P. 1
Report Tutor 2 (Visum)

Report Tutor 2 (Visum)

|Views: 553|Likes:

More info:

Published by: Nur Athirah Baharuddin on May 23, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/03/2012

pdf

text

original

Visum et repertum disingkat VeR adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter dalam ilmu kedokteran forensik

atas permintaan penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap manusia, baik hidup atau mati ataupun bagian atau diduga bagian tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah, untuk kepentingan pro yustisia. Visum et repertum kemudian digunakan bukti yang sah secara hukum mengenai keadaan terakhir korban penganiayaan, pemerkosaan, maupun korban yang berakibat kematian dan dinyatakan oleh dokter setelah memeriksa (korban). Khusus untuk perempuan visum et repertum termasuk juga pernyataan oleh dokter apakah seseorang masih perawan atau tidak. Jenis Visum et repertum A. Untuk orang hidup
y y y

VeR Biasa, perlukaan (termasuk keracunan) VeR Lanjutan, kejahatan susila VeR Sementara, psikiatrik

B. Untuk Orang Mati
y

VeR jenazah

Lima bagian tetap VeR Ada lima bagian tetap dalam laporan Visum et repertum, yaitu:
y

y

y

y

Pro Justisia. Kata ini diletakkan di bagian atas untuk menjelaskan bahwa visum et repertum dibuat untuk tujuan peradilan. VeR tidak memerlukan materai untuk dapat dijadikan sebagai alat bukti di depan sidang pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum[3] . Pendahuluan. Kata pendahuluan sendiri tidak ditulis dalam VeR, melainkan langsung dituliskan berupa kalimat-kalimat di bawah judul. Bagian ini menerangkan penyidik pemintanya berikut nomor dan tanggal, surat permintaannya, tempat dan waktu pemeriksaan, serta identitas korban yang diperiksa. Pemberitaan. Bagian ini berjudul "Hasil Pemeriksaan", berisi semua keterangan pemeriksaan. Temuan hasil pemeriksaan medik bersifat rahasia dan yang tidak berhubungan dengan perkaranya tidak dituangkan dalam bagian pemberitaan dan dianggap tetap sebagai rahasia kedokteran. Kesimpulan. Bagian ini berjudul "kesimpulan" dan berisi pendapat dokter terhadap hasil pemeriksaan, berisikan: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Jenis luka Penyebab luka Sebab kematian Mayat Luka TKP Penggalian jenazah Barang bukti Psikiatrik

y

Penutup. Bagian ini tidak berjudul dan berisikan kalimat baku "Demikianlah visum et repertum ini saya buat dengan sesungguhnya berdasarkan keilmuan saya dan dengan mengingat sumpah sesuai dengan kitab undang-undang hukum acara pidana/KUHAP".
1

Kedua pasal tersebut termasuk dalam alat bukti yang sah sesuai dengan ketentuan dalam KUHAP. Visum et repertum jenazah Visum et repertum psikiatrik 2 . (adopsi: Ordonansi tahun 1937 nomor 350 pasal 1) y y Pasal 186: Keterangan ahli adalah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan . Visum et repertum pada perlukaan Derajat luka luka derajat satu: yang tidak menyebabkan gangguan pada pekerjaan luka derajat dua: yang menyebabkan gangguan sementara pada pekerjaan luka derajat tiga: sesuai definisi luka berat pada KUHP Visum et repertum pada korban kejahatan susila terdapat beberapa luka pada bagian tertentu. biasanya korban akan mengalami depresi atau tekanan jiwa.Dasar hukum Dalam KUHAP pasal 186 dan 187. Pasal 187(c): Surat keterangan dari seorang ahli yang dimuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi daripadanya. dan terdapat beberapa ciri khusus dalam bagian2 tertentu korban.

berisi pendapat dari dokter pemeriksa. selanjutnya pemeriksa ini disebut sebagai ahli . maksud dari pro justitia ini adalah untuk kepentingan pengadilan. berisi laporan tentang hasil pemeriksaan mengenai apa yang di temukan sebagai barang bukti.Berikut ini beberapa arrest mengenai penganiayaan: 1. jadi dengan meletakkan penderitaan tersebut dikehendaki untuk menimbulkan penderitaan dan mengetahui bahwa penderitaan telah ditimbulkan.jika hakim memerlukanya maka hakim harus meminta melalui Jaksa/Penuntut Umum. pembuatan visum harus di mintakan oleh pegawai penyidik(kepolisian) dan harus jelas bagian apa yang harus di periksa (dalam/luar) dengan demikian hanya penyidik yang berhak menentukan jenis pemeriksaan yang harus dilakukan. Arr HR tanggal 11 Nov 1918 dan 11 oktober 1920 :penganiayaan itu adalah meletakkan penderitaan dengan itikad jahat.tentang orang yang tertabrak kendaraan.1937 no. 4. hal ini berkaitan dengan pasal 222 KUHP. 3. y Bentuk dari Visum et Repertum 1. karena sifatnya subjektif. Arr HR tanggal 8 Januari 1918penganiayaan yang mengakibatkan jatuhnya gigi. memuat pemberitaan . Permintaan Pembuatan Visum. luka yang membahayakan jiwa orang. apa yang harus diperiksa.oleh karena itu bagian ini tidak mempunyai kekuatan pembuktian. memuat kesimpulan. 2.mencantumkan bahwa laporan tersebut di buat dengan sejujur-jujurnya dan sebaik-baiknya dengan mengingat sumpah jabatan sebagai mana termasuk dalam Stb. memuat Pro Justitia yang ditulis pada sebelah kiri atas tanpa keharusan untuk memberi materai. 5. dan hakim di perkenankan untuk di hadapkan kepada pemeriksa sebagai ahli untuk dimintai keteranganya dalam persidangan. siapa yang meminta. 4. Pemeriksaan terhadap korban yang mati dilakukan pemeriksaan bagian luar maupun dalam.Visum Et Repertum y y y Definisi : visum et repertum adalah laporan tertulis yang dibuat berdasarkan atas sumpah jabatan yang di ketahui oleh dokter dengan sebaik-baiknya mengenai apa yang dilihat dan di temukan pada korban Objek Pemeriksaan : Pengertian Penganiayaan : dengan sengaja meletakkan penderitaan (leed doer). dan pemeriksa harus melaporkan temuanya se objektif mungkin dengan kata -kata yang baku. Hakim tidak boleh meminta di buatkan Visum. 3. memuat penutup. hal ini dilakukan untuk menjaga bila kemudian hari ada hal yang mencurigakan atas kematianya tidak perlu menggali kuburannya dan memeriksa jenazah yang sudah rusak. serta tempat dan tanggal dilakukan pemeriksaan. Arr HR tanggal 4 Maret 1929. Arr HR tanggal 9 Nov 1891 . 2. memuat pendahuluan:memuat siapa yang melakukan pemeriksaan.namun jarang diterapkan.350 y y Visum et Repertum tidak boleh memasukkan anamnesa (riwayat penyakit korban). Jenis-Jenis Visum et Repertum y y y 3 .

y y y Daya paksa bersifat mutlak => apabila dihadapkan pada ancaman kekerasan yang tidak bisa dihindarkan sehingga tidak bisa berbuat lain daya paksa nisbi=> apabila kekerasan itu tidak bersifat fisik. y Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan visum harus ada permintaan pembuatan visum dari penyidik. visum et Repertum sementara. Visum et Repertum Seketika. bila kemudian korban datang lagi dengan surat permintaan pembuatan visum dair penyidik dan diantar baru dikabulkan visum sesuai dengan keadaan sekarang 6. 3.Untuk hal ini sebaiknya didiskusikan dengan kawan seprofesi untuk menghindarkan tuntutan ganti kerugian bagi orang lain. bahwa yang perlu dirahasiakan hanyalah hal yang memalukan saja sehingga jika ada daya paksa dokter dapat melepaskan rahasia jabatanya dan tidak akan dituntut. dibuat oleh ahli yang lain yang menyebutkan keadaan korban dan akibatnya setelah melalui proses perawatan. 2. 4. di buat pada saat itu tetapi secara keseluruhan pembuatan visum itu belum selesai karena belum bisa mengetahui bagaimana akibat selanjutnya.mewajibkan orang yang bersalah menyebabkan kerugian itu untuk mengganti kerugian kejahatan terhadap tubuh manusia => ditujukan untuk mengganggu kesehatanya dengan cara melakukan perbuatan yang menimbulkan rasa sakit/nyeri. bahwa rahasia kedokteran itu bersifat absolut. dokter boleh menolak apabila ditanyakan mengenai visum atas dasar jabatan rahasia kedokteran => segala sesuatu yang diketahui tentang seorang pasien oleh dokter dalam melakukan pekerjaanya/karena bidangnya sebagai dokter. kewajiban menyimpan rahasia jabatan akan hilang jika orang yang bersangkutan memberikan persetujuanya.karena terhadap orang yang bersalah melakukan pelanggaran hak yang menimbulkan kerugian bagi orang lain.jadi tekanan beruapa psikis. 3. visum et repertum lanjutan. apabila tidakdiantar visum harus ditolak.dokter yang bersangkutan harus menolak. 2. dibuat secara kronologis dalam satu kali pemeriksaan dari awal sampai akhir pada bagian kesimpulan di sebutkan apa yang menjadi penyebabnya. y y y PERANAN VISUM ET REPERTUM PADA TAHAP PENYIDIKAN DALAM MENGUNGKAP TINDAK PIDANA PERKOSAAN (Studi di Kepolisian Resort Kota Malang) A.1. 5. menjaga kerahasiaan visum 1.contohnya :korban yang terkena tusukan benda tajam memerlukan perawatan. korban harus diantar oleh penyidik. 2. bila korban meminta di buatkan visum.sehingga dokter masih mempunyai waktu untuk berpikir atau menghindar sehingga masih dapat memilih apakah mau melakukan pelanggaran hukum atau tidak.karena memungkinkan adanya indikasi pemerasan. Perbedaan pendapat tentang hal yang harus dirahasiakan: 1. y Hubungan rahasia jabatan dengan visum -> keharusan memegang rahasia jabatan diatur dalam pasal 322 KUHP dan berlaku terus sampai yang bersangkutan pensiun . Latar Belakang 4 .

maka dalam proses penyelesaian perkara pidana penegak hukum wajib mengusahakan pengumpulan bukti maupun fakta mengenai perkara pidana yang ditangani dengan selengkap mungkin. mengenai permintaan bantuan tenaga ahli diatur dan disebutkan didalam KUHAP. Mengenai perlunya bantuan seorang ahli dalam memberikan keterangan yang terkait dengan kemampuan dan keahliannya untuk membantu pengungkapan dan pemeriksaan suatu perkara pidana. telah bersalah atas perbuatan yang dituduhkan atas dirinya´.´ Menurut ketentuan hukum acara pidana di Indonesia. Prof. seringkali para penegak hukum dihadapkan pada suatu masalah atau hal-hal tertentu yang tidak dapat diselesaikan sendiri dikarenakan masalah tersebut berada di luar kemampuan atau keahliannya. Dalam hal demikian maka bantuan seorang ahli sangat penting diperlukan dalam rangka mencari kebenaran materiil selengkap lengkapnya bagi para penegak hukum tersebut. namun pengetahuan dan pengalaman setiap manusia tetap terbatas adanya. pendidikan dan pengalaman dari seseorang mungkin jauh lebih luas daripada orang lain. kecuali apabila pengadilan karena alat pembuktian yang sah menurut Undang-undang mendapat keyakinan bahwa seseorang yang dianggap dapat bertanggungjawab. yang menyatakan : ³Dalam hal penyidik menganggap perlu.8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) pada pasal 184 ayat 1. Agar tugas-tugas menurut hukum acara pidana dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Hal ini dapat dilihat dari adanya berbagai usaha yang dilakukan oleh aparat penegak hukum dalam memperoleh bukti-bukti yang dibutuhkan untuk mengungkap suatu perkara baik pada tahap pemeriksaan pendahuluan seperti penyidikan dan penuntutan maupun pada tahap persidangan perkara tersebut. maka oleh undang-undang diberi kemungkinan agar para penyidik dan para hakim dalam keadaan yang khusus dapat memperoleh bantuan dari orang-orang yang berpengetahuan dan berpengalaman khusus tersebut. Dengan adanya ketentuan perundang-undangan diatas.Pemeriksaan suatu perkara pidana di dalam suatu proses peradilan pada hakekatnya adalah bertujuan untuk mencari kebenaran materiil (materiile waarheid) terhadap perkara tersebut. Maka oleh sebab itulah selalu ada kemungkinan bahwa ada soal-soal yang tidak dapat dipahami secukupnya oleh seorang penyidik dalam pemeriksaan pendahuluan. ia dapat minta pendapat orang ahli atau orang yang memiliki keahlian khusus´. 5 . Usaha-usaha yang dilakukan oleh para penegak hukum untuk mencari kebenaran materiil suatu perkara pidana dimaksudkan untuk menghindari adanya kekeliruan dalam penjatuhan pidana terhadap diri seseorang. Untuk permintaan bantuan tenaga ahli pada tahap penyidikan disebutkan pada pasal 120 ayat (1). Karim Nasution menyatakan : ³Meskipun pengetahuan.14 Tahun 1970 tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman pasal 6 ayat 2 yang menyatakan : ³Tiada seorang juapun dapat dijatuhi pidana. ataupun seorang hakim di muka persidangan sehingga ia perlu diberi pertolongan oleh orang-orang yang memiliki sesuatu pengetahuan tertentu. Adapun mengenai alat-alat bukti yang sah sebagaimana dimaksud diatas dan yang telah ditentukan menurut ketentuan perundang-undangan adalah sebagaimana diatur dalam Undang-undang No. A. Di dalam usaha memperoleh bukti-bukti yang diperlukan guna kepentingan pemeriksaan suatu perkara pidana. hal ini sebagaimanaditentukan dalam Undang-undang No.

Bantuan seorang ahli yang diperlukan dalam suatu proses pemeriksaan perkara pidana. Keterangan ahli yang dimaksud ini yaitu keterangan dari dokter yang dapat membantu penyidik dalam memberikan bukti berupa keterangan medis yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan mengenai keadaan korban. bahkan penyidik sangat bergantung terhadap keterangan ahli untuk mengungkap lebih jauh suatu peristiwa pidana yang sedang ditanganinya. memberikan petunjuk yang lebih kuat mengenai pelaku tindak pidana. untuk memberikan keterangan medis tentang kondisi korban yang selanjutnya cukup berpengaruh bagi tindaka penyidik dalam mengungkap lebih lanjut kasus n tersebut. Terkait dengan bantuan keterangan ahli yang diperlukan dalam proses pemeriksaan suatu perkara pidana. mengumpulkan bukti-bukti yang memerlukan keahlian khusus. maka bantuan ini pada tahap penyidikan juga mempunyai peran yang cukup penting untuk membantu penyidik mencari dan mengumpulkan bukti-bukti dalam usahanya menemukan kebenaran materiil suatu perkara pidana. penganiayaan dan perkosaan merupakan contoh kasus dimana penyidik membutuhkan bantuan tenaga ahli seperti dokter ahli forensik atau dokter ahli lainnya. disebutkan pada pasal 180 ayat (1) yang menyatakan : ³Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang pengadilan. Dalam kasus-kasus tertentu. mempunyai peran dalam membantu aparat yang berwenang untuk membuat terang suatu perkara pidana. tahapan ini mempunyai peran yang cukup penting bahkan menentukan untuk tahap pemeriksaan selanjutnya dari keseluruhan proses peradilan pidana. membutuhkan bantuan keterangan ahli dalam penyidikannya. Kasus-kasus tindak pidana seperti pembunuhan. Tindakan penyidikan yang dilakukan oleh pihak Kepolisian atau pihak lain yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk melakukan tindakan penyidikan. Kasus kejahatan kesusilaan yang menyerang kehormatan seseorang dimana dilakukan tindakan seksual dalam bentuk persetubuhan dengan menggunakan ancaman kekerasan atau kekerasan ini. hal ini selanjutnya akan diproses pada tahap penuntutan dan persidangan di pengadilan. serta pada akhirnya dapat membantu hakim dalam menjatuhkan putusan dengan tepat terhadap perkara yang diperiksanya. hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat pula minta agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan´. terutama terkait dengan pembuktian adanya tanda-tanda telah dilakukannya suatu persetubuhan yang dilakukan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. 6 . Mengenai keterangan ahli sebagaimana disebutkan dalam kedua pasal KUHAP diatas. Suatu kasus yang dapat menunjukkan bahwa pihak Kepolisian selaku aparat penyidik membutuhkan keterangan ahli dalam tindakan penyidikan yang dilakukannya yaitu pada pengungkapan kasus perkosaan. Berdasarkan hasil yang didapat dari tindakan penyidikan suatu kasus pidana. diberikan pengertiannya pada pasal 1 butir ke-28 KUHAP. bertujuan untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti tersebut dapat membuat terang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya. yang menyatakan : ³Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan´.Pada tahap pemeriksaan pendahuluan dimana dilakukan proses penyidikan atas suatu peristiwa yang diduga sebagai suatu tindak pidana. baik pada tahap pemeriksaan pendahuluan dan pada tahap pemeriksaan lanjutan di sidang pengadilan.Sedangkan untuk permintaan bantuan keterangan ahli pada tahap pemeriksaan persidangan.

dapat dikatakan kejahatan perkosaan telah berkembang dalam kuantitas maupun kualitas perbuatannya. tetangga. Disebutkan oleh 7 . dalam datanya mengenai tingkat kejahatan perkosaan yang terjadi pada anak. berupaya membuat terang tindak pidana tersebut. Orang tua korban dengan dibantu oleh sebuah lembaga perlindungan perempuan. serta usia korban perkosaan yang saat ini semakin banyak terjadi pada anak-anak. yang dibuat oleh dokter. di Jawa Timur telah terdapat 53 anak dibawah umur yang menjadi korban perkosaan. Dari kualitas kejahatan perkosaan. serta berdasarkan pengetahuannya yang sebaik-baiknya. Dalam kenyataannya.Melihat tingkat perkembangan kasus perkosaan yang terjadi di masyarakat saat ini. visum et repertum diartikan sebagai laporan tertulis untuk kepentingan peradilan (pro yustisia) atas permintaan yang berwenang. Permintaan tersebut tidak dapat ditindaklanjuti karena pihak Kepolisian mendasarkan tindakannya pada hasil visum et repertum yang menyatakan tidak terdapat luka robek atau infeksi pada alat kelamin korban. Sebuah Lembaga Perlindungan Anak di Jawa Timur (LPA Jatim). Disebutkan dalam laporan tahunan lembaga tersebut. terpaksa kasus tersebut dihentikan pengusutannya oleh pihak Kepolisian disebabkan hasil visum et repertum tidak memuat keterangan mengenai tanda terjadinya persetubuhan. mengungkapkan bahwa kasus perkosaan anak mengalami peningkatan yang cukup memprihatinkan. Pada tahun 2003 di triwulan pertama sampai bulan Maret. hubungan korban dan pelaku yang justru mempunyai kedekatan karena hubungan keluarga. Jumlah ini meningkat 20 % dibandingkan kasus yang terjadi pada tahun 2002. pengusutan terhadap kasus dugaan perkosaan oleh pihak Kepolisian telah menunjukkan betapa penting peran visum et repertum. Sebuah surat kabar memuat berita mengenai kasus dugaan perkosaan yang terjadi di daerah hukum Polresta Tanjung Perak Surabaya. Keterangan dokter yang dimaksudkan tersebut dituangkan secara tertulis dalam bentuk surat hasil pemeriksaan medis yang disebut dengan visum et repertum. terhadap segala sesuatu yang dilihat dan ditemukan pada pemeriksaan barang bukti. akan dilakukan serangkaian tindakan oleh penyidik untuk mendapatkan bukti-bukti yang terkait dengan tindak pidana yang terjadi. bahkan guru yang seharusnya membimbing dan mendidik. Menurut pengertiannya. berbagai kesempatan dan tempat-tempat yang memungkinkan terjadinya tindak perkosaan. hal ini dapat dilihat dengan semakin beragamnya cara yang digunakan pelaku untuk melakukan tindak perkosaan. bentuk kekerasan yang dilakukan terhadap korban. berupaya agar pihak Kepolisian dapat meneruskan pengusutan kasus tersebut karena menurut keterangan lisan yang disampaikan dokter pemeriksa kepada keluarga korban menyatakan bahwa selaput dara korban robek dan terjadi infeksi. pada tahun 2002 kekerasan seksual pada anak mencapai 81 kasus. Terkait dengan peranan dokter dalam membantu penyidik memberikan keterangan medis mengenai keadaan korban perkosaan. Mengungkap suatu kasus perkosaan pada tahap penyidikan. Dari kuantitas kejahatan perkosaan. hal ini merupakan upaya untuk mendapatkan bukti atau tanda pada diri korban yang dapat menunjukkan bahwa telah benar terjadi suatu tindak pidana perkosaan. dan selanjutnya dapat menemukan pelaku tindak pidana perkosaan. hal ini dapat dilihat dengan semakin banyak media cetak maupun televisi yang memuat dan menayangkan kasus-kasus perkosaan. Ditengaraibahwa kasus perkosaan yang terjadi jumlahnya lebih banyak dari data yang diperoleh oleh lembaga tersebut. berdasarkan sumpah pada waktu menerima jabatan.

Peranan visum et repertum dalam pengungkapan suatu kasus perkosaan sebagaimana terjadi dalam pemberitaan surat kabar di atas. Menghadapi keterbatasan hasil visum et repertum yang demikian. Sehubungan dengan peran visum et repertum yang semakin penting dalam pengungkapan suatu kasus perkosaan. keadaan korban juga dapat mengalami perubahan seperti telah hilangnya tanda-tanda kekerasan. Tidak hanya barang-barang bukti yang mengalami perubahan. menunjukkan peran yang cukup penting bagi tindakan pihak Kepolisian selaku aparat penyidik. maka tidak ada alasan bagi polisi untuk melanjutkan pemeriksaan kasus tersebut. menentukan langkah yang diambil pihak Kepolisian dalam mengusut suatu kasus perkosaan. hal tersebut melatarbelakangi penulis untuk mengangkatnya menjadi topik pembahasan dalam penulisan skripsi dengan judul ³PERANANVISUM ET REPERTUM PADA TAHAP PENYIDIKAN DALAM MENGUNGKAP TINDAK PIDANA PERKOSAAN (Studi di Kepolisian Resort Kota Malang) ´. Pembuktian terhadap unsur tindak pidana perkosaan dari hasil pemeriksaan yang termuat dalam visum et repertum. tentunya pihak Kepolisian selaku penyidik akan melakukan upaya-upaya lain yang lebih cermat agar dapat ditemukan kebenaran materiil yang selengkap mungkin dalam perkara tersebut. Dalam kenyataannya tidak jarang pihak Kepolisian mendapat laporan dan pengaduan terjadinya tindak pidana perkosaan yang telah berlangsung lama. 8 . Mengungkap kasus perkosaan yang demikian. pada kasus perkosaan dimana pangaduan atau laporan kepada pihak Kepolisian baru dilakukan setelah tindak pidana perkosaan berlangsung lama sehingga tidak lagi ditemukan tanda-tanda kekerasan pada diri korban. Dalam kasus yang demikian barang bukti yang terkait dengan tindak pidana perkosaan tentunya dapat mengalami perubahan dan dapat kehilangan sifat pembuktiannya. hasil pemeriksaan yang tercantum dalam visum et repertum tentunya dapat berbeda dengan hasil pemeriksaan yang dilakukan segera setelah terjadinya tindak pidana perkosaan. Berdasarkan kenyataan mengenai pentingnya penerapan hasil visum et repertum dalam pengungkapan suatu kasus perkosaan pada tahap penyidikan sebagaimana terurai diatas. Terhadap tanda-tanda kekerasan yang merupakan salah satu unsur penting untuk pembuktian tindak pidana perkosaan.Kapolresta Tanjung Perak Surabaya bahwa karena hasil visum dokter menyatakan selaput dara masih utuh. maka akan dilakukan langkah-langkah lebih lanjut oleh pihak penyidik agar dapat diperoleh kebenaran materiil dalam perkara tersebut dan terungkap secara jelas tindak pidana perkosaan yang terjadi. hal tersebut dapat tidak ditemukan pada hasil pemeriksaan yang tercantum dalam visum et repertum.

9 . Apakah yang dimaksud dengan Visum et Repertum ? 2. Apakah seorang korban bisa minta Visum et Repertum sendiri ke dokter untuk menuntut pelanggar 5. yang terganggu kesehatannya ataupun ataupun seseorang yang mati karena tindak pidana atau tersangka sebagai korban tindak pidana. tersangka. Hakim pidana. Hakim pada Pengadilan Agama. melalui jaksa dan dilaksanakan oleh penyidik. Permohonan ini harus diserahkan oleh penyidik bersamaan dengan korban. Untuk kepentingan apakah Visum et Repertum selain sebagai bukti di persidangan. Permohonan harus dilakukan secara tertulis. yang diserahkan oleh pihak penyidik kepada ahli kedokteran kehakiman. Alasannya untuk dapat menyimpulkan hasil pemeriksaannya. Artinya peranan alat bukti yang lain selain korban mutlak diperlukan. artinya dokter tidak boleh dengan serta merta melakukan pemeriksaan terhadap seseorang yang luka. keterangan dokter tentang apa yang dilihat dan apa yang diketemukan dalam melakukan pemeriksaan terhadap seseorang yang luka atau meninggal dunia (mayat). meminta langsung kepada ahli kedokteran. oleh pihak-pihak yang diperkenankan untuk itu. Tetapi pengertian peristilahan. 5. 2. Pihak-pihak yang berwenang meminta bantuan ahli kedokteran kehakiman dalam kaitannya dengan persoalan hukum yang hanya dapat dipecahkan dengan bantuan ilmu kedokteran kehakiman : 1. Untuk apakah fungsi Visum et Repertum ? Jawaban : Secara harafiah visum et repertum adalah apa yang dilihat dan apa yang diketemukan. dan juga barang bukti kepada dokter ahli kedokteran kehakiman. sebagai berikut : 1. Jaksa penuntut umum. Bagaimana prosedur permintaan Visum et Repertum ? 4. 4. 3. 3. pengamp u atau pihak lain yang mempunyai keterkaitan dengan pasien secara ekonomi. keluarga. Penyidik Pada prinsipnya visum merupakan hasil rekaman medis dapat diketahui oleh si pasien. dokter tidak dapat melepaskan diri dari dengan yang lain. apabila yang diperiksa tersebut berkedudukan sebagai pasien dan bukan sebagai barang bukti .VISUM ET REPERTUM Pertanyaan : 1. Hakim perdata. Prosedur permintaan visum ini. Alasannya karena permohonan visum ini berdimensi hukum. 2.

Pendahuluan: berisi landasan operasional ialah obyektif administrasi: ‡ Identitas penyidik (peminta Visum et Repertum. kasus dan barang bukti ‡ Identitas TKP dan saat/sifat peristiwa ‡ Identitas pemeriksa (Tim Kedokteran Forensik) ‡ Identitas saat/waktu dan tempat pemeriksaan 3.Visum et repertum berfungsi sebagai alat bukti yang berupa keterangan dokter atas hasil pemeriksaan terhadap seseorang yang luka atau terganggu kesehatannya atau mati. Terdapat sedikitnya dua alat bukti yang sah 2. Keterangan ahli 3. Dua alat bukti tersebut menimbulkan keyakinan hakim tentang telah terjadinya perbuatan pidana 3. Kesimpulan: landasannya subyektif medis (memuat pendapat pemeriksa sesuai dengan pengetahuannya) dan hasil pemeriksaan medis (poin 3) ‡ Ilmu kedokteran forensik 10 . Dan perbuatan pidana tersebut dilakukan oleh terdakwa Alat bukti yang sah menurut pasal 184 ayat 1. Surat 4. maka tata cara pembuktian tersebut terikat pada Hukum Acara Pidana yang berlaku yaitu Undang-Undang nomor 8 tahun 1981. Keterangan terdakwa PENGERTIAN Penegak hukum mengartikan Visum et Repertum sebagai laporan tertulis yang dibuat dokter berdasarkan sumpah atas permintaan yang berwajib untuk kepentingan peradilan tentang segala hal yang dilihat dan ditemukan menurut pengetahuan yang sebaik-baiknya. yang berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut dokter akan membuat kesimpulan tentang perbuatan dan akibat perbuataannya itu. minimal berpangkat LETDA) ‡ Identitas korban yang diperiksa. Undang-Undang nomor 8 tahun 1981 adalah: 1. yang diduga sebagai akibat kejahatan. Dari bunyi pasal 183 Undang-Undang nomor 8 tahun 1981 kiranya dapat dipahami bahwa pemidanaan baru boleh dijatuhkan oleh hakim apabila: 1. Oleh karena pembuktian merupakan bagian dari proses peradilan pidana. Pelaporan/inti isi: ‡ Dasarnya obyektif medis (tanpa disertai pendapat pemeriksa) ‡ Semua pemeriksaan medis segala sesuatu/setiap bentuk kelainan yang terlihat dan diketahui langsung ditulis apa adanya (A-Z) 4. Visum Et Repertum PENDAHULUAN Pembuktian merupakan tahap paling menentukan dalam proses persidangan pidana mengingat pada tahap pembuktian tersebut akan ditentukan terbukti tidaknya seorang terdakwa melakukan perbuatan pidana sebagaimana yang didakwakan penuntut umum. Keterangan saksi 2. Dalam pasal 183 Undang-Undang nomor 8 tahun 1981 dinyatakan: ³Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang melakukannya´. Pembukaan: ‡ Kata ³Pro justisia´ untuk peradilan ‡ Tidak dikenakan materai ‡ Kerahasiaan 2. namun pada umumnya Visum et Repertum memuat hal-hal sebagai berikut: Visum et Repertum terbagi dalam 5 bagian: 1. Meskipun tidak ada keseragaman format.

Dalam operasional penyidikan. derik tulang. Berikut ini adalah contoh format Visum et Repertum yang sudah diisi. tulislah istilah kedokteran tersebut dengan ditambahi keterangan dalam tanda kurung seperlunya. PEMERIKSAAN : L/D KODE: KLL/KN/KL/GEL/M LABORATORIUM : IDENTIFIKASI : OBDUKTOR I PROTOKOL I LABORAN WARTAWAN ()()()() Disetujui diketik/ tidak Tgl««««««««««««.. DEPARTEMEN KESEHATAN RI INSTALASI KEDOKTERAN FORENSIK RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR.2005««««. diungkapkan dalam: ‡ Visum et Repertum sementara.11 Februari 2005«««««««««««««.350 tahun 1937 serta Sumpah Jabatan/Dokter yang berisi kesungguhan dan kejujuran tentang apa yang diuraikan pemeriksa dalam Visum et Repertum tersebut. Penutup: landasannya Undang-Undang/Peraturan yaitu UU no. hematoma (darah beku dalam subkutan). Jangan sekali-kali menggunakan istilah yang sekiranya belum dipahami oleh masyarakat umum dalam menulis Visum et Repertum.165«/Tahun.Orok«««««««««««««««««««« Tanggal pemeriksaan :.Yogyakarta Telp. IDENTITAS JENAZAH Nama : Jenis kelamin : 11 . SARDJITO Jln. Bila memang ada istilah khusus yang belum terdapat istilah tersebut dalam istilah sehari-hari. 351-352 _____________________________________________________________________ ____ VISUM ET REPERTUM Nomor:.. atau ‡ Surat keterangan medis CONTOH PENGISIAN BLANGKO VISUM ET REPERTUM Untuk dapat mengisi Visum et Repertum dengan baik. hakim dan lain-lain pihak yang berkepentingan) sehingga memperlancar acara persidangan. Semua istilah-istilah tersebut digunakan untuk menyamakan persepsi dengan istilah-istilah yang biasa dipakai dan dipahami oleh orang-orang nonmedis (saksi. 587333 psw. polisi. Kesehatan Sekip.8 tahun 1981 dan LN no. bercak jenazah dan lain-lain. diharapkan mahasiswa sudah memahami istilahistilah khusus yang menyangkut keadaan jenazah. Tgl««««««««««. misal kaku jenazah.. DOKTER KONSULTAN DOKTER NIP. Nama korban :. dapat dilaporkan berbagai penemuan dalam pemeriksaan barang bukti/kasus.‡ Tanggung jawab medis 5. atau ‡ Visum et Repertum sambungan/lanjutan. lebam mayat..

Umur : Warga negara : Agama : Alamat : IDENTITAS PENYIDIK Nama : Pangkat : NRP : Jabatan : Asal : Surat nomor : Tanggal : Peristiwa kasus : TIM PEMERIKSA 1. Obduktor II : 4. Wartawan II : 9. Pemimpin : 2. Protokol I : 6. Laboran II : Saksi 1. Obduktor III : 5. Penegak Hukum I : Penegak Hukum II : 2. KETERANGAN KONSULTAN : Dokter Ahli Forensik/konsultan ahli PEMIMPIN : Dokter yang memimpin pelaksanaan otopsi forensik OBDUKTOR : Dokter/muda yang melakukan pembedahan/otopsi jenazah PROTOKOL : Dokter/muda yang mencatat proses dan hasil otopsi jenazah WARTAWAN : Dokter/muda yang mencari berita (fakta) tentang kasus/kejadian yang menimpa jenazah LABORAN : Dokter/muda yang memeriksa/menganalisa laboratorium dari sampel jenazah untuk membantu identifikasi LANJUTAN CONTOH VISUM ET REPERTUM YANG SUDAH DIISI KETERANGAN URAIAN PENDAHULUAN VISUM ET REPERTUM 1) Pada pendahuluan Visum et Repertum pada prinsipnya adalah obyektif administrasi. 5. 3. 2. 6. Laboran I : 10. 4. Wartawan I : 8. Yang lain : TIM LABORAN: 1. Jadi tergantung apa 12 . Obduktor I : 3. Protokol II : 7.

sehingga pada awal membaca Visum et Repertum sudah jelas kasus. LANJUTAN CONTOH VISUM ET REPERTUM YANG SUDAH DIISI Hasil pemeriksaan itu ialah sebagai berikut: KETERANGAN URAIAN PEMBERITAAN VISUM ET REPERTUM 1) Laporan utama yang disebut Visum et Repertum adalah bagian isi/ pemberitaan. tanggal. Misteri). dimana. hari. dan dengan sendirinya korban/barang bukti diantar oleh penyidik 3) Jadi isi pendahuluan ini. karena isinya betul-betul obyektif medis. dari hasil pemeriksaan medis. dari Sektor/Resort atau Polda. perubahan atau penambahan Bila ada barang bukti lain terlampir supaya disebutkan dan mungkin perlu mendapat pemeriksaan apa. identifikasi Barang bukti lain terlampir: ada atau tidak Identitas pemeriksa ialah oleh Tim Kedokteran Forensik di bawah pimpinan dokter siapa. kapan. KL. KLL antara apa dan apa. dibantu siapa saja Selanjutnya tempat dan saat periksa di Ruang otopsi RSUP Dr. pekerjaan. Sardjito. Dalam hal ini saat pemeriksaan ditulis dengan huruf untuk menghindari penggantian. barang bukti/ jenazah berlabel atau tidak. tidak perlu ditambah atau dirubah. Hasil pemeriksaan dalam bagian tubuh/alat-alat dalam jenazah d. supaya diisi selengkapnya sesuai yang tertulis dalam surat permintaan penyidik. maka perlu mencari/ minta informasi data medik dari unit/ RS tersebut. pendidikan. peristiwa. alamat tempat tinggal Identitas peristiwa: macam (KLL. tusukan. pada hari. kalau kriminal: pembunuhan.yang tertulis dalam surat permintaan Visum et Repertum. tembakan. Hasil pemeriksaan TKP b. jenis kelamin. pakai helm/ tidak. pokoknya persis baik kata/ kalimat dan angka 2) Secara umum isi pada pendahuluan Visum et Repertum adalah: Identitas penyidik: nama. kapan. umur. Hasil pemeriksaan luar bagian tubuh jenazah c. agama. jam. cap dan kop surat Identitas korban/ barang bukti ialah nama. 4) Bila sudah ada perawatan/pengobatan di rumah sakit atau unit pelayanan kesehatan lain. kepolisian mana Identitas surat permintaan: nomor. tanggal. jabatan. Pemeriksaan identifikasi-biologi manusia: Odontologi 13 . formulirnya sudah jelas. dan lain-lain Identitas tempat/saat peristiwa: dimana. jam berapa. laporan pemberitaan ditambah: a. dalam keadaan ditemukan masih hidup atau sudah meninggal dan apakah sudah mendapat perawatan atau tidak sebelum meninggal. lokasi peristiwa Macam pemeriksaan: pemeriksaan luar atau luar dalam. penganiayaan. tanggal. pangkat. Jadi apa yang dilihat dan diketemukan pada pemeriksaan kasus/korban/ barang bukti itu yang dilaporkan tertulis 2) Laporan ini dapat meliputi pemeriksaan medis dari: a. asal. NRP. Hasil semua pemeriksaan laboratorium/penunjang 1) Pemeriksaan mikroskopi jaringan (Patologi Anatomi) 2) Toksikologi 3) Parasitologi 4) Mikrobiologi 5) Identifikasi anthropologi 6) Identifikasi odontologi 7) Kimia darah Laboratorium lain (DNA) 9) Kasus tidak dikenal. KN.

karena tergantung penalaran dokter masing-masing pembaca/ penanggung jawab. sehingga mempermudah penerapannya. tajam. kecuali kematian karena racun pemeriksaan toksikologi dapat menentukan 5) Para praktisi hukum. senjata api. 5) Maka dalam menyusun laporan dan kesimpulan harus hati-hati. maka tiap person dokter atau ahli lain termasuk para praktisi hukum dapat berbeda pendapat. apakah akibat kekerasan tumpul. dapat dilakukan inventarisasi masalah pokok sesuai dengan arah tujuan pemeriksaan kasus/korban/ barang bukti. dapat menjadikan pertimbangan 4) Pada kesimpulan. kimia. Jadi jelas isi/pemberitaan bagian Visum et Repertum ini bersifat obyektif medis. racun. Identifikasi kebendaan-dalam bentuk benda/barang yang terbawa/ terpakai korban d. Pembela atau Penasihat Hukum. mengingat sifatnya subyektif. administrasi dan kebendaan dapat mengarah kepada siapa kasus/korban tersebut 4) Kasus tinggal tulang-tulang: pemeriksaan anthropologi dan odontologi yang dapat menentukan. Berbagai semua pemeriksaan yang sifatnya fatal dan menunjukkan angka (misalnya darah) supaya ditulis dengan angka. Identifikasi administrasi-dalam bentuk surat-surat/ barang tulisan yang terbawa korban c. Tatacara urutan kesimpulan: 1. selalu dikembalikan kepada dirinya sendiri sebagai pertanyaan dapatkah mempertanggungjawabkan? 6) Dokter yang dipanggil sebagai saksi ahli di pengadilan harus mengucapkan sumpah/janji lagi sesuai agama dan kepercayaannya masing-masing dokter (Sanksi pasal 161 KUHAP). Biasanya media diskusi terjadi bila dokter sebagai saksi ahli dalam forum sidang pengadilan akan mendapat pertanyaan-pertanyaan dari para praktisi hukum ialah: Hakim. sehingga disini dapat merupakan media diskusi yang baik. disampaikan dalam bentuk tambahan sendiri atau lampiran Visum et Repertum. bila membaca laporan ini mungkin ada yang tidak jelas (istilah atau kalimat) yang kadang-kadang dari medis tak dapat dihindarkan atau untuk istilah yang tepat. Kelainan-kelainan yang bersifat fatal/berat disebut lebih dulu sebagai alasan penyebab kematian 14 . Dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah medis e. Kombinasi identifikasi biologi. Informasi tersebut misalnya mengenai: a) Identitas korban b) Saat kematian c) Kelainan-kelainan akibat peristiwa/penyakit sebelumnya d) Mengapa terjadi kelainan tersebut. Berbagai temuan ditulis dengan istilah medis biasanya ada penjelasan atau digambar. Hasil pemeriksaan medis c. Tiap baris kesimpulan diakhiri kalimat diisi nomor penunjuk sebagai alasan. Dapat orientasi dengan ilmu Hukum sepanjang dapat dipertanggungjawabkan d. ditulis dalam kurung 2. Penyidik atau bahkan dari Terdakwa.Anthropologi Ciri khusus Darah-ABO DNA b. Informasi di luar pemeriksaan medis. dan lain-lain (akibat penyebab) e) Berbagai gejala sebab kematian f) Sebab kematian-satu penyebab atau lebih yang sifatnya mandiri atau terkait mendukung g) Bila memungkinkan cara kematian. listrik. KETERANGAN URAIAN KESIMPULAN VISUM ET REPERTUM 1) Dari hasil berbagai pemeriksaan medis. yang pada prinsipnya harus mengikuti pemeriksaan TKP/Rekonstruksi h) Untuk kasus orok-ada hal-hal khusus yang harus dijelaskan seperti di bawah ini 2) Jadi kesimpulan ini pada prinsipnya subyektif medis. Tujuannya memberi informasi kepada pihak penyidik atau praktisi hukum. Mempergunakan ilmu kedokteran b. Jaksa. Dan apa yang disimpulkan adalah hasil analisa medis (Subyektif medis) 3) Dasar membuat kesimpulan adalah: a.

identitas korban disebut pada awal (no. Untuk kasus kematian mendadak. Semua maklum dan menyadari bahwa apa yang disampaikan dari hasil pemeriksaan medis selalu secara ilmiah medis dan mengingat sumpahnya sebagai dokter. Kelainan-kelainan yang sifatnya ringan dan tidak ada hubungan dengan penyebab kematian disebut sebelum akhir kesimpulan 4. ditandai dengan serah-terima barang bukti jenazah forensik 2. Untuk kasus gelandangan tidak ada kelainan akibat kekerasan. 350 tahun 1937 serta Undang-undang No. PRINSIP PEMERIKSAAN JENAZAH A. Selanjutnya jenazah dikirim ke Fakultas Kedokteran UGM atas ijin penyidik dan Pemda setempat (tertulis) untuk kadaver (bila jenazah masih baik) 9. Disamping itu. pemeriksaan luar dan dalam untuk menghindari materai 6000. Tanda tangan. Maka Visum et Repertum dalam penutupnya menyatakan dengan mengingat Sumpah Jabatan 2. pembuatan Visum et Repertum berdasarkan surat permintaan pihak Penyidik dengan landasan operasional UU No. Untuk jenazah dikenal. sebab kematian akibat penyakit/ kelemasan. Maka dalam penutup Visum et Repertum ditambah dengan berdasarkan LN No.3. pemeriksaan luar saja atau b.8 Tahun 1981 3. Setelah penutup. Untuk kasus jenazah orok. Ada surat penyerahan jenazah forensik. terakhir kalimat/ kata adalah tanda tangan dan nama dokter serta cap instansi dimana dokter tersebut bekerja/bertugas.1) kesimpulan 5.350 Tahun 1937 yang sampai saat ini Lembaran Negara masih berlaku. tidak ada kelainan akibat kekerasan 7. ada hal-hal khusus yang harus dijelaskan: a) Umur dalam kandungan b) Ada/ tidak ada cacat c) Sudah/ belum ada perawatan normatif d) Identitas orok-jenis kelamin. PENUTUP Demikian Visum et Repertum ini dibuat dengan mengingat sumpah pada waktu menerima jabatan dan berdasarkan Lembaran Negara No. Jadi tidak perlu pakai tanggal. golongan darah dan DNA e) Lahir hidup atau lahir mati (belum/ sudah bernafas) f) Sebab kematian diluar kandungan g) Cara kematian h) Lain-lain yang perlu diinformasikan 8. pada awal kesimpulan. NIP: KETERANGAN URAIAN PENUTUP VISUM ET REPERTUM 1. identitas dan saat kematian disebut pada akhir kesimpulan (kalau diperlukan) 6. dilampiri surat pernyataan pihak keluarga untuk 15 . Untuk jenazah tidak dikenal. Landasan 1. Ada surat permintaan sementara dari pihak penyidik untuk korban jenazah forensik dengan atau dilampiri surat persetujuan keluarga untuk dilakukan: a. 8 tahun 1981. Selanjutnya pengertian Visum et Repertum tersirat dalam Lembaran Negara No. karena tanggal sudah tertulis dalam pendahuluan ialah saat pemeriksaan kasus/korban/barang bukti.00 surat pernyataan dengan kode di kiri atas ³PRO JUSTISIA´ 3. Ada surat permintaan Visum et Repertum definitif.350 Tahun 1937 4. Untuk jenazah membusuk atau tinggal tulang-tulang perlu disebutkan dalam awal kesimpulan LANJUTAN CONTOH VISUM ET REPERTUM YANG SUDAH DIISI VI.

supaya minta informasi data dar pihak i penyidik yang mengirim yaitu hasil pemeriksaan TKP dan keterangan saksi atau keluarga 4. Odontologi bila tak dikenal. tugas wartawan forensik merupakan kunci. Semua data terkumpul di TU (Tata Usaha). dilakukan otopsi dimana irisan median tergantung dari: a. ditampung cairan dari hidung dan mulut bila ada praduga keracunan c. kuku. deteksi alkohol dan narkoba (untuk identifikasi) b. tidak boleh dibawa pulang oleh siapapun supaya jangan sampai dituduh menghilangkan barang bukti 6. Surat-surat pelayanan kedokteran forensik termasuk surat pemeriksaan penunjang/ laboratorium toksikologi dalam status Visum et Repertum 7. Patologi anatomi d. ginjal ‡ Paru. Surat-surat sementara dari pihak penyidik. pemeriksaan luar dan dalam 4. koordinasi dengan dokter gigi b. PETUNJUK PELAKSANAAN LATIHAN KETERAMPILAN MEDIK Lakukan secara simulasi prosedur pembuatan Visum et Repertum berikut ini berdasarkan kasus yang disediakan oleh instruktur. cukup lambung dan isinya ‡ Indikasi keracunan. tetapi segera ditanyakan surat definitifnya 2. yang diambil: ‡ Lambung dan usus ‡ Hepar. otak. 1. Surat-surat pemeriksaan keluarga korban dan surat-surat lain dari pihak penegak hukum. Mikrobiologi berupa sampel darah dari ruang jantung bila ada dugaan sepsis g. Toksikologi bila: ‡ Dugaan. pemeriksaan luar saja atau b. diambil darah untuk golongan darah. Golongan darah deteksi alkohol dan narkoba b. Larva ke Laboratorium Parasitologi untuk kasus membusuk dengan ditemukannya lalat (menentukan umur lalat dan penunjang saat kematian) f. Untuk pemeriksaan otopsi disamping dilakukan pemeriksaan luar tersebut di atas. kerjasama dengan dokter anthropolog c. PA ke Instalasi PA RSUP Dr. umur (bayi dan tidak bayi/anak) d. agama b. adanya tanda-tanda intravital d. Surat-Surat 1. Bila korban sudah dirawat di Rumah Sakit/Puskesmas/Dokter. Toksikologi sederhana ke BLK (Balai Laboratorium Kesehatan) DIY d. Anthropologi berupa sampel tulang-tulang untuk identifikasi (umur. Sardjito c.dilakukan a. Setiap pemeriksaan jenazah forensik hanya luar saja: a.ras) B. peristiwa pemeriksaan penunjang: a. supaya membuat surat permintaan informasi data medik sesuai kebutuhan untuk kelengkapan data pembuatan Visum et Repertum 3. lidah ‡ Rambut. jenis kelamin c. wartawan dan laboran forensik) dan surat 16 . diambil jaringan pada tempat luka untuk pemeriksaan Patologi Anatomi. lien. terutama kasus-kasus kriminal 5. Sidik jari (daktiloskop). diambil Odontologi bila jenazah tidak dikenal 5. jenis kelamin. kulit( keracunan kronis) Pemeriksaan penunjang mempergunakan formulir yang tersedia dengan pengiriman (surat ini): a. Toksikologi luas ke Labkrim (Laboratorium Kriminal) Polda Jateng e. Kasus-kasus kecelakaan yang dicurigai adanya praduga kriminal. Semua kasus. Mengumpulkan data dari anggota tim otopsi forensik (protokol.

2000. pendahuluan. Sardjito.2 Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FK-UGM. Ed. Melakukan konsultasi dan pengesahan kepada Dokter Konsultan Forensik DAFTAR PUSTAKA Guntur. Mengisi blangko formulir Visum et Repertum sesuai dengan data yang telah dihimpun sebelumnya dengan lengkap (dari A-Z) secara teliti dan hati-hati. Ed. HUT FKUGM ke-54 RSUP Dr Sardjito ke-18. R. Penerapan Visum et Repertum sebagai Alat Bukti dalam Peradilan Pidana. Pedoman Pemeriksaan Jenazah Forensik dan Kesimpulan Visum et Repertum di RSUP Dr. Yogyakarta X.2. 2001. kesimpulan dan penutup 4.. meliputi pembukaan. R. Mencermati data dengan teliti dari hasil visum dan konfirmasi atas data yang kurang jelas (umumnya masih dalam tulisan tangan/manuskrip) dan surat permintaan visum penyidik. Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FK-UGM. 17 . 350 tahun 1937 serta Undang-undang No.. Arti Dan Makna Bagian-Bagian Visum Et Repertum.J. 2001. P. 8 tahun 1981. inti/isi.. Yogyakarta. Yogyakarta Soegandhi. Soegandhi. 3.L. PENUTUP Demikian Visum et Repertum ini dibuat dengan mengingat sumpah pada waktu menerima jabatan dan berdasarkan Lembaran Negara No.permintaan otopsi dari pihak penyidik/kepolisian 2.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->