CATATAN-CATATAN TERHADAP HASIL Rumusan AMANDEMEN pertama dan kedua UUD 1945

Maret 2001 KONSORSIUM REFORMASI HUKUM NASIONAL (KRHN)

A. Pengantar

1 Reformasi menuntut dilakukannya amandemen atau mengubah UUD 1945 karena yang menjadi causa prima penyebab tragedi nasional mulai dari gagalnya suksesi kepemimpinan yang berlanjut kepada krisis sosial-politik. kesejahteraan rakyat dan kemanusiaan. apakah benar dan tepat cara serta siapa yang melakukan perubahan itu? Atau dengan kata lain 1 . bobroknya managemen negara yang mereproduksi KKN. Bagaimana cara mewujudkan komitmen itu dan siapa yang berwenang melakukannya serta dalam situasi seperti apa perubahan itu terjadi. sehingga siapapun yang berkuasa dengan masih menggunakan UUD yang all size itu akan berperilaku sama dengan penguasa sebelumnya. dan tidak boleh diubah kini telah mengalami beberapa perubahan. Dengan demikian perubahan konstititusi menjadi suatu agenda yang tidak bisa diabaikan. Perubahan konstitusi ini menginginkan pula adanya perubahan sistem dan kondisi negara yang otoritarian menuju kearah sistem yang demokratis dengan relasi lembaga negara yang seimbang. Dengan melihat kembali dari hasil-hasil perubahan itu. Tuntutan perubahan terhadap UUD 1945 itu pada hakekatnya merupakan tuntutan bagi adanya penataan ulang terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Perubahan yang menjadi kerangka dasar dan sangat berarti bagi perubahan-perubahan selanjutnya. Sebab dapat dikatakan konstitusi menjadi monumen sukses atas keberhasilan sebuah perubahan. Catatan-catatan dibawah ini akan mencoba mengupas kelemahan-kelemahan dan beberapa hal yang mungkin diduga dapat menimbulkan persoalan. Karena dari sini akan dapat terlihat apakah hasil dicapai telah merepresentasikan kehendak warga masyarakat. Realitas yang berkembang kemudian memang telah menunjukkan adanya komitmen bersama dalam setiap elemen masyarakat untuk mengamandemen UUD 1945. sampai sejauh mana rumusan perubahan itu telah mencerminkan kehendak bersama. kita akan dapat dinilai apakah rumusan-rumusan perubahan yang dihasilkan memang dapat dikatakan lebih baik dan sempurna. Dari dua kali kepemimpinan nasional rezim orde lama (1959 – 1966) dan orde baru (1966 – 1998) telah membuktikan hal itu. Tidak menutup kemungkinan pula bahwa pada akhirnya. Atau dengan kata lain sebagai upaya memulai “kontrak sosial” baru antara warga negara dengan negara menuju apa yang dicita-citakan bersama yang dituangkan dalam sebuah peraturan dasar (konstitusi). Akibatnya dalam penerapannya kemudian bergantung pada penafsiran siapa yang berkuasalah yang lebih banyak untuk legitimasi dan kepentingan kekuasaannya. Keberadaan UUD 1945 yang selama ini disakralkan. dari penilaian hasil tersebut akan memunculkan pertanyaan yang harus dijawab bersama. Hal ini menjadi suatu keharusan dan amat menentukan bagi jalannya demokratisasi suatu bangsa. Itu terjadi karena fundamen ketatanegaraan yang dibangun dalam UUD 1945 bukanlah bangunan yang demokratis yang secara jelas dan tegas diatur dalam pasal-pasal dan juga terlalu menyerahkan sepenuhnya jalannya proses pemerintahan kepada penyelenggara negara. hancurnya nilai-nilai rasa keadilan rakyat dan tidak adanya kepastian hukum akibat telah dikooptasi kekuasaan adalah UUD Republik Indonesia 1945. dan apakah telah menentukan bagi pembentukan wajah Indonesia kedepan. Wajah Indonesia yang demokratis dan pluralistis. sesuai dengan nilai keadilan sosial. menjadikan suatu bagian yang menarik dan terpenting dari proses perubahan konstitusi itu. Dalam artian.

terutama dalam soal fungsi legislasi dan pengawasannya dapat dikatakan telah terjadi pergeseran bandul politik ke arah legislatif. Perubahan ini berangkat dari pengalaman pemerintahan yang terjadi selama ini dengan sangat kuatnya eksekutif (presiden) dan lemahnya DPR. hak asasi manusia. Lambang Negara dan Lagu kebangsaan. Dengan penambahan kewenangan kepada DPR. Pertama dalam Sidang Umum tahun 1999. Namun pergeseran itu sendiri. sedangkan perubahan selanjutnya yang kedua dilakukan dalam Sidang Tahunan 2000. telah mengurangi dominasi dari pemerintahan yang eksekutif heavy. Pada perubahan yang pertama. warga negara dan penduduk. Sebagaimana hakikat dari konstitusionalisme yang mengharuskan adanya pengakuan dan jaminan terhadap HAM diatur dalam konstitusi. masih belum menampakkan secara jelas sistem pemerintahan yang akan diterapkan. MPR mengubah 9 pasal UUD 1945 yang berkenaan dengan soal kewenangan eksekutif-legislatif serta pembatasan masa jabatan eksekutif (presiden). Tinjauan Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagai badan/lembaga politik yang diposisikan “tertinggi” karena dianggap representasi dari kedaulatan rakyat adalah badan yang dianggap memiliki kewenangan melakukan perubahan UUD. Pertahanan dan Keamanan Negara. Indonesia dikategorikan menganut sistem percampuran (quasi) antara keduanya berdasarkan 2 . antara sistem pemerintahan presidensiil atau parlementer. Bahasa. Perubahan dan penambahan itu menyangkut soal wilayah negara. disamping memilih dan menetapkan Presiden dan Wapres serta membuat GBHN. Sepanjang reformasi dalam sidang-sidangnya. MPR telah mengubah UUD 1945 sebanyak dua kali. Mengingat hanya ada dua model pemerintahan yang dianut negara-negara demokrasi lainnya. Pemerintahan Daerah (otonomi daerah). Ditambah ketentuan lain yang terdapat dalam pasal 3 UUD 1945 bahwa tugas dari MPR adalah menetapkan UUD. kewenangan DPR.2 sampai seberapa besar badan yang diberi otoritas melakukan perubahan memahami tuntutan perubahan mendasar dan mengambil langkah perubahan itu sebagai keputusan politiknya. Diakui bahwa dalam perubahan UUD 1945 itu ada beberapa kemajuan. sehingga “tidak ada” kontrol sama sekali dari DPR terhadap kinerja pemerintahan. Sedangkan pada perubahan yang kedua. Pengalaman dengan pemerintahan yang didominasi eksekutif dan tiadanya kontrol terhadapnya telah berlangsung lebih dari 32 tahun dan itu menimbulkan akibat-akibat seperti yang dialami saat ini. Dan sebagai perimbangannya diberikan kewenangan-kewenangan kepada DPR. terutama dengan dimuatnya soal hak asasi manusia. sebagai upaya untuk memberdayakan legislatif terutama dalam fungsinya melakukan kontrol terhadap eksekutif. B. Bendera. MPR tidak hanya mengubah tapi juga menambah muatan materi yang terkandung didalamnya. Selain itu dengan adanya pembatasan kewenangan dan masa jabatan bagi eksekutif (presiden). Hal ini didasari pula pada ketetentuan pasal 37 UUD 1945 yang menyatakan bahwa “untuk melakukan perubahan UUD ditentukan dan disetujui sekurangkurangnya 2/3 dari jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang hadir”.

karena secara historis para founding fathers yang merumuskan pembukaan itu juga telah mengubahnya dalam pembukaan Konstitusi RIS 1949 dan UUDS 1950. 3 . kekhawatiran bubarnya negara kalau itu diubah dan adanya deologi negara pancasila dalam pembukaan 1 . MPR terlalu tergesa-gesa menutup ruang publik yang hendak mempertanyakan kembali esensi dari ketiganya dan publik dipaksa untuk menerima sesuatu yang diluar kehendak dan pada kenyataannya adalah berbeda. karena perannya juga seperti lembaga legeslatif namun ia bukan lembaga legeslatif. Disamping mengubah dan menambah materi dalam UUD 1945. Sesungguhnya kekhawatiran bubarnya negara jika pembukaan diubah tidaklah beralasan. masih menyisakan soal yudikatif (kekuasaan kehakiman yang mandiri) yang belum diubah yang selama ini juga tidak lepas dari dominasi eksekutif. Ruang publik itu telah dipenjara secara politis oleh MPR. 1 Hal ini berkaitan dengan adanya keinginan untuk memasukkan kembali 7 kata “…dengan keharusan menjalankan Syariat Islam bagi pemeluknya”. Dalam soal negara kesatuan misalnya. apalagi perubahan itu juga tidak dilakukan secara bersamaan. Sistem dengan pencampuran semacam nampaknya akan masih menyisakan persoalan-persoalan. MPR tidak memberikan alasan yang tepat dan cukup rasional diterima publik. Alasan yang dikemukakan lebih menekankan pada penghargaan terhadap para pendiri bangsa yang telah merumuskan itu. Sistem Pemerintahan Presidensiil dan Konsep Negara Kesatuan. PBB dan PDU). hasil perubahan-perubahan UUD 1945 itu belum menyentuh persoalan-persoalan yang menyangkut MPR. Keinginan ini disampaikan terutama dari kalangan Ormas Islam dan beberapa fraksi di MPR (PPP. Terhadap soal pembukaan. Satu hal mendasar lagi adalah tentang keberadaan MPR yang dalam posisinya sebagai lembaga tertinggi negara membuat rancu sistem pemerintahan yang demokratis. karena tidak berangkat dari kerangka dasar disertai pemahaman yang jelas. pada kenyataannya masih ada unsur-unsur pemerintahan parlementarian yang dianut dan diterapkan. Keputusan untuk tidak mengubah ketiga hal tersebut secara politis memang terkesan telah menjadi kehendak mayoritas bangsa. MPR juga telah memutuskan untuk tidak mengubah Pembukaan. Namun keputusan itu tidak berangkat dari kenyataan yang ada dan disertai pemahaman dan penerimaan publik yang rasional. masyarakat telah menggugat konsep negara kesatuan dan ingin menggantikannya dengan negara federal untuk menghindar dari sentralisasi dan eksploitasi yang selama ini terjadi dalam negara kesatuan. Perubahan dan penambahan kewenangan kepada DPR itu nampaknya hanya memindah masalah baru dan memperpanjang krisis politik. jika dikaitkan dengan kejelasan masing-masing hak dan kewenangan lembaga-lembaga negara serta relasi (check and balances). sebagaimana tercantum dalam Piagam Jakarta untuk dimasukkan ke dalam Pembukaan. Sedangkan penetapan sistem pemerintahan presidensiil. MPR yang dimaknai sebagai representasi kekuasan tertinggi rakyat dan dapat melakukan kontrol terhadap kekuasaan lainnya menjadi super body yang tidak dapat dikontrol. Bahkan kalau mau jujur saat ini model pemerintahan yang diterapkan sudah condong jauh kearah parlementarian.menjadi sistem bikameral atau meniadakannya sama sekali.3 distribusi kekuasaan bukan atas dasar pemisahan kekuasaan. Kesemuanya masih menggantung. Meskipun telah ada pemikiran dan kehendak dari masyarakat untuk merekontruksi kembali posisi dan peran MPR --terkait dengan keinginan pemilihan presiden secara langsung --. Dan perubahan pembukaan itu ternyataa tidak menyebabkan bubarnya negara.

Mengingat peran konstitusi sebagai sumber dari segala sumber hukum dan sebagai kerangka kerja demokrasi yang mengatur dan menentukan posisi serta hubungan lembaga presiden. catatan dibawah ini dibuat sistematikanya berdasarkan tema/issue (bab perubahan) yang dilakukan. dikhawatirkan akan tetap menimbulkan persoalan dikemudian hari. Padahal masih banyak lagi sesungguhnya hak-hak yang hakikatnya diberikan kepada warga negara sebagai konsekuensi kalau UUD adalah hukum dasar yang substansinya antara lain mengenai bagaimana hubungan antara negara dan warga negara. Lebih dari itu.4 Dengan “ditutupnya” ruang publik untuk dapat menerima ketiga hal tersebut secara obyektif dan rasional. bila dijabarkan keseluruhan. Apabila ditinjau dari tujuan negara sebagaimana diatur dalam Pembukaan UUD maka ada hak-hak yang secara khusus hanya dimiliki dan diberikan 4 . 1. Ibaratnya seperti bom waktu yang setiap saat bisa meledak. Dirumuskannya materi HAM dalam bab tersendiri diharapkan akan memberikan perlindungan dan jaminan bagi pelaksanaan HAM di Indonesia. sistem presidensiil dan negara kesatuan bisa muncul sewaktu-waktu. Beberapa persoalan-kelemahan yang terdapat dalam rumusan HAM ini adalah: Rumusan-rumusan HAM ini.CatatanTerhadap Hasil Perubahan Catatan-catatan ini ditujukan untuk dapat melihat secara komprehensif dan menelaah lebih jauh beberapa kekurangan-kelemahan dari hasil amandement UUD 1945. yakni sebagai berikut. Dengan demikian secara umum dapat dikatakan bahwa hasil perubahan UUD 1945 baik yang pertama ataupun kedua tidak menunjukkan perubahan yang mendasar bagi bangunan negara Indonesia yang demokratis kedepan. Guna memudahkan pemahaman. Catatan. karena sebelumnya dalam UUD 1945 dapat dikatakan “tidak ada” sama sekali materi atau bab tersendiri soal HAM. Rumusan HAM ini dibuat di Sidang Tahunan MPR 2000 dalam Bab XA Pasal 28 Perubahan Ke-II UUD 1945 yang perumusannya terdiri dari 10 pasal (A – J). hasil perubahan UUD 1945 belum menjadikan identitas nasional baru yang sesuai dengan kebutuhan. C. Hal ini terlihat pula dalam contoh hak yang diberikan untuk warga negara dalam pasal 28 D (3) “Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan “ hanya diatur dalam satu pasal. hasil perubahan-perubahan UUD 1945 belum memberikan jaminan soal itu. secara substansial rumusan-rumusan yang dihasilkan tidak mengelaborasi secara rinci seluruh hak asasi manusia. tuntutan dan gugatan terhadap pembukaan. juga pemerintahan yang bersifat desentralistik. merupakan satu langkah maju. aspirasi dan semangat yang berkembang saat ini. legeslatif dan yudikatif. Hak Asasi Manusia (HAM) Dimuatnya materi soal hak asasi manusia dalam perubahan UUD 1945. sehingga terkesan bahwa Anggota MPR tidak dilandasi pemahaman yang mendalam tentang esensi HAM yang harus diatur dalam UUD.

hak untuk tidak disiksa. ketentuan hak asasi warga negara ini harus diatur serta dalam mengelaborasi ketentuan mengenai hak asasi manusia perlu kiranya dibedakan antara hak yang diberikan kepada setiap orang dengan hak yang diberikan kepada warga negara. Berbeda esensinya dengan rumusan yang berbunyi “setiap orang berhak atas pekerjaan…”. Rumusan – rumusan HAM itu juga tidak sesuai dengan Deklarasi Umum HAM atau International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR). Bahkan dalam beberapa soal perumusannya disebut disebut dua kali yakni. sebagaimana dimaksud Konvensi Geneva 1949. hak beragama. hak untuk tidak diperbudak. masih rancu. sosial. hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani. Hal ini dapat dilihat. Malah perumusannya disatukan atau dicampurbaur antara satu soal dengan soal lain. Oleh karena itu. hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun”. hal ini dapat dilihat dari rumusanrumusan Rumusan pasal 28D (2) yang berbunyi “setiap orang berhak untuk bekerja…” rumusan semacam itu ada pemikiran berusaha untuk menghilangkan/ menyembunyikan tanggungjawab negara. budaya dan politik. Misalnya soal penyiksaan dalam pasal 28 G (2) dan 28 I (1). misalnya dipisahkannya hak bekerja dengan hak memilih pekerjaan. 5 .5 oleh negara hanya untuk warganegara. seperti yang tertuang dalam pasal 23 ayat 1 DUHAM. demikian pula soal hak beragama (pasal 28E ayat 1 dan pasal 28I ayat 1) dan hak hidup (pasal 28A dan pasal 28I ayat (1). Prinsip itu memang merupakan prinsip hukum pidana modern yang oleh sistem hukum internasional ditempatkan sebagai hak yang bersifat sekunder ketika berhadapan dengan asas keadilan dan adanya kejahatan HAM berat. Pasal 28I (3) yang berbunyi “Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban”. hak sipil. Rumusan ini mengundang pertanyaan apa yang dimaksud dengan “dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban itu”? Penggunaan kata ‘tradisional’ lebih mengarah kepada pengertian yang sempit. Seharusnya adalah kewajiban negara untuk melindungi apa-apa yang telah diakui sebagai hak asasi seseorang bukan malah menyembunyikannya. Adanya penegasan untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut karena belum ada aturan ketentuan sebelumnya atau dikenal dengan asas nonretroaktif telah mengadposi secara mentah Konvensi Hak Sipil dan Politik tanpa mengetahui prinsip dasarnya. menimbulkan ketidakjelasan dan persoalan/kontroversi baru. Penyusunan pasal-pasal HAM itu juga kurang sistematis dan tidak didasari pada pembidangan HAM dalam hak politik. Demikian pula dalam rumusan pasal lainnya seperti berhak untuk mendapat pendidikan (pasal 28 C ayat 1) berhak untuk memperoleh informasi (pasal 28 F). Dalam perumusan pasal 28 I (1) dimasukkan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut (prinsip non retroaktif) yang lengkapnya berbunyi “hak untuk hidup. hak ekonomi. begitu pula hak pendidikan dipisahkan dengan hak memilih pendidikan dan pengajaran. hak sosial-budaya. yang hanya berkaitan dengan identitas budaya tidak menerjemahkan secara lebih luas mencakup hak ekonomi.

juga Amnesty Internasional (Kompas. Hendardi. dengan memasukkan hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun (non derogable) kedalam UUD. 2 6 . rumusan itu tidak menyerap seluruh aspirasi dalam DUHAM dan ICCPR yang mengakui adanya kewenangan untuk mengadili para pelanggaran HAM masa lalu. Wakil Ketua PAH I MPR diktum pasal itu bukan merupakan “barang aneh” karena sudah menjadi asas legalitas yang termuat dalam TAP MPR No. Sedangkan Jacob Tobing. XVII/MPR/1998 tentang Piagam HAM dan UU No. Disisi lain Slamet E Yusuf. karena dimuatnya prinsip non retroaktif dalam pasal tersebut Pandangan ini disampaikan beberapa aktivis hak asasi manusia T Mulya Lubis. 3 “Perlukah Non-derogable Rights masuk UUD 1945”. berkenaan dengan adanya persoalan pelanggaran HAM pada masa lalu yang dikhawatirkan tidak akan bisa diproses sebagaimana mestinya. hal ini bisa berdampak serius mengingat bahwa penempatan pasal ini ada dalam konstitusi yang merupakan hukum tertinggi yang tidak mungkin dikalahkan peraturan perundangan dibawahnya. dan Munir serta pakar hukum Tata Negara Prof. 18/8/2000). Sementara di pihak lain. 21/8/2000). suatu hal yang kurang disadari oleh para anggota MPR 3 2. Maka dari itu perlu dipertimbangkan secara serius apakah asas non derogable tetap akan dipertahankan dalam UUD atau dihilangkan. 39/1999 tentang HAM. presiden memberi Pasal ini telah menjadi salah satu pasal yang paling kontroversial. Oleh karena itu keberadaan pasal itu bukan untuk melindungi para pelanggar HAM melainkan untuk tempat persembunyian para pelaku pelanggaran HAM. Mahfudh MD (Kompas. yang statusnya sama dengan undang-undang. 4. Analisis CSIS Tahun XXIX/2000 No. Artinya. yang dianggap sebagai kejahatan menurut hukum nasional maupun internasional. dan menjadi dilematis apabila diterapkan. 18/8/2000). System Pemerintahan Yang akan dicermati soal sistem pemerintahan ini adalah rumusan perubahan yang berkenaan dengan pemberian kewenangan/kekuasaan kepada Legeslatif (DPR) dan pengurangan kewenangan presiden serta pembatasan masa jabatannya. Ketua PAH I MPR beranggapan adanya pasal ini tidak akan mematahkan peraturan perundang-undangan dibawahnya dan masih terbuka untuk memperbaikinya. Dr. Terhadap pemberian kewenangan/kekuasaan kepada DPR dapat terlihat dalam rumusan-rumusan perubahan pertama UUD 1945. Miriam Budiardjo. Karena sepertinya kita mengikat tangan sendiri. 2 Perumusan pasal ini juga dipandang sangat lemah.6 Rumusan itu telah memutlakkan prinsip non retroaktif dan tidak membuka peluang bagi digunakannya prinsip-prinsip hukum internasional seperti yang tertuang dalam pasal 11(2) DUHAM dan pasal 15 (1-2) ICCPR (Konvensi Hak Sipil dan Politik). Berarti. (Kompas. apalagi bila mengingat bahwa PBB sendiri hanya meletakkan non derogable rights dalam kovenan. Meskipun ada klausul lain dalam pasal 28 J (2) yang menyatakan wajib tunduk pada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang. jika dikaitkan dengan ketentuan hak fakir miskin dan anak-anak terlantar sebagaimana pula dicantumkan dalam UUD akan berakibat pada masalah pelanggaran hak asasi manusia. keterbatasan dana pemerintah --yang selalu—menjadi alasan untuk memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar dapat diterima masyarakat. hal 413 –416. Yakni dalam soal presiden mengangkat duta/konsul dan penerimaan/penempatan duta negara lain (pasal 13).

presiden membentuk departemen (pasal 17 ayat 4). berorganisasi dan pers yang telah dijamin dapat menjadi kontrol yang efektif kepada kekuasaan presiden. Perubahan ini menempatkan DPR pada posisi sebagai pemegang kekuasaan pembuat undang-undang yang sebelumnya dipegang oleh presiden. Perubahan-perubahan itu menjadikan lembaga DPR “setara” dengan presiden sebagai balance sekaligus kontrol terhadap peranan presiden. Sebagai contoh. Namun konsekwensinya yang terjadi kemudian adalah terhambatnya proses-proses pemulihan yang harus dilakukan oleh presiden karena kesemuanya harus melalui mekanisme atau prosedur DPR. harus dilakukan dengan memperhatikan pertimbangan DPR. Hal ini menjadi dilematis. Perubahan-perubahan tersebut menunjukkan adanya upaya pemberdayaan dan meningkatkan peran DPR. satu sisi pemberian kekuasaan itu membuat DPR menjadi “kuat” dan disisi lain membuat presiden menjadi “lemah” tidak berdaya. telah menempatkan DPR pada posisi yang kurang proporsional karena tidak berangkat dari kebutuhan yang paling urgen yang sekarang dibutuhkan. Sama seperti halnya perubahan pada pasal 7 yang telah membatasi masa jabatan presiden dan wapres hanya untuk dua periode. Dan dalam pasal 20 (5) disebutkan “Dalam hal rancangan UU yang telah disetujui bersama tersebut tidak disahkan oleh Presiden dalam waktu 30 hari semenjak RUU tersebut disetujui. termasuk dalam hal ini ketika presiden memberikan grasi dan rehabilitasi harus dengan pertimbangan MA (pasal 14 ayat 1) dan dalam memberikan gelar serta tanda jasa yang harus diatur dengan undang-undang (pasal 15). hal ini dapat dilihat dari tertundanya pembebasan Sdr. Kontruksi semacam ini nampaknya juga tidak menguntungkan juga bagi jalannya demokrasi. Berdasarkan perubahan pertama pasal 5 UUD 1945. diyakini dalam masa transisi tidak akan terjadi lagi penyalahgunaan kekuasaan lagi oleh presiden. meskipun masa jabatan dan kekuasaan presiden tidak dibatasi seperti yang tertuang diatas.7 amnesti dan abolisi (pasal 14 ayat 2). yang secara tidak langsung pula menandakan pembatasan kewenangan presiden yang besar. Namun ada ketentuan lainnya yg mengatur bahwa dalam pembahasan rancangan undang-undang dibahas oleh DPR bersama presiden untuk mendapat persetujuan bersama. Perubahan lainnya yang terjadi adalah dalam soal pengajuan dan pengesahan undang-undang. Dua ketentuan ini membikin rancu dan mengundang kontroversi karena 7 . Kekuasaan ini tidak hanya DPR secara institusional namun juga secara personal anggota DPR mempunyai hak mengajukan usul rancangan undang-undang (pasal 21). RUU tersebut sah menjadi UU dan wajib diundangkan”. (pasal 20 ayat 2). Sedangkan dalam perubahan yang kedua kekuasaan DPR ini ditambah dengan memiliki hak interpelasi. Artinya. Perubahan dengan semangat “parlementarian” itu. presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang kepada DPR. sedangkan dalam perubahan pasal 20 (1) DPR memegang kekuasaan membentuk undang-undang. Budiman Sujatmiko karena harus menunggu proses dari DPR dan pembubaran Departemen Sosial dan Penerangan yang menimbulkan konflik antara Presiden dan DPR. hak angket dan hak menyatakan pendapat untuk menjalankan fungsinya (pasal 20A ayat 2). Kebebasan berekspresi.

4 8 .8 menempatkan secara bersama kewenangan presiden dan DPR dapat mengesahkan undang-undang. 4 Perubahan-perubahan dalam konteks sistem pemerintahan itu nampaknya cenderung memberi penguatan – terutama fungsi kontrolnya -. Karena dari usulan rancangan UU yang diajukan DPR kepada Presiden itu. Terhadap perubahan yang menyatakan bahwa “presiden ialah warga negara Indonesia asli” (pasal 6) apa yang menjadi ukuran “asli” itu tidaklah jelas. Disisi lainnya dari ketentuan ini menimbulkan adanya abuse of power terhadap kewenangan DPR untuk mengusulkan rancangan undang-undang sekaligus untuk memaksa Presiden agar mensahkan RUU yang diajukan DPR tersebut. Presiden dan Wapres bersumpah /berjanji dihadapan pimpinan MPR dengan disaksikan oleh pimpinan MA”. yang sebelumnya merupakan hak prerogatif presiden sebagaimana diatur dalam pasal 10 UUD 1945. jika mau konsisten prosedur itu menjadi kewenangan DPR sesuai dengan bunyi pasal 20 (1) Amandemen UUD 1945. Dalam hal ini. Perubahan itu ditambah lagi dengan adanya Ketetapan MPR No. Terhadap penambahan pasal 9 yang menyatakan “jika MPR/DPR tidak dapat mengadakan sidang. pernyataan mengesahkan RUU untuk menjadi UU. Sinar Grafika. yaitu persetujuan yang dilakukan oleh DPR dan Presiden. Dalam kekuasaan membuat undang-undang.kepada DPR dengan melakukan pemangkasan terhadap peran dan kewenanangan presiden. Rumusan ini dapat menimbulkan penafsiran diskriminatif terhadap hak warga negara untuk menduduki jabatan di pemerintahan (presiden). dan kewenangan mengundang UU. ada 3 hal pokok yang terkandung. yang amat rentan menimbulkan konflik antara Presiden dan DPR. disatu sisi. Misalnya dalam kasus RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya (RUU PKB) dan RUU Serikat Pekerja. Rupanya pula pengertian pemegang kekuasaan membentuk undang-undang ini tidak dicermati secara benar. Juli 2000. pada akhirnya Presiden tidak mempunyai hak apakah akan menyetujui ataukah menolak RUU yang diusulkan DPR itu. 34-35. VII/MPR/2000 yang mengaharuskan adanya persetujuan DPR jika Presiden mengangkat Panglima TNI dan Kapolri. Rumusan –rumusan ini dapat dikatakan masih menggunakan sebagian sistem presidensiil dan sebagian sistem parlementer. “Amandemen UUD 1945: Antara Teks dan Konteks Dalam Negara Yang Sedang Berubah”. Seharusnya. Selain itu ketentuan ini juga menimbulkan kendala lain apakah memang ketentuan ini berlaku surut terhadap RUU yang belum disahkan Presiden sebelum adanya amandemen kedua UUD. Brawijaya. Rumusan ini nampaknya mengadopsi dari Ketetapan “Tim Kajian Amademen FH Univ. hal. yang hingga kini menggantung tidak jelas nasib penentuannya. dan itu termasuk bagian dari kekuasaan proses penerapan kekuasaan membentuk undang-undang. perihal pernyataan mengesahkan RUU oleh Presiden menimbulkan pertanyaan. karena dalam amandemen pasal 20 (4) menyatakan bahwa Presiden mengesahkan Rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama DPR dan Presiden untuk menjadi undang-undang. Dengan kata lain DPR lah yang harus mengesahkan RUU menjadi UU berdasarkan asas kedaulatan rakyat.

Konsepsi otonomi daerah dalam rumusan pasal 18 (5) yang berbunyi “ Pemerintah Daerah menjalankan otonomi seluasluasnya. persoalan kemudian adalah bias apa yang hendak ditekankan karena harus diatur (atribusi) lagi dalam undang-undang. Pemerintahan Daerah Secara umum perumusan yang terkandung dalam pasal 18 ini tidak mensistematisir apa yang sesungguhnya harus diatur dalam UUD perihal otonomi daerah. Dalam kasus lain. Seperti soal. 4. apa syarat-syaratnya atau dalam kondisi yang bagaimana MPR/DPR itu dikatakan tidak dapat mengadakan sidang.9 MPR No. IV/MPR/2000 tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah dan UU No. Dan seharusnya digunakan kata terdiri yang lebih menunjukan prinsip independensi dan egalitarian dalam mewujudkan otonomi daerah. Wilayah Negara 9 . sampai soal pengakuan terhadap masyarakat hukum adat (ps. 3.” dapat menimbulkan kontradiksi. TAP MPR No. nyata dan bertanggungjawab. Dampak dari perbedaan ini disamping menimbulkan kotradiksi hukum. pemilihan kepala daerah dan DPRD (ps 18 ayat 3&4). Karena pengertian “dibagi” ini tergantung dari interprestasi pemerintah pusat yang tidak didasari realitas dan aspirasi masing-masing daerah. pembagian wilayah (ps 18 ayat 1). serta kehendak untuk merubah bentuk negara kesatuan menjadi federalisme tidak bisa dinafikkan begitu saja. Kalaupun itu mau diatur dalam UUD. Rumusan semacam ini dapat menimbulkan penafsiran yang beragam. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah. meskipun prinsip pemerintahan daerah dengan otonomi daerah itu merupakan hakikat dalam konteks negara kesatuan. Penggunaan kata “dibagi” dalam perumusan “Negara kesatuan RI dibagi atas daerah provinsi-provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota…. Dikarenakan masih belum jelasnya apa yang dimaksud dengan tidak dapat mengadakan sidang. terutama bagi faktor kepentingan politis baik yang dilakukan untuk kepentingan presiden sendiri maupun fraksi-fraksi politik di MPR.…” berbeda maknanya dengan apa yang sebelumnya dirumuskan dalam UU No. namun disisi lain pada kenyataan adanya tuntutan untuk membebaskan daerah (merdeka) seperti Aceh dan Papua. dan apa yang hendak dikonsepsikan dalam konstitusi ini perihal pemerintahan daerah (otonomi daerah). Hampir semua obyek yang merupakan proporsi undang-undang diatur dalam pasal ini. Hal ini berkenaan dengan adanya beragam format pengaturan perundang-undangan tentang pemerintahan daerah/otonomi daerah. 22 tahun 1999 yakni Otonomi yang luas. yakni di Amandemen Kedua UUD 1945. juga akan menimbulkan interpretasi yang beragam dalam pelaksanaannya. Sehingga penempatan konsep pemerintahan daerah ini dalam konstitusi masih manjadi kendala. 18B ayat 2). karena bisa jadi itu bukan merupakan rumusan yang final berdasarkan kehendak politis seluruh rakyat Indonesia.VII/MPR/1973 yang dipakai sebagai landasan yuridis pengunduran diri Soeharto sebagai presiden.

” Dalam hal usaha pertahanan negara ini seharusnya bukan menjadi kewajiban tetapi menjadi hak dan kehormatan bagi warga negara. VII/MPR/2000 bahwa untuk penentuan Panglima TNI/Kapolri harus melalui 10 . bila mengingat pula Ketetapan MPR No. dan AU pun berada di tangan Presiden. masih ada ketentuan pasal yang menimbulkan kendala. Upaya ini amat rentan terhadap kemungkinan terjadinya konflik horizontal yang dapat menimbulkan kerusuhan-kekerasan dalam skala yang luas. Seharusnya hal mengenai pembelaan negara ini cukup menjadi hak dan bukan menjadi kewajiban warga negara. maka terlihat adanya paksaan dari negara kepada warga negaranya untuk ikut serta dalam usaha pertahanan negara. Dalam ketentuan pasal 35 Amandemen UUD 1945 ini dipisahkan antara kekuatan pertahanan dan keamanan negara yang semula berada dalam satu sistem (Sistem HANKAMARATA). Pertahanan dan Keamanan Dalam pasal 35 ayat 1 amandemen II UUD 1945 disebutkan bahwa “Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan negara. untuk mencegah terulangnya kembali “ekspansi” dalam kasus Timur-Timor. setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Sehingga kedudukan Panglima TNI sejajar atau bahkan diatas kedudukan menteri. AL. Ketentuan pasal 35 amandemen II UUD 1945 (tentang Pertahanan dan Keamanan Negara) ini memperbaharui ketentuan dari pasal 30 UUD 1945 (tentang Pertahanan Negara). AL. Dari pemisahan kedua sistem ini. Disini ada ketidakjelasan apa yang dimaksud dengan “yang berciri Nusantara” itu? apa yang kemudian menjadi tolak ukurnya? Bagaimana penentuannya yang meskipun akan diatur kembali lewat UU. 6. Misalnya dari ketentuan pasal 7 UUD 1945 yang mensyaratkan bahwa Presiden memegang kekuasaan tertinggi atas AD. Bila hal ini menjadi suatu kewajiban bagi warga negara.10 Masalah wilayah negara dirumuskan dalam Bab IX A pasal 25 E yang menyatakan bahwa “Negara Kesatuan RI adalah sebuah negara kesatuan yang berciri Nusantara dengan wilayah dan hak-haknya ditetapkan dengan UU”. dimana sistem Pertahanan dipegang oleh kekuatan TNI dan sistem keamanan yang dipegang oleh POLRI. namun tetap seharusnya dari penentuan wilayah ini. dan AU. Dari UUD 1945. Dengan kewajiban itu akan memudahkan siapapun yang mempunyai kewenangan (dalam hal ini alat negara yang bernama TNI) untuk melakukan mobilisasi secara paksa terhadap warga negara. (misalnya RUU Kepolisian) agar antara peraturan satu dengan lainnya tidak saling bertentangan. Warga Negara dan Penduduk Dalam pasal 27 (3) bab tentang warga negara disebutkan bahwa. Dengan demikian kewenangan untuk mengangkat Panglima AD. Dengan adanya ketentuan pasal 35 ini berarti pula harus pula diperhatikan ketentuan peraturan-peraturan dibawah UUD yang berkaitan dengan TNI dan POLRI. dengan mengacu hukum internasional. 5. yang perlu dicermati kemudian adalah siapa yang berwenang untuk menengahi apabila suatu saat terjadi persinggungan antara kekuatan pertahanan dan keamanan.

Kesimpulan Atas Catatan Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dari catatan-catatan diatas adalah sebagai berikut . Nampaknya masih ada upaya konsolidasi militer dan menarik-narik kembali militer kekancah politik. Rumusan mana yang dirasa cocok. BP MPR direncanakan akan membentuk Tim Ahli yang akan membantu dan memberikan masukan kepada BP-MPR sebelum diputuskan dalam Sidang Tahunan yang akan datang. D. Meskipun ada penambahan disamping perubahan.. itulah yang dipakai tanpa melihat hakikat dan keterkaitan secara menyeluruh antara satu pasal dengan pasal yang lain. Rumusan-rumusan perubahan itu tidak dikontruksikan dalam paradigma yang jelas dan tersusun secara sistematis. 11 . belum dapat menunjukkan kejelasan dan ketegasan bagi kepentingan transisi demokrasi yang dapat menempatkan konstitusi sebagai hukum tertinggi sebagai ciri dari sebuah negara hukum. rumusan-rumusan yang dibuat ternyata masih terdapat hal-hal yang rancu dan penafsiran beragam yang dapat memunculkan persoalan/kontroversi baru. Jadi hanya tinggal dua negara didunia ini yang Panglima TNI berada tidak di bawah Menhankam. Secara menyeluruh perubahan dan penambahan dalam UUD 1945. sejahtera dan pluralis yang didasari nilai keadilan dan kemanusiaan. yaitu Indonesia dan Myanmar. sesuai dengan Ketetapan MPR No. Dengan kata lain amandemant UUD 1945 yang dilakukan oleh MPR belum memperlihatkan hasil yang tidak hanya merepresentasikan kehendak rakyat Indonesia. tapi juga menentukan bagi pembentukan wajah Indonesia kedepan.11 persetujuan DPR. E. Dalam melanjutkan Amandemen yang Ketiga itu. Penutup Saat ini BP MPR sedang mempersiapkan kelanjutan Amandemen UUD 1945 yang ditargetkan akan diselesaikan pada tahun 2002. IX/MPR/2000. Indonesia baru yang lebih demokratis. Rumusan-rumusan perubahan yang telah dibuat oleh MPR tidak banyak mengacu dari perangkat hukum internasional yang telah disepakati terutama dalam soal menempatkan prinsip-prinsip demokrasi dan nilai-nilai hak asasi manusia. Sehingga terkesan bahwa MPR dalam mengubah UUD ini hanya asal comot saja sesuai selera masing-masing. kebijakan itu amat bertentangan dengan kehendak tuntutan dicabutnya dwifungsi TNI dan penempatan kontrol militer dibawah sipil.

Jakarta. nampaknya proses perubahan konstitusi UUD 1945 ini tidak bisa lagi diserahkan dan ditentukan sendiri oleh MPR. harus menuliskan visi seluruh masyarakat dan bisa meyakinkan bahwa dengan sistem yang diatur dalam konstitusi tersebut maka semua mimpi dan tujuan seluruh masyarakat akan bisa dicapai. Dengan demikian nampaknya perubahan konstitusi itu harus diserahkan kepada Komisi Konstitusi yakni sebuah badan yang independen dan dapat mereperesentasikan dan melibatkan masyarakat luas untuk berpartisipasi dalam mengubah dan menentukan konstitusi. Muna Ndulo. Proses yang terjadi di MPR lebih banyak diwarnai oleh kepentingan politik dan golongan yang ada dalam MPR dan MPR tidak melibatkan partisipasi penuh masyarakat Indonesia. MPR telah memonopoli wacana perubahan-perubahan itu untuk ditentukannya sendiri yang seluruhnya amat bergantung pada selera kepentingan politik yang sempit dan berjangka pendek. Mengutip perkataan seorang ahli konstitusi dari Zambia. 20 Maret 2001 Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN) 12 . yang mengatakan bahwa konstitusi sebuah negara haruslah merupakan catatan kehidupan sebuah bangsa sekaligus mimpi-mimpi yang belum terselesaikan. Prof. Sehingga hal ini berdampak pada hasilnya yang tidak memiliki paradigma.12 Berangkat dari proses yang sudah dilakukan oleh MPR dan rumusan-rumusan yang telah dihasilkan. haruslah menjadi otobiografi nasional yang mencerminkan kemajemukan masyarakatnya. Paradigma perubahan yang menjadi politik hukum perubahan konstitusi. yang menjadi dasar menentukan arah perubahan sekaligus sebagai parameter terhadap produk perubahan konstitusi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful