P. 1
isolasi koba

isolasi koba

|Views: 327|Likes:
Published by Yogi Praba Diaz

More info:

Published by: Yogi Praba Diaz on May 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/19/2015

pdf

text

original

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi penelitian ini meliputi penyiapan sampel, pemeriksaan karakteristik simplisia, isolasi dan identifikasi komponen-komponen kimia minyak atsiri simplisia rimpang lengkuas merah secara GC-MS. 3.1 Alat-alat Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Gas ChromatographMass Spectrometer (GC-MS) model Shimadju QP 2010 S, seperangkat alat Stahl, seperangkat alat destilasi uap (Steam Destillation), Piknometer, Refraktometer Abbe, alat-alat gelas laboratorium, neraca kasar (Ohaus), dan neraca listrik (Mettler Toledo). 3.2 Bahan-Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah simplisia rimpang lengkuas merah, natrium sulfat anhidrat pro analisis (E. Merck), kloralhidrat (E. Merck), kloroform (E. Merck), etanol 95%, toluen pro analisis (E. Merck), dan air suling. 3.3 Penyiapan Sampel Penyiapan sampel meliputi pengambilan sampel, identifikasi tumbuhan, dan pengolahan sampel. 3.3.1 Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dilakukan secara purposif, tanpa membandingkan tumbuhan yang sama dari daerah lain. Bahan diperoleh dari Jl. Karya Wisata Gang Tani Kecamatan Medan Johor, Medan Provinsi Sumatera Utara.

Universitas Sumatera Utara

4.1 Pemeriksaan Makroskopik Simplisia Pemeriksaan makroskopik dilakukan dengan mengamati bentuk luar dari simplisia rimpang lengkuas merah. Kemudian rimpang dirajang secara melintang dengan ketebalan 0.4.2 Identifikasi Tumbuhan Identifikasi tumbuhan dilakukan di Pusat Penelitian Biologi LIPI Bogor 3. 3.2 Pemeriksaan Mikroskopik Pemeriksaan mikroskopik dilakukan terhadap serbuk simplisia rimpang lengkuas merah.5-1cm. Sedangkan untuk pemeriksaan pati. Serbuk simplisia ditaburkan diatas kaca objek yang telah ditetesi dengan larutan kloralhidrat dan tutup dengan kaca penutup. kemudian diamati di bawah mikroskop. lalu ditambahkan 2 ml air suling kemudian dipasang alat penampung dan pendingin. Universitas Sumatera Utara .3 Penetapan Kadar Air a.3.3. lalu ditiriskan.4.3. 3. serbuk simplisia yang telah ditaburkan di atas kaca objek ditetesi dengan air suling lalu ditutup dengan kaca penutup.3 Pengolahan Sampel (Pembuatan Simplisia) Sampel yang digunakan adalah rimpang lengkuas merah (Galangae rhizoma) dengan usia kurang lebih 3 bulan. Penjenuhan Toluen Sebanyak 200 ml toluen dimasukkan ke dalam labu alas bulat. 3.4 Pemeriksaan Karakteristik Simplisia 3. kemudian diamati di bawah mikroskop. lalu ditimbang. Rimpang dibersihkan dari tanah yang melekat dan dicuci dengan air hingga bersih. Selanjutnya dikeringkan pada suhu ruangan di lemari pengering sampai kering (sekitar satu minggu) kemudian ditimbang.

Kadar dalam persen sari yang larut dalam air dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Depkes RI. Setelah semua air terdestilasi. 3. labu dipanaskan hati-hati selama 15 menit. bagian dalam pendingin dibilas dengan toluen. dimaserasi selama 24 jam dalam 100 ml air-kloroform (2. Setelah toluen mendidih. b. Selisih kedua volume air yang dibaca sesuai dengan kandungan air yang terdapat dalam bahan yang diperiksa. Penetapan Kadar Air Simplisia Kemudian ke dalam labu tersebut dimasukkan 5 g serbuk simplisia yang telah ditimbang seksama. Sejumlah 20 ml filtrat pertama diuapkan sampai kering dalam cawan penguap yang berdasar rata yang telah dipanaskan dan ditara. 1992). Destilasi dilanjutkan selama 5 menit. kecepatan tetesan diatur 2 tetes untuk tiap detik sampai sebagian besar air terdestilasi. 1989).4 Penetapan Kadar Sari Yang Larut Dalam Air Sebanyak 5 g serbuk yang telah dikeringkan di udara. Sisa dipanaskan pada suhu 105oC sampai bobot tetap. kemudian dibiarkan selama 18 jam. kemudian disaring.05 ml. volume air dibaca dengan ketelitian 0. Destilasi dihentikan dan dibiarkan dingin selama 30 menit. kemudian tabung penerima dibiarkan mendingin pada suhu kamar. Kadar air dihitung dalam persen (WHO.5 ml kloroform dalam air suling sampai 1 liter) dalam labu bersumbat sambil dikocok sesekali selama 6 jam pertama. Setelah air dan toluen memisah sempurna.05 ml. Universitas Sumatera Utara . kemudian volume air dalam tabung penerima dibaca dengan ketelitian 0. kemudian kecepatan destilasi dinaikkan sampai 4 tetes tiap detik.dan didestilasi selama 2 jam.4.

dimaserasi selama 24 jam dalam 100 ml etanol 95% dalam labu bersumbat sambil dikocok sesekali selama 6 jam pertama.6 Penetapan Kadar Abu Total Sebanyak 2 gram serbuk yang telah digerus dan ditimbang seksama dimasukkan dalam krus porselin yang telah dipijar dan ditara. disaring melalui kertas saring dipijarkan sampai bobot tetap. Kadar abu dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Depkes RI. Kadar abu yang tidak larut dalam asam dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Depkes RI. Kadar dalam persen sari yang larut dalam etanol 95% dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Depkes RI. 1989).4. 3. kemudian didinginkan dan ditimbang.7 Penetapan Kadar Abu Yang Tidak Larut Dalam Asam Abu yang diperoleh dalam penetapan kadar abu dididihkan dalam 25 ml asam klorida encer selama 5 menit. Sejumlah 20 ml filtrat diuapkan sampai kering dalam cawan penguap yang berdasar rata yang telah dipanaskan dan ditara.8 Penetapan Kadar Minyak Atsiri Penetapan kadar minyak atsiri dilakukan dengan menggunakan alat Stahl. Sisa dipanaskan pada suhu 105oC sampai bobot tetap. 3. bagian yang tidak larut dalam asam dikumpulkan. 1995). 1989). pijaran dilakukan pada suhu 600oC selama 3 jam kemudian didinginkan dan ditimbang sampai diperoleh bobot tetap. Krus dipijar perlahan-lahan sampai arang habis.3.4. kemudian diratakan. Kemudian disaring cepat untuk menghindari penguapan etanol. kemudian dibiarkan selama 18 jam.4.4. Universitas Sumatera Utara .5 Penetapan Kadar Sari Yang Larut Dalam Etanol Sebanyak 5 gram serbuk yang telah dikeringkan di udara. 3.

ditambahkan air suling sebanyak 300 ml. dikocok dan didiamkan selama 1 hari.6. dicatat volume minyak atsiri pada buret. Caranya: Sebanyak 200 g sampel dimasukkan dalam labu alas bulat berleher panjang 2 L yang telah dirangkai dalam perangkat alat destilasi uap. Kemudian minyak atsiri yang diperoleh ditambahkan natrium sulfat anhidrat. Destilasi dilakukan selama 4-5 jam. Setelah penyulingan selesai.1 Penetapan Parameter Fisika Universitas Sumatera Utara . Minyak atsiri yang diperoleh ditampung dalam corong pisah lalu dipisahkan antara minyak dengan air. dibiarkan tidak kurang dari 15 menit.6 Identifikasi Minyak Atsiri 3. Diisi buret dengan air hingga penuh. Minyak atsiri dipipet dan disimpan dalam botol berwarna gelap. Kadar minyak atsiri dihitung dalam % v/b (Depkes RI. Labu dihubungkan dengan pendingin dan alat penampung berskala. 3. Kemudian dilakukan penetapan parameter fisika yang meliputi penentuan indeks bias dan penentuan bobot jenis.Caranya: sebanyak 15 g serbuk simplisia rimpang lengkuas merah dimasukkan ke dalam labu alas bulat berleher pendek. Didihkan isi labu dengan pemanas yang sesuai untuk menjaga agar pendidihan berlangsung lambat tetapi teratur sampai minyak atsiri terdestilasi sempurna dan tidak bertambah lagi dalam alat penampung berskala (6 jam). Penyulingan dilakukan dengan menggunakan alat destilasi uap. labu diletakkan dalam pemanas listrik. 3. Minyak yang diperoleh kemudian dianalisis dengan GC-MS.5 Isolasi Minyak Atsiri Isolasi minyak atsiri dilakukan dengan metode penyulingan uap (steam distillatiom). 1995).

Prisma atas dan prisma bawah dipisahkan dengan membuka klem dan dibersihkan dengan mengoleskan kapas yang telah dibasahi dengan alkohol. 3. Melalui teleskop dapat dilihat adanya bidang terang dan bidang gelap lalu skrup pemutar prisma diputar sedemikian rupa.2 Penentuan Bobot Jenis Penentuan bobot jenis dilakukan dengan alat piknometer.6.6.1 Penentuan Indeks Bias Penentuan indeks bias dilakukan dengan menggunakan alat Refraktometer Abbe. Kemudian piknometer dikosongkan dan dibilas beberapa kali dengan alkohol kemudian dikeringkan dengan bantuan hairdryer. Piknometer diisi minyak selanjutnya dilakukan seperti pengerjaan pada air suling.3. Gambar alat dapat dilihat pada Caranya: Piknometer kosong ditimbang dengan seksama. kecuali dinyatakan lain dalam monograf keduanya ditetapkan pada suhu ruangan (Depkes RI. Bobot jenis minyak atsiri adalah hasil yang diperoleh dengan membagi bobot minyak atsiri dengan bobot air suling dalam piknometer. Piknometer kosong diisi dengan air suling lalu ditimbang dengan seksama. Hasil bobot minyak atsiri yang diperoleh dengan mengurangkan bobot piknometer yang diisi minyak atsiri dengan bobot piknometer kosong.1. Universitas Sumatera Utara .1. Dengan melihat skala dapat dibaca indeks biasnya. Gambar alat dapat dilihat pada Caranya: alat Refraktometer Abbe dihidupkan. 1995). Cuplikan minyak diteteskan ke prisma bawah lalu ditutup. sehingga bidang terang dan gelap terbagi atas dua bagian yang sama secara vertikal.

0oC/menit sampai mencapai suhu akhir 280oC yang dipertahankan selama 35 menit. panjang kolom 30 sm.25 mm. Cara identifikasi komponen minyak atsiri adalah dengan membandingkan spektrum massa dari komponen minyak atsiri yang diperoleh (unknown) dengan data library yang memiliki tingkat kemiripan (similarity index) tertinggi. gas pembawa He dengan laju alir 1 ml/menit. Universitas Sumatera Utara . Suhu kolom terprogram (temperature programming) dengan suhu awal 70oC selama 5 menit.3. lalu dinaikkan perlahan-lahan dengan rate atau kecepatan kenaikan 10.2 Analisis Komponen Minyak Atsiri Penentuan komponen minyak atsiri yang diperoleh dari simplisia rimpang lengkuas merah dilakukan di Laboratorium Penelitian Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara dengan menggunakan seperangkat alat Gas Chromatograph-Mass Spectrometer (GC-MS) model Shimadzu QP 2010 S.6. suhu injektor 280oC. diameter kolom 0. Kondisi analisis komponen minyak atsiri dari simplisia rimpang lengkuas merah meliputi kolom kapiler Rtx-5MS.

dari suku Zingiberaceae (Data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 1 halaman 28 ).) Stuntz. Hasil Karakterisasi Simplisia Rimpang Tumbuhan Lengkuas Merah No Pemeriksaan Karakteristik Simplisia Kadar Praktek (%) 1 2 Penetapan Kadar air Penetapan kadar sari yang larut dalam etanol 3 4 5 Penetapan kadar sari yang larut dalam air Penetapan kadar abu total Penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam 6 Penetapan kadar minyak atsiri 0. Universitas Sumatera Utara .71 5.75 (Data hasil perhitungan karakterisasi simplisia rimpang lengkuas merah selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 6 s/d 11 halaman 55 s/d 60).1 Identifikasi Tumbuhan Hasil identifikasi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Biologi-LIPI Bogor terhadap tumbuhan lengkuas merah yang diteliti adalah jenis Languas galanga (L.2 Karakterisasi Simplisia Rimpang Tumbuhan Lengkuas Merah Tabel 1. Berdasarkan hasil penelitian terhadap karakterisasi simplisia rimpang lengkuas merah telah memenuhi persyaratan MMI.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.71 12. 1978). dengan kadar air tidak lebih dari 10% (DepKes RI.69 7. 4.25 0.32 14.

Dengan mengurangi kadar air dan menghentikan reaksi enzimatik akan dicegah penurunan mutu atau perusakan simplisia. 1992).Pengeringan simplisia dilakukan untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak. penetapan kadar sari yang larut dalam air. Abu total terbagi dua yang pertama abu fisiologis adalah abu yang berasal dari jaringan tumbuhan itu sendiri dan abu non fisiologis adalah sisa setelah pembakaran yang berasal dari bahan – bahan dari luar yang terdapat pada permukaan simplisia. Penetapan kadar abu dimaksudkan untuk mengetahui kandungan mineral internal yang terdapat di dalam simplisia yang diteliti serta senyawa organik yang tersisa selama pembakaran. 2005). sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. penetapan kadar abu total. khususnya pasir yang ada pada simplisia dengan cara melarutkan abu total dalam asam klorida (WHO. Sedangkan senyawa-senyawa yang tidak larut dalam air dan larut dalam etanol akan tersari oleh etanol. Sehingga tidak mempunyai standarisasi. dan penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam khusus untuk simplisia rimpang lengkuas merah belum ada literatur yang mencantumkannya. Kadar abu tidak larut asam untuk menentukan jumlah silika. Reaksi enzimatik tidak berlangsung lagi bila kadar air dalam simplisia kurang dari 10% (BPOM RI. Universitas Sumatera Utara . Penetapan kadar sari yang larut dalam air dan dalam etanol dilakukan untuk mengetahui jumlah senyawa yang dapat tersari dalam air dan dalam etanol dari suatu simplisia. Senyawa yang bersifat polar dan larut dalam air akan tersari oleh air. Penetapan kadar sari yang larut dalam etanol.

rasa pedas.2 Hasil Pemeriksaan Mikroskopik Simplisia Hasil pemeriksaan mikroskopik serbuk simplisia rimpang tanaman lengkuas merah adalah terdapat fragmen pati berbentuk lonjong atau bulat telur.4. Mempunyai ukuran yang lebih kecil dari irisan rimpang. berkerut dan keras.5 – 1. serat dan pembuluh kayu.3 Identifikasi Minyak Atsiri Pemeriksaan organoleptis pada minyak atsiri yang diisolasi dari simplisia rimpang tumbuhan lengkuas merah adalah memiliki warna kuning muda yang jernih. 1.71 0. irisan rimpang berwarna kuning dengan tepi berwarna merah. Diameter kira-kira 1 cm (Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 3 halaman 50). 4. Hasil pemeriksaan makroskopik simplisia rimpang tanaman lengkuas merah adalah bentuk agak pipih. dan bau aromatik. bagian dalam berwarna putih kecoklatan. berbau aromatik serta berasa sangat tajam. berserat kasar.1 Hasil Pemeriksaan Makroskopik Hasil pemeriksaan makroskopik rimpang tanaman lengkuas merah dicirikan dengan rimpang yang agak kecil. Universitas Sumatera Utara .2. 4. Sampel Kadar berdasarkan penelitian (% v/b) Kadar berdasarkan teori (% v/b) Simplisia rimpang lengkuas 0. bagian luar berwarna coklat kemerahan. Hasil Penetapan Kadar Minyak Atsiri No. Hasil selengkapnya dapt dilihat pada Lampiran 5 halaman 54. Tabel 2.2.0 merah (Data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 11 halaman 60). sel parenkim berisi tetesan minyak atsiri. Diameter kira-kira 2 cm (Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 3 halaman 49). jaringan gabus.

5160 0.968-0. 2009). Indeks bias minyak atsiri juga Universitas Sumatera Utara . Sedangkan bobot jenis dari rimpang lengkuas merah kering telah sesuai dengan angka yang tercantum dalam literatur dimana bobot jenis minyak atsiri berkisar antara 0. Bobot jenis minyak atsiri merupakan perbandingan antara bobot minyak dengan bobot air pada volume air yang sama dengan volume minyak.968-0. Hal ini berarti bahwa parameter indeks bias rimpang lengkuas merah kering tidak sesuai dengan angka yang tercantum dalam literatur yang ada di mana indeks bias minyak atsiri sebesar 1. Hasil Penentuan Indeks Bias dan Bobot Jenis Minyak Atsiri Hasil Isolasi No. dan untuk bobot jenis sebesar 0. Parameter Hasil berdasarkan penelitian Hasil berdasarkan teori 1. Indeks bias berguna untuk identifikasi kemurnian. Hal ini mungkin disebabkan minyak atsiri yang diperoleh melalui destilasi uap belum benar-benar murni atau dapat dikatakan belum terpisah secara sempurna. semakin besar pula nilai bobot jenisnya (Armando.5164 0.5160.Tabel 3. Indeks bias merupakan perbandingan antara kecepatan cahaya di dalam udara dengan kecepatan cahaya di dalam zat tersebut pada suhu tertentu.5164.696 – 1.9847 (Data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 12 dan 13 halaman 61 dan 62). Bobot jenis merupakan salah satu kriteria paling penting dalam menentukan mutu dan kemurnian minyak atsiri. Semakin besar fraksi berat yang terkandung dalam minyak.968. diperoleh hasil penetapan praktek untuk indeks bias sebesar 1. Untuk hasil penetapan indeks bias dan bobot jenis.188 pada suhu 15° C.968 1. 2. Indeks bias Bobot jenis 1. Nilai bobot jenis minyak atsiri antara 0.9847. Bobot jenis sering dihubungkan dengan berat komponen yang terkandung di dalamnya.

Universitas Sumatera Utara . Kromatogram GC-MS minyak atsiri hasil destilasi uap dari rimpang lengkuas merah (Galangae rhizoma) kering.4 Analisis dengan GC-MS Hasil analisis dengan GC-MS minyak atsiri hasil isolasi dari simplisia rimpang tanaman lengkuas merah menunjukkan kromatogram dengan 38 puncak. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada gambar 1. 2009). . 4. Gambar 1. Sama halnya dengan berat jenis dimana komponen penyusun minyak atsiri dapat mempengaruhi nilai indeks biasnya (Armando.berhubungan erat dengan komponen-komponen yang tersusun dalam minyak atsiri yang dihasilkan.

dan Penol 4-(2-propenil) asetat (cavicyl acetat) (Agusta.93 4.8-sineol. A. Tetapi.201 16.8-sineol α-bergamoten Pentadekana β-bisabolen Β-sesquifelandren 7. 2000). β-bisabolen. komponen utama minyak atsiri dari rimpang lengkuas adalah 1.86 Menurut literatur. α-bergamoten. βfernesena.8-sineol. α-bergamoten. pentadekan dan β-sesquifelandren.76 4.91 8.857 15.Hasil analisis GC-MS menunjukkan lima komponen utama minyak atsiri yang diperoleh dari simplisia rimpang tanaman lengkuas merah yaitu 1.212 15. 4-kromanol termasuk dalam komponen utama minyak atsiri tersebut.940 16. Bila dilihat dari kadar komponen minyak atsiri. Tabel 4. Universitas Sumatera Utara . 2. β-elemena. Waktu tambat dan konsentrasi kelima komponen minyak atsiri dari rimpang lengkuas merah kering hasil analisis Gas Chromatography-Mass Spectrometer (GC-MS) dapat dilihat pada Tabel 4. 5. Waktu Tambat dan Konsentrasi Komponen Minyak Atsiri Hasil Analisis GC-MS dari Simplisia Rimpang Lengkuas Merah No. Nama Komponen Waktu tambat Rumus Berat Kadar (menit) Molekul Molekul (%) 1. Sedangkan komponen lainnya terdapat dalam jumlah yang kecil seperti β-pinena.05 5. maka senyawa ini tidak dimasukkan ke dalam komponen utama dari minyak atsiri dari simplisia rimpang tanaman lengkuas merah serta menurut literature senyawa ini tidak terdapat dalam komponen minyak atsiri lengkuas merah. apabila dilihat dari similarity index tertinggi dari 4kromanol yakni hanya 76%. 1. 4.418 C10H18O C15H24 C15H32 C15H24 C15H24 154 204 212 204 204 22. metil sinamat dan eugenol.. α-pinen. seskuiterpen. 3.

200 menit mempunyai M+ 204 diikuti fragmen m/z 189. 43. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 18 halaman 68. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 19 halaman 69. 41. 55. 147. 69. 71. 2. 141. Puncak dengan waktu tambat 16. 41. 161.425 menit mempunyai M+ 204 diikuti fragmen m/z 161. Puncak dengan waktu tambat 16. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 17 halaman 67. 119. 5.858 menit Dengan membandingkan spectrum massa unknown dengan data library yang memiliki tingkat similarity index tertinggi (94%) maka senyawa tersebut Universitas Sumatera Utara . Puncak dengan waktu tambat 7. 161.942 menit mempunyai M+ 212 diikuti fragmen m/z 182. 93. Puncak dengan waktu tambat 15. 120. Puncak dengan waktu tambat 7. 108. 127. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 16 halaman 66. 93. 85.858 menit mempunyai M+ 154 diikuti fragmen m/z 139. 55. 147. 125. 41. Puncak dengan waktu tambat 15. 93. 113.208 menit mempunyai M+ 204 diikuti fragmen m/z 189. 3. 57.4. 79. 147. 99. 41. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 20 halaman 70. 55.5 Analisis dan Fragmentasi Hasil Spektrofotometri Massa Fragmentasi hasil spektrofotometri massa komponen minyak atsiri adalah sebagai berikut: 1. 41. 155. 119. 169. Analisis hasil spektofotometri massa komponen utama minyak atsiri dari simplisia rimpang lengkuas merah adalah sebagai berikut : 1. 4.

Pelepasan OH menghasilkan fragmen [C8H12]+ dengan m/z 108. Pelepasan CH3 menghasilkan fragmen [C9H15O]+ dengan m/z 139 dari puncak ion molekul C10H18O.dapat disimpulkan sebagai 1.8-sineol (C10H18O) dengan rumus bangun seperti Gambar 2. Rumus bangun dari senyawa 1. Pelepasan CH2 menghasilkan fragmen [C8H13O]+ dengan m/z 125. (H3C)2C=HCH2CH2C Me Me Gambar 3.8 sineol Spektrum massa unknown memberikan puncak ion molekul M+ 154 yang merupakan berat molekul dari C10H18O.208 menit Dengan membandingkan spectrum massa unknown dengan data library yang memiliki tingkat similarity idex tertinggi (94%) maka senyawa tersebut dapat disimpulkan sebagai α-bergamoten (C15H24) dengan rumus bangun seperti Gambar 3. Me O Me Me Gambar 2. Pola fragmentasi selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 21 halaman 71. Puncak dengan waktu tambat 15. Pelepasan C3H3 menghasilkan fragmen [C5H9]+ dengan m/z 69. Pelepasan C2H4 menghasilkan fragmen [C3H5]+ dengan m/z 41. Rumus bangun dari senyawa α-bergamoten Universitas Sumatera Utara . 2.

Pelepasan CH2 menghasilkan fragmen [C7H15]+ dengan m/z 99. Pelepasan C2H5 menghasilkan fragmen [C13H27]+ dengan m/z 183 dari puncak ion molekul C15H32. Pelepasan CH2 menghasilkan fragmen [C6H7]+ dengan m/z 79. Pelepasan C2H2 menghasilkan fragmen [C7H9]+ dengan m/z 93. Pelepasan CH3 menghasilkan fragmen [C14H21]+ dengan m/z 189 dari puncak ion molekul (C15H24). Pelepasan CH2 menghasilkan fragmen [C11H15]+ dengan m/z 147.Spektrum massa unknown memberikan puncak ion molekul M+ 204 yang merupakan berat molekul dari (C15H24). Pelepasan CH2 menghasilkan fragmen [C9H19]+ dengan m/z 127. Gambar 4. Puncak dengan waktu tambat 15. Pelepasan CH2 menghasilkan fragmen [C8H17]+ dengan m/z 113. Pelepasan C3H2 menghasilkan fragmen [C3H5]+ dengan m/z 41. Pola fragmentasi selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 22 halaman 72. Rumus bangun dari senyawa Pentadekana Spektrum massa unknown memberikan puncak ion molekul M+ 212 yang merupakan berat molekul dari C15H32. Pelepasan C2H4 menghasilkan fragmen [C12H17]+ dengan m/z 161. maka senyawa tersebut dapat disimpulkan sebagai Pentadekana (C15H32) dengan rumus bangun seperti pada Gambar 4. 3. Pelepasan CH2 menghasilkan fragmen [C10H21]+ dengan m/z 141. Pelepasan CH2 menghasilkan fragmen [C12H25]+ dengan m/z 169.942 menit Dengan membandingkan spektrum massa unknown dengan data library yang memiliki tingkat similarity index tertinggi (92%). Pelepasan CH2 menghasilkan fragmen [C11H23]+ dengan m/z 155. Pelepasan C2H4 menghasilkan fragmen [C9H11]+ dengan m/z 119. Pelepasan CH2 Universitas Sumatera Utara .

Pelepasan C2H4 menghasilkan fragmen [C12H17]+ dengan m/z 161. Pola fragmentasi selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 23 halaman 73. 4. Pelepasan C2H4 menghasilkan fragmen [C3H7]+ dengan m/z 43. Pelepasan C2H2 menghasilkan fragmen [C7H9]+ dengan m/z 93.menghasilkan fragmen [C6H13]+ dengan m/z 85. Pelepasan CH2 menghasilkan fragmen [C6H7]+ dengan m/z 79.200 menit Dengan membandingkan spektrum massa unknown dengan data library yang memiliki tingkat similarity index tertinggi (93%)maka senyawa ini disimpulkan sebagai β-bisabolen (C15H24) dengan rumus bangun seperti Gambar 5. Puncak dengan waktu tambat 16. Pelepasan C3H2 menghasilkan fragmen [C3H5]+ dengan m/z 41. Rumus bangun dari senyawa β-bisabolen Spektrum massa unknown memberikan puncak ion molekul M+ 204 yang merupakan berat dari C15H24. Pelepasan CH3 menghasilkan fragmen [C14H21]+ dengan m/z 189 dari puncak ion molekul C15H24. Pelepasan C2H4 menghasilkan fragmen [C9H11]+ dengan m/z 119. Pelepasan CH2 menghasilkan fragmen [C11H15]+ dengan m/z 147. Universitas Sumatera Utara . Pelepasan CH2 menghasilkan fragmen [C5H11]+ dengan m/z 71. Pola fragmentasi selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 24 halaman 75. CH2 Gambar 5.

H2C Gambar 6.5. Pola fragmentasi selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 25 halaman 76. Pelepasan CH2 menghasilkan fragmen [C11H15]+ dengan m/z 147. Pelepasan C2H3 menghasilkan fragmen [C9H12]+ dengan m/z 120. Pelepasan C3H7 menghasilkan fragmen [C12H17]+ dengan m/z 161 dari puncak ion molekul C15H24. Rumus bangun dari senyawa β-seskuifelandren Spektrum massa unknown memberikan puncak ion molekul M+ 204 yang merupakan berat dari C15H24.425 menit Dengan membandingkan spektrum massa unknown dengan data library yang memiliki tingkat similiarity index tertinggi (91%) maka senyawa tersebut dapat disimpulkan sebagai β-seskuifelandren (C15H24) dengan rumus bangun seperti Gambar 6. Universitas Sumatera Utara . Puncak dengan waktu tambat 16. Pelepasan C3H2 menghasilkan fragmen [C4H7]+ dengan m/z 55. Pelepasan CH2 menghasilkan fragmen [C3H5]+ dengan m/z 41. Pelepasan C2H3 menghasilkan fragmen [C7H9]+ dengan m/z 93.

kadar sari yang larut dalam air 12.91% dan β-sesquifelandren dengan kadar 4. 5. kadar sari yang larut dalam etanol 14.76%. agar dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui komponen minyak atsiri dari rimpang lengkuas merah (Galangae rhizoma) kering secara GC-MS menggunakan metode isolasi.05%. pentadekana dengan kadar 4.75% dan kadar air 5.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.2 Saran Dari hasil penelitian ini disarankan kepada peneliti selanjutnya.71% v/b.25%.71%.5160 dan bobot jenis diperoleh sebesar 0.8-sineol dengan kadar 22. α-bergamoten dengan kadar 5. Serta menggunakan varietas lengkuas lainnya yang berbeda dari penelitian yang sudah dilakukan. Hasil penetapan indeks bias diperoleh sebesar 1. Hasil penetapan kadar minyak atsiri dari rimpang lengkuas merah dengan alat Stahl diperoleh kadar minyak atsiri sebesar 0.86%.1 Kesimpulan Hasil pemeriksaan karakterisasi simplisia rimpang lengkuas merah (Galangae rhizoma) diperoleh kadar abu total 7. Hasil analisis GC-MS minyak atsiri dari simplisia rimpang lengkuas merah (Galangae rhizhoma) menunjukkan 5 komponen utama yaitu 1.968. kadar abu yang tidak larut dalam asam 0.32%. Universitas Sumatera Utara .69%. β-bisabolen dengan kadar 8.93%.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->