Linguistik: Pragmatik Tuesday, July 24, 2007 Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik?

Makyun Subuki 13 Desember 2006 1. Pendahuluan Dalam jangka yang cukup lama, seperti diungkap oleh Yule (1996: 6), studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya, yaitu dengan menurunkan sistem yang terdapat dalam matematika dan logika, dan mengabaikan unsur pengguna bahasa. Sebagai tataran terbaru dalam linguistik, Pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. Meskipun memiliki fokus kajian yang serupa dengan semantik, yaitu makna, seperti akan saya jelaskan kemudian, makna yang dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantik. Makalah ini bertujuan menjelaskan pentingnya bidang pragmatik untuk dipelajari dalam program studi linguistik. Untuk tujuan tersebut, saya mengawali makalah ini dengan pembahasan mengenai pengertian pragmatik, perkembangannya, menjelaskan secara singkat topik-topik bahasannya, dan, dengan melihat perbedaan kajiannya dengan bidang lain dalam linguistik, menunjukkan pentingnya pragmatik. 2. Definisi Pragmatik Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. Yule (1996: 3), misalnya, menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang, melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian, pertama, dengan menggunakan sudut pandang sosial, menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning); dan kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif, menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). Selanjutnya Thomas (1995: 22), dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik, sosial, dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran, mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction).

Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme, yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik; pragmatisisme, yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik; dan komplementarisme, atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi. 3. Perkembangan Pragmatik Mey (1998), seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5), mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi, yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme; (2) kecenderungan sosial-kritis; (3) tradisi filsafat; dan (4) tradisi etnometodologi. Kecenderungan yang pertama, yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross, menolak pandangan sintaksisme Chomsky, yaitu bahwa dalam kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis, dan bahwa fonologi, morfologi, dan semantik bersifat periferal. Menurut Lakoff dan Ross, keapikan sintaksis (well-formedness) bukanlah segalanya, sebab, seperti sering kita jumpai, komunikasi tetap dapat berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak apik secara sintaksis (ill-formed), bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6). Kecenderungan kedua, yang tumbuh di Eropa, tepatnya di Britania, Jerman, dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)), muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan, bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri. Tradisi yang ketiga, yang dipelopori oleh Bertrand Russell, Ludwig Wittgenstein, dan terutama John L. Austin dan John R. Searle, adalah tradisi filsafat. Para pakar tersebut mengkaji bahasa, termasuk penggunaannya, dalam kaitannya dengan logika. Leech (1983: 2), seperti dikutip Gunarwan (2004: 7), mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa, misalnya Austin, Searle, dan Grice, dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross. Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi, yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. Dalam etnometodologi, bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya, melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Dengan kata lain, kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi, bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6). 4. Beberapa Topik Pembahasan dalam Pragmatik 4.1 Teori Tindak-Tutur

Melalui bukunya, How to Do Things with Words, Austin dapat dianggap sebagai pemicu minat yang paling utama dalam kajian pragmatik. Sebab, seperti diungkap oleh Marmaridou (2000: 1 (dalam Gunarwan 2004: 8)), sejak itu bidang kajian ini telah berkembang jauh, sehingga kita dapat melihat sejumlah kecenderungan dalam pragmatik, yaitu pragmatik filosofis (Austin, Searle, dan Grice), pragmatik neo-Gricean (Cole), pragmatik kognitif (Sperber dan Wilson), dan pragmatik interaktif (Thomas). Austin, seperti dikutip oleh Thomas (1995: 29-30), bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis, seperti Russel dan Moore, yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi dan ketaksaan, dan bahwa pernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris. Contoh. (1) Ada enam kata dalam kalimat ini (2) Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono Dari contoh di atas, dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin ini mengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition), yaitu, sesuai contoh di atas, kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar karena sesuai dengan kenyataan. Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics (Thomas 1995: 30). Austin (dalam Thomas 1995: 31) berpendapat bahwa salah satu cara untuk membuat pembedaan yang baik bukanlah menurut kadar benar atau salahnya, melainkan melalui bagaimana bahasa dipakai sehari-hari. Melalui hipotesis performatifnya, yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech-act), Austin berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements), melainkan juga melakukan sesuatu (perform actions). Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Gunarwan 2004: 8). Contoh. (3) Dengan ini, saya nikahkan kalian (performatif) (4) Rumah Joni terbakar (konstatif) Selanjutnya Austin, seperti juga ditekankan lebih lanjut oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9), memasukkan ujaran konstatif, karena memiliki struktur dalam yang mengandungi makna performatif, sebagai bagian dari performatif (Austin 1962: 52 dan Thomas 1995: 49). Dalam contoh (4), struktur dalam ujaran tersebut dapat saja berbunyi Saya katakan bahwa rumah Joni terbakar. Tindakan yang dihasilkan dengan ujaran ini mengandung tiga tindakan lain yang berhubungan, yaitu lokusi (locutionary act), ilokusi (illocutionary act), dan perlokusi (perlocutionary act) (Yule 1996: 48). Tindak lokusioner berkaitan dengan produksi

menyatakan hanya yang menurut kita benar atau cukup bukti kebenarannya. yaitu implikatur konvensional dan implikatur konversasional. Tindak-tutur. dan tindak perlokusioner berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan (Thomas 1995: 49). Selain itu. ujaran yang mengandung implikatur jenis ini. Berkaitan dengan prinsip kerja sama Grice di atas. (2) bidal kualitas (quality maxim). ekspresif merupakan tindak-tutur yang menyatakan perasaan pembicaranya. direktif merupakan tindak-tutur yang menghendaki pendengarnya melakukan sesuatu.3 Implikatur (Implicature) Grice. tindak ilokusioner terutama berkaitan dengan intensi atau maksud pembicara. komisif merupakan tindak-tutur yang digunakan pembicaranya untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukannya. dapat berupa tindak-tutur langsung (direct speech-act) dan tindak-tutur tidak langsung (indirect speech-act). dan Yule 1996: 53-54). yaitu (1) bidal kuantitas (quantity maxim). menghindari ketidakjelasan pengungkapan. komisif (comissive). mengungkapkan secara beraturan (Gunarwan 2004: 11 dan Thomas 1995: 63-64). seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 14). Kerja sama yang terjalin dalam komunikasi ini terwujud dalam empat bidal (maxim). mengungkapkan secara singkat.2 Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle) Grice mengemukakan bahwa percakapan yang terjadi di dalam anggota masyarakat dilandasi oleh sebuah prinsip dasar. Implikatur konversasional merupakan implikatur yang dihasilkan karena tuntutan konteks tertentu (Thomas 1995: 58). Hal ini. pada kenyataannya. Searle juga menyebut lima jenis fungsi tindak-tutur. menghindari ketaksaan. . Contoh. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 12-14). seperti dikembangkan lebih jauh oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). Asertif atau representatif merupakan tindak-tutur yang menyatakan tentang sesuatu yang dipercayai pembicaranya benar. Dalam direct speeh-act terdapat hubungan langsung antara struktur kalimat dengan fungsinya. direktif (directive). dan deklarasi merupakan tindak-tutur yang mengubah status sesuatu. dan deklarasi (declaration) (Littlejohn 2002: 80. seperti diungkap oleh Thomas (1995: 57). 4. memberi informasi sesuai yang diminta. 4. dan Yule 1996: 54-55). dalam komunikasi kadang kita tidak mematuhi prinsip tersebut. misalnya untuk memberikan informasi secara tersirat (implicature) dan menjaga muka lawan bicara (politeness). Implikatur konvensional merupakan implikatur yang dihasilkan dari penalaran logika. yaitu asertif (assertive). ekspresif (expressive). dapat dicontohkan dengan penggunaan kata bahkan. (3) bidal relasi (relation maxim). dan (4) bidal cara (manner maxim).ujaran yang bermakna. yaitu prinsip kerja sama (cooperative principle) (Yule 1996: 36-37 dan Thomas 1995: 61). memberi sumbangan informasi yang relevan. didasarkan atas beberapa alasan. menyebut dua macam implikatur. sedangkan dalam indirect speech-act hubungannya tidak langsung atau menggunakan (bentuk) tindak-tutur lain (Gunarwan 2004: 9.

Contoh. untuk menjelaskan cara sebuah pesan dipahami penerimanya. Selanjutnya. sedangkan contoh (6) merupakan implikatur konversasional yang bermakna µtidak¶ dan merupakan jawaban atas pertanyaan maukah Anda menghadiri selamatan sunatan anak saya? Berbeda dengan Grice. menyebutkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (language in use) selalu dapat diidentifikasi melalui hal yang disebutnya indeterminacy atau underspecification. sedangkan yang kedua tidak. misalnya contoh (5) di atas. tahapan . Melalui hal tersebut. Setiap pembaca dapat memahami bahwa pesan ini hanya berlaku jika ia akan meninggalkan ruangan tersebut untuk terakhir kalinya. pesan ini berada dalam spesifikasi tertentu yang disepakati oleh addresser dan addressee dalam konteks komunikasi. kedua. Dengan kata lain. Yang pertama ada karena konteks ujaran. menetapkan tiga macam hubungan antara cue dan implicature. (7) Pastikan semua pintu terkunci jika meninggalkan ruangan ini. implikatur dapat dibedakan menjadi implikatur khusus dan implikatur umum. dan ketiga. menurut Gazdar. pengirim pesan dapat memperkirakan reaksi penerima pesan terhadap pesan yang disampaikannya. yaitu: pertama. penerima pesan (addressee) hanya memilih sesuatu yang dianggapnya relevan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan (addresser) dalam konteks komunikasi tertentu. Misalnya pada contoh (7) di atas. misalnya tindakan untuk membuat sesuatu menjadi jelas dan dapat dimengerti oleh penerima pesan. explicature atau degree of relevance. ujaran merupakan sebentuk tindakan dari komunikasi ostensif. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). bukan untuk setiap kali meninggalkan ruangan. bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi. Sperber dan Wilson (1995). Dalam teori relevansi dipelajari bagaimana sebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya.(5) Bahkan Bapak Menteri Agama menghadiri sunatan anak saya (6) Saya kebetulan ke Inggris untuk studi selama dua tahun dan berangkat besok Contoh (5) di atas merupakan implikatur konvensional yang berarti Bapak Menteri Agama biasanya tidak menghadiri acara sunatan. dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini. yaitu tidak perlu mengunci pintu jika keluar dalam batasan waktu dan situasi yang diperkirakan cukup aman. dengan menggunakan prinsip kerja sama Grice. misalnya contoh (6) di atas. komunikasi tidak hanya memasukkan apa yang ada dalam pikiran pengirim pesan ke dalam pikiran penerima pesan. misalnya untuk ke kamar mandi. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22).4 Teori Relevansi Teori relevansi yang dikembangkan oleh Sperber dan Wilson merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. Sperber dan Wilson (1995). Menurut mereka. 4. namun mencakup perluasan wilayah kognitif (cognitive environment) kedua belah pihak.

kedua. misalnya bobot kedua permintaan di atas . padahal A harus memastikan dengan jelas setiap pemesanan pembelian tiket. jarak sosial atau social distance (D) antara pembicara dengan lawan bicaranya. (8) A: Well. How does it works? You just turn up for the shuttle service? A: That might be cheaper. ujaran at the weekend. berkenaan dengan bobot mutlak (absolute weight) tindakan tertentu dalam kebudayaan tertentu. Then that's fifty. B mengira A mengerti bahwa at the weekend berarti next weekend. dan citra diri di depan umum (public self-image). when do you want to go? B: At the weekend. sedangkan yang kedua disebut negative face. Brown dan Levinson (1978) membangun teori tentang hubungan intensitas FTA dengan kesantunan yang terrealisasi dalam bahasa (Renkema 2004: 25). harga diri (self-esteem). yaitu: pertama. Contoh yang ditulis Renkema (2004: 23) di bawah ini memberikan gambaran yang cukup jelas. it costs 50 euros. setiap partisipan memiliki dua kebutuhan dalam setiap proses sosial: yaitu kebutuhan untuk diapresiasi dan kebutuhan untuk bebas (tidak terganggu). Dalam hal ini. A: What weekend? B: Next weekend. "face merupakan gambaran citra diri dalam atribut sosial yang telah disepakati". there is a shuttle service sixty euros one-way. ia mengandaikan B dapat mengerti bahwa that migh be cheaper dapat berarti If you purchase a ticket now. Menurut Goffman (1967: 5). merupakan ujaran yang relevansinya rendah dan membutuhkan processing effort yang lebih besar. If you buy ticket when you turn up. karena semakin tinggi contextual effect maka semakin rendah ia membutuhkan processing effort. Berdasarkan konsep face yang dikemukakan oleh Goffman ini. Dengan kata lain. sedangkan that might be cheaper merupakan ujaran yang relevansinya lebih baik. yang dikutip oleh Jaszczolt (2002: 318). Menurut Goffman (1956).yang harus dilewati untuk memahami implikatur dalam percakapan. 4. Kebutuhan yang pertama disebut positive face. Dalam percakapan di atas. misalnya permintaan "May I borrow your car?" mempunyai bobot yang berbeda dengan permintaan "May I borrow your pen?". Intensitas FTA diekspresikan dengan bobot atau weight (W) yang mencakup tiga parameter sosial.5 Kesantunan (Politeness) Konsep strategi kesantunan yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson diadaptasi dari konsep face yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog bernama Erving Goffman (1956) (Renkema 2004: 24-25). Begitu juga A. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 25). face dapat diartikan kehormatan. tingkat gangguan atau rate of imposition (R). pemahaman penerima pesan terhadap apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan terjadi melalui beberapa tahapan. dalam pengertian degree of relevance. Dalam percakapan tersebut. you have booked seat which costs 60 euros.

Pak. dapat dilakukan. Brown dan Levinson (1978). (9) a. Berkaitan dengan politeness strategy ini. misalnya dengan pujian. Oh no. Maaf. could you lend me a hundred bucks? (positive polite) c. Hey. Renkema (2004: 27) memberi contoh strategi tersebut. face work technique. sedangkan politeness yang dilakukan untuk tujuan sebaliknya disebut respect politeness. seperti diungkapkan oleh Renkema (2004: 26). lend me a hundred dollars. Hey. dapat dilakukan. friend. Kelima strategi tersebut diurut berdasarkan tingkat resiko "kehilangan muka". Contoh. misalnya mahasiswa kepada dosen atau yang muda kepada yang tua. semakin besar intensitas FTA mengancam stabilitas komunikasi. Pragmatik dalam Linguistik . maka semakin kecil kemungkinan pembicara melakukan FTA. (5) a. Mas? Dalam contoh di atas terlihat jelas. Leech (dalam Eelen 2001: 8) menyebutkan enam bidal kesantunan. yang bertujuan untuk mendapatkan positive face disebut solidarity politeness. bidal kedermawanan (generosity maxim). Politeness. but could you lend me a hundred dollars? (negative polite) e. ujaran (9a) mungkin diucapkan pembicara yang secara sosial lebih rendah dari lawan bicaranya. sedangkan ujaran (9b) mungkin diucapkan kepada orang yang secara sosial jaraknya lebih dekat (9a). 5. misalnya dengan melakukan tindakan yang tidak kooperatif dalam komunikasi (Renkema 2004: 25). kekuasaan atau power (P) yang dimiliki lawan bicara (Renkema 2004: 26). bidal pujian (approbation maxim). Pakar ini membahas teori kesantunan dalam kerangka retorika interpersonal (Eelen 2001: 6). boleh tanya? b. I'm out of cash! I forgot to go to the bank today. maka politeness strategy semakin dibutuhkan. semakin tinggi resiko kehilangan muka. I'm sorry I have to ask. dan. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 19).tidak terlalu besar jika kedua ungkapan tersebut ditujukan kepada saudara sendiri. Numpang tanya. bidal kerendahhatian (modesty maxim). Politeness (kesantunan) dalam hal ini dapat dipahami sebagai upaya pencegahan dan atau perbaikan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh FTA. (baldly) b. bidal kesetujuan (aggreement maxim). Dalam hal ini. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat banyak cara untuk menghindari FTA yang dapat direduksi menjadi lima macam cara. dan ketiga. bidal simpati (sympathy maxim). yaitu bidal kebijaksanaan (tact maxim). (off record) Teori kesantunan lain dibahas oleh Leech (1983). Dalam hal ini. ditambah bidal pertimbangan (consideration maxim).

Seperti telah saya uraikan sedikit dalam sub 3 di atas, salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. Dalam sintaksis, seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4), dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis, bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat, dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal. Secara umum, sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya, sehingga bentuk seperti kucing menyapu halaman, meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris, tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis. Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis, melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. Lebih tepatnya, dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi, bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Atas dasar ini, pertama, dapat dipahami, dan memang sering kita temukan, bahwa komunikasi tetap dapat berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis; dan kedua, demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka, selain tata bahasa, makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik, sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik, terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik, yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa, dalam analisis bahasa. Berdasarkan truth conditional semantics, untuk dapat dinyatakan benar, sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis. Dengan demikian, bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis, karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. Namun demikian, pembahasan makna dalam semantik belum memadai, karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa, sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi, meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai, tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. Dengan kata lain, untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa seharihari, di samping sintaksis dan semantik, dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur, makna apa yang dituturkan, dan maksud dari tuturan. Kegunaan pragmatik, yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik, dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan, misalnya, bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa, bagaimana memahami implikatur percakapan, dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. Selanjutnya, untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik, saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada, pertama, semantik mengkaji makna

(sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis, sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya; dan kedua, semantik terikat pada kaidah (rule-governed), sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). Tentang perbedaan yang pertama, meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda, keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan, sebab daya mencakup juga makna. Dengan kata lain, semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan, sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. Selanjutnya, kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. Kaidah bersifat deskriptif, absolut atau bersifat mutlak, dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya, sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif, dapat bertentangan dengan prinsip lain, dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain. Lebih jauh lagi, dalam pengajaran bahasa, seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22), terdapat keterkaitan, yaitu bahwa pengetahuan pragmatik, dalam arti praktis, patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. Dalam pengajaran bahasa Indonesia, misalnya, pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya, karena selain benar, bahasa yang digunakan harus baik. Dalam pengajaran bahasa asing, pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence), yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu, kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik, dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa. 6. Penutup Seperti telah disebutkan di muka, tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa pragmatik penting dipelajari dalam program studi linguistik. Berdasarkan penjelasan di atas, saya melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik setidaknya dalam dua hal, pertama, pragmatik merupakan satu-satunya tataran dalam linguistik yang mengkaji bahasa dengan memperhitungkan juga penggunanya; kedua, berkaitan dengan ketidakmampuan sintaksis dan semantik dalam menjelaskan fenomena penggunaan bahasa sehari-hari, saya melihat kedudukan semantik dan pragmatik sebagai dua hal yang saling melengkapi. Selain itu, berkaitan dengan pengajaran bahasa, pragmatik berperan dalam pengembangan kompetensi komunikatif. Daftar Acuan Austin, John L. 1962. How to Do Things with Word (edisi kedua). Oxford: Oxfod University Press.

Brown, Penelope., dan Stephen C. Levinson. 1978. Politeness: Some Universal in Language Usage. Cambridge: Cambridge University Press. Eelen, Gino. 2001. A Critique of Politeness Theories. Manchester, UK: St. Jerome Publishing Gunarwan, Asim. 2004. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). IKIP Singaraja. Jaszczolt, K.M. 2002. Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse. Edinburgh: Pearson Education. Renkema, Jan. 2004. Introduction to Discourse Studies. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. Thomas. Jenny. 1995. Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics. London/New York: Longman. Yule, George. 1996. Pragmatics. Oxford. Oxford University Press.

Rabu, 04 Juli 2007
Pragmatik Oleh: sidon. bandung Pengertian Pragmatik Pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang semakin dikenal pada masa sekarang ini, walaupun pada kira-kira dua dasa warsa yang silam, ilmu ini jarang atau hampir tidak pernah disebut oleh para ahli bahasa. Hal ini dilandasi oleh semakin sadarnya para linguis, bahwa upaya untuk menguak hakikat bahasa tidak akan membawa hasil yang diharapkan tanpa didasari pemahaman terhadap pragmatik, yakni bagaimana bahasa itu digunakan dalam komunikasi (Leech, 1993: 1). Leech (1993: 8) juga mengartikan pragmatik sebagai studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situasions). Pragmatik sebagaimana yang telah diperbincangkan di Indonesia dewasa ini, paling tidak dapat diedakan atas dua hal, yaitu (1) pragmatik sebagai sesuatu yang diajarkan, (2) pragmatik sebagai suatu yang mewarnai tindakan mengajar. Bagian pertama masih dibagi lagi atas dua hal, yaitu (a) pragmatik sebagai bidang kajian linguistik, dan (b) pragmatik sebagai salah satu segi di dalam bahasa atau disebut µfungsi komunikatif¶ (Purwo, 1990:2). Pragmatik ialah berkenaan dengan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya bahasa dalam komunikasi (KBBI, 1993: 177). Menurut Levinson (1983: 9), ilmu pragmatik didefinisikan sebagai berikut: (1) ³Pragmatik ialah kajian dari hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa´. Di sini, ³pengertian/pemahaman bahasa´ menghunjuk kepada fakta bahwa untuk mengerti sesuatu ungkapan/ujaran bahasa diperlukan juga pengetahuan di luar makna kata dan hubungan tata bahasanya, yakni hubungannya dengan konteks pemakaiannya. (2) ³Pragmatik ialah kajian tentang kemampuan pemakai bahsa mengaitkan kalimat-kalimat

mengemukakan bahwa secara pragmatis setidaktidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur. praanggapan adalah dasar atau penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa (menggunakan bahasa) yang membuat bentuk bahasa (kalimat atau ungkapan) mempunyai makna bagi pendengar/penerima bahasa itu. Tindak lokusi. yaitu tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. . Pragmatik adalah suatu telaah umum mengenai bagaimana caranya konteks mempengaruhi peserta tutur dalam menafsirkan kalimat atau menelaah makna dalam kaitannya dengan situasi ujaran. pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang membahas tentang apa yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komunikasi antara penutur dan pendengar. dan (3. Searle di dalam bukunya Speech Acts: An Essay in The Philosophy of Language (1969: 23-24) dalam Wijana (1996: 17-22). aspek-aspek pemakaian bahasa atau konteks luar bahasa yang memberikan sumbangan kepada makna ujaran (Kridalaksana. dan sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa pada hal-hal ³ekstralingual´ yang dibicarakan. membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa (kalimat. Sedangkan memperlakukan bahasa secara pragmatik ialah memperlakukan bahasa dengan mempertimbangkan konteksnya. (c) tindak ujaran (speech acts). 1998: 6). dsb) yang dapat dipakainya untuk mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud. dan (d) implikatur percakapan (conversational implicature) (Purwo. tetapi ia juga menindakkan sesuatu (Purwo. Fenomena Pragmatik Kancah yang dijelajahi pragmatik ada empat: (a) deiksis. dan sebaliknya. (Nababan. 1995: 219). Praanggapan (presupposition) adalah apa yang diasumsikan oleh penutur sebagai hal yang benar atau hal yang diketahui pendengar (Cahyono. 1990: 17). 1990: 31). 1990: 19). Purwo (1990: 16) mendefinisikan pragmatik sebagai telaah mengenai makna tuturan (utterance) menggunakan makna yang terikat konteks. Berdasarkan beberapa pendapat di atas.dengan konteks-konteks yang sesuai bagi kalimat-kalimat itu´. yakni penggunaannya pada peristiwa komunikasi (Purwo. Tindak ujaran (speech acts) ialah pengucapan suatu kalimat di mana si pembicara tidak sematamata menanyakan atau meminta jawaban tertentu. Sebagai contoh: (4) Jari tangan jumlahnya lima.1) Ada seorang wanita Indonesia. (b) praanggapan (presupposition). yakni: 1. 1987: 2) Pragmatik juga diartikan sebagai syarat-syarat yang mengakibatkan serasi-tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi. Deiksis adalah kata-kata yang memiliki referen yang berubah-ubah atau berpindah-pindah (Wijana. Deiksis dapat juga diartikan sebagai suatu cara untuk mengacu ke hakekat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan (Cahyono. 1995: 217). Nababan memberikan contoh penggunaan presuposisi sebagai berikut: (1) Wanita Indonesia membeli burung.2) Ada burung. terdapat praanggapan bahwa: (3. dapat disimpulkan tentang batasan pragmatik. maka kalimat (3) mempunyai makna atau dapat dimengerti pendengar/pembaca. Menurut Nababan (1987: 46). 1993: 177). Menurut Verhaar (1996: 14). Jika kedua praanggapan itu diterima.

ditemukan penggunaan tindak perlokusi. Tindak perlokusi.selain mengatakan mengelola masakan ala Jepang. Dalam KBBI (1991: 217). Pertama. diutarakan oleh penuturnya semata-mata untuk menginformasikan sesuatu tanpa tendensi untuk melakukan sesuatu. Implikatur percakapan (conversational implicature) merupakan konsep yang cukup penting dalam pragmatik karena empat hal (Levinson. proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalam hubungannya dengan dimensi . Contoh: (5) Saya tidak dapat datang. 2. Kajian pragmatik tersebut digunakan untuk memahami makna dan fungsi deiksis pronomina persona. deiksis diartikan sebagai hal atau fungsi yang menunjuk sesuatu di luar bahasa. Dari keempat bidang kajian pragmatik tersebut pada akhirnya dapat digunakan untuk memahami makna sesuai dengan konteks yang terjadi. Dijamin halal. dan rekan sekerja Anda. 3. Dalam wacana di atas. Cina. Deiksis dapat juga diartikan sebagai lokasi dan identifikasi orang. dapat juga dipergunakan untuk melakukan sesuatu. 1983: 97). konsep implikatur dapat menjelaskan beberapa fakta bahasa secara tepat. yakni meminta maaf. Menurut Bambang Yudi Cahyono (1995: 217). Deiksis adalah kata-kata yang memiliki referen berubah-ubah atau berpindah-pindah (Wijana. konsep implikatur dapat menyederhanakan struktur dan isi deskripsi semantik. dan sebagainya. atau efek bagi yang mendengarkannya. Dari contoh di atas dapat diketahui bahwa. tetapi untuk melakukan sesuatu. Pengertian Deiksis Kata deiksis berasal dari bahasa Yunani yang berarti µmenunjuk¶ atau µmenunjukkan¶. Tampaknya kalimat (7A) dan (7B) tidak berkaitan secara konvensional. Namun pembicara kedua sudah mengetahui bahwa jawaban yang disampaikannya sudah cukup untuk menjawab pertanyaan pembicara pertama. Deiksis 1. bila kalimat itu diutarakan oleh seseorang kepada temannya yang baru saja merayakan ulang tahun.Kalimat (4) di atas. handai taulan. 1998: 6). tidak hanya berfungsi untuk menyatakan sesuatu. Keempat. kata tunjuk pronomina. Cina dan Eropa juga meyakinkan pendengar/pembaca bahwa masakannya benar-benar halal. Ini dapat diketahui karena penutur -pengelola restoran. objek. Kedua. ketakrifan. Tindak ilokusi. peristiwa. yaitu sebuah tuturan selain berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu. yaitu sebuah tuturan yang diutarakan oleh seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary force). Ketiga. konsep implikatur memberikan penjelasan tentang makna berbeda dengan yang dikatakan secara lahiriah. sebab dia sudah mengetahui jam berapa koran biasa diantarkan. Sebagai contoh: (6) Kunjungilah restoran Oshin! Tersedia bermacam-macam masakan Jepang. Sebagai contoh: (7) A : Jam berapa sekarang? B : Korannya sudah datang. apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya. deiksis adalah suatu cara untuk mengacu ke hakekat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan. dan Eropa. konsep implikatur memungkinkan penjelasan fakta-fakta kebahasaan yang tidak terjangkau oleh teori linguistik. Tempat ideal untuk bersantai bersama keluarga. dalam penelitian ini.

Kata-kata ini tidak memiliki referen yang tetap. baik hadir maupun tidak. sini. Peran peserta itu dapat dibagi menjadi tiga. Ketiga ialah orang ketiga. frase atau ungkapan yang akan diberikan. yaitu kategori rujukan pembicara kepada dirinya atau kelompok yang melibatkan dirinya. 1977: 638 via Djajasudarma. Fenomena deiksis merupakan cara yang paling jelas untuk menggambarkan hubungan antara bahasa dan konteks dalam struktur bahasa itu sendiri. Oleh karenanya. berarti juga peranan atau watak yang dibawakan oleh pemain sandiwara. Dalam bidang linguistik terdapat pula istilah rujukan atau sering disebut referensi. yaitu deiksis orang. Perujukan dapat pula ditujukan pada bentuk yang akan disebut kemudian. 1997: 6). Jenis Deiksis Deiksis ada lima macam. yaitu kategori rujukan pembicara kepada seorang pendengar atau lebih yang hadir bersama orang pertama. 1987: 40). Referen kata saya. yang artinya topeng (topeng yang dipakai seorang pemain sandiwara). Pengertian deiksis dibedakan dengan pengertian anafora. 1977: 638 via Setiawan. 1997: 6). 1993: 44). Deiksis orang ditentukan menurut peran peserta dalam peristiwa bahasa. a. sedangkan anafora merujuk dalam tuturan baik yang mengacu kata yang berada di belakang maupun yang merujuk kata yang berada di depan (Lyons. di tempat mana. dan kami. yaitu kata atau frase yang menunjuk kata. (Setiawan. dan sebagainya. Deiksis Persona Istilah persona berasal dari kata Latin persona sebagai terjemahan dari kata Yunani prosopon. deiksis wacana dan deiksis sosial (Nababan. tergantung siapa yang menjadi pembicara. sekarang adalah kata-kata deiktis. Berdasarkan beberapa pendapat. saudara. untuk mengetahui siapa pembicara dan lawan bicara kita harus mengetahui situasi waktu tuturan itu dituturkan. dan waktu kapan kata-kata itu diucapkan.ruang dan waktunya. kalian. yang menjadi pusat orientasi deiksis adalah penutur. . Hal ini berarti bahwa rujukan pertama dan kedua pada situasi pembicaraan (Purwo. 1997: 8). 1977: 637 via Djajasudarma. Kata ganti persona pertama dan kedua rujukannya bersifat eksoforis. sekarang baru dapat diketahui maknanya jika diketahui pula siapa. 1984: 106). misalnya saya. yaitu kategori rujukan kepada orang yang bukan pembicara atau pendengar ujaran itu. Perujukan atau penunjukan dapat ditujukan pada bentuk atau konstituen sebelumnya yang disebut anafora. kita. Apabila persona pertama dan kedua akan dijadikan endofora. sini. Jadi. maka kalimatnya harus diubah. deiksis waktu. Bentuk rujukan seperti itu disebut dengan katafora. Kata seperti saya. saat dan tempat dituturkannya kata-kata itu. pronomina. yang tidak merupakan unsur di dalam bahasa itu sendiri. pada saat dituturkan oleh pembicara atau yang diajak bicara (Lyons. 2. deiksis tempat. misalnya dia dan mereka. dimana yang menjadi pusat orientasi deiksis senantiasa si pembicara. Pertama ialah orang pertama. Rujukan semacam itu oleh Nababan (1987: 40) disebut deiksis (Setiawan. Menurut Bambang Kaswanti Purwo (1984: 1) sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila rujukannya berpindah-pindah atau berganti-ganti. Kedua ialah orang kedua. Istilah persona dipilih oleh ahli bahasa waktu itu disebabkan oleh adanya kemiripan antara peristiwa bahasa dan permainan bahasa (Lyons. yaitu dari kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung. Deiksis dapat diartikan sebagai luar tuturan. dapat dinyatakan bahwa deiksis merupakan suatu gejala semantis yang terdapat pada kata atau konstruksi yang acuannya dapat ditafsirkan sesuai dengan situasi pembicaraan dan menunjuk pada sesuatu di luar bahasa seperti kata tunjuk. misalnya kamu. 1993: 43).

begitulah. ia. yesterday. deiksis (rujukan) waktu ini diungkapkan dalam bentuk ³kala´ (Inggris: tense) (Nababan. penggunaan deiksis waktu sudah jelas. Menurut pendapat Becker dan Oka dalam Purwo (1984: 21) bahwa deiksis persona merupakan dasar orientasi bagi deiksis ruang dan tempat serta waktu. c. sedangkan deiksis waktu dan deiksis tempat adalah deiksis jabaran. kata ganti persona ketiga. b. Deiksis persona merupakan deiksis asli. last year. Paman datang dari desa kemarin dengan membawa hasil palawijanya. Pada kalimat (8b). Hal ini dikarenakan bentuk tersebut. Deiksis Waktu Deiksis waktu ialah pemberian bentuk pada rentang waktu seperti yang dimaksudkan penutur dalam peristiwa bahasa. b. I bought the book 2 years ago. -nya maupun bentuk jamak. Sebagai contoh. baik tunggal. 1987: 41). Deiksis wacana mencakup anafora dan katafora. maka dapat berwujud anafora dan katafora (Setiawan. dapat bersifat endofora dan eksofora. umpamanya. Deiksis Tempat Deiksis tempat ialah pemberian bentuk pada lokasi menurut peserta dalam peristiwa bahasa. Berbeda dengan kata ganti persona pertama dan kedua. yakni sebuah kursi atau sofa.Bentuk pronomina persona pertama jamak bersifat eksofora. itu. seperti bentuk sekalian dan kalian. Meskipun tanpa keterangan waktu. yang pertama disebut. (11) a. Karena aromanya yang khas. Namun apabila diperlukan pembedaan/ketegasan yang lebih terperinci. Anafora ialah penunjukan kembali kepada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dalam wacana dengan pengulangan atau substitusi. Contoh pemakaian deiksis waktu dalam bahasa Inggris. yang berikut. baik yang berupa bentuk kita maupun bentuk kami masih mengandung bentuk persona pertama tunggal dan persona kedua tunggal. (9) a. Dari kedua contoh di atas dapat kita ketahui bahwa -nya pada contoh (11a) mengacu ke paman . Contoh dalam bahasa Inggris: (10) a. d. Katafora ialah penunjukan ke sesuatu yang disebut kemudian. now. dapat ditambahkan sesuatu kata/frasa keterangan waktu. 1987: 41). b. b. yakni suatu toko atau tempat penjualan yang lain. acuannya lebih luas. (8) a. Duduklah kamu di sini. seperti bentuk dia. Semua bahasa -termasuk bahasa Indonesia. Oleh karena bersifat endofora. dalam kalimat (9a) dan (9b). dan sebagainya. Di sini dijual gas Elpiji. I bought a book. mangga itu banyak dibeli. Frasa di sini pada kalimat (8a) mengacu ke tempat yang sangat sempit. Deiksis Wacana Deiksis wacana ialah rujukan pada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan atau sedang dikembangkan (Nababan. yang terdahulu. b.membedakan antara ³yang dekat kepada pembicara´ (di sini) dan ³yang bukan dekat kepada pembicara´ (termasuk yang dekat kepada pendengar -di situ) (Nababan. I am buying a book. 1997: 9). dsb. Dalam banyak bahasa. I bought the book yesterday. 1987: 42). Bentuk-bentuk yang dipakai untuk mengungkapkan deiksis wacana itu adalah kata/frasa ini. Sebagai contoh penggunaan deiksis tempat.

kau-. yang menjadi pendengar/pembaca. 1997: 9). persona kedua dan persona ketiga (Lyons. 1987: 42). aku. seperti subjek. ku-. Dalam bahasa Inggris dikenal tiga bentuk kata ganti persona. dan -dalam macam kalimat tertentu. ³unda-usuk´. Deiksis Sosial Deiksis sosial ialah rujukan yang dinyatakan berdasarkan perbedaan kemasyarakatan yang mempengaruhi peran pembicara dan pendengar. daku. Pronomina persona adalah pronomina yang dipakai untuk mengacu ke orang. Bentuk saya. sedangkan pada contoh (11b) mengacu ke mangga yang disebut kemudian. dan daku. 1997: 276 via Setiawan. Bentuk saya. Berikut ini adalah pronomina persona yang disajikan dalam tabel. dia. dapat juga dipakai untuk menyatakan hubungan pemilikan dan diletakkan di belakang nomina yang . dapat dikatakan bahwa pronomina menduduki posisi yang umumnya diduduki oleh nomina. kromo dan kromo inggil kalau sistemnya dibagi empat. Perbedaan itu dapat ditunjukkan dalam pemilihan kata. 1997: 9). madyo. Dalam bahasa Jawa umpamanya. biasanya digunakan dalam tulisan atau ujaran yang resmi. objek. pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu ke nomina lain. 1997: 170). Aspek berbahasa seperti ini disebut ³kesopanan berbahasa´. -ku kami kita Kedua engkau. Jika dilihat dari segi fungsinya. mengacu pada orang yang diajak bicara (persona kedua). kamu. Dalam beberapa bahasa. dan ngoko. 1988: 172 via Setiawan. atau mengacu pada orang yang dibicarakan (persona ketiga) (Moeliono. pendengar dan/atau orang yang dibicarakan/bersangkutan.juga predikat. pronomina persona pertama tunggal adalah saya. perbedaan tingkat sosial antara pembicara dengan pendengar yang diwujudkan dalam seleksi kata dan/atau sistem morfologi kata-kata tertentu (Nababan. ngoko dan kromo dalam sistem pembagian dua. aku. 1987: 42-43). Tabel 1: Pronomina Persona Persona Makna Tunggal Jamak Netral Eksklusif Inklusif Pertama saya. atau ngoko. -mu kalian. -nya mereka. Anda (sekalian) Ketiga ia. yaitu persona pertama. menunjukkan perbedaan sikap atau kedudukan sosial antara pembicara. dikau. beliau. C. Bahasa Indonesia juga mengenal tiga bentuk persona seperti dalam bahasa Inggris (P&P. -nya a) Pronomina Persona Pertama Dalam Bahasa Indonesia. atau siapa/apa yang dibicarakan (Moeliono. kamu (sekalian). Ciri lain yang dimiliki pronomina ialah acuannya dapat berpindah-pindah karena bergantung pada siapa yang menjadi pembicara/penulis. 1960 via Nababan. Secara tradisional perbedaan bahasa (atau variasi bahasa) seperti itu disebut ³tingkatan bahasa´. atau ´etiket berbahasa´ (Geertz. e. Pronomina dapat mengacu pada diri sendiri (persona pertama). memakai kata nedo dan kata dahar (makan).yang sudah disebut sebelumnya. dalam bahasa Jawa. Bentuk Pronomina Persona Jika ditinjau dari segi artinya. madyo dan kromo kalau sistem bahasa itu dibagi tiga. Anda. 1997: 172).

Pronomina persona kedua engkau. Selain pronomina persona pertama tunggal. bahasa Indonesia mengenal pronomina persona pertama jamak. . kamu. dalam arti kesepadanan atau ketidaksepadanan antara bahasa dan alam di luar bahasa. Dalam posisi sebagai subjek. tetapi juga pendengar/pembaca. Bentuk terikat itu masing-masing adalah kau. sehingga Anda tidak diarahkan pada satu orang khusus. Benda atau konsep yang jamak dinyatakan dengan cara yang lain. Pronomina persona kedua yang memiliki varisi bentuk hanyalah engkau dan kamu. orang yang status sosialnya lebih tinggi. b) Pronomina Persona Kedua Pronomina persona kedua tunggal mempunyai beberapa wujud. misalnya dengan mengulang nomina tersebut atau dengan mengubah sintaksisnya. Akan tetapi. kau. hanya dia. Pronomina persona ketiga jamak adalah mereka. D.dan -mu. pada umumnya digunakan dalam karya sastra. kata mereka kadangkadang juga dipakai untuk mengacu pada binatang atau benda yang dianggap bernyawa. tanpa memandang umur atau status sosial. Sedangkan untuk pronomina persona pertama daku. Makna Deiksis Pronomina Persona Menurut Kridalaksana (2001: 132). yaitu -ku dan ku-. -nya dan beliau yang dapat digunakan untuk menyatakan milik. pronomina itu mencakupi tidak saja pembicara/penulis. Mereka tidak mempunyai variasi bentuk sehingga dalam posisi mana pun hanya bentuk itulah yang dipakai. Dari keempat pronomina tersebut. dikau. misalnya usul mereka. kita bersifat inklusif. c) Pronomina Persona Ketiga Pronomina persona ketiga tunggal terdiri atas ia. artinya. artinya. kamu Anda. dalam hubungan bersemuka. Selain itu. yakni dipakai oleh orang yang lebih muda atau berstatus sosial lebih rendah daripada orang yang dibicarakan. misalnya: rumah saya. makna adalah maksud pembicaran. pada cerita fiksi atau narasi lain yang menggunakan gaya fiksi. yakni kami dan kita. dan -mu. dan mungkin pula pihak lain. Pronomina persona kedua juga mempunyai bentuk jamak. Pronomina persona kedua Anda dimaksudkan untuk menetralkan hubungan. pronomina itu mencakupi pembicara/penulis dan orang lain dipihaknya. atau di depan verba. Pronomina persona ketiga tunggal beliau digunakan untuk menyatakan rasa hormat. kamu sekalian. atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjuknya. ia dan dia sama-sama dapat dipakai. pengaruh satuan bahasa dalam pemahaman persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia.dimilikinya. yakni engkau. cara menggunakan lambang-lambang bahasa. atau terletak di sebelah kanan dari yang diterangkan. rumah mereka. -nya dan beliau. Pronomina persona aku mempunyai variasi bentuk. tetapi pembicara tidak ingin bersikap terlalu formal ataupun terlalu akrab. Kami bersifat eksklusif. hanya bentuk dia dan -nya yang dapat muncul. Pronomina persona pertama aku.dan -mu. hubungan. paman saya. tetapi tidak mencakupi orang lain dipihak pendengar/pembacanya. pronomina Anda juga digunakan dalam hubungan yang tak pribadi. dia. Pada umumnya mereka hanya dipakai untuk insan. dapat dipakai oleh orang tua terhadap orang muda yang telah dikenal dengan baik dan lama. lebih banyak digunakan dalam situasi non formal dan lebih banyak menunjukkan keakraban antara pembicara/penulis dan pendengar/pembaca. jika berfungsi sebagai objek. Akan tetapi. yaitu bentuk kalian dan bentuk pronomina persona kedua ditambah sekalian: Anda sekalian. orang yang mempunyai hubungan akrab. Sebaliknya.

yaitu makna leksikal. yaitu (1) makna konseptual. makna kognitif. makna gramatikal. makna idiom. . Oleh karena itu. makna kolokasi. Hubungan antara tanda linguistik (bersama unsur bunyi dan makna) dengan unsur referennya. makna konotatif. makna istilah. banyak pakar yang mengatakan bahwa kita baru dapat menentukan makna sebuah kata apabila kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya. sedangkan yang mengartikan (signifiant) adalah bunyi-bunyi yang terentuk dari fonemfonem bahasa yang bersangkutan. makna leksikal. makna gramatikal. Di dalam penggunaannya dalam pertuturan yang nyata makna kata atau leksem itu seringkali. makna konseptual. makna piktorial. dengan kata lain setiap tanda-linguistik terdiri dari unsur bunyi dan unsur makna. makna konseptual. makna referensial. dan makna pribahasa. yaitu makna afektif. makna gramatikal. Pateda (1986) melalui Chaer (1995: 59) mengemukakan adanya jenis-jenis makna. Sedangkan hubungan (a) dan (b) serta hubungan (b) dan (c) bersifat langsung. makna denotatif. makna majas (kiasan). Hanya perlu dipahami bahwa tidak semua kata atau leksem itu mempunyai acuan konkret di dunia nyata. makna proposisi. 1994: 288). makna leksikal. Menurut Djajasudarma (1993: 6). makna emotif. Chaer (1994) membagi jenis makna menjadi tigabelas. makna kontekstual. makna idesional. dapat dibagankan sebagai berikut. (3) makna stilistika. Sedangkan Leech (1976) membedakan adanya tujuh tipe makna. makna intensi. makna idesional. (4) makna afektif. makna deskriptif. Inggris: signified) dan (2) yang mengartikan (Perancis: signifiant. Inggris: signifier). makna kata. Bila dilihat dari segi atau pandangan yang berbeda. makna stilistika. makna asosiatif. Jadi. makna inti. sebab (a) adalah masalah dalam-bahasa dan (c) masalah luar-bahasa yang hubungannya biasanya bersifat arbitrer. makna konstruksi. dan mungkin juga biasanya. Kedua unsur ini adalah unsur dalam-bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk atau mengacu kepada sesuatu referen yang merupakan unsur luar-bahasa (ekstralingual) (Chaer. makna konstruksi. Titik (a) dan (b) sama-sama berada di dalam-bahasa. makna kognitif. (5) makna reflektif. Ada teori yang menyatakan bahwa makna itu tidak lain daripada sesuatu atau referen yang diacu oleh kata atau leksem itu. makna referensial.Ferdinand de Saussure membagi setiap tanda linguistik menjadi dua. makna luas. makna sempit. makna ekatensi. makna referensial. makna proposisional. terlepas dari pengertian atau konsep dasarnya dan juga acuannya. dan makna tematis. makna konotatif/emotif. 1995: 29). Yang diartikan (signifie) sebenarnya adalah konsep atau makna dari sesuatu tanda bunyi. (2) makna konotatif. dan makna kalimat baru dapat ditentukan apabila kalimat itu berada di dalam konteks wacananya atau konteks situasinya (Chaer. makna gereflekter. hubungan (b) dan (c) bahwa (c) adalah acuan dari (b) tersebut. makna luas. makna konotatif. yaitu: makna sempit. makna piktorial. (6) makna kolokatif. makna bahasa dapat terdiri dari bermacammacam jenisnya. makna kiasan. makna denotatif. dan (7) makna tematik (Chaer. makna terdiri atas beberapa jenis. (b) konsep/makna (a) kata/leksem (c) sesuatu yang dirujuk (referen) Hubungan antara (a) dan (c) bersifat tidak langsung. makna pusat. makna non-referensial. 1995: 59). yaitu: (1) yang diartikan (Perancis: signifie.

ke dalam makna kognitif tersebut ditambahkan komponen makna lain (Djajasudarma. kata-kata yang bermakna luas digunakan untuk mengungkapkan gagasan atau ide yang umum. makna denotatif nampak pada penggunaan kata Dian. Berbeda dengan kata-kata yang bermakna sempit. melainkan dapat berpindah dari maujud yang satu kepada maujud yang lain (Chaer. Berkenaan dengan acuan ini ada sejumlah kata yang disebut kata-kata deiktik yang acuannya tidak menetap pada satu maujud.´ kata Dian kepada Dani. 1993: 7). makna referensial adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan atau referen (acuan). 1993: 9). Makna referensial adalah makna sebuah kata atau leksem yang mempunyai referen atau acuannya. yaitu maknanya akan menyempit (memiliki makna sempit). (17) A: ³Kemarin saya bertemu dengan Ibu Ani. sedangkan pada kalimat (13) saudara bermakna sempit µkerabat¶. Sebagai contoh. dari makna sempit ke makna meluas. (12) ´Apakah saudara tidak mau mengakuinya?´ kata Pak Polisi. 1993: 8). (Konteks: diberitahukan bahwa pimpinan sekolah sedang mengadakan rapat dengan para guru sekolah tersebut). Makna denotatif juga dapat diartikan sebagai makna yang sesuai dengan hasil observasi menurut penglihatan. (Konteks: penutur memiliki saudara sepupu yang tinggal di Bandung. (16) Dian adalah salah satu mahasiswa jurusan bahasa Indonesia. Makna denotatif adalah makna asli. kata saudara bermakna µpanggilan pada seseorang¶. perasaan. Makna kognitif disebut juga makna deskriptif atau denotatif adalah makna yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan (Djajasudarma. Pada kalimat (12). (Konteks: seorang pencuri yang sedang diinterogasi oleh polisi atas tuduhan pencurian). Sebagai contoh. Pada kalimat (16) di atas. dan akan datang ke rumah penutur). pendengaran. B: ³Benarkah?´ sahut Dani.´ kata salah seorang staf karyawan. Makna konotatif muncul sebagai akibat asosiasi perasaan kita terhadap apa yang diucapkan atau apa yang didengar. penciuman. sedangkan pada kalimat (15) kata Bapak bermakna luas µpanggilan untuk laki-laki dewasa¶. 1995: 66). Pada kalimat (14) kata Bapak bermakna sempit µorang tua kandung¶. sekarang. 1994: 292). Sebagai contoh. (15) ³Bapak Kepala Sekolah sedang mengadakan rapat dengan para guru. Penggunaan kata Bapak pada kalimat (14) dengan (15) mengalami perubahan makna.´ . makna asal. (Konteks: seorang Ibu yang memberitahuan keadaan suaminya kepada anaknya). (13) Saudara saya yang dari Bandung akan datang hari ini. Menurut Djajasudarma (1993: 11). Makna luas (widened meaning atau extended meaning) adalah makna yang terkandung pada sebuah kata lebih luas dari yang diperkirakan (Djajasudarma. 1993: 9). yang mengacu pada seseorang yang mempunyai nama Dian. atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem (Chaer. ³Saya juga bertemu beliau kemarin.´ kata Ibu.Makna sempit (narrowed meaning) adalah makna yang lebih sempit dari keseluruhan ujaran (Djajasudarma. Makna konotatif adalah makna yang muncul dari makna kognitif (lewat makna kognitif). Perhatikan contoh. 1994: 291). atau pengalaman lainnya (Chaer. (14) ³Bapak sedang sakit. Kata saudara pada kalimat (12) dengan (13) mengalami perubahan makna.

(18) Rumahnya jauh dari sini. Atau juga dikatakan makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya. Tikus itu mati diterkam kucing. Perasaan dapat pula berupa perasaan gembira di samping perasaan yang disebutkan di atas (Djajasudarma. dapat kita ketahui bahwa kedua kalimat tersebut dapat melahirkan makna gramatikal. misalnya. Kenapa kau sebut nama dia. Perhatikan contoh berikut. 1993: 12). Adik menendang bola. dalam kalimat (19b) kata tikus bukanlah dalam makna leksikal karena tidak merujuk kepada binatang tikus melainkan kepada seorang manusia. makna milik dapat diungkapkan melalui enklitik sebagai akhiran yang menunjukkan kepunyaan (Djajasudarma. atau bersifat kata. dan proses komposisi (Chaer. Namun. jelas bahwa. Makna leksikal dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon. Makna piktorial adalah makna suatu kata yang berhubungan dengan perasaan pendengar atau pembaca. Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apa pun (Chaer. Makna pusat adalah makna yang dimiliki setiap kata yang menjadi inti ujaran. yang menjadi pusat (inti) pembicaraan adalah Ali sedangkan untuk adalah seorang laki-laki merupakan bagian untuk menerangkan kata Ali. 1994: 289).Dari contoh di atas. 1993: 16). Kalimat (20b) menunjukkan kata adik bermakna µpelaku¶. b. Sebagai contoh. (22) a. dan bola bermakna µsasaran¶. atau perasaan benci. sedangkan pada kalimat (17B) kata saya mengacu pada Dani. Di samping itu. Kalimat (20a) menunjukkan kata adik bermakna µpelaku¶. Pada contoh kalimat (21) di atas. Makna konstruksi (construction meaning) adalah makna yang terdapat di dalam konstruksi. Setiap ujaran (klausa. makna non-referensial merupakan makna sebuah kata yang tidak mempunyai acuan atau referen. (21) Ali adalah seorang laki-laki. (20) a. wacana) memiliki makna yang menjadi pusat (inti) pembicaraan (Djajasudarma. Sebagai contoh. Kalimat (22a) mengungkapkan perasaan benci penutur terhadap seseorang. Perasaan muncul segera setelah mendengar atau membaca suatu ekspresi yang menjijikan. Makna gramatikal adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatika seperti proses afiksasi. yang diucapkan oleh lawan tuturnya. menendang bermakna µaktif¶. menulis bermakna µaktif¶. 1993: 15). bersifat leksem. proses reduplikasi. makna milik yang diungkapkan dengan urutan kata di dalam bahasa Indonesia. pada kalimat (17A) kata saya mengacu pada Dian. Pada kalimat (22b) dapat dilihat adanya makna piktorial . atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita (Chaer 1995: 60). b. makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indera. Berbeda dengan makna referensial. dalam hal ini adalah rumah. Dari contoh di atas. Kata tikus pada kalimat (19a) merupakan makna leksikal karena jelas merujuk kepada binatang tikus. b. 1995: 62). Adik menulis surat. Perhatikan contoh berikut. enklitik -nya digunakan untuk menyatakan milik atau kepunyaan. dapat kita lihat bahwa pada kalimat (22a) dan (22b) memunculkan makna piktorial. Pada kalimat (18) di atas. dan karena. Dari kedua contoh di atas. sebangsa bintang pengerat yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit tifus. Ia tinggal di gang yang becek itu. kalimat. yang pebuatannya memang mirip dengan perbuatan tikus. Sebagai contoh. Yang menjadi tikus di gudang kami ternyata berkepala hitam. atau. (19) a. dan surat bermakna µhasil¶. Misalnya kata-kata seperti dan.

Kategori (c). Dari ketiga kalimat di atas. Sebagai subjek (S) jamak. makna terdiri dari makna timbal balik dan makna kebersamaan. 1994: 290). Peran . dkk. kata kepala bermakna µpimpinan¶. Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks (Chaer. Dari beberapa teori di atas. kata kepala bermakna µbagian atas surat¶. Ini dilakukan mengingat bahwa dalam sintaksis itu ada pula tataran bawahan yang disebut fungsi gramatikal. c. tidak seluruh jenis makna yang dikemukakannya sesuai dengan sampel data yang ada. ada makna yang sesuai dengan sampel data yang ditemukan. Sedangkan sebagai subjek (S) tunggal. Nomor teleponnya ada pada kepala surat itu. Rambut di kepala nenek belum ada yang putih. yang menyebutkan tentang makna kebersamaan. kata kepala bermakna µbagian anggota tubuh¶. (23) a. ada sebagian sampel data yang tidak sesuai dengan kedua teori tersebut. baik transitif maupun intransitif. Untuk itu. (26) Apalagi mereka berdua tak asing-mengasing lagi. Namun. Fungsi Deiksis Pronomina Persona Dalam tataran tata bahasa atau gramatika. sesudah perempuan itu masuk ke dalam. E. pokok kalimatnya dapat menyatakan subjek (S) jamak maupun subjek (S) tunggal. Makna timbal balik dan makna kebersamaan dibentuk dengan memakai verba. pokok kalimatnya dapat terdiri dari sekelompok orang atau benda yang ikut serta dalam tindakan. dkk dalam bukunya yang berjudul ³Bahasa Indonesia. penggunaan kata kepala mempunyai makna konteks yang berbeda. dapat dilihat bahwa pokok kalimatnya menyatakan subjek (S) jamak. SPOK (a). Pada kedua makna ini. peneliti juga menggunakan teori lain tentang makna. dapat kita lihat penggunaan kata kepala pada kalimatkalimat berikut. kategori gramatikal. pokok kalimatnya merupakan salah satu dari subjek (S) jamak yang lebih penting bagi kalimat ini. Menurut Alieva. sebagai sebutan kalimat. Sebagai contoh. dan peran gramatikal.dengan perasaan jijik. Selain itu. kita bermusuhan. yang mana apabila sasaran penyelidikannya tertumpu pada hal-hal yang berkaitan dengan sintaksis. dan pada kalimat (23c). diketengahkan adanya istilah semantik sintaktikal. (25) Saya dan Dar berpandang-pandangan. (24) Saudara berhak membunuh saya. Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu. Hal ini dapat dilihat pada bagan berikut. Hal itu dikarenakan bahwa dari beberapa makna yang dikemukakan olehnya. teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori yang dikemukakan oleh Djajsudarma. Pada kalimat (23a). b. Deskripsi dan Teori´. Sebagai contoh. Untuk ketiga contoh di atas. maka peneliti memberikan istilah sendiri untuk sampel data tersebut sebagai jenis makna. yaitu teori dari Alieva. Fungsi (b). kalimat (23b).

Fillmore membatasi jumlah kasus menjadi pelaku (agent). 1995: 21-22). bentuk Tom dalam kalimat tersebut berfungsi debagai agent atau pelaku tindakan yaitu tindakan memangkas mawar. keadaan/tempat/waktu yang akan datang (goal). Kategori-kategori ini yang sesungguhnya sudah memiliki makna leksikal. alat (means). Sedangkan proposisi berwujud sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus. Kasus Agentif (A) Kasus agentif merupakan kasus yang secara khusus ditujukan bagi makhluk hidup (yang bernyawa) yang merasakan hasutan tindakan yang diperkenalkan oleh verba. Chafe tidak menggunakan istilah kasus untuk menyatakan relasi semantik anatara KK dengan KB dalam suatu struktur semantik. Yang memiliki makna adalah pengisi kotak-kotak yang disebut kategori gramatikal seperti nomina. Menurut Chafe struktur semantik terdiri dari dua unit semantik pokok. Sebagai contoh. pasien. sebagai KB yang berfungsi semantik benefaktif yaitu adik. Berapa banyak KB yang hadir dalam suatu struktur semantik tergantung pada jenis/tipe KK dalam struktur itu. yaitu: a. Jadi KK membelikan dari contoh di atas menghadirkan sebuah KB yang berfungsi sebagai semantik agent yaitu Ibu. verba. Chafe menyatakan bahwa dalam analisis bahasa komponen semantiklah yang merupakan pusat. Hanya argumen di sini diberi nama kasus. 1995: 9) Charles J. KK menentukan hadirnya KB dalam struktur semantik itu. objek (O). experince. Dalam struktur semantik ini KK merupakan pusat. yang dikenal sebagai tokoh tata bahasa kasus. seperti dalam kalimat Ibu membeli gula. dll. (27) Tom memangkas mawar. Fillmore. kala. dalam karangannya ³Case for Case´ (1968) membagi kalimat atas modalitas dan proposisi. kasus yang mengacu pada agent atau pelaku suatu tindakan. dan maujud yang dihubungkan dengan predikat (referential) (Chaer. nomina atau frase nomina . Wallace L. 1995: 22). Artinya. Chafe tetap menggunakan istilah KB yang menurut fungsi semantiknya bisa berlaku sebagai agent. 1995: 21). Yang dimaksud dengan kasus (case) dalam teori ini adalah hubungan antara verba dengan nomina dalam struktur semantis. dan keterangan (K) yang sebenarnya tidak mempunyai maksud. benefactive. dan sebagainya (Chaer. dan adverbia. locative. predikat (P). Kini sebagai pengisi kotak-kotak itu memiliki peran gramatikal seperti peran agentif. b. tujuan (object). yaitu (1) kata kerja/KK dan (2) kata benda /KB. mengemukakan adanya sembilan fungsi semantik atau kasus. Pada contoh (27) di atas. instrumental. KK keadaan hanya menghadirkan satu Kb seperti dalam kalimat Ibu termenung. Modalitas berkenaan dengan negasi. KK aksi monotransitif menghadirkan dua KB.Fungsi gramatikal berupa ³kotak-kotak kosong´ yang diberi nama subjek (S). keadaan/tempat/waktu yang sudah (source). sedangkan KK aksi bitransitif menghadirkan tiga KB seperti kalimat Ibu membelikan adik sepatu (Chaer. Henry Guntur Tarigan dalam bukunya yang berjudul ³Pengajaran Tatabahasa Kasus´ (1989: 68). nomina atau frase nomina yang mengacu pada orang atau binatang yang melakukan atau memprakarsai tindakan verba. dan sebuah KB yang berfungsi semantik patient yaitu sepatu (Chaer. pengalami (experiencer). maka verba di sini sama dengan predikat dan nomina sama dengan argumen. Kasus Benefaktif (B) Kasus benefaktif adalah kasus yang ditujukan bagi makhluk hidup (yang bernama) yang memperoleh keuntungan oleh tindakan yang diperikan oleh verba. lokatif. Apabila dibandingkan dengan teori generatif semantik. sebab semuanya hanya berupa kotak atau tempat yang kosong. benefaktif. atau adjektiva. compliment. aspek. Dalam versi 1971. objek. patient.

yang mengacu pada hubungan sintaktik yang terjalin antara suatu kalimat. Kasus benefaktif dihubungkan dengan preposisi untuk. Preposisi yang berhubungan dengan kasus ini adalah dengan. Kasus Faktitif (F) Kasus faktitif merupakan kasus objek atau yang merupakan akibat dari tindakan atau keadaan yang diperkenalkan oleh verba. Kasus ini memiliki ciri menggunakan preposisi dengan. Sebagai contoh. (29) Rony berdagang mobil dengan Budi. karena dalam konstruksi kalimat tersebut. bentuk Louise yang mendapatkan atau memeperoleh keuntungan dari tindakan verba. (34) Rakit itu bergerak. John menggerakkan rakit itu. nomina atau frasa nomina yang mengacu pada sesuatu yang dibuat atau diciptakan oleh tindakan/aksi verba berada dalam kasus faktitif. Kasus ini kadang-kadang disebut juga experiencer case atau kasus pengalam. Kasus Lokatif (L) . Penanda kasus datif dalam bahasa Indonesia adalah kepada. Kasus Instrumental (I) Kasus instrumental adalah kasus yang berkekuatan tidak hidup/tak bernyawa atau objek yang secara kausal terlibat di dalam tindakan atau keadaan yang diperkenalkan oleh verba. (30) Saya setia kepada istri saya. Sebagai contoh. Contoh. Contoh. bersama. terhadap. Kasus Datif (D) Kasus datif adalah kasus mengenai makhluk hidup (yang bernyawa) yang dipengaruhi oleh keadaan atau tindakan yang diperkenalkan oleh verba. f. (28) Joan membakar kue buat Louise. c. (33) Mereka mengiris sosis itu dengan pisau. Kasus Komitatif Kasus komitatif adalah kasus yang ditujukan bagi frasa nomina yang menanggung suatu hubungan konjungtif dengan frasa nomina lain dalam kalimat. d.yang mengacu pada orang atau binatang yang memperoleh keuntungan atau dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan dari tindakan verba. Contoh. (32) Tony membangun bangsal. Sebagai contoh. e. nomina atau frasa nomina yang mengacu pada orang atau binatang yang dipengaruhi oleh keadaan atau tindakan verba di dalam kasus datif. demi. Kasus Ergatif (E) Kasus ergatif adalah kasus yang bersifat kausatif. bagi. Kasus Objektif (O) Kasus objektif merupakan kasus yang secara semantis paling netral. kasus dari segala sesuatu yang dapat digambarkan atau diwakili oleh sesuatu nomina yang peranannya di dalam tindakan atau keadaan diperkenalkan oleh verba diperkenalkan oleh interpretasi semantik verba itu sendiri. i. Pada contoh (28) di atas. (35) Mary membuka laci itu dengan kunci. Contoh. yang berfungsi benefaktif adalah bentuk Louise. atau dianggap atau diartikan sebagai suatu bagian dari makna verba. (31) Kami berbakti terhadap negara. John merupakan subjek ergatif -agent atau penyebab tindakan/perbuatanh. buat. dan. g.

fungsi ini terbatas hanya pada kasus-kasus di mana dapat timbul salah tafsir bila dua nomina berdampingan. Sebagai contoh. dapat menunjukkan hubungan kepunyaan (menyebutkan pemilik). Dalam bahasa kesusastraan. terlihat bahwa bentuk deiksis dapat dirangkai dengan bentuk preposisi. (38) Ibu merahasiakan semua itu. oleh. b. Sebagai contoh. dari. bentuk deiksis dapat menyatakan subjek pelaku. Contoh. melainkan hubungan antara kedua unsur tersebut: rumah + -ku = rumah kepunyaanku. tidak dapat dipakai dengan peposisi di dan ke yang sama sekali tidak berangkaian dengan pronomina personal. (36) Irine menaruh majalah itu di (atas) meja. Untuk menyatakan objek tindakan/pelaku Untuk menyatakan objek pelaku. tempat atau letak ataupun orientasi ruang/keadaan atau tindakan yang diperkenalkan oleh verba. Pada contoh kalimat (37) dan (38). -mu. Badudu dalam bukunya ³Pelik-pelik Bahasa Indonesia´ (1993: 110-111) menyebutkan beberapa fungsi deiksis pronomina persona. (39) Perginya terlambat: ³Engkau salah´. e. Sebagai contoh. dll tersebut. Sebagai penunjuk kepunyaan Dalam hal ini. bentuk deiksis pronomina persona digunakan pada verba transitif berawalan me-. dll. seperti bentuk preposisi kepada. rumah + -mu = rumah kepunyaanmu. timbul sebagai akibat pengaruh bahasa Jawa. Bentuk deiksis pronomina persona dapat digunakan untuk menyatakan subjek pelaku apabila ditempelkan pada verba pasif berawalan -di. yaitu: a. J. karena takut diketahui olehnya. dalam bukunya yang berjudul ³Bahasa Indonesia. Artinya bahwa. (37) Kakak memberikan buku itu kepadaku. seperti halnya bentuk enklitis. (41) Sudah lama dia tidak melewatiku. rumah + -nya =rumah kepunyaannya. bentuk-bentuk deiksis dapat digunakan sebagai perangkai preposisi. Sebagai contoh. c. Dalam pemakaiannya. Untuk menyatakan subjek tindakan/pelaku Pronomina persona dapat digunakan untuk menyatakan subjek tindakan/pelaku dengan verba intransitif dan dengan kata akar yang dipakai untuk mengantarkan tuturan langsung. (40) Saya sudah dilihatnya. dkk. Penanda kasus lokatif ini adalah di. ke. yang menyatakan kepunyaan bukalah wujud deiksis seperti -ku. Menurut Alieva. d. yang tidak terdapat dalam bahasa Melayu klasik. Untuk contoh kalimat (39).Kasus lokatif adalah kasus yang memperkenalkan lokasi. kataku. Fungsi yang demikian. rumah saya. Bentuk tersebut digunakan dalam konstruksi tuturan langsung dengan kata pengantar penutur berada di depan tuturan langsung. S. deskripsi dan teori´ fungsi deiksis meliputi: a. Bentuk pronomina. Sebagai penunjuk kepunyaan Bentuk deiksis pronomina persona apabila disambungkan dengan nomina. Misalnya: bentuk rumahku. Sebagai contoh: kawannya Salim. -nya. Sebagai perangkai preposisi. bentuk deiksis itu langsung disambungkan pada verba tersebut. Sebagai penunjuk postpositif Artinya bahwa bentuk deiksis di sini untuk menyatakan hubungan milik antara dua nomina. rumah mereka. Bandingkan dengan .

halamanku. b. majalah Bobo juga memuat tentang profil. dan menurut kala penerbitannya dibedakan atas majalah bulanan. (-nya = penyakit seperti itu) h. sekali gagal juga. arena kecil. olahraga. Majalah Bobo memuat berbagai macam cerita anak-anak dari yang berbentuk cerita pendek. (43) Kuakui itu adalah salahku sendiri. Sebagai alat pembentuk kata benda Contoh: (42) Salahmu masih dapat dimaafkan. Sebagai objek penyerta dalam bentuk enklitik Contoh: (46) Disampaikannya berita itu kepadaku kemarin. ilmu pengetahuan tertentu. 1991: 615). tak disangka). Dalam penelitian ini. Majalah Bobo merupakan salah satu majalah anak-anak yang terbit satu kali dalam setiap minggunya. melainkan lahir karena adanya hubungan kedua kata itu. mana kuenya? f. Makna ³pemilikan´ bukan terdapat pada kata paman dan Amir di belakang kata rumah. peneliti menggunakan teori lain yang dapat melengkapi dan yang sesuai dengan sampel data yang tersisa. Bersama-sama dengan awalan se. dkk. Cerita Pendek . G. cerita bergambar. yaitu setiap hari Kamis. Untuk sampel data yang tidak sesuai dengan teori-teori tersebut. dari teman (Apa Kabar. Hubungan ini disebut hubungan posesif (hubungan kepunyaan). Untuk itu. Sebagai kata sandang penentu Contoh: (48) Masa hanya kopi saja.rumah paman. uji imajinasi. dibedakan atas majalah berita. sastra. peneliti memberikan istilah sendiri untuk menyebut fungsi deiksis sesuai dengan ciri-ciri sampel data. F. tengah bulanan. Sebagai objek penderita dalam bentuk enklitik Contoh: (44) Aku memandangnya sebagai kakakku. yaitu fungsi penunjuk kepunyaan dan fungsi perangkai preposisi. dongeng. Selain itu. dan sebagainya dan menurut pengkhususan isinya. mingguan. pandangan tentang topik aktual yang patut diketahui konsumen pembaca. g. liputan. Namun. (45) Siapa yang akan menyertaimu naik haji nanti? d. ilmu pengetahuan. Hal itu dikarenakan bahwa dari sampel data yang ditemukan dalam penelitian ini menunjukkan adanya kesesuaian antara sampel data dengan teori tersebut. c. Sebagai penunjuk Contoh: (50) Penyakit itu sukar dicari obatnya.menyatakan superlatif Contoh: (51) Sepandai-pandainya tupai melompat. dan sebagainya (KBBI. Majalah Bobo Majalah adalah terbitan berkala yang isinya meliputi berbagai liputan jurnalistik. hanya lima fungsi yang dianggap sesuai dengan sampel data yang ada. ensiklobobo. wanita. e. rumah Amir. (47) Barang-barang itu sengaja kubeli untukmu. remaja. teori fungsi yang digunakan merupakan teori yang dikemukakan oleh Tarigan. Sebagai pembentuk kata keterangan Contoh: (49) Agaknya akan turun hujan hari ini. Teori yang dimaksudkan di sini merupakan teori yang dikemukakan oleh Alieva. Bo?. dari beberapa fungsi yang dikemukakan oleh Tarigan.

concentration µpemusatan¶. Salah satu metode yang digunakan adalah metode agih. Untuk mengetahui bentuk deiksis pronomina persona. Dialog. makna kebersamaan/jamak. Sebuah cerpen biasanya memiliki plot yang diarahkan pada insiden atau peristiwa tunggal. Metode agih adalah metode analisis data yang alat penentunya justru bagian dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri (Sudaryanto. Adapun makna deiksis yang terdapat dalam kumpulan cerita pendek di majalah Bobo edisi Januari-Desember 2005 meliputi makna ambiguitas. dan sebagainya. Deiksis pronomina persona merupakan salah satu bentuk kata tunjuk yang digunakan untuk menunjuk orang atau insani. Sumber data dalam penelitian ini berupa subjek. merupakan suatu jenis sastra naratif yang muncul pada bagian pertama abad ke-19 di Amerika Serikat. Fungsi deiksis pronomina persona yang ditemukan dalam kumpulan cerita pendek di majalah Bobo edisi Januari-Desember 2005 meliputi fungsi penunjuk kepunyaan. Ringkasnya. fungsi benefaktif. 1984: 15). fungsi pelaku/agent. keputusan yang menentukan). kesadaran baru. teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori campuran dari beberapa pandapat para ahli. jika dalam penggunaannya disesuaikan dengan konteks kalimat dan makna yang dimilikinya. 1991: 187). 1986: 132). teori tentang fungsi deiksis yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan teori dari beberapa ahli. diharapkan peneliti lebih mudah dalam mengkategorisasikan dan mendeskripsikan tentang bentuk. fungsi objektif. Dari beberapa teori yang mengemukakan tentang makna deiksis. Kerangka Pikir Kata tunjuk adalah kata yang digunakan untuk menunjuk sesuatu. dan makna sempit. Sifat umum cerpen ialah pemusatan perhatian pada satu tokoh saja yang ditempatkan pada suatu situasi sehari-hari. Dalam arti kata khusus. Dalam arti umum. orang maupun tempat. tetapi sugestif (Hartoko dan B. fungsi komitatif. Sebuah cerpen biasanya didasarkan pada insiden tunggal yang memiliki signifikansi besar bagi tokohnya. yaitu perbentukan antara kekuatan yang berlawanan (Sudjiman. khususnya karya sastra anak. baik benda. cerita pendek adalah setiap cerita yang pendek. makna dan fungsi deiksis pronomina persona. ditentukan dengan metode yang digunakan dalam penelitian. tetapi yang ternyata menentukan (perubahan dalam perspektif. fungsi perangkai preposisi. Cerita pendek yang efektif terdiri dari tokoh atau sekelompok tokoh yang ditampilkan pada satu latar atau latar belakang dan lewat lakuan lahir atau batin terlibat dalam satu situasi. 1993: 15). makna tunggal. yang semuanya berkaitan dengan panjang cerita dan kualitas struktural yang diisyaratkan oleh panjang cerita itu. H. Tamatnya sering kali tiba-tiba dan bersifat terbuka (open ending). dan fungsi sapaan.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi (pada suatu ketika) (KBBI. dan intensity µpendalaman¶.Cerita pendek adalah kisahan pendek (kurang dari 10. Inti cerita pendek adalah tikaian dramatik. Rahmanto. cerpen menunjukkan kualitas yang bersifat compression µpemadatan¶. Seperti halnya makna deiksis. makna deiksis pronomina persona dan fungsi deiksis pronomina persona dalam suatu karya sastra. Bahasa-bahasanya sederhana. impian. sering dipergunakan (pengaruh dari film). makna luas. yaitu kumpulan cerita pendek di majalah Bobo . flash back. Penggunaan deiksis pronomina persona dirasa tepat. fungsi pengalam. Ada yang mengatakan bahwa cerpen merupakan karya prosa fiksi yang dapat selesai dibaca dalam sekali duduk dan ceritanya cukup dapat membangkitkan efek tertentu dalam diri pembaca (Sayuti. Dengan menggunakan metode agih. 2000: 9).

Bentuk di sini merupakan bentuk deiksis pronomina persona yang terdiri dari bentuk pronomina persona pertama baik tunggal maupun jamak. ³Di sini panas ya!´. Dalam contoh di atas kita tahu bahwa apa yang penulis maksud bukan panas dalam arti kata sebenarnya. Definisi terakhir (interpretasi ujaran) lebih cenderung kea rah yang mempelajari kekurangan dari dua definisi tersebut. Pengertian Masyarakat tidak selalu mengatakan apa yang sebenarnya mereka maksudkan. tempat yang lain atau keadaan yang lain pula. Dari Abstrak ke Arah Arti Kontekstual Arti abstrak lebih berfokus pada sebuah kata. atau yang dimaksud dengan (force) paksaan dalam sebuah ujaran kata. frasa atau kalimat (kedua).2 Definisi Pragmatik Pada awal 1980an. kalimat . hal ini akan berbeda jika dalam konteks yang lain. Untuk lebih jelasnya. sedangkan objek penelitian ini yaitu tentang bentuk. Digunakannya fungsi semantis di sini karena sampel data dalam penelitian ini merupakan bentuk kalimat yang terdapat di dalam suatu wacana. atau matikan pemanasnya. Bukut-bukua terbaru lebih contong membahas tentang satu dari dua topic. mengapa tidak langsung mengatakan yang sebenarnya. Kita akan mulai dari arti kontekstual arti ujaran dar melihata kata. Arti pembicara menurut perhatian ke pembuat pwsannya. Walaupun definisi itu cukup untuk menggambarkan pragmatic. Makna dalam penelitian ini merupakan makna deiksis pronomina persona yang digunakan dalam suatu tuturan. Sebagai contoh saya berkata. pada saat pragmatic sering dibuat sebagai bahan diskusi dalam linguistic. Kasus-kasus seperti ini masuk dalam bahasan lingusitik yang dikenal dengan Pragmatik.2. tetapi pada waktu yang sama ketidak jelaan dari fakta pada proses interpretasi dengan apa yang ada di dalam pesan antara beberapa tingkatan arti. yang dapat ditentukan dengan melihat konteks kalimat atau konteks wacananya. definisi umum dari pragmatic adalah arti dalam penggunaan dan arti dalam konteks. Dalam kasus di atas. pronomina persona kedua baik tunggal maupun jamak.edisi Januari-Desember 2005 yang berjumlah 137 buah. Semantic dalam hal perkembangannya pada akhir 1980an. 1. kerangka pikir ini dibuat dalam bentuk skema sebagai berikut. Kita akan mempelahar pertama kali yan dimaksud tentang tingkatan arti. Apakah Pragmatik Itu? 1. yang mana diperlukan adanya koherensi antara kalimat yang mendahului ataupun kalimat yang mengikutinya. Fungsi di dalam penelitian ini merupakan fungsi semantis deiksis pronomina persona. tetapi masih terlalu umum karena masih mengandung aspek semantic. tingkat dari arti secara abstrak. yang mana makna itu tidak lain daripada sesuatu atau referen yang diacu oleh kata atau leksem. frasa. makna dan fungsi deiksis pronomina persona. tetapi lebih dari itu. tidak secara langsung menuju topic. dimana dapat diterima dengan baik di bawah bahasan dari arti penggunaan atau art dalam kenteks. dan bentuk pronomina persona ketiga baik tunggal maupun jamak. Untuk yang ketiga kita akan mendapat pengatahuan tentang maksud pembicara.1. sama dengan pragmatic dengan arti pembicara (speaker meaning) atau yang sama dengan interpreatasi ujaran (utterance interpretation) ±mereka tidak menggunakannya secara eksplisit± . yaitu. Tetapi yang saya maksudkan adalah untuk seseorag membukakan jendela atau lebih baik membuka jendelanya. 1. masalah arit pemcibaca lebih mendekat ke arah penulus yang mempunyai pandangan social lebih luas dalam ilmu linguistic khususnya dalam hal pragmatic. Apa yang mereka maksudkan bisa lebih luas dari apa yang mereka katakana.

kita tidak paham apa yang ditemukan. tetapi mempunyai makna konotasi. Ayah selalu berkata tentang masa lalunya di kamp Catteria pada tahun 1940an. A : ³Batu (Lump) apa yang membuat mereka waspada?´ B : ³ Coba bacalah´ A : (Membeca dengan suara keras) ³Di dalam rekatakn batu yang jatuh´ B : Oh. di supermarket. namun hal ini dapat dihindari dengan memahami konteks yang ada. yang paling penting. Dalam pengertian ini.Contoh : Apa yang diinginkan para pasukan adalah untuk menduduki wilayah ini. Contoh : Percakapan ini ku dengarkan di sebuah kereta api. di sini. Dilarang Menyentuh!´ hal ini jelas untuk melarang menyentuh sesuatu. Keadaaan ini dapat terjadi dalam kasusu homonym. Ayah berhenti sejenak dan meneguk tehnya. kucing yan dimaksud adalah kucing dalam arti sebenarnya atau cambuk (dalam bahasa barat) yang biasa digunakan dalam kamp militire pada periode perang. dan Marinir. ku tidak akan pernah menemukannaya´ Mengapa kita tidak mungkin memahaminya. Dalam oercakapan di atas kita megetahui batu (lump) yang dimaksudkan adalah bukan batu yang sebenarnya. terjadi antara dua orang inggris.1 Mengartikan Rasa dalam Konteks Jika seseorang terlibat dalam percakapan. homograf atau yang lainya yang biasa mengakitabkan kesalahan pemahaman. Hal ini berbeda dengan kata ³Bahaya. di bus. AU.2 Mengartikan Penunjuk Konteks Kita perlu mencari poin penting dalam sebuah percakapan. dimanapun kita berada.3. Kami tahu apa arti disiplin sejak dalam pelatihan.3. itulah yang saya katakana. Lihatkah hanya sedikit kedisiplinan yang terlihat. secara intuisi melihat ke rasa dalam peraasaan kontekstual mereka. Pasukan. Dalam kasusu ini kita tidak menemukan penunjuk dalam kata. Contoh : ³dan hanya terpikirkan olehku. kita psti lebih bisa memhami poin pembicaraan. tetapi dapat masuk dalam frasa atau bahkan semua kalimat. 1. Beri mereka sesuatu yang mengingatkan masa lalu mereka (melewati pantat). itu (tidak selalu bermakna . Cambuk mereka. hal ini dikarenan topic pembicaraan biasanya berdasarkan tempat dimana pembicaraan itu terjadi. Arti abstrak tidak berada pada satu kata. antara lain di sana. jika dia tidak jatuh dari tempat tidu. hal ini dapat diketahui dengan memahami konteks yang ada dalam pembicaraan. atau penggelapan pajak atau mungkin yang lainnya. Seakan-akan ayah telah di dalam AL. Jika kita melihat ilustrasi di atas. kita mengenal pengertian deiksis. 1. Apakah sesuatu yang tidak biasa untuk para buruh bangunan? Cara mereka dibayar. ini. kami akan« . Pada saat itu masih menjadi tentara. ³Apa yang salah tentang kucing itu?´ Lalu siapa saja datang pada waktu itu. Cambuk juga masuk dalam domain discourse. Allan berpikir apa yang dimaksudkan dan akan menanyakan setelah peliharaannya sehat.

1. Seperti dalam contoh ³Benarkah itu .5 Pemaksaan (Force) : Tingkat Kedua dari Maksud Pembicara\ Dalam hal Pragmatik. Ini dapat terjadi jika kamu tahu yang pembicara maksudkan dan jelas arti percakapannya. yang terlibat dengan pemuda 16 tahun. apakah itu istilah dalam kriket atau yang lainnya dalam tanda kutip. Pembicara A adalah istrinya A : Pernahkan kamu melihat ³dog bowl´ B: Belum.5 Ambiguitas dan Maksud Kita akan menjelaskan ambiguitas dan maksud yang dapat mengarah ke dalam kesalahpahaman. sekarang juga akan berarti jika kita memahami pembicaraan.33 Ambiguitas Struktural Hal ini berkaitan dengan sintaks. Contoh kasus : Dalam pengadilan ada seseoran pemuda 19 tahun.pengisolasian).1 Pentingnya Arti Ujaran Arti ujaran di sini dimaksud adalah konteks dimana pengucapan itu dimaksudkan. hal ini juga berlaku pada deiksis-deiksis lainnya (deiksis orang dan deiksis tertentu ±discourse deixis² 1. Pasti kita bingung tentang apa arti kata ³dog bowl´. tetapi saya sudah pernah melihat dog bowl bermain di beberapa inning. Pada saat ditahan. Swiss Kota ini adalah kota dimana ³bank´ berada di dekat sungai. Kita pasti menduga-duga tentang arti kata ³bank´. Deiksis waktu antara lain kemarin. sedang Craig hanya mendapat pengawasan saja. Derek Bentley. Dalam contoh kasus di atas kita mengetahui arti pentingnya ujaran.3. besok. yang mati kucingnya atau ikannya. 1.3 Rasa Intereaksi. kita mengetahui paksaan (force).4. Bentley berkata ³Biarkan Polisi itu menerimana Christ!´ karena perkataan itu. dalam persidangan Bentley dijatuhi hukuman mati karena diduga yang melakukan penembakan. Contoh : Pembicara sedang berada di Genewa. Apakah itu bank dalam arti tempat kita menabug atau bank dalam bahasa inggris yang berarti tepi sungai.4 Arti Ujaran : Tingkat Pertama Maksud Pembicara 1. Christopher Craig dalam kasusu pembunuhan salah satiu Polisi setempat. Craig menembak polisi dengan alasan pembelaan diri. Artinya konteks kata atau kalimat cocok atau tidak dengan tempat dimana pembicaraan berada. Penunjuk dan Struktur Contoh di bawah ini akan menunjukkan ambiguitas strukturan yang juga mengandung ambiguitas perasaan Pembicara B adalah komentator kriket yang terkenal. 1. Seperti contoh kucing makan ikan mati.3. Brian Johnson. 1.

5.5.5. para linguist bereaksi satu sama lain. Hal ini berbeda dengan definisi awal.2 Interpretasi Ujaran Sebaliknya. Dalam suatu komunitas tertentu. dan mengabaikan unsur pengguna bahasa. ada dua alasan mengapa penulis. maka pembicaraan mereka akan berjalan secara halus dan dapat dimengerti oleh para pendengar. Karena itu.6 Definisi Pragmatik Dalam pragmatic arti secara abstrak dan lebih berguna dari pada arti pengguanaannya. Jadi harus secara jelas kita mengetahuinya.4 Memahami bukan arti ujaran dan bukan pakasaan 1. pasti mempunyai kata-kata tertentu dalam cara berinteraksi. 1.2 Pragmatik : Arti dalam interaksi Dalam hal ini mencerminkan arti atau poin dalam interaksi (pada suatu percakapan). Sebagai contoh megapa pembicara tidak secara langsung menunjuk apa yang mereka maksudkan. studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya.1 Arti Pembicara Dalam hal ini.3 Memahami paksan tetapi bukan arti ujaran 1. Ujaran mereka berkembang dalam topic yang cocok dengan keadaan dan situasi. konteks perkataan sangat berperan penting dala pemahaman suatu pembicaraan.6. cemooh atau bukan. Dalam tempat pertama. yaitu dengan menurunkan sistem yang terdapat dalam matematika dan logika. mereka dapat mengembangkan poin pembicaraan mereka dalam dalam cakupan property.6. Hal ini akan sangat sulit jika kita tidak tertarik mengapa pembicara berkata demikian. baik secara implicit atau eksplisit telah menggunakan defines dengan tidak perlu membuat perbedaan. Sebagai tataran terbaru dalam . Di dalam perkataan itu kita tidak mengetahui apa yang dimaksudkan oleh pembicara.mobilmu? ³ sambil menunjuk kea rah mobil anda.1 Memahami Ujaran dan Paksaan (Force) 1. biasanya dalam grup ini lebih tertarik dalam tingkatan kedua. yaitu force. seperti diungkap oleh Yule (1996: 6).6. Hal ini juga dapat membuat pendekatan para linguist mempunyai kelemahan. 1.5 Hubungan timbale balik antara arti ujaran dengan paksaan 1. 1. Contoh ³Saya telah menjual rumah itu´. Karena itu teori-teori atau metodologi-metodologi yang ada harus dirubah sesuai dengan perkembangan jaman.5. Pendahuluan Dalam jangka yang cukup lama. Dan dalam percakapan selanjutnya.2 Memahami ujaran tetapi bukan paksaan 1. pendekatan kognitif yang luas yang digunakan oleh para ahli pragmatic lebih berfoukus pada pendengar. Pendekatan ini dapat terlihat berpotensi memberikan penejelasan lebih baik dalam hal pemecahan ambiguitas itu. Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik? Makyun Subuki 13 Desember 2006 1. 1. Kata-kata itu belum tentu dapat dimengerti oleh orang lain di luar komunitas mereka.5.

dengan menggunakan sudut pandang kognitif. yaitu makna. menunjukkan pentingnya pragmatik. Meskipun memiliki fokus kajian yang serupa dengan semantik. Selanjutnya Thomas (1995: 22). makna yang dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantik. seperti akan saya jelaskan kemudian. pertama. 3. mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction). (3) bidang yang. Makalah ini bertujuan menjelaskan pentingnya bidang pragmatik untuk dipelajari dalam program studi linguistik. saya mengawali makalah ini dengan pembahasan mengenai pengertian pragmatik. (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya. mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi. pragmatisisme. dengan melihat perbedaan kajiannya dengan bidang lain dalam linguistik. 2. melebihi kajian tentang makna yang diujarkan. dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. sosial. dan kedua. dan. menyebutkan empat definisi pragmatik. . (3) tradisi filsafat. dengan menggunakan sudut pandang sosial. dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran. atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi. perkembangannya. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme. dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik. Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian.linguistik. mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara. (2) kecenderungan sosial-kritis. Yule (1996: 3). menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning). dan komplementarisme. yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara. Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. menjelaskan secara singkat topik-topik bahasannya. Perkembangan Pragmatik Mey (1998). Untuk tujuan tersebut. yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme. seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5). yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik. menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). Pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. dan (4) tradisi etnometodologi. misalnya. Definisi Pragmatik Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik.

yang dipelopori oleh Bertrand Russell. yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. misalnya Austin. Searle. dan Grice. Jerman. bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis. mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa. termasuk penggunaannya. pragmatik neo-Gricean (Cole). seperti Russel dan Moore. Searle. seperti dikutip oleh Thomas (1995: 29-30). How to Do Things with Words. (1) Ada enam kata dalam kalimat ini . sebab. menolak pandangan sintaksisme Chomsky. Austin dapat dianggap sebagai pemicu minat yang paling utama dalam kajian pragmatik.Kecenderungan yang pertama. dalam kaitannya dengan logika. Dengan kata lain. Austin. keapikan sintaksis (well-formedness) bukanlah segalanya. Dalam etnometodologi. kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi. dan pragmatik interaktif (Thomas). bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6). Kecenderungan kedua. dan bahwa fonologi. adalah tradisi filsafat. dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)). Searle. dan Grice). yaitu pragmatik filosofis (Austin. melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. seperti dikutip Gunarwan (2004: 7). yang tumbuh di Eropa. sejak itu bidang kajian ini telah berkembang jauh. Tradisi yang ketiga. Menurut Lakoff dan Ross. bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri. tepatnya di Britania. Para pakar tersebut mengkaji bahasa. komunikasi tetap dapat berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak apik secara sintaksis (ill-formed). morfologi. Leech (1983: 2). Beberapa Topik Pembahasan dalam Pragmatik 4. seperti sering kita jumpai. 4. yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi dan ketaksaan. bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya. yaitu bahwa dalam kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis. Sebab. seperti diungkap oleh Marmaridou (2000: 1 (dalam Gunarwan 2004: 8)). pragmatik kognitif (Sperber dan Wilson). dan bahwa pernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris. muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan. Ludwig Wittgenstein. Contoh. dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross. dan semantik bersifat periferal. Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi. Austin dan John R. sehingga kita dapat melihat sejumlah kecenderungan dalam pragmatik.1 Teori Tindak-Tutur Melalui bukunya. bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6). yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross. dan terutama John L.

Contoh. memasukkan ujaran konstatif. Selain itu. dan Yule 1996: 53-54). saya nikahkan kalian (performatif) (4) Rumah Joni terbakar (konstatif) Selanjutnya Austin. melainkan melalui bagaimana bahasa dipakai sehari-hari. kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar karena sesuai dengan kenyataan. Dalam direct speeh-act terdapat hubungan langsung antara struktur kalimat dengan fungsinya. dan tindak perlokusioner berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan (Thomas 1995: 49). Tindak-tutur. (3) Dengan ini. karena memiliki struktur dalam yang mengandungi makna performatif. sedangkan dalam indirect speech-act hubungannya tidak langsung atau menggunakan (bentuk) tindak-tutur lain (Gunarwan 2004: 9. melainkan juga melakukan sesuatu (perform actions). direktif merupakan tindak-tutur yang menghendaki . dan perlokusi (perlocutionary act) (Yule 1996: 48). dan Yule 1996: 54-55). yaitu. tindak ilokusioner terutama berkaitan dengan intensi atau maksud pembicara. dapat berupa tindak-tutur langsung (direct speech-act) dan tindak-tutur tidak langsung (indirect speech-act). Searle juga menyebut lima jenis fungsi tindak-tutur.(2) Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono Dari contoh di atas. Asertif atau representatif merupakan tindak-tutur yang menyatakan tentang sesuatu yang dipercayai pembicaranya benar. yaitu lokusi (locutionary act). Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. Austin berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements). yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech-act). struktur dalam ujaran tersebut dapat saja berbunyi Saya katakan bahwa rumah Joni terbakar. Melalui hipotesis performatifnya. seperti juga ditekankan lebih lanjut oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). sesuai contoh di atas. seperti dikembangkan lebih jauh oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). sebagai bagian dari performatif (Austin 1962: 52 dan Thomas 1995: 49). Tindakan yang dihasilkan dengan ujaran ini mengandung tiga tindakan lain yang berhubungan. komisif (comissive). ilokusi (illocutionary act). dan deklarasi (declaration) (Littlejohn 2002: 80. dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin ini mengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition). Tindak lokusioner berkaitan dengan produksi ujaran yang bermakna. Dalam contoh (4). Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Gunarwan 2004: 8). Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics (Thomas 1995: 30). ekspresif (expressive). direktif (directive). Austin (dalam Thomas 1995: 31) berpendapat bahwa salah satu cara untuk membuat pembedaan yang baik bukanlah menurut kadar benar atau salahnya. yaitu asertif (assertive).

implikatur dapat dibedakan menjadi implikatur khusus dan implikatur umum. ekspresif merupakan tindak-tutur yang menyatakan perasaan pembicaranya. (2) bidal kualitas (quality maxim). Kerja sama yang terjalin dalam komunikasi ini terwujud dalam empat bidal (maxim). yaitu prinsip kerja sama (cooperative principle) (Yule 1996: 36-37 dan Thomas 1995: 61).3 Implikatur (Implicature) Grice. yaitu implikatur konvensional dan implikatur konversasional. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 12-14). Implikatur konversasional merupakan implikatur yang dihasilkan karena tuntutan konteks tertentu (Thomas 1995: 58). menghindari ketidakjelasan pengungkapan. menurut Gazdar. mengungkapkan secara beraturan (Gunarwan 2004: 11 dan Thomas 1995: 63-64). Contoh. menyebut dua macam implikatur. yaitu (1) bidal kuantitas (quantity maxim). (5) Bahkan Bapak Menteri Agama menghadiri sunatan anak saya (6) Saya kebetulan ke Inggris untuk studi selama dua tahun dan berangkat besok Contoh (5) di atas merupakan implikatur konvensional yang berarti Bapak Menteri Agama biasanya tidak menghadiri acara sunatan. Hal ini. komisif merupakan tindak-tutur yang digunakan pembicaranya untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukannya. 4. Berkaitan dengan prinsip kerja sama Grice di atas. Yang pertama ada karena konteks ujaran. dan deklarasi merupakan tindak-tutur yang mengubah status sesuatu. memberi informasi sesuai yang diminta. dalam komunikasi kadang kita tidak mematuhi prinsip tersebut.2 Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle) Grice mengemukakan bahwa percakapan yang terjadi di dalam anggota masyarakat dilandasi oleh sebuah prinsip dasar.4 Teori Relevansi . dan (4) bidal cara (manner maxim). seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 14). 4. misalnya contoh (6) di atas. mengungkapkan secara singkat. memberi sumbangan informasi yang relevan. (3) bidal relasi (relation maxim). dapat dicontohkan dengan penggunaan kata bahkan. sedangkan contoh (6) merupakan implikatur konversasional yang bermakna µtidak¶ dan merupakan jawaban atas pertanyaan maukah Anda menghadiri selamatan sunatan anak saya? Berbeda dengan Grice. seperti diungkap oleh Thomas (1995: 57). ujaran yang mengandung implikatur jenis ini. sedangkan yang kedua tidak. menyatakan hanya yang menurut kita benar atau cukup bukti kebenarannya. menghindari ketaksaan. Implikatur konvensional merupakan implikatur yang dihasilkan dari penalaran logika. misalnya untuk memberikan informasi secara tersirat (implicature) dan menjaga muka lawan bicara (politeness). misalnya contoh (5) di atas. 4. didasarkan atas beberapa alasan. dengan menggunakan prinsip kerja sama Grice. pada kenyataannya.pendengarnya melakukan sesuatu.

Misalnya pada contoh (7) di atas. Sperber dan Wilson (1995). menetapkan tiga macam hubungan antara cue dan implicature.Teori relevansi yang dikembangkan oleh Sperber dan Wilson merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. B mengira A mengerti bahwa at the weekend berarti next weekend. Dalam teori relevansi dipelajari bagaimana sebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya. menyebutkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (language in use) selalu dapat diidentifikasi melalui hal yang disebutnya indeterminacy atau underspecification. bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi. Contoh. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). Setiap pembaca dapat memahami bahwa pesan ini hanya berlaku jika ia akan meninggalkan ruangan tersebut untuk terakhir kalinya. Dalam percakapan di atas. pemahaman penerima pesan terhadap apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan terjadi melalui beberapa tahapan. How does it works? You just turn up for the shuttle service? A: That might be cheaper. Then that's fifty. padahal A . Menurut mereka. when do you want to go? B: At the weekend. pesan ini berada dalam spesifikasi tertentu yang disepakati oleh addresser dan addressee dalam konteks komunikasi. dan ketiga. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). yaitu: pertama. misalnya untuk ke kamar mandi. ujaran merupakan sebentuk tindakan dari komunikasi ostensif. Selanjutnya. (7) Pastikan semua pintu terkunci jika meninggalkan ruangan ini. A: What weekend? B: Next weekend. tahapan yang harus dilewati untuk memahami implikatur dalam percakapan. Dalam percakapan tersebut. Dengan kata lain. Contoh yang ditulis Renkema (2004: 23) di bawah ini memberikan gambaran yang cukup jelas. kedua. explicature atau degree of relevance. Melalui hal tersebut. dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini. penerima pesan (addressee) hanya memilih sesuatu yang dianggapnya relevan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan (addresser) dalam konteks komunikasi tertentu. komunikasi tidak hanya memasukkan apa yang ada dalam pikiran pengirim pesan ke dalam pikiran penerima pesan. there is a shuttle service sixty euros one-way. namun mencakup perluasan wilayah kognitif (cognitive environment) kedua belah pihak. (8) A: Well. Sperber dan Wilson (1995). bukan untuk setiap kali meninggalkan ruangan. pengirim pesan dapat memperkirakan reaksi penerima pesan terhadap pesan yang disampaikannya. untuk menjelaskan cara sebuah pesan dipahami penerimanya. misalnya tindakan untuk membuat sesuatu menjadi jelas dan dapat dimengerti oleh penerima pesan. yaitu tidak perlu mengunci pintu jika keluar dalam batasan waktu dan situasi yang diperkirakan cukup aman.

Menurut Goffman (1967: 5). semakin besar intensitas FTA mengancam stabilitas komunikasi. yaitu: pertama.5 Kesantunan (Politeness) Konsep strategi kesantunan yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson diadaptasi dari konsep face yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog bernama Erving Goffman (1956) (Renkema 2004: 24-25). sedangkan ujaran (9b) mungkin diucapkan kepada orang yang secara sosial jaraknya lebih dekat (9a). tingkat gangguan atau rate of imposition (R). dalam pengertian degree of relevance. jarak sosial atau social distance (D) antara pembicara dengan lawan bicaranya. face dapat diartikan kehormatan. Dengan kata lain. ujaran at the weekend. it costs 50 euros. karena semakin tinggi contextual effect maka semakin rendah ia membutuhkan processing effort. . (9) a. Dalam hal ini. yang dikutip oleh Jaszczolt (2002: 318). merupakan ujaran yang relevansinya rendah dan membutuhkan processing effort yang lebih besar. Politeness (kesantunan) dalam hal ini dapat dipahami sebagai upaya pencegahan dan atau perbaikan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh FTA. Begitu juga A. dan ketiga. Menurut Goffman (1956). boleh tanya? b. Contoh. Pak.harus memastikan dengan jelas setiap pemesanan pembelian tiket. misalnya bobot kedua permintaan di atas tidak terlalu besar jika kedua ungkapan tersebut ditujukan kepada saudara sendiri. 4. maka politeness strategy semakin dibutuhkan. sedangkan yang kedua disebut negative face. sedangkan that might be cheaper merupakan ujaran yang relevansinya lebih baik. ia mengandaikan B dapat mengerti bahwa that migh be cheaper dapat berarti If you purchase a ticket now. "face merupakan gambaran citra diri dalam atribut sosial yang telah disepakati". seperti dikutip oleh Renkema (2004: 25). misalnya permintaan "May I borrow your car?" mempunyai bobot yang berbeda dengan permintaan "May I borrow your pen?". Brown dan Levinson (1978) membangun teori tentang hubungan intensitas FTA dengan kesantunan yang terrealisasi dalam bahasa (Renkema 2004: 25). ujaran (9a) mungkin diucapkan pembicara yang secara sosial lebih rendah dari lawan bicaranya. Mas? Dalam contoh di atas terlihat jelas. Kebutuhan yang pertama disebut positive face. setiap partisipan memiliki dua kebutuhan dalam setiap proses sosial: yaitu kebutuhan untuk diapresiasi dan kebutuhan untuk bebas (tidak terganggu). berkenaan dengan bobot mutlak (absolute weight) tindakan tertentu dalam kebudayaan tertentu. If you buy ticket when you turn up. you have booked seat which costs 60 euros. kekuasaan atau power (P) yang dimiliki lawan bicara (Renkema 2004: 26). Numpang tanya. Maaf. kedua. misalnya mahasiswa kepada dosen atau yang muda kepada yang tua. harga diri (self-esteem). Berdasarkan konsep face yang dikemukakan oleh Goffman ini. Intensitas FTA diekspresikan dengan bobot atau weight (W) yang mencakup tiga parameter sosial. dan citra diri di depan umum (public self-image).

semakin tinggi resiko kehilangan muka. bidal kesetujuan (aggreement maxim). bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. dan. bidal pujian (approbation maxim). meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris. sedangkan politeness yang dilakukan untuk tujuan sebaliknya disebut respect politeness. salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat banyak cara untuk menghindari FTA yang dapat direduksi menjadi lima macam cara. dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 19). dapat dilakukan. Atas dasar ini. Leech (dalam Eelen 2001: 8) menyebutkan enam bidal kesantunan. lend me a hundred dollars. Dalam kehidupan sehari-hari. I'm sorry I have to ask. (baldly) b. Brown dan Levinson (1978). Oh no. dapat dipahami. dan memang sering kita temukan. pertama. bidal simpati (sympathy maxim). bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat. Hey. (off record) Teori kesantunan lain dibahas oleh Leech (1983). Hey. I'm out of cash! I forgot to go to the bank today. Kelima strategi tersebut diurut berdasarkan tingkat resiko "kehilangan muka". 5. yaitu bidal kebijaksanaan (tact maxim). Renkema (2004: 27) memberi contoh strategi tersebut. face work technique. ditambah bidal pertimbangan (consideration maxim).Politeness. yang bertujuan untuk mendapatkan positive face disebut solidarity politeness. could you lend me a hundred bucks? (positive polite) c. melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis. bahwa komunikasi tetap dapat . Berkaitan dengan politeness strategy ini. Pragmatik dalam Linguistik Seperti telah saya uraikan sedikit dalam sub 3 di atas. maka semakin kecil kemungkinan pembicara melakukan FTA. misalnya dengan melakukan tindakan yang tidak kooperatif dalam komunikasi (Renkema 2004: 25). Pakar ini membahas teori kesantunan dalam kerangka retorika interpersonal (Eelen 2001: 6). Lebih tepatnya. (5) a. tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis. misalnya dengan pujian. bidal kedermawanan (generosity maxim). dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi. Dalam hal ini. sehingga bentuk seperti kucing menyapu halaman. but could you lend me a hundred dollars? (negative polite) e. Secara umum. dapat dilakukan. friend. Dalam hal ini. seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4). seperti diungkapkan oleh Renkema (2004: 26). dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis. Dalam sintaksis. bidal kerendahhatian (modesty maxim). sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya.

dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan. makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya. patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan . sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi. sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis. dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur. seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22). demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). dalam pengajaran bahasa. di samping sintaksis dan semantik. Kegunaan pragmatik. meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai. keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan.berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis. dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain. misalnya. untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa seharihari. dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik. Dengan demikian. yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa. dapat bertentangan dengan prinsip lain. Berdasarkan truth conditional semantics. dalam arti praktis. dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik. Dengan kata lain. terdapat keterkaitan. sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik. sebab daya mencakup juga makna. sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya. karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. pembahasan makna dalam semantik belum memadai. dan kedua. yaitu bahwa pengetahuan pragmatik. Dengan demikian. makna apa yang dituturkan. Namun demikian. karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa. Selanjutnya. Lebih jauh lagi. semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan. Kaidah bersifat deskriptif. semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis. tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. dan maksud dari tuturan. untuk dapat dinyatakan benar. selain tata bahasa. sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. Selanjutnya. bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa. Tentang perbedaan yang pertama. Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada. semantik terikat pada kaidah (rule-governed). pertama. dalam analisis bahasa. Dengan kata lain. dan kedua. Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik. bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis. bagaimana memahami implikatur percakapan. yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik. kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. absolut atau bersifat mutlak. terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif. meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda.

Selain itu. yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu. A Critique of Politeness Theories. Dalam pengajaran bahasa Indonesia. saya melihat kedudukan semantik dan pragmatik sebagai dua hal yang saling melengkapi. Penelope. Asim. tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa pragmatik penting dipelajari dalam program studi linguistik. UK: St. Introduction to Discourse Studies. .M. pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya. kedua. misalnya. 2004. kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik. Oxford: Oxfod University Press. Eelen. Levinson. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence). Edinburgh: Pearson Education. Daftar Acuan Austin. berkaitan dengan pengajaran bahasa. Gino. 1978. John L. saya melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik setidaknya dalam dua hal. Penutup Seperti telah disebutkan di muka. K. 2004. pertama. Renkema. 2002. Jaszczolt. Cambridge: Cambridge University Press. Jan. dan Stephen C. Dalam pengajaran bahasa asing. How to Do Things with Word (edisi kedua). Jerome Publishing Gunarwan. karena selain benar. Manchester. 2001. pragmatik merupakan satu-satunya tataran dalam linguistik yang mengkaji bahasa dengan memperhitungkan juga penggunanya. bahasa yang digunakan harus baik. IKIP Singaraja. dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa. Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse.tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu.. 6. Secara umum. berkaitan dengan ketidakmampuan sintaksis dan semantik dalam menjelaskan fenomena penggunaan bahasa sehari-hari. pragmatik berperan dalam pengembangan kompetensi komunikatif. Berdasarkan penjelasan di atas. 1962. Brown. Politeness: Some Universal in Language Usage.

Sementara itu. maupun TT harafiah dan tidak harafiah. bagaimanakah TT yang dilakukan oleh orang Jawa apabila ingin menyatakan suatu maksud tertentu. Fungsi bahasa yang paling utama adalah sebagai sarana komunikasi. Di dalam komunikasi. (4) O. Artinya. njaluk µmeminta¶. seperti ngongkon µmenyuruh¶. Jenny. PRAGMATIK pragmatics (n) . direktif. Misalnya. yang ada barulah makna kata/kalimat yang diujarkan. ya? . Pragmatik dan Fungsi Bahasa Bidang ³pragmatik´ dalam linguistik dewasa ini mulai mendapat perhatian para peneliti dan pakar bahasa di Indonesia. kalimat deklaratif. Dengan demikian. Berbagai tindak tutur (TT) yang terjadi di masyarakat. baik TT representatif. atau bahkan dengan kalimat interogatif. dan ngapura µmemaafkan¶. nyilih µmeminjam¶. Oxford University Press. Pengkajian TT tersebut tentu menjadi semakin menarik apabila peneliti mau mempertimbangkan prinsip kerja sama Grice dengan empat maksim: kuantitas. serta skala pragmatik dan derajat kesopansantunan yang dikembangkan oleh Leech (1983). 1995. satu maksud atau satu fungsi dapat diungkapkan dengan berbagai bentuk/struktur. di dalam lokusi belum terlihat adanya fungsi ujaran. dan cara. London/New York: Longman. janji µberjanji¶. Kajian pragmatik lebih menitikberatkan pada ilokusi dan perlokusi daripada lokusi sebab di dalam ilokusi terdapat daya ujaran (maksud dan fungsi tuturan). (3) Ibu ngersakake kapur. perlokusi berarti terjadi tindakan sebagai akibat dari daya ujaran tersebut. satu maksud atau satu fungsi dapat dituturkan dengan berbagai bentuk tuturan. pragmatik adalah kajian mengenai penggunaan bahasa atau kajian bahasa dan perspektif fungsional. sedangkan semantik menelaah makna satuan lingual (kata atau kalimat) dengan satuan analisisnya berupa arti atau makna.pragmatik . Untuk maksud ³menyuruh´ orang lain.Thomas. Oxford. Yule. penutur dapat mengungkapkannya dengan kalimat imperatif. merupakan bahan sekaligus fenomena yang sangat menarik untuk dikaji secara pragmatis. Pragmatics. kajian ini mencoba menjelaskan aspek-aspek struktur bahasa dengan mengacu ke pengaruh-pengaruh dan sebabsebab nonbahasa. (5) Ing kene ora ana kapur. TT langsung dan tidak langsung. Hal itu sesuai dengan pengertian pragmatik yang dikemukakan oleh Levinson (1987: 5 dan 7). hubungan. atau kombinasi dari dua/lebih TT tersebut. menging µmelarang¶. kualitas. jebul ora ana kapur. seorang guru yang bermaksud menyuruh muridnya untuk mengambilkan kapur di kantor. ekspresif. ngelem µmemuji¶. dan deklaratif. komisif.pragmatika pragmatis (adj) : melihat sesuatu dari kegunaan pragmatisme: aliran yang melihat sesuatu dari kegunaan Dalam komunikasi. Dengan kata lain. pragmatik lebih cenderung ke fungsionalisme daripada ke formalisme. Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics. 1996. Pragmatik berbeda dengan semantik dalam hal pragmatik mengkaji maksud ujaran dengan satuan analisisnya berupa tindak tutur (speech act). dia dapat memilih satu di antara tuturan-tuturan berikut: (1) Jupukna kapur! (2) Kene ora ana kapur. pragmatik lebih cenderung ke fungsionalisme daripada ke formalisme. Bidang ini cenderung mengkaji fungsi ujaran atau fungsi bahasa daripada bentuk atau strukturnya. George. Misalnya.

bilamana. (4) Pragmatik adalah kajian mengenai hubungan antara bahasa dengan konteks yang menjadi dasar dari penjelasan tentang pemahaman bahasa. Levinson (1987: 1-53). (3) Pragmatik adalah kajian bahasa dan perspektif fungsional. yakni siapa yang berbicara. dan apa fungsi ujaran itu. Definisi pragmatik: 1. 1996: 2). sedangkan semantik adalah kajian mengenai makna. artinya kajian ini mencoba menjelaskan aspek-aspek struktur linguistik dengan mengacu ke pengaruh-pengaruh dan sebab-sebab nonlinguistik. (5) Pragmatik adalah kajian mengenai deiksis. bagaimana. praanggapan. Kaswanti Purwo (1990: 16) merumuskan secara singkat ³semantik bersifat bebas konteks (context independent). (6) Pragmatik adalah kajian mengenai bagaimana bahasa dipakai untuk berkomunikasi. Yang jelas . cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal. dan aspekaspek struktur wacana. implikatur. 1996: 3). atau kalimat interogatif seperti tuturan (5-6). (2) Pragmatik adalah kajian mengenai penggunaan bahasa. Dari beberapa definisi tersebut dapat dipahami bahwa cakupan kajian pragmatik sangat luas sehingga sering dianggap tumpang tindih dengan kajian wacana atau kajian sosiolinguistik. 4. 1983). Cukup banyak kiranya batasan atau definisi mengenai pragmatik. kalimat berita (deklaratif) dan kalimat tanya (interogatif) di samping berfungsi untuk memberitakan atau menanyakan sesuatu juga berfungsi untuk menyuruh (imperatif atau direktif). PRAGMATIK VS SEMANTIK Sebelum dikemukakan batasan pragmatik kiranya perlu dijelaskan lebih dahulu perbedaan antara pragmatik dengan semantik. Berkaitan dengan perbedaan (c) ini. 2. (a) Semantik mempelajari makna. studies meaning in relation to speech situation (Leech. 3. kalimat deklaratif seperti tuturan (2-4). (b) Kalau semantik bertanya ³Apa makna X?´ maka pragmatik bertanya ³Apa yang Anda maksudkan dengan X?´ (c) Makna di dalam semantik ditentukan oleh koteks. yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan. Jadi. tindak tutur. yaitu makna kata dan makna kalimat. membutuhkan 53 halaman hanya untuk menerangkan apakah pragmatik itu dan apa saja yang menjadi cakupannya.(6) Ngapa ora padha gelem njupuk kapur? Dengan demikian untuk maksud ³menyuruh´ agar seseorang melakukan suatu tindakan dapat diungkapkan dengan menggunakan kalimat imperatif seperti tuturan (1). terutama hubungan antara kalimat dengan konteks dan situasi pemakaiannya. sedangkan pragmatik mempelajari maksud ujaran. studi kebahasaan yang terikat konteks. di mana. sedangkan makna di dalam pragmatik ditentukan oleh konteks. secara pragmatis. misalnya. kepada siapa. (1) Pragmatik adalah kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan penafsirnya. cabang ilmu bahasa yang menelaah penggunaan bahasa. sedangkan pragmatik bersifat terikat konteks (context dependent)´ (bandingkan Wijana. Di sini dikutipkan beberapa di antaranya yang dianggap cukup penting. sedangkan semantik adalah kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan objek yang diacu oleh tanda tersebut. yakni bagaimana satuan kebahasaan digunakan dalam komunikasi (Wijana. Satuan-satuan lingual dalam penggunaannya.

Witgenstein (filsuf): makna adalah penggunaannya. Dalam semiotik. Pragmatik adalah telaah mengenai deiksis. Cabang-cabang bahasa: Fonologi: bunyi sebagai sistem Morfologi: satuan gramatikal terkecil. 5. Pragmatik adalah telaah mengenai relasi antara bahasa dan konteks yang merupakan dasar bagi suatu catatan atau laporan pemahaman bahasa. 3. atau masalah). yang mempunyai perhatian besar pada ilmu pengetahuan tentang tanda-tanda. Morris membedakan tiga cabang yang berbeda dalam penyelidikan. 1938:6). dan pragmatik yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan penafsir (interpreters). dengan kata lain: telaah mengenai kemampuan pemakai bahasa menghubungkan serta menyerasikan kalimat-kalimat dan konteks-konteks secara tepat. Sintaksis: frase. Pragmatics is the study of how language is used to communicate. 1. Teori pragmatik menjelaskan alasan atau pemikiran para pembicara dan penyimak dalam menyusun korelasi dalam suatu konteks sebuah tanda kalimat dengan suatu proposisi (rencana. Pemakaian istilah pragmatik (pragmatics) dipopulerkan oleh seorang filosof bernama Charles Morris (1938). atau dengan perkataaan lain: memperbincangkan segala aspek makna ucapan yang tidak dapat dijelaskan secara tuntas oleh referensi langsung kepada kondisi-kondisi kebenaran kalimat yang ciucapkan. yang dapat dirangkum seperti berikut ini. melainkan tindak tutur atau tindak ujaran (speech act). dan aspek struktur wacana. tindak ujar.disepakati ialah bahwa satuan kajian pragmatik bukanlah kata atau kalimat. Contoh: Kok.kondisi-kondisi kebenaran. Pragmatik adalah telaah mengenai segala aspek makna yang tidak tercakup dalam teori semantik. internal atau formal diadik: bentuk dan makna . Secara kasar dapat dirumuskan: pragmatik = makna . wacana. Pragmatik sebenarnya merupakan bagian dari ilmu tanda atau semiotics atau semiotika. Makna sebuah tuturan itu penggunaannya. kepada siapa. Stephen C. Ketiga cabang tersebut kemudian lebih dikenal dengan teori trikotomi. 4. Dalam hal ini teori pragmatik merupakan bagian dari performansi. Semantik: makna (biasanya leksikal). Levinson telah mengumpulkan sejumlah batasan pragmatik yang berasal dari berbagai sumber dan pakar. anggapan penutur (presupposition). which is the study of the internal structure of language. kalimat. klausa. yaitu: sintaktik (syntactics) atau sintaksis (syntax) yaitu telaah tentang relasi formal dari tanda yang satu dengan tanda yang lain (mempelajari hubungan satuan lingual dengan satuan lingual lain: tanda dengan tanda). atau semiotik (semiotics). pragmatics is distinct from grammar. Pragmatik adalah telaah mengenai hubungan tanda-tanda dengan penafsir (Morris. Pragmatik adalah telaah mengenai hubungan antara bahasa dan konteks yang tergramatisasikan atau disandikan dalam struktur sesuatu bahasa. implikatur. sudah pulang! Isteri: ¶betul-betul terkejut¶ atau ¶orang itu lama sekali perginya¶ Suami menafsirkan: siapa yang berbicara. situasinya bagaimana? L. semantik (semantics) yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan objek di mana tanda-tanda itu diterapkan (ditandainya) (atau hubungan antara penanda dan petanda (signifiant dan signifie/yang ditandai)). Parker (1986: 11). 2.

bersifat internal. dan pragmatik yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan penafsir (interpreters). Dalam semiotik. ada hal-hal yang tidak langsung ¶indirectness atau secara tidak literal¶. Asal-usul dan perilaku historis istilah pragmatik Pemakaian istilah pragmatik (pragmatics) dipopulerkan oleh seorang filosof bernama Charles Morris (1938). Pragmatik: makna penutur (maksud). Morris memberikan contoh interjeksi seperti Oh!. Good morning! dipengaruhi oleh hukum pragmatik. Contoh semantika: kursi signifiant (penanda) Terdapat suatu prinsip: ¶tempat duduk¶ signifie (petanda) . Contoh: Sugeng enjing! makna: menyapa maksud: tergantung siapa yang berbicaraatau maksud lain. Makna itu berubah-ubah tergantung pada konteksnya. misalnya menyindir atau memarahi. Mempelajari bagaimana satuan lingual itu ditafsirkan. atau studi istilah indeksikal atau deiktis (deictis) (gagasan Montague). Morris membedakan tiga cabang yang berbeda dalam penyelidikan. Come here!. Pragmatik: bagaimana orang menafsirkan. semantik (semantics) yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan objek di mana tanda-tanda itu diterapkan (ditandainya). Baik! makna: baik. yaitu bahwa variasi retoris dan alat puitis hanya muncul di bawah kondisi tertentu dalam batas-batas pemakaian bahasa. sebenarnya semantik sudah ada pragmatik. yang mempunyai perhatian besar pada ilmu pengetahuan tentang tanda-tanda. Jadi. yaitu: sintaktik (syntactics) atau sintaksis (syntax) yaitu telaah tentang relasi formal dari tanda yang satu dengan tanda yang lain.Pragmatik: cabang ilmu bahasa yang mempelajari makna satuan kebahasaan yang bersifat eksternal / bagaimana satuan kebahasaan itu dikomunikasikan eksternal atau fungsional triadik: bentuk. atau telaah konsep abstrak tertentu yang membuat acuan pada pelaku (agents) (satu gagasan dari Carnap). Semantik: makna linguistik (makna). makna. Ketiga cabang tersebut kemudian lebih dikenal dengan teori trikotomi. atau semiotik (semiotics). atau akhirnya pemakaian dalam linguistik Anglo-American dan filsafat. dilihat dari berbagai faktor . yaitu suatu telaah dari sebagian besar jajaran fenomena psikologis dan sosiologis yang mencakup sistem tanda pada umumnya atau dalam bahasa tertentu (the Continental sense of the term). Buku ini secara eksklusif menyangkut istilah pada gagasan yang terakhir dan menerapkannya pada pembicaraan ini. makna dalam penutur. apik maksud: bisa tidak baik. dan maksud. Akhirnya pengarang menyimpulkan bahwa perbedaan pemakaian istilah pragmatik ditimbulkan dari bagian asal-usul semantik karya Morris.

ayah dengan anak. . semakin pendek tidak sopan. o Contoh: Lunga! (tidak sopan) dan Lungaa! (lebih sopan) y Semakin langsung semakin tidak sopan. Tuturan semakin panjang tuturan semakin sopan. 1. ²-> terkait dengan wacana. Tenor (pelibat): misalnya. Ayahnya sakit. Pragmatik: Satu tanda bisa menyatakan bermacam-macam maksud atau bermacam-macam tanda satu maksud.Informasi : isi tuturan (internal) Dia membeli buku Buku dibelinya makna: µaktif¶ dan µpasif¶ Makna yang abstrak. Verhaar (Pengantar Lingguistik Umum): . Contoh: ¶menolak¶ bisa dinyatakan dengan .Maksud : ada pada penutur (eksternal) . . Mode (bentuk bahasa): strategi memilih yang mana) Pragmatik: retorika. Field (medan): siapa berbicara kepada siapa.Makna : ada pada satuan lingual (internal) . jelas.M.Entuk 4 + Apik! wacana pragmatik Menurut Halliday (pakar Functional Grammar): 1. (Contoh: Nyilih sepedha motore (tidak sopan) dan Menawa pareng. 3.Omahku sepi kok. 2. Sosiolinguistik: berkaitan dengan variasi bahasa. 2. y Obyek data pragmatik itu konkrit. Dia pergi ke Surabaya. aku nyilih sepedha motore (lebih sopan)). semakin tidak langsung semakin sopan. J. Data pragmatik: utterance (kalimat + konteks). Bahasa tulis juga bisa asalkan mampu merekonstruksi tuturan yang sebenarnya.Noam Chomsky: Terdapat hubungan satu lawan satu antara penanda dan petanda (signifiant dan signifie). Berkenaan dengan data: Data kalimat : sentence. yang tidak jelas siapa penuturnya tidak jelas. bagaimana strateginya. Makna kongkrit: makna tuturan. Obyek data primer adalah bahasa lisan.W.Ora duwe dhuwit. + Piye bijimu . karena: jelas kapan bahasa itu digunakan siapa yang berbicara kepada siapa.

Searle. 4. Kopi bisa marahi saya menolak atau menerima.kalimat tanya. Tuturan (utterance) . J. Intinya: bahasa pada umumnya sebagai alat komunikasi. Filosof J. Arep? melek terus. Jack dkk. TUTURAN PERFORMATIF DAN TUTURAN KONSTATIF Pustaka: Austin.di atas kalimat plus konteks. 1993. misalnya: dalam ujaran Saya mengucapkan terima kasih. Harimurti Kridalaksana. Performative (in speech . Kamus Linguistik. Wacana: mengandung amanat yang lengkap. 1984: 2001).D. wacana tidak selalu di atas kalimat. Geoffrey. (2) kalimat atau bagian kalimat yang dilisankan (Kridalaksana. J. 1962.minus konteks.Widowson: 1.L. 2. Prinsip-prinsip Pragmatik.plus konteks. . 1984. Definisi: Tuturan performatif (performative utterance): tuturan yang memperlihatkan bahwa suatu perbuatan telah diselesaikan pembicara dan bahwa dengan mengungkapkannya berarti perbuatan itu diselesaikan pada saat itu juga. Cambridge: Cambridge University Press. Teks (texs) . tetapi sebenarnya ada tindakan tertentu yang baru dapat terlaksana kalau orang itu mengemukakan tuturan/bahasa. New York: Oxford University Press. Lunga! Wacana. Contoh: Sugeng rawuh. oleh Kridalaksana disebut dengan istilah ujaran): (1) regangan wicara bermakna di antara dua kesenyapan aktual atau potensial.D. Longman: Longman Group UK Limited. Richards.L. (Terjemahan M. Oka). Jadi. Tuturan (utterance. Neng ngendi sabune? teks tidak jelas konteksnya.di atas kalimat minus konteks. Speech Acts. Urmson). Jakarta: PT Gramedia. 1969. (ed. 1984: 2001). Austin membedakan antara tuturan performatif (performativei) dan konstatif (constative). Dengan demikian bahasa bukan semata-mata alat untuk menyatakan sesuatu tetapi juga melakukan sesuatu. Wacana (discourse) . Longman Dictionary of Applied Linguistics. 1989. pembicara mengujarkannya dan sekaligus menyelesaikan perbuatan ³mengucapkan´ (Kridalaksana. Jakarta: Universitas Indonesia. How to Do Things with Words. Leech. John.O. Kalimat (sentence) . 3.

Penuturnya adalah penghulu (naib). Tuturan performatif tidak dievaluasi sebagai benar atau salah. pendeta. Tindakan harus dilakukan secara sungguh-sungguholeh penutur. ((Richards dkk. Saya namakan anak saya Parikesit. Secara ringkas dikatakan pula bahwa tuturan performatif adalah tuturan untuk melakukan sesuatu (perform the action). 5. (Tindakan menyatakan/menikahkan: the act of marrying). Contoh lain: 1.act theory): an utterance which performs an act. Masjid. Saya akan pergi sekarang. (Tindakan menyerahkan: the act of bequeting). Saya serahkan semua harta saya kepada anak saya. 1. tidak dengan tindakan menginjak kaki mitra tutur-nya. Misalnya: Sesuk kowe tak-tukokke sepur (yakin tidak. Misalnya: Saya berjanji akan setia padamu. Orang yang menyatakan tuturan dan tempatnya harus sesuai atau cocok. tumindakku kang ora ndadekake renaning penggalihmu. (Tindakan bertaruh: the act of betting). dan sifatnya betul atau tidak betul . sebagai berikut. Misalnya: Aku njaluk pangapura marang sliramu. Misalnya: Saya mohon maaf atas kesalahan saya. bukan oleh orang lain. Austin dalam menentukan ciri-ciri tuturan performatif ini hanya melihat aspek gramatikalnya saja. rama. kemudian diperbaharui lagi oleh John Searle. Misalnya: Saya berjanji akan setia. atau mampu melakukan apa yang dinyatakan dalam tuturannya. tetapi sebagai tepat atau tidak tepat. Syarat itu juga belum cukup. Pura. Harus diucapkan sungguh-sungguh. such as Watch out (=a warning). maka tuturan itu dikatakan tidak valid (infelicition). yaitu dengan adanya syarat-syarat lainnya yang disebut syarat tuturan performatif (felicity condition). (Tindakan berterima kasih: the act of thanking) 2. I promise not to be late (= a promise). Kalau tuturan tidak memenuhi kelima syarat tersebut.  Tindakan sedang/akan dilakukan Kalau dalam bahasa Inggris. Ciri-ciri tindakan performatif  Subyek harus orang pertama. Saya mohon maaf atas keterlambatan saya. Tuturan harus mempredikasi tindakan yan g akan dilakukan. 7. Saya nyatakan Anda berua suami-isteri. Saya bertaruh Mike Tyson pasti menang. Syarat-syarat itu antara lain: 1. subjek orang pertama dan kala-nya present tense. dsb. 4. keadaan. (the act of promising). bukan orang kedua atau ketiga. Gereja. (Tindakan pergi: the act of going). tempatnya di KUA. Penutur harus memiliki niat yang sungguh-sungguh dalam mengemukakan tuturannya. Akhirnya direvisi (dilengkapi) oleh murid-muridnya. objeknya 2 orang (berdua). Tindakan harus dilakukan secara sungguh-sungguh oleh kedua belah pihak. Tuturan harus mempredikasi tindakan yang akan dilakukan oleh penutur. 3. proses. Penutur harus yakin bahwa ia mampu melakukan tindakan itu. Misalnya: Saya berjanji bahwa saya akan selalu datang tepat waktu. 2. 5. 2. 4. (Tindakan mohon maaf: the act of apologizing). bukan yang telah dilakukan. Misalnya: Saya nyatakan Anda berdua suami-isteri. misalnya: I promise that I shall be there (Saya berjanji bahwa saya akan hadir di sana) dan performatif primer atau tuturan primer I shall be there (Saya akan hadir di sana) (Geoffrey Leech (terjemahan).. (Orang perta dan kedua melakukan tindakan secara sungguh-sungguh). 1989: 212). Saya berterima kasih atas kebaikan Saudara. Tuturan konstatif atau deskriptif (constative utterance): tuturan yang dipergunakan untuk menggambarkan atau memerikan peristiwa. 6. 3. 1993: 280). (Tindakan memberi nama: the act of naming). kalau tidak berarti bukan tuturan performatif).

ilokusi. Chicago is in the United States (Richards dkk. 1989: 212-213). yaitu memerintahkan si mitratutur supaya pergi meninggalkan rumah pondokannya.. pemberian izin (permissons). 1993: 316). Dengan pengucapan kalimat Arep ngombe apa? si pembicara tidak semata-mata menanyakan atau meminta jawaban tertentu. dan perlokusi. Ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu. Di dalam mengatakan suatu kalimat. yaitu tindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan kalimat sesuai dengan makna kata itu (di dalam kamus) dan makna kalimat itu sesuai dengan kaidah sintaksisnya. Hal-hal apa sajakah yang dapat ditindakkan di dalam berbicara? Ada cukup banyak. TINDAK TUTUR DAN JENIS-JENISNYA Tindak tutur (selanjutnya TT) atau tindak ujaran (speech act) mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam pragmatik karena TT adalah satuan analisisnya. Jadi. ia juga menindakkan sesuatu. ia juga menindakkan sesuatu. perlokusi adalah efek dari TT itu bagi mitra-tutur (selanjutnya MT). Saya tidur di hotel. yaitu lokusi. tanpa bermaksud untuk minta minum. A constative is an utterance which assert something that is either true or false. Jadi. Perlokusi mengacu ke efek yang ditimbulkan oleh ujaran yang dihasilkan oleh P. penerimaan akan tawaran (acceptation of offers) B. tawaran (offers). yakni menawarkan minuman. 1984: 154) Speech act: an utterance as a functional unit in communication (Richards et al. jika MT melakukan tindakan . Misalnya: 1.(Kridalaksana. 1984: 2001). Ilokusi. Lokusi adalah semata-mata tindak berbicara. Seorang ibu rumah pondokan putri. permintaan (requests). atau Austin mengatakan bahwa tuturan konstatif dapat dievaluasi dari segi benar-salah (Geoffrey Leech (terjemahan). antara lain. Di sini kita mulai berbicara tentang maksud dan fungsi atau daya ujaran yang bersangkutan. apabila seorang penutur (selanjutnya disingkat P) Jawa mengujarkan ³Aku ngelak´ dalam tindak lokusi kita akan mengartikan ³aku´ sebagai µpronomina persona tunggal¶ (yaitu si P) dan ³ngelak´ mengacu ke µtenggorokan kering dan perlu dibasahi¶. Secara singkat. Pengertian Tindak tutur (istilah Kridalaksana µpertuturan¶ / speech act. mengatakan Sampun jam sanga ia tidak semata-mata memberi tahu keadaan jam pada waktu itu. TINDAK TUTUR (Speech Act) A. Jadi. ajakan (invitation). dan Perlokusi Austin (1962) dalam How to do Things with Words mengemukakan bahwa mengujarkan sebuah kalimat tertentu dapat dipandang sebagai melakukan tindakan (act). Di dalam pengucapan kalimat ia juga ³menindakkan´ sesuatu. Di sini maksud atau fungsi ujaran itu belum menjadi perhatian. 1989: 265). seseorang tidak semata-mata mengatakan sesuatu dengan pengucapan kalimat itu. Ali pergi ke Jakarta 2. untuk apa ujaran itu dilakukan.1 Lokusi. speech event): pengujaran kalimat untuk menyatakan agar suatu maksud dari pembicara diketahui pendengar (Kridalaksana.. for example. Uraian berikut memaparkan klasifikasi dari berbagai jenis TT. Ia membedakan tiga jenis tindakan yang berkaitan dengan ujaran. 3. ³Aku ngelak´ yang diujarkan oleh P dengan maksud µminta minum¶ adalah sebuah tindak ilokusi. di samping memang mengucapkan kalimat tersebut.

Derajat kelangsungan dapat pula diukur berdasarkan kejelasan pragmatisnya: makin jelas maksud ujaran makin langsunglah ujaran itu. misalnya memuji. dan memberi maaf. (1) Kalimat bermodus imperatif : Pindhahen meja iki! (2) Performatif eksplisit : Dakjaluk sliramu mindhahke meja iki! (3) Performatif berpagar : Aku jan-jane arep njaluk tulung sliramu mindhahke meja iki. misalnya berjanji dan bersumpah. misalnya menyatakan. (5) TT deklaratif merupakan TT yang dilakukan P dengan maksud untuk menciptakan hal (status. keadaan. Komisif. 1993: 11-54). Untuk maksud atau fungsi ³menyuruh´. dan menantang. Hal ini berkaitan dengan tindak tutur langsung (TT-L) dan tindak tutur tidak langsung (TT-TL). Ekspresif. melaporkan. Dari kesembilan bentuk ujaran tersebut. memohon. (6) Rumusan saran : Piye yen meja iki dipindhah? (7) Persiapan pertanyaan : Kowe bisa mindhah meja iki? (8) Isyarat kuat : Yen meja iki ana ing kene. (4) TT komisif adalah TT yang mengikat P-nya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam ujarannya. 3. melarang. Karena kata ³meja´ sama sekali tidak disebutkan . menyarankan. berupa isyarat halus. misalnya menyuruh. misalnya. kamar iki katon rupek. 1993: dapat diungkapkan dengan menggunakan berbagai ujaran sebagai berikut. menuntut. (3) TT ekspresif ialah TT yang dilakukan dengan maksud agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi mengenai hal yang disebutkan di dalam ujaran itu.3 TT Langsung vs TT Tidak Langsung Dari sembilan bentuk ujaran tersebut diperoleh sembilan TT yang berbeda-beda derajat kelangsungannya dalam menyampaikan maksud µmenyuruh memindahkan meja¶ itu. Derajat kelangsungan TT dapat diukur berdasarkan ³jarak tempuh´ antara titik ilokusi ( di benak P) ke titik tujuan ilokusi (di benak MT). mengritik. (9) Isyarat halus : Kamar iki kok katone sesak ngono ya? 3. dan Deklaratif Searle (1975) mengembangkan teori TT dan membaginya menjadi lima jenis TT (dalam Ibrahim. Pada bagian terdahulu telah disinggung bahwa di dalam komunikasi satu fungsi dapat dinyatakan atau diutarakan melalui berbagai bentuk ujaran. dan sebagainya) yang baru.mengambilkan air minum untuk P sebagai akibat dari TT itu maka di sini dapat dikatakan terjadi tindak perlokusi. misalnya memutuskan. yang paling samar-samar maksudnya ialah bentuk ujaran (9). dan menyebutkan. mengucapkan terima kasih. (2) TT direktif yaitu TT yang dilakukan P-nya dengan maksud agar si pendengar atau MT melakukan tindakan yang disebutkan di dalam ujaran itu. dan sebaliknya. dan mengeluh. menunjukkan. membatalkan.2 TT Representatif. Direktif. (4) Pernyataan keharusan : Sliramu kudu mindhahke meja iki! (5) Pernyataan keinginan : Aku kepengin meja iki dipindhah. mengizinkan. menurut Blum-Kulka (1987) (lihat Gunarwan. Kelima TT itu sebagai berikut: (1) TT representatif yaitu TT yang mengikat P-nya kepada kebenaran atas apa yang dikatakannya.

secara ringkas. Dengan demikian mengatakan Saya menolak bahwa X sama halnya menolak bahwa X. melukai. dan mencakup tindaktindak seperti bertaruh. dan memesan. misalnya diucapkan oleh dokter gigi kepada pasiennya. dan membuat tertawa) 1. tindak ilokusi (melakukan tidakan dalam mengatakan sesuatu). (1) Tindak tutur langsung (TT-L) (2) Tindak tutur tidak langsung (TT-TL) (3) Tindak tutur harafiah (TT-H) (4) Tindak tutur tidak harafiah (TT-TH) (5) Tindak tutur langsung harafiah (TT-LH) (6) Tindak tutur tidak langsung harafiah (TT-TLH) (7) Tindak tutur langsung tidak harafiah (TT-LTH)\ (8) Tindak tutur tidak langsung tidak harafiah (TT-TLTH) Apabila seseorang menggunakan bahasa.) Dengan mengatakan X. dan perlokusi. misalnya diucapkan oleh dokter gigi kepada pasien yang masih kecil agar anak itu tidak takut. Selain TT-L dan TT-TL. Lokusi 2. Jika kedua hal itu. berjanji. P dapat juga menggunakan tindak tutur harafiah (TT-H) atau tindak tutur tidak harafiah (TT-TH) di dalam mengutarakan maksudnya. menakutnakuti. n menegaskan (asserts) bahwa P. Perlokusi Perbedaan kekuatan antara perlokusi dan ilokusi tidak selalu jelas. Dalam mengatakan X. 1996: 36). Hal ini sejalan dengan pendapat Austin (1962) yang melihat adanya tiga jenis tindak ujar. Misalnya: n mengatakan kepada t bahwa X. Ini merupakan aspek bahasa yang merupakan pokok penekanan linguistik tradisional). maka ada 3 jenis tindakan atau tindak tutur (selanjutnya disingkat TT). maka MT harus mencari-cari konteks yang relevan untuk dapat menangkap maksud P. misalnya diucapkan oleh P yang mengajak MTnya untuk tidak membuka rahasia. (3) TT-TLH : ³Bagaimana kalau mulutnya dibuka?´. dan tindak perlokusi (melakukan tindakan dengan mengatakan sesuatu). digabungkan maka akan didapatkan empat macam ujaran. Ilokusi 3. (4) TT-TLTH : ³Untuk menjaga rahasia. menolak. Contoh-contoh yang sesuai adalah meyakinkan. (Dilakukan dengan mengatakan sesuatu. Misalnya. berdasarkan uraian dan contoh-contoh di atas dapat dicatat ada delapan TT sebagai berikut (bandingkan Wijana. (2) TT-LTH : ³Tutup mulut´. ilokusi. Sebagian verba yang digunakan untuk melabel tindak ilokusi bisa digunakan secara performatif. Kesulitan dalam definisi ini muncul dari . misalnya diucapkan oleh seseorang yang jengkel kepada MT-nya yang selalu ³cerewet´. yaitu tindak lokusi (melakukan tindakan mengatakan sesuatu).oleh P dalam ujaran (9). Persuasi merupakan tindak perlokusi: orang tidak dapat mempersuai seseorang tentang sesuatu hanya dengan mengatakan Saya mempersuasi anda. n meyakinkan (convinces) t bahwa P. kelangsungan dan keharafiahan ujaran. yaitu lokusi. Dengan demikian. (Menghasilkan efek tertentu pada pendengar. (merupakan tindak mengatakan sesuatu: menghasilkan serangkaian bunyi yang berarti sesuatu. lebih baik jika kita semua sepakat menutup mulut kita masing-masing´. suruhan (request) memiliki kekuatan esensial untuk membuat pendengar melakukan sesuatu. yaitu: (1) TT-LH : ³Buka mulut´.

kapan. TT ilokusi: Austin. untuk apa. tidak (apa.urutan tindakan yang banyak diabaikan oleh teori tindak tutur. 1. kalimat atau tuturan dapat dibedakan menjadi tuturan langsung dan tutran tidak langsung. (minta maaf) Kula nyuwun sekilo. Misalnya: . dsb. siapa. atau mempengaruhi orang lain (perlocutionary speech act) Misalnya: Tempat itu jauh. ke mana. yaitu kalimat berita (deklaratif). Syukur Ibrahim. perintah biasa dan TT langsung (direct speech) TT langsung (direct speech) Berdasarkan mudusnya. Misalnya: Dia sakit. Searle. mis. yang merupakan keadaan psikologis yang tidak bisa diobservasi (lihat Abd. kalimat dapat dibedakan menjadi 3 macam. perbuatan yang dilakukan dalam mengujarkan sesuatu atau melakukan sesuatu. perbuatan yang dilakukan dengan mengujarkan sesuatu. membuat orang lain percaya akan sesuatu dengan mendesak orang lain untuk berbuat sesuatu. metapesan µJangan pergi ke metapesan (Dalam pikiran sana!¶ mitratutur ada keputusan) ³Saya tidak akan pergi ke sana. Wacana-wacana ilmiah yang tidak menekankan emosi termasuk TT lokusi. Pohon punya daun. memperingatkan. Ibunya di rumah! (bisa bermaksud melarang datang menemui anaknya) Bapaknya galak! (bisa melarang jangan ke sana) Saya tidak dapat datang. Searle. mengandung pesan. Misalnya: Saya berjanji. ajakan. Kaki manusia dua. 1993: 115). Informasi Tanya Di mana handuk saya? ya. dll. TT ini sangat sedikit peranannya dalam pragmatik. Tempat itu jauh Lokusi Perlokusi Tempat itu jauh. Kesulitan itu juga muncul dari dasar definisi maksud penutur. Lokusi Tempat itu jauh. Tindak tutur langsung-tidak langsung dan literal-tidak literal Berdasarkan isi kalimat atau tuturannya. kalimat tanya (interogatif).´ C. intonasi) informasi (apa.) TT langsung (direct speech) Perintah Pergi! larangan. dan kalimat perintah (imperatif). 2. hal mengungkapkan sesuatu atau menyatakan sesuatu (locutionary speech act). bertanya (illocutionary speech act). perbuatan bertutur. (membeli) Temboknya dicat! (jangan dekat tembok itu) Adoh lho le! (jangan ke sana) 3. TT perlokusi: Austin. Berita Adiknya sakit. TT lokusi: Austin. di mana. Tempat itu jauh.

6. 5. TT tidak langsung tidak literal Misalnya. 8. Tuturan tidak literal: tuturan yang tidak sesuai dengan maksud dalam tulisan/tuturan. kurang . Masing-masing tindak tutur (langsung. 7. suara radionya keras sekali. TT langsung 2. Buka mulutnya! (makna lugas: buka). B: Ini uangnya. TT tidak literal 5. literal. Buka mulutnya! (makna tidak lugas: tutup). 2. nyah. TT langsung TT tidak langsung TT literal TT tidak literal TT langsung literal TT tidak langsung literal TT langsung tidak literal TT tidak langsung tidak literal betul-betul kurang keras. yang jelek dikatakan bagus (disebut µironi¶). dan tidak literal) apabila disinggungkan (diinterseksikan) dapat dibedakan menjadi 8 macam seperti sebagai berikut. TT langsung tidak literal 8. Adiknya sakit. kalimat Radione kurang banter.[Tuturan langsung] A: Minta uang untuk membeli gula! B: Ini. TT tidak langsung 3. 2. (ada maksud: jangan pergi ke sana). Misalnya. TT tidak langsung literal 7. 3. (ada maksud: jangan ribut atau tengoklah!) Berdasarkan keliteralannya. sehingga merupakan TT tidak langsung (indirect speech). yang bagus dikatakan jelek (hal ini disebut banter [bEnte]). 1. keraskan radionya! betul-betul kurang keras. Hal ini merupakan sesuatu yang penting dalam kajian pragmatik. 2. tuturan dapat dibedakan menjadi tuturan literal dan tuturan tidal literal. Misalnya. TT langsung literal 6. betul-betul kurang keras keraskan radionya! suara radionya keras sekali. Rumahnya jauh. TT literal 4. matikan! Radione banter. [Tuturan tidak langsung] A: Gulanya habis. Hal ini disebut juga µnglulu¶ Dalan bahasa kadang-kadang terjadi. Misalnya: 1. Tuturan literal: tuturan yang sesuai dengan maksud atau modusnya. 1. 1. tidak langsung. 4. Beli sana! Kadang-kadang secara pragmatis kalimat berita dan tanya digunakan untuk memerintah.

berbicara secara wajar (termasuk volume suara yang wajar). Lubis. 1993: 11. 1996: 46-53). Berikan informasi Anda secukupnya atau sejumlah yang diperlukan oleh MT. jangan mengatakan sesuatu yang tidak perlu. ringkas. Contoh: kikir : q2r berdua satu tujuan : ber-217-an tekate dhewe : TKTDW kutujukan : ku¥49kan wawan : wa-one prawan ayu : pra one are you kian maju : q-an maju lali main : la5in dik daniel : dick&niel kaki lima : kq lima thank before : thx b4 aku : aq kamu :u sama-sama := yang : y9 sayang : sy9 anti gadis : an3dis dan :n Di dalam berkomunikasi. Secara lebih rinci. b. (1) Maksim kuantitas: a. 1993: 73. Mereka harus bekerja sama. Selanjutnya orang lain diharapkan menangkap apa (hal) yang dikemukakan. tidak berlebihan. Prinsip kerja sama ini terealisasi dalam berbagai kaidah percakapan. ada maksud-maksud tertentu. dan bandingkan pula Wijana. antara P dengan MT harus saling menjaga prinsip kerja sama (cooperative principle) agar proses komunikasi berjalan dengan lancar. Bicaralah seperlunya saja. Dengan adanya 2 tujuan ini. tetapi ia harus bertanggung jawab atas penyimpangan itu. . maka orang akan berbicara sejelas mungkin. Kalau orang berbicara kepada orang lain pasti ingin mengemukakan sesuatu. Hanya saja dalam pragmatik terdapat penyimpangan-penyimpangan. kita perlu belajar tentang µasumsi pragmatik¶. Keempat maksim percakapan itu ialah sebagai berikut. sehingga orang lain bisa mengetahui maksudnya.PRINSIP KERJA SAMA (Cooperative Principle) Sebelum belajar tentang µprinsip kerja sama¶. tidak berbelit-belit. Tanpa adanya prinsip kerja sama komunikasi akan terganggu. Grice menjabarkan prinsip kerja sama itu menjadi empat maksim percakapan (periksa Gunarwan.

Katakan dengan jelas. dan tidak ambigu. (3) Maksim relevansi: a. c.. tetapi apabila ada tuturan *Buku itu dibuat dari nasi. Bicaralah sesuai dengan permasalahan. maka dalam komunikasi harus memenuhi prinsip (maksim). Kenyataan membuktikan. maksim ketiga atau maksim relevansilah yang paling penting sebab betapa pun informasi yang kita sampaikan itu cukup serta disampaikan dengan cara yang jelas. Bicaralah secara singkat. b. baya. ada maksud apa di balik pelanggaran maksim tersebut? Misalnya. di dalam percakapan sehari-hari tidak jarang kita temukan praktikpraktik pelanggaran terhadap maksim-maksim Grice tersebut. Akan tetapi. lalu murid menjawab «. Maksim relevansi Penutur dan mitra tutur berbicara secara relevan berdasarkan konteks pembicaraan. Dalam kaitannya dengan maksim kualitas. Bukti cukup memadai. Misalnya: Ibu kota Provinsi Jawa Timur Surabaya. Misalnya: A : Ini jam berapa? . Katakan yang relevan. 2. Maksim kualitas Prinsip yang menghendaki orang-orang berbicara berdasarkan bukti-bukti yang memadai. Ibu kota Provinsi Jawa Timur Sura «« Tuturan ini disampaikan oleh guru. Jangan katakan sesuatu yang Anda tahu bahwa sesuatu itu tidak benar. Kalau lebih berarti ada tujuannya. Berkatalah secara sistematis. 3. Dalam pragmatik dikontrol oleh maksim (principle controlled). sistematis. Misalnya: Buku itu dibuat dari kertas. c. di antara empat maksim itu. bukti tidak memadai. terdapat penyimpangan maksim. yaitu: 1. kalau informasi itu tidak relevan dengan permasalahan toh tidak akan membawa manfaat. Sejauh mana asumsi ini benar juga masih memerlukan pengkajian secara pragmatis. d. (4) Maksim cara: a. misalnya Modal saja tidak bisa dan Untung saja tidak dapat. Jangan katakan sesuatu tanpa bukti yang cukup. justeru pelanggaran-pelanggaran itulah yang menarik untuk dikaji: mengapa P melakukan pelanggaran terhadap maksim tertentu. Terdapat beberapa asumsi pragmatik. Untuk memenuhi komunikasi secara wajar dan terjadi kerja sama yang baik. Hindari ketaksaan. bagi pengamat pragmatik. b. Katakanlah hal yang sebenarnya. Hindari kekaburanan ujaran. e. (Secara kuantitas cukup jelas). sedangkan dalam gramatika/ tatabahasa diatur oleh kaidah (rule governed). b. mengapa P yang bermaksud meminjam uang atau memerlukan bantuan kepada MT biasanya diawali dengan menceritakan secara panjang lebar keadaan dirinya seraya disertai dengan janji-janji? Apakah itu berlaku secara universal? Bukankah tindakan tersebut melanggar maksim kuantitas? Pada hemat saya.(2) Maksim kualitas: a. tidak bertele-tele. Maksim kuantitas Berbicara sejumlah yang dibutuhkan oleh pendengar. Asumsi pragmatik ini merupakan titik acuan (point of reference).

Sedangkan retorika interpersonal harus memperhitungkan orang lain. tuturan asertif. Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS memiliki 8 jurusan. Misalnya: Bali terletak di sebelah timur Pulau Jawa. ya? : Jangan menghina. dan maksim cara. tanya. Ada 6 macam prinsip agar memenuhi prinsip kesopanan. Misalnya: A : Dia penyanyi solo. Sebelum sampai pada prinsip kesopanan. Akan menjadi tidak relevan misalnya apabila B menjawab Ini baju kamu atau Di sana. Dalam kategori pragmatik didasarkan pada fungsi komunikatifnya. . masak saya miskin seperti ini punya tanah. 1. Misalnya: Gedung itu indah sekali. tuturan impositif (direktif). maksim relevansi. Swear. tuturan ekspresif. memohon. Gadis itu cantik sekali. Retorika tekstual harus memenuhi 4 prinsip (maksim) kerja sama. Yang diperhatikan adalah tuturan. Boleh saya bawakan? Saya akan setia. Selanjutnya agar memenuhi prinsip (maksim) kesopanan. 4. Tuturan asertif: menyatakan sesuatu (objektif).B : Ini jam 3. Saya akan datang (ada efek yang lain untuk memerintah) 3. A B : Ini Tanah Abang. Misalnya: Saya akan datang. mujair. 2. Keempat prinsip tersebut di atas termasuk pada jenis µretorika tekstual¶ sebab dalam pragmatik dikenal adanya retorika tekstual dan retorika interpersonal. tidak boleh ambigu (taksa). Maksim cara Tuturan harus dikomunikasikan secara wajar. berikut ini inti 6 prinsip kesopanan menurut Leech. maksim kualitas. ya? B : Bukan. menawarkan. dia sering tampil di TVRI. dan perintah. Dalam kaitannya dengan kategori pragmatik ini ada tuturan komisif. perlu mengingat kembali dari adanya kategori sintaktik yang terdiri dari berita. Tuturan komisif: berjanji. Jadi tidak hanya bersifat tekstual. Misalnya: Apakah Anda bisa menolong saya. yaitu maksim kuantitas. memerintah. 4. Misalnya: A : Kamu penjahat kelas kakap. sehingga kata-kata yang ambigu itu hanya satu makna. Kadang-kadang sulit dibedakan antara tuturan asertif dengan ekspresif. Tuturan impositif (direktif): menyuruh. tidak terbalik (harus runtut). Tuturan ekspresif: menyatakan perasaan (emosi). Tetapi kadang-kadang dalam tuturan yang wajar terjadi dis-ambiguasi (pengawaambiguan). B : Benar. Retorika interpersonal membutuhkan prinsip kesopanan (politeness principle).

Pusatnya pada orang lain (other centred maxim). Misalnya: A : Omah kuwi apik. 5. Ditujukan pada orang lain (other centred maxim). bukan pada orang lain (self centred maxim). Jenis maksim ini untuk berjanji dan menawarkan (impositif. Pusatnya pada diri sendiri (self centred maxim). = memaksimalkan rasa hormat pada orang lain. apik banget. Pusatnya orang lain (other centred maxim) Maksim ini ditujukan untuk kategori asertif dan ekspresif. (Ketidaksetujuan total / tidak sopan) A B : Wah. Maksim kemurahhatian (generosity maxim). 2. B : Wah elek banget ngono kok. = meminimalkan rasa hormat pada diri sendiri dan memaksimalkan rasa tidak hormat pada diri sendiri. meminimalkan rasa tidak hormat pada orang lain. Maksim kerendahhatian (modesty maxim). nanging emane akeh sukete. B : Ah tidak. 4. ning rada «. biasa-biasa saja. meminimalkan keuntungan diri sendiri. Pekarangane jembar. Maksim penerimaan ini ditujukan untuk menawarkan dan berjanji. = memaksimalkan keuntungan orang lain. = memaksimalkan kesetujuan pada orang lain dan meminimalkan ketidaksetujuan pada orang lain. Tuturan A dan B disebut pragmatik paradoks. komisif). begini saja kok bagus. A : Omah kuwi apik banget. A B : Mobilnya bagus! : Ah. . Misalnya: Ada yang bisa saya bantu? A : Mari saya bawakan! B : Tidak usah. = memaksimalkan kerugian diri sendiri. Ditujukan pada diri sendiri. Ditujukan untuk menyatakan pendapat dan ekspresif. Misalnya: Bolehkah saya bantu? Mari saya bantu. Apakah Anda bersedia membawakan? Bawakan ini! (tidak sopan) Mari saya antarkan! Tolong saya dihantarkan! 3. Maksim penerimaan (approbation maxim). (kera). ayu banget ya dheweke? : Iya. Misalnya: A : Kau sangat pandai. Misalnya: Omahmu jane apik. ning emane cedhak pabrik. Maksim kesetujuan atau kecocokan (agreement maxim). tact maxim. B : Iya. Maksim kebijaksanaan/kedermawanan. meminimalkan kerugian orang lain.1.

(2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya. Pusatnya orang lain (other centred maxim). LINGUISTIK: PRAGMATIK May 30. perkembangannya. saya mengawali makalah ini dengan pembahasan mengenai pengertian pragmatik. menunjukkan pentingnya pragmatik. (3) bidang yang. dan. melebihi kajian tentang makna yang diujarkan. . Makalah ini bertujuan menjelaskan pentingnya bidang pragmatik untuk dipelajari dalam program studi linguistik. Pendahuluan Dalam jangka yang cukup lama. 2. studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya. dan mengabaikan unsur pengguna bahasa. misalnya. Yule (1996: 3). Jon. B : Selamat. = memaksimalkan simpati pada orang lain dan meminimalkan antipati pada orang lain.(Ketidaksetujuan parsial / sopan) 6. makna yang dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantik. ya. Misalnya: A : Saya lolos di UMPTN. menyebutkan empat definisi pragmatik. dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. Untuk tujuan tersebut. Definisi Pragmatik Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. seperti akan saya jelaskan kemudian. : Oh. menjelaskan secara singkat topik-topik bahasannya. Meskipun memiliki fokus kajian yang serupa dengan semantik. yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara. Sebagai tataran terbaru dalam linguistik. mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara. 2010 ramlannarie bahasa indonesia Leave a comment Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik? 1. yaitu makna. Pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. dengan melihat perbedaan kajiannya dengan bidang lain dalam linguistik. A B : Baru-baru ini dia telah meninggal. yaitu dengan menurunkan sistem yang terdapat dalam matematika dan logika. saya turut berduka cita. Ditujukan untuk menyatakan asertif dan ekspresif. seperti diungkap oleh Yule (1996: 6). Maksim kesimpatian (symphaty maxim).

dan bahwa fonologi. seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5). kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi. bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6). menolak pandangan sintaksisme Chomsky. atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi. dan komplementarisme. komunikasi tetap dapat berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak apik secara sintaksis (ill-formed). dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)). yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik. dan Grice.Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian. tepatnya di Britania. Searle. misalnya Austin. melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. . yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross. sebab. Jerman. keapikan sintaksis (well-formedness) bukanlah segalanya. Leech (1983: 2). dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik. Searle. pertama. termasuk penggunaannya. dalam kaitannya dengan logika. adalah tradisi filsafat. Dengan kata lain. Kecenderungan kedua. muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan. Kecenderungan yang pertama. sosial. seperti dikutip Gunarwan (2004: 7). Perkembangan Pragmatik Mey (1998). yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. 3. dan (4) tradisi etnometodologi. bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri. yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik. Ludwig Wittgenstein. seperti sering kita jumpai. Para pakar tersebut mengkaji bahasa. yang tumbuh di Eropa. Dalam etnometodologi. menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning). dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross. pragmatisisme. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme. (3) tradisi filsafat. Selanjutnya Thomas (1995: 22). yaitu bahwa dalam kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis. mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi. dengan menggunakan sudut pandang sosial. dan kedua. Tradisi yang ketiga. dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran. yang dipelopori oleh Bertrand Russell. Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. dengan menggunakan sudut pandang kognitif. mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa. morfologi. dan terutama John L. (2) kecenderungan sosial-kritis. yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme. Austin dan John R. Menurut Lakoff dan Ross. bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6). bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya. dan semantik bersifat periferal. mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction). Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi. menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation).

Contoh. Dalam contoh (4). Austin (dalam Thomas 1995: 31) berpendapat bahwa salah satu cara untuk membuat pembedaan yang baik bukanlah menurut kadar benar atau salahnya. Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Gunarwan 2004: 8). seperti juga ditekankan lebih lanjut oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). melainkan juga melakukan sesuatu (perform actions). seperti dikutip oleh Thomas (1995: 29-30). melainkan melalui bagaimana bahasa dipakai sehari-hari. sehingga kita dapat melihat sejumlah kecenderungan dalam pragmatik. yaitu pragmatik filosofis (Austin. saya nikahkan kalian (performatif) (4) Rumah Joni terbakar (konstatif) Selanjutnya Austin. Contoh. Sebab. dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin ini mengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition). sebagai bagian dari performatif (Austin 1962: 52 dan Thomas 1995: 49). Austin berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements). yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech-act). pragmatik kognitif (Sperber dan Wilson). How to Do Things with Words.1 Teori Tindak-Tutur Melalui bukunya. pragmatik neo-Gricean (Cole).4. Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics (Thomas 1995: 30). yaitu. bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis. sesuai contoh di atas. (3) Dengan ini. . yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi dan ketaksaan. dan pragmatik interaktif (Thomas). Beberapa Topik Pembahasan dalam Pragmatik 4. kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar karena sesuai dengan kenyataan. Austin. Melalui hipotesis performatifnya. seperti Russel dan Moore. dan bahwa pernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris. Austin dapat dianggap sebagai pemicu minat yang paling utama dalam kajian pragmatik. sejak itu bidang kajian ini telah berkembang jauh. struktur dalam ujaran tersebut dapat saja berbunyi Saya katakan bahwa rumah Joni terbakar. memasukkan ujaran konstatif. Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. (1) Ada enam kata dalam kalimat ini (2) Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono Dari contoh di atas. dan Grice). seperti diungkap oleh Marmaridou (2000: 1 (dalam Gunarwan 2004: 8)). Searle. karena memiliki struktur dalam yang mengandungi makna performatif.

3 Implikatur (Implicature) Grice. dan Yule 1996: 53-54). menyebut dua macam implikatur. Implikatur konversasional merupakan implikatur yang dihasilkan karena tuntutan konteks tertentu (Thomas 1995: 58). ekspresif merupakan tindak-tutur yang menyatakan perasaan pembicaranya. dan deklarasi (declaration) (Littlejohn 2002: 80. yaitu asertif (assertive).2 Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle) Grice mengemukakan bahwa percakapan yang terjadi di dalam anggota masyarakat dilandasi oleh sebuah prinsip dasar. Dalam direct speeh-act terdapat hubungan langsung antara struktur kalimat dengan fungsinya. yaitu lokusi (locutionary act). seperti dikembangkan lebih jauh oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). Tindak lokusioner berkaitan dengan produksi ujaran yang bermakna. dan deklarasi merupakan tindak-tutur yang mengubah status sesuatu. menyatakan hanya yang menurut kita benar atau cukup bukti kebenarannya. dan (4) bidal cara (manner maxim). menghindari ketidakjelasan pengungkapan. memberi informasi sesuai yang diminta. Hal ini. yaitu (1) bidal kuantitas (quantity maxim). 4. 4. dapat berupa tindak-tutur langsung (direct speech-act) dan tindak-tutur tidak langsung (indirect speech-act). ekspresif (expressive). Asertif atau representatif merupakan tindak-tutur yang menyatakan tentang sesuatu yang dipercayai pembicaranya benar. . mengungkapkan secara singkat. ilokusi (illocutionary act). dan Yule 1996: 5455). Tindak-tutur. Searle juga menyebut lima jenis fungsi tindak-tutur. pada kenyataannya. komisif merupakan tindak-tutur yang digunakan pembicaranya untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukannya. sedangkan dalam indirect speech-act hubungannya tidak langsung atau menggunakan (bentuk) tindak-tutur lain (Gunarwan 2004: 9. ujaran yang mengandung implikatur jenis ini. direktif merupakan tindaktutur yang menghendaki pendengarnya melakukan sesuatu. Implikatur konvensional merupakan implikatur yang dihasilkan dari penalaran logika. yaitu prinsip kerja sama (cooperative principle) (Yule 1996: 36-37 dan Thomas 1995: 61). Selain itu. (3) bidal relasi (relation maxim). seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 1214). mengungkapkan secara beraturan (Gunarwan 2004: 11 dan Thomas 1995: 63-64). yaitu implikatur konvensional dan implikatur konversasional. menghindari ketaksaan. seperti diungkap oleh Thomas (1995: 57). tindak ilokusioner terutama berkaitan dengan intensi atau maksud pembicara. misalnya untuk memberikan informasi secara tersirat (implicature) dan menjaga muka lawan bicara (politeness). komisif (comissive). didasarkan atas beberapa alasan. dapat dicontohkan dengan penggunaan kata bahkan. dan tindak perlokusioner berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan (Thomas 1995: 49). seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 14). direktif (directive). Kerja sama yang terjalin dalam komunikasi ini terwujud dalam empat bidal (maxim). memberi sumbangan informasi yang relevan. Berkaitan dengan prinsip kerja sama Grice di atas.Tindakan yang dihasilkan dengan ujaran ini mengandung tiga tindakan lain yang berhubungan. Contoh. dalam komunikasi kadang kita tidak mematuhi prinsip tersebut. dan perlokusi (perlocutionary act) (Yule 1996: 48). (2) bidal kualitas (quality maxim).

pengirim pesan dapat memperkirakan reaksi penerima pesan terhadap pesan yang disampaikannya. bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi. Melalui hal tersebut. menyebutkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (language in use) selalu dapat diidentifikasi melalui hal yang disebutnya indeterminacy atau underspecification. kedua. 4. tahapan yang harus dilewati untuk memahami implikatur dalam percakapan. dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini. . penerima pesan (addressee) hanya memilih sesuatu yang dianggapnya relevan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan (addresser) dalam konteks komunikasi tertentu. dengan menggunakan prinsip kerja sama Grice. Dengan kata lain. yaitu: pertama. yaitu tidak perlu mengunci pintu jika keluar dalam batasan waktu dan situasi yang diperkirakan cukup aman. misalnya contoh (6) di atas. misalnya contoh (5) di atas. Contoh yang ditulis Renkema (2004: 23) di bawah ini memberikan gambaran yang cukup jelas. Yang pertama ada karena konteks ujaran. Dalam teori relevansi dipelajari bagaimana sebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya. Menurut mereka. komunikasi tidak hanya memasukkan apa yang ada dalam pikiran pengirim pesan ke dalam pikiran penerima pesan.(5) Bahkan Bapak Menteri Agama menghadiri sunatan anak saya (6) Saya kebetulan ke Inggris untuk studi selama dua tahun dan berangkat besok Contoh (5) di atas merupakan implikatur konvensional yang berarti Bapak Menteri Agama biasanya tidak menghadiri acara sunatan. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). explicature atau degree of relevance. Setiap pembaca dapat memahami bahwa pesan ini hanya berlaku jika ia akan meninggalkan ruangan tersebut untuk terakhir kalinya. Sperber dan Wilson (1995). Sperber dan Wilson (1995). bukan untuk setiap kali meninggalkan ruangan. implikatur dapat dibedakan menjadi implikatur khusus dan implikatur umum. sedangkan contoh (6) merupakan implikatur konversasional yang bermakna µtidak¶ dan merupakan jawaban atas pertanyaan maukah Anda menghadiri selamatan sunatan anak saya? Berbeda dengan Grice. untuk menjelaskan cara sebuah pesan dipahami penerimanya. Misalnya pada contoh (7) di atas. menetapkan tiga macam hubungan antara cue dan implicature. dan ketiga. Selanjutnya. namun mencakup perluasan wilayah kognitif (cognitive environment) kedua belah pihak. sedangkan yang kedua tidak. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). ujaran merupakan sebentuk tindakan dari komunikasi ostensif. misalnya tindakan untuk membuat sesuatu menjadi jelas dan dapat dimengerti oleh penerima pesan. misalnya untuk ke kamar mandi. menurut Gazdar.4 Teori Relevansi Teori relevansi yang dikembangkan oleh Sperber dan Wilson merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. Contoh. (7) Pastikan semua pintu terkunci jika meninggalkan ruangan ini. pesan ini berada dalam spesifikasi tertentu yang disepakati oleh addresser dan addressee dalam konteks komunikasi.

padahal A harus memastikan dengan jelas setiap pemesanan pembelian tiket. misalnya bobot kedua permintaan di atas tidak terlalu besar jika kedua ungkapan tersebut ditujukan kepada saudara sendiri. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 25). misalnya permintaan ³May I borrow your car?´ mempunyai bobot yang berbeda dengan permintaan ³May I borrow your pen?´. dan citra diri di depan umum (public self-image). it costs 50 euros. jarak sosial atau social distance (D) antara pembicara dengan lawan bicaranya. sedangkan yang kedua disebut negative face. Berdasarkan konsep face yang dikemukakan oleh Goffman ini. Dalam percakapan tersebut. ia mengandaikan B dapat mengerti bahwa that migh be cheaper dapat berarti If you purchase a ticket now. How does it works? You just turn up for the shuttle service? A: That might be cheaper. tingkat gangguan atau rate of imposition (R). Dengan kata lain. harga diri (self-esteem). sedangkan that might be cheaper merupakan ujaran yang relevansinya lebih baik. face dapat diartikan kehormatan. yaitu: pertama. 4. pemahaman penerima pesan terhadap apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan terjadi melalui beberapa tahapan. A: What weekend? B: Next weekend. Pak. yang dikutip oleh Jaszczolt (2002: 318). Intensitas FTA diekspresikan dengan bobot atau weight (W) yang mencakup tiga parameter sosial. merupakan ujaran yang relevansinya rendah dan membutuhkan processing effort yang lebih besar. dan ketiga. B mengira A mengerti bahwa at the weekend berarti next weekend. Contoh.(8) A: Well. Dalam hal ini. Brown dan Levinson (1978) membangun teori tentang hubungan intensitas FTA dengan kesantunan yang terrealisasi dalam bahasa (Renkema 2004: 25). Maaf. Begitu juga A. If you buy ticket when you turn up. Dalam percakapan di atas. Then that¶s fifty. berkenaan dengan bobot mutlak (absolute weight) tindakan tertentu dalam kebudayaan tertentu. (9) a. kekuasaan atau power (P) yang dimiliki lawan bicara (Renkema 2004: 26). Menurut Goffman (1956). you have booked seat which costs 60 euros. boleh tanya? . kedua.5 Kesantunan (Politeness) Konsep strategi kesantunan yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson diadaptasi dari konsep face yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog bernama Erving Goffman (1956) (Renkema 2004: 24-25). ujaran at the weekend. ³face merupakan gambaran citra diri dalam atribut sosial yang telah disepakati´. Menurut Goffman (1967: 5). dalam pengertian degree of relevance. Kebutuhan yang pertama disebut positive face. karena semakin tinggi contextual effect maka semakin rendah ia membutuhkan processing effort. there is a shuttle service sixty euros one-way. when do you want to go? B: At the weekend. setiap partisipan memiliki dua kebutuhan dalam setiap proses sosial: yaitu kebutuhan untuk diapresiasi dan kebutuhan untuk bebas (tidak terganggu).

bidal kedermawanan (generosity maxim). misalnya dengan pujian. yaitu bidal kebijaksanaan (tact maxim). yang bertujuan untuk mendapatkan positive face disebut solidarity politeness. I¶m sorry I have to ask. bidal simpati (sympathy maxim). bidal pujian (approbation maxim). 5. dapat dilakukan. Hey. Renkema (2004: 27) memberi contoh strategi tersebut. dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal.b. semakin tinggi resiko kehilangan muka. Mas? Dalam contoh di atas terlihat jelas. Secara umum. Dalam hal ini. Dalam sintaksis. maka semakin kecil kemungkinan pembicara melakukan FTA. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 19). seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4). misalnya mahasiswa kepada dosen atau yang muda kepada yang tua. ditambah bidal pertimbangan (consideration maxim). Brown dan Levinson (1978). sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya. (baldly) b. misalnya dengan melakukan tindakan yang tidak kooperatif dalam komunikasi (Renkema 2004: 25). dan. lend me a hundred dollars. dapat dilakukan. bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat. (off record) Teori kesantunan lain dibahas oleh Leech (1983). but could you lend me a hundred dollars? (negative polite) e. Pragmatik dalam Linguistik Seperti telah saya uraikan sedikit dalam sub 3 di atas. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat banyak cara untuk menghindari FTA yang dapat direduksi menjadi lima macam cara. salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. Leech (dalam Eelen 2001: menyebutkan enam bidal kesantunan. (5) a. sedangkan politeness yang dilakukan untuk tujuan sebaliknya disebut respect politeness. bidal kesetujuan (aggreement maxim). Pakar ini membahas teori kesantunan dalam kerangka retorika interpersonal (Eelen 2001: 6). Hey. sedangkan ujaran (9b) mungkin diucapkan kepada orang yang secara sosial jaraknya lebih dekat (9a). semakin besar intensitas FTA mengancam stabilitas komunikasi. ujaran (9a) mungkin diucapkan pembicara yang secara sosial lebih rendah dari lawan bicaranya. bidal kerendahhatian (modesty maxim). sehingga bentuk . maka politeness strategy semakin dibutuhkan. I¶m out of cash! I forgot to go to the bank today. Politeness (kesantunan) dalam hal ini dapat dipahami sebagai upaya pencegahan dan atau perbaikan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh FTA. Numpang tanya. Berkaitan dengan politeness strategy ini. face work technique. dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis. Kelima strategi tersebut diurut berdasarkan tingkat resiko ³kehilangan muka´. seperti diungkapkan oleh Renkema (2004: 26). could you lend me a hundred bucks? (positive polite) c. friend. Oh no. Politeness. Dalam hal ini.

sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis. karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa. Lebih tepatnya. Dengan demikian. selain tata bahasa. misalnya. Atas dasar ini. Dalam kehidupan sehari-hari. terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. dapat dipahami. bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa. yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa. sedangkan . Kegunaan pragmatik. Dengan demikian. dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik. kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada. dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan. dan kedua. Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik. Kaidah bersifat deskriptif. di samping sintaksis dan semantik. meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris. tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis. pertama. dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi. bagaimana memahami implikatur percakapan. Selanjutnya. meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai. semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis. melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. dalam analisis bahasa. bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Tentang perbedaan yang pertama. dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya. sebab daya mencakup juga makna. sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik. meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda. dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur. sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). untuk dapat dinyatakan benar. absolut atau bersifat mutlak. tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. Dengan kata lain. karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa sehari-hari. keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan. penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis. demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi. bahwa komunikasi tetap dapat berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis. dan kedua. pertama. semantik terikat pada kaidah (rule-governed). bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis. Selanjutnya. makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. makna apa yang dituturkan. sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya. pembahasan makna dalam semantik belum memadai. yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik. dan memang sering kita temukan. Namun demikian. saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). dan maksud dari tuturan.seperti kucing menyapu halaman. dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan. Berdasarkan truth conditional semantics. Dengan kata lain. untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik. sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan.

kedua. yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu. saya melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik setidaknya dalam dua hal. Daftar Acuan Austin. pertama. Manchester. Politeness: Some Universal in Language Usage. pragmatik merupakan satu-satunya tataran dalam linguistik yang mengkaji bahasa dengan memperhitungkan juga penggunanya. misalnya. berkaitan dengan ketidakmampuan sintaksis dan semantik dalam menjelaskan fenomena penggunaan bahasa sehari-hari. terdapat keterkaitan. 2004. Berdasarkan penjelasan di atas. kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik. How to Do Things with Word (edisi kedua). dan Stephen C. dalam arti praktis. dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence). dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain. tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa pragmatik penting dipelajari dalam program studi linguistik. dalam pengajaran bahasa. Oxford: Oxfod University Press.. Dalam pengajaran bahasa Indonesia. Penelope. patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. . A Critique of Politeness Theories. Cambridge: Cambridge University Press. K. dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa. Brown. Asim. Penutup Seperti telah disebutkan di muka. berkaitan dengan pengajaran bahasa. saya melihat kedudukan semantik dan pragmatik sebagai dua hal yang saling melengkapi. pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya. pragmatik berperan dalam pengembangan kompetensi komunikatif. Eelen. Jaszczolt. 1962. 1978. dapat bertentangan dengan prinsip lain. Dalam pengajaran bahasa asing. pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. Levinson. 2002. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). IKIP Singaraja. Edinburgh: Pearson Education. John L.prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif. yaitu bahwa pengetahuan pragmatik. Gino.M. Secara umum. UK: St. bahasa yang digunakan harus baik. 6. Selain itu. karena selain benar. seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22). Jerome Publishing Gunarwan. Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse. Lebih jauh lagi. 2001.

ss . 2004. London/New York: Longman. 1996. Jenny. 1995. George. Oxford. Pragmatics. Yule. Introduction to Discourse Studies. Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics.Renkema. Oxford University Press. Jan. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. Thomas.