P. 1
Hubungan Antar Pengetahuan Busana Dengan Penampilan Diri Mahasiswa

Hubungan Antar Pengetahuan Busana Dengan Penampilan Diri Mahasiswa

5.0

|Views: 3,262|Likes:
Published by Ida Nurmaya

More info:

Published by: Ida Nurmaya on May 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/24/2014

pdf

text

original

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN BUSANA DENGAN PENAMPILAN DIRI MAHASISWA TATA BUSANA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

SKRIPSI Diajukan dalam rangka menyelesaikan studi Strata 1 Untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

Nama NIM Program Studi Jurusan

: EKA WAHYU WIDJIASTUTI : 5401401035 : S1 PKK Konsentrasi Tata Busana : Teknologi Jasa dan Produksi

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2007

PERSETUJUAN PEMBIMBING Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian skripsi Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang pada : Hari Tanggal : .......................................... : ...........................................

Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. H. Hartatiati, M.Pd. NIP.130367994

Dra. Urip Wahyuningsih, M.Pd. NIP. 131958769

Mengetahui, Ketua Jurusan Teknologi Jasa dan Produksi

Dra. Dyah Nurani S., M.Kes. NIP. 131764485

ii

PENGESAHAN KELULUSAAN Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan Sidang Panitia Ujian Akhir Skripsi Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang pada hari Selasa 27 Februari 2007. Panitia Ujian : Ketua, Dra. Diah Nurani S.M.Kes NIP. 131764485 Sekretaris, Dra. Erna Setyowati, M.Si NIP.131570062

Ketua Penguji,

Dra. Hj. Hartatiati S. NIP. 130367994 Anggota Penguji I,

Dra. Urip Wahyuningsih, M.Pd NIP. 131948769 Anggota Penguji II,

Dra. Hj. Marwiyah, M.Pd NIP. 131404310

Mengetahui Dekan Fakultas Teknik

Prof. Dr. Soesanto
NIP. 130875753

iii

radio. H.Pd. Busana yang serasi dan menarik dapat menambah simpati dan rasa kagum dari orang-orang disekelilingnya. Analisis yang digunakan adalah analisis deskrpitif persentase dan analisis korelasi. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Teknologi Jasa dan Produksi Angkatan 2004 / 2005 yang terdiri dari D3 yang berjumlah 15 Mahasiswa dan S1 yang berjumlah 16 Mahasiswa. Variabel penelitian ini adalah pengetahuan busana sebagai variabel bebas dan penampilan diri sebagai variabel terikat. Hartatiati. Penampilan Diri Pengetahuan busana merupakan salah satu unsur pendukung penampilan diri seseorang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan busana mahasiswa Teknologi Jasa dan Produksi Angkatan 2004 adalah baik (70. Skripsi Jurusan Teknologi Jasa dan Produksi. Hasil analisis korelasi diperoleh koefisien korelasi sebesar 0. hendaknya menggunakan obyek penelitian yang lebih luas sehingga diperoleh hasil yang lebih akurat. Melalui pengetahuan busana yang baik memungkinkan seseorang mampu memilihan busana yang tepat disertai pelengkap busana yang sesuai. iv . Saran yang dapat peneliti ajukan berdasarkan hasil penelitian adalah 1) Walaupun mahasiswa sebelunya pernah mendapatkan mata kuliah busana.05%.Pd.96 > t tabel = 1.SARI Wahyu Eka Widjiastuti. Urip Wahyuningsih. serta menjadikan kehadiran yang bersangkutan disenangi orang lain. Universitas Negeri Semarang. dan 2) Seberapa besar hubungan antara Pengetahuan Busana Terhadap Penampilan Diri Mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semarang?. televisi maupun dari sumber yang lain agar mampu berpenampilan secara menarik dan dapat menimbulkan rasa hormat dan rasa simpati. 2006. Pengumpulan data menggunakan metode tes dan metode angket. Berdasarkan hasil analisis diperoleh t hitung = 3. Kata Kunci : Pengetahuan Busana. Dari kenyataan tersebut menarik keinginan peneliti untuk melakukan kajian tentang : 1) Adakah hubungan antara Pengetahuan Busana Terhadap Penampilan Diri Mahasiswa Tata Busana Universitas Negeeri Semarang?. dan 2) Bagi peneliti lain yang hendak melakukan penelitian sejenis. Fakultas Teknik. Pembimbing I : Dra. Sampel penelitian diambil secara total sampling sehingga seluruh populasi sebanyak 31 mahasiswa dijadikan sebagai sampel penelitian. akan tetapi mereka hendaknya tetap berusaha meningkatkan pengetahuannya dalam berbusana melalui berbagai sumber baik buku-buku tentang busana. Hasil penelitian juga memperoleh koefisien determinasi sebesar 35. M. majalah.98%. Keberartian dari koefisien korelasi tersebut dapat diuji dengan menggunakan uji t.70. Hubungan antara Pengetahuan Busana dengan Penampilan Diri Mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semarang.05%. M. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan busana terhadap penampilan diri pada mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semarang Angkatan Tahun 2004 dengan besarnya kontribusi dari pengetahuan busana terhadap penampilan diri mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semarang Angkatan Tahun 2004 tersebut adalah 35. koran.. Pembimbing II : Dra.81) dan penampilan diri mahasiswa juga baik dengan bobot persentase skor 76.592.

3.W.MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto Penampilan merupakan perwujudan dari kepribadian (Eka W. 2.) Persembahan Skripsi ini ku persembahkan untuk: 1. 4. v . Bapak dan Ibu tercinta yang tidak pernah bosan dalam memberikan semangat dan dukungan kepada ananda. Teman dan sahabat Mahasiswa Angkatan 2001. Almamater TJP UNNES. Edy Nugroho suami tercinta.

Dosen Pembimbing I yang dengan tulus ikhlas meluangkan waktu.Pd. M. vi . Urip Wahyuningsih. Dosen Pembimbing II yang dengan tulus ikhlas meluangkan waktu. Pada kesempatan ini dengan tulus hati peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat : 1. pengarahan sehingga skripsi ini tersusun. 4. H.PRAKATA Syukur Alhamdulillah peneliti panjatkan kehadirat Allah Swt. atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi dengan judul : “Hubungan antara Pengetahuan Busana terhadap Penampilan Diri Mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semaran”. pengarahan sehingga skripsi ini tersusun. Skripsi ini tidak mungkin terwujud tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak.. tenaga dan pikiran untuk memberikan bimbingan. Dra. Dra. Skripsi ini peneliti ajukan guna melengkapi sebagai syarat untuk mencapai gelar sarjana pendidikan pada jurusan Teknologi Jasa dan Produksi Program Studi Tata Busana Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. tenaga dan pikiran untuk memberikan bimbingan. Hartatiati S.. Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan untuk menyelesaikan skripsi ini. 2. Ketua Jurusan Teknologi Jasa dan Produksi Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan fasilitas dan memperlancar penelitian 3.

Akhirnya peneliti berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca semua. Kritik dan saran yang positif dari pembaca sangat peneliti harapkan demi kesempurnaan penyusunan skripsi ini. Peneliti menyadari adanya keterbatasan pengetahuan dan pengalaman.5. Semua pihak yang telah memberikan motivasi dan bantuan dalam penyusunan skripsi ini. Semoga Allah memberikan balasan yang setimpal atas amal kebaikan yang telah diberikan. Semarang. Seluruh mahasiswa Jurusan Teknologi Jasa dan Produksi Tata Busana Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang angkatan 2004 yang telah bersedia menjadi sampel penelitian. Februari 2007 Peneliti vii . 6.

.......... BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................................................................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL. Latar Belakang Masalah....... Pengertian Penampilan Diri ...................................... Tujuan Penelitian ....... SARI........... Pengetahuan Busana .............................................................. MOTTO DAN PERSEMBAHAN ........... F.. 5.................................. Penegasan Istilah.................. 4............. Sistematika Skripsi................................................................. C............................................................... PERSETUJUAN PEMBIMBING...................................................... 1...................... Hipotesis ............................................................ DAFTAR LAMPIRAN................................................................... DAFTAR ISI................................ i ii iii iv v vii ix x xi 1 1 5 5 6 7 7 10 10 10 13 14 17 18 31 31 32 34 53 55 viii ................. PRAKATA................................................................................................. Tujuan Busana ............................................................................ Pengertian Tentang Penampilan Diri .... D....................... Pelengkap Busana ............................ 2......................... Pengelolaan Busana ................................................................... A...................................................................................................................................... 2......................................................... Manfaat Penelitian .............. Fator-faktor yang Mempengaruhi Penampilan Diri................................ B.............. B.............. BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS ......... DAFTAR TABEL....... DAFTAR GAMBAR ... D..... E...................................................................... 3.............................. C.............................................. Permasalahan ....................................................................................... A............................ Tinjauan Tentang Penampilan Diri............................................................... 3.................................................................................................................................................................. 1.......... Pengertian Busana.......................................................................................... Kerangka Pikir .......................................... Pemilihan Busana.......................................................................................

...................................................................................................... Saran....................................................................................................................... Hasil Penelitian ................................................................... Metode Pengumpulan Data............ D........................... A................................................................... BAB V PENUTUP....................... 56 56 56 56 56 58 60 66 70 70 70 71 72 73 77 77 77 79 80 ix ........... Validitas Dan Reliabilitas Instrumen............ 1.................................... Populasi dan Sampel Penelitian.............................................. Metode Analisis Data.................................... Pembahasan ........ Simpulan .................. Variabel Penelitian.......................................................... Populasi................... B.......... A........................... 2............ A..................... E................. Sampel .... 2.......... Pengujian Hipotesis .................................................................................................................................................................................. 3. B.......... Deskripsi Data Hasil Penelitian ................BAB III METODE PENELITIAN .............................................................................................................................. B................................................................... 1..................................................... DAFTAR PUSTAKA ............................... Hasil Uji Prasyarat .................................... LAMPIRAN............ BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................. C...........................................

................................... Tabel 6....................................... Deskripsi Data Variabel X dan Y ....................................... Ringkasan Tingkat Kesukaran Soal Ujicoba .............................................................. 59 64 64 64 66 70 72 x .... Tabel 4................ Tabel 7.................... Ringkasan Daya Pembeda Soal Ujicoba ...... Kriteria Daya Pembeda Soal ............... Kriteria Perhitungan Indeks Kesukaran .............DAFTAR TABEL Hal Tabel 1....................................................... Tabel 5............................. Hasil Uji Normalitas Data . Tabel 3...... Tabel 2......... Kisi-kisi Observasi Penampilan Diri.....

............ 71 74 xi ................ Gambar 2............. Bagan Distribusi Kategori Pengetahuan Busana dan Penampilan Diri........DAFTAR GAMBAR Hal Gambar 1.................... Sumbangan Pengetahuan Busana Terhadap Penampilan Diri ...................................

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Gambar Busana Kerja Lampiran 2. Gambar Bentuk Tubuh Lampiran 3. Gambar Bentuk Wajah Lampiran 4. Kisi-kisi Instrumen Pengetahuan Busana Lampiran 5. Angket Penelitina Lampiran 6. Lembar Observasi Lampiran 7. Pedoman Penilaian Observasi Lampiran 8. Daftar Nama Mahasiswa/Sampel Penelitian Lampiran 9. Hasil Uji Coba Lembar Observasi Lampiran 10. Perhitungan Reliabilitas Observasi Lampiran 11. Analisis Validitas, Reliabilitas, Daya Pembeda dan Tingkat Kesukaran Soal Lampiran 12. Contoh Perhitungan Validitas Soal Lampiran 13. Contoh Perhitungan Daya Pembeda Soal Lampiran 14. Contoh Perhitungan Tingkat Kesukaran Soal Lampiran 15. Contoh Perhitungan Reliabilitas Soal Lampiran 16. Perhitungan Reliabilitas Observasi Lampiran 17. Data Pengetahuan Busana Lampiran 18. Uji Normalitas Data Pengetahuan Busana (X) Lampiran 19. Uji Normalitas Data Penampilan Diri (Y) Lampiran 20. Deskripsi Data Hasil Penelitian Lampiran 21. Analisis Korelasi antara PEngetahuan Busana dengan Penampilan Diri

xii

Pedoman Observasi.......................................................................................... 1. Data Hasil Uji Coba Angket Penelitian ..................................................... 2. Perhitungan Validitas Angket penelitian ................................................... 3. Perhitungan Reliabilitas Angket penelitian................................................ 4. Data Hasil Penskoran Angket Penelitian ................................................... 5. Deskriptif Data Hasil penelitian Penelitian................................................ 6. Data Hasil Observasi.................................................................................. 7. Uji Normalitas Data Penggunaan Kosmetika Pemutih .............................. 8. Uji Normalitas Data Kesehatan Kulit ........................................................ 9. Uji Homogenitas Data................................................................................ 10. Analisis Regresi antara Penggunaan Kosmetika Pemutih dengan Kesehatan Kulit.......................................................................................... 11. Surat Penetapan Dosen Pembimbing ......................................................... 12. Surat Iji Penelitian...................................................................................... 13. Surat Keterangan Selesai Penelitian...........................................................

73 74 77 78 79 81 83 85 86 87

89 93 94 95

xiii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pakaian merupakan salah satu kebutuhan primer manusia. Kebutuhan manusia selalu berubah-ubah dan berkembang sesuai dengan keadaan zaman, salah satunya adalah kebutuhan busana dan pakaian. Kebutuhan manusia akan busana timbul dari dalam nalurinya untuk menghias diri dan melindungi tubuh, serta rasa kesusilaan. Seseorang dapat dikenal karena penampilan, tingkah laku, suara, cara berpakaian, kesukaan dan lain sebagainya. Pemilihan busana yang tepat disertai pelengkap busana yang sesuai mempunyai arti besar dalam penampilan seseorang. Busana yang serasi dan menarik dapat menambah simpati dan rasa kagum dari orang-orang disekelilingnya. Jurusan Teknologi Jasa dan Produksi merupakan salah satu jurusan yang ada di Universitas Negeri Semarang, yanng memiliki tiga program studi yaitu S1 PKK Konsentrasi Pendidikan Tata Busana, S1 PKK Konsentrasi Pendidikan Tata Boga, Program Studi D3 Teknologi Jasa dan Produksi Busana dan Program Studi D3 Teknologi Jasa dan Produksi Boga. Keempat Program tersebut menekuni bidang tersendiri, sesuai dengan program studi masing-masing. Mata Kuliah yang di dapat dari masing-masing program studi tersebut jelas ada perbedaan, walaupun terdapat kesamaan dalam beberapa Mata Kuliah, antara lain Mata Kuliah

meskipun ada mahasiswa yang telah mengenal penngetahuan busana dari sekolah sebelumnya seperti di SMKK. Pengetahuan busana merupakan salah satu unsur pendukung penampilan diri seseorang. berbusana yang serasi dan juga dapat menerapakan busana sesuai dengan kesempatan. atau dengan kursus-kursus yang lain untuk dapat menata diri dalam berbusana. hal ini telah lama dan merupakan suatu unsur kebutuhan pengetahuan dan ketrampilan cara berbusana dan keserasian berbusana mudah di ciptakan. koran. Masalah berbusana bukanlah suatu hal yang baru. Pengetahuan busana tidak hanya berisi tentang teori-teori. selain keserasian berbusana. cara berbusana. bentuk badan. televisi. akan tetapi berisi juga latihan atau praktik.2 Dasar Busana yang salah satu pokok bahasan Pengetahuan Busana. Pengetahuan busana menjadi dasar pengenalan mahasiswa tata busana yang pada umumnya baru mengenal tentang busana. kebiasaan dan lain sebagainya. Penngetahuan busana sangat penting sebagai pengantar pemahaman dan latihan praktik serta berbusana dalam rangka usaha untuk berpenampilan diri yang baik. 2 . Bagi program studi S1 PKK Konsentrasi Pendidikan Tata Busana. Tujuan penampilan diri meliputi tingkah laku. melalui buku-buku tentang busana majalah. radio. Penguasaan mata kuliah pengetahuan busana ini diharapkan memperoleh hasil. warna kulit dan lain sebagainya. pengetahuan busana merupakan salah satu mata kuliah bidang studi yang pertama kali ditempuh. yaitu mencetak mahasiswa untuk dapat berpenampilan diri.

Ketua Jurusan. Penampilan diri merupakan faktor yang sangat penting dalam pergaulan. tetapi semua tahu setiap individu pasti memiliki kekurangan baik dalam bentuk tubuh.3 Keadaan fisik seseorang memang sudah digariskan oleh ALLAH SWT. Mungkinkah dari faktor 3 . Kegiatan mahasiswa lebih sering banyak dilakukan pagi sampai siang hari sehingga mahasiswa lebih sering berada dikampus dan berinteraksi dengan lebih banyak individu dari berbagai kalangan seperti bertemu dengan Dosen. kondisi demikian menumbuhkan kesadaran baru akan pentingnya penampilan diri. dan cara yang paling tepat adalah dengan berbusana yang serasi sesuai dengan bentuk tubuh dan terpenting dapat menutupi kekurangan dari tubuh. Mahasiswa yang memiliki pengetahuan dalam setiap penampilannya harus dapat memantas diri dengan busana yang serasi dan menarik. oleh karena itu karunia tersebut wajib disyukuri dengan cara merawat agar selalu sehat dan cantik. lingkungan. Namun hal itu juga harus di imbangi dengan budi prkeerti yang baik sehingga nilai dari berpenampilan diri seseorng benar – benar nyata. Dekan. Faktor lain yang dapat mempengaruhi dari penampilan diri adalah dari segi ekonomi. Dengan demikian untuk dapat berpenampilan yang baik seharusnya kita dapat menututi kekurangan tersebut agar tampak lebih indah dengan kata lain harus dapat menyamarkan kekurangan yang ada pada tubuh. Wanita menginginkan bentuk tubuh yang ideal. para pegawai TU dan lain-lain. secara tidak langsung mahasiswa ditintut kerapian dan keserasian dalam berpenampilan. kebiasaan hidup sehari-hari atau lain sebagainya.

bahkan ada yang berpenampilan seadanya tanpa mau berusaha untuk tampil lebih baik dan menarik sesuai dengan pengetahuan yang mereka peroleh dari mata kuliah pengetahuan busana. karena penelitian ini untuk mengungkap penerapan mata kuliah pengetahuan busana dengan penampilan diri mahasiswa dari ujung rambut sampai ujung kaki. Berdasarkan latar belakanng masalah diatas peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang “ HUBUNGAN ANTARA DIRI PENGETAHUAN BUSANA TERHADAP PENAMPILAN MAHASISWA TATA BUSANA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG “ 4 . Mahasiswa Jurusan Teknologi Jasa dan Produksi sebagai salah satu cirivitas akademika di lembaga pendidikan formal perlu memiliki penampilan yang baik dan menarik baik sikap. Namun dengan kenyataan yang ada dari hasil survei sementara mahasiswa yang telah mengikuti mata kuliah pengetahuan busana ada yang belum menerapkan sebagaimana mestinya. cara berbusana dan cara merias diri sesuai dengan waktu dan kesempatan.4 tersebut mahasiswa masih belum dapat menerapakan pengetahuan busana dalam berpenampilan ? Obyek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Teknologi Jasa dan Produksi Program Studi S1 PKK Konsentrasi Pendidikan Tata Buasana . Sebagai mahasiswa dalam penampilan sehari-hari di kampus sebaiknya sederhana dan tidak berlebihan.

Hubungan Hubungan adalah suatu keadaan yang berhubungan. ikatan. Sedangkan Busana adalah bahan tekstil atau bahan lainnya yang sudah dijahit atau tidak dijahit yang dipakai atau disampirkan untuk penutup tubuh seseorang Arifah A Riyanto. Seberapa besar hubungan antara Pengetahuan Busana Terhadap Penampilan Diri Mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semarang ? C. maka secara berurutan ditegaskan sebagai berikut 1.: 2 ). 2. Pengetahuan Busana Pengetahuan adalah suatu ilmu (Yulius S.5 B. Adakah hubungan antara Pengetahuan Busana Terhadap Penampilan Diri Mahasiswa Tata Busana Universitas Negeeri Semarang ? 2. Jadi yang dimaksud dengan pengetahuan busana dalam penelitian ini adalah ilmu yang mengetahui 5 . pertalian antara yang satu dengan yang lain ( Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengenbangan Bahasa 1990 : 313 ). 1984 : 252 ). maka timbul beberapa permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Permasalahan Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah. Penegasan Istilah Menghindari kemungkinan salah persepsi dalam istilah-istilah yang terdapat pada penelitian ini.

yang kesemuanya itu disesuaikan dengan usia. yaitu mahasiswa angkatan 2004 Program Studi S1 PKK Konsentrasi Tata Busana Jurusan Teknologi Jasa dan Produksi Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. warna kulit dan kesempatan. 3. bentuk riasan. bentuk tubuh. D. keserasian dalam berbusana. Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara Pengetahuan Busana Terhadap Penampilan Diri Mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semarang. kepribadian. Penampilan Diri Penampilan adalah suatu proses perbuatan atau cara menampilkan ( Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia. tujuan busana. Jadi yang dimaksud dengan penampilan diri dalam penelitian ini adalah suatu proses menampilkan keseluruhan badan yang meliputi sikap. Tujuan Penelitian Tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah : 1. 4. 1990 : 892 ). 6 . Sedangkan diri adalah badan. cara pemilihan busana yang serasi dan sesuai dengan si pemakai. keseluruhan badan ( Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia. Mahasiswa Tata Buasana Universiatas negeri Semarang Mahasiswa yang menjadi panelis dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang telah mempelajari atau mengambil mata kuliah Pengetahuan Busana. 1990 : 209 ).6 mengenai busana yang meliputi pengertiannya.

halaman pengesahan. daftar tabel. Isi 7 . Hasil penelitian ini berguna menambah wawasan serta pengetahuan bagi peneliti. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan pada mahasiswa Teknologi Jasa dan Produksi tentang cara berpenampilan diri yang baik. Sistematika Skripsi Sistematika skripsi terdiri atas 3 ( tiga ) bagian yaitu pendahuluan.7 2. Bagian pendahuluan berguna untuk memudahkan pembaca dalam memahami seluruh isi skripsi. F. daftar gambar. E. 2. BAB I : Pendahuluan berguna untuk mengantarkan pembaca memahami permasalahan yang akan diteliti. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah : 1. 3. 2. Hasil penelitian ini diharapkan berguna sebagai masukan bagi Jurusan Teknologi Jasa dan Produksi pada Mata Kuliah Pengetahuan Busana. dan bagian akhir. Bagian isi terdiri dari 5 ( lima ) bab yaitu : a. daftae isi. bagian isi. Untuk mengetahui berapa besar hubungan antara Pengetahuan Busana Terhadap Penampilan Diri Mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semarang. 1. Bagian pendahuluan yang terdiri dari halaman judul.

Pengetahuan Busana 1. Pemilihan Busana B. BAB II : Landasan Teori dan Hipotesis digunakan sebagai landasan berfikir untuk melakukan penelitian dan sebagai pegangan dalam melaksanakan penelitian. Tujuan Penelitian. Manfaat Penelitian dan Sistematika Skripsi. Teknik 8 . Kerangka Berfikir D. Permasalahan. Pengertian Penampilan Diri 2. Pelengkap Busana 5. Penggolongan Busana 4.8 pendahuluan yaitu Latar Belakang Masalah. Tinjauan Penampilan Diri 1. Penegasan Istilah. Pengertian Busana 2. Hipotesis c. Landasan Teori berisi teori-teori yang dijadikan pedoman atau acuan dalam melakukan penelitian yang meliputi : A. Sampel Penelitian. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penampilan Diri C. Pengetahuan Tentang Penampilan Diri 3. Variabel Penelitian. BAB III : Metode Penelitian menjelaskan tentang : Teknik Penentuan Populasi. Tujuan Busana 3. b.

Reliabilitas. a. menjelaskan data dan perhitingan analisis data. Pengolahan Data dan Analisis Data. BAB IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan. b. Bagian akhir skripsi beerisi Daftar Pustaka dan Lampiran. 3. Lampiran-lampiran berisis tentang kelengkapan-kelengkapan skripsi. berisi : Deskripsi Data dan Analisis Data dari Hasil Penelitian. Daftar Pustaka berisi tentang daftar buku yang terkait dengan penelitian ini. 9 .9 Pengumpulan Data. BAB V : Penutup berisi : Simpulan yang ditarik dari Hasil Pembahasan dan Saran berguna bagi pembaca. Alat atau Instrumen. d. e. sehingga dapat memperoleh kesimpulan tersebut. Uji Coba Instrumen.

artinya makin lama bertambah kaya. sehingga relatif banyak menghasilkan sesuatu yang berguna yang dapat dimanfaatkan oleh manusia yang lainnya. Pengetahuan Busana Busana dalam kehidupan manusia pada umumnya tidak lepas dari manusia sebagai makhluk yang berbudaya. model. yang selalu berkembang dari suatu periode ke periode. serta pengalaman dalam lingkup perbusanaan. Berbusana tidak sekedar mengenakan pakaian. Semakin tinggi kebudayaan manusia semakin bervariasi kreasi yang dihasilkan oleh manusia dalam bidang busana. pelengkap busana serta 10 . Kondisi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang busana mendorong seseorang untuk berkreasi dari mulai mendesain modelnya yang disesuaikan dengan produksi tekstil yang tersedia atau mendesainkan corak busananya sendiri. Kebudayaan bersifat akumulatif. Penerapan teori ke dalam praktik harus memenuhi asas keserasian yang cukup sempurna. ketrampilan. tambah maju. sampai dengan pembuatannya.BAB II LANDASAN TEORI A. Untuk dapat berbusana yang serasi tidak mudah karena memerlukan latihan. Keserasian di capai apabila tiap bagian atau seluruh aspek yang terdiri atas busana. pemilihan busana yang tepat sesuai untuk kesempatan dan sesuai pula dengan kepribadian pemakainya. menjadikan penampilan seseorang wanita sangat mengesankan. karena manusia pemikirannya tambah berkembang.

Arifah A Riyanto. Pengetahuan tentang busana yang meliputi pengertian busana. celana pendek. Sedangkan menurut Tim Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1989 : 140 ) busana adalah pakaian yang lengkap. Yang bersifat pokok. blus.11 tata rias diri mempunyai hubungan yang seimbang satu sama lain. penggolongan busana. T-shirt. seperti : kebaya. piyama. tujuan busana. Menurut. serasi. 1. . Pengertian Busana Busana adalah pakaian yang enak dipandang mata. blezer. kutang. sarung. pelengkap busana serta pemilihan busana. dan bebe dalam. Pengertian busana dalam arti luas adalah semua yang dipakai mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki yang menampilkan keindahan meliputi : 1. bebe. ( 2003 : 2 ) busana adalah bahan tekstil atau bahan lain yang sudah dijahit atau tidak dijahit yang di pakai atau di sampirkan untuk menutupi tubuh seseorang. kain panjang. selaras. kemeja. harmonis dengan pemakai dan kesempatan pemakaian atau semua yang dipakai mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut. rok dalam. celana rok. celana panjang. singlet. rok. Jadi dapat disimpulkan tentang busana yaitu pakaian yang lengkap mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki ( termasuk assesorisnya ) yang bertujuan untuk menambah kecantikan sipemakai dan memperindah penampilan.

3. sehingga mempunyai fungsi atau tujuan sebagai pelindung. dasi. selendang. alat penunjang komunikasi dan keindahan seseorang dalam berpenampilan. kerudung. cincin. sirkam. Busana yang tidak serasi dengan sipemakai sudah tentu mengurangi kemampuan kita untuk menampilkan daya tarik pesona pribadi. giwang. ( Arifah A. bandu. Yang bersifat pelengkap. Karena penilaian kecantikan bukan secara lokal. melainkan diperlukan keserasian antara busana itu sendiri dengan sipemakai. Yang bersifat menambah. Tidak semua orang pandai memantas diri. tetapi menyeluruh dari ujung ranbut dari ujung kaki. dan kesemuanya itu saling menunjang dalam meningkatkan pesona pesona penampilan diri. selop. seperti : pita rambut. ikat pinggang. 2. scarf. bros dan mahkota.12 2. jam tangan. peci. walaupun seseorang telah bersolek lengkap dengan tata rias muka dan tata rias rambut yang cantik. topi. anting. tas. syaal. Pesona penampilan tidak terlepas dari busana yang dipakai beserta perhiasan pelengkapnya. Sehingga busana itu sekaligus membantu untuk menyulap pandangan mata seseorang dan memperindah diri. seperti : alas kaki ( khususnya sepatu. kalung. kaca mata. . sandal ). Tujuan Berbusana Manusia membutuhkan busana untuk menutupi tubuhnya dalam beraktifitas. jepit hias. tingginya teknologi busana tidak lagi hanya berfungsi sebagai penutup tubuh. Riyanto. 2003 : 3 ) Sesuai perkembangan zaman. kaos kaki. penjepit dasi. sarung tangan dan payung.

Penggolongan Busana . Memenuhi syarat – syarat peradapan dan kesusilaan. 1998 : 57 ) sebagai berikut : 1. 4. Busana yang dikenakan dapat menutupi cacat atau kekurangan yang ada pada tubuh. hawa dingin dan gigitan serangga.13 Seseorang berpenampilan yang menarik. Menunjukkan jenis profesi yang ditekuni. Artinya busana yang dikenakan sesuai dengan peradapan dimana bertempat tinggal sehingga dapat hidup tenang dan nyaman. Sebelum mencapai penampilan yang serasi dan menarik setiap orang harus tahu tujuan dari berbusana. Memenuhi syarat – syarat kesehatan. 5. Memenuhi rasa keindahan. Menutupi cacat pada tubuh. 4. namun tujuan yang utama menurut ( Chadromi N. 2. 3. karena penampilan yang serasi dan menarik akan memudahkan dalam pergaulan sehari-hari. hujan. Arrtinya busana yang dikenakan untuk memperindah penampilan sehingga menarik perhatian orang lain. Artinya busana digunakan untuk melindungi tubuh dari gangguan luar karena panas matahari. Karena tujuan seseorang berbusana tidak hanya sekedar menutupi tubuh. Artinya busana yang dikenakan sesuai dengan pekerjaan yang sedang ditekuni sesuai dengan tempat bekerja.

Busana ini tidak pantas ditampilkan dimuka umum untuk menerima tamu. Busana dalam kecil Adalah busana yang dikenakan pada tubuh sebagai dasar dan alas sebelum menggunakan busana luar. BH dan korset.14 Busana dibagi dua macam menurut jenis yaitu busana pria dan busana wanita. Busana dalam besar Adalah semua jenis busana tidur tidak boleh dipakai keluar rumah atau menerima tamu. baby doll dan kamar jas. b. Busana dalam ada 2 macam. yaitu : 1). Menurut Radias Saleh. piyama. petticout ( rok dalam ). camicol. Aisyah Jafar (1991 : 4 ) busana wanita dapat digolongkan menjadi 2 macam yaitu : a. meskipun terbuat dari bahan yang bagus dan mahal. Busana luar ini sangat mempengaruhi penampilan diri . Penggunaannya harus diperhatikan kebersihannya karena berhubungan dengan kesehatan. Busana ini antara lain : gaun tidur. Busana Luar Adalah busana yang dipakai sesudah busana dalam dan sopan dipakai keluar rumah. Busana wanita terbagi menjadi dua golongan antara lain busana dalam dan busana luar. Busana Dalam Adalah busana yang langsung dipakai di atas kulit badan. Busana ini antara lain : celana dalam. 2). bebe dalam.

15

seseorang. Berdasarkan tujuan pemakaian, busana luar digolongkan menjadi 5 golongan, yaitu : 1) Busana Kerja Adalah Busana yang di pakai pada kesempatan kerja yang biasanya bahan dan model di sesuaikan dengan tempat kerja. Maka yang menjadi syarat utama dari busana ini adalah sederhana tidak berlebihan dan praktis, sehingga tidak mengganggu gerakan tubuh ataupun pekerjaan. Biasanya lebih ditekankan pada model rok blus atau baju terusan dan model praktis. Bahan yang dipilih harus tahan cuci, mudah dalam pemeliharaannya, tidak kuat dan tidak susut. Di samping itu ada lagi busana kerja khusus, yaitu : busana seragam, busana laboratorium, busana untuk memasak, dan busana untuk bengkel. Semua itu harus terbuat dari bahan yang kuat dan mudah dalam pemeliharaan. ( Gambar terlampir Hal 2) Busana Santai Adalah Busana yang dipakai saat santai seperti rekreasi. Busana rekreasi termasuk disini busana untuk menonton bioskop, menonton olah raga, ke gunung, ke pantai, dan keluar rumah pada sore hari. Busana yang tepat dipakai untuk menonton bioskop sore hari dan malam hari dapat memakai celana panjang maupun baju terusan, akan tetapi janganlah memakai bahan berkilau perak atau kilau emas serta hindari pula memakai bahan renda seperti broklat. Untuk ke gunung ).

16

pakailah celana panjang yang dilengkapi dengan jaket serta topi, sedang untuk ke pantai dapat memekai short dan kulot dengan T-shirt atau blus yang longgar. ( Gambar terlampir Hal 3) Busana Olah Raga Adalah Busana yang dipakai pada kesempatan olah raga. Busana olah raga ini disesuaikan dengan jenis olah raganya seperti : busana renang, senam, bahan yang baik elastis. Untuk busana tenis, basket, badminton, sebaiknya short dengan kaos T-shirt berwarna putih dan bahannya menyerap keringat. Busana ini dilengkapi dengan topi, sepatu sesuai jenis olah raga itu. ( Gambar terlampir Hal 4) Busana Pesta Adalah Busana yang dipakai pada kesempatan pesta. Busana pesta terbagi menjadi beberapa kesempatan pagi, siang dan malam. Untuk kesempatan pesta busana bahan dan model lebih mewah dan lebih elegan dibanding dengan busana yang lain. ( Gambar terlampir Hal ). ). ).

5) Busana Rumah Adalah Busana yang dipakai di rumah. Busana rumah dapat dibagi antara busana rumah sehari-hari dan busana tidur. Contoh busana

17

sehari-hari itu adalah daster. Sedangkan busana tidur adalah berupa piyama, dan baby doll. (Gambar terlampir Hal 4. Pelengkap Busana Pelengkap busana merupakan benda-benda yang dipakai sebagai penambah cantik, serasi atau memperindah busana yang dipakai seseorang. Menurut Sumarlien, ( 1992 : 50 ), yang dimaksud dengan pelengkap busana adalah benda yang kita tambahkan sesudah memakai busana. Pelengkap ).

busana gunanya untuk melengkapi macam-macam busana . Sedangkan menurut Arifah A Riyanto, ( 2003 : 186 ), pelengkap busana dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu milineris dan aksesoris. a. Pelengakap busana Aksesoris Yaitu pelengkap busana yang memiliki 2 fungsi yaitu sebagai pelengkap busana tersebut dan sebagai assesoris atau hiasan saja. Contoh : pita rambut, sirkam, bondu, jepit hias, penjepit dasi, giwang, anting, kalung, gelang, jam tangan, kaca mata, cincin, dan bros. b. Pelengakap busana Milineris Yaitu pelengkap busana yang melengkapi busana dan sekaligus berguna langsung bagi si pemakainya. Contoh : Alas kaki ( sepatu, sendal, selop ), kaus kaki, tas, topi, peci, ikat pinggang, dasi kerudung dan lainlain. Dalam pemilihan pelengkap busana harus sesuai dengan busana yang di kenakan serta waktu dan kesempatan pemakaiaan. Juga harus sesuai dengan bentuk tubuh, muka dan tangan pemakai.

18 5. Postur Tubuh Persyaratan dalam meneliti berbusana serasi adalah memahami bentuk tubuh. dan gemuk. antara lain karena umur. Pendek Kurus Untuk seseorang yang memiliki bentuk tubuh pendek kurus dianjurkan memilih desan busana yang bergaris memanjang. Pemilihan Busana Busana sebagai tampilan pertama yang dilihat oleh orang pada umumnya. daging. Ada 3 bentuk dasar tubuh ideal. Bentuk tubuh seseorang dipengaruhi oleh otot. Berat dan bentuk tubuh dapat berubah. Garis hias prices atau hiasan yang memanjang atau vertikal agar kelihatan lebih tinggi. . agar kelihatan lebih berisi. Hal – hal yang diperhatikan dalam pemilihan busana untuk bentuk tubuh pendek kurus antara lain : a. Dari 3 bentuk dasar tubuh tersebut dapat dikembangkan menjadi 6 bentuk tubuh yaitu : a. senam. Agar dalam pemilihan busana tidak keliru kita harus mengetahui faktor apa saja yang harus diperhatikan antara lain : 1. dan tidak berkesan menggemukkan. dan gizi.busana yang kenakan akan mempunyai dampak pada orang-orang yang ditemuinya. diet. kurus. Kemeja atau busana yang sedikit lebih longgar. b. dan pemerataan adanya lemak tubuh.

Warna yang baik adalah kombinasi senada terang dan gelap. jam tangan. ). Model lengan yang licin dan bila memakai ikat pinggang ambillah ukuran kecil. . Bila memakai kerah ambillah model yang kecil. e. Hal – hal yang diperhatikan dalam pemilihan busana untuk bentuk tubuh pendek gemuk. f. karena ini akan memberikan kesan lebih langsing atau tinggi. Bahan yang dipilih sebaiknya yang lembut dan tipis. ( Gambar terlampir Hal b. d. g. Pemilihan pelengkap busana yang senada dengan warna busana yang dipakai. ikat pinggang ataupun sepatu. Pemilihan assesoris yang berukuran lebih kecil atau sedang. b. Seperti tas. Pendek Gemuk Bagi seseorang yang memiliki bentuk tubuh pendek gemuk agar kelihatan lebih tinggi. antara lain : a. Dapat pula memakai rok yang berlipit. Hindari busana yang terlalu longgar atau ketat. Potongan gaun sebaiknya di bawah dada atau garis princes dan model leher berbentuk huruf V. f. e. c.19 c. Busana sebaiknya memakai garis-garis vertikal. d. pilihah desain busana dengan garis memanjang. Blus dan rok sebaiknya yang berwarna dan bermotif yang kecilkecil.

g. sebaiknya warna blus dan rok senada. pof adalah pilihan yang tepat. Hal – hal yang diperhatikan dalam pemilihan busana untuk bentuk tubuh tinggi kurus. Jangan memakai busana yang terlalu ketat. e. tidak suram. Corak yang tepat dipilih adalah polos. f. Tinggi Gemuk ). Pilihlah busana dengan potongan garis horisontal. Model lengan yang berlipit. c. Bahan yang tepat digunakan adalah agak berat atau sedang. Warna yang tepat adalah warna cerah dan muda. . motif besar. berbunga. h. ( Gambar Terlampir Hal d. Apabila mengenakan ikat pinggang yang ukuran besar dan warnanya berlawanan dengan busana. b.20 g. antara lain : a. dianjurkan merencanakan desain busana yang sesuai dan seimbang dengan tingginya agar tidak kelihatan kurus. ( Gambar terlampir Hal ). bergaris atau berbunga yang menarik. Warna yang tepat adalah gelap. dan bergaris dengan ukuran kecil. bila memakai jaket atau rok dapat mengambil warna yang berlawanan. agar terkesan lebih berisi atau gemuk. d. c. Corak bahan yang tepat adalah polos. dan lembut. Tinggi Kurus Seseorang yang memiliki bentuk tubuh tinggi kurus. berkotak.

bila itu rok sebaiknya pas pada pinggang dan agak panjang. bergaris. licin atau kasar. serta dapat menata rambut model pendek tetapi berombak. Motif yang tepat adalah berkotak. antara lain : a. Gaun jangan terlalu ramai. g. kombinasi warna senada. Pilihlah busana yang memakai kerah dengan garis lurus. e. Hal – hal yang diperhatikan dalam pemilihan busana untuk bentuk tubuh besar badan atas. Slack. Baju yang berkantong dan ada ikat pinggang. Bebe model kemeja b. polos. Besar Badan Atas Untuk mengimbangi proporsi bentuk tubuh besar badan atas. ( Gambar terlampir Hal ). pilihlah desain busana yang tampak melangsaikan dan mengurangi berat badan.21 Untuk seseorang yang bentuk tubuh tinggi gemuk. Jatuhnya bahan halus. Slack yang agar lurus atau longgar pada kakinya. rok bersaku. . Hal – hal yang diperhatikan dalam pemilihan busana untuk bentuk tubuh tinggi gemuk. c. e. f. berbunga. antara lain : a. b. Warna yang tepat adalah warna dingin dari sedang sampai gelap. berlipit atau berkerut. pilihlah desain busana yang memberatkan pada bagian panggul dan polos pada bagian dada. d.

Jaket yang longgar e. f. Celana dan rok yang sederhana. Kekuatan elemen dalam desain dapat menciptakan penampilan pribadi yang sempurna. blus yang bagus dengan tutup tarik yang menarik. ). c. f. sedikit kerutan pada pas bahu dan ada belahan tengah muka. Dalam pemilihan desain yang tepat akan ditonjolkan bentuk badan yang dirasa . kerah kecil. cerah. d. Jatuhnya bahan : agak berat. g. e. Hal – hal yang diperhatikan dalam pemilihan busana untuk bentuk tubuh besar badan bawah. Besar Badan Bawah Seseorang yang memiliki bentuk tubuh besar badan bawah. b. memilih desain busana yang memiliki garis hias atau hiasan yang melintang pada bagian atas untuk bemberikan kesan seimbang antara badan atas dan bawah. Blus dengan desain yang sederhana. ( Gambar terlampir Hal f. Jatuhnya bahan agak berat atau kaku. antara lain : a. cerah. g. sedang atau polos. antara lain dalam berbusana. Kepribadian seseorang dapat dirasakan.22 c. Warna yang tepat adalah warna gelap. Motif yang tepat adalah kecil. Bebe dengan bagian rok agak sempit dan bergaris memanjang. Jaket longgar atau agak pas dan panjang. d. Motif yang tepat adalah bercorak kecil. Warna yang tepat adalah warna gelap. ( Gambar terlampir Hal ).

tebal. Motif berbunga kecil dan warna yang disukai adalah warna yang diredupkan. Lipit jarum bidang – bidang yang kecil.tinggi. Ada pula pembagian gaya busana menurut kepribadian sipemakai : a. bersifat terbuka dan agresif. Tekstur yang cocok untuk ini adalah lembut. . sebaiknya menggunakan bahan bertekstur berat. lemah lembut serta sedikit pemalu. Tipe feminin. Motif yang yang tepat besar – besar dan bukan motif bunga.23 menarik sekaligus menutupi bentuk badan yang kurang menarik sehingga berkesan sempurna. b. biru kemerahan / ungu). Adapun tipe tubuh tersebut adalah sebagai berikut : a. Perawakan tipe ini biasanya pendek. rambut ikal. dan bermotif. Romantik Ingin tampil cantik dan feminin. permukaan yang licin akan lebih sesuai untuk tipe ini. tipe ini mempunyai bentuk tubuh antara tipe maskulin dan tipe feminin. Pemilihan motif sebaiknya sedang demikian juga pada berat bahan. suara bernada rendah. Tipe Intermediate. tipe ini mempunyai perawakan tegap. melainkan lrbih cocok geometris. dan ringan. Seorang yang memiliki tipe ini. Tipe maskulin. dan mempunyai tulang yang kecil. Warna dingin yang sesuai untuk tipe ini (hijau kekuningan. rambut lurus. menerawang. halus. c.

Menyukai busana yang awet dan tidak akan hilang di telan jaman dalan perkembangan mode. memilih bahan tekstil yang jatuh tidak ketat dan mudah dicuci dan model tidak mengganggu gerak tubuh. Canggih Biasanya orang yang memiliki ambisi yang tinggi. serba guna dan nyaman. Berani . b. setia. memilih busana dengan sangat teliti sesuai dengan kesempatan tertentu. e. ramah. eksekutif sehingga ingin tampil dengan pembawaan molek. memanfaatkan busana semaksimal mungkin. Sportif Gemar kegiatan di alam terbuka serta seseuatu yang serba praktis. Klasik Sangat diwarnai hidup yang teratur. Tidak takut mencoba sesuatu yang baru termasuk busana. c.24 Lebih menyukai gaun daripada celana. d. rok dan blus. Dalam berbusana wanita jenis ini lebih tertarik pada kesan resmi. banyak menggunakan garnitur renda – renda. Lebih menyukai celan daripada gaun. rumbai – rumbai dan warna yang digemari adalah warna pastel dan putih. serta ciptakan desain sendiri.

namun tetap tampil menarik. Warna memiliki pengaruh besar terhadap pakaian dan pemakainya. yaitu warna kulit kekuning-kuningan. Warna dalam penampilan dapat menggambarkan sifat sipemakai. Mempunyai gaya yang unik. dan putih. 2. Warna sedang sesuai untuk usia remaja. sedangkan warna gelap lebih digermari oleh wanitawanita tua. kuning langsat. Sebelum orang tertarik dengan model. Warna kulit ini dapat digolongkan menjadi 2. terlebih dahulu tertarik dengan warna pakaian. Rostamailis ( 2005 : 148 ) perlu memperhatikan tentang penggolongan warna kulit. hampir tidak seorang pun berbusana seperti gayanya. memberi suasana gembira.25 Tidak takut mencoba dengan hal yang baru. dan melambangkan keberanian. Untuk sampai pada keselarasan warna kulit dan warna pakaian. anakanak dan dewasa. yaitu warna kulit coklat. yang dapat dihubungkan dengan kesempatan dan suasana. Warna-warna netral baik untuk pakaian orang dewasa dan serasi untuk dipadukan dengan warna-warna lain. antara lain : 1) Warna merah. sawo matang. dan hitam. meriah. yaitu : a) Warna panas. b) Warna dingin. . Warna Warna merupakan faktor utama pada busana.

dapat memberikan kehikmatan dan kedukaan. dan sebagai lambang keagungan. Warna ini melambangkan ketenangan. Dalam menyesuaikan busana pemakai perlu memperhatikan warna busana dengan warna lipstik rouge. 7) Warna putih. eyeshadow. 4) Warna hijau. dan kurang aktif. yang memiliki sifat bercahaya. lipstik dan lainlain. yaitu warna bedak.dan kecemburuan. eyeshadow dan lain-lain. melambangkan ketenangan dan rendah hati. 8) Warna hitam. kehidupan. tenang dan seolah pasif. 3. Usia Usia menurut Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia ( 1990 : 908 ) lama seseorang hidup atau ada. 3) Warna kuning. dan mata. kulit. melambangkan kesucian dam bersih. pengorbanan. lembut dan menyenangkan. tetapi juga dengan ketabahan dan keadilan.26 2) Warna biru. rouge. 5) Warna abu-abu. Untuk memudahkan kombinasi hindarkan penggunaan warna yang terlalu banyak. memberi sifat dingin. serta umumnya disenangi oleh orang-orang yang berjiwa mantap. memiliki sifat dingin sering diasosiasikan dengan kesedihan dan kematian. sifatnya bercahaya. dewasa. menarik minat atau perhatian orang. Perlu disadari bahwa tubuh sendiri telah memiliki beberapa jenis warna yaitu rambut. lebih berpengaruh pada perasaan yang lebih dalam. Adapun fase-fase perkembangan di . 6) Warna ungu atau violet. Dalam tata rias muka pun menggunakan warna. harapan.

cape bayi. Busana bayi Bayi adalah usia 0-12 bulan. Bagi yang berusia di atas 40 tahun selayaknya memilih busana yang anggun. menyerap keringat. mantel bayi. yang pada masa ini masih dalam keadaan rawan penyakit. topi bayi. flanel untuk selimut. Sebagai contoh kain yang cocok untuk bayi adalah tetra untuk popok. Dewasa Awal ( 21 tahun – 40 tahun ) 2.2 tahun ) b) Usia Kanak-kanak ( 2 tahun – 6 tahun ) c) Usia Anak Sekolah ( 6 tahun – 12 tahun ) d) Usia Remaja ( 12 tahun – 21 tahun ) e) Usia Dewasa ( 21 tahun – 60 tahun ) 1. Sehingga untuk golongan usia bayi perlu dipilih kain yang bertekstur lembut. Mengenai penggolongan usia dalam kaitannya dengan berbusana digolongkan menjadi 6. dan sarung tangan dan kaki.27 dalam psikologi perkembangan masa hidup manusia menurut Tim MKDK IKIP Semarang ( 1989 : 88 ) digolongkan menjadi : a) Usia Bayi ( lahir .Warna . Sedangkan bagi anak-anak dan remaja sangat sesuai dengan dirinya warna yang ramai serta lincah. bedung. Dewasa Lanjut ( 40 tahun – 60 tahun ) f) Usai Lanjut ( 60 tahun – keatas ) Menurut Arifah A Riyanto ( 2003 : 151 ) Berbusana juga harus disesuikan dengan usia. kulitnya masih peka terhadap gesekan atau gangguan luar. antara lain : a).

Mengenai model busana bayi tentu saja yang dapat melindungi bayi yang umumnya model tersebut sudah baku yaitu dari busana untuk dalam sampai busana luarnya seperti . b). c). Umumnya bahan untuk busana sehari-hari harus menyerap keringat. mantel bayi. gurita. serta model yang sederhana seperti . Pada usia 4 bulan dapat menggunakan baju kodok.28 yang dipilih adalah warna putih atau warna muda agar kotoran akan mudah terlihat. tidak mengganggu aktifitas gerak anak dan bahan yang tepat adalah kain yang mudah menyerap keringat dan lembut. dan apabila bermotif pilihlah motif kecil-kecil. Untuk bahan busana dan model atau corak serta warna harus disesuaikan dengan aktifitasnya. popok. baju sadaria. . Busana usia kanak-kanak Masa kanak-kanak ini termasuk di dalam golongan usia 1-6 tahun. Sedangkan untuk busana pesta dapat dipilih model yang lebih formal dan bahan juga harus lebih berkualitas. blus dan T-shirt. kutang. kemeja. Aktifitas anak sangat tinggi karena di masa itu anak semakin tumbuh kreatif. Selain itu dapat pula memakai kemeja dan celana panjang dengan model yang sederhana dan praktis. gambar flora dan fauna. rok. yaitu busana yang bersatu bagian atas dan celananya. celanadan tadah liur. Busana yang tepat untuk mereka adalah busana yang ringan. Busana usia anak sekolah Usia anak sekolah dalah 6 sampai 12 tahun. celana.

busana yang wajar dan pantas untuk orang tua. biasanya senang pada model atau warna yang agak mencolok. Bagi laki-laki dapat mengenakan pantalon dan safari batik. e). mulai perhatian pada lawan jenis yang berbeda dengan dirinya laki-laki pada perempuan atau sebaliknya. yang secara psikologis yaitu masa munculnya gejolak hati yang ingin serba tahu tentang apa yang kadang-kadang belum boleh tahu. gaun atau kebaya dan kain panjang. Dari busanapun dapat menggambarkan gejolak hatinya. Demikian pula dalam pemilihan busana. Busana yang dipilih harus dapat disesuaikan dengan kesempatan Pemilihan warna untuk usia dewasa akan tergantung pada kepribadian.29 d). dapat mempergunakan rok dan blus. Busana usia anak remaja Pada usia ini disebut juga masa pubertas. seperti tumbuhnya lemak dan bulu pada bagian-bagian tertentu dan mulai menstruasi untuk perempuan. Busana usia lanjut Dilihat dari model.yang sedang trend sering ingin diikutinya. f). yang terbaru. . walaupun kurang sesuai untuk bentuk badan atau warna kulitnya Sedangkan untuk bahan busana tergantung pada jenis model dan kesempatan pemakaian.. Secara fisik terjadi perubahan pada dirinya. Busana usia dewasa Pada usia dewasa ini seseorang sudah selayaknya mulai mempunyai kepribadian yang mantap. meskipun demikian tetap harus melihat waktu dan kesempatan.

4. Warna-warna yang dipilih juga sebaiknya tidak mencolok . redup. atau kusam. perlu diketahui tentang bermacam-macam busana menurut kesempatan dengan tidak mengabaikan mode. . Waktu sore sampai malam Dapat dipilih model yang ringan. biru tua dan hijau tua. Kesempatan Untuk memdapatkan busana sesuai dengan kesempatan. Model dan warna atau corak yang sesuai untuk semua waktu itu. seperti krem. coklat. Biasanya warna-warna terang. santai.model sesuai dengan kegiatan. warna yang terang dan mencolok karena pada umumnya santai di dalam rumah. pagi. siang atau malam.30 pantalon dengan kemeja. Untuk malam hari kesempatan pesta dapat memilih warna yanh mencolok atau gelap dengan permukaan atau tekstur yang mengkilap dengan aksen atau aksesoris yang berkilauan. Dalam memakai busana harus sesuai dengan waktu. Waktu pagi sampai siang Hendaknya memilih warna yang cerah tetapi tidak mencolok khususnya untuk bekerja sehari-hari . Mengenai waktu pemakaian busana Arifah A Riyanto ( 2003 : 168 ) dapat dibagi 2 yaitu : 1. 2.

Menurut Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia ( 1990 : 892 ) penampilan adalah suatu proses. bentuk tubuh. bersih.berbusana serasi serta bertingkah laku sopan. atau dapat dirasakan. Orang akan lebih senang melihat seseorang yang sehat. Tinjauan Tentang Penampilan Diri 1. Sedangakan diri adalah badan. Dari 2 pengertian diatas dapat disimpulkan menjadi penampilan diri adalah suatu proses untuk menampilkan keseluruhan badan yang meliputi sikap kepribadian.31 B. keselarasan berbusana. sikap dan tingkah laku dapat menciptakan penampilan diri yang sempurna. sedangkan untuk pria yang bertubuh tegap dan bersikap ramah tamah merupakan impian para wanita. bentuk riasan yang sesuai dengan usia. . Wanita wajah yang cantik dan bentuk tubuh yang ideal merupakan daya tarik penting. rapi. antara lain dalam berbusana. Setiap manusia memiliki ciri khas tersendiri yang merupakan daya tarik bagi manusia lainnya. Kekuatan elemen dalam berbusana. warna kulit dan kesempatan. keseluruhan badan (1990 : 208 ). Tidak semua orang mempunyai wajah yang cantik dan bentuk tubuh yang ideal. perbuatan atau cara menampilkan. Tetapi untunglah bahwa daya tarik seseorang tidak hanya tergantung pada dua unsur tersebut. Pengertian Penampilan Diri Penampilan seseorang akan dapat dilihat.

setiap orang harus tahu tujuan dari berbusana. menutupi cacat dan kekurangan bentuk tubuh. Sudah tentu peningkatan penampilan diri harus selalu di ikuti dengan peningkatan semua faktor yang menjadi subsistem penampilan seutuhnya : seperti faktor pengetahuan umum yaitu pengetahuan dari . kebutuhan kesehatan. mengingat penampilan diri seseorang sedikit banyak juga mencerminkan kepribadian yang bersangkutan. Sebelum mencapai penampilan yang serasi dan menarik. penampilan yang baik dengan berbusana yang serasi dapat menimbulkan rasa hormat dan rasa simpati. rasa keindahan. sehingga lebih mantap dalam menghadipi tugas-tugas pekerjaanya. terutama pekerjaan yang sifatnya berhubungan dengan masyarakat luar. Penampilan yang baik atau berbusana yang serasi ikut berperan penting dalam menentukan keberhasilan hidup seseorang. Dalam segi hubungan dengan orang lain. Pengetahuan Tentang Penampilan Diri Setiap orang ingin tampil rapi dan menarik. Dalam kaitannya dengan diri sendiri. Kepercayaan diri juga meningkatkan rasa harga diri. serta menjadikan kehadiran yang bersangkutan disenangi.32 2. Karena penampilan yang serasi dan menarik akan memudahkan dalam pergaulan sehari – hari. Kesemua itu membuka berbagai kemungkinan pengembangannya yang positif. antara lain untuk memenuhi syarat – syarat peradapan kesusilaan. dengan berbusana yang serasi dapat memperkuat kepercayaan diri.

Tata Rias wajah yang baik menentukan kondisi kulit wajah yang sehat. pengetahuan tentang tata busana yaitu. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penampilan Diri a. penguasaan etika pergaulan yaitu. perlu dipahami tentang etika. norma susila. pengetahuan tentang beretika dalam kehidupan sehari – hari. Kulit wajah yang sehat sangat tergantung dari bagaimana seseorang mampu merawatnya dengan benar dan teratur. tujuan berbusana. Dari berbagai faktor yang merupakan subsistem penampilan faktor tata rias wajah dengan dukungan tata rias wajah yang baik. serta cara pemilihan busana yang sesuai dengan bentuk tubuh dan lain-lain. 3. etika mau mengerti kita harus mengikuti . pengetahuan tentang busana.33 berbagai hal. kemampuan berkomunikasi yaitu. seperti norma kesopanan. Menurut Frans Magniz – Suseno ( 1991 : 13-14 ) etika adalah ilmu yang mencari orientasi. juga memegang peran sangat penting. agar dapat dikatakan orang yang beretika atau tahu tentang etika yaitu seseorang yang faham ilmu tentang asas – asas akhlak yang berlaku di masyarakat. Berbusana dalam suatu kelompok manusia atau masyarakat tidak dapat melepaskan diri dari etika. kemampuan mengendalikan sikap tingkah laku dan tutur kata. norma agama perlu diperlu diperhatikan. Untuk memahami etika berbusana. Etika Berbusana Berbusana yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat di mana kita berada. pelengkap busana.

Untuk menerapkan estetika berbusana perlu memperhatikan bentuk tubuh dan bagian-bagiannya. maka untuk berpenampilan yang indah dan serasi perlu menerapkan estetika berbusana. Untuk hal itu baik jenis. mana yang tepat. model. corak atau motif. Estetika Berbusana Berbusana tidak dapat melepaskan diri dari estetika. karena manusia pada umumnya akan senang melihat sesuatu yang serasi dan indah. Menerapkan etika berbusana dalam kehidupan manusia perlu memahami tentang kondisi lingkungan. Untuk menerapkan etika berbusana sesuai kesempatan perlu mengetahui busana mana yang tepat dan sesuai dipergunakan. warna. budaya dan waktu pemakaian yaitu dimana kita berada dan dalam kesempatan apa kita mengenakan busana tersebut.34 ajaran moral tertentu. warna. maka dapat pula diartikan bahwa etika berbusana itu adalah suatu ilmu yang memikirkan bagaimana seseorang dapat mengambil sikap dalam berbusana tentang model. corak busana perlu disesuaikan dengan ke tiga hal tersebut. b. kondisi dan waktu serta norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. agar seseorang dapat diterima dilingkungan masyarakat. atau bagaimana kita dapat mengambil sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan berbagai ajaran moral. seperti warna kulit dan rambut. baik sesuai dengan kesempatan. Estetika berbusana dapat diartikan sebagai suati bidang pengetahuan yang membicarakan bagaimana berbusana yang serasi . Dalam kaitannya dengan berbusana.

Penerapan Model Bentuk Garis Leher Busana.dan pilihlah garis leher huruf V. Bentuk-bentuk garis leher pada busana ini dapat dipakai sebagai alat tipuan mata dalam arti kelihatan serasi walaupun badan seseorang kurang ideal seperti : a. warna. Proporsi badan seseorang tidak semuanya ideal. Penerapan Model Kerah Agar busana yang berkerah serasi dipakai oleh seseorang maka : ). corak. Estetika atau keindahan berbusana akan berkaitan dengan bagaimana memilih model. Untuk itu bagian-bagian proporsi badan yang kurang sempurna dapat ditutupi dengan memilih model busana yang dapat mengelabuhi mata yang melihatnya. . tapal kuda. Tipuan mata untuk bahu bidang : sebaiknya hindari bentuk garis leher segi empat. b.35 dengan bentuk tubuh seseorang serta kepribadiannya. bentuk hati dan bentuk huruf V. Hal-hal yang perlu diperhatikan : 1. bahan dan tekstur yang sesuai dengan bentuk tubuh atau bagian-bagian tubuh seeorang. ( Gambar terlampir Hal 2. c. Tipuan mata untuk dada besar leher pendek : pilihlah garis leher bentuk huruf V. Tipuan mata pada leher pendek : pilihlah garis leher berbentuk U.

eton. . sebaiknya memilih model kerah bertha. sebaiknya memilih busana yang berlengan pendek atau bishop dengahn manset yang panjang. Agar busana yang berlengan dapat serasi dikenakan oleh seseorang maka : a. sebaiknya pilih kerah yang model tinggi seperti. kemeja dan cape. lengan berkerut. hight. Tipuan mata untuk bahu lebar. sebaiknya memilih busana yang berlengan licin. Tipuan mata untuk tangan pendek. ). atau lengan panjang yang dilipat sampai tiga perempat panjang lengan. kemeja. Tidak semua model rok sesuai untuk semua orang. b. Untuk itu dengan model yang tepat untuk bentuk tubuh seseorang akan serasi dilihat. Tipuan mata untuk leher pendek . b. (Gambar terlampir Hal 3. c. Tipuan mata untuk tangan panjang. Penerapan Model Rok. sebaiknya memilih busana yang berlengan panjangnya tiga perempat. chinese dan clerical. Penerapan Model Lengan. d. Tipuan mata untuk leher jenjang atau panjang . kelasi.36 a. hindari busana yang tanpa lengan. Tipuan mata untuk lengan besar. karena akan terlihat membesarkan lengan. scarf. memilih berlengan panjang . ( Gambar terlampir Hal 4. maka perlu memilih rok yang dapat menutupi kekurangan yang ada pada tubuh kita seperti: ). kerah selendang.

rok lipit yang berkancing di muka. sebaiknya memilih busana yang bergaris hias yoke bahu. diagonal. d. lipit hadap kipas. 6. ).rok susun dan rok kerut. sebaiknya memilih busana yang bergaris hias princess. dan lengkung. empire. atau garis hias yang pas pada pinggang. ( Gambar terlampir Hal ). Penerapan Siluet . yoke panggul. Tipuan mata pada garis pinggang di bawah. yaitu : a. b. horisontal. Tipuan mata pada garis pinggang di atas. sebaiknya memilih rok suai yang tidak ketat. Tipuan mata pada bentuk badan pendek gemuk. Tipuan mata untuk panggul besar. b. draperi. Tipuan mata bentuk badan tinggi gemuk. Panjang rok sampai lutut tidak lebih. Tipuan mata untuk panggul kecil. c. rok pias.37 a. Penerapan garis hias dapat memberi tipuan mata pada bentuk badan seseorang. ½ lingkaran. sebaiknyamemilih busana yang bergaris hias empire. sebaiknya memilih rok peplum. Penerapan model garis hias Garis hias dapat dikelompokkan menjadi garis vertikal. sebaiknya memilih bebe yang garis pinggang di bawah pinggang atau di panggul. ( Gambar terlampir Hal 5.

Tipuan mata untuk bahu serong. siluet S mempunyai garis tengah sempit. bisban. b. renda. mute dan batuan. siluet BUSTLE hanya dapat dikenali dari samping dengan adanya gelembung pada bagian panggul.38 Siluet adalah garis luar dari sebuah model busana atau pakaian. a. Ada empat macam siluet. dapat memilih hiasan dengan strook pada leher tertutup bahu atau volant. terutama yang ada kekurangan atau kelainan yang terdapat pada badan tersebut. Penerapan Panjang Rok ). lipit pantas. kancing. Penerapan Macam-macam Garnitur Hiasan untuk busana terdiri dari berbagai benda hias seperti hiasan dengan strook. Tipuan mata untuk bentuk leher panjang. Hiasan tersebut dapat diterapkan untuk memberikan samaran pada bentuk badan yang sebenarnya. . ( Gambar terlampir Hal ). ( Gambar terlampir Hal 8. c. sedangkan bagaian atas dan bawah menggelembung. sebaiknya memilih busana yang ada hiasan strook pada dada baik dipasang vertikal maupun horisontal. Tipuan mata untuk buah dada kecik. yang dapat dikelompokkan menjadi garis sisi bayangan luar. 7. dapat memilih hiasan lajur yang dikerut bagian tengah atau dikerut dua sisi yang dipasang horisontal di bawah garis leher. yaitu siluet A mempunyai bentuk garis kecil di atas dan besar di bawah. siluet H mempunyai bentuk garis lurus pada kedua sisinya.

jika memakai rok mini akan terlihat lebih tinggi. Maxi yang memiliki panjang sebatas mata kaki. ( Gambar terlampir Hal c. Micro mini yang memiliki panjang diatas pertengahan paha. Hal itu akan membuatnya tidak canggung dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. d. dan dapat menimbulkan rasa percaya diri. sebaiknya memilih rok midi. c. Keserasian Berbusana Berbusana yang serasi dan menarik akan memudahkan seseorang dalam pergaulan sehari-hari. Kini yang memiliki panjang tepat pada lutut. maka perlu memilih ukuran rok yang dapat menutupi kekurangan yang ada antara lain dengan : a. e. seharusnya memilih ruk midi. Dalam pemakaian rok tidak semua orang dapat mengenakan. b. Tipuan mata untuk badan tinggi. f. Tipuan mata untuk betis besar atau lurus kecil. ). g. Untuk itu dengan model rok yang tepat untuk bentuk tubuh seseorng akan serasi dilihat. Mini yang memiliki panjang 15 cm diatas lutut. b. Midi yang memiliki pamjang di bawah pertengahan betis. .39 Menurut Sumarline (1992:26) ada tujuh macam ukuran rok antara lain : a. Short yang memiliki panjang 5 cm diatas lutut. Long dress yang memiliki panjang sampai batas lantai.

cara hidup dan tugasnya. Dengan demikian. teman sekantor dan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu. Penampilan seseorang sangat dipengaruhi oleh cara berbusana sehingga ekspresi dirinya jelas. b. sehingga tidak bertentangan dengan tradisi setempat. Cara seseorang berbusana dapat mengespresikan kepribadian. misalnya teman sekelas. dan bentuk tubuh seseorang berbeda. hendaknya menghindari berbusana dengan meniru dari orang lain. tetapi belum banyak orang yang dapat berbusana serasi dan menarik. karena seseorang cenderung memilih busana yang sedang digemari tanpa memperhatikan kesesuaian desain busana dengan bentuk tubuhnya. karena kepribadian. sehingga tidak menghambat gerakan.40 Arti serasi adalah menunjukkan bahwa setiap bagian atau keseluruhan mempunyai hubungan yang seimbang antara satu dengan yang lain. Sesuai dengan tugas sehari-hari. dan orang lain atau teman. teman istimewa. Ada beberapa aspek yang dapat mempengaruhi cara berbusana. Masyarakat Indonesia di masa ini telah dapat menggunakan busana dengan berbagai model dan bahan yang bagus. pelengkap busana dan tata rias diri yang mempunyai hubungan yang seimbang antara satu dengan yang lain. Busana yang tepat adalah busana yang memenuhi kriteria sebagai berikut : a. antara lain diri sendiri. Sesuai dengan lingkungan. berbusana serasi berarti apa yang dipakai pada suatu penampilan yang terdiri atas busana.Hal ini dapat di maklumi. .

d. diharapkan dari orang tua untuk bertindak bijaksana terhadap anak dan memberi contoh yang baik. agama. yaitu kebiasaan di dalam keluarga dan masyarakat yang dipengaruhi oleh adat istiadat.41 c. Sedang digemari. Sedangkan sikap yang negatif dapat diperbaiki oleh pengaruhi lingkungan yang dapat memberi bimbingan dan pembinaan. d. dan peraturan-peraturan yang terdapat dalam masyarakat. sehingga tidak terlalu ketinggalan zaman. kesenian atau ilmu pengetahuan yang lain. Sikap Keseharian Agar dapat berpenampilan yang baik dan sempurna perlu diperhatikan faktor-faktor sikap yang mempengaruhi penampilan seseorang. yaitu : 1. Sesuai dengan suhu udara. Oleh sebab itu. . Tempat utama pembentukan sikap mental adalah di lingkungan keluarga. Jadi sikap yang positif adalah kebiasaan yang timbul pada diri seseorang yang berguna atau bermanfaat baik untuk diri sendiri atau orang lain. sehingga tidak mengganggu kenyamanan. Faktor-faktor sikap itu dapat dibagi atas dua bagian. Suatu sikap timbul karena kebiasaan. tentu orang tersebut akan menyadari kekurangannya dan mau memperbaiki dengan mengarahkan perhatiannya ke berbagai macam-macam kesibukan sepeerti olah raga. ada yang bersifat positif dan ada pula yang bersifat negatif. Sikap mental pada umumnya merupakan hasil pendidikan yang diberikan kepada anak sejak kecil. Sikap mental.

Sikap fisik yang positif. terlalu ketat. agar penampilan menjadi sempurna. dan sangat diperlukan waktu kita melamar pekerjaan. Jika sikap kita baik. Karena itu. maka kita harus berdiri dengan kepala. Dengan bermawas diri kita coba melihat kekurangan yang ada dan berlatih bersikap positif. Untuk itu sebaiknya kita sudah sejak dini memperhatikan sikap badan yang baik dalam kehidupan ini. dan tumit menyentuh dinding. begitu pula memilih makanan yang kurang tepat. Cara berdiri Cara berdiri yang baik adalah dengan menegakkan kaki sejajar dan kedua lengan lurus di samping. panggul. diusahakan agar sikap selalu baik. Oleh karena itu. bahu. Sri Krisnijati ( 1989 : 2 ) menjelaskan bahwa sikap badan yang baik itu dapat dibagi atas : 1. Sikap ini diperlukan ketika berkomunikasi sehari-hari. bagaimanapun sikap-sikap tersebut harus diperhatikan dan dibiasakan.42 sedangkan sikap yang negatif adalah kebiasaan yang dapat merugikan diri sendiri atau bahkan merugikan orang lain lingkungan dan masyarakat. 2. Kadang-kadang kaki agak merenggang atau kaki . memberikan kesan baik pada diri sendiri maupun terhadap orang lain. akibat dari kuranng istirahat. Sebenarnya ada beberapa hal yang menyebabkan sikap badan tidak baik misalnya. maka antara dinding dengan badan hanya berjarak satu tangan saja. sehingga kesehatan menjadi terganggu atau kurang hati-hati dalam memilih atau mendesain busana misalnya. Untuk mengetahui sikap badan apakah benar atau tidak.

Badan harus tegap sebagaimana kita berdiri. disebabkan letak kursi bergeser. 5. sedang kita lagi duduk.43 kanan bergeser ke depan kaki kiri. jangan biarkan diri kita terperosok. bangku atau dipan. Sebaiknya posisi tubuh tetap tegak lurus waktu kita duduk agar otot perut tidak mengendor. 2. 3. Secara umum. Duduklah dengan perut dikempiskan. kepala dan dada tegak serta bahu rileks. Duduklah sejauh mungkin ke belakang sehinggan panggul dan tulang punggung menyentuh bagian punggung kursi. perut ditahan agar rata begitu juga dengan tulang bahu harus rata. Maka dengan sikap berdiri yang benar akan dapat terlihat gagah dan berwibawa. maka sikap badan merupakan garis lurus dan dikendorkan dari panggul. orang di Indonesia duduk diatas kursi. Sedangkan kesempatan khusus orang duduk di lantai yang beralaskan tikar atau permadani. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dari sikap duduk ini adalah : 1. 2. Jika badan ingin dibungkukkan ke depan. Jaga agar kedua lutut sejajar dan kedua kaki berdekatan satu sama lainnya. dada sedikit dibusungkan dengan kepala tegak. usahakan waktu duduk perut ditarik ke belakang. 4. Cara Duduk Hal ini sangat penting diperhatikan. karena suara ini menimbulkan suara berderit. Dengan . Jangan sekali-kali menjatuhkan badan di kursi. dagu agak keatas dan ditahan.

Sifat dan karakter seseorang dapat terlihat dari cara kita berbicara dengan orang lain. 5. Saat berjalan usahakan pandangan lurus ke depan. enak dipandang mata dan selalu menarik perhatian. Sikap duduk seperti tersebut di atas akan mempengaruhi tulang punggung tumbuh dengan baik dan tidak cepat capai. Penampilan yang baik juga tidak terlepas dari cara bicara. Panjang langkah harus cukup tidak terlalu panjang atau pendek. Etika berbicara yang baik Sebagai wanita berbicara sangat mempengaruhi penilaian kita dari orang lain. Dengan menerapkan cara berjalan yang benar maka akan teerlihat penampilan seseorang akan lebih terlihat berwibawa dan menarik. 3. Untuk dapat memperoleh nilai yang lebih atau dihormati antar sesama kita harus bisa mengatur cara bicara kita. 4. Jaga agar kedua telapak kaki begitu rupa sehingga tumit yang menyentuh lantai terlebih dahulu pada setiap langkah. ini dapat dipelajari antara lain dengan : . 2. 3. Badan harus tegak tetapi rileks. dan lutut rileks. Gerakan kaki dari panggul. Beberapa cara berjalan yang baik dapat di praktikan meliputi : 1. 4. Sikap berjalan yang baik Kadang-kadang seseorang tidak tahu bagaimana cara berjalan yang baik sehingga menjadi luwes. Berbicara yang baik dan benar tidak mudah.44 menerapkan sikap duduk yang benar akan menambah nilai kepribadian seseorang.

Rias wajah yang baik tidak berlebihan. Jangan sekali-kali memotong pembicaraan orang. Jika usia masih muda. maka dalam kita berkomunikasi dengan orang lain akan lebih dihormati dan menyenangkan.45 1. kulit masih halus. tidak perlu menggunakan kosmetik yang terlalu tebal. 3. Rias Wajah Rias wajah bertujuan untuk memperbaiki rupa wajah dengan menutupi kekurangan-kekurangan dan menonjolkan kelebihan yang asli. 4. yaitu jika lawan bicara sedang berbicara hendaknya jang memotong pembicaraan orang tersebut. nada bicara rendah dan sopan. yaitu tidak selalu berbicara tanpa memberi kesempatan kepada orang lain untuk berbicara. yaitu menggunakan bahasa yang sesuai dengan ejaan yang benar dan tidak menggunakan bahasa gaul. karena kalau berlebihan malah akan menghilangkan seluruh kecantikan aslinya. Berbicara dengan tenang. waktu dan kesempatan. Jika kita telah mengetahui etika berbicara yang benar. 5. Setelah berbicara usahakan menjadi pendengar yang baik agar orang yang diajak bicara tidak merasa diremehkan. sopan dan jelas. Yang perlu diperhatikan dalam hal merias wajah adalah faktor usia. yaitu disaat berbicara tidak tergesa-gesa. Demikian pula jika usia sudah . e. Jangan menguasai pembicaraan pada saat berbincang-bincang dengan orang lain. 2. Rias wajah adalah suatu seni yang tergantung pada selera masing-masing. Menggunakan bahasa yang baik dan sederhana.

kesempatan dan sebagainya. Dalam merias bukan hanya tertuju pada make up saja. rias wajah untuk sehari-hari berbeda dengan rias wajah untuk pesta dan sebagainya. bibir ke arah horisontal. karena kosmetik yang tidak cocok akan merusak kulit. bentuk tubuh. Oleh karena itu merias diri berarti merias secara keseluruhan. Agar riasan pipi tambah lebih lebar. merias wajah yang berlebihan akan memberikan pandangan yang tidak menarik. Pilihlah kosmetik yang sesuai dengan jenis kulit. Menyempurnakan riasan wajah sesuai dengan bentuk muka : 1. Jangan . Kosmetik yang mahal belum tentu cocok untuk kulit pemakainya.46 lanjut. tetapi keseluruhan baik itu cara menata rambut. Kosmetik yang baik adalah yang cocok untuk kulit dan sesuai dengan warna kulit. Lalu pulaskan blush on untuk daerah pipi yang berbentuk segitiga kearah cuping hidung. mata. cara berpakaian. waktu. Supaya dapat merias wajah dengan baik. baurkan shading warna lebih terang pada daerah pipi paling luar. warna kulit. Rias wajah untuk pagi dan siang berbeda dengan rias wajah untuk malam hari. mulai dari kepala sampai ke ujung kaki. maka perlu mengetahui alatalat dan kosmetik yang dipakai. dan alas bedak warna yang lebih gelap pada bagian dagu. memilih pelengkap busana agar penampilan lebih sempurna. dan harus dipikirkan kombinasi warna. Wajah Panjang Samarkan riasan wajah agar terlihat lebih lebar dari dari mualai riasan alis.

( Gambar terlampir Hal 2. Wajah Bulat Pada wajah bulat.47 lupa baurkan merata blush on agar shading terlihat rata. untuk menempatkan shading hampir sama dengan wajah bulat. baurkan merata blush on pada pipi dari pangkal pipi hingga mencapai warna kulit aslinya. 5. sebaiknya pulaskan shading pada bagian luar pipi kearah vertikal lalu pada dagu berikan countershading dengan alas bedak warna yang lebih terang agar terlihat panjang. ( Gambar terlampir Hal 4. kenakan blush on arah vertikal dari bawah mata hingga ke samping mulut. lalu pulaskan warna yang lebih terang pada dahi agar tampak lebih sempurna. lalu pulaskan bedak warna terang pada daerah dagu dan terakhir untuk kesan agar wajah tampak lebih oval. Wajah Belah Ketupat ). Setelah di beri bedak. Pulaskan countershading dengan warna yang lebih terang pada kedua pipi didepan telinga. . Wajah Persegi Pulaskan shading pada rahang yang lebar agar terkesan lebih tirus. Hindari bentuk alis yang terlalu melengkung. ). Buat riasan mata agak naik. ( Gambar terlampir Hal ). ( Gambar terlampir Hal 3. lalu pulaskan blush on pada pipi arah vertikal. Wajah Oval Pulaskan shading pada bagian bawah rahang agar terlihat lebih tirus. ).

sisi rahang bawah agar terlihat lebih lebar. Dapat pula tambahkan bedak dengan warna yang lebih lembut. membaur untuk ). lalu pulaskan blush on kearah horisontal ).48 Biasanya bentuk wajah ini terlihat lebar pada kedua pipi. Untuk kesan lebih proporsional. Wajah Hati Samarkan dahi kanan dan kiri yang lebar dengan shading. ( Gambar terlampir Hal 6. Pulaskan dengan warna yang lebih terang pada bagian kedua sisi dahi. Untuk memperoleh riasan rambut yang baik. Sedangkan untuk mengurangi penonjolan pada tulang pipi samarkan dengan blush on arah vertikal. menyempurnakan riasan. sebaiknya samarkan bagian ini dengan shading vertikal begitu pula pada dagu. .( Gambar terlampir Hal f. terutama bagi para wanita. Rias Rambut Rambut adalah mahkota bagi setiap orang. Rambut yang indah menambah kecantika si pemilik. samarkan kedua sisi rahang bawah dengan warna bedak yang lebih terang. begitu pula pada dagu agar tidak terkesan terlalu lancip. Memilih model rambut yang sesuai dengan bentuk wajah. model rambut harus disesuaikan dengan bentuk wajah seseorang.

Rambut dibiarkan jatuh menutupu bagian pipi kiri dan kanan yang membulat itu. Tata rambut yang rata lebih pantas di belakang. . ( Gambar terlampir Hal 4. ). ). ( Gambar terlampir Hal 5. Bagian pipi yang agak menonjol ditutupi dengan ).49 1. Bentuk wajah bulat Rias rambut dengan belahan ditengah lebih cocok untuk muka bulat. Bentuk wajah bulat telur atau oval. Perhatikan jika rambut dipotong pendek. Bentuk wajah jantung hati Pilihlah tata rambut dengan belahan samping dan rambut dipotong rata di belakang tanpa tangga. ). Bentuk wajah yang panjang Rambut sebaiknya ditata dengan poni yang menutupi bagian kening. Semua model rambut pantas untuk wajah yang berbentuk bulat telur. sebaiknya dahi ditutup sedikit dengan ranbut yang agak pendek dan diberi belahan rambut di samping. Bentuk wajah persegi Rambut hendaknya dipotong sampai leher dan diberi belahan agak ketengah. Bagian samping kening sampai ke pipi tutupi dengan untaian rambut. ( Gambar terlampir Hal 3. ( Gambar terlampir Hal 2.

50 utas-utas rambut. Masih banyak wanita yang berjilbab hanya untuk menutupi kepala agar terhindar dari panas atau untuk menutupi kekurangan seperti rambut botak atau luka yang membekas. Jilbab harus disesuaikan dengan busana yang dikenakan baik warna dan bentuk jilbab tersebut. 6. . Berilah belahan samping dan sekedar poni sedemikian sehingga rambut poni yang agak panjang disisir ke samping bersatu dengan bagian rambut yang banyak. Untuk mengimbangi pipi yanng cekung hendaknya rambut disisir sedemikian rupa sehingga ujungnya mengarah keluar. Berjilbab Untuk wanita muslim menutup aurat merupakan suatu kewajiban. ( Gambar terlampir Hal ). Semakin tren busana yang berjilbab tetapi hanya sekedar aksesoris. Dengan berbusana yang tertutup. Agar tercipta ). ( Gambar terlampir Hal 7. tetapi tidak sedikit juga yang mengenakan jilbab yang benar-benar dari hati karena dianjurkan untuk wanita muslim. Dengan menggunakan jilbab harus dapat menciptakan keserasian dan keanggunan untuk sipemakai. sopan tidak memperlihatkan anggota tubuh atau memperlihatkan lekuk tubuh juga dilengkapi dengan menutup kepala atau sering disebut jilbab. Biarkan rambut terurai ke bawah agar bagian dagu kelihatan lebar. Bentuk wajah belah ketupat Rambut hendaknya ditata sehingga menutupi bagian pipi yang tinggi.

Dengan melihat tujuan tersebut diharapkan mahasiswa yang telah mempunyai pengetahuan tentang busana dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa yang telah mendapatkan pengetahuan busana di harapkan dapat merubah penampilan dirinya. Selain itu mahasiswa juga di harapkan untuk dapat berpenampilan diri khususnya busana yang serasi. Mahasiswa yang telah mendapatkan pengetahuan maka kuliah Pengetahuan busna di harapkan dapat meningkatkan pengetahuaan.51 keserasian dan keanggunan dalam berjilbab sesuaikan dengan situasi dan kesempatan pemakaian jilbab. sebaliknya untuk kesempatan resmi atau pesta kenakan jilbab yang mewah dan bentuk pemakaian jilbab dapat difariasi untuk menambah cantik dan anggun. Kerangka Berfikir Pengetahuan Busana merupakan salah satu pengetahuan dasar yang di pelajari mahasiswa Jurusan Teknologi Jasa dan Prokduksi Program Studi PKK Konsentrasi Tata Busana yang baru mengenal busana. praktis dan tidak mengganggu aktifitas gerak sipemakai. Pelaksanaan pengajaran Pengetahuan Busana diajarkan secara teori. C.sehingga dapat mengembangkan potensi dirinya. Untuk kesempatan keseharian kenakanlah jilbab yang sederhana dengan model yang tidak mewah. wawasan dan ketermpilannya.tujuan dari Pengetahuaan Busana adalah agar mahasiswa dapat mengenal berbagai macam busana mulai dari pengertian busana bahkan sampai cara membuat busana tersebut. diantaranya dengan berpenampilan diri yang lebih baik dapat di .

sikap tubuh dan perawatan tubuh. perlengkapan atau asesoris. D. Masalah penampilan ini berlaku untuk semua mahasiswa pada hakekatnya sering bertemu dengan banyak orang. maka penampilan dirinya akan seadanya dan terkesan kurang menarik. sangul. HIPOTESIS . sehingga penampilan dirinya tampak serasi dapat menambah rasa percaya diri. utamanya adalah penampilan fisik. Apabila pengetahuan yang mereka dapatkan dari Pengetahuan Busana itu tidak diterapkan. warna busana yang tidak sesuai dengan warna kulit dan lain-lain. menunjukkan bahwa masih ada mahasiswa yang belum menerapkan mata kuliah pengetahuan busana sebagimana mestinya. mahasiswa ke kampus dengan berbusana tidak sesuai dengan waktu dan kesempatan. rias wajah.52 bandingkan dengan Mahasiswa yang memiliki pengetahuan busana yang lebih sempit. Tingakat pengetahuan tentang busana yang berbeda-beda dari mahasiswa menyebabkan wawasan mahasiswa dalam berpenampilan juga berbeda-beda. Hasil survey sementara yang dilakukan oleh peneliti terhadap mahasiswa. sehingga harus berpenampilan yang baik tidak hanya asal memakai busana saja tetapi disesuaikan dengan busana yang dipakai. bahkan ada yang tampil apa adanya tanpa berusaha untuk tampil lebih baik dan menarik sesuai dengan pengetahuan dan kemampuan yang mereka miliki misalnya.

53 Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian. 1996 : 67 ).Dan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah : “ Ada Hubungan Antara Pengetahuan Busana Terhadap Penampilan Diri Pada Mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semarang Angkatan Tahun 2004“ . sampai terbukti melalui data yang terkumpul ( Suharsimi Arikunto.

atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian ( Suharsimi Arikunto. Populasi Populasi menurut Suharsimi Arikunto (1998 : 115 ) adalah keseluruhan subjek penelitian. Mahasiswa diambil semua sebagai objek penelitian dan sekaligus sebagai sampel penelitian.15 % atau 20 % . Populasi dan Sampel 1. 56 . Suharsimi Arikunto (1998:120) mengemukakan dalam teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik total sampling karena populasinya kurang dari 100.25 %. Penelitian ini jumlah populasinya kurang dari 100 yaitu 31 mahasiswa yang merupakan mahasiswa Teknologi Jasa dan Produksi Angkatan 2004 / 2005 yang terdiri dari D3 yang berjumlah 15 Mahasiswa dan S1 yang berjumlah 16 Mahasiswa. lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Pendapat lain mengatakan bahwa populasi adalah kelompok besar subjek penelitian ( Mohammad Ali. Variabel Penelitian Variabel adalah objek penelitian. B.1998 : 99 ). 2. 1993 : 45 ). selanjutnya jika jumlah subjek besr dapat diambil antara 10 % . Sampel Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti ( Suharsimi Arilunto. 1998:117 ).BAB III METODOLOGI PENELITIAN A.

Pengaturan sikap. 1998 : 101) adalah variabel yang mempengaruhi atau variabel penyebab. Kepribadian . Pengetahuan tentang keserasian berbusana. Keserasian dalam berbusana. e. Keserasian berbusana dengan tata rias wajah. b. Variabel Bebas ( X ) Variabel bebas menurut ( Suharsimi Arikunto. 2. Tata rias wajah c. 1998 : 101 ) adalah variabel yang tergantung atau variabel tak bebas. Pemeliharaan kesehatan. Keserasian berbusana dengan tata rias rambut. Pengaturan sikap e. d. Variabel Terikat ( Y ) Variabel terikat menurut ( Suharsimi Arikunto. f. Pengetahuan dasar tentang busana. Kepribadian. dengan indikator sebagai berikut : a. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah Penampilan Diri. Tata rias rambut d. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah Pengetahuan Busana. g.57 1. Dengan indikator sebagai berikut : a. c. b.

legger. Dalam penelitian ini. Metode ini digunakan untuk memperoleh data mengenai pengetahuan busana. kemampuan atau bakat yang di miliki oleh individu atau kelompok. metode yang digunakan untuk mendapatkan atau memperoleh data yaitu : 1. hal ini dimaksudkan agar data yang diperoleh benar benar akurat. surat kabar. agenda dan sebagainya. Metode Dokumentasi Menurut Suharsimi Arikunto. Metode Observasi Metode Observasi adalah kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra seperti penglihatan. . Metode ini digunakan untuk mengetahui jumlah mahasiswa S1 Konsentrasi Pendidikan Tata Busana UNNES Angkatan Tahun 2004 / 2005. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang merupakan salah satu kegiatan yang dirumuskan secara tetap. ( Suharsimi Arikunto. 2. inteligensi. 3. 1998 : 236 metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal – hal atau variabel yang berupa catatan. majalah. transkrip. Metode tes ini digunakan untuk mengungkap pengetahuan tentang busana yang di miliki oleh mahasiswa TJP Angkatan Tahun 2004 / 2005. prasasti. pengetahuan. buku. Metode Tes Metode tes adalah metode pengumpulan data melalui sejumlah pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan. notulen rapat. 1998 : 226).58 C.

Penampilan Diri Indikator a. 2. 3. Dalam penelitian ini observasi yang dilakukan oleh peneliti mengamati secara sekilas penampilan diri setiap sampel yaitu mahasiswa Program Studi S1 Konsentrasi Tata Busana Angkatan 2004 / 2005.Keserasian berbusana dengan warna kulit.Keserasian berbusana pelengkap busana. sehingga data yang diperoleh dari metode observasi ini dapat digunakan pedoman sebagai lembar observasi atau pengamatan selama 3 hari dengan waktu berselang. Keserasian dengan kepribadian. 1. 1.Pengaturan sikap/penampil an. 4. 1.Keserasian berbusana dengan dengan Skala Ukur b. Metode ini digunakan untuk memperoleh data mengenai penampilan diri.Keserasian berbusana dengan tata rias wajah. 1. Keserasian dengan cara berbicara.Keserasian berbusana dengan perkembangan mode. Kepribadian bentuk tubuh. Keserasian dengan sikap berjalan.Tata rias rambut d. 2. e. 6. Tabel 1.Tata rias wajah c. 3. Kisi – kisi Observasi Penampilan Diri Variabel A. 5. Keserasian dengan sikap duduk.59 penciuman dan peraba ( Suharsimi Arikunto. 1998 : 146 ).Keserasian berbusana dengan suasana / waktu. .Keserasian dalam berbusana Sub Indikator 1.Keserasian berbusana dengan kesempatan.Keserasian berbusana dengan tata rias rambut.

suatu alat penilaian yang dikatakan baik. apabila alat tersebut memenuhi dua hal yaitu validitas dan reliabilitas. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Sesuatu instrumen bisa di sebut baik sebagai alat ukur apabila memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas.60 D. Apabila dalam penelitian instrumen yang digunakan merupakan tes maka harus telah di uji cobakan. Maksud di lakukannya uji coba instrumen adalah untuk mendapatkan insrtumen yang baik. 1998 : 160 ). Validitas Instrumen Validitas merupakan suatu ukuran yang menunjukan tingkat – tingkat kevalidan suatu instrumen ( Suharsimi Arikunto. sehingga dapat di gunakan untuk menyaring data yang dibutuhkan dalam menjawab masalah yang telah dirumuskan. Apabila hasil perhitungan lebih besar dari nilai tabel berarti instrumen dikatakan valid dan dapat di gunakan dalam penelitian. maka butir tersebut dikatakan tidak valid dan tidak dapat dipakai dalam penelitian. serta memenuhi aspek kesahihan dan keandalannya. Uji validitas di lakukan dengan validitas item untuk tes pengetahuan busana dan lembar observasi yaitu dengan mengkorelasikan skor tiap butir soal dengan skor total. Dari hasil tersebut kemudian di konsultasikan dengan taraf signifikan 5 %. Dari hasil korelasi inilah dapat diketahui valid tidaknya instrumen. 1. sebaliknya apabila hasil perhitungan korelasi lebih kecil dari tabel r product moment. . Rumus koefisien korelasi yang digunakan untuk mencari validits instrumen dengan menggunakan Korelasi Product Moment Angka Kasar.

Selanjutnya 58 item soal yang valid penomorannya disusun kembali dan dapat digunakan sebagai alat pengumpul data.361 untuk α = 5% dengan n = 30. hasil uji coba ditabulasikan dalam tabel analisis data di cari varian tiap butir.148 yang lebih kecil dari rtabel = 0. Dalam menentukan reliabel tidaknya instrumen. kemudian dijumlahkan menjadi menjadi varian total.038 dan 0. . Reliabilitas Instrumen Reliabilitas memiliki pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen itu memiliki tingkat keajegan yang baik.1998 : 256 ) Berdasarkan hasil uji coba validitas instrument test pengetahuan busana yang berjumlah 60 item soal diketahui bahwa terdapat dua item soal yang tidak valid yaitu nomor 3 dan 27 karena memiliki rxy sebesar 0. 2.61 Rumus : rxy = Dimana : rxy : Varians butir NΣXY − (ΣX )(ΣY ) {NΣX − (ΣX ) 2 }{( NΣY 2 − (ΣY ) 2 } 2 X : Jumlah skor butir X2 : Jumlah kuadrat skor butir Y : Jumlah skor total Y2 : Jumlah skor total kuadrat N : Jumlah responden ( Suharsimi Arikunto.

Rumus reliabilitas dengan rumus K – R 20 : ⎛ K ⎞⎛ Vt − Σpq ⎞ ⎟ r 11= ⎜ ⎟⎜ ⎜ ⎟ ⎝ K − 1 ⎠⎝ Vt ⎠ Dimana : r 11 K Vt : Reliabilitas instrumen : Banyaknya butir pertanyaan : Varians total Σ pq : Jumlah hasil perkalian antara p dan q ( Suharsimi Arikunto. Ranting adalah pemberian skor berdasarkan judgment subjek terhadap aspek atau atribut tertentu. 1998 : 182 ) Penggunaan reliabilitas untuk metode observasi dengan menggunakan reliabilitas hasil ranting. Adapun yang menjadi dasar penggunaan rumus ini adalah karena instrumen yang dicari reliabilitasnya berbentuk tes yang mempunynai rentang skor 0 – 1 ( Suharsimi Arikunto. yang dilakukan melalui pengamatan sistimatika secara langsung ataupun tidak langsung.62 Dalam penelitian ini untuk mengetahui reliabilitas instrumen tes pengetahuan busana digunakan rumus K-R 20 untuk menguji. 1998 : 182 ). Bila ranting dilakukan oleh beberapa orang raters maka reliabilitas hasil ranting lebih ditekankan pengertiannya pada konsistensi antarraters ( interrater reliability) Rumus : rxx = ss 2 − se 2 ss 2 + (k − 1) se 2 .

3. Sedangkan hasil perhitungan reliabilitas lembar obersevasi penampilan diri dengan rumus ratter diperoleh koefisien relibilitas sebesar 0.63 rxx ss 2 se2 k : reliabilitas observasi : varians antar subjek yang dikenai ranting : varians eror. Tingkat Kesukaran Soal Tes Pengetahuan Busana Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan dan tidak terlalu sukar.993 > 0. Hasil perhitungan reliabilitas instrument test pengetahuan busana dengan rumus KR-21 diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0. Rumus : P= Dimana : P : Indeks kesukaran B : Banyaknya responden yang menjawab soal dengan betul JS : Jumlah seluruh responden P JS . Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa instrument test pengetahuan busana tersebut reliabel. Cara mengetahui tingkat kesukaran soal di tunjukkan dengan “indeks kesukaran soal. Sebabnya soal yang terlalu sukar menyebabkan peserta mudah putus asa.361 untuk α = 5% dengan N = 30.934 > r tabel = 0. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa lembar observasi penampilan diri tersebut juga reliabel. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang peserta untuk mempertinggi usaha untuk memecahkannya. 2003 : 107 ).361 untuk α = 5% dengan N = 30. yaitu varians interaksi antara sujek (s) dan rater (r) : banyaknya rater yang memberikan ranting ( Saifuddin Azwar.

00 Kriteria perhitungan Soal Sukar Soal Sedang Soal Mudah ( Suharsimi Arikunto. 60 3 Mudah 7. 49. Cara mengukur daya pembeda soal adalah : .70 – 1.70 0. Hasil perhitungan dapat dilihat pada lampiran dan terangkum pada pada tabel 3. Daya Pembeda Soal Tes Pengetahuan Busana Daya pembeda soal adalah kemampuan soal untuk membedakan peserta yang pandai dan peserta yang bodoh. 2.30 0. 38. 40. 23. 9. 29. 43. 15.00 – 0. 54. 57. 21. 56. 26. 52. 19. 28. 41. 25. 47.67%. 10. 44. 37. Ringkasan Tingkat Kesukaran Soal Ujicoba No 1 2 Kriteria Sukar Sedang 6 1.00% Nomor soal Jumlah 1 50 % 1. 50. 2001 : 201 ) Berdasarkan hasil ujicoba instrumen tes diperoleh soal dengan kriteria sukar 1. 33. 36. 30. 20. 31.33% 4. 12. 34. 32.67% 83.00%. 17. 4. 39. 18. 11. 27. 58 9 15. 3. 48. Kriteria Perhitungan Indeks Kesukaran Indeks kesukaran 0. 16. soal dengan criteria sedang 83. 35. 8. 14. Angka yang menunjukkan pembeda soal tersebut “ Indeks Diskriminasi”. 53. 46. 51. 24. 59.64 Adapun kriteria perhitungan indeks kesukaran dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 2. 55. 42.33% dan soal dengan criteria mudah 15. Tabel 3. 22.30 – 0. 45. 5. 13.

3) Menghitung jawaban yang benar dari kelompok atas untuk item yang dianalisis.65 1) Menghitung atau membuat urutan peserta atas dasar skor yang diperoleh. 2001 : 214 ). disusundari skor yang paling tinggi sampai skor yang paling rendah. demikian juga untuk kelompok bawah. 4) Hasil butir ( 3 ) masing – masing dibagi dengan jumlah kelompok atas dan bawah. 5) Hasil butir ( 4 ) dilakukan pengurangan dari kelompok atas dengan kelompok bawah dengan rumus sebagai berikut : D= Dimana : D : Daya pembeda soal BA: Jumlah peserta kelompok atas yang menjawab benar BB: Jumlah peserta kelompok bawah yang menjawab benar JA: Jumlah peserta kelompok atas JB: Jumlah peserta kelompok bawah PA: Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar PB: Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar ( Suharsimi Arikunto. 2) Mengambil 50 % kelompok atas dan 50 % kelompok bawah. BA BB − = PA − PB JA JB . dimana kelompok atas dari ranngking kelompok bawah.

10. .20 0. 46. Tabel 5. 52. 48. 15. 8.34 3 Baik 11 18. 38. 18. 59. 19. E. 47.70 0. 29. 25.33 78. 14. 31. 9. 78.33% dalam kategori baik. 56. Metode Analisis Data Dalam penelitian analisis data yang digunakan adalah deskriptif dan uji hipotesis. 51. 17. 35.34% cukup dan 18. 54. 6. 27 5. 2. 34. 7.33 dapat diambil kesimpulan bahwa dari 60 soal terdapat 58 soal yang layak digunakan untuk instrumen penelitian karena valid dan daya bedanya tidak jelek.66 Tabel 4. 57. 16.20 – 0. 13. 45.33% soal yang daya pembedanya jelek. 26. 53 Berdasarkan analisis ujicoba tersebut Nomor soal Jumlah 2 47 % 3. 12. 50. 22. 2001 : 218 ) Berdasarkan hasil ujicoba diperoleh 3. 43. 30. 20.40 0.70 – 1. 60 1. 42. 28.40 – 0.00 – 0. 41. 23. 32. 40.00 Kriteria Daya Pembeda Soal Soal Jelek Soal Cukup Soal Baik Soal Baik Sekali ( Suharsimi Arikunto. Kriteria Daya Pembeda Soal Indeks Diskriminasi 0. 36. 58. 44. 21. 39. 11. Ringkasan Daya Pembeda Soal Ujicoba No 1 2 Kriteria Jelek Cukup 3. 4. Hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran seperti pada tabel 5 berikut. 37. 24. 49.

. Median. Sandart Deviasi serta analisis deskritif persentase. Rumus yang digunakan yaitu Mean. Modus. Mean x= Σxi n b. Median Dimana : ⎛ 1 / 2n − F ⎞ ⎟ Me = b + p ⎜ ⎜ ⎟ f ⎝ ⎠ b : batas bawah kelas median p : panjang kelas median n : ukuran sampel atau banyaknya data F : jumlah semua frekuensi dengan tanda kelas kecil dari tanda kelas median f : frekuensi kelas median c. Metode Deskriptif Data yang diperoleh dari tes di analisis dengan menggunakan motode diskriptif dengan tujuan untuk menggambarkan data tersebut. Rumus yang digunakan adalah : a.67 1. Modus Dimana : b : batas bawah kelas modal p : panjang kelas modal b1 : frekuensi kelas modal dikurangi frekuensi kelas interval dengan tanda kelas yang lebih kecil sebelum tanda kelas modal ⎛ b ⎞ Mo = b + p ⎜ 1 ⎟ ⎜b +b ⎟ ⎝ 1 2⎠ b2 : frekuensi kelas modal dikurangi frekuensi kelas interval dengan tanda kelas yang lebih besar sesudah tanda kelas modal.

terlebih dahulu diuji normalitasnya apakah setiap variabelnya berdistribusi normal atau tidak dengan mengacu pada ketentuan tolak Ho jika χ2hitung ≤ χ2tabel dengan taraf signifikan 5% dan dk = k – 3. pengujian menggunakan rumus uji chi kuadrat dengan langkah-langkah : a. Menusun data dalam tabel distribusi frekuensi Penentuan banyak kelas interval (k) dengan ketentuan : k = 1 + 3. Mencari z-skor dari setiap batas kelas dengan rumus: z= X−X s . Menghitung rata-rata dan simpangan baku X= ∑X N i i ∑X s= 2 N(N − 1) − (∑ X i ) 2 c.3 log N N = banyaknya obyek penelitian Interval = data terbesar − data terkecil banyak kelas interval b. Ali. 1993) 2. Uji Normalitas Data Sebelum data dianalisis dengan rumus korelasi product moment.68 d. Prosentase (%) = n x100% N Keterangan n N = Jumlah nilai yang diperoleh = Jumlah nilai seluruhnya (Muh.

69 d. 2005:215) Keterangan : n = Banyaknya sampel r = Koefisien korelasi Jika t > ttabel maka disimpulkan koefisien korelasi r tersebut signifikan. 2005:69) Keterangan : = frekuensi observasi = frekuensi harapan 3. e. Menghitung frekuensi yang diharapkan (fo) dengan cara mengalikan besarnya ukuran sampel dengan peluang atau luas daerah di bawah kurva normal untuk interval yang bersangkutan. . Menghitung statistik Chi kuadrat dengan rumus sebagai berikut : χχ 2 = ∑ i =1 i (f o − f h )2 fh χ2 fo fh = Chi kuadrat (Sugiyono. Korelasi Product Moment Korelasi product moment digunakan untuk membuktikan apakah sampe –sampel berkorelasi dengan rumus sebagai berikut : r xy= NΣXY − (ΣX )(ΣY ) {NΣX 2 − (ΣX ) 2 }{( NΣY 2 − (ΣY ) 2 } Selanjutnya harga r yang diperoleh diuji signifikansinya dengan uji t dengan rumus sebagai berikut : t= r n−2 1 − r2 (Sugiyono.

Keserasian berbusana yang dilihat dari warna busana f). 14 2. 41. Tujuan Berbusana c). 16. 3 4. 18. 31. Keserasian berbusana yang dilihat dari bentuk tubuh d). 6. Penggolongan Busana 1 2. Pengetahuan tentang keserasian berbusana a). 29. 23. 38. 30. 32. Pengetahuan dasar tentang busana Sub Indikator a). 11. 12. b). 5. Pengetahuan Busana Indikator 1. Keserasian berbusana yang dilihat dari suasana/waktu g). 26.70 KISI – KISI INSTRUMEN PENGETAHUAN BUSANA Variabel A. 8. Pengertian Busana b). 20. Keserasian berbusana dengan pelengkap busana 15. 22. 21. 39 36. 34 35 24. 27 No. 7. Keserasian berbusana yang dilihat dari kesempatan h). Keserasian berbusana yang dilihat dari usia c). 10. 13. 9. 37 28. 42. 25. 33. Keserasian berbusana yang dilihat dari warna kulit e). Kondisi status sosial 40. 19. Item . 17.

49. Tata rias wajah 43. 59 60 . Kepribadian yang dimiliki a). Kepribadian a). 51. Perkembangan Mode 3). Sikap Badan a). 44 45 46. Tata rias rambut a).71 ekonomi i). 52. 53 54. Kesehatan Jasmani a). 50. 56 57 58. 47. 48. Keserasian berbusana dengan tata rias rambut 5). Pemeliharaan Kesehatan 7). 55. Keserasian berbusana dengan tata rias wajah 4). Pengaturan Sikap 6).

1. Kriteria : 4. Kriteria : 4. Tidak dapat menyesuaikan busana dengan waktu dan kesempatan.Dapat menerapkan busana sesuai dengan bentuk tubuh. 2. Dapat menyesuaikan busana dengan waktu dan kesempatan. 3. tetapi tidak dapat menerapkan pelengkap busana dengan baik dan benar. tetapi dapat menerapkan sesuai dengan kesempatan. 3. Tidak dapat menyesuaikan busana dengan waktu dan kesempatan dan tidak dapat menerapkan pelengkap busana dengan baik dan benar. Dapat menerapkan busana sesuai dengan bentuk tubuh dengan baik dan benar. Keserasian berbusana dengan pelengkap busana. Keserasian berbusana dengan bentuk tubuh. Dapat menyesuaikan busana dengan pelengkap busana sesuai dengan waktu dan kesempatan dengan baik dan benar. tetapi dapat menerapkan pelengkap busana dengan baik dan benar. tetapi tidak menerapkan sesuai dengan kesempatan. . Tidak dapat menerapkan busana sesuai dengan bentuk tubuh.72 PEDOMAN PENILAIAN OBSERVASI PENAMPILAN DIRI 1. 2. 2.

Tidak dapat menerapkan busana sesuai dengan suasana / waktu. 2.73 1. 2. Tidak dapat menerapkan busana sesuai dengan bentuk tubuh dan tidak dapat menerapkan sesuai dengan kesempatan. Dapat menerapkan busana sesuai dengan suasana / waktu dan dapat menerapkan pelengkap busana. Tidak dapat menerapkan busana sesuai dengan warna kulit. 4. 3. 1. Dapat menerapkan busana sesuai dengan suasana / waktu. Keserasian berbusana dengan suasana / waktu. Dapat menerapkan busana sesuai dengan warna kulit. tetapi dapat menerapkan pelengkap busana sesuai dengan suasana / waktu. tetapi tidak dapat menerapkan pelengkap busana dengan benar. Kriteria : 4. tetapi tidak dapat menyesuaikan dengan bentuk tubuh. 3. 3. Dapat menerapkan busana sesuai dengan warna kulit dan warna busana dengan baik dan benar. Keserasian berbusana dengan warna kulit. Kriteria : 4. Tidak dapat menerapkan busana sesuai dengan warna kulit dan tidak dapat menyesuaikan dengan bentuk tubuh. tetapi dapat menyesuaikan dengab bentuk tubuh. .

3. Dapat menerapkan busana seseuai dengan kesempatan dan waktu dengan baik dan benar. Tidak dapat menerapkan busana sesuai dengan kesempatan dan tidak dapat menyesuaikan dengan waktu dengan baik dan benar. 5. Dapat menerapkan busana sesuai dengan perkembangan mode dan sesuai dengan bentuk tubuh yang benar. tetapi tidak dapat menyesuaikan dengan bentuk tubuh. tetapi dapat menerapkan busana sesuai denga bentuk tubuh dengan benar. Keserasian berbusana dengan perkembangan mode. tetapi dapat menyesuaikan dengan waktu dengan baik dan benar. 2. Kriteria : 4. . Kriteria : 4. Dapat menerapkan busana sesuai dengan kesempatan. 2.74 1. tetapi tidak dapat menerapkan sesuai dengan waktu dengan benar. Keserasian berbusana dengan kesempatan. Tidak dapat menerapkan busana sesuai dengan perkembangan mode. Dapat menerapkan busana sesuai dengan perkaembangan mode. Tidak dapat menerapkan busana sesuai dengan suasana dan tidak dapat menerapkan pelengkap busana dengan suasana / waktu dengan baik dan benar. Tidak dapat menerapkan busana sesuai dengan kesempatan. 1. 3. 6.

2. Tidak dapat menerapkan tata rias wajah dengan busana yang dikenakan. Dapat menerapkan tata rias wajah dengan busana yang dikenakan sesuai dengan kesempatan dengan baik dan benar. 3. Kriteria : 4. tetapi dapat menyesuaikan dengan kesempatan. 3. Keserasian berbusana dengan tata rias wajah. 1. tetapi tidak dapat menyesuaikan dengan kesempatan. Dapat menerapkan dengan tata rias wajah sesuai dengan busana yang dikenakan. Dapat menerapkan tata rias rambut dengan busana yang dikenakan.75 1. tetapi tidak dapat menyesuaikan dengan kesempatan. Kriteria : 4. Keserasian berbusana dengan tata rias rambut. . Tidak dapat menerapkan busana sesuai dengan perkembangan mode dan tidak dapat menesuaikan busana sesuai dengan bentuk tubuh. 8. 7. tetapi dapat menyesuaikan dengan kesempatan. Dapat menerapkan tata rias rambut seseuai dengan busana yang dikenakan dan sesuai dengan kesempatan. Tidak dapat menerapkan tata rias wajah dengan busana yang dikenakan dan tidak dapat menyesuaikan dengan kesempatan. 2. Tidak dapat menerapkan tata rias rambut dengan busana yang dikenakan.

Berjalan dengan tegak lurus kedepan. Berjalan berlawanan arah dan pandangan tunduk ke bawah. tetapi pandangan lurus ke depan. tetapi pandangan mata tunduk ke bawah. Berjalan berlawanan arah. Dapat bersikap duduk yang baik sesuai dengan waktu dan kesempatan. Dapat bersikap duduk yang baik dengan badan tegak. 1. Kriteria : 4. 3. 11. Duduk dengan kaki berada di sudut kursi. 1. 9.76 1. 10. Keserasian dengan cara berbicara.tetapi kaki diangkat diatas kursi. 3. Dapat berjalan dengan tegak lurus ke depan dan pandangan lurus ke depan. Kriteria : 4. tetapi badan bersandar di meja. Keserasian dengan sikap duduk. Dapat berbicara dengan bahasa yang benar dan pandangan mata ke arah lawan bicara. Kriteria : 4. 2. Keserasian dengan sikap berjalan. Tidak dapat menerapkan tata rias rambut dengan busana yang dikenakan dan tidak dapat menyesuaikan dengan kesempatan. Badan bersandar di meja dan kaki diangkat di atas kursi. . 2.

Berbicara sendiri disaat dosen memjelaskan materi perkuliahan. 12. 2. Kriteria : 4. tetapi tangan sibuk mengerjakan pekerjaan lain. Keserasian dengan kepribadian. . Bersikap memperhatikan disaat dosen menjelaskan materi perkuliahan dengan baik. tetapi berbicara dengan nada sangat keras. Disaat perkuliahan berlangsung mahasiswa makan di dalam ruangan. tetapi pandangan mata tidak tertuju pada lawan bicara.77 3. 2. 1. Memperhatikan dosen. 3. Berbicara dengan bahasa yang benar. Berbicara dengan keras dan pandangan mata tunduk ke bawah. Pandangan mata ke arah lawan bicara. 1.

Keserasian berbusana sesuai dengan suasana / waktu. . 11. 4. Keserasian dengan cara berbicara. 1. 5. Keserasian berbusana dengan tata rias wajah. :………………………………………………… Obyek Pengamatan Skala Ukur Keserasian berbusana sesuai dengan pelengkap busana. Keserasian berbusana sesuai dengan warna kulit. Keserasian dengan sikap duduk. Keserasian berbusana sesuai dengan perkembangan mode. 2. 7. 9. 3. 12. 8. Keserasian berbusana sesuai dengan bentuk tubuh. Keserasian berbusana sesuai dengan kesempatan. 10. Keserasian berbusana dengan tata rias rambut.78 LEMBAR OBSERVASI PENAMPILAN DIRI Nama Responden :………………………………………………… Pengamat No. Keserasian dengan kepribadian. Keserasian dengan sikap berjalan. 6.

pengujian hipotesis dan pembahasannya. standar deviasi 3. Hasil Penelitian 1. skor maksimal 42. Karena standar deviasi yang diperoleh juga besar maka menunjukkan bahwa perbedaan penampilan diri mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semarang juga besar. Karena standar deviasi yang diperoleh relatif besar maka menunjukkan bahwa perbedaan pengetahuan busana mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semarang tersebut relatif besar.95 dengan skor minimal adalah 29. Rata-rata skor penampilan diri mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semarang adalah 36.81 36.81 Rata-rata 70.5.5 SD 11.44 dan varians 130. standar deviasi 11.89.58 Varians 130.44 3. Deskripsi Data Variabel X dan Y Variabel Variabel X Variabel Y Tertinggi 88 42.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dalam bab ini akan dipaparkan tentang hasil penelitian meliputi deskripsi data hasil penelitian.95 Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pengetahuan busana mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semarang adalah 70.89 12. Lebih jelasnya pengetahuan busana dan penampilan diri 79 .58 dan varians 36. nilai minimal 41. A. Deskripsi Data Hasil Penelitian Tabel 6.5 Terendah 41 29.5.81 dengan nilai maksimal 88.95. uji prasyarat analisis korelasi.

45%).90%) dan kurang 6.48% 9.61% 35.16%). 2.61%). dan selebihnya masuk dalam kategori cukup (35. dan cukup (9.68% 6. Hasil Uji Prasyarat Ada tidaknya hubungan antara pengetahuan busana dengan penampilan diri mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semarang dapat dilihat dari hasil analisis korelasi. Bagan Distribusi Kategori Pengetahuan Busana dan Penampilan Diri Hal tersebut di atas menunjukkan bahwa pengetahuan busana sebagian besar mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semarang baik (45.45% 0. Sedangkan penampilan diri sebagian besar mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semarang masuk dalam kategori baik (51.68%).90% 45.71% 51.16% 38. Sebelum analisis tersebut .71%).80 mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semarang tersebut dapat dilihat dari hasil belajar masing-masing siswa seperti yang disajikan pada gambar 4. sangat baik (12.48%).00% Baik Cukup Kurang Kategori Pengetahuan Busana Penampilan Diri Gambar 1. selebihnya yaitu sangat baik (38.1. 80% 70% Distribusi (%) 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% Sangat baik 12.

ditolak dan hipotesis kerja atau (Ha) yang berbunyi “Ada hubungan antara . Pengujian Hipotesis Berdasarkan hasil analisis diperoleh koefisien korelasi antara ada hubungan antara pengetahuan busana terhadap penampilan diri pada mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semarang Angkatan Tahun 2004 sebesar 0. 3.5970 Sumber Data : Data penelitian diolah χ2 tabel 9.49 untuk α = 5% dengan dk = 3.0525 Penampilan diri (Y) 4. terlebih dahulu diuji normalitasnya sebagai syarat berlakunya analisis tersebut.592. Berdasarkan hasil analisis diperoleh t 3. Karena thitung > ttabel. Dengan demikian menunjukkan bahwa data dalam penelitian ini berdistribusi normal sehingga untuk keperluan pengujian hipotesis dapat dilakukan dengan analisis korelasi.49 9.70 pada α = 5% dengan dk = 29. Hasil uji normalitas data menggunakan rumus chi kuadrat diperoleh hasil seperti terangkum pada tabel berikut: Tabel 6. Keberartian dari koefisien korelasi tersebut dapat diuji dengan menggunakan uji t.0525 dan untuk data variabel penampilan diri adalah 4.5970 lebih kecil dari harga χ2tabel = 9.81 diuraikan.96 > t tabel hitung = = 1.49 Kriteria Normal Normal Dari hasil tersebut di atas terlihat bahwa harga χ2hitung untuk data variabel pengetahuan busana adalah 4. maka menunjukkan bahwa koefisien korelasi tersebut signifikan sehingga hipotesis nihil (Ho) yang berbunyi “Tidak ada hubungan antara pengetahuan busana terhadap penampilan diri pada mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semarang Angkatan Tahun 2004”. Hasil Uji Normalitas Data Variabel χ2 hitung Pengetahuan busana (X) 4.

Harga koefisien korelasi antara pengetahuan busana dengan pengetahuan diri sebesar 0.05%.3505. Berdasarkan hasil perhitungan pada lampiran diperoleh harga r2 = 0. Selain itu harga koefisien korelasi yang bertanda positif menunjukkan bahwa bentuk hubungan antara pengetahuan busana dengan penampilan diri adalah hubungan yang positif yang artinya semakin baik pengetahuan busana mahasiswa maka akan semakin baik penampilan dirinya dan sebaliknya semakin buruk pengetahuan busana mahasiswa maka akan semakin buruk pula penampilan dirinya.6 dan termasuk kategori cukup erat.82 pengetahuan busana terhadap penampilan diri pada mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semarang Angkatan Tahun 2004”.592 tersebut berada pada indeks korelasi 0. . Besarnya kontribusi yang diberikan oleh pengetahuan busana terhadap penampilan diri pada mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semarang Angkatan Tahun 2004 dapat diketahui dari harga koefisien determinasi. Dengan demikian besarnya kontribusi pengetahuan busana terhadap penampilan diri mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semarang Angkatan Tahun 2004 adalah 35.4 sampai dengan 0. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan busana terhadap penampilan diri pada mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semarang Angkatan Tahun 2004. diterima. B.

Dengan demikian selain ditentukan oleh pengetahuan busana. Dewasa ini busana tidak hanya berfungsi sebagai penutup tubuh saja. 64. ternyata penampilan diri mahasiswa ditentukan oleh faktor lain selain penguasaan materi sebesar 58. Oleh karena itu dalam rangka memperbaiki penampilan dirinya.05%. para mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semarang Angkatan Tahun 2004 hendaknya berusaha meningkatkan pengetahuannya dalam berbusana.05% Gambar 2. Sehingga busana itu sekaligus membantu untuk menyulap pandangan mata seseorang (memperbaiki bentuk tubuh) dan memperindah . Sumbangan Pengetahuan Busana Terhadap Penampilan Diri Mengacu dari hasil yang diperoleh tersebut maka terlihat bahwa penampilan diri mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semarang Angkatan Tahun 2004 ikut ditentukan oleh baik tidaknya pengetahuan mahasiswa dalam berbusana.95% Pengetahuan Busana. 35.83 Besarnya kontribusi pengetahuan busana terhadap penampilan diri mahasiswa adalah 35. melainkan diperlukan pula keserasian antara busana itu sendiri dengan si pemakainya. Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut : Faktor lain.31%.

Setiap orang ingin tampil rapi dan menarik. Sumarlien (1992:1) menjelaskan bahwa seiring dengan perkembangan jaman berkembang pula fungsi busana yaitu untuk memenuhi syarat kesehatan. . peradaban dan kesusilaan serta rasa keindahan. menutupi cacat dan kekurangan bentuk tubuh. rasa keindahan. terutama pekerjaan yang sifatnya berhubungan dengan masyarakat luar. Sebelum mencapai penampilan yang serasi dan menarik. kebutuhan kesehatan. dengan berbusana yang serasi dapat memperkuat kepercayaan diri. Kepercayaan diri juga meningkatkan rasa harga diri. Dalam kaitannya dengan diri sendiri. serta menjadikan kehadiran yang bersangkutan disenangi. Dalam segi hubungan dengan orang lain. mengingat penampilan diri seseorang sedikit banyak juga mencerminkan kepribadian yang bersangkutan. antara lain untuk memenuhi syarat-syarat peradapan kesusilaan. sehingga lebih mantap dalam menghadipi tugas-tugas pekerjaanya. Penampilan yang baik atau berbusana yang serasi ikut berperan penting dalam menentukan keberhasilan hidup seseorang. Kondisi ini memberi tuntutan kepada manusia untuk mengatur cara berbusana pada waktu melakukan kegiatan yang berbeda. penampilan yang baik dengan berbusana yang serasi dapat menimbulkan rasa hormat dan rasa simpati.84 diri. Karena penampilan yang serasi dan menarik akan memudahkan dalam pergaulan sehari-hari. Kesemua itu membuka berbagai kemungkinan pengembangannya yang positif. setiap orang harus tahu tujuan dari berbusana.

Dengan demikian untuk dapat berpenampilan yang baik seharusnya kita dapat menututi kekurangan tersebut agar tampak lebih indah dengan kata lain harus dapat menyamarkan kekurangan yang ada pada tubuh. sebab peneliti hanya menggunakan variabel penelitian tentang pengetahuan busana saja. Dalam kehidupan pergaulan di kampus. Wanita menginginkan bentuk tubuh yang ideal. tetapi semua tahu setiap individu pasti memiliki kekurangan baik dalam bentuk tubuh. Keterbatasan Penelitian Ada beberapa keterbatasan yang dalam penelitian ini antara lain sebagai berikut : 1. lingkungan pergaulan dan faktor lainnya. Pengetahuan busana dapat peroleh melalui bukubuku tentang busana. koran. . Penampilan diri mahasiswa Jurusan PKK S1 Konsentrasi Tata Busana dan Program Studi D3 Teknologi Jasa dan Produksi Tata Busana Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang belum terungkap secara mendalam. mahasiswa dituntut memiliki kesadaran dalam berpenampilan. Penampilan diri merupakan faktor yang sangat penting dalam pergaulan. dan cara yang paling tepat adalah dengan berbusana yang serasi sesuai dengan bentuk tubuh sehingga dapat menutupi kekurangan dari bentuk tubuhnya. secara tidak langsung mahasiswa dituntut kerapian dan keserasian dalam berpenampilan. majalah fashion. Seharusnya ada faktor lain yang dapat dijadikan variabel seperti tingkat ekonomi keluarga.85 Pengetahuan busana merupakan salah satu unsur pendukung penampilan diri seseorang. televisi. C. lingkungan keluarga.. sehingga kurang mampu mengukur penampilan diri mahasiswa secara mendalam.

sehingga hasil penelitian ini tidak dapat digunakan untuk mengeneralisasikan penampilan diri pada mahasiswa dari Jurusan Teknologi Jasa dan Produksi Program Studi S1 PKK Konsentrasi Tata Boga dan lainnya dengan karakteristik yang beragam. .86 2. Penelitian ini hanya dilakukan pada mahasiswa Jurusan PKK S1 Konsentrasi Tata Busana dan mahasiswa Program Studi D3 Teknologi Jasa dan Produksi Tata Busana Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang Angkatan Tahun 2004.

Besarnya kontribusi atau sumbangan pengetahuan busana terhadap penampilan diri pada mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semarang Angkatan Tahun 2004adalah 35. Ada hubungan pengetahuan busana terhadap penampilan diri pada mahasiswa Tata Busana Universitas Negeri Semarang Angkatan Tahun 2004. maka dapat diambil suatu simpulan sebagai berikut : 1. maka peneliti mengajukan saran-saran sebagai berikut : 1. B. sebelumnya hendaknya pernah tetap mendapatkan materi berusaha meningkatkan pengetahuannya dalam berbusana melalui berbagai sumber baik bukubuku tentang busana.BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. 87 . Saran Berdasarkan simpulan di atas. serta menjadikan kehadiran yang bersangkutan disenangi orang lain. televisi maupun dari sumber yang lain agar mampu berpenampilan secara menarik dan dapat menimbulkan rasa hormat dan rasa simpati.05%. koran. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasannya. Walaupun pengetahuan mahasiswa busana. 2. majalah fashion.

88 2. media massa maupun faktor lain agar diperoleh informasi yang lebih lengkap tentang faktor-faktor yang mempengaruhi penampilan diri mahasiswa. Bagi peneliti lain yang hendak melakukan penelitian sejenis. lingkungan masyarakat. faktor lingkungan keluarga. lingkungan pergaulan. hendaknya menggunakan obyek penelitian yang lebih luas seperti faktor sosial ekonomi keluarga. .

Syahandini Purnomo. (1985). Jakarta : Depdikbud. Bandung : Yapemdo. Jakarta : Rineka Cipta. (1998). Tim MKDK IKIP. Dasar – Dasar Pendidikan. AR Al Hanif. (2005). (1992). Prosedur Penelitian. (1997). Jakarta : Depdikbud. Tata Rias dan Penampilan Diri. Jakarta : Rineka Cipta. Suharsimi Arikunto..79 DAFTAR PUSTAKA Ananda Susanto. Teori Busana. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Jakarta : Bumi Aksara. Wasia Rusbani. (1979). Metoda Statistika. Jakarta : Depdikbud. Jakarta : Rineka Cipta. Sudjana MA. (1998). (1989). Bandung : Sarwadi.dan Sumanto. . (2003). Sumarline. (2005). Suharsimi Arikunto. Bandung : Tarsito. Ketrampilan Tata Busana. Dasar Kecantikan dan Berbusana Yang Serasi. SaifuddinAzwar. Surabaya :Alumni. (1991). Chadromi Nurwidjaja. Teknik Dasar Pembuatan Busana. Etika dan Estetika Busana. (2003). ( 2002). Suharsimi Arikunto. H. Semarang : IKIP. Aisyah Jafar. Pengetahuan Busana II. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Prosedur Penelitian.Patalangi Lengkong.. Statistika Untuk Peneliti. Rostamailis. Dasar – Dasar Evaluasi Pendidikan.. Penggunaan Kosmetika. Sugiyono. Bandung : Alfa Beta. Reliabilitas Validitas. Arifah A. Riyanto. (2002). Jakarta : Depdikbud. (2001). Radias Saleh.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->