Linguistik: Pragmatik Tuesday, July 24, 2007 Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik?

Makyun Subuki 13 Desember 2006 1. Pendahuluan Dalam jangka yang cukup lama, seperti diungkap oleh Yule (1996: 6), studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya, yaitu dengan menurunkan sistem yang terdapat dalam matematika dan logika, dan mengabaikan unsur pengguna bahasa. Sebagai tataran terbaru dalam linguistik, Pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. Meskipun memiliki fokus kajian yang serupa dengan semantik, yaitu makna, seperti akan saya jelaskan kemudian, makna yang dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantik. Makalah ini bertujuan menjelaskan pentingnya bidang pragmatik untuk dipelajari dalam program studi linguistik. Untuk tujuan tersebut, saya mengawali makalah ini dengan pembahasan mengenai pengertian pragmatik, perkembangannya, menjelaskan secara singkat topik-topik bahasannya, dan, dengan melihat perbedaan kajiannya dengan bidang lain dalam linguistik, menunjukkan pentingnya pragmatik. 2. Definisi Pragmatik Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. Yule (1996: 3), misalnya, menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang, melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian, pertama, dengan menggunakan sudut pandang sosial, menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning); dan kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif, menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). Selanjutnya Thomas (1995: 22), dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik, sosial, dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran, mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction).

Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme, yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik; pragmatisisme, yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik; dan komplementarisme, atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi. 3. Perkembangan Pragmatik Mey (1998), seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5), mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi, yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme; (2) kecenderungan sosial-kritis; (3) tradisi filsafat; dan (4) tradisi etnometodologi. Kecenderungan yang pertama, yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross, menolak pandangan sintaksisme Chomsky, yaitu bahwa dalam kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis, dan bahwa fonologi, morfologi, dan semantik bersifat periferal. Menurut Lakoff dan Ross, keapikan sintaksis (well-formedness) bukanlah segalanya, sebab, seperti sering kita jumpai, komunikasi tetap dapat berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak apik secara sintaksis (ill-formed), bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6). Kecenderungan kedua, yang tumbuh di Eropa, tepatnya di Britania, Jerman, dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)), muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan, bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri. Tradisi yang ketiga, yang dipelopori oleh Bertrand Russell, Ludwig Wittgenstein, dan terutama John L. Austin dan John R. Searle, adalah tradisi filsafat. Para pakar tersebut mengkaji bahasa, termasuk penggunaannya, dalam kaitannya dengan logika. Leech (1983: 2), seperti dikutip Gunarwan (2004: 7), mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa, misalnya Austin, Searle, dan Grice, dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross. Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi, yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. Dalam etnometodologi, bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya, melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Dengan kata lain, kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi, bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6). 4. Beberapa Topik Pembahasan dalam Pragmatik 4.1 Teori Tindak-Tutur

Melalui bukunya, How to Do Things with Words, Austin dapat dianggap sebagai pemicu minat yang paling utama dalam kajian pragmatik. Sebab, seperti diungkap oleh Marmaridou (2000: 1 (dalam Gunarwan 2004: 8)), sejak itu bidang kajian ini telah berkembang jauh, sehingga kita dapat melihat sejumlah kecenderungan dalam pragmatik, yaitu pragmatik filosofis (Austin, Searle, dan Grice), pragmatik neo-Gricean (Cole), pragmatik kognitif (Sperber dan Wilson), dan pragmatik interaktif (Thomas). Austin, seperti dikutip oleh Thomas (1995: 29-30), bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis, seperti Russel dan Moore, yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi dan ketaksaan, dan bahwa pernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris. Contoh. (1) Ada enam kata dalam kalimat ini (2) Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono Dari contoh di atas, dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin ini mengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition), yaitu, sesuai contoh di atas, kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar karena sesuai dengan kenyataan. Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics (Thomas 1995: 30). Austin (dalam Thomas 1995: 31) berpendapat bahwa salah satu cara untuk membuat pembedaan yang baik bukanlah menurut kadar benar atau salahnya, melainkan melalui bagaimana bahasa dipakai sehari-hari. Melalui hipotesis performatifnya, yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech-act), Austin berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements), melainkan juga melakukan sesuatu (perform actions). Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Gunarwan 2004: 8). Contoh. (3) Dengan ini, saya nikahkan kalian (performatif) (4) Rumah Joni terbakar (konstatif) Selanjutnya Austin, seperti juga ditekankan lebih lanjut oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9), memasukkan ujaran konstatif, karena memiliki struktur dalam yang mengandungi makna performatif, sebagai bagian dari performatif (Austin 1962: 52 dan Thomas 1995: 49). Dalam contoh (4), struktur dalam ujaran tersebut dapat saja berbunyi Saya katakan bahwa rumah Joni terbakar. Tindakan yang dihasilkan dengan ujaran ini mengandung tiga tindakan lain yang berhubungan, yaitu lokusi (locutionary act), ilokusi (illocutionary act), dan perlokusi (perlocutionary act) (Yule 1996: 48). Tindak lokusioner berkaitan dengan produksi

yaitu asertif (assertive). Tindak-tutur. dan tindak perlokusioner berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan (Thomas 1995: 49). ekspresif merupakan tindak-tutur yang menyatakan perasaan pembicaranya. memberi informasi sesuai yang diminta. Dalam direct speeh-act terdapat hubungan langsung antara struktur kalimat dengan fungsinya. dan deklarasi merupakan tindak-tutur yang mengubah status sesuatu. Kerja sama yang terjalin dalam komunikasi ini terwujud dalam empat bidal (maxim). Asertif atau representatif merupakan tindak-tutur yang menyatakan tentang sesuatu yang dipercayai pembicaranya benar. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 14).2 Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle) Grice mengemukakan bahwa percakapan yang terjadi di dalam anggota masyarakat dilandasi oleh sebuah prinsip dasar. Searle juga menyebut lima jenis fungsi tindak-tutur. menghindari ketidakjelasan pengungkapan. Implikatur konvensional merupakan implikatur yang dihasilkan dari penalaran logika. dan Yule 1996: 54-55). dalam komunikasi kadang kita tidak mematuhi prinsip tersebut. direktif (directive). Berkaitan dengan prinsip kerja sama Grice di atas. memberi sumbangan informasi yang relevan. yaitu implikatur konvensional dan implikatur konversasional. Selain itu. (2) bidal kualitas (quality maxim). dan Yule 1996: 53-54). Hal ini. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 12-14). misalnya untuk memberikan informasi secara tersirat (implicature) dan menjaga muka lawan bicara (politeness). (3) bidal relasi (relation maxim). yaitu prinsip kerja sama (cooperative principle) (Yule 1996: 36-37 dan Thomas 1995: 61). menghindari ketaksaan. mengungkapkan secara beraturan (Gunarwan 2004: 11 dan Thomas 1995: 63-64). menyebut dua macam implikatur. ujaran yang mengandung implikatur jenis ini. sedangkan dalam indirect speech-act hubungannya tidak langsung atau menggunakan (bentuk) tindak-tutur lain (Gunarwan 2004: 9. direktif merupakan tindak-tutur yang menghendaki pendengarnya melakukan sesuatu. menyatakan hanya yang menurut kita benar atau cukup bukti kebenarannya. seperti dikembangkan lebih jauh oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). seperti diungkap oleh Thomas (1995: 57). dan (4) bidal cara (manner maxim). Contoh.ujaran yang bermakna. ekspresif (expressive). pada kenyataannya. komisif merupakan tindak-tutur yang digunakan pembicaranya untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukannya. tindak ilokusioner terutama berkaitan dengan intensi atau maksud pembicara. mengungkapkan secara singkat. . dapat berupa tindak-tutur langsung (direct speech-act) dan tindak-tutur tidak langsung (indirect speech-act). 4. yaitu (1) bidal kuantitas (quantity maxim). dapat dicontohkan dengan penggunaan kata bahkan. dan deklarasi (declaration) (Littlejohn 2002: 80.3 Implikatur (Implicature) Grice. komisif (comissive). Implikatur konversasional merupakan implikatur yang dihasilkan karena tuntutan konteks tertentu (Thomas 1995: 58). 4. didasarkan atas beberapa alasan.

Sperber dan Wilson (1995). kedua. 4. komunikasi tidak hanya memasukkan apa yang ada dalam pikiran pengirim pesan ke dalam pikiran penerima pesan. Contoh. tahapan . ujaran merupakan sebentuk tindakan dari komunikasi ostensif. Menurut mereka. menetapkan tiga macam hubungan antara cue dan implicature. pesan ini berada dalam spesifikasi tertentu yang disepakati oleh addresser dan addressee dalam konteks komunikasi. menurut Gazdar. yaitu: pertama. bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi. Selanjutnya. Yang pertama ada karena konteks ujaran. dan ketiga. misalnya untuk ke kamar mandi. menyebutkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (language in use) selalu dapat diidentifikasi melalui hal yang disebutnya indeterminacy atau underspecification. yaitu tidak perlu mengunci pintu jika keluar dalam batasan waktu dan situasi yang diperkirakan cukup aman. bukan untuk setiap kali meninggalkan ruangan. Dalam teori relevansi dipelajari bagaimana sebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya. penerima pesan (addressee) hanya memilih sesuatu yang dianggapnya relevan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan (addresser) dalam konteks komunikasi tertentu. untuk menjelaskan cara sebuah pesan dipahami penerimanya. Melalui hal tersebut. explicature atau degree of relevance. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). misalnya contoh (6) di atas. Misalnya pada contoh (7) di atas. dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini. Sperber dan Wilson (1995). sedangkan yang kedua tidak. sedangkan contoh (6) merupakan implikatur konversasional yang bermakna µtidak¶ dan merupakan jawaban atas pertanyaan maukah Anda menghadiri selamatan sunatan anak saya? Berbeda dengan Grice.(5) Bahkan Bapak Menteri Agama menghadiri sunatan anak saya (6) Saya kebetulan ke Inggris untuk studi selama dua tahun dan berangkat besok Contoh (5) di atas merupakan implikatur konvensional yang berarti Bapak Menteri Agama biasanya tidak menghadiri acara sunatan. namun mencakup perluasan wilayah kognitif (cognitive environment) kedua belah pihak. implikatur dapat dibedakan menjadi implikatur khusus dan implikatur umum. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22).4 Teori Relevansi Teori relevansi yang dikembangkan oleh Sperber dan Wilson merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. dengan menggunakan prinsip kerja sama Grice. Setiap pembaca dapat memahami bahwa pesan ini hanya berlaku jika ia akan meninggalkan ruangan tersebut untuk terakhir kalinya. misalnya tindakan untuk membuat sesuatu menjadi jelas dan dapat dimengerti oleh penerima pesan. Dengan kata lain. pengirim pesan dapat memperkirakan reaksi penerima pesan terhadap pesan yang disampaikannya. misalnya contoh (5) di atas. (7) Pastikan semua pintu terkunci jika meninggalkan ruangan ini.

Dengan kata lain. it costs 50 euros. pemahaman penerima pesan terhadap apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan terjadi melalui beberapa tahapan. ujaran at the weekend. Contoh yang ditulis Renkema (2004: 23) di bawah ini memberikan gambaran yang cukup jelas. ia mengandaikan B dapat mengerti bahwa that migh be cheaper dapat berarti If you purchase a ticket now. Kebutuhan yang pertama disebut positive face. misalnya permintaan "May I borrow your car?" mempunyai bobot yang berbeda dengan permintaan "May I borrow your pen?". Menurut Goffman (1967: 5). tingkat gangguan atau rate of imposition (R). there is a shuttle service sixty euros one-way. dan citra diri di depan umum (public self-image). harga diri (self-esteem). karena semakin tinggi contextual effect maka semakin rendah ia membutuhkan processing effort. A: What weekend? B: Next weekend. Begitu juga A. If you buy ticket when you turn up. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 25). yang dikutip oleh Jaszczolt (2002: 318). Dalam hal ini. kedua. "face merupakan gambaran citra diri dalam atribut sosial yang telah disepakati". merupakan ujaran yang relevansinya rendah dan membutuhkan processing effort yang lebih besar. Dalam percakapan tersebut. Berdasarkan konsep face yang dikemukakan oleh Goffman ini. when do you want to go? B: At the weekend. face dapat diartikan kehormatan. Intensitas FTA diekspresikan dengan bobot atau weight (W) yang mencakup tiga parameter sosial.5 Kesantunan (Politeness) Konsep strategi kesantunan yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson diadaptasi dari konsep face yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog bernama Erving Goffman (1956) (Renkema 2004: 24-25). setiap partisipan memiliki dua kebutuhan dalam setiap proses sosial: yaitu kebutuhan untuk diapresiasi dan kebutuhan untuk bebas (tidak terganggu). dalam pengertian degree of relevance. sedangkan yang kedua disebut negative face. Menurut Goffman (1956). jarak sosial atau social distance (D) antara pembicara dengan lawan bicaranya. misalnya bobot kedua permintaan di atas . sedangkan that might be cheaper merupakan ujaran yang relevansinya lebih baik.yang harus dilewati untuk memahami implikatur dalam percakapan. Brown dan Levinson (1978) membangun teori tentang hubungan intensitas FTA dengan kesantunan yang terrealisasi dalam bahasa (Renkema 2004: 25). you have booked seat which costs 60 euros. 4. B mengira A mengerti bahwa at the weekend berarti next weekend. yaitu: pertama. Dalam percakapan di atas. How does it works? You just turn up for the shuttle service? A: That might be cheaper. berkenaan dengan bobot mutlak (absolute weight) tindakan tertentu dalam kebudayaan tertentu. padahal A harus memastikan dengan jelas setiap pemesanan pembelian tiket. (8) A: Well. Then that's fifty.

ditambah bidal pertimbangan (consideration maxim). Berkaitan dengan politeness strategy ini. sedangkan ujaran (9b) mungkin diucapkan kepada orang yang secara sosial jaraknya lebih dekat (9a). seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 19). bidal kerendahhatian (modesty maxim). dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat banyak cara untuk menghindari FTA yang dapat direduksi menjadi lima macam cara. dan ketiga. Pak. Leech (dalam Eelen 2001: 8) menyebutkan enam bidal kesantunan. maka semakin kecil kemungkinan pembicara melakukan FTA. (9) a. semakin besar intensitas FTA mengancam stabilitas komunikasi. seperti diungkapkan oleh Renkema (2004: 26). Oh no. lend me a hundred dollars. Politeness (kesantunan) dalam hal ini dapat dipahami sebagai upaya pencegahan dan atau perbaikan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh FTA. (baldly) b. dapat dilakukan. friend. (5) a. Maaf. yang bertujuan untuk mendapatkan positive face disebut solidarity politeness. Pakar ini membahas teori kesantunan dalam kerangka retorika interpersonal (Eelen 2001: 6). Contoh. I'm sorry I have to ask.tidak terlalu besar jika kedua ungkapan tersebut ditujukan kepada saudara sendiri. Numpang tanya. boleh tanya? b. Brown dan Levinson (1978). dapat dilakukan. could you lend me a hundred bucks? (positive polite) c. but could you lend me a hundred dollars? (negative polite) e. 5. bidal kedermawanan (generosity maxim). Politeness. Pragmatik dalam Linguistik . bidal pujian (approbation maxim). semakin tinggi resiko kehilangan muka. face work technique. Kelima strategi tersebut diurut berdasarkan tingkat resiko "kehilangan muka". Hey. dan. misalnya mahasiswa kepada dosen atau yang muda kepada yang tua. Dalam hal ini. Renkema (2004: 27) memberi contoh strategi tersebut. misalnya dengan pujian. yaitu bidal kebijaksanaan (tact maxim). Hey. (off record) Teori kesantunan lain dibahas oleh Leech (1983). bidal kesetujuan (aggreement maxim). kekuasaan atau power (P) yang dimiliki lawan bicara (Renkema 2004: 26). I'm out of cash! I forgot to go to the bank today. Mas? Dalam contoh di atas terlihat jelas. Dalam hal ini. maka politeness strategy semakin dibutuhkan. ujaran (9a) mungkin diucapkan pembicara yang secara sosial lebih rendah dari lawan bicaranya. sedangkan politeness yang dilakukan untuk tujuan sebaliknya disebut respect politeness. bidal simpati (sympathy maxim). misalnya dengan melakukan tindakan yang tidak kooperatif dalam komunikasi (Renkema 2004: 25).

Seperti telah saya uraikan sedikit dalam sub 3 di atas, salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. Dalam sintaksis, seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4), dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis, bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat, dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal. Secara umum, sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya, sehingga bentuk seperti kucing menyapu halaman, meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris, tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis. Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis, melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. Lebih tepatnya, dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi, bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Atas dasar ini, pertama, dapat dipahami, dan memang sering kita temukan, bahwa komunikasi tetap dapat berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis; dan kedua, demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka, selain tata bahasa, makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik, sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik, terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik, yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa, dalam analisis bahasa. Berdasarkan truth conditional semantics, untuk dapat dinyatakan benar, sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis. Dengan demikian, bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis, karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. Namun demikian, pembahasan makna dalam semantik belum memadai, karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa, sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi, meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai, tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. Dengan kata lain, untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa seharihari, di samping sintaksis dan semantik, dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur, makna apa yang dituturkan, dan maksud dari tuturan. Kegunaan pragmatik, yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik, dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan, misalnya, bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa, bagaimana memahami implikatur percakapan, dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. Selanjutnya, untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik, saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada, pertama, semantik mengkaji makna

(sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis, sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya; dan kedua, semantik terikat pada kaidah (rule-governed), sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). Tentang perbedaan yang pertama, meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda, keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan, sebab daya mencakup juga makna. Dengan kata lain, semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan, sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. Selanjutnya, kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. Kaidah bersifat deskriptif, absolut atau bersifat mutlak, dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya, sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif, dapat bertentangan dengan prinsip lain, dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain. Lebih jauh lagi, dalam pengajaran bahasa, seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22), terdapat keterkaitan, yaitu bahwa pengetahuan pragmatik, dalam arti praktis, patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. Dalam pengajaran bahasa Indonesia, misalnya, pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya, karena selain benar, bahasa yang digunakan harus baik. Dalam pengajaran bahasa asing, pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence), yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu, kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik, dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa. 6. Penutup Seperti telah disebutkan di muka, tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa pragmatik penting dipelajari dalam program studi linguistik. Berdasarkan penjelasan di atas, saya melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik setidaknya dalam dua hal, pertama, pragmatik merupakan satu-satunya tataran dalam linguistik yang mengkaji bahasa dengan memperhitungkan juga penggunanya; kedua, berkaitan dengan ketidakmampuan sintaksis dan semantik dalam menjelaskan fenomena penggunaan bahasa sehari-hari, saya melihat kedudukan semantik dan pragmatik sebagai dua hal yang saling melengkapi. Selain itu, berkaitan dengan pengajaran bahasa, pragmatik berperan dalam pengembangan kompetensi komunikatif. Daftar Acuan Austin, John L. 1962. How to Do Things with Word (edisi kedua). Oxford: Oxfod University Press.

Brown, Penelope., dan Stephen C. Levinson. 1978. Politeness: Some Universal in Language Usage. Cambridge: Cambridge University Press. Eelen, Gino. 2001. A Critique of Politeness Theories. Manchester, UK: St. Jerome Publishing Gunarwan, Asim. 2004. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). IKIP Singaraja. Jaszczolt, K.M. 2002. Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse. Edinburgh: Pearson Education. Renkema, Jan. 2004. Introduction to Discourse Studies. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. Thomas. Jenny. 1995. Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics. London/New York: Longman. Yule, George. 1996. Pragmatics. Oxford. Oxford University Press.

Rabu, 04 Juli 2007
Pragmatik Oleh: sidon. bandung Pengertian Pragmatik Pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang semakin dikenal pada masa sekarang ini, walaupun pada kira-kira dua dasa warsa yang silam, ilmu ini jarang atau hampir tidak pernah disebut oleh para ahli bahasa. Hal ini dilandasi oleh semakin sadarnya para linguis, bahwa upaya untuk menguak hakikat bahasa tidak akan membawa hasil yang diharapkan tanpa didasari pemahaman terhadap pragmatik, yakni bagaimana bahasa itu digunakan dalam komunikasi (Leech, 1993: 1). Leech (1993: 8) juga mengartikan pragmatik sebagai studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situasions). Pragmatik sebagaimana yang telah diperbincangkan di Indonesia dewasa ini, paling tidak dapat diedakan atas dua hal, yaitu (1) pragmatik sebagai sesuatu yang diajarkan, (2) pragmatik sebagai suatu yang mewarnai tindakan mengajar. Bagian pertama masih dibagi lagi atas dua hal, yaitu (a) pragmatik sebagai bidang kajian linguistik, dan (b) pragmatik sebagai salah satu segi di dalam bahasa atau disebut µfungsi komunikatif¶ (Purwo, 1990:2). Pragmatik ialah berkenaan dengan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya bahasa dalam komunikasi (KBBI, 1993: 177). Menurut Levinson (1983: 9), ilmu pragmatik didefinisikan sebagai berikut: (1) ³Pragmatik ialah kajian dari hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa´. Di sini, ³pengertian/pemahaman bahasa´ menghunjuk kepada fakta bahwa untuk mengerti sesuatu ungkapan/ujaran bahasa diperlukan juga pengetahuan di luar makna kata dan hubungan tata bahasanya, yakni hubungannya dengan konteks pemakaiannya. (2) ³Pragmatik ialah kajian tentang kemampuan pemakai bahsa mengaitkan kalimat-kalimat

1987: 2) Pragmatik juga diartikan sebagai syarat-syarat yang mengakibatkan serasi-tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi.1) Ada seorang wanita Indonesia. dan (3. Sedangkan memperlakukan bahasa secara pragmatik ialah memperlakukan bahasa dengan mempertimbangkan konteksnya. yakni penggunaannya pada peristiwa komunikasi (Purwo. Praanggapan (presupposition) adalah apa yang diasumsikan oleh penutur sebagai hal yang benar atau hal yang diketahui pendengar (Cahyono. Menurut Nababan (1987: 46). Deiksis adalah kata-kata yang memiliki referen yang berubah-ubah atau berpindah-pindah (Wijana. dan sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa pada hal-hal ³ekstralingual´ yang dibicarakan. (c) tindak ujaran (speech acts). pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang membahas tentang apa yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komunikasi antara penutur dan pendengar. yakni: 1. tetapi ia juga menindakkan sesuatu (Purwo. . Menurut Verhaar (1996: 14). Pragmatik adalah suatu telaah umum mengenai bagaimana caranya konteks mempengaruhi peserta tutur dalam menafsirkan kalimat atau menelaah makna dalam kaitannya dengan situasi ujaran.dengan konteks-konteks yang sesuai bagi kalimat-kalimat itu´. Sebagai contoh: (4) Jari tangan jumlahnya lima. Searle di dalam bukunya Speech Acts: An Essay in The Philosophy of Language (1969: 23-24) dalam Wijana (1996: 17-22). 1990: 31). Fenomena Pragmatik Kancah yang dijelajahi pragmatik ada empat: (a) deiksis. 1995: 217). 1995: 219). dan sebaliknya. dan (d) implikatur percakapan (conversational implicature) (Purwo. Jika kedua praanggapan itu diterima. dapat disimpulkan tentang batasan pragmatik. Deiksis dapat juga diartikan sebagai suatu cara untuk mengacu ke hakekat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan (Cahyono. Purwo (1990: 16) mendefinisikan pragmatik sebagai telaah mengenai makna tuturan (utterance) menggunakan makna yang terikat konteks. dsb) yang dapat dipakainya untuk mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud. yaitu tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. 1993: 177). Berdasarkan beberapa pendapat di atas. 1990: 17). mengemukakan bahwa secara pragmatis setidaktidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur. Tindak lokusi. Tindak ujaran (speech acts) ialah pengucapan suatu kalimat di mana si pembicara tidak sematamata menanyakan atau meminta jawaban tertentu. membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa (kalimat. maka kalimat (3) mempunyai makna atau dapat dimengerti pendengar/pembaca. praanggapan adalah dasar atau penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa (menggunakan bahasa) yang membuat bentuk bahasa (kalimat atau ungkapan) mempunyai makna bagi pendengar/penerima bahasa itu. terdapat praanggapan bahwa: (3. (b) praanggapan (presupposition). (Nababan. 1990: 19). aspek-aspek pemakaian bahasa atau konteks luar bahasa yang memberikan sumbangan kepada makna ujaran (Kridalaksana. 1998: 6). Nababan memberikan contoh penggunaan presuposisi sebagai berikut: (1) Wanita Indonesia membeli burung.2) Ada burung.

konsep implikatur memberikan penjelasan tentang makna berbeda dengan yang dikatakan secara lahiriah. Pengertian Deiksis Kata deiksis berasal dari bahasa Yunani yang berarti µmenunjuk¶ atau µmenunjukkan¶.Kalimat (4) di atas. Contoh: (5) Saya tidak dapat datang. dan rekan sekerja Anda. atau efek bagi yang mendengarkannya. konsep implikatur dapat menyederhanakan struktur dan isi deskripsi semantik. Dijamin halal. Sebagai contoh: (6) Kunjungilah restoran Oshin! Tersedia bermacam-macam masakan Jepang. tetapi untuk melakukan sesuatu. deiksis diartikan sebagai hal atau fungsi yang menunjuk sesuatu di luar bahasa. 2. dalam penelitian ini. diutarakan oleh penuturnya semata-mata untuk menginformasikan sesuatu tanpa tendensi untuk melakukan sesuatu. Namun pembicara kedua sudah mengetahui bahwa jawaban yang disampaikannya sudah cukup untuk menjawab pertanyaan pembicara pertama. Tindak perlokusi. peristiwa. Pertama. tidak hanya berfungsi untuk menyatakan sesuatu.selain mengatakan mengelola masakan ala Jepang. Ini dapat diketahui karena penutur -pengelola restoran. apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya. dapat juga dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Implikatur percakapan (conversational implicature) merupakan konsep yang cukup penting dalam pragmatik karena empat hal (Levinson. 1998: 6). Keempat. Tindak ilokusi. yakni meminta maaf. Cina. Deiksis adalah kata-kata yang memiliki referen berubah-ubah atau berpindah-pindah (Wijana. ditemukan penggunaan tindak perlokusi. Cina dan Eropa juga meyakinkan pendengar/pembaca bahwa masakannya benar-benar halal. Deiksis dapat juga diartikan sebagai lokasi dan identifikasi orang. konsep implikatur memungkinkan penjelasan fakta-fakta kebahasaan yang tidak terjangkau oleh teori linguistik. Tampaknya kalimat (7A) dan (7B) tidak berkaitan secara konvensional. Kedua. sebab dia sudah mengetahui jam berapa koran biasa diantarkan. Dari contoh di atas dapat diketahui bahwa. kata tunjuk pronomina. Menurut Bambang Yudi Cahyono (1995: 217). 1983: 97). dan sebagainya. konsep implikatur dapat menjelaskan beberapa fakta bahasa secara tepat. Dalam KBBI (1991: 217). Kajian pragmatik tersebut digunakan untuk memahami makna dan fungsi deiksis pronomina persona. handai taulan. Sebagai contoh: (7) A : Jam berapa sekarang? B : Korannya sudah datang. bila kalimat itu diutarakan oleh seseorang kepada temannya yang baru saja merayakan ulang tahun. Deiksis 1. objek. deiksis adalah suatu cara untuk mengacu ke hakekat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan. proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalam hubungannya dengan dimensi . ketakrifan. 3. yaitu sebuah tuturan selain berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu. Tempat ideal untuk bersantai bersama keluarga. Dari keempat bidang kajian pragmatik tersebut pada akhirnya dapat digunakan untuk memahami makna sesuai dengan konteks yang terjadi. yaitu sebuah tuturan yang diutarakan oleh seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary force). Dalam wacana di atas. dan Eropa. Ketiga.

yaitu kategori rujukan kepada orang yang bukan pembicara atau pendengar ujaran itu. Deiksis orang ditentukan menurut peran peserta dalam peristiwa bahasa. yang artinya topeng (topeng yang dipakai seorang pemain sandiwara). pada saat dituturkan oleh pembicara atau yang diajak bicara (Lyons. (Setiawan. Rujukan semacam itu oleh Nababan (1987: 40) disebut deiksis (Setiawan. sedangkan anafora merujuk dalam tuturan baik yang mengacu kata yang berada di belakang maupun yang merujuk kata yang berada di depan (Lyons. yaitu kata atau frase yang menunjuk kata. deiksis tempat. 1984: 106). 1997: 6). misalnya dia dan mereka. Berdasarkan beberapa pendapat. 1993: 43). 1977: 638 via Djajasudarma.ruang dan waktunya. untuk mengetahui siapa pembicara dan lawan bicara kita harus mengetahui situasi waktu tuturan itu dituturkan. 1987: 40). Deiksis Persona Istilah persona berasal dari kata Latin persona sebagai terjemahan dari kata Yunani prosopon. yang tidak merupakan unsur di dalam bahasa itu sendiri. maka kalimatnya harus diubah. Kata seperti saya. Deiksis dapat diartikan sebagai luar tuturan. deiksis wacana dan deiksis sosial (Nababan. kalian. baik hadir maupun tidak. Perujukan dapat pula ditujukan pada bentuk yang akan disebut kemudian. . Istilah persona dipilih oleh ahli bahasa waktu itu disebabkan oleh adanya kemiripan antara peristiwa bahasa dan permainan bahasa (Lyons. sini. misalnya kamu. yaitu kategori rujukan pembicara kepada seorang pendengar atau lebih yang hadir bersama orang pertama. sekarang baru dapat diketahui maknanya jika diketahui pula siapa. Menurut Bambang Kaswanti Purwo (1984: 1) sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila rujukannya berpindah-pindah atau berganti-ganti. Perujukan atau penunjukan dapat ditujukan pada bentuk atau konstituen sebelumnya yang disebut anafora. di tempat mana. Pengertian deiksis dibedakan dengan pengertian anafora. dan kami. 1993: 44). Bentuk rujukan seperti itu disebut dengan katafora. yang menjadi pusat orientasi deiksis adalah penutur. Jadi. Dalam bidang linguistik terdapat pula istilah rujukan atau sering disebut referensi. Kedua ialah orang kedua. kita. Peran peserta itu dapat dibagi menjadi tiga. 1997: 8). tergantung siapa yang menjadi pembicara. Kata-kata ini tidak memiliki referen yang tetap. Oleh karenanya. a. Kata ganti persona pertama dan kedua rujukannya bersifat eksoforis. Ketiga ialah orang ketiga. 2. misalnya saya. Fenomena deiksis merupakan cara yang paling jelas untuk menggambarkan hubungan antara bahasa dan konteks dalam struktur bahasa itu sendiri. 1997: 6). dimana yang menjadi pusat orientasi deiksis senantiasa si pembicara. Apabila persona pertama dan kedua akan dijadikan endofora. berarti juga peranan atau watak yang dibawakan oleh pemain sandiwara. Jenis Deiksis Deiksis ada lima macam. sekarang adalah kata-kata deiktis. Referen kata saya. saudara. sini. yaitu deiksis orang. dan sebagainya. 1977: 638 via Setiawan. dan waktu kapan kata-kata itu diucapkan. 1977: 637 via Djajasudarma. Hal ini berarti bahwa rujukan pertama dan kedua pada situasi pembicaraan (Purwo. deiksis waktu. saat dan tempat dituturkannya kata-kata itu. yaitu dari kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung. frase atau ungkapan yang akan diberikan. pronomina. Pertama ialah orang pertama. dapat dinyatakan bahwa deiksis merupakan suatu gejala semantis yang terdapat pada kata atau konstruksi yang acuannya dapat ditafsirkan sesuai dengan situasi pembicaraan dan menunjuk pada sesuatu di luar bahasa seperti kata tunjuk. yaitu kategori rujukan pembicara kepada dirinya atau kelompok yang melibatkan dirinya.

itu. penggunaan deiksis waktu sudah jelas. deiksis (rujukan) waktu ini diungkapkan dalam bentuk ³kala´ (Inggris: tense) (Nababan. Semua bahasa -termasuk bahasa Indonesia. Dari kedua contoh di atas dapat kita ketahui bahwa -nya pada contoh (11a) mengacu ke paman . b. dalam kalimat (9a) dan (9b). sedangkan deiksis waktu dan deiksis tempat adalah deiksis jabaran. maka dapat berwujud anafora dan katafora (Setiawan. Deiksis Tempat Deiksis tempat ialah pemberian bentuk pada lokasi menurut peserta dalam peristiwa bahasa. I bought the book yesterday. Anafora ialah penunjukan kembali kepada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dalam wacana dengan pengulangan atau substitusi. dapat ditambahkan sesuatu kata/frasa keterangan waktu. Deiksis Waktu Deiksis waktu ialah pemberian bentuk pada rentang waktu seperti yang dimaksudkan penutur dalam peristiwa bahasa. -nya maupun bentuk jamak. seperti bentuk sekalian dan kalian. (9) a. Deiksis wacana mencakup anafora dan katafora. b. last year. baik yang berupa bentuk kita maupun bentuk kami masih mengandung bentuk persona pertama tunggal dan persona kedua tunggal. Dalam banyak bahasa. Berbeda dengan kata ganti persona pertama dan kedua. Di sini dijual gas Elpiji. 1997: 9). 1987: 41). yesterday. dan sebagainya. Katafora ialah penunjukan ke sesuatu yang disebut kemudian. Paman datang dari desa kemarin dengan membawa hasil palawijanya. now. ia. Oleh karena bersifat endofora. Sebagai contoh. seperti bentuk dia. I bought a book. 1987: 42). b. Sebagai contoh penggunaan deiksis tempat. I am buying a book. Meskipun tanpa keterangan waktu. yang berikut. Frasa di sini pada kalimat (8a) mengacu ke tempat yang sangat sempit. 1987: 41). Hal ini dikarenakan bentuk tersebut. yakni sebuah kursi atau sofa. d. Karena aromanya yang khas. Contoh pemakaian deiksis waktu dalam bahasa Inggris. Deiksis Wacana Deiksis wacana ialah rujukan pada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan atau sedang dikembangkan (Nababan. baik tunggal. I bought the book 2 years ago. Namun apabila diperlukan pembedaan/ketegasan yang lebih terperinci. Bentuk-bentuk yang dipakai untuk mengungkapkan deiksis wacana itu adalah kata/frasa ini. yang terdahulu. b. Pada kalimat (8b).membedakan antara ³yang dekat kepada pembicara´ (di sini) dan ³yang bukan dekat kepada pembicara´ (termasuk yang dekat kepada pendengar -di situ) (Nababan. mangga itu banyak dibeli.Bentuk pronomina persona pertama jamak bersifat eksofora. begitulah. Contoh dalam bahasa Inggris: (10) a. b. acuannya lebih luas. yang pertama disebut. (11) a. Duduklah kamu di sini. kata ganti persona ketiga. dsb. umpamanya. Menurut pendapat Becker dan Oka dalam Purwo (1984: 21) bahwa deiksis persona merupakan dasar orientasi bagi deiksis ruang dan tempat serta waktu. (8) a. Deiksis persona merupakan deiksis asli. c. dapat bersifat endofora dan eksofora. yakni suatu toko atau tempat penjualan yang lain.

1997: 9). beliau. Tabel 1: Pronomina Persona Persona Makna Tunggal Jamak Netral Eksklusif Inklusif Pertama saya. kamu (sekalian). atau siapa/apa yang dibicarakan (Moeliono. memakai kata nedo dan kata dahar (makan). -ku kami kita Kedua engkau. ³unda-usuk´. Perbedaan itu dapat ditunjukkan dalam pemilihan kata. -nya mereka. 1988: 172 via Setiawan. daku. atau mengacu pada orang yang dibicarakan (persona ketiga) (Moeliono. Bentuk saya. ku-. Pronomina persona adalah pronomina yang dipakai untuk mengacu ke orang. dia. 1997: 170). -nya a) Pronomina Persona Pertama Dalam Bahasa Indonesia. perbedaan tingkat sosial antara pembicara dengan pendengar yang diwujudkan dalam seleksi kata dan/atau sistem morfologi kata-kata tertentu (Nababan. dan ngoko. ngoko dan kromo dalam sistem pembagian dua. dapat juga dipakai untuk menyatakan hubungan pemilikan dan diletakkan di belakang nomina yang . dikau. Bentuk Pronomina Persona Jika ditinjau dari segi artinya. C. kamu. aku. Ciri lain yang dimiliki pronomina ialah acuannya dapat berpindah-pindah karena bergantung pada siapa yang menjadi pembicara/penulis. Dalam beberapa bahasa. madyo. Deiksis Sosial Deiksis sosial ialah rujukan yang dinyatakan berdasarkan perbedaan kemasyarakatan yang mempengaruhi peran pembicara dan pendengar.juga predikat. Anda (sekalian) Ketiga ia. 1997: 276 via Setiawan. Dalam bahasa Inggris dikenal tiga bentuk kata ganti persona. atau ngoko. kau-. dalam bahasa Jawa. pronomina persona pertama tunggal adalah saya.yang sudah disebut sebelumnya. persona kedua dan persona ketiga (Lyons. objek. atau ´etiket berbahasa´ (Geertz. Jika dilihat dari segi fungsinya. dan daku. dapat dikatakan bahwa pronomina menduduki posisi yang umumnya diduduki oleh nomina. Berikut ini adalah pronomina persona yang disajikan dalam tabel. 1987: 42-43). Aspek berbahasa seperti ini disebut ³kesopanan berbahasa´. pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu ke nomina lain. 1997: 172). pendengar dan/atau orang yang dibicarakan/bersangkutan. sedangkan pada contoh (11b) mengacu ke mangga yang disebut kemudian. seperti subjek. Bahasa Indonesia juga mengenal tiga bentuk persona seperti dalam bahasa Inggris (P&P. e. yang menjadi pendengar/pembaca. Dalam bahasa Jawa umpamanya. 1987: 42). Anda. 1997: 9). -mu kalian. madyo dan kromo kalau sistem bahasa itu dibagi tiga. biasanya digunakan dalam tulisan atau ujaran yang resmi. mengacu pada orang yang diajak bicara (persona kedua). aku. kromo dan kromo inggil kalau sistemnya dibagi empat. Secara tradisional perbedaan bahasa (atau variasi bahasa) seperti itu disebut ³tingkatan bahasa´. menunjukkan perbedaan sikap atau kedudukan sosial antara pembicara. Bentuk saya. dan -dalam macam kalimat tertentu. 1960 via Nababan. yaitu persona pertama. Pronomina dapat mengacu pada diri sendiri (persona pertama).

Bentuk terikat itu masing-masing adalah kau. . pada umumnya digunakan dalam karya sastra. Pronomina persona kedua juga mempunyai bentuk jamak. cara menggunakan lambang-lambang bahasa. hanya bentuk dia dan -nya yang dapat muncul. Pronomina persona ketiga jamak adalah mereka. dalam arti kesepadanan atau ketidaksepadanan antara bahasa dan alam di luar bahasa. kita bersifat inklusif. b) Pronomina Persona Kedua Pronomina persona kedua tunggal mempunyai beberapa wujud. Pronomina persona kedua engkau. kamu sekalian. yakni engkau. dan -mu. Akan tetapi. Selain pronomina persona pertama tunggal. Benda atau konsep yang jamak dinyatakan dengan cara yang lain. Sedangkan untuk pronomina persona pertama daku. dapat dipakai oleh orang tua terhadap orang muda yang telah dikenal dengan baik dan lama. orang yang status sosialnya lebih tinggi. yaitu -ku dan ku-. orang yang mempunyai hubungan akrab. Makna Deiksis Pronomina Persona Menurut Kridalaksana (2001: 132). Mereka tidak mempunyai variasi bentuk sehingga dalam posisi mana pun hanya bentuk itulah yang dipakai. rumah mereka. Pronomina persona aku mempunyai variasi bentuk. Akan tetapi. tanpa memandang umur atau status sosial. ia dan dia sama-sama dapat dipakai. c) Pronomina Persona Ketiga Pronomina persona ketiga tunggal terdiri atas ia.dan -mu. artinya. Dari keempat pronomina tersebut. Selain itu. misalnya dengan mengulang nomina tersebut atau dengan mengubah sintaksisnya. kamu Anda. kau.dimilikinya. -nya dan beliau yang dapat digunakan untuk menyatakan milik. yakni kami dan kita. atau di depan verba. dia. Dalam posisi sebagai subjek. pronomina Anda juga digunakan dalam hubungan yang tak pribadi. Kami bersifat eksklusif. atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjuknya. atau terletak di sebelah kanan dari yang diterangkan. tetapi pembicara tidak ingin bersikap terlalu formal ataupun terlalu akrab. misalnya usul mereka. kamu. tetapi tidak mencakupi orang lain dipihak pendengar/pembacanya. misalnya: rumah saya. Pronomina persona ketiga tunggal beliau digunakan untuk menyatakan rasa hormat. lebih banyak digunakan dalam situasi non formal dan lebih banyak menunjukkan keakraban antara pembicara/penulis dan pendengar/pembaca. -nya dan beliau. kata mereka kadangkadang juga dipakai untuk mengacu pada binatang atau benda yang dianggap bernyawa. Pada umumnya mereka hanya dipakai untuk insan. Pronomina persona kedua yang memiliki varisi bentuk hanyalah engkau dan kamu. D. dan mungkin pula pihak lain. bahasa Indonesia mengenal pronomina persona pertama jamak. pada cerita fiksi atau narasi lain yang menggunakan gaya fiksi. hubungan. hanya dia. makna adalah maksud pembicaran. tetapi juga pendengar/pembaca. pronomina itu mencakupi pembicara/penulis dan orang lain dipihaknya. yakni dipakai oleh orang yang lebih muda atau berstatus sosial lebih rendah daripada orang yang dibicarakan. dalam hubungan bersemuka. paman saya. pronomina itu mencakupi tidak saja pembicara/penulis. dikau.dan -mu. yaitu bentuk kalian dan bentuk pronomina persona kedua ditambah sekalian: Anda sekalian. artinya. Pronomina persona pertama aku. jika berfungsi sebagai objek. pengaruh satuan bahasa dalam pemahaman persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia. sehingga Anda tidak diarahkan pada satu orang khusus. Pronomina persona kedua Anda dimaksudkan untuk menetralkan hubungan. Sebaliknya.

makna deskriptif. makna kontekstual. makna referensial. (2) makna konotatif. makna majas (kiasan). makna leksikal. makna referensial. sedangkan yang mengartikan (signifiant) adalah bunyi-bunyi yang terentuk dari fonemfonem bahasa yang bersangkutan. makna konseptual. makna denotatif. makna konstruksi. . dapat dibagankan sebagai berikut. Inggris: signified) dan (2) yang mengartikan (Perancis: signifiant. (5) makna reflektif. makna ekatensi. 1995: 29). Di dalam penggunaannya dalam pertuturan yang nyata makna kata atau leksem itu seringkali. makna denotatif. makna intensi. makna pusat. makna piktorial. makna kolokasi. Chaer (1994) membagi jenis makna menjadi tigabelas. makna istilah. Kedua unsur ini adalah unsur dalam-bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk atau mengacu kepada sesuatu referen yang merupakan unsur luar-bahasa (ekstralingual) (Chaer. Titik (a) dan (b) sama-sama berada di dalam-bahasa. makna idesional. Inggris: signifier). makna kata. makna luas. makna referensial. Menurut Djajasudarma (1993: 6). makna kognitif. Jadi. Sedangkan Leech (1976) membedakan adanya tujuh tipe makna. (6) makna kolokatif. Bila dilihat dari segi atau pandangan yang berbeda. Pateda (1986) melalui Chaer (1995: 59) mengemukakan adanya jenis-jenis makna. yaitu: (1) yang diartikan (Perancis: signifie. makna gramatikal. Hubungan antara tanda linguistik (bersama unsur bunyi dan makna) dengan unsur referennya. makna kognitif. makna terdiri atas beberapa jenis.Ferdinand de Saussure membagi setiap tanda linguistik menjadi dua. Sedangkan hubungan (a) dan (b) serta hubungan (b) dan (c) bersifat langsung. 1995: 59). makna piktorial. Ada teori yang menyatakan bahwa makna itu tidak lain daripada sesuatu atau referen yang diacu oleh kata atau leksem itu. makna proposisional. yaitu (1) makna konseptual. makna bahasa dapat terdiri dari bermacammacam jenisnya. (3) makna stilistika. makna gramatikal. makna konotatif. makna konseptual. (4) makna afektif. dan (7) makna tematik (Chaer. makna kiasan. (b) konsep/makna (a) kata/leksem (c) sesuatu yang dirujuk (referen) Hubungan antara (a) dan (c) bersifat tidak langsung. makna inti. makna emotif. dan makna kalimat baru dapat ditentukan apabila kalimat itu berada di dalam konteks wacananya atau konteks situasinya (Chaer. makna gereflekter. sebab (a) adalah masalah dalam-bahasa dan (c) masalah luar-bahasa yang hubungannya biasanya bersifat arbitrer. makna idiom. Oleh karena itu. yaitu makna afektif. makna leksikal. makna luas. Yang diartikan (signifie) sebenarnya adalah konsep atau makna dari sesuatu tanda bunyi. terlepas dari pengertian atau konsep dasarnya dan juga acuannya. makna konstruksi. hubungan (b) dan (c) bahwa (c) adalah acuan dari (b) tersebut. makna non-referensial. Hanya perlu dipahami bahwa tidak semua kata atau leksem itu mempunyai acuan konkret di dunia nyata. makna idesional. makna konotatif/emotif. makna gramatikal. makna proposisi. 1994: 288). dan makna tematis. dan makna pribahasa. makna asosiatif. makna stilistika. yaitu: makna sempit. makna konotatif. makna sempit. dengan kata lain setiap tanda-linguistik terdiri dari unsur bunyi dan unsur makna. yaitu makna leksikal. banyak pakar yang mengatakan bahwa kita baru dapat menentukan makna sebuah kata apabila kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya. dan mungkin juga biasanya.

(17) A: ³Kemarin saya bertemu dengan Ibu Ani. (Konteks: seorang Ibu yang memberitahuan keadaan suaminya kepada anaknya). (Konteks: diberitahukan bahwa pimpinan sekolah sedang mengadakan rapat dengan para guru sekolah tersebut). Penggunaan kata Bapak pada kalimat (14) dengan (15) mengalami perubahan makna. Makna kognitif disebut juga makna deskriptif atau denotatif adalah makna yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan (Djajasudarma. atau pengalaman lainnya (Chaer. 1993: 8). makna denotatif nampak pada penggunaan kata Dian.´ . yang mengacu pada seseorang yang mempunyai nama Dian. (Konteks: seorang pencuri yang sedang diinterogasi oleh polisi atas tuduhan pencurian). melainkan dapat berpindah dari maujud yang satu kepada maujud yang lain (Chaer. Pada kalimat (16) di atas. (15) ³Bapak Kepala Sekolah sedang mengadakan rapat dengan para guru. Kata saudara pada kalimat (12) dengan (13) mengalami perubahan makna. (12) ´Apakah saudara tidak mau mengakuinya?´ kata Pak Polisi. makna referensial adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan atau referen (acuan). penciuman. Makna referensial adalah makna sebuah kata atau leksem yang mempunyai referen atau acuannya. Makna denotatif juga dapat diartikan sebagai makna yang sesuai dengan hasil observasi menurut penglihatan. Pada kalimat (12). (14) ³Bapak sedang sakit. sekarang. ³Saya juga bertemu beliau kemarin. sedangkan pada kalimat (15) kata Bapak bermakna luas µpanggilan untuk laki-laki dewasa¶. ke dalam makna kognitif tersebut ditambahkan komponen makna lain (Djajasudarma. Menurut Djajasudarma (1993: 11). 1994: 292). 1995: 66). sedangkan pada kalimat (13) saudara bermakna sempit µkerabat¶. (Konteks: penutur memiliki saudara sepupu yang tinggal di Bandung. Makna luas (widened meaning atau extended meaning) adalah makna yang terkandung pada sebuah kata lebih luas dari yang diperkirakan (Djajasudarma. Makna konotatif adalah makna yang muncul dari makna kognitif (lewat makna kognitif). kata-kata yang bermakna luas digunakan untuk mengungkapkan gagasan atau ide yang umum. (13) Saudara saya yang dari Bandung akan datang hari ini. yaitu maknanya akan menyempit (memiliki makna sempit). 1993: 7). Berkenaan dengan acuan ini ada sejumlah kata yang disebut kata-kata deiktik yang acuannya tidak menetap pada satu maujud. Perhatikan contoh. Berbeda dengan kata-kata yang bermakna sempit. pendengaran. makna asal. Pada kalimat (14) kata Bapak bermakna sempit µorang tua kandung¶. dan akan datang ke rumah penutur).´ kata Dian kepada Dani. (16) Dian adalah salah satu mahasiswa jurusan bahasa Indonesia. kata saudara bermakna µpanggilan pada seseorang¶. Makna denotatif adalah makna asli. Sebagai contoh.´ kata Ibu. Makna konotatif muncul sebagai akibat asosiasi perasaan kita terhadap apa yang diucapkan atau apa yang didengar. Sebagai contoh. atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem (Chaer. 1993: 9). perasaan. B: ³Benarkah?´ sahut Dani. 1994: 291).Makna sempit (narrowed meaning) adalah makna yang lebih sempit dari keseluruhan ujaran (Djajasudarma. dari makna sempit ke makna meluas. Sebagai contoh.´ kata salah seorang staf karyawan. 1993: 9).

makna non-referensial merupakan makna sebuah kata yang tidak mempunyai acuan atau referen. Makna leksikal dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon. Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apa pun (Chaer. Tikus itu mati diterkam kucing. Atau juga dikatakan makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya. (18) Rumahnya jauh dari sini. Namun. Makna konstruksi (construction meaning) adalah makna yang terdapat di dalam konstruksi. Pada contoh kalimat (21) di atas. yang menjadi pusat (inti) pembicaraan adalah Ali sedangkan untuk adalah seorang laki-laki merupakan bagian untuk menerangkan kata Ali. kalimat. dan karena. Dari kedua contoh di atas. makna milik dapat diungkapkan melalui enklitik sebagai akhiran yang menunjukkan kepunyaan (Djajasudarma. Ia tinggal di gang yang becek itu. Kalimat (20a) menunjukkan kata adik bermakna µpelaku¶. 1993: 12). b. Perhatikan contoh berikut. Setiap ujaran (klausa. dalam kalimat (19b) kata tikus bukanlah dalam makna leksikal karena tidak merujuk kepada binatang tikus melainkan kepada seorang manusia. Makna piktorial adalah makna suatu kata yang berhubungan dengan perasaan pendengar atau pembaca. Sebagai contoh. Dari contoh di atas.Dari contoh di atas. (21) Ali adalah seorang laki-laki. dapat kita lihat bahwa pada kalimat (22a) dan (22b) memunculkan makna piktorial. b. dan proses komposisi (Chaer. yang pebuatannya memang mirip dengan perbuatan tikus. (19) a. dalam hal ini adalah rumah. Makna pusat adalah makna yang dimiliki setiap kata yang menjadi inti ujaran. Berbeda dengan makna referensial. (22) a. Sebagai contoh. makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indera. menulis bermakna µaktif¶. Kalimat (20b) menunjukkan kata adik bermakna µpelaku¶. sebangsa bintang pengerat yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit tifus. misalnya. proses reduplikasi. Pada kalimat (22b) dapat dilihat adanya makna piktorial . Perhatikan contoh berikut. yang diucapkan oleh lawan tuturnya. Kenapa kau sebut nama dia. Kalimat (22a) mengungkapkan perasaan benci penutur terhadap seseorang. atau bersifat kata. Sebagai contoh. dan bola bermakna µsasaran¶. Adik menulis surat. sedangkan pada kalimat (17B) kata saya mengacu pada Dani. atau perasaan benci. jelas bahwa. (20) a. enklitik -nya digunakan untuk menyatakan milik atau kepunyaan. atau. dapat kita ketahui bahwa kedua kalimat tersebut dapat melahirkan makna gramatikal. 1993: 16). menendang bermakna µaktif¶. 1993: 15). 1994: 289). 1995: 62). b. pada kalimat (17A) kata saya mengacu pada Dian. wacana) memiliki makna yang menjadi pusat (inti) pembicaraan (Djajasudarma. Pada kalimat (18) di atas. Misalnya kata-kata seperti dan. Yang menjadi tikus di gudang kami ternyata berkepala hitam. dan surat bermakna µhasil¶. Makna gramatikal adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatika seperti proses afiksasi. atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita (Chaer 1995: 60). Kata tikus pada kalimat (19a) merupakan makna leksikal karena jelas merujuk kepada binatang tikus. Adik menendang bola. bersifat leksem. Perasaan muncul segera setelah mendengar atau membaca suatu ekspresi yang menjijikan. Di samping itu. Perasaan dapat pula berupa perasaan gembira di samping perasaan yang disebutkan di atas (Djajasudarma. makna milik yang diungkapkan dengan urutan kata di dalam bahasa Indonesia.

E. kata kepala bermakna µbagian anggota tubuh¶. Hal ini dapat dilihat pada bagan berikut. yang menyebutkan tentang makna kebersamaan. kata kepala bermakna µbagian atas surat¶. Fungsi (b). c. Sebagai subjek (S) jamak. Pada kalimat (23a). Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu. SPOK (a). Dari beberapa teori di atas. Sebagai contoh. kata kepala bermakna µpimpinan¶. kategori gramatikal. Selain itu. peneliti juga menggunakan teori lain tentang makna. pokok kalimatnya dapat terdiri dari sekelompok orang atau benda yang ikut serta dalam tindakan. kalimat (23b). dapat kita lihat penggunaan kata kepala pada kalimatkalimat berikut. makna terdiri dari makna timbal balik dan makna kebersamaan. Rambut di kepala nenek belum ada yang putih. dapat dilihat bahwa pokok kalimatnya menyatakan subjek (S) jamak. 1994: 290). dkk dalam bukunya yang berjudul ³Bahasa Indonesia. penggunaan kata kepala mempunyai makna konteks yang berbeda. yang mana apabila sasaran penyelidikannya tertumpu pada hal-hal yang berkaitan dengan sintaksis. (23) a. maka peneliti memberikan istilah sendiri untuk sampel data tersebut sebagai jenis makna. Peran . (25) Saya dan Dar berpandang-pandangan. Deskripsi dan Teori´. Ini dilakukan mengingat bahwa dalam sintaksis itu ada pula tataran bawahan yang disebut fungsi gramatikal. b. Makna timbal balik dan makna kebersamaan dibentuk dengan memakai verba. Namun. Menurut Alieva.dengan perasaan jijik. pokok kalimatnya merupakan salah satu dari subjek (S) jamak yang lebih penting bagi kalimat ini. Sebagai contoh. sebagai sebutan kalimat. sesudah perempuan itu masuk ke dalam. Nomor teleponnya ada pada kepala surat itu. baik transitif maupun intransitif. (26) Apalagi mereka berdua tak asing-mengasing lagi. yaitu teori dari Alieva. Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks (Chaer. kita bermusuhan. dkk. diketengahkan adanya istilah semantik sintaktikal. Untuk ketiga contoh di atas. Untuk itu. tidak seluruh jenis makna yang dikemukakannya sesuai dengan sampel data yang ada. teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori yang dikemukakan oleh Djajsudarma. dan pada kalimat (23c). (24) Saudara berhak membunuh saya. Hal itu dikarenakan bahwa dari beberapa makna yang dikemukakan olehnya. pokok kalimatnya dapat menyatakan subjek (S) jamak maupun subjek (S) tunggal. ada makna yang sesuai dengan sampel data yang ditemukan. Sedangkan sebagai subjek (S) tunggal. Fungsi Deiksis Pronomina Persona Dalam tataran tata bahasa atau gramatika. Pada kedua makna ini. Dari ketiga kalimat di atas. dan peran gramatikal. ada sebagian sampel data yang tidak sesuai dengan kedua teori tersebut. Kategori (c).

KK menentukan hadirnya KB dalam struktur semantik itu. experince. dalam karangannya ³Case for Case´ (1968) membagi kalimat atas modalitas dan proposisi. objek. dan adverbia. maka verba di sini sama dengan predikat dan nomina sama dengan argumen. benefactive. benefaktif. 1995: 21-22). Kasus Benefaktif (B) Kasus benefaktif adalah kasus yang ditujukan bagi makhluk hidup (yang bernama) yang memperoleh keuntungan oleh tindakan yang diperikan oleh verba. Sedangkan proposisi berwujud sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus. Modalitas berkenaan dengan negasi. kasus yang mengacu pada agent atau pelaku suatu tindakan.Fungsi gramatikal berupa ³kotak-kotak kosong´ yang diberi nama subjek (S). Kini sebagai pengisi kotak-kotak itu memiliki peran gramatikal seperti peran agentif. Chafe tetap menggunakan istilah KB yang menurut fungsi semantiknya bisa berlaku sebagai agent. atau adjektiva. predikat (P). keadaan/tempat/waktu yang sudah (source). Chafe tidak menggunakan istilah kasus untuk menyatakan relasi semantik anatara KK dengan KB dalam suatu struktur semantik. Pada contoh (27) di atas. sebab semuanya hanya berupa kotak atau tempat yang kosong. verba. Berapa banyak KB yang hadir dalam suatu struktur semantik tergantung pada jenis/tipe KK dalam struktur itu. lokatif. keadaan/tempat/waktu yang akan datang (goal). aspek. Yang dimaksud dengan kasus (case) dalam teori ini adalah hubungan antara verba dengan nomina dalam struktur semantis. sedangkan KK aksi bitransitif menghadirkan tiga KB seperti kalimat Ibu membelikan adik sepatu (Chaer. nomina atau frase nomina yang mengacu pada orang atau binatang yang melakukan atau memprakarsai tindakan verba. Yang memiliki makna adalah pengisi kotak-kotak yang disebut kategori gramatikal seperti nomina. Fillmore. sebagai KB yang berfungsi semantik benefaktif yaitu adik. dll. Kategori-kategori ini yang sesungguhnya sudah memiliki makna leksikal. yaitu: a. KK aksi monotransitif menghadirkan dua KB. tujuan (object). Artinya. Wallace L. dan keterangan (K) yang sebenarnya tidak mempunyai maksud. objek (O). (27) Tom memangkas mawar. KK keadaan hanya menghadirkan satu Kb seperti dalam kalimat Ibu termenung. Kasus Agentif (A) Kasus agentif merupakan kasus yang secara khusus ditujukan bagi makhluk hidup (yang bernyawa) yang merasakan hasutan tindakan yang diperkenalkan oleh verba. pasien. yaitu (1) kata kerja/KK dan (2) kata benda /KB. mengemukakan adanya sembilan fungsi semantik atau kasus. pengalami (experiencer). locative. Henry Guntur Tarigan dalam bukunya yang berjudul ³Pengajaran Tatabahasa Kasus´ (1989: 68). Hanya argumen di sini diberi nama kasus. dan sebagainya (Chaer. 1995: 21). Apabila dibandingkan dengan teori generatif semantik. nomina atau frase nomina . yang dikenal sebagai tokoh tata bahasa kasus. compliment. b. Dalam versi 1971. Jadi KK membelikan dari contoh di atas menghadirkan sebuah KB yang berfungsi sebagai semantik agent yaitu Ibu. seperti dalam kalimat Ibu membeli gula. Sebagai contoh. bentuk Tom dalam kalimat tersebut berfungsi debagai agent atau pelaku tindakan yaitu tindakan memangkas mawar. Dalam struktur semantik ini KK merupakan pusat. Menurut Chafe struktur semantik terdiri dari dua unit semantik pokok. alat (means). instrumental. dan sebuah KB yang berfungsi semantik patient yaitu sepatu (Chaer. kala. Chafe menyatakan bahwa dalam analisis bahasa komponen semantiklah yang merupakan pusat. 1995: 9) Charles J. dan maujud yang dihubungkan dengan predikat (referential) (Chaer. Fillmore membatasi jumlah kasus menjadi pelaku (agent). 1995: 22). patient.

yang berfungsi benefaktif adalah bentuk Louise. yang mengacu pada hubungan sintaktik yang terjalin antara suatu kalimat. Sebagai contoh. (31) Kami berbakti terhadap negara. terhadap. i. (33) Mereka mengiris sosis itu dengan pisau. Kasus Instrumental (I) Kasus instrumental adalah kasus yang berkekuatan tidak hidup/tak bernyawa atau objek yang secara kausal terlibat di dalam tindakan atau keadaan yang diperkenalkan oleh verba. Kasus benefaktif dihubungkan dengan preposisi untuk. Kasus Faktitif (F) Kasus faktitif merupakan kasus objek atau yang merupakan akibat dari tindakan atau keadaan yang diperkenalkan oleh verba. Kasus Objektif (O) Kasus objektif merupakan kasus yang secara semantis paling netral. d. Kasus Lokatif (L) . bentuk Louise yang mendapatkan atau memeperoleh keuntungan dari tindakan verba. (35) Mary membuka laci itu dengan kunci. Preposisi yang berhubungan dengan kasus ini adalah dengan. (28) Joan membakar kue buat Louise. Contoh. f. demi. buat. atau dianggap atau diartikan sebagai suatu bagian dari makna verba. (32) Tony membangun bangsal. Sebagai contoh. John merupakan subjek ergatif -agent atau penyebab tindakan/perbuatanh. Sebagai contoh. kasus dari segala sesuatu yang dapat digambarkan atau diwakili oleh sesuatu nomina yang peranannya di dalam tindakan atau keadaan diperkenalkan oleh verba diperkenalkan oleh interpretasi semantik verba itu sendiri.yang mengacu pada orang atau binatang yang memperoleh keuntungan atau dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan dari tindakan verba. bagi. (34) Rakit itu bergerak. John menggerakkan rakit itu. Penanda kasus datif dalam bahasa Indonesia adalah kepada. bersama. nomina atau frasa nomina yang mengacu pada sesuatu yang dibuat atau diciptakan oleh tindakan/aksi verba berada dalam kasus faktitif. dan. Kasus Ergatif (E) Kasus ergatif adalah kasus yang bersifat kausatif. Pada contoh (28) di atas. (29) Rony berdagang mobil dengan Budi. Kasus Datif (D) Kasus datif adalah kasus mengenai makhluk hidup (yang bernyawa) yang dipengaruhi oleh keadaan atau tindakan yang diperkenalkan oleh verba. e. Contoh. nomina atau frasa nomina yang mengacu pada orang atau binatang yang dipengaruhi oleh keadaan atau tindakan verba di dalam kasus datif. g. Kasus Komitatif Kasus komitatif adalah kasus yang ditujukan bagi frasa nomina yang menanggung suatu hubungan konjungtif dengan frasa nomina lain dalam kalimat. Kasus ini memiliki ciri menggunakan preposisi dengan. c. (30) Saya setia kepada istri saya. Contoh. karena dalam konstruksi kalimat tersebut. Contoh. Kasus ini kadang-kadang disebut juga experiencer case atau kasus pengalam.

yaitu: a. yang tidak terdapat dalam bahasa Melayu klasik. (36) Irine menaruh majalah itu di (atas) meja. seperti bentuk preposisi kepada. (38) Ibu merahasiakan semua itu. rumah + -mu = rumah kepunyaanmu. Pada contoh kalimat (37) dan (38). ke. rumah saya. bentuk deiksis itu langsung disambungkan pada verba tersebut. kataku. Bentuk tersebut digunakan dalam konstruksi tuturan langsung dengan kata pengantar penutur berada di depan tuturan langsung. -nya. tidak dapat dipakai dengan peposisi di dan ke yang sama sekali tidak berangkaian dengan pronomina personal. Badudu dalam bukunya ³Pelik-pelik Bahasa Indonesia´ (1993: 110-111) menyebutkan beberapa fungsi deiksis pronomina persona. (40) Saya sudah dilihatnya. oleh. timbul sebagai akibat pengaruh bahasa Jawa. Artinya bahwa. Sebagai contoh.Kasus lokatif adalah kasus yang memperkenalkan lokasi. Bentuk pronomina. Sebagai contoh. (41) Sudah lama dia tidak melewatiku. Sebagai contoh. melainkan hubungan antara kedua unsur tersebut: rumah + -ku = rumah kepunyaanku. -mu. Sebagai penunjuk postpositif Artinya bahwa bentuk deiksis di sini untuk menyatakan hubungan milik antara dua nomina. rumah + -nya =rumah kepunyaannya. bentuk deiksis dapat menyatakan subjek pelaku. dapat menunjukkan hubungan kepunyaan (menyebutkan pemilik). yang menyatakan kepunyaan bukalah wujud deiksis seperti -ku. Untuk menyatakan subjek tindakan/pelaku Pronomina persona dapat digunakan untuk menyatakan subjek tindakan/pelaku dengan verba intransitif dan dengan kata akar yang dipakai untuk mengantarkan tuturan langsung. Untuk contoh kalimat (39). Bandingkan dengan . rumah mereka. Dalam bahasa kesusastraan. e. Fungsi yang demikian. bentuk-bentuk deiksis dapat digunakan sebagai perangkai preposisi. Dalam pemakaiannya. Sebagai penunjuk kepunyaan Bentuk deiksis pronomina persona apabila disambungkan dengan nomina. J. (37) Kakak memberikan buku itu kepadaku. Sebagai contoh. b. bentuk deiksis pronomina persona digunakan pada verba transitif berawalan me-. Misalnya: bentuk rumahku. dll. Bentuk deiksis pronomina persona dapat digunakan untuk menyatakan subjek pelaku apabila ditempelkan pada verba pasif berawalan -di. karena takut diketahui olehnya. terlihat bahwa bentuk deiksis dapat dirangkai dengan bentuk preposisi. Sebagai penunjuk kepunyaan Dalam hal ini. Sebagai contoh: kawannya Salim. d. seperti halnya bentuk enklitis. dll tersebut. Penanda kasus lokatif ini adalah di. dalam bukunya yang berjudul ³Bahasa Indonesia. Contoh. Menurut Alieva. tempat atau letak ataupun orientasi ruang/keadaan atau tindakan yang diperkenalkan oleh verba. dari. Untuk menyatakan objek tindakan/pelaku Untuk menyatakan objek pelaku. Sebagai perangkai preposisi. S. dkk. deskripsi dan teori´ fungsi deiksis meliputi: a. fungsi ini terbatas hanya pada kasus-kasus di mana dapat timbul salah tafsir bila dua nomina berdampingan. c. (39) Perginya terlambat: ³Engkau salah´.

Untuk sampel data yang tidak sesuai dengan teori-teori tersebut. 1991: 615). Sebagai pembentuk kata keterangan Contoh: (49) Agaknya akan turun hujan hari ini. (43) Kuakui itu adalah salahku sendiri. e. Hal itu dikarenakan bahwa dari sampel data yang ditemukan dalam penelitian ini menunjukkan adanya kesesuaian antara sampel data dengan teori tersebut. cerita bergambar. Teori yang dimaksudkan di sini merupakan teori yang dikemukakan oleh Alieva. Dalam penelitian ini. yaitu fungsi penunjuk kepunyaan dan fungsi perangkai preposisi. Namun. ilmu pengetahuan tertentu. G. Hubungan ini disebut hubungan posesif (hubungan kepunyaan). dan sebagainya (KBBI. sekali gagal juga. dari teman (Apa Kabar. Selain itu. melainkan lahir karena adanya hubungan kedua kata itu. b. Bo?.menyatakan superlatif Contoh: (51) Sepandai-pandainya tupai melompat. dibedakan atas majalah berita. teori fungsi yang digunakan merupakan teori yang dikemukakan oleh Tarigan. dari beberapa fungsi yang dikemukakan oleh Tarigan. dongeng. dan menurut kala penerbitannya dibedakan atas majalah bulanan. wanita. c. hanya lima fungsi yang dianggap sesuai dengan sampel data yang ada. peneliti menggunakan teori lain yang dapat melengkapi dan yang sesuai dengan sampel data yang tersisa. peneliti memberikan istilah sendiri untuk menyebut fungsi deiksis sesuai dengan ciri-ciri sampel data. Sebagai objek penyerta dalam bentuk enklitik Contoh: (46) Disampaikannya berita itu kepadaku kemarin. Majalah Bobo memuat berbagai macam cerita anak-anak dari yang berbentuk cerita pendek. (-nya = penyakit seperti itu) h. Majalah Bobo merupakan salah satu majalah anak-anak yang terbit satu kali dalam setiap minggunya. Sebagai objek penderita dalam bentuk enklitik Contoh: (44) Aku memandangnya sebagai kakakku. ilmu pengetahuan. pandangan tentang topik aktual yang patut diketahui konsumen pembaca. (45) Siapa yang akan menyertaimu naik haji nanti? d. F. remaja. Cerita Pendek . Bersama-sama dengan awalan se. Majalah Bobo Majalah adalah terbitan berkala yang isinya meliputi berbagai liputan jurnalistik. ensiklobobo. Untuk itu. dkk. tak disangka). g. Sebagai kata sandang penentu Contoh: (48) Masa hanya kopi saja. sastra. mana kuenya? f. mingguan. Makna ³pemilikan´ bukan terdapat pada kata paman dan Amir di belakang kata rumah. Sebagai penunjuk Contoh: (50) Penyakit itu sukar dicari obatnya. uji imajinasi. arena kecil. liputan.rumah paman. halamanku. Sebagai alat pembentuk kata benda Contoh: (42) Salahmu masih dapat dimaafkan. (47) Barang-barang itu sengaja kubeli untukmu. tengah bulanan. olahraga. majalah Bobo juga memuat tentang profil. yaitu setiap hari Kamis. dan sebagainya dan menurut pengkhususan isinya. rumah Amir.

khususnya karya sastra anak. Dari beberapa teori yang mengemukakan tentang makna deiksis. Ringkasnya. Dengan menggunakan metode agih. dan sebagainya. 2000: 9). merupakan suatu jenis sastra naratif yang muncul pada bagian pertama abad ke-19 di Amerika Serikat. fungsi komitatif. Metode agih adalah metode analisis data yang alat penentunya justru bagian dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri (Sudaryanto. fungsi objektif. teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori campuran dari beberapa pandapat para ahli. Seperti halnya makna deiksis. yaitu kumpulan cerita pendek di majalah Bobo . fungsi pelaku/agent. Fungsi deiksis pronomina persona yang ditemukan dalam kumpulan cerita pendek di majalah Bobo edisi Januari-Desember 2005 meliputi fungsi penunjuk kepunyaan. Salah satu metode yang digunakan adalah metode agih. Adapun makna deiksis yang terdapat dalam kumpulan cerita pendek di majalah Bobo edisi Januari-Desember 2005 meliputi makna ambiguitas. makna tunggal. dan fungsi sapaan. Inti cerita pendek adalah tikaian dramatik. fungsi benefaktif. diharapkan peneliti lebih mudah dalam mengkategorisasikan dan mendeskripsikan tentang bentuk. jika dalam penggunaannya disesuaikan dengan konteks kalimat dan makna yang dimilikinya. Sebuah cerpen biasanya didasarkan pada insiden tunggal yang memiliki signifikansi besar bagi tokohnya. Deiksis pronomina persona merupakan salah satu bentuk kata tunjuk yang digunakan untuk menunjuk orang atau insani. yang semuanya berkaitan dengan panjang cerita dan kualitas struktural yang diisyaratkan oleh panjang cerita itu. Penggunaan deiksis pronomina persona dirasa tepat. Kerangka Pikir Kata tunjuk adalah kata yang digunakan untuk menunjuk sesuatu. makna dan fungsi deiksis pronomina persona. keputusan yang menentukan). 1991: 187). Dalam arti umum. Ada yang mengatakan bahwa cerpen merupakan karya prosa fiksi yang dapat selesai dibaca dalam sekali duduk dan ceritanya cukup dapat membangkitkan efek tertentu dalam diri pembaca (Sayuti.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi (pada suatu ketika) (KBBI. 1986: 132). yaitu perbentukan antara kekuatan yang berlawanan (Sudjiman. Dalam arti kata khusus. fungsi pengalam. impian. 1984: 15). baik benda. concentration µpemusatan¶. 1993: 15). tetapi sugestif (Hartoko dan B. Bahasa-bahasanya sederhana. makna kebersamaan/jamak. Sifat umum cerpen ialah pemusatan perhatian pada satu tokoh saja yang ditempatkan pada suatu situasi sehari-hari. ditentukan dengan metode yang digunakan dalam penelitian. makna deiksis pronomina persona dan fungsi deiksis pronomina persona dalam suatu karya sastra. orang maupun tempat. Sebuah cerpen biasanya memiliki plot yang diarahkan pada insiden atau peristiwa tunggal. dan makna sempit. Untuk mengetahui bentuk deiksis pronomina persona. tetapi yang ternyata menentukan (perubahan dalam perspektif. cerita pendek adalah setiap cerita yang pendek. Cerita pendek yang efektif terdiri dari tokoh atau sekelompok tokoh yang ditampilkan pada satu latar atau latar belakang dan lewat lakuan lahir atau batin terlibat dalam satu situasi. cerpen menunjukkan kualitas yang bersifat compression µpemadatan¶. Sumber data dalam penelitian ini berupa subjek. Dialog. sering dipergunakan (pengaruh dari film). Tamatnya sering kali tiba-tiba dan bersifat terbuka (open ending). flash back. fungsi perangkai preposisi. Rahmanto. dan intensity µpendalaman¶.Cerita pendek adalah kisahan pendek (kurang dari 10. kesadaran baru. teori tentang fungsi deiksis yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan teori dari beberapa ahli. H. makna luas.

frasa. Bukut-bukua terbaru lebih contong membahas tentang satu dari dua topic. pada saat pragmatic sering dibuat sebagai bahan diskusi dalam linguistic.edisi Januari-Desember 2005 yang berjumlah 137 buah. tempat yang lain atau keadaan yang lain pula. hal ini akan berbeda jika dalam konteks yang lain. kalimat . mengapa tidak langsung mengatakan yang sebenarnya. Dalam kasus di atas. tidak secara langsung menuju topic. Semantic dalam hal perkembangannya pada akhir 1980an. Makna dalam penelitian ini merupakan makna deiksis pronomina persona yang digunakan dalam suatu tuturan. masalah arit pemcibaca lebih mendekat ke arah penulus yang mempunyai pandangan social lebih luas dalam ilmu linguistic khususnya dalam hal pragmatic. atau matikan pemanasnya. atau yang dimaksud dengan (force) paksaan dalam sebuah ujaran kata. Sebagai contoh saya berkata. Walaupun definisi itu cukup untuk menggambarkan pragmatic. Bentuk di sini merupakan bentuk deiksis pronomina persona yang terdiri dari bentuk pronomina persona pertama baik tunggal maupun jamak. Kita akan mempelahar pertama kali yan dimaksud tentang tingkatan arti. Apakah Pragmatik Itu? 1. tingkat dari arti secara abstrak. sedangkan objek penelitian ini yaitu tentang bentuk. makna dan fungsi deiksis pronomina persona. Untuk lebih jelasnya. Arti pembicara menurut perhatian ke pembuat pwsannya.2 Definisi Pragmatik Pada awal 1980an. Fungsi di dalam penelitian ini merupakan fungsi semantis deiksis pronomina persona. yang mana makna itu tidak lain daripada sesuatu atau referen yang diacu oleh kata atau leksem. Apa yang mereka maksudkan bisa lebih luas dari apa yang mereka katakana.2. Tetapi yang saya maksudkan adalah untuk seseorag membukakan jendela atau lebih baik membuka jendelanya. frasa atau kalimat (kedua). ³Di sini panas ya!´. 1. Definisi terakhir (interpretasi ujaran) lebih cenderung kea rah yang mempelajari kekurangan dari dua definisi tersebut. pronomina persona kedua baik tunggal maupun jamak. kerangka pikir ini dibuat dalam bentuk skema sebagai berikut. 1. yang mana diperlukan adanya koherensi antara kalimat yang mendahului ataupun kalimat yang mengikutinya. Untuk yang ketiga kita akan mendapat pengatahuan tentang maksud pembicara. Kita akan mulai dari arti kontekstual arti ujaran dar melihata kata. Dalam contoh di atas kita tahu bahwa apa yang penulis maksud bukan panas dalam arti kata sebenarnya. tetapi pada waktu yang sama ketidak jelaan dari fakta pada proses interpretasi dengan apa yang ada di dalam pesan antara beberapa tingkatan arti. dan bentuk pronomina persona ketiga baik tunggal maupun jamak. Pengertian Masyarakat tidak selalu mengatakan apa yang sebenarnya mereka maksudkan. definisi umum dari pragmatic adalah arti dalam penggunaan dan arti dalam konteks. sama dengan pragmatic dengan arti pembicara (speaker meaning) atau yang sama dengan interpreatasi ujaran (utterance interpretation) ±mereka tidak menggunakannya secara eksplisit± . dimana dapat diterima dengan baik di bawah bahasan dari arti penggunaan atau art dalam kenteks. tetapi lebih dari itu. Dari Abstrak ke Arah Arti Kontekstual Arti abstrak lebih berfokus pada sebuah kata. yaitu.1. tetapi masih terlalu umum karena masih mengandung aspek semantic. yang dapat ditentukan dengan melihat konteks kalimat atau konteks wacananya. Kasus-kasus seperti ini masuk dalam bahasan lingusitik yang dikenal dengan Pragmatik. Digunakannya fungsi semantis di sini karena sampel data dalam penelitian ini merupakan bentuk kalimat yang terdapat di dalam suatu wacana.

1 Mengartikan Rasa dalam Konteks Jika seseorang terlibat dalam percakapan. Apakah sesuatu yang tidak biasa untuk para buruh bangunan? Cara mereka dibayar. Ayah berhenti sejenak dan meneguk tehnya. homograf atau yang lainya yang biasa mengakitabkan kesalahan pemahaman. antara lain di sana. Lihatkah hanya sedikit kedisiplinan yang terlihat. kita psti lebih bisa memhami poin pembicaraan. hal ini dikarenan topic pembicaraan biasanya berdasarkan tempat dimana pembicaraan itu terjadi. Dilarang Menyentuh!´ hal ini jelas untuk melarang menyentuh sesuatu. itulah yang saya katakana. yang paling penting. Seakan-akan ayah telah di dalam AL. Keadaaan ini dapat terjadi dalam kasusu homonym. ini. Beri mereka sesuatu yang mengingatkan masa lalu mereka (melewati pantat). Arti abstrak tidak berada pada satu kata. kucing yan dimaksud adalah kucing dalam arti sebenarnya atau cambuk (dalam bahasa barat) yang biasa digunakan dalam kamp militire pada periode perang. terjadi antara dua orang inggris. Dalam pengertian ini. jika dia tidak jatuh dari tempat tidu. di sini. Cambuk mereka. secara intuisi melihat ke rasa dalam peraasaan kontekstual mereka. dan Marinir. ku tidak akan pernah menemukannaya´ Mengapa kita tidak mungkin memahaminya. Allan berpikir apa yang dimaksudkan dan akan menanyakan setelah peliharaannya sehat. AU. dimanapun kita berada. di supermarket. Ayah selalu berkata tentang masa lalunya di kamp Catteria pada tahun 1940an. Dalam oercakapan di atas kita megetahui batu (lump) yang dimaksudkan adalah bukan batu yang sebenarnya. Dalam kasusu ini kita tidak menemukan penunjuk dalam kata. Pasukan.3. tetapi mempunyai makna konotasi. Contoh : ³dan hanya terpikirkan olehku. hal ini dapat diketahui dengan memahami konteks yang ada dalam pembicaraan. Pada saat itu masih menjadi tentara. ³Apa yang salah tentang kucing itu?´ Lalu siapa saja datang pada waktu itu. 1. A : ³Batu (Lump) apa yang membuat mereka waspada?´ B : ³ Coba bacalah´ A : (Membeca dengan suara keras) ³Di dalam rekatakn batu yang jatuh´ B : Oh. atau penggelapan pajak atau mungkin yang lainnya.2 Mengartikan Penunjuk Konteks Kita perlu mencari poin penting dalam sebuah percakapan.Contoh : Apa yang diinginkan para pasukan adalah untuk menduduki wilayah ini. Jika kita melihat ilustrasi di atas. 1. di bus. itu (tidak selalu bermakna .3. namun hal ini dapat dihindari dengan memahami konteks yang ada. tetapi dapat masuk dalam frasa atau bahkan semua kalimat. Contoh : Percakapan ini ku dengarkan di sebuah kereta api. Hal ini berbeda dengan kata ³Bahaya. kita mengenal pengertian deiksis. Kami tahu apa arti disiplin sejak dalam pelatihan. Cambuk juga masuk dalam domain discourse. kami akan« . kita tidak paham apa yang ditemukan.

4. Artinya konteks kata atau kalimat cocok atau tidak dengan tempat dimana pembicaraan berada. Dalam contoh kasus di atas kita mengetahui arti pentingnya ujaran. Contoh : Pembicara sedang berada di Genewa.5 Pemaksaan (Force) : Tingkat Kedua dari Maksud Pembicara\ Dalam hal Pragmatik. sedang Craig hanya mendapat pengawasan saja.3 Rasa Intereaksi. 1.pengisolasian).3. tetapi saya sudah pernah melihat dog bowl bermain di beberapa inning.5 Ambiguitas dan Maksud Kita akan menjelaskan ambiguitas dan maksud yang dapat mengarah ke dalam kesalahpahaman. yang terlibat dengan pemuda 16 tahun. Kita pasti menduga-duga tentang arti kata ³bank´. Apakah itu bank dalam arti tempat kita menabug atau bank dalam bahasa inggris yang berarti tepi sungai. Pasti kita bingung tentang apa arti kata ³dog bowl´. besok. sekarang juga akan berarti jika kita memahami pembicaraan.3. 1. Christopher Craig dalam kasusu pembunuhan salah satiu Polisi setempat. Seperti dalam contoh ³Benarkah itu . Pada saat ditahan. Contoh kasus : Dalam pengadilan ada seseoran pemuda 19 tahun.33 Ambiguitas Struktural Hal ini berkaitan dengan sintaks. dalam persidangan Bentley dijatuhi hukuman mati karena diduga yang melakukan penembakan. kita mengetahui paksaan (force).1 Pentingnya Arti Ujaran Arti ujaran di sini dimaksud adalah konteks dimana pengucapan itu dimaksudkan. apakah itu istilah dalam kriket atau yang lainnya dalam tanda kutip. yang mati kucingnya atau ikannya.4 Arti Ujaran : Tingkat Pertama Maksud Pembicara 1. Deiksis waktu antara lain kemarin. Ini dapat terjadi jika kamu tahu yang pembicara maksudkan dan jelas arti percakapannya. hal ini juga berlaku pada deiksis-deiksis lainnya (deiksis orang dan deiksis tertentu ±discourse deixis² 1. Swiss Kota ini adalah kota dimana ³bank´ berada di dekat sungai. Pembicara A adalah istrinya A : Pernahkan kamu melihat ³dog bowl´ B: Belum. Seperti contoh kucing makan ikan mati. Penunjuk dan Struktur Contoh di bawah ini akan menunjukkan ambiguitas strukturan yang juga mengandung ambiguitas perasaan Pembicara B adalah komentator kriket yang terkenal. Brian Johnson. 1. Derek Bentley. 1. Craig menembak polisi dengan alasan pembelaan diri. Bentley berkata ³Biarkan Polisi itu menerimana Christ!´ karena perkataan itu.

5 Hubungan timbale balik antara arti ujaran dengan paksaan 1. Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik? Makyun Subuki 13 Desember 2006 1. Pendahuluan Dalam jangka yang cukup lama.5.3 Memahami paksan tetapi bukan arti ujaran 1. Dalam tempat pertama. ada dua alasan mengapa penulis. seperti diungkap oleh Yule (1996: 6). yaitu dengan menurunkan sistem yang terdapat dalam matematika dan logika. Contoh ³Saya telah menjual rumah itu´. Kata-kata itu belum tentu dapat dimengerti oleh orang lain di luar komunitas mereka. Pendekatan ini dapat terlihat berpotensi memberikan penejelasan lebih baik dalam hal pemecahan ambiguitas itu.6. pendekatan kognitif yang luas yang digunakan oleh para ahli pragmatic lebih berfoukus pada pendengar.mobilmu? ³ sambil menunjuk kea rah mobil anda. Dan dalam percakapan selanjutnya.5. Karena itu teori-teori atau metodologi-metodologi yang ada harus dirubah sesuai dengan perkembangan jaman. 1. studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya. Hal ini berbeda dengan definisi awal. baik secara implicit atau eksplisit telah menggunakan defines dengan tidak perlu membuat perbedaan. biasanya dalam grup ini lebih tertarik dalam tingkatan kedua. Hal ini juga dapat membuat pendekatan para linguist mempunyai kelemahan. dan mengabaikan unsur pengguna bahasa. yaitu force. Dalam suatu komunitas tertentu. pasti mempunyai kata-kata tertentu dalam cara berinteraksi. para linguist bereaksi satu sama lain.1 Arti Pembicara Dalam hal ini. Di dalam perkataan itu kita tidak mengetahui apa yang dimaksudkan oleh pembicara. Ujaran mereka berkembang dalam topic yang cocok dengan keadaan dan situasi. 1.5. mereka dapat mengembangkan poin pembicaraan mereka dalam dalam cakupan property.1 Memahami Ujaran dan Paksaan (Force) 1. Jadi harus secara jelas kita mengetahuinya.6.6. konteks perkataan sangat berperan penting dala pemahaman suatu pembicaraan.5. Sebagai contoh megapa pembicara tidak secara langsung menunjuk apa yang mereka maksudkan.4 Memahami bukan arti ujaran dan bukan pakasaan 1.2 Pragmatik : Arti dalam interaksi Dalam hal ini mencerminkan arti atau poin dalam interaksi (pada suatu percakapan).2 Memahami ujaran tetapi bukan paksaan 1.2 Interpretasi Ujaran Sebaliknya. Sebagai tataran terbaru dalam . maka pembicaraan mereka akan berjalan secara halus dan dapat dimengerti oleh para pendengar. Karena itu.5. 1. Hal ini akan sangat sulit jika kita tidak tertarik mengapa pembicara berkata demikian. 1.6 Definisi Pragmatik Dalam pragmatic arti secara abstrak dan lebih berguna dari pada arti pengguanaannya. cemooh atau bukan.

(2) kecenderungan sosial-kritis. menyebutkan empat definisi pragmatik. seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5). dengan melihat perbedaan kajiannya dengan bidang lain dalam linguistik. Meskipun memiliki fokus kajian yang serupa dengan semantik. dan komplementarisme. Selanjutnya Thomas (1995: 22). menunjukkan pentingnya pragmatik. 3. Perkembangan Pragmatik Mey (1998). melebihi kajian tentang makna yang diujarkan. pertama. Untuk tujuan tersebut. atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi. menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning). Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian. yaitu makna. Makalah ini bertujuan menjelaskan pentingnya bidang pragmatik untuk dipelajari dalam program studi linguistik. (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya. pragmatisisme. Definisi Pragmatik Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. menjelaskan secara singkat topik-topik bahasannya. seperti akan saya jelaskan kemudian. Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. dan kedua. mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara. mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi. perkembangannya. mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction). yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara. sosial. Yule (1996: 3). dengan menggunakan sudut pandang kognitif. Pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. misalnya. 2. dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme. (3) tradisi filsafat. dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran.linguistik. . Keterkaitan ini ia sebut semantisisme. dan (4) tradisi etnometodologi. dan. menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). saya mengawali makalah ini dengan pembahasan mengenai pengertian pragmatik. dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik. yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik. dengan menggunakan sudut pandang sosial. yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik. (3) bidang yang. makna yang dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantik.

Searle. Menurut Lakoff dan Ross. Tradisi yang ketiga. yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross. seperti dikutip Gunarwan (2004: 7). muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan. dan terutama John L. termasuk penggunaannya. Contoh. seperti Russel dan Moore. dan bahwa pernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris. Jerman. dan pragmatik interaktif (Thomas).Kecenderungan yang pertama. yang tumbuh di Eropa. bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6). bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri. Ludwig Wittgenstein. tepatnya di Britania. bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis. seperti diungkap oleh Marmaridou (2000: 1 (dalam Gunarwan 2004: 8)). Para pakar tersebut mengkaji bahasa. dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)). dalam kaitannya dengan logika. dan Grice). kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi. dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross. Beberapa Topik Pembahasan dalam Pragmatik 4. sejak itu bidang kajian ini telah berkembang jauh. 4. yang dipelopori oleh Bertrand Russell. How to Do Things with Words. (1) Ada enam kata dalam kalimat ini . bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6). yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. morfologi. Dengan kata lain. komunikasi tetap dapat berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak apik secara sintaksis (ill-formed). seperti sering kita jumpai. Kecenderungan kedua. Searle.1 Teori Tindak-Tutur Melalui bukunya. pragmatik kognitif (Sperber dan Wilson). Leech (1983: 2). Sebab. keapikan sintaksis (well-formedness) bukanlah segalanya. yaitu bahwa dalam kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis. mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa. Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi. yaitu pragmatik filosofis (Austin. Dalam etnometodologi. dan semantik bersifat periferal. misalnya Austin. Austin. dan bahwa fonologi. yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi dan ketaksaan. sebab. dan Grice. pragmatik neo-Gricean (Cole). seperti dikutip oleh Thomas (1995: 29-30). sehingga kita dapat melihat sejumlah kecenderungan dalam pragmatik. Austin dan John R. Austin dapat dianggap sebagai pemicu minat yang paling utama dalam kajian pragmatik. adalah tradisi filsafat. menolak pandangan sintaksisme Chomsky. melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya. Searle.

tindak ilokusioner terutama berkaitan dengan intensi atau maksud pembicara. dan Yule 1996: 54-55). ilokusi (illocutionary act). sedangkan dalam indirect speech-act hubungannya tidak langsung atau menggunakan (bentuk) tindak-tutur lain (Gunarwan 2004: 9. Dalam direct speeh-act terdapat hubungan langsung antara struktur kalimat dengan fungsinya. saya nikahkan kalian (performatif) (4) Rumah Joni terbakar (konstatif) Selanjutnya Austin. melainkan melalui bagaimana bahasa dipakai sehari-hari. (3) Dengan ini. Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Gunarwan 2004: 8). Austin (dalam Thomas 1995: 31) berpendapat bahwa salah satu cara untuk membuat pembedaan yang baik bukanlah menurut kadar benar atau salahnya. dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin ini mengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition). dan perlokusi (perlocutionary act) (Yule 1996: 48). direktif merupakan tindak-tutur yang menghendaki . yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech-act). seperti dikembangkan lebih jauh oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). Austin berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements). kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar karena sesuai dengan kenyataan. yaitu asertif (assertive).(2) Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono Dari contoh di atas. yaitu. Tindak lokusioner berkaitan dengan produksi ujaran yang bermakna. Dalam contoh (4). dan Yule 1996: 53-54). Selain itu. memasukkan ujaran konstatif. Tindakan yang dihasilkan dengan ujaran ini mengandung tiga tindakan lain yang berhubungan. Searle juga menyebut lima jenis fungsi tindak-tutur. sesuai contoh di atas. Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics (Thomas 1995: 30). melainkan juga melakukan sesuatu (perform actions). seperti juga ditekankan lebih lanjut oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). struktur dalam ujaran tersebut dapat saja berbunyi Saya katakan bahwa rumah Joni terbakar. Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. dapat berupa tindak-tutur langsung (direct speech-act) dan tindak-tutur tidak langsung (indirect speech-act). Melalui hipotesis performatifnya. karena memiliki struktur dalam yang mengandungi makna performatif. yaitu lokusi (locutionary act). ekspresif (expressive). sebagai bagian dari performatif (Austin 1962: 52 dan Thomas 1995: 49). Tindak-tutur. Contoh. Asertif atau representatif merupakan tindak-tutur yang menyatakan tentang sesuatu yang dipercayai pembicaranya benar. dan tindak perlokusioner berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan (Thomas 1995: 49). dan deklarasi (declaration) (Littlejohn 2002: 80. direktif (directive). komisif (comissive).

Yang pertama ada karena konteks ujaran. sedangkan contoh (6) merupakan implikatur konversasional yang bermakna µtidak¶ dan merupakan jawaban atas pertanyaan maukah Anda menghadiri selamatan sunatan anak saya? Berbeda dengan Grice. dengan menggunakan prinsip kerja sama Grice. yaitu implikatur konvensional dan implikatur konversasional. Hal ini. ekspresif merupakan tindak-tutur yang menyatakan perasaan pembicaranya. dan deklarasi merupakan tindak-tutur yang mengubah status sesuatu. memberi informasi sesuai yang diminta. seperti diungkap oleh Thomas (1995: 57).4 Teori Relevansi . 4. misalnya contoh (6) di atas. mengungkapkan secara beraturan (Gunarwan 2004: 11 dan Thomas 1995: 63-64). misalnya untuk memberikan informasi secara tersirat (implicature) dan menjaga muka lawan bicara (politeness). memberi sumbangan informasi yang relevan. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 14). 4. implikatur dapat dibedakan menjadi implikatur khusus dan implikatur umum. menurut Gazdar. yaitu (1) bidal kuantitas (quantity maxim). menghindari ketidakjelasan pengungkapan. Berkaitan dengan prinsip kerja sama Grice di atas. dapat dicontohkan dengan penggunaan kata bahkan. ujaran yang mengandung implikatur jenis ini. misalnya contoh (5) di atas. 4. (5) Bahkan Bapak Menteri Agama menghadiri sunatan anak saya (6) Saya kebetulan ke Inggris untuk studi selama dua tahun dan berangkat besok Contoh (5) di atas merupakan implikatur konvensional yang berarti Bapak Menteri Agama biasanya tidak menghadiri acara sunatan. (3) bidal relasi (relation maxim). Contoh. (2) bidal kualitas (quality maxim). sedangkan yang kedua tidak. mengungkapkan secara singkat. komisif merupakan tindak-tutur yang digunakan pembicaranya untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukannya. Implikatur konvensional merupakan implikatur yang dihasilkan dari penalaran logika.pendengarnya melakukan sesuatu. menghindari ketaksaan. dalam komunikasi kadang kita tidak mematuhi prinsip tersebut. didasarkan atas beberapa alasan. Implikatur konversasional merupakan implikatur yang dihasilkan karena tuntutan konteks tertentu (Thomas 1995: 58). pada kenyataannya. menyatakan hanya yang menurut kita benar atau cukup bukti kebenarannya. dan (4) bidal cara (manner maxim). Kerja sama yang terjalin dalam komunikasi ini terwujud dalam empat bidal (maxim).3 Implikatur (Implicature) Grice. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 12-14). menyebut dua macam implikatur.2 Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle) Grice mengemukakan bahwa percakapan yang terjadi di dalam anggota masyarakat dilandasi oleh sebuah prinsip dasar. yaitu prinsip kerja sama (cooperative principle) (Yule 1996: 36-37 dan Thomas 1995: 61).

there is a shuttle service sixty euros one-way. dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini. menyebutkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (language in use) selalu dapat diidentifikasi melalui hal yang disebutnya indeterminacy atau underspecification. Setiap pembaca dapat memahami bahwa pesan ini hanya berlaku jika ia akan meninggalkan ruangan tersebut untuk terakhir kalinya. komunikasi tidak hanya memasukkan apa yang ada dalam pikiran pengirim pesan ke dalam pikiran penerima pesan. pesan ini berada dalam spesifikasi tertentu yang disepakati oleh addresser dan addressee dalam konteks komunikasi. explicature atau degree of relevance. kedua. bukan untuk setiap kali meninggalkan ruangan.Teori relevansi yang dikembangkan oleh Sperber dan Wilson merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. Dengan kata lain. A: What weekend? B: Next weekend. (8) A: Well. ujaran merupakan sebentuk tindakan dari komunikasi ostensif. B mengira A mengerti bahwa at the weekend berarti next weekend. Contoh. yaitu tidak perlu mengunci pintu jika keluar dalam batasan waktu dan situasi yang diperkirakan cukup aman. penerima pesan (addressee) hanya memilih sesuatu yang dianggapnya relevan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan (addresser) dalam konteks komunikasi tertentu. bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi. Menurut mereka. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). misalnya untuk ke kamar mandi. Dalam teori relevansi dipelajari bagaimana sebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya. Dalam percakapan tersebut. when do you want to go? B: At the weekend. tahapan yang harus dilewati untuk memahami implikatur dalam percakapan. untuk menjelaskan cara sebuah pesan dipahami penerimanya. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). dan ketiga. Sperber dan Wilson (1995). Selanjutnya. pengirim pesan dapat memperkirakan reaksi penerima pesan terhadap pesan yang disampaikannya. Dalam percakapan di atas. yaitu: pertama. Then that's fifty. padahal A . Melalui hal tersebut. Sperber dan Wilson (1995). misalnya tindakan untuk membuat sesuatu menjadi jelas dan dapat dimengerti oleh penerima pesan. (7) Pastikan semua pintu terkunci jika meninggalkan ruangan ini. Contoh yang ditulis Renkema (2004: 23) di bawah ini memberikan gambaran yang cukup jelas. pemahaman penerima pesan terhadap apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan terjadi melalui beberapa tahapan. namun mencakup perluasan wilayah kognitif (cognitive environment) kedua belah pihak. How does it works? You just turn up for the shuttle service? A: That might be cheaper. menetapkan tiga macam hubungan antara cue dan implicature. Misalnya pada contoh (7) di atas.

berkenaan dengan bobot mutlak (absolute weight) tindakan tertentu dalam kebudayaan tertentu. yang dikutip oleh Jaszczolt (2002: 318). you have booked seat which costs 60 euros.5 Kesantunan (Politeness) Konsep strategi kesantunan yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson diadaptasi dari konsep face yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog bernama Erving Goffman (1956) (Renkema 2004: 24-25). karena semakin tinggi contextual effect maka semakin rendah ia membutuhkan processing effort. Dalam hal ini. maka politeness strategy semakin dibutuhkan. dan citra diri di depan umum (public self-image). kedua. misalnya mahasiswa kepada dosen atau yang muda kepada yang tua. Intensitas FTA diekspresikan dengan bobot atau weight (W) yang mencakup tiga parameter sosial. face dapat diartikan kehormatan. jarak sosial atau social distance (D) antara pembicara dengan lawan bicaranya. Menurut Goffman (1967: 5). "face merupakan gambaran citra diri dalam atribut sosial yang telah disepakati". Dengan kata lain. sedangkan ujaran (9b) mungkin diucapkan kepada orang yang secara sosial jaraknya lebih dekat (9a). setiap partisipan memiliki dua kebutuhan dalam setiap proses sosial: yaitu kebutuhan untuk diapresiasi dan kebutuhan untuk bebas (tidak terganggu). Berdasarkan konsep face yang dikemukakan oleh Goffman ini. Menurut Goffman (1956). Politeness (kesantunan) dalam hal ini dapat dipahami sebagai upaya pencegahan dan atau perbaikan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh FTA. dalam pengertian degree of relevance. Maaf.harus memastikan dengan jelas setiap pemesanan pembelian tiket. sedangkan yang kedua disebut negative face. Brown dan Levinson (1978) membangun teori tentang hubungan intensitas FTA dengan kesantunan yang terrealisasi dalam bahasa (Renkema 2004: 25). seperti dikutip oleh Renkema (2004: 25). yaitu: pertama. semakin besar intensitas FTA mengancam stabilitas komunikasi. Pak. . Contoh. If you buy ticket when you turn up. dan ketiga. sedangkan that might be cheaper merupakan ujaran yang relevansinya lebih baik. boleh tanya? b. Kebutuhan yang pertama disebut positive face. misalnya permintaan "May I borrow your car?" mempunyai bobot yang berbeda dengan permintaan "May I borrow your pen?". merupakan ujaran yang relevansinya rendah dan membutuhkan processing effort yang lebih besar. ujaran (9a) mungkin diucapkan pembicara yang secara sosial lebih rendah dari lawan bicaranya. Numpang tanya. Mas? Dalam contoh di atas terlihat jelas. Begitu juga A. it costs 50 euros. (9) a. misalnya bobot kedua permintaan di atas tidak terlalu besar jika kedua ungkapan tersebut ditujukan kepada saudara sendiri. kekuasaan atau power (P) yang dimiliki lawan bicara (Renkema 2004: 26). ujaran at the weekend. 4. ia mengandaikan B dapat mengerti bahwa that migh be cheaper dapat berarti If you purchase a ticket now. harga diri (self-esteem). tingkat gangguan atau rate of imposition (R).

Hey. bidal kesetujuan (aggreement maxim). bidal pujian (approbation maxim). Atas dasar ini. (off record) Teori kesantunan lain dibahas oleh Leech (1983). seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4). pertama. dapat dilakukan. meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris. misalnya dengan melakukan tindakan yang tidak kooperatif dalam komunikasi (Renkema 2004: 25). dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi. ditambah bidal pertimbangan (consideration maxim). Leech (dalam Eelen 2001: 8) menyebutkan enam bidal kesantunan. seperti diungkapkan oleh Renkema (2004: 26). Dalam hal ini. I'm sorry I have to ask. sehingga bentuk seperti kucing menyapu halaman. Pragmatik dalam Linguistik Seperti telah saya uraikan sedikit dalam sub 3 di atas. yaitu bidal kebijaksanaan (tact maxim). I'm out of cash! I forgot to go to the bank today. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat banyak cara untuk menghindari FTA yang dapat direduksi menjadi lima macam cara. bahwa komunikasi tetap dapat . Hey.Politeness. bidal simpati (sympathy maxim). yang bertujuan untuk mendapatkan positive face disebut solidarity politeness. but could you lend me a hundred dollars? (negative polite) e. (5) a. dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal. Dalam hal ini. Dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sintaksis. (baldly) b. dapat dipahami. bidal kerendahhatian (modesty maxim). Brown dan Levinson (1978). tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis. Kelima strategi tersebut diurut berdasarkan tingkat resiko "kehilangan muka". bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. misalnya dengan pujian. Secara umum. maka semakin kecil kemungkinan pembicara melakukan FTA. bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat. dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis. Renkema (2004: 27) memberi contoh strategi tersebut. sedangkan politeness yang dilakukan untuk tujuan sebaliknya disebut respect politeness. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 19). dan. semakin tinggi resiko kehilangan muka. Pakar ini membahas teori kesantunan dalam kerangka retorika interpersonal (Eelen 2001: 6). 5. Lebih tepatnya. could you lend me a hundred bucks? (positive polite) c. lend me a hundred dollars. melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. Oh no. Berkaitan dengan politeness strategy ini. bidal kedermawanan (generosity maxim). face work technique. penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis. salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya. dapat dilakukan. friend. dan memang sering kita temukan.

Dengan kata lain. bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa. sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif. sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa seharihari. misalnya. Lebih jauh lagi. dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. Dengan kata lain. karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. dalam pengajaran bahasa. semantik terikat pada kaidah (rule-governed). sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya. tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. Berdasarkan truth conditional semantics. dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya. makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. dalam analisis bahasa. Tentang perbedaan yang pertama. yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa. terdapat keterkaitan. untuk dapat dinyatakan benar. meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai. seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22). Dengan demikian. absolut atau bersifat mutlak. Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada. Selanjutnya. selain tata bahasa. pertama. sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik. keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan. Namun demikian. dalam arti praktis. sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan. bagaimana memahami implikatur percakapan. yaitu bahwa pengetahuan pragmatik. saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik. Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik. Selanjutnya. patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan . yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik. Kaidah bersifat deskriptif. Dengan demikian. Kegunaan pragmatik. dapat bertentangan dengan prinsip lain. untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik. dan kedua. dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan.berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis. sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi. dan kedua. sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis. bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis. makna apa yang dituturkan. karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa. dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur. demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis. kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain. pembahasan makna dalam semantik belum memadai. sebab daya mencakup juga makna. meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda. di samping sintaksis dan semantik. dan maksud dari tuturan.

dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa. How to Do Things with Word (edisi kedua). kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik. Berdasarkan penjelasan di atas. misalnya. dan Stephen C. tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa pragmatik penting dipelajari dalam program studi linguistik. 2001. Jan. karena selain benar. Secara umum. Eelen.M. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). Politeness: Some Universal in Language Usage. pertama. pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. UK: St. Brown.tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. 2004. berkaitan dengan pengajaran bahasa. pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya. 1978. John L. K. Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse. dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence). pragmatik berperan dalam pengembangan kompetensi komunikatif. Dalam pengajaran bahasa Indonesia. Oxford: Oxfod University Press. Daftar Acuan Austin. Jaszczolt. berkaitan dengan ketidakmampuan sintaksis dan semantik dalam menjelaskan fenomena penggunaan bahasa sehari-hari. Penelope. kedua. bahasa yang digunakan harus baik. Edinburgh: Pearson Education. saya melihat kedudukan semantik dan pragmatik sebagai dua hal yang saling melengkapi. saya melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik setidaknya dalam dua hal. Renkema. IKIP Singaraja. . A Critique of Politeness Theories. Cambridge: Cambridge University Press. Penutup Seperti telah disebutkan di muka. yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu. 2004. Jerome Publishing Gunarwan. Gino. 6. pragmatik merupakan satu-satunya tataran dalam linguistik yang mengkaji bahasa dengan memperhitungkan juga penggunanya. Levinson.. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. 1962. Selain itu. 2002. Introduction to Discourse Studies. Asim. Manchester. Dalam pengajaran bahasa asing.

(5) Ing kene ora ana kapur. dan cara. Pragmatik berbeda dengan semantik dalam hal pragmatik mengkaji maksud ujaran dengan satuan analisisnya berupa tindak tutur (speech act). Dengan kata lain. yang ada barulah makna kata/kalimat yang diujarkan. Oxford. pragmatik lebih cenderung ke fungsionalisme daripada ke formalisme. perlokusi berarti terjadi tindakan sebagai akibat dari daya ujaran tersebut. Oxford University Press. serta skala pragmatik dan derajat kesopansantunan yang dikembangkan oleh Leech (1983). Fungsi bahasa yang paling utama adalah sebagai sarana komunikasi. 1996. direktif. Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics. Dengan demikian.Thomas. di dalam lokusi belum terlihat adanya fungsi ujaran. kalimat deklaratif. PRAGMATIK pragmatics (n) . satu maksud atau satu fungsi dapat dituturkan dengan berbagai bentuk tuturan. Yule. njaluk µmeminta¶. TT langsung dan tidak langsung. Berbagai tindak tutur (TT) yang terjadi di masyarakat. komisif.pragmatik . dan deklaratif. seperti ngongkon µmenyuruh¶. atau bahkan dengan kalimat interogatif. sedangkan semantik menelaah makna satuan lingual (kata atau kalimat) dengan satuan analisisnya berupa arti atau makna. Jenny. London/New York: Longman. dia dapat memilih satu di antara tuturan-tuturan berikut: (1) Jupukna kapur! (2) Kene ora ana kapur. dan ngapura µmemaafkan¶. George. Kajian pragmatik lebih menitikberatkan pada ilokusi dan perlokusi daripada lokusi sebab di dalam ilokusi terdapat daya ujaran (maksud dan fungsi tuturan). baik TT representatif. merupakan bahan sekaligus fenomena yang sangat menarik untuk dikaji secara pragmatis. seorang guru yang bermaksud menyuruh muridnya untuk mengambilkan kapur di kantor. ya? . pragmatik adalah kajian mengenai penggunaan bahasa atau kajian bahasa dan perspektif fungsional.pragmatika pragmatis (adj) : melihat sesuatu dari kegunaan pragmatisme: aliran yang melihat sesuatu dari kegunaan Dalam komunikasi. Artinya. Hal itu sesuai dengan pengertian pragmatik yang dikemukakan oleh Levinson (1987: 5 dan 7). 1995. Bidang ini cenderung mengkaji fungsi ujaran atau fungsi bahasa daripada bentuk atau strukturnya. bagaimanakah TT yang dilakukan oleh orang Jawa apabila ingin menyatakan suatu maksud tertentu. kualitas. Pengkajian TT tersebut tentu menjadi semakin menarik apabila peneliti mau mempertimbangkan prinsip kerja sama Grice dengan empat maksim: kuantitas. (4) O. atau kombinasi dari dua/lebih TT tersebut. Di dalam komunikasi. ekspresif. Pragmatik dan Fungsi Bahasa Bidang ³pragmatik´ dalam linguistik dewasa ini mulai mendapat perhatian para peneliti dan pakar bahasa di Indonesia. Pragmatics. hubungan. satu maksud atau satu fungsi dapat diungkapkan dengan berbagai bentuk/struktur. janji µberjanji¶. pragmatik lebih cenderung ke fungsionalisme daripada ke formalisme. Sementara itu. maupun TT harafiah dan tidak harafiah. jebul ora ana kapur. kajian ini mencoba menjelaskan aspek-aspek struktur bahasa dengan mengacu ke pengaruh-pengaruh dan sebabsebab nonbahasa. Untuk maksud ³menyuruh´ orang lain. (3) Ibu ngersakake kapur. nyilih µmeminjam¶. menging µmelarang¶. penutur dapat mengungkapkannya dengan kalimat imperatif. Misalnya. ngelem µmemuji¶. Misalnya.

sedangkan makna di dalam pragmatik ditentukan oleh konteks. bilamana. misalnya. terutama hubungan antara kalimat dengan konteks dan situasi pemakaiannya. cabang ilmu bahasa yang menelaah penggunaan bahasa. Levinson (1987: 1-53). yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan. di mana. (3) Pragmatik adalah kajian bahasa dan perspektif fungsional. implikatur. kepada siapa. kalimat berita (deklaratif) dan kalimat tanya (interogatif) di samping berfungsi untuk memberitakan atau menanyakan sesuatu juga berfungsi untuk menyuruh (imperatif atau direktif). 1996: 3). sedangkan semantik adalah kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan objek yang diacu oleh tanda tersebut. Cukup banyak kiranya batasan atau definisi mengenai pragmatik. studies meaning in relation to speech situation (Leech. Jadi. studi kebahasaan yang terikat konteks. sedangkan semantik adalah kajian mengenai makna. sedangkan pragmatik mempelajari maksud ujaran. (2) Pragmatik adalah kajian mengenai penggunaan bahasa. Satuan-satuan lingual dalam penggunaannya. (b) Kalau semantik bertanya ³Apa makna X?´ maka pragmatik bertanya ³Apa yang Anda maksudkan dengan X?´ (c) Makna di dalam semantik ditentukan oleh koteks. artinya kajian ini mencoba menjelaskan aspek-aspek struktur linguistik dengan mengacu ke pengaruh-pengaruh dan sebab-sebab nonlinguistik. (1) Pragmatik adalah kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan penafsirnya. Definisi pragmatik: 1. cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal. Dari beberapa definisi tersebut dapat dipahami bahwa cakupan kajian pragmatik sangat luas sehingga sering dianggap tumpang tindih dengan kajian wacana atau kajian sosiolinguistik. (6) Pragmatik adalah kajian mengenai bagaimana bahasa dipakai untuk berkomunikasi. membutuhkan 53 halaman hanya untuk menerangkan apakah pragmatik itu dan apa saja yang menjadi cakupannya. yakni bagaimana satuan kebahasaan digunakan dalam komunikasi (Wijana. 1983).(6) Ngapa ora padha gelem njupuk kapur? Dengan demikian untuk maksud ³menyuruh´ agar seseorang melakukan suatu tindakan dapat diungkapkan dengan menggunakan kalimat imperatif seperti tuturan (1). kalimat deklaratif seperti tuturan (2-4). bagaimana. (4) Pragmatik adalah kajian mengenai hubungan antara bahasa dengan konteks yang menjadi dasar dari penjelasan tentang pemahaman bahasa. dan aspekaspek struktur wacana. praanggapan. 3. Kaswanti Purwo (1990: 16) merumuskan secara singkat ³semantik bersifat bebas konteks (context independent). Berkaitan dengan perbedaan (c) ini. (a) Semantik mempelajari makna. dan apa fungsi ujaran itu. tindak tutur. 2. Di sini dikutipkan beberapa di antaranya yang dianggap cukup penting. yaitu makna kata dan makna kalimat. PRAGMATIK VS SEMANTIK Sebelum dikemukakan batasan pragmatik kiranya perlu dijelaskan lebih dahulu perbedaan antara pragmatik dengan semantik. 1996: 2). secara pragmatis. (5) Pragmatik adalah kajian mengenai deiksis. sedangkan pragmatik bersifat terikat konteks (context dependent)´ (bandingkan Wijana. Yang jelas . atau kalimat interogatif seperti tuturan (5-6). 4. yakni siapa yang berbicara.

Morris membedakan tiga cabang yang berbeda dalam penyelidikan. atau dengan perkataaan lain: memperbincangkan segala aspek makna ucapan yang tidak dapat dijelaskan secara tuntas oleh referensi langsung kepada kondisi-kondisi kebenaran kalimat yang ciucapkan. Makna sebuah tuturan itu penggunaannya. situasinya bagaimana? L. Secara kasar dapat dirumuskan: pragmatik = makna . yang dapat dirangkum seperti berikut ini. Stephen C. pragmatics is distinct from grammar. melainkan tindak tutur atau tindak ujaran (speech act). dan aspek struktur wacana. Teori pragmatik menjelaskan alasan atau pemikiran para pembicara dan penyimak dalam menyusun korelasi dalam suatu konteks sebuah tanda kalimat dengan suatu proposisi (rencana. 1. Pragmatik adalah telaah mengenai hubungan tanda-tanda dengan penafsir (Morris. internal atau formal diadik: bentuk dan makna .kondisi-kondisi kebenaran. 2. 1938:6). 4. Contoh: Kok. Parker (1986: 11). yang mempunyai perhatian besar pada ilmu pengetahuan tentang tanda-tanda. kalimat. yaitu: sintaktik (syntactics) atau sintaksis (syntax) yaitu telaah tentang relasi formal dari tanda yang satu dengan tanda yang lain (mempelajari hubungan satuan lingual dengan satuan lingual lain: tanda dengan tanda). sudah pulang! Isteri: ¶betul-betul terkejut¶ atau ¶orang itu lama sekali perginya¶ Suami menafsirkan: siapa yang berbicara. atau masalah). Semantik: makna (biasanya leksikal). Pragmatik adalah telaah mengenai deiksis. Pragmatik sebenarnya merupakan bagian dari ilmu tanda atau semiotics atau semiotika. which is the study of the internal structure of language. Witgenstein (filsuf): makna adalah penggunaannya. semantik (semantics) yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan objek di mana tanda-tanda itu diterapkan (ditandainya) (atau hubungan antara penanda dan petanda (signifiant dan signifie/yang ditandai)). dengan kata lain: telaah mengenai kemampuan pemakai bahasa menghubungkan serta menyerasikan kalimat-kalimat dan konteks-konteks secara tepat.disepakati ialah bahwa satuan kajian pragmatik bukanlah kata atau kalimat. Levinson telah mengumpulkan sejumlah batasan pragmatik yang berasal dari berbagai sumber dan pakar. kepada siapa. dan pragmatik yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan penafsir (interpreters). Pragmatik adalah telaah mengenai hubungan antara bahasa dan konteks yang tergramatisasikan atau disandikan dalam struktur sesuatu bahasa. 5. Ketiga cabang tersebut kemudian lebih dikenal dengan teori trikotomi. Pragmatik adalah telaah mengenai segala aspek makna yang tidak tercakup dalam teori semantik. tindak ujar. Sintaksis: frase. wacana. Dalam hal ini teori pragmatik merupakan bagian dari performansi. Pemakaian istilah pragmatik (pragmatics) dipopulerkan oleh seorang filosof bernama Charles Morris (1938). klausa. Dalam semiotik. 3. Pragmatik adalah telaah mengenai relasi antara bahasa dan konteks yang merupakan dasar bagi suatu catatan atau laporan pemahaman bahasa. anggapan penutur (presupposition). atau semiotik (semiotics). Pragmatics is the study of how language is used to communicate. implikatur. Cabang-cabang bahasa: Fonologi: bunyi sebagai sistem Morfologi: satuan gramatikal terkecil.

Semantik: makna linguistik (makna). yaitu suatu telaah dari sebagian besar jajaran fenomena psikologis dan sosiologis yang mencakup sistem tanda pada umumnya atau dalam bahasa tertentu (the Continental sense of the term). yaitu: sintaktik (syntactics) atau sintaksis (syntax) yaitu telaah tentang relasi formal dari tanda yang satu dengan tanda yang lain. Asal-usul dan perilaku historis istilah pragmatik Pemakaian istilah pragmatik (pragmatics) dipopulerkan oleh seorang filosof bernama Charles Morris (1938). ada hal-hal yang tidak langsung ¶indirectness atau secara tidak literal¶. Buku ini secara eksklusif menyangkut istilah pada gagasan yang terakhir dan menerapkannya pada pembicaraan ini. makna. Ketiga cabang tersebut kemudian lebih dikenal dengan teori trikotomi. Come here!. atau studi istilah indeksikal atau deiktis (deictis) (gagasan Montague).Pragmatik: cabang ilmu bahasa yang mempelajari makna satuan kebahasaan yang bersifat eksternal / bagaimana satuan kebahasaan itu dikomunikasikan eksternal atau fungsional triadik: bentuk. Jadi. apik maksud: bisa tidak baik. Good morning! dipengaruhi oleh hukum pragmatik. Contoh semantika: kursi signifiant (penanda) Terdapat suatu prinsip: ¶tempat duduk¶ signifie (petanda) . Akhirnya pengarang menyimpulkan bahwa perbedaan pemakaian istilah pragmatik ditimbulkan dari bagian asal-usul semantik karya Morris. misalnya menyindir atau memarahi. dilihat dari berbagai faktor . Mempelajari bagaimana satuan lingual itu ditafsirkan. makna dalam penutur. Morris membedakan tiga cabang yang berbeda dalam penyelidikan. atau akhirnya pemakaian dalam linguistik Anglo-American dan filsafat. Morris memberikan contoh interjeksi seperti Oh!. sebenarnya semantik sudah ada pragmatik. Contoh: Sugeng enjing! makna: menyapa maksud: tergantung siapa yang berbicaraatau maksud lain. dan pragmatik yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan penafsir (interpreters). semantik (semantics) yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan objek di mana tanda-tanda itu diterapkan (ditandainya). Baik! makna: baik. Pragmatik: makna penutur (maksud). Makna itu berubah-ubah tergantung pada konteksnya. yang mempunyai perhatian besar pada ilmu pengetahuan tentang tanda-tanda. yaitu bahwa variasi retoris dan alat puitis hanya muncul di bawah kondisi tertentu dalam batas-batas pemakaian bahasa. bersifat internal. Dalam semiotik. atau semiotik (semiotics). Pragmatik: bagaimana orang menafsirkan. dan maksud. atau telaah konsep abstrak tertentu yang membuat acuan pada pelaku (agents) (satu gagasan dari Carnap).

1. Pragmatik: Satu tanda bisa menyatakan bermacam-macam maksud atau bermacam-macam tanda satu maksud. Makna kongkrit: makna tuturan. ayah dengan anak. . Sosiolinguistik: berkaitan dengan variasi bahasa. J.Entuk 4 + Apik! wacana pragmatik Menurut Halliday (pakar Functional Grammar): 1. Berkenaan dengan data: Data kalimat : sentence. ²-> terkait dengan wacana. Verhaar (Pengantar Lingguistik Umum): .M. Field (medan): siapa berbicara kepada siapa.Ora duwe dhuwit. semakin pendek tidak sopan. Data pragmatik: utterance (kalimat + konteks). + Piye bijimu . Mode (bentuk bahasa): strategi memilih yang mana) Pragmatik: retorika. 2. o Contoh: Lunga! (tidak sopan) dan Lungaa! (lebih sopan) y Semakin langsung semakin tidak sopan.Noam Chomsky: Terdapat hubungan satu lawan satu antara penanda dan petanda (signifiant dan signifie). Contoh: ¶menolak¶ bisa dinyatakan dengan . yang tidak jelas siapa penuturnya tidak jelas. 3.Omahku sepi kok. Bahasa tulis juga bisa asalkan mampu merekonstruksi tuturan yang sebenarnya.W. . Tuturan semakin panjang tuturan semakin sopan. karena: jelas kapan bahasa itu digunakan siapa yang berbicara kepada siapa. y Obyek data pragmatik itu konkrit. bagaimana strateginya. semakin tidak langsung semakin sopan. Tenor (pelibat): misalnya. (Contoh: Nyilih sepedha motore (tidak sopan) dan Menawa pareng. aku nyilih sepedha motore (lebih sopan)). Dia pergi ke Surabaya. Obyek data primer adalah bahasa lisan.Maksud : ada pada penutur (eksternal) . 2.Informasi : isi tuturan (internal) Dia membeli buku Buku dibelinya makna: µaktif¶ dan µpasif¶ Makna yang abstrak. Ayahnya sakit. jelas.Makna : ada pada satuan lingual (internal) .

Harimurti Kridalaksana. misalnya: dalam ujaran Saya mengucapkan terima kasih. 1962.plus konteks. 1989. 4. Lunga! Wacana. Performative (in speech . Tuturan (utterance) . John. Urmson). 3. 1984: 2001). oleh Kridalaksana disebut dengan istilah ujaran): (1) regangan wicara bermakna di antara dua kesenyapan aktual atau potensial. Jakarta: Universitas Indonesia. Leech. TUTURAN PERFORMATIF DAN TUTURAN KONSTATIF Pustaka: Austin. J.L.D.minus konteks. Searle. Prinsip-prinsip Pragmatik. Tuturan (utterance. Jadi.di atas kalimat minus konteks. Jakarta: PT Gramedia. Geoffrey. How to Do Things with Words. 1993. tetapi sebenarnya ada tindakan tertentu yang baru dapat terlaksana kalau orang itu mengemukakan tuturan/bahasa. Richards. 1984.O. Oka). wacana tidak selalu di atas kalimat.Widowson: 1. pembicara mengujarkannya dan sekaligus menyelesaikan perbuatan ³mengucapkan´ (Kridalaksana. 1984: 2001). Speech Acts. Contoh: Sugeng rawuh. (2) kalimat atau bagian kalimat yang dilisankan (Kridalaksana. J. Neng ngendi sabune? teks tidak jelas konteksnya. New York: Oxford University Press. Longman: Longman Group UK Limited. Filosof J. . (ed. 2. Definisi: Tuturan performatif (performative utterance): tuturan yang memperlihatkan bahwa suatu perbuatan telah diselesaikan pembicara dan bahwa dengan mengungkapkannya berarti perbuatan itu diselesaikan pada saat itu juga.D. Longman Dictionary of Applied Linguistics. Kamus Linguistik. Wacana (discourse) .kalimat tanya. Austin membedakan antara tuturan performatif (performativei) dan konstatif (constative).di atas kalimat plus konteks.L. (Terjemahan M. 1969. Kalimat (sentence) . Intinya: bahasa pada umumnya sebagai alat komunikasi. Teks (texs) . Arep? melek terus. Kopi bisa marahi saya menolak atau menerima. Jack dkk. Cambridge: Cambridge University Press. Wacana: mengandung amanat yang lengkap. Dengan demikian bahasa bukan semata-mata alat untuk menyatakan sesuatu tetapi juga melakukan sesuatu.

1989: 212). Misalnya: Saya berjanji akan setia. (Tindakan bertaruh: the act of betting). Misalnya: Saya mohon maaf atas kesalahan saya. Misalnya: Saya berjanji akan setia padamu. bukan yang telah dilakukan. Ciri-ciri tindakan performatif  Subyek harus orang pertama. Penutur harus yakin bahwa ia mampu melakukan tindakan itu. dan sifatnya betul atau tidak betul . tempatnya di KUA. Misalnya: Saya berjanji bahwa saya akan selalu datang tepat waktu. I promise not to be late (= a promise). Tuturan performatif tidak dievaluasi sebagai benar atau salah. keadaan. kalau tidak berarti bukan tuturan performatif).. Tuturan harus mempredikasi tindakan yan g akan dilakukan. Saya berterima kasih atas kebaikan Saudara. bukan orang kedua atau ketiga. Tuturan konstatif atau deskriptif (constative utterance): tuturan yang dipergunakan untuk menggambarkan atau memerikan peristiwa. sebagai berikut.  Tindakan sedang/akan dilakukan Kalau dalam bahasa Inggris. 6. (Tindakan mohon maaf: the act of apologizing). tetapi sebagai tepat atau tidak tepat. such as Watch out (=a warning). Tuturan harus mempredikasi tindakan yang akan dilakukan oleh penutur. Misalnya: Saya nyatakan Anda berdua suami-isteri. 2. pendeta. Saya nyatakan Anda berua suami-isteri. Gereja. Syarat itu juga belum cukup. (Tindakan menyatakan/menikahkan: the act of marrying). proses. 3. Contoh lain: 1.act theory): an utterance which performs an act. rama. Pura. 2. Tindakan harus dilakukan secara sungguh-sungguholeh penutur. Penuturnya adalah penghulu (naib). Penutur harus memiliki niat yang sungguh-sungguh dalam mengemukakan tuturannya. Saya serahkan semua harta saya kepada anak saya. dsb. Saya namakan anak saya Parikesit. Syarat-syarat itu antara lain: 1. Akhirnya direvisi (dilengkapi) oleh murid-muridnya. (Tindakan pergi: the act of going). ((Richards dkk. atau mampu melakukan apa yang dinyatakan dalam tuturannya. 4. Harus diucapkan sungguh-sungguh. Saya akan pergi sekarang. (Orang perta dan kedua melakukan tindakan secara sungguh-sungguh). Austin dalam menentukan ciri-ciri tuturan performatif ini hanya melihat aspek gramatikalnya saja. Orang yang menyatakan tuturan dan tempatnya harus sesuai atau cocok. 7. maka tuturan itu dikatakan tidak valid (infelicition). (Tindakan menyerahkan: the act of bequeting). 4. tumindakku kang ora ndadekake renaning penggalihmu. yaitu dengan adanya syarat-syarat lainnya yang disebut syarat tuturan performatif (felicity condition). Misalnya: Sesuk kowe tak-tukokke sepur (yakin tidak. 3. subjek orang pertama dan kala-nya present tense. kemudian diperbaharui lagi oleh John Searle. Misalnya: Aku njaluk pangapura marang sliramu. (Tindakan memberi nama: the act of naming). tidak dengan tindakan menginjak kaki mitra tutur-nya. 1993: 280). (the act of promising). 5. (Tindakan berterima kasih: the act of thanking) 2. 5. 1. misalnya: I promise that I shall be there (Saya berjanji bahwa saya akan hadir di sana) dan performatif primer atau tuturan primer I shall be there (Saya akan hadir di sana) (Geoffrey Leech (terjemahan). Saya mohon maaf atas keterlambatan saya. Masjid. Saya bertaruh Mike Tyson pasti menang. objeknya 2 orang (berdua). Tindakan harus dilakukan secara sungguh-sungguh oleh kedua belah pihak. Kalau tuturan tidak memenuhi kelima syarat tersebut. Secara ringkas dikatakan pula bahwa tuturan performatif adalah tuturan untuk melakukan sesuatu (perform the action). bukan oleh orang lain.

Dengan pengucapan kalimat Arep ngombe apa? si pembicara tidak semata-mata menanyakan atau meminta jawaban tertentu. Pengertian Tindak tutur (istilah Kridalaksana µpertuturan¶ / speech act. 3. ilokusi. Lokusi adalah semata-mata tindak berbicara. Hal-hal apa sajakah yang dapat ditindakkan di dalam berbicara? Ada cukup banyak. Misalnya: 1. Ali pergi ke Jakarta 2.1 Lokusi. di samping memang mengucapkan kalimat tersebut.(Kridalaksana. apabila seorang penutur (selanjutnya disingkat P) Jawa mengujarkan ³Aku ngelak´ dalam tindak lokusi kita akan mengartikan ³aku´ sebagai µpronomina persona tunggal¶ (yaitu si P) dan ³ngelak´ mengacu ke µtenggorokan kering dan perlu dibasahi¶. dan Perlokusi Austin (1962) dalam How to do Things with Words mengemukakan bahwa mengujarkan sebuah kalimat tertentu dapat dipandang sebagai melakukan tindakan (act). tawaran (offers). 1989: 265). TINDAK TUTUR (Speech Act) A. penerimaan akan tawaran (acceptation of offers) B.. permintaan (requests). yaitu lokusi. Di sini kita mulai berbicara tentang maksud dan fungsi atau daya ujaran yang bersangkutan. Ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu. perlokusi adalah efek dari TT itu bagi mitra-tutur (selanjutnya MT). Di dalam mengatakan suatu kalimat. ajakan (invitation). dan perlokusi. Ilokusi. A constative is an utterance which assert something that is either true or false. Uraian berikut memaparkan klasifikasi dari berbagai jenis TT. yaitu memerintahkan si mitratutur supaya pergi meninggalkan rumah pondokannya. mengatakan Sampun jam sanga ia tidak semata-mata memberi tahu keadaan jam pada waktu itu. tanpa bermaksud untuk minta minum. Secara singkat. yakni menawarkan minuman. 1984: 154) Speech act: an utterance as a functional unit in communication (Richards et al. antara lain. Saya tidur di hotel. 1984: 2001). Jadi. ia juga menindakkan sesuatu. Di dalam pengucapan kalimat ia juga ³menindakkan´ sesuatu. Perlokusi mengacu ke efek yang ditimbulkan oleh ujaran yang dihasilkan oleh P. Seorang ibu rumah pondokan putri. 1989: 212-213). Di sini maksud atau fungsi ujaran itu belum menjadi perhatian.. untuk apa ujaran itu dilakukan. seseorang tidak semata-mata mengatakan sesuatu dengan pengucapan kalimat itu. Ia membedakan tiga jenis tindakan yang berkaitan dengan ujaran. atau Austin mengatakan bahwa tuturan konstatif dapat dievaluasi dari segi benar-salah (Geoffrey Leech (terjemahan). speech event): pengujaran kalimat untuk menyatakan agar suatu maksud dari pembicara diketahui pendengar (Kridalaksana. jika MT melakukan tindakan . ³Aku ngelak´ yang diujarkan oleh P dengan maksud µminta minum¶ adalah sebuah tindak ilokusi. 1993: 316). yaitu tindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan kalimat sesuai dengan makna kata itu (di dalam kamus) dan makna kalimat itu sesuai dengan kaidah sintaksisnya. Jadi. Jadi. for example. pemberian izin (permissons). TINDAK TUTUR DAN JENIS-JENISNYA Tindak tutur (selanjutnya TT) atau tindak ujaran (speech act) mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam pragmatik karena TT adalah satuan analisisnya. Chicago is in the United States (Richards dkk. ia juga menindakkan sesuatu.

berupa isyarat halus. dan Deklaratif Searle (1975) mengembangkan teori TT dan membaginya menjadi lima jenis TT (dalam Ibrahim. mengucapkan terima kasih. 3. keadaan. menurut Blum-Kulka (1987) (lihat Gunarwan. menyarankan. dan mengeluh. dan menyebutkan. (5) TT deklaratif merupakan TT yang dilakukan P dengan maksud untuk menciptakan hal (status. misalnya berjanji dan bersumpah. (2) TT direktif yaitu TT yang dilakukan P-nya dengan maksud agar si pendengar atau MT melakukan tindakan yang disebutkan di dalam ujaran itu. kamar iki katon rupek. Komisif. dan memberi maaf. mengritik. Ekspresif. Derajat kelangsungan dapat pula diukur berdasarkan kejelasan pragmatisnya: makin jelas maksud ujaran makin langsunglah ujaran itu. (4) TT komisif adalah TT yang mengikat P-nya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam ujarannya. menuntut. (4) Pernyataan keharusan : Sliramu kudu mindhahke meja iki! (5) Pernyataan keinginan : Aku kepengin meja iki dipindhah. Direktif. Hal ini berkaitan dengan tindak tutur langsung (TT-L) dan tindak tutur tidak langsung (TT-TL). melaporkan. dan sebaliknya. (9) Isyarat halus : Kamar iki kok katone sesak ngono ya? 3. 1993: dapat diungkapkan dengan menggunakan berbagai ujaran sebagai berikut. dan menantang.mengambilkan air minum untuk P sebagai akibat dari TT itu maka di sini dapat dikatakan terjadi tindak perlokusi. menunjukkan. misalnya. Kelima TT itu sebagai berikut: (1) TT representatif yaitu TT yang mengikat P-nya kepada kebenaran atas apa yang dikatakannya. misalnya menyuruh. Karena kata ³meja´ sama sekali tidak disebutkan . memohon. Dari kesembilan bentuk ujaran tersebut. (6) Rumusan saran : Piye yen meja iki dipindhah? (7) Persiapan pertanyaan : Kowe bisa mindhah meja iki? (8) Isyarat kuat : Yen meja iki ana ing kene. mengizinkan. (1) Kalimat bermodus imperatif : Pindhahen meja iki! (2) Performatif eksplisit : Dakjaluk sliramu mindhahke meja iki! (3) Performatif berpagar : Aku jan-jane arep njaluk tulung sliramu mindhahke meja iki. membatalkan. misalnya memuji. dan sebagainya) yang baru. Pada bagian terdahulu telah disinggung bahwa di dalam komunikasi satu fungsi dapat dinyatakan atau diutarakan melalui berbagai bentuk ujaran. Derajat kelangsungan TT dapat diukur berdasarkan ³jarak tempuh´ antara titik ilokusi ( di benak P) ke titik tujuan ilokusi (di benak MT). (3) TT ekspresif ialah TT yang dilakukan dengan maksud agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi mengenai hal yang disebutkan di dalam ujaran itu. Untuk maksud atau fungsi ³menyuruh´. 1993: 11-54). melarang.2 TT Representatif. misalnya memutuskan. misalnya menyatakan. yang paling samar-samar maksudnya ialah bentuk ujaran (9).3 TT Langsung vs TT Tidak Langsung Dari sembilan bentuk ujaran tersebut diperoleh sembilan TT yang berbeda-beda derajat kelangsungannya dalam menyampaikan maksud µmenyuruh memindahkan meja¶ itu.

(merupakan tindak mengatakan sesuatu: menghasilkan serangkaian bunyi yang berarti sesuatu.) Dengan mengatakan X. Perlokusi Perbedaan kekuatan antara perlokusi dan ilokusi tidak selalu jelas. kelangsungan dan keharafiahan ujaran. Dengan demikian. Misalnya. dan tindak perlokusi (melakukan tindakan dengan mengatakan sesuatu). Jika kedua hal itu. misalnya diucapkan oleh P yang mengajak MTnya untuk tidak membuka rahasia. Ini merupakan aspek bahasa yang merupakan pokok penekanan linguistik tradisional). Hal ini sejalan dengan pendapat Austin (1962) yang melihat adanya tiga jenis tindak ujar. n menegaskan (asserts) bahwa P. misalnya diucapkan oleh seseorang yang jengkel kepada MT-nya yang selalu ³cerewet´. Kesulitan dalam definisi ini muncul dari . menolak. misalnya diucapkan oleh dokter gigi kepada pasien yang masih kecil agar anak itu tidak takut. melukai. digabungkan maka akan didapatkan empat macam ujaran. Dengan demikian mengatakan Saya menolak bahwa X sama halnya menolak bahwa X. berjanji. Lokusi 2. Ilokusi 3. maka MT harus mencari-cari konteks yang relevan untuk dapat menangkap maksud P. dan mencakup tindaktindak seperti bertaruh. ilokusi. secara ringkas. suruhan (request) memiliki kekuatan esensial untuk membuat pendengar melakukan sesuatu. 1996: 36). Contoh-contoh yang sesuai adalah meyakinkan. menakutnakuti. yaitu lokusi. yaitu: (1) TT-LH : ³Buka mulut´. misalnya diucapkan oleh dokter gigi kepada pasiennya. maka ada 3 jenis tindakan atau tindak tutur (selanjutnya disingkat TT). (1) Tindak tutur langsung (TT-L) (2) Tindak tutur tidak langsung (TT-TL) (3) Tindak tutur harafiah (TT-H) (4) Tindak tutur tidak harafiah (TT-TH) (5) Tindak tutur langsung harafiah (TT-LH) (6) Tindak tutur tidak langsung harafiah (TT-TLH) (7) Tindak tutur langsung tidak harafiah (TT-LTH)\ (8) Tindak tutur tidak langsung tidak harafiah (TT-TLTH) Apabila seseorang menggunakan bahasa. (2) TT-LTH : ³Tutup mulut´. Misalnya: n mengatakan kepada t bahwa X. (Menghasilkan efek tertentu pada pendengar. Selain TT-L dan TT-TL. yaitu tindak lokusi (melakukan tindakan mengatakan sesuatu). tindak ilokusi (melakukan tidakan dalam mengatakan sesuatu). Sebagian verba yang digunakan untuk melabel tindak ilokusi bisa digunakan secara performatif. Dalam mengatakan X. P dapat juga menggunakan tindak tutur harafiah (TT-H) atau tindak tutur tidak harafiah (TT-TH) di dalam mengutarakan maksudnya.oleh P dalam ujaran (9). dan memesan. berdasarkan uraian dan contoh-contoh di atas dapat dicatat ada delapan TT sebagai berikut (bandingkan Wijana. n meyakinkan (convinces) t bahwa P. (4) TT-TLTH : ³Untuk menjaga rahasia. dan membuat tertawa) 1. lebih baik jika kita semua sepakat menutup mulut kita masing-masing´. (Dilakukan dengan mengatakan sesuatu. (3) TT-TLH : ³Bagaimana kalau mulutnya dibuka?´. Persuasi merupakan tindak perlokusi: orang tidak dapat mempersuai seseorang tentang sesuatu hanya dengan mengatakan Saya mempersuasi anda. dan perlokusi.

di mana. Searle. mengandung pesan. Ibunya di rumah! (bisa bermaksud melarang datang menemui anaknya) Bapaknya galak! (bisa melarang jangan ke sana) Saya tidak dapat datang. memperingatkan. Berita Adiknya sakit. Misalnya: . kapan. (minta maaf) Kula nyuwun sekilo. (membeli) Temboknya dicat! (jangan dekat tembok itu) Adoh lho le! (jangan ke sana) 3. Misalnya: Saya berjanji. TT lokusi: Austin.urutan tindakan yang banyak diabaikan oleh teori tindak tutur. untuk apa. dll. kalimat dapat dibedakan menjadi 3 macam. Tempat itu jauh.´ C. Searle. Syukur Ibrahim. hal mengungkapkan sesuatu atau menyatakan sesuatu (locutionary speech act). membuat orang lain percaya akan sesuatu dengan mendesak orang lain untuk berbuat sesuatu. Tempat itu jauh Lokusi Perlokusi Tempat itu jauh. Wacana-wacana ilmiah yang tidak menekankan emosi termasuk TT lokusi. Kesulitan itu juga muncul dari dasar definisi maksud penutur.) TT langsung (direct speech) Perintah Pergi! larangan. Informasi Tanya Di mana handuk saya? ya. mis. ke mana. TT ini sangat sedikit peranannya dalam pragmatik. Tindak tutur langsung-tidak langsung dan literal-tidak literal Berdasarkan isi kalimat atau tuturannya. 1. yang merupakan keadaan psikologis yang tidak bisa diobservasi (lihat Abd. perbuatan yang dilakukan dengan mengujarkan sesuatu. TT ilokusi: Austin. dsb. atau mempengaruhi orang lain (perlocutionary speech act) Misalnya: Tempat itu jauh. TT perlokusi: Austin. kalimat tanya (interogatif). perbuatan yang dilakukan dalam mengujarkan sesuatu atau melakukan sesuatu. Lokusi Tempat itu jauh. dan kalimat perintah (imperatif). siapa. perbuatan bertutur. tidak (apa. perintah biasa dan TT langsung (direct speech) TT langsung (direct speech) Berdasarkan mudusnya. kalimat atau tuturan dapat dibedakan menjadi tuturan langsung dan tutran tidak langsung. 2. Pohon punya daun. yaitu kalimat berita (deklaratif). Misalnya: Dia sakit. bertanya (illocutionary speech act). intonasi) informasi (apa. ajakan. metapesan µJangan pergi ke metapesan (Dalam pikiran sana!¶ mitratutur ada keputusan) ³Saya tidak akan pergi ke sana. 1993: 115). Kaki manusia dua.

1. TT langsung TT tidak langsung TT literal TT tidak literal TT langsung literal TT tidak langsung literal TT langsung tidak literal TT tidak langsung tidak literal betul-betul kurang keras. TT tidak literal 5. TT tidak langsung 3. Masing-masing tindak tutur (langsung. Adiknya sakit. kurang . literal. [Tuturan tidak langsung] A: Gulanya habis. TT langsung literal 6. dan tidak literal) apabila disinggungkan (diinterseksikan) dapat dibedakan menjadi 8 macam seperti sebagai berikut. 1. TT langsung 2. Misalnya: 1. 2. matikan! Radione banter. 8. 7. kalimat Radione kurang banter. suara radionya keras sekali. yang bagus dikatakan jelek (hal ini disebut banter [bEnte]). TT tidak langsung tidak literal Misalnya. Buka mulutnya! (makna lugas: buka). 2. nyah. TT literal 4. tidak langsung. Tuturan literal: tuturan yang sesuai dengan maksud atau modusnya. TT langsung tidak literal 8. (ada maksud: jangan ribut atau tengoklah!) Berdasarkan keliteralannya. betul-betul kurang keras keraskan radionya! suara radionya keras sekali. B: Ini uangnya. Tuturan tidak literal: tuturan yang tidak sesuai dengan maksud dalam tulisan/tuturan. 5. Misalnya. Hal ini merupakan sesuatu yang penting dalam kajian pragmatik. 2. 4. (ada maksud: jangan pergi ke sana). tuturan dapat dibedakan menjadi tuturan literal dan tuturan tidal literal. 3. keraskan radionya! betul-betul kurang keras. 6.[Tuturan langsung] A: Minta uang untuk membeli gula! B: Ini. Rumahnya jauh. Misalnya. Buka mulutnya! (makna tidak lugas: tutup). TT tidak langsung literal 7. Beli sana! Kadang-kadang secara pragmatis kalimat berita dan tanya digunakan untuk memerintah. sehingga merupakan TT tidak langsung (indirect speech). 1. yang jelek dikatakan bagus (disebut µironi¶). Hal ini disebut juga µnglulu¶ Dalan bahasa kadang-kadang terjadi.

1996: 46-53). Grice menjabarkan prinsip kerja sama itu menjadi empat maksim percakapan (periksa Gunarwan. Kalau orang berbicara kepada orang lain pasti ingin mengemukakan sesuatu. Lubis. antara P dengan MT harus saling menjaga prinsip kerja sama (cooperative principle) agar proses komunikasi berjalan dengan lancar. Dengan adanya 2 tujuan ini. jangan mengatakan sesuatu yang tidak perlu. 1993: 11. ringkas. tidak berbelit-belit. tidak berlebihan. 1993: 73. b. Hanya saja dalam pragmatik terdapat penyimpangan-penyimpangan. ada maksud-maksud tertentu. Keempat maksim percakapan itu ialah sebagai berikut. maka orang akan berbicara sejelas mungkin. Bicaralah seperlunya saja. (1) Maksim kuantitas: a.PRINSIP KERJA SAMA (Cooperative Principle) Sebelum belajar tentang µprinsip kerja sama¶. kita perlu belajar tentang µasumsi pragmatik¶. Tanpa adanya prinsip kerja sama komunikasi akan terganggu. Contoh: kikir : q2r berdua satu tujuan : ber-217-an tekate dhewe : TKTDW kutujukan : ku¥49kan wawan : wa-one prawan ayu : pra one are you kian maju : q-an maju lali main : la5in dik daniel : dick&niel kaki lima : kq lima thank before : thx b4 aku : aq kamu :u sama-sama := yang : y9 sayang : sy9 anti gadis : an3dis dan :n Di dalam berkomunikasi. Selanjutnya orang lain diharapkan menangkap apa (hal) yang dikemukakan. berbicara secara wajar (termasuk volume suara yang wajar). Berikan informasi Anda secukupnya atau sejumlah yang diperlukan oleh MT. Secara lebih rinci. . dan bandingkan pula Wijana. Prinsip kerja sama ini terealisasi dalam berbagai kaidah percakapan. tetapi ia harus bertanggung jawab atas penyimpangan itu. Mereka harus bekerja sama. sehingga orang lain bisa mengetahui maksudnya.

bagi pengamat pragmatik. Katakan dengan jelas. Katakan yang relevan. Untuk memenuhi komunikasi secara wajar dan terjadi kerja sama yang baik. di antara empat maksim itu. tetapi apabila ada tuturan *Buku itu dibuat dari nasi. Bicaralah secara singkat. Bicaralah sesuai dengan permasalahan. Asumsi pragmatik ini merupakan titik acuan (point of reference). baya. Sejauh mana asumsi ini benar juga masih memerlukan pengkajian secara pragmatis. misalnya Modal saja tidak bisa dan Untung saja tidak dapat. Berkatalah secara sistematis. b. Maksim kuantitas Berbicara sejumlah yang dibutuhkan oleh pendengar. (Secara kuantitas cukup jelas). Misalnya: Ibu kota Provinsi Jawa Timur Surabaya. d. b. Maksim kualitas Prinsip yang menghendaki orang-orang berbicara berdasarkan bukti-bukti yang memadai. sistematis. Akan tetapi. Misalnya: A : Ini jam berapa? . 2. c. Kalau lebih berarti ada tujuannya. sedangkan dalam gramatika/ tatabahasa diatur oleh kaidah (rule governed). (3) Maksim relevansi: a. di dalam percakapan sehari-hari tidak jarang kita temukan praktikpraktik pelanggaran terhadap maksim-maksim Grice tersebut. maksim ketiga atau maksim relevansilah yang paling penting sebab betapa pun informasi yang kita sampaikan itu cukup serta disampaikan dengan cara yang jelas.. kalau informasi itu tidak relevan dengan permasalahan toh tidak akan membawa manfaat. b. mengapa P yang bermaksud meminjam uang atau memerlukan bantuan kepada MT biasanya diawali dengan menceritakan secara panjang lebar keadaan dirinya seraya disertai dengan janji-janji? Apakah itu berlaku secara universal? Bukankah tindakan tersebut melanggar maksim kuantitas? Pada hemat saya. Dalam kaitannya dengan maksim kualitas. Hindari ketaksaan. Maksim relevansi Penutur dan mitra tutur berbicara secara relevan berdasarkan konteks pembicaraan. c. Bukti cukup memadai. Ibu kota Provinsi Jawa Timur Sura «« Tuturan ini disampaikan oleh guru. tidak bertele-tele. lalu murid menjawab «. e. 3. Terdapat beberapa asumsi pragmatik. justeru pelanggaran-pelanggaran itulah yang menarik untuk dikaji: mengapa P melakukan pelanggaran terhadap maksim tertentu.(2) Maksim kualitas: a. Misalnya: Buku itu dibuat dari kertas. Hindari kekaburanan ujaran. Kenyataan membuktikan. Dalam pragmatik dikontrol oleh maksim (principle controlled). bukti tidak memadai. maka dalam komunikasi harus memenuhi prinsip (maksim). Jangan katakan sesuatu yang Anda tahu bahwa sesuatu itu tidak benar. (4) Maksim cara: a. Jangan katakan sesuatu tanpa bukti yang cukup. terdapat penyimpangan maksim. ada maksud apa di balik pelanggaran maksim tersebut? Misalnya. yaitu: 1. Katakanlah hal yang sebenarnya. dan tidak ambigu.

Selanjutnya agar memenuhi prinsip (maksim) kesopanan. Ada 6 macam prinsip agar memenuhi prinsip kesopanan. memohon. Misalnya: A : Dia penyanyi solo. perlu mengingat kembali dari adanya kategori sintaktik yang terdiri dari berita. masak saya miskin seperti ini punya tanah. B : Benar. Dalam kategori pragmatik didasarkan pada fungsi komunikatifnya. ya? B : Bukan. Swear. tidak terbalik (harus runtut). Tuturan komisif: berjanji.B : Ini jam 3. mujair. tuturan asertif. yaitu maksim kuantitas. Jadi tidak hanya bersifat tekstual. Tuturan impositif (direktif): menyuruh. Gadis itu cantik sekali. 2. Retorika interpersonal membutuhkan prinsip kesopanan (politeness principle). Saya akan datang (ada efek yang lain untuk memerintah) 3. Misalnya: Bali terletak di sebelah timur Pulau Jawa. Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS memiliki 8 jurusan. Akan menjadi tidak relevan misalnya apabila B menjawab Ini baju kamu atau Di sana. A B : Ini Tanah Abang. Misalnya: Apakah Anda bisa menolong saya. dia sering tampil di TVRI. 4. menawarkan. Yang diperhatikan adalah tuturan. Misalnya: A : Kamu penjahat kelas kakap. Tuturan ekspresif: menyatakan perasaan (emosi). tuturan impositif (direktif). berikut ini inti 6 prinsip kesopanan menurut Leech. Retorika tekstual harus memenuhi 4 prinsip (maksim) kerja sama. Keempat prinsip tersebut di atas termasuk pada jenis µretorika tekstual¶ sebab dalam pragmatik dikenal adanya retorika tekstual dan retorika interpersonal. dan maksim cara. Tuturan asertif: menyatakan sesuatu (objektif). ya? : Jangan menghina. tanya. Dalam kaitannya dengan kategori pragmatik ini ada tuturan komisif. Maksim cara Tuturan harus dikomunikasikan secara wajar. 4. maksim kualitas. Sebelum sampai pada prinsip kesopanan. tuturan ekspresif. Tetapi kadang-kadang dalam tuturan yang wajar terjadi dis-ambiguasi (pengawaambiguan). 1. tidak boleh ambigu (taksa). Misalnya: Saya akan datang. Sedangkan retorika interpersonal harus memperhitungkan orang lain. Misalnya: Gedung itu indah sekali. Kadang-kadang sulit dibedakan antara tuturan asertif dengan ekspresif. . Boleh saya bawakan? Saya akan setia. dan perintah. sehingga kata-kata yang ambigu itu hanya satu makna. maksim relevansi. memerintah.

= memaksimalkan kesetujuan pada orang lain dan meminimalkan ketidaksetujuan pada orang lain. ning emane cedhak pabrik. B : Ah tidak. Tuturan A dan B disebut pragmatik paradoks. apik banget. 5. = memaksimalkan kerugian diri sendiri. Maksim kerendahhatian (modesty maxim). Misalnya: Omahmu jane apik. nanging emane akeh sukete. = memaksimalkan keuntungan orang lain. . 2.1. Apakah Anda bersedia membawakan? Bawakan ini! (tidak sopan) Mari saya antarkan! Tolong saya dihantarkan! 3. biasa-biasa saja. B : Iya. begini saja kok bagus. bukan pada orang lain (self centred maxim). Maksim penerimaan (approbation maxim). Pusatnya pada orang lain (other centred maxim). Maksim kemurahhatian (generosity maxim). ayu banget ya dheweke? : Iya. Maksim kesetujuan atau kecocokan (agreement maxim). meminimalkan kerugian orang lain. meminimalkan keuntungan diri sendiri. B : Wah elek banget ngono kok. Ditujukan pada orang lain (other centred maxim). = meminimalkan rasa hormat pada diri sendiri dan memaksimalkan rasa tidak hormat pada diri sendiri. Misalnya: Ada yang bisa saya bantu? A : Mari saya bawakan! B : Tidak usah. Misalnya: A : Omah kuwi apik. Pusatnya pada diri sendiri (self centred maxim). Ditujukan untuk menyatakan pendapat dan ekspresif. = memaksimalkan rasa hormat pada orang lain. ning rada «. Misalnya: A : Kau sangat pandai. A : Omah kuwi apik banget. Maksim kebijaksanaan/kedermawanan. Jenis maksim ini untuk berjanji dan menawarkan (impositif. 4. Ditujukan pada diri sendiri. A B : Mobilnya bagus! : Ah. Maksim penerimaan ini ditujukan untuk menawarkan dan berjanji. komisif). Misalnya: Bolehkah saya bantu? Mari saya bantu. Pusatnya orang lain (other centred maxim) Maksim ini ditujukan untuk kategori asertif dan ekspresif. (kera). meminimalkan rasa tidak hormat pada orang lain. (Ketidaksetujuan total / tidak sopan) A B : Wah. Pekarangane jembar. tact maxim.

Untuk tujuan tersebut. Pusatnya orang lain (other centred maxim). dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. dan mengabaikan unsur pengguna bahasa. (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya. Misalnya: A : Saya lolos di UMPTN. makna yang dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantik. saya mengawali makalah ini dengan pembahasan mengenai pengertian pragmatik.(Ketidaksetujuan parsial / sopan) 6. studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya. . yaitu dengan menurunkan sistem yang terdapat dalam matematika dan logika. menyebutkan empat definisi pragmatik. perkembangannya. 2010 ramlannarie bahasa indonesia Leave a comment Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik? 1. LINGUISTIK: PRAGMATIK May 30. : Oh. Ditujukan untuk menyatakan asertif dan ekspresif. saya turut berduka cita. yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara. Definisi Pragmatik Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. (3) bidang yang. menunjukkan pentingnya pragmatik. seperti akan saya jelaskan kemudian. Pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. dengan melihat perbedaan kajiannya dengan bidang lain dalam linguistik. ya. Jon. Makalah ini bertujuan menjelaskan pentingnya bidang pragmatik untuk dipelajari dalam program studi linguistik. Sebagai tataran terbaru dalam linguistik. melebihi kajian tentang makna yang diujarkan. yaitu makna. misalnya. Yule (1996: 3). dan. mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara. 2. seperti diungkap oleh Yule (1996: 6). A B : Baru-baru ini dia telah meninggal. B : Selamat. Maksim kesimpatian (symphaty maxim). = memaksimalkan simpati pada orang lain dan meminimalkan antipati pada orang lain. menjelaskan secara singkat topik-topik bahasannya. Pendahuluan Dalam jangka yang cukup lama. Meskipun memiliki fokus kajian yang serupa dengan semantik.

Ludwig Wittgenstein. Dalam etnometodologi. . dan bahwa fonologi. dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)). yaitu bahwa dalam kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis. Searle. dengan menggunakan sudut pandang kognitif. keapikan sintaksis (well-formedness) bukanlah segalanya. dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme. Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi. yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross. komunikasi tetap dapat berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak apik secara sintaksis (ill-formed). dan (4) tradisi etnometodologi. dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran. bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6). kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi. yang tumbuh di Eropa. yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik. Perkembangan Pragmatik Mey (1998). yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik. menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning). pertama. Kecenderungan kedua. muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan. melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi. Dengan kata lain. sosial. Jerman. dan kedua. dan semantik bersifat periferal. dan Grice. menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme. dan terutama John L. Searle. menolak pandangan sintaksisme Chomsky. sebab. Selanjutnya Thomas (1995: 22). Tradisi yang ketiga. atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi. mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa. bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri. termasuk penggunaannya. Kecenderungan yang pertama. dalam kaitannya dengan logika. seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5). 3. adalah tradisi filsafat. pragmatisisme. dan komplementarisme. Leech (1983: 2). Menurut Lakoff dan Ross. bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6). mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction). Para pakar tersebut mengkaji bahasa. dengan menggunakan sudut pandang sosial. misalnya Austin. dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross.Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian. (3) tradisi filsafat. seperti dikutip Gunarwan (2004: 7). Austin dan John R. (2) kecenderungan sosial-kritis. morfologi. seperti sering kita jumpai. tepatnya di Britania. yang dipelopori oleh Bertrand Russell. bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya.

yaitu.1 Teori Tindak-Tutur Melalui bukunya. saya nikahkan kalian (performatif) (4) Rumah Joni terbakar (konstatif) Selanjutnya Austin. pragmatik kognitif (Sperber dan Wilson). bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis. sehingga kita dapat melihat sejumlah kecenderungan dalam pragmatik. melainkan juga melakukan sesuatu (perform actions). dan bahwa pernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris. Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics (Thomas 1995: 30). pragmatik neo-Gricean (Cole). Austin. Melalui hipotesis performatifnya. Sebab. . Dalam contoh (4). Contoh. yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech-act). Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Gunarwan 2004: 8). (3) Dengan ini. dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin ini mengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition). yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi dan ketaksaan. sebagai bagian dari performatif (Austin 1962: 52 dan Thomas 1995: 49). Austin berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements). struktur dalam ujaran tersebut dapat saja berbunyi Saya katakan bahwa rumah Joni terbakar. sesuai contoh di atas. seperti juga ditekankan lebih lanjut oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). seperti Russel dan Moore. memasukkan ujaran konstatif.4. seperti diungkap oleh Marmaridou (2000: 1 (dalam Gunarwan 2004: 8)). dan Grice). (1) Ada enam kata dalam kalimat ini (2) Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono Dari contoh di atas. Searle. dan pragmatik interaktif (Thomas). sejak itu bidang kajian ini telah berkembang jauh. melainkan melalui bagaimana bahasa dipakai sehari-hari. Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. Austin dapat dianggap sebagai pemicu minat yang paling utama dalam kajian pragmatik. yaitu pragmatik filosofis (Austin. How to Do Things with Words. Beberapa Topik Pembahasan dalam Pragmatik 4. seperti dikutip oleh Thomas (1995: 29-30). Contoh. karena memiliki struktur dalam yang mengandungi makna performatif. Austin (dalam Thomas 1995: 31) berpendapat bahwa salah satu cara untuk membuat pembedaan yang baik bukanlah menurut kadar benar atau salahnya. kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar karena sesuai dengan kenyataan.

seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 1214). menghindari ketaksaan. ilokusi (illocutionary act). (2) bidal kualitas (quality maxim). 4. . misalnya untuk memberikan informasi secara tersirat (implicature) dan menjaga muka lawan bicara (politeness). Asertif atau representatif merupakan tindak-tutur yang menyatakan tentang sesuatu yang dipercayai pembicaranya benar. memberi informasi sesuai yang diminta. mengungkapkan secara singkat. sedangkan dalam indirect speech-act hubungannya tidak langsung atau menggunakan (bentuk) tindak-tutur lain (Gunarwan 2004: 9. Implikatur konvensional merupakan implikatur yang dihasilkan dari penalaran logika. dan deklarasi merupakan tindak-tutur yang mengubah status sesuatu. seperti diungkap oleh Thomas (1995: 57). dapat berupa tindak-tutur langsung (direct speech-act) dan tindak-tutur tidak langsung (indirect speech-act). menyebut dua macam implikatur. yaitu asertif (assertive). yaitu prinsip kerja sama (cooperative principle) (Yule 1996: 36-37 dan Thomas 1995: 61). Searle juga menyebut lima jenis fungsi tindak-tutur. (3) bidal relasi (relation maxim). mengungkapkan secara beraturan (Gunarwan 2004: 11 dan Thomas 1995: 63-64). 4. menyatakan hanya yang menurut kita benar atau cukup bukti kebenarannya. Berkaitan dengan prinsip kerja sama Grice di atas. Selain itu. dan (4) bidal cara (manner maxim). Implikatur konversasional merupakan implikatur yang dihasilkan karena tuntutan konteks tertentu (Thomas 1995: 58). dapat dicontohkan dengan penggunaan kata bahkan. dan Yule 1996: 53-54). didasarkan atas beberapa alasan. dan deklarasi (declaration) (Littlejohn 2002: 80. ekspresif merupakan tindak-tutur yang menyatakan perasaan pembicaranya. Hal ini. direktif (directive). Tindak lokusioner berkaitan dengan produksi ujaran yang bermakna. ujaran yang mengandung implikatur jenis ini. tindak ilokusioner terutama berkaitan dengan intensi atau maksud pembicara. dan tindak perlokusioner berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan (Thomas 1995: 49). seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 14). yaitu lokusi (locutionary act).Tindakan yang dihasilkan dengan ujaran ini mengandung tiga tindakan lain yang berhubungan. dan Yule 1996: 5455). yaitu (1) bidal kuantitas (quantity maxim).3 Implikatur (Implicature) Grice. seperti dikembangkan lebih jauh oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). Contoh. Dalam direct speeh-act terdapat hubungan langsung antara struktur kalimat dengan fungsinya. dan perlokusi (perlocutionary act) (Yule 1996: 48). Tindak-tutur. dalam komunikasi kadang kita tidak mematuhi prinsip tersebut.2 Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle) Grice mengemukakan bahwa percakapan yang terjadi di dalam anggota masyarakat dilandasi oleh sebuah prinsip dasar. pada kenyataannya. direktif merupakan tindaktutur yang menghendaki pendengarnya melakukan sesuatu. yaitu implikatur konvensional dan implikatur konversasional. ekspresif (expressive). komisif (comissive). Kerja sama yang terjalin dalam komunikasi ini terwujud dalam empat bidal (maxim). menghindari ketidakjelasan pengungkapan. komisif merupakan tindak-tutur yang digunakan pembicaranya untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukannya. memberi sumbangan informasi yang relevan.

kedua. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). yaitu: pertama. Melalui hal tersebut. penerima pesan (addressee) hanya memilih sesuatu yang dianggapnya relevan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan (addresser) dalam konteks komunikasi tertentu. Dengan kata lain. sedangkan yang kedua tidak. sedangkan contoh (6) merupakan implikatur konversasional yang bermakna µtidak¶ dan merupakan jawaban atas pertanyaan maukah Anda menghadiri selamatan sunatan anak saya? Berbeda dengan Grice. Selanjutnya. bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi. dengan menggunakan prinsip kerja sama Grice. 4. misalnya untuk ke kamar mandi. Sperber dan Wilson (1995). dan ketiga. Misalnya pada contoh (7) di atas.(5) Bahkan Bapak Menteri Agama menghadiri sunatan anak saya (6) Saya kebetulan ke Inggris untuk studi selama dua tahun dan berangkat besok Contoh (5) di atas merupakan implikatur konvensional yang berarti Bapak Menteri Agama biasanya tidak menghadiri acara sunatan. . bukan untuk setiap kali meninggalkan ruangan. Sperber dan Wilson (1995). menurut Gazdar. Setiap pembaca dapat memahami bahwa pesan ini hanya berlaku jika ia akan meninggalkan ruangan tersebut untuk terakhir kalinya. untuk menjelaskan cara sebuah pesan dipahami penerimanya.4 Teori Relevansi Teori relevansi yang dikembangkan oleh Sperber dan Wilson merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. misalnya contoh (5) di atas. menetapkan tiga macam hubungan antara cue dan implicature. pengirim pesan dapat memperkirakan reaksi penerima pesan terhadap pesan yang disampaikannya. misalnya contoh (6) di atas. dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini. explicature atau degree of relevance. (7) Pastikan semua pintu terkunci jika meninggalkan ruangan ini. Menurut mereka. implikatur dapat dibedakan menjadi implikatur khusus dan implikatur umum. misalnya tindakan untuk membuat sesuatu menjadi jelas dan dapat dimengerti oleh penerima pesan. yaitu tidak perlu mengunci pintu jika keluar dalam batasan waktu dan situasi yang diperkirakan cukup aman. ujaran merupakan sebentuk tindakan dari komunikasi ostensif. menyebutkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (language in use) selalu dapat diidentifikasi melalui hal yang disebutnya indeterminacy atau underspecification. Contoh yang ditulis Renkema (2004: 23) di bawah ini memberikan gambaran yang cukup jelas. Contoh. pesan ini berada dalam spesifikasi tertentu yang disepakati oleh addresser dan addressee dalam konteks komunikasi. komunikasi tidak hanya memasukkan apa yang ada dalam pikiran pengirim pesan ke dalam pikiran penerima pesan. Dalam teori relevansi dipelajari bagaimana sebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). Yang pertama ada karena konteks ujaran. tahapan yang harus dilewati untuk memahami implikatur dalam percakapan. namun mencakup perluasan wilayah kognitif (cognitive environment) kedua belah pihak.

tingkat gangguan atau rate of imposition (R). yaitu: pertama. Kebutuhan yang pertama disebut positive face. Menurut Goffman (1967: 5). Begitu juga A. karena semakin tinggi contextual effect maka semakin rendah ia membutuhkan processing effort. dan citra diri di depan umum (public self-image). Dengan kata lain. you have booked seat which costs 60 euros.5 Kesantunan (Politeness) Konsep strategi kesantunan yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson diadaptasi dari konsep face yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog bernama Erving Goffman (1956) (Renkema 2004: 24-25). misalnya bobot kedua permintaan di atas tidak terlalu besar jika kedua ungkapan tersebut ditujukan kepada saudara sendiri. harga diri (self-esteem). B mengira A mengerti bahwa at the weekend berarti next weekend. Dalam percakapan tersebut. A: What weekend? B: Next weekend. kekuasaan atau power (P) yang dimiliki lawan bicara (Renkema 2004: 26). Dalam hal ini. Menurut Goffman (1956). yang dikutip oleh Jaszczolt (2002: 318). ia mengandaikan B dapat mengerti bahwa that migh be cheaper dapat berarti If you purchase a ticket now.(8) A: Well. boleh tanya? . Intensitas FTA diekspresikan dengan bobot atau weight (W) yang mencakup tiga parameter sosial. padahal A harus memastikan dengan jelas setiap pemesanan pembelian tiket. Dalam percakapan di atas. kedua. Then that¶s fifty. setiap partisipan memiliki dua kebutuhan dalam setiap proses sosial: yaitu kebutuhan untuk diapresiasi dan kebutuhan untuk bebas (tidak terganggu). pemahaman penerima pesan terhadap apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan terjadi melalui beberapa tahapan. jarak sosial atau social distance (D) antara pembicara dengan lawan bicaranya. Berdasarkan konsep face yang dikemukakan oleh Goffman ini. dan ketiga. dalam pengertian degree of relevance. merupakan ujaran yang relevansinya rendah dan membutuhkan processing effort yang lebih besar. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 25). misalnya permintaan ³May I borrow your car?´ mempunyai bobot yang berbeda dengan permintaan ³May I borrow your pen?´. If you buy ticket when you turn up. berkenaan dengan bobot mutlak (absolute weight) tindakan tertentu dalam kebudayaan tertentu. sedangkan that might be cheaper merupakan ujaran yang relevansinya lebih baik. ujaran at the weekend. there is a shuttle service sixty euros one-way. (9) a. it costs 50 euros. face dapat diartikan kehormatan. Contoh. 4. ³face merupakan gambaran citra diri dalam atribut sosial yang telah disepakati´. Pak. Maaf. when do you want to go? B: At the weekend. Brown dan Levinson (1978) membangun teori tentang hubungan intensitas FTA dengan kesantunan yang terrealisasi dalam bahasa (Renkema 2004: 25). sedangkan yang kedua disebut negative face. How does it works? You just turn up for the shuttle service? A: That might be cheaper.

(off record) Teori kesantunan lain dibahas oleh Leech (1983). Dalam hal ini. bidal kedermawanan (generosity maxim). seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 19). Dalam sintaksis. 5. seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4). sedangkan ujaran (9b) mungkin diucapkan kepada orang yang secara sosial jaraknya lebih dekat (9a). ujaran (9a) mungkin diucapkan pembicara yang secara sosial lebih rendah dari lawan bicaranya. ditambah bidal pertimbangan (consideration maxim). Numpang tanya. I¶m sorry I have to ask. Brown dan Levinson (1978). Hey. dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal. but could you lend me a hundred dollars? (negative polite) e. (5) a. Pakar ini membahas teori kesantunan dalam kerangka retorika interpersonal (Eelen 2001: 6). semakin tinggi resiko kehilangan muka. Berkaitan dengan politeness strategy ini. salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. Oh no. Kelima strategi tersebut diurut berdasarkan tingkat resiko ³kehilangan muka´. bidal simpati (sympathy maxim). could you lend me a hundred bucks? (positive polite) c. yang bertujuan untuk mendapatkan positive face disebut solidarity politeness. Renkema (2004: 27) memberi contoh strategi tersebut. yaitu bidal kebijaksanaan (tact maxim). Pragmatik dalam Linguistik Seperti telah saya uraikan sedikit dalam sub 3 di atas. seperti diungkapkan oleh Renkema (2004: 26). Leech (dalam Eelen 2001: menyebutkan enam bidal kesantunan. semakin besar intensitas FTA mengancam stabilitas komunikasi. face work technique. Secara umum. dan. Mas? Dalam contoh di atas terlihat jelas. I¶m out of cash! I forgot to go to the bank today. lend me a hundred dollars. bidal kesetujuan (aggreement maxim). bidal pujian (approbation maxim). Hey. sehingga bentuk . Politeness (kesantunan) dalam hal ini dapat dipahami sebagai upaya pencegahan dan atau perbaikan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh FTA. Dalam hal ini. misalnya mahasiswa kepada dosen atau yang muda kepada yang tua. sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya.b. misalnya dengan melakukan tindakan yang tidak kooperatif dalam komunikasi (Renkema 2004: 25). dapat dilakukan. maka politeness strategy semakin dibutuhkan. dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis. maka semakin kecil kemungkinan pembicara melakukan FTA. bidal kerendahhatian (modesty maxim). dapat dilakukan. Politeness. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat banyak cara untuk menghindari FTA yang dapat direduksi menjadi lima macam cara. friend. sedangkan politeness yang dilakukan untuk tujuan sebaliknya disebut respect politeness. bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat. misalnya dengan pujian. (baldly) b.

misalnya. dalam analisis bahasa. Lebih tepatnya. bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik. sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. semantik terikat pada kaidah (rule-governed). bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa. pertama. Namun demikian. dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur. Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik. Kaidah bersifat deskriptif. meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai. di samping sintaksis dan semantik. Dengan demikian. Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada. untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa sehari-hari. Dengan kata lain. saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). Berdasarkan truth conditional semantics. bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis. bagaimana memahami implikatur percakapan. dan kedua. dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi. yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa. bahwa komunikasi tetap dapat berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis. sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik. sedangkan . penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis. dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya. dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan. tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis. tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. dan kedua. kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. untuk dapat dinyatakan benar. sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis. keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan. meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda. demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. pembahasan makna dalam semantik belum memadai. karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa. pertama. Tentang perbedaan yang pertama. melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. dan maksud dari tuturan. Dengan kata lain. dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. selain tata bahasa. absolut atau bersifat mutlak. sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi. untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik. makna apa yang dituturkan. Dengan demikian.seperti kucing menyapu halaman. sebab daya mencakup juga makna. dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik. karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya. meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris. dapat dipahami. semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan. Atas dasar ini. Kegunaan pragmatik. dan memang sering kita temukan. Selanjutnya. Selanjutnya. semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis. Dalam kehidupan sehari-hari.

berkaitan dengan pengajaran bahasa. misalnya. 2002. Jerome Publishing Gunarwan. Oxford: Oxfod University Press. IKIP Singaraja. Edinburgh: Pearson Education. John L. 1978. saya melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik setidaknya dalam dua hal. 1962.prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif.M. UK: St. seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22). pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. How to Do Things with Word (edisi kedua). pragmatik berperan dalam pengembangan kompetensi komunikatif. bahasa yang digunakan harus baik. Daftar Acuan Austin. Selain itu. 2004. Levinson. karena selain benar. Dalam pengajaran bahasa Indonesia. yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu. saya melihat kedudukan semantik dan pragmatik sebagai dua hal yang saling melengkapi. Jaszczolt. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). dapat bertentangan dengan prinsip lain. 2001. kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik. Secara umum.. Gino. Dalam pengajaran bahasa asing. Manchester. Cambridge: Cambridge University Press. dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa. tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa pragmatik penting dipelajari dalam program studi linguistik. yaitu bahwa pengetahuan pragmatik. Penelope. Eelen. dalam pengajaran bahasa. dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain. kedua. K. Politeness: Some Universal in Language Usage. dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence). dalam arti praktis. pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya. Penutup Seperti telah disebutkan di muka. A Critique of Politeness Theories. Lebih jauh lagi. Berdasarkan penjelasan di atas. berkaitan dengan ketidakmampuan sintaksis dan semantik dalam menjelaskan fenomena penggunaan bahasa sehari-hari. Asim. Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse. . dan Stephen C. 6. patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. Brown. pragmatik merupakan satu-satunya tataran dalam linguistik yang mengkaji bahasa dengan memperhitungkan juga penggunanya. terdapat keterkaitan. pertama.

London/New York: Longman. George. Thomas.Renkema. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. 1995. 2004. Introduction to Discourse Studies. Pragmatics. Oxford. Yule. Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics. Jenny. Jan. ss . Oxford University Press. 1996.