ANALISIS INPUT-OUTPUT PERANAN INDUSTRI KERTAS DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA

OLEH RUSLI RAMLI H14101122

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006

RINGKASAN

RUSLI RAMLI. Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia (dibimbing oleh ARIEF DARYANTO). Proses industrialisasi di Indonesia telah yang dimulai dari sejak pelita I telah mengakibatkan transformasi struktural dalam perekonomian Indonesia. Hal ini ditandai dengan semakin menurunnya kontribusi sektor primer (pertanian) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sementara sektor sekunder dan tersier seperti industri pengolahan kontribusinya terhadap PDB terus mengalami peningkatan. Salah satu sektor industri pengolahan yang berkembang pesat adalah sektor industri kertas. Hal yang menyebabkan industri ini terus berkembang pesat di Indonesia antara lain adalah kemudahan mendapatkan baku dan tenaga kerja yang murah. Pada akhir tahun 2000 kapasitas terpasang industri kertas nasional telah mencapai sekitar 9,1 juta ton per tahun, produksi sebesar 6,8 juta ton, ekspor sebesar 2,8 juta ton, dan konsumsinya yang telah mencapai 4,2 juta ton. Data-data tersebut di atas menunjukkan bahwa industri kertas sangat potensial untuk terus dikembangkan khususnya untuk meningkatkan penerimaan devisa negara. Selain perkembangannya yang pesat tersebut, industri kertas juga mempunyai pengaruh dan hubungan timbal balik terhadap industri atau sektor lainnya karena komoditi kertas yang dihasilkan oleh industri ini dapat sebagai input sektor industri lain dan sebaliknya industri kertas juga membutuhkan input dari sektor lain tersebut. Berdasarkan kondisi di atas, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana peran sektor industri kertas bagi perekonomian Indonesia Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari BPS Pusat Jakarta dan instansi terkait lainnya. Analisis yang digunakan yaitu Analisis Input-Output (I-O) dari Tabel I-O Indonesia Tahun 2000 transaksi domestik atas dasar harga produsen klasifikasi 175 sektor melalui program Microsoft Excel 2003. Pendekatan model I-O yang digunakan dalam penelitian ini adalah model sisi permintaan (demand-side model), hal ini dikarenakan faktor permintaan merupakan faktor eksogen yang mempengaruhi perekonomian. Berdasarkan analisis deskriptif dari Tabel I-O Indonesia tahun 2000 transaksi domestik atas dasar harga produsen yang diagregasi menjadi 22 sektor, industri kertas memiliki peran yang tidak begitu besar terhadap struktur perekonomian Indonesia seperti struktur permintaan, nilai tambah bruto, struktur ketenagakerjaan, ekspor-impor dan pembentukan output sektoral. Hal ini dapat dilihat dari kecilnya nilai industri kertas pada masing-masing struktur tersebut bila dibandingkan dengan sektor perekonomian lainnya. Dilihat dari sisi permintaan antara dan permintaan akhir, industri kertas memiliki permintaan akhir (Rp 10.800.775 juta) yang lebih besar daripada permintaan antaranya (Rp 13.970.847 juta) yang menandakan bahwa output industri kertas lebih banyak digunakan untuk konsumsi langsung (masyarakat, pemerintah, dan ekspor) daripada sebagai input untuk sektor lainnya.

Dilihat dari rasio upah gaji terhadap surplus usaha (0,43) dalam struktur nilai tambah bruto, dapat identifikasi bahwa pada industri kertas terjadi ketimpangan distribusi pendapatan antara pihak perusahaan dengan tenaga kerjanya. Kemudian dari struktur ketenagakerjaan dapat diketahui bahwa industri ini mampu menyerap tenaga kerja sebesar 118.454 jiwa. Berdasarkan analisis struktur ekspor-impor dapat diketahui bahwa industri kertas mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 4.617.531 juta sedangkan dari pembentukan output sektoral industri kertas menyumbang sebesar Rp 24.771.662 juta atau sekitar 0,92 persen dari total output sektoral perekonomian. Dari hasil analisis keterkaitan per sektornya (keterkaitan industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian Indonesia), industri ini memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor hulu dan hilirnya. Pada keterkaitan ke depan industri kertas memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor industri barang dari kertas (0,3183) dan industri percetakan (0,2448), sedangkan pada keterkaitan ke belakangnya, industri kertas memiliki keterkaitan kuat terhadap industri pulp (0,0944) yang merupakan sektor penghasil input bahan bakunya. Berdasarkan hasil analisis koefisien penyebaran dapat diketahui bahwa industri kertas kurang memiliki kemampuan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya. Sedangkan dari hasil analisis kepekaan penyebaran industri kertas merupakan industri yang memiliki kemampuan yang kuat dalam mendorong sektor hilirnya. Pada analisis elastisitas input-output dapat diketahui bahwa industri kertas cukup responsif terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya dalam hal output dengan nilai elastisitas output sebesar 1,0023. Sementara dari hasil elastisitas pendapatannya (0,0522) industri ini kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal pendapatan dan jika dilihat dari hasil elastisitas tenaga kerjanya (0,6093), perubahan permintaan akhir sektor lain kurang berpengaruh terhadap perubahan tenaga kerja dalam sektor industri kertas tersebut. Berdasarkan ranking elastisitas, industri kertas termasuk dalam salah satu dari sepuluh sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam). Hal ini mengindikasikan bahwa sektor industri ini memiliki respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal peningkatan output, pendapatan, maupun tenaga kerjanya, sehingga sektor ini mempunyai kemampuan yang cukup besar dalam berkontribusi untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan. Bersama dengan sektor kunci lainnya, industri kertas merupakan sektor prioritas yang harus dikembangkan oleh pemerintah sebagai policy makers karena kontribusinya terhadap perekonomian tersebut

ANALISIS INPUT-OUTPUT PERANAN INDUSTRI KERTAS DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA Oleh RUSLI RAMLI H14101I22 Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006 .

Dr. MS NIP. M. Ir. Menyetujui. Ir.Ec. Arief Daryanto. Ketua Departemen Ilmu Ekonomi. 131 644 945 Mengetahui. Dosen Pembimbing. Nama Mahasiswa Nomor Registrasi Pokok Program Studi Judul Skripsi : Rusli Ramli : H14101122 : Ilmu Ekonomi : Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia dapat diterima sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi. 131 846 872 Tanggal Kelulusan: . NIP. Rina Oktaviani. Dr. Fakultas Ekonomi dan Manajemen.INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN DEPARTEMEN ILMU EKONOMI Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh. Institut Pertanian Bogor.

Juni 2006 Rusli Ramli H14101122 .PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. Bogor.

kemudian melanjutkan ke SLTPN 1 Telagasari dan lulus pada tahun 1998. dari pasangan Apun Sanusi dan Yoyoh. Pada tahun yang sama penulis diterima di SMUN 1 Karawang dan lulus pada tahun 2001. penulis aktif di berbagai organisasi intra dan ekstra kampus seperti BEM-H. Selama menjadi mahasiswa. Propinsi Jawa Barat. Jenjang pendidikan penulis dilalui dengan lancar. . penulis menamatkan Sekolah Dasar pada SDN Ciwaringin 1. Formasi. Penulis masuk IPB melalui jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dan diterima sebagai mahasiswa Program Studi Ekonomi dan Studi Pembangunan pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Penulis merupakan anak pertama dari satu bersaudara. Pada tahun 2001 penulis melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi untuk meraih gelar sarjana. dan HMI Komisariat FEM.RIWAYAT HIDUP Penulis bernama Rusli Ramli lahir pada tanggal 20 Juli 1983 di Karawang.

Arief Daryanto.1r. Judul ini dipilih penulis karena merupakan topik yang menarik dalam perkembangan industri nasional dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.Ec. Institut Pertanian Bogor. Semoga karya ini dapat bermanfaat. yang telah memberi masukan. terutama kepada Bapak Dr. Bogor. bagi penulis khususnya dan kalangan pendidikan umumnya. Juni 2006 Rusli Ramli H14101122 . Judul skripsi ini adalah “Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia“. saran serta bimbingan dalam pembuatan skripsi ini. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. skripsi ini juga merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi. Selain itu. Penulis mengharapkan adanya hasil positif sebagai masukan dalam pembangunan industri kertas nasional selanjutnya. Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada seluruh pihak lainnya yang telah membantu terlaksananya penelitian ini baik dari instansi maupun perorangan yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. M.

.. Struktur Tabel Input-Output........ Elastisitas Input-Output..............................2........................ METODE PENELITIAN...................3................... I.......... Perumusan Masalah ......................................................... 2.................. 1.............................. Tujuan Penelitian ......5...........................1.......3.............................2........................................... Konsep Pembangunan Industri Kertas ............5...... Ruang Lingkup.........5. Metode Analisis ....... 1.....................5.........................................................................3.............................................................. Kerangka Pemikiran Teoritis ......................................................... 3................... 3............2.... 4........... 2. Perkembangan Industri Kertas ................................................... 1... 3.......... Analisis Keterkaitan . 2..................................................... 2.....................................................................................4.......................... TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN ...1......2............................... Jenis dan Sumber Data ................................. Koefisien Input..2.......................... 2.... Profil Industri Kertas.............................................................6. 1.........1..................................................................... Definisi dan Sejarah Kertas....1.................. Manfaat Penelitian ...3............................... DAFTAR LAMPIRAN......................2. III. Integrasi Vertikal Pada Industri Kertas ....................... 2.... Analisis Dampak Penyebaran .................4....... Model Input-Output .......................... 3..........................2................................... PENDAHULUAN ..2..........................1............................... II......................................... DAFTAR GAMBAR .............. Latar Belakang .............2.................................................................... GAMBARAN UMUM INDUSTRI . 3........................................1....... Penelitian-Penelitian Terdahulu ....................DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL........................ 4........................................... x xi xii 1 1 4 5 5 6 7 7 8 11 13 16 16 19 22 25 25 25 26 27 29 31 33 33 34 ... V....... 3........ Kerangka Pemikiran Konseptual ............ 1...............2.................... 2................................. 2....................

......4........................ Elastisitas Output ......... 5................... 5.. LAMPIRAN... 5.... Saran.......... Elastisitas Tenaga Kerja... 5... 5............. 5.................. Keterkaitan Langsung Sektor-Sektor Perekonomian .........................................2............ 6.............. 5... Analisis Koefisien dan Kepekaan Penyebaran.............................................. 4.................. Koefisien Penyebaran.....2....... Profil Beberapa Perusahaan Kertas Indonesia .....4........ Elastisitas Pendapatan ..4.2..............2..............................................................................3................................. Keterkaitan ke Belakang Industri kertas .. Sektor-Sektor Kunci dalam Perekonomian Indonesia ........................2.. Struktur Ketenagakerjaan... 5........................ KESIMPULAN DAN SARAN . 5............... Peranan Industri Kertas Dalam Perekonomian Indonesia...............1........................1..3..5...............................1...............................4...................... 5.............................3...... 5.................. Kesimpulan ......................... Analisis Keterkaitan ...........3.......... 5.....................2.............................................................. Struktur Nilai Tambah Bruto ............................1....1...............2......... 5................................................................. 5........1.........................................2...............2... V.................................................... 5...............2........5..1.......3............2... VI.........1.............. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ............... Keterkaitan ke Depan Industri Kertas .................... HASIL DAN PEMBAHASAN..3.........................1... Elastisitas Input-Output....... Struktur Ekspor dan Impor......2...... Kepekaan Penyebaran ............................... 5. 5............1..............6........ 6......................3.. Implikasi Kebijakan . 5...................... Struktur Output Sektoral . 5........................ 5.................................4..........4.................. Struktur Permintaan Industri Kertas .......... DAFTAR PUSTAKA .4....... Integrasi Vertikal dan Pasar Industri Kertas Indonesia. 36 37 47 47 47 49 51 53 55 56 56 58 59 61 62 63 65 67 67 68 70 71 73 75 75 76 78 80 ....

DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1....... 3 13 14 19 34 35 38 40 42 43 46 48 50 51 52 ....... Boards PT..... Struktur Tabel Input-Output............ 5......................................................... Rasio Upah Terhadap Surplus Usaha...... Kapasitas Produksi.... 4........................ 2.................. 5............ 4.. Profil Industri Pulp dan Kertas Indonesia Tahun 2003 .............................. Komposisi Sektoral PDB 1960-2003 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993 ....................... 4.... Permintaan Antara dan Permintaan Akhir Sektor-sektor Perekonomian di Indonesia Tahun 2000.. 2..................................... Boards PT... Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk per 30 September 2004 .............2.......... 2 1......... Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Dampak Penyebaran........................... Boards PT....... .... Nilai Tambah Bruto Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Indonesia Tahun 2000 ................ 4......................... 5.... Kapasitas Terpasang Perusahaan Industri Kertas 2003................................. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk per 30 September 2004 ...... Produktifitas dan Nilai Upah Sektoral Indonesia Tahun 2000 .. 2......2...........1.................5..........2.1................ Konsumsi Kertas Per Kapita Penduduk Indonesia 1993-2002....3. 4......1...3.... Ekspor dan Konsumsi Industri Kertas Indonesia Tahun 1994-2003... 4................... Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Keterkaitan ........................................7.... 4.................4............................................... Impor. Jumlah Tenaga kerja..............3......6................. Pindo Deli Pulp & Paper Mills per 30 September 2004 .....................1........................ 5.........2................... Boards PT........ Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry per 30 Desember 2004 ........4.

..... Struktur Ekspor dan Impor Indonesia Tahun 2000 ..... Kepekaan Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia.............................................. 54 56 57 60 61 64 66 69 71 ..9......................5....... Struktur Pembentukan Output Sektoral Terhadap Perekonomian Indonesia ..................7...6........................................5........ 5............ 5........... 5..................... 5... 5.............................. 5.................................. Sektor Kunci Perekonomian Menurut Ranking Elastisititas Input-Output Indonesia Tahun 2000 ..... Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia .............. 5......... Elastisitas Input-Output Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 ........10. Koefisien Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia. 5.......................11............................ Nilai Keterkaitan Berbagai Sektor Perekonomian di Indonesia ........12......13.....8....................... Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia .................................

.. Halaman 24 .................DAFTAR GAMBAR Nomor 1..... Bagan Alur Pendekatan Studi ..................................

............. Matriks Koefisien Teknis Klasifikasi 22 Sektor ..... Matriks Kebalikan Leontief Klasifikasi 22 Sektor.........DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1.. ..................... Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 Klasifikasi 22 Sektor ........... 4.............. Halaman 81 82 86 88 Klasifikasi Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 . 3............................. 2...

9 persen). sementara sektor industri khususnya industri pengolahan baru menyumbang 8. 2002).I. dimana terjadi penurunan kontribusi sektor pertanian (sektor primer) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kemudian pada tahun 1967 industri pengolahan telah menyumbang 51. sikap sosial. stok modal. Latar Belakang Proses industrialisasi di Indonesia yang dimulai sejak Pelita I telah mengakibatkan transformasi struktural di Indonesia. dan pendayagunaan sumber-sumber baru serta perbaikan teknologi akan semakin tinggi (Jhingan. Pada tahun-tahun berikutnya dapat dilihat bahwa sektor industri pengolahan terus mengalami kenaikan dalam hal kontribusinya terhadap PDB sedangkan sektor pertanian sebaliknya terus mengalami penurunan kontribusi terhadap PDB. Pola pertumbuhan ekonomi secara sektoral di Indonesia agaknya sejalan dengan kecenderungan proses transformasi struktural yang terjadi di berbagai negara di dunia. sektor pertanian merupakan sektor penyumbang terbesar terhadap PDB (53. dan motivasi yang secara radikal. Perubahan struktur semacam ini menyebabkan kesempatan kerja semakin banyak.1. Perubahan struktural mengandung arti peralihan dari masyarakat pertanian tradisional menjadi ekonomi industri modern. yang mencakup peralihan lembaga. PENDAHULUAN 1.4 persen.8 persen terhadap PDB sedangkan sektor pertanian mempunyai kontribusi terhadap PDB sebesar 8. Hal tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa sektor industri . sementara kontribusi sektor sekunder dan tersier cenderung meningkat. produktifitas buruh.4 persen dari PDB (Tabel 1. Pada tahun 1960.1).

1 5.9 7. Komposisi Sektoral PDB 1960-2003 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993 (persen) Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan penggalian Industri Pengolahan Listrik dan air minum Bangunan/konstruksi Perdagangan.49 7.9 14.9 16.9 1983 22.7 8.9 3.5 3.7 24.3 9.4 0. Tabel 1.1 12.6 13.7 12.7 2.84 25.7 1.9 1989 20.8 3.4 5.6 10.4 Industri pulp dan kertas adalah industri yang berkembang dengan tingkat pertumbuhan 20 persen per tahun pada beberapa dekade terakhir.0 16.2 3.2 1967 51.5 0.8 6. Dari sisi kontribusi terhadap penerimaan negara.3 4.6 5.2 6. 1960 53.6 15.0 6.9 5.1 3. 2003.0 3.52 5. Salah satu dari sektor industri pengolahan tersebut yang berkembang pesat sampai saat ini adalah industri pulp dan kertas.7 8.8 3.3 1.0 3.9 5.4 0. hotel dan restoran Pengangkutan dan komunikasi Keuangan.8 20.2 pengolahan telah menggeser peranan sektor pertanian dalam pembangunan nasional berkaitan dengan peralihan struktur perekonomian masyarakat Indonesia dari orientasi pada sektor primer (pertanian) kepada orientasi sektor industri. Pasar bagi hasil industri pulp dan kertas masih terbuka luas karena konsumsi kertas per kapita terus meningkat dari tahun ke tahun.3 2.3 6.6 18.6 15.3 3.1. sewa dan jasa perusahaan Jasa-jasa Sumber : BPS.6 0.64 15. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai eksportir .7 6.2 1.5 16.57 9.6 16.4 1973 40.7 0.57 2003 16.1 0.9 10.8 1.5 1998 17.5 1.4 5.5 0.3 3.5 1993 17.9 21.6 3.3 6. sektor industri pulp dan kertas telah menyumbang 90 persen dari total penerimaan ekspor kehutanan.0 14.

Produksi.800.530 5.805.945 5.520 1.595. industri ini merupakan salah satu industri yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia. 2002).560 1999 9.800 1995 5.000 130. sehingga dalam masa krisis ekonomi yang dihadapi Indonesia.198. pertama.120.600 2.730 2. adalah bahwa produk kertas harganya banyak ditentukan dalam nilai dolar. Hal itu ditambah apabila melihat dalam sekitar satu dekade terakhir ini.180 6.970 2002 10.220 1.904. dan ketiga.240 2001 10.350 3.630 199. dan Konsumsi Industri Kertas Indonesia Tahun 1994-2003 (ton) Tahun Kapasitas Produksi Impor 171.935 5.420 4.212.913.446.200.000 2000 9.882.260 1998 9.054.641.080 6. Impor.280 4.821.951.2.000 2003 Sumber: Asosiasi Pulp dan Kertas.700 261.580 7. Ada tiga alasan utama yang melatarbelakangi pentingnya sumbangan industri ini.168.224.135 2.783.833. baik kapasitas.500 3.116. ialah bahwa produk kertas cenderung banyak yang ditujukan untuk pasar luar negeri.800.015.560 4. 2003.282. jumlah produksi.960 2.345.600.300 140.487.200 924.800 2.100 2.399.490 1996 7.837.119.180 6.000 8.000 1994 4.695 250. Kapasitas.000 Ekspor 826. Tabel 1.000 3.290 4.430 3.300. alasan kedua.970 3.472.950.479.849.000 2.065. Ekspor.210 2.390 3.130 143. industri ini masih dapat diandalkan dalam membantu penerimaaan devisa negara (Rosadi dan Vidyatmoko.110 197.600 1997 7.000 Konsumsi 2.425. 2002).800 212.097. Sementara itu fokus khusus pada sektor industri kertas (diluar dari industri pulp).840 249.720. ekspor maupun .3 pemimpin dalam bidang kehutanan di dunia sejak 1987 (Karseno dan Mulyaningsih. yaitu komponen impor yang digunakan dalam proses produksi nilainya tidak lebih dari 30 persen.

4 konsumsi dalam industri kertas terus mengalami kenaikan setiap tahunnya (Tabel 1. Perumusan Masalah Pentingnya industri kertas yang besar tidak terlepas dari kondisi yang dimilikinya. I. Indonesia termasuk negara penyedia bahan baku pulp terbesar karena mempunyai hutan terluas kedua di dunia. Sampai saat ini industri kertas Indonesia memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan negara lain. Keunggulan yang lebih banyak mengandalkan sumber bahan baku yang berlimpah dengan harga yang relatif murah serta tenaga kerja dengan upah buruh yang relatif rendah.2).2. Dalam hal bahan baku. angkatan kerja produktif di Indonesia mencapai puluhan juta orang. sehingga bahan baku untuk pembuatan kertas tersedia banyak di Indonesia. Berdasarkan kondisi inilah dirasakan penting untuk melakukan analisis lebih lanjut tentang peranan industri kertas terhadap perekonomian Indonesia. misalnya. Namun pentingnya industri kertas ini tidak semata-mata hanya karena keunggulan komparatifnya saja tapi juga karena peranannya dalam hubungannya terhadap sektor-sektor lain dalam perekonomian Indonesia baik sektor industri maupun non-industri dan bagaimana sektor-sektor lain tersebut mempengaruhi industri kertas sehingga terjadinya hubungan timbal balik yang mengarah pada peningkatan pertumbuhan sektor-sektor dalam perekonomian secara keseluruhan. Begitu juga dalam hal tenaga kerja. Peran industri kertas dalam hubungannya dengan sektor-sektor perekonomian tersebut dapat dilihat dari bagaimana struktur perekonomiannya bila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya dan keterkaitannya dengan sektor-sektor lainnya .

5 tersebut. ketenagakerjaan. Bagaimana peran sektor industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia? 1. nilai tambah. bagaimana kemampuan industri kertas dalam mendorong sektor hulu dan hilirnya dan bagaimana peran industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia. Menganalisis keterkaitan sektor industri pengolahan dengan sektor-sektor perekonomian lainnya di Indonesia . Bagaimana keterkaitan sektor industri kertas dengan sektor-sektor lainnya di Indonesia? 3.3. ekspor-impor dan output sektoral? 2. Menganalisis peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia dalam struktur permintaan. Berdasarkan latar belakang dan uraian di atas. ketenagakerjaan. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah di atas maka tujuan penulisan skripsi ini adalah: 1. nilai tambah. beberapa permasalahan yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana peran sektor industri kertas dalam mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya? 4. ekspor-impor dan output sektoral 2. Berapa besar peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia dalam struktur permintaan.

Dengan kata lain industri kertas dalam penelitian ini bukan industri pulp.6 3.4. 1.4. kertas rokok (cigarette paper) dan sebagainya. Manfaat Penelitian Penulis mengharapkan penelitian ini dapat berkontribusi secara positif terhadap perencanaan kebijakan pembangunan industri kertas nasional pada khususnya maupun industri lain pada umumnya oleh pihak-pihak yang terkait didalamnya maupun bagi pihak-pihak lain yang berkepentingan untuk melakukan penelitian tentang industri kertas Indonesia. kertas lapis dan non lapis (coated and uncoated paper). Ruang Lingkup Industri kertas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah industri yang terdiri dari perusahaan-perusahaan yang mengolah bahan baku kertas menjadi produk kertas yang merupakan barang jadi yang dapat di langsung dikonsumsi ataupun barang setengah jadi yang akan digunakan sebagai input oleh industri lain. kertas tissue (tissue paper). Kertas yang dimaksud adalah jenis kertas seperti kertas tulis cetak (writingprinting paper). Menganalisis peran sektor industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia 1. Menganalisis peran sektor industri kertas dalam mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya 4. . industri barangbarang dari kertas yang tidak memproduksi kertasnya terlebih dahulu dan bukan pula industri percetakan atau penerbitan.

Definisi dan Sejarah Kertas Kertas adalah bahan yang tipis dan rata. yang dihasilkan dengan kompresi serat. bangsa-bangsa dahulu menggunakan tablet dari tanah liat yang dibakar. Sebelum ditemukan kertas. meskipun pengunaan papirus masih dirasakan sangat mahal.1. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI 2. Perancis misalnya atau papel dalam bahasa Spanyol yang berarti kertas (Wikipedia.II. kayu. Serat yang digunakan biasanya adalah alami dan mengandung selulosa (Wikipedia 2005). Dari kata papirus (papyrus) itulah dikenal sebagai paper dalam bahasa Inggris. bahkan daun lontar yang dirangkai seperti yang telah ditemukan pada naskah-naskah kuno nusantara beberapa abad yang lalu. 2005). Hal ini dapat ditemui dari pennggalan peradaban bangsa Sumeria. sutera. Penggunaan papirus sebagai media tulis menulis ini digunakan pada peradaban Mesir kuno pada masa bangsa Fir’aun kemudian menyebar keseluruh Timur Tengah sampai Romawi di Laut Tengah dan ke seluruh Eropa. Adanya kertas merupakan revolusi baru dalam dunia tulis menulis yang menyumbangkan arti besar dalam peradaban dunia. prasasti dari batu. papier dalam bahasa Belanda. . bambu. Peradaban Mesir kuno menyumbangkan papirus sebagai media tulis menulis. kulit atau tulang binatang. Kertas dikenal sebagai media utama untuk menulis. Jerman. mencetak serta melukis dan banyak kegunaan lain yang dapat dilakukan dengan kertas misalnya sebagai kertas pembersih (tissue) yang dapat digunakan untuk hidangan maupun kebersihan.

Menurut Puspitawati (2000) industri pengolahan merupakan suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan mengubah suatu barang dasar secara mekanis. munculah pusat-pusat industri kertas baik di Baghdad maupun Samarkand dan kota-kota industri lainnya. Konsep Pembangunan Industri Kertas Ada beberapa pengertian industri secara definisi yang sekurang-kurangnya akan disampaikan dua definisi. teknik pembuatan kertas tersebut jatuk ke tangan orang-orang Arab pada masa Abbasiyah terutama setelah kalahnya pasukan Dinasti Tang dalam pertempuran sungai Talas pada tahun 751 Masehi dimana para tawanan-tawanan perang mengajarkan cara pembuatan kertas kepada orang-orang arab sehingga dizaman Abbasiyah. 2005). atau dengan tangan sehingga menjadi barang jadi atau setengah . Bintaro (1968) dalam Muchtar (1997) mengemukakan industri pengolahan ialah setiap usaha yang merupakan unit produksi yang membuat barang untuk kebutuhan masyarakat di suatu tempat tertentu.2. Pada akhirnya. kimia.8 Tercatat dalam sejarah adalah peradaban Cina yang menyumbangkan kertas bagi dunia. 2. Penemuan ini akhirnya menyebar ke Jepang dan Korea seiring menyebarnya bangsa-bangsa Cina ke timur dan berkembangnya peradaban di kawasan itu meskipun pada awalnya cara pembuatan kertas merupakan hal yang sangat rahasia. kemudian meyebar ke Italia dan India lalu Eropa khususnya setelah perang Salib dan jatuhnya Grenada dari bangsa Moor ke tangan orang-orang Spanyol serta ke seluruh dunia (Wikipedia. Tsai Lun menemukan kertas dari bahan bambu yang mudah didapat di seluruh Cina pada tahun 101 Masehi.

1997). ada 3 fase pembangunan industri pulp dan kertas agar memiliki keunggulan daya saing. Karakteristik dari industri ini adalah sumber bahan baku kayu . pembangunan industri secara nyata harus menjadi penggerak utama peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dan sekaligus dapat menjadi penyedia lapangan kerja yang sudah mulai tidak tertampung pada sektor pertanian (Muchtar. akan tetapi banyak masalah dan tantangan yang dihadapi dalam perjalanannya untuk memiliki keunggulan daya saing yang tinggi. Menurut Saragih dalam Sipayung dan Pambudy (2000). Sumber pertumbuhan agribisnis pulp dan kertas terutama bersumber dari pemanfaatan sumber daya alam dan tenaga kerja tidak terampil (fase factordriven). konsumsi. khususnya pada era ekolabelling dan otonomi daerah pada saat ini. kapasitas maupun ekspornya. Oleh karenanya. Berdasar pada dua pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa industri kertas merupakan suatu kegiatan atau usaha mengolah barang dasar atau bahan baku kertas agar memiliki nilai yang lebih baik untuk keperluan masyarakat di suatu tempat tertentu. yakni struktur ekonomi dengan titik berat pada industri yang maju dan didukung oleh pertanian yang tangguh. Pada hakekatnya pembangunan industri ditujukan untuk menciptakan struktur ekonomi yang kokoh dan seimbang. sebagai berikut : 1. Kendati perkembangan sektor industri kertas mengalami kemajuan yang pesat salah satunya terlihat dari perkembangan produksi.9 jadi dan atau barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya dan sifatnya lebih dekat kepada pemakai akhir.

Fase kedua adalah agribisnis (industri) pulp dan kertas yang digerakkan oleh modal (capital-driven) yakni modal dan tenaga kerja semi terampil (capital and smi-skill labor). meskipun biaya produksi relatif rendah. bila diboboti dengan atribut global value dan national/local value. Selain itu keterkaitan kegiatan perusahaan masih dengan masyarakat juga masih sedikit. Dengan demikian dampak penurunan mutu lingkungan akibat penebangan kayu hutan alam dapat diminimumkan atau lebih rendah dari fase pertama. 2. Sehingga dampak penurunan mutu lingkungan akibat aktivitas industri tersebut biasanya cukup besar. penyediaan bahan baku kayu tidak lagi bersumber dari penebangan kayu hutan alam. Artinya. Fase ketiga adalah industri pulp dan kertas yang digerakkan oleh inovasi (innovation-driven) yakni penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tenaga kerja terampil (knowledge based and skill labor based).10 mengandalkan kayu hutan (forest based) misalnya Hak Penguasaan Hutan (HPH). Efisiensi pengolahan makin meningkat melalui perbaikan teknologi yang terus menerus sehingga selain menurunkan biaya produksi juga . Dengan demikian. Industri pulp dan kertas pada fase ini dicirikan dengan pengembangan perkebunan kayu (timber plantation) sebagai sumber bahan baku. 3. sehingga telah terjadi pemutusan hubungan dengan hutan alam. melainkan telah bergeser pada kayu hasil budidaya. nilai produk kertas dapat dipersepsikan masyarakat (perceive value) sebagai barang inferior. Karakteristik industri pulp dan kertas pada fase ini adalah pertumbuhan output terutama bersumber dari kemajuan teknologi baik pada penyediaan bahan baku maupun dalam pengolahan.

Integrasi vertikal yang dilakukan oleh perusahaan dapat dilakukan dilakukan dengan dua cara. yakni meningkatkan daya saing dan meminimumkan dampak negatif kegiatan industri pulp dan kertas pada lingkungan hidup. kemampuan Riset and Development (R&D) menjadi tulang punggung dalam fase ini.3. Jenis integrasi ini dapat dibagi menjadi dua. Oleh karena itu.11 mengurangai polutan ke lingkungan. 2. Bahkan beberapa diantaranya sudah mulai memasuki innovation–driven. Integrasi Vertikal Pada Industri Kertas Hasibuan (1994) mendefinisikan integrasi vertikal adalah pengabungan perusahaan-perusahaan yang mempunyai kelanjutan proses produksi. Sedangkan integrasi vertikal ke hilir (downstream) adalah perusahaan yang memutuskan untuk menyalurkan output yang dihasilkan kepada konsumen melalui perusahaan yang terintegrasi dengannya. yaitu integrasi ke hulu (upstream) dan integrasi ke hilir (downstream). Perusahaan yang menerapkan strategi integrasi vertikal ke hulu (upstream) adalah perusahaan yang memperoduksi sendiri input yang dibutuhkannya. antara lain: 1. Mentransformasi industri pulp dan kertas dari factor-driven kepada innovation-driven akan memberi manfaat ganda. Full Integration Perusahaan melakukan full integration bila perusahaan tersebut memproduksi semua input yang dibutuhkannya atau ketika perusahaan tersebut . Pada saat ini industri pulp dan kertas indonesia sebagian besar sedang bergeser dari factor-driven kepada capital-driven.

PT. Penelitian-Penelitian Terdahulu Penelitian tentang peran dan keterkaitan dengan menggunakan alat analisis Input-Output telah banyak dilakukan. Taper Integration Perusahaan melakukan taper integration bila perusahaan tersebut membeli input yang dibutuhkannya dari perusahaan lain selain input yang dihasilkan sendiri atau menyalurkan hasil produksinya melalui perusahaan terintegrasi dengannya dan juga perusahaan lain yang tidak terintegrasi Perusahaan-perusahaan seperti PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia merupakan perusahaan-perusahaan besar dalam industri kertas yang terintegrasi vertikal dengan industri pulpnya. yaitu: (1) penelitian terhadap keseluruhan sektor perekonomian.4. Menurut Karseno dan Mulyaningsih (2002) integrasi vertikal oleh perusahaan kertas akan meningkatkan efisiensi perusahaan dalam industri kertas tersebut karena dapat mengamankan pasokan bahan baku dan meminimumkan biaya transaksi dalam rangka untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan terhadap produk kertasnya. 2.12 menyalurkan semua output yang dihasilkan melalui anak perusahaan yang terintegrasi dengannya. Indah Kiat Pulp & Paper. Jenis integrasi vertikal perusahaan-perusahaan tersebut adalah full integration. mereka mempunyai pabrik pulp sendiri sebagai sumber bahan baku produksi kertasnya. Penelitian yang sudah dilakukan selama ini antara lain meliputi. 2. Lontar Papyrus dan PT. (2) penelitian terhadap sektor agroindustri dan non agroindustri .

76281 1. ****Setyawan (2005).29125 1.13 (sektor industri pengolahan). **Sahara (1998) .38949 Keterkaitan Ke Depan Langsung 0.48518 1988 0.05931 0.4267 1.34572 1.64866 0.1.1).1 yaitu.63396 Sumber: *Tjandrawan (1994) . Tabel 2.58216 0.11877 0.27222 Langsung & Tdk Langsung 1.45022 1. Hasil Penelitian Terdahulu tentang Keterkaitan Penelitian Wilayah 1.13908 2. Jepara**** Ind. Ada beberapa informasi yang ditunjukkan pada Tabel 2.6293 0.31431 2.54759 1. ***Setiyaji (1995).00802 1. (3) penelitian terhadap sektor pertanian dan industri pengolahan. Disamping mempelajari keterkaitan tersebut penelitian-penelitian tersebut juga mempelajari dampak penyebaran (Tabel 2. baik keterkaitan langsung ke belakang (direct backward linkages) dan ke depan (direct forward linkages) maupun keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang dan ke depan (Tabel 2. Pengolahan Tahun InputOutput 1990 1993 0.4432 1.00619 0. Pengolahan 3. transportasi dan sebagainya (Setyawan. Jawa Barat*** Pertanian Agroindustri 4.75861 2.6028 2.62204 2001 0.2).59448 0. DKI Jakarta** Pertanian Ind.95855 Keterkaitan Ke Belakang Langsung & Langsung Tdk Langsung 0. dan (4) penelitian terhadap salah satu sektor perekonomian misalnya pariwisata.17604 0. Pada dasarnya penelitian yang dilakukan memiliki tujuan yang sama yaitu mempelajari keterkaitan (linkages). (1) keterkaitan langsung ke depan sektor industri pengolahan lebih kecil di bandingkan keterkaitan ke belakangnya. 2005).81150 1.07819 1. Indonesia* Agroindustri Non Agroindustri 2. Gambaran ini memberikan indikasi bahwa sektor/subsektor industri pengolahan secara langsung lebih mempunyai .

9139 Sumber: *Tjandrawan (1994) . DKI Jakarta** Pertanian Ind. Pengolahan Tahun InputOutput 1990 1993 1.0570 Kepekaan Penyebaran 1.33528 2001 1. ***Setiyaji (1995).20609 1. Jawa Barat*** Pertanian Agroindustri 4.1719 1.48422 Koefisien Penyebaran 1. Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Dampak Penyebaran Penelitian Wilayah 1. ****Setyawan (2005).14 kemampuan untuk mendorong pertumbuhan sektor yang menyediakan input bagi keperluan proses produksi dibandingkan dengan kepekaannya dalam menciptakan kenaikan output apabila terjadi peningkatan satu-satuan permintaan akhir terhadap sektor industri. Ada beberapa hal yang dapat diidentifikasi dalam penelitian-penelitian tersebut yaitu: (1) Koefisien penyebaran menunjukkan . Pengolahan 3.3 menyajikan informasi mengenai koefisien dan kepekaan penyebaran. **Sahara (1998) .2698 1.74816 1.2908 1. Indonesia* Agroindustri Non Agroindustri 2. Tabel 2. Jepara**** Ind.3.1376 1. dan (2) Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan sektor industri pengolahan lebih kecil dibandingkan dengan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakangnya.21765 1.38525 1988 0. Hal ini berarti sektor/sub sektor industri pengolahan secara langsung dan tidak langsung lebih kuat mendorong pertumbuhan sektor yang menyediakan input untuk keperluan proses produksinya dibandingkan dengan kemampuannya untuk mendorong peningkatan produksi terhadap sektor yang membutuhkan input dari sektor ini. Selanjutnya pada Tabel 2.

2.15 kemampuan suatu sektor dalam perekonomian untuk mendorong sektor hilirnya sedangkan kepekaan penyebaran menunjukkan kemampuan suatu sektor untuk menarik sektor hulunya. Peneliti juga melihat bahwa penelitian tentang industri kertas di Indonesia berdasarkan Analisis Input-Output belum pernah dilakukan. hal ini terbukti dari nilai koefisien dan kepekaan penyebaran yang mempunyai nilai lebih besar dari satu (kecuali pertanian di Jawa Barat). Secara umum keempat penelitian mengenai koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran tersebut mempunyai peranan penting dalam pembangunan wilayah.5. Model Input-Output Menurut BPS (2000) pengertian Tabel Input-Output (Tabel I-O) adalah suatu tabel yang yang menyajikan informasi tentang transaksi barang dan jasa . Studi literatur yang telah dilakukan menunjukkan bahwa analisis I-O telah banyak digunakan sebagai alat untuk penelitian. dan (2) Kepekaan penyebaran industri pengolahan DKI Jakarta lebih besar dibandingkan kabupaten Jepara. industri pengolahan DKI Jakarta mempunyai kemampuan untuk menarik industri hulunya dibandingkan dengan kabupaten Jepara.5. Kerangka Pemikiran Teoritis 2. Besarnya kepekaan penyebaran industri pengolahan di DKI Jakarta tersebut menunjukkan bahwa sektor industri pengolahan di wilayah tersebut bersifat ekspansif yaitu mampu melakukan perluasan pasar dan mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah dibandingkan dengan Jepara dan apabila dilihat dari koefisien penyebaran.1.

Sejak dirilis oleh Leontief pada tahun 1930-an. tidak hanya untuk mendeskripsikan struktur suatu perekonomian tetapi juga mencakup cara untuk memprediksi perubahan-perubahan struktur tersebut. Keseragaman (homogenity).16 yang terjadi antar sektor ekonomi dengan bentuk penyajian berupa matrik. sedangkan isian sepanjang kolomnya menunjukkan struktur penciptaan input yang digunakan oleh setiap sektor dalam proses produksi. yaitu asumsi bahwa setiap sektor ekonomi hanya memproduksi satu jenis barang atau jasa dengan susunan input tunggal . Tabel I-O bersifat statis dan terbuka. baik yang berupa input antara maupun input primer. Isian sepanjang baris Tabel I-O menunjukkan pengalokasian output yang dihasilkan oleh suatu sektor untuk memenuhi permintaan antara dan permintaan akhir. 2000) Data yang disajikan dalam Tabel I-O merupakan informasi rinci tentang input dan output sektoral yang mampu menggambarkan keterkaitan antar sektor dalam kegiatan perekonomian. Leontief mengemukakan bahwa Tabel I-O termasuk dalam model General Equilibrium. dan pada baris nilai tambah yang menunjukkan komposisi penciptaan nilai tambah sektoral. Sesuai dengan asumsi dasar yang digunakan dalam proses penyusunannya. Tabel I-O telah berkembang menjadi salah satu metode paling luas diterima. Sifat keseimbangan inilah yang merupakan salah satu kelebihan Tabel I-O yang dibandingkan dengan alat analisa lainnya dalam ilmu ekonomi perencanaan dan pembangunan (BPS. Adapun asumsi dasar penyusunan Tabel I-O adalah : 1.

17 (seragam) dan tidak ada substitusi otomatis terhadap input dan output sektor yang berbeda 2. Beberapa kegunaan Tabel I-O antara lain adalah : 1. Untuk melihat komposisi penyediaan dan penggunaan barang dan jasa terutama dalam analisis terhadap kebutuhan impor dan kemungkinan substitusinya. Karena koefisien teknis dianggap konstan. Untuk memperkirakan dampak permintaan akhir terhadap output. 3. Berdasarkan asumsi tersebut maka Tabel I-O sebagai model kuantitatif memiliki keterbatasan. Kesebandingan (proportionality). Namun demikian. maka teknologi yang digunakan oleh sektor-sektor ekonomi dalam proses produksi pun dianggap konstan. yaitu asumsi bahwa hubungan antar input dan output pada setiap sektor produksi merupakan fungsi linear. Akibatnya perubahan kuantitas dan harga input akan selalu sebanding dengan perubahan kuantitas dan harga output. penerimaan pajak. Tabel I-O masih merupakan alat analisis yang lengkap dan komprehensif. Penjumlahan (additivity). dan penyerapan tenaga kerja di sektor industri. yaitu asumsi bahwa total efek dan kegiatan produksi di berbagai sektor merupakan penjumlahan dari efek pada masing-masing kegiatan. nilai tambah impor. yaitu koefisien input atau koefisien teknis diasumsikan tetap (konstan) selama periode analisa atau proyeksi. 2. artinya kenaikan dan penurunan output suatu sektor akan sebanding dengan kenaikan dan penurunan input yang digunakan oleh sektor tersebut. .

baik berupa produksi dalam negeri maupun barang impor atau yang berasal dari luar wilayah tersebut. 5. 4. Struktur Tabel Input-Output Format Tabel I-O terdiri dari suatu kerangka matrik berukuran n x n dimensi yang dibagi menjadi empat kuadran dan tiap kuadran mendiskripsikan suatu hubungan tertentu. dan ekspor. Struktur perekonomian suatu wilayah yang mencakup output dan nilai tambah masing-masing sektor. Struktur permintaan barang dan jasa. maka disajikan format Tabel I-O pada Tabel 2. 3.18 3. . Untuk menggambarkan perekonomian suatu wilayah dan mengidentifikasikan karakteristik struktural suatu perekonomian wilayah. baik berupa permintaan oleh berbagai sektor produksi maupun permintaan untuk konsumsi.4 di bawah ini. investasi. Untuk analisis perubahan harga. 2. yaitu dengan melihat pengaruh secara langsung dan tidak langsung dari perubahan harga input terhadap output. Struktur penyediaan barang dan jasa. 4. 2. Struktur input antara yaitu transaksi penggunaan barang dan jasa antar sektorsektor produksi.5. Untuk mengetahui sektor-sektor yang pengaruhnya paling dominan terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor-sektor yang peka terhadap pertumbuhan perekonomian. Sebagai metode kuantitatif Tabel I-O memberikan gambaran menyeluruh tentang: 1.2. Untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap.

Permintaan n x1n x2n x3n . Isian sepanjang baris pada ilustrasi Tabel I-O tersebut memperlihatkan bagaimana output dari suatu sektor dialokasikan. 2000. Apabila Tabel 2. yaitu sebagian untuk memenuhi permintaan antara dan sebagian lainnya untuk memenuhi permintaan akhir. Sedangkan isian sepanjang kolomnya menujukkan pemakaian input antara dan input primer oleh suatu sektor. Struktur Tabel Input-Output Alokasi Output Susunan Input 1 2 Input Sektor 3 . Jumlah Output X1 X2 X3 . . … … … Akhir F1 F2 F3 .xn1 Permintaan Antara Sektor Produksi 2 x12 x22 x32 .3. xn2 V2 X2 xnn Vn Xn Fn V1 X1 Sumber : Tabel I-O Indonesia.19 Tabel 2.4 di atas dilihat secara baris (bagian horisontal) maka alokasi output secara keseluruhan dapat dituliskan dalam bentuk persamaan aljabar sebagai berikut: X11 + X12 + … X1n + F1 = X1 X21 + X22 + … X2n + F2 = X2 : : : : : Xn1 + Xn2 + … Xnn + Fn = Xn atau dalam bentuk persamaan umum dapat dituliskan sebagai : . BPS. Xn … … … … . N Jumlah Input Primer Jumlah Input Antara produksi 1 x11 x21 x31 .

maka persamaan aljabar untuk input yang digunakan oleh masing-masing sektor dapat dituliskan sebagai berikut : X11 + X21 + … + Xn1 + V1 = X1 X12 + X22 + … + Xn2 + V2 = X2 : : : : : X1n + X2n + … + Xnn + Vn = Xn atau dalam bentuk persamaan umum dapat dituliskan sebagai : ∑ Xij + Vj = Xj .1) Apabila angka-angka dibaca menurut kolom. 3. Berdasarkan ilustrasi Tabel Input-Output. Dalam Analisa I-O kuadran ini memiliki peran yang sangat penting karena kuadran inilah yang .2) Dalam analisis I-O sistem persamaan di atas memiliki peran penting. untuk semua j = 1. Secara umum matrik dalam Tabel I-O dapat dibagi menjadi 4 kuadran. sebagai berikut : 1. dst Dimana : Xij = output sektor i yang digunakan sebagai input sektor j Fi = permintaan akhir terhadap sektor i Xi = jumlah output sektor i (2. dst (2. yaitu sebagai dasar analisa ekonomi mengenai keadaan perekonomian suatu wilayah. maka angka pada kolom (sektor) itu menunjukkan berbagai input yang diperlukan dalam proses produksi pada sektor tersebut. 2. khususnya pada transaksi antara. 3. 2.20 ∑ Xij + Fi = Xi . yaitu transaksi barang dan jasa yang digunakan dalam proses produksi. Kuadran I (intermediate quadrant) Setiap sel pada kuadran I merupakan transaksi antara. untuk semua i = 1.

2. perubahan stok dan ekspor. 3. pajak tak langsung. 4. Permintaan akhir adalah output suaru sektor yang langsung digunakan oleh rumah tangga. sehingga dalam penyusunan Tabel I-O sering diabaikan. Kerangka Pemikiran Konseptual Strategi pengembangan yang menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi menganggap bahwa kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan dengan cepat . pembentuk modal tetap. pemerintah. Informasi di Kuadran IV ini bukan merupakan tujuan pokok. Kuadran II (final demand quadrant) Menunjukan penjualan barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor-sektor perekonomian untuk memenuhi permintaan akhir. 2. surplus usaha dan penyusutan. Jumlah keseluruhan nilai tambah ini akan menghasilkan produk domestik bruto yang dihasilkan oleh wilayah tersebut.21 menunjukkan keterkaitan antara sektor ekonomi dalam melakukan proses produksinya. Kuadran III (primary input quadrant) Menunjukkan pembelian input yang dihasilkan di luar sistem produksi oleh sektor-sektor dalam kuadran antara. Kuadran IV (primary input-final demand quadrant) Merupakan kuadran input primer permintaan akhir yang menunjukkan transaksi langsung antara kuadran input primer dengan permintaan akhir tanpa melalui sistem produksi atau kuadran antara.6. Kuadran ini terdiri dari pendapatan rumah tangga (upah/gaji).

Peningkatan pendapatan ini sekaligus mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat (Setyawan. melalui suatu proses yang disebut sebagai penetesan ke bawah (trickle down effect) akan menyebabkan peningkatan pendapatan berbagai golongan masyarakat di negara (wilayah) bersangkutan. pada penelitian ini akan dilihat tentang peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian nasional. sektor industri pengolahan lebih banyak dapat menyediakan lapangan kerja dan mempunyai aktifitas ekonomi yang lebih intensif untuk satuan unit usaha bila dibandingkan dengan unit usaha sektor lainnya. Dalam menganalisis peranan sektor industri kertas teradap perekonomian Indonesia ini digunakan analisis I-O dengan berbagai . Peningkatan output berbagai sektor ekonomi. Sehubungan dengan itu.22 melalui peningkatan satu atau beberapa sektor ekonomi kunci. kemudian. Sektor industri ini dijadikan unggulan untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian mengingat dalam kondisi sekarang ini. 2005). Kebijakan prioritas pembangunan sektor industri pengolahan khususnya industri kertas merupakan upaya pemerintah Indonesia dalam mewujudkan perekonomian yang lebih baik untuk kesejahteraan masyarakat. Selain itu sektor ini juga dianggap sebagai sektor yang mampu meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan pendapatan masyarakat pada tingkat yang layak dari sebelumnya. Peningkatan output sektor kunci tersebut akan ikut meningkatkan output sektor-sektor lainnya melalui proses keterkaitan (linkages) dan dampak penyebaran antar sektor. karena tentunya kebijakan yang ditetapkan tersebut mengharapkan hasil pada perkembangan ekonomi yang lebih baik dari sebelumnya.

Dengan teridentifikasinya peranan sektor industri kertas melalui proses keterkaitan dengan sektor-sektor lain baik sebagai pengguna input maupun penghasil output. kemampuan mendorong dan menarik sektor hulu-hilirnya. Pada akhirnya dapat dijadikan acuan pemerintah Indonesia sendiri dalam menentukan kebijakan pembangunan ekonomi Indonesia ke depan sehingga permasalahan pembangunan seperti kemiskinan dan pengengguran dapat diturunkan. dan perannya dalam sektor kunci perekonomian seperti yang terlihat pada gambar 1.23 keterbatasan analisis yang telah disebutkan pada bab sebelumnya. . maka diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas bagi pemerintah Indonesia tentang perkembangan sektor yang menjadi prioritas ini dalam mengatasi berbagai masalah yang berkaitan dengannya. Adapun alur konsep pemikiran dapat dilihat pada gambar 1.

Bagan Alur Pemikiran Konseptual .24 Perekonomian Indonesia Perubahan Struktur Perekonomian Industri Kertas Kemampuan mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya (Analisis Dampak Penyebaran) Keterkaitan dengan sektor lain dalam hubungannya sebagai pengguna input dan penghasil output (Analisis Keterkaitan) Sektor Kunci Perekonomian (Elastisitas Input-Output) Peran Industri Kertas Kebijakan Pembangunan Industri Keterangan : ( Ruang lingkup penelitian ) Analisis yang digunakan Gambar 1.

model analisis ini .III.1. dampak penyebaran dan elastisitas input-output. Pendekatan model I-O yang digunakan adalah model sisi permintaan (demand-side model). Penggunaan tabel I-O Indonesia tahun 2000 tersebut dikarenakan tabel I-O tersebut merupakan tabel terbaru selama penelitian ini berlangsung. hal ini dikarenakan faktor permintaan merupakan faktor eksogen yang mempengaruhi perekonomian. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Pada analisisnya nanti dapat terlihat bahwa perekonomian dapat tumbuh apabila terdapat dorongan atau peningkatan pada permintaan akhir yang eksogen tersebut. dampak penyebaran dan elastisitas ini alat yang digunakan adalah Microsoft Excel 2003. METODE PENELITIAN 3. Oleh karenanya. kemampuan untuk mendorong atau menarik sektor hulu dan hilirnya serta perannya dalam sektor kunci perekonomian dapat di kaji berdasarkam analisis keterkaitan. Pada analisis keterkaitan.2. Metode Analisis Untuk mengetahui peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia ini sebagai sektor penyedia input maupun sebagai sektor pemakai input. Data yang digunakan antara lain berasal dari Tabel Input-Output (I-O) transaksi domestik atas dasar harga produsen tahun 2000 klasifikasi 175 sektor dari Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat yang kemudian diagregasi oleh penulis menjadi 22 sektor dan beberapa data sekunder lainnya dari instansi dan dinas terkait lainnya. 3.

Dengan demikian dapat disusun matriks sebagai berikut : a11 X1 + a12 X2 +………+ a1n Xn + F1 = X1 a21 X1 + a22 X2 +………+ a2n Xn + F2 = X2 : : : : : an1 X1 + an2 X2 +………+ ann Xn + Fn = Xn Atau persamaan tersebut dapat disederhanakan menjadi : a11 …….26 sering pula disebut dengan dengan model yang dikendalikan oleh sisi permintaan (demand-driven model). 3..2) AX + F = X Atau F = X . Secara matematik dapat dituliskan : aij = Xij (3. a2n : A : a31 …….3) (3. koefisien input atau koefisien teknologi merupakan perbandingan antara jumlah output sektor i yang digunakan dalam sektor j (Xij) dengan input total sektor j (Xj).AX . Koefisien Input Pada Tabel I-O.… ann X1 X2 : X3 X + F1 F2 : Fn F = X1 X2 : Xn X (3.2.1. Koefisien ini dapat diterjemahkan sebagai jumlah input dari sektor i yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit output sektor j. a1n a21 …….1) Xj Dimana : aij adalah koefisisen input.

2. Jika ditulis dalam bentuk persamaan. F = Permintaan akhir. Analisis Keterkaitan (linkages) Koefisien keterkaitan sangat berguna dalam penyusunan prioritas sektor perekonomian untuk mencapai tujuan pembangunan. X = Output.A )-1F (3. Beberapa jenis koefisien keterkaitan yang sering digunakan dalam analisis ekonomi wilayah sektoral antara lain adalah keterkaitan langsung ke depan dan ke belakang serta keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan dan ke belakang. maka dapat dituliskan sebagai berikut : AX + F = X Atau F = X .5) Dimana : I = Matriks identitas berukuran nxn yang elemennya memuat angka satu pada diagonalnya dan nol pada selainnya.27 Jika terdapat perubahan pada permintaan akhir. 3. 1. Keterkaitan Langsung ke Depan Keterkaitan langsung ke depan menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menggunakan sebagian output tersebut secara . ( I – A ) = Matriks Leontief.AX X = ( I . ( I – A )-1 = Matriks kebalikan Leontief.2. Dalam analisis input-output matriks kebalikan Leontief memiliki peranan yang sangat penting sebagai alat analisis ekonomi yang mencerminkan efek langsung dan tidak langsung dari perubahan permintaan akhir terhadap output sektor-sektor di dalam perekonomian. maka akan ada perubahan pola pendapatan nasional.

dengan rumus sebagai berikut: n KDi = ∑ aij j=1 Dimana: KDi = Keterkaitan langsung ke depan = Unsur matrik koefisien teknis aij 2. Untuk mengetahui besarnya keterkaitan langsung ke depan.7) (3. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ke Depan Analisa keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan mengukur akibat dari adanya suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menggunakan output sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung per unit kenaikan permintaan total. KDLTi = ∑ α ij j =1 n (3. n KBj = ∑ aij i=1 Dimana: KBj = Keterkaitan langsung ke belakang = Unsur matrik koefisien teknis aij 3.8) Dimana: KDLTi = keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan sektor i ij = unsur matrik kebalikan Leontief model terbuka .6) (3.28 langsung per unit kenaikan permintaan total. Keterkaitan Langsung ke Belakang Keterkaitan langsung ke belakang menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menyediakan input antara bagi sektor tersebut secara langsung per unit kenaikan permintaan total.

Analisis ini disebut dampak penyebaran yang terbagi dua yaitu kepekaan penyebaran dan koefisien penyebaran.2. Indikator-indikator tersebut tidak dapat diperbandingkan antar sektor karena peranan permintaan akhir setiap sektor tidak sama. KBLTj = ∑α ij i =1 n (3. Analisis Dampak Penyebaran Indeks keterkaitan langsung dan tidak langsung baik ke depan maupun ke belakang di atas belumlah memadai dipakai sebagai landasan pemilihan sektor kunci.3.29 4.10) Dimana: BLTLj = Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang = Unsur matrik kebalikan Leontief terbuka αij 3. Oleh karena itu kedua indeks tersebut haruslah dinormalkan dengan cara membandingkan rata-rata dampak yang ditimbulkan oleh sektor tersebut dengan rata-rata dampak seluruh sektor. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ke Belakang Analisa keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang menyatakan akibat suatu sektor-sektor yang menyediakan input antara bagi sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung per unit kenaikan permintaan total. Analisa ini menunjukkan koefisien kaitan yang memberikan gambaran tentang pengaruh yang ditimbulkan oleh suatu unit permintaan akhir untuk semua sektor didalam suatu sistem perekonomian. Koefisien Penyebaran (Coefficient of Dispersion) Koefisien penyebaran tersebut juga indeks daya penyebaran ke belakang. Koefisien penyebaran merupakan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang yang dinormalkan dengan sektor dan . 1.

Kepekaan penyebaran merupakan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan yang dinormalkan dengan jumlah sektor dam jumlah seluruh koefisien matrik kebalikan Leontief. Kepekaan Penyebaran (Sensitivity of Dispersion) Kepekaan penyebaran disebut juga indeks daya penyebaran ke depan.11) ij Dimana: = Kepekaan penyebaran sektor i Sdi ij = Unsur matrik kebalikan Leontief . Secara matematis dituliskan dalam bentuk rumus sebagai berikut: n∑ α ij n Pdj = ∑∑ α ij i =1 j =1 n i =1 n (3. Kepekaan penyebaran ini memberikan gambaran tentang pengaruh yang timbul oleh suatu unit permintaan akhir terhadap semua sektor di dalam perekonomian. Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: n∑ α ij Sdi = j =1 n n ∑∑ α i =1 j =1 n (3.10) Dimana: Pdj = Koefisien penyebaran sektor j ij = Unsur matrik kebalikan Leontief 2.30 jumlah seluruh koefisien matrik kebalikan Leontief.

Elastisitas Input-Output Elastisitas input-output menyediakan pandangan baru untuk penentuan sektor prioritas. Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: ⎤ ⎡ ET xyj = ⎢∑ l i / x j )bij /(l j / x j )⎥ (y j / x) ⎦ ⎣ i Dimana: ET xyj = Elastisitas tenaga kerja (3.31 3.12) = ∑x j b ij yj = Elemen matriks Leontief = Permintaan akhir sektor j 2. Pendekatan ini mempermudah policy makers untuk berkonsentrasi tidak hanya pada nilai-nilai keterkaitan dan multiplier tertinggi tetapi juga pada share suatu sektor ekonomi.4. Pendekatan ini dianggap lebih baik daripada analisis keterkaitan dan analisis multiplier karena memperhitungkan share suatu sektor dalam output. Elastisitas Tenaga Kerja Elastisitas tenaga kerja adalah perubahan persentase tenaga kerja suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. Elastisitas Output Elastisitas Output adalah perubahan persentase dalam total output suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya.13) . Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: EO xyj = Dimana: EO xyj = Elastisitas output x ∑b i ij ( y j / x) (3.2. 1.

Elastisitas Pendapatan Elastisitas pendapatan adalah perubahan persentase dalam pendapatan suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya.32 = Jumlah tenaga kerja li l i / x j = Koefisien tenaga kerja 3.14) Dimana: EP xyj = Elastisitas Pendapatan hj = Upah dan gaji hi / x j = Koefisien pendapatan . Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: ⎡ ⎤ EP xyj = ⎢∑ hi / x j )bij /(h j / x j )⎥ ( y j / x) ⎣ i ⎦ (3.

IV. Ketiga produsen besar industri pulp dan kertas tersebut adalah. Oleh karena itu.180 ton.666.500 ton (Tabel 4.1. Group Sinar Mas. sampai dengan tahun 2003. GAMBARAN UMUM INDUSTRI 4. sektor industri ini membutuhkan investasi baru atau industri ini harus meningkatkan efisiensi agar dapat bersaing dengan industri asing. Sekitar 64 perusahaan berlokasi di pulau Jawa. Perusahaan-perusahaan tersebut terdiri dari 65 perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). investasi dalam negeri swasta sebesar 5. Menurut Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI). Indonesia mempunyai 77 perusahaan produsen kertas dan 10 diantaranya terintegrasi dengan pabrik pulp. 12 perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) dan 3 perusahaan negara. jumlah perusahaan di Indonesia yang memproduksi pulp dan kertas adalah tiga kelompok perusahaan besar.045. Industri kertas memiliki kapasitas total sebesar 10.900 ton. Untuk memenuhi kebutuhan kertas tersebut. Jumlah perusahaan tersebut belum mampu mencukupi konsumsi domestik.580 ton yang terdiri dari kapasitas terpasang perusahaan swasta-negara sebesar 337.041. minimal harus ada tambahan beberapa perusahaan lagi untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. dan investasi luar negeri sebesar 4. dan dapat memenuhi kebutuhan kertas dalam negeri yang terancam kekurangan pasokan dalam sepuluh tahun mendatang (Mansur. Group Raja Garuda Mas dan Barito Pasifik.1). 2005). 14 perusahaan di Sumatera dan dua perusahan berlokasi di Kalimantan. . Profil Industri Kertas Saat ini.

041. 2003).7 19.000 3.045.554. Profil Industri Pulp dan Kertas Indonesia Tahun 2003 Status/Lokasi Jumlah Perusahaan 3 65 12 80 10 3 67 80 Kapasitas Terpasang Pulp (Ton) 240.580 100 5.100 1.900 5.100 2. 2003. 4.382.666.5 100 25.2 14.287. .8 52.9 100 85.580 74.000 Kalimantan 2 564.215.500 Sumatera 14 5.580 8. Pada periode yang sama ekspor kertas juga meningkat sekitar 19.6 9.7 persen per tahun (Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.725.287.8 100 Kapasitas Terpasang Kertas (Ton) 337.3 100 80.322.100 5.180 4.000 6.580 2.4 50.2 46. hal ini terjadi didasarkan pada ketersediaan bahan baku dan upah tenaga kerja yang murah di dalam negeri.000 Kertas % 3.1 Perusahaan Negara Swasta Investasi Dalam Negeri Swasta Investasi Luar Negeri Total Integrated (Pulp dan Kertas) Non Integrated Pulp Kertas Total Jawa 64 340.8 persen pada periode 19972001.34 Tabel 4. Sementara konsumsi kertas juga meningkat 4.100 Pulp % 3. tetapi industri kertas tetap melanjutkan perkembangannya dengan pertumbuhan sekitar 9.045.000 6.440 1.528.4 85.100 Sumber : Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.600 Total 80 6.3 7.8 43.287.140 10. Perkembangan Industri Kertas Industri kertas tumbuh dan berkembang lebih baik bila dibandingkan dengan kebanyakan industri lain di Indonesia.045.500 10.491.072.1.2.517. Industri-industri yang mengandalkan bahan baku impor tetap mengalami kemerosotan pertumbuhan.0 100 10.1 persen per tahun.

para investor telah menunjukkan ketertarikan yang kecil pada sektor ini karena industri ini telah menjadi capital intensive dan birokrasi yang rumit pasca otonomi daerah. Pada tahun 2003 kapasitas produksi yang dimiliki industri kertas baru sekitar mencapai 10.0 kg 2003 25.0 kg Sumber: Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia. 2003. bila dalam 10 tahun mendatang kapasitas industri kertas tidak bertambah. namun jika kebutuhan kertas di dalam negeri naik hingga mencapai 50 Kg per kapita. Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) mengkhawatirkan Indonesia akan mengalami kekurangan pasokan kertas.8 kg 2001 23.2.3 kg 2002 24.3 juta ton pertahun sedangkan konsumsi per kapitanya pada akhir 2003 telah mencapai 25 Kg (Tabel 4.1 kg 1999 19.0 kg 1996 16. Nilai konsumsi per kapita ini memang lebih kecil bila dibandingkan dengan negara lain contohnya Malaysia yang sudah mencapai ratusan kilogram per kapita.2). industri kertas harus mengimpor kertas senilai US$ 7 miliar/tahun.35 Tabel 4.9 kg 1998 14.0 kg 1995 14. Disamping kinerja yang menggembirakan dalam industri kertas ini.3 kg 1997 16. Konsumsi Kertas Per Kapita Penduduk Indonesia Tahun 1993-2003 Tahun Konsumsi Kertas / Kapita 1993 11.6 kg 2000 20. Masalahnya setiap tahun konsumsi kertas dalam negeri terus meningkat dengan angka rata-rata sekitar 6 persen per tahun. Untuk mengatasi kebutuhan konsumsi kertas yang terus .1 kg 1994 13.

4.32 persen dari keseluruhan kapasitas terpasang industri kertas. Industri kertas yaitu khususnya perusahaan-perusahaan besar dalam industri ini mempunyai kecenderungan untuk berintegrasi dengan perusahaan penyedia bahan baku yaitu industri pulp. Dari 77 perusahaan kertas pada tahun 2003.3. . masih menjadi kelemahan bagi sebagian besar produsen kertas Indonesia.36 meningkat maka harus ada investasi baru atau industri yang ada harus meningkatkan efisiensi. 2002) Dilihat dari pangsa produksi dan ekspor penguasaan jaringan pasar luar negeri. Integrasi Vertikal dan Pasar Industri Kertas Indonesia Di Indonesia industri kertas mempunyai karakteristik sebagai industri skala besar.08 persen dari total kapasitas terpasang seluruh industri pulp. Sedangkan kapasitas terpasang industri kertas pada perusahaan pulp dan kertas yang terintegrasi mencapai 21. Dengan kecenderungan ini hampir seluruh output industri pulp disalurkan pada industri kertas didalam negeri sedangkan ekspor hanya merupakan pasar kedua. tujuh diantaranya adalah perusahaan kertas yang terintegrasi (tabel 4. Kapasitas terpasang industri pulp yang terintegrasi dengan perusahaan kertas mencapai 66.1). Integrasi vertikal ini dianggap penting karena integrasi vertikal oleh perusahaan kertas akan meningkatkan efisiensi perusahaan dalam industri kertas tersebut karena dapat mengamankan pasokan bahan baku dan meminimumkan biaya transaksi dalam rangka untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan terhadap produk kertasnya (Karseno dan Mulyaningsih.

4. PT. 2002). dan India.4. Pertama.).37 Meskipun demikian beberapa (grup) perusahaan telah mencoba menembus pasar luar negeri. Begitu juga dengan Tanoto dan Tanjung Enim Lestari (TEL) yang mengibarkan bendera APRIL (Asia Pacific Resources International Holding Ltd. Kedua kelompok ini memilih Singapura sebagai kantor pusat perusahaan mereka. Malaysia. Kelompok Sinar Mas memasuki pasar Asia dengan mendirikan kelompok perusahaan melalui bendera APP (Asia Pulp and Paper) di negara Singapura. Selain itu pasar dalam negeri juga perlu dikaji karena merupakan basis untuk memperkuat daya saing secara nasional (Rosadi dan Vidyatmoko. Pasar bebas tersebut akan memaksa para produsen pulp dan kertas Indonesia untuk mampu bersaing memperebutkan pasar Asia Pasifik yang terbuka. dengan melakukan ekspansi ke negara-negara di kawasan ini. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis mengenai kondisi pasar luar negeri terutama pasar Asia dan bagaimana strategi untuk memasuki dan mengembangkan pasar di kawasan tersebut. Pentingnya jaringan pemasaran lebih dipicu terutama menjelang diberlakukan pasar bebas di kawasan Asia Tenggara (AFTA) tahun 2003 dan kawasan Asia Pasifik (APEC) tahun 2010. Profil Beberapa Perusahaan Kertas Indonesia Sampai dengan tahun 2003 dalam industri kertas terdapat tiga perusahaan yang memiliki proporsi kapasitas pabrik terhadap kapasitas total industri yang melebihi 10 persen. Kawasan Asia Pasifik merupakan kawasan dengan pasar pulp terbesar di dunia. Indah Kiat Pulp & Paper Corp. yang menguasai . terutama pasar Asia. Cina.

000 85.000 1.500 93.400 60. Pelita Cengkareng Paper Co.9 1. Kertas Leces (Persero) PT. kemudian disusul oleh PT.3). Selain ketiga perusahaan itu group Sinar Mas masih mempunyai perusahaan kertas lainnya yaitu PT. dan perusahaan ketiga adalah PT. Pindo Deli & Paper Mills sebesar 14.200 150.111.000 486. Riau Andalan Kertas PT. Kapasitas Terpasang Perusahaan Industri Kertas Tahun 2003 Nama Perusahaan PT. Tabel 4.8 1. PT.000 150.000 150. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia PT. Pindo Deli Pulp & Paper Mills PT. Indah Kiat Pulp& Paper Corp PT.5 persen dari total kapasitas industri.4 0.5 1.000 150.4 4.5 6. Aspex Kumbong PT. Fajar Surya Wisesa PT.3.8 14.000 50.2 persen.986. Gede Karang PT.000 430. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry yang berlokasi di Langsa.000 157. Tiga perusahaan pemilik kapasitas terbesar tersebut dimiliki oleh group yang sama yaitu Sinar Mas Group.000 350. Papyrus Sakti PT.000 1. . Surabaya Mekabox Ltd. PT.000 500.4 4.465.2 3. Pakerin PT. Pura Barutama PT.4 10. Keempat perusahaan yang tergabung dalam group Sinar Mas ini memiliki karaktristik yang sama yaitu semuanya merupakan perusahaan kertas yang terintegrasi vertikal dengan pabrik kertasnya.000 Persentase (%) 20.1 persen (Tabel 4.000 2.044. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia dengan proporsi sebesar 10. Suparma PT.000 700.7 4. Tanjungenim Lestari Pulp & Paper PT. Surabaya Agung PT. Papertech Indonesia Lain-lain Kapasitas Terpasang (Ton) 2.5 0.1 1.6 28.4 0.800 450.9 1.38 20.2 1.4 0. NAD. Ekamas Fortuna PT.9 Sumber : Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.8 4.800 195. Adiprima Suraprinta PT. 2003.

744.722 Ha . 525 Tanggal 14 Februari 1978 (Bank Niaga. yang menempati lahan seluas 28 Ha. perusahaan kertas ini mengantisipasinya dengan meningkatkan kapasitas produksinya sehingga saat ini menjadi 1. masyarakat menguasai 38. 2005).000 ton kertas industri per tahun dan 100.68 tanggal 7 Desember 1976 yang disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Keputusan No.000 ton corrugated boxes per tahun. Dengan semakin meningkatnya permintaan atas produksi kertas. Riau seluas 1.631.39 1) PT. PT. dan didaftarkan di Kantor Pengadilan Negeri Jakarta No. Indah Kiat Pulp & Paper melakukan usahanya secara komersil dengan memproduksi pulp. kertas industri dan corrugated carton boxes (sejenis dus karton. Pada saat ini.000 ton pulp per tahun.4).000 ton kertas budaya per tahun. Indah Kiat Pulp & Paper dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards yang terdiri dari dewan komisaris dengan presiden komisarisnya yaitu Indra Widjaja dan dewan direksi dengan direktur utamanya yaitu Teguh Ganda Widjaja. PT. terutama pabrik kertas budaya di Tangerang. pabrik pulp dan kertas budaya di Perawang.5/50/2 tanggal 9 Februari 1978. dengan kertas bergelombang sebagai peredam benturan). kertas budaya.78 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan perusahaan ini (Tabel 4. Pada susunan pemegang saham.A.Y. 980. perusahaan tersebut memiliki dan menguasai beberapa sarana dan prasarana yang digunakan untuk menjalankan berbagai kegiatan usahanya. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk Perusahaan ini didirikan di Jakarta dengan Akta Notaris Ridwan Suselo No.

K. Boards PT. Hong : 0. Fasilitas produksi perusahaan juga didukung dengan berbagai fasilitas dan prasana seperti jalan. Co.40 dan pabrik kertas industri di Serang Jawa Barat seluas 308.05% Kong Masyarakat : 38. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk per 30 September 2004 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Ir. Presiden Komisaris Wakil Presiden Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris .56% British Virgin Island Yuen Foong Yu H. Phd.78% Sumber: Bank Niaga.88% Virgin Island YFY Global Investment (BVI) Corp. Ltd.4.72% CHP International (BVI) Corp. Ryani Soedirman : Mas Achmad Daniri : Prof.9 Ha. Dr.. mess karyawan dan lain-lain. Gandi Sulistiyanto Soeherman : Show Chung Ho : Kuo Cheng Shyong : Raymond Liu. : Lo Shang Shung : Hj. Tabel 4. : 2. British : 5. 2005. Teddy Pawitra : Kamardy Arief : Let Jend (Purn) Soetedjo Dewan Direksi Presiden Direktur : Teguh Ganda Widjaja Wakil Presiden Direktur : Muktar Widjaja Wakil Presiden Direktur : Hendra Jaya Kosasih Wakil Presiden Direktur : Chen Wang Chi Wakil Presiden Direktur : Yudi Setiawan Lin Direktur : Suresh Kilam Direktur : Didi Harsa Direktur : Agustian Rachmansjah Partawidjaja Susunan Pemegang Saham PT Purinusa Ekapersada : 52.

dengan Akta No.5 tanggal 3 April 1975.59 tanggal 26 April 1975.75 tanggal 31 Januari 1975. salah satu bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi kertas. sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No.5). Akta Perubahan No. Pindo Deli Pulp & Paper Mills ini memulai konstruksi pabrik kertasnya yang kedua (Pindo 2) yang berlokasi di Kuta Mekar. 2005). Karawang (Pindo 1).41 2) PT.000 ton per tahun. Saat ini perusahaan kertas ini memiliki sebuah pabrik kertas yang berlokasi di Adiarsa.6 tahun 1968 tentang PMDN. Selain itu perusahaan ini juga mempunyai fasilitas pabrik pembuatan bahan kimia calcium carbonate.6 tanggal 4 Juli 1975 dan Akta Perubahan No.69 tanggal 25 Februari 1976 (Bank Niaga.000 ton per tahun. PT.12 tahun1970. 2005). . Akta Perubahan No. Pindo Deli Pulp & Paper Mills PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills didirikan di Jakarta dalam rangka Undang-undang No. Perusahaan kertas ini dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards (dua dewan perusahaan) dan kepemilikan saham terbesar perusahaan ini dikuasai oleh PT Purinusa Ekapersada sebesar 97. Akta Perubahan No.57 persen dari total saham yang dikeluarkan PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills tersebut (Tabel 4. berlokasi di lokasi Pindo 1 dengan kapasitas produksi terpasang sebesar 48. Total kapasitas produksi terpasang pabrik kertas milik perusahaan ini adalah sebesar 210. dengan jumlah kapasitas produksi terpasang sebesar 652. Pada Oktober 1995. Karawang dengan menambah tiga Paper Machine serta sebuah Corrugated Machine.000 ton per tahun dan telah berproduksi sejak bulan Maret 1996 (Bank Niaga.

6 Tahun 1968 juncto Undang-undang No.6). Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards (dua dewan direksi) dan pada susunan pemegang saham.91% : 0. Jhon Ferdinand Pandelaki : Yudi Setiawan Lin : Let Jend (Purn) Soetedjo : Hajjah Ryani Soedirman : Arthur Tahya Dewan Direksi : Teguh Ganda Wijaja : Muktar Widjaja : Hendra Jaya Kosasih : Suresh Kilam : Tsai Huan Chi : Huang Wen Hai : Tri Ramadi Susunan Pemegang Saham : 97. Boards PT.57% : 0. Pindo Deli Pulp & Paper Mills per 30 September 2004. Perusahaan ini merupakan bagian kelompok usaha Sinar Mas. Komisaris Utama Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Direktur Direktur PT Purinusa Ekapersada PT Mega Kleenindo PT Unitama Sartindo Sumber: Bank Niaga.5.9 tanggal 2 Oktober 1972 (Bank Niaga. PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk PT.60 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan perusahaan ini (Tabel 4.61% 3) PT.12 Tahun 1970 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri berdasarkan Akta No. 2005).42 Tabel 4. Kelompok Sinar Mas adalah salah satu dari kelompok industri terbesar di Indonesia dengan kurang lebih 200 perusahaannya yang bergerak di berbagai usaha yang besar . Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Drs. masyarakat menguasai 36. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk didirikan dalam rangka Undangundang Negara Republik Indonesia No. 2005.

Lokasi pabrik dan pusat perusahaan yang terletak di Jawa Timur. hotel dan perumahan. Boards PT. sedangkan sisanya merupakan tanah yang telah dibebaskan untuk kepentingan . Ryani Soedirman : Mas Achmad Daniri : Prof DR. Tabel 4.43 termasuk industri kertas dan pulp. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk per 30 September 2004 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Ir. Teddy Pawitra : Kamardy Arief : Let Jend (Purn) Soetedjo Dewan Direksi : Teguh Ganda Widjaja : Muktar Widjaja : Hendra Jaya Kosasih : Chen Wang Chi : Yudi Setiawan Lin : Suresh Kilam : Didi Harsa : Agustian Rachmansjah Partawidjaja Susunan Pemegang Saham : 63.30% : 0. real estate. perbankan dan jasa keuangan. 2005. yang berdekatan dengan pelabuhan Tanjung Perak merupakan hal yang sangat menguntungkan kelancaran pengapalan untuk ekspor.6. minyak goreng. Gandi Sulistiyanto Soeherman : Show Chung Ho : Kuo Cheng Shyong : Raymond Liu. : Lo Shang Shung : Hj.60% Presiden Komisaris Wakil Presiden Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Direktur Direktur Direktur PT Purinusa Ekapersada Koperasi Masyarakat Sumber: Bank Niaga.10% : 36. produksi bahan makanan. Phd. Dari seluruh tanah yang dikuasai perusahaan 64 persen merupakan tanah dengan Hak Guna Bangunan. bidang kimia.

kertas tissue.V. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia telah menerima sertifikat ISO 9002 dari Det Norske Veritas Industry B. Perusahaan ini menyesuaikan pemakaian teknologi sedemikian rupa untuk tetap dapat menyediakan kesempatan kerja seluas-luasnya. Perusahaan ini juga memproduksi pulp dari daur ulang kertas bekas dan soda kaustik sebagai bahan baku utama industri kertas. yang merupakan pengakuan bertaraf internasional terhadap sistem dalam proses produksi yang telah berhasil dilaksanakan oleh perusahaan. minyak wangi.44 perusahaan yang berasal dari petani di sekitarnya dengan status Hak Milik atau Girik. Selain kertas tulis dan cetak serta hasil-hasil produksi kertas. Saat ini PT. Hal ini juga diperlukan untuk meningkatkan kesempatan kerja. Bidang usaha utama perusahaan ini adalah menghasilkan kertas tulis dan cetak bermutu tinggi. Rotterdam. Belanda. Namun demikian melihat kebutuhan penyediaan kesempatan kerja di Indonesia. diantaranya dus (boxboard) yang dipergunakan untuk kemasan rokok. kertas HVS mengkilap. dan kertas HVS biasa untuk kebutuhan sekolah dan perkantoran. Pabrik kertas merupakan suatu jenis industri dengan sifat padat modal. meningkatkan pengawasan mutu disamping . dan sereal. perusahaan kertas ini juga memproduksi produk-produk kemasan. Hal ini jelas dapat terlihat pada bagian produksi barang-barang hasil produksi kertas dimana perusahaan ini telah memutuskan untuk tidak menambah mesin-mesin pembungkus otomatis.000 ton boxboard pertahun. Pada tahun 1994. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia mempunyai kapasitas produksi sebanyak 30. PT.

PT. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry Perusahaan kertas ini didirikan di Langsa. dengan produksi utama pulp jenis LBKP.6 Tahun 1968 tentang PMDN dengan Akta No.75 persen). Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry bergerak dalam bidang usaha industri pulp dan kertas. Disamping pulp dan kertas. 44 tanggal 13 Februari 1974 (Bank Niaga.. Saat ini perusahaan ini merupakan salah satu produsen pulp yang cukup besar di Indonesia dengan kapasitas produksi sebesar 545. modifikasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas produksi mesin pembuatan pulp dan fasilitas pendukung lainnya. dengan kapasitas produksi 60. 2005). dan PT. kertas budaya dan tissue. dalam rangka Undang-Undang No.25 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan (Tabel 4. Arthadana Mulia Makmur yang memiliki 0.45 4) PT. Aceh Timur dengan nama awal PT Sumber Indra Jaya Paper Manufacture Co. PT Satria Perkasa Agung (19. pada kuartal keempat tahun 1998 perusahaan kertas ini memulai produksi komersial tissue dalam bentuk gulungan besar yang dijual kepada pihak lain untuk kemudian diubah menjadi berbagai jenis tissue siap pakai. Pada tahun 1999 perusahaan ini telah melakukan modifikasi terhadap mesin-mesin dan fasilitas produksi di pabrik pulp Jambi. Perusahaan kertas ini dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards yang terdiri dari dewan komisaris dengan presiden komisarisnya yaitu Indra Widjaja dan dewan direksi dengan direkturnya adalah Teguh Ganda Widjaja.000 ton per tahun. Kepemilikan saham dikuasai oleh tiga perusahaan yaitu PT.000 ton pulp per tahun dan 7.7). Pindo Deli Pulp & Paper Mills (80 persen). Lontar Papyrus Pulp . PT.500 ton kertas per tahun.Ltd.

Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry telah memperoleh sertifikasi ISO 9002 sehubungan dengan telah sesuainya sistem kualitas manajemen (Quality management systems) dengan ketentuan yang dipersyaratkan dalam ISO 9002. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry per 30 Desember 2003 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Drs. .75% PT Arthadana Mulia Makmur : 0. perseroan ini juga telah memperoleh sertifikat ISO 14001 pada tanggal 19 Agustus1997 yang dikeluarkan SGS Yarsley International Certification Services Limited dengan sertifikat No.25% Sumber: Bank Niaga. Boards PT. 2005.46 & Paper Industry saat memiliki sebuah pabrik yang memproduksi pulp dan tissue yang berlokasi di Sumatera yaitu di Tanjung Jabung. Komisaris Utama Wakil Komisaris Utama Komisaris Komisaris Komisaris Dalam menjalankan usahanya.E10683 sebagai bukti bahwa perusahaan kertas ini telah memenuhi ketentuan standar lingkungan hidup yang dipersyaratkan (Bank Niaga. Ryani Soedirman Dewan Direksi Direktur Utama : Teguh Ganda Widjaja Wakil Direktur Utama : Hendra Jaya Kosasih Direktur : Muktar Widjaja Direktur : Suresh Kilam Direktur : Lin Shun Keng Direktur : Tri Ramadi Direktur : Arthur Tahya Susunan Pemegang Saham PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills : 80. NAD. Jambi dan sebuah pabrik kertas di Langsa. Tabel 4. John Ferdinand Pandelaki : Sukirta Mangku Djaja : Let Jend (Purn) Soetedjo : Hj.00% PT Satria Perkasa Agung : 19. PT. 2005).7. Di samping itu.

Berdasarkan Tabel 5. pada urutan kedua dan ketiga dengan nilai Rp 144. .775 juta atau sekitar 1.626 juta atau 18.460.048.701.656. Angka-angka tersebut di atas menunjukkan seberapa pentingnya peranan output yang dihasilkan oleh sektor-sektor di atas untuk digunakan sebagai input oleh sektor-sektor perekonomian lainnya di Indonesia.977.1. Selanjutnya diikuti oleh sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian.800. Jumlah tersebut terdiri atas permintaan antara sebesar Rp 1.71 persen dari total permintaan antara. Struktur Permintaan Industri Kertas Total permintaan barang dan jasa domestik yang dihasilkan oleh Indonesia tahun 2000 mencapai Rp 2.730 juta atau 11.03 persen dari total permintaan antara dan berada pada urutan ke-18 diantara sektor-sektor lainnya.629 juta. hal ini berarti bahwa output di Indonesia cenderung digunakan untuk memenuhi konsumsi langsung masyarakatnya.83 persen dan Rp 117.870 juta. Sedangkan untuk industri kertas mempunyai permintaan antara sebesar Rp 10.1. dilihat dari sisi permintaan antara tampak bahwa sektor perdagangan menghasilkan output tertinggi yang digunakan sebagai input oleh seluruh sektor perekonomian lainnya yaitu sebesar Rp 197.068. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.099.767.1.415 juta atau 13. Peranan Industri Kertas Dalam Perekonomian Indonesia 5.1.073.21 persen dari total permintaan antaranya.V.019 juta dan permintaan akhir sebesar Rp 1. Dari data tersebut diperoleh bahwa jumlah permintaan akhir lebih besar dibandingkan jumlah permintaan antaranya.

153.21 8.460.849 80.15 100 Permintaan Akhir Jumlah % (Juta Rp) 115.99 1.595.97 6.389.656.677.800.620 13.870 7.498 19.34 2.412.287.649 36.215 35.605 94.848.028 0.48 Tabel 5.10 196.018 0.1.970.52 12.695 227. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat secara keseluruhan lebih banyak menggunakan output industri kertas untuk konsumsi .353.416.775.98 100 Total permintaan Jumlah % (Juta Rp) 260.125.056 67.87 2.670 7.64 3.657 12.705 23.214.47 1.33 0.048.13 8.020 7.534.564.847 3.356 105.970.58 12.067 0.242.496.56 100 Sumber: Tabel I-O Indonesia.87 6.901.372 88.626 70.730 90.805.771.16 1.775 5.036 155.099.379 33.698.821.60 5.272.11 1.739.05 9.629 4.850.441.23 0.099 57.228.53 1.37 6.726.50 9.748.065 15.88 4.257.438.09 1.035 16.849 24.325.689.08 79.113 94.03 0. Nilai tersebut lebih besar dibanding permintaan antaranya.65 17.574 1.48 0. Dilihat dari permintaan akhir pada Tabel 5.37 0.063 396. 2000 (diolah).743.774.278 151.83 15.014.817.424 8.03 0.50 0.073.068.254 131.67 5.897.73 8.415 13.741 10.169 161.53 0.613 64.165 139.529.701.944 0.92 0.287 2.476.713 1.568 21.34 0.44 1.885.926 0.685.14 117. Permintaan Antara dan Permintaan Akhir Sektor-sektor Perekonomian di Indonesia Tahun 2000 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.575 9.036.948.64 2.42 5.760.620 8.408 243.074 19.627.672.84 persen dari total permintaan akhir.176 197.700 3.442.119.847 juta atau 0.729.25 2.99 1.84 0.16 4.961 1.36 9.076.108 13.160 6.43 14.887 201.80 14.599 5.724 5.47 0.151 329.71 2.485 39.019 11.767.276.586. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Total (domestik) Permintaan Antara Jumlah % (Juta Rp) 144.84 18.32 0.426.13 0.695.27 3.227.128 23.637.622 8.844.259 165.045.881 13.916 177.815.89 2.034 238.340.1 sektor industri kertas menempati posisi ke-14 diantara sektor yang lain sebesar Rp 13.30 1.38 0.88 1.84 2.51 1.593 30.621 208.29 12.37 5.034 41.977.329.74 8.19 4.

331. Jika diperbandingkan antara nilai upah dan gaji terhadap surplus usaha (U/G) maka akan diperoleh nilai rasio upah gaji dengan surplus usaha.928 juta berasal dari penyusutan dan Rp 69. Rp 755. Dalam Tabel I-O Indonesia tahun 2000 nilai tambah meliputi penerimaan upah gaji.49 langsung (masyarakat. penyusutan sebesar Rp 865.278.2).843. 5. surplus usaha. surplus usaha sebesar Rp 458. Berdasarkan Tabel 5.895.958 juta dan pajak tak langsung netto sebesar Rp 487.079.327 juta yang terdiri atas upah dan gaji sebesar Rp 1.860. Nilai rasio tersebut menunjukkan perbandingan antara besarnya upah dan gaji yang diterima produsen. Pada tahun yang sama sektor industri kertas menyumbang nilai tambah bruto sebesar Rp 7. Rp 110. pemerintah dan ekspor) dibanding untuk keperluan produksi sebagai input bagi sektor lain.952.2 dapat diketahui bahwa total nilai tambah bruto negara Indonesia adalah Rp 1.967 juta (Tabel 5.1.350 juta dengan perincian Rp 400. penyusutan dan pajak tak langsung netto.762 juta. .048.732 milyar berasal dari pajak tak langsung netto.2. Rasio upah dan gaji dan surplus usaha termasuk kategori baik jika rasionya mendekati keseimbangan (mendekati 1) yang berarti bahwa proporsi penerimaan dalam bentuk upah dan gaji bagi pekerja dan surplus usaha bagi produsen berimbang. Struktur Nilai Tambah Bruto Nilai tambah bruto merupakan balas jasa terhadap faktor produksi yang tercipta karena adanya kegiatan produksi.849 juta.770 juta berasal dari upah dan gaji.498 juta berasal dari surplus usaha.

564.072 64.708 127.354 komunikasi Keuangan dan 21.048.131 115.147.182.279.479 kertas Industri percetakan 1.985 Hasil hutan lainnya 565.758.414.590.554.757 2.311 9.576.169.256.063 barang non logam Industri logam 2.550.177 21.670 4.475.508.070 persewaan Jasa-jasa 85.705 7.340 Perdagangan 61.895.764 83.331.063 4.103.714.015.638 9.017.512 1.567.639 Industri barang dari 1.278.625.947 Industri semen dan 3.088 105.132.012.073 3.243 1.062.585.778.886 2.588.43).229.079.176 19.723.278.843.129 furniture Industri pulp 940.418 Pengangkutan dan 16. Nilai Tambah Bruto Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 Sektor Upah /gaji (Juta Rp) Surplus Usaha (Juta Rp) 121.232 97.567 5.477.511 770.107 14.577.212.240 28.573.393.228.567 26.759 10.877.396 325.952 4. gas dan air 2.333.542 Bangunan 37. 2000 (diolah).990 dan minuman Industri tekstil dan 16.762 4.727 76.378 476.004.116 7.084.605.208.418 59.226.2.458.511 29.498 Sumber: Tabel I-O Indonesia.652 167.690 777.434 15.044. Kondisi ini menunjukan bahwa distribusi pendapatan antara pemilik modal (perusahaan) dan pekerja tidak merata atau .756.968 115.797.949 45.114 pakaian Industri kayu dan 5.142.266.440.326 5.245 Pertambangan dan 25.081 834.093.946 110.536.195 112.542 933.996.802 134.372.484.164 13.489.052 20.607 6.430 dasar Industri barang jadi 3.451 Listrik.931.901.793.50 Tabel 5.524 487.143.718 147.393.958 83.296.860.704 6.229.459 53.616 5.383.105 6.576 dari logam Industri lainnya 19.443 301. Berdasarkan hasil analisis rasio upah dan gaji dengan surplus usaha pada Tabel 5.028.350 Pertanian 40.875 429.772.385 Total 400.463.233 65. Hal ini terlihat dari nilai rasio yang lebih kecil dari satu (0.560 8.382 4.046 1.591 564.912 9.700.774 11.803 4.010.933 2.623.975 865.703.365.480.182 30.905 2.902 6.257 19.034.963 8.952.156 69.670.237 6.352.343.898 138.664.756 12.731.623 84.327 3.530 penggalian Industri makanan 30.282.946.701 Industri kertas 1.212 3.392 225. diperoleh bahwa ternyata pada sektor industri kertas mempunyai nilai surplus usaha lebih besar dibandingkan upah dan gaji.914 Kayu 2.732 Nilai tambah bruto (Juta Rp) 166.770 755.664.562.3.948 3.781 8.655 2.504 1.864.821 61.127.702 926.692.119.569 11.973.358 1.725 Industri kimia 21.928 Indirect Tax (Juta Rp) 1.946 Penyusutan (Juta Rp) 2.919 1.

Rasio Upah Gaji terhadap Surplus Usaha (U/G) 0.320. Tabel 5.25 6.36 0. 2000 (diolah).51 terjadi ketimpangan yang sangat besar yang disebabkan oleh adanya eksploitasi tenaga kerja oleh pemilik modal terhadap tenaga kerja dengan share yang lebih besar pada produsen (pemilik modal).51 0.76 0.74 0.3.948 jiwa.47 0.48 1.26 0.27 0.45 0.35 0.84 0.33 0.79 0.36 0.64 0.57 0.04 0.1.55 5.20 0.3. Rasio Upah Terhadap Surplus Usaha Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik. Struktur Ketenagakerjaan Banyaknya tenaga kerja yang terserap pada tahun 2000 sebanyak 93. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.43 0.43 0. Jumlah tenaga kerja yang terserap di setiap sektor ekonomi merupakan indikator kemampuan sektor tersebut dalam menciptakan kesempatan .

20 18.88 3.585.82 15.119.255 76.169.051 2.448.519 jiwa.161 9.350 Total (domestik) Sumber: Tabel I-O Indonesia.12 24.327 Industri kertas 73.440.32 8.670.985 565.97 66.52 kerja bagi masyarakat di wilayah tersebut.84 13.282.017.592 112.352.759 Industri kimia Industri semen dan barang 648.15 0. Tabel 5.762 1.4.692.15 0.06 0.99 4.475.655 Kayu 86.708 30. Dalam hal produktifitas tenaga kerja industri kertas menduduki peringkat keempat .911 10.07 18. produktifitas dan nilai upah sektoral dapat dilihat pada Tabel 5.567.74 8.333.664 8.052 Industri tekstil dan pakaian 2.39 203.10 8.177 5.912 65.512 1.183.418 3.616 3.13 4.212.15 0.573.65 41.577.513 2.20 18.61 10.48 3.088 Keuangan dan Persewaan 11.034. Gambaran tentang jumlah tenaga kerja.895.372.42 0.515 225.905 Industri kayu dan furniture 57.569 940.256.56 59.392 Bangunan 17.225 45.477. Jumlah Tenaga kerja. 2000 (diolah).012.393.142.705 Industri pulp 118.35 79.948 1.803 19.062.943 167.06 0.652 Hasil Hutan Lainnya Pertambangan dan 825.60 25.382 37.131 Komunikasi 1.004.797.034 115.877.824 13.562 105.942 6.53 30.843.921.508.802 16.949 minuman 2.756 400.480.06 0.607 Industri barang dari kertas 100.06 0.638 Industri logam dasar Industri barang jadi dari 259.328.54 36.83 14.821 logam 1.03 65.012.233 Perdagangan Pengangkutan dan 4. Berdasarkan Tabel 5.084.296.30 12.519 166.243 Jasa-jasa 93.75 7.063 21.576.963 Industri lainnya 225.700.459 16.551 3.30 40. Produktifitas dan Nilai Upah Sektoral Indonesia Tahun 2000 Sektor Jumlah TK Nilai tambah Produktivitas bruto (Juta/Tk) (Juta Rp) 4.569.030 97.27 43.245 25.770 Upah/TK 0.64 6.03 37.590.279.914 2.20 0.504 1.195 Penggalian Industri makanan dan 3.511 61.48 37.870.208.320.4.212 2.182 2.567 21.218 61.46 14.164 Pertanian 555.912 non logam 357.331.328.232 Industri percetakan 705.65 26.664.454 jiwa sedangkan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor pertanian dengan kemampuan menyerap tenaga kerja sebesar 40.134 20. terlihat sektor industri kertas menyerap 118. Gas dan Air 4.266.041.931.27 Total Upah (Juta) 40.15 137.143.98 10.454 7.4.952.727 Listrik.860.938 9.623 85.132.463.450.03 0.

. Ditinjau dari sisi impor terhadap barang-barang dan jasa ternyata nilai impor secara keseluruhan sebesar 287.125.65 juta nilai tambah dari sektor tersebut dalam tahun 2000. dengan melihat besarnya selisih antara total ekspor dan impor.5).854 juta atau 2.385 juta atau 2.95 persen dari total impor Indonesia (Tabel 5.507. sedangkan nilai ekspor terbesar ditempati oleh sektor industri kimia atau 18. nilai ekspor keseluruhan sektor industri kertas adalah Rp 13.623 juta.65 yang berarti satu orang tenaga kerja yang bekerja di sektor manufaktur mampu menghasilkan sekitar 66.5. Nilai ekspor industri kertas yang masih kecil tersebut dapat menandakan bahwa sektor industri ini masih berorientasi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Struktur Ekspor dan Impor Ekspor Indonesia pada tahun 2000 sebesar Rp 520. Berdasarkan nilai total ekspor tersebut. Nilai impor industri kertas sebesar Rp 8.757 juta.930. Dari Tabel 5.831. 5.52 persen dari total ekspor Indonesia (Tabel 5. Nilai impor tersebut dapat menunjukkan bahwa kebutuhan kertas dalam negeri masih lebih besar dari produksi kertas dalam negeri sehingga harus melakukan impor.84 persen dari total ekspor indonesia.53 sekitar 66.5). industri pengolahan.4.1. perdagangan serta sektor pengangkutan dan telekomunikasi mengalami selisih yang positif ini menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barangbarang yang dihasilkan oleh sektor tersebut tidak lagi tergantung pada impor. terlihat bahwa sektor pertanian.

13 100 Jumlah Input (Juta Rp) 224.242.567.298 4.554.814 71. gas dan air 0 0.06 barang non logam 12.214.016 0.881 40.466 13.110 0.485.534.814 18. Struktur Ekspor dan Impor Indonesia Tahun 2000 Ekspor Sektor Jumlah (Juta Rp) % Impor Jumlah (Juta Rp) 4.75 1.991.297 2.96 Industri pulp 13.540.880.864 9.97 pakaian Industri kayu dan 37.51 Jasa-jasa 569.473.899 7.52 15. gas dan air. sektor listrik.849 24.942.418 6.362.580.95 0.18 0.379 33.729.048. sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa-jasa.59 dari logam 58.427 5.930.667.167.943. .161.061 4.259.529.959 30.395.444.78 13.933 1.247 0.772.07 Hasil hutan lainnya Pertambangan dan 77.701.99 6.559.65 9.268. 2000 (diolah).58 0.23 2.916 177.61 Industri percetakan 107.507.225.365 5.30 Industri kertas Industri barang dari 1.451 131.695 227. Tabel 5.00 Listrik.136.089.620 12.053 -21.063 396.00 Bangunan 57.67 komunikasi Keuangan dan 11.433 5.287 2.848 287.94 2.373 1.641 37.319 24.22 Pertanian 124.489 8.634.722 39.353.53 1.17 0.262 17.705 23.900.775 10.824.971.850.58 0.120 3.815.489.408 243. sektor bangunan.857.677.558.337 5.336 1.478 -2.033 8.093.028 2.617 2.979 2.18 minuman Industri tekstil dan 73.326 1.088 -404.126 X-M (Juta Rp) 2.340.02 Kayu 394.385 2.865 353.694 2.56 penggalian Industri makanan dan 29.10 persewaan 8.094.238.163.771.617.151 332.622 8.947 43.238.602 19.550 0.637.627.900.050 4.413 0.29 17.821.5.665 25.38 0.722 -39.805.86 6.864.322 32.719.21 Industri lainnya 0 0.883.620 13.317.162.49 4.27 Industri logam dasar Industri barang jadi 31.944 196.96 2. Ini menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barang-barang yang dihasilkan oleh sektor tersebut masih tergantung pada impor.332 49.525.854 1.79 8.29 kertas 3.040 1.809 4.444.403.01 1.842 2.54 Sedangkan yang mengalami selisih negatif dialami oleh sektor kayu.735.399 -3.163 63.412.493.242.03 Perdagangan Pengangkutan dan 26.855 26.739.175 100 Total (domestik) Sumber: Tabel I-O Indonesia.125.796.177 6.641 19.757 % 1.305.424 8.512 281.957.908 10.845 528.598.326 2.896.413 176.84 Industri kimia Industri semen dan 6.588.278 177.958.490.613 27.287 161.611.099 57.859 7.22 0.603.698.018 49.566.53 furniture 5.305 6.285.531 541.218 11.

55

Jika dilihat dari total selisih antara ekspor dan impor maka perekonomian Indonesia mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 232.900.866 juta. Surplus perdagangan terbesar diberikan oleh sektor pertambangan dan penggalian sebesar Rp 71.489.864 juta, sedangkan industri kertas mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 4.617.531 juta. Angka tersebut menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barang-barang yang dihasilkan oleh sektor industri kertas di Indonesia tidak lagi tergantung pada impor.

5.1.5. Struktur Output Sektoral Output merupakan nilai produksi (barang dan jasa) yang dihasilkan oleh suatu sektor perekonomian. Berdasarkan Tabel Input-Output Indonesia tahun 2000 dapat diketahui besarnya output yang diciptakan oleh masing-masing sektor. Berdasarkan Tabel 5.6 terlihat bahwa output sektoral perekonomian Indonesia sebesar Rp 270.099.837 juta. Sektor yang paling besar menyumbang dalam pembentukan output domestik adalah sektor perdagangan yakni sebesar 14,67 persen dengan nilai output sebesar Rp 396.214.278 juta, kemudian disusul oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai sebesar Rp 329.325.254 juta dalam persentase sebesar 12,19 persen dari total output keseluruhan. Sementara industri kertas sendiri menyumbang sebesar Rp 24.771.622 dalam pembentukan output atau sebesar 0,92 persen dari seluruh total output sektoral perekonomian.

56

Tabel 5.6. Struktur Pembentukan Output Sektoral terhadap Perekonomian Indonesia Tahun 2000
Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Total (domestik) Output Jumlah (Juta) Persentase (%) 260,672,575 9.65 17,340,028 0.64 2,698,944 0.10 196,815,151 7.29 329,325,254 12.19 131,412,099 4.87 57,534,424 2.13 8,739,849 0.32 24,771,622 0.92 8,850,620 0.33 13,627,408 0.50 243,805,705 9.03 23,821,379 0.88 33,729,613 1.25 64,119,165 2.37 139,438,593 5.16 30,637,695 8.43 227,677,063 8.43 396,214,278 14.67 151,272,169 5.60 161,353,916 5.97 177,242,287 6.56 2,701,099,837 100

Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah). 5.2. Analisis Keterkaitan

5.2.1. Keterkaitan Langsung Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Keterkaitan langsung beberapa sektor perekonomian Indonesia dapat dilihat pada Tabel 5.7. Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa sektor perdagangan mempunyai nilai keterkaitan langsung kedepan yang paling besar yaitu sebesar 1,4070. Selanjutnya urutan kedua terbesar ditempati oleh sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai keterkaitan langsung ke depan sebesar 1,3580 kemudian secara berturut-turut diikuti oleh sektor industri kimia dan minyak dan

57

sektor pengangkutan dan komunikasi dengan nilai 0,7964 dan 0,7020 pada posisi ketiga dan keempat. Untuk keterkaitan langsung ke belakang sektor listrik, gas dan air merupakan sektor yang memiliki nilai keterkaitan langsung ke belakang yang paling tinggi dengan nilai 0,3103. hal ini dikarenakan sektor listrik, gas dan air merupakan salah satu sektor yang paling vital dalam kehidupan manusia dan tanpa sektor tersebut sektor yang lain tidak akan dapat berjalan, kemudian urutan kedua dan ketiga di tempati oleh industri makanan dan minuman dan sektor industri kayu dan furniture dengan nilai keterkaitan sebesar 0,3319 dan 0,1790.

Tabel. 5.7. Nilai Keterkaitan Berbagai Sektor Perekonomian di Indonesia
Langsung

Sektor
Depan Belakang

Langsung dan Tidak Langsung Depan Belakang

Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa
Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah).

0,5495 0,2619 0,0236 1,3580 0,3319 0,2764 0,1790 0,1877 0,5997 0.0485 0,0431 0,7964 0,0900 0,3072 0,1737 0,1631 0,3103 0,1919 1,4070 0,7027 0,6438 0,0980

0,2391 0,1794 0,1393 0,1188 0,6039 0,4673 0,5687 0,3957 0,3378 0,5356 0,4078 0,4217 0,4842 0,5635 0,4161 0,3675 0,6530 0,4884 0,3821 0,3945 0,2400 0,3390

1,9552 1,3283 1,0291 3,1272 1,6422 1,3855 1,2191 1,2750 1,6529 1,0734 1,0653 2,1857 1,1150 1,2955 1,2689 1,3310 1,4368 1,3066 3,2051 2,0874 2,1306 1,1575

1,3950 1,2751 1,2287 1,1567 1,9484 1,7956 1,8775 1,6059 1,5409 1,8431 1,6424 1,5577 1,6858 1,7978 1,5005 1,6501 1,8552 1,7539 1,6138 1,6346 1,3643 1,5500

Selanjutnya berturut-turut untuk posisi ketiga dan keempat ditempati oleh sektor listik.2. Sedangkan untuk keterkaitan langsung ke belakang industri kertas memiliki nilai sebesar 0. gas dan air dan sektor industri barang-barang dari kertas dengan nilai keterkaitan sebesar 1.3378 juta rupiah.9484. Selanjutnya di posisi kedua dan ketiga ditempati oleh sektor perdagangan dan sektor industri kimia dengan nilai masing-masing sebesar 3.3378 yang berada pada posisi ke-17 diantara sektor-sektor yang lain.8552 dan 1. .58 Untuk industri kertas.1272. Urutan kedua tertinggi ditempati oleh sektor industri kayu dan furniture dengan nilai keterkaitan sebesar 1. Untuk nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang. Nilai tersebut mengindikasikan bahwa jika terjadi kenaikan permintaan akhir satu juta. sektor industri makanan dan minuman memiliki nilai keterkaitan tertinggi diantara sektor-sektor lainnya yaitu sebesar 1.1857. Keterkaitan Langsung Perekonomian Indonesia dan Tidak Langsung Sektor-Sektor Pada Tabel 5. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sebesar satu juta. maka sektor industri kertas akan meningkatkan permintaan inputnya secara langsung sebesar 0.8431. maka output industri kertas secara langsung akan meningkat sebesar 0.5997. dalam nilai keterkaitan langsung ke depan menempati urutan keeenam dengan nilai 0. 5.8775.2051 dan 2.5997 juta rupiah.2.7 dapat dilihat bahwa sektor yang mempunyai nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung kedepan tertinggi adalah sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai sebesar 3.

59

Berdasarkan hasil analisis (Tabel 5.7), industri kertas memiliki nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung kedepan sebesar 1,6529 yang berada pada peringkat ketujuh diantara sektor-sektor yang berada dalam perekonomian Indonesia. Nilai keterkaitan tersebut mengindikasikan bahwa setiap satu juta output yang dihasilkan industri kertas secara langsung maupun tidak langsung akan dialokasikan kepada sektor-sektor lain dan kepada industri kertas itu sendiri sebesar 1,6529 juta rupiah. Sedangkan untuk keterkaitan langsung dan tidak langsung kebelakang, industri kertas memiliki nilai keterkaitan sebesar 1,5409 yang berada pada peringkat ke-16 diantara sektor-sektor lainnya. Nilai keterkaitan sebesar 1,5409 berarti apabila terjadi peningkatan permintaan akhir sebesar satu juta pada industri kertas maka permintaan input dari sektor-sektor lainnya maupun dari industri kertas itu sendiri secara langsung dan tidak langsung akan menigkat sebesar 1,5409 juta rupiah.

5.2.3. Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Industri kertas merupakan sektor antara yang berada diantara sektor-sektor yang lain, industri ini tidak dapat dipisahkan dari industri atau sektor-sektor hulunya yang menyediakan input bagi keperluan proses produksinya, sebaliknya industri ini juga berfungsi sebagai penghasil output yang digunakan sebagai input bagi industri lainnya (hilir). Sektor-sektor hilir yang terkait dengan industri kertas antara lain industri barang-barang dari kertas, industri percetakan (penerbitan), dan sektor jasa-jasa.

60

Tabel 5.8. Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Sektor
Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah).

Koefisien 0.0005 0.0008 0.0025 0.0000 0.0022 0.0013 0.0004 0.0057 0.0015 0.3183 0.2448 0.0003 0.0047 0.0001 0.0006 0.0010 0.0007 0.0002 0.0020 0.0009 0.0012 0.0128

Peringkat 17 14 6 22 7 10 18 4 9 1 2 19 5 21 16 12 15 20 8 13 11 3

Dari hasil analisis keterkaitan ke depan industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian Indonesia (Tabel 5.8) dapat dilihat bahwa industri barang dari kertas menduduki peringkat pertama dengan nilai sebesar 0,3183. Selanjutnya disusul oleh industri percetakan dengan nilai keterkaitan sebesar 0,2248 pada urutan kedua. Industri barang dari kertas dan industri percetakan menempati peringkat teratas karena kedua industri ini menggunakan bahan baku utama yang dihasilkan dari industri kertas.

61

5.2.4. Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Industri kertas merupakan industri yang terus berkembang pesat di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan konsumsinya yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Perkembangan industri ini juga ditandai dengan peningkatan kapasitas produksi perusahaan-perusahaan industri kertas dalam satu dekade terakhir ini. Salah satu indikator penyebab perkembangan dan pertumbuhan yang cukup tinggi itu adalah kedekatan industri kertas dengan bahan baku industrinya dalam hal kemudahan memperolehnya. Kedekatan inilah yang menandai bahwa keterkaitan ke belakang industri kertas dengan sektor-sektor penyedia inputnya (hulu) cukup besar. Dari hasil analisis keterkaitan ke belakang industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian indonesia (Tabel 5.9) dapat dilihat bahwa industri pulp menduduki peringkat pertama dengan nilai sebesar 0,0944. Industri pulp menduduki peringkat pertama karena pulp merupakan bahan baku utama yang digunakan oleh industri kertas. Selanjutnya disusul oleh sektor pengangkutan dan komunikasi pada urutan kedua. Masuknya sektor pengangkutan dan komunikasi dalam peringkat yang cukup tinggi bila di bandingkan dengan sektor-sektor lain dalam perekonomian dikarenakan pentingnya faktor pengangkutan dan

komunikasi dalam memperlancar rantai distribusi bahan baku dari tempat bahan baku ke perusahaan tempat proses produksi dilaksanakan

Analisis Koefisien Penyebaran dan Kepekaan Penyebaran Untuk mengetahui distribusi manfaat dari pengembangan suatu sektor terhadap perkembangan sektor lainnya baik melalui mekanisme transaksi pasar input dan pasar output dapat dianalisis berdasarkan koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran.0017 0.0010 0.0071 0.0050 Peringkat 11 7 17 12 9 20 15 1 14 10 16 4 21 22 13 19 6 18 3 2 5 8 5.0181 0.0031 0.0001 0. Sedangkan analisis kepekaan penyebaran berguna untuk .0004 0.0012 0.62 Tabel 5.0401 0.0037 0.0199 0.0015 0.0000 0. 2000 (diolah).0621 0. Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.0007 0.0006 0.0731 0.3.0045 0. Koefisien 0.9.0005 0.0944 0. Analisis koefisien penyebaran dianggap penting karena menunjukkan koefisien kaitan yang memberikan gambaran tentang pengaruh yang ditimbulkan oleh suatu unit permintaan akhir untuk semua sektor di dalam suatu sisitem perekonomian.0023 0.

Dengan kata lain merupakan efek yang ditimbulkan oleh suatu sektor karena adanya peningkatan output suatu sektor yang bersangkutan terhadap output sektor-sektor lainnya yang digunakan sebagai input oleh sektor-sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung. gas dan air. Koefisien Penyebaran Koefisien penyebaran menunjukan efek relatif yang ditimbulkan oleh keterkaitan ke belakang secara langsung dan tidak langsung antara satu sektor dengan semua sektor yang ada. Pada Tabel 5. Berdasarkan nilai indeks koefisien penyebaran yang lebih dari satu. industri barang dari kertas juga industri tekstil dan pakaian. listrik. Koefisien penyebaran sering disebut sebagai daya penyebaran ke belakang.10 dapat dilihat beberapa sektor yang mempunyai indeks koefisien penyebaran yang tinggi antara lain sektor industri makanan dan minuman.1.63 memberikan gambaran tentang pengaruh yang timbul oleh suatu unit permintaan akhir terhadap semua sektor di dalam perekonomian. industri kayu dan furniture. Koefisien penyebaran ini diperoleh dari nilai keterkaitan output langsung dan tidak langsung ke belakang yang dikalikan dengan jumlah sektor kemudian dibagi dengan total keterkaitan langsung dan tidak langsung semua sektor. Nilai koefisien yang lebih besar dari suatu sektor menunjukkan kemampuan sektor tersebut dalam menarik perkembangan sektor hulunya. 5.3. hal ini mengindikasikan bahwa sektor-sektor tersebut memiliki kemampuan yang kuat untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya. .

1495 1.9611.7953 0.64 Tabel 5.0066 1.0016 0.0939 1.0292 1.8509 0..0244 0.1199 1. sektor ini mempunyai indeks koefisien penyebaran sebesar 0.9668 Untuk industri kertas.10. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.9715 1.1213 0. Hal ini mengakibatkan kemampuan industri kertas secara keseluruhan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya .9611 1.7664 0. Koefisien Penyebaran 0.0195 0.7215 1.9359 1.8701 0.0514 1.1710 1. Perusahaan-perusahaan besar yang memiliki kapasitas produksi yang besar pula ternyata juga memiliki pabrik pulp sebagai sumber bahan bakunya. Salah satu penyebab terjadi hal tersebut adalah adanya integrasi vertikal dalam industri kertas sendiri. Koefisien Penyebaran Industri Kertas Terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik. Hal mengindikasikan bahwa industri kertas mempunyai kemampuan yang kurang kuat dalam menarik perkembangan sektor hulunya. khususnya yaitu dengan sektor hulu yang paling besar keterkaitannya dengan industri kertas yaitu industri pulp.2152 1.1571 1. 2000 (diolah).

11 dapat dilihat bahwa sektor pertambangan dan penggalian memiliki indeks kepekaan penyebaran yang paling tinggi yaitu sebesar 1. menurut Karseno dan Mulyaningsih (2002) integrasi vertikal pada industri kertas justru akan lebih meningkatkan efisiensi produksi perusahaan dalam industri 5.3. Nilai indeks kepekaan penyebaran lebih dari satu mengindikasikan suatu sektor memiliki kemampuan yang kuat untuk mendorong sektor hilirnya.2.9504. Barang tambang seperti minyak bumi dengan produk hasil olahannya yaitu bahan bakar minyak (BBM) merupakan pilar utama proses produksi output sektor-sektor industri dalam perekonomian. Namun jika di tinjau dari sisi efisiensi.65 terutama pulp menjadi semakin berkurang. Kepekaan penyebaran ini sering disebut indeks daya penyebaran ke depan yang diperoleh dari keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan yang dikalikan dengan jumlah sektor kemudian dibagi dengan total keterkaitan langsung dan tidak langsung dari semua sektor. Hal ini di karenakan sektor pertambangan dan penggalian merupakan salah satu sektor yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian. Pada Tabel 5. . sehingga sektor pertambangan dan penggalian mempunyai kemempuan yang kuat dalam mendorong pertumbuhan sektor-sektor hilirnya terutama dalam hal penyedian kebutuhan bahan bakar untuk proses produksi. Kepekaan Penyebaran Kepekaan penyebaran merupakan efek relatif yang disebabkan oleh perubahan output suatu sektor ekonomi yang akan menimbulkan perubahan output sektor ekonomi lainnya yang menggunakan output sektor tersebut sebagai input baik langsung maupun tidak langsung.

7603 0.309.7914 0. . Kepekaan Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik. Bila di bandingkan dengan beberapa sektor lainnya yang tergolong sektor manufaktur seperti industri makanan dan minuman (1. hal ini berarti bahwa industri kertas mempunyai kemampuan yang kuat untuk mendorong perkembangan sektor hilirnya.8961 0.8641 0.8080 0.8302 0. industri tekstil dan pakaian (0.6419 1. dan industri kayu dan furniture (0.3632 0.6644 1.7603). Kepekaan Penyebaran 1.7952 1. 2000 (diolah). gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.0309 0. sektor industri ini mempunyai indeks kepekaan penyebaran sebesar 1.7219 Sedangkan untuk industri kertas.0242 0.6695 0.3288 0.66 Tabel 5.9504 1. Dengan nilai indeks yang lebih besar dari satu.8149 1.9990 1.6954 0.3019 1.8285 0.2195 0.0242).8641).11. industri kertas lebih unggul dalam kemampuannya dalam menstimulir perkembangan sektor-sektor hilirnya dan termasuk ke dalam delapan besar sektor yang mempunyai indeks kepekaan penyebaran kuat dalam perekonomian.

67 Semuanya itu menandakan bahwa sektor industri kertas layak untuk terus dikembangkan dan mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. pendapatan dan tenaga kerja. Menurut Mattas dan Shresta (1991) dalam Imansyah (2000) pendekatan ini lebih baik daripada analisis keterkaitan dan analisis multiplier karena memperhitungkan share suatu sektor dalam output. Elastisitas Output Elastisitas Output adalah perubahan persentase dalam total output suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. 5. Hal ini bermakna bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan total output sektor industri makanan dan minuman sebesar 1. Elastisitas Input-Output Elastisitas input-output menyediakan pandangan baru untuk penentuan sektor prioritas. Pendekatan ini mempermudah policy makers untuk berkonsentrasi tidak hanya pada nilai-nilai keterkaitan dan multiplier tertinggi tetapi juga pada share suatu sektor ekonomi. 5. Urutan kedua ditempati oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai elastisitas output sebesar 1. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan output sektor perdagangan sebesar 1.4.2610 persen. Nilai elastisitas output yang tinggi dari . Pada perekonomian Indonesia. elastisitas output tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1.2610 (Tabel 5.1253. Pendekatan elastisitas input-output dibagi kedalam tiga kategori yaitu elastisitas output.12).1.4.1253 persen.

industri kertas dapat disebut cukup responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain. Untuk industri kertas.2. yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan total output industri kertas sebesar 1.1650. Nilai elastisitas output yang tinggi bila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya dalam perekonomian pada sektor perdagangan dan sektor pertambangan dan penggalian . Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan pendapatan sektor perdagangan sebesar 1. Pada tabel 5.68 kedua sektor tersebut mencerminkan bahwa outputnya mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya atau lebih sensitif terhadap perubahan yang terjadi pada sektor lainnya dalam hal permintaan akhir. sektor ini memiliki elastisitas output sebesar 1. Elastisitas Pendapatan Elastisitas pendapatan adalah perubahan persentase dalam pendapatan suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya.0023.1650 persen. Urutan kedua ditempati oleh sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai elastisitas pendapatan sebesar 1.0759 persen.4. 5.12 dapat dilihat bahwa elastisitas pendapatan tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1.0759.0023 persen. Dengan nilai elastisitas output yang lebih besar dari satu. Hal ini berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan total output sektor industri pertambangan dan penggalian sebesar 1.

0040 (22) Jasa-jasa 0.4050 (13) Pertambangan dan penggalian 1.0443 (21) 0.2619 (14) 0. Sementara pada industri kertas.5179 (12) Sumber: Tabel I-O Indonesia.2591 (16) Industri pulp 0.5022.2133 (15) Output Pertanian 0.6903 ( 4 ) 0.6449 ( 5 ) 0.6093 ( 8 ) 0.9779 ( 3 ) 1.8877 ( 4 ) 0.0548 (19) Listrik. gas dan air 0.1631 (18) 0.5495 ( 9 ) 0.0955 (18) Hasil hutan lainnya 0.5022 persen.0485 (21) 0.1919 (15) 1.0994 (19) 0.0274 ( 4 ) Keuangan dan persewaan 0.9020 ( 7 ) Bangunan 0.3072 (11) 0.0139 (20) Industri lainnya 0. yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan pendapatan dalam industri kertas sebesar 0. industri kertas dapat disebut kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain.2240 (14) 0.2610 ( 1 ) Pengangkutan dan komunikasi 1.1253 (17) Perdagangan 1.0023 ( 5 ) Industri barang dari kertas 0.4772 ( 8 ) 1.6438 ( 7 ) 0.3072 (12) 0.3921 (15) Kayu 0.1650 ( 1 ) 0.0980 (19) .0900 (20) 0.1659 (18) 0.5022 ( 7 ) 0.0009 ( 3 ) 0. Dengan nilai elastisitas pendapatan yang kurang dari satu.1008 ( 3 ) Industri makanan dan minuman 1.3127 (10) 0.7100 ( 9 ) Industri percetakan 0.7027 ( 6 ) 0. 2000 (diolah).2764 (13) 0. Elastisitas Input-Output Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 Sektor Elastisitas Pendapatan 0.4048 (14) Industri logam dasar 0.5241 (11) Industri kayu dan furniture 0.0047 (21) Industri barang jadi dari logam 0.6084 (10) Industri kimia 0.69 menunjukkan bahwa pendapatan pada kedua sektor tersebut mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya.7964 ( 5 ) 0.1877 (16) 0.1790 (17) 0.0431 (22) 0.3284 ( 9 ) 0.9831 ( 6 ) Industri semen dan barang non logam 0.3319 (10) 0.1790 (16) 0.1737 (17) 0.0901 (20) 0.0768 ( 1 ) 0.6005 ( 6 ) 0.0759 ( 2 ) 1.3103 (11) 0. Keterangan: ( ) merupakan peringkat Tenaga Kerja 0.8697 ( 8 ) Industri kertas 1. sektor ini memiliki elastisitas pendapatan sebesar 0.2772 (12) 1.2778 (13) 0.0247 (22) 0.12.0441 ( 2 ) 0. Tabel 5.1253 ( 2 ) Industri tekstil dan pakaian 0.

yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan total output industri kertas sebesar 0.0441 persen.0768 persen. Namun demikian nilai elastisitas tenaga kerjanya masih bernilai positif. Diantara sektor lainnya dalam perekonomian elastisitas tenaga kerja tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1. Nilai elastisitas tenaga kerja yang tinggi dari kedua sektor tersebut mengindikasikan bahwa jumlah tenaga kerjanya mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya atau lebih sensitif terhadap perubahan yang terjadi pada sektor lainnya dalam hal permintaan akhir. Dengan nilai elastisitas yang kurang dari satu. tenaga kerja industri kertas dapat disebut kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain.12).4. Pada industri kertas. .6093.0441. Nilai ini bermakna bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan tenaga kerja sektor industri makanan dan minuman sebesar 1. sektor ini memiliki elastisitas tenaga kerja sebesar 0. Elastisitas Tenaga Kerja Elastisitas tenaga kerja adalah perubahan persentase tenaga kerja suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya.70 5.0768 (Tabel 5. hal ini terjadi dikarenakan industri kertas selain merupakan industri padat modal juga merupakan industri yang cukup banyak menyerap tenaga kerja.3. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan tenaga kerja sektor perdagangan sebesar 1. Peringkat kedua ditempati oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai elastisitas tenaga kerja sebesar 1.6093 persen.

pendapatan maupun tenaga kerjanya (ranking elastisitas). yaitu: (1) perdagangan. merupakan sektor unggulan dalam meningkatkan output. pendapatan.71 5. Hal ini berarti kesepuluh sektor tersebut menjadi prioritas pemerintah untuk dikembangkan karena setiap sektor tersebut secara simultan mempunyai respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor-sektor lainnya. (6) industri kertas. (3) pertambangan dan penggalian. Sektor-Sektor Kunci dalam Perekonomian Indonesia Penentuan suatu sektor menjadi sektor kunci dalam perekonomian Indonesia dapat didasarkan pada kategori-kategori analisis input-output seperti analisis keterkaitan. Dari hasil analisis sektor kunci perekonomian Indonesia tahun 2000 berdasarkan ranking elastisitas (Tabel 5. dan (10) hasil hutan lainnya. gas dan air. dampak penyebaran atau elastisitas input-output. bersama dengan sembilan sektor kunci lainnya. (5) industri pulp. (2) industri makanan dan minuman. Industri kertas termasuk dalam sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam). sektor yang menjadi kunci dalam perekonomian ditentukan berdasarkan ranking atau peringkat dari keseluruhan sektor dalam perekonomian baik dilihat dari elastisitas output. hal ini menunjukkan bahwa industri ini. Pada penentuan sektor kunci berdasarkan elastisitas input-output. sepuluh peringkat tertinggi dari hasil perankingan tersebut merupakan sektor-sektor kunci dalam perekonomian. dan tenaga kerjanya untuk lebih berperan . (9) listrik.5. (7) pertanian. (4) pengangkutan dan komunikasi. sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan.13). dapat diketahui sepuluh sektor kunci perekonomian. (8) industri kimia.

gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel Input-Output Indonesia.72 dalam perekonomian Indonesia dan pemerintah sebagai policy makers harus lebih biak lagi dalam menjalankan fungsinya berkaitan dengan penetapan kebijakan terhadap industri ini karena perannya dalam meningkatkan perekonomian tersebut.5 10 3 2 12.5 15 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik. Tabel 5.5 5 6 20 22 8.13.5 17. 2000 (diolah) .5 11 1 4 17. Sektor Kunci Perekonomian menurut Ranking Elastisitas InputOutput Indonesia Tahun 2000 Elastisitas Input-Output (peringkat) Tenaga Output Pendapatan Kerja 15 5 9 18 9 14 13 12 10 3 2 11 16 8 5 9 10 6 14 21 20 19 7 17 1 4 22 12 2 3 17 16 6 7 21 22 20 11 18 14 10 13 8 1 4 19 15 3 2 13 16 4 8 21 22 5 20 12 17 18 11 15 1 6 7 19 Total Peringkat 29 41 35 8 7 41 48 18 20 51 54 31 45 51 51 47 31 40 3 14 48 46 Ranking Elastisitas 7 12.5 14 20 20 16 8.

Pada sub-bab sebelummya. antara lain yaitu: 1. Untuk mengurangi kesenjangan pendapatan ini diperlukan campur tangan pemerintah yang lebih adil sebagai regulator ketenagakerjaan baik melalui penetapan kebijakan yang berfokus pada kesejahteraan tenaga kerja maupun sebagai mediator antara perusahaan dan tenaga kerjanya dalam penenganan berbagai masalah ketenagakerjaan terutama dalam persoalan upah. 2. kondisi ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam Peraturan . berdasarkan analisis keterkaitan industri kertas tahun 2000 terhadap berbagai sektor perekonomian (keterkaitan per sektor) dapat diketahui bahwa industri kertas memiliki nilai keterkaitan yang tinggi baik ke depan maupun ke belakang terhadap sektor hulu dan hilirnya dan juga dengan sektor pendukungnya.73 5.6. Implikasi Kebijakan Dari hasil penelitian ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai implikasi kebijakan. hal ini berarti bahwa distribusi pendapatan antara pemilik modal (perusahaan) dan pekerja tidak merata atau terjadi ketimpangan yang besar yang dapat disebabkan oleh adanya eksploitasi tenaga kerja oleh pemilik modal terhadap tenaga kerja dengan share yang lebih besar terhadap perusahaan (pemilik modal). Hal ini menandakan bahwa dalam industri kertas sangat potensial untuk dibentuk dan dikembangkannya klaster industri kertas. Berdasarkan hasil analisis rasio upah dan gaji dengan surplus usaha pada struktur nilai tambah bruto dapat diketahui bahwa sektor industri kertas mempunyai nilai surplus usaha lebih besar dibandingkan upah dan gaji.

Oleh karena itu IKM memerankan peranan secara integral dan konstruktif dalam suatu klaster industri. . Namun demikian dapat dinilai adanya keterlambatan pemerintah karena baru tahun 2005 mengeluarkan kebijakan pengembangan klaster industri tersebut.74 Presiden No. menawarkan jasa dan produk-produk untuk mendukung klaster industrinya. 2005). Dengan adanya klaster ini maka bukan saja dapat saling menumbuh kembangkan industri terkait dan industri pendukung dalam klaster tersebut. tetapi juga mengingat dalam setiap sektor terdapat juga pelaku ekonomi yang tergolong Industri Kecil dan Menengah (IKM). maka klaster tersebut akan menarik IKM untuk memenuhi Permintaan barang dan jasa.7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Dalam peraturan tersebut dijabarkan mengenai rencana pemerintah untuk membangun daya saing industri manufaktur nasional lima tahun kedepan dengan fokus pengembangan industri melalui penguatan dan penumbuhan klaster-klaster industri inti yang termasuk industri kertas didalamnya. padahal dari tahun 2000 berdasarkan penelitian ini pentingnya kebijakan klaster sudah dapat diidentifikasi. sementara klaster industri memberikan kesempatan pada IKM untuk membuat keterkaitan pasokan antara perusahaan besar dan menengah (Deprin. Pada saat yang sama jaringan yang terpadu dari IKM terkait akan terus berkembang.

385 juta dan mengimpor sebesar Rp 8. industri ini berkontribusi sebesar Rp 24. industri kertas berkontribusi terhadap permintaan antara sebesar Rp 10. Industri kertas memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor hulu dan hilirnya (keterkaitan industri kertas terhadap sektor-sektor perekonomian). 2.800.454 jiwa. KESIMPULAN DAN SARAN 5. Pada keterkaitan ke depan industri kertas mempunyai keterkaitan yang paling tinggi terhadap sektor industri barang dari kertas (0. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis peranan industri kertas terhadap perekonomian Indonesia.970. industri ini mampu meyerap tenaga kerja sebesar 118.507.3183) dan pada peringkat kedua yaitu terhadap industri percetakan (0.VI. Pada struktur permintaaan.0944) yang merupakan sektor penghasil bahan baku industri kertas dan pada sektor pengangkutan dan komunikasi (0.771.2448) sementara pada keterkaitan ke belakangnya. industri kertas melakukan ekspor sebesar Rp 13.895. kemudian kontribusinya dalam struktur nilai tambah bruto adalah sebesar Rp 7. industri kertas memiliki keterkaitan yang paling tinggi terhadap industri pulp (0. Pada struktur ekspor dan impor.622 juta.854 juta dan jika dilihat dari struktur output sektoral.1.847 juta. maka kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut.0731) yang merupakan salah satu sektor pendukung industri kertas.125.775 juta dan permintaan akhir sebesar Rp 13. . 1.327 juta dan jika dilihat dari struktur ketenagakerjaan.

industri ini merupakan sektor industri yang memiliki kemampuan yang kuat dalam mendorong pertumbuhan sektor hilirnya seperti industri barang dari kertas dan industri percetakan karena memiliki indeks kepekaan lebih dari satu (1. Namun di sisi lain.76 3. 4. sehingga sektor ini mempunyai kemampuan yang cukup besar dalam berkontribusi untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan.9611). . terutama pulp. maupun tenaga kerjanya. industri kertas merupakan sektor prioritas yang harus dikembangkan oleh pemerintah sebagai policy makers karena kontribusinya terhadap perekonomian tersebut. pendapatan. Industri kertas termasuk dalam salah satu dari sepuluh sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam) berdasarkan ranking elastisitas. Bersama dengan sektor kunci lainnya. Industri kertas kurang memiliki kemampuan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya karena jika dilihat dari hasil analisis koefisien penyebaran. Salah satu penyebab lemahnya industri ini dalam menarik pertumbuhan sektor hulunya adalah adanya integrasi vertikal yang dilakukan oleh perusahaan-perusahan besar dalam industri ini dengan sektor penghasil bahan bakunya. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor industri ini memiliki respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal peningkatan output. sektor industri ini memiliki indeks koefisien penyebaran yang kurang dari satu (0.0309).

Pada industri kertas harus dibangun klaster industri yang kuat secara berkelanjutan sehingga industri kertas dan sektor yang terkait di dalam klaster tersebut seperti industri pulp. Untuk meningkatkan efisiensi industri kertas tanpa mengurangi kemampuan industri tersebut menarik pertumbuhan sektor hulunya antara lain adalah dengan mempercepat transformasi pembangunan industri kertas menuju fase innovation driven melalui peningkatan teknologi produksi dan pelatihan tenaga kerja terampil yang intensif sehingga dapat meningkatkan outputnya dan disisi lain sektor hulu tetap dapat memasok input bagi industri kertas tersebut. . 2.2. Saran Berdasarkan hasil analisis. pemberian fasilitas karyawan yang lebih baik serta jaminan sosial untuk mengatasi kesenjangan pendapatan antara perusahaan dan tenaga kerjanya pada industri kertas. dapat disampaikan saran berikut ini. 1.77 6. industri barang dari kertas dan industri percetakan juga dapat saling menunjang untuk meningkatkan perkembangannya dan peranannya terhadap perekonomian Indonesia. 3. Pemerintah harus campur tangan yang lebih intensif melalui penetapan Upah Minimum Regional (UMR) yang benar-benar sesuai dengan standar kehidupan di Indonesia.

dan Blair. 2005. USA.id/ publikasi. M. Muchtar. R. 136-149. H.com/content/content. Jakarta. BPS. 2005.D. Jakarta. Imansyah. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor.com [18 Februari 2005]. http://www. ”Kebijakan Pembangunan Industri Nasional” [Deprin Online]. “Integrasi Vertikal dan Efisiensi Industri: Industri Kertas Tahun 1979-1997 Dengan Pendekatan Error Correction Model”. “Industri Kertas Butuh Investasi Baru” [Harian Terbit Online]. bankniaga. Bogor.go. 2000. Input-Output Analysis: Foundation And Extensions. Analisis Peranan Sektor Pertanian dan Industri Pengolahan Terhadap Perekonomian Propinsi Kalimantan Timur (Berdasarkan Analisis Input-Output) [Skripsi]. Hal. 2000. Paper for 13th International Conference on Input-Output Techniques. Jakarta. Deprin. B. Direktori Industri Pulp dan Kertas Indonesia 2003. M. http://www. Dampak Keterkaitan Sektor Industri Terhadap Perekonomian Wilayah Kabupaten Sidoarjo [Tesis]. Jhingan. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. 17. Monopoli dan Regulasi. [30 September 2005] Hasibuan. E. Mansur. Institut Pertanian Bogor. R. 1985. Italy. Macerata. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. P. 2000. Prentice Hall. http://www. 2. 1997. Jakarta. A.deprin. ”Profil Perusahaan” [Bank Niaga Online]. APKI. Karseno. “An Application of the FES Approach to A Small Region in Indonesia: Banjarmasin Input-Output Model 1”. New Jersey. N. T. Raja Grafindo Persada.harianterbit. No. Fakultas Pertanian. E. . Puspitawati. 2002. Niaga. Ekonomi Industri : Persaingan. 2003. Tabel Input-Output Indonesia 2000. 2005.L. 2002. dan Mulyaningsih. Miller.asp?id=NNA [30 September 2005].DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia. BPS. 1993. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Vol. LP3ES. M.

Analisis Peranan dan Keterkaitan Sektor Pertanian dan Industri di Jawa Barat [Skripsi]. Departemen Ilmu Ekonomi. Institut Pertanian Bogor. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia. 2005. Bogor. Prosiding Seminar. dan Vidyatmoko. D. No. Sipayung.org /wiki/ Kertas [17 September 2005]. H. Fakultas Ekonomi Dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Analisis peranan Sektor Industri Pengolahan Dan Pengaruhnya Terhadap Perekonomian Jepara [Skripsi]. Hal. Setiyaji. “Analisis Pasar Pulp dan Kertas Indonesia”. Tjandrawan. Bogor. Bogor. Bogor. 4. Analisis Peranan Sektor Industri Pengolahan terhadap Perekonomian Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta [Skripsi]. Analisis Peran Sektor Industri Pengolahan dan Dampaknya terhadap Pembangunan Ekonomi Di Kota Cilegon [Skripsi]. Fakultas Pertanian. Vol. 2002. Dampak Investasi Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Nasional [Skripsi].79 Rosadi. A. Fakultas Pertanian. 194203. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. . S. Institut Pertanian Bogor. dan Pambudy. Y. I. Fakultas Ekonomi Manajemen. A. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Departemen Ilmu Ekonomi. R. 2000. 1994. Sahara. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. ”Kertas” [Wikipedia Online]. Bogor. Wikipedia. 1995. Ruhmaniyati. 2004. T. Bogor. Institut Pertanian Bogor. “Prospek dan Tantangan Pengembangan Agribisnis Pulp dan Kertas dalam Era Ekolabeling dan Otonomi Daerah”. 5. http:// www. 1998.wikipedia. Institut Pertanian Bogor. Setyawan. 2005.

LAMPIRAN .

81 Lampiran 1. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Jumlah permintaan antara Jumlah input antara Impor Upah dan gaji Surplus usaha Penyusutan Pajak tak langsung Subsidi Nilai tambah bruto Jumlah input Pengeluaran konsumsi rumah tangga Pengeluaran konsumsi pemerintah Pembentukan modal tetap bruto Perubahan stok Ekspor barang dagangan Ekspor jasa Jumlah permintaan akhir Jumlah permintaan Impor barang dagangan Pajak penjualan Bea masuk Impor jasa Jumlah impor Margin perdagangan besar Margin perdagangan eceran Biaya pengangkutan Jumlah margin perdagangan dan biaya pengangkutan Jumlah output Jumlah penyediaan Jumlah Tenaga Kerja Kode I-O 175 Sektor 001-028. Klasifikasi Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 Kode I-O 22 Sektor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 180 190 200 201 202 203 204 205 209 210 301 302 303 304 305 306 309 310 401 402 403 404 409 501 502 503 509 600 700 1000 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik. 031-034 029 030 035-048 049-073 074-083 084-089 090 091 092 093 094-109 110-114 115-118 119-122 123-141 142-143 144-148 149-152 153-159 160-164 165-175 180 190 200 201 202 203 204 205 209 210 301 302 303 304 305 306 309 310 401 402 403 404 409 501 502 503 509 600 700 - .

82 .

828 61.117 594.190 41.975 83.890 1.407.130 77.504 1.895 2.524 1.968 7.385 20.320 1.479.926 10.441 8.625.602 25.160 823.627.679.824 3 2.596 643.918.405 6.399 1.666 65.036 8.338 627.014.451 3.628 123.946 64.170 904 57.618 174.854 1.638.208.364 2.973 1.536.228 69.129 2.030 13 20.540.553 108 5.404 151.290.894 6.811.346 38.212.871 2.427 2.542 1.877 3.330 296.777.780 41.590 5.212 3.539 4.424 2.839 4.797.834 1.116 490.177 21.875 45.853 110.362 161.371 22.443 4.151 825.762 4.049 112.365.225 7 45.467 1.183 19.229.881 2.190 18.017.543 5.620 73.210 51.437.850 337.040 1.097 590.308 853.143.705 705.408 100.623.557.492 528.064 55.343.809 448.792 116.708 127.217.849 57.441 610.758.282.569 34 8.590 44.411.634 1.245 1.570 3.319 30.004.778.590.901.537.908 141.701 301.479 83.427 3.606.080 264.770 35.442 120.203 19.442 3.083 224.227 72.513 4 19.426 874 728.815.955 23.450.913 151.155 7.718 3.963.024 5.973 369.043 1.091 20.805.541 16.083 7.568 1.328.588.813.371 1.458.809 1.694 21.575.867 6.615 23.292 5.073 8.119.591 10.145.890 49.592 916.957 7.403 32.034 1.515 25.798 105.418 59.952.551 11 0 271 122 11.484.241 75.396 166.576.512 1.739.459 553.343 332.939 5.895.785.462 55.886 2.579 55.513 798 315.486 5.534.459 131.867 4.Lampiran 2.306 815.703 4.574 1.405.855 76.333 4.898 115.667 3.919 4.824.714.250 478.114 5.478 63.903 7.426 102.164 224. .012.725 138.040 2.775 19.534.171 1.417 121.063 1.056 33 4.626 3.755 162.370 110 84 1.895.911 Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).507.379 648.062.218 1.252 43.327 24.946.187 416.368.539 77 186.933 112.845 40.731.043 4.240 13.554.824 90.340.867 3.241 1.858 26.302 43.577 159.817.588 6.167.857 1.944 86.605.429 0 64.837 15.764 20.046 926.293 2.566.912 23.262 40.169.028 555.134 8 203.554.352 975.560 5.561 1.453.991.782.110.771.655 17.930 129.277 246.849 23.772.297 479.563 6.600 181.489 940.069 6.648.524 2.851 37.443 429.099 1.063 4.663.311 2.838 1.670 6.982.530.306.525.688.550 754.817 378 627.195 196.985 9.337.473 2.454 10 0 3.759 243.387.509.508.585.453 11.506 493.059 106.237 4.800 53.781 6.349 206.394 141.931 59.553 13.860.692.774 147.001 2.560 21.567 19.884 378.530 8.098 7.418 1.433 565.720 2.093.412.821.796 55.732 1.902 2.486 100.228) 97.206 15.850.256.811.996.323 82.577.693 181 11.943 5 101.296.322 2.936 36.905 57.072 325.048 32.777 7.656 2.990 8.749 24.010.899 1.725 1.979 5.333 287.244 1.086 5.639 865.440.607 8.281.799 5.949 332.592 6 2.785.606 1.114 8.526 0 737.942 12 8.622 118.305.094.514 33.089 47.292.800 17.750 0 13.628 22 85.664.099 2.298 16.358 933.010 7.839 1.914 121.484.705 8.460 175.051 9 77.213 64.494 1.427.558.917 375.391 448.073.947 1.711.738 25.938 6.700.480.824 40.569 11.735.052 131.335.040 29.772.103.069 338. Tabel Input-Output Indonesia 2000 Klasifikasi 22 Sektor (dalam Juta Rupiah) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 1 16.235.617 382.941 1.702 (250.325 3.646.739.321 5.232 13.176 167.643 8.660.319 504 17.755 17.393 13.908 14.354 5.560 28.718.826 927 3.550.613 111.958 487.327.567.491 11.355 8.359.652 2.597 18.333 29.489 59.452 5.135 200.958 683.870 210.238.192 10.947 11.441 370.229 1.037.459 53.430 55.003 363.864.258 4.876 348 994.989 146.644 45.182.905 2.858 40.698.026 84.441 967 8.493.991.670 7.395.183 17.519 2 628.664.414.

731.063 4.020 7.812 173.354 37.860.567 26.084.525 1.063 111.727 9.257 15.705.139 10.727 30.035 16.244.948.577 8.983 3.278 17.977.593 2.242.661 524.499 1.476.167.127.746 32.036.502 4.876.038 13.048.570.243 177.405 6.708 59.073 (30.372.183.350 130.793.271.635 64.006.928 69.576 834.153.081 564.116 770.246 2.130 9.761 137 85 121.739.730 90.397 114.966 18.563 510.670 19.034.767.437 791.383.786 3.214.588.261 6.147.677.002.360.503 7.864.111 382 16 1.825 1.472 105.060.071.372 88.997 34.738 824.726.966.175.798 5.842 123.045.382 1.564.848 85.215 35.383 143.616 5.107 3.218 21.578) 1.875 3.340 6.048.574 1.767.368.134 11.698 49.723 41.670.844. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 14 9.350 2.360 3.418 14.529.278.074 19.668 341.626 70.652 411.388 38.015.630 1.287.749 609.723.142.610 7.544 967.678 7.385 1.398 13.278.505 723.919 398.695 225.179 26.189 19.332 12.948 .169 4.678 19.950 527.810 2.559 322.138.915 13.515 20 299.926 117.458.859 16.192.916 1.623 84.981 156.870.097 1.161 16 620.352.113 94.724.110.938 15 7 6.242.923 16.247.106.760 1.915 1.264.108 19.916.344 3.891 123.649 157.393.326 9.158 5.843.887 124.945 37.451.756.948 (3.250) 8.228.238.852 121.139 2.248 966.613 357.511 9.756 12.641 37.637.727 100.744.125.990 18.297 19.223 22.598.260.713.100.703.088 161.331 1.963 176.084 3.279.980 42.229.872 278.105 476.361 758.117 1.547.430 1.946 777.429 11.266.663 1.676 1.821 27.226.030 39.797 15.649.480.255 19 10.275.722 2.310.272.952 5.287 11.498 110.597 5.803 4.016.196 11.117.642 36.961 1.569.876.378 61.713 197.715 373.338 4.070 6.475.860 2.186.844 882.093.028.434 76.385 6.704 3.979 350.076.056 3.377.995 65.179 17.866 1.565.197 4.600 441.800.172 0 141.228.221.393.666 2.441.206 438.529.802.444.132.019 287.044.817.353.465 5.959 1.089.877.177 2.420.253.206.595 1.078 1.390.775 5.705 859.202 4.562.511 29.194.875 1.063 8.448.609 151.413 259.791 866.951 232.509 2.900.065 15.073.573.664 156.700.200.931.310 6.657 12.349 8.778 1.843 149.332 3.671.757 225.575.672 6.032 448.525 1.084 15.034 22 2.014.896.713 2.428 117.700 3.559 27.128 23.161.741 10.858 495.498 19.802 134.870 126.180 14.015 1.830.401 110.463.327 19.226.005.542 4.667.Lampiran 2.233 396.442.823.237 2.383.748.000 213.411.281 60.127 19.107.780 1.169.742.142 10.727 27.333.331.729.445 412.808 158.176 197.973 6.902.892 1.011.525 11.156 105.455.412.463.995.775.182 30.079.460.213 16.354 19.601 21.817 215.106 4.292 6.713.604.638 33.164.781 337.131 151.921.594 50.729.100) 65.344.973.930.113 3.126 93.564.805 2.568 21.407.451 7.963 62.685.944 3.085 15.584 3.855 61.012.305 20.155 1.690 115.320.203.019 14.912 21 34.999 6.649.076.292 3.079.567 26.332 3.553 13.415 15.579 4.732 (3.136.649 36.489.643 1.861 35.382 4.652.218 17 4 14.770 755.562 180 144.041.228 1.392 227.741.399 3.664 18 4.580.477.028.870.697 6.757 400.

167.424 8.479.238 77.766 15.416 2.200 520.696 668.698.743 3.739.857.571 11.393 208.272.623 306 1.385 1.771.227.851.329.374 51.187.071 1.294 8.568 646.398 613.454 856.326 12.276.042 41.034 238.433 37.389.028.473.454 .881 13.871 18.942.514 305 6.426.837 32.210 29.125.695.695 227.028 2.160 1.887 9.497 302 88.294.837 441.488.550 13.672.340.760.705 23.613 64.733 15.831.151 329.634.656.438 304 1.887 201.111.730 209.437 68.305 5.387.575 17.805.689.713 1.400.413 3.620 8.420.842 31.831.108 13.136 48.435 4.033) 5.620 37.254 131.412.582 2.614 794.965.798.96 42.637.525.883.581 64.927.534. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 301 107.621 208.617 8.553.621 133.225.790.848.044 8.485 39.496.944 196.379 33.466 29.169 161.743.269 4.278 151.665 303 189.627.785 158.243.850.099.865.125.513 2.599 5.471 38.088.747 942.897.287 2.689.957.068.935 88.491 474.495 11.885.086 112.573 20.814 6.642 67.916 177.067 1.036.457.214.970.534.247 77.729.114.658.001.056 67.325.821.337 73.815.036 155.259 165.242.162.933 748.707.316.593 30.257.818 108.413 14.284 314.483.777.143.933 124.063 396.028.114 310 260.670 7.281 292.480 6.779.561.267.677.268.018 79.416.658.327 1.373 55.849 24.353.637.076 2.965.315 90.008.629 152.697 937.605 94.786.595.935 1.949.119.045 25.774.503.600 272.480 15.847 3.110 107.202.865.586.592 110.356 105.016 394.813.988.188 2.438.701.447 401 314.165 139.943.408 243.365 57.209 234.480 402 15.783 520.162.389.239 8.643 115.034 41.808.552 309 115.048.321 835.485.013.623 48.466.552 1.241.620 13.622 8.193.539.673 (68.849 80.158 1.099 57.241.Lampiran 2.775.161.782.724 5.282 301 14.211.044 403 8.559 199.901.

695 227.242.637.287 2.063 396.613 64.850.165 139.278 151.701.593 30.821.705 23.325.028 2.272.287 2.672.379 33.272.677.627.169 161.412.620 13.593 30.916 177.438.Lampiran 2.837 700 260.805.622 8.849 24.447 103.099.119.575 17.944 196.575 17.151 329.284 - .853.534.698.214.805.850.340.214.242.849 24.534.613 64.254 131.099.408 243.837 441.340.771.622 8.165 139.729.151 329.988.771.837 3.099.353.815.944 196.099 57.254 131.063 396.672.325.119.739.099 57.469 - - - - 2.739.143.379 33. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 404 103.353.695 227.677.701.620 13.705 23.701.469 501 502 503 509 600 260.729.424 8.821.408 243.637.916 177.853.278 151.698.412.438.424 8.815.088.028 2.627.169 161.

0401 0.0008 0.0001 0.0000 0.0025 0.0022 0.0023 0.0002 0.0000 0.0000 0.0003 0.0015 0.0004 0.0001 0.0000 0.0078 0.0000 0.0000 0.0073 0.0023 0.0001 0.0000 0.0006 0.0352 0.0007 0.0211 0.0519 0.0217 0.0097 0.0066 0.0006 0.0002 0.0800 0.0000 0.0001 0.0021 0.0022 0.0010 0.0003 0.1393 4 0.0000 0.0003 0.0000 0.0007 0.0045 0.0000 0.0020 0.0073 0.0428 0.0001 0.0001 0.0026 0.0319 0.0000 0.0031 0.0010 0.0000 0.3183 0.0008 0.0011 0.0220 0.0004 0.1780 0.0001 0.0000 0.0008 0.0001 0.0000 0.0015 0.0001 0.0000 0.0012 0.0000 0.0037 0.0041 0.0059 0.0002 0.0201 0.1094 0.0000 0.5356 11 0.0056 0.0477 0.0000 0.0025 0.0000 0.0002 0.0001 0.0506 0.1188 5 0.5687 8 0.0119 0.0044 0.0000 0.0005 0.0059 0.0001 0.0350 0.0000 0.2448 0.0016 0.0022 0.1354 0.0446 0.0053 0.2130 0.0199 0.0002 0.0213 0.0027 0.0008 0.0090 0.0250 0.0009 0.0010 0.0000 0.0001 0.0047 0.0003 0.0000 0.0310 0.0071 0.0001 0.0035 0.0000 0.0000 0.0002 0.0153 0.0730 0.0000 0.0171 0.0224 0.0782 0.0013 0.0006 0.0119 0.0000 0.0083 0.2445 0.0000 0.0436 0.0003 0.0094 0.0061 0.0005 0.0000 0. .0013 0.0003 0.0000 0.0026 0.0239 0.0016 0.0355 0.0000 0.0001 0.0233 0.0000 0.0000 0.0013 0.0007 0.0009 0.0001 0.0042 0.0000 0.0000 0.0000 0.0040 0.0007 0.0000 0.0000 0.0015 0.0083 0.0003 0.0000 0.0002 0.0000 0.0050 0.0000 0.0000 0.0008 0.0000 0.0087 0. Matriks Koefisien Teknis Klasifikasi 22 Sektor SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 1 0.0000 0.0002 0.0011 0.0000 0.0073 0.0001 0.0280 0.0289 0.0000 0.0107 0.0086 0.0535 0.0005 0.0424 0.0000 0.4217 13 0.0362 0.0000 0.4673 7 0.0025 0.0008 0.0836 0.2391 2 0.1335 0.0028 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0005 0.0944 0.0171 0.0000 0.0317 0.0001 0.0001 0.0003 0.0005 0.0096 0.4078 12 0.0009 0.0181 0.0002 0.0003 0.0005 0.0116 0.0464 0.0182 0.0073 0.3052 0.0002 0.6039 6 0.4842 Total Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).0057 0.Lampiran 3.0003 0.0000 0.0168 0.1247 0.0050 0.0000 0.0036 0.0433 0.0001 0.0001 0.0718 0.0004 0.0047 0.0017 0.0385 0.0002 0.0646 0.1794 3 0.0002 0.0002 0.0000 0.0000 0.0734 0.0000 0.0021 0.0000 0.0010 0.0000 0.0000 0.0000 0.0934 0.0004 0.0105 0.0000 0.0238 0.0016 0.0243 0.0000 0.0731 0.0014 0.0011 0.0001 0.0000 0.0023 0.0000 0.0006 0.0009 0.0621 0.0000 0.2497 0.0599 0.0000 0.0022 0.0555 0.3957 9 0.3378 10 0.0002 0.0000 0.0155 0.0802 0.0002 0.0002 0.0142 0.

0000 0.0009 0.0187 0.0000 0.0008 0.0244 0.0016 0.0053 0.0001 0.0163 0.7964 0.0000 0.0900 0.0001 0.1097 0.0258 0.0023 0.0002 0.0000 0.0278 0.0939 0.Lampiran 3.0000 0.0319 0.0980 8.0331 0.0620 0.0180 0.0078 0.0001 0.0000 0.0485 0.0003 0.0025 0.0009 0.0000 0.0003 0.0000 0.0226 0.0360 0.0005 0.0001 0.0371 0.0626 0.0277 0.0007 0.0000 0.0223 0.0046 0.0007 0.0055 0.0037 0.0047 0.0791 0.0007 0.0572 0.0000 0.5495 0.0000 0.0010 0.0074 0.0236 1.4884 19 0.0004 0.0001 0.0179 0.0511 0.0000 0.0013 0.0035 0.0010 0.0000 0.0002 0.0099 0.0108 0.0817 0.0000 0.0039 0.0023 0.0889 0.5997 0.0000 0.0010 0.2400 22 0.0000 0.0147 0.0010 0.0020 0.0261 0.0804 0.6530 18 0.0091 0.1006 0.7027 0.0364 0.0400 0.0000 0.2764 0.6438 0.1548 0.0000 0.0000 0.0000 0.0100 0.0002 0.0049 0.0373 0.0508 0.0000 0.0002 0.0000 0.0014 0.0180 0.0003 0.0221 0.1631 0.0033 0.0589 0.3072 0.1737 0.0081 0.0495 0.3580 0.0027 0.0272 0.2619 0.0001 0.0315 0.3319 0.1790 0.0000 0.0001 0.0000 0.0020 0.0369 0.0000 0.0001 0.0008 0.0038 0.0001 0.0058 0.0008 0.0071 0.0030 0.0000 0.3945 21 0.0011 0.0275 0.0020 0.0007 0.0128 0.0352 0.0000 0.0000 0.0465 0.0230 0.0024 0.0000 0.0105 0.0000 0.0001 0.0008 0.0604 0.0047 0.0336 0.3675 17 0.3821 20 0.0044 0.3103 0.0000 0.0007 0.0002 0.1877 0.0022 0.0131 0.0000 0.0431 0.0001 0.0348 0.0007 0.0032 0.0130 0.4161 16 0.1082 0.0000 0.0006 0.0048 0.0004 0.0002 0.0158 0.0012 0.0532 0.4633 0.0019 0.0009 0.0085 0.0000 0.0474 0.0369 0.0001 0.3390 Total 0.0000 0.0000 0.5635 15 0.2790 0.0000 0.0220 0.0317 0.1919 1.7433 .0003 0.0172 0.0295 0.0000 0.0000 0.0000 0.0007 0.0200 0.0867 0.1020 0.0771 0.0001 0. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Total 14 0.0276 0.0502 0.0001 0.0226 0.0000 0.0150 0.0002 0.0001 0.4070 0.

0061 0.0192 0.0172 0.0382 0.0483 0.0001 0.0000 0.0008 0.0025 0.0037 1.3337 0.0193 0.0012 0.0163 0.0337 0.0035 0.0058 0.0062 0.0394 0.0028 0.0058 0.0542 0.1548 0.0050 0.0055 0.0008 0.0097 0.2751 3 0.0014 0.1038 0.0965 0.0036 0.0043 1.0013 0.0007 0.0024 1.0287 0.0441 0.0602 0.0775 0.2921 0.0991 0.0106 0.0005 0.0134 0.0133 0.0133 0.0067 0.0155 0.0012 0.0008 0.0130 0.0001 0.0042 0.0230 0.4000 0.0009 0.0030 0.0009 0.0078 0.0474 0.0494 0.0291 0.0011 0.0000 0.0090 0.1031 1.0006 1.0014 1.0052 0.0004 0.0017 0.0030 1.0032 0.0166 0.0053 0.0397 0.0681 0.0003 0.1683 0.0452 0.0004 0.0121 0.1036 0.0012 0.0304 0.0012 0.0148 0.0005 0.0034 0.0032 0.0240 0.0011 0.0009 0.0005 0.0109 0.0017 0.2508 0.0153 0.0004 0.2287 4 0.0943 0.0026 0.0001 0.0122 1.1048 0.0010 0.0008 0.6059 9 0.0026 0.0359 0.0054 0.0648 0.0170 0.0322 0.0044 0.0001 0.0052 0.0105 0.0050 0.0059 0.0076 0.0109 0.0357 0.8431 11 0.0031 0.0024 0.0080 0.0015 0.0007 0.0006 0.0065 0.0082 0.0112 0.0009 0.0036 0.0749 0.0013 0.0260 0.0014 0.0155 0.1045 1.8775 8 0.0044 0.0004 0.0001 0.0011 0.0981 0.1920 0.0007 0.0010 0.0016 0.0378 0.0076 0.3235 1.0013 0.0007 0.0006 0.3950 2 0.0275 0.0015 0.0386 0.0626 0.0077 0.0017 0.0007 0.0826 0.0002 0.0021 1.Lampiran 4.1140 0.0001 0.0009 0.0163 0.0008 0.1567 5 0.0474 0.0021 1.0767 0.0002 0.0013 0.0394 0.0164 0.0007 0. Matriks Kebalikan Leontief Klasifikasi 22 Sektor SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 1 1.0508 0.0006 0.0005 0.0221 0.0034 0.0100 0.0043 0.2088 0.0011 0.0002 0.0137 0.0467 0.0463 0.0014 0.0481 0.0294 0.0072 0.0002 0.0080 1. .0118 0.0055 0.2025 0.0063 0.0134 0.0770 0.0221 0.0042 0.5409 10 0.0074 0.0011 0.0052 0.0782 0.0097 0.0030 0.0005 0.0440 0.0452 0.0004 0.0303 1.0017 0.0049 0.2872 0.1068 0.0138 0.0345 0.0046 1.0014 0.0261 0.0016 0.0008 0.0013 0.0180 0.0001 0.0018 0.0054 0.0166 0.0079 1.0007 0.0000 0.6424 12 0.0009 1.0036 0.0046 0.0072 1.0012 0.0001 0.0010 0.1133 0.0014 0.0112 0.0584 0.0003 0.0009 0.0137 1.0005 0.9484 6 0.0220 0.0021 0.0123 0.0093 0.0094 1.5577 13 0.0327 0.0013 1.7956 7 0.0116 0.0636 0.0008 0.0052 0.0196 0.0002 0.0260 0.0001 0.0021 0.0024 0.0938 0.0042 0.0006 0.0099 0.0086 0.0108 0.0051 0.0004 0.0002 0.0446 1.0034 1.0000 1.0003 0.6858 Total Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).0005 0.0022 0.0033 1.0019 0.1178 0.0009 0.0059 0.

0828 0.0062 0.0010 0.0454 0. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 14 0.0025 0.0011 0.0041 0.2051 2.0018 0.0020 0.1272 1.0235 0.0488 0.0038 1.7978 15 0.0416 0.0661 0.0468 0.0444 0.0120 0.0041 0.0057 0.0068 0.0018 0.0040 0.1550 1.0038 0.0056 0.1116 0.0025 1.0134 1.0054 0.0009 0.0183 0.0003 0.0018 0.0012 0.1331 0.0025 0.0532 0.0291 3.8552 18 0.0184 1.0067 0.0082 0.0084 0.4368 1.6529 1.0090 0.0216 0.0284 0.0073 0.0544 0.1095 0.3283 1.0010 0.1247 0.0171 0.0487 0.1150 1.0816 0.0013 0.1589 0.0208 1.0009 0.Lampiran 4.0050 0.0018 0.3732 0.0000 0.0449 0.0010 0.0755 0.0343 0.0237 0.0599 0.0481 0.0115 0.0042 1.0038 0.3643 22 0.0007 0.0105 0.0247 0.0008 0.1049 0.0377 0.0441 0.0013 0.0515 1.5500 Total 1.0166 1.0063 0.0724 0.0102 1.0020 0.0054 0.0104 0.0026 0.9552 1.2955 1.0003 0.0026 0.0105 0.7539 19 0.0001 0.2733 Total .0348 0.0041 0.0607 0.1284 0.0018 0.0012 0.0502 0.0119 1.0395 0.0298 0.0032 0.6138 20 0.0007 1.0772 0.0267 0.1395 0.0098 0.3310 1.0004 0.0000 0.0003 0.0522 0.0058 0.0498 0.0018 0.0856 1.0239 0.2750 1.5581 0.0024 0.0014 0.0009 0.0082 0.3066 3.0078 1.0219 0.0056 0.0001 0.0028 0.0068 0.0015 0.1306 1.5005 16 0.0999 0.0001 0.0254 0.0516 0.0170 0.0000 0.0274 0.0537 0.0517 0.0137 0.0139 0.0182 0.0010 0.6501 17 0.0048 0.0013 0.0001 0.0246 0.0002 0.0802 0.0007 0.0338 1.0002 0.0024 0.0051 0.0166 0.6422 1.0016 0.0855 0.0008 0.0063 0.0028 0.2689 1.0558 0.0874 2.0653 2.0173 0.0039 0.0016 0.0053 0.0020 0.0059 0.0095 0.0013 0.1194 0.0212 0.0007 0.0058 0.0008 0.0004 0.0022 0.6346 21 0.0006 0.0734 1.0001 0.0116 0.0008 0.0274 0.0088 0.0001 0.0004 0.0017 0.0420 0.0404 0.0261 1.0045 0.0171 0.0198 0.1857 1.0044 0.0071 1.3855 1.2191 1.0450 0.0718 0.1062 0.0031 1.0638 0.1575 35.0715 0.0005 0.