Linguistik: Pragmatik Tuesday, July 24, 2007 Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik?

Makyun Subuki 13 Desember 2006 1. Pendahuluan Dalam jangka yang cukup lama, seperti diungkap oleh Yule (1996: 6), studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya, yaitu dengan menurunkan sistem yang terdapat dalam matematika dan logika, dan mengabaikan unsur pengguna bahasa. Sebagai tataran terbaru dalam linguistik, Pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. Meskipun memiliki fokus kajian yang serupa dengan semantik, yaitu makna, seperti akan saya jelaskan kemudian, makna yang dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantik. Makalah ini bertujuan menjelaskan pentingnya bidang pragmatik untuk dipelajari dalam program studi linguistik. Untuk tujuan tersebut, saya mengawali makalah ini dengan pembahasan mengenai pengertian pragmatik, perkembangannya, menjelaskan secara singkat topik-topik bahasannya, dan, dengan melihat perbedaan kajiannya dengan bidang lain dalam linguistik, menunjukkan pentingnya pragmatik. 2. Definisi Pragmatik Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. Yule (1996: 3), misalnya, menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang, melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian, pertama, dengan menggunakan sudut pandang sosial, menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning); dan kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif, menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). Selanjutnya Thomas (1995: 22), dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik, sosial, dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran, mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction).

Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme, yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik; pragmatisisme, yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik; dan komplementarisme, atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi. 3. Perkembangan Pragmatik Mey (1998), seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5), mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi, yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme; (2) kecenderungan sosial-kritis; (3) tradisi filsafat; dan (4) tradisi etnometodologi. Kecenderungan yang pertama, yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross, menolak pandangan sintaksisme Chomsky, yaitu bahwa dalam kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis, dan bahwa fonologi, morfologi, dan semantik bersifat periferal. Menurut Lakoff dan Ross, keapikan sintaksis (well-formedness) bukanlah segalanya, sebab, seperti sering kita jumpai, komunikasi tetap dapat berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak apik secara sintaksis (ill-formed), bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6). Kecenderungan kedua, yang tumbuh di Eropa, tepatnya di Britania, Jerman, dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)), muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan, bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri. Tradisi yang ketiga, yang dipelopori oleh Bertrand Russell, Ludwig Wittgenstein, dan terutama John L. Austin dan John R. Searle, adalah tradisi filsafat. Para pakar tersebut mengkaji bahasa, termasuk penggunaannya, dalam kaitannya dengan logika. Leech (1983: 2), seperti dikutip Gunarwan (2004: 7), mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa, misalnya Austin, Searle, dan Grice, dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross. Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi, yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. Dalam etnometodologi, bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya, melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Dengan kata lain, kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi, bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6). 4. Beberapa Topik Pembahasan dalam Pragmatik 4.1 Teori Tindak-Tutur

Melalui bukunya, How to Do Things with Words, Austin dapat dianggap sebagai pemicu minat yang paling utama dalam kajian pragmatik. Sebab, seperti diungkap oleh Marmaridou (2000: 1 (dalam Gunarwan 2004: 8)), sejak itu bidang kajian ini telah berkembang jauh, sehingga kita dapat melihat sejumlah kecenderungan dalam pragmatik, yaitu pragmatik filosofis (Austin, Searle, dan Grice), pragmatik neo-Gricean (Cole), pragmatik kognitif (Sperber dan Wilson), dan pragmatik interaktif (Thomas). Austin, seperti dikutip oleh Thomas (1995: 29-30), bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis, seperti Russel dan Moore, yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi dan ketaksaan, dan bahwa pernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris. Contoh. (1) Ada enam kata dalam kalimat ini (2) Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono Dari contoh di atas, dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin ini mengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition), yaitu, sesuai contoh di atas, kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar karena sesuai dengan kenyataan. Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics (Thomas 1995: 30). Austin (dalam Thomas 1995: 31) berpendapat bahwa salah satu cara untuk membuat pembedaan yang baik bukanlah menurut kadar benar atau salahnya, melainkan melalui bagaimana bahasa dipakai sehari-hari. Melalui hipotesis performatifnya, yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech-act), Austin berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements), melainkan juga melakukan sesuatu (perform actions). Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Gunarwan 2004: 8). Contoh. (3) Dengan ini, saya nikahkan kalian (performatif) (4) Rumah Joni terbakar (konstatif) Selanjutnya Austin, seperti juga ditekankan lebih lanjut oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9), memasukkan ujaran konstatif, karena memiliki struktur dalam yang mengandungi makna performatif, sebagai bagian dari performatif (Austin 1962: 52 dan Thomas 1995: 49). Dalam contoh (4), struktur dalam ujaran tersebut dapat saja berbunyi Saya katakan bahwa rumah Joni terbakar. Tindakan yang dihasilkan dengan ujaran ini mengandung tiga tindakan lain yang berhubungan, yaitu lokusi (locutionary act), ilokusi (illocutionary act), dan perlokusi (perlocutionary act) (Yule 1996: 48). Tindak lokusioner berkaitan dengan produksi

2 Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle) Grice mengemukakan bahwa percakapan yang terjadi di dalam anggota masyarakat dilandasi oleh sebuah prinsip dasar. memberi informasi sesuai yang diminta. mengungkapkan secara singkat. 4. Berkaitan dengan prinsip kerja sama Grice di atas. menghindari ketidakjelasan pengungkapan. (3) bidal relasi (relation maxim). seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 14). Dalam direct speeh-act terdapat hubungan langsung antara struktur kalimat dengan fungsinya. dalam komunikasi kadang kita tidak mematuhi prinsip tersebut. dan deklarasi merupakan tindak-tutur yang mengubah status sesuatu. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 12-14). ekspresif (expressive). didasarkan atas beberapa alasan. sedangkan dalam indirect speech-act hubungannya tidak langsung atau menggunakan (bentuk) tindak-tutur lain (Gunarwan 2004: 9. pada kenyataannya. Hal ini. Implikatur konvensional merupakan implikatur yang dihasilkan dari penalaran logika. direktif merupakan tindak-tutur yang menghendaki pendengarnya melakukan sesuatu. ekspresif merupakan tindak-tutur yang menyatakan perasaan pembicaranya. dapat dicontohkan dengan penggunaan kata bahkan. dan deklarasi (declaration) (Littlejohn 2002: 80. menghindari ketaksaan. mengungkapkan secara beraturan (Gunarwan 2004: 11 dan Thomas 1995: 63-64). Contoh. yaitu (1) bidal kuantitas (quantity maxim). seperti dikembangkan lebih jauh oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). seperti diungkap oleh Thomas (1995: 57). Tindak-tutur. yaitu implikatur konvensional dan implikatur konversasional. (2) bidal kualitas (quality maxim). Selain itu. Implikatur konversasional merupakan implikatur yang dihasilkan karena tuntutan konteks tertentu (Thomas 1995: 58). yaitu prinsip kerja sama (cooperative principle) (Yule 1996: 36-37 dan Thomas 1995: 61). Kerja sama yang terjalin dalam komunikasi ini terwujud dalam empat bidal (maxim). direktif (directive). . yaitu asertif (assertive). tindak ilokusioner terutama berkaitan dengan intensi atau maksud pembicara. dan Yule 1996: 53-54). menyebut dua macam implikatur. dan Yule 1996: 54-55). Searle juga menyebut lima jenis fungsi tindak-tutur. memberi sumbangan informasi yang relevan. Asertif atau representatif merupakan tindak-tutur yang menyatakan tentang sesuatu yang dipercayai pembicaranya benar.ujaran yang bermakna.3 Implikatur (Implicature) Grice. misalnya untuk memberikan informasi secara tersirat (implicature) dan menjaga muka lawan bicara (politeness). dan tindak perlokusioner berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan (Thomas 1995: 49). komisif merupakan tindak-tutur yang digunakan pembicaranya untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukannya. menyatakan hanya yang menurut kita benar atau cukup bukti kebenarannya. komisif (comissive). dapat berupa tindak-tutur langsung (direct speech-act) dan tindak-tutur tidak langsung (indirect speech-act). 4. ujaran yang mengandung implikatur jenis ini. dan (4) bidal cara (manner maxim).

Dalam teori relevansi dipelajari bagaimana sebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya. misalnya contoh (6) di atas. Contoh. sedangkan yang kedua tidak. bukan untuk setiap kali meninggalkan ruangan. 4. dan ketiga. Setiap pembaca dapat memahami bahwa pesan ini hanya berlaku jika ia akan meninggalkan ruangan tersebut untuk terakhir kalinya. bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi. dengan menggunakan prinsip kerja sama Grice. pengirim pesan dapat memperkirakan reaksi penerima pesan terhadap pesan yang disampaikannya. untuk menjelaskan cara sebuah pesan dipahami penerimanya. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). komunikasi tidak hanya memasukkan apa yang ada dalam pikiran pengirim pesan ke dalam pikiran penerima pesan. misalnya tindakan untuk membuat sesuatu menjadi jelas dan dapat dimengerti oleh penerima pesan. Misalnya pada contoh (7) di atas. Sperber dan Wilson (1995). misalnya contoh (5) di atas. misalnya untuk ke kamar mandi. menurut Gazdar. kedua. (7) Pastikan semua pintu terkunci jika meninggalkan ruangan ini. yaitu tidak perlu mengunci pintu jika keluar dalam batasan waktu dan situasi yang diperkirakan cukup aman. Dengan kata lain. Menurut mereka. sedangkan contoh (6) merupakan implikatur konversasional yang bermakna µtidak¶ dan merupakan jawaban atas pertanyaan maukah Anda menghadiri selamatan sunatan anak saya? Berbeda dengan Grice. dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini.4 Teori Relevansi Teori relevansi yang dikembangkan oleh Sperber dan Wilson merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). yaitu: pertama. Melalui hal tersebut. menetapkan tiga macam hubungan antara cue dan implicature. ujaran merupakan sebentuk tindakan dari komunikasi ostensif. namun mencakup perluasan wilayah kognitif (cognitive environment) kedua belah pihak. Yang pertama ada karena konteks ujaran. implikatur dapat dibedakan menjadi implikatur khusus dan implikatur umum.(5) Bahkan Bapak Menteri Agama menghadiri sunatan anak saya (6) Saya kebetulan ke Inggris untuk studi selama dua tahun dan berangkat besok Contoh (5) di atas merupakan implikatur konvensional yang berarti Bapak Menteri Agama biasanya tidak menghadiri acara sunatan. tahapan . pesan ini berada dalam spesifikasi tertentu yang disepakati oleh addresser dan addressee dalam konteks komunikasi. menyebutkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (language in use) selalu dapat diidentifikasi melalui hal yang disebutnya indeterminacy atau underspecification. Sperber dan Wilson (1995). explicature atau degree of relevance. Selanjutnya. penerima pesan (addressee) hanya memilih sesuatu yang dianggapnya relevan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan (addresser) dalam konteks komunikasi tertentu.

harga diri (self-esteem). karena semakin tinggi contextual effect maka semakin rendah ia membutuhkan processing effort. dan citra diri di depan umum (public self-image). tingkat gangguan atau rate of imposition (R). Begitu juga A. sedangkan yang kedua disebut negative face. misalnya permintaan "May I borrow your car?" mempunyai bobot yang berbeda dengan permintaan "May I borrow your pen?". yaitu: pertama. kedua.5 Kesantunan (Politeness) Konsep strategi kesantunan yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson diadaptasi dari konsep face yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog bernama Erving Goffman (1956) (Renkema 2004: 24-25). Then that's fifty. dalam pengertian degree of relevance. when do you want to go? B: At the weekend. Dalam percakapan di atas. Brown dan Levinson (1978) membangun teori tentang hubungan intensitas FTA dengan kesantunan yang terrealisasi dalam bahasa (Renkema 2004: 25). face dapat diartikan kehormatan. merupakan ujaran yang relevansinya rendah dan membutuhkan processing effort yang lebih besar. jarak sosial atau social distance (D) antara pembicara dengan lawan bicaranya. 4.yang harus dilewati untuk memahami implikatur dalam percakapan. Dalam percakapan tersebut. you have booked seat which costs 60 euros. yang dikutip oleh Jaszczolt (2002: 318). Menurut Goffman (1956). (8) A: Well. setiap partisipan memiliki dua kebutuhan dalam setiap proses sosial: yaitu kebutuhan untuk diapresiasi dan kebutuhan untuk bebas (tidak terganggu). Dengan kata lain. misalnya bobot kedua permintaan di atas . sedangkan that might be cheaper merupakan ujaran yang relevansinya lebih baik. "face merupakan gambaran citra diri dalam atribut sosial yang telah disepakati". B mengira A mengerti bahwa at the weekend berarti next weekend. Berdasarkan konsep face yang dikemukakan oleh Goffman ini. Kebutuhan yang pertama disebut positive face. padahal A harus memastikan dengan jelas setiap pemesanan pembelian tiket. Intensitas FTA diekspresikan dengan bobot atau weight (W) yang mencakup tiga parameter sosial. Dalam hal ini. A: What weekend? B: Next weekend. ujaran at the weekend. pemahaman penerima pesan terhadap apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan terjadi melalui beberapa tahapan. there is a shuttle service sixty euros one-way. If you buy ticket when you turn up. it costs 50 euros. How does it works? You just turn up for the shuttle service? A: That might be cheaper. ia mengandaikan B dapat mengerti bahwa that migh be cheaper dapat berarti If you purchase a ticket now. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 25). berkenaan dengan bobot mutlak (absolute weight) tindakan tertentu dalam kebudayaan tertentu. Menurut Goffman (1967: 5). Contoh yang ditulis Renkema (2004: 23) di bawah ini memberikan gambaran yang cukup jelas.

seperti diungkapkan oleh Renkema (2004: 26). kekuasaan atau power (P) yang dimiliki lawan bicara (Renkema 2004: 26). maka politeness strategy semakin dibutuhkan. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat banyak cara untuk menghindari FTA yang dapat direduksi menjadi lima macam cara. Maaf. misalnya mahasiswa kepada dosen atau yang muda kepada yang tua. Berkaitan dengan politeness strategy ini. semakin besar intensitas FTA mengancam stabilitas komunikasi. misalnya dengan pujian. dapat dilakukan. Kelima strategi tersebut diurut berdasarkan tingkat resiko "kehilangan muka". yang bertujuan untuk mendapatkan positive face disebut solidarity politeness. sedangkan politeness yang dilakukan untuk tujuan sebaliknya disebut respect politeness. face work technique. misalnya dengan melakukan tindakan yang tidak kooperatif dalam komunikasi (Renkema 2004: 25). Politeness. boleh tanya? b. bidal pujian (approbation maxim). I'm sorry I have to ask. Pragmatik dalam Linguistik . Pak. Oh no. semakin tinggi resiko kehilangan muka. Mas? Dalam contoh di atas terlihat jelas. yaitu bidal kebijaksanaan (tact maxim). ditambah bidal pertimbangan (consideration maxim). bidal kesetujuan (aggreement maxim). (off record) Teori kesantunan lain dibahas oleh Leech (1983). bidal kerendahhatian (modesty maxim). 5. Hey. Dalam hal ini. I'm out of cash! I forgot to go to the bank today. (9) a.tidak terlalu besar jika kedua ungkapan tersebut ditujukan kepada saudara sendiri. friend. Numpang tanya. Dalam hal ini. bidal simpati (sympathy maxim). lend me a hundred dollars. Renkema (2004: 27) memberi contoh strategi tersebut. bidal kedermawanan (generosity maxim). Politeness (kesantunan) dalam hal ini dapat dipahami sebagai upaya pencegahan dan atau perbaikan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh FTA. Hey. Leech (dalam Eelen 2001: 8) menyebutkan enam bidal kesantunan. maka semakin kecil kemungkinan pembicara melakukan FTA. Contoh. Brown dan Levinson (1978). dapat dilakukan. sedangkan ujaran (9b) mungkin diucapkan kepada orang yang secara sosial jaraknya lebih dekat (9a). Pakar ini membahas teori kesantunan dalam kerangka retorika interpersonal (Eelen 2001: 6). seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 19). (baldly) b. could you lend me a hundred bucks? (positive polite) c. dan. dan ketiga. (5) a. but could you lend me a hundred dollars? (negative polite) e. ujaran (9a) mungkin diucapkan pembicara yang secara sosial lebih rendah dari lawan bicaranya.

Seperti telah saya uraikan sedikit dalam sub 3 di atas, salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. Dalam sintaksis, seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4), dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis, bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat, dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal. Secara umum, sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya, sehingga bentuk seperti kucing menyapu halaman, meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris, tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis. Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis, melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. Lebih tepatnya, dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi, bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Atas dasar ini, pertama, dapat dipahami, dan memang sering kita temukan, bahwa komunikasi tetap dapat berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis; dan kedua, demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka, selain tata bahasa, makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik, sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik, terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik, yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa, dalam analisis bahasa. Berdasarkan truth conditional semantics, untuk dapat dinyatakan benar, sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis. Dengan demikian, bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis, karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. Namun demikian, pembahasan makna dalam semantik belum memadai, karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa, sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi, meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai, tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. Dengan kata lain, untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa seharihari, di samping sintaksis dan semantik, dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur, makna apa yang dituturkan, dan maksud dari tuturan. Kegunaan pragmatik, yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik, dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan, misalnya, bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa, bagaimana memahami implikatur percakapan, dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. Selanjutnya, untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik, saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada, pertama, semantik mengkaji makna

(sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis, sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya; dan kedua, semantik terikat pada kaidah (rule-governed), sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). Tentang perbedaan yang pertama, meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda, keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan, sebab daya mencakup juga makna. Dengan kata lain, semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan, sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. Selanjutnya, kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. Kaidah bersifat deskriptif, absolut atau bersifat mutlak, dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya, sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif, dapat bertentangan dengan prinsip lain, dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain. Lebih jauh lagi, dalam pengajaran bahasa, seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22), terdapat keterkaitan, yaitu bahwa pengetahuan pragmatik, dalam arti praktis, patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. Dalam pengajaran bahasa Indonesia, misalnya, pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya, karena selain benar, bahasa yang digunakan harus baik. Dalam pengajaran bahasa asing, pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence), yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu, kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik, dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa. 6. Penutup Seperti telah disebutkan di muka, tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa pragmatik penting dipelajari dalam program studi linguistik. Berdasarkan penjelasan di atas, saya melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik setidaknya dalam dua hal, pertama, pragmatik merupakan satu-satunya tataran dalam linguistik yang mengkaji bahasa dengan memperhitungkan juga penggunanya; kedua, berkaitan dengan ketidakmampuan sintaksis dan semantik dalam menjelaskan fenomena penggunaan bahasa sehari-hari, saya melihat kedudukan semantik dan pragmatik sebagai dua hal yang saling melengkapi. Selain itu, berkaitan dengan pengajaran bahasa, pragmatik berperan dalam pengembangan kompetensi komunikatif. Daftar Acuan Austin, John L. 1962. How to Do Things with Word (edisi kedua). Oxford: Oxfod University Press.

Brown, Penelope., dan Stephen C. Levinson. 1978. Politeness: Some Universal in Language Usage. Cambridge: Cambridge University Press. Eelen, Gino. 2001. A Critique of Politeness Theories. Manchester, UK: St. Jerome Publishing Gunarwan, Asim. 2004. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). IKIP Singaraja. Jaszczolt, K.M. 2002. Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse. Edinburgh: Pearson Education. Renkema, Jan. 2004. Introduction to Discourse Studies. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. Thomas. Jenny. 1995. Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics. London/New York: Longman. Yule, George. 1996. Pragmatics. Oxford. Oxford University Press.

Rabu, 04 Juli 2007
Pragmatik Oleh: sidon. bandung Pengertian Pragmatik Pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang semakin dikenal pada masa sekarang ini, walaupun pada kira-kira dua dasa warsa yang silam, ilmu ini jarang atau hampir tidak pernah disebut oleh para ahli bahasa. Hal ini dilandasi oleh semakin sadarnya para linguis, bahwa upaya untuk menguak hakikat bahasa tidak akan membawa hasil yang diharapkan tanpa didasari pemahaman terhadap pragmatik, yakni bagaimana bahasa itu digunakan dalam komunikasi (Leech, 1993: 1). Leech (1993: 8) juga mengartikan pragmatik sebagai studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situasions). Pragmatik sebagaimana yang telah diperbincangkan di Indonesia dewasa ini, paling tidak dapat diedakan atas dua hal, yaitu (1) pragmatik sebagai sesuatu yang diajarkan, (2) pragmatik sebagai suatu yang mewarnai tindakan mengajar. Bagian pertama masih dibagi lagi atas dua hal, yaitu (a) pragmatik sebagai bidang kajian linguistik, dan (b) pragmatik sebagai salah satu segi di dalam bahasa atau disebut µfungsi komunikatif¶ (Purwo, 1990:2). Pragmatik ialah berkenaan dengan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya bahasa dalam komunikasi (KBBI, 1993: 177). Menurut Levinson (1983: 9), ilmu pragmatik didefinisikan sebagai berikut: (1) ³Pragmatik ialah kajian dari hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa´. Di sini, ³pengertian/pemahaman bahasa´ menghunjuk kepada fakta bahwa untuk mengerti sesuatu ungkapan/ujaran bahasa diperlukan juga pengetahuan di luar makna kata dan hubungan tata bahasanya, yakni hubungannya dengan konteks pemakaiannya. (2) ³Pragmatik ialah kajian tentang kemampuan pemakai bahsa mengaitkan kalimat-kalimat

Menurut Verhaar (1996: 14). Praanggapan (presupposition) adalah apa yang diasumsikan oleh penutur sebagai hal yang benar atau hal yang diketahui pendengar (Cahyono.1) Ada seorang wanita Indonesia. 1990: 19). praanggapan adalah dasar atau penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa (menggunakan bahasa) yang membuat bentuk bahasa (kalimat atau ungkapan) mempunyai makna bagi pendengar/penerima bahasa itu. yakni: 1. 1987: 2) Pragmatik juga diartikan sebagai syarat-syarat yang mengakibatkan serasi-tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi. yakni penggunaannya pada peristiwa komunikasi (Purwo. Tindak ujaran (speech acts) ialah pengucapan suatu kalimat di mana si pembicara tidak sematamata menanyakan atau meminta jawaban tertentu. . Berdasarkan beberapa pendapat di atas. 1995: 219). pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang membahas tentang apa yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komunikasi antara penutur dan pendengar.2) Ada burung. (b) praanggapan (presupposition). 1993: 177). Deiksis adalah kata-kata yang memiliki referen yang berubah-ubah atau berpindah-pindah (Wijana. 1998: 6). Sedangkan memperlakukan bahasa secara pragmatik ialah memperlakukan bahasa dengan mempertimbangkan konteksnya. Purwo (1990: 16) mendefinisikan pragmatik sebagai telaah mengenai makna tuturan (utterance) menggunakan makna yang terikat konteks. dapat disimpulkan tentang batasan pragmatik. Jika kedua praanggapan itu diterima. yaitu tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. maka kalimat (3) mempunyai makna atau dapat dimengerti pendengar/pembaca. mengemukakan bahwa secara pragmatis setidaktidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur. membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa (kalimat. dan (3. dan sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa pada hal-hal ³ekstralingual´ yang dibicarakan. (Nababan. Tindak lokusi. Deiksis dapat juga diartikan sebagai suatu cara untuk mengacu ke hakekat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan (Cahyono. Searle di dalam bukunya Speech Acts: An Essay in The Philosophy of Language (1969: 23-24) dalam Wijana (1996: 17-22). Sebagai contoh: (4) Jari tangan jumlahnya lima. dan sebaliknya. 1990: 17). terdapat praanggapan bahwa: (3. dsb) yang dapat dipakainya untuk mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud. 1990: 31). dan (d) implikatur percakapan (conversational implicature) (Purwo. tetapi ia juga menindakkan sesuatu (Purwo. Nababan memberikan contoh penggunaan presuposisi sebagai berikut: (1) Wanita Indonesia membeli burung. Fenomena Pragmatik Kancah yang dijelajahi pragmatik ada empat: (a) deiksis. Pragmatik adalah suatu telaah umum mengenai bagaimana caranya konteks mempengaruhi peserta tutur dalam menafsirkan kalimat atau menelaah makna dalam kaitannya dengan situasi ujaran. Menurut Nababan (1987: 46). aspek-aspek pemakaian bahasa atau konteks luar bahasa yang memberikan sumbangan kepada makna ujaran (Kridalaksana. (c) tindak ujaran (speech acts). 1995: 217).dengan konteks-konteks yang sesuai bagi kalimat-kalimat itu´.

Dari contoh di atas dapat diketahui bahwa. apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Implikatur percakapan (conversational implicature) merupakan konsep yang cukup penting dalam pragmatik karena empat hal (Levinson. 3. yakni meminta maaf.Kalimat (4) di atas. Pengertian Deiksis Kata deiksis berasal dari bahasa Yunani yang berarti µmenunjuk¶ atau µmenunjukkan¶. Deiksis adalah kata-kata yang memiliki referen berubah-ubah atau berpindah-pindah (Wijana. diutarakan oleh penuturnya semata-mata untuk menginformasikan sesuatu tanpa tendensi untuk melakukan sesuatu.selain mengatakan mengelola masakan ala Jepang. Sebagai contoh: (7) A : Jam berapa sekarang? B : Korannya sudah datang. Tempat ideal untuk bersantai bersama keluarga. proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalam hubungannya dengan dimensi . yaitu sebuah tuturan selain berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu. Deiksis dapat juga diartikan sebagai lokasi dan identifikasi orang. Tampaknya kalimat (7A) dan (7B) tidak berkaitan secara konvensional. dalam penelitian ini. yaitu sebuah tuturan yang diutarakan oleh seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary force). Dalam wacana di atas. Contoh: (5) Saya tidak dapat datang. dapat juga dipergunakan untuk melakukan sesuatu. handai taulan. ditemukan penggunaan tindak perlokusi. bila kalimat itu diutarakan oleh seseorang kepada temannya yang baru saja merayakan ulang tahun. konsep implikatur memungkinkan penjelasan fakta-fakta kebahasaan yang tidak terjangkau oleh teori linguistik. Tindak perlokusi. objek. Dijamin halal. Tindak ilokusi. deiksis diartikan sebagai hal atau fungsi yang menunjuk sesuatu di luar bahasa. Deiksis 1. Keempat. Menurut Bambang Yudi Cahyono (1995: 217). dan Eropa. 1998: 6). konsep implikatur dapat menyederhanakan struktur dan isi deskripsi semantik. dan sebagainya. Pertama. 1983: 97). Ini dapat diketahui karena penutur -pengelola restoran. konsep implikatur dapat menjelaskan beberapa fakta bahasa secara tepat. konsep implikatur memberikan penjelasan tentang makna berbeda dengan yang dikatakan secara lahiriah. tetapi untuk melakukan sesuatu. Namun pembicara kedua sudah mengetahui bahwa jawaban yang disampaikannya sudah cukup untuk menjawab pertanyaan pembicara pertama. Kedua. Sebagai contoh: (6) Kunjungilah restoran Oshin! Tersedia bermacam-macam masakan Jepang. atau efek bagi yang mendengarkannya. 2. dan rekan sekerja Anda. ketakrifan. tidak hanya berfungsi untuk menyatakan sesuatu. Dalam KBBI (1991: 217). Cina dan Eropa juga meyakinkan pendengar/pembaca bahwa masakannya benar-benar halal. Ketiga. kata tunjuk pronomina. Cina. sebab dia sudah mengetahui jam berapa koran biasa diantarkan. Dari keempat bidang kajian pragmatik tersebut pada akhirnya dapat digunakan untuk memahami makna sesuai dengan konteks yang terjadi. deiksis adalah suatu cara untuk mengacu ke hakekat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan. Kajian pragmatik tersebut digunakan untuk memahami makna dan fungsi deiksis pronomina persona. peristiwa.

pada saat dituturkan oleh pembicara atau yang diajak bicara (Lyons. Apabila persona pertama dan kedua akan dijadikan endofora. Istilah persona dipilih oleh ahli bahasa waktu itu disebabkan oleh adanya kemiripan antara peristiwa bahasa dan permainan bahasa (Lyons. yaitu kategori rujukan kepada orang yang bukan pembicara atau pendengar ujaran itu. dan waktu kapan kata-kata itu diucapkan. 1997: 6). 1977: 637 via Djajasudarma. misalnya saya. sedangkan anafora merujuk dalam tuturan baik yang mengacu kata yang berada di belakang maupun yang merujuk kata yang berada di depan (Lyons. (Setiawan. misalnya dia dan mereka. yang artinya topeng (topeng yang dipakai seorang pemain sandiwara). Hal ini berarti bahwa rujukan pertama dan kedua pada situasi pembicaraan (Purwo. 2. 1997: 8). tergantung siapa yang menjadi pembicara. frase atau ungkapan yang akan diberikan. di tempat mana. sekarang adalah kata-kata deiktis. Deiksis orang ditentukan menurut peran peserta dalam peristiwa bahasa. 1993: 43). deiksis wacana dan deiksis sosial (Nababan. maka kalimatnya harus diubah. Rujukan semacam itu oleh Nababan (1987: 40) disebut deiksis (Setiawan. 1987: 40). dapat dinyatakan bahwa deiksis merupakan suatu gejala semantis yang terdapat pada kata atau konstruksi yang acuannya dapat ditafsirkan sesuai dengan situasi pembicaraan dan menunjuk pada sesuatu di luar bahasa seperti kata tunjuk. Berdasarkan beberapa pendapat. dan kami. Referen kata saya. Kata ganti persona pertama dan kedua rujukannya bersifat eksoforis. a. saudara. Menurut Bambang Kaswanti Purwo (1984: 1) sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila rujukannya berpindah-pindah atau berganti-ganti. sini. Kedua ialah orang kedua. yang menjadi pusat orientasi deiksis adalah penutur. Kata-kata ini tidak memiliki referen yang tetap. 1993: 44). sini. untuk mengetahui siapa pembicara dan lawan bicara kita harus mengetahui situasi waktu tuturan itu dituturkan. Fenomena deiksis merupakan cara yang paling jelas untuk menggambarkan hubungan antara bahasa dan konteks dalam struktur bahasa itu sendiri. Jadi. Deiksis Persona Istilah persona berasal dari kata Latin persona sebagai terjemahan dari kata Yunani prosopon. dan sebagainya. yaitu kategori rujukan pembicara kepada dirinya atau kelompok yang melibatkan dirinya. Pengertian deiksis dibedakan dengan pengertian anafora. berarti juga peranan atau watak yang dibawakan oleh pemain sandiwara. Kata seperti saya. Dalam bidang linguistik terdapat pula istilah rujukan atau sering disebut referensi. 1997: 6). yang tidak merupakan unsur di dalam bahasa itu sendiri. Bentuk rujukan seperti itu disebut dengan katafora. 1984: 106). Oleh karenanya. Perujukan dapat pula ditujukan pada bentuk yang akan disebut kemudian. pronomina. yaitu deiksis orang. misalnya kamu.ruang dan waktunya. kita. baik hadir maupun tidak. yaitu dari kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung. Pertama ialah orang pertama. sekarang baru dapat diketahui maknanya jika diketahui pula siapa. Peran peserta itu dapat dibagi menjadi tiga. Jenis Deiksis Deiksis ada lima macam. Perujukan atau penunjukan dapat ditujukan pada bentuk atau konstituen sebelumnya yang disebut anafora. yaitu kata atau frase yang menunjuk kata. deiksis tempat. deiksis waktu. saat dan tempat dituturkannya kata-kata itu. kalian. yaitu kategori rujukan pembicara kepada seorang pendengar atau lebih yang hadir bersama orang pertama. 1977: 638 via Setiawan. 1977: 638 via Djajasudarma. Deiksis dapat diartikan sebagai luar tuturan. Ketiga ialah orang ketiga. . dimana yang menjadi pusat orientasi deiksis senantiasa si pembicara.

-nya maupun bentuk jamak. ia. now. b. Anafora ialah penunjukan kembali kepada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dalam wacana dengan pengulangan atau substitusi. I bought the book 2 years ago. Di sini dijual gas Elpiji. baik yang berupa bentuk kita maupun bentuk kami masih mengandung bentuk persona pertama tunggal dan persona kedua tunggal. Contoh dalam bahasa Inggris: (10) a. Deiksis persona merupakan deiksis asli. 1987: 41). Karena aromanya yang khas. Sebagai contoh. penggunaan deiksis waktu sudah jelas. mangga itu banyak dibeli. (9) a. dapat bersifat endofora dan eksofora. Pada kalimat (8b). Oleh karena bersifat endofora.membedakan antara ³yang dekat kepada pembicara´ (di sini) dan ³yang bukan dekat kepada pembicara´ (termasuk yang dekat kepada pendengar -di situ) (Nababan. maka dapat berwujud anafora dan katafora (Setiawan. dalam kalimat (9a) dan (9b). Paman datang dari desa kemarin dengan membawa hasil palawijanya. Frasa di sini pada kalimat (8a) mengacu ke tempat yang sangat sempit. dsb. yesterday. (11) a. Bentuk-bentuk yang dipakai untuk mengungkapkan deiksis wacana itu adalah kata/frasa ini.Bentuk pronomina persona pertama jamak bersifat eksofora. 1997: 9). Dalam banyak bahasa. Meskipun tanpa keterangan waktu. b. b. umpamanya. Duduklah kamu di sini. I bought a book. dan sebagainya. sedangkan deiksis waktu dan deiksis tempat adalah deiksis jabaran. Berbeda dengan kata ganti persona pertama dan kedua. Sebagai contoh penggunaan deiksis tempat. last year. baik tunggal. yang berikut. Namun apabila diperlukan pembedaan/ketegasan yang lebih terperinci. seperti bentuk sekalian dan kalian. 1987: 42). Dari kedua contoh di atas dapat kita ketahui bahwa -nya pada contoh (11a) mengacu ke paman . I am buying a book. c. deiksis (rujukan) waktu ini diungkapkan dalam bentuk ³kala´ (Inggris: tense) (Nababan. (8) a. I bought the book yesterday. acuannya lebih luas. Semua bahasa -termasuk bahasa Indonesia. Hal ini dikarenakan bentuk tersebut. Deiksis Waktu Deiksis waktu ialah pemberian bentuk pada rentang waktu seperti yang dimaksudkan penutur dalam peristiwa bahasa. b. b. begitulah. Deiksis wacana mencakup anafora dan katafora. yang terdahulu. dapat ditambahkan sesuatu kata/frasa keterangan waktu. Contoh pemakaian deiksis waktu dalam bahasa Inggris. Deiksis Wacana Deiksis wacana ialah rujukan pada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan atau sedang dikembangkan (Nababan. Menurut pendapat Becker dan Oka dalam Purwo (1984: 21) bahwa deiksis persona merupakan dasar orientasi bagi deiksis ruang dan tempat serta waktu. d. yakni suatu toko atau tempat penjualan yang lain. yang pertama disebut. itu. 1987: 41). kata ganti persona ketiga. seperti bentuk dia. Deiksis Tempat Deiksis tempat ialah pemberian bentuk pada lokasi menurut peserta dalam peristiwa bahasa. Katafora ialah penunjukan ke sesuatu yang disebut kemudian. yakni sebuah kursi atau sofa.

1987: 42-43). kamu. dapat juga dipakai untuk menyatakan hubungan pemilikan dan diletakkan di belakang nomina yang . dikau. dan ngoko. kamu (sekalian). -nya a) Pronomina Persona Pertama Dalam Bahasa Indonesia.juga predikat. 1988: 172 via Setiawan. Bahasa Indonesia juga mengenal tiga bentuk persona seperti dalam bahasa Inggris (P&P. aku. -ku kami kita Kedua engkau. Tabel 1: Pronomina Persona Persona Makna Tunggal Jamak Netral Eksklusif Inklusif Pertama saya. Deiksis Sosial Deiksis sosial ialah rujukan yang dinyatakan berdasarkan perbedaan kemasyarakatan yang mempengaruhi peran pembicara dan pendengar. atau siapa/apa yang dibicarakan (Moeliono. yaitu persona pertama. dalam bahasa Jawa. yang menjadi pendengar/pembaca. pronomina persona pertama tunggal adalah saya. Dalam beberapa bahasa. Secara tradisional perbedaan bahasa (atau variasi bahasa) seperti itu disebut ³tingkatan bahasa´. memakai kata nedo dan kata dahar (makan). atau mengacu pada orang yang dibicarakan (persona ketiga) (Moeliono. Pronomina dapat mengacu pada diri sendiri (persona pertama). pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu ke nomina lain. Bentuk Pronomina Persona Jika ditinjau dari segi artinya. madyo dan kromo kalau sistem bahasa itu dibagi tiga. daku. persona kedua dan persona ketiga (Lyons. Bentuk saya. Berikut ini adalah pronomina persona yang disajikan dalam tabel. 1960 via Nababan. -nya mereka. 1997: 9). Dalam bahasa Jawa umpamanya. 1997: 170). dapat dikatakan bahwa pronomina menduduki posisi yang umumnya diduduki oleh nomina. seperti subjek. -mu kalian. 1997: 276 via Setiawan. perbedaan tingkat sosial antara pembicara dengan pendengar yang diwujudkan dalam seleksi kata dan/atau sistem morfologi kata-kata tertentu (Nababan. Pronomina persona adalah pronomina yang dipakai untuk mengacu ke orang. ngoko dan kromo dalam sistem pembagian dua. Aspek berbahasa seperti ini disebut ³kesopanan berbahasa´. mengacu pada orang yang diajak bicara (persona kedua). menunjukkan perbedaan sikap atau kedudukan sosial antara pembicara. 1987: 42). atau ngoko. ³unda-usuk´. Anda (sekalian) Ketiga ia. e. Anda. sedangkan pada contoh (11b) mengacu ke mangga yang disebut kemudian. Perbedaan itu dapat ditunjukkan dalam pemilihan kata. madyo. 1997: 9). Ciri lain yang dimiliki pronomina ialah acuannya dapat berpindah-pindah karena bergantung pada siapa yang menjadi pembicara/penulis. ku-. Jika dilihat dari segi fungsinya. aku. beliau. pendengar dan/atau orang yang dibicarakan/bersangkutan. objek. 1997: 172). Dalam bahasa Inggris dikenal tiga bentuk kata ganti persona. C.yang sudah disebut sebelumnya. dan -dalam macam kalimat tertentu. dia. Bentuk saya. kromo dan kromo inggil kalau sistemnya dibagi empat. kau-. dan daku. biasanya digunakan dalam tulisan atau ujaran yang resmi. atau ´etiket berbahasa´ (Geertz.

pronomina Anda juga digunakan dalam hubungan yang tak pribadi. kita bersifat inklusif. hanya dia. lebih banyak digunakan dalam situasi non formal dan lebih banyak menunjukkan keakraban antara pembicara/penulis dan pendengar/pembaca. pada umumnya digunakan dalam karya sastra. -nya dan beliau yang dapat digunakan untuk menyatakan milik. rumah mereka. atau terletak di sebelah kanan dari yang diterangkan. jika berfungsi sebagai objek. orang yang status sosialnya lebih tinggi. Pronomina persona kedua Anda dimaksudkan untuk menetralkan hubungan. tetapi pembicara tidak ingin bersikap terlalu formal ataupun terlalu akrab. kamu Anda.dan -mu. yakni kami dan kita. Pronomina persona kedua yang memiliki varisi bentuk hanyalah engkau dan kamu. dalam hubungan bersemuka. Sebaliknya. D. Dalam posisi sebagai subjek. makna adalah maksud pembicaran.dimilikinya. yaitu -ku dan ku-. hanya bentuk dia dan -nya yang dapat muncul. Pronomina persona ketiga tunggal beliau digunakan untuk menyatakan rasa hormat. dia. b) Pronomina Persona Kedua Pronomina persona kedua tunggal mempunyai beberapa wujud. misalnya dengan mengulang nomina tersebut atau dengan mengubah sintaksisnya. tetapi tidak mencakupi orang lain dipihak pendengar/pembacanya. Akan tetapi. pronomina itu mencakupi tidak saja pembicara/penulis. yakni engkau. tetapi juga pendengar/pembaca. orang yang mempunyai hubungan akrab. Dari keempat pronomina tersebut. ia dan dia sama-sama dapat dipakai. sehingga Anda tidak diarahkan pada satu orang khusus. Pronomina persona pertama aku. -nya dan beliau. hubungan. Pronomina persona ketiga jamak adalah mereka. kau. misalnya: rumah saya. Pronomina persona aku mempunyai variasi bentuk. pada cerita fiksi atau narasi lain yang menggunakan gaya fiksi. misalnya usul mereka.dan -mu. pronomina itu mencakupi pembicara/penulis dan orang lain dipihaknya. kamu. Selain pronomina persona pertama tunggal. pengaruh satuan bahasa dalam pemahaman persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia. dikau. dapat dipakai oleh orang tua terhadap orang muda yang telah dikenal dengan baik dan lama. Mereka tidak mempunyai variasi bentuk sehingga dalam posisi mana pun hanya bentuk itulah yang dipakai. Makna Deiksis Pronomina Persona Menurut Kridalaksana (2001: 132). atau di depan verba. Pronomina persona kedua juga mempunyai bentuk jamak. dalam arti kesepadanan atau ketidaksepadanan antara bahasa dan alam di luar bahasa. cara menggunakan lambang-lambang bahasa. Benda atau konsep yang jamak dinyatakan dengan cara yang lain. bahasa Indonesia mengenal pronomina persona pertama jamak. Pada umumnya mereka hanya dipakai untuk insan. tanpa memandang umur atau status sosial. dan mungkin pula pihak lain. yaitu bentuk kalian dan bentuk pronomina persona kedua ditambah sekalian: Anda sekalian. paman saya. Selain itu. kamu sekalian. Bentuk terikat itu masing-masing adalah kau. c) Pronomina Persona Ketiga Pronomina persona ketiga tunggal terdiri atas ia. Pronomina persona kedua engkau. Akan tetapi. artinya. . atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjuknya. dan -mu. Sedangkan untuk pronomina persona pertama daku. Kami bersifat eksklusif. artinya. yakni dipakai oleh orang yang lebih muda atau berstatus sosial lebih rendah daripada orang yang dibicarakan. kata mereka kadangkadang juga dipakai untuk mengacu pada binatang atau benda yang dianggap bernyawa.

makna piktorial. Di dalam penggunaannya dalam pertuturan yang nyata makna kata atau leksem itu seringkali. makna emotif. 1994: 288). yaitu (1) makna konseptual. makna referensial. dan makna pribahasa. makna non-referensial. Titik (a) dan (b) sama-sama berada di dalam-bahasa.Ferdinand de Saussure membagi setiap tanda linguistik menjadi dua. Bila dilihat dari segi atau pandangan yang berbeda. Jadi. dan mungkin juga biasanya. makna konotatif. makna asosiatif. Sedangkan Leech (1976) membedakan adanya tujuh tipe makna. makna inti. Ada teori yang menyatakan bahwa makna itu tidak lain daripada sesuatu atau referen yang diacu oleh kata atau leksem itu. (b) konsep/makna (a) kata/leksem (c) sesuatu yang dirujuk (referen) Hubungan antara (a) dan (c) bersifat tidak langsung. sedangkan yang mengartikan (signifiant) adalah bunyi-bunyi yang terentuk dari fonemfonem bahasa yang bersangkutan. Inggris: signified) dan (2) yang mengartikan (Perancis: signifiant. dan (7) makna tematik (Chaer. makna konotatif. makna proposisi. (4) makna afektif. dengan kata lain setiap tanda-linguistik terdiri dari unsur bunyi dan unsur makna. 1995: 59). makna konotatif/emotif. makna gramatikal. makna intensi. Kedua unsur ini adalah unsur dalam-bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk atau mengacu kepada sesuatu referen yang merupakan unsur luar-bahasa (ekstralingual) (Chaer. makna bahasa dapat terdiri dari bermacammacam jenisnya. makna gramatikal. Oleh karena itu. banyak pakar yang mengatakan bahwa kita baru dapat menentukan makna sebuah kata apabila kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya. Hanya perlu dipahami bahwa tidak semua kata atau leksem itu mempunyai acuan konkret di dunia nyata. makna konseptual. Inggris: signifier). makna ekatensi. makna luas. makna idesional. (6) makna kolokatif. makna sempit. makna kognitif. . Chaer (1994) membagi jenis makna menjadi tigabelas. Sedangkan hubungan (a) dan (b) serta hubungan (b) dan (c) bersifat langsung. dapat dibagankan sebagai berikut. makna stilistika. makna kognitif. makna referensial. 1995: 29). yaitu: makna sempit. (3) makna stilistika. makna leksikal. makna konseptual. Menurut Djajasudarma (1993: 6). makna gereflekter. makna denotatif. makna kiasan. makna idiom. makna kontekstual. makna leksikal. yaitu: (1) yang diartikan (Perancis: signifie. makna kolokasi. (2) makna konotatif. makna referensial. makna kata. makna istilah. makna piktorial. makna konstruksi. makna denotatif. yaitu makna leksikal. makna deskriptif. makna majas (kiasan). makna proposisional. yaitu makna afektif. makna terdiri atas beberapa jenis. (5) makna reflektif. dan makna tematis. makna gramatikal. dan makna kalimat baru dapat ditentukan apabila kalimat itu berada di dalam konteks wacananya atau konteks situasinya (Chaer. makna luas. terlepas dari pengertian atau konsep dasarnya dan juga acuannya. makna idesional. makna pusat. sebab (a) adalah masalah dalam-bahasa dan (c) masalah luar-bahasa yang hubungannya biasanya bersifat arbitrer. hubungan (b) dan (c) bahwa (c) adalah acuan dari (b) tersebut. Yang diartikan (signifie) sebenarnya adalah konsep atau makna dari sesuatu tanda bunyi. makna konstruksi. Pateda (1986) melalui Chaer (1995: 59) mengemukakan adanya jenis-jenis makna. Hubungan antara tanda linguistik (bersama unsur bunyi dan makna) dengan unsur referennya.

1994: 291). (12) ´Apakah saudara tidak mau mengakuinya?´ kata Pak Polisi. 1994: 292). melainkan dapat berpindah dari maujud yang satu kepada maujud yang lain (Chaer. (13) Saudara saya yang dari Bandung akan datang hari ini. (Konteks: diberitahukan bahwa pimpinan sekolah sedang mengadakan rapat dengan para guru sekolah tersebut). 1993: 9). kata-kata yang bermakna luas digunakan untuk mengungkapkan gagasan atau ide yang umum. Berkenaan dengan acuan ini ada sejumlah kata yang disebut kata-kata deiktik yang acuannya tidak menetap pada satu maujud. sedangkan pada kalimat (13) saudara bermakna sempit µkerabat¶. penciuman. sekarang. 1993: 8). Sebagai contoh.´ kata Dian kepada Dani. Sebagai contoh. Makna konotatif adalah makna yang muncul dari makna kognitif (lewat makna kognitif). (16) Dian adalah salah satu mahasiswa jurusan bahasa Indonesia. Berbeda dengan kata-kata yang bermakna sempit. makna referensial adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan atau referen (acuan). Menurut Djajasudarma (1993: 11). perasaan.´ kata salah seorang staf karyawan. (14) ³Bapak sedang sakit. ke dalam makna kognitif tersebut ditambahkan komponen makna lain (Djajasudarma. makna asal. (17) A: ³Kemarin saya bertemu dengan Ibu Ani. yang mengacu pada seseorang yang mempunyai nama Dian. dari makna sempit ke makna meluas. atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem (Chaer. ³Saya juga bertemu beliau kemarin. sedangkan pada kalimat (15) kata Bapak bermakna luas µpanggilan untuk laki-laki dewasa¶. (Konteks: seorang pencuri yang sedang diinterogasi oleh polisi atas tuduhan pencurian). Kata saudara pada kalimat (12) dengan (13) mengalami perubahan makna. pendengaran. Makna luas (widened meaning atau extended meaning) adalah makna yang terkandung pada sebuah kata lebih luas dari yang diperkirakan (Djajasudarma. Pada kalimat (14) kata Bapak bermakna sempit µorang tua kandung¶. Sebagai contoh. dan akan datang ke rumah penutur). B: ³Benarkah?´ sahut Dani. Makna konotatif muncul sebagai akibat asosiasi perasaan kita terhadap apa yang diucapkan atau apa yang didengar. Makna denotatif adalah makna asli. 1993: 7).Makna sempit (narrowed meaning) adalah makna yang lebih sempit dari keseluruhan ujaran (Djajasudarma. Makna kognitif disebut juga makna deskriptif atau denotatif adalah makna yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan (Djajasudarma.´ . Makna referensial adalah makna sebuah kata atau leksem yang mempunyai referen atau acuannya. Pada kalimat (16) di atas. kata saudara bermakna µpanggilan pada seseorang¶. yaitu maknanya akan menyempit (memiliki makna sempit). Makna denotatif juga dapat diartikan sebagai makna yang sesuai dengan hasil observasi menurut penglihatan. (Konteks: penutur memiliki saudara sepupu yang tinggal di Bandung. 1993: 9). Pada kalimat (12). atau pengalaman lainnya (Chaer. (Konteks: seorang Ibu yang memberitahuan keadaan suaminya kepada anaknya). Penggunaan kata Bapak pada kalimat (14) dengan (15) mengalami perubahan makna.´ kata Ibu. (15) ³Bapak Kepala Sekolah sedang mengadakan rapat dengan para guru. makna denotatif nampak pada penggunaan kata Dian. Perhatikan contoh. 1995: 66).

dalam hal ini adalah rumah. Perasaan muncul segera setelah mendengar atau membaca suatu ekspresi yang menjijikan. Yang menjadi tikus di gudang kami ternyata berkepala hitam. misalnya. Sebagai contoh. Makna piktorial adalah makna suatu kata yang berhubungan dengan perasaan pendengar atau pembaca. Namun. yang pebuatannya memang mirip dengan perbuatan tikus. 1993: 16). pada kalimat (17A) kata saya mengacu pada Dian. Dari kedua contoh di atas. dan bola bermakna µsasaran¶. atau bersifat kata. 1993: 15). sebangsa bintang pengerat yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit tifus. Perhatikan contoh berikut. (18) Rumahnya jauh dari sini. atau perasaan benci. makna milik yang diungkapkan dengan urutan kata di dalam bahasa Indonesia. Kalimat (22a) mengungkapkan perasaan benci penutur terhadap seseorang. Kalimat (20a) menunjukkan kata adik bermakna µpelaku¶. menendang bermakna µaktif¶. dan karena. Berbeda dengan makna referensial. atau. Makna leksikal dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon. Di samping itu.Dari contoh di atas. Makna pusat adalah makna yang dimiliki setiap kata yang menjadi inti ujaran. menulis bermakna µaktif¶. (21) Ali adalah seorang laki-laki. kalimat. makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indera. Tikus itu mati diterkam kucing. wacana) memiliki makna yang menjadi pusat (inti) pembicaraan (Djajasudarma. dapat kita lihat bahwa pada kalimat (22a) dan (22b) memunculkan makna piktorial. Dari contoh di atas. Makna gramatikal adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatika seperti proses afiksasi. makna non-referensial merupakan makna sebuah kata yang tidak mempunyai acuan atau referen. Pada kalimat (22b) dapat dilihat adanya makna piktorial . enklitik -nya digunakan untuk menyatakan milik atau kepunyaan. Setiap ujaran (klausa. makna milik dapat diungkapkan melalui enklitik sebagai akhiran yang menunjukkan kepunyaan (Djajasudarma. Pada contoh kalimat (21) di atas. (22) a. Adik menendang bola. Kenapa kau sebut nama dia. Sebagai contoh. Kalimat (20b) menunjukkan kata adik bermakna µpelaku¶. 1993: 12). jelas bahwa. Adik menulis surat. Perasaan dapat pula berupa perasaan gembira di samping perasaan yang disebutkan di atas (Djajasudarma. (20) a. Perhatikan contoh berikut. (19) a. sedangkan pada kalimat (17B) kata saya mengacu pada Dani. Atau juga dikatakan makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya. 1994: 289). bersifat leksem. atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita (Chaer 1995: 60). 1995: 62). Pada kalimat (18) di atas. dalam kalimat (19b) kata tikus bukanlah dalam makna leksikal karena tidak merujuk kepada binatang tikus melainkan kepada seorang manusia. Makna konstruksi (construction meaning) adalah makna yang terdapat di dalam konstruksi. Misalnya kata-kata seperti dan. dan surat bermakna µhasil¶. dapat kita ketahui bahwa kedua kalimat tersebut dapat melahirkan makna gramatikal. b. b. yang menjadi pusat (inti) pembicaraan adalah Ali sedangkan untuk adalah seorang laki-laki merupakan bagian untuk menerangkan kata Ali. yang diucapkan oleh lawan tuturnya. Sebagai contoh. b. proses reduplikasi. Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apa pun (Chaer. dan proses komposisi (Chaer. Ia tinggal di gang yang becek itu. Kata tikus pada kalimat (19a) merupakan makna leksikal karena jelas merujuk kepada binatang tikus.

Sebagai subjek (S) jamak. Hal itu dikarenakan bahwa dari beberapa makna yang dikemukakan olehnya. Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu. Namun. ada makna yang sesuai dengan sampel data yang ditemukan. 1994: 290). Nomor teleponnya ada pada kepala surat itu. Sebagai contoh. dan peran gramatikal. Pada kedua makna ini. E. dkk. Dari beberapa teori di atas. (24) Saudara berhak membunuh saya. baik transitif maupun intransitif. Selain itu. diketengahkan adanya istilah semantik sintaktikal. peneliti juga menggunakan teori lain tentang makna. Hal ini dapat dilihat pada bagan berikut. maka peneliti memberikan istilah sendiri untuk sampel data tersebut sebagai jenis makna. b. penggunaan kata kepala mempunyai makna konteks yang berbeda. Kategori (c). (23) a. Peran . Dari ketiga kalimat di atas. Untuk ketiga contoh di atas.dengan perasaan jijik. Untuk itu. Sedangkan sebagai subjek (S) tunggal. Sebagai contoh. kategori gramatikal. yang menyebutkan tentang makna kebersamaan. Fungsi (b). SPOK (a). yaitu teori dari Alieva. pokok kalimatnya dapat menyatakan subjek (S) jamak maupun subjek (S) tunggal. makna terdiri dari makna timbal balik dan makna kebersamaan. ada sebagian sampel data yang tidak sesuai dengan kedua teori tersebut. Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks (Chaer. Rambut di kepala nenek belum ada yang putih. dapat dilihat bahwa pokok kalimatnya menyatakan subjek (S) jamak. (26) Apalagi mereka berdua tak asing-mengasing lagi. tidak seluruh jenis makna yang dikemukakannya sesuai dengan sampel data yang ada. yang mana apabila sasaran penyelidikannya tertumpu pada hal-hal yang berkaitan dengan sintaksis. kata kepala bermakna µbagian anggota tubuh¶. sebagai sebutan kalimat. (25) Saya dan Dar berpandang-pandangan. kita bermusuhan. dkk dalam bukunya yang berjudul ³Bahasa Indonesia. pokok kalimatnya merupakan salah satu dari subjek (S) jamak yang lebih penting bagi kalimat ini. pokok kalimatnya dapat terdiri dari sekelompok orang atau benda yang ikut serta dalam tindakan. dapat kita lihat penggunaan kata kepala pada kalimatkalimat berikut. Pada kalimat (23a). Fungsi Deiksis Pronomina Persona Dalam tataran tata bahasa atau gramatika. Ini dilakukan mengingat bahwa dalam sintaksis itu ada pula tataran bawahan yang disebut fungsi gramatikal. c. Makna timbal balik dan makna kebersamaan dibentuk dengan memakai verba. Menurut Alieva. teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori yang dikemukakan oleh Djajsudarma. dan pada kalimat (23c). kalimat (23b). sesudah perempuan itu masuk ke dalam. kata kepala bermakna µpimpinan¶. Deskripsi dan Teori´. kata kepala bermakna µbagian atas surat¶.

1995: 22). Chafe tidak menggunakan istilah kasus untuk menyatakan relasi semantik anatara KK dengan KB dalam suatu struktur semantik. KK menentukan hadirnya KB dalam struktur semantik itu. pengalami (experiencer). alat (means). dan keterangan (K) yang sebenarnya tidak mempunyai maksud. Kategori-kategori ini yang sesungguhnya sudah memiliki makna leksikal. Sebagai contoh. Menurut Chafe struktur semantik terdiri dari dua unit semantik pokok. benefactive. locative. objek. Kini sebagai pengisi kotak-kotak itu memiliki peran gramatikal seperti peran agentif. Kasus Agentif (A) Kasus agentif merupakan kasus yang secara khusus ditujukan bagi makhluk hidup (yang bernyawa) yang merasakan hasutan tindakan yang diperkenalkan oleh verba. mengemukakan adanya sembilan fungsi semantik atau kasus. tujuan (object). instrumental. pasien. Chafe tetap menggunakan istilah KB yang menurut fungsi semantiknya bisa berlaku sebagai agent. Henry Guntur Tarigan dalam bukunya yang berjudul ³Pengajaran Tatabahasa Kasus´ (1989: 68). 1995: 9) Charles J. Artinya.Fungsi gramatikal berupa ³kotak-kotak kosong´ yang diberi nama subjek (S). Pada contoh (27) di atas. kasus yang mengacu pada agent atau pelaku suatu tindakan. seperti dalam kalimat Ibu membeli gula. dan sebuah KB yang berfungsi semantik patient yaitu sepatu (Chaer. Yang memiliki makna adalah pengisi kotak-kotak yang disebut kategori gramatikal seperti nomina. 1995: 21). nomina atau frase nomina . (27) Tom memangkas mawar. KK keadaan hanya menghadirkan satu Kb seperti dalam kalimat Ibu termenung. 1995: 21-22). Fillmore membatasi jumlah kasus menjadi pelaku (agent). Dalam struktur semantik ini KK merupakan pusat. Fillmore. b. kala. predikat (P). keadaan/tempat/waktu yang akan datang (goal). verba. sebagai KB yang berfungsi semantik benefaktif yaitu adik. keadaan/tempat/waktu yang sudah (source). aspek. dll. dan adverbia. dan maujud yang dihubungkan dengan predikat (referential) (Chaer. atau adjektiva. sedangkan KK aksi bitransitif menghadirkan tiga KB seperti kalimat Ibu membelikan adik sepatu (Chaer. nomina atau frase nomina yang mengacu pada orang atau binatang yang melakukan atau memprakarsai tindakan verba. Chafe menyatakan bahwa dalam analisis bahasa komponen semantiklah yang merupakan pusat. Yang dimaksud dengan kasus (case) dalam teori ini adalah hubungan antara verba dengan nomina dalam struktur semantis. maka verba di sini sama dengan predikat dan nomina sama dengan argumen. Jadi KK membelikan dari contoh di atas menghadirkan sebuah KB yang berfungsi sebagai semantik agent yaitu Ibu. KK aksi monotransitif menghadirkan dua KB. lokatif. yang dikenal sebagai tokoh tata bahasa kasus. bentuk Tom dalam kalimat tersebut berfungsi debagai agent atau pelaku tindakan yaitu tindakan memangkas mawar. objek (O). dan sebagainya (Chaer. yaitu: a. Kasus Benefaktif (B) Kasus benefaktif adalah kasus yang ditujukan bagi makhluk hidup (yang bernama) yang memperoleh keuntungan oleh tindakan yang diperikan oleh verba. patient. dalam karangannya ³Case for Case´ (1968) membagi kalimat atas modalitas dan proposisi. benefaktif. yaitu (1) kata kerja/KK dan (2) kata benda /KB. Modalitas berkenaan dengan negasi. experince. Dalam versi 1971. compliment. sebab semuanya hanya berupa kotak atau tempat yang kosong. Sedangkan proposisi berwujud sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus. Apabila dibandingkan dengan teori generatif semantik. Berapa banyak KB yang hadir dalam suatu struktur semantik tergantung pada jenis/tipe KK dalam struktur itu. Hanya argumen di sini diberi nama kasus. Wallace L.

Sebagai contoh. (30) Saya setia kepada istri saya. Kasus Objektif (O) Kasus objektif merupakan kasus yang secara semantis paling netral. Contoh. e. Kasus Komitatif Kasus komitatif adalah kasus yang ditujukan bagi frasa nomina yang menanggung suatu hubungan konjungtif dengan frasa nomina lain dalam kalimat. Kasus Instrumental (I) Kasus instrumental adalah kasus yang berkekuatan tidak hidup/tak bernyawa atau objek yang secara kausal terlibat di dalam tindakan atau keadaan yang diperkenalkan oleh verba. nomina atau frasa nomina yang mengacu pada orang atau binatang yang dipengaruhi oleh keadaan atau tindakan verba di dalam kasus datif. (28) Joan membakar kue buat Louise. g. Kasus Datif (D) Kasus datif adalah kasus mengenai makhluk hidup (yang bernyawa) yang dipengaruhi oleh keadaan atau tindakan yang diperkenalkan oleh verba. John menggerakkan rakit itu. kasus dari segala sesuatu yang dapat digambarkan atau diwakili oleh sesuatu nomina yang peranannya di dalam tindakan atau keadaan diperkenalkan oleh verba diperkenalkan oleh interpretasi semantik verba itu sendiri. bagi. atau dianggap atau diartikan sebagai suatu bagian dari makna verba. Pada contoh (28) di atas. Preposisi yang berhubungan dengan kasus ini adalah dengan. (33) Mereka mengiris sosis itu dengan pisau. John merupakan subjek ergatif -agent atau penyebab tindakan/perbuatanh. (32) Tony membangun bangsal. Penanda kasus datif dalam bahasa Indonesia adalah kepada. (34) Rakit itu bergerak. Contoh. Kasus Faktitif (F) Kasus faktitif merupakan kasus objek atau yang merupakan akibat dari tindakan atau keadaan yang diperkenalkan oleh verba. buat. Sebagai contoh. karena dalam konstruksi kalimat tersebut. Kasus benefaktif dihubungkan dengan preposisi untuk. Kasus Ergatif (E) Kasus ergatif adalah kasus yang bersifat kausatif. yang berfungsi benefaktif adalah bentuk Louise. demi. Contoh. Kasus ini memiliki ciri menggunakan preposisi dengan. Contoh. Kasus Lokatif (L) . dan. (35) Mary membuka laci itu dengan kunci. (29) Rony berdagang mobil dengan Budi. f. terhadap.yang mengacu pada orang atau binatang yang memperoleh keuntungan atau dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan dari tindakan verba. c. bentuk Louise yang mendapatkan atau memeperoleh keuntungan dari tindakan verba. bersama. i. nomina atau frasa nomina yang mengacu pada sesuatu yang dibuat atau diciptakan oleh tindakan/aksi verba berada dalam kasus faktitif. Kasus ini kadang-kadang disebut juga experiencer case atau kasus pengalam. d. Sebagai contoh. (31) Kami berbakti terhadap negara. yang mengacu pada hubungan sintaktik yang terjalin antara suatu kalimat.

dari. deskripsi dan teori´ fungsi deiksis meliputi: a. Sebagai penunjuk kepunyaan Bentuk deiksis pronomina persona apabila disambungkan dengan nomina. tidak dapat dipakai dengan peposisi di dan ke yang sama sekali tidak berangkaian dengan pronomina personal. oleh. Menurut Alieva. b. Untuk menyatakan subjek tindakan/pelaku Pronomina persona dapat digunakan untuk menyatakan subjek tindakan/pelaku dengan verba intransitif dan dengan kata akar yang dipakai untuk mengantarkan tuturan langsung. S. J. Untuk contoh kalimat (39). Bentuk tersebut digunakan dalam konstruksi tuturan langsung dengan kata pengantar penutur berada di depan tuturan langsung. rumah saya. yaitu: a. bentuk deiksis itu langsung disambungkan pada verba tersebut. Bentuk deiksis pronomina persona dapat digunakan untuk menyatakan subjek pelaku apabila ditempelkan pada verba pasif berawalan -di. Sebagai contoh. (41) Sudah lama dia tidak melewatiku. karena takut diketahui olehnya. Sebagai contoh. ke. (38) Ibu merahasiakan semua itu. kataku. (37) Kakak memberikan buku itu kepadaku. Dalam bahasa kesusastraan. Bentuk pronomina. bentuk-bentuk deiksis dapat digunakan sebagai perangkai preposisi. e. (36) Irine menaruh majalah itu di (atas) meja. terlihat bahwa bentuk deiksis dapat dirangkai dengan bentuk preposisi.Kasus lokatif adalah kasus yang memperkenalkan lokasi. c. Sebagai perangkai preposisi. dkk. Badudu dalam bukunya ³Pelik-pelik Bahasa Indonesia´ (1993: 110-111) menyebutkan beberapa fungsi deiksis pronomina persona. yang menyatakan kepunyaan bukalah wujud deiksis seperti -ku. dll tersebut. Artinya bahwa. bentuk deiksis pronomina persona digunakan pada verba transitif berawalan me-. Dalam pemakaiannya. Contoh. dapat menunjukkan hubungan kepunyaan (menyebutkan pemilik). melainkan hubungan antara kedua unsur tersebut: rumah + -ku = rumah kepunyaanku. Untuk menyatakan objek tindakan/pelaku Untuk menyatakan objek pelaku. fungsi ini terbatas hanya pada kasus-kasus di mana dapat timbul salah tafsir bila dua nomina berdampingan. bentuk deiksis dapat menyatakan subjek pelaku. rumah mereka. timbul sebagai akibat pengaruh bahasa Jawa. (39) Perginya terlambat: ³Engkau salah´. seperti bentuk preposisi kepada. Sebagai penunjuk postpositif Artinya bahwa bentuk deiksis di sini untuk menyatakan hubungan milik antara dua nomina. rumah + -mu = rumah kepunyaanmu. Sebagai contoh. -nya. Misalnya: bentuk rumahku. tempat atau letak ataupun orientasi ruang/keadaan atau tindakan yang diperkenalkan oleh verba. dalam bukunya yang berjudul ³Bahasa Indonesia. seperti halnya bentuk enklitis. Pada contoh kalimat (37) dan (38). yang tidak terdapat dalam bahasa Melayu klasik. Penanda kasus lokatif ini adalah di. rumah + -nya =rumah kepunyaannya. -mu. Bandingkan dengan . Fungsi yang demikian. d. (40) Saya sudah dilihatnya. Sebagai contoh: kawannya Salim. dll. Sebagai contoh. Sebagai penunjuk kepunyaan Dalam hal ini.

remaja. dibedakan atas majalah berita. (47) Barang-barang itu sengaja kubeli untukmu. halamanku. Bo?. yaitu setiap hari Kamis. dongeng. Namun. Untuk sampel data yang tidak sesuai dengan teori-teori tersebut. dan menurut kala penerbitannya dibedakan atas majalah bulanan. Sebagai objek penyerta dalam bentuk enklitik Contoh: (46) Disampaikannya berita itu kepadaku kemarin. sastra. Teori yang dimaksudkan di sini merupakan teori yang dikemukakan oleh Alieva. peneliti memberikan istilah sendiri untuk menyebut fungsi deiksis sesuai dengan ciri-ciri sampel data. (43) Kuakui itu adalah salahku sendiri. Dalam penelitian ini. hanya lima fungsi yang dianggap sesuai dengan sampel data yang ada. majalah Bobo juga memuat tentang profil. Majalah Bobo memuat berbagai macam cerita anak-anak dari yang berbentuk cerita pendek. e. arena kecil. F. Sebagai objek penderita dalam bentuk enklitik Contoh: (44) Aku memandangnya sebagai kakakku. 1991: 615). Sebagai pembentuk kata keterangan Contoh: (49) Agaknya akan turun hujan hari ini. teori fungsi yang digunakan merupakan teori yang dikemukakan oleh Tarigan. uji imajinasi. Hubungan ini disebut hubungan posesif (hubungan kepunyaan). Sebagai penunjuk Contoh: (50) Penyakit itu sukar dicari obatnya. Untuk itu. melainkan lahir karena adanya hubungan kedua kata itu. Selain itu. dan sebagainya (KBBI. cerita bergambar. (45) Siapa yang akan menyertaimu naik haji nanti? d. dari teman (Apa Kabar. g. Majalah Bobo merupakan salah satu majalah anak-anak yang terbit satu kali dalam setiap minggunya. peneliti menggunakan teori lain yang dapat melengkapi dan yang sesuai dengan sampel data yang tersisa. pandangan tentang topik aktual yang patut diketahui konsumen pembaca. mana kuenya? f. dari beberapa fungsi yang dikemukakan oleh Tarigan. Sebagai kata sandang penentu Contoh: (48) Masa hanya kopi saja. dan sebagainya dan menurut pengkhususan isinya. Bersama-sama dengan awalan se.menyatakan superlatif Contoh: (51) Sepandai-pandainya tupai melompat. ensiklobobo. Cerita Pendek . tak disangka). dkk. liputan. (-nya = penyakit seperti itu) h. yaitu fungsi penunjuk kepunyaan dan fungsi perangkai preposisi.rumah paman. G. tengah bulanan. sekali gagal juga. mingguan. rumah Amir. Majalah Bobo Majalah adalah terbitan berkala yang isinya meliputi berbagai liputan jurnalistik. c. Hal itu dikarenakan bahwa dari sampel data yang ditemukan dalam penelitian ini menunjukkan adanya kesesuaian antara sampel data dengan teori tersebut. olahraga. ilmu pengetahuan tertentu. Sebagai alat pembentuk kata benda Contoh: (42) Salahmu masih dapat dimaafkan. b. wanita. ilmu pengetahuan. Makna ³pemilikan´ bukan terdapat pada kata paman dan Amir di belakang kata rumah.

Seperti halnya makna deiksis. Sumber data dalam penelitian ini berupa subjek. Penggunaan deiksis pronomina persona dirasa tepat. makna kebersamaan/jamak. Sebuah cerpen biasanya memiliki plot yang diarahkan pada insiden atau peristiwa tunggal. fungsi perangkai preposisi. concentration µpemusatan¶. dan fungsi sapaan. khususnya karya sastra anak. 2000: 9). Bahasa-bahasanya sederhana. fungsi komitatif. Metode agih adalah metode analisis data yang alat penentunya justru bagian dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri (Sudaryanto. 1986: 132). orang maupun tempat. Dalam arti umum. Sifat umum cerpen ialah pemusatan perhatian pada satu tokoh saja yang ditempatkan pada suatu situasi sehari-hari. makna luas. keputusan yang menentukan). makna dan fungsi deiksis pronomina persona. dan makna sempit. Dialog. Salah satu metode yang digunakan adalah metode agih. yaitu kumpulan cerita pendek di majalah Bobo . Dengan menggunakan metode agih. fungsi benefaktif. tetapi yang ternyata menentukan (perubahan dalam perspektif. yaitu perbentukan antara kekuatan yang berlawanan (Sudjiman. flash back. 1984: 15). makna deiksis pronomina persona dan fungsi deiksis pronomina persona dalam suatu karya sastra. baik benda. Adapun makna deiksis yang terdapat dalam kumpulan cerita pendek di majalah Bobo edisi Januari-Desember 2005 meliputi makna ambiguitas. jika dalam penggunaannya disesuaikan dengan konteks kalimat dan makna yang dimilikinya. dan sebagainya. kesadaran baru. yang semuanya berkaitan dengan panjang cerita dan kualitas struktural yang diisyaratkan oleh panjang cerita itu. cerpen menunjukkan kualitas yang bersifat compression µpemadatan¶. 1991: 187). teori tentang fungsi deiksis yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan teori dari beberapa ahli. ditentukan dengan metode yang digunakan dalam penelitian. Ada yang mengatakan bahwa cerpen merupakan karya prosa fiksi yang dapat selesai dibaca dalam sekali duduk dan ceritanya cukup dapat membangkitkan efek tertentu dalam diri pembaca (Sayuti. fungsi pelaku/agent. Dalam arti kata khusus. Untuk mengetahui bentuk deiksis pronomina persona. Deiksis pronomina persona merupakan salah satu bentuk kata tunjuk yang digunakan untuk menunjuk orang atau insani. teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori campuran dari beberapa pandapat para ahli. sering dipergunakan (pengaruh dari film). Cerita pendek yang efektif terdiri dari tokoh atau sekelompok tokoh yang ditampilkan pada satu latar atau latar belakang dan lewat lakuan lahir atau batin terlibat dalam satu situasi. H. Tamatnya sering kali tiba-tiba dan bersifat terbuka (open ending). Inti cerita pendek adalah tikaian dramatik. impian. tetapi sugestif (Hartoko dan B.Cerita pendek adalah kisahan pendek (kurang dari 10. dan intensity µpendalaman¶. Rahmanto. fungsi objektif. Kerangka Pikir Kata tunjuk adalah kata yang digunakan untuk menunjuk sesuatu. Dari beberapa teori yang mengemukakan tentang makna deiksis. diharapkan peneliti lebih mudah dalam mengkategorisasikan dan mendeskripsikan tentang bentuk. 1993: 15). Sebuah cerpen biasanya didasarkan pada insiden tunggal yang memiliki signifikansi besar bagi tokohnya. cerita pendek adalah setiap cerita yang pendek. fungsi pengalam. merupakan suatu jenis sastra naratif yang muncul pada bagian pertama abad ke-19 di Amerika Serikat.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi (pada suatu ketika) (KBBI. makna tunggal. Fungsi deiksis pronomina persona yang ditemukan dalam kumpulan cerita pendek di majalah Bobo edisi Januari-Desember 2005 meliputi fungsi penunjuk kepunyaan. Ringkasnya.

Kasus-kasus seperti ini masuk dalam bahasan lingusitik yang dikenal dengan Pragmatik. pronomina persona kedua baik tunggal maupun jamak. Untuk yang ketiga kita akan mendapat pengatahuan tentang maksud pembicara. dimana dapat diterima dengan baik di bawah bahasan dari arti penggunaan atau art dalam kenteks. Makna dalam penelitian ini merupakan makna deiksis pronomina persona yang digunakan dalam suatu tuturan. definisi umum dari pragmatic adalah arti dalam penggunaan dan arti dalam konteks. tingkat dari arti secara abstrak. pada saat pragmatic sering dibuat sebagai bahan diskusi dalam linguistic. Dari Abstrak ke Arah Arti Kontekstual Arti abstrak lebih berfokus pada sebuah kata. Semantic dalam hal perkembangannya pada akhir 1980an. sedangkan objek penelitian ini yaitu tentang bentuk. ³Di sini panas ya!´. kalimat . tidak secara langsung menuju topic.2. Apa yang mereka maksudkan bisa lebih luas dari apa yang mereka katakana. Arti pembicara menurut perhatian ke pembuat pwsannya. kerangka pikir ini dibuat dalam bentuk skema sebagai berikut. sama dengan pragmatic dengan arti pembicara (speaker meaning) atau yang sama dengan interpreatasi ujaran (utterance interpretation) ±mereka tidak menggunakannya secara eksplisit± . tetapi pada waktu yang sama ketidak jelaan dari fakta pada proses interpretasi dengan apa yang ada di dalam pesan antara beberapa tingkatan arti.2 Definisi Pragmatik Pada awal 1980an.edisi Januari-Desember 2005 yang berjumlah 137 buah. dan bentuk pronomina persona ketiga baik tunggal maupun jamak. Definisi terakhir (interpretasi ujaran) lebih cenderung kea rah yang mempelajari kekurangan dari dua definisi tersebut. makna dan fungsi deiksis pronomina persona. Bukut-bukua terbaru lebih contong membahas tentang satu dari dua topic. frasa atau kalimat (kedua). Sebagai contoh saya berkata. tempat yang lain atau keadaan yang lain pula. 1. Pengertian Masyarakat tidak selalu mengatakan apa yang sebenarnya mereka maksudkan. Dalam contoh di atas kita tahu bahwa apa yang penulis maksud bukan panas dalam arti kata sebenarnya. tetapi masih terlalu umum karena masih mengandung aspek semantic.1. frasa. atau yang dimaksud dengan (force) paksaan dalam sebuah ujaran kata. Dalam kasus di atas. Kita akan mulai dari arti kontekstual arti ujaran dar melihata kata. tetapi lebih dari itu. mengapa tidak langsung mengatakan yang sebenarnya. Digunakannya fungsi semantis di sini karena sampel data dalam penelitian ini merupakan bentuk kalimat yang terdapat di dalam suatu wacana. 1. masalah arit pemcibaca lebih mendekat ke arah penulus yang mempunyai pandangan social lebih luas dalam ilmu linguistic khususnya dalam hal pragmatic. Fungsi di dalam penelitian ini merupakan fungsi semantis deiksis pronomina persona. Apakah Pragmatik Itu? 1. yang dapat ditentukan dengan melihat konteks kalimat atau konteks wacananya. yang mana makna itu tidak lain daripada sesuatu atau referen yang diacu oleh kata atau leksem. Bentuk di sini merupakan bentuk deiksis pronomina persona yang terdiri dari bentuk pronomina persona pertama baik tunggal maupun jamak. Kita akan mempelahar pertama kali yan dimaksud tentang tingkatan arti. atau matikan pemanasnya. yaitu. Walaupun definisi itu cukup untuk menggambarkan pragmatic. hal ini akan berbeda jika dalam konteks yang lain. Tetapi yang saya maksudkan adalah untuk seseorag membukakan jendela atau lebih baik membuka jendelanya. yang mana diperlukan adanya koherensi antara kalimat yang mendahului ataupun kalimat yang mengikutinya. Untuk lebih jelasnya.

dimanapun kita berada. Pada saat itu masih menjadi tentara. itulah yang saya katakana. AU. antara lain di sana. tetapi dapat masuk dalam frasa atau bahkan semua kalimat.3. Pasukan. di sini. Jika kita melihat ilustrasi di atas.3. kucing yan dimaksud adalah kucing dalam arti sebenarnya atau cambuk (dalam bahasa barat) yang biasa digunakan dalam kamp militire pada periode perang. Beri mereka sesuatu yang mengingatkan masa lalu mereka (melewati pantat). Ayah berhenti sejenak dan meneguk tehnya. Ayah selalu berkata tentang masa lalunya di kamp Catteria pada tahun 1940an. namun hal ini dapat dihindari dengan memahami konteks yang ada. atau penggelapan pajak atau mungkin yang lainnya. Apakah sesuatu yang tidak biasa untuk para buruh bangunan? Cara mereka dibayar.Contoh : Apa yang diinginkan para pasukan adalah untuk menduduki wilayah ini. Kami tahu apa arti disiplin sejak dalam pelatihan. Dalam oercakapan di atas kita megetahui batu (lump) yang dimaksudkan adalah bukan batu yang sebenarnya. hal ini dikarenan topic pembicaraan biasanya berdasarkan tempat dimana pembicaraan itu terjadi. 1.1 Mengartikan Rasa dalam Konteks Jika seseorang terlibat dalam percakapan.2 Mengartikan Penunjuk Konteks Kita perlu mencari poin penting dalam sebuah percakapan. secara intuisi melihat ke rasa dalam peraasaan kontekstual mereka. Cambuk mereka. Dilarang Menyentuh!´ hal ini jelas untuk melarang menyentuh sesuatu. Hal ini berbeda dengan kata ³Bahaya. yang paling penting. hal ini dapat diketahui dengan memahami konteks yang ada dalam pembicaraan. tetapi mempunyai makna konotasi. kita psti lebih bisa memhami poin pembicaraan. Seakan-akan ayah telah di dalam AL. Allan berpikir apa yang dimaksudkan dan akan menanyakan setelah peliharaannya sehat. ku tidak akan pernah menemukannaya´ Mengapa kita tidak mungkin memahaminya. di supermarket. A : ³Batu (Lump) apa yang membuat mereka waspada?´ B : ³ Coba bacalah´ A : (Membeca dengan suara keras) ³Di dalam rekatakn batu yang jatuh´ B : Oh. Arti abstrak tidak berada pada satu kata. kita tidak paham apa yang ditemukan. 1. kami akan« . terjadi antara dua orang inggris. Dalam kasusu ini kita tidak menemukan penunjuk dalam kata. ³Apa yang salah tentang kucing itu?´ Lalu siapa saja datang pada waktu itu. homograf atau yang lainya yang biasa mengakitabkan kesalahan pemahaman. dan Marinir. jika dia tidak jatuh dari tempat tidu. Dalam pengertian ini. ini. Contoh : Percakapan ini ku dengarkan di sebuah kereta api. itu (tidak selalu bermakna . Keadaaan ini dapat terjadi dalam kasusu homonym. kita mengenal pengertian deiksis. Lihatkah hanya sedikit kedisiplinan yang terlihat. di bus. Cambuk juga masuk dalam domain discourse. Contoh : ³dan hanya terpikirkan olehku.

pengisolasian). Seperti dalam contoh ³Benarkah itu . Penunjuk dan Struktur Contoh di bawah ini akan menunjukkan ambiguitas strukturan yang juga mengandung ambiguitas perasaan Pembicara B adalah komentator kriket yang terkenal. Ini dapat terjadi jika kamu tahu yang pembicara maksudkan dan jelas arti percakapannya. kita mengetahui paksaan (force). Contoh : Pembicara sedang berada di Genewa. Swiss Kota ini adalah kota dimana ³bank´ berada di dekat sungai. apakah itu istilah dalam kriket atau yang lainnya dalam tanda kutip. 1. yang terlibat dengan pemuda 16 tahun. Dalam contoh kasus di atas kita mengetahui arti pentingnya ujaran. besok.3.5 Ambiguitas dan Maksud Kita akan menjelaskan ambiguitas dan maksud yang dapat mengarah ke dalam kesalahpahaman. Pasti kita bingung tentang apa arti kata ³dog bowl´. 1. Kita pasti menduga-duga tentang arti kata ³bank´. Brian Johnson. Apakah itu bank dalam arti tempat kita menabug atau bank dalam bahasa inggris yang berarti tepi sungai. Derek Bentley. 1. Pembicara A adalah istrinya A : Pernahkan kamu melihat ³dog bowl´ B: Belum. Pada saat ditahan.5 Pemaksaan (Force) : Tingkat Kedua dari Maksud Pembicara\ Dalam hal Pragmatik. 1. Bentley berkata ³Biarkan Polisi itu menerimana Christ!´ karena perkataan itu.33 Ambiguitas Struktural Hal ini berkaitan dengan sintaks. tetapi saya sudah pernah melihat dog bowl bermain di beberapa inning. Contoh kasus : Dalam pengadilan ada seseoran pemuda 19 tahun. yang mati kucingnya atau ikannya. hal ini juga berlaku pada deiksis-deiksis lainnya (deiksis orang dan deiksis tertentu ±discourse deixis² 1.4. Christopher Craig dalam kasusu pembunuhan salah satiu Polisi setempat. Deiksis waktu antara lain kemarin. Artinya konteks kata atau kalimat cocok atau tidak dengan tempat dimana pembicaraan berada. dalam persidangan Bentley dijatuhi hukuman mati karena diduga yang melakukan penembakan. Seperti contoh kucing makan ikan mati. sekarang juga akan berarti jika kita memahami pembicaraan.1 Pentingnya Arti Ujaran Arti ujaran di sini dimaksud adalah konteks dimana pengucapan itu dimaksudkan. sedang Craig hanya mendapat pengawasan saja.3 Rasa Intereaksi. Craig menembak polisi dengan alasan pembelaan diri.3.4 Arti Ujaran : Tingkat Pertama Maksud Pembicara 1.

5. studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya. 1. yaitu dengan menurunkan sistem yang terdapat dalam matematika dan logika. mereka dapat mengembangkan poin pembicaraan mereka dalam dalam cakupan property.3 Memahami paksan tetapi bukan arti ujaran 1. Sebagai tataran terbaru dalam .1 Arti Pembicara Dalam hal ini.6. Dan dalam percakapan selanjutnya. 1. Hal ini juga dapat membuat pendekatan para linguist mempunyai kelemahan.6. biasanya dalam grup ini lebih tertarik dalam tingkatan kedua.2 Interpretasi Ujaran Sebaliknya.4 Memahami bukan arti ujaran dan bukan pakasaan 1.6 Definisi Pragmatik Dalam pragmatic arti secara abstrak dan lebih berguna dari pada arti pengguanaannya. Hal ini berbeda dengan definisi awal. baik secara implicit atau eksplisit telah menggunakan defines dengan tidak perlu membuat perbedaan. Pendekatan ini dapat terlihat berpotensi memberikan penejelasan lebih baik dalam hal pemecahan ambiguitas itu.2 Pragmatik : Arti dalam interaksi Dalam hal ini mencerminkan arti atau poin dalam interaksi (pada suatu percakapan). pasti mempunyai kata-kata tertentu dalam cara berinteraksi. Ujaran mereka berkembang dalam topic yang cocok dengan keadaan dan situasi.5. Contoh ³Saya telah menjual rumah itu´. Sebagai contoh megapa pembicara tidak secara langsung menunjuk apa yang mereka maksudkan. Dalam suatu komunitas tertentu. konteks perkataan sangat berperan penting dala pemahaman suatu pembicaraan. Pendahuluan Dalam jangka yang cukup lama. 1.mobilmu? ³ sambil menunjuk kea rah mobil anda.5.5. Hal ini akan sangat sulit jika kita tidak tertarik mengapa pembicara berkata demikian. Kata-kata itu belum tentu dapat dimengerti oleh orang lain di luar komunitas mereka. dan mengabaikan unsur pengguna bahasa.5. ada dua alasan mengapa penulis. maka pembicaraan mereka akan berjalan secara halus dan dapat dimengerti oleh para pendengar. Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik? Makyun Subuki 13 Desember 2006 1. 1. Karena itu. seperti diungkap oleh Yule (1996: 6). pendekatan kognitif yang luas yang digunakan oleh para ahli pragmatic lebih berfoukus pada pendengar. Di dalam perkataan itu kita tidak mengetahui apa yang dimaksudkan oleh pembicara.1 Memahami Ujaran dan Paksaan (Force) 1. Dalam tempat pertama.2 Memahami ujaran tetapi bukan paksaan 1.6. cemooh atau bukan. yaitu force.5 Hubungan timbale balik antara arti ujaran dengan paksaan 1. Jadi harus secara jelas kita mengetahuinya. para linguist bereaksi satu sama lain. Karena itu teori-teori atau metodologi-metodologi yang ada harus dirubah sesuai dengan perkembangan jaman.

mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction). saya mengawali makalah ini dengan pembahasan mengenai pengertian pragmatik. sosial. mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi. menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5). menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning). pertama. (2) kecenderungan sosial-kritis. dan (4) tradisi etnometodologi. Definisi Pragmatik Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. . yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme. menyebutkan empat definisi pragmatik. Perkembangan Pragmatik Mey (1998). Meskipun memiliki fokus kajian yang serupa dengan semantik. Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian. menjelaskan secara singkat topik-topik bahasannya. pragmatisisme. 2. dan komplementarisme. makna yang dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantik. yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik. dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik. seperti akan saya jelaskan kemudian. dan kedua. mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara. yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara. Pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. dengan melihat perbedaan kajiannya dengan bidang lain dalam linguistik. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme. (3) tradisi filsafat. dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran. dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. Makalah ini bertujuan menjelaskan pentingnya bidang pragmatik untuk dipelajari dalam program studi linguistik. yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik. atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi. misalnya. Untuk tujuan tersebut. perkembangannya. 3.linguistik. dengan menggunakan sudut pandang sosial. dan. yaitu makna. Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. dengan menggunakan sudut pandang kognitif. melebihi kajian tentang makna yang diujarkan. (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya. menunjukkan pentingnya pragmatik. (3) bidang yang. Selanjutnya Thomas (1995: 22). Yule (1996: 3).

dan semantik bersifat periferal. bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6).Kecenderungan yang pertama. yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi. Searle. dalam kaitannya dengan logika.1 Teori Tindak-Tutur Melalui bukunya. Ludwig Wittgenstein. Tradisi yang ketiga. sejak itu bidang kajian ini telah berkembang jauh. morfologi. How to Do Things with Words. bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6). dan terutama John L. mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa. Contoh. tepatnya di Britania. Sebab. yang tumbuh di Eropa. seperti dikutip oleh Thomas (1995: 29-30). Austin. Menurut Lakoff dan Ross. Beberapa Topik Pembahasan dalam Pragmatik 4. seperti diungkap oleh Marmaridou (2000: 1 (dalam Gunarwan 2004: 8)). bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri. yang dipelopori oleh Bertrand Russell. yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi dan ketaksaan. dan Grice). bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya. pragmatik kognitif (Sperber dan Wilson). pragmatik neo-Gricean (Cole). yaitu bahwa dalam kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis. Searle. seperti sering kita jumpai. adalah tradisi filsafat. dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)). Para pakar tersebut mengkaji bahasa. Searle. komunikasi tetap dapat berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak apik secara sintaksis (ill-formed). dan bahwa pernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris. muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan. sebab. dan pragmatik interaktif (Thomas). melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross. Austin dapat dianggap sebagai pemicu minat yang paling utama dalam kajian pragmatik. misalnya Austin. Kecenderungan kedua. dan Grice. sehingga kita dapat melihat sejumlah kecenderungan dalam pragmatik. dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross. seperti Russel dan Moore. (1) Ada enam kata dalam kalimat ini . bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis. Dengan kata lain. keapikan sintaksis (well-formedness) bukanlah segalanya. yaitu pragmatik filosofis (Austin. menolak pandangan sintaksisme Chomsky. Austin dan John R. seperti dikutip Gunarwan (2004: 7). Leech (1983: 2). Jerman. 4. Dalam etnometodologi. kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi. dan bahwa fonologi. termasuk penggunaannya.

dapat berupa tindak-tutur langsung (direct speech-act) dan tindak-tutur tidak langsung (indirect speech-act). saya nikahkan kalian (performatif) (4) Rumah Joni terbakar (konstatif) Selanjutnya Austin. dan deklarasi (declaration) (Littlejohn 2002: 80. dan Yule 1996: 53-54). Tindak lokusioner berkaitan dengan produksi ujaran yang bermakna. direktif merupakan tindak-tutur yang menghendaki . Dalam direct speeh-act terdapat hubungan langsung antara struktur kalimat dengan fungsinya. dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin ini mengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition). memasukkan ujaran konstatif. Contoh. Melalui hipotesis performatifnya. yaitu. ekspresif (expressive). seperti juga ditekankan lebih lanjut oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). karena memiliki struktur dalam yang mengandungi makna performatif. komisif (comissive). seperti dikembangkan lebih jauh oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). melainkan juga melakukan sesuatu (perform actions). sebagai bagian dari performatif (Austin 1962: 52 dan Thomas 1995: 49). Selain itu. direktif (directive). yaitu lokusi (locutionary act). Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Gunarwan 2004: 8). kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar karena sesuai dengan kenyataan. sedangkan dalam indirect speech-act hubungannya tidak langsung atau menggunakan (bentuk) tindak-tutur lain (Gunarwan 2004: 9. struktur dalam ujaran tersebut dapat saja berbunyi Saya katakan bahwa rumah Joni terbakar. Austin berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements). Dalam contoh (4). Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. sesuai contoh di atas. Austin (dalam Thomas 1995: 31) berpendapat bahwa salah satu cara untuk membuat pembedaan yang baik bukanlah menurut kadar benar atau salahnya. dan perlokusi (perlocutionary act) (Yule 1996: 48). dan Yule 1996: 54-55).(2) Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono Dari contoh di atas. dan tindak perlokusioner berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan (Thomas 1995: 49). Tindak-tutur. melainkan melalui bagaimana bahasa dipakai sehari-hari. tindak ilokusioner terutama berkaitan dengan intensi atau maksud pembicara. yaitu asertif (assertive). yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech-act). (3) Dengan ini. Tindakan yang dihasilkan dengan ujaran ini mengandung tiga tindakan lain yang berhubungan. Asertif atau representatif merupakan tindak-tutur yang menyatakan tentang sesuatu yang dipercayai pembicaranya benar. Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics (Thomas 1995: 30). Searle juga menyebut lima jenis fungsi tindak-tutur. ilokusi (illocutionary act).

menyebut dua macam implikatur. pada kenyataannya. dapat dicontohkan dengan penggunaan kata bahkan. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 12-14). Contoh. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 14). Kerja sama yang terjalin dalam komunikasi ini terwujud dalam empat bidal (maxim). sedangkan yang kedua tidak. ujaran yang mengandung implikatur jenis ini. yaitu prinsip kerja sama (cooperative principle) (Yule 1996: 36-37 dan Thomas 1995: 61). Implikatur konvensional merupakan implikatur yang dihasilkan dari penalaran logika. sedangkan contoh (6) merupakan implikatur konversasional yang bermakna µtidak¶ dan merupakan jawaban atas pertanyaan maukah Anda menghadiri selamatan sunatan anak saya? Berbeda dengan Grice. 4. Yang pertama ada karena konteks ujaran. Hal ini. Implikatur konversasional merupakan implikatur yang dihasilkan karena tuntutan konteks tertentu (Thomas 1995: 58). dengan menggunakan prinsip kerja sama Grice. memberi informasi sesuai yang diminta. (5) Bahkan Bapak Menteri Agama menghadiri sunatan anak saya (6) Saya kebetulan ke Inggris untuk studi selama dua tahun dan berangkat besok Contoh (5) di atas merupakan implikatur konvensional yang berarti Bapak Menteri Agama biasanya tidak menghadiri acara sunatan.pendengarnya melakukan sesuatu. didasarkan atas beberapa alasan. menghindari ketaksaan. misalnya contoh (5) di atas. yaitu (1) bidal kuantitas (quantity maxim). memberi sumbangan informasi yang relevan. misalnya contoh (6) di atas. implikatur dapat dibedakan menjadi implikatur khusus dan implikatur umum. seperti diungkap oleh Thomas (1995: 57). mengungkapkan secara beraturan (Gunarwan 2004: 11 dan Thomas 1995: 63-64). 4. (3) bidal relasi (relation maxim). 4. yaitu implikatur konvensional dan implikatur konversasional. misalnya untuk memberikan informasi secara tersirat (implicature) dan menjaga muka lawan bicara (politeness). (2) bidal kualitas (quality maxim). dan (4) bidal cara (manner maxim). menghindari ketidakjelasan pengungkapan. ekspresif merupakan tindak-tutur yang menyatakan perasaan pembicaranya.2 Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle) Grice mengemukakan bahwa percakapan yang terjadi di dalam anggota masyarakat dilandasi oleh sebuah prinsip dasar.4 Teori Relevansi . dalam komunikasi kadang kita tidak mematuhi prinsip tersebut. dan deklarasi merupakan tindak-tutur yang mengubah status sesuatu. mengungkapkan secara singkat. menurut Gazdar.3 Implikatur (Implicature) Grice. komisif merupakan tindak-tutur yang digunakan pembicaranya untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukannya. Berkaitan dengan prinsip kerja sama Grice di atas. menyatakan hanya yang menurut kita benar atau cukup bukti kebenarannya.

Setiap pembaca dapat memahami bahwa pesan ini hanya berlaku jika ia akan meninggalkan ruangan tersebut untuk terakhir kalinya. yaitu: pertama. namun mencakup perluasan wilayah kognitif (cognitive environment) kedua belah pihak. there is a shuttle service sixty euros one-way. Sperber dan Wilson (1995). menyebutkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (language in use) selalu dapat diidentifikasi melalui hal yang disebutnya indeterminacy atau underspecification. padahal A . pengirim pesan dapat memperkirakan reaksi penerima pesan terhadap pesan yang disampaikannya. Then that's fifty. B mengira A mengerti bahwa at the weekend berarti next weekend. ujaran merupakan sebentuk tindakan dari komunikasi ostensif. bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi. Misalnya pada contoh (7) di atas. A: What weekend? B: Next weekend. How does it works? You just turn up for the shuttle service? A: That might be cheaper. Menurut mereka. Melalui hal tersebut. Selanjutnya. Sperber dan Wilson (1995). misalnya untuk ke kamar mandi. penerima pesan (addressee) hanya memilih sesuatu yang dianggapnya relevan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan (addresser) dalam konteks komunikasi tertentu. pesan ini berada dalam spesifikasi tertentu yang disepakati oleh addresser dan addressee dalam konteks komunikasi. komunikasi tidak hanya memasukkan apa yang ada dalam pikiran pengirim pesan ke dalam pikiran penerima pesan. explicature atau degree of relevance. Contoh. Contoh yang ditulis Renkema (2004: 23) di bawah ini memberikan gambaran yang cukup jelas. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini. Dalam percakapan tersebut. bukan untuk setiap kali meninggalkan ruangan. when do you want to go? B: At the weekend. kedua. yaitu tidak perlu mengunci pintu jika keluar dalam batasan waktu dan situasi yang diperkirakan cukup aman. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). Dengan kata lain. dan ketiga. menetapkan tiga macam hubungan antara cue dan implicature. misalnya tindakan untuk membuat sesuatu menjadi jelas dan dapat dimengerti oleh penerima pesan.Teori relevansi yang dikembangkan oleh Sperber dan Wilson merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. (7) Pastikan semua pintu terkunci jika meninggalkan ruangan ini. Dalam teori relevansi dipelajari bagaimana sebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya. Dalam percakapan di atas. tahapan yang harus dilewati untuk memahami implikatur dalam percakapan. (8) A: Well. pemahaman penerima pesan terhadap apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan terjadi melalui beberapa tahapan. untuk menjelaskan cara sebuah pesan dipahami penerimanya.

harga diri (self-esteem).5 Kesantunan (Politeness) Konsep strategi kesantunan yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson diadaptasi dari konsep face yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog bernama Erving Goffman (1956) (Renkema 2004: 24-25). . boleh tanya? b. yang dikutip oleh Jaszczolt (2002: 318). dan citra diri di depan umum (public self-image). misalnya mahasiswa kepada dosen atau yang muda kepada yang tua. dan ketiga. 4. karena semakin tinggi contextual effect maka semakin rendah ia membutuhkan processing effort. merupakan ujaran yang relevansinya rendah dan membutuhkan processing effort yang lebih besar. Dengan kata lain. Berdasarkan konsep face yang dikemukakan oleh Goffman ini. maka politeness strategy semakin dibutuhkan. misalnya permintaan "May I borrow your car?" mempunyai bobot yang berbeda dengan permintaan "May I borrow your pen?". tingkat gangguan atau rate of imposition (R). dalam pengertian degree of relevance. misalnya bobot kedua permintaan di atas tidak terlalu besar jika kedua ungkapan tersebut ditujukan kepada saudara sendiri. (9) a. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 25). Dalam hal ini. If you buy ticket when you turn up. Menurut Goffman (1967: 5). Contoh. ujaran at the weekend. jarak sosial atau social distance (D) antara pembicara dengan lawan bicaranya. kekuasaan atau power (P) yang dimiliki lawan bicara (Renkema 2004: 26). it costs 50 euros. Menurut Goffman (1956). sedangkan ujaran (9b) mungkin diucapkan kepada orang yang secara sosial jaraknya lebih dekat (9a). sedangkan yang kedua disebut negative face. Maaf. Intensitas FTA diekspresikan dengan bobot atau weight (W) yang mencakup tiga parameter sosial. Begitu juga A. setiap partisipan memiliki dua kebutuhan dalam setiap proses sosial: yaitu kebutuhan untuk diapresiasi dan kebutuhan untuk bebas (tidak terganggu). kedua. Pak. Politeness (kesantunan) dalam hal ini dapat dipahami sebagai upaya pencegahan dan atau perbaikan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh FTA.harus memastikan dengan jelas setiap pemesanan pembelian tiket. you have booked seat which costs 60 euros. Mas? Dalam contoh di atas terlihat jelas. semakin besar intensitas FTA mengancam stabilitas komunikasi. ujaran (9a) mungkin diucapkan pembicara yang secara sosial lebih rendah dari lawan bicaranya. yaitu: pertama. Brown dan Levinson (1978) membangun teori tentang hubungan intensitas FTA dengan kesantunan yang terrealisasi dalam bahasa (Renkema 2004: 25). Numpang tanya. face dapat diartikan kehormatan. Kebutuhan yang pertama disebut positive face. sedangkan that might be cheaper merupakan ujaran yang relevansinya lebih baik. ia mengandaikan B dapat mengerti bahwa that migh be cheaper dapat berarti If you purchase a ticket now. "face merupakan gambaran citra diri dalam atribut sosial yang telah disepakati". berkenaan dengan bobot mutlak (absolute weight) tindakan tertentu dalam kebudayaan tertentu.

semakin tinggi resiko kehilangan muka. ditambah bidal pertimbangan (consideration maxim). dapat dilakukan. seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4). yaitu bidal kebijaksanaan (tact maxim). Lebih tepatnya. dan memang sering kita temukan. Berkaitan dengan politeness strategy ini. lend me a hundred dollars. Kelima strategi tersebut diurut berdasarkan tingkat resiko "kehilangan muka".Politeness. Brown dan Levinson (1978). Dalam hal ini. sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya. Dalam sintaksis. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 19). yang bertujuan untuk mendapatkan positive face disebut solidarity politeness. dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi. but could you lend me a hundred dollars? (negative polite) e. salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis. Renkema (2004: 27) memberi contoh strategi tersebut. misalnya dengan pujian. dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal. bahwa komunikasi tetap dapat . sedangkan politeness yang dilakukan untuk tujuan sebaliknya disebut respect politeness. Oh no. seperti diungkapkan oleh Renkema (2004: 26). dapat dilakukan. dan. sehingga bentuk seperti kucing menyapu halaman. I'm sorry I have to ask. could you lend me a hundred bucks? (positive polite) c. (5) a. bidal kesetujuan (aggreement maxim). friend. Dalam kehidupan sehari-hari. tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis. Hey. Hey. Leech (dalam Eelen 2001: 8) menyebutkan enam bidal kesantunan. bidal simpati (sympathy maxim). Atas dasar ini. bidal kerendahhatian (modesty maxim). dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis. (baldly) b. maka semakin kecil kemungkinan pembicara melakukan FTA. pertama. Pakar ini membahas teori kesantunan dalam kerangka retorika interpersonal (Eelen 2001: 6). Dalam hal ini. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat banyak cara untuk menghindari FTA yang dapat direduksi menjadi lima macam cara. Pragmatik dalam Linguistik Seperti telah saya uraikan sedikit dalam sub 3 di atas. meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris. face work technique. (off record) Teori kesantunan lain dibahas oleh Leech (1983). bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. 5. bidal kedermawanan (generosity maxim). bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat. dapat dipahami. misalnya dengan melakukan tindakan yang tidak kooperatif dalam komunikasi (Renkema 2004: 25). Secara umum. I'm out of cash! I forgot to go to the bank today. melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. bidal pujian (approbation maxim).

Selanjutnya. pertama. untuk dapat dinyatakan benar. dalam arti praktis. Kegunaan pragmatik. absolut atau bersifat mutlak. sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif. dapat bertentangan dengan prinsip lain. semantik terikat pada kaidah (rule-governed). Dengan demikian. Namun demikian. dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik.berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis. sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya. misalnya. dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur. dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan. untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa seharihari. demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. Dengan demikian. Tentang perbedaan yang pertama. semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan. selain tata bahasa. dalam pengajaran bahasa. sebab daya mencakup juga makna. yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa. kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. dan maksud dari tuturan. Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik. dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain. semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis. bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa. dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis. dan kedua. Berdasarkan truth conditional semantics. seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22). untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik. Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada. pembahasan makna dalam semantik belum memadai. Lebih jauh lagi. dalam analisis bahasa. bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis. yaitu bahwa pengetahuan pragmatik. keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan. Selanjutnya. Kaidah bersifat deskriptif. yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik. Dengan kata lain. Dengan kata lain. sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). makna apa yang dituturkan. sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi. terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda. sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik. karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa. di samping sintaksis dan semantik. patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan . meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai. terdapat keterkaitan. tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. dan kedua. dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya. bagaimana memahami implikatur percakapan. saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan.

tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa pragmatik penting dipelajari dalam program studi linguistik. Edinburgh: Pearson Education. Oxford: Oxfod University Press. pertama. How to Do Things with Word (edisi kedua). 1962. misalnya. 6. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). kedua. 2001. pragmatik merupakan satu-satunya tataran dalam linguistik yang mengkaji bahasa dengan memperhitungkan juga penggunanya. karena selain benar. Dalam pengajaran bahasa Indonesia. dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence). Berdasarkan penjelasan di atas. 2004. Renkema. berkaitan dengan pengajaran bahasa.. Cambridge: Cambridge University Press. Selain itu. Jaszczolt. dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa. Gino. Manchester. Jan. A Critique of Politeness Theories. berkaitan dengan ketidakmampuan sintaksis dan semantik dalam menjelaskan fenomena penggunaan bahasa sehari-hari. UK: St. pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya. Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse. Introduction to Discourse Studies. pragmatik berperan dalam pengembangan kompetensi komunikatif. John L.tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. 2002.M. kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik. Levinson. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. Daftar Acuan Austin. dan Stephen C. K. Asim. saya melihat kedudukan semantik dan pragmatik sebagai dua hal yang saling melengkapi. Eelen. Penutup Seperti telah disebutkan di muka. Dalam pengajaran bahasa asing. Brown. Secara umum. 1978. Jerome Publishing Gunarwan. IKIP Singaraja. Penelope. Politeness: Some Universal in Language Usage. bahasa yang digunakan harus baik. saya melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik setidaknya dalam dua hal. 2004. . pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu.

pragmatik lebih cenderung ke fungsionalisme daripada ke formalisme. Artinya. atau bahkan dengan kalimat interogatif. menging µmelarang¶. baik TT representatif. kualitas. Yule. Pengkajian TT tersebut tentu menjadi semakin menarik apabila peneliti mau mempertimbangkan prinsip kerja sama Grice dengan empat maksim: kuantitas. kajian ini mencoba menjelaskan aspek-aspek struktur bahasa dengan mengacu ke pengaruh-pengaruh dan sebabsebab nonbahasa.pragmatik . Di dalam komunikasi. perlokusi berarti terjadi tindakan sebagai akibat dari daya ujaran tersebut. satu maksud atau satu fungsi dapat diungkapkan dengan berbagai bentuk/struktur. Hal itu sesuai dengan pengertian pragmatik yang dikemukakan oleh Levinson (1987: 5 dan 7). nyilih µmeminjam¶. pragmatik lebih cenderung ke fungsionalisme daripada ke formalisme. Untuk maksud ³menyuruh´ orang lain. Jenny. Dengan kata lain. Kajian pragmatik lebih menitikberatkan pada ilokusi dan perlokusi daripada lokusi sebab di dalam ilokusi terdapat daya ujaran (maksud dan fungsi tuturan). dan deklaratif. merupakan bahan sekaligus fenomena yang sangat menarik untuk dikaji secara pragmatis. dan cara. dia dapat memilih satu di antara tuturan-tuturan berikut: (1) Jupukna kapur! (2) Kene ora ana kapur. kalimat deklaratif. ya? . komisif. seperti ngongkon µmenyuruh¶. Pragmatics. Berbagai tindak tutur (TT) yang terjadi di masyarakat. (4) O. (5) Ing kene ora ana kapur. penutur dapat mengungkapkannya dengan kalimat imperatif. PRAGMATIK pragmatics (n) . njaluk µmeminta¶. atau kombinasi dari dua/lebih TT tersebut. serta skala pragmatik dan derajat kesopansantunan yang dikembangkan oleh Leech (1983). ekspresif. (3) Ibu ngersakake kapur. bagaimanakah TT yang dilakukan oleh orang Jawa apabila ingin menyatakan suatu maksud tertentu. Misalnya. yang ada barulah makna kata/kalimat yang diujarkan. hubungan. 1996. Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics. di dalam lokusi belum terlihat adanya fungsi ujaran. janji µberjanji¶. Misalnya.Thomas.pragmatika pragmatis (adj) : melihat sesuatu dari kegunaan pragmatisme: aliran yang melihat sesuatu dari kegunaan Dalam komunikasi. maupun TT harafiah dan tidak harafiah. pragmatik adalah kajian mengenai penggunaan bahasa atau kajian bahasa dan perspektif fungsional. Oxford University Press. Fungsi bahasa yang paling utama adalah sebagai sarana komunikasi. Dengan demikian. sedangkan semantik menelaah makna satuan lingual (kata atau kalimat) dengan satuan analisisnya berupa arti atau makna. London/New York: Longman. Oxford. direktif. satu maksud atau satu fungsi dapat dituturkan dengan berbagai bentuk tuturan. Sementara itu. Pragmatik berbeda dengan semantik dalam hal pragmatik mengkaji maksud ujaran dengan satuan analisisnya berupa tindak tutur (speech act). TT langsung dan tidak langsung. dan ngapura µmemaafkan¶. ngelem µmemuji¶. seorang guru yang bermaksud menyuruh muridnya untuk mengambilkan kapur di kantor. George. Pragmatik dan Fungsi Bahasa Bidang ³pragmatik´ dalam linguistik dewasa ini mulai mendapat perhatian para peneliti dan pakar bahasa di Indonesia. 1995. jebul ora ana kapur. Bidang ini cenderung mengkaji fungsi ujaran atau fungsi bahasa daripada bentuk atau strukturnya.

3. yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan. kalimat berita (deklaratif) dan kalimat tanya (interogatif) di samping berfungsi untuk memberitakan atau menanyakan sesuatu juga berfungsi untuk menyuruh (imperatif atau direktif). sedangkan pragmatik bersifat terikat konteks (context dependent)´ (bandingkan Wijana. 1996: 3). implikatur. membutuhkan 53 halaman hanya untuk menerangkan apakah pragmatik itu dan apa saja yang menjadi cakupannya. (a) Semantik mempelajari makna.(6) Ngapa ora padha gelem njupuk kapur? Dengan demikian untuk maksud ³menyuruh´ agar seseorang melakukan suatu tindakan dapat diungkapkan dengan menggunakan kalimat imperatif seperti tuturan (1). terutama hubungan antara kalimat dengan konteks dan situasi pemakaiannya. artinya kajian ini mencoba menjelaskan aspek-aspek struktur linguistik dengan mengacu ke pengaruh-pengaruh dan sebab-sebab nonlinguistik. Definisi pragmatik: 1. Kaswanti Purwo (1990: 16) merumuskan secara singkat ³semantik bersifat bebas konteks (context independent). 4. Di sini dikutipkan beberapa di antaranya yang dianggap cukup penting. 1983). sedangkan semantik adalah kajian mengenai makna. bagaimana. yaitu makna kata dan makna kalimat. studies meaning in relation to speech situation (Leech. Berkaitan dengan perbedaan (c) ini. (b) Kalau semantik bertanya ³Apa makna X?´ maka pragmatik bertanya ³Apa yang Anda maksudkan dengan X?´ (c) Makna di dalam semantik ditentukan oleh koteks. Yang jelas . atau kalimat interogatif seperti tuturan (5-6). dan aspekaspek struktur wacana. praanggapan. Levinson (1987: 1-53). cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal. (5) Pragmatik adalah kajian mengenai deiksis. bilamana. kepada siapa. dan apa fungsi ujaran itu. Cukup banyak kiranya batasan atau definisi mengenai pragmatik. 2. sedangkan pragmatik mempelajari maksud ujaran. 1996: 2). (1) Pragmatik adalah kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan penafsirnya. (6) Pragmatik adalah kajian mengenai bagaimana bahasa dipakai untuk berkomunikasi. sedangkan semantik adalah kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan objek yang diacu oleh tanda tersebut. yakni bagaimana satuan kebahasaan digunakan dalam komunikasi (Wijana. tindak tutur. (2) Pragmatik adalah kajian mengenai penggunaan bahasa. yakni siapa yang berbicara. kalimat deklaratif seperti tuturan (2-4). misalnya. (4) Pragmatik adalah kajian mengenai hubungan antara bahasa dengan konteks yang menjadi dasar dari penjelasan tentang pemahaman bahasa. Dari beberapa definisi tersebut dapat dipahami bahwa cakupan kajian pragmatik sangat luas sehingga sering dianggap tumpang tindih dengan kajian wacana atau kajian sosiolinguistik. secara pragmatis. Satuan-satuan lingual dalam penggunaannya. di mana. (3) Pragmatik adalah kajian bahasa dan perspektif fungsional. sedangkan makna di dalam pragmatik ditentukan oleh konteks. PRAGMATIK VS SEMANTIK Sebelum dikemukakan batasan pragmatik kiranya perlu dijelaskan lebih dahulu perbedaan antara pragmatik dengan semantik. studi kebahasaan yang terikat konteks. Jadi. cabang ilmu bahasa yang menelaah penggunaan bahasa.

kalimat. 3. implikatur. klausa. anggapan penutur (presupposition). dan aspek struktur wacana. Pragmatik adalah telaah mengenai segala aspek makna yang tidak tercakup dalam teori semantik. wacana. Contoh: Kok. which is the study of the internal structure of language. situasinya bagaimana? L. Cabang-cabang bahasa: Fonologi: bunyi sebagai sistem Morfologi: satuan gramatikal terkecil. Semantik: makna (biasanya leksikal). Pragmatik adalah telaah mengenai relasi antara bahasa dan konteks yang merupakan dasar bagi suatu catatan atau laporan pemahaman bahasa. yaitu: sintaktik (syntactics) atau sintaksis (syntax) yaitu telaah tentang relasi formal dari tanda yang satu dengan tanda yang lain (mempelajari hubungan satuan lingual dengan satuan lingual lain: tanda dengan tanda). Morris membedakan tiga cabang yang berbeda dalam penyelidikan. Secara kasar dapat dirumuskan: pragmatik = makna . internal atau formal diadik: bentuk dan makna . Ketiga cabang tersebut kemudian lebih dikenal dengan teori trikotomi. 2. Sintaksis: frase. Pragmatik sebenarnya merupakan bagian dari ilmu tanda atau semiotics atau semiotika. Pemakaian istilah pragmatik (pragmatics) dipopulerkan oleh seorang filosof bernama Charles Morris (1938). Witgenstein (filsuf): makna adalah penggunaannya. kepada siapa. 4. Dalam semiotik. sudah pulang! Isteri: ¶betul-betul terkejut¶ atau ¶orang itu lama sekali perginya¶ Suami menafsirkan: siapa yang berbicara. Stephen C. atau semiotik (semiotics). 1. Pragmatik adalah telaah mengenai hubungan tanda-tanda dengan penafsir (Morris. pragmatics is distinct from grammar. 1938:6). Pragmatics is the study of how language is used to communicate. Teori pragmatik menjelaskan alasan atau pemikiran para pembicara dan penyimak dalam menyusun korelasi dalam suatu konteks sebuah tanda kalimat dengan suatu proposisi (rencana. atau dengan perkataaan lain: memperbincangkan segala aspek makna ucapan yang tidak dapat dijelaskan secara tuntas oleh referensi langsung kepada kondisi-kondisi kebenaran kalimat yang ciucapkan. melainkan tindak tutur atau tindak ujaran (speech act). Pragmatik adalah telaah mengenai deiksis. tindak ujar. yang dapat dirangkum seperti berikut ini. Dalam hal ini teori pragmatik merupakan bagian dari performansi.kondisi-kondisi kebenaran. Levinson telah mengumpulkan sejumlah batasan pragmatik yang berasal dari berbagai sumber dan pakar. Pragmatik adalah telaah mengenai hubungan antara bahasa dan konteks yang tergramatisasikan atau disandikan dalam struktur sesuatu bahasa. atau masalah). dan pragmatik yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan penafsir (interpreters). semantik (semantics) yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan objek di mana tanda-tanda itu diterapkan (ditandainya) (atau hubungan antara penanda dan petanda (signifiant dan signifie/yang ditandai)).disepakati ialah bahwa satuan kajian pragmatik bukanlah kata atau kalimat. Makna sebuah tuturan itu penggunaannya. Parker (1986: 11). yang mempunyai perhatian besar pada ilmu pengetahuan tentang tanda-tanda. dengan kata lain: telaah mengenai kemampuan pemakai bahasa menghubungkan serta menyerasikan kalimat-kalimat dan konteks-konteks secara tepat. 5.

dan maksud. ada hal-hal yang tidak langsung ¶indirectness atau secara tidak literal¶. atau akhirnya pemakaian dalam linguistik Anglo-American dan filsafat. Asal-usul dan perilaku historis istilah pragmatik Pemakaian istilah pragmatik (pragmatics) dipopulerkan oleh seorang filosof bernama Charles Morris (1938). Jadi. semantik (semantics) yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan objek di mana tanda-tanda itu diterapkan (ditandainya). Pragmatik: makna penutur (maksud). bersifat internal. yaitu suatu telaah dari sebagian besar jajaran fenomena psikologis dan sosiologis yang mencakup sistem tanda pada umumnya atau dalam bahasa tertentu (the Continental sense of the term). dilihat dari berbagai faktor . atau semiotik (semiotics). apik maksud: bisa tidak baik.Pragmatik: cabang ilmu bahasa yang mempelajari makna satuan kebahasaan yang bersifat eksternal / bagaimana satuan kebahasaan itu dikomunikasikan eksternal atau fungsional triadik: bentuk. Baik! makna: baik. yang mempunyai perhatian besar pada ilmu pengetahuan tentang tanda-tanda. yaitu bahwa variasi retoris dan alat puitis hanya muncul di bawah kondisi tertentu dalam batas-batas pemakaian bahasa. Dalam semiotik. Come here!. Good morning! dipengaruhi oleh hukum pragmatik. Contoh: Sugeng enjing! makna: menyapa maksud: tergantung siapa yang berbicaraatau maksud lain. Morris memberikan contoh interjeksi seperti Oh!. Mempelajari bagaimana satuan lingual itu ditafsirkan. makna. Semantik: makna linguistik (makna). makna dalam penutur. yaitu: sintaktik (syntactics) atau sintaksis (syntax) yaitu telaah tentang relasi formal dari tanda yang satu dengan tanda yang lain. Pragmatik: bagaimana orang menafsirkan. dan pragmatik yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan penafsir (interpreters). sebenarnya semantik sudah ada pragmatik. Akhirnya pengarang menyimpulkan bahwa perbedaan pemakaian istilah pragmatik ditimbulkan dari bagian asal-usul semantik karya Morris. Ketiga cabang tersebut kemudian lebih dikenal dengan teori trikotomi. misalnya menyindir atau memarahi. Contoh semantika: kursi signifiant (penanda) Terdapat suatu prinsip: ¶tempat duduk¶ signifie (petanda) . Makna itu berubah-ubah tergantung pada konteksnya. Buku ini secara eksklusif menyangkut istilah pada gagasan yang terakhir dan menerapkannya pada pembicaraan ini. Morris membedakan tiga cabang yang berbeda dalam penyelidikan. atau studi istilah indeksikal atau deiktis (deictis) (gagasan Montague). atau telaah konsep abstrak tertentu yang membuat acuan pada pelaku (agents) (satu gagasan dari Carnap).

Tenor (pelibat): misalnya. Mode (bentuk bahasa): strategi memilih yang mana) Pragmatik: retorika. Bahasa tulis juga bisa asalkan mampu merekonstruksi tuturan yang sebenarnya.Ora duwe dhuwit.M.Entuk 4 + Apik! wacana pragmatik Menurut Halliday (pakar Functional Grammar): 1. 2. Field (medan): siapa berbicara kepada siapa. Data pragmatik: utterance (kalimat + konteks). Makna kongkrit: makna tuturan. ayah dengan anak. Sosiolinguistik: berkaitan dengan variasi bahasa.Maksud : ada pada penutur (eksternal) . ²-> terkait dengan wacana. karena: jelas kapan bahasa itu digunakan siapa yang berbicara kepada siapa. Tuturan semakin panjang tuturan semakin sopan. 2. + Piye bijimu . Dia pergi ke Surabaya. aku nyilih sepedha motore (lebih sopan)). bagaimana strateginya. yang tidak jelas siapa penuturnya tidak jelas. y Obyek data pragmatik itu konkrit. Berkenaan dengan data: Data kalimat : sentence. (Contoh: Nyilih sepedha motore (tidak sopan) dan Menawa pareng.Makna : ada pada satuan lingual (internal) . Verhaar (Pengantar Lingguistik Umum): . Contoh: ¶menolak¶ bisa dinyatakan dengan .Informasi : isi tuturan (internal) Dia membeli buku Buku dibelinya makna: µaktif¶ dan µpasif¶ Makna yang abstrak. jelas. . 1. Pragmatik: Satu tanda bisa menyatakan bermacam-macam maksud atau bermacam-macam tanda satu maksud. semakin tidak langsung semakin sopan. 3. Ayahnya sakit. J. .W. Obyek data primer adalah bahasa lisan. semakin pendek tidak sopan.Omahku sepi kok. o Contoh: Lunga! (tidak sopan) dan Lungaa! (lebih sopan) y Semakin langsung semakin tidak sopan.Noam Chomsky: Terdapat hubungan satu lawan satu antara penanda dan petanda (signifiant dan signifie).

Filosof J. 1984. Searle.D. (ed. Dengan demikian bahasa bukan semata-mata alat untuk menyatakan sesuatu tetapi juga melakukan sesuatu. Lunga! Wacana. Austin membedakan antara tuturan performatif (performativei) dan konstatif (constative). Kopi bisa marahi saya menolak atau menerima. Urmson).O. wacana tidak selalu di atas kalimat.L.L.di atas kalimat plus konteks. pembicara mengujarkannya dan sekaligus menyelesaikan perbuatan ³mengucapkan´ (Kridalaksana. Jack dkk. Tuturan (utterance) . Harimurti Kridalaksana. New York: Oxford University Press. Kamus Linguistik. 1989. Prinsip-prinsip Pragmatik. Speech Acts. J. Cambridge: Cambridge University Press. Intinya: bahasa pada umumnya sebagai alat komunikasi. Jadi. (2) kalimat atau bagian kalimat yang dilisankan (Kridalaksana. Oka). 4. Leech. Arep? melek terus. Neng ngendi sabune? teks tidak jelas konteksnya.minus konteks.Widowson: 1. Tuturan (utterance. Wacana: mengandung amanat yang lengkap. Definisi: Tuturan performatif (performative utterance): tuturan yang memperlihatkan bahwa suatu perbuatan telah diselesaikan pembicara dan bahwa dengan mengungkapkannya berarti perbuatan itu diselesaikan pada saat itu juga. Wacana (discourse) . Jakarta: Universitas Indonesia. TUTURAN PERFORMATIF DAN TUTURAN KONSTATIF Pustaka: Austin. Kalimat (sentence) . Richards. J. 3. misalnya: dalam ujaran Saya mengucapkan terima kasih. John. 1984: 2001). Jakarta: PT Gramedia. (Terjemahan M. Performative (in speech .kalimat tanya. Teks (texs) . Contoh: Sugeng rawuh. oleh Kridalaksana disebut dengan istilah ujaran): (1) regangan wicara bermakna di antara dua kesenyapan aktual atau potensial.D. Longman: Longman Group UK Limited.di atas kalimat minus konteks. 2. 1993. How to Do Things with Words. 1984: 2001). tetapi sebenarnya ada tindakan tertentu yang baru dapat terlaksana kalau orang itu mengemukakan tuturan/bahasa.plus konteks. Geoffrey. Longman Dictionary of Applied Linguistics. . 1969. 1962.

bukan oleh orang lain. rama. 6. Tuturan harus mempredikasi tindakan yang akan dilakukan oleh penutur. Penuturnya adalah penghulu (naib). 2.. Austin dalam menentukan ciri-ciri tuturan performatif ini hanya melihat aspek gramatikalnya saja. such as Watch out (=a warning). atau mampu melakukan apa yang dinyatakan dalam tuturannya. tumindakku kang ora ndadekake renaning penggalihmu. Tuturan konstatif atau deskriptif (constative utterance): tuturan yang dipergunakan untuk menggambarkan atau memerikan peristiwa. Secara ringkas dikatakan pula bahwa tuturan performatif adalah tuturan untuk melakukan sesuatu (perform the action). 7. Saya nyatakan Anda berua suami-isteri. ((Richards dkk. 1993: 280).act theory): an utterance which performs an act. (Orang perta dan kedua melakukan tindakan secara sungguh-sungguh). 4. 1. (Tindakan berterima kasih: the act of thanking) 2. bukan yang telah dilakukan. 4. Misalnya: Saya nyatakan Anda berdua suami-isteri. kalau tidak berarti bukan tuturan performatif). yaitu dengan adanya syarat-syarat lainnya yang disebut syarat tuturan performatif (felicity condition). Misalnya: Aku njaluk pangapura marang sliramu. Pura. objeknya 2 orang (berdua). Ciri-ciri tindakan performatif  Subyek harus orang pertama. (the act of promising). Misalnya: Saya mohon maaf atas kesalahan saya. Gereja. Syarat itu juga belum cukup. proses. misalnya: I promise that I shall be there (Saya berjanji bahwa saya akan hadir di sana) dan performatif primer atau tuturan primer I shall be there (Saya akan hadir di sana) (Geoffrey Leech (terjemahan). (Tindakan pergi: the act of going). Syarat-syarat itu antara lain: 1. 2. Misalnya: Saya berjanji akan setia. 3. (Tindakan mohon maaf: the act of apologizing).  Tindakan sedang/akan dilakukan Kalau dalam bahasa Inggris. Harus diucapkan sungguh-sungguh. Misalnya: Saya berjanji bahwa saya akan selalu datang tepat waktu. Misalnya: Sesuk kowe tak-tukokke sepur (yakin tidak. Penutur harus yakin bahwa ia mampu melakukan tindakan itu. Contoh lain: 1. Orang yang menyatakan tuturan dan tempatnya harus sesuai atau cocok. Saya berterima kasih atas kebaikan Saudara. kemudian diperbaharui lagi oleh John Searle. Kalau tuturan tidak memenuhi kelima syarat tersebut. tetapi sebagai tepat atau tidak tepat. bukan orang kedua atau ketiga. 3. 1989: 212). Saya bertaruh Mike Tyson pasti menang. 5. 5. Saya serahkan semua harta saya kepada anak saya. (Tindakan bertaruh: the act of betting). Tuturan performatif tidak dievaluasi sebagai benar atau salah. pendeta. sebagai berikut. Masjid. Tindakan harus dilakukan secara sungguh-sungguh oleh kedua belah pihak. Tindakan harus dilakukan secara sungguh-sungguholeh penutur. Penutur harus memiliki niat yang sungguh-sungguh dalam mengemukakan tuturannya. dsb. Saya namakan anak saya Parikesit. Saya mohon maaf atas keterlambatan saya. maka tuturan itu dikatakan tidak valid (infelicition). tempatnya di KUA. (Tindakan menyerahkan: the act of bequeting). keadaan. (Tindakan memberi nama: the act of naming). dan sifatnya betul atau tidak betul . tidak dengan tindakan menginjak kaki mitra tutur-nya. I promise not to be late (= a promise). Akhirnya direvisi (dilengkapi) oleh murid-muridnya. subjek orang pertama dan kala-nya present tense. Tuturan harus mempredikasi tindakan yan g akan dilakukan. Saya akan pergi sekarang. Misalnya: Saya berjanji akan setia padamu. (Tindakan menyatakan/menikahkan: the act of marrying).

1 Lokusi. ³Aku ngelak´ yang diujarkan oleh P dengan maksud µminta minum¶ adalah sebuah tindak ilokusi. Uraian berikut memaparkan klasifikasi dari berbagai jenis TT. 1984: 154) Speech act: an utterance as a functional unit in communication (Richards et al. seseorang tidak semata-mata mengatakan sesuatu dengan pengucapan kalimat itu. tawaran (offers). Perlokusi mengacu ke efek yang ditimbulkan oleh ujaran yang dihasilkan oleh P. perlokusi adalah efek dari TT itu bagi mitra-tutur (selanjutnya MT). yakni menawarkan minuman. Di sini maksud atau fungsi ujaran itu belum menjadi perhatian. ilokusi. Seorang ibu rumah pondokan putri. Ilokusi. permintaan (requests). yaitu lokusi. 3. Hal-hal apa sajakah yang dapat ditindakkan di dalam berbicara? Ada cukup banyak. 1993: 316). for example. Ia membedakan tiga jenis tindakan yang berkaitan dengan ujaran. Di sini kita mulai berbicara tentang maksud dan fungsi atau daya ujaran yang bersangkutan. Saya tidur di hotel. 1984: 2001). Secara singkat. TINDAK TUTUR (Speech Act) A.(Kridalaksana. untuk apa ujaran itu dilakukan. antara lain. TINDAK TUTUR DAN JENIS-JENISNYA Tindak tutur (selanjutnya TT) atau tindak ujaran (speech act) mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam pragmatik karena TT adalah satuan analisisnya. yaitu tindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan kalimat sesuai dengan makna kata itu (di dalam kamus) dan makna kalimat itu sesuai dengan kaidah sintaksisnya. atau Austin mengatakan bahwa tuturan konstatif dapat dievaluasi dari segi benar-salah (Geoffrey Leech (terjemahan). dan perlokusi. Di dalam mengatakan suatu kalimat.. Jadi. A constative is an utterance which assert something that is either true or false. Jadi.. speech event): pengujaran kalimat untuk menyatakan agar suatu maksud dari pembicara diketahui pendengar (Kridalaksana. yaitu memerintahkan si mitratutur supaya pergi meninggalkan rumah pondokannya. Di dalam pengucapan kalimat ia juga ³menindakkan´ sesuatu. ia juga menindakkan sesuatu. Dengan pengucapan kalimat Arep ngombe apa? si pembicara tidak semata-mata menanyakan atau meminta jawaban tertentu. dan Perlokusi Austin (1962) dalam How to do Things with Words mengemukakan bahwa mengujarkan sebuah kalimat tertentu dapat dipandang sebagai melakukan tindakan (act). di samping memang mengucapkan kalimat tersebut. mengatakan Sampun jam sanga ia tidak semata-mata memberi tahu keadaan jam pada waktu itu. 1989: 265). 1989: 212-213). Jadi. jika MT melakukan tindakan . penerimaan akan tawaran (acceptation of offers) B. ajakan (invitation). Chicago is in the United States (Richards dkk. ia juga menindakkan sesuatu. Ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu. Misalnya: 1. Ali pergi ke Jakarta 2. Lokusi adalah semata-mata tindak berbicara. Pengertian Tindak tutur (istilah Kridalaksana µpertuturan¶ / speech act. tanpa bermaksud untuk minta minum. pemberian izin (permissons). apabila seorang penutur (selanjutnya disingkat P) Jawa mengujarkan ³Aku ngelak´ dalam tindak lokusi kita akan mengartikan ³aku´ sebagai µpronomina persona tunggal¶ (yaitu si P) dan ³ngelak´ mengacu ke µtenggorokan kering dan perlu dibasahi¶.

1993: dapat diungkapkan dengan menggunakan berbagai ujaran sebagai berikut. (3) TT ekspresif ialah TT yang dilakukan dengan maksud agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi mengenai hal yang disebutkan di dalam ujaran itu. dan sebagainya) yang baru. menurut Blum-Kulka (1987) (lihat Gunarwan. keadaan. Hal ini berkaitan dengan tindak tutur langsung (TT-L) dan tindak tutur tidak langsung (TT-TL). dan menyebutkan. misalnya menyatakan. yang paling samar-samar maksudnya ialah bentuk ujaran (9).3 TT Langsung vs TT Tidak Langsung Dari sembilan bentuk ujaran tersebut diperoleh sembilan TT yang berbeda-beda derajat kelangsungannya dalam menyampaikan maksud µmenyuruh memindahkan meja¶ itu.mengambilkan air minum untuk P sebagai akibat dari TT itu maka di sini dapat dikatakan terjadi tindak perlokusi. Derajat kelangsungan TT dapat diukur berdasarkan ³jarak tempuh´ antara titik ilokusi ( di benak P) ke titik tujuan ilokusi (di benak MT). menuntut. mengritik. memohon. misalnya berjanji dan bersumpah. misalnya menyuruh. Kelima TT itu sebagai berikut: (1) TT representatif yaitu TT yang mengikat P-nya kepada kebenaran atas apa yang dikatakannya. Untuk maksud atau fungsi ³menyuruh´. (9) Isyarat halus : Kamar iki kok katone sesak ngono ya? 3. (6) Rumusan saran : Piye yen meja iki dipindhah? (7) Persiapan pertanyaan : Kowe bisa mindhah meja iki? (8) Isyarat kuat : Yen meja iki ana ing kene. Komisif. dan sebaliknya. 3. kamar iki katon rupek. menyarankan. dan Deklaratif Searle (1975) mengembangkan teori TT dan membaginya menjadi lima jenis TT (dalam Ibrahim. Ekspresif. dan memberi maaf. Karena kata ³meja´ sama sekali tidak disebutkan . Derajat kelangsungan dapat pula diukur berdasarkan kejelasan pragmatisnya: makin jelas maksud ujaran makin langsunglah ujaran itu. (1) Kalimat bermodus imperatif : Pindhahen meja iki! (2) Performatif eksplisit : Dakjaluk sliramu mindhahke meja iki! (3) Performatif berpagar : Aku jan-jane arep njaluk tulung sliramu mindhahke meja iki. Pada bagian terdahulu telah disinggung bahwa di dalam komunikasi satu fungsi dapat dinyatakan atau diutarakan melalui berbagai bentuk ujaran. 1993: 11-54). mengizinkan. Direktif. (2) TT direktif yaitu TT yang dilakukan P-nya dengan maksud agar si pendengar atau MT melakukan tindakan yang disebutkan di dalam ujaran itu. misalnya memuji. Dari kesembilan bentuk ujaran tersebut. misalnya. membatalkan. misalnya memutuskan. berupa isyarat halus. (4) Pernyataan keharusan : Sliramu kudu mindhahke meja iki! (5) Pernyataan keinginan : Aku kepengin meja iki dipindhah. dan mengeluh. mengucapkan terima kasih. (5) TT deklaratif merupakan TT yang dilakukan P dengan maksud untuk menciptakan hal (status. menunjukkan. (4) TT komisif adalah TT yang mengikat P-nya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam ujarannya. melaporkan. dan menantang. melarang.2 TT Representatif.

dan tindak perlokusi (melakukan tindakan dengan mengatakan sesuatu). Lokusi 2.) Dengan mengatakan X. yaitu tindak lokusi (melakukan tindakan mengatakan sesuatu). Sebagian verba yang digunakan untuk melabel tindak ilokusi bisa digunakan secara performatif. kelangsungan dan keharafiahan ujaran. secara ringkas. melukai. yaitu: (1) TT-LH : ³Buka mulut´. menolak. n menegaskan (asserts) bahwa P.oleh P dalam ujaran (9). dan perlokusi. maka MT harus mencari-cari konteks yang relevan untuk dapat menangkap maksud P. dan mencakup tindaktindak seperti bertaruh. misalnya diucapkan oleh dokter gigi kepada pasiennya. yaitu lokusi. Misalnya. Misalnya: n mengatakan kepada t bahwa X. (3) TT-TLH : ³Bagaimana kalau mulutnya dibuka?´. 1996: 36). misalnya diucapkan oleh dokter gigi kepada pasien yang masih kecil agar anak itu tidak takut. Hal ini sejalan dengan pendapat Austin (1962) yang melihat adanya tiga jenis tindak ujar. Dengan demikian. Dengan demikian mengatakan Saya menolak bahwa X sama halnya menolak bahwa X. Selain TT-L dan TT-TL. digabungkan maka akan didapatkan empat macam ujaran. (Dilakukan dengan mengatakan sesuatu. (2) TT-LTH : ³Tutup mulut´. (Menghasilkan efek tertentu pada pendengar. (merupakan tindak mengatakan sesuatu: menghasilkan serangkaian bunyi yang berarti sesuatu. berdasarkan uraian dan contoh-contoh di atas dapat dicatat ada delapan TT sebagai berikut (bandingkan Wijana. (1) Tindak tutur langsung (TT-L) (2) Tindak tutur tidak langsung (TT-TL) (3) Tindak tutur harafiah (TT-H) (4) Tindak tutur tidak harafiah (TT-TH) (5) Tindak tutur langsung harafiah (TT-LH) (6) Tindak tutur tidak langsung harafiah (TT-TLH) (7) Tindak tutur langsung tidak harafiah (TT-LTH)\ (8) Tindak tutur tidak langsung tidak harafiah (TT-TLTH) Apabila seseorang menggunakan bahasa. dan memesan. Ini merupakan aspek bahasa yang merupakan pokok penekanan linguistik tradisional). P dapat juga menggunakan tindak tutur harafiah (TT-H) atau tindak tutur tidak harafiah (TT-TH) di dalam mengutarakan maksudnya. Jika kedua hal itu. tindak ilokusi (melakukan tidakan dalam mengatakan sesuatu). Kesulitan dalam definisi ini muncul dari . suruhan (request) memiliki kekuatan esensial untuk membuat pendengar melakukan sesuatu. n meyakinkan (convinces) t bahwa P. misalnya diucapkan oleh P yang mengajak MTnya untuk tidak membuka rahasia. menakutnakuti. Contoh-contoh yang sesuai adalah meyakinkan. misalnya diucapkan oleh seseorang yang jengkel kepada MT-nya yang selalu ³cerewet´. maka ada 3 jenis tindakan atau tindak tutur (selanjutnya disingkat TT). Persuasi merupakan tindak perlokusi: orang tidak dapat mempersuai seseorang tentang sesuatu hanya dengan mengatakan Saya mempersuasi anda. ilokusi. lebih baik jika kita semua sepakat menutup mulut kita masing-masing´. Ilokusi 3. Perlokusi Perbedaan kekuatan antara perlokusi dan ilokusi tidak selalu jelas. (4) TT-TLTH : ³Untuk menjaga rahasia. Dalam mengatakan X. dan membuat tertawa) 1. berjanji.

Misalnya: Dia sakit. TT ini sangat sedikit peranannya dalam pragmatik. Searle. kalimat tanya (interogatif). TT ilokusi: Austin. 1.´ C. TT lokusi: Austin. perbuatan bertutur. di mana. perbuatan yang dilakukan dengan mengujarkan sesuatu. Tempat itu jauh Lokusi Perlokusi Tempat itu jauh. Misalnya: . Informasi Tanya Di mana handuk saya? ya. (membeli) Temboknya dicat! (jangan dekat tembok itu) Adoh lho le! (jangan ke sana) 3. kapan. Wacana-wacana ilmiah yang tidak menekankan emosi termasuk TT lokusi. tidak (apa. hal mengungkapkan sesuatu atau menyatakan sesuatu (locutionary speech act). kalimat dapat dibedakan menjadi 3 macam. yaitu kalimat berita (deklaratif). ke mana. dll. Searle. ajakan. membuat orang lain percaya akan sesuatu dengan mendesak orang lain untuk berbuat sesuatu. 2. metapesan µJangan pergi ke metapesan (Dalam pikiran sana!¶ mitratutur ada keputusan) ³Saya tidak akan pergi ke sana. yang merupakan keadaan psikologis yang tidak bisa diobservasi (lihat Abd. dsb. Pohon punya daun. Kesulitan itu juga muncul dari dasar definisi maksud penutur. kalimat atau tuturan dapat dibedakan menjadi tuturan langsung dan tutran tidak langsung. Kaki manusia dua. Tempat itu jauh. Misalnya: Saya berjanji.) TT langsung (direct speech) Perintah Pergi! larangan. untuk apa. Berita Adiknya sakit. dan kalimat perintah (imperatif). bertanya (illocutionary speech act). mis. Tindak tutur langsung-tidak langsung dan literal-tidak literal Berdasarkan isi kalimat atau tuturannya.urutan tindakan yang banyak diabaikan oleh teori tindak tutur. perbuatan yang dilakukan dalam mengujarkan sesuatu atau melakukan sesuatu. TT perlokusi: Austin. (minta maaf) Kula nyuwun sekilo. intonasi) informasi (apa. 1993: 115). Lokusi Tempat itu jauh. siapa. memperingatkan. Syukur Ibrahim. mengandung pesan. Ibunya di rumah! (bisa bermaksud melarang datang menemui anaknya) Bapaknya galak! (bisa melarang jangan ke sana) Saya tidak dapat datang. atau mempengaruhi orang lain (perlocutionary speech act) Misalnya: Tempat itu jauh. perintah biasa dan TT langsung (direct speech) TT langsung (direct speech) Berdasarkan mudusnya.

yang jelek dikatakan bagus (disebut µironi¶). TT tidak langsung literal 7. 8. Buka mulutnya! (makna tidak lugas: tutup). Misalnya. dan tidak literal) apabila disinggungkan (diinterseksikan) dapat dibedakan menjadi 8 macam seperti sebagai berikut. B: Ini uangnya. TT tidak literal 5. Misalnya. suara radionya keras sekali. Adiknya sakit. TT tidak langsung 3. 1. matikan! Radione banter. Buka mulutnya! (makna lugas: buka). Beli sana! Kadang-kadang secara pragmatis kalimat berita dan tanya digunakan untuk memerintah. 1. Hal ini disebut juga µnglulu¶ Dalan bahasa kadang-kadang terjadi. kalimat Radione kurang banter. TT literal 4. 3. (ada maksud: jangan ribut atau tengoklah!) Berdasarkan keliteralannya. Misalnya: 1. Tuturan literal: tuturan yang sesuai dengan maksud atau modusnya. 4. betul-betul kurang keras keraskan radionya! suara radionya keras sekali. TT langsung literal 6. nyah. sehingga merupakan TT tidak langsung (indirect speech). Rumahnya jauh. 2. Tuturan tidak literal: tuturan yang tidak sesuai dengan maksud dalam tulisan/tuturan. tidak langsung.[Tuturan langsung] A: Minta uang untuk membeli gula! B: Ini. literal. TT langsung tidak literal 8. 7. 1. 2. 5. TT langsung TT tidak langsung TT literal TT tidak literal TT langsung literal TT tidak langsung literal TT langsung tidak literal TT tidak langsung tidak literal betul-betul kurang keras. tuturan dapat dibedakan menjadi tuturan literal dan tuturan tidal literal. 6. keraskan radionya! betul-betul kurang keras. 2. yang bagus dikatakan jelek (hal ini disebut banter [bEnte]). Masing-masing tindak tutur (langsung. TT tidak langsung tidak literal Misalnya. [Tuturan tidak langsung] A: Gulanya habis. TT langsung 2. (ada maksud: jangan pergi ke sana). kurang . Hal ini merupakan sesuatu yang penting dalam kajian pragmatik.

1993: 11. tidak berlebihan. b. maka orang akan berbicara sejelas mungkin. 1996: 46-53). Selanjutnya orang lain diharapkan menangkap apa (hal) yang dikemukakan. tidak berbelit-belit. tetapi ia harus bertanggung jawab atas penyimpangan itu. dan bandingkan pula Wijana.PRINSIP KERJA SAMA (Cooperative Principle) Sebelum belajar tentang µprinsip kerja sama¶. Dengan adanya 2 tujuan ini. Kalau orang berbicara kepada orang lain pasti ingin mengemukakan sesuatu. Berikan informasi Anda secukupnya atau sejumlah yang diperlukan oleh MT. antara P dengan MT harus saling menjaga prinsip kerja sama (cooperative principle) agar proses komunikasi berjalan dengan lancar. (1) Maksim kuantitas: a. kita perlu belajar tentang µasumsi pragmatik¶. Grice menjabarkan prinsip kerja sama itu menjadi empat maksim percakapan (periksa Gunarwan. Tanpa adanya prinsip kerja sama komunikasi akan terganggu. berbicara secara wajar (termasuk volume suara yang wajar). Contoh: kikir : q2r berdua satu tujuan : ber-217-an tekate dhewe : TKTDW kutujukan : ku¥49kan wawan : wa-one prawan ayu : pra one are you kian maju : q-an maju lali main : la5in dik daniel : dick&niel kaki lima : kq lima thank before : thx b4 aku : aq kamu :u sama-sama := yang : y9 sayang : sy9 anti gadis : an3dis dan :n Di dalam berkomunikasi. ada maksud-maksud tertentu. Prinsip kerja sama ini terealisasi dalam berbagai kaidah percakapan. sehingga orang lain bisa mengetahui maksudnya. Bicaralah seperlunya saja. Hanya saja dalam pragmatik terdapat penyimpangan-penyimpangan. Lubis. . ringkas. Mereka harus bekerja sama. Keempat maksim percakapan itu ialah sebagai berikut. 1993: 73. Secara lebih rinci. jangan mengatakan sesuatu yang tidak perlu.

b.(2) Maksim kualitas: a. dan tidak ambigu. Misalnya: Ibu kota Provinsi Jawa Timur Surabaya. Terdapat beberapa asumsi pragmatik. (Secara kuantitas cukup jelas). (3) Maksim relevansi: a. Akan tetapi. terdapat penyimpangan maksim. Maksim relevansi Penutur dan mitra tutur berbicara secara relevan berdasarkan konteks pembicaraan. Katakan dengan jelas. kalau informasi itu tidak relevan dengan permasalahan toh tidak akan membawa manfaat. Untuk memenuhi komunikasi secara wajar dan terjadi kerja sama yang baik. Jangan katakan sesuatu tanpa bukti yang cukup.. c. Sejauh mana asumsi ini benar juga masih memerlukan pengkajian secara pragmatis. maksim ketiga atau maksim relevansilah yang paling penting sebab betapa pun informasi yang kita sampaikan itu cukup serta disampaikan dengan cara yang jelas. 2. b. Kenyataan membuktikan. lalu murid menjawab «. yaitu: 1. Misalnya: Buku itu dibuat dari kertas. sistematis. Maksim kualitas Prinsip yang menghendaki orang-orang berbicara berdasarkan bukti-bukti yang memadai. d. di dalam percakapan sehari-hari tidak jarang kita temukan praktikpraktik pelanggaran terhadap maksim-maksim Grice tersebut. di antara empat maksim itu. Dalam kaitannya dengan maksim kualitas. (4) Maksim cara: a. mengapa P yang bermaksud meminjam uang atau memerlukan bantuan kepada MT biasanya diawali dengan menceritakan secara panjang lebar keadaan dirinya seraya disertai dengan janji-janji? Apakah itu berlaku secara universal? Bukankah tindakan tersebut melanggar maksim kuantitas? Pada hemat saya. e. Bicaralah secara singkat. b. Bicaralah sesuai dengan permasalahan. bukti tidak memadai. sedangkan dalam gramatika/ tatabahasa diatur oleh kaidah (rule governed). maka dalam komunikasi harus memenuhi prinsip (maksim). tidak bertele-tele. Hindari kekaburanan ujaran. Katakan yang relevan. Bukti cukup memadai. Berkatalah secara sistematis. Maksim kuantitas Berbicara sejumlah yang dibutuhkan oleh pendengar. 3. justeru pelanggaran-pelanggaran itulah yang menarik untuk dikaji: mengapa P melakukan pelanggaran terhadap maksim tertentu. Dalam pragmatik dikontrol oleh maksim (principle controlled). Hindari ketaksaan. baya. ada maksud apa di balik pelanggaran maksim tersebut? Misalnya. Ibu kota Provinsi Jawa Timur Sura «« Tuturan ini disampaikan oleh guru. Kalau lebih berarti ada tujuannya. Misalnya: A : Ini jam berapa? . Asumsi pragmatik ini merupakan titik acuan (point of reference). c. Katakanlah hal yang sebenarnya. bagi pengamat pragmatik. tetapi apabila ada tuturan *Buku itu dibuat dari nasi. misalnya Modal saja tidak bisa dan Untung saja tidak dapat. Jangan katakan sesuatu yang Anda tahu bahwa sesuatu itu tidak benar.

Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS memiliki 8 jurusan. Retorika tekstual harus memenuhi 4 prinsip (maksim) kerja sama. Misalnya: Saya akan datang. Misalnya: A : Kamu penjahat kelas kakap. Yang diperhatikan adalah tuturan. dan perintah. Tuturan komisif: berjanji. B : Benar.B : Ini jam 3. Jadi tidak hanya bersifat tekstual. memerintah. A B : Ini Tanah Abang. Dalam kaitannya dengan kategori pragmatik ini ada tuturan komisif. maksim relevansi. tidak boleh ambigu (taksa). dia sering tampil di TVRI. 4. menawarkan. Akan menjadi tidak relevan misalnya apabila B menjawab Ini baju kamu atau Di sana. maksim kualitas. tuturan ekspresif. Saya akan datang (ada efek yang lain untuk memerintah) 3. Boleh saya bawakan? Saya akan setia. dan maksim cara. 4. tuturan impositif (direktif). tuturan asertif. Misalnya: A : Dia penyanyi solo. Tetapi kadang-kadang dalam tuturan yang wajar terjadi dis-ambiguasi (pengawaambiguan). 2. Kadang-kadang sulit dibedakan antara tuturan asertif dengan ekspresif. Misalnya: Apakah Anda bisa menolong saya. Keempat prinsip tersebut di atas termasuk pada jenis µretorika tekstual¶ sebab dalam pragmatik dikenal adanya retorika tekstual dan retorika interpersonal. mujair. Misalnya: Gedung itu indah sekali. yaitu maksim kuantitas. Swear. Ada 6 macam prinsip agar memenuhi prinsip kesopanan. Tuturan asertif: menyatakan sesuatu (objektif). Misalnya: Bali terletak di sebelah timur Pulau Jawa. ya? B : Bukan. perlu mengingat kembali dari adanya kategori sintaktik yang terdiri dari berita. Dalam kategori pragmatik didasarkan pada fungsi komunikatifnya. Selanjutnya agar memenuhi prinsip (maksim) kesopanan. . ya? : Jangan menghina. Retorika interpersonal membutuhkan prinsip kesopanan (politeness principle). Sebelum sampai pada prinsip kesopanan. Maksim cara Tuturan harus dikomunikasikan secara wajar. memohon. Gadis itu cantik sekali. Tuturan ekspresif: menyatakan perasaan (emosi). tanya. Tuturan impositif (direktif): menyuruh. Sedangkan retorika interpersonal harus memperhitungkan orang lain. 1. sehingga kata-kata yang ambigu itu hanya satu makna. masak saya miskin seperti ini punya tanah. tidak terbalik (harus runtut). berikut ini inti 6 prinsip kesopanan menurut Leech.

Maksim kerendahhatian (modesty maxim). ning emane cedhak pabrik. Pusatnya pada diri sendiri (self centred maxim). begini saja kok bagus. Pusatnya orang lain (other centred maxim) Maksim ini ditujukan untuk kategori asertif dan ekspresif. Maksim kesetujuan atau kecocokan (agreement maxim). = memaksimalkan kerugian diri sendiri. nanging emane akeh sukete. Ditujukan pada orang lain (other centred maxim). = meminimalkan rasa hormat pada diri sendiri dan memaksimalkan rasa tidak hormat pada diri sendiri. 2. A : Omah kuwi apik banget. B : Ah tidak. biasa-biasa saja. (Ketidaksetujuan total / tidak sopan) A B : Wah. Maksim penerimaan ini ditujukan untuk menawarkan dan berjanji. B : Iya. Maksim kemurahhatian (generosity maxim). meminimalkan rasa tidak hormat pada orang lain.1. Misalnya: A : Omah kuwi apik. apik banget. . Misalnya: Ada yang bisa saya bantu? A : Mari saya bawakan! B : Tidak usah. Tuturan A dan B disebut pragmatik paradoks. meminimalkan keuntungan diri sendiri. Jenis maksim ini untuk berjanji dan menawarkan (impositif. tact maxim. 5. A B : Mobilnya bagus! : Ah. komisif). ning rada «. Ditujukan untuk menyatakan pendapat dan ekspresif. Misalnya: A : Kau sangat pandai. Misalnya: Omahmu jane apik. bukan pada orang lain (self centred maxim). ayu banget ya dheweke? : Iya. Ditujukan pada diri sendiri. Maksim penerimaan (approbation maxim). = memaksimalkan rasa hormat pada orang lain. B : Wah elek banget ngono kok. (kera). Maksim kebijaksanaan/kedermawanan. Pekarangane jembar. = memaksimalkan kesetujuan pada orang lain dan meminimalkan ketidaksetujuan pada orang lain. 4. Pusatnya pada orang lain (other centred maxim). = memaksimalkan keuntungan orang lain. Apakah Anda bersedia membawakan? Bawakan ini! (tidak sopan) Mari saya antarkan! Tolong saya dihantarkan! 3. meminimalkan kerugian orang lain. Misalnya: Bolehkah saya bantu? Mari saya bantu.

Sebagai tataran terbaru dalam linguistik. dan mengabaikan unsur pengguna bahasa. dengan melihat perbedaan kajiannya dengan bidang lain dalam linguistik. (3) bidang yang. . yaitu dengan menurunkan sistem yang terdapat dalam matematika dan logika. Misalnya: A : Saya lolos di UMPTN. ya. menjelaskan secara singkat topik-topik bahasannya. 2010 ramlannarie bahasa indonesia Leave a comment Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik? 1. melebihi kajian tentang makna yang diujarkan. dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. Pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. menyebutkan empat definisi pragmatik. Makalah ini bertujuan menjelaskan pentingnya bidang pragmatik untuk dipelajari dalam program studi linguistik. Meskipun memiliki fokus kajian yang serupa dengan semantik. Yule (1996: 3). (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya. Jon. seperti diungkap oleh Yule (1996: 6). Ditujukan untuk menyatakan asertif dan ekspresif. studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya. 2. misalnya. B : Selamat. yaitu makna. Definisi Pragmatik Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. : Oh. yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara. dan. LINGUISTIK: PRAGMATIK May 30. menunjukkan pentingnya pragmatik. Untuk tujuan tersebut. saya turut berduka cita. A B : Baru-baru ini dia telah meninggal. Maksim kesimpatian (symphaty maxim). Pusatnya orang lain (other centred maxim). seperti akan saya jelaskan kemudian. perkembangannya.(Ketidaksetujuan parsial / sopan) 6. Pendahuluan Dalam jangka yang cukup lama. = memaksimalkan simpati pada orang lain dan meminimalkan antipati pada orang lain. saya mengawali makalah ini dengan pembahasan mengenai pengertian pragmatik. makna yang dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantik. mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara.

Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi. Dengan kata lain. adalah tradisi filsafat. tepatnya di Britania. seperti sering kita jumpai. dan kedua. dengan menggunakan sudut pandang sosial. seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5). morfologi. yang tumbuh di Eropa. dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)). Kecenderungan kedua. Para pakar tersebut mengkaji bahasa. Ludwig Wittgenstein. Jerman. yang dipelopori oleh Bertrand Russell. bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya. yaitu bahwa dalam kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis. mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa. bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6). Perkembangan Pragmatik Mey (1998). sosial. mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi. Searle. . muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan. seperti dikutip Gunarwan (2004: 7). misalnya Austin. dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik. atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi.Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian. Kecenderungan yang pertama. Tradisi yang ketiga. kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi. melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. (2) kecenderungan sosial-kritis. dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross. menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). 3. menolak pandangan sintaksisme Chomsky. yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. pragmatisisme. dalam kaitannya dengan logika. Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross. bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6). dan Grice. dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran. pertama. yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme. keapikan sintaksis (well-formedness) bukanlah segalanya. Searle. yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik. dan terutama John L. Selanjutnya Thomas (1995: 22). Dalam etnometodologi. dengan menggunakan sudut pandang kognitif. dan bahwa fonologi. dan komplementarisme. mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction). Keterkaitan ini ia sebut semantisisme. Austin dan John R. sebab. dan semantik bersifat periferal. yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik. komunikasi tetap dapat berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak apik secara sintaksis (ill-formed). dan (4) tradisi etnometodologi. Menurut Lakoff dan Ross. (3) tradisi filsafat. termasuk penggunaannya. Leech (1983: 2). bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri. menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning).

Sebab.4. Melalui hipotesis performatifnya. Searle. saya nikahkan kalian (performatif) (4) Rumah Joni terbakar (konstatif) Selanjutnya Austin. dan Grice). memasukkan ujaran konstatif. sejak itu bidang kajian ini telah berkembang jauh. Austin (dalam Thomas 1995: 31) berpendapat bahwa salah satu cara untuk membuat pembedaan yang baik bukanlah menurut kadar benar atau salahnya. Austin dapat dianggap sebagai pemicu minat yang paling utama dalam kajian pragmatik. yaitu pragmatik filosofis (Austin. seperti dikutip oleh Thomas (1995: 29-30). yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech-act). kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar karena sesuai dengan kenyataan. pragmatik kognitif (Sperber dan Wilson). (1) Ada enam kata dalam kalimat ini (2) Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono Dari contoh di atas. Austin berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements). seperti Russel dan Moore. sehingga kita dapat melihat sejumlah kecenderungan dalam pragmatik. dan pragmatik interaktif (Thomas). melainkan juga melakukan sesuatu (perform actions). pragmatik neo-Gricean (Cole). Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics (Thomas 1995: 30). Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Gunarwan 2004: 8). seperti juga ditekankan lebih lanjut oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). sebagai bagian dari performatif (Austin 1962: 52 dan Thomas 1995: 49). bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis. Austin. seperti diungkap oleh Marmaridou (2000: 1 (dalam Gunarwan 2004: 8)). yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi dan ketaksaan. Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif.1 Teori Tindak-Tutur Melalui bukunya. karena memiliki struktur dalam yang mengandungi makna performatif. Contoh. Beberapa Topik Pembahasan dalam Pragmatik 4. . sesuai contoh di atas. How to Do Things with Words. dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin ini mengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition). Dalam contoh (4). struktur dalam ujaran tersebut dapat saja berbunyi Saya katakan bahwa rumah Joni terbakar. Contoh. (3) Dengan ini. melainkan melalui bagaimana bahasa dipakai sehari-hari. yaitu. dan bahwa pernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris.

yaitu (1) bidal kuantitas (quantity maxim).2 Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle) Grice mengemukakan bahwa percakapan yang terjadi di dalam anggota masyarakat dilandasi oleh sebuah prinsip dasar. mengungkapkan secara singkat. seperti diungkap oleh Thomas (1995: 57). mengungkapkan secara beraturan (Gunarwan 2004: 11 dan Thomas 1995: 63-64). sedangkan dalam indirect speech-act hubungannya tidak langsung atau menggunakan (bentuk) tindak-tutur lain (Gunarwan 2004: 9. menyatakan hanya yang menurut kita benar atau cukup bukti kebenarannya. Searle juga menyebut lima jenis fungsi tindak-tutur. Selain itu. menghindari ketaksaan. Implikatur konversasional merupakan implikatur yang dihasilkan karena tuntutan konteks tertentu (Thomas 1995: 58). yaitu asertif (assertive). Implikatur konvensional merupakan implikatur yang dihasilkan dari penalaran logika. Berkaitan dengan prinsip kerja sama Grice di atas. Tindak-tutur.3 Implikatur (Implicature) Grice. ekspresif merupakan tindak-tutur yang menyatakan perasaan pembicaranya. dapat dicontohkan dengan penggunaan kata bahkan. dan deklarasi merupakan tindak-tutur yang mengubah status sesuatu. 4. memberi sumbangan informasi yang relevan. menyebut dua macam implikatur. Tindak lokusioner berkaitan dengan produksi ujaran yang bermakna. dapat berupa tindak-tutur langsung (direct speech-act) dan tindak-tutur tidak langsung (indirect speech-act). ujaran yang mengandung implikatur jenis ini. Contoh. dan tindak perlokusioner berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan (Thomas 1995: 49). seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 14). memberi informasi sesuai yang diminta.Tindakan yang dihasilkan dengan ujaran ini mengandung tiga tindakan lain yang berhubungan. pada kenyataannya. misalnya untuk memberikan informasi secara tersirat (implicature) dan menjaga muka lawan bicara (politeness). yaitu prinsip kerja sama (cooperative principle) (Yule 1996: 36-37 dan Thomas 1995: 61). komisif merupakan tindak-tutur yang digunakan pembicaranya untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukannya. Asertif atau representatif merupakan tindak-tutur yang menyatakan tentang sesuatu yang dipercayai pembicaranya benar. dan Yule 1996: 5455). menghindari ketidakjelasan pengungkapan. Kerja sama yang terjalin dalam komunikasi ini terwujud dalam empat bidal (maxim). 4. seperti dikembangkan lebih jauh oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). direktif merupakan tindaktutur yang menghendaki pendengarnya melakukan sesuatu. Hal ini. Dalam direct speeh-act terdapat hubungan langsung antara struktur kalimat dengan fungsinya. (3) bidal relasi (relation maxim). tindak ilokusioner terutama berkaitan dengan intensi atau maksud pembicara. yaitu implikatur konvensional dan implikatur konversasional. dan Yule 1996: 53-54). direktif (directive). dan deklarasi (declaration) (Littlejohn 2002: 80. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 1214). (2) bidal kualitas (quality maxim). . ekspresif (expressive). dalam komunikasi kadang kita tidak mematuhi prinsip tersebut. didasarkan atas beberapa alasan. ilokusi (illocutionary act). yaitu lokusi (locutionary act). dan (4) bidal cara (manner maxim). dan perlokusi (perlocutionary act) (Yule 1996: 48). komisif (comissive).

Sperber dan Wilson (1995). Dengan kata lain. Melalui hal tersebut. namun mencakup perluasan wilayah kognitif (cognitive environment) kedua belah pihak. dengan menggunakan prinsip kerja sama Grice. Misalnya pada contoh (7) di atas. misalnya contoh (5) di atas. misalnya untuk ke kamar mandi. untuk menjelaskan cara sebuah pesan dipahami penerimanya. yaitu: pertama. pengirim pesan dapat memperkirakan reaksi penerima pesan terhadap pesan yang disampaikannya. 4. Menurut mereka. bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi. Setiap pembaca dapat memahami bahwa pesan ini hanya berlaku jika ia akan meninggalkan ruangan tersebut untuk terakhir kalinya. tahapan yang harus dilewati untuk memahami implikatur dalam percakapan. (7) Pastikan semua pintu terkunci jika meninggalkan ruangan ini. menurut Gazdar. sedangkan yang kedua tidak. dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini. komunikasi tidak hanya memasukkan apa yang ada dalam pikiran pengirim pesan ke dalam pikiran penerima pesan. ujaran merupakan sebentuk tindakan dari komunikasi ostensif. dan ketiga. implikatur dapat dibedakan menjadi implikatur khusus dan implikatur umum. Selanjutnya. menyebutkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (language in use) selalu dapat diidentifikasi melalui hal yang disebutnya indeterminacy atau underspecification. menetapkan tiga macam hubungan antara cue dan implicature. Sperber dan Wilson (1995). misalnya contoh (6) di atas. . explicature atau degree of relevance.4 Teori Relevansi Teori relevansi yang dikembangkan oleh Sperber dan Wilson merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. penerima pesan (addressee) hanya memilih sesuatu yang dianggapnya relevan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan (addresser) dalam konteks komunikasi tertentu. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). Contoh. yaitu tidak perlu mengunci pintu jika keluar dalam batasan waktu dan situasi yang diperkirakan cukup aman. bukan untuk setiap kali meninggalkan ruangan. sedangkan contoh (6) merupakan implikatur konversasional yang bermakna µtidak¶ dan merupakan jawaban atas pertanyaan maukah Anda menghadiri selamatan sunatan anak saya? Berbeda dengan Grice. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). misalnya tindakan untuk membuat sesuatu menjadi jelas dan dapat dimengerti oleh penerima pesan.(5) Bahkan Bapak Menteri Agama menghadiri sunatan anak saya (6) Saya kebetulan ke Inggris untuk studi selama dua tahun dan berangkat besok Contoh (5) di atas merupakan implikatur konvensional yang berarti Bapak Menteri Agama biasanya tidak menghadiri acara sunatan. Contoh yang ditulis Renkema (2004: 23) di bawah ini memberikan gambaran yang cukup jelas. pesan ini berada dalam spesifikasi tertentu yang disepakati oleh addresser dan addressee dalam konteks komunikasi. Yang pertama ada karena konteks ujaran. kedua. Dalam teori relevansi dipelajari bagaimana sebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya.

³face merupakan gambaran citra diri dalam atribut sosial yang telah disepakati´. pemahaman penerima pesan terhadap apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan terjadi melalui beberapa tahapan. dan ketiga. merupakan ujaran yang relevansinya rendah dan membutuhkan processing effort yang lebih besar. dan citra diri di depan umum (public self-image). there is a shuttle service sixty euros one-way. dalam pengertian degree of relevance. karena semakin tinggi contextual effect maka semakin rendah ia membutuhkan processing effort. Kebutuhan yang pertama disebut positive face. How does it works? You just turn up for the shuttle service? A: That might be cheaper. berkenaan dengan bobot mutlak (absolute weight) tindakan tertentu dalam kebudayaan tertentu. yang dikutip oleh Jaszczolt (2002: 318). Begitu juga A. kedua. Menurut Goffman (1956).5 Kesantunan (Politeness) Konsep strategi kesantunan yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson diadaptasi dari konsep face yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog bernama Erving Goffman (1956) (Renkema 2004: 24-25). Dalam percakapan di atas. Brown dan Levinson (1978) membangun teori tentang hubungan intensitas FTA dengan kesantunan yang terrealisasi dalam bahasa (Renkema 2004: 25). face dapat diartikan kehormatan. jarak sosial atau social distance (D) antara pembicara dengan lawan bicaranya. boleh tanya? . Dalam hal ini. when do you want to go? B: At the weekend. misalnya bobot kedua permintaan di atas tidak terlalu besar jika kedua ungkapan tersebut ditujukan kepada saudara sendiri. it costs 50 euros. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 25). setiap partisipan memiliki dua kebutuhan dalam setiap proses sosial: yaitu kebutuhan untuk diapresiasi dan kebutuhan untuk bebas (tidak terganggu). sedangkan yang kedua disebut negative face. ia mengandaikan B dapat mengerti bahwa that migh be cheaper dapat berarti If you purchase a ticket now. (9) a. you have booked seat which costs 60 euros. kekuasaan atau power (P) yang dimiliki lawan bicara (Renkema 2004: 26). A: What weekend? B: Next weekend. harga diri (self-esteem). padahal A harus memastikan dengan jelas setiap pemesanan pembelian tiket. Maaf. Berdasarkan konsep face yang dikemukakan oleh Goffman ini. ujaran at the weekend. Contoh. 4. Pak. Menurut Goffman (1967: 5). Intensitas FTA diekspresikan dengan bobot atau weight (W) yang mencakup tiga parameter sosial. yaitu: pertama. Dalam percakapan tersebut. Dengan kata lain. misalnya permintaan ³May I borrow your car?´ mempunyai bobot yang berbeda dengan permintaan ³May I borrow your pen?´. sedangkan that might be cheaper merupakan ujaran yang relevansinya lebih baik. Then that¶s fifty. tingkat gangguan atau rate of imposition (R). If you buy ticket when you turn up. B mengira A mengerti bahwa at the weekend berarti next weekend.(8) A: Well.

(5) a. Hey. Renkema (2004: 27) memberi contoh strategi tersebut. Pragmatik dalam Linguistik Seperti telah saya uraikan sedikit dalam sub 3 di atas. dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal. seperti diungkapkan oleh Renkema (2004: 26). bidal kerendahhatian (modesty maxim). semakin besar intensitas FTA mengancam stabilitas komunikasi. bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat. bidal kedermawanan (generosity maxim).b. Mas? Dalam contoh di atas terlihat jelas. dan. ujaran (9a) mungkin diucapkan pembicara yang secara sosial lebih rendah dari lawan bicaranya. sehingga bentuk . Pakar ini membahas teori kesantunan dalam kerangka retorika interpersonal (Eelen 2001: 6). semakin tinggi resiko kehilangan muka. dapat dilakukan. Dalam hal ini. Numpang tanya. face work technique. Hey. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat banyak cara untuk menghindari FTA yang dapat direduksi menjadi lima macam cara. Kelima strategi tersebut diurut berdasarkan tingkat resiko ³kehilangan muka´. misalnya dengan pujian. dapat dilakukan. bidal simpati (sympathy maxim). Berkaitan dengan politeness strategy ini. 5. maka semakin kecil kemungkinan pembicara melakukan FTA. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 19). Politeness. bidal kesetujuan (aggreement maxim). Leech (dalam Eelen 2001: menyebutkan enam bidal kesantunan. yaitu bidal kebijaksanaan (tact maxim). salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. (baldly) b. lend me a hundred dollars. Dalam hal ini. Brown dan Levinson (1978). seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4). sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya. misalnya mahasiswa kepada dosen atau yang muda kepada yang tua. Politeness (kesantunan) dalam hal ini dapat dipahami sebagai upaya pencegahan dan atau perbaikan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh FTA. misalnya dengan melakukan tindakan yang tidak kooperatif dalam komunikasi (Renkema 2004: 25). but could you lend me a hundred dollars? (negative polite) e. friend. Oh no. I¶m sorry I have to ask. I¶m out of cash! I forgot to go to the bank today. sedangkan politeness yang dilakukan untuk tujuan sebaliknya disebut respect politeness. yang bertujuan untuk mendapatkan positive face disebut solidarity politeness. could you lend me a hundred bucks? (positive polite) c. (off record) Teori kesantunan lain dibahas oleh Leech (1983). dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis. ditambah bidal pertimbangan (consideration maxim). sedangkan ujaran (9b) mungkin diucapkan kepada orang yang secara sosial jaraknya lebih dekat (9a). Secara umum. maka politeness strategy semakin dibutuhkan. bidal pujian (approbation maxim). Dalam sintaksis.

di samping sintaksis dan semantik. tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis. karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada. Lebih tepatnya. sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya. Tentang perbedaan yang pertama.seperti kucing menyapu halaman. yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa. Namun demikian. makna apa yang dituturkan. dan maksud dari tuturan. dan memang sering kita temukan. dalam analisis bahasa. melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis. semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis. keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan. Atas dasar ini. tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. Dalam kehidupan sehari-hari. bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis. untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik. bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa. Dengan kata lain. Berdasarkan truth conditional semantics. Dengan kata lain. dan kedua. makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. dan kedua. misalnya. sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. Dengan demikian. dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan. pertama. dapat dipahami. selain tata bahasa. demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. Dengan demikian. pembahasan makna dalam semantik belum memadai. sebab daya mencakup juga makna. sedangkan . Selanjutnya. meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda. meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai. penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis. Kaidah bersifat deskriptif. saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa sehari-hari. yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik. meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris. Kegunaan pragmatik. dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi. sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik. Selanjutnya. semantik terikat pada kaidah (rule-governed). dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi. kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. pertama. absolut atau bersifat mutlak. dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya. sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik. Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik. karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa. dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur. untuk dapat dinyatakan benar. bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. bagaimana memahami implikatur percakapan. semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan. bahwa komunikasi tetap dapat berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis.

berkaitan dengan ketidakmampuan sintaksis dan semantik dalam menjelaskan fenomena penggunaan bahasa sehari-hari. pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. Dalam pengajaran bahasa asing. Berdasarkan penjelasan di atas. pragmatik merupakan satu-satunya tataran dalam linguistik yang mengkaji bahasa dengan memperhitungkan juga penggunanya. tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa pragmatik penting dipelajari dalam program studi linguistik. pertama. 2001. How to Do Things with Word (edisi kedua). dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence). Oxford: Oxfod University Press. Eelen. Brown. 1962.. dalam pengajaran bahasa. . Daftar Acuan Austin. Dalam pengajaran bahasa Indonesia. Gino. pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya. yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu. Jerome Publishing Gunarwan. yaitu bahwa pengetahuan pragmatik. pragmatik berperan dalam pengembangan kompetensi komunikatif. K. John L. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). dalam arti praktis. 2004. Politeness: Some Universal in Language Usage. Lebih jauh lagi. Asim. dan Stephen C. 1978. karena selain benar. UK: St. 2002. saya melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik setidaknya dalam dua hal. Jaszczolt. Secara umum.M. kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik. Selain itu. dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain.prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif. saya melihat kedudukan semantik dan pragmatik sebagai dua hal yang saling melengkapi. misalnya. Penutup Seperti telah disebutkan di muka. dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa. Levinson. berkaitan dengan pengajaran bahasa. dapat bertentangan dengan prinsip lain. A Critique of Politeness Theories. bahasa yang digunakan harus baik. Manchester. Cambridge: Cambridge University Press. seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22). Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse. IKIP Singaraja. terdapat keterkaitan. Edinburgh: Pearson Education. Penelope. 6. patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. kedua.

1996. Introduction to Discourse Studies. Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics. Jan. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. Oxford. Oxford University Press. London/New York: Longman. Thomas. Yule. George. 2004. Jenny. Pragmatics. 1995.Renkema. ss .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful