Hecting – Penjahitan Luka DEFINISI Penjahitan luka adalah suatu tindakan untuk mendekatkan tepi luka dengan benang

sampai sembuh dan cukup untuk menahan beban fisiologis. INDIKASI Setiap luka dimana untuk penyembuhannya perlu mendekatkan tepi luka. LUKA 3.1. Definisi Luka adalah semua kerusakan kontinnuitas jaringan akibat trauma mekanis. Trauma tajam menyebabkan : a. luka iris : vulnus scissum/incicivum b. luka tusuk : vulnus ictum c. luka gigitan : vulnus morsum Trauma tumpul menyebabkan : a. luka terbuka : vulnus apertum b. luka tertutup : vulnus occlusum ( excoriasi dan hematom ) Luka tembakan menyebabkan : vulnus sclopetorum. 3.2. Klasiflkasi luka berdasar ada tidaknya kuman : a. luka steril : luka dibuat waktu operasi b. luka kontaminasi : luka mengandung kuman tapi kurang dari 8 jam . (golden period) c. luka infeksi luka yang mengandung kuman dan telah berkembangbiak dan telah timbul gejala lokal maupun gejala umum.(rubor, dolor, calor, tumor, fungsio lesa).

Patofisiologi Luka
FKS 1, Best of The Best

Home

Home

Definisi
Didefinisikan sebagai kerusakan pada bagian tubuh yang disebabkan oleh kekuatan mekanis. Beberapa pasal memiliki definisi tersendiri

tentang luka, berdasarkan kerusakan yang terjadi. Hal ini termasuk kerusakan pada organ-organ dalam. Pasal lain juga menyebutkan tentang derajat luka, tidak berdasarkan bentuknya namun berdasarkan akibatnya yang dapat membahayakan nyawa korban.

Mekanisme luka
Tubuh biasanya mengabsorbsi kekuatan baik dari elastisitas jaringan atau kekuatan rangka. Intensitas tekanan mengikuti hukum fisika. Hukum fisika yang terkenal dimana kekuatan = ½ masa x kecepatan. Sebagai contoh, 1 kg batu bata ditekankan ke kepala tidak akan menyebabkan luka, namun batu bata yang sama dilemparkan ke kepala dengan kecepatan 10 m/s menyebabkan perlukaan. Faktor lain yang penting adalah daerah yang mendapatkan kekuatan. kekuatan dari masa dan kecepatan yang sama yang terjadi pada dareah yang lebih kecil menyebabkan pukulan yang lebih besar pada jaringan. Pada luka tusuk, semua energi kinetik terkonsentrasi pada ujung pisau sehingga terjadi perlukaaan, sementara dengan energi yang sama pada pukulan oleh karena tongkat pemukul kriket mungkin bahkan tidak menimbulkan memar. Efek dari kekuatan mekanis yang berlebih pada jaringan tubuh dan menyebabkan penekanan, penarikan, perputaran, luka iris. Kerusakan yang terjadi tergantung tidak hanya pada jenis penyebab mekanisnya tetapi juga target jaringannya. Contohnya, kekerasan penekanan pada ledakan mungkin hanya sedikit perlukaan pada otot namun dapat menyebabkan ruptur paru atau intestinal, sementara pada torsi mungkin tidaka memberikan efek pada jaringan adiposa namun menyebabkan fraktur spiral pada femur.

Klasifikasi luka 1. 2. 3. 4. Abrasi Kontusi Laserasi Luka insisi

Anatomi forensik kulit Bagian paling atas adalah lapisan sel keratinisasi stratum korneum yang ketebalannya bermacam-macam pada bagian-bagian tubuh tertentu. Pada tumit dan telapak tangan adalah yang paling tebal sementara pada daerah yang terlindungi seperti skrotum dan kelopak mata hanya pecahan dari millimeter. Berkaitan dengan forensik pada perkiraan perlukaan penetrasi pada kulit.

. Kontak gesekan yang mengangkat sel keratinisasi dan sel di bawahnya akan menyebabkan daerah tersebut pucat dan lembab oleh karena cairan eksudat jaringan. dengan definisi tidak menebus lapisan epidermis. Abrasi yang sesungguhnya tidak berdarah karena pembuluh darah terdapat pada dermis. abrasi menjadi kaku. Pemeriksaan visual. panas. Abrasi kuku jari . bila perlu menggunakan lensa. Demis (korium) terdiri dari jaringan ikat dengan adneksa kulit sperti folikel rambut. Lapisan epidermis umumnya berkerut.Kemudian epidermis yang tidak terdapat pembuluh darah. dapat menunjukkan pergerakan dari tubuh. Tangensial atau abrasi geser Abrasi kebanyakan disebabkan gerakan lateral daripada tekanan vertikal. Abrasi ini salah satu dari abrasi yang menunjukkan cetakan dari obyek yang membuat luka. arah kekuatan dapat ditentukan dari sisa epidermis yang terbawa sampai ujung abrasi. Ketika tanda abrasi ini ditemui. tidak ada goresan yang terjadi namun epidermis hancur dan obyek yang menghantam tercetak. tebal. Jika hantaman tersebut kuat dan daerah permukaan kontak kecil akan terjadi luka berlubang kecil dan abrasi hantaman terjadi. Pada abrasi yang terjadi sesudah kematian berwarna kekuningan jernih dan tidak ada perubahan warna. permukaan bawahnya terdiri dari papilla yang masuk ke dalam dermis. tekan. kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. perabaan seperti kertas berwarna kecoklatan. dan otot yang berurutan di bawahnya. Terdapat banyak pembuluh darah. Abrasi Crushing Ketika penekanan vertikal pada permukaan kulit. Ketika kematian terjadi sesudahnya. bagian bawah dari dermis terdapat jaringan adiposa dan (tergantung dari bagian tubuh) fascia. jaringan lemak. Abrasi Merupakan perlukaan paling superfisial. Kerusakan yang terjadi berupa penekanan hingga depresi ringan dari permukaan atau paling tidak memar atau tonjolan oedem lokal. saraf pembuluh limfe serta ujung saraf taktil.

Perdarahan kapiler hanya dapat dilihat melalui mikroskop. Abrasi berpola Abrasi yang terjadi mengikuti pola obyek . venule. Kata ‘memar’ mengacu pada lesi yang dapat dilihat pada kulit atau . Contohnya ketika ban motor melewati kulit. Kontusio disebabkan oleh kerusakan vena. antara lain penyeretan pada saat pemakaman. tanda kurva atau garis lurus jika tangan tersebut menggenggam. Abrasi post-mortem (sesudah kematian) Dapat disebabkan berbagai macam. tidak hanya epidermis yang rusak. arteri kecil. sehingga dapat terjadi memar intradermal. Pada saat proses pemakaman. Mungkin berupa goresan linear jika jari-jari tersebut menarik ke bawah. Contohnya. atau akibat proses otopsi. Abrasi kuku jari biasanya sering ditemukan pada leher. kulit dapat tertekan mengikuti pola obyek. Ahli patologi harus berhati0hati dengan interpretasi yang salah. lengan atas dan lengan depan. memar murni terjadi karena kebocoran pada pembuluh darah dengan epidermis yang utuh oleh karena proses mekanis. Kontusio atau memar Meskipun sering bersamaan dengan abrasi dan laserasi. dan penjeratan. meninggalkan pola pada kulit dimana kulit juga tertekan mengikuti alur ban tersebut. Lengan bagian depan sering merupakan lokasi untuk penggenggaman dan menahan baik pada penyiksaan anak atau serangan pada orang dewasa.Sangat penting karena frekuensi pada serangan khususnya pada penyiksaan anak. Memar umum ditemukan. Ekstravasasi darah dengan diameter lenih dari beberapa millimeter disebut memar atau kontusio. Baik ekimosis dan petekie biasanya terjadi bukan karena sebab trauma mekanis. jika beberapa luka yang ditemukan diragukan. namun tanda kuku jari sdapat menumpang pada memar tersebut. penyerangan seksual. muka. Pada otopsi kedua perlu diperiksa dengan deskripsi sebelumnya atau dengan foto. memutuskan tanda kuku jari pada leher yang disebabkan oleh tangan dari depan atau belakang leher. Sering disertai memar lokal. ukuran yang lenih kecil disebut ekimosis dan yang terkecil seukuran ujung peniti disebut petekie. khusunya setelah dibersihkan dengan air panas. bahkan petekie berasal dari pembuluh darah yang lebih besar dari kapiler.

jika berada di lapisan subepidermal. Pada orang yang berbaring lama Pergerakan dari Memar Pada daerah superfisial memar muncul dengan cepat. Namun kadang samara. mesenterium atau otot. sementara pada area yang dalam membutuhkan waktu untuk muncul ke permukaan. Ketika memar terjadi akibat penekanan dengan obyek berpola. Fragilitas pembuluh darah 6. Ruangan yang cukup 4.yang terjadi pada subkutanea. sementara ‘kontusio’ dapat terjadi pada bagian tubuh mana saja seperti limpa. Memar ini terjadi ketika obyek yang menekan memiliki pinggiran dan alur. perdarahn subkutanea dapat turun melewati alis mata dan muncul di orbita mata yang memberikan gambaran ‘mata hitam’ yang dapat . sehingga kulit dipaksa mengikuti alur dan bentuknya. perdarahan yang terjadi lebih dapat dilihat. sering pada jaringan adiposa. Kedalaman memar yang terjadi 5. Jumlah darahnya sedkiti namun karena posisinya yang superfisial dan lapisan tipis di atasnya yang jernih sehingga polanya dapat dibedakan. Harus ada ruangan yang cukup untuk darah yang keluar berakumulasi. Kebocoran pembuluh darah. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Munculnya Memar 1. Penggunaan kata memar lebih banyak digunakan dokter saat memberikan laporan atau keterangan pada kalangan non-medik. Jumlah darah yang keluar 3. memar terjadi pada perbatasan dermis dan epidermis. Memar dapat bergerak mengikuti gaya gravitasi. Ini menjelaskna kenapa memar lebih mudah terjadi pada skrotum daripada tumit dimana jaringan jaringan fibrosanya padat. Jika dilihat. Memar Intradermal Memar yang biasa terjadi akibat penekanan berada pada subkutanea. mereka lenih mudah terjadi memar daripada orang yang kurus jika faktor lain seperti fragilitas pembuluh dan umur sama. 2. Contohnya. Karena banyaknya jaringan subkutanea pada orang yang gemuk.

hematom yang terbentuk pecah oleh pengaruh enzim jaringan dan infiltrasi seluler. dapat turun sampai pada siku atau tumit. Hemoglobin pecah menjadi hemosiderin. diperkirakan terjadi tidak lebih dari 18 jam sebelum kematian Jika ada beberapa memar dengan beberapa warna yang berbeda. dimana orang yang dewasa memegang dengan pegangan yang nyaman. Penting pada kasus penyiksaan anak. Sering nampak pada kasus penyiksaan anak. Memar kecil pada deasa muda yang sehat akan menghilang dalam waktu 1 minggu. ini dikemukakan oleh nRoberts yang mengadakan penelitian. memar yang nampak mengikuti pola obyek tersebut. Beberapa faktor yang berpengaruh antara lain: Besarnya ekstravasasi Umur korban Idosinkrasi seseorang Beberapa observasi yang ditemukan: • • • • • • Jika ditemukan memar yang nampak baru tanpa disertai perubahan warna. Memar pada Tanda Khusus Kumpulan memar bentuk koin kecil merupakan karakterisitik tekanan jari baik pada pemegangan atautusukan. kemudian hijau kekuningan sebelum akhirnya samar. Perubahan Memar oleh Waktu Dengan berlalunya waktu. Begitu juga memar pada lengan atas atau betis. Namun pada memar akibat ‘gigitan asmara’ (cupang) akan menghilang dala waktu beberapa hari.sel darah merah menutupi ruptur dan mengandung Hb membuat degradasi secara kimiawi yang memyebabkan perubahan warna. . Biasa disebut ‘memar sixpenny’ Ketika permukaan kulit dilanggar oleh roda atau obyek berpola seperti rotan.disalahartikan sebagai trauma langsung. biliversin dan bilirubon yang menyebabkan perubahan wanra memar dari ungu atau coklat kebiruan menjadi coklat kehijauan. diperkirakan terjadi 2 hari sebelum kematian Jika memar terdapat perubahan warna kehijauan. berarti tidak terjadi pada saat yang sama.

Luka akibat tendangan Telapak kaki dapat meninggalkan pola memar pada tubuh. Tendangan pada satu sisi wajah dapat benar-benar melepas bagaian bawah dari maxilla dengan bagian lengkungan gigi dam palatum. leher dan area abdominal. Bahaya umum yang terjadi pada tendangan ke arah muka adalah patah tulang mandibulla. maxilla.terutama jika yang terluka daerah tulang tengkorak. tulang hidung dan zygoma. .Tendangan yang cepat dapat menyebabkan luka lecet disertai memar. Garis tepi memar dan kerusakan memiliki area yang sangat kecil sehingga untuk pemeriksaanya kadang dibutuhkan bantuan kaca penbesar. 2. sering pada abdomen dan dada walaupun ini dapat dikenali pada leher dan wajah. termasuk pembuluh darah dan saraf . Keberadaan rangkaian jaringan yang terkena terdapat pada daerah bagian dalam luka.tendangan vertical menunjukkan memar intradermal dengan pola telapak kaki. 3. sehingga setelah korban lemas dan kaki pelaku menyerang bagian yang paling mudah seperti pinggang. Laserasi dapat dibedakan dari luka iris : 1. sistem vena dapat tersumbat dan dapat terjadi memar.Variasi lain tendangan yaitu pelaku menyerang dari atas korban dengan cara loncat dan menendang dengan satu atau dua kaki. paha. Tidak adanya luka lurus yang tajam pada tulang dibawahnya. sehinga dada paling sering terkena dan dapat menyebabkan patah tulang iga maupun tulang dada. sedangkan menurut arahnya. dimana kumpulan dari darah antara esophagus dan tulang belakang servikal dapat menimbulkan memar dari stranhulasi. Salah satu area yang penting yang dapat mendeskripsikan secara penuh disbanding yang lain adalah leher.Sebagian besar tendangan dilakukan pada korban yang telah duduk atau terjatuh ketanah. Luka gores/Laserasi Berbeda dengan luka iris dimana pada luka gores jringan yang rusak menyobek bukan mengiris. Memar post mortem dan artefak lainnya Khususnya pada kematian kongesti seperti tekanan pada leher. yang sebelumnya disebabkan tindakan kekerasan lainnya seperti mendorong atau memukul.Kasus luka akibat tendangan menjadi hal biasa dengan meningkatnya kekerasan pada masyarakat.

Jika area tertutup oleh rambut seperti kulit kepala. Karakteristik dari alat tikam: 1. Pada waktu alat tumpul dipukulkan ke kulit. silet. Luka tikam dan luka yang berpenetrasi Menikam biasanya dengan pisau. Laserasi terpola Laserasi tidak menciptakan kembali bentuk dari alat yang melukai. maka sudut bagian luar biasanya bisa dikatakan bersih dari kerusakan apapun. sering terjadi pada kasus pembunuhan dan pembantaian. maka rambut tersebut akan terdapat pada luka. lebar dan ketebalan pisau . Luka potong tidak lebih berbahaya dibandingkan tikaman. Pukulan yang sangat keras dapat menyebabkan laserasi linier atau stellate. pedang. sebagaimana ketidakdalaman luka tidak akan terlalu mempengaruhi organ vital. walaupun bekas yang lebih dulu akan hilang jika alatnya telah ditarik kembali. kaca. maka akan ada lekukan dan lecet pada sisinya.4. biasanya mencakup seluruh luka akibat benda-benda seperti pisau. Material seperti karat. tendangan dapat menyebabkan laserasi khususnya jika menggunakan sepatu boot yang besar dengan ujung kakinya yang keras. Ciri yang paling penting dari luka iris adalah adanya pemisahan yang rapih dari kulit dan jaringan dibawahnya. khususnya target utama nya adalah tangan dan muka. Luka Iris Adalah luka yang disebabkan oleh objek yang tajam. kotoran atau serpihan mungin tertinggal pada luka dan harus sangat hati-hati dilindungi untuk pemeriksaan forensic. Panjang. Dapat terjadi alibat dari pukulan besi atau sebilah kayu. jika alat yang digunakan belum diketahui. kampak tajam dll. Luka potong Adalah luka iris yang kedalamannya lebih panjang. Luka akibat benda tumpul yang berpenetrasi Luka ini merupakan luka campuran antara luka laserasi dan luka iris.

Kejadian-kejadian penusukan sering bergerak dan dinamis sehingga korban jarang dalam keadaan statis. 7. Bagian dari tulang atau pengerasan tulang rawan Ketajaman dari ujung pisau Kecepatan dating nya pisau Kulit yang elastis lebih mudah ditembus Variasi ketebalan kulit terhadap pisau. Informasi ini menjadi petunjuk luka. kulit telapak kaki lebih tebal dari bagian tubih lain. Pembedahan dari jaringan dan otot bisa mengungkapkan bahwa kerusakan dinding dada terletak di ICS berapa . 2. 3. Petunjuk dari luka tusuk Petunjuk dari luka tusuk sering dianggap sebagai suatu masalah pembunuhan terutama sebagai persidangan. Saat pisau dengan mata pisau kurang cukup besar. Ketajaman dari sudut dan khususnya ujung dari mata pisau Karakteristik luka tikam. 4. Adanya alur. maka luka sering tampak terpotong bagian bawahnya mengenai jaringan subkutan. dapat menerangkan tentang: 1.Satu atau dua sisi derajat dari ujung yang lancip bentuk belakang pada pisau satu sudut (bergerisi/kotak) Bentuk dari pelindung pangkal yang berdekatan dengan mata pisau 6. mengambarkan jejak luka. 4. 2. 6. bergerigi atau cabang dari mata pisau 7. Dimensi senjata Tipe senjata Kelancipan senjata Gerakan pisau pada luka Kedalaman luka Arah luka Banyaknya tenaga yang digunakan 2. yang mengarah pada saat rekontruksi kejadian. 4. 5. 6. 3. 5. menjelaskan seperti pada luka tusuk didada. 5. Perkiraan mengenai derajat kekuatan luka tusuk Diberikan keterangan mengenai: 1. Penjelasan mengenai petunjuk berdasarkan gambaran luka dan jejak benda. kadang saat di autopsy luka terletak dibawah puting. 3. Luka tembus yang disebabkan tusukan Luka oleh senjata lain selain pisau . Pada autopsy.

Bila pada keadaan tangkis dengan cara menangkap mata pisau dengan telapak tangan. Pada gunting yang terbuka. 4. epidermis menjadi tipis&datar. Luka tangkis Luka tangkis merupakan luka yang terjadi akibat perlawanan korban dan pada umumnya ditemukan pada telapak tangan. 6. 3. Apakah luka yang ditemukan pada saat autopsy terjadi pada saat sebelum atau sesudah kematian 2. dengan satus sisi tertusuk. dikenal. 24-72 jam terdapat peningkatan jumlah lekosit sampai maksimal sekitar 48jam. melintasi lekukan jari. mengiris kulit. Apabila telah terjadi kematian. menggunakan senjata yang gampang.PD baru mulai terbentuk. pemeriksaan histology digunakan untuk menentukan faktor: 1. maka akan terlihat rambut akan terpotong. 30 menit-4jam terjadi pengumpulan lekosit PMN pada luka & terbentuknya benang-benang fibrin. punggung tangan. perbaikan dimulai. 4-12 jam terjadi udem jaringan & pembengkakan endotel PD. mudah diraih. punggung lengan bawah dan tungkai. 2. terbuka atau tertutup. .fibroblast muncul. Luka akibat Gunting Sering ditemukan pada kejadian rumah tangga. jaringan tendon atau kadang teririsnya keempat jari tangan Penentuan luka secara histologi Untuk keperluan forensic. Sedangkan untuk luka akibat gunting yang tertutup. maka luka yang terbentuk seperti huruf Z atau seperti kilatan cahaya. berapa lama kematian itu sudah terjadi Berikut ini adalah perubahan histologi akibat terjadinya luka: 1. maka luka yang terjadi akan mengiris telapak tangan. jari-jari tangan. 5.untuk membuat jaringan granulasi. epidermis mulai tumbuh.Pisau cukur dan pecahan gelas memiliki tepi tajam yang berbeda sehingga dapat memberikan jejak yang berbeda pula. 12-24 jam terdapat peningkatan jumlahMakrofag dan dimulainya pembersihan jaringan mati. Pada derah luka yang berambut. 3-6 hari. maka gambaran luka sukar dibedakan dengan gambaran luka tusuk oleh pisau. 10-15 hari . Gambaran luka tergantung pada posisi gunting saat ditusukkan. dimana biasanya pelaku adalah wanita.

Anestesi lokal lidocain 2%. e. tissue forceps . Tissue forceps ( pinset ) terdiri dari dua bentuk yaitu tissue forceps bergigi ujungnya ( surgical forceps) dan tanpa gigi di ujungnya yaitu atraumatic tissue forceps dan dressing forceps. Sponge forceps (Cotton-swab forceps) h. Scalpel handles dan scalpel blades c. Towel clamps 4. Benang (jenis dan indikasi dijelaskan kemudian ) b. Hemostatic forceps ujung tak bergigi ( Pean) dan ujung bergigi (Kocher) i. bentuk segitiga dan bentuk bulat g.2 Bahan a.9% dan perhydrol 5 % untuk mencuci luka. d. Suture needles ( jarum ) dari bentuk 2/3 circle. Dissecting scissors ( Metzen baum ) d.Alat (Instrumen) a. f. Kasa steril. double ended j. Retractors. Cairan desifektan : Povidon-iodidine 10 % (Bethadine ) c.proses penyembuhan jaringan berlanjut. PENGENALAN ALAT DAN BAHAN PENJAHITAN Alat dan bahan yang diperlukan pada penjahitan luka : 4. Sarung tangan.7.jaringan granulasi terbentuk. Suture scissors e. Needleholders f. b.1. Cairan Na Cl 0. Minggu-bulan . Vi circle .

scalpel handles .

dissecting scissors .

suture scissors needle holder suture needles .

sponge forceps .

hemostatic forceps .

retractors .

Sarung tangan dipakai menurut teknik tanpa singgung. sementara jari kedua dan ketiga dipakai untuk memperkuat pegangan tangan. Instrument tertentu seperti pemegang jarum. di antara ibujari serta jari kedua dan ketiga. Jarum dipegang di daerah separuh bagian belakang .towel clamps 5. . gunting dan pemegang kasa: yaitu ibu jari dan jari keempat sebagai pemegang utama. b. Pinset lazim dipegang dengan tangan kiri. Untuk membuat simpul benang setelah jarum ditembuskan pada jaringan. c. CARA MEMEGANG ALAT a. benang dilingkarkan pada ujung pemegang jarum.

alkohol. Secara kimia : yaitu dengan bahan yang bersifat bakterisid .Sterilisasi dan cara sterilisasi Sterilisasi adalah tindakan untuk membuat suatu alat-alat atau bahan dalam keadaan steril. Secara fisik yaitu dengan : 1) Panas kering ( oven udara panas ) ♦ Selama 20 menit pada 200° C . Sterilisasi dapat dilakukan dengan cara : a.cara memegang alat 6. b. seperti formalin. PERSIAPAN ALAT 6. savlon.1.

Polyglycapron ( merk dagang Monocryl atau Monosyn). Cara ini hanya dianjurkan bila cara lain tidak tersedia. 2). ditempelkan suatu indikator ( yang akan berubah warna ) setelah instrument tersebut menjadi steril. JENIS-JENIS BENANG 7. yaitu 2-3 minggu. Kulit dan luka didesinfeksi dengan cairan Bethadine 10%. seperti Polyglactin ( merk dagang Vicryl atau Safil). PERSIAPAN PENJAHITAN ( KULIT) a. . Benang ini hanya memiliki daya serap pengikat selama 7-19 hari dan akan diabsorbsi secara sempurna dalam waktu 70 hari. Pada bagian luar pembungkus . 6.1 Benang yang dapat diserap (Absorbable Suture ) a. 7. b. b. 7. Panas basah. yang terkandung di dalam serabut sutera hasil produksi ulat sutera. dan Polydioxanone ( merk dagang PDS II ). yaitu di dalam air mendidih selama 30 menit. maka kain pembungkus dibuka menurut” teknik tanpa singgung.♦ Selama 30 menit pada 180° C ♦ Selama 90 menit pada 160° C 2). Plain Cat Gut : dibuat dari bahan kolagen sapi atau domba. c. Buatan ( Synthetic ) Adalah benang. Benang jenis ini memiliki daya pengikat lebih lama .2 Pengepakan Sebelum dilakukan sterilisasi secara fisik.2 Benang yang tak dapat diserap ( nonabsorbable suture ) a. Rambut sekitar tepi luka dicukur sampai bersih.benang yang dibuat dari bahan sintetis. Uap bertekanan ( autoclave): selama 15 menit pada 120° C dan tekanan 2 atmosfer 3). 8. Alami ( Natural) 1). b. semua instrument harus dibungkus dengan dua lapis kain secara rapat yang diikutkan dalam proses sterilisasi. sehingga bagian yang terbuka hanya bagian kulit dan luka yang akan dijahit. Buatan ( Synthetic ) Dalam kelompok ini terdapat benang dari bahan dasar nylon ( merk dagang Ethilon atau Dermalon ). Polyester ( merk dagang Mersilene) dan Poly propylene ( merk dagang Prolene ). namum dilapisi dengan garam Chromium untuk memperpanjang waktu absorbsinya sampai 90 hari. Daerah operasi dipersempit dengan duk steril. Untuk mempertahankan agar instrument yang dibungkus tetap dalam keadaan steril. dimulai dari bagian tengah kemudian menjauh dengan gerakan melingkar. Chromic Cat Gut dibuat dari bahan yang sama dengan plain cat gut . Alamiah ( Natural) Dalam kelompok ini adalah benang silk ( sutera ) yang dibuat dari protein organik bernama fibroin. diserap secara lengkap dalam waktu 90-120 hari.

d.Khusus” daerah wajah 2-3mm. melintasi luka dan kulit sisi lainnya. Teknik ini dilakukan sebagai berikut: 1. . Ukuran kulit yang yang diambil dari kedua tepi luka harus sama besarnya. Jaringan subcutan dijahit dengan benang yang dapat diserap yaitu plain catgut atau poiiglactin secara simple interrupted suture. Jarum kemudian ditusukkan kembali pada tepi kulit sisi kedua secara tipis. e. 9. Luka dibersihkan dengan cairan perhydrol dan dibilas dengan cairan NaCl. d. Perlu diingat lebar dan kedalam jaringan kulit dan subcutan diusahakan agar tepi luka yang dijahit dapat mendekat dengan posisi membuka kearah luar ( everted) c. Indikasi : Luka pada persendian Luka pada daerah yang tegangannya besar Kontra indikasi : tidak ada Teknik penjahitan ini dilakukan untuk mendapatkan eversi tepi luka dimana tepinya cenderung mengalami inverse. e. subcutis.d. kemudian keluar pada kulit tepi yang jauh. h. misalnya kulit yang tipis. Dibuat simpul dan benang diikat. menyeberangi luka dan dikeluarkan kembali pada tepi dekat kulit sisi yang pertama. 9. fascia yang mati dibuang dengan menggunakan pisau dan gunting. Dilakukan anestesi local dengan injeksi infiltrasi kulit sekitar luka. masuk subcutan terus kekulit sisi lainnya. Penjahitan dilakukan dari ujung luka keujung luka yang lain. Luka dicuci ulang dengan perhydrol dan dibilas dengan NacCl. Cara memegang kulit pada tepi luka dengan surgical forceps harus dilakukan secara halus dengan mencegah trauma lebih lanjut pada jaringan tersebut. Indikasi: pada semua luka Kontra indikasi : tidak ada Teknik penjahitan Dilakukan sebagai berikut: a. SIMPLE INTERUPTED SUTURE A. c. i. g.1. B. Tempat tusukan jarum sebaiknya sekitar 1-3 cm dari tepi lukia. sisi yang kedua. TEKNIK PENJAHITAN KULIT Prinsip yang harus diperhatikan : a. b. Kulit dijahit benang yang tak dapat diserap yaitu silk atau nylon. 2. Jaringan kulit. 3. Jarum ditusukkan jauh dari kulit sisi luka. f. b. Dibuat simpul benang dengan memegang jarum dan benang diikat. Jarak antara dua jahitan sebaiknya kurang lebih sama dengan tusukan jarum dari tepi luika. Tepi luka diusahakan dalam keadaan terbuka keluar ( evferted ) setelah penjahitan. Jarum ditusukkan pada kulit sisi pertama dengan sudut sekitar 90 derajat.

Tusukkan jarum pada kulit sekitar 1-2 cm dari ujung luka keluar di daerah dermis kulit salah satu dari tepi luka.4 JAHITAN PENGUNCI (FESTON) Indikasi : Untuk menutup peritoneum Mendekati variasi kontinyu (lihat gambar) . Dengan demikian maka benang berjalan menyusuri kulit pada kedua sisi secara parallel disepanjang luka tersebut.3 SUBCUTICULER CONTINUOS SUTURE Indikasi : Luka pada daerah yang memerlukan kosmetik Kontra indikasi : jaringan luka dengan tegangan besar. 1. 3. secara bergantian terus menerus sampai pada ujung luka yang lain. 9. untuk kemudian dikeluarkan pada kulit 1-2 cm dari ujung luka yang lain. 2. Pada teknik ini benang ditempatkan bersembunyi di bawah jaringan dermis sehingga yang terlihat hanya bagian kedua ujung benang yang terletak di dekat kedua ujung luka yang dilakukan sebagai berikut.9. Benang kemudian dilewatkan pada jaringan dermis kulit sisi yang lain.

jenis jahitan .