ANALISIS INPUT-OUTPUT PERANAN INDUSTRI KERTAS DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA

OLEH RUSLI RAMLI H14101122

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006

RINGKASAN

RUSLI RAMLI. Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia (dibimbing oleh ARIEF DARYANTO). Proses industrialisasi di Indonesia telah yang dimulai dari sejak pelita I telah mengakibatkan transformasi struktural dalam perekonomian Indonesia. Hal ini ditandai dengan semakin menurunnya kontribusi sektor primer (pertanian) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sementara sektor sekunder dan tersier seperti industri pengolahan kontribusinya terhadap PDB terus mengalami peningkatan. Salah satu sektor industri pengolahan yang berkembang pesat adalah sektor industri kertas. Hal yang menyebabkan industri ini terus berkembang pesat di Indonesia antara lain adalah kemudahan mendapatkan baku dan tenaga kerja yang murah. Pada akhir tahun 2000 kapasitas terpasang industri kertas nasional telah mencapai sekitar 9,1 juta ton per tahun, produksi sebesar 6,8 juta ton, ekspor sebesar 2,8 juta ton, dan konsumsinya yang telah mencapai 4,2 juta ton. Data-data tersebut di atas menunjukkan bahwa industri kertas sangat potensial untuk terus dikembangkan khususnya untuk meningkatkan penerimaan devisa negara. Selain perkembangannya yang pesat tersebut, industri kertas juga mempunyai pengaruh dan hubungan timbal balik terhadap industri atau sektor lainnya karena komoditi kertas yang dihasilkan oleh industri ini dapat sebagai input sektor industri lain dan sebaliknya industri kertas juga membutuhkan input dari sektor lain tersebut. Berdasarkan kondisi di atas, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana peran sektor industri kertas bagi perekonomian Indonesia Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari BPS Pusat Jakarta dan instansi terkait lainnya. Analisis yang digunakan yaitu Analisis Input-Output (I-O) dari Tabel I-O Indonesia Tahun 2000 transaksi domestik atas dasar harga produsen klasifikasi 175 sektor melalui program Microsoft Excel 2003. Pendekatan model I-O yang digunakan dalam penelitian ini adalah model sisi permintaan (demand-side model), hal ini dikarenakan faktor permintaan merupakan faktor eksogen yang mempengaruhi perekonomian. Berdasarkan analisis deskriptif dari Tabel I-O Indonesia tahun 2000 transaksi domestik atas dasar harga produsen yang diagregasi menjadi 22 sektor, industri kertas memiliki peran yang tidak begitu besar terhadap struktur perekonomian Indonesia seperti struktur permintaan, nilai tambah bruto, struktur ketenagakerjaan, ekspor-impor dan pembentukan output sektoral. Hal ini dapat dilihat dari kecilnya nilai industri kertas pada masing-masing struktur tersebut bila dibandingkan dengan sektor perekonomian lainnya. Dilihat dari sisi permintaan antara dan permintaan akhir, industri kertas memiliki permintaan akhir (Rp 10.800.775 juta) yang lebih besar daripada permintaan antaranya (Rp 13.970.847 juta) yang menandakan bahwa output industri kertas lebih banyak digunakan untuk konsumsi langsung (masyarakat, pemerintah, dan ekspor) daripada sebagai input untuk sektor lainnya.

Dilihat dari rasio upah gaji terhadap surplus usaha (0,43) dalam struktur nilai tambah bruto, dapat identifikasi bahwa pada industri kertas terjadi ketimpangan distribusi pendapatan antara pihak perusahaan dengan tenaga kerjanya. Kemudian dari struktur ketenagakerjaan dapat diketahui bahwa industri ini mampu menyerap tenaga kerja sebesar 118.454 jiwa. Berdasarkan analisis struktur ekspor-impor dapat diketahui bahwa industri kertas mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 4.617.531 juta sedangkan dari pembentukan output sektoral industri kertas menyumbang sebesar Rp 24.771.662 juta atau sekitar 0,92 persen dari total output sektoral perekonomian. Dari hasil analisis keterkaitan per sektornya (keterkaitan industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian Indonesia), industri ini memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor hulu dan hilirnya. Pada keterkaitan ke depan industri kertas memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor industri barang dari kertas (0,3183) dan industri percetakan (0,2448), sedangkan pada keterkaitan ke belakangnya, industri kertas memiliki keterkaitan kuat terhadap industri pulp (0,0944) yang merupakan sektor penghasil input bahan bakunya. Berdasarkan hasil analisis koefisien penyebaran dapat diketahui bahwa industri kertas kurang memiliki kemampuan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya. Sedangkan dari hasil analisis kepekaan penyebaran industri kertas merupakan industri yang memiliki kemampuan yang kuat dalam mendorong sektor hilirnya. Pada analisis elastisitas input-output dapat diketahui bahwa industri kertas cukup responsif terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya dalam hal output dengan nilai elastisitas output sebesar 1,0023. Sementara dari hasil elastisitas pendapatannya (0,0522) industri ini kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal pendapatan dan jika dilihat dari hasil elastisitas tenaga kerjanya (0,6093), perubahan permintaan akhir sektor lain kurang berpengaruh terhadap perubahan tenaga kerja dalam sektor industri kertas tersebut. Berdasarkan ranking elastisitas, industri kertas termasuk dalam salah satu dari sepuluh sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam). Hal ini mengindikasikan bahwa sektor industri ini memiliki respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal peningkatan output, pendapatan, maupun tenaga kerjanya, sehingga sektor ini mempunyai kemampuan yang cukup besar dalam berkontribusi untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan. Bersama dengan sektor kunci lainnya, industri kertas merupakan sektor prioritas yang harus dikembangkan oleh pemerintah sebagai policy makers karena kontribusinya terhadap perekonomian tersebut

ANALISIS INPUT-OUTPUT PERANAN INDUSTRI KERTAS DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA Oleh RUSLI RAMLI H14101I22 Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006 .

Dr. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Nama Mahasiswa Nomor Registrasi Pokok Program Studi Judul Skripsi : Rusli Ramli : H14101122 : Ilmu Ekonomi : Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia dapat diterima sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi. Arief Daryanto. Dosen Pembimbing.INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN DEPARTEMEN ILMU EKONOMI Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh. Menyetujui. MS NIP. Ir. Rina Oktaviani.Ec. Ir. Institut Pertanian Bogor. 131 846 872 Tanggal Kelulusan: . Dr. NIP. 131 644 945 Mengetahui. M. Ketua Departemen Ilmu Ekonomi.

Juni 2006 Rusli Ramli H14101122 .PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. Bogor.

RIWAYAT HIDUP Penulis bernama Rusli Ramli lahir pada tanggal 20 Juli 1983 di Karawang. Penulis masuk IPB melalui jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dan diterima sebagai mahasiswa Program Studi Ekonomi dan Studi Pembangunan pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen. penulis menamatkan Sekolah Dasar pada SDN Ciwaringin 1. dari pasangan Apun Sanusi dan Yoyoh. Penulis merupakan anak pertama dari satu bersaudara. kemudian melanjutkan ke SLTPN 1 Telagasari dan lulus pada tahun 1998. . Formasi. Pada tahun yang sama penulis diterima di SMUN 1 Karawang dan lulus pada tahun 2001. Propinsi Jawa Barat. Selama menjadi mahasiswa. dan HMI Komisariat FEM. Pada tahun 2001 penulis melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi untuk meraih gelar sarjana. Jenjang pendidikan penulis dilalui dengan lancar. penulis aktif di berbagai organisasi intra dan ekstra kampus seperti BEM-H.

Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada seluruh pihak lainnya yang telah membantu terlaksananya penelitian ini baik dari instansi maupun perorangan yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Penulis mengharapkan adanya hasil positif sebagai masukan dalam pembangunan industri kertas nasional selanjutnya. skripsi ini juga merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Semoga karya ini dapat bermanfaat. Bogor. yang telah memberi masukan.1r.Ec. Arief Daryanto. Institut Pertanian Bogor. saran serta bimbingan dalam pembuatan skripsi ini. M. Judul ini dipilih penulis karena merupakan topik yang menarik dalam perkembangan industri nasional dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Selain itu. Juni 2006 Rusli Ramli H14101122 . bagi penulis khususnya dan kalangan pendidikan umumnya. Judul skripsi ini adalah “Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia“. terutama kepada Bapak Dr.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

.................................................................2........................................... 3.... 2...............................................6... Kerangka Pemikiran Teoritis ..............2.......................... Latar Belakang ............ II.............................DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL......................... 3..... Analisis Dampak Penyebaran ................................ DAFTAR GAMBAR ............................................ GAMBARAN UMUM INDUSTRI ........... Konsep Pembangunan Industri Kertas ........................ Penelitian-Penelitian Terdahulu ..2... 2...........1......... 1..2......2........................................1...............5................................1. 2................ Metode Analisis ................................. Integrasi Vertikal Pada Industri Kertas ...... TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN .................... 1....................................................... Analisis Keterkaitan .......3.............................. Kerangka Pemikiran Konseptual ...........1.............................2..... DAFTAR LAMPIRAN................ Elastisitas Input-Output........ Perumusan Masalah .......2.................................................5........................... Struktur Tabel Input-Output.. I..... III.........................................................................3............................. 2.......................2............ Ruang Lingkup........................................... Model Input-Output ................................................. Koefisien Input..... Manfaat Penelitian .......................2..................... Tujuan Penelitian ...........3... 1...................... Perkembangan Industri Kertas ........ 3............................ 2.......... Jenis dan Sumber Data ... x xi xii 1 1 4 5 5 6 7 7 8 11 13 16 16 19 22 25 25 25 26 27 29 31 33 33 34 .......1............................................................................................2.................................................... PENDAHULUAN ......................... 3.................................................. 2.................................. 4.4... V............................................................. 1............................................ 2..........4. 4... Profil Industri Kertas... 3............. Definisi dan Sejarah Kertas..................1....................... 1.....3.. 3.......... 2..............................5............................ METODE PENELITIAN...........................5............................

............ Struktur Permintaan Industri Kertas ................. 5...........4.....1............... 5..... Elastisitas Pendapatan .......4..............2.......... 5....3........ 6............................................... Keterkaitan Langsung Sektor-Sektor Perekonomian ....... 36 37 47 47 47 49 51 53 55 56 56 58 59 61 62 63 65 67 67 68 70 71 73 75 75 76 78 80 .........2.. VI........6................. Kepekaan Penyebaran .........................1.......................1.................1......................... 5.............1....................... 6.............. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ..................... Profil Beberapa Perusahaan Kertas Indonesia ..... HASIL DAN PEMBAHASAN.1................. 5............ Sektor-Sektor Kunci dalam Perekonomian Indonesia .......................... 5...........................4......................................2...............3...... 5........1..........5................ 5.. Elastisitas Output ...... Struktur Output Sektoral ................................. Keterkaitan ke Depan Industri Kertas .......................... Implikasi Kebijakan ...... LAMPIRAN........................... 5................... Analisis Koefisien dan Kepekaan Penyebaran............ DAFTAR PUSTAKA ...............1......................................4....... Elastisitas Input-Output.................................1.......................2.............2........... KESIMPULAN DAN SARAN ...................... Struktur Ketenagakerjaan... Elastisitas Tenaga Kerja........3......................................1. 5.......... Peranan Industri Kertas Dalam Perekonomian Indonesia..................... 5..........2... 5..4........ 5....................2.2.....3..... Integrasi Vertikal dan Pasar Industri Kertas Indonesia.................. Saran............... 5............................................................................2......... 5... Keterkaitan ke Belakang Industri kertas .. Struktur Nilai Tambah Bruto .................................. 4................................... 5. 5..... Struktur Ekspor dan Impor.......2.............................2...............5....... 5.......... Koefisien Penyebaran.............. Kesimpulan ................. V.. 5...............2..............4................ 5...... Analisis Keterkaitan ............................................3.........................3..4.......3.

.......................... 4........................ Indah Kiat Pulp & Paper Tbk per 30 September 2004 ...................3..................... Rasio Upah Terhadap Surplus Usaha........... Nilai Tambah Bruto Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Indonesia Tahun 2000 .... Produktifitas dan Nilai Upah Sektoral Indonesia Tahun 2000 ........................ Komposisi Sektoral PDB 1960-2003 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993 ..... Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Dampak Penyebaran. Permintaan Antara dan Permintaan Akhir Sektor-sektor Perekonomian di Indonesia Tahun 2000...... ......... Ekspor dan Konsumsi Industri Kertas Indonesia Tahun 1994-2003..............2.......1............... 4....6................. 4.....................2.1........ Boards PT........ Boards PT................ 5.......... Struktur Tabel Input-Output............ Boards PT............ Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Keterkaitan ..............1............. 4....................1......4........................... 4..... Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry per 30 Desember 2004 ........3...... Jumlah Tenaga kerja............................. 5........... Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk per 30 September 2004 .... Kapasitas Terpasang Perusahaan Industri Kertas 2003....................................................... 2.....DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1................................... 2 1.........4.... Profil Industri Pulp dan Kertas Indonesia Tahun 2003 . 2....... Konsumsi Kertas Per Kapita Penduduk Indonesia 1993-2002....2.... 5... 4..................... 3 13 14 19 34 35 38 40 42 43 46 48 50 51 52 .......... 4.. 2..........2....... Impor.............................5............ Kapasitas Produksi.......... Boards PT...... 5...........................7......3.......... Pindo Deli Pulp & Paper Mills per 30 September 2004 ...............................

.............. Elastisitas Input-Output Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 ......... Nilai Keterkaitan Berbagai Sektor Perekonomian di Indonesia ...................... Kepekaan Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia...... Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia . 5. Struktur Ekspor dan Impor Indonesia Tahun 2000 ........................ 5................. Sektor Kunci Perekonomian Menurut Ranking Elastisititas Input-Output Indonesia Tahun 2000 . 5....................................10............12........6... 5............................. 5............. Struktur Pembentukan Output Sektoral Terhadap Perekonomian Indonesia ............ 5.............11............... Koefisien Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia.................7................13........ Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia ..5.5........................................ 5.......... 54 56 57 60 61 64 66 69 71 ...............................................................9.8...................... 5...............

.............DAFTAR GAMBAR Nomor 1............ Halaman 24 ................................ Bagan Alur Pendekatan Studi .

.. 3............................... Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 Klasifikasi 22 Sektor ................... Halaman 81 82 86 88 Klasifikasi Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 ... 2.DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1.......... Matriks Koefisien Teknis Klasifikasi 22 Sektor ... Matriks Kebalikan Leontief Klasifikasi 22 Sektor.................... 4............. ......

sementara sektor industri khususnya industri pengolahan baru menyumbang 8. yang mencakup peralihan lembaga.4 persen. dan motivasi yang secara radikal. Kemudian pada tahun 1967 industri pengolahan telah menyumbang 51.1). Perubahan struktur semacam ini menyebabkan kesempatan kerja semakin banyak. sikap sosial. Pada tahun-tahun berikutnya dapat dilihat bahwa sektor industri pengolahan terus mengalami kenaikan dalam hal kontribusinya terhadap PDB sedangkan sektor pertanian sebaliknya terus mengalami penurunan kontribusi terhadap PDB. produktifitas buruh. Pola pertumbuhan ekonomi secara sektoral di Indonesia agaknya sejalan dengan kecenderungan proses transformasi struktural yang terjadi di berbagai negara di dunia. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Proses industrialisasi di Indonesia yang dimulai sejak Pelita I telah mengakibatkan transformasi struktural di Indonesia.9 persen). stok modal. Perubahan struktural mengandung arti peralihan dari masyarakat pertanian tradisional menjadi ekonomi industri modern.8 persen terhadap PDB sedangkan sektor pertanian mempunyai kontribusi terhadap PDB sebesar 8.1. Hal tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa sektor industri . Pada tahun 1960. sektor pertanian merupakan sektor penyumbang terbesar terhadap PDB (53. dan pendayagunaan sumber-sumber baru serta perbaikan teknologi akan semakin tinggi (Jhingan.4 persen dari PDB (Tabel 1. dimana terjadi penurunan kontribusi sektor pertanian (sektor primer) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).I. 2002). sementara kontribusi sektor sekunder dan tersier cenderung meningkat.

Komposisi Sektoral PDB 1960-2003 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993 (persen) Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan penggalian Industri Pengolahan Listrik dan air minum Bangunan/konstruksi Perdagangan.6 5.2 1967 51.57 9. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai eksportir .9 21.7 1.6 10.0 14.4 5.6 3.8 1.3 6.52 5.8 6.8 3.5 1993 17.57 2003 16.1.6 0.1 5.4 0.3 2.9 7.0 6.3 3.84 25.7 24.5 16.0 3.64 15. Salah satu dari sektor industri pengolahan tersebut yang berkembang pesat sampai saat ini adalah industri pulp dan kertas.5 0. sektor industri pulp dan kertas telah menyumbang 90 persen dari total penerimaan ekspor kehutanan.4 1973 40. Tabel 1.1 0.3 3.5 3. Pasar bagi hasil industri pulp dan kertas masih terbuka luas karena konsumsi kertas per kapita terus meningkat dari tahun ke tahun.6 15.9 10.9 5.9 16.9 14.7 2.5 0.7 0.9 1989 20.1 12.9 3.5 1.7 6.2 6.7 8. 2003.3 6.2 1.3 4.1 3.9 1983 22. sewa dan jasa perusahaan Jasa-jasa Sumber : BPS.6 13.6 16.8 20.4 0.8 3.6 18.2 3. hotel dan restoran Pengangkutan dan komunikasi Keuangan.9 5.6 15.4 Industri pulp dan kertas adalah industri yang berkembang dengan tingkat pertumbuhan 20 persen per tahun pada beberapa dekade terakhir. Dari sisi kontribusi terhadap penerimaan negara.0 16. 1960 53.7 8.2 pengolahan telah menggeser peranan sektor pertanian dalam pembangunan nasional berkaitan dengan peralihan struktur perekonomian masyarakat Indonesia dari orientasi pada sektor primer (pertanian) kepada orientasi sektor industri.4 5.5 1998 17.0 3.49 7.3 9.3 1.7 12.

600 2. 2003.730 2.168.487.580 7.200.783.300.560 4.110 197.116. Tabel 1.530 5. Kapasitas.000 2000 9.135 2.446.2. 2002).500 3.800 1995 5. jumlah produksi. dan ketiga.097.260 1998 9.935 5. Sementara itu fokus khusus pada sektor industri kertas (diluar dari industri pulp).080 6.600.100 2.3 pemimpin dalam bidang kehutanan di dunia sejak 1987 (Karseno dan Mulyaningsih. Impor.945 5.000 3.425.130 143.630 199.970 2002 10.520 1.282.695 250.000 2. yaitu komponen impor yang digunakan dalam proses produksi nilainya tidak lebih dari 30 persen.198.560 1999 9.180 6.210 2.119. sehingga dalam masa krisis ekonomi yang dihadapi Indonesia.224.805.000 2003 Sumber: Asosiasi Pulp dan Kertas.472.833.904.960 2. alasan kedua.240 2001 10.290 4.390 3.015.479.800. adalah bahwa produk kertas harganya banyak ditentukan dalam nilai dolar.800 212.430 3. industri ini merupakan salah satu industri yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia.840 249. Hal itu ditambah apabila melihat dalam sekitar satu dekade terakhir ini.600 1997 7. industri ini masih dapat diandalkan dalam membantu penerimaaan devisa negara (Rosadi dan Vidyatmoko.882.490 1996 7.420 4. Ada tiga alasan utama yang melatarbelakangi pentingnya sumbangan industri ini.913. 2002).054.950.821.800 2.849.000 Ekspor 826.595. Ekspor.220 1.120.399.200 924. dan Konsumsi Industri Kertas Indonesia Tahun 1994-2003 (ton) Tahun Kapasitas Produksi Impor 171. ialah bahwa produk kertas cenderung banyak yang ditujukan untuk pasar luar negeri.641.212.000 8.350 3.180 6.000 1994 4.300 140. baik kapasitas.837.951.800.065.345.280 4. ekspor maupun . pertama.970 3.700 261. Produksi.000 130.000 Konsumsi 2.720.

Berdasarkan kondisi inilah dirasakan penting untuk melakukan analisis lebih lanjut tentang peranan industri kertas terhadap perekonomian Indonesia. Peran industri kertas dalam hubungannya dengan sektor-sektor perekonomian tersebut dapat dilihat dari bagaimana struktur perekonomiannya bila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya dan keterkaitannya dengan sektor-sektor lainnya . Indonesia termasuk negara penyedia bahan baku pulp terbesar karena mempunyai hutan terluas kedua di dunia. misalnya. Dalam hal bahan baku.2). sehingga bahan baku untuk pembuatan kertas tersedia banyak di Indonesia. Namun pentingnya industri kertas ini tidak semata-mata hanya karena keunggulan komparatifnya saja tapi juga karena peranannya dalam hubungannya terhadap sektor-sektor lain dalam perekonomian Indonesia baik sektor industri maupun non-industri dan bagaimana sektor-sektor lain tersebut mempengaruhi industri kertas sehingga terjadinya hubungan timbal balik yang mengarah pada peningkatan pertumbuhan sektor-sektor dalam perekonomian secara keseluruhan.4 konsumsi dalam industri kertas terus mengalami kenaikan setiap tahunnya (Tabel 1. Sampai saat ini industri kertas Indonesia memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan negara lain. Perumusan Masalah Pentingnya industri kertas yang besar tidak terlepas dari kondisi yang dimilikinya. angkatan kerja produktif di Indonesia mencapai puluhan juta orang.2. I. Keunggulan yang lebih banyak mengandalkan sumber bahan baku yang berlimpah dengan harga yang relatif murah serta tenaga kerja dengan upah buruh yang relatif rendah. Begitu juga dalam hal tenaga kerja.

bagaimana kemampuan industri kertas dalam mendorong sektor hulu dan hilirnya dan bagaimana peran industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia. Berdasarkan latar belakang dan uraian di atas. nilai tambah. Bagaimana peran sektor industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia? 1. Bagaimana peran sektor industri kertas dalam mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya? 4. Menganalisis keterkaitan sektor industri pengolahan dengan sektor-sektor perekonomian lainnya di Indonesia . ketenagakerjaan. Bagaimana keterkaitan sektor industri kertas dengan sektor-sektor lainnya di Indonesia? 3. Menganalisis peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia dalam struktur permintaan. ekspor-impor dan output sektoral 2. Berapa besar peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia dalam struktur permintaan.3.5 tersebut. ketenagakerjaan. nilai tambah. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah di atas maka tujuan penulisan skripsi ini adalah: 1. ekspor-impor dan output sektoral? 2. beberapa permasalahan yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut: 1.

kertas rokok (cigarette paper) dan sebagainya. . Menganalisis peran sektor industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia 1. Manfaat Penelitian Penulis mengharapkan penelitian ini dapat berkontribusi secara positif terhadap perencanaan kebijakan pembangunan industri kertas nasional pada khususnya maupun industri lain pada umumnya oleh pihak-pihak yang terkait didalamnya maupun bagi pihak-pihak lain yang berkepentingan untuk melakukan penelitian tentang industri kertas Indonesia. Dengan kata lain industri kertas dalam penelitian ini bukan industri pulp. industri barangbarang dari kertas yang tidak memproduksi kertasnya terlebih dahulu dan bukan pula industri percetakan atau penerbitan. 1.4.6 3. Ruang Lingkup Industri kertas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah industri yang terdiri dari perusahaan-perusahaan yang mengolah bahan baku kertas menjadi produk kertas yang merupakan barang jadi yang dapat di langsung dikonsumsi ataupun barang setengah jadi yang akan digunakan sebagai input oleh industri lain. Kertas yang dimaksud adalah jenis kertas seperti kertas tulis cetak (writingprinting paper).4. kertas tissue (tissue paper). kertas lapis dan non lapis (coated and uncoated paper). Menganalisis peran sektor industri kertas dalam mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya 4.

mencetak serta melukis dan banyak kegunaan lain yang dapat dilakukan dengan kertas misalnya sebagai kertas pembersih (tissue) yang dapat digunakan untuk hidangan maupun kebersihan. yang dihasilkan dengan kompresi serat. Peradaban Mesir kuno menyumbangkan papirus sebagai media tulis menulis. kayu. Dari kata papirus (papyrus) itulah dikenal sebagai paper dalam bahasa Inggris. papier dalam bahasa Belanda. Sebelum ditemukan kertas. bangsa-bangsa dahulu menggunakan tablet dari tanah liat yang dibakar. meskipun pengunaan papirus masih dirasakan sangat mahal.1. Adanya kertas merupakan revolusi baru dalam dunia tulis menulis yang menyumbangkan arti besar dalam peradaban dunia. Kertas dikenal sebagai media utama untuk menulis. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI 2. Definisi dan Sejarah Kertas Kertas adalah bahan yang tipis dan rata. sutera. . Hal ini dapat ditemui dari pennggalan peradaban bangsa Sumeria.II. Jerman. bambu. kulit atau tulang binatang. prasasti dari batu. 2005). Perancis misalnya atau papel dalam bahasa Spanyol yang berarti kertas (Wikipedia. Serat yang digunakan biasanya adalah alami dan mengandung selulosa (Wikipedia 2005). bahkan daun lontar yang dirangkai seperti yang telah ditemukan pada naskah-naskah kuno nusantara beberapa abad yang lalu. Penggunaan papirus sebagai media tulis menulis ini digunakan pada peradaban Mesir kuno pada masa bangsa Fir’aun kemudian menyebar keseluruh Timur Tengah sampai Romawi di Laut Tengah dan ke seluruh Eropa.

Penemuan ini akhirnya menyebar ke Jepang dan Korea seiring menyebarnya bangsa-bangsa Cina ke timur dan berkembangnya peradaban di kawasan itu meskipun pada awalnya cara pembuatan kertas merupakan hal yang sangat rahasia. kimia. teknik pembuatan kertas tersebut jatuk ke tangan orang-orang Arab pada masa Abbasiyah terutama setelah kalahnya pasukan Dinasti Tang dalam pertempuran sungai Talas pada tahun 751 Masehi dimana para tawanan-tawanan perang mengajarkan cara pembuatan kertas kepada orang-orang arab sehingga dizaman Abbasiyah. 2.2. Menurut Puspitawati (2000) industri pengolahan merupakan suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan mengubah suatu barang dasar secara mekanis. kemudian meyebar ke Italia dan India lalu Eropa khususnya setelah perang Salib dan jatuhnya Grenada dari bangsa Moor ke tangan orang-orang Spanyol serta ke seluruh dunia (Wikipedia. Bintaro (1968) dalam Muchtar (1997) mengemukakan industri pengolahan ialah setiap usaha yang merupakan unit produksi yang membuat barang untuk kebutuhan masyarakat di suatu tempat tertentu. munculah pusat-pusat industri kertas baik di Baghdad maupun Samarkand dan kota-kota industri lainnya. atau dengan tangan sehingga menjadi barang jadi atau setengah . Tsai Lun menemukan kertas dari bahan bambu yang mudah didapat di seluruh Cina pada tahun 101 Masehi. Pada akhirnya. 2005). Konsep Pembangunan Industri Kertas Ada beberapa pengertian industri secara definisi yang sekurang-kurangnya akan disampaikan dua definisi.8 Tercatat dalam sejarah adalah peradaban Cina yang menyumbangkan kertas bagi dunia.

pembangunan industri secara nyata harus menjadi penggerak utama peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dan sekaligus dapat menjadi penyedia lapangan kerja yang sudah mulai tidak tertampung pada sektor pertanian (Muchtar.9 jadi dan atau barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya dan sifatnya lebih dekat kepada pemakai akhir. Oleh karenanya. akan tetapi banyak masalah dan tantangan yang dihadapi dalam perjalanannya untuk memiliki keunggulan daya saing yang tinggi. Karakteristik dari industri ini adalah sumber bahan baku kayu . Kendati perkembangan sektor industri kertas mengalami kemajuan yang pesat salah satunya terlihat dari perkembangan produksi. Berdasar pada dua pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa industri kertas merupakan suatu kegiatan atau usaha mengolah barang dasar atau bahan baku kertas agar memiliki nilai yang lebih baik untuk keperluan masyarakat di suatu tempat tertentu. sebagai berikut : 1. kapasitas maupun ekspornya. Sumber pertumbuhan agribisnis pulp dan kertas terutama bersumber dari pemanfaatan sumber daya alam dan tenaga kerja tidak terampil (fase factordriven). Menurut Saragih dalam Sipayung dan Pambudy (2000). yakni struktur ekonomi dengan titik berat pada industri yang maju dan didukung oleh pertanian yang tangguh. konsumsi. khususnya pada era ekolabelling dan otonomi daerah pada saat ini. Pada hakekatnya pembangunan industri ditujukan untuk menciptakan struktur ekonomi yang kokoh dan seimbang. 1997). ada 3 fase pembangunan industri pulp dan kertas agar memiliki keunggulan daya saing.

Efisiensi pengolahan makin meningkat melalui perbaikan teknologi yang terus menerus sehingga selain menurunkan biaya produksi juga . Fase ketiga adalah industri pulp dan kertas yang digerakkan oleh inovasi (innovation-driven) yakni penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tenaga kerja terampil (knowledge based and skill labor based). bila diboboti dengan atribut global value dan national/local value.10 mengandalkan kayu hutan (forest based) misalnya Hak Penguasaan Hutan (HPH). Fase kedua adalah agribisnis (industri) pulp dan kertas yang digerakkan oleh modal (capital-driven) yakni modal dan tenaga kerja semi terampil (capital and smi-skill labor). 3. melainkan telah bergeser pada kayu hasil budidaya. Sehingga dampak penurunan mutu lingkungan akibat aktivitas industri tersebut biasanya cukup besar. meskipun biaya produksi relatif rendah. 2. Artinya. Selain itu keterkaitan kegiatan perusahaan masih dengan masyarakat juga masih sedikit. Dengan demikian. Industri pulp dan kertas pada fase ini dicirikan dengan pengembangan perkebunan kayu (timber plantation) sebagai sumber bahan baku. nilai produk kertas dapat dipersepsikan masyarakat (perceive value) sebagai barang inferior. Karakteristik industri pulp dan kertas pada fase ini adalah pertumbuhan output terutama bersumber dari kemajuan teknologi baik pada penyediaan bahan baku maupun dalam pengolahan. penyediaan bahan baku kayu tidak lagi bersumber dari penebangan kayu hutan alam. Dengan demikian dampak penurunan mutu lingkungan akibat penebangan kayu hutan alam dapat diminimumkan atau lebih rendah dari fase pertama. sehingga telah terjadi pemutusan hubungan dengan hutan alam.

2. kemampuan Riset and Development (R&D) menjadi tulang punggung dalam fase ini. Mentransformasi industri pulp dan kertas dari factor-driven kepada innovation-driven akan memberi manfaat ganda. Perusahaan yang menerapkan strategi integrasi vertikal ke hulu (upstream) adalah perusahaan yang memperoduksi sendiri input yang dibutuhkannya. Bahkan beberapa diantaranya sudah mulai memasuki innovation–driven. Pada saat ini industri pulp dan kertas indonesia sebagian besar sedang bergeser dari factor-driven kepada capital-driven. yaitu integrasi ke hulu (upstream) dan integrasi ke hilir (downstream). Sedangkan integrasi vertikal ke hilir (downstream) adalah perusahaan yang memutuskan untuk menyalurkan output yang dihasilkan kepada konsumen melalui perusahaan yang terintegrasi dengannya. Integrasi vertikal yang dilakukan oleh perusahaan dapat dilakukan dilakukan dengan dua cara. yakni meningkatkan daya saing dan meminimumkan dampak negatif kegiatan industri pulp dan kertas pada lingkungan hidup. antara lain: 1. Full Integration Perusahaan melakukan full integration bila perusahaan tersebut memproduksi semua input yang dibutuhkannya atau ketika perusahaan tersebut . Integrasi Vertikal Pada Industri Kertas Hasibuan (1994) mendefinisikan integrasi vertikal adalah pengabungan perusahaan-perusahaan yang mempunyai kelanjutan proses produksi. Jenis integrasi ini dapat dibagi menjadi dua. Oleh karena itu.11 mengurangai polutan ke lingkungan.3.

12 menyalurkan semua output yang dihasilkan melalui anak perusahaan yang terintegrasi dengannya. Indah Kiat Pulp & Paper. Penelitian-Penelitian Terdahulu Penelitian tentang peran dan keterkaitan dengan menggunakan alat analisis Input-Output telah banyak dilakukan. yaitu: (1) penelitian terhadap keseluruhan sektor perekonomian. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia merupakan perusahaan-perusahaan besar dalam industri kertas yang terintegrasi vertikal dengan industri pulpnya.4. 2. Lontar Papyrus dan PT. 2. PT. (2) penelitian terhadap sektor agroindustri dan non agroindustri . Menurut Karseno dan Mulyaningsih (2002) integrasi vertikal oleh perusahaan kertas akan meningkatkan efisiensi perusahaan dalam industri kertas tersebut karena dapat mengamankan pasokan bahan baku dan meminimumkan biaya transaksi dalam rangka untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan terhadap produk kertasnya. Jenis integrasi vertikal perusahaan-perusahaan tersebut adalah full integration. Penelitian yang sudah dilakukan selama ini antara lain meliputi. Taper Integration Perusahaan melakukan taper integration bila perusahaan tersebut membeli input yang dibutuhkannya dari perusahaan lain selain input yang dihasilkan sendiri atau menyalurkan hasil produksinya melalui perusahaan terintegrasi dengannya dan juga perusahaan lain yang tidak terintegrasi Perusahaan-perusahaan seperti PT. mereka mempunyai pabrik pulp sendiri sebagai sumber bahan baku produksi kertasnya.

Ada beberapa informasi yang ditunjukkan pada Tabel 2.6028 2. Jepara**** Ind.63396 Sumber: *Tjandrawan (1994) .1 yaitu. Jawa Barat*** Pertanian Agroindustri 4. Tabel 2.13908 2.4267 1.2).62204 2001 0.38949 Keterkaitan Ke Depan Langsung 0.48518 1988 0.34572 1.6293 0. Pada dasarnya penelitian yang dilakukan memiliki tujuan yang sama yaitu mempelajari keterkaitan (linkages).59448 0. DKI Jakarta** Pertanian Ind. **Sahara (1998) .54759 1.05931 0.07819 1.11877 0. dan (4) penelitian terhadap salah satu sektor perekonomian misalnya pariwisata. baik keterkaitan langsung ke belakang (direct backward linkages) dan ke depan (direct forward linkages) maupun keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang dan ke depan (Tabel 2. Indonesia* Agroindustri Non Agroindustri 2.64866 0.13 (sektor industri pengolahan). Disamping mempelajari keterkaitan tersebut penelitian-penelitian tersebut juga mempelajari dampak penyebaran (Tabel 2.31431 2.95855 Keterkaitan Ke Belakang Langsung & Langsung Tdk Langsung 0. (1) keterkaitan langsung ke depan sektor industri pengolahan lebih kecil di bandingkan keterkaitan ke belakangnya. 2005). ***Setiyaji (1995). transportasi dan sebagainya (Setyawan. Hasil Penelitian Terdahulu tentang Keterkaitan Penelitian Wilayah 1.00802 1.29125 1.45022 1.00619 0. ****Setyawan (2005). Pengolahan Tahun InputOutput 1990 1993 0.75861 2.1.58216 0.27222 Langsung & Tdk Langsung 1.1).76281 1.4432 1.81150 1.17604 0. (3) penelitian terhadap sektor pertanian dan industri pengolahan. Pengolahan 3. Gambaran ini memberikan indikasi bahwa sektor/subsektor industri pengolahan secara langsung lebih mempunyai .

1376 1. Tabel 2.38525 1988 0.74816 1.9139 Sumber: *Tjandrawan (1994) . **Sahara (1998) .0570 Kepekaan Penyebaran 1. Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Dampak Penyebaran Penelitian Wilayah 1.3.14 kemampuan untuk mendorong pertumbuhan sektor yang menyediakan input bagi keperluan proses produksi dibandingkan dengan kepekaannya dalam menciptakan kenaikan output apabila terjadi peningkatan satu-satuan permintaan akhir terhadap sektor industri. Jawa Barat*** Pertanian Agroindustri 4. Jepara**** Ind. Ada beberapa hal yang dapat diidentifikasi dalam penelitian-penelitian tersebut yaitu: (1) Koefisien penyebaran menunjukkan .20609 1.2908 1. dan (2) Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan sektor industri pengolahan lebih kecil dibandingkan dengan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakangnya. DKI Jakarta** Pertanian Ind.3 menyajikan informasi mengenai koefisien dan kepekaan penyebaran.21765 1.1719 1. ****Setyawan (2005).48422 Koefisien Penyebaran 1. Selanjutnya pada Tabel 2. ***Setiyaji (1995). Indonesia* Agroindustri Non Agroindustri 2. Hal ini berarti sektor/sub sektor industri pengolahan secara langsung dan tidak langsung lebih kuat mendorong pertumbuhan sektor yang menyediakan input untuk keperluan proses produksinya dibandingkan dengan kemampuannya untuk mendorong peningkatan produksi terhadap sektor yang membutuhkan input dari sektor ini. Pengolahan Tahun InputOutput 1990 1993 1.33528 2001 1. Pengolahan 3.2698 1.

Besarnya kepekaan penyebaran industri pengolahan di DKI Jakarta tersebut menunjukkan bahwa sektor industri pengolahan di wilayah tersebut bersifat ekspansif yaitu mampu melakukan perluasan pasar dan mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah dibandingkan dengan Jepara dan apabila dilihat dari koefisien penyebaran. industri pengolahan DKI Jakarta mempunyai kemampuan untuk menarik industri hulunya dibandingkan dengan kabupaten Jepara. Secara umum keempat penelitian mengenai koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran tersebut mempunyai peranan penting dalam pembangunan wilayah. 2. hal ini terbukti dari nilai koefisien dan kepekaan penyebaran yang mempunyai nilai lebih besar dari satu (kecuali pertanian di Jawa Barat).1.5. Kerangka Pemikiran Teoritis 2. dan (2) Kepekaan penyebaran industri pengolahan DKI Jakarta lebih besar dibandingkan kabupaten Jepara.15 kemampuan suatu sektor dalam perekonomian untuk mendorong sektor hilirnya sedangkan kepekaan penyebaran menunjukkan kemampuan suatu sektor untuk menarik sektor hulunya.5. Studi literatur yang telah dilakukan menunjukkan bahwa analisis I-O telah banyak digunakan sebagai alat untuk penelitian. Model Input-Output Menurut BPS (2000) pengertian Tabel Input-Output (Tabel I-O) adalah suatu tabel yang yang menyajikan informasi tentang transaksi barang dan jasa . Peneliti juga melihat bahwa penelitian tentang industri kertas di Indonesia berdasarkan Analisis Input-Output belum pernah dilakukan.

2000) Data yang disajikan dalam Tabel I-O merupakan informasi rinci tentang input dan output sektoral yang mampu menggambarkan keterkaitan antar sektor dalam kegiatan perekonomian. Leontief mengemukakan bahwa Tabel I-O termasuk dalam model General Equilibrium. tidak hanya untuk mendeskripsikan struktur suatu perekonomian tetapi juga mencakup cara untuk memprediksi perubahan-perubahan struktur tersebut. Isian sepanjang baris Tabel I-O menunjukkan pengalokasian output yang dihasilkan oleh suatu sektor untuk memenuhi permintaan antara dan permintaan akhir. Keseragaman (homogenity).16 yang terjadi antar sektor ekonomi dengan bentuk penyajian berupa matrik. Sejak dirilis oleh Leontief pada tahun 1930-an. baik yang berupa input antara maupun input primer. dan pada baris nilai tambah yang menunjukkan komposisi penciptaan nilai tambah sektoral. Adapun asumsi dasar penyusunan Tabel I-O adalah : 1. Tabel I-O telah berkembang menjadi salah satu metode paling luas diterima. Sesuai dengan asumsi dasar yang digunakan dalam proses penyusunannya. sedangkan isian sepanjang kolomnya menunjukkan struktur penciptaan input yang digunakan oleh setiap sektor dalam proses produksi. Sifat keseimbangan inilah yang merupakan salah satu kelebihan Tabel I-O yang dibandingkan dengan alat analisa lainnya dalam ilmu ekonomi perencanaan dan pembangunan (BPS. yaitu asumsi bahwa setiap sektor ekonomi hanya memproduksi satu jenis barang atau jasa dengan susunan input tunggal . Tabel I-O bersifat statis dan terbuka.

Namun demikian. yaitu asumsi bahwa hubungan antar input dan output pada setiap sektor produksi merupakan fungsi linear. Akibatnya perubahan kuantitas dan harga input akan selalu sebanding dengan perubahan kuantitas dan harga output. Beberapa kegunaan Tabel I-O antara lain adalah : 1. penerimaan pajak. Kesebandingan (proportionality). Berdasarkan asumsi tersebut maka Tabel I-O sebagai model kuantitatif memiliki keterbatasan. Tabel I-O masih merupakan alat analisis yang lengkap dan komprehensif. yaitu asumsi bahwa total efek dan kegiatan produksi di berbagai sektor merupakan penjumlahan dari efek pada masing-masing kegiatan. Untuk memperkirakan dampak permintaan akhir terhadap output. 3. Untuk melihat komposisi penyediaan dan penggunaan barang dan jasa terutama dalam analisis terhadap kebutuhan impor dan kemungkinan substitusinya. nilai tambah impor. dan penyerapan tenaga kerja di sektor industri. . maka teknologi yang digunakan oleh sektor-sektor ekonomi dalam proses produksi pun dianggap konstan. Karena koefisien teknis dianggap konstan. Penjumlahan (additivity). yaitu koefisien input atau koefisien teknis diasumsikan tetap (konstan) selama periode analisa atau proyeksi. artinya kenaikan dan penurunan output suatu sektor akan sebanding dengan kenaikan dan penurunan input yang digunakan oleh sektor tersebut. 2.17 (seragam) dan tidak ada substitusi otomatis terhadap input dan output sektor yang berbeda 2.

Untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap.18 3. 4. dan ekspor.5. 3. 2. baik berupa produksi dalam negeri maupun barang impor atau yang berasal dari luar wilayah tersebut. Sebagai metode kuantitatif Tabel I-O memberikan gambaran menyeluruh tentang: 1. . Struktur permintaan barang dan jasa. Struktur Tabel Input-Output Format Tabel I-O terdiri dari suatu kerangka matrik berukuran n x n dimensi yang dibagi menjadi empat kuadran dan tiap kuadran mendiskripsikan suatu hubungan tertentu. yaitu dengan melihat pengaruh secara langsung dan tidak langsung dari perubahan harga input terhadap output. Untuk mengetahui sektor-sektor yang pengaruhnya paling dominan terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor-sektor yang peka terhadap pertumbuhan perekonomian. Untuk analisis perubahan harga. 5. maka disajikan format Tabel I-O pada Tabel 2. Struktur penyediaan barang dan jasa. Struktur perekonomian suatu wilayah yang mencakup output dan nilai tambah masing-masing sektor. Struktur input antara yaitu transaksi penggunaan barang dan jasa antar sektorsektor produksi.4 di bawah ini. baik berupa permintaan oleh berbagai sektor produksi maupun permintaan untuk konsumsi. Untuk menggambarkan perekonomian suatu wilayah dan mengidentifikasikan karakteristik struktural suatu perekonomian wilayah. 4. 2. investasi.2.

N Jumlah Input Primer Jumlah Input Antara produksi 1 x11 x21 x31 . BPS. 2000. … … … Akhir F1 F2 F3 . xn2 V2 X2 xnn Vn Xn Fn V1 X1 Sumber : Tabel I-O Indonesia. Struktur Tabel Input-Output Alokasi Output Susunan Input 1 2 Input Sektor 3 .4 di atas dilihat secara baris (bagian horisontal) maka alokasi output secara keseluruhan dapat dituliskan dalam bentuk persamaan aljabar sebagai berikut: X11 + X12 + … X1n + F1 = X1 X21 + X22 + … X2n + F2 = X2 : : : : : Xn1 + Xn2 + … Xnn + Fn = Xn atau dalam bentuk persamaan umum dapat dituliskan sebagai : . yaitu sebagian untuk memenuhi permintaan antara dan sebagian lainnya untuk memenuhi permintaan akhir. Permintaan n x1n x2n x3n . Jumlah Output X1 X2 X3 . Apabila Tabel 2.xn1 Permintaan Antara Sektor Produksi 2 x12 x22 x32 . Isian sepanjang baris pada ilustrasi Tabel I-O tersebut memperlihatkan bagaimana output dari suatu sektor dialokasikan. . Xn … … … … .19 Tabel 2. Sedangkan isian sepanjang kolomnya menujukkan pemakaian input antara dan input primer oleh suatu sektor.3.

Secara umum matrik dalam Tabel I-O dapat dibagi menjadi 4 kuadran.20 ∑ Xij + Fi = Xi . untuk semua j = 1. 2. 3. yaitu sebagai dasar analisa ekonomi mengenai keadaan perekonomian suatu wilayah. sebagai berikut : 1. khususnya pada transaksi antara. untuk semua i = 1. Kuadran I (intermediate quadrant) Setiap sel pada kuadran I merupakan transaksi antara. 2. Berdasarkan ilustrasi Tabel Input-Output. maka angka pada kolom (sektor) itu menunjukkan berbagai input yang diperlukan dalam proses produksi pada sektor tersebut. dst Dimana : Xij = output sektor i yang digunakan sebagai input sektor j Fi = permintaan akhir terhadap sektor i Xi = jumlah output sektor i (2. dst (2. 3.2) Dalam analisis I-O sistem persamaan di atas memiliki peran penting.1) Apabila angka-angka dibaca menurut kolom. maka persamaan aljabar untuk input yang digunakan oleh masing-masing sektor dapat dituliskan sebagai berikut : X11 + X21 + … + Xn1 + V1 = X1 X12 + X22 + … + Xn2 + V2 = X2 : : : : : X1n + X2n + … + Xnn + Vn = Xn atau dalam bentuk persamaan umum dapat dituliskan sebagai : ∑ Xij + Vj = Xj . yaitu transaksi barang dan jasa yang digunakan dalam proses produksi. Dalam Analisa I-O kuadran ini memiliki peran yang sangat penting karena kuadran inilah yang .

Permintaan akhir adalah output suaru sektor yang langsung digunakan oleh rumah tangga. Kerangka Pemikiran Konseptual Strategi pengembangan yang menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi menganggap bahwa kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan dengan cepat .6. Informasi di Kuadran IV ini bukan merupakan tujuan pokok. Kuadran ini terdiri dari pendapatan rumah tangga (upah/gaji). pemerintah. perubahan stok dan ekspor. Kuadran IV (primary input-final demand quadrant) Merupakan kuadran input primer permintaan akhir yang menunjukkan transaksi langsung antara kuadran input primer dengan permintaan akhir tanpa melalui sistem produksi atau kuadran antara. sehingga dalam penyusunan Tabel I-O sering diabaikan.21 menunjukkan keterkaitan antara sektor ekonomi dalam melakukan proses produksinya. Jumlah keseluruhan nilai tambah ini akan menghasilkan produk domestik bruto yang dihasilkan oleh wilayah tersebut. 4. 2. pembentuk modal tetap. surplus usaha dan penyusutan. pajak tak langsung. 2. Kuadran III (primary input quadrant) Menunjukkan pembelian input yang dihasilkan di luar sistem produksi oleh sektor-sektor dalam kuadran antara. 3. Kuadran II (final demand quadrant) Menunjukan penjualan barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor-sektor perekonomian untuk memenuhi permintaan akhir.

Sehubungan dengan itu. sektor industri pengolahan lebih banyak dapat menyediakan lapangan kerja dan mempunyai aktifitas ekonomi yang lebih intensif untuk satuan unit usaha bila dibandingkan dengan unit usaha sektor lainnya. Sektor industri ini dijadikan unggulan untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian mengingat dalam kondisi sekarang ini. Kebijakan prioritas pembangunan sektor industri pengolahan khususnya industri kertas merupakan upaya pemerintah Indonesia dalam mewujudkan perekonomian yang lebih baik untuk kesejahteraan masyarakat. melalui suatu proses yang disebut sebagai penetesan ke bawah (trickle down effect) akan menyebabkan peningkatan pendapatan berbagai golongan masyarakat di negara (wilayah) bersangkutan. pada penelitian ini akan dilihat tentang peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian nasional.22 melalui peningkatan satu atau beberapa sektor ekonomi kunci. 2005). Selain itu sektor ini juga dianggap sebagai sektor yang mampu meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan pendapatan masyarakat pada tingkat yang layak dari sebelumnya. Peningkatan pendapatan ini sekaligus mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat (Setyawan. Peningkatan output berbagai sektor ekonomi. karena tentunya kebijakan yang ditetapkan tersebut mengharapkan hasil pada perkembangan ekonomi yang lebih baik dari sebelumnya. Peningkatan output sektor kunci tersebut akan ikut meningkatkan output sektor-sektor lainnya melalui proses keterkaitan (linkages) dan dampak penyebaran antar sektor. kemudian. Dalam menganalisis peranan sektor industri kertas teradap perekonomian Indonesia ini digunakan analisis I-O dengan berbagai .

Adapun alur konsep pemikiran dapat dilihat pada gambar 1. .23 keterbatasan analisis yang telah disebutkan pada bab sebelumnya. Pada akhirnya dapat dijadikan acuan pemerintah Indonesia sendiri dalam menentukan kebijakan pembangunan ekonomi Indonesia ke depan sehingga permasalahan pembangunan seperti kemiskinan dan pengengguran dapat diturunkan. maka diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas bagi pemerintah Indonesia tentang perkembangan sektor yang menjadi prioritas ini dalam mengatasi berbagai masalah yang berkaitan dengannya. dan perannya dalam sektor kunci perekonomian seperti yang terlihat pada gambar 1. kemampuan mendorong dan menarik sektor hulu-hilirnya. Dengan teridentifikasinya peranan sektor industri kertas melalui proses keterkaitan dengan sektor-sektor lain baik sebagai pengguna input maupun penghasil output.

24 Perekonomian Indonesia Perubahan Struktur Perekonomian Industri Kertas Kemampuan mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya (Analisis Dampak Penyebaran) Keterkaitan dengan sektor lain dalam hubungannya sebagai pengguna input dan penghasil output (Analisis Keterkaitan) Sektor Kunci Perekonomian (Elastisitas Input-Output) Peran Industri Kertas Kebijakan Pembangunan Industri Keterangan : ( Ruang lingkup penelitian ) Analisis yang digunakan Gambar 1. Bagan Alur Pemikiran Konseptual .

3. Data yang digunakan antara lain berasal dari Tabel Input-Output (I-O) transaksi domestik atas dasar harga produsen tahun 2000 klasifikasi 175 sektor dari Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat yang kemudian diagregasi oleh penulis menjadi 22 sektor dan beberapa data sekunder lainnya dari instansi dan dinas terkait lainnya. Penggunaan tabel I-O Indonesia tahun 2000 tersebut dikarenakan tabel I-O tersebut merupakan tabel terbaru selama penelitian ini berlangsung. hal ini dikarenakan faktor permintaan merupakan faktor eksogen yang mempengaruhi perekonomian. Pada analisis keterkaitan. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.2.1. METODE PENELITIAN 3. kemampuan untuk mendorong atau menarik sektor hulu dan hilirnya serta perannya dalam sektor kunci perekonomian dapat di kaji berdasarkam analisis keterkaitan.III. Metode Analisis Untuk mengetahui peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia ini sebagai sektor penyedia input maupun sebagai sektor pemakai input. dampak penyebaran dan elastisitas ini alat yang digunakan adalah Microsoft Excel 2003. Pada analisisnya nanti dapat terlihat bahwa perekonomian dapat tumbuh apabila terdapat dorongan atau peningkatan pada permintaan akhir yang eksogen tersebut. model analisis ini . dampak penyebaran dan elastisitas input-output. Oleh karenanya. Pendekatan model I-O yang digunakan adalah model sisi permintaan (demand-side model).

2. a2n : A : a31 ……..3) (3.26 sering pula disebut dengan dengan model yang dikendalikan oleh sisi permintaan (demand-driven model). a1n a21 ……. koefisien input atau koefisien teknologi merupakan perbandingan antara jumlah output sektor i yang digunakan dalam sektor j (Xij) dengan input total sektor j (Xj). Koefisien ini dapat diterjemahkan sebagai jumlah input dari sektor i yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit output sektor j. Secara matematik dapat dituliskan : aij = Xij (3. 3.1) Xj Dimana : aij adalah koefisisen input.2) AX + F = X Atau F = X .AX .1. Koefisien Input Pada Tabel I-O.… ann X1 X2 : X3 X + F1 F2 : Fn F = X1 X2 : Xn X (3. Dengan demikian dapat disusun matriks sebagai berikut : a11 X1 + a12 X2 +………+ a1n Xn + F1 = X1 a21 X1 + a22 X2 +………+ a2n Xn + F2 = X2 : : : : : an1 X1 + an2 X2 +………+ ann Xn + Fn = Xn Atau persamaan tersebut dapat disederhanakan menjadi : a11 …….

AX X = ( I . maka dapat dituliskan sebagai berikut : AX + F = X Atau F = X . Dalam analisis input-output matriks kebalikan Leontief memiliki peranan yang sangat penting sebagai alat analisis ekonomi yang mencerminkan efek langsung dan tidak langsung dari perubahan permintaan akhir terhadap output sektor-sektor di dalam perekonomian. ( I – A )-1 = Matriks kebalikan Leontief. maka akan ada perubahan pola pendapatan nasional.2. ( I – A ) = Matriks Leontief. X = Output. Beberapa jenis koefisien keterkaitan yang sering digunakan dalam analisis ekonomi wilayah sektoral antara lain adalah keterkaitan langsung ke depan dan ke belakang serta keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan dan ke belakang. F = Permintaan akhir.2. 3.5) Dimana : I = Matriks identitas berukuran nxn yang elemennya memuat angka satu pada diagonalnya dan nol pada selainnya. Jika ditulis dalam bentuk persamaan. Analisis Keterkaitan (linkages) Koefisien keterkaitan sangat berguna dalam penyusunan prioritas sektor perekonomian untuk mencapai tujuan pembangunan. 1. Keterkaitan Langsung ke Depan Keterkaitan langsung ke depan menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menggunakan sebagian output tersebut secara .27 Jika terdapat perubahan pada permintaan akhir.A )-1F (3.

Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ke Depan Analisa keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan mengukur akibat dari adanya suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menggunakan output sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung per unit kenaikan permintaan total. Keterkaitan Langsung ke Belakang Keterkaitan langsung ke belakang menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menyediakan input antara bagi sektor tersebut secara langsung per unit kenaikan permintaan total. n KBj = ∑ aij i=1 Dimana: KBj = Keterkaitan langsung ke belakang = Unsur matrik koefisien teknis aij 3. dengan rumus sebagai berikut: n KDi = ∑ aij j=1 Dimana: KDi = Keterkaitan langsung ke depan = Unsur matrik koefisien teknis aij 2.6) (3. Untuk mengetahui besarnya keterkaitan langsung ke depan.7) (3. KDLTi = ∑ α ij j =1 n (3.8) Dimana: KDLTi = keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan sektor i ij = unsur matrik kebalikan Leontief model terbuka .28 langsung per unit kenaikan permintaan total.

Oleh karena itu kedua indeks tersebut haruslah dinormalkan dengan cara membandingkan rata-rata dampak yang ditimbulkan oleh sektor tersebut dengan rata-rata dampak seluruh sektor. Analisis ini disebut dampak penyebaran yang terbagi dua yaitu kepekaan penyebaran dan koefisien penyebaran. KBLTj = ∑α ij i =1 n (3.10) Dimana: BLTLj = Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang = Unsur matrik kebalikan Leontief terbuka αij 3. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ke Belakang Analisa keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang menyatakan akibat suatu sektor-sektor yang menyediakan input antara bagi sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung per unit kenaikan permintaan total. Indikator-indikator tersebut tidak dapat diperbandingkan antar sektor karena peranan permintaan akhir setiap sektor tidak sama. Analisis Dampak Penyebaran Indeks keterkaitan langsung dan tidak langsung baik ke depan maupun ke belakang di atas belumlah memadai dipakai sebagai landasan pemilihan sektor kunci.29 4. Koefisien penyebaran merupakan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang yang dinormalkan dengan sektor dan . Koefisien Penyebaran (Coefficient of Dispersion) Koefisien penyebaran tersebut juga indeks daya penyebaran ke belakang.3. 1.2. Analisa ini menunjukkan koefisien kaitan yang memberikan gambaran tentang pengaruh yang ditimbulkan oleh suatu unit permintaan akhir untuk semua sektor didalam suatu sistem perekonomian.

Secara matematis dituliskan dalam bentuk rumus sebagai berikut: n∑ α ij n Pdj = ∑∑ α ij i =1 j =1 n i =1 n (3. Kepekaan penyebaran ini memberikan gambaran tentang pengaruh yang timbul oleh suatu unit permintaan akhir terhadap semua sektor di dalam perekonomian.11) ij Dimana: = Kepekaan penyebaran sektor i Sdi ij = Unsur matrik kebalikan Leontief . Kepekaan penyebaran merupakan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan yang dinormalkan dengan jumlah sektor dam jumlah seluruh koefisien matrik kebalikan Leontief.10) Dimana: Pdj = Koefisien penyebaran sektor j ij = Unsur matrik kebalikan Leontief 2. Kepekaan Penyebaran (Sensitivity of Dispersion) Kepekaan penyebaran disebut juga indeks daya penyebaran ke depan.30 jumlah seluruh koefisien matrik kebalikan Leontief. Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: n∑ α ij Sdi = j =1 n n ∑∑ α i =1 j =1 n (3.

Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: ⎤ ⎡ ET xyj = ⎢∑ l i / x j )bij /(l j / x j )⎥ (y j / x) ⎦ ⎣ i Dimana: ET xyj = Elastisitas tenaga kerja (3. Elastisitas Output Elastisitas Output adalah perubahan persentase dalam total output suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya.31 3. Pendekatan ini dianggap lebih baik daripada analisis keterkaitan dan analisis multiplier karena memperhitungkan share suatu sektor dalam output. Elastisitas Tenaga Kerja Elastisitas tenaga kerja adalah perubahan persentase tenaga kerja suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. 1.13) .4.2.12) = ∑x j b ij yj = Elemen matriks Leontief = Permintaan akhir sektor j 2. Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: EO xyj = Dimana: EO xyj = Elastisitas output x ∑b i ij ( y j / x) (3. Pendekatan ini mempermudah policy makers untuk berkonsentrasi tidak hanya pada nilai-nilai keterkaitan dan multiplier tertinggi tetapi juga pada share suatu sektor ekonomi. Elastisitas Input-Output Elastisitas input-output menyediakan pandangan baru untuk penentuan sektor prioritas.

32 = Jumlah tenaga kerja li l i / x j = Koefisien tenaga kerja 3. Elastisitas Pendapatan Elastisitas pendapatan adalah perubahan persentase dalam pendapatan suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: ⎡ ⎤ EP xyj = ⎢∑ hi / x j )bij /(h j / x j )⎥ ( y j / x) ⎣ i ⎦ (3.14) Dimana: EP xyj = Elastisitas Pendapatan hj = Upah dan gaji hi / x j = Koefisien pendapatan .

Group Sinar Mas. GAMBARAN UMUM INDUSTRI 4.IV.1). investasi dalam negeri swasta sebesar 5. jumlah perusahaan di Indonesia yang memproduksi pulp dan kertas adalah tiga kelompok perusahaan besar. Jumlah perusahaan tersebut belum mampu mencukupi konsumsi domestik. Untuk memenuhi kebutuhan kertas tersebut.666. 12 perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) dan 3 perusahaan negara. Menurut Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI). Sekitar 64 perusahaan berlokasi di pulau Jawa. Oleh karena itu. Group Raja Garuda Mas dan Barito Pasifik. Profil Industri Kertas Saat ini. 14 perusahaan di Sumatera dan dua perusahan berlokasi di Kalimantan.900 ton. .1.500 ton (Tabel 4. sektor industri ini membutuhkan investasi baru atau industri ini harus meningkatkan efisiensi agar dapat bersaing dengan industri asing. minimal harus ada tambahan beberapa perusahaan lagi untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Perusahaan-perusahaan tersebut terdiri dari 65 perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).041. 2005).180 ton. Ketiga produsen besar industri pulp dan kertas tersebut adalah.580 ton yang terdiri dari kapasitas terpasang perusahaan swasta-negara sebesar 337. dan investasi luar negeri sebesar 4. Industri kertas memiliki kapasitas total sebesar 10. sampai dengan tahun 2003.045. Indonesia mempunyai 77 perusahaan produsen kertas dan 10 diantaranya terintegrasi dengan pabrik pulp. dan dapat memenuhi kebutuhan kertas dalam negeri yang terancam kekurangan pasokan dalam sepuluh tahun mendatang (Mansur.

6 9.8 52.5 100 25.000 6.580 2.440 1.3 100 80.7 19. . 2003.322.4 50.7 persen per tahun (Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia. hal ini terjadi didasarkan pada ketersediaan bahan baku dan upah tenaga kerja yang murah di dalam negeri. Sementara konsumsi kertas juga meningkat 4. Perkembangan Industri Kertas Industri kertas tumbuh dan berkembang lebih baik bila dibandingkan dengan kebanyakan industri lain di Indonesia.287.215. Profil Industri Pulp dan Kertas Indonesia Tahun 2003 Status/Lokasi Jumlah Perusahaan 3 65 12 80 10 3 67 80 Kapasitas Terpasang Pulp (Ton) 240.0 100 10.491.045.072.500 10.045.045.900 5.580 100 5.100 Pulp % 3.8 43. Industri-industri yang mengandalkan bahan baku impor tetap mengalami kemerosotan pertumbuhan.287.287. 4.580 74.041.000 3.000 Kertas % 3.517.000 6.2 14.8 persen pada periode 19972001. 2003).34 Tabel 4.100 1.9 100 85.500 Sumatera 14 5.100 2. Pada periode yang sama ekspor kertas juga meningkat sekitar 19.140 10.1.100 5.8 100 Kapasitas Terpasang Kertas (Ton) 337.2.554.580 8.000 Kalimantan 2 564.666. tetapi industri kertas tetap melanjutkan perkembangannya dengan pertumbuhan sekitar 9.600 Total 80 6.4 85.1 persen per tahun.100 Sumber : Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.528.1 Perusahaan Negara Swasta Investasi Dalam Negeri Swasta Investasi Luar Negeri Total Integrated (Pulp dan Kertas) Non Integrated Pulp Kertas Total Jawa 64 340.180 4.2 46.725.382.3 7.

0 kg 2003 25.9 kg 1998 14. Disamping kinerja yang menggembirakan dalam industri kertas ini.3 kg 2002 24. Masalahnya setiap tahun konsumsi kertas dalam negeri terus meningkat dengan angka rata-rata sekitar 6 persen per tahun.0 kg 1996 16. Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) mengkhawatirkan Indonesia akan mengalami kekurangan pasokan kertas.1 kg 1999 19.0 kg 1995 14.1 kg 1994 13.2).3 kg 1997 16. para investor telah menunjukkan ketertarikan yang kecil pada sektor ini karena industri ini telah menjadi capital intensive dan birokrasi yang rumit pasca otonomi daerah. namun jika kebutuhan kertas di dalam negeri naik hingga mencapai 50 Kg per kapita.8 kg 2001 23.3 juta ton pertahun sedangkan konsumsi per kapitanya pada akhir 2003 telah mencapai 25 Kg (Tabel 4. Nilai konsumsi per kapita ini memang lebih kecil bila dibandingkan dengan negara lain contohnya Malaysia yang sudah mencapai ratusan kilogram per kapita. bila dalam 10 tahun mendatang kapasitas industri kertas tidak bertambah. 2003.0 kg Sumber: Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia. industri kertas harus mengimpor kertas senilai US$ 7 miliar/tahun. Pada tahun 2003 kapasitas produksi yang dimiliki industri kertas baru sekitar mencapai 10. Konsumsi Kertas Per Kapita Penduduk Indonesia Tahun 1993-2003 Tahun Konsumsi Kertas / Kapita 1993 11.2. Untuk mengatasi kebutuhan konsumsi kertas yang terus .6 kg 2000 20.35 Tabel 4.

Integrasi Vertikal dan Pasar Industri Kertas Indonesia Di Indonesia industri kertas mempunyai karakteristik sebagai industri skala besar. Industri kertas yaitu khususnya perusahaan-perusahaan besar dalam industri ini mempunyai kecenderungan untuk berintegrasi dengan perusahaan penyedia bahan baku yaitu industri pulp. Dari 77 perusahaan kertas pada tahun 2003. 2002) Dilihat dari pangsa produksi dan ekspor penguasaan jaringan pasar luar negeri.3. 4. masih menjadi kelemahan bagi sebagian besar produsen kertas Indonesia.36 meningkat maka harus ada investasi baru atau industri yang ada harus meningkatkan efisiensi.1).32 persen dari keseluruhan kapasitas terpasang industri kertas. tujuh diantaranya adalah perusahaan kertas yang terintegrasi (tabel 4. Sedangkan kapasitas terpasang industri kertas pada perusahaan pulp dan kertas yang terintegrasi mencapai 21. Dengan kecenderungan ini hampir seluruh output industri pulp disalurkan pada industri kertas didalam negeri sedangkan ekspor hanya merupakan pasar kedua. Integrasi vertikal ini dianggap penting karena integrasi vertikal oleh perusahaan kertas akan meningkatkan efisiensi perusahaan dalam industri kertas tersebut karena dapat mengamankan pasokan bahan baku dan meminimumkan biaya transaksi dalam rangka untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan terhadap produk kertasnya (Karseno dan Mulyaningsih.08 persen dari total kapasitas terpasang seluruh industri pulp. . Kapasitas terpasang industri pulp yang terintegrasi dengan perusahaan kertas mencapai 66.

4. Cina. Indah Kiat Pulp & Paper Corp. terutama pasar Asia.37 Meskipun demikian beberapa (grup) perusahaan telah mencoba menembus pasar luar negeri. Kedua kelompok ini memilih Singapura sebagai kantor pusat perusahaan mereka. 2002). Kawasan Asia Pasifik merupakan kawasan dengan pasar pulp terbesar di dunia. Kelompok Sinar Mas memasuki pasar Asia dengan mendirikan kelompok perusahaan melalui bendera APP (Asia Pulp and Paper) di negara Singapura. Selain itu pasar dalam negeri juga perlu dikaji karena merupakan basis untuk memperkuat daya saing secara nasional (Rosadi dan Vidyatmoko. Malaysia. Pasar bebas tersebut akan memaksa para produsen pulp dan kertas Indonesia untuk mampu bersaing memperebutkan pasar Asia Pasifik yang terbuka. Pentingnya jaringan pemasaran lebih dipicu terutama menjelang diberlakukan pasar bebas di kawasan Asia Tenggara (AFTA) tahun 2003 dan kawasan Asia Pasifik (APEC) tahun 2010.4.). Profil Beberapa Perusahaan Kertas Indonesia Sampai dengan tahun 2003 dalam industri kertas terdapat tiga perusahaan yang memiliki proporsi kapasitas pabrik terhadap kapasitas total industri yang melebihi 10 persen. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis mengenai kondisi pasar luar negeri terutama pasar Asia dan bagaimana strategi untuk memasuki dan mengembangkan pasar di kawasan tersebut. Begitu juga dengan Tanoto dan Tanjung Enim Lestari (TEL) yang mengibarkan bendera APRIL (Asia Pacific Resources International Holding Ltd. dengan melakukan ekspansi ke negara-negara di kawasan ini. Pertama. PT. dan India. yang menguasai .

9 1.3. Aspex Kumbong PT. .000 Persentase (%) 20.000 2.4 10.200 150.000 500. Fajar Surya Wisesa PT. Adiprima Suraprinta PT.4 0.9 Sumber : Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.000 50. Papyrus Sakti PT.111.000 150.1 persen (Tabel 4. Papertech Indonesia Lain-lain Kapasitas Terpasang (Ton) 2.4 0. NAD.000 486. Kapasitas Terpasang Perusahaan Industri Kertas Tahun 2003 Nama Perusahaan PT. Selain ketiga perusahaan itu group Sinar Mas masih mempunyai perusahaan kertas lainnya yaitu PT. Pakerin PT.500 93. Tanjungenim Lestari Pulp & Paper PT.000 150. kemudian disusul oleh PT.000 350. Riau Andalan Kertas PT.000 700.000 150. Tabel 4.000 157.044.465.000 1. PT.5 persen dari total kapasitas industri.6 28. Tiga perusahaan pemilik kapasitas terbesar tersebut dimiliki oleh group yang sama yaitu Sinar Mas Group.7 4.38 20. Ekamas Fortuna PT. 2003.2 3. Keempat perusahaan yang tergabung dalam group Sinar Mas ini memiliki karaktristik yang sama yaitu semuanya merupakan perusahaan kertas yang terintegrasi vertikal dengan pabrik kertasnya.5 0. Surabaya Agung PT.400 60. dan perusahaan ketiga adalah PT.1 1.4 4.4 4.9 1. Kertas Leces (Persero) PT.800 450.2 persen.000 430.5 6. Suparma PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia dengan proporsi sebesar 10.5 1. Pelita Cengkareng Paper Co.986.800 195. Pura Barutama PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia PT.8 4.000 1.2 1. Surabaya Mekabox Ltd.8 1. Pindo Deli Pulp & Paper Mills PT. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry yang berlokasi di Langsa. Gede Karang PT.000 85. PT.4 0. Indah Kiat Pulp& Paper Corp PT. Pindo Deli & Paper Mills sebesar 14.8 14.3).

masyarakat menguasai 38. perusahaan tersebut memiliki dan menguasai beberapa sarana dan prasarana yang digunakan untuk menjalankan berbagai kegiatan usahanya.000 ton kertas budaya per tahun.68 tanggal 7 Desember 1976 yang disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Keputusan No. Pada saat ini. PT. pabrik pulp dan kertas budaya di Perawang.5/50/2 tanggal 9 Februari 1978.39 1) PT.000 ton pulp per tahun.Y.000 ton corrugated boxes per tahun.631. Pada susunan pemegang saham. 744. PT. terutama pabrik kertas budaya di Tangerang. 2005).A.722 Ha . Indah Kiat Pulp & Paper dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards yang terdiri dari dewan komisaris dengan presiden komisarisnya yaitu Indra Widjaja dan dewan direksi dengan direktur utamanya yaitu Teguh Ganda Widjaja. 525 Tanggal 14 Februari 1978 (Bank Niaga.000 ton kertas industri per tahun dan 100. kertas industri dan corrugated carton boxes (sejenis dus karton. dan didaftarkan di Kantor Pengadilan Negeri Jakarta No. perusahaan kertas ini mengantisipasinya dengan meningkatkan kapasitas produksinya sehingga saat ini menjadi 1.78 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan perusahaan ini (Tabel 4. Dengan semakin meningkatnya permintaan atas produksi kertas. 980. yang menempati lahan seluas 28 Ha. dengan kertas bergelombang sebagai peredam benturan). Riau seluas 1. Indah Kiat Pulp & Paper melakukan usahanya secara komersil dengan memproduksi pulp.4). Indah Kiat Pulp & Paper Tbk Perusahaan ini didirikan di Jakarta dengan Akta Notaris Ridwan Suselo No. kertas budaya.

Boards PT.72% CHP International (BVI) Corp. Presiden Komisaris Wakil Presiden Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris . Ltd.78% Sumber: Bank Niaga. Tabel 4. : Lo Shang Shung : Hj.05% Kong Masyarakat : 38..40 dan pabrik kertas industri di Serang Jawa Barat seluas 308. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk per 30 September 2004 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Ir. Fasilitas produksi perusahaan juga didukung dengan berbagai fasilitas dan prasana seperti jalan.9 Ha. Ryani Soedirman : Mas Achmad Daniri : Prof. : 2. Gandi Sulistiyanto Soeherman : Show Chung Ho : Kuo Cheng Shyong : Raymond Liu.K.4. Dr. Phd. Co.56% British Virgin Island Yuen Foong Yu H. 2005. mess karyawan dan lain-lain.88% Virgin Island YFY Global Investment (BVI) Corp. Hong : 0. British : 5. Teddy Pawitra : Kamardy Arief : Let Jend (Purn) Soetedjo Dewan Direksi Presiden Direktur : Teguh Ganda Widjaja Wakil Presiden Direktur : Muktar Widjaja Wakil Presiden Direktur : Hendra Jaya Kosasih Wakil Presiden Direktur : Chen Wang Chi Wakil Presiden Direktur : Yudi Setiawan Lin Direktur : Suresh Kilam Direktur : Didi Harsa Direktur : Agustian Rachmansjah Partawidjaja Susunan Pemegang Saham PT Purinusa Ekapersada : 52.

2005). Akta Perubahan No. Pindo Deli Pulp & Paper Mills PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills didirikan di Jakarta dalam rangka Undang-undang No. salah satu bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi kertas.000 ton per tahun dan telah berproduksi sejak bulan Maret 1996 (Bank Niaga. Pada Oktober 1995. Saat ini perusahaan kertas ini memiliki sebuah pabrik kertas yang berlokasi di Adiarsa. .5 tanggal 3 April 1975.69 tanggal 25 Februari 1976 (Bank Niaga. Selain itu perusahaan ini juga mempunyai fasilitas pabrik pembuatan bahan kimia calcium carbonate. sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No.000 ton per tahun. Karawang (Pindo 1).59 tanggal 26 April 1975. Akta Perubahan No.41 2) PT. PT.12 tahun1970.57 persen dari total saham yang dikeluarkan PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills tersebut (Tabel 4.000 ton per tahun. Pindo Deli Pulp & Paper Mills ini memulai konstruksi pabrik kertasnya yang kedua (Pindo 2) yang berlokasi di Kuta Mekar. Akta Perubahan No. Karawang dengan menambah tiga Paper Machine serta sebuah Corrugated Machine. dengan jumlah kapasitas produksi terpasang sebesar 652.5). Perusahaan kertas ini dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards (dua dewan perusahaan) dan kepemilikan saham terbesar perusahaan ini dikuasai oleh PT Purinusa Ekapersada sebesar 97.6 tanggal 4 Juli 1975 dan Akta Perubahan No. 2005).6 tahun 1968 tentang PMDN.75 tanggal 31 Januari 1975. berlokasi di lokasi Pindo 1 dengan kapasitas produksi terpasang sebesar 48. Total kapasitas produksi terpasang pabrik kertas milik perusahaan ini adalah sebesar 210. dengan Akta No.

12 Tahun 1970 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri berdasarkan Akta No. 2005). Komisaris Utama Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Direktur Direktur PT Purinusa Ekapersada PT Mega Kleenindo PT Unitama Sartindo Sumber: Bank Niaga.5.61% 3) PT. PT. 2005. Boards PT. Jhon Ferdinand Pandelaki : Yudi Setiawan Lin : Let Jend (Purn) Soetedjo : Hajjah Ryani Soedirman : Arthur Tahya Dewan Direksi : Teguh Ganda Wijaja : Muktar Widjaja : Hendra Jaya Kosasih : Suresh Kilam : Tsai Huan Chi : Huang Wen Hai : Tri Ramadi Susunan Pemegang Saham : 97.60 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan perusahaan ini (Tabel 4. Kelompok Sinar Mas adalah salah satu dari kelompok industri terbesar di Indonesia dengan kurang lebih 200 perusahaannya yang bergerak di berbagai usaha yang besar . Pindo Deli Pulp & Paper Mills per 30 September 2004.6 Tahun 1968 juncto Undang-undang No.91% : 0.42 Tabel 4. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk didirikan dalam rangka Undangundang Negara Republik Indonesia No.57% : 0. Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Drs.9 tanggal 2 Oktober 1972 (Bank Niaga. Perusahaan ini merupakan bagian kelompok usaha Sinar Mas. masyarakat menguasai 36. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards (dua dewan direksi) dan pada susunan pemegang saham.6). Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk PT.

2005. sedangkan sisanya merupakan tanah yang telah dibebaskan untuk kepentingan . Teddy Pawitra : Kamardy Arief : Let Jend (Purn) Soetedjo Dewan Direksi : Teguh Ganda Widjaja : Muktar Widjaja : Hendra Jaya Kosasih : Chen Wang Chi : Yudi Setiawan Lin : Suresh Kilam : Didi Harsa : Agustian Rachmansjah Partawidjaja Susunan Pemegang Saham : 63. bidang kimia.30% : 0.60% Presiden Komisaris Wakil Presiden Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Direktur Direktur Direktur PT Purinusa Ekapersada Koperasi Masyarakat Sumber: Bank Niaga. perbankan dan jasa keuangan. Boards PT.43 termasuk industri kertas dan pulp. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk per 30 September 2004 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Ir. Lokasi pabrik dan pusat perusahaan yang terletak di Jawa Timur. Dari seluruh tanah yang dikuasai perusahaan 64 persen merupakan tanah dengan Hak Guna Bangunan. Gandi Sulistiyanto Soeherman : Show Chung Ho : Kuo Cheng Shyong : Raymond Liu. : Lo Shang Shung : Hj.6. minyak goreng. Phd.10% : 36. produksi bahan makanan. real estate. Ryani Soedirman : Mas Achmad Daniri : Prof DR. yang berdekatan dengan pelabuhan Tanjung Perak merupakan hal yang sangat menguntungkan kelancaran pengapalan untuk ekspor. hotel dan perumahan. Tabel 4.

Hal ini jelas dapat terlihat pada bagian produksi barang-barang hasil produksi kertas dimana perusahaan ini telah memutuskan untuk tidak menambah mesin-mesin pembungkus otomatis. Namun demikian melihat kebutuhan penyediaan kesempatan kerja di Indonesia. Pada tahun 1994.44 perusahaan yang berasal dari petani di sekitarnya dengan status Hak Milik atau Girik. Perusahaan ini juga memproduksi pulp dari daur ulang kertas bekas dan soda kaustik sebagai bahan baku utama industri kertas. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia mempunyai kapasitas produksi sebanyak 30. Pabrik kertas merupakan suatu jenis industri dengan sifat padat modal. kertas tissue. meningkatkan pengawasan mutu disamping . Bidang usaha utama perusahaan ini adalah menghasilkan kertas tulis dan cetak bermutu tinggi. dan kertas HVS biasa untuk kebutuhan sekolah dan perkantoran. minyak wangi. Saat ini PT. Belanda. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia telah menerima sertifikat ISO 9002 dari Det Norske Veritas Industry B. yang merupakan pengakuan bertaraf internasional terhadap sistem dalam proses produksi yang telah berhasil dilaksanakan oleh perusahaan. kertas HVS mengkilap.000 ton boxboard pertahun. Rotterdam.V. perusahaan kertas ini juga memproduksi produk-produk kemasan. Hal ini juga diperlukan untuk meningkatkan kesempatan kerja. dan sereal. Perusahaan ini menyesuaikan pemakaian teknologi sedemikian rupa untuk tetap dapat menyediakan kesempatan kerja seluas-luasnya. Selain kertas tulis dan cetak serta hasil-hasil produksi kertas. diantaranya dus (boxboard) yang dipergunakan untuk kemasan rokok. PT.

PT. Perusahaan kertas ini dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards yang terdiri dari dewan komisaris dengan presiden komisarisnya yaitu Indra Widjaja dan dewan direksi dengan direkturnya adalah Teguh Ganda Widjaja. Lontar Papyrus Pulp . Saat ini perusahaan ini merupakan salah satu produsen pulp yang cukup besar di Indonesia dengan kapasitas produksi sebesar 545.6 Tahun 1968 tentang PMDN dengan Akta No. 44 tanggal 13 Februari 1974 (Bank Niaga. PT.7). dalam rangka Undang-Undang No.Ltd. dengan kapasitas produksi 60. Kepemilikan saham dikuasai oleh tiga perusahaan yaitu PT. dan PT. pada kuartal keempat tahun 1998 perusahaan kertas ini memulai produksi komersial tissue dalam bentuk gulungan besar yang dijual kepada pihak lain untuk kemudian diubah menjadi berbagai jenis tissue siap pakai. Disamping pulp dan kertas. Arthadana Mulia Makmur yang memiliki 0. Aceh Timur dengan nama awal PT Sumber Indra Jaya Paper Manufacture Co. modifikasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas produksi mesin pembuatan pulp dan fasilitas pendukung lainnya. dengan produksi utama pulp jenis LBKP. Pada tahun 1999 perusahaan ini telah melakukan modifikasi terhadap mesin-mesin dan fasilitas produksi di pabrik pulp Jambi.25 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan (Tabel 4..45 4) PT. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry bergerak dalam bidang usaha industri pulp dan kertas.000 ton pulp per tahun dan 7. Pindo Deli Pulp & Paper Mills (80 persen).000 ton per tahun. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry Perusahaan kertas ini didirikan di Langsa.75 persen). kertas budaya dan tissue.500 ton kertas per tahun. PT Satria Perkasa Agung (19. 2005).

Jambi dan sebuah pabrik kertas di Langsa.25% Sumber: Bank Niaga. 2005. John Ferdinand Pandelaki : Sukirta Mangku Djaja : Let Jend (Purn) Soetedjo : Hj.7. Tabel 4. .00% PT Satria Perkasa Agung : 19.75% PT Arthadana Mulia Makmur : 0.46 & Paper Industry saat memiliki sebuah pabrik yang memproduksi pulp dan tissue yang berlokasi di Sumatera yaitu di Tanjung Jabung. 2005). Ryani Soedirman Dewan Direksi Direktur Utama : Teguh Ganda Widjaja Wakil Direktur Utama : Hendra Jaya Kosasih Direktur : Muktar Widjaja Direktur : Suresh Kilam Direktur : Lin Shun Keng Direktur : Tri Ramadi Direktur : Arthur Tahya Susunan Pemegang Saham PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills : 80. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry telah memperoleh sertifikasi ISO 9002 sehubungan dengan telah sesuainya sistem kualitas manajemen (Quality management systems) dengan ketentuan yang dipersyaratkan dalam ISO 9002. Boards PT. perseroan ini juga telah memperoleh sertifikat ISO 14001 pada tanggal 19 Agustus1997 yang dikeluarkan SGS Yarsley International Certification Services Limited dengan sertifikat No. PT. NAD. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry per 30 Desember 2003 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Drs. Komisaris Utama Wakil Komisaris Utama Komisaris Komisaris Komisaris Dalam menjalankan usahanya.E10683 sebagai bukti bahwa perusahaan kertas ini telah memenuhi ketentuan standar lingkungan hidup yang dipersyaratkan (Bank Niaga. Di samping itu.

629 juta.1.1.460.1. Jumlah tersebut terdiri atas permintaan antara sebesar Rp 1. .71 persen dari total permintaan antara.775 juta atau sekitar 1. pada urutan kedua dan ketiga dengan nilai Rp 144. Berdasarkan Tabel 5. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.068.21 persen dari total permintaan antaranya. Peranan Industri Kertas Dalam Perekonomian Indonesia 5.019 juta dan permintaan akhir sebesar Rp 1. Struktur Permintaan Industri Kertas Total permintaan barang dan jasa domestik yang dihasilkan oleh Indonesia tahun 2000 mencapai Rp 2.V.656. Selanjutnya diikuti oleh sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian.767.626 juta atau 18.730 juta atau 11.099.03 persen dari total permintaan antara dan berada pada urutan ke-18 diantara sektor-sektor lainnya.83 persen dan Rp 117.977. Dari data tersebut diperoleh bahwa jumlah permintaan akhir lebih besar dibandingkan jumlah permintaan antaranya. Sedangkan untuk industri kertas mempunyai permintaan antara sebesar Rp 10.870 juta.800. dilihat dari sisi permintaan antara tampak bahwa sektor perdagangan menghasilkan output tertinggi yang digunakan sebagai input oleh seluruh sektor perekonomian lainnya yaitu sebesar Rp 197.1.415 juta atau 13.048. hal ini berarti bahwa output di Indonesia cenderung digunakan untuk memenuhi konsumsi langsung masyarakatnya.073.701. Angka-angka tersebut di atas menunjukkan seberapa pentingnya peranan output yang dihasilkan oleh sektor-sektor di atas untuk digunakan sebagai input oleh sektor-sektor perekonomian lainnya di Indonesia.

705 23.885.87 6.50 9.074 19.19 4.613 64.916 177.11 1.276.71 2.37 6.036 155.44 1.034 238.38 0.287.767.970.51 1.27 3.035 16.844.23 0.14 117.227.65 17.13 8.870 7.887 201.438.805.775 5.848.045.593 30.74 8.670 7.849 80.076.028 0.80 14.13 0.637.970.815.901.53 0.84 2.176 197.529.10 196.408 243.356 105.620 8.534.649 36.1.019 11. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat secara keseluruhan lebih banyak menggunakan output industri kertas untuk konsumsi .622 8.92 0.08 79.1 sektor industri kertas menempati posisi ke-14 diantara sektor yang lain sebesar Rp 13.329.726.29 12.47 0.37 0.739.254 131.128 23.724 5.689.774.47 1.881 13.099.485 39.228. 2000 (diolah).574 1.760.97 6.05 9.58 12.771.620 13.98 100 Total permintaan Jumlah % (Juta Rp) 260.626 70.52 12.84 persen dari total permintaan akhir.977.34 2.729.099 57. Dilihat dari permintaan akhir pada Tabel 5.847 juta atau 0.108 13.416.817.160 6.16 4.33 0.713 1.849 24.372 88.99 1.165 139.257.50 0.426.16 1.88 4.73 8.944 0. Permintaan Antara dan Permintaan Akhir Sektor-sektor Perekonomian di Indonesia Tahun 2000 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.657 12.64 3.09 1.701.415 13.125.389.496. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Total (domestik) Permintaan Antara Jumlah % (Juta Rp) 144.30 1.119.568 21.56 100 Sumber: Tabel I-O Indonesia.53 1.99 1.379 33.020 7.287 2.695 227.442.741 10.847 3.498 19.03 0.03 0.595.340.215 35.698.926 0.656.068.730 90.67 5.073.87 2.621 208.441.84 18.48 0.34 0.948.36 9.84 0.036.460.067 0.629 4.672.48 Tabel 5.259 165.278 151.83 15.353.695.88 1.821.564.43 14.605 94.113 94.476.056 67.32 0.897.169 161.15 100 Permintaan Akhir Jumlah % (Juta Rp) 115.60 5.034 41.214.048.586.677.014.242.325.775.627.063 396.272.37 5.700 3.42 5.151 329.743.575 9.800.065 15.424 8.850.412.599 5.64 2.25 2.018 0.21 8.748.685.961 1.153. Nilai tersebut lebih besar dibanding permintaan antaranya.89 2.

Dalam Tabel I-O Indonesia tahun 2000 nilai tambah meliputi penerimaan upah gaji.770 juta berasal dari upah dan gaji.350 juta dengan perincian Rp 400.278. penyusutan sebesar Rp 865.762 juta.079. penyusutan dan pajak tak langsung netto.498 juta berasal dari surplus usaha. Struktur Nilai Tambah Bruto Nilai tambah bruto merupakan balas jasa terhadap faktor produksi yang tercipta karena adanya kegiatan produksi.048. Berdasarkan Tabel 5. Pada tahun yang sama sektor industri kertas menyumbang nilai tambah bruto sebesar Rp 7.49 langsung (masyarakat. 5.1.2).958 juta dan pajak tak langsung netto sebesar Rp 487. Rp 755.2 dapat diketahui bahwa total nilai tambah bruto negara Indonesia adalah Rp 1. Nilai rasio tersebut menunjukkan perbandingan antara besarnya upah dan gaji yang diterima produsen.331.928 juta berasal dari penyusutan dan Rp 69.732 milyar berasal dari pajak tak langsung netto. . pemerintah dan ekspor) dibanding untuk keperluan produksi sebagai input bagi sektor lain.895.843.2. Rasio upah dan gaji dan surplus usaha termasuk kategori baik jika rasionya mendekati keseimbangan (mendekati 1) yang berarti bahwa proporsi penerimaan dalam bentuk upah dan gaji bagi pekerja dan surplus usaha bagi produsen berimbang.967 juta (Tabel 5. Jika diperbandingkan antara nilai upah dan gaji terhadap surplus usaha (U/G) maka akan diperoleh nilai rasio upah gaji dengan surplus usaha.327 juta yang terdiri atas upah dan gaji sebesar Rp 1.849 juta. surplus usaha sebesar Rp 458.860. Rp 110.952. surplus usaha.

774 11.3.50 Tabel 5.567 5.393.576.245 Pertambangan dan 25.864.233 65. gas dan air 2.958 83.114 pakaian Industri kayu dan 5.156 69.758.237 6.480.623 84.226.229.107 14.044.434 15.860.208.756.702 926.655 2.902 6.996.576 dari logam Industri lainnya 19.358 1.588.343.949 45.770 755.952 4.142.176 19.451 Listrik.567.182 30.256.311 9.489.550.895.177 21.802 134.418 59.616 5.725 Industri kimia 21.073 3.690 777.443 301.585.382 4.708 127.228.475.147.946 110.088 105.512 1.886 2.278.484.560 8.875 429.212 3.928 Indirect Tax (Juta Rp) 1.350 Pertanian 40.012.607 6.063 4.182.504 1.414.732 Nilai tambah bruto (Juta Rp) 166.093.015.564.477.418 Pengangkutan dan 16.975 865.326 5.701 Industri kertas 1.591 564.524 487.458.212.396 325. Nilai Tambah Bruto Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 Sektor Upah /gaji (Juta Rp) Surplus Usaha (Juta Rp) 121.590.793.383.764 83.718 147.933 2.990 dan minuman Industri tekstil dan 16.985 Hasil hutan lainnya 565.195 112.365.072 64.116 7.948 3. 2000 (diolah).279.946.638 9.232 97.778.731.605.131 115.530 penggalian Industri makanan 30.554.372.692.947 Industri semen dan 3.105 6.898 138. diperoleh bahwa ternyata pada sektor industri kertas mempunyai nilai surplus usaha lebih besar dibandingkan upah dan gaji.081 834.079.296.772.723.511 29.670.905 2.821 61.266.759 10.652 167.017.393.354 komunikasi Keuangan dan 21.757 2.062.440.569 11.705 7.700.919 1.331.229.282.542 Bangunan 37.963 8.931.132.797.625.240 28.084.004.803 4.243 1.430 dasar Industri barang jadi 3. Kondisi ini menunjukan bahwa distribusi pendapatan antara pemilik modal (perusahaan) dan pekerja tidak merata atau .639 Industri barang dari 1.169.333.063 barang non logam Industri logam 2.046 1. Berdasarkan hasil analisis rasio upah dan gaji dengan surplus usaha pada Tabel 5.278.901.127.664.727 76.052 20.327 3.43).463.103.511 770.567 26.968 115.378 476.756 12.781 8.952.623. Hal ini terlihat dari nilai rasio yang lebih kecil dari satu (0.010.973.034.704 6.392 225.385 Total 400.119.664.048.479 kertas Industri percetakan 1.164 13.714.946 Penyusutan (Juta Rp) 2.070 persewaan Jasa-jasa 85.459 53.577.143.498 Sumber: Tabel I-O Indonesia.542 933.762 4.670 4.257 19.877.573.703.129 furniture Industri pulp 940.2.536.508.914 Kayu 2.912 9.340 Perdagangan 61.028.562.352.843.

20 0.57 0. Jumlah tenaga kerja yang terserap di setiap sektor ekonomi merupakan indikator kemampuan sektor tersebut dalam menciptakan kesempatan . gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia. Tabel 5.43 0.79 0. Rasio Upah Gaji terhadap Surplus Usaha (U/G) 0.36 0.26 0.3.04 0.43 0.1.948 jiwa.48 1.55 5.84 0.45 0.51 terjadi ketimpangan yang sangat besar yang disebabkan oleh adanya eksploitasi tenaga kerja oleh pemilik modal terhadap tenaga kerja dengan share yang lebih besar pada produsen (pemilik modal).27 0.320.3.33 0.35 0.51 0.36 0.25 6. Rasio Upah Terhadap Surplus Usaha Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.76 0. 2000 (diolah). Struktur Ketenagakerjaan Banyaknya tenaga kerja yang terserap pada tahun 2000 sebanyak 93.47 0.64 0.74 0.

10 8.233 Perdagangan Pengangkutan dan 4.418 3.705 Industri pulp 118.513 2.911 10.870.943 167.012.4.169.256.83 14.82 15. produktifitas dan nilai upah sektoral dapat dilihat pada Tabel 5.182 2.480.551 3.65 41.700.607 Industri barang dari kertas 100.843.590.4.004.54 36.454 7.331.46 14.48 3.20 0.770 Upah/TK 0.255 76.670.27 Total Upah (Juta) 40.034 115.504 1.051 2.161 9.12 24.942 6.963 Industri lainnya 225.07 18.03 37.61 10.30 40.177 5. terlihat sektor industri kertas menyerap 118.802 16.279.75 7.562 105.797.39 203.393.06 0.84 13.134 20.585.15 0.327 Industri kertas 73.03 0.914 2.195 Penggalian Industri makanan dan 3.52 kerja bagi masyarakat di wilayah tersebut.183.352.64 6.860. Gambaran tentang jumlah tenaga kerja.448.382 37.15 137.519 166.616 3.450.06 0.512 1.088 Keuangan dan Persewaan 11.727 Listrik.638 Industri logam dasar Industri barang jadi dari 259.218 61.440.245 25.20 18.877.282.912 non logam 357.030 97.97 66.65 26.931.664.475.905 Industri kayu dan furniture 57.208.821 logam 1.895.30 12.56 59.131 Komunikasi 1.519 jiwa.041.20 18.350 Total (domestik) Sumber: Tabel I-O Indonesia.88 3. Produktifitas dan Nilai Upah Sektoral Indonesia Tahun 2000 Sektor Jumlah TK Nilai tambah Produktivitas bruto (Juta/Tk) (Juta Rp) 4.60 25.225 45.27 43.017.15 0.511 61. 2000 (diolah).567.212.664 8.756 400.952.948 1.569 940.034.912 65.243 Jasa-jasa 93.692.42 0.762 1.98 10.320.655 Kayu 86. Dalam hal produktifitas tenaga kerja industri kertas menduduki peringkat keempat .06 0.759 Industri kimia Industri semen dan barang 648.142.592 112.508.164 Pertanian 555.48 37.567 21.515 225.921.577.143.328.824 13.576.119.477.463.74 8.06 0.13 4.062.623 85.652 Hasil Hutan Lainnya Pertambangan dan 825.084.333.938 9.708 30. Gas dan Air 4.459 16.232 Industri percetakan 705.212 2.012.328.569.132.32 8.372.296.53 30. Tabel 5.392 Bangunan 17.266. Berdasarkan Tabel 5.063 21.803 19. Jumlah Tenaga kerja.052 Industri tekstil dan pakaian 2.949 minuman 2.454 jiwa sedangkan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor pertanian dengan kemampuan menyerap tenaga kerja sebesar 40.573.03 65.35 79.985 565.15 0.99 4.4.

nilai ekspor keseluruhan sektor industri kertas adalah Rp 13.385 juta atau 2.5.1. Nilai impor industri kertas sebesar Rp 8.65 juta nilai tambah dari sektor tersebut dalam tahun 2000. Ditinjau dari sisi impor terhadap barang-barang dan jasa ternyata nilai impor secara keseluruhan sebesar 287. terlihat bahwa sektor pertanian.930. Dari Tabel 5.5).854 juta atau 2. Struktur Ekspor dan Impor Ekspor Indonesia pada tahun 2000 sebesar Rp 520.831. Berdasarkan nilai total ekspor tersebut. . sedangkan nilai ekspor terbesar ditempati oleh sektor industri kimia atau 18.507.95 persen dari total impor Indonesia (Tabel 5. dengan melihat besarnya selisih antara total ekspor dan impor.757 juta.53 sekitar 66. perdagangan serta sektor pengangkutan dan telekomunikasi mengalami selisih yang positif ini menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barangbarang yang dihasilkan oleh sektor tersebut tidak lagi tergantung pada impor. industri pengolahan. Nilai impor tersebut dapat menunjukkan bahwa kebutuhan kertas dalam negeri masih lebih besar dari produksi kertas dalam negeri sehingga harus melakukan impor. 5.5).125.52 persen dari total ekspor Indonesia (Tabel 5.84 persen dari total ekspor indonesia. Nilai ekspor industri kertas yang masih kecil tersebut dapat menandakan bahwa sektor industri ini masih berorientasi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.65 yang berarti satu orang tenaga kerja yang bekerja di sektor manufaktur mampu menghasilkan sekitar 66.623 juta.4.

162.493.567.214. Tabel 5.06 barang non logam 12.958.03 Perdagangan Pengangkutan dan 26.38 0.07 Hasil hutan lainnya Pertambangan dan 77.529.408 243.930.373 1.857.667.550 0.016 0.59 dari logam 58.56 penggalian Industri makanan dan 29.61 Industri percetakan 107.854 1.126 X-M (Juta Rp) 2.99 6.957.665 25.444.859 7.864.97 pakaian Industri kayu dan 37.881 40.58 0.161.620 12.099 57.379 33.933 1.489 8.971.151 332.048.093.534.167.880.809 4.451 131.620 13.622 8.326 1.677.412.815.916 177.883.362.385 2.947 43.942.850.297 2.033 8.96 2.247 0. sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa-jasa.418 6. Struktur Ekspor dan Impor Indonesia Tahun 2000 Ekspor Sektor Jumlah (Juta Rp) % Impor Jumlah (Juta Rp) 4.865 353.22 Pertanian 124.317. Ini menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barang-barang yang dihasilkan oleh sektor tersebut masih tergantung pada impor.845 528.588.617 2.566.705 23.365 5.559.337 5.65 9.326 2.10 persewaan 8.824.00 Listrik.433 5.51 Jasa-jasa 569.695 227.855 26.49 4.52 15.96 Industri pulp 13.634.849 24.278 177.120 3.262 17.908 10.088 -404.110 0.177 6.413 0.775 10.22 0.305.13 100 Jumlah Input (Juta Rp) 224.353.23 2.175 100 Total (domestik) Sumber: Tabel I-O Indonesia.729.772.040 1.063 396.848 287.413 176.268.218 11.757 % 1.814 18.340.580.163 63.238.242.554.089.719.285.53 furniture 5.00 Bangunan 57.094.061 4.136. 2000 (diolah).531 541.050 4.821.5.735.298 4.613 27.722 39.30 Industri kertas Industri barang dari 1.29 kertas 3.163.395.018 49.75 1.29 17.739.796.959 30.558.225.67 komunikasi Keuangan dan 11.478 -2.637.598.305 6.512 281.842 2. sektor listrik.896.698. sektor bangunan.322 32.02 Kayu 394.641 37. gas dan air 0 0.54 Sedangkan yang mengalami selisih negatif dialami oleh sektor kayu.238.427 5.53 1.319 24.485.943.332 49.617.86 6.899 7.444.79 8.979 2.84 Industri kimia Industri semen dan 6.540.336 1.771.125.900.701.27 Industri logam dasar Industri barang jadi 31.259.603.78 13.944 196.602 19.694 2.507.611.489.641 19.864 9.18 0.814 71.473.424 8.21 Industri lainnya 0 0.805.01 1.58 0.287 161.399 -3.242.17 0. .466 13.287 2.991.490.94 2.900.028 2.627.18 minuman Industri tekstil dan 73.525. gas dan air.053 -21.95 0.722 -39.403.

55

Jika dilihat dari total selisih antara ekspor dan impor maka perekonomian Indonesia mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 232.900.866 juta. Surplus perdagangan terbesar diberikan oleh sektor pertambangan dan penggalian sebesar Rp 71.489.864 juta, sedangkan industri kertas mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 4.617.531 juta. Angka tersebut menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barang-barang yang dihasilkan oleh sektor industri kertas di Indonesia tidak lagi tergantung pada impor.

5.1.5. Struktur Output Sektoral Output merupakan nilai produksi (barang dan jasa) yang dihasilkan oleh suatu sektor perekonomian. Berdasarkan Tabel Input-Output Indonesia tahun 2000 dapat diketahui besarnya output yang diciptakan oleh masing-masing sektor. Berdasarkan Tabel 5.6 terlihat bahwa output sektoral perekonomian Indonesia sebesar Rp 270.099.837 juta. Sektor yang paling besar menyumbang dalam pembentukan output domestik adalah sektor perdagangan yakni sebesar 14,67 persen dengan nilai output sebesar Rp 396.214.278 juta, kemudian disusul oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai sebesar Rp 329.325.254 juta dalam persentase sebesar 12,19 persen dari total output keseluruhan. Sementara industri kertas sendiri menyumbang sebesar Rp 24.771.622 dalam pembentukan output atau sebesar 0,92 persen dari seluruh total output sektoral perekonomian.

56

Tabel 5.6. Struktur Pembentukan Output Sektoral terhadap Perekonomian Indonesia Tahun 2000
Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Total (domestik) Output Jumlah (Juta) Persentase (%) 260,672,575 9.65 17,340,028 0.64 2,698,944 0.10 196,815,151 7.29 329,325,254 12.19 131,412,099 4.87 57,534,424 2.13 8,739,849 0.32 24,771,622 0.92 8,850,620 0.33 13,627,408 0.50 243,805,705 9.03 23,821,379 0.88 33,729,613 1.25 64,119,165 2.37 139,438,593 5.16 30,637,695 8.43 227,677,063 8.43 396,214,278 14.67 151,272,169 5.60 161,353,916 5.97 177,242,287 6.56 2,701,099,837 100

Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah). 5.2. Analisis Keterkaitan

5.2.1. Keterkaitan Langsung Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Keterkaitan langsung beberapa sektor perekonomian Indonesia dapat dilihat pada Tabel 5.7. Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa sektor perdagangan mempunyai nilai keterkaitan langsung kedepan yang paling besar yaitu sebesar 1,4070. Selanjutnya urutan kedua terbesar ditempati oleh sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai keterkaitan langsung ke depan sebesar 1,3580 kemudian secara berturut-turut diikuti oleh sektor industri kimia dan minyak dan

57

sektor pengangkutan dan komunikasi dengan nilai 0,7964 dan 0,7020 pada posisi ketiga dan keempat. Untuk keterkaitan langsung ke belakang sektor listrik, gas dan air merupakan sektor yang memiliki nilai keterkaitan langsung ke belakang yang paling tinggi dengan nilai 0,3103. hal ini dikarenakan sektor listrik, gas dan air merupakan salah satu sektor yang paling vital dalam kehidupan manusia dan tanpa sektor tersebut sektor yang lain tidak akan dapat berjalan, kemudian urutan kedua dan ketiga di tempati oleh industri makanan dan minuman dan sektor industri kayu dan furniture dengan nilai keterkaitan sebesar 0,3319 dan 0,1790.

Tabel. 5.7. Nilai Keterkaitan Berbagai Sektor Perekonomian di Indonesia
Langsung

Sektor
Depan Belakang

Langsung dan Tidak Langsung Depan Belakang

Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa
Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah).

0,5495 0,2619 0,0236 1,3580 0,3319 0,2764 0,1790 0,1877 0,5997 0.0485 0,0431 0,7964 0,0900 0,3072 0,1737 0,1631 0,3103 0,1919 1,4070 0,7027 0,6438 0,0980

0,2391 0,1794 0,1393 0,1188 0,6039 0,4673 0,5687 0,3957 0,3378 0,5356 0,4078 0,4217 0,4842 0,5635 0,4161 0,3675 0,6530 0,4884 0,3821 0,3945 0,2400 0,3390

1,9552 1,3283 1,0291 3,1272 1,6422 1,3855 1,2191 1,2750 1,6529 1,0734 1,0653 2,1857 1,1150 1,2955 1,2689 1,3310 1,4368 1,3066 3,2051 2,0874 2,1306 1,1575

1,3950 1,2751 1,2287 1,1567 1,9484 1,7956 1,8775 1,6059 1,5409 1,8431 1,6424 1,5577 1,6858 1,7978 1,5005 1,6501 1,8552 1,7539 1,6138 1,6346 1,3643 1,5500

Keterkaitan Langsung Perekonomian Indonesia dan Tidak Langsung Sektor-Sektor Pada Tabel 5.7 dapat dilihat bahwa sektor yang mempunyai nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung kedepan tertinggi adalah sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai sebesar 3.2051 dan 2. Selanjutnya di posisi kedua dan ketiga ditempati oleh sektor perdagangan dan sektor industri kimia dengan nilai masing-masing sebesar 3. 5. gas dan air dan sektor industri barang-barang dari kertas dengan nilai keterkaitan sebesar 1. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sebesar satu juta.8775. . Sedangkan untuk keterkaitan langsung ke belakang industri kertas memiliki nilai sebesar 0.58 Untuk industri kertas. dalam nilai keterkaitan langsung ke depan menempati urutan keeenam dengan nilai 0. Untuk nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang. Urutan kedua tertinggi ditempati oleh sektor industri kayu dan furniture dengan nilai keterkaitan sebesar 1.2.5997 juta rupiah.5997.3378 yang berada pada posisi ke-17 diantara sektor-sektor yang lain. maka output industri kertas secara langsung akan meningkat sebesar 0.1857.8552 dan 1. Selanjutnya berturut-turut untuk posisi ketiga dan keempat ditempati oleh sektor listik. sektor industri makanan dan minuman memiliki nilai keterkaitan tertinggi diantara sektor-sektor lainnya yaitu sebesar 1. maka sektor industri kertas akan meningkatkan permintaan inputnya secara langsung sebesar 0.9484.2.1272.3378 juta rupiah. Nilai tersebut mengindikasikan bahwa jika terjadi kenaikan permintaan akhir satu juta.8431.

59

Berdasarkan hasil analisis (Tabel 5.7), industri kertas memiliki nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung kedepan sebesar 1,6529 yang berada pada peringkat ketujuh diantara sektor-sektor yang berada dalam perekonomian Indonesia. Nilai keterkaitan tersebut mengindikasikan bahwa setiap satu juta output yang dihasilkan industri kertas secara langsung maupun tidak langsung akan dialokasikan kepada sektor-sektor lain dan kepada industri kertas itu sendiri sebesar 1,6529 juta rupiah. Sedangkan untuk keterkaitan langsung dan tidak langsung kebelakang, industri kertas memiliki nilai keterkaitan sebesar 1,5409 yang berada pada peringkat ke-16 diantara sektor-sektor lainnya. Nilai keterkaitan sebesar 1,5409 berarti apabila terjadi peningkatan permintaan akhir sebesar satu juta pada industri kertas maka permintaan input dari sektor-sektor lainnya maupun dari industri kertas itu sendiri secara langsung dan tidak langsung akan menigkat sebesar 1,5409 juta rupiah.

5.2.3. Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Industri kertas merupakan sektor antara yang berada diantara sektor-sektor yang lain, industri ini tidak dapat dipisahkan dari industri atau sektor-sektor hulunya yang menyediakan input bagi keperluan proses produksinya, sebaliknya industri ini juga berfungsi sebagai penghasil output yang digunakan sebagai input bagi industri lainnya (hilir). Sektor-sektor hilir yang terkait dengan industri kertas antara lain industri barang-barang dari kertas, industri percetakan (penerbitan), dan sektor jasa-jasa.

60

Tabel 5.8. Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Sektor
Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah).

Koefisien 0.0005 0.0008 0.0025 0.0000 0.0022 0.0013 0.0004 0.0057 0.0015 0.3183 0.2448 0.0003 0.0047 0.0001 0.0006 0.0010 0.0007 0.0002 0.0020 0.0009 0.0012 0.0128

Peringkat 17 14 6 22 7 10 18 4 9 1 2 19 5 21 16 12 15 20 8 13 11 3

Dari hasil analisis keterkaitan ke depan industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian Indonesia (Tabel 5.8) dapat dilihat bahwa industri barang dari kertas menduduki peringkat pertama dengan nilai sebesar 0,3183. Selanjutnya disusul oleh industri percetakan dengan nilai keterkaitan sebesar 0,2248 pada urutan kedua. Industri barang dari kertas dan industri percetakan menempati peringkat teratas karena kedua industri ini menggunakan bahan baku utama yang dihasilkan dari industri kertas.

61

5.2.4. Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Industri kertas merupakan industri yang terus berkembang pesat di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan konsumsinya yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Perkembangan industri ini juga ditandai dengan peningkatan kapasitas produksi perusahaan-perusahaan industri kertas dalam satu dekade terakhir ini. Salah satu indikator penyebab perkembangan dan pertumbuhan yang cukup tinggi itu adalah kedekatan industri kertas dengan bahan baku industrinya dalam hal kemudahan memperolehnya. Kedekatan inilah yang menandai bahwa keterkaitan ke belakang industri kertas dengan sektor-sektor penyedia inputnya (hulu) cukup besar. Dari hasil analisis keterkaitan ke belakang industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian indonesia (Tabel 5.9) dapat dilihat bahwa industri pulp menduduki peringkat pertama dengan nilai sebesar 0,0944. Industri pulp menduduki peringkat pertama karena pulp merupakan bahan baku utama yang digunakan oleh industri kertas. Selanjutnya disusul oleh sektor pengangkutan dan komunikasi pada urutan kedua. Masuknya sektor pengangkutan dan komunikasi dalam peringkat yang cukup tinggi bila di bandingkan dengan sektor-sektor lain dalam perekonomian dikarenakan pentingnya faktor pengangkutan dan

komunikasi dalam memperlancar rantai distribusi bahan baku dari tempat bahan baku ke perusahaan tempat proses produksi dilaksanakan

Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.9.0005 0. Koefisien 0.0401 0.0031 0.0000 0.0012 0. Sedangkan analisis kepekaan penyebaran berguna untuk .0181 0.0199 0.0015 0.0010 0. Analisis koefisien penyebaran dianggap penting karena menunjukkan koefisien kaitan yang memberikan gambaran tentang pengaruh yang ditimbulkan oleh suatu unit permintaan akhir untuk semua sektor di dalam suatu sisitem perekonomian.0006 0.0007 0.0045 0.62 Tabel 5.0001 0.0731 0.3. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia. Analisis Koefisien Penyebaran dan Kepekaan Penyebaran Untuk mengetahui distribusi manfaat dari pengembangan suatu sektor terhadap perkembangan sektor lainnya baik melalui mekanisme transaksi pasar input dan pasar output dapat dianalisis berdasarkan koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran.0023 0.0621 0.0037 0.0017 0.0050 Peringkat 11 7 17 12 9 20 15 1 14 10 16 4 21 22 13 19 6 18 3 2 5 8 5.0944 0. 2000 (diolah).0071 0.0004 0.

Koefisien penyebaran ini diperoleh dari nilai keterkaitan output langsung dan tidak langsung ke belakang yang dikalikan dengan jumlah sektor kemudian dibagi dengan total keterkaitan langsung dan tidak langsung semua sektor.63 memberikan gambaran tentang pengaruh yang timbul oleh suatu unit permintaan akhir terhadap semua sektor di dalam perekonomian. 5. Nilai koefisien yang lebih besar dari suatu sektor menunjukkan kemampuan sektor tersebut dalam menarik perkembangan sektor hulunya. . Berdasarkan nilai indeks koefisien penyebaran yang lebih dari satu. Dengan kata lain merupakan efek yang ditimbulkan oleh suatu sektor karena adanya peningkatan output suatu sektor yang bersangkutan terhadap output sektor-sektor lainnya yang digunakan sebagai input oleh sektor-sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung. gas dan air. Koefisien penyebaran sering disebut sebagai daya penyebaran ke belakang. industri kayu dan furniture. hal ini mengindikasikan bahwa sektor-sektor tersebut memiliki kemampuan yang kuat untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya. industri barang dari kertas juga industri tekstil dan pakaian.1.3.10 dapat dilihat beberapa sektor yang mempunyai indeks koefisien penyebaran yang tinggi antara lain sektor industri makanan dan minuman. Pada Tabel 5. listrik. Koefisien Penyebaran Koefisien penyebaran menunjukan efek relatif yang ditimbulkan oleh keterkaitan ke belakang secara langsung dan tidak langsung antara satu sektor dengan semua sektor yang ada.

Salah satu penyebab terjadi hal tersebut adalah adanya integrasi vertikal dalam industri kertas sendiri.0292 1. Koefisien Penyebaran Industri Kertas Terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik. sektor ini mempunyai indeks koefisien penyebaran sebesar 0.0066 1. Koefisien Penyebaran 0.9668 Untuk industri kertas..0514 1.10. 2000 (diolah).9611.8701 0.1495 1.0939 1. Perusahaan-perusahaan besar yang memiliki kapasitas produksi yang besar pula ternyata juga memiliki pabrik pulp sebagai sumber bahan bakunya.0195 0. Hal mengindikasikan bahwa industri kertas mempunyai kemampuan yang kurang kuat dalam menarik perkembangan sektor hulunya. Hal ini mengakibatkan kemampuan industri kertas secara keseluruhan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya .64 Tabel 5.1571 1.8509 0.0244 0.7953 0.7664 0.1213 0. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.1710 1.9611 1.2152 1.9715 1.7215 1.0016 0.1199 1.9359 1. khususnya yaitu dengan sektor hulu yang paling besar keterkaitannya dengan industri kertas yaitu industri pulp.

65 terutama pulp menjadi semakin berkurang.11 dapat dilihat bahwa sektor pertambangan dan penggalian memiliki indeks kepekaan penyebaran yang paling tinggi yaitu sebesar 1.2. Kepekaan penyebaran ini sering disebut indeks daya penyebaran ke depan yang diperoleh dari keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan yang dikalikan dengan jumlah sektor kemudian dibagi dengan total keterkaitan langsung dan tidak langsung dari semua sektor. Namun jika di tinjau dari sisi efisiensi. Hal ini di karenakan sektor pertambangan dan penggalian merupakan salah satu sektor yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian.9504.3. Kepekaan Penyebaran Kepekaan penyebaran merupakan efek relatif yang disebabkan oleh perubahan output suatu sektor ekonomi yang akan menimbulkan perubahan output sektor ekonomi lainnya yang menggunakan output sektor tersebut sebagai input baik langsung maupun tidak langsung. Pada Tabel 5. menurut Karseno dan Mulyaningsih (2002) integrasi vertikal pada industri kertas justru akan lebih meningkatkan efisiensi produksi perusahaan dalam industri 5. Barang tambang seperti minyak bumi dengan produk hasil olahannya yaitu bahan bakar minyak (BBM) merupakan pilar utama proses produksi output sektor-sektor industri dalam perekonomian. sehingga sektor pertambangan dan penggalian mempunyai kemempuan yang kuat dalam mendorong pertumbuhan sektor-sektor hilirnya terutama dalam hal penyedian kebutuhan bahan bakar untuk proses produksi. . Nilai indeks kepekaan penyebaran lebih dari satu mengindikasikan suatu sektor memiliki kemampuan yang kuat untuk mendorong sektor hilirnya.

gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia. Kepekaan Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.8302 0. .2195 0.0242 0. industri kertas lebih unggul dalam kemampuannya dalam menstimulir perkembangan sektor-sektor hilirnya dan termasuk ke dalam delapan besar sektor yang mempunyai indeks kepekaan penyebaran kuat dalam perekonomian.8080 0.9504 1. industri tekstil dan pakaian (0. 2000 (diolah).7952 1.8641).7603). Kepekaan Penyebaran 1. sektor industri ini mempunyai indeks kepekaan penyebaran sebesar 1.3019 1.66 Tabel 5.8961 0. Bila di bandingkan dengan beberapa sektor lainnya yang tergolong sektor manufaktur seperti industri makanan dan minuman (1. hal ini berarti bahwa industri kertas mempunyai kemampuan yang kuat untuk mendorong perkembangan sektor hilirnya.3288 0.0242).0309 0.6419 1.7914 0.8285 0.9990 1.6695 0.7219 Sedangkan untuk industri kertas. Dengan nilai indeks yang lebih besar dari satu.309.8641 0.7603 0.6954 0.11.8149 1.6644 1.3632 0. dan industri kayu dan furniture (0.

Pada perekonomian Indonesia.1253 persen.1253.4. elastisitas output tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1. Elastisitas Output Elastisitas Output adalah perubahan persentase dalam total output suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya.2610 (Tabel 5. Hal ini bermakna bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan total output sektor industri makanan dan minuman sebesar 1. 5.12). 5.2610 persen. Menurut Mattas dan Shresta (1991) dalam Imansyah (2000) pendekatan ini lebih baik daripada analisis keterkaitan dan analisis multiplier karena memperhitungkan share suatu sektor dalam output. Elastisitas Input-Output Elastisitas input-output menyediakan pandangan baru untuk penentuan sektor prioritas. Nilai elastisitas output yang tinggi dari . Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan output sektor perdagangan sebesar 1. pendapatan dan tenaga kerja. Urutan kedua ditempati oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai elastisitas output sebesar 1.4. Pendekatan ini mempermudah policy makers untuk berkonsentrasi tidak hanya pada nilai-nilai keterkaitan dan multiplier tertinggi tetapi juga pada share suatu sektor ekonomi. Pendekatan elastisitas input-output dibagi kedalam tiga kategori yaitu elastisitas output.1.67 Semuanya itu menandakan bahwa sektor industri kertas layak untuk terus dikembangkan dan mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah.

Pada tabel 5. 5.0759. Nilai elastisitas output yang tinggi bila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya dalam perekonomian pada sektor perdagangan dan sektor pertambangan dan penggalian . Dengan nilai elastisitas output yang lebih besar dari satu.68 kedua sektor tersebut mencerminkan bahwa outputnya mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya atau lebih sensitif terhadap perubahan yang terjadi pada sektor lainnya dalam hal permintaan akhir. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan pendapatan sektor perdagangan sebesar 1.12 dapat dilihat bahwa elastisitas pendapatan tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1.0023 persen.1650 persen.0023. Urutan kedua ditempati oleh sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai elastisitas pendapatan sebesar 1. Hal ini berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan total output sektor industri pertambangan dan penggalian sebesar 1. industri kertas dapat disebut cukup responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain.0759 persen. sektor ini memiliki elastisitas output sebesar 1. Untuk industri kertas.1650. Elastisitas Pendapatan Elastisitas pendapatan adalah perubahan persentase dalam pendapatan suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya.4.2. yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan total output industri kertas sebesar 1.

0139 (20) Industri lainnya 0.9831 ( 6 ) Industri semen dan barang non logam 0. Dengan nilai elastisitas pendapatan yang kurang dari satu. sektor ini memiliki elastisitas pendapatan sebesar 0.1253 ( 2 ) Industri tekstil dan pakaian 0.0901 (20) 0.4048 (14) Industri logam dasar 0.0441 ( 2 ) 0.0047 (21) Industri barang jadi dari logam 0.0548 (19) Listrik.0023 ( 5 ) Industri barang dari kertas 0.4772 ( 8 ) 1.0443 (21) 0. Tabel 5.0040 (22) Jasa-jasa 0.7964 ( 5 ) 0.1659 (18) 0. Elastisitas Input-Output Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 Sektor Elastisitas Pendapatan 0.2772 (12) 1.0768 ( 1 ) 0. industri kertas dapat disebut kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain.6093 ( 8 ) 0.0009 ( 3 ) 0.1737 (17) 0.12.1790 (16) 0.8697 ( 8 ) Industri kertas 1.0759 ( 2 ) 1.1919 (15) 1.9779 ( 3 ) 1.0980 (19) .2619 (14) 0.6903 ( 4 ) 0. yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan pendapatan dalam industri kertas sebesar 0.1008 ( 3 ) Industri makanan dan minuman 1.2240 (14) 0.0431 (22) 0.1650 ( 1 ) 0.0485 (21) 0.9020 ( 7 ) Bangunan 0.0900 (20) 0.7100 ( 9 ) Industri percetakan 0.6449 ( 5 ) 0.2591 (16) Industri pulp 0.6438 ( 7 ) 0.1877 (16) 0.3127 (10) 0.1790 (17) 0.3284 ( 9 ) 0.5241 (11) Industri kayu dan furniture 0.5495 ( 9 ) 0.0274 ( 4 ) Keuangan dan persewaan 0.2133 (15) Output Pertanian 0.2610 ( 1 ) Pengangkutan dan komunikasi 1.69 menunjukkan bahwa pendapatan pada kedua sektor tersebut mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya.5022. Sementara pada industri kertas.0955 (18) Hasil hutan lainnya 0.0247 (22) 0.2778 (13) 0.0994 (19) 0.6005 ( 6 ) 0.2764 (13) 0.3072 (12) 0.3072 (11) 0.4050 (13) Pertambangan dan penggalian 1.5179 (12) Sumber: Tabel I-O Indonesia.3319 (10) 0. gas dan air 0.8877 ( 4 ) 0.3103 (11) 0.3921 (15) Kayu 0.5022 persen.1253 (17) Perdagangan 1. 2000 (diolah).6084 (10) Industri kimia 0.5022 ( 7 ) 0. Keterangan: ( ) merupakan peringkat Tenaga Kerja 0.7027 ( 6 ) 0.1631 (18) 0.

yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan total output industri kertas sebesar 0. Peringkat kedua ditempati oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai elastisitas tenaga kerja sebesar 1. Dengan nilai elastisitas yang kurang dari satu.3. Namun demikian nilai elastisitas tenaga kerjanya masih bernilai positif. hal ini terjadi dikarenakan industri kertas selain merupakan industri padat modal juga merupakan industri yang cukup banyak menyerap tenaga kerja.0768 (Tabel 5.0768 persen.12). Diantara sektor lainnya dalam perekonomian elastisitas tenaga kerja tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1. Pada industri kertas.0441. tenaga kerja industri kertas dapat disebut kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain.70 5.0441 persen. Nilai ini bermakna bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan tenaga kerja sektor industri makanan dan minuman sebesar 1.4. Elastisitas Tenaga Kerja Elastisitas tenaga kerja adalah perubahan persentase tenaga kerja suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. . sektor ini memiliki elastisitas tenaga kerja sebesar 0.6093 persen.6093. Nilai elastisitas tenaga kerja yang tinggi dari kedua sektor tersebut mengindikasikan bahwa jumlah tenaga kerjanya mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya atau lebih sensitif terhadap perubahan yang terjadi pada sektor lainnya dalam hal permintaan akhir. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan tenaga kerja sektor perdagangan sebesar 1.

Industri kertas termasuk dalam sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam).5. Pada penentuan sektor kunci berdasarkan elastisitas input-output. (5) industri pulp. (7) pertanian. dampak penyebaran atau elastisitas input-output. yaitu: (1) perdagangan. sepuluh peringkat tertinggi dari hasil perankingan tersebut merupakan sektor-sektor kunci dalam perekonomian. (8) industri kimia. (3) pertambangan dan penggalian. pendapatan. dapat diketahui sepuluh sektor kunci perekonomian. Dari hasil analisis sektor kunci perekonomian Indonesia tahun 2000 berdasarkan ranking elastisitas (Tabel 5. Sektor-Sektor Kunci dalam Perekonomian Indonesia Penentuan suatu sektor menjadi sektor kunci dalam perekonomian Indonesia dapat didasarkan pada kategori-kategori analisis input-output seperti analisis keterkaitan. dan (10) hasil hutan lainnya. (4) pengangkutan dan komunikasi. (6) industri kertas. Hal ini berarti kesepuluh sektor tersebut menjadi prioritas pemerintah untuk dikembangkan karena setiap sektor tersebut secara simultan mempunyai respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor-sektor lainnya. bersama dengan sembilan sektor kunci lainnya. dan tenaga kerjanya untuk lebih berperan . pendapatan maupun tenaga kerjanya (ranking elastisitas). gas dan air. sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan. sektor yang menjadi kunci dalam perekonomian ditentukan berdasarkan ranking atau peringkat dari keseluruhan sektor dalam perekonomian baik dilihat dari elastisitas output. hal ini menunjukkan bahwa industri ini. (2) industri makanan dan minuman.71 5. merupakan sektor unggulan dalam meningkatkan output.13). (9) listrik.

5 11 1 4 17. Sektor Kunci Perekonomian menurut Ranking Elastisitas InputOutput Indonesia Tahun 2000 Elastisitas Input-Output (peringkat) Tenaga Output Pendapatan Kerja 15 5 9 18 9 14 13 12 10 3 2 11 16 8 5 9 10 6 14 21 20 19 7 17 1 4 22 12 2 3 17 16 6 7 21 22 20 11 18 14 10 13 8 1 4 19 15 3 2 13 16 4 8 21 22 5 20 12 17 18 11 15 1 6 7 19 Total Peringkat 29 41 35 8 7 41 48 18 20 51 54 31 45 51 51 47 31 40 3 14 48 46 Ranking Elastisitas 7 12. 2000 (diolah) . Tabel 5.5 10 3 2 12. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel Input-Output Indonesia.5 17.13.72 dalam perekonomian Indonesia dan pemerintah sebagai policy makers harus lebih biak lagi dalam menjalankan fungsinya berkaitan dengan penetapan kebijakan terhadap industri ini karena perannya dalam meningkatkan perekonomian tersebut.5 15 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.5 14 20 20 16 8.5 5 6 20 22 8.

Implikasi Kebijakan Dari hasil penelitian ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai implikasi kebijakan. hal ini berarti bahwa distribusi pendapatan antara pemilik modal (perusahaan) dan pekerja tidak merata atau terjadi ketimpangan yang besar yang dapat disebabkan oleh adanya eksploitasi tenaga kerja oleh pemilik modal terhadap tenaga kerja dengan share yang lebih besar terhadap perusahaan (pemilik modal). kondisi ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam Peraturan . berdasarkan analisis keterkaitan industri kertas tahun 2000 terhadap berbagai sektor perekonomian (keterkaitan per sektor) dapat diketahui bahwa industri kertas memiliki nilai keterkaitan yang tinggi baik ke depan maupun ke belakang terhadap sektor hulu dan hilirnya dan juga dengan sektor pendukungnya. Untuk mengurangi kesenjangan pendapatan ini diperlukan campur tangan pemerintah yang lebih adil sebagai regulator ketenagakerjaan baik melalui penetapan kebijakan yang berfokus pada kesejahteraan tenaga kerja maupun sebagai mediator antara perusahaan dan tenaga kerjanya dalam penenganan berbagai masalah ketenagakerjaan terutama dalam persoalan upah.73 5. 2. antara lain yaitu: 1. Pada sub-bab sebelummya. Berdasarkan hasil analisis rasio upah dan gaji dengan surplus usaha pada struktur nilai tambah bruto dapat diketahui bahwa sektor industri kertas mempunyai nilai surplus usaha lebih besar dibandingkan upah dan gaji.6. Hal ini menandakan bahwa dalam industri kertas sangat potensial untuk dibentuk dan dikembangkannya klaster industri kertas.

.74 Presiden No. sementara klaster industri memberikan kesempatan pada IKM untuk membuat keterkaitan pasokan antara perusahaan besar dan menengah (Deprin. maka klaster tersebut akan menarik IKM untuk memenuhi Permintaan barang dan jasa.7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Namun demikian dapat dinilai adanya keterlambatan pemerintah karena baru tahun 2005 mengeluarkan kebijakan pengembangan klaster industri tersebut. Dalam peraturan tersebut dijabarkan mengenai rencana pemerintah untuk membangun daya saing industri manufaktur nasional lima tahun kedepan dengan fokus pengembangan industri melalui penguatan dan penumbuhan klaster-klaster industri inti yang termasuk industri kertas didalamnya. Oleh karena itu IKM memerankan peranan secara integral dan konstruktif dalam suatu klaster industri. Dengan adanya klaster ini maka bukan saja dapat saling menumbuh kembangkan industri terkait dan industri pendukung dalam klaster tersebut. menawarkan jasa dan produk-produk untuk mendukung klaster industrinya. Pada saat yang sama jaringan yang terpadu dari IKM terkait akan terus berkembang. padahal dari tahun 2000 berdasarkan penelitian ini pentingnya kebijakan klaster sudah dapat diidentifikasi. tetapi juga mengingat dalam setiap sektor terdapat juga pelaku ekonomi yang tergolong Industri Kecil dan Menengah (IKM). 2005).

1. 1.970.3183) dan pada peringkat kedua yaitu terhadap industri percetakan (0.854 juta dan jika dilihat dari struktur output sektoral.0944) yang merupakan sektor penghasil bahan baku industri kertas dan pada sektor pengangkutan dan komunikasi (0.454 jiwa.800. industri ini berkontribusi sebesar Rp 24.2448) sementara pada keterkaitan ke belakangnya. kemudian kontribusinya dalam struktur nilai tambah bruto adalah sebesar Rp 7. industri kertas melakukan ekspor sebesar Rp 13. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis peranan industri kertas terhadap perekonomian Indonesia. industri kertas berkontribusi terhadap permintaan antara sebesar Rp 10. . industri kertas memiliki keterkaitan yang paling tinggi terhadap industri pulp (0.0731) yang merupakan salah satu sektor pendukung industri kertas.VI.125. KESIMPULAN DAN SARAN 5.327 juta dan jika dilihat dari struktur ketenagakerjaan. 2.771.775 juta dan permintaan akhir sebesar Rp 13.847 juta. maka kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut.507.622 juta.385 juta dan mengimpor sebesar Rp 8. Pada struktur ekspor dan impor. Pada keterkaitan ke depan industri kertas mempunyai keterkaitan yang paling tinggi terhadap sektor industri barang dari kertas (0.895. Pada struktur permintaaan. industri ini mampu meyerap tenaga kerja sebesar 118. Industri kertas memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor hulu dan hilirnya (keterkaitan industri kertas terhadap sektor-sektor perekonomian).

Namun di sisi lain. maupun tenaga kerjanya. industri ini merupakan sektor industri yang memiliki kemampuan yang kuat dalam mendorong pertumbuhan sektor hilirnya seperti industri barang dari kertas dan industri percetakan karena memiliki indeks kepekaan lebih dari satu (1. . pendapatan. Bersama dengan sektor kunci lainnya. 4.9611). sehingga sektor ini mempunyai kemampuan yang cukup besar dalam berkontribusi untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan. sektor industri ini memiliki indeks koefisien penyebaran yang kurang dari satu (0. Industri kertas kurang memiliki kemampuan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya karena jika dilihat dari hasil analisis koefisien penyebaran. terutama pulp. Industri kertas termasuk dalam salah satu dari sepuluh sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam) berdasarkan ranking elastisitas. Salah satu penyebab lemahnya industri ini dalam menarik pertumbuhan sektor hulunya adalah adanya integrasi vertikal yang dilakukan oleh perusahaan-perusahan besar dalam industri ini dengan sektor penghasil bahan bakunya. industri kertas merupakan sektor prioritas yang harus dikembangkan oleh pemerintah sebagai policy makers karena kontribusinya terhadap perekonomian tersebut.0309).76 3. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor industri ini memiliki respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal peningkatan output.

2. Pada industri kertas harus dibangun klaster industri yang kuat secara berkelanjutan sehingga industri kertas dan sektor yang terkait di dalam klaster tersebut seperti industri pulp. Untuk meningkatkan efisiensi industri kertas tanpa mengurangi kemampuan industri tersebut menarik pertumbuhan sektor hulunya antara lain adalah dengan mempercepat transformasi pembangunan industri kertas menuju fase innovation driven melalui peningkatan teknologi produksi dan pelatihan tenaga kerja terampil yang intensif sehingga dapat meningkatkan outputnya dan disisi lain sektor hulu tetap dapat memasok input bagi industri kertas tersebut. .77 6. Pemerintah harus campur tangan yang lebih intensif melalui penetapan Upah Minimum Regional (UMR) yang benar-benar sesuai dengan standar kehidupan di Indonesia. dapat disampaikan saran berikut ini. 1. pemberian fasilitas karyawan yang lebih baik serta jaminan sosial untuk mengatasi kesenjangan pendapatan antara perusahaan dan tenaga kerjanya pada industri kertas.2. 3. industri barang dari kertas dan industri percetakan juga dapat saling menunjang untuk meningkatkan perkembangannya dan peranannya terhadap perekonomian Indonesia. Saran Berdasarkan hasil analisis.

Italy.deprin. 2005. P. Fakultas Pertanian. USA. 2005. Ekonomi Industri : Persaingan. “Industri Kertas Butuh Investasi Baru” [Harian Terbit Online].com [18 Februari 2005]. Jakarta. H. Jakarta. Analisis Peranan Sektor Pertanian dan Industri Pengolahan Terhadap Perekonomian Propinsi Kalimantan Timur (Berdasarkan Analisis Input-Output) [Skripsi]. Muchtar. 2005. 2002. Monopoli dan Regulasi. Direktori Industri Pulp dan Kertas Indonesia 2003. T.L. dan Mulyaningsih. Vol. ”Kebijakan Pembangunan Industri Nasional” [Deprin Online]. Tabel Input-Output Indonesia 2000. ”Profil Perusahaan” [Bank Niaga Online]. 2000. Raja Grafindo Persada. http://www. Jakarta. Institut Pertanian Bogor. Puspitawati. Deprin. Mansur. N. 1993. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. 2000. M. 136-149.go. B. A. 2. Jakarta. Niaga. Karseno. APKI. “Integrasi Vertikal dan Efisiensi Industri: Industri Kertas Tahun 1979-1997 Dengan Pendekatan Error Correction Model”. Macerata.id/ publikasi. R. Imansyah. E. Hal. http://www. Dampak Keterkaitan Sektor Industri Terhadap Perekonomian Wilayah Kabupaten Sidoarjo [Tesis]. 1985.D. 2002. bankniaga. M. Bogor. LP3ES. “An Application of the FES Approach to A Small Region in Indonesia: Banjarmasin Input-Output Model 1”. Bogor. Paper for 13th International Conference on Input-Output Techniques. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. BPS.com/content/content. 2000. No. E. Prentice Hall. [30 September 2005] Hasibuan. dan Blair. M. http://www.harianterbit. 1997. Miller. 17. . Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. BPS. New Jersey. R. Jhingan.asp?id=NNA [30 September 2005]. Input-Output Analysis: Foundation And Extensions. 2003.DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.

No. Institut Pertanian Bogor. dan Pambudy. Analisis Peranan Sektor Industri Pengolahan terhadap Perekonomian Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta [Skripsi]. D. Ruhmaniyati. H. S. Institut Pertanian Bogor. Y. Bogor. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia. Bogor. Analisis Peranan dan Keterkaitan Sektor Pertanian dan Industri di Jawa Barat [Skripsi]. Sahara. Institut Pertanian Bogor.org /wiki/ Kertas [17 September 2005]. 4. Hal. Fakultas Pertanian. 1994. Fakultas Ekonomi Manajemen. Setiyaji. T.wikipedia. Sipayung. 2000. Bogor. R. http:// www. “Analisis Pasar Pulp dan Kertas Indonesia”. ”Kertas” [Wikipedia Online]. Departemen Ilmu Ekonomi. Tjandrawan. 1995. 2005. 5. A. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. 1998. 2005. 2004. Institut Pertanian Bogor. Departemen Ilmu Ekonomi. I. Analisis peranan Sektor Industri Pengolahan Dan Pengaruhnya Terhadap Perekonomian Jepara [Skripsi]. Wikipedia. Prosiding Seminar. Institut Pertanian Bogor. Fakultas Ekonomi Dan Manajemen. Setyawan. “Prospek dan Tantangan Pengembangan Agribisnis Pulp dan Kertas dalam Era Ekolabeling dan Otonomi Daerah”. Analisis Peran Sektor Industri Pengolahan dan Dampaknya terhadap Pembangunan Ekonomi Di Kota Cilegon [Skripsi]. dan Vidyatmoko. Vol.79 Rosadi. Dampak Investasi Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Nasional [Skripsi]. 2002. A. . Bogor. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor. Bogor. 194203. Fakultas Pertanian.

LAMPIRAN .

Klasifikasi Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 Kode I-O 22 Sektor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 180 190 200 201 202 203 204 205 209 210 301 302 303 304 305 306 309 310 401 402 403 404 409 501 502 503 509 600 700 1000 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.81 Lampiran 1. 031-034 029 030 035-048 049-073 074-083 084-089 090 091 092 093 094-109 110-114 115-118 119-122 123-141 142-143 144-148 149-152 153-159 160-164 165-175 180 190 200 201 202 203 204 205 209 210 301 302 303 304 305 306 309 310 401 402 403 404 409 501 502 503 509 600 700 - . gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Jumlah permintaan antara Jumlah input antara Impor Upah dan gaji Surplus usaha Penyusutan Pajak tak langsung Subsidi Nilai tambah bruto Jumlah input Pengeluaran konsumsi rumah tangga Pengeluaran konsumsi pemerintah Pembentukan modal tetap bruto Perubahan stok Ekspor barang dagangan Ekspor jasa Jumlah permintaan akhir Jumlah permintaan Impor barang dagangan Pajak penjualan Bea masuk Impor jasa Jumlah impor Margin perdagangan besar Margin perdagangan eceran Biaya pengangkutan Jumlah margin perdagangan dan biaya pengangkutan Jumlah output Jumlah penyediaan Jumlah Tenaga Kerja Kode I-O 175 Sektor 001-028.

82 .

588 6.365.217.414.418 1.867 6.725 1.931 59.333 29.183 19.938 6.574 1.210 51.782.252 43.772.051 9 77.302 43.800 53.297 479.947 11.725 138.504 1.958 683.702 (250.890 49.114 8.537.405 6.543 5.834 1.944 86.592 916.813.901.817 378 627.208.479.898 115.542 1.229.957 7.871 2.052 131.097 590.798 105.170 904 57.396 166.851 37.991.327 24.012.536.644 45.073 8.590 44.902 2.809 448.759 243.427.774 147.557.886 2.905 57.241 75.371 22.001 2.575.908 14.606 1.771.491 11.203 19.908 141.524 2.845 40.387.442 120.083 224.480.190 18.430 55.919 4.638.240 13.824.625.558.973 369.941 1.119.062.427 2.493.368.805.952.895.911 Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).648. Tabel Input-Output Indonesia 2000 Klasifikasi 22 Sektor (dalam Juta Rupiah) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 1 16.534.151 825.560 28.338 627.839 4.073.515 25.506 493.858 26.667 3.524 1.467 1.811.346 38.705 705.343 332.143.325 3.714.577.103.049 112.169.626 3.187 416.403 32.821.426 102.513 798 315.010.850 337.703 4.080 264.606.441 967 8.936 36.486 100.850.069 338.453 11.550.513 4 19.854 1.811.534.311 2.973 1.024 5.569 11.701 301.241 1.646.110.337.698.429 0 64.183 17.352 975.946 64.541 16.664. .590.328.979 5.780 41.628 22 85.443 429.894 6.046 926.663.585.417 121.566.059 106.462 55.568 1.298 16.563 6.443 4.117 594.030 13 20.327.778.694 21.441 8.232 13.942 12 8.277 246.418 59.034 1.926 10.235.739.824 90.509.330 296.849 57.407.860.433 565.895 2.043 1.453.412.755 162.895.781 6.777.335.567 19.643 8.323 82.849 23.192 10.319 30.484.130 77.796 55.484.917 375.660.605.043 4.489 59.600 181.160 823.056 33 4.867 3.Lampiran 2.738 25.048 32.282.914 121.526 0 737.519 2 628.617 382.478 63.996.963.512 1.349 206.570 3.855 76.567.679.072 325.554.772.890 1.394 141.655 17.069 6.949 332.711.237 4.826 927 3.213 64.145.809 1.362 161.577 159.135 200.785.797.099 1.114 5.700.530 8.670 6.245 1.399 1.458.014.946.116 490.358 933.839 1.177 21.576.017.037.550 754.427 3.292 5.905 2.775 19.877 3.539 4.596 643.824 40.858 40.218 1.508.296.705 8.634 1.732 1.364 2.991.354 5.507.530.799 5.450.250 478.393 13.258 4.206 15.785.864.602 25.321 5.560 21.489 940.028 555.652 2.990 8.514 33.553 13.553 108 5.091 20.003 363.440.720 2.262 40.404 151.554.424 2.597 18.693 181 11.176 167.385 20.560 5.004.670 7.451 3.912 23.227 72.320 1.884 378.828 61.867 4.968 7.618 174.755 17.040 2.305.228 69.853 110.777 7.688.750 0 13.492 528.613 111.036 8.040 29.615 23.379 648.579 55.441 610.824 3 2.494 1.094.627.454 10 0 3.947 1.473 2.370 110 84 1.561 1.306.099 2.588.620 73.692.281.718.607 8.731.569 34 8.592 6 2.229 1.958 487.590 5.838 1.293 2.290.764 20.591 10.881 2.735.708 127.622 118.656 2.955 23.228) 97.167.308 853.800 17.063 1.452 5.408 100.343.943 5 101.225 7 45.459 131.010 7.989 146.212.333 4.093.459 53.479 83.913 151.442 3.333 287.815.064 55.292.982.459 553.540.875 45.395.322 2.089 47.837 15.319 504 17.164 224.129 2.355 8.098 7.486 5.391 448.063 4.639 865.437.359.930 129.190 41.182.441 370.933 112.195 196.939 5.256.086 5.411.340.899 1.026 84.525.762 4.551 11 0 271 122 11.975 83.985 9.306 815.212 3.628 123.171 1.718 3.040 1.244 1.817.623.155 7.758.792 116.857 1.739.749 24.405.426 874 728.870 210.664.903 7.134 8 203.770 35.460 175.539 77 186.918.083 7.876 348 994.666 65.238.371 1.

056 3.999 6.980 42.229.663 1.601 21.Lampiran 2.610 7.630 1. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 14 9.529.460.353.668 341.730 90.595 1.966.623 84.685.385 6.411.649 36.084 3.233 396.959 1.715 373.287 11.038 13.272.667.076.045.567 26.041.843.107 3.127.983 3.902.931.354 37.036.544 967.138.635 64.713 197.242.973.875 1.238.892 1.875 3.503 7.938 15 7 6.248 966.600 441.916 1.797 15.926 117.271.397 114.035 16.798 5.415 15.372 88.652 411.724.434 76.247.382 1.246 2.079.825 1.597 5.266.870 126.136.100) 65.748.580.011.502 4.405 6.451.194.732 (3.352.113 3.876.775.107.609 151.085 15.360 3.741 10.215 35.005.354 19.242.731.810 2.948.564.775 5.698 49.197 4.183.228.448.626 70.945 37.200.643 1.048.705 859.019 14.253.079.350 2.338 4.180 14.016.739.084 15.498 19.147.189 19.616 5.192.310.802.951 232.726.134 11.202 4.073 (30.093.451 7.412.741.525 11.228 1.292 3.132.420.206.977.670 19.182 30.670.327 19.671.383.642 36.757 225.228.948 .020 7.218 17 4 14.063 111.887 124.746 32.441.167.786 3.287.063 4.729.678 7.278.593 2.100.727 30.793.142 10.844.638 33.767.117 1.950 527.073.125.559 322.105 476.127 19.860.117.164.442.823.326 9.142.206 438.961 1.843 149.264.930.649 157.915 1.652.722 2.657 12.912 21 34.070 6.065 15.861 35.399 3.749 609.966 18.489.418 14.677.542 4.076.444.805 2.108 19.729.019 287.014.525 1.179 26.744.331.515 20 299.757 400.480.078 1.678 19.186.855 61.588.577 8.015.331 1.060.760 1.738 824.848 85.919 398.279.250) 8.310 6.465 5.196 11.297 19.723.817.169.214.713.872 278.808 158.672 6.713.666 2.155 1.333.350 130.361 758.156 105.084.158 5.952 5.579 4.973 6.505 723.946 777.392 227.223 22.756.028.727 100.859 16.153.097 1.553 13.891 123.584 3.177 2.213 16.703.781 337.463.344 3.576 834.830.664 156.106.176 197.175.844 882.900.278.015 1.852 121.393.915 13.770 755.407.676 1.169 4.963 176.030 39.463.261 6.458.727 27.332 3.413 259.244.778 1.349 8.928 69.292 6.499 1.401 110.243 177.161 16 620.377.573.981 156.723 41.995 65.842 123.477.428 117.995.048.393.089.226.700 3.641 37.860 2.002.870.074 19.006.761 137 85 121.131 151.613 357.475.128 23.320.568 21.704 3.255 19 10.559 27.260.509 2.821 27.344.275.567 26.649.921.218 21.575.791 866.332 12.511 29.257 15.012.139 2.281 60.705.032 448.963 62.742.604.578) 1.876.382 4.000 213.529.063 8.896.126 93.071.948 (3.028.695 225.916.511 9.383.106 4.708 59.340 6.923 16.864.598.870.278 17.044.445 412.997 34.664 18 4.661 524.034.472 105.564.812 173.570.111 382 16 1.803 4.498 110.385 1.565.437 791.388 38.113 94.476.179 17.455.130 9.161.110.305 20.569.203.429 11.574 1.858 495.332 3.360.378 61.637.802 134.756 12.034 22 2.780 1.172 0 141.372.727 9.767.226.594 50.817 215.690 115.979 350.800.713 2.563 510.139 10.877.383 143.525 1.430 1.237 2.390.081 564.562 180 144.944 3.562.866 1.990 18.697 6.547.649.398 13.221.116 770.368.088 161.700.

167.595.067 1.420.743.743 3.837 32.885.605 94.321 835.496.495 11.480 6.111.988.385 1.433 37.413 14.227.634.269 4.108 13.552 309 115.099.188 2.225.957.733 15.056 67.447 401 314.600 272.656.437 68.729.033) 5.786.211.114.045 25.254 131.497 302 88.831.559 199.281 292.818 108.724 5.044 403 8.151 329.374 51.503.586.697 937.897.158 1.689.099 57.658.387.965.933 124.284 314.944 196.088.438.927.457.356 105.581 64.760.730 209.044 8.389.883.857.916 177.539.865.643 115.193.438 304 1.701.573 20.162.627.337 73.935 1.621 208.713 1.214.561.326 12.782.637.480 402 15.125.665 303 189.036 155.550 13.747 942.777.613 64.775.485.076 2.620 13.881 13.315 90.592 110.034 41.466 29.575 17.865.965.373 55.814 6.125.850.808.847 3.169 161.623 48.798.238 77.242.593 30.268.161.534.642 67.887 9.942.620 37.473.398 613.849 24.413 3.774.018 79.412.294.658.790.028.480 15.488.848.779.365 57.771.416 2.821.935 88.119.466.672.353.162.424 8.042 41.239 8.267.949.479.187.621 133.887 201.695 227.282 301 14.028.534.849 80.241.696 668.871 18.329.617 8.200 520.210 29.485 39.805.783 520.766 15.071 1.316.325.629 152.408 243.483.689.416.016 394.028 2.048.393 208.454 .Lampiran 2.552 1.136 48.813.582 2.851.008.491 474.705 23.637.677.970.257.110 107.294 8.287 2.525.276.695.623 306 1.068.379 33.707.568 646.842 31.202. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 301 107.435 4.327 1.036.114 310 260.698.034 238.831.241.143.739.454 856.673 (68.001.160 1.670 7.622 8.278 151.063 396.340.571 11.471 38.614 794.933 748.943.305 5.013.209 234.901.785 158.400.165 139.243.426.272.620 8.96 42.259 165.389.599 5.086 112.553.815.514 305 6.837 441.247 77.513 2.

695 227.143.637.815.287 2.815.438.272.353.771.771.849 24.622 8.916 177.340.613 64.242.412.705 23.701.151 329.805.695 227.850.850.821.620 13.242.088.837 3.325.701.575 17.739.837 441.944 196.447 103.988.099 57.593 30.916 177.739.214.353.821.028 2.063 396.627.613 64.099.165 139.698.119.698.278 151.593 30.408 243.Lampiran 2.620 13.672.853.637.325.412.165 139.729.672.575 17.705 23.063 396.287 2.534.254 131.151 329.099 57.099.622 8.278 151.424 8.677.944 196.408 243.438.469 501 502 503 509 600 260.853.729.214.028 2.099.272.284 - .340.849 24.805.379 33. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 404 103.424 8.469 - - - - 2.677.627.254 131.701.837 700 260.169 161.169 161.379 33.534.119.

0004 0.0001 0.0009 0.0007 0.0433 0.0001 0.0000 0.0073 0.0086 0.0006 0.0002 0.0000 0.0023 0.0000 0.1094 0.0000 0.0506 0.0004 0.0025 0.0243 0.0028 0.0083 0.0428 0.0015 0.0073 0.0066 0.0056 0.0000 0.0317 0.0020 0.5356 11 0.0005 0.0001 0.0021 0.0025 0.4842 Total Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).0000 0.0008 0.0000 0.0002 0.0001 0.0000 0.0000 0.0006 0.0800 0.0352 0.4217 13 0.0003 0.0050 0.0000 0.0001 0.0000 0.0096 0.0000 0.0023 0.0168 0.0007 0.0000 0.0001 0.0013 0.0000 0.0000 0.0289 0.0107 0.0000 0.0155 0.0002 0.0001 0.0004 0.0001 0.0001 0.0000 0.0009 0.0042 0.0000 0.0000 0.0000 0.0059 0.0000 0.0000 0.0280 0.0000 0.0002 0.0027 0.0041 0.0053 0.0003 0.0250 0.0008 0.0182 0.0001 0.1335 0.0555 0.0199 0.0000 0.0005 0.3052 0.0535 0.0061 0.0001 0.0001 0.0000 0.0073 0.0001 0.0011 0.0005 0.0016 0.0050 0.0001 0.0003 0.0007 0.0044 0.0000 0.0171 0.0730 0.0017 0.0000 0.0802 0.0000 0.0119 0.0000 0.2130 0.0002 0.0007 0.0000 0.0000 0.0718 0.0011 0.0022 0.0013 0.0026 0.0003 0.0519 0.0477 0.0045 0.0047 0.0002 0.0002 0.0001 0.6039 6 0.0000 0.0094 0.1354 0.0731 0.0009 0.0224 0.0000 0.2448 0.0836 0.0008 0.0000 0.0057 0.0000 0.0000 0.0002 0.0010 0.0000 0.0073 0.0001 0.0000 0.3957 9 0.4078 12 0.0005 0.0201 0.0002 0.0599 0.0000 0.0011 0.0000 0.0000 0.0003 0.0002 0.0000 0.0436 0.0014 0.0621 0.Lampiran 3.0350 0.0047 0.0026 0.0000 0.0023 0.0003 0.0000 0.0005 0.0782 0.0153 0.0446 0.0000 0.1393 4 0.0037 0.0220 0.1794 3 0.0002 0.0036 0.0000 0.0105 0.0002 0.0385 0.0211 0.0239 0.0022 0.0078 0.0000 0.0022 0.0464 0.0000 0.5687 8 0.0003 0.0001 0. Matriks Koefisien Teknis Klasifikasi 22 Sektor SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 1 0.0000 0. .0355 0.0003 0.0000 0.1247 0.0008 0.0000 0.0401 0.0008 0.0424 0.0000 0.0213 0.0000 0.0010 0.0000 0.0000 0.2391 2 0.0002 0.0181 0.0002 0.0000 0.0097 0.0071 0.0319 0.4673 7 0.0083 0.0000 0.0238 0.0119 0.0217 0.0000 0.0000 0.0734 0.0000 0.3378 10 0.0022 0.0171 0.0934 0.0000 0.0116 0.0004 0.0008 0.0000 0.0015 0.0035 0.0000 0.0006 0.1780 0.0646 0.0001 0.0010 0.0001 0.0362 0.0310 0.0040 0.0021 0.0002 0.0002 0.0001 0.0142 0.0006 0.0000 0.0000 0.0087 0.0003 0.0003 0.0025 0.0090 0.0009 0.1188 5 0.0012 0.0001 0.0059 0.0016 0.0005 0.0000 0.2445 0.0010 0.2497 0.0233 0.0013 0.0031 0.0000 0.3183 0.0000 0.0000 0.0015 0.0016 0.0944 0.0000 0.

0000 0.0180 0.5997 0.0001 0.0010 0.0000 0.0000 0.0001 0.0272 0.1631 0.0000 0.4161 16 0.0000 0.0007 0.0007 0.7433 .0081 0.0223 0.0105 0.0000 0.0085 0.0032 0.0058 0.0020 0.0016 0.0000 0.0002 0.0319 0.0000 0.0091 0.0071 0.0900 0.0336 0.0002 0.6530 18 0.0804 0.0939 0.0009 0.0771 0.0275 0.0244 0.0000 0.0008 0.0000 0.0047 0.0000 0.0000 0.0012 0.0352 0.2764 0.0004 0.0003 0.3319 0.3103 0.0002 0.0000 0.0172 0.0002 0.5635 15 0.0000 0.0000 0.0001 0.0001 0.0369 0.0369 0.3390 Total 0.1097 0.0276 0.0315 0.0331 0.0039 0.0007 0.0035 0.0078 0.0002 0.3821 20 0.0277 0.0000 0.3945 21 0.0007 0.0130 0.0000 0.0147 0.0001 0.0020 0.0038 0.0791 0.0000 0.0000 0.0495 0.0502 0.3675 17 0.2790 0.0100 0.0226 0.0001 0.0371 0.0000 0.5495 0.0000 0.0220 0.0187 0.0626 0.0000 0.0000 0.0001 0.0010 0.0010 0.0002 0.0002 0.0003 0.0589 0.0014 0.2400 22 0.0108 0.0000 0.0006 0.1919 1.0000 0.0010 0.3580 0.0131 0.0474 0.0128 0.0047 0.7027 0.0001 0.0000 0.0360 0.0258 0.Lampiran 3.0000 0.0000 0.4884 19 0.0024 0.0604 0.0004 0.0000 0.1548 0.0150 0.0508 0.0000 0.0044 0.0020 0.0008 0.0572 0.0003 0.0001 0.0980 8.0048 0.0000 0.1877 0.0074 0.0465 0.0511 0.0033 0.1020 0.0295 0.0003 0.0000 0.0013 0.0485 0.0000 0.0008 0.0001 0.0180 0.0030 0.0011 0.0001 0.0001 0.0001 0.0000 0.0025 0.0236 1.0023 0.0037 0.0221 0.0158 0.0817 0.0230 0.0008 0.0000 0.0620 0.1082 0.0022 0.0000 0.0027 0.0000 0.0373 0.0364 0.0001 0.0317 0.0200 0. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Total 14 0.0046 0.0179 0.0000 0.0431 0.0023 0.0348 0.0005 0.0532 0.1790 0.0400 0.0261 0.0163 0.6438 0.4070 0.0099 0.0001 0.0000 0.3072 0.0019 0.0053 0.0278 0.0000 0.2619 0.1737 0.0226 0.0049 0.1006 0.0009 0.4633 0.0889 0.7964 0.0007 0.0000 0.0867 0.0007 0.0055 0.0009 0.0007 0.

0220 0.0378 0.0002 0.0021 0.0012 0.0097 0.0009 0.0357 0.0001 0.0012 0.0024 0.0013 0.0009 0.0767 0.0240 0.0012 0.0004 0.0287 0.0021 0.0001 0.1548 0.0008 0.0196 0.0013 0.0080 1.0121 0.0059 0.6424 12 0.0452 0.0011 0.6858 Total Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).0052 0.0394 0.0322 0.7956 7 0.0137 0.0359 0.1045 1.0626 0.0010 0.0014 0.0004 0.0193 0.0105 0.0094 1.0133 0.0008 0.0001 0.0003 0.0221 0.0337 0.0082 0.0133 0.0017 0.0037 1.0775 0.0007 0.0382 0.0109 0.0004 0.0036 0.0172 0.0006 0.0019 0.0007 0.2751 3 0.0009 0.0034 0.0008 0.0013 0.0050 0.0481 0.0010 0.0077 0.0017 0.0166 0.0002 0.0009 0.0943 0.2287 4 0.0011 0.8431 11 0.0025 0.0058 0.0054 0.0016 0.0230 0.0030 1.0123 0.1567 5 0.3235 1.0076 0.0542 0.0008 0.0001 0.0007 0.0053 0.0090 0.0005 0.0100 0.0042 0.0016 0.0108 0.0018 0.0826 0.0008 0.0782 0.0050 0.0005 0.0508 0.0002 0.0441 0.0006 0.0749 0.0260 0.0043 0.0002 0.0261 0.0005 0.0770 0.0109 0.0474 0.0054 0.6059 9 0.0051 0.0005 0.0440 0.0275 0.0004 0.0118 0.0166 0.0007 0.0097 0.0394 0.0137 1.0291 0.0163 0.0005 0.0991 0.0192 0.0001 0.0055 0.0446 1.0221 0.0032 0.2025 0.0006 1.2088 0.1140 0.0009 0.0008 0.0007 0.0059 0.0386 0.0034 1.1038 0.0000 0.0086 0.2921 0.0001 0.0026 0.0602 0.0017 0.0000 1.0681 0.0065 0.0483 0.0013 0.Lampiran 4.0011 0.0010 0.0012 0.1036 0.0072 0.0397 0.0080 0.0049 0.0163 0.0012 0.0153 0.0028 0.1178 0.0014 1.0046 0.0024 1.0099 0.0035 0.1048 0.0062 0.2508 0.0164 0.0130 0.0031 0.0058 0.4000 0.0044 0.9484 6 0.0044 0.0011 0.0007 0.0042 0.0260 0.0052 0.0981 0.0648 0.0003 0.0155 0.0474 0.0007 0.5409 10 0.0008 0.0014 0.0063 0.8775 8 0.0052 0.0061 0.0024 0.0106 0.0021 1.0134 0.0463 0.0000 0.0014 0. Matriks Kebalikan Leontief Klasifikasi 22 Sektor SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 1 1.0013 0.0452 0.0009 1.0001 0.0003 0.0345 0.0033 1.0001 0.0015 0.0005 0.0327 0.0022 0.0042 0.0965 0.0138 0.0112 0.0079 1.0011 0.0134 0.0467 0.0036 0.0005 0.3337 0.0004 0.3950 2 0.0021 1.0148 0.0032 0.0052 0.0030 0.5577 13 0.0013 1.0000 0.0584 0.0116 0.1683 0.0006 0.0055 0.0304 0.0067 0.1133 0.0009 0.0303 1.0002 0.0074 0.0078 0.0046 1.0294 0.1068 0.0170 0.0002 0.0043 1.0015 0.0030 0.0009 0.0180 0.0026 0.0155 0.1920 0.2872 0.0112 0.0034 0.0122 1.0076 0.0001 0.0017 0.0036 0.0093 0.0014 0.0004 0.0006 0.0494 0.0938 0. .0014 0.0072 1.1031 1.0636 0.

0018 0.0004 0.0235 0.0090 0.1062 0.0024 0.0088 0.0208 1.0044 0.0007 0.0653 2.0450 0.0166 0.0007 0.1589 0.0734 1.0274 0.0502 0.0198 0.0237 0.Lampiran 4.7978 15 0.0166 1.3066 3.0874 2.0028 0.0039 0.3310 1.0115 0.0057 0.0001 0.0071 1.4368 1.0498 0.2733 Total .0068 0.0018 0.0038 0.1247 0.0004 0.0008 0.0348 0.0053 0.0062 0.6346 21 0.6501 17 0.1575 35.0772 0.0020 0.0051 0.0003 0.0855 0.1306 1.0420 0.0031 1.0024 0.0050 0.0715 0.0404 0.0058 0.0041 0.0054 0.1284 0.0002 0.0001 0.0120 0.0026 0.0219 0.0532 0.0291 3.0078 1.0488 0.0544 0.0170 0.0032 0.0216 0.0444 0.0607 0.0343 0.0009 0.0005 0.3732 0.0013 0.1272 1.0661 0.0002 0.0558 0.0013 0.0119 1.0018 0.0184 1.0059 0.0063 0.5500 Total 1.0038 1.0856 1.0082 0.0082 0.0416 0.0449 0.0001 0.0183 0.0004 0.0104 0.7539 19 0.1194 0.3283 1.9552 1.0116 0.0003 0.2191 1.0274 0.0020 0.0182 0.0014 0.0212 0.0105 0.0056 0.0056 0.0718 0.0007 0.6422 1.1395 0.0013 0.0026 0.0041 0.0025 0.0067 0.0042 1.0010 0.5005 16 0.0137 0.0516 0.0247 0.0000 0.0011 0.0638 0.0267 0.0020 0.0084 0.0098 0.6138 20 0.0012 0.0040 0.1049 0.0999 0.1331 0.0028 0.0105 0.0016 0.0487 0.0802 0.0139 0.5581 0.3855 1.0095 0.0018 0.0003 0.0298 0.0022 0.0063 0.0338 1.0009 0.0000 0.0441 0.0517 0.0073 0.0016 0.0008 0.0755 0.0058 0.0010 0.1857 1.0010 0.0816 0.0010 0.0001 0.0171 0.0254 0.0001 0.0537 0.2750 1.0171 0.0025 1.0261 1.0173 0.0009 0.0048 0.0515 1.0001 0.0724 0.0018 0.0246 0.0599 0.0008 0.0007 1.0012 0.0008 0.0015 0.0481 0.0013 0.1095 0. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 14 0.0828 0.0000 0.0041 0.2689 1.0239 0.1550 1.0134 1.0054 0.0377 0.0102 1.0068 0.3643 22 0.1150 1.0018 0.0468 0.0284 0.6529 1.0045 0.0017 0.2955 1.0454 0.8552 18 0.2051 2.0006 0.0025 0.1116 0.0522 0.0038 0.0395 0.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful