ANALISIS INPUT-OUTPUT PERANAN INDUSTRI KERTAS DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA

OLEH RUSLI RAMLI H14101122

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006

RINGKASAN

RUSLI RAMLI. Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia (dibimbing oleh ARIEF DARYANTO). Proses industrialisasi di Indonesia telah yang dimulai dari sejak pelita I telah mengakibatkan transformasi struktural dalam perekonomian Indonesia. Hal ini ditandai dengan semakin menurunnya kontribusi sektor primer (pertanian) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sementara sektor sekunder dan tersier seperti industri pengolahan kontribusinya terhadap PDB terus mengalami peningkatan. Salah satu sektor industri pengolahan yang berkembang pesat adalah sektor industri kertas. Hal yang menyebabkan industri ini terus berkembang pesat di Indonesia antara lain adalah kemudahan mendapatkan baku dan tenaga kerja yang murah. Pada akhir tahun 2000 kapasitas terpasang industri kertas nasional telah mencapai sekitar 9,1 juta ton per tahun, produksi sebesar 6,8 juta ton, ekspor sebesar 2,8 juta ton, dan konsumsinya yang telah mencapai 4,2 juta ton. Data-data tersebut di atas menunjukkan bahwa industri kertas sangat potensial untuk terus dikembangkan khususnya untuk meningkatkan penerimaan devisa negara. Selain perkembangannya yang pesat tersebut, industri kertas juga mempunyai pengaruh dan hubungan timbal balik terhadap industri atau sektor lainnya karena komoditi kertas yang dihasilkan oleh industri ini dapat sebagai input sektor industri lain dan sebaliknya industri kertas juga membutuhkan input dari sektor lain tersebut. Berdasarkan kondisi di atas, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana peran sektor industri kertas bagi perekonomian Indonesia Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari BPS Pusat Jakarta dan instansi terkait lainnya. Analisis yang digunakan yaitu Analisis Input-Output (I-O) dari Tabel I-O Indonesia Tahun 2000 transaksi domestik atas dasar harga produsen klasifikasi 175 sektor melalui program Microsoft Excel 2003. Pendekatan model I-O yang digunakan dalam penelitian ini adalah model sisi permintaan (demand-side model), hal ini dikarenakan faktor permintaan merupakan faktor eksogen yang mempengaruhi perekonomian. Berdasarkan analisis deskriptif dari Tabel I-O Indonesia tahun 2000 transaksi domestik atas dasar harga produsen yang diagregasi menjadi 22 sektor, industri kertas memiliki peran yang tidak begitu besar terhadap struktur perekonomian Indonesia seperti struktur permintaan, nilai tambah bruto, struktur ketenagakerjaan, ekspor-impor dan pembentukan output sektoral. Hal ini dapat dilihat dari kecilnya nilai industri kertas pada masing-masing struktur tersebut bila dibandingkan dengan sektor perekonomian lainnya. Dilihat dari sisi permintaan antara dan permintaan akhir, industri kertas memiliki permintaan akhir (Rp 10.800.775 juta) yang lebih besar daripada permintaan antaranya (Rp 13.970.847 juta) yang menandakan bahwa output industri kertas lebih banyak digunakan untuk konsumsi langsung (masyarakat, pemerintah, dan ekspor) daripada sebagai input untuk sektor lainnya.

Dilihat dari rasio upah gaji terhadap surplus usaha (0,43) dalam struktur nilai tambah bruto, dapat identifikasi bahwa pada industri kertas terjadi ketimpangan distribusi pendapatan antara pihak perusahaan dengan tenaga kerjanya. Kemudian dari struktur ketenagakerjaan dapat diketahui bahwa industri ini mampu menyerap tenaga kerja sebesar 118.454 jiwa. Berdasarkan analisis struktur ekspor-impor dapat diketahui bahwa industri kertas mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 4.617.531 juta sedangkan dari pembentukan output sektoral industri kertas menyumbang sebesar Rp 24.771.662 juta atau sekitar 0,92 persen dari total output sektoral perekonomian. Dari hasil analisis keterkaitan per sektornya (keterkaitan industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian Indonesia), industri ini memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor hulu dan hilirnya. Pada keterkaitan ke depan industri kertas memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor industri barang dari kertas (0,3183) dan industri percetakan (0,2448), sedangkan pada keterkaitan ke belakangnya, industri kertas memiliki keterkaitan kuat terhadap industri pulp (0,0944) yang merupakan sektor penghasil input bahan bakunya. Berdasarkan hasil analisis koefisien penyebaran dapat diketahui bahwa industri kertas kurang memiliki kemampuan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya. Sedangkan dari hasil analisis kepekaan penyebaran industri kertas merupakan industri yang memiliki kemampuan yang kuat dalam mendorong sektor hilirnya. Pada analisis elastisitas input-output dapat diketahui bahwa industri kertas cukup responsif terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya dalam hal output dengan nilai elastisitas output sebesar 1,0023. Sementara dari hasil elastisitas pendapatannya (0,0522) industri ini kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal pendapatan dan jika dilihat dari hasil elastisitas tenaga kerjanya (0,6093), perubahan permintaan akhir sektor lain kurang berpengaruh terhadap perubahan tenaga kerja dalam sektor industri kertas tersebut. Berdasarkan ranking elastisitas, industri kertas termasuk dalam salah satu dari sepuluh sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam). Hal ini mengindikasikan bahwa sektor industri ini memiliki respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal peningkatan output, pendapatan, maupun tenaga kerjanya, sehingga sektor ini mempunyai kemampuan yang cukup besar dalam berkontribusi untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan. Bersama dengan sektor kunci lainnya, industri kertas merupakan sektor prioritas yang harus dikembangkan oleh pemerintah sebagai policy makers karena kontribusinya terhadap perekonomian tersebut

ANALISIS INPUT-OUTPUT PERANAN INDUSTRI KERTAS DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA Oleh RUSLI RAMLI H14101I22 Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006 .

Dosen Pembimbing. Dr. 131 846 872 Tanggal Kelulusan: . Arief Daryanto. Ir. Rina Oktaviani.Ec. NIP. Ir. Dr. Nama Mahasiswa Nomor Registrasi Pokok Program Studi Judul Skripsi : Rusli Ramli : H14101122 : Ilmu Ekonomi : Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia dapat diterima sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi.INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN DEPARTEMEN ILMU EKONOMI Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh. 131 644 945 Mengetahui. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Ketua Departemen Ilmu Ekonomi. Menyetujui. M. MS NIP. Institut Pertanian Bogor.

Juni 2006 Rusli Ramli H14101122 . Bogor.PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.

Formasi. Propinsi Jawa Barat. Selama menjadi mahasiswa. penulis menamatkan Sekolah Dasar pada SDN Ciwaringin 1. Penulis masuk IPB melalui jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dan diterima sebagai mahasiswa Program Studi Ekonomi dan Studi Pembangunan pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Jenjang pendidikan penulis dilalui dengan lancar. . dari pasangan Apun Sanusi dan Yoyoh. Pada tahun yang sama penulis diterima di SMUN 1 Karawang dan lulus pada tahun 2001. kemudian melanjutkan ke SLTPN 1 Telagasari dan lulus pada tahun 1998.RIWAYAT HIDUP Penulis bernama Rusli Ramli lahir pada tanggal 20 Juli 1983 di Karawang. penulis aktif di berbagai organisasi intra dan ekstra kampus seperti BEM-H. dan HMI Komisariat FEM. Penulis merupakan anak pertama dari satu bersaudara. Pada tahun 2001 penulis melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi untuk meraih gelar sarjana.

Juni 2006 Rusli Ramli H14101122 . Arief Daryanto. skripsi ini juga merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi. Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada seluruh pihak lainnya yang telah membantu terlaksananya penelitian ini baik dari instansi maupun perorangan yang tidak dapat disebutkan satu persatu. terutama kepada Bapak Dr. yang telah memberi masukan. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. M. Judul skripsi ini adalah “Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia“. Semoga karya ini dapat bermanfaat. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Penulis mengharapkan adanya hasil positif sebagai masukan dalam pembangunan industri kertas nasional selanjutnya. bagi penulis khususnya dan kalangan pendidikan umumnya. Judul ini dipilih penulis karena merupakan topik yang menarik dalam perkembangan industri nasional dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. saran serta bimbingan dalam pembuatan skripsi ini. Institut Pertanian Bogor. Bogor.1r.Ec. Selain itu.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

3.............4....... 3. Struktur Tabel Input-Output.2....2.................... TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN .5...........................................................2........5..................... 3...........4.......................................... DAFTAR LAMPIRAN....................... 3................3..........1..... V................. Perkembangan Industri Kertas ..2............ 2............... I............................... 4..... Definisi dan Sejarah Kertas............................................ 2.......... Metode Analisis ..................... 1................................. Analisis Keterkaitan .......... PENDAHULUAN ...... 1.............................................................2... 2.......... Manfaat Penelitian ................. 2.....DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL...2............................. 2................... Latar Belakang ...............2........................... Profil Industri Kertas...................................... GAMBARAN UMUM INDUSTRI .............. 1.............5............. Perumusan Masalah ...................................................................................................... Kerangka Pemikiran Konseptual ......... 2.. x xi xii 1 1 4 5 5 6 7 7 8 11 13 16 16 19 22 25 25 25 26 27 29 31 33 33 34 ...................1....2................................................................................ 2................................................................................. Tujuan Penelitian ... Analisis Dampak Penyebaran ...................... METODE PENELITIAN.........1......................................... Penelitian-Penelitian Terdahulu ..... DAFTAR GAMBAR ............... Ruang Lingkup... 1................... Konsep Pembangunan Industri Kertas .............. 3............ 1..........2....1.......................................................... Model Input-Output .......................................................2................. III..........1............................................3..........................................6.............. Elastisitas Input-Output. II...........................1......................... Kerangka Pemikiran Teoritis ....................5............................................................... 4............................................ Jenis dan Sumber Data ............................ Integrasi Vertikal Pada Industri Kertas ....... 3.... Koefisien Input......................3............... 2........................... 3........................................................................

......2............................... V.... Koefisien Penyebaran... 5...2... Saran..1............................ Struktur Ketenagakerjaan........2.................1.....1................3.......5..... Profil Beberapa Perusahaan Kertas Indonesia . Implikasi Kebijakan .3...........................3... Integrasi Vertikal dan Pasar Industri Kertas Indonesia.........2....... Peranan Industri Kertas Dalam Perekonomian Indonesia............ 6.... 5.. Sektor-Sektor Kunci dalam Perekonomian Indonesia ......... 5.......................1...............................4.......................................................................................... 5........................ 5......................... Elastisitas Pendapatan .............................................. 5..... 5... 6. 5..........2...... Analisis Keterkaitan ........................... 5..................................... KESIMPULAN DAN SARAN ..... Struktur Permintaan Industri Kertas .............. Struktur Ekspor dan Impor...........1..................................................4..2.......................................... Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung .....2.......... 5................ 5...1.................. Keterkaitan ke Depan Industri Kertas ..................2............................. Elastisitas Output ............................3...............1..................4.........2.......2.... 5....................4...................... Elastisitas Tenaga Kerja....................................................2.................... DAFTAR PUSTAKA ............ HASIL DAN PEMBAHASAN....................... 5. LAMPIRAN...5.................. 4........3...4..............3... Keterkaitan Langsung Sektor-Sektor Perekonomian ..6.................... Struktur Output Sektoral .. 5..4............2................... Keterkaitan ke Belakang Industri kertas ..... 5.4. Analisis Koefisien dan Kepekaan Penyebaran................................. 5........................ Kesimpulan . Elastisitas Input-Output...... 5.... Struktur Nilai Tambah Bruto ............................................... 5...1.......................... VI.. 36 37 47 47 47 49 51 53 55 56 56 58 59 61 62 63 65 67 67 68 70 71 73 75 75 76 78 80 ....................................................................................1.... 5...3..................... Kepekaan Penyebaran ..................1....... 5......

.......7........... Boards PT..2................................................ Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry per 30 Desember 2004 ..........1....... 4...... 5........... 4.... Komposisi Sektoral PDB 1960-2003 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993 ........... 2................ 4.............................. Boards PT.... 3 13 14 19 34 35 38 40 42 43 46 48 50 51 52 ....4.................... Indah Kiat Pulp & Paper Tbk per 30 September 2004 ........... 2..... Boards PT...............3....... Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk per 30 September 2004 ................................5................................2.... Nilai Tambah Bruto Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Indonesia Tahun 2000 ...................... Jumlah Tenaga kerja....1................................. 5..4..............1.... 4............... Permintaan Antara dan Permintaan Akhir Sektor-sektor Perekonomian di Indonesia Tahun 2000... Rasio Upah Terhadap Surplus Usaha...........2.. Boards PT. Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Keterkaitan ... 2........ 4.............. 4.....2............................ Profil Industri Pulp dan Kertas Indonesia Tahun 2003 .................................... 5...1.... Impor............... Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Dampak Penyebaran........6................ Konsumsi Kertas Per Kapita Penduduk Indonesia 1993-2002............ .................DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1........................................ Struktur Tabel Input-Output...............................3. Produktifitas dan Nilai Upah Sektoral Indonesia Tahun 2000 .................. 4................................ Kapasitas Produksi............. 2 1... Pindo Deli Pulp & Paper Mills per 30 September 2004 ...... Ekspor dan Konsumsi Industri Kertas Indonesia Tahun 1994-2003... Kapasitas Terpasang Perusahaan Industri Kertas 2003..................3. 5...

...... 5......... 5.. 5.....8...12.......................................... Nilai Keterkaitan Berbagai Sektor Perekonomian di Indonesia .....11............................................ 5..... 5..........13.......................................... Koefisien Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia.......... 54 56 57 60 61 64 66 69 71 ....5............ Kepekaan Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia.... Struktur Pembentukan Output Sektoral Terhadap Perekonomian Indonesia .....5...9.......................... Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia .........................6.......................... Struktur Ekspor dan Impor Indonesia Tahun 2000 .......... Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia .... 5......... 5. 5....10................... Sektor Kunci Perekonomian Menurut Ranking Elastisititas Input-Output Indonesia Tahun 2000 ...............7................ Elastisitas Input-Output Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 .................................................................

.. Halaman 24 ............... Bagan Alur Pendekatan Studi ..........................DAFTAR GAMBAR Nomor 1...............

. Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 Klasifikasi 22 Sektor ...... Halaman 81 82 86 88 Klasifikasi Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 ........ 3... Matriks Koefisien Teknis Klasifikasi 22 Sektor ................ 4...........DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1.................................... ....... Matriks Kebalikan Leontief Klasifikasi 22 Sektor............... 2.....

2002). produktifitas buruh.4 persen.1).I. Perubahan struktur semacam ini menyebabkan kesempatan kerja semakin banyak. dan pendayagunaan sumber-sumber baru serta perbaikan teknologi akan semakin tinggi (Jhingan. stok modal. Latar Belakang Proses industrialisasi di Indonesia yang dimulai sejak Pelita I telah mengakibatkan transformasi struktural di Indonesia. sektor pertanian merupakan sektor penyumbang terbesar terhadap PDB (53. sementara sektor industri khususnya industri pengolahan baru menyumbang 8.9 persen). sementara kontribusi sektor sekunder dan tersier cenderung meningkat. PENDAHULUAN 1.1. Pola pertumbuhan ekonomi secara sektoral di Indonesia agaknya sejalan dengan kecenderungan proses transformasi struktural yang terjadi di berbagai negara di dunia. Kemudian pada tahun 1967 industri pengolahan telah menyumbang 51. sikap sosial. dimana terjadi penurunan kontribusi sektor pertanian (sektor primer) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). dan motivasi yang secara radikal. yang mencakup peralihan lembaga.8 persen terhadap PDB sedangkan sektor pertanian mempunyai kontribusi terhadap PDB sebesar 8. Pada tahun 1960. Pada tahun-tahun berikutnya dapat dilihat bahwa sektor industri pengolahan terus mengalami kenaikan dalam hal kontribusinya terhadap PDB sedangkan sektor pertanian sebaliknya terus mengalami penurunan kontribusi terhadap PDB. Hal tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa sektor industri . Perubahan struktural mengandung arti peralihan dari masyarakat pertanian tradisional menjadi ekonomi industri modern.4 persen dari PDB (Tabel 1.

7 12.7 8.5 1.1 3.3 2.4 0. 1960 53.5 0.49 7.9 1989 20.1 12.0 16. Salah satu dari sektor industri pengolahan tersebut yang berkembang pesat sampai saat ini adalah industri pulp dan kertas.4 1973 40.2 6.0 14.6 5.2 pengolahan telah menggeser peranan sektor pertanian dalam pembangunan nasional berkaitan dengan peralihan struktur perekonomian masyarakat Indonesia dari orientasi pada sektor primer (pertanian) kepada orientasi sektor industri.3 6. Dari sisi kontribusi terhadap penerimaan negara.57 9.3 9.5 16.9 3.0 3.1.6 15.7 2. 2003. sektor industri pulp dan kertas telah menyumbang 90 persen dari total penerimaan ekspor kehutanan.6 10.0 6.52 5.6 3.9 5.8 6. sewa dan jasa perusahaan Jasa-jasa Sumber : BPS.9 21.8 3.9 1983 22.6 13.9 16. Komposisi Sektoral PDB 1960-2003 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993 (persen) Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan penggalian Industri Pengolahan Listrik dan air minum Bangunan/konstruksi Perdagangan.6 15.0 3.2 3.64 15. hotel dan restoran Pengangkutan dan komunikasi Keuangan.3 3.1 0.5 0.7 24.6 18.8 20.5 1993 17. Tabel 1.57 2003 16.9 10.7 8.6 0.4 Industri pulp dan kertas adalah industri yang berkembang dengan tingkat pertumbuhan 20 persen per tahun pada beberapa dekade terakhir.5 3.2 1967 51.1 5.9 5.9 7.7 0.4 0.6 16.9 14.3 4. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai eksportir .8 1.2 1.4 5.4 5.3 3.84 25.3 6.8 3.3 1.7 1.5 1998 17.7 6. Pasar bagi hasil industri pulp dan kertas masih terbuka luas karena konsumsi kertas per kapita terus meningkat dari tahun ke tahun.

2002). 2003.110 197.950.960 2.200.282.800. dan ketiga.821.487.800 2.300.080 6.390 3.000 Ekspor 826.3 pemimpin dalam bidang kehutanan di dunia sejak 1987 (Karseno dan Mulyaningsih.695 250.260 1998 9.2.720. Produksi. alasan kedua. ialah bahwa produk kertas cenderung banyak yang ditujukan untuk pasar luar negeri.212.065.904.200 924.280 4.472.135 2.840 249.180 6.641.097.210 2.130 143. industri ini masih dapat diandalkan dalam membantu penerimaaan devisa negara (Rosadi dan Vidyatmoko.490 1996 7.399.600 2.800.425. Impor.116.951.882.000 8.600. yaitu komponen impor yang digunakan dalam proses produksi nilainya tidak lebih dari 30 persen. jumlah produksi.000 Konsumsi 2. sehingga dalam masa krisis ekonomi yang dihadapi Indonesia. baik kapasitas.198.783. adalah bahwa produk kertas harganya banyak ditentukan dalam nilai dolar.100 2. dan Konsumsi Industri Kertas Indonesia Tahun 1994-2003 (ton) Tahun Kapasitas Produksi Impor 171.350 3.015.600 1997 7.935 5.837.345.970 3.220 1.595.120. Sementara itu fokus khusus pada sektor industri kertas (diluar dari industri pulp).240 2001 10.000 2.560 4.054. Ada tiga alasan utama yang melatarbelakangi pentingnya sumbangan industri ini.800 1995 5. Hal itu ditambah apabila melihat dalam sekitar satu dekade terakhir ini.580 7.913.000 1994 4.168.290 4.945 5.000 130.560 1999 9.630 199.800 212.530 5.430 3.420 4. pertama. Tabel 1.849. Kapasitas.446.000 3.000 2003 Sumber: Asosiasi Pulp dan Kertas. industri ini merupakan salah satu industri yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia.520 1.805.700 261. 2002).300 140.000 2000 9.730 2.479.119.500 3. ekspor maupun .180 6.970 2002 10.224.833. Ekspor.

2). Perumusan Masalah Pentingnya industri kertas yang besar tidak terlepas dari kondisi yang dimilikinya. Namun pentingnya industri kertas ini tidak semata-mata hanya karena keunggulan komparatifnya saja tapi juga karena peranannya dalam hubungannya terhadap sektor-sektor lain dalam perekonomian Indonesia baik sektor industri maupun non-industri dan bagaimana sektor-sektor lain tersebut mempengaruhi industri kertas sehingga terjadinya hubungan timbal balik yang mengarah pada peningkatan pertumbuhan sektor-sektor dalam perekonomian secara keseluruhan. Keunggulan yang lebih banyak mengandalkan sumber bahan baku yang berlimpah dengan harga yang relatif murah serta tenaga kerja dengan upah buruh yang relatif rendah. Peran industri kertas dalam hubungannya dengan sektor-sektor perekonomian tersebut dapat dilihat dari bagaimana struktur perekonomiannya bila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya dan keterkaitannya dengan sektor-sektor lainnya . I. Begitu juga dalam hal tenaga kerja. Dalam hal bahan baku. Sampai saat ini industri kertas Indonesia memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan negara lain. Indonesia termasuk negara penyedia bahan baku pulp terbesar karena mempunyai hutan terluas kedua di dunia.2. Berdasarkan kondisi inilah dirasakan penting untuk melakukan analisis lebih lanjut tentang peranan industri kertas terhadap perekonomian Indonesia. angkatan kerja produktif di Indonesia mencapai puluhan juta orang. misalnya.4 konsumsi dalam industri kertas terus mengalami kenaikan setiap tahunnya (Tabel 1. sehingga bahan baku untuk pembuatan kertas tersedia banyak di Indonesia.

Bagaimana keterkaitan sektor industri kertas dengan sektor-sektor lainnya di Indonesia? 3. bagaimana kemampuan industri kertas dalam mendorong sektor hulu dan hilirnya dan bagaimana peran industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia. Bagaimana peran sektor industri kertas dalam mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya? 4. ketenagakerjaan. nilai tambah. Bagaimana peran sektor industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia? 1. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah di atas maka tujuan penulisan skripsi ini adalah: 1. Menganalisis peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia dalam struktur permintaan. nilai tambah.5 tersebut. beberapa permasalahan yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut: 1. Berapa besar peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia dalam struktur permintaan.3. ketenagakerjaan. Menganalisis keterkaitan sektor industri pengolahan dengan sektor-sektor perekonomian lainnya di Indonesia . ekspor-impor dan output sektoral 2. ekspor-impor dan output sektoral? 2. Berdasarkan latar belakang dan uraian di atas.

Dengan kata lain industri kertas dalam penelitian ini bukan industri pulp. kertas tissue (tissue paper). Kertas yang dimaksud adalah jenis kertas seperti kertas tulis cetak (writingprinting paper). . Ruang Lingkup Industri kertas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah industri yang terdiri dari perusahaan-perusahaan yang mengolah bahan baku kertas menjadi produk kertas yang merupakan barang jadi yang dapat di langsung dikonsumsi ataupun barang setengah jadi yang akan digunakan sebagai input oleh industri lain. 1.6 3. Manfaat Penelitian Penulis mengharapkan penelitian ini dapat berkontribusi secara positif terhadap perencanaan kebijakan pembangunan industri kertas nasional pada khususnya maupun industri lain pada umumnya oleh pihak-pihak yang terkait didalamnya maupun bagi pihak-pihak lain yang berkepentingan untuk melakukan penelitian tentang industri kertas Indonesia. industri barangbarang dari kertas yang tidak memproduksi kertasnya terlebih dahulu dan bukan pula industri percetakan atau penerbitan. Menganalisis peran sektor industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia 1.4.4. kertas lapis dan non lapis (coated and uncoated paper). Menganalisis peran sektor industri kertas dalam mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya 4. kertas rokok (cigarette paper) dan sebagainya.

Sebelum ditemukan kertas. 2005). Jerman. meskipun pengunaan papirus masih dirasakan sangat mahal. papier dalam bahasa Belanda. . Dari kata papirus (papyrus) itulah dikenal sebagai paper dalam bahasa Inggris.II. Perancis misalnya atau papel dalam bahasa Spanyol yang berarti kertas (Wikipedia. Peradaban Mesir kuno menyumbangkan papirus sebagai media tulis menulis.1. Adanya kertas merupakan revolusi baru dalam dunia tulis menulis yang menyumbangkan arti besar dalam peradaban dunia. Definisi dan Sejarah Kertas Kertas adalah bahan yang tipis dan rata. kulit atau tulang binatang. mencetak serta melukis dan banyak kegunaan lain yang dapat dilakukan dengan kertas misalnya sebagai kertas pembersih (tissue) yang dapat digunakan untuk hidangan maupun kebersihan. Kertas dikenal sebagai media utama untuk menulis. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI 2. bahkan daun lontar yang dirangkai seperti yang telah ditemukan pada naskah-naskah kuno nusantara beberapa abad yang lalu. bambu. prasasti dari batu. kayu. bangsa-bangsa dahulu menggunakan tablet dari tanah liat yang dibakar. Hal ini dapat ditemui dari pennggalan peradaban bangsa Sumeria. yang dihasilkan dengan kompresi serat. Penggunaan papirus sebagai media tulis menulis ini digunakan pada peradaban Mesir kuno pada masa bangsa Fir’aun kemudian menyebar keseluruh Timur Tengah sampai Romawi di Laut Tengah dan ke seluruh Eropa. Serat yang digunakan biasanya adalah alami dan mengandung selulosa (Wikipedia 2005). sutera.

Konsep Pembangunan Industri Kertas Ada beberapa pengertian industri secara definisi yang sekurang-kurangnya akan disampaikan dua definisi. kimia. Bintaro (1968) dalam Muchtar (1997) mengemukakan industri pengolahan ialah setiap usaha yang merupakan unit produksi yang membuat barang untuk kebutuhan masyarakat di suatu tempat tertentu. 2. kemudian meyebar ke Italia dan India lalu Eropa khususnya setelah perang Salib dan jatuhnya Grenada dari bangsa Moor ke tangan orang-orang Spanyol serta ke seluruh dunia (Wikipedia. Menurut Puspitawati (2000) industri pengolahan merupakan suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan mengubah suatu barang dasar secara mekanis. Pada akhirnya. 2005).8 Tercatat dalam sejarah adalah peradaban Cina yang menyumbangkan kertas bagi dunia. Tsai Lun menemukan kertas dari bahan bambu yang mudah didapat di seluruh Cina pada tahun 101 Masehi. munculah pusat-pusat industri kertas baik di Baghdad maupun Samarkand dan kota-kota industri lainnya. atau dengan tangan sehingga menjadi barang jadi atau setengah . Penemuan ini akhirnya menyebar ke Jepang dan Korea seiring menyebarnya bangsa-bangsa Cina ke timur dan berkembangnya peradaban di kawasan itu meskipun pada awalnya cara pembuatan kertas merupakan hal yang sangat rahasia. teknik pembuatan kertas tersebut jatuk ke tangan orang-orang Arab pada masa Abbasiyah terutama setelah kalahnya pasukan Dinasti Tang dalam pertempuran sungai Talas pada tahun 751 Masehi dimana para tawanan-tawanan perang mengajarkan cara pembuatan kertas kepada orang-orang arab sehingga dizaman Abbasiyah.2.

9 jadi dan atau barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya dan sifatnya lebih dekat kepada pemakai akhir. akan tetapi banyak masalah dan tantangan yang dihadapi dalam perjalanannya untuk memiliki keunggulan daya saing yang tinggi. pembangunan industri secara nyata harus menjadi penggerak utama peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dan sekaligus dapat menjadi penyedia lapangan kerja yang sudah mulai tidak tertampung pada sektor pertanian (Muchtar. 1997). konsumsi. Sumber pertumbuhan agribisnis pulp dan kertas terutama bersumber dari pemanfaatan sumber daya alam dan tenaga kerja tidak terampil (fase factordriven). Oleh karenanya. sebagai berikut : 1. Menurut Saragih dalam Sipayung dan Pambudy (2000). Pada hakekatnya pembangunan industri ditujukan untuk menciptakan struktur ekonomi yang kokoh dan seimbang. Berdasar pada dua pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa industri kertas merupakan suatu kegiatan atau usaha mengolah barang dasar atau bahan baku kertas agar memiliki nilai yang lebih baik untuk keperluan masyarakat di suatu tempat tertentu. khususnya pada era ekolabelling dan otonomi daerah pada saat ini. Kendati perkembangan sektor industri kertas mengalami kemajuan yang pesat salah satunya terlihat dari perkembangan produksi. kapasitas maupun ekspornya. ada 3 fase pembangunan industri pulp dan kertas agar memiliki keunggulan daya saing. yakni struktur ekonomi dengan titik berat pada industri yang maju dan didukung oleh pertanian yang tangguh. Karakteristik dari industri ini adalah sumber bahan baku kayu .

Artinya. Selain itu keterkaitan kegiatan perusahaan masih dengan masyarakat juga masih sedikit. meskipun biaya produksi relatif rendah. Efisiensi pengolahan makin meningkat melalui perbaikan teknologi yang terus menerus sehingga selain menurunkan biaya produksi juga . Dengan demikian. 2. Fase ketiga adalah industri pulp dan kertas yang digerakkan oleh inovasi (innovation-driven) yakni penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tenaga kerja terampil (knowledge based and skill labor based). Sehingga dampak penurunan mutu lingkungan akibat aktivitas industri tersebut biasanya cukup besar.10 mengandalkan kayu hutan (forest based) misalnya Hak Penguasaan Hutan (HPH). Karakteristik industri pulp dan kertas pada fase ini adalah pertumbuhan output terutama bersumber dari kemajuan teknologi baik pada penyediaan bahan baku maupun dalam pengolahan. sehingga telah terjadi pemutusan hubungan dengan hutan alam. Fase kedua adalah agribisnis (industri) pulp dan kertas yang digerakkan oleh modal (capital-driven) yakni modal dan tenaga kerja semi terampil (capital and smi-skill labor). Dengan demikian dampak penurunan mutu lingkungan akibat penebangan kayu hutan alam dapat diminimumkan atau lebih rendah dari fase pertama. nilai produk kertas dapat dipersepsikan masyarakat (perceive value) sebagai barang inferior. Industri pulp dan kertas pada fase ini dicirikan dengan pengembangan perkebunan kayu (timber plantation) sebagai sumber bahan baku. penyediaan bahan baku kayu tidak lagi bersumber dari penebangan kayu hutan alam. 3. melainkan telah bergeser pada kayu hasil budidaya. bila diboboti dengan atribut global value dan national/local value.

Perusahaan yang menerapkan strategi integrasi vertikal ke hulu (upstream) adalah perusahaan yang memperoduksi sendiri input yang dibutuhkannya.11 mengurangai polutan ke lingkungan. Sedangkan integrasi vertikal ke hilir (downstream) adalah perusahaan yang memutuskan untuk menyalurkan output yang dihasilkan kepada konsumen melalui perusahaan yang terintegrasi dengannya. Full Integration Perusahaan melakukan full integration bila perusahaan tersebut memproduksi semua input yang dibutuhkannya atau ketika perusahaan tersebut . Bahkan beberapa diantaranya sudah mulai memasuki innovation–driven. Oleh karena itu. Integrasi Vertikal Pada Industri Kertas Hasibuan (1994) mendefinisikan integrasi vertikal adalah pengabungan perusahaan-perusahaan yang mempunyai kelanjutan proses produksi. Mentransformasi industri pulp dan kertas dari factor-driven kepada innovation-driven akan memberi manfaat ganda. Pada saat ini industri pulp dan kertas indonesia sebagian besar sedang bergeser dari factor-driven kepada capital-driven. Integrasi vertikal yang dilakukan oleh perusahaan dapat dilakukan dilakukan dengan dua cara. yaitu integrasi ke hulu (upstream) dan integrasi ke hilir (downstream). antara lain: 1. 2. yakni meningkatkan daya saing dan meminimumkan dampak negatif kegiatan industri pulp dan kertas pada lingkungan hidup.3. Jenis integrasi ini dapat dibagi menjadi dua. kemampuan Riset and Development (R&D) menjadi tulang punggung dalam fase ini.

Penelitian-Penelitian Terdahulu Penelitian tentang peran dan keterkaitan dengan menggunakan alat analisis Input-Output telah banyak dilakukan. mereka mempunyai pabrik pulp sendiri sebagai sumber bahan baku produksi kertasnya. 2. 2. Lontar Papyrus dan PT. Indah Kiat Pulp & Paper. Taper Integration Perusahaan melakukan taper integration bila perusahaan tersebut membeli input yang dibutuhkannya dari perusahaan lain selain input yang dihasilkan sendiri atau menyalurkan hasil produksinya melalui perusahaan terintegrasi dengannya dan juga perusahaan lain yang tidak terintegrasi Perusahaan-perusahaan seperti PT.4. (2) penelitian terhadap sektor agroindustri dan non agroindustri . Pabrik Kertas Tjiwi Kimia merupakan perusahaan-perusahaan besar dalam industri kertas yang terintegrasi vertikal dengan industri pulpnya. yaitu: (1) penelitian terhadap keseluruhan sektor perekonomian. PT. Jenis integrasi vertikal perusahaan-perusahaan tersebut adalah full integration. Penelitian yang sudah dilakukan selama ini antara lain meliputi. Menurut Karseno dan Mulyaningsih (2002) integrasi vertikal oleh perusahaan kertas akan meningkatkan efisiensi perusahaan dalam industri kertas tersebut karena dapat mengamankan pasokan bahan baku dan meminimumkan biaya transaksi dalam rangka untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan terhadap produk kertasnya.12 menyalurkan semua output yang dihasilkan melalui anak perusahaan yang terintegrasi dengannya.

13 (sektor industri pengolahan).29125 1. Indonesia* Agroindustri Non Agroindustri 2.11877 0. Gambaran ini memberikan indikasi bahwa sektor/subsektor industri pengolahan secara langsung lebih mempunyai .48518 1988 0. **Sahara (1998) . dan (4) penelitian terhadap salah satu sektor perekonomian misalnya pariwisata. baik keterkaitan langsung ke belakang (direct backward linkages) dan ke depan (direct forward linkages) maupun keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang dan ke depan (Tabel 2.31431 2.17604 0.95855 Keterkaitan Ke Belakang Langsung & Langsung Tdk Langsung 0.63396 Sumber: *Tjandrawan (1994) .27222 Langsung & Tdk Langsung 1. 2005).1 yaitu.6293 0. transportasi dan sebagainya (Setyawan. Jepara**** Ind. ****Setyawan (2005).00619 0.4432 1. (3) penelitian terhadap sektor pertanian dan industri pengolahan.34572 1. (1) keterkaitan langsung ke depan sektor industri pengolahan lebih kecil di bandingkan keterkaitan ke belakangnya.13908 2.07819 1.6028 2. Tabel 2.1.76281 1.4267 1.62204 2001 0. ***Setiyaji (1995).38949 Keterkaitan Ke Depan Langsung 0. Pengolahan Tahun InputOutput 1990 1993 0. Disamping mempelajari keterkaitan tersebut penelitian-penelitian tersebut juga mempelajari dampak penyebaran (Tabel 2.75861 2.00802 1. DKI Jakarta** Pertanian Ind.58216 0.45022 1. Hasil Penelitian Terdahulu tentang Keterkaitan Penelitian Wilayah 1.81150 1. Pengolahan 3.1).54759 1.59448 0.64866 0.2).05931 0. Jawa Barat*** Pertanian Agroindustri 4. Pada dasarnya penelitian yang dilakukan memiliki tujuan yang sama yaitu mempelajari keterkaitan (linkages). Ada beberapa informasi yang ditunjukkan pada Tabel 2.

Hal ini berarti sektor/sub sektor industri pengolahan secara langsung dan tidak langsung lebih kuat mendorong pertumbuhan sektor yang menyediakan input untuk keperluan proses produksinya dibandingkan dengan kemampuannya untuk mendorong peningkatan produksi terhadap sektor yang membutuhkan input dari sektor ini.3 menyajikan informasi mengenai koefisien dan kepekaan penyebaran. Indonesia* Agroindustri Non Agroindustri 2. Tabel 2.74816 1. **Sahara (1998) .2698 1.38525 1988 0. Ada beberapa hal yang dapat diidentifikasi dalam penelitian-penelitian tersebut yaitu: (1) Koefisien penyebaran menunjukkan . Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Dampak Penyebaran Penelitian Wilayah 1.0570 Kepekaan Penyebaran 1.2908 1. dan (2) Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan sektor industri pengolahan lebih kecil dibandingkan dengan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakangnya.1719 1. Selanjutnya pada Tabel 2. DKI Jakarta** Pertanian Ind. ****Setyawan (2005).20609 1.1376 1. Pengolahan Tahun InputOutput 1990 1993 1. Jepara**** Ind.21765 1.33528 2001 1.14 kemampuan untuk mendorong pertumbuhan sektor yang menyediakan input bagi keperluan proses produksi dibandingkan dengan kepekaannya dalam menciptakan kenaikan output apabila terjadi peningkatan satu-satuan permintaan akhir terhadap sektor industri.9139 Sumber: *Tjandrawan (1994) . Pengolahan 3.48422 Koefisien Penyebaran 1. Jawa Barat*** Pertanian Agroindustri 4.3. ***Setiyaji (1995).

industri pengolahan DKI Jakarta mempunyai kemampuan untuk menarik industri hulunya dibandingkan dengan kabupaten Jepara.15 kemampuan suatu sektor dalam perekonomian untuk mendorong sektor hilirnya sedangkan kepekaan penyebaran menunjukkan kemampuan suatu sektor untuk menarik sektor hulunya. Besarnya kepekaan penyebaran industri pengolahan di DKI Jakarta tersebut menunjukkan bahwa sektor industri pengolahan di wilayah tersebut bersifat ekspansif yaitu mampu melakukan perluasan pasar dan mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah dibandingkan dengan Jepara dan apabila dilihat dari koefisien penyebaran.5.5. Studi literatur yang telah dilakukan menunjukkan bahwa analisis I-O telah banyak digunakan sebagai alat untuk penelitian.1. 2. Peneliti juga melihat bahwa penelitian tentang industri kertas di Indonesia berdasarkan Analisis Input-Output belum pernah dilakukan. Secara umum keempat penelitian mengenai koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran tersebut mempunyai peranan penting dalam pembangunan wilayah. Kerangka Pemikiran Teoritis 2. Model Input-Output Menurut BPS (2000) pengertian Tabel Input-Output (Tabel I-O) adalah suatu tabel yang yang menyajikan informasi tentang transaksi barang dan jasa . hal ini terbukti dari nilai koefisien dan kepekaan penyebaran yang mempunyai nilai lebih besar dari satu (kecuali pertanian di Jawa Barat). dan (2) Kepekaan penyebaran industri pengolahan DKI Jakarta lebih besar dibandingkan kabupaten Jepara.

Adapun asumsi dasar penyusunan Tabel I-O adalah : 1. sedangkan isian sepanjang kolomnya menunjukkan struktur penciptaan input yang digunakan oleh setiap sektor dalam proses produksi. baik yang berupa input antara maupun input primer. tidak hanya untuk mendeskripsikan struktur suatu perekonomian tetapi juga mencakup cara untuk memprediksi perubahan-perubahan struktur tersebut.16 yang terjadi antar sektor ekonomi dengan bentuk penyajian berupa matrik. 2000) Data yang disajikan dalam Tabel I-O merupakan informasi rinci tentang input dan output sektoral yang mampu menggambarkan keterkaitan antar sektor dalam kegiatan perekonomian. yaitu asumsi bahwa setiap sektor ekonomi hanya memproduksi satu jenis barang atau jasa dengan susunan input tunggal . Sifat keseimbangan inilah yang merupakan salah satu kelebihan Tabel I-O yang dibandingkan dengan alat analisa lainnya dalam ilmu ekonomi perencanaan dan pembangunan (BPS. Isian sepanjang baris Tabel I-O menunjukkan pengalokasian output yang dihasilkan oleh suatu sektor untuk memenuhi permintaan antara dan permintaan akhir. Keseragaman (homogenity). Tabel I-O bersifat statis dan terbuka. Leontief mengemukakan bahwa Tabel I-O termasuk dalam model General Equilibrium. dan pada baris nilai tambah yang menunjukkan komposisi penciptaan nilai tambah sektoral. Sesuai dengan asumsi dasar yang digunakan dalam proses penyusunannya. Sejak dirilis oleh Leontief pada tahun 1930-an. Tabel I-O telah berkembang menjadi salah satu metode paling luas diterima.

dan penyerapan tenaga kerja di sektor industri. 3. penerimaan pajak. Penjumlahan (additivity). 2. Namun demikian. Untuk melihat komposisi penyediaan dan penggunaan barang dan jasa terutama dalam analisis terhadap kebutuhan impor dan kemungkinan substitusinya. yaitu asumsi bahwa total efek dan kegiatan produksi di berbagai sektor merupakan penjumlahan dari efek pada masing-masing kegiatan. Akibatnya perubahan kuantitas dan harga input akan selalu sebanding dengan perubahan kuantitas dan harga output.17 (seragam) dan tidak ada substitusi otomatis terhadap input dan output sektor yang berbeda 2. Karena koefisien teknis dianggap konstan. . artinya kenaikan dan penurunan output suatu sektor akan sebanding dengan kenaikan dan penurunan input yang digunakan oleh sektor tersebut. nilai tambah impor. Berdasarkan asumsi tersebut maka Tabel I-O sebagai model kuantitatif memiliki keterbatasan. yaitu koefisien input atau koefisien teknis diasumsikan tetap (konstan) selama periode analisa atau proyeksi. Kesebandingan (proportionality). Untuk memperkirakan dampak permintaan akhir terhadap output. Beberapa kegunaan Tabel I-O antara lain adalah : 1. maka teknologi yang digunakan oleh sektor-sektor ekonomi dalam proses produksi pun dianggap konstan. Tabel I-O masih merupakan alat analisis yang lengkap dan komprehensif. yaitu asumsi bahwa hubungan antar input dan output pada setiap sektor produksi merupakan fungsi linear.

2. Untuk menggambarkan perekonomian suatu wilayah dan mengidentifikasikan karakteristik struktural suatu perekonomian wilayah. Struktur perekonomian suatu wilayah yang mencakup output dan nilai tambah masing-masing sektor. . 4. Untuk analisis perubahan harga. 3. Struktur Tabel Input-Output Format Tabel I-O terdiri dari suatu kerangka matrik berukuran n x n dimensi yang dibagi menjadi empat kuadran dan tiap kuadran mendiskripsikan suatu hubungan tertentu. Sebagai metode kuantitatif Tabel I-O memberikan gambaran menyeluruh tentang: 1. 4. maka disajikan format Tabel I-O pada Tabel 2. Struktur input antara yaitu transaksi penggunaan barang dan jasa antar sektorsektor produksi. Untuk mengetahui sektor-sektor yang pengaruhnya paling dominan terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor-sektor yang peka terhadap pertumbuhan perekonomian. 5. yaitu dengan melihat pengaruh secara langsung dan tidak langsung dari perubahan harga input terhadap output.2. Struktur permintaan barang dan jasa.5. baik berupa permintaan oleh berbagai sektor produksi maupun permintaan untuk konsumsi.4 di bawah ini. baik berupa produksi dalam negeri maupun barang impor atau yang berasal dari luar wilayah tersebut. Struktur penyediaan barang dan jasa. Untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap.18 3. investasi. dan ekspor. 2.

2000.19 Tabel 2. Isian sepanjang baris pada ilustrasi Tabel I-O tersebut memperlihatkan bagaimana output dari suatu sektor dialokasikan. … … … Akhir F1 F2 F3 . Sedangkan isian sepanjang kolomnya menujukkan pemakaian input antara dan input primer oleh suatu sektor. Jumlah Output X1 X2 X3 . Permintaan n x1n x2n x3n .xn1 Permintaan Antara Sektor Produksi 2 x12 x22 x32 . N Jumlah Input Primer Jumlah Input Antara produksi 1 x11 x21 x31 . BPS.3. Xn … … … … . . Struktur Tabel Input-Output Alokasi Output Susunan Input 1 2 Input Sektor 3 .4 di atas dilihat secara baris (bagian horisontal) maka alokasi output secara keseluruhan dapat dituliskan dalam bentuk persamaan aljabar sebagai berikut: X11 + X12 + … X1n + F1 = X1 X21 + X22 + … X2n + F2 = X2 : : : : : Xn1 + Xn2 + … Xnn + Fn = Xn atau dalam bentuk persamaan umum dapat dituliskan sebagai : . xn2 V2 X2 xnn Vn Xn Fn V1 X1 Sumber : Tabel I-O Indonesia. Apabila Tabel 2. yaitu sebagian untuk memenuhi permintaan antara dan sebagian lainnya untuk memenuhi permintaan akhir.

sebagai berikut : 1. Secara umum matrik dalam Tabel I-O dapat dibagi menjadi 4 kuadran. yaitu sebagai dasar analisa ekonomi mengenai keadaan perekonomian suatu wilayah. 3. khususnya pada transaksi antara. 2. dst Dimana : Xij = output sektor i yang digunakan sebagai input sektor j Fi = permintaan akhir terhadap sektor i Xi = jumlah output sektor i (2. maka persamaan aljabar untuk input yang digunakan oleh masing-masing sektor dapat dituliskan sebagai berikut : X11 + X21 + … + Xn1 + V1 = X1 X12 + X22 + … + Xn2 + V2 = X2 : : : : : X1n + X2n + … + Xnn + Vn = Xn atau dalam bentuk persamaan umum dapat dituliskan sebagai : ∑ Xij + Vj = Xj . dst (2. yaitu transaksi barang dan jasa yang digunakan dalam proses produksi.2) Dalam analisis I-O sistem persamaan di atas memiliki peran penting. untuk semua j = 1. Kuadran I (intermediate quadrant) Setiap sel pada kuadran I merupakan transaksi antara. Dalam Analisa I-O kuadran ini memiliki peran yang sangat penting karena kuadran inilah yang .20 ∑ Xij + Fi = Xi . 3. 2.1) Apabila angka-angka dibaca menurut kolom. Berdasarkan ilustrasi Tabel Input-Output. untuk semua i = 1. maka angka pada kolom (sektor) itu menunjukkan berbagai input yang diperlukan dalam proses produksi pada sektor tersebut.

pemerintah. Informasi di Kuadran IV ini bukan merupakan tujuan pokok. Kerangka Pemikiran Konseptual Strategi pengembangan yang menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi menganggap bahwa kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan dengan cepat . Kuadran III (primary input quadrant) Menunjukkan pembelian input yang dihasilkan di luar sistem produksi oleh sektor-sektor dalam kuadran antara.21 menunjukkan keterkaitan antara sektor ekonomi dalam melakukan proses produksinya. sehingga dalam penyusunan Tabel I-O sering diabaikan. Jumlah keseluruhan nilai tambah ini akan menghasilkan produk domestik bruto yang dihasilkan oleh wilayah tersebut.6. pajak tak langsung. surplus usaha dan penyusutan. Permintaan akhir adalah output suaru sektor yang langsung digunakan oleh rumah tangga. perubahan stok dan ekspor. Kuadran II (final demand quadrant) Menunjukan penjualan barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor-sektor perekonomian untuk memenuhi permintaan akhir. 2. pembentuk modal tetap. 2. 3. Kuadran ini terdiri dari pendapatan rumah tangga (upah/gaji). Kuadran IV (primary input-final demand quadrant) Merupakan kuadran input primer permintaan akhir yang menunjukkan transaksi langsung antara kuadran input primer dengan permintaan akhir tanpa melalui sistem produksi atau kuadran antara. 4.

karena tentunya kebijakan yang ditetapkan tersebut mengharapkan hasil pada perkembangan ekonomi yang lebih baik dari sebelumnya. Sehubungan dengan itu. Peningkatan pendapatan ini sekaligus mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat (Setyawan. Sektor industri ini dijadikan unggulan untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian mengingat dalam kondisi sekarang ini. pada penelitian ini akan dilihat tentang peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian nasional. melalui suatu proses yang disebut sebagai penetesan ke bawah (trickle down effect) akan menyebabkan peningkatan pendapatan berbagai golongan masyarakat di negara (wilayah) bersangkutan.22 melalui peningkatan satu atau beberapa sektor ekonomi kunci. sektor industri pengolahan lebih banyak dapat menyediakan lapangan kerja dan mempunyai aktifitas ekonomi yang lebih intensif untuk satuan unit usaha bila dibandingkan dengan unit usaha sektor lainnya. Peningkatan output berbagai sektor ekonomi. Selain itu sektor ini juga dianggap sebagai sektor yang mampu meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan pendapatan masyarakat pada tingkat yang layak dari sebelumnya. Peningkatan output sektor kunci tersebut akan ikut meningkatkan output sektor-sektor lainnya melalui proses keterkaitan (linkages) dan dampak penyebaran antar sektor. Kebijakan prioritas pembangunan sektor industri pengolahan khususnya industri kertas merupakan upaya pemerintah Indonesia dalam mewujudkan perekonomian yang lebih baik untuk kesejahteraan masyarakat. kemudian. 2005). Dalam menganalisis peranan sektor industri kertas teradap perekonomian Indonesia ini digunakan analisis I-O dengan berbagai .

Pada akhirnya dapat dijadikan acuan pemerintah Indonesia sendiri dalam menentukan kebijakan pembangunan ekonomi Indonesia ke depan sehingga permasalahan pembangunan seperti kemiskinan dan pengengguran dapat diturunkan. Dengan teridentifikasinya peranan sektor industri kertas melalui proses keterkaitan dengan sektor-sektor lain baik sebagai pengguna input maupun penghasil output. dan perannya dalam sektor kunci perekonomian seperti yang terlihat pada gambar 1. maka diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas bagi pemerintah Indonesia tentang perkembangan sektor yang menjadi prioritas ini dalam mengatasi berbagai masalah yang berkaitan dengannya. . kemampuan mendorong dan menarik sektor hulu-hilirnya. Adapun alur konsep pemikiran dapat dilihat pada gambar 1.23 keterbatasan analisis yang telah disebutkan pada bab sebelumnya.

Bagan Alur Pemikiran Konseptual .24 Perekonomian Indonesia Perubahan Struktur Perekonomian Industri Kertas Kemampuan mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya (Analisis Dampak Penyebaran) Keterkaitan dengan sektor lain dalam hubungannya sebagai pengguna input dan penghasil output (Analisis Keterkaitan) Sektor Kunci Perekonomian (Elastisitas Input-Output) Peran Industri Kertas Kebijakan Pembangunan Industri Keterangan : ( Ruang lingkup penelitian ) Analisis yang digunakan Gambar 1.

Pendekatan model I-O yang digunakan adalah model sisi permintaan (demand-side model). Pada analisisnya nanti dapat terlihat bahwa perekonomian dapat tumbuh apabila terdapat dorongan atau peningkatan pada permintaan akhir yang eksogen tersebut. dampak penyebaran dan elastisitas input-output. METODE PENELITIAN 3.1. Pada analisis keterkaitan. Data yang digunakan antara lain berasal dari Tabel Input-Output (I-O) transaksi domestik atas dasar harga produsen tahun 2000 klasifikasi 175 sektor dari Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat yang kemudian diagregasi oleh penulis menjadi 22 sektor dan beberapa data sekunder lainnya dari instansi dan dinas terkait lainnya. dampak penyebaran dan elastisitas ini alat yang digunakan adalah Microsoft Excel 2003. kemampuan untuk mendorong atau menarik sektor hulu dan hilirnya serta perannya dalam sektor kunci perekonomian dapat di kaji berdasarkam analisis keterkaitan. Metode Analisis Untuk mengetahui peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia ini sebagai sektor penyedia input maupun sebagai sektor pemakai input. model analisis ini .2. hal ini dikarenakan faktor permintaan merupakan faktor eksogen yang mempengaruhi perekonomian.III. Oleh karenanya. 3. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Penggunaan tabel I-O Indonesia tahun 2000 tersebut dikarenakan tabel I-O tersebut merupakan tabel terbaru selama penelitian ini berlangsung.

a1n a21 …….AX . Secara matematik dapat dituliskan : aij = Xij (3.26 sering pula disebut dengan dengan model yang dikendalikan oleh sisi permintaan (demand-driven model). Koefisien ini dapat diterjemahkan sebagai jumlah input dari sektor i yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit output sektor j.1) Xj Dimana : aij adalah koefisisen input. Koefisien Input Pada Tabel I-O.1.2) AX + F = X Atau F = X . a2n : A : a31 ……. 3.… ann X1 X2 : X3 X + F1 F2 : Fn F = X1 X2 : Xn X (3. Dengan demikian dapat disusun matriks sebagai berikut : a11 X1 + a12 X2 +………+ a1n Xn + F1 = X1 a21 X1 + a22 X2 +………+ a2n Xn + F2 = X2 : : : : : an1 X1 + an2 X2 +………+ ann Xn + Fn = Xn Atau persamaan tersebut dapat disederhanakan menjadi : a11 ……..2.3) (3. koefisien input atau koefisien teknologi merupakan perbandingan antara jumlah output sektor i yang digunakan dalam sektor j (Xij) dengan input total sektor j (Xj).

2. Keterkaitan Langsung ke Depan Keterkaitan langsung ke depan menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menggunakan sebagian output tersebut secara . Beberapa jenis koefisien keterkaitan yang sering digunakan dalam analisis ekonomi wilayah sektoral antara lain adalah keterkaitan langsung ke depan dan ke belakang serta keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan dan ke belakang. Analisis Keterkaitan (linkages) Koefisien keterkaitan sangat berguna dalam penyusunan prioritas sektor perekonomian untuk mencapai tujuan pembangunan. Dalam analisis input-output matriks kebalikan Leontief memiliki peranan yang sangat penting sebagai alat analisis ekonomi yang mencerminkan efek langsung dan tidak langsung dari perubahan permintaan akhir terhadap output sektor-sektor di dalam perekonomian. maka akan ada perubahan pola pendapatan nasional. maka dapat dituliskan sebagai berikut : AX + F = X Atau F = X . ( I – A ) = Matriks Leontief.AX X = ( I . X = Output.A )-1F (3. 1.5) Dimana : I = Matriks identitas berukuran nxn yang elemennya memuat angka satu pada diagonalnya dan nol pada selainnya. ( I – A )-1 = Matriks kebalikan Leontief. Jika ditulis dalam bentuk persamaan. F = Permintaan akhir.27 Jika terdapat perubahan pada permintaan akhir.2. 3.

KDLTi = ∑ α ij j =1 n (3. Untuk mengetahui besarnya keterkaitan langsung ke depan. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ke Depan Analisa keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan mengukur akibat dari adanya suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menggunakan output sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung per unit kenaikan permintaan total.28 langsung per unit kenaikan permintaan total. n KBj = ∑ aij i=1 Dimana: KBj = Keterkaitan langsung ke belakang = Unsur matrik koefisien teknis aij 3. dengan rumus sebagai berikut: n KDi = ∑ aij j=1 Dimana: KDi = Keterkaitan langsung ke depan = Unsur matrik koefisien teknis aij 2.6) (3.7) (3.8) Dimana: KDLTi = keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan sektor i ij = unsur matrik kebalikan Leontief model terbuka . Keterkaitan Langsung ke Belakang Keterkaitan langsung ke belakang menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menyediakan input antara bagi sektor tersebut secara langsung per unit kenaikan permintaan total.

Koefisien Penyebaran (Coefficient of Dispersion) Koefisien penyebaran tersebut juga indeks daya penyebaran ke belakang. 1. Analisa ini menunjukkan koefisien kaitan yang memberikan gambaran tentang pengaruh yang ditimbulkan oleh suatu unit permintaan akhir untuk semua sektor didalam suatu sistem perekonomian.10) Dimana: BLTLj = Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang = Unsur matrik kebalikan Leontief terbuka αij 3. Analisis Dampak Penyebaran Indeks keterkaitan langsung dan tidak langsung baik ke depan maupun ke belakang di atas belumlah memadai dipakai sebagai landasan pemilihan sektor kunci. Analisis ini disebut dampak penyebaran yang terbagi dua yaitu kepekaan penyebaran dan koefisien penyebaran. Koefisien penyebaran merupakan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang yang dinormalkan dengan sektor dan . Indikator-indikator tersebut tidak dapat diperbandingkan antar sektor karena peranan permintaan akhir setiap sektor tidak sama. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ke Belakang Analisa keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang menyatakan akibat suatu sektor-sektor yang menyediakan input antara bagi sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung per unit kenaikan permintaan total. Oleh karena itu kedua indeks tersebut haruslah dinormalkan dengan cara membandingkan rata-rata dampak yang ditimbulkan oleh sektor tersebut dengan rata-rata dampak seluruh sektor. KBLTj = ∑α ij i =1 n (3.2.29 4.3.

Kepekaan penyebaran ini memberikan gambaran tentang pengaruh yang timbul oleh suatu unit permintaan akhir terhadap semua sektor di dalam perekonomian.30 jumlah seluruh koefisien matrik kebalikan Leontief. Secara matematis dituliskan dalam bentuk rumus sebagai berikut: n∑ α ij n Pdj = ∑∑ α ij i =1 j =1 n i =1 n (3.10) Dimana: Pdj = Koefisien penyebaran sektor j ij = Unsur matrik kebalikan Leontief 2. Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: n∑ α ij Sdi = j =1 n n ∑∑ α i =1 j =1 n (3. Kepekaan Penyebaran (Sensitivity of Dispersion) Kepekaan penyebaran disebut juga indeks daya penyebaran ke depan.11) ij Dimana: = Kepekaan penyebaran sektor i Sdi ij = Unsur matrik kebalikan Leontief . Kepekaan penyebaran merupakan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan yang dinormalkan dengan jumlah sektor dam jumlah seluruh koefisien matrik kebalikan Leontief.

Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: ⎤ ⎡ ET xyj = ⎢∑ l i / x j )bij /(l j / x j )⎥ (y j / x) ⎦ ⎣ i Dimana: ET xyj = Elastisitas tenaga kerja (3. 1. Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: EO xyj = Dimana: EO xyj = Elastisitas output x ∑b i ij ( y j / x) (3.13) . Elastisitas Output Elastisitas Output adalah perubahan persentase dalam total output suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. Pendekatan ini dianggap lebih baik daripada analisis keterkaitan dan analisis multiplier karena memperhitungkan share suatu sektor dalam output. Pendekatan ini mempermudah policy makers untuk berkonsentrasi tidak hanya pada nilai-nilai keterkaitan dan multiplier tertinggi tetapi juga pada share suatu sektor ekonomi.2.12) = ∑x j b ij yj = Elemen matriks Leontief = Permintaan akhir sektor j 2.4.31 3. Elastisitas Tenaga Kerja Elastisitas tenaga kerja adalah perubahan persentase tenaga kerja suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. Elastisitas Input-Output Elastisitas input-output menyediakan pandangan baru untuk penentuan sektor prioritas.

Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: ⎡ ⎤ EP xyj = ⎢∑ hi / x j )bij /(h j / x j )⎥ ( y j / x) ⎣ i ⎦ (3. Elastisitas Pendapatan Elastisitas pendapatan adalah perubahan persentase dalam pendapatan suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya.14) Dimana: EP xyj = Elastisitas Pendapatan hj = Upah dan gaji hi / x j = Koefisien pendapatan .32 = Jumlah tenaga kerja li l i / x j = Koefisien tenaga kerja 3.

Jumlah perusahaan tersebut belum mampu mencukupi konsumsi domestik. minimal harus ada tambahan beberapa perusahaan lagi untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Menurut Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI). 14 perusahaan di Sumatera dan dua perusahan berlokasi di Kalimantan.IV. dan dapat memenuhi kebutuhan kertas dalam negeri yang terancam kekurangan pasokan dalam sepuluh tahun mendatang (Mansur. GAMBARAN UMUM INDUSTRI 4. 12 perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) dan 3 perusahaan negara.180 ton.1.045. investasi dalam negeri swasta sebesar 5. .900 ton.041. Ketiga produsen besar industri pulp dan kertas tersebut adalah. Oleh karena itu. jumlah perusahaan di Indonesia yang memproduksi pulp dan kertas adalah tiga kelompok perusahaan besar.666.580 ton yang terdiri dari kapasitas terpasang perusahaan swasta-negara sebesar 337. dan investasi luar negeri sebesar 4. Sekitar 64 perusahaan berlokasi di pulau Jawa. Perusahaan-perusahaan tersebut terdiri dari 65 perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Profil Industri Kertas Saat ini. sektor industri ini membutuhkan investasi baru atau industri ini harus meningkatkan efisiensi agar dapat bersaing dengan industri asing. Indonesia mempunyai 77 perusahaan produsen kertas dan 10 diantaranya terintegrasi dengan pabrik pulp.1). Group Sinar Mas. sampai dengan tahun 2003. Industri kertas memiliki kapasitas total sebesar 10.500 ton (Tabel 4. Group Raja Garuda Mas dan Barito Pasifik. 2005). Untuk memenuhi kebutuhan kertas tersebut.

2 14.8 52.500 10.9 100 85.517.180 4.045.100 Pulp % 3.6 9.580 100 5.8 persen pada periode 19972001.140 10.8 100 Kapasitas Terpasang Kertas (Ton) 337.900 5.000 Kertas % 3.580 2. 4.1 persen per tahun. hal ini terjadi didasarkan pada ketersediaan bahan baku dan upah tenaga kerja yang murah di dalam negeri.045.100 1.7 19. .2.000 Kalimantan 2 564.554. Industri-industri yang mengandalkan bahan baku impor tetap mengalami kemerosotan pertumbuhan.580 74.215.440 1.100 2.5 100 25.287.8 43.1 Perusahaan Negara Swasta Investasi Dalam Negeri Swasta Investasi Luar Negeri Total Integrated (Pulp dan Kertas) Non Integrated Pulp Kertas Total Jawa 64 340.7 persen per tahun (Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.528.34 Tabel 4. Perkembangan Industri Kertas Industri kertas tumbuh dan berkembang lebih baik bila dibandingkan dengan kebanyakan industri lain di Indonesia.725.666.287.100 Sumber : Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia. 2003.2 46.0 100 10.072.600 Total 80 6.000 6.382. Sementara konsumsi kertas juga meningkat 4.580 8.100 5.3 7.4 85.000 3.4 50.287. Pada periode yang sama ekspor kertas juga meningkat sekitar 19. 2003).322.500 Sumatera 14 5.000 6. Profil Industri Pulp dan Kertas Indonesia Tahun 2003 Status/Lokasi Jumlah Perusahaan 3 65 12 80 10 3 67 80 Kapasitas Terpasang Pulp (Ton) 240. tetapi industri kertas tetap melanjutkan perkembangannya dengan pertumbuhan sekitar 9.3 100 80.491.045.1.041.

2.3 kg 2002 24. bila dalam 10 tahun mendatang kapasitas industri kertas tidak bertambah.9 kg 1998 14.8 kg 2001 23.1 kg 1994 13.0 kg Sumber: Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia. Nilai konsumsi per kapita ini memang lebih kecil bila dibandingkan dengan negara lain contohnya Malaysia yang sudah mencapai ratusan kilogram per kapita.3 juta ton pertahun sedangkan konsumsi per kapitanya pada akhir 2003 telah mencapai 25 Kg (Tabel 4. para investor telah menunjukkan ketertarikan yang kecil pada sektor ini karena industri ini telah menjadi capital intensive dan birokrasi yang rumit pasca otonomi daerah. Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) mengkhawatirkan Indonesia akan mengalami kekurangan pasokan kertas. Masalahnya setiap tahun konsumsi kertas dalam negeri terus meningkat dengan angka rata-rata sekitar 6 persen per tahun. Untuk mengatasi kebutuhan konsumsi kertas yang terus . Konsumsi Kertas Per Kapita Penduduk Indonesia Tahun 1993-2003 Tahun Konsumsi Kertas / Kapita 1993 11.35 Tabel 4. industri kertas harus mengimpor kertas senilai US$ 7 miliar/tahun. namun jika kebutuhan kertas di dalam negeri naik hingga mencapai 50 Kg per kapita.3 kg 1997 16.6 kg 2000 20. Disamping kinerja yang menggembirakan dalam industri kertas ini. 2003.0 kg 1996 16.2). Pada tahun 2003 kapasitas produksi yang dimiliki industri kertas baru sekitar mencapai 10.1 kg 1999 19.0 kg 2003 25.0 kg 1995 14.

Sedangkan kapasitas terpasang industri kertas pada perusahaan pulp dan kertas yang terintegrasi mencapai 21. 4. tujuh diantaranya adalah perusahaan kertas yang terintegrasi (tabel 4. .36 meningkat maka harus ada investasi baru atau industri yang ada harus meningkatkan efisiensi. Industri kertas yaitu khususnya perusahaan-perusahaan besar dalam industri ini mempunyai kecenderungan untuk berintegrasi dengan perusahaan penyedia bahan baku yaitu industri pulp.08 persen dari total kapasitas terpasang seluruh industri pulp. Dari 77 perusahaan kertas pada tahun 2003. 2002) Dilihat dari pangsa produksi dan ekspor penguasaan jaringan pasar luar negeri.3. Integrasi Vertikal dan Pasar Industri Kertas Indonesia Di Indonesia industri kertas mempunyai karakteristik sebagai industri skala besar. masih menjadi kelemahan bagi sebagian besar produsen kertas Indonesia.32 persen dari keseluruhan kapasitas terpasang industri kertas. Integrasi vertikal ini dianggap penting karena integrasi vertikal oleh perusahaan kertas akan meningkatkan efisiensi perusahaan dalam industri kertas tersebut karena dapat mengamankan pasokan bahan baku dan meminimumkan biaya transaksi dalam rangka untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan terhadap produk kertasnya (Karseno dan Mulyaningsih. Dengan kecenderungan ini hampir seluruh output industri pulp disalurkan pada industri kertas didalam negeri sedangkan ekspor hanya merupakan pasar kedua.1). Kapasitas terpasang industri pulp yang terintegrasi dengan perusahaan kertas mencapai 66.

Pentingnya jaringan pemasaran lebih dipicu terutama menjelang diberlakukan pasar bebas di kawasan Asia Tenggara (AFTA) tahun 2003 dan kawasan Asia Pasifik (APEC) tahun 2010. 4. Kedua kelompok ini memilih Singapura sebagai kantor pusat perusahaan mereka.4. PT.37 Meskipun demikian beberapa (grup) perusahaan telah mencoba menembus pasar luar negeri. Kawasan Asia Pasifik merupakan kawasan dengan pasar pulp terbesar di dunia. Pertama. Kelompok Sinar Mas memasuki pasar Asia dengan mendirikan kelompok perusahaan melalui bendera APP (Asia Pulp and Paper) di negara Singapura. dan India. Begitu juga dengan Tanoto dan Tanjung Enim Lestari (TEL) yang mengibarkan bendera APRIL (Asia Pacific Resources International Holding Ltd.). yang menguasai . Pasar bebas tersebut akan memaksa para produsen pulp dan kertas Indonesia untuk mampu bersaing memperebutkan pasar Asia Pasifik yang terbuka. Cina. Profil Beberapa Perusahaan Kertas Indonesia Sampai dengan tahun 2003 dalam industri kertas terdapat tiga perusahaan yang memiliki proporsi kapasitas pabrik terhadap kapasitas total industri yang melebihi 10 persen. Indah Kiat Pulp & Paper Corp. Selain itu pasar dalam negeri juga perlu dikaji karena merupakan basis untuk memperkuat daya saing secara nasional (Rosadi dan Vidyatmoko. terutama pasar Asia. Malaysia. dengan melakukan ekspansi ke negara-negara di kawasan ini. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis mengenai kondisi pasar luar negeri terutama pasar Asia dan bagaimana strategi untuk memasuki dan mengembangkan pasar di kawasan tersebut. 2002).

Pelita Cengkareng Paper Co. Pindo Deli Pulp & Paper Mills PT. Surabaya Mekabox Ltd.9 1.4 4.4 0.200 150.1 persen (Tabel 4.9 1.2 1.8 4.3.1 1.3).000 157.000 85.8 1. Pura Barutama PT.000 2.111.4 10.2 3. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia dengan proporsi sebesar 10.4 4.800 450. Indah Kiat Pulp& Paper Corp PT. Keempat perusahaan yang tergabung dalam group Sinar Mas ini memiliki karaktristik yang sama yaitu semuanya merupakan perusahaan kertas yang terintegrasi vertikal dengan pabrik kertasnya.000 150. Adiprima Suraprinta PT. Suparma PT. Aspex Kumbong PT. Ekamas Fortuna PT.5 persen dari total kapasitas industri.000 486. Tiga perusahaan pemilik kapasitas terbesar tersebut dimiliki oleh group yang sama yaitu Sinar Mas Group.000 350.465.000 150.5 1.5 0.4 0. Tabel 4.7 4. Gede Karang PT. 2003. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry yang berlokasi di Langsa.000 50. NAD. Tanjungenim Lestari Pulp & Paper PT. Riau Andalan Kertas PT.044.000 1. kemudian disusul oleh PT.6 28. Pakerin PT.8 14. Fajar Surya Wisesa PT.000 500.2 persen. PT.000 430. Papyrus Sakti PT.38 20. Papertech Indonesia Lain-lain Kapasitas Terpasang (Ton) 2.800 195.000 1.000 700. Kertas Leces (Persero) PT. dan perusahaan ketiga adalah PT. Surabaya Agung PT. PT.4 0. Pindo Deli & Paper Mills sebesar 14. Selain ketiga perusahaan itu group Sinar Mas masih mempunyai perusahaan kertas lainnya yaitu PT. Kapasitas Terpasang Perusahaan Industri Kertas Tahun 2003 Nama Perusahaan PT.400 60.000 150.5 6.500 93.986. .000 Persentase (%) 20.9 Sumber : Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.

PT. PT. pabrik pulp dan kertas budaya di Perawang. perusahaan tersebut memiliki dan menguasai beberapa sarana dan prasarana yang digunakan untuk menjalankan berbagai kegiatan usahanya. 744. yang menempati lahan seluas 28 Ha. Indah Kiat Pulp & Paper dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards yang terdiri dari dewan komisaris dengan presiden komisarisnya yaitu Indra Widjaja dan dewan direksi dengan direktur utamanya yaitu Teguh Ganda Widjaja. Pada saat ini.000 ton kertas industri per tahun dan 100.68 tanggal 7 Desember 1976 yang disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Keputusan No. dengan kertas bergelombang sebagai peredam benturan). perusahaan kertas ini mengantisipasinya dengan meningkatkan kapasitas produksinya sehingga saat ini menjadi 1.78 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan perusahaan ini (Tabel 4. terutama pabrik kertas budaya di Tangerang. kertas budaya.5/50/2 tanggal 9 Februari 1978. dan didaftarkan di Kantor Pengadilan Negeri Jakarta No. 980.39 1) PT.000 ton pulp per tahun.000 ton kertas budaya per tahun.631. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk Perusahaan ini didirikan di Jakarta dengan Akta Notaris Ridwan Suselo No.000 ton corrugated boxes per tahun.722 Ha . kertas industri dan corrugated carton boxes (sejenis dus karton. masyarakat menguasai 38.A.Y. Pada susunan pemegang saham. 525 Tanggal 14 Februari 1978 (Bank Niaga. Indah Kiat Pulp & Paper melakukan usahanya secara komersil dengan memproduksi pulp.4). 2005). Dengan semakin meningkatnya permintaan atas produksi kertas. Riau seluas 1.

Gandi Sulistiyanto Soeherman : Show Chung Ho : Kuo Cheng Shyong : Raymond Liu. Co. Teddy Pawitra : Kamardy Arief : Let Jend (Purn) Soetedjo Dewan Direksi Presiden Direktur : Teguh Ganda Widjaja Wakil Presiden Direktur : Muktar Widjaja Wakil Presiden Direktur : Hendra Jaya Kosasih Wakil Presiden Direktur : Chen Wang Chi Wakil Presiden Direktur : Yudi Setiawan Lin Direktur : Suresh Kilam Direktur : Didi Harsa Direktur : Agustian Rachmansjah Partawidjaja Susunan Pemegang Saham PT Purinusa Ekapersada : 52. Tabel 4. Fasilitas produksi perusahaan juga didukung dengan berbagai fasilitas dan prasana seperti jalan. Ltd. : 2.4.40 dan pabrik kertas industri di Serang Jawa Barat seluas 308.88% Virgin Island YFY Global Investment (BVI) Corp. Dr. mess karyawan dan lain-lain. Ryani Soedirman : Mas Achmad Daniri : Prof.56% British Virgin Island Yuen Foong Yu H. : Lo Shang Shung : Hj.72% CHP International (BVI) Corp. Phd. 2005.. British : 5. Boards PT. Presiden Komisaris Wakil Presiden Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris .05% Kong Masyarakat : 38. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk per 30 September 2004 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Ir.K. Hong : 0.78% Sumber: Bank Niaga.9 Ha.

6 tanggal 4 Juli 1975 dan Akta Perubahan No.12 tahun1970. dengan Akta No. PT.59 tanggal 26 April 1975. dengan jumlah kapasitas produksi terpasang sebesar 652. Karawang dengan menambah tiga Paper Machine serta sebuah Corrugated Machine. 2005). .5 tanggal 3 April 1975. Pada Oktober 1995.000 ton per tahun. Selain itu perusahaan ini juga mempunyai fasilitas pabrik pembuatan bahan kimia calcium carbonate. Pindo Deli Pulp & Paper Mills PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills didirikan di Jakarta dalam rangka Undang-undang No.57 persen dari total saham yang dikeluarkan PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills tersebut (Tabel 4. salah satu bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi kertas.69 tanggal 25 Februari 1976 (Bank Niaga. Akta Perubahan No. Perusahaan kertas ini dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards (dua dewan perusahaan) dan kepemilikan saham terbesar perusahaan ini dikuasai oleh PT Purinusa Ekapersada sebesar 97. berlokasi di lokasi Pindo 1 dengan kapasitas produksi terpasang sebesar 48. Total kapasitas produksi terpasang pabrik kertas milik perusahaan ini adalah sebesar 210. sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No.41 2) PT. Akta Perubahan No.5).000 ton per tahun. Akta Perubahan No. Karawang (Pindo 1).6 tahun 1968 tentang PMDN. Saat ini perusahaan kertas ini memiliki sebuah pabrik kertas yang berlokasi di Adiarsa. Pindo Deli Pulp & Paper Mills ini memulai konstruksi pabrik kertasnya yang kedua (Pindo 2) yang berlokasi di Kuta Mekar. 2005).000 ton per tahun dan telah berproduksi sejak bulan Maret 1996 (Bank Niaga.75 tanggal 31 Januari 1975.

6 Tahun 1968 juncto Undang-undang No. Komisaris Utama Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Direktur Direktur PT Purinusa Ekapersada PT Mega Kleenindo PT Unitama Sartindo Sumber: Bank Niaga.9 tanggal 2 Oktober 1972 (Bank Niaga. Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Drs. Pindo Deli Pulp & Paper Mills per 30 September 2004. masyarakat menguasai 36. PT. Perusahaan ini merupakan bagian kelompok usaha Sinar Mas. Kelompok Sinar Mas adalah salah satu dari kelompok industri terbesar di Indonesia dengan kurang lebih 200 perusahaannya yang bergerak di berbagai usaha yang besar .57% : 0. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards (dua dewan direksi) dan pada susunan pemegang saham. 2005).42 Tabel 4. Boards PT. 2005. Jhon Ferdinand Pandelaki : Yudi Setiawan Lin : Let Jend (Purn) Soetedjo : Hajjah Ryani Soedirman : Arthur Tahya Dewan Direksi : Teguh Ganda Wijaja : Muktar Widjaja : Hendra Jaya Kosasih : Suresh Kilam : Tsai Huan Chi : Huang Wen Hai : Tri Ramadi Susunan Pemegang Saham : 97.91% : 0.12 Tahun 1970 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri berdasarkan Akta No.6).61% 3) PT.5.60 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan perusahaan ini (Tabel 4. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk didirikan dalam rangka Undangundang Negara Republik Indonesia No.

Dari seluruh tanah yang dikuasai perusahaan 64 persen merupakan tanah dengan Hak Guna Bangunan. real estate. bidang kimia. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk per 30 September 2004 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Ir. produksi bahan makanan. Boards PT. hotel dan perumahan.60% Presiden Komisaris Wakil Presiden Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Direktur Direktur Direktur PT Purinusa Ekapersada Koperasi Masyarakat Sumber: Bank Niaga. 2005. perbankan dan jasa keuangan. Gandi Sulistiyanto Soeherman : Show Chung Ho : Kuo Cheng Shyong : Raymond Liu.10% : 36.6. Ryani Soedirman : Mas Achmad Daniri : Prof DR.30% : 0. Phd. : Lo Shang Shung : Hj.43 termasuk industri kertas dan pulp. sedangkan sisanya merupakan tanah yang telah dibebaskan untuk kepentingan . Tabel 4. Teddy Pawitra : Kamardy Arief : Let Jend (Purn) Soetedjo Dewan Direksi : Teguh Ganda Widjaja : Muktar Widjaja : Hendra Jaya Kosasih : Chen Wang Chi : Yudi Setiawan Lin : Suresh Kilam : Didi Harsa : Agustian Rachmansjah Partawidjaja Susunan Pemegang Saham : 63. Lokasi pabrik dan pusat perusahaan yang terletak di Jawa Timur. minyak goreng. yang berdekatan dengan pelabuhan Tanjung Perak merupakan hal yang sangat menguntungkan kelancaran pengapalan untuk ekspor.

Perusahaan ini menyesuaikan pemakaian teknologi sedemikian rupa untuk tetap dapat menyediakan kesempatan kerja seluas-luasnya. Pada tahun 1994. Bidang usaha utama perusahaan ini adalah menghasilkan kertas tulis dan cetak bermutu tinggi. yang merupakan pengakuan bertaraf internasional terhadap sistem dalam proses produksi yang telah berhasil dilaksanakan oleh perusahaan. PT. dan kertas HVS biasa untuk kebutuhan sekolah dan perkantoran. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia telah menerima sertifikat ISO 9002 dari Det Norske Veritas Industry B.000 ton boxboard pertahun. Selain kertas tulis dan cetak serta hasil-hasil produksi kertas. Pabrik kertas merupakan suatu jenis industri dengan sifat padat modal. minyak wangi. meningkatkan pengawasan mutu disamping . Saat ini PT. Perusahaan ini juga memproduksi pulp dari daur ulang kertas bekas dan soda kaustik sebagai bahan baku utama industri kertas. Belanda. kertas HVS mengkilap. diantaranya dus (boxboard) yang dipergunakan untuk kemasan rokok. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia mempunyai kapasitas produksi sebanyak 30. kertas tissue. Hal ini juga diperlukan untuk meningkatkan kesempatan kerja.44 perusahaan yang berasal dari petani di sekitarnya dengan status Hak Milik atau Girik.V. Hal ini jelas dapat terlihat pada bagian produksi barang-barang hasil produksi kertas dimana perusahaan ini telah memutuskan untuk tidak menambah mesin-mesin pembungkus otomatis. perusahaan kertas ini juga memproduksi produk-produk kemasan. dan sereal. Namun demikian melihat kebutuhan penyediaan kesempatan kerja di Indonesia. Rotterdam.

500 ton kertas per tahun.75 persen).. modifikasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas produksi mesin pembuatan pulp dan fasilitas pendukung lainnya. Aceh Timur dengan nama awal PT Sumber Indra Jaya Paper Manufacture Co. dengan kapasitas produksi 60.Ltd. Kepemilikan saham dikuasai oleh tiga perusahaan yaitu PT.25 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan (Tabel 4. Disamping pulp dan kertas. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry bergerak dalam bidang usaha industri pulp dan kertas. dengan produksi utama pulp jenis LBKP. Perusahaan kertas ini dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards yang terdiri dari dewan komisaris dengan presiden komisarisnya yaitu Indra Widjaja dan dewan direksi dengan direkturnya adalah Teguh Ganda Widjaja.7).6 Tahun 1968 tentang PMDN dengan Akta No. Pindo Deli Pulp & Paper Mills (80 persen). Pada tahun 1999 perusahaan ini telah melakukan modifikasi terhadap mesin-mesin dan fasilitas produksi di pabrik pulp Jambi. PT. dan PT.000 ton pulp per tahun dan 7. 44 tanggal 13 Februari 1974 (Bank Niaga. Lontar Papyrus Pulp . PT Satria Perkasa Agung (19. 2005). kertas budaya dan tissue. PT. Arthadana Mulia Makmur yang memiliki 0. pada kuartal keempat tahun 1998 perusahaan kertas ini memulai produksi komersial tissue dalam bentuk gulungan besar yang dijual kepada pihak lain untuk kemudian diubah menjadi berbagai jenis tissue siap pakai.000 ton per tahun. dalam rangka Undang-Undang No. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry Perusahaan kertas ini didirikan di Langsa.45 4) PT. Saat ini perusahaan ini merupakan salah satu produsen pulp yang cukup besar di Indonesia dengan kapasitas produksi sebesar 545.

Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry telah memperoleh sertifikasi ISO 9002 sehubungan dengan telah sesuainya sistem kualitas manajemen (Quality management systems) dengan ketentuan yang dipersyaratkan dalam ISO 9002. 2005. PT. Tabel 4. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry per 30 Desember 2003 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Drs.7. Boards PT.E10683 sebagai bukti bahwa perusahaan kertas ini telah memenuhi ketentuan standar lingkungan hidup yang dipersyaratkan (Bank Niaga. John Ferdinand Pandelaki : Sukirta Mangku Djaja : Let Jend (Purn) Soetedjo : Hj. .25% Sumber: Bank Niaga. Ryani Soedirman Dewan Direksi Direktur Utama : Teguh Ganda Widjaja Wakil Direktur Utama : Hendra Jaya Kosasih Direktur : Muktar Widjaja Direktur : Suresh Kilam Direktur : Lin Shun Keng Direktur : Tri Ramadi Direktur : Arthur Tahya Susunan Pemegang Saham PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills : 80. 2005).75% PT Arthadana Mulia Makmur : 0. perseroan ini juga telah memperoleh sertifikat ISO 14001 pada tanggal 19 Agustus1997 yang dikeluarkan SGS Yarsley International Certification Services Limited dengan sertifikat No. NAD.00% PT Satria Perkasa Agung : 19.46 & Paper Industry saat memiliki sebuah pabrik yang memproduksi pulp dan tissue yang berlokasi di Sumatera yaitu di Tanjung Jabung. Di samping itu. Jambi dan sebuah pabrik kertas di Langsa. Komisaris Utama Wakil Komisaris Utama Komisaris Komisaris Komisaris Dalam menjalankan usahanya.

83 persen dan Rp 117.099.767.073. Peranan Industri Kertas Dalam Perekonomian Indonesia 5. Jumlah tersebut terdiri atas permintaan antara sebesar Rp 1. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Dari data tersebut diperoleh bahwa jumlah permintaan akhir lebih besar dibandingkan jumlah permintaan antaranya. dilihat dari sisi permintaan antara tampak bahwa sektor perdagangan menghasilkan output tertinggi yang digunakan sebagai input oleh seluruh sektor perekonomian lainnya yaitu sebesar Rp 197.701.03 persen dari total permintaan antara dan berada pada urutan ke-18 diantara sektor-sektor lainnya.048.415 juta atau 13.730 juta atau 11.019 juta dan permintaan akhir sebesar Rp 1.21 persen dari total permintaan antaranya.1.775 juta atau sekitar 1. Struktur Permintaan Industri Kertas Total permintaan barang dan jasa domestik yang dihasilkan oleh Indonesia tahun 2000 mencapai Rp 2.V.800.1. hal ini berarti bahwa output di Indonesia cenderung digunakan untuk memenuhi konsumsi langsung masyarakatnya.626 juta atau 18. Sedangkan untuk industri kertas mempunyai permintaan antara sebesar Rp 10.460.656. .71 persen dari total permintaan antara.1. Angka-angka tersebut di atas menunjukkan seberapa pentingnya peranan output yang dihasilkan oleh sektor-sektor di atas untuk digunakan sebagai input oleh sektor-sektor perekonomian lainnya di Indonesia. Berdasarkan Tabel 5.629 juta. Selanjutnya diikuti oleh sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian.870 juta.977.068. pada urutan kedua dan ketiga dengan nilai Rp 144.

713 1.108 13.43 14.38 0.25 2.87 6.34 2.850.689.34 0. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat secara keseluruhan lebih banyak menggunakan output industri kertas untuk konsumsi .83 15.84 persen dari total permintaan akhir.627.760.460.498 19.916 177.849 80.705 23.416.30 1.613 64.47 0.153. Nilai tersebut lebih besar dibanding permintaan antaranya.701.805.028 0.621 208.44 1.726.815.068.227.10 196.16 1.92 0.56 100 Sumber: Tabel I-O Indonesia.970.847 3.847 juta atau 0.045.622 8.67 5.29 12.42 5.800.215 35.076.169 161.887 201.278 151.53 0.98 100 Total permintaan Jumlah % (Juta Rp) 260.50 0.415 13.767.14 117.620 13.677.599 5.84 18.775.340.37 6.05 9.034 41.035 16.165 139.568 21. 2000 (diolah).743.741 10.15 100 Permintaan Akhir Jumlah % (Juta Rp) 115.626 70.84 2.426.018 0.276.849 24.695.412.730 90.99 1.441.89 2.575 9.27 3.485 39.151 329.685.656.099.353.113 94.970.629 4.13 0.036 155.771.897.774.99 1.595.47 1.620 8.870 7.08 79.97 6.695 227.48 Tabel 5.020 7.48 0.372 88.65 17.885.605 94.729.87 2.1.593 30.37 5.564.657 12.700 3.80 14.259 165.88 4.099 57.438.52 12.214.71 2.58 12.32 0.424 8.961 1.242.977.014.73 8.64 2. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Total (domestik) Permintaan Antara Jumlah % (Juta Rp) 144. Permintaan Antara dan Permintaan Akhir Sektor-sektor Perekonomian di Indonesia Tahun 2000 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.065 15.672.64 3.356 105.056 67.53 1.37 0.36 9.11 1.19 4.325.160 6.036.821.1 sektor industri kertas menempati posisi ke-14 diantara sektor yang lain sebesar Rp 13.84 0.698.389.329.944 0.574 1.496.60 5.948.649 36.176 197.74 8.442.586.637.739.287.125.21 8.408 243.019 11.670 7.074 19.844.257.529.13 8.848.901.881 13.88 1.23 0.03 0.034 238.048.724 5.51 1.476.33 0.063 396.379 33.748.067 0. Dilihat dari permintaan akhir pada Tabel 5.287 2.817.50 9.119.254 131.16 4.534.926 0.128 23.09 1.272.073.775 5.03 0.228.

Pada tahun yang sama sektor industri kertas menyumbang nilai tambah bruto sebesar Rp 7.331. Rasio upah dan gaji dan surplus usaha termasuk kategori baik jika rasionya mendekati keseimbangan (mendekati 1) yang berarti bahwa proporsi penerimaan dalam bentuk upah dan gaji bagi pekerja dan surplus usaha bagi produsen berimbang. Rp 755.967 juta (Tabel 5. Jika diperbandingkan antara nilai upah dan gaji terhadap surplus usaha (U/G) maka akan diperoleh nilai rasio upah gaji dengan surplus usaha. penyusutan sebesar Rp 865.928 juta berasal dari penyusutan dan Rp 69.278.762 juta.952.860.2).079. 5. .849 juta.327 juta yang terdiri atas upah dan gaji sebesar Rp 1.958 juta dan pajak tak langsung netto sebesar Rp 487. pemerintah dan ekspor) dibanding untuk keperluan produksi sebagai input bagi sektor lain.770 juta berasal dari upah dan gaji. Rp 110.1. surplus usaha sebesar Rp 458.843.2. Dalam Tabel I-O Indonesia tahun 2000 nilai tambah meliputi penerimaan upah gaji.895.350 juta dengan perincian Rp 400.732 milyar berasal dari pajak tak langsung netto.2 dapat diketahui bahwa total nilai tambah bruto negara Indonesia adalah Rp 1.048. Berdasarkan Tabel 5. penyusutan dan pajak tak langsung netto.498 juta berasal dari surplus usaha. Nilai rasio tersebut menunjukkan perbandingan antara besarnya upah dan gaji yang diterima produsen. Struktur Nilai Tambah Bruto Nilai tambah bruto merupakan balas jasa terhadap faktor produksi yang tercipta karena adanya kegiatan produksi. surplus usaha.49 langsung (masyarakat.

652 167.772.933 2.392 225.143.542 933.105 6.451 Listrik.700.358 1.914 Kayu 2.591 564.048.946 Penyusutan (Juta Rp) 2.107 14.430 dasar Industri barang jadi 3.062.237 6.3.764 83.567 26.296.195 112.079.046 1.182 30.393.208.554.530 penggalian Industri makanan 30.418 59.103.070 persewaan Jasa-jasa 85.928 Indirect Tax (Juta Rp) 1.43).731.084.949 45.886 2.073 3. Hal ini terlihat dari nilai rasio yang lebih kecil dari satu (0.762 4.116 7.350 Pertanian 40.968 115.714.147.182.052 20.459 53.703.257 19.385 Total 400.484.278.440.605.169.947 Industri semen dan 3.536.243 1.479 kertas Industri percetakan 1.511 770.127.898 138.480.770 755.331.588.573.542 Bangunan 37.793.985 Hasil hutan lainnya 565.670.434 15.704 6.228.114 pakaian Industri kayu dan 5.131 115.343.354 komunikasi Keuangan dan 21.952.245 Pertambangan dan 25.952 4.901.382 4. Kondisi ini menunjukan bahwa distribusi pendapatan antara pemilik modal (perusahaan) dan pekerja tidak merata atau . 2000 (diolah).458.017.414.875 429.718 147.919 1.639 Industri barang dari 1.226.352.511 29.229.004.550.063 barang non logam Industri logam 2.212.463.638 9.2.670 4.081 834.585.821 61.975 865.958 83.119.690 777.723.756 12.708 127.664.378 476. diperoleh bahwa ternyata pada sektor industri kertas mempunyai nilai surplus usaha lebih besar dibandingkan upah dan gaji.590.877.340 Perdagangan 61.028.489.393.093.562.233 65.692.311 9.757 2.948 3.567.278.132.655 2.946.973.802 134.560 8.759 10.616 5.895.996.577.797.232 97.946 110.778.569 11.396 325.327 3.803 4.256.781 8.279.705 7.418 Pengangkutan dan 16.931.372.508.774 11.012.990 dan minuman Industri tekstil dan 16.129 furniture Industri pulp 940.623 84.498 Sumber: Tabel I-O Indonesia.443 301.212 3. Nilai Tambah Bruto Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 Sektor Upah /gaji (Juta Rp) Surplus Usaha (Juta Rp) 121.902 6.727 76.607 6.044.625.156 69.756.963 8.512 1.664.333.860.365.50 Tabel 5.576.326 5.383.177 21.725 Industri kimia 21.164 13.843. gas dan air 2.072 64.524 487.701 Industri kertas 1.912 9.864.176 19.010.702 926.475.034.732 Nilai tambah bruto (Juta Rp) 166.015.142.758.229.266.063 4. Berdasarkan hasil analisis rasio upah dan gaji dengan surplus usaha pada Tabel 5.477.088 105.905 2.504 1.282.576 dari logam Industri lainnya 19.240 28.564.623.567 5.

Struktur Ketenagakerjaan Banyaknya tenaga kerja yang terserap pada tahun 2000 sebanyak 93.36 0.1.55 5.84 0.35 0.48 1.79 0.43 0. 2000 (diolah).25 6.20 0.51 0.320.27 0.47 0.04 0.3.74 0.948 jiwa. Tabel 5.33 0. Rasio Upah Terhadap Surplus Usaha Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik. Jumlah tenaga kerja yang terserap di setiap sektor ekonomi merupakan indikator kemampuan sektor tersebut dalam menciptakan kesempatan .51 terjadi ketimpangan yang sangat besar yang disebabkan oleh adanya eksploitasi tenaga kerja oleh pemilik modal terhadap tenaga kerja dengan share yang lebih besar pada produsen (pemilik modal).64 0.45 0. Rasio Upah Gaji terhadap Surplus Usaha (U/G) 0.3. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.43 0.26 0.57 0.76 0.36 0.

97 66.824 13.182 2.266.15 137.616 3.463.607 Industri barang dari kertas 100.60 25.279.062.440.56 59.352.511 61.20 0.350 Total (domestik) Sumber: Tabel I-O Indonesia.212.567 21.802 16.592 112.03 37.652 Hasil Hutan Lainnya Pertambangan dan 825. Gas dan Air 4.017.27 Total Upah (Juta) 40.513 2.952.905 Industri kayu dan furniture 57.74 8.82 15.243 Jasa-jasa 93.10 8.577.225 45.569 940.573.208. produktifitas dan nilai upah sektoral dapat dilihat pada Tabel 5.454 7.700.515 225.519 166.328.727 Listrik.477.692.943 167.041.134 20.052 Industri tekstil dan pakaian 2.088 Keuangan dan Persewaan 11.803 19.177 5.664.508.843.84 13.4.870.12 24.985 565.06 0.15 0.233 Perdagangan Pengangkutan dan 4.27 43.759 Industri kimia Industri semen dan barang 648.88 3.585.569.20 18.030 97.450.83 14.282.638 Industri logam dasar Industri barang jadi dari 259.034.245 25.06 0.32 8.911 10.320.65 41.670.034 115.53 30.143.931.99 4.161 9.590.519 jiwa.42 0. Gambaran tentang jumlah tenaga kerja.004.35 79.20 18.084.169.623 85.372.328.797.195 Penggalian Industri makanan dan 3.164 Pertanian 555.012.296.762 1.142.331.131 Komunikasi 1.256.705 Industri pulp 118.39 203.15 0.30 12.914 2.949 minuman 2.504 1.61 10.48 3.576.98 10.333.655 Kayu 86.06 0.448.480.119.912 65.562 105.459 16.48 37.64 6.942 6. Tabel 5.4.65 26.52 kerja bagi masyarakat di wilayah tersebut.895. Berdasarkan Tabel 5.921.567.212 2.54 36. terlihat sektor industri kertas menyerap 118. Jumlah Tenaga kerja.255 76.07 18.512 1.03 65.963 Industri lainnya 225.15 0.860.756 400.06 0.051 2. Produktifitas dan Nilai Upah Sektoral Indonesia Tahun 2000 Sektor Jumlah TK Nilai tambah Produktivitas bruto (Juta/Tk) (Juta Rp) 4. Dalam hal produktifitas tenaga kerja industri kertas menduduki peringkat keempat .327 Industri kertas 73.393.063 21.770 Upah/TK 0.183.454 jiwa sedangkan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor pertanian dengan kemampuan menyerap tenaga kerja sebesar 40.132.708 30.75 7.218 61.418 3.012.938 9.232 Industri percetakan 705.382 37.46 14.03 0.551 3.821 logam 1.392 Bangunan 17.13 4. 2000 (diolah).877.475.30 40.4.912 non logam 357.948 1.664 8.

Berdasarkan nilai total ekspor tersebut.84 persen dari total ekspor indonesia. Nilai ekspor industri kertas yang masih kecil tersebut dapat menandakan bahwa sektor industri ini masih berorientasi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.95 persen dari total impor Indonesia (Tabel 5. terlihat bahwa sektor pertanian.831.507. sedangkan nilai ekspor terbesar ditempati oleh sektor industri kimia atau 18. Dari Tabel 5.757 juta. 5.385 juta atau 2. Struktur Ekspor dan Impor Ekspor Indonesia pada tahun 2000 sebesar Rp 520.52 persen dari total ekspor Indonesia (Tabel 5. Nilai impor tersebut dapat menunjukkan bahwa kebutuhan kertas dalam negeri masih lebih besar dari produksi kertas dalam negeri sehingga harus melakukan impor.5. perdagangan serta sektor pengangkutan dan telekomunikasi mengalami selisih yang positif ini menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barangbarang yang dihasilkan oleh sektor tersebut tidak lagi tergantung pada impor.5).65 juta nilai tambah dari sektor tersebut dalam tahun 2000.5).53 sekitar 66.1.125.65 yang berarti satu orang tenaga kerja yang bekerja di sektor manufaktur mampu menghasilkan sekitar 66. industri pengolahan.930.623 juta. dengan melihat besarnya selisih antara total ekspor dan impor.4.854 juta atau 2. . Nilai impor industri kertas sebesar Rp 8. nilai ekspor keseluruhan sektor industri kertas adalah Rp 13. Ditinjau dari sisi impor terhadap barang-barang dan jasa ternyata nilai impor secara keseluruhan sebesar 287.

550 0.399 -3.775 10.21 Industri lainnya 0 0.336 1.979 2.29 17.695 227.54 Sedangkan yang mengalami selisih negatif dialami oleh sektor kayu.353.162.864 9. 2000 (diolah).02 Kayu 394.620 13.424 8.305 6.842 2.362.028 2.473.796.151 332.849 24.667.701.332 49.857.13 100 Jumlah Input (Juta Rp) 224.287 161.602 19.373 1.305.262 17.558.395. Tabel 5.06 barang non logam 12.991.559.79 8.815.413 176.38 0.03 Perdagangan Pengangkutan dan 26.089. .772.033 8.444.326 1.580. sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa-jasa.242.908 10.617.944 196.677.23 2.099 57.900.854 1.490.278 177.78 13.531 541.326 2.126 X-M (Juta Rp) 2.958.29 kertas 3.566.611.10 persewaan 8.52 15.529.340.093.040 1.238.489. sektor bangunan.403.814 71.466 13.814 18.177 6.259.694 2.22 Pertanian 124.588.805.163 63.845 528.317.161.489 8. sektor listrik.451 131.07 Hasil hutan lainnya Pertambangan dan 77.620 12.641 37.735.418 6.850.771.534.855 26.49 4.634.942.883.485.58 0.01 1.163.859 7.444.930.512 281.493.567.18 minuman Industri tekstil dan 73.048.507.729.385 2.84 Industri kimia Industri semen dan 6. Ini menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barang-barang yang dihasilkan oleh sektor tersebut masih tergantung pada impor.722 39.287 2.061 4.218 11.408 243.53 1.896.063 396.427 5.86 6.413 0.722 -39.120 3.110 0.125.56 penggalian Industri makanan dan 29.175 100 Total (domestik) Sumber: Tabel I-O Indonesia.809 4.957.478 -2.285.59 dari logam 58.824.622 8.61 Industri percetakan 107.050 4.641 19.018 49. gas dan air 0 0.242.637.75 1.268.617 2.99 6.705 23.53 furniture 5.297 2.864.167.247 0.67 komunikasi Keuangan dan 11.5.916 177.96 2.554.933 1. gas dan air.603.627.900.959 30.22 0.365 5.719.298 4.379 33.00 Listrik.225.865 353.214.880.95 0.51 Jasa-jasa 569.971.881 40.433 5.94 2.698.337 5.665 25.319 24.899 7.27 Industri logam dasar Industri barang jadi 31.757 % 1.016 0.598.053 -21.18 0.96 Industri pulp 13.00 Bangunan 57. Struktur Ekspor dan Impor Indonesia Tahun 2000 Ekspor Sektor Jumlah (Juta Rp) % Impor Jumlah (Juta Rp) 4.821.97 pakaian Industri kayu dan 37.58 0.613 27.094.17 0.540.136.412.943.739.947 43.525.30 Industri kertas Industri barang dari 1.848 287.088 -404.65 9.238.322 32.

55

Jika dilihat dari total selisih antara ekspor dan impor maka perekonomian Indonesia mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 232.900.866 juta. Surplus perdagangan terbesar diberikan oleh sektor pertambangan dan penggalian sebesar Rp 71.489.864 juta, sedangkan industri kertas mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 4.617.531 juta. Angka tersebut menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barang-barang yang dihasilkan oleh sektor industri kertas di Indonesia tidak lagi tergantung pada impor.

5.1.5. Struktur Output Sektoral Output merupakan nilai produksi (barang dan jasa) yang dihasilkan oleh suatu sektor perekonomian. Berdasarkan Tabel Input-Output Indonesia tahun 2000 dapat diketahui besarnya output yang diciptakan oleh masing-masing sektor. Berdasarkan Tabel 5.6 terlihat bahwa output sektoral perekonomian Indonesia sebesar Rp 270.099.837 juta. Sektor yang paling besar menyumbang dalam pembentukan output domestik adalah sektor perdagangan yakni sebesar 14,67 persen dengan nilai output sebesar Rp 396.214.278 juta, kemudian disusul oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai sebesar Rp 329.325.254 juta dalam persentase sebesar 12,19 persen dari total output keseluruhan. Sementara industri kertas sendiri menyumbang sebesar Rp 24.771.622 dalam pembentukan output atau sebesar 0,92 persen dari seluruh total output sektoral perekonomian.

56

Tabel 5.6. Struktur Pembentukan Output Sektoral terhadap Perekonomian Indonesia Tahun 2000
Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Total (domestik) Output Jumlah (Juta) Persentase (%) 260,672,575 9.65 17,340,028 0.64 2,698,944 0.10 196,815,151 7.29 329,325,254 12.19 131,412,099 4.87 57,534,424 2.13 8,739,849 0.32 24,771,622 0.92 8,850,620 0.33 13,627,408 0.50 243,805,705 9.03 23,821,379 0.88 33,729,613 1.25 64,119,165 2.37 139,438,593 5.16 30,637,695 8.43 227,677,063 8.43 396,214,278 14.67 151,272,169 5.60 161,353,916 5.97 177,242,287 6.56 2,701,099,837 100

Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah). 5.2. Analisis Keterkaitan

5.2.1. Keterkaitan Langsung Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Keterkaitan langsung beberapa sektor perekonomian Indonesia dapat dilihat pada Tabel 5.7. Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa sektor perdagangan mempunyai nilai keterkaitan langsung kedepan yang paling besar yaitu sebesar 1,4070. Selanjutnya urutan kedua terbesar ditempati oleh sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai keterkaitan langsung ke depan sebesar 1,3580 kemudian secara berturut-turut diikuti oleh sektor industri kimia dan minyak dan

57

sektor pengangkutan dan komunikasi dengan nilai 0,7964 dan 0,7020 pada posisi ketiga dan keempat. Untuk keterkaitan langsung ke belakang sektor listrik, gas dan air merupakan sektor yang memiliki nilai keterkaitan langsung ke belakang yang paling tinggi dengan nilai 0,3103. hal ini dikarenakan sektor listrik, gas dan air merupakan salah satu sektor yang paling vital dalam kehidupan manusia dan tanpa sektor tersebut sektor yang lain tidak akan dapat berjalan, kemudian urutan kedua dan ketiga di tempati oleh industri makanan dan minuman dan sektor industri kayu dan furniture dengan nilai keterkaitan sebesar 0,3319 dan 0,1790.

Tabel. 5.7. Nilai Keterkaitan Berbagai Sektor Perekonomian di Indonesia
Langsung

Sektor
Depan Belakang

Langsung dan Tidak Langsung Depan Belakang

Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa
Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah).

0,5495 0,2619 0,0236 1,3580 0,3319 0,2764 0,1790 0,1877 0,5997 0.0485 0,0431 0,7964 0,0900 0,3072 0,1737 0,1631 0,3103 0,1919 1,4070 0,7027 0,6438 0,0980

0,2391 0,1794 0,1393 0,1188 0,6039 0,4673 0,5687 0,3957 0,3378 0,5356 0,4078 0,4217 0,4842 0,5635 0,4161 0,3675 0,6530 0,4884 0,3821 0,3945 0,2400 0,3390

1,9552 1,3283 1,0291 3,1272 1,6422 1,3855 1,2191 1,2750 1,6529 1,0734 1,0653 2,1857 1,1150 1,2955 1,2689 1,3310 1,4368 1,3066 3,2051 2,0874 2,1306 1,1575

1,3950 1,2751 1,2287 1,1567 1,9484 1,7956 1,8775 1,6059 1,5409 1,8431 1,6424 1,5577 1,6858 1,7978 1,5005 1,6501 1,8552 1,7539 1,6138 1,6346 1,3643 1,5500

9484.1272. Untuk nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang.2.2051 dan 2.5997 juta rupiah.3378 juta rupiah.8552 dan 1. . Nilai tersebut mengindikasikan bahwa jika terjadi kenaikan permintaan akhir satu juta.8775. maka output industri kertas secara langsung akan meningkat sebesar 0. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sebesar satu juta. Selanjutnya berturut-turut untuk posisi ketiga dan keempat ditempati oleh sektor listik. dalam nilai keterkaitan langsung ke depan menempati urutan keeenam dengan nilai 0.2. gas dan air dan sektor industri barang-barang dari kertas dengan nilai keterkaitan sebesar 1. Sedangkan untuk keterkaitan langsung ke belakang industri kertas memiliki nilai sebesar 0. 5. sektor industri makanan dan minuman memiliki nilai keterkaitan tertinggi diantara sektor-sektor lainnya yaitu sebesar 1. Selanjutnya di posisi kedua dan ketiga ditempati oleh sektor perdagangan dan sektor industri kimia dengan nilai masing-masing sebesar 3.58 Untuk industri kertas.1857. Keterkaitan Langsung Perekonomian Indonesia dan Tidak Langsung Sektor-Sektor Pada Tabel 5.7 dapat dilihat bahwa sektor yang mempunyai nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung kedepan tertinggi adalah sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai sebesar 3. maka sektor industri kertas akan meningkatkan permintaan inputnya secara langsung sebesar 0.5997.3378 yang berada pada posisi ke-17 diantara sektor-sektor yang lain.8431. Urutan kedua tertinggi ditempati oleh sektor industri kayu dan furniture dengan nilai keterkaitan sebesar 1.

59

Berdasarkan hasil analisis (Tabel 5.7), industri kertas memiliki nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung kedepan sebesar 1,6529 yang berada pada peringkat ketujuh diantara sektor-sektor yang berada dalam perekonomian Indonesia. Nilai keterkaitan tersebut mengindikasikan bahwa setiap satu juta output yang dihasilkan industri kertas secara langsung maupun tidak langsung akan dialokasikan kepada sektor-sektor lain dan kepada industri kertas itu sendiri sebesar 1,6529 juta rupiah. Sedangkan untuk keterkaitan langsung dan tidak langsung kebelakang, industri kertas memiliki nilai keterkaitan sebesar 1,5409 yang berada pada peringkat ke-16 diantara sektor-sektor lainnya. Nilai keterkaitan sebesar 1,5409 berarti apabila terjadi peningkatan permintaan akhir sebesar satu juta pada industri kertas maka permintaan input dari sektor-sektor lainnya maupun dari industri kertas itu sendiri secara langsung dan tidak langsung akan menigkat sebesar 1,5409 juta rupiah.

5.2.3. Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Industri kertas merupakan sektor antara yang berada diantara sektor-sektor yang lain, industri ini tidak dapat dipisahkan dari industri atau sektor-sektor hulunya yang menyediakan input bagi keperluan proses produksinya, sebaliknya industri ini juga berfungsi sebagai penghasil output yang digunakan sebagai input bagi industri lainnya (hilir). Sektor-sektor hilir yang terkait dengan industri kertas antara lain industri barang-barang dari kertas, industri percetakan (penerbitan), dan sektor jasa-jasa.

60

Tabel 5.8. Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Sektor
Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah).

Koefisien 0.0005 0.0008 0.0025 0.0000 0.0022 0.0013 0.0004 0.0057 0.0015 0.3183 0.2448 0.0003 0.0047 0.0001 0.0006 0.0010 0.0007 0.0002 0.0020 0.0009 0.0012 0.0128

Peringkat 17 14 6 22 7 10 18 4 9 1 2 19 5 21 16 12 15 20 8 13 11 3

Dari hasil analisis keterkaitan ke depan industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian Indonesia (Tabel 5.8) dapat dilihat bahwa industri barang dari kertas menduduki peringkat pertama dengan nilai sebesar 0,3183. Selanjutnya disusul oleh industri percetakan dengan nilai keterkaitan sebesar 0,2248 pada urutan kedua. Industri barang dari kertas dan industri percetakan menempati peringkat teratas karena kedua industri ini menggunakan bahan baku utama yang dihasilkan dari industri kertas.

61

5.2.4. Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Industri kertas merupakan industri yang terus berkembang pesat di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan konsumsinya yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Perkembangan industri ini juga ditandai dengan peningkatan kapasitas produksi perusahaan-perusahaan industri kertas dalam satu dekade terakhir ini. Salah satu indikator penyebab perkembangan dan pertumbuhan yang cukup tinggi itu adalah kedekatan industri kertas dengan bahan baku industrinya dalam hal kemudahan memperolehnya. Kedekatan inilah yang menandai bahwa keterkaitan ke belakang industri kertas dengan sektor-sektor penyedia inputnya (hulu) cukup besar. Dari hasil analisis keterkaitan ke belakang industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian indonesia (Tabel 5.9) dapat dilihat bahwa industri pulp menduduki peringkat pertama dengan nilai sebesar 0,0944. Industri pulp menduduki peringkat pertama karena pulp merupakan bahan baku utama yang digunakan oleh industri kertas. Selanjutnya disusul oleh sektor pengangkutan dan komunikasi pada urutan kedua. Masuknya sektor pengangkutan dan komunikasi dalam peringkat yang cukup tinggi bila di bandingkan dengan sektor-sektor lain dalam perekonomian dikarenakan pentingnya faktor pengangkutan dan

komunikasi dalam memperlancar rantai distribusi bahan baku dari tempat bahan baku ke perusahaan tempat proses produksi dilaksanakan

2000 (diolah).0015 0. Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.0006 0.0007 0.0031 0.0012 0.0005 0.0045 0.0401 0. Analisis koefisien penyebaran dianggap penting karena menunjukkan koefisien kaitan yang memberikan gambaran tentang pengaruh yang ditimbulkan oleh suatu unit permintaan akhir untuk semua sektor di dalam suatu sisitem perekonomian.0010 0.0023 0. Koefisien 0. Analisis Koefisien Penyebaran dan Kepekaan Penyebaran Untuk mengetahui distribusi manfaat dari pengembangan suatu sektor terhadap perkembangan sektor lainnya baik melalui mekanisme transaksi pasar input dan pasar output dapat dianalisis berdasarkan koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran.0199 0. Sedangkan analisis kepekaan penyebaran berguna untuk .0731 0.0017 0.62 Tabel 5.0037 0.9.0621 0.3.0181 0. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.0050 Peringkat 11 7 17 12 9 20 15 1 14 10 16 4 21 22 13 19 6 18 3 2 5 8 5.0000 0.0944 0.0071 0.0001 0.0004 0.

Berdasarkan nilai indeks koefisien penyebaran yang lebih dari satu. industri kayu dan furniture. listrik. .10 dapat dilihat beberapa sektor yang mempunyai indeks koefisien penyebaran yang tinggi antara lain sektor industri makanan dan minuman. Koefisien Penyebaran Koefisien penyebaran menunjukan efek relatif yang ditimbulkan oleh keterkaitan ke belakang secara langsung dan tidak langsung antara satu sektor dengan semua sektor yang ada.1. Koefisien penyebaran ini diperoleh dari nilai keterkaitan output langsung dan tidak langsung ke belakang yang dikalikan dengan jumlah sektor kemudian dibagi dengan total keterkaitan langsung dan tidak langsung semua sektor. gas dan air.3. Koefisien penyebaran sering disebut sebagai daya penyebaran ke belakang. Pada Tabel 5. industri barang dari kertas juga industri tekstil dan pakaian. Nilai koefisien yang lebih besar dari suatu sektor menunjukkan kemampuan sektor tersebut dalam menarik perkembangan sektor hulunya. hal ini mengindikasikan bahwa sektor-sektor tersebut memiliki kemampuan yang kuat untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya.63 memberikan gambaran tentang pengaruh yang timbul oleh suatu unit permintaan akhir terhadap semua sektor di dalam perekonomian. Dengan kata lain merupakan efek yang ditimbulkan oleh suatu sektor karena adanya peningkatan output suatu sektor yang bersangkutan terhadap output sektor-sektor lainnya yang digunakan sebagai input oleh sektor-sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung. 5.

1199 1.7215 1. Koefisien Penyebaran Industri Kertas Terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik. Perusahaan-perusahaan besar yang memiliki kapasitas produksi yang besar pula ternyata juga memiliki pabrik pulp sebagai sumber bahan bakunya.0244 0.0016 0.0066 1. khususnya yaitu dengan sektor hulu yang paling besar keterkaitannya dengan industri kertas yaitu industri pulp.0514 1.9611.9359 1.9715 1. Hal mengindikasikan bahwa industri kertas mempunyai kemampuan yang kurang kuat dalam menarik perkembangan sektor hulunya. 2000 (diolah).10. Salah satu penyebab terjadi hal tersebut adalah adanya integrasi vertikal dalam industri kertas sendiri. Hal ini mengakibatkan kemampuan industri kertas secara keseluruhan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya .7664 0.0939 1.7953 0.1495 1. Koefisien Penyebaran 0.2152 1.9668 Untuk industri kertas.8509 0.0292 1.8701 0. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.9611 1.64 Tabel 5..0195 0.1710 1.1571 1. sektor ini mempunyai indeks koefisien penyebaran sebesar 0.1213 0.

Namun jika di tinjau dari sisi efisiensi. Pada Tabel 5. Nilai indeks kepekaan penyebaran lebih dari satu mengindikasikan suatu sektor memiliki kemampuan yang kuat untuk mendorong sektor hilirnya.3. sehingga sektor pertambangan dan penggalian mempunyai kemempuan yang kuat dalam mendorong pertumbuhan sektor-sektor hilirnya terutama dalam hal penyedian kebutuhan bahan bakar untuk proses produksi. Kepekaan Penyebaran Kepekaan penyebaran merupakan efek relatif yang disebabkan oleh perubahan output suatu sektor ekonomi yang akan menimbulkan perubahan output sektor ekonomi lainnya yang menggunakan output sektor tersebut sebagai input baik langsung maupun tidak langsung. Barang tambang seperti minyak bumi dengan produk hasil olahannya yaitu bahan bakar minyak (BBM) merupakan pilar utama proses produksi output sektor-sektor industri dalam perekonomian. Kepekaan penyebaran ini sering disebut indeks daya penyebaran ke depan yang diperoleh dari keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan yang dikalikan dengan jumlah sektor kemudian dibagi dengan total keterkaitan langsung dan tidak langsung dari semua sektor.2.11 dapat dilihat bahwa sektor pertambangan dan penggalian memiliki indeks kepekaan penyebaran yang paling tinggi yaitu sebesar 1. .9504.65 terutama pulp menjadi semakin berkurang. menurut Karseno dan Mulyaningsih (2002) integrasi vertikal pada industri kertas justru akan lebih meningkatkan efisiensi produksi perusahaan dalam industri 5. Hal ini di karenakan sektor pertambangan dan penggalian merupakan salah satu sektor yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian.

8080 0.3019 1. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.11. .3288 0.6954 0.0242).7603). Dengan nilai indeks yang lebih besar dari satu.9990 1.0242 0.8285 0.6695 0.6419 1.6644 1.7219 Sedangkan untuk industri kertas. sektor industri ini mempunyai indeks kepekaan penyebaran sebesar 1.9504 1.0309 0.8961 0.7914 0.8302 0.3632 0. Kepekaan Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik. Bila di bandingkan dengan beberapa sektor lainnya yang tergolong sektor manufaktur seperti industri makanan dan minuman (1.8149 1. 2000 (diolah).2195 0.66 Tabel 5. hal ini berarti bahwa industri kertas mempunyai kemampuan yang kuat untuk mendorong perkembangan sektor hilirnya. Kepekaan Penyebaran 1.7952 1. industri tekstil dan pakaian (0. industri kertas lebih unggul dalam kemampuannya dalam menstimulir perkembangan sektor-sektor hilirnya dan termasuk ke dalam delapan besar sektor yang mempunyai indeks kepekaan penyebaran kuat dalam perekonomian.8641 0. dan industri kayu dan furniture (0.7603 0.8641).309.

Pendekatan elastisitas input-output dibagi kedalam tiga kategori yaitu elastisitas output. elastisitas output tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1. Elastisitas Output Elastisitas Output adalah perubahan persentase dalam total output suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. Hal ini bermakna bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan total output sektor industri makanan dan minuman sebesar 1. Pendekatan ini mempermudah policy makers untuk berkonsentrasi tidak hanya pada nilai-nilai keterkaitan dan multiplier tertinggi tetapi juga pada share suatu sektor ekonomi. 5.4. pendapatan dan tenaga kerja. Urutan kedua ditempati oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai elastisitas output sebesar 1.2610 persen. Nilai elastisitas output yang tinggi dari .4.1253. Pada perekonomian Indonesia.2610 (Tabel 5. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan output sektor perdagangan sebesar 1.67 Semuanya itu menandakan bahwa sektor industri kertas layak untuk terus dikembangkan dan mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Menurut Mattas dan Shresta (1991) dalam Imansyah (2000) pendekatan ini lebih baik daripada analisis keterkaitan dan analisis multiplier karena memperhitungkan share suatu sektor dalam output.1253 persen.1. 5.12). Elastisitas Input-Output Elastisitas input-output menyediakan pandangan baru untuk penentuan sektor prioritas.

68 kedua sektor tersebut mencerminkan bahwa outputnya mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya atau lebih sensitif terhadap perubahan yang terjadi pada sektor lainnya dalam hal permintaan akhir.1650 persen.0759. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan pendapatan sektor perdagangan sebesar 1.0023. Untuk industri kertas. industri kertas dapat disebut cukup responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain.0759 persen. Urutan kedua ditempati oleh sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai elastisitas pendapatan sebesar 1.0023 persen.2.4. yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan total output industri kertas sebesar 1. 5. Elastisitas Pendapatan Elastisitas pendapatan adalah perubahan persentase dalam pendapatan suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya.1650. Dengan nilai elastisitas output yang lebih besar dari satu. Pada tabel 5. Hal ini berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan total output sektor industri pertambangan dan penggalian sebesar 1. Nilai elastisitas output yang tinggi bila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya dalam perekonomian pada sektor perdagangan dan sektor pertambangan dan penggalian . sektor ini memiliki elastisitas output sebesar 1.12 dapat dilihat bahwa elastisitas pendapatan tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1.

yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan pendapatan dalam industri kertas sebesar 0.7027 ( 6 ) 0.5022 persen.2778 (13) 0.1790 (16) 0.0441 ( 2 ) 0. Tabel 5.0900 (20) 0.0955 (18) Hasil hutan lainnya 0.8697 ( 8 ) Industri kertas 1.5179 (12) Sumber: Tabel I-O Indonesia.5241 (11) Industri kayu dan furniture 0.3072 (11) 0. 2000 (diolah). sektor ini memiliki elastisitas pendapatan sebesar 0. Dengan nilai elastisitas pendapatan yang kurang dari satu.0548 (19) Listrik.2764 (13) 0.0274 ( 4 ) Keuangan dan persewaan 0.0485 (21) 0.3319 (10) 0.6438 ( 7 ) 0.4050 (13) Pertambangan dan penggalian 1. Keterangan: ( ) merupakan peringkat Tenaga Kerja 0.1919 (15) 1.1737 (17) 0. gas dan air 0.0247 (22) 0.8877 ( 4 ) 0.0759 ( 2 ) 1.1253 ( 2 ) Industri tekstil dan pakaian 0.5495 ( 9 ) 0.2240 (14) 0.2610 ( 1 ) Pengangkutan dan komunikasi 1.6093 ( 8 ) 0.0443 (21) 0.6903 ( 4 ) 0.2772 (12) 1.1008 ( 3 ) Industri makanan dan minuman 1.9020 ( 7 ) Bangunan 0.69 menunjukkan bahwa pendapatan pada kedua sektor tersebut mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya.5022.3921 (15) Kayu 0.6005 ( 6 ) 0.6449 ( 5 ) 0. Sementara pada industri kertas.1253 (17) Perdagangan 1.1659 (18) 0.0047 (21) Industri barang jadi dari logam 0.5022 ( 7 ) 0.0768 ( 1 ) 0.4772 ( 8 ) 1.7964 ( 5 ) 0.2619 (14) 0.6084 (10) Industri kimia 0.1631 (18) 0.3284 ( 9 ) 0.0431 (22) 0.0980 (19) .12.1650 ( 1 ) 0.2133 (15) Output Pertanian 0.1877 (16) 0.2591 (16) Industri pulp 0.3127 (10) 0.0040 (22) Jasa-jasa 0. industri kertas dapat disebut kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain.3072 (12) 0.1790 (17) 0.0023 ( 5 ) Industri barang dari kertas 0. Elastisitas Input-Output Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 Sektor Elastisitas Pendapatan 0.7100 ( 9 ) Industri percetakan 0.0901 (20) 0.3103 (11) 0.0139 (20) Industri lainnya 0.4048 (14) Industri logam dasar 0.0009 ( 3 ) 0.9779 ( 3 ) 1.0994 (19) 0.9831 ( 6 ) Industri semen dan barang non logam 0.

6093 persen. Elastisitas Tenaga Kerja Elastisitas tenaga kerja adalah perubahan persentase tenaga kerja suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. Peringkat kedua ditempati oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai elastisitas tenaga kerja sebesar 1.70 5. yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan total output industri kertas sebesar 0.4. tenaga kerja industri kertas dapat disebut kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain. . sektor ini memiliki elastisitas tenaga kerja sebesar 0.0441 persen. Pada industri kertas. Dengan nilai elastisitas yang kurang dari satu. Namun demikian nilai elastisitas tenaga kerjanya masih bernilai positif. Diantara sektor lainnya dalam perekonomian elastisitas tenaga kerja tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1.3. Nilai elastisitas tenaga kerja yang tinggi dari kedua sektor tersebut mengindikasikan bahwa jumlah tenaga kerjanya mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya atau lebih sensitif terhadap perubahan yang terjadi pada sektor lainnya dalam hal permintaan akhir. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan tenaga kerja sektor perdagangan sebesar 1. Nilai ini bermakna bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan tenaga kerja sektor industri makanan dan minuman sebesar 1.0768 persen.12).0768 (Tabel 5.6093.0441. hal ini terjadi dikarenakan industri kertas selain merupakan industri padat modal juga merupakan industri yang cukup banyak menyerap tenaga kerja.

(6) industri kertas.71 5. Dari hasil analisis sektor kunci perekonomian Indonesia tahun 2000 berdasarkan ranking elastisitas (Tabel 5. hal ini menunjukkan bahwa industri ini. Industri kertas termasuk dalam sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam). yaitu: (1) perdagangan. (7) pertanian. (5) industri pulp. dan tenaga kerjanya untuk lebih berperan . sektor yang menjadi kunci dalam perekonomian ditentukan berdasarkan ranking atau peringkat dari keseluruhan sektor dalam perekonomian baik dilihat dari elastisitas output. merupakan sektor unggulan dalam meningkatkan output. Pada penentuan sektor kunci berdasarkan elastisitas input-output.13). dampak penyebaran atau elastisitas input-output. sepuluh peringkat tertinggi dari hasil perankingan tersebut merupakan sektor-sektor kunci dalam perekonomian. (9) listrik. Sektor-Sektor Kunci dalam Perekonomian Indonesia Penentuan suatu sektor menjadi sektor kunci dalam perekonomian Indonesia dapat didasarkan pada kategori-kategori analisis input-output seperti analisis keterkaitan. pendapatan. (8) industri kimia. gas dan air. Hal ini berarti kesepuluh sektor tersebut menjadi prioritas pemerintah untuk dikembangkan karena setiap sektor tersebut secara simultan mempunyai respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor-sektor lainnya. dapat diketahui sepuluh sektor kunci perekonomian. bersama dengan sembilan sektor kunci lainnya.5. dan (10) hasil hutan lainnya. (2) industri makanan dan minuman. sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan. pendapatan maupun tenaga kerjanya (ranking elastisitas). (4) pengangkutan dan komunikasi. (3) pertambangan dan penggalian.

5 5 6 20 22 8.13.5 15 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel Input-Output Indonesia.5 14 20 20 16 8. Tabel 5.5 10 3 2 12.72 dalam perekonomian Indonesia dan pemerintah sebagai policy makers harus lebih biak lagi dalam menjalankan fungsinya berkaitan dengan penetapan kebijakan terhadap industri ini karena perannya dalam meningkatkan perekonomian tersebut.5 11 1 4 17. Sektor Kunci Perekonomian menurut Ranking Elastisitas InputOutput Indonesia Tahun 2000 Elastisitas Input-Output (peringkat) Tenaga Output Pendapatan Kerja 15 5 9 18 9 14 13 12 10 3 2 11 16 8 5 9 10 6 14 21 20 19 7 17 1 4 22 12 2 3 17 16 6 7 21 22 20 11 18 14 10 13 8 1 4 19 15 3 2 13 16 4 8 21 22 5 20 12 17 18 11 15 1 6 7 19 Total Peringkat 29 41 35 8 7 41 48 18 20 51 54 31 45 51 51 47 31 40 3 14 48 46 Ranking Elastisitas 7 12. 2000 (diolah) .5 17.

Implikasi Kebijakan Dari hasil penelitian ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai implikasi kebijakan. hal ini berarti bahwa distribusi pendapatan antara pemilik modal (perusahaan) dan pekerja tidak merata atau terjadi ketimpangan yang besar yang dapat disebabkan oleh adanya eksploitasi tenaga kerja oleh pemilik modal terhadap tenaga kerja dengan share yang lebih besar terhadap perusahaan (pemilik modal).6. Untuk mengurangi kesenjangan pendapatan ini diperlukan campur tangan pemerintah yang lebih adil sebagai regulator ketenagakerjaan baik melalui penetapan kebijakan yang berfokus pada kesejahteraan tenaga kerja maupun sebagai mediator antara perusahaan dan tenaga kerjanya dalam penenganan berbagai masalah ketenagakerjaan terutama dalam persoalan upah. Hal ini menandakan bahwa dalam industri kertas sangat potensial untuk dibentuk dan dikembangkannya klaster industri kertas. kondisi ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam Peraturan . antara lain yaitu: 1. Berdasarkan hasil analisis rasio upah dan gaji dengan surplus usaha pada struktur nilai tambah bruto dapat diketahui bahwa sektor industri kertas mempunyai nilai surplus usaha lebih besar dibandingkan upah dan gaji. berdasarkan analisis keterkaitan industri kertas tahun 2000 terhadap berbagai sektor perekonomian (keterkaitan per sektor) dapat diketahui bahwa industri kertas memiliki nilai keterkaitan yang tinggi baik ke depan maupun ke belakang terhadap sektor hulu dan hilirnya dan juga dengan sektor pendukungnya. 2.73 5. Pada sub-bab sebelummya.

tetapi juga mengingat dalam setiap sektor terdapat juga pelaku ekonomi yang tergolong Industri Kecil dan Menengah (IKM). 2005). menawarkan jasa dan produk-produk untuk mendukung klaster industrinya.7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. .74 Presiden No. Oleh karena itu IKM memerankan peranan secara integral dan konstruktif dalam suatu klaster industri. maka klaster tersebut akan menarik IKM untuk memenuhi Permintaan barang dan jasa. Pada saat yang sama jaringan yang terpadu dari IKM terkait akan terus berkembang. Namun demikian dapat dinilai adanya keterlambatan pemerintah karena baru tahun 2005 mengeluarkan kebijakan pengembangan klaster industri tersebut. padahal dari tahun 2000 berdasarkan penelitian ini pentingnya kebijakan klaster sudah dapat diidentifikasi. Dengan adanya klaster ini maka bukan saja dapat saling menumbuh kembangkan industri terkait dan industri pendukung dalam klaster tersebut. sementara klaster industri memberikan kesempatan pada IKM untuk membuat keterkaitan pasokan antara perusahaan besar dan menengah (Deprin. Dalam peraturan tersebut dijabarkan mengenai rencana pemerintah untuk membangun daya saing industri manufaktur nasional lima tahun kedepan dengan fokus pengembangan industri melalui penguatan dan penumbuhan klaster-klaster industri inti yang termasuk industri kertas didalamnya.

2.385 juta dan mengimpor sebesar Rp 8.970.125.2448) sementara pada keterkaitan ke belakangnya. Pada struktur ekspor dan impor.622 juta.771.775 juta dan permintaan akhir sebesar Rp 13.0731) yang merupakan salah satu sektor pendukung industri kertas. industri ini berkontribusi sebesar Rp 24. industri kertas memiliki keterkaitan yang paling tinggi terhadap industri pulp (0.847 juta. .895. Industri kertas memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor hulu dan hilirnya (keterkaitan industri kertas terhadap sektor-sektor perekonomian). kemudian kontribusinya dalam struktur nilai tambah bruto adalah sebesar Rp 7. Pada struktur permintaaan. KESIMPULAN DAN SARAN 5. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis peranan industri kertas terhadap perekonomian Indonesia.VI.800.507. industri kertas melakukan ekspor sebesar Rp 13.3183) dan pada peringkat kedua yaitu terhadap industri percetakan (0.454 jiwa. 1. Pada keterkaitan ke depan industri kertas mempunyai keterkaitan yang paling tinggi terhadap sektor industri barang dari kertas (0.0944) yang merupakan sektor penghasil bahan baku industri kertas dan pada sektor pengangkutan dan komunikasi (0. industri kertas berkontribusi terhadap permintaan antara sebesar Rp 10. industri ini mampu meyerap tenaga kerja sebesar 118.854 juta dan jika dilihat dari struktur output sektoral. maka kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut.327 juta dan jika dilihat dari struktur ketenagakerjaan.1.

Hal ini mengindikasikan bahwa sektor industri ini memiliki respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal peningkatan output. industri ini merupakan sektor industri yang memiliki kemampuan yang kuat dalam mendorong pertumbuhan sektor hilirnya seperti industri barang dari kertas dan industri percetakan karena memiliki indeks kepekaan lebih dari satu (1.9611).0309). Salah satu penyebab lemahnya industri ini dalam menarik pertumbuhan sektor hulunya adalah adanya integrasi vertikal yang dilakukan oleh perusahaan-perusahan besar dalam industri ini dengan sektor penghasil bahan bakunya. Bersama dengan sektor kunci lainnya. terutama pulp. industri kertas merupakan sektor prioritas yang harus dikembangkan oleh pemerintah sebagai policy makers karena kontribusinya terhadap perekonomian tersebut. Industri kertas kurang memiliki kemampuan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya karena jika dilihat dari hasil analisis koefisien penyebaran. sektor industri ini memiliki indeks koefisien penyebaran yang kurang dari satu (0. 4. pendapatan. Namun di sisi lain. . maupun tenaga kerjanya. Industri kertas termasuk dalam salah satu dari sepuluh sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam) berdasarkan ranking elastisitas. sehingga sektor ini mempunyai kemampuan yang cukup besar dalam berkontribusi untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan.76 3.

pemberian fasilitas karyawan yang lebih baik serta jaminan sosial untuk mengatasi kesenjangan pendapatan antara perusahaan dan tenaga kerjanya pada industri kertas. industri barang dari kertas dan industri percetakan juga dapat saling menunjang untuk meningkatkan perkembangannya dan peranannya terhadap perekonomian Indonesia.2. Saran Berdasarkan hasil analisis. dapat disampaikan saran berikut ini. Pada industri kertas harus dibangun klaster industri yang kuat secara berkelanjutan sehingga industri kertas dan sektor yang terkait di dalam klaster tersebut seperti industri pulp. 2. Untuk meningkatkan efisiensi industri kertas tanpa mengurangi kemampuan industri tersebut menarik pertumbuhan sektor hulunya antara lain adalah dengan mempercepat transformasi pembangunan industri kertas menuju fase innovation driven melalui peningkatan teknologi produksi dan pelatihan tenaga kerja terampil yang intensif sehingga dapat meningkatkan outputnya dan disisi lain sektor hulu tetap dapat memasok input bagi industri kertas tersebut.77 6. 1. . 3. Pemerintah harus campur tangan yang lebih intensif melalui penetapan Upah Minimum Regional (UMR) yang benar-benar sesuai dengan standar kehidupan di Indonesia.

Imansyah.com/content/content. Puspitawati. 2000. M. ”Profil Perusahaan” [Bank Niaga Online]. Tabel Input-Output Indonesia 2000. M. New Jersey.com [18 Februari 2005]. Mansur. A. 136-149. P. 17.D. Input-Output Analysis: Foundation And Extensions. R. bankniaga. 2000. BPS. dan Mulyaningsih. http://www. 1993. Jhingan. BPS. Direktori Industri Pulp dan Kertas Indonesia 2003. APKI. Monopoli dan Regulasi.deprin.L. Prentice Hall. 2005. [30 September 2005] Hasibuan. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan.asp?id=NNA [30 September 2005]. “Industri Kertas Butuh Investasi Baru” [Harian Terbit Online]. E. Jakarta. http://www. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Analisis Peranan Sektor Pertanian dan Industri Pengolahan Terhadap Perekonomian Propinsi Kalimantan Timur (Berdasarkan Analisis Input-Output) [Skripsi]. Jakarta. 1985. Muchtar. 1997. USA. 2. Bogor. Macerata. 2002. N. Raja Grafindo Persada. 2005.go. “An Application of the FES Approach to A Small Region in Indonesia: Banjarmasin Input-Output Model 1”. ”Kebijakan Pembangunan Industri Nasional” [Deprin Online]. Institut Pertanian Bogor. dan Blair. Dampak Keterkaitan Sektor Industri Terhadap Perekonomian Wilayah Kabupaten Sidoarjo [Tesis].id/ publikasi. 2003. 2002. H. Bogor. No. Paper for 13th International Conference on Input-Output Techniques. Jakarta. Vol. B. Fakultas Pertanian. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Italy. Karseno. T.DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia. “Integrasi Vertikal dan Efisiensi Industri: Industri Kertas Tahun 1979-1997 Dengan Pendekatan Error Correction Model”. M. Deprin. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. 2005. R. E. . Hal. Jakarta. LP3ES. http://www.harianterbit. Ekonomi Industri : Persaingan. 2000. Miller. Niaga.

D. Bogor. Institut Pertanian Bogor. 1995. R. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Wikipedia. dan Vidyatmoko. Y.org /wiki/ Kertas [17 September 2005]. Analisis peranan Sektor Industri Pengolahan Dan Pengaruhnya Terhadap Perekonomian Jepara [Skripsi]. Fakultas Ekonomi Dan Manajemen. Dampak Investasi Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Nasional [Skripsi]. H. 2002. 1998. No.wikipedia. 2000. Analisis Peranan Sektor Industri Pengolahan terhadap Perekonomian Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta [Skripsi]. 4. Institut Pertanian Bogor. Hal. Tjandrawan. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.79 Rosadi. Fakultas Pertanian. Departemen Ilmu Ekonomi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Analisis Peranan dan Keterkaitan Sektor Pertanian dan Industri di Jawa Barat [Skripsi]. Fakultas Pertanian. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor. Sahara. Prosiding Seminar. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia. 2004. 2005. Sipayung. A. Departemen Ilmu Ekonomi. T. 194203. Analisis Peran Sektor Industri Pengolahan dan Dampaknya terhadap Pembangunan Ekonomi Di Kota Cilegon [Skripsi]. A. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Vol. S. Bogor. . Bogor. 1994. “Analisis Pasar Pulp dan Kertas Indonesia”. Fakultas Ekonomi Manajemen. Ruhmaniyati. ”Kertas” [Wikipedia Online]. dan Pambudy. “Prospek dan Tantangan Pengembangan Agribisnis Pulp dan Kertas dalam Era Ekolabeling dan Otonomi Daerah”. Institut Pertanian Bogor. I. http:// www. 2005. 5. Setyawan. Setiyaji.

LAMPIRAN .

031-034 029 030 035-048 049-073 074-083 084-089 090 091 092 093 094-109 110-114 115-118 119-122 123-141 142-143 144-148 149-152 153-159 160-164 165-175 180 190 200 201 202 203 204 205 209 210 301 302 303 304 305 306 309 310 401 402 403 404 409 501 502 503 509 600 700 - .81 Lampiran 1. Klasifikasi Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 Kode I-O 22 Sektor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 180 190 200 201 202 203 204 205 209 210 301 302 303 304 305 306 309 310 401 402 403 404 409 501 502 503 509 600 700 1000 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Jumlah permintaan antara Jumlah input antara Impor Upah dan gaji Surplus usaha Penyusutan Pajak tak langsung Subsidi Nilai tambah bruto Jumlah input Pengeluaran konsumsi rumah tangga Pengeluaran konsumsi pemerintah Pembentukan modal tetap bruto Perubahan stok Ekspor barang dagangan Ekspor jasa Jumlah permintaan akhir Jumlah permintaan Impor barang dagangan Pajak penjualan Bea masuk Impor jasa Jumlah impor Margin perdagangan besar Margin perdagangan eceran Biaya pengangkutan Jumlah margin perdagangan dan biaya pengangkutan Jumlah output Jumlah penyediaan Jumlah Tenaga Kerja Kode I-O 175 Sektor 001-028.

82 .

679.700. Tabel Input-Output Indonesia 2000 Klasifikasi 22 Sektor (dalam Juta Rupiah) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 1 16.989 146.460 175.991.585.620 73.930 129.327 24.037.004.949 332.777.725 1.799 5.359.297 479.346 38.692.371 1.134 8 203.543 5.867 6.059 106.947 11.919 4.588 6.973 369.012.550 754.792 116.851 37.946 64.155 7.824 90.826 927 3.183 19.097 590.094.693 181 11.750 0 13.613 111.343 332.606.256.338 627.003 363.898 115.459 131.626 3.206 15.660.739.570 3.663.296.290.567 19.957 7.913 151.590 44.417 121.509.656 2.558.306.427 3.387.069 6.886 2.Lampiran 2.627.093.652 2.664.190 18.143.867 3.618 174.343.258 4.368.777 7.203 19.958 683.036 8.424 2.493.938 6.895.426 102.213 64.240 13.293 2.491 11.412.643 8.975 83.099 1.644 45.408 100.718 3.492 528.145.694 21.414.749 24.034 1.701 301.443 429.040 1.371 22.539 77 186.667 3.069 338.568 1.553 108 5.860.049 112.237 4.590 5.617 382.755 162.592 6 2.577 159.442 3.600 181.052 131.770 35.735.839 4.702 (250.349 206.796 55.905 57.130 77.567.576.370 110 84 1.838 1.524 2.821.881 2.931 59.902 2.513 798 315.780 41.958 487.817 378 627.774 147.394 141.607 8.507.536.441 8.228) 97.028 555.452 5.056 33 4.943 5 101.430 55.433 565.098 7.877 3.561 1.508.575.103.164 224.504 1.195 196.235.292.895.225 7 45.551 11 0 271 122 11.534.590.212 3.043 1.229 1.063 1.979 5.437.442 120.429 0 64.484.170 904 57.354 5.182.001 2.648.458.453 11.639 865.755 17.160 823.043 4.577.282.514 33.798 105.858 26.171 1.051 9 77.506 493.119.858 40.849 23.403 32.063 4.479 83.040 29.534.486 5.441 370.525.550.596 643.080 264.845 40.362 161.942 12 8.187 416.857 1.515 25.539 4.739.352 975.218 1.440.772.824 40.634 1.703 4.834 1.811.322 2.764 20.574 1.917 375.705 8.918.908 14.785.355 8.418 59.569 34 8.308 853.325 3.800 17.241 75.732 1.714.912 23.190 41.894 6.245 1.443 4.083 224.330 296.227 72.664.854 1.192 10.320 1.911 Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).418 1.129 2.427.670 6.399 1.560 28.817.711.177 21.441 967 8.379 648.991.973 1.628 22 85.813.554.311 2.809 1.411.718.811.542 1.655 17.560 21.591 10.441 610.824 3 2.024 5.365.064 55.250 478.553 13.453.073 8.762 4.905 2.890 1.597 18.244 1.014.864.758.026 84.541 16.602 25.849 57.072 325.228 69.646.666 65.867 4.781 6.512 1.277 246.895 2.479.554.385 20.298 16.628 123. .183 17.099 2.731.333 4.720 2.759 243.623.467 1.985 9.824.404 151.040 2.396 166.579 55.853 110.815.046 926.968 7.333 29.010 7.772.952.708 127.062.217.292 5.903 7.996.530.319 30.588.323 82.638.605.478 63.871 2.566.340.486 100.454 10 0 3.955 23.451 3.238.698.176 167.688.091 20.241 1.939 5.473 2.875 45.114 8.229.901.622 118.778.805.828 61.557.030 13 20.305.926 10.480.405.302 43.890 49.850 337.513 4 19.936 36.405 6.333 287.908 141.110.135 200.592 916.335.982.899 1.073.963.450.725 138.530 8.116 490.262 40.526 0 737.327.462 55.489 940.990 8.212.169.944 86.281.615 23.089 47.114 5.914 121.569 11.540.771.252 43.459 553.427 2.625.208.809 448.946.391 448.494 1.933 112.232 13.855 76.319 504 17.537.850.876 348 994.738 25.797.870 210.210 51.306 815.775 19.151 825.560 5.426 874 728.941 1.048 32.167.083 7.782.395.519 2 628.407.010.086 5.563 6.606 1.670 7.785.393 13.364 2.321 5.947 1.800 53.117 594.884 378.489 59.328.459 53.017.705 705.484.358 933.524 1.337.839 1.837 15.

825 1.798 5.197 4.875 1. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 14 9.076.565.327 19.138.928 69.727 9.180 14.775.368.196 11.074 19.398 13.864.877.383.372.649 157.705 859.746 32.237 2.463.393.189 19.305 20.980 42.038 13.016.250) 8.973 6.382 4.158 5.019 14.107.767.385 6.525 11.278.445 412.803 4.821 27.Lampiran 2.757 225.127 19.576 834.812 173.948 .455.084.228.793.966 18.912 21 34.529.577 8.598.649 36.177 2.399 3.134 11.349 8.630 1.412.959 1.842 123.142 10.661 524.081 564.775 5.861 35.218 17 4 14.609 151.760 1.070 6.570.511 29.664 156.176 197.578) 1.642 36.429 11.155 1.741.331 1.164.800.460.125.186.063 111.876.584 3.107 3.278 17.142.597 5.167.073.748.915 13.117.011.448.002.573.350 130.945 37.161 16 620.034.261 6.020 7.246 2.723 41.036.544 967.930.352.757 400.860.891 123.015.761 137 85 121.332 3.870.105 476.420.672 6.574 1.093.132.664 18 4.005.739.226.292 3.559 322.045.297 19.843 149.028.948 (3.858 495.562 180 144.542 4.182 30.260.332 3.361 758.310.515 20 299.502 4.255 19 10.732 (3.338 4.569.206 438.977.353.892 1.616 5.147.244.562.641 37.413 259.923 16.079.859 16.320.652 411.183.741 10.084 15.028.127.126 93.715 373.139 2.708 59.844 882.802 134.228.015 1.113 3.726.948.742.963 176.595 1.383.372 88.810 2.131 151.950 527.048.713.063 4.952 5.223 22.870 126.110.823.153.498 110.744.084 3.921.678 19.382 1.088 161.802.192.071.392 227.401 110.175.076.575.253.202 4.713 2.567 26.588.444.511 9.085 15.411.966.073 (30.480.310 6.063 8.713 197.000 213.579 4.229.161.663 1.564.472 105.331.916.887 124.723.441.915 1.997 34.360 3.729.281 60.638 33.393.963 62.770 755.238.111 382 16 1.089.340 6.860 2.756.778 1.179 17.848 85.203.032 448.287 11.390.944 3.106.034 22 2.019 287.780 1.388 38.418 14.385 1.463.041.700.489.767.626 70.926 117.169.437 791.671.106 4.667.200.700 3.990 18.242.529.243 177.756 12.781 337.564.805 2.875 3.213 16.610 7.272.354 19.465 5.568 21.006.264.580.503 7.594 50.961 1.266.525 1.194.451.668 341.065 15.458.563 510.332 12.287.791 866.902.044.817 215.226.499 1.139 10.221.169 4.670 19.600 441.292 6.749 609.434 76.179 26.652.326 9.604.722 2.279.876.729.730 90.731.981 156.727 100.567 26.014.643 1.685.030 39.377.727 30.786 3.012.247.218 21.350 2.242.657 12.128 23.354 37.278.855 61.703.136.896.666 2.931.344.677.525 1.100) 65.333.738 824.852 121.117 1.442.547.553 13.938 15 7 6.430 1.713.097 1.498 19.623 84.870.215 35.108 19.113 94.360.172 0 141.900.397 114.995 65.206.983 3.407.678 7.649.704 3.916 1.649.705.383 143.214.946 777.035 16.405 6.613 357.593 2.844.257 15.698 49.056 3.995.817.830.999 6.271.559 27.428 117.476.724.973.233 396.378 61.248 966.451 7.344 3.808 158.048.670.951 232.415 15.866 1.078 1.116 770.676 1.475.505 723.275.509 2.690 115.100.919 398.979 350.477.060.797 15.601 21.697 6.156 105.695 225.637.727 27.635 64.079.130 9.872 278.843.228 1.

269 4.559 199.282 301 14.620 13.777.949.239 8.814 6.656.851.241.790.808.733 15.045 25.705 23.935 88.916 177.614 794.161.831.849 80.099.552 309 115.034 238.627.514 305 6.933 748.379 33.167.539.724 5.901.600 272.970.028.305 5.944 196.042 41.268.099 57.326 12.044 8.689.136 48.433 37.643 115.842 31.016 394.151 329.028 2.158 1.340.008.933 124.623 48.677.887 9.658.713 1.119.254 131.658.818 108.165 139.673 (68.063 396.325.747 942.637.581 64.707.783 520.483.534.480 6.200 520.454 .488.169 161.831.525.513 2.503.276.988.374 51.775.885.067 1.935 1.695.883.088.143.389.412.480 15.622 8.114 310 260.426.076 2.108 13.479.553.837 441.571 11.385 1.202.416 2.634.695 227.491 474.629 152.637.857.575 17.413 3.209 234.125.617 8.813.227.957.211.210 29.881 13.111.188 2.965.550 13.400.480 402 15.942.447 401 314.497 302 88.837 32.162.698.160 1.871 18.729.001.774.257.642 67.739.485.278 151.96 42.393 208.743 3.573 20.552 1.760.408 243.485 39.272.592 110.389.387.416.337 73.782.214.965.018 79.294 8.033) 5.373 55.225.605 94.114.943.068.247 77.847 3.321 835.013.471 38.086 112.454 856. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 301 107.620 8.287 2.887 201.071 1.785 158.238 77.420.865.568 646.473.315 90.927.805.187.582 2.353.766 15.241.398 613.670 7.595.438 304 1.028.162.849 24.036.365 57.821.897.294.613 64.034 41.466 29.743.048.284 314.561.036 155.623 306 1.621 133.267.424 8.193.327 1.243.621 208.437 68.672.356 105.316.620 37.466.701.696 668.438.242.435 4.771.457.586.125.534.413 14.599 5.495 11.848.779.665 303 189.329.281 292.850.Lampiran 2.865.786.697 937.044 403 8.110 107.593 30.259 165.056 67.798.815.496.730 209.689.

169 161.254 131.099.622 8.637.805.028 2.613 64.325.850.705 23.325.593 30.272.287 2.165 139.287 2.340.729.214.705 23.620 13.412.151 329.593 30.627.151 329.088.698. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 404 103.701.099.272.438.424 8.353.353.944 196.805.278 151.695 227.849 24.379 33.850.099.698.408 243.815.729.165 139.944 196.119.284 - .771.988.119.622 8.849 24.447 103.916 177.672.821.815.242.099 57.278 151.099 57.063 396.672.424 8.534.821.695 227.739.Lampiran 2.169 161.438.143.214.701.677.469 501 502 503 509 600 260.242.853.771.575 17.534.620 13.916 177.408 243.853.837 700 260.379 33.613 64.739.627.254 131.028 2.837 441.340.837 3.063 396.677.637.469 - - - - 2.575 17.701.412.

0053 0.0015 0.0002 0.0000 0.0009 0.0003 0.0000 0.0008 0.0000 0.0000 0.0000 0.0002 0.0003 0.0022 0.0010 0.0003 0.0073 0.0000 0.0013 0.0096 0.0233 0.0352 0.0000 0.0000 0.0424 0.Lampiran 3.0000 0.0000 0.0005 0.0155 0.0000 0.0002 0.0289 0.0000 0.0142 0.0000 0.0310 0.0001 0.0017 0.0003 0.0944 0.0078 0.0000 0.5356 11 0.0000 0.2130 0.0000 0.0009 0.0116 0.0001 0.0066 0.0002 0.0001 0.1794 3 0.0836 0.0000 0.0022 0.0000 0.0090 0.0464 0.0021 0.0047 0.0734 0.2497 0.0000 0.0000 0.0428 0.0201 0.0000 0.0001 0.0000 0.0000 0.0000 0.0934 0.0037 0.0238 0.0001 0.1393 4 0.0000 0.0008 0.0599 0.0000 0.0000 0.0022 0.0002 0.0008 0.0000 0.0016 0.0718 0.0001 0.0005 0.0000 0.0027 0.0555 0.0001 0.0004 0.0782 0.0025 0. Matriks Koefisien Teknis Klasifikasi 22 Sektor SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 1 0.0002 0.0003 0.0220 0.0005 0.0000 0.3183 0.0000 0.0042 0.0506 0.0433 0.0000 0.0000 0.0119 0.0002 0.0057 0.0731 0.0006 0.0005 0.0035 0.0000 0.4078 12 0.0001 0.0013 0.0107 0.0355 0.0006 0.0002 0.0007 0.0014 0.0000 0.0000 0.0001 0.0153 0.0224 0.0006 0.0002 0.0050 0.0031 0.0000 0.0000 0.0477 0.0002 0.0239 0.0000 0.0002 0.0003 0.0002 0.0000 0.0086 0.0000 0.0213 0.0013 0.0001 0.0000 0.0045 0.0020 0.4673 7 0.0350 0.0000 0.0181 0.0000 0.0010 0.0001 0.0009 0.0168 0.0002 0.0002 0.5687 8 0.0001 0.0000 0.0094 0.1780 0.6039 6 0.0004 0.0802 0.3052 0.0800 0.0000 0.0073 0.0011 0.0001 0.0026 0.0004 0.0000 0.0005 0.2448 0.0000 0.0000 0.0028 0.0171 0.0025 0.0000 0.2391 2 0.0021 0.0000 0.0001 0.3957 9 0.0083 0.0002 0.0000 0.0001 0.0519 0.0047 0.0001 0.0171 0.0026 0.0015 0.0319 0.0401 0.0730 0.0023 0.0446 0.0056 0.0007 0.0000 0.0010 0.0119 0.0000 0.0059 0.0362 0.0621 0.0008 0.0280 0.0535 0.0000 0.0073 0.0243 0.3378 10 0.0040 0.0646 0.0009 0.0199 0.0044 0.0071 0.0317 0.0000 0.1188 5 0.0000 0.0059 0.2445 0.0000 0.0022 0.0001 0.0023 0.0000 0.0004 0.0087 0.1354 0.0025 0.0000 0.0016 0.0083 0.0001 0. .0003 0.0061 0.0050 0.0007 0.0011 0.1094 0.0182 0.0001 0.0000 0.0000 0.0000 0.4217 13 0.0005 0.0000 0.0436 0.0073 0.0000 0.0012 0.0007 0.0000 0.0000 0.0016 0.0023 0.1247 0.0385 0.1335 0.0097 0.0000 0.0008 0.0006 0.0211 0.0105 0.0041 0.0011 0.0036 0.0250 0.0000 0.0008 0.0003 0.0003 0.0001 0.0002 0.4842 Total Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).0001 0.0217 0.0003 0.0000 0.0010 0.0015 0.

7027 0.0044 0.0000 0.0626 0.0000 0.0620 0.0221 0.0261 0.0485 0.0001 0.0053 0.0010 0.0010 0.7433 .0236 1.0001 0.0020 0.0024 0.0000 0.0008 0.0023 0.0055 0.0465 0.0002 0.0003 0.0003 0.0035 0.0009 0.0589 0.6530 18 0.0147 0.0364 0.0001 0.1097 0.0013 0.0011 0.0495 0.0010 0.0003 0.0295 0.3390 Total 0.1020 0.4633 0.0025 0.1877 0.0020 0.0008 0.0371 0.0033 0.0319 0.3319 0.0000 0.0002 0.0003 0.0009 0.0180 0.0001 0.0000 0.0317 0.0008 0.0001 0.0001 0.0004 0.0000 0.0277 0.0200 0.0000 0.0369 0.0027 0.0128 0.7964 0.0474 0.0179 0.0001 0.0108 0.0226 0.0081 0.0091 0.0022 0.0032 0.0158 0.0604 0.0001 0.3580 0.0004 0.3675 17 0.0001 0.0000 0.0000 0.0000 0.4884 19 0.0771 0.3945 21 0.0000 0.0150 0.0000 0.0000 0.0272 0.0275 0.1006 0.0791 0.0000 0.0037 0.0000 0.0187 0.5997 0.1631 0.0220 0.0016 0.1919 1.0007 0.2764 0.0058 0.0130 0.0007 0.0000 0.0023 0.0000 0.0002 0.0012 0.0007 0.1082 0.0000 0.0048 0.0019 0.0000 0.0508 0.3072 0.0373 0.0226 0.0000 0.0315 0.0074 0.5635 15 0.0007 0.0000 0.0001 0.6438 0.0180 0.0000 0.0400 0.0046 0.0105 0.0348 0.3103 0.0900 0.0000 0.0000 0.0014 0. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Total 14 0.0020 0.0071 0.0511 0.0006 0.0002 0.0000 0.0939 0.5495 0.0001 0.0009 0.0002 0.0000 0.0244 0.0038 0.0131 0.0980 8.0258 0.0889 0.0502 0.0099 0.0804 0.3821 20 0.0572 0.0000 0.4161 16 0.0001 0.1790 0.0000 0.0336 0.0352 0.0360 0.0532 0.0000 0.0047 0.0230 0.0817 0.0049 0.0001 0.0085 0.0000 0.4070 0.0100 0.0002 0.0000 0.2790 0.1548 0.0223 0.2400 22 0.0867 0.0000 0.0000 0.0001 0.0001 0.0000 0.0000 0.0276 0.0005 0.0002 0.0331 0.0007 0.0278 0.0369 0.2619 0.0030 0.0000 0.0010 0.1737 0.0000 0.0007 0.0000 0.0008 0.0000 0.0000 0.0431 0.0047 0.0007 0.0000 0.0172 0.Lampiran 3.0078 0.0039 0.0163 0.

0009 0.0054 0.6424 12 0.0770 0.0681 0. .0378 0.0003 0.0003 0.0016 0.1920 0.3235 1.0086 0.0008 0.0767 0.0009 1.0164 0.0012 0.Lampiran 4.1036 0.0260 0.0015 0.0013 0.0221 0.0004 0.0440 0.0036 0.1048 0.0050 0.0155 0.0076 0.0013 0.0080 0.0008 0.0138 0.0108 0.0134 0.6858 Total Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).0116 0.0003 0.0749 0.0014 0.0024 0.0004 0.0051 0.0004 0.0192 0.0008 0.0109 0.0006 1.0180 0.0021 0.5577 13 0.0011 0.1031 1.0030 0.5409 10 0.0474 0.0021 0.0118 0.0105 0.0026 0.0076 0.0014 0.0000 0.0294 0.0446 1.2921 0. Matriks Kebalikan Leontief Klasifikasi 22 Sektor SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 1 1.1038 0.0014 0.0153 0.0240 0.0013 0.0007 0.0636 0.0005 0.0001 0.0006 0.0032 0.0007 0.0058 0.0017 0.0011 0.0137 1.0005 0.0000 0.0002 0.1683 0.0133 0.0775 0.0007 0.0005 0.0137 0.2751 3 0.0046 1.0386 0.0483 0.0049 0.4000 0.0044 0.1068 0.1140 0.0025 0.0382 0.0002 0.6059 9 0.0028 0.0017 0.0337 0.0059 0.0078 0.0130 0.0013 1.0006 0.0018 0.0009 0.2508 0.0943 0.0055 0.3337 0.0010 0.0034 1.0000 1.0082 0.0230 0.0155 0.0001 0.0170 0.0019 0.0004 0.0008 0.0034 0.0024 0.0094 1.0001 0.0004 0.0011 0.2025 0.0031 0.0163 0.0965 0.0001 0.0005 0.0014 0.0002 0.0009 0.0067 0.0080 1.0000 0.0782 0.0054 0.0035 0.0021 1.0042 0.0648 0.0009 0.1133 0.0012 0.0077 0.0014 1.0052 0.0109 0.0058 0.0006 0.0196 0.0004 0.0030 0.0261 0.1178 0.0291 0.1045 1.0001 0.0452 0.7956 7 0.0008 0.0221 0.0007 0.0034 0.3950 2 0.0097 0.0046 0.0148 0.0122 1.0106 0.0044 0.0275 0.0030 1.0093 0.0584 0.0001 0.0007 0.0100 0.0463 0.0602 0.0010 0.0072 0.0001 0.0991 0.0036 0.0017 0.0022 0.0053 0.0626 0.0166 0.0542 0.0005 0.0005 0.0012 0.0012 0.0287 0.0062 0.0021 1.0026 0.0055 0.0065 0.0079 1.0134 0.0061 0.0121 0.0013 0.0009 0.0220 0.0017 0.0508 0.0052 0.0052 0.0007 0.0013 0.0052 0.0037 1.0981 0.0043 1.0097 0.0397 0.0112 0.0072 1.0193 0.8431 11 0.2872 0.0090 0.0036 0.0394 0.0474 0.9484 6 0.0938 0.2287 4 0.0826 0.0002 0.0322 0.0002 0.0303 1.0327 0.1567 5 0.0359 0.8775 8 0.0011 0.0007 0.0010 0.0016 0.0074 0.0032 0.0441 0.0012 0.0033 1.0494 0.0008 0.0059 0.0009 0.2088 0.0345 0.0001 0.0042 0.0001 0.0050 0.0394 0.0452 0.0006 0.0008 0.0166 0.0043 0.0123 0.0260 0.0005 0.0481 0.0172 0.0304 0.1548 0.0112 0.0357 0.0163 0.0009 0.0467 0.0011 0.0133 0.0002 0.0063 0.0099 0.0015 0.0042 0.0014 0.0024 1.

0098 0.2733 Total .0653 2.0468 0.0007 0.0028 0.0184 1. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 14 0.0084 0.0073 0.0018 0.0999 0.1284 0.0045 0.0010 0.0120 0.0011 0.0042 1.0348 0.0009 0.0454 0.6529 1.0002 0.0104 0.0013 0.0013 0.0062 0.0481 0.0198 0.0001 0.0041 0.0063 0.0105 0.0018 0.0012 0.0001 0.5581 0.0115 0.0170 0.9552 1.0183 0.0088 0.0056 0.0067 0.0020 0.0498 0.0015 0.3643 22 0.6501 17 0.0013 0.0058 0.0018 0.0267 0.5500 Total 1.0008 0.0219 0.0044 0.0874 2.0338 1.6346 21 0.0025 1.0082 0.6422 1.0025 0.0274 0.1049 0.0007 1.0026 0.0006 0.0291 3.6138 20 0.0068 0.0522 0.0855 0.Lampiran 4.0816 0.0502 0.0068 0.0008 0.7539 19 0.0449 0.1062 0.3283 1.0724 0.0254 0.0166 0.0441 0.0002 0.0003 0.1116 0.0802 0.0014 0.0134 1.0082 0.0054 0.0343 0.0139 0.0755 0.0048 0.0013 0.0039 0.1857 1.0041 0.2689 1.0004 0.0053 0.0718 0.2955 1.7978 15 0.0059 0.0007 0.0395 0.1589 0.0001 0.1550 1.1395 0.3855 1.0261 1.0016 0.0544 0.0607 0.0010 0.0040 0.0050 0.0284 0.0208 1.0599 0.0137 0.0018 0.0000 0.0022 0.0734 1.0020 0.0090 0.0416 0.0008 0.0038 0.1247 0.5005 16 0.0010 0.0450 0.0051 0.0274 0.0005 0.0404 0.0038 1.0009 0.0001 0.0058 0.0020 0.0638 0.1095 0.0012 0.0018 0.0661 0.0715 0.0003 0.1272 1.1150 1.0772 0.0024 0.0004 0.0007 0.0116 0.0173 0.0031 1.0246 0.0537 0.0487 0.0056 0.0212 0.0444 0.8552 18 0.0216 0.0515 1.0235 0.0102 1.0182 0.0166 1.0057 0.3310 1.0054 0.2051 2.0016 0.2191 1.0119 1.0171 0.0247 0.0239 0.0095 0.0004 0.0828 0.0517 0.0028 0.0063 0.0237 0.0000 0.0010 0.0008 0.0298 0.0017 0.0001 0.0026 0.0041 0.0009 0.0420 0.0025 0.0024 0.3732 0.0000 0.0105 0.0558 0.0038 0.1194 0.0377 0.1331 0.0532 0.0488 0.0018 0.2750 1.0856 1.0032 0.0003 0.0171 0.0516 0.0078 1.0071 1.0001 0.1575 35.3066 3.4368 1.1306 1.