P. 1
Orang Tua, Remaja, dan Situs Jejaring Sosial

Orang Tua, Remaja, dan Situs Jejaring Sosial

|Views: 577|Likes:
Published by Abu Bakar Fahmi
Seberapa Besar Pengaruh Orang Tua terhadap Perilaku Anak Remajanya dalam Menggunakan Situs Jejaring Sosial?

Agar anak remaja kita tidak banyak menampilkan data pribadi tentang dirinya di situs jejaring sosial dan untuk mengurangi kemungkinan anak remaja kita bertemu secara tatap muka dengan orang asing yang baru dikenal di situs jejaring sosial, maka kita perlu lebih banyak orang tua yang otoritatif: orang tua yang memberikan kontrol sekaligus keramahan, dalam porsi yang seimbang, pada anak remajanya.
Seberapa Besar Pengaruh Orang Tua terhadap Perilaku Anak Remajanya dalam Menggunakan Situs Jejaring Sosial?

Agar anak remaja kita tidak banyak menampilkan data pribadi tentang dirinya di situs jejaring sosial dan untuk mengurangi kemungkinan anak remaja kita bertemu secara tatap muka dengan orang asing yang baru dikenal di situs jejaring sosial, maka kita perlu lebih banyak orang tua yang otoritatif: orang tua yang memberikan kontrol sekaligus keramahan, dalam porsi yang seimbang, pada anak remajanya.

More info:

Published by: Abu Bakar Fahmi on May 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/02/2013

pdf

text

original

Pengasuhan Orang Tua

Seberapa Besar Pengaruh Orang Tua terhadap Perilaku Anak Remajanya dalam Menggunakan Situs Jejaring Sosial?

Pada awal Februari 2010, Bintang Kejora (bukan nama sebenarnya), seorang gadis remaja berusia 14 tahun, datang ke Jakarta bersama orang tuanya untuk menghadiri pesta pernikahan salah seorang pamannya. Sebelum menghadiri pesta pernikahan, Kejora bersama keluarganya menginap di rumah pamannya yang lain di Tanah Kusir. Pada malam hari sebelum menghadiri pesta pernikahan, Kejora bertemu seorang laki-laki di seberang rumah tempat dia menginap. Segera setelah kejadian itu, Ibunya, karena merasa kesal—entah alasan apa yang membuatnya merasa kesal—menampar Kejora. Sabtu sore atau keesokan harinya usai menghadiri pesta pernikahan, Kejora dan keluarga pulang ke kediaman pamannya di Bumi Serpong Damai (BSD). Setelah tiba di BSD, Kejora sibuk menerima telepon dari seseorang yang diduga kenalannya di Facebook. Karena suasana rumah tampak ramai, orang tua tidak memperhatikan Kejora. Salah satu sepupunya melihat tiga cowok menemui Kejora di depan rumah. Saat sepupunya masuk ke dalam rumah, Kejora kemudian pergi entah ke mana. Pihak keluarga berusaha mengetahui keberadaan Kejora, tetapi handphone-nya tidak bisa dihubungi. Kejora hilang. Pihak keluarga melaporkan kejadian hilangnya siswa kelas 2 sebuah SMP di Jawa Timur ini ke Kepolisian Sektor Metro Serpong, Tangerang Selatan. Bersama pihak kepolisian, keluarga menyebar fotokopi identitas dan foto Kejora ke tempat umum, seperti tempat hiburan, restoran,

pasar, rumah sakit, dan mal di sekitar Serpong. Pada lembar tersebut tertulis kalimat berikut, "Telah meninggalkan rumah seorang gadis bernama lengkap Bintang Kejora. Kelahiran Surabaya 3 November 1995. Tinggi badan 150 sentimeter dengan berat badan 44 kilogram”. Pada lembar yang sama, tertera dua foto Kejora. Setelah melakukan pencarian selama tiga hari, polisi akhirnya menemukan Kejora di dekat sebuah restoran di Tangerang. Saat ditemukan, Kejora tidak sendirian. Dia bersama seorang laki-laki yang dikenalnya di Facebook, sebut saja Romeo. Melalui Facebook, Kejora telah mengenal Romeo sejak November 2008. Perkenalan dilanjutkan dengan bertukar nomor handphone sehingga terjalin komunikasi yang lebih intensif di antara keduanya. Setelah ditemukan, Kejora dibolehkan pulang, sementara Romeo harus berurusan dengan kepolisian. Saat ditanya mengenai motif tindakan Kejora dan Romeo, seorang pejabat Polda Metro Jaya hanya menjawab singkat, ”Cinta... cinta”. Pada waktu yang berdekatan, kasus kehilangan anak remaja marak terjadi. Modusnya pun serupa, dua orang remaja yang belum pernah bertemu mula-mula berkenalan di Facebook. Kemudian, mereka memadu janji dengan bertemu secara langsung di dunia nyata. Facebook memungkinkan seorang remaja berkenalan dengan siapa saja yang diinginkan dan melanjutkan perkenalannya melalui pertemuan secara langsung. Facebook memungkinkan perkenalan itu. Seseorang dapat dengan mudah terhubung dengan orang lain, termasuk dengan orang yang belum pernah dikenalnya. Facebook juga memungkinkan seseorang yang baru berkenalan bisa terkesan lebih akrab. Namun sesungguhnya, yang lebih memungkinkan terjalinnya perkenalan dan keakraban itu sesungguhnya adalah pada diri remaja itu sendiri. Ya, usia remaja memungkinkan seseorang menjalin pertemanan dengan siapa saja yang diinginkan—jika Anda remaja atau pernah menjadi remaja, tentu Anda merasakan bahwa melewatkan waktu berkumpul dan berbagi suka cita (mungkin sedikit duka cita) dengan teman sangat penting. Usia remaja merupakan fase yang memiliki kekhasan berkaitan dengan kebutuhannya menjalin interaksi dengan temantemannya—atau dengan siapa saja yang ingin dijadikannya sebagai teman. Seperti apakah kecenderungan remaja terhadap kebutuhan atas pertemanan? “Remaja menginginkan teman yang mempunyai minat dan nilai-nilai yang sama, yang dapat mengerti dan membuatnya merasa aman, dan yang kepadanya ia dapat mempercayakan masalah-masalah dan membahas hal-hal yang tidak dapat dibicarakan dengan orang tua maupun guru,” begitu ungkap Elizabeth B. Hurlock, penulis buku-buku psikologi perkembangan, dalam salah satu bukunya. Hurlock juga mengungkap sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa sebagian besar remaja membutuhkan “seseorang yang dapat dipercaya, seseorang yang dapat diajak bicara, dan seseorang yang dapat diandalkan”. Pada fase remaja, kebutuhan tersebut belum sepenuhnya bisa terpenuhi saat mereka berhubungan dengan orang tuanya di rumah maupun gurunya di sekolah. Remaja lebih merasa kebutuhan itu bisa terpenuhi saat mereka berinteraksi dengan teman-temannya.

Dengan adanya Facebook, mencari orang yang dapat dipercaya, dapat diajak bicara, dan dapat diandalkan tidaklah sulit—setidaknya menurut asumsi remaja itu sendiri, walau kemudian terbukti bahwa asumsi tentang orang tersebut ternyata keliru. Dengan Facebook, remaja lebih mudah dilipur dengan interaksi yang akrab dengan orang lain, bahkan orang yang belum pernah dikenal sebelumnya. Seorang remaja mungkin baru akan tersadar bahwa pertemanan yang dijalin di dunia maya hanya semu belaka, terutama pada orang-orang yang semula belum dikenalnya, sampai ia bertemu secara langsung dengan teman tersebut lalu menyadari bahwa yang dipahaminya ternyata keliru. Kalau toh seorang remaja tidak merasa keliru atas pandangannya tentang seseorang yang baru dikenalnya di Facebook, mungkin ada kekuatan lain yang hadir sebagaimana ada pada kasus Kejora di atas: cinta. “Remaja juga tidak lagi hanya menaruh minat pada pada teman-teman sejenis,” lanjut Hurlock. “Minat pada lawan jenis bertambah besar selama masa remaja. Dengan demikian, pada akhir masa remaja seringkali mereka lebih menyukai lawan jenis sebagai teman meskipun tetap masih melanjutkan persahabatan dengan beberapa teman sejenis.” Melalui Facebook, minat remaja terhadap lawan jenis mudah saja disalurkan. Dalam Facebook, seseorang bisa mengucapkan perasaan suka tanpa harus mengeluarkan emosi yang sangat besar, sebagaimana jika bertemu secara langsung. Ia juga bisa mengunakan Facebook untuk memberikan perhatian kepada lawan jenisnya yang bisa dengan mudah ditangkap oleh remaja sebagai bentuk rasa suka. Beban yang harus ditanggung pun tidak terlalu berat jika perasaan sukanya tidak disambut oleh lawan jenisnya. Dengan Facebook, seorang remaja bisa saja menyatakan cinta, memberi perhatian pada seseorang dan berbagai ekspresi cinta lainnya dan jika ditolak atau tidak ditanggapi, ia bisa melakukan hal yang sama pada orang yang lain. Dampak yang ditanggung remaja dalam berkenalan di Facebook pun tidak selamanya baik. Karena tidak sepenuhnya mengetahui seseorang yang dikenalnya di Facebook, remaja bisa saja berkenalan dengan orang yang keliru. Seorang psikolog dari Universitas Indonesia (UI), Mayke S. Tedjasaputra, mengungkapkan betapa dahsyatnya Facebook mempengaruhi perilaku remaja dalam menjalin perkenalan. “Mereka bisa berkenalan dengan seseorang yang memanfaatkan mereka, mengajarkan hal-hal yang mengagumkan sampai anak-anak terkesima, mengajarkan perilaku tertentu, hingga yang negatif, seperti ajakan berhubungan intim,” katanya. Orang yang semula tidak saling kenal akan mudah saja saling berinteraksi dengan melakukan perbuatan yang tidak akan mungkin dilakukan jika keduanya saling kenal. Mungkin ada semacam perasaan segan, juga enggan, pada dua remaja yang sudah saling kenal untuk melakukan perbuatan tertentu yang selama ini belum pernah mereka bicarakan—bahkan mereka mungkin akan malu membicarakannya. Namun, dengan orang yang baru dikenal, seorang remaja tidak punya hambatan psikologis yang besar untuk membicarakan sesuatu yang tabu dibanding dengan jika berbicara dengan orang yang sudah lama dikenalnya. Tapi sesungguhnya, bagaimana sikap remaja terhadap ajakan-ajakan di situs jejaring sosial dari seseorang yang tak dikenalnya? Sebenarnya, sebagian besar remaja akan mengabaikan orang yang tidak dikenalnya di situs jejaring sosial. Sebuah survei tentang orang tua dan remaja dilakukan Pew Internet bersama American Life Project pada Oktober sampai November 2006.

Sebanyak 291 remaja yang pernah dihubungi orang tak dikenal melalui situs jejaring sosial ditanya, “Coba ingat beberapa waktu lalu saat Anda dihubungi secara online oleh seseorang yang tidak Anda kenal sama sekali, bagaimana Anda meresponnya?” sebanyak 65 persen mengatakan hanya mengabaikan atau menghapusnya, 21 persen menanggapi sehingga dapat mengetahui lebih jauh tentang orang tersebut, 8 persen menanggapi dan meminta untuk tidak menghubunginya lagi, 3 persen melaporkan kepada orang yang lebih dewasa, dan 3 persen menjawab selain itu. Sebagian besar remaja akan mengabaikan jika dihubungi secara online oleh orang yang tak dikenalnya. Mungkin cukup melegakan. Namun sebenarnya tidak cukup lega jika dilihat, pada data di atas, sebanyak 21 persen remaja yang dihubungi orang yang tak dikenal akan meresponnya dan mencari tahu lebih jauh tentang orang tersebut. Dihubungi oleh orang tak dikenal bisa membuat lebih dari seperlima remaja penasaran untuk mengetahui siapa gerangan yang menghubunginya. Jumlah 21 persen tentu tidak bisa dipandang kecil. Angka tersebut memungkinkan satu atau dua orang atau lebih terjerat pada kejadian sebagaimana yang dialami Kejora. Dan kejadian semacam ini tentu bisa menguras waktu, tenaga dan biaya banyak orang. Bukan hanya orang tua remaja tersebut, tetapi juga sejumlah pihak yang berkaitan dengan perihal anak hilang. Pada penelitian lain yang dilakukan oleh lembaga yang sama diketahui bahwa remaja, khususnya perempuan, cukup rentan terhadap ajakan pertemanan dari seseorang yang tidak dikenalnya. Gadis remaja dan remaja yang usianya lebih tua (sekitar 15-17 tahun) lebih memungkinkan dikontak secara online oleh orang tak dikenal daripada remaja lakilaki dan remaja dengan usia yang lebih muda. Gadis remaja dengan usia lebih tua paling sering melaporkan bahwa dirinya telah dihubungi secara online oleh orang yang tak dikenal (51 persen). Sedangkan remaja laki-laki dengan usia lebih tua hanya 30 persen saja yang melaporkan kalau dirinya pernah dikontak oleh orang tak dikenal. Laki-laki yang tidak dikenal mungkin merasa bahwa gadis remaja usia 15-17 tahun sudah cukup dewasa untuk berbicara dengan lawan jenis dan cukup dewasa untuk menanggapi perkenalan dengan orang yang baru dikenal. Disamping itu, gadis remaja dengan usia 15-17 tahun mungkin merasa dirinya tidak sebagai anak-anak lagi, bahkan mungkin sudah merasa dewasa untuk berkomunikasi dengan siapa saja, termasuk dengan orang yang tidak dikenal. Gadis remaja dengan usia 15-17 tahun mungkin akan merasa dirinya terlalu kanak-kanak jika tidak menanggapi ajakan perkenalan dari orang yang belum pernah dikenalnya. Sebenarnya, apa yang dicari oleh remaja di situs jejaring sosial? apa yang mendorong mereka menggunakan situs jejaring sosial sampai harus siap menanggung kemungkinan dihubungi oleh orang yang tidak dikenal? Hasil survey Pew Internet bersama American Life Project menunjukkan bahwa sebagian besar remaja menggunakan situs jejaring sosial agar bisa tetap berhubungan dengan orang-orang yang sudah pernah dikenalnya, baik itu teman yang sering mereka temui (91 persen) maupun teman yang jarang mereka temui (82 persen). Sedangkan 49 persen remaja menggunakan situs jejaring sosial untuk menjalin pertemanan baru. Tidak hanya pertemanan saja yang bisa diperoleh remaja di situs jejaring sosial. Penelitian

yang dilakukan Barbie Clarke dari Universitas Cambridge menyimpulkan bahwa remaja menggunakan situs jejaring sosial untuk menjalin pertemanan dan mengeksplorasi identitas dirinya. Artinya, di samping membangun pertemanan, situs jejaring sosial juga digunakan remaja untuk membangun identitas dirinya. Membangun identitas pada masa remaja merupakan tugas perkembangan yang penting bagi remaja. Seorang tokoh psikologi perkembangan Erik H. Erikson memandang bahwa masa remaja sebagai periode seseorang membangun identitas yang dibentuk melalui serangkaian idealisasi diri dan sistem keyakinan dalam upaya mengembangkan orientasi peran yang dipandang tepat oleh masyarakat. “Identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa peranannya dalam masyarakat,” begitu tulis Erikson. Bagaimana pembentukan identitas ini dilakukan melalui situs jejaring sosial? Pada Facebook, identitas diri bisa dimunculkan pada kolom “about me”. Remaja bisa mengungkapkan apa saja yang dipandang tepat untuk menggambarkan tentang dirinya. Pada info di profil Facebook, remaja dapat menampilkan berbagai informasi yang menunjukkan identitas dirinya—apa yang ingin orang lain ketahui tentang dirinya. Mereka bisa menampilkan minat dirinya, musik yang disukainya, film yang disukainya, tokoh idolanya, dan buku yang disukainya. Remaja dapat menampilkan foto apa saja yang akan dijadikan sebagai identitas bagi profil dirinya di Facebook. Remaja bisa meng-up load foto dirinya yang bisa memperkuat identitasnya. Mereka bisa membuat album foto yang bisa membangun kesan tertentu tentang dirinya pada orang lain. Mereka pun bisa menggunakan fasilitas tag agar orang-orang tertentu bisa segera melihat foto dirinya. Untuk mengungkapkan sikap, pandangan, pengetahuan, dan apapun yang mereka ingin agar orang lain mengetahui tentang dirinya, remaja bisa menuliskan apa saja di dinding (wall) maupun di catatan (note) pada profil Facebooknya. Dengan upaya-upaya tertentu, Facebook bisa memberi kontribusi positif pada remaja. Facebook sangat bermanfaat dalam membantu remaja menjalani tugas perkembangannya. Facebook membantu remaja mendapatkan pengakuan atas keberadaan dirinya di antara teman sebaya dan mampu membangun identitas dirinya sebagaimana diharapkan oleh orang-orang di sekitar mereka. Facebook membantu remaja melakukan sosialisasi dan penyesuaian diri atas norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Namun, adakalanya remaja menampilkan sikap yang tidak diharapkan—perilaku mereka menyimpang dari norma dan nilai yang berlaku. Melalui Facebook, teman sebaya yang dikenalnya justru membuat remaja semakin memperburuk citra dirinya. Remaja menampilkan perilaku negatif akibat pergaulan dengan teman yang baru saja dikenalnya di Facebook. Remaja menampilkan identitas diri yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Misalnya menulis ungkapan yang bernada menghina di Facebook, menampilkan foto yang mengundang orang lain untuk berbuat jahat, menampilkan identitas diri yang terbuka sehingga pada akhirnya mengganggu privasi dirinya, membicarakan perihal yang tidak pantas bagi remaja seusianya saat melakukan chatting dengan orang dewasa yang baru dikenalnya, dan sebagainya. Melalui Facebook, remaja menampilkan berbagai perilaku negatif yang membuat orang tua tidak bisa tidur nyenyak. Umumnya sebuah alat bantu atau sarana yang

tergantung sepenuhnya pada penggunanya, Facebook cukup unik di tangan remaja. Beberapa pihak mungkin akan menyalahkan Facebook sebagai penyebab permasalahan remaja saat ini. Mungkin kita perlu menghibur diri sejenak bahwa masa remaja hanyalah sebuah fase dalam pertumbuhan seseorang. Anak remaja Anda tidak akan selamanya berbuat buruk. Perilaku negatif mereka tidak akan menetap sepanjang waktu. Perilaku mereka akan berubah seiring dengan pertumbuhan mereka menuju dewasa. “Jika kita tahu bahwa perilaku remaja hanyalah sebuah fase, mengapa kita meributkannya?” begitu tanya Richard Carlson dalam bukunya Don’t Sweat Your Small Stuff with Your Family. “Kita cemas bahwa tingkah laku dan arah kehidupan kita ketika usia lima belas tahun akan berjalan permanen, seperti diukir pada batu. Dalam beberapa hal kita kurang menaruh kepercayaan pada anak remaja kita padahal mereka membutuhkannya. Kurangnya kepercayaan ini dirasakan betul oleh anak muda zaman sekarang dan, saya yakin, memiliki peran besar atas timbulnya masalah yang kini banyak terjadi”. Namun, ternyata zaman sekarang telah membuat kepercayaan itu sendiri semakin terkikis. Orang tua tidak mungkin hanya percaya begitu saja pada aktivitas anak yang terlalu privat, semacam menggunakan Facebook. Zaman sekarang, dengan teknologi komunikasi semacam Facebook, membuat orang tua tidak mudah begitu saja percaya pada anak remajanya. Terkait aktivitas anak remaja di situs jejaring sosial, ada kekhawatiran orang tua terhadap aktivitas anaknya itu. Alih-alih menjadi aktivitas yang privat sehingga orang tua tidak tahu apa yang dilakukan anaknya, anak remaja justru memberikan banyak informasi pribadi di dunia maya sehingga orang lain bisa mengetahui lebih banyak tentang dirinya. Sebuah jejak pendapat dilakukan oleh Common sense Media dan Zogby International terhadap 2.100 orang di Amerika Serikat pada Austus 2010. Hasilnya, sebanyak 92 persen orang tua khawatir bahwa anaknya memberikan terlalu banyak informasi di dunia maya. Sebanyak 85 persen orang tua mengatakan mereka lebih peduli tentang privasi di dunia maya dibandingkan 5 tahun sebelumnya. Bahkan, 79 persen para remaja mengatakan kalau temannya telah membagi terlalu banyak informasi pribadi di dunia maya. Alih-alih orang tua memberikan kepercayaan kepada anaknya, sebenarnya, sejauh mana pengaruh orang tua terhadap perilaku anaknya? Kejadian yang menimpa Kejora mengundang keprihatinan berbagai kalangan. Masalah yang sudah terangkat ke permukaan memang lebih menggoda siapa saja untuk menimbang-nimbang perihal penyebab masalahnya. Mereka menimpakan penyebab kejadian itu pada orang tua. Walaupun orang tua bukan sepenuhnya sumber masalah remaja, namun orang lain akan mudah menempatkan orang tua sebagai sumber penyebabnya. Padahal, setiap orang tua yang memiliki anak gadis berusia remaja mungkin akan cemas terhadap setiap kejadian yang menimpa remaja. Orang tua yang tidak mendapati anaknya tertimpa masalah seperti mendapat kemujuran dan bergumam bahwa untungnya yang tertimpa masalah bukan anak remajanya— atau belum gilirannya? Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Boy Rafli Amar, yang menangani

kasus hilangnya Kejora, memberikan masukan kepada orangtua agar lebih memperhatikan anak gadis yang menginjak usia remaja. “Mungkin mengawasi saat berkomunikasi melalui jejaring sosial,” begitu katanya. Kasus Kejora tidak luput dari perhatian Komnas Perlindungan Anak (PA). “Orang tua Kejora harus sadar, kejadian ini bukan sepenuhnya kesalahan anaknya,” begitu ungkap sekretaris jenderal Komnas PA, Aris Merdeka Sirait. Ketua Komnas PA Seto Mulyadi mengatakan, kecenderungan anak-anak remaja mencari perhatian di situs jejaring sosial, termasuk Facebook, disebabkan karena mereka tidak mendapatkan perhatian dari orang tua. “Ada beberapa pengaduan yang masuk ke Komnas yang menunjukkan adanya kecenderungan anak-anak bermain Facebook karena kurang perhatian orang tua,” katanya. Menurutnya, orang tua bisa menjadi pendengar yang baik sehingga anak-anak tidak perlu lagi curhat ke situs jejaring sosial. “Orang tua juga harus melakukan pengawasan, bukan secara otoriter, melainkan secara bersahabat saat anak-anak mereka mengakses internet dan membuka situs jejaring sosial,” begitu anjurnya. Pengawasan yang bersahabat. Ini tentu berhubungan dengan bagaimana cara orang tua berinteraksi dengan anak-anaknya. Ini berhubungan dengan gaya pengasuhan orang tua (parenting style) dalam membesarkan anak-anaknya. Dengan kata lain, orang tua menampilkan gaya pengasuhan tertentu dalam berinteraksi dengan anak remajanya yang kerap menggunakan situs jejaring sosial. Orang tua yang menampilkan gaya pengasuhan otoriter tentu akan menimbulkan reaksi yang berbeda dari anak remaja dibandingkan orang tua yang mengasuh dengan pengawasan bersahabat. Akan berbeda pula pada orang tua yang mengasuh dengan penuh bersahabat namun tanpa melakukan pengawasan pada anak remajanya. Bagaimana pengaruh gaya pengasuhan orang tua terhadap perilaku remaja dalam menggunakan situs jejaring sosial? Penelitian yang dilakukan Larry D. Rosen dan kolega-koleganya mendapati bahwa gaya pengasuhan orang tua berpengaruh kuat terhadap pengalaman, perilaku, dan sikap remaja dalam menggunakan situs jejaring sosial. Sebelumnya, mari kita periksa keadaan anak-anak kita terkait dengan aktivitasnya di dunia maya. Berikut ini beberapa ciri seorang anak yang memiliki ketergantungan pada internet, termasuk situs jejaring sosial. Anda bisa memeriksa apakah beberapa ciri di bawah ini ada pada anak remaja Anda. 1. Menentang batas waktu yang sudah disepakati sebelumnya 2. Lebih suka menghabiskan waktu dengan online daripada dengan keluarga 3. Lebih suka menghabiskan waktu dengan online daripada dengan teman-temannya 4. Merasa menderita karena sejumlah waktunya dihabiskan dengan online 5. Menarik diri dari orang lain 6. Suka merahasiakan dalam menggunakan internet 7. Merasa asyik dengan kembali online ketika sedang dalam keadaan offline 8. Merasa lelah dan letih 9. Marah atau melawan ketika batas waktunya diterapkan 10. Merasa depresi, murung atau gelisah ketika sedang offline. Jika remaja Anda memiliki beberapa ciri di atas, Anda mungkin perlu mengakui bahwa Anda

memiliki gaya pengasuhan tertentu yang memungkinkan anak Anda memiliki ciri-ciri tersebut. Mengapa bisa demikian? Coba kita periksa gaya pengasuhan mana yang mendekati dengan gaya yang selama ini kita terapkan dalam mengasuh anak-anak kita. Dalam penelitiannya, Rosen menggunakan gaya yang pengasuhan yang dipopulerkan pertama kali oleh psikolog Diana Baumrind. Ada dua dimensi perilaku mengasuh, yakni kontrol dan keramahan. Kontrol berarti sejauh mana orang tua ikut terlibat dalam mengelola perilaku anaknya. Sedangkan keramahan berarti sejauh mana orang tua menerima dan menanggapi perilaku anaknya. Dua dimensi ini membagi gaya pengasuhan orang tua dalam empat jenis, yakni: 1. Otoritatif (authoritative) Orang tua memiliki kontrol dan keramahan yang tinggi pada anaknya, 2. Otoriter (authoritarian) Orang tua memiliki kontrol yang tinggi pada anaknya namun keramahan rendah, 3. Terlalu memberi hati (indulgent) Orang tua memiliki keramahan yang tinggi pada anaknya namun kontrol rendah, 4. Mengabaikan (neglectful) Orang tua memiliki kontrol dan keramahan yang rendah pada anaknya. Dalam penelitiannya, Rosen melibatkan 341 pasangan orang tua-anak remaja. Dia ingin mengetahui apakah gaya pengasuhan orang tua mempengaruhi penggunaan situs jejaring sosial. Jika berpengaruh, gaya pengasuhan mana di antara empat gaya pengasuhan di atas yang diasosiasikan dengan rendahnya tingkat perilaku negatif pada remaja dalam menggunakan situs jejaring sosial. Situs jejaring sosial yang digunakan dalam penelitian ini adalah MySpace. Mula-mula Rosen memberikan kuesioner gaya pengasuhan untuk diisi remaja yang terlibat dalam penelitian ini. Salah satu contoh pertanyaan tentang keramahan orang tua dalam kuesioner tersebut berbunyi berikut ini: “Saya bisa mempertimbangkan orang tua untuk membantu saya jika saya punya berbagai macam masalah”. Salah satu contoh pertanyaan tentang kontrol orangtua dalam kuesioner tersebut berbunyi berikut ini: “Orang tua saya tahu dengan tepat di mana saya berada pada sore hari setelah pulang sekolah”. Kemudian, Rosen memberikan kuesoner tentang batasan dan pengawasan orang tua baik kepada remaja maupun orang tua yang terlibat dalam penelitian ini. Dalam skala lima (tidak pernah, jarang, terkadang, sebagian besar waktu, dan selalu), orang tua dan remaja diminta mengisi pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner tersebut, di antaranya, “Saya tahu apa yang anak remaja saya lakukan sepanjang waktu” (untuk orang tua) dan “Orang tua saya tahu apa yang saya lakukan sepanjang waktu” (untuk anak remaja). Hasilnya, anak remaja yang berusia lebih tua memiliki orang tua yang terlalu memberi hati (indulgent) atau orang tua yang mengabaikan (neglectful). Anak remaja yang berusia lebih muda memiliki orang tua yang otoritatif atau otoriter. Orang tua membuat batasan dan melakukan pengawasan kepada anak remaja, namun lebih ketat dilakukan pada remaja yang usianya lebih muda. Pada remaja yang lebih tua, batasan dan pengawasannya lebih sedikit.

Orang tua dengan remaja yang lebih tua, lebih banyak mengizinkan komputer berada di kamar tidur daripada hal yang sama dilakukan oleh orang tua yang memiliki anak remaja lebih muda. Artinya, orang tua lebih banyak membatasi dan mengawasi anak remaja yang lebih muda daripada anak remaja yang lebih tua. Remaja dengan orang tua yang otoritatif lebih banyak dibatasi dan diawasi daripada remaja dengan orang tua otoriter atau orang tua indulgent. Sementara remaja dengan orang tua neglectful paling sedikit batasan dan pengawasannya. Sementara, orang tua dengan gaya otoritatif dan otoriter lebih cenderung membuat batasan dalam menggunakan komputer dan menggunakan MySpace pada anaknya dibandingkan dengan orang tua indulgent atau orang tua neglectful. Orang tua indulgent atau orang tua neglectful lebih banyak memberi izin pada anaknya untuk menaruh komputer di kamar tidur daripada hal yang sama dilakukan oleh orang tua otoritatif atau otoriter. (Bagaimana dengan Anda, apakah termasuk orang tua yang akan mengizinkan anak remaja Anda menaruh komputer di kamar tidur mereka, atau tidak mengizinkan?) Orang tua otoritatif memiliki pengetahuan paling banyak tentang profil MySpace anaknya. Orang tua tipe ini paling sering melongok situs anaknya. Orangtua otoritatif dan indulgent paling banyak memiliki pengetahuan umum tentang MySpace. Dua orang tua tipe ini juga lebih banyak memiliki profil di MySpace sehingga bisa berhubungan dengan profil anaknya. Bersama dengan orang tua otoriter, orang tua otoritatif lebih cenderung melihat foto pada profil MySpace anaknya. Beberapa perbedaan gaya pengasuhan dan efeknya terhadap perilaku anak remaja dalam menggunakan MySpace tampak pada tabel berikut ini.
Variabel Orang tua melihat halaman MySpace anaknya Orangtua tidak pernah atau paling tidak pernah melihat halaman MySpace anaknya Orang tua melihat foto di MySpace anaknya Orang tua megatakan kalau dia membatasi penggunaan komputer pada anaknya Orang tua megatakan kalau dia membatasi penggunaan MySpace pada anaknya Komputer ada di kamar tidur Otoritatif 78 % Otoriter 67 % Indulgent 67 % Neglectful 52 %

22 %

40 %

53 %

64 %

72 %

73 %

66 %

46 %

57 %

51 %

27 %

26 %

50 %

42 %

29 %

15 %

32 %

27 %

51 %

44 %

Orang tua punya akun MySpace Keterbukaan anak: Nama lengkap Alamat Nama sekolah e-mail Nama Internet Masangger (IM) Lokasi sekolah Bertemu dengan seseorang yang baru pertama kali dijumpai di MySpace

40 %

24 %

36 %

22 %

29 % 3% 56 % 40 % 45 % 23 % 6%

29 % 6% 53 % 49 % 53 % 27 % 15 %

55 % 13 % 69 % 73 % 67 % 51 % 27 %

54 % 12 % 73 % 54 % 59 % 47 % 10 %

Coba kita perhatikan pada tabel di atas tentang keterbukaan anak. Remaja dengan orang tua otoriter dan otoritatif paling sedikit membuka informasi pribadinya seperti nama lengkap, alamat rumah, nama dan alamat sekolah, dan e-mail. Ini menarik karena informasi yang diberikan anak remaja di situs jejaring sosial berhubungan dengan seperti apa gaya pengasuhan orang tuanya. Anak remaja yang punya orangtua otoriter dan otoritatif cenderung lebih sedikit memberikan informasi pribadinya di situs jejaring sosial. sedangkan anak remaja dengan orang tua orang tua indulgent dan orang tua neglectful cenderung lebih banyak memberikan informasi pribadi di situs jejaring sosialnya. Jadi, jika orangtua benar-benar kuatir dengan informasi pribadi yang diberikan anak remajanya di situs jejaring sosial, mereka pertama kali perlu kuatir dengan dirinya sendiri: adakah yang kurang tepat dengan gaya pengasuhan yang saya terapkan selama ini? Jadi, orang tua perlu melihat seperti apa gaya pengasuhan yang selama ini mereka terapkan pada anak remajanya, juga akan seperti apa gaya pengasuhan yang akan mereka terapkan agar anak remajanya tidak memberikan informasi yang terlalu banyak di situs jejaring sosial. Hanya ada dua pilihan yang mungkin: mau jadi orangtua otoriter atau orang tua otoritatif? Pilihan ini akan makin jelas setelah kita membaca hasil penelitian ini lebih lanjut pada paragraf di bawah ini. Baik, bagaimana dengan kemungkinan anak remaja bertemu secara langsung dengan orang yang baru pertama kali ditemui di dunia maya, termasuk dalam hal ini di situs jejaring sosial? Dalam penelitian ini, remaja dengan orang tua indulgent paling banyak bertemu secara langsung dengan orang yang baru ditemuinya di MySpace. Fenomena ini makin berkurang secara berturut-turut pada anak dengan orangtua otoriter, neglectful dan otoritatif. Jadi, orang tua otoritatif paling sedikit mendapati anaknya melakukan pertemuan secara tatap muka dengan orang asing yang baru ditemui di dunia maya atau situs jejaring sosial. Orangtua otoriter mungkin tidak akan mendapati anak remajanya banyak memberikan informasi pribadi

di situs jejaring sosial, tetapi anak remajanya lebih mungkin bertemu secara langsung dengan orang yang baru pertama kali ditemui di situs jejaring sosial. Hasil penelitian ini menekankan bahwa orang tua yang memiliki gaya pengasuhan otoritatif berhubungan dengan lebih sedikit perilaku beresiko di dunia maya yang dilakukan oleh anak remajanya. Dalam penelitian ini, ada dua perilaku beresiko di dunia maya yang dilakukan anak remaja, yakni banyak menampilkan data pribadi tentang dirinya di situs jejaring sosial dan bertemu secara tatap muka dengan orang asing yang baru dikenal di situs jejaring sosial. Jadi, agar anak remaja kita tidak banyak menampilkan data pribadi tentang dirinya di situs jejaring sosial dan untuk mengurangi kemungkinan anak remaja kita bertemu secara tatap muka dengan orang asing yang baru dikenal di situs jejaring sosial, maka kita perlu lebih banyak orang tua yang otoritatif: orang tua yang memberikan kontrol sekaligus keramahan, dalam porsi yang seimbang, pada anak remajanya.[]

Tentang Penulis
Abu Bakar Fahmi adalah peminat psikologi kepribadian dan sosial. Beberapa
kali terlibat dalam penelitian di Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Jakarta. Alumni psikologi UGM ini lahir di Tegal, sekarang tinggal dan bekerja di Jakarta. Buku ini, Mencerna Situs Jejaring Sosial (Elex Media Komputindo, 2011), adalah bukunya yang kedua. Buku pertamanya diterbitkan oleh penerbit yang sama berjudul Menit untuk Anakku (2010).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->