P. 1
Penulisan Persamaan Reaksi Menggunakan Invers Matriks

Penulisan Persamaan Reaksi Menggunakan Invers Matriks

|Views: 595|Likes:

More info:

Published by: Agungitthu Bonek Sagitarius on May 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/21/2013

pdf

text

original

PENULISAN PERSAMAAN REAKSI MENGGUNAKAN INVERS MATRIKS

Latar belakang Penulisan persamaan reaksi yang telah dikembangkan selama ini menggunakan subtitusi secara aljabar. Cara ini dapat digunakan untuk menentukan koefisien reaksi dari reaksi yang belum setimbang dengan reaktan dan produk yang sudah ditetapkan. Berdasarkan jurnal Chemical Education 1995 telah dikembangkan penulisan persaman reaksi menggunakan invers matriks. Cara ini reaksi yang akan ditetukan persamaannya dituliskan dalam bentuk matriks selanjutnya dicari inversnya kemudian dari invers matriks akan dapat ditentukan koefisien reaksinya sekaligus reaktan dan produknya. Teori invers matriks Sebelum membahas tentang invers matriks perlu diketahui apa matriks itu, berdasarkan definisi matriks adalah barisan bilangan atau fungsi yang diletakkan dalam kurung. Pada penulisannya bagian horisontal disebut sebagai baris sedang bagian yng vertikal disebut kolom atau lebih singkatnya matriks terdiri dari bris dan kolom.
⎡2 ⎢6 ⎢ ⎢3 ⎣ ⎡a ⎢b ⎣ 0 ⎤ 7 − 9⎥ ⎥ 1 4⎥ ⎦ 4 c⎤ d⎥ ⎦

⎡2 3 ⎤ ⎢5 − 7 ⎥ ⎣ ⎦ ⎡e x ⎢ ⎣2 x

[a1

a2

a3 ]

x 2 + x + 5⎤ ⎥ 3x + 1 ⎦

Invers matriks adalah suatu matriks yang apabila dikalikan dengan matriks asalnya akan menghasilkan matriks satuan atau matriks identitas. Hal ini hanya berlaku untuk matriks yang mempunyai jumlah baris sama dengan jumlah kolom ( matriks bujur sangkar). A.A-1 = I atau A-1 A = I Suatu matriks hanya akan mempunyai satu invers, kemudian invers matriks tersebut apabila dikalikan dengan matriks asalnya sama dengan martriks identitas. Matriks identitas adalah matriks yang mempunyai entri pada diagonalnya samadengan 1 diluar diagonal entrinya 0. Berikut beberapa matriks identitas.

⎡1 0⎤ I2 = ⎢ ⎥ ⎣0 1 ⎦

⎡1 0 0⎤ I 3 = ⎢0 1 0 ⎥ ⎥ ⎢ ⎢0 0 1 ⎥ ⎦ ⎣

dan

sebagainya. adalah matriks identitas

1

inversnya . dim ana. maka ⎣− 1 3 ⎦ B. A . dan..adalah. ⎡ 3 2⎤ A=⎢ ⎥ ⎣2 1⎦ ⎡ 3 2⎤ A=⎢ ⎥ dengan mengandengkan matriks A dengan matriks I kemudian ⎣2 1 ⎦ mengoperasikan antar baris sampai akhirnya diperoleh matriks A-1 disebelah kanan.B = I ⎡ 2 − 5⎤ ⎡3 5⎤ ⎡1 0⎤ ⎢− 1 3 ⎥ ⎢1 2⎥ = ⎢0 1⎥ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ Cara mencari invers matriks diantaranya dengan a. ⎣1 2⎦ ⎡ 2 − 5⎤ A=⎢ ⎥.Subtitusi Gauss b. [ A/I ] kemudian melalui operasi antar baris pada matriks seehingga dapat mengubah kedudukan matriks identitas yang semula berada disebelah kanan dapat berubah disebelah kiri [ I/ A-1 ] adapun yang berada disebelah kanan adalah matriks inversnya. 2 .Contoh: ⎡3 5⎤ B=⎢ ⎥. A = I ⎡3 5⎤ ⎡ 2 − 5⎤ ⎡1 0⎤ ⎢1 2⎥ ⎢− 1 3 ⎥ = ⎢0 1⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ A. Ambilah matriks A akan dicari inversnya menggunakan subtitusi Gauss.Adjoin matriks Cara mencari invers matriks dengan subtitusi Gauss atau subtitusi antar baris yaitu dengan memasangkan matriks yang akan dicari inversnya dengan matriks identitas.

A −1 = A −1 A harus sama dengan I ⎡ − 1 2 ⎤ ⎡ 3 2 ⎤ ⎡1 0 ⎤ ⎢ 2 − 3⎥ ⎢2 1⎥ = ⎢0 1⎥ atau ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎡ 3 2 ⎤ ⎡ − 1 2 ⎤ ⎡1 0 ⎤ ⎢2 1⎥ ⎢ 2 − 3⎥ = ⎢0 1⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Sebenarnya untuk mencari invers matriks ukuran 2 x 2 dapat dengan mudah menggunakan persamaan yang sudah dikenal. 3 .⎡ 3 2 1 0⎤ ⎢ ⎥ baris ke dua dikalikan dengan − 1 kemudian hasi ln ya dijumlahkan 2 1 0 1⎦ ⎣ dengan baris pertama ⎡1 1 1 − 1⎤ ⎢ ⎥ baris pertama dikalikan dengan − 2 kemudian hasi ln ya 2 10 1⎦ ⎣ dijumlahkan dengan baris ke dua ⎡1 1 1 − 1⎤ ⎢ ⎥ baris ke dua dikalikan dengan 1 hasi ln ya dijumlahkan 0 −1 − 2 3 ⎦ ⎣ dengan baris pertama ⎡1 0 − 1 2 ⎤ ⎢ ⎥ baris ke dua dikalikan dengan − 1 0 − 1 − 2 3⎦ ⎣ ⎡1 0 − 1 2 ⎤ ⎡− 1 2 ⎤ −1 ⎢ ⎥ sehingga matriks invesnya A = ⎢ ⎥ ⎣ 2 − 3⎦ ⎣0 1 2 − 3⎦ sebagai cek A. Persamaan ini tidak dapat diterapkan untuk mencari invers dari matriks yang ukurannya lebih besar dari 2 x 2. tetapi persamaan ini hanya terbatas untuk matriks 2 x 2.

⎣c d ⎦ ⎡ d − b⎤ 1 ad − bc ⎢− c a ⎥ ⎣ ⎦ contohnya : A −1 = ⎡1 2⎤ A=⎢ ⎥. ⎡1 2 1 ⎤ A = ⎢2 5 0⎥ ⎥ ⎢ ⎢3 3 8⎥ ⎦ ⎣ ⎡1 2 1 1 0 0 ⎤ ⎥ ⎢ ⎢ 2 5 0 0 1 0⎥ ⎢3 3 8 0 0 1⎥ ⎦ ⎣ ⎡1 2 1 1 0 0⎤ ⎢ ⎥ ⎢ 2 5 0 0 1 0⎥ ⎢0 − 3 5 − 3 0 1⎥ ⎣ ⎦ ⎡1 2 1 1 0 0⎤ ⎢ ⎥ ⎢0 1 − 2 − 2 1 0⎥ ⎢0 − 3 5 − 3 0 1 ⎥ ⎣ ⎦ 4 . maka..⎡a b ⎤ A=⎢ ⎥. ⎣1 3⎦ A −1 = 1 ⎡ 3 − 2⎤ 1 ⎡ 3 − 2⎤ = 3 − 2 ⎢− 1 1 ⎥ 1 ⎢− 1 1 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎡ 3 − 2⎤ A −1 = ⎢ ⎥ ⎣− 1 1 ⎦ Seperti telah dikatakan diatas untuk matriks ukuran lebih besar 2 x 2 inversnya dapat dicari dengan cara subtitusi Gauss atau dengan adjoin matriks. maka.

Cij = kofaktor dari entri matriks baris ke i kolom ke j 5 . Matriks adjoin dapat diperoleh dari transpose matriks kofaktor selanjutnya dibagi determinan maka akan diperoleh invers matriks.⎡1 2 1 1 0 0⎤ ⎢ ⎥ ⎢0 1 − 2 − 2 1 0 ⎥ ⎢0 0 − 1 − 9 3 1 ⎥ ⎣ ⎦ ⎡1 2 1 1 0 0⎤ ⎢ ⎥ 0⎥ ⎢0 1 − 2 − 2 1 ⎢0 0 1 9 − 3 − 1⎥ ⎣ ⎦ ⎡1 2 1 1 0 0 ⎤ ⎥ ⎢ ⎢0 1 0 16 − 5 − 2⎥ ⎢0 0 1 9 − 3 − 1 ⎥ ⎦ ⎣ ⎡1 2 0 − 8 3 1 ⎤ ⎥ ⎢ ⎢0 1 0 16 − 5 − 2⎥ ⎢0 0 1 9 − 3 − 1 ⎥ ⎦ ⎣ ⎡1 0 0 − 40 13 5 ⎤ ⎥ ⎢ ⎢0 1 0 16 − 5 − 2⎥ sehinggga ⎢0 0 1 9 − 3 − 1⎥ ⎦ ⎣ ⎡− 40 13 5 ⎤ A = ⎢ 16 − 5 − 2⎥ ⎢ ⎥ ⎢ 9 − 3 − 1⎥ ⎣ ⎦ −1 Adapun mencari invers matriks melalui adjoin beberapa langkah harus dilalui diantarannya mencari minor setelah minor untuk setiap entri didapatkan. Mij = minor entri aij adalah determinant sub matrik dimana baris ke i kolom ke j dihilangkan. dicari kofaktor untuk setiap entri dan dapat disusun matriks kofaktor.

Adapun det er min ant matriks det ( A) = ∑ a ij . A =3 5 6 2 6 2 5 −1 +4 = 3. adalah min or 1 4 i+ j sedang Cij = (− 1) . 3 4 8 1 8 1 4 = 48 − 10 + 12 = 50 1+1 . Mij Cij = kofaktor baris ke kolom ke j sehingga C11 = (− 1) C11 = M 11 C11 = 16 C 21 = − M 21 C 21 = −10 C 23 = − M 23 dan seterusnya adalah kofaktor. 16 − 1.⎡3 1 4⎤ A = ⎢2 5 6 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢1 4 8 ⎥ ⎣ ⎦ M 11 = M 12 = M 23 = 5 6 4 8 = 16 2 6 = 10 1 8 3 1 dan seterusnya . c ij pada sepanjang baris atau kolom. 10 + 4. M 11 6 .

A maka 7 .C adalah matriks kofaktor dari c1n ⎤ ⎡c11 ⎢ ⎥ C=⎢ ⎥ ⎢c n1 c nn ⎥ ⎣ ⎦ ⎡ 16 − 10 3 ⎤ 20 − 11⎥ C=⎢ 8 ⎢ ⎥ ⎢− 14 − 10 13 ⎥ ⎣ ⎦ Cij Transposisi dari matri kofaktor adalah adj ( A). I Karena I = A-1 . ⎡c C T = ⎢ 11 ⎣ c1n c n1 ⎤ = adj ( A) c nn ⎥ ⎦ 8 − 14⎤ ⎡ 16 ⎢− 10 20 − 10⎥ adj ( A) = C ⎢ ⎥ ⎢ 3 − 11 13 ⎥ ⎣ ⎦ T Apabila A dikalikan adj ( A) maka : 8 − 14⎤ ⎡3 1 4⎤ ⎡ 16 ⎢2 5 6⎥ ⎢− 10 20 − 10⎥ A adj ( A) = ⎢ ⎥⎢ ⎥ ⎢1 4 8 ⎥ ⎢ 3 − 11 13 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎡50 0 0 ⎤ = ⎢ 0 50 0 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ 0 0 50⎥ ⎣ ⎦ Dari kedua hal yaitu A adj (A) dan det A dapat ditulis: 0 0 ⎤ ⎡det A A adj ( A ) = ⎢ 0 det A 0 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ 0 0 det A⎥ ⎣ ⎦ Adikalikan dengan adj (A) dapat ditulis juga sebagai : A adj (A) = det (A) .

ambilah koefisien a untuk Cl2 . b untuk H2 dan c untuk HCl. A adj (A) = det (A). A-1 A −1 = 1 adj ( A) det ( A) adj A det ( A) A −1 = sehingga invers matriks dari A dapat ditulis menjadi ⎡−8 ⎢ 25 ⎢ −1 A−1 = ⎢ ⎢ 5 ⎢ 3 ⎢ 50 ⎣ 4 25 2 5 − 11 50 − 7⎤ 25 ⎥ −1 ⎥ ⎥ 5 ⎥ 13 ⎥ 50 ⎥ ⎦ Penggunaan invers matriks dalam penulisan persamaan reaksi Terapan invers matriks pada penulisan persamaan reaksi yang belum setimbang ambilah contoh untuk reaksi: Cl2 + H2 HCl Untuk reaksi tersebut belum setibang antara produk dan reaktannya untuk itu dicari koefisien reaksi secara aljabar.A adj (A) = det (A) A-1 .Dari pemisalan itu dapat ditulis persamaan: 2a = c 2b = c apabila c diambil sama dengan 1 maka : 2a = 1 1 1 sehingga persamaan reaksinya a= dan b = 2 2 1 1 Cl 2 + H 2 → HCl 2 2 Cl2 + H2 atau 2 HCl 8 .

Adapun dengan menggunakan invers matriks reaksi tersebut dapat disusun dengan tabel berikut: Cl2 Cl H 2 0 0 H2 0 2 0 HCl 1 1 1 Secara matriks dapat ditulis menjadi : ⎡2 0 1⎤ A = ⎢0 2 1⎥ ⎢ ⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎣ ⎦ dari penulisan matriks perlu ditambahkan baris terakhir yang berupa elemen matriks baris terakhir dari matriks identitas. Selanjutnya untuk memperoleh invers matriks diselesaikan dengan subtitusi Gauss. ⎡ 2 0 1 1 0 0⎤ ⎢ ⎥ ⎢0 2 1 0 1 0⎥ ⎢0 0 1 0 0 1⎥ ⎣ ⎦ ⎡2 0 1 1 0 0 ⎤ ⎥ ⎢ ⎢0 2 0 0 1 − 1⎥ ⎢0 0 1 0 0 1 ⎥ ⎦ ⎣ 9 . hal ini dilakukan untuk memperoleh matriks bujur sangkar.

⎡2 0 1 1 ⎢ ⎢0 1 0 0 ⎢0 0 1 0 ⎣ ⎡2 0 0 1 ⎢ ⎢0 1 0 0 ⎢0 0 1 0 ⎣ ⎡1 0 0 1 ⎢ ⎢0 1 0 0 ⎢0 0 1 0 ⎣ 0 1 2 0 0 ⎤ 1⎥ − ⎥ 2⎥ 1 ⎦ −1⎤ 1⎥ − ⎥ 2⎥ 1 ⎦ −1⎤ 1⎥ − ⎥ Sehingga diperoleh invers matriks 2⎥ 1 ⎦ 0 1 2 0 0 1 2 0 ⎡1 ⎢2 ⎢ A-1 = ⎢ 0 ⎢ ⎢0 ⎢ ⎣ 0 1 2 0 1⎤ − ⎥ 2 1⎥ − ⎥ 2⎥ 1 ⎥ ⎥ ⎦ Entri matriks invers pada kolom paling kanan adalah koefisien dari reaksi yang dimaksudkan artinya 1 1 − untuk Cl 2 dan − untuk H 2 serta 1 untuk HCl atau secara matematika dapat 2 2 dituliskan sebagai 1 ⎛ 1⎞ − Cl 2 + ⎜ − ⎟ H 2 + 1 HCl = 0 atau 2 ⎝ 2⎠ 1 1 Cl 2 + H 2 = HCl atau sec ara kimia dapat ditulis 2 2 1 1 Cl 2 + H 2 → HCl 2 2 Cl2 + H2 2 HCl 10 .

secara matematika dapat ditulis: -1 Fe2+ + 1 Fe3+ + 1 e = 0 secara kimia dapat dituliskan menjadi : Fe3+ + e ⇔ Fe2+ Penulisan matriks dari reaksi reduksi Feri menjadi fero dapat ditulis dengan beberapa cara yang berbeda diantaranya: Fe3+ Fe e Muatan 1 0 3 Fe2+ 1 0 2 e 0 1 -1 Dari tabel tersebut dapat dituliskan dengan matriks berikut: 11 .Contoh lain: Fe2+ Fe Muatan e 1 2 0 Fe3+ 1 3 0 e 0 -1 1 Dari tabel tersebut dapat dituliskan dengan matriks berikut: ⎡1 1 0 ⎤ A = ⎢2 3 − 1⎥ ⎥ ⎢ ⎢0 0 1 ⎥ ⎦ ⎣ kemudian dengan menggunakan cara adjoin atau dengan cara subtitusi Gauss diperoleh invers matriks: ⎡ 3 1 − 1⎤ A −1 = ⎢− 2 1 1 ⎥ ⎥ ⎢ ⎢0 0 1⎥ ⎦ ⎣ entri invers matriks pada kolom terakhir merupakan koefisien dari reaksi yang dimaksudkan.

⎡1 1 0 ⎤ A = ⎢0 0 1 ⎥ ⎥ ⎢ ⎢3 2 − 1⎥ ⎦ ⎣ kemudian dengan menggunakan cara adjoin atau dengan cara subtitusi Gauss diperoleh invers matriks: 1⎤ ⎡− 2 1 ⎢ 3 − 1 − 1⎥ A =⎢ ⎥ ⎢0 1 0⎥ ⎦ ⎣ −1 entri invers matriks pada kolom ke dua merupakan koefisien dari reaksi yang dimaksudkan. Ambilah contoh reaksi reduksi Cr(VI) menjadi Cr(III) berdasarkan tabel berikut: Cr2O722 0 0 -2 7 H+ 0 0 1 1 0 Cr3+ 1 0 0 3 0 Cr e H Muatan O e 0 1 0 -1 0 H2O 0 0 2 0 1 Dengan matriks ditulis : 2 ⎡0 ⎢1 0 ⎢ A=⎢ 0 0 ⎢ ⎢− 1 − 2 ⎢0 7 ⎣ 0 0 1⎤ 0 0 0⎥ ⎥ 1 2 0⎥ ⎥ 1 0 3⎥ 0 1 0⎥ ⎦ dapat diperoleh inversnya 12 . Fe3+ + e ⇔ Fe2+ Dari penulisan persamaan reaksi kimia menggunakan invers matriks tampak antara produk dan reaktan baru diketahui setelah invers matriks diperoleh. Untuk reaksi reduksi oksidasi yang agak kompleks dapat juga ditentukan persamaan reaksinya. secara matematika dapat ditulis: 1 Fe3+ + (-1 ) Fe2+ + 1 e = 0 secara kimia akan sama saja dengan reaksi diatas .

+ 14 H+ + 6e ⇔ 7 H2O + 2 Cr3+ Untuk reaksi lebih kompleks lainnya ambilah reaksi oksidasi CH3COOH oleh KMnO4 Bedasarkan ion-ionnya dapat ditabelkan sebagai berikut: MnO4Mn 1 C 0 H 0 O 4 Muatan -1 0 CH3COOH 0 2 4 2 0 0 CO2 0 1 0 2 0 0 H2O 0 0 2 1 0 0 H+ 0 0 1 0 1 0 Mn2+ 1 0 0 0 2 1 Dengan matriks dituliskan : ⎡1 ⎢0 ⎢ ⎢0 A=⎢ ⎢4 ⎢− 1 ⎢ ⎢0 ⎣ 0 2 4 2 0 0 0 1 0 2 0 0 0 0 2 1 0 0 0 0 1 0 1 0 1⎤ 0⎥ ⎥ 0⎥ ⎥ 0⎥ 2⎥ ⎥ 1⎥ ⎦ 13 .7 H2O .⎡ 0 ⎢−1 ⎢ 2 ⎢ ⎢− 7 A −1 = ⎢ ⎢ 7 ⎢ 2 ⎢ ⎢ 2 ⎣ 1 1 6 7 3 −7 6 −1 3 0 −1 6 −4 3 7 6 1 3 0 1 6 7 3 −7 6 −1 3 0 ⎤ 1 ⎥ 3 ⎥ 8 ⎥ ⎥ 3 ⎥ − 4⎥ 3 ⎥ − 2⎥ ⎥ 3 ⎦ sehingga koefisien reaksi dari tabel tersebut diambil dari entri invers matriks kolom ke 2 adalah: 1e + 1 7 + 7 1 3+ Cr2O72.+ 14 H+ .2 Cr3+ = 0 Persamaan reaksinya dapat ditulis: Cr2O72.+ H H2O Cr = 0 6 3 6 3 6 e + Cr2O72.

Penulis telah mengembangkan teori itu menjadi agak lebih luas. Jelasnya dapat dilihat pada reaksi reduksi Fe3+ menjadi Fe2+. kadang-kadang juga dijumpai tidak mempunyai invers walaupun −5 5 11 ) CH3COOH + ( ) CO2 + ( ) H2O + (-3) H+ + 1 Mn2+ = 0 8 4 4 14 . Persamaan reaksi dapat ditulis menggunakan entri invers matriks pada kolom terakhir. hal ini tergantung dari penulisan matriks bujur sangkar yang akan dicari inversnya.+ 5 CH3COOH + 24 H+ ⇔ 22 H2O + 10 CO2 + Mn2+ dari beberapa penulisan persamaan reaksi dapat dikatakan invers matriks dapat diterapkan untuk menentukan koefisien reaksi dengan syarat matriksnya harus bujur sangkar.demikian juga tidak selalu menambahkan satu baris terakhir dari matriks identitas untuk mendapatkan matriks bujur sangkar. bedanya dengan teori yang sudah ada.+ ( secara kimia 8 MnO4. Pada reaksi yang tidak dapat dituliskan dengan matriks bujur sangkar cara invers matriks tidak dapat diterapkan karena hanya matriks bujur sangkar saja yang mempunyai invers. sehingga subtitusi secara aljabar masih diperlukan. Perbedaan energi bebas Gibbs reaksi ( Δ G) dapat beharga Δ G < 0 untuk reaksi spontan Δ G = 0 untuk reaksi dalam kesetimbangan dan Δ G > 0 untuk tidak terjadi reaksi kimia. Pada teori yang telah dikembangkan tidak harus menggunakan entri invers matriks pada kolom terakhir tetapi menggunakan salah satu kolom. Penulisan persamaan reaksi selalu menggunakan entri invers matriks pada kolom terakhir dan menambah satu baris terakhir matriks identitas untuk mendapatkan matriks bujur sangkar. Namun kadang-kadang untuk matriks bujur sangkar tidak mempunyai invers. Penulisan persamaan reaksi menggunakan invers matriks secara matematika boleh jadi ada tetapi secara reaksi kimia yang sebenarnya belum tentu dapat dijalankan karena beberapa faktor yang mempengaruhi reaksi perlu diperhatikan. Hal penting dalam reaksi kimia adalah Δ G. Pembahasan Penulisan persamaan reaksi secara umum dapat dicari menggunakan invers matriks sehingga dapat dirancang reaksi kimia yang terdiri dari reaktan dan produk sesuai dengan yang diharapkan.⎡ 1 ⎢ 7 ⎢ 8 ⎢− 7 ⎢ A −1 = ⎢ 4 ⎢− 9 ⎢ 4 ⎢ 1 ⎢ ⎢ 0 ⎣ 0 1 8 −1 0 4 1 −1 4 0 0 0 0 0 1 2 0 −1 4 1 2 1 2 0 0 0 −1 8 1 4 −1 4 1 0 −1⎤ − 5⎥ 8 ⎥ 5 ⎥ ⎥ 4 ⎥ 11 ⎥ 4 ⎥ − 3⎥ ⎥ 1 ⎥ ⎦ dari hasil invers matriks koefisien persamaan reaksi diambil pada kolom terakhir sehingga dapat ditulis: -1 MnO4.

1976. London Irwin Krizig. 15 .M. ed I. Daftar Pustaka Hirst. 1995. ed IV. Journal Chemical Education.Penulisan persamaan reaksi menggunakan invers matriks dapat diterapkan untuk reaksi kimia yang apabila ditulis dengan matriks menghasilkan matriks bujur angkar. 2. New York.matriksnya sudah bujur sangkar. Saran Perlu dikembangkan cara penulisan persamaan reaksi kimia secara matematik sehingga dapat berlaku untuk semua jenis reaksi. D. 1989. Mathematics for Chemists. John Wiley & Sons Inc. Advanced Mathematicfor Physicist and Engineering. Penulisan persamaan reaksi menggunakan invers matriks secara otomatis diketahui antara reaktan dan produk. Simpulan 1. Untuk itu dapat digunakan lagi subtitusi secara aljabbar untuk menuliskan persamaan reaksinya. The Macmillan Press LTD.

Teori ini tidak harus menambahkan baris terakhir matriks identitas untuk mendapatkan matriks bujur sangkar dan tidak harus menggunakan entri kolom terakhir pda matriks invers akan tetapi menggunakan salah satu kolom tergantung dari cara penulisanya. Penulisan reaksi kimia menggunakan invers matriks menggunakan entri pada kolom terakhir dan harus menambahkan satu baris terakhir matriks identitas untuk mendapatkan matriks bujur sangkar. 16 . Telah dikembangkan teori penulisan persamaan reaksi menggunakan invers matriks.ABSTRAK PENULISAN PERSAMAAN REAKSI MENGGUNAKAN INVERS MATRIKS Oleh Pirim Setiarso Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Surabaya Penulisan persamaan reaksi yang telah diketahui selama ini menggunakan subtitusi secara aljabar. Apabila suatu reaksi tidak dapat dituliskan dengan matriks bujur sangkar maka cara ini tidak dapat diterapkan. dan dapat digunakan subtitusi secara aljabar.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->