Pelangi Retak (Bag.

01) Oleh Dewi Anjani PENGGALAN 1 Suatu pagi di sebuah sudut ibukota yang buram Muram Berselimut jelaga hitam Sebuah potret pagi yang terperangkap miris Mengiris Ditingkahi gerimis Rintik dan begitu ritmis... Menyapa sudut hati yang tersipu... Tuhan... cinta macam apalagikah yang kini menyapaku? Suatu pagi di sebuah sudut ibukota yang buram. Muram. Berselimut jelaga hitam. Sebuah potret pagi yang terperangkap miris. Mengiris. Bukan karena sepi. Tapi nyaris tanpa pelangi.

buncit hingga jasnya terkesan kekecilan dan hampir tak cukup di tubuhnya. Belum lagi kumis hitam tebal yang melintang di atas bibirnya akan menambah seramnya wajah itu. "Saya karyawan baru di sini, Pak..." ujarku setenang mungkin setelah menyudahi pengembaraan imajinasiku. Kuputar tubuhku pelan mengikuti irama kalimatku. Aku yakin manajer itu sudah menangkap kegugupanku. Tiba-tiba memoriku seperti berbalik. Serotonin di otakku mengalami penipuan besarbesaran. Ternyata... pemilik suara itu hanya seorang laki-laki bertubuh kurus, pendek. Kukatakan pendek karena badannya tak jauh lebih tinggi dariku. Tak berkumis seperti yang kubayangkan sebelumnya. Juga tak memakai jas seperti manajer pada umumnya. Kulit putihnya hanya terbalut kaos berkerah dengan bawahan celana jins yang sudah agak pudar warnanya. Satu kelebihannya kukira, yaitu rambutnya yang mengkilat karena mungkin terlalu banyak diminyaki. Mungkinkah dia manajerku ? Ah...jangan-jangan aku salah orang ! "Oooh...Anda berani sekali. Siapa yang menyuruh Anda masuk ke ruangan ini ! " Hii...bulu kudukku bergidik. Suaranya masih terdengar keras. Marahkah dia ? "Security yang mengantarkan saya ke sini, Pak.

BE CAREFUL WITH A WOMAN ! Kakiku mengejang. Ruangan apa ini ? Kenapa pula tulisan tak bermutu itu terpampang dengan angkuhnya di dinding bercat elegan ini ? Huruf-hurufnya yang tercetak tebal semakin menambah keangkuhannya. Seakan ingin memberitahuku bahwa dialah yang berkuasa di sini. Tidak ! Bukan tulisan itu yang berkuasa, tapi orang yang memasangnya di sana. Perlahan kuatur desahan nafasku yang lebih cepat dari biasanya. Aku mengurungkan niat untuk duduk ketika sebuah suara bariton menyapaku dengan sangat tidak ramah. Tepat di belakang telingaku. " Anda siapa ? " tanyanya kasar. Sebenarnya aku ingin segera menoleh dan melihat seperti apa bentuk orang yang menyapaku itu. Tapi otakku berhasil menahan gerakan tubuhku. Ah, dia pasti manajer departemen ini. Bukankah kata pak satpam tadi hanya manajer dan asistennya yang boleh memasuki ruangan ini. Huhh ! Kalau dia memang manajerku, mana betah aku di sini. Orangnya pasti galak dan amat sangat tidak menyenangkan. Dari suara beratnya aku bisa membayangkan tubuhnya yang tinggi besar dengan perut agak

Dan...saya membawa surat pengantar dari bagian personalia... tadi kebetulan bapak belum datang. Jadi... saya langsung masuk..." Suaraku terbatabata. Bodoh ! Kenapa aku mesti takut ? Toh, dia juga manusia. Bahkan wajahnya tak menakutkan sedikitpun. "Oh ya..? Memangnya apa posisi Anda di kantor ini ? " Aku benci tatapannya yang terkesan mengejekku.

Beberapa jam berikutnya aku menghabiskan waktu untuk mengawasi dia bekerja. kan ? Jadi. maka bersiaplah untuk tidak mendapatkan gaji sama sekali. Masih menggantungkan perusahaan lain. Tumitku sudah semakin nyeri..pak?" tanyaku gugup.sud Bapak ? " Bodoh ! Kenapa aku mesti gugup lagi ? "Mm.. saya ucapkan "Selamat Datang" di kantor ini. enam bulan pertama adalah masa percobaan. "Tidak. Server cadangan sudah tak mampu lagi membackup semua informasi yang masuk.. Pak ? " Lancang ? Ah. ba. Rasanya lututku sudah tak mampu lagi menyangga beban tubuhku. santai saja ! Saya tidak akan memecat Anda hanya karena Anda lancang memasuki ruangan ini tanpa seizin saya. Aku hanya diam saja mendengar ocehannya yang kuanggap tidak bermutu. "Ok ! Untuk hari pertama. Sebulan yang lalu. Bisa meledak nanti ! Jadi. I T Department. Memalukan ! "ADSL-nya macet. anda belum boleh menyentuh apapun di ruangan ini. Kapasitasnya rendah. Catat baik-baik di otak Anda ! Itu latihan sebelum Anda benar-benar menangani sistem IT di sini ! Ok? " Aku tidak tahu harus menjawab apa selain mengangguk. Hatiku semakin kesal dengan tatapannya yang menyebalkan. Toh. kemarin aku sudah mendengarnya dari HRD. Entah sudah semerah apa pipiku saat itu. Tapi saya percaya. Anda tidak usah bekerja ! Anda tinggal melihat apa yang saya kerjakan. " jawabku pendek.Apalagi gerakan alisnya yang sedikit terangkat seakan memandang rendah orang yang diajaknya bicara... baru kali ini aku dikatakan lancang oleh seseorang. Tidak usah dipikirkan. Kejam sekali. Atau justru manajer itulah yang sebenarnya tak punya perasaan ? "Ok ! Anda staf baru... Anda sudah diterima." Begitu formalnya dia mengucapkan kalimat itu hingga membuatku risih. Sudah lima hari yang lalu.. dia berjalan menuju kursinya dengan santai. IT Asisstant Manager ? Jadi Anda yang akan jadi asisten saya ? Kapan Anda menjalani tes masuk ? " "Sebulan yang lalu.... saya masih menduduki posisi anda sebagai asisten manajer." "Mak. Maksud saya. Hingga detik ini dia belum menyuruhku duduk. "Oh." Setelah menyelesaikan kalimatnya.. sudah. . Kalau dia tidak menghargaiku." " Kenapa. Anda tahu.ternyata saya harus menggunakan bahasa anak kecil untuk membuat Anda mengerti. anda tipe pekerja keras. Kelancangan Anda saya maafkan. Atasan baruku lagi.. "Tapi ya. " Hhh! Begini ini kalau nggak bisa bikin server sendiri. Kalau Anda tidak menunjukkan prestasi. "Maksud. Sebenarnya aku enggan menjawab pertanyaannya. Duduk di sana dan dengan santai pula dia memutar kursinya seakan memamerkan padaku betapa empuknya kursi itu.. biar saya yang bekerja. Dan selama masa percobaan Anda hanya akan menerima 50% dari gaji Anda." Ah.. Saya juga manajer baru di Departemen ini. untuk apa aku menghargainya ? Hanya tanganku yang kemudian bergerak cepat membongkar isi tasku dan menyerahkan surat panggilan kerja yang kuterima dari perusahaan ini seminggu yang lalu. Berikut selembar surat pengantar dari Human & Resources Department yang kudapatkan tadi pagi. "Sepertinya Anda salah prosedur ! " Hahh ? Aku terperanjat. Sebenarnya aku ingin menjelaskan lebih banyak lagi tapi suaraku tertahan di kerongkongan.... sok tahu. Mengutak-atik laptop dan komputer di ruangan server yang begitu dingin. Tak sabar rasanya menunggu manajer aneh itu menyuruhku duduk.

hampir lepas jantungku rasanya. Sepertinya tidak mungkin lagi mengandalkan server cadangan itu untuk selanjutnya. ya Pak.. dan satu lagi yang kucatat. bisa bangkrut perusahaan.. Apa yang harus saya kerjakan ? " " Oohh. Hanya mataku yang kualihkan ke arah telepon yang digenggamnya.... Pak. Masa bodoh ! "Ok ! Siapa nama Anda ? " .. Jadi kami tidak bisa menunggu terlalu lama ! " " Ya.. "Ok ! Sekarang kita nggak bisa bekerja sebelum ada petugas yang memperbaiki sistem ADSL itu datang. Pak. Bukan lagi "Anda". Tapi aku merasa tatapan itu sedikit bersahabat. Sambil menunggu perintah selanjutnya. Lega sekaligus kesal. "Hei. " Halo. Benar-benar keterlaluan ! Aku tak tahu lagi sudah berapa kali dia membentakku. Diikuti sumpah serapah tak jelas yang mendesis dari bibirnya.. Aku hanya bisa diam menatap lantai. Dia kembali memanggilku dengan sebutan "Anda"." Tiga hari ? Kenapa tadi dia bilang lima hari ? Hah.. Kulihat manajer pendek itu meraih gagang telepon dan menekan beberapa angka. gitu aja kok "mbulet".. Nggak peduli orang IT pusing tujuh keliling ! " " Lalu ? " tanyaku culun. Ini hari pertama Anda bekerja.. beraninya dia menghina ciptaan-Mu. Bilang aja "setuju". sudah ! " Ya ampun. Allah.. Sekarang anda duduk saja. Sayang. Aku ingin berontak tapi akhirnya suaraku tertahan. kubiarkan saja dia mau bilang apa." "Yah. Lebih hemat kata-kata.mungkin.af Pak ! Saya hanya bingung. Titik.. Jadi. saya mau mengulang laporan saya kemarin. "Kenapa diam ? Nggak mau ! Ya. So. Ok !" "Tapi Bapak tahu kan ? Kami online 24 jam. Saya akan hubungi Telkom lagi.. temperamen banget sih ! "Maaf.. perhatikan semua yang saya kerjakan ! " Ya. " Ma. " Kok lalu ? Kamu lulusan informatika kan ? Kok bego.. Ya ! Saya mengerti. baru sekarang "Si Sombong" itu memanggilku dengan "sebutan kamu". sih ! Atau memang belum punya pengalaman ? " Mata itu melotot ke arahku. kenapa menunduk ? Ini juga bagian dari pekerjaan Anda nantinya ! Jadi. aku malas berdebat. dari serangkaian pembicaraan kami. Setelah seluruh pembuluh vena di kakiku melebar entah berapa senti. Setuju ? " Sudah tidak berminat ! Kalimat itu akhirnya hanya kusimpan dalam hati.. saya tunggu ! " " Terima kasih " "Siang." Brakkk ! Ah. Dan sampai saat ini belum ada petugas yang memperbaikinya. Tuhan.. Gagang telepon dibantingnya dengan kasar. Pak.. Saya Aan Ardhianti dari Pena Mas ! " " Ya... waktu kita gunakan untuk perkenalan. Setelah beberapa jam dia baru menyuruhku duduk....dasar orang aneh ! "Oh ya. respon Anda memang lambat sekali ya ? Kalo semua komputer di kantor ini meniru cara kerja otak Anda." Hhhhh ! Aku menarik nafas panjang. Atau." Ya. ADSL kami macet sejak tiga hari yang lalu. Saya diam karena berpikir bahwa seharusnya itu yang harus saya lakukan sejak pertama kali saya bertemu bapak tadi. sudah.. Sejelek-jeleknya otakku pasti masih lebih pintar daripada komputer yang hanya benda mati itu. punya hati nggak sih orang itu ? Kutarik nafas dalam-dalam.User juga gitu ! Maunya terima beres.. Ya.. Aku tidak ingin mencari masalah. Bahkan..

saya kira Anda adalah orang yang tepat.. Oh ya.. Li ! "Mmm. Telingaku sudah cukup sakit mendengarkan katakatanya. Bahkan baru kukenal beberapa jam yang lalu sebagai sosok lelaki yang sangat menyebalkan ! "Saya sudah mempersiapkan segalanya." Entah setan mana yang membuatku bisa bertanya seperti itu. Kak Aan.. Tanpa sadar aku mengernyitkan keningku. " LILI " "Oh. Nama pemberian orang tua saya. Saya lupa kalau respon Anda lambat. Dia terlalu jujur kurasa. Saya tidak akan mencampur adukkan masalah pekerjaan dengan urusan pribadi. Tapi kalau Anda mau memanggil saya "Mas" saya rasa anda cukup tahu diri dan punya etika bahwa ini kantor. Anda bisa memanggil saya Pak Aan. Siapa nama lengkap Anda ? " " Rienita Vilyastuti. Tepat di bawah tulisan IT MANAGER." "Oh. "HRD yang memilih Anda. "Kenapa ? Itu memang nama saya. Aan Ardhiantie. sorry. Nama itu kurasa lebih cocok untuk seorang wanita? Jangan-jangan dia... Yang jelas. Huhh. Dan siapapun yang bernama "WANITA". jadi belum pantas dipanggil bapak. saya belum bisa melihat ketepatan itu. Pertanyaan yang terlalu sensitif kukira. " BE CAREFUL WITH A WOMAN " "Oh. Meskipun." tukasku kesal. Dia toh bukan siapa-siapa. Masalah panggilan aja kok "Mbulet". Ok ? " "Sepertinya Bapak punya masa lalu yang kurang menyenangkan dengan seorang wanita. Lili panggilan Anda ? " Aku hanya mengangguk. masih single juga? Baguslah! Tapi jangan takut. Ah ! "Itu nama Bapak?" Rasa penasaran memaksa kata-kata itu melompat begitu saja dari bibirku.. sampai sekarang. Mas Aan.. Atau bos atau apalah. Anda tahu rasanya kehilangan ? Kehilangan itu sangat menyakitkan. Ok?" Manajer sombong itu menekan suaranya pada kata "wanita". Tenang saja ! Saya cukup profesional.Benar-benar aneh. Perih. Sampai kapan dia akan terus menghinaku ? " Jadi. saya tidak akan mengganggu Anda. Cukup sekali saya terluka ! " Dia berhenti. Anda toh bisa membacanya di sana ! " Pandangannya mengarah ke dinding di atas kursi kerjanya." PD sekali sih orang ini. " Bapak tidak menyukai wanita ? " " Bukan tidak suka. " Tidak bertanya nama saya ? Oh ya. saya masih single. Dan diam adalah pilihan terbaik kukira. tulisan itu ? Maaf kalau menyinggung perasaan Anda !" ujarnya seakan mengerti arti tatapanku. "Status Anda?" "Belum meni. Memoriku membuat kepalaku refleks menoleh ke arah tulisan yang telah membuatku galau sejak pertama kali menginjakkan kakiku di ruangan ini. Sebuah nama terpampang besar-besar di sana. Dan itu yang membuat saya tidak ingin mengenal wanita. Mungkin memang terlalu indah untuk seorang laki-laki. Tapi aku tak ingin menyela ceritanya. . Saya hanya malas berinteraksi dengan makhluk itu ! " " Berarti seharusnya saya tidak berada di sini ? " tanyaku datar tanpa ekspresi.. Jadi. " Tepat ! " "Boleh saya tahu ? " Bodoh ! Kenapa pula aku jadi sok akrab ? Jangan bermain api. sudah lebih dari lima kali dia menambahkan kata "OK" dalam kalimatkalimatnya.. Jadi saya harus mengulang pertanyaan saya. saya lupa. Dan kejujurannya telah membuatku menyesal kenapa membiarkan diriku masuk terlalu jauh dalam kehidupan pribadinya.. Dari tadi kurasa.

Hhh ! That's life ! Entah sudah berapa tahun terakhir ini aku lebih banyak menghabiskan waktuku di luar rumah. Penyakit yang telah empat tahun terakhir ini menjadi sahabatku itu pasti selalu datang kalau aku kelelahan." Aku merinding melihat tatapannya mendadak kosong. upps ! Aku belum salat Isya. Ah. Tapi. sejak kapan aku menjadi sok perhatian pada orang yang telah menghinaku habis-habisan hanya dalam waktu beberapa jam ? PENGGALAN 2 Kuhempaskan tubuhku di kasur kos yang tak pernah terasa empuk mesti telah dijemur seharian. Tanpa sebutir mimpipun berani menyapa. kemudian langkahnya tertahan. Kemampuan emosi dan spiritual. Sambil melirik arlojinya dia menyambung kalimatnya. Penat. Tapi apa yang kudapat ? Kenalan baru yang menyebalkan. Begitu lepas sampai-sampai aku tak melihat beban itu lagi di matanya.tanpa kusadari. Untuk sementara tak apa kukira. Sebenarnya aku ingin segera tidur..kuusap debu yang menempel di permukaan benda mungil itu.. Bahkan. aku tidak tahu apakah besok aku masih punya alasan atau pun sisa keberanian untuk menginjakkan kakiku di kantor itu lagi... "Oh ya. Mataku telah terpejam. Bahkan. Selamat Datang di Pena Mas Media" serunya lepas dari ambang pintu. Tapi ternyata. Asal aku tak kehilangan dua kemampuanku yang lain. Kalau penyakit lamaku itu datang lagi. Benda yang jujur dan setia.. berarti aku akan kehilangan waktu istirahatku malam ini. Faringitisku juga tak mau kompromi. . Sekarang sudah jam makan siang.... Ah. Suasana yang begitu gerah . Perkenalan ini terlalu aneh untuk dilanjutkan. Tiba di rumah jam delapan malam. satu kemampuanku hilang. Kenapa mesti lupa mengganti baterainya. Tapi kemudian aku tersenyum. "Kita menghabiskan dua puluh menit untuk perkenalan ini. Masih menunjukkan angka dua belas.. Berangkat jam delapan pagi.. Ah. dia masih bisa menunjukkan angka yang benar meski hanya dua kali dalam sehari.. sejauh itukah kematian mengubah pribadinya ? "Ah. *** Paginya aku merasa seluruh tubuhku dihinggapi ngilu. dua belas jam waktuku kuhabiskan di kantor. Kenapa pula benda penunjuk waktu itu marah padaku. Silahkan beristirahat. dia mendahului saya melihat kehidupan abadi... Semoga saja migrainku tidak kambuh. Lelah.. Sore ini.. Seluruh tubuhku seperti kehilangan daya. Hari pertama yang begitu menguras semua persediaan energi yang kusiapkan dengan sepiring pecel dalam sarapanku tadi pagi..Rumah. Dan hari ini. banyak hal singgah di pikiranku tanpa kuminta. Sepulas-pulasnya. cukup membuat jalinan syaraf di otakku berpilin tak karuan." Dia beranjak dari kursinya. sudahlah. Oh. Kenapa dia harus mogok kerja saat aku sangat membutuhkan bantuannya ? Mana tidak punya persediaan baterai lagi ! Akhirnya aku hanya bisa marah pada diriku sendiri. Saya akan keluar sebentar ! Sepertinya ada yang harus saya cek di bagian Finance. sebelum Subuh pun kadang aku sudah harus berangkat untuk menghindari kemacetan. Sedang aku ? Bayangan suasana kantorku kemarin terpampang dengan jelasnya. saat ini otakku tak mau kuajak berpikir lagi. di saat mati pun. Padahal. " ujarnya... Biarlah. Tapi rasanya. kutatap jam dinding. mobil bahkan undangan.. Melangkah keluar tapi. Betapa tak satupun pekerjaan yang kulakukan bernilai "benar" di mata atasanku. Beban yang begitu berat yang tadi kulihat mengantung dalam tatapannya.

.." "Hilma ! Apa-apaan sih ? Ya jelas... kan ? Rienita Vilyastuti. Aku gagal menemukan alasan untuk bisa memaksa kakiku kembali melangkah ke tempat yang sama. selamat datang di PMM!" Manajer aneh itu masih seperti kemarin. tapi kamu nggak pa-pa kan manis?" "Nggak pa-pa kok! Maafin aku. Assalamu'alaikum.." "What?? Ini kan baru hari kedua kamu bekerja.kamu kenapa. Aaah ! Malas rasanya berangkat ke kantor lagi. nada bicaramu kasar sekali.jangan lupa... "Pagi.. ya! Aku harus segera. Tidak perlu meminta pernyataan setuju dari lawan bicara..! Telepon. Li? What happen with you.. pikirku. Mengganti baju tidurku dengan pakaian kantor dan bergegas berangkat. lagi-lagi aku melakukan kebodohan. Pasti ada sesuatu. rajin juga dia berganti pakaian. " susah payah aku mencari nada ramah dalam suaraku meski akhirnya kutemukan juga.. yah! Aku lagi nggak mood hari ini. Bukan kemeja. Sederet nomor tak kukenal terpampang di layar mungilnya. Nggak sama sekali ! " "Lho? Ini Lili. Akan saya usahakan. matahari sudah tersenyum lebar saat itu. Dasar ! Kalau memang mau ngirit pulsa kenapa tidak dengan sms saja." "Kenapa. Pak! Terima kasih atas sambutannya." teriak suara di luar sana dan segera kujawab dengan langkah cepat menuju telpon." "Tapi. ini aku. Aku harus berangkat lebih awal.. "Saya sudah print semua flow chart dan arsip desain sistem perusahaan ini. Silahkan anda pelajari. Nokiaku berdering. pintu kamarku diketuk orang.. Hilma! Gimana?" "Lho kok? Emang kamu baru bangun ta? Atau mungkin masih mimpi.. "Assalamu'alaikum.Ah.. Selamat memulai pekerjaan Anda. have a nice day. Semenit kemudian. Ok. " jawabku berat. sobat? Aku kok seperti bicara dengan orang lain ya? Bukan Lili yang biasanya selalu lembut dan selalu tersenyum.ya. "Gimana? Masih betah di sini ? " "Mm. Tapi kaos dan celana itu bukan celana yang kulihat kemarin." " Nggak........ Hanya ingin mengingatkan agar anda datang lebih awal pagi ini. "Rien. Pekerjaanku numpuk hari ini. manis.. honey?" "Ceritanya panjang.... Pak. kerja. Kata-kata Hilma menohokku. dan untuk hari ini. *** "Pagi. Praktis. bahwa sesuatu yang kita mulai dengan penuh kesulitan akan membuahkan sesuatu yang lebih memuaskan.. tetap jadi Lili yang selalu semangat dan always smile." "Ok.." "Waalaikumsalam... Melaksanakan salat Subuh dengan tergesa-gesa dan perasaan gundah karena terlambat sekali.makasih banyak supportnya. OK ! Thank you. Dengan rambut tersisir rapi dan kaos berkerah. Selerat senyum tipis kupaksakan menggantung di bibirku. Tidak usah pakai salam. Ciee. Eh. Segera aku meloncat dari kasur dan bergegas ke kamar mandi. Li? Sepadat itukah? Sulit dipercaya. sobat!" "Thanks ya. OK. ya! Ingat... itu menjadi tugas anda. Ada banyak data yang harus di back-up. Seharusnya aku yang nanya dong! Gimana first day-nya di PMM? Pasti menyenangkan. Dan. Aku terlonjak ketika sebuah semburat merah kekuningan menyapa daun jendela kamar.. ya udah deh! Met..." Aku tidak tahu bagaimana dengan tiba-tiba aku beranjak ke kamar.." "Mmm. Tidak perlu memperdengarkan suara baritonnya yang lebih mirip suara kok." "Hil. dan tentu saja tidak perlu menyakitiku karena aku merasa tidak dihargai sedikitpun. non! Dan sepertinya aku nggak bisa cerita sekarang. Hmm.. Rienita Vilyastuti.." Telepon ditutup. Bawahannya masih juga celana berbahan jins. Tanpa salam. Jangan sungkan bertanya apabila memang benar- .. "Halo. Dan aku menjadi tertantang untuk terus melalui jalan berliku ini.." "Pagi ! Saya atasan anda....sori..

benar tidak tahu.. Dunia sistem informasi ! Hari ketiga masih menjadi hari yang menyenangkan bagiku..saya labil. tapi sudahlah.. Bapak teringat dia ? Bodoh ! Untuk kesekian kalinya aku mengulangi kebodohanku. Dan sosok manajer aneh itu terlihat begitu lemah. Ah. belum saatnya untuk berempati pada masalahnya. Entah setan mana yang membuatku berhasil mengumpulkan keberanian hingga mampu melontarkan pertanyaan seperti itu. Yang jelas. Pertanyaan yang kurasa terlalu lancang. Tak jauh berbeda dengan pekerjaanku sebelumnya. Tak salah lagi. Menangiskah dia ? Aku diselimuti kebingungan. aku sempat menatap manajer aneh itu dengan tatapan tak berkedip dan saat itulah tatapan kami bertemu. Entah berapa lama aku memandangi pintu ruangannya sambil melamun ketika kemudian kulihat tiba-tiba pintu itu terbuka. clearing database dan lain-lain. Tepat pada jam makan siang. Dia laki-laki. Beberapa menit kemudian yang kudengar adalah lantunan lagu-lagu populer dari sebuah grup musik terkenal. bingung dan entah apa lagi. Matanya memerah saga terlapisi sisa air mata. Ah.. Syairnya yang berisi tentang penyesalan dan perpisahan membuatku gundah. Brakk ! Dia melempar sebuah buku yang cukup tebal dari arah ruangannya. Saya benci pada diri saya sendiri. Buku itu jatuh tepat di atas gelas tehku dan hancurlah benda yang tak bersalah itu. Lagipula. Back up. Duh ! Mata itu begitu berat. Tapi kami punya kehidupan sendiri-sendiri. heran. duniaku dan dunianya benar-benar berbeda. Bu Rien. Aku hanya tidak mau dikatakan wanita tak berperasaan. marah. siapa aku ? Toh. mungkin memang beginilah kehidupan. Kukatakan keributan karena aku yakin bahwa seorang manajer tidak mungkin melakukan hal sebodoh itu. Setumpuk berkas sistem telah tertata rapi di mejaku. Jangan sembarangan. Tapi.. dia pasti baru saja menangis. . Dan aku boleh sedikit gembira karena hari ini aku mulai benar-benar diperbolehkan bekerja sesuai profesiku. Rasanya. Masa. buat apa perhatian sama orang menyebalkan seperti dia. atasannya sedih tidak menunjukkan sikap simpati sama sekali ? Aku juga tidak mau dibilang sok perhatian. Mungkin dia memang atasanku. planning program. ternyata.. Tepat mengenai mejaku yang hanya tersekat dinding tipis dengan ruangannya. kukira. Mirip orang yang baru saja bangun tidur dan berusaha menemukan kembali sisa-sisa tenaganya. Ok?" Aku hanya mengangguk. Manajer aneh itupun perlahan sudah mulai menanggalkan kecerewetannya. aku hanya karyawan baru di sini. Ada apa sebenarnya di balik masa lalu laki-laki bertubuh kecil yang sok perfeksionis itu ? Oh. kaget. kenapa harus bermain api ? Tapi aku tidak pernah bermaksud untuk memulai. Entah perasaan apa saja yang bercampur aduk di hatiku saat itu.jam-jam selanjutnya tak semulus dugaanku. Aku tidak mau mengambil resiko untuk masuk lebih jauh dalam kehidupannya. manajer aneh itu masuk ke ruangannya dan menutup pintu dengan kasar. Aku yakin. Berdiri dengan kepala terkulai di sudut pintu. Belum lagi suara sesenggukan yang kudengar sayup di antar lantunan lagu itu.. Saya benci pada diri saya sendiri. Pak Aan membuat keributan. Lagipula. Menyimpan luka yang cukup dalam. Bulu kudukku bergidik. Setelah menyelesaikan kalimatnya.. controlling system. Aku hanya bisa menatap kepingan-kepingan kaca yang berhamburan dengan mata yang ikut mengaca. Takut. Maaf. sayang. Meski lelah aku akhirnya dapat menikmati pekerjaanku sekarang.

Tapi sampai saat ini saya belum menemukan kacamata itu. aku melihat sebuah tulisan yang ditulis dengan huruf balok di papan kerjanya. Ternyata orang seangkuh dia masih juga menginginkan perhatian ? Jelas aja nggak ada yang mau perhatian sama anda. Ini kan memang jam istirahat. Hh! Aku ikut-ikutan tersenyum kecut. ungkapan yang indah. Kalo gitu. Tetapi.. Di mana? Tanyanya lagi. niscaya yang terlihat adalah barisan pelangi yang menyejukkan. Bu. Bu Rien. Pak. Makan siang yang kupilih adalah sepiring novel Negeri Senja karangan Seno Gumira Ajidarma yang baru kubeli sekitar seminggu yang lalu namun belum selesai kubaca. Lho. Jelas aku merasa terganggu. Suara MP3 kembali menjerit dari ruangannya. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba aku mampu menyusun kalimat-kalimat itu. Aku tetap tak beranjak dari tempatku duduk. Saya akan meniru anda untuk tidak makan siang dengan nasi. Tergambar sebuah kekecewaan dan ketidakmampuan untuk menerima kenyataan dari sikapnya. Sepertinya aku menyalin kalimat itu dari sebuah buku.. Luar biasa. anda membelinya di mana? Anda pasti sudah pernah membelinya. ketika kita mencoba menggunakan kacamata hati yang bening untuk melihatnya. Benar-benar sulit dimengerti. Pasti dunia Anda penuh pelangi. kalau dirinya sendiri nggak pernah menghargai apalagi memperhatikan orang lain. Boleh tahu. jangan pernah menyalahkan aku kalau tibatiba anda terserang maag. masih ada yang belum selesai. Pak! Saya makan siang di sini dengan ini. kukira Andalah yang lebih butuh istirahat dan refreshing. Tulisan itu begitu besar hingga mataku dapat membacanya dengan mudah tanpa harus berpindah dari kursi kerjaku. bu Rien nggak makan ? Sudah. Tapi entah buku apa. buku-buku motivasi dan pengembangan diri yang sering kupinjam dari Hilma. Anda hebat. Aku mengalihkan perhatianku ke buku yang kugenggam. Anda begitu tenang. kalau ngikutin pekerjaan ya nggak akan ada habisnya. tentu saja yang terlihat hanya warna-warna kelabu. Oh. Bu Rien nggak makan siang ? Eh. Kerasnya suara lemparan buku tadi pun sudah cukup membuat mood-ku untuk melakukan sesuatu mendadak pergi entah ke mana. Baik untuk makan atau meneruskan pekerjaan. Jawabku pendek. Kupikir manajer aneh itu sudah pergi makan siang sehingga aku bebas menghabiskan waktu untuk menekuni hobi membacaku.Nada suaranya memang pasrah. Pak! Namun kata-kata itu akhirnya tak jadi kuucapkan. Aku tidak ingin dia tahu kalau diam-diam aku memperhatikan gerak-geriknya. Terserah ! Yang jelas aku tidak pernah mempengaruhi anda untuk mengikuti apa yang kulakukan. kuangkat buku yang kugenggam dan mulai kubaca. Nggak pa-pa. Sebenarnya perutku sudah sejak tadi minta diisi tapi lapar ini mendadak hilang setelah melihat kepingan pecahan gelas tehku. Ada ambisi terpendam yang tertanam di sana. ya? Sekali lagi saya ucapkan luar biasa untuk . Pak. Ah. Tapi ternyata laki-laki pendek itu masuk lagi. saya juga akan makan siang di sini. Gimana mau diperhatikan oleh orang lain. Lho. Tapi apa boleh buat ? Tepat saat aku melirik ke ruangannya. Makan siang kan nggak harus melahap nasi. Pak. Tapi aku tidak melihat kepasrahan di matanya. Dahinya berkerut mendengar jawabanku.. Tapi lupa meletakkannya di mana. Maksud bapak? tanyaku dengan nada menyesal. Jadi. Pak! Bu... kok? Aneh sekali sih tuh orang. suara itu tidak terlalu keras tapi kudengar begitu jelas. NO BODY CARE WITH ME Ya ampuuun.. Hidup berjalan seperti apa yang kita bayangkan. aku menata kertas-kertas di hadapanku. Hahh ? dia tersenyum kecut. Kalau kita menggunakan kacamata hitam dalam memandang hidup ini. Pak. Dipending aja dulu. Mungkin. Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Penuh Pelangi ? Oh. Iya.

Kenapa? Karena kebaikan yang kelihatannya kita miliki sebenarnya bukanlah milik kita sepenuhnya. Manusia suka membesar-besarkan masalah yang dihadapinya. Sebegitu dinginkah segumpal darah yang tertanam di dalam dadanya ? Bu Rien. Jalinan benang itu akan tampak sebagai sulaman episode kehidupan yang indah.. hidup itu terlalu rumit.. ternyata anda memang bodoh. Puitis. Sebagai manusia yang memiliki kelebihan dan kekurangan. pak. Dan itu akan membuat anda kaku dalam bersikap ! Hmm. realitas itu tidak sama dengan idealisme yang ada di pikiran kita.. Tidak ! Aku tidak boleh kalah. Dengarkan lingkungan tapi juga jangan mengabaikan kata hati yang terdalam. kita akan menjadi pribadi yang tegar. hidup mereka lihat tak ubahnya seperti jalinan benang ruwet. Jadi. Dan dalam hidup. OK ! Kritik dan saran dari orang seperti Anda pasti akan menjadi anugerah terindah bagi orang sebodoh saya. Bu Rien. Begitulah Tuhan merenda setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita. Bu Rien ! Anda masih terlalu mudah terkontaminasi. Kita melakukan sesuatu berdasarkan prinsip yang kita yakini.saya seperti kembali ke masa saat saya menjadi mahasiswa dulu. Saya rasa apa yang saya katakan tadi bukanlah sebuah idealisme. dicaci. Sama seperti anda. Sepertinya saya perlu banyak belajar dari anda..anda. Deg ! Aku tercekat. Dengan demikian. Tidak plin-plan. Hanya sebuah pertukaran pandangan. Bu Rien. Bu. Kurang jelaskah kata siapapun dia . Tapi.. Ah. Maaf. Maukah anda membantu saya mencari kacamata itu? Terima kasih atas pujiannya. Hidup itu mudah. Siapa pun dia. Saya kira tidak ! Prinsip yang saya pegang memiliki dasar yang berasal dari wahyu. Dan itulah yang membuat saya kurang menyukai wanita. Atau mungkin Anda terlalu sering membaca novel . Sikap seperti itu tidak salah. Ego membuatku semakin semangat untuk melanjutkan perdebatan ini. Akhirnya. bukan perdebatan sebenarnya. tapi sebuah prinsip. Ah. Dan itu yang saya tangkap dari Anda saat ini.pintar juga orang ini. Sesuatu yang saya yakini bersifat universal dan akan selalu sesuai dengan nilai yang berlaku kalam kehidupan. Begitu idealis. Semua itu hanya titipan dari yang Maha Pembuat Hidup. seharusnya hanya Dia-lah yang berhak menerima pujian. Bukankah itu sudah cukup untuk menjelaskan bahwa kritikan itu bisa berasal dari siapapun. kita harus punya prinsip. tapi kita hidup dalam realitas. Sebegitu jujurnya orang ini sampai-sampai tidak memikirkan perasaan lawan bicaranya. Dan konsep anda saya rasa terlalu klise untuk menjangkau semua sisi kehidupan yang rumit ini. saya rasa harus siap untuk selalu dikeritik. Mudah menggunakan emosi sesaat. Pak. Tak hanya aku. anda masih terlalu muda untuk berpikir serumit itu. tetapi saya rasa saya belum siap untuk dipuji. Ah. dicela. Pak. ada syaratnya ! Oh ya? What is it? Bersiaplah untuk selalu menerima kritikan dan saran dari orang lain. Manusia sendirilah yang membuat hidup itu rumit. karena tangan-Nya yang Maha Pandai telah menyulamnya dengan penuh kasih sayang. Sepertinya Anda lebih cocok menjadi seorang penyair. Mendramatisir suasana. Itu tidak akan terjadi kalau orang tidak melihatnya dari kain yang terbalik.. Dan kadang. Dasar ! Awas kalau berani macam-macam.

Benar-benar menyebalkan..dasar aneh. cleaning service. Mungkin. Tuan.. nanti pulang naik apa? Bis. Jam-jam berikutnya kulalui di depan komputer hingga jam kerjaku habis. . Saya belum memerlukannya. Pak.setuju ? Huhh. Hampa. dia mulai menawarkan api.. Maaf.. Kata belum terlalu sopan untuk orang seangkuh dia.hingga anda mengira bahwa hidup itu seperti fiksi yang sering Anda baca ! Dan itu tidak cocok dengan orang seperti Saya. "Oh. waktu makan siang sudah habis. Aku tak ingin hari-hariku dipenuhi kebencian. Kupercepat langkahku agar tak lagi mendengar ocehannya yang menyakitkan. semua orang-orang itu bilang bahwa Mr. Very-very. Dunia Anda terlalu cerah untuk bersentuhan dengan dunia Saya yang buram.. angkuh... Hati-hati Rien. Manajer aneh itupun asyik di ruangannya.. dan hih ! Berkali-kali bibirku mengucapkan istighfar. tukasku cepat. Tuhan sudah melupakan Saya. Anda adalah seorang gadis agamis. Pak! Saya akan ke musholla dulu.. Tapi. nih. Saya tahu.. Air itu membelai lembut wajahku. Meskipun dunia kita jauh berseberangan. Saya rasa setiap orang bisa mencoba untuk menjadi lebih baik jika dia mau ! Oh. Yang akan memulai hari-hari baru dengan mencoba memahami karakter masing-masing. Bodoh ! Kenapa tadi tidak kubilang saja tidak memerlukannya ... perhatian. Agar aku tidak usah mendengar kalimat-kalimat pedasnya. saya juga akan memahami Bapak. Tidak.. Saya harap tidak ! Aku segera berlalu dari hadapannya. *** Bu Rien langsung pulang? tanyanya ketika dilihatnya aku mengemasi barang-barangku dan bersiap untuk pulang. Security. jangan khawatir.. Saya tahu. Pak. Aan itu orangnya baik. Berarti suatu saat Anda akan memerlukan mobil Saya untuk mengantar Anda. orang itu akan terdengar very nice seperti yang dikatakan banyak orang di perusahaan ini. jadi Anda pikir saya tidak mau mencoba ? Saya sudah sering mencobanya dan selalu gagal... Ok ! Sekarang. driver. Kuusapkan air wudhu perlahan ke wajahku yang kering . Kesal. Tidak mau dipahami ? Ah. Saya tidak butuh untuk dipahami.. Tapi ternyata ? Aku memang takkan pernah bisa memahamimu.different. Aku pikir kita adalah rekan kerja yang cocok. Jengkel. Saya rasa. saya akan mencoba menghargai Anda. Aku hanya bisa mengangguk. jawabku datar. Mm. Baru kali ini aku berhadapan dengan orang seaneh dia. Boleh saya antar? Wah. Dia telah mengambil satu-satunya orang yang saya cintai. nggak pa-pa. Oh.. dan. Ya.belum. akibat serangan air conditioning. Kapan sih. Oh ya. ********* Byur. Memangnya anda siapa ? Aku toh cuma basa-basi.. Bahkan... seperti inilah kehidupan yang harus saya jalani sekarang. Aku berharap dia memang tidak akan pernah keluar ruangan sebelum jam kerjanya habis. Dan yah. dunia kita memang berbeda. ah. jangan Bu ! Tidak usah.. Dan kita harus segera kembali ke dunia pekerjaan.

Aku tidak mau ketularan manajer angkuh itu. Mungkinkah hari-hari yang akan kulalui nanti selalu berbingkai temaram senja seperti dunia yang dilukiskan dalam roman itu ? Ah. Hilma terlambat melontarkan pertanyaannya. kamu harus cerita banyak tentang kantor barumu. Tahu kamu ke sini kan aku bisa pulang lebih awal.. Hil. Nih! kulempar sebuah buku dari dalam tasku.... Waalaikum salam. Oh. di kantor kamu boleh jadi Rienita yang tegas. Yang melengkung indah di setiap pagi. Nggak salat. Ahh. sih ? Menurut psikologi. Nanti dia malah ge-er lagi. Baginya. aku tersenyum lebar.. Yang capek pasti nggak hanya badanmu. Kalau tahu seperti ini. So. sih. Cuma main air. Skenario-Nya pasti jauh lebih indah dari apa yang pernah kubayangkan. Tapi bagiku. Dan menit berikutnya aku telah tenggelam di lautan teduh kasih-Nya. lugas dan perfeksionis.. Entah sampai kapan. setelah mandi. Aku tidak mau lama-lama memikirkannya.. lega rasanya bisa tersenyum selepas ini. Aku takut.. Aku tidak mau dinilai sok perhatian. Negeri Senja ? Kok kamu tertarik sama buku beginian. kok Pak Aan nggak salat ya ? Tanganku jadi gatal untuk mengingatkan.. kantor barumu. serunya dari dalam kamar ketika aku langsung masuk tanpa suara.Menyisakan segumpal kesegaran di sana. dasar! Masa sedetik saja kamu udah bisa ngacak-ngacak kamarku sampai nggak karuan gini? Wah. Iya.aku lupa kalau sahabatku ini lulusan psikologi! Oh. Meski tak menjawab. Bersama semburat saga yang selalu tersenyum manis menyambut sang malam PENGGALAN 3 Hilma sudah berbaring manis di kamar kosku ketika aku pulang sore itu. Duh. Aku sudah berada di kamar mandi saat kalimat itu selesai dibuatnya... balasannya sungguh menyakitkan. mana buku barunya? Belum selesai kubaca. Sorry. hebat ya ! Tiga hari saja sudah bisa mengubah seorang Rienita yang lembut dan murah senyum ini jadi sensitif dan paranoid ! Li.. ya.. Ya Rabbii.. Ah. hidup mungkin adalah gumpalan awan kelabu... iya ya. Hil.. hidup adalah barisan pelangi. Tidak ! Aku tidak boleh pesimis.. lebih baik tidak pernah berusaha mengingatkannya.. Dan refleks jemariku mengetikkan sebaris kalimat di layar mungil handphoneku. Assalamu alaikum. harap dimaklumi kalau masih bawa angin kantor ke rumah.aku tidak tahu kenapa akhir-akhir ini aku menyukai buku-buku seperti itu. Eh. Li ! Tadi pas kamu mandi ada sms tuh ! Dari siapa ? . Tapi ini di rumah. Pak? Saya lagi cuti. tapi mau tak mau otakku berpikir juga. deh.. tidak.. Tak hanya berhenti di wajahku. namun kesegaran ini menembus ke dalam relung-relung hatiku yang akhir-akhir ini sering terasa hampa. Kupikir nggak ada orang..... Jadi tidak perlu mengingatkan Saya..aku kan capek. Hil. Senyum centilnya memaksaku mengubah ekspresi wajahku yang kurasakan kering sejak tadi. Hh ! Terserah... kapan nyampe? Kok nggak sms dulu. kok! Hah. Eh. ***** Mandinya kok lama. sih? Berendam ya? Nggak. Seakan ingin bersahabat dengan udara yang mulai sejuk karena hari ini mulai merambat gelap..jangan lupa sama karakter Lili yang... Kok tahu? Aku kan punya indera keenam. Baru sedetik yang lalu. Terbersit sebait sesal di hatiku.. kok. Maaf.

Ah. ...Nggak bis kendalikan emosi. Dia menangkap perubahan di raut wajahku.. kamu udah mulai terkontaminasi. Maksudmu? kini giliran aku yang melongo mendengar kata-kata Hilma. Li! Apa? Ngaco.. Penasaran. Sebenarnya aku senang bekerja di sana.orang yang sangat kita benci kadangkadang berubah jadi orang yang paling kita cintai. Capek! Li. Ajak dia ke psikiater. Psikoneurosa. Dasar. dia tertarik padamu.. sok tahu.... Li.. Hilma! kulempar guling ke arahnya. Perusahaan ketiga yang menerimaku adalah perusahaan real estate ternama. Sok tahu. Bos baru. Angkuh.. Gimana. Sebuah perusahaan industri kaca terbesar di ibukota. Atau mungkin tukang kredit yang nanyain tunggakanmu ! Aku kembali tersenyum mendengar kelakar Hilma.... Hati-hati lo.. Apa? aku menatap Hilma tajam. Sedangkan Hilma. Berikan dia empati. Kamu kan lebih tahu. Perusahaan kedua yang kumasuki adalah sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang produksi barang-barang convenience. Janganjangan rahasia lagi. akhirnya Hilma menanyakan hal ini. Li! Dengarkan keluhannya. aku bukan psikolog atau psikiater. Orangnya unik. Tempatku dan Hilma pertama kali bekerja setelah lulus kuliah. Kenapa nggak sekalian nulis surat aja untuk menyakitiku sepuas hatimu. Anak itu kalau sudah menggoda memang keterlaluan.. Yah. Sombong.. kalo kita tukar kantor? Bisa hancur tuh jaringan sistem di PMM kalo aku yang ngurusin. Kemampuannya di bidang psikologi industri mengantarkannya ke kursi manajer personalia perusahaan itu. dia atasanmu... Sejak kepindahanku dari Alta Mara. Sekarang aja. Kok marah? Hilma hanya tersenyum melihat reaksiku... Aku yakin. kamu akan benar-benar ketularan.. mana berani aku buka.Ya nggak tahu. Li ? tanya Hilma heran. Hahh? Dia sakit. Kok? Aku bingung.. Bisa belajar banyak tentang arsitektur dan memanjakan mataku dengan beragam model rumah yang unik dan cantik. Memangnya aku isterinya? Lho. penyakit kejiwaan yang disebabkan karena seseorang selalu tertekan dan dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. Li! Ini dari bosmu yang baru? Atau bosmu di kantor sebelumnya? Sejauh mana hubungan kalian? Hilma mengekspresikan semua kebingungannya setelah membaca sepotong short message itu. wahai tuan manajer ! Benar-benar kurang kerjaan. Ah.. Mm. begitulah. Hil. Hmm... Kamu benci dia. jangan munafik. kan.. Entah sudah untuk keberapa kalinya aku mendapatkan pertanyaan senada. masih bertahan di sana. Sepertinya. aku yakin kamu bisa mengubahnya menjadi pribadi yang normal. Di sana aku bertemu dengan atasan yang suka berganti-ganti wanita. Mengiyakan pertanyaannya. ya? Sangat! tukasku mantap. udah ah! Aku nggak mau ngomongin dia lagi. Hidup tak hanya pelangi. Li! Kamu harus hati-hati.. Tapi juga labil. bukan ? Akuilah ! Terlalu panjang untuk ukuran sebuah sms tetapi terlalu pendek untuk ukuran sebuah kalimat yang menyakitkan. kamu betah kan di sana? Ah. Hilma nyengir mendengar usulku yang tidak masuk akal. Rien. cepat-cepat kubuka layar mungilku. setiap orang pernah merasakan saatsaat di mana dia harus menangis dan kecewa. Sentuh hatinya. benar. Kenapa. Kalau nggak. kamu. Aku sendiri sudah pindah tiga kali. nih! Dari siapa? Dari Bos? Mata Hilma membulat saat dilihatnya aku mengangguk. Entah sudah berapa kali aku membohongi isterinya untuk menyembunyikan perselingkuhan suaminya. Baca sendiri....

. Itu baru Lili yang aku kenal. Terima kasih atas smsnya semalam. tukasnya tegas. Semakin aku percaya. suatu saat kamu akan menemukan yang terbaik. Yap. Tidak seketus yang saya lihat saat ini.. Ah. Kita partner satu departemen. Bapak tidak menyukai wanita. Dan aku juga berhak untuk tidak mendengarkannya. no. ya? Anda mengingatkan saya pada seseorang. Gimana hasil meetingnya. Pasti. Jangan bilang iya kalau ingin berkata tidak. Hil. Mencoba membalikkan kain hidup ini. kenapa diam? Kamu nggak betah ya? Entah. Apa sih maunya? Ternyata anda memang lebih menyukai buku itu daripada nasi. itu kan menurut Anda. Tapi jalinan ruwet itu tetap saja terpampang di hadapanku. Terlalu dini untuk mengambil keputusan. tapi saya memang lebih suka hidup dalam realitas.. Aku benar-benar malas untuk mengeluarkan . Bukan fiksi. Dia terlalu baik. siang ini? suara bariton itu kembali terngiang di telingaku. Berjejalan seperti ratusan ikan yang tergelepar karena tertangkap jala.. Tapi realitas tidak harus menyakiti... Semoga bukan pacar Anda! Oh... Pekerjaan kita akan hancur kalau kita terusterusan bertengkar.. anda sebenarnya adalah pribadi yang lembut.Tapi manajerku yang bukan main genitnya selalu membuatku pusing tujuh keliling. Jadi kamu akan keluar juga dari perusahaan itu? Aku nggak bisa jawab sekarang. Aku sudah nyiapin surat pengunduran diri yang entah kapan akan kuberikan. Tersangkut di tenggorokanku yang mulai nyeri. Li. Lebih baik berpura-pura tuli daripada kepalaku migrain. Yang lembut dan penuh pertimbangan. Bu Rien. Aku hanya bisa menarik nafas panjang. Boleh mengajak anda makan siang dengan nasi.. bukan? Please! Lupakan itu. Kemarin saya berpikir demikian. Kerjaannya tiap hari hanya berdandan dan tidak hentinya menghina jilbabku yang menurutnya tidak modis sama sekali. Dan saya yakin. Tapi biarlah. Begitu juga dengan anda. Saya rasa hubungan kita begitu aneh.saya. Tapi kalimat itu tak jadi kulontarkan. Makasih. Tuan manajer ! Ok! Sekarang kita berdamai ! Aku hanya mengangguk. Saya rasa kita bisa saling berbagi. Memangnya siapa yang mau disamakan dengan pacar Anda ? Apalagi dia sudah meninggal. Semoga saja saya tidak pernah punya saudara seperti Anda.. semakin bertumpuk. Kali ini yang lapar bukan perut saya... bahwa sahabat memang anugerah terindah yang diberikan Tuhan untuk kita. Dari tadi pagi ia menghadiri meeting dengan klien. Anda sangat berbeda dengannya. hatiku mulai lega.. ya. Datar.. Doakan aku. Pak! Oh. Apa adanya. Maaf. Sepertinya Bapak masih harus belajar untuk menghargai perasaan orang lain.maaf. yah! Aku yakin.. Sangat baik. Dia punya hak untuk berbicara apapun. Bapak manajer. Anda yang memulai. pasti akan bertengkar setiap hari. ya? Mata manajer aneh itu menatap sinis ke arah novel remaja yang tergeletak di mejaku. Seakan ingin menyalurkan sebuah kekuatan dari sana. Hhh ! Benar-benar nggak mau kalah. Tangannya menggenggam tanganku erat. Hilma menipiskan bibirnya. Cukup menyakitkan! Ehm. setelah seharian aku terbebas darinya. Tetap tegar.. Tapi sekarang pikiran itu hilang entah ke mana. Hhh ! Aku hanya bisa menggerutu dalam hati. Kalau kita saudara. Kami berangkulan hangat. Yah.. agar aku mampu melihat sulaman yang sebenarnya. Hil. He-eh... Dan menit selanjutnya aku hanya bisa menelan ludah. pak? Anda belum menjawab pertanyaan saya! E. Bahkan.

. anda termasuk kelompok 10%. saya tidak perlu membangun benteng pertahanan untuk menghadapi anda. Kenangan sepahit apakah yang terkandung dalam lagu-lagu itu ? Huhh ! Aneh. Sulit dimengerti.suara. Yah. Aku memang tidak punya alasan kuat untuk memilih keputusan ini. Aneh. Lelah rasanya setiap hari. Surat Pengunduran Diri. Ini adalah hari ketujuh aku menghirup udara sedingin 16 derajat celsius di ruangan server. Jangan pernah menyalahkan Tuhan ! Saya lebih tahu apa yang harus saya lakukan.. saya pikir saya memang harus hidup sendiri di dunia ini. Demikian juga tangis dan tawa.sekeras itukah hatinya ? Semoga dia menemukan jalan kembali pada-Mu. Di tanganku sudah tergenggam dua lembar amplop. Dan Anda tidak akan berkata demikian kalau Anda berada dalam posisi saya. Jadi. Bapak egois. Pengalaman saya mengatakan bahwa hanya sekitar 10% wanita yang mampu membawa madu itu.. Aku hanya tidak ingin melangkah terlalu jauh. Aan Ardhantie. Anda benar. Karena cara pandang kita berbeda.. Terima kasih. betapa agungnya Sang Maha Pembuat cerita kehidupan ini. Apalagi berhadapan setiap hari dengan orang seaneh Mr. Jadi. Kubuka mushaf kecilku. Anda menyalahkan Tuhan? Saya akan menyalahkan diri saya sendiri kalau mencoba mencari penggantinya. Sebuah perjalanan panjang yang melelahkan. Karena saya sudah terlanjur merasa memiliki. Semua hanya milik-Nya dan akan kembali kepadaNya. Jadi kita tidak berhak untuk merasa memiliki? Jangan pernah merasa memiliki kalau tidak ingin merasa kehilangan. Masa lalu telah membentuk pola pikir saya. Karena itu semua sifatnya hanyalah titipan. Beberapa saat kemudian kudengar musik itu lagi. Kuncinya. Cukuplah kita merasa memiliki Allah kalau ingin merasakan kebahagiaan dalam hidup. Selama ini saya menganggap wanita itu bisa membawa madu perdamaian dan racun kehancuran. Jam makan siang sudah berakhir. . Rasanya seperti sudah setahun. jangan terlalu gembira dengan apa yang didapat dan tidak terlalu sedih dengan apa yang hilang dari kita. Aneh. Toh. Katanya sih. Syair-syair yang sama. Tapi. Ah. Tentu saja efek dari masalah itu tidak akan seberapa bagiku. Manajer aneh itu beranjak pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Suatu hal yang hanya dilakukannya jika dia sedih. Sepertinya tidak akan pernah. Dan benar dugaanku. sedangkan 90% sisanya adalah pembawa racun. aku juga punya duniaku sendiri yang jauh lebih menyenangkan.. Ya Robb. ya. saya yakin. Seharusnya kita sadar. Dan mengalunlah nada-nada lembut itu merayapi hatiku yang mulai gersang. Pak. Tapi itu tidak berlaku bagi saya. Itu dunia Anda. Biarlah dia asyik dengan dunianya sendiri. Anda pikir saya tidak pernah kehilangan orang yang sangat saya cintai ? Saya juga pernah mengalaminya tapi saya cukup sadar bahwa pertemuan dan perpisahan adalah yang biasa terjadi dalam kehidupan. ujarku kemudian.. Saya sudah yakin bahwa dia adalah jodoh saya tapi ternyata Tuhan mengambilnya. Sebuah pembelaan ego yang sempurna ! ujarku dingin. Apalagi berhadapan dengan orang egois seperti dia. jam istirahatku harus kuisi dengan perdebatan tak berujung seperti ini. begitulah kehidupan saya kira. Menuju ruangannya dan menutup pintu. beginilah kehidupan. Yah.

Dan itu berarti." Saya sudah terlalu lama mempertimbangkannya.. Dan saya harap. Pak! Saya merasa kurang cocok bekerja di sini.. Tidak menyesal?" *** "Selamat pagi. Tadi malam mimisan saya kambuh dan saya tahu pasti apa penyebabnya." "Oh. Selamat datang. Memaksaku masuk ke dalam masa lalunya. padahal.saya kira saya bisa bertahan di sini. Saya juga minta maaf kalau sering menyakiti Anda.aku telah menyalakan api.. akhirnya kalimat yang telah kupelajari semalam itu mengalir dengan lancar. saya pribadi tidak rela kalau anda meninggalkan kantor ini sekarang. kenapa selama ini Bu Rien tidak pernah cerita? Mungkin pihak perusahaan memiliki alternatif solusi atas masalah Anda. Saya tidak tahan dengan kondisi ruangan server "Ini yang terbaik buat saya.. "Ok! Saya tidak bisa memaksa Anda untuk tetap bekerja di sini.. seharusnya aku tidak perlu berkata begitu. "Anda tahu.. manajer aneh itu membaca suratku. Tapi bukannya menuruti keinginanku. dengan santainya meninggalkan pekerjaan yang dicari banyak orang. dia malah langsung menyobek kasar sudut surat itu. Di luar sana. yang terlalu dingin. hubungan kita tidak akan terputus sampai di sini. Tuan Manajer. anda tidak akan mendapatkan apa-apa dari perusahaan." "Oh.. aku benar-benar menjauh. Sepertinya harapan terbesar saya adalah menghindari Anda. Pak. Dan itu untuk pertama kalinya dia memanggilku tanpa embel-embel "Bu". Apa dia sudah punya firasat ya? "Saya ingin menyerahkan ini. sedangkan aku. waktu seminggu mungkin begitu singkat tapi sudah terlalu panjang untuk membuat manajer angkuh itu menceritakan semua. Sebelum terbakar. Rien. "Pak." "Saya harap Bu Rien akan mempertimbangkannya sekali lagi. . Meyakinkan. Saya alergi dingin." ujarnya kemarin. Dan adalah langkah terbaik kalau pagi ini aku benar-benar harus berjanji pada diriku bahwa ini adalah untuk yang terakhir kalinya aku melangkahkan kaki di perusahaan ini.. bukan hal yang mudah untuk bisa masuk ke perusahaan ini. ya. Pak. Dan dengan gerakan mata yang cepat. "Ya. Mungkin juga. Yang jelas. Pak!" Ah. orang-orang kebingungan mencari pekerjaan. Aku tidak mau menjadi lilin yang rela dirinya hancur luluh hanya karena ingin menerangi sekitar." "Tidak. Kenapa aku harus membohongi diriku sendiri? Bukankah aku menyukai pekerjaan ini? Kenapa begitu mudah meninggalkannya." "Kurang cocok dengan pekerjaan atau dengan saya?" "Yang pasti dengan pekerjaan.. Sama-sama. "Mengundurkan diri? Kamu?" "Ya. saya minta maaf kalau saya melakukan banyak kesalahan. Keputusan saya sudah bulat. Pak. "Sepertinya kehadiran Rieni akan membawakan setitik cahaya dalam hidupku. Dan cukup logis kukira. Yang satunya lagi masih kugenggam dan akan kuserahkan ke bagian personalia.Yah. dengan masa kerja sesingkat ini. "Apa ini?" "Bapak bisa membacanya di ruangan Bapak!" "Kok?" alisnya menyatu.. Ah. ini adalah saat terakhir aku bertemu dengannya. Tapi aku tak peduli. Farangitis saya sering kambuh kalau terlalu lama berada di udara dingin." Ah. Gimana perasaanmu hari ini? Enjoy? Masih betah di sini kan?" Sepagi ini dia sudah datang dengan sederet pertanyaan yang tak mungkin bisa kujawab. Pak!" Kusodorkan salah satu surat pengunduran diriku. menakutkan." Simpan saja basa-basimu. Tapi ternyata tidak. Senang bisa mengenal Anda.

Masa aku gak sadar." "Tapi kau harus sudah memikirkan masa depan. bangunannya yang kecil tertata begitu artistik. Li? Kamu sudah benar-benar keluar dari perusahaan itu? Kamu sadar kan dengan apa yang kamu pilih?" "Of course. Dua pilar beton berelief halus menyangga tepat di kedua sisi bangunan. Pintu utama seluruhnya terbuat dari glass art dengan lukisan natural dengan warna-warna cerah. "Selamat datang di Citra Persada.. Selamat tinggal PMM.. Semuanya serba mungil.. Tak sempat lagi menikmati barisan pelangi dan semburat kemerahan sang mentari yang juga mulai berbenah untuk menunaikan tugas rutinnya menyinari dunia. Li! Ini adalah kantor kelima yang kau masuki. Mungkin lebih baik kalau kamu mendirikan perusahaan sendiri atau LSM yang isinya perempuan yang semuanya satu misi denganmu. Apa sih sebenarnya yang kau cari?" "Aku nyari tempat dan lingkungan kerja yang membuatku save.. sih!" "Li! Kamu tau kan. Kali ini aku sengaja meneleponnya lebih dulu sebelum memulai hari pertamaku di Citra Persada. dengan uang!" "Ok! I trust you..yah.. Di tengah-tengah halaman kantor terdapat sebuah taman kecil berbentuk setengah lingkaran. Dia atasanku di sini.." "Masa depan kan tidak hanya bisa dibangun .." PENGGALAN 4 Pagi ini aku sibuk menyiapkan segala sesuatu agar aku tampil sempurna. Aan yang super aneh.tidak ada yang sempurna di dunia ini.. Kau tahu. Elegan. sobat. dong!" "Kalau memang nggak cocok kenapa harus menyiksa diri?" "Kau berubah. adalah perusahaan keempat yang kau tinggalkan. Perusahaan ini tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan PMM atau tiga perusahaan yang kumasuki sebelumnya.. Itu aja. sebuah perusahaan outsourcing software di kawasan Jakarta Timur. Semoga anda menemukan jalan-Nya. honey. saja ya. Ditumbuhi rumput jarum dan kolam air mancur mungil di tengahnya. Dadaku seperti baru dibebaskan dari sebuah beban maha berat yang menghimpit. sobat.. Dan ini." "I see.. ideal itu hanya sesuatu yang utopis. Aku berharap kamu akan menemukan apa yang kau cari. Lega rasanya. "Ingat. cari kerjaan sekarang itu sulitnya bukan main. Namun. Li!" "Hilma... Kehidupan sering kali tidak seideal impian kita!" begitu pesan Hilma kemarin yang masih tercatat rapi di memoriku.. Selamat memulai hari-hari yang lebih menyenangkan di sini. *** "Apa. Dengan alasan senada. Terimalah kekurangan orang lain." Nyess. selamat tinggal Mr. Li.kita ganti topik.. tapi dandanannya yang naturalis cukup menyiratkan wibawanya." "Dan itu belum kau temukan?" "Hmm... tapi terkesan mewah." "Li." "Biarkan aku menuruti kata hatiku. Kau tahu ke mana harus mencari pelita ketika semuanya terasa gelap.... Mbak. Tapi aku jadi bingung. begitulah.Semoga menemukan apa yang Anda cari!" "Terima kasih. Dan berusahalah untuk lebih bisa menerima keadaan. daripada ntar jadi berantem." Kalimat pertama yang kudapat dari seorang wanita yang tak terlalu muda. Pak. Nggak ada yang seideal bayangan kita.. Rasional.

begitu berbeda dengan manajerku sebelumnya. maunya orang ini ? *** Sore itu tol Bekasi Timur macet total.. Berbeda dengan Hilma yang tiap hari menghadapi .. Begitu semboyan teman-temanku dulu. Pak. Terima kasih waktunya. Bis hanya bergerak sekitar lima belas menit sekali. Tapi aku sudah kehilangan seleraku untuk melanjutkan pekerjaan. Gimana? Biar lebih akrab. Jadi tidak usah memanggil saya. Saya baru akan memulai pekerjaan ketika Anda menelepon saya dan menanyakan sesuatu yang tidak terlalu penting. saya harap kemampuan itu bisa tersalurkan dengan optimal di sini. I see.. Tapi suara ringtonenya yang terus melengking memaksa tanganku untuk menekan tombol terima. Suara bariton itu membangunkan memoriku pada peristiwa demi peristiwa beberapa minggu yang lalu. denger dan moga-moga aja enggak dapat D. Ya Allah. Rien!" dadaku berdegup kencang. gaji dipotong karena kesalahan pembuatan program.. Pelajari saja semuanya terlebih dulu.." Sahutku datar." "Oh. Nggak pa-pa. ya. Sudah dapat pekerjaan baru?" "Sudah. tetap tak banyak yang kulakukan. Hanya membolak-balik contoh-contoh design program beberapa perusahaan asing yang kebetulan menyerahkan Technology information systemnya ke Citra Persada. "Untuk hari pertama. Hhh ! Sudah dua kali handphone-ku berdering namun tak pernah kuangkat. Pak. selamat bekerja!" Sebelum pergi menuju ruangannya sendiri." "Pagi. Saya tahu pekerjaan itu sangat penting bagi anda. Hingga jam makan siang berlangsung. Penat rasanya. Ok-lah. baru saja aku akan memulai pekerjaanku. Aku merasa begitu dihargai dengan kepercayaan yang diberikannya. Apa sih. Ok. Gimana kabarnya? "Baik. ganggu.." "Tapi. Kacau dan ruwet. Suara klakson bersahutan." "Klik!" Sambungan terputus.." "Oww. Ini adalah hari pertama saya bekerja. maaf. diam. Apa pula ini ? Untuk apa dia meneleponku pagi-pagi dengan gaya sok akrab. Sengaja kuprogram silent agar suara ringtone-nya tak terdengar. Selamat kalau begitu. Ah.santai saja. Sebuah nama terpampang di sana. "Pak". Masih nama yang sama. kapan-kapan saya call lagi.. Ok. Enggan aku mengangkatnya. Dan waktu berlalu seperti dengungan lebah yang mengamuk karena sarangnya dirusak. Nggak ada waktu yang terbuang untuk memusingkan sikap atasan yang aneh. Sekarang saya bukan lagi atasanmu. deretan bahasa pemrograman COBOL dan syntax 4GL yang memusingkan. Saya yakin. Belum lagi serangkaian complain dari user-user bawel tipe-tipe perfeksionis. "Ayolah. duduk.Dari sikapnya yang ramah. Membuat satu desain flowchart saja aku melakukan banyak kesalahan. "Kok diam? Kaget. Peristiwa yang sempat membuatku down. jalan-jalan ini membuatku ingin kembali ke masa-masa kuliah saja. Silahkan buka di hard disk. Nokiaku berdering. Saya sudah buatkan job description dan beberapa penjelasan penting tentang tugas anda nantinya. Silahkan tanyakan apapun yang belum jelas. anda punya kemampuan di atas ratarata. Datang. Jadi.. mungkin Mbak Rienita belum bisa mengerjakan banyak hal. Ah. Tapi. "Ass. segala puji bagimu. aku punya keyakinan bahwa aku akan bertahan lebih lama di sini. wanita itu sempat menyalamiku hangat. Maaf.

zzhh.. Manajemen motivasi... Anak ini memang benar-benar gila. Semua yang ditampakkan semu. Sekarang aku bersyukur dulu nggak jadi masuk psikologi.. Kenapa dulu aku nggak masuk psikologi aja. Ah...sekarang buktinya ? Hilma. dan sederetan pekerjaan kemanusiaan lainnya. Saat makan siang tadi.Hilma. menyemangati karyawan. munafik.. Li. What ? Aku terlonjak. Sama atasanku... Nokiaku berdering lagi. Bisa-bisa aku ketularan sciezofrenia sepertimu. pasti dia selalu bahagia karena setiap hari mendapatkan ucapan terima kasih dari karyawannya. Dan memang.? Perjalanan ke tempat kos terasa amat melelahkan. . memberikan konseling. Katanya nggak mau pacaran.. de el el. Apa-apaan sih tuh anak.. ya.Hilma tak membalasnya.. Aku butuh waktu untuk meluruskan otot-otot tubuhku. aku jadian. seleksi bakat dan minat. Hingga akhirnya aku bisa tertidur lelap.. Dan baru saja kuhempaskan tubuhku di atas tempat tidur. Tapi kali ini hanya tanda "message receive"...manusia.. Anak itu biasanya kalo dituruti bisa jadi chatting. zzhh. Kasih selamat dong. Selamat ! Kenapa nggak nikah aja sekalian ? Aku berharap Hilma tak lagi membalas smsku...