P. 1
MAKALAH PRAGMATIK

MAKALAH PRAGMATIK

|Views: 7,848|Likes:
Published by maria_manurung_3

More info:

Published by: maria_manurung_3 on May 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/22/2013

pdf

text

original

Linguistik: Pragmatik Tuesday, July 24, 2007 Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik?

Makyun Subuki 13 Desember 2006 1. Pendahuluan Dalam jangka yang cukup lama, seperti diungkap oleh Yule (1996: 6), studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya, yaitu dengan menurunkan sistem yang terdapat dalam matematika dan logika, dan mengabaikan unsur pengguna bahasa. Sebagai tataran terbaru dalam linguistik, Pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. Meskipun memiliki fokus kajian yang serupa dengan semantik, yaitu makna, seperti akan saya jelaskan kemudian, makna yang dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantik. Makalah ini bertujuan menjelaskan pentingnya bidang pragmatik untuk dipelajari dalam program studi linguistik. Untuk tujuan tersebut, saya mengawali makalah ini dengan pembahasan mengenai pengertian pragmatik, perkembangannya, menjelaskan secara singkat topik-topik bahasannya, dan, dengan melihat perbedaan kajiannya dengan bidang lain dalam linguistik, menunjukkan pentingnya pragmatik. 2. Definisi Pragmatik Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. Yule (1996: 3), misalnya, menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang, melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian, pertama, dengan menggunakan sudut pandang sosial, menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning); dan kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif, menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). Selanjutnya Thomas (1995: 22), dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik, sosial, dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran, mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction).

Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme, yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik; pragmatisisme, yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik; dan komplementarisme, atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi. 3. Perkembangan Pragmatik Mey (1998), seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5), mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi, yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme; (2) kecenderungan sosial-kritis; (3) tradisi filsafat; dan (4) tradisi etnometodologi. Kecenderungan yang pertama, yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross, menolak pandangan sintaksisme Chomsky, yaitu bahwa dalam kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis, dan bahwa fonologi, morfologi, dan semantik bersifat periferal. Menurut Lakoff dan Ross, keapikan sintaksis (well-formedness) bukanlah segalanya, sebab, seperti sering kita jumpai, komunikasi tetap dapat berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak apik secara sintaksis (ill-formed), bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6). Kecenderungan kedua, yang tumbuh di Eropa, tepatnya di Britania, Jerman, dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)), muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan, bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri. Tradisi yang ketiga, yang dipelopori oleh Bertrand Russell, Ludwig Wittgenstein, dan terutama John L. Austin dan John R. Searle, adalah tradisi filsafat. Para pakar tersebut mengkaji bahasa, termasuk penggunaannya, dalam kaitannya dengan logika. Leech (1983: 2), seperti dikutip Gunarwan (2004: 7), mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa, misalnya Austin, Searle, dan Grice, dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross. Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi, yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. Dalam etnometodologi, bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya, melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Dengan kata lain, kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi, bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6). 4. Beberapa Topik Pembahasan dalam Pragmatik 4.1 Teori Tindak-Tutur

Melalui bukunya, How to Do Things with Words, Austin dapat dianggap sebagai pemicu minat yang paling utama dalam kajian pragmatik. Sebab, seperti diungkap oleh Marmaridou (2000: 1 (dalam Gunarwan 2004: 8)), sejak itu bidang kajian ini telah berkembang jauh, sehingga kita dapat melihat sejumlah kecenderungan dalam pragmatik, yaitu pragmatik filosofis (Austin, Searle, dan Grice), pragmatik neo-Gricean (Cole), pragmatik kognitif (Sperber dan Wilson), dan pragmatik interaktif (Thomas). Austin, seperti dikutip oleh Thomas (1995: 29-30), bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis, seperti Russel dan Moore, yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi dan ketaksaan, dan bahwa pernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris. Contoh. (1) Ada enam kata dalam kalimat ini (2) Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono Dari contoh di atas, dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin ini mengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition), yaitu, sesuai contoh di atas, kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar karena sesuai dengan kenyataan. Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics (Thomas 1995: 30). Austin (dalam Thomas 1995: 31) berpendapat bahwa salah satu cara untuk membuat pembedaan yang baik bukanlah menurut kadar benar atau salahnya, melainkan melalui bagaimana bahasa dipakai sehari-hari. Melalui hipotesis performatifnya, yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech-act), Austin berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements), melainkan juga melakukan sesuatu (perform actions). Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Gunarwan 2004: 8). Contoh. (3) Dengan ini, saya nikahkan kalian (performatif) (4) Rumah Joni terbakar (konstatif) Selanjutnya Austin, seperti juga ditekankan lebih lanjut oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9), memasukkan ujaran konstatif, karena memiliki struktur dalam yang mengandungi makna performatif, sebagai bagian dari performatif (Austin 1962: 52 dan Thomas 1995: 49). Dalam contoh (4), struktur dalam ujaran tersebut dapat saja berbunyi Saya katakan bahwa rumah Joni terbakar. Tindakan yang dihasilkan dengan ujaran ini mengandung tiga tindakan lain yang berhubungan, yaitu lokusi (locutionary act), ilokusi (illocutionary act), dan perlokusi (perlocutionary act) (Yule 1996: 48). Tindak lokusioner berkaitan dengan produksi

direktif (directive). dalam komunikasi kadang kita tidak mematuhi prinsip tersebut. Searle juga menyebut lima jenis fungsi tindak-tutur. komisif merupakan tindak-tutur yang digunakan pembicaranya untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukannya. komisif (comissive). dan deklarasi (declaration) (Littlejohn 2002: 80. mengungkapkan secara beraturan (Gunarwan 2004: 11 dan Thomas 1995: 63-64). (3) bidal relasi (relation maxim). seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 12-14). seperti dikembangkan lebih jauh oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). dan tindak perlokusioner berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan (Thomas 1995: 49). ekspresif (expressive). yaitu implikatur konvensional dan implikatur konversasional. Asertif atau representatif merupakan tindak-tutur yang menyatakan tentang sesuatu yang dipercayai pembicaranya benar. mengungkapkan secara singkat. misalnya untuk memberikan informasi secara tersirat (implicature) dan menjaga muka lawan bicara (politeness).ujaran yang bermakna. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 14). 4. Berkaitan dengan prinsip kerja sama Grice di atas. menghindari ketaksaan. (2) bidal kualitas (quality maxim).3 Implikatur (Implicature) Grice. tindak ilokusioner terutama berkaitan dengan intensi atau maksud pembicara. Hal ini. Tindak-tutur.2 Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle) Grice mengemukakan bahwa percakapan yang terjadi di dalam anggota masyarakat dilandasi oleh sebuah prinsip dasar. 4. Contoh. yaitu prinsip kerja sama (cooperative principle) (Yule 1996: 36-37 dan Thomas 1995: 61). pada kenyataannya. menyebut dua macam implikatur. Dalam direct speeh-act terdapat hubungan langsung antara struktur kalimat dengan fungsinya. dan deklarasi merupakan tindak-tutur yang mengubah status sesuatu. Implikatur konversasional merupakan implikatur yang dihasilkan karena tuntutan konteks tertentu (Thomas 1995: 58). ekspresif merupakan tindak-tutur yang menyatakan perasaan pembicaranya. Kerja sama yang terjalin dalam komunikasi ini terwujud dalam empat bidal (maxim). menyatakan hanya yang menurut kita benar atau cukup bukti kebenarannya. ujaran yang mengandung implikatur jenis ini. sedangkan dalam indirect speech-act hubungannya tidak langsung atau menggunakan (bentuk) tindak-tutur lain (Gunarwan 2004: 9. memberi informasi sesuai yang diminta. menghindari ketidakjelasan pengungkapan. Implikatur konvensional merupakan implikatur yang dihasilkan dari penalaran logika. yaitu (1) bidal kuantitas (quantity maxim). dan Yule 1996: 53-54). didasarkan atas beberapa alasan. dan Yule 1996: 54-55). dapat berupa tindak-tutur langsung (direct speech-act) dan tindak-tutur tidak langsung (indirect speech-act). memberi sumbangan informasi yang relevan. . direktif merupakan tindak-tutur yang menghendaki pendengarnya melakukan sesuatu. Selain itu. dapat dicontohkan dengan penggunaan kata bahkan. dan (4) bidal cara (manner maxim). seperti diungkap oleh Thomas (1995: 57). yaitu asertif (assertive).

explicature atau degree of relevance. pesan ini berada dalam spesifikasi tertentu yang disepakati oleh addresser dan addressee dalam konteks komunikasi. dan ketiga.4 Teori Relevansi Teori relevansi yang dikembangkan oleh Sperber dan Wilson merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. Dalam teori relevansi dipelajari bagaimana sebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya. Menurut mereka. implikatur dapat dibedakan menjadi implikatur khusus dan implikatur umum. dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). sedangkan contoh (6) merupakan implikatur konversasional yang bermakna µtidak¶ dan merupakan jawaban atas pertanyaan maukah Anda menghadiri selamatan sunatan anak saya? Berbeda dengan Grice. namun mencakup perluasan wilayah kognitif (cognitive environment) kedua belah pihak. menurut Gazdar. misalnya contoh (6) di atas. Setiap pembaca dapat memahami bahwa pesan ini hanya berlaku jika ia akan meninggalkan ruangan tersebut untuk terakhir kalinya. 4. Sperber dan Wilson (1995). menetapkan tiga macam hubungan antara cue dan implicature. Melalui hal tersebut. komunikasi tidak hanya memasukkan apa yang ada dalam pikiran pengirim pesan ke dalam pikiran penerima pesan. kedua. Dengan kata lain. Yang pertama ada karena konteks ujaran. Selanjutnya.(5) Bahkan Bapak Menteri Agama menghadiri sunatan anak saya (6) Saya kebetulan ke Inggris untuk studi selama dua tahun dan berangkat besok Contoh (5) di atas merupakan implikatur konvensional yang berarti Bapak Menteri Agama biasanya tidak menghadiri acara sunatan. pengirim pesan dapat memperkirakan reaksi penerima pesan terhadap pesan yang disampaikannya. yaitu: pertama. misalnya untuk ke kamar mandi. tahapan . menyebutkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (language in use) selalu dapat diidentifikasi melalui hal yang disebutnya indeterminacy atau underspecification. sedangkan yang kedua tidak. bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi. Contoh. Sperber dan Wilson (1995). yaitu tidak perlu mengunci pintu jika keluar dalam batasan waktu dan situasi yang diperkirakan cukup aman. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). penerima pesan (addressee) hanya memilih sesuatu yang dianggapnya relevan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan (addresser) dalam konteks komunikasi tertentu. untuk menjelaskan cara sebuah pesan dipahami penerimanya. misalnya contoh (5) di atas. misalnya tindakan untuk membuat sesuatu menjadi jelas dan dapat dimengerti oleh penerima pesan. bukan untuk setiap kali meninggalkan ruangan. dengan menggunakan prinsip kerja sama Grice. ujaran merupakan sebentuk tindakan dari komunikasi ostensif. (7) Pastikan semua pintu terkunci jika meninggalkan ruangan ini. Misalnya pada contoh (7) di atas.

Dengan kata lain. karena semakin tinggi contextual effect maka semakin rendah ia membutuhkan processing effort.yang harus dilewati untuk memahami implikatur dalam percakapan. yaitu: pertama. when do you want to go? B: At the weekend. Then that's fifty. Contoh yang ditulis Renkema (2004: 23) di bawah ini memberikan gambaran yang cukup jelas. Berdasarkan konsep face yang dikemukakan oleh Goffman ini. yang dikutip oleh Jaszczolt (2002: 318). setiap partisipan memiliki dua kebutuhan dalam setiap proses sosial: yaitu kebutuhan untuk diapresiasi dan kebutuhan untuk bebas (tidak terganggu). Dalam percakapan tersebut. Intensitas FTA diekspresikan dengan bobot atau weight (W) yang mencakup tiga parameter sosial. How does it works? You just turn up for the shuttle service? A: That might be cheaper. Dalam percakapan di atas. padahal A harus memastikan dengan jelas setiap pemesanan pembelian tiket. misalnya bobot kedua permintaan di atas . berkenaan dengan bobot mutlak (absolute weight) tindakan tertentu dalam kebudayaan tertentu. there is a shuttle service sixty euros one-way. Brown dan Levinson (1978) membangun teori tentang hubungan intensitas FTA dengan kesantunan yang terrealisasi dalam bahasa (Renkema 2004: 25). misalnya permintaan "May I borrow your car?" mempunyai bobot yang berbeda dengan permintaan "May I borrow your pen?". Begitu juga A. you have booked seat which costs 60 euros. tingkat gangguan atau rate of imposition (R). Menurut Goffman (1956). Dalam hal ini. dan citra diri di depan umum (public self-image). jarak sosial atau social distance (D) antara pembicara dengan lawan bicaranya. face dapat diartikan kehormatan. merupakan ujaran yang relevansinya rendah dan membutuhkan processing effort yang lebih besar. sedangkan that might be cheaper merupakan ujaran yang relevansinya lebih baik. ujaran at the weekend. dalam pengertian degree of relevance. ia mengandaikan B dapat mengerti bahwa that migh be cheaper dapat berarti If you purchase a ticket now. A: What weekend? B: Next weekend. (8) A: Well. Menurut Goffman (1967: 5).5 Kesantunan (Politeness) Konsep strategi kesantunan yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson diadaptasi dari konsep face yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog bernama Erving Goffman (1956) (Renkema 2004: 24-25). 4. harga diri (self-esteem). it costs 50 euros. pemahaman penerima pesan terhadap apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan terjadi melalui beberapa tahapan. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 25). sedangkan yang kedua disebut negative face. B mengira A mengerti bahwa at the weekend berarti next weekend. kedua. "face merupakan gambaran citra diri dalam atribut sosial yang telah disepakati". Kebutuhan yang pertama disebut positive face. If you buy ticket when you turn up.

misalnya dengan melakukan tindakan yang tidak kooperatif dalam komunikasi (Renkema 2004: 25).tidak terlalu besar jika kedua ungkapan tersebut ditujukan kepada saudara sendiri. kekuasaan atau power (P) yang dimiliki lawan bicara (Renkema 2004: 26). 5. friend. ujaran (9a) mungkin diucapkan pembicara yang secara sosial lebih rendah dari lawan bicaranya. semakin besar intensitas FTA mengancam stabilitas komunikasi. (baldly) b. Numpang tanya. sedangkan ujaran (9b) mungkin diucapkan kepada orang yang secara sosial jaraknya lebih dekat (9a). Pragmatik dalam Linguistik . semakin tinggi resiko kehilangan muka. seperti diungkapkan oleh Renkema (2004: 26). face work technique. Oh no. maka semakin kecil kemungkinan pembicara melakukan FTA. boleh tanya? b. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat banyak cara untuk menghindari FTA yang dapat direduksi menjadi lima macam cara. Berkaitan dengan politeness strategy ini. but could you lend me a hundred dollars? (negative polite) e. Leech (dalam Eelen 2001: 8) menyebutkan enam bidal kesantunan. Contoh. lend me a hundred dollars. bidal pujian (approbation maxim). Dalam hal ini. maka politeness strategy semakin dibutuhkan. (5) a. (off record) Teori kesantunan lain dibahas oleh Leech (1983). Mas? Dalam contoh di atas terlihat jelas. bidal kesetujuan (aggreement maxim). Dalam hal ini. Kelima strategi tersebut diurut berdasarkan tingkat resiko "kehilangan muka". Brown dan Levinson (1978). Politeness. bidal kerendahhatian (modesty maxim). bidal kedermawanan (generosity maxim). Renkema (2004: 27) memberi contoh strategi tersebut. sedangkan politeness yang dilakukan untuk tujuan sebaliknya disebut respect politeness. bidal simpati (sympathy maxim). Politeness (kesantunan) dalam hal ini dapat dipahami sebagai upaya pencegahan dan atau perbaikan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh FTA. Hey. I'm out of cash! I forgot to go to the bank today. (9) a. ditambah bidal pertimbangan (consideration maxim). Pakar ini membahas teori kesantunan dalam kerangka retorika interpersonal (Eelen 2001: 6). could you lend me a hundred bucks? (positive polite) c. I'm sorry I have to ask. yang bertujuan untuk mendapatkan positive face disebut solidarity politeness. dapat dilakukan. misalnya dengan pujian. Pak. yaitu bidal kebijaksanaan (tact maxim). dan ketiga. misalnya mahasiswa kepada dosen atau yang muda kepada yang tua. Maaf. Hey. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 19). dan. dapat dilakukan.

Seperti telah saya uraikan sedikit dalam sub 3 di atas, salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. Dalam sintaksis, seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4), dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis, bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat, dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal. Secara umum, sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya, sehingga bentuk seperti kucing menyapu halaman, meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris, tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis. Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis, melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. Lebih tepatnya, dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi, bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Atas dasar ini, pertama, dapat dipahami, dan memang sering kita temukan, bahwa komunikasi tetap dapat berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis; dan kedua, demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka, selain tata bahasa, makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik, sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik, terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik, yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa, dalam analisis bahasa. Berdasarkan truth conditional semantics, untuk dapat dinyatakan benar, sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis. Dengan demikian, bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis, karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. Namun demikian, pembahasan makna dalam semantik belum memadai, karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa, sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi, meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai, tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. Dengan kata lain, untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa seharihari, di samping sintaksis dan semantik, dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur, makna apa yang dituturkan, dan maksud dari tuturan. Kegunaan pragmatik, yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik, dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan, misalnya, bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa, bagaimana memahami implikatur percakapan, dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. Selanjutnya, untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik, saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada, pertama, semantik mengkaji makna

(sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis, sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya; dan kedua, semantik terikat pada kaidah (rule-governed), sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). Tentang perbedaan yang pertama, meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda, keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan, sebab daya mencakup juga makna. Dengan kata lain, semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan, sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. Selanjutnya, kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. Kaidah bersifat deskriptif, absolut atau bersifat mutlak, dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya, sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif, dapat bertentangan dengan prinsip lain, dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain. Lebih jauh lagi, dalam pengajaran bahasa, seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22), terdapat keterkaitan, yaitu bahwa pengetahuan pragmatik, dalam arti praktis, patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. Dalam pengajaran bahasa Indonesia, misalnya, pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya, karena selain benar, bahasa yang digunakan harus baik. Dalam pengajaran bahasa asing, pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence), yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu, kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik, dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa. 6. Penutup Seperti telah disebutkan di muka, tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa pragmatik penting dipelajari dalam program studi linguistik. Berdasarkan penjelasan di atas, saya melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik setidaknya dalam dua hal, pertama, pragmatik merupakan satu-satunya tataran dalam linguistik yang mengkaji bahasa dengan memperhitungkan juga penggunanya; kedua, berkaitan dengan ketidakmampuan sintaksis dan semantik dalam menjelaskan fenomena penggunaan bahasa sehari-hari, saya melihat kedudukan semantik dan pragmatik sebagai dua hal yang saling melengkapi. Selain itu, berkaitan dengan pengajaran bahasa, pragmatik berperan dalam pengembangan kompetensi komunikatif. Daftar Acuan Austin, John L. 1962. How to Do Things with Word (edisi kedua). Oxford: Oxfod University Press.

Brown, Penelope., dan Stephen C. Levinson. 1978. Politeness: Some Universal in Language Usage. Cambridge: Cambridge University Press. Eelen, Gino. 2001. A Critique of Politeness Theories. Manchester, UK: St. Jerome Publishing Gunarwan, Asim. 2004. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). IKIP Singaraja. Jaszczolt, K.M. 2002. Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse. Edinburgh: Pearson Education. Renkema, Jan. 2004. Introduction to Discourse Studies. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. Thomas. Jenny. 1995. Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics. London/New York: Longman. Yule, George. 1996. Pragmatics. Oxford. Oxford University Press.

Rabu, 04 Juli 2007
Pragmatik Oleh: sidon. bandung Pengertian Pragmatik Pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang semakin dikenal pada masa sekarang ini, walaupun pada kira-kira dua dasa warsa yang silam, ilmu ini jarang atau hampir tidak pernah disebut oleh para ahli bahasa. Hal ini dilandasi oleh semakin sadarnya para linguis, bahwa upaya untuk menguak hakikat bahasa tidak akan membawa hasil yang diharapkan tanpa didasari pemahaman terhadap pragmatik, yakni bagaimana bahasa itu digunakan dalam komunikasi (Leech, 1993: 1). Leech (1993: 8) juga mengartikan pragmatik sebagai studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situasions). Pragmatik sebagaimana yang telah diperbincangkan di Indonesia dewasa ini, paling tidak dapat diedakan atas dua hal, yaitu (1) pragmatik sebagai sesuatu yang diajarkan, (2) pragmatik sebagai suatu yang mewarnai tindakan mengajar. Bagian pertama masih dibagi lagi atas dua hal, yaitu (a) pragmatik sebagai bidang kajian linguistik, dan (b) pragmatik sebagai salah satu segi di dalam bahasa atau disebut µfungsi komunikatif¶ (Purwo, 1990:2). Pragmatik ialah berkenaan dengan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya bahasa dalam komunikasi (KBBI, 1993: 177). Menurut Levinson (1983: 9), ilmu pragmatik didefinisikan sebagai berikut: (1) ³Pragmatik ialah kajian dari hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa´. Di sini, ³pengertian/pemahaman bahasa´ menghunjuk kepada fakta bahwa untuk mengerti sesuatu ungkapan/ujaran bahasa diperlukan juga pengetahuan di luar makna kata dan hubungan tata bahasanya, yakni hubungannya dengan konteks pemakaiannya. (2) ³Pragmatik ialah kajian tentang kemampuan pemakai bahsa mengaitkan kalimat-kalimat

Praanggapan (presupposition) adalah apa yang diasumsikan oleh penutur sebagai hal yang benar atau hal yang diketahui pendengar (Cahyono.1) Ada seorang wanita Indonesia. Purwo (1990: 16) mendefinisikan pragmatik sebagai telaah mengenai makna tuturan (utterance) menggunakan makna yang terikat konteks. 1987: 2) Pragmatik juga diartikan sebagai syarat-syarat yang mengakibatkan serasi-tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi. 1990: 19). mengemukakan bahwa secara pragmatis setidaktidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur. dsb) yang dapat dipakainya untuk mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud. 1995: 219). Nababan memberikan contoh penggunaan presuposisi sebagai berikut: (1) Wanita Indonesia membeli burung.dengan konteks-konteks yang sesuai bagi kalimat-kalimat itu´. praanggapan adalah dasar atau penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa (menggunakan bahasa) yang membuat bentuk bahasa (kalimat atau ungkapan) mempunyai makna bagi pendengar/penerima bahasa itu. Menurut Verhaar (1996: 14). 1993: 177). dan (d) implikatur percakapan (conversational implicature) (Purwo. tetapi ia juga menindakkan sesuatu (Purwo. 1990: 31). Menurut Nababan (1987: 46). membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa (kalimat. Fenomena Pragmatik Kancah yang dijelajahi pragmatik ada empat: (a) deiksis. maka kalimat (3) mempunyai makna atau dapat dimengerti pendengar/pembaca. yaitu tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. 1990: 17). dan sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa pada hal-hal ³ekstralingual´ yang dibicarakan. Deiksis dapat juga diartikan sebagai suatu cara untuk mengacu ke hakekat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan (Cahyono. Jika kedua praanggapan itu diterima. Tindak ujaran (speech acts) ialah pengucapan suatu kalimat di mana si pembicara tidak sematamata menanyakan atau meminta jawaban tertentu. dan (3. Deiksis adalah kata-kata yang memiliki referen yang berubah-ubah atau berpindah-pindah (Wijana. terdapat praanggapan bahwa: (3. Tindak lokusi. Searle di dalam bukunya Speech Acts: An Essay in The Philosophy of Language (1969: 23-24) dalam Wijana (1996: 17-22). dan sebaliknya. . pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang membahas tentang apa yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komunikasi antara penutur dan pendengar. Sedangkan memperlakukan bahasa secara pragmatik ialah memperlakukan bahasa dengan mempertimbangkan konteksnya. 1998: 6). yakni penggunaannya pada peristiwa komunikasi (Purwo. Berdasarkan beberapa pendapat di atas. (Nababan. Pragmatik adalah suatu telaah umum mengenai bagaimana caranya konteks mempengaruhi peserta tutur dalam menafsirkan kalimat atau menelaah makna dalam kaitannya dengan situasi ujaran. (c) tindak ujaran (speech acts). yakni: 1. Sebagai contoh: (4) Jari tangan jumlahnya lima. dapat disimpulkan tentang batasan pragmatik.2) Ada burung. 1995: 217). (b) praanggapan (presupposition). aspek-aspek pemakaian bahasa atau konteks luar bahasa yang memberikan sumbangan kepada makna ujaran (Kridalaksana.

atau efek bagi yang mendengarkannya. konsep implikatur memungkinkan penjelasan fakta-fakta kebahasaan yang tidak terjangkau oleh teori linguistik.selain mengatakan mengelola masakan ala Jepang. Tempat ideal untuk bersantai bersama keluarga. 1983: 97). deiksis diartikan sebagai hal atau fungsi yang menunjuk sesuatu di luar bahasa. konsep implikatur dapat menjelaskan beberapa fakta bahasa secara tepat. Pengertian Deiksis Kata deiksis berasal dari bahasa Yunani yang berarti µmenunjuk¶ atau µmenunjukkan¶. Deiksis 1. dalam penelitian ini. peristiwa. handai taulan. Sebagai contoh: (6) Kunjungilah restoran Oshin! Tersedia bermacam-macam masakan Jepang. tetapi untuk melakukan sesuatu. 3. yaitu sebuah tuturan yang diutarakan oleh seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary force). dan Eropa. yakni meminta maaf. proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalam hubungannya dengan dimensi . Kajian pragmatik tersebut digunakan untuk memahami makna dan fungsi deiksis pronomina persona. Dijamin halal. Contoh: (5) Saya tidak dapat datang. Implikatur percakapan (conversational implicature) merupakan konsep yang cukup penting dalam pragmatik karena empat hal (Levinson. Namun pembicara kedua sudah mengetahui bahwa jawaban yang disampaikannya sudah cukup untuk menjawab pertanyaan pembicara pertama. deiksis adalah suatu cara untuk mengacu ke hakekat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan. Tindak perlokusi. dapat juga dipergunakan untuk melakukan sesuatu. ketakrifan. yaitu sebuah tuturan selain berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu. Dalam wacana di atas. ditemukan penggunaan tindak perlokusi. kata tunjuk pronomina. bila kalimat itu diutarakan oleh seseorang kepada temannya yang baru saja merayakan ulang tahun. Pertama. Tampaknya kalimat (7A) dan (7B) tidak berkaitan secara konvensional.Kalimat (4) di atas. tidak hanya berfungsi untuk menyatakan sesuatu. Dari contoh di atas dapat diketahui bahwa. Cina. Dalam KBBI (1991: 217). Ini dapat diketahui karena penutur -pengelola restoran. konsep implikatur dapat menyederhanakan struktur dan isi deskripsi semantik. dan rekan sekerja Anda. diutarakan oleh penuturnya semata-mata untuk menginformasikan sesuatu tanpa tendensi untuk melakukan sesuatu. Keempat. Deiksis dapat juga diartikan sebagai lokasi dan identifikasi orang. 1998: 6). dan sebagainya. sebab dia sudah mengetahui jam berapa koran biasa diantarkan. apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Cina dan Eropa juga meyakinkan pendengar/pembaca bahwa masakannya benar-benar halal. Dari keempat bidang kajian pragmatik tersebut pada akhirnya dapat digunakan untuk memahami makna sesuai dengan konteks yang terjadi. Tindak ilokusi. Kedua. Sebagai contoh: (7) A : Jam berapa sekarang? B : Korannya sudah datang. Menurut Bambang Yudi Cahyono (1995: 217). konsep implikatur memberikan penjelasan tentang makna berbeda dengan yang dikatakan secara lahiriah. 2. objek. Ketiga. Deiksis adalah kata-kata yang memiliki referen berubah-ubah atau berpindah-pindah (Wijana.

(Setiawan. 1987: 40). Oleh karenanya. Referen kata saya. pronomina. baik hadir maupun tidak. pada saat dituturkan oleh pembicara atau yang diajak bicara (Lyons. Dalam bidang linguistik terdapat pula istilah rujukan atau sering disebut referensi. Menurut Bambang Kaswanti Purwo (1984: 1) sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila rujukannya berpindah-pindah atau berganti-ganti. saudara. sini. misalnya saya. yaitu kategori rujukan kepada orang yang bukan pembicara atau pendengar ujaran itu. maka kalimatnya harus diubah. yang tidak merupakan unsur di dalam bahasa itu sendiri. Ketiga ialah orang ketiga. misalnya kamu. sekarang adalah kata-kata deiktis. deiksis tempat. kita. Pengertian deiksis dibedakan dengan pengertian anafora. Hal ini berarti bahwa rujukan pertama dan kedua pada situasi pembicaraan (Purwo. 1984: 106). tergantung siapa yang menjadi pembicara. 1977: 638 via Setiawan. dan kami. Perujukan atau penunjukan dapat ditujukan pada bentuk atau konstituen sebelumnya yang disebut anafora. yang artinya topeng (topeng yang dipakai seorang pemain sandiwara). Kata ganti persona pertama dan kedua rujukannya bersifat eksoforis. Kedua ialah orang kedua. Jadi. Deiksis dapat diartikan sebagai luar tuturan. Istilah persona dipilih oleh ahli bahasa waktu itu disebabkan oleh adanya kemiripan antara peristiwa bahasa dan permainan bahasa (Lyons. 1977: 638 via Djajasudarma. dimana yang menjadi pusat orientasi deiksis senantiasa si pembicara. Kata-kata ini tidak memiliki referen yang tetap. 1997: 6). a. sedangkan anafora merujuk dalam tuturan baik yang mengacu kata yang berada di belakang maupun yang merujuk kata yang berada di depan (Lyons. yaitu kategori rujukan pembicara kepada dirinya atau kelompok yang melibatkan dirinya. Deiksis Persona Istilah persona berasal dari kata Latin persona sebagai terjemahan dari kata Yunani prosopon. berarti juga peranan atau watak yang dibawakan oleh pemain sandiwara. yaitu kata atau frase yang menunjuk kata. 2. 1997: 8). dapat dinyatakan bahwa deiksis merupakan suatu gejala semantis yang terdapat pada kata atau konstruksi yang acuannya dapat ditafsirkan sesuai dengan situasi pembicaraan dan menunjuk pada sesuatu di luar bahasa seperti kata tunjuk. Berdasarkan beberapa pendapat.ruang dan waktunya. . Bentuk rujukan seperti itu disebut dengan katafora. sekarang baru dapat diketahui maknanya jika diketahui pula siapa. deiksis waktu. 1977: 637 via Djajasudarma. 1993: 43). 1993: 44). deiksis wacana dan deiksis sosial (Nababan. yaitu deiksis orang. Pertama ialah orang pertama. Rujukan semacam itu oleh Nababan (1987: 40) disebut deiksis (Setiawan. Apabila persona pertama dan kedua akan dijadikan endofora. di tempat mana. dan waktu kapan kata-kata itu diucapkan. misalnya dia dan mereka. yang menjadi pusat orientasi deiksis adalah penutur. yaitu kategori rujukan pembicara kepada seorang pendengar atau lebih yang hadir bersama orang pertama. Kata seperti saya. Peran peserta itu dapat dibagi menjadi tiga. yaitu dari kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung. dan sebagainya. Deiksis orang ditentukan menurut peran peserta dalam peristiwa bahasa. 1997: 6). Fenomena deiksis merupakan cara yang paling jelas untuk menggambarkan hubungan antara bahasa dan konteks dalam struktur bahasa itu sendiri. kalian. untuk mengetahui siapa pembicara dan lawan bicara kita harus mengetahui situasi waktu tuturan itu dituturkan. Jenis Deiksis Deiksis ada lima macam. Perujukan dapat pula ditujukan pada bentuk yang akan disebut kemudian. frase atau ungkapan yang akan diberikan. sini. saat dan tempat dituturkannya kata-kata itu.

Duduklah kamu di sini. Menurut pendapat Becker dan Oka dalam Purwo (1984: 21) bahwa deiksis persona merupakan dasar orientasi bagi deiksis ruang dan tempat serta waktu. dapat ditambahkan sesuatu kata/frasa keterangan waktu. mangga itu banyak dibeli. seperti bentuk dia. Sebagai contoh. Contoh pemakaian deiksis waktu dalam bahasa Inggris. now. yang pertama disebut. baik tunggal. sedangkan deiksis waktu dan deiksis tempat adalah deiksis jabaran. Pada kalimat (8b). Dalam banyak bahasa. I bought a book. penggunaan deiksis waktu sudah jelas. Deiksis Wacana Deiksis wacana ialah rujukan pada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan atau sedang dikembangkan (Nababan. Dari kedua contoh di atas dapat kita ketahui bahwa -nya pada contoh (11a) mengacu ke paman . b. I bought the book 2 years ago. umpamanya. Namun apabila diperlukan pembedaan/ketegasan yang lebih terperinci. I am buying a book. baik yang berupa bentuk kita maupun bentuk kami masih mengandung bentuk persona pertama tunggal dan persona kedua tunggal. last year. 1987: 41).membedakan antara ³yang dekat kepada pembicara´ (di sini) dan ³yang bukan dekat kepada pembicara´ (termasuk yang dekat kepada pendengar -di situ) (Nababan. yang berikut. Oleh karena bersifat endofora. ia. seperti bentuk sekalian dan kalian. 1987: 42). b. itu. dapat bersifat endofora dan eksofora. Sebagai contoh penggunaan deiksis tempat. yakni sebuah kursi atau sofa. dalam kalimat (9a) dan (9b). dsb. 1997: 9). (11) a. yesterday. b. d. Di sini dijual gas Elpiji. Contoh dalam bahasa Inggris: (10) a. Frasa di sini pada kalimat (8a) mengacu ke tempat yang sangat sempit. Berbeda dengan kata ganti persona pertama dan kedua. acuannya lebih luas. b. Hal ini dikarenakan bentuk tersebut. Deiksis Waktu Deiksis waktu ialah pemberian bentuk pada rentang waktu seperti yang dimaksudkan penutur dalam peristiwa bahasa. begitulah. Deiksis wacana mencakup anafora dan katafora. Deiksis Tempat Deiksis tempat ialah pemberian bentuk pada lokasi menurut peserta dalam peristiwa bahasa. deiksis (rujukan) waktu ini diungkapkan dalam bentuk ³kala´ (Inggris: tense) (Nababan. yakni suatu toko atau tempat penjualan yang lain. Katafora ialah penunjukan ke sesuatu yang disebut kemudian. -nya maupun bentuk jamak.Bentuk pronomina persona pertama jamak bersifat eksofora. Semua bahasa -termasuk bahasa Indonesia. kata ganti persona ketiga. Karena aromanya yang khas. (8) a. Bentuk-bentuk yang dipakai untuk mengungkapkan deiksis wacana itu adalah kata/frasa ini. c. (9) a. Paman datang dari desa kemarin dengan membawa hasil palawijanya. maka dapat berwujud anafora dan katafora (Setiawan. I bought the book yesterday. Anafora ialah penunjukan kembali kepada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dalam wacana dengan pengulangan atau substitusi. Meskipun tanpa keterangan waktu. 1987: 41). dan sebagainya. Deiksis persona merupakan deiksis asli. yang terdahulu. b.

biasanya digunakan dalam tulisan atau ujaran yang resmi. -ku kami kita Kedua engkau. Tabel 1: Pronomina Persona Persona Makna Tunggal Jamak Netral Eksklusif Inklusif Pertama saya. madyo dan kromo kalau sistem bahasa itu dibagi tiga. kromo dan kromo inggil kalau sistemnya dibagi empat. kamu. aku. daku. Perbedaan itu dapat ditunjukkan dalam pemilihan kata. dan ngoko. -nya mereka. e.yang sudah disebut sebelumnya. 1987: 42). Pronomina persona adalah pronomina yang dipakai untuk mengacu ke orang. atau mengacu pada orang yang dibicarakan (persona ketiga) (Moeliono. Dalam beberapa bahasa. dia. dan daku. memakai kata nedo dan kata dahar (makan). Dalam bahasa Inggris dikenal tiga bentuk kata ganti persona. 1997: 172). Berikut ini adalah pronomina persona yang disajikan dalam tabel. ³unda-usuk´. dapat juga dipakai untuk menyatakan hubungan pemilikan dan diletakkan di belakang nomina yang . Pronomina dapat mengacu pada diri sendiri (persona pertama). atau ngoko. pendengar dan/atau orang yang dibicarakan/bersangkutan. mengacu pada orang yang diajak bicara (persona kedua). C. yang menjadi pendengar/pembaca. Secara tradisional perbedaan bahasa (atau variasi bahasa) seperti itu disebut ³tingkatan bahasa´.juga predikat. 1997: 9). Aspek berbahasa seperti ini disebut ³kesopanan berbahasa´. pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu ke nomina lain. dan -dalam macam kalimat tertentu. Dalam bahasa Jawa umpamanya. dalam bahasa Jawa. atau ´etiket berbahasa´ (Geertz. seperti subjek. 1997: 276 via Setiawan. beliau. 1987: 42-43). aku. 1960 via Nababan. Deiksis Sosial Deiksis sosial ialah rujukan yang dinyatakan berdasarkan perbedaan kemasyarakatan yang mempengaruhi peran pembicara dan pendengar. menunjukkan perbedaan sikap atau kedudukan sosial antara pembicara. Anda. dikau. pronomina persona pertama tunggal adalah saya. 1997: 170). Anda (sekalian) Ketiga ia. Bentuk saya. Bentuk saya. yaitu persona pertama. 1988: 172 via Setiawan. persona kedua dan persona ketiga (Lyons. kamu (sekalian). Ciri lain yang dimiliki pronomina ialah acuannya dapat berpindah-pindah karena bergantung pada siapa yang menjadi pembicara/penulis. ku-. sedangkan pada contoh (11b) mengacu ke mangga yang disebut kemudian. 1997: 9). Jika dilihat dari segi fungsinya. dapat dikatakan bahwa pronomina menduduki posisi yang umumnya diduduki oleh nomina. atau siapa/apa yang dibicarakan (Moeliono. madyo. ngoko dan kromo dalam sistem pembagian dua. -mu kalian. Bentuk Pronomina Persona Jika ditinjau dari segi artinya. -nya a) Pronomina Persona Pertama Dalam Bahasa Indonesia. kau-. perbedaan tingkat sosial antara pembicara dengan pendengar yang diwujudkan dalam seleksi kata dan/atau sistem morfologi kata-kata tertentu (Nababan. Bahasa Indonesia juga mengenal tiga bentuk persona seperti dalam bahasa Inggris (P&P. objek.

Pronomina persona kedua Anda dimaksudkan untuk menetralkan hubungan. b) Pronomina Persona Kedua Pronomina persona kedua tunggal mempunyai beberapa wujud. dia. pronomina itu mencakupi tidak saja pembicara/penulis. jika berfungsi sebagai objek. orang yang status sosialnya lebih tinggi. yaitu bentuk kalian dan bentuk pronomina persona kedua ditambah sekalian: Anda sekalian. Pronomina persona pertama aku. hanya bentuk dia dan -nya yang dapat muncul. yaitu -ku dan ku-. atau di depan verba. misalnya: rumah saya. Pada umumnya mereka hanya dipakai untuk insan. D. ia dan dia sama-sama dapat dipakai. pada umumnya digunakan dalam karya sastra. yakni kami dan kita. kamu sekalian. dalam hubungan bersemuka. Selain itu. pada cerita fiksi atau narasi lain yang menggunakan gaya fiksi. Mereka tidak mempunyai variasi bentuk sehingga dalam posisi mana pun hanya bentuk itulah yang dipakai. cara menggunakan lambang-lambang bahasa. dikau. makna adalah maksud pembicaran. tetapi pembicara tidak ingin bersikap terlalu formal ataupun terlalu akrab. pengaruh satuan bahasa dalam pemahaman persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia. misalnya usul mereka. paman saya. Sedangkan untuk pronomina persona pertama daku. misalnya dengan mengulang nomina tersebut atau dengan mengubah sintaksisnya. Pronomina persona kedua juga mempunyai bentuk jamak. atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjuknya.dan -mu. Makna Deiksis Pronomina Persona Menurut Kridalaksana (2001: 132). tetapi juga pendengar/pembaca. artinya. kata mereka kadangkadang juga dipakai untuk mengacu pada binatang atau benda yang dianggap bernyawa. Akan tetapi. hubungan. lebih banyak digunakan dalam situasi non formal dan lebih banyak menunjukkan keakraban antara pembicara/penulis dan pendengar/pembaca. hanya dia. orang yang mempunyai hubungan akrab. Bentuk terikat itu masing-masing adalah kau. kau. tetapi tidak mencakupi orang lain dipihak pendengar/pembacanya. rumah mereka. Pronomina persona kedua yang memiliki varisi bentuk hanyalah engkau dan kamu. artinya. tanpa memandang umur atau status sosial. Pronomina persona aku mempunyai variasi bentuk. dalam arti kesepadanan atau ketidaksepadanan antara bahasa dan alam di luar bahasa. Dari keempat pronomina tersebut. Pronomina persona kedua engkau. Benda atau konsep yang jamak dinyatakan dengan cara yang lain. kamu. sehingga Anda tidak diarahkan pada satu orang khusus. pronomina itu mencakupi pembicara/penulis dan orang lain dipihaknya. pronomina Anda juga digunakan dalam hubungan yang tak pribadi. c) Pronomina Persona Ketiga Pronomina persona ketiga tunggal terdiri atas ia. Pronomina persona ketiga tunggal beliau digunakan untuk menyatakan rasa hormat. kita bersifat inklusif. -nya dan beliau yang dapat digunakan untuk menyatakan milik.dan -mu. dan mungkin pula pihak lain. Akan tetapi. dapat dipakai oleh orang tua terhadap orang muda yang telah dikenal dengan baik dan lama. yakni engkau.dimilikinya. . Sebaliknya. dan -mu. Dalam posisi sebagai subjek. Pronomina persona ketiga jamak adalah mereka. bahasa Indonesia mengenal pronomina persona pertama jamak. Selain pronomina persona pertama tunggal. atau terletak di sebelah kanan dari yang diterangkan. yakni dipakai oleh orang yang lebih muda atau berstatus sosial lebih rendah daripada orang yang dibicarakan. -nya dan beliau. Kami bersifat eksklusif. kamu Anda.

makna deskriptif. yaitu: (1) yang diartikan (Perancis: signifie. yaitu (1) makna konseptual. makna bahasa dapat terdiri dari bermacammacam jenisnya. makna konseptual. Oleh karena itu. dengan kata lain setiap tanda-linguistik terdiri dari unsur bunyi dan unsur makna. makna idesional. makna pusat. dan (7) makna tematik (Chaer. Inggris: signifier). (b) konsep/makna (a) kata/leksem (c) sesuatu yang dirujuk (referen) Hubungan antara (a) dan (c) bersifat tidak langsung. makna leksikal. Sedangkan Leech (1976) membedakan adanya tujuh tipe makna. yaitu makna leksikal. makna proposisional. makna inti. 1994: 288). makna konstruksi. makna kognitif. (2) makna konotatif. yaitu: makna sempit. makna proposisi. dan mungkin juga biasanya. makna gereflekter. makna sempit. makna kolokasi. dapat dibagankan sebagai berikut. sebab (a) adalah masalah dalam-bahasa dan (c) masalah luar-bahasa yang hubungannya biasanya bersifat arbitrer. Sedangkan hubungan (a) dan (b) serta hubungan (b) dan (c) bersifat langsung. makna denotatif. dan makna kalimat baru dapat ditentukan apabila kalimat itu berada di dalam konteks wacananya atau konteks situasinya (Chaer. makna majas (kiasan). hubungan (b) dan (c) bahwa (c) adalah acuan dari (b) tersebut. (4) makna afektif. Pateda (1986) melalui Chaer (1995: 59) mengemukakan adanya jenis-jenis makna. makna leksikal. Di dalam penggunaannya dalam pertuturan yang nyata makna kata atau leksem itu seringkali. makna piktorial. makna kata. dan makna pribahasa. makna referensial. makna konseptual. makna gramatikal. Jadi. makna non-referensial. yaitu makna afektif. 1995: 59). makna konotatif. makna konotatif. Menurut Djajasudarma (1993: 6). makna konotatif/emotif. makna intensi. makna referensial. makna kiasan. makna denotatif. makna gramatikal. makna piktorial. Ada teori yang menyatakan bahwa makna itu tidak lain daripada sesuatu atau referen yang diacu oleh kata atau leksem itu. (6) makna kolokatif. Inggris: signified) dan (2) yang mengartikan (Perancis: signifiant. (5) makna reflektif. makna luas. makna gramatikal. makna kontekstual. sedangkan yang mengartikan (signifiant) adalah bunyi-bunyi yang terentuk dari fonemfonem bahasa yang bersangkutan. makna istilah. makna terdiri atas beberapa jenis. Hanya perlu dipahami bahwa tidak semua kata atau leksem itu mempunyai acuan konkret di dunia nyata. Yang diartikan (signifie) sebenarnya adalah konsep atau makna dari sesuatu tanda bunyi. Bila dilihat dari segi atau pandangan yang berbeda. (3) makna stilistika. makna konstruksi. Titik (a) dan (b) sama-sama berada di dalam-bahasa. makna ekatensi. . Chaer (1994) membagi jenis makna menjadi tigabelas. Kedua unsur ini adalah unsur dalam-bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk atau mengacu kepada sesuatu referen yang merupakan unsur luar-bahasa (ekstralingual) (Chaer. banyak pakar yang mengatakan bahwa kita baru dapat menentukan makna sebuah kata apabila kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya. makna stilistika. Hubungan antara tanda linguistik (bersama unsur bunyi dan makna) dengan unsur referennya. terlepas dari pengertian atau konsep dasarnya dan juga acuannya. makna luas. makna referensial. makna idesional. makna kognitif. makna emotif. dan makna tematis. makna idiom. 1995: 29).Ferdinand de Saussure membagi setiap tanda linguistik menjadi dua. makna asosiatif.

Perhatikan contoh.´ kata salah seorang staf karyawan. makna asal. Pada kalimat (12). 1994: 292). ³Saya juga bertemu beliau kemarin. ke dalam makna kognitif tersebut ditambahkan komponen makna lain (Djajasudarma. dan akan datang ke rumah penutur). Menurut Djajasudarma (1993: 11). sedangkan pada kalimat (13) saudara bermakna sempit µkerabat¶. Penggunaan kata Bapak pada kalimat (14) dengan (15) mengalami perubahan makna. atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem (Chaer.´ kata Ibu. (Konteks: diberitahukan bahwa pimpinan sekolah sedang mengadakan rapat dengan para guru sekolah tersebut). yang mengacu pada seseorang yang mempunyai nama Dian. 1993: 8). Pada kalimat (14) kata Bapak bermakna sempit µorang tua kandung¶. (12) ´Apakah saudara tidak mau mengakuinya?´ kata Pak Polisi. 1995: 66). Sebagai contoh. Makna konotatif muncul sebagai akibat asosiasi perasaan kita terhadap apa yang diucapkan atau apa yang didengar.´ kata Dian kepada Dani. perasaan. B: ³Benarkah?´ sahut Dani. (13) Saudara saya yang dari Bandung akan datang hari ini. Berbeda dengan kata-kata yang bermakna sempit.´ . melainkan dapat berpindah dari maujud yang satu kepada maujud yang lain (Chaer. sedangkan pada kalimat (15) kata Bapak bermakna luas µpanggilan untuk laki-laki dewasa¶. atau pengalaman lainnya (Chaer. (14) ³Bapak sedang sakit. Makna referensial adalah makna sebuah kata atau leksem yang mempunyai referen atau acuannya. 1993: 9). dari makna sempit ke makna meluas. Makna luas (widened meaning atau extended meaning) adalah makna yang terkandung pada sebuah kata lebih luas dari yang diperkirakan (Djajasudarma. (Konteks: seorang Ibu yang memberitahuan keadaan suaminya kepada anaknya). 1993: 7). kata saudara bermakna µpanggilan pada seseorang¶. Makna denotatif adalah makna asli. 1994: 291). yaitu maknanya akan menyempit (memiliki makna sempit). Makna konotatif adalah makna yang muncul dari makna kognitif (lewat makna kognitif). Sebagai contoh. makna referensial adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan atau referen (acuan). 1993: 9). (Konteks: penutur memiliki saudara sepupu yang tinggal di Bandung.Makna sempit (narrowed meaning) adalah makna yang lebih sempit dari keseluruhan ujaran (Djajasudarma. Makna denotatif juga dapat diartikan sebagai makna yang sesuai dengan hasil observasi menurut penglihatan. (Konteks: seorang pencuri yang sedang diinterogasi oleh polisi atas tuduhan pencurian). sekarang. Berkenaan dengan acuan ini ada sejumlah kata yang disebut kata-kata deiktik yang acuannya tidak menetap pada satu maujud. makna denotatif nampak pada penggunaan kata Dian. kata-kata yang bermakna luas digunakan untuk mengungkapkan gagasan atau ide yang umum. Pada kalimat (16) di atas. (16) Dian adalah salah satu mahasiswa jurusan bahasa Indonesia. penciuman. Kata saudara pada kalimat (12) dengan (13) mengalami perubahan makna. Sebagai contoh. pendengaran. (17) A: ³Kemarin saya bertemu dengan Ibu Ani. (15) ³Bapak Kepala Sekolah sedang mengadakan rapat dengan para guru. Makna kognitif disebut juga makna deskriptif atau denotatif adalah makna yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan (Djajasudarma.

makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indera. dan karena. Makna leksikal dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon. Kalimat (22a) mengungkapkan perasaan benci penutur terhadap seseorang. atau bersifat kata. Perhatikan contoh berikut. 1993: 15). Sebagai contoh. menendang bermakna µaktif¶. Berbeda dengan makna referensial. yang diucapkan oleh lawan tuturnya.Dari contoh di atas. Ia tinggal di gang yang becek itu. sebangsa bintang pengerat yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit tifus. Perasaan dapat pula berupa perasaan gembira di samping perasaan yang disebutkan di atas (Djajasudarma. Dari contoh di atas. Adik menulis surat. dan proses komposisi (Chaer. Perhatikan contoh berikut. Pada kalimat (18) di atas. 1995: 62). proses reduplikasi. Makna piktorial adalah makna suatu kata yang berhubungan dengan perasaan pendengar atau pembaca. sedangkan pada kalimat (17B) kata saya mengacu pada Dani. (22) a. Dari kedua contoh di atas. b. Tikus itu mati diterkam kucing. 1993: 12). (19) a. kalimat. dapat kita ketahui bahwa kedua kalimat tersebut dapat melahirkan makna gramatikal. makna non-referensial merupakan makna sebuah kata yang tidak mempunyai acuan atau referen. jelas bahwa. atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita (Chaer 1995: 60). b. Makna pusat adalah makna yang dimiliki setiap kata yang menjadi inti ujaran. enklitik -nya digunakan untuk menyatakan milik atau kepunyaan. Sebagai contoh. Di samping itu. Pada kalimat (22b) dapat dilihat adanya makna piktorial . Kalimat (20b) menunjukkan kata adik bermakna µpelaku¶. 1994: 289). misalnya. Sebagai contoh. atau. Pada contoh kalimat (21) di atas. dapat kita lihat bahwa pada kalimat (22a) dan (22b) memunculkan makna piktorial. Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apa pun (Chaer. b. Makna gramatikal adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatika seperti proses afiksasi. Misalnya kata-kata seperti dan. makna milik yang diungkapkan dengan urutan kata di dalam bahasa Indonesia. dalam hal ini adalah rumah. Kalimat (20a) menunjukkan kata adik bermakna µpelaku¶. dalam kalimat (19b) kata tikus bukanlah dalam makna leksikal karena tidak merujuk kepada binatang tikus melainkan kepada seorang manusia. yang menjadi pusat (inti) pembicaraan adalah Ali sedangkan untuk adalah seorang laki-laki merupakan bagian untuk menerangkan kata Ali. Adik menendang bola. Yang menjadi tikus di gudang kami ternyata berkepala hitam. (21) Ali adalah seorang laki-laki. Perasaan muncul segera setelah mendengar atau membaca suatu ekspresi yang menjijikan. makna milik dapat diungkapkan melalui enklitik sebagai akhiran yang menunjukkan kepunyaan (Djajasudarma. dan bola bermakna µsasaran¶. Namun. (18) Rumahnya jauh dari sini. atau perasaan benci. Atau juga dikatakan makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya. wacana) memiliki makna yang menjadi pusat (inti) pembicaraan (Djajasudarma. Setiap ujaran (klausa. Makna konstruksi (construction meaning) adalah makna yang terdapat di dalam konstruksi. dan surat bermakna µhasil¶. bersifat leksem. Kata tikus pada kalimat (19a) merupakan makna leksikal karena jelas merujuk kepada binatang tikus. 1993: 16). (20) a. Kenapa kau sebut nama dia. menulis bermakna µaktif¶. yang pebuatannya memang mirip dengan perbuatan tikus. pada kalimat (17A) kata saya mengacu pada Dian.

kata kepala bermakna µbagian atas surat¶. Sebagai contoh. Dari ketiga kalimat di atas. Namun. yang mana apabila sasaran penyelidikannya tertumpu pada hal-hal yang berkaitan dengan sintaksis. tidak seluruh jenis makna yang dikemukakannya sesuai dengan sampel data yang ada. (24) Saudara berhak membunuh saya. Pada kalimat (23a). Deskripsi dan Teori´. pokok kalimatnya dapat terdiri dari sekelompok orang atau benda yang ikut serta dalam tindakan. kata kepala bermakna µpimpinan¶. Sedangkan sebagai subjek (S) tunggal. kata kepala bermakna µbagian anggota tubuh¶. kita bermusuhan. sebagai sebutan kalimat. Sebagai subjek (S) jamak. Ini dilakukan mengingat bahwa dalam sintaksis itu ada pula tataran bawahan yang disebut fungsi gramatikal. (25) Saya dan Dar berpandang-pandangan. Selain itu. kalimat (23b). baik transitif maupun intransitif. Dari beberapa teori di atas. maka peneliti memberikan istilah sendiri untuk sampel data tersebut sebagai jenis makna. c. Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks (Chaer. Menurut Alieva. pokok kalimatnya merupakan salah satu dari subjek (S) jamak yang lebih penting bagi kalimat ini. Rambut di kepala nenek belum ada yang putih. dkk dalam bukunya yang berjudul ³Bahasa Indonesia. Peran . (23) a. (26) Apalagi mereka berdua tak asing-mengasing lagi. E. b. Untuk ketiga contoh di atas. peneliti juga menggunakan teori lain tentang makna. sesudah perempuan itu masuk ke dalam. pokok kalimatnya dapat menyatakan subjek (S) jamak maupun subjek (S) tunggal. SPOK (a). yang menyebutkan tentang makna kebersamaan. kategori gramatikal.dengan perasaan jijik. Untuk itu. dkk. ada sebagian sampel data yang tidak sesuai dengan kedua teori tersebut. Hal itu dikarenakan bahwa dari beberapa makna yang dikemukakan olehnya. diketengahkan adanya istilah semantik sintaktikal. Sebagai contoh. ada makna yang sesuai dengan sampel data yang ditemukan. makna terdiri dari makna timbal balik dan makna kebersamaan. Fungsi Deiksis Pronomina Persona Dalam tataran tata bahasa atau gramatika. Hal ini dapat dilihat pada bagan berikut. Fungsi (b). dan pada kalimat (23c). 1994: 290). dapat kita lihat penggunaan kata kepala pada kalimatkalimat berikut. penggunaan kata kepala mempunyai makna konteks yang berbeda. yaitu teori dari Alieva. Pada kedua makna ini. teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori yang dikemukakan oleh Djajsudarma. dapat dilihat bahwa pokok kalimatnya menyatakan subjek (S) jamak. Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu. Nomor teleponnya ada pada kepala surat itu. dan peran gramatikal. Makna timbal balik dan makna kebersamaan dibentuk dengan memakai verba. Kategori (c).

Artinya. patient. dan sebagainya (Chaer. Pada contoh (27) di atas. Apabila dibandingkan dengan teori generatif semantik. 1995: 22). Kasus Agentif (A) Kasus agentif merupakan kasus yang secara khusus ditujukan bagi makhluk hidup (yang bernyawa) yang merasakan hasutan tindakan yang diperkenalkan oleh verba. objek (O). dll. pasien. seperti dalam kalimat Ibu membeli gula. yaitu: a. instrumental. compliment. dan sebuah KB yang berfungsi semantik patient yaitu sepatu (Chaer. Sebagai contoh. predikat (P). Yang memiliki makna adalah pengisi kotak-kotak yang disebut kategori gramatikal seperti nomina. sebab semuanya hanya berupa kotak atau tempat yang kosong. Berapa banyak KB yang hadir dalam suatu struktur semantik tergantung pada jenis/tipe KK dalam struktur itu. dan keterangan (K) yang sebenarnya tidak mempunyai maksud. tujuan (object). benefactive. Modalitas berkenaan dengan negasi. Chafe tidak menggunakan istilah kasus untuk menyatakan relasi semantik anatara KK dengan KB dalam suatu struktur semantik. Yang dimaksud dengan kasus (case) dalam teori ini adalah hubungan antara verba dengan nomina dalam struktur semantis. Wallace L. KK aksi monotransitif menghadirkan dua KB. Chafe tetap menggunakan istilah KB yang menurut fungsi semantiknya bisa berlaku sebagai agent. kasus yang mengacu pada agent atau pelaku suatu tindakan. experince. Sedangkan proposisi berwujud sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus. Chafe menyatakan bahwa dalam analisis bahasa komponen semantiklah yang merupakan pusat. (27) Tom memangkas mawar. lokatif. Dalam struktur semantik ini KK merupakan pusat. 1995: 21). Hanya argumen di sini diberi nama kasus. Henry Guntur Tarigan dalam bukunya yang berjudul ³Pengajaran Tatabahasa Kasus´ (1989: 68). dalam karangannya ³Case for Case´ (1968) membagi kalimat atas modalitas dan proposisi.Fungsi gramatikal berupa ³kotak-kotak kosong´ yang diberi nama subjek (S). 1995: 21-22). Kini sebagai pengisi kotak-kotak itu memiliki peran gramatikal seperti peran agentif. bentuk Tom dalam kalimat tersebut berfungsi debagai agent atau pelaku tindakan yaitu tindakan memangkas mawar. Jadi KK membelikan dari contoh di atas menghadirkan sebuah KB yang berfungsi sebagai semantik agent yaitu Ibu. alat (means). objek. yaitu (1) kata kerja/KK dan (2) kata benda /KB. locative. Dalam versi 1971. yang dikenal sebagai tokoh tata bahasa kasus. aspek. Kasus Benefaktif (B) Kasus benefaktif adalah kasus yang ditujukan bagi makhluk hidup (yang bernama) yang memperoleh keuntungan oleh tindakan yang diperikan oleh verba. Fillmore. b. pengalami (experiencer). KK menentukan hadirnya KB dalam struktur semantik itu. dan adverbia. verba. benefaktif. Fillmore membatasi jumlah kasus menjadi pelaku (agent). maka verba di sini sama dengan predikat dan nomina sama dengan argumen. dan maujud yang dihubungkan dengan predikat (referential) (Chaer. atau adjektiva. Menurut Chafe struktur semantik terdiri dari dua unit semantik pokok. kala. KK keadaan hanya menghadirkan satu Kb seperti dalam kalimat Ibu termenung. sedangkan KK aksi bitransitif menghadirkan tiga KB seperti kalimat Ibu membelikan adik sepatu (Chaer. keadaan/tempat/waktu yang sudah (source). nomina atau frase nomina yang mengacu pada orang atau binatang yang melakukan atau memprakarsai tindakan verba. Kategori-kategori ini yang sesungguhnya sudah memiliki makna leksikal. keadaan/tempat/waktu yang akan datang (goal). nomina atau frase nomina . mengemukakan adanya sembilan fungsi semantik atau kasus. 1995: 9) Charles J. sebagai KB yang berfungsi semantik benefaktif yaitu adik.

e. (29) Rony berdagang mobil dengan Budi. d. Kasus Objektif (O) Kasus objektif merupakan kasus yang secara semantis paling netral. bagi. yang mengacu pada hubungan sintaktik yang terjalin antara suatu kalimat. dan. Contoh. (34) Rakit itu bergerak. buat. (33) Mereka mengiris sosis itu dengan pisau. demi. Preposisi yang berhubungan dengan kasus ini adalah dengan. Kasus ini kadang-kadang disebut juga experiencer case atau kasus pengalam. atau dianggap atau diartikan sebagai suatu bagian dari makna verba. nomina atau frasa nomina yang mengacu pada orang atau binatang yang dipengaruhi oleh keadaan atau tindakan verba di dalam kasus datif. f. Sebagai contoh. Contoh. Contoh. Sebagai contoh. bentuk Louise yang mendapatkan atau memeperoleh keuntungan dari tindakan verba. bersama. Kasus Komitatif Kasus komitatif adalah kasus yang ditujukan bagi frasa nomina yang menanggung suatu hubungan konjungtif dengan frasa nomina lain dalam kalimat. karena dalam konstruksi kalimat tersebut. (28) Joan membakar kue buat Louise. nomina atau frasa nomina yang mengacu pada sesuatu yang dibuat atau diciptakan oleh tindakan/aksi verba berada dalam kasus faktitif. g. c. kasus dari segala sesuatu yang dapat digambarkan atau diwakili oleh sesuatu nomina yang peranannya di dalam tindakan atau keadaan diperkenalkan oleh verba diperkenalkan oleh interpretasi semantik verba itu sendiri. Sebagai contoh. i. Pada contoh (28) di atas. Kasus Faktitif (F) Kasus faktitif merupakan kasus objek atau yang merupakan akibat dari tindakan atau keadaan yang diperkenalkan oleh verba. Kasus Instrumental (I) Kasus instrumental adalah kasus yang berkekuatan tidak hidup/tak bernyawa atau objek yang secara kausal terlibat di dalam tindakan atau keadaan yang diperkenalkan oleh verba. Penanda kasus datif dalam bahasa Indonesia adalah kepada. John merupakan subjek ergatif -agent atau penyebab tindakan/perbuatanh. Kasus ini memiliki ciri menggunakan preposisi dengan. Kasus Ergatif (E) Kasus ergatif adalah kasus yang bersifat kausatif. (32) Tony membangun bangsal. terhadap. yang berfungsi benefaktif adalah bentuk Louise. John menggerakkan rakit itu. Contoh. Kasus Datif (D) Kasus datif adalah kasus mengenai makhluk hidup (yang bernyawa) yang dipengaruhi oleh keadaan atau tindakan yang diperkenalkan oleh verba. (31) Kami berbakti terhadap negara. (35) Mary membuka laci itu dengan kunci.yang mengacu pada orang atau binatang yang memperoleh keuntungan atau dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan dari tindakan verba. (30) Saya setia kepada istri saya. Kasus Lokatif (L) . Kasus benefaktif dihubungkan dengan preposisi untuk.

J. rumah + -mu = rumah kepunyaanmu. dkk. Sebagai penunjuk kepunyaan Bentuk deiksis pronomina persona apabila disambungkan dengan nomina. b. tempat atau letak ataupun orientasi ruang/keadaan atau tindakan yang diperkenalkan oleh verba. Bentuk tersebut digunakan dalam konstruksi tuturan langsung dengan kata pengantar penutur berada di depan tuturan langsung. e. Bandingkan dengan . Dalam bahasa kesusastraan. Bentuk pronomina. c. Untuk contoh kalimat (39). Sebagai penunjuk postpositif Artinya bahwa bentuk deiksis di sini untuk menyatakan hubungan milik antara dua nomina. dari. Sebagai contoh. Misalnya: bentuk rumahku. Fungsi yang demikian. Pada contoh kalimat (37) dan (38). (41) Sudah lama dia tidak melewatiku. Penanda kasus lokatif ini adalah di. Sebagai contoh: kawannya Salim. bentuk deiksis dapat menyatakan subjek pelaku. -mu. rumah saya. karena takut diketahui olehnya. yang tidak terdapat dalam bahasa Melayu klasik. yang menyatakan kepunyaan bukalah wujud deiksis seperti -ku. Untuk menyatakan subjek tindakan/pelaku Pronomina persona dapat digunakan untuk menyatakan subjek tindakan/pelaku dengan verba intransitif dan dengan kata akar yang dipakai untuk mengantarkan tuturan langsung. bentuk deiksis itu langsung disambungkan pada verba tersebut. Sebagai contoh. dll. -nya. timbul sebagai akibat pengaruh bahasa Jawa. seperti halnya bentuk enklitis. oleh. rumah mereka. Artinya bahwa. d. melainkan hubungan antara kedua unsur tersebut: rumah + -ku = rumah kepunyaanku. tidak dapat dipakai dengan peposisi di dan ke yang sama sekali tidak berangkaian dengan pronomina personal. Untuk menyatakan objek tindakan/pelaku Untuk menyatakan objek pelaku. Sebagai contoh. kataku. fungsi ini terbatas hanya pada kasus-kasus di mana dapat timbul salah tafsir bila dua nomina berdampingan. (37) Kakak memberikan buku itu kepadaku. deskripsi dan teori´ fungsi deiksis meliputi: a. dll tersebut. yaitu: a. Sebagai contoh. (39) Perginya terlambat: ³Engkau salah´. Bentuk deiksis pronomina persona dapat digunakan untuk menyatakan subjek pelaku apabila ditempelkan pada verba pasif berawalan -di. Badudu dalam bukunya ³Pelik-pelik Bahasa Indonesia´ (1993: 110-111) menyebutkan beberapa fungsi deiksis pronomina persona. (40) Saya sudah dilihatnya. seperti bentuk preposisi kepada. Menurut Alieva.Kasus lokatif adalah kasus yang memperkenalkan lokasi. terlihat bahwa bentuk deiksis dapat dirangkai dengan bentuk preposisi. S. Contoh. Sebagai penunjuk kepunyaan Dalam hal ini. (36) Irine menaruh majalah itu di (atas) meja. (38) Ibu merahasiakan semua itu. Sebagai perangkai preposisi. rumah + -nya =rumah kepunyaannya. dapat menunjukkan hubungan kepunyaan (menyebutkan pemilik). bentuk deiksis pronomina persona digunakan pada verba transitif berawalan me-. bentuk-bentuk deiksis dapat digunakan sebagai perangkai preposisi. Dalam pemakaiannya. dalam bukunya yang berjudul ³Bahasa Indonesia. ke.

Sebagai objek penderita dalam bentuk enklitik Contoh: (44) Aku memandangnya sebagai kakakku. melainkan lahir karena adanya hubungan kedua kata itu. Untuk itu. dari beberapa fungsi yang dikemukakan oleh Tarigan. halamanku. Makna ³pemilikan´ bukan terdapat pada kata paman dan Amir di belakang kata rumah. peneliti menggunakan teori lain yang dapat melengkapi dan yang sesuai dengan sampel data yang tersisa. liputan. yaitu fungsi penunjuk kepunyaan dan fungsi perangkai preposisi. olahraga.menyatakan superlatif Contoh: (51) Sepandai-pandainya tupai melompat. majalah Bobo juga memuat tentang profil. dari teman (Apa Kabar. b. Sebagai pembentuk kata keterangan Contoh: (49) Agaknya akan turun hujan hari ini. rumah Amir. Majalah Bobo merupakan salah satu majalah anak-anak yang terbit satu kali dalam setiap minggunya. Hubungan ini disebut hubungan posesif (hubungan kepunyaan). Sebagai penunjuk Contoh: (50) Penyakit itu sukar dicari obatnya. yaitu setiap hari Kamis. dan sebagainya dan menurut pengkhususan isinya. ilmu pengetahuan. (43) Kuakui itu adalah salahku sendiri. sekali gagal juga. tengah bulanan. wanita. (45) Siapa yang akan menyertaimu naik haji nanti? d. tak disangka). G. F.rumah paman. Cerita Pendek . e. Selain itu. Teori yang dimaksudkan di sini merupakan teori yang dikemukakan oleh Alieva. Hal itu dikarenakan bahwa dari sampel data yang ditemukan dalam penelitian ini menunjukkan adanya kesesuaian antara sampel data dengan teori tersebut. Bersama-sama dengan awalan se. cerita bergambar. pandangan tentang topik aktual yang patut diketahui konsumen pembaca. teori fungsi yang digunakan merupakan teori yang dikemukakan oleh Tarigan. peneliti memberikan istilah sendiri untuk menyebut fungsi deiksis sesuai dengan ciri-ciri sampel data. mana kuenya? f. (-nya = penyakit seperti itu) h. arena kecil. dkk. (47) Barang-barang itu sengaja kubeli untukmu. Sebagai alat pembentuk kata benda Contoh: (42) Salahmu masih dapat dimaafkan. ensiklobobo. Namun. Sebagai objek penyerta dalam bentuk enklitik Contoh: (46) Disampaikannya berita itu kepadaku kemarin. dan sebagainya (KBBI. ilmu pengetahuan tertentu. dan menurut kala penerbitannya dibedakan atas majalah bulanan. 1991: 615). dongeng. Untuk sampel data yang tidak sesuai dengan teori-teori tersebut. Majalah Bobo Majalah adalah terbitan berkala yang isinya meliputi berbagai liputan jurnalistik. Bo?. uji imajinasi. Sebagai kata sandang penentu Contoh: (48) Masa hanya kopi saja. remaja. c. mingguan. sastra. Majalah Bobo memuat berbagai macam cerita anak-anak dari yang berbentuk cerita pendek. g. Dalam penelitian ini. dibedakan atas majalah berita. hanya lima fungsi yang dianggap sesuai dengan sampel data yang ada.

H. Sumber data dalam penelitian ini berupa subjek. tetapi sugestif (Hartoko dan B. flash back. ditentukan dengan metode yang digunakan dalam penelitian.Cerita pendek adalah kisahan pendek (kurang dari 10. Kerangka Pikir Kata tunjuk adalah kata yang digunakan untuk menunjuk sesuatu. Dalam arti kata khusus. makna deiksis pronomina persona dan fungsi deiksis pronomina persona dalam suatu karya sastra. 1984: 15). orang maupun tempat.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi (pada suatu ketika) (KBBI. Dialog. Seperti halnya makna deiksis. baik benda. teori tentang fungsi deiksis yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan teori dari beberapa ahli. Adapun makna deiksis yang terdapat dalam kumpulan cerita pendek di majalah Bobo edisi Januari-Desember 2005 meliputi makna ambiguitas. fungsi objektif. Rahmanto. yaitu perbentukan antara kekuatan yang berlawanan (Sudjiman. 1986: 132). teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori campuran dari beberapa pandapat para ahli. merupakan suatu jenis sastra naratif yang muncul pada bagian pertama abad ke-19 di Amerika Serikat. fungsi komitatif. Sebuah cerpen biasanya didasarkan pada insiden tunggal yang memiliki signifikansi besar bagi tokohnya. Ringkasnya. Dengan menggunakan metode agih. 1991: 187). 1993: 15). dan sebagainya. cerita pendek adalah setiap cerita yang pendek. dan fungsi sapaan. khususnya karya sastra anak. concentration µpemusatan¶. yang semuanya berkaitan dengan panjang cerita dan kualitas struktural yang diisyaratkan oleh panjang cerita itu. makna dan fungsi deiksis pronomina persona. fungsi pengalam. makna luas. impian. jika dalam penggunaannya disesuaikan dengan konteks kalimat dan makna yang dimilikinya. Tamatnya sering kali tiba-tiba dan bersifat terbuka (open ending). diharapkan peneliti lebih mudah dalam mengkategorisasikan dan mendeskripsikan tentang bentuk. kesadaran baru. Penggunaan deiksis pronomina persona dirasa tepat. Sifat umum cerpen ialah pemusatan perhatian pada satu tokoh saja yang ditempatkan pada suatu situasi sehari-hari. fungsi pelaku/agent. yaitu kumpulan cerita pendek di majalah Bobo . tetapi yang ternyata menentukan (perubahan dalam perspektif. Dalam arti umum. Fungsi deiksis pronomina persona yang ditemukan dalam kumpulan cerita pendek di majalah Bobo edisi Januari-Desember 2005 meliputi fungsi penunjuk kepunyaan. Inti cerita pendek adalah tikaian dramatik. dan intensity µpendalaman¶. Ada yang mengatakan bahwa cerpen merupakan karya prosa fiksi yang dapat selesai dibaca dalam sekali duduk dan ceritanya cukup dapat membangkitkan efek tertentu dalam diri pembaca (Sayuti. Deiksis pronomina persona merupakan salah satu bentuk kata tunjuk yang digunakan untuk menunjuk orang atau insani. Sebuah cerpen biasanya memiliki plot yang diarahkan pada insiden atau peristiwa tunggal. Cerita pendek yang efektif terdiri dari tokoh atau sekelompok tokoh yang ditampilkan pada satu latar atau latar belakang dan lewat lakuan lahir atau batin terlibat dalam satu situasi. keputusan yang menentukan). fungsi perangkai preposisi. Dari beberapa teori yang mengemukakan tentang makna deiksis. makna tunggal. Untuk mengetahui bentuk deiksis pronomina persona. cerpen menunjukkan kualitas yang bersifat compression µpemadatan¶. 2000: 9). makna kebersamaan/jamak. Metode agih adalah metode analisis data yang alat penentunya justru bagian dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri (Sudaryanto. sering dipergunakan (pengaruh dari film). fungsi benefaktif. Bahasa-bahasanya sederhana. Salah satu metode yang digunakan adalah metode agih. dan makna sempit.

Fungsi di dalam penelitian ini merupakan fungsi semantis deiksis pronomina persona. frasa. dan bentuk pronomina persona ketiga baik tunggal maupun jamak. Bentuk di sini merupakan bentuk deiksis pronomina persona yang terdiri dari bentuk pronomina persona pertama baik tunggal maupun jamak. 1. Kasus-kasus seperti ini masuk dalam bahasan lingusitik yang dikenal dengan Pragmatik. masalah arit pemcibaca lebih mendekat ke arah penulus yang mempunyai pandangan social lebih luas dalam ilmu linguistic khususnya dalam hal pragmatic. hal ini akan berbeda jika dalam konteks yang lain. Makna dalam penelitian ini merupakan makna deiksis pronomina persona yang digunakan dalam suatu tuturan. Sebagai contoh saya berkata. Digunakannya fungsi semantis di sini karena sampel data dalam penelitian ini merupakan bentuk kalimat yang terdapat di dalam suatu wacana. yang dapat ditentukan dengan melihat konteks kalimat atau konteks wacananya. Kita akan mulai dari arti kontekstual arti ujaran dar melihata kata. Dalam kasus di atas. tidak secara langsung menuju topic. ³Di sini panas ya!´. atau matikan pemanasnya. yaitu. tetapi masih terlalu umum karena masih mengandung aspek semantic. Dari Abstrak ke Arah Arti Kontekstual Arti abstrak lebih berfokus pada sebuah kata. frasa atau kalimat (kedua). sama dengan pragmatic dengan arti pembicara (speaker meaning) atau yang sama dengan interpreatasi ujaran (utterance interpretation) ±mereka tidak menggunakannya secara eksplisit± . definisi umum dari pragmatic adalah arti dalam penggunaan dan arti dalam konteks. tetapi pada waktu yang sama ketidak jelaan dari fakta pada proses interpretasi dengan apa yang ada di dalam pesan antara beberapa tingkatan arti. pronomina persona kedua baik tunggal maupun jamak. Apa yang mereka maksudkan bisa lebih luas dari apa yang mereka katakana. Kita akan mempelahar pertama kali yan dimaksud tentang tingkatan arti. kalimat . kerangka pikir ini dibuat dalam bentuk skema sebagai berikut. Definisi terakhir (interpretasi ujaran) lebih cenderung kea rah yang mempelajari kekurangan dari dua definisi tersebut. sedangkan objek penelitian ini yaitu tentang bentuk. tetapi lebih dari itu. Bukut-bukua terbaru lebih contong membahas tentang satu dari dua topic. Untuk yang ketiga kita akan mendapat pengatahuan tentang maksud pembicara.2. Tetapi yang saya maksudkan adalah untuk seseorag membukakan jendela atau lebih baik membuka jendelanya.edisi Januari-Desember 2005 yang berjumlah 137 buah. dimana dapat diterima dengan baik di bawah bahasan dari arti penggunaan atau art dalam kenteks. pada saat pragmatic sering dibuat sebagai bahan diskusi dalam linguistic. Dalam contoh di atas kita tahu bahwa apa yang penulis maksud bukan panas dalam arti kata sebenarnya. Arti pembicara menurut perhatian ke pembuat pwsannya. Untuk lebih jelasnya. yang mana diperlukan adanya koherensi antara kalimat yang mendahului ataupun kalimat yang mengikutinya. Apakah Pragmatik Itu? 1. Walaupun definisi itu cukup untuk menggambarkan pragmatic. atau yang dimaksud dengan (force) paksaan dalam sebuah ujaran kata. 1. yang mana makna itu tidak lain daripada sesuatu atau referen yang diacu oleh kata atau leksem. Semantic dalam hal perkembangannya pada akhir 1980an. makna dan fungsi deiksis pronomina persona.1. tempat yang lain atau keadaan yang lain pula.2 Definisi Pragmatik Pada awal 1980an. tingkat dari arti secara abstrak. mengapa tidak langsung mengatakan yang sebenarnya. Pengertian Masyarakat tidak selalu mengatakan apa yang sebenarnya mereka maksudkan.

Dalam kasusu ini kita tidak menemukan penunjuk dalam kata. Arti abstrak tidak berada pada satu kata. di sini.1 Mengartikan Rasa dalam Konteks Jika seseorang terlibat dalam percakapan. dimanapun kita berada.3. di supermarket. AU. A : ³Batu (Lump) apa yang membuat mereka waspada?´ B : ³ Coba bacalah´ A : (Membeca dengan suara keras) ³Di dalam rekatakn batu yang jatuh´ B : Oh. Contoh : ³dan hanya terpikirkan olehku. namun hal ini dapat dihindari dengan memahami konteks yang ada. Lihatkah hanya sedikit kedisiplinan yang terlihat. Ayah selalu berkata tentang masa lalunya di kamp Catteria pada tahun 1940an. Apakah sesuatu yang tidak biasa untuk para buruh bangunan? Cara mereka dibayar. Dalam pengertian ini. Beri mereka sesuatu yang mengingatkan masa lalu mereka (melewati pantat). 1. Cambuk juga masuk dalam domain discourse. atau penggelapan pajak atau mungkin yang lainnya. itulah yang saya katakana. yang paling penting. hal ini dikarenan topic pembicaraan biasanya berdasarkan tempat dimana pembicaraan itu terjadi. ku tidak akan pernah menemukannaya´ Mengapa kita tidak mungkin memahaminya. kami akan« . tetapi dapat masuk dalam frasa atau bahkan semua kalimat. Dilarang Menyentuh!´ hal ini jelas untuk melarang menyentuh sesuatu. tetapi mempunyai makna konotasi. homograf atau yang lainya yang biasa mengakitabkan kesalahan pemahaman. Hal ini berbeda dengan kata ³Bahaya. secara intuisi melihat ke rasa dalam peraasaan kontekstual mereka. Pada saat itu masih menjadi tentara. itu (tidak selalu bermakna . kita psti lebih bisa memhami poin pembicaraan. 1. di bus. Pasukan. Allan berpikir apa yang dimaksudkan dan akan menanyakan setelah peliharaannya sehat. ³Apa yang salah tentang kucing itu?´ Lalu siapa saja datang pada waktu itu. Dalam oercakapan di atas kita megetahui batu (lump) yang dimaksudkan adalah bukan batu yang sebenarnya. antara lain di sana. kita mengenal pengertian deiksis. kita tidak paham apa yang ditemukan. Kami tahu apa arti disiplin sejak dalam pelatihan.2 Mengartikan Penunjuk Konteks Kita perlu mencari poin penting dalam sebuah percakapan. ini. terjadi antara dua orang inggris. jika dia tidak jatuh dari tempat tidu. Cambuk mereka. dan Marinir. Jika kita melihat ilustrasi di atas. kucing yan dimaksud adalah kucing dalam arti sebenarnya atau cambuk (dalam bahasa barat) yang biasa digunakan dalam kamp militire pada periode perang. Keadaaan ini dapat terjadi dalam kasusu homonym.Contoh : Apa yang diinginkan para pasukan adalah untuk menduduki wilayah ini. Seakan-akan ayah telah di dalam AL. hal ini dapat diketahui dengan memahami konteks yang ada dalam pembicaraan. Ayah berhenti sejenak dan meneguk tehnya.3. Contoh : Percakapan ini ku dengarkan di sebuah kereta api.

Pasti kita bingung tentang apa arti kata ³dog bowl´.pengisolasian).1 Pentingnya Arti Ujaran Arti ujaran di sini dimaksud adalah konteks dimana pengucapan itu dimaksudkan. Contoh : Pembicara sedang berada di Genewa. 1. Apakah itu bank dalam arti tempat kita menabug atau bank dalam bahasa inggris yang berarti tepi sungai. sedang Craig hanya mendapat pengawasan saja. Kita pasti menduga-duga tentang arti kata ³bank´. 1. Penunjuk dan Struktur Contoh di bawah ini akan menunjukkan ambiguitas strukturan yang juga mengandung ambiguitas perasaan Pembicara B adalah komentator kriket yang terkenal. dalam persidangan Bentley dijatuhi hukuman mati karena diduga yang melakukan penembakan.5 Pemaksaan (Force) : Tingkat Kedua dari Maksud Pembicara\ Dalam hal Pragmatik. hal ini juga berlaku pada deiksis-deiksis lainnya (deiksis orang dan deiksis tertentu ±discourse deixis² 1. Ini dapat terjadi jika kamu tahu yang pembicara maksudkan dan jelas arti percakapannya.4. besok. Contoh kasus : Dalam pengadilan ada seseoran pemuda 19 tahun. Artinya konteks kata atau kalimat cocok atau tidak dengan tempat dimana pembicaraan berada. Craig menembak polisi dengan alasan pembelaan diri. tetapi saya sudah pernah melihat dog bowl bermain di beberapa inning. kita mengetahui paksaan (force). sekarang juga akan berarti jika kita memahami pembicaraan. Brian Johnson. Derek Bentley.4 Arti Ujaran : Tingkat Pertama Maksud Pembicara 1. Seperti contoh kucing makan ikan mati.3 Rasa Intereaksi. Pada saat ditahan. Swiss Kota ini adalah kota dimana ³bank´ berada di dekat sungai. Christopher Craig dalam kasusu pembunuhan salah satiu Polisi setempat. 1. yang mati kucingnya atau ikannya. Deiksis waktu antara lain kemarin. Pembicara A adalah istrinya A : Pernahkan kamu melihat ³dog bowl´ B: Belum.5 Ambiguitas dan Maksud Kita akan menjelaskan ambiguitas dan maksud yang dapat mengarah ke dalam kesalahpahaman.3. Bentley berkata ³Biarkan Polisi itu menerimana Christ!´ karena perkataan itu. Dalam contoh kasus di atas kita mengetahui arti pentingnya ujaran.3.33 Ambiguitas Struktural Hal ini berkaitan dengan sintaks. yang terlibat dengan pemuda 16 tahun. apakah itu istilah dalam kriket atau yang lainnya dalam tanda kutip. 1. Seperti dalam contoh ³Benarkah itu .

2 Pragmatik : Arti dalam interaksi Dalam hal ini mencerminkan arti atau poin dalam interaksi (pada suatu percakapan). 1. maka pembicaraan mereka akan berjalan secara halus dan dapat dimengerti oleh para pendengar. ada dua alasan mengapa penulis.5 Hubungan timbale balik antara arti ujaran dengan paksaan 1.2 Interpretasi Ujaran Sebaliknya.mobilmu? ³ sambil menunjuk kea rah mobil anda. Contoh ³Saya telah menjual rumah itu´. Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik? Makyun Subuki 13 Desember 2006 1.5.6.5. Pendahuluan Dalam jangka yang cukup lama. biasanya dalam grup ini lebih tertarik dalam tingkatan kedua. pasti mempunyai kata-kata tertentu dalam cara berinteraksi.5.5. 1. mereka dapat mengembangkan poin pembicaraan mereka dalam dalam cakupan property. Di dalam perkataan itu kita tidak mengetahui apa yang dimaksudkan oleh pembicara.6. Pendekatan ini dapat terlihat berpotensi memberikan penejelasan lebih baik dalam hal pemecahan ambiguitas itu.2 Memahami ujaran tetapi bukan paksaan 1. Hal ini berbeda dengan definisi awal. Sebagai tataran terbaru dalam .1 Arti Pembicara Dalam hal ini. Dan dalam percakapan selanjutnya.5. Sebagai contoh megapa pembicara tidak secara langsung menunjuk apa yang mereka maksudkan. Kata-kata itu belum tentu dapat dimengerti oleh orang lain di luar komunitas mereka. Dalam suatu komunitas tertentu.1 Memahami Ujaran dan Paksaan (Force) 1. studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya. baik secara implicit atau eksplisit telah menggunakan defines dengan tidak perlu membuat perbedaan.4 Memahami bukan arti ujaran dan bukan pakasaan 1. Karena itu. dan mengabaikan unsur pengguna bahasa. Ujaran mereka berkembang dalam topic yang cocok dengan keadaan dan situasi. konteks perkataan sangat berperan penting dala pemahaman suatu pembicaraan. yaitu force.3 Memahami paksan tetapi bukan arti ujaran 1. Dalam tempat pertama. Jadi harus secara jelas kita mengetahuinya. para linguist bereaksi satu sama lain. cemooh atau bukan. yaitu dengan menurunkan sistem yang terdapat dalam matematika dan logika.6 Definisi Pragmatik Dalam pragmatic arti secara abstrak dan lebih berguna dari pada arti pengguanaannya. Hal ini akan sangat sulit jika kita tidak tertarik mengapa pembicara berkata demikian. Hal ini juga dapat membuat pendekatan para linguist mempunyai kelemahan. 1. pendekatan kognitif yang luas yang digunakan oleh para ahli pragmatic lebih berfoukus pada pendengar.6. Karena itu teori-teori atau metodologi-metodologi yang ada harus dirubah sesuai dengan perkembangan jaman. seperti diungkap oleh Yule (1996: 6). 1.

Makalah ini bertujuan menjelaskan pentingnya bidang pragmatik untuk dipelajari dalam program studi linguistik. dengan melihat perbedaan kajiannya dengan bidang lain dalam linguistik. Selanjutnya Thomas (1995: 22). yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme. yaitu makna. Perkembangan Pragmatik Mey (1998). Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. saya mengawali makalah ini dengan pembahasan mengenai pengertian pragmatik. dan komplementarisme. Yule (1996: 3). dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran. Untuk tujuan tersebut. Definisi Pragmatik Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. menyebutkan empat definisi pragmatik. dan kedua. menunjukkan pentingnya pragmatik. atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi. mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction). misalnya. makna yang dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantik. dengan menggunakan sudut pandang sosial. dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik. mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara. menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning). . menjelaskan secara singkat topik-topik bahasannya. (2) kecenderungan sosial-kritis. pragmatisisme. yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara. Meskipun memiliki fokus kajian yang serupa dengan semantik. melebihi kajian tentang makna yang diujarkan. seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5). mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi. sosial. dan. dan (4) tradisi etnometodologi. 3. yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik. perkembangannya. menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). (3) bidang yang. (3) tradisi filsafat. yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik. dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. 2. seperti akan saya jelaskan kemudian. pertama. Pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa.linguistik. (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya. dengan menggunakan sudut pandang kognitif. Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme.

Dengan kata lain. seperti Russel dan Moore. Beberapa Topik Pembahasan dalam Pragmatik 4. menolak pandangan sintaksisme Chomsky. Sebab.1 Teori Tindak-Tutur Melalui bukunya. seperti diungkap oleh Marmaridou (2000: 1 (dalam Gunarwan 2004: 8)). dan Grice). dan Grice. yaitu bahwa dalam kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis. Contoh. Jerman. bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6). dalam kaitannya dengan logika.Kecenderungan yang pertama. Leech (1983: 2). yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross. bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis. adalah tradisi filsafat. dan semantik bersifat periferal. keapikan sintaksis (well-formedness) bukanlah segalanya. kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi. Austin dan John R. seperti dikutip Gunarwan (2004: 7). dan bahwa pernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris. Austin dapat dianggap sebagai pemicu minat yang paling utama dalam kajian pragmatik. tepatnya di Britania. misalnya Austin. bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya. 4. dan pragmatik interaktif (Thomas). pragmatik neo-Gricean (Cole). Tradisi yang ketiga. yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi. seperti dikutip oleh Thomas (1995: 29-30). yang dipelopori oleh Bertrand Russell. (1) Ada enam kata dalam kalimat ini . termasuk penggunaannya. yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi dan ketaksaan. Searle. komunikasi tetap dapat berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak apik secara sintaksis (ill-formed). Austin. Kecenderungan kedua. melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6). pragmatik kognitif (Sperber dan Wilson). Para pakar tersebut mengkaji bahasa. sejak itu bidang kajian ini telah berkembang jauh. sebab. seperti sering kita jumpai. yang tumbuh di Eropa. Dalam etnometodologi. dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross. dan terutama John L. Searle. dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)). Ludwig Wittgenstein. Searle. dan bahwa fonologi. mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa. morfologi. yaitu pragmatik filosofis (Austin. bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri. muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan. How to Do Things with Words. sehingga kita dapat melihat sejumlah kecenderungan dalam pragmatik. Menurut Lakoff dan Ross.

Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics (Thomas 1995: 30).(2) Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono Dari contoh di atas. (3) Dengan ini. Dalam direct speeh-act terdapat hubungan langsung antara struktur kalimat dengan fungsinya. yaitu lokusi (locutionary act). sebagai bagian dari performatif (Austin 1962: 52 dan Thomas 1995: 49). Contoh. Selain itu. memasukkan ujaran konstatif. Dalam contoh (4). Tindakan yang dihasilkan dengan ujaran ini mengandung tiga tindakan lain yang berhubungan. yaitu asertif (assertive). direktif (directive). melainkan melalui bagaimana bahasa dipakai sehari-hari. yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech-act). tindak ilokusioner terutama berkaitan dengan intensi atau maksud pembicara. Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. Searle juga menyebut lima jenis fungsi tindak-tutur. seperti dikembangkan lebih jauh oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar karena sesuai dengan kenyataan. dan Yule 1996: 54-55). struktur dalam ujaran tersebut dapat saja berbunyi Saya katakan bahwa rumah Joni terbakar. sesuai contoh di atas. Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Gunarwan 2004: 8). Austin (dalam Thomas 1995: 31) berpendapat bahwa salah satu cara untuk membuat pembedaan yang baik bukanlah menurut kadar benar atau salahnya. karena memiliki struktur dalam yang mengandungi makna performatif. yaitu. Melalui hipotesis performatifnya. komisif (comissive). direktif merupakan tindak-tutur yang menghendaki . sedangkan dalam indirect speech-act hubungannya tidak langsung atau menggunakan (bentuk) tindak-tutur lain (Gunarwan 2004: 9. dapat berupa tindak-tutur langsung (direct speech-act) dan tindak-tutur tidak langsung (indirect speech-act). dan tindak perlokusioner berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan (Thomas 1995: 49). Austin berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements). dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin ini mengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition). Tindak lokusioner berkaitan dengan produksi ujaran yang bermakna. ilokusi (illocutionary act). saya nikahkan kalian (performatif) (4) Rumah Joni terbakar (konstatif) Selanjutnya Austin. dan Yule 1996: 53-54). dan deklarasi (declaration) (Littlejohn 2002: 80. melainkan juga melakukan sesuatu (perform actions). Tindak-tutur. dan perlokusi (perlocutionary act) (Yule 1996: 48). ekspresif (expressive). Asertif atau representatif merupakan tindak-tutur yang menyatakan tentang sesuatu yang dipercayai pembicaranya benar. seperti juga ditekankan lebih lanjut oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9).

Kerja sama yang terjalin dalam komunikasi ini terwujud dalam empat bidal (maxim). Yang pertama ada karena konteks ujaran. misalnya untuk memberikan informasi secara tersirat (implicature) dan menjaga muka lawan bicara (politeness). sedangkan yang kedua tidak.pendengarnya melakukan sesuatu. dan deklarasi merupakan tindak-tutur yang mengubah status sesuatu. memberi informasi sesuai yang diminta.4 Teori Relevansi . Implikatur konvensional merupakan implikatur yang dihasilkan dari penalaran logika.2 Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle) Grice mengemukakan bahwa percakapan yang terjadi di dalam anggota masyarakat dilandasi oleh sebuah prinsip dasar. (5) Bahkan Bapak Menteri Agama menghadiri sunatan anak saya (6) Saya kebetulan ke Inggris untuk studi selama dua tahun dan berangkat besok Contoh (5) di atas merupakan implikatur konvensional yang berarti Bapak Menteri Agama biasanya tidak menghadiri acara sunatan. 4. ujaran yang mengandung implikatur jenis ini. menghindari ketaksaan. dalam komunikasi kadang kita tidak mematuhi prinsip tersebut. menyebut dua macam implikatur. menurut Gazdar. komisif merupakan tindak-tutur yang digunakan pembicaranya untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukannya. pada kenyataannya. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 14). dan (4) bidal cara (manner maxim).3 Implikatur (Implicature) Grice. (3) bidal relasi (relation maxim). menyatakan hanya yang menurut kita benar atau cukup bukti kebenarannya. mengungkapkan secara singkat. Implikatur konversasional merupakan implikatur yang dihasilkan karena tuntutan konteks tertentu (Thomas 1995: 58). implikatur dapat dibedakan menjadi implikatur khusus dan implikatur umum. ekspresif merupakan tindak-tutur yang menyatakan perasaan pembicaranya. Contoh. sedangkan contoh (6) merupakan implikatur konversasional yang bermakna µtidak¶ dan merupakan jawaban atas pertanyaan maukah Anda menghadiri selamatan sunatan anak saya? Berbeda dengan Grice. 4. dengan menggunakan prinsip kerja sama Grice. yaitu prinsip kerja sama (cooperative principle) (Yule 1996: 36-37 dan Thomas 1995: 61). menghindari ketidakjelasan pengungkapan. (2) bidal kualitas (quality maxim). seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 12-14). misalnya contoh (5) di atas. yaitu (1) bidal kuantitas (quantity maxim). misalnya contoh (6) di atas. Hal ini. Berkaitan dengan prinsip kerja sama Grice di atas. mengungkapkan secara beraturan (Gunarwan 2004: 11 dan Thomas 1995: 63-64). 4. yaitu implikatur konvensional dan implikatur konversasional. didasarkan atas beberapa alasan. seperti diungkap oleh Thomas (1995: 57). memberi sumbangan informasi yang relevan. dapat dicontohkan dengan penggunaan kata bahkan.

menyebutkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (language in use) selalu dapat diidentifikasi melalui hal yang disebutnya indeterminacy atau underspecification. Melalui hal tersebut. when do you want to go? B: At the weekend. Sperber dan Wilson (1995). (8) A: Well. yaitu: pertama. padahal A . Sperber dan Wilson (1995). (7) Pastikan semua pintu terkunci jika meninggalkan ruangan ini. Selanjutnya. A: What weekend? B: Next weekend. Then that's fifty. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). kedua. Dengan kata lain. bukan untuk setiap kali meninggalkan ruangan. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). menetapkan tiga macam hubungan antara cue dan implicature. Setiap pembaca dapat memahami bahwa pesan ini hanya berlaku jika ia akan meninggalkan ruangan tersebut untuk terakhir kalinya. pesan ini berada dalam spesifikasi tertentu yang disepakati oleh addresser dan addressee dalam konteks komunikasi. Dalam percakapan di atas. B mengira A mengerti bahwa at the weekend berarti next weekend. Dalam percakapan tersebut. dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini. komunikasi tidak hanya memasukkan apa yang ada dalam pikiran pengirim pesan ke dalam pikiran penerima pesan. tahapan yang harus dilewati untuk memahami implikatur dalam percakapan. misalnya untuk ke kamar mandi. Menurut mereka. Contoh yang ditulis Renkema (2004: 23) di bawah ini memberikan gambaran yang cukup jelas. dan ketiga. there is a shuttle service sixty euros one-way.Teori relevansi yang dikembangkan oleh Sperber dan Wilson merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. penerima pesan (addressee) hanya memilih sesuatu yang dianggapnya relevan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan (addresser) dalam konteks komunikasi tertentu. Contoh. explicature atau degree of relevance. untuk menjelaskan cara sebuah pesan dipahami penerimanya. ujaran merupakan sebentuk tindakan dari komunikasi ostensif. How does it works? You just turn up for the shuttle service? A: That might be cheaper. yaitu tidak perlu mengunci pintu jika keluar dalam batasan waktu dan situasi yang diperkirakan cukup aman. Misalnya pada contoh (7) di atas. pemahaman penerima pesan terhadap apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan terjadi melalui beberapa tahapan. misalnya tindakan untuk membuat sesuatu menjadi jelas dan dapat dimengerti oleh penerima pesan. namun mencakup perluasan wilayah kognitif (cognitive environment) kedua belah pihak. pengirim pesan dapat memperkirakan reaksi penerima pesan terhadap pesan yang disampaikannya. bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi. Dalam teori relevansi dipelajari bagaimana sebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya.

Dalam hal ini. Menurut Goffman (1967: 5). Maaf. berkenaan dengan bobot mutlak (absolute weight) tindakan tertentu dalam kebudayaan tertentu. Brown dan Levinson (1978) membangun teori tentang hubungan intensitas FTA dengan kesantunan yang terrealisasi dalam bahasa (Renkema 2004: 25). semakin besar intensitas FTA mengancam stabilitas komunikasi. 4.5 Kesantunan (Politeness) Konsep strategi kesantunan yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson diadaptasi dari konsep face yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog bernama Erving Goffman (1956) (Renkema 2004: 24-25). misalnya mahasiswa kepada dosen atau yang muda kepada yang tua. yaitu: pertama. "face merupakan gambaran citra diri dalam atribut sosial yang telah disepakati". it costs 50 euros. setiap partisipan memiliki dua kebutuhan dalam setiap proses sosial: yaitu kebutuhan untuk diapresiasi dan kebutuhan untuk bebas (tidak terganggu). merupakan ujaran yang relevansinya rendah dan membutuhkan processing effort yang lebih besar.harus memastikan dengan jelas setiap pemesanan pembelian tiket. dan ketiga. ujaran (9a) mungkin diucapkan pembicara yang secara sosial lebih rendah dari lawan bicaranya. ia mengandaikan B dapat mengerti bahwa that migh be cheaper dapat berarti If you purchase a ticket now. Begitu juga A. ujaran at the weekend. Menurut Goffman (1956). sedangkan that might be cheaper merupakan ujaran yang relevansinya lebih baik. dalam pengertian degree of relevance. kedua. If you buy ticket when you turn up. Contoh. karena semakin tinggi contextual effect maka semakin rendah ia membutuhkan processing effort. Intensitas FTA diekspresikan dengan bobot atau weight (W) yang mencakup tiga parameter sosial. Berdasarkan konsep face yang dikemukakan oleh Goffman ini. face dapat diartikan kehormatan. sedangkan ujaran (9b) mungkin diucapkan kepada orang yang secara sosial jaraknya lebih dekat (9a). (9) a. maka politeness strategy semakin dibutuhkan. Kebutuhan yang pertama disebut positive face. . misalnya bobot kedua permintaan di atas tidak terlalu besar jika kedua ungkapan tersebut ditujukan kepada saudara sendiri. kekuasaan atau power (P) yang dimiliki lawan bicara (Renkema 2004: 26). misalnya permintaan "May I borrow your car?" mempunyai bobot yang berbeda dengan permintaan "May I borrow your pen?". you have booked seat which costs 60 euros. Pak. Politeness (kesantunan) dalam hal ini dapat dipahami sebagai upaya pencegahan dan atau perbaikan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh FTA. tingkat gangguan atau rate of imposition (R). sedangkan yang kedua disebut negative face. yang dikutip oleh Jaszczolt (2002: 318). dan citra diri di depan umum (public self-image). seperti dikutip oleh Renkema (2004: 25). Dengan kata lain. Numpang tanya. harga diri (self-esteem). Mas? Dalam contoh di atas terlihat jelas. boleh tanya? b. jarak sosial atau social distance (D) antara pembicara dengan lawan bicaranya.

maka semakin kecil kemungkinan pembicara melakukan FTA. tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis. Dalam kehidupan sehari-hari. salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. Brown dan Levinson (1978). Dalam hal ini. Secara umum. Kelima strategi tersebut diurut berdasarkan tingkat resiko "kehilangan muka". bidal kedermawanan (generosity maxim). dan. seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4). Dalam sintaksis. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 19). could you lend me a hundred bucks? (positive polite) c. misalnya dengan pujian. bidal kesetujuan (aggreement maxim). but could you lend me a hundred dollars? (negative polite) e. I'm out of cash! I forgot to go to the bank today. bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat. bidal simpati (sympathy maxim). seperti diungkapkan oleh Renkema (2004: 26). dapat dipahami. dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi. yang bertujuan untuk mendapatkan positive face disebut solidarity politeness. I'm sorry I have to ask. dapat dilakukan. pertama. melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. bidal pujian (approbation maxim). 5. Renkema (2004: 27) memberi contoh strategi tersebut. sehingga bentuk seperti kucing menyapu halaman. meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris.Politeness. Hey. Pragmatik dalam Linguistik Seperti telah saya uraikan sedikit dalam sub 3 di atas. dan memang sering kita temukan. bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. yaitu bidal kebijaksanaan (tact maxim). Lebih tepatnya. (off record) Teori kesantunan lain dibahas oleh Leech (1983). sedangkan politeness yang dilakukan untuk tujuan sebaliknya disebut respect politeness. ditambah bidal pertimbangan (consideration maxim). friend. misalnya dengan melakukan tindakan yang tidak kooperatif dalam komunikasi (Renkema 2004: 25). face work technique. sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya. Berkaitan dengan politeness strategy ini. Pakar ini membahas teori kesantunan dalam kerangka retorika interpersonal (Eelen 2001: 6). (5) a. bahwa komunikasi tetap dapat . Oh no. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat banyak cara untuk menghindari FTA yang dapat direduksi menjadi lima macam cara. Leech (dalam Eelen 2001: 8) menyebutkan enam bidal kesantunan. dapat dilakukan. dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal. dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis. bidal kerendahhatian (modesty maxim). Atas dasar ini. penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis. Dalam hal ini. semakin tinggi resiko kehilangan muka. lend me a hundred dollars. (baldly) b. Hey.

seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22). keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan. bagaimana memahami implikatur percakapan. yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik. selain tata bahasa. Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada. saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya. dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan. terdapat keterkaitan. dan kedua. pembahasan makna dalam semantik belum memadai. meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda. yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa. Kegunaan pragmatik. Lebih jauh lagi. dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain. terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. misalnya. kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. Dengan kata lain. bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa. sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis.berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis. semantik terikat pada kaidah (rule-governed). sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya. Kaidah bersifat deskriptif. untuk dapat dinyatakan benar. dan maksud dari tuturan. sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa. Dengan demikian. yaitu bahwa pengetahuan pragmatik. untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik. Tentang perbedaan yang pertama. demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. sebab daya mencakup juga makna. tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan. Dengan demikian. dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur. dalam pengajaran bahasa. dalam analisis bahasa. sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi. Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik. pertama. Namun demikian. karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik. bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis. meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai. makna apa yang dituturkan. sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. dapat bertentangan dengan prinsip lain. dan kedua. dalam arti praktis. Dengan kata lain. sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif. Selanjutnya. untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa seharihari. dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik. di samping sintaksis dan semantik. absolut atau bersifat mutlak. dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan . semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis. Berdasarkan truth conditional semantics. Selanjutnya.

berkaitan dengan ketidakmampuan sintaksis dan semantik dalam menjelaskan fenomena penggunaan bahasa sehari-hari. Oxford: Oxfod University Press. pragmatik berperan dalam pengembangan kompetensi komunikatif. IKIP Singaraja. How to Do Things with Word (edisi kedua). 2001. Jan. 2004. Secara umum. Penelope.tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. Edinburgh: Pearson Education. . 2002. Jaszczolt. pertama. dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa. kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik. Renkema. Dalam pengajaran bahasa Indonesia. pragmatik merupakan satu-satunya tataran dalam linguistik yang mengkaji bahasa dengan memperhitungkan juga penggunanya. 1962. Selain itu. John L. A Critique of Politeness Theories. Asim. dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence). Levinson.. Brown. Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse. Daftar Acuan Austin. Politeness: Some Universal in Language Usage. karena selain benar. dan Stephen C. UK: St. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). Jerome Publishing Gunarwan. kedua. Manchester. 1978. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. K. berkaitan dengan pengajaran bahasa. Dalam pengajaran bahasa asing. 2004. 6. Eelen. Introduction to Discourse Studies. Berdasarkan penjelasan di atas. misalnya. Cambridge: Cambridge University Press. tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa pragmatik penting dipelajari dalam program studi linguistik. yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu. pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. bahasa yang digunakan harus baik. pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya. saya melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik setidaknya dalam dua hal. saya melihat kedudukan semantik dan pragmatik sebagai dua hal yang saling melengkapi.M. Penutup Seperti telah disebutkan di muka. Gino.

dan cara. maupun TT harafiah dan tidak harafiah. George. baik TT representatif. penutur dapat mengungkapkannya dengan kalimat imperatif. kalimat deklaratif. Jenny. 1995. njaluk µmeminta¶. Misalnya. direktif. yang ada barulah makna kata/kalimat yang diujarkan. Berbagai tindak tutur (TT) yang terjadi di masyarakat. pragmatik lebih cenderung ke fungsionalisme daripada ke formalisme. dia dapat memilih satu di antara tuturan-tuturan berikut: (1) Jupukna kapur! (2) Kene ora ana kapur.pragmatika pragmatis (adj) : melihat sesuatu dari kegunaan pragmatisme: aliran yang melihat sesuatu dari kegunaan Dalam komunikasi. Oxford. dan deklaratif. merupakan bahan sekaligus fenomena yang sangat menarik untuk dikaji secara pragmatis. Bidang ini cenderung mengkaji fungsi ujaran atau fungsi bahasa daripada bentuk atau strukturnya. Hal itu sesuai dengan pengertian pragmatik yang dikemukakan oleh Levinson (1987: 5 dan 7). kajian ini mencoba menjelaskan aspek-aspek struktur bahasa dengan mengacu ke pengaruh-pengaruh dan sebabsebab nonbahasa.pragmatik . ekspresif. dan ngapura µmemaafkan¶. Di dalam komunikasi. ya? . serta skala pragmatik dan derajat kesopansantunan yang dikembangkan oleh Leech (1983). atau bahkan dengan kalimat interogatif. Oxford University Press. bagaimanakah TT yang dilakukan oleh orang Jawa apabila ingin menyatakan suatu maksud tertentu. Yule. TT langsung dan tidak langsung. perlokusi berarti terjadi tindakan sebagai akibat dari daya ujaran tersebut. seperti ngongkon µmenyuruh¶. Pragmatik berbeda dengan semantik dalam hal pragmatik mengkaji maksud ujaran dengan satuan analisisnya berupa tindak tutur (speech act). pragmatik lebih cenderung ke fungsionalisme daripada ke formalisme. Dengan kata lain. Kajian pragmatik lebih menitikberatkan pada ilokusi dan perlokusi daripada lokusi sebab di dalam ilokusi terdapat daya ujaran (maksud dan fungsi tuturan). Fungsi bahasa yang paling utama adalah sebagai sarana komunikasi. Misalnya. satu maksud atau satu fungsi dapat diungkapkan dengan berbagai bentuk/struktur. nyilih µmeminjam¶. menging µmelarang¶. pragmatik adalah kajian mengenai penggunaan bahasa atau kajian bahasa dan perspektif fungsional. Pragmatics. Dengan demikian. ngelem µmemuji¶. (3) Ibu ngersakake kapur. di dalam lokusi belum terlihat adanya fungsi ujaran. 1996. (4) O. Pengkajian TT tersebut tentu menjadi semakin menarik apabila peneliti mau mempertimbangkan prinsip kerja sama Grice dengan empat maksim: kuantitas. London/New York: Longman. Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics. sedangkan semantik menelaah makna satuan lingual (kata atau kalimat) dengan satuan analisisnya berupa arti atau makna. hubungan.Thomas. Artinya. atau kombinasi dari dua/lebih TT tersebut. jebul ora ana kapur. satu maksud atau satu fungsi dapat dituturkan dengan berbagai bentuk tuturan. Untuk maksud ³menyuruh´ orang lain. janji µberjanji¶. kualitas. seorang guru yang bermaksud menyuruh muridnya untuk mengambilkan kapur di kantor. (5) Ing kene ora ana kapur. PRAGMATIK pragmatics (n) . Pragmatik dan Fungsi Bahasa Bidang ³pragmatik´ dalam linguistik dewasa ini mulai mendapat perhatian para peneliti dan pakar bahasa di Indonesia. komisif. Sementara itu.

implikatur. bagaimana. 1983). artinya kajian ini mencoba menjelaskan aspek-aspek struktur linguistik dengan mengacu ke pengaruh-pengaruh dan sebab-sebab nonlinguistik. Satuan-satuan lingual dalam penggunaannya. kalimat deklaratif seperti tuturan (2-4). sedangkan pragmatik bersifat terikat konteks (context dependent)´ (bandingkan Wijana. cabang ilmu bahasa yang menelaah penggunaan bahasa. (4) Pragmatik adalah kajian mengenai hubungan antara bahasa dengan konteks yang menjadi dasar dari penjelasan tentang pemahaman bahasa. (a) Semantik mempelajari makna. Dari beberapa definisi tersebut dapat dipahami bahwa cakupan kajian pragmatik sangat luas sehingga sering dianggap tumpang tindih dengan kajian wacana atau kajian sosiolinguistik. sedangkan makna di dalam pragmatik ditentukan oleh konteks. 4. terutama hubungan antara kalimat dengan konteks dan situasi pemakaiannya. membutuhkan 53 halaman hanya untuk menerangkan apakah pragmatik itu dan apa saja yang menjadi cakupannya. Kaswanti Purwo (1990: 16) merumuskan secara singkat ³semantik bersifat bebas konteks (context independent). yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan. 3. sedangkan semantik adalah kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan objek yang diacu oleh tanda tersebut. kepada siapa. di mana. Jadi. (b) Kalau semantik bertanya ³Apa makna X?´ maka pragmatik bertanya ³Apa yang Anda maksudkan dengan X?´ (c) Makna di dalam semantik ditentukan oleh koteks. kalimat berita (deklaratif) dan kalimat tanya (interogatif) di samping berfungsi untuk memberitakan atau menanyakan sesuatu juga berfungsi untuk menyuruh (imperatif atau direktif). yakni bagaimana satuan kebahasaan digunakan dalam komunikasi (Wijana. bilamana. misalnya. yakni siapa yang berbicara. studies meaning in relation to speech situation (Leech. (2) Pragmatik adalah kajian mengenai penggunaan bahasa. Cukup banyak kiranya batasan atau definisi mengenai pragmatik. (3) Pragmatik adalah kajian bahasa dan perspektif fungsional. tindak tutur. secara pragmatis. Di sini dikutipkan beberapa di antaranya yang dianggap cukup penting. dan apa fungsi ujaran itu. Berkaitan dengan perbedaan (c) ini. atau kalimat interogatif seperti tuturan (5-6). praanggapan. PRAGMATIK VS SEMANTIK Sebelum dikemukakan batasan pragmatik kiranya perlu dijelaskan lebih dahulu perbedaan antara pragmatik dengan semantik.(6) Ngapa ora padha gelem njupuk kapur? Dengan demikian untuk maksud ³menyuruh´ agar seseorang melakukan suatu tindakan dapat diungkapkan dengan menggunakan kalimat imperatif seperti tuturan (1). sedangkan semantik adalah kajian mengenai makna. (1) Pragmatik adalah kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan penafsirnya. Yang jelas . dan aspekaspek struktur wacana. Levinson (1987: 1-53). 1996: 2). (6) Pragmatik adalah kajian mengenai bagaimana bahasa dipakai untuk berkomunikasi. studi kebahasaan yang terikat konteks. sedangkan pragmatik mempelajari maksud ujaran. 1996: 3). 2. cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal. Definisi pragmatik: 1. yaitu makna kata dan makna kalimat. (5) Pragmatik adalah kajian mengenai deiksis.

which is the study of the internal structure of language. Teori pragmatik menjelaskan alasan atau pemikiran para pembicara dan penyimak dalam menyusun korelasi dalam suatu konteks sebuah tanda kalimat dengan suatu proposisi (rencana. internal atau formal diadik: bentuk dan makna . yang mempunyai perhatian besar pada ilmu pengetahuan tentang tanda-tanda.kondisi-kondisi kebenaran. sudah pulang! Isteri: ¶betul-betul terkejut¶ atau ¶orang itu lama sekali perginya¶ Suami menafsirkan: siapa yang berbicara. Pragmatik adalah telaah mengenai hubungan antara bahasa dan konteks yang tergramatisasikan atau disandikan dalam struktur sesuatu bahasa. dengan kata lain: telaah mengenai kemampuan pemakai bahasa menghubungkan serta menyerasikan kalimat-kalimat dan konteks-konteks secara tepat. klausa. yaitu: sintaktik (syntactics) atau sintaksis (syntax) yaitu telaah tentang relasi formal dari tanda yang satu dengan tanda yang lain (mempelajari hubungan satuan lingual dengan satuan lingual lain: tanda dengan tanda). atau masalah). Morris membedakan tiga cabang yang berbeda dalam penyelidikan. kalimat. Pragmatik sebenarnya merupakan bagian dari ilmu tanda atau semiotics atau semiotika. Dalam semiotik.disepakati ialah bahwa satuan kajian pragmatik bukanlah kata atau kalimat. wacana. Semantik: makna (biasanya leksikal). Witgenstein (filsuf): makna adalah penggunaannya. 4. Cabang-cabang bahasa: Fonologi: bunyi sebagai sistem Morfologi: satuan gramatikal terkecil. Makna sebuah tuturan itu penggunaannya. Pragmatik adalah telaah mengenai relasi antara bahasa dan konteks yang merupakan dasar bagi suatu catatan atau laporan pemahaman bahasa. dan aspek struktur wacana. 1938:6). Pragmatik adalah telaah mengenai deiksis. pragmatics is distinct from grammar. atau semiotik (semiotics). Ketiga cabang tersebut kemudian lebih dikenal dengan teori trikotomi. melainkan tindak tutur atau tindak ujaran (speech act). 1. 3. Stephen C. Secara kasar dapat dirumuskan: pragmatik = makna . atau dengan perkataaan lain: memperbincangkan segala aspek makna ucapan yang tidak dapat dijelaskan secara tuntas oleh referensi langsung kepada kondisi-kondisi kebenaran kalimat yang ciucapkan. 5. Pragmatik adalah telaah mengenai segala aspek makna yang tidak tercakup dalam teori semantik. anggapan penutur (presupposition). tindak ujar. 2. dan pragmatik yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan penafsir (interpreters). kepada siapa. Sintaksis: frase. situasinya bagaimana? L. semantik (semantics) yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan objek di mana tanda-tanda itu diterapkan (ditandainya) (atau hubungan antara penanda dan petanda (signifiant dan signifie/yang ditandai)). Pemakaian istilah pragmatik (pragmatics) dipopulerkan oleh seorang filosof bernama Charles Morris (1938). Contoh: Kok. Dalam hal ini teori pragmatik merupakan bagian dari performansi. Pragmatics is the study of how language is used to communicate. Pragmatik adalah telaah mengenai hubungan tanda-tanda dengan penafsir (Morris. Levinson telah mengumpulkan sejumlah batasan pragmatik yang berasal dari berbagai sumber dan pakar. yang dapat dirangkum seperti berikut ini. implikatur. Parker (1986: 11).

misalnya menyindir atau memarahi. Semantik: makna linguistik (makna). makna dalam penutur. Makna itu berubah-ubah tergantung pada konteksnya. dilihat dari berbagai faktor . Contoh semantika: kursi signifiant (penanda) Terdapat suatu prinsip: ¶tempat duduk¶ signifie (petanda) . yaitu bahwa variasi retoris dan alat puitis hanya muncul di bawah kondisi tertentu dalam batas-batas pemakaian bahasa. Akhirnya pengarang menyimpulkan bahwa perbedaan pemakaian istilah pragmatik ditimbulkan dari bagian asal-usul semantik karya Morris. Dalam semiotik. atau akhirnya pemakaian dalam linguistik Anglo-American dan filsafat. Mempelajari bagaimana satuan lingual itu ditafsirkan. yaitu suatu telaah dari sebagian besar jajaran fenomena psikologis dan sosiologis yang mencakup sistem tanda pada umumnya atau dalam bahasa tertentu (the Continental sense of the term). makna. Ketiga cabang tersebut kemudian lebih dikenal dengan teori trikotomi. Contoh: Sugeng enjing! makna: menyapa maksud: tergantung siapa yang berbicaraatau maksud lain.Pragmatik: cabang ilmu bahasa yang mempelajari makna satuan kebahasaan yang bersifat eksternal / bagaimana satuan kebahasaan itu dikomunikasikan eksternal atau fungsional triadik: bentuk. Baik! makna: baik. atau studi istilah indeksikal atau deiktis (deictis) (gagasan Montague). semantik (semantics) yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan objek di mana tanda-tanda itu diterapkan (ditandainya). Morris membedakan tiga cabang yang berbeda dalam penyelidikan. bersifat internal. Pragmatik: makna penutur (maksud). sebenarnya semantik sudah ada pragmatik. dan pragmatik yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan penafsir (interpreters). atau telaah konsep abstrak tertentu yang membuat acuan pada pelaku (agents) (satu gagasan dari Carnap). apik maksud: bisa tidak baik. Come here!. Asal-usul dan perilaku historis istilah pragmatik Pemakaian istilah pragmatik (pragmatics) dipopulerkan oleh seorang filosof bernama Charles Morris (1938). atau semiotik (semiotics). Jadi. Good morning! dipengaruhi oleh hukum pragmatik. ada hal-hal yang tidak langsung ¶indirectness atau secara tidak literal¶. yaitu: sintaktik (syntactics) atau sintaksis (syntax) yaitu telaah tentang relasi formal dari tanda yang satu dengan tanda yang lain. dan maksud. Pragmatik: bagaimana orang menafsirkan. yang mempunyai perhatian besar pada ilmu pengetahuan tentang tanda-tanda. Morris memberikan contoh interjeksi seperti Oh!. Buku ini secara eksklusif menyangkut istilah pada gagasan yang terakhir dan menerapkannya pada pembicaraan ini.

3. 2. J. Verhaar (Pengantar Lingguistik Umum): . jelas. karena: jelas kapan bahasa itu digunakan siapa yang berbicara kepada siapa. Ayahnya sakit.Omahku sepi kok. yang tidak jelas siapa penuturnya tidak jelas. Pragmatik: Satu tanda bisa menyatakan bermacam-macam maksud atau bermacam-macam tanda satu maksud.Makna : ada pada satuan lingual (internal) . Obyek data primer adalah bahasa lisan. (Contoh: Nyilih sepedha motore (tidak sopan) dan Menawa pareng. Bahasa tulis juga bisa asalkan mampu merekonstruksi tuturan yang sebenarnya.Maksud : ada pada penutur (eksternal) . Data pragmatik: utterance (kalimat + konteks). bagaimana strateginya. . 1. Dia pergi ke Surabaya. aku nyilih sepedha motore (lebih sopan)).Noam Chomsky: Terdapat hubungan satu lawan satu antara penanda dan petanda (signifiant dan signifie). o Contoh: Lunga! (tidak sopan) dan Lungaa! (lebih sopan) y Semakin langsung semakin tidak sopan. Mode (bentuk bahasa): strategi memilih yang mana) Pragmatik: retorika. Tuturan semakin panjang tuturan semakin sopan. Makna kongkrit: makna tuturan. ayah dengan anak. Berkenaan dengan data: Data kalimat : sentence. Tenor (pelibat): misalnya.Entuk 4 + Apik! wacana pragmatik Menurut Halliday (pakar Functional Grammar): 1. 2. ²-> terkait dengan wacana.W. . semakin tidak langsung semakin sopan.M. Contoh: ¶menolak¶ bisa dinyatakan dengan .Ora duwe dhuwit. semakin pendek tidak sopan.Informasi : isi tuturan (internal) Dia membeli buku Buku dibelinya makna: µaktif¶ dan µpasif¶ Makna yang abstrak. Field (medan): siapa berbicara kepada siapa. Sosiolinguistik: berkaitan dengan variasi bahasa. + Piye bijimu . y Obyek data pragmatik itu konkrit.

2. Intinya: bahasa pada umumnya sebagai alat komunikasi. Jadi. 1989. Geoffrey.plus konteks. Arep? melek terus. J. John. Urmson). Longman Dictionary of Applied Linguistics.di atas kalimat plus konteks. Richards. Jack dkk. Cambridge: Cambridge University Press. 4. Harimurti Kridalaksana. Wacana: mengandung amanat yang lengkap. Kalimat (sentence) .minus konteks. Leech. New York: Oxford University Press. wacana tidak selalu di atas kalimat.O. Prinsip-prinsip Pragmatik. Speech Acts. 1984. Austin membedakan antara tuturan performatif (performativei) dan konstatif (constative). Jakarta: PT Gramedia. Jakarta: Universitas Indonesia. Teks (texs) . Tuturan (utterance) . 1984: 2001). Wacana (discourse) . Searle. pembicara mengujarkannya dan sekaligus menyelesaikan perbuatan ³mengucapkan´ (Kridalaksana.Widowson: 1. J. Oka).di atas kalimat minus konteks. TUTURAN PERFORMATIF DAN TUTURAN KONSTATIF Pustaka: Austin. Filosof J. Tuturan (utterance. Kamus Linguistik. (2) kalimat atau bagian kalimat yang dilisankan (Kridalaksana. 1984: 2001). 1962. .kalimat tanya. tetapi sebenarnya ada tindakan tertentu yang baru dapat terlaksana kalau orang itu mengemukakan tuturan/bahasa. Dengan demikian bahasa bukan semata-mata alat untuk menyatakan sesuatu tetapi juga melakukan sesuatu. 3. Neng ngendi sabune? teks tidak jelas konteksnya. Longman: Longman Group UK Limited. 1993. (Terjemahan M. misalnya: dalam ujaran Saya mengucapkan terima kasih.D. Definisi: Tuturan performatif (performative utterance): tuturan yang memperlihatkan bahwa suatu perbuatan telah diselesaikan pembicara dan bahwa dengan mengungkapkannya berarti perbuatan itu diselesaikan pada saat itu juga.L. How to Do Things with Words. Lunga! Wacana. Performative (in speech . oleh Kridalaksana disebut dengan istilah ujaran): (1) regangan wicara bermakna di antara dua kesenyapan aktual atau potensial. Contoh: Sugeng rawuh.D. 1969.L. Kopi bisa marahi saya menolak atau menerima. (ed.

I promise not to be late (= a promise). yaitu dengan adanya syarat-syarat lainnya yang disebut syarat tuturan performatif (felicity condition). rama. Pura. such as Watch out (=a warning). Tindakan harus dilakukan secara sungguh-sungguholeh penutur. Misalnya: Saya berjanji bahwa saya akan selalu datang tepat waktu. 5. Syarat itu juga belum cukup. Tuturan konstatif atau deskriptif (constative utterance): tuturan yang dipergunakan untuk menggambarkan atau memerikan peristiwa. Misalnya: Saya berjanji akan setia. Tuturan performatif tidak dievaluasi sebagai benar atau salah. Misalnya: Saya nyatakan Anda berdua suami-isteri. (Tindakan memberi nama: the act of naming). Saya akan pergi sekarang. Saya berterima kasih atas kebaikan Saudara. Saya bertaruh Mike Tyson pasti menang. Contoh lain: 1. 3. (Tindakan mohon maaf: the act of apologizing). Akhirnya direvisi (dilengkapi) oleh murid-muridnya. 2. Syarat-syarat itu antara lain: 1. Misalnya: Aku njaluk pangapura marang sliramu. tempatnya di KUA. Misalnya: Sesuk kowe tak-tukokke sepur (yakin tidak. pendeta. 1. objeknya 2 orang (berdua).  Tindakan sedang/akan dilakukan Kalau dalam bahasa Inggris. keadaan. Tindakan harus dilakukan secara sungguh-sungguh oleh kedua belah pihak. Ciri-ciri tindakan performatif  Subyek harus orang pertama. (Tindakan berterima kasih: the act of thanking) 2. bukan oleh orang lain. dan sifatnya betul atau tidak betul . 4. Austin dalam menentukan ciri-ciri tuturan performatif ini hanya melihat aspek gramatikalnya saja. 1993: 280). Penuturnya adalah penghulu (naib). Orang yang menyatakan tuturan dan tempatnya harus sesuai atau cocok. Secara ringkas dikatakan pula bahwa tuturan performatif adalah tuturan untuk melakukan sesuatu (perform the action). Harus diucapkan sungguh-sungguh.. 5. 7. (Tindakan menyatakan/menikahkan: the act of marrying). Misalnya: Saya berjanji akan setia padamu. Saya namakan anak saya Parikesit. Gereja. Saya mohon maaf atas keterlambatan saya. Saya nyatakan Anda berua suami-isteri. atau mampu melakukan apa yang dinyatakan dalam tuturannya. 3. 4. subjek orang pertama dan kala-nya present tense. Penutur harus yakin bahwa ia mampu melakukan tindakan itu. bukan yang telah dilakukan. (Tindakan bertaruh: the act of betting). bukan orang kedua atau ketiga. tetapi sebagai tepat atau tidak tepat. dsb. Misalnya: Saya mohon maaf atas kesalahan saya. Saya serahkan semua harta saya kepada anak saya. maka tuturan itu dikatakan tidak valid (infelicition). kalau tidak berarti bukan tuturan performatif). proses. 1989: 212). 6. Penutur harus memiliki niat yang sungguh-sungguh dalam mengemukakan tuturannya. Tuturan harus mempredikasi tindakan yang akan dilakukan oleh penutur. (the act of promising). 2. Tuturan harus mempredikasi tindakan yan g akan dilakukan. sebagai berikut. tidak dengan tindakan menginjak kaki mitra tutur-nya. misalnya: I promise that I shall be there (Saya berjanji bahwa saya akan hadir di sana) dan performatif primer atau tuturan primer I shall be there (Saya akan hadir di sana) (Geoffrey Leech (terjemahan). (Tindakan pergi: the act of going). (Orang perta dan kedua melakukan tindakan secara sungguh-sungguh). tumindakku kang ora ndadekake renaning penggalihmu. Kalau tuturan tidak memenuhi kelima syarat tersebut. ((Richards dkk. Masjid. kemudian diperbaharui lagi oleh John Searle. (Tindakan menyerahkan: the act of bequeting).act theory): an utterance which performs an act.

permintaan (requests). jika MT melakukan tindakan . di samping memang mengucapkan kalimat tersebut. Secara singkat. dan Perlokusi Austin (1962) dalam How to do Things with Words mengemukakan bahwa mengujarkan sebuah kalimat tertentu dapat dipandang sebagai melakukan tindakan (act). Di dalam mengatakan suatu kalimat. penerimaan akan tawaran (acceptation of offers) B. Misalnya: 1. TINDAK TUTUR (Speech Act) A. Ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu. Dengan pengucapan kalimat Arep ngombe apa? si pembicara tidak semata-mata menanyakan atau meminta jawaban tertentu. Perlokusi mengacu ke efek yang ditimbulkan oleh ujaran yang dihasilkan oleh P. yaitu memerintahkan si mitratutur supaya pergi meninggalkan rumah pondokannya. ³Aku ngelak´ yang diujarkan oleh P dengan maksud µminta minum¶ adalah sebuah tindak ilokusi. seseorang tidak semata-mata mengatakan sesuatu dengan pengucapan kalimat itu. Lokusi adalah semata-mata tindak berbicara. 1984: 2001). Ali pergi ke Jakarta 2. tawaran (offers). antara lain. mengatakan Sampun jam sanga ia tidak semata-mata memberi tahu keadaan jam pada waktu itu. 1989: 212-213).. 1989: 265). yakni menawarkan minuman. speech event): pengujaran kalimat untuk menyatakan agar suatu maksud dari pembicara diketahui pendengar (Kridalaksana. Pengertian Tindak tutur (istilah Kridalaksana µpertuturan¶ / speech act.. Saya tidur di hotel. 1993: 316). Seorang ibu rumah pondokan putri. yaitu tindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan kalimat sesuai dengan makna kata itu (di dalam kamus) dan makna kalimat itu sesuai dengan kaidah sintaksisnya.(Kridalaksana. for example. pemberian izin (permissons). dan perlokusi. Di dalam pengucapan kalimat ia juga ³menindakkan´ sesuatu. Jadi. Di sini maksud atau fungsi ujaran itu belum menjadi perhatian. ia juga menindakkan sesuatu. ilokusi. Di sini kita mulai berbicara tentang maksud dan fungsi atau daya ujaran yang bersangkutan. untuk apa ujaran itu dilakukan. Uraian berikut memaparkan klasifikasi dari berbagai jenis TT. Jadi. perlokusi adalah efek dari TT itu bagi mitra-tutur (selanjutnya MT). ajakan (invitation). 1984: 154) Speech act: an utterance as a functional unit in communication (Richards et al. 3. yaitu lokusi. ia juga menindakkan sesuatu. apabila seorang penutur (selanjutnya disingkat P) Jawa mengujarkan ³Aku ngelak´ dalam tindak lokusi kita akan mengartikan ³aku´ sebagai µpronomina persona tunggal¶ (yaitu si P) dan ³ngelak´ mengacu ke µtenggorokan kering dan perlu dibasahi¶. Hal-hal apa sajakah yang dapat ditindakkan di dalam berbicara? Ada cukup banyak. Ilokusi. TINDAK TUTUR DAN JENIS-JENISNYA Tindak tutur (selanjutnya TT) atau tindak ujaran (speech act) mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam pragmatik karena TT adalah satuan analisisnya. A constative is an utterance which assert something that is either true or false. Chicago is in the United States (Richards dkk.1 Lokusi. atau Austin mengatakan bahwa tuturan konstatif dapat dievaluasi dari segi benar-salah (Geoffrey Leech (terjemahan). tanpa bermaksud untuk minta minum. Ia membedakan tiga jenis tindakan yang berkaitan dengan ujaran. Jadi.

(4) TT komisif adalah TT yang mengikat P-nya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam ujarannya. Derajat kelangsungan TT dapat diukur berdasarkan ³jarak tempuh´ antara titik ilokusi ( di benak P) ke titik tujuan ilokusi (di benak MT). (6) Rumusan saran : Piye yen meja iki dipindhah? (7) Persiapan pertanyaan : Kowe bisa mindhah meja iki? (8) Isyarat kuat : Yen meja iki ana ing kene. memohon. misalnya memutuskan. misalnya menyuruh.mengambilkan air minum untuk P sebagai akibat dari TT itu maka di sini dapat dikatakan terjadi tindak perlokusi. menurut Blum-Kulka (1987) (lihat Gunarwan. mengizinkan. (5) TT deklaratif merupakan TT yang dilakukan P dengan maksud untuk menciptakan hal (status. dan sebagainya) yang baru. misalnya menyatakan. yang paling samar-samar maksudnya ialah bentuk ujaran (9). menyarankan. dan sebaliknya. Komisif. 3. dan menyebutkan. misalnya. Hal ini berkaitan dengan tindak tutur langsung (TT-L) dan tindak tutur tidak langsung (TT-TL). berupa isyarat halus. misalnya berjanji dan bersumpah. (3) TT ekspresif ialah TT yang dilakukan dengan maksud agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi mengenai hal yang disebutkan di dalam ujaran itu. (2) TT direktif yaitu TT yang dilakukan P-nya dengan maksud agar si pendengar atau MT melakukan tindakan yang disebutkan di dalam ujaran itu.2 TT Representatif. 1993: dapat diungkapkan dengan menggunakan berbagai ujaran sebagai berikut. mengucapkan terima kasih. Karena kata ³meja´ sama sekali tidak disebutkan . Derajat kelangsungan dapat pula diukur berdasarkan kejelasan pragmatisnya: makin jelas maksud ujaran makin langsunglah ujaran itu. 1993: 11-54). dan memberi maaf. menuntut. dan mengeluh. Dari kesembilan bentuk ujaran tersebut. melaporkan. Kelima TT itu sebagai berikut: (1) TT representatif yaitu TT yang mengikat P-nya kepada kebenaran atas apa yang dikatakannya. dan menantang. membatalkan. Direktif. dan Deklaratif Searle (1975) mengembangkan teori TT dan membaginya menjadi lima jenis TT (dalam Ibrahim. menunjukkan. (9) Isyarat halus : Kamar iki kok katone sesak ngono ya? 3. Untuk maksud atau fungsi ³menyuruh´. Ekspresif. Pada bagian terdahulu telah disinggung bahwa di dalam komunikasi satu fungsi dapat dinyatakan atau diutarakan melalui berbagai bentuk ujaran. mengritik. keadaan. melarang. (1) Kalimat bermodus imperatif : Pindhahen meja iki! (2) Performatif eksplisit : Dakjaluk sliramu mindhahke meja iki! (3) Performatif berpagar : Aku jan-jane arep njaluk tulung sliramu mindhahke meja iki. misalnya memuji. (4) Pernyataan keharusan : Sliramu kudu mindhahke meja iki! (5) Pernyataan keinginan : Aku kepengin meja iki dipindhah. kamar iki katon rupek.3 TT Langsung vs TT Tidak Langsung Dari sembilan bentuk ujaran tersebut diperoleh sembilan TT yang berbeda-beda derajat kelangsungannya dalam menyampaikan maksud µmenyuruh memindahkan meja¶ itu.

Kesulitan dalam definisi ini muncul dari . menakutnakuti. Misalnya: n mengatakan kepada t bahwa X. Misalnya. Dalam mengatakan X. (Dilakukan dengan mengatakan sesuatu. misalnya diucapkan oleh P yang mengajak MTnya untuk tidak membuka rahasia. (1) Tindak tutur langsung (TT-L) (2) Tindak tutur tidak langsung (TT-TL) (3) Tindak tutur harafiah (TT-H) (4) Tindak tutur tidak harafiah (TT-TH) (5) Tindak tutur langsung harafiah (TT-LH) (6) Tindak tutur tidak langsung harafiah (TT-TLH) (7) Tindak tutur langsung tidak harafiah (TT-LTH)\ (8) Tindak tutur tidak langsung tidak harafiah (TT-TLTH) Apabila seseorang menggunakan bahasa. (3) TT-TLH : ³Bagaimana kalau mulutnya dibuka?´. P dapat juga menggunakan tindak tutur harafiah (TT-H) atau tindak tutur tidak harafiah (TT-TH) di dalam mengutarakan maksudnya. lebih baik jika kita semua sepakat menutup mulut kita masing-masing´. maka MT harus mencari-cari konteks yang relevan untuk dapat menangkap maksud P. melukai. Persuasi merupakan tindak perlokusi: orang tidak dapat mempersuai seseorang tentang sesuatu hanya dengan mengatakan Saya mempersuasi anda. Ilokusi 3. tindak ilokusi (melakukan tidakan dalam mengatakan sesuatu). Selain TT-L dan TT-TL. Dengan demikian. kelangsungan dan keharafiahan ujaran. (merupakan tindak mengatakan sesuatu: menghasilkan serangkaian bunyi yang berarti sesuatu. 1996: 36). Lokusi 2. secara ringkas. Contoh-contoh yang sesuai adalah meyakinkan. yaitu lokusi. dan tindak perlokusi (melakukan tindakan dengan mengatakan sesuatu).) Dengan mengatakan X. berdasarkan uraian dan contoh-contoh di atas dapat dicatat ada delapan TT sebagai berikut (bandingkan Wijana. dan mencakup tindaktindak seperti bertaruh. Sebagian verba yang digunakan untuk melabel tindak ilokusi bisa digunakan secara performatif. n meyakinkan (convinces) t bahwa P. Jika kedua hal itu. dan memesan. yaitu tindak lokusi (melakukan tindakan mengatakan sesuatu). Perlokusi Perbedaan kekuatan antara perlokusi dan ilokusi tidak selalu jelas. (2) TT-LTH : ³Tutup mulut´. (4) TT-TLTH : ³Untuk menjaga rahasia. ilokusi. suruhan (request) memiliki kekuatan esensial untuk membuat pendengar melakukan sesuatu. Hal ini sejalan dengan pendapat Austin (1962) yang melihat adanya tiga jenis tindak ujar. dan membuat tertawa) 1. Dengan demikian mengatakan Saya menolak bahwa X sama halnya menolak bahwa X. Ini merupakan aspek bahasa yang merupakan pokok penekanan linguistik tradisional). dan perlokusi. berjanji. menolak. (Menghasilkan efek tertentu pada pendengar. maka ada 3 jenis tindakan atau tindak tutur (selanjutnya disingkat TT). n menegaskan (asserts) bahwa P.oleh P dalam ujaran (9). digabungkan maka akan didapatkan empat macam ujaran. misalnya diucapkan oleh seseorang yang jengkel kepada MT-nya yang selalu ³cerewet´. misalnya diucapkan oleh dokter gigi kepada pasien yang masih kecil agar anak itu tidak takut. misalnya diucapkan oleh dokter gigi kepada pasiennya. yaitu: (1) TT-LH : ³Buka mulut´.

1993: 115). TT perlokusi: Austin. kalimat dapat dibedakan menjadi 3 macam. di mana. untuk apa. bertanya (illocutionary speech act). mengandung pesan. Searle. Kesulitan itu juga muncul dari dasar definisi maksud penutur. kalimat tanya (interogatif). Misalnya: Saya berjanji. mis. dll. perbuatan bertutur. atau mempengaruhi orang lain (perlocutionary speech act) Misalnya: Tempat itu jauh. metapesan µJangan pergi ke metapesan (Dalam pikiran sana!¶ mitratutur ada keputusan) ³Saya tidak akan pergi ke sana. kapan. Misalnya: . Informasi Tanya Di mana handuk saya? ya. 1. Misalnya: Dia sakit. Wacana-wacana ilmiah yang tidak menekankan emosi termasuk TT lokusi. dsb. Ibunya di rumah! (bisa bermaksud melarang datang menemui anaknya) Bapaknya galak! (bisa melarang jangan ke sana) Saya tidak dapat datang. Syukur Ibrahim. (minta maaf) Kula nyuwun sekilo. membuat orang lain percaya akan sesuatu dengan mendesak orang lain untuk berbuat sesuatu. Tindak tutur langsung-tidak langsung dan literal-tidak literal Berdasarkan isi kalimat atau tuturannya. Tempat itu jauh Lokusi Perlokusi Tempat itu jauh. Kaki manusia dua. perbuatan yang dilakukan dalam mengujarkan sesuatu atau melakukan sesuatu. TT ilokusi: Austin. ajakan. Tempat itu jauh. memperingatkan. TT lokusi: Austin. perintah biasa dan TT langsung (direct speech) TT langsung (direct speech) Berdasarkan mudusnya. Pohon punya daun. Lokusi Tempat itu jauh. intonasi) informasi (apa. Berita Adiknya sakit. ke mana. dan kalimat perintah (imperatif). yaitu kalimat berita (deklaratif). perbuatan yang dilakukan dengan mengujarkan sesuatu. 2. hal mengungkapkan sesuatu atau menyatakan sesuatu (locutionary speech act). TT ini sangat sedikit peranannya dalam pragmatik. yang merupakan keadaan psikologis yang tidak bisa diobservasi (lihat Abd. Searle.´ C. tidak (apa. (membeli) Temboknya dicat! (jangan dekat tembok itu) Adoh lho le! (jangan ke sana) 3. siapa.) TT langsung (direct speech) Perintah Pergi! larangan. kalimat atau tuturan dapat dibedakan menjadi tuturan langsung dan tutran tidak langsung.urutan tindakan yang banyak diabaikan oleh teori tindak tutur.

TT tidak langsung 3. 2. Tuturan literal: tuturan yang sesuai dengan maksud atau modusnya. 3. Tuturan tidak literal: tuturan yang tidak sesuai dengan maksud dalam tulisan/tuturan. TT langsung literal 6. 4. kurang . yang bagus dikatakan jelek (hal ini disebut banter [bEnte]). 1. yang jelek dikatakan bagus (disebut µironi¶). 6. 5. dan tidak literal) apabila disinggungkan (diinterseksikan) dapat dibedakan menjadi 8 macam seperti sebagai berikut. Rumahnya jauh. 1. keraskan radionya! betul-betul kurang keras. Hal ini disebut juga µnglulu¶ Dalan bahasa kadang-kadang terjadi. B: Ini uangnya. 8. TT langsung tidak literal 8. TT tidak literal 5. Masing-masing tindak tutur (langsung. Buka mulutnya! (makna lugas: buka). 2. (ada maksud: jangan ribut atau tengoklah!) Berdasarkan keliteralannya. TT langsung 2. Misalnya. 1. tidak langsung. tuturan dapat dibedakan menjadi tuturan literal dan tuturan tidal literal. 7. suara radionya keras sekali. Beli sana! Kadang-kadang secara pragmatis kalimat berita dan tanya digunakan untuk memerintah. matikan! Radione banter. (ada maksud: jangan pergi ke sana). TT tidak langsung tidak literal Misalnya. Buka mulutnya! (makna tidak lugas: tutup). sehingga merupakan TT tidak langsung (indirect speech). nyah. betul-betul kurang keras keraskan radionya! suara radionya keras sekali. 2. literal. Misalnya: 1. Misalnya. TT tidak langsung literal 7. TT literal 4. kalimat Radione kurang banter. TT langsung TT tidak langsung TT literal TT tidak literal TT langsung literal TT tidak langsung literal TT langsung tidak literal TT tidak langsung tidak literal betul-betul kurang keras. [Tuturan tidak langsung] A: Gulanya habis. Hal ini merupakan sesuatu yang penting dalam kajian pragmatik. Adiknya sakit.[Tuturan langsung] A: Minta uang untuk membeli gula! B: Ini.

Berikan informasi Anda secukupnya atau sejumlah yang diperlukan oleh MT. ringkas. ada maksud-maksud tertentu. 1993: 73. Selanjutnya orang lain diharapkan menangkap apa (hal) yang dikemukakan. kita perlu belajar tentang µasumsi pragmatik¶. tidak berlebihan. jangan mengatakan sesuatu yang tidak perlu. Keempat maksim percakapan itu ialah sebagai berikut. tidak berbelit-belit. Lubis. Kalau orang berbicara kepada orang lain pasti ingin mengemukakan sesuatu. . Tanpa adanya prinsip kerja sama komunikasi akan terganggu. (1) Maksim kuantitas: a. Grice menjabarkan prinsip kerja sama itu menjadi empat maksim percakapan (periksa Gunarwan. Bicaralah seperlunya saja. Prinsip kerja sama ini terealisasi dalam berbagai kaidah percakapan. dan bandingkan pula Wijana. berbicara secara wajar (termasuk volume suara yang wajar). Contoh: kikir : q2r berdua satu tujuan : ber-217-an tekate dhewe : TKTDW kutujukan : ku¥49kan wawan : wa-one prawan ayu : pra one are you kian maju : q-an maju lali main : la5in dik daniel : dick&niel kaki lima : kq lima thank before : thx b4 aku : aq kamu :u sama-sama := yang : y9 sayang : sy9 anti gadis : an3dis dan :n Di dalam berkomunikasi. Hanya saja dalam pragmatik terdapat penyimpangan-penyimpangan. maka orang akan berbicara sejelas mungkin. tetapi ia harus bertanggung jawab atas penyimpangan itu. Dengan adanya 2 tujuan ini. antara P dengan MT harus saling menjaga prinsip kerja sama (cooperative principle) agar proses komunikasi berjalan dengan lancar. 1996: 46-53). b. sehingga orang lain bisa mengetahui maksudnya. 1993: 11.PRINSIP KERJA SAMA (Cooperative Principle) Sebelum belajar tentang µprinsip kerja sama¶. Mereka harus bekerja sama. Secara lebih rinci.

Dalam pragmatik dikontrol oleh maksim (principle controlled). terdapat penyimpangan maksim. Maksim relevansi Penutur dan mitra tutur berbicara secara relevan berdasarkan konteks pembicaraan. Maksim kualitas Prinsip yang menghendaki orang-orang berbicara berdasarkan bukti-bukti yang memadai. d. baya. yaitu: 1. b. Kalau lebih berarti ada tujuannya. dan tidak ambigu. 3. di dalam percakapan sehari-hari tidak jarang kita temukan praktikpraktik pelanggaran terhadap maksim-maksim Grice tersebut. Akan tetapi. Dalam kaitannya dengan maksim kualitas. kalau informasi itu tidak relevan dengan permasalahan toh tidak akan membawa manfaat. di antara empat maksim itu. Asumsi pragmatik ini merupakan titik acuan (point of reference). Berkatalah secara sistematis. Bicaralah sesuai dengan permasalahan. Katakan yang relevan. (4) Maksim cara: a. maksim ketiga atau maksim relevansilah yang paling penting sebab betapa pun informasi yang kita sampaikan itu cukup serta disampaikan dengan cara yang jelas. e. 2. Jangan katakan sesuatu tanpa bukti yang cukup. Terdapat beberapa asumsi pragmatik.(2) Maksim kualitas: a. (Secara kuantitas cukup jelas). justeru pelanggaran-pelanggaran itulah yang menarik untuk dikaji: mengapa P melakukan pelanggaran terhadap maksim tertentu. c. Katakanlah hal yang sebenarnya. Ibu kota Provinsi Jawa Timur Sura «« Tuturan ini disampaikan oleh guru. c. Jangan katakan sesuatu yang Anda tahu bahwa sesuatu itu tidak benar. lalu murid menjawab «.. Kenyataan membuktikan. tidak bertele-tele. Bicaralah secara singkat. misalnya Modal saja tidak bisa dan Untung saja tidak dapat. Sejauh mana asumsi ini benar juga masih memerlukan pengkajian secara pragmatis. Bukti cukup memadai. bagi pengamat pragmatik. Hindari ketaksaan. Untuk memenuhi komunikasi secara wajar dan terjadi kerja sama yang baik. mengapa P yang bermaksud meminjam uang atau memerlukan bantuan kepada MT biasanya diawali dengan menceritakan secara panjang lebar keadaan dirinya seraya disertai dengan janji-janji? Apakah itu berlaku secara universal? Bukankah tindakan tersebut melanggar maksim kuantitas? Pada hemat saya. Hindari kekaburanan ujaran. b. Maksim kuantitas Berbicara sejumlah yang dibutuhkan oleh pendengar. ada maksud apa di balik pelanggaran maksim tersebut? Misalnya. bukti tidak memadai. tetapi apabila ada tuturan *Buku itu dibuat dari nasi. Misalnya: A : Ini jam berapa? . Misalnya: Ibu kota Provinsi Jawa Timur Surabaya. sedangkan dalam gramatika/ tatabahasa diatur oleh kaidah (rule governed). Katakan dengan jelas. (3) Maksim relevansi: a. maka dalam komunikasi harus memenuhi prinsip (maksim). Misalnya: Buku itu dibuat dari kertas. sistematis. b.

yaitu maksim kuantitas. sehingga kata-kata yang ambigu itu hanya satu makna. maksim kualitas. Misalnya: A : Dia penyanyi solo. Jadi tidak hanya bersifat tekstual. Tuturan ekspresif: menyatakan perasaan (emosi). Misalnya: Saya akan datang. masak saya miskin seperti ini punya tanah. Tuturan asertif: menyatakan sesuatu (objektif). tuturan impositif (direktif). maksim relevansi. Misalnya: Gedung itu indah sekali. Gadis itu cantik sekali. 4. Retorika tekstual harus memenuhi 4 prinsip (maksim) kerja sama. tidak boleh ambigu (taksa). Retorika interpersonal membutuhkan prinsip kesopanan (politeness principle). Sedangkan retorika interpersonal harus memperhitungkan orang lain. berikut ini inti 6 prinsip kesopanan menurut Leech. mujair. dia sering tampil di TVRI. Dalam kaitannya dengan kategori pragmatik ini ada tuturan komisif. ya? B : Bukan. Tetapi kadang-kadang dalam tuturan yang wajar terjadi dis-ambiguasi (pengawaambiguan). perlu mengingat kembali dari adanya kategori sintaktik yang terdiri dari berita. Misalnya: Bali terletak di sebelah timur Pulau Jawa. Boleh saya bawakan? Saya akan setia. 1. Akan menjadi tidak relevan misalnya apabila B menjawab Ini baju kamu atau Di sana. Keempat prinsip tersebut di atas termasuk pada jenis µretorika tekstual¶ sebab dalam pragmatik dikenal adanya retorika tekstual dan retorika interpersonal. tidak terbalik (harus runtut). Tuturan komisif: berjanji. Misalnya: A : Kamu penjahat kelas kakap.B : Ini jam 3. B : Benar. Swear. Tuturan impositif (direktif): menyuruh. dan maksim cara. ya? : Jangan menghina. Selanjutnya agar memenuhi prinsip (maksim) kesopanan. memohon. Ada 6 macam prinsip agar memenuhi prinsip kesopanan. tuturan ekspresif. 4. . memerintah. tuturan asertif. menawarkan. Saya akan datang (ada efek yang lain untuk memerintah) 3. Maksim cara Tuturan harus dikomunikasikan secara wajar. Sebelum sampai pada prinsip kesopanan. Dalam kategori pragmatik didasarkan pada fungsi komunikatifnya. Kadang-kadang sulit dibedakan antara tuturan asertif dengan ekspresif. Yang diperhatikan adalah tuturan. 2. dan perintah. Misalnya: Apakah Anda bisa menolong saya. A B : Ini Tanah Abang. Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS memiliki 8 jurusan. tanya.

ayu banget ya dheweke? : Iya. = memaksimalkan kerugian diri sendiri. B : Ah tidak. Misalnya: A : Kau sangat pandai. Misalnya: Ada yang bisa saya bantu? A : Mari saya bawakan! B : Tidak usah. meminimalkan rasa tidak hormat pada orang lain. Tuturan A dan B disebut pragmatik paradoks. Maksim kebijaksanaan/kedermawanan. Maksim penerimaan (approbation maxim). ning rada «. Ditujukan untuk menyatakan pendapat dan ekspresif. B : Iya. begini saja kok bagus. B : Wah elek banget ngono kok. nanging emane akeh sukete. biasa-biasa saja. Ditujukan pada orang lain (other centred maxim). Maksim kerendahhatian (modesty maxim). bukan pada orang lain (self centred maxim). tact maxim. komisif).1. ning emane cedhak pabrik. = memaksimalkan kesetujuan pada orang lain dan meminimalkan ketidaksetujuan pada orang lain. = memaksimalkan keuntungan orang lain. (kera). Maksim kesetujuan atau kecocokan (agreement maxim). Pusatnya pada orang lain (other centred maxim). Pusatnya pada diri sendiri (self centred maxim). meminimalkan kerugian orang lain. Misalnya: Omahmu jane apik. Misalnya: Bolehkah saya bantu? Mari saya bantu. 4. Maksim penerimaan ini ditujukan untuk menawarkan dan berjanji. Pekarangane jembar. Maksim kemurahhatian (generosity maxim). apik banget. Apakah Anda bersedia membawakan? Bawakan ini! (tidak sopan) Mari saya antarkan! Tolong saya dihantarkan! 3. = memaksimalkan rasa hormat pada orang lain. . 2. Jenis maksim ini untuk berjanji dan menawarkan (impositif. A B : Mobilnya bagus! : Ah. = meminimalkan rasa hormat pada diri sendiri dan memaksimalkan rasa tidak hormat pada diri sendiri. meminimalkan keuntungan diri sendiri. Pusatnya orang lain (other centred maxim) Maksim ini ditujukan untuk kategori asertif dan ekspresif. 5. A : Omah kuwi apik banget. Misalnya: A : Omah kuwi apik. Ditujukan pada diri sendiri. (Ketidaksetujuan total / tidak sopan) A B : Wah.

Definisi Pragmatik Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. Jon. Meskipun memiliki fokus kajian yang serupa dengan semantik. Maksim kesimpatian (symphaty maxim). ya. = memaksimalkan simpati pada orang lain dan meminimalkan antipati pada orang lain. LINGUISTIK: PRAGMATIK May 30. makna yang dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantik. Sebagai tataran terbaru dalam linguistik. A B : Baru-baru ini dia telah meninggal. Ditujukan untuk menyatakan asertif dan ekspresif. saya mengawali makalah ini dengan pembahasan mengenai pengertian pragmatik. seperti akan saya jelaskan kemudian.(Ketidaksetujuan parsial / sopan) 6. 2010 ramlannarie bahasa indonesia Leave a comment Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik? 1. (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya. B : Selamat. melebihi kajian tentang makna yang diujarkan. (3) bidang yang. seperti diungkap oleh Yule (1996: 6). Yule (1996: 3). menjelaskan secara singkat topik-topik bahasannya. dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. Pusatnya orang lain (other centred maxim). mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara. Misalnya: A : Saya lolos di UMPTN. yaitu makna. perkembangannya. dengan melihat perbedaan kajiannya dengan bidang lain dalam linguistik. 2. studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya. yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara. Makalah ini bertujuan menjelaskan pentingnya bidang pragmatik untuk dipelajari dalam program studi linguistik. : Oh. menunjukkan pentingnya pragmatik. . Pendahuluan Dalam jangka yang cukup lama. Untuk tujuan tersebut. Pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. dan mengabaikan unsur pengguna bahasa. saya turut berduka cita. yaitu dengan menurunkan sistem yang terdapat dalam matematika dan logika. misalnya. menyebutkan empat definisi pragmatik. dan.

Dengan kata lain. menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). Searle. Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi. bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya. dalam kaitannya dengan logika. pertama. seperti sering kita jumpai. yang tumbuh di Eropa. 3.Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian. sosial. Kecenderungan kedua. yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik. yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme. yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik. dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross. bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6). Menurut Lakoff dan Ross. dan (4) tradisi etnometodologi. adalah tradisi filsafat. melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. dan kedua. termasuk penggunaannya. komunikasi tetap dapat berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak apik secara sintaksis (ill-formed). dan semantik bersifat periferal. dan Grice. atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi. Leech (1983: 2). yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)). yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme. mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi. seperti dikutip Gunarwan (2004: 7). Selanjutnya Thomas (1995: 22). seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5). dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran. bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6). Dalam etnometodologi. morfologi. dan komplementarisme. Austin dan John R. dengan menggunakan sudut pandang sosial. Perkembangan Pragmatik Mey (1998). muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan. kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi. dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik. dan bahwa fonologi. bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri. (2) kecenderungan sosial-kritis. Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. menolak pandangan sintaksisme Chomsky. sebab. keapikan sintaksis (well-formedness) bukanlah segalanya. yang dipelopori oleh Bertrand Russell. yaitu bahwa dalam kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis. tepatnya di Britania. Ludwig Wittgenstein. dengan menggunakan sudut pandang kognitif. pragmatisisme. dan terutama John L. misalnya Austin. mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction). . Kecenderungan yang pertama. Searle. Tradisi yang ketiga. menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning). (3) tradisi filsafat. Jerman. mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa. Para pakar tersebut mengkaji bahasa.

kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar karena sesuai dengan kenyataan. Austin dapat dianggap sebagai pemicu minat yang paling utama dalam kajian pragmatik. dan Grice). seperti diungkap oleh Marmaridou (2000: 1 (dalam Gunarwan 2004: 8)). yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech-act). struktur dalam ujaran tersebut dapat saja berbunyi Saya katakan bahwa rumah Joni terbakar. (1) Ada enam kata dalam kalimat ini (2) Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono Dari contoh di atas. seperti juga ditekankan lebih lanjut oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). karena memiliki struktur dalam yang mengandungi makna performatif. bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis. sesuai contoh di atas. Austin (dalam Thomas 1995: 31) berpendapat bahwa salah satu cara untuk membuat pembedaan yang baik bukanlah menurut kadar benar atau salahnya. sebagai bagian dari performatif (Austin 1962: 52 dan Thomas 1995: 49). Sebab. pragmatik neo-Gricean (Cole). Searle. Austin. . Beberapa Topik Pembahasan dalam Pragmatik 4. Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi dan ketaksaan.1 Teori Tindak-Tutur Melalui bukunya. melainkan juga melakukan sesuatu (perform actions). (3) Dengan ini. saya nikahkan kalian (performatif) (4) Rumah Joni terbakar (konstatif) Selanjutnya Austin. yaitu. Contoh. sejak itu bidang kajian ini telah berkembang jauh. melainkan melalui bagaimana bahasa dipakai sehari-hari. memasukkan ujaran konstatif. Austin berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements). sehingga kita dapat melihat sejumlah kecenderungan dalam pragmatik.4. dan bahwa pernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris. dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin ini mengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition). yaitu pragmatik filosofis (Austin. Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Gunarwan 2004: 8). Contoh. dan pragmatik interaktif (Thomas). pragmatik kognitif (Sperber dan Wilson). seperti dikutip oleh Thomas (1995: 29-30). Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics (Thomas 1995: 30). seperti Russel dan Moore. Dalam contoh (4). How to Do Things with Words. Melalui hipotesis performatifnya.

Kerja sama yang terjalin dalam komunikasi ini terwujud dalam empat bidal (maxim). menyebut dua macam implikatur. yaitu implikatur konvensional dan implikatur konversasional. yaitu prinsip kerja sama (cooperative principle) (Yule 1996: 36-37 dan Thomas 1995: 61). yaitu (1) bidal kuantitas (quantity maxim). Contoh. pada kenyataannya. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 1214). mengungkapkan secara beraturan (Gunarwan 2004: 11 dan Thomas 1995: 63-64). Dalam direct speeh-act terdapat hubungan langsung antara struktur kalimat dengan fungsinya. menghindari ketidakjelasan pengungkapan. Searle juga menyebut lima jenis fungsi tindak-tutur. ilokusi (illocutionary act). komisif (comissive). Implikatur konversasional merupakan implikatur yang dihasilkan karena tuntutan konteks tertentu (Thomas 1995: 58). ekspresif merupakan tindak-tutur yang menyatakan perasaan pembicaranya. Tindak-tutur. 4. 4. memberi sumbangan informasi yang relevan. Tindak lokusioner berkaitan dengan produksi ujaran yang bermakna. menghindari ketaksaan. Asertif atau representatif merupakan tindak-tutur yang menyatakan tentang sesuatu yang dipercayai pembicaranya benar. dalam komunikasi kadang kita tidak mematuhi prinsip tersebut. yaitu asertif (assertive). . dan tindak perlokusioner berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan (Thomas 1995: 49). (2) bidal kualitas (quality maxim). ujaran yang mengandung implikatur jenis ini. dan Yule 1996: 53-54). Berkaitan dengan prinsip kerja sama Grice di atas. direktif merupakan tindaktutur yang menghendaki pendengarnya melakukan sesuatu. dan (4) bidal cara (manner maxim). memberi informasi sesuai yang diminta. Selain itu. dan deklarasi merupakan tindak-tutur yang mengubah status sesuatu. dan perlokusi (perlocutionary act) (Yule 1996: 48).Tindakan yang dihasilkan dengan ujaran ini mengandung tiga tindakan lain yang berhubungan.3 Implikatur (Implicature) Grice.2 Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle) Grice mengemukakan bahwa percakapan yang terjadi di dalam anggota masyarakat dilandasi oleh sebuah prinsip dasar. ekspresif (expressive). Hal ini. seperti dikembangkan lebih jauh oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). direktif (directive). tindak ilokusioner terutama berkaitan dengan intensi atau maksud pembicara. dan deklarasi (declaration) (Littlejohn 2002: 80. dapat dicontohkan dengan penggunaan kata bahkan. mengungkapkan secara singkat. komisif merupakan tindak-tutur yang digunakan pembicaranya untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukannya. dan Yule 1996: 5455). sedangkan dalam indirect speech-act hubungannya tidak langsung atau menggunakan (bentuk) tindak-tutur lain (Gunarwan 2004: 9. menyatakan hanya yang menurut kita benar atau cukup bukti kebenarannya. didasarkan atas beberapa alasan. Implikatur konvensional merupakan implikatur yang dihasilkan dari penalaran logika. misalnya untuk memberikan informasi secara tersirat (implicature) dan menjaga muka lawan bicara (politeness). yaitu lokusi (locutionary act). seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 14). seperti diungkap oleh Thomas (1995: 57). dapat berupa tindak-tutur langsung (direct speech-act) dan tindak-tutur tidak langsung (indirect speech-act). (3) bidal relasi (relation maxim).

misalnya contoh (5) di atas.4 Teori Relevansi Teori relevansi yang dikembangkan oleh Sperber dan Wilson merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. Sperber dan Wilson (1995). misalnya tindakan untuk membuat sesuatu menjadi jelas dan dapat dimengerti oleh penerima pesan. Sperber dan Wilson (1995). tahapan yang harus dilewati untuk memahami implikatur dalam percakapan. 4. namun mencakup perluasan wilayah kognitif (cognitive environment) kedua belah pihak. Dengan kata lain. implikatur dapat dibedakan menjadi implikatur khusus dan implikatur umum. Contoh. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). sedangkan contoh (6) merupakan implikatur konversasional yang bermakna µtidak¶ dan merupakan jawaban atas pertanyaan maukah Anda menghadiri selamatan sunatan anak saya? Berbeda dengan Grice. Selanjutnya. menetapkan tiga macam hubungan antara cue dan implicature. dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini. pesan ini berada dalam spesifikasi tertentu yang disepakati oleh addresser dan addressee dalam konteks komunikasi. Setiap pembaca dapat memahami bahwa pesan ini hanya berlaku jika ia akan meninggalkan ruangan tersebut untuk terakhir kalinya. komunikasi tidak hanya memasukkan apa yang ada dalam pikiran pengirim pesan ke dalam pikiran penerima pesan. Contoh yang ditulis Renkema (2004: 23) di bawah ini memberikan gambaran yang cukup jelas. Misalnya pada contoh (7) di atas. . Dalam teori relevansi dipelajari bagaimana sebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya. penerima pesan (addressee) hanya memilih sesuatu yang dianggapnya relevan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan (addresser) dalam konteks komunikasi tertentu. Menurut mereka. bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi. untuk menjelaskan cara sebuah pesan dipahami penerimanya. Melalui hal tersebut. dengan menggunakan prinsip kerja sama Grice.(5) Bahkan Bapak Menteri Agama menghadiri sunatan anak saya (6) Saya kebetulan ke Inggris untuk studi selama dua tahun dan berangkat besok Contoh (5) di atas merupakan implikatur konvensional yang berarti Bapak Menteri Agama biasanya tidak menghadiri acara sunatan. misalnya contoh (6) di atas. dan ketiga. Yang pertama ada karena konteks ujaran. menyebutkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (language in use) selalu dapat diidentifikasi melalui hal yang disebutnya indeterminacy atau underspecification. misalnya untuk ke kamar mandi. yaitu: pertama. bukan untuk setiap kali meninggalkan ruangan. ujaran merupakan sebentuk tindakan dari komunikasi ostensif. kedua. pengirim pesan dapat memperkirakan reaksi penerima pesan terhadap pesan yang disampaikannya. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). sedangkan yang kedua tidak. explicature atau degree of relevance. menurut Gazdar. (7) Pastikan semua pintu terkunci jika meninggalkan ruangan ini. yaitu tidak perlu mengunci pintu jika keluar dalam batasan waktu dan situasi yang diperkirakan cukup aman.

Intensitas FTA diekspresikan dengan bobot atau weight (W) yang mencakup tiga parameter sosial. Begitu juga A. (9) a. Menurut Goffman (1956). Contoh. kekuasaan atau power (P) yang dimiliki lawan bicara (Renkema 2004: 26). karena semakin tinggi contextual effect maka semakin rendah ia membutuhkan processing effort. ia mengandaikan B dapat mengerti bahwa that migh be cheaper dapat berarti If you purchase a ticket now. 4. dan citra diri di depan umum (public self-image). padahal A harus memastikan dengan jelas setiap pemesanan pembelian tiket. B mengira A mengerti bahwa at the weekend berarti next weekend. boleh tanya? . seperti dikutip oleh Renkema (2004: 25). Berdasarkan konsep face yang dikemukakan oleh Goffman ini. sedangkan yang kedua disebut negative face. Then that¶s fifty. Brown dan Levinson (1978) membangun teori tentang hubungan intensitas FTA dengan kesantunan yang terrealisasi dalam bahasa (Renkema 2004: 25). How does it works? You just turn up for the shuttle service? A: That might be cheaper. there is a shuttle service sixty euros one-way. misalnya bobot kedua permintaan di atas tidak terlalu besar jika kedua ungkapan tersebut ditujukan kepada saudara sendiri. yang dikutip oleh Jaszczolt (2002: 318). Dalam percakapan tersebut. ³face merupakan gambaran citra diri dalam atribut sosial yang telah disepakati´. Pak. tingkat gangguan atau rate of imposition (R). A: What weekend? B: Next weekend. dalam pengertian degree of relevance. Kebutuhan yang pertama disebut positive face. setiap partisipan memiliki dua kebutuhan dalam setiap proses sosial: yaitu kebutuhan untuk diapresiasi dan kebutuhan untuk bebas (tidak terganggu). Menurut Goffman (1967: 5). ujaran at the weekend. jarak sosial atau social distance (D) antara pembicara dengan lawan bicaranya. when do you want to go? B: At the weekend. you have booked seat which costs 60 euros. Dengan kata lain. harga diri (self-esteem). kedua. sedangkan that might be cheaper merupakan ujaran yang relevansinya lebih baik. berkenaan dengan bobot mutlak (absolute weight) tindakan tertentu dalam kebudayaan tertentu. misalnya permintaan ³May I borrow your car?´ mempunyai bobot yang berbeda dengan permintaan ³May I borrow your pen?´. Maaf. pemahaman penerima pesan terhadap apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan terjadi melalui beberapa tahapan. Dalam hal ini. If you buy ticket when you turn up. merupakan ujaran yang relevansinya rendah dan membutuhkan processing effort yang lebih besar. dan ketiga.5 Kesantunan (Politeness) Konsep strategi kesantunan yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson diadaptasi dari konsep face yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog bernama Erving Goffman (1956) (Renkema 2004: 24-25). yaitu: pertama. face dapat diartikan kehormatan.(8) A: Well. it costs 50 euros. Dalam percakapan di atas.

dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal. salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. Kelima strategi tersebut diurut berdasarkan tingkat resiko ³kehilangan muka´. sedangkan politeness yang dilakukan untuk tujuan sebaliknya disebut respect politeness. semakin tinggi resiko kehilangan muka. Hey. ditambah bidal pertimbangan (consideration maxim). semakin besar intensitas FTA mengancam stabilitas komunikasi. yang bertujuan untuk mendapatkan positive face disebut solidarity politeness. but could you lend me a hundred dollars? (negative polite) e. Oh no. Renkema (2004: 27) memberi contoh strategi tersebut. bidal pujian (approbation maxim). I¶m out of cash! I forgot to go to the bank today. Dalam sintaksis. friend. 5. Hey. bidal kesetujuan (aggreement maxim). Pakar ini membahas teori kesantunan dalam kerangka retorika interpersonal (Eelen 2001: 6). sedangkan ujaran (9b) mungkin diucapkan kepada orang yang secara sosial jaraknya lebih dekat (9a). (baldly) b. maka politeness strategy semakin dibutuhkan. bidal kerendahhatian (modesty maxim). seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4). Dalam hal ini. ujaran (9a) mungkin diucapkan pembicara yang secara sosial lebih rendah dari lawan bicaranya. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat banyak cara untuk menghindari FTA yang dapat direduksi menjadi lima macam cara. Pragmatik dalam Linguistik Seperti telah saya uraikan sedikit dalam sub 3 di atas. I¶m sorry I have to ask. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 19). sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya. maka semakin kecil kemungkinan pembicara melakukan FTA. could you lend me a hundred bucks? (positive polite) c. Leech (dalam Eelen 2001: menyebutkan enam bidal kesantunan. Dalam hal ini. bidal simpati (sympathy maxim). lend me a hundred dollars. misalnya mahasiswa kepada dosen atau yang muda kepada yang tua. sehingga bentuk . (off record) Teori kesantunan lain dibahas oleh Leech (1983). Mas? Dalam contoh di atas terlihat jelas. dan. face work technique. Secara umum. yaitu bidal kebijaksanaan (tact maxim). Brown dan Levinson (1978). bidal kedermawanan (generosity maxim). dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis. misalnya dengan melakukan tindakan yang tidak kooperatif dalam komunikasi (Renkema 2004: 25).b. Numpang tanya. Politeness. bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat. Politeness (kesantunan) dalam hal ini dapat dipahami sebagai upaya pencegahan dan atau perbaikan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh FTA. Berkaitan dengan politeness strategy ini. (5) a. misalnya dengan pujian. dapat dilakukan. dapat dilakukan. seperti diungkapkan oleh Renkema (2004: 26).

kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa. sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis. misalnya. Atas dasar ini. dan memang sering kita temukan. Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik. absolut atau bersifat mutlak. Dengan demikian. pembahasan makna dalam semantik belum memadai. dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur. karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai. sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi. sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. sedangkan . bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa. sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). Dengan demikian. melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. dapat dipahami. untuk dapat dinyatakan benar. Selanjutnya. tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis. yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa. sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya. dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi. Kaidah bersifat deskriptif. dan kedua. Lebih tepatnya. selain tata bahasa. demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Berdasarkan truth conditional semantics. sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik. dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya. pertama. makna apa yang dituturkan. dan maksud dari tuturan. semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis. bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis. semantik terikat pada kaidah (rule-governed). semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan. sebab daya mencakup juga makna. Kegunaan pragmatik. saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). bahwa komunikasi tetap dapat berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis. untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik. meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda. bagaimana memahami implikatur percakapan. Tentang perbedaan yang pertama. dan kedua. Dengan kata lain. untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari. meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris. dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik. Selanjutnya. makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. dalam analisis bahasa. dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. di samping sintaksis dan semantik. Dengan kata lain. pertama. terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis. Namun demikian. Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada. yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik. tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan.seperti kucing menyapu halaman. keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan.

kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik. UK: St. dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain. Dalam pengajaran bahasa Indonesia. pragmatik merupakan satu-satunya tataran dalam linguistik yang mengkaji bahasa dengan memperhitungkan juga penggunanya. dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence). How to Do Things with Word (edisi kedua). Daftar Acuan Austin. dalam pengajaran bahasa. dalam arti praktis. Gino. Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse. pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya. berkaitan dengan ketidakmampuan sintaksis dan semantik dalam menjelaskan fenomena penggunaan bahasa sehari-hari. Lebih jauh lagi. John L. Dalam pengajaran bahasa asing. Jaszczolt. Politeness: Some Universal in Language Usage. berkaitan dengan pengajaran bahasa. Brown. pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut.. pertama. Eelen. dan Stephen C. 6. karena selain benar. patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. Jerome Publishing Gunarwan. 2001. bahasa yang digunakan harus baik. saya melihat kedudukan semantik dan pragmatik sebagai dua hal yang saling melengkapi. . tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa pragmatik penting dipelajari dalam program studi linguistik. misalnya. terdapat keterkaitan. saya melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik setidaknya dalam dua hal. 2004. Secara umum. yaitu bahwa pengetahuan pragmatik. seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22).prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif. dapat bertentangan dengan prinsip lain.M. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). IKIP Singaraja. pragmatik berperan dalam pengembangan kompetensi komunikatif. A Critique of Politeness Theories. Manchester. 1962. Berdasarkan penjelasan di atas. K. Penelope. Selain itu. 1978. dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa. Edinburgh: Pearson Education. Cambridge: Cambridge University Press. Levinson. kedua. Oxford: Oxfod University Press. Penutup Seperti telah disebutkan di muka. yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu. Asim. 2002.

1995. Yule. Oxford University Press. 2004. Thomas. George. 1996. ss . Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. Introduction to Discourse Studies. Jan.Renkema. Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics. Jenny. Pragmatics. Oxford. London/New York: Longman.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->