P. 1
LATAR BELAKANG MASALAH

LATAR BELAKANG MASALAH

|Views: 250|Likes:
Published by ryum30

More info:

Published by: ryum30 on May 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/22/2014

pdf

text

original

LATAR BELAKANG MASALAH

Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, khusunya di daerah perikanan atau tempat pelelangan ikan ( TPI ) kebutuhan akan sistem pendingin untuk

pengawetan/penyimpanan hasil penangkapan ikan di laut dirasakan semakin meningkat, Sistem pendinginan yang ada saat ini kebanyakan bekerja dengan sistim kompresi uap menggunakan energi listrik. Masalah yang ada belum semua tempat pelelangan ikan hasil penangkapan di laut belum tersedia jaringan listrik sehingga sistim pendingin sederhana yang dapat bekerja tanpa adanya jaringan listrik merupakan alternatif pemecahan permasalahan kebutuhan system pendingin di tempat pelelangan ikan atau tempat penampungan hasil panen ikan.

Selain itu refrigeran sintetik mempunyai dampak negative pada lingkungan seperti merusak lapisan ozon dan menimbulkan pemanasan global. Salah satu sistem pendingin yang tidak memerlukan energi listrik adalah sistem pendingin absorbsi amonia-air ( NH3 ± H2O ). Sistem pendingin absorbsi amonia-air hanya memerlukan energi panas untuk dapat bekerja. Energi panas dapat berasal dari pembakaraan kayu, batubara, energi surya dan sebagainya. Tetapi energy panas juga dapat berasal dari buangan proses industry, biomassa, biogas atau dari energi alam seperti panas bumi dan energi surya. Amonia bukan merupakan refrigeran sintetik sehingga resiko kerusakan alam seperti yang dapat disebabkan sistem pendingin kompresi uap karena menggunakan refrigeran sintetik tidak terjadi.

Disain pendingin energi panas untuk negara-negara berkembang haruslah sederhana, mudah perawatannya dengan kata lain harus dapat dibuat dan diperbaiki oleh industri lokal serta dapat diterima masyarakat industry sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan, serta

Energi panas dapat berasal dari pembakaraan kayu. (4) evaporator dan (5) katup ekspansi. Pada penelitian ini model pendingin absorbsi yang dibuat terdiri dari tiga komponen karena komponen absorber disatukan dengan generator dan kondensor disatukan dengan evaporator.mengurangi ketergantungan penggunaan minyak bumi dan listrik. buangan proses industri. (3) kondensor. Pada proses desorbsi generator memerlukan energi panas dari sumber panas. Pendingin absorbsi umumnya terdiri dari 5 (lima) komponen utama yaitu: (1) absorber. Gambar 1. . (2) generator. Proses absorbsi dan desorbsi terjadi pada absorber (pada penelitian ini pada generator). Siklus pendingin absorbsi Siklus pendinginan absorpsi terdiri dari proses absorpsi (penyerapan) refrijeran (amoniak) kedalam adsorber (air) dan proses pelepasan refrijeran dari adsorber (proses desorbsi) proses ini dapat dilihat pada Gambar 1. biogas atau dari energi alam seperti panas bumi dan energi surya. biomassa. bahan bakar minyak dan gas bumi.

Di dalam generator uap amoniak tersebut diserap oleh air. Cairan amoniak mengalir ke dalam evaporator dan mengalami ekspansi sehingga tekanannya turun. Uap amoniak ini mengalir dari generator menuju evaporator melalui kondensor. proses ini disebut absorbsi. Unjuk kerja alat pendingin menggunakan amonia yang dijual di pasar lokal belum banyak diketahui. Amonia yang banyak dijual di pasar lokal . Karena mendinginkan bahan maka cairan amoniak dalam evaporator akan menguap dan mengalir kembali ke dalam generator. Karena ammonia mempunyai titik didih yang lebih rendah dibandingkan air maka amoniak akan mendidih terlbih dahulu. Karena tekanan amoniak di dalam evaporator turun maka temperatur nyapun turun sampai dibawah 0oC. Di dalam kondensor uap amoniak mengalami pendinginan dan mengembun. Di dalam kotak pendingin tersebut diletakkan bahan-bahan yang akan didinginkan.Pada penelitian ini digunakan Kolektor Surya sebagai sumber panas. Unjuk kerja pendingin absorbsi umumnya dinyatakan dengan koefisien prestasi absorbsi (COP) dan dapat dihitung dengan persamaan : COP = dimana : COP = koefisien prestasi pendingin surya T3 = tempratur evaporator T1 = tempratur generator Secara konstruksi alat pendingin absorbsi amonia-air cukup sederhana sehingga dapat dibuat di bengkel-bengkel sederhana. Siklus tersebut akan berlangsung terus selama ada sumber panas. Selama proses desorbsi pendinginan di dalam evaporator tidak dapat dapat terjadi karena seluruh amoniak berada di dalam generator. Energi panas menaikkan temperatur campuran ammonia-air yang ada di dalam generator. Evaporator umumnya diletakkan di dalam kotak pendingin.

Berdasarkan latar belakang tersebut akan sangat menguntungkan apabila dapat memanfaatkan panas matahari yang mempunyai nilai kalor yang tinggi sebagai sumber panas.mempunyai kadar amonia yang berbeda-beda. Berdasarkan uraian latar belakang diatas penulis tertarik untuk malakukan penelitian : ´Pengaruh Intensitas Sinar Matahari Terhadap COP pada Mesin Pendingin Absorbsi Dengan Fluida Kerja Air + Amoniak Untuk Proses Penyimpanan Ikan Laut´ . Tujuan yang ingin dicapai oleh peneliti adalah mengetahui unjuk kerja (temperatur terendah dan koefisien unjuk kerja atau COP) yang dapat dicapai alat pendingin absorbsi amonia-air dengan menggunakan amonia yang banyak dijual di pasar lokal. Energi panas digunakan untuk menaikkan temperatur campuran ammonia-air yang ada di dalam generator untuk meningkatkan COP dengan tujuan untuk mendingankan hasil panen ikan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->