P. 1
Analisis Yuridis Pernyataan Pailit Terhadap Bank Dalam UU No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan PKPU_Agung Yuriandi

Analisis Yuridis Pernyataan Pailit Terhadap Bank Dalam UU No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan PKPU_Agung Yuriandi

4.0

|Views: 1,068|Likes:
Published by Agung Yuriandi
Permohonan pernyataan pailit terhadap Bank ternyata bisa dilakukan oleh Nasabah Bank, bukan saja Bank Indonesia. Asalkan tahu kapan harus mengajukannya. Belum lagi masalah pada UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU yang masih lemah.
Permohonan pernyataan pailit terhadap Bank ternyata bisa dilakukan oleh Nasabah Bank, bukan saja Bank Indonesia. Asalkan tahu kapan harus mengajukannya. Belum lagi masalah pada UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU yang masih lemah.

More info:

Categories:Types, Research, Law
Published by: Agung Yuriandi on May 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

04/11/2014

ANALISIS YURIDIS PERMOHONAN PERNYATAAN PAILIT TERHADAP BANK DALAM UNDANG-UNDANG NO.

37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG

Oleh : Agung Yuriandi Medan 2011

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Kegiatan ekonomi pada umumnya dilakukan oleh pelaku-pelaku ekonomi baik orang perorangan yang menjalankan perusahaan atau badan usaha yang mempunyai kedudukan sebagai badan hukum atau bukan badan hukum. Kegiatan ekonomi pada hakekatnya adalah kegiatan menjalankan perusahaan yaitu, suatu kegiatan yang mengandung pengertian bahwa kegiatan yang dimaksud harus dilakukan : a. Secara terus menerus dalam pengertian tidak terputus putus b. Secara terang terangan dalam pengertian yang sah (bukan ilegal); c. Dan kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka memperoleh keuntungan baik untuk diri sendiri atau orang lain.1

Sri Redjeki Hartono, Husni Syawali, dan Neni Sri Imaniyati, Kapita Selekta Hukum Ekonomi, (Bandung : Mandarmaju, 2000), hal. 4.

1

1

Kegiatan ekonomi yang terjadi di dalam masyarakat pada hakikatnya merupakan rangkaian berbagai perbuatan hukum yang luar biasa banyak jenis, ragam, kualitas dan variasinya yang dilakukan oleh antar pribadi, antar perusahaan, antar negara dan antar kelompok dalam berbagai volume dengan frekuensi yang tinggi setiap saat di berbagai tempat. Peranan tersebut baik dalam hal mengumpulkan dana dari masyarakat maupun menyalurkan dana yang tersedia untuk membiayai kegiatan perekonomian yang ada. Mengingat dengan semakin tinggi frekuensi kegiatan ekonomi yang terjadi pada masyarakat tentunya semakin banyak pula kebutuhan akan dana sebagai salah satu faktor pendorong dalam menggerakkan roda perekonomian. Seiring pesatnya perkembangan ekonomi dunia telah berdampak pada meningkatnya transaksi perdagangan antar pelaku usaha, dimana satu pelaku usaha melakukan usaha atau investasi di beberapa negara berdasarkan hukum negara setempat.2 Sektor perbankan di Indonesia memiliki peran yang sangat strategis dalam perekonomian, mengingat peranannya sebagai lembaga intermediasi dan penunjang sistem pembayaran. Terlebih lagi perbankan masih mendominasi sektor keuangan Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah menaruh perhatian yang besar terhadap kebijakan pengaturan dan pengawasan bank, apalagi setelah terjadinya krisis perbankan. Salah satu pelajaran penting yang dapat ditarik dari krisis perbankan adalah bahwa kegagalan suatu bank, apalagi yang berdampak sistemik,

mengakibatkan tingkat kepercayaan masyarakat kepada sistem perbankan nasional

Mustafa Siregar, Efektivitas Perundang-Undangan Perbankan dan Lembaga Keuangan Lainnya dengan Penelitian di Wilayah Kodya, (Medan : USU, 1990), hal. 1.

2

2

menjadi sangat menurun, selain itu berakibat pula pada terganggunya kegiatan perekonomian.3 Berdasarkan Pasal 24 Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia,4 Bank Indonesia adalah otoritas perbankan yang kewenangannya meliputi: menetapkan peraturan (power to regulate), memberikan dan mencabut izin atas kelembagaan dan kegiatan usaha tertentu dari bank (power to license),5 melaksanakan pengawasan bank (power to supervise) dan mengenakan sanksi terhadap bank (power to impose sanction). Selaku otoritas perbankan, maka kebijakan pengaturan dan pengawasan bank yang dirumuskan dan diimplementasikan oleh Bank Indonesia bertujuan untuk mengupayakan terciptanya individual bank yang sehat yang pada gilirannya mendukung sistem perbankan yang sehat.6 Dengan demikian, ada dua dimensi yang harus tercakup dalam penyelenggaraan kebijakan perbankan, yaitu fokus terhadap individu bank dan fokus terhadap sistem perbankan nasional. 7 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepalitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang memberi kewenangan tunggal kepada Bank Indonesia

Kelompok Kerja Edukasi Masyarakat di Bidang Perbankan, ”Cetak Biru Edukasi Masyarakat di Bidang Perbankan”, http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/0906143C-163D-4A02-BC59C2D6C0E31AE9/903/CetakBiruEdukasiMasyarakatdiBidangKeuangan.pdf., diakses pada 12 Mei 2011. 4 Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3843. 5 Sebelum berlakunya Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, op.cit., otoritas yang mempunyai power to license adalah Menteri Keuangan. 6 Bagian yang juga sangat penting dalam rangka mengupayakan terciptanya bank dan system perbankan yang sehat adalah kualitas dan integritas pemegang saham pengendali, pengurus, dan pegawai bank, serta iklim usaha yang kondusif. Dalam : Rimsky K. Judisseno, Sistem Moneter dan Perbankan di Indonesia, Cetakan Kedua, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2005). 7 Sistem perbankan dapat diartikan sebagai kumpulan dari lembaga, kegiatan usaha, serta cara dan proses pelaksanaan kegiatan usaha yang memungkinkan bank melaksanakan fungsinya dengan baik. Dalam : Ibid.

3

3

untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit atas bank sebagai debitor.

8

Pengaturan yang demikian ini menunjukkan bahwa pembuat peraturan kepailitan memberikan perhatian tersendiri bagi bank sebagai debitor dalam pelaksanaan kepailitan. 9 Di dalam Pasal 2 ayat (3) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang disebutkan, di

Penjelasannya, yaitu10 : “Dalam hal debitor adalah bank, permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Bank Indonesia sedangkan bank yang dimaksud adalah bank sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan. Pengajuan permohonan pernyataan pailit bagi bank sepenuhnya merupakan kewenangan Bank Indonesia dan semata-mata didasarkan atas penilaian kondisi keuangan dan kondisi perbankan secara keseluruhan, oleh karena itu tidak perlu dipertanggungjawabkan. Kewenangan Bank Indonesia untuk mengajukan permohonan kepailitan ini tidak menghapuskan kewenangan Bank Indonesia terkait dengan ketentuan mengenai pencabutan izin usaha bank, pembubaran badan hukum, dan likuidasi bank sesuai peraturan perundang-undangan”. Ketentuan bahwa terhadap permohonan Kepailitan bank ternyata tidak secara serta merta dapat dilakukan oleh kreditor. Sebagai badan usaha yang mempunyai karakteristik khusus, yaitu selaku intermediary institution yang bekerja dengan dana
Pasal 2 ayat (3), Undang-Undang No. 37 Tahun 2004, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 131, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4443. 9 W.J.S. Poerwadarminta mengatakan bahwa pailit artinya bangkrut; misal perusahaan itu sudah bangkrut dan bangkrut artinya menderita kerugian besar hingga jatuh (perusahaan, toko, dan sebagainya). Dalam : W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1999). Kemudian, John M. Echols dan Hassan Shadily mengatakan bahwa bankrupt artinya bangkrut, pailit dan, bankruptcy artinya kebangkrutan, kepailitan. Lihat juga : John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta : Gramedia, 1979). Selanjutnya, David K. Linnan menamakan kepailitan sebagai liquidation in bankcruptcy. Bandingkan : David K. Linnan, Indonesian Bankcruptcy Policy & Reform: Reconciling Efficiency and Economic Nationalism, (Singapura : Institute of Southeast Asian Studies Singapore, September 1999), hal. 6., Sementara, J. Armour menyebut kepailitan sebagai insolvency. Ia mengatakan: “insolvency means inability to pay creditors”. J. Armour, “The Law and Economics of Corporate Insolvency : A Review”, (Cambridge : ESRC Centre for Business Research University of Cambridge, Maret 2001), hal. 3. 10 Pasal 2 ayat (3) dan Penjelasannya, Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Loc.cit.
8

4

masyarakat yang disimpan pada bank atas dasar kepercayaan,11 maka prosedur kepailitan terhadap bank oleh Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang dibedakan dari prosedur kepailitan bagi badan usaha pada umumnya. Kreditor tidak dapat mengajukan permohonan pailit secara langsung kepada Pengadilan Niaga terhadap debitor yang merupakan bank. Kreditor tersebut harus mengajukan keinginannya kepada Bank Indonesia dan hanya Bank Indonesia yang dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit terhadap bank dimaksud ke pengadilan niaga. Dalam Penelitian ini akan di analisis mengenai alasan dibuatnya prosedur khusus kepailitan bank. Analisis akan difokuskan pada usaha bank karena mempunyai karakteristik khusus, yaitu selaku intermediary institution,12 sehingga terpeliharanya kepercayaan masyarakat terhadap bank yang merupakan hal yang sangat esensial bagi kelangsungan usaha bank harus benar-benar dijaga. Apabila bank dengan mudah dapat dimohonkan pailit oleh setiap kreditur, maka risikonya sangat tinggi, karena pengaturan kepailitan yang sederhana terhadap bank akan mengakibatkan kepercayaan masyarakat terhadap bank bisa menjadi hilang. Dapat dibayangkan bahwa ketika terdengar kabar suatu bank diajukan untuk dimohonkan pailit ke Pengadilan Niaga, maka nasabah penyimpan di bank tersebut akan segera berbondong-bondong antri untuk mengambil simpanannya (rush). Bahkan dampak lanjutan dari kondisi psikologis masyarakat ini dapat menimbulkan dampak berantai
Pasal 29 ayat (3), Undang-Undang No. 3 Tahun 2004 ttg Perubahan Atas Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4357. Lihat juga : Ross H. Mcleod, Indonesia Assessment 1994 : Finance as a Key Sector in Indonesia’s Development, (Singapura & Australia : Heng Mui Keng Terrace & Australian National University, 1994), hal. 132. 12 Ross H. Mcleod, Ibid.
11

5

kepada nasabah-nasabah bank lainnya, sehingga pada bank-bank lainnya juga dapat terjadi rush (contagion effect). Berdasarkan uraian yang dikemukakan diatas, penelitian ini menjadi penting sebagai ide perspektif hukum dalam upaya pemikiran yakni menguraikan kekhususan kepailitan terhadap Bank yang diatur dalam ketentuan kepailitan dikaitkan dengan fungsi bank dan peran Bank Indonesia dalam pengaturan dan pengawasan Bank dalam rangka memajukan perekonomian nasional.

B.

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi pokok permasalahan

dari penelitian ini, antara lain : 1. Bagaimana kedudukan Bank Indonesia dalam hal pengajuan permohonan pailit terhadap bank? 2. Bagaimana permasalahan hukum yang dihadapi Bank Indonesia sebagai bank sentral apabila menerapkan kepailitan pada Bank? 3. Bagaimana mekanisme hukum yang dapat digunakan oleh Kreditor dalam menyelesaikan piutangnya terhadap Bank?

C.

Tujuan Penelitian Tujuan utama yang hendak dicapai peneliti dalam melakukan penelitian ini

adalah sebagai berikut :

6

1. Untuk mengetahui dan menganalisis dasar yuridis kedudukan bank berupa prinsip-prinsip yang menyebabkan hanya Bank Indonesia yang dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit terhadap bank. 2. Untuk mengetahui dan menganalisis permasalahan hukum yang dihadapi Bank Indonesia apabila menerapkan kepailitan pada Bank 3. Untuk mengetahui dan menganalisis mekanisme hukum yang dapat digunakan oleh kreditor dalam menyelesaikan piutangnya terhadap Bank.

D.

Manfaat Penelitian Hasil penelitian yang dilakukan ini diharapkan dapat memberi manfaat, yaitu : 1. Kegunaan Teoritis : a. Sebagai bahan informasi bagi para akademisi maupun sebagai bahan pertimbangan bagi penelitian selanjutnya, khususnya hukum kepailitan dan hukum perbankan. b. Memperkaya khasanah kepustakaan dalam hal literatur mengenai kepailitan tentang permohonan pailit terhadap Bank yang hanya dilakukan oleh Bank Indonesia yang masih sedikit. 2. Kegunaan Praktis : a. Sebagai bahan masukan bagi kalangan terkait yaitu Akademisi, Praktisi Hukum Bisnis, Lembaga Pemerintah, Institusi Peradilan, dan Bank Indonesia dalam hal bersinergi dan berkolaborasi untuk menerapkan dan menegakkan ketentuan peraturan perundang-undangan hukum

7

kepailitan maupun peraturan lainnya yang memiliki relevansi dengan hukum bisnis di Indonesia. b. Sebagai bahan masukan bagi masyarakat (sebagai nasabah) agar memiliki pemahaman terhadap permohonan kepailitan oleh Bank Indonesia terhadap Bank agar tidak merasa khawatir apabila terjadi permohonan pailit kepada bank tempat masyarakat menyimpan uangnya.

E.

Keaslian Penelitian Hasil dari pemeriksaan penulisan tesis dan disertasi di Universitas Sumatera

Utara terdapat 32 (tiga puluh dua) judul yang membahas Kepailitan, namun tidak terdapat judul penelitian yang membahas Kepailitan terhadap Bank. Berdasarkan pemeriksaan tersebut maka tesis dengan judul “Analisis Yuridis Permohonan Pernyataan Pailit Terhadap Bank Dalam Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang” belum pernah dilakukan dalam topik dan permasalahan yang sama. Jadi Penelitian ini dapat disebut asli sesuai dengan asas-asas keilmuan yaitu, jujur, rasional dan objektif serta terbuka. Adapun beberapa penelitian yang memiliki karakteristik serupa tapi tidak sama, antara lain : 1. Berlian Napitupulu, “Analisis Juridis Likuidasi Bank di Indonesia (Studi Kasus di Kota Medan)”, Tesis yang dibuat di Medan pada Program Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara tahun 2004. Pada

8

tesis ini membahas mengenai akibat hukum yang timbul jika Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang jika diterapkan terhadap bank dan terhadap likuidasi bank; 2. Saraswati Jaya, “Perlindungan Hukum Terhadap Bank Sebagai Kreditor Pemegang Hak Tanggungan Dalam Penangguhan Eksekusi Jaminan Berkaitan Dengan Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang”, Tesis yang dibuat di Medan pada Program Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara tahun 2010. Pada tesis ini membahas mengenai eksekusi hak tanggungan, kedudukan kreditur, dan pelaksanaan eksekusi hak tanggungan.

Penulisan penelitian ini memiliki rumusan masalah dan tujuan penelitian yang berbeda. Begitu juga dengan kajiannya berupa pengajuan permohonan pailit oleh Bank Indonesia terhadap Bank, permasalahan hukum terhadap Bank Indonesia yang menerapkan ketentuan kepailitan pada Bank, dan mekanisme hukum yang digunakan oleh kreditor dalam menyelesaikan piutangnya terhadap bank. Pertanggung jawaban tersebut dapat berupa isi dan kajian yang dipaparkan dalam penelitian ini.

F.

Kerangka Teoritis dan Konsepsi 1. Kerangka Teori Kewangan Bank Indonesia sebagai institusi yang mempunyai kewenangan

dalam mengajukan kepailitan bank merupakan cerminan dari teori utilitarisme. Teori

9

tersebut untuk pertama kalinya dikembangkan oleh Jeremy Bentham13 (1748-1832) yang dalam karya tulisannya yang berjudul “An Introduction to the Principles of Morals and Legislation” menjelaskan bahwa suatu kebijaksanaan atau tindakan dinilai baik secara moral kalau hanya mendatangkan manfaat bagi orang sebanyak mungkin. 14 Dalam hal ini, utilitarisme sangat menekankan pentingnya konsekuensi perbuatan dalam menilai baik buruknya. Kualitas moral suatu perbuatan baik buruknya tergantung pada konsekuensi atau akibat yang dibawakan olehnya. Jika suatu perbuatan mengakibatkan manfaat paling besar, artinya paling memajukan kemakmuran, kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat, maka perbuatan itu adalah baik (the greatest good for the greatest number). Artinya, bahwa hal yang benar di definisikan sebagai hal yang memaksimalisasi apa yang baik atau meminimalisir apa yang berbahaya bagi kebanyakan orang.15 Jika perbuatan membawa lebih banyak kerugian daripada manfaat, perbuatan itu harus dinilai buruk. Konsekuensi perbuatan tersebut memang menentukan seluruh kualitas moralnya. Perbuatan yang memang bermaksud baik tetapi tidak menghasilkan apa-apa, menurut utilitarisme tidak pantas disebut baik. 16

Jeremy Bentham (1748-1832), karyanya Introduction to the Principles of Morals and Legislation, pertama kali diterbitkan tahun 1789 adalah karya klasik yang menjadi rujukan (locus classicus) tradisi utilitarian. Utilitarisme berasal dari kata Latin utilis yang berarti “manfaat”. Diktum Bentham yang selalu dikenang, yakni bahwa mereka diharapkan mampu memaksimalkan kebahagiaan terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Dalam : Ian Saphiro, Asas Moral dalam Politik, (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia bekerjasama dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat Jakarta dan Freedom Institute, 2006), hal. 13. 14 A. Sonny Keraf, Etika Bisnis Tuntutan dan Relevansinya, (Yogyakarta : Kanisius, 1998), hal. 93-94. 15 Erni R. Ernawan, Business Ethics : Etika Bisnis, (Bandung : Alfabeta, 2007), hal. 93. 16 K. Bertens, Pengantar Etika Bisnis, (Yogyakarta : Kanisius, 2000), hal. 67.

13

10

Moral biasanya mengacu pada baik-buruknya manusia sebagai manusia. Di samping itu, moralisme hukum paling baik dipahami sebagai pola alami institusional, yakni pola dari upaya untuk membuat nilai-nilai menjadi efektif untuk memberikan arahan bagi tingkah laku manusia. Moral dilegalisasi ketika ideal-ideal kebudayaan diidentikkan dengan suatu gambaran pasti mengenai tatanan sosial. Sehingga moralisme hukum bergerak ke arah hukum positif, yakni dengan memasukkan suatu kecenderungan untuk memberi sanksi ke dalam proses hukum. Prinsip Utilitarian menyatakan bahwa : ”An action is right from an ethical point of view if and only if the sum total of utilities produceed by that act is greater than the sum total of utilities produced by any other act the agent could have performed in its place”. (Terjemahan bebas : Suatu tindakan dianggap benar dari sudut pandang etis hanya jika jumlah total utilitas yang dihasilkan dari tindakan tersebut lebih besar dari jumlah utilitas total yang dihasilkan oleh tindakan lain yang dilakukan). 17 Menurut teori ini sesuatu adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan. Jadi utilitarianisme tidak boleh dimengerti dengan cara egoistis. Dalam rangka pemikiran utilitarisme kriteria untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan adalah kebahagiaan terbesar dari jumlah orang terbesar. Perbuatan yang mengakibatkan paling banyak orang merasa senang dan puas adalah perbuatan yang terbaik. 18 Hal ini dapat dipahami dari alasan diberikannya kewengan kepada Bank Indonesia untuk mengajukan kepailitan pada bank untuk melindungi kepentingan
Manuel G. Velasquez, Business Ethics : Concepts and Cares (Fifth Edition), (New Jersey : Pearson Education Inc., 2002), hal. 76 18 K. Bertens, Loc.cit, hal. 66.
17

11

ekonomi secara makro karena bank merupakan lembaga kepercayaan yang harus dijaga stabilitasnya oleh Bank Indonesia . Di berbagai negara, tugas menjaga stabilitas keuangan diemban oleh bank sentral, dengan dasar bahwa stabilitas moneter hanya dapat dicapai dengan sistem keuangan yang stabil. Dari sini dapat dilihat sudah seharusnya pemeliharaan stabilitas moneter dan stabilitas keuangan dilaksanakan secara simultan. Di Indonesia, memang tidak ada kerangka hukum yang secara formal dan definitif menyatakan bahwa Bank Indonesia memiliki fungsi dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. Namun perlu diingat, bahwa baik fungsi kestabilan moneter maupun fungsi kestabilan keuangan akan bermuara pada hal yang sama, yaitu stabilitas harga. 19 Dengan demikian, Bank Indonesia dalam menjalankan fungsi menjaga stabilitas moneter yang diatur secara eksplisit dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas UndangUndang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, secara simultan juga turut menjaga stabilitas keuangan. Atau dapat pula dikatakan bahwa tugas menjaga stabilitas sistem keuangan menjadi satu dengan tugas menjaga stabilitas sistem moneter.20 Sejalan dengan berlakunya Undang-Undang No. 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Bank Indonesia juga telah memasukkan aspek stabilitas sistem keuangan dalam misinya, yaitu memelihara stabilitas nilai rupiah dengan memelihara stabilitas moneter dan

Zulkarnain Sitompul, Perlindungan Dana Nasabah Bank: Suatu Gagasan tentang Pendirian Lembaga Penjaminan Simpanan di Indonesia, (Jakarta : Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2002), hal. 349. 20 Ibid.

19

12

mendorong stabilitas sistem keuangan untuk pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.21 Sehingga peranan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas keuangan bukanlah suatu hal untuk diperdebatkan lagi. Pelaksanaan tugas dan fungsi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas keuangan antara lain menjaga stabilitas moneter, menciptakan kinerja lembaga keuangan yang sehat, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, melakukan macroprudential surveillance dan mengembangkan riset untuk

pengembangan instrumen dan indicator macroprudential serta mendeteksi kerentanan sektor keuangan, serta yang tidak kalah pentingnya adalah melakukan fungsi lender of the last resort. 22 Sebagai lender of the last resort, bank sentral memilik peranan yang sangat besar dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. Lender of the last of resort merupakan instrumen pengawasan pada saat krisis, dimana bank sentral dapat memberikan bantuan kepada bank yang mengalami krisis likuiditas apabila ada potensi terjadi resiko sistemik. 23 Hal ini bertujuan untuk memulihkan kepercayaan sehingga menciptakan kredibilitas bank, sehingga stabilitas keuangan juga turut terjaga.

Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia, “Kerangka Acuan Tugas Penelitian dan Publikasi: Peran Bank Sentral dalam Stabilitas Sistem Keuangan dan Jaring Pengaman Sektor Keuangan”, (Jakarta : Bank Indonesia, Maret 2009). 22 Ibid. 23 Zulkarrnaen Sitompul, Op.cit., hal. 346. Lihat juga : Tobias M.C. Asser, Legal Aspects of Regulatory Treatment of Banks in Distress, (Washington DC : International Monetary Fund, 2001), hal. 20.

21

13

Kita dapat juga mengelaborasi pendapat dari H.L.A. Hart yang membagi hukum kedalam 2 bentuk. 24 Pertama, primary rule, yaitu aturan yang membebankan kewajiban dan penegakannya tergantung pada penerimaan mayoritas masyarakat. Kedua, secondary rule, yaitu aturan-aturan yang memberikan kekuasaan. Namun primary rule memiliki kelemahan-kelemahan berupa ketidakpastian, statis dan tidak efisien, dan untuk itu adalah menjadi fungsi dari secondary rule untuk menutupi kekurangan dari primary rule. Secondary rule terdiri atas rules of recognition, rules of change dan rules of adjudication. Rules of Recognition bertujuan untuk menilai apakah suatu norma dapat diterima sebagai peraturan atau tidak dalam masyarakat. Apabila tidak memenuhi rules of recognition ini, maka tidak dapat diterima sebagai peraturan. Oleh Hart, salah satu kriteria bagi rules of recognition adalah kembali menguji keabsahannya berdasarkan norma dasar yang berlaku. Apabila suatu norma yang telah disahkan ternyata bertentangan dengan norma dasar, maka melalui rules of change, norma itu dapat dicabut dan dapat diganti dengan yang baru.25 Di Indonesia, hal ini dapat diajukan dengan judicial review melalui Mahkamah Konstitusi. Dapat disimpulkan bahwa apabila berbagai undang-undang yang mengatur kewenangan yang sama dari berbagai badan, maka semua undang-undang tersebut akan dapat diuji keabsahan dan validitasnya sesuai dengan norma dasar yang berlaku. Dalam hal ini, pengaturan sektor keuangan misalnya, dilihat dari norma dasar, Bank Indonesia memiliki kekuatan yang sangat kuat dibandingkan dengan badan-badan

M.R. Zafer, Jurisprudence: An Outline, (Kuala Lumpur : International Law Book Services, 1994), hal. 17-18. Lihat juga : Hari Chand, Modern Jurisprudence, (Kuala Lumpur : International Law Book Services, 1994), hal. 54. 25 Ibid.

24

14

pengawas sektor keuangan lain seperti Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAMLK) dan Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS).26 Bank sentral yang independen dan otonom harus tetap dilihat sebagai bagian dari cabang kekuasaan eksekutif, namun terpisah untuk menjalankan kebijakannya yang khusus demi efisiensi, dan lepas dari campur tangannya. Konsep ini dikenal dengan teori the principal-agent.27 Independensi bank sentral terbatas pada kekuasaan yang ditentukan oleh undang-undang atau disepakati oleh pemerintah dan parlemen untuk didelegasikan kepada bank sentral. Dengan demikian, pemisahan adalah pemisahan fungsi, bukan pemisahan dalam arti politis. 28 Namun dari konsep independensi ini, terutama dengan pendekatan “principal-agent”, masih tersirat kesan bahwa bank sentral dalam menjalankan tugasnya, dapat sangat dipengaruhi oleh cabang eksekutif atau pemerintah sebagai principal. Alan S. Blinder menyatakan bahwa independensi bank sentral dapat berarti 2 (dua) hal. Pertama, bank sentral memiliki kebebasan untuk menentukan bagaimana untuk mencapai tujuannya. Kedua, keputusan-keputusan yang diambil olehnya sulit untuk dibatalkan oleh cabang-cabang atau lembaga pemerintahan lainnya.29 Kebebasan dalam menentukan bagaimana untuk mencapai tujuannya bukan berarti bahwa bank sentral dapat menentukan sendiri tujuannya, karena tujuan bank sentral secara umum tentu saja ditetapkan melalui legislasi yang disepakati bersama melalui

Bismar Nasution, “Aspek Hukum Peran Bank Sentral Dalam Stabilitas Sistem Keuangan (SSK)”, (Bank Indonesia : Laporan Hasil Penelitian, 2007). 27 Maqdir Ismail, Bank Indonesia : Independensi, Akuntabilitas dan Transparansi, (Jakarta: Fakultas Hukum Universitas Al-Azhar Indonesia, 1997), hal.142. 28 Ibid. 29 Alan S. Blinder, Central Banking in Theory and Practice, (Cambridge : The MIT Press, 1998), hal. 54.

26

15

suatu sistem demokrasi. Tapi yang dimaksud adalah bahwa bank sentral memiliki diskresi yang luas mengenai bagaimana menggunakan instrumen-instrumennya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan melalui undang-undang. 30 Lebih jauh lagi, Blinder menegaskan mengapa independensi bank sentral menjadi begitu penting. Kebijakan moneter menurut Blinder memerlukan yang ia sebut sebagai long time horizon, atau pandangan yang jauh kedepan.31 Hal ini karena, pertama, efek-efek yang dihasilkan dari suatu kebijakan moneter, seperti yang terkait dengan inflasi baru dapat dilihat setelah sekian waktu lamanya, sehingga para decision makers tidak bisa langsung melihat hasil kerja mereka. Kedua, kebijakankebijakan moneter memiliki karakteristik yang sama seperti halnya aktivitas investasi, yaitu memerlukan sesuatu dibayar dimuka, dan akan mendapatkan hasil secara berkala setelah sekian waktu. 32 Teori lain yang akan digunakan sebagai pisau analisis dalam penelitian ini adalah teori yang dikemukakan oleh Leonard J. Theberge dalam tulisannya “Law and Economic Development” berpendapat ada 5 (lima) fungsi atau kualitas hukum dalam pembangunan ekonomi yaitu
33

:

1. “Predictability; kualitas hukum dapat menciptakan prediktabilitas terhadap perubahan dengan adanya globalisasi dibidang ekonomi, sehingga menjamin adanya kepastian hukum dalam dunia usaha khususnya pengembalian utang atas pemberian pinjaman (investasi). 2. Stability; kualitas hukum untuk menciptakan keseimbangan antara kepentingan para kreditor dan debitor dalam rangka persaingan dalam pengembangan dunia usaha.
Ibid. Ibid., hal. 55. 32 Ibid. 33 Leonard J. Theberge, “Law and Economic Development”, dalam “Peranan Hukum dalam Pembangunan Ekonomi 2”, dikumpulkan oleh : Erman Rajagukguk, (Jakarta : UI,1995), hal. 352
31 30

16

3. Fairness; kualitas hukum dalam mengatur prosedur yang menciptakan perlakuan yangsama antara kepentingan pemerintah disatu pihak dan kepentingan masyarakat dunia usaha di pihak lain, sehingga tercapai keadilan atau perlakuan yang seimbang dibidang hukum publik dan bidang hukum perdata. 4. Education; fungsi edukasi melalui program sosialisasi menjelaskan perubahan/perkembangan peraturan perundang-undangan kepada masyarakat. 5. Special development abilities of the lawyer; hukum dapat berperan bilamana tersedia sarjana hukum yang memiliki kemampuan mlihat hubungan hukum dan pembangunan dunia usaha untuk kesejahteraan masyarakat”. Prediktabilitas (predictability) jika dikaitkan dengan penelitian ini adalah bahwa Bank Indonesia sebagai otoritas perbankan dalam mengatur bank-bank yang ada Indonesia harus mengeluarkan peraturan-peraturan yang dapat ditebak. Maksudnya adalah pengajuan pernyataan pailit oleh Bank Indonesia dilakukan karena Bank Indonesia adalah bank sentral untuk Indonesia. Jadi, dengan begitu yang mengatur dan mengawasi kegiatan-kegiatan perbankan antar bank adalah bank Indonesia. Dengan kata lain, yang dapat memailitkan sebuah bank adalah Bank Indonesia saja. Jadi, dari otoritas regulator lembaga perbankan yang mempunyai peraturan yang bisa ditebak maka selanjutnya peraturan tersebut tidak boleh berubah-ubah. Dengan demikian, bank-bank yang ada di Indonesia akan dengan mudah memprediksikan bagaimana pengaturan perbankan ke depannya. Khususnya mengenai pengaturan pengajuan pernyataan pailit oleh Bank Indonesia kepada Bank. Tujuannya adalah agar nasabah tidak panik dalam hal ini jika bukan Bank Indonesia yang mengajukan pailit terhadap bank yang ada, maka sudah dipastikan kondisi keuangan bank tersebut akan collapse. Inilah yang dihindari oleh Bank Indonesia sebagai penanggung jawab kelangsungan dunia perbankan.

17

Diharapkan kepada Bank Indonesia agar berlaku adil dalam mengawasi contohnya dalam pencabutan izin-izin usaha pada Bank. Jika, keadilan hukum terpenuhi maka dipastikan kepastian hukum akan tercapai. Karena tujuan kepastian hukum adalah keadilan yang bermanfaat bagi Bank. Dengan perlakuan Bank Indonesia yang adil maka akan dapat mengembangkan Bank yang ada. Seperti perlakuan pemberian kredit pada setiap bank yang memohon kepada Bank Indonesia. Bank Indonesia tidak boleh bersikap subjektif melainkan harus objektif dalam pengambilan keputusan untuk pemberian kredit pada Bank. Setelah perlakuan yang adil kepada Bank maka selanjutnya adalah pendidikan hukum bagi Sumber Daya Manusia (SDM) Bank Indonesia itu sendiri. Pada Bank Indonesia pastilah memiliki staff karyawan yang bekerja pada institusi tersebut. Dengan begitu pendidikan hukum kepada setiap staff karyawan dinilai sangat penting untuk menunjang penerapan stability, predictability, dan fairness. Begitu juga dengan pendidikan spesialis hukum, dalam hal ini untuk mendukung pendidikan hukum. Jika pendidikan hukum sudah tercapai maka spesialisasi pendidikan hukum diharapkan akan ikut tercapai juga. Setelah Sumber Daya Manusia (SDM) diberikan pendidikan hukum maka pastilah akan menuntut pendalaman kajian hukum, yaitu spesialisasi terhadap huum. Seperti mengenai spesialisasi hukum asuransi, hukum perbankan, dan lain sebagainya. Beralih ke pengajuan pernyataan pailit oleh Bank Indonesia maka tujuan dari kepailitan adalah untuk melakukan pembagian kekayaan milik debitor kepada para kreditornya dengan melakukan sitaan bersama dan kekayaan debitor dapat dibagikan kepada kreditor sesuai dengan haknya. Berkaitan dengan ini berlaku ketentuan Pasal

18

1131 dan Pasal 1132 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang mengatur dan memberikan kedudukan para kreditor sebagai kreditor konkuren sehingga boedel pailit akan dibagikan kepada para kreditor secara seimbang. Selain itu fungsi dari hukum kepailitan adalah untuk mencegah kreditor melakukan kesewenang-wenangan untuk memaksa debitor agar membayar utangnya. Menurut Rudhi Prasetya, adanya lembaga kepailitan berfungsi untuk mencegah kesewenang-wenangan pihak kreditor yang memaksa dengan berbagai cara agar debitor membayar utangnya.34 Menurut Radin, dalam bukunya The Nature of Bankruptcy sebagaimana dikutip oleh Jordan, et.al., tujuan semua peraturan perundangan tentang kepailitan adalah untuk memberikan suatu forum kolektif untuk memilah-milah hak-hak dari beberapa penagih terhadap aset seorang debitor yang tidak cukup nilainya.35 Kepailitan diatur melalui Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Azas yang terkandung dalamnya, antara lain 36 : 1. Azas Keseimbangan adalah azas yang menentukan bahwa ketentuan tersebut mencegah terjadinya penyalahgunaan pranata dan lembaga kepailitan baik oleh debitor yang tidak jujur maupun oleh oleh kreditor yang tidak beritikad baik.

Rudhi Prasetya, Likuidasi Sukarela Dalam Hukum Kepailitan, Makalah Seminar Hukum Kebangkrutan, (Jakarta : Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman RI, 1996), hal. 1-2. 35 Bagus Irawan, Aspek-Aspek Hukum Kepailitan; Perusahaan; dan Asuransi, (Bandung : Alumni, 2007), hal. 29. 36 Penjelasan Atas Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Op.cit.

34

19

2. Azas Kelangsungan mengandung arti bahwa ketentuan tersebut mengatur kemungkinan perusahaan debitor yang prospektif tetap dilangsungkan. 3. Azas Keadilan mengandung pengertian bahwa ketentuan mengenai kepailitan dapat memenuhi rasa keadilan bagi para pihak yang berkepentingan. Azas keadilan ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kesewenang-wenangan pihak penagih yang mengusahakan pembayaran atas tagihan masing-masing terhadap debitor, dengan tidak memperdulikan kreditor lainnya. 4. Azas Integritas mengandung pengertian bahwa sistem hukum formil dan hukum materilnya merupakan satu kesatuan yang utuh dari sistem hukum perdata dan hukum acara perdata nasional.

2.

Kerangka Konsep Dalam melakukan penelitian tesis ini, perlu dijelaskan beberapa istilah di

bawah ini sebagai definisi operasional dari konsep-konsep yang dipergunakan. Hal ini digunakan untuk menghindari kesalahan pemahaman terhadap konsep-konsep yang dipergunakan dalam penelitian ini, maka akan dipaparkan definisi operasional dari konsepsi yang digunakan, yaitu : 1. Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan Debitor Pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh Kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas, sebagaimana diatur dalam undang-undang;37 2. Pailit adalah suatu keadaan yang tidak mampu untuk membayar atau dengan kata lain “ketidakmampuan untuk membayar” dari seorang (debitor) atas
37

Pasal 1 angka 1, Ibid.

20

utang-utangnya yang telah jatuh tempo. Ketidakmampuan tersebut harus disertai dengan suatu tindakan nyata untuk mengajukan ke pengadilan, baik yang dilakukan secara sukarela oleh debitor sendiri maupun atas permintaan pihak ketiga (di luar debitor), suatu permohonan pernyataan pailit ke pengadilan; 38 3. Bank adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran;39 4. Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) adalah suatu masa yang diberikan oleh undang-undang melalui putusan hakim niaga dimana masa tersebut kepada pihak kreditor dan debitor diberikan kesempatan untuk memusyawarahkan cara-cara pembayaran hutangnya dengan memberikan rencana pembayaran seluruh atau sebagian utangnya, termasuk apabila perlu untuk merestrukturisasi hukum tersebut;40 5. Wewenang adalah hak untuk melakukan sesuatu atau memerintah orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu agar tercapai tujuan tertentu;41 6. Kreditor adalah orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau undang-undang yang dapat ditagih di muka pengadilan;42

Henry Campbell Black and Bryan A. Garner, Black’s Law Dictionary (Standard Edition), Edisi Kesembilan, (Amerika Serikat : West Group, 2009). 39 Pasal 1 angka 3, Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3790. 40 Pasal 222-264, Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Op.cit. 41 Kamus Bahasa Indonesia Online, “Wewenang”, http://kamusbahasaindonesia.org/wewenang., diakses pada 12 Mei 2011.

38

21

7. Mekanisme Hukum adalah cara kerja peraturan perundang-undangan. Jika yang satu bergerak maka yang lain ikut bergerak. Atau dengan kata lain adalah tata cara dari ketentuan yang dibuat oleh penguasa atau otoritas tertentu;43 8. Bank Indonesia adalah bank sentral Republik Indonesia atau badan hukum sebagai lembaga negara yang independen, bebas dari campur tangan Pemerintah dan atau pihak-pihak lainnya, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia;44 9. Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) adalah sistem keuangan yang kuat dan tahan terhadap berbagai gangguan ekonomi sehingga tetap mampu melakukan fungsi intermediasi, melaksanakan pembayaran, dan menyebar risiko secara baik. Atau stabilitas keuangan yang stabil mampu mengalokasikan sumber dana dan menyerap kejutan (shock) yang terjadi sehingga dapat mencegah gangguan terhadap kegiatan sektor riil dan sistem keuangan. Dengan kata lain, dapat dikatakan suatu kondisi dimana mekanisme ekonomi dalam penetapan harga, alokasi dana dan pengelolaan risiko berfungsi secara baik dan mendukung pertumbuhan ekonomi;45

Pasal 1 ayat (2), Loc.cit. Kamus Bahasa Indonesia Online, “Mekanisme”, http://kamusbahasaindonesia.org/mekanisme., diakses pada 12 Mei 2011. 44 Pasal 4 ayat (1), (2), (3), Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Op.cit. 45 Bank Indonesia, “Definisi Stabilitas Sistem Keuangan”, http://www.bi.go.id/web/id/Perbankan/Stabilitas+Sistem+Keuangan/Ikhtisar/Definisi+SSK/., diakses pada 12 Mei 2011.
43

42

22

10. Bank Bermasalah (problem bank troubled bank) adalah bank yang mempunyai rasio atau nisbah kredit tidak lancar yang tinggi apabila dibandingkan dengan modalnya. Arti lain dari bank bermasalah adalah bank yang dari hasil pemeriksaan nilai CAMEL berada pada posisi empat (kurang sehat) atau lima (tidak sehat) pada daftar urutan kondisi bank; penilaian tersebut tidak disebarluaskan ke masyarakat; bank bermasalah akan lebih sering diperiksa daripada bank yang berkondisi sehat; 46 11. Bank Dalam Likuidasi adalah bank yang telah dicabut izin usahanya karena tidak dapat memenuhi persyaratan yang ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun 1996 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran, dan Likuidasi Bank karena dianggap tidak mungkin diselamatkan lagi meskipun telah dilakukan berbagai upaya penyehatan (liquidated bank);47 12. Insolvensi adalah suatu keadaan dimana debitur dinyatakan benar-benar tidak mampu membayar, atau dengan kata lain harta debitur lebih sedikit jumlahnya dengan hutangnya.48

Ralona M., Kamus Istilah Ekonomi Populer, (Jakarta : Gorga Media, 2006), hal. 30. Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun 1996 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3659. 48 Penjelasan Pasal 57 ayat (1), Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Op.cit.
47

46

23

G.

Metode Penelitian Penelitian merupakan salah satu cara yang tepat untuk memecahkan masalah,

selain itu penelitian juga dapat digunakan untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran. Dilaksanakan untuk mengumpulkan data guna memperoleh pemecahan masalah atau mendapatkan jawaban atas pokok-pokok permasalahan yang dirumuskan, sehingga diperlukan rencana yang sistematis, metodelogi merupakan suatu logika yang menjadi dasar suatu penelitian ilmiah. Oleh karenanya pada saat melakukan penelitian seseorang harus memperhatikan ilmu pengetahuan yang menjadi induknya.49 Pada penelitian hukum ini, peneliti menjadikan bidang ilmu hukum sebagai landasan ilmu pengetahuan induknya. Oleh karena itu, maka penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum. Menurut Soerjono Soekanto yang dimaksud dengan penelitian hukum adalah kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika, dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau segala hukum tertentu dengan jalan menganalisanya.50 Maka penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan juridis normatif. Dengan demikian objek penelitian adalah norma hukum yang terwujud dalam kaidah-kaidah hukum dibuat dan ditetapkan oleh pemerintah dalam sejumlah peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang terkait secara langsung dengan Bank Indonesia. Dalam penelitian hukum juga dilakukan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta-fakta hukum untuk

Soemitro Ronny Hanintijo, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurumetri, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1998), hal. 9. 50 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : Universitas Indonesia, 1986), hal. 43.

49

24

selanjutnya digunakan dalam menjawab permasalahan-permasalahan. Agar mendapat hasil yang lebih maksimal maka peneliti melakukan penelitian hukum dengan mengunakan metode-metode sebagai berikut :

1.

Jenis dan Sifat Penelitian Penelitian mengenai ”Analisis Yuridis Permohonan Pernyataan Pailit

Terhadap Bank Dalam UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang” merupakan penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif, yang ditujukan untuk menemukan aturan-aturan hukum pada bidang Hukum Kepailitan berdasarkan Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang yang dapat memberikan kejelasan mengenai permohonan pailit terhadap Bank. Selanjutnya karena kekhususan kepailitan terhadap Bank maka akan dianalisis Undang-Undang No. 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia dan Undang-Undang Republik Indonesia No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan.
Sifat penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitis karena penelitian untuk mengagambarkan dan menganalisa masalah yang ada dan termasuk dalam jenis penelitian kepustakaan (library research) yang akan disajikan secara deskriptif. Deskriptif disini ditujukan untuk menggambarkan secara tepat, akurat, dan sistematis gejala-gejala hukum terkait dengan pernyataan pailit oleh Bank Indonesia kepada bankbank umum, konvensional maupun syariah.

25

2.

Sumber Bahan Hukum Penelitian hukum normatif yang menititikberatkan pada studi kepustakaan dan

berdasarkan pada data sekunder, maka sumber bahan hukum yang digunakan dapat dibagi ke dalam beberapa kelompok, yaitu : 1. Bahan hukum primer, meliputi seluruh peraturan perundang-undangan yang relevan dengan permasalahan dan tujuan penelitian, antara lain : a. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek); b. Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang; c. Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia; d. Undang-Undang No. 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas UndangUndang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia; e. Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan; f. Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas UndangUndang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan; g. Undang-Undang No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan;51 h. Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas;52

Undang-Undang No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4420. 52 Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4756.

51

26

i. Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun 1996 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank; j. Putusan Pengadilan Niaga mengenai perkara permohonan pailit terhadap Bank.

3.

Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data mempunyai hubungan erat dengan sumber data, karena

dengan pengumpulan data akan diperoleh data yang diperlukan untuk selanjutnya dianalisis sesuai kehendak yang diharapkan. Berkaitan dengan hal tersebut, dalam penelitian ini penulis menggunakan metode pengumpulan data kepustakaan (library research).53 Studi kepustakaan dipergunakan terutama untuk mengumpulkan datadata berupa peraturan perundang undang dan kebijakan kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia berupa Peraturan Bank Indonesia yang terkait dengan masalah pengawasan bank.

4.

Analisis Data

Analisis data merupakan proses pengorganisasian dan mengurutkan data ke dalam kategori-kategori dan satuan uraian dasar, sehingga ditemukan tema dan dapat
Menurut Bambang Sunggono, studi kepustakaan dapat membantu peneliti dalam berbagai keperluan, misalnya : a) Mendapatkan gambaran atau informasi tentang penelitian yang sejenis dan berkaitan dengan permasalahan yang diteliti; b) Mendapatkan metode, teknik, atau cara pendekatan pemecahan permasalahan yang digunakan; c) Sebagai sumber data sekunder; d) Mengetahui historis dan perspektif dari permasalahan penelitiannya; e) Mendapatkan informasi tentang cara evaluasi atau analisis data yang dapat digunakan; f) Memperkaya ide-ide baru; dan g) Mengetahui siapa saja peneliti lain di bidang yang sama dan siapa pemakai hasil penelitian tersebut, seperti yang dikemukakan Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta : Rajawali Press, 2010), hal. 112-113.
53

27

dirumuskan hipotesis kerja, seperti yang disaran oleh data. 54 Analisa data yang akan dilakukan secara kualitatif. 55 Kegiatan ini diharapkan akan dapat memudahkan penulis dalam menganalisa permasalahan yang diajukan, menafsirkan dan kemudian menarik kesimpulan. Analisa kualitatif dilakukan terhadap paradigma hubungan

dinamis antara teori, konsep-konsep dan data yang merupakan umpan balik atau modifikasi yang tetap dari teori dan konsep yang didasarkan pada data yang dikumpulkan. Hal ini dilakukan sehubungan data yang dianalisis beraneka ragam, memiliki sifat dasar yang berbeda satu dengan yang lainnya. Analisis dilakukan secara holistik56 dan integral untuk menemukan hubungan logis antara berbagai konsep hukum yang sudah ditemukan dengan menggunakan kerangka teoritis yang relevan. Dalam hal ini yang akan diuji hubungan logisnya antara lain meliputi hubungan antara Bank Indonesia, Kepailitan, Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pengajuan Pernyataan Pailit, dan lain-lain yang ditemukan dalam penelitian. Melalui pendekatan holistik dalam ilmu hukum, maka ilmu hukum dapat menjalankan perkembangannya sebagai suatu ilmu pengetahuan yang lebih utuh dan tidak terintegrasi ke dalam ilmu-ilmu lain yang nantinya akan berakibat bagi
54

Analisa data menurut Patton adalah proses mengatur urutan data, mengorganisaikan ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar. Analisa berbeda dengan penafsiran yang memberikan arti yangsignifikan terhadap hasil analisis, menjelaskan pola uraian dan mencari hubungan diantara dimensi dimensi uraian. Dalam : Lexy J. Moleong, Metodelogi Penelitian Kualitatif, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2004), hal 280 55 Ibid., hal. 281. 56 Menurut Dilthey, holistik adalah hubungan melingkar antara part (bagian) dan whole (keseluruhan) sebagai perputaran antara bagian dan keseluruhan dalam memahami sesuatu. Bagian yang satu dapat dipahami apabila direlasikan dengan bagian yang lain sehingga membentuk totalitas atau keseluruhan, dalam Yusran Darmawan, ”Membincang Holistik dalam Antropologi”, http://timurangin.blogspot.com/2009/08/membincang-holistik-dalam-antropologi.html., diakses pada 12 Mei 2011.

28

perkembangan ilmu hukum itu sendiri, oleh sebab itu paradigma tersebut tentunya akan mengubah peta hukum dan pembelajaran hukum selama ini memandu kita dalam setiap kajian-kajian ilmu hukum yang lebih baik dalam prinsip keilmuan.57 Pendekatan secara integral maksudnya adalah suatu konsep yang meliputi seluruh bagian dari Bank Indonesia dan permohonan pernyataan pailit agar menjadikan sebuah penelitian itu lengkap dan sempurna.58 Penarikan kesimpulan dilakukan dengan menggunakan logika berfikir deduktif – induktif yaitu dilakukan dengan teori yang digunakan dijadikan sebagai titik tolak untuk melakukan penelitian. Deduktif artinya menggunakan teori sebagai alat, ukuran dan bahkan instrumen untuk membangun hipotesis, sehingga secara tidak langsung akan menggunakan teori sebagai pisau analisis dalam melihat masalah dalam kebijakan yang dibuat oleh Bank Indonesia. Teorisasi induktif adalah menggunakan data sebagai awal pijakan melakukan penelitian, bahkan dalam format induktif tidak mengenal teorisasi sama sekali artinya teori dan teorisasi bukan hal yang penting untuk dilakukan. Maka deduktif – induktif adalah penarikan kesimpulan didasarkan pada teori yang digunakan pada awal penelitian dan data-data yang didapat sebagai tunjangan pembuktian teori tersebut apakah : 1) hasil-hasil penelitian ternyata mendukung teori tersebut sehingga hasil penelitian dapat memperkuat teori yang ada; 2) apakah teori dalam posisi dapat dikritik karena telah mengalami perubahan-perubahan disebabkan karena waktu yang berbeda, lingkungan yang
Satjipto Rahardjo, “Pendekatan Holistik Terhadap Hukum”, (Jurnal Progresif, Vol. 1 No. 2), hal. 5, dalam Ronny Junaidy K., “Ilmu Hukum dalam Perspektif Ilmu Pengetahuan Modern”, http://www.legalitas.org/content/ilmu-hukum-dalam-perspektif-ilmu-pengetahuan-modern., diakses pada 12 Mei 2011. 58 Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, “Integral”, http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php., diakses pada 12 Mei 2011.
57

29

berbeda, atau fenomena yang telah berubah, untuk itu perlu dikritik dan direvisi teori yang digunakan tadi; 3) apakah membantah teori yang digunakan untuk penelitian berdasarkan hasil penelitian, maka semua aspek teori tidak dapat dipertahankan karena waktu, lingkungan, dan fenomena yang berbeda, dengan demikian teori tidak dapat dipertahankan atau direvisi lagi, karena itu teori tersebut harus ditolak kebenarannya dengan menggunakan teori baru.59

Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif : Komunikasi Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya, Edisi I, Cetakan 3, (Jakarta : Kencana, 2009), hal. 26-29.

59

30

BAB II KEDUDUKAN BANK INDONESIA DALAM HAL PENGAJUAN PERMOHONAN PAILIT TERHADAP BANK

A.

Ketentuan Kedudukan Bank Indonesia sebagai Bank Sentral Di berbagai negara, tugas menjaga stabilitas keuangan diemban oleh bank

sentral, dengan dasar bahwa stabilitas moneter hanya dapat dicapai dengan sistem keuangan yang stabil. Dari sini dapat dilihat sudah seharusnya pemeliharaan stabilitas moneter dan stabilitas keuangan dilaksanakan secara simultan. Di Indonesia, memang tidak ada kerangka hukum yang secara formal dan definitif menyatakan bahwa Bank Indonesia memiliki fungsi dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. Namun perlu diingat, bahwa baik fungsi kestabilan moneter maupun fungsi kestabilan keuangan bermuara pada hal yang sama, yaitu stabilitas harga. 60 Dengan demikian, Bank Indonesia dalam menjalankan fungsi menjaga stabilitas moneter yang diatur secara eksplisit dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, secara simultan juga turut menjaga stabilitas keuangan. Atau dapat pula dikatakan bahwa tugas menjaga stabilitas sistem keuangan menjadi satu dengan tugas menjaga stabilitas sistem moneter.61 Sejalan dengan berlakunya peraturan Bank Indonesia, Bank Indonesia juga telah memasukkan aspek stabilitas sistem keuangan dalam misinya, yaitu memelihara stabilitas nilai rupiah dengan memelihara stabilitas

60 61

Zulkarnain Sitompul, Op.cit., hal. 349. Ibid.

31

moneter dan mendorong stabilitas sistem keuangan untuk pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.62 Sehingga peranan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas keuangan bukanlah suatu hal untuk diperdebatkan lagi. Pelaksanaan tugas dan fungsi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas keuangan antara lain menjaga stabilitas moneter, menciptakan kinerja lembaga keuangan yang sehat, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, melakukan macroprudential surveillance dan mengembangkan riset untuk pengembangan instrumen dan indicator macroprudential serta mendeteksi kerentanan sektor keuangan, serta yang tidak kalah pentingnya adalah melakukan fungsi lender of the last resort.63 Sebagai lender of the last resort, bank sentral memilik peranan yang sangat besar dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. Lender of the last of resort merupakan instrumen pengawasan pada saat krisis, dimana bank sentral dapat memberikan bantuan kepada bank yang mengalami krisis likuiditas apabila ada potensi terjadi resiko sistemik. 64 Hal ini bertujuan untuk memulihkan kepercayaan sehingga menciptakan kredibilitas bank, sehingga stabilitas keuangan juga turut terjaga. Sebagai otoritas moneter, perbankan dan sistem pembayaran, tugas utama Bank Indonesia tidak saja menjaga stabilitas moneter, namun juga stabilitas sistem keuangan (perbankan dan sistem pembayaran). Keberhasilan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas moneter tanpa diikuti oleh stabilitas sistem keuangan, tidak akan

62 63 64

Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia, Op.cit. Ibid. Zulkarrnaen Sitompul, Op.Cit, hal. 346. Lihat juga : Tobias M.C. Asser, Op.cit., hal. 20.

32

banyak artinya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Stabilitas moneter dan stabilitas keuangan ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Kebijakan moneter memiliki dampak yang signifikan terhadap stabilitas keuangan begitu pula sebaliknya, stabilitas keuangan merupakan pilar yang mendasari efektivitas kebijakan moneter. Sistem keuangan merupakan salah satu alur transmisi kebijakan moneter, sehingga bila terjadi ketidakstabilan sistem keuangan maka transmisi kebijakan moneter tidak dapat berjalan secara normal. Sebaliknya, ketidakstabilan moneter secara fundamental akan mempengaruhi stabilitas sistem keuangan akibat tidak efektifnya fungsi sistem keuangan. Inilah yang menjadi latar belakang mengapa stabilitas sistem keuangan juga masih merupakan tugas dan tanggung jawab Bank Indonesia. Secara konsep istilah ”sentral” dalam ”bank sentral” mengandung pengertian bahwa bank tersebut mengemban tugas sebagai pelayan publik yang bersifat memenuhi kepentingan umum (Public Purpose).65 Hal ini memberikan indikasi bahwa bank sentral tersebut tidak mencari keuntungan, tetapi mempengaruhi pasar uang dan memberi efek terhadap struktur perbankan pada umumnya.66 Sebagai suatu lembaga negara yang independen, Bank Indonesia mempunyai otonomi penuh dalam merumuskan dan melaksanakan setiap tugas dan wewenangnya sebagaimana ditentukan dalam undang-undang tersebut. Pihak luar tidak dibenarkan mencampuri pelaksanaan tugas Bank Indonesia, dan Bank Indonesia juga berkewajiban untuk
Satjipto Rahardjo, et.al., Bank Indonesia dalam Kilasan Sejarah, (Jakarta : Pustaka LP3ES Indonesia, 1995), hal. 21. 66 Hendra Nurtjahjo, et.al., Eksistensi Bank Sentral Dalam Konstitusi Berbagai Negara (Pembahasan Kemandirian Bank Indonesia dalam Perspektif Hukum Tata Negara), (Depok : Pusat Studi Hukum Tata Negara, 2002), hal. 27.
65

33

menolak atau mengabaikan intervensi dalam bentuk apapun dari pihak manapun juga. Status dan kedudukan yang khusus tersebut diperlukan agar Bank Indonesia dapat melaksanakan peran dan fungsinya sebagai otoritas moneter secara lebih efektif dan efisien. Sebagai lembaga yang independen, Bank Indonesia mempunyai otonomi penuh dalam pelaksanaan tugasnya. Secara struktural Bank Indonesia berada diluar pemerintah sehingga dapat mengeliminir adanya intervensi terhadap pelaksanaan tugas Bank Indonesia baik yang berasal dari pemerintah maupun pihak lain.67 Bank Indonesia mempunyai satu tujuan tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah ini mengandung dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang negara lain.68 Aspek pertama tercermin pada perkembangan laju inflasi, sementara aspek kedua tercermin pada perkembangan nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain. Perumusan tujuan tunggal ini dimaksudkan untuk memperjelas sasaran yang harus dicapai Bank Indonesia serta batas-batas tanggung jawabnya. Dengan demikian, tercapai atau tidaknya tujuan Bank Indonesia ini kelak akan dapat diukur dengan mudah.

Barno Sudarwanto, “Mengupayakan Bank Indonesia yang Independen”, 15 Desember 2009, dalam ”Peranan Bank Indonesia Sebagai Last Money Lender”, http://sandipieceofmind.blogspot.com/2010/01/peranan-bank-indonesia-sebagai-last.html., diakses pada 13 Mei 2011. 68 Bank Indonesia, ”Tujuan dan Tugas Bank Indonesia”, http://www.bi.go.id/web/id/Tentang+BI/Fungsi+Bank+Indonesia/Tujuan+dan+Tugas/., diakses pada 13 Mei 2011.

67

34

Untuk mencapai tujuan tersebut Bank Indonesia didukung oleh tiga pilar yang merupakan tiga bidang tugasnya. Ketiga bidang tugas ini, antara lain 69 : 1. Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter. 2. Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran; dan 3. Mengatur dan mengawasi perbankan di Indonesia”. Ketiganya perlu diintegrasi agar tujuan mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dalam rangka menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter Bank Indonesia berwenang untuk70 : 1. ”Kewenangan memberikan izin (right to license), yaitu kewenangan untuk menetapkan tata cara perizinan dan pendirian suatu bank. Cakupan pemberian izin oleh Bank Indonesia meliputi pemberian izin dan pencabutan izin usaha bank, pemberian izin pembukaan, penutupan dan pemindahan kantor bank, pemberian persetujuan atas kepemilikan dan kepengurusan bank, pemberian izin kepada bank untuk menjalankan kegiatan-kegiatan usaha tertentu; 2. Kewenangan untuk mengatur (right to regulate), yaitu kewenangan untuk menetapkan ketentuan yang menyangkut aspek usaha dan kegiatan perbankan dalam rangka menciptakan perbankan sehat yang mampu memenuhi jasa perbankan yang diinginkan masyarakat; 3. Kewenangan untuk mengawasi (right to control), yaitu kewenangan melakukan pengawasan bank melalui pengawasan langasung (on-site supervision) dan pengawasan tidak langsung (off-site supervision). Pengawasan langsung dapat berupa pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang keadaan keuangan bank dan untuk memantau tingkat kepatuhan bank terhadap peraturan yang berlaku serta untuk mengetahui apakah terdapat praktikpraktik tidak sehat yang membahayakan kelangsungan usaha bank. Pengawasan tidak langsung yaitu pengawasan melalui alat pemantauan seperti laporan berkala yang disampaikan bank, laporan hasil pemeriksaan dan informasi lainnya. Dalam pelaksanaannya, apabila Bank Indonesia dapat melakukan pemeriksaan terhadap bank termasuk pihak lain yang meliputi
Pasal 8, Undang-Undang No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Op.cit. Bank Indonesia, “Tujuan Pengaturan dan Pengawasan Bank”, http://www.bi.go.id/web/id/Perbankan/Ikhtisar+Perbankan/Pengaturan+dan+Pengawasan+Bank/Tujua n+dan+Kewenangan/., diakses pada 13 Mei 2011.
70 69

35

perusahaan induk, perusahaan anak, pihak terkait, pihak terafiliasi dan debitur bank. Bank Indonesia dapat menugasi pihak lain untuk dan atas nama Bank Indonesia melaksanakan tugas pemeriksaan; 4. Kewenangan untuk mengenakan sanksi (right to impose sanction), yaitu kewenangan untuk menjatuhkan sanksi sesuai dengan ketentuan perundangundangan terhadap bank apabila suatu bank kurang atau tidak memenuhi ketentuan. Tindakan ini mengandung unsur pembinaan agar bank beroperasi sesuai dengan azas perbankan yang sehat”. Dalam pelaksanaan tugas ini, Bank Indonesia berwenang menetapkan ketentuan-ketentuan perbankan dengan menjunjung tinggi prinsip kehati-hatian. Pengawasan yang dilakukan oleh Bank Indonesia terhadap bank umum dilaksanakan secara langsung ataupun tidak langsung. Pengawasan langsung adalah dalam bentuk pemeriksaan yang disusul dengan tindakan-tindakan perbaikan. Pengawasan tidak langsung terutama dalam bentuk pengawasan dini melalui penelitian, analisis, dan evaluasi laporan bank. Berkaitan dengan kewenangan di bidang perizinan, selain memberikan dan mencabut izin usaha bank, Bank Indonesia juga dapat memberikan izin pembukaan, penutupan dan pemindahan kantor bank, memberikan persetujuan atas kepemilikan dan kepengurusan bank, serta memberikan izin kepada bank untuk menjalankan kegiatan-kegiatan usaha tertentu. Selanjutnya adalah peranan Bank Indonesia dalam memelihara Stabilitas Sistem Keuangan (SSK). Sebagai bank sentral, Bank Indonesia memiliki 5 (lima) peran utama dalam menjaga Stabitas Sistem Keuangan (SSK). Kelima peran utama

36

tersebut mencakup kebijakan dan instrumen dalam menjaga stabilitas sistem keuangan itu, antara lain 71 : 1. ”Bank Indonesia memiliki tugas untuk menjaga stabilitas moneter antara lain melalui instrumen suku bunga dalam operasi pasar terbuka. Bank Indonesia dituntut untuk mampu menetapkan kebijakan moneter secara tepat dan berimbang. Hal ini mengingat gangguan stabilitas moneter memiliki dampak langsung terhadap berbagai aspek ekonomi. Kebijakan moneter melalui penerapan suku bunga yang terlalu ketat, akan cenderung bersifat mematikan kegiatan ekonomi. Begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, untuk menciptakan stabilitas moneter, Bank Indonesia telah menerapkan suatu kebijakan yang disebut inflation targeting framework; 2. Bank Indonesia memiliki peran vital dalam menciptakan kinerja lembaga keuangan yang sehat, khususnya perbankan. Penciptaan kinerja lembaga perbankan seperti itu dilakukan melalui mekanisme pengawasan dan regulasi. Seperti halnya di negara-negara lain, sektor perbankan memiliki pangsa yang dominan dalam sistem keuangan. Oleh sebab itu, kegagalan di sektor ini dapat menimbulkan ketidakstabilan keuangan dan mengganggu perekonomian. Untuk mencegah terjadinya kegagalan tersebut, sistem pengawasan dan kebijakan perbankan yang efektif haruslah ditegakkan. Selain itu, disiplin pasar melalui kewenangan dalam pengawasan dan pembuat kebijakan serta penegakan hukum (law enforcement) harus dijalankan. Bukti yang ada menunjukkan bahwa negara-negara yang menerapkan disiplin pasar, memiliki stabilitas sistem keuangan yang kokoh. Sementara itu, upaya penegakan hukum (law enforcement) dimaksudkan untuk melindungi perbankan dan stakeholder serta sekaligus mendorong kepercayaan terhadap sistem keuangan. Untuk menciptakan stabilitas di sektor perbankan secara berkelanjutan, Bank Indonesia telah menyusun Arsitektur Perbankan Indonesia dan rencana implementasi Basel II; 3. Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran. Bila terjadi gagal bayar (failure to settle) pada salah satu peserta dalam sistem sistem pembayaran, maka akan timbul risiko potensial yang cukup serius dan mengganggu kelancaran sistem pembayaran. Kegagalan tersebut dapat menimbulkan risiko yang bersifat menular (contagion risk) sehingga menimbulkan gangguan yang bersifat sistemik. Bank Indonesia mengembangkan mekanisme dan pengaturan untuk mengurangi risiko dalam sistem pembayaran yang cenderung semakin meningkat. Antara lain dengan menerapkan sistem pembayaran yang bersifat
Bank Indonesia, “Peran Bank Indonesia Dalam Stabilitas Keuangan”, http://www.bi.go.id/web/id/Perbankan/Stabilitas+Sistem+Keuangan/Peran+Bank+Indonesia/Peran+ BI/., diakses pada 13 Mei 2011.
71

37

real time atau dikenal dengan nama sistem RTGS (Real Time Gross Settlement) yang dapat lebih meningkatkan keamanan dan kecepatan sistem pembayaran. Sebagai otoritas dalam sistem pembayaran, Bank Indonesia memiliki informasi dan keahlian untuk mengidentifikasi risiko potensial dalam sistem pembayaran; 4. Melalui fungsinya dalam riset dan pemantauan, Bank Indonesia dapat mengakses informasi-informasi yang dinilai mengancam stabilitas keuangan. Melalui pemantauan secara macroprudential, Bank Indonesia dapat memonitor kerentanan sektor keuangan dan mendeteksi potensi kejutan (potential shock) yang berdampak pada stabilitas sistem keuangan. Melalui riset, Bank Indonesia dapat mengembangkan instrumen dan indikator macroprudential untuk mendeteksi kerentanan sektor keuangan. Hasil riset dan pemantauan tersebut, selanjutnya akan menjadi rekomendasi bagi otoritas terkait dalam mengambil langkah-langkah yang tepat untuk meredam gangguan dalam sektor keuangan; 5. Bank Indonesia memiliki fungsi sebagai jaring pengaman sistim keuangan melalui fungsi bank sentral sebagai lender of the last resort (LoLR). Fungsi LoLR merupakan peran tradisional Bank Indonesia sebagai bank sentral dalam mengelola krisis guna menghindari terjadinya ketidakstabilan sistem keuangan. Fungsi sebagai LoLR mencakup penyediaan likuiditas pada kondisi normal maupun krisis. Fungsi ini hanya diberikan kepada bank yang menghadapi masalah likuiditas dan berpotensi memicu terjadinya krisis yang bersifat sistemik. Pada kondisi normal, fungsi LoLR dapat diterapkan pada bank yang mengalami kesulitan likuiditas temporer namun masih memiliki kemampuan untuk membayar kembali. Dalam menjalankan fungsinya sebagai LoLR, Bank Indonesia harus menghindari terjadinya moral hazard. Oleh karena itu, pertimbangan risiko sistemik dan persyaratan yang ketat harus diterapkan dalam penyediaan likuiditas tersebut”.

B.

Kewenangan Bank Indonesia dalam Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) sebenarnya belum memiliki definisi baku

yang telah diterima secara internasional. Oleh karena itu, muncul beberapa definisi mengenai SSK yang pada intinya mengatakan bahwa suatu sistem keuangan memasuki tahap tidak stabil pada saat sistem tersebut telah membahayakan dan

38

menghambat kegiatan ekonomi. Di bawah ini dikutip beberapa definisi SSK yang diambil dari berbagai sumber.72 Menurut Sutton dan Tosovsky, mengatakan bahwa Stabilitas Keuangan yaitu73 : ”Situasi dimana sistem keuangan dapat : (i) mengalokasikan sumber daya secara efisien ke dalam kegiatan produktif pada waktu yang berbeda-beda; (ii) memprediksi dan mengukur risiko finansial; dan (iii) menyerap shock. Maksud dari ketiga poin tersebut adalah Stabilitas Sistem Keuangan meliputi efisiensi dan ketahanan sistem keuangan yang notabene merupakan suatu konsep yang kompleks. Stabil tidaknya sistem keuangan tidak hanya bergantung pada interaksi yang kompleks antara lembaga keuangan, sektor riil dan pasar keuangan”. Menurut Crocket, dalam membahas stabilitas keuangan dibedakan menjadi financial stability dari monetary stability yang mengacu pada stabilitas harga-harga secara umum (no excessive inflation), yaitu74 : ”Ketidakstabilan keuangan (financial instability) akan memberi dampak negatif pada efektivitas kebijakan moneter (monetary stability) apabila perbankan tidak dapat mentransmisikan kebijakan moneternya dengan baik. Secara teoritis, pada ekonomi tertutup kebijakan moneter memiliki kaitan erat dengan stabilitas keuangan, terutama karena kebijakan moneter yang baik dapat meredam gangguan terhadap ekonomi dan sistem keuangan. Namun dalam perekonomian terbuka, keterkaitan antara stabilitas keuangan dan kebijakan moneter menjadi semakin longgar, terutama karena perekonomian yang terbuka cenderung lebih rentan terhadap berbagai gangguan eksternal. Gangguan tersebut dapat berupa perubahan terms of trade yang menghantam aggregat supply jangka panjang ataupun berupa pembalikan arah arus modal (capital flow reversal) secara besar-besaran yang menghantam sektor finansial. Walaupun demikian, kebijkan moneter yang mampu menunjang stabilitas ekonomi makro dalam suatu perekonomian terbuka kerap kali juga mampu menunjang stabilitas keuangan secara terbatas. Oleh karenanya, upaya yang dilakukan oleh setiap negara untuk mencapai kestabilan makro pada
Bank Indonesia, “Definisi Stabilitas Sistem Keuangan”, Op.cit. Sjamsul Arifin, et.al., IMF dan Stabilitas Keuangan Internasional : Suatu Tinjauan Kritis, (Jakarta : Elex Media Komputindo, 2004), hal. 13. 74 Ibid.
73 72

39

hakikatnya merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan antara kestabilan moneter dan kestabilan finansial”. Arti stabilitas sistem keuangan dapat dipahami dengan melakukan penelitian terhadap faktor-faktor yang dapat menyebabkan instabilitas di sektor keuangan. Ketidakstabilan sistem keuangan dapat dipicu oleh berbagai macam penyebab dan gejolak. Hal ini umumnya merupakan kombinasi antara kegagalan pasar, baik karena faktor struktural maupun perilaku. Kegagalan pasar itu sendiri dapat bersumber dari eksternal (internasional) dan internal (domestik). Risiko yang sering menyertai kegiatan dalam sistem keuangan antara lain risiko kredit, risiko likuiditas, risiko pasar dan risiko operasional. 75 Kecenderungan globalisasi sektor finansial yang didukung oleh

perkembangan teknologi menyebabkan sistem keuangan menjadi semakin terintegrasi tanpa jeda waktu dan batas wilayah. Selain itu, inovasi produk keuangan semakin dinamis dan beragam dengan kompleksitas yang semakin tinggi. Berbagai perkembangan tersebut selain dapat mengakibatkan sumber-sumber pemicu ketidakstabilan sistem keuangan meningkat dan semakin beragam, juga dapat mengakibatkan semakin sulitnya mengatasi ketidakstabilan tersebut.76 Identifikasi terhadap sumber ketidakstabilan sistem keuangan umumnya lebih bersifat forward looking (melihat kedepan). Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui potensi risiko yang akan timbul serta akan mempengaruhi kondisi sistem keuangan mendatang. Atas dasar hasil identifikasi tersebut selanjutnya dilakukan analisis

75 76

Bank Indonesia, “Definisi Stabilitas Sistem Keuangan”, Op.cit. Ibid.

40

sampai seberapa jauh risiko berpotensi menjadi semakin membahayakan, meluas dan bersifat sistemik sehingga mampu melumpuhkan perekonomian.77
Gambar 1 Hubungan Stabilitas Sistem Kuangan dan Stabilitas Moneter

Sumber

: Website Resmi Bank Indonesia, “Definisi Stabilitas Sistem Keuangan”, http://www.bi.go.id/web/id/Perbankan/Stabilitas+Sistem+Keuangan/Ikhtisar/Definisi+SS K/., diakses pada 13 Mei 2011.

Setidaknya, ada dua aspek sumber masalah yang dihadapi bank sebagai unit usaha bisnis yang tidak terlepas dari berbagai risiko. Kedua aspek itu bisa karena persoalan di internal bank atau eksternal. Faktor internal bank bisa menjadi sumber bank mengalami masalah bila bank itu dikelola dengan tidak hati-hati khususnya dalam manajemen risiko, lemahnya pengendalian internal, campur tangan pemilik dalam operasional bank atau adanya kesalahan penetapan strategi yang bermuara bank mengalami kerugian. Sedangkan faktor eksternal bank seperti perubahan
77

Ibid.

41

lingkungan bisnis. Contoh senyatanya adalah krisis moneter yang mendera tahun 2008 hingga memasuki tahun 2009 yang banyak memukul kinerja usaha debitor bank yang mengalami kesulitan untuk membayar bunga dan pokok kredit mereka. Gagal bayar debitor bank ini memukul tingkat pendapatan bank dari bunga kredit (fee based income) dan memaksa bank untuk menyisihkan pencadangan yang menguras likuiditas hingga struktur permodalan pun terancam melorot.78 Masih banyak faktor eksternal lainnya sangat berpotensi mempengaruhi kinerja bank. Sebut misalnya, perubahan kebijakan pemerintah. Perubahan kebijakan yang tak terduga berpeluang besar memukul pemburukan kualitas kredit debitur bank sehingga mempengaruhi likuiditas bank. Ambil contoh kebijakan Pemerintah mengurangi pagu ekspor minyak kelapa sawit untuk setiap industri pengolahan minyak sawit di dalam negeri guna memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Kenyataan ini sudah barang tentu berpotensi memukul industri sawit dan mengancam kelancaran pembayaran angsuran kredit ke perbankan. Sebab lain bisa juga karena faktor perubahan situasi politik dan tingkat persaingan antar bank itu sendiri. 79 Masih panjang daftar risiko-risiko yang mesti dipikul perbankan. Sebuah bank dikatakan bermasalah atau mengalami kegagalan bila sudah tidak mampu lagi memenuhi kewajiban deposan dan kreditur. Gagal bayar ini bersumber pada persoalan likuiditas bank. Dalam menjalankan roda bisnis, bank menghimpun dana

Wikisource, “Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia/Bab 3”, http://id.wikisource.org/wiki/Krisis_Global_dan_Penyelamatan_Sistem_Perbankan_Indonesia/Bab_3., diakses pada 13 Mei 2011. 79 Ibid.

78

42

masyarakat dalam bentuk tabungan, deposito dan giro yang umumnya berjangka waktu pendek (kurang dari setahun).80 Dana yang terkumpul tadi akan dimanfaatkan bank untuk membiayai kredit korporasi atau penempatan pada instrumen-instrumen investasi lain yang umumnya berjangka waktu lebih dari setahun. Disinilah bank secara alamiah menghadapi apa yang disebut maturity gap pada struktur keuangannya. Maksudnya, antara kewajiban membayar dana nasabah dan hasil penempatan, jatuh temponya tidaklah sama. Sekali bank gagal memenuhi kewajiban kepada deposan, reputasi bank itu sedang dipertaruhkan. Bukan tidak mungkin akan mengalami rush oleh nasabah.81 Kalau sudah begini, bank sebesar dan sesehat apapun akan collapse. Dalam menangani bank bermasalah mestilah dilihat situasi dan kondisi ketika itu. Bila ada bank bermasalah hingga ditetapkan sebagai bank gagal dan setelah dikaji tidak berdampak sistemik dalam situasi tidak sedang ada krisis, putusan terang benderang seperti likuidasi. Selanjutnya tugas Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk membayar dana masyarakat yang masuk dalam skim penjaminan. Lihat saja ketika Bank Indonesia menutup Bank IFI atau Uni Bank. Dalam kondisi sedang tidak ada krisis, penutupan bank-bank tersebut berjalan secara alamiah tanpa menimbulkan goncangan psikologi massa nasabah bank.82 Namun sebaliknya, ketika ada bank bermasalah dalam situasi krisis (moneter atau ekonomi), jelaslah pendekatan dan penanganan menjadi berbeda. Hal itu arena ada krisis yang berpotensi mengoyak psikologi pasar yang berdampak ikut (baca :
80 81

Ibid. Ibid. 82 Ibid.

43

sistemik) merontokkan bank-bank lainnya, misalnya penyelamatan Bank Century. Selanjutnya Bank yang tergolong kecil yang bermasalah dalam hal likuiditasnya ini dalam kondisi normal akan divonis mati alias likuidasi karena kecil saja peran bank ini terhadap totalitas sistem perbankan. Dalam kondisi yang sedang tak normal didera krisis, bukan lagi faktor-faktor kuantitatif yang dominan akan menjadi bahan pertimbangan mengambil keputusan (judgement). Tapi unsur kualitatif atau judgement yang mempertimbangkan dengan cermat dampak psikologi pasar. Memang haruslah diakui, wilayah ini adalah debatable. Tapi, kalau belajar dari krisis moneter tahun 1997/1998, bukankah faktor psikologi pasar yang merontokkan perbankan nasional hingga harus direkapitalisasi dana triliunan rupiah.83

C.

Kriteria Tingkat Kesehatan Bank Dalam rangka menjalankan tugas pengawasannya, Bank Indonesia

menetapkan beberapa jenis pengawasan yang didasarkan atas analisis terhadap kondisi suatu bank tertentu, yaitu84 : 1. Pengawasan Normal (Rutin) 2. Pengawasan Intensif (Intensive Supervision) 3. Pengawasan Khusus (Special Surveillance). Dalam prakteknya, Bank Indonesia juga tetap mengawasi Bank Dalam Penyehatan (BDP), dan memantau penyelesaian kewajiban dari Bank Beku Kegiatan

Ibid. Bank Indonesia, “Bank Dalam Pengawasan Khusus (Special Surveillance)”, http://www.bi.go.id/web/id/Perbankan/Bank+dalam+Pengawasan+Khusus/., diakses pada 13 Mei 2011.
84

83

44

Usaha (BBKU), serta Bank Dalam Likuidasi (BDL) yang ditetapkan oleh peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Dalam menjalankan strategi pengawasan tersebut di atas, pendekatan pengawasan yang dilakukan terbagi atas 2 (dua) jenis kegiatan yaitu pengawasan tidak langsung (off site supervision) dan pengawasan langsung (on site examination). Secara ringkas, pengawasan tidak langsung merupakan tindakan pengawasan dan analisis yang dilakukan berdasarkan laporan berkala (regulatory reports) yang disampaikan oleh Bank, informasi dalam bentuk komunikasi lain serta informasi dari pihak lain. Sementara itu, pengawasan langsung dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan pada Bank untuk meneliti dan mengevaluasi tingkat kepatuhan Bank terhadap ketentuan yang berlaku. Termasuk dalam kedua jenis pengawasan tersebut di atas analisis kondisi Bank, saat ini dan di waktu yang akan datang (forward looking).85

1.

Bank Dalam Pengawasan Normal Pengawasan intensif terhadap Bank yang memenuhi kriteria tidak memiliki

potensi atau tidak membahayakan kelangsungan usahanya. Umumnya, frekuensi pengawasan dan pemantauan kondisi Bank dilakukan secara normal sedangkan pemeriksaan terhadap jenis Bank ini dilakukan secara berkala atau sekurangkurangnya setahun sekali. 86

85 86

Ibid. Ibid.

45

2.

Bank Dalam Pengawasan Intensif Pengawasan intensif ini dilakukan Bank yang memenuhi dan memiliki potensi

kesulitan yang dapat membahayakan kelangsungan usahanya. Langkah-langkah yang dilakukan Bank Indonesia pada Bank dengan status ini, antara lain 87 : 1. Meminta Bank untuk melaporkan hal-hal tertentu kepada Bank Indonesia; 2. Melakukan peningkatan frekuensi pengkinian dan penilaian rencana kerja dengan penyesuaian terhadap sasaran yang akan dicapai; 3. Meminta Bank untuk menyusun rencana tindakan sesuai dengan permasalahan yang dihadapi; 4. Menempatkan pengawasan dan atau pemeriksaan Bank Indonesia pada Bank, apabila diperlukan.

Bagi Bank dalam Pengawasan Intensif yang tidak menghasilkan perbaikan kondisi keuangan dan manajerial dan berdasarkan analisis Bank Indonesia diketahui bahwa Bank tersebut dapat diklasifikasikan sebagai Bank yang memiliki kesulitan yang dapat membahayakan kelangsungan usahanya, maka Bank tersebut ditetapkan sebagai Bank dengan status Pengawasan Khusus. Di samping itu, apabila diperlukan, intensitas pemeriksaan langsung pada Bank pada umumnya meningkat terutama dalam rangka memantau perkembangan kinerja berdasarkan komitmen dan rencana perbaikan yang disampaikan manajemen Bank kepada Bank Indonesia.88

87 88

Ibid. Ibid.

46

2.

Bank Dalam Pengawasan Khusus Pengawasan terhadap bank yang dinilai mengalami kesulitan yang

membahayakan kelangsungan usahanya. Terhadap Bank dengan status Pengawasan Khusus ini maka beberapa tindakan Bank Indonesia yang diambil, antara lain 89 : 1. Memerintahkan Bank dan atau pemegang saham Bank untuk mengajukan rencana perbaikan permodalan (capital restoration plan) secara tertulis kepada Bank Indonesia. 2. Memerintahkan Bank untuk memenuhi kewajiban melaksanakan tindakan perbaikan (mandatory supervisory actions). 3. Memerintahkan Bank dan atau pemegang saham Bank untuk melakukan tindakan antara lain: a. mengganti dewan komisaris dan atau direksi Bank; b. menghapusbukukan kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah yang tergolong macet dan memperhitungkan kerugian Bank dengan modal Bank; c. melakukan merger atau konsolidasi dengan bank lain; d. menjual Bank kepada pembeli yang bersedia mengambil alih seluruh kewajiban Bank; e. menyerahkan pengelolaan seluruh atau sebagian kegiatan Bank kepada pihak lain; f. menjual sebagian atau seluruh harta dan atau kewajiban Bank kepada bank atau pihak lain; dan atau
89

Ibid.

47

g. membekukan kegiatan usaha tertentu Bank.

Adapun larangan dan pembatasan bagi Bank dalam Pengawasan Khusus, antara lain 90 : 1. Bank dilarang melakukan pembayaran distribusi modal (pembagian deviden atau pemberian bonus); 2. Bank dilarang melakukan transaksi dengan pihak terkait atau pihak lain yang ditetapkan oleh Bank Indonesia; 3. Bank dikenakan pembatasan pertumbuhan aset; 4. Bank dilarang melakukan pembayaran terhadap pinjaman subordinasi; dan 5. Bank dikenakan pembatasan kompensasi kepada pihak terkait.

Selain tindakan perbaikan Bank yang diwajibkan tersebut, Bank Indonesia juga Bank yang telah ditetapkan dengan status Bank dalam Pengawasan Khusus pada homepage Bank Indonesia. Sebaliknya, dalam rangka keseimbangan informasi kepada publik, maka apabila kondisi Bank membaik dan tidak terkategori sebagai Bank dalam Pengawasan Khusus, maka Bank Indonesia juga akan

mengumumkannya. Jangka waktu Bank dengan status Pengawasan Khusus adalah paling lama tiga bulan bagi Bank yang tidak terdaftar pada Pasar Modal atau enam bulan bagi Bank yang terdaftar pada Pasar Modal (listed Banks). Jangka waktu tersebut dapat diperpanjang dan perpanjangan dapat diberikan maksimal satu kali dan paling lama tiga bulan. Pertimbangan perpanjangan tersebut terutama yang berkaitan dengan proses hukum yang diperlukan antara lain perubahan anggaran dasar,
90

Ibid.

48

pengalihan hak kepemilikan, proses perizinan, dan proses kaji tuntas oleh investor baru (due diligence).91 Pada umumnya frekuensi dan intensitas pengawasan dan pemeriksaan meningkat terutama dalam rangka memantau perkembangan kinerja dan komitmen serta kewajiban Bank yang diperintahkan oleh Bank Indonesia. Selanjutnya berdasarkan analisis dan pemantauan dimaksud, apabila diketahui bahwa kondisi Bank semakin memburuk, maka terdapat dua alternatif resolusi Bank dimaksud, yaitu Bank diserahkan kepada BPPN dengan status Bank Dalam Penyehatan (BDP) atau Bank Beku Kegiatan Usaha.

a.

Bank Dalam Penyehatan (BDP) Bank dapat ditetapkan dengan status Bank Dalam Penyehatan apabila Bank

tersebut dinilai masih memiliki potensi untuk dapat diperbaiki terutama dari aspek permodalan. Selama proses penyehatan Bank oleh BPPN, komunikasi dan kerjasama antara Bank Indonesia dengan BPPN intensif dilakukan terutama yang berkaitan dengan perkembangan indikator utama kinerja Bank, antara lain kinerja permodalan, rasio likuiditas (Giro Wajib Minimum), non-performing loan, ketentuan prudensial (BMPK, PDN, PPAP), dan indikasi pencapaian rencana kerja. Apabila kondisi membaik dan program penyehatan telah selesai dilakukan atau dinyatakan berhasil, maka status BDP dicabut dan Bank diserahkan kembali kepada Bank Indonesia untuk

91

Ibid.

49

dilakukan pengawasan yang diperlukan. Sebaliknya, apabila kondisi Bank semakin memburuk, status BDP dapat berubah menjadi Bank Beku Kegiatan Usaha.92

b.

Bank Beku Kegiatan Usaha (BBKU) Bank ditetapkan dengan status Bank Beku Kegiatan Usaha apabila Bank

memenuhi persyaratan bahwa kondisi Bank menurun sangat tajam atau program penyehatan BPPN atas Bank Dalam Penyehatan (BDP) tidak dapat diselesaikan oleh Bank dalam jangka waktu yang disepakati atau berdasarkan pertimbangan BPPN, program penyehatan tidak dapat dilaksanakan meskipun jangka waktu yang disepakati belum terlampaui. Selanjutnya dalam hal BPPN telah selesai

melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk penyelesaian Bank dengan status BBKU, penyelesaian berikutnya dilakukan tahapan-tahapan pencabutan izin usaha, pembubaran badan hukum, serta likuidasi Bank. 93

4.

Penanganan Bank Gagal Kegagalan sebuah bank secara realistis harus dijadikan suatu risiko yang

terukur dan rasional. Artinya sejak awal harus disadari bahwa peluang gagalnya suatu bank harus diperhitungkan sekecil apapun peluangnya. Dengan demikian dapat dilakukan pencadangan sumber dananya agar penanganan bank gagal menjadi lebih terorganisir dengan baik dan dapat dipertanggung jawabkan. Tentunya sulit diterima oleh semua pihak kalau dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) akan

92 93

Ibid. Ibid.

50

dialokasikan sejumlah dana pencadangan untuk mengatasi bank gagal. Oleh sebab itu, diperlukan pendekatan dan penanganan khusus oleh suatu lembaga yang khusus juga.94 Disinilah dikeluarkan Undang-Undang No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada tanggal 22 September 2004 atas dasar persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Presiden. LPS adalah sebuah lembaga yang independen diberi tugas dan wewenang untuk melaksanakan program dimaksud. Di dalam ketentuan ini ditetapkan penjaminan simpanan nasabah Bank yang diharapkan dapat memelihara kepercayaan masyarakat terhaap industri perbankan dan dapat meminimumkan risiko yang membebani anggaran negara atau risiko yang menimbulkan moral hazard.95 Penjaminan simpanan nasabah Bank tersebut diselenggarakan oleh LPS, fungsi LPS adalah menjamin simpanan nasabah Bank dan melakukan penyelesaian atau penanganan bank gagal (likuidasi bank). Penjaminan simpanan nasabah Bank yang dilakukan LPS bersifat terbatas, tetapi dapat mencakup sebanyak-banyaknya nasabah. Setiap bank yang menjalankan usahanya di Indonesia diwajibkan untuk menjadi peserta yang membayar premi penjaminan. LPS melakukan tindakan penyelesaian atau penanganan Bank yang mengalami kesulitan keuangan dalam kerangka mekanisme kerja yang terpadu, efisien dan efektif untuk menciptakan ketahanan sektor keuangan Indonesia atau disebut : Indonesia Financial Safety Net

Krisna Wijaya, “Penanganan Bank Gagal”, http://www.lps.go.id/v2/home.php?link=publikasi&pub_id=35., diakses pada 13 Mei 2011. 95 Soetanto Hadinoto, Bank Strategy on Funding and Liability Management, (Jakarta : Elex Media Komputindo, 2008), hal. 201.

94

51

(IFSN) bersama Menteri Keuangan, Bank Indonesia, Lembaga Pengawas Perbankan (LPP) menjadi anggota Komite Koordinasi. 96 Tindakan penyelesaian atau penanganan Bank gagal oleh LPS didahului berbagai tindakan lain oleh Bank Indonesia dan LPP sesuai peraturan perundangundangan. Bank Indonesia melalui mekanisme sistem pembayaran, akan mendeteksi kesulitan tersebut dan berupaya mengatasi dan menjalankan fungsi pengawasannya, antara lain berupa tindakan agar pemilik Bank menambah modal atau menjual Bank, atau agar Bank melakukan merger atau konsolidasi dengan Bank lain. Apabila kondisi Bank yang mengalami kesulitan keuangan tersebut semakin memburuk, antara lain ditandai dengan menurunnya tingkat solvabilitas Bank, tindakan penyelesaian dan penanganan lain harus segera dilakukan. Dalam keadaan ini, penyelesaian dan penanganan Bank gagal diserahkan kepada LPS yang akan bekerja setelah terlebih dahulu mempertimbangkan perkiraan dampak pencabutan izin usaha Bank terhadap perekonomian nasional.97 Dalam hal pencabutan izin usaha Bank diperkirakan memiliki dampak terhadap perekonomian nasional, tindakan penagangan yang dilakukan LPS yang didasarkan pada keputusan Komite Koordinasi. Mengingat fungsinya yang sangat penting, LPS harus independen, transparan, dan akuntabel dalam menjalankan tugas dan wewenangnya. Karena itu, status hukum, governance, pengelolaan kekayaan dan kewajiban pelaporan dan akuntabilitas LPS serta hubungannya dengan organisasi

96 97

Ibid., hal. 201-202. Ibid., hal. 202.

52

lain, diatur sercara jelas dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS). 98 Keberadaan LPS terlanjur dipahami hanya sekedar menjalankan fungsi penjaminan simpanan masyarakat yang menabung di bank. Masih banyak yang belum mengetahui bahwa salah satu tugas strategis LPS diluar penjaminan simpanan adalah penanganan bank gagal dan melaksanakan proses dan penyelesaian likuidasi bank. Bank gagal yang akan ditangani LPS adalah bank gagal yang berdampak sistemik dan tidak sistemik. Pengertian sistemik adalah apabila kegagalan bank akan berdampak luar biasa baik dalam penarikan dana (rush) maupun terhadap kelancaran dan kelangsungan roda perekonomian. Sementara yang tidak sistemik tentunya apabila tidak memenuhi kriteria tersebut diatas. 99 Dalam menangani bank gagal yang sistemik maupun tidak pihak LPS akan melakukan kajian dan memutuskan apakah akan diselamatkan atau tidak. Jika biaya penyelamatan jauh lebih mahal dari pada dengan menglikuidasi, maka

penyelesaiannya singkat saja. Bank diusulkan dicabut ijin usahanya, kemudian dilikuidasi dan LPS membayar klaim atas simpanan masyarakat. Apabila LPS memutuskan untuk melakukan penyelamatan, maka ada perbedaan perlakuan antara penyelamatan bank gagal sistemik dan tidak sistemik. Untuk bank gagal tidak sistemik penyelamatan tidak mengikutsertakan pemegang saham lama. Artinya segala biaya yang timbul untuk penyelamatan akan menjadi disediakan oleh pihak LPS. 100

98 99

Ibid. Krisna Wijaya, “Penanganan Bank Gagal”, Op.cit. 100 Ibid.

53

Untuk bank gagal sistemik dapat dilakukan baik tanpa melibatkan pemegang saham lama maupun dengan cara melibatkan pemegang saham lama (open bank assistance). Dalam hal pemegang saham lama akan terlibat dalam penyelematan, maka diwajibkan menyetor minimal 20% dari total biaya penyelamatan. Sama seperti bank gagal sistemik, maka kekurangannya akan ditangani LPS. Untuk penanganan bank gagal dengan skim apapun, pihak LPS berdasarkan UU No.24/2004 diberikan kewenangan yang sangat memadai. Kewenangan RUPS dan pengelolaan bank gagal sepenuhnya diserahkan kepada LPS sehingga program penyelamatan dapat dilakukan lebih efektif. Termasuk dalam kewenangan yang diberikan kepada LPS adalah untuk melakukan penyertaan sementara, melakukan merger dan konsolidasi dengan bank lain. 101 Sekalipun diperbolehkan melakukan penyelamatan, bukan berarti dana “talangan” dari LPS akan hilang. Semua biaya yang timbul akibat melakukan penyelamatan suatu bank akan diperhitungkan sebagai penyertaan sementara. Jangka waktu penyertaan LPS dibatasi dan harus menjual kembali sahamnya maksimal 2-3 tahun sejak penyelamatan dilakukan. Dalam hal suatu bank pada akhirnya harus dilikuidasi, maka hasil penjualan aset bank terlikuidasi akan didistribusikan secara prioritas untuk biaya gaji dan pesangon pegawai, biaya operasional dan biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh LPS. Apabila hasil penjualan aset masih belum mencukupi, maka sisanya akan tetap menjadi kewajiban pihak pemegang saham lama. 102

101 102

Ibid. Ibid.

54

Tabel 1. Mekanisme Pengambilan Keputusan untuk Pencegahan dan Penanganan Krisis

Sumber : Wikisource, “Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia/Bab 3”, http://id.wikisource.org/wiki/Krisis_Global_dan_Penyelamatan_Sistem_Perbankan_Indon esia/Bab_3., diakses pada 13 Mei 2011.

Dari skim penanganan bank gagal oleh LPS sebagaimana telah diuraikan diatas, dapat disimpulkan bahwa apabila terjadi kegagalan bank secara sistem telah ada mekanisme penyelesaian yang lebih pasti dan terstruktur. Disamping itu ada sangsi yang jelas dan tegas kepada pemegang saham yang mengakibatkan banknya gagal. Hal tersebut tentunya akan memberikan suatu perlindungan yang lebih memadai baik bagi masyarakat maupun pemerintah. Sekalipun demikian harus tetap disadari bahwa keberadaan LPS belum bisa membebaskan beban pemerintah. Sebab apabila kemampuan LPS baik dari modal, akumulasi premi dan cadangan serta surplus usaha tidak mencukupi, maka kekurangannya akan tetap dimintakan kepada

55

pemerintah. Kalau dilihat bahwa kemungkinan itu ada, maka LPS memang bukan dewa penyelamat yang handal.103 Pada akhirnya harus diyakini bahwa penanganan bank gagal yang paling ampuh dan mujarab adalah apabila bank yang ada selalu sehat. Mungkin ada yang berpendapat gagal tidaknya suatu bank tergantung kepada unsur pengawasannya. Kesan itu tidak salah tetapi juga tidak selalu benar. Sebab dalam keseharian yang menentukan sehat tidaknya bank kembali kepada pengelola dan pemiliknya. Sebagai langkah antisipasi kedepan, tentu ada baiknya dicarikan suatu pendekatan yang lebih komprhensif dalam rangka menumbuh-kembangkan perbankan yang kuat sekaligus sehat. Ada pendekatan yang ideal dan perlu dikaji lebih lanjut. Biarkan BI fokus pada pengelolaan monoter dan regulator, lalu OJK (Otoritas Jasa Keuangan) fokus kepada pengawasan dan LPS dalam penanganan bank gagal. Jadi akan ada segitiga pengaman untuk perbankan nasional yang lebih terstruktur sekaligus terukur. 104 R. G. Hawtrey (The Art of Central Banking, 1932) berpendapat bank sentral adalah suatu bank yang berperan sebagai sumber pinjaman terakhir bagi bank-bank (lender of the last resort) dan untuk mendukung peranan tersebut, bank sentral juga harus mempunyai hak untuk menerbitkan uang kertas bank sebagai sumber dari perolehan dana bank sentral itu dalam pemberian jaminan.105 Vera Smith (Rational of Central Banking, 1936) menyatakan bahwa suatu bank dikatakan sebagai bank sentral apabila bank tersebut berperan sebagai pencetak dan pengedar uang kertas dengan

Ibid. Ibid. 105 R.G. Hawtrey, The Art of Central Banking, 2nd Edition, (Amerika Serikat : Frank Cass Publisher, 1970).
104

103

56

hak monopoli dari pemerintah (the bank of issue). Kisch dan Elkin berpendapat bahwa bank sentral adalah suatu bank yang memiliki ciri yang paling hakiki, yaitu sebagai pemelihara stabilitas moneter yang baku yang mendukung kontrol terhadap peredaran moneter.106 Salah satu fungsi Bank Indonesia yang diatur dalam peraturan perundangundangan adalah mengatur dan mengawasi bank umum di Indonesia. Bank-bank umum di bawah pengendalian dan pengawasan Bank Indonesia, beserta dengan Bank Indonesia itu sendiri, membentuk sistem moneter nasional. Sistem moneter ini juga melibatkan lembaga-lembaga keuangan non-bank. Bank Indonesia mempunyai kewajiban untuk menjaga kestabilan sistem moneter nasional. Bank Indonesia dalam menjaga kestabilan moneter nasional berwenang untuk menjaga dan memelihara cadangan kas-kas bank komersial. 107 Dalam hal ini bank komersial diwajibkan untuk menyimpan suatu jumlah minimum tertentu (reserve requirement) pada bank sentral. Penyimpanan cadangan ini bisa berupa uang kertas maupun surat berharga. Bank Indonesia juga berwenang untuk Menyelenggarakan kegiatan kliring di antara bank-bank. Kliring (clearing) adalah sarana perhitungan market antar bank yang dilaksanakan oleh bank sentral guna memperluas dan memperlancar lalu lintas pembayaran giral dalam suatu wilayah kliring. 108

Vera Constance Smith, The Rationale of Central Banking and the Free Banking Alternative, (London : PS King and Sons, 1936). 107 Pamela Romauli Tampubolon, “Perubahan Giro Wajib Minimum Bank Umum pada Bank Indonesia dalam Rupiah dan Valuta Asing Dikaitkan Dengan Penyaluran Kredit Bank”, (Tesis : Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, 2009). 108 Ibid.

106

57

Bank Indonesia sebagai bank sentral juga diberi fungsi dan wewenang untuk membina dan mengawasi kegiatan perbankan sebagai lembaga perantara keuangan (financial intermediary). Dalam menjalankan fungsinya itu, bank sentral mempunyai peranan khusus dalam sistem moneter sebagai sumber peminjaman bagi bank-bank (the banker’s bank) dan sumber terakhir bagi bank-bank untuk mendapatkan pinjaman ketika bank yang bersangkutan sedang mengalami kesulitan likiuiditas (lender of the last resort). Dalam fungsinya ini, bank sentral sekaligus juga berperan dalam mengembangkan sistem perkreditan yang sehat.109 Bank Indonesia membantu manakala suatu bank gagal untuk memenuhi Giro wajib Minimum (GWM). Semua fungsi dan wewenang ini dijalankan oleh Bank Indonesia dalam rangka menjami terciptanya kondisi perbankan yang sehat. Perbankan yang sehat menurut Manuel Guitian hanya dapat tercipta melalui pengawsan dan pengaturan yang ketat. Isu kesehatan perbankan menjadi isu sentral manakala krisis perbankan melanda dunia. Perbaikan sistem pembayaran dan restrukturisasi perbankan menjadi permasalahan utama dalam menjaga fungsi perbankan pada umumnya. Tingkat kesehatan suatu bank dapat diukur dari Cash Ratio (CAR).110 Aset yang dimiliki oleh bank tersebut, pengelolaan bank, pendapatan, dan tingkat likuiditas, rentabilitas, solvabilitas, dan aspek-aspek lain yang berhubungan dengan bank. Bank juga

Satjipto Rahardjo, et.al, Op.cit, hal. 21. Cash Ratio adalah rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga yang dihimpun dan harus segera dibayar oleh pihak bank. Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam membayar kembali simpanan nasabah pada saat ditarik menggunakan alat likuid yang dimilkinya. Alat likuid, menurut ketentuan Bank Indonesia, terdiri dari uang kas ditambah dengan rekening giro bank yang disimpan di Bank Indonesia. Dalam : Steven M. Bragg, Business Ratios and Formulas : A Comprehensive Guide, Second Edition, (Amerika Serikat : John Wiley & Sons Inc., 2010).
110

109

58

diwajibkan untuk menjaga kesehatannya sendiri dengan cara melaksanakan kegiatan usahanya dengan prinsip kehati-hatian.111

D.

Kewenangan Bank Indonesia Dalam Kepailitan Bank Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan

Kewajiban Pembayaran Utang, menyatakan bahwa hanya Bank Indonesia yang dapat mengajukan permohonan pailit terhadap debitur yang merupakan Bank, menurut Sutan Remy Sjahdeini merupakan standard ganda (double standard).112 Menurut Sutan Remy Sjahdeini, ketentuan ini telah merampas hak kreditur dari suatu bank. Kreditur bank justru pada umumnya adalah juga bank, bahkan sering terdiri dari banyak sekali bank, yang memberikan fasilitas kepada bank itu melalui interbank money market. Bank sebagai kreditur dalam menghadapi debitur non bank adalah mandiri menjalankan haknya untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit, tetapi apabila bank sebagai kreditur menghadapi debitur yang merupakan bank, haknya untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit itu hilang karena ketentuan UndangUndang No. 4 Tahun 1998 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang tentang Kepailitan Menjadi Undang-Undang tersebut.113

Manuel Guitián, and Discretion in International Economic Policy, Occasional Paper, (Washington DC : International Monetary Fund, Juni 1992). 112 Sutan Remy Syahdeini, Undang-Undang Kepailitan : Dalam Persfektif Hukum, Politik dan Ekonomi, Makalah disajikan pada 7 Mei 1998 di Jakarta, hal. 6., sebagaimana dikutip Habiba Hanum, “Analisis Terhadap Ketentuan Insolvensi Dalam Hukum Kepailitan”, (Tesis : Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, 2007), hal. 48. 113 Ibid, hal. 48.

111

59

Selanjutnya Sutan Remy Sjahdeini mengemukakan bahwa untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit dan memberikan keputusan untuk dinyatakan pailit suatu bank, haruslah terdapat keterlibatan Bank Indonesia. Sebab Bank Indonesia merupakan bank sentral yang menentukan kebijakan perbankan Indonesia, yang mempunyai kewenangan untuk memberikan izin usaha berdasarkan Undang-Undang No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Pemerintah berpendapat bahwa kewenangan Bank Indonesia ini berhubungan dengan tugas pengawasan dan pembinaan terhadap dunia perbankan nasional.114 Pembinaan terhadap perbankan ditekankan pada aspek ekonomi dan politik. Konsekwensinya segala sesuatu yang berkaitan dengan keadaan insolvensi atau masalah kesulitan dana yang dapat membahayakan keberadaan bank dengan cara-cara persuasif akan diakhiri oleh Bank Indonesia dengan cara melakukan likuidasi tanpa perlu pernyataan pailit terhadap bank. Sutan Remy Syahdeini menyatakan bahwa keadaan pailit atau bangkrut hanya akan dirasakan oleh kreditur. Krediturlah yang mengalami ingkar janji (in default) sehubungan dengan perjanjian utang piutang (perjanjian kredit) antara debitur dan kreditur. Bank Indonesia tidak pernah menjadi pihak dalam perjanjian antara kreditur dan debitur. 115 Kenyataan bahwa debitur bukanlah debitur biasa, tetapi suatu bank, tidak mengubah keadaan bahwa Bank Indonesia bukan pihak dalam perjanjian kredit antara debitur dan kreditur. Bank Indonesia hanya akan menjadi pihak dalam perjanjian
Menteri Kehakiman, “Jawaban Pemerintah atas Tanggapan Fraksi-fraksi terhadap Rancangan Undang-undang tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang tentang Kepailitan”, hal. 3., dalam Laporan Lima Tahun DPR-RI 2004-2009, (Jakarta : Sekjend DPR-RI & UNDP dan AusAID, 2009). 115 Habiba Hanum, Op.cit., hal. 48.
114

60

antara kreditur dan debitur, apabila kredit yang diterima oleh debitur yang merupakan bank diberikan oleh Bank Indonesia berupa Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) atau berupa Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Dalam hal Bank Indonesia yang menjadi kreditur, maka seyogyanya Bank Indonesia, baik sendiri maupun bersama dengan kreditur-kreditur lain, yang mengajukan permohonan pernyataan pailit. Selain itu Bank Indonesia dapat pula mengajukan permohonan pernyataan pailit tanpa diminta oleh debitur atau kreditur atau kejaksaan, apabila Bank Indonesia (bukan sebagai kreditur tetapi sebagai otoritas moneter yang bertugas dan bertanggung jawab terhadap pembinaan dan pengawasan bank-bank serta stabilitas moneter) menilai bahwa bank yang bersangkutan telah membahayakan sistem perbankan. Hal ini tidak mengurangi kewenangan Bank Indonesia untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit suatu bank dalam kedudukan Bank Indonesia selaku kreditur Bank itu. 116 Selanjutnya Sutan Remy Syahdeini menyebutkan ketentuan dalam Pasal 1 ayat (3), Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, yang menyatakan bahwa : “Bank Indonesia dapat mengajukan permohonan pailit dalam hal debitur yang diajukan pailit tersebut merupakan bank”, pada satu sisi dapat dibenarkan. Hal ini untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional. Apabila kreditur dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit kepada debitur yang merupakan bank tanpa melalui Bank Indonesia, dikhawatirkan bahwa setiap saat Bank akan senantiasa dibayang-bayangi pengajuan permohonan pernyataan pailit. Bila kondisi ini terjadi maka jelas akan mengganggu kinerja perbankan nasional, yang selanjutnya tentu akan
116

Ibid.

61

berkaitan dengan kelangsungan hidup perbankan tersebut. Dampak selanjutnya adalah akan mengganggu perekonomian nasional. Karena sebagaimana diketahui bahwa bank merupakan agent of modernitation.117 Pemberian hak-hak khusus kepada Bank Indonesia yang mewakili kepentingan orang banyak harus mendapat dukungan karena berkaitan dana masyarakat yang terhimpun dalam bank. Perlindungan terhadap dana masyarakat luas ini harus dijaga dan dilindungi secara proporsional. Perkara yang berkaitan dengan diajukannya permohonan pailit terhadap Bank adalah perkara Bank IFI sebagai pemohon terhadap Bank Danamon sebagai termohon. Dalam perkara ini Bank Indonesia menolak untuk mempailitkan Bank Danamon dan akhirnya Pengadilan Niaga menolak untuk memeriksa dan memutuskan permohonan kepailitan bank karena tidak diajukan melalui Bank Indonesia. Hal ini berarti selama Bank Indonesia tidak memohonkan pailit terhadap bank yang tidak membayar utangnya yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, maka terhadap bank tersebut tidak dapat dipailitkan. 118

Jika dikaitkan dengan teori Jeremy Bentham (Utilitarian Theory) mengenai the greatest happines is the greatest number. Maka peraturan mengenai pengajuan permohonan pailit terhadap Bank adalah Bank Indonesia saja maka dalam hal ini demi menyelamatkan sistem perbankan nasional. Keuntungan terbesar adalah Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) yang terjamin.

Sutan Remy Sjahdeini, Hukum Kepailitan : Memahami Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan (Edisi Baru), Cetakan Pertama, (Jakarta : Pustaka Utama Grafika, 2009). 118 Andreas Timothy, “Tinjauan Yuridis tentang Kasus Permohonan Pernyataan Pailit PT.Bank IFI terhadap PT.Bank Danamon Indonesia, Tbk.”, (Tesis : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2005).

117

62

BAB III MASALAH BANK INDONESIA SEBAGAI BANK SENTRAL DALAM PENGAJUAN KEPAILITAN BANK

Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang merupakan penyempurnaan dari Undang-Undang No. 4 tahun 1998. Undang-Undang tersebut perlu dikeluarkan karena perkembangan perekonomian yang semakin pesat sehingga semakin banyak permasalahan utang piutang yang timbul di masyarakat. Oleh karena itu, perlu diatur cara penyelesaian masalah utang piutang secara adil, cepat, terbuka, dan efektif. Penyelesaian perkara kepailitan dilangsungkan dengan jangka waktu yang pasti, melalui suatu badan peradilan khusus yakni Pengadilan Niaga. 119 Menurut Joseph E. Stiglitz sebagaimana dikutip oleh Zulkarnain Sitompul, hukum kepailitan harus mengandung tiga prinsip. Pertama, peran utama kepailitan dalam ekonomi kapitalis modern adalah untuk menggalakkan reorganisasi perusahaan. Hukum Kepalitan harus memberikan waktu yang cukup, cukup bagi perusahaan untuk melakukan pembenahan perusahaan. Kedua, meskipun tidak dikenal hukum kepailitan yang berlaku universal dan ketentuan kepailitan telah berkembang dari waktu ke waktu seiring dengan perubahan keseimbangan politik diantara para pelaku, transformasi struktural perekonomian dan perkembangan sejarah masyarakat, namun setiap hukum kepailitan bertujuan menyeimbangkan

Kelik Pramudya, “Kelemahan Hukum Kepailitan di Indonesia”, http://clickgtg.blogspot.com/2008/10/kelemahan-hukum-kepailitan-di-indonesia.html., diakses pada 14 Mei 2011.

119

63

beberapa tujuan termasuk melindungi hak-hak kreditur dan menghindari terjadinya likuidasi premature.120 Ketiga, hukum kepailitan mestinya tidak hanya memperhatikan kreditur dan debitur tetapi yang lebih penting lagi adalah memperhatikan kepentingan stakeholder yang dalam kaitan ini yang terpenting adalah pekerja. Ketentuan kepailitan memang telah memberikan hak istimewa untuk pembayaran gaji yang terutang. Akan tetapi bagaimana dengan hak-hak lainnya. Disamping itu juga perlu dilihat apakah pailit menimbulkan dampak luas bagi konsumen atau menyebabkan terjadinya dislokasi ekonomi yang buruk. Singkat kata, kepailitan adalah ultimum remedium, upaya terakhir. 121 Likuidasi bank merupakan salah satu instrumen pembinaan di dalam dunia perbankan agar sektor perbankan dapat tetap menjalankan fungsinya secara dinamis dan mandiri. Likuidasi bank harus tetap menjamin terpeliharanya hak para pihak terkait, khususnya nasabah penyimpan dana.

A.

Terbukanya Peluang Kreditor Lain dalam Pengajuan Pailit Bank Pelaksanaan likuidasi harus dilakukan oleh suatu tim yang profesional yang

beranggotakan berbagai unsur yang terkait dengan aktifitas perbankan sehingga kepentingan berbagai pihak dapat terwakili dan terpelihara. 122 Bank Indonesia

Zulkarnain Sitompul, “Perlukah PT DI Dipailitkan”, http://zulsitompul.wordpress.com/isusentral/., diakses pada 14 Mei 2011. 121 Ibid. 122 Pasal 7 ayat (1), Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun 1996 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank, Op.cit.

120

64

bertindak sebagai pengawas pelaksanaan likuidasi. 123 Likuidasi perusahaan yang bernama “bank” diatur prosedur di luar ketentuan kepailitan yang ada, karena kharateristik bank memang jauh berbeda dengan perusahaan biasa. Hal tersebut misalnya dapat dilihat bahwa bank merupakan lembaga kepercayaan, karena bank dapat bekerja atas dasar kepercayaan nasabah/masyarakat, sehingga kaidah kepailitan (Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang) tidak dapat diterapkan karena dapat menggoyahkan kepercayaan masyarakat.124 Dari segi aset, aset perbankan adalah dana masyarakat, sementara porsi modal bank tersebut relatif kecil bila dibandingkan dengan aset secara keseluruhan. Operasional bank mempunyai resiko sistemik, dalam arti kejatuhan pada suatu bank dapat menyebabkan kejatuhan bank lain, yang pada akhirnya akan menghancurkan sistem yang telah dibangun. Oleh sebab itu terhadap bank perlu diatur prosedur yang sangat khusus untuk ‘pembubarannya’.125 Dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang memberikan kewenangan kepada Bank Indonesia untuk memohonkan pailit terhadap suatu bank debitur, namun dalam praktiknya pasal ini tidak pernah digunakan.126 Alasan yang paling mendasar mengenai tidak digunakannya pasal ini oleh Bank Indonesia adalah karena usaha bank memiliki kharekteristik kegiatan usaha
Pasal 1 ayat (4), Ibid. Sutan Remy Sjahdeini, Hukum Kepailitan : Memahami Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan (Edisi Baru), Op.cit. 125 Bagian Menimbang huruf b. dan c., Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun 1996 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank, Op.cit. 126 Sylvia Janisriwati, “Disertasi Sylvia Janisriwati : Kewenangan Bank Indonesia dalam Menyatakan Pailit”, http://prasetya.ub.ac.id/berita/Disertasi-Sylvia-Janisriwati--Kewenangan-BankIndonesia-dalam-Menyatakan-Pailit-1583-id.html., diakses pada 14 Mei 2011.
124 123

65

yang berbeda dari perusahaan pada umumnya, yaitu sebagai intermediary institution, sehingga aset bank pada dasarnya adalah milik para deposan selain juga milik kreditur bank lainnya. Selain itu mengingat bank adalah usaha yang hanya dapat berjalan atas dasar kepercayaan masyarakat, sehingga usaha bank harus dilindungi dari kemungkinan tindakan kreditur tertentu untuk serta merta mengajukan gugatan pailit ke Pengadilan. Oleh karena itu Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang dapat membatasi pihak yang boleh mengajukan gugatan kepailitan terhadap bank melalui debitur, yaitu Bank Indonesia (selaku otoritas perbankan). 127 Namun, mengingat karakteristik usaha bank sebagaimana diuraikan di atas, maka terhadap bank yang mengalami permasalahan keuangan, pertama-tama dilakukan upaya penyelamatan. Apabila upaya penyelamatan itu tidak berhasil, sementara permasalahan yang dihadapi bank itu menganggu usahanya atau sistem perbankan, maka bank bermasalah itu harus keluar dari sistem perbankan (exit policy) melalui proses likuidasi bank sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 37 UndangUndang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan serta Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1999 tentang Pencabutan Izin Usaha Pembubaran dan Likuidasi Bank dan bukan melalui proses kepailitan sebagaimana disediakan jalannya oleh Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. 128

127 128

Ibid. Ibid.

66

Bank yang sudah dilikuidasi dianggap sudah tidak eksis lagi, oleh karena itu tidak berhak melakukan kegiatan hukum seperti membayar utang. Ini berbeda dengan proses kepailitan. Perusahaan yang dipailitkan wajib melakukan proses kepailitan. Perusahaan yang dipailitkan wajib melakukan proses rehabilitasi sehingga perusahaan itu tetap eksis. Kepailitan tidak menyebabkan matinya suatu Perseroan Terbatas, tetapi hanya berakibat terhadap ketidak mampuan perusahaan itu untuk melakukan tindakan hukum terhadap harta kekayaan Pemegang Saham perusahaan tetap eksis/aktif, namun diwakili oleh Kurator. Dalam proses rehabilitasi ternyata perusahaan tersebut mampu survive, maka perusahaan tersebut dapat berubah statusnya menjadi perusahaan biasa lagi yang tidak di bawah pengampuan.129 Status Debitur setelah selesainya tindakan pemberesan, Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang menyatakan bahwa setelah tindakan pemberesan selesai dilakukan, Debitur yang berbentuk badan hukum tidak bubar. Bubarnya perusahaan yang berbentuk badan hukum hanya terjadi apabila memang dengan sengaja dibubarkan, bagi perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas maka pembubarannya mengikuti ketentuan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Dalam hal setelah tindakan pemberesan ternyata utang-utang debitur kepada kreditur masih tersisa atau belum lunas seluruhnya maka Debitur tetap berkewajiban untuk melunasi utang itu. Para Kreditur memperoleh kembali hak mereka untuk menagih dan memperoleh pembayaran atas piutang mereka yang belum dilunasi oleh Debitur (Pasal 190

129

Sunarmi, Hukum Kepailitan, (Medan : USU Press., 2009).

67

Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang). 130 Sebagai konsekuensinya, apabila Debitur memulai kembali untuk berbisnis setiap pendapatan yang diperolehnya dari bisnisnya itu harus dipakai untuk membayar utang-utang yang belum lunas. Sebaliknya apabila Debitur tersebut tidak lagi menjalankan kegiatan usahanya, sehingga dengan demikian tidak memperoleh pendapatan sebagai sumber pelunasan utang-utangnya maka hanya lewatnya masa kadaluwarsa yaitu setelah lewatnya waktu 30 (tiga puluh) tahun sejak terakhir Debitur ditagih oleh krediturnya yang dapat membebaskan Debitur dari kewajiban membayar utang-utangnya.131 Kembali ke permasalahan likuidasi Bank, untuk menyelesaikan permasalahan yang membelit Bank tersebut. Bank dalam kondisi pailit lebih memberikan keuntungan, salah satunya bagi nasabah penyimpan dana. Pengajuan pernyataan pailit pada Bank bisa melindungi Kreditor Bank sehingga Bank dapat segera menyelesaikan utangnya kepada para Kreditor. Posisi Bank Indonesia dalam hal ini sangatlah krusial karena sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (3) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, yang mengatur bahwa dalam hal Debitor adalah Bank, permohonan pernyataan pailit hanya bisa diajukan oleh Bank Indonesia. 132 Hal ini terjadi pada kasus Bank IFI yang tidak berhasil mengajukan pailit karena ketidakbersediaan otoritas untuk mengambil langkah mengajukan permohonan
130 131

Ibid. Ibid. 132 Sylvia Janisriwati, Op.cit.

68

pailit terhadap Bank sebagai kelanjutan permohonan yang diajukan oleh Kreditur secara absolut akan menutup kesempatan dari Kreditur tersebut untuk mempailitkan Bank debiturnya walaupun telah terbukti adanya utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih. 133 Dalam hal terjadi likuidasi bank, nasabah penyimpan dan Kreditur lainnya berada dalam posisi yang lemah. Berbeda dengan perjanjian kredit yang lebih menjamin posisi Bank sebagai Kreditur, karena Debitur wajib menyerahkan jaminan, sehingga apabila Debitur wanprestasi, Bank memiliki kepastian hukum bahwa dana yang dipinjamkannya akan kembali. Sedangkan dalam hubungan antara Bank dengan nasabah penyimpan, ketika nasabah menyimpan sejumlah dananya pada Bank, Bank tidak menyerahkan jaminan yang dapat memberi kepastian kepada nasabah bahwa dana yang disimpannya pasti dapat diterima kembali, bahkan oleh hukum nasabah bank yang dianggap harus menanggung risiko hilangnya sebagian dana yang disimpan di bank yang dipilih sendiri. Demikian pula kedudukan Kreditur bank yang bukan merupakan Kreditur Preferen. 134 Likuidasi bank terjadi antara lain karena kelalaian maupun kurangnya kepatuhan pengurus bank terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kinerja Tim Likuidasi harus memperlihatkan efektifitas seperti yang diharapkan untuk menuntaskan proses likuidasi bank yang disebabkan karena beberapa hal antara lain ketentuan tentang lukuidasi bank yang belum sempurna, peraturan yang belum

Ibid., Lihat juga : Andreas Timothy, “Tinjauan Yuridis tentang Kasus Permohonan Pernyataan Pailit PT. Bank IFI terhadap PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk.”, Op.cit. 134 Suwono, “Pemberdayaan dan Perlindungan Hukum Nasabah Bank”, http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2004/4/19/o2.htm., diakses pada 14 Mei 2011.

133

69

lengkap, misalnya dalam hal eksekusi aset bank terlikuidasi, dalam hal pembuktian, masalah aset atas nama pihak lain dan lain sebagainya. Pelaksanaan penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya pencabutan izin usaha bank belum sepenuhnya efektif. 135 Perizinan merupakan sub yang sangat penting dalam pembangunan sistem perbankan yang sehat dan kuat, karena perizinan merupakan salah satu sarana untuk menyeleksi agar hanya badan hukum yang memenuhi standar yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yang dapat menjalankan usaha perbankan. Disamping itu, perizinan juga digunakan oleh otoritas perbankan sebagai alat untuk memaksa bank untuk mematuhi segala ketentuan dari otoritas perbankan dengan ancaman pencabutan izin usaha bila terjadi pelanggaran dan penyimpangan dalam pengelolaan bank.136 Pencabutan izin usaha Bank dilakukan oleh Pimpinan Bank Indonesia apabila tindakan penyelamatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (1) UndangUndang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana diubah dengan UndangUndang No. 10 Tahun 1998 belum cukup mengatasi kesulitan yang dihadapi Bank, atau menurut penilaian Bank Indonesia keadaan suatu Bank dapat membahayakan sistem perbankan atau terdapat permintaan dari pemilik atau pemegang saham Bank atau bank melanggar peraturan perundang-undangan.137 Pencabutan izin usaha Kantor Cabang dari Bank yang berkedudukan di Luar Negeri dapat dilakukan oleh Bank Indonesia apabila memenuhi alasan sebagaimana
Zulkarnain Sitompul, “Likuidasi BDB dan Efektifitas Pengawasan Bank”, Majalah Pilars No. 28, periode 12-18 Juli 2004. 136 Bank Indonesia, “Tujuan Pengaturan dan Pengawasan Bank, Op.cit. 137 Pasal 3 ayat (3), Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1999 tentang Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 52, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3831.
135

70

diuraikan di atas atau terdapat permintaan kantor pusat Bank yang berkedudukan di Luar Negeri atau izin usaha kantor pusat Bank yang berkedudukan di Luar Negeri dicabut dan/atau kantor pusat dimaksud likuidasi oleh otoritas yang berwenang di negara setempat.138 Apabila tindakan penyelamatan belum cukup, untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi Bank dan/atau menurut penilaian Bank Indonesia keadaan suatu Bank dapat membahayakan sistem perbankan, Pimpinan Bank Indonesia dapat mencabut izin usaha bank dan memerintahkan direksi bank untuk segera menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) guna membubarkan badan hukum bank dan membentuk Tim Likuidasi. 139 Konsekuensi dari pencabutan izin usaha tersebut adalah bank wajib menutup seluruh kantor-kantornya untuk umum dan menghentikan segala kegiatan perbankan dan membubarkan badan hukum bank tersebut. Berkenaan dengan itu bank harus berupaya mengembalikan dana masyarakat yang telah dipercayakan untuk disimpan pada bank tersebut maupun dana kreditur lainnya kepada yang berhak. Sebaliknya debitur bank harus segera menyelesaikan kewajibannya untuk membayar kembali kepada bank agar piutang bank tsb segera masuk ke dalam boedel. Bank yang dicabut izin usahanya berubah bentuk menjadi perseroan biasa pada umumnya, dalam hal ini pengajuan kepailitan terbuka untuk seluruh Kreditur bank tersebut. Karena pada pendirian Bank pertama sekali adalah menurut Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, lalu selanjutnya pada bidang usahanya diatur dalam ketentuan perbankan. Setelah dicabut izin usahanya, Bank tidak bergerak dalam

138 139

Pasal 22, Ibid. Pasal 5 ayat (1), Ibid.

71

bidang perbankan lagi sehingga karenanya mengacu kepada ketentuan Pasal 1 angka 11 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang bahwa badan hukum tersebut dapat dimohonkan pailit oleh setiap Krediturnya, tidak lagi harus Bank Indonesia yang memohonkan pailit. 140

B.

Aspek Hukum Permohonan Pernyataan Pailit Syarat-syarat untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit terhadap

Debitor dapat dilihat pada Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, yang berbunyi bahwa : ”Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan baik atas permohonannya sendiri atau maupun atas permohonan satu atau lebih kreditornya”. 141 Untuk lebih lanjutnya akan dibahas mengenai unsur-unsur dari ketentuan tersebut di atas, yang terdiri dari : 1. adanya dua Kreditor atau lebih; 2. adanya utang; 3. adanya satu utang yang telah jatuh tempo; dan 4. persyaratan permohonan pailit. Hal ini akan dibahas pada sub-bab selanjutnya di bawah ini.

Erman Radjagukguk sebagai saksi ahli dalam Kasus Bank Global., dalam Andi Pangeran Hamzah, “Proses Kepailitan Bank Dalam Likuidasi : Studi Mengenai Bank Global (Dalam Likuidasi)”, (Tesis : Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2006), hal. 87. 141 Pasal 2 ayat (1), Undang-Undang No. 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Op.cit.

140

72

1.

Syarat Adanya Dua Kreditor Atau Lebih (Concursus Creditorium) Adanya persyaratan concursus creditorium adalah sebagai bentuk

konsekuensi berlakunya ketentuan Pasal 1131 Burgerlijk Wetboek dimana rasio kepailitan adalah jatuhnya sita umum atas semua harta benda Debitor untuk kemudian setelah dilakukan rapat verifikasi utang-piutang tidak tercapai perdamaian atau accoord, dilakukan proses likuidasi atas seluruh harta benda Debitor untuk kemudian dibagi-bagikan hasil perolehannya kepada semua Kreditor sesuai urutan tingkat Kreditor yang telah diatur oleh undang-undang.142 Jika Debitor hanya memiliki satu Kreditor, maka eksistensi ketentuan kepailitan kehilangan raison d’etre-nya. Bila Debitor hanya memiliki satu Kreditor, maka seluruh harta kekayaan Debitor otomatis menjadi jaminan atas pelunasan utang Debitor tersebut dan tidak diperlukan pembagian secara pari passu pro rata parte, dan terhadap Debitor tidak dapat dituntut pailit karena hanya mempunyai satu Kreditor. 143 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang tidak mengatur secara tegas mengenai pembuktian bahwa Debitor mempunyai dua Kreditor atau lebih, namun oleh karena di dalam hukum kepailitan berlaku pula Hukum Acara Perdata, maka Pasal 116 HIR berlaku dalam hal ini. Pasal 116 HIR atau Pasal 1865 Burgerlijk Wetboek menegaskan bahwa beban wajib bukti (burden of proof) dipakai oleh pemohon atau penggugat untuk membuktikan diri (posita) gugatannya,144 maka sesuai dengan prinsip pembebanan

Sutan Remy Sjahdeini, Op.cit., hal. 64. Jono, Hukum Kepailitan, (Jakarta : Sinar Grafika, 2008), hal. 5. 144 Pasal 116 HIR dan Pasal 1865, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Staatsblad 1847 Nomor 23.
143

142

73

wajib bukti di atas, maka pemohon pernyataan pailit harus dapat membuktikan bahwa Debitor mempunyai dua atau lebih Kreditor sebagaimana telah dipersyaratkan oleh undang-undang kepailitan. 145 Ketentuan mengenai adanya syarat dua atau lebih Kreditor di dalam permohonan pernyataan pailit, maka terhadap definisi mengenai Kreditor harus diketahui terlebih dahulu. Undang-Undang No. 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan tidak memberikan definisi yang jelas mengenai “Kreditor”. Menurut Sutan Remy Sjahdeini, harus dibedakan pengertian Kreditor dalam kalimat “...mempunyai dua atau lebih Kreditor…”, dan “...atas permohonan seorang atau lebih kreditornya...”.146 Dalam kalimat pertama, yang dimaksud Kreditor adalah sembarang Kreditor, baik Kreditor Separatis, Kreditor Preferen, maupun Kreditor Konkuren. Sedangkan dalam kalimat kedua, kata “Kreditor” disini dimaksudkan untuk Kreditor Konkuren. Kreditor Konkuren berlaku dalam definisi Kreditor pada kalimat kedua dikarenakan seorang Kreditor Separatis tidak mempunyai kepentingan untuk diberi hak mengajukan permohonan pernyataan pailit mengingat Kreditor Separatis telah terjamin sumber pelunasan tagihannya, yaitu dari barang agunan yang dibebani dengan hak jaminan.147 Pendapat Sutan Remy Sjahdeini ini diperkuat pula oleh Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 07.K/N/1999 tanggal 4 Februari 1999 yang mengemukakan dalam pertimbangan hukumnya bahwa Kreditor Separatis yang tidak melepaskan haknya terlebih dahulu sebagai Kreditor Separatis, bukanlah Kreditor
145 146

Sutan Remy Sjahdeini, Op.cit., hal. 64-65. Ibid. 147 Ibid.

74

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang No. 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan.148 Disahkannya Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, maka telah didapat pengertian “Kreditor” sebagaimana terdapat di dalam Penjelasan Pasal 2 ayat (1) ketentuan ini. Berkaitan dengan ada tidaknya pelepasan hak agunan Kreditor Separatis terhadap pengajuan permohonan pailit, terhadap Kreditor telah diatur secara jelas di dalam Pasal 138 ketentuan ini.149 Berdasarkan ketentuan kepailitan yang baru ini, maka Kreditor Separatis dan Kreditor Preferen dapat tampil sebagai Kreditor Konkuren tanpa harus melepaskan hak-hak untuk didahulukan atas benda yang menjadi agunan atas piutangnya, tetapi dengan catatan bahwa Kreditor Separatis dan Kreditor Preferen dapat membuktikan bahwa benda yang menjadi agunan tidak cukup untuk melunasi utangnya Debitor pailit. 150

2.

Syarat Harus Adanya Utang Pengertian mengenai utang di dalam hukum kepailitan Indonesia mengikuti

setiap perubahan aturan kepailitan yang ada. Di dalam Faillissementsverordening tidak diatur tentang pengertian utang. Faillissementsverordening menentukan bahwa
Sutan Remy Sjahdeini, Op.cit., hal. 65. Pasal 138, Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Op.cit., menyatakan bahwa : ”Kreditor yang piutangnya dijamin dengan gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, hak agunan atas kebandaan lainnya, atau yang mempunyai hak yang diistimewakan atas suatu benda tertentu dalam harta pailit dan dapat membuktikan bahwa sebagian piutang tersebut kemungkinan tidak akan dapat dilunasi dari hasil penjualan benda yang menjadi agunan, dapat meminta diberikan hak-hak yang dimiliki kreditor konkuren atas bagian piutang tersebut, tanpa mengurangi hak untuk didahulukan atas benda yang menjadi agunan atas piutangnya”. 150 Jono, Op.cit., hal. 10.
149 148

75

putusan pernyataan pailit dikenakan terhadap “de schuldenaar, die in en toestand verkeert daj hij heft apgehouden te betalen”. Dari ketentuan ini, dapat diterjemahkan dalam beberapa versi, yaitu151 : 1. “Setiap Debitor (orang yang berutang) yang tidak mampu membayar utangnya yang berada dalam keadaan berhenti membayar kembali utang tersebut 2. Setiap berutang yang berada dalam keadaan telah berhenti membayar utang-utangnya 3. Setiap Debitor yang berada dalam keadaan berhenti membayar utangutangnya”. Siti Soemarti Hartono meyatakan bahwa dalam yurisprudensi ternyata bahwa membayar tidak selalu berarti menyerahkan sejumlah uang. Oleh karenanya di dalam Faillissementsverordening dapat dilihat adanya konsep utang dalam arti luas. Menurut putusan H. R. 3 Juni 1921, membayar berarti memenuhi suatu perikatan, ini diperuntukkan untuk menyerahkan barang-barangnya.152 Sama halnya dengan Faillissementsverordening, Undang-Undang No. 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan juga tidak mengatur pengertian utang. Ketentuan ini menentukan Debitor dapat dinyatakan pailit apabila “tidak membayar sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih kepada kreditor”. Ketentuan ini hanya menentukan utang yang tidak dibayar oleh Debitor adalah utang pokok atau bunga. Hal ini berarti permohonan pernyataan pailit terhadap Debitor dapat dilakukan

Siti Anisah, Perlindungan Kepentingan Kreditor dan Debitor Dalam Hukum Kepailitan di Indonesia : Studi Putusan-Putusan Pengadilan, (Yogjakarta : Total Media, 2008), hal. 44. 152 Siti Soemarti Hartono, Pengantar Hukum Kepailitan dan Penundaan Pembayaran, (Yogjakarta : Seksi Hukum Dagang, Fakultas Hukum UGM, 1981).

151

76

apabila ia dalam keadaan berhenti membayar utang atau ketika ia tidak membayar bunganya saja.153 Menurut Jerry Hoff, istilah hukum “utang” dalam Pasal 1 ayat (1) UndangUndang No. 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan menunjuk kepada hukum kewajiban dalam hukum perdata. Kewajiban atau utang dapat timbul baik dari perjanjian maupun undang-undang dimana hal tersebut terdapat kewajiban untuk memberikan sesuatu, berbuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat sesuatu.154 Dalam Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, terdapat perubahan pengertian tentang utang. Utang diartikan sebagai kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang dalam mata uang Indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung maupun yang akan timbul karena perjanjian atau,undang-undang, dan yang wajib dipenuhi oleh debitor dan bila tidak dipenuhi memberi hak kepada kreditor untuk mendapat pemenuhannya dari harta kekayaan debitor. 155 Berdasarkan pengertian utang di atas, permohonan pernyataan pailit dikabulkan apabila “Debitor mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun atas permintaan satu atau lebih kreditornya”.156 Namun telah diaturnya pengertian mengenai utang dan syarat dikabulkannya permohonan pernyataan pailit di dalam
Siti Anisah, Loc.cit., hal. 53. Pasal 1233 dan Pasal 1234, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Op.cit. 155 Pasal 1 angka 6, Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Op.cit. 156 Pasal 2 ayat (1), Ibid.
154 153

77

undang-undang ini ternyata dianggap belum mampu mengakomodasi ketentuan tentang persyaratan permohonan pernyataan pailit yang banyak diterapkan oleh negara lain, seperti misalnya mengenai batasan minimal nominal utang yang dapat diajukan pailit. Batasan minimal nominal utang yang dimiliki oleh Debitor sebagai syarat permohonan pernyataan pailit dianggap penting untuk membatasi jumlah permohonan pernyataan pailit. Pembatasan ini sebagai bentuk perlindungan hukum terhadap Kreditor Mayoritas dari kesewenangwenangan Kreditor Minoritas, dan untuk mencegah Kreditor dengan piutang sangat kecil dibandingkan dengan aset yang dimiliki Debitor, mengabulkan permohonan pernyataan pailit, dan dikabulkan oleh hakim. 157 Tidak terdapatnya pembatasan jumlah nilai nominal utang di dalam pengajuan permohonan pernyataan pailit, menurut M. Hadi Subhan dianggap sebagai kekurangan dan kelemahan aturan hukum kepailitan di Indonesia.158 Padahal ide untuk menentukan pembatasan persentase harta Debitor yang tersisa sebagai syarat permohonan pernyataan pailit sebenarnya telah ada sebagaimana terdapat di dalam Pasal 1 Konsep Rancangan Undang-Undang tentang Undang-Undang Kepailitan. Dalam pasal ini mengatur mengenai pailit dan kebangkrutan berlaku terhadap Debitor yang sudah tidak mampu lagi untuk membayar utang-utangnya, dan harta yang tersisa adalah hanya 25% dari seluruh kekayaan Debitor. 159 Adanya kelemahan berupa tidak diaturnya pembatasan jumlah nilai nominal utang di dalam hukum kepailitan, dilihat

Siti Anisah, Op.cit., hal. 71. M. Hadi Subhan, Hukum Kepailitan : Prinsip, Norma, dan Praktik di Peradilan, (Jakarta : Kencana, 2008), hal. 93. 159 Siti Anisah, Loc.cit., hal. 72.
158

157

78

dari argumentasi yuridis menunjukkan bahwa dengan tidak dibatasi jumlah minimum utang sebagai dasar pengajuan permohonan kepailitan, maka akan terjadi penyimpangan hakikat kepailitan dari kepailitan sebagai pranata likuidasi yang cepat terhadap kondisi keuangan debitor yang tidak mampu melakukan pembayaran utangutangnya kepada para kreditormya, sehingga untuk mencegah terjadinya unlawful execution dari para kreditornya, kepailitan hanya menjadi alat tagih semata (debt collection tool). 160 Apabila dilihat dari komparasi hukum, pembatasan jumlah nilai nominal utang di dalam pengajuan permohonan pernyataan pailit merupakan suatu kelaziman sebagaimana yang dianut di beberapa negara lainnya seperti Singapura, Hongkong, Filipina, Australia, Kanada, dan bahkan Amerika Serikat. Undang-Undang Kepailitan Singapura mengatur jumlah minimal utang yang dapat diajukan pailit adalah sebesar US$. 2,000,- atau jumlah lain akan ditentukan di masa depan, sedangkan di Hongkong, perusahaan yang tidak dapat memenuhi kewajibannya untuk jumlah utang yang lebih dari HK$. 5,000,-. 161 Menurut The Philippine Act, tiga orang Kreditor atau lebih yang merupakan penduduk Filipina dan memiliki tagihan terhadap debitor hingga mencapai nilai sebesar 1,000 pesos dapat mengajukan involuntary petition. Di Australia pengajuan voluntary petition tidak mensyaratkan besaran jumlah utang yang dimiliki, sedangkan pengajuan involuntary petition atau sequestration (penitipan barang atas perintah
M. Hadi Subhan, Loc.cit. Nilai nominal jumlah minimal utang di Singapura di dalam undang-undang kepailitan mengalami peningkatan dari US$. 500,- menjadi US$. 2,000,- dan hal ini didasarkan pada The Bankruptcy Act 1995 yang disahkan parlemen pada 23 Maret 1995 dan disetujui Presiden pada 12 April 1995. Sedangkan pengaturan batasan minimal utang di Hongkong, diatur di dalam §.178 (a) (1) of The Companies Ordinance.
161 160

79

pengadilan) dilakukan apabila Debitor memiliki utang tidak kurang dari AUS$.2,000,- dalam bentuk utang yang jumlahnya telah ditentukan dalam perjanjian.162 Di Kanada, Kreditor tidak berjaminan atau Kreditor berjaminan yang mempunyai piutang senilai CDN$. 1,000,- dapat mengajukan permohonan pailit dalam jangka waktu enam bulan dari saat debitor mengajukan permohonan pailit kepada The Official Receiver.163 Bankruptcy Code Amerika Serikat mensyaratkan permohonan pernyataan pailit untuk involuntary petition dapat diajukan jika debitor memiliki tagihan utang yang tidak berjaminan (unsecured debt) sebesar US$. 5,000,-. Tiga kreditor harus bersama-sama mengajukan permohonan pailit apabila Debitor memiliki 12 Kreditor atau lebih Kreditor, sebaliknya seorang Kreditor dapat mengajukan permohonan pailit sepanjang tagihannya minimal US$. 5,000,-. 164

3.

Syarat Adanya Satu Utang yang Telah Jatuh Waktu dan Dapat Ditagih Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan

Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang menyebutkan syarat untuk dinyatakan pailit melalui putusan pengadilan, yaitu165 : 1. ”Terdapat minimal 2 (dua) orang Kreditor 2. Debitor tidak membayar lunas sedikitnya satu utang, dan 3. Utang tersebut telah jatuh waktu dan dapat ditagih”.

Siti Anisah, Op.cit., hal. 72-73. Di Kanada, kreditor berjaminan dapat mengajukan permohonan pailit hanya jika ia bersedia melepaskan jaminannya. 164 Siti Anisah, Loc.cit. 165 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Op.cit.
163

162

80

Syarat yang ada pada poin ketiga di atas, menunjukkan bahwa adanya utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih menunjukkan bahwa Kreditor sudah mempunyai hak untuk menuntut Debitor untuk memenuhi prestasinya. Menurut Jono, hak ini menunjukkan adanya utang yang harus lahir dari perikatan sempurna yaitu adanya schuld dan haftung.
166

Schuld yang dimaksud disini adalah kewajiban setiap

debitor untuk menyerahkan prestasi kepada Kreditor, dan karena itu Debitor mempunyai kewajiban untuk membayar utang. Sedangkan haftung adalah bentuk kewajiban Debitor yang lain yaitu Debitor berkewajiban untuk membiarkan harta kekayaannya diambil oleh Kreditor sebanyak utang Debitor guna pelunasan utang tadi, apabila Debitor tidak memenuhi kewajibannya membayar utang tersebut.167 Ketentuan adanya syarat utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, menurut Sutan Remy Sjahdeini, kedua istilah tersebut memiliki pengertian dan kejadian yang berbeda. Suatu utang dikatakan sebagai utang yang telah jatuh waktu atau utang yang expired, yaitu utang yang dengan sendirinya menjadi utang yang telah dapat ditagih. Sedangkan utang yang telah dapat ditagih belum tentu merupakan utang yang telah jatuh waktu.168 Di sisi lain, suatu utang dikatakan jatuh tempo dan dapat ditagih yaitu apabila utang itu sudah waktunya untuk dibayar. Penggunaan istilah jatuh tempo merupakan terjemahan dari istilah “date of maturity”.169 Date of maturity atau tanggal jatuh tempo adalah tanggal yang ditetapkan sebagai batas waktu
Jono, op.cit., hlm. 11. Menurut pakar hukum dan yurisprudensi, schuld dan haftung dapat dibedakan tetapi pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan. Asas pokok haftung terdapat dalam Pasal 1131 Burgerlijk Wetboek. Lihat : Mariam Darus Badrulzaman, et.al., Kompilasi Hukum Perikatan, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2001), hal. 8-9. 168 Sutan Remy Sjahdeini, Op.cit., hal. 68-71. 169 Siti Anisah, Op.cit., hal. 87.
167 166

81

maksimal terhadap utang atau kewajiban.170 Tidak dipergunakannya istilah jatuh waktu disini karena istilah ini tidak ditemukan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pengertian jatuh tempo itu sendiri ditemukan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jatuh tempo mempunyai pengertian batas waktu pembayaran atau penerimaan sesuatu dengan yang ditetapkan; sudah lewat waktunya; kadaluarsa.171 Pengertian tempo mempunyai arti waktu, batas waktu, janji (waktu yang dijanjikan). 172 Pengaturan suatu utang jatuh tempo dan dapat ditagih, dan juga wanprestasi dari salah satu pihak dapat mempercepat jatuh tempo utang, yang diatur di dalam perjanjian. Ketika terjadi default, jatuh tempo utang telah diatur, maka pembayaran utang dapat dipercepat dan menjadi jatuh tempo dan dapat ditagih seketika itu juga sesuai dengan syarat dan ketentuan perjanjian.173 Jika di dalam perjanjian tidak mengatur tentang jatuh tempo, maka Debitor dianggap lalai apabila dengan surat teguran Debitor telah dinyatakan lalai dan dalam surat itu Debitor diberi waktu tertentu untuk melunasi utangnya.174 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, menentukan pengertian utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih adalah kewajiban untuk membayar utang yang telah jatuh waktu
Date of maturity dapat diartikan tanggal saat utang atau kewajiban tertentu harus dibayar atau dilunasi. Lihat : HRA Rivai Wirasasmita, et.al., Kamus Lengkap Ekonomi, (Bandung : Pionir Jaya, 2002), hal. 111. 171 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, (Jakarta : Balai Pustaka, 1996), hal. 404. 172 Ibid., hal. 1033. 173 Default adalah kelalaian untuk memenuhi kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak. dapat diartikan pula sebagai kelalaian pihak debitor dalam menepati janji dan kewajiban yang dilakuan terhadap pihak kreditor. Lihat : HRA. Rivai Wirasasmita, et.al, Op.cit., hal. 117. 174 Pasal 1238, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Op.cit.
170

82

baik karena telah diperjanjikan, karena percepatan waktu penagihannya sebagaimana diperjanjikan, karena pengenaan sanksi atau denda oleh instansi yang berwenang maupun karena putusan pengadilan, arbiter, atau majelis arbitrase. 175 Implementasi Penjelasan Pasal 2 ayat (1) ketentuan kepailitan ini lebih banyak terjadi ketika Debitor tidak memenuhi kewajiban untuk membayar utang yang telah jatuh waktu sebagaimana yang telah diperjanjikan.176 Ketentuan yang menyatakan adanya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, menurut Sutan Remy Sjahdeini, hukum kepailitan bukan hanya mengatur kepailitan Debitor yang tidak membayar kewajibannya hanya kepada salah satu kreditornya saja, tetapi debitor itu harus berada dalam keadaan insolven (insolvent). Seorang Debitor berada dalam keadaan insolven hanyalah apabila Debitor itu tidak mampu secara finansial untuk membayar utang-utangnya kepada sebagian besar para kreditornya. 177 Istilah “toestand” secara etimologi berarti keadaan penghentian kewajiban membayar yang pada umumnya baru ada jika orang membiarkan Debitor tidak membayar lebih dari satu utang. 178 Kata “keadaan berhenti membayar” dalam Pasal 1 ayat (1)

Faillissementsverordening berubah menjadi “tidak membayar” dalam UndangUndang No. 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan. Debitor tidak membayar utangutangnya kepada para kreditornya tidak memerlukan klasifikasi apakah Debitor benar-benar tidak mampu melakukan pembayaran utang atau karena tidak mau
Penjelasan Pasal 2 ayat (1), Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Op.cit. 176 Siti Anisah, Op.cit., hal. 92. 177 Sutan Remy Sjahdeini, Op.cit., hal. 71-72. 178 Hal ini sebagaimana tertuang di dalam Pasal 1 ayat (1) Faiilissementsverordening, Siti Anisah, Op.cit., hal. 74., Lihat juga : Sutan Remy Sjahdeini, Op.cit., hal. 71.
175

83

membayar kendati Debitor memiliki kemampuan.179 Dalam praktik pengadilan niaga muncul beberapa kriteria Debitor tidak membayar utangnya, antara lain 180 : a. Ketika Debitor tidak membayar utang karena berhenti membayar utangnya; b. Debitor tidak membayar utang ketika Debitor tidak membayar dengan seketika dan sekaligus lunas kepada para kreditornya; c. Debitor tidak membayar utang ketika Debitor berhenti melakukan pembayaran terhadap angsuran yang telah disepakati sehingga Debitor dapat dikatakan tidak memenuhi kewajiban sebagaimana telah diperjanjikan; d. Debitor tidak melakukan pembayaran atas utangnya meskipun terhadap perjanjian awal telah dilakukan amandemen. Tindakan ini menunjukkan bahwa Debitor bersikap ingkar janji kepada kreditornya; dan e. Debitor tidak pernah membayar utangnya yang terakhir meskipun tersebut di dalamnya.

Penegakan Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang di dalam perjalanannya menghasilkan beberapa putusan pengadilan niaga yang mendalilkan debitor tidak membayar utang, antara lain 181 : a. Debitor tidak membayar utang ketika debitor berhenti membayar utang terhadap puluhan Kreditor sementara harta yang dimiliki Debitor makin hari

179 180

Siti Anisah, Op.cit., hal. 78. Ibid., hal. 78-83. 181 Ibid., hal. 83-84.

84

makin berkurang dan nilainya menjadi lebih kecil dari utang-utang Kreditor; dan b. Debitor tidak membayar utangnya ketika Debitor tidak melunasi

pembayarannya kepada Kreditor pada saat yang telah ditentukan dan mengakui utangnya tersebut.

4.

Syarat Permohonan Pailit Berdasarkan Pasal 2 ayat (1), (2), (3), (4), (5) Undang-Undang No. 37 Tahun

2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang menunjukkan bahwa pihak yang dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit bagi seorang Debitor adalah 182 : a. b. c. d. e. ”Debitor yang bersangkutan; Kreditor atau para kreditor; Kejaksaan untuk kepentingan umum; Bank Indonesia apabila debitornya adalah bank; Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) apabila debitornya adalah Perusahaan Efek, Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian; f. Menteri Keuangan apabila debitornya adalah Perusahaan Asuransi; g. Perusahaan Reasuransi, Dana Pensiun, atau Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang kepentingan publik”. Menurut Pasal 1 ayat (1), (2), (3), (4) Undang-Undang No. 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan menyatakan pihak yang dapat mengajukan permohonan pailit pada seorang Debitor adalah 183 : a. “Debitor yang bersangkutan; b. Kreditor atau Para Kreditor;
Pasal 2 ayat (1), (2), (3), (4), (5) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Op.cit. 183 Pasal 1 ayat (1), (2), (3), (4) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan.
182

85

c. Kejaksaan untuk kepentingan umum; d. Bank Indonesia apabila debitornya adalah Bank; e. Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) apabila debitornya adalah Perusahaan Efek”. Ketentuan yang ada di dalam Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ditambahkan Menteri Keuangan sebagai pihak yang dapat mengajukan permohonan pailit berkaitan dengan kegiatan perasuransian dan kewenangan Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAMLK) di dalam mengajukan permohonan pailit juga menjadi lebih luas karena tidak hanya semata-mata perusahaan efek saja, melainkan juga lembaga-lembaga lain yang terlibat di dalam kegiatan pasar modal. 184 Beberapa pihak di atas yang dapat mengajukan permohonan pailit, pihak yang paling umum mengajukan permohonan pailit adalah pihak Debitor dan Kreditor. Pengajuan permohonan pailit yang dilakukan oleh Debitor disebut dengan voluntary petition. Voluntary petition adalah permohonan pernyataan pailit yang diajukan oleh Debitor, yang tidak mensyaratkan berapa besar jumlah utang yang dimilikinya. Sebaliknya pengajuan permohonan pailit yang dilakukan oleh pihak Kreditor disebut dengan involuntary petition. Involuntary petition adalah pengajuan permohonan pernyataan pailit yang dilakukan Kreditor apabila Debitor memiliki utang yang jumlah nilai utangnya dan bentuk utangnya telah ditentukan di dalam perjanjian. 185 Ketentuan bahwa Debitor adalah salah satu pihak yang dapat mengajukan permohonan pailit terhadap dirinya sendiri adalah ketentuan yang dianut di banyak

Man. S. Sastrawidjaja, Hukum Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, (Bandung : Alumni, 2006), hal. 92. 185 Siti Anisah, Op.cit., hal. 72.

184

86

negara. Namun ketentuan ini memberi kesempatan bagi Debitor nakal untuk melakukan rekayasa demi kepentingannya. Oleh karenanya, sekalipun mungkin saja permohonan pernyataan pailit terhadap Debitor dikabulkan oleh pengadilan, baik yang diajukan oleh Debitor sendiri atau oleh Kreditor teman kolusi Debitor atau sekongkolnya, namun Debitor tidak seharusnya lepas dari jerat pidana.186 Sedangkan ketentuan Kreditor di dalam mengajukan permohonan pernyataan pailit mengacu pada ketentuan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Ketentuan ini juga telah mengatur pula kewenangan Kreditor Separatis dan Kreditor Preferen dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit tanpa kehilangan hak agunan atas kebendaan yang dimilikinya terhadap harta Debitor dan haknya untuk didahulukan.187 Peraturan perundang-undangan di Indonesia yang mengatur tentang kepailitan diantaranya Faillissementsverordening, Undang-Undang No. 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan, Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang telah menentukan bahwa permohonan pernyataan pailit dapat dilakukan atas permintaan Debitor maupun atas permintaan kreditornya. Namun ketiga undang-undang kepailitan ini tidak membedakan permohonan pernyataan pailit terhadap debitor individu atau perusahaan.188 Padahal tujuan dan manfaat hukum kepailitan perseorangan dan perusahaan berbeda. Tujuan dan manfaat hukum kepailitan perseorangan adalah pembagian yang adil harta pailit Debitor di

Sutan Remy Sjahdeini, Op.cit., hal. 122-124. Penjelasan Pasal 2 ayat (1), Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Op.cit. 188 Siti Anisah, Op.cit., hal. 126-127.
187

186

87

antara para kreditornya dan memberi kesempatan bagi Debitor Insolven untuk memperoleh fresh start.189 Di sisi lain, tujuan dan manfaat hukum kepailitan perusahaan adalah memperbaiki atau memulihkan perusahaan guna memperoleh keuntungan dalam perdagangan, memaksimalkan pengembalian tagihan para Kreditor, menyusun tagihan Kreditor, dan identifikasi penyebab kegagalan perusahaan serta menerapkan sanksi terhadap manajemen yang menyebabkan kepailitan. 190 Ketiadaaan perbedaan permohonan pailit terhadap Debitor perseorangan dan perusahaan menjadikan undang-undang kepailitan di Indonesia berbeda dengan undang-undang kepailitan di negara lain. 191

Menurut H.L.A. Hart mengenai yang membagi hukum dalam dua bentuk, yaitu primary rule dan secondary rule, terkait pengajuan kepailitan oleh Bank Indonesia terhadap Bank adalah bahwa Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (sebagai primary rule) sudah tepat menentukan Bank Indonesia yang dapat mengajukan pailit terhadap Bank. Karena terkait dengan yang dikatakan oleh Sutan Remy Sjahdeini bahwa ada yang diselamatkan jika Bank Indonesia yang mengajukan permohonan tersebut yaitu rush, semua itu demi menjamin Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) yang stabil. Namun pada, Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1999 tentang Pencabutan Izin
Fresh start adalah kesempatan bagi debitor dimana debitor tidak diwajibkan untuk melunasi utang-utangnya dan dapat melakukan bisnis tanpa dibebani utang yang menggantung dari masa lalu. Lihat : Sutan Remy Sjahdeini, Op.cit., hal. .39. 190 Siti Anisah, Op.cit., hal. 127. 191 Misalnya saja di Belanda terdapat Netherlands Bankruptcy Act untuk penjatuhan kepailitan terhadap perusahaan dan Debt Restructuring Act For Private Individual untuk kepailitan konsumen atau individual.
189

88

Usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank (sebagai secondary rule) yang mengatur mengenai likuidasi Bank adalah kurang tepat karena menurut Erman Radjagukguk bahwa status Bank Umum yang sudah dicabut izinnya akan berubah menjadi Perseroan Terbatas biasa yang tidak lagi bergerak dalam bidang perbankan. Jadi, Kreditor lainnya selain Bank Indonesia juga dapat mengajukan permohonan pailit terhadap bank dalam likuidasi terkait pencabutan izin oleh Bank Indonesia.

89

BAB IV MEKANISME HUKUM YANG DAPAT DIGUNAKAN OLEH KREDITOR DALAM MENYELESAIKAN PIUTANGNYA TERHADAP BANK

A.

Mekanisme Hukum Penyelesaian Piutang Terhadap Bank Melalui Permohonan Pailit Pasal 2 ayat (3) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan

Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang disebutkan dalam hal Debitor adalah bank, permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Bank Indonesia. Bank Indonesia sudah sewajarnya melaksanakan kewenangannya dalam kepailitan untuk menunjang perekonomian nasional. Sehubungan dengan itu, dalam ketentuan kepailitan ini sebenarnya perlu diatur dengan tegas dalam kondisi bagaimana Bank Indonesia dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit kepada Pengadilan Niaga.192 Oleh karena pengaturan dimaksud tidak ada maka kondisi itu sebaiknya didasarkan pada ukuran yang terdapat Pasal 37 ayat (1) Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan yaitu keadaan suatu bank mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya. Suatu bank dikatakan mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya bila berdasarkan penilaian Bank Indonesia keadaan usaha Bank semakin memburuk antara lain ditandai dengan menurunnya permodalan, kualitas aset, likuiditas, dan rentabilitas, serta pengelolaan Bank yang tidak dilakukan berdasarkan prinsip kehati-hatian dan asas perbankan yang sehat. Dengan adanya ukuran yang jelas ini maka Bank Indonesia akan aman
Direktorat Hukum Bank Indonesia, “Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan”, Volume 2 Nomor 2, (Jakarta : Bank Indonesia, Agustus 2004), hal. 9.
192

90

dalam menggunakan kewenangan tunggalnya mengajukan permohonan pernyataan pailit ke Pengadilan Niaga. 193 Selanjutnya menurut penilaian Bank Indonesia suatu Bank mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya, Bank Indonesia dapat melakukan tindakan agar 194 : a. “Pemegang saham menambah modal; b. Pemegang saham mengganti Dewan Komisaris dan atau Direksi bank; c. Bank menghapus bukukan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah yang macet dan memperhitungkan kerugian bank dengan modalnya; d. Bank melakukan merger atau konsolidasi dengan bank lain; e. Bank dijual kepada pembeli yang bersedia mengambil alih seluruh kewajiban; f. Bank menyerahkan pengelolaan seluruh atau sebagian kegiatan bank kepada pihak lain; g. Bank menjual sebagian atau seluruh harta dan atau kewajibannya kepada bank atau pihak lain”. Apabila tindakan di atas belum cukup untuk mengatasi kesulitan yang

dihadapi Bank atau menurut Bank Indonesia keadaan suatu bank dapat membahayakan sistem perbankan, maka Pimpinan Bank Indonesia dapat mencabut izin usaha bank dan memerintahkan Direksi Bank untuk segera menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) guna membubarkan badan hukum bank dan membentuk Tim Likuidasi. Dalam hal Direksi bank tidak menyelenggarakan RUPS, Pimpinan Bank Indonesia meminta kepada pengadilan untuk mengeluarkan penetapan yang berisi pembubaran badan hukum bank, penunjukan Tim Likuidasi, dan perintah pelaksanaan likuidasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan

193 194

Ibid. Pasal 37 ayat (1), Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, Op.cit.

91

yang berlaku. 195 Dalam rangka kepailitan ini, sebaiknya Bank Indonesia mengajukan permohonan pernyataan pailit kepada Pengadilan Niaga ketika tindakan tindakan penyelamatan bank (bank rescue) sebagaimana pada Pasal 37 ayat (1) huruf a hingga g. Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan belum berhasil untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi bank. 196 Sebaiknya Bank Indonesia tidak menunggu hingga kesulitan Bank tersebut dapat membahayakan sistem perbankan. Bila keadaan suatu Bank telah

membahayakan sistem perbankan maka sebenarnya adalah suatu keterlambatan untuk melakukan kepailitan, kecuali keadaan membahayakan sistem perbankan itu terjadi seketika. Ketepatan waktu ini penting karena upaya kepailitan itu sebenarnya adalah juga merupakan upaya penyelamatan Bank melalui jalur Pengadilan Niaga. Dalam kepailitan, penetapan putusan pernyataan pailit oleh Pengadilan Niaga tidak perlu didahului dengan pencabutan izin usaha bank oleh Bank Indonesia dan pembubaran badan hukum bank oleh RUPS mengingat dalam kepailitan selalu diupayakan terwujudnya perdamaian yang merupakan tindakan penyelamatan bank berdasarkan kesepakatan antara Debitor dan para Kreditur (Kreditur Konkuren). Bila perdamaian tersebut dapat diwujudkan dan setelah disahkan oleh Pengadilan Niaga maka kepailitan diangkat (dicabut) dan bank sebagai Debitor dapat kembali berbisnis seperti biasa. Namun, jika perdamaian tidak terwujud maka harta pailit Bank

Pasal 37 ayat (2) dan (3), Ibid. Direktorat Hukum Bank Indonesia, “Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan”, Op.cit., hal. 10.
196

195

92

dinyatakan berada dalam keadaan insolvensi dan Kurator mulai membereskan dengan menjual harta pailit tanpa memerlukan persetujuan Debitor.197 Setelah ada kejelasan ukuran bagi Bank Indonesia untuk melaksanakan kewenangannya atas Bank sebagai Debitor, selanjutnya diperlukan juga kejelasan ukuran atas ‘jumlah Kreditur’ dan ‘utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih’. Dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang dinyatakan bahwa agar dapat diajukan permohonan pernyataan pailit ke Pengadilan Niaga maka jumlah kreditur yang dimiliki debitor minimal dua. Bagi Bank sebagai Debitor terlalu riskan diberlakukan kriteria kepemilikan minimal dua Kreditur tersebut. Suatu hal yang tidak wajar bagi Bank sebagai Debitor jika hanya karena dengan memiliki minimal dua Kreditur dan tidak membayar sedikitnya satu utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih menjadi dapat dipailitkan oleh Pengadilan Niaga, mengingat ketidakwajaran ini berbeda dengan perusahaan pada umumnya, dimana bank memiliki banyak Kreditur. Kepentingan seluruh Kreditur sudah sewajarnya menjadi pertimbangan bukan hanya sekedar kepentingan dua atau tiga Kreditur saja. Selain kepentingan para Kreditur Bank, maka kepentingan para nasabah Debitor dan nasabah pengguna jasa Bank juga perlu menjadi pertimbangan.198 Dengan kata lain, implikasi kepailitan bagi kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan perlu mendapat perhatian dalam mempailitkan bank. Oleh karena

Ibid. Daniel Djoko Tarliman, et.al., “Kewenangan dan Tanggung Jawab Bank Indonesia Dalam Kepailitan dan Likuidasi Lembaga Perbankan”, (Executive Summary Hasil Penelitian : Kerjasama Fakultas Hukum Universitas Surabaya dengan Bank Indonesia, 2004), hal. 35.
198

197

93

itu, adalah suatu pengaturan yang tepat dalam Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang bahwa atas Bank sebagai Debitor permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Bank Indonesia. Dalam pelaksanaan kepailitan, Bank Indonesia sudah seharusnya mengabaikan ukuran kepemilikan minimal dua Kreditur tersebut.199 Selanjutnya, untuk menghindari kesan bahwa mudah untuk mempailitkan Debitor maka ukuran nilai atas ‘utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih’ juga perlu menjadi pertimbangan. Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang tidak menetapkan besarnya nilai utang Debitor sebagai dasar untuk melaksanakan kepailitan. Artinya, berapapun nilai utang Debitor kepailitan tetap dapat dilaksanakan asal utang tersebut tidak dibayar pada saat jatuh tempo. Bagi Bank sebagai Debitor, ukuran nilai utang menjadi penting karena kaitannya dengan pemeliharaan kepercayaan masyarakat terhadap Bank. Bila nilai utang Bank hanya relatif sedikit maka adalah suatu tindakan yang keliru untuk mempailitkan Bank, mempertimbangkan dampak kepailitan itu bagi pemeliharaan kepercayaan masyarakat. Pihak yang menentukan ukuran nilai utang tersebut adalah Bank Indonesia sendiri sejalan dengan kewenangan yang diberikan Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang kepadanya sebagai satu-satunya lembaga yang dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit atas Bank sebagai Debitor. 200

199 200

Ibid. Direktorat Hukum Bank Indonesia, Op.cit., hal. 11.

94

B.

Jaring Pengaman Kepailitan Bank

Sistem

Keuangan

Sebagai

Kebijakan

Dalam

Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) merupakan kerangka kerja yang melandasi pengaturan mengenai skim asuransi simpanan, mekanisme pemberian fasilitas pembiayaan darurat oleh Bank Sentral (lender of last resort), serta kebijakan penyelesaian krisis. JPSK pada dasarnya lebih ditujukan untuk pencegahan krisis, namun demikian kerangka kerja ini juga meliputi mekanisme penyelesaian krisis sehingga tidak menimbulkan biaya yang besar kepada perekonomian. Dengan demikian, sasaran JPSK adalah menjaga stabilitas sistem keuangan sehingga sektor keuangan dapat berfungsi secara normal dan memiliki kontribusi positif terhadap pembangunan ekonomi yang berkesinambungan.201 Pada tahun 2005, Pemerintah dan Bank Indonesia telah menyusun kerangka Jaring Pengaman Sektor Keuangan (JPSK) yang kelak akan dituangkan dalam sebuah Rancangan Undang Undang tentang Jaring Pengaman Sektor Keuangan. Dalam kerangka JPSK dimaksud dimuat secara jelas mengenai tugas dan tanggung-jawab lembaga terkait yakni Departemen Keuangan, Bank Indonesia dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebagai pemain dalam jaring pengaman keuangan. Pada prinsipnya Departemen Keuangan bertanggung jawab untuk menyusun perundangundangan untuk sektor keuangan dan menyediakan dana untuk penanganan krisis. Bank Indonesia sebagai bank sentral bertanggung-jawab untuk menjaga stabilitas moneter dan kesehatan perbankan serta keamanan dan kelancaran sistem

Bagian Menimbang huruf a., Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 149, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4907.

201

95

pembayaran. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bertanggung jawab untuk menjamin simpanan nasabah bank serta resolusi bank bermasalah.202 Kerangka JPK tersebut telah dituangkan dalam Rancangan Undang-Undang JPSK yang pada saat ini masih dalam tahap pembahasan Dengan demikian, UU JPSK kelak akan berfungsi sebagai landasan yang kuat bagi kebijakan dan peraturan yang ditetapkan oleh otoritas terkait dalam rangka memelihara stabiltas sistem keuangan. Dalam RUU JPSK semua komponen JPSK ditetapkan secara rinci yakni meliputi: (1) pengaturan dan pengawasan bank yang efektif; (2) lender of the last resort; (3) skim asuransi simpanan yang memadai dan (4) mekanisme penyelesaian krisis yang efektif. 203

1.

Pengaturan dan Pengawasan Bank yang Efektif Pengaturan dan pengawasan bank yang efektif merupakan jarring pengaman

pertama dalam JPSK (First Line of Defense). Mengingat pentingnya fungsi pengawasan dan pengaturan yang efektif, dalam kerangka JPSK telah digariskan guiding principles bahwa pengawasan dan pengaturan terhadap lembaga dan pasar keuangan oleh otoritas terkait harus senantiasa ditujukan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, serta harus berpedoman kepada best practices dan standar yang berlaku. 204

Bank Indonesia, “Jaring Pengaman Sistem Keuangan”, http://www.bi.go.id/web/id/Perbankan/Stabilitas+Sistem+Keuangan/Manajemen+Krisis/Jaring+Penga man+Sistem+Keuangan/., diakses pada 15 Mei 2011. 203 Ibid. 204 Ibid.

202

96

2.

Lender of Last Resort Kebijakan Lender of Last Resort (LLR) yang baik terbukti sebagai salah satu

alat efektif dalam pencegahan dan penanganan krisis. Sejalan dengan itu, Bank Indonesia telah merumuskan secara lebih jelas kebijakan The Lender of Last Resort (LLR) dalam kerangka JPSK untuk dalam kondisi normal dan darurat (krisis) mengacu pada best practices. Pada prinsipnya, LLR untuk dalam kondisi normal hanya diberikan kepada bank yang illikuid tetapi solven yang memiliki agunan likuid dan bernilai tinggi. Sedangkan dalam pemberian LLR untuk kondisi krisis, potensi dampak sistemik menjadi faktor pertimbangan utama, dengan tetap mensyaratkan solvensi dan agunan.205 Untuk mengatasi kesulitan likuiditas yang berdampak sistemik, Bank Indonesia sebagai lender of last resort dapat memberikan fasilitas pembiayaan darurat kepada Bank Umum yang pendanaannya menjadi beban Pemerintah berdasarkan Undang-Undang No 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No 3 Tahun 2004 yang telah disetujui DPR tanggal 15 Januari 2004. Sebagai peraturan pelaksanaan fungsi lender of the last resort, telah diberlakukan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 136/PMK.05/2005 tanggal 30 Desember 2005 dan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 8/1/2006 tanggal 3 Januari 2006. Pendanaan Fasilitas Pembiayaan Darurat (FPD) bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). 206

205 206

Ibid. Ibid.

97

3.

Skim Penjaminan Simpanan (deposit insurance) yang Memadai Pengalaman menunjukkan bahwa Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)

merupakan salah satu elemen penting dalam menjaga Stabilitas Sistem Keuangan. Program penjaminan pemerintah (blanket guarantee) yang diberlakukan akibat krisis sejak tahun 1998 memang telah berhasil memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan. Namun penelitian menunjukkan bahwa blanket guarantee tersebut dapat mendorong moral hazard yang berpotensi menimbulkan krisis dalam jangka panjang.207 Sejalan dengan itu, telah diberlakukan Undang-Undang No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Dalam ketentuan tersebut, LPS nantinya memiliki dua tanggung jawab pokok yakni: (i) untuk menjamin simpanan nasabah bank; dan (ii) untuk menangani (resolusi) bank bermasalah. Untuk menghindari dampak negatif terhadap stabilitas keuangan, penerapan skim LPS tersebut akan dilakukan secara bertahap. Selanjutnya, jaminan simpanan nasabah bank akan dibatasi sampai dengan Rp100 juta per rekening mulai Maret 2007. 208

4.

Kebijakan Resolusi Krisis yang Efektif Kebijakan penyelesaian krisis yang efektif dituangkan dalam kerangka

kebijakan JPSK agar krisis dapat ditangani secara cepat tanpa menimbulkan beban yang berat bagi perekonomian. Dalam JPSK ditetapkan peran dan kewenangan masing-masing otoritas dalam penanganan dan penyelesaian krisis, sehingga setiap

207 208

Ibid. Ibid.

98

lembaga memiliki tanggung jawab dan akuntabilitas yang jelas. Dengan demikian, krisis dapat ditangani secara efektif, cepat, dan tidak menimbulkan biaya sosial dan biaya ekonomi yang tinggi. 209 Dalam pelaksanaannya, JPSK memerlukan koordinasi yang efektif antar otoritas terkait. Untuk itu dibentuk Komite Koordinasi yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Sebagai bagian dari kebijakan JPSK tersebut, telah dikeluarkan Keputusan Bersama Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia dan Ketua Dewan Komisioner LPS tentang Forum Stabilitas Sistem Keuangan sebagai wadah koordinasi bagi Bank Indonesia, Departemen Keuangan dan Lembaga Penjamin Simpanan dalam memelihara stabilitas sistem keuangan.210

C.

Peran Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Dalam Mengembalikan Dana Nasabah pada Bank yang Pailit Industri perbankan merupakan salah satu komponen yang sangat penting

dalam perekonomian suatu negara. Krisis pada 1997-1998 telah memberi pelajaran yang berharga bahwa kepercayaan masyarakat dan stabilitas sistem perbankan itu sangat mahal harganya. Berawal dari penutupan 16 bank umum, krisis menimbulkan keraguan dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap keamanan menempatkan dananya pada sistem perbankan.211 Ketidakpercayaan tersebut kemudian mendorong masyarakat untuk menarik simpanannya secara besar-besaran dari sistem perbankan
Ibid. Ibid. 211 Website Resmi Lembaga Penjamin Simpanan, “Sejarah Pendirian Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS)”, http://www.lps.go.id/v2/home.php?link=sejarah., diakses pada 15 Mei 2011.
210 209

99

(bank run / Bank Rush). Dana yang ditarik nasabah tersebut sebagian dilarikan ke luar negeri dan menyebabkan capital flight, sebagian dibelikan valuta asing, serta sebagian dibelanjakan untuk keperluan konsumtif yang mengakibatkan tingkat inflasi melonjak drastis. Hal itulah yang menyebabkan nilai tukar rupiah anjlok hingga Rp.16.000,- terhadap US$. 212 Untuk mengatasi dampak buruk dari penarikan dana tersebut serta sebagai upaya menumbuhkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan, pemerintah mengeluarkan kebijakan penjaminan terhadap seluruh kewajiban pembayaran bank umum dan Bank Perkreditan Rakyat (blanket guarantee) melalui Keppres No. 26 dan No. 193 Tahun 1998. 213 Di samping kebijakan tersebut, dalam rangka memperbaiki kinerja perbankan dan memperkuat struktur permodalan bank, pemerintah melakukan restrukturisasi dan rekapitulasi perbankan yang seluruhnya menelan biaya yang luar biasa besarnya.214

1.

Pendirian Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Kebijakan blanket guarantee telah terbukti menumbuhkan kembali

kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan. Akan tetapi, di sisi lain dapat membebani keuangan negara dan menimbulkan moral hazard, yakni insentif bagi
Lepi T. Tarmidi, “Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran”, Pidato Pengukuhan Guru Besar Madya pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 10 Juni 1998, hal. 3. 213 Keputusan Presiden No. 26 Tahun 1998 tentang Jaminan Terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Umum, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 29., dan Keputusan Presiden No. 193 Tahun 1998 tentang Jaminan Terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Perkreditan Rakyat, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 185. 214 Website Resmi Lembaga Penjamin Simpanan, “Peran LPS Dalam Mendukung Stabilitas Sistem Perbankan”, http://www.lps.go.id/v2/home.php?link=publikasi&pub_id=147., diakses pada 15 Mei 2011.
212

100

bankir atau nasabah untuk mengambil risiko yang lebih besar dikarenakan adanya penjaminan simpanan. Dengan pertimbangan perlunya menjaga kepercayaan masyarakat dan meminimalkan dampak negatif dari blanket guarantee, pemerintah menetapkan untuk secara bertahap mengurangi lingkup penjaminan dan hanya akan memberikan guarantee).215 Kebijakan tersebut dituangkan dalam ketentuan Pasal 37 B Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan Sebagaimana Telah Diubah Dengan UndangUndang No. 10 Tahun 1998, yang mengatur bahwa setiap bank wajib menjamin dana masyarakat yang disimpan pada bank yang bersangkutan. Untuk menjamin dana masyarakat tersebut, pemerintah membentuk suatu Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Sebagai implementasinya, pada tanggal 22 September 2004 ditetapkan Undang-Undang No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS). LPS dirancang sebagai suatu unsur penting dalam jaring pengaman sistem keuangan (financial safety net) yang merupakan praktik terbaik di banyak negara. 216 jaminan terhadap simpanan dalam jumlah terbatas (limited

2.

Fungsi dan Peran Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Fungsi LPS adalah menjamin simpanan nasabah penyimpan dan turut aktif

dalam memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan kewenangannya. Fungsi penjaminan diejawantahkan dengan melakukan pembayaran klaim penjaminan atas simpanan nasabah bank yang dicabut izinnya dan menunjuk Tim Likuidasi untuk

215 216

Ibid. Ibid.

101

membereskan aset dan kewajiban bank tersebut, sedangkan fungsi turut aktif memelihara stabilitas sistem perbankan diwujudkan dalam bentuk upaya

menyelamatkan atau penyehatan terhadap bank gagal yang tidak berdampak sistemik maupun bank gagal yang terdampak sistemik (Bank Resolution).217 Keputusan menyelamatkan atau tidak menyelamatkan bank gagal tidak berdampak sistemik ditetapkan oleh LPS. Salah satu pertimbangannya didasarkan pada penghitungan biaya yang lebih rendah (lower cost test) antara menyelamatkan bank tersebut dengan membayar klaim penjaminan. Sedangkan, keputusan untuk menyelamatkan gagal yang berdampak sistemik ditetapkan dan diserahkan oleh Komite Koordinasi (KK) yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia (BI), dan Ketua Dewan Komisioner. Setelah itu, LPS bertindak sebagai pelaksana dalam penyelamatan bank gagal yang telah diputuskan berdampak sistemik. 218 Dalam upaya dalam menyelamatkan bank gagal, LPS mempunyai kewenangan, antara lain mengambil alih dan menjalankan segala hak dan wewenang Pemegang Saham, termasuk RUPS; menguasai, mengelola, dan menjual/mengalihkan aset bank; melakukan Penyertaan Modal Sementara (PMS); serta mengalihkan manajemen pada pihak lain. LPS mempunyai jangka waktu penyelamatan paling lama 4 tahun untuk bank tidak berdampak sistemik dan 5 tahun untuk bank gagal

217 218

Ibid. Ibid.

102

yang berdampak sistemik. Selanjutnya, LPS harus menjual seluruh saham bank yang diperoleh dari Penyertaan Modal Sementara (PMS) secara terbuka dan transparan.219 Mengenai pembayaran klaim penjaminan simpanan nasabah bank yang dicabut izinnya, LPS memiliki hak untuk menggantikan posisi nasabah penyimpan tersebut (hak subrogasi) dalam pembagian hasil likuidasi bank. Pemberian kewenangan dan hak tersebut dimaksudkan untuk mengoptimalkan tingkat pemulihan (recovery rate) bagi LPS, sehingga keberlangsungan program penjaminan simpanan dapat terus dijaga. 220

D.

Penanganan Dana Nasabah Bank yang Pailit Krisis perbankan nasional telah memberikan pelajaran bagi kita semua bahwa

kegagalan suatu bank pada akhirnya menjadi beban Negara. Rekapitalisasi melalui penerbitan obligasi pada akhirnya membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara berkepanjangan. Oleh karena itu, wajar kalau dikatakan bahwa kegagalan sebuah bank pada akhirnya menjadi beban masyarakat. Kegagalan sebuah bank secara realistis harus dijadikan suatu risiko yang terukur dan rasional. Artinya sejak awal harus disadari bahwa peluang gagalnya suatu bank harus diperhitungkan sekecil apapun peluangnya. Dengan demikian dapat dilakukan pencadangan sumber dananya agar penanganan bank gagal menjadi lebih terorganisir dengan baik dan dapat dipertanggung jawabkan.221

219 220

Ibid. Ibid. 221 Krisna Wijaya, Op.cit.

103

Tentunya sulit diterima oleh semua pihak kalau dalam APBN akan dialokasikan sejumlah dana pencadangan untuk mengatasi bank gagal. Oleh sebab itu, diperlukan pendekatan dan penanganan khusus oleh suatu lembaga yang khusus juga. Bersyukurlah kalau pada akhirnya kita mempunyai Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) yang telah beroperasi sejak tanggal 22 September 2005. Keberadaan LPS terlanjur dipahami hanya sekedar menjalankan fungsi penjaminan simpanan masyarakat yang menabung di bank. Masih banyak yang belum mengetahui bahwa salah satu tugas strategis LPS diluar penjaminan simpanan adalah penanganan bank gagal dan melaksanakan proses dan penyelesaian likuidasi bank. 222 Bank gagal yang akan ditangani LPS adalah bank gagal yang berdampak sistemik dan tidak sistemik. Pengertian sistemik adalah apabila kegagalan bank akan berdampak luar biasa baik dalam penarikan dana (rush) maupun terhadap kelancaran dan kelangsungan roda perekonomian. Sementara yang tidak sistemik tentunya apabila tidak memenuhi kriteria tersebut diatas. Dalam menangani bank gagal yang sistemik maupun tidak, pihak LPS akan melakukan kajian dan memutuskan apakah akan diselamatkan atau tidak. Jika biaya penyelamatan jauh lebih mahal dari pada dengan menglikuidasi, maka penyelesaiannya singkat saja. Bank diusulkan dicabut ijin usahanya, kemudian dilikuidasi dan LPS membayar klaim atas simpanan masyarakat.223 Apabila LPS memutuskan untuk melakukan penyelamatan, maka ada perbedaan perlakuan antara penyelamatan bank gagal sistemik dan tidak sistemik.

222 223

Ibid. Ibid.

104

Untuk bank gagal tidak sistemik penyelamatan tidak mengikutsertakan pemegang saham lama. Artinya segala biaya yang timbul untuk penyelamatan akan menjadi disediakan oleh pihak LPS. Untuk bank gagal sistemik dapat dilakukan baik tanpa melibatkan pemegang saham lama maupun dengan cara melibatkan pemegang saham lama (open bank assistance). Dalam hal pemegang saham lama akan terlibat dalam penyelematan, maka diwajibkan menyetor minimal 20% dari total biaya penyelamatan. Sama seperti bank gagal sistemik, maka kekurangannya akan ditangani LPS. 224 Untuk penanganan bank gagal dengan skim apapun, pihak LPS berdasarkan Undang-Undang No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan, diberikan kewenangan yang sangat memadai. Kewenangan RUPS dan pengelolaan bank gagal sepenuhnya diserahkan kepada LPS sehingga program penyelamatan dapat dilakukan lebih efektif. Termasuk dalam kewenangan yang diberikan kepada LPS adalah untuk melakukan penyertaan sementara, melakukan merger dan konsolidasi dengan bank lain. Sekalipun diperbolehkan melakukan penyelamatan, bukan berarti dana “talangan” dari LPS akan hilang. Semua biaya yang timbul akibat melakukan penyelamatan suatu bank akan diperhitungkan sebagai penyertaan sementara. Jangka waktu penyertaan LPS dibatasi dan harus menjual kembali sahamnya maksimal 2-3 tahun sejak penyelamatan dilakukan.225 Dalam hal suatu bank pada akhirnya harus dilikuidasi, maka hasil penjualan aset bank terlikuidasi akan didistribusikan secara prioritas untuk biaya gaji dan

224 225

Ibid. Ibid.

105

pesangon pegawai, biaya operasional dan biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh LPS. Apabila hasil penjualan aset masih belum mencukupi, maka sisanya akan tetap menjadi kewajiban pihak pemegang saham lama. Dari skim penanganan bank gagal oleh LPS sebagaimana telah diuraikan diatas, dapat disimpulkan bahwa apabila terjadi kegagalan bank secara sistem telah ada mekanisme penyelesaian yang lebih pasti dan terstruktur. Disamping itu ada sangsi yang jelas dan tegas kepada pemegang saham yang mengakibatkan banknya gagal. Hal tersebut tentunya akan memberikan suatu perlindungan yang lebih memadai baik bagi masyarakat maupun pemerintah.226 Sekalipun demikian harus tetap disadari bahwa keberadaan LPS belum bisa membebaskan beban pemerintah. Sebab apabila kemampuan LPS baik dari modal, akumulasi premi dan cadangan serta surplus usaha tidak mencukupi, maka kekurangannya akan tetap dimintakan kepada pemerintah. Kalau dilihat bahwa kemungkinan itu ada, maka LPS memang bukan dewa penyelamat yang handal. Pada akhirnya harus diyakini bahwa penanganan bank gagal yang paling ampuh dan mujarab adalah apabila bank yang ada selalu sehat. Mungkin ada yang berpendapat gagal tidaknya suatu bank tergantung kepada unsur pengawasannya. Kesan itu tidak salah tetapi juga tidak selalu benar. Sebab dalam keseharian yang menentukan sehat tidaknya bank kembali kepada pengelola dan pemiliknya. 227 Sebagai langkah antisipasi kedepan, tentu ada baiknya dicarikan suatu pendekatan yang lebih komprehensif dalam rangka menumbuh-kembangkan perbankan yang kuat sekaligus sehat. Ada pendekatan yang ideal dan perlu dikaji

226 227

Ibid. Ibid.

106

lebih lanjut. Biarkan Bank Indonesia fokus pada pengelolaan moneter dan regulator, lalu OJK (Otoritas Jasa Keuangan) fokus kepada pengawasan dan LPS dalam penanganan bank gagal. Jadi akan ada segitiga pengaman untuk perbankan nasional yang lebih terstruktur sekaligus terukur. 228

Terkait dengan Teori Hukum ”Law and Economic Development” (Leonard J. Theberge), yang mengatakan bahwa hukum berperan untuk pembangunan ekonomi harus memiliki keterprediksian, stabilitas, keadilan, pendidikan & sosialisasi hukum, dan pendidikan spesialis hukum bagi penegak hukum. Mengenai mekanisme hukum yang harus dilalui oleh Kreditor Bank (Nasabah) untuk pengajuan klaim dana simpanannya maka dapat dilakukan melalui : 1. Proses kepailitan itu sendiri pada saat Bank tersebut dicabut izin usahanya oleh Bank Indonesia dengan begitu status hukumnya adalah Perseroan Terbatas biasa, jadi dapat dimohonkan pailit agar dana Nasabah Bank dapat kembali (dalam hal ini, dilakukan jika dana nasabah lebih dari Rp. 100 juta); 2. Bank Indonesia dengan program Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) yang menjamin dana Rp. 100 juta setiap rekening kepada Nasabah Bank; 3. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Kreditor (Nasabah) dapat mengajukan klaim pembayaran atas dana simpanannya pada lembaga tersebut jika Bank tempat nasabah menyimpan dananya dilikuidasi.

Maksud keterprediksian disini adalah bahwa setiap Nasabah Bank tidak perlu takut kehilangan dananya apabila Bank tempat Nasabah menyimpan uangnya
228

Ibid.

107

dilikuidasi. Dalam hal stabilitas peraturan pelaksananya adalah terkait dengan perubahan ketentuan mengenai pengajuan klaim tersebut agar tidak berubah-ubah dengan begitu maka Nasabah akan terbiasa dan mengerti proses birokrasi. Keadilan menyangkut kepercayaan yang diberikan oleh Nasabah kepada Bank, dalam hal ini jika Nasabah sudah percaya kepada Bank sebaiknya pihak pengurus Bank mempergunakan dana tersebut untuk mengembangkan usaha Bank itu, bukan untuk kepentingan pengurus atau pribadi atau golongan tertentu. Dalam hal pendidikan hukum mengenai proses kepailitan Bank, Nasabah harus melek terhadap sosialisasi yang dilakukan oleh pihak Bank. Antara Nasabah dan Bank juga harus mengetahui perkembangan hukum yang terjadi di masyarakat, seperti kondisi dari Bank tersebut apakah sehat atau tidak dapat diketahui melalui Bank Indonesia. Pendidikan bagi penegak hukum adalah pengetahuan terhadap Bank, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), maupun Bank Indonesia itu sendiri. LPS tersebut tidak lain adalah sebagai skim perlindungan terhadap Nasabah Bank.

108

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Setelah melakukan penelitian mengenai “Analisis Yuridis Permohonan Pernyataan Pailit Terhadap Bank dalam Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang”, maka kesimpulan yang didapat, sebagai berikut : 1. Kedudukan Bank Indonesia dalam hal pengajuan permohonan pailit terhadap Bank adalah sebagai Bank Sentral yang mengontrol seluruh tindakan dari Bank. Pengajuan permohonan pernyataan pailit bagi Bank sepenuhnya merupakan kewenangan Bank Indonesia dan semata-mata didasarkan atas penilaian kondisi keuangan dan kondisi perbankan secara keseluruhan, oleh karena itu tidak perlu dipertanggungjawabkan. Kewenangan Bank Indonesia untuk mengajukan permohonan pailit ini tidak menghapuskan kewenangan Bank Indonesia terkait dengan ketentuan mengenai pencabutan izin usaha Bank, pembubaran badan hukum, dan likuidasi Bank sesuai peraturan perundang-undangan. Hal ini disebabkan karena Bank Indonesia memiliki peranan yang sangat besar dalam menjaga Stabilitas Sistem Keuangan (SSK). Lender of the Last of Resort merupakan instrumen pengawasan pada saat krisis, dimana Bank Sentral dapat memberikan bantuan kepada Bank yang mengalami krisis likuiditas apabila ada potensi terjadi resiko sistemik. Hal ini

109

bertujuan untuk memulihkan kepercayaan sehingga menciptakan kredibilitas bank, sehingga stabilitas keuangan juga turut terjaga.

2. Masalah Bank Indonesia sebagai Bank Sentral dalam pengajuan kepailitan Bank adalah terbukanya peluang bagi Kreditor Bank (Nasabah Bank) selain Bank Indonesia itu sendiri dalam pengajuan pailit terhadap Bank. Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1999 tentang Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank bahwa pada saat Bank dicabut izinnya oleh Pimpinan Bank Indonesia maka status Bank berubah menjadi Perseroan Terbatas biasa tidak dalam bentuk Bank lagi karena sudah tidak bergerak dalam sektor perbankan. Jadi, kreditor lainnya selain Bank Indonesia juga dapat mengajukan permohonan pailit terhadap Bank dalam likuidasi terkait pencabutan izin oleh Bank Indonesia. Kasusnya dapat dilihat pada pengajuan pailit Bank Global.

3. Mekanisme hukum yang dapat digunakan oleh Kreditor dalam menyelesaikan piutangnya terhadap Bank, antara lain : a. Melalui permohonan pailit yang diajukan oleh Nasabah Bank itu sendiri (Kreditor Bank). Pengajuan pailit ini berdasarkan Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang; b. Melalui Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) yang dilakukan oleh Pemerintah dalam hal ini Bank Indonesia;

110

c. Melalui mekanisme pengajuan klaim kepada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) berdasarkan ketentuan yang berlaku. Proses kepailitan lebih menjamin pembagian harta kekayaan debitur secara parri passu (membagi secara proporsional harta kekayaan Debitor). Dengan demikian setiap Kreditor memiliki kesempatan yang sama dalam hal menuntut hak-hak mereka oleh karena pembagian harta Debitor dibagi secara proporsional kreditornya. sehingga dengan demikian lebih melindungi kreditor-

B. Saran Berdasarkan analisis dari kesimpulan di atas, selanjutnya akan disarankan halhal sebagai berikut sebagai pemecahan masalah : 1. Bertolak dari kesimpulan pertama, kedudukan Bank Indonesia adalah sebagai Bank Sentral dalam hal pengajuan pailit terhadap Bank maka perlu untuk segera melakukan revisi terhadap Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang sehingga polemik yang timbul di masyarakat dapat diselesaikan khususnya di dunia bisnis sehingga tercipta Kepastian Hukum, Kemanfaatan Hukum, dan Keadilan Hukum. Apabila Bank Indonesia tetap berpendirian bahwa sebuah Bank tidak dapat dipailitkan oleh karena mempunyai dampak yang sangat besar terhadap perekonomian negara dalam hal Bank itu dipailitkan, maka sebaiknya dalam hal kepailitan Bank diatur tersendiri di luar ketentuan

111

kepailitan seperti di Amerika Serikat dimana Bankruptcy Code mengecualikan Bank sebagai salah satu subjek hukum kepailitan.

2. Dalam hal pengajuan pailit Bank, terbukanya peluang bagi Kreditor Lain (Nasabah Bank) untuk mengajukan pailit maka sebaiknya apabila sebuah badan hukum Bank tetap dijadikan sebagai salah satu subjek hukum dalam proses kepailitan maka perlu diatur lebih detail lagi mengenai proses kepailitan terhadap suatu Bank itu sendiri oleh karena apabila tidak diatur secara detail untuk kedepannya tidak menutup kemungkinan masalah-masalah mengenai kepailitan suatu Bank akan menjadi perdebatan kembali.

3. Untuk mekanisme pengajuan klaim pembayaran tidak ada masalah yang timbul jika dana yang dijaminkan tidak lebih besar dari angka jaminan itu sendiri. Namun, jika dana Nasabah Bank (Kreditor Bank) lebih besar dari angka jaminan (Rp. 100 juta) itu maka proses kepailitan yang lebih menjamin adanya Kepastian Hukum oleh karena telah ditetapkan jangka waktu hingga adanya putusan pailit.

Demikianlah saran yang diajukan agar kiranya dapat menjadi pertimbangan di kemudian hari, baik untuk memperkaya khasanah kepustakaan maupun untuk penelitian lanjutan mengenai pengajuan kepailitan terhadap Bank oleh Bank Indonesia.

112

DAFTAR PUSTAKA

BUKU Anisah, Siti., Perlindungan Kepentingan Kreditor dan Debitor Dalam Hukum Kepailitan di Indonesia : Studi Putusan-Putusan Pengadilan, Yogjakarta : Total Media, 2008.

Armour, J., “The Law and Economics of Corporate Insolvency : A Review”, Cambridge : ESRC Centre for Business Research University of Cambridge, Maret 2001.

Arifin, Sjamsul., et.al., IMF dan Stabilitas Keuangan Internasional : Suatu Tinjauan Kritis, Jakarta : Elex Media Komputindo, 2004.

Asser, Tobias M.C., Legal Aspects of Regulatory Treatment of Banks in Distress, Washington DC : International Monetary Fund, 2001.

Badrulzaman, Mariam Darus., et.al, Kompilasi Hukum Perikatan, Bandung : Citra Aditya Bakti, 2001.

Bertens, K., Pengantar Etika Bisnis, Yogyakarta : Kanisius, 2000.

Black, Henry Campbell and Bryan A. Garner, Black’s Law Dictionary (Standard Edition), Edisi Kesembilan, Amerika Serikat : West Group, 2009.

Blinder, Alan S., Central Banking in Theory and Practice, Cambridge : The MIT Press, 1998.

Bragg, Steven M., Business Ratios and Formulas : A Comprehensive Guide, Second Edition, Amerika Serikat : John Wiley & Sons Inc., 2010.

Bungin, Burhan., Penelitian Kualitatif : Komunikasi Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya, Edisi I, Cetakan 3, Jakarta : Kencana, 2009.

113

Chand, Hari., Modern Jurisprudence, Kuala Lumpur : International Law Book Services, 1994.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, Jakarta : Balai Pustaka, 1996.

Direktorat Hukum Bank Indonesia, “Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan”, Volume 2 Nomor 2, Jakarta : Bank Indonesia, Agustus 2004.

Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia, “Kerangka Acuan Tugas Penelitian dan Publikasi: Peran Bank Sentral dalam Stabilitas Sistem Keuangan dan Jaring Pengaman Sektor Keuangan”, Jakarta : Bank Indonesia, Maret 2009.

Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Biro Stabilitas Sistem Keuangan, “Booklet Stabilitas Sistem Keuangan”, Jakarta : Bank Indonesia, 2007.

Echols, John M., dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta : Gramedia, 1979.

Ernawan, Erni R., Business Ethics : Etika Bisnis, Bandung : Alfabeta, 2007.

Guitián, Manuel., Rules and Discretion in International Economic Policy, Occasional Paper, (Washington DC : International Monetary Fund, Juni 1992).

Hadinoto, Soetanto., Bank Strategy on Funding and Liability Management, Jakarta : Elex Media Komputindo, 2008.

Hanintijo, Soemitro Ronny., Metodologi Penelitian Hukum dan Jurumetri, Jakarta : Ghalia Indonesia, 1998.

114

Hanum, Habiba., “Analisis Terhadap Ketentuan Insolvensi Dalam Hukum Kepailitan”, Tesis : Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, 2007.

Hartono, Sri Redjeki., Husni Syawali, dan Neni Sri Imaniyati, Kapita Selekta Hukum Ekonomi, Bandung : Mandarmaju, 2000.

Hartono, Siti Soemarti., Pengantar Hukum Kepailitan dan Penundaan Pembayaran, Yogjakarta : Seksi Hukum Dagang, Fakultas Hukum UGM, 1981. Hawtrey, R.G., The Art of Central Banking, 2nd Edition, Amerika Serikat : Frank Cass Publisher, 1970.

Irawan, Bagus., Aspek-Aspek Hukum Kepailitan; Perusahaan; dan Asuransi, Bandung : Alumni, 2007.

Ismail, Maqdir., Bank Indonesia: Independensi, Akuntabilitas dan Transparansi, Jakarta : Fakultas Hukum Universitas Al-Azhar Indonesia, 1997.

Judisseno, Rimsky K., Sistem Moneter dan Perbankan di Indonesia, Ceetakan Kedua, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2005.

Jono, Hukum Kepailitan, Jakarta : Sinar Grafika, 2008.

Keraf, A. Sonny., Etika Bisnis Tuntutan dan Relevansinya, Yogyakarta : Kanisius, 1998.

Laporan Lima Tahun DPR-RI 2004-2009, (Jakarta : Sekjend DPR-RI & UNDP dan AusAID, 2009).

Linnan, David K., Indonesian Bankcruptcy Policy & Reform: Reconciling Efficiency and Economic Nationalism, Singapura : Institute of Southeast Asian Studies Singapore, September 1999.

M. Ralona., Kamus Istilah Ekonomi Populer, Jakarta : Gorga Media, 2006.

115

Mcleod, Ross H., Indonesia Assessment 1994 : Finance as a Key Sector in Indonesia’s Development, Singapura & Australia : Heng Mui Keng Terrace & Australian National University, 1994.

Moleong, Lexy J., Metodelogi Penelitian Kualitatif, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2004.

Nasution, Bismar., “Aspek Hukum Peran Bank Sentral Dalam Stabilitas Sistem Keuangan (SSK)”, (Bank Indonesia : Laporan Hasil Penelitian, 2007).

Nurtjahjo, Hendra., et.al., Eksistensi Bank Sentral Dalam Konstitusi Berbagai Negara (Pembahasan Kemandirian Bank Indonesia dalam Perspektif Hukum Tata Negara), Depok : Pusat Studi Hukum Tata Negara, 2002.

Poerwadarminta, W.J.S., Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka, 1999.

Prasetya, Rudhi., Likuidasi Sukarela Dalam Hukum Kepailitan, Makalah Seminar Hukum Kebangkrutan, Jakarta : Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman RI, 1996.

Rahardjo, Satjipto., et.al., Bank Indonesia dalam Kilasan Sejarah, Jakarta : Pustaka LP3ES Indonesia, 1995.

Rajagukguk, Erman., “Peranan Hukum Dalam Pembangunan Ekonomi”, Jilid 2, Jakarta : Universitas Indonesia, 1995.

Saphiro, Ian., Asas Moral dalam Politik, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia bekerjasama dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat Jakarta dan Freedom Institute, 2006.

Sastrawidjaja, Man. S., Hukum Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Bandung : Alumni, 2006.

116

Sjahdeini, Sutan Remy., Hukum Kepailitan : Memahami Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan (Edisi Baru), Cetakan Pertama, Jakarta : Pustaka Utama Grafika, 2009.

Smith, Vera Constance., The Rationale of Central Banking and the Free Banking Alternative, London : PS King and Sons, 1936.

Soekanto, Soerjono., Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta : Universitas Indonesia, 1986.

Siregar, Mustafa., Efektivitas Perundang-Undangan Perbankan dan Lembaga Keuangan Lainnya dengan Penelitian di Wilayah Kodya, Medan : USU, 1990.

Sitompul, Zulkarnain., Perlindungan Dana Nasabah Bank : Suatu Gagasan tentang Pendirian Lembaga Penjaminan Simpanan di Indonesia, Jakarta : Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2002.

Subhan, M. Hadi., Hukum Kepailitan : Prinsip, Norma, dan Praktik di Peradilan, Jakarta : Kencana, 2008.

Sunarmi, Hukum Kepailitan, Medan : USU Press., 2009.

Sunggono, Bambang., Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta : Rajawali Press, 2010.

Tampubolon, Pamela Romauli., “Perubahan Giro Wajib Minimum Bank Umum pada Bank Indonesia dalam Rupiah dan Valuta Asing Dikaitkan Dengan Penyaluran Kredit Bank”, Tesis : Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, 2009.

Tarliman, Daniel Djoko., et.al., “Kewenangan dan Tanggung Jawab Bank Indonesia Dalam Kepailitan dan Likuidasi Lembaga Perbankan”, (Executive Summary Hasil Penelitian : Kerjasama Fakultas Hukum Universitas Surabaya dengan Bank Indonesia, 2004.

117

Tarmidi, Lepi T., “Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran”, Pidato Pengukuhan Guru Besar Madya pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 10 Juni 1998.

Timothy, Andreas., “Tinjauan Yuridis tentang Kasus Permohonan Pernyataan Pailit PT.Bank IFI terhadap PT.Bank Danamon Indonesia, Tbk.”, Tesis : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2005.

Usman, Rachmadi., Aspek-Aspek Hukum Perbankan di Indonesia, Cetakan Kedua, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, Desember 2003.

Velasquez, Manuel G., Business Ethics : Concepts and Cares (Fifth Edition), New Jersey : Pearson Education Inc., 2002.

Wirasasmita, HRA Rivai., et.al., Kamus Lengkap Ekonomi, Bandung : Pionir Jaya, 2002.

Zafer, M.R., Jurisprudence: An Outline, Kuala Lumpur : International Law Book Services, 1994.

ARTIKEL INTERNET Bank Indonesia, “Bank Dalam Pengawasan Khusus (Special Surveillance)”, http://www.bi.go.id/web/id/Perbankan/Bank+dalam+Pengawasan+Khusus/., diakses pada 13 Mei 2011.

--------------------., “Definisi Stabilitas Sistem Keuangan”, http://www.bi.go.id/web/id/Perbankan/Stabilitas+Sistem+Keuangan/Ikhtisar/ Definisi+SSK/., diakses pada 12 Mei 2011.

--------------------., “Jaring Pengaman Sistem Keuangan”, http://www.bi.go.id/web/id/Perbankan/Stabilitas+Sistem+Keuangan/Manajem en+Krisis/Jaring+Pengaman+Sistem+Keuangan/., diakses pada 15 Mei 2011.

118

--------------------., “Peran Bank Indonesia Dalam Stabilitas Keuangan”, http://www.bi.go.id/web/id/Perbankan/Stabilitas+Sistem+Keuangan/Peran+B ank+Indonesia/Peran+ BI/., diakses pada 13 Mei 2011.

--------------------., ”Tujuan dan Tugas Bank Indonesia”, http://www.bi.go.id/web/id/Tentang+BI/Fungsi+Bank+Indonesia/Tujuan+dan +Tugas/., diakses pada 13 Mei 2011.

--------------------., “Tujuan Pengaturan dan Pengawasan Bank”, http://www.bi.go.id/web/id/Perbankan/Ikhtisar+Perbankan/Pengaturan+dan+P engawasan+Bank/Tujuan+dan+Kewenangan/., diakses pada 13 Mei 2011.

Darmawan, Yusran., ”Membincang Holistik dalam Antropologi”, http://timurangin.blogspot.com/2009/08/membincang-holistik-dalamantropologi.html., diakses pada 12 Mei 2011.

Faraby, Reza., ”Masalah Kedudukan Peraturan Bank Indonesia (PBI) terhadap Hierarki Perundang-Undangan (Implikasi dari Kedudukan dan Peran Bank Indonesia yang Indpenden)”, http://stasiunhukum.wordpress.com/2009/10/22/masalah-kedudukanperaturan-bank-indonesia-pbi-terhadap-hierarki-perundang-undanganimplikasi-dari-kedudukan-dan-peran-bank-indonesia-yang-independen/., diakses 13 Mei 2011.

Janisriwati, Sylvia., “Disertasi Sylvia Janisriwati : Kewenangan Bank Indonesia dalam Menyatakan Pailit”, http://prasetya.ub.ac.id/berita/Disertasi-SylviaJanisriwati--Kewenangan-Bank-Indonesia-dalam-Menyatakan-Pailit-1583id.html., diakses pada 14 Mei 2011.

Kamus

Bahasa Indonesia Online, “ W e w e n a n g http://kamusbahasaindonesia.org/wewenang., diakses pada 12 Mei 2011.

”,

-----------------------------------------------., “ M e k a n i s m e http://kamusbahasaindonesia.org/mekanisme., diakses pada 12 Mei 2011.

”,

-----------------------------------------------., “ I n t e g r a l ”, http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php., diakses pada 12 Mei 2011.

119

K, Ronny Junaidy., “Ilmu Hukum dalam Perspektif Ilmu Pengetahuan Modern”, http://www.legalitas.org/content/ilmu-hukum-dalam-perspektif-ilmupengetahuan-modern., diakses pada 13 Agustus 2010.

Kelompok Kerja Edukasi Masyarakat di Bidang Perbankan, ”Cetak Biru Edukasi Masyarakat d i B i d a n g P e r b a n k a n”, http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/0906143C-163D-4A02-BC59C2D6C0E31AE9/903/CetakBiruEdukasiMasyarakatdiBidangKeuangan.pdf., diakses pada 12 Mei 2011.

Pramudya, Kelik., “Kelemahan Hukum Kepailitan di Indonesia”, http://clickgtg.blogspot.com/2008/10/kelemahan-hukum-kepailitan-di-indonesia.html., diakses pada 14 Mei 2011.

Sitompul, Zulkarnain., “Likuidasi BDB dan Efektifitas Pengawasan Bank”, Majalah Pilars No. 28, periode 12-18 Juli 2004.

--------------------------., “Perlukah PT DI Dipailitkan”, http://zulsitompul.wordpress.com/isu-sentral/., diakses pada 14 Mei 2011.

Sudarwanto, Barno., “Mengupayakan Bank Indonesia yang Independen”, 15 Desember 2009, dalam ”Peranan Bank Indonesia Sebagai Last Money Lender”, http://sandipieceofmind.blogspot.com/2010/01/peranan-bankindonesia-sebagai-last.html., diakses pada 13 Mei 2011.

Suwono, “Pemberdayaan dan Perlindungan Hukum Nasabah Bank”, http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2004/4/19/o2.htm., diakses pada 14 Mei 2011.

Website Resmi Lembaga Penjamin Simpanan, “Peran LPS Dalam Mendukung Stabilitas Sistem Perbankan”, http://www.lps.go.id/v2/home.php?link=publikasi&pub_id=147., diakses pada 15 Mei 2011.

120

-----------------------------------------------------------., “Sejarah Pendirian Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS)”, http://www.lps.go.id/v2/home.php?link=sejarah., diakses pada 15 Mei 2011.

Wijaya, Krisna., “Penanganan Bank Gagal”, http://www.lps.go.id/v2/home.php?link=publikasi&pub_id=35., diakses pada 13 Mei 2011.

Wikisource, “Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia/Bab 3”, http://id.wikisource.org/wiki/Krisis_Global_dan_Penyelamatan_Sistem_Perba nkan_Indonesia/Bab_3., diakses pada 13 Mei 2011.

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Keputusan Presiden No. 26 Tahun 1998 tentang Jaminan Terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Umum, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 29.

Keputusan Presiden No. 193 Tahun 1998 tentang Jaminan Terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Perkreditan Rakyat, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 185.

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Staatsblad 1847 Nomor 23.

Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun 1996 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3659.

Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1999 tentang Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 52, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3831.

121

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 149, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4907.

Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3472.

Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3790.

Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3843.

Undang-Undang No. 3 Tahun 2004 ttg Perubahan Atas Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4357.

Undang-Undang No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4420.

Undang-Undang No. 37 Tahun 2004, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 131, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4443.

Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4756.

122

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->