ANALISIS INPUT-OUTPUT PERANAN INDUSTRI KERTAS DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA

OLEH RUSLI RAMLI H14101122

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006

RINGKASAN

RUSLI RAMLI. Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia (dibimbing oleh ARIEF DARYANTO). Proses industrialisasi di Indonesia telah yang dimulai dari sejak pelita I telah mengakibatkan transformasi struktural dalam perekonomian Indonesia. Hal ini ditandai dengan semakin menurunnya kontribusi sektor primer (pertanian) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sementara sektor sekunder dan tersier seperti industri pengolahan kontribusinya terhadap PDB terus mengalami peningkatan. Salah satu sektor industri pengolahan yang berkembang pesat adalah sektor industri kertas. Hal yang menyebabkan industri ini terus berkembang pesat di Indonesia antara lain adalah kemudahan mendapatkan baku dan tenaga kerja yang murah. Pada akhir tahun 2000 kapasitas terpasang industri kertas nasional telah mencapai sekitar 9,1 juta ton per tahun, produksi sebesar 6,8 juta ton, ekspor sebesar 2,8 juta ton, dan konsumsinya yang telah mencapai 4,2 juta ton. Data-data tersebut di atas menunjukkan bahwa industri kertas sangat potensial untuk terus dikembangkan khususnya untuk meningkatkan penerimaan devisa negara. Selain perkembangannya yang pesat tersebut, industri kertas juga mempunyai pengaruh dan hubungan timbal balik terhadap industri atau sektor lainnya karena komoditi kertas yang dihasilkan oleh industri ini dapat sebagai input sektor industri lain dan sebaliknya industri kertas juga membutuhkan input dari sektor lain tersebut. Berdasarkan kondisi di atas, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana peran sektor industri kertas bagi perekonomian Indonesia Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari BPS Pusat Jakarta dan instansi terkait lainnya. Analisis yang digunakan yaitu Analisis Input-Output (I-O) dari Tabel I-O Indonesia Tahun 2000 transaksi domestik atas dasar harga produsen klasifikasi 175 sektor melalui program Microsoft Excel 2003. Pendekatan model I-O yang digunakan dalam penelitian ini adalah model sisi permintaan (demand-side model), hal ini dikarenakan faktor permintaan merupakan faktor eksogen yang mempengaruhi perekonomian. Berdasarkan analisis deskriptif dari Tabel I-O Indonesia tahun 2000 transaksi domestik atas dasar harga produsen yang diagregasi menjadi 22 sektor, industri kertas memiliki peran yang tidak begitu besar terhadap struktur perekonomian Indonesia seperti struktur permintaan, nilai tambah bruto, struktur ketenagakerjaan, ekspor-impor dan pembentukan output sektoral. Hal ini dapat dilihat dari kecilnya nilai industri kertas pada masing-masing struktur tersebut bila dibandingkan dengan sektor perekonomian lainnya. Dilihat dari sisi permintaan antara dan permintaan akhir, industri kertas memiliki permintaan akhir (Rp 10.800.775 juta) yang lebih besar daripada permintaan antaranya (Rp 13.970.847 juta) yang menandakan bahwa output industri kertas lebih banyak digunakan untuk konsumsi langsung (masyarakat, pemerintah, dan ekspor) daripada sebagai input untuk sektor lainnya.

Dilihat dari rasio upah gaji terhadap surplus usaha (0,43) dalam struktur nilai tambah bruto, dapat identifikasi bahwa pada industri kertas terjadi ketimpangan distribusi pendapatan antara pihak perusahaan dengan tenaga kerjanya. Kemudian dari struktur ketenagakerjaan dapat diketahui bahwa industri ini mampu menyerap tenaga kerja sebesar 118.454 jiwa. Berdasarkan analisis struktur ekspor-impor dapat diketahui bahwa industri kertas mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 4.617.531 juta sedangkan dari pembentukan output sektoral industri kertas menyumbang sebesar Rp 24.771.662 juta atau sekitar 0,92 persen dari total output sektoral perekonomian. Dari hasil analisis keterkaitan per sektornya (keterkaitan industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian Indonesia), industri ini memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor hulu dan hilirnya. Pada keterkaitan ke depan industri kertas memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor industri barang dari kertas (0,3183) dan industri percetakan (0,2448), sedangkan pada keterkaitan ke belakangnya, industri kertas memiliki keterkaitan kuat terhadap industri pulp (0,0944) yang merupakan sektor penghasil input bahan bakunya. Berdasarkan hasil analisis koefisien penyebaran dapat diketahui bahwa industri kertas kurang memiliki kemampuan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya. Sedangkan dari hasil analisis kepekaan penyebaran industri kertas merupakan industri yang memiliki kemampuan yang kuat dalam mendorong sektor hilirnya. Pada analisis elastisitas input-output dapat diketahui bahwa industri kertas cukup responsif terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya dalam hal output dengan nilai elastisitas output sebesar 1,0023. Sementara dari hasil elastisitas pendapatannya (0,0522) industri ini kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal pendapatan dan jika dilihat dari hasil elastisitas tenaga kerjanya (0,6093), perubahan permintaan akhir sektor lain kurang berpengaruh terhadap perubahan tenaga kerja dalam sektor industri kertas tersebut. Berdasarkan ranking elastisitas, industri kertas termasuk dalam salah satu dari sepuluh sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam). Hal ini mengindikasikan bahwa sektor industri ini memiliki respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal peningkatan output, pendapatan, maupun tenaga kerjanya, sehingga sektor ini mempunyai kemampuan yang cukup besar dalam berkontribusi untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan. Bersama dengan sektor kunci lainnya, industri kertas merupakan sektor prioritas yang harus dikembangkan oleh pemerintah sebagai policy makers karena kontribusinya terhadap perekonomian tersebut

ANALISIS INPUT-OUTPUT PERANAN INDUSTRI KERTAS DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA Oleh RUSLI RAMLI H14101I22 Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006 .

INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN DEPARTEMEN ILMU EKONOMI Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh. M.Ec. Institut Pertanian Bogor. Ir. 131 644 945 Mengetahui. Nama Mahasiswa Nomor Registrasi Pokok Program Studi Judul Skripsi : Rusli Ramli : H14101122 : Ilmu Ekonomi : Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia dapat diterima sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi. Arief Daryanto. Dr. Menyetujui. Dosen Pembimbing. Ketua Departemen Ilmu Ekonomi. Dr. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. NIP. MS NIP. Rina Oktaviani. Ir. 131 846 872 Tanggal Kelulusan: .

PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. Juni 2006 Rusli Ramli H14101122 . Bogor.

Penulis masuk IPB melalui jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dan diterima sebagai mahasiswa Program Studi Ekonomi dan Studi Pembangunan pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Pada tahun 2001 penulis melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi untuk meraih gelar sarjana. Selama menjadi mahasiswa. Formasi. Penulis merupakan anak pertama dari satu bersaudara. penulis menamatkan Sekolah Dasar pada SDN Ciwaringin 1. Propinsi Jawa Barat. . Jenjang pendidikan penulis dilalui dengan lancar. dari pasangan Apun Sanusi dan Yoyoh. penulis aktif di berbagai organisasi intra dan ekstra kampus seperti BEM-H.RIWAYAT HIDUP Penulis bernama Rusli Ramli lahir pada tanggal 20 Juli 1983 di Karawang. Pada tahun yang sama penulis diterima di SMUN 1 Karawang dan lulus pada tahun 2001. dan HMI Komisariat FEM. kemudian melanjutkan ke SLTPN 1 Telagasari dan lulus pada tahun 1998.

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.Ec. Juni 2006 Rusli Ramli H14101122 . Institut Pertanian Bogor. Judul ini dipilih penulis karena merupakan topik yang menarik dalam perkembangan industri nasional dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Bogor. terutama kepada Bapak Dr.1r. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada seluruh pihak lainnya yang telah membantu terlaksananya penelitian ini baik dari instansi maupun perorangan yang tidak dapat disebutkan satu persatu. yang telah memberi masukan. Arief Daryanto. Judul skripsi ini adalah “Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia“. M. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Semoga karya ini dapat bermanfaat. bagi penulis khususnya dan kalangan pendidikan umumnya. Selain itu. saran serta bimbingan dalam pembuatan skripsi ini. skripsi ini juga merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi. Penulis mengharapkan adanya hasil positif sebagai masukan dalam pembangunan industri kertas nasional selanjutnya.

.............. Perkembangan Industri Kertas ..................................................1................................................................. 3.............................................................. DAFTAR GAMBAR ........ Jenis dan Sumber Data ............3....................4............ 3.... Elastisitas Input-Output...........5.2............... Profil Industri Kertas......... 2..................................... 1.................................... 3.............. V.........DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL.... 2.............. Kerangka Pemikiran Teoritis ....1...........................2............ Model Input-Output ....... DAFTAR LAMPIRAN................ 4.............................................................1........ 2.......... 3........ III...2..... I....................... Latar Belakang ..........................................2...................................................2................. Definisi dan Sejarah Kertas........................................5.................. 3............................ Penelitian-Penelitian Terdahulu ...................................................... 1.................1........................................................................5..2.................................................................. Analisis Keterkaitan ...............................................................................2....2.............................................3......2............................. 2....... 2........6........................... Metode Analisis ...................................... 1....................3.................... 2.....1............ 3......................................5.. 1............ Struktur Tabel Input-Output.......................... Kerangka Pemikiran Konseptual .......... Perumusan Masalah ....2.................3...................................4....................... 4.......... 2........ Tujuan Penelitian ................................. x xi xii 1 1 4 5 5 6 7 7 8 11 13 16 16 19 22 25 25 25 26 27 29 31 33 33 34 ............................. 1........................................................ GAMBARAN UMUM INDUSTRI . Ruang Lingkup.... PENDAHULUAN ................................ Konsep Pembangunan Industri Kertas .......... Integrasi Vertikal Pada Industri Kertas ...... METODE PENELITIAN...................... 2......................... Koefisien Input........ II.................... Analisis Dampak Penyebaran ...............1....... Manfaat Penelitian .. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN .....................

2................2.................1.................4............ 5..........1... 5...................1.................1...................... Analisis Koefisien dan Kepekaan Penyebaran........................ 5....4...................... 5.......... Elastisitas Pendapatan ...3. 5..4........................ 5...........2.........2........... 5..................... HASIL DAN PEMBAHASAN.............................. KESIMPULAN DAN SARAN ...........2........... 6.......6.2......2........................................ Elastisitas Tenaga Kerja........ DAFTAR PUSTAKA ................. V........... Keterkaitan ke Depan Industri Kertas . Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung .4................................................................... Struktur Output Sektoral .................................................3..................... VI................. Implikasi Kebijakan .......... 5............ Peranan Industri Kertas Dalam Perekonomian Indonesia...................... 4................. 5... 5.........................2....... Struktur Ketenagakerjaan........5...................1.................... Kepekaan Penyebaran .........4.......................... Sektor-Sektor Kunci dalam Perekonomian Indonesia .3.........3............................. Integrasi Vertikal dan Pasar Industri Kertas Indonesia..3...............1....................................... Saran....4........4..... 5.......................................................... Keterkaitan Langsung Sektor-Sektor Perekonomian ........................................1..............2...............................1. Keterkaitan ke Belakang Industri kertas ........... Struktur Permintaan Industri Kertas ....... 5..........................1......2...................................... Koefisien Penyebaran............ Elastisitas Output ..... 36 37 47 47 47 49 51 53 55 56 56 58 59 61 62 63 65 67 67 68 70 71 73 75 75 76 78 80 ...... 5................... 6................... 5.. 5........... 5........ 5............. Struktur Ekspor dan Impor............... LAMPIRAN............ Kesimpulan ............... 5........5............ 5....2...................................3..1........... Elastisitas Input-Output.......................3.... Analisis Keterkaitan ....................... Struktur Nilai Tambah Bruto .................2......... 5.... Profil Beberapa Perusahaan Kertas Indonesia .............

. Boards PT... Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Keterkaitan .... 4..........5...... 5.....................3........4................................. Konsumsi Kertas Per Kapita Penduduk Indonesia 1993-2002....... Kapasitas Produksi.............. Produktifitas dan Nilai Upah Sektoral Indonesia Tahun 2000 ...........................2. Profil Industri Pulp dan Kertas Indonesia Tahun 2003 ......................................................... 5..... Komposisi Sektoral PDB 1960-2003 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993 .......2................. Impor.. 4...... 4.........1........... 5............... 2...1............ 4.. Kapasitas Terpasang Perusahaan Industri Kertas 2003......... Struktur Tabel Input-Output.1.... Boards PT.................................. 4. 2 1....6...................................7............................................................. 5........1. Jumlah Tenaga kerja............. ..................... 3 13 14 19 34 35 38 40 42 43 46 48 50 51 52 ......................................... 4........4... Indah Kiat Pulp & Paper Tbk per 30 September 2004 ..................... Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry per 30 Desember 2004 .....DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1. 2......2.............. Boards PT....................... Permintaan Antara dan Permintaan Akhir Sektor-sektor Perekonomian di Indonesia Tahun 2000.....................3.............. Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Dampak Penyebaran..... Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk per 30 September 2004 ....................... 4.. Nilai Tambah Bruto Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Indonesia Tahun 2000 .... Boards PT.3...................................... 2........................ Pindo Deli Pulp & Paper Mills per 30 September 2004 .2............ Rasio Upah Terhadap Surplus Usaha. Ekspor dan Konsumsi Industri Kertas Indonesia Tahun 1994-2003.....

.......5...............8...7...................... 5............ 5... Nilai Keterkaitan Berbagai Sektor Perekonomian di Indonesia ................... 54 56 57 60 61 64 66 69 71 ................. Koefisien Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia.10.......... 5.................. 5............. 5.... Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia .......6................ Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia .... Kepekaan Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia......................................... 5............................13.............. 5................................. 5.............. Sektor Kunci Perekonomian Menurut Ranking Elastisititas Input-Output Indonesia Tahun 2000 ..................5...........................9.. Struktur Pembentukan Output Sektoral Terhadap Perekonomian Indonesia ........... Struktur Ekspor dan Impor Indonesia Tahun 2000 .................................11........... Elastisitas Input-Output Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 .................12...........

............. Bagan Alur Pendekatan Studi .......... Halaman 24 ........DAFTAR GAMBAR Nomor 1...........................

... Matriks Kebalikan Leontief Klasifikasi 22 Sektor.DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1.. 3...... ........................................... Matriks Koefisien Teknis Klasifikasi 22 Sektor .............. Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 Klasifikasi 22 Sektor ........ 4.................. Halaman 81 82 86 88 Klasifikasi Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 .. 2...........

yang mencakup peralihan lembaga. Hal tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa sektor industri . Pada tahun 1960.I. stok modal. dan motivasi yang secara radikal. Pada tahun-tahun berikutnya dapat dilihat bahwa sektor industri pengolahan terus mengalami kenaikan dalam hal kontribusinya terhadap PDB sedangkan sektor pertanian sebaliknya terus mengalami penurunan kontribusi terhadap PDB. dimana terjadi penurunan kontribusi sektor pertanian (sektor primer) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Perubahan struktural mengandung arti peralihan dari masyarakat pertanian tradisional menjadi ekonomi industri modern.4 persen. sektor pertanian merupakan sektor penyumbang terbesar terhadap PDB (53. Perubahan struktur semacam ini menyebabkan kesempatan kerja semakin banyak. produktifitas buruh. 2002). sikap sosial.4 persen dari PDB (Tabel 1. Pola pertumbuhan ekonomi secara sektoral di Indonesia agaknya sejalan dengan kecenderungan proses transformasi struktural yang terjadi di berbagai negara di dunia.9 persen). sementara kontribusi sektor sekunder dan tersier cenderung meningkat. sementara sektor industri khususnya industri pengolahan baru menyumbang 8.1).8 persen terhadap PDB sedangkan sektor pertanian mempunyai kontribusi terhadap PDB sebesar 8. Kemudian pada tahun 1967 industri pengolahan telah menyumbang 51. Latar Belakang Proses industrialisasi di Indonesia yang dimulai sejak Pelita I telah mengakibatkan transformasi struktural di Indonesia. dan pendayagunaan sumber-sumber baru serta perbaikan teknologi akan semakin tinggi (Jhingan.1. PENDAHULUAN 1.

6 18.6 10.9 3. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai eksportir .1 3.9 1983 22.6 5.0 16.9 16.6 13.1 12.7 2.5 0.4 0.2 3.3 6.8 1.4 5.9 1989 20.9 14.5 0. Salah satu dari sektor industri pengolahan tersebut yang berkembang pesat sampai saat ini adalah industri pulp dan kertas.9 5.8 3.0 3.1 0. Pasar bagi hasil industri pulp dan kertas masih terbuka luas karena konsumsi kertas per kapita terus meningkat dari tahun ke tahun. sektor industri pulp dan kertas telah menyumbang 90 persen dari total penerimaan ekspor kehutanan.1 5.5 1.5 16.6 16.64 15.7 6. sewa dan jasa perusahaan Jasa-jasa Sumber : BPS.3 3.4 5.9 5.5 1993 17.3 6.49 7.8 6.0 6.9 10.57 9.6 15. Dari sisi kontribusi terhadap penerimaan negara.0 3.3 9. Komposisi Sektoral PDB 1960-2003 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993 (persen) Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan penggalian Industri Pengolahan Listrik dan air minum Bangunan/konstruksi Perdagangan.7 8.3 1.84 25.5 1998 17. 2003.3 4.2 6.0 14.4 0. 1960 53.4 1973 40. hotel dan restoran Pengangkutan dan komunikasi Keuangan.2 1.5 3.1.7 8.6 3.9 7.2 1967 51.9 21.7 0.3 3.6 0.2 pengolahan telah menggeser peranan sektor pertanian dalam pembangunan nasional berkaitan dengan peralihan struktur perekonomian masyarakat Indonesia dari orientasi pada sektor primer (pertanian) kepada orientasi sektor industri.6 15.7 24.8 20.8 3.7 12.57 2003 16.4 Industri pulp dan kertas adalah industri yang berkembang dengan tingkat pertumbuhan 20 persen per tahun pada beberapa dekade terakhir.52 5.3 2.7 1. Tabel 1.

adalah bahwa produk kertas harganya banyak ditentukan dalam nilai dolar. jumlah produksi. pertama.399.300.290 4. 2002).3 pemimpin dalam bidang kehutanan di dunia sejak 1987 (Karseno dan Mulyaningsih.805.180 6.130 143.135 2. Ada tiga alasan utama yang melatarbelakangi pentingnya sumbangan industri ini.390 3.300 140.282. yaitu komponen impor yang digunakan dalam proses produksi nilainya tidak lebih dari 30 persen.240 2001 10.000 Ekspor 826. ialah bahwa produk kertas cenderung banyak yang ditujukan untuk pasar luar negeri.560 1999 9.210 2.783. industri ini merupakan salah satu industri yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia.935 5.945 5.520 1.800. dan ketiga. Produksi. Tabel 1. ekspor maupun .260 1998 9. sehingga dalam masa krisis ekonomi yang dihadapi Indonesia. 2003.110 197.000 2.882.904. Kapasitas.600 2.065.080 6.833.200 924.641.500 3. industri ini masih dapat diandalkan dalam membantu penerimaaan devisa negara (Rosadi dan Vidyatmoko.970 3.840 249.116.000 3. dan Konsumsi Industri Kertas Indonesia Tahun 1994-2003 (ton) Tahun Kapasitas Produksi Impor 171.224.951.837.849.800 2.600 1997 7. baik kapasitas.446.970 2002 10.100 2.000 1994 4.913.630 199.119.425.350 3.800 212.000 Konsumsi 2. alasan kedua.000 2003 Sumber: Asosiasi Pulp dan Kertas.097.280 4.198.595.168.700 261.800.000 2000 9.821.180 6.490 1996 7. Ekspor. 2002).720.420 4.487.730 2.800 1995 5.212.430 3.220 1.345.960 2. Sementara itu fokus khusus pada sektor industri kertas (diluar dari industri pulp).054.200.530 5.000 130.479.695 250.950. Hal itu ditambah apabila melihat dalam sekitar satu dekade terakhir ini.600.120.000 8.560 4.015.580 7.2. Impor.472.

sehingga bahan baku untuk pembuatan kertas tersedia banyak di Indonesia. Namun pentingnya industri kertas ini tidak semata-mata hanya karena keunggulan komparatifnya saja tapi juga karena peranannya dalam hubungannya terhadap sektor-sektor lain dalam perekonomian Indonesia baik sektor industri maupun non-industri dan bagaimana sektor-sektor lain tersebut mempengaruhi industri kertas sehingga terjadinya hubungan timbal balik yang mengarah pada peningkatan pertumbuhan sektor-sektor dalam perekonomian secara keseluruhan. Perumusan Masalah Pentingnya industri kertas yang besar tidak terlepas dari kondisi yang dimilikinya. Keunggulan yang lebih banyak mengandalkan sumber bahan baku yang berlimpah dengan harga yang relatif murah serta tenaga kerja dengan upah buruh yang relatif rendah. Peran industri kertas dalam hubungannya dengan sektor-sektor perekonomian tersebut dapat dilihat dari bagaimana struktur perekonomiannya bila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya dan keterkaitannya dengan sektor-sektor lainnya . Sampai saat ini industri kertas Indonesia memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan negara lain. Begitu juga dalam hal tenaga kerja. angkatan kerja produktif di Indonesia mencapai puluhan juta orang. Dalam hal bahan baku.2). I. Berdasarkan kondisi inilah dirasakan penting untuk melakukan analisis lebih lanjut tentang peranan industri kertas terhadap perekonomian Indonesia.4 konsumsi dalam industri kertas terus mengalami kenaikan setiap tahunnya (Tabel 1. Indonesia termasuk negara penyedia bahan baku pulp terbesar karena mempunyai hutan terluas kedua di dunia.2. misalnya.

ketenagakerjaan. bagaimana kemampuan industri kertas dalam mendorong sektor hulu dan hilirnya dan bagaimana peran industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia. ekspor-impor dan output sektoral? 2.5 tersebut. Bagaimana keterkaitan sektor industri kertas dengan sektor-sektor lainnya di Indonesia? 3. nilai tambah. Menganalisis peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia dalam struktur permintaan. Bagaimana peran sektor industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia? 1. Berapa besar peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia dalam struktur permintaan.3. beberapa permasalahan yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut: 1. nilai tambah. ekspor-impor dan output sektoral 2. Berdasarkan latar belakang dan uraian di atas. Menganalisis keterkaitan sektor industri pengolahan dengan sektor-sektor perekonomian lainnya di Indonesia . Bagaimana peran sektor industri kertas dalam mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya? 4. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah di atas maka tujuan penulisan skripsi ini adalah: 1. ketenagakerjaan.

Dengan kata lain industri kertas dalam penelitian ini bukan industri pulp. Menganalisis peran sektor industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia 1.4. industri barangbarang dari kertas yang tidak memproduksi kertasnya terlebih dahulu dan bukan pula industri percetakan atau penerbitan.4. 1.6 3. kertas tissue (tissue paper). Kertas yang dimaksud adalah jenis kertas seperti kertas tulis cetak (writingprinting paper). Menganalisis peran sektor industri kertas dalam mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya 4. . Manfaat Penelitian Penulis mengharapkan penelitian ini dapat berkontribusi secara positif terhadap perencanaan kebijakan pembangunan industri kertas nasional pada khususnya maupun industri lain pada umumnya oleh pihak-pihak yang terkait didalamnya maupun bagi pihak-pihak lain yang berkepentingan untuk melakukan penelitian tentang industri kertas Indonesia. kertas rokok (cigarette paper) dan sebagainya. kertas lapis dan non lapis (coated and uncoated paper). Ruang Lingkup Industri kertas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah industri yang terdiri dari perusahaan-perusahaan yang mengolah bahan baku kertas menjadi produk kertas yang merupakan barang jadi yang dapat di langsung dikonsumsi ataupun barang setengah jadi yang akan digunakan sebagai input oleh industri lain.

bangsa-bangsa dahulu menggunakan tablet dari tanah liat yang dibakar. Sebelum ditemukan kertas. Dari kata papirus (papyrus) itulah dikenal sebagai paper dalam bahasa Inggris.II. Peradaban Mesir kuno menyumbangkan papirus sebagai media tulis menulis. bambu. Definisi dan Sejarah Kertas Kertas adalah bahan yang tipis dan rata. sutera. Adanya kertas merupakan revolusi baru dalam dunia tulis menulis yang menyumbangkan arti besar dalam peradaban dunia. meskipun pengunaan papirus masih dirasakan sangat mahal.1. kulit atau tulang binatang. . Penggunaan papirus sebagai media tulis menulis ini digunakan pada peradaban Mesir kuno pada masa bangsa Fir’aun kemudian menyebar keseluruh Timur Tengah sampai Romawi di Laut Tengah dan ke seluruh Eropa. yang dihasilkan dengan kompresi serat. Kertas dikenal sebagai media utama untuk menulis. papier dalam bahasa Belanda. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI 2. Perancis misalnya atau papel dalam bahasa Spanyol yang berarti kertas (Wikipedia. kayu. bahkan daun lontar yang dirangkai seperti yang telah ditemukan pada naskah-naskah kuno nusantara beberapa abad yang lalu. prasasti dari batu. mencetak serta melukis dan banyak kegunaan lain yang dapat dilakukan dengan kertas misalnya sebagai kertas pembersih (tissue) yang dapat digunakan untuk hidangan maupun kebersihan. Hal ini dapat ditemui dari pennggalan peradaban bangsa Sumeria. Jerman. Serat yang digunakan biasanya adalah alami dan mengandung selulosa (Wikipedia 2005). 2005).

kimia. Konsep Pembangunan Industri Kertas Ada beberapa pengertian industri secara definisi yang sekurang-kurangnya akan disampaikan dua definisi. atau dengan tangan sehingga menjadi barang jadi atau setengah . Penemuan ini akhirnya menyebar ke Jepang dan Korea seiring menyebarnya bangsa-bangsa Cina ke timur dan berkembangnya peradaban di kawasan itu meskipun pada awalnya cara pembuatan kertas merupakan hal yang sangat rahasia. munculah pusat-pusat industri kertas baik di Baghdad maupun Samarkand dan kota-kota industri lainnya.8 Tercatat dalam sejarah adalah peradaban Cina yang menyumbangkan kertas bagi dunia. Tsai Lun menemukan kertas dari bahan bambu yang mudah didapat di seluruh Cina pada tahun 101 Masehi.2. Menurut Puspitawati (2000) industri pengolahan merupakan suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan mengubah suatu barang dasar secara mekanis. 2. kemudian meyebar ke Italia dan India lalu Eropa khususnya setelah perang Salib dan jatuhnya Grenada dari bangsa Moor ke tangan orang-orang Spanyol serta ke seluruh dunia (Wikipedia. teknik pembuatan kertas tersebut jatuk ke tangan orang-orang Arab pada masa Abbasiyah terutama setelah kalahnya pasukan Dinasti Tang dalam pertempuran sungai Talas pada tahun 751 Masehi dimana para tawanan-tawanan perang mengajarkan cara pembuatan kertas kepada orang-orang arab sehingga dizaman Abbasiyah. Pada akhirnya. Bintaro (1968) dalam Muchtar (1997) mengemukakan industri pengolahan ialah setiap usaha yang merupakan unit produksi yang membuat barang untuk kebutuhan masyarakat di suatu tempat tertentu. 2005).

yakni struktur ekonomi dengan titik berat pada industri yang maju dan didukung oleh pertanian yang tangguh. akan tetapi banyak masalah dan tantangan yang dihadapi dalam perjalanannya untuk memiliki keunggulan daya saing yang tinggi. sebagai berikut : 1.9 jadi dan atau barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya dan sifatnya lebih dekat kepada pemakai akhir. Sumber pertumbuhan agribisnis pulp dan kertas terutama bersumber dari pemanfaatan sumber daya alam dan tenaga kerja tidak terampil (fase factordriven). Pada hakekatnya pembangunan industri ditujukan untuk menciptakan struktur ekonomi yang kokoh dan seimbang. konsumsi. khususnya pada era ekolabelling dan otonomi daerah pada saat ini. Berdasar pada dua pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa industri kertas merupakan suatu kegiatan atau usaha mengolah barang dasar atau bahan baku kertas agar memiliki nilai yang lebih baik untuk keperluan masyarakat di suatu tempat tertentu. Karakteristik dari industri ini adalah sumber bahan baku kayu . ada 3 fase pembangunan industri pulp dan kertas agar memiliki keunggulan daya saing. kapasitas maupun ekspornya. Menurut Saragih dalam Sipayung dan Pambudy (2000). Oleh karenanya. Kendati perkembangan sektor industri kertas mengalami kemajuan yang pesat salah satunya terlihat dari perkembangan produksi. pembangunan industri secara nyata harus menjadi penggerak utama peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dan sekaligus dapat menjadi penyedia lapangan kerja yang sudah mulai tidak tertampung pada sektor pertanian (Muchtar. 1997).

3. Artinya. Efisiensi pengolahan makin meningkat melalui perbaikan teknologi yang terus menerus sehingga selain menurunkan biaya produksi juga . Selain itu keterkaitan kegiatan perusahaan masih dengan masyarakat juga masih sedikit. sehingga telah terjadi pemutusan hubungan dengan hutan alam. Fase ketiga adalah industri pulp dan kertas yang digerakkan oleh inovasi (innovation-driven) yakni penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tenaga kerja terampil (knowledge based and skill labor based). Fase kedua adalah agribisnis (industri) pulp dan kertas yang digerakkan oleh modal (capital-driven) yakni modal dan tenaga kerja semi terampil (capital and smi-skill labor). melainkan telah bergeser pada kayu hasil budidaya. bila diboboti dengan atribut global value dan national/local value. Dengan demikian. Dengan demikian dampak penurunan mutu lingkungan akibat penebangan kayu hutan alam dapat diminimumkan atau lebih rendah dari fase pertama. meskipun biaya produksi relatif rendah. Sehingga dampak penurunan mutu lingkungan akibat aktivitas industri tersebut biasanya cukup besar. nilai produk kertas dapat dipersepsikan masyarakat (perceive value) sebagai barang inferior. Industri pulp dan kertas pada fase ini dicirikan dengan pengembangan perkebunan kayu (timber plantation) sebagai sumber bahan baku.10 mengandalkan kayu hutan (forest based) misalnya Hak Penguasaan Hutan (HPH). 2. penyediaan bahan baku kayu tidak lagi bersumber dari penebangan kayu hutan alam. Karakteristik industri pulp dan kertas pada fase ini adalah pertumbuhan output terutama bersumber dari kemajuan teknologi baik pada penyediaan bahan baku maupun dalam pengolahan.

Pada saat ini industri pulp dan kertas indonesia sebagian besar sedang bergeser dari factor-driven kepada capital-driven. Sedangkan integrasi vertikal ke hilir (downstream) adalah perusahaan yang memutuskan untuk menyalurkan output yang dihasilkan kepada konsumen melalui perusahaan yang terintegrasi dengannya.3. kemampuan Riset and Development (R&D) menjadi tulang punggung dalam fase ini. Oleh karena itu. Perusahaan yang menerapkan strategi integrasi vertikal ke hulu (upstream) adalah perusahaan yang memperoduksi sendiri input yang dibutuhkannya. Integrasi vertikal yang dilakukan oleh perusahaan dapat dilakukan dilakukan dengan dua cara. antara lain: 1. Integrasi Vertikal Pada Industri Kertas Hasibuan (1994) mendefinisikan integrasi vertikal adalah pengabungan perusahaan-perusahaan yang mempunyai kelanjutan proses produksi. yaitu integrasi ke hulu (upstream) dan integrasi ke hilir (downstream). Mentransformasi industri pulp dan kertas dari factor-driven kepada innovation-driven akan memberi manfaat ganda. Full Integration Perusahaan melakukan full integration bila perusahaan tersebut memproduksi semua input yang dibutuhkannya atau ketika perusahaan tersebut . yakni meningkatkan daya saing dan meminimumkan dampak negatif kegiatan industri pulp dan kertas pada lingkungan hidup. Jenis integrasi ini dapat dibagi menjadi dua.11 mengurangai polutan ke lingkungan. Bahkan beberapa diantaranya sudah mulai memasuki innovation–driven. 2.

yaitu: (1) penelitian terhadap keseluruhan sektor perekonomian. Lontar Papyrus dan PT. Indah Kiat Pulp & Paper. 2. (2) penelitian terhadap sektor agroindustri dan non agroindustri . PT. Penelitian yang sudah dilakukan selama ini antara lain meliputi.4. Penelitian-Penelitian Terdahulu Penelitian tentang peran dan keterkaitan dengan menggunakan alat analisis Input-Output telah banyak dilakukan. Menurut Karseno dan Mulyaningsih (2002) integrasi vertikal oleh perusahaan kertas akan meningkatkan efisiensi perusahaan dalam industri kertas tersebut karena dapat mengamankan pasokan bahan baku dan meminimumkan biaya transaksi dalam rangka untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan terhadap produk kertasnya.12 menyalurkan semua output yang dihasilkan melalui anak perusahaan yang terintegrasi dengannya. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia merupakan perusahaan-perusahaan besar dalam industri kertas yang terintegrasi vertikal dengan industri pulpnya. mereka mempunyai pabrik pulp sendiri sebagai sumber bahan baku produksi kertasnya. Jenis integrasi vertikal perusahaan-perusahaan tersebut adalah full integration. Taper Integration Perusahaan melakukan taper integration bila perusahaan tersebut membeli input yang dibutuhkannya dari perusahaan lain selain input yang dihasilkan sendiri atau menyalurkan hasil produksinya melalui perusahaan terintegrasi dengannya dan juga perusahaan lain yang tidak terintegrasi Perusahaan-perusahaan seperti PT. 2.

13 (sektor industri pengolahan). Indonesia* Agroindustri Non Agroindustri 2. Jepara**** Ind.95855 Keterkaitan Ke Belakang Langsung & Langsung Tdk Langsung 0.1). Pengolahan 3. Pengolahan Tahun InputOutput 1990 1993 0.11877 0.00802 1.48518 1988 0.4432 1.6293 0.13908 2.6028 2.58216 0.81150 1.2).1.54759 1.38949 Keterkaitan Ke Depan Langsung 0.05931 0. baik keterkaitan langsung ke belakang (direct backward linkages) dan ke depan (direct forward linkages) maupun keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang dan ke depan (Tabel 2.07819 1.59448 0.00619 0. Pada dasarnya penelitian yang dilakukan memiliki tujuan yang sama yaitu mempelajari keterkaitan (linkages).27222 Langsung & Tdk Langsung 1. **Sahara (1998) . Disamping mempelajari keterkaitan tersebut penelitian-penelitian tersebut juga mempelajari dampak penyebaran (Tabel 2.17604 0. (3) penelitian terhadap sektor pertanian dan industri pengolahan.45022 1. transportasi dan sebagainya (Setyawan.75861 2. (1) keterkaitan langsung ke depan sektor industri pengolahan lebih kecil di bandingkan keterkaitan ke belakangnya.4267 1. ****Setyawan (2005).34572 1.31431 2. Tabel 2. Ada beberapa informasi yang ditunjukkan pada Tabel 2. DKI Jakarta** Pertanian Ind.64866 0.63396 Sumber: *Tjandrawan (1994) .62204 2001 0.29125 1.76281 1. Gambaran ini memberikan indikasi bahwa sektor/subsektor industri pengolahan secara langsung lebih mempunyai . Hasil Penelitian Terdahulu tentang Keterkaitan Penelitian Wilayah 1. 2005).1 yaitu. ***Setiyaji (1995). Jawa Barat*** Pertanian Agroindustri 4. dan (4) penelitian terhadap salah satu sektor perekonomian misalnya pariwisata.

Ada beberapa hal yang dapat diidentifikasi dalam penelitian-penelitian tersebut yaitu: (1) Koefisien penyebaran menunjukkan .9139 Sumber: *Tjandrawan (1994) . Jepara**** Ind. DKI Jakarta** Pertanian Ind. Pengolahan Tahun InputOutput 1990 1993 1. ***Setiyaji (1995).48422 Koefisien Penyebaran 1. Jawa Barat*** Pertanian Agroindustri 4.2698 1. Tabel 2.1376 1.21765 1.38525 1988 0. Indonesia* Agroindustri Non Agroindustri 2.0570 Kepekaan Penyebaran 1.33528 2001 1.1719 1. Selanjutnya pada Tabel 2.20609 1.74816 1.14 kemampuan untuk mendorong pertumbuhan sektor yang menyediakan input bagi keperluan proses produksi dibandingkan dengan kepekaannya dalam menciptakan kenaikan output apabila terjadi peningkatan satu-satuan permintaan akhir terhadap sektor industri. ****Setyawan (2005). Pengolahan 3. Hal ini berarti sektor/sub sektor industri pengolahan secara langsung dan tidak langsung lebih kuat mendorong pertumbuhan sektor yang menyediakan input untuk keperluan proses produksinya dibandingkan dengan kemampuannya untuk mendorong peningkatan produksi terhadap sektor yang membutuhkan input dari sektor ini. Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Dampak Penyebaran Penelitian Wilayah 1. dan (2) Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan sektor industri pengolahan lebih kecil dibandingkan dengan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakangnya.2908 1.3 menyajikan informasi mengenai koefisien dan kepekaan penyebaran. **Sahara (1998) .3.

1. Besarnya kepekaan penyebaran industri pengolahan di DKI Jakarta tersebut menunjukkan bahwa sektor industri pengolahan di wilayah tersebut bersifat ekspansif yaitu mampu melakukan perluasan pasar dan mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah dibandingkan dengan Jepara dan apabila dilihat dari koefisien penyebaran. Secara umum keempat penelitian mengenai koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran tersebut mempunyai peranan penting dalam pembangunan wilayah. Kerangka Pemikiran Teoritis 2. dan (2) Kepekaan penyebaran industri pengolahan DKI Jakarta lebih besar dibandingkan kabupaten Jepara.5.15 kemampuan suatu sektor dalam perekonomian untuk mendorong sektor hilirnya sedangkan kepekaan penyebaran menunjukkan kemampuan suatu sektor untuk menarik sektor hulunya. Peneliti juga melihat bahwa penelitian tentang industri kertas di Indonesia berdasarkan Analisis Input-Output belum pernah dilakukan. industri pengolahan DKI Jakarta mempunyai kemampuan untuk menarik industri hulunya dibandingkan dengan kabupaten Jepara. Model Input-Output Menurut BPS (2000) pengertian Tabel Input-Output (Tabel I-O) adalah suatu tabel yang yang menyajikan informasi tentang transaksi barang dan jasa . 2.5. Studi literatur yang telah dilakukan menunjukkan bahwa analisis I-O telah banyak digunakan sebagai alat untuk penelitian. hal ini terbukti dari nilai koefisien dan kepekaan penyebaran yang mempunyai nilai lebih besar dari satu (kecuali pertanian di Jawa Barat).

Sifat keseimbangan inilah yang merupakan salah satu kelebihan Tabel I-O yang dibandingkan dengan alat analisa lainnya dalam ilmu ekonomi perencanaan dan pembangunan (BPS. baik yang berupa input antara maupun input primer. yaitu asumsi bahwa setiap sektor ekonomi hanya memproduksi satu jenis barang atau jasa dengan susunan input tunggal . tidak hanya untuk mendeskripsikan struktur suatu perekonomian tetapi juga mencakup cara untuk memprediksi perubahan-perubahan struktur tersebut. Tabel I-O bersifat statis dan terbuka. Sejak dirilis oleh Leontief pada tahun 1930-an. Leontief mengemukakan bahwa Tabel I-O termasuk dalam model General Equilibrium. Tabel I-O telah berkembang menjadi salah satu metode paling luas diterima. Sesuai dengan asumsi dasar yang digunakan dalam proses penyusunannya. Keseragaman (homogenity). Isian sepanjang baris Tabel I-O menunjukkan pengalokasian output yang dihasilkan oleh suatu sektor untuk memenuhi permintaan antara dan permintaan akhir. sedangkan isian sepanjang kolomnya menunjukkan struktur penciptaan input yang digunakan oleh setiap sektor dalam proses produksi.16 yang terjadi antar sektor ekonomi dengan bentuk penyajian berupa matrik. dan pada baris nilai tambah yang menunjukkan komposisi penciptaan nilai tambah sektoral. Adapun asumsi dasar penyusunan Tabel I-O adalah : 1. 2000) Data yang disajikan dalam Tabel I-O merupakan informasi rinci tentang input dan output sektoral yang mampu menggambarkan keterkaitan antar sektor dalam kegiatan perekonomian.

Karena koefisien teknis dianggap konstan. Namun demikian.17 (seragam) dan tidak ada substitusi otomatis terhadap input dan output sektor yang berbeda 2. penerimaan pajak. nilai tambah impor. . dan penyerapan tenaga kerja di sektor industri. Akibatnya perubahan kuantitas dan harga input akan selalu sebanding dengan perubahan kuantitas dan harga output. Kesebandingan (proportionality). Untuk memperkirakan dampak permintaan akhir terhadap output. 3. yaitu koefisien input atau koefisien teknis diasumsikan tetap (konstan) selama periode analisa atau proyeksi. Berdasarkan asumsi tersebut maka Tabel I-O sebagai model kuantitatif memiliki keterbatasan. 2. artinya kenaikan dan penurunan output suatu sektor akan sebanding dengan kenaikan dan penurunan input yang digunakan oleh sektor tersebut. Tabel I-O masih merupakan alat analisis yang lengkap dan komprehensif. Beberapa kegunaan Tabel I-O antara lain adalah : 1. yaitu asumsi bahwa hubungan antar input dan output pada setiap sektor produksi merupakan fungsi linear. Penjumlahan (additivity). maka teknologi yang digunakan oleh sektor-sektor ekonomi dalam proses produksi pun dianggap konstan. Untuk melihat komposisi penyediaan dan penggunaan barang dan jasa terutama dalam analisis terhadap kebutuhan impor dan kemungkinan substitusinya. yaitu asumsi bahwa total efek dan kegiatan produksi di berbagai sektor merupakan penjumlahan dari efek pada masing-masing kegiatan.

2. baik berupa permintaan oleh berbagai sektor produksi maupun permintaan untuk konsumsi. 5. Struktur permintaan barang dan jasa. . yaitu dengan melihat pengaruh secara langsung dan tidak langsung dari perubahan harga input terhadap output. Struktur input antara yaitu transaksi penggunaan barang dan jasa antar sektorsektor produksi. Untuk analisis perubahan harga. Struktur penyediaan barang dan jasa. dan ekspor. 4. Untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap. 2. Struktur Tabel Input-Output Format Tabel I-O terdiri dari suatu kerangka matrik berukuran n x n dimensi yang dibagi menjadi empat kuadran dan tiap kuadran mendiskripsikan suatu hubungan tertentu.5. Untuk mengetahui sektor-sektor yang pengaruhnya paling dominan terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor-sektor yang peka terhadap pertumbuhan perekonomian. maka disajikan format Tabel I-O pada Tabel 2. Struktur perekonomian suatu wilayah yang mencakup output dan nilai tambah masing-masing sektor. Sebagai metode kuantitatif Tabel I-O memberikan gambaran menyeluruh tentang: 1.4 di bawah ini. Untuk menggambarkan perekonomian suatu wilayah dan mengidentifikasikan karakteristik struktural suatu perekonomian wilayah. 3.18 3. baik berupa produksi dalam negeri maupun barang impor atau yang berasal dari luar wilayah tersebut.2. investasi. 4.

2000. Xn … … … … .xn1 Permintaan Antara Sektor Produksi 2 x12 x22 x32 . BPS. Permintaan n x1n x2n x3n . xn2 V2 X2 xnn Vn Xn Fn V1 X1 Sumber : Tabel I-O Indonesia. Isian sepanjang baris pada ilustrasi Tabel I-O tersebut memperlihatkan bagaimana output dari suatu sektor dialokasikan. Jumlah Output X1 X2 X3 . yaitu sebagian untuk memenuhi permintaan antara dan sebagian lainnya untuk memenuhi permintaan akhir. Sedangkan isian sepanjang kolomnya menujukkan pemakaian input antara dan input primer oleh suatu sektor. Apabila Tabel 2. . Struktur Tabel Input-Output Alokasi Output Susunan Input 1 2 Input Sektor 3 .4 di atas dilihat secara baris (bagian horisontal) maka alokasi output secara keseluruhan dapat dituliskan dalam bentuk persamaan aljabar sebagai berikut: X11 + X12 + … X1n + F1 = X1 X21 + X22 + … X2n + F2 = X2 : : : : : Xn1 + Xn2 + … Xnn + Fn = Xn atau dalam bentuk persamaan umum dapat dituliskan sebagai : .3. … … … Akhir F1 F2 F3 . N Jumlah Input Primer Jumlah Input Antara produksi 1 x11 x21 x31 .19 Tabel 2.

untuk semua i = 1. yaitu transaksi barang dan jasa yang digunakan dalam proses produksi. 2. Dalam Analisa I-O kuadran ini memiliki peran yang sangat penting karena kuadran inilah yang . Secara umum matrik dalam Tabel I-O dapat dibagi menjadi 4 kuadran.1) Apabila angka-angka dibaca menurut kolom. yaitu sebagai dasar analisa ekonomi mengenai keadaan perekonomian suatu wilayah. untuk semua j = 1.2) Dalam analisis I-O sistem persamaan di atas memiliki peran penting. 2. dst (2. Berdasarkan ilustrasi Tabel Input-Output.20 ∑ Xij + Fi = Xi . 3. 3. dst Dimana : Xij = output sektor i yang digunakan sebagai input sektor j Fi = permintaan akhir terhadap sektor i Xi = jumlah output sektor i (2. maka angka pada kolom (sektor) itu menunjukkan berbagai input yang diperlukan dalam proses produksi pada sektor tersebut. Kuadran I (intermediate quadrant) Setiap sel pada kuadran I merupakan transaksi antara. khususnya pada transaksi antara. sebagai berikut : 1. maka persamaan aljabar untuk input yang digunakan oleh masing-masing sektor dapat dituliskan sebagai berikut : X11 + X21 + … + Xn1 + V1 = X1 X12 + X22 + … + Xn2 + V2 = X2 : : : : : X1n + X2n + … + Xnn + Vn = Xn atau dalam bentuk persamaan umum dapat dituliskan sebagai : ∑ Xij + Vj = Xj .

Kuadran III (primary input quadrant) Menunjukkan pembelian input yang dihasilkan di luar sistem produksi oleh sektor-sektor dalam kuadran antara. Kuadran II (final demand quadrant) Menunjukan penjualan barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor-sektor perekonomian untuk memenuhi permintaan akhir. 4. pembentuk modal tetap. Permintaan akhir adalah output suaru sektor yang langsung digunakan oleh rumah tangga. pajak tak langsung.6. Informasi di Kuadran IV ini bukan merupakan tujuan pokok. surplus usaha dan penyusutan. Jumlah keseluruhan nilai tambah ini akan menghasilkan produk domestik bruto yang dihasilkan oleh wilayah tersebut. perubahan stok dan ekspor. Kerangka Pemikiran Konseptual Strategi pengembangan yang menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi menganggap bahwa kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan dengan cepat . 2. Kuadran ini terdiri dari pendapatan rumah tangga (upah/gaji). sehingga dalam penyusunan Tabel I-O sering diabaikan. 3. pemerintah. 2. Kuadran IV (primary input-final demand quadrant) Merupakan kuadran input primer permintaan akhir yang menunjukkan transaksi langsung antara kuadran input primer dengan permintaan akhir tanpa melalui sistem produksi atau kuadran antara.21 menunjukkan keterkaitan antara sektor ekonomi dalam melakukan proses produksinya.

Sehubungan dengan itu. Dalam menganalisis peranan sektor industri kertas teradap perekonomian Indonesia ini digunakan analisis I-O dengan berbagai . pada penelitian ini akan dilihat tentang peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian nasional. kemudian. melalui suatu proses yang disebut sebagai penetesan ke bawah (trickle down effect) akan menyebabkan peningkatan pendapatan berbagai golongan masyarakat di negara (wilayah) bersangkutan. Kebijakan prioritas pembangunan sektor industri pengolahan khususnya industri kertas merupakan upaya pemerintah Indonesia dalam mewujudkan perekonomian yang lebih baik untuk kesejahteraan masyarakat. 2005). Peningkatan output berbagai sektor ekonomi. karena tentunya kebijakan yang ditetapkan tersebut mengharapkan hasil pada perkembangan ekonomi yang lebih baik dari sebelumnya. Selain itu sektor ini juga dianggap sebagai sektor yang mampu meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan pendapatan masyarakat pada tingkat yang layak dari sebelumnya.22 melalui peningkatan satu atau beberapa sektor ekonomi kunci. Peningkatan pendapatan ini sekaligus mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat (Setyawan. Peningkatan output sektor kunci tersebut akan ikut meningkatkan output sektor-sektor lainnya melalui proses keterkaitan (linkages) dan dampak penyebaran antar sektor. Sektor industri ini dijadikan unggulan untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian mengingat dalam kondisi sekarang ini. sektor industri pengolahan lebih banyak dapat menyediakan lapangan kerja dan mempunyai aktifitas ekonomi yang lebih intensif untuk satuan unit usaha bila dibandingkan dengan unit usaha sektor lainnya.

Pada akhirnya dapat dijadikan acuan pemerintah Indonesia sendiri dalam menentukan kebijakan pembangunan ekonomi Indonesia ke depan sehingga permasalahan pembangunan seperti kemiskinan dan pengengguran dapat diturunkan. Dengan teridentifikasinya peranan sektor industri kertas melalui proses keterkaitan dengan sektor-sektor lain baik sebagai pengguna input maupun penghasil output.23 keterbatasan analisis yang telah disebutkan pada bab sebelumnya. Adapun alur konsep pemikiran dapat dilihat pada gambar 1. maka diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas bagi pemerintah Indonesia tentang perkembangan sektor yang menjadi prioritas ini dalam mengatasi berbagai masalah yang berkaitan dengannya. . kemampuan mendorong dan menarik sektor hulu-hilirnya. dan perannya dalam sektor kunci perekonomian seperti yang terlihat pada gambar 1.

24 Perekonomian Indonesia Perubahan Struktur Perekonomian Industri Kertas Kemampuan mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya (Analisis Dampak Penyebaran) Keterkaitan dengan sektor lain dalam hubungannya sebagai pengguna input dan penghasil output (Analisis Keterkaitan) Sektor Kunci Perekonomian (Elastisitas Input-Output) Peran Industri Kertas Kebijakan Pembangunan Industri Keterangan : ( Ruang lingkup penelitian ) Analisis yang digunakan Gambar 1. Bagan Alur Pemikiran Konseptual .

dampak penyebaran dan elastisitas ini alat yang digunakan adalah Microsoft Excel 2003. Metode Analisis Untuk mengetahui peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia ini sebagai sektor penyedia input maupun sebagai sektor pemakai input. Pendekatan model I-O yang digunakan adalah model sisi permintaan (demand-side model). dampak penyebaran dan elastisitas input-output.III. Pada analisisnya nanti dapat terlihat bahwa perekonomian dapat tumbuh apabila terdapat dorongan atau peningkatan pada permintaan akhir yang eksogen tersebut. Oleh karenanya. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. model analisis ini . Penggunaan tabel I-O Indonesia tahun 2000 tersebut dikarenakan tabel I-O tersebut merupakan tabel terbaru selama penelitian ini berlangsung. METODE PENELITIAN 3.2. Pada analisis keterkaitan.1. hal ini dikarenakan faktor permintaan merupakan faktor eksogen yang mempengaruhi perekonomian. Data yang digunakan antara lain berasal dari Tabel Input-Output (I-O) transaksi domestik atas dasar harga produsen tahun 2000 klasifikasi 175 sektor dari Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat yang kemudian diagregasi oleh penulis menjadi 22 sektor dan beberapa data sekunder lainnya dari instansi dan dinas terkait lainnya. kemampuan untuk mendorong atau menarik sektor hulu dan hilirnya serta perannya dalam sektor kunci perekonomian dapat di kaji berdasarkam analisis keterkaitan. 3.

26 sering pula disebut dengan dengan model yang dikendalikan oleh sisi permintaan (demand-driven model).1.AX . a1n a21 …….2) AX + F = X Atau F = X . Koefisien Input Pada Tabel I-O. Secara matematik dapat dituliskan : aij = Xij (3. koefisien input atau koefisien teknologi merupakan perbandingan antara jumlah output sektor i yang digunakan dalam sektor j (Xij) dengan input total sektor j (Xj).2. a2n : A : a31 …….3) (3..… ann X1 X2 : X3 X + F1 F2 : Fn F = X1 X2 : Xn X (3.1) Xj Dimana : aij adalah koefisisen input. 3. Koefisien ini dapat diterjemahkan sebagai jumlah input dari sektor i yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit output sektor j. Dengan demikian dapat disusun matriks sebagai berikut : a11 X1 + a12 X2 +………+ a1n Xn + F1 = X1 a21 X1 + a22 X2 +………+ a2n Xn + F2 = X2 : : : : : an1 X1 + an2 X2 +………+ ann Xn + Fn = Xn Atau persamaan tersebut dapat disederhanakan menjadi : a11 …….

Analisis Keterkaitan (linkages) Koefisien keterkaitan sangat berguna dalam penyusunan prioritas sektor perekonomian untuk mencapai tujuan pembangunan. Jika ditulis dalam bentuk persamaan. F = Permintaan akhir. X = Output.5) Dimana : I = Matriks identitas berukuran nxn yang elemennya memuat angka satu pada diagonalnya dan nol pada selainnya. 3.A )-1F (3.AX X = ( I . ( I – A ) = Matriks Leontief.2. Beberapa jenis koefisien keterkaitan yang sering digunakan dalam analisis ekonomi wilayah sektoral antara lain adalah keterkaitan langsung ke depan dan ke belakang serta keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan dan ke belakang. Keterkaitan Langsung ke Depan Keterkaitan langsung ke depan menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menggunakan sebagian output tersebut secara . 1.2. maka akan ada perubahan pola pendapatan nasional. Dalam analisis input-output matriks kebalikan Leontief memiliki peranan yang sangat penting sebagai alat analisis ekonomi yang mencerminkan efek langsung dan tidak langsung dari perubahan permintaan akhir terhadap output sektor-sektor di dalam perekonomian.27 Jika terdapat perubahan pada permintaan akhir. maka dapat dituliskan sebagai berikut : AX + F = X Atau F = X . ( I – A )-1 = Matriks kebalikan Leontief.

n KBj = ∑ aij i=1 Dimana: KBj = Keterkaitan langsung ke belakang = Unsur matrik koefisien teknis aij 3. Untuk mengetahui besarnya keterkaitan langsung ke depan. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ke Depan Analisa keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan mengukur akibat dari adanya suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menggunakan output sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung per unit kenaikan permintaan total.8) Dimana: KDLTi = keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan sektor i ij = unsur matrik kebalikan Leontief model terbuka .7) (3. Keterkaitan Langsung ke Belakang Keterkaitan langsung ke belakang menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menyediakan input antara bagi sektor tersebut secara langsung per unit kenaikan permintaan total.28 langsung per unit kenaikan permintaan total. KDLTi = ∑ α ij j =1 n (3. dengan rumus sebagai berikut: n KDi = ∑ aij j=1 Dimana: KDi = Keterkaitan langsung ke depan = Unsur matrik koefisien teknis aij 2.6) (3.

Koefisien penyebaran merupakan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang yang dinormalkan dengan sektor dan . 1. Analisa ini menunjukkan koefisien kaitan yang memberikan gambaran tentang pengaruh yang ditimbulkan oleh suatu unit permintaan akhir untuk semua sektor didalam suatu sistem perekonomian.2. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ke Belakang Analisa keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang menyatakan akibat suatu sektor-sektor yang menyediakan input antara bagi sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung per unit kenaikan permintaan total. Analisis ini disebut dampak penyebaran yang terbagi dua yaitu kepekaan penyebaran dan koefisien penyebaran. Indikator-indikator tersebut tidak dapat diperbandingkan antar sektor karena peranan permintaan akhir setiap sektor tidak sama.29 4.10) Dimana: BLTLj = Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang = Unsur matrik kebalikan Leontief terbuka αij 3. Koefisien Penyebaran (Coefficient of Dispersion) Koefisien penyebaran tersebut juga indeks daya penyebaran ke belakang. KBLTj = ∑α ij i =1 n (3. Analisis Dampak Penyebaran Indeks keterkaitan langsung dan tidak langsung baik ke depan maupun ke belakang di atas belumlah memadai dipakai sebagai landasan pemilihan sektor kunci. Oleh karena itu kedua indeks tersebut haruslah dinormalkan dengan cara membandingkan rata-rata dampak yang ditimbulkan oleh sektor tersebut dengan rata-rata dampak seluruh sektor.3.

Kepekaan penyebaran merupakan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan yang dinormalkan dengan jumlah sektor dam jumlah seluruh koefisien matrik kebalikan Leontief.11) ij Dimana: = Kepekaan penyebaran sektor i Sdi ij = Unsur matrik kebalikan Leontief .30 jumlah seluruh koefisien matrik kebalikan Leontief. Kepekaan penyebaran ini memberikan gambaran tentang pengaruh yang timbul oleh suatu unit permintaan akhir terhadap semua sektor di dalam perekonomian. Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: n∑ α ij Sdi = j =1 n n ∑∑ α i =1 j =1 n (3. Kepekaan Penyebaran (Sensitivity of Dispersion) Kepekaan penyebaran disebut juga indeks daya penyebaran ke depan.10) Dimana: Pdj = Koefisien penyebaran sektor j ij = Unsur matrik kebalikan Leontief 2. Secara matematis dituliskan dalam bentuk rumus sebagai berikut: n∑ α ij n Pdj = ∑∑ α ij i =1 j =1 n i =1 n (3.

Elastisitas Input-Output Elastisitas input-output menyediakan pandangan baru untuk penentuan sektor prioritas.2. 1. Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: ⎤ ⎡ ET xyj = ⎢∑ l i / x j )bij /(l j / x j )⎥ (y j / x) ⎦ ⎣ i Dimana: ET xyj = Elastisitas tenaga kerja (3.13) .4.12) = ∑x j b ij yj = Elemen matriks Leontief = Permintaan akhir sektor j 2. Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: EO xyj = Dimana: EO xyj = Elastisitas output x ∑b i ij ( y j / x) (3.31 3. Elastisitas Output Elastisitas Output adalah perubahan persentase dalam total output suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. Pendekatan ini dianggap lebih baik daripada analisis keterkaitan dan analisis multiplier karena memperhitungkan share suatu sektor dalam output. Pendekatan ini mempermudah policy makers untuk berkonsentrasi tidak hanya pada nilai-nilai keterkaitan dan multiplier tertinggi tetapi juga pada share suatu sektor ekonomi. Elastisitas Tenaga Kerja Elastisitas tenaga kerja adalah perubahan persentase tenaga kerja suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya.

14) Dimana: EP xyj = Elastisitas Pendapatan hj = Upah dan gaji hi / x j = Koefisien pendapatan .32 = Jumlah tenaga kerja li l i / x j = Koefisien tenaga kerja 3. Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: ⎡ ⎤ EP xyj = ⎢∑ hi / x j )bij /(h j / x j )⎥ ( y j / x) ⎣ i ⎦ (3. Elastisitas Pendapatan Elastisitas pendapatan adalah perubahan persentase dalam pendapatan suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya.

Perusahaan-perusahaan tersebut terdiri dari 65 perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).1.IV. . Oleh karena itu.041. 2005). Sekitar 64 perusahaan berlokasi di pulau Jawa. jumlah perusahaan di Indonesia yang memproduksi pulp dan kertas adalah tiga kelompok perusahaan besar. Menurut Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI). minimal harus ada tambahan beberapa perusahaan lagi untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Untuk memenuhi kebutuhan kertas tersebut. dan dapat memenuhi kebutuhan kertas dalam negeri yang terancam kekurangan pasokan dalam sepuluh tahun mendatang (Mansur.180 ton. 14 perusahaan di Sumatera dan dua perusahan berlokasi di Kalimantan. 12 perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) dan 3 perusahaan negara.500 ton (Tabel 4. Group Sinar Mas. sampai dengan tahun 2003. Indonesia mempunyai 77 perusahaan produsen kertas dan 10 diantaranya terintegrasi dengan pabrik pulp. investasi dalam negeri swasta sebesar 5. dan investasi luar negeri sebesar 4.666. Industri kertas memiliki kapasitas total sebesar 10.1). Group Raja Garuda Mas dan Barito Pasifik. GAMBARAN UMUM INDUSTRI 4.580 ton yang terdiri dari kapasitas terpasang perusahaan swasta-negara sebesar 337. Ketiga produsen besar industri pulp dan kertas tersebut adalah. Profil Industri Kertas Saat ini. Jumlah perusahaan tersebut belum mampu mencukupi konsumsi domestik.900 ton. sektor industri ini membutuhkan investasi baru atau industri ini harus meningkatkan efisiensi agar dapat bersaing dengan industri asing.045.

180 4.3 7.5 100 25.580 2.000 Kalimantan 2 564.322.287.2 46.666. 2003. Industri-industri yang mengandalkan bahan baku impor tetap mengalami kemerosotan pertumbuhan. hal ini terjadi didasarkan pada ketersediaan bahan baku dan upah tenaga kerja yang murah di dalam negeri.500 Sumatera 14 5. 2003).045.554.4 50.1 Perusahaan Negara Swasta Investasi Dalam Negeri Swasta Investasi Luar Negeri Total Integrated (Pulp dan Kertas) Non Integrated Pulp Kertas Total Jawa 64 340.500 10.528.8 persen pada periode 19972001.3 100 80.100 1.072.440 1.7 19.382.140 10.6 9.100 2.1 persen per tahun.8 52. Perkembangan Industri Kertas Industri kertas tumbuh dan berkembang lebih baik bila dibandingkan dengan kebanyakan industri lain di Indonesia. Pada periode yang sama ekspor kertas juga meningkat sekitar 19.287.000 6. 4.7 persen per tahun (Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.491.000 6.000 Kertas % 3.725.100 5.580 74.045.215. Profil Industri Pulp dan Kertas Indonesia Tahun 2003 Status/Lokasi Jumlah Perusahaan 3 65 12 80 10 3 67 80 Kapasitas Terpasang Pulp (Ton) 240.517. .041.0 100 10.8 43.100 Pulp % 3.1.2.600 Total 80 6.580 8.2 14.045. tetapi industri kertas tetap melanjutkan perkembangannya dengan pertumbuhan sekitar 9.900 5.4 85. Sementara konsumsi kertas juga meningkat 4.34 Tabel 4.000 3.100 Sumber : Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.8 100 Kapasitas Terpasang Kertas (Ton) 337.287.9 100 85.580 100 5.

2003. para investor telah menunjukkan ketertarikan yang kecil pada sektor ini karena industri ini telah menjadi capital intensive dan birokrasi yang rumit pasca otonomi daerah.1 kg 1994 13.3 juta ton pertahun sedangkan konsumsi per kapitanya pada akhir 2003 telah mencapai 25 Kg (Tabel 4. Konsumsi Kertas Per Kapita Penduduk Indonesia Tahun 1993-2003 Tahun Konsumsi Kertas / Kapita 1993 11.2. Nilai konsumsi per kapita ini memang lebih kecil bila dibandingkan dengan negara lain contohnya Malaysia yang sudah mencapai ratusan kilogram per kapita. Disamping kinerja yang menggembirakan dalam industri kertas ini.9 kg 1998 14. Untuk mengatasi kebutuhan konsumsi kertas yang terus . Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) mengkhawatirkan Indonesia akan mengalami kekurangan pasokan kertas.0 kg 1995 14.0 kg 1996 16.8 kg 2001 23.3 kg 1997 16.35 Tabel 4.6 kg 2000 20. industri kertas harus mengimpor kertas senilai US$ 7 miliar/tahun.3 kg 2002 24. Masalahnya setiap tahun konsumsi kertas dalam negeri terus meningkat dengan angka rata-rata sekitar 6 persen per tahun. bila dalam 10 tahun mendatang kapasitas industri kertas tidak bertambah.0 kg Sumber: Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia. namun jika kebutuhan kertas di dalam negeri naik hingga mencapai 50 Kg per kapita.1 kg 1999 19.0 kg 2003 25. Pada tahun 2003 kapasitas produksi yang dimiliki industri kertas baru sekitar mencapai 10.2).

tujuh diantaranya adalah perusahaan kertas yang terintegrasi (tabel 4. Kapasitas terpasang industri pulp yang terintegrasi dengan perusahaan kertas mencapai 66.32 persen dari keseluruhan kapasitas terpasang industri kertas.36 meningkat maka harus ada investasi baru atau industri yang ada harus meningkatkan efisiensi.1). masih menjadi kelemahan bagi sebagian besar produsen kertas Indonesia. Integrasi Vertikal dan Pasar Industri Kertas Indonesia Di Indonesia industri kertas mempunyai karakteristik sebagai industri skala besar. Integrasi vertikal ini dianggap penting karena integrasi vertikal oleh perusahaan kertas akan meningkatkan efisiensi perusahaan dalam industri kertas tersebut karena dapat mengamankan pasokan bahan baku dan meminimumkan biaya transaksi dalam rangka untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan terhadap produk kertasnya (Karseno dan Mulyaningsih. Industri kertas yaitu khususnya perusahaan-perusahaan besar dalam industri ini mempunyai kecenderungan untuk berintegrasi dengan perusahaan penyedia bahan baku yaitu industri pulp. .3. 2002) Dilihat dari pangsa produksi dan ekspor penguasaan jaringan pasar luar negeri. Dari 77 perusahaan kertas pada tahun 2003. Sedangkan kapasitas terpasang industri kertas pada perusahaan pulp dan kertas yang terintegrasi mencapai 21.08 persen dari total kapasitas terpasang seluruh industri pulp. 4. Dengan kecenderungan ini hampir seluruh output industri pulp disalurkan pada industri kertas didalam negeri sedangkan ekspor hanya merupakan pasar kedua.

Profil Beberapa Perusahaan Kertas Indonesia Sampai dengan tahun 2003 dalam industri kertas terdapat tiga perusahaan yang memiliki proporsi kapasitas pabrik terhadap kapasitas total industri yang melebihi 10 persen. dan India.). Oleh karena itu perlu dilakukan analisis mengenai kondisi pasar luar negeri terutama pasar Asia dan bagaimana strategi untuk memasuki dan mengembangkan pasar di kawasan tersebut. Selain itu pasar dalam negeri juga perlu dikaji karena merupakan basis untuk memperkuat daya saing secara nasional (Rosadi dan Vidyatmoko. PT. yang menguasai .37 Meskipun demikian beberapa (grup) perusahaan telah mencoba menembus pasar luar negeri. Kedua kelompok ini memilih Singapura sebagai kantor pusat perusahaan mereka. Kelompok Sinar Mas memasuki pasar Asia dengan mendirikan kelompok perusahaan melalui bendera APP (Asia Pulp and Paper) di negara Singapura. Pertama. Kawasan Asia Pasifik merupakan kawasan dengan pasar pulp terbesar di dunia. dengan melakukan ekspansi ke negara-negara di kawasan ini. Malaysia. terutama pasar Asia. 4. Pasar bebas tersebut akan memaksa para produsen pulp dan kertas Indonesia untuk mampu bersaing memperebutkan pasar Asia Pasifik yang terbuka. Cina. Begitu juga dengan Tanoto dan Tanjung Enim Lestari (TEL) yang mengibarkan bendera APRIL (Asia Pacific Resources International Holding Ltd. Indah Kiat Pulp & Paper Corp. 2002). Pentingnya jaringan pemasaran lebih dipicu terutama menjelang diberlakukan pasar bebas di kawasan Asia Tenggara (AFTA) tahun 2003 dan kawasan Asia Pasifik (APEC) tahun 2010.4.

044.465.000 700. PT.500 93.000 157.8 1. Ekamas Fortuna PT.000 150.000 85.6 28. Pindo Deli Pulp & Paper Mills PT.200 150.4 0. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia dengan proporsi sebesar 10.000 Persentase (%) 20. Keempat perusahaan yang tergabung dalam group Sinar Mas ini memiliki karaktristik yang sama yaitu semuanya merupakan perusahaan kertas yang terintegrasi vertikal dengan pabrik kertasnya. Pakerin PT.8 4.800 195. Aspex Kumbong PT. Pelita Cengkareng Paper Co. Surabaya Agung PT. Fajar Surya Wisesa PT. Adiprima Suraprinta PT. Tanjungenim Lestari Pulp & Paper PT.400 60.000 500.3). 2003.000 486.5 persen dari total kapasitas industri. Tabel 4. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry yang berlokasi di Langsa. dan perusahaan ketiga adalah PT.000 2. NAD. Kapasitas Terpasang Perusahaan Industri Kertas Tahun 2003 Nama Perusahaan PT. Gede Karang PT.4 0. Kertas Leces (Persero) PT. Selain ketiga perusahaan itu group Sinar Mas masih mempunyai perusahaan kertas lainnya yaitu PT.000 1.8 14.9 1. Pindo Deli & Paper Mills sebesar 14. Surabaya Mekabox Ltd.7 4.4 0. kemudian disusul oleh PT.000 150. Pura Barutama PT.000 150.2 persen.800 450. Papertech Indonesia Lain-lain Kapasitas Terpasang (Ton) 2.000 1.5 0. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia PT.000 430. PT.3.4 4.5 6.9 Sumber : Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia. Papyrus Sakti PT.9 1.4 4. Riau Andalan Kertas PT.1 1.000 350.5 1.000 50.38 20. . Indah Kiat Pulp& Paper Corp PT.111. Tiga perusahaan pemilik kapasitas terbesar tersebut dimiliki oleh group yang sama yaitu Sinar Mas Group.4 10.2 1. Suparma PT.2 3.986.1 persen (Tabel 4.

5/50/2 tanggal 9 Februari 1978. Pada saat ini. PT.78 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan perusahaan ini (Tabel 4. pabrik pulp dan kertas budaya di Perawang. terutama pabrik kertas budaya di Tangerang. dan didaftarkan di Kantor Pengadilan Negeri Jakarta No. PT. Dengan semakin meningkatnya permintaan atas produksi kertas. yang menempati lahan seluas 28 Ha.4). Pada susunan pemegang saham.39 1) PT. 2005).A. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk Perusahaan ini didirikan di Jakarta dengan Akta Notaris Ridwan Suselo No.68 tanggal 7 Desember 1976 yang disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Keputusan No. Indah Kiat Pulp & Paper melakukan usahanya secara komersil dengan memproduksi pulp. 980.000 ton corrugated boxes per tahun. Riau seluas 1.Y. perusahaan tersebut memiliki dan menguasai beberapa sarana dan prasarana yang digunakan untuk menjalankan berbagai kegiatan usahanya. dengan kertas bergelombang sebagai peredam benturan). 744.000 ton pulp per tahun. kertas budaya.722 Ha . Indah Kiat Pulp & Paper dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards yang terdiri dari dewan komisaris dengan presiden komisarisnya yaitu Indra Widjaja dan dewan direksi dengan direktur utamanya yaitu Teguh Ganda Widjaja. 525 Tanggal 14 Februari 1978 (Bank Niaga. perusahaan kertas ini mengantisipasinya dengan meningkatkan kapasitas produksinya sehingga saat ini menjadi 1. kertas industri dan corrugated carton boxes (sejenis dus karton. masyarakat menguasai 38.631.000 ton kertas budaya per tahun.000 ton kertas industri per tahun dan 100.

Tabel 4..9 Ha.72% CHP International (BVI) Corp. 2005. Co. mess karyawan dan lain-lain. Boards PT. Fasilitas produksi perusahaan juga didukung dengan berbagai fasilitas dan prasana seperti jalan.K.88% Virgin Island YFY Global Investment (BVI) Corp. Presiden Komisaris Wakil Presiden Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris . Ryani Soedirman : Mas Achmad Daniri : Prof.4. Ltd.56% British Virgin Island Yuen Foong Yu H. Phd.40 dan pabrik kertas industri di Serang Jawa Barat seluas 308. : Lo Shang Shung : Hj.78% Sumber: Bank Niaga. Teddy Pawitra : Kamardy Arief : Let Jend (Purn) Soetedjo Dewan Direksi Presiden Direktur : Teguh Ganda Widjaja Wakil Presiden Direktur : Muktar Widjaja Wakil Presiden Direktur : Hendra Jaya Kosasih Wakil Presiden Direktur : Chen Wang Chi Wakil Presiden Direktur : Yudi Setiawan Lin Direktur : Suresh Kilam Direktur : Didi Harsa Direktur : Agustian Rachmansjah Partawidjaja Susunan Pemegang Saham PT Purinusa Ekapersada : 52. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk per 30 September 2004 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Ir. Dr. Hong : 0.05% Kong Masyarakat : 38. British : 5. : 2. Gandi Sulistiyanto Soeherman : Show Chung Ho : Kuo Cheng Shyong : Raymond Liu.

6 tahun 1968 tentang PMDN. berlokasi di lokasi Pindo 1 dengan kapasitas produksi terpasang sebesar 48. Akta Perubahan No. 2005). PT. Karawang (Pindo 1). Pindo Deli Pulp & Paper Mills PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills didirikan di Jakarta dalam rangka Undang-undang No.41 2) PT. 2005). Akta Perubahan No. sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No.6 tanggal 4 Juli 1975 dan Akta Perubahan No. . dengan jumlah kapasitas produksi terpasang sebesar 652.75 tanggal 31 Januari 1975. Karawang dengan menambah tiga Paper Machine serta sebuah Corrugated Machine. Selain itu perusahaan ini juga mempunyai fasilitas pabrik pembuatan bahan kimia calcium carbonate.57 persen dari total saham yang dikeluarkan PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills tersebut (Tabel 4. Akta Perubahan No. Perusahaan kertas ini dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards (dua dewan perusahaan) dan kepemilikan saham terbesar perusahaan ini dikuasai oleh PT Purinusa Ekapersada sebesar 97.69 tanggal 25 Februari 1976 (Bank Niaga.59 tanggal 26 April 1975. dengan Akta No. Pada Oktober 1995.12 tahun1970.5 tanggal 3 April 1975.000 ton per tahun.000 ton per tahun.5). salah satu bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi kertas. Pindo Deli Pulp & Paper Mills ini memulai konstruksi pabrik kertasnya yang kedua (Pindo 2) yang berlokasi di Kuta Mekar.000 ton per tahun dan telah berproduksi sejak bulan Maret 1996 (Bank Niaga. Saat ini perusahaan kertas ini memiliki sebuah pabrik kertas yang berlokasi di Adiarsa. Total kapasitas produksi terpasang pabrik kertas milik perusahaan ini adalah sebesar 210.

6 Tahun 1968 juncto Undang-undang No.57% : 0.91% : 0.42 Tabel 4.60 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan perusahaan ini (Tabel 4. Komisaris Utama Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Direktur Direktur PT Purinusa Ekapersada PT Mega Kleenindo PT Unitama Sartindo Sumber: Bank Niaga. Perusahaan ini merupakan bagian kelompok usaha Sinar Mas.5. Kelompok Sinar Mas adalah salah satu dari kelompok industri terbesar di Indonesia dengan kurang lebih 200 perusahaannya yang bergerak di berbagai usaha yang besar . Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk PT. Jhon Ferdinand Pandelaki : Yudi Setiawan Lin : Let Jend (Purn) Soetedjo : Hajjah Ryani Soedirman : Arthur Tahya Dewan Direksi : Teguh Ganda Wijaja : Muktar Widjaja : Hendra Jaya Kosasih : Suresh Kilam : Tsai Huan Chi : Huang Wen Hai : Tri Ramadi Susunan Pemegang Saham : 97. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk didirikan dalam rangka Undangundang Negara Republik Indonesia No. 2005). PT. masyarakat menguasai 36. 2005. Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Drs. Boards PT.61% 3) PT. Pindo Deli Pulp & Paper Mills per 30 September 2004. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards (dua dewan direksi) dan pada susunan pemegang saham.9 tanggal 2 Oktober 1972 (Bank Niaga.6).12 Tahun 1970 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri berdasarkan Akta No.

bidang kimia. : Lo Shang Shung : Hj. Lokasi pabrik dan pusat perusahaan yang terletak di Jawa Timur. Tabel 4. perbankan dan jasa keuangan. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk per 30 September 2004 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Ir.43 termasuk industri kertas dan pulp. Boards PT. Gandi Sulistiyanto Soeherman : Show Chung Ho : Kuo Cheng Shyong : Raymond Liu. yang berdekatan dengan pelabuhan Tanjung Perak merupakan hal yang sangat menguntungkan kelancaran pengapalan untuk ekspor. sedangkan sisanya merupakan tanah yang telah dibebaskan untuk kepentingan . Phd. real estate.30% : 0. Dari seluruh tanah yang dikuasai perusahaan 64 persen merupakan tanah dengan Hak Guna Bangunan.10% : 36.6. Teddy Pawitra : Kamardy Arief : Let Jend (Purn) Soetedjo Dewan Direksi : Teguh Ganda Widjaja : Muktar Widjaja : Hendra Jaya Kosasih : Chen Wang Chi : Yudi Setiawan Lin : Suresh Kilam : Didi Harsa : Agustian Rachmansjah Partawidjaja Susunan Pemegang Saham : 63. Ryani Soedirman : Mas Achmad Daniri : Prof DR. 2005.60% Presiden Komisaris Wakil Presiden Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Direktur Direktur Direktur PT Purinusa Ekapersada Koperasi Masyarakat Sumber: Bank Niaga. produksi bahan makanan. minyak goreng. hotel dan perumahan.

Perusahaan ini menyesuaikan pemakaian teknologi sedemikian rupa untuk tetap dapat menyediakan kesempatan kerja seluas-luasnya. meningkatkan pengawasan mutu disamping . perusahaan kertas ini juga memproduksi produk-produk kemasan. dan kertas HVS biasa untuk kebutuhan sekolah dan perkantoran. diantaranya dus (boxboard) yang dipergunakan untuk kemasan rokok. minyak wangi.V. Hal ini juga diperlukan untuk meningkatkan kesempatan kerja. Namun demikian melihat kebutuhan penyediaan kesempatan kerja di Indonesia. kertas HVS mengkilap. Saat ini PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia telah menerima sertifikat ISO 9002 dari Det Norske Veritas Industry B.44 perusahaan yang berasal dari petani di sekitarnya dengan status Hak Milik atau Girik. Perusahaan ini juga memproduksi pulp dari daur ulang kertas bekas dan soda kaustik sebagai bahan baku utama industri kertas. yang merupakan pengakuan bertaraf internasional terhadap sistem dalam proses produksi yang telah berhasil dilaksanakan oleh perusahaan. Pabrik kertas merupakan suatu jenis industri dengan sifat padat modal. dan sereal. kertas tissue. Bidang usaha utama perusahaan ini adalah menghasilkan kertas tulis dan cetak bermutu tinggi. Selain kertas tulis dan cetak serta hasil-hasil produksi kertas. Belanda. PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia mempunyai kapasitas produksi sebanyak 30. Rotterdam. Pada tahun 1994.000 ton boxboard pertahun. Hal ini jelas dapat terlihat pada bagian produksi barang-barang hasil produksi kertas dimana perusahaan ini telah memutuskan untuk tidak menambah mesin-mesin pembungkus otomatis.

modifikasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas produksi mesin pembuatan pulp dan fasilitas pendukung lainnya.Ltd. PT Satria Perkasa Agung (19.000 ton pulp per tahun dan 7. Lontar Papyrus Pulp . Arthadana Mulia Makmur yang memiliki 0. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry bergerak dalam bidang usaha industri pulp dan kertas.7). dalam rangka Undang-Undang No. PT. 2005). pada kuartal keempat tahun 1998 perusahaan kertas ini memulai produksi komersial tissue dalam bentuk gulungan besar yang dijual kepada pihak lain untuk kemudian diubah menjadi berbagai jenis tissue siap pakai. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry Perusahaan kertas ini didirikan di Langsa.25 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan (Tabel 4. Aceh Timur dengan nama awal PT Sumber Indra Jaya Paper Manufacture Co. Pindo Deli Pulp & Paper Mills (80 persen). Perusahaan kertas ini dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards yang terdiri dari dewan komisaris dengan presiden komisarisnya yaitu Indra Widjaja dan dewan direksi dengan direkturnya adalah Teguh Ganda Widjaja. dengan kapasitas produksi 60. kertas budaya dan tissue. PT.45 4) PT. Disamping pulp dan kertas. Kepemilikan saham dikuasai oleh tiga perusahaan yaitu PT..000 ton per tahun.500 ton kertas per tahun. dan PT. Pada tahun 1999 perusahaan ini telah melakukan modifikasi terhadap mesin-mesin dan fasilitas produksi di pabrik pulp Jambi. 44 tanggal 13 Februari 1974 (Bank Niaga.75 persen).6 Tahun 1968 tentang PMDN dengan Akta No. Saat ini perusahaan ini merupakan salah satu produsen pulp yang cukup besar di Indonesia dengan kapasitas produksi sebesar 545. dengan produksi utama pulp jenis LBKP.

Jambi dan sebuah pabrik kertas di Langsa.46 & Paper Industry saat memiliki sebuah pabrik yang memproduksi pulp dan tissue yang berlokasi di Sumatera yaitu di Tanjung Jabung. 2005. Ryani Soedirman Dewan Direksi Direktur Utama : Teguh Ganda Widjaja Wakil Direktur Utama : Hendra Jaya Kosasih Direktur : Muktar Widjaja Direktur : Suresh Kilam Direktur : Lin Shun Keng Direktur : Tri Ramadi Direktur : Arthur Tahya Susunan Pemegang Saham PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills : 80. Boards PT. Komisaris Utama Wakil Komisaris Utama Komisaris Komisaris Komisaris Dalam menjalankan usahanya. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry telah memperoleh sertifikasi ISO 9002 sehubungan dengan telah sesuainya sistem kualitas manajemen (Quality management systems) dengan ketentuan yang dipersyaratkan dalam ISO 9002.E10683 sebagai bukti bahwa perusahaan kertas ini telah memenuhi ketentuan standar lingkungan hidup yang dipersyaratkan (Bank Niaga. Di samping itu. NAD. PT.25% Sumber: Bank Niaga. Tabel 4. John Ferdinand Pandelaki : Sukirta Mangku Djaja : Let Jend (Purn) Soetedjo : Hj. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry per 30 Desember 2003 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Drs.7.75% PT Arthadana Mulia Makmur : 0. . 2005). perseroan ini juga telah memperoleh sertifikat ISO 14001 pada tanggal 19 Agustus1997 yang dikeluarkan SGS Yarsley International Certification Services Limited dengan sertifikat No.00% PT Satria Perkasa Agung : 19.

068. Dari data tersebut diperoleh bahwa jumlah permintaan akhir lebih besar dibandingkan jumlah permintaan antaranya. Struktur Permintaan Industri Kertas Total permintaan barang dan jasa domestik yang dihasilkan oleh Indonesia tahun 2000 mencapai Rp 2.415 juta atau 13.03 persen dari total permintaan antara dan berada pada urutan ke-18 diantara sektor-sektor lainnya.073.1. dilihat dari sisi permintaan antara tampak bahwa sektor perdagangan menghasilkan output tertinggi yang digunakan sebagai input oleh seluruh sektor perekonomian lainnya yaitu sebesar Rp 197. .V.701.099. Peranan Industri Kertas Dalam Perekonomian Indonesia 5. hal ini berarti bahwa output di Indonesia cenderung digunakan untuk memenuhi konsumsi langsung masyarakatnya.1. Sedangkan untuk industri kertas mempunyai permintaan antara sebesar Rp 10.019 juta dan permintaan akhir sebesar Rp 1.977.460.1.730 juta atau 11.656.775 juta atau sekitar 1. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.21 persen dari total permintaan antaranya. pada urutan kedua dan ketiga dengan nilai Rp 144.767.83 persen dan Rp 117.71 persen dari total permintaan antara.870 juta.626 juta atau 18. Jumlah tersebut terdiri atas permintaan antara sebesar Rp 1. Selanjutnya diikuti oleh sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian.800. Angka-angka tersebut di atas menunjukkan seberapa pentingnya peranan output yang dihasilkan oleh sektor-sektor di atas untuk digunakan sebagai input oleh sektor-sektor perekonomian lainnya di Indonesia. Berdasarkan Tabel 5.629 juta.048.1.

30 1.84 persen dari total permintaan akhir.076.620 8. Permintaan Antara dan Permintaan Akhir Sektor-sektor Perekonomian di Indonesia Tahun 2000 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.50 0.257.108 13.621 208.278 151.60 5.16 1.227.84 0.849 80.760.438.44 1.657 12.254 131.415 13.287 2.56 100 Sumber: Tabel I-O Indonesia.416.176 197.379 33.695 227.80 14.099.340.689.063 396. 2000 (diolah).568 21.325.593 30.637.19 4.50 9.412.03 0.629 4.685. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Total (domestik) Permintaan Antara Jumlah % (Juta Rp) 144.849 24.074 19.276.800.805.730 90.748.03 0.15 100 Permintaan Akhir Jumlah % (Juta Rp) 115.47 0.05 9.37 5.815.035 16.677.019 11.897.599 5.020 7.534.228.775.14 117.98 100 Total permintaan Jumlah % (Juta Rp) 260.847 juta atau 0.045. Nilai tersebut lebih besar dibanding permintaan antaranya.887 201.881 13. Dilihat dari permintaan akhir pada Tabel 5.42 5.961 1.034 41.38 0.408 243.844.627.073.23 0.595.43 14.926 0.065 15.944 0.13 8.739.215 35.698.726.620 13.048.259 165.713 1.37 6.372 88.84 18.08 79.901.036 155.056 67.73 8.169 161.36 9.574 1.034 238.48 Tabel 5.586.11 1.99 1.424 8.068.64 3.426.389.84 2.885.442.125.151 329.701.848.485 39.272.21 8.672.89 2.53 1.870 7.74 8.018 0.743.1 sektor industri kertas menempati posisi ke-14 diantara sektor yang lain sebesar Rp 13.970.58 12.970.613 64.700 3.575 9.34 0.850.329.214.916 177.767. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat secara keseluruhan lebih banyak menggunakan output industri kertas untuk konsumsi .724 5.626 70.27 3.356 105.529.670 7.695.83 15.165 139.014.88 1.52 12.564.705 23.33 0.774.741 10.48 0.948.97 6.37 0.242.441.99 1.496.622 8.847 3.13 0.771.88 4.099 57.476.649 36.71 2.47 1.29 12.729.65 17.460.160 6.119.605 94.32 0.25 2.977.287.775 5.498 19.067 0.53 0.817.67 5.656.153.16 4.028 0.113 94.821.87 2.34 2.64 2.1.128 23.09 1.353.92 0.036.10 196.87 6.51 1.

Jika diperbandingkan antara nilai upah dan gaji terhadap surplus usaha (U/G) maka akan diperoleh nilai rasio upah gaji dengan surplus usaha.278. 5. penyusutan sebesar Rp 865. Nilai rasio tersebut menunjukkan perbandingan antara besarnya upah dan gaji yang diterima produsen.2 dapat diketahui bahwa total nilai tambah bruto negara Indonesia adalah Rp 1.1.327 juta yang terdiri atas upah dan gaji sebesar Rp 1.770 juta berasal dari upah dan gaji. surplus usaha.048. Struktur Nilai Tambah Bruto Nilai tambah bruto merupakan balas jasa terhadap faktor produksi yang tercipta karena adanya kegiatan produksi. penyusutan dan pajak tak langsung netto. Pada tahun yang sama sektor industri kertas menyumbang nilai tambah bruto sebesar Rp 7.2).331. Rp 755. Dalam Tabel I-O Indonesia tahun 2000 nilai tambah meliputi penerimaan upah gaji.952.843.849 juta.498 juta berasal dari surplus usaha.860. Berdasarkan Tabel 5.967 juta (Tabel 5.49 langsung (masyarakat.928 juta berasal dari penyusutan dan Rp 69.958 juta dan pajak tak langsung netto sebesar Rp 487. surplus usaha sebesar Rp 458.350 juta dengan perincian Rp 400. .732 milyar berasal dari pajak tak langsung netto.895. pemerintah dan ekspor) dibanding untuk keperluan produksi sebagai input bagi sektor lain.762 juta. Rasio upah dan gaji dan surplus usaha termasuk kategori baik jika rasionya mendekati keseimbangan (mendekati 1) yang berarti bahwa proporsi penerimaan dalam bentuk upah dan gaji bagi pekerja dan surplus usaha bagi produsen berimbang.2. Rp 110.079.

762 4.365.081 834.169.396 325. Kondisi ini menunjukan bahwa distribusi pendapatan antara pemilik modal (perusahaan) dan pekerja tidak merata atau .990 dan minuman Industri tekstil dan 16.440.756 12.732 Nilai tambah bruto (Juta Rp) 166.664.875 429.228.770 755.434 15.607 6.576 dari logam Industri lainnya 19.821 61. Nilai Tambah Bruto Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 Sektor Upah /gaji (Juta Rp) Surplus Usaha (Juta Rp) 121.616 5.975 865.418 Pengangkutan dan 16.723.901.504 1.886 2.229.774 11.177 21.554.731.451 Listrik.567.623.311 9.778.562.147.701 Industri kertas 1.382 4.232 97.143.073 3.350 Pertanian 40.702 926.072 64.212.414. 2000 (diolah).781 8.046 1.670.372.585.2.208. diperoleh bahwa ternyata pada sektor industri kertas mempunyai nilai surplus usaha lebih besar dibandingkan upah dan gaji.484.542 933.43).931.012.278.567 26.105 6.692.333.946.567 5.479 kertas Industri percetakan 1.352.902 6.237 6.958 83.327 3. Hal ini terlihat dari nilai rasio yang lebih kecil dari satu (0.895.048.714.004.756.725 Industri kimia 21.176 19.393.590.131 115.044.705 7.129 furniture Industri pulp 940.512 1.914 Kayu 2.240 28.949 45.430 dasar Industri barang jadi 3.623 84.245 Pertambangan dan 25. gas dan air 2.354 komunikasi Keuangan dan 21.996.898 138. Berdasarkan hasil analisis rasio upah dan gaji dengan surplus usaha pada Tabel 5.477.164 13.063 4.759 10.070 persewaan Jasa-jasa 85.605.028.564.542 Bangunan 37.017.757 2.860.625.928 Indirect Tax (Juta Rp) 1.233 65.3.700.480.278.652 167.591 564.973.392 225.132.947 Industri semen dan 3.475.508.843.793.103.670 4.952.062.119.010.576.282.764 83.279.864.256.530 penggalian Industri makanan 30.573.182.772.343.968 115.718 147.034.296.638 9.489.877.797.156 69.50 Tabel 5.418 59.758.257 19.919 1.459 53.664.088 105.952 4.550.463.985 Hasil hutan lainnya 565.114 pakaian Industri kayu dan 5.933 2.229.266.458.912 9.948 3.536.142.704 6.326 5.340 Perdagangan 61.243 1.212 3.511 770.127.079.905 2.107 14.588.182 30.116 7.385 Total 400.063 barang non logam Industri logam 2.727 76.569 11.331.195 112.443 301.524 487.655 2.946 110.639 Industri barang dari 1.393.084.803 4.226.511 29.577.378 476.383.560 8.690 777.358 1.946 Penyusutan (Juta Rp) 2.052 20.015.093.498 Sumber: Tabel I-O Indonesia.708 127.703.802 134.963 8.

1.51 0. Jumlah tenaga kerja yang terserap di setiap sektor ekonomi merupakan indikator kemampuan sektor tersebut dalam menciptakan kesempatan .3.27 0.3.43 0.55 5.48 1.51 terjadi ketimpangan yang sangat besar yang disebabkan oleh adanya eksploitasi tenaga kerja oleh pemilik modal terhadap tenaga kerja dengan share yang lebih besar pada produsen (pemilik modal). gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.320.57 0.74 0.35 0. Rasio Upah Gaji terhadap Surplus Usaha (U/G) 0.45 0.84 0.04 0.20 0.64 0. Rasio Upah Terhadap Surplus Usaha Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.79 0.948 jiwa.25 6.47 0.43 0.36 0.76 0. Tabel 5.33 0.36 0. Struktur Ketenagakerjaan Banyaknya tenaga kerja yang terserap pada tahun 2000 sebanyak 93. 2000 (diolah).26 0.

905 Industri kayu dan furniture 57.569.233 Perdagangan Pengangkutan dan 4.15 137.592 112.06 0.567 21.15 0.328.03 37.212 2.912 65.03 0.350 Total (domestik) Sumber: Tabel I-O Indonesia.331.195 Penggalian Industri makanan dan 3.243 Jasa-jasa 93.183.418 3.27 Total Upah (Juta) 40.99 4.266.824 13.949 minuman 2.759 Industri kimia Industri semen dan barang 648.475.06 0.463.225 45.012.327 Industri kertas 73. produktifitas dan nilai upah sektoral dapat dilihat pada Tabel 5.985 565.4.664.454 7.15 0.952.256.218 61.65 26.030 97.034 115.64 6.508.655 Kayu 86.921.282.519 jiwa.98 10.208.169.143.39 203.931.60 25.88 3.477. Dalam hal produktifitas tenaga kerja industri kertas menduduki peringkat keempat .797.004.232 Industri percetakan 705.177 5.670.13 4.52 kerja bagi masyarakat di wilayah tersebut.06 0.448.06 0.821 logam 1.35 79.963 Industri lainnya 225.051 2.352.48 3.393.20 0.10 8.638 Industri logam dasar Industri barang jadi dari 259.895.454 jiwa sedangkan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor pertanian dengan kemampuan menyerap tenaga kerja sebesar 40.700.084.20 18. Tabel 5.551 3.245 25.212.519 166.877.12 24.504 1.062.942 6.74 8.708 30.48 37.372.392 Bangunan 17.012.161 9.15 0.664 8.573.515 225.83 14.911 10.914 2.938 9.07 18.943 167.132.843.32 8.164 Pertanian 555.450.134 20.03 65. Gambaran tentang jumlah tenaga kerja.017.4.255 76.567.97 66.54 36.912 non logam 357. Produktifitas dan Nilai Upah Sektoral Indonesia Tahun 2000 Sektor Jumlah TK Nilai tambah Produktivitas bruto (Juta/Tk) (Juta Rp) 4.4.511 61.569 940.61 10.063 21.382 37.56 59.333. 2000 (diolah).328.692.705 Industri pulp 118.84 13.30 40.182 2.041.42 0.142.948 1.27 43.585.65 41.577.576.119.088 Keuangan dan Persewaan 11.870.75 7. Jumlah Tenaga kerja.562 105.727 Listrik.652 Hasil Hutan Lainnya Pertambangan dan 825.616 3.607 Industri barang dari kertas 100.802 16.052 Industri tekstil dan pakaian 2.53 30.296.131 Komunikasi 1.320.623 85.30 12.513 2.82 15.762 1.279.756 400.590.440. terlihat sektor industri kertas menyerap 118.860. Gas dan Air 4.20 18.480.034.512 1. Berdasarkan Tabel 5.459 16.46 14.803 19.770 Upah/TK 0.

65 yang berarti satu orang tenaga kerja yang bekerja di sektor manufaktur mampu menghasilkan sekitar 66.831.5.52 persen dari total ekspor Indonesia (Tabel 5.1.5). nilai ekspor keseluruhan sektor industri kertas adalah Rp 13.53 sekitar 66. industri pengolahan.125. Nilai impor tersebut dapat menunjukkan bahwa kebutuhan kertas dalam negeri masih lebih besar dari produksi kertas dalam negeri sehingga harus melakukan impor. dengan melihat besarnya selisih antara total ekspor dan impor.854 juta atau 2.4.507. Dari Tabel 5. sedangkan nilai ekspor terbesar ditempati oleh sektor industri kimia atau 18.5). terlihat bahwa sektor pertanian.385 juta atau 2.930. 5. Berdasarkan nilai total ekspor tersebut. Nilai impor industri kertas sebesar Rp 8. Struktur Ekspor dan Impor Ekspor Indonesia pada tahun 2000 sebesar Rp 520.757 juta.84 persen dari total ekspor indonesia. Ditinjau dari sisi impor terhadap barang-barang dan jasa ternyata nilai impor secara keseluruhan sebesar 287. .65 juta nilai tambah dari sektor tersebut dalam tahun 2000. Nilai ekspor industri kertas yang masih kecil tersebut dapat menandakan bahwa sektor industri ini masih berorientasi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.95 persen dari total impor Indonesia (Tabel 5. perdagangan serta sektor pengangkutan dan telekomunikasi mengalami selisih yang positif ini menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barangbarang yang dihasilkan oleh sektor tersebut tidak lagi tergantung pada impor.623 juta.

880.588.580.667.771. gas dan air.850.22 Pertanian 124.408 243.602 19.79 8.016 0.99 6.821.063 396.040 1.27 Industri logam dasar Industri barang jadi 31.883.53 1.493.332 49.17 0.06 barang non logam 12.22 0.00 Listrik.326 1.490.110 0.163.444.611.559.451 131.136.21 Industri lainnya 0 0.326 2.729.259.815.53 furniture 5.247 0.305.698.979 2.695 227.473.385 2.772.54 Sedangkan yang mengalami selisih negatif dialami oleh sektor kayu. gas dan air 0 0.525.620 13.665 25.362.322 32.705 23.637.641 19.268.512 281.67 komunikasi Keuangan dan 11.617. sektor listrik.739.053 -21.958.75 1.900.634.900.916 177.809 4.65 9.896.061 4.86 6.23 2.444.849 24.262 17. sektor bangunan.287 161.00 Bangunan 57.930.97 pakaian Industri kayu dan 37.845 528.433 5.84 Industri kimia Industri semen dan 6.395.489 8.399 -3.677.58 0.175 100 Total (domestik) Sumber: Tabel I-O Indonesia.305 6.933 1.337 5.099 57.018 49.857.38 0.319 24.61 Industri percetakan 107.028 2.566.881 40. Ini menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barang-barang yang dihasilkan oleh sektor tersebut masih tergantung pada impor.278 177.947 43.957.18 0.089.29 17.424 8.622 8.365 5.694 2.317.373 1.719.048.214.336 1.151 332.353.297 2.627.489.033 8.51 Jasa-jasa 569.413 176.126 X-M (Juta Rp) 2. Tabel 5.10 persewaan 8.478 -2.908 10.641 37.13 100 Jumlah Input (Juta Rp) 224.620 12.163 63.971.225.824.96 Industri pulp 13. Struktur Ekspor dan Impor Indonesia Tahun 2000 Ekspor Sektor Jumlah (Juta Rp) % Impor Jumlah (Juta Rp) 4.177 6.722 39.550 0.534.96 2.07 Hasil hutan lainnya Pertambangan dan 77.864.238.285.603.093.242.340.796.94 2.735.617 2.944 196.757 % 1.854 1.531 541.120 3.466 13.855 26.814 18.03 Perdagangan Pengangkutan dan 26.775 10.529.485.95 0.865 353.507.805.125.218 11.49 4.5.413 0.29 kertas 3.814 71.427 5.701.859 7.899 7.598.238.088 -404.864 9.094. .540.613 27.554.56 penggalian Industri makanan dan 29. 2000 (diolah). sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa-jasa.162.959 30.403.050 4.567.58 0.59 dari logam 58.558.298 4.418 6.412.287 2.18 minuman Industri tekstil dan 73.991.242.30 Industri kertas Industri barang dari 1.02 Kayu 394.161.943.78 13.52 15.942.379 33.722 -39.167.01 1.842 2.848 287.

55

Jika dilihat dari total selisih antara ekspor dan impor maka perekonomian Indonesia mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 232.900.866 juta. Surplus perdagangan terbesar diberikan oleh sektor pertambangan dan penggalian sebesar Rp 71.489.864 juta, sedangkan industri kertas mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 4.617.531 juta. Angka tersebut menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barang-barang yang dihasilkan oleh sektor industri kertas di Indonesia tidak lagi tergantung pada impor.

5.1.5. Struktur Output Sektoral Output merupakan nilai produksi (barang dan jasa) yang dihasilkan oleh suatu sektor perekonomian. Berdasarkan Tabel Input-Output Indonesia tahun 2000 dapat diketahui besarnya output yang diciptakan oleh masing-masing sektor. Berdasarkan Tabel 5.6 terlihat bahwa output sektoral perekonomian Indonesia sebesar Rp 270.099.837 juta. Sektor yang paling besar menyumbang dalam pembentukan output domestik adalah sektor perdagangan yakni sebesar 14,67 persen dengan nilai output sebesar Rp 396.214.278 juta, kemudian disusul oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai sebesar Rp 329.325.254 juta dalam persentase sebesar 12,19 persen dari total output keseluruhan. Sementara industri kertas sendiri menyumbang sebesar Rp 24.771.622 dalam pembentukan output atau sebesar 0,92 persen dari seluruh total output sektoral perekonomian.

56

Tabel 5.6. Struktur Pembentukan Output Sektoral terhadap Perekonomian Indonesia Tahun 2000
Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Total (domestik) Output Jumlah (Juta) Persentase (%) 260,672,575 9.65 17,340,028 0.64 2,698,944 0.10 196,815,151 7.29 329,325,254 12.19 131,412,099 4.87 57,534,424 2.13 8,739,849 0.32 24,771,622 0.92 8,850,620 0.33 13,627,408 0.50 243,805,705 9.03 23,821,379 0.88 33,729,613 1.25 64,119,165 2.37 139,438,593 5.16 30,637,695 8.43 227,677,063 8.43 396,214,278 14.67 151,272,169 5.60 161,353,916 5.97 177,242,287 6.56 2,701,099,837 100

Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah). 5.2. Analisis Keterkaitan

5.2.1. Keterkaitan Langsung Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Keterkaitan langsung beberapa sektor perekonomian Indonesia dapat dilihat pada Tabel 5.7. Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa sektor perdagangan mempunyai nilai keterkaitan langsung kedepan yang paling besar yaitu sebesar 1,4070. Selanjutnya urutan kedua terbesar ditempati oleh sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai keterkaitan langsung ke depan sebesar 1,3580 kemudian secara berturut-turut diikuti oleh sektor industri kimia dan minyak dan

57

sektor pengangkutan dan komunikasi dengan nilai 0,7964 dan 0,7020 pada posisi ketiga dan keempat. Untuk keterkaitan langsung ke belakang sektor listrik, gas dan air merupakan sektor yang memiliki nilai keterkaitan langsung ke belakang yang paling tinggi dengan nilai 0,3103. hal ini dikarenakan sektor listrik, gas dan air merupakan salah satu sektor yang paling vital dalam kehidupan manusia dan tanpa sektor tersebut sektor yang lain tidak akan dapat berjalan, kemudian urutan kedua dan ketiga di tempati oleh industri makanan dan minuman dan sektor industri kayu dan furniture dengan nilai keterkaitan sebesar 0,3319 dan 0,1790.

Tabel. 5.7. Nilai Keterkaitan Berbagai Sektor Perekonomian di Indonesia
Langsung

Sektor
Depan Belakang

Langsung dan Tidak Langsung Depan Belakang

Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa
Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah).

0,5495 0,2619 0,0236 1,3580 0,3319 0,2764 0,1790 0,1877 0,5997 0.0485 0,0431 0,7964 0,0900 0,3072 0,1737 0,1631 0,3103 0,1919 1,4070 0,7027 0,6438 0,0980

0,2391 0,1794 0,1393 0,1188 0,6039 0,4673 0,5687 0,3957 0,3378 0,5356 0,4078 0,4217 0,4842 0,5635 0,4161 0,3675 0,6530 0,4884 0,3821 0,3945 0,2400 0,3390

1,9552 1,3283 1,0291 3,1272 1,6422 1,3855 1,2191 1,2750 1,6529 1,0734 1,0653 2,1857 1,1150 1,2955 1,2689 1,3310 1,4368 1,3066 3,2051 2,0874 2,1306 1,1575

1,3950 1,2751 1,2287 1,1567 1,9484 1,7956 1,8775 1,6059 1,5409 1,8431 1,6424 1,5577 1,6858 1,7978 1,5005 1,6501 1,8552 1,7539 1,6138 1,6346 1,3643 1,5500

2. maka output industri kertas secara langsung akan meningkat sebesar 0. sektor industri makanan dan minuman memiliki nilai keterkaitan tertinggi diantara sektor-sektor lainnya yaitu sebesar 1. gas dan air dan sektor industri barang-barang dari kertas dengan nilai keterkaitan sebesar 1.8552 dan 1. 5.1272.3378 yang berada pada posisi ke-17 diantara sektor-sektor yang lain.2. Selanjutnya berturut-turut untuk posisi ketiga dan keempat ditempati oleh sektor listik. Nilai tersebut mengindikasikan bahwa jika terjadi kenaikan permintaan akhir satu juta. Urutan kedua tertinggi ditempati oleh sektor industri kayu dan furniture dengan nilai keterkaitan sebesar 1. Sedangkan untuk keterkaitan langsung ke belakang industri kertas memiliki nilai sebesar 0. maka sektor industri kertas akan meningkatkan permintaan inputnya secara langsung sebesar 0.3378 juta rupiah.58 Untuk industri kertas.7 dapat dilihat bahwa sektor yang mempunyai nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung kedepan tertinggi adalah sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai sebesar 3.2051 dan 2.5997 juta rupiah.5997. .9484. Selanjutnya di posisi kedua dan ketiga ditempati oleh sektor perdagangan dan sektor industri kimia dengan nilai masing-masing sebesar 3. dalam nilai keterkaitan langsung ke depan menempati urutan keeenam dengan nilai 0.1857. Keterkaitan Langsung Perekonomian Indonesia dan Tidak Langsung Sektor-Sektor Pada Tabel 5. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sebesar satu juta.8775. Untuk nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang.8431.

59

Berdasarkan hasil analisis (Tabel 5.7), industri kertas memiliki nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung kedepan sebesar 1,6529 yang berada pada peringkat ketujuh diantara sektor-sektor yang berada dalam perekonomian Indonesia. Nilai keterkaitan tersebut mengindikasikan bahwa setiap satu juta output yang dihasilkan industri kertas secara langsung maupun tidak langsung akan dialokasikan kepada sektor-sektor lain dan kepada industri kertas itu sendiri sebesar 1,6529 juta rupiah. Sedangkan untuk keterkaitan langsung dan tidak langsung kebelakang, industri kertas memiliki nilai keterkaitan sebesar 1,5409 yang berada pada peringkat ke-16 diantara sektor-sektor lainnya. Nilai keterkaitan sebesar 1,5409 berarti apabila terjadi peningkatan permintaan akhir sebesar satu juta pada industri kertas maka permintaan input dari sektor-sektor lainnya maupun dari industri kertas itu sendiri secara langsung dan tidak langsung akan menigkat sebesar 1,5409 juta rupiah.

5.2.3. Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Industri kertas merupakan sektor antara yang berada diantara sektor-sektor yang lain, industri ini tidak dapat dipisahkan dari industri atau sektor-sektor hulunya yang menyediakan input bagi keperluan proses produksinya, sebaliknya industri ini juga berfungsi sebagai penghasil output yang digunakan sebagai input bagi industri lainnya (hilir). Sektor-sektor hilir yang terkait dengan industri kertas antara lain industri barang-barang dari kertas, industri percetakan (penerbitan), dan sektor jasa-jasa.

60

Tabel 5.8. Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Sektor
Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah).

Koefisien 0.0005 0.0008 0.0025 0.0000 0.0022 0.0013 0.0004 0.0057 0.0015 0.3183 0.2448 0.0003 0.0047 0.0001 0.0006 0.0010 0.0007 0.0002 0.0020 0.0009 0.0012 0.0128

Peringkat 17 14 6 22 7 10 18 4 9 1 2 19 5 21 16 12 15 20 8 13 11 3

Dari hasil analisis keterkaitan ke depan industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian Indonesia (Tabel 5.8) dapat dilihat bahwa industri barang dari kertas menduduki peringkat pertama dengan nilai sebesar 0,3183. Selanjutnya disusul oleh industri percetakan dengan nilai keterkaitan sebesar 0,2248 pada urutan kedua. Industri barang dari kertas dan industri percetakan menempati peringkat teratas karena kedua industri ini menggunakan bahan baku utama yang dihasilkan dari industri kertas.

61

5.2.4. Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Industri kertas merupakan industri yang terus berkembang pesat di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan konsumsinya yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Perkembangan industri ini juga ditandai dengan peningkatan kapasitas produksi perusahaan-perusahaan industri kertas dalam satu dekade terakhir ini. Salah satu indikator penyebab perkembangan dan pertumbuhan yang cukup tinggi itu adalah kedekatan industri kertas dengan bahan baku industrinya dalam hal kemudahan memperolehnya. Kedekatan inilah yang menandai bahwa keterkaitan ke belakang industri kertas dengan sektor-sektor penyedia inputnya (hulu) cukup besar. Dari hasil analisis keterkaitan ke belakang industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian indonesia (Tabel 5.9) dapat dilihat bahwa industri pulp menduduki peringkat pertama dengan nilai sebesar 0,0944. Industri pulp menduduki peringkat pertama karena pulp merupakan bahan baku utama yang digunakan oleh industri kertas. Selanjutnya disusul oleh sektor pengangkutan dan komunikasi pada urutan kedua. Masuknya sektor pengangkutan dan komunikasi dalam peringkat yang cukup tinggi bila di bandingkan dengan sektor-sektor lain dalam perekonomian dikarenakan pentingnya faktor pengangkutan dan

komunikasi dalam memperlancar rantai distribusi bahan baku dari tempat bahan baku ke perusahaan tempat proses produksi dilaksanakan

0071 0.0023 0.0181 0.0050 Peringkat 11 7 17 12 9 20 15 1 14 10 16 4 21 22 13 19 6 18 3 2 5 8 5. Analisis koefisien penyebaran dianggap penting karena menunjukkan koefisien kaitan yang memberikan gambaran tentang pengaruh yang ditimbulkan oleh suatu unit permintaan akhir untuk semua sektor di dalam suatu sisitem perekonomian.0017 0. Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.9.0015 0.0944 0. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.0007 0.0005 0. Koefisien 0. Sedangkan analisis kepekaan penyebaran berguna untuk .0401 0.0012 0.0000 0.0001 0.62 Tabel 5. 2000 (diolah).0621 0.0731 0.3.0045 0.0010 0.0031 0.0037 0.0006 0. Analisis Koefisien Penyebaran dan Kepekaan Penyebaran Untuk mengetahui distribusi manfaat dari pengembangan suatu sektor terhadap perkembangan sektor lainnya baik melalui mekanisme transaksi pasar input dan pasar output dapat dianalisis berdasarkan koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran.0199 0.0004 0.

3. Nilai koefisien yang lebih besar dari suatu sektor menunjukkan kemampuan sektor tersebut dalam menarik perkembangan sektor hulunya.63 memberikan gambaran tentang pengaruh yang timbul oleh suatu unit permintaan akhir terhadap semua sektor di dalam perekonomian. Pada Tabel 5.1. industri barang dari kertas juga industri tekstil dan pakaian. Berdasarkan nilai indeks koefisien penyebaran yang lebih dari satu. Koefisien penyebaran sering disebut sebagai daya penyebaran ke belakang. Dengan kata lain merupakan efek yang ditimbulkan oleh suatu sektor karena adanya peningkatan output suatu sektor yang bersangkutan terhadap output sektor-sektor lainnya yang digunakan sebagai input oleh sektor-sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung. hal ini mengindikasikan bahwa sektor-sektor tersebut memiliki kemampuan yang kuat untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya. gas dan air. Koefisien penyebaran ini diperoleh dari nilai keterkaitan output langsung dan tidak langsung ke belakang yang dikalikan dengan jumlah sektor kemudian dibagi dengan total keterkaitan langsung dan tidak langsung semua sektor.10 dapat dilihat beberapa sektor yang mempunyai indeks koefisien penyebaran yang tinggi antara lain sektor industri makanan dan minuman. Koefisien Penyebaran Koefisien penyebaran menunjukan efek relatif yang ditimbulkan oleh keterkaitan ke belakang secara langsung dan tidak langsung antara satu sektor dengan semua sektor yang ada. listrik. industri kayu dan furniture. 5. .

0939 1.8509 0.1495 1. Koefisien Penyebaran 0.2152 1. Hal mengindikasikan bahwa industri kertas mempunyai kemampuan yang kurang kuat dalam menarik perkembangan sektor hulunya.7953 0.0016 0. Koefisien Penyebaran Industri Kertas Terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.9611.1199 1.0244 0.0514 1. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.64 Tabel 5.1213 0.0195 0.1710 1.9668 Untuk industri kertas.8701 0.10.1571 1.7664 0. Hal ini mengakibatkan kemampuan industri kertas secara keseluruhan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya .9359 1. Perusahaan-perusahaan besar yang memiliki kapasitas produksi yang besar pula ternyata juga memiliki pabrik pulp sebagai sumber bahan bakunya.9715 1.0292 1.0066 1.9611 1.. sektor ini mempunyai indeks koefisien penyebaran sebesar 0. Salah satu penyebab terjadi hal tersebut adalah adanya integrasi vertikal dalam industri kertas sendiri. khususnya yaitu dengan sektor hulu yang paling besar keterkaitannya dengan industri kertas yaitu industri pulp.7215 1. 2000 (diolah).

menurut Karseno dan Mulyaningsih (2002) integrasi vertikal pada industri kertas justru akan lebih meningkatkan efisiensi produksi perusahaan dalam industri 5. Hal ini di karenakan sektor pertambangan dan penggalian merupakan salah satu sektor yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian. . Kepekaan Penyebaran Kepekaan penyebaran merupakan efek relatif yang disebabkan oleh perubahan output suatu sektor ekonomi yang akan menimbulkan perubahan output sektor ekonomi lainnya yang menggunakan output sektor tersebut sebagai input baik langsung maupun tidak langsung. Pada Tabel 5. Namun jika di tinjau dari sisi efisiensi. sehingga sektor pertambangan dan penggalian mempunyai kemempuan yang kuat dalam mendorong pertumbuhan sektor-sektor hilirnya terutama dalam hal penyedian kebutuhan bahan bakar untuk proses produksi. Barang tambang seperti minyak bumi dengan produk hasil olahannya yaitu bahan bakar minyak (BBM) merupakan pilar utama proses produksi output sektor-sektor industri dalam perekonomian. Nilai indeks kepekaan penyebaran lebih dari satu mengindikasikan suatu sektor memiliki kemampuan yang kuat untuk mendorong sektor hilirnya.11 dapat dilihat bahwa sektor pertambangan dan penggalian memiliki indeks kepekaan penyebaran yang paling tinggi yaitu sebesar 1.9504.2. Kepekaan penyebaran ini sering disebut indeks daya penyebaran ke depan yang diperoleh dari keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan yang dikalikan dengan jumlah sektor kemudian dibagi dengan total keterkaitan langsung dan tidak langsung dari semua sektor.65 terutama pulp menjadi semakin berkurang.3.

7914 0.8080 0. Dengan nilai indeks yang lebih besar dari satu.0242). Kepekaan Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.7219 Sedangkan untuk industri kertas.6644 1.3632 0.7603).0242 0.66 Tabel 5.8641 0. . hal ini berarti bahwa industri kertas mempunyai kemampuan yang kuat untuk mendorong perkembangan sektor hilirnya.9990 1.6695 0.8961 0.7603 0. dan industri kayu dan furniture (0.309. Kepekaan Penyebaran 1. industri tekstil dan pakaian (0.8302 0.3288 0.3019 1.2195 0. sektor industri ini mempunyai indeks kepekaan penyebaran sebesar 1.11. 2000 (diolah). gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.6419 1.6954 0.8285 0. industri kertas lebih unggul dalam kemampuannya dalam menstimulir perkembangan sektor-sektor hilirnya dan termasuk ke dalam delapan besar sektor yang mempunyai indeks kepekaan penyebaran kuat dalam perekonomian. Bila di bandingkan dengan beberapa sektor lainnya yang tergolong sektor manufaktur seperti industri makanan dan minuman (1.0309 0.8149 1.9504 1.7952 1.8641).

1253 persen.2610 persen.4.67 Semuanya itu menandakan bahwa sektor industri kertas layak untuk terus dikembangkan dan mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. 5. Urutan kedua ditempati oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai elastisitas output sebesar 1. Pendekatan elastisitas input-output dibagi kedalam tiga kategori yaitu elastisitas output. Elastisitas Output Elastisitas Output adalah perubahan persentase dalam total output suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. elastisitas output tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1. Menurut Mattas dan Shresta (1991) dalam Imansyah (2000) pendekatan ini lebih baik daripada analisis keterkaitan dan analisis multiplier karena memperhitungkan share suatu sektor dalam output.1. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan output sektor perdagangan sebesar 1. 5. Hal ini bermakna bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan total output sektor industri makanan dan minuman sebesar 1.12).2610 (Tabel 5. Pendekatan ini mempermudah policy makers untuk berkonsentrasi tidak hanya pada nilai-nilai keterkaitan dan multiplier tertinggi tetapi juga pada share suatu sektor ekonomi.1253.4. Nilai elastisitas output yang tinggi dari . Elastisitas Input-Output Elastisitas input-output menyediakan pandangan baru untuk penentuan sektor prioritas. pendapatan dan tenaga kerja. Pada perekonomian Indonesia.

Untuk industri kertas. Pada tabel 5. Elastisitas Pendapatan Elastisitas pendapatan adalah perubahan persentase dalam pendapatan suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. Hal ini berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan total output sektor industri pertambangan dan penggalian sebesar 1. yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan total output industri kertas sebesar 1.1650. 5.0759 persen.2. Nilai elastisitas output yang tinggi bila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya dalam perekonomian pada sektor perdagangan dan sektor pertambangan dan penggalian . Urutan kedua ditempati oleh sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai elastisitas pendapatan sebesar 1.0759. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan pendapatan sektor perdagangan sebesar 1.1650 persen. sektor ini memiliki elastisitas output sebesar 1.4.0023 persen.12 dapat dilihat bahwa elastisitas pendapatan tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1. industri kertas dapat disebut cukup responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain.68 kedua sektor tersebut mencerminkan bahwa outputnya mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya atau lebih sensitif terhadap perubahan yang terjadi pada sektor lainnya dalam hal permintaan akhir.0023. Dengan nilai elastisitas output yang lebih besar dari satu.

5179 (12) Sumber: Tabel I-O Indonesia.0900 (20) 0. Elastisitas Input-Output Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 Sektor Elastisitas Pendapatan 0.69 menunjukkan bahwa pendapatan pada kedua sektor tersebut mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya.1790 (16) 0.0139 (20) Industri lainnya 0.4772 ( 8 ) 1.1737 (17) 0.3921 (15) Kayu 0. yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan pendapatan dalam industri kertas sebesar 0.0247 (22) 0.6438 ( 7 ) 0. Sementara pada industri kertas.0040 (22) Jasa-jasa 0.0047 (21) Industri barang jadi dari logam 0.1877 (16) 0.2764 (13) 0.6084 (10) Industri kimia 0.0009 ( 3 ) 0.0548 (19) Listrik.2591 (16) Industri pulp 0.7100 ( 9 ) Industri percetakan 0.1253 (17) Perdagangan 1. Keterangan: ( ) merupakan peringkat Tenaga Kerja 0.0759 ( 2 ) 1. Dengan nilai elastisitas pendapatan yang kurang dari satu.0441 ( 2 ) 0.1659 (18) 0. Tabel 5.5022.2133 (15) Output Pertanian 0.4050 (13) Pertambangan dan penggalian 1.1650 ( 1 ) 0.6903 ( 4 ) 0.3072 (11) 0.0485 (21) 0.0443 (21) 0.7964 ( 5 ) 0.9831 ( 6 ) Industri semen dan barang non logam 0.0901 (20) 0.3072 (12) 0.0431 (22) 0.5022 ( 7 ) 0.9020 ( 7 ) Bangunan 0.0994 (19) 0.0980 (19) .0023 ( 5 ) Industri barang dari kertas 0. sektor ini memiliki elastisitas pendapatan sebesar 0.7027 ( 6 ) 0.5241 (11) Industri kayu dan furniture 0.1008 ( 3 ) Industri makanan dan minuman 1.6449 ( 5 ) 0.8697 ( 8 ) Industri kertas 1.0274 ( 4 ) Keuangan dan persewaan 0.6005 ( 6 ) 0.1790 (17) 0.3319 (10) 0.3127 (10) 0.12.1253 ( 2 ) Industri tekstil dan pakaian 0.9779 ( 3 ) 1.6093 ( 8 ) 0. 2000 (diolah).1919 (15) 1.8877 ( 4 ) 0.0768 ( 1 ) 0.2772 (12) 1.5495 ( 9 ) 0.2610 ( 1 ) Pengangkutan dan komunikasi 1.2240 (14) 0.3103 (11) 0.5022 persen. gas dan air 0.4048 (14) Industri logam dasar 0.0955 (18) Hasil hutan lainnya 0.2778 (13) 0.2619 (14) 0.3284 ( 9 ) 0.1631 (18) 0. industri kertas dapat disebut kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain.

4.0441.0768 persen.0768 (Tabel 5.12). Nilai elastisitas tenaga kerja yang tinggi dari kedua sektor tersebut mengindikasikan bahwa jumlah tenaga kerjanya mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya atau lebih sensitif terhadap perubahan yang terjadi pada sektor lainnya dalam hal permintaan akhir. sektor ini memiliki elastisitas tenaga kerja sebesar 0. Dengan nilai elastisitas yang kurang dari satu. Namun demikian nilai elastisitas tenaga kerjanya masih bernilai positif. Pada industri kertas. hal ini terjadi dikarenakan industri kertas selain merupakan industri padat modal juga merupakan industri yang cukup banyak menyerap tenaga kerja. Peringkat kedua ditempati oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai elastisitas tenaga kerja sebesar 1. Nilai ini bermakna bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan tenaga kerja sektor industri makanan dan minuman sebesar 1. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan tenaga kerja sektor perdagangan sebesar 1. Elastisitas Tenaga Kerja Elastisitas tenaga kerja adalah perubahan persentase tenaga kerja suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya.3.0441 persen. yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan total output industri kertas sebesar 0.6093 persen. tenaga kerja industri kertas dapat disebut kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain.70 5. . Diantara sektor lainnya dalam perekonomian elastisitas tenaga kerja tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1.6093.

71 5.13). sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan. gas dan air. Industri kertas termasuk dalam sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam). yaitu: (1) perdagangan. dampak penyebaran atau elastisitas input-output. bersama dengan sembilan sektor kunci lainnya. dan (10) hasil hutan lainnya. (9) listrik. (5) industri pulp. Dari hasil analisis sektor kunci perekonomian Indonesia tahun 2000 berdasarkan ranking elastisitas (Tabel 5. pendapatan maupun tenaga kerjanya (ranking elastisitas). (8) industri kimia. (3) pertambangan dan penggalian. hal ini menunjukkan bahwa industri ini. Sektor-Sektor Kunci dalam Perekonomian Indonesia Penentuan suatu sektor menjadi sektor kunci dalam perekonomian Indonesia dapat didasarkan pada kategori-kategori analisis input-output seperti analisis keterkaitan. Hal ini berarti kesepuluh sektor tersebut menjadi prioritas pemerintah untuk dikembangkan karena setiap sektor tersebut secara simultan mempunyai respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor-sektor lainnya. sektor yang menjadi kunci dalam perekonomian ditentukan berdasarkan ranking atau peringkat dari keseluruhan sektor dalam perekonomian baik dilihat dari elastisitas output.5. sepuluh peringkat tertinggi dari hasil perankingan tersebut merupakan sektor-sektor kunci dalam perekonomian. dapat diketahui sepuluh sektor kunci perekonomian. (6) industri kertas. dan tenaga kerjanya untuk lebih berperan . (2) industri makanan dan minuman. Pada penentuan sektor kunci berdasarkan elastisitas input-output. pendapatan. merupakan sektor unggulan dalam meningkatkan output. (4) pengangkutan dan komunikasi. (7) pertanian.

Tabel 5.5 10 3 2 12.5 5 6 20 22 8.5 17.13.5 14 20 20 16 8. Sektor Kunci Perekonomian menurut Ranking Elastisitas InputOutput Indonesia Tahun 2000 Elastisitas Input-Output (peringkat) Tenaga Output Pendapatan Kerja 15 5 9 18 9 14 13 12 10 3 2 11 16 8 5 9 10 6 14 21 20 19 7 17 1 4 22 12 2 3 17 16 6 7 21 22 20 11 18 14 10 13 8 1 4 19 15 3 2 13 16 4 8 21 22 5 20 12 17 18 11 15 1 6 7 19 Total Peringkat 29 41 35 8 7 41 48 18 20 51 54 31 45 51 51 47 31 40 3 14 48 46 Ranking Elastisitas 7 12.72 dalam perekonomian Indonesia dan pemerintah sebagai policy makers harus lebih biak lagi dalam menjalankan fungsinya berkaitan dengan penetapan kebijakan terhadap industri ini karena perannya dalam meningkatkan perekonomian tersebut. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel Input-Output Indonesia.5 15 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik. 2000 (diolah) .5 11 1 4 17.

Hal ini menandakan bahwa dalam industri kertas sangat potensial untuk dibentuk dan dikembangkannya klaster industri kertas. Implikasi Kebijakan Dari hasil penelitian ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai implikasi kebijakan. antara lain yaitu: 1.73 5. Berdasarkan hasil analisis rasio upah dan gaji dengan surplus usaha pada struktur nilai tambah bruto dapat diketahui bahwa sektor industri kertas mempunyai nilai surplus usaha lebih besar dibandingkan upah dan gaji. berdasarkan analisis keterkaitan industri kertas tahun 2000 terhadap berbagai sektor perekonomian (keterkaitan per sektor) dapat diketahui bahwa industri kertas memiliki nilai keterkaitan yang tinggi baik ke depan maupun ke belakang terhadap sektor hulu dan hilirnya dan juga dengan sektor pendukungnya. kondisi ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam Peraturan . 2. hal ini berarti bahwa distribusi pendapatan antara pemilik modal (perusahaan) dan pekerja tidak merata atau terjadi ketimpangan yang besar yang dapat disebabkan oleh adanya eksploitasi tenaga kerja oleh pemilik modal terhadap tenaga kerja dengan share yang lebih besar terhadap perusahaan (pemilik modal).6. Untuk mengurangi kesenjangan pendapatan ini diperlukan campur tangan pemerintah yang lebih adil sebagai regulator ketenagakerjaan baik melalui penetapan kebijakan yang berfokus pada kesejahteraan tenaga kerja maupun sebagai mediator antara perusahaan dan tenaga kerjanya dalam penenganan berbagai masalah ketenagakerjaan terutama dalam persoalan upah. Pada sub-bab sebelummya.

7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Namun demikian dapat dinilai adanya keterlambatan pemerintah karena baru tahun 2005 mengeluarkan kebijakan pengembangan klaster industri tersebut. padahal dari tahun 2000 berdasarkan penelitian ini pentingnya kebijakan klaster sudah dapat diidentifikasi. sementara klaster industri memberikan kesempatan pada IKM untuk membuat keterkaitan pasokan antara perusahaan besar dan menengah (Deprin. . maka klaster tersebut akan menarik IKM untuk memenuhi Permintaan barang dan jasa. Pada saat yang sama jaringan yang terpadu dari IKM terkait akan terus berkembang. Dengan adanya klaster ini maka bukan saja dapat saling menumbuh kembangkan industri terkait dan industri pendukung dalam klaster tersebut.74 Presiden No. tetapi juga mengingat dalam setiap sektor terdapat juga pelaku ekonomi yang tergolong Industri Kecil dan Menengah (IKM). Dalam peraturan tersebut dijabarkan mengenai rencana pemerintah untuk membangun daya saing industri manufaktur nasional lima tahun kedepan dengan fokus pengembangan industri melalui penguatan dan penumbuhan klaster-klaster industri inti yang termasuk industri kertas didalamnya. Oleh karena itu IKM memerankan peranan secara integral dan konstruktif dalam suatu klaster industri. menawarkan jasa dan produk-produk untuk mendukung klaster industrinya. 2005).

Pada keterkaitan ke depan industri kertas mempunyai keterkaitan yang paling tinggi terhadap sektor industri barang dari kertas (0.507.970.800. .622 juta.125. industri kertas melakukan ekspor sebesar Rp 13.847 juta. Industri kertas memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor hulu dan hilirnya (keterkaitan industri kertas terhadap sektor-sektor perekonomian).895. 2.0944) yang merupakan sektor penghasil bahan baku industri kertas dan pada sektor pengangkutan dan komunikasi (0. kemudian kontribusinya dalam struktur nilai tambah bruto adalah sebesar Rp 7.327 juta dan jika dilihat dari struktur ketenagakerjaan.385 juta dan mengimpor sebesar Rp 8.3183) dan pada peringkat kedua yaitu terhadap industri percetakan (0. KESIMPULAN DAN SARAN 5. industri kertas memiliki keterkaitan yang paling tinggi terhadap industri pulp (0.854 juta dan jika dilihat dari struktur output sektoral. Pada struktur permintaaan. maka kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut.1. 1.771. Pada struktur ekspor dan impor.775 juta dan permintaan akhir sebesar Rp 13. industri kertas berkontribusi terhadap permintaan antara sebesar Rp 10.VI.454 jiwa. industri ini berkontribusi sebesar Rp 24. industri ini mampu meyerap tenaga kerja sebesar 118.2448) sementara pada keterkaitan ke belakangnya.0731) yang merupakan salah satu sektor pendukung industri kertas. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis peranan industri kertas terhadap perekonomian Indonesia.

industri kertas merupakan sektor prioritas yang harus dikembangkan oleh pemerintah sebagai policy makers karena kontribusinya terhadap perekonomian tersebut. maupun tenaga kerjanya. sehingga sektor ini mempunyai kemampuan yang cukup besar dalam berkontribusi untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan. . Bersama dengan sektor kunci lainnya. industri ini merupakan sektor industri yang memiliki kemampuan yang kuat dalam mendorong pertumbuhan sektor hilirnya seperti industri barang dari kertas dan industri percetakan karena memiliki indeks kepekaan lebih dari satu (1. Namun di sisi lain. Salah satu penyebab lemahnya industri ini dalam menarik pertumbuhan sektor hulunya adalah adanya integrasi vertikal yang dilakukan oleh perusahaan-perusahan besar dalam industri ini dengan sektor penghasil bahan bakunya. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor industri ini memiliki respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal peningkatan output. 4. pendapatan.0309). Industri kertas kurang memiliki kemampuan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya karena jika dilihat dari hasil analisis koefisien penyebaran.76 3. terutama pulp. Industri kertas termasuk dalam salah satu dari sepuluh sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam) berdasarkan ranking elastisitas. sektor industri ini memiliki indeks koefisien penyebaran yang kurang dari satu (0.9611).

industri barang dari kertas dan industri percetakan juga dapat saling menunjang untuk meningkatkan perkembangannya dan peranannya terhadap perekonomian Indonesia.2. 1. 3. pemberian fasilitas karyawan yang lebih baik serta jaminan sosial untuk mengatasi kesenjangan pendapatan antara perusahaan dan tenaga kerjanya pada industri kertas. Untuk meningkatkan efisiensi industri kertas tanpa mengurangi kemampuan industri tersebut menarik pertumbuhan sektor hulunya antara lain adalah dengan mempercepat transformasi pembangunan industri kertas menuju fase innovation driven melalui peningkatan teknologi produksi dan pelatihan tenaga kerja terampil yang intensif sehingga dapat meningkatkan outputnya dan disisi lain sektor hulu tetap dapat memasok input bagi industri kertas tersebut.77 6. . Pada industri kertas harus dibangun klaster industri yang kuat secara berkelanjutan sehingga industri kertas dan sektor yang terkait di dalam klaster tersebut seperti industri pulp. 2. Saran Berdasarkan hasil analisis. Pemerintah harus campur tangan yang lebih intensif melalui penetapan Upah Minimum Regional (UMR) yang benar-benar sesuai dengan standar kehidupan di Indonesia. dapat disampaikan saran berikut ini.

Input-Output Analysis: Foundation And Extensions. No. ”Kebijakan Pembangunan Industri Nasional” [Deprin Online]. Hal. http://www. 136-149. 1997. Paper for 13th International Conference on Input-Output Techniques.go.D. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. “An Application of the FES Approach to A Small Region in Indonesia: Banjarmasin Input-Output Model 1”. “Integrasi Vertikal dan Efisiensi Industri: Industri Kertas Tahun 1979-1997 Dengan Pendekatan Error Correction Model”. BPS. USA. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. R. 1985. ”Profil Perusahaan” [Bank Niaga Online]. [30 September 2005] Hasibuan. Dampak Keterkaitan Sektor Industri Terhadap Perekonomian Wilayah Kabupaten Sidoarjo [Tesis]. M. H. A. Jakarta. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. 2003. http://www. 2002. E. Jakarta. bankniaga. Vol. P. R. Raja Grafindo Persada. Institut Pertanian Bogor.com/content/content. 17. Imansyah. Bogor. BPS. N. Fakultas Pertanian. Jakarta. Jakarta. Karseno. Tabel Input-Output Indonesia 2000. 2. Puspitawati. 2002. LP3ES. Miller. E. 2005. Jhingan. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. 2005. “Industri Kertas Butuh Investasi Baru” [Harian Terbit Online]. Macerata. dan Mulyaningsih. Niaga. Direktori Industri Pulp dan Kertas Indonesia 2003. New Jersey. Bogor. Analisis Peranan Sektor Pertanian dan Industri Pengolahan Terhadap Perekonomian Propinsi Kalimantan Timur (Berdasarkan Analisis Input-Output) [Skripsi]. Deprin. 2005. dan Blair.id/ publikasi.harianterbit. M. Ekonomi Industri : Persaingan. Italy.DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.com [18 Februari 2005]. http://www. M. APKI.asp?id=NNA [30 September 2005]. Mansur. 1993. B. Muchtar. 2000. Monopoli dan Regulasi. T. 2000. 2000. . Prentice Hall.L.deprin.

Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. “Analisis Pasar Pulp dan Kertas Indonesia”.79 Rosadi. Hal.wikipedia. 2005. Ruhmaniyati. Vol. Wikipedia. Dampak Investasi Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Nasional [Skripsi]. Analisis Peranan Sektor Industri Pengolahan terhadap Perekonomian Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor. I. Setiyaji. Departemen Ilmu Ekonomi. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia. Analisis Peran Sektor Industri Pengolahan dan Dampaknya terhadap Pembangunan Ekonomi Di Kota Cilegon [Skripsi]. Bogor. Tjandrawan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. “Prospek dan Tantangan Pengembangan Agribisnis Pulp dan Kertas dalam Era Ekolabeling dan Otonomi Daerah”. 1995. Setyawan. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. 1998. D. . 2002. 5. S. Fakultas Ekonomi Dan Manajemen. Bogor. 2004. No. http:// www. 1994. Fakultas Pertanian. A. Fakultas Ekonomi Manajemen. ”Kertas” [Wikipedia Online]. Departemen Ilmu Ekonomi. T. dan Pambudy. 194203. Bogor. Sipayung. Prosiding Seminar. dan Vidyatmoko. Fakultas Pertanian. Y. R. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Analisis Peranan dan Keterkaitan Sektor Pertanian dan Industri di Jawa Barat [Skripsi].org /wiki/ Kertas [17 September 2005]. Analisis peranan Sektor Industri Pengolahan Dan Pengaruhnya Terhadap Perekonomian Jepara [Skripsi]. 2005. 4. Bogor. Bogor. 2000. H. Institut Pertanian Bogor. A. Sahara. Institut Pertanian Bogor.

LAMPIRAN .

031-034 029 030 035-048 049-073 074-083 084-089 090 091 092 093 094-109 110-114 115-118 119-122 123-141 142-143 144-148 149-152 153-159 160-164 165-175 180 190 200 201 202 203 204 205 209 210 301 302 303 304 305 306 309 310 401 402 403 404 409 501 502 503 509 600 700 - . gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Jumlah permintaan antara Jumlah input antara Impor Upah dan gaji Surplus usaha Penyusutan Pajak tak langsung Subsidi Nilai tambah bruto Jumlah input Pengeluaran konsumsi rumah tangga Pengeluaran konsumsi pemerintah Pembentukan modal tetap bruto Perubahan stok Ekspor barang dagangan Ekspor jasa Jumlah permintaan akhir Jumlah permintaan Impor barang dagangan Pajak penjualan Bea masuk Impor jasa Jumlah impor Margin perdagangan besar Margin perdagangan eceran Biaya pengangkutan Jumlah margin perdagangan dan biaya pengangkutan Jumlah output Jumlah penyediaan Jumlah Tenaga Kerja Kode I-O 175 Sektor 001-028.81 Lampiran 1. Klasifikasi Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 Kode I-O 22 Sektor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 180 190 200 201 202 203 204 205 209 210 301 302 303 304 305 306 309 310 401 402 403 404 409 501 502 503 509 600 700 1000 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.

82 .

824.834 1.931 59.785.884 378.605.354 5.513 798 315.725 138.895.443 429.963.664.755 162.097 590.817.772.187 416.429 0 64.056 33 4.395.491 11.560 28.875 45.040 2.590.228 69.323 82.667 3.839 1.558.089 47.652 2.010.338 627.379 648.459 131.037.551 11 0 271 122 11.890 1.813.424 2.933 112.099 1.860.899 1.145.774 147.427 3.764 20.442 3.867 6.777 7.973 1.539 4.080 264.749 24.167.664.821.228) 97.337.046 926.355 8.176 167.718.705 705.049 112.560 21.040 1.293 2.539 77 186.093.947 1.414.655 17.557.540.536.901.083 224.826 927 3.592 916.895 2.043 1.292 5.453 11.577 159.638.543 5.091 20.871 2.857 1.258 4.541 16.327.069 338.103.063 1.333 287.462 55.217.155 7.870 210.944 86.340.949 332.404 151.195 196.628 123.484.441 967 8.566.903 7.914 121.206 15.245 1.430 55.218 1.711.426 102.620 73.911 Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).427.666 65.663.459 553.602 25.290.117 594.563 6.484.854 1.946 64.780 41.240 13.588 6.311 2.975 83.615 23.442 120.670 6.648.617 382.333 29.012.850.418 1.626 3.281.036 8.238.515 25.607 8.486 5.034 1.576.759 243.343 332.459 53.895.550 754.370 110 84 1.738 25.955 23.346 38.524 2.568 1.725 1.968 7.417 121.534.001 2.800 53.004.507.182.213 64.135 200.028 555.296.190 18.192 10.958 683.898 115.781 6.014.513 4 19.596 643.800 17.170 904 57.407.627.553 108 5.590 5.771.881 2.412.454 10 0 3.509.701 301.052 131.952.083 7.575.560 5.480.478 63.433 565.708 127.947 11.408 100.051 9 77.241 75.943 5 101.368.250 478.116 490.210 51.302 43.542 1.958 487.886 2.877 3.679.526 0 737.164 224.441 370.244 1.229 1.623.597 18.530 8.003 363.569 34 8.824 40.851 37.855 76.703 4.778.530.797.362 161.809 448.537.427 2.094.298 16.828 61.982.359.330 296. .262 40.506 493.990 8.796 55.441 8.306 815.365.688.811.936 36.739. Tabel Input-Output Indonesia 2000 Klasifikasi 22 Sektor (dalam Juta Rupiah) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 1 16.256.926 10.606 1.393 13.441 610.592 6 2.492 528.394 141.252 43.938 6.799 5.493.212 3.957 7.110.308 853.335.069 6.349 206.451 3.693 181 11.026 84.183 19.718 3.525.297 479.043 4.319 30.403 32.064 55.134 8 203.099 2.867 4.908 14.876 348 994.232 13.305.450.775 19.731.905 2.114 8.024 5.460 175.452 5.946.670 7.343.177 21.770 35.320 1.328.785.229.479.514 33.792 116.364 2.758.524 1.894 6.327 24.040 29.169.411.702 (250.917 375.352 975.625.913 151.798 105.902 2.618 174.059 106.939 5.203 19.426 874 728.613 111.732 1.720 2.508.405 6.073.941 1.237 4.919 4.550.443 4.171 1.809 1.494 1.838 1.453.325 3.782.588.644 45.705 8.646.905 57.519 2 628.405.815.930 129.777.567 19.824 3 2.227 72.591 10.306.750 0 13.700.440.479 83.072 325.694 21.569 11.554.628 22 85.321 5.119.845 40.385 20.277 246.660.600 181.183 17.824 90.606.151 825.062.991.467 1.129 2.634 1.553 13.762 4.817 378 627.371 22.534.918.292.567.048 32.714.912 23.837 15.512 1.387.656 2.391 448.839 4.358 933.692.322 2.086 5.853 110.098 7.030 13 20.073 8.561 1.212.908 141.755 17.489 59.486 100.985 9.282.850 337.991.643 8.849 57.371 1.130 77.333 4.504 1.208.698.590 44.190 41.577.554.063 4.772.143.864.399 1.989 146.319 504 17.160 823.241 1.473 2.996.114 5.585.Lampiran 2.225 7 45.979 5.437.574 1.805.458.942 12 8.579 55.890 49.396 166.489 940.622 118.849 23.811.010 7.973 369.867 3.235.017.418 59.735.639 865.739.858 40.570 3.858 26.

305 20.444.125.089.176 197.981 156.601 21.034 22 2.139 2.142.271.243 177.722 2.117.132.916 1.616 5.214.502 4.810 2.260.014.713.872 278.866 1.372 88.948.664 18 4.382 4.525 1.073 (30.671.350 2.525 1.626 70.327 19.361 758.079.489.320.139 10.635 64.399 3.690 115.332 12.097 1.637.226.663 1.511 29.703.756 12.Lampiran 2.756.503 7.861 35.860.515 20 299.192.377.465 5.574 1.287 11.995.107.005.597 5.741.011.134 11.451 7.729.385 1.354 37.775 5.472 105.700.063 111.117 1.723.672 6.020 7.206.451.100.570.915 1.529.108 19.588.926 117.076.221.727 9.678 19.678 7.649 157.652 411.802 134.944 3.136.738 824.999 6.525 11.278 17.564.876.200.930.860 2.858 495.194.564.385 6.116 770.063 4.441.649.175.638 33.553 13.643 1.808 158.428 117.398 13.843 149.420.065 15.331.350 130.963 176.830.791 866.445 412.248 966.916.246 2.088 161.084 3.902.463.912 21 34.213 16.760 1.613 357.623 84.864.156 105.727 100.739.093.266.182 30.127.167.870.275.542 4.938 15 7 6.896.257 15.668 341.852 121.697 6.228.529.264.242.084.579 4.297 19.206 438.349 8.842 123.667.186.331 1.019 287.189 19.278.238.477.237 2.041.670.203.034.593 2.977.770 755.044.670 19.333.079.352.223 22.610 7.218 21.183.147.600 441.959 1.928 69.544 967.812 173.368.649.966 18.407.155 1.761 137 85 121.412.038 13.562.244.048.105 476.382 1.780 1.113 3.973.179 17.724.106.169.567 26.805 2.393.292 6.169 4.877.226.158 5.915 13.695 225.823.594 50.559 322.138.085 15.705 859.798 5.000 213.070 6.713 197.310 6.463.076.460.281 60.063 8.961 1.875 3.677.726.800.891 123.476.575.595 1.332 3.708 59.413 259.126 93.749 609.197 4.177 2.172 0 141.577 8.547.980 42.360 3.945 37.127 19.844 882.074 19.870 126.666 2.741 10.016.598.196 11.475.071.563 510.261 6.383.180 14.360.326 9.951 232.383 143.415 15.844.973 6.573.405 6.012.723 41.048.393.676 1.731.060.821 27.354 19.649 36.228 1.979 350.855 61.442.803 4.948 .332 3.802.411.744.019 14.164.429 11.255 19 10.292 3.876.729.825 1.081 564.015 1.250) 8.952 5.578) 1.875 1.015.950 527.746 32.568 21.584 3.113 94.161.434 76.401 110.630 1.757 225.641 37.509 2.657 12.652.218 17 4 14.767.253.698 49.228.310.344 3.499 1.511 9.757 400.892 1.604.247.278.084 15.921.713.742.778 1.848 85.931.775.713 2.002. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 14 9.727 30.100) 65.153.378 61.793.817 215.388 38.006.073.990 18.056 3.704 3.966.110.498 19.372.786 3.202 4.705.418 14.642 36.565.390.767.983 3.233 396.455.900.700 3.727 27.142 10.392 227.287.567 26.730 90.948 (3.919 398.458.161 16 620.128 23.870.397 114.430 1.242.732 (3.505 723.078 1.562 180 144.580.797 15.106 4.609 151.353.664 156.995 65.685.215 35.715 373.661 524.036.576 834.279.032 448.437 791.781 337.480.817.272.338 4.028.859 16.179 26.131 151.111 382 16 1.569.843.035 16.344.748.028.946 777.383.107 3.997 34.030 39.923 16.229.340 6.963 62.448.498 110.559 27.130 9.887 124.045.

034 238.885.571 11.408 243.593 30.847 3.774.550 13.420.438.865.200 520.696 668.413 3.187.210 29.658.739.162.743 3.815.247 77.592 110.96 42.241.466 29.552 1.621 208.294.160 1.169 161.356 105.485 39.393 208.970.927.466.211.435 4.044 8.068.389.287 2.623 48.111.008.695.048.689.785 158.495 11.413 14.045 25.042 41.814 6.643 115.933 748.887 201.837 441.114 310 260.670 7.086 112.001.747 942.241.656.136 48.705 23.268.167.424 8.539.385 1.613 64.125.623 306 1.114.400.269 4.605 94.398 613.771.143.088.316.076 2.857.071 1.760.775.944 196.473.634.821.790.447 401 314.454 856.119.534.099 57.491 474.239 8.281 292.730 209.457.897.552 309 115.259 165.672.553.327 1.627.238 77.416 2.965.214.901.437 68.849 80.916 177.188 2.326 12.848.818 108.379 33.257.325.733 15.871 18.315 90.887 9.783 520.957.471 38.480 15.018 79.658.575 17.294 8.573 20.416.729.044 403 8.485.063 396.305 5.387.158 1. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 301 107.033) 5.786.620 37.933 124.438 304 1.777.622 8.620 8.016 394.497 302 88.935 1.321 835.808.637.227.586.942.267.162.488.534.525.242.805.724 5.483.743.503.698.865.161.831.340.779.697 937.568 646.454 .798.831.581 64.225.284 314.965.689.849 24.496.949.Lampiran 2.837 32.514 305 6.479.337 73.582 2.943.561.056 67.480 6.373 55.617 8.766 15.067 1.599 5.193.642 67.099.620 13.813.595.202.389.621 133.480 402 15.209 234.036 155.629 152.276.028.151 329.036.353.614 794.110 107.272.665 303 189.513 2.329.374 51.412.013.677.850.935 88.243.851.165 139.278 151.028 2.365 57.600 272.842 31.282 301 14.254 131.125.701.426.637.881 13.673 (68.713 1.108 13.883.695 227.028.559 199.433 37.782.707.034 41.988.

379 33.325.119.534.821.729.672.165 139.701.849 24.099.088.151 329.424 8.853.063 396.771.698.272.169 161.701. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 404 103.815.988.695 227.705 23.Lampiran 2.340.837 3.063 396.821.815.705 23.028 2.771.325.593 30.438.695 227.698.287 2.272.169 161.099 57.805.849 24.412.278 151.850.254 131.627.672.701.837 700 260.353.099.438.408 243.944 196.677.739.916 177.837 441.254 131.447 103.424 8.613 64.627.944 196.353.622 8.340.469 501 502 503 509 600 260.287 2.620 13.143.165 139.242.575 17.637.469 - - - - 2.613 64.853.119.278 151.099.242.677.214.379 33.593 30.151 329.739.099 57.028 2.805.620 13.408 243.412.637.916 177.729.850.214.534.284 - .622 8.575 17.

0041 0.0001 0.0094 0.0000 0.0000 0.0001 0.4217 13 0.0233 0.0003 0.0001 0.0000 0.0000 0.0008 0.0355 0.0003 0.0083 0. Matriks Koefisien Teknis Klasifikasi 22 Sektor SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 1 0.0005 0.0044 0.0782 0.0015 0.0000 0.0105 0.0000 0.1335 0.0002 0.0005 0.0171 0.5356 11 0.0000 0.0362 0.0000 0.0027 0.0155 0.0045 0.0004 0.0000 0.0002 0.0000 0.0004 0.0066 0.0078 0.0000 0.0000 0.0025 0.5687 8 0.0000 0.0000 0.0007 0.0000 0.1188 5 0.0000 0.0010 0.0224 0.0000 0.0002 0.0477 0.0000 0.0731 0.0243 0.0003 0.0021 0.0506 0.0012 0.0016 0.0004 0.0013 0.3957 9 0.0015 0.0001 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0003 0.0002 0.0000 0.0083 0.0007 0.0000 0.0006 0.0000 0.0008 0.0000 0.0238 0.0201 0.0009 0.0000 0.0002 0.0000 0.0000 0.4078 12 0.0023 0.0000 0.2130 0.0015 0.0005 0.0013 0.6039 6 0.0073 0.0097 0.0001 0.0000 0.0433 0.0718 0.0005 0.0031 0.0000 0.0006 0.0424 0.0001 0.0001 0.0001 0.0010 0.0009 0.0000 0.0116 0.4673 7 0.0171 0.0239 0.0800 0.0022 0.0017 0.0001 0.0436 0.0090 0.0002 0.0535 0.0000 0.0073 0.0555 0.0002 0.0011 0.1393 4 0.0428 0.0944 0.0006 0.0040 0.0047 0.0059 0.1354 0.0519 0.2497 0.0004 0.0001 0.0056 0.0000 0.0000 0.1247 0.0119 0.0025 0.0022 0.0009 0.0646 0.0026 0.0446 0.0107 0.0000 0.0008 0.0073 0.0734 0.0037 0.0310 0.0000 0.0385 0.0008 0.0000 0.0000 0.0086 0.0000 0.0022 0.0002 0.0003 0.0071 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0217 0.0153 0.0003 0.0003 0.0002 0.0000 0.0002 0.2391 2 0.0023 0.0096 0.0182 0.0000 0.0007 0.0001 0.0000 0.0011 0.0352 0.0000 0.0001 0.0061 0.0934 0.0119 0.0350 0.0000 0.0022 0.0008 0.0199 0.0250 0.0009 0.0001 0.0000 0.0001 0.0023 0.0000 0.0000 0.0028 0.0000 0.0021 0.0026 0.0016 0.0000 0.0000 0.3378 10 0.2445 0.0014 0.0005 0.0168 0.0213 0.0001 0.0599 0.0050 0.0020 0.0053 0.0016 0.0280 0.0000 0.0000 0.0002 0.0025 0.1780 0.0401 0.2448 0.0003 0.0001 0.0000 0.0035 0.0000 0.0002 0.0047 0.4842 Total Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).1794 3 0.0211 0.0000 0.0220 0.0001 0.0010 0.0005 0.0621 0.0000 0.0006 0.0002 0.0000 0.0059 0.0003 0.0001 0.0317 0.0036 0.Lampiran 3.0802 0.0003 0.0073 0.1094 0.0042 0.0008 0.0000 0.0010 0.0011 0.0000 0.0000 0. .0836 0.0013 0.0057 0.0000 0.0002 0.0181 0.0142 0.0000 0.0464 0.0730 0.0000 0.3183 0.0000 0.0001 0.0002 0.0007 0.0001 0.0087 0.0050 0.0289 0.3052 0.0001 0.0319 0.0002 0.

5495 0.0013 0.0085 0.1006 0.0371 0.0001 0.0000 0.0009 0.0007 0.0172 0.0791 0.0081 0.0258 0.0000 0.0108 0.0369 0.0511 0.0001 0.0004 0.0000 0.0336 0.0000 0.0352 0.7027 0.0000 0.0128 0.0009 0.0002 0.0373 0.0000 0.0200 0.0000 0.0223 0.4633 0.1737 0.0047 0.0000 0.0771 0.0033 0.0100 0.2764 0.0572 0.0369 0.0348 0.0001 0.0010 0.4884 19 0.0002 0.0244 0.0275 0.0532 0.0000 0.0130 0.0000 0.0867 0.0001 0.0000 0.0010 0.0007 0.0000 0.0000 0.0047 0.0002 0.3103 0.0626 0.0001 0.0058 0.0023 0.1877 0.0272 0.0000 0.0053 0.3821 20 0.0001 0.0004 0. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Total 14 0.0364 0.0604 0.0074 0.7433 .0000 0.0011 0.0010 0.0099 0.0589 0.6530 18 0.0001 0.0221 0.0360 0.0474 0.3580 0.1790 0.0008 0.0019 0.0007 0.1020 0.0005 0.0000 0.0001 0.0315 0.0030 0.0000 0.0158 0.0000 0.5635 15 0.4070 0.0000 0.0485 0.0150 0.0000 0.0000 0.0078 0.0008 0.0000 0.0001 0.0003 0.0007 0.1919 1.0010 0.3319 0.0014 0.0465 0.0105 0.0020 0.0889 0.7964 0.0804 0.0317 0.0000 0.0025 0.0008 0.0003 0.0620 0.0319 0.0276 0.0002 0.6438 0.0000 0.0295 0.0027 0.0007 0.0331 0.0035 0.0261 0.0007 0.4161 16 0.0187 0.0020 0.0071 0.0001 0.0001 0.0000 0.0000 0.0055 0.1082 0.0002 0.0000 0.0046 0.0495 0.0044 0.0939 0.3072 0.0180 0.0038 0.0400 0.0226 0.0039 0.2619 0.0000 0.0000 0.0012 0.0024 0.0032 0.0007 0.0022 0.1097 0.0817 0.0000 0.0000 0.0000 0.0230 0.0020 0.0009 0.0000 0.0180 0.0091 0.0003 0.0236 1.0001 0.0000 0.2400 22 0.0147 0.0008 0.0278 0.3390 Total 0.0431 0.0037 0.2790 0.0277 0.0000 0.3675 17 0.3945 21 0.0048 0.0000 0.0006 0.0002 0.0001 0.0226 0.0508 0.0000 0.0502 0.1631 0.0002 0.0001 0.0049 0.0980 8.0016 0.0220 0.Lampiran 3.0000 0.0000 0.0001 0.5997 0.0003 0.0900 0.0131 0.1548 0.0163 0.0023 0.0000 0.0179 0.0000 0.

0018 0.0163 0.1048 0.0034 1.5577 13 0.0050 0.0938 0.3950 2 0.0463 0.2508 0.7956 7 0.0021 1.0220 0.0006 1.0378 0.0013 0.0004 0.0008 0.1548 0.0002 0.1045 1.0043 1.0021 0.0001 0.0051 0.0015 0.0291 0.0005 0.0011 0.0046 0.0005 0.0260 0.0001 0.0003 0.0452 0.0008 0.0118 0.5409 10 0.2751 3 0.0032 0.1133 0.0076 0.0782 0.0001 0. .0474 0.1068 0.0002 0.0000 1.0767 0.0163 0.0065 0.0359 0.0009 0.0009 0.0014 0.0148 0.0050 0.0079 1.0086 0.0034 0.0123 0.1036 0.0033 1.0013 0.0052 0.0134 0.0196 0.6059 9 0.0024 1.0170 0.2921 0.0134 0.0072 1.0240 0.0076 0.0030 0.9484 6 0.0061 0.Lampiran 4.0036 0.0004 0.0005 0.0221 0.0508 0.0008 0.0192 0.0043 0.0172 0.0004 0.0112 0.0026 0.0015 0.0230 0.0474 0.0122 1.0357 0.0052 0.0826 0.0001 0.0042 0.0005 0.0000 0.0648 0.0052 0.0261 0.0109 0.0012 0.0014 0.0007 0.0017 0.0036 0.1178 0.0440 0.0108 0.0019 0.0109 0.0017 0.0090 0.0058 0.0481 0.0133 0.0133 0.0138 0.0012 0.0097 0.0014 0.0094 1.6858 Total Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).0105 0.0012 0.0494 0.0011 0.0542 0.0006 0.0007 0.0626 0.0010 0.0003 0.0002 0.0446 1.0394 0.0032 0.0130 0.0031 0.0004 0.0180 0.0016 0.0681 0.0001 0.0775 0.0193 0.0011 0.0059 0.0009 0.3235 1.0007 0.0106 0.0037 1.0116 0.0072 0.0005 0.0099 0.1567 5 0.0221 0.1920 0.0007 0.0981 0.0059 0.0260 0.0009 0.6424 12 0.0008 0.0441 0.0054 0.0097 0.0004 0.2872 0.0034 0.0021 1.0164 0.0636 0.1683 0.0452 0.0078 0.0052 0.0007 0.0013 0.0005 0.1140 0.0053 0.0046 1.0042 0.0008 0.0011 0.0166 0.0049 0.1031 1.0001 0.8431 11 0.0991 0.0749 0.0100 0.0337 0.4000 0.0005 0.0007 0.0013 1.0003 0.1038 0.8775 8 0.0042 0.0067 0.0000 0.0062 0.0044 0.0014 1.3337 0.0002 0.0080 0.0010 0.0001 0.0008 0.0054 0.0028 0.0016 0.0137 1.0602 0.0001 0.0077 0.0287 0.0013 0.0009 0.0965 0.0467 0.0012 0.0112 0.0011 0.2088 0.0024 0.2025 0.0004 0.0121 0.0030 1.0058 0.0153 0.0584 0.0013 0.0382 0.0082 0.0012 0.0006 0.0137 0.0006 0.0327 0.0093 0.0345 0.0010 0.0080 1.0000 0. Matriks Kebalikan Leontief Klasifikasi 22 Sektor SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 1 1.0007 0.0030 0.0294 0.0304 0.0009 0.0303 1.0275 0.0483 0.0002 0.0017 0.0074 0.0155 0.0036 0.0397 0.0014 0.0155 0.2287 4 0.0017 0.0026 0.0022 0.0166 0.0044 0.0025 0.0009 1.0055 0.0386 0.0024 0.0943 0.0002 0.0008 0.0001 0.0322 0.0770 0.0394 0.0006 0.0063 0.0055 0.0009 0.0021 0.0035 0.0014 0.

0183 0.0010 0.0042 1.0007 0.0044 0.0018 0.0487 0.0068 0.2750 1.0171 0.0005 0.3310 1.0038 1.0008 0.0855 0.0120 0.0067 0.0182 0.0105 0.0116 0.0014 0.0057 0.1284 0.Lampiran 4.0517 0.0599 0.0031 1.0028 0.0008 0.0502 0.0802 0.3066 3.0051 0.0004 0.3283 1.0856 1.0024 0.0062 0.0001 0.0078 1.1116 0.0115 0.0261 1.0003 0.0239 0.0073 0.0001 0.0012 0.0008 0.2191 1.0056 0.0468 0.0235 0.0715 0.5005 16 0.0088 0.0816 0.6422 1.0016 0.0558 0.0338 1.0010 0.0755 0.0874 2.0166 0.0011 0.0041 0.0119 1.0040 0.0481 0.0450 0.7539 19 0.0139 0.0025 1.1049 0.0999 0.0219 0.0002 0.0488 0.0059 0.0006 0.2051 2.0343 0.2689 1.0016 0.0532 0.0000 0.0000 0.0416 0.0018 0.1306 1.0274 0.0772 0.6346 21 0.0173 0.3732 0.0058 0.0010 0.0724 0.0054 0.0184 1.0028 0.0102 1.0001 0.0018 0.8552 18 0.0544 0.1247 0.0026 0.2955 1.0454 0.1395 0.0071 1.0828 0.0013 0.0063 0.0013 0.1095 0.1062 0.3855 1.0638 0.0208 1.0137 0.0001 0.0010 0.0444 0.0007 0.4368 1.0404 0.0171 0. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 14 0.0090 0.0254 0.0013 0.0274 0.0653 2.0348 0.0026 0.0020 0.0045 0.0018 0.3643 22 0.0498 0.0001 0.0170 0.0001 0.0216 0.6501 17 0.0246 0.0020 0.1194 0.1150 1.0009 0.5581 0.0134 1.0449 0.0267 0.6138 20 0.0025 0.0291 3.0003 0.9552 1.0054 0.0038 0.0012 0.0516 0.0032 0.0018 0.0004 0.0284 0.0015 0.0008 0.0198 0.0082 0.0068 0.0022 0.0298 0.0441 0.0395 0.0003 0.0020 0.0082 0.0048 0.0017 0.0237 0.1589 0.0105 0.0004 0.0098 0.0515 1.1857 1.0002 0.0063 0.0039 0.0000 0.0247 0.0009 0.0025 0.7978 15 0.0007 1.0053 0.0041 0.0537 0.0522 0.0420 0.0166 1.1575 35.0018 0.0038 0.0084 0.0007 0.0058 0.0607 0.0056 0.0104 0.1550 1.0050 0.0041 0.0013 0.0212 0.0661 0.0718 0.0377 0.5500 Total 1.1331 0.0009 0.0024 0.6529 1.0734 1.1272 1.0095 0.2733 Total .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful