Linguistik: Pragmatik Tuesday, July 24, 2007 Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik?

Makyun Subuki 13 Desember 2006 1. Pendahuluan Dalam jangka yang cukup lama, seperti diungkap oleh Yule (1996: 6), studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya, yaitu dengan menurunkan sistem yang terdapat dalam matematika dan logika, dan mengabaikan unsur pengguna bahasa. Sebagai tataran terbaru dalam linguistik, Pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. Meskipun memiliki fokus kajian yang serupa dengan semantik, yaitu makna, seperti akan saya jelaskan kemudian, makna yang dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantik. Makalah ini bertujuan menjelaskan pentingnya bidang pragmatik untuk dipelajari dalam program studi linguistik. Untuk tujuan tersebut, saya mengawali makalah ini dengan pembahasan mengenai pengertian pragmatik, perkembangannya, menjelaskan secara singkat topik-topik bahasannya, dan, dengan melihat perbedaan kajiannya dengan bidang lain dalam linguistik, menunjukkan pentingnya pragmatik. 2. Definisi Pragmatik Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. Yule (1996: 3), misalnya, menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang, melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian, pertama, dengan menggunakan sudut pandang sosial, menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning); dan kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif, menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). Selanjutnya Thomas (1995: 22), dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik, sosial, dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran, mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction).

Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme, yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik; pragmatisisme, yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik; dan komplementarisme, atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi. 3. Perkembangan Pragmatik Mey (1998), seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5), mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi, yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme; (2) kecenderungan sosial-kritis; (3) tradisi filsafat; dan (4) tradisi etnometodologi. Kecenderungan yang pertama, yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross, menolak pandangan sintaksisme Chomsky, yaitu bahwa dalam kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis, dan bahwa fonologi, morfologi, dan semantik bersifat periferal. Menurut Lakoff dan Ross, keapikan sintaksis (well-formedness) bukanlah segalanya, sebab, seperti sering kita jumpai, komunikasi tetap dapat berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak apik secara sintaksis (ill-formed), bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6). Kecenderungan kedua, yang tumbuh di Eropa, tepatnya di Britania, Jerman, dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)), muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan, bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri. Tradisi yang ketiga, yang dipelopori oleh Bertrand Russell, Ludwig Wittgenstein, dan terutama John L. Austin dan John R. Searle, adalah tradisi filsafat. Para pakar tersebut mengkaji bahasa, termasuk penggunaannya, dalam kaitannya dengan logika. Leech (1983: 2), seperti dikutip Gunarwan (2004: 7), mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa, misalnya Austin, Searle, dan Grice, dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross. Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi, yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. Dalam etnometodologi, bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya, melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Dengan kata lain, kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi, bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6). 4. Beberapa Topik Pembahasan dalam Pragmatik 4.1 Teori Tindak-Tutur

Melalui bukunya, How to Do Things with Words, Austin dapat dianggap sebagai pemicu minat yang paling utama dalam kajian pragmatik. Sebab, seperti diungkap oleh Marmaridou (2000: 1 (dalam Gunarwan 2004: 8)), sejak itu bidang kajian ini telah berkembang jauh, sehingga kita dapat melihat sejumlah kecenderungan dalam pragmatik, yaitu pragmatik filosofis (Austin, Searle, dan Grice), pragmatik neo-Gricean (Cole), pragmatik kognitif (Sperber dan Wilson), dan pragmatik interaktif (Thomas). Austin, seperti dikutip oleh Thomas (1995: 29-30), bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis, seperti Russel dan Moore, yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi dan ketaksaan, dan bahwa pernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris. Contoh. (1) Ada enam kata dalam kalimat ini (2) Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono Dari contoh di atas, dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin ini mengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition), yaitu, sesuai contoh di atas, kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar karena sesuai dengan kenyataan. Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics (Thomas 1995: 30). Austin (dalam Thomas 1995: 31) berpendapat bahwa salah satu cara untuk membuat pembedaan yang baik bukanlah menurut kadar benar atau salahnya, melainkan melalui bagaimana bahasa dipakai sehari-hari. Melalui hipotesis performatifnya, yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech-act), Austin berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements), melainkan juga melakukan sesuatu (perform actions). Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Gunarwan 2004: 8). Contoh. (3) Dengan ini, saya nikahkan kalian (performatif) (4) Rumah Joni terbakar (konstatif) Selanjutnya Austin, seperti juga ditekankan lebih lanjut oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9), memasukkan ujaran konstatif, karena memiliki struktur dalam yang mengandungi makna performatif, sebagai bagian dari performatif (Austin 1962: 52 dan Thomas 1995: 49). Dalam contoh (4), struktur dalam ujaran tersebut dapat saja berbunyi Saya katakan bahwa rumah Joni terbakar. Tindakan yang dihasilkan dengan ujaran ini mengandung tiga tindakan lain yang berhubungan, yaitu lokusi (locutionary act), ilokusi (illocutionary act), dan perlokusi (perlocutionary act) (Yule 1996: 48). Tindak lokusioner berkaitan dengan produksi

Selain itu. dan Yule 1996: 54-55). komisif (comissive). direktif (directive). Asertif atau representatif merupakan tindak-tutur yang menyatakan tentang sesuatu yang dipercayai pembicaranya benar. Berkaitan dengan prinsip kerja sama Grice di atas. komisif merupakan tindak-tutur yang digunakan pembicaranya untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukannya. menyebut dua macam implikatur. misalnya untuk memberikan informasi secara tersirat (implicature) dan menjaga muka lawan bicara (politeness). dapat berupa tindak-tutur langsung (direct speech-act) dan tindak-tutur tidak langsung (indirect speech-act). dan (4) bidal cara (manner maxim). memberi sumbangan informasi yang relevan. dalam komunikasi kadang kita tidak mematuhi prinsip tersebut. memberi informasi sesuai yang diminta. dan Yule 1996: 53-54). menghindari ketidakjelasan pengungkapan. direktif merupakan tindak-tutur yang menghendaki pendengarnya melakukan sesuatu. pada kenyataannya. ekspresif (expressive). mengungkapkan secara beraturan (Gunarwan 2004: 11 dan Thomas 1995: 63-64). seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 12-14). menghindari ketaksaan. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 14). Tindak-tutur. Implikatur konversasional merupakan implikatur yang dihasilkan karena tuntutan konteks tertentu (Thomas 1995: 58). Implikatur konvensional merupakan implikatur yang dihasilkan dari penalaran logika. didasarkan atas beberapa alasan. . yaitu (1) bidal kuantitas (quantity maxim). 4. dan deklarasi merupakan tindak-tutur yang mengubah status sesuatu. Searle juga menyebut lima jenis fungsi tindak-tutur. seperti dikembangkan lebih jauh oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). ujaran yang mengandung implikatur jenis ini. dan deklarasi (declaration) (Littlejohn 2002: 80. Hal ini.3 Implikatur (Implicature) Grice. yaitu asertif (assertive). sedangkan dalam indirect speech-act hubungannya tidak langsung atau menggunakan (bentuk) tindak-tutur lain (Gunarwan 2004: 9. mengungkapkan secara singkat. tindak ilokusioner terutama berkaitan dengan intensi atau maksud pembicara. seperti diungkap oleh Thomas (1995: 57). menyatakan hanya yang menurut kita benar atau cukup bukti kebenarannya.2 Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle) Grice mengemukakan bahwa percakapan yang terjadi di dalam anggota masyarakat dilandasi oleh sebuah prinsip dasar.ujaran yang bermakna. yaitu implikatur konvensional dan implikatur konversasional. Contoh. Kerja sama yang terjalin dalam komunikasi ini terwujud dalam empat bidal (maxim). dapat dicontohkan dengan penggunaan kata bahkan. yaitu prinsip kerja sama (cooperative principle) (Yule 1996: 36-37 dan Thomas 1995: 61). (2) bidal kualitas (quality maxim). (3) bidal relasi (relation maxim). dan tindak perlokusioner berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan (Thomas 1995: 49). Dalam direct speeh-act terdapat hubungan langsung antara struktur kalimat dengan fungsinya. 4. ekspresif merupakan tindak-tutur yang menyatakan perasaan pembicaranya.

4 Teori Relevansi Teori relevansi yang dikembangkan oleh Sperber dan Wilson merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. pesan ini berada dalam spesifikasi tertentu yang disepakati oleh addresser dan addressee dalam konteks komunikasi. namun mencakup perluasan wilayah kognitif (cognitive environment) kedua belah pihak. ujaran merupakan sebentuk tindakan dari komunikasi ostensif. Dengan kata lain. Sperber dan Wilson (1995). dengan menggunakan prinsip kerja sama Grice. tahapan . sedangkan contoh (6) merupakan implikatur konversasional yang bermakna µtidak¶ dan merupakan jawaban atas pertanyaan maukah Anda menghadiri selamatan sunatan anak saya? Berbeda dengan Grice. bukan untuk setiap kali meninggalkan ruangan. misalnya contoh (6) di atas. implikatur dapat dibedakan menjadi implikatur khusus dan implikatur umum. yaitu tidak perlu mengunci pintu jika keluar dalam batasan waktu dan situasi yang diperkirakan cukup aman. Sperber dan Wilson (1995). explicature atau degree of relevance. Yang pertama ada karena konteks ujaran. yaitu: pertama. Dalam teori relevansi dipelajari bagaimana sebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya. 4. Misalnya pada contoh (7) di atas. kedua. misalnya tindakan untuk membuat sesuatu menjadi jelas dan dapat dimengerti oleh penerima pesan. Menurut mereka. pengirim pesan dapat memperkirakan reaksi penerima pesan terhadap pesan yang disampaikannya. Selanjutnya. komunikasi tidak hanya memasukkan apa yang ada dalam pikiran pengirim pesan ke dalam pikiran penerima pesan. menetapkan tiga macam hubungan antara cue dan implicature. misalnya contoh (5) di atas. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). menyebutkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (language in use) selalu dapat diidentifikasi melalui hal yang disebutnya indeterminacy atau underspecification. dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini. Melalui hal tersebut. (7) Pastikan semua pintu terkunci jika meninggalkan ruangan ini. menurut Gazdar. dan ketiga.(5) Bahkan Bapak Menteri Agama menghadiri sunatan anak saya (6) Saya kebetulan ke Inggris untuk studi selama dua tahun dan berangkat besok Contoh (5) di atas merupakan implikatur konvensional yang berarti Bapak Menteri Agama biasanya tidak menghadiri acara sunatan. Setiap pembaca dapat memahami bahwa pesan ini hanya berlaku jika ia akan meninggalkan ruangan tersebut untuk terakhir kalinya. bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). penerima pesan (addressee) hanya memilih sesuatu yang dianggapnya relevan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan (addresser) dalam konteks komunikasi tertentu. untuk menjelaskan cara sebuah pesan dipahami penerimanya. misalnya untuk ke kamar mandi. Contoh. sedangkan yang kedua tidak.

Berdasarkan konsep face yang dikemukakan oleh Goffman ini. karena semakin tinggi contextual effect maka semakin rendah ia membutuhkan processing effort. yaitu: pertama. "face merupakan gambaran citra diri dalam atribut sosial yang telah disepakati".yang harus dilewati untuk memahami implikatur dalam percakapan. Begitu juga A. Dalam hal ini. How does it works? You just turn up for the shuttle service? A: That might be cheaper. setiap partisipan memiliki dua kebutuhan dalam setiap proses sosial: yaitu kebutuhan untuk diapresiasi dan kebutuhan untuk bebas (tidak terganggu). it costs 50 euros. B mengira A mengerti bahwa at the weekend berarti next weekend. Then that's fifty. If you buy ticket when you turn up. pemahaman penerima pesan terhadap apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan terjadi melalui beberapa tahapan. (8) A: Well. sedangkan that might be cheaper merupakan ujaran yang relevansinya lebih baik. Dengan kata lain. 4. jarak sosial atau social distance (D) antara pembicara dengan lawan bicaranya. Brown dan Levinson (1978) membangun teori tentang hubungan intensitas FTA dengan kesantunan yang terrealisasi dalam bahasa (Renkema 2004: 25). Dalam percakapan tersebut. berkenaan dengan bobot mutlak (absolute weight) tindakan tertentu dalam kebudayaan tertentu. tingkat gangguan atau rate of imposition (R). you have booked seat which costs 60 euros. merupakan ujaran yang relevansinya rendah dan membutuhkan processing effort yang lebih besar. harga diri (self-esteem). A: What weekend? B: Next weekend. Dalam percakapan di atas. Intensitas FTA diekspresikan dengan bobot atau weight (W) yang mencakup tiga parameter sosial. misalnya permintaan "May I borrow your car?" mempunyai bobot yang berbeda dengan permintaan "May I borrow your pen?". Kebutuhan yang pertama disebut positive face. there is a shuttle service sixty euros one-way. when do you want to go? B: At the weekend. ia mengandaikan B dapat mengerti bahwa that migh be cheaper dapat berarti If you purchase a ticket now. Menurut Goffman (1967: 5). yang dikutip oleh Jaszczolt (2002: 318). Menurut Goffman (1956). seperti dikutip oleh Renkema (2004: 25). Contoh yang ditulis Renkema (2004: 23) di bawah ini memberikan gambaran yang cukup jelas. kedua. dalam pengertian degree of relevance. ujaran at the weekend. sedangkan yang kedua disebut negative face. padahal A harus memastikan dengan jelas setiap pemesanan pembelian tiket. face dapat diartikan kehormatan.5 Kesantunan (Politeness) Konsep strategi kesantunan yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson diadaptasi dari konsep face yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog bernama Erving Goffman (1956) (Renkema 2004: 24-25). misalnya bobot kedua permintaan di atas . dan citra diri di depan umum (public self-image).

ujaran (9a) mungkin diucapkan pembicara yang secara sosial lebih rendah dari lawan bicaranya. Pak. bidal kedermawanan (generosity maxim). (baldly) b. Renkema (2004: 27) memberi contoh strategi tersebut. Politeness (kesantunan) dalam hal ini dapat dipahami sebagai upaya pencegahan dan atau perbaikan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh FTA. Politeness. but could you lend me a hundred dollars? (negative polite) e. I'm sorry I have to ask. Dalam hal ini. misalnya mahasiswa kepada dosen atau yang muda kepada yang tua. (9) a. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat banyak cara untuk menghindari FTA yang dapat direduksi menjadi lima macam cara. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 19). could you lend me a hundred bucks? (positive polite) c. Contoh. ditambah bidal pertimbangan (consideration maxim). boleh tanya? b. bidal kesetujuan (aggreement maxim). Hey. Berkaitan dengan politeness strategy ini. Pakar ini membahas teori kesantunan dalam kerangka retorika interpersonal (Eelen 2001: 6). misalnya dengan pujian. Brown dan Levinson (1978). Kelima strategi tersebut diurut berdasarkan tingkat resiko "kehilangan muka". bidal kerendahhatian (modesty maxim). seperti diungkapkan oleh Renkema (2004: 26). semakin tinggi resiko kehilangan muka.tidak terlalu besar jika kedua ungkapan tersebut ditujukan kepada saudara sendiri. kekuasaan atau power (P) yang dimiliki lawan bicara (Renkema 2004: 26). I'm out of cash! I forgot to go to the bank today. Maaf. sedangkan ujaran (9b) mungkin diucapkan kepada orang yang secara sosial jaraknya lebih dekat (9a). face work technique. Mas? Dalam contoh di atas terlihat jelas. bidal simpati (sympathy maxim). 5. Oh no. maka politeness strategy semakin dibutuhkan. yang bertujuan untuk mendapatkan positive face disebut solidarity politeness. friend. sedangkan politeness yang dilakukan untuk tujuan sebaliknya disebut respect politeness. Leech (dalam Eelen 2001: 8) menyebutkan enam bidal kesantunan. Dalam hal ini. semakin besar intensitas FTA mengancam stabilitas komunikasi. dan ketiga. lend me a hundred dollars. dan. bidal pujian (approbation maxim). yaitu bidal kebijaksanaan (tact maxim). Numpang tanya. Pragmatik dalam Linguistik . dapat dilakukan. (off record) Teori kesantunan lain dibahas oleh Leech (1983). Hey. maka semakin kecil kemungkinan pembicara melakukan FTA. misalnya dengan melakukan tindakan yang tidak kooperatif dalam komunikasi (Renkema 2004: 25). dapat dilakukan. (5) a.

Seperti telah saya uraikan sedikit dalam sub 3 di atas, salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. Dalam sintaksis, seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4), dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis, bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat, dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal. Secara umum, sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya, sehingga bentuk seperti kucing menyapu halaman, meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris, tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis. Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis, melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. Lebih tepatnya, dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi, bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Atas dasar ini, pertama, dapat dipahami, dan memang sering kita temukan, bahwa komunikasi tetap dapat berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis; dan kedua, demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka, selain tata bahasa, makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik, sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik, terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik, yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa, dalam analisis bahasa. Berdasarkan truth conditional semantics, untuk dapat dinyatakan benar, sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis. Dengan demikian, bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis, karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. Namun demikian, pembahasan makna dalam semantik belum memadai, karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa, sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi, meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai, tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. Dengan kata lain, untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa seharihari, di samping sintaksis dan semantik, dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur, makna apa yang dituturkan, dan maksud dari tuturan. Kegunaan pragmatik, yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik, dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan, misalnya, bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa, bagaimana memahami implikatur percakapan, dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. Selanjutnya, untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik, saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada, pertama, semantik mengkaji makna

(sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis, sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya; dan kedua, semantik terikat pada kaidah (rule-governed), sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). Tentang perbedaan yang pertama, meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda, keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan, sebab daya mencakup juga makna. Dengan kata lain, semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan, sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. Selanjutnya, kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. Kaidah bersifat deskriptif, absolut atau bersifat mutlak, dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya, sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif, dapat bertentangan dengan prinsip lain, dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain. Lebih jauh lagi, dalam pengajaran bahasa, seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22), terdapat keterkaitan, yaitu bahwa pengetahuan pragmatik, dalam arti praktis, patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. Dalam pengajaran bahasa Indonesia, misalnya, pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya, karena selain benar, bahasa yang digunakan harus baik. Dalam pengajaran bahasa asing, pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence), yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu, kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik, dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa. 6. Penutup Seperti telah disebutkan di muka, tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa pragmatik penting dipelajari dalam program studi linguistik. Berdasarkan penjelasan di atas, saya melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik setidaknya dalam dua hal, pertama, pragmatik merupakan satu-satunya tataran dalam linguistik yang mengkaji bahasa dengan memperhitungkan juga penggunanya; kedua, berkaitan dengan ketidakmampuan sintaksis dan semantik dalam menjelaskan fenomena penggunaan bahasa sehari-hari, saya melihat kedudukan semantik dan pragmatik sebagai dua hal yang saling melengkapi. Selain itu, berkaitan dengan pengajaran bahasa, pragmatik berperan dalam pengembangan kompetensi komunikatif. Daftar Acuan Austin, John L. 1962. How to Do Things with Word (edisi kedua). Oxford: Oxfod University Press.

Brown, Penelope., dan Stephen C. Levinson. 1978. Politeness: Some Universal in Language Usage. Cambridge: Cambridge University Press. Eelen, Gino. 2001. A Critique of Politeness Theories. Manchester, UK: St. Jerome Publishing Gunarwan, Asim. 2004. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). IKIP Singaraja. Jaszczolt, K.M. 2002. Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse. Edinburgh: Pearson Education. Renkema, Jan. 2004. Introduction to Discourse Studies. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. Thomas. Jenny. 1995. Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics. London/New York: Longman. Yule, George. 1996. Pragmatics. Oxford. Oxford University Press.

Rabu, 04 Juli 2007
Pragmatik Oleh: sidon. bandung Pengertian Pragmatik Pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang semakin dikenal pada masa sekarang ini, walaupun pada kira-kira dua dasa warsa yang silam, ilmu ini jarang atau hampir tidak pernah disebut oleh para ahli bahasa. Hal ini dilandasi oleh semakin sadarnya para linguis, bahwa upaya untuk menguak hakikat bahasa tidak akan membawa hasil yang diharapkan tanpa didasari pemahaman terhadap pragmatik, yakni bagaimana bahasa itu digunakan dalam komunikasi (Leech, 1993: 1). Leech (1993: 8) juga mengartikan pragmatik sebagai studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situasions). Pragmatik sebagaimana yang telah diperbincangkan di Indonesia dewasa ini, paling tidak dapat diedakan atas dua hal, yaitu (1) pragmatik sebagai sesuatu yang diajarkan, (2) pragmatik sebagai suatu yang mewarnai tindakan mengajar. Bagian pertama masih dibagi lagi atas dua hal, yaitu (a) pragmatik sebagai bidang kajian linguistik, dan (b) pragmatik sebagai salah satu segi di dalam bahasa atau disebut µfungsi komunikatif¶ (Purwo, 1990:2). Pragmatik ialah berkenaan dengan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya bahasa dalam komunikasi (KBBI, 1993: 177). Menurut Levinson (1983: 9), ilmu pragmatik didefinisikan sebagai berikut: (1) ³Pragmatik ialah kajian dari hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa´. Di sini, ³pengertian/pemahaman bahasa´ menghunjuk kepada fakta bahwa untuk mengerti sesuatu ungkapan/ujaran bahasa diperlukan juga pengetahuan di luar makna kata dan hubungan tata bahasanya, yakni hubungannya dengan konteks pemakaiannya. (2) ³Pragmatik ialah kajian tentang kemampuan pemakai bahsa mengaitkan kalimat-kalimat

yakni penggunaannya pada peristiwa komunikasi (Purwo. membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa (kalimat. Sebagai contoh: (4) Jari tangan jumlahnya lima.2) Ada burung. dan sebaliknya. Berdasarkan beberapa pendapat di atas. (b) praanggapan (presupposition). dapat disimpulkan tentang batasan pragmatik. Sedangkan memperlakukan bahasa secara pragmatik ialah memperlakukan bahasa dengan mempertimbangkan konteksnya. Deiksis dapat juga diartikan sebagai suatu cara untuk mengacu ke hakekat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan (Cahyono. pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang membahas tentang apa yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komunikasi antara penutur dan pendengar.1) Ada seorang wanita Indonesia. yakni: 1. aspek-aspek pemakaian bahasa atau konteks luar bahasa yang memberikan sumbangan kepada makna ujaran (Kridalaksana. Fenomena Pragmatik Kancah yang dijelajahi pragmatik ada empat: (a) deiksis. Nababan memberikan contoh penggunaan presuposisi sebagai berikut: (1) Wanita Indonesia membeli burung. Deiksis adalah kata-kata yang memiliki referen yang berubah-ubah atau berpindah-pindah (Wijana. 1987: 2) Pragmatik juga diartikan sebagai syarat-syarat yang mengakibatkan serasi-tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi. dsb) yang dapat dipakainya untuk mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud. Searle di dalam bukunya Speech Acts: An Essay in The Philosophy of Language (1969: 23-24) dalam Wijana (1996: 17-22).dengan konteks-konteks yang sesuai bagi kalimat-kalimat itu´. Tindak lokusi. tetapi ia juga menindakkan sesuatu (Purwo. (c) tindak ujaran (speech acts). dan (d) implikatur percakapan (conversational implicature) (Purwo. dan sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa pada hal-hal ³ekstralingual´ yang dibicarakan. 1990: 31). dan (3. praanggapan adalah dasar atau penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa (menggunakan bahasa) yang membuat bentuk bahasa (kalimat atau ungkapan) mempunyai makna bagi pendengar/penerima bahasa itu. terdapat praanggapan bahwa: (3. Menurut Nababan (1987: 46). . 1995: 219). mengemukakan bahwa secara pragmatis setidaktidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur. Praanggapan (presupposition) adalah apa yang diasumsikan oleh penutur sebagai hal yang benar atau hal yang diketahui pendengar (Cahyono. 1990: 19). Jika kedua praanggapan itu diterima. maka kalimat (3) mempunyai makna atau dapat dimengerti pendengar/pembaca. 1993: 177). Menurut Verhaar (1996: 14). Purwo (1990: 16) mendefinisikan pragmatik sebagai telaah mengenai makna tuturan (utterance) menggunakan makna yang terikat konteks. Tindak ujaran (speech acts) ialah pengucapan suatu kalimat di mana si pembicara tidak sematamata menanyakan atau meminta jawaban tertentu. Pragmatik adalah suatu telaah umum mengenai bagaimana caranya konteks mempengaruhi peserta tutur dalam menafsirkan kalimat atau menelaah makna dalam kaitannya dengan situasi ujaran. 1990: 17). (Nababan. yaitu tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. 1995: 217). 1998: 6).

Implikatur percakapan (conversational implicature) merupakan konsep yang cukup penting dalam pragmatik karena empat hal (Levinson. Contoh: (5) Saya tidak dapat datang. Menurut Bambang Yudi Cahyono (1995: 217).selain mengatakan mengelola masakan ala Jepang. Tindak ilokusi. tidak hanya berfungsi untuk menyatakan sesuatu. Keempat. Dalam wacana di atas. Kedua. 1983: 97). Ketiga. konsep implikatur dapat menjelaskan beberapa fakta bahasa secara tepat. atau efek bagi yang mendengarkannya. dan sebagainya. Deiksis dapat juga diartikan sebagai lokasi dan identifikasi orang. 1998: 6). bila kalimat itu diutarakan oleh seseorang kepada temannya yang baru saja merayakan ulang tahun. Cina dan Eropa juga meyakinkan pendengar/pembaca bahwa masakannya benar-benar halal. yaitu sebuah tuturan yang diutarakan oleh seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary force). konsep implikatur dapat menyederhanakan struktur dan isi deskripsi semantik. yaitu sebuah tuturan selain berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu. Pertama. diutarakan oleh penuturnya semata-mata untuk menginformasikan sesuatu tanpa tendensi untuk melakukan sesuatu. objek. ketakrifan. proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalam hubungannya dengan dimensi . yakni meminta maaf. ditemukan penggunaan tindak perlokusi. dalam penelitian ini. Tindak perlokusi. konsep implikatur memungkinkan penjelasan fakta-fakta kebahasaan yang tidak terjangkau oleh teori linguistik. Deiksis 1. Tampaknya kalimat (7A) dan (7B) tidak berkaitan secara konvensional. Sebagai contoh: (6) Kunjungilah restoran Oshin! Tersedia bermacam-macam masakan Jepang. Pengertian Deiksis Kata deiksis berasal dari bahasa Yunani yang berarti µmenunjuk¶ atau µmenunjukkan¶. deiksis adalah suatu cara untuk mengacu ke hakekat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan. konsep implikatur memberikan penjelasan tentang makna berbeda dengan yang dikatakan secara lahiriah. Dari keempat bidang kajian pragmatik tersebut pada akhirnya dapat digunakan untuk memahami makna sesuai dengan konteks yang terjadi. apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya. 3. Cina. Tempat ideal untuk bersantai bersama keluarga. handai taulan. Dari contoh di atas dapat diketahui bahwa. dapat juga dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Dalam KBBI (1991: 217). tetapi untuk melakukan sesuatu.Kalimat (4) di atas. deiksis diartikan sebagai hal atau fungsi yang menunjuk sesuatu di luar bahasa. 2. dan rekan sekerja Anda. kata tunjuk pronomina. Kajian pragmatik tersebut digunakan untuk memahami makna dan fungsi deiksis pronomina persona. Sebagai contoh: (7) A : Jam berapa sekarang? B : Korannya sudah datang. Dijamin halal. dan Eropa. Deiksis adalah kata-kata yang memiliki referen berubah-ubah atau berpindah-pindah (Wijana. peristiwa. Namun pembicara kedua sudah mengetahui bahwa jawaban yang disampaikannya sudah cukup untuk menjawab pertanyaan pembicara pertama. sebab dia sudah mengetahui jam berapa koran biasa diantarkan. Ini dapat diketahui karena penutur -pengelola restoran.

1977: 638 via Setiawan. yang artinya topeng (topeng yang dipakai seorang pemain sandiwara). Apabila persona pertama dan kedua akan dijadikan endofora. sekarang adalah kata-kata deiktis. dan waktu kapan kata-kata itu diucapkan. 1997: 6). dan sebagainya. misalnya kamu. tergantung siapa yang menjadi pembicara. Deiksis orang ditentukan menurut peran peserta dalam peristiwa bahasa. misalnya saya. deiksis waktu. Kata seperti saya. Jadi. kita. Bentuk rujukan seperti itu disebut dengan katafora. Istilah persona dipilih oleh ahli bahasa waktu itu disebabkan oleh adanya kemiripan antara peristiwa bahasa dan permainan bahasa (Lyons. 1993: 44). saudara. 1977: 638 via Djajasudarma. (Setiawan. untuk mengetahui siapa pembicara dan lawan bicara kita harus mengetahui situasi waktu tuturan itu dituturkan. maka kalimatnya harus diubah. 1993: 43). dapat dinyatakan bahwa deiksis merupakan suatu gejala semantis yang terdapat pada kata atau konstruksi yang acuannya dapat ditafsirkan sesuai dengan situasi pembicaraan dan menunjuk pada sesuatu di luar bahasa seperti kata tunjuk. Jenis Deiksis Deiksis ada lima macam. yaitu dari kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung. yaitu kategori rujukan pembicara kepada seorang pendengar atau lebih yang hadir bersama orang pertama. baik hadir maupun tidak. yaitu kata atau frase yang menunjuk kata.ruang dan waktunya. Kata ganti persona pertama dan kedua rujukannya bersifat eksoforis. 1997: 8). Oleh karenanya. sini. dan kami. dimana yang menjadi pusat orientasi deiksis senantiasa si pembicara. Hal ini berarti bahwa rujukan pertama dan kedua pada situasi pembicaraan (Purwo. Ketiga ialah orang ketiga. Berdasarkan beberapa pendapat. Perujukan dapat pula ditujukan pada bentuk yang akan disebut kemudian. yaitu kategori rujukan kepada orang yang bukan pembicara atau pendengar ujaran itu. yaitu kategori rujukan pembicara kepada dirinya atau kelompok yang melibatkan dirinya. berarti juga peranan atau watak yang dibawakan oleh pemain sandiwara. 1984: 106). 1987: 40). Rujukan semacam itu oleh Nababan (1987: 40) disebut deiksis (Setiawan. Menurut Bambang Kaswanti Purwo (1984: 1) sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila rujukannya berpindah-pindah atau berganti-ganti. Fenomena deiksis merupakan cara yang paling jelas untuk menggambarkan hubungan antara bahasa dan konteks dalam struktur bahasa itu sendiri. . Dalam bidang linguistik terdapat pula istilah rujukan atau sering disebut referensi. a. Kedua ialah orang kedua. 1997: 6). yaitu deiksis orang. yang menjadi pusat orientasi deiksis adalah penutur. pada saat dituturkan oleh pembicara atau yang diajak bicara (Lyons. sini. deiksis tempat. Kata-kata ini tidak memiliki referen yang tetap. pronomina. sedangkan anafora merujuk dalam tuturan baik yang mengacu kata yang berada di belakang maupun yang merujuk kata yang berada di depan (Lyons. Peran peserta itu dapat dibagi menjadi tiga. Referen kata saya. yang tidak merupakan unsur di dalam bahasa itu sendiri. Pengertian deiksis dibedakan dengan pengertian anafora. di tempat mana. kalian. Pertama ialah orang pertama. deiksis wacana dan deiksis sosial (Nababan. 1977: 637 via Djajasudarma. Deiksis dapat diartikan sebagai luar tuturan. misalnya dia dan mereka. sekarang baru dapat diketahui maknanya jika diketahui pula siapa. 2. Deiksis Persona Istilah persona berasal dari kata Latin persona sebagai terjemahan dari kata Yunani prosopon. frase atau ungkapan yang akan diberikan. Perujukan atau penunjukan dapat ditujukan pada bentuk atau konstituen sebelumnya yang disebut anafora. saat dan tempat dituturkannya kata-kata itu.

Hal ini dikarenakan bentuk tersebut. Deiksis persona merupakan deiksis asli. dalam kalimat (9a) dan (9b). ia. Contoh dalam bahasa Inggris: (10) a. Sebagai contoh penggunaan deiksis tempat. Di sini dijual gas Elpiji. begitulah. mangga itu banyak dibeli. yakni sebuah kursi atau sofa. yang pertama disebut. Duduklah kamu di sini. 1997: 9). kata ganti persona ketiga. dapat bersifat endofora dan eksofora. seperti bentuk sekalian dan kalian. Deiksis wacana mencakup anafora dan katafora. umpamanya. Bentuk-bentuk yang dipakai untuk mengungkapkan deiksis wacana itu adalah kata/frasa ini. I bought a book. Deiksis Waktu Deiksis waktu ialah pemberian bentuk pada rentang waktu seperti yang dimaksudkan penutur dalam peristiwa bahasa. b. dsb. Anafora ialah penunjukan kembali kepada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dalam wacana dengan pengulangan atau substitusi. Pada kalimat (8b). I bought the book yesterday. seperti bentuk dia. maka dapat berwujud anafora dan katafora (Setiawan. Deiksis Wacana Deiksis wacana ialah rujukan pada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan atau sedang dikembangkan (Nababan. Oleh karena bersifat endofora. Katafora ialah penunjukan ke sesuatu yang disebut kemudian. itu. deiksis (rujukan) waktu ini diungkapkan dalam bentuk ³kala´ (Inggris: tense) (Nababan. b. yesterday. Dari kedua contoh di atas dapat kita ketahui bahwa -nya pada contoh (11a) mengacu ke paman . 1987: 42). b. b. dan sebagainya. Contoh pemakaian deiksis waktu dalam bahasa Inggris. 1987: 41). (8) a. 1987: 41). now. Paman datang dari desa kemarin dengan membawa hasil palawijanya. Semua bahasa -termasuk bahasa Indonesia. Namun apabila diperlukan pembedaan/ketegasan yang lebih terperinci. -nya maupun bentuk jamak. Deiksis Tempat Deiksis tempat ialah pemberian bentuk pada lokasi menurut peserta dalam peristiwa bahasa. Menurut pendapat Becker dan Oka dalam Purwo (1984: 21) bahwa deiksis persona merupakan dasar orientasi bagi deiksis ruang dan tempat serta waktu. baik tunggal. yang terdahulu. Dalam banyak bahasa. last year.Bentuk pronomina persona pertama jamak bersifat eksofora.membedakan antara ³yang dekat kepada pembicara´ (di sini) dan ³yang bukan dekat kepada pembicara´ (termasuk yang dekat kepada pendengar -di situ) (Nababan. b. acuannya lebih luas. d. (11) a. Sebagai contoh. (9) a. baik yang berupa bentuk kita maupun bentuk kami masih mengandung bentuk persona pertama tunggal dan persona kedua tunggal. I bought the book 2 years ago. I am buying a book. c. dapat ditambahkan sesuatu kata/frasa keterangan waktu. penggunaan deiksis waktu sudah jelas. yakni suatu toko atau tempat penjualan yang lain. Berbeda dengan kata ganti persona pertama dan kedua. Karena aromanya yang khas. yang berikut. sedangkan deiksis waktu dan deiksis tempat adalah deiksis jabaran. Meskipun tanpa keterangan waktu. Frasa di sini pada kalimat (8a) mengacu ke tempat yang sangat sempit.

kamu (sekalian). kromo dan kromo inggil kalau sistemnya dibagi empat. -nya mereka. seperti subjek. dapat dikatakan bahwa pronomina menduduki posisi yang umumnya diduduki oleh nomina.juga predikat. kamu. aku. pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu ke nomina lain. Aspek berbahasa seperti ini disebut ³kesopanan berbahasa´. dan daku. kau-. ngoko dan kromo dalam sistem pembagian dua. e. Deiksis Sosial Deiksis sosial ialah rujukan yang dinyatakan berdasarkan perbedaan kemasyarakatan yang mempengaruhi peran pembicara dan pendengar. ku-. atau mengacu pada orang yang dibicarakan (persona ketiga) (Moeliono. yang menjadi pendengar/pembaca. Bentuk Pronomina Persona Jika ditinjau dari segi artinya. biasanya digunakan dalam tulisan atau ujaran yang resmi. madyo. Jika dilihat dari segi fungsinya. dia. sedangkan pada contoh (11b) mengacu ke mangga yang disebut kemudian. objek. 1997: 276 via Setiawan. C. Tabel 1: Pronomina Persona Persona Makna Tunggal Jamak Netral Eksklusif Inklusif Pertama saya. -nya a) Pronomina Persona Pertama Dalam Bahasa Indonesia. mengacu pada orang yang diajak bicara (persona kedua). ³unda-usuk´. daku. memakai kata nedo dan kata dahar (makan). -ku kami kita Kedua engkau. beliau. yaitu persona pertama. pendengar dan/atau orang yang dibicarakan/bersangkutan. -mu kalian. Dalam bahasa Inggris dikenal tiga bentuk kata ganti persona. dan ngoko. dikau. atau ngoko. Berikut ini adalah pronomina persona yang disajikan dalam tabel. atau siapa/apa yang dibicarakan (Moeliono. Anda (sekalian) Ketiga ia. atau ´etiket berbahasa´ (Geertz. dan -dalam macam kalimat tertentu. Dalam bahasa Jawa umpamanya. Pronomina persona adalah pronomina yang dipakai untuk mengacu ke orang. Bahasa Indonesia juga mengenal tiga bentuk persona seperti dalam bahasa Inggris (P&P. persona kedua dan persona ketiga (Lyons. 1997: 170). 1997: 9). Perbedaan itu dapat ditunjukkan dalam pemilihan kata. perbedaan tingkat sosial antara pembicara dengan pendengar yang diwujudkan dalam seleksi kata dan/atau sistem morfologi kata-kata tertentu (Nababan.yang sudah disebut sebelumnya. Bentuk saya. dalam bahasa Jawa. 1987: 42-43). 1997: 172). pronomina persona pertama tunggal adalah saya. menunjukkan perbedaan sikap atau kedudukan sosial antara pembicara. Secara tradisional perbedaan bahasa (atau variasi bahasa) seperti itu disebut ³tingkatan bahasa´. 1997: 9). Anda. aku. 1987: 42). dapat juga dipakai untuk menyatakan hubungan pemilikan dan diletakkan di belakang nomina yang . madyo dan kromo kalau sistem bahasa itu dibagi tiga. Dalam beberapa bahasa. 1988: 172 via Setiawan. 1960 via Nababan. Bentuk saya. Pronomina dapat mengacu pada diri sendiri (persona pertama). Ciri lain yang dimiliki pronomina ialah acuannya dapat berpindah-pindah karena bergantung pada siapa yang menjadi pembicara/penulis.

D. . Selain pronomina persona pertama tunggal. Pronomina persona kedua juga mempunyai bentuk jamak. dia. c) Pronomina Persona Ketiga Pronomina persona ketiga tunggal terdiri atas ia. Sedangkan untuk pronomina persona pertama daku. Pronomina persona pertama aku. ia dan dia sama-sama dapat dipakai. rumah mereka. Dalam posisi sebagai subjek. Dari keempat pronomina tersebut. dapat dipakai oleh orang tua terhadap orang muda yang telah dikenal dengan baik dan lama. Kami bersifat eksklusif. kita bersifat inklusif. hanya dia. Akan tetapi. yakni engkau. misalnya usul mereka. cara menggunakan lambang-lambang bahasa. kata mereka kadangkadang juga dipakai untuk mengacu pada binatang atau benda yang dianggap bernyawa. dalam arti kesepadanan atau ketidaksepadanan antara bahasa dan alam di luar bahasa. artinya. makna adalah maksud pembicaran. Benda atau konsep yang jamak dinyatakan dengan cara yang lain. Pronomina persona aku mempunyai variasi bentuk. yaitu bentuk kalian dan bentuk pronomina persona kedua ditambah sekalian: Anda sekalian. lebih banyak digunakan dalam situasi non formal dan lebih banyak menunjukkan keakraban antara pembicara/penulis dan pendengar/pembaca.dimilikinya. paman saya. pada cerita fiksi atau narasi lain yang menggunakan gaya fiksi. dan -mu. kamu Anda. atau di depan verba.dan -mu. -nya dan beliau yang dapat digunakan untuk menyatakan milik. tetapi pembicara tidak ingin bersikap terlalu formal ataupun terlalu akrab. Pronomina persona kedua engkau. sehingga Anda tidak diarahkan pada satu orang khusus. hubungan. Makna Deiksis Pronomina Persona Menurut Kridalaksana (2001: 132). misalnya dengan mengulang nomina tersebut atau dengan mengubah sintaksisnya. pronomina itu mencakupi tidak saja pembicara/penulis. b) Pronomina Persona Kedua Pronomina persona kedua tunggal mempunyai beberapa wujud.dan -mu. Sebaliknya. Pronomina persona kedua yang memiliki varisi bentuk hanyalah engkau dan kamu. pronomina Anda juga digunakan dalam hubungan yang tak pribadi. yakni dipakai oleh orang yang lebih muda atau berstatus sosial lebih rendah daripada orang yang dibicarakan. kamu sekalian. Pronomina persona ketiga tunggal beliau digunakan untuk menyatakan rasa hormat. yaitu -ku dan ku-. jika berfungsi sebagai objek. Bentuk terikat itu masing-masing adalah kau. atau terletak di sebelah kanan dari yang diterangkan. yakni kami dan kita. pada umumnya digunakan dalam karya sastra. Pronomina persona ketiga jamak adalah mereka. pengaruh satuan bahasa dalam pemahaman persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia. Mereka tidak mempunyai variasi bentuk sehingga dalam posisi mana pun hanya bentuk itulah yang dipakai. bahasa Indonesia mengenal pronomina persona pertama jamak. artinya. tetapi tidak mencakupi orang lain dipihak pendengar/pembacanya. Akan tetapi. pronomina itu mencakupi pembicara/penulis dan orang lain dipihaknya. -nya dan beliau. dan mungkin pula pihak lain. Pronomina persona kedua Anda dimaksudkan untuk menetralkan hubungan. Selain itu. tanpa memandang umur atau status sosial. atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjuknya. dikau. hanya bentuk dia dan -nya yang dapat muncul. orang yang mempunyai hubungan akrab. tetapi juga pendengar/pembaca. Pada umumnya mereka hanya dipakai untuk insan. kau. orang yang status sosialnya lebih tinggi. misalnya: rumah saya. kamu. dalam hubungan bersemuka.

makna emotif. sedangkan yang mengartikan (signifiant) adalah bunyi-bunyi yang terentuk dari fonemfonem bahasa yang bersangkutan. makna leksikal. makna konstruksi. makna gramatikal. makna non-referensial. makna denotatif. makna gramatikal. makna kognitif. yaitu makna afektif. Hanya perlu dipahami bahwa tidak semua kata atau leksem itu mempunyai acuan konkret di dunia nyata. sebab (a) adalah masalah dalam-bahasa dan (c) masalah luar-bahasa yang hubungannya biasanya bersifat arbitrer. hubungan (b) dan (c) bahwa (c) adalah acuan dari (b) tersebut. makna bahasa dapat terdiri dari bermacammacam jenisnya. makna kolokasi. makna luas. Oleh karena itu. makna gereflekter. makna sempit. makna piktorial. makna inti. (4) makna afektif. Menurut Djajasudarma (1993: 6). Di dalam penggunaannya dalam pertuturan yang nyata makna kata atau leksem itu seringkali. Ada teori yang menyatakan bahwa makna itu tidak lain daripada sesuatu atau referen yang diacu oleh kata atau leksem itu. Kedua unsur ini adalah unsur dalam-bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk atau mengacu kepada sesuatu referen yang merupakan unsur luar-bahasa (ekstralingual) (Chaer. makna majas (kiasan). makna gramatikal. makna piktorial. dan makna pribahasa. makna konotatif. makna istilah. banyak pakar yang mengatakan bahwa kita baru dapat menentukan makna sebuah kata apabila kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya. makna ekatensi. Bila dilihat dari segi atau pandangan yang berbeda. dan mungkin juga biasanya. makna konotatif/emotif. makna stilistika. makna idesional. Sedangkan Leech (1976) membedakan adanya tujuh tipe makna. makna referensial. . makna deskriptif. yaitu: makna sempit. makna konstruksi. Titik (a) dan (b) sama-sama berada di dalam-bahasa. Sedangkan hubungan (a) dan (b) serta hubungan (b) dan (c) bersifat langsung. (5) makna reflektif. makna proposisional. dengan kata lain setiap tanda-linguistik terdiri dari unsur bunyi dan unsur makna. makna luas. (3) makna stilistika. yaitu: (1) yang diartikan (Perancis: signifie. Chaer (1994) membagi jenis makna menjadi tigabelas. Hubungan antara tanda linguistik (bersama unsur bunyi dan makna) dengan unsur referennya. makna idiom. yaitu makna leksikal. makna kontekstual. makna pusat. makna kognitif. dan makna tematis. Jadi. makna idesional. makna leksikal. makna kata. yaitu (1) makna konseptual. Pateda (1986) melalui Chaer (1995: 59) mengemukakan adanya jenis-jenis makna. Yang diartikan (signifie) sebenarnya adalah konsep atau makna dari sesuatu tanda bunyi. 1995: 29). dapat dibagankan sebagai berikut. (2) makna konotatif. Inggris: signifier). 1995: 59). makna proposisi. makna intensi. makna konotatif. Inggris: signified) dan (2) yang mengartikan (Perancis: signifiant. dan makna kalimat baru dapat ditentukan apabila kalimat itu berada di dalam konteks wacananya atau konteks situasinya (Chaer.Ferdinand de Saussure membagi setiap tanda linguistik menjadi dua. makna kiasan. makna terdiri atas beberapa jenis. makna referensial. makna denotatif. (6) makna kolokatif. makna konseptual. dan (7) makna tematik (Chaer. makna konseptual. (b) konsep/makna (a) kata/leksem (c) sesuatu yang dirujuk (referen) Hubungan antara (a) dan (c) bersifat tidak langsung. terlepas dari pengertian atau konsep dasarnya dan juga acuannya. 1994: 288). makna asosiatif. makna referensial.

´ kata Dian kepada Dani. 1993: 9). Makna denotatif adalah makna asli. pendengaran. kata-kata yang bermakna luas digunakan untuk mengungkapkan gagasan atau ide yang umum.´ kata Ibu. Sebagai contoh. Penggunaan kata Bapak pada kalimat (14) dengan (15) mengalami perubahan makna. 1993: 9). yang mengacu pada seseorang yang mempunyai nama Dian. melainkan dapat berpindah dari maujud yang satu kepada maujud yang lain (Chaer. (Konteks: diberitahukan bahwa pimpinan sekolah sedang mengadakan rapat dengan para guru sekolah tersebut). Berbeda dengan kata-kata yang bermakna sempit. 1994: 292). 1995: 66). 1993: 7). (Konteks: seorang pencuri yang sedang diinterogasi oleh polisi atas tuduhan pencurian). makna referensial adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan atau referen (acuan). dan akan datang ke rumah penutur). Pada kalimat (12). Makna kognitif disebut juga makna deskriptif atau denotatif adalah makna yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan (Djajasudarma. (Konteks: penutur memiliki saudara sepupu yang tinggal di Bandung. Pada kalimat (14) kata Bapak bermakna sempit µorang tua kandung¶. (13) Saudara saya yang dari Bandung akan datang hari ini. dari makna sempit ke makna meluas. Menurut Djajasudarma (1993: 11). yaitu maknanya akan menyempit (memiliki makna sempit). Sebagai contoh. 1994: 291). kata saudara bermakna µpanggilan pada seseorang¶. Sebagai contoh. sedangkan pada kalimat (15) kata Bapak bermakna luas µpanggilan untuk laki-laki dewasa¶. B: ³Benarkah?´ sahut Dani. Makna konotatif adalah makna yang muncul dari makna kognitif (lewat makna kognitif). Makna referensial adalah makna sebuah kata atau leksem yang mempunyai referen atau acuannya.Makna sempit (narrowed meaning) adalah makna yang lebih sempit dari keseluruhan ujaran (Djajasudarma. (16) Dian adalah salah satu mahasiswa jurusan bahasa Indonesia. atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem (Chaer. Pada kalimat (16) di atas. atau pengalaman lainnya (Chaer. Makna luas (widened meaning atau extended meaning) adalah makna yang terkandung pada sebuah kata lebih luas dari yang diperkirakan (Djajasudarma. Berkenaan dengan acuan ini ada sejumlah kata yang disebut kata-kata deiktik yang acuannya tidak menetap pada satu maujud. Kata saudara pada kalimat (12) dengan (13) mengalami perubahan makna. Perhatikan contoh. sekarang. perasaan. (12) ´Apakah saudara tidak mau mengakuinya?´ kata Pak Polisi. (17) A: ³Kemarin saya bertemu dengan Ibu Ani. 1993: 8).´ . (14) ³Bapak sedang sakit. Makna denotatif juga dapat diartikan sebagai makna yang sesuai dengan hasil observasi menurut penglihatan. ³Saya juga bertemu beliau kemarin. makna asal. sedangkan pada kalimat (13) saudara bermakna sempit µkerabat¶. makna denotatif nampak pada penggunaan kata Dian. penciuman. (Konteks: seorang Ibu yang memberitahuan keadaan suaminya kepada anaknya). Makna konotatif muncul sebagai akibat asosiasi perasaan kita terhadap apa yang diucapkan atau apa yang didengar. ke dalam makna kognitif tersebut ditambahkan komponen makna lain (Djajasudarma. (15) ³Bapak Kepala Sekolah sedang mengadakan rapat dengan para guru.´ kata salah seorang staf karyawan.

Kalimat (20a) menunjukkan kata adik bermakna µpelaku¶. Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apa pun (Chaer. Namun. bersifat leksem. Tikus itu mati diterkam kucing. b. menendang bermakna µaktif¶. dan surat bermakna µhasil¶. yang diucapkan oleh lawan tuturnya. 1993: 15). Perhatikan contoh berikut. kalimat. Sebagai contoh. dapat kita ketahui bahwa kedua kalimat tersebut dapat melahirkan makna gramatikal. Pada kalimat (18) di atas. Dari kedua contoh di atas. (19) a. Makna leksikal dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon. atau perasaan benci. enklitik -nya digunakan untuk menyatakan milik atau kepunyaan. Adik menendang bola. Sebagai contoh. 1994: 289). Kata tikus pada kalimat (19a) merupakan makna leksikal karena jelas merujuk kepada binatang tikus. 1995: 62). Kalimat (22a) mengungkapkan perasaan benci penutur terhadap seseorang. atau bersifat kata. dalam hal ini adalah rumah. (18) Rumahnya jauh dari sini. 1993: 12). b. Perhatikan contoh berikut. yang menjadi pusat (inti) pembicaraan adalah Ali sedangkan untuk adalah seorang laki-laki merupakan bagian untuk menerangkan kata Ali. Di samping itu. misalnya. sebangsa bintang pengerat yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit tifus. Atau juga dikatakan makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya. dan proses komposisi (Chaer. pada kalimat (17A) kata saya mengacu pada Dian. makna milik dapat diungkapkan melalui enklitik sebagai akhiran yang menunjukkan kepunyaan (Djajasudarma. Makna konstruksi (construction meaning) adalah makna yang terdapat di dalam konstruksi. dapat kita lihat bahwa pada kalimat (22a) dan (22b) memunculkan makna piktorial. Misalnya kata-kata seperti dan. Perasaan muncul segera setelah mendengar atau membaca suatu ekspresi yang menjijikan. Kenapa kau sebut nama dia. proses reduplikasi. (22) a. makna non-referensial merupakan makna sebuah kata yang tidak mempunyai acuan atau referen. atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita (Chaer 1995: 60). wacana) memiliki makna yang menjadi pusat (inti) pembicaraan (Djajasudarma. b. dan karena. Adik menulis surat. 1993: 16). Kalimat (20b) menunjukkan kata adik bermakna µpelaku¶.Dari contoh di atas. Yang menjadi tikus di gudang kami ternyata berkepala hitam. jelas bahwa. Sebagai contoh. menulis bermakna µaktif¶. Pada kalimat (22b) dapat dilihat adanya makna piktorial . atau. Dari contoh di atas. Pada contoh kalimat (21) di atas. Makna piktorial adalah makna suatu kata yang berhubungan dengan perasaan pendengar atau pembaca. Setiap ujaran (klausa. Berbeda dengan makna referensial. dalam kalimat (19b) kata tikus bukanlah dalam makna leksikal karena tidak merujuk kepada binatang tikus melainkan kepada seorang manusia. (20) a. (21) Ali adalah seorang laki-laki. Perasaan dapat pula berupa perasaan gembira di samping perasaan yang disebutkan di atas (Djajasudarma. Ia tinggal di gang yang becek itu. dan bola bermakna µsasaran¶. yang pebuatannya memang mirip dengan perbuatan tikus. Makna gramatikal adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatika seperti proses afiksasi. makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indera. sedangkan pada kalimat (17B) kata saya mengacu pada Dani. makna milik yang diungkapkan dengan urutan kata di dalam bahasa Indonesia. Makna pusat adalah makna yang dimiliki setiap kata yang menjadi inti ujaran.

pokok kalimatnya dapat terdiri dari sekelompok orang atau benda yang ikut serta dalam tindakan. kita bermusuhan. Nomor teleponnya ada pada kepala surat itu. Sebagai contoh. Fungsi (b). yang menyebutkan tentang makna kebersamaan. Pada kalimat (23a). kategori gramatikal. peneliti juga menggunakan teori lain tentang makna. Dari ketiga kalimat di atas. c. ada sebagian sampel data yang tidak sesuai dengan kedua teori tersebut. yang mana apabila sasaran penyelidikannya tertumpu pada hal-hal yang berkaitan dengan sintaksis. baik transitif maupun intransitif. kata kepala bermakna µpimpinan¶. SPOK (a). Selain itu. kata kepala bermakna µbagian atas surat¶. (23) a. kata kepala bermakna µbagian anggota tubuh¶. b. E. sesudah perempuan itu masuk ke dalam. Pada kedua makna ini. Untuk itu. (25) Saya dan Dar berpandang-pandangan. Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu. Sedangkan sebagai subjek (S) tunggal. Dari beberapa teori di atas. 1994: 290). (24) Saudara berhak membunuh saya. maka peneliti memberikan istilah sendiri untuk sampel data tersebut sebagai jenis makna. ada makna yang sesuai dengan sampel data yang ditemukan. dan pada kalimat (23c). Deskripsi dan Teori´. penggunaan kata kepala mempunyai makna konteks yang berbeda. Ini dilakukan mengingat bahwa dalam sintaksis itu ada pula tataran bawahan yang disebut fungsi gramatikal. tidak seluruh jenis makna yang dikemukakannya sesuai dengan sampel data yang ada. Sebagai subjek (S) jamak. dkk dalam bukunya yang berjudul ³Bahasa Indonesia. dkk. Peran . dan peran gramatikal. Hal itu dikarenakan bahwa dari beberapa makna yang dikemukakan olehnya. diketengahkan adanya istilah semantik sintaktikal. Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks (Chaer. Namun. Fungsi Deiksis Pronomina Persona Dalam tataran tata bahasa atau gramatika. (26) Apalagi mereka berdua tak asing-mengasing lagi. teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori yang dikemukakan oleh Djajsudarma. kalimat (23b). Untuk ketiga contoh di atas.dengan perasaan jijik. makna terdiri dari makna timbal balik dan makna kebersamaan. sebagai sebutan kalimat. dapat kita lihat penggunaan kata kepala pada kalimatkalimat berikut. Kategori (c). pokok kalimatnya dapat menyatakan subjek (S) jamak maupun subjek (S) tunggal. dapat dilihat bahwa pokok kalimatnya menyatakan subjek (S) jamak. Makna timbal balik dan makna kebersamaan dibentuk dengan memakai verba. Hal ini dapat dilihat pada bagan berikut. yaitu teori dari Alieva. pokok kalimatnya merupakan salah satu dari subjek (S) jamak yang lebih penting bagi kalimat ini. Rambut di kepala nenek belum ada yang putih. Menurut Alieva. Sebagai contoh.

Henry Guntur Tarigan dalam bukunya yang berjudul ³Pengajaran Tatabahasa Kasus´ (1989: 68). mengemukakan adanya sembilan fungsi semantik atau kasus. 1995: 22). Kasus Agentif (A) Kasus agentif merupakan kasus yang secara khusus ditujukan bagi makhluk hidup (yang bernyawa) yang merasakan hasutan tindakan yang diperkenalkan oleh verba. Dalam struktur semantik ini KK merupakan pusat. dan adverbia. dan sebuah KB yang berfungsi semantik patient yaitu sepatu (Chaer. Yang memiliki makna adalah pengisi kotak-kotak yang disebut kategori gramatikal seperti nomina. lokatif. patient. instrumental. predikat (P). Chafe tetap menggunakan istilah KB yang menurut fungsi semantiknya bisa berlaku sebagai agent. Berapa banyak KB yang hadir dalam suatu struktur semantik tergantung pada jenis/tipe KK dalam struktur itu. locative. dan sebagainya (Chaer. b. Kategori-kategori ini yang sesungguhnya sudah memiliki makna leksikal. Hanya argumen di sini diberi nama kasus. 1995: 21-22). Fillmore membatasi jumlah kasus menjadi pelaku (agent). Chafe tidak menggunakan istilah kasus untuk menyatakan relasi semantik anatara KK dengan KB dalam suatu struktur semantik. benefaktif. sebagai KB yang berfungsi semantik benefaktif yaitu adik. maka verba di sini sama dengan predikat dan nomina sama dengan argumen. dll. yaitu (1) kata kerja/KK dan (2) kata benda /KB. KK menentukan hadirnya KB dalam struktur semantik itu. yaitu: a. Kini sebagai pengisi kotak-kotak itu memiliki peran gramatikal seperti peran agentif. keadaan/tempat/waktu yang akan datang (goal). bentuk Tom dalam kalimat tersebut berfungsi debagai agent atau pelaku tindakan yaitu tindakan memangkas mawar. nomina atau frase nomina yang mengacu pada orang atau binatang yang melakukan atau memprakarsai tindakan verba. tujuan (object). compliment. Menurut Chafe struktur semantik terdiri dari dua unit semantik pokok. kala. Dalam versi 1971. Sedangkan proposisi berwujud sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus. seperti dalam kalimat Ibu membeli gula. dan maujud yang dihubungkan dengan predikat (referential) (Chaer. benefactive. yang dikenal sebagai tokoh tata bahasa kasus. keadaan/tempat/waktu yang sudah (source). Wallace L. aspek. Kasus Benefaktif (B) Kasus benefaktif adalah kasus yang ditujukan bagi makhluk hidup (yang bernama) yang memperoleh keuntungan oleh tindakan yang diperikan oleh verba. 1995: 21). objek (O). Yang dimaksud dengan kasus (case) dalam teori ini adalah hubungan antara verba dengan nomina dalam struktur semantis. dalam karangannya ³Case for Case´ (1968) membagi kalimat atas modalitas dan proposisi. dan keterangan (K) yang sebenarnya tidak mempunyai maksud. sebab semuanya hanya berupa kotak atau tempat yang kosong. Apabila dibandingkan dengan teori generatif semantik. Pada contoh (27) di atas. kasus yang mengacu pada agent atau pelaku suatu tindakan. Artinya. sedangkan KK aksi bitransitif menghadirkan tiga KB seperti kalimat Ibu membelikan adik sepatu (Chaer. pasien. KK aksi monotransitif menghadirkan dua KB. Modalitas berkenaan dengan negasi. KK keadaan hanya menghadirkan satu Kb seperti dalam kalimat Ibu termenung. atau adjektiva. (27) Tom memangkas mawar. verba. Sebagai contoh. 1995: 9) Charles J. alat (means). pengalami (experiencer). Chafe menyatakan bahwa dalam analisis bahasa komponen semantiklah yang merupakan pusat. experince. nomina atau frase nomina . Jadi KK membelikan dari contoh di atas menghadirkan sebuah KB yang berfungsi sebagai semantik agent yaitu Ibu. Fillmore.Fungsi gramatikal berupa ³kotak-kotak kosong´ yang diberi nama subjek (S). objek.

yang mengacu pada orang atau binatang yang memperoleh keuntungan atau dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan dari tindakan verba. karena dalam konstruksi kalimat tersebut. Contoh. bentuk Louise yang mendapatkan atau memeperoleh keuntungan dari tindakan verba. (34) Rakit itu bergerak. Kasus ini kadang-kadang disebut juga experiencer case atau kasus pengalam. Preposisi yang berhubungan dengan kasus ini adalah dengan. Kasus Objektif (O) Kasus objektif merupakan kasus yang secara semantis paling netral. e. Kasus Lokatif (L) . Sebagai contoh. kasus dari segala sesuatu yang dapat digambarkan atau diwakili oleh sesuatu nomina yang peranannya di dalam tindakan atau keadaan diperkenalkan oleh verba diperkenalkan oleh interpretasi semantik verba itu sendiri. Kasus Instrumental (I) Kasus instrumental adalah kasus yang berkekuatan tidak hidup/tak bernyawa atau objek yang secara kausal terlibat di dalam tindakan atau keadaan yang diperkenalkan oleh verba. dan. demi. yang berfungsi benefaktif adalah bentuk Louise. John merupakan subjek ergatif -agent atau penyebab tindakan/perbuatanh. nomina atau frasa nomina yang mengacu pada orang atau binatang yang dipengaruhi oleh keadaan atau tindakan verba di dalam kasus datif. i. d. Kasus benefaktif dihubungkan dengan preposisi untuk. yang mengacu pada hubungan sintaktik yang terjalin antara suatu kalimat. f. atau dianggap atau diartikan sebagai suatu bagian dari makna verba. terhadap. Kasus Komitatif Kasus komitatif adalah kasus yang ditujukan bagi frasa nomina yang menanggung suatu hubungan konjungtif dengan frasa nomina lain dalam kalimat. buat. Contoh. Kasus Datif (D) Kasus datif adalah kasus mengenai makhluk hidup (yang bernyawa) yang dipengaruhi oleh keadaan atau tindakan yang diperkenalkan oleh verba. c. (30) Saya setia kepada istri saya. (32) Tony membangun bangsal. (35) Mary membuka laci itu dengan kunci. Kasus Faktitif (F) Kasus faktitif merupakan kasus objek atau yang merupakan akibat dari tindakan atau keadaan yang diperkenalkan oleh verba. bagi. (28) Joan membakar kue buat Louise. Contoh. John menggerakkan rakit itu. Sebagai contoh. Contoh. Pada contoh (28) di atas. nomina atau frasa nomina yang mengacu pada sesuatu yang dibuat atau diciptakan oleh tindakan/aksi verba berada dalam kasus faktitif. Kasus ini memiliki ciri menggunakan preposisi dengan. Kasus Ergatif (E) Kasus ergatif adalah kasus yang bersifat kausatif. (31) Kami berbakti terhadap negara. Sebagai contoh. Penanda kasus datif dalam bahasa Indonesia adalah kepada. bersama. (33) Mereka mengiris sosis itu dengan pisau. (29) Rony berdagang mobil dengan Budi. g.

ke. Sebagai contoh. Sebagai contoh: kawannya Salim. Dalam bahasa kesusastraan. e. Sebagai contoh. Artinya bahwa. J. bentuk deiksis pronomina persona digunakan pada verba transitif berawalan me-. melainkan hubungan antara kedua unsur tersebut: rumah + -ku = rumah kepunyaanku. tidak dapat dipakai dengan peposisi di dan ke yang sama sekali tidak berangkaian dengan pronomina personal. karena takut diketahui olehnya. rumah saya. (39) Perginya terlambat: ³Engkau salah´. rumah mereka. Bentuk tersebut digunakan dalam konstruksi tuturan langsung dengan kata pengantar penutur berada di depan tuturan langsung. dapat menunjukkan hubungan kepunyaan (menyebutkan pemilik). Sebagai contoh. c. rumah + -nya =rumah kepunyaannya. Sebagai penunjuk kepunyaan Dalam hal ini. dalam bukunya yang berjudul ³Bahasa Indonesia. seperti halnya bentuk enklitis. terlihat bahwa bentuk deiksis dapat dirangkai dengan bentuk preposisi. timbul sebagai akibat pengaruh bahasa Jawa. dari. Sebagai contoh. bentuk deiksis dapat menyatakan subjek pelaku. (38) Ibu merahasiakan semua itu. oleh. bentuk-bentuk deiksis dapat digunakan sebagai perangkai preposisi. Untuk menyatakan subjek tindakan/pelaku Pronomina persona dapat digunakan untuk menyatakan subjek tindakan/pelaku dengan verba intransitif dan dengan kata akar yang dipakai untuk mengantarkan tuturan langsung. Sebagai penunjuk kepunyaan Bentuk deiksis pronomina persona apabila disambungkan dengan nomina. b. seperti bentuk preposisi kepada. Badudu dalam bukunya ³Pelik-pelik Bahasa Indonesia´ (1993: 110-111) menyebutkan beberapa fungsi deiksis pronomina persona. Sebagai perangkai preposisi. Pada contoh kalimat (37) dan (38). Dalam pemakaiannya. Bentuk pronomina. rumah + -mu = rumah kepunyaanmu. dll.Kasus lokatif adalah kasus yang memperkenalkan lokasi. deskripsi dan teori´ fungsi deiksis meliputi: a. bentuk deiksis itu langsung disambungkan pada verba tersebut. Fungsi yang demikian. kataku. fungsi ini terbatas hanya pada kasus-kasus di mana dapat timbul salah tafsir bila dua nomina berdampingan. Untuk contoh kalimat (39). Untuk menyatakan objek tindakan/pelaku Untuk menyatakan objek pelaku. Menurut Alieva. Misalnya: bentuk rumahku. Contoh. dll tersebut. -mu. yaitu: a. Sebagai penunjuk postpositif Artinya bahwa bentuk deiksis di sini untuk menyatakan hubungan milik antara dua nomina. (36) Irine menaruh majalah itu di (atas) meja. -nya. Bandingkan dengan . tempat atau letak ataupun orientasi ruang/keadaan atau tindakan yang diperkenalkan oleh verba. dkk. Penanda kasus lokatif ini adalah di. d. yang menyatakan kepunyaan bukalah wujud deiksis seperti -ku. (41) Sudah lama dia tidak melewatiku. yang tidak terdapat dalam bahasa Melayu klasik. (37) Kakak memberikan buku itu kepadaku. S. (40) Saya sudah dilihatnya. Bentuk deiksis pronomina persona dapat digunakan untuk menyatakan subjek pelaku apabila ditempelkan pada verba pasif berawalan -di.

teori fungsi yang digunakan merupakan teori yang dikemukakan oleh Tarigan. c. dan sebagainya dan menurut pengkhususan isinya. Sebagai penunjuk Contoh: (50) Penyakit itu sukar dicari obatnya. peneliti menggunakan teori lain yang dapat melengkapi dan yang sesuai dengan sampel data yang tersisa. tengah bulanan. yaitu fungsi penunjuk kepunyaan dan fungsi perangkai preposisi. Untuk itu. Sebagai objek penderita dalam bentuk enklitik Contoh: (44) Aku memandangnya sebagai kakakku. rumah Amir. arena kecil. (-nya = penyakit seperti itu) h. (45) Siapa yang akan menyertaimu naik haji nanti? d. b. dongeng. remaja. olahraga. mana kuenya? f. dkk. (47) Barang-barang itu sengaja kubeli untukmu. Majalah Bobo Majalah adalah terbitan berkala yang isinya meliputi berbagai liputan jurnalistik. dan sebagainya (KBBI. Sebagai alat pembentuk kata benda Contoh: (42) Salahmu masih dapat dimaafkan. G. ilmu pengetahuan. Hubungan ini disebut hubungan posesif (hubungan kepunyaan). Bo?. sekali gagal juga. Sebagai objek penyerta dalam bentuk enklitik Contoh: (46) Disampaikannya berita itu kepadaku kemarin. ensiklobobo. (43) Kuakui itu adalah salahku sendiri. Cerita Pendek . hanya lima fungsi yang dianggap sesuai dengan sampel data yang ada. mingguan. Hal itu dikarenakan bahwa dari sampel data yang ditemukan dalam penelitian ini menunjukkan adanya kesesuaian antara sampel data dengan teori tersebut. dari beberapa fungsi yang dikemukakan oleh Tarigan. g. 1991: 615). melainkan lahir karena adanya hubungan kedua kata itu. uji imajinasi. halamanku. peneliti memberikan istilah sendiri untuk menyebut fungsi deiksis sesuai dengan ciri-ciri sampel data. Makna ³pemilikan´ bukan terdapat pada kata paman dan Amir di belakang kata rumah. Majalah Bobo merupakan salah satu majalah anak-anak yang terbit satu kali dalam setiap minggunya. dan menurut kala penerbitannya dibedakan atas majalah bulanan. pandangan tentang topik aktual yang patut diketahui konsumen pembaca. Majalah Bobo memuat berbagai macam cerita anak-anak dari yang berbentuk cerita pendek.rumah paman. dibedakan atas majalah berita. liputan. ilmu pengetahuan tertentu. tak disangka). Selain itu. wanita. dari teman (Apa Kabar. yaitu setiap hari Kamis. e. majalah Bobo juga memuat tentang profil. Untuk sampel data yang tidak sesuai dengan teori-teori tersebut. Teori yang dimaksudkan di sini merupakan teori yang dikemukakan oleh Alieva. Dalam penelitian ini.menyatakan superlatif Contoh: (51) Sepandai-pandainya tupai melompat. F. Sebagai kata sandang penentu Contoh: (48) Masa hanya kopi saja. Sebagai pembentuk kata keterangan Contoh: (49) Agaknya akan turun hujan hari ini. sastra. Bersama-sama dengan awalan se. cerita bergambar. Namun.

impian. Sebuah cerpen biasanya memiliki plot yang diarahkan pada insiden atau peristiwa tunggal. Sifat umum cerpen ialah pemusatan perhatian pada satu tokoh saja yang ditempatkan pada suatu situasi sehari-hari. Seperti halnya makna deiksis. Inti cerita pendek adalah tikaian dramatik. tetapi yang ternyata menentukan (perubahan dalam perspektif. cerita pendek adalah setiap cerita yang pendek. keputusan yang menentukan). Ringkasnya. Penggunaan deiksis pronomina persona dirasa tepat. dan fungsi sapaan. fungsi perangkai preposisi. Sumber data dalam penelitian ini berupa subjek. 1991: 187). sering dipergunakan (pengaruh dari film). merupakan suatu jenis sastra naratif yang muncul pada bagian pertama abad ke-19 di Amerika Serikat. Rahmanto. teori tentang fungsi deiksis yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan teori dari beberapa ahli. Dalam arti umum. cerpen menunjukkan kualitas yang bersifat compression µpemadatan¶. makna deiksis pronomina persona dan fungsi deiksis pronomina persona dalam suatu karya sastra. fungsi objektif. tetapi sugestif (Hartoko dan B. flash back. Untuk mengetahui bentuk deiksis pronomina persona. concentration µpemusatan¶. H. kesadaran baru. ditentukan dengan metode yang digunakan dalam penelitian. Ada yang mengatakan bahwa cerpen merupakan karya prosa fiksi yang dapat selesai dibaca dalam sekali duduk dan ceritanya cukup dapat membangkitkan efek tertentu dalam diri pembaca (Sayuti.Cerita pendek adalah kisahan pendek (kurang dari 10. Metode agih adalah metode analisis data yang alat penentunya justru bagian dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri (Sudaryanto. dan intensity µpendalaman¶. diharapkan peneliti lebih mudah dalam mengkategorisasikan dan mendeskripsikan tentang bentuk. fungsi benefaktif. Dengan menggunakan metode agih. fungsi pengalam. dan sebagainya. baik benda. Fungsi deiksis pronomina persona yang ditemukan dalam kumpulan cerita pendek di majalah Bobo edisi Januari-Desember 2005 meliputi fungsi penunjuk kepunyaan. 1986: 132). 2000: 9). Kerangka Pikir Kata tunjuk adalah kata yang digunakan untuk menunjuk sesuatu. Adapun makna deiksis yang terdapat dalam kumpulan cerita pendek di majalah Bobo edisi Januari-Desember 2005 meliputi makna ambiguitas. fungsi komitatif. makna luas. 1984: 15). orang maupun tempat. Dari beberapa teori yang mengemukakan tentang makna deiksis. yang semuanya berkaitan dengan panjang cerita dan kualitas struktural yang diisyaratkan oleh panjang cerita itu. Bahasa-bahasanya sederhana. makna dan fungsi deiksis pronomina persona.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi (pada suatu ketika) (KBBI. fungsi pelaku/agent. yaitu kumpulan cerita pendek di majalah Bobo . teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori campuran dari beberapa pandapat para ahli. Dialog. Cerita pendek yang efektif terdiri dari tokoh atau sekelompok tokoh yang ditampilkan pada satu latar atau latar belakang dan lewat lakuan lahir atau batin terlibat dalam satu situasi. Dalam arti kata khusus. Sebuah cerpen biasanya didasarkan pada insiden tunggal yang memiliki signifikansi besar bagi tokohnya. makna tunggal. khususnya karya sastra anak. 1993: 15). dan makna sempit. Tamatnya sering kali tiba-tiba dan bersifat terbuka (open ending). Deiksis pronomina persona merupakan salah satu bentuk kata tunjuk yang digunakan untuk menunjuk orang atau insani. yaitu perbentukan antara kekuatan yang berlawanan (Sudjiman. makna kebersamaan/jamak. jika dalam penggunaannya disesuaikan dengan konteks kalimat dan makna yang dimilikinya. Salah satu metode yang digunakan adalah metode agih.

Untuk yang ketiga kita akan mendapat pengatahuan tentang maksud pembicara. kalimat . Dalam kasus di atas. tetapi lebih dari itu. Dari Abstrak ke Arah Arti Kontekstual Arti abstrak lebih berfokus pada sebuah kata. Makna dalam penelitian ini merupakan makna deiksis pronomina persona yang digunakan dalam suatu tuturan. makna dan fungsi deiksis pronomina persona. definisi umum dari pragmatic adalah arti dalam penggunaan dan arti dalam konteks. dan bentuk pronomina persona ketiga baik tunggal maupun jamak. atau matikan pemanasnya.1. dimana dapat diterima dengan baik di bawah bahasan dari arti penggunaan atau art dalam kenteks.2 Definisi Pragmatik Pada awal 1980an.2. frasa. sedangkan objek penelitian ini yaitu tentang bentuk. Kita akan mempelahar pertama kali yan dimaksud tentang tingkatan arti. ³Di sini panas ya!´. Bukut-bukua terbaru lebih contong membahas tentang satu dari dua topic. yang dapat ditentukan dengan melihat konteks kalimat atau konteks wacananya. masalah arit pemcibaca lebih mendekat ke arah penulus yang mempunyai pandangan social lebih luas dalam ilmu linguistic khususnya dalam hal pragmatic. mengapa tidak langsung mengatakan yang sebenarnya. atau yang dimaksud dengan (force) paksaan dalam sebuah ujaran kata. Kita akan mulai dari arti kontekstual arti ujaran dar melihata kata. Untuk lebih jelasnya. tetapi pada waktu yang sama ketidak jelaan dari fakta pada proses interpretasi dengan apa yang ada di dalam pesan antara beberapa tingkatan arti. tidak secara langsung menuju topic. sama dengan pragmatic dengan arti pembicara (speaker meaning) atau yang sama dengan interpreatasi ujaran (utterance interpretation) ±mereka tidak menggunakannya secara eksplisit± . tingkat dari arti secara abstrak. yang mana diperlukan adanya koherensi antara kalimat yang mendahului ataupun kalimat yang mengikutinya. kerangka pikir ini dibuat dalam bentuk skema sebagai berikut. pada saat pragmatic sering dibuat sebagai bahan diskusi dalam linguistic. Dalam contoh di atas kita tahu bahwa apa yang penulis maksud bukan panas dalam arti kata sebenarnya. 1. pronomina persona kedua baik tunggal maupun jamak. Apa yang mereka maksudkan bisa lebih luas dari apa yang mereka katakana. tempat yang lain atau keadaan yang lain pula. Pengertian Masyarakat tidak selalu mengatakan apa yang sebenarnya mereka maksudkan. hal ini akan berbeda jika dalam konteks yang lain. Bentuk di sini merupakan bentuk deiksis pronomina persona yang terdiri dari bentuk pronomina persona pertama baik tunggal maupun jamak. yang mana makna itu tidak lain daripada sesuatu atau referen yang diacu oleh kata atau leksem. Kasus-kasus seperti ini masuk dalam bahasan lingusitik yang dikenal dengan Pragmatik. tetapi masih terlalu umum karena masih mengandung aspek semantic. Walaupun definisi itu cukup untuk menggambarkan pragmatic. Fungsi di dalam penelitian ini merupakan fungsi semantis deiksis pronomina persona. Digunakannya fungsi semantis di sini karena sampel data dalam penelitian ini merupakan bentuk kalimat yang terdapat di dalam suatu wacana. Definisi terakhir (interpretasi ujaran) lebih cenderung kea rah yang mempelajari kekurangan dari dua definisi tersebut. 1.edisi Januari-Desember 2005 yang berjumlah 137 buah. Arti pembicara menurut perhatian ke pembuat pwsannya. frasa atau kalimat (kedua). yaitu. Sebagai contoh saya berkata. Apakah Pragmatik Itu? 1. Tetapi yang saya maksudkan adalah untuk seseorag membukakan jendela atau lebih baik membuka jendelanya. Semantic dalam hal perkembangannya pada akhir 1980an.

1 Mengartikan Rasa dalam Konteks Jika seseorang terlibat dalam percakapan. di bus. A : ³Batu (Lump) apa yang membuat mereka waspada?´ B : ³ Coba bacalah´ A : (Membeca dengan suara keras) ³Di dalam rekatakn batu yang jatuh´ B : Oh. Ayah berhenti sejenak dan meneguk tehnya. terjadi antara dua orang inggris. dimanapun kita berada. ³Apa yang salah tentang kucing itu?´ Lalu siapa saja datang pada waktu itu. Dilarang Menyentuh!´ hal ini jelas untuk melarang menyentuh sesuatu. Ayah selalu berkata tentang masa lalunya di kamp Catteria pada tahun 1940an. Contoh : Percakapan ini ku dengarkan di sebuah kereta api. Beri mereka sesuatu yang mengingatkan masa lalu mereka (melewati pantat). atau penggelapan pajak atau mungkin yang lainnya. homograf atau yang lainya yang biasa mengakitabkan kesalahan pemahaman. kita tidak paham apa yang ditemukan. Cambuk juga masuk dalam domain discourse. Jika kita melihat ilustrasi di atas. Cambuk mereka. ini. kucing yan dimaksud adalah kucing dalam arti sebenarnya atau cambuk (dalam bahasa barat) yang biasa digunakan dalam kamp militire pada periode perang. hal ini dikarenan topic pembicaraan biasanya berdasarkan tempat dimana pembicaraan itu terjadi. Contoh : ³dan hanya terpikirkan olehku. Kami tahu apa arti disiplin sejak dalam pelatihan. 1. Dalam pengertian ini. yang paling penting. Dalam oercakapan di atas kita megetahui batu (lump) yang dimaksudkan adalah bukan batu yang sebenarnya.Contoh : Apa yang diinginkan para pasukan adalah untuk menduduki wilayah ini. Dalam kasusu ini kita tidak menemukan penunjuk dalam kata. kita mengenal pengertian deiksis. 1. AU. secara intuisi melihat ke rasa dalam peraasaan kontekstual mereka. Pada saat itu masih menjadi tentara. Hal ini berbeda dengan kata ³Bahaya. Seakan-akan ayah telah di dalam AL. Allan berpikir apa yang dimaksudkan dan akan menanyakan setelah peliharaannya sehat. namun hal ini dapat dihindari dengan memahami konteks yang ada. Arti abstrak tidak berada pada satu kata. di sini. hal ini dapat diketahui dengan memahami konteks yang ada dalam pembicaraan. kami akan« . Pasukan. di supermarket. Apakah sesuatu yang tidak biasa untuk para buruh bangunan? Cara mereka dibayar.2 Mengartikan Penunjuk Konteks Kita perlu mencari poin penting dalam sebuah percakapan. Keadaaan ini dapat terjadi dalam kasusu homonym.3. antara lain di sana. tetapi dapat masuk dalam frasa atau bahkan semua kalimat. kita psti lebih bisa memhami poin pembicaraan. itulah yang saya katakana. tetapi mempunyai makna konotasi. ku tidak akan pernah menemukannaya´ Mengapa kita tidak mungkin memahaminya. jika dia tidak jatuh dari tempat tidu.3. dan Marinir. Lihatkah hanya sedikit kedisiplinan yang terlihat. itu (tidak selalu bermakna .

hal ini juga berlaku pada deiksis-deiksis lainnya (deiksis orang dan deiksis tertentu ±discourse deixis² 1.5 Pemaksaan (Force) : Tingkat Kedua dari Maksud Pembicara\ Dalam hal Pragmatik. Bentley berkata ³Biarkan Polisi itu menerimana Christ!´ karena perkataan itu. dalam persidangan Bentley dijatuhi hukuman mati karena diduga yang melakukan penembakan. Seperti dalam contoh ³Benarkah itu . Penunjuk dan Struktur Contoh di bawah ini akan menunjukkan ambiguitas strukturan yang juga mengandung ambiguitas perasaan Pembicara B adalah komentator kriket yang terkenal.3. Derek Bentley. Contoh kasus : Dalam pengadilan ada seseoran pemuda 19 tahun. besok. Swiss Kota ini adalah kota dimana ³bank´ berada di dekat sungai. 1. yang terlibat dengan pemuda 16 tahun.4 Arti Ujaran : Tingkat Pertama Maksud Pembicara 1. sekarang juga akan berarti jika kita memahami pembicaraan.pengisolasian). tetapi saya sudah pernah melihat dog bowl bermain di beberapa inning.1 Pentingnya Arti Ujaran Arti ujaran di sini dimaksud adalah konteks dimana pengucapan itu dimaksudkan. 1.4. Pembicara A adalah istrinya A : Pernahkan kamu melihat ³dog bowl´ B: Belum.3 Rasa Intereaksi. Pasti kita bingung tentang apa arti kata ³dog bowl´. Artinya konteks kata atau kalimat cocok atau tidak dengan tempat dimana pembicaraan berada. Christopher Craig dalam kasusu pembunuhan salah satiu Polisi setempat. Seperti contoh kucing makan ikan mati. Kita pasti menduga-duga tentang arti kata ³bank´. Apakah itu bank dalam arti tempat kita menabug atau bank dalam bahasa inggris yang berarti tepi sungai. Deiksis waktu antara lain kemarin. yang mati kucingnya atau ikannya. Brian Johnson. Ini dapat terjadi jika kamu tahu yang pembicara maksudkan dan jelas arti percakapannya. Craig menembak polisi dengan alasan pembelaan diri. kita mengetahui paksaan (force).5 Ambiguitas dan Maksud Kita akan menjelaskan ambiguitas dan maksud yang dapat mengarah ke dalam kesalahpahaman.3. Dalam contoh kasus di atas kita mengetahui arti pentingnya ujaran. 1. sedang Craig hanya mendapat pengawasan saja. Contoh : Pembicara sedang berada di Genewa. Pada saat ditahan. apakah itu istilah dalam kriket atau yang lainnya dalam tanda kutip. 1.33 Ambiguitas Struktural Hal ini berkaitan dengan sintaks.

6. baik secara implicit atau eksplisit telah menggunakan defines dengan tidak perlu membuat perbedaan. Sebagai contoh megapa pembicara tidak secara langsung menunjuk apa yang mereka maksudkan. Dan dalam percakapan selanjutnya. mereka dapat mengembangkan poin pembicaraan mereka dalam dalam cakupan property.2 Memahami ujaran tetapi bukan paksaan 1. Dalam tempat pertama. 1. Kata-kata itu belum tentu dapat dimengerti oleh orang lain di luar komunitas mereka. 1.6 Definisi Pragmatik Dalam pragmatic arti secara abstrak dan lebih berguna dari pada arti pengguanaannya. Karena itu teori-teori atau metodologi-metodologi yang ada harus dirubah sesuai dengan perkembangan jaman. yaitu dengan menurunkan sistem yang terdapat dalam matematika dan logika. pasti mempunyai kata-kata tertentu dalam cara berinteraksi.4 Memahami bukan arti ujaran dan bukan pakasaan 1. konteks perkataan sangat berperan penting dala pemahaman suatu pembicaraan. Contoh ³Saya telah menjual rumah itu´.6.5 Hubungan timbale balik antara arti ujaran dengan paksaan 1.2 Interpretasi Ujaran Sebaliknya. maka pembicaraan mereka akan berjalan secara halus dan dapat dimengerti oleh para pendengar. Hal ini berbeda dengan definisi awal.5. Hal ini juga dapat membuat pendekatan para linguist mempunyai kelemahan. Hal ini akan sangat sulit jika kita tidak tertarik mengapa pembicara berkata demikian. para linguist bereaksi satu sama lain. studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya. Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik? Makyun Subuki 13 Desember 2006 1.5. Pendahuluan Dalam jangka yang cukup lama.1 Arti Pembicara Dalam hal ini. Dalam suatu komunitas tertentu. Karena itu.3 Memahami paksan tetapi bukan arti ujaran 1. Pendekatan ini dapat terlihat berpotensi memberikan penejelasan lebih baik dalam hal pemecahan ambiguitas itu. ada dua alasan mengapa penulis. biasanya dalam grup ini lebih tertarik dalam tingkatan kedua.1 Memahami Ujaran dan Paksaan (Force) 1. Sebagai tataran terbaru dalam . Jadi harus secara jelas kita mengetahuinya.2 Pragmatik : Arti dalam interaksi Dalam hal ini mencerminkan arti atau poin dalam interaksi (pada suatu percakapan). cemooh atau bukan.5. seperti diungkap oleh Yule (1996: 6). 1.6. yaitu force. Ujaran mereka berkembang dalam topic yang cocok dengan keadaan dan situasi.5. Di dalam perkataan itu kita tidak mengetahui apa yang dimaksudkan oleh pembicara. 1. dan mengabaikan unsur pengguna bahasa.5.mobilmu? ³ sambil menunjuk kea rah mobil anda. pendekatan kognitif yang luas yang digunakan oleh para ahli pragmatic lebih berfoukus pada pendengar.

yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme.linguistik. dengan menggunakan sudut pandang sosial. atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi. Untuk tujuan tersebut. Selanjutnya Thomas (1995: 22). makna yang dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantik. menunjukkan pentingnya pragmatik. seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5). 3. Pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. sosial. dan kedua. Perkembangan Pragmatik Mey (1998). mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara. mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction). Makalah ini bertujuan menjelaskan pentingnya bidang pragmatik untuk dipelajari dalam program studi linguistik. (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya. dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran. menjelaskan secara singkat topik-topik bahasannya. Definisi Pragmatik Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. dan. yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik. saya mengawali makalah ini dengan pembahasan mengenai pengertian pragmatik. Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme. (3) tradisi filsafat. Meskipun memiliki fokus kajian yang serupa dengan semantik. . dengan menggunakan sudut pandang kognitif. menyebutkan empat definisi pragmatik. pertama. dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik. melebihi kajian tentang makna yang diujarkan. dan komplementarisme. Yule (1996: 3). misalnya. dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. 2. (3) bidang yang. mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi. pragmatisisme. menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning). yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik. yaitu makna. dengan melihat perbedaan kajiannya dengan bidang lain dalam linguistik. dan (4) tradisi etnometodologi. perkembangannya. yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara. menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). seperti akan saya jelaskan kemudian. Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. (2) kecenderungan sosial-kritis.

seperti Russel dan Moore. yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross. morfologi. seperti dikutip oleh Thomas (1995: 29-30). dan semantik bersifat periferal. Searle. yaitu bahwa dalam kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis. keapikan sintaksis (well-formedness) bukanlah segalanya. Dalam etnometodologi. pragmatik kognitif (Sperber dan Wilson). Dengan kata lain. sehingga kita dapat melihat sejumlah kecenderungan dalam pragmatik. pragmatik neo-Gricean (Cole). Searle. Austin. Para pakar tersebut mengkaji bahasa. menolak pandangan sintaksisme Chomsky. 4. termasuk penggunaannya. Beberapa Topik Pembahasan dalam Pragmatik 4.Kecenderungan yang pertama. adalah tradisi filsafat. yang tumbuh di Eropa. komunikasi tetap dapat berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak apik secara sintaksis (ill-formed). Sebab. Leech (1983: 2). dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)). misalnya Austin. sebab. dan pragmatik interaktif (Thomas). Tradisi yang ketiga. dan bahwa pernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris. kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi. sejak itu bidang kajian ini telah berkembang jauh. bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis. Ludwig Wittgenstein. Austin dapat dianggap sebagai pemicu minat yang paling utama dalam kajian pragmatik. muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan. (1) Ada enam kata dalam kalimat ini . bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6). dan terutama John L. Kecenderungan kedua. mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa. Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi. bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6). dan bahwa fonologi. bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya. dan Grice. Austin dan John R. seperti dikutip Gunarwan (2004: 7). yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. Searle.1 Teori Tindak-Tutur Melalui bukunya. Jerman. bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri. yang dipelopori oleh Bertrand Russell. seperti sering kita jumpai. dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross. How to Do Things with Words. yaitu pragmatik filosofis (Austin. dan Grice). seperti diungkap oleh Marmaridou (2000: 1 (dalam Gunarwan 2004: 8)). tepatnya di Britania. yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi dan ketaksaan. dalam kaitannya dengan logika. melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Contoh. Menurut Lakoff dan Ross.

yaitu lokusi (locutionary act). kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar karena sesuai dengan kenyataan. dan Yule 1996: 53-54). struktur dalam ujaran tersebut dapat saja berbunyi Saya katakan bahwa rumah Joni terbakar. Austin berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements). dan Yule 1996: 54-55). saya nikahkan kalian (performatif) (4) Rumah Joni terbakar (konstatif) Selanjutnya Austin. sedangkan dalam indirect speech-act hubungannya tidak langsung atau menggunakan (bentuk) tindak-tutur lain (Gunarwan 2004: 9. memasukkan ujaran konstatif.(2) Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono Dari contoh di atas. dapat berupa tindak-tutur langsung (direct speech-act) dan tindak-tutur tidak langsung (indirect speech-act). ekspresif (expressive). seperti dikembangkan lebih jauh oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). Asertif atau representatif merupakan tindak-tutur yang menyatakan tentang sesuatu yang dipercayai pembicaranya benar. dan deklarasi (declaration) (Littlejohn 2002: 80. Austin (dalam Thomas 1995: 31) berpendapat bahwa salah satu cara untuk membuat pembedaan yang baik bukanlah menurut kadar benar atau salahnya. Selain itu. (3) Dengan ini. Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics (Thomas 1995: 30). yaitu asertif (assertive). dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin ini mengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition). seperti juga ditekankan lebih lanjut oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). sebagai bagian dari performatif (Austin 1962: 52 dan Thomas 1995: 49). sesuai contoh di atas. tindak ilokusioner terutama berkaitan dengan intensi atau maksud pembicara. Dalam contoh (4). Tindakan yang dihasilkan dengan ujaran ini mengandung tiga tindakan lain yang berhubungan. yaitu. Contoh. Tindak lokusioner berkaitan dengan produksi ujaran yang bermakna. dan tindak perlokusioner berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan (Thomas 1995: 49). Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Gunarwan 2004: 8). Melalui hipotesis performatifnya. dan perlokusi (perlocutionary act) (Yule 1996: 48). Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech-act). komisif (comissive). ilokusi (illocutionary act). melainkan juga melakukan sesuatu (perform actions). karena memiliki struktur dalam yang mengandungi makna performatif. Tindak-tutur. Dalam direct speeh-act terdapat hubungan langsung antara struktur kalimat dengan fungsinya. direktif (directive). melainkan melalui bagaimana bahasa dipakai sehari-hari. direktif merupakan tindak-tutur yang menghendaki . Searle juga menyebut lima jenis fungsi tindak-tutur.

menghindari ketaksaan. sedangkan contoh (6) merupakan implikatur konversasional yang bermakna µtidak¶ dan merupakan jawaban atas pertanyaan maukah Anda menghadiri selamatan sunatan anak saya? Berbeda dengan Grice. misalnya untuk memberikan informasi secara tersirat (implicature) dan menjaga muka lawan bicara (politeness). seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 14). 4. (3) bidal relasi (relation maxim). pada kenyataannya. misalnya contoh (6) di atas. ujaran yang mengandung implikatur jenis ini. Berkaitan dengan prinsip kerja sama Grice di atas. dengan menggunakan prinsip kerja sama Grice. Yang pertama ada karena konteks ujaran. memberi informasi sesuai yang diminta. menyebut dua macam implikatur. Implikatur konvensional merupakan implikatur yang dihasilkan dari penalaran logika. ekspresif merupakan tindak-tutur yang menyatakan perasaan pembicaranya. didasarkan atas beberapa alasan. yaitu prinsip kerja sama (cooperative principle) (Yule 1996: 36-37 dan Thomas 1995: 61). implikatur dapat dibedakan menjadi implikatur khusus dan implikatur umum.3 Implikatur (Implicature) Grice. dan deklarasi merupakan tindak-tutur yang mengubah status sesuatu. mengungkapkan secara singkat. dalam komunikasi kadang kita tidak mematuhi prinsip tersebut. menurut Gazdar.4 Teori Relevansi . yaitu (1) bidal kuantitas (quantity maxim).pendengarnya melakukan sesuatu. sedangkan yang kedua tidak. dan (4) bidal cara (manner maxim). menyatakan hanya yang menurut kita benar atau cukup bukti kebenarannya. Contoh. 4. Hal ini. yaitu implikatur konvensional dan implikatur konversasional. misalnya contoh (5) di atas. seperti diungkap oleh Thomas (1995: 57). (5) Bahkan Bapak Menteri Agama menghadiri sunatan anak saya (6) Saya kebetulan ke Inggris untuk studi selama dua tahun dan berangkat besok Contoh (5) di atas merupakan implikatur konvensional yang berarti Bapak Menteri Agama biasanya tidak menghadiri acara sunatan. menghindari ketidakjelasan pengungkapan. memberi sumbangan informasi yang relevan. (2) bidal kualitas (quality maxim).2 Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle) Grice mengemukakan bahwa percakapan yang terjadi di dalam anggota masyarakat dilandasi oleh sebuah prinsip dasar. Kerja sama yang terjalin dalam komunikasi ini terwujud dalam empat bidal (maxim). Implikatur konversasional merupakan implikatur yang dihasilkan karena tuntutan konteks tertentu (Thomas 1995: 58). mengungkapkan secara beraturan (Gunarwan 2004: 11 dan Thomas 1995: 63-64). 4. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 12-14). komisif merupakan tindak-tutur yang digunakan pembicaranya untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukannya. dapat dicontohkan dengan penggunaan kata bahkan.

bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi. bukan untuk setiap kali meninggalkan ruangan. misalnya tindakan untuk membuat sesuatu menjadi jelas dan dapat dimengerti oleh penerima pesan. Melalui hal tersebut. komunikasi tidak hanya memasukkan apa yang ada dalam pikiran pengirim pesan ke dalam pikiran penerima pesan. pesan ini berada dalam spesifikasi tertentu yang disepakati oleh addresser dan addressee dalam konteks komunikasi. when do you want to go? B: At the weekend. padahal A . yaitu tidak perlu mengunci pintu jika keluar dalam batasan waktu dan situasi yang diperkirakan cukup aman. yaitu: pertama. Then that's fifty. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). Dalam percakapan tersebut. Dengan kata lain. B mengira A mengerti bahwa at the weekend berarti next weekend. penerima pesan (addressee) hanya memilih sesuatu yang dianggapnya relevan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan (addresser) dalam konteks komunikasi tertentu. explicature atau degree of relevance. pemahaman penerima pesan terhadap apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan terjadi melalui beberapa tahapan. untuk menjelaskan cara sebuah pesan dipahami penerimanya. dan ketiga. How does it works? You just turn up for the shuttle service? A: That might be cheaper. tahapan yang harus dilewati untuk memahami implikatur dalam percakapan. Contoh. Selanjutnya. kedua. Sperber dan Wilson (1995). (7) Pastikan semua pintu terkunci jika meninggalkan ruangan ini. (8) A: Well. misalnya untuk ke kamar mandi. namun mencakup perluasan wilayah kognitif (cognitive environment) kedua belah pihak. Contoh yang ditulis Renkema (2004: 23) di bawah ini memberikan gambaran yang cukup jelas. Menurut mereka. menyebutkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (language in use) selalu dapat diidentifikasi melalui hal yang disebutnya indeterminacy atau underspecification. A: What weekend? B: Next weekend.Teori relevansi yang dikembangkan oleh Sperber dan Wilson merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. ujaran merupakan sebentuk tindakan dari komunikasi ostensif. pengirim pesan dapat memperkirakan reaksi penerima pesan terhadap pesan yang disampaikannya. there is a shuttle service sixty euros one-way. Dalam percakapan di atas. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). Dalam teori relevansi dipelajari bagaimana sebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya. dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini. menetapkan tiga macam hubungan antara cue dan implicature. Sperber dan Wilson (1995). Misalnya pada contoh (7) di atas. Setiap pembaca dapat memahami bahwa pesan ini hanya berlaku jika ia akan meninggalkan ruangan tersebut untuk terakhir kalinya.

Dengan kata lain. Menurut Goffman (1956). Contoh. Maaf. If you buy ticket when you turn up. sedangkan that might be cheaper merupakan ujaran yang relevansinya lebih baik. dalam pengertian degree of relevance. Numpang tanya. "face merupakan gambaran citra diri dalam atribut sosial yang telah disepakati". yang dikutip oleh Jaszczolt (2002: 318). misalnya bobot kedua permintaan di atas tidak terlalu besar jika kedua ungkapan tersebut ditujukan kepada saudara sendiri. Mas? Dalam contoh di atas terlihat jelas. Menurut Goffman (1967: 5). merupakan ujaran yang relevansinya rendah dan membutuhkan processing effort yang lebih besar. ujaran at the weekend. maka politeness strategy semakin dibutuhkan. ia mengandaikan B dapat mengerti bahwa that migh be cheaper dapat berarti If you purchase a ticket now. kekuasaan atau power (P) yang dimiliki lawan bicara (Renkema 2004: 26). Politeness (kesantunan) dalam hal ini dapat dipahami sebagai upaya pencegahan dan atau perbaikan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh FTA. Begitu juga A. Brown dan Levinson (1978) membangun teori tentang hubungan intensitas FTA dengan kesantunan yang terrealisasi dalam bahasa (Renkema 2004: 25). (9) a. misalnya permintaan "May I borrow your car?" mempunyai bobot yang berbeda dengan permintaan "May I borrow your pen?". Pak. yaitu: pertama. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 25). it costs 50 euros. ujaran (9a) mungkin diucapkan pembicara yang secara sosial lebih rendah dari lawan bicaranya. sedangkan ujaran (9b) mungkin diucapkan kepada orang yang secara sosial jaraknya lebih dekat (9a). boleh tanya? b. semakin besar intensitas FTA mengancam stabilitas komunikasi. . tingkat gangguan atau rate of imposition (R). sedangkan yang kedua disebut negative face. kedua. Dalam hal ini.5 Kesantunan (Politeness) Konsep strategi kesantunan yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson diadaptasi dari konsep face yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog bernama Erving Goffman (1956) (Renkema 2004: 24-25). berkenaan dengan bobot mutlak (absolute weight) tindakan tertentu dalam kebudayaan tertentu. face dapat diartikan kehormatan. 4. Berdasarkan konsep face yang dikemukakan oleh Goffman ini. dan citra diri di depan umum (public self-image). misalnya mahasiswa kepada dosen atau yang muda kepada yang tua. Intensitas FTA diekspresikan dengan bobot atau weight (W) yang mencakup tiga parameter sosial. Kebutuhan yang pertama disebut positive face. harga diri (self-esteem).harus memastikan dengan jelas setiap pemesanan pembelian tiket. jarak sosial atau social distance (D) antara pembicara dengan lawan bicaranya. karena semakin tinggi contextual effect maka semakin rendah ia membutuhkan processing effort. setiap partisipan memiliki dua kebutuhan dalam setiap proses sosial: yaitu kebutuhan untuk diapresiasi dan kebutuhan untuk bebas (tidak terganggu). dan ketiga. you have booked seat which costs 60 euros.

(5) a. bidal kerendahhatian (modesty maxim). misalnya dengan melakukan tindakan yang tidak kooperatif dalam komunikasi (Renkema 2004: 25). dapat dilakukan. salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. lend me a hundred dollars. yang bertujuan untuk mendapatkan positive face disebut solidarity politeness. Lebih tepatnya. bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat. bidal kesetujuan (aggreement maxim). bahwa komunikasi tetap dapat . Hey. dan. Pragmatik dalam Linguistik Seperti telah saya uraikan sedikit dalam sub 3 di atas. Hey. dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis. misalnya dengan pujian. meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris. Berkaitan dengan politeness strategy ini. seperti diungkapkan oleh Renkema (2004: 26). Dalam kehidupan sehari-hari.Politeness. could you lend me a hundred bucks? (positive polite) c. 5. melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Pakar ini membahas teori kesantunan dalam kerangka retorika interpersonal (Eelen 2001: 6). dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi. bidal simpati (sympathy maxim). Oh no. semakin tinggi resiko kehilangan muka. Dalam sintaksis. yaitu bidal kebijaksanaan (tact maxim). sedangkan politeness yang dilakukan untuk tujuan sebaliknya disebut respect politeness. dapat dipahami. Atas dasar ini. I'm sorry I have to ask. Dalam hal ini. I'm out of cash! I forgot to go to the bank today. maka semakin kecil kemungkinan pembicara melakukan FTA. (baldly) b. Leech (dalam Eelen 2001: 8) menyebutkan enam bidal kesantunan. seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4). ditambah bidal pertimbangan (consideration maxim). Kelima strategi tersebut diurut berdasarkan tingkat resiko "kehilangan muka". dapat dilakukan. sehingga bentuk seperti kucing menyapu halaman. Secara umum. Renkema (2004: 27) memberi contoh strategi tersebut. bidal pujian (approbation maxim). but could you lend me a hundred dollars? (negative polite) e. bidal kedermawanan (generosity maxim). pertama. (off record) Teori kesantunan lain dibahas oleh Leech (1983). Brown dan Levinson (1978). dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat banyak cara untuk menghindari FTA yang dapat direduksi menjadi lima macam cara. sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya. Dalam hal ini. friend. penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis. tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis. face work technique. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 19). dan memang sering kita temukan. dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal.

terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik. Berdasarkan truth conditional semantics. demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. dalam pengajaran bahasa. untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa seharihari. untuk dapat dinyatakan benar. Dengan kata lain. sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis.berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis. Selanjutnya. sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi. sebab daya mencakup juga makna. dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. Kaidah bersifat deskriptif. Tentang perbedaan yang pertama. bagaimana memahami implikatur percakapan. bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa. sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. makna apa yang dituturkan. Lebih jauh lagi. makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. dan kedua. keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan. bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis. dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur. terdapat keterkaitan. misalnya. pertama. Dengan demikian. yaitu bahwa pengetahuan pragmatik. saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). dan maksud dari tuturan. Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada. dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain. Dengan demikian. karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. Namun demikian. yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik. absolut atau bersifat mutlak. Selanjutnya. pembahasan makna dalam semantik belum memadai. Kegunaan pragmatik. meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda. di samping sintaksis dan semantik. tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya. dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya. dapat bertentangan dengan prinsip lain. Dengan kata lain. semantik terikat pada kaidah (rule-governed). dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik. untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik. patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan . sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik. selain tata bahasa. yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa. dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan. semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis. sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. dalam analisis bahasa. meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai. semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan. karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa. dan kedua. dalam arti praktis. sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif. seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22).

Oxford: Oxfod University Press. Jan. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). Introduction to Discourse Studies. berkaitan dengan ketidakmampuan sintaksis dan semantik dalam menjelaskan fenomena penggunaan bahasa sehari-hari. dan Stephen C. Edinburgh: Pearson Education. John L. Penutup Seperti telah disebutkan di muka. Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse. 2002. dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa. saya melihat kedudukan semantik dan pragmatik sebagai dua hal yang saling melengkapi. Penelope. Secara umum. karena selain benar. Brown. IKIP Singaraja. kedua. pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence). Renkema.tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. misalnya. . Eelen. pragmatik berperan dalam pengembangan kompetensi komunikatif. pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya. Politeness: Some Universal in Language Usage. 2004. bahasa yang digunakan harus baik. 1978. Asim. tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa pragmatik penting dipelajari dalam program studi linguistik. 2001. Daftar Acuan Austin.M. Dalam pengajaran bahasa Indonesia. K.. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. 2004. UK: St. Jaszczolt. Selain itu. 6. A Critique of Politeness Theories. Cambridge: Cambridge University Press. How to Do Things with Word (edisi kedua). saya melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik setidaknya dalam dua hal. pragmatik merupakan satu-satunya tataran dalam linguistik yang mengkaji bahasa dengan memperhitungkan juga penggunanya. Manchester. Gino. Dalam pengajaran bahasa asing. Berdasarkan penjelasan di atas. Jerome Publishing Gunarwan. pertama. kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik. Levinson. 1962. berkaitan dengan pengajaran bahasa. yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu.

hubungan. menging µmelarang¶. kualitas. Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics. dan ngapura µmemaafkan¶. janji µberjanji¶. Di dalam komunikasi. penutur dapat mengungkapkannya dengan kalimat imperatif. Sementara itu. Fungsi bahasa yang paling utama adalah sebagai sarana komunikasi. di dalam lokusi belum terlihat adanya fungsi ujaran. pragmatik adalah kajian mengenai penggunaan bahasa atau kajian bahasa dan perspektif fungsional. njaluk µmeminta¶. dan deklaratif. Berbagai tindak tutur (TT) yang terjadi di masyarakat. seorang guru yang bermaksud menyuruh muridnya untuk mengambilkan kapur di kantor. serta skala pragmatik dan derajat kesopansantunan yang dikembangkan oleh Leech (1983).Thomas. komisif. Kajian pragmatik lebih menitikberatkan pada ilokusi dan perlokusi daripada lokusi sebab di dalam ilokusi terdapat daya ujaran (maksud dan fungsi tuturan). maupun TT harafiah dan tidak harafiah. Oxford. (4) O. sedangkan semantik menelaah makna satuan lingual (kata atau kalimat) dengan satuan analisisnya berupa arti atau makna. merupakan bahan sekaligus fenomena yang sangat menarik untuk dikaji secara pragmatis. satu maksud atau satu fungsi dapat dituturkan dengan berbagai bentuk tuturan. ngelem µmemuji¶. bagaimanakah TT yang dilakukan oleh orang Jawa apabila ingin menyatakan suatu maksud tertentu. jebul ora ana kapur. Dengan kata lain.pragmatik . London/New York: Longman. George.pragmatika pragmatis (adj) : melihat sesuatu dari kegunaan pragmatisme: aliran yang melihat sesuatu dari kegunaan Dalam komunikasi. direktif. dia dapat memilih satu di antara tuturan-tuturan berikut: (1) Jupukna kapur! (2) Kene ora ana kapur. 1996. yang ada barulah makna kata/kalimat yang diujarkan. atau bahkan dengan kalimat interogatif. TT langsung dan tidak langsung. (5) Ing kene ora ana kapur. nyilih µmeminjam¶. satu maksud atau satu fungsi dapat diungkapkan dengan berbagai bentuk/struktur. Artinya. 1995. ya? . Dengan demikian. pragmatik lebih cenderung ke fungsionalisme daripada ke formalisme. pragmatik lebih cenderung ke fungsionalisme daripada ke formalisme. PRAGMATIK pragmatics (n) . atau kombinasi dari dua/lebih TT tersebut. baik TT representatif. Pengkajian TT tersebut tentu menjadi semakin menarik apabila peneliti mau mempertimbangkan prinsip kerja sama Grice dengan empat maksim: kuantitas. Misalnya. ekspresif. Oxford University Press. Jenny. Pragmatik dan Fungsi Bahasa Bidang ³pragmatik´ dalam linguistik dewasa ini mulai mendapat perhatian para peneliti dan pakar bahasa di Indonesia. Hal itu sesuai dengan pengertian pragmatik yang dikemukakan oleh Levinson (1987: 5 dan 7). Misalnya. Bidang ini cenderung mengkaji fungsi ujaran atau fungsi bahasa daripada bentuk atau strukturnya. perlokusi berarti terjadi tindakan sebagai akibat dari daya ujaran tersebut. Yule. dan cara. Untuk maksud ³menyuruh´ orang lain. kajian ini mencoba menjelaskan aspek-aspek struktur bahasa dengan mengacu ke pengaruh-pengaruh dan sebabsebab nonbahasa. kalimat deklaratif. (3) Ibu ngersakake kapur. Pragmatics. seperti ngongkon µmenyuruh¶. Pragmatik berbeda dengan semantik dalam hal pragmatik mengkaji maksud ujaran dengan satuan analisisnya berupa tindak tutur (speech act).

(2) Pragmatik adalah kajian mengenai penggunaan bahasa. kalimat deklaratif seperti tuturan (2-4). (5) Pragmatik adalah kajian mengenai deiksis. kalimat berita (deklaratif) dan kalimat tanya (interogatif) di samping berfungsi untuk memberitakan atau menanyakan sesuatu juga berfungsi untuk menyuruh (imperatif atau direktif). 2. dan apa fungsi ujaran itu. Levinson (1987: 1-53). artinya kajian ini mencoba menjelaskan aspek-aspek struktur linguistik dengan mengacu ke pengaruh-pengaruh dan sebab-sebab nonlinguistik. PRAGMATIK VS SEMANTIK Sebelum dikemukakan batasan pragmatik kiranya perlu dijelaskan lebih dahulu perbedaan antara pragmatik dengan semantik. (6) Pragmatik adalah kajian mengenai bagaimana bahasa dipakai untuk berkomunikasi. yakni siapa yang berbicara. 4. 1996: 3). kepada siapa. (3) Pragmatik adalah kajian bahasa dan perspektif fungsional. (1) Pragmatik adalah kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan penafsirnya. praanggapan. implikatur. Di sini dikutipkan beberapa di antaranya yang dianggap cukup penting. yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan. di mana. Cukup banyak kiranya batasan atau definisi mengenai pragmatik. (4) Pragmatik adalah kajian mengenai hubungan antara bahasa dengan konteks yang menjadi dasar dari penjelasan tentang pemahaman bahasa. (b) Kalau semantik bertanya ³Apa makna X?´ maka pragmatik bertanya ³Apa yang Anda maksudkan dengan X?´ (c) Makna di dalam semantik ditentukan oleh koteks. studies meaning in relation to speech situation (Leech. sedangkan makna di dalam pragmatik ditentukan oleh konteks. yaitu makna kata dan makna kalimat. Definisi pragmatik: 1. Berkaitan dengan perbedaan (c) ini. bagaimana. sedangkan semantik adalah kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan objek yang diacu oleh tanda tersebut. sedangkan semantik adalah kajian mengenai makna.(6) Ngapa ora padha gelem njupuk kapur? Dengan demikian untuk maksud ³menyuruh´ agar seseorang melakukan suatu tindakan dapat diungkapkan dengan menggunakan kalimat imperatif seperti tuturan (1). 3. studi kebahasaan yang terikat konteks. 1983). cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal. Dari beberapa definisi tersebut dapat dipahami bahwa cakupan kajian pragmatik sangat luas sehingga sering dianggap tumpang tindih dengan kajian wacana atau kajian sosiolinguistik. sedangkan pragmatik bersifat terikat konteks (context dependent)´ (bandingkan Wijana. dan aspekaspek struktur wacana. misalnya. Jadi. yakni bagaimana satuan kebahasaan digunakan dalam komunikasi (Wijana. sedangkan pragmatik mempelajari maksud ujaran. Satuan-satuan lingual dalam penggunaannya. cabang ilmu bahasa yang menelaah penggunaan bahasa. atau kalimat interogatif seperti tuturan (5-6). Yang jelas . 1996: 2). secara pragmatis. (a) Semantik mempelajari makna. Kaswanti Purwo (1990: 16) merumuskan secara singkat ³semantik bersifat bebas konteks (context independent). tindak tutur. bilamana. terutama hubungan antara kalimat dengan konteks dan situasi pemakaiannya. membutuhkan 53 halaman hanya untuk menerangkan apakah pragmatik itu dan apa saja yang menjadi cakupannya.

Morris membedakan tiga cabang yang berbeda dalam penyelidikan. 4. Semantik: makna (biasanya leksikal). Stephen C. atau semiotik (semiotics). tindak ujar. Pragmatik adalah telaah mengenai hubungan tanda-tanda dengan penafsir (Morris.disepakati ialah bahwa satuan kajian pragmatik bukanlah kata atau kalimat. internal atau formal diadik: bentuk dan makna . dan pragmatik yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan penafsir (interpreters).kondisi-kondisi kebenaran. Pragmatik adalah telaah mengenai hubungan antara bahasa dan konteks yang tergramatisasikan atau disandikan dalam struktur sesuatu bahasa. pragmatics is distinct from grammar. dengan kata lain: telaah mengenai kemampuan pemakai bahasa menghubungkan serta menyerasikan kalimat-kalimat dan konteks-konteks secara tepat. Teori pragmatik menjelaskan alasan atau pemikiran para pembicara dan penyimak dalam menyusun korelasi dalam suatu konteks sebuah tanda kalimat dengan suatu proposisi (rencana. wacana. Sintaksis: frase. 1. klausa. 2. Pragmatik adalah telaah mengenai segala aspek makna yang tidak tercakup dalam teori semantik. Secara kasar dapat dirumuskan: pragmatik = makna . sudah pulang! Isteri: ¶betul-betul terkejut¶ atau ¶orang itu lama sekali perginya¶ Suami menafsirkan: siapa yang berbicara. which is the study of the internal structure of language. Pragmatik adalah telaah mengenai relasi antara bahasa dan konteks yang merupakan dasar bagi suatu catatan atau laporan pemahaman bahasa. Cabang-cabang bahasa: Fonologi: bunyi sebagai sistem Morfologi: satuan gramatikal terkecil. 3. kepada siapa. yang dapat dirangkum seperti berikut ini. Witgenstein (filsuf): makna adalah penggunaannya. Dalam hal ini teori pragmatik merupakan bagian dari performansi. yaitu: sintaktik (syntactics) atau sintaksis (syntax) yaitu telaah tentang relasi formal dari tanda yang satu dengan tanda yang lain (mempelajari hubungan satuan lingual dengan satuan lingual lain: tanda dengan tanda). yang mempunyai perhatian besar pada ilmu pengetahuan tentang tanda-tanda. anggapan penutur (presupposition). Pragmatics is the study of how language is used to communicate. Pragmatik sebenarnya merupakan bagian dari ilmu tanda atau semiotics atau semiotika. Ketiga cabang tersebut kemudian lebih dikenal dengan teori trikotomi. melainkan tindak tutur atau tindak ujaran (speech act). 5. 1938:6). atau dengan perkataaan lain: memperbincangkan segala aspek makna ucapan yang tidak dapat dijelaskan secara tuntas oleh referensi langsung kepada kondisi-kondisi kebenaran kalimat yang ciucapkan. kalimat. Dalam semiotik. dan aspek struktur wacana. Contoh: Kok. semantik (semantics) yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan objek di mana tanda-tanda itu diterapkan (ditandainya) (atau hubungan antara penanda dan petanda (signifiant dan signifie/yang ditandai)). implikatur. Pemakaian istilah pragmatik (pragmatics) dipopulerkan oleh seorang filosof bernama Charles Morris (1938). situasinya bagaimana? L. atau masalah). Pragmatik adalah telaah mengenai deiksis. Makna sebuah tuturan itu penggunaannya. Levinson telah mengumpulkan sejumlah batasan pragmatik yang berasal dari berbagai sumber dan pakar. Parker (1986: 11).

Good morning! dipengaruhi oleh hukum pragmatik. Mempelajari bagaimana satuan lingual itu ditafsirkan.Pragmatik: cabang ilmu bahasa yang mempelajari makna satuan kebahasaan yang bersifat eksternal / bagaimana satuan kebahasaan itu dikomunikasikan eksternal atau fungsional triadik: bentuk. Akhirnya pengarang menyimpulkan bahwa perbedaan pemakaian istilah pragmatik ditimbulkan dari bagian asal-usul semantik karya Morris. semantik (semantics) yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan objek di mana tanda-tanda itu diterapkan (ditandainya). Baik! makna: baik. makna dalam penutur. Makna itu berubah-ubah tergantung pada konteksnya. dan pragmatik yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan penafsir (interpreters). atau studi istilah indeksikal atau deiktis (deictis) (gagasan Montague). Contoh semantika: kursi signifiant (penanda) Terdapat suatu prinsip: ¶tempat duduk¶ signifie (petanda) . yaitu: sintaktik (syntactics) atau sintaksis (syntax) yaitu telaah tentang relasi formal dari tanda yang satu dengan tanda yang lain. Jadi. atau akhirnya pemakaian dalam linguistik Anglo-American dan filsafat. yang mempunyai perhatian besar pada ilmu pengetahuan tentang tanda-tanda. apik maksud: bisa tidak baik. yaitu suatu telaah dari sebagian besar jajaran fenomena psikologis dan sosiologis yang mencakup sistem tanda pada umumnya atau dalam bahasa tertentu (the Continental sense of the term). Morris membedakan tiga cabang yang berbeda dalam penyelidikan. bersifat internal. Pragmatik: bagaimana orang menafsirkan. Asal-usul dan perilaku historis istilah pragmatik Pemakaian istilah pragmatik (pragmatics) dipopulerkan oleh seorang filosof bernama Charles Morris (1938). ada hal-hal yang tidak langsung ¶indirectness atau secara tidak literal¶. Come here!. Ketiga cabang tersebut kemudian lebih dikenal dengan teori trikotomi. atau telaah konsep abstrak tertentu yang membuat acuan pada pelaku (agents) (satu gagasan dari Carnap). misalnya menyindir atau memarahi. Dalam semiotik. Semantik: makna linguistik (makna). dan maksud. Morris memberikan contoh interjeksi seperti Oh!. Contoh: Sugeng enjing! makna: menyapa maksud: tergantung siapa yang berbicaraatau maksud lain. Buku ini secara eksklusif menyangkut istilah pada gagasan yang terakhir dan menerapkannya pada pembicaraan ini. sebenarnya semantik sudah ada pragmatik. makna. yaitu bahwa variasi retoris dan alat puitis hanya muncul di bawah kondisi tertentu dalam batas-batas pemakaian bahasa. atau semiotik (semiotics). Pragmatik: makna penutur (maksud). dilihat dari berbagai faktor .

jelas.Makna : ada pada satuan lingual (internal) .Omahku sepi kok. Mode (bentuk bahasa): strategi memilih yang mana) Pragmatik: retorika. ²-> terkait dengan wacana. Tenor (pelibat): misalnya. Field (medan): siapa berbicara kepada siapa.Maksud : ada pada penutur (eksternal) . .Ora duwe dhuwit. Data pragmatik: utterance (kalimat + konteks). aku nyilih sepedha motore (lebih sopan)). (Contoh: Nyilih sepedha motore (tidak sopan) dan Menawa pareng. semakin tidak langsung semakin sopan. Obyek data primer adalah bahasa lisan. Ayahnya sakit. ayah dengan anak. yang tidak jelas siapa penuturnya tidak jelas. Makna kongkrit: makna tuturan. y Obyek data pragmatik itu konkrit. 1. Bahasa tulis juga bisa asalkan mampu merekonstruksi tuturan yang sebenarnya. 2. + Piye bijimu . Berkenaan dengan data: Data kalimat : sentence. Sosiolinguistik: berkaitan dengan variasi bahasa. semakin pendek tidak sopan. 2.Entuk 4 + Apik! wacana pragmatik Menurut Halliday (pakar Functional Grammar): 1. o Contoh: Lunga! (tidak sopan) dan Lungaa! (lebih sopan) y Semakin langsung semakin tidak sopan. Dia pergi ke Surabaya. J.W. 3.M. . karena: jelas kapan bahasa itu digunakan siapa yang berbicara kepada siapa. bagaimana strateginya. Tuturan semakin panjang tuturan semakin sopan. Verhaar (Pengantar Lingguistik Umum): .Informasi : isi tuturan (internal) Dia membeli buku Buku dibelinya makna: µaktif¶ dan µpasif¶ Makna yang abstrak. Pragmatik: Satu tanda bisa menyatakan bermacam-macam maksud atau bermacam-macam tanda satu maksud.Noam Chomsky: Terdapat hubungan satu lawan satu antara penanda dan petanda (signifiant dan signifie). Contoh: ¶menolak¶ bisa dinyatakan dengan .

Filosof J. .di atas kalimat minus konteks. oleh Kridalaksana disebut dengan istilah ujaran): (1) regangan wicara bermakna di antara dua kesenyapan aktual atau potensial. Arep? melek terus. 1984: 2001).di atas kalimat plus konteks.L. Longman Dictionary of Applied Linguistics. pembicara mengujarkannya dan sekaligus menyelesaikan perbuatan ³mengucapkan´ (Kridalaksana. Wacana: mengandung amanat yang lengkap.minus konteks. Kamus Linguistik. Kalimat (sentence) . Urmson). Jakarta: Universitas Indonesia. Wacana (discourse) . Tuturan (utterance) .L. Prinsip-prinsip Pragmatik. Leech.D. Tuturan (utterance. Dengan demikian bahasa bukan semata-mata alat untuk menyatakan sesuatu tetapi juga melakukan sesuatu. (2) kalimat atau bagian kalimat yang dilisankan (Kridalaksana. misalnya: dalam ujaran Saya mengucapkan terima kasih.Widowson: 1. Performative (in speech . 1984. Jack dkk. Contoh: Sugeng rawuh. 1962. Geoffrey. Harimurti Kridalaksana. 2. 1969. 1993. tetapi sebenarnya ada tindakan tertentu yang baru dapat terlaksana kalau orang itu mengemukakan tuturan/bahasa. TUTURAN PERFORMATIF DAN TUTURAN KONSTATIF Pustaka: Austin. (Terjemahan M. Kopi bisa marahi saya menolak atau menerima.kalimat tanya. Neng ngendi sabune? teks tidak jelas konteksnya. Teks (texs) . Definisi: Tuturan performatif (performative utterance): tuturan yang memperlihatkan bahwa suatu perbuatan telah diselesaikan pembicara dan bahwa dengan mengungkapkannya berarti perbuatan itu diselesaikan pada saat itu juga. Jakarta: PT Gramedia. How to Do Things with Words. 3. (ed. 1989. J. Searle. Jadi. John. 1984: 2001).O. Richards. Cambridge: Cambridge University Press.plus konteks. J.D. 4. Speech Acts. Oka). wacana tidak selalu di atas kalimat. New York: Oxford University Press. Lunga! Wacana. Austin membedakan antara tuturan performatif (performativei) dan konstatif (constative). Intinya: bahasa pada umumnya sebagai alat komunikasi. Longman: Longman Group UK Limited.

Misalnya: Aku njaluk pangapura marang sliramu. Misalnya: Saya nyatakan Anda berdua suami-isteri. (Orang perta dan kedua melakukan tindakan secara sungguh-sungguh). 2. dan sifatnya betul atau tidak betul . Saya bertaruh Mike Tyson pasti menang. 3. (Tindakan mohon maaf: the act of apologizing). Secara ringkas dikatakan pula bahwa tuturan performatif adalah tuturan untuk melakukan sesuatu (perform the action). (Tindakan menyerahkan: the act of bequeting). Misalnya: Saya mohon maaf atas kesalahan saya. tempatnya di KUA. Penutur harus memiliki niat yang sungguh-sungguh dalam mengemukakan tuturannya. such as Watch out (=a warning). 5. 3. Tuturan harus mempredikasi tindakan yang akan dilakukan oleh penutur.act theory): an utterance which performs an act. Tindakan harus dilakukan secara sungguh-sungguholeh penutur. Saya namakan anak saya Parikesit. Gereja. yaitu dengan adanya syarat-syarat lainnya yang disebut syarat tuturan performatif (felicity condition). Misalnya: Sesuk kowe tak-tukokke sepur (yakin tidak. (Tindakan menyatakan/menikahkan: the act of marrying). 6. 4. rama. Tuturan konstatif atau deskriptif (constative utterance): tuturan yang dipergunakan untuk menggambarkan atau memerikan peristiwa. tidak dengan tindakan menginjak kaki mitra tutur-nya. misalnya: I promise that I shall be there (Saya berjanji bahwa saya akan hadir di sana) dan performatif primer atau tuturan primer I shall be there (Saya akan hadir di sana) (Geoffrey Leech (terjemahan). Syarat-syarat itu antara lain: 1. Tuturan harus mempredikasi tindakan yan g akan dilakukan. Kalau tuturan tidak memenuhi kelima syarat tersebut. (Tindakan bertaruh: the act of betting). ((Richards dkk. objeknya 2 orang (berdua). 1. Misalnya: Saya berjanji akan setia padamu. Contoh lain: 1. kalau tidak berarti bukan tuturan performatif). proses. Misalnya: Saya berjanji bahwa saya akan selalu datang tepat waktu. Austin dalam menentukan ciri-ciri tuturan performatif ini hanya melihat aspek gramatikalnya saja. (the act of promising). 2. 5. Penutur harus yakin bahwa ia mampu melakukan tindakan itu.  Tindakan sedang/akan dilakukan Kalau dalam bahasa Inggris.. dsb. 7. atau mampu melakukan apa yang dinyatakan dalam tuturannya. 4. (Tindakan pergi: the act of going). Saya nyatakan Anda berua suami-isteri. bukan orang kedua atau ketiga. Syarat itu juga belum cukup. Ciri-ciri tindakan performatif  Subyek harus orang pertama. 1989: 212). (Tindakan berterima kasih: the act of thanking) 2. Saya berterima kasih atas kebaikan Saudara. tetapi sebagai tepat atau tidak tepat. maka tuturan itu dikatakan tidak valid (infelicition). 1993: 280). sebagai berikut. pendeta. Harus diucapkan sungguh-sungguh. Saya akan pergi sekarang. Pura. bukan yang telah dilakukan. Masjid. Orang yang menyatakan tuturan dan tempatnya harus sesuai atau cocok. bukan oleh orang lain. Misalnya: Saya berjanji akan setia. Penuturnya adalah penghulu (naib). subjek orang pertama dan kala-nya present tense. keadaan. Saya mohon maaf atas keterlambatan saya. Akhirnya direvisi (dilengkapi) oleh murid-muridnya. I promise not to be late (= a promise). kemudian diperbaharui lagi oleh John Searle. Tindakan harus dilakukan secara sungguh-sungguh oleh kedua belah pihak. Saya serahkan semua harta saya kepada anak saya. Tuturan performatif tidak dievaluasi sebagai benar atau salah. (Tindakan memberi nama: the act of naming). tumindakku kang ora ndadekake renaning penggalihmu.

atau Austin mengatakan bahwa tuturan konstatif dapat dievaluasi dari segi benar-salah (Geoffrey Leech (terjemahan). permintaan (requests). Di dalam mengatakan suatu kalimat. Dengan pengucapan kalimat Arep ngombe apa? si pembicara tidak semata-mata menanyakan atau meminta jawaban tertentu. Di sini kita mulai berbicara tentang maksud dan fungsi atau daya ujaran yang bersangkutan. 1984: 2001). Chicago is in the United States (Richards dkk. tanpa bermaksud untuk minta minum. Ia membedakan tiga jenis tindakan yang berkaitan dengan ujaran.(Kridalaksana. Jadi. yaitu tindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan kalimat sesuai dengan makna kata itu (di dalam kamus) dan makna kalimat itu sesuai dengan kaidah sintaksisnya. TINDAK TUTUR (Speech Act) A. pemberian izin (permissons).. Hal-hal apa sajakah yang dapat ditindakkan di dalam berbicara? Ada cukup banyak. Di dalam pengucapan kalimat ia juga ³menindakkan´ sesuatu. Uraian berikut memaparkan klasifikasi dari berbagai jenis TT. mengatakan Sampun jam sanga ia tidak semata-mata memberi tahu keadaan jam pada waktu itu. penerimaan akan tawaran (acceptation of offers) B. perlokusi adalah efek dari TT itu bagi mitra-tutur (selanjutnya MT). dan perlokusi. Jadi. 1989: 212-213). antara lain. ia juga menindakkan sesuatu. Saya tidur di hotel. yakni menawarkan minuman. TINDAK TUTUR DAN JENIS-JENISNYA Tindak tutur (selanjutnya TT) atau tindak ujaran (speech act) mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam pragmatik karena TT adalah satuan analisisnya. A constative is an utterance which assert something that is either true or false. 1993: 316). Misalnya: 1. seseorang tidak semata-mata mengatakan sesuatu dengan pengucapan kalimat itu. speech event): pengujaran kalimat untuk menyatakan agar suatu maksud dari pembicara diketahui pendengar (Kridalaksana. jika MT melakukan tindakan . di samping memang mengucapkan kalimat tersebut. ia juga menindakkan sesuatu.1 Lokusi. 1984: 154) Speech act: an utterance as a functional unit in communication (Richards et al. ajakan (invitation). Ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu. Jadi. Lokusi adalah semata-mata tindak berbicara. yaitu memerintahkan si mitratutur supaya pergi meninggalkan rumah pondokannya. Secara singkat. Ali pergi ke Jakarta 2. dan Perlokusi Austin (1962) dalam How to do Things with Words mengemukakan bahwa mengujarkan sebuah kalimat tertentu dapat dipandang sebagai melakukan tindakan (act). Perlokusi mengacu ke efek yang ditimbulkan oleh ujaran yang dihasilkan oleh P. ³Aku ngelak´ yang diujarkan oleh P dengan maksud µminta minum¶ adalah sebuah tindak ilokusi. Pengertian Tindak tutur (istilah Kridalaksana µpertuturan¶ / speech act. Seorang ibu rumah pondokan putri. ilokusi. 1989: 265). Ilokusi. yaitu lokusi. untuk apa ujaran itu dilakukan. 3. apabila seorang penutur (selanjutnya disingkat P) Jawa mengujarkan ³Aku ngelak´ dalam tindak lokusi kita akan mengartikan ³aku´ sebagai µpronomina persona tunggal¶ (yaitu si P) dan ³ngelak´ mengacu ke µtenggorokan kering dan perlu dibasahi¶. for example. Di sini maksud atau fungsi ujaran itu belum menjadi perhatian. tawaran (offers)..

dan sebagainya) yang baru. misalnya menyuruh. (3) TT ekspresif ialah TT yang dilakukan dengan maksud agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi mengenai hal yang disebutkan di dalam ujaran itu. (4) TT komisif adalah TT yang mengikat P-nya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam ujarannya.2 TT Representatif. dan memberi maaf. menunjukkan. menuntut. Ekspresif. Derajat kelangsungan dapat pula diukur berdasarkan kejelasan pragmatisnya: makin jelas maksud ujaran makin langsunglah ujaran itu. Hal ini berkaitan dengan tindak tutur langsung (TT-L) dan tindak tutur tidak langsung (TT-TL). Dari kesembilan bentuk ujaran tersebut. keadaan. 1993: dapat diungkapkan dengan menggunakan berbagai ujaran sebagai berikut. dan mengeluh. Pada bagian terdahulu telah disinggung bahwa di dalam komunikasi satu fungsi dapat dinyatakan atau diutarakan melalui berbagai bentuk ujaran. misalnya memuji. dan menyebutkan. membatalkan. Komisif. Kelima TT itu sebagai berikut: (1) TT representatif yaitu TT yang mengikat P-nya kepada kebenaran atas apa yang dikatakannya. mengritik. 3. Direktif. yang paling samar-samar maksudnya ialah bentuk ujaran (9). Untuk maksud atau fungsi ³menyuruh´. 1993: 11-54). (2) TT direktif yaitu TT yang dilakukan P-nya dengan maksud agar si pendengar atau MT melakukan tindakan yang disebutkan di dalam ujaran itu. dan Deklaratif Searle (1975) mengembangkan teori TT dan membaginya menjadi lima jenis TT (dalam Ibrahim. melaporkan. menurut Blum-Kulka (1987) (lihat Gunarwan. kamar iki katon rupek. melarang. menyarankan. misalnya. misalnya berjanji dan bersumpah. memohon. dan sebaliknya. Derajat kelangsungan TT dapat diukur berdasarkan ³jarak tempuh´ antara titik ilokusi ( di benak P) ke titik tujuan ilokusi (di benak MT). (1) Kalimat bermodus imperatif : Pindhahen meja iki! (2) Performatif eksplisit : Dakjaluk sliramu mindhahke meja iki! (3) Performatif berpagar : Aku jan-jane arep njaluk tulung sliramu mindhahke meja iki. (5) TT deklaratif merupakan TT yang dilakukan P dengan maksud untuk menciptakan hal (status. misalnya memutuskan. dan menantang. misalnya menyatakan. (4) Pernyataan keharusan : Sliramu kudu mindhahke meja iki! (5) Pernyataan keinginan : Aku kepengin meja iki dipindhah. mengizinkan. berupa isyarat halus.3 TT Langsung vs TT Tidak Langsung Dari sembilan bentuk ujaran tersebut diperoleh sembilan TT yang berbeda-beda derajat kelangsungannya dalam menyampaikan maksud µmenyuruh memindahkan meja¶ itu. Karena kata ³meja´ sama sekali tidak disebutkan . mengucapkan terima kasih.mengambilkan air minum untuk P sebagai akibat dari TT itu maka di sini dapat dikatakan terjadi tindak perlokusi. (9) Isyarat halus : Kamar iki kok katone sesak ngono ya? 3. (6) Rumusan saran : Piye yen meja iki dipindhah? (7) Persiapan pertanyaan : Kowe bisa mindhah meja iki? (8) Isyarat kuat : Yen meja iki ana ing kene.

misalnya diucapkan oleh P yang mengajak MTnya untuk tidak membuka rahasia. Persuasi merupakan tindak perlokusi: orang tidak dapat mempersuai seseorang tentang sesuatu hanya dengan mengatakan Saya mempersuasi anda. Kesulitan dalam definisi ini muncul dari . (1) Tindak tutur langsung (TT-L) (2) Tindak tutur tidak langsung (TT-TL) (3) Tindak tutur harafiah (TT-H) (4) Tindak tutur tidak harafiah (TT-TH) (5) Tindak tutur langsung harafiah (TT-LH) (6) Tindak tutur tidak langsung harafiah (TT-TLH) (7) Tindak tutur langsung tidak harafiah (TT-LTH)\ (8) Tindak tutur tidak langsung tidak harafiah (TT-TLTH) Apabila seseorang menggunakan bahasa. (merupakan tindak mengatakan sesuatu: menghasilkan serangkaian bunyi yang berarti sesuatu. Selain TT-L dan TT-TL. Dengan demikian mengatakan Saya menolak bahwa X sama halnya menolak bahwa X. (2) TT-LTH : ³Tutup mulut´. dan tindak perlokusi (melakukan tindakan dengan mengatakan sesuatu). Contoh-contoh yang sesuai adalah meyakinkan. (Menghasilkan efek tertentu pada pendengar.oleh P dalam ujaran (9). yaitu lokusi. n menegaskan (asserts) bahwa P. misalnya diucapkan oleh dokter gigi kepada pasien yang masih kecil agar anak itu tidak takut. dan membuat tertawa) 1. lebih baik jika kita semua sepakat menutup mulut kita masing-masing´. Jika kedua hal itu. 1996: 36). maka ada 3 jenis tindakan atau tindak tutur (selanjutnya disingkat TT). Lokusi 2. menakutnakuti. dan mencakup tindaktindak seperti bertaruh. maka MT harus mencari-cari konteks yang relevan untuk dapat menangkap maksud P. dan perlokusi.) Dengan mengatakan X. Ini merupakan aspek bahasa yang merupakan pokok penekanan linguistik tradisional). (3) TT-TLH : ³Bagaimana kalau mulutnya dibuka?´. secara ringkas. melukai. misalnya diucapkan oleh dokter gigi kepada pasiennya. yaitu: (1) TT-LH : ³Buka mulut´. ilokusi. yaitu tindak lokusi (melakukan tindakan mengatakan sesuatu). menolak. tindak ilokusi (melakukan tidakan dalam mengatakan sesuatu). P dapat juga menggunakan tindak tutur harafiah (TT-H) atau tindak tutur tidak harafiah (TT-TH) di dalam mengutarakan maksudnya. Dengan demikian. misalnya diucapkan oleh seseorang yang jengkel kepada MT-nya yang selalu ³cerewet´. Misalnya: n mengatakan kepada t bahwa X. berdasarkan uraian dan contoh-contoh di atas dapat dicatat ada delapan TT sebagai berikut (bandingkan Wijana. (4) TT-TLTH : ³Untuk menjaga rahasia. digabungkan maka akan didapatkan empat macam ujaran. Sebagian verba yang digunakan untuk melabel tindak ilokusi bisa digunakan secara performatif. Dalam mengatakan X. dan memesan. berjanji. suruhan (request) memiliki kekuatan esensial untuk membuat pendengar melakukan sesuatu. Hal ini sejalan dengan pendapat Austin (1962) yang melihat adanya tiga jenis tindak ujar. Perlokusi Perbedaan kekuatan antara perlokusi dan ilokusi tidak selalu jelas. (Dilakukan dengan mengatakan sesuatu. Misalnya. Ilokusi 3. n meyakinkan (convinces) t bahwa P. kelangsungan dan keharafiahan ujaran.

hal mengungkapkan sesuatu atau menyatakan sesuatu (locutionary speech act). Searle.urutan tindakan yang banyak diabaikan oleh teori tindak tutur. ajakan. Wacana-wacana ilmiah yang tidak menekankan emosi termasuk TT lokusi. Informasi Tanya Di mana handuk saya? ya. TT perlokusi: Austin. Syukur Ibrahim. kapan. perbuatan yang dilakukan dengan mengujarkan sesuatu. Ibunya di rumah! (bisa bermaksud melarang datang menemui anaknya) Bapaknya galak! (bisa melarang jangan ke sana) Saya tidak dapat datang. Tempat itu jauh. Tempat itu jauh Lokusi Perlokusi Tempat itu jauh. Misalnya: . Kaki manusia dua. 1993: 115).´ C. Misalnya: Saya berjanji. dsb. metapesan µJangan pergi ke metapesan (Dalam pikiran sana!¶ mitratutur ada keputusan) ³Saya tidak akan pergi ke sana. memperingatkan. Misalnya: Dia sakit. 2. ke mana. untuk apa. di mana. Berita Adiknya sakit. membuat orang lain percaya akan sesuatu dengan mendesak orang lain untuk berbuat sesuatu. intonasi) informasi (apa. atau mempengaruhi orang lain (perlocutionary speech act) Misalnya: Tempat itu jauh. mengandung pesan. perbuatan yang dilakukan dalam mengujarkan sesuatu atau melakukan sesuatu. Lokusi Tempat itu jauh. dan kalimat perintah (imperatif). mis. kalimat tanya (interogatif). bertanya (illocutionary speech act).) TT langsung (direct speech) Perintah Pergi! larangan. TT lokusi: Austin. (minta maaf) Kula nyuwun sekilo. Tindak tutur langsung-tidak langsung dan literal-tidak literal Berdasarkan isi kalimat atau tuturannya. siapa. Searle. tidak (apa. (membeli) Temboknya dicat! (jangan dekat tembok itu) Adoh lho le! (jangan ke sana) 3. 1. dll. TT ilokusi: Austin. perbuatan bertutur. Pohon punya daun. yaitu kalimat berita (deklaratif). TT ini sangat sedikit peranannya dalam pragmatik. kalimat atau tuturan dapat dibedakan menjadi tuturan langsung dan tutran tidak langsung. yang merupakan keadaan psikologis yang tidak bisa diobservasi (lihat Abd. perintah biasa dan TT langsung (direct speech) TT langsung (direct speech) Berdasarkan mudusnya. Kesulitan itu juga muncul dari dasar definisi maksud penutur. kalimat dapat dibedakan menjadi 3 macam.

suara radionya keras sekali. Hal ini merupakan sesuatu yang penting dalam kajian pragmatik. Tuturan literal: tuturan yang sesuai dengan maksud atau modusnya. Misalnya. TT tidak langsung tidak literal Misalnya. (ada maksud: jangan pergi ke sana). TT literal 4. TT tidak langsung 3. TT langsung tidak literal 8. 1. Rumahnya jauh. 2. sehingga merupakan TT tidak langsung (indirect speech). matikan! Radione banter. 7. TT langsung literal 6. TT tidak langsung literal 7. Tuturan tidak literal: tuturan yang tidak sesuai dengan maksud dalam tulisan/tuturan. Misalnya: 1. 4. Misalnya. yang bagus dikatakan jelek (hal ini disebut banter [bEnte]). TT tidak literal 5. kalimat Radione kurang banter. 8.[Tuturan langsung] A: Minta uang untuk membeli gula! B: Ini. 6. kurang . 2. yang jelek dikatakan bagus (disebut µironi¶). tidak langsung. (ada maksud: jangan ribut atau tengoklah!) Berdasarkan keliteralannya. B: Ini uangnya. tuturan dapat dibedakan menjadi tuturan literal dan tuturan tidal literal. Buka mulutnya! (makna lugas: buka). Beli sana! Kadang-kadang secara pragmatis kalimat berita dan tanya digunakan untuk memerintah. keraskan radionya! betul-betul kurang keras. 1. 3. 2. Hal ini disebut juga µnglulu¶ Dalan bahasa kadang-kadang terjadi. TT langsung TT tidak langsung TT literal TT tidak literal TT langsung literal TT tidak langsung literal TT langsung tidak literal TT tidak langsung tidak literal betul-betul kurang keras. dan tidak literal) apabila disinggungkan (diinterseksikan) dapat dibedakan menjadi 8 macam seperti sebagai berikut. Masing-masing tindak tutur (langsung. [Tuturan tidak langsung] A: Gulanya habis. nyah. Buka mulutnya! (makna tidak lugas: tutup). literal. betul-betul kurang keras keraskan radionya! suara radionya keras sekali. Adiknya sakit. 1. 5. TT langsung 2.

Mereka harus bekerja sama. Berikan informasi Anda secukupnya atau sejumlah yang diperlukan oleh MT. . Secara lebih rinci. Keempat maksim percakapan itu ialah sebagai berikut. Selanjutnya orang lain diharapkan menangkap apa (hal) yang dikemukakan. ada maksud-maksud tertentu. 1993: 73. 1993: 11. Bicaralah seperlunya saja. (1) Maksim kuantitas: a. sehingga orang lain bisa mengetahui maksudnya. tidak berbelit-belit. Kalau orang berbicara kepada orang lain pasti ingin mengemukakan sesuatu. Lubis. kita perlu belajar tentang µasumsi pragmatik¶.PRINSIP KERJA SAMA (Cooperative Principle) Sebelum belajar tentang µprinsip kerja sama¶. maka orang akan berbicara sejelas mungkin. dan bandingkan pula Wijana. ringkas. antara P dengan MT harus saling menjaga prinsip kerja sama (cooperative principle) agar proses komunikasi berjalan dengan lancar. Tanpa adanya prinsip kerja sama komunikasi akan terganggu. tidak berlebihan. 1996: 46-53). jangan mengatakan sesuatu yang tidak perlu. Prinsip kerja sama ini terealisasi dalam berbagai kaidah percakapan. Grice menjabarkan prinsip kerja sama itu menjadi empat maksim percakapan (periksa Gunarwan. Contoh: kikir : q2r berdua satu tujuan : ber-217-an tekate dhewe : TKTDW kutujukan : ku¥49kan wawan : wa-one prawan ayu : pra one are you kian maju : q-an maju lali main : la5in dik daniel : dick&niel kaki lima : kq lima thank before : thx b4 aku : aq kamu :u sama-sama := yang : y9 sayang : sy9 anti gadis : an3dis dan :n Di dalam berkomunikasi. tetapi ia harus bertanggung jawab atas penyimpangan itu. b. Dengan adanya 2 tujuan ini. Hanya saja dalam pragmatik terdapat penyimpangan-penyimpangan. berbicara secara wajar (termasuk volume suara yang wajar).

Sejauh mana asumsi ini benar juga masih memerlukan pengkajian secara pragmatis. b. misalnya Modal saja tidak bisa dan Untung saja tidak dapat. c. Untuk memenuhi komunikasi secara wajar dan terjadi kerja sama yang baik. Dalam kaitannya dengan maksim kualitas. Berkatalah secara sistematis. justeru pelanggaran-pelanggaran itulah yang menarik untuk dikaji: mengapa P melakukan pelanggaran terhadap maksim tertentu. Misalnya: Buku itu dibuat dari kertas. mengapa P yang bermaksud meminjam uang atau memerlukan bantuan kepada MT biasanya diawali dengan menceritakan secara panjang lebar keadaan dirinya seraya disertai dengan janji-janji? Apakah itu berlaku secara universal? Bukankah tindakan tersebut melanggar maksim kuantitas? Pada hemat saya. maka dalam komunikasi harus memenuhi prinsip (maksim).. kalau informasi itu tidak relevan dengan permasalahan toh tidak akan membawa manfaat. bagi pengamat pragmatik. dan tidak ambigu. terdapat penyimpangan maksim. maksim ketiga atau maksim relevansilah yang paling penting sebab betapa pun informasi yang kita sampaikan itu cukup serta disampaikan dengan cara yang jelas. b. Hindari ketaksaan. Akan tetapi. ada maksud apa di balik pelanggaran maksim tersebut? Misalnya. (Secara kuantitas cukup jelas). Bukti cukup memadai. Dalam pragmatik dikontrol oleh maksim (principle controlled). lalu murid menjawab «. di dalam percakapan sehari-hari tidak jarang kita temukan praktikpraktik pelanggaran terhadap maksim-maksim Grice tersebut. (4) Maksim cara: a. Katakan yang relevan. Bicaralah secara singkat. Maksim kualitas Prinsip yang menghendaki orang-orang berbicara berdasarkan bukti-bukti yang memadai. (3) Maksim relevansi: a. Terdapat beberapa asumsi pragmatik. Maksim relevansi Penutur dan mitra tutur berbicara secara relevan berdasarkan konteks pembicaraan. tidak bertele-tele. 2. Kalau lebih berarti ada tujuannya. Misalnya: Ibu kota Provinsi Jawa Timur Surabaya. di antara empat maksim itu.(2) Maksim kualitas: a. Maksim kuantitas Berbicara sejumlah yang dibutuhkan oleh pendengar. Jangan katakan sesuatu tanpa bukti yang cukup. Ibu kota Provinsi Jawa Timur Sura «« Tuturan ini disampaikan oleh guru. Bicaralah sesuai dengan permasalahan. Asumsi pragmatik ini merupakan titik acuan (point of reference). Misalnya: A : Ini jam berapa? . d. Katakan dengan jelas. sedangkan dalam gramatika/ tatabahasa diatur oleh kaidah (rule governed). Jangan katakan sesuatu yang Anda tahu bahwa sesuatu itu tidak benar. bukti tidak memadai. b. Kenyataan membuktikan. tetapi apabila ada tuturan *Buku itu dibuat dari nasi. Katakanlah hal yang sebenarnya. 3. sistematis. e. baya. c. Hindari kekaburanan ujaran. yaitu: 1.

ya? : Jangan menghina. 4. Retorika tekstual harus memenuhi 4 prinsip (maksim) kerja sama. Keempat prinsip tersebut di atas termasuk pada jenis µretorika tekstual¶ sebab dalam pragmatik dikenal adanya retorika tekstual dan retorika interpersonal. dan maksim cara. yaitu maksim kuantitas. perlu mengingat kembali dari adanya kategori sintaktik yang terdiri dari berita. mujair. ya? B : Bukan. menawarkan. B : Benar. Misalnya: Saya akan datang. Swear. Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS memiliki 8 jurusan. Tuturan ekspresif: menyatakan perasaan (emosi). Sedangkan retorika interpersonal harus memperhitungkan orang lain. Selanjutnya agar memenuhi prinsip (maksim) kesopanan. Misalnya: A : Dia penyanyi solo. Ada 6 macam prinsip agar memenuhi prinsip kesopanan. Dalam kaitannya dengan kategori pragmatik ini ada tuturan komisif. Gadis itu cantik sekali. Yang diperhatikan adalah tuturan.B : Ini jam 3. Tuturan impositif (direktif): menyuruh. sehingga kata-kata yang ambigu itu hanya satu makna. Sebelum sampai pada prinsip kesopanan. 4. tuturan asertif. Misalnya: A : Kamu penjahat kelas kakap. Misalnya: Apakah Anda bisa menolong saya. Boleh saya bawakan? Saya akan setia. Tetapi kadang-kadang dalam tuturan yang wajar terjadi dis-ambiguasi (pengawaambiguan). Misalnya: Gedung itu indah sekali. dan perintah. Saya akan datang (ada efek yang lain untuk memerintah) 3. tidak terbalik (harus runtut). memerintah. tidak boleh ambigu (taksa). Retorika interpersonal membutuhkan prinsip kesopanan (politeness principle). maksim kualitas. Kadang-kadang sulit dibedakan antara tuturan asertif dengan ekspresif. Tuturan asertif: menyatakan sesuatu (objektif). berikut ini inti 6 prinsip kesopanan menurut Leech. tuturan ekspresif. tuturan impositif (direktif). 2. Akan menjadi tidak relevan misalnya apabila B menjawab Ini baju kamu atau Di sana. . 1. Jadi tidak hanya bersifat tekstual. masak saya miskin seperti ini punya tanah. tanya. Dalam kategori pragmatik didasarkan pada fungsi komunikatifnya. A B : Ini Tanah Abang. maksim relevansi. memohon. Misalnya: Bali terletak di sebelah timur Pulau Jawa. Tuturan komisif: berjanji. Maksim cara Tuturan harus dikomunikasikan secara wajar. dia sering tampil di TVRI.

Maksim penerimaan ini ditujukan untuk menawarkan dan berjanji. . (kera). Misalnya: Ada yang bisa saya bantu? A : Mari saya bawakan! B : Tidak usah. Misalnya: Omahmu jane apik.1. Tuturan A dan B disebut pragmatik paradoks. Pusatnya pada orang lain (other centred maxim). A B : Mobilnya bagus! : Ah. = memaksimalkan keuntungan orang lain. = memaksimalkan kerugian diri sendiri. B : Ah tidak. Misalnya: A : Kau sangat pandai. meminimalkan keuntungan diri sendiri. 4. Maksim kesetujuan atau kecocokan (agreement maxim). Pusatnya orang lain (other centred maxim) Maksim ini ditujukan untuk kategori asertif dan ekspresif. A : Omah kuwi apik banget. Ditujukan pada diri sendiri. B : Wah elek banget ngono kok. ayu banget ya dheweke? : Iya. Maksim kemurahhatian (generosity maxim). (Ketidaksetujuan total / tidak sopan) A B : Wah. = memaksimalkan rasa hormat pada orang lain. Apakah Anda bersedia membawakan? Bawakan ini! (tidak sopan) Mari saya antarkan! Tolong saya dihantarkan! 3. bukan pada orang lain (self centred maxim). = memaksimalkan kesetujuan pada orang lain dan meminimalkan ketidaksetujuan pada orang lain. begini saja kok bagus. Ditujukan untuk menyatakan pendapat dan ekspresif. = meminimalkan rasa hormat pada diri sendiri dan memaksimalkan rasa tidak hormat pada diri sendiri. Jenis maksim ini untuk berjanji dan menawarkan (impositif. Maksim kebijaksanaan/kedermawanan. B : Iya. nanging emane akeh sukete. 2. Maksim kerendahhatian (modesty maxim). Pekarangane jembar. ning rada «. Ditujukan pada orang lain (other centred maxim). tact maxim. Pusatnya pada diri sendiri (self centred maxim). apik banget. meminimalkan rasa tidak hormat pada orang lain. Misalnya: Bolehkah saya bantu? Mari saya bantu. ning emane cedhak pabrik. biasa-biasa saja. meminimalkan kerugian orang lain. Maksim penerimaan (approbation maxim). Misalnya: A : Omah kuwi apik. 5. komisif).

studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya. Pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. = memaksimalkan simpati pada orang lain dan meminimalkan antipati pada orang lain. menunjukkan pentingnya pragmatik. LINGUISTIK: PRAGMATIK May 30.(Ketidaksetujuan parsial / sopan) 6. dan. dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. perkembangannya. saya mengawali makalah ini dengan pembahasan mengenai pengertian pragmatik. melebihi kajian tentang makna yang diujarkan. makna yang dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantik. dan mengabaikan unsur pengguna bahasa. Sebagai tataran terbaru dalam linguistik. dengan melihat perbedaan kajiannya dengan bidang lain dalam linguistik. Maksim kesimpatian (symphaty maxim). menjelaskan secara singkat topik-topik bahasannya. Jon. B : Selamat. (3) bidang yang. saya turut berduka cita. (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya. Ditujukan untuk menyatakan asertif dan ekspresif. Definisi Pragmatik Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. 2010 ramlannarie bahasa indonesia Leave a comment Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik? 1. A B : Baru-baru ini dia telah meninggal. Misalnya: A : Saya lolos di UMPTN. misalnya. yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara. menyebutkan empat definisi pragmatik. seperti akan saya jelaskan kemudian. ya. yaitu makna. Meskipun memiliki fokus kajian yang serupa dengan semantik. . Yule (1996: 3). mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara. Pusatnya orang lain (other centred maxim). Untuk tujuan tersebut. Makalah ini bertujuan menjelaskan pentingnya bidang pragmatik untuk dipelajari dalam program studi linguistik. Pendahuluan Dalam jangka yang cukup lama. yaitu dengan menurunkan sistem yang terdapat dalam matematika dan logika. 2. : Oh. seperti diungkap oleh Yule (1996: 6).

Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi. dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross. dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)). Dalam etnometodologi. yang dipelopori oleh Bertrand Russell. Dengan kata lain. yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. Kecenderungan yang pertama. Tradisi yang ketiga. (2) kecenderungan sosial-kritis. yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik. pertama. bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6). morfologi.Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian. Ludwig Wittgenstein. dan Grice. dan bahwa fonologi. seperti dikutip Gunarwan (2004: 7). Menurut Lakoff dan Ross. sosial. menolak pandangan sintaksisme Chomsky. bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya. adalah tradisi filsafat. dalam kaitannya dengan logika. dan kedua. tepatnya di Britania. misalnya Austin. dan terutama John L. Austin dan John R. Kecenderungan kedua. yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross. menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik. dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran. dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik. mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction). yang tumbuh di Eropa. Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa. 3. dan komplementarisme. dengan menggunakan sudut pandang sosial. dan semantik bersifat periferal. termasuk penggunaannya. yaitu bahwa dalam kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis. atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi. Perkembangan Pragmatik Mey (1998). Jerman. muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan. dengan menggunakan sudut pandang kognitif. Selanjutnya Thomas (1995: 22). bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri. menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning). bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6). melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. dan (4) tradisi etnometodologi. Searle. seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5). (3) tradisi filsafat. yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme. mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi. sebab. . Leech (1983: 2). Searle. kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi. pragmatisisme. seperti sering kita jumpai. keapikan sintaksis (well-formedness) bukanlah segalanya. komunikasi tetap dapat berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak apik secara sintaksis (ill-formed). Para pakar tersebut mengkaji bahasa.

sesuai contoh di atas.4. yaitu. melainkan melalui bagaimana bahasa dipakai sehari-hari. sejak itu bidang kajian ini telah berkembang jauh. bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis. seperti diungkap oleh Marmaridou (2000: 1 (dalam Gunarwan 2004: 8)). dan bahwa pernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris. memasukkan ujaran konstatif. dan pragmatik interaktif (Thomas). Austin (dalam Thomas 1995: 31) berpendapat bahwa salah satu cara untuk membuat pembedaan yang baik bukanlah menurut kadar benar atau salahnya. Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. (1) Ada enam kata dalam kalimat ini (2) Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono Dari contoh di atas. Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics (Thomas 1995: 30). sebagai bagian dari performatif (Austin 1962: 52 dan Thomas 1995: 49). Beberapa Topik Pembahasan dalam Pragmatik 4. Contoh. Sebab. Contoh. . yaitu pragmatik filosofis (Austin. Austin dapat dianggap sebagai pemicu minat yang paling utama dalam kajian pragmatik. Searle. seperti Russel dan Moore. pragmatik kognitif (Sperber dan Wilson). Dalam contoh (4). saya nikahkan kalian (performatif) (4) Rumah Joni terbakar (konstatif) Selanjutnya Austin. kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar karena sesuai dengan kenyataan. How to Do Things with Words. dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin ini mengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition). seperti dikutip oleh Thomas (1995: 29-30). sehingga kita dapat melihat sejumlah kecenderungan dalam pragmatik. yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi dan ketaksaan. Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Gunarwan 2004: 8). Austin. melainkan juga melakukan sesuatu (perform actions). struktur dalam ujaran tersebut dapat saja berbunyi Saya katakan bahwa rumah Joni terbakar.1 Teori Tindak-Tutur Melalui bukunya. pragmatik neo-Gricean (Cole). (3) Dengan ini. seperti juga ditekankan lebih lanjut oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). Melalui hipotesis performatifnya. Austin berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements). yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech-act). dan Grice). karena memiliki struktur dalam yang mengandungi makna performatif.

. Tindak-tutur. didasarkan atas beberapa alasan. dapat berupa tindak-tutur langsung (direct speech-act) dan tindak-tutur tidak langsung (indirect speech-act). sedangkan dalam indirect speech-act hubungannya tidak langsung atau menggunakan (bentuk) tindak-tutur lain (Gunarwan 2004: 9. komisif merupakan tindak-tutur yang digunakan pembicaranya untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukannya. memberi sumbangan informasi yang relevan.2 Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle) Grice mengemukakan bahwa percakapan yang terjadi di dalam anggota masyarakat dilandasi oleh sebuah prinsip dasar. mengungkapkan secara beraturan (Gunarwan 2004: 11 dan Thomas 1995: 63-64). Berkaitan dengan prinsip kerja sama Grice di atas. menghindari ketidakjelasan pengungkapan. dan (4) bidal cara (manner maxim). dan tindak perlokusioner berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan (Thomas 1995: 49). Hal ini. 4. dan deklarasi (declaration) (Littlejohn 2002: 80.Tindakan yang dihasilkan dengan ujaran ini mengandung tiga tindakan lain yang berhubungan. menyatakan hanya yang menurut kita benar atau cukup bukti kebenarannya. yaitu implikatur konvensional dan implikatur konversasional. memberi informasi sesuai yang diminta. Implikatur konvensional merupakan implikatur yang dihasilkan dari penalaran logika. dapat dicontohkan dengan penggunaan kata bahkan. komisif (comissive). dan deklarasi merupakan tindak-tutur yang mengubah status sesuatu. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 1214). Asertif atau representatif merupakan tindak-tutur yang menyatakan tentang sesuatu yang dipercayai pembicaranya benar. Searle juga menyebut lima jenis fungsi tindak-tutur. Dalam direct speeh-act terdapat hubungan langsung antara struktur kalimat dengan fungsinya. yaitu lokusi (locutionary act). direktif (directive). tindak ilokusioner terutama berkaitan dengan intensi atau maksud pembicara. Contoh. ujaran yang mengandung implikatur jenis ini. mengungkapkan secara singkat. direktif merupakan tindaktutur yang menghendaki pendengarnya melakukan sesuatu. dalam komunikasi kadang kita tidak mematuhi prinsip tersebut. yaitu prinsip kerja sama (cooperative principle) (Yule 1996: 36-37 dan Thomas 1995: 61). Implikatur konversasional merupakan implikatur yang dihasilkan karena tuntutan konteks tertentu (Thomas 1995: 58). (2) bidal kualitas (quality maxim). seperti diungkap oleh Thomas (1995: 57). pada kenyataannya. Tindak lokusioner berkaitan dengan produksi ujaran yang bermakna. ekspresif (expressive).3 Implikatur (Implicature) Grice. misalnya untuk memberikan informasi secara tersirat (implicature) dan menjaga muka lawan bicara (politeness). menghindari ketaksaan. dan perlokusi (perlocutionary act) (Yule 1996: 48). (3) bidal relasi (relation maxim). Selain itu. seperti dikembangkan lebih jauh oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). menyebut dua macam implikatur. ilokusi (illocutionary act). dan Yule 1996: 5455). yaitu (1) bidal kuantitas (quantity maxim). seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 14). 4. yaitu asertif (assertive). Kerja sama yang terjalin dalam komunikasi ini terwujud dalam empat bidal (maxim). dan Yule 1996: 53-54). ekspresif merupakan tindak-tutur yang menyatakan perasaan pembicaranya.

. Menurut mereka. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). menurut Gazdar. dan ketiga. menetapkan tiga macam hubungan antara cue dan implicature. misalnya untuk ke kamar mandi. Misalnya pada contoh (7) di atas. dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini. (7) Pastikan semua pintu terkunci jika meninggalkan ruangan ini. misalnya tindakan untuk membuat sesuatu menjadi jelas dan dapat dimengerti oleh penerima pesan. pesan ini berada dalam spesifikasi tertentu yang disepakati oleh addresser dan addressee dalam konteks komunikasi. sedangkan yang kedua tidak. tahapan yang harus dilewati untuk memahami implikatur dalam percakapan. Sperber dan Wilson (1995). seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). Setiap pembaca dapat memahami bahwa pesan ini hanya berlaku jika ia akan meninggalkan ruangan tersebut untuk terakhir kalinya. Yang pertama ada karena konteks ujaran. Melalui hal tersebut. yaitu: pertama. Selanjutnya. Sperber dan Wilson (1995). komunikasi tidak hanya memasukkan apa yang ada dalam pikiran pengirim pesan ke dalam pikiran penerima pesan. untuk menjelaskan cara sebuah pesan dipahami penerimanya. Contoh yang ditulis Renkema (2004: 23) di bawah ini memberikan gambaran yang cukup jelas. bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi. 4.4 Teori Relevansi Teori relevansi yang dikembangkan oleh Sperber dan Wilson merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. pengirim pesan dapat memperkirakan reaksi penerima pesan terhadap pesan yang disampaikannya.(5) Bahkan Bapak Menteri Agama menghadiri sunatan anak saya (6) Saya kebetulan ke Inggris untuk studi selama dua tahun dan berangkat besok Contoh (5) di atas merupakan implikatur konvensional yang berarti Bapak Menteri Agama biasanya tidak menghadiri acara sunatan. kedua. misalnya contoh (6) di atas. namun mencakup perluasan wilayah kognitif (cognitive environment) kedua belah pihak. Dalam teori relevansi dipelajari bagaimana sebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya. ujaran merupakan sebentuk tindakan dari komunikasi ostensif. dengan menggunakan prinsip kerja sama Grice. misalnya contoh (5) di atas. Contoh. yaitu tidak perlu mengunci pintu jika keluar dalam batasan waktu dan situasi yang diperkirakan cukup aman. bukan untuk setiap kali meninggalkan ruangan. Dengan kata lain. explicature atau degree of relevance. sedangkan contoh (6) merupakan implikatur konversasional yang bermakna µtidak¶ dan merupakan jawaban atas pertanyaan maukah Anda menghadiri selamatan sunatan anak saya? Berbeda dengan Grice. implikatur dapat dibedakan menjadi implikatur khusus dan implikatur umum. menyebutkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (language in use) selalu dapat diidentifikasi melalui hal yang disebutnya indeterminacy atau underspecification. penerima pesan (addressee) hanya memilih sesuatu yang dianggapnya relevan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan (addresser) dalam konteks komunikasi tertentu.

kekuasaan atau power (P) yang dimiliki lawan bicara (Renkema 2004: 26). Begitu juga A. when do you want to go? B: At the weekend. misalnya permintaan ³May I borrow your car?´ mempunyai bobot yang berbeda dengan permintaan ³May I borrow your pen?´. merupakan ujaran yang relevansinya rendah dan membutuhkan processing effort yang lebih besar. ³face merupakan gambaran citra diri dalam atribut sosial yang telah disepakati´. yaitu: pertama. ujaran at the weekend. dalam pengertian degree of relevance. boleh tanya? .5 Kesantunan (Politeness) Konsep strategi kesantunan yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson diadaptasi dari konsep face yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog bernama Erving Goffman (1956) (Renkema 2004: 24-25). there is a shuttle service sixty euros one-way.(8) A: Well. ia mengandaikan B dapat mengerti bahwa that migh be cheaper dapat berarti If you purchase a ticket now. Dalam percakapan tersebut. it costs 50 euros. misalnya bobot kedua permintaan di atas tidak terlalu besar jika kedua ungkapan tersebut ditujukan kepada saudara sendiri. Dalam hal ini. Dalam percakapan di atas. Dengan kata lain. Berdasarkan konsep face yang dikemukakan oleh Goffman ini. tingkat gangguan atau rate of imposition (R). harga diri (self-esteem). padahal A harus memastikan dengan jelas setiap pemesanan pembelian tiket. Contoh. dan ketiga. face dapat diartikan kehormatan. yang dikutip oleh Jaszczolt (2002: 318). Menurut Goffman (1956). If you buy ticket when you turn up. 4. dan citra diri di depan umum (public self-image). karena semakin tinggi contextual effect maka semakin rendah ia membutuhkan processing effort. Then that¶s fifty. Pak. sedangkan yang kedua disebut negative face. berkenaan dengan bobot mutlak (absolute weight) tindakan tertentu dalam kebudayaan tertentu. Menurut Goffman (1967: 5). kedua. sedangkan that might be cheaper merupakan ujaran yang relevansinya lebih baik. Kebutuhan yang pertama disebut positive face. pemahaman penerima pesan terhadap apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan terjadi melalui beberapa tahapan. How does it works? You just turn up for the shuttle service? A: That might be cheaper. A: What weekend? B: Next weekend. Brown dan Levinson (1978) membangun teori tentang hubungan intensitas FTA dengan kesantunan yang terrealisasi dalam bahasa (Renkema 2004: 25). jarak sosial atau social distance (D) antara pembicara dengan lawan bicaranya. Maaf. setiap partisipan memiliki dua kebutuhan dalam setiap proses sosial: yaitu kebutuhan untuk diapresiasi dan kebutuhan untuk bebas (tidak terganggu). seperti dikutip oleh Renkema (2004: 25). B mengira A mengerti bahwa at the weekend berarti next weekend. (9) a. you have booked seat which costs 60 euros. Intensitas FTA diekspresikan dengan bobot atau weight (W) yang mencakup tiga parameter sosial.

friend. sedangkan ujaran (9b) mungkin diucapkan kepada orang yang secara sosial jaraknya lebih dekat (9a). Oh no. bidal simpati (sympathy maxim). seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 19). but could you lend me a hundred dollars? (negative polite) e. Mas? Dalam contoh di atas terlihat jelas. Kelima strategi tersebut diurut berdasarkan tingkat resiko ³kehilangan muka´. Pakar ini membahas teori kesantunan dalam kerangka retorika interpersonal (Eelen 2001: 6). I¶m out of cash! I forgot to go to the bank today. Leech (dalam Eelen 2001: menyebutkan enam bidal kesantunan. dapat dilakukan. misalnya dengan melakukan tindakan yang tidak kooperatif dalam komunikasi (Renkema 2004: 25). (off record) Teori kesantunan lain dibahas oleh Leech (1983). Dalam hal ini. semakin besar intensitas FTA mengancam stabilitas komunikasi. semakin tinggi resiko kehilangan muka. seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4). yaitu bidal kebijaksanaan (tact maxim). face work technique. sehingga bentuk . bidal pujian (approbation maxim). bidal kedermawanan (generosity maxim). ujaran (9a) mungkin diucapkan pembicara yang secara sosial lebih rendah dari lawan bicaranya. ditambah bidal pertimbangan (consideration maxim). Pragmatik dalam Linguistik Seperti telah saya uraikan sedikit dalam sub 3 di atas. salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat banyak cara untuk menghindari FTA yang dapat direduksi menjadi lima macam cara. Dalam sintaksis. Secara umum. Brown dan Levinson (1978). dapat dilakukan. misalnya mahasiswa kepada dosen atau yang muda kepada yang tua. sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya. Numpang tanya. I¶m sorry I have to ask. yang bertujuan untuk mendapatkan positive face disebut solidarity politeness. maka politeness strategy semakin dibutuhkan.b. lend me a hundred dollars. Dalam hal ini. dan. maka semakin kecil kemungkinan pembicara melakukan FTA. Politeness. Hey. sedangkan politeness yang dilakukan untuk tujuan sebaliknya disebut respect politeness. bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat. Politeness (kesantunan) dalam hal ini dapat dipahami sebagai upaya pencegahan dan atau perbaikan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh FTA. bidal kerendahhatian (modesty maxim). Renkema (2004: 27) memberi contoh strategi tersebut. dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal. (5) a. bidal kesetujuan (aggreement maxim). dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis. (baldly) b. 5. Hey. seperti diungkapkan oleh Renkema (2004: 26). could you lend me a hundred bucks? (positive polite) c. Berkaitan dengan politeness strategy ini. misalnya dengan pujian.

pertama. bagaimana memahami implikatur percakapan. dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik. sedangkan . yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik. karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. dan kedua. Kaidah bersifat deskriptif. Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik. semantik terikat pada kaidah (rule-governed). bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa. sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya. di samping sintaksis dan semantik. Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada. untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik. untuk dapat dinyatakan benar. sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik. selain tata bahasa. semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis. keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan. makna apa yang dituturkan. dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan. tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis. dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur. Namun demikian. Dengan kata lain. dapat dipahami. dan maksud dari tuturan. Berdasarkan truth conditional semantics. sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis. yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa. terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. Kegunaan pragmatik. Dalam kehidupan sehari-hari. semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan. melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. dan memang sering kita temukan. sebab daya mencakup juga makna. Dengan demikian. pembahasan makna dalam semantik belum memadai. untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa sehari-hari. misalnya. bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis. Atas dasar ini. meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris. meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai. tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. Selanjutnya. dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya. Tentang perbedaan yang pertama. Lebih tepatnya. sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi. sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda. dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi. dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. Dengan demikian. dan kedua. bahwa komunikasi tetap dapat berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis. demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis. absolut atau bersifat mutlak. Selanjutnya.seperti kucing menyapu halaman. bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. Dengan kata lain. pertama. dalam analisis bahasa. saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa.

Brown. Levinson.M. Lebih jauh lagi. Asim. saya melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik setidaknya dalam dua hal. Jaszczolt. Cambridge: Cambridge University Press. seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22). dan Stephen C. Penelope. Daftar Acuan Austin. kedua. 2001. dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain. dalam pengajaran bahasa. dapat bertentangan dengan prinsip lain. K. Politeness: Some Universal in Language Usage. IKIP Singaraja. Penutup Seperti telah disebutkan di muka. dalam arti praktis. pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. berkaitan dengan ketidakmampuan sintaksis dan semantik dalam menjelaskan fenomena penggunaan bahasa sehari-hari.. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). Gino. Jerome Publishing Gunarwan. Manchester. karena selain benar. John L. Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse. UK: St. Oxford: Oxfod University Press. 6. 1978. Berdasarkan penjelasan di atas. 2002. berkaitan dengan pengajaran bahasa. 1962. How to Do Things with Word (edisi kedua). yaitu bahwa pengetahuan pragmatik. 2004. Eelen. pragmatik berperan dalam pengembangan kompetensi komunikatif. bahasa yang digunakan harus baik. A Critique of Politeness Theories. yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu. kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik. Secara umum.prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif. terdapat keterkaitan. dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa. patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence). Dalam pengajaran bahasa Indonesia. saya melihat kedudukan semantik dan pragmatik sebagai dua hal yang saling melengkapi. tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa pragmatik penting dipelajari dalam program studi linguistik. pertama. misalnya. Dalam pengajaran bahasa asing. Selain itu. . pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya. pragmatik merupakan satu-satunya tataran dalam linguistik yang mengkaji bahasa dengan memperhitungkan juga penggunanya. Edinburgh: Pearson Education.

George. London/New York: Longman. 1995. 2004. Jenny. Oxford. Jan. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. ss . Yule. Thomas.Renkema. Pragmatics. 1996. Introduction to Discourse Studies. Oxford University Press. Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful