P. 1
Analisa IO Peranan Industri Kertas Dalam Perekonomian Indonesia

Analisa IO Peranan Industri Kertas Dalam Perekonomian Indonesia

|Views: 3,251|Likes:
Published by Sita W. Suparyono

More info:

Published by: Sita W. Suparyono on May 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/05/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1. Latar Belakang
  • I.2. Perumusan Masalah
  • 1.3. Tujuan Penelitian
  • 1.4. Manfaat Penelitian
  • 2.1. Definisi dan Sejarah Kertas
  • 2.2. Konsep Pembangunan Industri Kertas
  • 2.3. Integrasi Vertikal Pada Industri Kertas
  • Tabel 2.1. Hasil Penelitian Terdahulu tentang Keterkaitan
  • Tabel 2.3. Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Dampak Penyebaran
  • Tabel 2.3. Struktur Tabel Input-Output
  • III. METODE PENELITIAN
  • 3.1. Jenis dan Sumber Data
  • 3.2. Metode Analisis
  • 3.2.1. Koefisien Input
  • 3.2.3. Analisis Dampak Penyebaran
  • 3.2.4. Elastisitas Input-Output
  • IV. GAMBARAN UMUM INDUSTRI
  • 4.1. Profil Industri Kertas
  • Tabel 4.1. Profil Industri Pulp dan Kertas Indonesia Tahun 2003
  • 4.2. Perkembangan Industri Kertas
  • Tabel 4.2. Konsumsi Kertas Per Kapita Penduduk Indonesia Tahun 1993-2003
  • 4.3. Integrasi Vertikal dan Pasar Industri Kertas Indonesia
  • 4.4. Profil Beberapa Perusahaan Kertas Indonesia
  • Tabel 4.3. Kapasitas Terpasang Perusahaan Industri Kertas Tahun 2003
  • V. HASIL DAN PEMBAHASAN
  • 5.1. Peranan Industri Kertas Dalam Perekonomian Indonesia
  • 5.1.1. Struktur Permintaan Industri Kertas
  • 5.1.2. Struktur Nilai Tambah Bruto
  • Tabel 5.3. Rasio Upah Terhadap Surplus Usaha
  • 5.1.3. Struktur Ketenagakerjaan
  • 5.1.4. Struktur Ekspor dan Impor
  • 5.1.5. Struktur Output Sektoral
  • 5.2. Analisis Keterkaitan
  • 5.2.1. Keterkaitan Langsung Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia
  • 5.3. Analisis Koefisien Penyebaran dan Kepekaan Penyebaran
  • 5.3.1. Koefisien Penyebaran
  • 5.3.2. Kepekaan Penyebaran
  • 5.4. Elastisitas Input-Output
  • 5.4.1. Elastisitas Output
  • 5.4.2. Elastisitas Pendapatan
  • 5.4.3. Elastisitas Tenaga Kerja
  • 5.5. Sektor-Sektor Kunci dalam Perekonomian Indonesia
  • 5.6. Implikasi Kebijakan
  • VI. KESIMPULAN DAN SARAN
  • 5.1. Kesimpulan
  • DAFTAR PUSTAKA

ANALISIS INPUT-OUTPUT PERANAN INDUSTRI KERTAS DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA

OLEH RUSLI RAMLI H14101122

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006

RINGKASAN

RUSLI RAMLI. Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia (dibimbing oleh ARIEF DARYANTO). Proses industrialisasi di Indonesia telah yang dimulai dari sejak pelita I telah mengakibatkan transformasi struktural dalam perekonomian Indonesia. Hal ini ditandai dengan semakin menurunnya kontribusi sektor primer (pertanian) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sementara sektor sekunder dan tersier seperti industri pengolahan kontribusinya terhadap PDB terus mengalami peningkatan. Salah satu sektor industri pengolahan yang berkembang pesat adalah sektor industri kertas. Hal yang menyebabkan industri ini terus berkembang pesat di Indonesia antara lain adalah kemudahan mendapatkan baku dan tenaga kerja yang murah. Pada akhir tahun 2000 kapasitas terpasang industri kertas nasional telah mencapai sekitar 9,1 juta ton per tahun, produksi sebesar 6,8 juta ton, ekspor sebesar 2,8 juta ton, dan konsumsinya yang telah mencapai 4,2 juta ton. Data-data tersebut di atas menunjukkan bahwa industri kertas sangat potensial untuk terus dikembangkan khususnya untuk meningkatkan penerimaan devisa negara. Selain perkembangannya yang pesat tersebut, industri kertas juga mempunyai pengaruh dan hubungan timbal balik terhadap industri atau sektor lainnya karena komoditi kertas yang dihasilkan oleh industri ini dapat sebagai input sektor industri lain dan sebaliknya industri kertas juga membutuhkan input dari sektor lain tersebut. Berdasarkan kondisi di atas, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana peran sektor industri kertas bagi perekonomian Indonesia Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari BPS Pusat Jakarta dan instansi terkait lainnya. Analisis yang digunakan yaitu Analisis Input-Output (I-O) dari Tabel I-O Indonesia Tahun 2000 transaksi domestik atas dasar harga produsen klasifikasi 175 sektor melalui program Microsoft Excel 2003. Pendekatan model I-O yang digunakan dalam penelitian ini adalah model sisi permintaan (demand-side model), hal ini dikarenakan faktor permintaan merupakan faktor eksogen yang mempengaruhi perekonomian. Berdasarkan analisis deskriptif dari Tabel I-O Indonesia tahun 2000 transaksi domestik atas dasar harga produsen yang diagregasi menjadi 22 sektor, industri kertas memiliki peran yang tidak begitu besar terhadap struktur perekonomian Indonesia seperti struktur permintaan, nilai tambah bruto, struktur ketenagakerjaan, ekspor-impor dan pembentukan output sektoral. Hal ini dapat dilihat dari kecilnya nilai industri kertas pada masing-masing struktur tersebut bila dibandingkan dengan sektor perekonomian lainnya. Dilihat dari sisi permintaan antara dan permintaan akhir, industri kertas memiliki permintaan akhir (Rp 10.800.775 juta) yang lebih besar daripada permintaan antaranya (Rp 13.970.847 juta) yang menandakan bahwa output industri kertas lebih banyak digunakan untuk konsumsi langsung (masyarakat, pemerintah, dan ekspor) daripada sebagai input untuk sektor lainnya.

Dilihat dari rasio upah gaji terhadap surplus usaha (0,43) dalam struktur nilai tambah bruto, dapat identifikasi bahwa pada industri kertas terjadi ketimpangan distribusi pendapatan antara pihak perusahaan dengan tenaga kerjanya. Kemudian dari struktur ketenagakerjaan dapat diketahui bahwa industri ini mampu menyerap tenaga kerja sebesar 118.454 jiwa. Berdasarkan analisis struktur ekspor-impor dapat diketahui bahwa industri kertas mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 4.617.531 juta sedangkan dari pembentukan output sektoral industri kertas menyumbang sebesar Rp 24.771.662 juta atau sekitar 0,92 persen dari total output sektoral perekonomian. Dari hasil analisis keterkaitan per sektornya (keterkaitan industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian Indonesia), industri ini memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor hulu dan hilirnya. Pada keterkaitan ke depan industri kertas memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor industri barang dari kertas (0,3183) dan industri percetakan (0,2448), sedangkan pada keterkaitan ke belakangnya, industri kertas memiliki keterkaitan kuat terhadap industri pulp (0,0944) yang merupakan sektor penghasil input bahan bakunya. Berdasarkan hasil analisis koefisien penyebaran dapat diketahui bahwa industri kertas kurang memiliki kemampuan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya. Sedangkan dari hasil analisis kepekaan penyebaran industri kertas merupakan industri yang memiliki kemampuan yang kuat dalam mendorong sektor hilirnya. Pada analisis elastisitas input-output dapat diketahui bahwa industri kertas cukup responsif terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya dalam hal output dengan nilai elastisitas output sebesar 1,0023. Sementara dari hasil elastisitas pendapatannya (0,0522) industri ini kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal pendapatan dan jika dilihat dari hasil elastisitas tenaga kerjanya (0,6093), perubahan permintaan akhir sektor lain kurang berpengaruh terhadap perubahan tenaga kerja dalam sektor industri kertas tersebut. Berdasarkan ranking elastisitas, industri kertas termasuk dalam salah satu dari sepuluh sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam). Hal ini mengindikasikan bahwa sektor industri ini memiliki respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal peningkatan output, pendapatan, maupun tenaga kerjanya, sehingga sektor ini mempunyai kemampuan yang cukup besar dalam berkontribusi untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan. Bersama dengan sektor kunci lainnya, industri kertas merupakan sektor prioritas yang harus dikembangkan oleh pemerintah sebagai policy makers karena kontribusinya terhadap perekonomian tersebut

ANALISIS INPUT-OUTPUT PERANAN INDUSTRI KERTAS DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA Oleh RUSLI RAMLI H14101I22 Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006 .

NIP. Menyetujui. M. Ir. Nama Mahasiswa Nomor Registrasi Pokok Program Studi Judul Skripsi : Rusli Ramli : H14101122 : Ilmu Ekonomi : Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia dapat diterima sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi. Rina Oktaviani.INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN DEPARTEMEN ILMU EKONOMI Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh. Dr. Ir. MS NIP. Dosen Pembimbing. 131 846 872 Tanggal Kelulusan: . Institut Pertanian Bogor. 131 644 945 Mengetahui.Ec. Dr. Ketua Departemen Ilmu Ekonomi. Arief Daryanto. Fakultas Ekonomi dan Manajemen.

Bogor.PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. Juni 2006 Rusli Ramli H14101122 .

Jenjang pendidikan penulis dilalui dengan lancar. penulis menamatkan Sekolah Dasar pada SDN Ciwaringin 1. Formasi. Propinsi Jawa Barat. penulis aktif di berbagai organisasi intra dan ekstra kampus seperti BEM-H. . dari pasangan Apun Sanusi dan Yoyoh. kemudian melanjutkan ke SLTPN 1 Telagasari dan lulus pada tahun 1998. Pada tahun 2001 penulis melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi untuk meraih gelar sarjana. Selama menjadi mahasiswa. dan HMI Komisariat FEM. Penulis masuk IPB melalui jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dan diterima sebagai mahasiswa Program Studi Ekonomi dan Studi Pembangunan pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen.RIWAYAT HIDUP Penulis bernama Rusli Ramli lahir pada tanggal 20 Juli 1983 di Karawang. Penulis merupakan anak pertama dari satu bersaudara. Pada tahun yang sama penulis diterima di SMUN 1 Karawang dan lulus pada tahun 2001.

Penulis mengharapkan adanya hasil positif sebagai masukan dalam pembangunan industri kertas nasional selanjutnya.1r. Judul ini dipilih penulis karena merupakan topik yang menarik dalam perkembangan industri nasional dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. saran serta bimbingan dalam pembuatan skripsi ini.Ec. Arief Daryanto.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Institut Pertanian Bogor. terutama kepada Bapak Dr. Judul skripsi ini adalah “Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia“. bagi penulis khususnya dan kalangan pendidikan umumnya. Semoga karya ini dapat bermanfaat. skripsi ini juga merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi. Bogor. M. Juni 2006 Rusli Ramli H14101122 . Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada seluruh pihak lainnya yang telah membantu terlaksananya penelitian ini baik dari instansi maupun perorangan yang tidak dapat disebutkan satu persatu. yang telah memberi masukan. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Selain itu.

................................ 2....... Kerangka Pemikiran Teoritis ..................................................................... 1................... 3..........................................2....................................................... Profil Industri Kertas................. 3..........3...2......................................................... Struktur Tabel Input-Output..................5......... Elastisitas Input-Output.................2............................ 3...................................................................... x xi xii 1 1 4 5 5 6 7 7 8 11 13 16 16 19 22 25 25 25 26 27 29 31 33 33 34 ....... 2.. Metode Analisis .............. 4..................... Model Input-Output ..... 2......... Manfaat Penelitian ....................... Tujuan Penelitian ................................................................................. 2... II................................ Konsep Pembangunan Industri Kertas ................. PENDAHULUAN .......................2.....DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL...........1........ DAFTAR GAMBAR .............................................................................3...... Penelitian-Penelitian Terdahulu ....2....................... Integrasi Vertikal Pada Industri Kertas ..................................................................................... TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN .............................................................2....................... 2............................1.......... 1............................ 1...........1......................................5.............................1..................2............... Kerangka Pemikiran Konseptual .............................6.............. DAFTAR LAMPIRAN........................................ Analisis Dampak Penyebaran ................................................ GAMBARAN UMUM INDUSTRI ......................2.................... V....... III....... 2......... 1...4.............. 2............... 4...... 3............. Jenis dan Sumber Data ..... 1..................................................................2................. 2.. Definisi dan Sejarah Kertas..............3...................................................3...... Ruang Lingkup.......... Latar Belakang ......1... Analisis Keterkaitan ... Perumusan Masalah ....... Koefisien Input...........5...........................4......1............... Perkembangan Industri Kertas ............5..... 3...... METODE PENELITIAN.......................... I..................... 3.....2.......................

............................. Keterkaitan Langsung Sektor-Sektor Perekonomian ....2................. Elastisitas Input-Output...... 4.2. 5..4.............3... Struktur Output Sektoral .2...... 5..... 5..5..............1..... Struktur Ketenagakerjaan..............................6......1... Kesimpulan ....................2..............4...... 5....... Kepekaan Penyebaran ................3......................... Analisis Keterkaitan ....5...... 36 37 47 47 47 49 51 53 55 56 56 58 59 61 62 63 65 67 67 68 70 71 73 75 75 76 78 80 . 5.....2.......................... 5....................................... Elastisitas Output ............................................ 6......4................... Analisis Koefisien dan Kepekaan Penyebaran........1..........2.... 5.................4...........2..... Struktur Permintaan Industri Kertas .........2........................................3................ Koefisien Penyebaran... 5...........4....................................... Struktur Ekspor dan Impor................. Profil Beberapa Perusahaan Kertas Indonesia .............................. 5..... 5.................3... 5...... 5... KESIMPULAN DAN SARAN ..........3... Keterkaitan ke Depan Industri Kertas .............. V..............1.................................. 5..... 5............ Peranan Industri Kertas Dalam Perekonomian Indonesia..............................2... Elastisitas Pendapatan .............. DAFTAR PUSTAKA ...... Elastisitas Tenaga Kerja.......... Saran................................................. Sektor-Sektor Kunci dalam Perekonomian Indonesia ..................1.................................. 5...................... Keterkaitan ke Belakang Industri kertas ....................3...... VI........... Implikasi Kebijakan ...............2.............. LAMPIRAN..................... 5...............................1..............1..... Struktur Nilai Tambah Bruto ...........4.............................1...................1.................. 5... 5................................1............. HASIL DAN PEMBAHASAN..... 5.................... Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ............2..................... 5..............2...........................................................4.........3............. Integrasi Vertikal dan Pasar Industri Kertas Indonesia.................... 6............................................

........ .......... Boards PT.....................6..................................... 2.........3.........4............... Jumlah Tenaga kerja....................... Kapasitas Terpasang Perusahaan Industri Kertas 2003....3......... Indah Kiat Pulp & Paper Tbk per 30 September 2004 ..1.. 5.......... 3 13 14 19 34 35 38 40 42 43 46 48 50 51 52 .....7................... 4..... 2 1........... 4.................... 4.............. 5..... Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk per 30 September 2004 . Profil Industri Pulp dan Kertas Indonesia Tahun 2003 .............5. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry per 30 Desember 2004 ............ Pindo Deli Pulp & Paper Mills per 30 September 2004 ..2........ Konsumsi Kertas Per Kapita Penduduk Indonesia 1993-2002..2.3... Rasio Upah Terhadap Surplus Usaha...................... Struktur Tabel Input-Output........... 4................................. Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Dampak Penyebaran...... 5................ Ekspor dan Konsumsi Industri Kertas Indonesia Tahun 1994-2003....... Kapasitas Produksi.......................... Boards PT.....................................1....... 2....................................... 5............................ Impor.. 4............DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1.................. Produktifitas dan Nilai Upah Sektoral Indonesia Tahun 2000 ............1.................................... Komposisi Sektoral PDB 1960-2003 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993 . Boards PT........ Boards PT......... Nilai Tambah Bruto Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Indonesia Tahun 2000 ...... 4.... 4...................................................4..... Permintaan Antara dan Permintaan Akhir Sektor-sektor Perekonomian di Indonesia Tahun 2000..................................1. 2..... Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Keterkaitan .......2............2..........

.........11...5.10......... 5.. Elastisitas Input-Output Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 ............................................................... Koefisien Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia............................... 5..........................................................5..........12. Sektor Kunci Perekonomian Menurut Ranking Elastisititas Input-Output Indonesia Tahun 2000 ................. 5.. 5................. 5..... Struktur Pembentukan Output Sektoral Terhadap Perekonomian Indonesia ...................................................................................................... Nilai Keterkaitan Berbagai Sektor Perekonomian di Indonesia .............8.... 5................. 5..................7. Struktur Ekspor dan Impor Indonesia Tahun 2000 ....... Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia ..13.....9. Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia ........... 5.......... Kepekaan Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia....6..... 54 56 57 60 61 64 66 69 71 ...

........................... Bagan Alur Pendekatan Studi ........................ Halaman 24 .DAFTAR GAMBAR Nomor 1......

.......... Matriks Koefisien Teknis Klasifikasi 22 Sektor .... Halaman 81 82 86 88 Klasifikasi Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 .................... ........ Matriks Kebalikan Leontief Klasifikasi 22 Sektor. 2.......DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1........ Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 Klasifikasi 22 Sektor .................................... 4....... 3.......

Perubahan struktural mengandung arti peralihan dari masyarakat pertanian tradisional menjadi ekonomi industri modern. Pada tahun-tahun berikutnya dapat dilihat bahwa sektor industri pengolahan terus mengalami kenaikan dalam hal kontribusinya terhadap PDB sedangkan sektor pertanian sebaliknya terus mengalami penurunan kontribusi terhadap PDB. yang mencakup peralihan lembaga.I. Perubahan struktur semacam ini menyebabkan kesempatan kerja semakin banyak. Pola pertumbuhan ekonomi secara sektoral di Indonesia agaknya sejalan dengan kecenderungan proses transformasi struktural yang terjadi di berbagai negara di dunia. sementara kontribusi sektor sekunder dan tersier cenderung meningkat.1. Kemudian pada tahun 1967 industri pengolahan telah menyumbang 51. Hal tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa sektor industri .1). Pada tahun 1960. sektor pertanian merupakan sektor penyumbang terbesar terhadap PDB (53. produktifitas buruh. PENDAHULUAN 1.8 persen terhadap PDB sedangkan sektor pertanian mempunyai kontribusi terhadap PDB sebesar 8. sementara sektor industri khususnya industri pengolahan baru menyumbang 8. 2002).9 persen). Latar Belakang Proses industrialisasi di Indonesia yang dimulai sejak Pelita I telah mengakibatkan transformasi struktural di Indonesia. dimana terjadi penurunan kontribusi sektor pertanian (sektor primer) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).4 persen dari PDB (Tabel 1. stok modal. dan motivasi yang secara radikal. sikap sosial. dan pendayagunaan sumber-sumber baru serta perbaikan teknologi akan semakin tinggi (Jhingan.4 persen.

2 1.9 1983 22.3 9.49 7.5 16.2 3.8 3.8 6. Pasar bagi hasil industri pulp dan kertas masih terbuka luas karena konsumsi kertas per kapita terus meningkat dari tahun ke tahun.9 1989 20.6 15.1 5.4 5.8 1.0 16.7 8. 2003.1 0.9 14.6 13.0 3.7 8.5 1998 17.3 2.6 15.4 5.5 1993 17.3 4.3 3.7 1.6 0.1 12.9 3. Dari sisi kontribusi terhadap penerimaan negara.3 3.7 12. Salah satu dari sektor industri pengolahan tersebut yang berkembang pesat sampai saat ini adalah industri pulp dan kertas.0 14.64 15.57 2003 16.7 24.2 pengolahan telah menggeser peranan sektor pertanian dalam pembangunan nasional berkaitan dengan peralihan struktur perekonomian masyarakat Indonesia dari orientasi pada sektor primer (pertanian) kepada orientasi sektor industri.5 3. sewa dan jasa perusahaan Jasa-jasa Sumber : BPS.7 2. hotel dan restoran Pengangkutan dan komunikasi Keuangan.9 5.1.6 3.9 5.4 Industri pulp dan kertas adalah industri yang berkembang dengan tingkat pertumbuhan 20 persen per tahun pada beberapa dekade terakhir.3 6.8 20.84 25.6 10. sektor industri pulp dan kertas telah menyumbang 90 persen dari total penerimaan ekspor kehutanan.7 6.6 18.57 9. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai eksportir .3 1.7 0.0 3. Komposisi Sektoral PDB 1960-2003 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993 (persen) Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan penggalian Industri Pengolahan Listrik dan air minum Bangunan/konstruksi Perdagangan.2 1967 51.9 7.9 21.4 1973 40.6 16. Tabel 1.52 5.8 3.1 3.6 5.4 0.5 1.9 10.0 6.9 16.4 0.5 0.3 6.5 0.2 6. 1960 53.

487. jumlah produksi. Ada tiga alasan utama yang melatarbelakangi pentingnya sumbangan industri ini. 2003.821.290 4.800.970 2002 10.833.110 197.198. pertama.3 pemimpin dalam bidang kehutanan di dunia sejak 1987 (Karseno dan Mulyaningsih.065. Kapasitas.120.695 250.000 2.224. Produksi. Ekspor.212.119.800 212.2.960 2.837.945 5.951.700 261.595.560 1999 9.840 249. Sementara itu fokus khusus pada sektor industri kertas (diluar dari industri pulp).350 3.168. 2002).580 7.000 130.800 2. dan Konsumsi Industri Kertas Indonesia Tahun 1994-2003 (ton) Tahun Kapasitas Produksi Impor 171.560 4.180 6.600 2. industri ini merupakan salah satu industri yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia.282.970 3.260 1998 9.300.630 199. Tabel 1. alasan kedua. 2002).425.280 4.015.420 4.904. sehingga dalam masa krisis ekonomi yang dihadapi Indonesia.472.479.240 2001 10.000 8. industri ini masih dapat diandalkan dalam membantu penerimaaan devisa negara (Rosadi dan Vidyatmoko. yaitu komponen impor yang digunakan dalam proses produksi nilainya tidak lebih dari 30 persen. Impor.950.399.600 1997 7.000 3.800. ialah bahwa produk kertas cenderung banyak yang ditujukan untuk pasar luar negeri.783.200 924. dan ketiga.210 2. Hal itu ditambah apabila melihat dalam sekitar satu dekade terakhir ini.200.000 1994 4.600.000 Konsumsi 2.116.490 1996 7.730 2.446.641.800 1995 5.000 2000 9.100 2.935 5.500 3.054.530 5.882.180 6. adalah bahwa produk kertas harganya banyak ditentukan dalam nilai dolar.000 2003 Sumber: Asosiasi Pulp dan Kertas. ekspor maupun .097.805.430 3.345. baik kapasitas.220 1.135 2.000 Ekspor 826.390 3.849.300 140.080 6.130 143.913.720.520 1.

Keunggulan yang lebih banyak mengandalkan sumber bahan baku yang berlimpah dengan harga yang relatif murah serta tenaga kerja dengan upah buruh yang relatif rendah.2). I. Begitu juga dalam hal tenaga kerja. misalnya. Dalam hal bahan baku. Perumusan Masalah Pentingnya industri kertas yang besar tidak terlepas dari kondisi yang dimilikinya. sehingga bahan baku untuk pembuatan kertas tersedia banyak di Indonesia. Sampai saat ini industri kertas Indonesia memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan negara lain. Namun pentingnya industri kertas ini tidak semata-mata hanya karena keunggulan komparatifnya saja tapi juga karena peranannya dalam hubungannya terhadap sektor-sektor lain dalam perekonomian Indonesia baik sektor industri maupun non-industri dan bagaimana sektor-sektor lain tersebut mempengaruhi industri kertas sehingga terjadinya hubungan timbal balik yang mengarah pada peningkatan pertumbuhan sektor-sektor dalam perekonomian secara keseluruhan.2. angkatan kerja produktif di Indonesia mencapai puluhan juta orang. Indonesia termasuk negara penyedia bahan baku pulp terbesar karena mempunyai hutan terluas kedua di dunia. Berdasarkan kondisi inilah dirasakan penting untuk melakukan analisis lebih lanjut tentang peranan industri kertas terhadap perekonomian Indonesia. Peran industri kertas dalam hubungannya dengan sektor-sektor perekonomian tersebut dapat dilihat dari bagaimana struktur perekonomiannya bila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya dan keterkaitannya dengan sektor-sektor lainnya .4 konsumsi dalam industri kertas terus mengalami kenaikan setiap tahunnya (Tabel 1.

nilai tambah. Berdasarkan latar belakang dan uraian di atas. Bagaimana peran sektor industri kertas dalam mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya? 4. beberapa permasalahan yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut: 1. Berapa besar peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia dalam struktur permintaan. bagaimana kemampuan industri kertas dalam mendorong sektor hulu dan hilirnya dan bagaimana peran industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah di atas maka tujuan penulisan skripsi ini adalah: 1. Menganalisis peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia dalam struktur permintaan. ketenagakerjaan. Bagaimana peran sektor industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia? 1. ekspor-impor dan output sektoral 2. nilai tambah. Bagaimana keterkaitan sektor industri kertas dengan sektor-sektor lainnya di Indonesia? 3.3.5 tersebut. ketenagakerjaan. Menganalisis keterkaitan sektor industri pengolahan dengan sektor-sektor perekonomian lainnya di Indonesia . ekspor-impor dan output sektoral? 2.

4. Menganalisis peran sektor industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia 1. Dengan kata lain industri kertas dalam penelitian ini bukan industri pulp. kertas lapis dan non lapis (coated and uncoated paper).4.6 3. kertas rokok (cigarette paper) dan sebagainya. Menganalisis peran sektor industri kertas dalam mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya 4. kertas tissue (tissue paper). . Manfaat Penelitian Penulis mengharapkan penelitian ini dapat berkontribusi secara positif terhadap perencanaan kebijakan pembangunan industri kertas nasional pada khususnya maupun industri lain pada umumnya oleh pihak-pihak yang terkait didalamnya maupun bagi pihak-pihak lain yang berkepentingan untuk melakukan penelitian tentang industri kertas Indonesia. 1. Kertas yang dimaksud adalah jenis kertas seperti kertas tulis cetak (writingprinting paper). Ruang Lingkup Industri kertas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah industri yang terdiri dari perusahaan-perusahaan yang mengolah bahan baku kertas menjadi produk kertas yang merupakan barang jadi yang dapat di langsung dikonsumsi ataupun barang setengah jadi yang akan digunakan sebagai input oleh industri lain. industri barangbarang dari kertas yang tidak memproduksi kertasnya terlebih dahulu dan bukan pula industri percetakan atau penerbitan.

2005). meskipun pengunaan papirus masih dirasakan sangat mahal. Dari kata papirus (papyrus) itulah dikenal sebagai paper dalam bahasa Inggris. Serat yang digunakan biasanya adalah alami dan mengandung selulosa (Wikipedia 2005). sutera. Penggunaan papirus sebagai media tulis menulis ini digunakan pada peradaban Mesir kuno pada masa bangsa Fir’aun kemudian menyebar keseluruh Timur Tengah sampai Romawi di Laut Tengah dan ke seluruh Eropa. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI 2. . Kertas dikenal sebagai media utama untuk menulis. Adanya kertas merupakan revolusi baru dalam dunia tulis menulis yang menyumbangkan arti besar dalam peradaban dunia. prasasti dari batu. Perancis misalnya atau papel dalam bahasa Spanyol yang berarti kertas (Wikipedia. yang dihasilkan dengan kompresi serat. kayu. Peradaban Mesir kuno menyumbangkan papirus sebagai media tulis menulis. Sebelum ditemukan kertas. mencetak serta melukis dan banyak kegunaan lain yang dapat dilakukan dengan kertas misalnya sebagai kertas pembersih (tissue) yang dapat digunakan untuk hidangan maupun kebersihan. bahkan daun lontar yang dirangkai seperti yang telah ditemukan pada naskah-naskah kuno nusantara beberapa abad yang lalu.1. Jerman. papier dalam bahasa Belanda. Definisi dan Sejarah Kertas Kertas adalah bahan yang tipis dan rata. bangsa-bangsa dahulu menggunakan tablet dari tanah liat yang dibakar.II. kulit atau tulang binatang. bambu. Hal ini dapat ditemui dari pennggalan peradaban bangsa Sumeria.

kimia. Menurut Puspitawati (2000) industri pengolahan merupakan suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan mengubah suatu barang dasar secara mekanis. Penemuan ini akhirnya menyebar ke Jepang dan Korea seiring menyebarnya bangsa-bangsa Cina ke timur dan berkembangnya peradaban di kawasan itu meskipun pada awalnya cara pembuatan kertas merupakan hal yang sangat rahasia. Tsai Lun menemukan kertas dari bahan bambu yang mudah didapat di seluruh Cina pada tahun 101 Masehi.2. Pada akhirnya. atau dengan tangan sehingga menjadi barang jadi atau setengah . Bintaro (1968) dalam Muchtar (1997) mengemukakan industri pengolahan ialah setiap usaha yang merupakan unit produksi yang membuat barang untuk kebutuhan masyarakat di suatu tempat tertentu. munculah pusat-pusat industri kertas baik di Baghdad maupun Samarkand dan kota-kota industri lainnya. 2. kemudian meyebar ke Italia dan India lalu Eropa khususnya setelah perang Salib dan jatuhnya Grenada dari bangsa Moor ke tangan orang-orang Spanyol serta ke seluruh dunia (Wikipedia. 2005). teknik pembuatan kertas tersebut jatuk ke tangan orang-orang Arab pada masa Abbasiyah terutama setelah kalahnya pasukan Dinasti Tang dalam pertempuran sungai Talas pada tahun 751 Masehi dimana para tawanan-tawanan perang mengajarkan cara pembuatan kertas kepada orang-orang arab sehingga dizaman Abbasiyah. Konsep Pembangunan Industri Kertas Ada beberapa pengertian industri secara definisi yang sekurang-kurangnya akan disampaikan dua definisi.8 Tercatat dalam sejarah adalah peradaban Cina yang menyumbangkan kertas bagi dunia.

Sumber pertumbuhan agribisnis pulp dan kertas terutama bersumber dari pemanfaatan sumber daya alam dan tenaga kerja tidak terampil (fase factordriven). Oleh karenanya. 1997). Pada hakekatnya pembangunan industri ditujukan untuk menciptakan struktur ekonomi yang kokoh dan seimbang. Kendati perkembangan sektor industri kertas mengalami kemajuan yang pesat salah satunya terlihat dari perkembangan produksi. pembangunan industri secara nyata harus menjadi penggerak utama peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dan sekaligus dapat menjadi penyedia lapangan kerja yang sudah mulai tidak tertampung pada sektor pertanian (Muchtar. akan tetapi banyak masalah dan tantangan yang dihadapi dalam perjalanannya untuk memiliki keunggulan daya saing yang tinggi. Karakteristik dari industri ini adalah sumber bahan baku kayu .9 jadi dan atau barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya dan sifatnya lebih dekat kepada pemakai akhir. kapasitas maupun ekspornya. sebagai berikut : 1. Berdasar pada dua pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa industri kertas merupakan suatu kegiatan atau usaha mengolah barang dasar atau bahan baku kertas agar memiliki nilai yang lebih baik untuk keperluan masyarakat di suatu tempat tertentu. khususnya pada era ekolabelling dan otonomi daerah pada saat ini. yakni struktur ekonomi dengan titik berat pada industri yang maju dan didukung oleh pertanian yang tangguh. ada 3 fase pembangunan industri pulp dan kertas agar memiliki keunggulan daya saing. konsumsi. Menurut Saragih dalam Sipayung dan Pambudy (2000).

3. Artinya. Efisiensi pengolahan makin meningkat melalui perbaikan teknologi yang terus menerus sehingga selain menurunkan biaya produksi juga . sehingga telah terjadi pemutusan hubungan dengan hutan alam. Fase kedua adalah agribisnis (industri) pulp dan kertas yang digerakkan oleh modal (capital-driven) yakni modal dan tenaga kerja semi terampil (capital and smi-skill labor). Industri pulp dan kertas pada fase ini dicirikan dengan pengembangan perkebunan kayu (timber plantation) sebagai sumber bahan baku. melainkan telah bergeser pada kayu hasil budidaya. meskipun biaya produksi relatif rendah. penyediaan bahan baku kayu tidak lagi bersumber dari penebangan kayu hutan alam. nilai produk kertas dapat dipersepsikan masyarakat (perceive value) sebagai barang inferior. Dengan demikian. Dengan demikian dampak penurunan mutu lingkungan akibat penebangan kayu hutan alam dapat diminimumkan atau lebih rendah dari fase pertama. 2. Karakteristik industri pulp dan kertas pada fase ini adalah pertumbuhan output terutama bersumber dari kemajuan teknologi baik pada penyediaan bahan baku maupun dalam pengolahan.10 mengandalkan kayu hutan (forest based) misalnya Hak Penguasaan Hutan (HPH). Selain itu keterkaitan kegiatan perusahaan masih dengan masyarakat juga masih sedikit. bila diboboti dengan atribut global value dan national/local value. Fase ketiga adalah industri pulp dan kertas yang digerakkan oleh inovasi (innovation-driven) yakni penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tenaga kerja terampil (knowledge based and skill labor based). Sehingga dampak penurunan mutu lingkungan akibat aktivitas industri tersebut biasanya cukup besar.

Pada saat ini industri pulp dan kertas indonesia sebagian besar sedang bergeser dari factor-driven kepada capital-driven.3. Bahkan beberapa diantaranya sudah mulai memasuki innovation–driven. Sedangkan integrasi vertikal ke hilir (downstream) adalah perusahaan yang memutuskan untuk menyalurkan output yang dihasilkan kepada konsumen melalui perusahaan yang terintegrasi dengannya. Integrasi Vertikal Pada Industri Kertas Hasibuan (1994) mendefinisikan integrasi vertikal adalah pengabungan perusahaan-perusahaan yang mempunyai kelanjutan proses produksi. Integrasi vertikal yang dilakukan oleh perusahaan dapat dilakukan dilakukan dengan dua cara. Jenis integrasi ini dapat dibagi menjadi dua. yakni meningkatkan daya saing dan meminimumkan dampak negatif kegiatan industri pulp dan kertas pada lingkungan hidup. Mentransformasi industri pulp dan kertas dari factor-driven kepada innovation-driven akan memberi manfaat ganda. Oleh karena itu. 2. Perusahaan yang menerapkan strategi integrasi vertikal ke hulu (upstream) adalah perusahaan yang memperoduksi sendiri input yang dibutuhkannya. yaitu integrasi ke hulu (upstream) dan integrasi ke hilir (downstream). Full Integration Perusahaan melakukan full integration bila perusahaan tersebut memproduksi semua input yang dibutuhkannya atau ketika perusahaan tersebut . antara lain: 1. kemampuan Riset and Development (R&D) menjadi tulang punggung dalam fase ini.11 mengurangai polutan ke lingkungan.

12 menyalurkan semua output yang dihasilkan melalui anak perusahaan yang terintegrasi dengannya. Taper Integration Perusahaan melakukan taper integration bila perusahaan tersebut membeli input yang dibutuhkannya dari perusahaan lain selain input yang dihasilkan sendiri atau menyalurkan hasil produksinya melalui perusahaan terintegrasi dengannya dan juga perusahaan lain yang tidak terintegrasi Perusahaan-perusahaan seperti PT. Indah Kiat Pulp & Paper. Lontar Papyrus dan PT. PT. 2. Penelitian-Penelitian Terdahulu Penelitian tentang peran dan keterkaitan dengan menggunakan alat analisis Input-Output telah banyak dilakukan. Menurut Karseno dan Mulyaningsih (2002) integrasi vertikal oleh perusahaan kertas akan meningkatkan efisiensi perusahaan dalam industri kertas tersebut karena dapat mengamankan pasokan bahan baku dan meminimumkan biaya transaksi dalam rangka untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan terhadap produk kertasnya. yaitu: (1) penelitian terhadap keseluruhan sektor perekonomian. Penelitian yang sudah dilakukan selama ini antara lain meliputi. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia merupakan perusahaan-perusahaan besar dalam industri kertas yang terintegrasi vertikal dengan industri pulpnya. mereka mempunyai pabrik pulp sendiri sebagai sumber bahan baku produksi kertasnya. (2) penelitian terhadap sektor agroindustri dan non agroindustri . Jenis integrasi vertikal perusahaan-perusahaan tersebut adalah full integration. 2.4.

31431 2. ***Setiyaji (1995).1 yaitu.2). (3) penelitian terhadap sektor pertanian dan industri pengolahan. Pada dasarnya penelitian yang dilakukan memiliki tujuan yang sama yaitu mempelajari keterkaitan (linkages).1. Tabel 2.64866 0.4267 1.4432 1.54759 1.76281 1. Disamping mempelajari keterkaitan tersebut penelitian-penelitian tersebut juga mempelajari dampak penyebaran (Tabel 2.34572 1. **Sahara (1998) . transportasi dan sebagainya (Setyawan. 2005).6028 2.11877 0.07819 1.13 (sektor industri pengolahan). Gambaran ini memberikan indikasi bahwa sektor/subsektor industri pengolahan secara langsung lebih mempunyai . DKI Jakarta** Pertanian Ind.63396 Sumber: *Tjandrawan (1994) . Pengolahan 3. ****Setyawan (2005).1). Pengolahan Tahun InputOutput 1990 1993 0.13908 2. Jepara**** Ind.00619 0.38949 Keterkaitan Ke Depan Langsung 0. baik keterkaitan langsung ke belakang (direct backward linkages) dan ke depan (direct forward linkages) maupun keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang dan ke depan (Tabel 2.81150 1.95855 Keterkaitan Ke Belakang Langsung & Langsung Tdk Langsung 0. (1) keterkaitan langsung ke depan sektor industri pengolahan lebih kecil di bandingkan keterkaitan ke belakangnya.27222 Langsung & Tdk Langsung 1.75861 2. dan (4) penelitian terhadap salah satu sektor perekonomian misalnya pariwisata.58216 0. Hasil Penelitian Terdahulu tentang Keterkaitan Penelitian Wilayah 1. Jawa Barat*** Pertanian Agroindustri 4.62204 2001 0.6293 0.17604 0. Ada beberapa informasi yang ditunjukkan pada Tabel 2.29125 1.48518 1988 0.00802 1.45022 1.05931 0.59448 0. Indonesia* Agroindustri Non Agroindustri 2.

1719 1. Jepara**** Ind. DKI Jakarta** Pertanian Ind.2908 1.48422 Koefisien Penyebaran 1. Tabel 2.33528 2001 1. Hal ini berarti sektor/sub sektor industri pengolahan secara langsung dan tidak langsung lebih kuat mendorong pertumbuhan sektor yang menyediakan input untuk keperluan proses produksinya dibandingkan dengan kemampuannya untuk mendorong peningkatan produksi terhadap sektor yang membutuhkan input dari sektor ini. Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Dampak Penyebaran Penelitian Wilayah 1. Jawa Barat*** Pertanian Agroindustri 4.1376 1. Selanjutnya pada Tabel 2.3. ****Setyawan (2005).74816 1.21765 1. Pengolahan Tahun InputOutput 1990 1993 1.20609 1. dan (2) Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan sektor industri pengolahan lebih kecil dibandingkan dengan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakangnya.38525 1988 0.14 kemampuan untuk mendorong pertumbuhan sektor yang menyediakan input bagi keperluan proses produksi dibandingkan dengan kepekaannya dalam menciptakan kenaikan output apabila terjadi peningkatan satu-satuan permintaan akhir terhadap sektor industri. Pengolahan 3.2698 1. Indonesia* Agroindustri Non Agroindustri 2.0570 Kepekaan Penyebaran 1. ***Setiyaji (1995). Ada beberapa hal yang dapat diidentifikasi dalam penelitian-penelitian tersebut yaitu: (1) Koefisien penyebaran menunjukkan .3 menyajikan informasi mengenai koefisien dan kepekaan penyebaran. **Sahara (1998) .9139 Sumber: *Tjandrawan (1994) .

industri pengolahan DKI Jakarta mempunyai kemampuan untuk menarik industri hulunya dibandingkan dengan kabupaten Jepara. Studi literatur yang telah dilakukan menunjukkan bahwa analisis I-O telah banyak digunakan sebagai alat untuk penelitian. Model Input-Output Menurut BPS (2000) pengertian Tabel Input-Output (Tabel I-O) adalah suatu tabel yang yang menyajikan informasi tentang transaksi barang dan jasa . Peneliti juga melihat bahwa penelitian tentang industri kertas di Indonesia berdasarkan Analisis Input-Output belum pernah dilakukan. dan (2) Kepekaan penyebaran industri pengolahan DKI Jakarta lebih besar dibandingkan kabupaten Jepara. Secara umum keempat penelitian mengenai koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran tersebut mempunyai peranan penting dalam pembangunan wilayah.5. Besarnya kepekaan penyebaran industri pengolahan di DKI Jakarta tersebut menunjukkan bahwa sektor industri pengolahan di wilayah tersebut bersifat ekspansif yaitu mampu melakukan perluasan pasar dan mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah dibandingkan dengan Jepara dan apabila dilihat dari koefisien penyebaran.5. Kerangka Pemikiran Teoritis 2. 2. hal ini terbukti dari nilai koefisien dan kepekaan penyebaran yang mempunyai nilai lebih besar dari satu (kecuali pertanian di Jawa Barat).1.15 kemampuan suatu sektor dalam perekonomian untuk mendorong sektor hilirnya sedangkan kepekaan penyebaran menunjukkan kemampuan suatu sektor untuk menarik sektor hulunya.

Tabel I-O bersifat statis dan terbuka. Sifat keseimbangan inilah yang merupakan salah satu kelebihan Tabel I-O yang dibandingkan dengan alat analisa lainnya dalam ilmu ekonomi perencanaan dan pembangunan (BPS. Leontief mengemukakan bahwa Tabel I-O termasuk dalam model General Equilibrium. yaitu asumsi bahwa setiap sektor ekonomi hanya memproduksi satu jenis barang atau jasa dengan susunan input tunggal . Tabel I-O telah berkembang menjadi salah satu metode paling luas diterima. 2000) Data yang disajikan dalam Tabel I-O merupakan informasi rinci tentang input dan output sektoral yang mampu menggambarkan keterkaitan antar sektor dalam kegiatan perekonomian. dan pada baris nilai tambah yang menunjukkan komposisi penciptaan nilai tambah sektoral. Sejak dirilis oleh Leontief pada tahun 1930-an. Isian sepanjang baris Tabel I-O menunjukkan pengalokasian output yang dihasilkan oleh suatu sektor untuk memenuhi permintaan antara dan permintaan akhir. Adapun asumsi dasar penyusunan Tabel I-O adalah : 1. tidak hanya untuk mendeskripsikan struktur suatu perekonomian tetapi juga mencakup cara untuk memprediksi perubahan-perubahan struktur tersebut. baik yang berupa input antara maupun input primer. sedangkan isian sepanjang kolomnya menunjukkan struktur penciptaan input yang digunakan oleh setiap sektor dalam proses produksi. Keseragaman (homogenity). Sesuai dengan asumsi dasar yang digunakan dalam proses penyusunannya.16 yang terjadi antar sektor ekonomi dengan bentuk penyajian berupa matrik.

nilai tambah impor. Berdasarkan asumsi tersebut maka Tabel I-O sebagai model kuantitatif memiliki keterbatasan. Tabel I-O masih merupakan alat analisis yang lengkap dan komprehensif. Untuk melihat komposisi penyediaan dan penggunaan barang dan jasa terutama dalam analisis terhadap kebutuhan impor dan kemungkinan substitusinya. Karena koefisien teknis dianggap konstan. maka teknologi yang digunakan oleh sektor-sektor ekonomi dalam proses produksi pun dianggap konstan. Akibatnya perubahan kuantitas dan harga input akan selalu sebanding dengan perubahan kuantitas dan harga output. Kesebandingan (proportionality). 2. Beberapa kegunaan Tabel I-O antara lain adalah : 1. Namun demikian. 3.17 (seragam) dan tidak ada substitusi otomatis terhadap input dan output sektor yang berbeda 2. . yaitu asumsi bahwa hubungan antar input dan output pada setiap sektor produksi merupakan fungsi linear. yaitu koefisien input atau koefisien teknis diasumsikan tetap (konstan) selama periode analisa atau proyeksi. Penjumlahan (additivity). Untuk memperkirakan dampak permintaan akhir terhadap output. penerimaan pajak. artinya kenaikan dan penurunan output suatu sektor akan sebanding dengan kenaikan dan penurunan input yang digunakan oleh sektor tersebut. yaitu asumsi bahwa total efek dan kegiatan produksi di berbagai sektor merupakan penjumlahan dari efek pada masing-masing kegiatan. dan penyerapan tenaga kerja di sektor industri.

dan ekspor. Untuk analisis perubahan harga. baik berupa produksi dalam negeri maupun barang impor atau yang berasal dari luar wilayah tersebut. 2.18 3.2. maka disajikan format Tabel I-O pada Tabel 2. Untuk menggambarkan perekonomian suatu wilayah dan mengidentifikasikan karakteristik struktural suatu perekonomian wilayah. . 3. baik berupa permintaan oleh berbagai sektor produksi maupun permintaan untuk konsumsi. Struktur Tabel Input-Output Format Tabel I-O terdiri dari suatu kerangka matrik berukuran n x n dimensi yang dibagi menjadi empat kuadran dan tiap kuadran mendiskripsikan suatu hubungan tertentu. investasi. 4.5.4 di bawah ini. Struktur input antara yaitu transaksi penggunaan barang dan jasa antar sektorsektor produksi. yaitu dengan melihat pengaruh secara langsung dan tidak langsung dari perubahan harga input terhadap output. Struktur perekonomian suatu wilayah yang mencakup output dan nilai tambah masing-masing sektor. Struktur penyediaan barang dan jasa. Untuk mengetahui sektor-sektor yang pengaruhnya paling dominan terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor-sektor yang peka terhadap pertumbuhan perekonomian. Untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap. Sebagai metode kuantitatif Tabel I-O memberikan gambaran menyeluruh tentang: 1. 4. 2. 5. Struktur permintaan barang dan jasa.

BPS.19 Tabel 2.3. Jumlah Output X1 X2 X3 . Apabila Tabel 2. Xn … … … … . yaitu sebagian untuk memenuhi permintaan antara dan sebagian lainnya untuk memenuhi permintaan akhir. … … … Akhir F1 F2 F3 . xn2 V2 X2 xnn Vn Xn Fn V1 X1 Sumber : Tabel I-O Indonesia. Sedangkan isian sepanjang kolomnya menujukkan pemakaian input antara dan input primer oleh suatu sektor. N Jumlah Input Primer Jumlah Input Antara produksi 1 x11 x21 x31 . Struktur Tabel Input-Output Alokasi Output Susunan Input 1 2 Input Sektor 3 . Isian sepanjang baris pada ilustrasi Tabel I-O tersebut memperlihatkan bagaimana output dari suatu sektor dialokasikan.xn1 Permintaan Antara Sektor Produksi 2 x12 x22 x32 . Permintaan n x1n x2n x3n . 2000.4 di atas dilihat secara baris (bagian horisontal) maka alokasi output secara keseluruhan dapat dituliskan dalam bentuk persamaan aljabar sebagai berikut: X11 + X12 + … X1n + F1 = X1 X21 + X22 + … X2n + F2 = X2 : : : : : Xn1 + Xn2 + … Xnn + Fn = Xn atau dalam bentuk persamaan umum dapat dituliskan sebagai : . .

maka persamaan aljabar untuk input yang digunakan oleh masing-masing sektor dapat dituliskan sebagai berikut : X11 + X21 + … + Xn1 + V1 = X1 X12 + X22 + … + Xn2 + V2 = X2 : : : : : X1n + X2n + … + Xnn + Vn = Xn atau dalam bentuk persamaan umum dapat dituliskan sebagai : ∑ Xij + Vj = Xj . 2. 2. yaitu transaksi barang dan jasa yang digunakan dalam proses produksi. untuk semua j = 1.2) Dalam analisis I-O sistem persamaan di atas memiliki peran penting. dst Dimana : Xij = output sektor i yang digunakan sebagai input sektor j Fi = permintaan akhir terhadap sektor i Xi = jumlah output sektor i (2.20 ∑ Xij + Fi = Xi . maka angka pada kolom (sektor) itu menunjukkan berbagai input yang diperlukan dalam proses produksi pada sektor tersebut. Berdasarkan ilustrasi Tabel Input-Output. Kuadran I (intermediate quadrant) Setiap sel pada kuadran I merupakan transaksi antara. sebagai berikut : 1. yaitu sebagai dasar analisa ekonomi mengenai keadaan perekonomian suatu wilayah. 3. 3. untuk semua i = 1. Dalam Analisa I-O kuadran ini memiliki peran yang sangat penting karena kuadran inilah yang . khususnya pada transaksi antara. dst (2. Secara umum matrik dalam Tabel I-O dapat dibagi menjadi 4 kuadran.1) Apabila angka-angka dibaca menurut kolom.

4. Kuadran II (final demand quadrant) Menunjukan penjualan barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor-sektor perekonomian untuk memenuhi permintaan akhir.21 menunjukkan keterkaitan antara sektor ekonomi dalam melakukan proses produksinya. 3.6. pembentuk modal tetap. Informasi di Kuadran IV ini bukan merupakan tujuan pokok. 2. Kuadran III (primary input quadrant) Menunjukkan pembelian input yang dihasilkan di luar sistem produksi oleh sektor-sektor dalam kuadran antara. pajak tak langsung. Jumlah keseluruhan nilai tambah ini akan menghasilkan produk domestik bruto yang dihasilkan oleh wilayah tersebut. Kerangka Pemikiran Konseptual Strategi pengembangan yang menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi menganggap bahwa kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan dengan cepat . surplus usaha dan penyusutan. Kuadran ini terdiri dari pendapatan rumah tangga (upah/gaji). perubahan stok dan ekspor. sehingga dalam penyusunan Tabel I-O sering diabaikan. pemerintah. 2. Permintaan akhir adalah output suaru sektor yang langsung digunakan oleh rumah tangga. Kuadran IV (primary input-final demand quadrant) Merupakan kuadran input primer permintaan akhir yang menunjukkan transaksi langsung antara kuadran input primer dengan permintaan akhir tanpa melalui sistem produksi atau kuadran antara.

kemudian. karena tentunya kebijakan yang ditetapkan tersebut mengharapkan hasil pada perkembangan ekonomi yang lebih baik dari sebelumnya. pada penelitian ini akan dilihat tentang peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian nasional. melalui suatu proses yang disebut sebagai penetesan ke bawah (trickle down effect) akan menyebabkan peningkatan pendapatan berbagai golongan masyarakat di negara (wilayah) bersangkutan. Sektor industri ini dijadikan unggulan untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian mengingat dalam kondisi sekarang ini. Peningkatan output berbagai sektor ekonomi. Sehubungan dengan itu. Dalam menganalisis peranan sektor industri kertas teradap perekonomian Indonesia ini digunakan analisis I-O dengan berbagai . Selain itu sektor ini juga dianggap sebagai sektor yang mampu meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan pendapatan masyarakat pada tingkat yang layak dari sebelumnya. sektor industri pengolahan lebih banyak dapat menyediakan lapangan kerja dan mempunyai aktifitas ekonomi yang lebih intensif untuk satuan unit usaha bila dibandingkan dengan unit usaha sektor lainnya. Peningkatan output sektor kunci tersebut akan ikut meningkatkan output sektor-sektor lainnya melalui proses keterkaitan (linkages) dan dampak penyebaran antar sektor. 2005). Peningkatan pendapatan ini sekaligus mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat (Setyawan. Kebijakan prioritas pembangunan sektor industri pengolahan khususnya industri kertas merupakan upaya pemerintah Indonesia dalam mewujudkan perekonomian yang lebih baik untuk kesejahteraan masyarakat.22 melalui peningkatan satu atau beberapa sektor ekonomi kunci.

Pada akhirnya dapat dijadikan acuan pemerintah Indonesia sendiri dalam menentukan kebijakan pembangunan ekonomi Indonesia ke depan sehingga permasalahan pembangunan seperti kemiskinan dan pengengguran dapat diturunkan. . maka diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas bagi pemerintah Indonesia tentang perkembangan sektor yang menjadi prioritas ini dalam mengatasi berbagai masalah yang berkaitan dengannya.23 keterbatasan analisis yang telah disebutkan pada bab sebelumnya. Dengan teridentifikasinya peranan sektor industri kertas melalui proses keterkaitan dengan sektor-sektor lain baik sebagai pengguna input maupun penghasil output. dan perannya dalam sektor kunci perekonomian seperti yang terlihat pada gambar 1. Adapun alur konsep pemikiran dapat dilihat pada gambar 1. kemampuan mendorong dan menarik sektor hulu-hilirnya.

Bagan Alur Pemikiran Konseptual .24 Perekonomian Indonesia Perubahan Struktur Perekonomian Industri Kertas Kemampuan mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya (Analisis Dampak Penyebaran) Keterkaitan dengan sektor lain dalam hubungannya sebagai pengguna input dan penghasil output (Analisis Keterkaitan) Sektor Kunci Perekonomian (Elastisitas Input-Output) Peran Industri Kertas Kebijakan Pembangunan Industri Keterangan : ( Ruang lingkup penelitian ) Analisis yang digunakan Gambar 1.

Penggunaan tabel I-O Indonesia tahun 2000 tersebut dikarenakan tabel I-O tersebut merupakan tabel terbaru selama penelitian ini berlangsung. Metode Analisis Untuk mengetahui peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia ini sebagai sektor penyedia input maupun sebagai sektor pemakai input. Pada analisisnya nanti dapat terlihat bahwa perekonomian dapat tumbuh apabila terdapat dorongan atau peningkatan pada permintaan akhir yang eksogen tersebut.2. 3. model analisis ini .1. hal ini dikarenakan faktor permintaan merupakan faktor eksogen yang mempengaruhi perekonomian. Pendekatan model I-O yang digunakan adalah model sisi permintaan (demand-side model). Data yang digunakan antara lain berasal dari Tabel Input-Output (I-O) transaksi domestik atas dasar harga produsen tahun 2000 klasifikasi 175 sektor dari Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat yang kemudian diagregasi oleh penulis menjadi 22 sektor dan beberapa data sekunder lainnya dari instansi dan dinas terkait lainnya. Oleh karenanya. kemampuan untuk mendorong atau menarik sektor hulu dan hilirnya serta perannya dalam sektor kunci perekonomian dapat di kaji berdasarkam analisis keterkaitan.III. METODE PENELITIAN 3. Pada analisis keterkaitan. dampak penyebaran dan elastisitas input-output. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. dampak penyebaran dan elastisitas ini alat yang digunakan adalah Microsoft Excel 2003.

2) AX + F = X Atau F = X . Secara matematik dapat dituliskan : aij = Xij (3.. a1n a21 …….1.2.… ann X1 X2 : X3 X + F1 F2 : Fn F = X1 X2 : Xn X (3.3) (3.AX . Koefisien ini dapat diterjemahkan sebagai jumlah input dari sektor i yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit output sektor j. koefisien input atau koefisien teknologi merupakan perbandingan antara jumlah output sektor i yang digunakan dalam sektor j (Xij) dengan input total sektor j (Xj). Dengan demikian dapat disusun matriks sebagai berikut : a11 X1 + a12 X2 +………+ a1n Xn + F1 = X1 a21 X1 + a22 X2 +………+ a2n Xn + F2 = X2 : : : : : an1 X1 + an2 X2 +………+ ann Xn + Fn = Xn Atau persamaan tersebut dapat disederhanakan menjadi : a11 ……. 3. a2n : A : a31 …….1) Xj Dimana : aij adalah koefisisen input. Koefisien Input Pada Tabel I-O.26 sering pula disebut dengan dengan model yang dikendalikan oleh sisi permintaan (demand-driven model).

Dalam analisis input-output matriks kebalikan Leontief memiliki peranan yang sangat penting sebagai alat analisis ekonomi yang mencerminkan efek langsung dan tidak langsung dari perubahan permintaan akhir terhadap output sektor-sektor di dalam perekonomian.2. Jika ditulis dalam bentuk persamaan. 3.2. X = Output. Beberapa jenis koefisien keterkaitan yang sering digunakan dalam analisis ekonomi wilayah sektoral antara lain adalah keterkaitan langsung ke depan dan ke belakang serta keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan dan ke belakang. maka akan ada perubahan pola pendapatan nasional.27 Jika terdapat perubahan pada permintaan akhir. ( I – A ) = Matriks Leontief. Analisis Keterkaitan (linkages) Koefisien keterkaitan sangat berguna dalam penyusunan prioritas sektor perekonomian untuk mencapai tujuan pembangunan. ( I – A )-1 = Matriks kebalikan Leontief. F = Permintaan akhir.AX X = ( I .A )-1F (3.5) Dimana : I = Matriks identitas berukuran nxn yang elemennya memuat angka satu pada diagonalnya dan nol pada selainnya. maka dapat dituliskan sebagai berikut : AX + F = X Atau F = X . 1. Keterkaitan Langsung ke Depan Keterkaitan langsung ke depan menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menggunakan sebagian output tersebut secara .

7) (3. Untuk mengetahui besarnya keterkaitan langsung ke depan. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ke Depan Analisa keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan mengukur akibat dari adanya suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menggunakan output sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung per unit kenaikan permintaan total.6) (3.8) Dimana: KDLTi = keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan sektor i ij = unsur matrik kebalikan Leontief model terbuka . n KBj = ∑ aij i=1 Dimana: KBj = Keterkaitan langsung ke belakang = Unsur matrik koefisien teknis aij 3. dengan rumus sebagai berikut: n KDi = ∑ aij j=1 Dimana: KDi = Keterkaitan langsung ke depan = Unsur matrik koefisien teknis aij 2.28 langsung per unit kenaikan permintaan total. KDLTi = ∑ α ij j =1 n (3. Keterkaitan Langsung ke Belakang Keterkaitan langsung ke belakang menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menyediakan input antara bagi sektor tersebut secara langsung per unit kenaikan permintaan total.

2. Analisis Dampak Penyebaran Indeks keterkaitan langsung dan tidak langsung baik ke depan maupun ke belakang di atas belumlah memadai dipakai sebagai landasan pemilihan sektor kunci. Koefisien penyebaran merupakan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang yang dinormalkan dengan sektor dan . Analisis ini disebut dampak penyebaran yang terbagi dua yaitu kepekaan penyebaran dan koefisien penyebaran. Indikator-indikator tersebut tidak dapat diperbandingkan antar sektor karena peranan permintaan akhir setiap sektor tidak sama.29 4. Analisa ini menunjukkan koefisien kaitan yang memberikan gambaran tentang pengaruh yang ditimbulkan oleh suatu unit permintaan akhir untuk semua sektor didalam suatu sistem perekonomian. KBLTj = ∑α ij i =1 n (3. Koefisien Penyebaran (Coefficient of Dispersion) Koefisien penyebaran tersebut juga indeks daya penyebaran ke belakang. Oleh karena itu kedua indeks tersebut haruslah dinormalkan dengan cara membandingkan rata-rata dampak yang ditimbulkan oleh sektor tersebut dengan rata-rata dampak seluruh sektor. 1. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ke Belakang Analisa keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang menyatakan akibat suatu sektor-sektor yang menyediakan input antara bagi sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung per unit kenaikan permintaan total.3.10) Dimana: BLTLj = Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang = Unsur matrik kebalikan Leontief terbuka αij 3.

10) Dimana: Pdj = Koefisien penyebaran sektor j ij = Unsur matrik kebalikan Leontief 2. Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: n∑ α ij Sdi = j =1 n n ∑∑ α i =1 j =1 n (3. Secara matematis dituliskan dalam bentuk rumus sebagai berikut: n∑ α ij n Pdj = ∑∑ α ij i =1 j =1 n i =1 n (3.30 jumlah seluruh koefisien matrik kebalikan Leontief.11) ij Dimana: = Kepekaan penyebaran sektor i Sdi ij = Unsur matrik kebalikan Leontief . Kepekaan penyebaran merupakan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan yang dinormalkan dengan jumlah sektor dam jumlah seluruh koefisien matrik kebalikan Leontief. Kepekaan Penyebaran (Sensitivity of Dispersion) Kepekaan penyebaran disebut juga indeks daya penyebaran ke depan. Kepekaan penyebaran ini memberikan gambaran tentang pengaruh yang timbul oleh suatu unit permintaan akhir terhadap semua sektor di dalam perekonomian.

Pendekatan ini dianggap lebih baik daripada analisis keterkaitan dan analisis multiplier karena memperhitungkan share suatu sektor dalam output. Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: ⎤ ⎡ ET xyj = ⎢∑ l i / x j )bij /(l j / x j )⎥ (y j / x) ⎦ ⎣ i Dimana: ET xyj = Elastisitas tenaga kerja (3.2.12) = ∑x j b ij yj = Elemen matriks Leontief = Permintaan akhir sektor j 2.31 3. Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: EO xyj = Dimana: EO xyj = Elastisitas output x ∑b i ij ( y j / x) (3. Pendekatan ini mempermudah policy makers untuk berkonsentrasi tidak hanya pada nilai-nilai keterkaitan dan multiplier tertinggi tetapi juga pada share suatu sektor ekonomi. 1. Elastisitas Input-Output Elastisitas input-output menyediakan pandangan baru untuk penentuan sektor prioritas.4.13) . Elastisitas Output Elastisitas Output adalah perubahan persentase dalam total output suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. Elastisitas Tenaga Kerja Elastisitas tenaga kerja adalah perubahan persentase tenaga kerja suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya.

32 = Jumlah tenaga kerja li l i / x j = Koefisien tenaga kerja 3.14) Dimana: EP xyj = Elastisitas Pendapatan hj = Upah dan gaji hi / x j = Koefisien pendapatan . Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: ⎡ ⎤ EP xyj = ⎢∑ hi / x j )bij /(h j / x j )⎥ ( y j / x) ⎣ i ⎦ (3. Elastisitas Pendapatan Elastisitas pendapatan adalah perubahan persentase dalam pendapatan suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya.

Oleh karena itu. sampai dengan tahun 2003. Profil Industri Kertas Saat ini. Group Raja Garuda Mas dan Barito Pasifik. investasi dalam negeri swasta sebesar 5. minimal harus ada tambahan beberapa perusahaan lagi untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Perusahaan-perusahaan tersebut terdiri dari 65 perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). jumlah perusahaan di Indonesia yang memproduksi pulp dan kertas adalah tiga kelompok perusahaan besar. Untuk memenuhi kebutuhan kertas tersebut. Industri kertas memiliki kapasitas total sebesar 10. Jumlah perusahaan tersebut belum mampu mencukupi konsumsi domestik. Group Sinar Mas.666. 14 perusahaan di Sumatera dan dua perusahan berlokasi di Kalimantan.180 ton. Ketiga produsen besar industri pulp dan kertas tersebut adalah.580 ton yang terdiri dari kapasitas terpasang perusahaan swasta-negara sebesar 337.900 ton. 2005). sektor industri ini membutuhkan investasi baru atau industri ini harus meningkatkan efisiensi agar dapat bersaing dengan industri asing. . Menurut Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI).1. Sekitar 64 perusahaan berlokasi di pulau Jawa.1). dan dapat memenuhi kebutuhan kertas dalam negeri yang terancam kekurangan pasokan dalam sepuluh tahun mendatang (Mansur. 12 perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) dan 3 perusahaan negara.IV. dan investasi luar negeri sebesar 4.500 ton (Tabel 4.045. Indonesia mempunyai 77 perusahaan produsen kertas dan 10 diantaranya terintegrasi dengan pabrik pulp.041. GAMBARAN UMUM INDUSTRI 4.

Industri-industri yang mengandalkan bahan baku impor tetap mengalami kemerosotan pertumbuhan.140 10.9 100 85.1.3 7.000 6.2 14.0 100 10.900 5.7 19.100 Pulp % 3. tetapi industri kertas tetap melanjutkan perkembangannya dengan pertumbuhan sekitar 9.045.528.7 persen per tahun (Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia. Perkembangan Industri Kertas Industri kertas tumbuh dan berkembang lebih baik bila dibandingkan dengan kebanyakan industri lain di Indonesia.1 Perusahaan Negara Swasta Investasi Dalam Negeri Swasta Investasi Luar Negeri Total Integrated (Pulp dan Kertas) Non Integrated Pulp Kertas Total Jawa 64 340.8 100 Kapasitas Terpasang Kertas (Ton) 337.100 1.6 9.2.322.382.287.045.2 46. 2003).100 5.1 persen per tahun.8 persen pada periode 19972001. 4. Sementara konsumsi kertas juga meningkat 4.440 1.580 2.34 Tabel 4.072.000 3.5 100 25. Pada periode yang sama ekspor kertas juga meningkat sekitar 19. Profil Industri Pulp dan Kertas Indonesia Tahun 2003 Status/Lokasi Jumlah Perusahaan 3 65 12 80 10 3 67 80 Kapasitas Terpasang Pulp (Ton) 240.725.580 8.045.3 100 80.517.4 50.600 Total 80 6.500 10.8 43.287.580 74.000 6. 2003.000 Kertas % 3.100 2.580 100 5.041.500 Sumatera 14 5.8 52.491.180 4.554.000 Kalimantan 2 564. .4 85.100 Sumber : Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia. hal ini terjadi didasarkan pada ketersediaan bahan baku dan upah tenaga kerja yang murah di dalam negeri.287.666.215.

1 kg 1999 19.3 juta ton pertahun sedangkan konsumsi per kapitanya pada akhir 2003 telah mencapai 25 Kg (Tabel 4.2.3 kg 2002 24. 2003. bila dalam 10 tahun mendatang kapasitas industri kertas tidak bertambah. Konsumsi Kertas Per Kapita Penduduk Indonesia Tahun 1993-2003 Tahun Konsumsi Kertas / Kapita 1993 11.0 kg 1995 14.1 kg 1994 13. para investor telah menunjukkan ketertarikan yang kecil pada sektor ini karena industri ini telah menjadi capital intensive dan birokrasi yang rumit pasca otonomi daerah.9 kg 1998 14.8 kg 2001 23.0 kg 1996 16. Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) mengkhawatirkan Indonesia akan mengalami kekurangan pasokan kertas. industri kertas harus mengimpor kertas senilai US$ 7 miliar/tahun.35 Tabel 4. namun jika kebutuhan kertas di dalam negeri naik hingga mencapai 50 Kg per kapita.3 kg 1997 16. Disamping kinerja yang menggembirakan dalam industri kertas ini.2). Pada tahun 2003 kapasitas produksi yang dimiliki industri kertas baru sekitar mencapai 10. Nilai konsumsi per kapita ini memang lebih kecil bila dibandingkan dengan negara lain contohnya Malaysia yang sudah mencapai ratusan kilogram per kapita. Masalahnya setiap tahun konsumsi kertas dalam negeri terus meningkat dengan angka rata-rata sekitar 6 persen per tahun. Untuk mengatasi kebutuhan konsumsi kertas yang terus .0 kg 2003 25.6 kg 2000 20.0 kg Sumber: Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.

2002) Dilihat dari pangsa produksi dan ekspor penguasaan jaringan pasar luar negeri. Dari 77 perusahaan kertas pada tahun 2003. tujuh diantaranya adalah perusahaan kertas yang terintegrasi (tabel 4. Integrasi vertikal ini dianggap penting karena integrasi vertikal oleh perusahaan kertas akan meningkatkan efisiensi perusahaan dalam industri kertas tersebut karena dapat mengamankan pasokan bahan baku dan meminimumkan biaya transaksi dalam rangka untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan terhadap produk kertasnya (Karseno dan Mulyaningsih. Dengan kecenderungan ini hampir seluruh output industri pulp disalurkan pada industri kertas didalam negeri sedangkan ekspor hanya merupakan pasar kedua. Sedangkan kapasitas terpasang industri kertas pada perusahaan pulp dan kertas yang terintegrasi mencapai 21. Industri kertas yaitu khususnya perusahaan-perusahaan besar dalam industri ini mempunyai kecenderungan untuk berintegrasi dengan perusahaan penyedia bahan baku yaitu industri pulp.1). Kapasitas terpasang industri pulp yang terintegrasi dengan perusahaan kertas mencapai 66.32 persen dari keseluruhan kapasitas terpasang industri kertas. Integrasi Vertikal dan Pasar Industri Kertas Indonesia Di Indonesia industri kertas mempunyai karakteristik sebagai industri skala besar.08 persen dari total kapasitas terpasang seluruh industri pulp. 4.36 meningkat maka harus ada investasi baru atau industri yang ada harus meningkatkan efisiensi. masih menjadi kelemahan bagi sebagian besar produsen kertas Indonesia.3. .

Oleh karena itu perlu dilakukan analisis mengenai kondisi pasar luar negeri terutama pasar Asia dan bagaimana strategi untuk memasuki dan mengembangkan pasar di kawasan tersebut. dan India. yang menguasai . Pasar bebas tersebut akan memaksa para produsen pulp dan kertas Indonesia untuk mampu bersaing memperebutkan pasar Asia Pasifik yang terbuka. terutama pasar Asia. Kawasan Asia Pasifik merupakan kawasan dengan pasar pulp terbesar di dunia. Begitu juga dengan Tanoto dan Tanjung Enim Lestari (TEL) yang mengibarkan bendera APRIL (Asia Pacific Resources International Holding Ltd.). Cina. 2002). Kedua kelompok ini memilih Singapura sebagai kantor pusat perusahaan mereka.4. Pertama. 4. Selain itu pasar dalam negeri juga perlu dikaji karena merupakan basis untuk memperkuat daya saing secara nasional (Rosadi dan Vidyatmoko.37 Meskipun demikian beberapa (grup) perusahaan telah mencoba menembus pasar luar negeri. Profil Beberapa Perusahaan Kertas Indonesia Sampai dengan tahun 2003 dalam industri kertas terdapat tiga perusahaan yang memiliki proporsi kapasitas pabrik terhadap kapasitas total industri yang melebihi 10 persen. dengan melakukan ekspansi ke negara-negara di kawasan ini. Pentingnya jaringan pemasaran lebih dipicu terutama menjelang diberlakukan pasar bebas di kawasan Asia Tenggara (AFTA) tahun 2003 dan kawasan Asia Pasifik (APEC) tahun 2010. Kelompok Sinar Mas memasuki pasar Asia dengan mendirikan kelompok perusahaan melalui bendera APP (Asia Pulp and Paper) di negara Singapura. Malaysia. PT. Indah Kiat Pulp & Paper Corp.

2 persen.800 450.000 430.986.2 3.5 1.000 85.4 0.7 4.000 50.800 195. Selain ketiga perusahaan itu group Sinar Mas masih mempunyai perusahaan kertas lainnya yaitu PT.000 150.000 500. Kapasitas Terpasang Perusahaan Industri Kertas Tahun 2003 Nama Perusahaan PT.8 14.3. PT. Pindo Deli & Paper Mills sebesar 14.000 486. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry yang berlokasi di Langsa.1 persen (Tabel 4.5 persen dari total kapasitas industri.4 10.1 1. Riau Andalan Kertas PT. Gede Karang PT. Surabaya Mekabox Ltd. Ekamas Fortuna PT. Pura Barutama PT. Papertech Indonesia Lain-lain Kapasitas Terpasang (Ton) 2. Suparma PT.000 700.000 150.4 0.000 Persentase (%) 20. Indah Kiat Pulp& Paper Corp PT.38 20. Tiga perusahaan pemilik kapasitas terbesar tersebut dimiliki oleh group yang sama yaitu Sinar Mas Group.500 93. Tabel 4.8 4. PT. Papyrus Sakti PT. kemudian disusul oleh PT.5 6.9 1.6 28.4 4. dan perusahaan ketiga adalah PT.3). .4 4.000 350.000 1.2 1.9 1. Kertas Leces (Persero) PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia PT.4 0.200 150. Pelita Cengkareng Paper Co.044. Aspex Kumbong PT. Fajar Surya Wisesa PT.465. 2003.000 150. Tanjungenim Lestari Pulp & Paper PT.8 1.9 Sumber : Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.5 0. Adiprima Suraprinta PT.400 60. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia dengan proporsi sebesar 10. Keempat perusahaan yang tergabung dalam group Sinar Mas ini memiliki karaktristik yang sama yaitu semuanya merupakan perusahaan kertas yang terintegrasi vertikal dengan pabrik kertasnya.111.000 2.000 157. Pindo Deli Pulp & Paper Mills PT. Pakerin PT. NAD. Surabaya Agung PT.000 1.

kertas budaya. Pada susunan pemegang saham. dan didaftarkan di Kantor Pengadilan Negeri Jakarta No. kertas industri dan corrugated carton boxes (sejenis dus karton. PT.68 tanggal 7 Desember 1976 yang disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Keputusan No. yang menempati lahan seluas 28 Ha. dengan kertas bergelombang sebagai peredam benturan).000 ton pulp per tahun. Riau seluas 1.Y. terutama pabrik kertas budaya di Tangerang. Pada saat ini. 2005).000 ton kertas industri per tahun dan 100. Indah Kiat Pulp & Paper melakukan usahanya secara komersil dengan memproduksi pulp. Dengan semakin meningkatnya permintaan atas produksi kertas. 980. Indah Kiat Pulp & Paper dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards yang terdiri dari dewan komisaris dengan presiden komisarisnya yaitu Indra Widjaja dan dewan direksi dengan direktur utamanya yaitu Teguh Ganda Widjaja. masyarakat menguasai 38.5/50/2 tanggal 9 Februari 1978.78 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan perusahaan ini (Tabel 4.39 1) PT.722 Ha . PT. pabrik pulp dan kertas budaya di Perawang.A. 744.4). perusahaan tersebut memiliki dan menguasai beberapa sarana dan prasarana yang digunakan untuk menjalankan berbagai kegiatan usahanya. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk Perusahaan ini didirikan di Jakarta dengan Akta Notaris Ridwan Suselo No. perusahaan kertas ini mengantisipasinya dengan meningkatkan kapasitas produksinya sehingga saat ini menjadi 1.000 ton corrugated boxes per tahun. 525 Tanggal 14 Februari 1978 (Bank Niaga.000 ton kertas budaya per tahun.631.

Presiden Komisaris Wakil Presiden Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris .05% Kong Masyarakat : 38. Phd. Tabel 4. Ryani Soedirman : Mas Achmad Daniri : Prof. Dr.. 2005.4. : Lo Shang Shung : Hj. Gandi Sulistiyanto Soeherman : Show Chung Ho : Kuo Cheng Shyong : Raymond Liu.9 Ha. British : 5. : 2. Teddy Pawitra : Kamardy Arief : Let Jend (Purn) Soetedjo Dewan Direksi Presiden Direktur : Teguh Ganda Widjaja Wakil Presiden Direktur : Muktar Widjaja Wakil Presiden Direktur : Hendra Jaya Kosasih Wakil Presiden Direktur : Chen Wang Chi Wakil Presiden Direktur : Yudi Setiawan Lin Direktur : Suresh Kilam Direktur : Didi Harsa Direktur : Agustian Rachmansjah Partawidjaja Susunan Pemegang Saham PT Purinusa Ekapersada : 52.78% Sumber: Bank Niaga. Hong : 0. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk per 30 September 2004 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Ir.56% British Virgin Island Yuen Foong Yu H. Boards PT. Fasilitas produksi perusahaan juga didukung dengan berbagai fasilitas dan prasana seperti jalan.72% CHP International (BVI) Corp.88% Virgin Island YFY Global Investment (BVI) Corp. mess karyawan dan lain-lain. Co.K.40 dan pabrik kertas industri di Serang Jawa Barat seluas 308. Ltd.

75 tanggal 31 Januari 1975. Selain itu perusahaan ini juga mempunyai fasilitas pabrik pembuatan bahan kimia calcium carbonate.41 2) PT. .000 ton per tahun. Pindo Deli Pulp & Paper Mills PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills didirikan di Jakarta dalam rangka Undang-undang No.69 tanggal 25 Februari 1976 (Bank Niaga. dengan Akta No. Perusahaan kertas ini dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards (dua dewan perusahaan) dan kepemilikan saham terbesar perusahaan ini dikuasai oleh PT Purinusa Ekapersada sebesar 97. Akta Perubahan No. Akta Perubahan No. salah satu bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi kertas. Saat ini perusahaan kertas ini memiliki sebuah pabrik kertas yang berlokasi di Adiarsa. dengan jumlah kapasitas produksi terpasang sebesar 652. Karawang dengan menambah tiga Paper Machine serta sebuah Corrugated Machine.59 tanggal 26 April 1975.12 tahun1970. 2005).000 ton per tahun dan telah berproduksi sejak bulan Maret 1996 (Bank Niaga. PT. Pada Oktober 1995.6 tahun 1968 tentang PMDN.5 tanggal 3 April 1975.57 persen dari total saham yang dikeluarkan PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills tersebut (Tabel 4.5). Total kapasitas produksi terpasang pabrik kertas milik perusahaan ini adalah sebesar 210. 2005).000 ton per tahun. Pindo Deli Pulp & Paper Mills ini memulai konstruksi pabrik kertasnya yang kedua (Pindo 2) yang berlokasi di Kuta Mekar.6 tanggal 4 Juli 1975 dan Akta Perubahan No. Karawang (Pindo 1). sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. berlokasi di lokasi Pindo 1 dengan kapasitas produksi terpasang sebesar 48. Akta Perubahan No.

5. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk didirikan dalam rangka Undangundang Negara Republik Indonesia No. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards (dua dewan direksi) dan pada susunan pemegang saham.6 Tahun 1968 juncto Undang-undang No.6).61% 3) PT.12 Tahun 1970 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri berdasarkan Akta No. Perusahaan ini merupakan bagian kelompok usaha Sinar Mas. Pindo Deli Pulp & Paper Mills per 30 September 2004.57% : 0. 2005).9 tanggal 2 Oktober 1972 (Bank Niaga. 2005.60 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan perusahaan ini (Tabel 4.91% : 0. Boards PT. masyarakat menguasai 36. Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Drs. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk PT. PT. Jhon Ferdinand Pandelaki : Yudi Setiawan Lin : Let Jend (Purn) Soetedjo : Hajjah Ryani Soedirman : Arthur Tahya Dewan Direksi : Teguh Ganda Wijaja : Muktar Widjaja : Hendra Jaya Kosasih : Suresh Kilam : Tsai Huan Chi : Huang Wen Hai : Tri Ramadi Susunan Pemegang Saham : 97. Kelompok Sinar Mas adalah salah satu dari kelompok industri terbesar di Indonesia dengan kurang lebih 200 perusahaannya yang bergerak di berbagai usaha yang besar .42 Tabel 4. Komisaris Utama Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Direktur Direktur PT Purinusa Ekapersada PT Mega Kleenindo PT Unitama Sartindo Sumber: Bank Niaga.

Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk per 30 September 2004 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Ir. Gandi Sulistiyanto Soeherman : Show Chung Ho : Kuo Cheng Shyong : Raymond Liu. real estate.6. produksi bahan makanan. Lokasi pabrik dan pusat perusahaan yang terletak di Jawa Timur. yang berdekatan dengan pelabuhan Tanjung Perak merupakan hal yang sangat menguntungkan kelancaran pengapalan untuk ekspor.60% Presiden Komisaris Wakil Presiden Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Direktur Direktur Direktur PT Purinusa Ekapersada Koperasi Masyarakat Sumber: Bank Niaga. Phd.10% : 36. : Lo Shang Shung : Hj. minyak goreng. sedangkan sisanya merupakan tanah yang telah dibebaskan untuk kepentingan . Dari seluruh tanah yang dikuasai perusahaan 64 persen merupakan tanah dengan Hak Guna Bangunan.43 termasuk industri kertas dan pulp. bidang kimia. Tabel 4. Teddy Pawitra : Kamardy Arief : Let Jend (Purn) Soetedjo Dewan Direksi : Teguh Ganda Widjaja : Muktar Widjaja : Hendra Jaya Kosasih : Chen Wang Chi : Yudi Setiawan Lin : Suresh Kilam : Didi Harsa : Agustian Rachmansjah Partawidjaja Susunan Pemegang Saham : 63. perbankan dan jasa keuangan. 2005. Ryani Soedirman : Mas Achmad Daniri : Prof DR. hotel dan perumahan.30% : 0. Boards PT.

perusahaan kertas ini juga memproduksi produk-produk kemasan. Belanda. dan sereal. Bidang usaha utama perusahaan ini adalah menghasilkan kertas tulis dan cetak bermutu tinggi. diantaranya dus (boxboard) yang dipergunakan untuk kemasan rokok. kertas HVS mengkilap. dan kertas HVS biasa untuk kebutuhan sekolah dan perkantoran. Pada tahun 1994. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia mempunyai kapasitas produksi sebanyak 30.44 perusahaan yang berasal dari petani di sekitarnya dengan status Hak Milik atau Girik. Namun demikian melihat kebutuhan penyediaan kesempatan kerja di Indonesia. PT. Perusahaan ini menyesuaikan pemakaian teknologi sedemikian rupa untuk tetap dapat menyediakan kesempatan kerja seluas-luasnya. Perusahaan ini juga memproduksi pulp dari daur ulang kertas bekas dan soda kaustik sebagai bahan baku utama industri kertas.V. Hal ini juga diperlukan untuk meningkatkan kesempatan kerja. Rotterdam. yang merupakan pengakuan bertaraf internasional terhadap sistem dalam proses produksi yang telah berhasil dilaksanakan oleh perusahaan. Saat ini PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia telah menerima sertifikat ISO 9002 dari Det Norske Veritas Industry B. Pabrik kertas merupakan suatu jenis industri dengan sifat padat modal. minyak wangi. Selain kertas tulis dan cetak serta hasil-hasil produksi kertas. Hal ini jelas dapat terlihat pada bagian produksi barang-barang hasil produksi kertas dimana perusahaan ini telah memutuskan untuk tidak menambah mesin-mesin pembungkus otomatis. kertas tissue.000 ton boxboard pertahun. meningkatkan pengawasan mutu disamping .

6 Tahun 1968 tentang PMDN dengan Akta No. dan PT.45 4) PT. PT. Lontar Papyrus Pulp .000 ton pulp per tahun dan 7. dalam rangka Undang-Undang No. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry bergerak dalam bidang usaha industri pulp dan kertas. Perusahaan kertas ini dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards yang terdiri dari dewan komisaris dengan presiden komisarisnya yaitu Indra Widjaja dan dewan direksi dengan direkturnya adalah Teguh Ganda Widjaja. dengan produksi utama pulp jenis LBKP.25 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan (Tabel 4. Arthadana Mulia Makmur yang memiliki 0. PT Satria Perkasa Agung (19.. PT. Kepemilikan saham dikuasai oleh tiga perusahaan yaitu PT.500 ton kertas per tahun.7). Saat ini perusahaan ini merupakan salah satu produsen pulp yang cukup besar di Indonesia dengan kapasitas produksi sebesar 545.75 persen). pada kuartal keempat tahun 1998 perusahaan kertas ini memulai produksi komersial tissue dalam bentuk gulungan besar yang dijual kepada pihak lain untuk kemudian diubah menjadi berbagai jenis tissue siap pakai. 44 tanggal 13 Februari 1974 (Bank Niaga. Disamping pulp dan kertas.Ltd. modifikasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas produksi mesin pembuatan pulp dan fasilitas pendukung lainnya. Pada tahun 1999 perusahaan ini telah melakukan modifikasi terhadap mesin-mesin dan fasilitas produksi di pabrik pulp Jambi. 2005).000 ton per tahun. Aceh Timur dengan nama awal PT Sumber Indra Jaya Paper Manufacture Co. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry Perusahaan kertas ini didirikan di Langsa. Pindo Deli Pulp & Paper Mills (80 persen). kertas budaya dan tissue. dengan kapasitas produksi 60.

Boards PT. Ryani Soedirman Dewan Direksi Direktur Utama : Teguh Ganda Widjaja Wakil Direktur Utama : Hendra Jaya Kosasih Direktur : Muktar Widjaja Direktur : Suresh Kilam Direktur : Lin Shun Keng Direktur : Tri Ramadi Direktur : Arthur Tahya Susunan Pemegang Saham PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills : 80. NAD. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry per 30 Desember 2003 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Drs.25% Sumber: Bank Niaga.75% PT Arthadana Mulia Makmur : 0. 2005). . Komisaris Utama Wakil Komisaris Utama Komisaris Komisaris Komisaris Dalam menjalankan usahanya.7. Tabel 4. perseroan ini juga telah memperoleh sertifikat ISO 14001 pada tanggal 19 Agustus1997 yang dikeluarkan SGS Yarsley International Certification Services Limited dengan sertifikat No. 2005.46 & Paper Industry saat memiliki sebuah pabrik yang memproduksi pulp dan tissue yang berlokasi di Sumatera yaitu di Tanjung Jabung. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry telah memperoleh sertifikasi ISO 9002 sehubungan dengan telah sesuainya sistem kualitas manajemen (Quality management systems) dengan ketentuan yang dipersyaratkan dalam ISO 9002. Jambi dan sebuah pabrik kertas di Langsa. PT.00% PT Satria Perkasa Agung : 19.E10683 sebagai bukti bahwa perusahaan kertas ini telah memenuhi ketentuan standar lingkungan hidup yang dipersyaratkan (Bank Niaga. John Ferdinand Pandelaki : Sukirta Mangku Djaja : Let Jend (Purn) Soetedjo : Hj. Di samping itu.

21 persen dari total permintaan antaranya.800. Peranan Industri Kertas Dalam Perekonomian Indonesia 5. Berdasarkan Tabel 5. Jumlah tersebut terdiri atas permintaan antara sebesar Rp 1.626 juta atau 18.767.1. Angka-angka tersebut di atas menunjukkan seberapa pentingnya peranan output yang dihasilkan oleh sektor-sektor di atas untuk digunakan sebagai input oleh sektor-sektor perekonomian lainnya di Indonesia.629 juta.073. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.83 persen dan Rp 117. Dari data tersebut diperoleh bahwa jumlah permintaan akhir lebih besar dibandingkan jumlah permintaan antaranya.068.870 juta.019 juta dan permintaan akhir sebesar Rp 1.701. Struktur Permintaan Industri Kertas Total permintaan barang dan jasa domestik yang dihasilkan oleh Indonesia tahun 2000 mencapai Rp 2. dilihat dari sisi permintaan antara tampak bahwa sektor perdagangan menghasilkan output tertinggi yang digunakan sebagai input oleh seluruh sektor perekonomian lainnya yaitu sebesar Rp 197. .656. Selanjutnya diikuti oleh sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian.775 juta atau sekitar 1. hal ini berarti bahwa output di Indonesia cenderung digunakan untuk memenuhi konsumsi langsung masyarakatnya.1.1.730 juta atau 11.977.1.71 persen dari total permintaan antara. Sedangkan untuk industri kertas mempunyai permintaan antara sebesar Rp 10.03 persen dari total permintaan antara dan berada pada urutan ke-18 diantara sektor-sektor lainnya.048.099. pada urutan kedua dan ketiga dengan nilai Rp 144.415 juta atau 13.460.V.

113 94.13 8.125.03 0.724 5. Dilihat dari permintaan akhir pada Tabel 5.56 100 Sumber: Tabel I-O Indonesia.657 12.153.575 9.89 2.21 8.730 90.595.227.15 100 Permintaan Akhir Jumlah % (Juta Rp) 115.901.92 0.259 165.19 4.25 2.065 15.926 0.767.74 8.98 100 Total permintaan Jumlah % (Juta Rp) 260.817.849 24.885.748.574 1.701.944 0.64 3.426.068.254 131.14 117.09 1.84 2.53 0.379 33.37 5.441.771.534.036 155.1 sektor industri kertas menempati posisi ke-14 diantara sektor yang lain sebesar Rp 13.10 196.1.656.099.018 0.485 39.87 6.916 177.43 14. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat secara keseluruhan lebih banyak menggunakan output industri kertas untuk konsumsi .30 1.014.970.29 12.649 36.705 23.11 1.88 4.815.074 19.620 8.128 23.849 80.16 4.529.47 0.151 329.38 0.34 2.063 396.726.416.32 0.52 12.88 1.50 0.977.242.05 9.034 41.034 238.42 5.948.44 1.629 4.47 1.99 1.325.372 88.672.37 6.670 7.564.076.036.626 70.805.848.622 8. Permintaan Antara dan Permintaan Akhir Sektor-sektor Perekonomian di Indonesia Tahun 2000 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.073.442. Nilai tersebut lebih besar dibanding permintaan antaranya.23 0.27 3.278 151.58 12.228.020 7.408 243.586.881 13.64 2.16 1.713 1.51 1.700 3.760.60 5.870 7.34 0. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Total (domestik) Permintaan Antara Jumlah % (Juta Rp) 144.84 persen dari total permintaan akhir.160 6.695.176 197.844.99 1.329.599 5.169 161.37 0.13 0.257.775 5.460.621 208.035 16.67 5.73 8.287 2.389.83 15.498 19.685.80 14.045.774.214.019 11.412.48 0.847 juta atau 0.356 105.438.03 0.729.496.97 6.08 79.677.48 Tabel 5.743.424 8.800.276.108 13.605 94.119.099 57.353.84 18.627.84 0.87 2.689.415 13.056 67.53 1.33 0.695 227.887 201.821.067 0.65 17.637.36 9.71 2.620 13.028 0.287.897.739. 2000 (diolah).476.50 9.568 21.048.215 35.961 1.850.593 30.847 3.340.741 10.165 139.970.613 64.775.272.698.

pemerintah dan ekspor) dibanding untuk keperluan produksi sebagai input bagi sektor lain.843. Jika diperbandingkan antara nilai upah dan gaji terhadap surplus usaha (U/G) maka akan diperoleh nilai rasio upah gaji dengan surplus usaha.928 juta berasal dari penyusutan dan Rp 69. Berdasarkan Tabel 5.860. penyusutan sebesar Rp 865.762 juta. Rp 110. 5. surplus usaha. Rp 755. .048.2 dapat diketahui bahwa total nilai tambah bruto negara Indonesia adalah Rp 1.732 milyar berasal dari pajak tak langsung netto.2.958 juta dan pajak tak langsung netto sebesar Rp 487.278.2). surplus usaha sebesar Rp 458.498 juta berasal dari surplus usaha.079. Pada tahun yang sama sektor industri kertas menyumbang nilai tambah bruto sebesar Rp 7.49 langsung (masyarakat. Dalam Tabel I-O Indonesia tahun 2000 nilai tambah meliputi penerimaan upah gaji.952. penyusutan dan pajak tak langsung netto.331.327 juta yang terdiri atas upah dan gaji sebesar Rp 1. Struktur Nilai Tambah Bruto Nilai tambah bruto merupakan balas jasa terhadap faktor produksi yang tercipta karena adanya kegiatan produksi.1.895.770 juta berasal dari upah dan gaji. Rasio upah dan gaji dan surplus usaha termasuk kategori baik jika rasionya mendekati keseimbangan (mendekati 1) yang berarti bahwa proporsi penerimaan dalam bentuk upah dan gaji bagi pekerja dan surplus usaha bagi produsen berimbang.849 juta. Nilai rasio tersebut menunjukkan perbandingan antara besarnya upah dan gaji yang diterima produsen.350 juta dengan perincian Rp 400.967 juta (Tabel 5.

759 10. Nilai Tambah Bruto Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 Sektor Upah /gaji (Juta Rp) Surplus Usaha (Juta Rp) 121.279.458.048.237 6.147.372.132.084.062.143. gas dan air 2.576 dari logam Industri lainnya 19.843. diperoleh bahwa ternyata pada sektor industri kertas mempunyai nilai surplus usaha lebih besar dibandingkan upah dan gaji.973.257 19.278.703.704 6.142.731.093.245 Pertambangan dan 25.256.864.088 105.365.418 59.772.296.352.396 325.723.393.536.623.434 15.958 83.228.764 83.017.393.114 pakaian Industri kayu dan 5.385 Total 400.182.034.451 Listrik.177 21.931.802 134.625.898 138.762 4.562.480.044.063 4.2.670.116 7.554.886 2.524 487.701 Industri kertas 1.072 64.700.327 3.567 5.569 11.774 11.052 20.463. 2000 (diolah).164 13.591 564.50 Tabel 5.475.392 225.195 112.588.358 1.508.901.564.638 9.512 1.176 19.3.073 3.081 834.459 53.311 9.489.063 barang non logam Industri logam 2.012.240 28.232 97.542 Bangunan 37.331.226.725 Industri kimia 21.946.670 4.616 5.573.996.418 Pengangkutan dan 16.107 14.430 dasar Industri barang jadi 3.690 777.623 84.902 6.732 Nilai tambah bruto (Juta Rp) 166.354 komunikasi Keuangan dan 21.875 429.948 3.103.946 Penyusutan (Juta Rp) 2.952 4.821 61.378 476.340 Perdagangan 61.607 6. Berdasarkan hasil analisis rasio upah dan gaji dengan surplus usaha pada Tabel 5.479 kertas Industri percetakan 1.803 4.028.550.43).530 penggalian Industri makanan 30.912 9.567 26.708 127.229.343.877.079.208.212.975 865.015.757 2.949 45.169.383.484.990 dan minuman Industri tekstil dan 16.511 770.705 7.382 4.182 30.278.127.756 12. Kondisi ini menunjukan bahwa distribusi pendapatan antara pemilik modal (perusahaan) dan pekerja tidak merata atau .652 167.498 Sumber: Tabel I-O Indonesia.714.692.414.010.350 Pertanian 40.727 76.119.664.605.105 6.233 65.504 1.511 29.770 755.639 Industri barang dari 1.333.243 1.212 3.477.664.895.046 1.560 8.905 2.793.947 Industri semen dan 3.963 8.129 furniture Industri pulp 940.542 933.655 2.590.004.758.933 2.914 Kayu 2.919 1.443 301.282.585.070 persewaan Jasa-jasa 85.756.229.928 Indirect Tax (Juta Rp) 1.952. Hal ini terlihat dari nilai rasio yang lebih kecil dari satu (0.946 110.567.985 Hasil hutan lainnya 565.326 5.440.781 8.778.968 115.577.156 69.576.797.718 147.860.266.702 926.131 115.

35 0.33 0.36 0.79 0. Jumlah tenaga kerja yang terserap di setiap sektor ekonomi merupakan indikator kemampuan sektor tersebut dalam menciptakan kesempatan .51 0.74 0.43 0.48 1.84 0.04 0. Rasio Upah Terhadap Surplus Usaha Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.47 0.26 0.45 0.64 0.25 6.43 0.57 0. Rasio Upah Gaji terhadap Surplus Usaha (U/G) 0.3.20 0.76 0.3.51 terjadi ketimpangan yang sangat besar yang disebabkan oleh adanya eksploitasi tenaga kerja oleh pemilik modal terhadap tenaga kerja dengan share yang lebih besar pada produsen (pemilik modal).55 5. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia. 2000 (diolah).1.36 0. Tabel 5.27 0. Struktur Ketenagakerjaan Banyaknya tenaga kerja yang terserap pada tahun 2000 sebanyak 93.948 jiwa.320.

004.15 0.27 Total Upah (Juta) 40.477.350 Total (domestik) Sumber: Tabel I-O Indonesia.943 167.569 940.243 Jasa-jasa 93.590.328.450.48 37.372.64 6.511 61.985 565.225 45.454 jiwa sedangkan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor pertanian dengan kemampuan menyerap tenaga kerja sebesar 40.948 1.82 15.46 14.573.06 0.905 Industri kayu dan furniture 57.382 37.333.912 65.914 2.15 0.30 12.4.803 19.508.569. 2000 (diolah).208.034.017.931.182 2. Dalam hal produktifitas tenaga kerja industri kertas menduduki peringkat keempat .88 3.177 5.320.911 10.912 non logam 357.06 0.577. Jumlah Tenaga kerja.030 97.15 137.664 8.07 18.169.12 24.48 3. Produktifitas dan Nilai Upah Sektoral Indonesia Tahun 2000 Sektor Jumlah TK Nilai tambah Produktivitas bruto (Juta/Tk) (Juta Rp) 4.034 115.843.119. Gambaran tentang jumlah tenaga kerja.296.567 21. Gas dan Air 4.392 Bangunan 17.142.03 65. Berdasarkan Tabel 5. Tabel 5.012.131 Komunikasi 1.513 2.756 400.32 8.860.576.459 16.963 Industri lainnya 225.74 8.454 7.759 Industri kimia Industri semen dan barang 648.440.279.20 18.183.519 jiwa.53 30.088 Keuangan dan Persewaan 11.65 41.13 4.03 37.35 79.233 Perdagangan Pengangkutan dan 4.567.592 112.708 30.051 2.61 10.705 Industri pulp 118. produktifitas dan nilai upah sektoral dapat dilihat pada Tabel 5.393.063 21.56 59.504 1.52 kerja bagi masyarakat di wilayah tersebut.895.245 25.83 14.519 166.60 25.616 3.418 3.949 minuman 2.664.218 61.463.448.652 Hasil Hutan Lainnya Pertambangan dan 825.824 13.266.195 Penggalian Industri makanan dan 3.4.98 10.512 1.052 Industri tekstil dan pakaian 2. terlihat sektor industri kertas menyerap 118.212.770 Upah/TK 0.20 0.10 8.327 Industri kertas 73.551 3.282.06 0.638 Industri logam dasar Industri barang jadi dari 259.164 Pertanian 555.062.39 203.012.727 Listrik.134 20.562 105.938 9.99 4.232 Industri percetakan 705.161 9.4.084.670.20 18.921.15 0.655 Kayu 86.256.42 0.132.797.143.255 76.65 26.328.352.97 66.877.84 13.06 0.802 16.03 0.700.821 logam 1.27 43.515 225.54 36.212 2.041.475.480.952.692.762 1.30 40.75 7.331.607 Industri barang dari kertas 100.623 85.942 6.870.585.

Nilai impor tersebut dapat menunjukkan bahwa kebutuhan kertas dalam negeri masih lebih besar dari produksi kertas dalam negeri sehingga harus melakukan impor.385 juta atau 2.5). nilai ekspor keseluruhan sektor industri kertas adalah Rp 13.930.52 persen dari total ekspor Indonesia (Tabel 5. Struktur Ekspor dan Impor Ekspor Indonesia pada tahun 2000 sebesar Rp 520. 5.84 persen dari total ekspor indonesia.53 sekitar 66.854 juta atau 2.5.95 persen dari total impor Indonesia (Tabel 5.125.831. Ditinjau dari sisi impor terhadap barang-barang dan jasa ternyata nilai impor secara keseluruhan sebesar 287.65 juta nilai tambah dari sektor tersebut dalam tahun 2000.1.507.623 juta. dengan melihat besarnya selisih antara total ekspor dan impor. perdagangan serta sektor pengangkutan dan telekomunikasi mengalami selisih yang positif ini menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barangbarang yang dihasilkan oleh sektor tersebut tidak lagi tergantung pada impor.4. Nilai ekspor industri kertas yang masih kecil tersebut dapat menandakan bahwa sektor industri ini masih berorientasi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. industri pengolahan. Dari Tabel 5.5). sedangkan nilai ekspor terbesar ditempati oleh sektor industri kimia atau 18.65 yang berarti satu orang tenaga kerja yang bekerja di sektor manufaktur mampu menghasilkan sekitar 66. . Berdasarkan nilai total ekspor tersebut. Nilai impor industri kertas sebesar Rp 8.757 juta. terlihat bahwa sektor pertanian.

177 6.262 17.373 1.319 24.96 2.07 Hasil hutan lainnya Pertambangan dan 77.933 1.916 177.063 396.729.451 131.028 2.58 0.110 0.900.424 8.525.38 0.859 7.337 5.864 9.287 2.336 1.51 Jasa-jasa 569.665 25.489.880.61 Industri percetakan 107.695 227. Tabel 5.06 barang non logam 12.814 71.53 1.67 komunikasi Keuangan dan 11.332 49. .641 37.845 528.507.580.567.088 -404.259.622 8.298 4.815.362.126 X-M (Juta Rp) 2.598.175 100 Total (domestik) Sumber: Tabel I-O Indonesia.620 12.093.722 -39.529.322 32.305 6.850.01 1.218 11.899 7.433 5.18 0.94 2.857. Struktur Ekspor dan Impor Indonesia Tahun 2000 Ekspor Sektor Jumlah (Juta Rp) % Impor Jumlah (Juta Rp) 4.285.22 0.120 3.637.5.444.49 4.099 57.512 281.385 2.603.821.27 Industri logam dasar Industri barang jadi 31.554.79 8.136.125.883.061 4.971.771.473.395.99 6.667.991.534. gas dan air.943.53 furniture 5.641 19.95 0.701.78 13.540.418 6.413 0.855 26.566.617.30 Industri kertas Industri barang dari 1.490.408 243.379 33.796.930.016 0.413 176.242.86 6.23 2.048.550 0.287 161.00 Listrik.896.214.094.772.634.531 541.59 dari logam 58.478 -2.947 43.694 2.13 100 Jumlah Input (Juta Rp) 224.805.089.809 4.444. Ini menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barang-barang yang dihasilkan oleh sektor tersebut masih tergantung pada impor.163.705 23.559.865 353.151 332.864.65 9.353.722 39.959 30.163 63.54 Sedangkan yang mengalami selisih negatif dialami oleh sektor kayu.849 24.698.00 Bangunan 57.775 10. sektor bangunan.412.881 40.21 Industri lainnya 0 0.627.84 Industri kimia Industri semen dan 6.242.958.824.29 kertas 3.489 8.842 2.814 18.52 15.588.02 Kayu 394.161.942.602 19.040 1.033 8.167.558.466 13.225.58 0.018 49.18 minuman Industri tekstil dan 73.340.238.10 persewaan 8.247 0.56 penggalian Industri makanan dan 29.620 13.365 5.979 2.326 2. gas dan air 0 0.053 -21.854 1.17 0.757 % 1.75 1.29 17.848 287.427 5.617 2.611.96 Industri pulp 13.326 1.03 Perdagangan Pengangkutan dan 26.944 196.957.268.613 27.317.22 Pertanian 124.278 177.485.735.493.97 pakaian Industri kayu dan 37.900.297 2.677. sektor listrik.050 4.719.403. sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa-jasa.305. 2000 (diolah).908 10.739.238.162.399 -3.

55

Jika dilihat dari total selisih antara ekspor dan impor maka perekonomian Indonesia mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 232.900.866 juta. Surplus perdagangan terbesar diberikan oleh sektor pertambangan dan penggalian sebesar Rp 71.489.864 juta, sedangkan industri kertas mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 4.617.531 juta. Angka tersebut menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barang-barang yang dihasilkan oleh sektor industri kertas di Indonesia tidak lagi tergantung pada impor.

5.1.5. Struktur Output Sektoral Output merupakan nilai produksi (barang dan jasa) yang dihasilkan oleh suatu sektor perekonomian. Berdasarkan Tabel Input-Output Indonesia tahun 2000 dapat diketahui besarnya output yang diciptakan oleh masing-masing sektor. Berdasarkan Tabel 5.6 terlihat bahwa output sektoral perekonomian Indonesia sebesar Rp 270.099.837 juta. Sektor yang paling besar menyumbang dalam pembentukan output domestik adalah sektor perdagangan yakni sebesar 14,67 persen dengan nilai output sebesar Rp 396.214.278 juta, kemudian disusul oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai sebesar Rp 329.325.254 juta dalam persentase sebesar 12,19 persen dari total output keseluruhan. Sementara industri kertas sendiri menyumbang sebesar Rp 24.771.622 dalam pembentukan output atau sebesar 0,92 persen dari seluruh total output sektoral perekonomian.

56

Tabel 5.6. Struktur Pembentukan Output Sektoral terhadap Perekonomian Indonesia Tahun 2000
Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Total (domestik) Output Jumlah (Juta) Persentase (%) 260,672,575 9.65 17,340,028 0.64 2,698,944 0.10 196,815,151 7.29 329,325,254 12.19 131,412,099 4.87 57,534,424 2.13 8,739,849 0.32 24,771,622 0.92 8,850,620 0.33 13,627,408 0.50 243,805,705 9.03 23,821,379 0.88 33,729,613 1.25 64,119,165 2.37 139,438,593 5.16 30,637,695 8.43 227,677,063 8.43 396,214,278 14.67 151,272,169 5.60 161,353,916 5.97 177,242,287 6.56 2,701,099,837 100

Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah). 5.2. Analisis Keterkaitan

5.2.1. Keterkaitan Langsung Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Keterkaitan langsung beberapa sektor perekonomian Indonesia dapat dilihat pada Tabel 5.7. Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa sektor perdagangan mempunyai nilai keterkaitan langsung kedepan yang paling besar yaitu sebesar 1,4070. Selanjutnya urutan kedua terbesar ditempati oleh sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai keterkaitan langsung ke depan sebesar 1,3580 kemudian secara berturut-turut diikuti oleh sektor industri kimia dan minyak dan

57

sektor pengangkutan dan komunikasi dengan nilai 0,7964 dan 0,7020 pada posisi ketiga dan keempat. Untuk keterkaitan langsung ke belakang sektor listrik, gas dan air merupakan sektor yang memiliki nilai keterkaitan langsung ke belakang yang paling tinggi dengan nilai 0,3103. hal ini dikarenakan sektor listrik, gas dan air merupakan salah satu sektor yang paling vital dalam kehidupan manusia dan tanpa sektor tersebut sektor yang lain tidak akan dapat berjalan, kemudian urutan kedua dan ketiga di tempati oleh industri makanan dan minuman dan sektor industri kayu dan furniture dengan nilai keterkaitan sebesar 0,3319 dan 0,1790.

Tabel. 5.7. Nilai Keterkaitan Berbagai Sektor Perekonomian di Indonesia
Langsung

Sektor
Depan Belakang

Langsung dan Tidak Langsung Depan Belakang

Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa
Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah).

0,5495 0,2619 0,0236 1,3580 0,3319 0,2764 0,1790 0,1877 0,5997 0.0485 0,0431 0,7964 0,0900 0,3072 0,1737 0,1631 0,3103 0,1919 1,4070 0,7027 0,6438 0,0980

0,2391 0,1794 0,1393 0,1188 0,6039 0,4673 0,5687 0,3957 0,3378 0,5356 0,4078 0,4217 0,4842 0,5635 0,4161 0,3675 0,6530 0,4884 0,3821 0,3945 0,2400 0,3390

1,9552 1,3283 1,0291 3,1272 1,6422 1,3855 1,2191 1,2750 1,6529 1,0734 1,0653 2,1857 1,1150 1,2955 1,2689 1,3310 1,4368 1,3066 3,2051 2,0874 2,1306 1,1575

1,3950 1,2751 1,2287 1,1567 1,9484 1,7956 1,8775 1,6059 1,5409 1,8431 1,6424 1,5577 1,6858 1,7978 1,5005 1,6501 1,8552 1,7539 1,6138 1,6346 1,3643 1,5500

Keterkaitan Langsung Perekonomian Indonesia dan Tidak Langsung Sektor-Sektor Pada Tabel 5. Selanjutnya di posisi kedua dan ketiga ditempati oleh sektor perdagangan dan sektor industri kimia dengan nilai masing-masing sebesar 3. dalam nilai keterkaitan langsung ke depan menempati urutan keeenam dengan nilai 0.5997. . Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sebesar satu juta. Sedangkan untuk keterkaitan langsung ke belakang industri kertas memiliki nilai sebesar 0.8431.58 Untuk industri kertas.2. Urutan kedua tertinggi ditempati oleh sektor industri kayu dan furniture dengan nilai keterkaitan sebesar 1.2. gas dan air dan sektor industri barang-barang dari kertas dengan nilai keterkaitan sebesar 1. sektor industri makanan dan minuman memiliki nilai keterkaitan tertinggi diantara sektor-sektor lainnya yaitu sebesar 1. 5.1272.3378 yang berada pada posisi ke-17 diantara sektor-sektor yang lain.2051 dan 2.8552 dan 1.5997 juta rupiah. maka sektor industri kertas akan meningkatkan permintaan inputnya secara langsung sebesar 0.8775. Selanjutnya berturut-turut untuk posisi ketiga dan keempat ditempati oleh sektor listik. maka output industri kertas secara langsung akan meningkat sebesar 0.1857. Nilai tersebut mengindikasikan bahwa jika terjadi kenaikan permintaan akhir satu juta.7 dapat dilihat bahwa sektor yang mempunyai nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung kedepan tertinggi adalah sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai sebesar 3. Untuk nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang.9484.3378 juta rupiah.

59

Berdasarkan hasil analisis (Tabel 5.7), industri kertas memiliki nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung kedepan sebesar 1,6529 yang berada pada peringkat ketujuh diantara sektor-sektor yang berada dalam perekonomian Indonesia. Nilai keterkaitan tersebut mengindikasikan bahwa setiap satu juta output yang dihasilkan industri kertas secara langsung maupun tidak langsung akan dialokasikan kepada sektor-sektor lain dan kepada industri kertas itu sendiri sebesar 1,6529 juta rupiah. Sedangkan untuk keterkaitan langsung dan tidak langsung kebelakang, industri kertas memiliki nilai keterkaitan sebesar 1,5409 yang berada pada peringkat ke-16 diantara sektor-sektor lainnya. Nilai keterkaitan sebesar 1,5409 berarti apabila terjadi peningkatan permintaan akhir sebesar satu juta pada industri kertas maka permintaan input dari sektor-sektor lainnya maupun dari industri kertas itu sendiri secara langsung dan tidak langsung akan menigkat sebesar 1,5409 juta rupiah.

5.2.3. Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Industri kertas merupakan sektor antara yang berada diantara sektor-sektor yang lain, industri ini tidak dapat dipisahkan dari industri atau sektor-sektor hulunya yang menyediakan input bagi keperluan proses produksinya, sebaliknya industri ini juga berfungsi sebagai penghasil output yang digunakan sebagai input bagi industri lainnya (hilir). Sektor-sektor hilir yang terkait dengan industri kertas antara lain industri barang-barang dari kertas, industri percetakan (penerbitan), dan sektor jasa-jasa.

60

Tabel 5.8. Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Sektor
Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah).

Koefisien 0.0005 0.0008 0.0025 0.0000 0.0022 0.0013 0.0004 0.0057 0.0015 0.3183 0.2448 0.0003 0.0047 0.0001 0.0006 0.0010 0.0007 0.0002 0.0020 0.0009 0.0012 0.0128

Peringkat 17 14 6 22 7 10 18 4 9 1 2 19 5 21 16 12 15 20 8 13 11 3

Dari hasil analisis keterkaitan ke depan industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian Indonesia (Tabel 5.8) dapat dilihat bahwa industri barang dari kertas menduduki peringkat pertama dengan nilai sebesar 0,3183. Selanjutnya disusul oleh industri percetakan dengan nilai keterkaitan sebesar 0,2248 pada urutan kedua. Industri barang dari kertas dan industri percetakan menempati peringkat teratas karena kedua industri ini menggunakan bahan baku utama yang dihasilkan dari industri kertas.

61

5.2.4. Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Industri kertas merupakan industri yang terus berkembang pesat di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan konsumsinya yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Perkembangan industri ini juga ditandai dengan peningkatan kapasitas produksi perusahaan-perusahaan industri kertas dalam satu dekade terakhir ini. Salah satu indikator penyebab perkembangan dan pertumbuhan yang cukup tinggi itu adalah kedekatan industri kertas dengan bahan baku industrinya dalam hal kemudahan memperolehnya. Kedekatan inilah yang menandai bahwa keterkaitan ke belakang industri kertas dengan sektor-sektor penyedia inputnya (hulu) cukup besar. Dari hasil analisis keterkaitan ke belakang industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian indonesia (Tabel 5.9) dapat dilihat bahwa industri pulp menduduki peringkat pertama dengan nilai sebesar 0,0944. Industri pulp menduduki peringkat pertama karena pulp merupakan bahan baku utama yang digunakan oleh industri kertas. Selanjutnya disusul oleh sektor pengangkutan dan komunikasi pada urutan kedua. Masuknya sektor pengangkutan dan komunikasi dalam peringkat yang cukup tinggi bila di bandingkan dengan sektor-sektor lain dalam perekonomian dikarenakan pentingnya faktor pengangkutan dan

komunikasi dalam memperlancar rantai distribusi bahan baku dari tempat bahan baku ke perusahaan tempat proses produksi dilaksanakan

0000 0.0031 0.0181 0.0004 0.0199 0. 2000 (diolah).0621 0.0050 Peringkat 11 7 17 12 9 20 15 1 14 10 16 4 21 22 13 19 6 18 3 2 5 8 5.0023 0.0017 0.0012 0.0071 0.0944 0.0045 0. Analisis Koefisien Penyebaran dan Kepekaan Penyebaran Untuk mengetahui distribusi manfaat dari pengembangan suatu sektor terhadap perkembangan sektor lainnya baik melalui mekanisme transaksi pasar input dan pasar output dapat dianalisis berdasarkan koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran.0401 0.0007 0. Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.0037 0.0006 0. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.3.0731 0.62 Tabel 5.9.0015 0. Analisis koefisien penyebaran dianggap penting karena menunjukkan koefisien kaitan yang memberikan gambaran tentang pengaruh yang ditimbulkan oleh suatu unit permintaan akhir untuk semua sektor di dalam suatu sisitem perekonomian. Koefisien 0. Sedangkan analisis kepekaan penyebaran berguna untuk .0001 0.0005 0.0010 0.

Koefisien Penyebaran Koefisien penyebaran menunjukan efek relatif yang ditimbulkan oleh keterkaitan ke belakang secara langsung dan tidak langsung antara satu sektor dengan semua sektor yang ada.10 dapat dilihat beberapa sektor yang mempunyai indeks koefisien penyebaran yang tinggi antara lain sektor industri makanan dan minuman. industri barang dari kertas juga industri tekstil dan pakaian. Nilai koefisien yang lebih besar dari suatu sektor menunjukkan kemampuan sektor tersebut dalam menarik perkembangan sektor hulunya.1. industri kayu dan furniture. listrik. 5. Koefisien penyebaran ini diperoleh dari nilai keterkaitan output langsung dan tidak langsung ke belakang yang dikalikan dengan jumlah sektor kemudian dibagi dengan total keterkaitan langsung dan tidak langsung semua sektor. . Berdasarkan nilai indeks koefisien penyebaran yang lebih dari satu. Koefisien penyebaran sering disebut sebagai daya penyebaran ke belakang. hal ini mengindikasikan bahwa sektor-sektor tersebut memiliki kemampuan yang kuat untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya.3. gas dan air.63 memberikan gambaran tentang pengaruh yang timbul oleh suatu unit permintaan akhir terhadap semua sektor di dalam perekonomian. Dengan kata lain merupakan efek yang ditimbulkan oleh suatu sektor karena adanya peningkatan output suatu sektor yang bersangkutan terhadap output sektor-sektor lainnya yang digunakan sebagai input oleh sektor-sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada Tabel 5.

7953 0.8509 0. 2000 (diolah).8701 0.10. Koefisien Penyebaran Industri Kertas Terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.0292 1. khususnya yaitu dengan sektor hulu yang paling besar keterkaitannya dengan industri kertas yaitu industri pulp.0066 1. Hal mengindikasikan bahwa industri kertas mempunyai kemampuan yang kurang kuat dalam menarik perkembangan sektor hulunya.64 Tabel 5.0939 1.9611.7664 0.7215 1.9611 1.0016 0.1710 1.0244 0.1495 1. sektor ini mempunyai indeks koefisien penyebaran sebesar 0.0514 1.9715 1.0195 0.1199 1. Salah satu penyebab terjadi hal tersebut adalah adanya integrasi vertikal dalam industri kertas sendiri. Hal ini mengakibatkan kemampuan industri kertas secara keseluruhan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya .9668 Untuk industri kertas.. Perusahaan-perusahaan besar yang memiliki kapasitas produksi yang besar pula ternyata juga memiliki pabrik pulp sebagai sumber bahan bakunya. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.1213 0. Koefisien Penyebaran 0.1571 1.2152 1.9359 1.

3. Namun jika di tinjau dari sisi efisiensi.65 terutama pulp menjadi semakin berkurang. Kepekaan penyebaran ini sering disebut indeks daya penyebaran ke depan yang diperoleh dari keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan yang dikalikan dengan jumlah sektor kemudian dibagi dengan total keterkaitan langsung dan tidak langsung dari semua sektor. sehingga sektor pertambangan dan penggalian mempunyai kemempuan yang kuat dalam mendorong pertumbuhan sektor-sektor hilirnya terutama dalam hal penyedian kebutuhan bahan bakar untuk proses produksi.2.9504. Kepekaan Penyebaran Kepekaan penyebaran merupakan efek relatif yang disebabkan oleh perubahan output suatu sektor ekonomi yang akan menimbulkan perubahan output sektor ekonomi lainnya yang menggunakan output sektor tersebut sebagai input baik langsung maupun tidak langsung.11 dapat dilihat bahwa sektor pertambangan dan penggalian memiliki indeks kepekaan penyebaran yang paling tinggi yaitu sebesar 1. Hal ini di karenakan sektor pertambangan dan penggalian merupakan salah satu sektor yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian. menurut Karseno dan Mulyaningsih (2002) integrasi vertikal pada industri kertas justru akan lebih meningkatkan efisiensi produksi perusahaan dalam industri 5. . Nilai indeks kepekaan penyebaran lebih dari satu mengindikasikan suatu sektor memiliki kemampuan yang kuat untuk mendorong sektor hilirnya. Pada Tabel 5. Barang tambang seperti minyak bumi dengan produk hasil olahannya yaitu bahan bakar minyak (BBM) merupakan pilar utama proses produksi output sektor-sektor industri dalam perekonomian.

2195 0.7603).309.8961 0. Dengan nilai indeks yang lebih besar dari satu.0309 0. hal ini berarti bahwa industri kertas mempunyai kemampuan yang kuat untuk mendorong perkembangan sektor hilirnya.7603 0.6954 0.11.0242 0.9990 1.8302 0. Bila di bandingkan dengan beberapa sektor lainnya yang tergolong sektor manufaktur seperti industri makanan dan minuman (1.6419 1. Kepekaan Penyebaran 1.3019 1.8149 1.6644 1. .8641 0. sektor industri ini mempunyai indeks kepekaan penyebaran sebesar 1.6695 0.7914 0.8080 0. 2000 (diolah).9504 1. industri kertas lebih unggul dalam kemampuannya dalam menstimulir perkembangan sektor-sektor hilirnya dan termasuk ke dalam delapan besar sektor yang mempunyai indeks kepekaan penyebaran kuat dalam perekonomian. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia. dan industri kayu dan furniture (0.3288 0. industri tekstil dan pakaian (0.7219 Sedangkan untuk industri kertas.8285 0.0242).3632 0.8641).66 Tabel 5.7952 1. Kepekaan Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.

Menurut Mattas dan Shresta (1991) dalam Imansyah (2000) pendekatan ini lebih baik daripada analisis keterkaitan dan analisis multiplier karena memperhitungkan share suatu sektor dalam output. pendapatan dan tenaga kerja. 5.12). Pendekatan ini mempermudah policy makers untuk berkonsentrasi tidak hanya pada nilai-nilai keterkaitan dan multiplier tertinggi tetapi juga pada share suatu sektor ekonomi. 5.1253. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan output sektor perdagangan sebesar 1. Elastisitas Output Elastisitas Output adalah perubahan persentase dalam total output suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. Hal ini bermakna bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan total output sektor industri makanan dan minuman sebesar 1.2610 (Tabel 5.4.4. Pendekatan elastisitas input-output dibagi kedalam tiga kategori yaitu elastisitas output. Pada perekonomian Indonesia. Nilai elastisitas output yang tinggi dari . Urutan kedua ditempati oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai elastisitas output sebesar 1.1253 persen. Elastisitas Input-Output Elastisitas input-output menyediakan pandangan baru untuk penentuan sektor prioritas.1.67 Semuanya itu menandakan bahwa sektor industri kertas layak untuk terus dikembangkan dan mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah.2610 persen. elastisitas output tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1.

1650. Nilai elastisitas output yang tinggi bila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya dalam perekonomian pada sektor perdagangan dan sektor pertambangan dan penggalian .1650 persen. Urutan kedua ditempati oleh sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai elastisitas pendapatan sebesar 1.0759 persen.0023. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan pendapatan sektor perdagangan sebesar 1. Pada tabel 5. sektor ini memiliki elastisitas output sebesar 1. Hal ini berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan total output sektor industri pertambangan dan penggalian sebesar 1. 5.0759. Untuk industri kertas.68 kedua sektor tersebut mencerminkan bahwa outputnya mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya atau lebih sensitif terhadap perubahan yang terjadi pada sektor lainnya dalam hal permintaan akhir. industri kertas dapat disebut cukup responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain. Elastisitas Pendapatan Elastisitas pendapatan adalah perubahan persentase dalam pendapatan suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya.12 dapat dilihat bahwa elastisitas pendapatan tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1.2. Dengan nilai elastisitas output yang lebih besar dari satu.4. yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan total output industri kertas sebesar 1.0023 persen.

7100 ( 9 ) Industri percetakan 0.1790 (17) 0.1008 ( 3 ) Industri makanan dan minuman 1.2133 (15) Output Pertanian 0.6005 ( 6 ) 0.1919 (15) 1.3127 (10) 0.69 menunjukkan bahwa pendapatan pada kedua sektor tersebut mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya. sektor ini memiliki elastisitas pendapatan sebesar 0. Elastisitas Input-Output Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 Sektor Elastisitas Pendapatan 0.1877 (16) 0.1631 (18) 0.3319 (10) 0.3284 ( 9 ) 0.1659 (18) 0.5022 persen.3072 (11) 0.6084 (10) Industri kimia 0.0441 ( 2 ) 0.2591 (16) Industri pulp 0.0047 (21) Industri barang jadi dari logam 0.0009 ( 3 ) 0.2240 (14) 0.0994 (19) 0.8877 ( 4 ) 0.1650 ( 1 ) 0.1790 (16) 0.5022 ( 7 ) 0.0040 (22) Jasa-jasa 0.5179 (12) Sumber: Tabel I-O Indonesia.12.0485 (21) 0.0247 (22) 0.4048 (14) Industri logam dasar 0.0955 (18) Hasil hutan lainnya 0.1737 (17) 0.7964 ( 5 ) 0.1253 ( 2 ) Industri tekstil dan pakaian 0.4050 (13) Pertambangan dan penggalian 1.5022.0900 (20) 0.6903 ( 4 ) 0. Keterangan: ( ) merupakan peringkat Tenaga Kerja 0.2778 (13) 0.3921 (15) Kayu 0.8697 ( 8 ) Industri kertas 1.5241 (11) Industri kayu dan furniture 0.3103 (11) 0. industri kertas dapat disebut kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain.0431 (22) 0.0443 (21) 0.0139 (20) Industri lainnya 0.0274 ( 4 ) Keuangan dan persewaan 0.2764 (13) 0. Tabel 5.6438 ( 7 ) 0. Dengan nilai elastisitas pendapatan yang kurang dari satu. Sementara pada industri kertas. gas dan air 0.2619 (14) 0.0548 (19) Listrik.6449 ( 5 ) 0.6093 ( 8 ) 0.2772 (12) 1.2610 ( 1 ) Pengangkutan dan komunikasi 1.0980 (19) .4772 ( 8 ) 1.3072 (12) 0.1253 (17) Perdagangan 1.9020 ( 7 ) Bangunan 0.0023 ( 5 ) Industri barang dari kertas 0.5495 ( 9 ) 0.0901 (20) 0.9779 ( 3 ) 1. 2000 (diolah).0768 ( 1 ) 0.9831 ( 6 ) Industri semen dan barang non logam 0. yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan pendapatan dalam industri kertas sebesar 0.7027 ( 6 ) 0.0759 ( 2 ) 1.

6093.0441 persen.70 5.4.0441.12).6093 persen. yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan total output industri kertas sebesar 0.3. hal ini terjadi dikarenakan industri kertas selain merupakan industri padat modal juga merupakan industri yang cukup banyak menyerap tenaga kerja.0768 persen.0768 (Tabel 5. Namun demikian nilai elastisitas tenaga kerjanya masih bernilai positif. . Dengan nilai elastisitas yang kurang dari satu. tenaga kerja industri kertas dapat disebut kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain. Nilai ini bermakna bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan tenaga kerja sektor industri makanan dan minuman sebesar 1. Diantara sektor lainnya dalam perekonomian elastisitas tenaga kerja tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1. Pada industri kertas. sektor ini memiliki elastisitas tenaga kerja sebesar 0. Elastisitas Tenaga Kerja Elastisitas tenaga kerja adalah perubahan persentase tenaga kerja suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. Nilai elastisitas tenaga kerja yang tinggi dari kedua sektor tersebut mengindikasikan bahwa jumlah tenaga kerjanya mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya atau lebih sensitif terhadap perubahan yang terjadi pada sektor lainnya dalam hal permintaan akhir. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan tenaga kerja sektor perdagangan sebesar 1. Peringkat kedua ditempati oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai elastisitas tenaga kerja sebesar 1.

(7) pertanian. merupakan sektor unggulan dalam meningkatkan output. Dari hasil analisis sektor kunci perekonomian Indonesia tahun 2000 berdasarkan ranking elastisitas (Tabel 5. gas dan air. sepuluh peringkat tertinggi dari hasil perankingan tersebut merupakan sektor-sektor kunci dalam perekonomian. (4) pengangkutan dan komunikasi. Pada penentuan sektor kunci berdasarkan elastisitas input-output.5. dampak penyebaran atau elastisitas input-output. (2) industri makanan dan minuman. dan tenaga kerjanya untuk lebih berperan . hal ini menunjukkan bahwa industri ini.71 5. Industri kertas termasuk dalam sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam). Hal ini berarti kesepuluh sektor tersebut menjadi prioritas pemerintah untuk dikembangkan karena setiap sektor tersebut secara simultan mempunyai respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor-sektor lainnya. (6) industri kertas. sektor yang menjadi kunci dalam perekonomian ditentukan berdasarkan ranking atau peringkat dari keseluruhan sektor dalam perekonomian baik dilihat dari elastisitas output. dan (10) hasil hutan lainnya.13). Sektor-Sektor Kunci dalam Perekonomian Indonesia Penentuan suatu sektor menjadi sektor kunci dalam perekonomian Indonesia dapat didasarkan pada kategori-kategori analisis input-output seperti analisis keterkaitan. bersama dengan sembilan sektor kunci lainnya. (5) industri pulp. yaitu: (1) perdagangan. (9) listrik. pendapatan. sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan. dapat diketahui sepuluh sektor kunci perekonomian. pendapatan maupun tenaga kerjanya (ranking elastisitas). (3) pertambangan dan penggalian. (8) industri kimia.

5 5 6 20 22 8.72 dalam perekonomian Indonesia dan pemerintah sebagai policy makers harus lebih biak lagi dalam menjalankan fungsinya berkaitan dengan penetapan kebijakan terhadap industri ini karena perannya dalam meningkatkan perekonomian tersebut.5 10 3 2 12. 2000 (diolah) . gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel Input-Output Indonesia.13. Sektor Kunci Perekonomian menurut Ranking Elastisitas InputOutput Indonesia Tahun 2000 Elastisitas Input-Output (peringkat) Tenaga Output Pendapatan Kerja 15 5 9 18 9 14 13 12 10 3 2 11 16 8 5 9 10 6 14 21 20 19 7 17 1 4 22 12 2 3 17 16 6 7 21 22 20 11 18 14 10 13 8 1 4 19 15 3 2 13 16 4 8 21 22 5 20 12 17 18 11 15 1 6 7 19 Total Peringkat 29 41 35 8 7 41 48 18 20 51 54 31 45 51 51 47 31 40 3 14 48 46 Ranking Elastisitas 7 12.5 17.5 15 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.5 11 1 4 17. Tabel 5.5 14 20 20 16 8.

berdasarkan analisis keterkaitan industri kertas tahun 2000 terhadap berbagai sektor perekonomian (keterkaitan per sektor) dapat diketahui bahwa industri kertas memiliki nilai keterkaitan yang tinggi baik ke depan maupun ke belakang terhadap sektor hulu dan hilirnya dan juga dengan sektor pendukungnya. Berdasarkan hasil analisis rasio upah dan gaji dengan surplus usaha pada struktur nilai tambah bruto dapat diketahui bahwa sektor industri kertas mempunyai nilai surplus usaha lebih besar dibandingkan upah dan gaji. Hal ini menandakan bahwa dalam industri kertas sangat potensial untuk dibentuk dan dikembangkannya klaster industri kertas.73 5. Implikasi Kebijakan Dari hasil penelitian ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai implikasi kebijakan. kondisi ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam Peraturan . 2. Pada sub-bab sebelummya. antara lain yaitu: 1. Untuk mengurangi kesenjangan pendapatan ini diperlukan campur tangan pemerintah yang lebih adil sebagai regulator ketenagakerjaan baik melalui penetapan kebijakan yang berfokus pada kesejahteraan tenaga kerja maupun sebagai mediator antara perusahaan dan tenaga kerjanya dalam penenganan berbagai masalah ketenagakerjaan terutama dalam persoalan upah. hal ini berarti bahwa distribusi pendapatan antara pemilik modal (perusahaan) dan pekerja tidak merata atau terjadi ketimpangan yang besar yang dapat disebabkan oleh adanya eksploitasi tenaga kerja oleh pemilik modal terhadap tenaga kerja dengan share yang lebih besar terhadap perusahaan (pemilik modal).6.

Dengan adanya klaster ini maka bukan saja dapat saling menumbuh kembangkan industri terkait dan industri pendukung dalam klaster tersebut. Dalam peraturan tersebut dijabarkan mengenai rencana pemerintah untuk membangun daya saing industri manufaktur nasional lima tahun kedepan dengan fokus pengembangan industri melalui penguatan dan penumbuhan klaster-klaster industri inti yang termasuk industri kertas didalamnya. padahal dari tahun 2000 berdasarkan penelitian ini pentingnya kebijakan klaster sudah dapat diidentifikasi.74 Presiden No. sementara klaster industri memberikan kesempatan pada IKM untuk membuat keterkaitan pasokan antara perusahaan besar dan menengah (Deprin.7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. . Namun demikian dapat dinilai adanya keterlambatan pemerintah karena baru tahun 2005 mengeluarkan kebijakan pengembangan klaster industri tersebut. menawarkan jasa dan produk-produk untuk mendukung klaster industrinya. Oleh karena itu IKM memerankan peranan secara integral dan konstruktif dalam suatu klaster industri. 2005). Pada saat yang sama jaringan yang terpadu dari IKM terkait akan terus berkembang. tetapi juga mengingat dalam setiap sektor terdapat juga pelaku ekonomi yang tergolong Industri Kecil dan Menengah (IKM). maka klaster tersebut akan menarik IKM untuk memenuhi Permintaan barang dan jasa.

maka kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut. Industri kertas memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor hulu dan hilirnya (keterkaitan industri kertas terhadap sektor-sektor perekonomian). industri ini berkontribusi sebesar Rp 24. . KESIMPULAN DAN SARAN 5.454 jiwa.622 juta.507.1. industri kertas berkontribusi terhadap permintaan antara sebesar Rp 10. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis peranan industri kertas terhadap perekonomian Indonesia. industri ini mampu meyerap tenaga kerja sebesar 118. kemudian kontribusinya dalam struktur nilai tambah bruto adalah sebesar Rp 7. industri kertas memiliki keterkaitan yang paling tinggi terhadap industri pulp (0. Pada struktur ekspor dan impor.VI.327 juta dan jika dilihat dari struktur ketenagakerjaan. Pada struktur permintaaan.775 juta dan permintaan akhir sebesar Rp 13. industri kertas melakukan ekspor sebesar Rp 13.3183) dan pada peringkat kedua yaitu terhadap industri percetakan (0.854 juta dan jika dilihat dari struktur output sektoral.0944) yang merupakan sektor penghasil bahan baku industri kertas dan pada sektor pengangkutan dan komunikasi (0.0731) yang merupakan salah satu sektor pendukung industri kertas.125.771. Pada keterkaitan ke depan industri kertas mempunyai keterkaitan yang paling tinggi terhadap sektor industri barang dari kertas (0.800.2448) sementara pada keterkaitan ke belakangnya. 1. 2.895.385 juta dan mengimpor sebesar Rp 8.847 juta.970.

0309). . maupun tenaga kerjanya. terutama pulp. industri kertas merupakan sektor prioritas yang harus dikembangkan oleh pemerintah sebagai policy makers karena kontribusinya terhadap perekonomian tersebut. Namun di sisi lain.9611). Hal ini mengindikasikan bahwa sektor industri ini memiliki respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal peningkatan output. Industri kertas kurang memiliki kemampuan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya karena jika dilihat dari hasil analisis koefisien penyebaran. sektor industri ini memiliki indeks koefisien penyebaran yang kurang dari satu (0. 4. industri ini merupakan sektor industri yang memiliki kemampuan yang kuat dalam mendorong pertumbuhan sektor hilirnya seperti industri barang dari kertas dan industri percetakan karena memiliki indeks kepekaan lebih dari satu (1. pendapatan. Bersama dengan sektor kunci lainnya. Industri kertas termasuk dalam salah satu dari sepuluh sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam) berdasarkan ranking elastisitas.76 3. sehingga sektor ini mempunyai kemampuan yang cukup besar dalam berkontribusi untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan. Salah satu penyebab lemahnya industri ini dalam menarik pertumbuhan sektor hulunya adalah adanya integrasi vertikal yang dilakukan oleh perusahaan-perusahan besar dalam industri ini dengan sektor penghasil bahan bakunya.

2. Pemerintah harus campur tangan yang lebih intensif melalui penetapan Upah Minimum Regional (UMR) yang benar-benar sesuai dengan standar kehidupan di Indonesia. pemberian fasilitas karyawan yang lebih baik serta jaminan sosial untuk mengatasi kesenjangan pendapatan antara perusahaan dan tenaga kerjanya pada industri kertas. 1. Saran Berdasarkan hasil analisis. industri barang dari kertas dan industri percetakan juga dapat saling menunjang untuk meningkatkan perkembangannya dan peranannya terhadap perekonomian Indonesia. . 2. Untuk meningkatkan efisiensi industri kertas tanpa mengurangi kemampuan industri tersebut menarik pertumbuhan sektor hulunya antara lain adalah dengan mempercepat transformasi pembangunan industri kertas menuju fase innovation driven melalui peningkatan teknologi produksi dan pelatihan tenaga kerja terampil yang intensif sehingga dapat meningkatkan outputnya dan disisi lain sektor hulu tetap dapat memasok input bagi industri kertas tersebut.77 6. 3. dapat disampaikan saran berikut ini. Pada industri kertas harus dibangun klaster industri yang kuat secara berkelanjutan sehingga industri kertas dan sektor yang terkait di dalam klaster tersebut seperti industri pulp.

R. Jakarta. [30 September 2005] Hasibuan. Jhingan. “An Application of the FES Approach to A Small Region in Indonesia: Banjarmasin Input-Output Model 1”. Imansyah. Paper for 13th International Conference on Input-Output Techniques.asp?id=NNA [30 September 2005]. Bogor. “Integrasi Vertikal dan Efisiensi Industri: Industri Kertas Tahun 1979-1997 Dengan Pendekatan Error Correction Model”. B. Puspitawati. Muchtar. “Industri Kertas Butuh Investasi Baru” [Harian Terbit Online]. N. ”Kebijakan Pembangunan Industri Nasional” [Deprin Online]. Miller. Prentice Hall.harianterbit. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. H. Italy. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. 1985. 2002. Deprin. 136-149. Mansur. 2. Bogor. 2002. 1993. 2005.D. M. Raja Grafindo Persada. R. Jakarta. BPS. http://www. Niaga.L. Institut Pertanian Bogor. 2005. 2000. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. E. APKI. Jakarta. USA. BPS.id/ publikasi. 2003.com [18 Februari 2005].DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia. P. bankniaga. T.go. . 2000. http://www.deprin. Tabel Input-Output Indonesia 2000.com/content/content. Jakarta. Karseno. Vol. http://www. Macerata. 17. Input-Output Analysis: Foundation And Extensions. Monopoli dan Regulasi. New Jersey. dan Blair. Analisis Peranan Sektor Pertanian dan Industri Pengolahan Terhadap Perekonomian Propinsi Kalimantan Timur (Berdasarkan Analisis Input-Output) [Skripsi]. No. dan Mulyaningsih. Dampak Keterkaitan Sektor Industri Terhadap Perekonomian Wilayah Kabupaten Sidoarjo [Tesis]. Fakultas Pertanian. A. M. 2000. Hal. LP3ES. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Ekonomi Industri : Persaingan. 1997. M. E. Direktori Industri Pulp dan Kertas Indonesia 2003. ”Profil Perusahaan” [Bank Niaga Online]. 2005.

Setyawan. Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor. Prosiding Seminar. Fakultas Pertanian. . T. 1998. Wikipedia. A. 4. http:// www. 5. Tjandrawan. Hal. Departemen Ilmu Ekonomi. Bogor. Sahara. Fakultas Ekonomi Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Analisis peranan Sektor Industri Pengolahan Dan Pengaruhnya Terhadap Perekonomian Jepara [Skripsi]. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. 2000. “Prospek dan Tantangan Pengembangan Agribisnis Pulp dan Kertas dalam Era Ekolabeling dan Otonomi Daerah”. dan Pambudy. 2005. A. S. Vol. 1994. Bogor. H. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Institut Pertanian Bogor. ”Kertas” [Wikipedia Online]. 2004. Bogor. Analisis Peranan dan Keterkaitan Sektor Pertanian dan Industri di Jawa Barat [Skripsi]. Fakultas Pertanian. Setiyaji. Departemen Ilmu Ekonomi. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia. Ruhmaniyati. Sipayung. No. Y. dan Vidyatmoko. 2002. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian.org /wiki/ Kertas [17 September 2005]. Bogor. D.79 Rosadi. Analisis Peran Sektor Industri Pengolahan dan Dampaknya terhadap Pembangunan Ekonomi Di Kota Cilegon [Skripsi]. “Analisis Pasar Pulp dan Kertas Indonesia”. Fakultas Ekonomi Dan Manajemen. 1995. R. 2005. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor. Dampak Investasi Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Nasional [Skripsi].wikipedia. Analisis Peranan Sektor Industri Pengolahan terhadap Perekonomian Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta [Skripsi]. 194203. I.

LAMPIRAN .

031-034 029 030 035-048 049-073 074-083 084-089 090 091 092 093 094-109 110-114 115-118 119-122 123-141 142-143 144-148 149-152 153-159 160-164 165-175 180 190 200 201 202 203 204 205 209 210 301 302 303 304 305 306 309 310 401 402 403 404 409 501 502 503 509 600 700 - .81 Lampiran 1. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Jumlah permintaan antara Jumlah input antara Impor Upah dan gaji Surplus usaha Penyusutan Pajak tak langsung Subsidi Nilai tambah bruto Jumlah input Pengeluaran konsumsi rumah tangga Pengeluaran konsumsi pemerintah Pembentukan modal tetap bruto Perubahan stok Ekspor barang dagangan Ekspor jasa Jumlah permintaan akhir Jumlah permintaan Impor barang dagangan Pajak penjualan Bea masuk Impor jasa Jumlah impor Margin perdagangan besar Margin perdagangan eceran Biaya pengangkutan Jumlah margin perdagangan dan biaya pengangkutan Jumlah output Jumlah penyediaan Jumlah Tenaga Kerja Kode I-O 175 Sektor 001-028. Klasifikasi Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 Kode I-O 22 Sektor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 180 190 200 201 202 203 204 205 209 210 301 302 303 304 305 306 309 310 401 402 403 404 409 501 502 503 509 600 700 1000 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.

82 .

190 18.785.705 705.297 479.177 21.826 927 3.411.513 798 315.479 83.670 6.588 6.911 Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).590 44.335.134 8 203.089 47.867 6.615 23.551 11 0 271 122 11.225 7 45.824 90.895.358 933.905 2.327.462 55.433 565.473 2.080 264.725 1.440.664.939 5.541 16.735.305.903 7.670 7.876 348 994.452 5.387.099 1.539 4.048 32.772.098 7.256.217.010.834 1.443 4.817.563 6.308 853.875 45.218 1.591 10.213 64.083 7.772.292.371 22.169.739.692.453.596 643.322 2.407.453 11.638.617 382.026 84.570 3.899 1.208.849 57.442 3.001 2.627.693 181 11.333 287.037.441 8.569 34 8.858 40.043 4.991.354 5.702 (250.192 10.171 1.235.097 590.405.441 370.771.785.052 131.957 7.362 161.973 369.443 429.325 3.484.371 1.036 8.099 2.506 493.412. Tabel Input-Output Indonesia 2000 Klasifikasi 22 Sektor (dalam Juta Rupiah) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 1 16.427.781 6.379 648.028 555.602 25.320 1.625.323 82.567 19.017.550 754.534.946 64.796 55.359.537.628 22 85.894 6.884 378.507.946. .343.250 478.486 100.135 200.403 32.368.540.813.622 118.238.606.063 4.574 1.302 43.129 2.063 1.758.429 0 64.167.590.718 3.777.566.854 1.116 490.240 13.228) 97.103.944 86.069 6.396 166.534.525.319 504 17.933 112.560 21.679.592 916.777 7.404 151.394 141.877 3.800 53.046 926.430 55.711.393 13.780 41.850.492 528.870 210.408 100.867 4.395.867 3.860.732 1.985 9.646.811.759 243.990 8.298 16.232 13.708 127.164 224.183 17.212 3.666 65.778.010 7.114 8.530 8.512 1.258 4.963.277 246.237 4.902 2.750 0 13.663.947 1.864.515 25.634 1.489 940.467 1.542 1.119.365.442 120.643 8.576.319 30.936 36.886 2.996.815.040 2.333 29.975 83.160 823.346 38.798 105.811.241 75.775 19.908 141.890 49.043 1.620 73.618 174.895 2.524 2.427 2.857 1.979 5.828 61.195 196.491 11.890 1.958 487.613 111.938 6.688.093.749 24.437.656 2.588.040 1.212.073 8.051 9 77.700.590 5.040 29.792 116.575.694 21.949 332.553 108 5.644 45.151 825.030 13 20.292 5.908 14.458.459 553.725 138.577.459 131.600 181.306.942 12 8.539 77 186.895.364 2.919 4.241 1.245 1.183 19.311 2.486 5.652 2.370 110 84 1.809 448.824 40.513 4 19.Lampiran 2.817 378 627.451 3.821.592 6 2.059 106.349 206.117 594.064 55.478 63.229.858 26.049 112.441 610.340.338 627.931 59.479.606 1.210 51.567.855 76.913 151.839 4.989 146.130 77.782.837 15.824.914 121.530.014.952.252 43.418 1.958 683.800 17.774 147.853 110.991.943 5 101.262 40.306 815.343 332.399 1.327 24.187 416.871 2.839 1.494 1.714.898 115.330 296.660.554.056 33 4.569 11.705 8.504 1.973 1.739.405 6.083 224.639 865.454 10 0 3.519 2 628.850 337.418 59.228 69.626 3.703 4.094.560 5.114 5.333 4.849 23.391 448.282.905 57.755 17.170 904 57.203 19.718.229 1.182.799 5.296.901.337.190 41.206 15.941 1.851 37.417 121.514 33.355 8.526 0 737.557.947 11.797.424 2.145.086 5.414.524 1.605.385 20.720 2.352 975.328.838 1.982.628 123.427 3.034 1.441 967 8.012.585.550.069 338.698.091 20.450.290.558.321 5.597 18.553 13.755 162.655 17.579 55.968 7.664.667 3.480.568 1.881 2.536.918.845 40.484.508.143.623.912 23.460 175.072 325.155 7.110.459 53.073.493.509.176 167.554.003 363.561 1.770 35.024 5.648.577 159.293 2.805.926 10.738 25.701 301.809 1.917 375.426 874 728.731.062.489 59.930 129.543 5.764 20.824 3 2.227 72.955 23.560 28.607 8.762 4.426 102.004.244 1.281.

730 90.360 3.437 791.305 20.643 1.349 8.723 41.713 2.128 23.668 341.509 2.565.192.598.875 3.125.902.186.398 13.420.966.726.320.261 6.800.331.671.746 32.678 19.138.266.870.802 134.179 17.253.830.480.429 11.390.378 61.973.498 19.076.084 3.963 62.228.246 2.056 3.593 2.700.542 4.573.926 117.117.713 197.012.179 26.134 11.073.226.891 123.142.228 1.338 4.859 16.180 14.202 4.588.848 85.842 123.803 4.896.657 12.670 19.455.525 1.938 15 7 6.078 1.242.525 11.401 110.344 3.748.623 84.700 3.594 50.203.977.948.275.664 18 4.775 5.392 227.756.945 37.780 1.048.182 30.877.153.310.177 2.344.169 4.916 1.529.278.434 76.126 93.821 27.553 13.292 3.722 2.292 6.564.214.511 29.928 69.698 49.442.281 60.019 14.215 35.032 448.731.630 1.278.498 110.564.705 859.229.445 412.574 1.218 21.477.770 755.852 121.732 (3.088 161.Lampiran 2.383.243 177.569.065 15.011.132.649 157.063 111.172 0 141.995.016.595 1.793.213 16.383 143.990 18.817.287 11.525 1.921.142 10.616 5.002.413 259.472 105.194.360.601 21.767.515 20 299.756 12.353.418 14.676 1.579 4.562 180 144.678 7.876.570.866 1.923 16.741 10.131 151.900.034.237 2.382 1.915 1.825 1.451.189 19.006.844 882.950 527.074 19.635 64.041.111 382 16 1.015 1.071.952 5.666 2.724.255 19 10.713.206 438.999 6.226.100) 65.812 173.382 4.727 100.876.089.641 37.175.499 1.045.331 1.397 114.870.704 3.580.997 34.690 115.377.238.257 15.729.005.465 5.610 7.808 158.786 3.155 1.739.014.887 124.352.278 17.844.823.264.797 15.105 476.247.097 1.476.063 8.084 15.156 105.076.817 215.081 564.781 337.475.093.744.742.505 723.576 834.073 (30.028.000 213.332 3.642 36.843 149.399 3.502 4.221.613 357.350 130.113 94.116 770.568 21.415 15.079.197 4.919 398.108 19.388 38.218 17 4 14.948 .798 5.136.070 6.385 6.460.430 1.649 36.963 176.333.664 156.529.030 39.860.085 15.372 88.463.861 35.147.649.715 373.995 65.930. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 14 9.727 27.749 609.233 396.637.727 9.354 37.973 6.948 (3.448.767.161.441.084.463.458.242.260.860 2.802.567 26.652.677.562.810 2.703.597 5.411.372.983 3.563 510.100.944 3.672 6.741.685.161 16 620.577 8.916.503 7.139 10.757 225.407.609 151.350 2.663 1.107 3.200.385 1.107.327 19.060.368.228.855 61.705.626 70.544 967.244.044.511 9.567 26.117 1.791 866.383.206.271.169.176 197.695 225.310 6.761 137 85 121.892 1.966 18.287.196 11.079.405 6.729.248 966.326 9.951 232.113 3.667.127 19.279.723.361 758.872 278.164.020 7.775.931.661 524.015.035 16.652 411.578) 1.915 13.575.584 3.912 21 34.393.559 322.127.870 126.638 33.028.760 1.559 27.340 6.778 1.649.412.250) 8.980 42.106 4.034 22 2.048.183.428 117.946 777.332 12.738 824.332 3.297 19.979 350.272.843.158 5.167.961 1.223 22.139 2.670.981 156.875 1.444.727 30.038 13.063 4.959 1.393.489.805 2.106.130 9.757 400.110.600 441.354 19.864.036.708 59.451 7.697 6.858 495.019 287.604.713.547.

656.881 13.96 42.327 1.559 199.730 209.957.965.016 394.165 139.365 57.513 2.697 937.457.438.849 24.042 41.935 88.729.613 64.887 201.623 48.623 306 1.582 2.479.798.739.897.483.571 11.254 131.413 3.282 301 14.485.849 80.575 17.426.771.356 105.496.276.389.701.774.621 208.151 329.637.814 6.018 79.086 112.552 309 115.033) 5.842 31.779.114.790.480 15.305 5.865.503.099.193.605 94.243.008.629 152.620 8.916 177.373 55.534.821.488.760.466 29.160 1.514 305 6.433 37.162.257.705 23.627.713 1.949.599 5.805.337 73.695 227.044 8.637.495 11.837 32.658.119.539.211.848.695.143.287 2.325.935 1.942.214.393 208.480 402 15.225.944 196.227.044 403 8.586.108 13.412.831.743.621 133.698.076 2.238 77.808.209 234.056 67.733 15.600 272.387.111.071 1.672.831.294 8.435 4.670 7.851.786.125.167.887 9.473.374 51.416 2.593 30.658.743 3.239 8.818 108.267.497 302 88.316.278 151.871 18.568 646. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 301 107.210 29.550 13.865.707.420.437 68.067 1.847 3.272.379 33.136 48.724 5.408 243.188 2.416.294.592 110.068.385 1.028.125.063 396.885.340.247 77.241.933 748.353.970.696 668.783 520.269 4.036 155.534.561.642 67.777.747 942.927.281 292.677.200 520.901.491 474.775.643 115.110 107.284 314.413 14.169 161.857.315 90.988.480 6.617 8.454 856.573 20.454 .614 794.034 238.466.766 15.259 165.447 401 314.241.689.595.400.815.013.782.850.045 25.689.665 303 189.581 64.001.965.553.785 158.268.389.028 2.673 (68.187.525.620 13.321 835.242.326 12.485 39.158 1.162.620 37.471 38.202.813.Lampiran 2.622 8.036.028.099 57.943.552 1.398 613.883.161.114 310 260.088.634.424 8.048.329.438 304 1.837 441.933 124.034 41.

099.771.287 2.534.379 33.805.534.353.637.063 396.622 8.677.099.944 196.695 227.613 64.340.729.701.438. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 404 103.837 3.837 700 260.815.284 - .805.627.119.821.916 177.272.151 329.099 57.325.119.412.353.325.272.739.099 57.593 30.853.944 196.438.988.677.408 243.672.165 139.340.701.143.028 2.278 151.412.214.408 243.705 23.063 396.575 17.637.771.672.169 161.469 501 502 503 509 600 260.739.705 23.169 161.698.088.028 2.850.424 8.701.850.627.165 139.099.151 329.853.837 441.698.469 - - - - 2.695 227.622 8.Lampiran 2.849 24.287 2.379 33.447 103.254 131.916 177.254 131.214.242.593 30.729.620 13.815.620 13.424 8.242.613 64.278 151.849 24.575 17.821.

0782 0.0731 0.3957 9 0.0000 0.0009 0.2391 2 0.2497 0.0007 0.0047 0.0057 0.0002 0.0001 0.0000 0.0001 0.0000 0.0083 0.0352 0.0007 0. Matriks Koefisien Teknis Klasifikasi 22 Sektor SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 1 0.0000 0.0239 0.0066 0.0087 0.0008 0.0008 0.0000 0.0116 0.0000 0.0000 0.0280 0.0073 0.3378 10 0.0718 0.0446 0. .0182 0.0107 0.0022 0.0000 0.0009 0.0319 0.0071 0.0013 0.0016 0.0036 0.0007 0.0022 0.0009 0.0000 0.0000 0.0050 0.0201 0.0000 0.0073 0.0001 0.0002 0.0436 0.0000 0.0944 0.0031 0.0000 0.0000 0.0061 0.0317 0.0001 0.1354 0.0238 0.0096 0.5356 11 0.0003 0.0289 0.5687 8 0.0800 0.0037 0.0002 0.0506 0.0000 0.0005 0.0045 0.0025 0.0003 0.2130 0.0428 0.4078 12 0.0002 0.4842 Total Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).0026 0.0000 0.0000 0.0001 0.0056 0.0002 0.0000 0.0001 0.0002 0.0000 0.0433 0.4673 7 0.0555 0.0005 0.0000 0.0059 0.0119 0.0083 0.0003 0.0002 0.0153 0.0059 0.0250 0.0007 0.0002 0.0000 0.0020 0.0005 0.0097 0.0310 0.4217 13 0.0025 0.0002 0.0021 0.0000 0.0002 0.0350 0.Lampiran 3.0005 0.0004 0.0001 0.0008 0.0000 0.0003 0.0000 0.0464 0.0000 0.0477 0.0000 0.0000 0.2445 0.0000 0.0001 0.0385 0.0010 0.0078 0.0086 0.0015 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0003 0.0000 0.0001 0.0000 0.0005 0.0000 0.0213 0.0042 0.0001 0.0016 0.0000 0.0000 0.0119 0.0003 0.0001 0.0000 0.0011 0.0047 0.0000 0.0004 0.0026 0.0003 0.0000 0.0142 0.0006 0.0000 0.0000 0.0000 0.0003 0.0000 0.0000 0.0023 0.0836 0.0220 0.0013 0.0000 0.0015 0.0001 0.1335 0.0053 0.0002 0.0001 0.0008 0.0021 0.1794 3 0.0040 0.0155 0.1094 0.0001 0.0044 0.0011 0.1188 5 0.0001 0.0000 0.0011 0.1393 4 0.6039 6 0.0000 0.0013 0.0000 0.0646 0.0355 0.0000 0.0000 0.0025 0.0005 0.0233 0.3052 0.0000 0.0000 0.0003 0.0401 0.0535 0.0000 0.1780 0.0006 0.0001 0.0000 0.0105 0.0027 0.0001 0.0003 0.0006 0.0000 0.0599 0.0001 0.0000 0.0002 0.0002 0.0035 0.0217 0.0006 0.0000 0.0000 0.0211 0.0090 0.0000 0.0022 0.0000 0.0002 0.0017 0.0022 0.0519 0.0000 0.0000 0.0000 0.0014 0.0001 0.0002 0.0243 0.0002 0.0171 0.0362 0.0009 0.0028 0.0008 0.0001 0.0016 0.0015 0.0224 0.0199 0.0073 0.0023 0.3183 0.0181 0.0621 0.0010 0.0041 0.0000 0.0004 0.0073 0.0730 0.0023 0.0008 0.0734 0.0424 0.2448 0.0000 0.0000 0.0050 0.0001 0.0000 0.0000 0.0934 0.1247 0.0004 0.0802 0.0000 0.0010 0.0010 0.0168 0.0012 0.0094 0.0171 0.

0150 0.0371 0.0400 0.0023 0.0223 0.0053 0.0352 0.0867 0.0078 0.3390 Total 0.0002 0.0085 0.0791 0.0010 0.0980 8.0008 0.0000 0.0180 0.0010 0.0105 0.0331 0.0024 0.0369 0.0009 0.0431 0.0163 0.0099 0.0001 0.0000 0.0000 0.0258 0. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Total 14 0.0000 0.0001 0.0474 0.0000 0.2619 0.0485 0.0020 0.3821 20 0.0000 0.0002 0.1020 0.0001 0.0001 0.0244 0.0000 0.0360 0.6438 0.0000 0.0179 0.0007 0.0626 0.4161 16 0.0511 0.0007 0.0000 0.0131 0.0502 0.0001 0.0465 0.0046 0.0000 0.0002 0.0003 0.0047 0.4070 0.0007 0.7433 .0278 0.1006 0.0007 0.0100 0.0589 0.0030 0.0373 0.0049 0.0008 0.0000 0.0000 0.0000 0.0172 0.0033 0.0275 0.0003 0.0315 0.5495 0.0495 0.0039 0.0000 0.0336 0.0147 0.2400 22 0.0319 0.0000 0.3580 0.0000 0.0012 0.0187 0.0044 0.0369 0.0272 0.0004 0.0236 1.0000 0.0000 0.0081 0.0000 0.1919 1.0027 0.0000 0.0005 0.0010 0.0317 0.0001 0.0532 0.0048 0.0000 0.0001 0.0001 0.0004 0.0001 0.1097 0.0003 0.5635 15 0.0010 0.Lampiran 3.0055 0.0001 0.3072 0.0000 0.4633 0.0091 0.0000 0.0276 0.1790 0.0000 0.0158 0.0001 0.0058 0.1548 0.0221 0.0804 0.0001 0.0023 0.0007 0.0939 0.5997 0.0226 0.0001 0.0000 0.7964 0.3675 17 0.0022 0.0002 0.0032 0.2790 0.0047 0.1631 0.0002 0.7027 0.0180 0.3319 0.0000 0.0364 0.3103 0.0000 0.0016 0.0572 0.0000 0.0000 0.0009 0.0000 0.0108 0.0000 0.0000 0.0007 0.0013 0.0295 0.0000 0.0128 0.0001 0.0035 0.0002 0.2764 0.0019 0.0074 0.0000 0.0007 0.0006 0.0037 0.0900 0.0008 0.0014 0.0000 0.0200 0.0508 0.0000 0.0003 0.0226 0.0020 0.0000 0.1737 0.3945 21 0.0000 0.0261 0.0604 0.0230 0.1877 0.0002 0.0817 0.0000 0.0348 0.0020 0.1082 0.0009 0.0000 0.0771 0.0889 0.0620 0.0220 0.0008 0.4884 19 0.0011 0.0277 0.0000 0.0130 0.0001 0.0038 0.6530 18 0.0071 0.0025 0.

0054 0.0058 0.0155 0.0005 0.0080 1.0017 0.0005 0.1548 0.0018 0.0007 0.0050 0.0006 1.6059 9 0.0012 0.0122 1.0037 1.0826 0.0003 0.2287 4 0.3950 2 0.0221 0.0261 0.0016 0.0000 0.0017 0.0991 0.0035 0.0386 0.0648 0.0008 0.0163 0.0494 0.0172 0.0062 0.0483 0.0090 0.0007 0.0775 0.0097 0.0013 0.0163 0.0013 0.0009 0.0981 0.0240 0.0294 0.0008 0.0337 0.0441 0.0452 0.0055 0.0121 0.0093 0.0474 0.0005 0.0003 0.0463 0.0005 0.0006 0.0001 0.0030 0.0164 0.0014 0.0078 0.0106 0.0004 0.0133 0.0058 0.0044 0.0001 0.0192 0.0109 0.0112 0.0094 1.0014 0.0440 0.0012 0.5577 13 0.0166 0.1038 0.0584 0.0016 0.0036 0.0009 0.0052 0.0116 0.0043 0.0010 0.Lampiran 4.0021 0.0009 1.2751 3 0.0063 0.0043 1.0004 0.0304 0.0012 0.0112 0.0123 0.0059 0.1140 0.0046 0.0031 0.0287 0.0072 0.0180 0.0024 0.0542 0.0130 0.0008 0.0782 0.0015 0.0230 0.0009 0.0602 0.0017 0.0030 1.9484 6 0.0965 0.0001 0.0076 0.0052 0.0452 0.0012 0.0382 0.0026 0.0394 0.0397 0.0133 0.1567 5 0.0034 0.0002 0.0053 0.0446 1.0322 0.0007 0.0000 1.0011 0.0032 0.2025 0.0626 0.0011 0.1048 0.0014 0.0000 0.0196 0.0011 0.0007 0.0080 0.0137 1.0026 0.0008 0.0303 1.0134 0.0508 0.0051 0.0000 0.0007 0.0378 0.0011 0.0061 0.0767 0.0002 0.0118 0.0024 1.1133 0.0155 0.0260 0.0008 0.3235 1.5409 10 0.0005 0.0009 0.0770 0.0138 0.0044 0.0014 1.0345 0.4000 0.0034 0.0327 0.8775 8 0.0019 0.0055 0.0001 0.0166 0.0006 0.0006 0.1178 0.0220 0.0001 0.0067 0.2508 0.0099 0.0148 0.0943 0.0076 0.0260 0.0193 0.0010 0.0072 1.0077 0.1036 0.0014 0.0005 0.0042 0.0681 0.8431 11 0.0357 0.0002 0.0108 0.0042 0.0002 0.0013 0.0134 0.0001 0.0100 0.2088 0.0033 1.0001 0.0036 0.0028 0.0153 0.0109 0.0034 1.0394 0.0474 0.0002 0.0042 0.0065 0.0036 0.0046 1.0005 0.0025 0.0054 0.0749 0.0097 0.0021 1.0008 0.0059 0.0014 0.0221 0.0009 0.0007 0.0291 0.0021 0.1068 0.0049 0.0002 0. Matriks Kebalikan Leontief Klasifikasi 22 Sektor SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 1 1.0052 0.0030 0.0010 0.0032 0.0003 0. .0022 0.0009 0.0137 0.0086 0.7956 7 0.0105 0.0007 0.0001 0.6424 12 0.2921 0.0467 0.0938 0.0017 0.0050 0.6858 Total Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).0004 0.0275 0.0008 0.0013 1.0004 0.0004 0.0004 0.0082 0.0013 0.0012 0.0015 0.0011 0.0636 0.0009 0.1031 1.3337 0.0024 0.2872 0.0079 1.1045 1.1920 0.0052 0.0001 0.1683 0.0481 0.0074 0.0006 0.0170 0.0359 0.0013 0.0021 1.

0267 0.0058 0.0084 0.6346 21 0.0018 0.0816 0.0239 0.0120 0.0020 0.0015 0.0088 0.0298 0.0377 0.0025 1.0001 0.1150 1.6422 1.0134 1.0041 0.0105 0.0016 0.2733 Total .0006 0.0005 0.0007 0.0059 0.2689 1.0013 0.0025 0.3855 1.0348 0.0013 0.0734 1.0544 0.0212 0.0261 1.2955 1.0010 0.0063 0.0000 0.6501 17 0.0020 0.0017 0.0444 0.0098 0.2750 1.0024 0.2051 2.0013 0.3283 1.0661 0.0041 0.0488 0.0090 0.0004 0.5500 Total 1.0051 0.7978 15 0.0184 1.0450 0.0016 0.0073 0.0219 0.0454 0.1331 0.0009 0.0166 1.0011 0.0198 0.0082 0.0010 0.0246 0.0054 0.0522 0.0067 0.0856 1.0020 0.0071 1.0182 0.0119 1.0254 0.0502 0.6138 20 0.1095 0.0007 1.0420 0.0104 0.0235 0.1062 0.0056 0.0008 0.1395 0.0053 0.0003 0.0284 0.0004 0.0018 0.0002 0.0058 0.0078 1.0772 0.0102 1.0515 1.0715 0.0028 0.1049 0.0009 0.5005 16 0.0724 0.0039 0.0057 0.0481 0.0291 3.0041 0.0171 0.0874 2.0010 0.0010 0.0007 0.0498 0.0068 0.0068 0.0532 0.0004 0.0516 0.0012 0.0018 0.0558 0.4368 1.0028 0.1194 0.0001 0.0208 1.0247 0.3732 0.0000 0.0449 0.0007 0.0441 0.0003 0.1306 1.0012 0.1116 0.0001 0.1550 1.0343 0.0395 0.3066 3.0008 0.0038 0.0002 0.0173 0.0022 0.0026 0.0487 0.0607 0.0137 0.0404 0.3310 1.0031 1.0166 0.0032 0.0008 0.0018 0.0139 0.5581 0.1272 1.0018 0.0468 0.0216 0.0038 0.0000 0.Lampiran 4.0171 0.0338 1.0653 2.0003 0.0008 0.7539 19 0.0044 0.0755 0. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 14 0.0999 0.0026 0.1857 1.0050 0.0170 0.1284 0.0009 0.0082 0.0045 0.0274 0.0001 0.2191 1.0056 0.0095 0.0048 0.0537 0.0116 0.0040 0.0062 0.0025 0.0638 0.0802 0.0063 0.0001 0.0718 0.0274 0.0042 1.8552 18 0.0001 0.0517 0.1575 35.0237 0.0024 0.0105 0.0115 0.6529 1.0014 0.0183 0.0038 1.0599 0.3643 22 0.9552 1.0018 0.1589 0.0013 0.0054 0.0416 0.0828 0.1247 0.0855 0.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->