ANALISIS INPUT-OUTPUT PERANAN INDUSTRI KERTAS DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA

OLEH RUSLI RAMLI H14101122

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006

RINGKASAN

RUSLI RAMLI. Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia (dibimbing oleh ARIEF DARYANTO). Proses industrialisasi di Indonesia telah yang dimulai dari sejak pelita I telah mengakibatkan transformasi struktural dalam perekonomian Indonesia. Hal ini ditandai dengan semakin menurunnya kontribusi sektor primer (pertanian) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sementara sektor sekunder dan tersier seperti industri pengolahan kontribusinya terhadap PDB terus mengalami peningkatan. Salah satu sektor industri pengolahan yang berkembang pesat adalah sektor industri kertas. Hal yang menyebabkan industri ini terus berkembang pesat di Indonesia antara lain adalah kemudahan mendapatkan baku dan tenaga kerja yang murah. Pada akhir tahun 2000 kapasitas terpasang industri kertas nasional telah mencapai sekitar 9,1 juta ton per tahun, produksi sebesar 6,8 juta ton, ekspor sebesar 2,8 juta ton, dan konsumsinya yang telah mencapai 4,2 juta ton. Data-data tersebut di atas menunjukkan bahwa industri kertas sangat potensial untuk terus dikembangkan khususnya untuk meningkatkan penerimaan devisa negara. Selain perkembangannya yang pesat tersebut, industri kertas juga mempunyai pengaruh dan hubungan timbal balik terhadap industri atau sektor lainnya karena komoditi kertas yang dihasilkan oleh industri ini dapat sebagai input sektor industri lain dan sebaliknya industri kertas juga membutuhkan input dari sektor lain tersebut. Berdasarkan kondisi di atas, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana peran sektor industri kertas bagi perekonomian Indonesia Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari BPS Pusat Jakarta dan instansi terkait lainnya. Analisis yang digunakan yaitu Analisis Input-Output (I-O) dari Tabel I-O Indonesia Tahun 2000 transaksi domestik atas dasar harga produsen klasifikasi 175 sektor melalui program Microsoft Excel 2003. Pendekatan model I-O yang digunakan dalam penelitian ini adalah model sisi permintaan (demand-side model), hal ini dikarenakan faktor permintaan merupakan faktor eksogen yang mempengaruhi perekonomian. Berdasarkan analisis deskriptif dari Tabel I-O Indonesia tahun 2000 transaksi domestik atas dasar harga produsen yang diagregasi menjadi 22 sektor, industri kertas memiliki peran yang tidak begitu besar terhadap struktur perekonomian Indonesia seperti struktur permintaan, nilai tambah bruto, struktur ketenagakerjaan, ekspor-impor dan pembentukan output sektoral. Hal ini dapat dilihat dari kecilnya nilai industri kertas pada masing-masing struktur tersebut bila dibandingkan dengan sektor perekonomian lainnya. Dilihat dari sisi permintaan antara dan permintaan akhir, industri kertas memiliki permintaan akhir (Rp 10.800.775 juta) yang lebih besar daripada permintaan antaranya (Rp 13.970.847 juta) yang menandakan bahwa output industri kertas lebih banyak digunakan untuk konsumsi langsung (masyarakat, pemerintah, dan ekspor) daripada sebagai input untuk sektor lainnya.

Dilihat dari rasio upah gaji terhadap surplus usaha (0,43) dalam struktur nilai tambah bruto, dapat identifikasi bahwa pada industri kertas terjadi ketimpangan distribusi pendapatan antara pihak perusahaan dengan tenaga kerjanya. Kemudian dari struktur ketenagakerjaan dapat diketahui bahwa industri ini mampu menyerap tenaga kerja sebesar 118.454 jiwa. Berdasarkan analisis struktur ekspor-impor dapat diketahui bahwa industri kertas mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 4.617.531 juta sedangkan dari pembentukan output sektoral industri kertas menyumbang sebesar Rp 24.771.662 juta atau sekitar 0,92 persen dari total output sektoral perekonomian. Dari hasil analisis keterkaitan per sektornya (keterkaitan industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian Indonesia), industri ini memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor hulu dan hilirnya. Pada keterkaitan ke depan industri kertas memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor industri barang dari kertas (0,3183) dan industri percetakan (0,2448), sedangkan pada keterkaitan ke belakangnya, industri kertas memiliki keterkaitan kuat terhadap industri pulp (0,0944) yang merupakan sektor penghasil input bahan bakunya. Berdasarkan hasil analisis koefisien penyebaran dapat diketahui bahwa industri kertas kurang memiliki kemampuan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya. Sedangkan dari hasil analisis kepekaan penyebaran industri kertas merupakan industri yang memiliki kemampuan yang kuat dalam mendorong sektor hilirnya. Pada analisis elastisitas input-output dapat diketahui bahwa industri kertas cukup responsif terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya dalam hal output dengan nilai elastisitas output sebesar 1,0023. Sementara dari hasil elastisitas pendapatannya (0,0522) industri ini kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal pendapatan dan jika dilihat dari hasil elastisitas tenaga kerjanya (0,6093), perubahan permintaan akhir sektor lain kurang berpengaruh terhadap perubahan tenaga kerja dalam sektor industri kertas tersebut. Berdasarkan ranking elastisitas, industri kertas termasuk dalam salah satu dari sepuluh sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam). Hal ini mengindikasikan bahwa sektor industri ini memiliki respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal peningkatan output, pendapatan, maupun tenaga kerjanya, sehingga sektor ini mempunyai kemampuan yang cukup besar dalam berkontribusi untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan. Bersama dengan sektor kunci lainnya, industri kertas merupakan sektor prioritas yang harus dikembangkan oleh pemerintah sebagai policy makers karena kontribusinya terhadap perekonomian tersebut

ANALISIS INPUT-OUTPUT PERANAN INDUSTRI KERTAS DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA Oleh RUSLI RAMLI H14101I22 Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006 .

INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN DEPARTEMEN ILMU EKONOMI Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh.Ec. Nama Mahasiswa Nomor Registrasi Pokok Program Studi Judul Skripsi : Rusli Ramli : H14101122 : Ilmu Ekonomi : Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia dapat diterima sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi. 131 644 945 Mengetahui. Dr. M. Arief Daryanto. NIP. Dosen Pembimbing. Menyetujui. Ketua Departemen Ilmu Ekonomi. Ir. Rina Oktaviani. 131 846 872 Tanggal Kelulusan: . Institut Pertanian Bogor. Dr. Ir. MS NIP. Fakultas Ekonomi dan Manajemen.

Bogor.PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. Juni 2006 Rusli Ramli H14101122 .

Formasi. penulis aktif di berbagai organisasi intra dan ekstra kampus seperti BEM-H. . penulis menamatkan Sekolah Dasar pada SDN Ciwaringin 1. Jenjang pendidikan penulis dilalui dengan lancar. Penulis merupakan anak pertama dari satu bersaudara. Selama menjadi mahasiswa. dari pasangan Apun Sanusi dan Yoyoh. dan HMI Komisariat FEM. kemudian melanjutkan ke SLTPN 1 Telagasari dan lulus pada tahun 1998. Penulis masuk IPB melalui jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dan diterima sebagai mahasiswa Program Studi Ekonomi dan Studi Pembangunan pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen.RIWAYAT HIDUP Penulis bernama Rusli Ramli lahir pada tanggal 20 Juli 1983 di Karawang. Pada tahun 2001 penulis melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi untuk meraih gelar sarjana. Propinsi Jawa Barat. Pada tahun yang sama penulis diterima di SMUN 1 Karawang dan lulus pada tahun 2001.

skripsi ini juga merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.Ec. Arief Daryanto. M. terutama kepada Bapak Dr. Selain itu. Judul ini dipilih penulis karena merupakan topik yang menarik dalam perkembangan industri nasional dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Penulis mengharapkan adanya hasil positif sebagai masukan dalam pembangunan industri kertas nasional selanjutnya. Semoga karya ini dapat bermanfaat. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. bagi penulis khususnya dan kalangan pendidikan umumnya.1r. Institut Pertanian Bogor. yang telah memberi masukan. Bogor.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada seluruh pihak lainnya yang telah membantu terlaksananya penelitian ini baik dari instansi maupun perorangan yang tidak dapat disebutkan satu persatu. saran serta bimbingan dalam pembuatan skripsi ini. Judul skripsi ini adalah “Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia“. Juni 2006 Rusli Ramli H14101122 .

...................... II............................................................ Latar Belakang ...............5... Analisis Keterkaitan ...............5......................2............................... Perkembangan Industri Kertas ............................................ Koefisien Input........................... 4......4............ 3.................. Analisis Dampak Penyebaran .......................................... Jenis dan Sumber Data ..... Ruang Lingkup................. 2......................2.. 2.......5.....................................................1..............................................3.................... 3........................... Elastisitas Input-Output.............. Profil Industri Kertas.......................................... 3..................................................... Definisi dan Sejarah Kertas............................................... DAFTAR LAMPIRAN........................2................2................................................. 1............................... 2....................2........ TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN ............. x xi xii 1 1 4 5 5 6 7 7 8 11 13 16 16 19 22 25 25 25 26 27 29 31 33 33 34 .... DAFTAR GAMBAR .......... 1. Metode Analisis .............1........... V..............................1....................... 2.................2.5.. METODE PENELITIAN........3... Konsep Pembangunan Industri Kertas ......... Manfaat Penelitian ...................... Penelitian-Penelitian Terdahulu ............... 2.3.................... 3......... PENDAHULUAN .............. III.......................... 2...................................................... GAMBARAN UMUM INDUSTRI ......... Integrasi Vertikal Pada Industri Kertas ............................................2............... 3... 3.......................................2................................. Perumusan Masalah ............. 2..............................................2.............1.............. 1.......2........................................................................... 1..................6...........................................4............ Kerangka Pemikiran Teoritis ....................................................1...... 4......................................... Kerangka Pemikiran Konseptual ........ Tujuan Penelitian ...... Model Input-Output ................ 2..... 1..............................................3.... Struktur Tabel Input-Output.................1............................ I...DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL......................

........5.................... 5...............3......3.................1............4..... Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ................................. Analisis Keterkaitan ............................2........... LAMPIRAN.....................4.. Elastisitas Pendapatan .......... 5........................................................................ KESIMPULAN DAN SARAN ....................1............... 5.... Keterkaitan ke Depan Industri Kertas ............ 5..2............... 5............ Struktur Ketenagakerjaan...........1.....................2..2..........3............................... 6.................................... V................................. Kepekaan Penyebaran . 5.. 5..... Struktur Ekspor dan Impor.......................1... Analisis Koefisien dan Kepekaan Penyebaran......................................4....................... Sektor-Sektor Kunci dalam Perekonomian Indonesia ... VI.................6............................................................... 5...................1........ 5...4............ Struktur Output Sektoral ........2................................ 4........................... Saran......2........................ 6............................... Elastisitas Input-Output... Implikasi Kebijakan . Profil Beberapa Perusahaan Kertas Indonesia .. 5................. Kesimpulan ......... 5............................. Koefisien Penyebaran........ Integrasi Vertikal dan Pasar Industri Kertas Indonesia..........2............1.......1.........3.......1........3............ 5................. Struktur Nilai Tambah Bruto .4. 5.............................. 5...2...............................................3.........2........2................................1...........4.................... Elastisitas Tenaga Kerja........... 5... 5.......... DAFTAR PUSTAKA .........................3...1..........4.. Keterkaitan ke Belakang Industri kertas .................. Keterkaitan Langsung Sektor-Sektor Perekonomian ............................. 5...2...5............. 5..... Elastisitas Output .................................. 5............2......... 5.......................... Struktur Permintaan Industri Kertas ............ Peranan Industri Kertas Dalam Perekonomian Indonesia... HASIL DAN PEMBAHASAN. 36 37 47 47 47 49 51 53 55 56 56 58 59 61 62 63 65 67 67 68 70 71 73 75 75 76 78 80 ....................

............... 5.. 4....6. Konsumsi Kertas Per Kapita Penduduk Indonesia 1993-2002.....1....... Permintaan Antara dan Permintaan Akhir Sektor-sektor Perekonomian di Indonesia Tahun 2000........1.......................... Boards PT.................. Kapasitas Produksi.... Komposisi Sektoral PDB 1960-2003 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993 . 5..2.............. 4..... 2............... Nilai Tambah Bruto Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Indonesia Tahun 2000 ...........................2..........4................................. Ekspor dan Konsumsi Industri Kertas Indonesia Tahun 1994-2003.... 2 1............................ Boards PT...... Boards PT..........................2....3...................................................2.. 4... 5.... Struktur Tabel Input-Output............DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1........ 2................1....... Pindo Deli Pulp & Paper Mills per 30 September 2004 .............. Profil Industri Pulp dan Kertas Indonesia Tahun 2003 ............ 4. Kapasitas Terpasang Perusahaan Industri Kertas 2003. Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Keterkaitan .... Rasio Upah Terhadap Surplus Usaha....... Produktifitas dan Nilai Upah Sektoral Indonesia Tahun 2000 .....................................4.. 4............. ........................................3.................7........ 5...................1...... Boards PT..................... 4.................... Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Dampak Penyebaran................................. 4............. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry per 30 Desember 2004 ................................. Impor.. 2...........5.. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk per 30 September 2004 ......... Indah Kiat Pulp & Paper Tbk per 30 September 2004 ..3......................... 3 13 14 19 34 35 38 40 42 43 46 48 50 51 52 .... Jumlah Tenaga kerja......................

.................................................................................12................. 5....................... 5. Struktur Pembentukan Output Sektoral Terhadap Perekonomian Indonesia ....10......... Elastisitas Input-Output Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 ..11..................9.............8............... 5.. Struktur Ekspor dan Impor Indonesia Tahun 2000 .. Nilai Keterkaitan Berbagai Sektor Perekonomian di Indonesia .................... Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia .............................13........................ 5....................... Kepekaan Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia.... Koefisien Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia.. 5.....5.5..6..........................7............. 54 56 57 60 61 64 66 69 71 ................. Sektor Kunci Perekonomian Menurut Ranking Elastisititas Input-Output Indonesia Tahun 2000 ............................. 5........... 5.. Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia ............. 5.......................

................. Bagan Alur Pendekatan Studi ................ Halaman 24 .DAFTAR GAMBAR Nomor 1........................

............ 3.... 4.DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1.................. Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 Klasifikasi 22 Sektor .... Halaman 81 82 86 88 Klasifikasi Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 ............... Matriks Kebalikan Leontief Klasifikasi 22 Sektor.... ... 2.............................. Matriks Koefisien Teknis Klasifikasi 22 Sektor .................

sementara kontribusi sektor sekunder dan tersier cenderung meningkat.I. dimana terjadi penurunan kontribusi sektor pertanian (sektor primer) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Perubahan struktur semacam ini menyebabkan kesempatan kerja semakin banyak.4 persen. Latar Belakang Proses industrialisasi di Indonesia yang dimulai sejak Pelita I telah mengakibatkan transformasi struktural di Indonesia. sementara sektor industri khususnya industri pengolahan baru menyumbang 8. Pola pertumbuhan ekonomi secara sektoral di Indonesia agaknya sejalan dengan kecenderungan proses transformasi struktural yang terjadi di berbagai negara di dunia. dan motivasi yang secara radikal. Pada tahun-tahun berikutnya dapat dilihat bahwa sektor industri pengolahan terus mengalami kenaikan dalam hal kontribusinya terhadap PDB sedangkan sektor pertanian sebaliknya terus mengalami penurunan kontribusi terhadap PDB. sektor pertanian merupakan sektor penyumbang terbesar terhadap PDB (53.1.1).9 persen). yang mencakup peralihan lembaga. produktifitas buruh. PENDAHULUAN 1. dan pendayagunaan sumber-sumber baru serta perbaikan teknologi akan semakin tinggi (Jhingan.4 persen dari PDB (Tabel 1. sikap sosial. Pada tahun 1960. Perubahan struktural mengandung arti peralihan dari masyarakat pertanian tradisional menjadi ekonomi industri modern. stok modal.8 persen terhadap PDB sedangkan sektor pertanian mempunyai kontribusi terhadap PDB sebesar 8. 2002). Hal tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa sektor industri . Kemudian pada tahun 1967 industri pengolahan telah menyumbang 51.

5 3.4 1973 40.6 16.9 3.7 8.3 9.2 pengolahan telah menggeser peranan sektor pertanian dalam pembangunan nasional berkaitan dengan peralihan struktur perekonomian masyarakat Indonesia dari orientasi pada sektor primer (pertanian) kepada orientasi sektor industri.7 12.49 7. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai eksportir .0 3.0 16.7 6.8 6.8 3. 1960 53.9 10.4 Industri pulp dan kertas adalah industri yang berkembang dengan tingkat pertumbuhan 20 persen per tahun pada beberapa dekade terakhir. Dari sisi kontribusi terhadap penerimaan negara.3 3. Komposisi Sektoral PDB 1960-2003 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993 (persen) Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan penggalian Industri Pengolahan Listrik dan air minum Bangunan/konstruksi Perdagangan.6 10.6 15. 2003.9 7.5 1993 17.9 14.3 4.3 6.1 3.84 25.9 5.57 2003 16. Salah satu dari sektor industri pengolahan tersebut yang berkembang pesat sampai saat ini adalah industri pulp dan kertas.1 12.4 5.0 14.0 6. Pasar bagi hasil industri pulp dan kertas masih terbuka luas karena konsumsi kertas per kapita terus meningkat dari tahun ke tahun.9 21.1.3 2.3 1.5 0.1 0.0 3.64 15.4 0.2 3.6 13.4 0. sektor industri pulp dan kertas telah menyumbang 90 persen dari total penerimaan ekspor kehutanan.9 1983 22.6 5.5 0.3 3.7 24.2 1.8 1. hotel dan restoran Pengangkutan dan komunikasi Keuangan.6 15.6 18.7 8.6 3.5 1998 17.1 5.7 0.7 1.8 3.8 20.2 1967 51.5 16.7 2.4 5.5 1.9 1989 20.9 5.57 9.2 6.52 5.6 0. sewa dan jasa perusahaan Jasa-jasa Sumber : BPS.3 6.9 16. Tabel 1.

Sementara itu fokus khusus pada sektor industri kertas (diluar dari industri pulp).720.119. Produksi.420 4. alasan kedua. Ekspor.110 197.000 2.430 3.641.490 1996 7.300.000 8.345.630 199.840 249.260 1998 9.240 2001 10.390 3.600.168.290 4.951. Impor.913.399.520 1. industri ini merupakan salah satu industri yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia.904. Tabel 1.2.180 6. dan Konsumsi Industri Kertas Indonesia Tahun 1994-2003 (ton) Tahun Kapasitas Produksi Impor 171. 2003. ekspor maupun .054.097. sehingga dalam masa krisis ekonomi yang dihadapi Indonesia.472.220 1.479. pertama. baik kapasitas. 2002).212. ialah bahwa produk kertas cenderung banyak yang ditujukan untuk pasar luar negeri. yaitu komponen impor yang digunakan dalam proses produksi nilainya tidak lebih dari 30 persen.849.135 2.800 212.805.282.970 3.280 4. Kapasitas.821.945 5.960 2.000 2003 Sumber: Asosiasi Pulp dan Kertas.800 2.000 Konsumsi 2.200.560 1999 9.300 140.700 261.800 1995 5.950.425. Ada tiga alasan utama yang melatarbelakangi pentingnya sumbangan industri ini. Hal itu ditambah apabila melihat dalam sekitar satu dekade terakhir ini.015.180 6.600 2.3 pemimpin dalam bidang kehutanan di dunia sejak 1987 (Karseno dan Mulyaningsih.530 5.080 6. 2002). jumlah produksi.970 2002 10.200 924.730 2.935 5.130 143.500 3.000 3.210 2.065.120.695 250. dan ketiga.595.350 3.882.000 2000 9.833.487. adalah bahwa produk kertas harganya banyak ditentukan dalam nilai dolar. industri ini masih dapat diandalkan dalam membantu penerimaaan devisa negara (Rosadi dan Vidyatmoko.000 130.100 2.224.783.560 4.800.600 1997 7.000 Ekspor 826.000 1994 4.446.198.800.580 7.837.116.

Berdasarkan kondisi inilah dirasakan penting untuk melakukan analisis lebih lanjut tentang peranan industri kertas terhadap perekonomian Indonesia. I. Begitu juga dalam hal tenaga kerja. angkatan kerja produktif di Indonesia mencapai puluhan juta orang. Peran industri kertas dalam hubungannya dengan sektor-sektor perekonomian tersebut dapat dilihat dari bagaimana struktur perekonomiannya bila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya dan keterkaitannya dengan sektor-sektor lainnya .4 konsumsi dalam industri kertas terus mengalami kenaikan setiap tahunnya (Tabel 1.2. sehingga bahan baku untuk pembuatan kertas tersedia banyak di Indonesia. misalnya.2). Perumusan Masalah Pentingnya industri kertas yang besar tidak terlepas dari kondisi yang dimilikinya. Dalam hal bahan baku. Keunggulan yang lebih banyak mengandalkan sumber bahan baku yang berlimpah dengan harga yang relatif murah serta tenaga kerja dengan upah buruh yang relatif rendah. Sampai saat ini industri kertas Indonesia memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan negara lain. Indonesia termasuk negara penyedia bahan baku pulp terbesar karena mempunyai hutan terluas kedua di dunia. Namun pentingnya industri kertas ini tidak semata-mata hanya karena keunggulan komparatifnya saja tapi juga karena peranannya dalam hubungannya terhadap sektor-sektor lain dalam perekonomian Indonesia baik sektor industri maupun non-industri dan bagaimana sektor-sektor lain tersebut mempengaruhi industri kertas sehingga terjadinya hubungan timbal balik yang mengarah pada peningkatan pertumbuhan sektor-sektor dalam perekonomian secara keseluruhan.

bagaimana kemampuan industri kertas dalam mendorong sektor hulu dan hilirnya dan bagaimana peran industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia. Menganalisis peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia dalam struktur permintaan. nilai tambah. ketenagakerjaan. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah di atas maka tujuan penulisan skripsi ini adalah: 1. ekspor-impor dan output sektoral? 2.3. beberapa permasalahan yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana keterkaitan sektor industri kertas dengan sektor-sektor lainnya di Indonesia? 3. Bagaimana peran sektor industri kertas dalam mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya? 4. ekspor-impor dan output sektoral 2. ketenagakerjaan. Bagaimana peran sektor industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia? 1.5 tersebut. nilai tambah. Berdasarkan latar belakang dan uraian di atas. Menganalisis keterkaitan sektor industri pengolahan dengan sektor-sektor perekonomian lainnya di Indonesia . Berapa besar peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia dalam struktur permintaan.

kertas tissue (tissue paper). kertas lapis dan non lapis (coated and uncoated paper). .4. Manfaat Penelitian Penulis mengharapkan penelitian ini dapat berkontribusi secara positif terhadap perencanaan kebijakan pembangunan industri kertas nasional pada khususnya maupun industri lain pada umumnya oleh pihak-pihak yang terkait didalamnya maupun bagi pihak-pihak lain yang berkepentingan untuk melakukan penelitian tentang industri kertas Indonesia. Kertas yang dimaksud adalah jenis kertas seperti kertas tulis cetak (writingprinting paper). kertas rokok (cigarette paper) dan sebagainya. Menganalisis peran sektor industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia 1.6 3. industri barangbarang dari kertas yang tidak memproduksi kertasnya terlebih dahulu dan bukan pula industri percetakan atau penerbitan. Menganalisis peran sektor industri kertas dalam mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya 4. 1.4. Dengan kata lain industri kertas dalam penelitian ini bukan industri pulp. Ruang Lingkup Industri kertas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah industri yang terdiri dari perusahaan-perusahaan yang mengolah bahan baku kertas menjadi produk kertas yang merupakan barang jadi yang dapat di langsung dikonsumsi ataupun barang setengah jadi yang akan digunakan sebagai input oleh industri lain.

kulit atau tulang binatang. meskipun pengunaan papirus masih dirasakan sangat mahal. bambu. Serat yang digunakan biasanya adalah alami dan mengandung selulosa (Wikipedia 2005). bangsa-bangsa dahulu menggunakan tablet dari tanah liat yang dibakar. prasasti dari batu. papier dalam bahasa Belanda. Sebelum ditemukan kertas. Kertas dikenal sebagai media utama untuk menulis. yang dihasilkan dengan kompresi serat. Dari kata papirus (papyrus) itulah dikenal sebagai paper dalam bahasa Inggris. sutera.II. Hal ini dapat ditemui dari pennggalan peradaban bangsa Sumeria. bahkan daun lontar yang dirangkai seperti yang telah ditemukan pada naskah-naskah kuno nusantara beberapa abad yang lalu. Penggunaan papirus sebagai media tulis menulis ini digunakan pada peradaban Mesir kuno pada masa bangsa Fir’aun kemudian menyebar keseluruh Timur Tengah sampai Romawi di Laut Tengah dan ke seluruh Eropa. Jerman. . kayu. Definisi dan Sejarah Kertas Kertas adalah bahan yang tipis dan rata. Adanya kertas merupakan revolusi baru dalam dunia tulis menulis yang menyumbangkan arti besar dalam peradaban dunia. mencetak serta melukis dan banyak kegunaan lain yang dapat dilakukan dengan kertas misalnya sebagai kertas pembersih (tissue) yang dapat digunakan untuk hidangan maupun kebersihan. Peradaban Mesir kuno menyumbangkan papirus sebagai media tulis menulis. Perancis misalnya atau papel dalam bahasa Spanyol yang berarti kertas (Wikipedia. 2005).1. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI 2.

kemudian meyebar ke Italia dan India lalu Eropa khususnya setelah perang Salib dan jatuhnya Grenada dari bangsa Moor ke tangan orang-orang Spanyol serta ke seluruh dunia (Wikipedia. 2005).8 Tercatat dalam sejarah adalah peradaban Cina yang menyumbangkan kertas bagi dunia. Bintaro (1968) dalam Muchtar (1997) mengemukakan industri pengolahan ialah setiap usaha yang merupakan unit produksi yang membuat barang untuk kebutuhan masyarakat di suatu tempat tertentu. 2. munculah pusat-pusat industri kertas baik di Baghdad maupun Samarkand dan kota-kota industri lainnya. Penemuan ini akhirnya menyebar ke Jepang dan Korea seiring menyebarnya bangsa-bangsa Cina ke timur dan berkembangnya peradaban di kawasan itu meskipun pada awalnya cara pembuatan kertas merupakan hal yang sangat rahasia. Konsep Pembangunan Industri Kertas Ada beberapa pengertian industri secara definisi yang sekurang-kurangnya akan disampaikan dua definisi. teknik pembuatan kertas tersebut jatuk ke tangan orang-orang Arab pada masa Abbasiyah terutama setelah kalahnya pasukan Dinasti Tang dalam pertempuran sungai Talas pada tahun 751 Masehi dimana para tawanan-tawanan perang mengajarkan cara pembuatan kertas kepada orang-orang arab sehingga dizaman Abbasiyah. Menurut Puspitawati (2000) industri pengolahan merupakan suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan mengubah suatu barang dasar secara mekanis. atau dengan tangan sehingga menjadi barang jadi atau setengah . Pada akhirnya. Tsai Lun menemukan kertas dari bahan bambu yang mudah didapat di seluruh Cina pada tahun 101 Masehi. kimia.2.

yakni struktur ekonomi dengan titik berat pada industri yang maju dan didukung oleh pertanian yang tangguh. sebagai berikut : 1. Sumber pertumbuhan agribisnis pulp dan kertas terutama bersumber dari pemanfaatan sumber daya alam dan tenaga kerja tidak terampil (fase factordriven). Pada hakekatnya pembangunan industri ditujukan untuk menciptakan struktur ekonomi yang kokoh dan seimbang. Oleh karenanya. pembangunan industri secara nyata harus menjadi penggerak utama peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dan sekaligus dapat menjadi penyedia lapangan kerja yang sudah mulai tidak tertampung pada sektor pertanian (Muchtar. Karakteristik dari industri ini adalah sumber bahan baku kayu . kapasitas maupun ekspornya. konsumsi. akan tetapi banyak masalah dan tantangan yang dihadapi dalam perjalanannya untuk memiliki keunggulan daya saing yang tinggi.9 jadi dan atau barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya dan sifatnya lebih dekat kepada pemakai akhir. Menurut Saragih dalam Sipayung dan Pambudy (2000). 1997). Berdasar pada dua pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa industri kertas merupakan suatu kegiatan atau usaha mengolah barang dasar atau bahan baku kertas agar memiliki nilai yang lebih baik untuk keperluan masyarakat di suatu tempat tertentu. Kendati perkembangan sektor industri kertas mengalami kemajuan yang pesat salah satunya terlihat dari perkembangan produksi. ada 3 fase pembangunan industri pulp dan kertas agar memiliki keunggulan daya saing. khususnya pada era ekolabelling dan otonomi daerah pada saat ini.

Karakteristik industri pulp dan kertas pada fase ini adalah pertumbuhan output terutama bersumber dari kemajuan teknologi baik pada penyediaan bahan baku maupun dalam pengolahan. Selain itu keterkaitan kegiatan perusahaan masih dengan masyarakat juga masih sedikit. melainkan telah bergeser pada kayu hasil budidaya. penyediaan bahan baku kayu tidak lagi bersumber dari penebangan kayu hutan alam. meskipun biaya produksi relatif rendah. Dengan demikian. 2. sehingga telah terjadi pemutusan hubungan dengan hutan alam. 3. Artinya. bila diboboti dengan atribut global value dan national/local value. Dengan demikian dampak penurunan mutu lingkungan akibat penebangan kayu hutan alam dapat diminimumkan atau lebih rendah dari fase pertama. Sehingga dampak penurunan mutu lingkungan akibat aktivitas industri tersebut biasanya cukup besar. Efisiensi pengolahan makin meningkat melalui perbaikan teknologi yang terus menerus sehingga selain menurunkan biaya produksi juga . Industri pulp dan kertas pada fase ini dicirikan dengan pengembangan perkebunan kayu (timber plantation) sebagai sumber bahan baku. Fase ketiga adalah industri pulp dan kertas yang digerakkan oleh inovasi (innovation-driven) yakni penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tenaga kerja terampil (knowledge based and skill labor based). Fase kedua adalah agribisnis (industri) pulp dan kertas yang digerakkan oleh modal (capital-driven) yakni modal dan tenaga kerja semi terampil (capital and smi-skill labor). nilai produk kertas dapat dipersepsikan masyarakat (perceive value) sebagai barang inferior.10 mengandalkan kayu hutan (forest based) misalnya Hak Penguasaan Hutan (HPH).

yakni meningkatkan daya saing dan meminimumkan dampak negatif kegiatan industri pulp dan kertas pada lingkungan hidup. Bahkan beberapa diantaranya sudah mulai memasuki innovation–driven. Oleh karena itu.3.11 mengurangai polutan ke lingkungan. Sedangkan integrasi vertikal ke hilir (downstream) adalah perusahaan yang memutuskan untuk menyalurkan output yang dihasilkan kepada konsumen melalui perusahaan yang terintegrasi dengannya. kemampuan Riset and Development (R&D) menjadi tulang punggung dalam fase ini. Integrasi Vertikal Pada Industri Kertas Hasibuan (1994) mendefinisikan integrasi vertikal adalah pengabungan perusahaan-perusahaan yang mempunyai kelanjutan proses produksi. Jenis integrasi ini dapat dibagi menjadi dua. 2. Full Integration Perusahaan melakukan full integration bila perusahaan tersebut memproduksi semua input yang dibutuhkannya atau ketika perusahaan tersebut . yaitu integrasi ke hulu (upstream) dan integrasi ke hilir (downstream). Pada saat ini industri pulp dan kertas indonesia sebagian besar sedang bergeser dari factor-driven kepada capital-driven. Perusahaan yang menerapkan strategi integrasi vertikal ke hulu (upstream) adalah perusahaan yang memperoduksi sendiri input yang dibutuhkannya. antara lain: 1. Mentransformasi industri pulp dan kertas dari factor-driven kepada innovation-driven akan memberi manfaat ganda. Integrasi vertikal yang dilakukan oleh perusahaan dapat dilakukan dilakukan dengan dua cara.

2. yaitu: (1) penelitian terhadap keseluruhan sektor perekonomian. (2) penelitian terhadap sektor agroindustri dan non agroindustri . Menurut Karseno dan Mulyaningsih (2002) integrasi vertikal oleh perusahaan kertas akan meningkatkan efisiensi perusahaan dalam industri kertas tersebut karena dapat mengamankan pasokan bahan baku dan meminimumkan biaya transaksi dalam rangka untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan terhadap produk kertasnya. Indah Kiat Pulp & Paper.4. Penelitian-Penelitian Terdahulu Penelitian tentang peran dan keterkaitan dengan menggunakan alat analisis Input-Output telah banyak dilakukan. PT. Lontar Papyrus dan PT. Jenis integrasi vertikal perusahaan-perusahaan tersebut adalah full integration. mereka mempunyai pabrik pulp sendiri sebagai sumber bahan baku produksi kertasnya. 2. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia merupakan perusahaan-perusahaan besar dalam industri kertas yang terintegrasi vertikal dengan industri pulpnya.12 menyalurkan semua output yang dihasilkan melalui anak perusahaan yang terintegrasi dengannya. Penelitian yang sudah dilakukan selama ini antara lain meliputi. Taper Integration Perusahaan melakukan taper integration bila perusahaan tersebut membeli input yang dibutuhkannya dari perusahaan lain selain input yang dihasilkan sendiri atau menyalurkan hasil produksinya melalui perusahaan terintegrasi dengannya dan juga perusahaan lain yang tidak terintegrasi Perusahaan-perusahaan seperti PT.

1.34572 1. (1) keterkaitan langsung ke depan sektor industri pengolahan lebih kecil di bandingkan keterkaitan ke belakangnya.27222 Langsung & Tdk Langsung 1.07819 1.45022 1. Jawa Barat*** Pertanian Agroindustri 4.62204 2001 0. DKI Jakarta** Pertanian Ind.4432 1.81150 1. ****Setyawan (2005).38949 Keterkaitan Ke Depan Langsung 0.05931 0. **Sahara (1998) .6028 2. Jepara**** Ind.31431 2. Tabel 2.2).76281 1.58216 0. (3) penelitian terhadap sektor pertanian dan industri pengolahan.00802 1. Pengolahan 3. transportasi dan sebagainya (Setyawan. Pengolahan Tahun InputOutput 1990 1993 0. Pada dasarnya penelitian yang dilakukan memiliki tujuan yang sama yaitu mempelajari keterkaitan (linkages).48518 1988 0.1).6293 0.1 yaitu.29125 1. ***Setiyaji (1995).00619 0. Hasil Penelitian Terdahulu tentang Keterkaitan Penelitian Wilayah 1.13 (sektor industri pengolahan).54759 1.95855 Keterkaitan Ke Belakang Langsung & Langsung Tdk Langsung 0. Indonesia* Agroindustri Non Agroindustri 2.59448 0.63396 Sumber: *Tjandrawan (1994) .64866 0.17604 0.13908 2. 2005).4267 1.75861 2. dan (4) penelitian terhadap salah satu sektor perekonomian misalnya pariwisata. Ada beberapa informasi yang ditunjukkan pada Tabel 2. Gambaran ini memberikan indikasi bahwa sektor/subsektor industri pengolahan secara langsung lebih mempunyai . Disamping mempelajari keterkaitan tersebut penelitian-penelitian tersebut juga mempelajari dampak penyebaran (Tabel 2. baik keterkaitan langsung ke belakang (direct backward linkages) dan ke depan (direct forward linkages) maupun keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang dan ke depan (Tabel 2.11877 0.

Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Dampak Penyebaran Penelitian Wilayah 1.21765 1. Pengolahan 3. Pengolahan Tahun InputOutput 1990 1993 1.14 kemampuan untuk mendorong pertumbuhan sektor yang menyediakan input bagi keperluan proses produksi dibandingkan dengan kepekaannya dalam menciptakan kenaikan output apabila terjadi peningkatan satu-satuan permintaan akhir terhadap sektor industri.3. Ada beberapa hal yang dapat diidentifikasi dalam penelitian-penelitian tersebut yaitu: (1) Koefisien penyebaran menunjukkan .1376 1. Jepara**** Ind. Jawa Barat*** Pertanian Agroindustri 4.3 menyajikan informasi mengenai koefisien dan kepekaan penyebaran. Hal ini berarti sektor/sub sektor industri pengolahan secara langsung dan tidak langsung lebih kuat mendorong pertumbuhan sektor yang menyediakan input untuk keperluan proses produksinya dibandingkan dengan kemampuannya untuk mendorong peningkatan produksi terhadap sektor yang membutuhkan input dari sektor ini.0570 Kepekaan Penyebaran 1.2698 1.48422 Koefisien Penyebaran 1. Indonesia* Agroindustri Non Agroindustri 2. ****Setyawan (2005). Tabel 2. ***Setiyaji (1995).2908 1.33528 2001 1.74816 1. dan (2) Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan sektor industri pengolahan lebih kecil dibandingkan dengan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakangnya.9139 Sumber: *Tjandrawan (1994) . Selanjutnya pada Tabel 2. DKI Jakarta** Pertanian Ind.38525 1988 0. **Sahara (1998) .20609 1.1719 1.

1. hal ini terbukti dari nilai koefisien dan kepekaan penyebaran yang mempunyai nilai lebih besar dari satu (kecuali pertanian di Jawa Barat). Peneliti juga melihat bahwa penelitian tentang industri kertas di Indonesia berdasarkan Analisis Input-Output belum pernah dilakukan. industri pengolahan DKI Jakarta mempunyai kemampuan untuk menarik industri hulunya dibandingkan dengan kabupaten Jepara. Studi literatur yang telah dilakukan menunjukkan bahwa analisis I-O telah banyak digunakan sebagai alat untuk penelitian. Model Input-Output Menurut BPS (2000) pengertian Tabel Input-Output (Tabel I-O) adalah suatu tabel yang yang menyajikan informasi tentang transaksi barang dan jasa .5. Secara umum keempat penelitian mengenai koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran tersebut mempunyai peranan penting dalam pembangunan wilayah. Besarnya kepekaan penyebaran industri pengolahan di DKI Jakarta tersebut menunjukkan bahwa sektor industri pengolahan di wilayah tersebut bersifat ekspansif yaitu mampu melakukan perluasan pasar dan mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah dibandingkan dengan Jepara dan apabila dilihat dari koefisien penyebaran. Kerangka Pemikiran Teoritis 2. 2.5.15 kemampuan suatu sektor dalam perekonomian untuk mendorong sektor hilirnya sedangkan kepekaan penyebaran menunjukkan kemampuan suatu sektor untuk menarik sektor hulunya. dan (2) Kepekaan penyebaran industri pengolahan DKI Jakarta lebih besar dibandingkan kabupaten Jepara.

Sifat keseimbangan inilah yang merupakan salah satu kelebihan Tabel I-O yang dibandingkan dengan alat analisa lainnya dalam ilmu ekonomi perencanaan dan pembangunan (BPS. Leontief mengemukakan bahwa Tabel I-O termasuk dalam model General Equilibrium. baik yang berupa input antara maupun input primer.16 yang terjadi antar sektor ekonomi dengan bentuk penyajian berupa matrik. Sejak dirilis oleh Leontief pada tahun 1930-an. yaitu asumsi bahwa setiap sektor ekonomi hanya memproduksi satu jenis barang atau jasa dengan susunan input tunggal . tidak hanya untuk mendeskripsikan struktur suatu perekonomian tetapi juga mencakup cara untuk memprediksi perubahan-perubahan struktur tersebut. Isian sepanjang baris Tabel I-O menunjukkan pengalokasian output yang dihasilkan oleh suatu sektor untuk memenuhi permintaan antara dan permintaan akhir. Adapun asumsi dasar penyusunan Tabel I-O adalah : 1. Sesuai dengan asumsi dasar yang digunakan dalam proses penyusunannya. Tabel I-O bersifat statis dan terbuka. sedangkan isian sepanjang kolomnya menunjukkan struktur penciptaan input yang digunakan oleh setiap sektor dalam proses produksi. Keseragaman (homogenity). Tabel I-O telah berkembang menjadi salah satu metode paling luas diterima. dan pada baris nilai tambah yang menunjukkan komposisi penciptaan nilai tambah sektoral. 2000) Data yang disajikan dalam Tabel I-O merupakan informasi rinci tentang input dan output sektoral yang mampu menggambarkan keterkaitan antar sektor dalam kegiatan perekonomian.

Untuk melihat komposisi penyediaan dan penggunaan barang dan jasa terutama dalam analisis terhadap kebutuhan impor dan kemungkinan substitusinya. Penjumlahan (additivity). yaitu asumsi bahwa total efek dan kegiatan produksi di berbagai sektor merupakan penjumlahan dari efek pada masing-masing kegiatan. 3. Kesebandingan (proportionality). nilai tambah impor. dan penyerapan tenaga kerja di sektor industri. Berdasarkan asumsi tersebut maka Tabel I-O sebagai model kuantitatif memiliki keterbatasan. . Beberapa kegunaan Tabel I-O antara lain adalah : 1. maka teknologi yang digunakan oleh sektor-sektor ekonomi dalam proses produksi pun dianggap konstan. Untuk memperkirakan dampak permintaan akhir terhadap output. artinya kenaikan dan penurunan output suatu sektor akan sebanding dengan kenaikan dan penurunan input yang digunakan oleh sektor tersebut.17 (seragam) dan tidak ada substitusi otomatis terhadap input dan output sektor yang berbeda 2. Namun demikian. yaitu koefisien input atau koefisien teknis diasumsikan tetap (konstan) selama periode analisa atau proyeksi. Akibatnya perubahan kuantitas dan harga input akan selalu sebanding dengan perubahan kuantitas dan harga output. Tabel I-O masih merupakan alat analisis yang lengkap dan komprehensif. 2. yaitu asumsi bahwa hubungan antar input dan output pada setiap sektor produksi merupakan fungsi linear. penerimaan pajak. Karena koefisien teknis dianggap konstan.

5. baik berupa permintaan oleh berbagai sektor produksi maupun permintaan untuk konsumsi. Untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap.5. Untuk analisis perubahan harga. baik berupa produksi dalam negeri maupun barang impor atau yang berasal dari luar wilayah tersebut. 3. 2.2. Untuk mengetahui sektor-sektor yang pengaruhnya paling dominan terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor-sektor yang peka terhadap pertumbuhan perekonomian. 2. Sebagai metode kuantitatif Tabel I-O memberikan gambaran menyeluruh tentang: 1. . Struktur input antara yaitu transaksi penggunaan barang dan jasa antar sektorsektor produksi. Struktur Tabel Input-Output Format Tabel I-O terdiri dari suatu kerangka matrik berukuran n x n dimensi yang dibagi menjadi empat kuadran dan tiap kuadran mendiskripsikan suatu hubungan tertentu. yaitu dengan melihat pengaruh secara langsung dan tidak langsung dari perubahan harga input terhadap output.18 3. 4. Struktur perekonomian suatu wilayah yang mencakup output dan nilai tambah masing-masing sektor. investasi. Struktur penyediaan barang dan jasa. maka disajikan format Tabel I-O pada Tabel 2. 4. Struktur permintaan barang dan jasa. dan ekspor.4 di bawah ini. Untuk menggambarkan perekonomian suatu wilayah dan mengidentifikasikan karakteristik struktural suatu perekonomian wilayah.

BPS. N Jumlah Input Primer Jumlah Input Antara produksi 1 x11 x21 x31 .4 di atas dilihat secara baris (bagian horisontal) maka alokasi output secara keseluruhan dapat dituliskan dalam bentuk persamaan aljabar sebagai berikut: X11 + X12 + … X1n + F1 = X1 X21 + X22 + … X2n + F2 = X2 : : : : : Xn1 + Xn2 + … Xnn + Fn = Xn atau dalam bentuk persamaan umum dapat dituliskan sebagai : . xn2 V2 X2 xnn Vn Xn Fn V1 X1 Sumber : Tabel I-O Indonesia. Isian sepanjang baris pada ilustrasi Tabel I-O tersebut memperlihatkan bagaimana output dari suatu sektor dialokasikan. Jumlah Output X1 X2 X3 . Sedangkan isian sepanjang kolomnya menujukkan pemakaian input antara dan input primer oleh suatu sektor. yaitu sebagian untuk memenuhi permintaan antara dan sebagian lainnya untuk memenuhi permintaan akhir. 2000. … … … Akhir F1 F2 F3 . Struktur Tabel Input-Output Alokasi Output Susunan Input 1 2 Input Sektor 3 .xn1 Permintaan Antara Sektor Produksi 2 x12 x22 x32 . .3. Apabila Tabel 2. Permintaan n x1n x2n x3n . Xn … … … … .19 Tabel 2.

dst (2. yaitu sebagai dasar analisa ekonomi mengenai keadaan perekonomian suatu wilayah. 2. maka angka pada kolom (sektor) itu menunjukkan berbagai input yang diperlukan dalam proses produksi pada sektor tersebut. untuk semua j = 1. yaitu transaksi barang dan jasa yang digunakan dalam proses produksi.2) Dalam analisis I-O sistem persamaan di atas memiliki peran penting. sebagai berikut : 1. Secara umum matrik dalam Tabel I-O dapat dibagi menjadi 4 kuadran. 3. dst Dimana : Xij = output sektor i yang digunakan sebagai input sektor j Fi = permintaan akhir terhadap sektor i Xi = jumlah output sektor i (2. khususnya pada transaksi antara.1) Apabila angka-angka dibaca menurut kolom. Berdasarkan ilustrasi Tabel Input-Output. 3. 2.20 ∑ Xij + Fi = Xi . maka persamaan aljabar untuk input yang digunakan oleh masing-masing sektor dapat dituliskan sebagai berikut : X11 + X21 + … + Xn1 + V1 = X1 X12 + X22 + … + Xn2 + V2 = X2 : : : : : X1n + X2n + … + Xnn + Vn = Xn atau dalam bentuk persamaan umum dapat dituliskan sebagai : ∑ Xij + Vj = Xj . Dalam Analisa I-O kuadran ini memiliki peran yang sangat penting karena kuadran inilah yang . Kuadran I (intermediate quadrant) Setiap sel pada kuadran I merupakan transaksi antara. untuk semua i = 1.

Informasi di Kuadran IV ini bukan merupakan tujuan pokok.21 menunjukkan keterkaitan antara sektor ekonomi dalam melakukan proses produksinya. Kuadran III (primary input quadrant) Menunjukkan pembelian input yang dihasilkan di luar sistem produksi oleh sektor-sektor dalam kuadran antara. surplus usaha dan penyusutan. 2. Kuadran ini terdiri dari pendapatan rumah tangga (upah/gaji). pembentuk modal tetap. Kerangka Pemikiran Konseptual Strategi pengembangan yang menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi menganggap bahwa kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan dengan cepat . perubahan stok dan ekspor. sehingga dalam penyusunan Tabel I-O sering diabaikan. 3. Kuadran IV (primary input-final demand quadrant) Merupakan kuadran input primer permintaan akhir yang menunjukkan transaksi langsung antara kuadran input primer dengan permintaan akhir tanpa melalui sistem produksi atau kuadran antara. Kuadran II (final demand quadrant) Menunjukan penjualan barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor-sektor perekonomian untuk memenuhi permintaan akhir. Permintaan akhir adalah output suaru sektor yang langsung digunakan oleh rumah tangga. 2.6. 4. pemerintah. pajak tak langsung. Jumlah keseluruhan nilai tambah ini akan menghasilkan produk domestik bruto yang dihasilkan oleh wilayah tersebut.

Sektor industri ini dijadikan unggulan untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian mengingat dalam kondisi sekarang ini. kemudian.22 melalui peningkatan satu atau beberapa sektor ekonomi kunci. Sehubungan dengan itu. Peningkatan output berbagai sektor ekonomi. melalui suatu proses yang disebut sebagai penetesan ke bawah (trickle down effect) akan menyebabkan peningkatan pendapatan berbagai golongan masyarakat di negara (wilayah) bersangkutan. karena tentunya kebijakan yang ditetapkan tersebut mengharapkan hasil pada perkembangan ekonomi yang lebih baik dari sebelumnya. Dalam menganalisis peranan sektor industri kertas teradap perekonomian Indonesia ini digunakan analisis I-O dengan berbagai . Kebijakan prioritas pembangunan sektor industri pengolahan khususnya industri kertas merupakan upaya pemerintah Indonesia dalam mewujudkan perekonomian yang lebih baik untuk kesejahteraan masyarakat. Peningkatan pendapatan ini sekaligus mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat (Setyawan. 2005). sektor industri pengolahan lebih banyak dapat menyediakan lapangan kerja dan mempunyai aktifitas ekonomi yang lebih intensif untuk satuan unit usaha bila dibandingkan dengan unit usaha sektor lainnya. pada penelitian ini akan dilihat tentang peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian nasional. Selain itu sektor ini juga dianggap sebagai sektor yang mampu meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan pendapatan masyarakat pada tingkat yang layak dari sebelumnya. Peningkatan output sektor kunci tersebut akan ikut meningkatkan output sektor-sektor lainnya melalui proses keterkaitan (linkages) dan dampak penyebaran antar sektor.

23 keterbatasan analisis yang telah disebutkan pada bab sebelumnya. kemampuan mendorong dan menarik sektor hulu-hilirnya. dan perannya dalam sektor kunci perekonomian seperti yang terlihat pada gambar 1. Adapun alur konsep pemikiran dapat dilihat pada gambar 1. Pada akhirnya dapat dijadikan acuan pemerintah Indonesia sendiri dalam menentukan kebijakan pembangunan ekonomi Indonesia ke depan sehingga permasalahan pembangunan seperti kemiskinan dan pengengguran dapat diturunkan. maka diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas bagi pemerintah Indonesia tentang perkembangan sektor yang menjadi prioritas ini dalam mengatasi berbagai masalah yang berkaitan dengannya. . Dengan teridentifikasinya peranan sektor industri kertas melalui proses keterkaitan dengan sektor-sektor lain baik sebagai pengguna input maupun penghasil output.

Bagan Alur Pemikiran Konseptual .24 Perekonomian Indonesia Perubahan Struktur Perekonomian Industri Kertas Kemampuan mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya (Analisis Dampak Penyebaran) Keterkaitan dengan sektor lain dalam hubungannya sebagai pengguna input dan penghasil output (Analisis Keterkaitan) Sektor Kunci Perekonomian (Elastisitas Input-Output) Peran Industri Kertas Kebijakan Pembangunan Industri Keterangan : ( Ruang lingkup penelitian ) Analisis yang digunakan Gambar 1.

Penggunaan tabel I-O Indonesia tahun 2000 tersebut dikarenakan tabel I-O tersebut merupakan tabel terbaru selama penelitian ini berlangsung.1. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.2. Data yang digunakan antara lain berasal dari Tabel Input-Output (I-O) transaksi domestik atas dasar harga produsen tahun 2000 klasifikasi 175 sektor dari Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat yang kemudian diagregasi oleh penulis menjadi 22 sektor dan beberapa data sekunder lainnya dari instansi dan dinas terkait lainnya. Pada analisis keterkaitan. dampak penyebaran dan elastisitas ini alat yang digunakan adalah Microsoft Excel 2003. model analisis ini . Pada analisisnya nanti dapat terlihat bahwa perekonomian dapat tumbuh apabila terdapat dorongan atau peningkatan pada permintaan akhir yang eksogen tersebut. 3. Metode Analisis Untuk mengetahui peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia ini sebagai sektor penyedia input maupun sebagai sektor pemakai input.III. Oleh karenanya. kemampuan untuk mendorong atau menarik sektor hulu dan hilirnya serta perannya dalam sektor kunci perekonomian dapat di kaji berdasarkam analisis keterkaitan. METODE PENELITIAN 3. dampak penyebaran dan elastisitas input-output. hal ini dikarenakan faktor permintaan merupakan faktor eksogen yang mempengaruhi perekonomian. Pendekatan model I-O yang digunakan adalah model sisi permintaan (demand-side model).

Dengan demikian dapat disusun matriks sebagai berikut : a11 X1 + a12 X2 +………+ a1n Xn + F1 = X1 a21 X1 + a22 X2 +………+ a2n Xn + F2 = X2 : : : : : an1 X1 + an2 X2 +………+ ann Xn + Fn = Xn Atau persamaan tersebut dapat disederhanakan menjadi : a11 ……. Koefisien ini dapat diterjemahkan sebagai jumlah input dari sektor i yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit output sektor j. Secara matematik dapat dituliskan : aij = Xij (3. a1n a21 …….… ann X1 X2 : X3 X + F1 F2 : Fn F = X1 X2 : Xn X (3..AX . Koefisien Input Pada Tabel I-O.1) Xj Dimana : aij adalah koefisisen input.26 sering pula disebut dengan dengan model yang dikendalikan oleh sisi permintaan (demand-driven model).1.2. a2n : A : a31 ……. koefisien input atau koefisien teknologi merupakan perbandingan antara jumlah output sektor i yang digunakan dalam sektor j (Xij) dengan input total sektor j (Xj).2) AX + F = X Atau F = X . 3.3) (3.

( I – A ) = Matriks Leontief.27 Jika terdapat perubahan pada permintaan akhir. Beberapa jenis koefisien keterkaitan yang sering digunakan dalam analisis ekonomi wilayah sektoral antara lain adalah keterkaitan langsung ke depan dan ke belakang serta keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan dan ke belakang.AX X = ( I . Dalam analisis input-output matriks kebalikan Leontief memiliki peranan yang sangat penting sebagai alat analisis ekonomi yang mencerminkan efek langsung dan tidak langsung dari perubahan permintaan akhir terhadap output sektor-sektor di dalam perekonomian. 1. Jika ditulis dalam bentuk persamaan. F = Permintaan akhir. X = Output. maka dapat dituliskan sebagai berikut : AX + F = X Atau F = X . ( I – A )-1 = Matriks kebalikan Leontief. Keterkaitan Langsung ke Depan Keterkaitan langsung ke depan menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menggunakan sebagian output tersebut secara . 3.2.5) Dimana : I = Matriks identitas berukuran nxn yang elemennya memuat angka satu pada diagonalnya dan nol pada selainnya.2. Analisis Keterkaitan (linkages) Koefisien keterkaitan sangat berguna dalam penyusunan prioritas sektor perekonomian untuk mencapai tujuan pembangunan. maka akan ada perubahan pola pendapatan nasional.A )-1F (3.

KDLTi = ∑ α ij j =1 n (3.7) (3. dengan rumus sebagai berikut: n KDi = ∑ aij j=1 Dimana: KDi = Keterkaitan langsung ke depan = Unsur matrik koefisien teknis aij 2.8) Dimana: KDLTi = keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan sektor i ij = unsur matrik kebalikan Leontief model terbuka . Untuk mengetahui besarnya keterkaitan langsung ke depan. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ke Depan Analisa keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan mengukur akibat dari adanya suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menggunakan output sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung per unit kenaikan permintaan total.28 langsung per unit kenaikan permintaan total. n KBj = ∑ aij i=1 Dimana: KBj = Keterkaitan langsung ke belakang = Unsur matrik koefisien teknis aij 3.6) (3. Keterkaitan Langsung ke Belakang Keterkaitan langsung ke belakang menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menyediakan input antara bagi sektor tersebut secara langsung per unit kenaikan permintaan total.

Indikator-indikator tersebut tidak dapat diperbandingkan antar sektor karena peranan permintaan akhir setiap sektor tidak sama.3. Analisa ini menunjukkan koefisien kaitan yang memberikan gambaran tentang pengaruh yang ditimbulkan oleh suatu unit permintaan akhir untuk semua sektor didalam suatu sistem perekonomian.10) Dimana: BLTLj = Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang = Unsur matrik kebalikan Leontief terbuka αij 3. Koefisien Penyebaran (Coefficient of Dispersion) Koefisien penyebaran tersebut juga indeks daya penyebaran ke belakang. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ke Belakang Analisa keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang menyatakan akibat suatu sektor-sektor yang menyediakan input antara bagi sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung per unit kenaikan permintaan total. Oleh karena itu kedua indeks tersebut haruslah dinormalkan dengan cara membandingkan rata-rata dampak yang ditimbulkan oleh sektor tersebut dengan rata-rata dampak seluruh sektor. Koefisien penyebaran merupakan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang yang dinormalkan dengan sektor dan .29 4.2. 1. Analisis ini disebut dampak penyebaran yang terbagi dua yaitu kepekaan penyebaran dan koefisien penyebaran. KBLTj = ∑α ij i =1 n (3. Analisis Dampak Penyebaran Indeks keterkaitan langsung dan tidak langsung baik ke depan maupun ke belakang di atas belumlah memadai dipakai sebagai landasan pemilihan sektor kunci.

11) ij Dimana: = Kepekaan penyebaran sektor i Sdi ij = Unsur matrik kebalikan Leontief . Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: n∑ α ij Sdi = j =1 n n ∑∑ α i =1 j =1 n (3.30 jumlah seluruh koefisien matrik kebalikan Leontief.10) Dimana: Pdj = Koefisien penyebaran sektor j ij = Unsur matrik kebalikan Leontief 2. Kepekaan penyebaran ini memberikan gambaran tentang pengaruh yang timbul oleh suatu unit permintaan akhir terhadap semua sektor di dalam perekonomian. Kepekaan penyebaran merupakan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan yang dinormalkan dengan jumlah sektor dam jumlah seluruh koefisien matrik kebalikan Leontief. Secara matematis dituliskan dalam bentuk rumus sebagai berikut: n∑ α ij n Pdj = ∑∑ α ij i =1 j =1 n i =1 n (3. Kepekaan Penyebaran (Sensitivity of Dispersion) Kepekaan penyebaran disebut juga indeks daya penyebaran ke depan.

1.4. Elastisitas Tenaga Kerja Elastisitas tenaga kerja adalah perubahan persentase tenaga kerja suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: ⎤ ⎡ ET xyj = ⎢∑ l i / x j )bij /(l j / x j )⎥ (y j / x) ⎦ ⎣ i Dimana: ET xyj = Elastisitas tenaga kerja (3.12) = ∑x j b ij yj = Elemen matriks Leontief = Permintaan akhir sektor j 2. Pendekatan ini dianggap lebih baik daripada analisis keterkaitan dan analisis multiplier karena memperhitungkan share suatu sektor dalam output. Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: EO xyj = Dimana: EO xyj = Elastisitas output x ∑b i ij ( y j / x) (3. Elastisitas Output Elastisitas Output adalah perubahan persentase dalam total output suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. Pendekatan ini mempermudah policy makers untuk berkonsentrasi tidak hanya pada nilai-nilai keterkaitan dan multiplier tertinggi tetapi juga pada share suatu sektor ekonomi.31 3.13) .2. Elastisitas Input-Output Elastisitas input-output menyediakan pandangan baru untuk penentuan sektor prioritas.

14) Dimana: EP xyj = Elastisitas Pendapatan hj = Upah dan gaji hi / x j = Koefisien pendapatan .32 = Jumlah tenaga kerja li l i / x j = Koefisien tenaga kerja 3. Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: ⎡ ⎤ EP xyj = ⎢∑ hi / x j )bij /(h j / x j )⎥ ( y j / x) ⎣ i ⎦ (3. Elastisitas Pendapatan Elastisitas pendapatan adalah perubahan persentase dalam pendapatan suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya.

Group Sinar Mas.1. sektor industri ini membutuhkan investasi baru atau industri ini harus meningkatkan efisiensi agar dapat bersaing dengan industri asing.041. Jumlah perusahaan tersebut belum mampu mencukupi konsumsi domestik. dan dapat memenuhi kebutuhan kertas dalam negeri yang terancam kekurangan pasokan dalam sepuluh tahun mendatang (Mansur. . GAMBARAN UMUM INDUSTRI 4. minimal harus ada tambahan beberapa perusahaan lagi untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri.666. Group Raja Garuda Mas dan Barito Pasifik.IV. Menurut Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI). 12 perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) dan 3 perusahaan negara. Sekitar 64 perusahaan berlokasi di pulau Jawa. sampai dengan tahun 2003.1). investasi dalam negeri swasta sebesar 5.900 ton. Indonesia mempunyai 77 perusahaan produsen kertas dan 10 diantaranya terintegrasi dengan pabrik pulp.045. 14 perusahaan di Sumatera dan dua perusahan berlokasi di Kalimantan.500 ton (Tabel 4. Profil Industri Kertas Saat ini. Ketiga produsen besar industri pulp dan kertas tersebut adalah.580 ton yang terdiri dari kapasitas terpasang perusahaan swasta-negara sebesar 337. jumlah perusahaan di Indonesia yang memproduksi pulp dan kertas adalah tiga kelompok perusahaan besar. 2005). dan investasi luar negeri sebesar 4. Industri kertas memiliki kapasitas total sebesar 10. Perusahaan-perusahaan tersebut terdiri dari 65 perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Untuk memenuhi kebutuhan kertas tersebut.180 ton. Oleh karena itu.

8 persen pada periode 19972001.100 1.725.4 50.2 46.6 9.072. 4.322.140 10.0 100 10.000 3.000 Kalimantan 2 564. Pada periode yang sama ekspor kertas juga meningkat sekitar 19.9 100 85.5 100 25.045.7 persen per tahun (Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.580 2.287.100 Sumber : Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.900 5.215. Perkembangan Industri Kertas Industri kertas tumbuh dan berkembang lebih baik bila dibandingkan dengan kebanyakan industri lain di Indonesia.440 1.580 100 5.100 Pulp % 3.3 100 80. 2003.1 persen per tahun.041.382.8 52.2 14.287.580 74.500 10.528.100 2. hal ini terjadi didasarkan pada ketersediaan bahan baku dan upah tenaga kerja yang murah di dalam negeri.045. tetapi industri kertas tetap melanjutkan perkembangannya dengan pertumbuhan sekitar 9.000 6. Profil Industri Pulp dan Kertas Indonesia Tahun 2003 Status/Lokasi Jumlah Perusahaan 3 65 12 80 10 3 67 80 Kapasitas Terpasang Pulp (Ton) 240.500 Sumatera 14 5. Industri-industri yang mengandalkan bahan baku impor tetap mengalami kemerosotan pertumbuhan.000 6.7 19.3 7. .4 85.517. 2003).180 4.2.8 100 Kapasitas Terpasang Kertas (Ton) 337.554.1.580 8.287.491.045.100 5.000 Kertas % 3. Sementara konsumsi kertas juga meningkat 4.1 Perusahaan Negara Swasta Investasi Dalam Negeri Swasta Investasi Luar Negeri Total Integrated (Pulp dan Kertas) Non Integrated Pulp Kertas Total Jawa 64 340.34 Tabel 4.600 Total 80 6.666.8 43.

0 kg Sumber: Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.9 kg 1998 14. industri kertas harus mengimpor kertas senilai US$ 7 miliar/tahun.8 kg 2001 23.35 Tabel 4. Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) mengkhawatirkan Indonesia akan mengalami kekurangan pasokan kertas.2.3 kg 1997 16. Pada tahun 2003 kapasitas produksi yang dimiliki industri kertas baru sekitar mencapai 10.0 kg 1995 14. 2003.0 kg 2003 25.6 kg 2000 20. namun jika kebutuhan kertas di dalam negeri naik hingga mencapai 50 Kg per kapita. Nilai konsumsi per kapita ini memang lebih kecil bila dibandingkan dengan negara lain contohnya Malaysia yang sudah mencapai ratusan kilogram per kapita.2). Untuk mengatasi kebutuhan konsumsi kertas yang terus .3 kg 2002 24. Konsumsi Kertas Per Kapita Penduduk Indonesia Tahun 1993-2003 Tahun Konsumsi Kertas / Kapita 1993 11.1 kg 1994 13.0 kg 1996 16. Masalahnya setiap tahun konsumsi kertas dalam negeri terus meningkat dengan angka rata-rata sekitar 6 persen per tahun. Disamping kinerja yang menggembirakan dalam industri kertas ini.1 kg 1999 19.3 juta ton pertahun sedangkan konsumsi per kapitanya pada akhir 2003 telah mencapai 25 Kg (Tabel 4. bila dalam 10 tahun mendatang kapasitas industri kertas tidak bertambah. para investor telah menunjukkan ketertarikan yang kecil pada sektor ini karena industri ini telah menjadi capital intensive dan birokrasi yang rumit pasca otonomi daerah.

3. . Dengan kecenderungan ini hampir seluruh output industri pulp disalurkan pada industri kertas didalam negeri sedangkan ekspor hanya merupakan pasar kedua. tujuh diantaranya adalah perusahaan kertas yang terintegrasi (tabel 4.08 persen dari total kapasitas terpasang seluruh industri pulp. Sedangkan kapasitas terpasang industri kertas pada perusahaan pulp dan kertas yang terintegrasi mencapai 21. 2002) Dilihat dari pangsa produksi dan ekspor penguasaan jaringan pasar luar negeri. Kapasitas terpasang industri pulp yang terintegrasi dengan perusahaan kertas mencapai 66. masih menjadi kelemahan bagi sebagian besar produsen kertas Indonesia.36 meningkat maka harus ada investasi baru atau industri yang ada harus meningkatkan efisiensi.32 persen dari keseluruhan kapasitas terpasang industri kertas. Integrasi vertikal ini dianggap penting karena integrasi vertikal oleh perusahaan kertas akan meningkatkan efisiensi perusahaan dalam industri kertas tersebut karena dapat mengamankan pasokan bahan baku dan meminimumkan biaya transaksi dalam rangka untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan terhadap produk kertasnya (Karseno dan Mulyaningsih. 4. Dari 77 perusahaan kertas pada tahun 2003.1). Integrasi Vertikal dan Pasar Industri Kertas Indonesia Di Indonesia industri kertas mempunyai karakteristik sebagai industri skala besar. Industri kertas yaitu khususnya perusahaan-perusahaan besar dalam industri ini mempunyai kecenderungan untuk berintegrasi dengan perusahaan penyedia bahan baku yaitu industri pulp.

Begitu juga dengan Tanoto dan Tanjung Enim Lestari (TEL) yang mengibarkan bendera APRIL (Asia Pacific Resources International Holding Ltd. Pentingnya jaringan pemasaran lebih dipicu terutama menjelang diberlakukan pasar bebas di kawasan Asia Tenggara (AFTA) tahun 2003 dan kawasan Asia Pasifik (APEC) tahun 2010. dengan melakukan ekspansi ke negara-negara di kawasan ini. Cina. yang menguasai . dan India. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis mengenai kondisi pasar luar negeri terutama pasar Asia dan bagaimana strategi untuk memasuki dan mengembangkan pasar di kawasan tersebut. Indah Kiat Pulp & Paper Corp. 4. Pasar bebas tersebut akan memaksa para produsen pulp dan kertas Indonesia untuk mampu bersaing memperebutkan pasar Asia Pasifik yang terbuka.37 Meskipun demikian beberapa (grup) perusahaan telah mencoba menembus pasar luar negeri. Kedua kelompok ini memilih Singapura sebagai kantor pusat perusahaan mereka. Malaysia. Selain itu pasar dalam negeri juga perlu dikaji karena merupakan basis untuk memperkuat daya saing secara nasional (Rosadi dan Vidyatmoko. 2002). terutama pasar Asia.4. Profil Beberapa Perusahaan Kertas Indonesia Sampai dengan tahun 2003 dalam industri kertas terdapat tiga perusahaan yang memiliki proporsi kapasitas pabrik terhadap kapasitas total industri yang melebihi 10 persen.). PT. Kawasan Asia Pasifik merupakan kawasan dengan pasar pulp terbesar di dunia. Kelompok Sinar Mas memasuki pasar Asia dengan mendirikan kelompok perusahaan melalui bendera APP (Asia Pulp and Paper) di negara Singapura. Pertama.

465. Surabaya Mekabox Ltd.000 150. Adiprima Suraprinta PT.8 4. 2003.38 20. Selain ketiga perusahaan itu group Sinar Mas masih mempunyai perusahaan kertas lainnya yaitu PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia dengan proporsi sebesar 10.4 10. Pindo Deli & Paper Mills sebesar 14.9 Sumber : Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.8 14. Indah Kiat Pulp& Paper Corp PT. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry yang berlokasi di Langsa. Fajar Surya Wisesa PT.4 0.000 2. Suparma PT.000 1.000 50.9 1.4 4. Ekamas Fortuna PT. Papyrus Sakti PT.5 6.000 700.000 350. Keempat perusahaan yang tergabung dalam group Sinar Mas ini memiliki karaktristik yang sama yaitu semuanya merupakan perusahaan kertas yang terintegrasi vertikal dengan pabrik kertasnya.9 1.1 1.986. Pindo Deli Pulp & Paper Mills PT.1 persen (Tabel 4.5 persen dari total kapasitas industri.000 Persentase (%) 20.4 4. PT.2 1.000 430.800 195. Kertas Leces (Persero) PT.000 150.044. dan perusahaan ketiga adalah PT. .000 1.7 4.4 0.5 1.200 150.800 450.111. Surabaya Agung PT.000 150.000 500. Tanjungenim Lestari Pulp & Paper PT. NAD. Papertech Indonesia Lain-lain Kapasitas Terpasang (Ton) 2.2 3. Kapasitas Terpasang Perusahaan Industri Kertas Tahun 2003 Nama Perusahaan PT.3).000 486.4 0.8 1. Riau Andalan Kertas PT. Pura Barutama PT. kemudian disusul oleh PT. Pelita Cengkareng Paper Co. Tabel 4. Gede Karang PT.3.500 93. Tiga perusahaan pemilik kapasitas terbesar tersebut dimiliki oleh group yang sama yaitu Sinar Mas Group. Aspex Kumbong PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia PT.5 0.000 85.400 60.000 157. Pakerin PT. PT.2 persen.6 28.

Riau seluas 1. PT.722 Ha . dengan kertas bergelombang sebagai peredam benturan). Indah Kiat Pulp & Paper dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards yang terdiri dari dewan komisaris dengan presiden komisarisnya yaitu Indra Widjaja dan dewan direksi dengan direktur utamanya yaitu Teguh Ganda Widjaja. dan didaftarkan di Kantor Pengadilan Negeri Jakarta No. PT.000 ton kertas budaya per tahun. 744.39 1) PT. kertas budaya. 2005).000 ton pulp per tahun. 525 Tanggal 14 Februari 1978 (Bank Niaga. terutama pabrik kertas budaya di Tangerang.4). Indah Kiat Pulp & Paper Tbk Perusahaan ini didirikan di Jakarta dengan Akta Notaris Ridwan Suselo No.78 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan perusahaan ini (Tabel 4.631. yang menempati lahan seluas 28 Ha.000 ton corrugated boxes per tahun. kertas industri dan corrugated carton boxes (sejenis dus karton. Dengan semakin meningkatnya permintaan atas produksi kertas.Y. 980.A.000 ton kertas industri per tahun dan 100. Pada saat ini. pabrik pulp dan kertas budaya di Perawang. perusahaan kertas ini mengantisipasinya dengan meningkatkan kapasitas produksinya sehingga saat ini menjadi 1. perusahaan tersebut memiliki dan menguasai beberapa sarana dan prasarana yang digunakan untuk menjalankan berbagai kegiatan usahanya.68 tanggal 7 Desember 1976 yang disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Keputusan No. masyarakat menguasai 38. Indah Kiat Pulp & Paper melakukan usahanya secara komersil dengan memproduksi pulp.5/50/2 tanggal 9 Februari 1978. Pada susunan pemegang saham.

Dr. : 2.72% CHP International (BVI) Corp. 2005. Hong : 0. Ltd.56% British Virgin Island Yuen Foong Yu H.4. Presiden Komisaris Wakil Presiden Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris . British : 5.05% Kong Masyarakat : 38.9 Ha. Boards PT. Teddy Pawitra : Kamardy Arief : Let Jend (Purn) Soetedjo Dewan Direksi Presiden Direktur : Teguh Ganda Widjaja Wakil Presiden Direktur : Muktar Widjaja Wakil Presiden Direktur : Hendra Jaya Kosasih Wakil Presiden Direktur : Chen Wang Chi Wakil Presiden Direktur : Yudi Setiawan Lin Direktur : Suresh Kilam Direktur : Didi Harsa Direktur : Agustian Rachmansjah Partawidjaja Susunan Pemegang Saham PT Purinusa Ekapersada : 52.K.. Fasilitas produksi perusahaan juga didukung dengan berbagai fasilitas dan prasana seperti jalan. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk per 30 September 2004 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Ir. Tabel 4.88% Virgin Island YFY Global Investment (BVI) Corp. Co.40 dan pabrik kertas industri di Serang Jawa Barat seluas 308. Ryani Soedirman : Mas Achmad Daniri : Prof. mess karyawan dan lain-lain. : Lo Shang Shung : Hj.78% Sumber: Bank Niaga. Gandi Sulistiyanto Soeherman : Show Chung Ho : Kuo Cheng Shyong : Raymond Liu. Phd.

2005). Total kapasitas produksi terpasang pabrik kertas milik perusahaan ini adalah sebesar 210. berlokasi di lokasi Pindo 1 dengan kapasitas produksi terpasang sebesar 48.59 tanggal 26 April 1975. Karawang (Pindo 1).000 ton per tahun dan telah berproduksi sejak bulan Maret 1996 (Bank Niaga. Karawang dengan menambah tiga Paper Machine serta sebuah Corrugated Machine. Perusahaan kertas ini dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards (dua dewan perusahaan) dan kepemilikan saham terbesar perusahaan ini dikuasai oleh PT Purinusa Ekapersada sebesar 97.75 tanggal 31 Januari 1975.12 tahun1970. PT.000 ton per tahun. dengan Akta No.69 tanggal 25 Februari 1976 (Bank Niaga. sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. Selain itu perusahaan ini juga mempunyai fasilitas pabrik pembuatan bahan kimia calcium carbonate. Pindo Deli Pulp & Paper Mills PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills didirikan di Jakarta dalam rangka Undang-undang No.5 tanggal 3 April 1975. dengan jumlah kapasitas produksi terpasang sebesar 652. Pada Oktober 1995.5).6 tanggal 4 Juli 1975 dan Akta Perubahan No.6 tahun 1968 tentang PMDN.000 ton per tahun. Akta Perubahan No. Saat ini perusahaan kertas ini memiliki sebuah pabrik kertas yang berlokasi di Adiarsa. Akta Perubahan No.57 persen dari total saham yang dikeluarkan PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills tersebut (Tabel 4. 2005). salah satu bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi kertas. Akta Perubahan No. Pindo Deli Pulp & Paper Mills ini memulai konstruksi pabrik kertasnya yang kedua (Pindo 2) yang berlokasi di Kuta Mekar.41 2) PT. .

Kelompok Sinar Mas adalah salah satu dari kelompok industri terbesar di Indonesia dengan kurang lebih 200 perusahaannya yang bergerak di berbagai usaha yang besar . Perusahaan ini merupakan bagian kelompok usaha Sinar Mas. 2005.9 tanggal 2 Oktober 1972 (Bank Niaga.5.42 Tabel 4. Jhon Ferdinand Pandelaki : Yudi Setiawan Lin : Let Jend (Purn) Soetedjo : Hajjah Ryani Soedirman : Arthur Tahya Dewan Direksi : Teguh Ganda Wijaja : Muktar Widjaja : Hendra Jaya Kosasih : Suresh Kilam : Tsai Huan Chi : Huang Wen Hai : Tri Ramadi Susunan Pemegang Saham : 97. masyarakat menguasai 36.6). Komisaris Utama Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Direktur Direktur PT Purinusa Ekapersada PT Mega Kleenindo PT Unitama Sartindo Sumber: Bank Niaga.60 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan perusahaan ini (Tabel 4.61% 3) PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards (dua dewan direksi) dan pada susunan pemegang saham. PT.12 Tahun 1970 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri berdasarkan Akta No. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk PT. Pindo Deli Pulp & Paper Mills per 30 September 2004. 2005). Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk didirikan dalam rangka Undangundang Negara Republik Indonesia No. Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Drs.91% : 0.57% : 0.6 Tahun 1968 juncto Undang-undang No. Boards PT.

Gandi Sulistiyanto Soeherman : Show Chung Ho : Kuo Cheng Shyong : Raymond Liu. 2005.30% : 0. sedangkan sisanya merupakan tanah yang telah dibebaskan untuk kepentingan . Phd.10% : 36. hotel dan perumahan. : Lo Shang Shung : Hj. perbankan dan jasa keuangan. real estate. minyak goreng. bidang kimia. produksi bahan makanan.6. Ryani Soedirman : Mas Achmad Daniri : Prof DR. Teddy Pawitra : Kamardy Arief : Let Jend (Purn) Soetedjo Dewan Direksi : Teguh Ganda Widjaja : Muktar Widjaja : Hendra Jaya Kosasih : Chen Wang Chi : Yudi Setiawan Lin : Suresh Kilam : Didi Harsa : Agustian Rachmansjah Partawidjaja Susunan Pemegang Saham : 63. yang berdekatan dengan pelabuhan Tanjung Perak merupakan hal yang sangat menguntungkan kelancaran pengapalan untuk ekspor. Dari seluruh tanah yang dikuasai perusahaan 64 persen merupakan tanah dengan Hak Guna Bangunan. Boards PT.43 termasuk industri kertas dan pulp.60% Presiden Komisaris Wakil Presiden Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Direktur Direktur Direktur PT Purinusa Ekapersada Koperasi Masyarakat Sumber: Bank Niaga. Lokasi pabrik dan pusat perusahaan yang terletak di Jawa Timur. Tabel 4. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk per 30 September 2004 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Ir.

PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia telah menerima sertifikat ISO 9002 dari Det Norske Veritas Industry B. Pabrik kertas merupakan suatu jenis industri dengan sifat padat modal. Namun demikian melihat kebutuhan penyediaan kesempatan kerja di Indonesia. Perusahaan ini juga memproduksi pulp dari daur ulang kertas bekas dan soda kaustik sebagai bahan baku utama industri kertas. minyak wangi. Saat ini PT. Perusahaan ini menyesuaikan pemakaian teknologi sedemikian rupa untuk tetap dapat menyediakan kesempatan kerja seluas-luasnya. kertas HVS mengkilap.000 ton boxboard pertahun. meningkatkan pengawasan mutu disamping . Hal ini juga diperlukan untuk meningkatkan kesempatan kerja. Hal ini jelas dapat terlihat pada bagian produksi barang-barang hasil produksi kertas dimana perusahaan ini telah memutuskan untuk tidak menambah mesin-mesin pembungkus otomatis. dan kertas HVS biasa untuk kebutuhan sekolah dan perkantoran. Pada tahun 1994.V. dan sereal. yang merupakan pengakuan bertaraf internasional terhadap sistem dalam proses produksi yang telah berhasil dilaksanakan oleh perusahaan. kertas tissue. Belanda. Rotterdam. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia mempunyai kapasitas produksi sebanyak 30. Selain kertas tulis dan cetak serta hasil-hasil produksi kertas.44 perusahaan yang berasal dari petani di sekitarnya dengan status Hak Milik atau Girik. diantaranya dus (boxboard) yang dipergunakan untuk kemasan rokok. Bidang usaha utama perusahaan ini adalah menghasilkan kertas tulis dan cetak bermutu tinggi. perusahaan kertas ini juga memproduksi produk-produk kemasan.

25 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan (Tabel 4. Disamping pulp dan kertas. Saat ini perusahaan ini merupakan salah satu produsen pulp yang cukup besar di Indonesia dengan kapasitas produksi sebesar 545. kertas budaya dan tissue. Kepemilikan saham dikuasai oleh tiga perusahaan yaitu PT.6 Tahun 1968 tentang PMDN dengan Akta No. dalam rangka Undang-Undang No. Aceh Timur dengan nama awal PT Sumber Indra Jaya Paper Manufacture Co. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry bergerak dalam bidang usaha industri pulp dan kertas. PT. pada kuartal keempat tahun 1998 perusahaan kertas ini memulai produksi komersial tissue dalam bentuk gulungan besar yang dijual kepada pihak lain untuk kemudian diubah menjadi berbagai jenis tissue siap pakai. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry Perusahaan kertas ini didirikan di Langsa.75 persen). dan PT. 44 tanggal 13 Februari 1974 (Bank Niaga. PT.45 4) PT. 2005). PT Satria Perkasa Agung (19. dengan produksi utama pulp jenis LBKP.. modifikasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas produksi mesin pembuatan pulp dan fasilitas pendukung lainnya. Arthadana Mulia Makmur yang memiliki 0. Pada tahun 1999 perusahaan ini telah melakukan modifikasi terhadap mesin-mesin dan fasilitas produksi di pabrik pulp Jambi.000 ton per tahun.500 ton kertas per tahun. Lontar Papyrus Pulp . Pindo Deli Pulp & Paper Mills (80 persen).Ltd.000 ton pulp per tahun dan 7. dengan kapasitas produksi 60.7). Perusahaan kertas ini dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards yang terdiri dari dewan komisaris dengan presiden komisarisnya yaitu Indra Widjaja dan dewan direksi dengan direkturnya adalah Teguh Ganda Widjaja.

perseroan ini juga telah memperoleh sertifikat ISO 14001 pada tanggal 19 Agustus1997 yang dikeluarkan SGS Yarsley International Certification Services Limited dengan sertifikat No. John Ferdinand Pandelaki : Sukirta Mangku Djaja : Let Jend (Purn) Soetedjo : Hj.75% PT Arthadana Mulia Makmur : 0. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry per 30 Desember 2003 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Drs. 2005).25% Sumber: Bank Niaga.46 & Paper Industry saat memiliki sebuah pabrik yang memproduksi pulp dan tissue yang berlokasi di Sumatera yaitu di Tanjung Jabung. Boards PT. Komisaris Utama Wakil Komisaris Utama Komisaris Komisaris Komisaris Dalam menjalankan usahanya. .7. Jambi dan sebuah pabrik kertas di Langsa. PT. Ryani Soedirman Dewan Direksi Direktur Utama : Teguh Ganda Widjaja Wakil Direktur Utama : Hendra Jaya Kosasih Direktur : Muktar Widjaja Direktur : Suresh Kilam Direktur : Lin Shun Keng Direktur : Tri Ramadi Direktur : Arthur Tahya Susunan Pemegang Saham PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills : 80. Tabel 4.00% PT Satria Perkasa Agung : 19. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry telah memperoleh sertifikasi ISO 9002 sehubungan dengan telah sesuainya sistem kualitas manajemen (Quality management systems) dengan ketentuan yang dipersyaratkan dalam ISO 9002. 2005. Di samping itu.E10683 sebagai bukti bahwa perusahaan kertas ini telah memenuhi ketentuan standar lingkungan hidup yang dipersyaratkan (Bank Niaga. NAD.

Berdasarkan Tabel 5.048. hal ini berarti bahwa output di Indonesia cenderung digunakan untuk memenuhi konsumsi langsung masyarakatnya.1.460. . Selanjutnya diikuti oleh sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian.1.870 juta. Angka-angka tersebut di atas menunjukkan seberapa pentingnya peranan output yang dihasilkan oleh sektor-sektor di atas untuk digunakan sebagai input oleh sektor-sektor perekonomian lainnya di Indonesia.073.03 persen dari total permintaan antara dan berada pada urutan ke-18 diantara sektor-sektor lainnya.83 persen dan Rp 117.656. Struktur Permintaan Industri Kertas Total permintaan barang dan jasa domestik yang dihasilkan oleh Indonesia tahun 2000 mencapai Rp 2.800.775 juta atau sekitar 1.1.415 juta atau 13.730 juta atau 11.099. Jumlah tersebut terdiri atas permintaan antara sebesar Rp 1.626 juta atau 18.1.019 juta dan permintaan akhir sebesar Rp 1. Sedangkan untuk industri kertas mempunyai permintaan antara sebesar Rp 10. pada urutan kedua dan ketiga dengan nilai Rp 144. Dari data tersebut diperoleh bahwa jumlah permintaan akhir lebih besar dibandingkan jumlah permintaan antaranya.71 persen dari total permintaan antara.767. Peranan Industri Kertas Dalam Perekonomian Indonesia 5.977.21 persen dari total permintaan antaranya.629 juta. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.068. dilihat dari sisi permintaan antara tampak bahwa sektor perdagangan menghasilkan output tertinggi yang digunakan sebagai input oleh seluruh sektor perekonomian lainnya yaitu sebesar Rp 197.701.V.

760.87 6.33 0.38 0.944 0.595.87 2.27 3.329.84 0.89 2.356 105.353.574 1.56 100 Sumber: Tabel I-O Indonesia.272.948.045.485 39.16 1.649 36.03 0.379 33.48 0.242.29 12.593 30.019 11.916 177.870 7.621 208.259 165.1 sektor industri kertas menempati posisi ke-14 diantara sektor yang lain sebesar Rp 13.08 79.926 0.64 3.340.672.108 13.034 238.165 139.698. Permintaan Antara dan Permintaan Akhir Sektor-sektor Perekonomian di Indonesia Tahun 2000 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.476.372 88.701.50 0.599 5.564.98 100 Total permintaan Jumlah % (Juta Rp) 260.36 9.88 4.37 6.438. 2000 (diolah).325.529.036 155.254 131.1.153.14 117.19 4.821.056 67.068.586.34 2.099.52 12.09 1.84 18.036.424 8.048.53 0.84 persen dari total permintaan akhir.30 1.800.84 2.128 23.065 15.844.881 13.278 151.48 Tabel 5.442.416.073.605 94.885.063 396.767.729.83 15.441.774.71 2.067 0.620 8.227.850.408 243.724 5. Nilai tersebut lebih besar dibanding permintaan antaranya.276.43 14.25 2.656.32 0.34 0.119.849 80.670 7.627.53 1.018 0.99 1. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat secara keseluruhan lebih banyak menggunakan output industri kertas untuk konsumsi .113 94.287.815.44 1.15 100 Permintaan Akhir Jumlah % (Juta Rp) 115.160 6.695.848.613 64.287 2.125.37 5.622 8.020 7.014.05 9.13 0.743.214.13 8.076.412.700 3.748.99 1.970.228.64 2.73 8.58 12.817.11 1.496.977. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Total (domestik) Permintaan Antara Jumlah % (Juta Rp) 144.88 1.775.257.80 14.51 1.50 9.771. Dilihat dari permintaan akhir pada Tabel 5.028 0.741 10.657 12.97 6.897.847 juta atau 0.67 5.23 0.034 41.689.92 0.16 4.626 70.60 5.498 19.970.151 329.739.74 8.21 8.730 90.074 19.575 9.901.847 3.961 1.887 201.637.695 227.677.47 0.65 17.849 24.37 0.03 0.568 21.42 5.805.775 5.215 35.415 13.534.426.713 1.620 13.726.099 57.176 197.460.10 196.705 23.035 16.169 161.389.629 4.47 1.685.

967 juta (Tabel 5.928 juta berasal dari penyusutan dan Rp 69.849 juta.952. Berdasarkan Tabel 5. Nilai rasio tersebut menunjukkan perbandingan antara besarnya upah dan gaji yang diterima produsen.895. pemerintah dan ekspor) dibanding untuk keperluan produksi sebagai input bagi sektor lain. Rasio upah dan gaji dan surplus usaha termasuk kategori baik jika rasionya mendekati keseimbangan (mendekati 1) yang berarti bahwa proporsi penerimaan dalam bentuk upah dan gaji bagi pekerja dan surplus usaha bagi produsen berimbang. Pada tahun yang sama sektor industri kertas menyumbang nilai tambah bruto sebesar Rp 7. Rp 755.350 juta dengan perincian Rp 400. penyusutan dan pajak tak langsung netto.762 juta.498 juta berasal dari surplus usaha.732 milyar berasal dari pajak tak langsung netto.2).331. surplus usaha.2. Dalam Tabel I-O Indonesia tahun 2000 nilai tambah meliputi penerimaan upah gaji.048. penyusutan sebesar Rp 865. 5.327 juta yang terdiri atas upah dan gaji sebesar Rp 1. surplus usaha sebesar Rp 458.770 juta berasal dari upah dan gaji.843.958 juta dan pajak tak langsung netto sebesar Rp 487. Struktur Nilai Tambah Bruto Nilai tambah bruto merupakan balas jasa terhadap faktor produksi yang tercipta karena adanya kegiatan produksi. .278.079.2 dapat diketahui bahwa total nilai tambah bruto negara Indonesia adalah Rp 1. Jika diperbandingkan antara nilai upah dan gaji terhadap surplus usaha (U/G) maka akan diperoleh nilai rasio upah gaji dengan surplus usaha.860. Rp 110.49 langsung (masyarakat.1.

382 4.585.690 777.430 dasar Industri barang jadi 3.542 Bangunan 37.459 53.434 15.623.131 115.132.116 7.331.843.107 14.550.440. Hal ini terlihat dari nilai rasio yang lebih kecil dari satu (0.797.756 12.952 4.670 4.232 97.573.498 Sumber: Tabel I-O Indonesia.073 3.802 134.605.340 Perdagangan 61.588.616 5. Nilai Tambah Bruto Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 Sektor Upah /gaji (Juta Rp) Surplus Usaha (Juta Rp) 121.607 6.114 pakaian Industri kayu dan 5.759 10.864.895.233 65.378 476.702 926.480.358 1.985 Hasil hutan lainnya 565.070 persewaan Jasa-jasa 85.311 9.385 Total 400. Berdasarkan hasil analisis rasio upah dan gaji dengan surplus usaha pada Tabel 5.567 26.928 Indirect Tax (Juta Rp) 1.948 3.973.052 20.477.034.010.182 30.731.169.933 2.912 9.354 komunikasi Keuangan dan 21.886 2.569 11.396 325.670.212 3.352.996.963 8.860.156 69.762 4.774 11.383.062.479 kertas Industri percetakan 1.931.542 933.081 834.3.333. 2000 (diolah).975 865.127.764 83.576 dari logam Industri lainnya 19.705 7.718 147.463.692.278.326 5.901.015.536.028.708 127.048.240 28.327 3.511 29.821 61.625.701 Industri kertas 1.350 Pertanian 40.946 110.756.946 Penyusutan (Juta Rp) 2.772.489.623 84.554.567 5.296.004.063 barang non logam Industri logam 2.723.084.50 Tabel 5.758.012.952.017.278.164 13.947 Industri semen dan 3.392 225.875 429.664.560 8.655 2.372.968 115.458.142.781 8.279.990 dan minuman Industri tekstil dan 16.282.524 487.212.512 1.562.229.143.577.638 9.451 Listrik.176 19.590.877.063 4.704 6.443 301.237 6.129 furniture Industri pulp 940.511 770.418 59.902 6.778.576.475.243 1.504 1.703.343.119.208.257 19.946.195 112.530 penggalian Industri makanan 30.072 64.044. diperoleh bahwa ternyata pada sektor industri kertas mempunyai nilai surplus usaha lebih besar dibandingkan upah dan gaji.414.393.226.591 564.088 105.105 6.228.919 1.725 Industri kimia 21.652 167.266.732 Nilai tambah bruto (Juta Rp) 166.949 45.365.770 755.508. Kondisi ini menunjukan bahwa distribusi pendapatan antara pemilik modal (perusahaan) dan pekerja tidak merata atau .393.103.079.484.905 2.727 76.898 138.2.564.567.757 2.914 Kayu 2.664.245 Pertambangan dan 25.093.177 21.958 83.182.793.256.418 Pengangkutan dan 16.714. gas dan air 2.803 4.046 1.700.43).147.229.639 Industri barang dari 1.

43 0.33 0.45 0.1. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.36 0.320. Jumlah tenaga kerja yang terserap di setiap sektor ekonomi merupakan indikator kemampuan sektor tersebut dalam menciptakan kesempatan . 2000 (diolah).27 0.48 1.76 0.84 0.57 0.25 6.3. Tabel 5.74 0.51 0. Rasio Upah Gaji terhadap Surplus Usaha (U/G) 0.20 0.43 0.47 0.36 0. Rasio Upah Terhadap Surplus Usaha Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.64 0.3.55 5.35 0.26 0.948 jiwa. Struktur Ketenagakerjaan Banyaknya tenaga kerja yang terserap pada tahun 2000 sebanyak 93.04 0.51 terjadi ketimpangan yang sangat besar yang disebabkan oleh adanya eksploitasi tenaga kerja oleh pemilik modal terhadap tenaga kerja dengan share yang lebih besar pada produsen (pemilik modal).79 0.

Berdasarkan Tabel 5.143.30 40.327 Industri kertas 73.4.15 137.519 jiwa.727 Listrik.623 85.017.46 14.590.4.573.03 65.454 jiwa sedangkan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor pertanian dengan kemampuan menyerap tenaga kerja sebesar 40.182 2.914 2.07 18.454 7.938 9.756 400.034 115.569 940.585.448. produktifitas dan nilai upah sektoral dapat dilihat pada Tabel 5.655 Kayu 86.169.35 79.513 2.670.392 Bangunan 17.912 non logam 357.821 logam 1.60 25.012.06 0.664.20 18.233 Perdagangan Pengangkutan dan 4.39 203.195 Penggalian Industri makanan dan 3.921.75 7.177 5.64 6.243 Jasa-jasa 93.963 Industri lainnya 225.98 10.034.030 97.700.567.511 61.519 166.255 76.477.803 19.30 12.132.843.15 0.905 Industri kayu dan furniture 57.577.759 Industri kimia Industri semen dan barang 648.83 14.61 10.041.06 0.708 30.985 565.06 0.350 Total (domestik) Sumber: Tabel I-O Indonesia.12 24.592 112.225 45.607 Industri barang dari kertas 100.119.328.20 0.164 Pertanian 555.797.142.569.212.27 43.475.942 6.10 8.705 Industri pulp 118.296.692.88 3.65 41.84 13.279.052 Industri tekstil dan pakaian 2.256.53 30.328.331.567 21.382 37.03 0.245 25.616 3.084.97 66.802 16.911 10.515 225.161 9.824 13.134 20.895.13 4.551 3. terlihat sektor industri kertas menyerap 118. Jumlah Tenaga kerja.012.183.15 0.74 8.949 minuman 2.56 59.870.576.638 Industri logam dasar Industri barang jadi dari 259.06 0.508.320.52 kerja bagi masyarakat di wilayah tersebut.860.450.208. Gambaran tentang jumlah tenaga kerja. 2000 (diolah).877.480.266.282. Tabel 5.062.32 8.333. Dalam hal produktifitas tenaga kerja industri kertas menduduki peringkat keempat .762 1.131 Komunikasi 1.20 18.512 1.504 1.65 26.42 0.212 2.088 Keuangan dan Persewaan 11.912 65.943 167.063 21. Produktifitas dan Nilai Upah Sektoral Indonesia Tahun 2000 Sektor Jumlah TK Nilai tambah Produktivitas bruto (Juta/Tk) (Juta Rp) 4.463.418 3.051 2.82 15.99 4. Gas dan Air 4.952.931.664 8.770 Upah/TK 0.232 Industri percetakan 705.48 37.4.218 61.48 3.15 0.54 36.562 105.03 37.393.652 Hasil Hutan Lainnya Pertambangan dan 825.459 16.352.004.440.372.27 Total Upah (Juta) 40.948 1.

4. Ditinjau dari sisi impor terhadap barang-barang dan jasa ternyata nilai impor secara keseluruhan sebesar 287.507.854 juta atau 2. nilai ekspor keseluruhan sektor industri kertas adalah Rp 13.65 yang berarti satu orang tenaga kerja yang bekerja di sektor manufaktur mampu menghasilkan sekitar 66.65 juta nilai tambah dari sektor tersebut dalam tahun 2000. Nilai impor tersebut dapat menunjukkan bahwa kebutuhan kertas dalam negeri masih lebih besar dari produksi kertas dalam negeri sehingga harus melakukan impor. terlihat bahwa sektor pertanian. sedangkan nilai ekspor terbesar ditempati oleh sektor industri kimia atau 18. Berdasarkan nilai total ekspor tersebut.385 juta atau 2. Nilai impor industri kertas sebesar Rp 8.930. Nilai ekspor industri kertas yang masih kecil tersebut dapat menandakan bahwa sektor industri ini masih berorientasi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.84 persen dari total ekspor indonesia. Dari Tabel 5.5). perdagangan serta sektor pengangkutan dan telekomunikasi mengalami selisih yang positif ini menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barangbarang yang dihasilkan oleh sektor tersebut tidak lagi tergantung pada impor.5. 5.95 persen dari total impor Indonesia (Tabel 5.5). . Struktur Ekspor dan Impor Ekspor Indonesia pada tahun 2000 sebesar Rp 520.52 persen dari total ekspor Indonesia (Tabel 5. industri pengolahan.1. dengan melihat besarnya selisih antara total ekspor dan impor.53 sekitar 66.831.125.623 juta.757 juta.

214.061 4.048.705 23.857.088 -404.23 2.900.03 Perdagangan Pengangkutan dan 26.30 Industri kertas Industri barang dari 1.033 8.53 1.151 332.305 6.242.473.809 4.161.353.739.95 0. .444.933 1.00 Listrik.162.943.27 Industri logam dasar Industri barang jadi 31.947 43.99 6.942.580.322 32.531 541.859 7.957.558.225.5.489.018 49.815.06 barang non logam 12.01 1.641 37.729.620 12.22 0.559.340.771.602 19.96 Industri pulp 13. gas dan air 0 0.433 5.395.466 13.490.163.617 2.21 Industri lainnya 0 0.413 176.637.177 6.040 1.58 0.126 X-M (Juta Rp) 2.238.719.97 pakaian Industri kayu dan 37.337 5.317.094.093.444.262 17.796.881 40.399 -3.507.22 Pertanian 124.247 0.332 49.622 8.58 0.814 71.620 13.403.611.218 11.427 5.588.900.51 Jasa-jasa 569.451 131.413 0.385 2.167.991.958.418 6.695 227.617.412.259.38 0.305.17 0.18 0.550 0.854 1.86 6.84 Industri kimia Industri semen dan 6.554.54 Sedangkan yang mengalami selisih negatif dialami oleh sektor kayu.298 4.29 kertas 3.336 1.285.56 penggalian Industri makanan dan 29.297 2.373 1.603. 2000 (diolah).930.896.916 177.00 Bangunan 57. Tabel 5.493.855 26.566.07 Hasil hutan lainnya Pertambangan dan 77.814 18.163 63.063 396.567.408 243.805.110 0.175 100 Total (domestik) Sumber: Tabel I-O Indonesia.845 528.694 2.326 1.529. Struktur Ekspor dan Impor Indonesia Tahun 2000 Ekspor Sektor Jumlah (Juta Rp) % Impor Jumlah (Juta Rp) 4.979 2.864 9.850.848 287.864.96 2.278 177.10 persewaan 8.883.78 13.944 196.824.319 24.379 33. Ini menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barang-barang yang dihasilkan oleh sektor tersebut masih tergantung pada impor.424 8.613 27.772.701.478 -2.120 3.59 dari logam 58. gas dan air. sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa-jasa.512 281.959 30.050 4.61 Industri percetakan 107.534.089.665 25.287 2.016 0.52 15.326 2.29 17.489 8.842 2.18 minuman Industri tekstil dan 73.238.053 -21.634.242.641 19.899 7.971. sektor listrik.53 furniture 5.125.735.49 4.722 39.79 8.287 161.598.365 5.821.268. sektor bangunan.775 10.65 9.627.849 24.136.485.67 komunikasi Keuangan dan 11.865 353.908 10.757 % 1.13 100 Jumlah Input (Juta Rp) 224.94 2.677.667.099 57.02 Kayu 394.698.028 2.722 -39.75 1.525.540.362.880.

55

Jika dilihat dari total selisih antara ekspor dan impor maka perekonomian Indonesia mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 232.900.866 juta. Surplus perdagangan terbesar diberikan oleh sektor pertambangan dan penggalian sebesar Rp 71.489.864 juta, sedangkan industri kertas mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 4.617.531 juta. Angka tersebut menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barang-barang yang dihasilkan oleh sektor industri kertas di Indonesia tidak lagi tergantung pada impor.

5.1.5. Struktur Output Sektoral Output merupakan nilai produksi (barang dan jasa) yang dihasilkan oleh suatu sektor perekonomian. Berdasarkan Tabel Input-Output Indonesia tahun 2000 dapat diketahui besarnya output yang diciptakan oleh masing-masing sektor. Berdasarkan Tabel 5.6 terlihat bahwa output sektoral perekonomian Indonesia sebesar Rp 270.099.837 juta. Sektor yang paling besar menyumbang dalam pembentukan output domestik adalah sektor perdagangan yakni sebesar 14,67 persen dengan nilai output sebesar Rp 396.214.278 juta, kemudian disusul oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai sebesar Rp 329.325.254 juta dalam persentase sebesar 12,19 persen dari total output keseluruhan. Sementara industri kertas sendiri menyumbang sebesar Rp 24.771.622 dalam pembentukan output atau sebesar 0,92 persen dari seluruh total output sektoral perekonomian.

56

Tabel 5.6. Struktur Pembentukan Output Sektoral terhadap Perekonomian Indonesia Tahun 2000
Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Total (domestik) Output Jumlah (Juta) Persentase (%) 260,672,575 9.65 17,340,028 0.64 2,698,944 0.10 196,815,151 7.29 329,325,254 12.19 131,412,099 4.87 57,534,424 2.13 8,739,849 0.32 24,771,622 0.92 8,850,620 0.33 13,627,408 0.50 243,805,705 9.03 23,821,379 0.88 33,729,613 1.25 64,119,165 2.37 139,438,593 5.16 30,637,695 8.43 227,677,063 8.43 396,214,278 14.67 151,272,169 5.60 161,353,916 5.97 177,242,287 6.56 2,701,099,837 100

Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah). 5.2. Analisis Keterkaitan

5.2.1. Keterkaitan Langsung Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Keterkaitan langsung beberapa sektor perekonomian Indonesia dapat dilihat pada Tabel 5.7. Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa sektor perdagangan mempunyai nilai keterkaitan langsung kedepan yang paling besar yaitu sebesar 1,4070. Selanjutnya urutan kedua terbesar ditempati oleh sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai keterkaitan langsung ke depan sebesar 1,3580 kemudian secara berturut-turut diikuti oleh sektor industri kimia dan minyak dan

57

sektor pengangkutan dan komunikasi dengan nilai 0,7964 dan 0,7020 pada posisi ketiga dan keempat. Untuk keterkaitan langsung ke belakang sektor listrik, gas dan air merupakan sektor yang memiliki nilai keterkaitan langsung ke belakang yang paling tinggi dengan nilai 0,3103. hal ini dikarenakan sektor listrik, gas dan air merupakan salah satu sektor yang paling vital dalam kehidupan manusia dan tanpa sektor tersebut sektor yang lain tidak akan dapat berjalan, kemudian urutan kedua dan ketiga di tempati oleh industri makanan dan minuman dan sektor industri kayu dan furniture dengan nilai keterkaitan sebesar 0,3319 dan 0,1790.

Tabel. 5.7. Nilai Keterkaitan Berbagai Sektor Perekonomian di Indonesia
Langsung

Sektor
Depan Belakang

Langsung dan Tidak Langsung Depan Belakang

Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa
Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah).

0,5495 0,2619 0,0236 1,3580 0,3319 0,2764 0,1790 0,1877 0,5997 0.0485 0,0431 0,7964 0,0900 0,3072 0,1737 0,1631 0,3103 0,1919 1,4070 0,7027 0,6438 0,0980

0,2391 0,1794 0,1393 0,1188 0,6039 0,4673 0,5687 0,3957 0,3378 0,5356 0,4078 0,4217 0,4842 0,5635 0,4161 0,3675 0,6530 0,4884 0,3821 0,3945 0,2400 0,3390

1,9552 1,3283 1,0291 3,1272 1,6422 1,3855 1,2191 1,2750 1,6529 1,0734 1,0653 2,1857 1,1150 1,2955 1,2689 1,3310 1,4368 1,3066 3,2051 2,0874 2,1306 1,1575

1,3950 1,2751 1,2287 1,1567 1,9484 1,7956 1,8775 1,6059 1,5409 1,8431 1,6424 1,5577 1,6858 1,7978 1,5005 1,6501 1,8552 1,7539 1,6138 1,6346 1,3643 1,5500

Sedangkan untuk keterkaitan langsung ke belakang industri kertas memiliki nilai sebesar 0.3378 juta rupiah. 5. Untuk nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang. gas dan air dan sektor industri barang-barang dari kertas dengan nilai keterkaitan sebesar 1.8552 dan 1.1272.58 Untuk industri kertas. Selanjutnya di posisi kedua dan ketiga ditempati oleh sektor perdagangan dan sektor industri kimia dengan nilai masing-masing sebesar 3.2. Keterkaitan Langsung Perekonomian Indonesia dan Tidak Langsung Sektor-Sektor Pada Tabel 5.2.1857.9484. maka sektor industri kertas akan meningkatkan permintaan inputnya secara langsung sebesar 0.8431.5997 juta rupiah. Urutan kedua tertinggi ditempati oleh sektor industri kayu dan furniture dengan nilai keterkaitan sebesar 1. . Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sebesar satu juta.5997. Nilai tersebut mengindikasikan bahwa jika terjadi kenaikan permintaan akhir satu juta.3378 yang berada pada posisi ke-17 diantara sektor-sektor yang lain.8775. dalam nilai keterkaitan langsung ke depan menempati urutan keeenam dengan nilai 0. Selanjutnya berturut-turut untuk posisi ketiga dan keempat ditempati oleh sektor listik. sektor industri makanan dan minuman memiliki nilai keterkaitan tertinggi diantara sektor-sektor lainnya yaitu sebesar 1.2051 dan 2. maka output industri kertas secara langsung akan meningkat sebesar 0.7 dapat dilihat bahwa sektor yang mempunyai nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung kedepan tertinggi adalah sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai sebesar 3.

59

Berdasarkan hasil analisis (Tabel 5.7), industri kertas memiliki nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung kedepan sebesar 1,6529 yang berada pada peringkat ketujuh diantara sektor-sektor yang berada dalam perekonomian Indonesia. Nilai keterkaitan tersebut mengindikasikan bahwa setiap satu juta output yang dihasilkan industri kertas secara langsung maupun tidak langsung akan dialokasikan kepada sektor-sektor lain dan kepada industri kertas itu sendiri sebesar 1,6529 juta rupiah. Sedangkan untuk keterkaitan langsung dan tidak langsung kebelakang, industri kertas memiliki nilai keterkaitan sebesar 1,5409 yang berada pada peringkat ke-16 diantara sektor-sektor lainnya. Nilai keterkaitan sebesar 1,5409 berarti apabila terjadi peningkatan permintaan akhir sebesar satu juta pada industri kertas maka permintaan input dari sektor-sektor lainnya maupun dari industri kertas itu sendiri secara langsung dan tidak langsung akan menigkat sebesar 1,5409 juta rupiah.

5.2.3. Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Industri kertas merupakan sektor antara yang berada diantara sektor-sektor yang lain, industri ini tidak dapat dipisahkan dari industri atau sektor-sektor hulunya yang menyediakan input bagi keperluan proses produksinya, sebaliknya industri ini juga berfungsi sebagai penghasil output yang digunakan sebagai input bagi industri lainnya (hilir). Sektor-sektor hilir yang terkait dengan industri kertas antara lain industri barang-barang dari kertas, industri percetakan (penerbitan), dan sektor jasa-jasa.

60

Tabel 5.8. Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Sektor
Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah).

Koefisien 0.0005 0.0008 0.0025 0.0000 0.0022 0.0013 0.0004 0.0057 0.0015 0.3183 0.2448 0.0003 0.0047 0.0001 0.0006 0.0010 0.0007 0.0002 0.0020 0.0009 0.0012 0.0128

Peringkat 17 14 6 22 7 10 18 4 9 1 2 19 5 21 16 12 15 20 8 13 11 3

Dari hasil analisis keterkaitan ke depan industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian Indonesia (Tabel 5.8) dapat dilihat bahwa industri barang dari kertas menduduki peringkat pertama dengan nilai sebesar 0,3183. Selanjutnya disusul oleh industri percetakan dengan nilai keterkaitan sebesar 0,2248 pada urutan kedua. Industri barang dari kertas dan industri percetakan menempati peringkat teratas karena kedua industri ini menggunakan bahan baku utama yang dihasilkan dari industri kertas.

61

5.2.4. Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Industri kertas merupakan industri yang terus berkembang pesat di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan konsumsinya yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Perkembangan industri ini juga ditandai dengan peningkatan kapasitas produksi perusahaan-perusahaan industri kertas dalam satu dekade terakhir ini. Salah satu indikator penyebab perkembangan dan pertumbuhan yang cukup tinggi itu adalah kedekatan industri kertas dengan bahan baku industrinya dalam hal kemudahan memperolehnya. Kedekatan inilah yang menandai bahwa keterkaitan ke belakang industri kertas dengan sektor-sektor penyedia inputnya (hulu) cukup besar. Dari hasil analisis keterkaitan ke belakang industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian indonesia (Tabel 5.9) dapat dilihat bahwa industri pulp menduduki peringkat pertama dengan nilai sebesar 0,0944. Industri pulp menduduki peringkat pertama karena pulp merupakan bahan baku utama yang digunakan oleh industri kertas. Selanjutnya disusul oleh sektor pengangkutan dan komunikasi pada urutan kedua. Masuknya sektor pengangkutan dan komunikasi dalam peringkat yang cukup tinggi bila di bandingkan dengan sektor-sektor lain dalam perekonomian dikarenakan pentingnya faktor pengangkutan dan

komunikasi dalam memperlancar rantai distribusi bahan baku dari tempat bahan baku ke perusahaan tempat proses produksi dilaksanakan

9.0005 0.0050 Peringkat 11 7 17 12 9 20 15 1 14 10 16 4 21 22 13 19 6 18 3 2 5 8 5.0004 0. 2000 (diolah).0181 0. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.0621 0.0401 0.0045 0. Analisis Koefisien Penyebaran dan Kepekaan Penyebaran Untuk mengetahui distribusi manfaat dari pengembangan suatu sektor terhadap perkembangan sektor lainnya baik melalui mekanisme transaksi pasar input dan pasar output dapat dianalisis berdasarkan koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran.0944 0.0006 0. Sedangkan analisis kepekaan penyebaran berguna untuk .0001 0.0000 0.0037 0.0012 0.62 Tabel 5.0017 0.0023 0. Koefisien 0.0007 0.0010 0.0031 0.0015 0.0731 0. Analisis koefisien penyebaran dianggap penting karena menunjukkan koefisien kaitan yang memberikan gambaran tentang pengaruh yang ditimbulkan oleh suatu unit permintaan akhir untuk semua sektor di dalam suatu sisitem perekonomian. Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.3.0199 0.0071 0.

listrik.1.10 dapat dilihat beberapa sektor yang mempunyai indeks koefisien penyebaran yang tinggi antara lain sektor industri makanan dan minuman. Dengan kata lain merupakan efek yang ditimbulkan oleh suatu sektor karena adanya peningkatan output suatu sektor yang bersangkutan terhadap output sektor-sektor lainnya yang digunakan sebagai input oleh sektor-sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung. hal ini mengindikasikan bahwa sektor-sektor tersebut memiliki kemampuan yang kuat untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya. gas dan air. .3. Koefisien penyebaran ini diperoleh dari nilai keterkaitan output langsung dan tidak langsung ke belakang yang dikalikan dengan jumlah sektor kemudian dibagi dengan total keterkaitan langsung dan tidak langsung semua sektor. 5. Pada Tabel 5.63 memberikan gambaran tentang pengaruh yang timbul oleh suatu unit permintaan akhir terhadap semua sektor di dalam perekonomian. Koefisien penyebaran sering disebut sebagai daya penyebaran ke belakang. Koefisien Penyebaran Koefisien penyebaran menunjukan efek relatif yang ditimbulkan oleh keterkaitan ke belakang secara langsung dan tidak langsung antara satu sektor dengan semua sektor yang ada. industri kayu dan furniture. Berdasarkan nilai indeks koefisien penyebaran yang lebih dari satu. industri barang dari kertas juga industri tekstil dan pakaian. Nilai koefisien yang lebih besar dari suatu sektor menunjukkan kemampuan sektor tersebut dalam menarik perkembangan sektor hulunya.

8701 0. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.1710 1.9611 1.0066 1. khususnya yaitu dengan sektor hulu yang paling besar keterkaitannya dengan industri kertas yaitu industri pulp.0195 0. Koefisien Penyebaran Industri Kertas Terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.9668 Untuk industri kertas. Salah satu penyebab terjadi hal tersebut adalah adanya integrasi vertikal dalam industri kertas sendiri.9611.1571 1.9359 1.7664 0.0939 1. sektor ini mempunyai indeks koefisien penyebaran sebesar 0.1199 1.7215 1.10. Koefisien Penyebaran 0.9715 1.0016 0.1213 0.2152 1. Hal mengindikasikan bahwa industri kertas mempunyai kemampuan yang kurang kuat dalam menarik perkembangan sektor hulunya..8509 0.7953 0. Hal ini mengakibatkan kemampuan industri kertas secara keseluruhan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya .1495 1. 2000 (diolah). Perusahaan-perusahaan besar yang memiliki kapasitas produksi yang besar pula ternyata juga memiliki pabrik pulp sebagai sumber bahan bakunya.0514 1.0292 1.0244 0.64 Tabel 5.

Hal ini di karenakan sektor pertambangan dan penggalian merupakan salah satu sektor yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian. Kepekaan Penyebaran Kepekaan penyebaran merupakan efek relatif yang disebabkan oleh perubahan output suatu sektor ekonomi yang akan menimbulkan perubahan output sektor ekonomi lainnya yang menggunakan output sektor tersebut sebagai input baik langsung maupun tidak langsung. Kepekaan penyebaran ini sering disebut indeks daya penyebaran ke depan yang diperoleh dari keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan yang dikalikan dengan jumlah sektor kemudian dibagi dengan total keterkaitan langsung dan tidak langsung dari semua sektor. Pada Tabel 5.9504. Namun jika di tinjau dari sisi efisiensi. menurut Karseno dan Mulyaningsih (2002) integrasi vertikal pada industri kertas justru akan lebih meningkatkan efisiensi produksi perusahaan dalam industri 5.3. .2.65 terutama pulp menjadi semakin berkurang. Nilai indeks kepekaan penyebaran lebih dari satu mengindikasikan suatu sektor memiliki kemampuan yang kuat untuk mendorong sektor hilirnya.11 dapat dilihat bahwa sektor pertambangan dan penggalian memiliki indeks kepekaan penyebaran yang paling tinggi yaitu sebesar 1. sehingga sektor pertambangan dan penggalian mempunyai kemempuan yang kuat dalam mendorong pertumbuhan sektor-sektor hilirnya terutama dalam hal penyedian kebutuhan bahan bakar untuk proses produksi. Barang tambang seperti minyak bumi dengan produk hasil olahannya yaitu bahan bakar minyak (BBM) merupakan pilar utama proses produksi output sektor-sektor industri dalam perekonomian.

6695 0.8641 0. sektor industri ini mempunyai indeks kepekaan penyebaran sebesar 1. Dengan nilai indeks yang lebih besar dari satu.2195 0. Kepekaan Penyebaran 1. Kepekaan Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.11.8285 0.8302 0.3019 1.0309 0.8080 0.8149 1.7952 1.9504 1.7603).6954 0.8641). hal ini berarti bahwa industri kertas mempunyai kemampuan yang kuat untuk mendorong perkembangan sektor hilirnya. .8961 0. dan industri kayu dan furniture (0.3632 0.6419 1. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.7914 0. industri kertas lebih unggul dalam kemampuannya dalam menstimulir perkembangan sektor-sektor hilirnya dan termasuk ke dalam delapan besar sektor yang mempunyai indeks kepekaan penyebaran kuat dalam perekonomian.7603 0.3288 0.309.66 Tabel 5.0242 0. industri tekstil dan pakaian (0. 2000 (diolah).9990 1.0242).6644 1.7219 Sedangkan untuk industri kertas. Bila di bandingkan dengan beberapa sektor lainnya yang tergolong sektor manufaktur seperti industri makanan dan minuman (1.

Elastisitas Input-Output Elastisitas input-output menyediakan pandangan baru untuk penentuan sektor prioritas.4. Pendekatan elastisitas input-output dibagi kedalam tiga kategori yaitu elastisitas output.4. Hal ini bermakna bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan total output sektor industri makanan dan minuman sebesar 1. Urutan kedua ditempati oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai elastisitas output sebesar 1. Pada perekonomian Indonesia.1253 persen. 5.67 Semuanya itu menandakan bahwa sektor industri kertas layak untuk terus dikembangkan dan mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah.1. Pendekatan ini mempermudah policy makers untuk berkonsentrasi tidak hanya pada nilai-nilai keterkaitan dan multiplier tertinggi tetapi juga pada share suatu sektor ekonomi. Elastisitas Output Elastisitas Output adalah perubahan persentase dalam total output suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. elastisitas output tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1. pendapatan dan tenaga kerja. 5.12). Nilai elastisitas output yang tinggi dari . Menurut Mattas dan Shresta (1991) dalam Imansyah (2000) pendekatan ini lebih baik daripada analisis keterkaitan dan analisis multiplier karena memperhitungkan share suatu sektor dalam output.2610 (Tabel 5. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan output sektor perdagangan sebesar 1.2610 persen.1253.

Elastisitas Pendapatan Elastisitas pendapatan adalah perubahan persentase dalam pendapatan suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. Nilai elastisitas output yang tinggi bila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya dalam perekonomian pada sektor perdagangan dan sektor pertambangan dan penggalian . Untuk industri kertas.0023. sektor ini memiliki elastisitas output sebesar 1. Urutan kedua ditempati oleh sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai elastisitas pendapatan sebesar 1.68 kedua sektor tersebut mencerminkan bahwa outputnya mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya atau lebih sensitif terhadap perubahan yang terjadi pada sektor lainnya dalam hal permintaan akhir.0759.2. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan pendapatan sektor perdagangan sebesar 1. 5. Hal ini berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan total output sektor industri pertambangan dan penggalian sebesar 1.0023 persen.4. Pada tabel 5.1650.12 dapat dilihat bahwa elastisitas pendapatan tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1. yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan total output industri kertas sebesar 1. Dengan nilai elastisitas output yang lebih besar dari satu.1650 persen. industri kertas dapat disebut cukup responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain.0759 persen.

0047 (21) Industri barang jadi dari logam 0.0980 (19) .0768 ( 1 ) 0.1877 (16) 0.0548 (19) Listrik.3072 (12) 0.4048 (14) Industri logam dasar 0.3103 (11) 0.0023 ( 5 ) Industri barang dari kertas 0.2133 (15) Output Pertanian 0.2240 (14) 0.3072 (11) 0.1790 (17) 0.1650 ( 1 ) 0.0441 ( 2 ) 0. sektor ini memiliki elastisitas pendapatan sebesar 0.2764 (13) 0. 2000 (diolah).0485 (21) 0. yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan pendapatan dalam industri kertas sebesar 0.2591 (16) Industri pulp 0.6449 ( 5 ) 0.0247 (22) 0.6903 ( 4 ) 0.8697 ( 8 ) Industri kertas 1. Dengan nilai elastisitas pendapatan yang kurang dari satu. Sementara pada industri kertas.1253 (17) Perdagangan 1. gas dan air 0.0274 ( 4 ) Keuangan dan persewaan 0.6438 ( 7 ) 0.7027 ( 6 ) 0.1253 ( 2 ) Industri tekstil dan pakaian 0.1008 ( 3 ) Industri makanan dan minuman 1.2610 ( 1 ) Pengangkutan dan komunikasi 1.0901 (20) 0.4772 ( 8 ) 1.7964 ( 5 ) 0.6005 ( 6 ) 0.0900 (20) 0.1659 (18) 0.3284 ( 9 ) 0.7100 ( 9 ) Industri percetakan 0.5022 persen.2778 (13) 0.3921 (15) Kayu 0.1919 (15) 1. Elastisitas Input-Output Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 Sektor Elastisitas Pendapatan 0.9020 ( 7 ) Bangunan 0.3127 (10) 0.5495 ( 9 ) 0.0955 (18) Hasil hutan lainnya 0.6084 (10) Industri kimia 0.5241 (11) Industri kayu dan furniture 0. Tabel 5.9831 ( 6 ) Industri semen dan barang non logam 0.1790 (16) 0.1631 (18) 0.3319 (10) 0.5022 ( 7 ) 0.0040 (22) Jasa-jasa 0.1737 (17) 0.0139 (20) Industri lainnya 0.0443 (21) 0.12. Keterangan: ( ) merupakan peringkat Tenaga Kerja 0.0994 (19) 0.69 menunjukkan bahwa pendapatan pada kedua sektor tersebut mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya.0009 ( 3 ) 0.6093 ( 8 ) 0.2772 (12) 1.4050 (13) Pertambangan dan penggalian 1.5022.5179 (12) Sumber: Tabel I-O Indonesia.0759 ( 2 ) 1.8877 ( 4 ) 0.2619 (14) 0. industri kertas dapat disebut kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain.9779 ( 3 ) 1.0431 (22) 0.

Peringkat kedua ditempati oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai elastisitas tenaga kerja sebesar 1.3. Nilai ini bermakna bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan tenaga kerja sektor industri makanan dan minuman sebesar 1.0768 persen.0768 (Tabel 5. Elastisitas Tenaga Kerja Elastisitas tenaga kerja adalah perubahan persentase tenaga kerja suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya.0441 persen. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan tenaga kerja sektor perdagangan sebesar 1. Diantara sektor lainnya dalam perekonomian elastisitas tenaga kerja tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1. Pada industri kertas. hal ini terjadi dikarenakan industri kertas selain merupakan industri padat modal juga merupakan industri yang cukup banyak menyerap tenaga kerja. . Dengan nilai elastisitas yang kurang dari satu.6093 persen. Nilai elastisitas tenaga kerja yang tinggi dari kedua sektor tersebut mengindikasikan bahwa jumlah tenaga kerjanya mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya atau lebih sensitif terhadap perubahan yang terjadi pada sektor lainnya dalam hal permintaan akhir.4. tenaga kerja industri kertas dapat disebut kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain.12).70 5. sektor ini memiliki elastisitas tenaga kerja sebesar 0.6093. Namun demikian nilai elastisitas tenaga kerjanya masih bernilai positif. yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan total output industri kertas sebesar 0.0441.

pendapatan. dampak penyebaran atau elastisitas input-output. dan (10) hasil hutan lainnya.13). yaitu: (1) perdagangan.5. merupakan sektor unggulan dalam meningkatkan output. gas dan air. hal ini menunjukkan bahwa industri ini. Pada penentuan sektor kunci berdasarkan elastisitas input-output. (3) pertambangan dan penggalian. (2) industri makanan dan minuman. dan tenaga kerjanya untuk lebih berperan . dapat diketahui sepuluh sektor kunci perekonomian. sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan. Dari hasil analisis sektor kunci perekonomian Indonesia tahun 2000 berdasarkan ranking elastisitas (Tabel 5. pendapatan maupun tenaga kerjanya (ranking elastisitas). Industri kertas termasuk dalam sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam). (5) industri pulp. Hal ini berarti kesepuluh sektor tersebut menjadi prioritas pemerintah untuk dikembangkan karena setiap sektor tersebut secara simultan mempunyai respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor-sektor lainnya.71 5. Sektor-Sektor Kunci dalam Perekonomian Indonesia Penentuan suatu sektor menjadi sektor kunci dalam perekonomian Indonesia dapat didasarkan pada kategori-kategori analisis input-output seperti analisis keterkaitan. (8) industri kimia. sektor yang menjadi kunci dalam perekonomian ditentukan berdasarkan ranking atau peringkat dari keseluruhan sektor dalam perekonomian baik dilihat dari elastisitas output. bersama dengan sembilan sektor kunci lainnya. (6) industri kertas. (9) listrik. (4) pengangkutan dan komunikasi. sepuluh peringkat tertinggi dari hasil perankingan tersebut merupakan sektor-sektor kunci dalam perekonomian. (7) pertanian.

gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel Input-Output Indonesia.5 17.72 dalam perekonomian Indonesia dan pemerintah sebagai policy makers harus lebih biak lagi dalam menjalankan fungsinya berkaitan dengan penetapan kebijakan terhadap industri ini karena perannya dalam meningkatkan perekonomian tersebut.5 14 20 20 16 8.5 11 1 4 17. Tabel 5.13.5 15 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik. 2000 (diolah) .5 5 6 20 22 8. Sektor Kunci Perekonomian menurut Ranking Elastisitas InputOutput Indonesia Tahun 2000 Elastisitas Input-Output (peringkat) Tenaga Output Pendapatan Kerja 15 5 9 18 9 14 13 12 10 3 2 11 16 8 5 9 10 6 14 21 20 19 7 17 1 4 22 12 2 3 17 16 6 7 21 22 20 11 18 14 10 13 8 1 4 19 15 3 2 13 16 4 8 21 22 5 20 12 17 18 11 15 1 6 7 19 Total Peringkat 29 41 35 8 7 41 48 18 20 51 54 31 45 51 51 47 31 40 3 14 48 46 Ranking Elastisitas 7 12.5 10 3 2 12.

2. kondisi ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam Peraturan . hal ini berarti bahwa distribusi pendapatan antara pemilik modal (perusahaan) dan pekerja tidak merata atau terjadi ketimpangan yang besar yang dapat disebabkan oleh adanya eksploitasi tenaga kerja oleh pemilik modal terhadap tenaga kerja dengan share yang lebih besar terhadap perusahaan (pemilik modal). Pada sub-bab sebelummya.6. Implikasi Kebijakan Dari hasil penelitian ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai implikasi kebijakan. Hal ini menandakan bahwa dalam industri kertas sangat potensial untuk dibentuk dan dikembangkannya klaster industri kertas.73 5. antara lain yaitu: 1. Berdasarkan hasil analisis rasio upah dan gaji dengan surplus usaha pada struktur nilai tambah bruto dapat diketahui bahwa sektor industri kertas mempunyai nilai surplus usaha lebih besar dibandingkan upah dan gaji. berdasarkan analisis keterkaitan industri kertas tahun 2000 terhadap berbagai sektor perekonomian (keterkaitan per sektor) dapat diketahui bahwa industri kertas memiliki nilai keterkaitan yang tinggi baik ke depan maupun ke belakang terhadap sektor hulu dan hilirnya dan juga dengan sektor pendukungnya. Untuk mengurangi kesenjangan pendapatan ini diperlukan campur tangan pemerintah yang lebih adil sebagai regulator ketenagakerjaan baik melalui penetapan kebijakan yang berfokus pada kesejahteraan tenaga kerja maupun sebagai mediator antara perusahaan dan tenaga kerjanya dalam penenganan berbagai masalah ketenagakerjaan terutama dalam persoalan upah.

2005). Dengan adanya klaster ini maka bukan saja dapat saling menumbuh kembangkan industri terkait dan industri pendukung dalam klaster tersebut. . tetapi juga mengingat dalam setiap sektor terdapat juga pelaku ekonomi yang tergolong Industri Kecil dan Menengah (IKM). Dalam peraturan tersebut dijabarkan mengenai rencana pemerintah untuk membangun daya saing industri manufaktur nasional lima tahun kedepan dengan fokus pengembangan industri melalui penguatan dan penumbuhan klaster-klaster industri inti yang termasuk industri kertas didalamnya.7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. padahal dari tahun 2000 berdasarkan penelitian ini pentingnya kebijakan klaster sudah dapat diidentifikasi. maka klaster tersebut akan menarik IKM untuk memenuhi Permintaan barang dan jasa. Pada saat yang sama jaringan yang terpadu dari IKM terkait akan terus berkembang.74 Presiden No. sementara klaster industri memberikan kesempatan pada IKM untuk membuat keterkaitan pasokan antara perusahaan besar dan menengah (Deprin. Namun demikian dapat dinilai adanya keterlambatan pemerintah karena baru tahun 2005 mengeluarkan kebijakan pengembangan klaster industri tersebut. menawarkan jasa dan produk-produk untuk mendukung klaster industrinya. Oleh karena itu IKM memerankan peranan secara integral dan konstruktif dalam suatu klaster industri.

KESIMPULAN DAN SARAN 5.970.800.771. industri ini mampu meyerap tenaga kerja sebesar 118.507.385 juta dan mengimpor sebesar Rp 8.327 juta dan jika dilihat dari struktur ketenagakerjaan. Pada struktur permintaaan. industri kertas melakukan ekspor sebesar Rp 13.0944) yang merupakan sektor penghasil bahan baku industri kertas dan pada sektor pengangkutan dan komunikasi (0. 2. . kemudian kontribusinya dalam struktur nilai tambah bruto adalah sebesar Rp 7.3183) dan pada peringkat kedua yaitu terhadap industri percetakan (0.125. industri kertas memiliki keterkaitan yang paling tinggi terhadap industri pulp (0.622 juta. maka kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut.VI.775 juta dan permintaan akhir sebesar Rp 13. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis peranan industri kertas terhadap perekonomian Indonesia. industri kertas berkontribusi terhadap permintaan antara sebesar Rp 10.2448) sementara pada keterkaitan ke belakangnya. Industri kertas memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor hulu dan hilirnya (keterkaitan industri kertas terhadap sektor-sektor perekonomian).847 juta.895.854 juta dan jika dilihat dari struktur output sektoral.1.0731) yang merupakan salah satu sektor pendukung industri kertas. Pada struktur ekspor dan impor.454 jiwa. industri ini berkontribusi sebesar Rp 24. Pada keterkaitan ke depan industri kertas mempunyai keterkaitan yang paling tinggi terhadap sektor industri barang dari kertas (0. 1.

Bersama dengan sektor kunci lainnya. Salah satu penyebab lemahnya industri ini dalam menarik pertumbuhan sektor hulunya adalah adanya integrasi vertikal yang dilakukan oleh perusahaan-perusahan besar dalam industri ini dengan sektor penghasil bahan bakunya. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor industri ini memiliki respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal peningkatan output. sehingga sektor ini mempunyai kemampuan yang cukup besar dalam berkontribusi untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan. pendapatan.0309). terutama pulp. . industri ini merupakan sektor industri yang memiliki kemampuan yang kuat dalam mendorong pertumbuhan sektor hilirnya seperti industri barang dari kertas dan industri percetakan karena memiliki indeks kepekaan lebih dari satu (1.9611). maupun tenaga kerjanya. Industri kertas kurang memiliki kemampuan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya karena jika dilihat dari hasil analisis koefisien penyebaran. industri kertas merupakan sektor prioritas yang harus dikembangkan oleh pemerintah sebagai policy makers karena kontribusinya terhadap perekonomian tersebut. Industri kertas termasuk dalam salah satu dari sepuluh sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam) berdasarkan ranking elastisitas. sektor industri ini memiliki indeks koefisien penyebaran yang kurang dari satu (0. 4. Namun di sisi lain.76 3.

. Untuk meningkatkan efisiensi industri kertas tanpa mengurangi kemampuan industri tersebut menarik pertumbuhan sektor hulunya antara lain adalah dengan mempercepat transformasi pembangunan industri kertas menuju fase innovation driven melalui peningkatan teknologi produksi dan pelatihan tenaga kerja terampil yang intensif sehingga dapat meningkatkan outputnya dan disisi lain sektor hulu tetap dapat memasok input bagi industri kertas tersebut. Pemerintah harus campur tangan yang lebih intensif melalui penetapan Upah Minimum Regional (UMR) yang benar-benar sesuai dengan standar kehidupan di Indonesia. dapat disampaikan saran berikut ini. 3. 2. 1. pemberian fasilitas karyawan yang lebih baik serta jaminan sosial untuk mengatasi kesenjangan pendapatan antara perusahaan dan tenaga kerjanya pada industri kertas. Saran Berdasarkan hasil analisis. Pada industri kertas harus dibangun klaster industri yang kuat secara berkelanjutan sehingga industri kertas dan sektor yang terkait di dalam klaster tersebut seperti industri pulp.2. industri barang dari kertas dan industri percetakan juga dapat saling menunjang untuk meningkatkan perkembangannya dan peranannya terhadap perekonomian Indonesia.77 6.

E. bankniaga. 2000. Puspitawati. 2002. Mansur. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. 2002. R. Deprin. M. M.com/content/content. ”Kebijakan Pembangunan Industri Nasional” [Deprin Online]. .L. [30 September 2005] Hasibuan. Karseno. Direktori Industri Pulp dan Kertas Indonesia 2003. Niaga. USA. 1997. T. “An Application of the FES Approach to A Small Region in Indonesia: Banjarmasin Input-Output Model 1”.com [18 Februari 2005]. Raja Grafindo Persada. 2005. Macerata. Jakarta. APKI. P. Dampak Keterkaitan Sektor Industri Terhadap Perekonomian Wilayah Kabupaten Sidoarjo [Tesis]. New Jersey. http://www. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. http://www. H. BPS.asp?id=NNA [30 September 2005]. R. http://www. “Industri Kertas Butuh Investasi Baru” [Harian Terbit Online]. Jakarta. M. Institut Pertanian Bogor. N. Fakultas Pertanian. Prentice Hall. Ekonomi Industri : Persaingan. LP3ES. B. 2000. Bogor.go. Jakarta. Miller. dan Mulyaningsih. BPS. 1993. Hal. 2005. Imansyah. Vol. 2003.id/ publikasi. dan Blair. Tabel Input-Output Indonesia 2000. 2. Jakarta. E. Paper for 13th International Conference on Input-Output Techniques.D. 136-149. 2005. Monopoli dan Regulasi. Bogor.deprin. 1985.DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia. Jhingan. A. No. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. “Integrasi Vertikal dan Efisiensi Industri: Industri Kertas Tahun 1979-1997 Dengan Pendekatan Error Correction Model”. Italy. Muchtar. Analisis Peranan Sektor Pertanian dan Industri Pengolahan Terhadap Perekonomian Propinsi Kalimantan Timur (Berdasarkan Analisis Input-Output) [Skripsi]. Input-Output Analysis: Foundation And Extensions. 17.harianterbit. ”Profil Perusahaan” [Bank Niaga Online]. 2000.

2000. Sahara. Vol. Y. Bogor. R. S. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor. dan Vidyatmoko. Bogor. Ruhmaniyati. Bogor. 2002. 2005. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. 1994. 194203. Departemen Ilmu Ekonomi. T. No. A. D. Hal. Dampak Investasi Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Nasional [Skripsi]. Sipayung. 1998. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Analisis Peranan Sektor Industri Pengolahan terhadap Perekonomian Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta [Skripsi]. Analisis Peran Sektor Industri Pengolahan dan Dampaknya terhadap Pembangunan Ekonomi Di Kota Cilegon [Skripsi]. Prosiding Seminar. .org /wiki/ Kertas [17 September 2005]. Institut Pertanian Bogor. “Prospek dan Tantangan Pengembangan Agribisnis Pulp dan Kertas dalam Era Ekolabeling dan Otonomi Daerah”. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.wikipedia. Analisis peranan Sektor Industri Pengolahan Dan Pengaruhnya Terhadap Perekonomian Jepara [Skripsi]. A. 2005. 5. Institut Pertanian Bogor. Departemen Ilmu Ekonomi. Institut Pertanian Bogor.79 Rosadi. Bogor. Institut Pertanian Bogor. http:// www. ”Kertas” [Wikipedia Online]. Setyawan. Setiyaji. Tjandrawan. Analisis Peranan dan Keterkaitan Sektor Pertanian dan Industri di Jawa Barat [Skripsi]. Bogor. Fakultas Ekonomi Manajemen. Wikipedia. Fakultas Pertanian. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia. I. 2004. 4. dan Pambudy. H. “Analisis Pasar Pulp dan Kertas Indonesia”. Fakultas Ekonomi Dan Manajemen. 1995.

LAMPIRAN .

Klasifikasi Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 Kode I-O 22 Sektor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 180 190 200 201 202 203 204 205 209 210 301 302 303 304 305 306 309 310 401 402 403 404 409 501 502 503 509 600 700 1000 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik. 031-034 029 030 035-048 049-073 074-083 084-089 090 091 092 093 094-109 110-114 115-118 119-122 123-141 142-143 144-148 149-152 153-159 160-164 165-175 180 190 200 201 202 203 204 205 209 210 301 302 303 304 305 306 309 310 401 402 403 404 409 501 502 503 509 600 700 - . gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Jumlah permintaan antara Jumlah input antara Impor Upah dan gaji Surplus usaha Penyusutan Pajak tak langsung Subsidi Nilai tambah bruto Jumlah input Pengeluaran konsumsi rumah tangga Pengeluaran konsumsi pemerintah Pembentukan modal tetap bruto Perubahan stok Ekspor barang dagangan Ekspor jasa Jumlah permintaan akhir Jumlah permintaan Impor barang dagangan Pajak penjualan Bea masuk Impor jasa Jumlah impor Margin perdagangan besar Margin perdagangan eceran Biaya pengangkutan Jumlah margin perdagangan dan biaya pengangkutan Jumlah output Jumlah penyediaan Jumlah Tenaga Kerja Kode I-O 175 Sektor 001-028.81 Lampiran 1.

82 .

588.358 933.536.585.292.241 1.926 10.560 21.486 100.210 51.718.952.638.217.895.322 2.679.824 40.553 108 5.484.550 754.037.129 2.327 24.250 478.566.705 8.417 121.026 84.942 12 8.946 64.524 2.567.817 378 627.012.989 146.371 22.554.408 100.305.192 10.554.667 3.871 2.664.563 6.839 1.850 337.777 7.735.693 181 11.858 40.732 1.004.395.569 11.244 1.164 224.639 865.770 35.877 3.293 2.968 7.600 181.036 8.799 5.543 5.870 210.606 1.849 23.628 22 85.851 37.160 823.433 565.764 20.320 1.394 141.306 815.134 8 203.590.440.958 683.493.809 448.195 196.235.014.073 8.479 83.486 5.177 21.991.399 1.958 487.370 110 84 1.973 1.494 1.097 590.834 1.151 825.698.333 4.418 59.524 1.453 11.663.785.738 25.541 16.800 53.080 264.512 1.069 6.771.504 1.391 448.321 5.292 5.404 151.403 32.240 13.427 2.034 1.453.343.939 5.553 13.509.359.913 151.774 147.775 19.441 8.800 17.167.711.094.975 83.256.941 1.620 73.110.333 287.884 378.526 0 737.458.297 479.798 105.103.229 1.899 1.426 874 728.811.688.443 429.575.576.355 8.043 4.864.371 1.387.876 348 994.895 2.792 116.418 1.046 926.539 4.839 4.459 131.623.797.319 504 17.749 24.206 15.590 5.414.337.282.212.237 4.813.901.855 76.290.443 4.187 416.811.990 8.979 5.051 9 77.850.411.450.460 175.281.903 7.588 6.059 106.626 3.985 9.091 20.540.557.930 129.354 5.627.890 1.368.739.467 1.955 23.534.643 8.890 49.560 28.845 40.515 25.352 975.003 363.083 7.119.991.875 45.817.183 17.327.660.323 82.262 40.664.228 69.010.069 338.379 648.190 18.441 370.780 41.171 1.606.225 7 45.560 5.252 43.442 120.625.462 55.905 57.507.759 243.169.949 332.670 7.857 1.335.362 161.040 2.908 14.049 112.894 6.040 1.155 7.429 0 64.849 57.694 21.597 18.703 4.001 2.755 17.306.602 25.946.739.170 904 57.530 8.396 166.030 13 20.492 528.491 11.298 16.489 59.330 296.596 643.325 3.296.577.826 927 3.982.551 11 0 271 122 11.944 86.615 23.592 6 2.886 2.143.957 7.241 75.781 6.232 13.311 2.452 5.758.489 940.451 3.364 2.229.017.333 29.098 7.782.938 6.459 553.644 45.853 110.996.725 138.821.212 3.454 10 0 3.911 Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).218 1.917 375.569 34 8.867 6.705 705.701 301.213 64.480.405 6.714.936 36.837 15.040 29.778.838 1.622 118.513 798 315.028 555.919 4.343 332.062.567 19.459 53.308 853.473 2.442 3.570 3.346 38.933 112.245 1.182.208.427 3.858 26.479.135 200.093.319 30.478 63.772.777.854 1.024 5.720 2.130 77.617 382.340.750 0 13.073.116 490.427.973 369.519 2 628.010 7.912 23.441 967 8.506 493.561 1.718 3.117 594. Tabel Input-Output Indonesia 2000 Klasifikasi 22 Sektor (dalam Juta Rupiah) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 1 16.258 4.618 174.393 13. .349 206.203 19.537.905 2.508.628 123.656 2.513 4 19.796 55.176 167.731.514 33.114 8.530.441 610.083 224.881 2.574 1.702 (250.534.947 1.183 19.755 162.592 916.190 41.898 115.385 20.056 33 4.484.145.607 8.860.558.824.052 131.238.914 121.824 90.302 43.931 59.525.542 1.424 2.338 627.908 141.648.426 102.228) 97.277 246.809 1.568 1.666 65.365.072 325.902 2.048 32.Lampiran 2.412.613 111.646.063 1.815.772.227 72.430 55.099 1.947 11.708 127.655 17.328.692.605.824 3 2.405.785.577 159.918.099 2.762 4.407.963.943 5 101.063 4.579 55.539 77 186.828 61.895.550.114 5.670 6.437.700.867 4.805.652 2.590 44.634 1.064 55.725 1.086 5.089 47.867 3.043 1.591 10.

652 411.564.180 14.125.544 967.503 7.577 8.Lampiran 2.864.203.261 6.428 117.844 882.429 11.117 1.089.260.817.350 2.578) 1.638 33.661 524.455.085 15.635 64.111 382 16 1.248 966.016.405 6.048.368.445 412.738 824.113 94.667.952 5.344.981 156.397 114.887 124.134 11.739.729.724.580.032 448.360 3.786 3.672 6.668 341.117.463.798 5.354 37.821 27.505 723.331.756.078 1.063 8.332 3.980 42.100) 65.664 18 4.310 6.279.063 4.002.076.575.601 21.562.340 6.045.553 13.928 69.576 834.722 2.805 2.377.649 157.613 357.415 15.923 16.189 19.390.915 13.320.843.372.900.011.808 158.344 3.326 9.676 1.183.012.164.056 3.237 2.175.079.915 1.161 16 620.108 19.244.703.860 2.700.803 4.242.802.861 35.708 59.073 (30.902.332 3.442.331 1.616 5.014.292 3.812 173.912 21 34.444.770 755.349 8.352.767.760 1.870 126.598.547.275.266.088 161.979 350.727 100.791 866.623 84.848 85.215 35.278.963 62.156 105.272.182 30.742.649.983 3.477.950 527.529.041.399 3.155 1.948 (3.502 4.704 3.948.139 10.388 38.019 14.028.378 61.401 110.038 13.999 6.036.793.327 19.855 61.233 396.458.226.995 65.136.030 39.800.525 11.966.218 21.610 7.169 4.243 177.214.278 17.748.139 2.107.035 16.218 17 4 14.372 88.238.767.310.944 3.472 105.730 90.418 14.106 4.775.229.698 49.727 27.028.757 225.926 117.731.921.202 4.677.084.931.206 438.678 19.817 215.562 180 144.723.338 4.859 16.130 9.084 3.713 2.990 18.842 123.257 15.705.179 17.732 (3.005.844.071.297 19.246 2.383.360.451.810 2.727 30.896.361 758.110.460.830.690 115.559 27.726.746 32.626 70.872 278.609 151.778 1.020 7.997 34.019 287.420.278.741 10.713.597 5.292 6.678 7.649 36.070 6.250) 8.877.255 19 10.657 12.695 225.161.637.498 19.511 9.948 .643 1.649.870.529.579 4.671.727 9.253.194.065 15.781 337.192.568 21.113 3.430 1.515 20 299.034.875 3.670.398 13.271.437 791.480.206.600 441.015.107 3.393.938 15 7 6.761 137 85 121.588.892 1.630 1.131 151.228.000 213.858 495.128 23.076.509 2.354 19.385 1.930.685.383.780 1.142 10.775 5.875 1.870.713 197.959 1.945 37.563 510.451 7.106.946 777.697 6.179 26.200.961 1.525 1.511 29.197 4.132.973 6.797 15.383 143.305 20.158 5.142.073.221.963 176.060.977.498 110.891 123.559 322.413 259.876.729.569.093.015 1.147.126 93.196 11. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 14 9.565.641 37.573.475.226.242.476.715 373.663 1.951 232.138.063 111.723 41.172 0 141.177 2.919 398.153.713.593 2.595 1.825 1.407.385 6.542 4.264.574 1.382 1.705 859.995.564.213 16.823.463.860.749 609.332 12.489.223 22.448.652.169.287.666 2.567 26.081 564.570.744.567 26.393.074 19.116 770.916.441.281 60.741.642 36.973.670 19.465 5.876.353.100.006.852 121.700 3.127 19.525 1.802 134.048.757 400.756 12.434 76.843 149.412.604.247.105 476.097 1.084 15.127.392 227.167.916 1.034 22 2.499 1.186.664 156.411.176 197.866 1.044.966 18.228 1.287 11.594 50.228.584 3.382 4.350 130.333.079.

586.637.071 1.389.865.629 152.108 13.491 474.620 8.831.225.814 6.016 394.187.837 32.916 177.099.513 2.214.621 133.942.033) 5.034 41.420.036 155.327 1.634.259 165.329.278 151.724 5.165 139.447 401 314.356 105.656.849 24.305 5.705 23.227.813.424 8.398 613.416 2.340.623 306 1.496.413 3.627.573 20.842 31.696 668.933 124.783 520.254 131.433 37.568 646.400.599 5.592 110.036.028.488.707.497 302 88.927.881 13.Lampiran 2.325.067 1.268.949.730 209.818 108.775.114 310 260.620 37.642 67. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 301 107.850.552 1.779.495 11.287 2.099 57.454 .241.281 292.965.247 77.408 243.110 107.267.457.582 2.571 11.658.620 13.782.851.815.561.466 29.944 196.151 329.698.552 309 115.550 13.617 8.048.393 208.211.534.935 88.272.294 8.284 314.743 3.239 8.379 33.056 67.593 30.008.242.837 441.808.042 41.883.613 64.241.438 304 1.125.729.326 12.389.044 8.437 68.111.416.294.013.209 234.575 17.885.935 1.282 301 14.485.697 937.739.413 14.473.202.479.162.125.276.677.713 1.943.119.269 4.238 77.034 238.086 112.771.161.622 8.658.167.466.243.785 158.063 396.068.160 1.847 3.162.114.321 835.525.315 90.96 42.534.857.385 1.831.672.539.044 403 8.689.480 15.169 161.849 80.970.643 115.426.747 942.790.777.387.188 2.695 227.454 856.786.614 794.605 94.600 272.988.483.480 6.373 55.848.001.210 29.887 9.733 15.897.353.028.673 (68.514 305 6.821.871 18.435 4.193.485 39.158 1.665 303 189.670 7.028 2.965.760.621 208.743.901.503.798.438.088.595.766 15.887 201.553.374 51.865.637.581 64.559 199.957.337 73.136 48.316.200 520.365 57.412.045 25.701.257.480 402 15.623 48.143.805.695.689.018 79.774.933 748.076 2.471 38.

424 8.771.469 501 502 503 509 600 260.119.325.988.620 13.739.278 151.028 2.677.088.698.284 - .340.575 17.771.815.837 3.099 57.272.695 227.254 131.698.287 2.353.705 23.729.424 8.701.637.278 151.593 30.850.254 131. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 404 103.438.143.287 2.850.637.169 161.242.944 196.242.534.340.447 103.729.805.837 441.627.613 64.916 177.214.412.099 57.325.672.099.165 139.Lampiran 2.412.701.028 2.805.151 329.821.063 396.169 161.165 139.575 17.379 33.613 64.119.408 243.627.739.534.695 227.622 8.916 177.379 33.151 329.944 196.849 24.837 700 260.620 13.815.099.063 396.672.353.214.853.849 24.272.853.677.438.705 23.821.099.408 243.701.469 - - - - 2.622 8.593 30.

0119 0.0073 0.0000 0.0220 0. .0001 0.0001 0.0000 0.0181 0.0000 0.0217 0.0007 0.3378 10 0.0000 0.0016 0.0073 0.0289 0.0002 0.0836 0.0096 0.0015 0.0000 0.0059 0.0171 0.0006 0.0000 0.0003 0.0050 0.0224 0.0352 0.1335 0.0009 0.0021 0.0555 0.0015 0.0730 0.0000 0.0317 0.0000 0.0782 0.0087 0.0000 0.0800 0.0045 0.0238 0.0003 0.0319 0.0013 0.0009 0.0003 0.0053 0.0006 0.0355 0.6039 6 0.0016 0.0000 0.0041 0.0031 0.0010 0.0023 0.0071 0.0446 0.0000 0.0002 0.0934 0.0000 0.0013 0.0022 0.0155 0.0002 0.0011 0.0000 0.0000 0.0506 0.0073 0.1393 4 0.5356 11 0.0026 0.0013 0.0000 0.1354 0.3052 0.0004 0.0001 0.0000 0.0002 0.0005 0.0073 0.0003 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0802 0.0006 0.0000 0.0010 0.0142 0.0105 0.0002 0.0003 0.0001 0.0002 0.0000 0.0028 0.0000 0.0083 0.0001 0.0003 0.0000 0.0433 0.0022 0.0000 0.0000 0.0000 0.0008 0.0005 0.0646 0.0001 0.0201 0.0086 0.0002 0.0021 0.0000 0.1780 0.0001 0.1094 0.0025 0.0000 0.0000 0.0083 0.0002 0.0001 0.0002 0.0027 0.0078 0.0001 0.0000 0.0000 0.0168 0.0621 0.0050 0.0014 0.0001 0.0599 0.0001 0.0000 0.0239 0.0001 0.0042 0.3957 9 0.0007 0.0250 0.0000 0.0000 0.0037 0.0002 0.0007 0.2130 0.0107 0.0000 0.0001 0.4673 7 0.0000 0.0009 0.0009 0.0734 0.0011 0.0000 0.0000 0.0047 0.0010 0.0022 0.0116 0.0199 0.0171 0.0008 0.0001 0.0008 0.0000 0.0000 0.0002 0.0026 0.0012 0.2497 0.0003 0.0010 0.0401 0.0436 0. Matriks Koefisien Teknis Klasifikasi 22 Sektor SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 1 0.0000 0.0000 0.0017 0.0000 0.0005 0.0000 0.0000 0.0000 0.0535 0.0000 0.5687 8 0.0182 0.0464 0.2391 2 0.0005 0.0004 0.0001 0.0000 0.0428 0.0015 0.0002 0.0004 0.0003 0.0000 0.0036 0.0002 0.0001 0.0519 0.0424 0.0213 0.0005 0.0059 0.2448 0.0002 0.0025 0.0350 0.0005 0.0119 0.1188 5 0.0035 0.0000 0.0001 0.0944 0.0022 0.0040 0.0000 0.0001 0.0002 0.0003 0.0280 0.0011 0.0044 0.0385 0.0004 0.0000 0.0001 0.0000 0.0008 0.0000 0.0094 0.0000 0.0718 0.1247 0.0006 0.0000 0.0000 0.0000 0.0003 0.0211 0.0001 0.0000 0.0057 0.0000 0.0000 0.0000 0.0023 0.3183 0.0731 0.0066 0.4217 13 0.0047 0.0243 0.0000 0.0090 0.0233 0.0097 0.0000 0.0153 0.0002 0.0008 0.1794 3 0.Lampiran 3.0477 0.4078 12 0.0310 0.4842 Total Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).2445 0.0061 0.0000 0.0000 0.0008 0.0000 0.0056 0.0007 0.0000 0.0020 0.0016 0.0025 0.0362 0.0001 0.0000 0.0023 0.

0000 0.0000 0.0485 0.0001 0.0000 0.0002 0.0007 0.0000 0.0000 0.0001 0.0078 0.0001 0.0000 0.4884 19 0.0431 0.3580 0.0025 0.0348 0.5997 0.0000 0.0315 0.2619 0.0319 0.0508 0.0004 0.0000 0.0010 0.0055 0.0221 0.0007 0.0002 0.0012 0.0020 0.0008 0.0039 0.0033 0.0001 0.0275 0.0001 0.0261 0.1082 0.1006 0.0000 0.0163 0.0047 0.0000 0.0604 0.7433 .0179 0.0532 0.0000 0.0000 0.0369 0.0037 0.0000 0.0278 0.0980 8.0223 0.0295 0.0030 0.0939 0.7964 0.1020 0.0000 0.Lampiran 3.0172 0.0220 0.0000 0.0108 0.0317 0.0002 0.0001 0.0010 0.0001 0.0049 0.0010 0.0000 0.0008 0.2790 0.0900 0.0046 0.0009 0.0000 0.2400 22 0.0001 0.0019 0.0495 0.0276 0.0180 0.0331 0.0085 0.0011 0.3319 0.0364 0.0002 0.1919 1.0158 0.6530 18 0.0058 0.0047 0.0007 0.0001 0.0230 0.0226 0.0000 0.0001 0.0373 0.0000 0.0009 0.3103 0.0071 0.0400 0.0150 0.0889 0.0771 0.0099 0.0001 0.0016 0.0000 0.0000 0.0817 0.1737 0.0004 0.0180 0.0804 0.0131 0.0236 1.1548 0.0001 0.0000 0.0791 0.0000 0.0003 0.1790 0.0010 0.0369 0.0000 0.0000 0.0100 0.0000 0.0001 0.0081 0.4161 16 0. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Total 14 0.0014 0.0023 0.0277 0.0001 0.0511 0.0572 0.0360 0.0465 0.0000 0.3945 21 0.0000 0.7027 0.0867 0.0200 0.3390 Total 0.0032 0.0000 0.0000 0.0006 0.0336 0.0008 0.0626 0.0020 0.0000 0.0044 0.5495 0.4070 0.0474 0.2764 0.0053 0.5635 15 0.4633 0.0352 0.0007 0.0091 0.0027 0.0007 0.0005 0.0020 0.0007 0.0000 0.0147 0.0002 0.0022 0.0589 0.0000 0.0001 0.1631 0.0000 0.0048 0.0023 0.0002 0.0009 0.0272 0.0003 0.1097 0.0620 0.0008 0.0003 0.0074 0.0000 0.0035 0.0000 0.0502 0.0038 0.0371 0.0244 0.0105 0.0258 0.0000 0.6438 0.0000 0.0024 0.0013 0.3072 0.3821 20 0.1877 0.0002 0.0226 0.0003 0.0130 0.0000 0.3675 17 0.0007 0.0187 0.0128 0.0000 0.0000 0.

0017 0.0397 0.0991 0.0357 0.0386 0.0012 0.2287 4 0.0106 0.0003 0.0024 1.0003 0.0031 0.1038 0.0005 0.0134 0.0034 0.0122 1.0467 0.0055 0.0024 0.0221 0.0025 0.0067 0.0463 0.0021 0.0000 0.0008 0.0042 0.0058 0.0602 0.0004 0.6059 9 0.0011 0.0061 0.0007 0.0021 1.0001 0.0196 0.0001 0.0007 0.0004 0.0275 0.1548 0.0134 0.0019 0.0452 0.0042 0.1140 0.0013 0.3950 2 0.0105 0.0009 0.Lampiran 4.0327 0.2872 0.0294 0.0052 0.1045 1.0109 0.0153 0.0007 0.0009 0.0006 0.0008 0.0775 0.7956 7 0.0192 0.0055 0.0382 0.0100 0.0001 0.0636 0.0035 0.0044 0.0013 1.0494 0.0013 0.0938 0.0345 0.0240 0.0011 0.0078 0.0058 0.0007 0.0003 0.0007 0.0051 0.0022 0.0133 0.0012 0.1031 1.1068 0.0681 0.0005 0.0394 0.0180 0.0001 0.0006 0.0059 0.0036 0.0052 0.0074 0.0014 0.0440 0.0108 0.0010 0.0474 0.0770 0.1178 0.1036 0.0030 0.3337 0.0394 0.0005 0.0013 0.0359 0.0005 0.0063 0.0079 1.0000 0.0001 0.0032 0.0260 0.0077 0.0121 0.0163 0.0767 0.0026 0.0337 0.0013 0.0008 0.0094 1.0322 0.0008 0.0010 0.0749 0.0090 0.0005 0.0291 0.0137 0.0004 0.0014 1.0021 0.0943 0.0016 0.0001 0.0030 1.0042 0.0009 1.0050 0.0032 0.1048 0.0080 0.2508 0.0005 0.0193 0.1920 0.0452 0.0011 0.0782 0.0011 0.0026 0.0163 0.0009 0.5409 10 0.0009 0.0474 0.0050 0.0221 0.1683 0.0033 1.0052 0.0099 0.0030 0.0009 0.0008 0.0965 0.0006 0.0005 0.3235 1.0046 0.0001 0.0542 0.0441 0.0093 0.0054 0.0017 0.0004 0.2751 3 0.2025 0.0112 0.0049 0.0006 0.0046 1.0080 1.0123 0.0014 0.0166 0.0007 0.0166 0.0043 1.0072 1.0004 0.0021 1.0017 0.0014 0.0002 0. Matriks Kebalikan Leontief Klasifikasi 22 Sektor SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 1 1.0481 0.0018 0.4000 0.0483 0.0508 0.0118 0.0034 0.0012 0.0002 0.0082 0.0054 0.0014 0.0012 0.0036 0.0028 0.0052 0.0826 0.0138 0.0036 0.0148 0.0260 0.0378 0.0043 0.0648 0.0130 0.0011 0.0002 0.0062 0.0037 1.0097 0.2088 0.0076 0.0446 1.8431 11 0.0981 0.0016 0.0014 0.8775 8 0.0015 0.0170 0.0044 0.0230 0.0076 0. .0002 0.0013 0.0155 0.0015 0.0065 0.0024 0.0097 0.0072 0.0164 0.0133 0.0172 0.0006 1.0009 0.0109 0.0012 0.0116 0.0261 0.0034 1.0008 0.0112 0.0304 0.0002 0.0137 1.0008 0.0584 0.6424 12 0.2921 0.0303 1.1567 5 0.0155 0.0086 0.0004 0.0000 0.0009 0.1133 0.0017 0.0001 0.0059 0.0287 0.5577 13 0.0000 1.9484 6 0.0001 0.6858 Total Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).0626 0.0007 0.0053 0.0002 0.0010 0.0220 0.

0071 1.0039 0.0416 0.0395 0.0004 0.0016 0.0020 0.1247 0.0063 0.0082 0.0001 0.0054 0.0010 0.0058 0.0018 0.0025 0.9552 1.0802 0.0012 0.0183 0.0018 0.0254 0.3855 1.0042 1.1857 1.0173 0.0006 0.0011 0.1550 1.0026 0.0166 1.0040 0.0338 1.0025 0.0013 0.0002 0.0219 0.0008 0.5005 16 0.0048 0.0522 0.0267 0.0599 0.0274 0.0050 0.0502 0.0816 0.0010 0.0444 0.0171 0.0018 0.0038 0.0053 0.0008 0.0062 0.0450 0.0020 0.0007 0.1194 0.0015 0.0537 0.0057 0.7539 19 0.0084 0.0056 0.0516 0.0420 0.0007 0.0212 0.0755 0.0098 0.0544 0.5581 0.0003 0.0120 0.0208 1.0284 0.0073 0.0734 1.0090 0.0343 0.0198 0.0031 1.0013 0.0274 0.0134 1.0008 0.3643 22 0.0002 0.6138 20 0.0041 0.0105 0.0001 0.6529 1.0638 0.0078 1.0012 0.0718 0.0038 0.3283 1.0024 0.0105 0. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 14 0.0291 3.0715 0.0018 0.0828 0.0515 1.0010 0.1575 35.0246 0.0855 0.0000 0.0182 0.1306 1.0724 0.0481 0.0000 0.0063 0.6346 21 0.0005 0.7978 15 0.0454 0.0024 0.0171 0.0059 0.0874 2.1116 0.0607 0.6422 1.0237 0.0102 1.0058 0.1049 0.0348 0.1062 0.0068 0.0041 0.6501 17 0.0001 0.0247 0.0532 0.1272 1.0661 0.4368 1.0104 0.0488 0.0166 0.3310 1.0022 0.0170 0.0068 0.0018 0.0028 0.0261 1.0999 0.0088 0.0003 0.0044 0.0184 1.0003 0.8552 18 0.0116 0.0051 0.2750 1.0119 1.0137 0.0008 0.3732 0.0000 0.0653 2.0018 0.0139 0.3066 3.0449 0.0014 0.5500 Total 1.0026 0.0498 0.0067 0.0856 1.0009 0.0032 0.0404 0.0377 0.0004 0.0020 0.0007 1.0013 0.2955 1.0235 0.Lampiran 4.2051 2.0017 0.1095 0.1589 0.2733 Total .0487 0.0001 0.2689 1.0025 1.0441 0.0004 0.1150 1.0772 0.0009 0.0468 0.0115 0.0239 0.0016 0.0216 0.0045 0.0041 0.0298 0.0038 1.0095 0.1395 0.0517 0.0013 0.1331 0.1284 0.0009 0.0001 0.0054 0.0558 0.2191 1.0007 0.0010 0.0028 0.0082 0.0056 0.0001 0.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful