P. 1
Buletin Tanpa Nama Edisi #2 April 2011

Buletin Tanpa Nama Edisi #2 April 2011

|Views: 17|Likes:
Published by tanpanamayes
Kritis Rekonstruktif, Inspiratif, Kreatif
Kritis Rekonstruktif, Inspiratif, Kreatif

More info:

Published by: tanpanamayes on May 23, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/23/2011

pdf

text

original

Edisi: 02/Mei 2011 - diterbitkan oleh Mahasiswa Filsafat - www.tanpanamayes.co.

cc

PECUNDANG AGAMA dan NEGARA
Daqoiqul Misbah* “Kafir kamu!”. Kira-kira seperti Itulah pelbagai polemik yang sering terjadi sekarang. Kata ini juga makin populer seiring dengan munculnya banyak kelompok yang terjadi di Indonesia. Banyak yang saling mengafirkan antara teman, saudara, bahkan yang lebih parah adalah orang tua sendiri dianggap kafir olehnya. Nampaknya semakin lama kata tersebut menjadi kebiasaan oleh sekelompok orang. Padahal, kata tersebut bukanlah kata-kata yang sembarangan boleh diucapkan yang takutnya nanti akan berdampak pada psikologis seseorang. Sungguh lucu sekali kalau kita hanya bisa mengafirkan orang. Kita semua juga bisa kalau hanya mengafirkan orang, baik yang berilmu maupun yang tidak berilmu. Yang menjadi tugas kita adalah bagaimana mengubah seseorang yang berasumsi kafir tersebut bisa kembali lagi ke jalan yang benar dan bukan malah mengklaim seseorang menjadi kafir. Perbuatan seperti itu sungguh menyimpang dari ajaran Islam. To the point, dewasa ini banyak kasus pemberontakan yang terjadi di Negara kita. Kelompok tersebut ingin Negara kita diubah ke dalam Negara berbasis Islam. Berdirinya kelompok tersebut tak lepas dari sosok Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo yang berhasil diproklamasikan pada 7 Agustus 1949. kelompok tersebut tak lain adalah Negara Islam Indonesia (NII) yang menginginkan Negara teokrasi dengan Islam sebagai dasar Negara. Artinya, Negara ini haruslah berdasarkan pada hukum Tuhan yang menurut kepercayaan mereka bahwa Tuhan langsung memerintah Negara melalui ajaran Islam yang sudah ada sebelumnya. Kelompok NII semakin lama menjadi besar dan tersebar dimana-mana. Pasalnya, sasaran rekrutmentnya tidak pandang bulu, mulai dari orang tua, mahasiswa, sampai anak baru gede (yang populer disebut ABG). Mereka menarik minat calon korbanya melalui berbagai cara, salah satunya adalah metode “cuci otak”. Setiap korban NII selalu dimintai uang dan
1

mereka halal mengambil uang siapa saja termasuk uang orang tuanya. Misalnya sebuah kasus yang terjadi di Surabaya, seorang mahasiswa tertarik ikut NII gara-gara diberikan kebebasan untuk memilih gadis cantik sebagai calon istri. Gadisgadis cantik itu dapat dilihat saat acara pengajian khusus komunitas NII. Setelah mahasiswa tersebut mengikuti beberapa kali pengajian dan proses cuci otak, akhirnya dia dimintai uang mahar senilai Rp. 1 juta untuk menikahi gadis yang dipilihnya. Karena tidak punya uang, akhirnya ia terpaksa mengambil uang orang tuanya dan mengamen untuk mengumpulkan mahar itu. Semakin lama ia tidak nyaman dengan ajaran NII yang menyimpang, juga dengan kedatangan aktivis NII yang sering kerumahnya untuk menagih uang mahar. Pikiran, perasaan dan tindakan berkecamuk dalam dirinya. Ia juga semakin skeptis dengan tindakan yang akan dilakukan, karena ketika membelot ia takut jika terkena hukum pancung dan jika tetap bergabung ia akan semakin tidak nyaman dan tersesat. Maka dari itu, ia mengambil keputusan untuk keluar dari NII dan tidak dikenai hukum pancung. Berdasarkan kasus diatas, kita bisa menganalisa bahwa NII hanyalah kelompok pecundang yang hanya menggembar-gemborkan nilai Islam fundamental. Lantas, Mau jadi apa negeri ini kalau mereka berhasil mendirikan Negara Islam Indonesia? Bukan Negara Islam Indonesia yang terbentuk, tetapi Negara InsyaAllah Islam. Kalimat itulah yang semestinya digunakan kelompok NII melihat kondisi dan fakta di lapangan. Mereka mengusung Islam sebagai dasar Negara dengan hukum tertinggi al-qur’an dan hadits, tetapi perbuatan mereka tidak sesuai dengan cara yang mereka lakukan. Memang konsep mereka bagus, tetapi cara yang mereka lakukan belum sesuai. Maka dari itu, banyak tokoh-tokoh Islam yang tidak sependapat dengan mereka. Mantan presiden RI, K.H. Abdurrahman Wahid misalnya, Secara terus terang bahkan mengatakan: “musuh utama saya adalah Islam kanan, yaitu mereka yang menghendaki Indonesia berdasarkan

Islam dan menginginkan berlakunya syari’at Islam”. (Republika, 22 September 1998. hal. 2 kolom 5). Semestinya orang-orang NII harus bisa lebih dewasa dan memperdalam syari’at Islam, bukan malah menjadi pecundang dan sok suci yang mengatasnamakan kelompok Islam. Seakan-akan Islam milik mereka sendiri dan Indonesia yang berlandaskan Pancasila bukanlah Negara yang baik dan benar

menurut kriteria mereka. Orang yang menurut mereka salah dan tidak sesuai dengan ajaran langsung diklaim kafir. Oleh karena itu, kita harus selalu waspada terhadap NII yang pecundang dan sok suci itu. *Penulis adalah mahasiswa Prodi Aqidah Filsafat semester 4

Kuliah Cinta
Khairus Shaleh* Cinta tak lagi menjadi penghalang bagi segala sesuatu yang berhubungan dengan kuliah. mahasiswa untuk lebih baik dan menggapai tujuan Mahasiswa akan malas belajar, merasa enggan masuk sesuai dengan harapan. Justru cintalah sebenarnya yang kelas dan cenderung meremehkan perkuliahan, sehingga masuk kelas lebih awal dan tepat waktu menentukan kesuksesan tersebut. Kita akan merasa heran ketika melihat suasana menjadi sesuatu yang sangat berat. Keadaan ini perkuliahan di perguruan tinggi. Mahasiswa malas merupakan hal yang wajar mengingat aktifitas tersebut kuliah merupakan hal lumrah. Lambat kuliah sudah tidak didasari oleh cinta, tetapi karena tekanan absen menjadi kebiasaan. Hanya hadir di kelas tanpa ada dan segala macam yang mewajibkannya hadir kuliah. Kemudian, ketidak cintaan mahasiswa terhadap tujuan yang jelas sudah menjadi rutinitas. Buku bacaan ilmu pengetahuan mengakibatkannya menjauh dari menjadi sesuatu yang sangat menakutkan. Keadaan seperti ini mengakibatkan goncangan berbagai kegiatan keilmuan. Mereka tidak akan besar terhadap kualitas keilmuan mahasiswa. Padahal membaca, diskusi, menghadiri seminar dan forummahasiswa merupakan kader bangsa yang harus siap forum ilmiah lainnya kecuali mendapatkan nasi, snack mengemban tugas-tugas kemanusiaan yang merupakan dan sertifikat. Merupakan kewajiban bagi berbagai pihak, baik cita-cita bersama. Membangun bangsa menjadi lebih baik, menjadikan bangsa ini sebagai negara yang dosen ataupun mahasiswa untuk lebih meningkatkan diperhitungkan dunia dalam berbagai hal, terutama rasa cinta. dosen meningkatkan cintanya kepada mahasiswa dan demikian sebaliknya. Mahasiswa juga dalam tatanan ilmu pengetahuan. Jika mahasiswa sudah seperti itu, tidak harus lebih meningkatkan cinta kepada ilmu memunyai semangat untuk mengembangkan keilmuan pengetahuan sehingga aktifitas belajar akan terlaksana lebih jauh lagi. Lantas, siapa yang harus dengan maksimal meskipun tanpa ada undang-undang memperjuangkan cita-cita negara?. Apakah harus orang yang mengharuskannya giat. Cinta dosen terhadap mahasiswa akan membuat luar yang mengendalikannya sehingga bangsa ini menjadi singa ompong?. Tidak ada pilihan lain kecuali dosen menuangkan ilmu pengetahuan kepada mengembalikan laju mahasiswa kepada rel-rel yang mahasiswa dengan maksimal dan terbaik. cinta mengarahkan kepada tujuan awal sebagai generasi yang mahasiswa kepada dosen akan membuat seluruh yang dikatakan dosen menjadi patokan. Cinta mahasiswa akan menentukan masa depan bangsa ini. Faktor yang sangat dominan dalam terhadap ilmu pengetahuan akan membuat mereka permasalahan ini tidak lain adalah semakin selalu haus akan ilmu pengetahuan. Media pengetahuan bagai perempuanmereduksinya cinta di kalangan manusia-manusia kampus. Cinta antara dosen dan mahasiswa semakin perempuan cantik yang selalu membuatnya bahagia lama kian meredup. Dosen menganggap masuk ke kelas yang tak terlukiskan dan merasa sedih dikala terpisah hanya karena kewajiban mengisi absen, sehingga ia dengannya walau satu detik pun. Membaca buku tidak menguasai matakuliah yang disampaikan. dengan mesra, tanpa ada sedikitpun capek dan bosen Mahasiswapun juga tidak ketinggalan, menganggap terhadapnya. dosen sebagai musuh. Kata-kata dan himbauan dosen *Penulis adalah mahasiswa Prodi Aqidah Filsafat tidak lagi menjadi idaman, sehingga tidak mungkin semester 4 mereka mengerjakannya. Memudarnya cinta di atas mengakibatkan semakin mendestruksinya cinta mahasiswa kepada

2

Helmy; Seruan untuk Para Pejabat
Pegerakan… Simbol kecintaan pada tanah air beta Kecintaan yang selalu berseru untuk berjuang Berjuang atas nama rakyat lemah nan tak berdaya Rakyat yang tak kuasa berbuat apa-apa Yang hanya bisa berteriak di telingaku “Indonesia… kemana kau pergi Indonesiaku!” Pergerakan… Seruan yang membangunkan para pejabat Yang tertidur ketika rapat soal rakyat Seruan yang memekakkan telinga para politikus tuli Yang tak bisa mendengar tangisan-tangisan rakyat Seruan yang membakar kursi-kursi wakil rakyat Yang mau membangun gedung mewah di tengah kemalangan rakyat Seruan buat kau mata-mata yang haus Yang haus akan video-video porno Seruan juga buat kau keadilan Yang pergi entah ke mana Apakah mungkin kau kembali lagi? Pergerakan… Hidup untuk membawa kembali jiwa negeri yang telah lama hilang Membangunkan hati-hati yang dininabobokkan oleh uang Mencibir ketidakadilan Hidup pergerakan Tanpa pergerakan kau tak hidup! edisi #2 Apakah mungkin untuk menjelajah di bulan menggunakan sebuah kompas? Ayo rebut hadiah pulsa Rp. 5.000,- untuk 1 orang pemenang. TERCEPAT DAN BENAR, NO HP ANDA TERISI PULSA OTOMATIS. Caranya Ketik: TEBAK (spasi) NAMA (spasi) YA/TIDAK (spasi) ALASAN kirim ke 081902552879.

Agama Asli Nusantara: Kejawen
Kejawen (bahasa Jawa Kejawèn) adalah sebuah kepercayaan atau mungkin boleh dikatakan agama yang terutama dianut di pulau Jawa oleh suku Jawa dan sukubangsa lainnya yang menetap di Jawa. Kata “Kejawen” berasal dari kata Jawa, sebagai kata benda yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia yaitu segala yg berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa (Kejawaan). Penamaan "kejawen" bersifat umum, biasanya karena bahasa pengantar ibadahnya menggunakan bahasa Jawa. Dalam konteks umum, kejawen merupakan bagian dari agama lokal Indonesia. Seorang ahli antropologi Amerika Serikat, Clifford Geertz pernah menulis tentang agama ini dalam bukunya yang ternama The Religion of Java atau dalam bahasa lain, Kejawen disebut "Agami Jawi". Kejawen dalam opini umum berisikan tentang seni, budaya, tradisi, ritual, sikap serta filosofi orangorang Jawa. Kejawen juga memiliki arti spiritualistis atau spiritualistis suku Jawa. Penganut ajaran kejawen biasanya tidak menganggap ajarannya sebagai agama dalam pengertian seperti agama monoteistik, seperti Islam atau Kristen, tetapi lebih melihatnya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku (mirip dengan "ibadah"). Ajaran kejawen biasanya tidak terpaku pada aturan yang ketat, dan menekankan pada konsep "keseimbangan". Dalam pandangan demikian, kejawen memiliki kemiripan dengan Konfusianisme atau Taoisme, namun tidak sama pada ajaran-ajarannya. Hampir tidak ada kegiatan perluasan ajaran (misi) namun pembinaan dilakukan secara rutin. Simbol-simbol "laku" biasanya melibatkan benda-benda yang diambil dari tradisi yang dianggap asli Jawa, seperti keris, wayang, pembacaan mantera, penggunaan bunga-bunga tertentu yang memiliki arti simbolik, dan sebagainya. Akibatnya banyak orang (termasuk penghayat kejawen sendiri) yang dengan mudah mengasosiasikan kejawen dengan praktik klenik dan perdukunan. Ajaran-ajaran kejawen bervariasi, dan sejumlah aliran dapat mengadopsi ajaran agama pendatang, baik Hindu, Buddha, Islam, maupun Kristen. Gejala sinkretisme ini sendiri dipandang bukan sesuatu yang aneh karena dianggap memperkaya cara pandang terhadap tantangan perubahan zaman.
3

Jawaban

edisi #1 6 Dolar, Alasannya dalam aturan Aritmatika perkalian didahulukan dari penjumlahan. Jadi, 2 dolar tambah 2 dolar kali 2 dolar = 6 dolar.

MENGISI KEBANGKITAN NASIONAL dengan MEMBACA
Tahukah anda bahwa tanggal 17 Mei adalah Hari Buku Nasional? Tampaknya peringatan hari buku ini belum begitu familiar dikalangan masyarakat. Hal ini disebabkan minat pembaca buku semakin lama mulai pudar dan usang seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Banyak yang bilang bahwa membaca buku hanya membuat orang mengantuk, jenuh, pusing, serta buku tidak se-menarik alat visual dan digital seperti televisi, handpone atau blackberry. Hal inilah yang nampaknya jadi pemicu kenapa tradisi membaca buku masih belum diminati. Terbukti di setiap sudut perpustakaan baik yang ada di sekolahan maupun universitas kerap kali terlihat sepi, dan kalaupun ramai itu hanyalah tuntutan akademis belaka. Menteri Pendidikan Nasional Abdul Malik Fadjar telah mencanangkan bahwa tanggal 17 Mei adalah Hari Buku Nasional, karena ia ingin memacu minat baca masyarakat Indonesia sekaligus menaikkan penjualan buku. Tetapi beberapa bulan terakhir terdengar kabar bahwa peringatan Hari Buku Nasional diganti pada tanggal 21 Mei, mungkin agar beriringan dengan Hari Kebangkitan Nasional yaitu tanggal 20 Mei. “Buku adalah jendela dunia” suatu pepatah yang kerap kali muncul di telinga kita. Namun hal ini belum bisa mengubah masyarakat Indonesia untuk melahap buku-buku yang ada, seperti halnya masyarakat Jepang, Amerika, Korea, dan Negara-negara lainnya. Bagi mereka membaca buku tak ubahnya seperti makan camilan yang dibawa ke mana-mana. Itulah mengapa mereka lebih maju dibandingkan Negara kita, karena mereka tidak pernah merasa puas untuk selalu terus membaca meskipun kemajuan telah dicapai. Oleh karena itu, buku sering disebut sebagai jendela peradaban dan bukan hanya sebatas pengantar tidur. Masyarakat Indonesia maksimal satu hari membaca buku hanya empat jam, butuh dua kali lipat untuk bisa sama dengan masyarakat di Negara-negara maju. Sungguh riskan sekali kita sebagai mahasiswa yang katanya sebagai kaum intelektual tetapi tidak ramah terhadap buku bahkan jarang untuk membaca buku.

Adalah tugas kita bersama untuk bisa menciptakan lingkungan dan tradisi gila membaca, karena masalah ini berada dipundak kita semua. Mulai dari orang tua, guru di sekolah, maupun pemerintah yang memiliki kekuasaan dan wewenang untuk mengeluarkan kebijakan. Lebih baik kita mengisi hari kebangkitan Indonesia dengan membaca buku. Semoga dengan adanya Hari Buku Nasional tersebut, masyarakat Indonesia khususnya kaum akademis akan lebih sadar terhadap pentingnya membaca buku, karena dengan begitu kita akan mendapatkan banyak pengetahuan dan wawasan berpikir yang notabene semuanya berujung pada peningkatan kecerdasan. (dq)

Luthfi (AF): Hari Kebangkitan Nasional dinodai dengan ricuhnya kongres PSSI, semoga FIFA tidak memberikan sanksi terhadap persepakbolaan kita. Anistok (AF): Tak adalagi mahasiswa, yang ada hanya anak SMA. Budaya akademis hilang terganti dengan budaya pop, konsumtif, plagiat, follow (ikut-ikutan, yang penting dianggap keren). Oh Indonesiaku Duwi wulandari (Staff The Management): Muhammad Saifullah (Mahasiswa UHAMKA): kata Ricardo Fasta : "enak yah jadi pengusaha sambil tiduran ajah bisa transaksi. Welcome brother ... ayoo kita bikin komunitas Pengusaha Muda Mahasiswa. Ainur Rofiq (AF): kata pepatah lama: “waladatka ummuka ya ibna âdama bâkiyan, wa al-nâsu hawlaka yadlhakûna surûran, fa ijhad li nafsika an takûna idzâ bakaw fî yawmi mawtika dlâhikan masrûran.” Wahai anak Adam, Engkau menangis saat dilahirkan ibumu, sedangkan orang-orang yang ada di sekitarmu menangis bahagia (karena kelahiranmu), maka buatlah mereka menangis sedih (karena kehilangan), sedangkan Engkau sendiri tertawa, di hari kepergianmu. Ingin Nama Kerenmu tercantum di ? Kirim kalimat kritis rekonstruktif, inspiratif, ucapan, atau kata mutiara, sekarang! Dan lihat namamu di Buletin Tanpa Nama edisi mendatang. Caranya: Ketik STATUSKU (spasi) NAMA (spasi) JURUSAN (spasi) KATA MAUTMU, kirim ke 087827155100

4

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->