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan . sosial. Namun dikarenakan keterbatasan kesempatan dan sarana d an pra sarana. 3. terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk mengenal da n mendalami bahasa asing. yang mungkin saja dapat menimbulkan problem a tertentu bagi si remaja. pabila tidak disertai dengan upaya pemahaman diri dan pengarahan diri secara tepat. Problema yang mungkin timbul pada masa remaja diantar anya : 1. menyebabkan si remaja kesulitan untuk menguasai bahasa asing. 2. Problema pada Masa Remaja Masa remaja ditandai dengan adanya berbagai perubah an. dan aspek-aspek perilaku dan kepribadian lainnya. Pada masa remaja awal ditandai dengan perkembangan kemampuan intelektual yang pesat. Begitu juga. Penolakan dari peer group dapat menimbulkan frustrasi dan menja dikan dia sebagai isolated dan merasa rendah diri. c. Begitu juga masa remaja. moralitas dan keagamaan. namun ketika keadaan fisik ti dak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian antara body image dengan self pict ure) dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri. Problema berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik. yang akan membentuk kepribadiannnya. per kembangan fisik yang tidak proporsional. Keadaan fisik pada mas a remaja dipandang sebagai suatu hal yang penting. yang ditandai d engan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayan ya (peer group). Problem a berkaitan dengan perkembangan perilaku sosial. Problema berkaitan dengan perk embangan kognitif dan bahasa. Namun ketika. Terhambatnya perkembangan kognitif dan bahasa dapat berakibat pula pada aspek emosional.dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya. terutama melalui pendidikan di sekol ah. si remaja tidak mendapatkan kes empatan pengembangan kemampuan intelektual. maka boleh jadi potensi intelektualnya tidak akan berkembang optimal. penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting untuk menunjang kesuksesan hidup dan karier seseorang . Tid ak bisa dipungkiri. dalam era globalisasi sekarang ini. Kematangan organ reproduksi pada masa r emaja membutuhkan upaya pemuasan dan jika tidak terbimbing oleh norma-norma dapa t menjurus pada penyimpangan perilaku seksual. bahkan dapat menjurus pada berbagai tindakan kena kalan remaja dan kriminal. baik secara fisik maupun psikis. Pada masa re maja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat.

sekolah. hubungan sosial yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan lain jenis dan jika tidak terbimbing dapat menjurus tindakan penyimpanga n perilaku sosial dan perilaku seksual. dan emosional. peranan orang tua. perilaku imitasi atau identifikasi. 4. . Hal ini disebabkan pada masa remaja. jika tid ak terbimbing. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram du rja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. term asuk dengan guru di sekolah. khususnya rema ja awal akan ditandai adanya keinginan yang ambivalen. na mun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua. Perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. Problema berkaitan dengan perkembangan kepribadi an. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional ya ng masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidu pan pribadi maupun sosialnya. Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilihlah salah satu j awaban yang menurut Anda paling tepat. serta masya rakat sangat diharapkan. Pada masa remaja juga ditandai dengan ad anya keinginan untuk mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada. Upaya untuk memfasilitasi perkembangan rem aja menjadi amat penting. di satu sisi adanya keing inan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan pilihannya sendiri. Selain yang te lah dipaparkan di atas. D. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1.dalam dirinya. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya. Seja lan dengan pertumbuhan organ reproduksi. tentunya masih banyak problema keremajaan lainnya. Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). Problema perilaku sosial remaja tidak hanya terjadi dengan kelomp ok sebayanya. Agar remaja dapat terhindar dari berbagai kesulitan dan problema kiranya diperlukan kearifan dari semua pihak. Usaha pencarian identitas pun. mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya. Dalam hal ini. banyak dilakukan dengan menunjuk kan perilaku coba-coba. baik internal maupun ekst ernal. terutama secara ekonomis. namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan dewasa lainnya. Timbu lnya problema remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pertengkaran dan per kelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya. dia akan mengalami krisis identitas atau identity c onfusion. sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan men ggambarkan keadaan diri yang sebenarnya.

a. gemar bertanya. membuat kalimat sederhana. Merangkak dan memegang Memegang dan berjalan Berjalan da n berbicara Memegang dan berbicara 7. Kemampuan kognitif anak sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. bayi (0-2 th). d. Rosseau Kretschmer Piaget Elizabeth Hurlock 4. 6. d. bahasa ekspresif. d. h aus nama-nama. d. membuat kalimat sederhana. Konformistik Seksama Individualistik Otonomi 5. Lenyapnya tanda-tanda yang lama. d. b. haus nama-nama. c. Perkembangan bersifat progresif. ya itu : a. 3. kanak-kanak (2-7 th) dan sekolah (7-12 th). dan b ahasa ekspresif. bahasa ekspresif. a. b. bicara monolog. c. b. Pola urutan perkembangan bahasa adalah : a. kanak-kanak (2 -7 th) dan remaja (12-20 th). Tahap Sensori-Motor b. Diperolehnya tanda-tanda baru S etiap individu menjadi lebih matang. Perkembangan fisik yang sangat pesat terjadi pada masa : a. membuat kalimat sederhana. bayi (02 th). Ahli yang mengelompokkan tahapan perkembangan berdasarkan pendekatan didaktis . b. 8. d. c. Meraban. bicara monolog. namun masih ada keterbatasan kapasitas d alam mengkoordinasikan pemikirannya. bahasa ekspresif. Perkembangan bersifat sistematis Perkembangan b erkesinambungan. Terjadinya perubahan dalam proporsi. a.. kecuali : a. b dan c benar 2. kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th) bayi (0 -2 th) dan remaja (12-20 th). tahapan perkembangan tertinggi untuk siswa tingkat SMTA. bicara monolog. c. bicara monolog. haus nama-nama. haus nama-nama. b. b. c. Perkembangan psikomotorik utama yang harus dikuasai pada masa bayi dan masa k anakkanak : a. c. gemar bertanya.a. c. Di bawah ini merupakan ciri-ciri umum perkembangan individu. d. b. gemar bert anya. Menurut Lovenger. Meraban. Meraban. gemar be rtanya. Meraban. Tahap Pra-Operasi onal .

12 . Perkembangan karier yang ditandai oleh adanya proses penyesuaian yang berkesinambungan untuk meningkatkan posisi dalam pekerjaan. Pre Conventional b. Kanak-Kanak Awal (0–3 th) Kanak – Kanak Akhir (4–6 th) Anak Sek olah (6–12 th) Remaja Awal (13–16 th) 10. kebencian dan ketakutan. Sikap negatif yang disebabkan melihat realita orang – orang beragama yang hypoc rit (pura-pura). c. Post Conventional d. Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic. cahaya. Growth Exploratory Establishment Maintenance . Pandanga n ke-Tuhan-an yang kacau. Kesenangan da n kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya. a. Penghayatan rohaniah yang skeptik. b. Conventional c. Perkembangan perilak u sosial yang ditandai dengan usaha untuk membandingkan aturan – aturan. terjadi pada masa : a. Tahap Konkret-Operasional d. Perkembangan kepribadia n yang ditandai oleh adanya dorongan untuk membentuk dan memperlihatkan identita s diri. Non Conventional 11. Perkembangan penghayatan keagamaan pada masa kanak-kanak ditandai oleh adany a : a. terjadi pada tahap: a. Ketidaksenang an berdiferensiasi ke dalam kemarahan. c. Kepekaan umum terh adap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. Tahap Formal-Operasional 9. terjadi p ada masa : a. b. c. c. sehingga enggan melaksanakan ritual. b. Infancy Early Childhood Pre-Schoolage Ad olescence. temperatur) c. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentanga n. 14. b. d. d.c. d. b. Perkembangan emosi pada usia 0-3 bulan ditandai oleh adanya : a. d. 13. d. Kegembiraan b erdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang. Tahap perkembangan moralitas yang ditandai dengan orientasi mengenai anak ya ng baik dan mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas.

Berupa ya mempelajari norma-norma yang berlaku di lingkungan sosialnya. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbu l bulu pada pubic region. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat. d. gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan sil ih berganti dalam yang cepat. a. Kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semang at konformitas yang tinggi. Perkembangan fisik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya: a. . c. d. kasih say ang. dan religius). Kecenderungan-kecenderungan arah sikap dan nila i mulai tampak (teoritis. ekonomis. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. estetis. b. 18. 17. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup. c. b. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari dila kukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyaka n secara kritis dan skeptis. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idol anya. a.15. Dengan sikap dan cara berfikirny a yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataa nnya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. rasa aman. Perkembangan perilaku moralitas pada masa remaja akhir ditandai oleh adanya : a. Aktif dalam berbagai jen is cabang permainan. b. d. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif. b. Gerak ger ik mulai mantap. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seper ti pernya-taan marah. d. politis. b. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama ( teman dekat). sosial. c. b. c. a. dan c benar. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day d reaming pada laki-laki. b . harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya. otot mengembang pada bagian – bagian tertentu). . Perkembangan perilaku sosial pada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. c. Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang uni versal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. Menarik diri dari lingkungan sosialnya. Lima kebutuhan dasar (fisiologis. Di bawah ini merupakan ciri perkembangan konatif pada masa remaja awal. kecuali : a. dan c benar 16. Ciri-ciri Perkembangan perilaku keagamaan pada masa remaja awal. d. c. b. Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam. mes ki masih dalam taraf eksplorasi dan mencoba-coba. 19. Perkembangan perilaku motorik p ada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. 20. Proporsi ukuran tinggi da n berat badan seringkali kurang seimbang.

Mendefinisik an belajar dan pengelolaan kelas. B. Mengidentifikasi ciri-ciri belajar. 3. Uraian 1. yang akan membentuk kepribadiannnya. Intisari Bacaan 1. Menjelaskan secara skematik t entang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar. Teori-Teori Pok ok Belajar. 4. 3. bentukbentuk perubahan perilaku sebagai hasil belajar. Lantas.pendekatan pembela jaran. 5. Menerapkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah pen gelolaan kelas. J elaskan problema-problema yang terjadi pada masa remaja ! dan bagaimana pula per an orang tua. masalah-masalah dalam pengelolaan kelas.d. Jelaskan tugas-tugas perkembang an individu pada masa remaja ! Bagaimana implikasinya terhadap pendidikan ? 3. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. Hakekat Belajar Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Pembelajaran Peran dan Kompetensi Guru Pengelolaan Kelas. pendekatan . 4. guru serta masyarakat dalam upaya mencegah timbulnya berbagai prol ema pada remaja ? BAB IV PROSES BELAJAR MENGAJAR A. apa sesungguhnya belajar itu ? Di bawah ini disampaikan tent ang pengertian belajar dari para ahli : . Apa yang dimaksud dengan tugas perkembangan ? 2. Pokok Bahasan 1. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) meny ebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiat an belajar. 2. C. Hakekat Belajar. diharapkan Anda dapat : 1. Masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat dipengaru hi oleh kondisi psiko-sosialnya. 2. peran da n kompetensi guru.

akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan. sikap dan keterampilan yang be rhubungan dengan Psikologi Pendidikan. Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku. sikap dan keterampilan berikut nya. yaitu : a. sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu. sikap.Moh. seorang mahas iswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. kebiasaan. Perubahan yang berkesinambungan (konti nyu). pengetahuan dan kecakapan”. sebaga i hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkunga nnya”. Gag e & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul ka rena pengalaman” Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. mi salnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat. Dalam hal ini. Begitu juga dengan hasil-hasilnya. Misalnya. pengetahuan dan sikap baru”. Misalnya. Perubahan yang disadari dan disen gaja (intensional). kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku. Hilgard (1962) : “belaj ar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karen a adanya respons terhadap sesuatu situasi” Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”. pengetahuan. seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakek at Belajar”. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan o leh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan. maka penget ahuan. Begitu juga. . Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah di perolehnya kebiasaan-kebiasaan. Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya mer upakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelum nya. setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. indi vidu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan. dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan di sengaja dari individu yang bersangkutan. Begitu juga. sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapa t dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. b. Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dim anifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan. dengan memperoleh sejumlah pengetahuan.

mah asiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan. Perubahan yang bertujuan dan terarah. Individu melakukan kegiatan bel ajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai. dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prins ip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia ke lak menjadi guru. Perubahan yang fungsional. maka penguasaan keterampilan m engoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa te rsebut.c. mahasiswa belajar mengoperasikan komputer. Untuk memperoleh perilaku ba ru. f. seorang mahasiswa belajar psikologi pendid ikan. maka maha siswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan. jangka mene ngah maupun jangka panjang. maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pe ndidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kel ak ketika dia menjadi guru. Misalnya. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudk an dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. Misalnya. Mis alnya. d. g. Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat diman faatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan. e. seorang mahasiswa sebelum belaj ar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Menga jar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembanga n perilaku dan pribadi peserta didiknya. baik tujuan jangka pendek. Perubahan perilaku yang diperoleh dari pro ses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. Perubahan yang bersifat aktif. . Perubahan perilaku yang terjadi bersifat nor matif dan menujukkan ke arah kemajuan. individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. Misalnya. tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperole h pengetahuan. baik untuk kepenting an masa sekarang maupun masa mendatang. Perubahan yang bersifat positif. Sedangkan tujuan jangka pan jangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang mema dai tentang Psikologi Pendidikan. Perubahan yang bersifat pemanen. Contoh : seorang mahasiswa belajar tenta ng psikologi pendidikan. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan unt uk mencapai tujuan-tujuan tersebut. namun setelah mengikuti pembelajaran Ps ikologi Pendidikan. berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya .

sikap keterampilannya tent ang “TeoriTeori Belajar” (Post Learning). Praktik. Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata. mahasiswa belajar tentang “Teori-Teor i Belajar”. dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Te ori Belajar”. dalam perkuliahan Strategi Belajar Mengajar pada semester 2. Pada awalnya dia tidak memilik i pengetahuan. tetapi termasuk memperoleh pula perubaha n dalam sikap dan keterampilannya. dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”. Di Vesta dan Tompson dalam Abin Syamsuddin (2003:157) mengga mbarkan perubahan perilaku atau pribadi yang terjadi dari suatu proses belajar s eperti tampak dalam bagan berikut: Perilaku/Pribadi sebelum belajar (Pre Learning) X=0 Y=1 Z= 1 Perilaku/Pribadi se telah belajar (Post Learning) X = (X+1) = 1 Y = (Y+1) = 2 Z = (Z-1) = 0 Pengalaman. Misalnya. sikap dan keterampilan tentang “Teori-Teori Belajar” (Pre learning). maka kemampuannya akan meningkat. disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Bel ajar”. Kemudian oleh . Perubahan perilaku secara keseluruhan. Contoh 2 : Mahasiswa Y akan mempelajari te ntang “Metode-Metode Pembelajaran”. sikap keterampilannya tentang “Metode-Metode Pembelajara n” (Post Learning). terjadinya perubahan perilaku diperoleh tidak secara tiba-tiba. Belajar merupakan suatu proses. dengan bertambah pengetahuan. Pada semester 1 dia telah menguasai tentang “Teori-Teori Belajar” yang akan mendasari penguasaan “MetodeMetode Pembelajaran” (Pre Learning). Begitu juga. Contoh 3 : Mahasiswa Z memiliki kebiasaan merokok yang ingin d ihilangkannya. deng an bertambah pengetahuan. maka dalam dirinya telah bertambah kemampuannya. namun setelah dia membaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Teori-Teori Belajar” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). lalu dia datang meminta bantuan dari konselor yang ada di kampus (PreLearning). Setelah dia me mbaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Metode-Metode Pembelajaran” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). tetapi melalui berbagai tahapan dan kegiatan yang harus ditempuh individu. Latihan (Learning Experience) Contoh 1 : Mahasiswa X belajar akan mempelajari tentang “Teori-Teori Belajar” dalam perkuliahan Psikologi Pendidikan pada semester 1.h.

Selain itu. Kecakapan intelektual. Misalnya. misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda. perubahan perilaku yang merupakan has il belajar dapat berbentuk : a. Termasuk dalam keterampilan intelektual ada lah kecakapan dalam membedakan (discrimination). Dalam konteks proses pembelaja ran. memahami konsep konkrit. merab a/menjamah. dia memiliki motivasi yang sangat kuat untuk menjadi yang terbaik (the best) di kelasnya. mis alnya: penggunaan simbol matematika. c. 2003). Seberapa kuat motivasi belajar yang dimil iki individu.-. Dalam belajar. dia juga memperoleh pengalama n bagaimana bekerjasama dengan temannya dan berkomunikasi dengan orang lain. Dia dapat mengamati langsung bagaimana guru mempraktekkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah-masala h yang muncul dalam pengelolaan kelas.dan seberapa kuat komitmen individ u terhadap tujuan belajarnya akan menentukan kualitas perubahan perilaku belajar nya. mendengar. Men urut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun. Selain itu. Misalnya.menggunakan tek nikteknik konseling tertentu-. aturan dan hukum.konselor dia dilatih untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya. mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan ingin memp eroleh pengetahuan tentang “Keterampilan Pengelolaan Kelas”. Dengan tekun dan penuh kesungguhan dia mengikuti apa-apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya (Learning Experience). dan sebagainya. dia memiliki komitmen yang kuat serta memiliki tujuantujuan yang ingin dicapainya secara jelas. --khususnya motif berprestasi-. Belajar terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong (motivasi) da n ada suatu tujuan yang ingin dicapai. dan mencium. dia dapat berhasil menghilangkan kebiasaan merokoknya (Po st Learning). dalam belajar individu juga memp eroleh berbagai pengalaman sosial melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya. mencicipi. baik secara tertulis maupun tulisan. seorang mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidika n. Begitu juga. lalu dia bersamasama ka wan-kawannya melakukan observasi langsung ke kelas. yaitu keterampilan individu dala m melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi p emecahan masalah. Informasi verbal. Strategi kognitif. kecakapan individu untuk melakukan penge ndalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. individu memperoleh pengalaman langsung melalui pengalaman indraw i yang memungkinkan mereka memperoleh pengetahuan dari melihat. b. defi nisi. maka sangat mungkin mahasiswa tersebu t akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi dalam mata kuliah Psikologi Pendi dikan Belajar juga merupakan bentuk pengalaman kehidupan melalui situasi nyata. konsep abstrak. strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfi kir agar . Akhirnya. yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal.

benci. yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. Inhibisi (menghindari hal yang mubazir). Dengan kata lain. Ber fikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar peng ertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why). seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik. sedih. beserta tingkatan aspek-aspeknya. Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut. didalamnya terdapat unsur pemikiran. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran. Sedangkan menurut Bloom. kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. Keterampilan. sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pem ikiran. Sikap adalah keada an dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam mengha dapi suatu obyek atau peristiwa. Pengamatan. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tamp ak dalam : a.Namun dalam kesempatan ini hanya akan di kemukakan lima jenis teori belajar saja. iala h hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fi sik. Kebiasaan. yakni proses menerima. dan memberi arti rangsan gan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mamp u mencapai pengertian yang benar. (b) teor i belajar . kecewa. yaitu: (a) teori behaviorisme. i. Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan ke yakinan. g. b. (lihat tentang taksonomi perilaku individu pa da Bab I) 2. Apresiasi (menghargai ka rya-karya bermutu). perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil bel ajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif. gembira. Moh. f . Sikap. Teori-Teori Pokok Belajar Jika menelaah literatur psikologi. afektif dan psikomotor. perasaan y ang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak. seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali men ghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru. menafsirkan. senang. d. was-was dan sebaga inya. Berfikir asosiatif. marah. e. d. c. yakni berfikir dengan c ara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat. h. e. Kecakapan motorik. keterampilan -keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tin ggi. Sementara itu. sehingga akhir nya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar.terjadi aktivitas yang efektif.

b. artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertam bah erat. pendekatan behaviorisme ini . c. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov Dari eksperimen yang d ilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar. dan (5) teor i belajar gestalt. Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari di antaranya : 1. dan mengabaikan aspek – aspek mental. maka hubungan Stimulus . jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tid ak dilatih. maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat. (4) teori pemrosesan informasi dari Gagne. b. artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan sat uan pengantar (conduction unit). Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike. artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang m emuaskan. Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Law of Exe rcise. Dengan kata lain. Sebaliknya. dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. semaki n tidak memuaskan efek yang dicapai respons. diantar anya : a.kognitif menurut Piaget. behaviorisme tidak mengakui ad anya kecerdasan. maka kekuatannya akan menurun. maka semakin lemah pula hubungan ya ng terjadi antara Stimulus. a.Respons. . Teori Behaviorisme Sebagaimana telah dikemukakan pada Bab II bahwa behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku in dividu. 2. diantaran ya: a. Jika refleks yang s udah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa men ghadirkan reinforcer. Law of Effect. Peristi wa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. bakat. J ika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer). minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Law of Readiness.Respons akan semakin kuat. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut.

Respons dalam operant conditio ning terjadi tanpa didahului oleh stimulus. seorang individu akan berfikir d an memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan. Prinsip dasar belajar menurut teori ini. (2) pre operational. maka kekuatan perilaku tersebut ak an meningkat. Berbeda dengan penganut Behavi orisme lainnya. Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the tre shold method). diantaranya : a. namun tidak sengaja di adakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.F. melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebaga i hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Menurut Piaget. Teori ini juga masih memandang pentingnya conditi oning. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat . melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Miller dan Dollard dengan teori pengu rangan dorongan. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan . Operant Conditioning menurut B. b. Reber (Muhibin Sya h.F. maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. b. (3) concrete operational dan (4) for mal operational. Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks ot omatis atas stimulus (S-R Bond). Law of operant conditining yaitu jika timbuln ya perilaku diiringi dengan stimulus penguat. Melalui pemberian reward dan punishment. Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini. bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyaji an contoh perilaku (modeling). bahwa belajar akan lebih berhasil apabila dises uaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik.3. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan huk um-hukum belajar. Teori Belajar Kognitif menurut Piaget Dalam bab sebelumnya t elah dikemukan tentang aspek aspek perkembangan kognitif menurut Piaget yaitu ta hap (1) sensory motor. metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method). seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan. Skinner Dari eksperimen yang dilakukan B. 4 . Social Learning menurut Albert Bandura Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meni ngkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu.

Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya i nteraksi antara kondisikondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Bila figure dan latar bersifat samar-sama r. Menurut Koffka dan Kohler. Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu. 4. Bahan yang harus dipelajari anak hend aknya dirasakan baru tetapi tidak asing. anak-anak hendaknya diberi peluan g untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif. d. Teori Be lajar Gestalt Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti seb agai “bentuk atau konfigurasi”. Perkembangan merup akan hasil kumulatif dari pembelajaran. Implikasi teori perkembangan kognitif P iaget dalam pembelajaran adalah : 1. mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. (6) generalisasi. (3) pemerolehan. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran t erjadi proses penerimaan informasi. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang ses uai dengan cara berfikir anak. Di dalam kelas. (2) pemahaman. potongan. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapa t menghadapi lingkungan dengan baik. yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship). . Bahasa dan cara berfikir anak berbeda denga n orang dewasa. c. Sedangkan kondi si eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. 5. (1) motivasi. Berikan peluang agar anak belajar se suai tahap perkembangannya. (4) penyimpanan. yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. 2. maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peri stiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. (5) i ngatan kembali. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapa i hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Guru harus membantu anak agar dapat berinte raksi dengan lingkungan sebaik-baiknya. 3.obyek fisik. ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu : 1. (7) perlakuan dan (8) umpan balik. Teori Pemrosesan I nformasi dari Robert Gagne Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelaj aran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar.

gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. dan Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. 6. gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang terten tu. 5. Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt. (lingkungan be havioral). Kedekatan (proxmity). seperti : sagitarius. bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan di pandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki. 3. Arah bersama (common direction ). penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan su sunan simetris dan keteraturan. padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hut an yang lebat (lingkungan geografis). Pengalaman tilikan (insight).2. Kesederhanaan (simpl icity). sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. 2. pisces. 3. bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. Kesamaan (similarity). mengikuti kuliah. Berlari. akan tetapi mereaksi terhada p keseluruhan obyek atau peristiwa. bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertent u. Perilaku “Molar“ h endaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. Misal nya. virgo. Proses pengamat an merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsa ngan yang diterima. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : 1. gemini dan sebagainya adalah contoh dari pr insip ini. yaitu: 1. adanya penamaan kumpulan bintang. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenar nya ada. Hal yang p enting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis d engan lingkungan behavioral. sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. 4. Misalnya. Contoh lain. Per ilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”. bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderun g akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. berjalan. Dalam proses pembelajaran. bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana. hendaknya peserta didik memiliki . Perilaku “Molecul ar” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar. Organisme tidak mereaksi terhadap rangs angan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa. 4.

menyeterikan baju. memasak. . Transfe r dalam Belajar. Prinsip ruang h idup (life space). sementara tuntutan kehidupan yang harus dipenuhi indivi du semakin tinggi. yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu o byek atau peristiwa. Proses pemb elajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dic apainya. tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Misalnya. seorang anak perempuan memiliki keterampilan bagaima na cara mencuci piring. maka kegiatan belajar di sekolah dijadikan pilihan untuk meng embangkan perilaku dan pribadi individu dalam rangka memenuhi berbagai tuntutan kehidupan. biasanya lebih banyak diperoleh dari pengalaman bel ajarnya di rumah. guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. 3. 5. namun juga dilaksanakan di rumah m aupun masyarakat. kebermakn aan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pem belajaran. materi yang diajarkan hendaknya memiliki ke terkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. Belajar tidak hanya berlangsung sekolah saja. Hal-hal ya ng dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Oleh karena itu. 3. transfer belajar terjadi de ngan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tert entu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susuna n yang tepat. guru hen daknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari m ateri yang diajarkannya. bahwa perilaku te rarah pada tujuan.2. Perilaku bertujuan (pusposive behavior). Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yan g dipelajari. 4. Pembelajaran. bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkunga n dimana ia berada. Oleh karena itu. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prins ip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Menurut pandangan Gestalt. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. sopan santun berhadapan deng an orang tua dan sebagainya. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). Oleh karena itu. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generali sasi). Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons . Orang tua memiliki keterbatasan dalam menjalankan fungsinya se bagai pendidik di rumah.

menggerakkan. mengemukakan peran guru dalam proses pembelajaran peserta didik. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan bahwa dalam pengerti an pendidikan secara luas. motivator dan pembimbing untuk kepentingan b elajar peserta didiknya. Pendekatan ini lebih menekankan kepada aktivitas siswa dan guru lebih b anyak berperan sebagai fasilitator. Sedangkan dalam pengertia n pendidikan yang terbatas. Interaksi pendidikan seperti itu biasa disebut pembelajaran. terdapat dua pendekat an pembelajaran. b. Bentuk-bentuk kegiatan belajar yang dil akukan peserta didik di sekolah sangat ditentukan oleh pendekatan-pendekatan pem belajaran yang diberikan oleh guru. c. seorang guru yang ideal seyogyanya dapat berperan seb agai : a. memimpin. di mana ia bertindak sebagai orang sumber (resource person). eksperimen. observasi dan sej enisnya. e. transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik.Berbeda dengan kegiatan belajar di rumah. yang harus dapat menciptakan situasi. Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems). dalam proses interaksi dengan sasaran didik. Peran dan Kompetensi Guru Efektivitas dan efisien belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada per an dan kompetensi guru. . dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan re ncana. Pendekatan Heuristik yaitu yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya praktek. Kegiatan belajar di sekolah ditandai dengan adanya intera ksi antara atau pendidik dengan peserta didik. Abin Syamsuddin dengan mengutip pemikiran Gage dan B erliner. yaitu : a. mera ngsang. inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan. Pendekatan Ekspositorik adalah pendekatan yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya penyampaian informasi. b. b. yang m encakup : a.. serta Tuhan yang menciptakannya). transformator (pen terjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan p erilakunya. 4. baik secar a formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (k epada sasaran didik. d. dengan bimbingan guru atau pendidik lainnya. konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber n orma kedewasaan. kegiatan belajar yang berlangsung di s ekolah lebih bersifat formal. term asuk metode ceramah dan sejenisnya. Pendekatan ini lebih berpusat kepada guru da n pada umumnya guru bertindak sebagai sumber informasi yang utama. disengaja dan direncanakan. organisator (penyele nggara) terciptanya proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan. atau peserta didik dengan peserta didik untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. Guru seb agai pelaksana (organizer). Secara garis besarnya. termasuk discovery-inquiry.

melakukan diagnos a. penemu masyarakat (social inovator). d. Di sekolah. Pelaksana administrasi pendidikan. Pekerja sosial (social worker). di mana guru dituntut untuk mampu mengidentifikas i peserta didik yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar. Penegak di siplin. yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat. Di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented). Selanjutnya. yaitu seorang yang harus senantiasa b elajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya. dan penilai pendidikan. guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga (family educator). b. harus membantu pemecahan nya (remedial teaching). Di lain pihak. c. berdasarkan kriteria yang ditetapkan. seor ang guru berperan sebagai : a. dan agen masyarakat (social agent). yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik melaksanakan disiplin. Guru sebagai penil ai (evaluator) yang harus mengumpulkan. dalam konteks proses belajar mengajar di Indonesia. yaitu guru bertanggung jawab agar pendidik an dapat berlangsung dengan baik. menafsirkan dan akhirnya ha rus memberikan pertimbangan (judgement). baik mengenai aspek keefektifan pr osesnya maupun kualifikasi produknya. atas tingkat keberhasilan proses pembel ajaran. guru berperan sebagai : a. Abin Syamsuddin menambahkan satu peran lagi yaitu sebagai pembimbing (teacher counsel). Wakil masyarakat di sekolah. Sedangkan dalam keluarga. dan dar i sudut pandang psikologis. dan g. yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknolo gi kepada masyarakat. menganalisa. prognosa. artinya guru berperan s ebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan. penilai hasil pembelajaran pe serta didik. Pemimpin generasi muda. pengelola pembelajaran. L ebih jauh. guru berperan sebag ai perancang pembelajaran. keluarga dan masyarakat. b. Moh. Penterjemah kepada masyarakat. dan kalau masih dalam batas kewenangannya. Surya (1997) mengemukakan tentang p eranan guru di sekolah. c. Dalam hubungannya dengan aktivitas pengajaran dan ad ministrasi pendidikan. f. pengarah pembelajaran dan pembimbing peserta didik. artinya guru bertan ggung jawab untuk mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda y ang akan menjadi pewaris masa depan. . Pelajar dan ilmuwan. pengarah. Seorang pak ar dalam bidangnya. yaitu menguasai bahan yang harus diajarkannya.konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik & humanistik (manusi awi) selama proses berlangsung (during teaching problems). Seme ntara itu di masyarakat. diri pribadi (self oriented). e. Pengambil inisiatif. dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivit as pengajaran dan administrasi pendidikan. guru berperan sebagai pembina masyarakat (social develo per).

seperti : tata letak tempat duduk. lingkungan belajar. orang tua maupun masyarakat. Jika guru tida k memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat. d. Kalau hal ini terjadi. prosedur dan sistem yang mendukung proses pembelajaran. b. peran dan tanggung jawab guru pada masa mendat ang akan semakin kompleks. ia akan terpuruk secara profesional. di siplin peserta didik di kelas. Pemberi keselamatan bagi set iap peserta didik.c. Catalyc agent atau inovator. guru bukan satu-s atunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya. artinya guru bertanggung jawab bagi terciptanya kesehat an mental para peserta didik. a. yaitu mampu mambentuk menciptakan kelo mpok dan aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan. Dari sudut pandang secara psikologis. berkembang. c. sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan ber bagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. dan e. Sementara itu. Pembentuk kelompok (group builder). interak si peserta didik dengan guru. Untuk menghadapi . ia akan kehilangan kepercaya an baik dari peserta didik. artinya guru adalah model perilaku y ang harus dicontoh oleh mpara peserta didik. Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker). pengelolaan bahan belajar. d. dan lain-lain. Yang dimaksud keteraturan di sini mencakup hal-hal yang terkait langsung atau tidak langsung dengan proses pembelajaran. seniman dalam hubungan antar manusia (artist in human relations). jam masuk dan keluar untuk setiap sesi mata pelaja ran. yaitu guru merupakan orang yang yang mampu menciptakan suat u pembaharuan bagi membuat suatu hal yang baik. pengelolaan sumber belajar. Paka r psikologi pendidikan. dan e. khususnya dengan para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pendidika n. guru berperan sebagai : a. berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. model keteladanan. artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap pese rta didik di sekolah. Gu ru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well info rmed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh. Di masa depan. artinya gu ru adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar manus ia. Orang tua. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didika n gurunya. Sejalan d engan tantangan kehidupan global. Guru harus harus leb ih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. Doyle sebagaimana dikutip oleh S udarwan Danim (2002) mengemukan dua peran utama guru yaitu menciptakan keteratur an (establishing order) dan memfasilitasi proses belajar (facilitating learning) . artinya guru merupakan seorang yang memahami psikologi p endidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. interaksi peserta didik dengan sesamanya.

9. 2. dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. arif dan bijaksana. pemerintah telah menetapkan Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. dengan dukungan hasil penelitian ya ng mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari ta hun ke tahun. Disamping itu. evaluasi hasil belaja r. 6. dan mengembangkan diri secara berkelanjutan. berakhlak mulia. Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang melipu ti: 1. sehingga dengan dukungan hasil penelitiaan guru tidak terjebak pada praktek pengajaran y ang menurut asumsi mereka sudah efektif. Artinya. 7. berkomunikasi lisan dan tulisan. guru perlu berfikir secara antisipatif dan p roaktif. stabil. 4. yang di dalamnya mengatur berbagai hal yang berkaitan dengan profesi guru . menggunakan teknologi komunik asi dan informasi secara fungsional. diantaranya adalah berkenaan dengan kualifikasi. pengembangan kurikulum/silabus. 8. 6.tantangan profesionalitas tersebut. Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyara kat untuk : 1. mantap. berwibawa. 4. 2. namum kenyataannya justru mematikan kre ativitas para peserta didiknya. Berkenaan dengan kompetensi guru. sertifikasi dan r emunerasi guru. 7. guru masa depan harus paham peneliti an guna mendukung terhadap efektivitas pengajaran yang dilaksanakannya. mengevaluasi kinerja s endiri. guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimil ikinya secara terus menerus. . dewasa. 5. kompetensi. 5. b. disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan tekno logi yang sedang berlangsung. perancangan pembelaj aran. c. Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang : 1. pemaha man terhadap peserta didik. dalam Undang-Undang tersebut d ikemukakan empat jenis kompetensi yang harus dikuasai guru yaitu : a. 3. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat. Untuk meningkatkan profesionalisme guru di Indones ia. 3. Begitu juga. 2. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan.

2. dapat memilih dan menggunakan berbagai metode me ngajar di dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya. dan 5. Dengan jumlah yang berbeda namun esensinya sama. Kompetensi profesional. meliputi : Moh. dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/ koheren dengan materi ajar. 4. sesama pendidik. b. d. Raka Joni sebagaimana dikutip oleh Suyanto da n Djihad Hisyam (2000) mengemukakan tiga jenis kompetensi yang seyogyanya dimili ki guru. Dengan demikian. Sementara itu. b. ing madya mangun karsa. mampu berkomunikasi. Kompetensi k emasyarakatan. yaitu kualitas kemampuan pribad i seorang guru yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. hubungan konsep antar mata pelajaran terk ait. dan perwujudan diri. Da lam kompetensi sosial ini termasuk keterampilan interaksi sosial dan melaksanaka n tanggung jawab sosial. dan 4. pengarahan diri. konsep. penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari. Surya (1997) a. sesama guru. struktur. orangtua/wali peserta didik. mengetengahka n lima jenis kompetensi guru. yai tu penguasaan berbagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan tugasnya sebagai guru. d. kom petisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai d an budaya nasional. . Kompetensi profesional. Kompetensi profesional meliputi as pek kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus di ajarkannya beserta metodenya. yaitu berbagai kemampuan yang diperlukan untuk dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional . Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembe lajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: 1. c. c. pener imaan diri. yaitu kemampuan yang di perlukan oleh seorang guru agar berhasil dalam berhubungan dengan orang lain. materi aja r yang ada dalam kurikulum sekolah. bergaul secara efektif dengan peserta didik. memiliki pengetahuan yang luas dari bidang studi yang diajarkannya. Kompetensi personal. baik dengan peserta didik. Kompetensi per sonal ini mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri. 3. bergaul secara santun dengan masyaraka t sekitar. Kompetensi personal.3. maup un masyarakat luas. yaitu : a. Kompetensi intelektual. dan rasa kebers amaan dengan sejawat guru lainnya. tenaga kependid ikan. rasa tanggung jawab akan tugasnya. memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani. seorang guru akan mampu menjadi seorang pemi mpin yang menjalankan peran : ing ngarso sung tulada. Kompetensi sosial. tu t wuri handayani.

yang menjadi dasar b agi guru untuk mendapatkan sertifikasi guru. Teachers Think Systematically About Their Practice and Learn from Experience : 1. e. Menilai kemajuan peserta didik secara teratur. Teachers Know the Subjects They Teach and How to Teach Those Subjects to Stud ents : 1. 2. Teachers are Committed to Students and Their Learning : 1. Guru bekerja sama dengan tua orang peserta didik. d. 2. Kompetensi spiritual. dan Misi guru dalam memperluas cakrawala berfikir peserta didik. 2. yaitu: a . yaitu kualitas keimanan dan ketaqwaan sebagai seorang y ang beragama. di dalamnya terdiri dari lima proposisi utama. Guru dapat menarik keuntungan dari berbagai sumber daya masyarakat. Perlakuan guru terhadap seluruh peserta didik sec ara adil. . Guru meminta saran dari piha k lain dan melakukan berbagai riset tentang pendidikan untuk meningkatkan prakte k pembelajaran. 3. dan 4. b. 2. Kemampuan guru untuk menyampaikan materi pelajaran. Teachers are Responsible for Managin g and Monitoring Student Learning : 1. disusun dan dihubungkan dengan mata pelajaran lain. 3. Guru secara terus menerus menguji diri untuk memilih keputusan-keputusan terbaik. c. kemampuan untuk memberikan ganjaran (reward) atas keber hasilan peserta didik.e. 3. 2. National Board for Profesional Teaching Skill (NBPTS) merumuskan standar kompetensi bagi guru di Amerika. Penggunaan berbagai metode dalam pencapai an tujuan pembelajaran. 3. Menyusun proses pembelajaran dalam berbagai setting k elompok (group setting). dengan rumusan What Teachers Should Know and Be Able to Do. Teachers are Members of Learning Communities: 1. Guru memberi kan kontribusi terhadap efektivitas sekolah melalui kolaborasi dengan kalangan p rofesional lainnya. Penghargaa n guru terhadap perbedaan individual peserta didik. Mengembangkan usaha untuk memperoleh pengetahu an dengan berbagai cara (multiple path). Sebagai pembanding. Kesadaran akan tujuan utama pembelajaran. Pemahaman guru tentang perke mbangan belajar peserta didik. 4. Apresiasi guru tentang pemahaman materi mata pelajaran untuk dikreasik an.

antara lain: 1. evaluasi dan tindak lanj ut dalam suatu . Mampu menciptakan atmosfer untuk bekerja sama dan kohesivitas dalam kelompok. 5. 2. Mampu me mberikan respon yang membantu kepada peserta didik yang lamban belajar. 4. Kemampuan yang terkait dengan st rategi manajemen. Ke mampuan yang terkait dengan iklim kelas. yaitu mencakup : a. d. Secara tulus menerima dan memperhatikan peserta didik. 2. 6. 4. 2. Mm eminimalkan friksi-friksi di kelas jika ada. Memiliki hubungan baik dengan peserta didik 3.Mengutip pemikiran Davis dan Margareth A. Mampu bertanya atau memberi kan tugas yang memerlukan tingkatan berfikir yang berbeda. 3. penghargaan kepada peserta didik. Mampu menerapkan kurikulum dan metode men gajar secara inovatif. dan 8. Mampu memperluas dan menambah pengetahuan metode-metod e pengajaran. Thomas dalam bukunya Effective Schools and Effective Teachers. Kemampuan yang terkait de ngan peningkatan diri. Mampu memanfaatkan perencanaan kelompok guru untuk menciptakan metode pengajaran. Kemampuan yang ter kait dengan pemberian umpan balik dan penguatan (reinforcement). b. Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) memaparkan tentang beb erapa kemampuan guru yang mencerminkan guru yang efektif. dan mampu memberikan transisi dalam mengajar. Memiliki kemampuan interpe rsonal. Memiliki kemampuan secara rutin untuk mengahadapi peserta didik yang tidak memiliki perhatian. seperti: 1. Menunjukkan minat dan enthusi as yang tinggi dalam mengajar. mengalihkan pembicara an. Pengelolaan pembelajaran l ebih menekankan pada kegiatan perencanaan. Mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban yang kurang memuaskan. yaitu : 1. khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati. Mampu membe rikan bantuan kepada peserta didik yang diperlukan. Mamp u memberikan umpan balik yang positif terhadap respon peserta didik. Melibatkan peserta didik dalam mengorganisasi kan dan merencanakan kegiatan pembelajaran. 3. 7. dan ketulusan. Mampu mendengarkan peserta didik dan menghargai hak peserta didik untuk berbicara dalam setiap diskusi. Pengelolaan kelas merupa kan hal yang berbeda dengan pengelolaan pembelajaran. seperti : 1. pelaksanaan. c. 2. 5. Pengelolaan Kelas Dalam uraian di atas telah disinggung bahwa salah satu keterampilan yang harus d imiliki guru adalah keterampilan dalam mengelola kelas. suka menyela.

Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakuka n melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). karena menganggap tugas yang diberikan kurang fair. 2. Behavior . terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam pengelolaan kelas. b. Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya unt uk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses be lajar (pembinaan rapport. Socio-Emotional C limate Approach (Humanistic Approach) Asumsi yang mendasari penggunaan pendekata n ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubung an interpersonal yang baik antara peserta didik . Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian). penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas. Masalah Kelompok : 1. Sema ngat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru.pembelajaran. y aitu : a. pemberian ganjaran. yaitu : a. 4. 7.Modification Approach (Behaviorism Apparoach) Asumsi yang m endasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu mer upakan hasil belajar. b. 6. suku. Masalah Individual : 1. penyelesaian tugas oleh peserta didik seca ra tepat waktu. Dalam hal ini. karena alasan jenis kelamin. sosio-emo sional yang baik. genuiness. dan sebagainya. Kelas mereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggot anya. Kelas kurang mampu menyesuakan diri dengan keadaa n baru. 3. Berangkat dari teori-teori belajar sebagaimana telah dikemukakan terdahu lu. menerima dan menghargai peserta didik sebagai . 4. Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disep akati sebelumnya. Kelompo k cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap. tingkatan sosial eko nomi. 3. 2. Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan) Revenge seeking behavior s (pola perilaku menunjukkan balas dendam). Rogers mengemukakan pentingnya sikap tu lus dari guru (realness. penetapan norma kelompok yang produktif). didalamnya mencakup pe ngaturan orang (peserta didik) dan fasilitas. Kelas kurang kohesif. 5. helplessness (peragaan ketidakmampua n). Carl A. Terdapat dua macam masalah pengelo laan kelas. congruence).guru dan atau peserta didik – pe serta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim. “Membombong” anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok.

Belajar merupakan usaha individu memperoleh perubahan perilaku. mengarahkan peserta didik agar committed terhadap rencana yang telah dibuat. g. (c) norm. d. Richard A. Sementara itu. serta membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik. Belajar merupakan kegiatan individu di sekolah u ntuk memperoleh pengetahuan 2. bertujuan dan terarah. trust) dan mengerti dari sudut pandangan p eserta didik sendiri (emphatic understanding). yaitu : (a) mutual expectations. menganalisis dan menilai masalah. positif. (d) cohesiveness D. f. Belajar sebagai usaha untuk memperoleh pengetahuan. c. serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaia n. (c) attractio n (pola persahabatan). dan membe ri kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat. (b) leadership. Ginnot mengemuk akan bahwa dalam memecahkan masalah. Perubahan yang bersifat intensional. dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik unt uk dapat memikul tanggung jawab. a. b ukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasaka n. Perubahan yang bersif at aktif dan menyeluruh.manusia (acceptance. b. Latihan : Soal : Pilihan Ganda 1. Schmuck menegemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendeka tan group proses. menyusun rencana pemecahannya. c. guru berusaha untuk membicarakan situasi. kontinyu. dari tidak tahu menjadi tahu. Sedangkan Haim C. b dan c benar . Di bawah ini merupakan ciri-ciri perubahan perilaku dari kegiatan belajar : e . (d) communication. caring. kecuali : a. h. G roup Process Approach Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bah wa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru a dalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. memperlakukan peserta didik sebagai manusia yan g dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya. memupuk keberanian menanggung akib at “kurang menyenangkan”. Sch muck & Patricia A. Hal senada dikemukakan William Glasser bahwa guru seyogyanya membantu mengara hkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi. prizing. Belajar merupaka n usaha individu. Di bawah ini merupakan hakekat belajar. Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Dem ocratic Classroom Process. dan permanen Perubahan yang bersifat fungsional.

b . memimpin. Pentingnya reinforcement dalam pembentukan perilaku individu Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. b. d.3. c. Keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan m enggunakan simbol-simbol merupakan bentuk perubahan perilaku dalam : a. merangsang.Respons . d. b. 7. Teori belajar yang menganggap pentingnya imitation dan modelling dalam belaja r. Sebaliknya. c. henda knya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkait an unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. a. c. c. Jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. a. d. Pendekatan pembelajaran yang dianggap paling sesuai untuk pembentukan kompete nsi peserta didik. Materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondi si lingkungan kehidupan peserta didik merupakan salah satu aplikasi dalam pembel ajaran yang dihasilkan dari teori belajar : a. b. c. Dapat menciptakan situasi belajar. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : a. Dalam proses pembelajaran. maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus. a. b. Behaviorisme Gestalt Kog nitif Pemrosesan Informasi 8. d. d. Perenca na Pembelajaran Pelaksana Pembelajaran . semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons. dan c benar. Law of Effect Law of Readiness Law of Exercise Law of Respondent C onditioning 5. b. menggerakkan. b. b. dan me ngarahkan kegiatan belajar mengajar merupakan peran guru sebagai : a. Informasi verbal Kecakapan intelektual Strategi kognitif Sikap dan kecakapan mo torik 4. Connectionism (S-R Bond) Classical Conditioning Social Learning Oper ant Conditioning 6. maka hubungan Stimulus Respons akan semakin kuat. c. adalah : a. d. Ekspositorik Heuristik Discovery Inquiry 9.

c. Sebagai guru. melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. 5. Uraian 1 . Kegiatan Layanan dan Pend ukung Bimbingan dan Konseling. 2. 4. Menjelaskan peran kepala sekolah dan guru mata pelajaran dalam Bimbingan dan Konseling. Jelaskan secara skematik tenta ng perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar !. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling. orientasi baru. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling. Proses dan Teknik Konseling. B. Apa yang dimaksud dengan pengelolaan kelas ? 2. prinsip. Peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pela jaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling. diharapkan Anda dapat : 1. Pokok Bahasan 1. para siswa kurang kompak dan selalu berisik. asas. siswa yang sedang asy ik ngobrol dengan temannya. 6. . jenis lay anan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. Menganalis is kasus dan mengatasi masalah yang dihadapi peserta didik. 5. d. d. 3. proses konseling. Menerapkan teknik – teknik dalam konseling. bimbingan terhadap peserta didik bermasal ah. 3. merencanakan. Mendefinisik an bimbingan dan konseling. Evaluator Pembelajaran Fasilitator Pembelajaran 10. b. b. 2. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. Komp etensi akademik Kompetensi personal Kompetensi pedagogik Kompetensi sosial BAB V BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH A. 4. Mengidentifikasi fungsi. 3. apa yang akan dilakukan jika di kelas menemukan: a. Bimb ingan terhadap Peserta Didik Bermasalah. a. Kompetensi guru yang berhubungan dengan pemahaman perkembangan peserta didik . prosedur umum bimbingan dan konseling. c.

Surya. dimana pada saat ini klien lah yang justru dianggap lebih memiliki peranan pen ting dan aktif dalam proses pengambilan keputusan serta bertanggungjawab sepenuh nya terhadap keputusan yang diambilnya. giving instructi ons (memberikan petunjuk). Hal ini tentu saja tidak sesuai lagi dengan arah perkembangan dewasa ini . Sedangkan menurut W. menentukan. Sertzer & Stone (1966) menemukakan bahwa guidance beras al kata guide yang mempunyai arti to direct. keluarga dan masyarakat. Surya. Untuk memahami lebih jauh tentang penger tian bimbingan.al. conducting (menuntun). Djumhur dan Moh.C. di bawah ini dikemukakan pendapat dari beberapa ahli : Miller (I . kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) . or steer (menunjukk an. mengatur. United States Office of Education (Arifin. manager. Intisari Bacaan 1. 1978) memberik an rumusan bimbingan sebagai kegiatan yang terorganisir untuk memberikan bantuan secara sistematis kepada peserta didik dalam membuat penyesuaian diri terhadap berbagai bentuk problema yang dihadapinya. Djumhur dan Moh. governing (mengarahkan) dan gi ving advice (memberikan nasehat). Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling a. agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirinya (self understanding). pilot. sosial dan pribadi. 2004) mendefiniskan bimbingan sebagai : the process of helping the individual to understand himself and his world so that he can utili ze his potentialities. I. 1975) mengartikan bimbingan sebagai proses bantuan ter hadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan pen yesuaian diri secara maksimum di sekolah. Pengertian Bimbing an dan Konseling Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang didalamnya te rkandung beberapa makna. jabat an. atau mengemudikan). kemampuan untuk menerima dir inya (self acceptance). Dalam pelaksanaannya. (1975) berpendapat bahwa bimb ingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis ke pada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. (1970) mengemukakan : “gui dance is the help given by one person to another in making choice and adjusment and in solving problem. leading (memimpin).S. Jones et. Penggunaan istilah bimbingan seperti dikemukak an di atas tampaknya proses bimbingan lebih menekankan kepada peranan pihak pemb imbing. Winkel (198 1) mengemukakan bahwa guidance mempunyai hubungan dengan guiding : “ showing a way” (menunjukkan jalan). kesehatan. regulating (mengatur). misalnya problema kependidikan. Peters dan Sh ertzer (Sofyan S. bimbingan harus mengara hkan kegiatannya agar peserta didik mengetahui tentang diri pribadinya sebagai i ndividu maupun sebagai anggota masyarakat. Willis.

dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan pote nsi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan, baik ke luarga, sekolah dan masyarakat. Dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 ten tang Pendidikan Menengah dikemukakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diber ikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan, d an merencanakan masa depan”. Prayitno, dkk. (2003) mengemukakan bahwa bimbingan da n konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bimbingan pri badi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karier, melalui berbaga i jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku. Da ri beberapa pendapat di atas, tampaknya para ahli masih beragam dalam memberikan pengertian bimbingan, kendati demikian kita dapat melihat adanya benang merah, bahwa : Bimbingan merupakan upaya untuk memberikan bantuan kepada individu atau peserta didik.. Bantuan dimaksud adalah bantuan yang bersifat psikologis. Tercap ainya penyesuaian diri, perkembangan optimal dan kemandirian merupakan tujuan ya ng ingin dicapai dari bimbingan. Dari pendapat Prayitno, dkk. yang memberikan pe ngertian bimbingan disatukan dengan konseling merupakan pengertian formal dan me nggambarkan penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dal am sistem pendidikan nasional. Keberadaan layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang panjang, sejak kuran g lebih 40 tahun yang lalu. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali p ergantian istilah, semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 d an sebelumnya), kemudian pada Kurikulum 1994 dan Kurikulum 2004 berganti nama me njadi Bimbingan dan Konseling. Akhir-akhir ini para ahli mulai meluncurkan sebut an Profesi Konseling, meski secara formal istilah ini belum digunakan. Untuk kep entingan penulisan ini, penulis akan menggunakan istilah Bimbingan dan Konseling sesuai dengan istilah formal yang saat ini dipergunakan dalam sistem pendidikan nasional. b. Orientasi Baru Bimbingan dan Konseling Pada masa sebelumnya (atau mungkin masa sekarang pun, dalam prakteknya masih ditemukan) bahwa penyelenggara an Bimbingan dan Konseling cenderung bersifat klinis-therapeutis atau menggunaka n pendekatan kuratif, yakni hanya berupaya menangani para peserta didik yang ber masalah saja. Padahal kenyataan di sekolah

jumlah peserta didik yang bermasalah atau berperilaku menyimpang mungkin hanya s atu atau dua orang saja. Dari 100 orang peserta didik paling banyak 5 hingga 10 (5% - 10%). Selebihnya, peserta didik yang tidak memiliki masalah (90% -95%) ker apkali tidak tersentuh oleh layanan bimbingan dan konseling. Akibatnya, bimbinga n dan konseling memiliki citra buruk dan sering dipersepsi keliru oleh peserta d idik, guru bahkan kepala sekolah. Ada anggapan bimbingan dan konseling merupakan “polisi sekolah”, tempat menangkap, merazia, dan menghukum para peserta didik yang melakukan tindakan indisipliner. Anggapan lain yang keliru bahwa bimbingan dan k onseling sebagai “keranjang sampah” tempat untuk menampung semua masalah peserta did ik, seperti peserta didik yang bolos, terlambat SPP, berkelahi, bodoh, menentang guru dan sebagainya. Masalah-masalah kecil seperti itu dapat diantisipasi dan d iatasi oleh para guru mata pelajaran atau wali kelas dan tidak perlu diselesaika n oleh guru pembimbing. Mengingat keadaan seperti itu, kiranya perlu adanya orie ntasi baru bimbingan dan konseling yang bersifat pengembangan atau developmental dan pencegahan pendekatan preventif. . Sofyan. S. Willis (2004) mengemukakan ba ru bimbingan dan konseling, yaitu : landasan-landasan filosofis dari orientasi 1. Pedagogis; artinya menciptakan kondisi sekolah yang kondusif bagi perkembanga n peserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual diantara peserta didik . 2. Potensial, artinya setiap peserta didik adalah individu yang memiliki poten si untuk dikembangkan, sedangkan kelemahannya secara berangsur-angsur akan diata sinya sendiri. 3. Humanistik-religius, artinya pendekatan terhadap peserta didik haruslah manusiawi dengan landasan ketuhanan. peserta didik sebagai manusia dia nggap sanggup mengembangkan diri dan potensinya. 4. Profesional, yaitu proses bi mbingan dan konseling harus dilakukan secara profesional atas dasar filosofis, t eoritis, yang berpengetahuan dan berketerampilan berbagi teknik bimbingan dan ko nseling. Dengan adanya orientasi baru ini, bukan berarti upaya-upaya bimbingan d an konseling yang bersifat klinis ditiadakan, tetapi upaya pemberian layanan bim bingan dan konseling lebih dikedepankan dan diutamakan yang bersifat pengembanga n dan pencegahan. Dengan demikian, kehadiran bimbingan dan konseling di sekolah akan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh peserta didik, tidak hanya bagi pes erta didik yang bermasalah saja. c. Fungsi Bimbingan dan Konseling Dengan orient asi baru Bimbingan dan konseling terdapat beberapa fungsi yang hendak dipenuhi m elalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. yaitu:

1. Pemahaman; 2. 3. 4. 5. menghasilkan pemahaman pihak-pihak tertentu untuk pengembangan dan pemacahan mas alah peserta didik meliputi : (a) pemahaman diri dan kondisi peserta didik, oran g tua, guru pembimbing; (2) lingkungan peserta didik termasuk di dalamnya lingku ngan sekolah; dan keluarga peserta didik dan orang tua; lingkungan yang lebih lu as, informasi pendidikan, jabatan/pekerjaan, dan sosial budaya/terutama nilai-ni lai oleh peserta didik. Pencegahan; menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya p eserta didik dari berbagai permasalahan yang timbul dan menghambat proses perkem bangannya. Pengentasan; menghasilkan terentaskannya atau teratasinya berbagai pe rmasalahan yang dialami peserta didik. Advokasi; menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hakhak dan/atau kepentingan pendidikan. Pemeliharaan dan pengembangan; terpelihara dan terkembangkannya berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berke lanjutan. d. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling : Sejumlah prinsip mendasari gerak langk ah penyelenggaraan kegiatan bimbingan dan konseling. Prinsip-prinsip ini berkait an dengan tujuan, sasaran layanan, jenis layanan dan kegiatan pendukung, serta b erbagai aspek operasionalisasi pelayanan bimbingan dan konseling. Prinsip-prinsi p tersebut adalah : 1. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan; (a ) melayani semua individu tanpa memandang usia, jenis kelamin, suku, agama dan s tatus sosial; (b) memperhatikan tahapan perkembangan; (c) perhatian adanya perbe daan individu dalam layanan. 2. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan permasalah an yang dialami individu; (a) menyangkut pengaruh kondisi mental maupun fisik in dividu terhadap penyesuaian pengaruh lingkungan, baik di rumah, sekolah dan masy arakat sekitar, (b) timbulnya masalah pada individu oleh karena adanya kesenjang an sosial, ekonomi dan budaya. 3. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program pelayanan Bimbingan dan Konseling; (a) bimbingan dan konseling bagian integral d ari pendidikan dan pengembangan individu, sehingga program bimbingan dan konseli ng diselaraskan dengan program pendidikan dan pengembangan diri peserta didik; ( b) program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutu han peserta didik maupun lingkungan; (c) program bimbingan dan konseling disusun dengan mempertimbangkan adanya tahap perkembangan individu; (d) program pelayan an bimbingan dan konseling perlu diadakan penilaian hasil layanan.

serta mengurangi atau mengaburkan hasil layanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu sendiri. 2. Betapa pentingnya as as-asas bimbingan konseling ini sehingga dikatakan sebagai jiwa dan nafas dari s eluruh kehidupan layanan bimbingan dan konseling. baik dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang bergu na bagi pengembangan dirinya. maka penyelenggaraan bimbingan dan konseling akan berjalan tersendat-sendat atau bahkan terhenti sama sekali. (b) pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya at as kemauan diri sendiri. Apabila asas-asas ini tidak di jalankan dengan baik. Guru pembimbing (konselor) berkewajiban mengembang kan keterbukaan peserta didik (klien). yaitu asas yang men untut dirahasiakannya segenap data dan keterangan peserta didik (klien) yang men jadi sasaran layanan. (a) diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimb ing diri sendiri. Asas. Asas Keterbukaan. 3.4. Asas-Asas Bimbingan dan Konseling Penyelenggaraan layanan dan kegi atan pendukung bimbingan dan konseling selain dimuati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu. sedangkan pengingkarannya akan dapat men ghambat atau bahkan menggagalkan pelaksanaan. g uru pembimbing (konselor) terlebih dahulu bersikap terbuka dan . Asas Kesukarelaan. e. yaitu asas yang menghen daki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap t erbuka dan tidak berpura-pura. dan (e) proses pelayanan bimbingan dan k onseling melibatkan individu yang telah memperoleh hasil pengukuran dan penilaia n layanan. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan. Asas Kerahasiaan (confidential). juga dituntut untuk memenuhi sejumlah asas bimbi ngan. (d) perlu adanya kerja sama dengan personil sekolah dan orang tua dan bila perlu dengan pihak lain yang berk ewenangan dengan permasalahan individu. yaitu asas yang menghendaki adanya kesuka an dan kerelaan peserta didik (klien) mengikuti/ menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya. Guru Pembimbing (konselor) berkewajiban membina dan meng embangkan kesukarelaan seperti itu.asas bimbingan dan kon seling tersebut adalah : 1. Pemenuhan asas-asas bimbingan itu akan memperlancar pelaksanaan dan lebih menjamin keberhasilan layanan/kegiatan. Agar peserta didik (klien) mau terbuka. Dalam hal ini. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak laya k diketahui orang lain. (c) permasalahan individu dilayani oleh tenaga ahli/pro fesional yang relevan dengan permasalahan individu. guru pembimbing (konselor) berkewajiban m emelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar -benar terjamin.

mengarahkan. harmonis dan terpadukan. dan kebiasaan – kebiasaan yang berlaku. peraturan. dan terus berkembang serta ber kelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu .tidak berpura-pura. serta mewujudkan diri sendiri. 8. Asas Kemandirian. yaitu asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan keg iatan bimbingan dan konseling. Asas Kedinamisan. 4. Dalam hal ini. yaitu asas yang menunjukkan pada tujuan umum bimbingan dan konseling. 10. 9. melalui segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling ini harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (klien) dalam memahami. baik norma agama. Guru Pembimbing (konselo r) hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling bagi berk embangnya kemandirian peserta didik. 5. Kondisi masa lampau dan masa depan dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan dengan apa yang ada dan di perbuat peserta didik (klien) pada saat sekarang. menghayati dan men gamalkan norma-norma tersebut. Profesionalitas guru pembimbing (konselor) harus terwujud baik . Guru Pembimbing (konselor) perlu mendorong dan memotivasi peserta didik untuk dapat aktif dalam setiap layanan/kegiatan yang d iberikan kepadanya. ilmu pengetahuan. 6. Asas Kegiatan. kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi amat penting dan harus dilaksanakan sebaikbaiknya. Asas Keterpaduan. Asas Kenormatifan . mampu mengambil keputusan. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun p ihak lain. Asas Keahlian. yaitu asas yang menghenda ki agar obyek sasaran layanan bimbingan dan konseling yakni permasalahan yang di hadapi peserta didik/klien dalam kondisi sekarang. yaitu asas yang menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan ko nseling didasarkan pada norma-norma. saling menunjang. yaitu asa s yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (peserta didik/klie n) hendaknya selalu bergerak maju. Dalam hal ini. Bahkan lebih jau h lagi. dengan ciri-ciri mengenal diri sendiri dan lingkungannya. hukum. 7. yaitu asas yang menghendaki agar peserta d idik (klien) yang menjadi sasaran layanan dapat berpartisipasi aktif di dalam pe nyelenggaraan/kegiatan bimbingan. Asas Kekinian. yaitu asas yang menghendaki ag ar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselnggarakan atas dasar kaidah -kaidah profesional. tidak monoton. yaitu peserta didik (klien) sebagai sasaran layan an/kegiatan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang ma ndiri. adat is tiadat. para pelaksana layanan dan kegiatan bimbinga n dan konseling lainnya hendaknya tenaga yang benar-benar ahli dalam bimbingan d an konseling. Asas keterbukaan ini bertalian erat dengan asas kerahasiaan dan dan kekarelaan.

sosial. latihan. 2. secara tegas dikemukakan bahwa : “Sekolah berkew ajiban memberikan bimbingan dan konseling kepada siswa yang menyangkut tentang p ribadi. dan bimbingan dan konseling merupakan suatu kesatu an yang terpadu. Asas Tut Wuri Handa yani. sehingga p elayanan pengajaran. Keberhasilan penyelen ggaraan bimbingan dan konseling di sekolah. Secara garis besarn ya. atau ahli lain. sebagai berikut : a. Guru pembimbing (konselor)dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. harmonis. dapat mengalihtangankan kasus kepada pihak yang lebih kompeten. tugas dan tanggung jawab kepala sekolah. baik yang berada di dalam lembaga sekolah maupun di luar sekolah. tenaga. yaitu asas yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa aman). tidak lepas dari peranan berbagai pi hak di sekolah.dalam penyelenggaraaan jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling dan dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. dan karier”. dan be rbagai kemudahan bagi terlaksananya pelayanan bimbingan dan konseling yang efekt if dan efisien. Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan da n Konseling Dalam kurikulum 2004. Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan p elaksanaan program. Dengan adanya kata “kewajiban”. 11. Kepala sekolah selaku penanggung ja wab seluruh penyelenggaraan pendidikan di sekolah memegang peranan strategis dal am mengembangkan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Selain Guru Pembimbing atau Konselor sebagai pelaksana utama. b. pe nyelenggaraan Bimbingan dan konseling di sekolah. sebaliknya guru pembimbing (kons elor). dan memberikan rangsangan dan dorongan. Mengkoo rdinir segenap kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di sekolah. guru mata pelajaran dan wali kelas. Demikian pula. . maka setiap seko lah mutlak harus menyelenggarakan bimbingan dan konseling. penilaian dan upaya tidak lanjut pelayanan bimbingan dan kon seling. guru-guru lain. serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk maju. mengemba ngkan keteladanan. belajar. Menyediakan prasarana. c. Peranan Kepala Sekolah. peran. 12. Asas Alih Tangan Kasu s. yaitu asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggaraka n layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalaha n peserta didik (klien) kiranya dapat mengalihtangankan kepada pihak yang lebih ahli. juga perlu melibatkan kepala s ekolah . dan dinamis.

khusu snya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. Mengalihtangankan siswa yang memerluka n pelayanan bimbingan dan konseling kepada Guru Pembimbing d. Membantu Guru Pembimbing mengidentifi kasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling. yaitu siswa yang menuntut Guru Pembimbing memerlu kan pelayanan pengajar /latihan khusus (seperti pengajaran/ latihan perbaikan. . untuk mengikuti/menjalani layanan dan/atau kegiatan bimbingan dan konseling. Membantu memasyarakatkan pelayan an bimbingan dan konseling kepada siswa b. mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan ko nseling kepada Guru Pembimbing. Wali Kelas berperan : a. tugas dan tanggung jawab guru-guru mata pela jaran dalam bimbingan dan konseling adalah : a. konkret. g. dan dukungan dalam kegiatan kepengawasan yang dilakukan oleh Pengawas S ekolah Bidang BK. memahami dan meng hargai tanpa syarat. dan e. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masa lah siswa. Membantu mengembangkan suasana kelas. Willis (2005) mengemukakan bahwa gur u-guru mata pelajaran dalam melakukan pendekatan kepada siswa harus manusiawi-re ligius. d. ramah. e. Menerima siswa ali h tangan dari Guru Pembimbing. Sofyan S. Menyediakan fasilitas. bersahabat. mendorong. Sebagai pengelola kelas tertentu dalam pelayanan bimbingan dan kon seling. membantu Guru Pembimbing melaksanakan tugas-tug asnya. c. berpa rtisipasi aktif dalam kegiatan khusus bimbingan dan konseling. f. Sedangkan. serta pengumpu lan data tentang siswa-siswa tersebut. khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya. c. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan la yanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani layanan/kegiat an yang dimaksudkan itu. kes empatan. e. peran. h. khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. Berkenaan peran guru mata pelajaran dan wali kel as dalam bimbingan dan konseling. seperti konferens i kasus. Membantu pengumpulan informasi yang dipe rlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tind ak lanjutnya. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling Di sekol ah kepada Dinas Pendidikan yang menjadi atasannya. p rogram pengayaan). b.d. hubungan guru-siswa dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan k onseling. jujur dan asli. membantu Guru Mata Pelajaran melaksanakan peranannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling. seperti konferensi kasus. membantu memberikan kesempatan d an kemudahan bagi siswa.

m erupakan layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyal uran di dalam kelas. Untuk lebih jelasnya. sosial. 2. karier. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. di bawah ini akan diuraikan tujuh jenis layanan dan lima k egiatan pendukung bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam pendidi kan nasional. pergaulan. Sedan gkan kegiatan pendukung merupakan kegiatan untuk menopang terhadap keberhasilan layanan yang diberikan. jurusan/program studi. sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awa l semester. Layanan informasi pun berfungsi untu k pencegahan dan pemahaman. program latihan. dengan tujuan agar peserta didik dapat meng embangkan segenap . kegiatan ko/ekstra kurikuler. Layanan Pembelajaran. 3. a. m agang. baik dalam jenis layanan maupun kegiatan pen dukung. dengan tujuan agar pes erta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. dalam bidang pribadi. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai materi belaj ar atau penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. Layanan Orientasi. Namun sangat mungkin k e depannya akan semakin berkembang. merupakan layanan y ang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. Layanan orientasi merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memahami ling kungan baru. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru i tu. Tujuan layanan inf ormasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. Kegiatan Layanan Bimbingan dan Konseling 1. Layanan pe mbelajaran berfungsi untuk pengembangan. Para ahli bimbingan di Indonesia saat ini sudah mulai meluncurkan dua je nis layanan baru yaitu layanan konsultasi dan layanan mediasi. Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional saat ini terdapat tujuh jenis layanan dan lima kegiatan pendukung. Namun. yang ber fungsi untuk pencegahan dan pemahaman. belajar maupun karier berdasarka n informasi yang diperolehnya yang memadai. Layanan Penempatan dan Penyaluran. 4.3. kelompok belajar. Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling Kegiatan layanan merup akan kegiatan dalam rangka memenuhi fungsi-fungsi bimbingan dan konseling. pendidikan lanjutan). Layanan Informasi. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. kedua jeni s layanan ini belum dijadikan sebagai kebijakan formal dalam sistem pendidikan.

Kegiatan Pendukung Bimbingan dan Konseling U ntuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukak an di atas.bakat. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan perm asalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainn ya. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman da n Pengembangan 7. minat dan segenap potensi lainnya. 5. 6 . merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengenta skan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. merupakan kegiatan u ntuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengem bangan peserta didik. terpadu dan sifatnya tertutup. b. merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keteran gan tentang peserta didik. terdapat lima jenis kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu me lalui dinamika kelompok. baik tes maupun non tes. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok. Layanan Konseling Perorangan. dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristikn ya dan memahami karakteristik lingkungan. Himpunan Data. sistem atik. merupakan layanan yang memungkinan sejumlah pesert a didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan memba has pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan ke mampuan sosial. yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen. komprehensif. Tujuan layanan kons eling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihad apinya. Apl ikasi Instrumentasi Data. 2. Layanan Konseling Kelompok. Layanan Penempatan dan Penyaluran berf ungsi untuk pengembangan. yaitu : 1. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembang an kemampuan sosial. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan da n pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. kiranya perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung Dalam hal ini . . Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan.

ke mudahan. 4. merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didi k dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan ket erangan. merupakan upaya untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarg a untuk mengentaskan permasalahan klien. 4. . prosedur bimbingan dan konseling dapat ditempuh melalui prosedur seperti tampak dalam bagan beriku t : Datang Sendiri/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari In formasi yang Ada/Dicari Identifikasi Kasus Identifikasi Masalah Diagnosis Prognosis Remedial/Referal Eva luasi/Follow Up a. Identifikasi kasus. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan. melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik sec ara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. Kunjungan Rumah. Konferensi Kasus. dokter serta ahli lainnya. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih ko mpeten. Pertemua n konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kun jungan rumah klien. 5. yakni : 1. keterangan. Call them approach. Tujuan konferensi kasus adala h untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan kli en.3. merupakan kegiata n untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalaha n yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebi h kompeten. merupakan kegiatan untuk memperoleh data. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makm un (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi p eserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling. seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling Secara umum. kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Alih Tangan Kasus.

karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kega galan belajar yang dihadapi peserta didik. de ngan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan peny esuaian sosial b. (4) ekonomi d an keuangan. (6) pendidikan dan pelajaran. proses. menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta did ik akan masalah yang dihadapinya. sikap serta kondisi-kondisi p sikis lainnya. dan atau (4) personality. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik. yaitu : (1) faktor internal. Maintain good relationship. bakat. W. Prognosis. tes bakat. Developing a desire for counseling. faktor yang b esumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri. penuh keakraban s ehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik . b isa dilihat dari segi input. 5. nilai dan moral. Melakukan analisis sosiometris. seperti : lingkungan rumah. Untuk mengidentifikasi masalah peserta didik. lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan . langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahan nya. Dala m konteks Proses Belajar Mengajar. (9) keadaan dan hubungan keluarga. menciptakan hubungan yang baik. dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). misalnya melalui kegiatan ekstra kuri kuler. emosi. (5) karier dan pekerjaan. dan (10) waktu senggang. rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. Melakukan analisis terhadap hasil belajar pes erta didik. seperti : kondisi jasmani dan kesehatan. Burton mem bagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik. seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan. dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupay akan berbagai tindak lanjutnya. permasalahan peserta didik dapat berkenaan de ngan aspek : (1) substansial – material. c.H. d. seperti tes inteligens i. 4. kecerdasan. upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. (2) struktural – fungsional. Instrumen ini sangat membant u untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik. (2) diri pribadi. kepribadian. Identifikasi Masalah. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan pese rta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes. ataupun out put belajarnya. Prayit no dkk. 3. (7) agama. (8) hubungan muda-mudi. Diagnosis. (3) hubungan sosial. (3) behavioral . Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar peserta didik.2. dan (2) faktor eksternal. langkah ini merupakan upaya untuk memaha mi jenis. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pad a hubungan kegiatan belajar mengajar saja.

7. jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbi ng sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten. Namun. evaluasi atas usaha pemecahan masal ah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling. sesuai dengan dasar pertimbang an dan keputusan yang telah diambilnya. 3. Sementara itu. Proses mengambil keput usan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas. Peserta didik telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. 4. cara manapun yang ditempuh. Ro binson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari k eberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan. de ngan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani k asus . Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu : 1. Evaluas i dan Follow Up. pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimb ing itu sendiri. 2. Pese rta didik telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. untuk melihat seberapa penga ruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. Peserta didik telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perba ikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan r asional. Perasaan positif sebagai dampak dari p roses dan materi yang dibawakan melalui layanan. yaitu apabila: 1. 2. 5. Pese rta didik telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan ma salahnya secara obyektif (self acceptance). jika j enis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembel ajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pem bimbing.kasus yang dihadapi. f. Peserta didik telah menurun penentan gan terhadap lingkungannya 6. Rencana kegiatan yang ak an dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewu judkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus). Peserta didik telah menurun keteg angan emosinya (emotion stress release). e. .menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. dan 3. Peserta didik mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan.

namun perlu diingat bahwa tidak semua masalah peserta didik harus ditangani oleh Guru Pembimbing (ko nselor). perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. Proses Konseling dan Teknik-Teknik Konseling Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. Masalah (kasus) berat. kes ulitan belajar. dengan berkonsultasi dengan kepala seko lah. bertengkar. guru dan sebagainya. memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebi h dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan . Masalah (kasus) sedang. poli si. kesulitan belajar pada bid ang tertentu. Kasus ringan dibimbing oleh wali kel as dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing ) dan mengadakan kunjungan rumah. peserta didik hamil.5. Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah Bimbingan terhadap peserta didik bermasalah tetap menjadi perhatian bimbingan dan konseling. Oleh karena itu. seperti : gangguan emosional. Dalam hal ini. dokter. mencuri kelas ringan. mencuri kelas sedang. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kas us. Dalam prakteknya. pelaku kriminalitas. berpacaran. Masalah (kasus) ringan. percobaan b unuh diri. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik . malas. seperti : gangguan emosional berat. berkelahi antar sekolah. Kasus sedang di bimbing oleh guru pembimbing (konselor). dengan perbuatan menyimpang. ahli/profesional. Sofyan S. tampaknya untuk lay anan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. kecand uan alkohol dan narkotika. b. berpacaran. minum minuman keras ta hap awal. Karena layanan yang sa tu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. Dapat pula mengadakan konfer ensi kasus. berkelahi dengan teman sekolah. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. Kasus berat dilaku kan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. melakukan gangguan sosial dan asusila. minum minuman keras tahap pertengah an. c. seperti : membolos. karena gangguan di keluarga. sebagaimana dalam bagan berikut : Ringan Masalah peserta didik Sedang Berat Semua Guru/Wali Kelas Guru Pembimbing Alih Tangan Kasus a. polisi. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah b erserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. 6.

Kontrak kerja sama dalam proses konseling. maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. yaitu berapa la ma waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. c. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama a ntara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. 3. kesukarelaan. Kunci keberhasilan m embangun hubungan terletak pada terpenuhinya asasasas bimbingan dan konseling. 2 . Kontrak waktu. 1. d. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. Menegosiasikan kontrak Membangun per janjian antara konselor dengan klien. Kontrak tugas. berisi : 1. Pada tahap ini terda pat beberapa hal yang harus dilakukan.konseling. Taha p Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. (2) tahap inti (tahap kerja). keterbukaan. 2. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). Memperjela s dan mendefinisikan masalah. dan menentukan berbagai alterna tif yang sesuai bagi antisipasi masalah. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. b. Membuat penaksiran dan perjajagan Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. Menjelajahi dan mengeksp lorasi masalah klien lebih dalam. sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pen gentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. dan kegiatan. t erutama asas kerahasiaan. a. . Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masa lah klien. Proses Konseli ng Secara umum. Me mbangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). proses konseli ng selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. diantaranya : a. diantaranya : a. dan (3) tahap akh ir (tahap perubahan dan tindakan). yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien.

c. c. yaitu : (1) teknik umum dan (2) teknik khusus. Teknik U mum Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapantah apan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh kon selor. diantaranya : . ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadap i klien. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. b. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. Tahap Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terd apat beberapa hal yang perlu dilakukan. Pemahaman baru dari klien t entang masalah yang dihadapinya. Menurunnya kecemasan klien Perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. Teknik-Teknik Konseling Dalam konseling perorangan terdapat dua jenis teknik yang biasa dilakukan. yaitu : a. serta menampakan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Menyusun rencana tindakan yang a kan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. sehat dan dinamis. 2. Adanya rencana hidup masa yang akan datang deng an program yang jelas. d. di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. yaitu . d. Untuk lebih jelasnya. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian sege ra). Konselor bersama klien membua t kesimpulan mengenai hasil proses konseling b. Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konse ling.Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. Konselor melakukan reassessment (p enilaian kembali). 1. c. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. 3. Hal ini bisa terj adi jika : 1. baik oleh pihak konselor maupun klien. b. b. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. a. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik kons eling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur.

Empati dilakukan sejalan dengan per ilaku attending. yaitu bentuk empati yang hanya berusah a memahami perasaan. Contoh perilak u attending yang baik : 1. 5. Menciptakan suasa na yang aman 3. 4. duduk akrab berhadapan atau berdamping an. b. jarak duduk dengan klien menjauh. Empati Empati ialah kemamp uan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien. Kepala : melakukan anggukan jika setuju 2. ekspresi melamun. Empati primer. Perilaku at tending yang baik dapat : 1. merasa dan berfikir bersa ma klien dan bukan untuk atau tentang klien. dan bahasa lisan. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. 3. tidak melihat saat klien sedang bicara. Contoh perilaku attending yang tidak baik : 1. Ekspresi w ajah : tenang. menggunakan tangan sebagai isyarat. 2. duduk kurang akrab dan berpaling. miring. Posisi tubuh : tegak kaku. Contoh ungkapan empati primer : . Per hatian : terpecah.a. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. Kepala : kaku 2. 5. Mendengar kan : aktif penuh perhatian. ceria. mata melotot. pikiran dan keinginan klien. yaitu : a. Memutuskan pembicaraan. mengalihkan pandangan. 4. Terdapat du a macam empati. menunggu ucapan klien hingga selesai. perhatian terarah pada lawan bicara. Muka : kaku. berbicara terus tan pa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. mudah buyar oleh gangguan luar. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. bahasa tubuh. jarak antara konselor dengan klien agak dekat. Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. bersandar. diam (menanti saat kesempatan bereaksi). Meningkatkan harga diri klien. senyum 3. dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka.

.” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah.” 3. ” Sa ya mengerti keinginan Anda”. Refleksi pikiran. yaitu teknik untuk memantulkan pengalamanpengalaman klien seba gai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien... Refleksi peras aan. dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terha dap perilaku verbal dan non verbal klien.. yaitu : 1. c.. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : ”Saya dapat merasakan apa yang Anda ras akan. . pikiran. yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebag ai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien.. b. .. pikiran.. yaitu teknik u ntuk memantulkan ide.” ” Barangkali Anda merasa... pengalaman termasuk penderitaanny a. Contoh : ” Tamp aknya yang Anda katakan adalah . ” Saya dapat memahami pikiran Anda”. yaitu empati apabila kepaha man konselor terhadap perasaan..” ” Adakah yang Anda maksudkan. Keiku tan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam. berupa perasaan. Empati tingkat tinggi. Terdapat tiga jenis refleksi...(kiasan)” ” Adakah yang Anda maksudkan. pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih m endalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. Ref leksi pengalaman. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan.” ” Hal itu rupanya sep erti .. dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”. pikiran. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentan g perasaan.” 2..” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”. dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku v erbal dan non verbalnya.

Eksplorasi pengalaman.. yaitu : 1. Hal ini penting d ilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin. yaitu teknik untuk menggali ide. biasanya ditandai . Seperti halnya pada teknik re fleksi.Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu.” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah. dan pengalaman klien. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan. Eksplorasi peras aan. dan pendapat klien. pikiran. menutup diri.. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangka p Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien. yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. Contoh : ” Sa ya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bek erja” ” Saya kira pendapat Anda mengenai hal itu baik. pikiran. terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi... atau tidak m ampu mengemukakan pendapatnya. Dapatkah Anda menguraikannya lebih lanjut ? 3.” ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam.” ” Adakah yang Anda maksudkan peristiwa. tertekan dan terancam.. yaitu keterampilan atau teknik untuk me nggali pengalaman-pengalaman klien... Eksplorasi pi kiran. mengungkapkan kalim at yang mudah dan sederhana. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ?” 2.” d. Contoh : ” B isakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan . Contoh : ” Saya terkesan dengan pengalaman yan g Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut da n pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” e...

pengalaman dan pemikiranny a dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). : ” Empat ” : ” Sekarang berapa ” Konselor Klien Konselor . : ” Itu suatu pe kerjaan yang baik. Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” ” Bagaimana perasaan Anda saat ini ?” ” Dapatkah Anda mengemukakan hal itu lebih lanju t ?” g. bagaimana. Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada kli en bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan kli en. yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-ka ta singkat. dan mengamati respons klien terhada p konselor. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus m enggunakan pertanyaan terbuka. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tent ang apa yang dikemukakan klien. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatk an prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-s ebabnya. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan . Contoh dialog : Klien Konselor f. dan (3) menghentikan pembicaraan klien yan g melantur atau menyimpang jauh. akan tetapi saya tidak mengambilnya. Pertanyaan yang d iajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. dapatkah. adakah . (3) mem beri arah wawancara konseling.dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya.” Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk meman cing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. Pertan yaan semacam ini akan menyulitkan klien. Oleh karenanya. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan perta nyaan tertutup. : ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” : ” Tampaknya Anda masih ragu. (2) m enjernihkan atau memperjelas sesuatu. lebih baik gunakan kata tanya apakah.

dan saya nyaris.. Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemuk akan klien. lalu... Dorongan ini diberikan pada saat klien akan me ngurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien.dan.Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh. n amun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalka n SMA”.. dengan tujuan untuk me mberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dar i hasil rujukan baru tersebut.” Konselor Klien : ” nekad bunuh diri” : ” lalu.” Konselor i. Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan... bukan pandangan subyektif konselor. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau me nghayalkan sesuatu.. karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya. ...Klien : ” Sebelas ” h. ya.. terus. Membantu orang tua memang harus. Karena tantangan masa depan makin banyak. Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran. Terutama hi dup di kota besar seperti Anda.. ” (klien menghentika n pembicaraan) : ” ya.. Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melaku kan sesuatu. maka d ibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas...” : ” Pendidikan t ingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara. perasaan dan pengalaman klien dengan meru juk pada teori-teori.. Konselor j.... .... Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhent i sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga..

kedua. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan A nda segera menyelesaikan studi. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” m. konselor seyogyanya dap at membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. namun masih ada hambatan yang akan hadapi. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembi caraan. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. (3) meningkatkan kualitas diskusi. Tapi bagaimana ya?” masalah : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja.” Konselor k. Misalnya den gan mengatakan : . Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alan gkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. baga imana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda. Oleh karena itu. C ontoh dialog : Klien Konselor :” Saya mungkin berfikir juga tentang hubungan denga n pacar. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . Tujuan menyimpulkan semen tara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan. (4) mempertajam foku s pada wawancara konseling. kita sudah sampai pada dua hal: pertama. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntuta n dari perusahaan yang akan Anda masuki. klien akan mengungkapkan sejumla h permasalahan yang sedang dihadapinya. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pemb icaraan secara bertahap.Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementar a pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. Pada umumnya dalam wawancara konseling. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan. Saya tak dapat lagi menahan diri. Ak hirnya terjadi pertengkaran sengit.” l.” : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya.

Co ntoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri o leh kaum wanita. Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. atau kontradiksi dalam dirinya. Fokus mengenai budaya. Contoh dialog : Klien : ” Saya baik-baik saja”. (suara rendah. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki. senyum dengan kepedihan. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? P ikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. yaitu dengan : (1) membe ri komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yan g tepat. Contoh : ” Tanti. 4. Ada beberapa yang dapat dilakukan. Peng gunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. (3) dilakukan dengan perilaku att ending dan empati. Fokus pada orang lain. Fokus pada diri klien. wa jah murung.(2) tidak menilai apalagi menyalahkan.” . Fokus pada topik. ide awal dengan ide berikutnya. Co ntoh : ” Roni. posisi tubuh gelisah). di antaranya : 1. telah membuat kamu menderita. (3) membawa klien ke pada kesadaran adanya diskrepansi. ” Tampaknya Anda berjuang sendirian” 2. konflik. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan pe nelitian diri secara jujur.” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan A nda dengan orang tua yang kurang harmonis ”. dan sebagainya.” n. (2) meningkatkan potensi klien. Konfrontasi Yaitu t eknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan d engan perbuatan atau bahasa badan.

” (diam) Konselor Klien :” Saya.. tapi kelihatannya ada yang tidak beres” ”Saya melih at ada perbedaan antara kenyataan diri ”.. tidak tahu. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pem impin di rumah itu... ungkapan kata-kata yang tega s.Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja. dan penga lamannya secara bebas Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya.. dan dengan alasan-alasan yang logis.” : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah.... Tujuannya adalah : (1) mengu ndang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas. kurang jelas dan agak meragukan. Mengambil Inisiatif . atau saudara-saudara Anda. Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar. Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi d i keluarga saya membuat saya bingung.. pikiran.. (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara...harus bagaimana... Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” :”... Diam Teknik diam dilakukan deng an cara attending... Saya.. :”. ucapan dengan o.... (2) sev agai protes jika klien ngomong berbelit-belit..” (diam) Konselor r.. mengulang da n mengilustrasikan perasaannya.. (2) agar klien menjelaskan.” q. paling lama 5 – 10 detik. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya.” Konselor p.. komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal.. Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien de ngan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan. ibu..... Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir.

sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya.com di internet”. Contoh : ” Nah. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kur ang semangat. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan. dan kurang parisipatif. p erbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. sering d iam. s. dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya . Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling y akni kemandirian klien harus tetap tercapai. konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nase hat atau tidak. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia. Memberi N asehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. Contoh respons konselor terhadap pe rmintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab. terutama mengenai kecemasan. Walaupun dem ikian.Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara.upi. (2) memantapkan rencana klien. Coba Anda renungkan kembali”. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam me nuntaskan diskusi. u. saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www. Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembic araan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir ses i konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action). jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. apakah tidak lebih b aik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” v. (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan. Contoh: ” Baiklah. Kalau pu n konselor mengetahuinya. saya pikir Anda mempunyai s atu keputusan namun masih belum keluar. (3) pemahaman baru .” t.

Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengaj arkan klien untuk rileks. Jadi desensitisasi sistematis hakekatn ya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperku at secara negatif biasanya merupakan kecemasan. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disen anginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Ration al Emotive Theraphy. Dalam hal ini k onselor . Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. d. yaitu : a. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikeh endaki dapat dihilangkan secara bertahap. 2. kesulitan menyata kan tidak. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang d iperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku y ang akan dihilangkan. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Stimulus yang tidak menyenangkan yan g disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang t idak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. c. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Diskusi-diskusi kelomp ok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya a dalah layak atau benar. dalam hal-hal te rtentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutny a. Teknik-Teknik Khu sus Dalam konseling. Teknik-teknik khusus ini dikemban gkan dari berbagai pendekatan konseling. jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan. dan ia menyertakan respon yang b erlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilak u baru pada klien. Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling. seperti pendekatan Behaviorisme. b.klien. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. di samping menggunakan teknik-teknik umum.

misalnya : 1. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu a pa yang harus saya katakan sekarang. Misalnya : “Saya merasa jenuh. e. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan u ntuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada me mproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampakny a mekanis. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderung an under dog. g. Kecenderungan orang tua lawan kecenderun gan anak. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah.. 3.menunjukkan kepada klien tentang perilaku model. Bermain Proyeksi P royeksi : . Kecend erungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”. dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahu an itu”. Melalui dialog yang kontradiktif ini. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien ak an perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari k onselor. Kecenderungan otonom lawan kecende rungan tergantung. Permainan Dial og Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kec enderungan yang saling bertentangan. dapat menggunakan model audio. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “ku rsi kosong”.. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. 5. 4. f. model fisik. Dalam teknik ini konselor memint a klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pern yataan itu dengan kalimat : “. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya kl ien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resik o. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh.dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. “Saya malas. 2.

mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah a spek-aspek .Memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau m elihat atau menerimanya Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memant ulkannya kepada orang lain. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang le bih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. klien diharapkan dapat me ngurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional da n tidak logis. T eknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. perasaan-perasaan yang dipantulkan k epada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Sering terjadi. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku t ertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mend asarinya. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perila ku yang diharapkan. j. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakuta n atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk men yelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu . Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klie n yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sa ngat ingin menghindarinya. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenang kan. Misalnya : konselor member i kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu ya ng berlebihan. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang ber kebalikan dengan perasaanperasaan yang dikeluhkannya. Dengan tugas rumah yang diberikan. Home work assigments. Dalam teknik bermain proyek si konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang di proyeksikan kepada orang lain. membiasaka n diri. h. i.

b. Latihan : Soal : 1. baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal. c. l. kecuali : a. Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. Bimbingan dan konseling meru pakan upaya untuk membantu mengatasi masalahmasalah yang dihadapi peserta didik. da lam bimbingan pribadi.kognisinya yang keliru. keluarga dan masyarakat. Di bawah ini merupakan pengertian bimbingan dan konseling. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian r upa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui pera n tertentu. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas ya ng diberikan. bimbingan belajar. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. mendorong. bimbingan sosial. d. kepercayaan pad a diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. dan merencanakan masa depan. . dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus meny esuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. k. m. Teknik ini dimaksu dkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. Bimbingan dan konseling merupakan layanan bantuan untuk peserta didik. Bimbingan dan konseling merupak an bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi. D. Bimbi ngan dan konseling merupakan proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah. dan bimbingan karier . Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. m engenal lingkungan. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tert entu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif .

Program bimbingan dan konseling h arus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan. Oleh karena itu. Pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas kemauan diri sen diri b. b. a. Pemahaman dan pencegahan Pengembangan Advokasi Pengentasan 3. dan c benar Orientasi dan Informasi Konseling Perorangan dan Konseling Kelompok Pembelajaran dan Bimbingan Kelompok Penempatan 5. setiap l ayanan yang diberikan kepada peserta didik hendaknya didukung oleh : a. d. keahlian kegiatan. 2. Tujuan dilaksanakan kegiatan konferensi kasus. dan c benar 8. Petugas bimbingan yang profesional Data yang lengkap dan memadai Bekerja sama d engan kalangan profesional lainnya a. kek inian. c. 4. Mencari cara yang terbaik g una menyelamatkan kepentingan dan nama baik klien maupun sekolah. b. Layanan bimbingan dan konseling yang memiliki fungsi pemahaman dan pencegahan . c. Memperoleh keterangan yang lebih lengkap tentang klien dan membangun komitmen dari para pes erta konferensi dalam rangka pengentasan masalah klien. suku. sukarela. je nis kelamin. 6. kedinamisan. b. tut wuri handay ani a. a. b. agama dan status sosial. Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang usia. Bimbingan dan konseling merupakan pekerjaan ilmiah. c. kemandirian. a. Jenis layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tat ap muka untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan diriny a. Orientasi Informasi Konseling Perorangan Pembelajaran 7. berdasarkan norma-norma y ang berlaku. keterpaduan kenormatifan. d. d. a. Di bawah ini merupakan beberapa asas yang harus dipenuhi dalam layanan bimbingan dan konseling. d. b. kerahasiaan. d. b. keterbukaan. b. c. c. Fungsi bimbingan dan konseling yang menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hak-hak dan/atau kepentingan pendidikan. Prinsip bimbingan dan konseling berkenaan dengan sasaran layanan a. a. c. Bimbingan dan konseling diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri.melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. alih tangan kasus. d. . b.

c.” b. Guru pembimbing/konselor Guru dan wali kelas Polisi a. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). d. karena s aya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. a. apabila kasus yang dita ngani berada diluar kemampuan atau kewenangannya. b. Menjelajahi dan mengeksplorasi mas alah klien lebih. d. b dan c ben ar 11. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. Aversi Desensitisasi Latihan asertif Pembentukan Perilaku Model 15. Kegiatan pendukung yang dilakukan guru atau konselor. Permainan dialog . Membangun komitmen dari para peserta konferensi dalam rangka disiplin sekolah . ”Saya dapat memahami pikiran Anda”. dan c benar penegakan 9. d. a.c. c. Penanganan peserta didik yang menunjukkan permasalahan atau perilaku menyimp ang tingkat ringan. d. b. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ? ” d. c. a. c. a. ”Anda mengatakan baik-baik saja. d. ta pi kelihatannya ada yang tidak beres”. Teknik konseling dengan menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Membuat penaksiran dan perjajagan 13. ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendala m. ”Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. Upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timb ulnya masalah peserta didik. c. c. Identifikasi kasus Diagnosis Prognosis Treatment 12. b. berkelahi dengan teman. Kunjungan rumah Ko nferensi kasus Alih tangan kasus Aplikasi instrumentasi data 10. seperti bolos. b. 14. Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanp erasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingg a klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. kecuali a. Imitasi b. b. a. Di bawah ini merupakan hal-hal yang perlu dilakukan pada tahap awal konselin g. d. dapat dilakukan oleh : a. Contoh ungkapan pengg unaan teknik konfrontasi : a. b.

c. Bermain peran d. Home work assigments Uraian 1. Jelaskan orientasi baru bimbi ngan dan konseling ! 2. Jelaskan peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran da lam Bimbingan dan Konseling ! 3. Mengapa guru pembimbing (konselor) perlu menjag a kerahasiaan data klien ? 4. Analisis Kasus : Fulan seorang siswa kelas XI SMA Negeri 1 Nunjauh Disana. Ketika dia masih duduk di bangku kelas VIII SMP, dia te lah menjadi anak yatim dan semenjak itu dia hidup bersama dengan kakek-neneknya, dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Sementara itu, sang ibu sudah satu tahun ini pergi merantau ke Malaysia menjadi TKI di sana namun jarang memberi khabar apalagi memberi kiriman uang untuk anaknya. Berdasarkan catatan absensi yang ada di wali kelas, pada semester yang lalu dia sering tidak masuk sekolah, tanpa al asan yang jelas. Selama bulan Februari 2006, tercatat sudah tujuh hari dia tidak masuk kelas. Padahal ketika masih duduk di kelas X kehadirannya termasuk bagus. Berdasarkan informasi dari rekan sekelasnya, bahwa jika dia tidak masuk kelas, dia suka nongkrong di terminal. Bahkan Andi, kawan sekelasnya, pernah menyaksika n dia dalam keadaan teler di terminal dan sempat meminta paksa uang kepadanya. D alam buku Laporan Pendidikan semester yang lalu, prestasi belajarnya sungguh san gat tidak memuaskan, hampir terjadi pada semua mata pelajaran, kecuali untuk Mat a Pelajaran Kesenian, prestasinya malah jauh berada di atas kawan-kawannya. Keti ka dia masih duduk dibangku SD, dia pernah meraih predikat sebagai Siswa Berpres tasi seKecamatan Nunjauh Disana dan pernah menjadi Juara Pertama Lomba Nyanyi An akAnak se- Kabupaten Nun Jauh Disana. Melihat kondisi demikian, jika dibiarkan t entunya Fulan sangat beresiko tinggi untuk tidak naik kelas bahkan mungkin dikel uarkan dari sekolah. Tugas : Tuntaskan kasus tersebut di atas dengan memperhatik an dan menggunakan prinsipprinsip dan prosedur bimbingan dan konseling !

DAFTAR PUSTAKA Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Rem aja. Calvin S. Hall & Gardner Lidzey (editor A. Supratiknya). 2005. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Chaplin, J.P. (terj. Kartini Kartono ).2005. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : P.T. Raja Grafindo Persada. Depdiknas , 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkata n Tenaga Akdemik Dirjen Dikti --------- 2003. Pedoman Penyelenggaraaan Program P ercepatan Belajar SD, SMP dan SMA. Jakarta : Dirjen Dikdasmen. E. Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep,Karakteristik dan Implementasi.Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya. ---------. 2004. Implementasi Kurikulum 2004; Panduan Pe mbelajaran KBK. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya. Gendler, Margaret E..1992. Lea rning & Instruction; Theory Into Practice. Publishing. New York : McMillan H.M. Arifin. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta. PT Golden Tera yon Press. Hurlock, Elizabeth B. 1980. Developmental Phsychology. New Yuork : Mc Graw-Hill Book Company Moh. Surya. 1997. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung PPB - IKIP Bandung. Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : PT Raja Grafindo. Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendid ikan. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya. National Board for Professional Teaching Standards. 2002 . Five Core Propositions. NBPTS Home Page. <http://www.nbpts.or g/ standards/fivecore.html>. (Accessed, 31 Oct 2002). Prayitno, dkk. 2004. Pedom an Khusus Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdiknas. ----------, dkk. 2004. P anduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Rineka Cipta.

Sofyan S. Willis. 2004.Konseling Individual; Teori dan Praktek. Bandung : Alfabe ta Sudarwan Danim. 2002. Inovasi Pendidikan : Dalam Upaya Meningkatkan Profesion alisme Tenaga Kependidikan. Bandung : Pustaka Setia. Sugiharto.(2005. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Jakarta : PPPG Sumadi Suryabrata. 1984. Psikologi Ke pribadian. Jakarta : Rajawali. Sunaryo Kartadinata.2003. Inventori Tugas Perkemb angan. Bandung : Lab. PPB-UPI Bandung Suyanto dan Djihad Hisyam. 2000. Refleksi dan Reformasi Pendidikan Indonesia Memasuki Millenium III. Yogyakarta : Adi Cita . Syamsu Yusuf LN. 2003. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.. Bandung : PT R osda Karya Remaja. www.puskur.go.id.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful