Linguistik: Pragmatik Tuesday, July 24, 2007 Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik?

Makyun Subuki 13 Desember 2006 1. Pendahuluan Dalam jangka yang cukup lama, seperti diungkap oleh Yule (1996: 6), studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya, yaitu dengan menurunkan sistem yang terdapat dalam matematika dan logika, dan mengabaikan unsur pengguna bahasa. Sebagai tataran terbaru dalam linguistik, Pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. Meskipun memiliki fokus kajian yang serupa dengan semantik, yaitu makna, seperti akan saya jelaskan kemudian, makna yang dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantik. Makalah ini bertujuan menjelaskan pentingnya bidang pragmatik untuk dipelajari dalam program studi linguistik. Untuk tujuan tersebut, saya mengawali makalah ini dengan pembahasan mengenai pengertian pragmatik, perkembangannya, menjelaskan secara singkat topik-topik bahasannya, dan, dengan melihat perbedaan kajiannya dengan bidang lain dalam linguistik, menunjukkan pentingnya pragmatik. 2. Definisi Pragmatik Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. Yule (1996: 3), misalnya, menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang, melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian, pertama, dengan menggunakan sudut pandang sosial, menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning); dan kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif, menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). Selanjutnya Thomas (1995: 22), dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik, sosial, dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran, mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction).

Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme, yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik; pragmatisisme, yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik; dan komplementarisme, atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi. 3. Perkembangan Pragmatik Mey (1998), seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5), mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi, yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme; (2) kecenderungan sosial-kritis; (3) tradisi filsafat; dan (4) tradisi etnometodologi. Kecenderungan yang pertama, yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross, menolak pandangan sintaksisme Chomsky, yaitu bahwa dalam kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis, dan bahwa fonologi, morfologi, dan semantik bersifat periferal. Menurut Lakoff dan Ross, keapikan sintaksis (well-formedness) bukanlah segalanya, sebab, seperti sering kita jumpai, komunikasi tetap dapat berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak apik secara sintaksis (ill-formed), bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6). Kecenderungan kedua, yang tumbuh di Eropa, tepatnya di Britania, Jerman, dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)), muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan, bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri. Tradisi yang ketiga, yang dipelopori oleh Bertrand Russell, Ludwig Wittgenstein, dan terutama John L. Austin dan John R. Searle, adalah tradisi filsafat. Para pakar tersebut mengkaji bahasa, termasuk penggunaannya, dalam kaitannya dengan logika. Leech (1983: 2), seperti dikutip Gunarwan (2004: 7), mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa, misalnya Austin, Searle, dan Grice, dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross. Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi, yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. Dalam etnometodologi, bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya, melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Dengan kata lain, kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi, bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6). 4. Beberapa Topik Pembahasan dalam Pragmatik 4.1 Teori Tindak-Tutur

Melalui bukunya, How to Do Things with Words, Austin dapat dianggap sebagai pemicu minat yang paling utama dalam kajian pragmatik. Sebab, seperti diungkap oleh Marmaridou (2000: 1 (dalam Gunarwan 2004: 8)), sejak itu bidang kajian ini telah berkembang jauh, sehingga kita dapat melihat sejumlah kecenderungan dalam pragmatik, yaitu pragmatik filosofis (Austin, Searle, dan Grice), pragmatik neo-Gricean (Cole), pragmatik kognitif (Sperber dan Wilson), dan pragmatik interaktif (Thomas). Austin, seperti dikutip oleh Thomas (1995: 29-30), bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis, seperti Russel dan Moore, yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi dan ketaksaan, dan bahwa pernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris. Contoh. (1) Ada enam kata dalam kalimat ini (2) Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono Dari contoh di atas, dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin ini mengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition), yaitu, sesuai contoh di atas, kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar karena sesuai dengan kenyataan. Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics (Thomas 1995: 30). Austin (dalam Thomas 1995: 31) berpendapat bahwa salah satu cara untuk membuat pembedaan yang baik bukanlah menurut kadar benar atau salahnya, melainkan melalui bagaimana bahasa dipakai sehari-hari. Melalui hipotesis performatifnya, yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech-act), Austin berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements), melainkan juga melakukan sesuatu (perform actions). Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Gunarwan 2004: 8). Contoh. (3) Dengan ini, saya nikahkan kalian (performatif) (4) Rumah Joni terbakar (konstatif) Selanjutnya Austin, seperti juga ditekankan lebih lanjut oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9), memasukkan ujaran konstatif, karena memiliki struktur dalam yang mengandungi makna performatif, sebagai bagian dari performatif (Austin 1962: 52 dan Thomas 1995: 49). Dalam contoh (4), struktur dalam ujaran tersebut dapat saja berbunyi Saya katakan bahwa rumah Joni terbakar. Tindakan yang dihasilkan dengan ujaran ini mengandung tiga tindakan lain yang berhubungan, yaitu lokusi (locutionary act), ilokusi (illocutionary act), dan perlokusi (perlocutionary act) (Yule 1996: 48). Tindak lokusioner berkaitan dengan produksi

(2) bidal kualitas (quality maxim). Asertif atau representatif merupakan tindak-tutur yang menyatakan tentang sesuatu yang dipercayai pembicaranya benar. seperti diungkap oleh Thomas (1995: 57). ekspresif (expressive). komisif merupakan tindak-tutur yang digunakan pembicaranya untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukannya. direktif (directive). dan Yule 1996: 54-55). dalam komunikasi kadang kita tidak mematuhi prinsip tersebut. seperti dikembangkan lebih jauh oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). Kerja sama yang terjalin dalam komunikasi ini terwujud dalam empat bidal (maxim). tindak ilokusioner terutama berkaitan dengan intensi atau maksud pembicara. didasarkan atas beberapa alasan. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 14). ekspresif merupakan tindak-tutur yang menyatakan perasaan pembicaranya. ujaran yang mengandung implikatur jenis ini. dapat berupa tindak-tutur langsung (direct speech-act) dan tindak-tutur tidak langsung (indirect speech-act). seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 12-14). yaitu (1) bidal kuantitas (quantity maxim). dan deklarasi (declaration) (Littlejohn 2002: 80. Dalam direct speeh-act terdapat hubungan langsung antara struktur kalimat dengan fungsinya. Contoh.ujaran yang bermakna. menghindari ketaksaan. mengungkapkan secara beraturan (Gunarwan 2004: 11 dan Thomas 1995: 63-64). misalnya untuk memberikan informasi secara tersirat (implicature) dan menjaga muka lawan bicara (politeness). .2 Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle) Grice mengemukakan bahwa percakapan yang terjadi di dalam anggota masyarakat dilandasi oleh sebuah prinsip dasar. pada kenyataannya. direktif merupakan tindak-tutur yang menghendaki pendengarnya melakukan sesuatu. Searle juga menyebut lima jenis fungsi tindak-tutur. Berkaitan dengan prinsip kerja sama Grice di atas. dan tindak perlokusioner berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan (Thomas 1995: 49). 4. memberi sumbangan informasi yang relevan. dapat dicontohkan dengan penggunaan kata bahkan. Selain itu. Implikatur konversasional merupakan implikatur yang dihasilkan karena tuntutan konteks tertentu (Thomas 1995: 58). menghindari ketidakjelasan pengungkapan. menyebut dua macam implikatur. 4. memberi informasi sesuai yang diminta. yaitu prinsip kerja sama (cooperative principle) (Yule 1996: 36-37 dan Thomas 1995: 61). sedangkan dalam indirect speech-act hubungannya tidak langsung atau menggunakan (bentuk) tindak-tutur lain (Gunarwan 2004: 9. yaitu asertif (assertive). komisif (comissive). Tindak-tutur. dan Yule 1996: 53-54). yaitu implikatur konvensional dan implikatur konversasional. mengungkapkan secara singkat. (3) bidal relasi (relation maxim). Hal ini. Implikatur konvensional merupakan implikatur yang dihasilkan dari penalaran logika. dan (4) bidal cara (manner maxim). menyatakan hanya yang menurut kita benar atau cukup bukti kebenarannya.3 Implikatur (Implicature) Grice. dan deklarasi merupakan tindak-tutur yang mengubah status sesuatu.

seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22).(5) Bahkan Bapak Menteri Agama menghadiri sunatan anak saya (6) Saya kebetulan ke Inggris untuk studi selama dua tahun dan berangkat besok Contoh (5) di atas merupakan implikatur konvensional yang berarti Bapak Menteri Agama biasanya tidak menghadiri acara sunatan. sedangkan yang kedua tidak. Setiap pembaca dapat memahami bahwa pesan ini hanya berlaku jika ia akan meninggalkan ruangan tersebut untuk terakhir kalinya. ujaran merupakan sebentuk tindakan dari komunikasi ostensif. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22).4 Teori Relevansi Teori relevansi yang dikembangkan oleh Sperber dan Wilson merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. (7) Pastikan semua pintu terkunci jika meninggalkan ruangan ini. implikatur dapat dibedakan menjadi implikatur khusus dan implikatur umum. komunikasi tidak hanya memasukkan apa yang ada dalam pikiran pengirim pesan ke dalam pikiran penerima pesan. bukan untuk setiap kali meninggalkan ruangan. misalnya contoh (6) di atas. dengan menggunakan prinsip kerja sama Grice. tahapan . yaitu tidak perlu mengunci pintu jika keluar dalam batasan waktu dan situasi yang diperkirakan cukup aman. pesan ini berada dalam spesifikasi tertentu yang disepakati oleh addresser dan addressee dalam konteks komunikasi. Contoh. pengirim pesan dapat memperkirakan reaksi penerima pesan terhadap pesan yang disampaikannya. kedua. misalnya untuk ke kamar mandi. Dalam teori relevansi dipelajari bagaimana sebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya. Misalnya pada contoh (7) di atas. Menurut mereka. dan ketiga. namun mencakup perluasan wilayah kognitif (cognitive environment) kedua belah pihak. penerima pesan (addressee) hanya memilih sesuatu yang dianggapnya relevan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan (addresser) dalam konteks komunikasi tertentu. menyebutkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (language in use) selalu dapat diidentifikasi melalui hal yang disebutnya indeterminacy atau underspecification. explicature atau degree of relevance. Melalui hal tersebut. Sperber dan Wilson (1995). sedangkan contoh (6) merupakan implikatur konversasional yang bermakna µtidak¶ dan merupakan jawaban atas pertanyaan maukah Anda menghadiri selamatan sunatan anak saya? Berbeda dengan Grice. Sperber dan Wilson (1995). Yang pertama ada karena konteks ujaran. misalnya contoh (5) di atas. dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini. Dengan kata lain. 4. menetapkan tiga macam hubungan antara cue dan implicature. Selanjutnya. untuk menjelaskan cara sebuah pesan dipahami penerimanya. bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi. menurut Gazdar. misalnya tindakan untuk membuat sesuatu menjadi jelas dan dapat dimengerti oleh penerima pesan. yaitu: pertama.

sedangkan yang kedua disebut negative face. Menurut Goffman (1967: 5). Berdasarkan konsep face yang dikemukakan oleh Goffman ini. Dalam percakapan tersebut. Intensitas FTA diekspresikan dengan bobot atau weight (W) yang mencakup tiga parameter sosial. ujaran at the weekend. Then that's fifty. it costs 50 euros. karena semakin tinggi contextual effect maka semakin rendah ia membutuhkan processing effort. Brown dan Levinson (1978) membangun teori tentang hubungan intensitas FTA dengan kesantunan yang terrealisasi dalam bahasa (Renkema 2004: 25). Dengan kata lain. berkenaan dengan bobot mutlak (absolute weight) tindakan tertentu dalam kebudayaan tertentu. yang dikutip oleh Jaszczolt (2002: 318). misalnya permintaan "May I borrow your car?" mempunyai bobot yang berbeda dengan permintaan "May I borrow your pen?". you have booked seat which costs 60 euros. Begitu juga A. dalam pengertian degree of relevance. kedua. "face merupakan gambaran citra diri dalam atribut sosial yang telah disepakati". Dalam percakapan di atas. (8) A: Well. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 25). padahal A harus memastikan dengan jelas setiap pemesanan pembelian tiket. Kebutuhan yang pertama disebut positive face. misalnya bobot kedua permintaan di atas . How does it works? You just turn up for the shuttle service? A: That might be cheaper.yang harus dilewati untuk memahami implikatur dalam percakapan.5 Kesantunan (Politeness) Konsep strategi kesantunan yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson diadaptasi dari konsep face yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog bernama Erving Goffman (1956) (Renkema 2004: 24-25). merupakan ujaran yang relevansinya rendah dan membutuhkan processing effort yang lebih besar. A: What weekend? B: Next weekend. setiap partisipan memiliki dua kebutuhan dalam setiap proses sosial: yaitu kebutuhan untuk diapresiasi dan kebutuhan untuk bebas (tidak terganggu). when do you want to go? B: At the weekend. jarak sosial atau social distance (D) antara pembicara dengan lawan bicaranya. there is a shuttle service sixty euros one-way. 4. yaitu: pertama. Dalam hal ini. B mengira A mengerti bahwa at the weekend berarti next weekend. dan citra diri di depan umum (public self-image). pemahaman penerima pesan terhadap apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan terjadi melalui beberapa tahapan. sedangkan that might be cheaper merupakan ujaran yang relevansinya lebih baik. Contoh yang ditulis Renkema (2004: 23) di bawah ini memberikan gambaran yang cukup jelas. face dapat diartikan kehormatan. If you buy ticket when you turn up. Menurut Goffman (1956). ia mengandaikan B dapat mengerti bahwa that migh be cheaper dapat berarti If you purchase a ticket now. tingkat gangguan atau rate of imposition (R). harga diri (self-esteem).

seperti diungkapkan oleh Renkema (2004: 26). Renkema (2004: 27) memberi contoh strategi tersebut. Pak. Oh no. I'm sorry I have to ask. bidal kesetujuan (aggreement maxim). lend me a hundred dollars. face work technique. bidal kerendahhatian (modesty maxim). sedangkan politeness yang dilakukan untuk tujuan sebaliknya disebut respect politeness. Dalam hal ini. sedangkan ujaran (9b) mungkin diucapkan kepada orang yang secara sosial jaraknya lebih dekat (9a). Contoh.tidak terlalu besar jika kedua ungkapan tersebut ditujukan kepada saudara sendiri. friend. kekuasaan atau power (P) yang dimiliki lawan bicara (Renkema 2004: 26). misalnya mahasiswa kepada dosen atau yang muda kepada yang tua. maka politeness strategy semakin dibutuhkan. misalnya dengan pujian. semakin tinggi resiko kehilangan muka. dan. Berkaitan dengan politeness strategy ini. dapat dilakukan. Maaf. I'm out of cash! I forgot to go to the bank today. dan ketiga. Hey. misalnya dengan melakukan tindakan yang tidak kooperatif dalam komunikasi (Renkema 2004: 25). bidal kedermawanan (generosity maxim). Numpang tanya. Kelima strategi tersebut diurut berdasarkan tingkat resiko "kehilangan muka". Pragmatik dalam Linguistik . bidal simpati (sympathy maxim). ujaran (9a) mungkin diucapkan pembicara yang secara sosial lebih rendah dari lawan bicaranya. Hey. Leech (dalam Eelen 2001: 8) menyebutkan enam bidal kesantunan. Mas? Dalam contoh di atas terlihat jelas. but could you lend me a hundred dollars? (negative polite) e. Dalam hal ini. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat banyak cara untuk menghindari FTA yang dapat direduksi menjadi lima macam cara. Politeness (kesantunan) dalam hal ini dapat dipahami sebagai upaya pencegahan dan atau perbaikan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh FTA. yaitu bidal kebijaksanaan (tact maxim). dapat dilakukan. semakin besar intensitas FTA mengancam stabilitas komunikasi. ditambah bidal pertimbangan (consideration maxim). seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 19). (off record) Teori kesantunan lain dibahas oleh Leech (1983). 5. (9) a. maka semakin kecil kemungkinan pembicara melakukan FTA. yang bertujuan untuk mendapatkan positive face disebut solidarity politeness. boleh tanya? b. (5) a. could you lend me a hundred bucks? (positive polite) c. Politeness. bidal pujian (approbation maxim). Pakar ini membahas teori kesantunan dalam kerangka retorika interpersonal (Eelen 2001: 6). Brown dan Levinson (1978). (baldly) b.

Seperti telah saya uraikan sedikit dalam sub 3 di atas, salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. Dalam sintaksis, seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4), dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis, bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat, dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal. Secara umum, sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya, sehingga bentuk seperti kucing menyapu halaman, meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris, tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis. Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis, melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. Lebih tepatnya, dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi, bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Atas dasar ini, pertama, dapat dipahami, dan memang sering kita temukan, bahwa komunikasi tetap dapat berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis; dan kedua, demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka, selain tata bahasa, makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik, sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik, terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik, yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa, dalam analisis bahasa. Berdasarkan truth conditional semantics, untuk dapat dinyatakan benar, sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis. Dengan demikian, bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis, karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. Namun demikian, pembahasan makna dalam semantik belum memadai, karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa, sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi, meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai, tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. Dengan kata lain, untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa seharihari, di samping sintaksis dan semantik, dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur, makna apa yang dituturkan, dan maksud dari tuturan. Kegunaan pragmatik, yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik, dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan, misalnya, bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa, bagaimana memahami implikatur percakapan, dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. Selanjutnya, untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik, saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada, pertama, semantik mengkaji makna

(sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis, sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya; dan kedua, semantik terikat pada kaidah (rule-governed), sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). Tentang perbedaan yang pertama, meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda, keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan, sebab daya mencakup juga makna. Dengan kata lain, semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan, sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. Selanjutnya, kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. Kaidah bersifat deskriptif, absolut atau bersifat mutlak, dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya, sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif, dapat bertentangan dengan prinsip lain, dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain. Lebih jauh lagi, dalam pengajaran bahasa, seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22), terdapat keterkaitan, yaitu bahwa pengetahuan pragmatik, dalam arti praktis, patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. Dalam pengajaran bahasa Indonesia, misalnya, pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya, karena selain benar, bahasa yang digunakan harus baik. Dalam pengajaran bahasa asing, pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence), yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu, kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik, dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa. 6. Penutup Seperti telah disebutkan di muka, tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa pragmatik penting dipelajari dalam program studi linguistik. Berdasarkan penjelasan di atas, saya melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik setidaknya dalam dua hal, pertama, pragmatik merupakan satu-satunya tataran dalam linguistik yang mengkaji bahasa dengan memperhitungkan juga penggunanya; kedua, berkaitan dengan ketidakmampuan sintaksis dan semantik dalam menjelaskan fenomena penggunaan bahasa sehari-hari, saya melihat kedudukan semantik dan pragmatik sebagai dua hal yang saling melengkapi. Selain itu, berkaitan dengan pengajaran bahasa, pragmatik berperan dalam pengembangan kompetensi komunikatif. Daftar Acuan Austin, John L. 1962. How to Do Things with Word (edisi kedua). Oxford: Oxfod University Press.

Brown, Penelope., dan Stephen C. Levinson. 1978. Politeness: Some Universal in Language Usage. Cambridge: Cambridge University Press. Eelen, Gino. 2001. A Critique of Politeness Theories. Manchester, UK: St. Jerome Publishing Gunarwan, Asim. 2004. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). IKIP Singaraja. Jaszczolt, K.M. 2002. Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse. Edinburgh: Pearson Education. Renkema, Jan. 2004. Introduction to Discourse Studies. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. Thomas. Jenny. 1995. Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics. London/New York: Longman. Yule, George. 1996. Pragmatics. Oxford. Oxford University Press.

Rabu, 04 Juli 2007
Pragmatik Oleh: sidon. bandung Pengertian Pragmatik Pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang semakin dikenal pada masa sekarang ini, walaupun pada kira-kira dua dasa warsa yang silam, ilmu ini jarang atau hampir tidak pernah disebut oleh para ahli bahasa. Hal ini dilandasi oleh semakin sadarnya para linguis, bahwa upaya untuk menguak hakikat bahasa tidak akan membawa hasil yang diharapkan tanpa didasari pemahaman terhadap pragmatik, yakni bagaimana bahasa itu digunakan dalam komunikasi (Leech, 1993: 1). Leech (1993: 8) juga mengartikan pragmatik sebagai studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situasions). Pragmatik sebagaimana yang telah diperbincangkan di Indonesia dewasa ini, paling tidak dapat diedakan atas dua hal, yaitu (1) pragmatik sebagai sesuatu yang diajarkan, (2) pragmatik sebagai suatu yang mewarnai tindakan mengajar. Bagian pertama masih dibagi lagi atas dua hal, yaitu (a) pragmatik sebagai bidang kajian linguistik, dan (b) pragmatik sebagai salah satu segi di dalam bahasa atau disebut µfungsi komunikatif¶ (Purwo, 1990:2). Pragmatik ialah berkenaan dengan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya bahasa dalam komunikasi (KBBI, 1993: 177). Menurut Levinson (1983: 9), ilmu pragmatik didefinisikan sebagai berikut: (1) ³Pragmatik ialah kajian dari hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa´. Di sini, ³pengertian/pemahaman bahasa´ menghunjuk kepada fakta bahwa untuk mengerti sesuatu ungkapan/ujaran bahasa diperlukan juga pengetahuan di luar makna kata dan hubungan tata bahasanya, yakni hubungannya dengan konteks pemakaiannya. (2) ³Pragmatik ialah kajian tentang kemampuan pemakai bahsa mengaitkan kalimat-kalimat

Berdasarkan beberapa pendapat di atas. . mengemukakan bahwa secara pragmatis setidaktidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur. (c) tindak ujaran (speech acts). Tindak ujaran (speech acts) ialah pengucapan suatu kalimat di mana si pembicara tidak sematamata menanyakan atau meminta jawaban tertentu. dsb) yang dapat dipakainya untuk mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud. dan sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa pada hal-hal ³ekstralingual´ yang dibicarakan. dan (3. terdapat praanggapan bahwa: (3. yakni penggunaannya pada peristiwa komunikasi (Purwo. tetapi ia juga menindakkan sesuatu (Purwo. dan (d) implikatur percakapan (conversational implicature) (Purwo. membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa (kalimat.1) Ada seorang wanita Indonesia. 1990: 31). Sebagai contoh: (4) Jari tangan jumlahnya lima. maka kalimat (3) mempunyai makna atau dapat dimengerti pendengar/pembaca. Menurut Verhaar (1996: 14). aspek-aspek pemakaian bahasa atau konteks luar bahasa yang memberikan sumbangan kepada makna ujaran (Kridalaksana. 1990: 17).2) Ada burung. Nababan memberikan contoh penggunaan presuposisi sebagai berikut: (1) Wanita Indonesia membeli burung. pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang membahas tentang apa yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komunikasi antara penutur dan pendengar. yaitu tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. yakni: 1. Tindak lokusi. Pragmatik adalah suatu telaah umum mengenai bagaimana caranya konteks mempengaruhi peserta tutur dalam menafsirkan kalimat atau menelaah makna dalam kaitannya dengan situasi ujaran. Deiksis dapat juga diartikan sebagai suatu cara untuk mengacu ke hakekat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan (Cahyono. (b) praanggapan (presupposition). Deiksis adalah kata-kata yang memiliki referen yang berubah-ubah atau berpindah-pindah (Wijana. dapat disimpulkan tentang batasan pragmatik. 1993: 177). Jika kedua praanggapan itu diterima. 1990: 19). Searle di dalam bukunya Speech Acts: An Essay in The Philosophy of Language (1969: 23-24) dalam Wijana (1996: 17-22). 1998: 6). Menurut Nababan (1987: 46). praanggapan adalah dasar atau penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa (menggunakan bahasa) yang membuat bentuk bahasa (kalimat atau ungkapan) mempunyai makna bagi pendengar/penerima bahasa itu. Fenomena Pragmatik Kancah yang dijelajahi pragmatik ada empat: (a) deiksis.dengan konteks-konteks yang sesuai bagi kalimat-kalimat itu´. Sedangkan memperlakukan bahasa secara pragmatik ialah memperlakukan bahasa dengan mempertimbangkan konteksnya. 1987: 2) Pragmatik juga diartikan sebagai syarat-syarat yang mengakibatkan serasi-tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi. (Nababan. Praanggapan (presupposition) adalah apa yang diasumsikan oleh penutur sebagai hal yang benar atau hal yang diketahui pendengar (Cahyono. Purwo (1990: 16) mendefinisikan pragmatik sebagai telaah mengenai makna tuturan (utterance) menggunakan makna yang terikat konteks. 1995: 217). 1995: 219). dan sebaliknya.

Dari contoh di atas dapat diketahui bahwa. Pengertian Deiksis Kata deiksis berasal dari bahasa Yunani yang berarti µmenunjuk¶ atau µmenunjukkan¶. 2. yakni meminta maaf. tetapi untuk melakukan sesuatu. dan Eropa. dan rekan sekerja Anda. Deiksis 1. Namun pembicara kedua sudah mengetahui bahwa jawaban yang disampaikannya sudah cukup untuk menjawab pertanyaan pembicara pertama. objek. Ketiga. proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalam hubungannya dengan dimensi . Deiksis adalah kata-kata yang memiliki referen berubah-ubah atau berpindah-pindah (Wijana. Kedua. Dalam KBBI (1991: 217). Keempat. Cina dan Eropa juga meyakinkan pendengar/pembaca bahwa masakannya benar-benar halal. Deiksis dapat juga diartikan sebagai lokasi dan identifikasi orang. Pertama. 1998: 6). deiksis adalah suatu cara untuk mengacu ke hakekat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan. Contoh: (5) Saya tidak dapat datang. ditemukan penggunaan tindak perlokusi. sebab dia sudah mengetahui jam berapa koran biasa diantarkan. konsep implikatur dapat menyederhanakan struktur dan isi deskripsi semantik. Dari keempat bidang kajian pragmatik tersebut pada akhirnya dapat digunakan untuk memahami makna sesuai dengan konteks yang terjadi.Kalimat (4) di atas. diutarakan oleh penuturnya semata-mata untuk menginformasikan sesuatu tanpa tendensi untuk melakukan sesuatu. tidak hanya berfungsi untuk menyatakan sesuatu. Sebagai contoh: (6) Kunjungilah restoran Oshin! Tersedia bermacam-macam masakan Jepang. ketakrifan. konsep implikatur memungkinkan penjelasan fakta-fakta kebahasaan yang tidak terjangkau oleh teori linguistik. atau efek bagi yang mendengarkannya. apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya. yaitu sebuah tuturan yang diutarakan oleh seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary force). 3. Tindak perlokusi. Tempat ideal untuk bersantai bersama keluarga. Dijamin halal. Sebagai contoh: (7) A : Jam berapa sekarang? B : Korannya sudah datang. Menurut Bambang Yudi Cahyono (1995: 217). peristiwa. Kajian pragmatik tersebut digunakan untuk memahami makna dan fungsi deiksis pronomina persona. yaitu sebuah tuturan selain berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu.selain mengatakan mengelola masakan ala Jepang. kata tunjuk pronomina. Cina. Ini dapat diketahui karena penutur -pengelola restoran. dan sebagainya. handai taulan. 1983: 97). Implikatur percakapan (conversational implicature) merupakan konsep yang cukup penting dalam pragmatik karena empat hal (Levinson. Tindak ilokusi. konsep implikatur dapat menjelaskan beberapa fakta bahasa secara tepat. deiksis diartikan sebagai hal atau fungsi yang menunjuk sesuatu di luar bahasa. bila kalimat itu diutarakan oleh seseorang kepada temannya yang baru saja merayakan ulang tahun. dalam penelitian ini. konsep implikatur memberikan penjelasan tentang makna berbeda dengan yang dikatakan secara lahiriah. Tampaknya kalimat (7A) dan (7B) tidak berkaitan secara konvensional. Dalam wacana di atas. dapat juga dipergunakan untuk melakukan sesuatu.

Oleh karenanya. Bentuk rujukan seperti itu disebut dengan katafora. dan sebagainya. 2. yang menjadi pusat orientasi deiksis adalah penutur.ruang dan waktunya. Deiksis orang ditentukan menurut peran peserta dalam peristiwa bahasa. maka kalimatnya harus diubah. berarti juga peranan atau watak yang dibawakan oleh pemain sandiwara. Peran peserta itu dapat dibagi menjadi tiga. Apabila persona pertama dan kedua akan dijadikan endofora. a. Perujukan dapat pula ditujukan pada bentuk yang akan disebut kemudian. Kata seperti saya. yaitu kata atau frase yang menunjuk kata. Berdasarkan beberapa pendapat. 1997: 6). baik hadir maupun tidak. misalnya saya. Jenis Deiksis Deiksis ada lima macam. deiksis tempat. Pertama ialah orang pertama. Hal ini berarti bahwa rujukan pertama dan kedua pada situasi pembicaraan (Purwo. frase atau ungkapan yang akan diberikan. 1993: 43). dimana yang menjadi pusat orientasi deiksis senantiasa si pembicara. Jadi. . 1984: 106). Istilah persona dipilih oleh ahli bahasa waktu itu disebabkan oleh adanya kemiripan antara peristiwa bahasa dan permainan bahasa (Lyons. misalnya dia dan mereka. yang tidak merupakan unsur di dalam bahasa itu sendiri. 1977: 637 via Djajasudarma. sedangkan anafora merujuk dalam tuturan baik yang mengacu kata yang berada di belakang maupun yang merujuk kata yang berada di depan (Lyons. 1977: 638 via Djajasudarma. yaitu deiksis orang. pronomina. di tempat mana. yaitu kategori rujukan pembicara kepada seorang pendengar atau lebih yang hadir bersama orang pertama. Rujukan semacam itu oleh Nababan (1987: 40) disebut deiksis (Setiawan. Fenomena deiksis merupakan cara yang paling jelas untuk menggambarkan hubungan antara bahasa dan konteks dalam struktur bahasa itu sendiri. sini. Referen kata saya. Ketiga ialah orang ketiga. Deiksis dapat diartikan sebagai luar tuturan. misalnya kamu. Menurut Bambang Kaswanti Purwo (1984: 1) sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila rujukannya berpindah-pindah atau berganti-ganti. Kata ganti persona pertama dan kedua rujukannya bersifat eksoforis. untuk mengetahui siapa pembicara dan lawan bicara kita harus mengetahui situasi waktu tuturan itu dituturkan. yaitu dari kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung. Perujukan atau penunjukan dapat ditujukan pada bentuk atau konstituen sebelumnya yang disebut anafora. 1997: 6). sekarang baru dapat diketahui maknanya jika diketahui pula siapa. Kedua ialah orang kedua. sini. saat dan tempat dituturkannya kata-kata itu. yaitu kategori rujukan pembicara kepada dirinya atau kelompok yang melibatkan dirinya. (Setiawan. saudara. 1987: 40). Pengertian deiksis dibedakan dengan pengertian anafora. 1993: 44). Kata-kata ini tidak memiliki referen yang tetap. Dalam bidang linguistik terdapat pula istilah rujukan atau sering disebut referensi. yang artinya topeng (topeng yang dipakai seorang pemain sandiwara). 1997: 8). dan kami. kalian. dapat dinyatakan bahwa deiksis merupakan suatu gejala semantis yang terdapat pada kata atau konstruksi yang acuannya dapat ditafsirkan sesuai dengan situasi pembicaraan dan menunjuk pada sesuatu di luar bahasa seperti kata tunjuk. sekarang adalah kata-kata deiktis. 1977: 638 via Setiawan. pada saat dituturkan oleh pembicara atau yang diajak bicara (Lyons. kita. tergantung siapa yang menjadi pembicara. yaitu kategori rujukan kepada orang yang bukan pembicara atau pendengar ujaran itu. Deiksis Persona Istilah persona berasal dari kata Latin persona sebagai terjemahan dari kata Yunani prosopon. deiksis wacana dan deiksis sosial (Nababan. dan waktu kapan kata-kata itu diucapkan. deiksis waktu.

mangga itu banyak dibeli. yang berikut. Berbeda dengan kata ganti persona pertama dan kedua. umpamanya. b. Contoh dalam bahasa Inggris: (10) a. Menurut pendapat Becker dan Oka dalam Purwo (1984: 21) bahwa deiksis persona merupakan dasar orientasi bagi deiksis ruang dan tempat serta waktu. (11) a. Paman datang dari desa kemarin dengan membawa hasil palawijanya. now. dapat bersifat endofora dan eksofora. ia. Duduklah kamu di sini. b. I am buying a book. Katafora ialah penunjukan ke sesuatu yang disebut kemudian. dapat ditambahkan sesuatu kata/frasa keterangan waktu. yakni suatu toko atau tempat penjualan yang lain. Meskipun tanpa keterangan waktu. begitulah. maka dapat berwujud anafora dan katafora (Setiawan. deiksis (rujukan) waktu ini diungkapkan dalam bentuk ³kala´ (Inggris: tense) (Nababan. Hal ini dikarenakan bentuk tersebut. Bentuk-bentuk yang dipakai untuk mengungkapkan deiksis wacana itu adalah kata/frasa ini. yang terdahulu. penggunaan deiksis waktu sudah jelas. Deiksis Wacana Deiksis wacana ialah rujukan pada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan atau sedang dikembangkan (Nababan. Deiksis persona merupakan deiksis asli. I bought a book. itu. dan sebagainya. Namun apabila diperlukan pembedaan/ketegasan yang lebih terperinci. 1997: 9). b. sedangkan deiksis waktu dan deiksis tempat adalah deiksis jabaran. 1987: 41). Oleh karena bersifat endofora. Karena aromanya yang khas. Dalam banyak bahasa. Anafora ialah penunjukan kembali kepada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dalam wacana dengan pengulangan atau substitusi. I bought the book yesterday. Sebagai contoh penggunaan deiksis tempat. Frasa di sini pada kalimat (8a) mengacu ke tempat yang sangat sempit. b. seperti bentuk dia. Pada kalimat (8b). b.Bentuk pronomina persona pertama jamak bersifat eksofora. Deiksis wacana mencakup anafora dan katafora. Contoh pemakaian deiksis waktu dalam bahasa Inggris. c. 1987: 42). I bought the book 2 years ago. d. Deiksis Waktu Deiksis waktu ialah pemberian bentuk pada rentang waktu seperti yang dimaksudkan penutur dalam peristiwa bahasa. acuannya lebih luas. Semua bahasa -termasuk bahasa Indonesia. dalam kalimat (9a) dan (9b). seperti bentuk sekalian dan kalian. yang pertama disebut. yesterday. Sebagai contoh. 1987: 41). kata ganti persona ketiga. Deiksis Tempat Deiksis tempat ialah pemberian bentuk pada lokasi menurut peserta dalam peristiwa bahasa. dsb. Di sini dijual gas Elpiji. baik yang berupa bentuk kita maupun bentuk kami masih mengandung bentuk persona pertama tunggal dan persona kedua tunggal. baik tunggal. (9) a. Dari kedua contoh di atas dapat kita ketahui bahwa -nya pada contoh (11a) mengacu ke paman .membedakan antara ³yang dekat kepada pembicara´ (di sini) dan ³yang bukan dekat kepada pembicara´ (termasuk yang dekat kepada pendengar -di situ) (Nababan. last year. (8) a. yakni sebuah kursi atau sofa. -nya maupun bentuk jamak.

kau-. -nya mereka. atau mengacu pada orang yang dibicarakan (persona ketiga) (Moeliono. atau ´etiket berbahasa´ (Geertz. Berikut ini adalah pronomina persona yang disajikan dalam tabel. 1997: 276 via Setiawan. daku. ku-. Jika dilihat dari segi fungsinya. e. 1997: 170). dapat dikatakan bahwa pronomina menduduki posisi yang umumnya diduduki oleh nomina. beliau. perbedaan tingkat sosial antara pembicara dengan pendengar yang diwujudkan dalam seleksi kata dan/atau sistem morfologi kata-kata tertentu (Nababan.yang sudah disebut sebelumnya. mengacu pada orang yang diajak bicara (persona kedua). dan -dalam macam kalimat tertentu. pendengar dan/atau orang yang dibicarakan/bersangkutan. Dalam beberapa bahasa. Dalam bahasa Inggris dikenal tiga bentuk kata ganti persona. ³unda-usuk´.juga predikat. 1997: 9). sedangkan pada contoh (11b) mengacu ke mangga yang disebut kemudian. yaitu persona pertama. aku. Bentuk saya. -ku kami kita Kedua engkau. Pronomina dapat mengacu pada diri sendiri (persona pertama). Pronomina persona adalah pronomina yang dipakai untuk mengacu ke orang. Bentuk Pronomina Persona Jika ditinjau dari segi artinya. Dalam bahasa Jawa umpamanya. dan ngoko. 1997: 9). atau ngoko. biasanya digunakan dalam tulisan atau ujaran yang resmi. persona kedua dan persona ketiga (Lyons. 1997: 172). pronomina persona pertama tunggal adalah saya. menunjukkan perbedaan sikap atau kedudukan sosial antara pembicara. memakai kata nedo dan kata dahar (makan). madyo dan kromo kalau sistem bahasa itu dibagi tiga. madyo. kamu (sekalian). -nya a) Pronomina Persona Pertama Dalam Bahasa Indonesia. Aspek berbahasa seperti ini disebut ³kesopanan berbahasa´. Bentuk saya. C. Ciri lain yang dimiliki pronomina ialah acuannya dapat berpindah-pindah karena bergantung pada siapa yang menjadi pembicara/penulis. -mu kalian. Tabel 1: Pronomina Persona Persona Makna Tunggal Jamak Netral Eksklusif Inklusif Pertama saya. aku. yang menjadi pendengar/pembaca. 1988: 172 via Setiawan. dapat juga dipakai untuk menyatakan hubungan pemilikan dan diletakkan di belakang nomina yang . Secara tradisional perbedaan bahasa (atau variasi bahasa) seperti itu disebut ³tingkatan bahasa´. dan daku. kamu. Anda. objek. 1987: 42). dikau. ngoko dan kromo dalam sistem pembagian dua. seperti subjek. Deiksis Sosial Deiksis sosial ialah rujukan yang dinyatakan berdasarkan perbedaan kemasyarakatan yang mempengaruhi peran pembicara dan pendengar. kromo dan kromo inggil kalau sistemnya dibagi empat. atau siapa/apa yang dibicarakan (Moeliono. Bahasa Indonesia juga mengenal tiga bentuk persona seperti dalam bahasa Inggris (P&P. 1987: 42-43). dalam bahasa Jawa. Anda (sekalian) Ketiga ia. Perbedaan itu dapat ditunjukkan dalam pemilihan kata. pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu ke nomina lain. 1960 via Nababan. dia.

yakni kami dan kita. paman saya. Pronomina persona ketiga jamak adalah mereka. misalnya: rumah saya. Akan tetapi. Pronomina persona kedua engkau. artinya. dalam hubungan bersemuka. ia dan dia sama-sama dapat dipakai. Bentuk terikat itu masing-masing adalah kau. tetapi pembicara tidak ingin bersikap terlalu formal ataupun terlalu akrab. tetapi tidak mencakupi orang lain dipihak pendengar/pembacanya. yaitu -ku dan ku-. Dalam posisi sebagai subjek. pengaruh satuan bahasa dalam pemahaman persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia. b) Pronomina Persona Kedua Pronomina persona kedua tunggal mempunyai beberapa wujud. jika berfungsi sebagai objek. Mereka tidak mempunyai variasi bentuk sehingga dalam posisi mana pun hanya bentuk itulah yang dipakai. Pada umumnya mereka hanya dipakai untuk insan. artinya. atau di depan verba. kata mereka kadangkadang juga dipakai untuk mengacu pada binatang atau benda yang dianggap bernyawa. Pronomina persona pertama aku. orang yang mempunyai hubungan akrab. Kami bersifat eksklusif. Dari keempat pronomina tersebut. Pronomina persona aku mempunyai variasi bentuk. Selain itu. hanya bentuk dia dan -nya yang dapat muncul. kamu. yaitu bentuk kalian dan bentuk pronomina persona kedua ditambah sekalian: Anda sekalian. pronomina Anda juga digunakan dalam hubungan yang tak pribadi. rumah mereka. -nya dan beliau yang dapat digunakan untuk menyatakan milik. dan mungkin pula pihak lain. sehingga Anda tidak diarahkan pada satu orang khusus. tetapi juga pendengar/pembaca. pronomina itu mencakupi pembicara/penulis dan orang lain dipihaknya. yakni dipakai oleh orang yang lebih muda atau berstatus sosial lebih rendah daripada orang yang dibicarakan. dia. Benda atau konsep yang jamak dinyatakan dengan cara yang lain. hubungan. Sedangkan untuk pronomina persona pertama daku. Pronomina persona kedua yang memiliki varisi bentuk hanyalah engkau dan kamu. kita bersifat inklusif. dikau. hanya dia. yakni engkau. -nya dan beliau. Selain pronomina persona pertama tunggal. Sebaliknya. tanpa memandang umur atau status sosial. kamu Anda. dalam arti kesepadanan atau ketidaksepadanan antara bahasa dan alam di luar bahasa. misalnya usul mereka. misalnya dengan mengulang nomina tersebut atau dengan mengubah sintaksisnya. Makna Deiksis Pronomina Persona Menurut Kridalaksana (2001: 132). makna adalah maksud pembicaran. kau. pada cerita fiksi atau narasi lain yang menggunakan gaya fiksi.dan -mu. Pronomina persona kedua juga mempunyai bentuk jamak.dimilikinya. orang yang status sosialnya lebih tinggi.dan -mu. Akan tetapi. dan -mu. atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjuknya. kamu sekalian. D. Pronomina persona kedua Anda dimaksudkan untuk menetralkan hubungan. bahasa Indonesia mengenal pronomina persona pertama jamak. lebih banyak digunakan dalam situasi non formal dan lebih banyak menunjukkan keakraban antara pembicara/penulis dan pendengar/pembaca. pronomina itu mencakupi tidak saja pembicara/penulis. . cara menggunakan lambang-lambang bahasa. atau terletak di sebelah kanan dari yang diterangkan. pada umumnya digunakan dalam karya sastra. Pronomina persona ketiga tunggal beliau digunakan untuk menyatakan rasa hormat. c) Pronomina Persona Ketiga Pronomina persona ketiga tunggal terdiri atas ia. dapat dipakai oleh orang tua terhadap orang muda yang telah dikenal dengan baik dan lama.

makna konstruksi. makna sempit. makna pusat. (5) makna reflektif. dan makna pribahasa. makna referensial. makna idiom. makna kolokasi. Hanya perlu dipahami bahwa tidak semua kata atau leksem itu mempunyai acuan konkret di dunia nyata. Sedangkan hubungan (a) dan (b) serta hubungan (b) dan (c) bersifat langsung. Pateda (1986) melalui Chaer (1995: 59) mengemukakan adanya jenis-jenis makna. makna kiasan. Bila dilihat dari segi atau pandangan yang berbeda. Titik (a) dan (b) sama-sama berada di dalam-bahasa. sedangkan yang mengartikan (signifiant) adalah bunyi-bunyi yang terentuk dari fonemfonem bahasa yang bersangkutan. makna emotif. makna ekatensi. (2) makna konotatif. Jadi. makna denotatif. makna referensial. Kedua unsur ini adalah unsur dalam-bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk atau mengacu kepada sesuatu referen yang merupakan unsur luar-bahasa (ekstralingual) (Chaer. (b) konsep/makna (a) kata/leksem (c) sesuatu yang dirujuk (referen) Hubungan antara (a) dan (c) bersifat tidak langsung. makna konotatif. makna referensial. makna leksikal. Hubungan antara tanda linguistik (bersama unsur bunyi dan makna) dengan unsur referennya. (3) makna stilistika. yaitu makna afektif. makna terdiri atas beberapa jenis. makna idesional. makna proposisi. makna istilah. makna deskriptif. makna konseptual. makna bahasa dapat terdiri dari bermacammacam jenisnya. makna gereflekter. makna proposisional. yaitu: makna sempit. makna luas. makna konotatif. (6) makna kolokatif. dapat dibagankan sebagai berikut. makna piktorial. makna konstruksi. makna leksikal. (4) makna afektif. makna kontekstual. makna gramatikal. yaitu (1) makna konseptual. Inggris: signified) dan (2) yang mengartikan (Perancis: signifiant. dan makna tematis. makna kata. Oleh karena itu. dan mungkin juga biasanya. . terlepas dari pengertian atau konsep dasarnya dan juga acuannya. dan makna kalimat baru dapat ditentukan apabila kalimat itu berada di dalam konteks wacananya atau konteks situasinya (Chaer. banyak pakar yang mengatakan bahwa kita baru dapat menentukan makna sebuah kata apabila kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya. hubungan (b) dan (c) bahwa (c) adalah acuan dari (b) tersebut. makna gramatikal. dan (7) makna tematik (Chaer. makna konotatif/emotif. yaitu: (1) yang diartikan (Perancis: signifie. makna kognitif.Ferdinand de Saussure membagi setiap tanda linguistik menjadi dua. Di dalam penggunaannya dalam pertuturan yang nyata makna kata atau leksem itu seringkali. makna majas (kiasan). 1995: 29). makna asosiatif. makna konseptual. makna denotatif. makna stilistika. makna luas. sebab (a) adalah masalah dalam-bahasa dan (c) masalah luar-bahasa yang hubungannya biasanya bersifat arbitrer. makna idesional. makna non-referensial. Chaer (1994) membagi jenis makna menjadi tigabelas. Yang diartikan (signifie) sebenarnya adalah konsep atau makna dari sesuatu tanda bunyi. yaitu makna leksikal. Menurut Djajasudarma (1993: 6). makna kognitif. Sedangkan Leech (1976) membedakan adanya tujuh tipe makna. makna piktorial. makna inti. 1994: 288). dengan kata lain setiap tanda-linguistik terdiri dari unsur bunyi dan unsur makna. makna gramatikal. Inggris: signifier). makna intensi. Ada teori yang menyatakan bahwa makna itu tidak lain daripada sesuatu atau referen yang diacu oleh kata atau leksem itu. 1995: 59).

1993: 9). Pada kalimat (14) kata Bapak bermakna sempit µorang tua kandung¶. Makna konotatif adalah makna yang muncul dari makna kognitif (lewat makna kognitif). (12) ´Apakah saudara tidak mau mengakuinya?´ kata Pak Polisi. Makna konotatif muncul sebagai akibat asosiasi perasaan kita terhadap apa yang diucapkan atau apa yang didengar. Makna kognitif disebut juga makna deskriptif atau denotatif adalah makna yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan (Djajasudarma. atau pengalaman lainnya (Chaer. 1993: 9). Makna denotatif juga dapat diartikan sebagai makna yang sesuai dengan hasil observasi menurut penglihatan. sedangkan pada kalimat (13) saudara bermakna sempit µkerabat¶. (Konteks: seorang Ibu yang memberitahuan keadaan suaminya kepada anaknya). (13) Saudara saya yang dari Bandung akan datang hari ini. yang mengacu pada seseorang yang mempunyai nama Dian.Makna sempit (narrowed meaning) adalah makna yang lebih sempit dari keseluruhan ujaran (Djajasudarma.´ kata Ibu.´ kata Dian kepada Dani. (17) A: ³Kemarin saya bertemu dengan Ibu Ani. sekarang. 1994: 291). yaitu maknanya akan menyempit (memiliki makna sempit). 1994: 292). B: ³Benarkah?´ sahut Dani. (16) Dian adalah salah satu mahasiswa jurusan bahasa Indonesia. 1993: 8). perasaan. Sebagai contoh. kata-kata yang bermakna luas digunakan untuk mengungkapkan gagasan atau ide yang umum. makna asal. Sebagai contoh. pendengaran. dari makna sempit ke makna meluas. (Konteks: penutur memiliki saudara sepupu yang tinggal di Bandung. Makna referensial adalah makna sebuah kata atau leksem yang mempunyai referen atau acuannya.´ kata salah seorang staf karyawan. dan akan datang ke rumah penutur). Pada kalimat (12). atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem (Chaer. 1993: 7). Makna luas (widened meaning atau extended meaning) adalah makna yang terkandung pada sebuah kata lebih luas dari yang diperkirakan (Djajasudarma. (14) ³Bapak sedang sakit. 1995: 66). Berkenaan dengan acuan ini ada sejumlah kata yang disebut kata-kata deiktik yang acuannya tidak menetap pada satu maujud. sedangkan pada kalimat (15) kata Bapak bermakna luas µpanggilan untuk laki-laki dewasa¶. makna denotatif nampak pada penggunaan kata Dian.´ . Menurut Djajasudarma (1993: 11). Pada kalimat (16) di atas. Makna denotatif adalah makna asli. makna referensial adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan atau referen (acuan). Kata saudara pada kalimat (12) dengan (13) mengalami perubahan makna. melainkan dapat berpindah dari maujud yang satu kepada maujud yang lain (Chaer. kata saudara bermakna µpanggilan pada seseorang¶. Penggunaan kata Bapak pada kalimat (14) dengan (15) mengalami perubahan makna. ke dalam makna kognitif tersebut ditambahkan komponen makna lain (Djajasudarma. (Konteks: seorang pencuri yang sedang diinterogasi oleh polisi atas tuduhan pencurian). (Konteks: diberitahukan bahwa pimpinan sekolah sedang mengadakan rapat dengan para guru sekolah tersebut). Perhatikan contoh. (15) ³Bapak Kepala Sekolah sedang mengadakan rapat dengan para guru. Sebagai contoh. Berbeda dengan kata-kata yang bermakna sempit. ³Saya juga bertemu beliau kemarin. penciuman.

Sebagai contoh. yang menjadi pusat (inti) pembicaraan adalah Ali sedangkan untuk adalah seorang laki-laki merupakan bagian untuk menerangkan kata Ali. Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apa pun (Chaer. (21) Ali adalah seorang laki-laki. Perhatikan contoh berikut. 1993: 12).Dari contoh di atas. dapat kita ketahui bahwa kedua kalimat tersebut dapat melahirkan makna gramatikal. kalimat. Makna konstruksi (construction meaning) adalah makna yang terdapat di dalam konstruksi. Yang menjadi tikus di gudang kami ternyata berkepala hitam. (20) a. Makna leksikal dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon. menendang bermakna µaktif¶. Makna pusat adalah makna yang dimiliki setiap kata yang menjadi inti ujaran. 1993: 15). b. misalnya. pada kalimat (17A) kata saya mengacu pada Dian. b. Berbeda dengan makna referensial. atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita (Chaer 1995: 60). makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indera. makna non-referensial merupakan makna sebuah kata yang tidak mempunyai acuan atau referen. atau perasaan benci. Dari kedua contoh di atas. Kalimat (20b) menunjukkan kata adik bermakna µpelaku¶. makna milik dapat diungkapkan melalui enklitik sebagai akhiran yang menunjukkan kepunyaan (Djajasudarma. Perasaan dapat pula berupa perasaan gembira di samping perasaan yang disebutkan di atas (Djajasudarma. Perasaan muncul segera setelah mendengar atau membaca suatu ekspresi yang menjijikan. Kenapa kau sebut nama dia. Namun. 1993: 16). (18) Rumahnya jauh dari sini. Sebagai contoh. dan proses komposisi (Chaer. (19) a. b. wacana) memiliki makna yang menjadi pusat (inti) pembicaraan (Djajasudarma. dalam hal ini adalah rumah. Adik menulis surat. (22) a. jelas bahwa. Makna gramatikal adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatika seperti proses afiksasi. 1995: 62). atau. Makna piktorial adalah makna suatu kata yang berhubungan dengan perasaan pendengar atau pembaca. proses reduplikasi. Di samping itu. dan surat bermakna µhasil¶. makna milik yang diungkapkan dengan urutan kata di dalam bahasa Indonesia. Pada kalimat (18) di atas. yang pebuatannya memang mirip dengan perbuatan tikus. menulis bermakna µaktif¶. Kalimat (22a) mengungkapkan perasaan benci penutur terhadap seseorang. Atau juga dikatakan makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya. enklitik -nya digunakan untuk menyatakan milik atau kepunyaan. Pada kalimat (22b) dapat dilihat adanya makna piktorial . Ia tinggal di gang yang becek itu. Kata tikus pada kalimat (19a) merupakan makna leksikal karena jelas merujuk kepada binatang tikus. Pada contoh kalimat (21) di atas. Adik menendang bola. bersifat leksem. Perhatikan contoh berikut. sebangsa bintang pengerat yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit tifus. dapat kita lihat bahwa pada kalimat (22a) dan (22b) memunculkan makna piktorial. Dari contoh di atas. Tikus itu mati diterkam kucing. Misalnya kata-kata seperti dan. dalam kalimat (19b) kata tikus bukanlah dalam makna leksikal karena tidak merujuk kepada binatang tikus melainkan kepada seorang manusia. Setiap ujaran (klausa. atau bersifat kata. 1994: 289). Sebagai contoh. yang diucapkan oleh lawan tuturnya. dan karena. Kalimat (20a) menunjukkan kata adik bermakna µpelaku¶. sedangkan pada kalimat (17B) kata saya mengacu pada Dani. dan bola bermakna µsasaran¶.

Untuk ketiga contoh di atas. Untuk itu. Nomor teleponnya ada pada kepala surat itu. (25) Saya dan Dar berpandang-pandangan. Sebagai contoh. (24) Saudara berhak membunuh saya. Makna timbal balik dan makna kebersamaan dibentuk dengan memakai verba. Fungsi (b). pokok kalimatnya dapat terdiri dari sekelompok orang atau benda yang ikut serta dalam tindakan. Rambut di kepala nenek belum ada yang putih. Pada kalimat (23a). 1994: 290). yaitu teori dari Alieva.dengan perasaan jijik. E. Kategori (c). yang mana apabila sasaran penyelidikannya tertumpu pada hal-hal yang berkaitan dengan sintaksis. (26) Apalagi mereka berdua tak asing-mengasing lagi. Sebagai subjek (S) jamak. baik transitif maupun intransitif. dkk dalam bukunya yang berjudul ³Bahasa Indonesia. pokok kalimatnya merupakan salah satu dari subjek (S) jamak yang lebih penting bagi kalimat ini. kata kepala bermakna µbagian atas surat¶. dan peran gramatikal. Sedangkan sebagai subjek (S) tunggal. kata kepala bermakna µpimpinan¶. Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks (Chaer. sesudah perempuan itu masuk ke dalam. diketengahkan adanya istilah semantik sintaktikal. Selain itu. c. Pada kedua makna ini. dan pada kalimat (23c). kata kepala bermakna µbagian anggota tubuh¶. b. Hal ini dapat dilihat pada bagan berikut. makna terdiri dari makna timbal balik dan makna kebersamaan. Dari beberapa teori di atas. kita bermusuhan. Peran . (23) a. kategori gramatikal. SPOK (a). dapat dilihat bahwa pokok kalimatnya menyatakan subjek (S) jamak. pokok kalimatnya dapat menyatakan subjek (S) jamak maupun subjek (S) tunggal. dapat kita lihat penggunaan kata kepala pada kalimatkalimat berikut. kalimat (23b). ada sebagian sampel data yang tidak sesuai dengan kedua teori tersebut. Sebagai contoh. sebagai sebutan kalimat. Ini dilakukan mengingat bahwa dalam sintaksis itu ada pula tataran bawahan yang disebut fungsi gramatikal. Deskripsi dan Teori´. tidak seluruh jenis makna yang dikemukakannya sesuai dengan sampel data yang ada. teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori yang dikemukakan oleh Djajsudarma. Menurut Alieva. maka peneliti memberikan istilah sendiri untuk sampel data tersebut sebagai jenis makna. Fungsi Deiksis Pronomina Persona Dalam tataran tata bahasa atau gramatika. Hal itu dikarenakan bahwa dari beberapa makna yang dikemukakan olehnya. Namun. penggunaan kata kepala mempunyai makna konteks yang berbeda. peneliti juga menggunakan teori lain tentang makna. dkk. ada makna yang sesuai dengan sampel data yang ditemukan. Dari ketiga kalimat di atas. yang menyebutkan tentang makna kebersamaan. Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu.

kasus yang mengacu pada agent atau pelaku suatu tindakan. bentuk Tom dalam kalimat tersebut berfungsi debagai agent atau pelaku tindakan yaitu tindakan memangkas mawar. Pada contoh (27) di atas. experince. Hanya argumen di sini diberi nama kasus. sebagai KB yang berfungsi semantik benefaktif yaitu adik. seperti dalam kalimat Ibu membeli gula. yaitu (1) kata kerja/KK dan (2) kata benda /KB. compliment. benefactive. 1995: 9) Charles J. patient. dll. Jadi KK membelikan dari contoh di atas menghadirkan sebuah KB yang berfungsi sebagai semantik agent yaitu Ibu. benefaktif. Kategori-kategori ini yang sesungguhnya sudah memiliki makna leksikal. Wallace L. Chafe tetap menggunakan istilah KB yang menurut fungsi semantiknya bisa berlaku sebagai agent. locative. objek (O). Chafe menyatakan bahwa dalam analisis bahasa komponen semantiklah yang merupakan pusat. Menurut Chafe struktur semantik terdiri dari dua unit semantik pokok. b. nomina atau frase nomina yang mengacu pada orang atau binatang yang melakukan atau memprakarsai tindakan verba. Yang memiliki makna adalah pengisi kotak-kotak yang disebut kategori gramatikal seperti nomina. objek. 1995: 21). dalam karangannya ³Case for Case´ (1968) membagi kalimat atas modalitas dan proposisi. Fillmore membatasi jumlah kasus menjadi pelaku (agent). (27) Tom memangkas mawar. Chafe tidak menggunakan istilah kasus untuk menyatakan relasi semantik anatara KK dengan KB dalam suatu struktur semantik. keadaan/tempat/waktu yang sudah (source). dan sebuah KB yang berfungsi semantik patient yaitu sepatu (Chaer. dan sebagainya (Chaer. Dalam versi 1971. Kini sebagai pengisi kotak-kotak itu memiliki peran gramatikal seperti peran agentif. aspek. Fillmore. Modalitas berkenaan dengan negasi.Fungsi gramatikal berupa ³kotak-kotak kosong´ yang diberi nama subjek (S). Kasus Agentif (A) Kasus agentif merupakan kasus yang secara khusus ditujukan bagi makhluk hidup (yang bernyawa) yang merasakan hasutan tindakan yang diperkenalkan oleh verba. dan keterangan (K) yang sebenarnya tidak mempunyai maksud. pengalami (experiencer). Yang dimaksud dengan kasus (case) dalam teori ini adalah hubungan antara verba dengan nomina dalam struktur semantis. 1995: 22). dan maujud yang dihubungkan dengan predikat (referential) (Chaer. alat (means). Apabila dibandingkan dengan teori generatif semantik. KK keadaan hanya menghadirkan satu Kb seperti dalam kalimat Ibu termenung. lokatif. tujuan (object). kala. sebab semuanya hanya berupa kotak atau tempat yang kosong. yang dikenal sebagai tokoh tata bahasa kasus. KK menentukan hadirnya KB dalam struktur semantik itu. Kasus Benefaktif (B) Kasus benefaktif adalah kasus yang ditujukan bagi makhluk hidup (yang bernama) yang memperoleh keuntungan oleh tindakan yang diperikan oleh verba. pasien. dan adverbia. Sedangkan proposisi berwujud sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus. instrumental. Berapa banyak KB yang hadir dalam suatu struktur semantik tergantung pada jenis/tipe KK dalam struktur itu. Artinya. Dalam struktur semantik ini KK merupakan pusat. atau adjektiva. maka verba di sini sama dengan predikat dan nomina sama dengan argumen. mengemukakan adanya sembilan fungsi semantik atau kasus. 1995: 21-22). Sebagai contoh. keadaan/tempat/waktu yang akan datang (goal). sedangkan KK aksi bitransitif menghadirkan tiga KB seperti kalimat Ibu membelikan adik sepatu (Chaer. KK aksi monotransitif menghadirkan dua KB. yaitu: a. Henry Guntur Tarigan dalam bukunya yang berjudul ³Pengajaran Tatabahasa Kasus´ (1989: 68). predikat (P). nomina atau frase nomina . verba.

Kasus Datif (D) Kasus datif adalah kasus mengenai makhluk hidup (yang bernyawa) yang dipengaruhi oleh keadaan atau tindakan yang diperkenalkan oleh verba. Kasus ini kadang-kadang disebut juga experiencer case atau kasus pengalam. Pada contoh (28) di atas. (29) Rony berdagang mobil dengan Budi. kasus dari segala sesuatu yang dapat digambarkan atau diwakili oleh sesuatu nomina yang peranannya di dalam tindakan atau keadaan diperkenalkan oleh verba diperkenalkan oleh interpretasi semantik verba itu sendiri. Kasus Faktitif (F) Kasus faktitif merupakan kasus objek atau yang merupakan akibat dari tindakan atau keadaan yang diperkenalkan oleh verba. Preposisi yang berhubungan dengan kasus ini adalah dengan. John menggerakkan rakit itu. (35) Mary membuka laci itu dengan kunci. Kasus Objektif (O) Kasus objektif merupakan kasus yang secara semantis paling netral. Kasus Komitatif Kasus komitatif adalah kasus yang ditujukan bagi frasa nomina yang menanggung suatu hubungan konjungtif dengan frasa nomina lain dalam kalimat. Sebagai contoh. Contoh. e. nomina atau frasa nomina yang mengacu pada orang atau binatang yang dipengaruhi oleh keadaan atau tindakan verba di dalam kasus datif. bagi. Kasus Lokatif (L) . karena dalam konstruksi kalimat tersebut. f. John merupakan subjek ergatif -agent atau penyebab tindakan/perbuatanh. Contoh. (34) Rakit itu bergerak. Sebagai contoh. Contoh. (30) Saya setia kepada istri saya. yang mengacu pada hubungan sintaktik yang terjalin antara suatu kalimat. bentuk Louise yang mendapatkan atau memeperoleh keuntungan dari tindakan verba. nomina atau frasa nomina yang mengacu pada sesuatu yang dibuat atau diciptakan oleh tindakan/aksi verba berada dalam kasus faktitif. g. yang berfungsi benefaktif adalah bentuk Louise. (28) Joan membakar kue buat Louise. atau dianggap atau diartikan sebagai suatu bagian dari makna verba. dan. Kasus ini memiliki ciri menggunakan preposisi dengan. demi. Kasus benefaktif dihubungkan dengan preposisi untuk. i.yang mengacu pada orang atau binatang yang memperoleh keuntungan atau dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan dari tindakan verba. c. Kasus Ergatif (E) Kasus ergatif adalah kasus yang bersifat kausatif. (32) Tony membangun bangsal. bersama. buat. Sebagai contoh. (33) Mereka mengiris sosis itu dengan pisau. Kasus Instrumental (I) Kasus instrumental adalah kasus yang berkekuatan tidak hidup/tak bernyawa atau objek yang secara kausal terlibat di dalam tindakan atau keadaan yang diperkenalkan oleh verba. d. Penanda kasus datif dalam bahasa Indonesia adalah kepada. terhadap. Contoh. (31) Kami berbakti terhadap negara.

Sebagai penunjuk postpositif Artinya bahwa bentuk deiksis di sini untuk menyatakan hubungan milik antara dua nomina. -mu. bentuk deiksis itu langsung disambungkan pada verba tersebut. seperti halnya bentuk enklitis. Pada contoh kalimat (37) dan (38). Untuk contoh kalimat (39). (39) Perginya terlambat: ³Engkau salah´. Artinya bahwa. Sebagai penunjuk kepunyaan Dalam hal ini. dll tersebut. bentuk-bentuk deiksis dapat digunakan sebagai perangkai preposisi. deskripsi dan teori´ fungsi deiksis meliputi: a. J. Untuk menyatakan subjek tindakan/pelaku Pronomina persona dapat digunakan untuk menyatakan subjek tindakan/pelaku dengan verba intransitif dan dengan kata akar yang dipakai untuk mengantarkan tuturan langsung. b. Sebagai perangkai preposisi. tempat atau letak ataupun orientasi ruang/keadaan atau tindakan yang diperkenalkan oleh verba.Kasus lokatif adalah kasus yang memperkenalkan lokasi. Misalnya: bentuk rumahku. d. (36) Irine menaruh majalah itu di (atas) meja. bentuk deiksis pronomina persona digunakan pada verba transitif berawalan me-. oleh. Penanda kasus lokatif ini adalah di. Sebagai contoh. rumah + -nya =rumah kepunyaannya. melainkan hubungan antara kedua unsur tersebut: rumah + -ku = rumah kepunyaanku. terlihat bahwa bentuk deiksis dapat dirangkai dengan bentuk preposisi. Sebagai contoh. Sebagai penunjuk kepunyaan Bentuk deiksis pronomina persona apabila disambungkan dengan nomina. Dalam pemakaiannya. rumah saya. (37) Kakak memberikan buku itu kepadaku. Bandingkan dengan . seperti bentuk preposisi kepada. Untuk menyatakan objek tindakan/pelaku Untuk menyatakan objek pelaku. Fungsi yang demikian. rumah mereka. dll. rumah + -mu = rumah kepunyaanmu. kataku. (41) Sudah lama dia tidak melewatiku. bentuk deiksis dapat menyatakan subjek pelaku. (40) Saya sudah dilihatnya. Bentuk pronomina. ke. fungsi ini terbatas hanya pada kasus-kasus di mana dapat timbul salah tafsir bila dua nomina berdampingan. karena takut diketahui olehnya. Menurut Alieva. Bentuk deiksis pronomina persona dapat digunakan untuk menyatakan subjek pelaku apabila ditempelkan pada verba pasif berawalan -di. dapat menunjukkan hubungan kepunyaan (menyebutkan pemilik). Dalam bahasa kesusastraan. Contoh. Sebagai contoh. Badudu dalam bukunya ³Pelik-pelik Bahasa Indonesia´ (1993: 110-111) menyebutkan beberapa fungsi deiksis pronomina persona. Sebagai contoh. dkk. yang tidak terdapat dalam bahasa Melayu klasik. yang menyatakan kepunyaan bukalah wujud deiksis seperti -ku. yaitu: a. dalam bukunya yang berjudul ³Bahasa Indonesia. -nya. (38) Ibu merahasiakan semua itu. c. Bentuk tersebut digunakan dalam konstruksi tuturan langsung dengan kata pengantar penutur berada di depan tuturan langsung. Sebagai contoh: kawannya Salim. tidak dapat dipakai dengan peposisi di dan ke yang sama sekali tidak berangkaian dengan pronomina personal. timbul sebagai akibat pengaruh bahasa Jawa. e. S. dari.

Majalah Bobo merupakan salah satu majalah anak-anak yang terbit satu kali dalam setiap minggunya. (47) Barang-barang itu sengaja kubeli untukmu. Sebagai objek penyerta dalam bentuk enklitik Contoh: (46) Disampaikannya berita itu kepadaku kemarin. arena kecil. pandangan tentang topik aktual yang patut diketahui konsumen pembaca. tak disangka). dan menurut kala penerbitannya dibedakan atas majalah bulanan. peneliti menggunakan teori lain yang dapat melengkapi dan yang sesuai dengan sampel data yang tersisa. 1991: 615). teori fungsi yang digunakan merupakan teori yang dikemukakan oleh Tarigan. mingguan. liputan. Teori yang dimaksudkan di sini merupakan teori yang dikemukakan oleh Alieva. Selain itu.menyatakan superlatif Contoh: (51) Sepandai-pandainya tupai melompat. Dalam penelitian ini. Makna ³pemilikan´ bukan terdapat pada kata paman dan Amir di belakang kata rumah. dongeng. (45) Siapa yang akan menyertaimu naik haji nanti? d. melainkan lahir karena adanya hubungan kedua kata itu. Sebagai kata sandang penentu Contoh: (48) Masa hanya kopi saja. dkk. dan sebagainya (KBBI.rumah paman. Bo?. Sebagai penunjuk Contoh: (50) Penyakit itu sukar dicari obatnya. rumah Amir. majalah Bobo juga memuat tentang profil. remaja. yaitu fungsi penunjuk kepunyaan dan fungsi perangkai preposisi. olahraga. sekali gagal juga. F. halamanku. Cerita Pendek . (43) Kuakui itu adalah salahku sendiri. Hubungan ini disebut hubungan posesif (hubungan kepunyaan). g. Sebagai alat pembentuk kata benda Contoh: (42) Salahmu masih dapat dimaafkan. hanya lima fungsi yang dianggap sesuai dengan sampel data yang ada. Sebagai pembentuk kata keterangan Contoh: (49) Agaknya akan turun hujan hari ini. (-nya = penyakit seperti itu) h. Majalah Bobo memuat berbagai macam cerita anak-anak dari yang berbentuk cerita pendek. c. dari beberapa fungsi yang dikemukakan oleh Tarigan. cerita bergambar. e. wanita. G. mana kuenya? f. dan sebagainya dan menurut pengkhususan isinya. ilmu pengetahuan. Untuk itu. Namun. Hal itu dikarenakan bahwa dari sampel data yang ditemukan dalam penelitian ini menunjukkan adanya kesesuaian antara sampel data dengan teori tersebut. sastra. ensiklobobo. Bersama-sama dengan awalan se. Sebagai objek penderita dalam bentuk enklitik Contoh: (44) Aku memandangnya sebagai kakakku. peneliti memberikan istilah sendiri untuk menyebut fungsi deiksis sesuai dengan ciri-ciri sampel data. dari teman (Apa Kabar. b. Untuk sampel data yang tidak sesuai dengan teori-teori tersebut. yaitu setiap hari Kamis. uji imajinasi. Majalah Bobo Majalah adalah terbitan berkala yang isinya meliputi berbagai liputan jurnalistik. ilmu pengetahuan tertentu. dibedakan atas majalah berita. tengah bulanan.

concentration µpemusatan¶. fungsi objektif. jika dalam penggunaannya disesuaikan dengan konteks kalimat dan makna yang dimilikinya. 1984: 15). tetapi yang ternyata menentukan (perubahan dalam perspektif. Dialog. ditentukan dengan metode yang digunakan dalam penelitian. fungsi pelaku/agent. makna deiksis pronomina persona dan fungsi deiksis pronomina persona dalam suatu karya sastra. H. Ringkasnya. Dari beberapa teori yang mengemukakan tentang makna deiksis. impian. fungsi perangkai preposisi.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi (pada suatu ketika) (KBBI. sering dipergunakan (pengaruh dari film). Sumber data dalam penelitian ini berupa subjek. 1986: 132). orang maupun tempat. tetapi sugestif (Hartoko dan B. 1991: 187). Fungsi deiksis pronomina persona yang ditemukan dalam kumpulan cerita pendek di majalah Bobo edisi Januari-Desember 2005 meliputi fungsi penunjuk kepunyaan. merupakan suatu jenis sastra naratif yang muncul pada bagian pertama abad ke-19 di Amerika Serikat. makna kebersamaan/jamak.Cerita pendek adalah kisahan pendek (kurang dari 10. makna dan fungsi deiksis pronomina persona. Rahmanto. makna tunggal. fungsi komitatif. Ada yang mengatakan bahwa cerpen merupakan karya prosa fiksi yang dapat selesai dibaca dalam sekali duduk dan ceritanya cukup dapat membangkitkan efek tertentu dalam diri pembaca (Sayuti. makna luas. Cerita pendek yang efektif terdiri dari tokoh atau sekelompok tokoh yang ditampilkan pada satu latar atau latar belakang dan lewat lakuan lahir atau batin terlibat dalam satu situasi. yang semuanya berkaitan dengan panjang cerita dan kualitas struktural yang diisyaratkan oleh panjang cerita itu. Penggunaan deiksis pronomina persona dirasa tepat. khususnya karya sastra anak. cerpen menunjukkan kualitas yang bersifat compression µpemadatan¶. Sebuah cerpen biasanya didasarkan pada insiden tunggal yang memiliki signifikansi besar bagi tokohnya. Untuk mengetahui bentuk deiksis pronomina persona. cerita pendek adalah setiap cerita yang pendek. fungsi pengalam. teori tentang fungsi deiksis yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan teori dari beberapa ahli. dan makna sempit. baik benda. Inti cerita pendek adalah tikaian dramatik. yaitu kumpulan cerita pendek di majalah Bobo . Seperti halnya makna deiksis. 1993: 15). Sebuah cerpen biasanya memiliki plot yang diarahkan pada insiden atau peristiwa tunggal. Deiksis pronomina persona merupakan salah satu bentuk kata tunjuk yang digunakan untuk menunjuk orang atau insani. Dalam arti kata khusus. Kerangka Pikir Kata tunjuk adalah kata yang digunakan untuk menunjuk sesuatu. yaitu perbentukan antara kekuatan yang berlawanan (Sudjiman. Salah satu metode yang digunakan adalah metode agih. 2000: 9). Bahasa-bahasanya sederhana. teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori campuran dari beberapa pandapat para ahli. Dengan menggunakan metode agih. Tamatnya sering kali tiba-tiba dan bersifat terbuka (open ending). keputusan yang menentukan). dan sebagainya. dan intensity µpendalaman¶. Sifat umum cerpen ialah pemusatan perhatian pada satu tokoh saja yang ditempatkan pada suatu situasi sehari-hari. fungsi benefaktif. Adapun makna deiksis yang terdapat dalam kumpulan cerita pendek di majalah Bobo edisi Januari-Desember 2005 meliputi makna ambiguitas. Dalam arti umum. flash back. dan fungsi sapaan. kesadaran baru. diharapkan peneliti lebih mudah dalam mengkategorisasikan dan mendeskripsikan tentang bentuk. Metode agih adalah metode analisis data yang alat penentunya justru bagian dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri (Sudaryanto.

1. pronomina persona kedua baik tunggal maupun jamak. Makna dalam penelitian ini merupakan makna deiksis pronomina persona yang digunakan dalam suatu tuturan. yang mana diperlukan adanya koherensi antara kalimat yang mendahului ataupun kalimat yang mengikutinya. Untuk yang ketiga kita akan mendapat pengatahuan tentang maksud pembicara. tingkat dari arti secara abstrak. dan bentuk pronomina persona ketiga baik tunggal maupun jamak. Apakah Pragmatik Itu? 1. Semantic dalam hal perkembangannya pada akhir 1980an. kerangka pikir ini dibuat dalam bentuk skema sebagai berikut. Walaupun definisi itu cukup untuk menggambarkan pragmatic. hal ini akan berbeda jika dalam konteks yang lain. sama dengan pragmatic dengan arti pembicara (speaker meaning) atau yang sama dengan interpreatasi ujaran (utterance interpretation) ±mereka tidak menggunakannya secara eksplisit± . atau yang dimaksud dengan (force) paksaan dalam sebuah ujaran kata. Bentuk di sini merupakan bentuk deiksis pronomina persona yang terdiri dari bentuk pronomina persona pertama baik tunggal maupun jamak. tempat yang lain atau keadaan yang lain pula. Kita akan mempelahar pertama kali yan dimaksud tentang tingkatan arti. tidak secara langsung menuju topic. sedangkan objek penelitian ini yaitu tentang bentuk. Kita akan mulai dari arti kontekstual arti ujaran dar melihata kata. Dari Abstrak ke Arah Arti Kontekstual Arti abstrak lebih berfokus pada sebuah kata. Definisi terakhir (interpretasi ujaran) lebih cenderung kea rah yang mempelajari kekurangan dari dua definisi tersebut. atau matikan pemanasnya. tetapi pada waktu yang sama ketidak jelaan dari fakta pada proses interpretasi dengan apa yang ada di dalam pesan antara beberapa tingkatan arti. dimana dapat diterima dengan baik di bawah bahasan dari arti penggunaan atau art dalam kenteks. tetapi lebih dari itu. Digunakannya fungsi semantis di sini karena sampel data dalam penelitian ini merupakan bentuk kalimat yang terdapat di dalam suatu wacana. definisi umum dari pragmatic adalah arti dalam penggunaan dan arti dalam konteks. Bukut-bukua terbaru lebih contong membahas tentang satu dari dua topic. ³Di sini panas ya!´. yang dapat ditentukan dengan melihat konteks kalimat atau konteks wacananya. pada saat pragmatic sering dibuat sebagai bahan diskusi dalam linguistic. makna dan fungsi deiksis pronomina persona. Dalam contoh di atas kita tahu bahwa apa yang penulis maksud bukan panas dalam arti kata sebenarnya. Pengertian Masyarakat tidak selalu mengatakan apa yang sebenarnya mereka maksudkan.edisi Januari-Desember 2005 yang berjumlah 137 buah. yang mana makna itu tidak lain daripada sesuatu atau referen yang diacu oleh kata atau leksem. Fungsi di dalam penelitian ini merupakan fungsi semantis deiksis pronomina persona. Sebagai contoh saya berkata. Arti pembicara menurut perhatian ke pembuat pwsannya. tetapi masih terlalu umum karena masih mengandung aspek semantic. frasa atau kalimat (kedua). 1. frasa. mengapa tidak langsung mengatakan yang sebenarnya. Dalam kasus di atas. 1. yaitu. Kasus-kasus seperti ini masuk dalam bahasan lingusitik yang dikenal dengan Pragmatik. Tetapi yang saya maksudkan adalah untuk seseorag membukakan jendela atau lebih baik membuka jendelanya.2 Definisi Pragmatik Pada awal 1980an. Apa yang mereka maksudkan bisa lebih luas dari apa yang mereka katakana.2. masalah arit pemcibaca lebih mendekat ke arah penulus yang mempunyai pandangan social lebih luas dalam ilmu linguistic khususnya dalam hal pragmatic. kalimat . Untuk lebih jelasnya.

Apakah sesuatu yang tidak biasa untuk para buruh bangunan? Cara mereka dibayar. dan Marinir. homograf atau yang lainya yang biasa mengakitabkan kesalahan pemahaman. tetapi mempunyai makna konotasi. yang paling penting. ku tidak akan pernah menemukannaya´ Mengapa kita tidak mungkin memahaminya. Allan berpikir apa yang dimaksudkan dan akan menanyakan setelah peliharaannya sehat. Pasukan. Dalam kasusu ini kita tidak menemukan penunjuk dalam kata. Contoh : Percakapan ini ku dengarkan di sebuah kereta api.3. Lihatkah hanya sedikit kedisiplinan yang terlihat. Hal ini berbeda dengan kata ³Bahaya. jika dia tidak jatuh dari tempat tidu. secara intuisi melihat ke rasa dalam peraasaan kontekstual mereka.Contoh : Apa yang diinginkan para pasukan adalah untuk menduduki wilayah ini. Ayah selalu berkata tentang masa lalunya di kamp Catteria pada tahun 1940an. 1. Cambuk juga masuk dalam domain discourse. kita psti lebih bisa memhami poin pembicaraan. ³Apa yang salah tentang kucing itu?´ Lalu siapa saja datang pada waktu itu. Beri mereka sesuatu yang mengingatkan masa lalu mereka (melewati pantat). Ayah berhenti sejenak dan meneguk tehnya. Dalam oercakapan di atas kita megetahui batu (lump) yang dimaksudkan adalah bukan batu yang sebenarnya.3. tetapi dapat masuk dalam frasa atau bahkan semua kalimat. Seakan-akan ayah telah di dalam AL. Dilarang Menyentuh!´ hal ini jelas untuk melarang menyentuh sesuatu. hal ini dapat diketahui dengan memahami konteks yang ada dalam pembicaraan. 1. Kami tahu apa arti disiplin sejak dalam pelatihan. dimanapun kita berada. itu (tidak selalu bermakna . hal ini dikarenan topic pembicaraan biasanya berdasarkan tempat dimana pembicaraan itu terjadi. terjadi antara dua orang inggris. di sini. di bus. kita tidak paham apa yang ditemukan. ini. kucing yan dimaksud adalah kucing dalam arti sebenarnya atau cambuk (dalam bahasa barat) yang biasa digunakan dalam kamp militire pada periode perang. kami akan« . antara lain di sana. Contoh : ³dan hanya terpikirkan olehku. Arti abstrak tidak berada pada satu kata. namun hal ini dapat dihindari dengan memahami konteks yang ada. Cambuk mereka. AU. itulah yang saya katakana. di supermarket. A : ³Batu (Lump) apa yang membuat mereka waspada?´ B : ³ Coba bacalah´ A : (Membeca dengan suara keras) ³Di dalam rekatakn batu yang jatuh´ B : Oh. Keadaaan ini dapat terjadi dalam kasusu homonym. Dalam pengertian ini. kita mengenal pengertian deiksis. atau penggelapan pajak atau mungkin yang lainnya. Jika kita melihat ilustrasi di atas.1 Mengartikan Rasa dalam Konteks Jika seseorang terlibat dalam percakapan. Pada saat itu masih menjadi tentara.2 Mengartikan Penunjuk Konteks Kita perlu mencari poin penting dalam sebuah percakapan.

4.pengisolasian). Derek Bentley.3. tetapi saya sudah pernah melihat dog bowl bermain di beberapa inning. Ini dapat terjadi jika kamu tahu yang pembicara maksudkan dan jelas arti percakapannya. apakah itu istilah dalam kriket atau yang lainnya dalam tanda kutip.4 Arti Ujaran : Tingkat Pertama Maksud Pembicara 1. Craig menembak polisi dengan alasan pembelaan diri.1 Pentingnya Arti Ujaran Arti ujaran di sini dimaksud adalah konteks dimana pengucapan itu dimaksudkan.3 Rasa Intereaksi.3. Apakah itu bank dalam arti tempat kita menabug atau bank dalam bahasa inggris yang berarti tepi sungai. Pasti kita bingung tentang apa arti kata ³dog bowl´.5 Pemaksaan (Force) : Tingkat Kedua dari Maksud Pembicara\ Dalam hal Pragmatik. hal ini juga berlaku pada deiksis-deiksis lainnya (deiksis orang dan deiksis tertentu ±discourse deixis² 1. Bentley berkata ³Biarkan Polisi itu menerimana Christ!´ karena perkataan itu. Contoh kasus : Dalam pengadilan ada seseoran pemuda 19 tahun. Contoh : Pembicara sedang berada di Genewa. 1. 1. yang mati kucingnya atau ikannya. Brian Johnson. sekarang juga akan berarti jika kita memahami pembicaraan. Pembicara A adalah istrinya A : Pernahkan kamu melihat ³dog bowl´ B: Belum. sedang Craig hanya mendapat pengawasan saja. Deiksis waktu antara lain kemarin. 1.5 Ambiguitas dan Maksud Kita akan menjelaskan ambiguitas dan maksud yang dapat mengarah ke dalam kesalahpahaman. Seperti dalam contoh ³Benarkah itu . Dalam contoh kasus di atas kita mengetahui arti pentingnya ujaran. Penunjuk dan Struktur Contoh di bawah ini akan menunjukkan ambiguitas strukturan yang juga mengandung ambiguitas perasaan Pembicara B adalah komentator kriket yang terkenal. Swiss Kota ini adalah kota dimana ³bank´ berada di dekat sungai. besok. Christopher Craig dalam kasusu pembunuhan salah satiu Polisi setempat. yang terlibat dengan pemuda 16 tahun. 1. Kita pasti menduga-duga tentang arti kata ³bank´.33 Ambiguitas Struktural Hal ini berkaitan dengan sintaks. Pada saat ditahan. dalam persidangan Bentley dijatuhi hukuman mati karena diduga yang melakukan penembakan. Artinya konteks kata atau kalimat cocok atau tidak dengan tempat dimana pembicaraan berada. kita mengetahui paksaan (force). Seperti contoh kucing makan ikan mati.

5. Hal ini akan sangat sulit jika kita tidak tertarik mengapa pembicara berkata demikian. Jadi harus secara jelas kita mengetahuinya. 1.6.3 Memahami paksan tetapi bukan arti ujaran 1. Sebagai contoh megapa pembicara tidak secara langsung menunjuk apa yang mereka maksudkan. dan mengabaikan unsur pengguna bahasa. Karena itu. cemooh atau bukan. ada dua alasan mengapa penulis.4 Memahami bukan arti ujaran dan bukan pakasaan 1.5.5. yaitu force. maka pembicaraan mereka akan berjalan secara halus dan dapat dimengerti oleh para pendengar.5. Hal ini berbeda dengan definisi awal. Sebagai tataran terbaru dalam . konteks perkataan sangat berperan penting dala pemahaman suatu pembicaraan. Hal ini juga dapat membuat pendekatan para linguist mempunyai kelemahan. pendekatan kognitif yang luas yang digunakan oleh para ahli pragmatic lebih berfoukus pada pendengar.2 Interpretasi Ujaran Sebaliknya. Karena itu teori-teori atau metodologi-metodologi yang ada harus dirubah sesuai dengan perkembangan jaman. Kata-kata itu belum tentu dapat dimengerti oleh orang lain di luar komunitas mereka. baik secara implicit atau eksplisit telah menggunakan defines dengan tidak perlu membuat perbedaan. Di dalam perkataan itu kita tidak mengetahui apa yang dimaksudkan oleh pembicara. para linguist bereaksi satu sama lain. studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya.6 Definisi Pragmatik Dalam pragmatic arti secara abstrak dan lebih berguna dari pada arti pengguanaannya. mereka dapat mengembangkan poin pembicaraan mereka dalam dalam cakupan property. 1.1 Arti Pembicara Dalam hal ini. Contoh ³Saya telah menjual rumah itu´.5 Hubungan timbale balik antara arti ujaran dengan paksaan 1. 1.2 Pragmatik : Arti dalam interaksi Dalam hal ini mencerminkan arti atau poin dalam interaksi (pada suatu percakapan).6. Pendekatan ini dapat terlihat berpotensi memberikan penejelasan lebih baik dalam hal pemecahan ambiguitas itu. Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik? Makyun Subuki 13 Desember 2006 1.6. Ujaran mereka berkembang dalam topic yang cocok dengan keadaan dan situasi. 1.2 Memahami ujaran tetapi bukan paksaan 1. Dalam suatu komunitas tertentu. biasanya dalam grup ini lebih tertarik dalam tingkatan kedua. Pendahuluan Dalam jangka yang cukup lama.5.mobilmu? ³ sambil menunjuk kea rah mobil anda. yaitu dengan menurunkan sistem yang terdapat dalam matematika dan logika. Dalam tempat pertama.1 Memahami Ujaran dan Paksaan (Force) 1. seperti diungkap oleh Yule (1996: 6). Dan dalam percakapan selanjutnya. pasti mempunyai kata-kata tertentu dalam cara berinteraksi.

dengan menggunakan sudut pandang sosial. dengan melihat perbedaan kajiannya dengan bidang lain dalam linguistik. mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara. 3. Pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. sosial. Perkembangan Pragmatik Mey (1998). yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik. seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5). perkembangannya. yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme. dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik. Meskipun memiliki fokus kajian yang serupa dengan semantik. menunjukkan pentingnya pragmatik. dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran. yaitu makna.linguistik. mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi. (3) bidang yang. dengan menggunakan sudut pandang kognitif. (2) kecenderungan sosial-kritis. menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). saya mengawali makalah ini dengan pembahasan mengenai pengertian pragmatik. Definisi Pragmatik Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian. atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi. (3) tradisi filsafat. menjelaskan secara singkat topik-topik bahasannya. dan komplementarisme. melebihi kajian tentang makna yang diujarkan. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme. menyebutkan empat definisi pragmatik. mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction). . yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara. dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. Yule (1996: 3). dan kedua. Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. Untuk tujuan tersebut. dan (4) tradisi etnometodologi. seperti akan saya jelaskan kemudian. menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning). pragmatisisme. makna yang dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantik. (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya. misalnya. dan. yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik. Makalah ini bertujuan menjelaskan pentingnya bidang pragmatik untuk dipelajari dalam program studi linguistik. Selanjutnya Thomas (1995: 22). 2. pertama.

sebab. Leech (1983: 2). seperti dikutip Gunarwan (2004: 7). Kecenderungan kedua. dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross. seperti sering kita jumpai. dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)). yang dipelopori oleh Bertrand Russell. bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri. dan bahwa pernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris. mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa. seperti diungkap oleh Marmaridou (2000: 1 (dalam Gunarwan 2004: 8)). Beberapa Topik Pembahasan dalam Pragmatik 4. Menurut Lakoff dan Ross. termasuk penggunaannya. dalam kaitannya dengan logika. yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi. Searle. misalnya Austin. yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi dan ketaksaan. melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. How to Do Things with Words. Tradisi yang ketiga. komunikasi tetap dapat berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak apik secara sintaksis (ill-formed). tepatnya di Britania. dan terutama John L. keapikan sintaksis (well-formedness) bukanlah segalanya. yaitu pragmatik filosofis (Austin. Austin dan John R. bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6). Dalam etnometodologi.1 Teori Tindak-Tutur Melalui bukunya. adalah tradisi filsafat. (1) Ada enam kata dalam kalimat ini . seperti Russel dan Moore. sejak itu bidang kajian ini telah berkembang jauh. Austin dapat dianggap sebagai pemicu minat yang paling utama dalam kajian pragmatik. pragmatik neo-Gricean (Cole). pragmatik kognitif (Sperber dan Wilson). dan pragmatik interaktif (Thomas).Kecenderungan yang pertama. morfologi. dan Grice. 4. dan bahwa fonologi. yaitu bahwa dalam kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis. Sebab. Searle. Searle. dan semantik bersifat periferal. Contoh. Jerman. bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6). yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross. bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya. kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi. dan Grice). seperti dikutip oleh Thomas (1995: 29-30). Para pakar tersebut mengkaji bahasa. Ludwig Wittgenstein. muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan. yang tumbuh di Eropa. Austin. sehingga kita dapat melihat sejumlah kecenderungan dalam pragmatik. bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis. menolak pandangan sintaksisme Chomsky. Dengan kata lain.

seperti juga ditekankan lebih lanjut oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). yaitu lokusi (locutionary act). Dalam direct speeh-act terdapat hubungan langsung antara struktur kalimat dengan fungsinya. dan deklarasi (declaration) (Littlejohn 2002: 80. Austin (dalam Thomas 1995: 31) berpendapat bahwa salah satu cara untuk membuat pembedaan yang baik bukanlah menurut kadar benar atau salahnya. Searle juga menyebut lima jenis fungsi tindak-tutur. (3) Dengan ini. struktur dalam ujaran tersebut dapat saja berbunyi Saya katakan bahwa rumah Joni terbakar. ilokusi (illocutionary act). dapat berupa tindak-tutur langsung (direct speech-act) dan tindak-tutur tidak langsung (indirect speech-act). Selain itu. sesuai contoh di atas. dan Yule 1996: 54-55). sedangkan dalam indirect speech-act hubungannya tidak langsung atau menggunakan (bentuk) tindak-tutur lain (Gunarwan 2004: 9. Melalui hipotesis performatifnya. yaitu. dan Yule 1996: 53-54). Tindakan yang dihasilkan dengan ujaran ini mengandung tiga tindakan lain yang berhubungan. Tindak-tutur. Asertif atau representatif merupakan tindak-tutur yang menyatakan tentang sesuatu yang dipercayai pembicaranya benar.(2) Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono Dari contoh di atas. Dalam contoh (4). memasukkan ujaran konstatif. kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar karena sesuai dengan kenyataan. yaitu asertif (assertive). seperti dikembangkan lebih jauh oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin ini mengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition). Austin berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements). Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. melainkan melalui bagaimana bahasa dipakai sehari-hari. dan perlokusi (perlocutionary act) (Yule 1996: 48). dan tindak perlokusioner berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan (Thomas 1995: 49). direktif merupakan tindak-tutur yang menghendaki . komisif (comissive). Tindak lokusioner berkaitan dengan produksi ujaran yang bermakna. ekspresif (expressive). tindak ilokusioner terutama berkaitan dengan intensi atau maksud pembicara. melainkan juga melakukan sesuatu (perform actions). yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech-act). sebagai bagian dari performatif (Austin 1962: 52 dan Thomas 1995: 49). saya nikahkan kalian (performatif) (4) Rumah Joni terbakar (konstatif) Selanjutnya Austin. Contoh. karena memiliki struktur dalam yang mengandungi makna performatif. direktif (directive). Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics (Thomas 1995: 30). Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Gunarwan 2004: 8).

4 Teori Relevansi . Hal ini. didasarkan atas beberapa alasan. 4. komisif merupakan tindak-tutur yang digunakan pembicaranya untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukannya. ekspresif merupakan tindak-tutur yang menyatakan perasaan pembicaranya. menghindari ketaksaan.3 Implikatur (Implicature) Grice. Berkaitan dengan prinsip kerja sama Grice di atas. Implikatur konversasional merupakan implikatur yang dihasilkan karena tuntutan konteks tertentu (Thomas 1995: 58). 4. Yang pertama ada karena konteks ujaran.pendengarnya melakukan sesuatu. memberi informasi sesuai yang diminta. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 12-14). seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 14). yaitu (1) bidal kuantitas (quantity maxim). menyatakan hanya yang menurut kita benar atau cukup bukti kebenarannya. (2) bidal kualitas (quality maxim). pada kenyataannya. ujaran yang mengandung implikatur jenis ini. 4. implikatur dapat dibedakan menjadi implikatur khusus dan implikatur umum. misalnya untuk memberikan informasi secara tersirat (implicature) dan menjaga muka lawan bicara (politeness). menghindari ketidakjelasan pengungkapan. menurut Gazdar. dan (4) bidal cara (manner maxim). mengungkapkan secara singkat. dalam komunikasi kadang kita tidak mematuhi prinsip tersebut. Implikatur konvensional merupakan implikatur yang dihasilkan dari penalaran logika. dan deklarasi merupakan tindak-tutur yang mengubah status sesuatu. memberi sumbangan informasi yang relevan. seperti diungkap oleh Thomas (1995: 57).2 Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle) Grice mengemukakan bahwa percakapan yang terjadi di dalam anggota masyarakat dilandasi oleh sebuah prinsip dasar. misalnya contoh (5) di atas. mengungkapkan secara beraturan (Gunarwan 2004: 11 dan Thomas 1995: 63-64). dapat dicontohkan dengan penggunaan kata bahkan. sedangkan yang kedua tidak. misalnya contoh (6) di atas. Kerja sama yang terjalin dalam komunikasi ini terwujud dalam empat bidal (maxim). yaitu prinsip kerja sama (cooperative principle) (Yule 1996: 36-37 dan Thomas 1995: 61). Contoh. dengan menggunakan prinsip kerja sama Grice. (3) bidal relasi (relation maxim). yaitu implikatur konvensional dan implikatur konversasional. sedangkan contoh (6) merupakan implikatur konversasional yang bermakna µtidak¶ dan merupakan jawaban atas pertanyaan maukah Anda menghadiri selamatan sunatan anak saya? Berbeda dengan Grice. menyebut dua macam implikatur. (5) Bahkan Bapak Menteri Agama menghadiri sunatan anak saya (6) Saya kebetulan ke Inggris untuk studi selama dua tahun dan berangkat besok Contoh (5) di atas merupakan implikatur konvensional yang berarti Bapak Menteri Agama biasanya tidak menghadiri acara sunatan.

misalnya tindakan untuk membuat sesuatu menjadi jelas dan dapat dimengerti oleh penerima pesan. untuk menjelaskan cara sebuah pesan dipahami penerimanya. Contoh. dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini. Melalui hal tersebut. B mengira A mengerti bahwa at the weekend berarti next weekend. menyebutkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (language in use) selalu dapat diidentifikasi melalui hal yang disebutnya indeterminacy atau underspecification. misalnya untuk ke kamar mandi. Sperber dan Wilson (1995). ujaran merupakan sebentuk tindakan dari komunikasi ostensif. tahapan yang harus dilewati untuk memahami implikatur dalam percakapan. Dalam percakapan tersebut. Dengan kata lain. bukan untuk setiap kali meninggalkan ruangan. namun mencakup perluasan wilayah kognitif (cognitive environment) kedua belah pihak. when do you want to go? B: At the weekend. Misalnya pada contoh (7) di atas. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). Then that's fifty. How does it works? You just turn up for the shuttle service? A: That might be cheaper. there is a shuttle service sixty euros one-way. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). pengirim pesan dapat memperkirakan reaksi penerima pesan terhadap pesan yang disampaikannya. Sperber dan Wilson (1995). explicature atau degree of relevance.Teori relevansi yang dikembangkan oleh Sperber dan Wilson merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. kedua. Setiap pembaca dapat memahami bahwa pesan ini hanya berlaku jika ia akan meninggalkan ruangan tersebut untuk terakhir kalinya. pesan ini berada dalam spesifikasi tertentu yang disepakati oleh addresser dan addressee dalam konteks komunikasi. Contoh yang ditulis Renkema (2004: 23) di bawah ini memberikan gambaran yang cukup jelas. menetapkan tiga macam hubungan antara cue dan implicature. pemahaman penerima pesan terhadap apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan terjadi melalui beberapa tahapan. komunikasi tidak hanya memasukkan apa yang ada dalam pikiran pengirim pesan ke dalam pikiran penerima pesan. Selanjutnya. (8) A: Well. padahal A . yaitu: pertama. yaitu tidak perlu mengunci pintu jika keluar dalam batasan waktu dan situasi yang diperkirakan cukup aman. Dalam percakapan di atas. (7) Pastikan semua pintu terkunci jika meninggalkan ruangan ini. A: What weekend? B: Next weekend. penerima pesan (addressee) hanya memilih sesuatu yang dianggapnya relevan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan (addresser) dalam konteks komunikasi tertentu. Dalam teori relevansi dipelajari bagaimana sebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya. dan ketiga. bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi. Menurut mereka.

it costs 50 euros. . dalam pengertian degree of relevance. sedangkan that might be cheaper merupakan ujaran yang relevansinya lebih baik. (9) a. kedua. tingkat gangguan atau rate of imposition (R). berkenaan dengan bobot mutlak (absolute weight) tindakan tertentu dalam kebudayaan tertentu. semakin besar intensitas FTA mengancam stabilitas komunikasi. Menurut Goffman (1956). sedangkan yang kedua disebut negative face. 4. Numpang tanya. sedangkan ujaran (9b) mungkin diucapkan kepada orang yang secara sosial jaraknya lebih dekat (9a). yang dikutip oleh Jaszczolt (2002: 318). If you buy ticket when you turn up. yaitu: pertama. ujaran (9a) mungkin diucapkan pembicara yang secara sosial lebih rendah dari lawan bicaranya. misalnya mahasiswa kepada dosen atau yang muda kepada yang tua. face dapat diartikan kehormatan. Maaf. setiap partisipan memiliki dua kebutuhan dalam setiap proses sosial: yaitu kebutuhan untuk diapresiasi dan kebutuhan untuk bebas (tidak terganggu). karena semakin tinggi contextual effect maka semakin rendah ia membutuhkan processing effort. Kebutuhan yang pertama disebut positive face. Politeness (kesantunan) dalam hal ini dapat dipahami sebagai upaya pencegahan dan atau perbaikan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh FTA. dan citra diri di depan umum (public self-image).5 Kesantunan (Politeness) Konsep strategi kesantunan yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson diadaptasi dari konsep face yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog bernama Erving Goffman (1956) (Renkema 2004: 24-25). you have booked seat which costs 60 euros. misalnya bobot kedua permintaan di atas tidak terlalu besar jika kedua ungkapan tersebut ditujukan kepada saudara sendiri. dan ketiga. misalnya permintaan "May I borrow your car?" mempunyai bobot yang berbeda dengan permintaan "May I borrow your pen?". jarak sosial atau social distance (D) antara pembicara dengan lawan bicaranya. ia mengandaikan B dapat mengerti bahwa that migh be cheaper dapat berarti If you purchase a ticket now. ujaran at the weekend. Berdasarkan konsep face yang dikemukakan oleh Goffman ini. Begitu juga A. merupakan ujaran yang relevansinya rendah dan membutuhkan processing effort yang lebih besar. Dalam hal ini. maka politeness strategy semakin dibutuhkan.harus memastikan dengan jelas setiap pemesanan pembelian tiket. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 25). harga diri (self-esteem). kekuasaan atau power (P) yang dimiliki lawan bicara (Renkema 2004: 26). Dengan kata lain. Pak. "face merupakan gambaran citra diri dalam atribut sosial yang telah disepakati". Brown dan Levinson (1978) membangun teori tentang hubungan intensitas FTA dengan kesantunan yang terrealisasi dalam bahasa (Renkema 2004: 25). boleh tanya? b. Intensitas FTA diekspresikan dengan bobot atau weight (W) yang mencakup tiga parameter sosial. Contoh. Menurut Goffman (1967: 5). Mas? Dalam contoh di atas terlihat jelas.

Leech (dalam Eelen 2001: 8) menyebutkan enam bidal kesantunan. bidal kerendahhatian (modesty maxim). Pakar ini membahas teori kesantunan dalam kerangka retorika interpersonal (Eelen 2001: 6). dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis. salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. Atas dasar ini. Kelima strategi tersebut diurut berdasarkan tingkat resiko "kehilangan muka". seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4). 5. tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis. Secara umum. Dalam hal ini. I'm sorry I have to ask. seperti diungkapkan oleh Renkema (2004: 26). dapat dilakukan. meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris. Dalam hal ini. dapat dipahami. melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. bahwa komunikasi tetap dapat . maka semakin kecil kemungkinan pembicara melakukan FTA. sedangkan politeness yang dilakukan untuk tujuan sebaliknya disebut respect politeness. Pragmatik dalam Linguistik Seperti telah saya uraikan sedikit dalam sub 3 di atas. (off record) Teori kesantunan lain dibahas oleh Leech (1983). yang bertujuan untuk mendapatkan positive face disebut solidarity politeness. Berkaitan dengan politeness strategy ini. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat banyak cara untuk menghindari FTA yang dapat direduksi menjadi lima macam cara. (baldly) b. bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. semakin tinggi resiko kehilangan muka. dapat dilakukan. Hey. dan memang sering kita temukan. lend me a hundred dollars. Renkema (2004: 27) memberi contoh strategi tersebut. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 19). ditambah bidal pertimbangan (consideration maxim). Dalam kehidupan sehari-hari. I'm out of cash! I forgot to go to the bank today. but could you lend me a hundred dollars? (negative polite) e. misalnya dengan pujian. bidal pujian (approbation maxim). Brown dan Levinson (1978).Politeness. Dalam sintaksis. penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis. dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal. dan. Lebih tepatnya. bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat. (5) a. Hey. misalnya dengan melakukan tindakan yang tidak kooperatif dalam komunikasi (Renkema 2004: 25). dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi. yaitu bidal kebijaksanaan (tact maxim). bidal simpati (sympathy maxim). could you lend me a hundred bucks? (positive polite) c. sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya. sehingga bentuk seperti kucing menyapu halaman. friend. bidal kedermawanan (generosity maxim). Oh no. pertama. bidal kesetujuan (aggreement maxim). face work technique.

dan maksud dari tuturan. dan kedua. karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa.berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis. pertama. dapat bertentangan dengan prinsip lain. yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa. patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan . sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi. semantik terikat pada kaidah (rule-governed). Berdasarkan truth conditional semantics. dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain. Selanjutnya. dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan. bagaimana memahami implikatur percakapan. tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22). yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik. di samping sintaksis dan semantik. dan kedua. meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai. dalam pengajaran bahasa. selain tata bahasa. pembahasan makna dalam semantik belum memadai. terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. terdapat keterkaitan. keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan. dalam analisis bahasa. meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda. sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif. Dengan kata lain. kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. makna apa yang dituturkan. dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur. absolut atau bersifat mutlak. sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). Dengan kata lain. untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa seharihari. Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada. Kegunaan pragmatik. Selanjutnya. untuk dapat dinyatakan benar. sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis. Tentang perbedaan yang pertama. semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan. Dengan demikian. dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa. bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis. Namun demikian. sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik. dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya. dalam arti praktis. Kaidah bersifat deskriptif. sebab daya mencakup juga makna. sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya. semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis. misalnya. saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). Lebih jauh lagi. untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik. yaitu bahwa pengetahuan pragmatik. Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik. Dengan demikian. dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik.

K. John L. 1978. Cambridge: Cambridge University Press. misalnya. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). Manchester. 2004. How to Do Things with Word (edisi kedua). Edinburgh: Pearson Education. Brown. pragmatik berperan dalam pengembangan kompetensi komunikatif. dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence). pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. Daftar Acuan Austin. . berkaitan dengan ketidakmampuan sintaksis dan semantik dalam menjelaskan fenomena penggunaan bahasa sehari-hari. bahasa yang digunakan harus baik. Penutup Seperti telah disebutkan di muka. Jan. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. Oxford: Oxfod University Press. Selain itu.. Eelen. UK: St. pragmatik merupakan satu-satunya tataran dalam linguistik yang mengkaji bahasa dengan memperhitungkan juga penggunanya. Introduction to Discourse Studies. 6. Berdasarkan penjelasan di atas. karena selain benar. pertama. Jerome Publishing Gunarwan. dan Stephen C. Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse. berkaitan dengan pengajaran bahasa. Politeness: Some Universal in Language Usage. Dalam pengajaran bahasa Indonesia. yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu. pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya. saya melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik setidaknya dalam dua hal. Penelope. IKIP Singaraja. A Critique of Politeness Theories.M. kedua. dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa. Gino. Asim.tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik. Dalam pengajaran bahasa asing. Renkema. Secara umum. 2002. 2001. 1962. saya melihat kedudukan semantik dan pragmatik sebagai dua hal yang saling melengkapi. Jaszczolt. 2004. Levinson. tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa pragmatik penting dipelajari dalam program studi linguistik.

satu maksud atau satu fungsi dapat diungkapkan dengan berbagai bentuk/struktur. Berbagai tindak tutur (TT) yang terjadi di masyarakat. komisif. bagaimanakah TT yang dilakukan oleh orang Jawa apabila ingin menyatakan suatu maksud tertentu. Kajian pragmatik lebih menitikberatkan pada ilokusi dan perlokusi daripada lokusi sebab di dalam ilokusi terdapat daya ujaran (maksud dan fungsi tuturan). atau kombinasi dari dua/lebih TT tersebut. Di dalam komunikasi. Yule. 1995. ekspresif.Thomas. Dengan demikian. Pragmatics. ya? . Jenny. yang ada barulah makna kata/kalimat yang diujarkan. direktif. nyilih µmeminjam¶. Misalnya. TT langsung dan tidak langsung. Pragmatik berbeda dengan semantik dalam hal pragmatik mengkaji maksud ujaran dengan satuan analisisnya berupa tindak tutur (speech act). dia dapat memilih satu di antara tuturan-tuturan berikut: (1) Jupukna kapur! (2) Kene ora ana kapur. kalimat deklaratif. penutur dapat mengungkapkannya dengan kalimat imperatif. merupakan bahan sekaligus fenomena yang sangat menarik untuk dikaji secara pragmatis. PRAGMATIK pragmatics (n) . Dengan kata lain. (5) Ing kene ora ana kapur. Oxford. Sementara itu. jebul ora ana kapur. perlokusi berarti terjadi tindakan sebagai akibat dari daya ujaran tersebut. Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics. kajian ini mencoba menjelaskan aspek-aspek struktur bahasa dengan mengacu ke pengaruh-pengaruh dan sebabsebab nonbahasa. satu maksud atau satu fungsi dapat dituturkan dengan berbagai bentuk tuturan. njaluk µmeminta¶. Artinya. Pragmatik dan Fungsi Bahasa Bidang ³pragmatik´ dalam linguistik dewasa ini mulai mendapat perhatian para peneliti dan pakar bahasa di Indonesia. dan cara. Hal itu sesuai dengan pengertian pragmatik yang dikemukakan oleh Levinson (1987: 5 dan 7).pragmatik . dan deklaratif. kualitas. pragmatik lebih cenderung ke fungsionalisme daripada ke formalisme. 1996. atau bahkan dengan kalimat interogatif. maupun TT harafiah dan tidak harafiah. (3) Ibu ngersakake kapur. serta skala pragmatik dan derajat kesopansantunan yang dikembangkan oleh Leech (1983). di dalam lokusi belum terlihat adanya fungsi ujaran. dan ngapura µmemaafkan¶. seorang guru yang bermaksud menyuruh muridnya untuk mengambilkan kapur di kantor.pragmatika pragmatis (adj) : melihat sesuatu dari kegunaan pragmatisme: aliran yang melihat sesuatu dari kegunaan Dalam komunikasi. baik TT representatif. Pengkajian TT tersebut tentu menjadi semakin menarik apabila peneliti mau mempertimbangkan prinsip kerja sama Grice dengan empat maksim: kuantitas. ngelem µmemuji¶. Fungsi bahasa yang paling utama adalah sebagai sarana komunikasi. George. janji µberjanji¶. Untuk maksud ³menyuruh´ orang lain. (4) O. Oxford University Press. London/New York: Longman. sedangkan semantik menelaah makna satuan lingual (kata atau kalimat) dengan satuan analisisnya berupa arti atau makna. pragmatik adalah kajian mengenai penggunaan bahasa atau kajian bahasa dan perspektif fungsional. hubungan. seperti ngongkon µmenyuruh¶. menging µmelarang¶. Bidang ini cenderung mengkaji fungsi ujaran atau fungsi bahasa daripada bentuk atau strukturnya. pragmatik lebih cenderung ke fungsionalisme daripada ke formalisme. Misalnya.

2. 4. (a) Semantik mempelajari makna. 3. membutuhkan 53 halaman hanya untuk menerangkan apakah pragmatik itu dan apa saja yang menjadi cakupannya. 1996: 2). tindak tutur. dan apa fungsi ujaran itu. kepada siapa. terutama hubungan antara kalimat dengan konteks dan situasi pemakaiannya. cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal. Satuan-satuan lingual dalam penggunaannya. yakni siapa yang berbicara. Definisi pragmatik: 1. Berkaitan dengan perbedaan (c) ini. 1983). (b) Kalau semantik bertanya ³Apa makna X?´ maka pragmatik bertanya ³Apa yang Anda maksudkan dengan X?´ (c) Makna di dalam semantik ditentukan oleh koteks. yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan. (3) Pragmatik adalah kajian bahasa dan perspektif fungsional. misalnya. (1) Pragmatik adalah kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan penafsirnya. kalimat deklaratif seperti tuturan (2-4). sedangkan makna di dalam pragmatik ditentukan oleh konteks. yakni bagaimana satuan kebahasaan digunakan dalam komunikasi (Wijana. yaitu makna kata dan makna kalimat. (2) Pragmatik adalah kajian mengenai penggunaan bahasa. 1996: 3). atau kalimat interogatif seperti tuturan (5-6). (6) Pragmatik adalah kajian mengenai bagaimana bahasa dipakai untuk berkomunikasi. Yang jelas . (5) Pragmatik adalah kajian mengenai deiksis. sedangkan semantik adalah kajian mengenai makna. sedangkan pragmatik bersifat terikat konteks (context dependent)´ (bandingkan Wijana. cabang ilmu bahasa yang menelaah penggunaan bahasa. sedangkan semantik adalah kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan objek yang diacu oleh tanda tersebut. secara pragmatis. Di sini dikutipkan beberapa di antaranya yang dianggap cukup penting. PRAGMATIK VS SEMANTIK Sebelum dikemukakan batasan pragmatik kiranya perlu dijelaskan lebih dahulu perbedaan antara pragmatik dengan semantik. Kaswanti Purwo (1990: 16) merumuskan secara singkat ³semantik bersifat bebas konteks (context independent). studi kebahasaan yang terikat konteks. Levinson (1987: 1-53). Jadi. artinya kajian ini mencoba menjelaskan aspek-aspek struktur linguistik dengan mengacu ke pengaruh-pengaruh dan sebab-sebab nonlinguistik. bagaimana. sedangkan pragmatik mempelajari maksud ujaran. bilamana. studies meaning in relation to speech situation (Leech. Cukup banyak kiranya batasan atau definisi mengenai pragmatik. praanggapan. (4) Pragmatik adalah kajian mengenai hubungan antara bahasa dengan konteks yang menjadi dasar dari penjelasan tentang pemahaman bahasa. di mana. Dari beberapa definisi tersebut dapat dipahami bahwa cakupan kajian pragmatik sangat luas sehingga sering dianggap tumpang tindih dengan kajian wacana atau kajian sosiolinguistik. implikatur. dan aspekaspek struktur wacana.(6) Ngapa ora padha gelem njupuk kapur? Dengan demikian untuk maksud ³menyuruh´ agar seseorang melakukan suatu tindakan dapat diungkapkan dengan menggunakan kalimat imperatif seperti tuturan (1). kalimat berita (deklaratif) dan kalimat tanya (interogatif) di samping berfungsi untuk memberitakan atau menanyakan sesuatu juga berfungsi untuk menyuruh (imperatif atau direktif).

dan pragmatik yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan penafsir (interpreters). 3. Levinson telah mengumpulkan sejumlah batasan pragmatik yang berasal dari berbagai sumber dan pakar. anggapan penutur (presupposition). 4. yang mempunyai perhatian besar pada ilmu pengetahuan tentang tanda-tanda. kalimat. 1. Makna sebuah tuturan itu penggunaannya. Contoh: Kok. yang dapat dirangkum seperti berikut ini. Secara kasar dapat dirumuskan: pragmatik = makna . Witgenstein (filsuf): makna adalah penggunaannya. atau masalah). melainkan tindak tutur atau tindak ujaran (speech act). Cabang-cabang bahasa: Fonologi: bunyi sebagai sistem Morfologi: satuan gramatikal terkecil. Teori pragmatik menjelaskan alasan atau pemikiran para pembicara dan penyimak dalam menyusun korelasi dalam suatu konteks sebuah tanda kalimat dengan suatu proposisi (rencana. Pemakaian istilah pragmatik (pragmatics) dipopulerkan oleh seorang filosof bernama Charles Morris (1938). klausa. 5. Stephen C. Semantik: makna (biasanya leksikal). Pragmatik adalah telaah mengenai hubungan tanda-tanda dengan penafsir (Morris. dan aspek struktur wacana. Pragmatik adalah telaah mengenai deiksis. wacana. yaitu: sintaktik (syntactics) atau sintaksis (syntax) yaitu telaah tentang relasi formal dari tanda yang satu dengan tanda yang lain (mempelajari hubungan satuan lingual dengan satuan lingual lain: tanda dengan tanda). Dalam semiotik. Morris membedakan tiga cabang yang berbeda dalam penyelidikan. 1938:6). semantik (semantics) yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan objek di mana tanda-tanda itu diterapkan (ditandainya) (atau hubungan antara penanda dan petanda (signifiant dan signifie/yang ditandai)). Pragmatik adalah telaah mengenai relasi antara bahasa dan konteks yang merupakan dasar bagi suatu catatan atau laporan pemahaman bahasa. implikatur. Pragmatik adalah telaah mengenai hubungan antara bahasa dan konteks yang tergramatisasikan atau disandikan dalam struktur sesuatu bahasa.kondisi-kondisi kebenaran. dengan kata lain: telaah mengenai kemampuan pemakai bahasa menghubungkan serta menyerasikan kalimat-kalimat dan konteks-konteks secara tepat. Ketiga cabang tersebut kemudian lebih dikenal dengan teori trikotomi. atau dengan perkataaan lain: memperbincangkan segala aspek makna ucapan yang tidak dapat dijelaskan secara tuntas oleh referensi langsung kepada kondisi-kondisi kebenaran kalimat yang ciucapkan. Pragmatik sebenarnya merupakan bagian dari ilmu tanda atau semiotics atau semiotika. tindak ujar.disepakati ialah bahwa satuan kajian pragmatik bukanlah kata atau kalimat. sudah pulang! Isteri: ¶betul-betul terkejut¶ atau ¶orang itu lama sekali perginya¶ Suami menafsirkan: siapa yang berbicara. Pragmatics is the study of how language is used to communicate. internal atau formal diadik: bentuk dan makna . 2. Parker (1986: 11). Pragmatik adalah telaah mengenai segala aspek makna yang tidak tercakup dalam teori semantik. situasinya bagaimana? L. pragmatics is distinct from grammar. Sintaksis: frase. Dalam hal ini teori pragmatik merupakan bagian dari performansi. atau semiotik (semiotics). kepada siapa. which is the study of the internal structure of language.

Semantik: makna linguistik (makna). Asal-usul dan perilaku historis istilah pragmatik Pemakaian istilah pragmatik (pragmatics) dipopulerkan oleh seorang filosof bernama Charles Morris (1938). Makna itu berubah-ubah tergantung pada konteksnya. bersifat internal.Pragmatik: cabang ilmu bahasa yang mempelajari makna satuan kebahasaan yang bersifat eksternal / bagaimana satuan kebahasaan itu dikomunikasikan eksternal atau fungsional triadik: bentuk. Contoh semantika: kursi signifiant (penanda) Terdapat suatu prinsip: ¶tempat duduk¶ signifie (petanda) . dilihat dari berbagai faktor . makna. Good morning! dipengaruhi oleh hukum pragmatik. Mempelajari bagaimana satuan lingual itu ditafsirkan. yang mempunyai perhatian besar pada ilmu pengetahuan tentang tanda-tanda. ada hal-hal yang tidak langsung ¶indirectness atau secara tidak literal¶. yaitu: sintaktik (syntactics) atau sintaksis (syntax) yaitu telaah tentang relasi formal dari tanda yang satu dengan tanda yang lain. Ketiga cabang tersebut kemudian lebih dikenal dengan teori trikotomi. atau telaah konsep abstrak tertentu yang membuat acuan pada pelaku (agents) (satu gagasan dari Carnap). Morris memberikan contoh interjeksi seperti Oh!. Pragmatik: bagaimana orang menafsirkan. Come here!. apik maksud: bisa tidak baik. atau akhirnya pemakaian dalam linguistik Anglo-American dan filsafat. Contoh: Sugeng enjing! makna: menyapa maksud: tergantung siapa yang berbicaraatau maksud lain. makna dalam penutur. atau semiotik (semiotics). sebenarnya semantik sudah ada pragmatik. dan maksud. Jadi. atau studi istilah indeksikal atau deiktis (deictis) (gagasan Montague). yaitu bahwa variasi retoris dan alat puitis hanya muncul di bawah kondisi tertentu dalam batas-batas pemakaian bahasa. Akhirnya pengarang menyimpulkan bahwa perbedaan pemakaian istilah pragmatik ditimbulkan dari bagian asal-usul semantik karya Morris. misalnya menyindir atau memarahi. semantik (semantics) yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan objek di mana tanda-tanda itu diterapkan (ditandainya). Baik! makna: baik. dan pragmatik yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan penafsir (interpreters). Buku ini secara eksklusif menyangkut istilah pada gagasan yang terakhir dan menerapkannya pada pembicaraan ini. Dalam semiotik. Pragmatik: makna penutur (maksud). Morris membedakan tiga cabang yang berbeda dalam penyelidikan. yaitu suatu telaah dari sebagian besar jajaran fenomena psikologis dan sosiologis yang mencakup sistem tanda pada umumnya atau dalam bahasa tertentu (the Continental sense of the term).

2. ayah dengan anak. . Tuturan semakin panjang tuturan semakin sopan. semakin pendek tidak sopan. ²-> terkait dengan wacana. Sosiolinguistik: berkaitan dengan variasi bahasa. (Contoh: Nyilih sepedha motore (tidak sopan) dan Menawa pareng. Verhaar (Pengantar Lingguistik Umum): . Data pragmatik: utterance (kalimat + konteks). karena: jelas kapan bahasa itu digunakan siapa yang berbicara kepada siapa.Omahku sepi kok. jelas. 3. y Obyek data pragmatik itu konkrit. Dia pergi ke Surabaya. aku nyilih sepedha motore (lebih sopan)). Pragmatik: Satu tanda bisa menyatakan bermacam-macam maksud atau bermacam-macam tanda satu maksud. yang tidak jelas siapa penuturnya tidak jelas. semakin tidak langsung semakin sopan. Mode (bentuk bahasa): strategi memilih yang mana) Pragmatik: retorika.Noam Chomsky: Terdapat hubungan satu lawan satu antara penanda dan petanda (signifiant dan signifie). bagaimana strateginya. + Piye bijimu . Ayahnya sakit. Makna kongkrit: makna tuturan. Contoh: ¶menolak¶ bisa dinyatakan dengan .Maksud : ada pada penutur (eksternal) .Informasi : isi tuturan (internal) Dia membeli buku Buku dibelinya makna: µaktif¶ dan µpasif¶ Makna yang abstrak. Berkenaan dengan data: Data kalimat : sentence. J. Tenor (pelibat): misalnya.Ora duwe dhuwit. Obyek data primer adalah bahasa lisan. 2. Bahasa tulis juga bisa asalkan mampu merekonstruksi tuturan yang sebenarnya.W. 1. .M.Makna : ada pada satuan lingual (internal) . o Contoh: Lunga! (tidak sopan) dan Lungaa! (lebih sopan) y Semakin langsung semakin tidak sopan. Field (medan): siapa berbicara kepada siapa.Entuk 4 + Apik! wacana pragmatik Menurut Halliday (pakar Functional Grammar): 1.

oleh Kridalaksana disebut dengan istilah ujaran): (1) regangan wicara bermakna di antara dua kesenyapan aktual atau potensial.D. wacana tidak selalu di atas kalimat. 1969.L. 1984.plus konteks.di atas kalimat plus konteks. Kalimat (sentence) . Definisi: Tuturan performatif (performative utterance): tuturan yang memperlihatkan bahwa suatu perbuatan telah diselesaikan pembicara dan bahwa dengan mengungkapkannya berarti perbuatan itu diselesaikan pada saat itu juga. (ed. 1962.Widowson: 1. 2. Searle. Prinsip-prinsip Pragmatik.O. 1989.di atas kalimat minus konteks. 1984: 2001). . Geoffrey. J. Performative (in speech . Kamus Linguistik. misalnya: dalam ujaran Saya mengucapkan terima kasih. tetapi sebenarnya ada tindakan tertentu yang baru dapat terlaksana kalau orang itu mengemukakan tuturan/bahasa. Richards. Contoh: Sugeng rawuh.minus konteks. New York: Oxford University Press. How to Do Things with Words. Dengan demikian bahasa bukan semata-mata alat untuk menyatakan sesuatu tetapi juga melakukan sesuatu. Kopi bisa marahi saya menolak atau menerima.kalimat tanya. Wacana: mengandung amanat yang lengkap. Jack dkk. Longman Dictionary of Applied Linguistics. 3. Jakarta: PT Gramedia. 4. Speech Acts. Filosof J. Leech. Tuturan (utterance) . Tuturan (utterance. Jakarta: Universitas Indonesia. Lunga! Wacana. Arep? melek terus. Oka). Neng ngendi sabune? teks tidak jelas konteksnya. (Terjemahan M.D. Longman: Longman Group UK Limited. Wacana (discourse) . Austin membedakan antara tuturan performatif (performativei) dan konstatif (constative). Teks (texs) .L. (2) kalimat atau bagian kalimat yang dilisankan (Kridalaksana. Urmson). Harimurti Kridalaksana. John. Jadi. Cambridge: Cambridge University Press. J. Intinya: bahasa pada umumnya sebagai alat komunikasi. TUTURAN PERFORMATIF DAN TUTURAN KONSTATIF Pustaka: Austin. 1993. 1984: 2001). pembicara mengujarkannya dan sekaligus menyelesaikan perbuatan ³mengucapkan´ (Kridalaksana.

Austin dalam menentukan ciri-ciri tuturan performatif ini hanya melihat aspek gramatikalnya saja. kalau tidak berarti bukan tuturan performatif). (Tindakan menyatakan/menikahkan: the act of marrying). Syarat itu juga belum cukup. 1.act theory): an utterance which performs an act. 3. Harus diucapkan sungguh-sungguh. tetapi sebagai tepat atau tidak tepat. Orang yang menyatakan tuturan dan tempatnya harus sesuai atau cocok. 4. Tuturan harus mempredikasi tindakan yang akan dilakukan oleh penutur. Tuturan harus mempredikasi tindakan yan g akan dilakukan. Ciri-ciri tindakan performatif  Subyek harus orang pertama.. pendeta. Penutur harus yakin bahwa ia mampu melakukan tindakan itu. (Tindakan mohon maaf: the act of apologizing). Misalnya: Saya berjanji akan setia. (Tindakan menyerahkan: the act of bequeting). Misalnya: Saya mohon maaf atas kesalahan saya. tempatnya di KUA. Tuturan performatif tidak dievaluasi sebagai benar atau salah. (Tindakan berterima kasih: the act of thanking) 2. subjek orang pertama dan kala-nya present tense. (Tindakan memberi nama: the act of naming). Akhirnya direvisi (dilengkapi) oleh murid-muridnya. maka tuturan itu dikatakan tidak valid (infelicition). Tuturan konstatif atau deskriptif (constative utterance): tuturan yang dipergunakan untuk menggambarkan atau memerikan peristiwa. Tindakan harus dilakukan secara sungguh-sungguh oleh kedua belah pihak. Penuturnya adalah penghulu (naib). tidak dengan tindakan menginjak kaki mitra tutur-nya.  Tindakan sedang/akan dilakukan Kalau dalam bahasa Inggris. Syarat-syarat itu antara lain: 1. kemudian diperbaharui lagi oleh John Searle. 2. misalnya: I promise that I shall be there (Saya berjanji bahwa saya akan hadir di sana) dan performatif primer atau tuturan primer I shall be there (Saya akan hadir di sana) (Geoffrey Leech (terjemahan). bukan oleh orang lain. Saya nyatakan Anda berua suami-isteri. Saya namakan anak saya Parikesit. Misalnya: Saya nyatakan Anda berdua suami-isteri. Secara ringkas dikatakan pula bahwa tuturan performatif adalah tuturan untuk melakukan sesuatu (perform the action). 7. Gereja. proses. dan sifatnya betul atau tidak betul . 1993: 280). rama. Misalnya: Saya berjanji akan setia padamu. atau mampu melakukan apa yang dinyatakan dalam tuturannya. 5. Pura. (Tindakan pergi: the act of going). Masjid. Contoh lain: 1. ((Richards dkk. Misalnya: Aku njaluk pangapura marang sliramu. bukan yang telah dilakukan. (the act of promising). Penutur harus memiliki niat yang sungguh-sungguh dalam mengemukakan tuturannya. yaitu dengan adanya syarat-syarat lainnya yang disebut syarat tuturan performatif (felicity condition). Saya berterima kasih atas kebaikan Saudara. 1989: 212). bukan orang kedua atau ketiga. objeknya 2 orang (berdua). Saya mohon maaf atas keterlambatan saya. Saya akan pergi sekarang. 3. I promise not to be late (= a promise). Saya serahkan semua harta saya kepada anak saya. (Orang perta dan kedua melakukan tindakan secara sungguh-sungguh). Misalnya: Saya berjanji bahwa saya akan selalu datang tepat waktu. 5. (Tindakan bertaruh: the act of betting). keadaan. 6. Saya bertaruh Mike Tyson pasti menang. Kalau tuturan tidak memenuhi kelima syarat tersebut. 4. Misalnya: Sesuk kowe tak-tukokke sepur (yakin tidak. 2. Tindakan harus dilakukan secara sungguh-sungguholeh penutur. dsb. tumindakku kang ora ndadekake renaning penggalihmu. sebagai berikut. such as Watch out (=a warning).

A constative is an utterance which assert something that is either true or false. penerimaan akan tawaran (acceptation of offers) B. tawaran (offers). ilokusi. 1984: 154) Speech act: an utterance as a functional unit in communication (Richards et al. Jadi. yaitu tindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan kalimat sesuai dengan makna kata itu (di dalam kamus) dan makna kalimat itu sesuai dengan kaidah sintaksisnya. Di dalam pengucapan kalimat ia juga ³menindakkan´ sesuatu. Ia membedakan tiga jenis tindakan yang berkaitan dengan ujaran. Lokusi adalah semata-mata tindak berbicara. Saya tidur di hotel. Ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu. ia juga menindakkan sesuatu. Di dalam mengatakan suatu kalimat. seseorang tidak semata-mata mengatakan sesuatu dengan pengucapan kalimat itu. yakni menawarkan minuman. TINDAK TUTUR (Speech Act) A. ajakan (invitation). TINDAK TUTUR DAN JENIS-JENISNYA Tindak tutur (selanjutnya TT) atau tindak ujaran (speech act) mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam pragmatik karena TT adalah satuan analisisnya. atau Austin mengatakan bahwa tuturan konstatif dapat dievaluasi dari segi benar-salah (Geoffrey Leech (terjemahan). tanpa bermaksud untuk minta minum. yaitu lokusi. di samping memang mengucapkan kalimat tersebut.. ³Aku ngelak´ yang diujarkan oleh P dengan maksud µminta minum¶ adalah sebuah tindak ilokusi. dan perlokusi. Uraian berikut memaparkan klasifikasi dari berbagai jenis TT. speech event): pengujaran kalimat untuk menyatakan agar suatu maksud dari pembicara diketahui pendengar (Kridalaksana. Jadi. Seorang ibu rumah pondokan putri. 1989: 212-213). Ali pergi ke Jakarta 2. Ilokusi. ia juga menindakkan sesuatu. 1989: 265). Secara singkat. untuk apa ujaran itu dilakukan. for example. 1993: 316). permintaan (requests). apabila seorang penutur (selanjutnya disingkat P) Jawa mengujarkan ³Aku ngelak´ dalam tindak lokusi kita akan mengartikan ³aku´ sebagai µpronomina persona tunggal¶ (yaitu si P) dan ³ngelak´ mengacu ke µtenggorokan kering dan perlu dibasahi¶. Dengan pengucapan kalimat Arep ngombe apa? si pembicara tidak semata-mata menanyakan atau meminta jawaban tertentu. Misalnya: 1. mengatakan Sampun jam sanga ia tidak semata-mata memberi tahu keadaan jam pada waktu itu.1 Lokusi. 3. jika MT melakukan tindakan . dan Perlokusi Austin (1962) dalam How to do Things with Words mengemukakan bahwa mengujarkan sebuah kalimat tertentu dapat dipandang sebagai melakukan tindakan (act). Perlokusi mengacu ke efek yang ditimbulkan oleh ujaran yang dihasilkan oleh P. Pengertian Tindak tutur (istilah Kridalaksana µpertuturan¶ / speech act. pemberian izin (permissons). antara lain.. perlokusi adalah efek dari TT itu bagi mitra-tutur (selanjutnya MT). yaitu memerintahkan si mitratutur supaya pergi meninggalkan rumah pondokannya. Jadi. Hal-hal apa sajakah yang dapat ditindakkan di dalam berbicara? Ada cukup banyak. Di sini maksud atau fungsi ujaran itu belum menjadi perhatian. Di sini kita mulai berbicara tentang maksud dan fungsi atau daya ujaran yang bersangkutan.(Kridalaksana. 1984: 2001). Chicago is in the United States (Richards dkk.

Untuk maksud atau fungsi ³menyuruh´. mengizinkan. (2) TT direktif yaitu TT yang dilakukan P-nya dengan maksud agar si pendengar atau MT melakukan tindakan yang disebutkan di dalam ujaran itu. melaporkan. mengucapkan terima kasih. dan menantang. 1993: dapat diungkapkan dengan menggunakan berbagai ujaran sebagai berikut. dan mengeluh. menunjukkan. Kelima TT itu sebagai berikut: (1) TT representatif yaitu TT yang mengikat P-nya kepada kebenaran atas apa yang dikatakannya.3 TT Langsung vs TT Tidak Langsung Dari sembilan bentuk ujaran tersebut diperoleh sembilan TT yang berbeda-beda derajat kelangsungannya dalam menyampaikan maksud µmenyuruh memindahkan meja¶ itu. Ekspresif. Hal ini berkaitan dengan tindak tutur langsung (TT-L) dan tindak tutur tidak langsung (TT-TL). (5) TT deklaratif merupakan TT yang dilakukan P dengan maksud untuk menciptakan hal (status. dan sebagainya) yang baru. (1) Kalimat bermodus imperatif : Pindhahen meja iki! (2) Performatif eksplisit : Dakjaluk sliramu mindhahke meja iki! (3) Performatif berpagar : Aku jan-jane arep njaluk tulung sliramu mindhahke meja iki. misalnya memuji. Direktif. menuntut. misalnya menyuruh.2 TT Representatif. melarang. keadaan. (6) Rumusan saran : Piye yen meja iki dipindhah? (7) Persiapan pertanyaan : Kowe bisa mindhah meja iki? (8) Isyarat kuat : Yen meja iki ana ing kene. Dari kesembilan bentuk ujaran tersebut. (3) TT ekspresif ialah TT yang dilakukan dengan maksud agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi mengenai hal yang disebutkan di dalam ujaran itu. misalnya memutuskan. (4) TT komisif adalah TT yang mengikat P-nya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam ujarannya. (9) Isyarat halus : Kamar iki kok katone sesak ngono ya? 3. Karena kata ³meja´ sama sekali tidak disebutkan .mengambilkan air minum untuk P sebagai akibat dari TT itu maka di sini dapat dikatakan terjadi tindak perlokusi. memohon. membatalkan. Pada bagian terdahulu telah disinggung bahwa di dalam komunikasi satu fungsi dapat dinyatakan atau diutarakan melalui berbagai bentuk ujaran. menurut Blum-Kulka (1987) (lihat Gunarwan. yang paling samar-samar maksudnya ialah bentuk ujaran (9). dan memberi maaf. Derajat kelangsungan dapat pula diukur berdasarkan kejelasan pragmatisnya: makin jelas maksud ujaran makin langsunglah ujaran itu. mengritik. berupa isyarat halus. misalnya menyatakan. Derajat kelangsungan TT dapat diukur berdasarkan ³jarak tempuh´ antara titik ilokusi ( di benak P) ke titik tujuan ilokusi (di benak MT). Komisif. dan sebaliknya. (4) Pernyataan keharusan : Sliramu kudu mindhahke meja iki! (5) Pernyataan keinginan : Aku kepengin meja iki dipindhah. kamar iki katon rupek. 1993: 11-54). dan menyebutkan. dan Deklaratif Searle (1975) mengembangkan teori TT dan membaginya menjadi lima jenis TT (dalam Ibrahim. misalnya berjanji dan bersumpah. misalnya. 3. menyarankan.

P dapat juga menggunakan tindak tutur harafiah (TT-H) atau tindak tutur tidak harafiah (TT-TH) di dalam mengutarakan maksudnya. (1) Tindak tutur langsung (TT-L) (2) Tindak tutur tidak langsung (TT-TL) (3) Tindak tutur harafiah (TT-H) (4) Tindak tutur tidak harafiah (TT-TH) (5) Tindak tutur langsung harafiah (TT-LH) (6) Tindak tutur tidak langsung harafiah (TT-TLH) (7) Tindak tutur langsung tidak harafiah (TT-LTH)\ (8) Tindak tutur tidak langsung tidak harafiah (TT-TLTH) Apabila seseorang menggunakan bahasa. melukai. n meyakinkan (convinces) t bahwa P. (merupakan tindak mengatakan sesuatu: menghasilkan serangkaian bunyi yang berarti sesuatu. lebih baik jika kita semua sepakat menutup mulut kita masing-masing´. Ilokusi 3. menakutnakuti. suruhan (request) memiliki kekuatan esensial untuk membuat pendengar melakukan sesuatu. Sebagian verba yang digunakan untuk melabel tindak ilokusi bisa digunakan secara performatif. Hal ini sejalan dengan pendapat Austin (1962) yang melihat adanya tiga jenis tindak ujar. secara ringkas. Kesulitan dalam definisi ini muncul dari . tindak ilokusi (melakukan tidakan dalam mengatakan sesuatu). Misalnya: n mengatakan kepada t bahwa X. 1996: 36). Ini merupakan aspek bahasa yang merupakan pokok penekanan linguistik tradisional). digabungkan maka akan didapatkan empat macam ujaran. misalnya diucapkan oleh dokter gigi kepada pasiennya. misalnya diucapkan oleh P yang mengajak MTnya untuk tidak membuka rahasia. (Dilakukan dengan mengatakan sesuatu. Selain TT-L dan TT-TL. dan mencakup tindaktindak seperti bertaruh. dan memesan. Persuasi merupakan tindak perlokusi: orang tidak dapat mempersuai seseorang tentang sesuatu hanya dengan mengatakan Saya mempersuasi anda.) Dengan mengatakan X. misalnya diucapkan oleh seseorang yang jengkel kepada MT-nya yang selalu ³cerewet´. yaitu lokusi. Dengan demikian. dan perlokusi. Contoh-contoh yang sesuai adalah meyakinkan. berjanji. yaitu tindak lokusi (melakukan tindakan mengatakan sesuatu). (2) TT-LTH : ³Tutup mulut´. (3) TT-TLH : ³Bagaimana kalau mulutnya dibuka?´. Perlokusi Perbedaan kekuatan antara perlokusi dan ilokusi tidak selalu jelas. berdasarkan uraian dan contoh-contoh di atas dapat dicatat ada delapan TT sebagai berikut (bandingkan Wijana. ilokusi. Dengan demikian mengatakan Saya menolak bahwa X sama halnya menolak bahwa X. kelangsungan dan keharafiahan ujaran. dan tindak perlokusi (melakukan tindakan dengan mengatakan sesuatu). (4) TT-TLTH : ³Untuk menjaga rahasia. n menegaskan (asserts) bahwa P. Lokusi 2. yaitu: (1) TT-LH : ³Buka mulut´. maka MT harus mencari-cari konteks yang relevan untuk dapat menangkap maksud P. Jika kedua hal itu. (Menghasilkan efek tertentu pada pendengar. menolak. dan membuat tertawa) 1. maka ada 3 jenis tindakan atau tindak tutur (selanjutnya disingkat TT).oleh P dalam ujaran (9). Misalnya. misalnya diucapkan oleh dokter gigi kepada pasien yang masih kecil agar anak itu tidak takut. Dalam mengatakan X.

Tempat itu jauh Lokusi Perlokusi Tempat itu jauh. Tindak tutur langsung-tidak langsung dan literal-tidak literal Berdasarkan isi kalimat atau tuturannya. kalimat dapat dibedakan menjadi 3 macam. memperingatkan. perbuatan yang dilakukan dalam mengujarkan sesuatu atau melakukan sesuatu. dsb. kalimat atau tuturan dapat dibedakan menjadi tuturan langsung dan tutran tidak langsung. TT lokusi: Austin.´ C. dll. perbuatan bertutur. Searle.urutan tindakan yang banyak diabaikan oleh teori tindak tutur. Ibunya di rumah! (bisa bermaksud melarang datang menemui anaknya) Bapaknya galak! (bisa melarang jangan ke sana) Saya tidak dapat datang. TT perlokusi: Austin. 1. kalimat tanya (interogatif). ajakan. Misalnya: . Kaki manusia dua. untuk apa. bertanya (illocutionary speech act). Tempat itu jauh. kapan. Pohon punya daun. tidak (apa. Lokusi Tempat itu jauh. perintah biasa dan TT langsung (direct speech) TT langsung (direct speech) Berdasarkan mudusnya. mis. TT ilokusi: Austin. hal mengungkapkan sesuatu atau menyatakan sesuatu (locutionary speech act). siapa. 1993: 115). mengandung pesan. dan kalimat perintah (imperatif). Syukur Ibrahim. metapesan µJangan pergi ke metapesan (Dalam pikiran sana!¶ mitratutur ada keputusan) ³Saya tidak akan pergi ke sana. TT ini sangat sedikit peranannya dalam pragmatik. (minta maaf) Kula nyuwun sekilo. Misalnya: Dia sakit.) TT langsung (direct speech) Perintah Pergi! larangan. yang merupakan keadaan psikologis yang tidak bisa diobservasi (lihat Abd. ke mana. Wacana-wacana ilmiah yang tidak menekankan emosi termasuk TT lokusi. 2. Misalnya: Saya berjanji. Berita Adiknya sakit. intonasi) informasi (apa. di mana. Kesulitan itu juga muncul dari dasar definisi maksud penutur. (membeli) Temboknya dicat! (jangan dekat tembok itu) Adoh lho le! (jangan ke sana) 3. Informasi Tanya Di mana handuk saya? ya. Searle. perbuatan yang dilakukan dengan mengujarkan sesuatu. membuat orang lain percaya akan sesuatu dengan mendesak orang lain untuk berbuat sesuatu. atau mempengaruhi orang lain (perlocutionary speech act) Misalnya: Tempat itu jauh. yaitu kalimat berita (deklaratif).

Buka mulutnya! (makna lugas: buka). Misalnya. TT tidak langsung 3. (ada maksud: jangan pergi ke sana). 4. yang jelek dikatakan bagus (disebut µironi¶). kurang . suara radionya keras sekali. TT langsung literal 6. TT langsung TT tidak langsung TT literal TT tidak literal TT langsung literal TT tidak langsung literal TT langsung tidak literal TT tidak langsung tidak literal betul-betul kurang keras. Beli sana! Kadang-kadang secara pragmatis kalimat berita dan tanya digunakan untuk memerintah. Hal ini merupakan sesuatu yang penting dalam kajian pragmatik. Hal ini disebut juga µnglulu¶ Dalan bahasa kadang-kadang terjadi.[Tuturan langsung] A: Minta uang untuk membeli gula! B: Ini. Tuturan tidak literal: tuturan yang tidak sesuai dengan maksud dalam tulisan/tuturan. 2. 1. TT langsung 2. TT tidak langsung literal 7. 1. 6. TT tidak literal 5. betul-betul kurang keras keraskan radionya! suara radionya keras sekali. Misalnya: 1. TT literal 4. sehingga merupakan TT tidak langsung (indirect speech). 7. nyah. (ada maksud: jangan ribut atau tengoklah!) Berdasarkan keliteralannya. 2. 3. kalimat Radione kurang banter. TT langsung tidak literal 8. literal. Tuturan literal: tuturan yang sesuai dengan maksud atau modusnya. TT tidak langsung tidak literal Misalnya. 5. [Tuturan tidak langsung] A: Gulanya habis. Adiknya sakit. Misalnya. Rumahnya jauh. 1. B: Ini uangnya. Buka mulutnya! (makna tidak lugas: tutup). tuturan dapat dibedakan menjadi tuturan literal dan tuturan tidal literal. 8. tidak langsung. matikan! Radione banter. dan tidak literal) apabila disinggungkan (diinterseksikan) dapat dibedakan menjadi 8 macam seperti sebagai berikut. yang bagus dikatakan jelek (hal ini disebut banter [bEnte]). Masing-masing tindak tutur (langsung. 2. keraskan radionya! betul-betul kurang keras.

Selanjutnya orang lain diharapkan menangkap apa (hal) yang dikemukakan. (1) Maksim kuantitas: a. Secara lebih rinci. . Kalau orang berbicara kepada orang lain pasti ingin mengemukakan sesuatu. tetapi ia harus bertanggung jawab atas penyimpangan itu. kita perlu belajar tentang µasumsi pragmatik¶.PRINSIP KERJA SAMA (Cooperative Principle) Sebelum belajar tentang µprinsip kerja sama¶. maka orang akan berbicara sejelas mungkin. Bicaralah seperlunya saja. Grice menjabarkan prinsip kerja sama itu menjadi empat maksim percakapan (periksa Gunarwan. antara P dengan MT harus saling menjaga prinsip kerja sama (cooperative principle) agar proses komunikasi berjalan dengan lancar. 1996: 46-53). Prinsip kerja sama ini terealisasi dalam berbagai kaidah percakapan. Lubis. Keempat maksim percakapan itu ialah sebagai berikut. Tanpa adanya prinsip kerja sama komunikasi akan terganggu. tidak berlebihan. Mereka harus bekerja sama. Dengan adanya 2 tujuan ini. Hanya saja dalam pragmatik terdapat penyimpangan-penyimpangan. Berikan informasi Anda secukupnya atau sejumlah yang diperlukan oleh MT. jangan mengatakan sesuatu yang tidak perlu. ada maksud-maksud tertentu. sehingga orang lain bisa mengetahui maksudnya. berbicara secara wajar (termasuk volume suara yang wajar). ringkas. tidak berbelit-belit. dan bandingkan pula Wijana. 1993: 11. 1993: 73. Contoh: kikir : q2r berdua satu tujuan : ber-217-an tekate dhewe : TKTDW kutujukan : ku¥49kan wawan : wa-one prawan ayu : pra one are you kian maju : q-an maju lali main : la5in dik daniel : dick&niel kaki lima : kq lima thank before : thx b4 aku : aq kamu :u sama-sama := yang : y9 sayang : sy9 anti gadis : an3dis dan :n Di dalam berkomunikasi. b.

Bukti cukup memadai. Katakanlah hal yang sebenarnya. (3) Maksim relevansi: a. Asumsi pragmatik ini merupakan titik acuan (point of reference). tidak bertele-tele. 2. Terdapat beberapa asumsi pragmatik. maka dalam komunikasi harus memenuhi prinsip (maksim). kalau informasi itu tidak relevan dengan permasalahan toh tidak akan membawa manfaat. b. b. Maksim relevansi Penutur dan mitra tutur berbicara secara relevan berdasarkan konteks pembicaraan. yaitu: 1. Dalam kaitannya dengan maksim kualitas. Jangan katakan sesuatu tanpa bukti yang cukup. ada maksud apa di balik pelanggaran maksim tersebut? Misalnya. bagi pengamat pragmatik. tetapi apabila ada tuturan *Buku itu dibuat dari nasi. sedangkan dalam gramatika/ tatabahasa diatur oleh kaidah (rule governed). b. (Secara kuantitas cukup jelas). Katakan yang relevan. terdapat penyimpangan maksim. c. mengapa P yang bermaksud meminjam uang atau memerlukan bantuan kepada MT biasanya diawali dengan menceritakan secara panjang lebar keadaan dirinya seraya disertai dengan janji-janji? Apakah itu berlaku secara universal? Bukankah tindakan tersebut melanggar maksim kuantitas? Pada hemat saya.(2) Maksim kualitas: a. Sejauh mana asumsi ini benar juga masih memerlukan pengkajian secara pragmatis. Akan tetapi. bukti tidak memadai. Misalnya: Buku itu dibuat dari kertas. justeru pelanggaran-pelanggaran itulah yang menarik untuk dikaji: mengapa P melakukan pelanggaran terhadap maksim tertentu. misalnya Modal saja tidak bisa dan Untung saja tidak dapat. 3. di antara empat maksim itu. (4) Maksim cara: a. Hindari ketaksaan. Kalau lebih berarti ada tujuannya. Maksim kualitas Prinsip yang menghendaki orang-orang berbicara berdasarkan bukti-bukti yang memadai. Maksim kuantitas Berbicara sejumlah yang dibutuhkan oleh pendengar. Jangan katakan sesuatu yang Anda tahu bahwa sesuatu itu tidak benar. e. di dalam percakapan sehari-hari tidak jarang kita temukan praktikpraktik pelanggaran terhadap maksim-maksim Grice tersebut.. Bicaralah secara singkat. dan tidak ambigu. Misalnya: A : Ini jam berapa? . lalu murid menjawab «. Bicaralah sesuai dengan permasalahan. Ibu kota Provinsi Jawa Timur Sura «« Tuturan ini disampaikan oleh guru. Dalam pragmatik dikontrol oleh maksim (principle controlled). sistematis. Berkatalah secara sistematis. Kenyataan membuktikan. c. Untuk memenuhi komunikasi secara wajar dan terjadi kerja sama yang baik. Hindari kekaburanan ujaran. d. baya. maksim ketiga atau maksim relevansilah yang paling penting sebab betapa pun informasi yang kita sampaikan itu cukup serta disampaikan dengan cara yang jelas. Misalnya: Ibu kota Provinsi Jawa Timur Surabaya. Katakan dengan jelas.

memerintah. Misalnya: Saya akan datang. Jadi tidak hanya bersifat tekstual. Gadis itu cantik sekali. Misalnya: Gedung itu indah sekali. tanya. tidak terbalik (harus runtut). Misalnya: Apakah Anda bisa menolong saya. tuturan impositif (direktif). masak saya miskin seperti ini punya tanah. Tuturan ekspresif: menyatakan perasaan (emosi).B : Ini jam 3. . memohon. Tuturan impositif (direktif): menyuruh. A B : Ini Tanah Abang. tuturan asertif. Tuturan komisif: berjanji. Misalnya: A : Kamu penjahat kelas kakap. Ada 6 macam prinsip agar memenuhi prinsip kesopanan. menawarkan. dan maksim cara. Misalnya: Bali terletak di sebelah timur Pulau Jawa. ya? B : Bukan. Retorika tekstual harus memenuhi 4 prinsip (maksim) kerja sama. Yang diperhatikan adalah tuturan. Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS memiliki 8 jurusan. tuturan ekspresif. Dalam kategori pragmatik didasarkan pada fungsi komunikatifnya. dia sering tampil di TVRI. B : Benar. Selanjutnya agar memenuhi prinsip (maksim) kesopanan. Keempat prinsip tersebut di atas termasuk pada jenis µretorika tekstual¶ sebab dalam pragmatik dikenal adanya retorika tekstual dan retorika interpersonal. maksim kualitas. sehingga kata-kata yang ambigu itu hanya satu makna. berikut ini inti 6 prinsip kesopanan menurut Leech. Saya akan datang (ada efek yang lain untuk memerintah) 3. 4. yaitu maksim kuantitas. Tuturan asertif: menyatakan sesuatu (objektif). Sebelum sampai pada prinsip kesopanan. Dalam kaitannya dengan kategori pragmatik ini ada tuturan komisif. Misalnya: A : Dia penyanyi solo. ya? : Jangan menghina. Akan menjadi tidak relevan misalnya apabila B menjawab Ini baju kamu atau Di sana. Tetapi kadang-kadang dalam tuturan yang wajar terjadi dis-ambiguasi (pengawaambiguan). maksim relevansi. tidak boleh ambigu (taksa). Sedangkan retorika interpersonal harus memperhitungkan orang lain. Kadang-kadang sulit dibedakan antara tuturan asertif dengan ekspresif. Maksim cara Tuturan harus dikomunikasikan secara wajar. Retorika interpersonal membutuhkan prinsip kesopanan (politeness principle). perlu mengingat kembali dari adanya kategori sintaktik yang terdiri dari berita. dan perintah. 4. mujair. Boleh saya bawakan? Saya akan setia. 1. Swear. 2.

Pekarangane jembar. Ditujukan pada diri sendiri. = memaksimalkan rasa hormat pada orang lain. = memaksimalkan kerugian diri sendiri. Apakah Anda bersedia membawakan? Bawakan ini! (tidak sopan) Mari saya antarkan! Tolong saya dihantarkan! 3. A : Omah kuwi apik banget. meminimalkan kerugian orang lain. Misalnya: A : Kau sangat pandai. 2. Misalnya: A : Omah kuwi apik.1. Pusatnya pada diri sendiri (self centred maxim). meminimalkan keuntungan diri sendiri. biasa-biasa saja. ning emane cedhak pabrik. tact maxim. Ditujukan pada orang lain (other centred maxim). apik banget. Maksim kesetujuan atau kecocokan (agreement maxim). Misalnya: Omahmu jane apik. Pusatnya orang lain (other centred maxim) Maksim ini ditujukan untuk kategori asertif dan ekspresif. meminimalkan rasa tidak hormat pada orang lain. nanging emane akeh sukete. Tuturan A dan B disebut pragmatik paradoks. ning rada «. Maksim kebijaksanaan/kedermawanan. Maksim kerendahhatian (modesty maxim). Pusatnya pada orang lain (other centred maxim). (Ketidaksetujuan total / tidak sopan) A B : Wah. Maksim penerimaan ini ditujukan untuk menawarkan dan berjanji. Maksim penerimaan (approbation maxim). Ditujukan untuk menyatakan pendapat dan ekspresif. Jenis maksim ini untuk berjanji dan menawarkan (impositif. begini saja kok bagus. B : Iya. bukan pada orang lain (self centred maxim). 5. Misalnya: Bolehkah saya bantu? Mari saya bantu. = meminimalkan rasa hormat pada diri sendiri dan memaksimalkan rasa tidak hormat pada diri sendiri. Misalnya: Ada yang bisa saya bantu? A : Mari saya bawakan! B : Tidak usah. komisif). ayu banget ya dheweke? : Iya. = memaksimalkan kesetujuan pada orang lain dan meminimalkan ketidaksetujuan pada orang lain. (kera). Maksim kemurahhatian (generosity maxim). A B : Mobilnya bagus! : Ah. 4. B : Wah elek banget ngono kok. = memaksimalkan keuntungan orang lain. B : Ah tidak. .

B : Selamat. Sebagai tataran terbaru dalam linguistik.(Ketidaksetujuan parsial / sopan) 6. Jon. Makalah ini bertujuan menjelaskan pentingnya bidang pragmatik untuk dipelajari dalam program studi linguistik. A B : Baru-baru ini dia telah meninggal. perkembangannya. LINGUISTIK: PRAGMATIK May 30. dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. dan mengabaikan unsur pengguna bahasa. ya. yaitu makna. 2. Pusatnya orang lain (other centred maxim). dan. Pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. Definisi Pragmatik Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. Meskipun memiliki fokus kajian yang serupa dengan semantik. misalnya. seperti diungkap oleh Yule (1996: 6). yaitu dengan menurunkan sistem yang terdapat dalam matematika dan logika. 2010 ramlannarie bahasa indonesia Leave a comment Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik? 1. . = memaksimalkan simpati pada orang lain dan meminimalkan antipati pada orang lain. Maksim kesimpatian (symphaty maxim). makna yang dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantik. : Oh. dengan melihat perbedaan kajiannya dengan bidang lain dalam linguistik. seperti akan saya jelaskan kemudian. Yule (1996: 3). mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara. Misalnya: A : Saya lolos di UMPTN. (3) bidang yang. menunjukkan pentingnya pragmatik. (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya. Pendahuluan Dalam jangka yang cukup lama. Untuk tujuan tersebut. saya mengawali makalah ini dengan pembahasan mengenai pengertian pragmatik. menjelaskan secara singkat topik-topik bahasannya. Ditujukan untuk menyatakan asertif dan ekspresif. yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara. melebihi kajian tentang makna yang diujarkan. menyebutkan empat definisi pragmatik. saya turut berduka cita. studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya.

misalnya Austin. mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction). Selanjutnya Thomas (1995: 22). termasuk penggunaannya. dan semantik bersifat periferal. 3. Ludwig Wittgenstein. dengan menggunakan sudut pandang sosial. pertama. dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran. Dalam etnometodologi. kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi. yang dipelopori oleh Bertrand Russell. menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). dan kedua. muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan. Kecenderungan kedua. (2) kecenderungan sosial-kritis. komunikasi tetap dapat berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak apik secara sintaksis (ill-formed). yaitu bahwa dalam kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis. seperti sering kita jumpai. bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri. Kecenderungan yang pertama. keapikan sintaksis (well-formedness) bukanlah segalanya. dan komplementarisme. dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross. pragmatisisme. Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. dan (4) tradisi etnometodologi. menolak pandangan sintaksisme Chomsky. dan bahwa fonologi. Searle. yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik. dan terutama John L. Tradisi yang ketiga. (3) tradisi filsafat. yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5). dengan menggunakan sudut pandang kognitif. Perkembangan Pragmatik Mey (1998). mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa. morfologi. dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)). bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6). bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6).Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian. adalah tradisi filsafat. Dengan kata lain. sebab. mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi. atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi. Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi. dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme. Leech (1983: 2). dalam kaitannya dengan logika. Para pakar tersebut mengkaji bahasa. tepatnya di Britania. yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross. yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik. bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya. Jerman. yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme. seperti dikutip Gunarwan (2004: 7). . Menurut Lakoff dan Ross. Searle. menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning). melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. sosial. dan Grice. Austin dan John R. yang tumbuh di Eropa.

struktur dalam ujaran tersebut dapat saja berbunyi Saya katakan bahwa rumah Joni terbakar. How to Do Things with Words. kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar karena sesuai dengan kenyataan. Austin (dalam Thomas 1995: 31) berpendapat bahwa salah satu cara untuk membuat pembedaan yang baik bukanlah menurut kadar benar atau salahnya. pragmatik neo-Gricean (Cole). Contoh. sebagai bagian dari performatif (Austin 1962: 52 dan Thomas 1995: 49). yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech-act). Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Gunarwan 2004: 8). Contoh. memasukkan ujaran konstatif. bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis. Dalam contoh (4). Austin.1 Teori Tindak-Tutur Melalui bukunya. Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. seperti Russel dan Moore. Austin berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements). Beberapa Topik Pembahasan dalam Pragmatik 4. melainkan juga melakukan sesuatu (perform actions). dan Grice). Melalui hipotesis performatifnya. yaitu. pragmatik kognitif (Sperber dan Wilson). yaitu pragmatik filosofis (Austin. (1) Ada enam kata dalam kalimat ini (2) Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono Dari contoh di atas. karena memiliki struktur dalam yang mengandungi makna performatif.4. Searle. Sebab. Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics (Thomas 1995: 30). . Austin dapat dianggap sebagai pemicu minat yang paling utama dalam kajian pragmatik. melainkan melalui bagaimana bahasa dipakai sehari-hari. sehingga kita dapat melihat sejumlah kecenderungan dalam pragmatik. sesuai contoh di atas. saya nikahkan kalian (performatif) (4) Rumah Joni terbakar (konstatif) Selanjutnya Austin. seperti dikutip oleh Thomas (1995: 29-30). (3) Dengan ini. seperti diungkap oleh Marmaridou (2000: 1 (dalam Gunarwan 2004: 8)). dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin ini mengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition). seperti juga ditekankan lebih lanjut oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). sejak itu bidang kajian ini telah berkembang jauh. dan bahwa pernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris. dan pragmatik interaktif (Thomas). yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi dan ketaksaan.

memberi sumbangan informasi yang relevan. dan (4) bidal cara (manner maxim). seperti diungkap oleh Thomas (1995: 57). ujaran yang mengandung implikatur jenis ini. Tindak lokusioner berkaitan dengan produksi ujaran yang bermakna. dapat dicontohkan dengan penggunaan kata bahkan. menghindari ketidakjelasan pengungkapan. ekspresif merupakan tindak-tutur yang menyatakan perasaan pembicaranya. Implikatur konvensional merupakan implikatur yang dihasilkan dari penalaran logika.3 Implikatur (Implicature) Grice. yaitu lokusi (locutionary act). yaitu (1) bidal kuantitas (quantity maxim). yaitu prinsip kerja sama (cooperative principle) (Yule 1996: 36-37 dan Thomas 1995: 61). 4. Implikatur konversasional merupakan implikatur yang dihasilkan karena tuntutan konteks tertentu (Thomas 1995: 58).Tindakan yang dihasilkan dengan ujaran ini mengandung tiga tindakan lain yang berhubungan. dan deklarasi merupakan tindak-tutur yang mengubah status sesuatu. seperti dikembangkan lebih jauh oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). (2) bidal kualitas (quality maxim). direktif (directive). dan tindak perlokusioner berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan (Thomas 1995: 49). seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 14). dalam komunikasi kadang kita tidak mematuhi prinsip tersebut. direktif merupakan tindaktutur yang menghendaki pendengarnya melakukan sesuatu. didasarkan atas beberapa alasan. 4. sedangkan dalam indirect speech-act hubungannya tidak langsung atau menggunakan (bentuk) tindak-tutur lain (Gunarwan 2004: 9. . komisif merupakan tindak-tutur yang digunakan pembicaranya untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukannya. dan deklarasi (declaration) (Littlejohn 2002: 80. ilokusi (illocutionary act). Asertif atau representatif merupakan tindak-tutur yang menyatakan tentang sesuatu yang dipercayai pembicaranya benar. menghindari ketaksaan. yaitu implikatur konvensional dan implikatur konversasional. mengungkapkan secara singkat. dan perlokusi (perlocutionary act) (Yule 1996: 48). mengungkapkan secara beraturan (Gunarwan 2004: 11 dan Thomas 1995: 63-64). dapat berupa tindak-tutur langsung (direct speech-act) dan tindak-tutur tidak langsung (indirect speech-act). (3) bidal relasi (relation maxim). komisif (comissive). menyatakan hanya yang menurut kita benar atau cukup bukti kebenarannya. pada kenyataannya. Dalam direct speeh-act terdapat hubungan langsung antara struktur kalimat dengan fungsinya. Hal ini. Berkaitan dengan prinsip kerja sama Grice di atas. dan Yule 1996: 53-54). seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 1214). misalnya untuk memberikan informasi secara tersirat (implicature) dan menjaga muka lawan bicara (politeness).2 Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle) Grice mengemukakan bahwa percakapan yang terjadi di dalam anggota masyarakat dilandasi oleh sebuah prinsip dasar. yaitu asertif (assertive). Contoh. memberi informasi sesuai yang diminta. Kerja sama yang terjalin dalam komunikasi ini terwujud dalam empat bidal (maxim). Selain itu. Tindak-tutur. tindak ilokusioner terutama berkaitan dengan intensi atau maksud pembicara. dan Yule 1996: 5455). menyebut dua macam implikatur. Searle juga menyebut lima jenis fungsi tindak-tutur. ekspresif (expressive).

Melalui hal tersebut. (7) Pastikan semua pintu terkunci jika meninggalkan ruangan ini. misalnya contoh (5) di atas. bukan untuk setiap kali meninggalkan ruangan. implikatur dapat dibedakan menjadi implikatur khusus dan implikatur umum. Menurut mereka. kedua. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). misalnya tindakan untuk membuat sesuatu menjadi jelas dan dapat dimengerti oleh penerima pesan. pesan ini berada dalam spesifikasi tertentu yang disepakati oleh addresser dan addressee dalam konteks komunikasi. 4. Dengan kata lain. menurut Gazdar. dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini. bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi. penerima pesan (addressee) hanya memilih sesuatu yang dianggapnya relevan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan (addresser) dalam konteks komunikasi tertentu. Misalnya pada contoh (7) di atas. Sperber dan Wilson (1995). tahapan yang harus dilewati untuk memahami implikatur dalam percakapan. sedangkan yang kedua tidak. namun mencakup perluasan wilayah kognitif (cognitive environment) kedua belah pihak. Contoh yang ditulis Renkema (2004: 23) di bawah ini memberikan gambaran yang cukup jelas. ujaran merupakan sebentuk tindakan dari komunikasi ostensif. yaitu tidak perlu mengunci pintu jika keluar dalam batasan waktu dan situasi yang diperkirakan cukup aman. sedangkan contoh (6) merupakan implikatur konversasional yang bermakna µtidak¶ dan merupakan jawaban atas pertanyaan maukah Anda menghadiri selamatan sunatan anak saya? Berbeda dengan Grice. komunikasi tidak hanya memasukkan apa yang ada dalam pikiran pengirim pesan ke dalam pikiran penerima pesan. dan ketiga.4 Teori Relevansi Teori relevansi yang dikembangkan oleh Sperber dan Wilson merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. .(5) Bahkan Bapak Menteri Agama menghadiri sunatan anak saya (6) Saya kebetulan ke Inggris untuk studi selama dua tahun dan berangkat besok Contoh (5) di atas merupakan implikatur konvensional yang berarti Bapak Menteri Agama biasanya tidak menghadiri acara sunatan. Sperber dan Wilson (1995). Contoh. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). pengirim pesan dapat memperkirakan reaksi penerima pesan terhadap pesan yang disampaikannya. menetapkan tiga macam hubungan antara cue dan implicature. misalnya contoh (6) di atas. untuk menjelaskan cara sebuah pesan dipahami penerimanya. dengan menggunakan prinsip kerja sama Grice. misalnya untuk ke kamar mandi. Yang pertama ada karena konteks ujaran. yaitu: pertama. Dalam teori relevansi dipelajari bagaimana sebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya. Selanjutnya. Setiap pembaca dapat memahami bahwa pesan ini hanya berlaku jika ia akan meninggalkan ruangan tersebut untuk terakhir kalinya. menyebutkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (language in use) selalu dapat diidentifikasi melalui hal yang disebutnya indeterminacy atau underspecification. explicature atau degree of relevance.

ujaran at the weekend. ³face merupakan gambaran citra diri dalam atribut sosial yang telah disepakati´. dalam pengertian degree of relevance. Begitu juga A. harga diri (self-esteem). ia mengandaikan B dapat mengerti bahwa that migh be cheaper dapat berarti If you purchase a ticket now. Kebutuhan yang pertama disebut positive face. dan citra diri di depan umum (public self-image). Brown dan Levinson (1978) membangun teori tentang hubungan intensitas FTA dengan kesantunan yang terrealisasi dalam bahasa (Renkema 2004: 25). Then that¶s fifty. Pak. 4. misalnya permintaan ³May I borrow your car?´ mempunyai bobot yang berbeda dengan permintaan ³May I borrow your pen?´. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 25). Dalam percakapan tersebut. you have booked seat which costs 60 euros. sedangkan that might be cheaper merupakan ujaran yang relevansinya lebih baik.(8) A: Well. face dapat diartikan kehormatan. dan ketiga. setiap partisipan memiliki dua kebutuhan dalam setiap proses sosial: yaitu kebutuhan untuk diapresiasi dan kebutuhan untuk bebas (tidak terganggu). Menurut Goffman (1967: 5). Menurut Goffman (1956). Contoh. misalnya bobot kedua permintaan di atas tidak terlalu besar jika kedua ungkapan tersebut ditujukan kepada saudara sendiri. B mengira A mengerti bahwa at the weekend berarti next weekend. there is a shuttle service sixty euros one-way. berkenaan dengan bobot mutlak (absolute weight) tindakan tertentu dalam kebudayaan tertentu. jarak sosial atau social distance (D) antara pembicara dengan lawan bicaranya. it costs 50 euros. How does it works? You just turn up for the shuttle service? A: That might be cheaper. Maaf. when do you want to go? B: At the weekend. boleh tanya? . kekuasaan atau power (P) yang dimiliki lawan bicara (Renkema 2004: 26). merupakan ujaran yang relevansinya rendah dan membutuhkan processing effort yang lebih besar. A: What weekend? B: Next weekend. tingkat gangguan atau rate of imposition (R). padahal A harus memastikan dengan jelas setiap pemesanan pembelian tiket. pemahaman penerima pesan terhadap apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan terjadi melalui beberapa tahapan. Dalam hal ini. kedua. yaitu: pertama. sedangkan yang kedua disebut negative face. yang dikutip oleh Jaszczolt (2002: 318). If you buy ticket when you turn up. karena semakin tinggi contextual effect maka semakin rendah ia membutuhkan processing effort.5 Kesantunan (Politeness) Konsep strategi kesantunan yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson diadaptasi dari konsep face yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog bernama Erving Goffman (1956) (Renkema 2004: 24-25). Berdasarkan konsep face yang dikemukakan oleh Goffman ini. Intensitas FTA diekspresikan dengan bobot atau weight (W) yang mencakup tiga parameter sosial. (9) a. Dalam percakapan di atas. Dengan kata lain.

misalnya dengan melakukan tindakan yang tidak kooperatif dalam komunikasi (Renkema 2004: 25). semakin besar intensitas FTA mengancam stabilitas komunikasi. (5) a. Renkema (2004: 27) memberi contoh strategi tersebut. dapat dilakukan. Hey. Pakar ini membahas teori kesantunan dalam kerangka retorika interpersonal (Eelen 2001: 6). bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat. Pragmatik dalam Linguistik Seperti telah saya uraikan sedikit dalam sub 3 di atas. bidal simpati (sympathy maxim). maka semakin kecil kemungkinan pembicara melakukan FTA. Dalam hal ini. 5. Berkaitan dengan politeness strategy ini. friend. Numpang tanya. yang bertujuan untuk mendapatkan positive face disebut solidarity politeness. sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya. face work technique. bidal kerendahhatian (modesty maxim). maka politeness strategy semakin dibutuhkan. misalnya dengan pujian. seperti diungkapkan oleh Renkema (2004: 26). Politeness. could you lend me a hundred bucks? (positive polite) c. (off record) Teori kesantunan lain dibahas oleh Leech (1983). Oh no. ujaran (9a) mungkin diucapkan pembicara yang secara sosial lebih rendah dari lawan bicaranya. dapat dilakukan. Kelima strategi tersebut diurut berdasarkan tingkat resiko ³kehilangan muka´. Politeness (kesantunan) dalam hal ini dapat dipahami sebagai upaya pencegahan dan atau perbaikan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh FTA. bidal pujian (approbation maxim). dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat banyak cara untuk menghindari FTA yang dapat direduksi menjadi lima macam cara. Dalam hal ini. but could you lend me a hundred dollars? (negative polite) e. (baldly) b. sehingga bentuk . misalnya mahasiswa kepada dosen atau yang muda kepada yang tua. sedangkan politeness yang dilakukan untuk tujuan sebaliknya disebut respect politeness. salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. sedangkan ujaran (9b) mungkin diucapkan kepada orang yang secara sosial jaraknya lebih dekat (9a). dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis. semakin tinggi resiko kehilangan muka. Leech (dalam Eelen 2001: menyebutkan enam bidal kesantunan. bidal kedermawanan (generosity maxim). Mas? Dalam contoh di atas terlihat jelas. Hey. bidal kesetujuan (aggreement maxim).b. Secara umum. dan. lend me a hundred dollars. I¶m sorry I have to ask. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 19). Brown dan Levinson (1978). dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal. ditambah bidal pertimbangan (consideration maxim). yaitu bidal kebijaksanaan (tact maxim). Dalam sintaksis. I¶m out of cash! I forgot to go to the bank today. seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4).

bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis. sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik. Dalam kehidupan sehari-hari. meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris. Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada. Dengan kata lain. penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis. Dengan demikian. meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda. terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. dan memang sering kita temukan. karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. untuk dapat dinyatakan benar. selain tata bahasa. absolut atau bersifat mutlak. dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan. Selanjutnya. Selanjutnya. semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan. Namun demikian. untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik. sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis. sebab daya mencakup juga makna. makna apa yang dituturkan. yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa. sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya. misalnya. sedangkan . bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa. pertama. di samping sintaksis dan semantik. semantik terikat pada kaidah (rule-governed). sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik. sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi.seperti kucing menyapu halaman. Tentang perbedaan yang pertama. pembahasan makna dalam semantik belum memadai. tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis. untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa sehari-hari. Lebih tepatnya. keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan. dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik. karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa. dan maksud dari tuturan. saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). pertama. dapat dipahami. dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi. makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur. meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai. dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya. yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik. Kaidah bersifat deskriptif. Dengan demikian. tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis. kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. dan kedua. demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. bagaimana memahami implikatur percakapan. Dengan kata lain. bahwa komunikasi tetap dapat berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis. dalam analisis bahasa. Kegunaan pragmatik. Berdasarkan truth conditional semantics. dan kedua. Atas dasar ini.

Jerome Publishing Gunarwan. Brown. Politeness: Some Universal in Language Usage. saya melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik setidaknya dalam dua hal. A Critique of Politeness Theories. dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence). Secara umum. IKIP Singaraja. pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. Dalam pengajaran bahasa Indonesia. UK: St. karena selain benar. misalnya. Dalam pengajaran bahasa asing. Oxford: Oxfod University Press. Lebih jauh lagi. dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain. K. Berdasarkan penjelasan di atas. dapat bertentangan dengan prinsip lain. 2001. . pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya. 1978. Penelope. How to Do Things with Word (edisi kedua). pertama. berkaitan dengan pengajaran bahasa. Daftar Acuan Austin. terdapat keterkaitan. tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa pragmatik penting dipelajari dalam program studi linguistik. Penutup Seperti telah disebutkan di muka. bahasa yang digunakan harus baik. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. Asim. Jaszczolt. seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22). 2002. Cambridge: Cambridge University Press.prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif. dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa. Gino. yaitu bahwa pengetahuan pragmatik. Manchester. John L. 6. Selain itu. dalam arti praktis.M. dan Stephen C. 2004. saya melihat kedudukan semantik dan pragmatik sebagai dua hal yang saling melengkapi. dalam pengajaran bahasa. kedua. 1962. Edinburgh: Pearson Education. pragmatik merupakan satu-satunya tataran dalam linguistik yang mengkaji bahasa dengan memperhitungkan juga penggunanya. yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu. Eelen. Levinson. kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik.. pragmatik berperan dalam pengembangan kompetensi komunikatif. berkaitan dengan ketidakmampuan sintaksis dan semantik dalam menjelaskan fenomena penggunaan bahasa sehari-hari. Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse.

1995. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. 1996. London/New York: Longman. 2004. Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics. ss . Jan. George. Jenny.Renkema. Pragmatics. Introduction to Discourse Studies. Oxford. Oxford University Press. Thomas. Yule.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful