Linguistik: Pragmatik Tuesday, July 24, 2007 Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik?

Makyun Subuki 13 Desember 2006 1. Pendahuluan Dalam jangka yang cukup lama, seperti diungkap oleh Yule (1996: 6), studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya, yaitu dengan menurunkan sistem yang terdapat dalam matematika dan logika, dan mengabaikan unsur pengguna bahasa. Sebagai tataran terbaru dalam linguistik, Pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. Meskipun memiliki fokus kajian yang serupa dengan semantik, yaitu makna, seperti akan saya jelaskan kemudian, makna yang dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantik. Makalah ini bertujuan menjelaskan pentingnya bidang pragmatik untuk dipelajari dalam program studi linguistik. Untuk tujuan tersebut, saya mengawali makalah ini dengan pembahasan mengenai pengertian pragmatik, perkembangannya, menjelaskan secara singkat topik-topik bahasannya, dan, dengan melihat perbedaan kajiannya dengan bidang lain dalam linguistik, menunjukkan pentingnya pragmatik. 2. Definisi Pragmatik Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. Yule (1996: 3), misalnya, menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang, melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian, pertama, dengan menggunakan sudut pandang sosial, menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning); dan kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif, menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). Selanjutnya Thomas (1995: 22), dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik, sosial, dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran, mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction).

Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme, yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik; pragmatisisme, yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik; dan komplementarisme, atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi. 3. Perkembangan Pragmatik Mey (1998), seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5), mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi, yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme; (2) kecenderungan sosial-kritis; (3) tradisi filsafat; dan (4) tradisi etnometodologi. Kecenderungan yang pertama, yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross, menolak pandangan sintaksisme Chomsky, yaitu bahwa dalam kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis, dan bahwa fonologi, morfologi, dan semantik bersifat periferal. Menurut Lakoff dan Ross, keapikan sintaksis (well-formedness) bukanlah segalanya, sebab, seperti sering kita jumpai, komunikasi tetap dapat berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak apik secara sintaksis (ill-formed), bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6). Kecenderungan kedua, yang tumbuh di Eropa, tepatnya di Britania, Jerman, dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)), muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan, bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri. Tradisi yang ketiga, yang dipelopori oleh Bertrand Russell, Ludwig Wittgenstein, dan terutama John L. Austin dan John R. Searle, adalah tradisi filsafat. Para pakar tersebut mengkaji bahasa, termasuk penggunaannya, dalam kaitannya dengan logika. Leech (1983: 2), seperti dikutip Gunarwan (2004: 7), mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa, misalnya Austin, Searle, dan Grice, dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross. Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi, yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. Dalam etnometodologi, bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya, melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Dengan kata lain, kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi, bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6). 4. Beberapa Topik Pembahasan dalam Pragmatik 4.1 Teori Tindak-Tutur

Melalui bukunya, How to Do Things with Words, Austin dapat dianggap sebagai pemicu minat yang paling utama dalam kajian pragmatik. Sebab, seperti diungkap oleh Marmaridou (2000: 1 (dalam Gunarwan 2004: 8)), sejak itu bidang kajian ini telah berkembang jauh, sehingga kita dapat melihat sejumlah kecenderungan dalam pragmatik, yaitu pragmatik filosofis (Austin, Searle, dan Grice), pragmatik neo-Gricean (Cole), pragmatik kognitif (Sperber dan Wilson), dan pragmatik interaktif (Thomas). Austin, seperti dikutip oleh Thomas (1995: 29-30), bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis, seperti Russel dan Moore, yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi dan ketaksaan, dan bahwa pernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris. Contoh. (1) Ada enam kata dalam kalimat ini (2) Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono Dari contoh di atas, dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin ini mengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition), yaitu, sesuai contoh di atas, kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar karena sesuai dengan kenyataan. Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics (Thomas 1995: 30). Austin (dalam Thomas 1995: 31) berpendapat bahwa salah satu cara untuk membuat pembedaan yang baik bukanlah menurut kadar benar atau salahnya, melainkan melalui bagaimana bahasa dipakai sehari-hari. Melalui hipotesis performatifnya, yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech-act), Austin berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements), melainkan juga melakukan sesuatu (perform actions). Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Gunarwan 2004: 8). Contoh. (3) Dengan ini, saya nikahkan kalian (performatif) (4) Rumah Joni terbakar (konstatif) Selanjutnya Austin, seperti juga ditekankan lebih lanjut oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9), memasukkan ujaran konstatif, karena memiliki struktur dalam yang mengandungi makna performatif, sebagai bagian dari performatif (Austin 1962: 52 dan Thomas 1995: 49). Dalam contoh (4), struktur dalam ujaran tersebut dapat saja berbunyi Saya katakan bahwa rumah Joni terbakar. Tindakan yang dihasilkan dengan ujaran ini mengandung tiga tindakan lain yang berhubungan, yaitu lokusi (locutionary act), ilokusi (illocutionary act), dan perlokusi (perlocutionary act) (Yule 1996: 48). Tindak lokusioner berkaitan dengan produksi

Searle juga menyebut lima jenis fungsi tindak-tutur. yaitu asertif (assertive). tindak ilokusioner terutama berkaitan dengan intensi atau maksud pembicara. Implikatur konversasional merupakan implikatur yang dihasilkan karena tuntutan konteks tertentu (Thomas 1995: 58). Asertif atau representatif merupakan tindak-tutur yang menyatakan tentang sesuatu yang dipercayai pembicaranya benar. dan (4) bidal cara (manner maxim). Berkaitan dengan prinsip kerja sama Grice di atas. Selain itu. memberi sumbangan informasi yang relevan. dapat dicontohkan dengan penggunaan kata bahkan. 4.3 Implikatur (Implicature) Grice. (3) bidal relasi (relation maxim). dan deklarasi (declaration) (Littlejohn 2002: 80. sedangkan dalam indirect speech-act hubungannya tidak langsung atau menggunakan (bentuk) tindak-tutur lain (Gunarwan 2004: 9. seperti dikembangkan lebih jauh oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). menghindari ketaksaan. dan tindak perlokusioner berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan (Thomas 1995: 49). pada kenyataannya. Kerja sama yang terjalin dalam komunikasi ini terwujud dalam empat bidal (maxim). dapat berupa tindak-tutur langsung (direct speech-act) dan tindak-tutur tidak langsung (indirect speech-act). Tindak-tutur. komisif merupakan tindak-tutur yang digunakan pembicaranya untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukannya. 4. dan Yule 1996: 53-54). Hal ini. Contoh. dan deklarasi merupakan tindak-tutur yang mengubah status sesuatu. yaitu implikatur konvensional dan implikatur konversasional. ekspresif merupakan tindak-tutur yang menyatakan perasaan pembicaranya.ujaran yang bermakna. ekspresif (expressive). ujaran yang mengandung implikatur jenis ini. memberi informasi sesuai yang diminta. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 12-14). yaitu prinsip kerja sama (cooperative principle) (Yule 1996: 36-37 dan Thomas 1995: 61). Dalam direct speeh-act terdapat hubungan langsung antara struktur kalimat dengan fungsinya. direktif (directive). komisif (comissive). direktif merupakan tindak-tutur yang menghendaki pendengarnya melakukan sesuatu. didasarkan atas beberapa alasan. dan Yule 1996: 54-55). yaitu (1) bidal kuantitas (quantity maxim). mengungkapkan secara beraturan (Gunarwan 2004: 11 dan Thomas 1995: 63-64). dalam komunikasi kadang kita tidak mematuhi prinsip tersebut. menyebut dua macam implikatur. mengungkapkan secara singkat.2 Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle) Grice mengemukakan bahwa percakapan yang terjadi di dalam anggota masyarakat dilandasi oleh sebuah prinsip dasar. menghindari ketidakjelasan pengungkapan. (2) bidal kualitas (quality maxim). menyatakan hanya yang menurut kita benar atau cukup bukti kebenarannya. . misalnya untuk memberikan informasi secara tersirat (implicature) dan menjaga muka lawan bicara (politeness). seperti diungkap oleh Thomas (1995: 57). Implikatur konvensional merupakan implikatur yang dihasilkan dari penalaran logika. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 14).

4. menyebutkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (language in use) selalu dapat diidentifikasi melalui hal yang disebutnya indeterminacy atau underspecification. kedua. menurut Gazdar. Melalui hal tersebut. dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini. bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi. Misalnya pada contoh (7) di atas.(5) Bahkan Bapak Menteri Agama menghadiri sunatan anak saya (6) Saya kebetulan ke Inggris untuk studi selama dua tahun dan berangkat besok Contoh (5) di atas merupakan implikatur konvensional yang berarti Bapak Menteri Agama biasanya tidak menghadiri acara sunatan. menetapkan tiga macam hubungan antara cue dan implicature. sedangkan contoh (6) merupakan implikatur konversasional yang bermakna µtidak¶ dan merupakan jawaban atas pertanyaan maukah Anda menghadiri selamatan sunatan anak saya? Berbeda dengan Grice. yaitu tidak perlu mengunci pintu jika keluar dalam batasan waktu dan situasi yang diperkirakan cukup aman.4 Teori Relevansi Teori relevansi yang dikembangkan oleh Sperber dan Wilson merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. Sperber dan Wilson (1995). Contoh. tahapan . misalnya contoh (6) di atas. komunikasi tidak hanya memasukkan apa yang ada dalam pikiran pengirim pesan ke dalam pikiran penerima pesan. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). namun mencakup perluasan wilayah kognitif (cognitive environment) kedua belah pihak. explicature atau degree of relevance. Menurut mereka. yaitu: pertama. misalnya contoh (5) di atas. (7) Pastikan semua pintu terkunci jika meninggalkan ruangan ini. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). Sperber dan Wilson (1995). bukan untuk setiap kali meninggalkan ruangan. sedangkan yang kedua tidak. untuk menjelaskan cara sebuah pesan dipahami penerimanya. Selanjutnya. dan ketiga. Dalam teori relevansi dipelajari bagaimana sebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya. dengan menggunakan prinsip kerja sama Grice. Yang pertama ada karena konteks ujaran. misalnya untuk ke kamar mandi. Setiap pembaca dapat memahami bahwa pesan ini hanya berlaku jika ia akan meninggalkan ruangan tersebut untuk terakhir kalinya. implikatur dapat dibedakan menjadi implikatur khusus dan implikatur umum. penerima pesan (addressee) hanya memilih sesuatu yang dianggapnya relevan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan (addresser) dalam konteks komunikasi tertentu. pengirim pesan dapat memperkirakan reaksi penerima pesan terhadap pesan yang disampaikannya. misalnya tindakan untuk membuat sesuatu menjadi jelas dan dapat dimengerti oleh penerima pesan. pesan ini berada dalam spesifikasi tertentu yang disepakati oleh addresser dan addressee dalam konteks komunikasi. ujaran merupakan sebentuk tindakan dari komunikasi ostensif. Dengan kata lain.

Then that's fifty. Dalam percakapan tersebut. Dengan kata lain. Menurut Goffman (1967: 5). Contoh yang ditulis Renkema (2004: 23) di bawah ini memberikan gambaran yang cukup jelas. yang dikutip oleh Jaszczolt (2002: 318). padahal A harus memastikan dengan jelas setiap pemesanan pembelian tiket. setiap partisipan memiliki dua kebutuhan dalam setiap proses sosial: yaitu kebutuhan untuk diapresiasi dan kebutuhan untuk bebas (tidak terganggu). sedangkan that might be cheaper merupakan ujaran yang relevansinya lebih baik. Menurut Goffman (1956). it costs 50 euros. kedua. How does it works? You just turn up for the shuttle service? A: That might be cheaper. dalam pengertian degree of relevance. Kebutuhan yang pertama disebut positive face. Brown dan Levinson (1978) membangun teori tentang hubungan intensitas FTA dengan kesantunan yang terrealisasi dalam bahasa (Renkema 2004: 25). harga diri (self-esteem). berkenaan dengan bobot mutlak (absolute weight) tindakan tertentu dalam kebudayaan tertentu. Begitu juga A. Dalam percakapan di atas. ia mengandaikan B dapat mengerti bahwa that migh be cheaper dapat berarti If you purchase a ticket now. Dalam hal ini. pemahaman penerima pesan terhadap apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan terjadi melalui beberapa tahapan. yaitu: pertama. 4. misalnya bobot kedua permintaan di atas . "face merupakan gambaran citra diri dalam atribut sosial yang telah disepakati". Berdasarkan konsep face yang dikemukakan oleh Goffman ini. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 25). A: What weekend? B: Next weekend. there is a shuttle service sixty euros one-way. (8) A: Well. ujaran at the weekend.yang harus dilewati untuk memahami implikatur dalam percakapan. tingkat gangguan atau rate of imposition (R).5 Kesantunan (Politeness) Konsep strategi kesantunan yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson diadaptasi dari konsep face yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog bernama Erving Goffman (1956) (Renkema 2004: 24-25). merupakan ujaran yang relevansinya rendah dan membutuhkan processing effort yang lebih besar. Intensitas FTA diekspresikan dengan bobot atau weight (W) yang mencakup tiga parameter sosial. jarak sosial atau social distance (D) antara pembicara dengan lawan bicaranya. face dapat diartikan kehormatan. B mengira A mengerti bahwa at the weekend berarti next weekend. when do you want to go? B: At the weekend. sedangkan yang kedua disebut negative face. you have booked seat which costs 60 euros. karena semakin tinggi contextual effect maka semakin rendah ia membutuhkan processing effort. misalnya permintaan "May I borrow your car?" mempunyai bobot yang berbeda dengan permintaan "May I borrow your pen?". dan citra diri di depan umum (public self-image). If you buy ticket when you turn up.

kekuasaan atau power (P) yang dimiliki lawan bicara (Renkema 2004: 26). bidal kerendahhatian (modesty maxim). Pak. (9) a. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 19). Leech (dalam Eelen 2001: 8) menyebutkan enam bidal kesantunan. boleh tanya? b. yaitu bidal kebijaksanaan (tact maxim). misalnya dengan pujian. semakin besar intensitas FTA mengancam stabilitas komunikasi. Mas? Dalam contoh di atas terlihat jelas. dapat dilakukan. bidal pujian (approbation maxim). maka semakin kecil kemungkinan pembicara melakukan FTA. ditambah bidal pertimbangan (consideration maxim). Pragmatik dalam Linguistik . face work technique. could you lend me a hundred bucks? (positive polite) c. (baldly) b. Dalam hal ini. Oh no. lend me a hundred dollars. I'm sorry I have to ask. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat banyak cara untuk menghindari FTA yang dapat direduksi menjadi lima macam cara.tidak terlalu besar jika kedua ungkapan tersebut ditujukan kepada saudara sendiri. bidal kesetujuan (aggreement maxim). Hey. sedangkan ujaran (9b) mungkin diucapkan kepada orang yang secara sosial jaraknya lebih dekat (9a). Pakar ini membahas teori kesantunan dalam kerangka retorika interpersonal (Eelen 2001: 6). 5. misalnya dengan melakukan tindakan yang tidak kooperatif dalam komunikasi (Renkema 2004: 25). Dalam hal ini. bidal simpati (sympathy maxim). Politeness (kesantunan) dalam hal ini dapat dipahami sebagai upaya pencegahan dan atau perbaikan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh FTA. Politeness. bidal kedermawanan (generosity maxim). but could you lend me a hundred dollars? (negative polite) e. Brown dan Levinson (1978). dan ketiga. maka politeness strategy semakin dibutuhkan. I'm out of cash! I forgot to go to the bank today. Contoh. misalnya mahasiswa kepada dosen atau yang muda kepada yang tua. seperti diungkapkan oleh Renkema (2004: 26). Numpang tanya. friend. dan. semakin tinggi resiko kehilangan muka. sedangkan politeness yang dilakukan untuk tujuan sebaliknya disebut respect politeness. Kelima strategi tersebut diurut berdasarkan tingkat resiko "kehilangan muka". ujaran (9a) mungkin diucapkan pembicara yang secara sosial lebih rendah dari lawan bicaranya. Berkaitan dengan politeness strategy ini. (5) a. dapat dilakukan. Maaf. (off record) Teori kesantunan lain dibahas oleh Leech (1983). Renkema (2004: 27) memberi contoh strategi tersebut. Hey. yang bertujuan untuk mendapatkan positive face disebut solidarity politeness.

Seperti telah saya uraikan sedikit dalam sub 3 di atas, salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. Dalam sintaksis, seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4), dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis, bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat, dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal. Secara umum, sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya, sehingga bentuk seperti kucing menyapu halaman, meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris, tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis. Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis, melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. Lebih tepatnya, dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi, bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Atas dasar ini, pertama, dapat dipahami, dan memang sering kita temukan, bahwa komunikasi tetap dapat berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis; dan kedua, demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka, selain tata bahasa, makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik, sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik, terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik, yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa, dalam analisis bahasa. Berdasarkan truth conditional semantics, untuk dapat dinyatakan benar, sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis. Dengan demikian, bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis, karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. Namun demikian, pembahasan makna dalam semantik belum memadai, karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa, sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi, meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai, tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. Dengan kata lain, untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa seharihari, di samping sintaksis dan semantik, dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur, makna apa yang dituturkan, dan maksud dari tuturan. Kegunaan pragmatik, yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik, dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan, misalnya, bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa, bagaimana memahami implikatur percakapan, dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. Selanjutnya, untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik, saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada, pertama, semantik mengkaji makna

(sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis, sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya; dan kedua, semantik terikat pada kaidah (rule-governed), sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). Tentang perbedaan yang pertama, meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda, keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan, sebab daya mencakup juga makna. Dengan kata lain, semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan, sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. Selanjutnya, kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. Kaidah bersifat deskriptif, absolut atau bersifat mutlak, dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya, sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif, dapat bertentangan dengan prinsip lain, dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain. Lebih jauh lagi, dalam pengajaran bahasa, seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22), terdapat keterkaitan, yaitu bahwa pengetahuan pragmatik, dalam arti praktis, patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. Dalam pengajaran bahasa Indonesia, misalnya, pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya, karena selain benar, bahasa yang digunakan harus baik. Dalam pengajaran bahasa asing, pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence), yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu, kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik, dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa. 6. Penutup Seperti telah disebutkan di muka, tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa pragmatik penting dipelajari dalam program studi linguistik. Berdasarkan penjelasan di atas, saya melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik setidaknya dalam dua hal, pertama, pragmatik merupakan satu-satunya tataran dalam linguistik yang mengkaji bahasa dengan memperhitungkan juga penggunanya; kedua, berkaitan dengan ketidakmampuan sintaksis dan semantik dalam menjelaskan fenomena penggunaan bahasa sehari-hari, saya melihat kedudukan semantik dan pragmatik sebagai dua hal yang saling melengkapi. Selain itu, berkaitan dengan pengajaran bahasa, pragmatik berperan dalam pengembangan kompetensi komunikatif. Daftar Acuan Austin, John L. 1962. How to Do Things with Word (edisi kedua). Oxford: Oxfod University Press.

Brown, Penelope., dan Stephen C. Levinson. 1978. Politeness: Some Universal in Language Usage. Cambridge: Cambridge University Press. Eelen, Gino. 2001. A Critique of Politeness Theories. Manchester, UK: St. Jerome Publishing Gunarwan, Asim. 2004. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). IKIP Singaraja. Jaszczolt, K.M. 2002. Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse. Edinburgh: Pearson Education. Renkema, Jan. 2004. Introduction to Discourse Studies. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. Thomas. Jenny. 1995. Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics. London/New York: Longman. Yule, George. 1996. Pragmatics. Oxford. Oxford University Press.

Rabu, 04 Juli 2007
Pragmatik Oleh: sidon. bandung Pengertian Pragmatik Pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang semakin dikenal pada masa sekarang ini, walaupun pada kira-kira dua dasa warsa yang silam, ilmu ini jarang atau hampir tidak pernah disebut oleh para ahli bahasa. Hal ini dilandasi oleh semakin sadarnya para linguis, bahwa upaya untuk menguak hakikat bahasa tidak akan membawa hasil yang diharapkan tanpa didasari pemahaman terhadap pragmatik, yakni bagaimana bahasa itu digunakan dalam komunikasi (Leech, 1993: 1). Leech (1993: 8) juga mengartikan pragmatik sebagai studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situasions). Pragmatik sebagaimana yang telah diperbincangkan di Indonesia dewasa ini, paling tidak dapat diedakan atas dua hal, yaitu (1) pragmatik sebagai sesuatu yang diajarkan, (2) pragmatik sebagai suatu yang mewarnai tindakan mengajar. Bagian pertama masih dibagi lagi atas dua hal, yaitu (a) pragmatik sebagai bidang kajian linguistik, dan (b) pragmatik sebagai salah satu segi di dalam bahasa atau disebut µfungsi komunikatif¶ (Purwo, 1990:2). Pragmatik ialah berkenaan dengan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya bahasa dalam komunikasi (KBBI, 1993: 177). Menurut Levinson (1983: 9), ilmu pragmatik didefinisikan sebagai berikut: (1) ³Pragmatik ialah kajian dari hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa´. Di sini, ³pengertian/pemahaman bahasa´ menghunjuk kepada fakta bahwa untuk mengerti sesuatu ungkapan/ujaran bahasa diperlukan juga pengetahuan di luar makna kata dan hubungan tata bahasanya, yakni hubungannya dengan konteks pemakaiannya. (2) ³Pragmatik ialah kajian tentang kemampuan pemakai bahsa mengaitkan kalimat-kalimat

(c) tindak ujaran (speech acts). (Nababan. Deiksis dapat juga diartikan sebagai suatu cara untuk mengacu ke hakekat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan (Cahyono.2) Ada burung. Tindak lokusi.1) Ada seorang wanita Indonesia. Sedangkan memperlakukan bahasa secara pragmatik ialah memperlakukan bahasa dengan mempertimbangkan konteksnya. dan (d) implikatur percakapan (conversational implicature) (Purwo. Nababan memberikan contoh penggunaan presuposisi sebagai berikut: (1) Wanita Indonesia membeli burung. terdapat praanggapan bahwa: (3. tetapi ia juga menindakkan sesuatu (Purwo. 1995: 217). Sebagai contoh: (4) Jari tangan jumlahnya lima. Fenomena Pragmatik Kancah yang dijelajahi pragmatik ada empat: (a) deiksis. Tindak ujaran (speech acts) ialah pengucapan suatu kalimat di mana si pembicara tidak sematamata menanyakan atau meminta jawaban tertentu. (b) praanggapan (presupposition). dan sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa pada hal-hal ³ekstralingual´ yang dibicarakan. 1990: 17). Purwo (1990: 16) mendefinisikan pragmatik sebagai telaah mengenai makna tuturan (utterance) menggunakan makna yang terikat konteks. Menurut Verhaar (1996: 14). 1990: 19). mengemukakan bahwa secara pragmatis setidaktidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur. Searle di dalam bukunya Speech Acts: An Essay in The Philosophy of Language (1969: 23-24) dalam Wijana (1996: 17-22). Jika kedua praanggapan itu diterima. Pragmatik adalah suatu telaah umum mengenai bagaimana caranya konteks mempengaruhi peserta tutur dalam menafsirkan kalimat atau menelaah makna dalam kaitannya dengan situasi ujaran. 1995: 219).dengan konteks-konteks yang sesuai bagi kalimat-kalimat itu´. dan sebaliknya. maka kalimat (3) mempunyai makna atau dapat dimengerti pendengar/pembaca. . 1993: 177). dan (3. dapat disimpulkan tentang batasan pragmatik. Deiksis adalah kata-kata yang memiliki referen yang berubah-ubah atau berpindah-pindah (Wijana. 1990: 31). membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa (kalimat. yaitu tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. Berdasarkan beberapa pendapat di atas. dsb) yang dapat dipakainya untuk mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud. aspek-aspek pemakaian bahasa atau konteks luar bahasa yang memberikan sumbangan kepada makna ujaran (Kridalaksana. Menurut Nababan (1987: 46). yakni penggunaannya pada peristiwa komunikasi (Purwo. pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang membahas tentang apa yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komunikasi antara penutur dan pendengar. 1998: 6). 1987: 2) Pragmatik juga diartikan sebagai syarat-syarat yang mengakibatkan serasi-tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi. Praanggapan (presupposition) adalah apa yang diasumsikan oleh penutur sebagai hal yang benar atau hal yang diketahui pendengar (Cahyono. yakni: 1. praanggapan adalah dasar atau penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa (menggunakan bahasa) yang membuat bentuk bahasa (kalimat atau ungkapan) mempunyai makna bagi pendengar/penerima bahasa itu.

Deiksis 1. diutarakan oleh penuturnya semata-mata untuk menginformasikan sesuatu tanpa tendensi untuk melakukan sesuatu. Dari keempat bidang kajian pragmatik tersebut pada akhirnya dapat digunakan untuk memahami makna sesuai dengan konteks yang terjadi. 1998: 6). dalam penelitian ini. handai taulan. Implikatur percakapan (conversational implicature) merupakan konsep yang cukup penting dalam pragmatik karena empat hal (Levinson. dan sebagainya. konsep implikatur dapat menjelaskan beberapa fakta bahasa secara tepat. deiksis adalah suatu cara untuk mengacu ke hakekat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan. Sebagai contoh: (6) Kunjungilah restoran Oshin! Tersedia bermacam-macam masakan Jepang. konsep implikatur memungkinkan penjelasan fakta-fakta kebahasaan yang tidak terjangkau oleh teori linguistik. Tindak perlokusi. apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Deiksis dapat juga diartikan sebagai lokasi dan identifikasi orang. Keempat. Dalam wacana di atas. 3. dan rekan sekerja Anda. dan Eropa. Tempat ideal untuk bersantai bersama keluarga. 2. Kajian pragmatik tersebut digunakan untuk memahami makna dan fungsi deiksis pronomina persona. Pengertian Deiksis Kata deiksis berasal dari bahasa Yunani yang berarti µmenunjuk¶ atau µmenunjukkan¶. deiksis diartikan sebagai hal atau fungsi yang menunjuk sesuatu di luar bahasa. tidak hanya berfungsi untuk menyatakan sesuatu. proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalam hubungannya dengan dimensi . yaitu sebuah tuturan yang diutarakan oleh seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary force). konsep implikatur dapat menyederhanakan struktur dan isi deskripsi semantik. Contoh: (5) Saya tidak dapat datang. Ini dapat diketahui karena penutur -pengelola restoran. Dijamin halal. atau efek bagi yang mendengarkannya. objek. bila kalimat itu diutarakan oleh seseorang kepada temannya yang baru saja merayakan ulang tahun. sebab dia sudah mengetahui jam berapa koran biasa diantarkan. Kedua. Namun pembicara kedua sudah mengetahui bahwa jawaban yang disampaikannya sudah cukup untuk menjawab pertanyaan pembicara pertama. Tindak ilokusi. kata tunjuk pronomina. konsep implikatur memberikan penjelasan tentang makna berbeda dengan yang dikatakan secara lahiriah. Cina.selain mengatakan mengelola masakan ala Jepang. Dalam KBBI (1991: 217).Kalimat (4) di atas. tetapi untuk melakukan sesuatu. Ketiga. Sebagai contoh: (7) A : Jam berapa sekarang? B : Korannya sudah datang. ditemukan penggunaan tindak perlokusi. Cina dan Eropa juga meyakinkan pendengar/pembaca bahwa masakannya benar-benar halal. Menurut Bambang Yudi Cahyono (1995: 217). ketakrifan. Tampaknya kalimat (7A) dan (7B) tidak berkaitan secara konvensional. 1983: 97). yakni meminta maaf. Pertama. Dari contoh di atas dapat diketahui bahwa. dapat juga dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Deiksis adalah kata-kata yang memiliki referen berubah-ubah atau berpindah-pindah (Wijana. peristiwa. yaitu sebuah tuturan selain berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu.

a. Bentuk rujukan seperti itu disebut dengan katafora. yang menjadi pusat orientasi deiksis adalah penutur. 1977: 638 via Setiawan. deiksis tempat. saudara. Peran peserta itu dapat dibagi menjadi tiga. Apabila persona pertama dan kedua akan dijadikan endofora. untuk mengetahui siapa pembicara dan lawan bicara kita harus mengetahui situasi waktu tuturan itu dituturkan. pronomina. 1993: 43). 1997: 8). deiksis waktu. tergantung siapa yang menjadi pembicara. baik hadir maupun tidak. maka kalimatnya harus diubah. Istilah persona dipilih oleh ahli bahasa waktu itu disebabkan oleh adanya kemiripan antara peristiwa bahasa dan permainan bahasa (Lyons. yaitu deiksis orang. Berdasarkan beberapa pendapat. Kedua ialah orang kedua. misalnya saya. Perujukan dapat pula ditujukan pada bentuk yang akan disebut kemudian. di tempat mana. Ketiga ialah orang ketiga. 1984: 106). deiksis wacana dan deiksis sosial (Nababan. kalian. 1987: 40). 1977: 638 via Djajasudarma. yang artinya topeng (topeng yang dipakai seorang pemain sandiwara). Oleh karenanya. Kata-kata ini tidak memiliki referen yang tetap. kita. yang tidak merupakan unsur di dalam bahasa itu sendiri. Pertama ialah orang pertama. frase atau ungkapan yang akan diberikan. dan waktu kapan kata-kata itu diucapkan. sekarang baru dapat diketahui maknanya jika diketahui pula siapa. dimana yang menjadi pusat orientasi deiksis senantiasa si pembicara. Perujukan atau penunjukan dapat ditujukan pada bentuk atau konstituen sebelumnya yang disebut anafora. berarti juga peranan atau watak yang dibawakan oleh pemain sandiwara. yaitu kategori rujukan pembicara kepada seorang pendengar atau lebih yang hadir bersama orang pertama. sini. Hal ini berarti bahwa rujukan pertama dan kedua pada situasi pembicaraan (Purwo. misalnya dia dan mereka. sedangkan anafora merujuk dalam tuturan baik yang mengacu kata yang berada di belakang maupun yang merujuk kata yang berada di depan (Lyons. Kata seperti saya. Rujukan semacam itu oleh Nababan (1987: 40) disebut deiksis (Setiawan. Deiksis Persona Istilah persona berasal dari kata Latin persona sebagai terjemahan dari kata Yunani prosopon. . dapat dinyatakan bahwa deiksis merupakan suatu gejala semantis yang terdapat pada kata atau konstruksi yang acuannya dapat ditafsirkan sesuai dengan situasi pembicaraan dan menunjuk pada sesuatu di luar bahasa seperti kata tunjuk. Pengertian deiksis dibedakan dengan pengertian anafora. Jadi. (Setiawan. 1977: 637 via Djajasudarma. Fenomena deiksis merupakan cara yang paling jelas untuk menggambarkan hubungan antara bahasa dan konteks dalam struktur bahasa itu sendiri. misalnya kamu.ruang dan waktunya. saat dan tempat dituturkannya kata-kata itu. dan sebagainya. pada saat dituturkan oleh pembicara atau yang diajak bicara (Lyons. Dalam bidang linguistik terdapat pula istilah rujukan atau sering disebut referensi. Referen kata saya. 1997: 6). dan kami. sekarang adalah kata-kata deiktis. Deiksis dapat diartikan sebagai luar tuturan. 1993: 44). Jenis Deiksis Deiksis ada lima macam. yaitu kata atau frase yang menunjuk kata. 1997: 6). yaitu kategori rujukan kepada orang yang bukan pembicara atau pendengar ujaran itu. yaitu dari kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung. 2. sini. Deiksis orang ditentukan menurut peran peserta dalam peristiwa bahasa. yaitu kategori rujukan pembicara kepada dirinya atau kelompok yang melibatkan dirinya. Kata ganti persona pertama dan kedua rujukannya bersifat eksoforis. Menurut Bambang Kaswanti Purwo (1984: 1) sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila rujukannya berpindah-pindah atau berganti-ganti.

dan sebagainya. baik tunggal. yang terdahulu. yang berikut. Menurut pendapat Becker dan Oka dalam Purwo (1984: 21) bahwa deiksis persona merupakan dasar orientasi bagi deiksis ruang dan tempat serta waktu. dapat bersifat endofora dan eksofora. c. last year. I bought a book. Duduklah kamu di sini. Deiksis Wacana Deiksis wacana ialah rujukan pada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan atau sedang dikembangkan (Nababan. I bought the book 2 years ago. Namun apabila diperlukan pembedaan/ketegasan yang lebih terperinci. Anafora ialah penunjukan kembali kepada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dalam wacana dengan pengulangan atau substitusi. 1987: 42). Dalam banyak bahasa. 1987: 41). 1987: 41). begitulah. -nya maupun bentuk jamak. I am buying a book. acuannya lebih luas. Sebagai contoh. yang pertama disebut. Karena aromanya yang khas. b.membedakan antara ³yang dekat kepada pembicara´ (di sini) dan ³yang bukan dekat kepada pembicara´ (termasuk yang dekat kepada pendengar -di situ) (Nababan. itu. umpamanya. yakni suatu toko atau tempat penjualan yang lain. Paman datang dari desa kemarin dengan membawa hasil palawijanya. b. seperti bentuk sekalian dan kalian. dalam kalimat (9a) dan (9b). b. Dari kedua contoh di atas dapat kita ketahui bahwa -nya pada contoh (11a) mengacu ke paman . kata ganti persona ketiga. Katafora ialah penunjukan ke sesuatu yang disebut kemudian. seperti bentuk dia. Berbeda dengan kata ganti persona pertama dan kedua. now. Frasa di sini pada kalimat (8a) mengacu ke tempat yang sangat sempit. sedangkan deiksis waktu dan deiksis tempat adalah deiksis jabaran. 1997: 9). (9) a. Contoh dalam bahasa Inggris: (10) a. (8) a. dapat ditambahkan sesuatu kata/frasa keterangan waktu. dsb. (11) a. maka dapat berwujud anafora dan katafora (Setiawan. Deiksis wacana mencakup anafora dan katafora. Oleh karena bersifat endofora. deiksis (rujukan) waktu ini diungkapkan dalam bentuk ³kala´ (Inggris: tense) (Nababan. Meskipun tanpa keterangan waktu. Di sini dijual gas Elpiji. ia. Pada kalimat (8b). yesterday. Contoh pemakaian deiksis waktu dalam bahasa Inggris. penggunaan deiksis waktu sudah jelas. I bought the book yesterday. baik yang berupa bentuk kita maupun bentuk kami masih mengandung bentuk persona pertama tunggal dan persona kedua tunggal. Deiksis persona merupakan deiksis asli. d. Hal ini dikarenakan bentuk tersebut. Semua bahasa -termasuk bahasa Indonesia. Bentuk-bentuk yang dipakai untuk mengungkapkan deiksis wacana itu adalah kata/frasa ini. Sebagai contoh penggunaan deiksis tempat. Deiksis Tempat Deiksis tempat ialah pemberian bentuk pada lokasi menurut peserta dalam peristiwa bahasa.Bentuk pronomina persona pertama jamak bersifat eksofora. b. mangga itu banyak dibeli. yakni sebuah kursi atau sofa. Deiksis Waktu Deiksis waktu ialah pemberian bentuk pada rentang waktu seperti yang dimaksudkan penutur dalam peristiwa bahasa. b.

persona kedua dan persona ketiga (Lyons. biasanya digunakan dalam tulisan atau ujaran yang resmi. yaitu persona pertama. 1997: 9). Bentuk saya. -mu kalian. yang menjadi pendengar/pembaca. daku. kamu (sekalian). aku. sedangkan pada contoh (11b) mengacu ke mangga yang disebut kemudian. 1997: 276 via Setiawan. madyo dan kromo kalau sistem bahasa itu dibagi tiga.juga predikat. ngoko dan kromo dalam sistem pembagian dua. objek. dan -dalam macam kalimat tertentu. menunjukkan perbedaan sikap atau kedudukan sosial antara pembicara. Jika dilihat dari segi fungsinya. C. dikau. Secara tradisional perbedaan bahasa (atau variasi bahasa) seperti itu disebut ³tingkatan bahasa´. e. dapat dikatakan bahwa pronomina menduduki posisi yang umumnya diduduki oleh nomina. kromo dan kromo inggil kalau sistemnya dibagi empat. 1988: 172 via Setiawan. seperti subjek. mengacu pada orang yang diajak bicara (persona kedua). -nya mereka. atau ngoko. Pronomina persona adalah pronomina yang dipakai untuk mengacu ke orang. madyo. pendengar dan/atau orang yang dibicarakan/bersangkutan. aku. perbedaan tingkat sosial antara pembicara dengan pendengar yang diwujudkan dalam seleksi kata dan/atau sistem morfologi kata-kata tertentu (Nababan. memakai kata nedo dan kata dahar (makan). Anda. pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu ke nomina lain. ku-. Dalam bahasa Jawa umpamanya. dan ngoko. dapat juga dipakai untuk menyatakan hubungan pemilikan dan diletakkan di belakang nomina yang . Ciri lain yang dimiliki pronomina ialah acuannya dapat berpindah-pindah karena bergantung pada siapa yang menjadi pembicara/penulis. dan daku. -ku kami kita Kedua engkau. Pronomina dapat mengacu pada diri sendiri (persona pertama). Dalam beberapa bahasa. kamu. Berikut ini adalah pronomina persona yang disajikan dalam tabel. 1997: 170). atau siapa/apa yang dibicarakan (Moeliono.yang sudah disebut sebelumnya. Dalam bahasa Inggris dikenal tiga bentuk kata ganti persona. dia. Anda (sekalian) Ketiga ia. atau mengacu pada orang yang dibicarakan (persona ketiga) (Moeliono. kau-. 1997: 172). Aspek berbahasa seperti ini disebut ³kesopanan berbahasa´. -nya a) Pronomina Persona Pertama Dalam Bahasa Indonesia. Bentuk Pronomina Persona Jika ditinjau dari segi artinya. Bahasa Indonesia juga mengenal tiga bentuk persona seperti dalam bahasa Inggris (P&P. Perbedaan itu dapat ditunjukkan dalam pemilihan kata. ³unda-usuk´. 1997: 9). pronomina persona pertama tunggal adalah saya. Tabel 1: Pronomina Persona Persona Makna Tunggal Jamak Netral Eksklusif Inklusif Pertama saya. 1987: 42). dalam bahasa Jawa. 1987: 42-43). beliau. Deiksis Sosial Deiksis sosial ialah rujukan yang dinyatakan berdasarkan perbedaan kemasyarakatan yang mempengaruhi peran pembicara dan pendengar. atau ´etiket berbahasa´ (Geertz. 1960 via Nababan. Bentuk saya.

dikau. Pronomina persona ketiga tunggal beliau digunakan untuk menyatakan rasa hormat.dimilikinya. pronomina itu mencakupi pembicara/penulis dan orang lain dipihaknya. kamu. Akan tetapi. tetapi juga pendengar/pembaca. atau di depan verba.dan -mu. Akan tetapi. artinya. tanpa memandang umur atau status sosial. artinya. kamu sekalian. misalnya dengan mengulang nomina tersebut atau dengan mengubah sintaksisnya. Selain itu. Dari keempat pronomina tersebut. D. Pronomina persona kedua juga mempunyai bentuk jamak. b) Pronomina Persona Kedua Pronomina persona kedua tunggal mempunyai beberapa wujud. Pronomina persona kedua Anda dimaksudkan untuk menetralkan hubungan. yakni engkau. hanya dia. yaitu bentuk kalian dan bentuk pronomina persona kedua ditambah sekalian: Anda sekalian. . yakni dipakai oleh orang yang lebih muda atau berstatus sosial lebih rendah daripada orang yang dibicarakan. Dalam posisi sebagai subjek. yaitu -ku dan ku-. pronomina itu mencakupi tidak saja pembicara/penulis. Pronomina persona kedua engkau. pada cerita fiksi atau narasi lain yang menggunakan gaya fiksi. Sebaliknya. Mereka tidak mempunyai variasi bentuk sehingga dalam posisi mana pun hanya bentuk itulah yang dipakai.dan -mu. orang yang status sosialnya lebih tinggi. Selain pronomina persona pertama tunggal. pengaruh satuan bahasa dalam pemahaman persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia. Pronomina persona pertama aku. hubungan. kau. dan -mu. dapat dipakai oleh orang tua terhadap orang muda yang telah dikenal dengan baik dan lama. tetapi tidak mencakupi orang lain dipihak pendengar/pembacanya. makna adalah maksud pembicaran. pronomina Anda juga digunakan dalam hubungan yang tak pribadi. dan mungkin pula pihak lain. Bentuk terikat itu masing-masing adalah kau. pada umumnya digunakan dalam karya sastra. dalam hubungan bersemuka. Benda atau konsep yang jamak dinyatakan dengan cara yang lain. Pronomina persona kedua yang memiliki varisi bentuk hanyalah engkau dan kamu. lebih banyak digunakan dalam situasi non formal dan lebih banyak menunjukkan keakraban antara pembicara/penulis dan pendengar/pembaca. Pada umumnya mereka hanya dipakai untuk insan. tetapi pembicara tidak ingin bersikap terlalu formal ataupun terlalu akrab. Kami bersifat eksklusif. dia. -nya dan beliau. Makna Deiksis Pronomina Persona Menurut Kridalaksana (2001: 132). atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjuknya. orang yang mempunyai hubungan akrab. cara menggunakan lambang-lambang bahasa. ia dan dia sama-sama dapat dipakai. dalam arti kesepadanan atau ketidaksepadanan antara bahasa dan alam di luar bahasa. Pronomina persona aku mempunyai variasi bentuk. sehingga Anda tidak diarahkan pada satu orang khusus. misalnya usul mereka. hanya bentuk dia dan -nya yang dapat muncul. yakni kami dan kita. -nya dan beliau yang dapat digunakan untuk menyatakan milik. c) Pronomina Persona Ketiga Pronomina persona ketiga tunggal terdiri atas ia. jika berfungsi sebagai objek. atau terletak di sebelah kanan dari yang diterangkan. paman saya. Pronomina persona ketiga jamak adalah mereka. rumah mereka. bahasa Indonesia mengenal pronomina persona pertama jamak. misalnya: rumah saya. kata mereka kadangkadang juga dipakai untuk mengacu pada binatang atau benda yang dianggap bernyawa. kita bersifat inklusif. kamu Anda. Sedangkan untuk pronomina persona pertama daku.

dengan kata lain setiap tanda-linguistik terdiri dari unsur bunyi dan unsur makna. Sedangkan hubungan (a) dan (b) serta hubungan (b) dan (c) bersifat langsung. yaitu: makna sempit. dan makna pribahasa. makna gramatikal. Chaer (1994) membagi jenis makna menjadi tigabelas. 1995: 59). makna konotatif/emotif. 1994: 288). makna non-referensial. makna idesional. makna konstruksi. Titik (a) dan (b) sama-sama berada di dalam-bahasa. Sedangkan Leech (1976) membedakan adanya tujuh tipe makna. yaitu (1) makna konseptual. makna luas. makna pusat. makna denotatif. makna kognitif. (6) makna kolokatif. makna istilah. (2) makna konotatif. makna piktorial. 1995: 29). Pateda (1986) melalui Chaer (1995: 59) mengemukakan adanya jenis-jenis makna. makna idesional. makna konstruksi. makna luas. yaitu makna leksikal. makna konseptual. makna referensial. makna leksikal. Bila dilihat dari segi atau pandangan yang berbeda. makna leksikal. makna kata. (4) makna afektif. makna idiom. makna terdiri atas beberapa jenis. Di dalam penggunaannya dalam pertuturan yang nyata makna kata atau leksem itu seringkali. makna proposisional. makna kognitif. dan mungkin juga biasanya. dan makna tematis. makna konseptual. yaitu: (1) yang diartikan (Perancis: signifie. Ada teori yang menyatakan bahwa makna itu tidak lain daripada sesuatu atau referen yang diacu oleh kata atau leksem itu. makna gramatikal. makna piktorial. Inggris: signifier). Hubungan antara tanda linguistik (bersama unsur bunyi dan makna) dengan unsur referennya. (b) konsep/makna (a) kata/leksem (c) sesuatu yang dirujuk (referen) Hubungan antara (a) dan (c) bersifat tidak langsung. makna majas (kiasan). makna gereflekter. makna kolokasi. Kedua unsur ini adalah unsur dalam-bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk atau mengacu kepada sesuatu referen yang merupakan unsur luar-bahasa (ekstralingual) (Chaer. terlepas dari pengertian atau konsep dasarnya dan juga acuannya. makna denotatif. makna gramatikal. makna deskriptif. makna emotif. Menurut Djajasudarma (1993: 6). makna asosiatif. sebab (a) adalah masalah dalam-bahasa dan (c) masalah luar-bahasa yang hubungannya biasanya bersifat arbitrer. . banyak pakar yang mengatakan bahwa kita baru dapat menentukan makna sebuah kata apabila kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya. makna bahasa dapat terdiri dari bermacammacam jenisnya. makna kiasan. (5) makna reflektif. yaitu makna afektif. makna sempit. Inggris: signified) dan (2) yang mengartikan (Perancis: signifiant. makna inti. makna stilistika. dan (7) makna tematik (Chaer. makna referensial. Hanya perlu dipahami bahwa tidak semua kata atau leksem itu mempunyai acuan konkret di dunia nyata.Ferdinand de Saussure membagi setiap tanda linguistik menjadi dua. Yang diartikan (signifie) sebenarnya adalah konsep atau makna dari sesuatu tanda bunyi. Oleh karena itu. (3) makna stilistika. dan makna kalimat baru dapat ditentukan apabila kalimat itu berada di dalam konteks wacananya atau konteks situasinya (Chaer. hubungan (b) dan (c) bahwa (c) adalah acuan dari (b) tersebut. makna kontekstual. sedangkan yang mengartikan (signifiant) adalah bunyi-bunyi yang terentuk dari fonemfonem bahasa yang bersangkutan. makna referensial. makna intensi. makna konotatif. dapat dibagankan sebagai berikut. makna ekatensi. makna konotatif. Jadi. makna proposisi.

Makna sempit (narrowed meaning) adalah makna yang lebih sempit dari keseluruhan ujaran (Djajasudarma. pendengaran. Menurut Djajasudarma (1993: 11). melainkan dapat berpindah dari maujud yang satu kepada maujud yang lain (Chaer. (14) ³Bapak sedang sakit. (15) ³Bapak Kepala Sekolah sedang mengadakan rapat dengan para guru.´ kata Dian kepada Dani. dan akan datang ke rumah penutur). sedangkan pada kalimat (15) kata Bapak bermakna luas µpanggilan untuk laki-laki dewasa¶. ke dalam makna kognitif tersebut ditambahkan komponen makna lain (Djajasudarma. 1994: 292). (Konteks: penutur memiliki saudara sepupu yang tinggal di Bandung. atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem (Chaer. makna denotatif nampak pada penggunaan kata Dian. 1993: 9). kata saudara bermakna µpanggilan pada seseorang¶. makna referensial adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan atau referen (acuan). 1995: 66). ³Saya juga bertemu beliau kemarin. Sebagai contoh. Perhatikan contoh. Makna referensial adalah makna sebuah kata atau leksem yang mempunyai referen atau acuannya. Pada kalimat (12). Sebagai contoh. (16) Dian adalah salah satu mahasiswa jurusan bahasa Indonesia.´ kata salah seorang staf karyawan. yaitu maknanya akan menyempit (memiliki makna sempit). Penggunaan kata Bapak pada kalimat (14) dengan (15) mengalami perubahan makna. Makna luas (widened meaning atau extended meaning) adalah makna yang terkandung pada sebuah kata lebih luas dari yang diperkirakan (Djajasudarma. Makna denotatif adalah makna asli. (17) A: ³Kemarin saya bertemu dengan Ibu Ani. dari makna sempit ke makna meluas. makna asal.´ . (Konteks: seorang pencuri yang sedang diinterogasi oleh polisi atas tuduhan pencurian). kata-kata yang bermakna luas digunakan untuk mengungkapkan gagasan atau ide yang umum. Makna konotatif adalah makna yang muncul dari makna kognitif (lewat makna kognitif). Berkenaan dengan acuan ini ada sejumlah kata yang disebut kata-kata deiktik yang acuannya tidak menetap pada satu maujud. sedangkan pada kalimat (13) saudara bermakna sempit µkerabat¶. Pada kalimat (14) kata Bapak bermakna sempit µorang tua kandung¶. penciuman. sekarang. atau pengalaman lainnya (Chaer. Makna kognitif disebut juga makna deskriptif atau denotatif adalah makna yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan (Djajasudarma. (12) ´Apakah saudara tidak mau mengakuinya?´ kata Pak Polisi. Makna denotatif juga dapat diartikan sebagai makna yang sesuai dengan hasil observasi menurut penglihatan. Berbeda dengan kata-kata yang bermakna sempit. Kata saudara pada kalimat (12) dengan (13) mengalami perubahan makna. 1993: 8). Sebagai contoh. (Konteks: diberitahukan bahwa pimpinan sekolah sedang mengadakan rapat dengan para guru sekolah tersebut). Makna konotatif muncul sebagai akibat asosiasi perasaan kita terhadap apa yang diucapkan atau apa yang didengar. yang mengacu pada seseorang yang mempunyai nama Dian. 1994: 291). (Konteks: seorang Ibu yang memberitahuan keadaan suaminya kepada anaknya). Pada kalimat (16) di atas. (13) Saudara saya yang dari Bandung akan datang hari ini.´ kata Ibu. perasaan. B: ³Benarkah?´ sahut Dani. 1993: 9). 1993: 7).

Sebagai contoh. Makna leksikal dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon. b. dapat kita lihat bahwa pada kalimat (22a) dan (22b) memunculkan makna piktorial. enklitik -nya digunakan untuk menyatakan milik atau kepunyaan. Makna pusat adalah makna yang dimiliki setiap kata yang menjadi inti ujaran. jelas bahwa.Dari contoh di atas. pada kalimat (17A) kata saya mengacu pada Dian. atau perasaan benci. (22) a. (19) a. Perhatikan contoh berikut. (20) a. b. dan proses komposisi (Chaer. bersifat leksem. Setiap ujaran (klausa. Pada kalimat (22b) dapat dilihat adanya makna piktorial . Di samping itu. Perhatikan contoh berikut. (21) Ali adalah seorang laki-laki. 1993: 12). (18) Rumahnya jauh dari sini. makna milik yang diungkapkan dengan urutan kata di dalam bahasa Indonesia. dalam kalimat (19b) kata tikus bukanlah dalam makna leksikal karena tidak merujuk kepada binatang tikus melainkan kepada seorang manusia. kalimat. Ia tinggal di gang yang becek itu. Berbeda dengan makna referensial. yang pebuatannya memang mirip dengan perbuatan tikus. 1993: 15). b. Sebagai contoh. Makna piktorial adalah makna suatu kata yang berhubungan dengan perasaan pendengar atau pembaca. yang diucapkan oleh lawan tuturnya. dan bola bermakna µsasaran¶. Tikus itu mati diterkam kucing. Kalimat (20a) menunjukkan kata adik bermakna µpelaku¶. Dari kedua contoh di atas. Perasaan muncul segera setelah mendengar atau membaca suatu ekspresi yang menjijikan. menulis bermakna µaktif¶. makna non-referensial merupakan makna sebuah kata yang tidak mempunyai acuan atau referen. 1994: 289). misalnya. makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indera. Pada contoh kalimat (21) di atas. Sebagai contoh. sedangkan pada kalimat (17B) kata saya mengacu pada Dani. dapat kita ketahui bahwa kedua kalimat tersebut dapat melahirkan makna gramatikal. Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apa pun (Chaer. Namun. Kalimat (22a) mengungkapkan perasaan benci penutur terhadap seseorang. Kalimat (20b) menunjukkan kata adik bermakna µpelaku¶. sebangsa bintang pengerat yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit tifus. dan surat bermakna µhasil¶. Makna gramatikal adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatika seperti proses afiksasi. Yang menjadi tikus di gudang kami ternyata berkepala hitam. 1995: 62). 1993: 16). Pada kalimat (18) di atas. Adik menulis surat. Kenapa kau sebut nama dia. atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita (Chaer 1995: 60). dalam hal ini adalah rumah. proses reduplikasi. Misalnya kata-kata seperti dan. Kata tikus pada kalimat (19a) merupakan makna leksikal karena jelas merujuk kepada binatang tikus. Adik menendang bola. yang menjadi pusat (inti) pembicaraan adalah Ali sedangkan untuk adalah seorang laki-laki merupakan bagian untuk menerangkan kata Ali. wacana) memiliki makna yang menjadi pusat (inti) pembicaraan (Djajasudarma. Dari contoh di atas. dan karena. Perasaan dapat pula berupa perasaan gembira di samping perasaan yang disebutkan di atas (Djajasudarma. atau bersifat kata. atau. Atau juga dikatakan makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya. makna milik dapat diungkapkan melalui enklitik sebagai akhiran yang menunjukkan kepunyaan (Djajasudarma. menendang bermakna µaktif¶. Makna konstruksi (construction meaning) adalah makna yang terdapat di dalam konstruksi.

Sedangkan sebagai subjek (S) tunggal. penggunaan kata kepala mempunyai makna konteks yang berbeda. dkk. sebagai sebutan kalimat. Dari ketiga kalimat di atas. Sebagai contoh. kata kepala bermakna µpimpinan¶. Fungsi (b). kata kepala bermakna µbagian anggota tubuh¶. (26) Apalagi mereka berdua tak asing-mengasing lagi. yang menyebutkan tentang makna kebersamaan. Rambut di kepala nenek belum ada yang putih. (23) a. dan peran gramatikal. SPOK (a). Sebagai subjek (S) jamak. Dari beberapa teori di atas. Untuk itu. tidak seluruh jenis makna yang dikemukakannya sesuai dengan sampel data yang ada. Untuk ketiga contoh di atas. Fungsi Deiksis Pronomina Persona Dalam tataran tata bahasa atau gramatika. dapat kita lihat penggunaan kata kepala pada kalimatkalimat berikut. kategori gramatikal. sesudah perempuan itu masuk ke dalam. diketengahkan adanya istilah semantik sintaktikal. dapat dilihat bahwa pokok kalimatnya menyatakan subjek (S) jamak. E. makna terdiri dari makna timbal balik dan makna kebersamaan. yang mana apabila sasaran penyelidikannya tertumpu pada hal-hal yang berkaitan dengan sintaksis. dkk dalam bukunya yang berjudul ³Bahasa Indonesia. Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks (Chaer. (25) Saya dan Dar berpandang-pandangan. Pada kalimat (23a). Selain itu. 1994: 290). dan pada kalimat (23c). Deskripsi dan Teori´. pokok kalimatnya dapat terdiri dari sekelompok orang atau benda yang ikut serta dalam tindakan. Makna timbal balik dan makna kebersamaan dibentuk dengan memakai verba.dengan perasaan jijik. yaitu teori dari Alieva. Hal itu dikarenakan bahwa dari beberapa makna yang dikemukakan olehnya. kalimat (23b). Kategori (c). pokok kalimatnya dapat menyatakan subjek (S) jamak maupun subjek (S) tunggal. teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori yang dikemukakan oleh Djajsudarma. baik transitif maupun intransitif. Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu. pokok kalimatnya merupakan salah satu dari subjek (S) jamak yang lebih penting bagi kalimat ini. peneliti juga menggunakan teori lain tentang makna. kata kepala bermakna µbagian atas surat¶. Nomor teleponnya ada pada kepala surat itu. ada makna yang sesuai dengan sampel data yang ditemukan. Ini dilakukan mengingat bahwa dalam sintaksis itu ada pula tataran bawahan yang disebut fungsi gramatikal. ada sebagian sampel data yang tidak sesuai dengan kedua teori tersebut. c. maka peneliti memberikan istilah sendiri untuk sampel data tersebut sebagai jenis makna. b. Peran . Hal ini dapat dilihat pada bagan berikut. Pada kedua makna ini. Sebagai contoh. Menurut Alieva. (24) Saudara berhak membunuh saya. kita bermusuhan. Namun.

Kasus Agentif (A) Kasus agentif merupakan kasus yang secara khusus ditujukan bagi makhluk hidup (yang bernyawa) yang merasakan hasutan tindakan yang diperkenalkan oleh verba. bentuk Tom dalam kalimat tersebut berfungsi debagai agent atau pelaku tindakan yaitu tindakan memangkas mawar. kala. Fillmore. maka verba di sini sama dengan predikat dan nomina sama dengan argumen. Hanya argumen di sini diberi nama kasus. Dalam versi 1971. compliment. instrumental. Yang memiliki makna adalah pengisi kotak-kotak yang disebut kategori gramatikal seperti nomina. experince. locative. lokatif. pasien. Kini sebagai pengisi kotak-kotak itu memiliki peran gramatikal seperti peran agentif. dalam karangannya ³Case for Case´ (1968) membagi kalimat atas modalitas dan proposisi. sebagai KB yang berfungsi semantik benefaktif yaitu adik. nomina atau frase nomina . mengemukakan adanya sembilan fungsi semantik atau kasus. Artinya. dll. dan maujud yang dihubungkan dengan predikat (referential) (Chaer. Pada contoh (27) di atas. 1995: 9) Charles J. Apabila dibandingkan dengan teori generatif semantik. tujuan (object). alat (means). KK aksi monotransitif menghadirkan dua KB. Chafe tidak menggunakan istilah kasus untuk menyatakan relasi semantik anatara KK dengan KB dalam suatu struktur semantik. Sedangkan proposisi berwujud sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus. Modalitas berkenaan dengan negasi. verba. (27) Tom memangkas mawar. Fillmore membatasi jumlah kasus menjadi pelaku (agent). keadaan/tempat/waktu yang sudah (source). predikat (P). Sebagai contoh. seperti dalam kalimat Ibu membeli gula. benefactive. 1995: 22). yang dikenal sebagai tokoh tata bahasa kasus. Berapa banyak KB yang hadir dalam suatu struktur semantik tergantung pada jenis/tipe KK dalam struktur itu. keadaan/tempat/waktu yang akan datang (goal). Dalam struktur semantik ini KK merupakan pusat. yaitu (1) kata kerja/KK dan (2) kata benda /KB. Wallace L. Jadi KK membelikan dari contoh di atas menghadirkan sebuah KB yang berfungsi sebagai semantik agent yaitu Ibu. kasus yang mengacu pada agent atau pelaku suatu tindakan. benefaktif. Kategori-kategori ini yang sesungguhnya sudah memiliki makna leksikal. objek. dan sebagainya (Chaer. Yang dimaksud dengan kasus (case) dalam teori ini adalah hubungan antara verba dengan nomina dalam struktur semantis.Fungsi gramatikal berupa ³kotak-kotak kosong´ yang diberi nama subjek (S). objek (O). dan sebuah KB yang berfungsi semantik patient yaitu sepatu (Chaer. pengalami (experiencer). Chafe menyatakan bahwa dalam analisis bahasa komponen semantiklah yang merupakan pusat. Chafe tetap menggunakan istilah KB yang menurut fungsi semantiknya bisa berlaku sebagai agent. Henry Guntur Tarigan dalam bukunya yang berjudul ³Pengajaran Tatabahasa Kasus´ (1989: 68). aspek. b. nomina atau frase nomina yang mengacu pada orang atau binatang yang melakukan atau memprakarsai tindakan verba. Kasus Benefaktif (B) Kasus benefaktif adalah kasus yang ditujukan bagi makhluk hidup (yang bernama) yang memperoleh keuntungan oleh tindakan yang diperikan oleh verba. 1995: 21-22). atau adjektiva. sebab semuanya hanya berupa kotak atau tempat yang kosong. Menurut Chafe struktur semantik terdiri dari dua unit semantik pokok. 1995: 21). dan keterangan (K) yang sebenarnya tidak mempunyai maksud. sedangkan KK aksi bitransitif menghadirkan tiga KB seperti kalimat Ibu membelikan adik sepatu (Chaer. KK menentukan hadirnya KB dalam struktur semantik itu. KK keadaan hanya menghadirkan satu Kb seperti dalam kalimat Ibu termenung. patient. yaitu: a. dan adverbia.

d. Sebagai contoh. Contoh. Contoh. nomina atau frasa nomina yang mengacu pada sesuatu yang dibuat atau diciptakan oleh tindakan/aksi verba berada dalam kasus faktitif. terhadap. Contoh. c. e. (33) Mereka mengiris sosis itu dengan pisau. (28) Joan membakar kue buat Louise. yang berfungsi benefaktif adalah bentuk Louise. i. Kasus Datif (D) Kasus datif adalah kasus mengenai makhluk hidup (yang bernyawa) yang dipengaruhi oleh keadaan atau tindakan yang diperkenalkan oleh verba. Pada contoh (28) di atas. John merupakan subjek ergatif -agent atau penyebab tindakan/perbuatanh. (34) Rakit itu bergerak. Kasus Objektif (O) Kasus objektif merupakan kasus yang secara semantis paling netral. (35) Mary membuka laci itu dengan kunci. Kasus benefaktif dihubungkan dengan preposisi untuk. (32) Tony membangun bangsal. yang mengacu pada hubungan sintaktik yang terjalin antara suatu kalimat. Kasus Faktitif (F) Kasus faktitif merupakan kasus objek atau yang merupakan akibat dari tindakan atau keadaan yang diperkenalkan oleh verba. demi. Contoh. (29) Rony berdagang mobil dengan Budi. (31) Kami berbakti terhadap negara. Kasus ini kadang-kadang disebut juga experiencer case atau kasus pengalam. dan. John menggerakkan rakit itu. f. bentuk Louise yang mendapatkan atau memeperoleh keuntungan dari tindakan verba. Preposisi yang berhubungan dengan kasus ini adalah dengan.yang mengacu pada orang atau binatang yang memperoleh keuntungan atau dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan dari tindakan verba. atau dianggap atau diartikan sebagai suatu bagian dari makna verba. nomina atau frasa nomina yang mengacu pada orang atau binatang yang dipengaruhi oleh keadaan atau tindakan verba di dalam kasus datif. Kasus Komitatif Kasus komitatif adalah kasus yang ditujukan bagi frasa nomina yang menanggung suatu hubungan konjungtif dengan frasa nomina lain dalam kalimat. (30) Saya setia kepada istri saya. Sebagai contoh. Kasus Lokatif (L) . karena dalam konstruksi kalimat tersebut. Sebagai contoh. Kasus Ergatif (E) Kasus ergatif adalah kasus yang bersifat kausatif. bersama. kasus dari segala sesuatu yang dapat digambarkan atau diwakili oleh sesuatu nomina yang peranannya di dalam tindakan atau keadaan diperkenalkan oleh verba diperkenalkan oleh interpretasi semantik verba itu sendiri. Kasus ini memiliki ciri menggunakan preposisi dengan. bagi. Penanda kasus datif dalam bahasa Indonesia adalah kepada. g. Kasus Instrumental (I) Kasus instrumental adalah kasus yang berkekuatan tidak hidup/tak bernyawa atau objek yang secara kausal terlibat di dalam tindakan atau keadaan yang diperkenalkan oleh verba. buat.

Untuk menyatakan objek tindakan/pelaku Untuk menyatakan objek pelaku. S. bentuk deiksis itu langsung disambungkan pada verba tersebut. Dalam bahasa kesusastraan. terlihat bahwa bentuk deiksis dapat dirangkai dengan bentuk preposisi. fungsi ini terbatas hanya pada kasus-kasus di mana dapat timbul salah tafsir bila dua nomina berdampingan. -mu. Artinya bahwa. Bentuk deiksis pronomina persona dapat digunakan untuk menyatakan subjek pelaku apabila ditempelkan pada verba pasif berawalan -di. Badudu dalam bukunya ³Pelik-pelik Bahasa Indonesia´ (1993: 110-111) menyebutkan beberapa fungsi deiksis pronomina persona. Contoh. tidak dapat dipakai dengan peposisi di dan ke yang sama sekali tidak berangkaian dengan pronomina personal. rumah saya. seperti bentuk preposisi kepada. dapat menunjukkan hubungan kepunyaan (menyebutkan pemilik). (38) Ibu merahasiakan semua itu. Misalnya: bentuk rumahku. b. rumah + -mu = rumah kepunyaanmu. Menurut Alieva. rumah mereka. Sebagai penunjuk kepunyaan Dalam hal ini. Pada contoh kalimat (37) dan (38). dll. deskripsi dan teori´ fungsi deiksis meliputi: a. yang tidak terdapat dalam bahasa Melayu klasik. d. Untuk contoh kalimat (39). Sebagai penunjuk kepunyaan Bentuk deiksis pronomina persona apabila disambungkan dengan nomina. Dalam pemakaiannya. yang menyatakan kepunyaan bukalah wujud deiksis seperti -ku. (39) Perginya terlambat: ³Engkau salah´. (40) Saya sudah dilihatnya. oleh. seperti halnya bentuk enklitis. Fungsi yang demikian. dll tersebut. c. dalam bukunya yang berjudul ³Bahasa Indonesia. Penanda kasus lokatif ini adalah di. dari. tempat atau letak ataupun orientasi ruang/keadaan atau tindakan yang diperkenalkan oleh verba. kataku. Sebagai contoh. Sebagai penunjuk postpositif Artinya bahwa bentuk deiksis di sini untuk menyatakan hubungan milik antara dua nomina. (41) Sudah lama dia tidak melewatiku. Sebagai contoh. timbul sebagai akibat pengaruh bahasa Jawa. karena takut diketahui olehnya. bentuk-bentuk deiksis dapat digunakan sebagai perangkai preposisi.Kasus lokatif adalah kasus yang memperkenalkan lokasi. (36) Irine menaruh majalah itu di (atas) meja. J. rumah + -nya =rumah kepunyaannya. Bentuk tersebut digunakan dalam konstruksi tuturan langsung dengan kata pengantar penutur berada di depan tuturan langsung. Bandingkan dengan . bentuk deiksis pronomina persona digunakan pada verba transitif berawalan me-. bentuk deiksis dapat menyatakan subjek pelaku. Sebagai contoh: kawannya Salim. e. yaitu: a. Bentuk pronomina. Sebagai perangkai preposisi. Untuk menyatakan subjek tindakan/pelaku Pronomina persona dapat digunakan untuk menyatakan subjek tindakan/pelaku dengan verba intransitif dan dengan kata akar yang dipakai untuk mengantarkan tuturan langsung. dkk. melainkan hubungan antara kedua unsur tersebut: rumah + -ku = rumah kepunyaanku. Sebagai contoh. -nya. ke. Sebagai contoh. (37) Kakak memberikan buku itu kepadaku.

Sebagai alat pembentuk kata benda Contoh: (42) Salahmu masih dapat dimaafkan. hanya lima fungsi yang dianggap sesuai dengan sampel data yang ada. Majalah Bobo memuat berbagai macam cerita anak-anak dari yang berbentuk cerita pendek. yaitu setiap hari Kamis. Namun. olahraga. mingguan. c. majalah Bobo juga memuat tentang profil. halamanku. sastra. Selain itu. cerita bergambar. (-nya = penyakit seperti itu) h. Untuk itu. b. dkk. dari teman (Apa Kabar. Untuk sampel data yang tidak sesuai dengan teori-teori tersebut. teori fungsi yang digunakan merupakan teori yang dikemukakan oleh Tarigan. Sebagai kata sandang penentu Contoh: (48) Masa hanya kopi saja. Teori yang dimaksudkan di sini merupakan teori yang dikemukakan oleh Alieva. 1991: 615). (43) Kuakui itu adalah salahku sendiri. (45) Siapa yang akan menyertaimu naik haji nanti? d. uji imajinasi. rumah Amir. ilmu pengetahuan tertentu. Sebagai objek penderita dalam bentuk enklitik Contoh: (44) Aku memandangnya sebagai kakakku. Hal itu dikarenakan bahwa dari sampel data yang ditemukan dalam penelitian ini menunjukkan adanya kesesuaian antara sampel data dengan teori tersebut. liputan. G. Majalah Bobo Majalah adalah terbitan berkala yang isinya meliputi berbagai liputan jurnalistik. dan sebagainya (KBBI. ensiklobobo. sekali gagal juga. dan menurut kala penerbitannya dibedakan atas majalah bulanan. Bo?. dongeng. dan sebagainya dan menurut pengkhususan isinya. (47) Barang-barang itu sengaja kubeli untukmu. melainkan lahir karena adanya hubungan kedua kata itu. Cerita Pendek . Dalam penelitian ini. dari beberapa fungsi yang dikemukakan oleh Tarigan.rumah paman. arena kecil. Sebagai pembentuk kata keterangan Contoh: (49) Agaknya akan turun hujan hari ini. peneliti memberikan istilah sendiri untuk menyebut fungsi deiksis sesuai dengan ciri-ciri sampel data. ilmu pengetahuan.menyatakan superlatif Contoh: (51) Sepandai-pandainya tupai melompat. wanita. yaitu fungsi penunjuk kepunyaan dan fungsi perangkai preposisi. F. Bersama-sama dengan awalan se. Sebagai objek penyerta dalam bentuk enklitik Contoh: (46) Disampaikannya berita itu kepadaku kemarin. tengah bulanan. remaja. Hubungan ini disebut hubungan posesif (hubungan kepunyaan). dibedakan atas majalah berita. tak disangka). mana kuenya? f. Sebagai penunjuk Contoh: (50) Penyakit itu sukar dicari obatnya. Majalah Bobo merupakan salah satu majalah anak-anak yang terbit satu kali dalam setiap minggunya. pandangan tentang topik aktual yang patut diketahui konsumen pembaca. e. g. Makna ³pemilikan´ bukan terdapat pada kata paman dan Amir di belakang kata rumah. peneliti menggunakan teori lain yang dapat melengkapi dan yang sesuai dengan sampel data yang tersisa.

Sebuah cerpen biasanya didasarkan pada insiden tunggal yang memiliki signifikansi besar bagi tokohnya. fungsi komitatif. diharapkan peneliti lebih mudah dalam mengkategorisasikan dan mendeskripsikan tentang bentuk. fungsi pelaku/agent. yaitu perbentukan antara kekuatan yang berlawanan (Sudjiman. Metode agih adalah metode analisis data yang alat penentunya justru bagian dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri (Sudaryanto. makna dan fungsi deiksis pronomina persona. 1986: 132). fungsi objektif. ditentukan dengan metode yang digunakan dalam penelitian. dan fungsi sapaan. tetapi sugestif (Hartoko dan B. Dalam arti umum. Dari beberapa teori yang mengemukakan tentang makna deiksis. makna kebersamaan/jamak. Fungsi deiksis pronomina persona yang ditemukan dalam kumpulan cerita pendek di majalah Bobo edisi Januari-Desember 2005 meliputi fungsi penunjuk kepunyaan. flash back. Tamatnya sering kali tiba-tiba dan bersifat terbuka (open ending). dan intensity µpendalaman¶. dan sebagainya. teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori campuran dari beberapa pandapat para ahli. Penggunaan deiksis pronomina persona dirasa tepat. Dialog. kesadaran baru. baik benda. orang maupun tempat. makna luas. tetapi yang ternyata menentukan (perubahan dalam perspektif. Bahasa-bahasanya sederhana. Inti cerita pendek adalah tikaian dramatik. merupakan suatu jenis sastra naratif yang muncul pada bagian pertama abad ke-19 di Amerika Serikat. fungsi perangkai preposisi. Untuk mengetahui bentuk deiksis pronomina persona. Seperti halnya makna deiksis. H. Sumber data dalam penelitian ini berupa subjek. Kerangka Pikir Kata tunjuk adalah kata yang digunakan untuk menunjuk sesuatu. Ada yang mengatakan bahwa cerpen merupakan karya prosa fiksi yang dapat selesai dibaca dalam sekali duduk dan ceritanya cukup dapat membangkitkan efek tertentu dalam diri pembaca (Sayuti. jika dalam penggunaannya disesuaikan dengan konteks kalimat dan makna yang dimilikinya. cerita pendek adalah setiap cerita yang pendek. yaitu kumpulan cerita pendek di majalah Bobo . Cerita pendek yang efektif terdiri dari tokoh atau sekelompok tokoh yang ditampilkan pada satu latar atau latar belakang dan lewat lakuan lahir atau batin terlibat dalam satu situasi. fungsi pengalam. Dalam arti kata khusus. 1991: 187). fungsi benefaktif. teori tentang fungsi deiksis yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan teori dari beberapa ahli. keputusan yang menentukan). Salah satu metode yang digunakan adalah metode agih. dan makna sempit. 1984: 15). Deiksis pronomina persona merupakan salah satu bentuk kata tunjuk yang digunakan untuk menunjuk orang atau insani. impian. khususnya karya sastra anak. concentration µpemusatan¶.Cerita pendek adalah kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi (pada suatu ketika) (KBBI. Rahmanto. Ringkasnya. 1993: 15). Dengan menggunakan metode agih. makna deiksis pronomina persona dan fungsi deiksis pronomina persona dalam suatu karya sastra. makna tunggal. yang semuanya berkaitan dengan panjang cerita dan kualitas struktural yang diisyaratkan oleh panjang cerita itu. Sebuah cerpen biasanya memiliki plot yang diarahkan pada insiden atau peristiwa tunggal. Adapun makna deiksis yang terdapat dalam kumpulan cerita pendek di majalah Bobo edisi Januari-Desember 2005 meliputi makna ambiguitas. Sifat umum cerpen ialah pemusatan perhatian pada satu tokoh saja yang ditempatkan pada suatu situasi sehari-hari. cerpen menunjukkan kualitas yang bersifat compression µpemadatan¶. sering dipergunakan (pengaruh dari film). 2000: 9).

tetapi lebih dari itu. Bentuk di sini merupakan bentuk deiksis pronomina persona yang terdiri dari bentuk pronomina persona pertama baik tunggal maupun jamak. definisi umum dari pragmatic adalah arti dalam penggunaan dan arti dalam konteks. frasa. Definisi terakhir (interpretasi ujaran) lebih cenderung kea rah yang mempelajari kekurangan dari dua definisi tersebut. tidak secara langsung menuju topic. kerangka pikir ini dibuat dalam bentuk skema sebagai berikut. hal ini akan berbeda jika dalam konteks yang lain. pronomina persona kedua baik tunggal maupun jamak.1. Sebagai contoh saya berkata. yang dapat ditentukan dengan melihat konteks kalimat atau konteks wacananya. tetapi masih terlalu umum karena masih mengandung aspek semantic. pada saat pragmatic sering dibuat sebagai bahan diskusi dalam linguistic. Kasus-kasus seperti ini masuk dalam bahasan lingusitik yang dikenal dengan Pragmatik.2. 1. Fungsi di dalam penelitian ini merupakan fungsi semantis deiksis pronomina persona. ³Di sini panas ya!´. Makna dalam penelitian ini merupakan makna deiksis pronomina persona yang digunakan dalam suatu tuturan.edisi Januari-Desember 2005 yang berjumlah 137 buah. Apa yang mereka maksudkan bisa lebih luas dari apa yang mereka katakana. dimana dapat diterima dengan baik di bawah bahasan dari arti penggunaan atau art dalam kenteks. tetapi pada waktu yang sama ketidak jelaan dari fakta pada proses interpretasi dengan apa yang ada di dalam pesan antara beberapa tingkatan arti. Semantic dalam hal perkembangannya pada akhir 1980an. Digunakannya fungsi semantis di sini karena sampel data dalam penelitian ini merupakan bentuk kalimat yang terdapat di dalam suatu wacana. Kita akan mempelahar pertama kali yan dimaksud tentang tingkatan arti. makna dan fungsi deiksis pronomina persona. yang mana makna itu tidak lain daripada sesuatu atau referen yang diacu oleh kata atau leksem. tingkat dari arti secara abstrak.2 Definisi Pragmatik Pada awal 1980an. sedangkan objek penelitian ini yaitu tentang bentuk. mengapa tidak langsung mengatakan yang sebenarnya. tempat yang lain atau keadaan yang lain pula. yaitu. Pengertian Masyarakat tidak selalu mengatakan apa yang sebenarnya mereka maksudkan. yang mana diperlukan adanya koherensi antara kalimat yang mendahului ataupun kalimat yang mengikutinya. Dalam contoh di atas kita tahu bahwa apa yang penulis maksud bukan panas dalam arti kata sebenarnya. Walaupun definisi itu cukup untuk menggambarkan pragmatic. dan bentuk pronomina persona ketiga baik tunggal maupun jamak. 1. Untuk yang ketiga kita akan mendapat pengatahuan tentang maksud pembicara. Arti pembicara menurut perhatian ke pembuat pwsannya. Dalam kasus di atas. kalimat . atau yang dimaksud dengan (force) paksaan dalam sebuah ujaran kata. Untuk lebih jelasnya. Tetapi yang saya maksudkan adalah untuk seseorag membukakan jendela atau lebih baik membuka jendelanya. frasa atau kalimat (kedua). Apakah Pragmatik Itu? 1. Bukut-bukua terbaru lebih contong membahas tentang satu dari dua topic. sama dengan pragmatic dengan arti pembicara (speaker meaning) atau yang sama dengan interpreatasi ujaran (utterance interpretation) ±mereka tidak menggunakannya secara eksplisit± . atau matikan pemanasnya. Dari Abstrak ke Arah Arti Kontekstual Arti abstrak lebih berfokus pada sebuah kata. masalah arit pemcibaca lebih mendekat ke arah penulus yang mempunyai pandangan social lebih luas dalam ilmu linguistic khususnya dalam hal pragmatic. Kita akan mulai dari arti kontekstual arti ujaran dar melihata kata.

³Apa yang salah tentang kucing itu?´ Lalu siapa saja datang pada waktu itu. yang paling penting. 1. Beri mereka sesuatu yang mengingatkan masa lalu mereka (melewati pantat). Pada saat itu masih menjadi tentara. dimanapun kita berada. Contoh : Percakapan ini ku dengarkan di sebuah kereta api. 1. itu (tidak selalu bermakna . Ayah berhenti sejenak dan meneguk tehnya.3. Cambuk juga masuk dalam domain discourse. kita psti lebih bisa memhami poin pembicaraan. Dalam oercakapan di atas kita megetahui batu (lump) yang dimaksudkan adalah bukan batu yang sebenarnya. di supermarket. Contoh : ³dan hanya terpikirkan olehku. Dalam kasusu ini kita tidak menemukan penunjuk dalam kata. jika dia tidak jatuh dari tempat tidu. atau penggelapan pajak atau mungkin yang lainnya. antara lain di sana. Arti abstrak tidak berada pada satu kata. Allan berpikir apa yang dimaksudkan dan akan menanyakan setelah peliharaannya sehat. kami akan« . Lihatkah hanya sedikit kedisiplinan yang terlihat. Pasukan. ku tidak akan pernah menemukannaya´ Mengapa kita tidak mungkin memahaminya. terjadi antara dua orang inggris. Apakah sesuatu yang tidak biasa untuk para buruh bangunan? Cara mereka dibayar. di bus. Dalam pengertian ini. Cambuk mereka. Dilarang Menyentuh!´ hal ini jelas untuk melarang menyentuh sesuatu. secara intuisi melihat ke rasa dalam peraasaan kontekstual mereka.3. hal ini dikarenan topic pembicaraan biasanya berdasarkan tempat dimana pembicaraan itu terjadi.2 Mengartikan Penunjuk Konteks Kita perlu mencari poin penting dalam sebuah percakapan. tetapi dapat masuk dalam frasa atau bahkan semua kalimat. Keadaaan ini dapat terjadi dalam kasusu homonym. Seakan-akan ayah telah di dalam AL. ini. Hal ini berbeda dengan kata ³Bahaya.1 Mengartikan Rasa dalam Konteks Jika seseorang terlibat dalam percakapan. dan Marinir. itulah yang saya katakana. di sini. hal ini dapat diketahui dengan memahami konteks yang ada dalam pembicaraan. tetapi mempunyai makna konotasi. kucing yan dimaksud adalah kucing dalam arti sebenarnya atau cambuk (dalam bahasa barat) yang biasa digunakan dalam kamp militire pada periode perang. kita tidak paham apa yang ditemukan. namun hal ini dapat dihindari dengan memahami konteks yang ada. AU. homograf atau yang lainya yang biasa mengakitabkan kesalahan pemahaman. Ayah selalu berkata tentang masa lalunya di kamp Catteria pada tahun 1940an. A : ³Batu (Lump) apa yang membuat mereka waspada?´ B : ³ Coba bacalah´ A : (Membeca dengan suara keras) ³Di dalam rekatakn batu yang jatuh´ B : Oh. kita mengenal pengertian deiksis. Jika kita melihat ilustrasi di atas. Kami tahu apa arti disiplin sejak dalam pelatihan.Contoh : Apa yang diinginkan para pasukan adalah untuk menduduki wilayah ini.

3 Rasa Intereaksi. besok. Penunjuk dan Struktur Contoh di bawah ini akan menunjukkan ambiguitas strukturan yang juga mengandung ambiguitas perasaan Pembicara B adalah komentator kriket yang terkenal. apakah itu istilah dalam kriket atau yang lainnya dalam tanda kutip. Contoh : Pembicara sedang berada di Genewa.pengisolasian).3. sekarang juga akan berarti jika kita memahami pembicaraan. Christopher Craig dalam kasusu pembunuhan salah satiu Polisi setempat.5 Pemaksaan (Force) : Tingkat Kedua dari Maksud Pembicara\ Dalam hal Pragmatik. Pasti kita bingung tentang apa arti kata ³dog bowl´. Kita pasti menduga-duga tentang arti kata ³bank´. Ini dapat terjadi jika kamu tahu yang pembicara maksudkan dan jelas arti percakapannya.5 Ambiguitas dan Maksud Kita akan menjelaskan ambiguitas dan maksud yang dapat mengarah ke dalam kesalahpahaman. Artinya konteks kata atau kalimat cocok atau tidak dengan tempat dimana pembicaraan berada. yang terlibat dengan pemuda 16 tahun. Derek Bentley. Deiksis waktu antara lain kemarin. 1. Craig menembak polisi dengan alasan pembelaan diri. Dalam contoh kasus di atas kita mengetahui arti pentingnya ujaran. Brian Johnson. Pada saat ditahan.4. kita mengetahui paksaan (force). dalam persidangan Bentley dijatuhi hukuman mati karena diduga yang melakukan penembakan.33 Ambiguitas Struktural Hal ini berkaitan dengan sintaks.4 Arti Ujaran : Tingkat Pertama Maksud Pembicara 1.1 Pentingnya Arti Ujaran Arti ujaran di sini dimaksud adalah konteks dimana pengucapan itu dimaksudkan.3. Contoh kasus : Dalam pengadilan ada seseoran pemuda 19 tahun. tetapi saya sudah pernah melihat dog bowl bermain di beberapa inning. Bentley berkata ³Biarkan Polisi itu menerimana Christ!´ karena perkataan itu. Seperti contoh kucing makan ikan mati. 1. Swiss Kota ini adalah kota dimana ³bank´ berada di dekat sungai. yang mati kucingnya atau ikannya. Seperti dalam contoh ³Benarkah itu . sedang Craig hanya mendapat pengawasan saja. Apakah itu bank dalam arti tempat kita menabug atau bank dalam bahasa inggris yang berarti tepi sungai. Pembicara A adalah istrinya A : Pernahkan kamu melihat ³dog bowl´ B: Belum. hal ini juga berlaku pada deiksis-deiksis lainnya (deiksis orang dan deiksis tertentu ±discourse deixis² 1. 1. 1.

Sebagai contoh megapa pembicara tidak secara langsung menunjuk apa yang mereka maksudkan. Dan dalam percakapan selanjutnya. Sebagai tataran terbaru dalam . para linguist bereaksi satu sama lain. Karena itu.2 Pragmatik : Arti dalam interaksi Dalam hal ini mencerminkan arti atau poin dalam interaksi (pada suatu percakapan).5.6.mobilmu? ³ sambil menunjuk kea rah mobil anda. maka pembicaraan mereka akan berjalan secara halus dan dapat dimengerti oleh para pendengar. dan mengabaikan unsur pengguna bahasa.2 Memahami ujaran tetapi bukan paksaan 1. Pendahuluan Dalam jangka yang cukup lama.3 Memahami paksan tetapi bukan arti ujaran 1.6. Dalam suatu komunitas tertentu.4 Memahami bukan arti ujaran dan bukan pakasaan 1. 1. yaitu force. biasanya dalam grup ini lebih tertarik dalam tingkatan kedua. Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik? Makyun Subuki 13 Desember 2006 1. Karena itu teori-teori atau metodologi-metodologi yang ada harus dirubah sesuai dengan perkembangan jaman.5. 1. 1.5. Jadi harus secara jelas kita mengetahuinya. studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya.5.1 Arti Pembicara Dalam hal ini.6 Definisi Pragmatik Dalam pragmatic arti secara abstrak dan lebih berguna dari pada arti pengguanaannya. pasti mempunyai kata-kata tertentu dalam cara berinteraksi.2 Interpretasi Ujaran Sebaliknya. mereka dapat mengembangkan poin pembicaraan mereka dalam dalam cakupan property. Hal ini juga dapat membuat pendekatan para linguist mempunyai kelemahan. Kata-kata itu belum tentu dapat dimengerti oleh orang lain di luar komunitas mereka. ada dua alasan mengapa penulis.6. Pendekatan ini dapat terlihat berpotensi memberikan penejelasan lebih baik dalam hal pemecahan ambiguitas itu.5 Hubungan timbale balik antara arti ujaran dengan paksaan 1. baik secara implicit atau eksplisit telah menggunakan defines dengan tidak perlu membuat perbedaan. cemooh atau bukan. Di dalam perkataan itu kita tidak mengetahui apa yang dimaksudkan oleh pembicara.1 Memahami Ujaran dan Paksaan (Force) 1. seperti diungkap oleh Yule (1996: 6). Hal ini berbeda dengan definisi awal. Ujaran mereka berkembang dalam topic yang cocok dengan keadaan dan situasi. yaitu dengan menurunkan sistem yang terdapat dalam matematika dan logika. 1. Contoh ³Saya telah menjual rumah itu´.5. Dalam tempat pertama. Hal ini akan sangat sulit jika kita tidak tertarik mengapa pembicara berkata demikian. pendekatan kognitif yang luas yang digunakan oleh para ahli pragmatic lebih berfoukus pada pendengar. konteks perkataan sangat berperan penting dala pemahaman suatu pembicaraan.

menunjukkan pentingnya pragmatik. dengan menggunakan sudut pandang sosial. . seperti akan saya jelaskan kemudian. menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya. dan. dan (4) tradisi etnometodologi. Meskipun memiliki fokus kajian yang serupa dengan semantik. (3) bidang yang. Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. perkembangannya. Pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. melebihi kajian tentang makna yang diujarkan. Untuk tujuan tersebut. (2) kecenderungan sosial-kritis. (3) tradisi filsafat. yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara. Makalah ini bertujuan menjelaskan pentingnya bidang pragmatik untuk dipelajari dalam program studi linguistik. Perkembangan Pragmatik Mey (1998). dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran. misalnya. yaitu makna. 2. yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme. dengan melihat perbedaan kajiannya dengan bidang lain dalam linguistik. Selanjutnya Thomas (1995: 22). dengan menggunakan sudut pandang kognitif. menyebutkan empat definisi pragmatik. dan komplementarisme. Yule (1996: 3). saya mengawali makalah ini dengan pembahasan mengenai pengertian pragmatik. dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik. dan kedua. seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5). pragmatisisme. yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik. dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik. atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi. menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning). 3. mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara. Definisi Pragmatik Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda.linguistik. mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction). sosial. pertama. makna yang dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantik. Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian. mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi. menjelaskan secara singkat topik-topik bahasannya. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme.

Austin dapat dianggap sebagai pemicu minat yang paling utama dalam kajian pragmatik. komunikasi tetap dapat berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak apik secara sintaksis (ill-formed). sebab. muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan. Para pakar tersebut mengkaji bahasa. sejak itu bidang kajian ini telah berkembang jauh. sehingga kita dapat melihat sejumlah kecenderungan dalam pragmatik. morfologi. dan Grice. seperti dikutip oleh Thomas (1995: 29-30). seperti diungkap oleh Marmaridou (2000: 1 (dalam Gunarwan 2004: 8)). Menurut Lakoff dan Ross. termasuk penggunaannya. (1) Ada enam kata dalam kalimat ini . kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi. seperti sering kita jumpai. seperti dikutip Gunarwan (2004: 7). Beberapa Topik Pembahasan dalam Pragmatik 4. dan terutama John L. dan pragmatik interaktif (Thomas).1 Teori Tindak-Tutur Melalui bukunya. melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri.Kecenderungan yang pertama. seperti Russel dan Moore. dan bahwa pernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris. bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6). mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa. Contoh. pragmatik neo-Gricean (Cole). dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)). menolak pandangan sintaksisme Chomsky. yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. adalah tradisi filsafat. yang dipelopori oleh Bertrand Russell. dan semantik bersifat periferal. Searle. yaitu pragmatik filosofis (Austin. yang tumbuh di Eropa. keapikan sintaksis (well-formedness) bukanlah segalanya. Ludwig Wittgenstein. Dengan kata lain. Kecenderungan kedua. How to Do Things with Words. bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya. Searle. dan bahwa fonologi. dan Grice). Tradisi yang ketiga. Austin. dalam kaitannya dengan logika. Sebab. yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi dan ketaksaan. Leech (1983: 2). dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross. bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6). 4. Jerman. yaitu bahwa dalam kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis. misalnya Austin. bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis. yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross. Searle. pragmatik kognitif (Sperber dan Wilson). Austin dan John R. Dalam etnometodologi. Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi. tepatnya di Britania.

saya nikahkan kalian (performatif) (4) Rumah Joni terbakar (konstatif) Selanjutnya Austin. Tindak lokusioner berkaitan dengan produksi ujaran yang bermakna. dan tindak perlokusioner berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan (Thomas 1995: 49). tindak ilokusioner terutama berkaitan dengan intensi atau maksud pembicara. Tindakan yang dihasilkan dengan ujaran ini mengandung tiga tindakan lain yang berhubungan. dapat berupa tindak-tutur langsung (direct speech-act) dan tindak-tutur tidak langsung (indirect speech-act). yaitu. memasukkan ujaran konstatif. Dalam contoh (4). karena memiliki struktur dalam yang mengandungi makna performatif. ilokusi (illocutionary act). melainkan juga melakukan sesuatu (perform actions). dan deklarasi (declaration) (Littlejohn 2002: 80. Searle juga menyebut lima jenis fungsi tindak-tutur. dan Yule 1996: 54-55). direktif merupakan tindak-tutur yang menghendaki . Contoh. Asertif atau representatif merupakan tindak-tutur yang menyatakan tentang sesuatu yang dipercayai pembicaranya benar. yaitu asertif (assertive). Austin (dalam Thomas 1995: 31) berpendapat bahwa salah satu cara untuk membuat pembedaan yang baik bukanlah menurut kadar benar atau salahnya. yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech-act). dan perlokusi (perlocutionary act) (Yule 1996: 48). ekspresif (expressive). Melalui hipotesis performatifnya. komisif (comissive). Selain itu. Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics (Thomas 1995: 30). (3) Dengan ini. dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin ini mengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition). seperti dikembangkan lebih jauh oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). Tindak-tutur. Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Gunarwan 2004: 8). sesuai contoh di atas. seperti juga ditekankan lebih lanjut oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar karena sesuai dengan kenyataan. Dalam direct speeh-act terdapat hubungan langsung antara struktur kalimat dengan fungsinya. sebagai bagian dari performatif (Austin 1962: 52 dan Thomas 1995: 49).(2) Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono Dari contoh di atas. melainkan melalui bagaimana bahasa dipakai sehari-hari. Austin berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements). direktif (directive). struktur dalam ujaran tersebut dapat saja berbunyi Saya katakan bahwa rumah Joni terbakar. yaitu lokusi (locutionary act). dan Yule 1996: 53-54). sedangkan dalam indirect speech-act hubungannya tidak langsung atau menggunakan (bentuk) tindak-tutur lain (Gunarwan 2004: 9.

sedangkan contoh (6) merupakan implikatur konversasional yang bermakna µtidak¶ dan merupakan jawaban atas pertanyaan maukah Anda menghadiri selamatan sunatan anak saya? Berbeda dengan Grice. menyebut dua macam implikatur. dengan menggunakan prinsip kerja sama Grice. dalam komunikasi kadang kita tidak mematuhi prinsip tersebut. yaitu prinsip kerja sama (cooperative principle) (Yule 1996: 36-37 dan Thomas 1995: 61). menghindari ketaksaan. Berkaitan dengan prinsip kerja sama Grice di atas. misalnya contoh (5) di atas. dan (4) bidal cara (manner maxim).pendengarnya melakukan sesuatu. Yang pertama ada karena konteks ujaran. menurut Gazdar. yaitu (1) bidal kuantitas (quantity maxim). mengungkapkan secara singkat. seperti diungkap oleh Thomas (1995: 57). Kerja sama yang terjalin dalam komunikasi ini terwujud dalam empat bidal (maxim). misalnya untuk memberikan informasi secara tersirat (implicature) dan menjaga muka lawan bicara (politeness). Contoh. didasarkan atas beberapa alasan. (3) bidal relasi (relation maxim). yaitu implikatur konvensional dan implikatur konversasional. Implikatur konversasional merupakan implikatur yang dihasilkan karena tuntutan konteks tertentu (Thomas 1995: 58). memberi informasi sesuai yang diminta. misalnya contoh (6) di atas.2 Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle) Grice mengemukakan bahwa percakapan yang terjadi di dalam anggota masyarakat dilandasi oleh sebuah prinsip dasar. 4. menyatakan hanya yang menurut kita benar atau cukup bukti kebenarannya. 4. implikatur dapat dibedakan menjadi implikatur khusus dan implikatur umum. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 12-14). ekspresif merupakan tindak-tutur yang menyatakan perasaan pembicaranya. 4. sedangkan yang kedua tidak. komisif merupakan tindak-tutur yang digunakan pembicaranya untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukannya. (2) bidal kualitas (quality maxim).4 Teori Relevansi . mengungkapkan secara beraturan (Gunarwan 2004: 11 dan Thomas 1995: 63-64).3 Implikatur (Implicature) Grice. dan deklarasi merupakan tindak-tutur yang mengubah status sesuatu. pada kenyataannya. (5) Bahkan Bapak Menteri Agama menghadiri sunatan anak saya (6) Saya kebetulan ke Inggris untuk studi selama dua tahun dan berangkat besok Contoh (5) di atas merupakan implikatur konvensional yang berarti Bapak Menteri Agama biasanya tidak menghadiri acara sunatan. Implikatur konvensional merupakan implikatur yang dihasilkan dari penalaran logika. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 14). dapat dicontohkan dengan penggunaan kata bahkan. memberi sumbangan informasi yang relevan. menghindari ketidakjelasan pengungkapan. ujaran yang mengandung implikatur jenis ini. Hal ini.

How does it works? You just turn up for the shuttle service? A: That might be cheaper. pemahaman penerima pesan terhadap apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan terjadi melalui beberapa tahapan. Contoh. tahapan yang harus dilewati untuk memahami implikatur dalam percakapan. Setiap pembaca dapat memahami bahwa pesan ini hanya berlaku jika ia akan meninggalkan ruangan tersebut untuk terakhir kalinya. Dengan kata lain. Then that's fifty. pesan ini berada dalam spesifikasi tertentu yang disepakati oleh addresser dan addressee dalam konteks komunikasi. Selanjutnya. penerima pesan (addressee) hanya memilih sesuatu yang dianggapnya relevan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan (addresser) dalam konteks komunikasi tertentu. there is a shuttle service sixty euros one-way. dan ketiga. yaitu: pertama. namun mencakup perluasan wilayah kognitif (cognitive environment) kedua belah pihak. bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi. padahal A . explicature atau degree of relevance. komunikasi tidak hanya memasukkan apa yang ada dalam pikiran pengirim pesan ke dalam pikiran penerima pesan. dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini. Melalui hal tersebut. (8) A: Well. Sperber dan Wilson (1995). misalnya tindakan untuk membuat sesuatu menjadi jelas dan dapat dimengerti oleh penerima pesan. kedua. Dalam percakapan tersebut. A: What weekend? B: Next weekend. ujaran merupakan sebentuk tindakan dari komunikasi ostensif. menyebutkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (language in use) selalu dapat diidentifikasi melalui hal yang disebutnya indeterminacy atau underspecification. Contoh yang ditulis Renkema (2004: 23) di bawah ini memberikan gambaran yang cukup jelas. menetapkan tiga macam hubungan antara cue dan implicature. yaitu tidak perlu mengunci pintu jika keluar dalam batasan waktu dan situasi yang diperkirakan cukup aman. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). Menurut mereka. Dalam teori relevansi dipelajari bagaimana sebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya. bukan untuk setiap kali meninggalkan ruangan. untuk menjelaskan cara sebuah pesan dipahami penerimanya. B mengira A mengerti bahwa at the weekend berarti next weekend. when do you want to go? B: At the weekend. Misalnya pada contoh (7) di atas. pengirim pesan dapat memperkirakan reaksi penerima pesan terhadap pesan yang disampaikannya. misalnya untuk ke kamar mandi.Teori relevansi yang dikembangkan oleh Sperber dan Wilson merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. (7) Pastikan semua pintu terkunci jika meninggalkan ruangan ini. Dalam percakapan di atas. Sperber dan Wilson (1995).

Intensitas FTA diekspresikan dengan bobot atau weight (W) yang mencakup tiga parameter sosial. kekuasaan atau power (P) yang dimiliki lawan bicara (Renkema 2004: 26). dan ketiga. kedua. Contoh. semakin besar intensitas FTA mengancam stabilitas komunikasi. Dengan kata lain. Menurut Goffman (1956). misalnya mahasiswa kepada dosen atau yang muda kepada yang tua. dan citra diri di depan umum (public self-image). it costs 50 euros.5 Kesantunan (Politeness) Konsep strategi kesantunan yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson diadaptasi dari konsep face yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog bernama Erving Goffman (1956) (Renkema 2004: 24-25). yaitu: pertama. Numpang tanya. berkenaan dengan bobot mutlak (absolute weight) tindakan tertentu dalam kebudayaan tertentu. Pak. "face merupakan gambaran citra diri dalam atribut sosial yang telah disepakati". ia mengandaikan B dapat mengerti bahwa that migh be cheaper dapat berarti If you purchase a ticket now. yang dikutip oleh Jaszczolt (2002: 318). harga diri (self-esteem). ujaran (9a) mungkin diucapkan pembicara yang secara sosial lebih rendah dari lawan bicaranya. Dalam hal ini. tingkat gangguan atau rate of imposition (R). boleh tanya? b. maka politeness strategy semakin dibutuhkan. misalnya bobot kedua permintaan di atas tidak terlalu besar jika kedua ungkapan tersebut ditujukan kepada saudara sendiri. sedangkan that might be cheaper merupakan ujaran yang relevansinya lebih baik. 4. dalam pengertian degree of relevance. sedangkan yang kedua disebut negative face. face dapat diartikan kehormatan. sedangkan ujaran (9b) mungkin diucapkan kepada orang yang secara sosial jaraknya lebih dekat (9a). you have booked seat which costs 60 euros. Politeness (kesantunan) dalam hal ini dapat dipahami sebagai upaya pencegahan dan atau perbaikan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh FTA. Brown dan Levinson (1978) membangun teori tentang hubungan intensitas FTA dengan kesantunan yang terrealisasi dalam bahasa (Renkema 2004: 25).harus memastikan dengan jelas setiap pemesanan pembelian tiket. Begitu juga A. ujaran at the weekend. misalnya permintaan "May I borrow your car?" mempunyai bobot yang berbeda dengan permintaan "May I borrow your pen?". Berdasarkan konsep face yang dikemukakan oleh Goffman ini. karena semakin tinggi contextual effect maka semakin rendah ia membutuhkan processing effort. Maaf. If you buy ticket when you turn up. . setiap partisipan memiliki dua kebutuhan dalam setiap proses sosial: yaitu kebutuhan untuk diapresiasi dan kebutuhan untuk bebas (tidak terganggu). seperti dikutip oleh Renkema (2004: 25). merupakan ujaran yang relevansinya rendah dan membutuhkan processing effort yang lebih besar. Kebutuhan yang pertama disebut positive face. Menurut Goffman (1967: 5). Mas? Dalam contoh di atas terlihat jelas. (9) a. jarak sosial atau social distance (D) antara pembicara dengan lawan bicaranya.

Brown dan Levinson (1978). bidal kesetujuan (aggreement maxim). Berkaitan dengan politeness strategy ini. bidal pujian (approbation maxim). dapat dilakukan. but could you lend me a hundred dollars? (negative polite) e. Pakar ini membahas teori kesantunan dalam kerangka retorika interpersonal (Eelen 2001: 6). sedangkan politeness yang dilakukan untuk tujuan sebaliknya disebut respect politeness. semakin tinggi resiko kehilangan muka. seperti diungkapkan oleh Renkema (2004: 26). Dalam kehidupan sehari-hari. bidal kerendahhatian (modesty maxim). (baldly) b. 5. ditambah bidal pertimbangan (consideration maxim). misalnya dengan melakukan tindakan yang tidak kooperatif dalam komunikasi (Renkema 2004: 25). bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat. meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris.Politeness. misalnya dengan pujian. I'm sorry I have to ask. Atas dasar ini. seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4). yaitu bidal kebijaksanaan (tact maxim). face work technique. Oh no. Dalam hal ini. bahwa komunikasi tetap dapat . I'm out of cash! I forgot to go to the bank today. Pragmatik dalam Linguistik Seperti telah saya uraikan sedikit dalam sub 3 di atas. could you lend me a hundred bucks? (positive polite) c. bidal simpati (sympathy maxim). Renkema (2004: 27) memberi contoh strategi tersebut. dapat dipahami. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 19). penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis. melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. (5) a. lend me a hundred dollars. Leech (dalam Eelen 2001: 8) menyebutkan enam bidal kesantunan. maka semakin kecil kemungkinan pembicara melakukan FTA. Secara umum. dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal. dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi. dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis. sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya. tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis. salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. friend. Kelima strategi tersebut diurut berdasarkan tingkat resiko "kehilangan muka". Dalam sintaksis. yang bertujuan untuk mendapatkan positive face disebut solidarity politeness. (off record) Teori kesantunan lain dibahas oleh Leech (1983). bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. dapat dilakukan. Hey. bidal kedermawanan (generosity maxim). sehingga bentuk seperti kucing menyapu halaman. Lebih tepatnya. dan. pertama. Hey. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat banyak cara untuk menghindari FTA yang dapat direduksi menjadi lima macam cara. dan memang sering kita temukan. Dalam hal ini.

dalam pengajaran bahasa. untuk dapat dinyatakan benar. misalnya. makna apa yang dituturkan. Berdasarkan truth conditional semantics. dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain. kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan. dapat bertentangan dengan prinsip lain. bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa. pembahasan makna dalam semantik belum memadai. terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik. dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan. dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur. Selanjutnya. sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. dan maksud dari tuturan. dan kedua. sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif. Selanjutnya. di samping sintaksis dan semantik. absolut atau bersifat mutlak. terdapat keterkaitan. makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. Dengan demikian. yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa. patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan . dalam analisis bahasa. sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi. untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa seharihari. yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik. selain tata bahasa. demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa. Lebih jauh lagi. sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya. yaitu bahwa pengetahuan pragmatik. sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis. semantik terikat pada kaidah (rule-governed). Dengan kata lain. meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda. dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. sebab daya mencakup juga makna. bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis. Namun demikian. seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22). pertama. Dengan demikian. Tentang perbedaan yang pertama. Kaidah bersifat deskriptif. Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada. Kegunaan pragmatik.berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis. dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya. sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik. dan kedua. dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik. Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik. Dengan kata lain. saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan. meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai. semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis. dalam arti praktis. bagaimana memahami implikatur percakapan.

Cambridge: Cambridge University Press. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. Berdasarkan penjelasan di atas. 2004. 2004. Selain itu. pragmatik merupakan satu-satunya tataran dalam linguistik yang mengkaji bahasa dengan memperhitungkan juga penggunanya. Brown. bahasa yang digunakan harus baik. 2002. pragmatik berperan dalam pengembangan kompetensi komunikatif. Edinburgh: Pearson Education. Gino. UK: St. 2001. IKIP Singaraja.. yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu. Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse. John L. A Critique of Politeness Theories. Renkema. dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa. Dalam pengajaran bahasa Indonesia. kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik. misalnya. pertama. Jan. 1978. pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. karena selain benar. pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya. K. Penelope. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). Oxford: Oxfod University Press. Manchester. How to Do Things with Word (edisi kedua). Daftar Acuan Austin.M. berkaitan dengan pengajaran bahasa. Penutup Seperti telah disebutkan di muka. berkaitan dengan ketidakmampuan sintaksis dan semantik dalam menjelaskan fenomena penggunaan bahasa sehari-hari. dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence). saya melihat kedudukan semantik dan pragmatik sebagai dua hal yang saling melengkapi. Politeness: Some Universal in Language Usage. kedua. saya melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik setidaknya dalam dua hal. 6. Jaszczolt. tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa pragmatik penting dipelajari dalam program studi linguistik. Levinson.tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. 1962. Asim. dan Stephen C. . Introduction to Discourse Studies. Eelen. Secara umum. Dalam pengajaran bahasa asing. Jerome Publishing Gunarwan.

pragmatik adalah kajian mengenai penggunaan bahasa atau kajian bahasa dan perspektif fungsional. kajian ini mencoba menjelaskan aspek-aspek struktur bahasa dengan mengacu ke pengaruh-pengaruh dan sebabsebab nonbahasa. baik TT representatif. merupakan bahan sekaligus fenomena yang sangat menarik untuk dikaji secara pragmatis. Oxford University Press. 1996. yang ada barulah makna kata/kalimat yang diujarkan. menging µmelarang¶. Hal itu sesuai dengan pengertian pragmatik yang dikemukakan oleh Levinson (1987: 5 dan 7). Untuk maksud ³menyuruh´ orang lain. sedangkan semantik menelaah makna satuan lingual (kata atau kalimat) dengan satuan analisisnya berupa arti atau makna. (3) Ibu ngersakake kapur. jebul ora ana kapur. dan deklaratif. pragmatik lebih cenderung ke fungsionalisme daripada ke formalisme. Bidang ini cenderung mengkaji fungsi ujaran atau fungsi bahasa daripada bentuk atau strukturnya. ya? . komisif. kalimat deklaratif. Di dalam komunikasi. Fungsi bahasa yang paling utama adalah sebagai sarana komunikasi. maupun TT harafiah dan tidak harafiah. dan ngapura µmemaafkan¶. seorang guru yang bermaksud menyuruh muridnya untuk mengambilkan kapur di kantor. ngelem µmemuji¶. pragmatik lebih cenderung ke fungsionalisme daripada ke formalisme. Pragmatik dan Fungsi Bahasa Bidang ³pragmatik´ dalam linguistik dewasa ini mulai mendapat perhatian para peneliti dan pakar bahasa di Indonesia.pragmatik . Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics. Pengkajian TT tersebut tentu menjadi semakin menarik apabila peneliti mau mempertimbangkan prinsip kerja sama Grice dengan empat maksim: kuantitas. dan cara. nyilih µmeminjam¶. George. satu maksud atau satu fungsi dapat dituturkan dengan berbagai bentuk tuturan. Misalnya. serta skala pragmatik dan derajat kesopansantunan yang dikembangkan oleh Leech (1983). Pragmatics. 1995. Dengan kata lain. Berbagai tindak tutur (TT) yang terjadi di masyarakat. Pragmatik berbeda dengan semantik dalam hal pragmatik mengkaji maksud ujaran dengan satuan analisisnya berupa tindak tutur (speech act). seperti ngongkon µmenyuruh¶. PRAGMATIK pragmatics (n) . hubungan. kualitas. Yule. penutur dapat mengungkapkannya dengan kalimat imperatif. Jenny. Oxford. janji µberjanji¶. (5) Ing kene ora ana kapur.Thomas. atau kombinasi dari dua/lebih TT tersebut. atau bahkan dengan kalimat interogatif. perlokusi berarti terjadi tindakan sebagai akibat dari daya ujaran tersebut. ekspresif. TT langsung dan tidak langsung. Kajian pragmatik lebih menitikberatkan pada ilokusi dan perlokusi daripada lokusi sebab di dalam ilokusi terdapat daya ujaran (maksud dan fungsi tuturan). Artinya. satu maksud atau satu fungsi dapat diungkapkan dengan berbagai bentuk/struktur. Misalnya. direktif. dia dapat memilih satu di antara tuturan-tuturan berikut: (1) Jupukna kapur! (2) Kene ora ana kapur.pragmatika pragmatis (adj) : melihat sesuatu dari kegunaan pragmatisme: aliran yang melihat sesuatu dari kegunaan Dalam komunikasi. London/New York: Longman. Dengan demikian. (4) O. di dalam lokusi belum terlihat adanya fungsi ujaran. bagaimanakah TT yang dilakukan oleh orang Jawa apabila ingin menyatakan suatu maksud tertentu. Sementara itu. njaluk µmeminta¶.

2. Di sini dikutipkan beberapa di antaranya yang dianggap cukup penting. bagaimana. 3. terutama hubungan antara kalimat dengan konteks dan situasi pemakaiannya. Levinson (1987: 1-53). (2) Pragmatik adalah kajian mengenai penggunaan bahasa. (3) Pragmatik adalah kajian bahasa dan perspektif fungsional. yakni bagaimana satuan kebahasaan digunakan dalam komunikasi (Wijana. artinya kajian ini mencoba menjelaskan aspek-aspek struktur linguistik dengan mengacu ke pengaruh-pengaruh dan sebab-sebab nonlinguistik. Yang jelas . kalimat berita (deklaratif) dan kalimat tanya (interogatif) di samping berfungsi untuk memberitakan atau menanyakan sesuatu juga berfungsi untuk menyuruh (imperatif atau direktif). Kaswanti Purwo (1990: 16) merumuskan secara singkat ³semantik bersifat bebas konteks (context independent). (1) Pragmatik adalah kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan penafsirnya. sedangkan pragmatik mempelajari maksud ujaran. cabang ilmu bahasa yang menelaah penggunaan bahasa. sedangkan makna di dalam pragmatik ditentukan oleh konteks. (6) Pragmatik adalah kajian mengenai bagaimana bahasa dipakai untuk berkomunikasi. 4. (b) Kalau semantik bertanya ³Apa makna X?´ maka pragmatik bertanya ³Apa yang Anda maksudkan dengan X?´ (c) Makna di dalam semantik ditentukan oleh koteks. 1983). Jadi. tindak tutur. Berkaitan dengan perbedaan (c) ini. (a) Semantik mempelajari makna. implikatur. sedangkan semantik adalah kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan objek yang diacu oleh tanda tersebut. secara pragmatis. bilamana. 1996: 3). (5) Pragmatik adalah kajian mengenai deiksis. kalimat deklaratif seperti tuturan (2-4). sedangkan pragmatik bersifat terikat konteks (context dependent)´ (bandingkan Wijana. misalnya. dan apa fungsi ujaran itu. membutuhkan 53 halaman hanya untuk menerangkan apakah pragmatik itu dan apa saja yang menjadi cakupannya. studi kebahasaan yang terikat konteks. sedangkan semantik adalah kajian mengenai makna. Definisi pragmatik: 1. kepada siapa. yakni siapa yang berbicara. yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan. (4) Pragmatik adalah kajian mengenai hubungan antara bahasa dengan konteks yang menjadi dasar dari penjelasan tentang pemahaman bahasa. di mana. Satuan-satuan lingual dalam penggunaannya. dan aspekaspek struktur wacana. Cukup banyak kiranya batasan atau definisi mengenai pragmatik. studies meaning in relation to speech situation (Leech. 1996: 2). atau kalimat interogatif seperti tuturan (5-6). Dari beberapa definisi tersebut dapat dipahami bahwa cakupan kajian pragmatik sangat luas sehingga sering dianggap tumpang tindih dengan kajian wacana atau kajian sosiolinguistik. praanggapan. PRAGMATIK VS SEMANTIK Sebelum dikemukakan batasan pragmatik kiranya perlu dijelaskan lebih dahulu perbedaan antara pragmatik dengan semantik.(6) Ngapa ora padha gelem njupuk kapur? Dengan demikian untuk maksud ³menyuruh´ agar seseorang melakukan suatu tindakan dapat diungkapkan dengan menggunakan kalimat imperatif seperti tuturan (1). yaitu makna kata dan makna kalimat. cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal.

internal atau formal diadik: bentuk dan makna . Pemakaian istilah pragmatik (pragmatics) dipopulerkan oleh seorang filosof bernama Charles Morris (1938). klausa. tindak ujar. pragmatics is distinct from grammar. Stephen C. wacana. 3. sudah pulang! Isteri: ¶betul-betul terkejut¶ atau ¶orang itu lama sekali perginya¶ Suami menafsirkan: siapa yang berbicara. semantik (semantics) yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan objek di mana tanda-tanda itu diterapkan (ditandainya) (atau hubungan antara penanda dan petanda (signifiant dan signifie/yang ditandai)). dan aspek struktur wacana. Semantik: makna (biasanya leksikal). dengan kata lain: telaah mengenai kemampuan pemakai bahasa menghubungkan serta menyerasikan kalimat-kalimat dan konteks-konteks secara tepat. atau dengan perkataaan lain: memperbincangkan segala aspek makna ucapan yang tidak dapat dijelaskan secara tuntas oleh referensi langsung kepada kondisi-kondisi kebenaran kalimat yang ciucapkan. 5. Dalam hal ini teori pragmatik merupakan bagian dari performansi. situasinya bagaimana? L. Cabang-cabang bahasa: Fonologi: bunyi sebagai sistem Morfologi: satuan gramatikal terkecil. Teori pragmatik menjelaskan alasan atau pemikiran para pembicara dan penyimak dalam menyusun korelasi dalam suatu konteks sebuah tanda kalimat dengan suatu proposisi (rencana. Pragmatik adalah telaah mengenai relasi antara bahasa dan konteks yang merupakan dasar bagi suatu catatan atau laporan pemahaman bahasa.kondisi-kondisi kebenaran. which is the study of the internal structure of language. Dalam semiotik. atau masalah). 2. Sintaksis: frase. dan pragmatik yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan penafsir (interpreters). anggapan penutur (presupposition). atau semiotik (semiotics). kepada siapa. Pragmatik sebenarnya merupakan bagian dari ilmu tanda atau semiotics atau semiotika. Levinson telah mengumpulkan sejumlah batasan pragmatik yang berasal dari berbagai sumber dan pakar. 1. yaitu: sintaktik (syntactics) atau sintaksis (syntax) yaitu telaah tentang relasi formal dari tanda yang satu dengan tanda yang lain (mempelajari hubungan satuan lingual dengan satuan lingual lain: tanda dengan tanda). implikatur. Pragmatik adalah telaah mengenai segala aspek makna yang tidak tercakup dalam teori semantik. Makna sebuah tuturan itu penggunaannya. 4. Contoh: Kok. yang mempunyai perhatian besar pada ilmu pengetahuan tentang tanda-tanda. Witgenstein (filsuf): makna adalah penggunaannya. Morris membedakan tiga cabang yang berbeda dalam penyelidikan. 1938:6). yang dapat dirangkum seperti berikut ini. Pragmatik adalah telaah mengenai hubungan antara bahasa dan konteks yang tergramatisasikan atau disandikan dalam struktur sesuatu bahasa. Pragmatics is the study of how language is used to communicate. Pragmatik adalah telaah mengenai deiksis. kalimat. Parker (1986: 11).disepakati ialah bahwa satuan kajian pragmatik bukanlah kata atau kalimat. melainkan tindak tutur atau tindak ujaran (speech act). Ketiga cabang tersebut kemudian lebih dikenal dengan teori trikotomi. Secara kasar dapat dirumuskan: pragmatik = makna . Pragmatik adalah telaah mengenai hubungan tanda-tanda dengan penafsir (Morris.

Pragmatik: bagaimana orang menafsirkan. Baik! makna: baik. ada hal-hal yang tidak langsung ¶indirectness atau secara tidak literal¶. Mempelajari bagaimana satuan lingual itu ditafsirkan. Morris membedakan tiga cabang yang berbeda dalam penyelidikan. yaitu suatu telaah dari sebagian besar jajaran fenomena psikologis dan sosiologis yang mencakup sistem tanda pada umumnya atau dalam bahasa tertentu (the Continental sense of the term). Jadi. Contoh semantika: kursi signifiant (penanda) Terdapat suatu prinsip: ¶tempat duduk¶ signifie (petanda) . Dalam semiotik. Asal-usul dan perilaku historis istilah pragmatik Pemakaian istilah pragmatik (pragmatics) dipopulerkan oleh seorang filosof bernama Charles Morris (1938). dan pragmatik yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan penafsir (interpreters). Morris memberikan contoh interjeksi seperti Oh!. dilihat dari berbagai faktor . atau studi istilah indeksikal atau deiktis (deictis) (gagasan Montague). Buku ini secara eksklusif menyangkut istilah pada gagasan yang terakhir dan menerapkannya pada pembicaraan ini. atau semiotik (semiotics).Pragmatik: cabang ilmu bahasa yang mempelajari makna satuan kebahasaan yang bersifat eksternal / bagaimana satuan kebahasaan itu dikomunikasikan eksternal atau fungsional triadik: bentuk. misalnya menyindir atau memarahi. yaitu bahwa variasi retoris dan alat puitis hanya muncul di bawah kondisi tertentu dalam batas-batas pemakaian bahasa. Contoh: Sugeng enjing! makna: menyapa maksud: tergantung siapa yang berbicaraatau maksud lain. semantik (semantics) yaitu telaah tentang hubungan tanda-tanda dengan objek di mana tanda-tanda itu diterapkan (ditandainya). makna. Come here!. Ketiga cabang tersebut kemudian lebih dikenal dengan teori trikotomi. Semantik: makna linguistik (makna). makna dalam penutur. yang mempunyai perhatian besar pada ilmu pengetahuan tentang tanda-tanda. atau telaah konsep abstrak tertentu yang membuat acuan pada pelaku (agents) (satu gagasan dari Carnap). Pragmatik: makna penutur (maksud). bersifat internal. atau akhirnya pemakaian dalam linguistik Anglo-American dan filsafat. yaitu: sintaktik (syntactics) atau sintaksis (syntax) yaitu telaah tentang relasi formal dari tanda yang satu dengan tanda yang lain. sebenarnya semantik sudah ada pragmatik. Akhirnya pengarang menyimpulkan bahwa perbedaan pemakaian istilah pragmatik ditimbulkan dari bagian asal-usul semantik karya Morris. dan maksud. Makna itu berubah-ubah tergantung pada konteksnya. apik maksud: bisa tidak baik. Good morning! dipengaruhi oleh hukum pragmatik.

yang tidak jelas siapa penuturnya tidak jelas. ²-> terkait dengan wacana. Tuturan semakin panjang tuturan semakin sopan. 1. Sosiolinguistik: berkaitan dengan variasi bahasa. Verhaar (Pengantar Lingguistik Umum): . 3. J. Mode (bentuk bahasa): strategi memilih yang mana) Pragmatik: retorika. o Contoh: Lunga! (tidak sopan) dan Lungaa! (lebih sopan) y Semakin langsung semakin tidak sopan. (Contoh: Nyilih sepedha motore (tidak sopan) dan Menawa pareng. semakin pendek tidak sopan.Makna : ada pada satuan lingual (internal) . semakin tidak langsung semakin sopan.Informasi : isi tuturan (internal) Dia membeli buku Buku dibelinya makna: µaktif¶ dan µpasif¶ Makna yang abstrak. ayah dengan anak. Pragmatik: Satu tanda bisa menyatakan bermacam-macam maksud atau bermacam-macam tanda satu maksud.M. Field (medan): siapa berbicara kepada siapa. Ayahnya sakit. jelas. karena: jelas kapan bahasa itu digunakan siapa yang berbicara kepada siapa.Ora duwe dhuwit. . y Obyek data pragmatik itu konkrit. Contoh: ¶menolak¶ bisa dinyatakan dengan .Entuk 4 + Apik! wacana pragmatik Menurut Halliday (pakar Functional Grammar): 1. Obyek data primer adalah bahasa lisan.W.Maksud : ada pada penutur (eksternal) . aku nyilih sepedha motore (lebih sopan)). Bahasa tulis juga bisa asalkan mampu merekonstruksi tuturan yang sebenarnya.Omahku sepi kok. bagaimana strateginya. Tenor (pelibat): misalnya. 2. . Berkenaan dengan data: Data kalimat : sentence. Makna kongkrit: makna tuturan. Dia pergi ke Surabaya.Noam Chomsky: Terdapat hubungan satu lawan satu antara penanda dan petanda (signifiant dan signifie). Data pragmatik: utterance (kalimat + konteks). + Piye bijimu . 2.

L. Cambridge: Cambridge University Press. Kamus Linguistik. 1969. Arep? melek terus. 4. Speech Acts. Longman: Longman Group UK Limited. (2) kalimat atau bagian kalimat yang dilisankan (Kridalaksana. Kopi bisa marahi saya menolak atau menerima. Longman Dictionary of Applied Linguistics.D. tetapi sebenarnya ada tindakan tertentu yang baru dapat terlaksana kalau orang itu mengemukakan tuturan/bahasa. 1993. 1962.Widowson: 1. Dengan demikian bahasa bukan semata-mata alat untuk menyatakan sesuatu tetapi juga melakukan sesuatu. Definisi: Tuturan performatif (performative utterance): tuturan yang memperlihatkan bahwa suatu perbuatan telah diselesaikan pembicara dan bahwa dengan mengungkapkannya berarti perbuatan itu diselesaikan pada saat itu juga.L. Kalimat (sentence) . Jadi. oleh Kridalaksana disebut dengan istilah ujaran): (1) regangan wicara bermakna di antara dua kesenyapan aktual atau potensial. Oka). (ed. . Jakarta: PT Gramedia. Intinya: bahasa pada umumnya sebagai alat komunikasi. New York: Oxford University Press. misalnya: dalam ujaran Saya mengucapkan terima kasih. Richards. Tuturan (utterance) . Teks (texs) . Contoh: Sugeng rawuh. Searle. Jakarta: Universitas Indonesia. J. Lunga! Wacana.O.kalimat tanya. How to Do Things with Words. Harimurti Kridalaksana. (Terjemahan M.di atas kalimat plus konteks. Prinsip-prinsip Pragmatik. 1984: 2001). 2. Tuturan (utterance. Jack dkk. J. 1989. TUTURAN PERFORMATIF DAN TUTURAN KONSTATIF Pustaka: Austin.D. Austin membedakan antara tuturan performatif (performativei) dan konstatif (constative). Performative (in speech . Urmson).plus konteks. Geoffrey. 3. Filosof J. John. Leech.di atas kalimat minus konteks. Wacana: mengandung amanat yang lengkap. pembicara mengujarkannya dan sekaligus menyelesaikan perbuatan ³mengucapkan´ (Kridalaksana. wacana tidak selalu di atas kalimat. 1984.minus konteks. Neng ngendi sabune? teks tidak jelas konteksnya. 1984: 2001). Wacana (discourse) .

Saya akan pergi sekarang. Tuturan performatif tidak dievaluasi sebagai benar atau salah. Ciri-ciri tindakan performatif  Subyek harus orang pertama. (Tindakan menyerahkan: the act of bequeting). Syarat itu juga belum cukup. Misalnya: Saya nyatakan Anda berdua suami-isteri. misalnya: I promise that I shall be there (Saya berjanji bahwa saya akan hadir di sana) dan performatif primer atau tuturan primer I shall be there (Saya akan hadir di sana) (Geoffrey Leech (terjemahan). dan sifatnya betul atau tidak betul . 7. Penuturnya adalah penghulu (naib). maka tuturan itu dikatakan tidak valid (infelicition). tidak dengan tindakan menginjak kaki mitra tutur-nya. Misalnya: Saya berjanji bahwa saya akan selalu datang tepat waktu. Penutur harus memiliki niat yang sungguh-sungguh dalam mengemukakan tuturannya.  Tindakan sedang/akan dilakukan Kalau dalam bahasa Inggris. Akhirnya direvisi (dilengkapi) oleh murid-muridnya. (Tindakan memberi nama: the act of naming). Misalnya: Saya mohon maaf atas kesalahan saya. Misalnya: Saya berjanji akan setia. tetapi sebagai tepat atau tidak tepat. (Tindakan menyatakan/menikahkan: the act of marrying).. Misalnya: Aku njaluk pangapura marang sliramu. I promise not to be late (= a promise). Tuturan konstatif atau deskriptif (constative utterance): tuturan yang dipergunakan untuk menggambarkan atau memerikan peristiwa. dsb.act theory): an utterance which performs an act. (the act of promising). 6. Penutur harus yakin bahwa ia mampu melakukan tindakan itu. bukan oleh orang lain. Tuturan harus mempredikasi tindakan yang akan dilakukan oleh penutur. Saya bertaruh Mike Tyson pasti menang. 5. sebagai berikut. kalau tidak berarti bukan tuturan performatif). Orang yang menyatakan tuturan dan tempatnya harus sesuai atau cocok. bukan yang telah dilakukan. (Tindakan berterima kasih: the act of thanking) 2. atau mampu melakukan apa yang dinyatakan dalam tuturannya. Tuturan harus mempredikasi tindakan yan g akan dilakukan. Saya mohon maaf atas keterlambatan saya. Saya nyatakan Anda berua suami-isteri. Masjid. 3. Syarat-syarat itu antara lain: 1. subjek orang pertama dan kala-nya present tense. such as Watch out (=a warning). ((Richards dkk. 2. (Tindakan bertaruh: the act of betting). 1. yaitu dengan adanya syarat-syarat lainnya yang disebut syarat tuturan performatif (felicity condition). Saya namakan anak saya Parikesit. pendeta. (Orang perta dan kedua melakukan tindakan secara sungguh-sungguh). Contoh lain: 1. rama. (Tindakan mohon maaf: the act of apologizing). 4. kemudian diperbaharui lagi oleh John Searle. Tindakan harus dilakukan secara sungguh-sungguholeh penutur. Gereja. bukan orang kedua atau ketiga. 4. 1989: 212). 2. Saya berterima kasih atas kebaikan Saudara. objeknya 2 orang (berdua). Pura. 3. Misalnya: Sesuk kowe tak-tukokke sepur (yakin tidak. tempatnya di KUA. Misalnya: Saya berjanji akan setia padamu. keadaan. Saya serahkan semua harta saya kepada anak saya. tumindakku kang ora ndadekake renaning penggalihmu. Kalau tuturan tidak memenuhi kelima syarat tersebut. 1993: 280). (Tindakan pergi: the act of going). Secara ringkas dikatakan pula bahwa tuturan performatif adalah tuturan untuk melakukan sesuatu (perform the action). proses. 5. Austin dalam menentukan ciri-ciri tuturan performatif ini hanya melihat aspek gramatikalnya saja. Tindakan harus dilakukan secara sungguh-sungguh oleh kedua belah pihak. Harus diucapkan sungguh-sungguh.

yaitu memerintahkan si mitratutur supaya pergi meninggalkan rumah pondokannya. ia juga menindakkan sesuatu. tanpa bermaksud untuk minta minum. Saya tidur di hotel.. ajakan (invitation). 1989: 265). for example. Chicago is in the United States (Richards dkk. Jadi. jika MT melakukan tindakan . Jadi. Hal-hal apa sajakah yang dapat ditindakkan di dalam berbicara? Ada cukup banyak. perlokusi adalah efek dari TT itu bagi mitra-tutur (selanjutnya MT). Ilokusi. Lokusi adalah semata-mata tindak berbicara. A constative is an utterance which assert something that is either true or false. Ali pergi ke Jakarta 2. Seorang ibu rumah pondokan putri. untuk apa ujaran itu dilakukan. Di sini maksud atau fungsi ujaran itu belum menjadi perhatian. permintaan (requests). dan perlokusi. penerimaan akan tawaran (acceptation of offers) B. TINDAK TUTUR (Speech Act) A. ³Aku ngelak´ yang diujarkan oleh P dengan maksud µminta minum¶ adalah sebuah tindak ilokusi. Ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu. Misalnya: 1. yakni menawarkan minuman. Jadi. yaitu lokusi. mengatakan Sampun jam sanga ia tidak semata-mata memberi tahu keadaan jam pada waktu itu. Di sini kita mulai berbicara tentang maksud dan fungsi atau daya ujaran yang bersangkutan. Uraian berikut memaparkan klasifikasi dari berbagai jenis TT. Pengertian Tindak tutur (istilah Kridalaksana µpertuturan¶ / speech act. seseorang tidak semata-mata mengatakan sesuatu dengan pengucapan kalimat itu. TINDAK TUTUR DAN JENIS-JENISNYA Tindak tutur (selanjutnya TT) atau tindak ujaran (speech act) mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam pragmatik karena TT adalah satuan analisisnya. yaitu tindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan kalimat sesuai dengan makna kata itu (di dalam kamus) dan makna kalimat itu sesuai dengan kaidah sintaksisnya. pemberian izin (permissons). Secara singkat. speech event): pengujaran kalimat untuk menyatakan agar suatu maksud dari pembicara diketahui pendengar (Kridalaksana. tawaran (offers).1 Lokusi. Ia membedakan tiga jenis tindakan yang berkaitan dengan ujaran. atau Austin mengatakan bahwa tuturan konstatif dapat dievaluasi dari segi benar-salah (Geoffrey Leech (terjemahan). ia juga menindakkan sesuatu. 3. dan Perlokusi Austin (1962) dalam How to do Things with Words mengemukakan bahwa mengujarkan sebuah kalimat tertentu dapat dipandang sebagai melakukan tindakan (act). 1993: 316). Perlokusi mengacu ke efek yang ditimbulkan oleh ujaran yang dihasilkan oleh P. apabila seorang penutur (selanjutnya disingkat P) Jawa mengujarkan ³Aku ngelak´ dalam tindak lokusi kita akan mengartikan ³aku´ sebagai µpronomina persona tunggal¶ (yaitu si P) dan ³ngelak´ mengacu ke µtenggorokan kering dan perlu dibasahi¶. Di dalam mengatakan suatu kalimat. Dengan pengucapan kalimat Arep ngombe apa? si pembicara tidak semata-mata menanyakan atau meminta jawaban tertentu. 1989: 212-213).. antara lain. 1984: 2001). Di dalam pengucapan kalimat ia juga ³menindakkan´ sesuatu.(Kridalaksana. di samping memang mengucapkan kalimat tersebut. ilokusi. 1984: 154) Speech act: an utterance as a functional unit in communication (Richards et al.

dan menantang. mengucapkan terima kasih. dan mengeluh. melarang. memohon.3 TT Langsung vs TT Tidak Langsung Dari sembilan bentuk ujaran tersebut diperoleh sembilan TT yang berbeda-beda derajat kelangsungannya dalam menyampaikan maksud µmenyuruh memindahkan meja¶ itu. dan Deklaratif Searle (1975) mengembangkan teori TT dan membaginya menjadi lima jenis TT (dalam Ibrahim. misalnya berjanji dan bersumpah. Direktif. dan sebaliknya. 1993: 11-54). Pada bagian terdahulu telah disinggung bahwa di dalam komunikasi satu fungsi dapat dinyatakan atau diutarakan melalui berbagai bentuk ujaran. misalnya memutuskan. Hal ini berkaitan dengan tindak tutur langsung (TT-L) dan tindak tutur tidak langsung (TT-TL). (9) Isyarat halus : Kamar iki kok katone sesak ngono ya? 3. menuntut. dan sebagainya) yang baru. dan menyebutkan. kamar iki katon rupek. misalnya. (4) Pernyataan keharusan : Sliramu kudu mindhahke meja iki! (5) Pernyataan keinginan : Aku kepengin meja iki dipindhah. menyarankan. Derajat kelangsungan dapat pula diukur berdasarkan kejelasan pragmatisnya: makin jelas maksud ujaran makin langsunglah ujaran itu.mengambilkan air minum untuk P sebagai akibat dari TT itu maka di sini dapat dikatakan terjadi tindak perlokusi. mengizinkan. (4) TT komisif adalah TT yang mengikat P-nya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam ujarannya. dan memberi maaf. mengritik. misalnya menyatakan. (2) TT direktif yaitu TT yang dilakukan P-nya dengan maksud agar si pendengar atau MT melakukan tindakan yang disebutkan di dalam ujaran itu. Derajat kelangsungan TT dapat diukur berdasarkan ³jarak tempuh´ antara titik ilokusi ( di benak P) ke titik tujuan ilokusi (di benak MT). keadaan. Ekspresif. misalnya memuji. yang paling samar-samar maksudnya ialah bentuk ujaran (9). membatalkan. menurut Blum-Kulka (1987) (lihat Gunarwan. (5) TT deklaratif merupakan TT yang dilakukan P dengan maksud untuk menciptakan hal (status. Komisif. melaporkan. menunjukkan. (3) TT ekspresif ialah TT yang dilakukan dengan maksud agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi mengenai hal yang disebutkan di dalam ujaran itu. misalnya menyuruh. 3. Untuk maksud atau fungsi ³menyuruh´. 1993: dapat diungkapkan dengan menggunakan berbagai ujaran sebagai berikut. (1) Kalimat bermodus imperatif : Pindhahen meja iki! (2) Performatif eksplisit : Dakjaluk sliramu mindhahke meja iki! (3) Performatif berpagar : Aku jan-jane arep njaluk tulung sliramu mindhahke meja iki. Dari kesembilan bentuk ujaran tersebut. Kelima TT itu sebagai berikut: (1) TT representatif yaitu TT yang mengikat P-nya kepada kebenaran atas apa yang dikatakannya. (6) Rumusan saran : Piye yen meja iki dipindhah? (7) Persiapan pertanyaan : Kowe bisa mindhah meja iki? (8) Isyarat kuat : Yen meja iki ana ing kene. berupa isyarat halus.2 TT Representatif. Karena kata ³meja´ sama sekali tidak disebutkan .

Misalnya: n mengatakan kepada t bahwa X. P dapat juga menggunakan tindak tutur harafiah (TT-H) atau tindak tutur tidak harafiah (TT-TH) di dalam mengutarakan maksudnya. Jika kedua hal itu. Dalam mengatakan X. misalnya diucapkan oleh dokter gigi kepada pasiennya. berdasarkan uraian dan contoh-contoh di atas dapat dicatat ada delapan TT sebagai berikut (bandingkan Wijana. (Dilakukan dengan mengatakan sesuatu. Kesulitan dalam definisi ini muncul dari . (1) Tindak tutur langsung (TT-L) (2) Tindak tutur tidak langsung (TT-TL) (3) Tindak tutur harafiah (TT-H) (4) Tindak tutur tidak harafiah (TT-TH) (5) Tindak tutur langsung harafiah (TT-LH) (6) Tindak tutur tidak langsung harafiah (TT-TLH) (7) Tindak tutur langsung tidak harafiah (TT-LTH)\ (8) Tindak tutur tidak langsung tidak harafiah (TT-TLTH) Apabila seseorang menggunakan bahasa. (2) TT-LTH : ³Tutup mulut´. berjanji. Ini merupakan aspek bahasa yang merupakan pokok penekanan linguistik tradisional). Contoh-contoh yang sesuai adalah meyakinkan. Sebagian verba yang digunakan untuk melabel tindak ilokusi bisa digunakan secara performatif. menolak. n menegaskan (asserts) bahwa P.oleh P dalam ujaran (9). misalnya diucapkan oleh seseorang yang jengkel kepada MT-nya yang selalu ³cerewet´. Dengan demikian. (4) TT-TLTH : ³Untuk menjaga rahasia. secara ringkas. misalnya diucapkan oleh P yang mengajak MTnya untuk tidak membuka rahasia. misalnya diucapkan oleh dokter gigi kepada pasien yang masih kecil agar anak itu tidak takut. n meyakinkan (convinces) t bahwa P. suruhan (request) memiliki kekuatan esensial untuk membuat pendengar melakukan sesuatu. Hal ini sejalan dengan pendapat Austin (1962) yang melihat adanya tiga jenis tindak ujar. ilokusi. 1996: 36). Persuasi merupakan tindak perlokusi: orang tidak dapat mempersuai seseorang tentang sesuatu hanya dengan mengatakan Saya mempersuasi anda. (Menghasilkan efek tertentu pada pendengar. maka ada 3 jenis tindakan atau tindak tutur (selanjutnya disingkat TT). dan mencakup tindaktindak seperti bertaruh. lebih baik jika kita semua sepakat menutup mulut kita masing-masing´. Dengan demikian mengatakan Saya menolak bahwa X sama halnya menolak bahwa X. kelangsungan dan keharafiahan ujaran. Ilokusi 3. yaitu tindak lokusi (melakukan tindakan mengatakan sesuatu). dan memesan. Lokusi 2.) Dengan mengatakan X. menakutnakuti. Selain TT-L dan TT-TL. (merupakan tindak mengatakan sesuatu: menghasilkan serangkaian bunyi yang berarti sesuatu. dan tindak perlokusi (melakukan tindakan dengan mengatakan sesuatu). Misalnya. Perlokusi Perbedaan kekuatan antara perlokusi dan ilokusi tidak selalu jelas. digabungkan maka akan didapatkan empat macam ujaran. tindak ilokusi (melakukan tidakan dalam mengatakan sesuatu). melukai. yaitu: (1) TT-LH : ³Buka mulut´. dan membuat tertawa) 1. (3) TT-TLH : ³Bagaimana kalau mulutnya dibuka?´. dan perlokusi. maka MT harus mencari-cari konteks yang relevan untuk dapat menangkap maksud P. yaitu lokusi.

mis. Kesulitan itu juga muncul dari dasar definisi maksud penutur. yaitu kalimat berita (deklaratif). kalimat tanya (interogatif). 2. memperingatkan. Misalnya: Dia sakit. atau mempengaruhi orang lain (perlocutionary speech act) Misalnya: Tempat itu jauh.´ C. Misalnya: Saya berjanji. (minta maaf) Kula nyuwun sekilo. perintah biasa dan TT langsung (direct speech) TT langsung (direct speech) Berdasarkan mudusnya. Informasi Tanya Di mana handuk saya? ya. Misalnya: . bertanya (illocutionary speech act). kalimat atau tuturan dapat dibedakan menjadi tuturan langsung dan tutran tidak langsung. di mana. 1993: 115).) TT langsung (direct speech) Perintah Pergi! larangan. mengandung pesan. dll. siapa. Tempat itu jauh. Tindak tutur langsung-tidak langsung dan literal-tidak literal Berdasarkan isi kalimat atau tuturannya. 1. TT lokusi: Austin. ke mana. (membeli) Temboknya dicat! (jangan dekat tembok itu) Adoh lho le! (jangan ke sana) 3. yang merupakan keadaan psikologis yang tidak bisa diobservasi (lihat Abd. Searle. metapesan µJangan pergi ke metapesan (Dalam pikiran sana!¶ mitratutur ada keputusan) ³Saya tidak akan pergi ke sana. Wacana-wacana ilmiah yang tidak menekankan emosi termasuk TT lokusi. kalimat dapat dibedakan menjadi 3 macam. dan kalimat perintah (imperatif). TT ini sangat sedikit peranannya dalam pragmatik. TT perlokusi: Austin. Lokusi Tempat itu jauh. Kaki manusia dua. intonasi) informasi (apa. hal mengungkapkan sesuatu atau menyatakan sesuatu (locutionary speech act). dsb.urutan tindakan yang banyak diabaikan oleh teori tindak tutur. Tempat itu jauh Lokusi Perlokusi Tempat itu jauh. kapan. ajakan. untuk apa. perbuatan yang dilakukan dalam mengujarkan sesuatu atau melakukan sesuatu. perbuatan yang dilakukan dengan mengujarkan sesuatu. Pohon punya daun. tidak (apa. Searle. Syukur Ibrahim. Berita Adiknya sakit. TT ilokusi: Austin. perbuatan bertutur. Ibunya di rumah! (bisa bermaksud melarang datang menemui anaknya) Bapaknya galak! (bisa melarang jangan ke sana) Saya tidak dapat datang. membuat orang lain percaya akan sesuatu dengan mendesak orang lain untuk berbuat sesuatu.

tidak langsung. 3. literal. Tuturan tidak literal: tuturan yang tidak sesuai dengan maksud dalam tulisan/tuturan. betul-betul kurang keras keraskan radionya! suara radionya keras sekali. 2. [Tuturan tidak langsung] A: Gulanya habis. TT tidak langsung tidak literal Misalnya. Rumahnya jauh. matikan! Radione banter. TT langsung tidak literal 8. TT tidak langsung literal 7. TT tidak langsung 3. 1. 8. 4. dan tidak literal) apabila disinggungkan (diinterseksikan) dapat dibedakan menjadi 8 macam seperti sebagai berikut. Misalnya.[Tuturan langsung] A: Minta uang untuk membeli gula! B: Ini. TT langsung literal 6. TT tidak literal 5. Masing-masing tindak tutur (langsung. 1. yang bagus dikatakan jelek (hal ini disebut banter [bEnte]). 2. TT langsung TT tidak langsung TT literal TT tidak literal TT langsung literal TT tidak langsung literal TT langsung tidak literal TT tidak langsung tidak literal betul-betul kurang keras. kalimat Radione kurang banter. 6. TT literal 4. B: Ini uangnya. 2. Buka mulutnya! (makna lugas: buka). suara radionya keras sekali. sehingga merupakan TT tidak langsung (indirect speech). (ada maksud: jangan ribut atau tengoklah!) Berdasarkan keliteralannya. nyah. Misalnya. keraskan radionya! betul-betul kurang keras. Buka mulutnya! (makna tidak lugas: tutup). 1. 5. tuturan dapat dibedakan menjadi tuturan literal dan tuturan tidal literal. (ada maksud: jangan pergi ke sana). 7. Misalnya: 1. Adiknya sakit. kurang . Hal ini merupakan sesuatu yang penting dalam kajian pragmatik. Hal ini disebut juga µnglulu¶ Dalan bahasa kadang-kadang terjadi. TT langsung 2. Beli sana! Kadang-kadang secara pragmatis kalimat berita dan tanya digunakan untuk memerintah. Tuturan literal: tuturan yang sesuai dengan maksud atau modusnya. yang jelek dikatakan bagus (disebut µironi¶).

berbicara secara wajar (termasuk volume suara yang wajar).PRINSIP KERJA SAMA (Cooperative Principle) Sebelum belajar tentang µprinsip kerja sama¶. jangan mengatakan sesuatu yang tidak perlu. Prinsip kerja sama ini terealisasi dalam berbagai kaidah percakapan. Secara lebih rinci. tidak berlebihan. dan bandingkan pula Wijana. Tanpa adanya prinsip kerja sama komunikasi akan terganggu. Hanya saja dalam pragmatik terdapat penyimpangan-penyimpangan. Bicaralah seperlunya saja. ada maksud-maksud tertentu. antara P dengan MT harus saling menjaga prinsip kerja sama (cooperative principle) agar proses komunikasi berjalan dengan lancar. Keempat maksim percakapan itu ialah sebagai berikut. Grice menjabarkan prinsip kerja sama itu menjadi empat maksim percakapan (periksa Gunarwan. 1993: 11. sehingga orang lain bisa mengetahui maksudnya. Berikan informasi Anda secukupnya atau sejumlah yang diperlukan oleh MT. 1996: 46-53). Dengan adanya 2 tujuan ini. ringkas. kita perlu belajar tentang µasumsi pragmatik¶. tetapi ia harus bertanggung jawab atas penyimpangan itu. Mereka harus bekerja sama. Selanjutnya orang lain diharapkan menangkap apa (hal) yang dikemukakan. 1993: 73. Kalau orang berbicara kepada orang lain pasti ingin mengemukakan sesuatu. Lubis. tidak berbelit-belit. b. maka orang akan berbicara sejelas mungkin. (1) Maksim kuantitas: a. Contoh: kikir : q2r berdua satu tujuan : ber-217-an tekate dhewe : TKTDW kutujukan : ku¥49kan wawan : wa-one prawan ayu : pra one are you kian maju : q-an maju lali main : la5in dik daniel : dick&niel kaki lima : kq lima thank before : thx b4 aku : aq kamu :u sama-sama := yang : y9 sayang : sy9 anti gadis : an3dis dan :n Di dalam berkomunikasi. .

Misalnya: Ibu kota Provinsi Jawa Timur Surabaya. Katakan yang relevan. (Secara kuantitas cukup jelas). maka dalam komunikasi harus memenuhi prinsip (maksim). di antara empat maksim itu. b. Asumsi pragmatik ini merupakan titik acuan (point of reference). Jangan katakan sesuatu yang Anda tahu bahwa sesuatu itu tidak benar. bagi pengamat pragmatik. Untuk memenuhi komunikasi secara wajar dan terjadi kerja sama yang baik. (3) Maksim relevansi: a.(2) Maksim kualitas: a. justeru pelanggaran-pelanggaran itulah yang menarik untuk dikaji: mengapa P melakukan pelanggaran terhadap maksim tertentu. lalu murid menjawab «. Kalau lebih berarti ada tujuannya. Katakanlah hal yang sebenarnya. sistematis. Jangan katakan sesuatu tanpa bukti yang cukup. Bicaralah secara singkat. tetapi apabila ada tuturan *Buku itu dibuat dari nasi. b. (4) Maksim cara: a. Akan tetapi. baya. d. Misalnya: Buku itu dibuat dari kertas. Hindari kekaburanan ujaran. Sejauh mana asumsi ini benar juga masih memerlukan pengkajian secara pragmatis. bukti tidak memadai. sedangkan dalam gramatika/ tatabahasa diatur oleh kaidah (rule governed). Maksim kualitas Prinsip yang menghendaki orang-orang berbicara berdasarkan bukti-bukti yang memadai. maksim ketiga atau maksim relevansilah yang paling penting sebab betapa pun informasi yang kita sampaikan itu cukup serta disampaikan dengan cara yang jelas. e. Misalnya: A : Ini jam berapa? . mengapa P yang bermaksud meminjam uang atau memerlukan bantuan kepada MT biasanya diawali dengan menceritakan secara panjang lebar keadaan dirinya seraya disertai dengan janji-janji? Apakah itu berlaku secara universal? Bukankah tindakan tersebut melanggar maksim kuantitas? Pada hemat saya. Bukti cukup memadai. Hindari ketaksaan. kalau informasi itu tidak relevan dengan permasalahan toh tidak akan membawa manfaat. 3. Maksim kuantitas Berbicara sejumlah yang dibutuhkan oleh pendengar. Katakan dengan jelas. c. Dalam kaitannya dengan maksim kualitas. terdapat penyimpangan maksim. Maksim relevansi Penutur dan mitra tutur berbicara secara relevan berdasarkan konteks pembicaraan. misalnya Modal saja tidak bisa dan Untung saja tidak dapat. Terdapat beberapa asumsi pragmatik. Dalam pragmatik dikontrol oleh maksim (principle controlled). Kenyataan membuktikan.. yaitu: 1. dan tidak ambigu. 2. tidak bertele-tele. Bicaralah sesuai dengan permasalahan. Berkatalah secara sistematis. Ibu kota Provinsi Jawa Timur Sura «« Tuturan ini disampaikan oleh guru. di dalam percakapan sehari-hari tidak jarang kita temukan praktikpraktik pelanggaran terhadap maksim-maksim Grice tersebut. c. ada maksud apa di balik pelanggaran maksim tersebut? Misalnya. b.

tuturan asertif. Keempat prinsip tersebut di atas termasuk pada jenis µretorika tekstual¶ sebab dalam pragmatik dikenal adanya retorika tekstual dan retorika interpersonal. Swear. Akan menjadi tidak relevan misalnya apabila B menjawab Ini baju kamu atau Di sana. A B : Ini Tanah Abang. perlu mengingat kembali dari adanya kategori sintaktik yang terdiri dari berita. 4. Tuturan asertif: menyatakan sesuatu (objektif). 1. Misalnya: A : Kamu penjahat kelas kakap. Misalnya: Apakah Anda bisa menolong saya. Dalam kaitannya dengan kategori pragmatik ini ada tuturan komisif. Maksim cara Tuturan harus dikomunikasikan secara wajar. 2. Sedangkan retorika interpersonal harus memperhitungkan orang lain. Jadi tidak hanya bersifat tekstual. tuturan impositif (direktif). maksim relevansi. berikut ini inti 6 prinsip kesopanan menurut Leech. dan perintah. . Tetapi kadang-kadang dalam tuturan yang wajar terjadi dis-ambiguasi (pengawaambiguan). Retorika interpersonal membutuhkan prinsip kesopanan (politeness principle). ya? B : Bukan. Sebelum sampai pada prinsip kesopanan. Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS memiliki 8 jurusan. Tuturan impositif (direktif): menyuruh. tidak terbalik (harus runtut). dia sering tampil di TVRI. Misalnya: Gedung itu indah sekali. ya? : Jangan menghina. menawarkan. Boleh saya bawakan? Saya akan setia. Gadis itu cantik sekali. Yang diperhatikan adalah tuturan. Misalnya: Bali terletak di sebelah timur Pulau Jawa. maksim kualitas. tidak boleh ambigu (taksa). Retorika tekstual harus memenuhi 4 prinsip (maksim) kerja sama. tuturan ekspresif. mujair. Selanjutnya agar memenuhi prinsip (maksim) kesopanan. B : Benar. memerintah. Saya akan datang (ada efek yang lain untuk memerintah) 3. sehingga kata-kata yang ambigu itu hanya satu makna. 4. Kadang-kadang sulit dibedakan antara tuturan asertif dengan ekspresif. Dalam kategori pragmatik didasarkan pada fungsi komunikatifnya. Misalnya: A : Dia penyanyi solo. Tuturan ekspresif: menyatakan perasaan (emosi). masak saya miskin seperti ini punya tanah. Ada 6 macam prinsip agar memenuhi prinsip kesopanan. Misalnya: Saya akan datang. Tuturan komisif: berjanji.B : Ini jam 3. memohon. dan maksim cara. tanya. yaitu maksim kuantitas.

Maksim kerendahhatian (modesty maxim). ning emane cedhak pabrik. Pekarangane jembar. Maksim penerimaan (approbation maxim). nanging emane akeh sukete. Apakah Anda bersedia membawakan? Bawakan ini! (tidak sopan) Mari saya antarkan! Tolong saya dihantarkan! 3. A : Omah kuwi apik banget. Misalnya: Ada yang bisa saya bantu? A : Mari saya bawakan! B : Tidak usah. Ditujukan untuk menyatakan pendapat dan ekspresif. Maksim penerimaan ini ditujukan untuk menawarkan dan berjanji. Maksim kebijaksanaan/kedermawanan. Misalnya: A : Omah kuwi apik. Misalnya: A : Kau sangat pandai. = memaksimalkan kerugian diri sendiri. B : Iya. bukan pada orang lain (self centred maxim). meminimalkan keuntungan diri sendiri. (Ketidaksetujuan total / tidak sopan) A B : Wah. = memaksimalkan rasa hormat pada orang lain. 4. B : Ah tidak. = meminimalkan rasa hormat pada diri sendiri dan memaksimalkan rasa tidak hormat pada diri sendiri.1. Ditujukan pada diri sendiri. Misalnya: Omahmu jane apik. begini saja kok bagus. 2. ning rada «. Maksim kemurahhatian (generosity maxim). Pusatnya pada diri sendiri (self centred maxim). meminimalkan rasa tidak hormat pada orang lain. = memaksimalkan keuntungan orang lain. = memaksimalkan kesetujuan pada orang lain dan meminimalkan ketidaksetujuan pada orang lain. Ditujukan pada orang lain (other centred maxim). . biasa-biasa saja. Tuturan A dan B disebut pragmatik paradoks. ayu banget ya dheweke? : Iya. B : Wah elek banget ngono kok. komisif). A B : Mobilnya bagus! : Ah. (kera). 5. Pusatnya orang lain (other centred maxim) Maksim ini ditujukan untuk kategori asertif dan ekspresif. Jenis maksim ini untuk berjanji dan menawarkan (impositif. apik banget. meminimalkan kerugian orang lain. Misalnya: Bolehkah saya bantu? Mari saya bantu. Pusatnya pada orang lain (other centred maxim). tact maxim. Maksim kesetujuan atau kecocokan (agreement maxim).

perkembangannya. melebihi kajian tentang makna yang diujarkan. dan mengabaikan unsur pengguna bahasa. makna yang dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantik. studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya. Yule (1996: 3). menunjukkan pentingnya pragmatik. dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara. (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya. menjelaskan secara singkat topik-topik bahasannya. Pendahuluan Dalam jangka yang cukup lama. Sebagai tataran terbaru dalam linguistik. Pusatnya orang lain (other centred maxim). dan. 2. Meskipun memiliki fokus kajian yang serupa dengan semantik. Jon. . B : Selamat. LINGUISTIK: PRAGMATIK May 30. yaitu dengan menurunkan sistem yang terdapat dalam matematika dan logika. Definisi Pragmatik Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. Untuk tujuan tersebut. menyebutkan empat definisi pragmatik. Misalnya: A : Saya lolos di UMPTN. Pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. dengan melihat perbedaan kajiannya dengan bidang lain dalam linguistik. : Oh. seperti akan saya jelaskan kemudian. = memaksimalkan simpati pada orang lain dan meminimalkan antipati pada orang lain. A B : Baru-baru ini dia telah meninggal. (3) bidang yang. saya turut berduka cita. Ditujukan untuk menyatakan asertif dan ekspresif. ya.(Ketidaksetujuan parsial / sopan) 6. yaitu makna. yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara. Maksim kesimpatian (symphaty maxim). 2010 ramlannarie bahasa indonesia Leave a comment Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik? 1. seperti diungkap oleh Yule (1996: 6). misalnya. Makalah ini bertujuan menjelaskan pentingnya bidang pragmatik untuk dipelajari dalam program studi linguistik. saya mengawali makalah ini dengan pembahasan mengenai pengertian pragmatik.

adalah tradisi filsafat. melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. keapikan sintaksis (well-formedness) bukanlah segalanya. dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran. 3. termasuk penggunaannya. Jerman. komunikasi tetap dapat berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak apik secara sintaksis (ill-formed). Ludwig Wittgenstein. mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction). Dalam etnometodologi. Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross. dengan menggunakan sudut pandang kognitif. Searle. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme. Selanjutnya Thomas (1995: 22). yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik.Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian. Kecenderungan kedua. Tradisi yang ketiga. seperti sering kita jumpai. . dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)). yaitu bahwa dalam kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis. dan terutama John L. Searle. yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik. seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5). Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi. dan semantik bersifat periferal. atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi. dan bahwa fonologi. seperti dikutip Gunarwan (2004: 7). Para pakar tersebut mengkaji bahasa. mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi. dan Grice. bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6). misalnya Austin. yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme. muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan. Leech (1983: 2). tepatnya di Britania. dan komplementarisme. (3) tradisi filsafat. kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi. bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya. (2) kecenderungan sosial-kritis. Kecenderungan yang pertama. menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). sebab. bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri. dan kedua. bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6). Perkembangan Pragmatik Mey (1998). menolak pandangan sintaksisme Chomsky. yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross. yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa. pertama. Menurut Lakoff dan Ross. sosial. morfologi. dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik. pragmatisisme. dan (4) tradisi etnometodologi. yang tumbuh di Eropa. Austin dan John R. dalam kaitannya dengan logika. Dengan kata lain. menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning). yang dipelopori oleh Bertrand Russell. dengan menggunakan sudut pandang sosial.

yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech-act). seperti Russel dan Moore. Melalui hipotesis performatifnya.4. Sebab. yaitu. How to Do Things with Words. Austin berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements). Contoh. seperti juga ditekankan lebih lanjut oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). pragmatik kognitif (Sperber dan Wilson). Austin (dalam Thomas 1995: 31) berpendapat bahwa salah satu cara untuk membuat pembedaan yang baik bukanlah menurut kadar benar atau salahnya. kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar karena sesuai dengan kenyataan. sebagai bagian dari performatif (Austin 1962: 52 dan Thomas 1995: 49). Searle. Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics (Thomas 1995: 30). saya nikahkan kalian (performatif) (4) Rumah Joni terbakar (konstatif) Selanjutnya Austin. dan Grice). (1) Ada enam kata dalam kalimat ini (2) Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono Dari contoh di atas. dan bahwa pernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris. Beberapa Topik Pembahasan dalam Pragmatik 4.1 Teori Tindak-Tutur Melalui bukunya. seperti dikutip oleh Thomas (1995: 29-30). Contoh. memasukkan ujaran konstatif. yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi dan ketaksaan. sejak itu bidang kajian ini telah berkembang jauh. bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis. dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin ini mengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition). seperti diungkap oleh Marmaridou (2000: 1 (dalam Gunarwan 2004: 8)). Austin dapat dianggap sebagai pemicu minat yang paling utama dalam kajian pragmatik. Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Gunarwan 2004: 8). pragmatik neo-Gricean (Cole). Austin. . karena memiliki struktur dalam yang mengandungi makna performatif. melainkan melalui bagaimana bahasa dipakai sehari-hari. melainkan juga melakukan sesuatu (perform actions). Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. Dalam contoh (4). sesuai contoh di atas. dan pragmatik interaktif (Thomas). yaitu pragmatik filosofis (Austin. (3) Dengan ini. struktur dalam ujaran tersebut dapat saja berbunyi Saya katakan bahwa rumah Joni terbakar. sehingga kita dapat melihat sejumlah kecenderungan dalam pragmatik.

dan (4) bidal cara (manner maxim). Dalam direct speeh-act terdapat hubungan langsung antara struktur kalimat dengan fungsinya.2 Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle) Grice mengemukakan bahwa percakapan yang terjadi di dalam anggota masyarakat dilandasi oleh sebuah prinsip dasar. 4. Kerja sama yang terjalin dalam komunikasi ini terwujud dalam empat bidal (maxim). yaitu asertif (assertive). menyatakan hanya yang menurut kita benar atau cukup bukti kebenarannya. 4. menyebut dua macam implikatur. Berkaitan dengan prinsip kerja sama Grice di atas. ekspresif (expressive). komisif merupakan tindak-tutur yang digunakan pembicaranya untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukannya. sedangkan dalam indirect speech-act hubungannya tidak langsung atau menggunakan (bentuk) tindak-tutur lain (Gunarwan 2004: 9. ekspresif merupakan tindak-tutur yang menyatakan perasaan pembicaranya. komisif (comissive). dan deklarasi (declaration) (Littlejohn 2002: 80. seperti dikembangkan lebih jauh oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). Asertif atau representatif merupakan tindak-tutur yang menyatakan tentang sesuatu yang dipercayai pembicaranya benar. direktif merupakan tindaktutur yang menghendaki pendengarnya melakukan sesuatu. Tindak-tutur. menghindari ketidakjelasan pengungkapan. direktif (directive). . dapat dicontohkan dengan penggunaan kata bahkan. dan deklarasi merupakan tindak-tutur yang mengubah status sesuatu. menghindari ketaksaan. yaitu (1) bidal kuantitas (quantity maxim). misalnya untuk memberikan informasi secara tersirat (implicature) dan menjaga muka lawan bicara (politeness).3 Implikatur (Implicature) Grice. (3) bidal relasi (relation maxim). memberi sumbangan informasi yang relevan. yaitu prinsip kerja sama (cooperative principle) (Yule 1996: 36-37 dan Thomas 1995: 61). Contoh. ujaran yang mengandung implikatur jenis ini. Selain itu. memberi informasi sesuai yang diminta. pada kenyataannya. Implikatur konvensional merupakan implikatur yang dihasilkan dari penalaran logika. seperti diungkap oleh Thomas (1995: 57). Searle juga menyebut lima jenis fungsi tindak-tutur. dan Yule 1996: 5455). mengungkapkan secara beraturan (Gunarwan 2004: 11 dan Thomas 1995: 63-64). (2) bidal kualitas (quality maxim). didasarkan atas beberapa alasan. yaitu implikatur konvensional dan implikatur konversasional. Implikatur konversasional merupakan implikatur yang dihasilkan karena tuntutan konteks tertentu (Thomas 1995: 58). dan Yule 1996: 53-54). dapat berupa tindak-tutur langsung (direct speech-act) dan tindak-tutur tidak langsung (indirect speech-act). seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 1214).Tindakan yang dihasilkan dengan ujaran ini mengandung tiga tindakan lain yang berhubungan. dalam komunikasi kadang kita tidak mematuhi prinsip tersebut. dan perlokusi (perlocutionary act) (Yule 1996: 48). ilokusi (illocutionary act). mengungkapkan secara singkat. Hal ini. Tindak lokusioner berkaitan dengan produksi ujaran yang bermakna. dan tindak perlokusioner berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan (Thomas 1995: 49). seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 14). yaitu lokusi (locutionary act). tindak ilokusioner terutama berkaitan dengan intensi atau maksud pembicara.

tahapan yang harus dilewati untuk memahami implikatur dalam percakapan.4 Teori Relevansi Teori relevansi yang dikembangkan oleh Sperber dan Wilson merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. misalnya untuk ke kamar mandi. . ujaran merupakan sebentuk tindakan dari komunikasi ostensif. dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini. Dengan kata lain. yaitu tidak perlu mengunci pintu jika keluar dalam batasan waktu dan situasi yang diperkirakan cukup aman.(5) Bahkan Bapak Menteri Agama menghadiri sunatan anak saya (6) Saya kebetulan ke Inggris untuk studi selama dua tahun dan berangkat besok Contoh (5) di atas merupakan implikatur konvensional yang berarti Bapak Menteri Agama biasanya tidak menghadiri acara sunatan. untuk menjelaskan cara sebuah pesan dipahami penerimanya. bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi. kedua. Dalam teori relevansi dipelajari bagaimana sebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya. Sperber dan Wilson (1995). Sperber dan Wilson (1995). Menurut mereka. pesan ini berada dalam spesifikasi tertentu yang disepakati oleh addresser dan addressee dalam konteks komunikasi. pengirim pesan dapat memperkirakan reaksi penerima pesan terhadap pesan yang disampaikannya. implikatur dapat dibedakan menjadi implikatur khusus dan implikatur umum. Contoh. yaitu: pertama. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). Contoh yang ditulis Renkema (2004: 23) di bawah ini memberikan gambaran yang cukup jelas. sedangkan yang kedua tidak. misalnya contoh (6) di atas. komunikasi tidak hanya memasukkan apa yang ada dalam pikiran pengirim pesan ke dalam pikiran penerima pesan. penerima pesan (addressee) hanya memilih sesuatu yang dianggapnya relevan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan (addresser) dalam konteks komunikasi tertentu. namun mencakup perluasan wilayah kognitif (cognitive environment) kedua belah pihak. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). bukan untuk setiap kali meninggalkan ruangan. misalnya contoh (5) di atas. dan ketiga. menyebutkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (language in use) selalu dapat diidentifikasi melalui hal yang disebutnya indeterminacy atau underspecification. menurut Gazdar. Melalui hal tersebut. Misalnya pada contoh (7) di atas. 4. sedangkan contoh (6) merupakan implikatur konversasional yang bermakna µtidak¶ dan merupakan jawaban atas pertanyaan maukah Anda menghadiri selamatan sunatan anak saya? Berbeda dengan Grice. dengan menggunakan prinsip kerja sama Grice. Setiap pembaca dapat memahami bahwa pesan ini hanya berlaku jika ia akan meninggalkan ruangan tersebut untuk terakhir kalinya. menetapkan tiga macam hubungan antara cue dan implicature. explicature atau degree of relevance. misalnya tindakan untuk membuat sesuatu menjadi jelas dan dapat dimengerti oleh penerima pesan. Yang pertama ada karena konteks ujaran. Selanjutnya. (7) Pastikan semua pintu terkunci jika meninggalkan ruangan ini.

Dalam hal ini. If you buy ticket when you turn up. jarak sosial atau social distance (D) antara pembicara dengan lawan bicaranya. boleh tanya? . yaitu: pertama. Brown dan Levinson (1978) membangun teori tentang hubungan intensitas FTA dengan kesantunan yang terrealisasi dalam bahasa (Renkema 2004: 25). when do you want to go? B: At the weekend.5 Kesantunan (Politeness) Konsep strategi kesantunan yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson diadaptasi dari konsep face yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog bernama Erving Goffman (1956) (Renkema 2004: 24-25). Pak. (9) a. Begitu juga A. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 25). yang dikutip oleh Jaszczolt (2002: 318). tingkat gangguan atau rate of imposition (R). kedua. dan ketiga. B mengira A mengerti bahwa at the weekend berarti next weekend. Menurut Goffman (1956). A: What weekend? B: Next weekend. you have booked seat which costs 60 euros. 4. Berdasarkan konsep face yang dikemukakan oleh Goffman ini. pemahaman penerima pesan terhadap apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan terjadi melalui beberapa tahapan. Intensitas FTA diekspresikan dengan bobot atau weight (W) yang mencakup tiga parameter sosial. misalnya permintaan ³May I borrow your car?´ mempunyai bobot yang berbeda dengan permintaan ³May I borrow your pen?´. dalam pengertian degree of relevance. sedangkan yang kedua disebut negative face. berkenaan dengan bobot mutlak (absolute weight) tindakan tertentu dalam kebudayaan tertentu. harga diri (self-esteem). Menurut Goffman (1967: 5). Kebutuhan yang pertama disebut positive face. there is a shuttle service sixty euros one-way. padahal A harus memastikan dengan jelas setiap pemesanan pembelian tiket. it costs 50 euros. ujaran at the weekend. sedangkan that might be cheaper merupakan ujaran yang relevansinya lebih baik. Dengan kata lain. How does it works? You just turn up for the shuttle service? A: That might be cheaper. ia mengandaikan B dapat mengerti bahwa that migh be cheaper dapat berarti If you purchase a ticket now. karena semakin tinggi contextual effect maka semakin rendah ia membutuhkan processing effort. ³face merupakan gambaran citra diri dalam atribut sosial yang telah disepakati´.(8) A: Well. Maaf. Dalam percakapan di atas. Then that¶s fifty. setiap partisipan memiliki dua kebutuhan dalam setiap proses sosial: yaitu kebutuhan untuk diapresiasi dan kebutuhan untuk bebas (tidak terganggu). misalnya bobot kedua permintaan di atas tidak terlalu besar jika kedua ungkapan tersebut ditujukan kepada saudara sendiri. dan citra diri di depan umum (public self-image). face dapat diartikan kehormatan. Dalam percakapan tersebut. Contoh. merupakan ujaran yang relevansinya rendah dan membutuhkan processing effort yang lebih besar. kekuasaan atau power (P) yang dimiliki lawan bicara (Renkema 2004: 26).

lend me a hundred dollars. ditambah bidal pertimbangan (consideration maxim). 5. sedangkan ujaran (9b) mungkin diucapkan kepada orang yang secara sosial jaraknya lebih dekat (9a). Pragmatik dalam Linguistik Seperti telah saya uraikan sedikit dalam sub 3 di atas. Secara umum. dapat dilakukan. semakin besar intensitas FTA mengancam stabilitas komunikasi. dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal. Leech (dalam Eelen 2001: menyebutkan enam bidal kesantunan. Dalam sintaksis. I¶m sorry I have to ask. Brown dan Levinson (1978). sedangkan politeness yang dilakukan untuk tujuan sebaliknya disebut respect politeness. Hey. I¶m out of cash! I forgot to go to the bank today. semakin tinggi resiko kehilangan muka. Numpang tanya. Renkema (2004: 27) memberi contoh strategi tersebut. salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. bidal kerendahhatian (modesty maxim). Dalam hal ini. Politeness. but could you lend me a hundred dollars? (negative polite) e. yaitu bidal kebijaksanaan (tact maxim). (5) a. bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 19). Kelima strategi tersebut diurut berdasarkan tingkat resiko ³kehilangan muka´. sehingga bentuk . Politeness (kesantunan) dalam hal ini dapat dipahami sebagai upaya pencegahan dan atau perbaikan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh FTA. misalnya dengan melakukan tindakan yang tidak kooperatif dalam komunikasi (Renkema 2004: 25). Mas? Dalam contoh di atas terlihat jelas. Dalam hal ini. bidal kedermawanan (generosity maxim). yang bertujuan untuk mendapatkan positive face disebut solidarity politeness. bidal pujian (approbation maxim). misalnya dengan pujian. Hey. maka semakin kecil kemungkinan pembicara melakukan FTA. ujaran (9a) mungkin diucapkan pembicara yang secara sosial lebih rendah dari lawan bicaranya. friend. dan. bidal kesetujuan (aggreement maxim). (off record) Teori kesantunan lain dibahas oleh Leech (1983). maka politeness strategy semakin dibutuhkan. sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya. seperti diungkapkan oleh Renkema (2004: 26). (baldly) b. bidal simpati (sympathy maxim). Oh no. Pakar ini membahas teori kesantunan dalam kerangka retorika interpersonal (Eelen 2001: 6). seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4). dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat banyak cara untuk menghindari FTA yang dapat direduksi menjadi lima macam cara. Berkaitan dengan politeness strategy ini. face work technique. dapat dilakukan.b. could you lend me a hundred bucks? (positive polite) c. misalnya mahasiswa kepada dosen atau yang muda kepada yang tua.

bahwa komunikasi tetap dapat berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis. pertama. makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan. dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi. tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. dan memang sering kita temukan. demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa. dan kedua. dan maksud dari tuturan. sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik. dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. sebab daya mencakup juga makna. bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis. semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis. Dengan demikian. Atas dasar ini. dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya. kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. Namun demikian. dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik. pertama. saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). Kaidah bersifat deskriptif. meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda. Selanjutnya. selain tata bahasa. karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa. meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris. melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya. Dalam kehidupan sehari-hari. yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik. terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. dan kedua. sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis. pembahasan makna dalam semantik belum memadai. absolut atau bersifat mutlak.seperti kucing menyapu halaman. tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis. semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan. Berdasarkan truth conditional semantics. Dengan kata lain. Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada. sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik. sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi. sedangkan . di samping sintaksis dan semantik. yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa. untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa sehari-hari. penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis. Kegunaan pragmatik. Dengan demikian. sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik. untuk dapat dinyatakan benar. misalnya. dalam analisis bahasa. Tentang perbedaan yang pertama. dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan. dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur. bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. semantik terikat pada kaidah (rule-governed). dapat dipahami. Selanjutnya. meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai. makna apa yang dituturkan. Dengan kata lain. bagaimana memahami implikatur percakapan. Lebih tepatnya.

K. Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse. Asim. pragmatik merupakan satu-satunya tataran dalam linguistik yang mengkaji bahasa dengan memperhitungkan juga penggunanya. Dalam pengajaran bahasa asing. Lebih jauh lagi. berkaitan dengan ketidakmampuan sintaksis dan semantik dalam menjelaskan fenomena penggunaan bahasa sehari-hari. dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa. pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya. patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu.prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif.. berkaitan dengan pengajaran bahasa. Oxford: Oxfod University Press.M. dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence). Manchester. 2002. Jaszczolt. 2001. pragmatik berperan dalam pengembangan kompetensi komunikatif. Cambridge: Cambridge University Press. Eelen. Selain itu. . dapat bertentangan dengan prinsip lain. 6. Dalam pengajaran bahasa Indonesia. Penelope. Jerome Publishing Gunarwan. A Critique of Politeness Theories. yaitu bahwa pengetahuan pragmatik. saya melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik setidaknya dalam dua hal. pertama. Berdasarkan penjelasan di atas. John L. dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain. dalam pengajaran bahasa. 1978. 2004. Daftar Acuan Austin. misalnya. How to Do Things with Word (edisi kedua). pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. 1962. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu. Secara umum. dalam arti praktis. kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik. Penutup Seperti telah disebutkan di muka. Politeness: Some Universal in Language Usage. UK: St. bahasa yang digunakan harus baik. karena selain benar. Gino. saya melihat kedudukan semantik dan pragmatik sebagai dua hal yang saling melengkapi. tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa pragmatik penting dipelajari dalam program studi linguistik. kedua. dan Stephen C. Edinburgh: Pearson Education. Brown. Levinson. terdapat keterkaitan. IKIP Singaraja. seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22).

Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. 2004. 1995. Jenny. Oxford University Press. Jan. Introduction to Discourse Studies. George.Renkema. 1996. Pragmatics. Thomas. Yule. Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics. London/New York: Longman. Oxford. ss .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful