PEMIKIRAN EMILE DURKHEIM 1.

FAKTA SOSIAL Kata ini pertama kali diperkenalkan pada abad ke-19 oleh sosiolog Perancis Émile Durkheim dan banyak mempengaruhi analisa Durkheim (dan para pengikutnya) ketika dalam meneliti masyarakat antara lain (Ritzer 2000:73) mengatakan struktur sosial, norma kebudayaan, dan nilai sosial yang dimasukan dan dipaksakan (koersi) kepada pelaku sosial. Durkheim bertujuan agar sosiologi memiliki dasar positivisme yang kuat, sebagai ilmu di antara ilmu yang lain. Ia berpendapat bahwa setiap ilmu tertentu harus memiliki subyek pembahasan yang unik dan berbeda dengan ilmu lain, namun harus dapat diteliti secara empiris. Durkheim mengemukakan tiga karakteristik fakta sosial yang berbeda. Pertama, gejala sosial bersifat eksternal terhadap individu. Sesudah memberikan contoh mengenai fakta sosial itu (bahasa, sistem moneter, norma ± norma profesional, dll), Durkheim menegaskan bahwa ³Ini merupakan cara bertindak, berfikir, dan berperasaan yang memperlihatkan sifat patut dilihat sebagai sesuatu yang berada di luar kesadaran individu´. Kedua, bahwa fakta sosial itu memaksa individu. Jelas bagi Durkheim bahwa individu dipaksa, dibimbing, diyakinkan, didorong, atau dengan cara tertentu dipengaruhi oleh berbagai tipe fakta sosial dalam lingkungan sosialnya. Seperti yang Durkheim katakan : ³Tipe ± tipe perilaku atau berfikir ini mempunyai kekuatan memaksa yang karenanya mereka memaksa individu terlepas dari kemauan individu titu sendiri´. Ini tidak berarti bahwa individu itu harus mengalami paksaan fakta sosial dengan cara yang negatif atau membatasi seperti memaksa seseorang untuk berperilaku yang bertentangan dengan kemauannya. Karakteristik fakta sosial yang ketiga, adalah bahwa fakta itu bersifat umum atau tersebar secara meluas dalam satu masyarakat. Dengan kata lain, fakta sosial itu merupakan milik bersama, bukan sifat individu perorangan. Sifat umumnya ini bukan sekedar hasil dari penjumlahan beberapa fakta individu. Fakta sosial benar ± benar bersifat kolektif, dan pengaruhnya terhadap individu merupakan hasil dari sifat kolektifnya ini. Durkheim ingin menegakkan pentingnya tingkat sosial daripada menarik kenyataan sosial dari karakteristik individu. Dalam buku Rules of Sociological Method, Durkheim menulis: ³Fakta sosial adalah setiap cara bertindak, baik tetap maupun tidak, yang bisa menjadi pengaruh atau hambatan eksternal bagi seorang individu.´ Dalam sudut pandang Durkheim, sosiologi sederhananya adalah µilmu dari fakta sosial¶. Oleh karena itu, tugas dari para ahli sosiologi adalah mencari hubungan antara fakta-fakta sosial dan menyingkapkan hukum yang berlaku. Setelah hukum dalam struktur sosial ini ditemukan, baru kemudian para ahli sosiologi dapat menentukan apakah suatu

solidaritas sosial masyarakat terdiri dari dua bentuk yaitu: . yang akan memberi ciri dan nama kepada kedua solidaritas itu. Salah satu komponen utama masyarakat yang menjadi pusat perhatian Durkheim dalam memperhatikan perkembangan masyarakat adalah bentuk solidaritas sosialnya. berdasarkan hasilnya. dan dengan demikian tidak memiliki kekhususan. Durkheim (dalam Lawang. Durkheim melihat bahwa masyarakat berkembang dari masyarakat sederhana menuju masyarakat modern. Keduanya hanya merupakan dua wajah dari satu kenyataan yang sama. 1994:181) menyatakan bahwa solidaritas sosial merupakan suatu keadaan hubungan antara individu dan atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama dan diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. 1. sedangkan masyarakat modern mengembangkan bentuk solidaritas sosial organik. yang menyatukan hubungan-hubungan yang tetap. (2) solidaritas positif yang kedua adalah suatu sistem fungsi-fungsi yang berbeda dan khusus. Pada solidaritas positif yang lainnya. sehingga memperkuat hubungan antar mereka. Solidaritas negatif tidak menghasilkan integrasi apapun. individu tergantung dari masyarakat. namun masih tetap dalam satu kesatuan. Ciri-ciri tipe kolektif tersebut adalah individu merupakan bagian dari masyarakat yang tidak terpisahkan. Masyarakat sederhana memiliki bentuk solidaritas sosial yang berbeda dengan bentuk solidaritas sosial pada masyarakat modern. tetapi berbeda peranan dan fungsinya dalam masyarakat. karena individu tergantung dari bagian-bagian yang membentuk masyarakat tersebut. sedangkan solidaritas positif dapat dibedakan berdasarkan ciri-ciri: (1) yang satu mengikat individu pada masyarakat secara langsung. Wujud nyata dari hubungan bersama akan melahirkan pengalaman emosional. SOLIDARITAS SOSIAL Konsep solidaritas sosial merupakan konsep sentral Emile Durkheim (1858-1917) dalam mengembangkan teori sosiologi. Menurut Durkheim. tanpa perantara. Solidaritas menekankan pada keadaan hubungan antar individu dan kelompok dan mendasari keterikatan bersama dalam kehidupan dengan didukung nilai-nilai moral dan kepercayaan yang hidup dalam masyarakat. namun perlu dibedakan (3) dari perbedaan yang kedua itu muncul perbedaan yang ketiga. Masyarakat sederhana mengembangkan bentuk solidaritas sosial mekanik. Jadi. solidaritas dapat dibedakan antara solidaritas positif dan solidaritas negatif. walaupun sebenarnya kedua masyarakat tersebut hanyalah satu saja.masyarakat dalam keadaan µsehat¶ atau µpatologis¶ dan kemudian menyarankan perbaikan yang sesuai. berdasarkan bentuknya. Berkaitan dengan perkembangan masyarakat.

Jadi perbuatan moral bukanlah sekedar ³kewajiban´ yang tumbuh dari dalam diri melainkan juga ³kebaikan´ ketika diri telah dihadapkan dengan dunia sosial. . merupakan hasil aksi dan reaksi diantara kesadaran individual. Bilamana orang berkumpul untuk berdemonstrasi politik. gotong royong dan sebagainya. perasaan kolektif yang merupakan akibat (resultant) dari kebersamaan.(1) SOLIDARITAS SOSIAL MEKANIK Pandangan Durkheim mengenai masyarakat adalah sesuatu yang hidup. atau menunjukkan sikap kepahlawanan. disesbabkan oleh sesuatu yang dipaksakan pada tiap-tiap individu. melainkan juga pangkal dari kesadaran kolektif dan sasaran utama dari perbuatan moral. Setiap individu yang melakukan pelanggaran nilai-nilai dan norma-norma kolektif timbul rasa bersalah dan ketegangan dalam batin. semangat pengorbanan yang luar biasa. sehingga menjadi tingkah laku dan pikiran masyarakat. menjungkirbalikan mobil. sehingga timbul rasa kebersamaan diantar mereka. Fakta sosial yang merupakan gejala umum ini sifatnya kolektif. masyrakat berpikir dan bertingkah laku dihadapkan kepada gejala ± gejala sosial atau fakta-fakta sosial yang seolah-olah berada di luar individu. Orang melakukan perusakan dan merampok toko-toko. Dalam masyarakat. huru-hara rasial atau untuk menonton sepakbola. Fakta sosial yang berada di luar individu memiliki kekuatan untuk memaksa. Jadi masing-masing individu diserap dalam kepribadian kolektif. manusia hidup bersama dan berinteraksi. sekalipun pemaksaannya tidak langsung dirasakan karena proses pembatinan itu untuk menyesuaikan diri. mereka melakukan hal-hal yang tidak mungkin mereka lakukan jika sendirian. kepribadian tiap individu boleh dikatakan lenyap. namun terdapat pula pikiran dan tingkah laku yang sama dari individu-individu yang lain. Masyarakat bukanlah sekedar wadah untuk terwujudnya integrasi sosial yang akan mendukung solidaritas sosial. kegiatan religius. yang pada akhirnya menjadi fakta sosial. semuanya dianggap musatahil oleh yang bersangkutan. Pada awalnya. Moralitas merupakan suatu keinginan yang rasional. fakta sosial berasal dari pikiran atau tingkah laku individu. karena ia bukanlah diri indvidu lagi. Pada saat solidaritas mekanik memainkan peranannya. Selanjutnya. Jika setiap kesadaran individual itu menggemakan perasaan kolektif. Argumentasi Durkheim. diantaranya pada kesadaran kolektif yang berlainan dengan dari kesadaran individual terlihat pada tingkah laku kelompok. melainkan hanya sekedar mahluk kolektif. hal itu bersumber dari dorongan khusus yang berasal dari perasaan kolektif tersebut. Rasa kebersamaan ini milik masyarakat yang secara sadar menimbulkan perasaan kolektif. Nilai-nilai itu sudah merasuk dalam batin dan memaksa individu.

dan juga gaya hidup. merasa dirinya semakin berbeda dalam kepercayaan. dan karir individual menjadi dasar masyarakat pluralistik. yaitu solidaritas organik. tidak menghasilkan heterogenitas yang tinggi. Terdapat daya kekuatan sosial yang hakiki yang berdasarkan atas kesamaankesamaan sosial. misalnya tindakan yang secara langsung mengungkapkan ketidaksamaan yang menyolok dengan orang yang melakukannya dengan tipe kolektif. nilai. dan semuanya memiliki gaya hidup yang kira-kira sama.Moralitas mempunyai keterikatan yang erat dengan keteraturan perbuatan dan otoritas. Hal inilah yang diungkapkan oleh hukum bersifat represif (menekan). Dengan sendirinya. prestasi. Penghargaan baru terhadap kebebasan. tujuannya untuk memelihara kesatuan sosial. pandangan. sikap. Suatu tindakan bisa disebut moral. setiap kali dorongan itu berlangsung. sistem itu dinamakan hati nurani kolektif atau hati nurani umum. Kesadaran kolektif perlahan-lahan mulai hilang. demikian pula kepercayaan. Menurutnya. pendapat. Pelanggaran yang dilakukan individu menimbulkan reaksi terhadap kesadaran kolektif. perkembangan tersebut tidak menimbulkan adanya disintegrasi dalam masyarakat. . Solidaritas mekanik tidak hanya terdiri dari ketentuan yang umum dan tidak menentu dari individu pada kelompok. terdapat suatu penolakkan karena tidak searah dengan tindakan kolektif. Lain halnya pada masyarakat organik. Pengalaman orang menjadi semakin beragam. kenyataannya dorongan kolektif terdapat dimana-mana. karena belum pluralnya masyarakat. melainkan dasar integrasi sosial sedang mengalami perubahan ke satu bentuk solidaritas yang baru. (2) SOLIDARITAS SOSIAL ORGANIK Solidaritas organik berasal dari semakin terdiferensiasi dan kompleksitas dalam pembagian kerja yang menyertai perkembangan sosial. atau tindakantindakan itu melanggar organ hati nurani umum. Jadi. keseluruhan kepercayaan dan perasaan umum di kalangan anggota masyarakat membentuk sebuah sistem tertentu yang berciri khas. kalau tindakan itu tidak menyalahi kebiasaan yang diterima dan didukung oleh sistem kewenangan otoritas sosial yang berlaku. Pekerjaan orang menjadi lebih terspesialisasi dan tidak sama lagi. Durkheim merumuskan gejala pembagian kerja sebagai manifestasi dan konsekuensi perubahan dalam nilai-nilai sosial yang bersifat umum. orang merasa lebih bebas. dan membawa hasil dimana-mana pula. juga demi keterikatan pada kelompok. dan kesadaran pada umumnya. Tindakan ini dapat digambarkan. maka kehendak semua orang bergerak secara spontan dan seperasaan. Pembagian kerja masih relatif rendah. dimana semua anggota pada dasarnya memiliki kepercayaan bersama. yang merupakan tipe masyarakat yang pluralistik. Bentuk ini benar-benar didasarkan pada saling ketergantungan di antara bagian-bagian yang terspesialisasi. Titik tolak perubahan tersebut berasal dari revolusi industri yang meluas dan sangat pesat dalam masyarakat. Kesadaran kolektif pada masyarakat mekanik paling kuat perkembangannya pada masyarakat sederhana. bakat.

Kesadaran baru yang mendasari masyarakat modern lebih berpangkal pada individu yang mulai mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok yang lebih terbatas dalam masyarakat dan mereka tetap mempunyai kesadaran kolektif yang terbatas pada kelompoknya saja. Kita dapat membandingkan sifat ± sifat pokok dari masyarakat yang didasarkan pada solidaritas mekanik dengan solidaritas organik. melainkan sebaliknya perubahan dalam diri individu. ditandai oleh heterogenitas dan individualitas yang semakin tinggi. Kepribadian individu diserap sebagai kepribadian kolektif sehingga individu saling menyerupai satu sama lain. Pada solidaritas organik. saling ketergantungan fungsional antar pelbagai bagian masyarakat yang heterogen itu mengakibatkan terjadi suatu pegeseran dalam tata nilai masyarakat. bahwa individu berbeda satu sama lain. Integrasi sosial akan terancam jika kepentingan-kepentingan individu atau kelompok merugikan masyarakat secara keseluruhan dan kemungkinan konflik dapat terjadi. karena pembagian kerja semakin tinggi. Bukan pembagian kerja yang mendahului kebangkitan individu. sehingga menimbulkan kesadaran individu baru. Kedua. Kecenderungan sejarah pada umumnya dalam masyarakat Barat adalah ke arah bertambahnya spesialisasi dan kompleksitas dalam pembagian kerja. dia meningkatkan solidaritas organik yang didasarkan pada saling ketergantungan fungsional. Perkembangan ini mempunyai dua akibat penting. SOLIDARITAS MEKANIK Pembagian kerja rendah Kesadaran kolektif kuat SOLIDARITAS ORGANIK Pembagian kerja tinggi Kesadaran kolektif rendah . maka kesadaran kolektif semakin kurang. contohnya yang sesuai dengan pekerjaannnya saja. Peningkatan terjadi secara bertahap. Terjadinya perubahan sosial yang ditandai oleh meningkatnya pembagian kerja dan kompleksitas sosial.Heterogenitas yang semakin beragam ini tidak menghancurkan solidaritas sosial. Ikatan yang mempersatukan individu pada solidaritas mekanik adalah adanya kesadaran kolektif. Pertama. Sebaliknya. Karena sudah terspesialisasi dan bersifat individualistis. dimana solidaritas organik mengakui adanya kepribadian masing-masing orang. Masing-masing pribadi mempunyai ruang gerak tersendiri untuk dirinya. Durkheim melihat masyarakat industri kota yang modern ini sebagai perwujudan yang paling penuh dari solidaritas organik. Corak kesadaran kolektif lebih bersifat abstrak dan universal. 1986:188). dapat juga dilihat sebagai perkembangan evolusi model linier (Lawang. dia merombak kesadaran kolektif yang memungkinkan berkembangnya individualitas. yang dapat bersifat mekanik. individu dan kelompok dalam masyarakat merasa semakin tergantung kepada pihak lain yang berbeda pekerjaan dan spesialisasinya. Mereka membentuk solidaritas dalam kelompok-kelompok kecil. di bawah pengaruh proses sosial mengakibatkan pembagian kerja semakin terdiferensiasi.

apabila atau sepanjang individu yang bertindak itu memberikan arti subyektif kepada tindakan itu. TINDAKAN INDIVIDU DAN ARTI SUBYEKTIF Weber sangat tertarik pada masalah ± masalah sosiologis yang luas mengenai struktur sosial dan kebudayaan. dapat dilihat sebagai perubahan dari struktur otoritas tradisional ke struktur legal-rasional. hubungannnya itu bersifat timbal-balik. Titik tolak Weber pada tingkat individual mengingatkan kita bahwa struktur sosial atau sistem budaya tidak dapat dipikirkan sebagai sesuatu yang berada secara terlepas dari individu yang terlibat di dalamnya.Hukum represif dominan Individualisme rendah Secara relatif saling ketergantungan rendah Bersifat primitif atau pedesaan Hukum restitutif dominan Individualiasme tinggi Saling ketergantungan yang tinggi Bersifat insdustrial-perkotaan PEMIKIRAN MAX WEBER Tekanan Weber pada konsep rasionalitas. mengidentifikasikan dua tipe tindakan rasional yang berbeda dan dua tipe tindakan yang nonrasional. termasuk saling ketergantungan anatara Protestantisme dan kapitalisme. dan bahwa hubungan antara ideal agama dan kepentingan ekonomi sebenarnya bersifat saling tergantung. Tindakan itu deisebut tindakan sosial karena arti subyektif tadi dihubungkan dengannya oleh individu yang bertindak. . tetapi dia melihat bahwa kenyataan sosial secara mendasar terdiri dari individu ± individu dan tindakan ± tindakan sosialnya yang berarti. Kenyataan sosial baginya pada dasarnya terdiri dari tindakan-tindakan sosial individu. Pertumbuhan masyarakat kota modern yang bersifat industrial. Dia mendefinisikan sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang berusaha memperoleh pemahaman interpretatif mengenai tindakan sosial agar dengan demikian bisa sampai ke suatu penjelasan kausal mengenai arah dan akibat ± akibatnya. dan legal rasional. Kharismatik. 1. Analisanya mengenai etika protestan serta pengaruhnya dalam meningkatkan pertumbuhan kapitalisme menunjukkan pengertiannya mengenai pentingnya kepercayaan agama serta nilai dalam membentuk pola motivasional individu serta tidakan ekonominya. Pengaruh agama terhadap pola perilaku individu serta bentuk-bentuk organisasi sosial juga dapat dilihat dalam analisa perbandingannya mengenai agama-agama dunia yang besar. Titik tolak baginya adalah mengenai individu yang bertidak yang tindakan-tindakannya itu hanya dapat dimengerti menurut arti subyektifnya. memperhitungkan perilaku orang lain dan karena itu diarahkan ke tujuannya.Weber juga mengemukakan mengenai analisa tipe-ideal dimana memungkinkan untuk mengatasi peristiwa-peristiwa khusus dan untuk memberikan analisa perbandingan dengan menggunakan kategori-kategori teoritis yang umum sifatnya. Keseluruhan pendekatannya menekankan bahwa kepentingan ideal dan materiil mengatur tindakan orang. Otoritas tradisional. Dengan ³tindakan´ dimaksudkan bahwa semua perilaku manusia. Ketiga tipe otoritasnya yang terkenal yakni. Dengan kata lain.

Berdasarkan kriteria tertentu. Tindakan ini yang paling tinggi rasionalitasnya. tindakan ± tindakan yang bersifat religius. Pembedaan pokok yang diberikan adalah antara tindakan rasional dan yang nonrasional. Di dalam kedua kategori utama mengenai tindakan rasional dan nonrasional itu. dan bahwa masyarakat hanyalah satu nama yang menunjuk pada sekumpulan individu ± individu. Tindakan Rasionalitas yang Berorientasi Nilai (Wertrationalitat) Tindakan ini dilakukan seseorang yang didasari oleh nilai-nilai dasar dalam masyarakat. ada dua bagian yang berbeda satu sama lain. untuk menggunakannya dalam membedakan antara tipe ± tipe struktur sosial dan untuk memahami arah perubahan sosial yang besar dalam masyarakat ± masyarakat Barat. TIPE ± TIPE TINDAKAN SOSIAL Rasionalitas merupakan konsep dasar yang digunakan Weber dalam klasifikasinya mengenai tipe ± tipe tindakan sosial. Sifat rasionalitas yang berorientasi nilai yang penting adalah bahwa alat ± alat hanya merupakan obyek pertimbangan dan perhitungan yang sadar. tujuannya sudah ada dalam hubungannya dengan nilai ± nilai individu yang bersifat absolut atau merupakan nilai akhir baginya. 3. Mungkin aspek pemikiran Weber yang paling terkenal yang mencerminkan tradisi idealis adalah tekanannya pada verstehen (pemahaman subyektif) sebagai metoda untuk memperolrh pemahaman yang valid mengenai arti ± arti subyektif tindakan sosial. 1. tindakan rasional (menurut Weber) berhubungan dengan pertimbangan yang sadar dan pilihan bahwa tindakan itu dinyatakan. seorang anak yang ingin menjadi pemain sepak bola memilih membeli sepatu sepak bola untuk berlatih dari pada membeli mainan. Contohnya. 2. Individu memiliki berbagai tujuan yang harus dilakukan. ia memilih satu diantara banyak tujuan yang kadang ± kadang saling bersaing. Nilai ± nilai akhir bersifat nonrasional dalam hal dimana seseorang tidak dapat memperhitungkannya secara obyektif mengenai tujuan ± tujuan mana yang harus dipilih. Tindakan Tradisional .Posisi Weber berkaitan dengan posisis Nominalis. Tindakan Rasionalitas Instrumental (Zweckrationalitat) Tindakan ini dilakukan dengan memperhitungkan kesesuaian antara cara yang digunakan dengan tujuan yang akan dicapai. Tujuan Weber sebenarnya adalah untuk masuk ke arti ± arti subyektif yang berhubungan dengan berbagai ³kategori interaksi manusia´. Sebagai contoh. Singkatnya. Kaum nominalis berpendirian bahwa hanya individu ± individulah yang riil secara obyektif. Meliputi pertimbangan dan pilihan yang sadar yang berhubungan dengan tuuan dan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan itu.. 1.

(Terj. adat istiadat yang turun temurun tanpa. 1998. Misalnya saja sese orang begitu mendengar cerita yang menyedihkan. . Ini merupakan tindakan yang nonrasional. maka masyarakat tetap ada yang mau melakukan. Kamanto Sunarto. 2000. atau kegembiraan. Teori Sosiologi: Klasik dan Modern. 1994. Seperti yang telah saya ungkapkan di atas. ia sampai menitikkan air mata. Jakarta : Gramedia. Seseorang yang sedang mengalami perasaan meluap ± luap seperti cinta. Jilid I dan II. Ini dilakukan agar diberi keselamatan pada saat kelahiran nanti. berarti sedang memperlihatkan tindakan afektif. sehingga dalam melakukan tindakan ini tanpa mengkritisi dan memikirkan terlebih dulu. Tindakan Afektif Tipe tindakan ini ditandai oleh dominasi perasaan atau emosi tanpa refleksi intelektual atau perencanaan yang sadar. Pengantar Sosiologi. dan secara spontan mengungkapkan perasaan itu tanpa refleksi. DAFTAR PUSTAKA Johnson. kemarahan. Tindakan ini biasa dilakukan pada masyarakat yang hukum adat masih kental. Sosiologi Suatu Pengentar. Paul D. 4.Tindakan ini dilakukan atas dasar kebiasaan. di masyarakat Jawa adat adat mitoni yaitu upacara yang dilakukan dalam bulan ke tujuh usia kandungan pertama seorang istri. Jakarta : LPFEUI. Masyarakat Ideal menurut Sosiolog Kelompok masyarakat ideal menurut beberapa pakar sosiologi : 1. Contohnya. Emile Durkheim Durkheim mengkaji masyarakat ideal berdasarkan konsep solidaritas sosial. ketakutan. tindakan tersebut tidak masuk akal. Lawang).Z. Jakarta : Rajawali. Soerjono Soekanto. Walaupun bila dipikir ulang sebenarnya tidak masuk akal. Robert M. Solidaritas sosial menunjuk pada satu keadaan hubungan antara individu dan atau kelompok yang . Tapi itu karena sudah menjadi kebiasaan atau tradisi.

Kesadaran kolektif kuat . individualitas itu terusmenerus dilumpuhkan oleh tekanan yang besar sekali untuk konformitas. Solidaritas sosial ini terbagi kepada dua bagian : solidaritas mekanik dan solidaritas organik. Solidaritas mekanik pada suatu ³kesadaran kolektif´ bersama. Munculnya perbedaan-perbedaan di tingkat individu ini merombak kesadaran kolektif itu. Solidaritas itu berdasarkan pada tingkat saling ketergantungan yang tinggi. Homogenitas serupa itu hanya mungkin kalau pembagian kerja sangat minim. yang pada gilirannya menjadi kurang penting lagi dasar untuk keteraturan sosial dibandingkan dengan saling ketergantungan fungsional yang bertambah antara individu-individu yang memiliki spesialisasi dan secara relatif lebih otonom sifatnya. Sebaliknya solidaritas organik muncul karena pembagian kerja bertambah besar. yang memungkinkan dan juga menggairahkan bertambahnya perbedaan di kalangan individu. sentimen dan sebagainya. Karena itu.berdasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama Ikatan solidaritas sosial menurutnya lebih mendasar daripada hubunga kontraktual yang dibuat atas persetujuan rasional. Bila diskemakan maka dua solidaritas itu bisa dilihat dari skema di bawah ini : Solidaritas mekanik . Ciri khas yang penting dari solidartas mekanik adalah bahwa solidaritas itu didasarkan pada suatu tingkat homogenitas yang tinggi dalam kepercayaan.Pembagian kerja rendah .Kesadaran kolektif lemah . Saling ketergantungan itu bertambah sebagai hasil dari bertambahnya spesialisasi dalam pembagian pekerjaan. karena hubungan-hubungan serupa itu mengandaikan sekurang-kurangnya satu derajat konsensus terhadap prinsip-prinsip moral yang menjadi dasar kontrak itu. yang menunjuk pada totalitas kepercayaan-kepercayaan dan sentimen-sentimen bersama yang tergantung pada individu-individu yang memiliki sifat-sifat yang sama dan menganut kepercayaan dan pola normatif yang sama pula.Pembagian kerja tinggi .Hukum restitutif dominan .Hukum represif dominan Solidaritas organik . individualitas tidak berkembang.

Bersifat primitif-pedesaan Demikian perhatian utama Durkheim dalam struktur sosial (masyarakat) lebih ditekankan pada bentukbentuk integrasi atau solidaritas sosial. Max Weber Weber memberikan perhatian tentang masyarakat ideal berdasarkan konsep rasionalitas. Peningkatan ini tercermin dalam tindakan ekonomi individu dan bentuk-bentuk organisasi sosial.Keterlibatan komunitas dalam menghukum orang yang menyimpang . Konsep ini sama pentingnya dengan konsep solidaritas untuk Durkheim.Badan-badan kontrol sosial yang menghukum orang yang menyimpang .Saling ketergantungan tinggi . Karl Marx Marx melihat kondisi masyarakat melalui kaca mata konsep pertentangan kelas sosial. Bagi Weber birokrasi modern karena adanya otoritas yang berdasarkan pada komitmen terhadap seperangkat peraturan yang diundangkan secara resmi dan diatur secara impersonal yang ini kemudian dikenal sebagai otoritas legal-rasional.Secara relatif saling ketergantungan rendah . Tipe otoritas ini berbeda dengan otoritas tradisional dan karismatik. Weber melihar perkembangan masyarakat Barat yang modern sebagai suatu hal yang menyangkut peningkatan yang mantap dalam bentuk rasionalitas. .Konsensus pada nilai-nilai abstrak dan umum penting .Konsensus terhadap pola-pola normatif penting . Birokrasi modern menurut Weber merupakan organisasi sosial yang paling efesien. dan konflik kelas Marx. sistematis dan dapat diramalkan dan birokrasi modern ini dilihatnya sebagai tipe ideal.Individualitas tinggi .Bersifat industrialis perkotaan .Individualitas rendah .. Dab bila diperhatikan Durkheim juga sependapat dengan Comte dan Sorokin mengenai ide dasar konsensus intelektual dan moral yang perlu sebagai dasar untuk keteraturan sosial yang bersifat harmonis dan terintegratif.

Bagi Karl Marx bentuk masyarakat ideal adalah masyarakat komunis dimana sudah tidak ada lagi konflik antar kelas karena kaum proletar dapat menikmati sebagian besar kelimpahan material yang dihasilkan oleh industrialisasi. Kelompok proletar jumlahnya sangat besar dibandingkan kelompok borjuis akibatnya terjadi kesenjangan sosial diantara keduanya dan ini semua menurutnya diakibatkan oleh sistem ekonomi yang kapitalis. Hal itu bisa terwujud setelah tercapai perubahan sosial meluli revolusi . Kelompok borjuis adalah kelompok yang menguasai modal dan alat produksi sedangkan kelompok proletar adalah kelompok yang tidak memiliki modal dan alat produksi.Dalam teorinya Materialisme Historis dan Materialisme Dialektis Marx membagi masyarakat kepada dua kelompok: kelompok borjuis dan kelompok proletas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful