MAKALAH

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3)
Memberi masukan kepada pekerja, terhadap pentingnya keselamatan kerja

Oleh : Novita Nur ‘Aini (100513402058/PTO)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
S1 PENDIDIKAN TEKNIK OTOMOTIF

TAHUN 2010
PENDAHULUAN

Selanjutnya. Kemudian konsep ini berkembang menjadi employers liability yaitu K3 menjadi tanggung jawab pengusaha.Dalam konteks bangsa Indonesia. Pada awal revolusi industri. lingkungan hidup. Muhammad: 2002). dan masyarakat umum yang berada di luar lingkungan kerja. kesadaran K3 sebenarnya sudah ada sejak pemerintahan kolonial Belanda. Perlindungan tersebut merupakan hak asasi yang wajib dipenuhi oleh perusahaan. K3 bertujuan mencegah. Di era golbalisasi menuntut pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di setiap tempat kerja termasuk di sektor kesehatan. pada 1908 parlemen Belanda mendesak Pemerintah Belanda memberlakukan K3 di Hindia Belanda yang ditandai dengan penerbitan Veiligheids Reglement. Untuk itu kita perlu mengembangkan dan meningkatkan K3 disektor kesehatan dalam rangka menekan serendah mungkin risiko kecelakaan dan penyakit yang timbul akibat hubungan kerja. bukan tanggung jawab perusahaan. 406 Tahun 1910. mengurangi. perusahaan. buruh/pekerja. Staatsblad No. bahkan menihilkan risiko kecelakaan kerja (zero accident). Penerapan konsep ini tidak boleh dianggap sebagai upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang menghabiskan banyak biaya (cost) perusahaan. dan masyarakat sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja. Pandangan ini diperkuat dengan konsep common law defence (CLD) yang terdiri atas contributing negligence (kontribusi kelalaian). Program keselamatan kerja yg baik adalah program yg terpadu dengan pekerjaan sehari-hari (rutin). Pada era in kecelakaan kerja hanya dianggap sebagai kecelakaan atau resiko kerja (personal risk). fellow servant rule (ketentuan kepegawaian).LATAR BELAKANG Suatu tempat kerja yang aman adalah lingkungan kerja yang teratur dan terpelihara dengan baik dan cepat menjadi terkenal sebagai tempat naungan pekerja yang baik. serta meningkatkan produktivitas dan efesiensi. pemerintah kolonial Belanda menerbitkan beberapa produk hukum yang memberikan perlindungan bagi keselamatan dan kesehatan kerja yang . K3 belum menjadi bagian integral dalam perusahaan. Misalnya. dan risk assumption (asumsi resiko) (Tono. sehingga sukar untuk dipisahkan satu sama lainnya. TUJUAN 1 Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melaksanakan pekerjaan 2 Menjamin keselamatan setiap orang yang berada di tempat kerja 3 Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman & efisien ISI Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan instrumen yang memproteksi pekerja. melainkan harus dianggap sebagai bentuk investasi jangka panjang yang memberi keuntungan yang berlimpah pada masa yang akan datang.

di udara maupun di ruang angkasa. Beberapa di antaranya yang menyangkut sektor perhubungan yang mengatur lalu lintas perketaapian seperti tertuang dalam Algemene Regelen Betreffende de Aanleg en de Exploitate van Spoor en Tramwegen Bestmend voor Algemene Verkeer in Indonesia (Peraturan umum tentang pendirian dan perusahaan Kereta Api dan Trem untuk lalu lintas umum Indonesia) dan Staatblad 1926 No. Ketakutan untuk melaporkan kerusakan pada alat kerja karena tidak jarang perusahaan malah . pertanian. dalam air. industri manufaktur (pabrik). 225. 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan beserta peraturan-peraturan pelaksanaan lainnya. pembangunan nasional sangat erat dengan perkembangan isu-isu global seperti hak-hak asasi manusia (HAM). baik di darat. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). di dalam tanah. Karena itu bukan mustahil jika ada perusahaan yang peduli terhadap K3. 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja tidak menyatakan secara eksplisit konsep K3 yang dikelompokkan sebagai norma kerja. di permukaan tanah. kemiskinan. UU No.Di era globalisasi saat ini. aspek K3 belum menjadi isu strategis dan menjadi bagian dari masalah kemanusiaan dan keadilan. Misalnya. termasuk pengaturan masalah K3. Juga kepekaan terhadap kaum pekerja dan masyarakat miskin. Veiligheids Reglement (Peraturan Keamanan Kerja di Pabrik dan Tempat Kerja). Sementara itu. Perlu kesadaran untuk memperbaiki system K3 di Indonesia. konstruksi. dan sebagainya. menempatkan ini pada urutan pertama sebagai syarat investasi.Setiap tempat kerja atau perusahaan harus melaksanakan program K3. Banyak perusahaan multinasional hanya mau berinvestasi di suatu negara jika negara bersangkutan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan hidup. regulasi yang berkaitan dengan K3 juga dijumpai dalam sektorsektor lain seperti pertambangan.diatur secara terpisah berdasarkan masing-masing sektor ekonomi. UU No. pergerakan roda ekonomi nasional baru mulai dirintis oleh pemerintah dan swasta nasional. Hal ini tertuang dalam UU No. Perkembangan tersebut mendorong pemerintah melakukan regulasi dalam bidang ketenagakerjaan. 1 Tahun 1070 tentang Keselamatan Kerja. Sistem pelaporan gangguan alat kerja kepada mekanik. Schepelingen Ongevallen Regeling 1940 (Ordonansi Kecelakaan Pelaut). lingkungan hidup. salah satunya menghilangkan budaya nrimo. 334. Tempat kerja dimaksud berdimensi sangat luas mencakup segala tempat kerja. 13 Tahun 1992 tentang Perkerataapian. Selain sekor perhubungan di atas. Hal ini dapat dipahami karena Pemerintahan Indonesia masih dalam masa transisi penataan kehidupan politik dan keamanan nasional. Staatsblad 1930 No. UU No. Kepedulian Tinggi Pada awal zaman kemerdekaan. K3 baru menjadi perhatian utama pada tahun 70-an searah dengan semakin ramainya investasi modal dan pengadopsian teknologi industri nasional (manufaktur). Pengaturan hukum K3 dalam konteks di atas adalah sesuai dengan sektor/bidang usaha. sedangkan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan sebelumnya seperti UU Nomor 12 Tahun 1948 tentang Kerja. UU No. dan lain-lain. perikanan. Persaingan global tidak hanya sebatas kualitas barang tetapi juga mencakup kualitas pelayanan dan jasa. dan buruh.

dengan memperhitungkan risiko berdasarkan faktor-faktor konsekuensi. pemilihan alat pelindung diri yang diperlukan dan gizi serta penyelenggaraan makanan ditempat kerja 4.1 tahun 1970. APD yang dipakai sesuai dengan hazard yang dituju. d. 2. Adanya bukti bahwa APD dipatuhi penggunaannya. a. Telaah data-data kecelakaan dan penyakit. Permenakertrans No.03/Men/1986 Pasal 2 ayat (2) menyebutkan tenaga kerja yang mengelola Pestisida harus memakai alat-alat pelindung diri yg berupa pakaian kerja. pajanan dan kemungkinan terjadinya. Terbatasnya faktor stimulan pimpinan Karena tidak enak /kurang nyaman. Pasal 12 butir b: Dengan peraturan perundangan diatur kewajiban dan atau hak tenaga kerja untuk memakai APD. Rendahnya kesadaran pekerja terhadap Keselamatan kerja dianggap mengurangi feminitas. Tidak tertarik/cuek dengan lingkungan sekitar dapat diatasi melalui pembinaan mental dan spiritual secara berkala minimal sebulan sekali. Permenakertrans No. Hazard telah diidentifikasi. 3. Penggunaan APD (alat pelindung diri) dalam lingkungan kerja yang sesuai menjadi property yang wajib digunakan oleh pekerja.memarahi pegawainya. dan jenis material yang dipakai. Pelatihan investigasi terhadap kemungkinan bahaya bom/kebakaran/demostrasi/ bencana alam serta Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) bagi satuan pengaman. Metode penentuan APD Melalui pengamatan operasi. kacamata pelindung atau pelindung muka dan pelindung pernafasan . Belajar dari pengalaman industri sejenis lainnya Proses penggunaan APD harus memenuhi kriteria: 1. 2.Per. proses. Pelatihan tanggap darurat secara periodik bagi pegawai. Dasar Hukum 1.03/MEN/1982 Pasal 2 butir I menyebutkan memberikan nasehat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat kerja. Undang-undang No. Melakukan corrective action apabila ada hal-hal yang tidak sesuai dengan ketentuan. c.Per. sarung tangan. Pasal 9 ayat (1) butir c: Pengurus diwajibkan menunjukkan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru tentang APD. Melakukan walk through survey tiap bulan/triwulan atau semester. akibatnya mesin produksi yang rusak tidak terdeteksi dan proses produksi tidak berlangsung secara maksimal. Penegakan disiplin ditempat kerja. sepatu lars tinggi.Per. 3. Pasal 3 ayat (1) butir f: Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat untuk memberikan APD b.01/MEN/1981 Pasal 4 ayat (3) menyebutkan kewajiban pengurus menyediakan alat pelindung diri dan wajib bagi tenaga kerja untuk menggunakannya untuk pencegahan penyakit akibat kerja. Pasal 14 butir c: Pengurus diwajibkan menyediakan APD secara cuma-Cuma. Permenakertrans No.

Penggunaan Alat Pelindung diri yang sesuai dengan keadaan kerja harus diperhatikan karena dapat mengurangi resiko kecelakaan kerja. (Online) http://arbelprasetyo. kebisingan. kualitas udara. 7 Oktober 2010 (Online)http://www.com/lawarchives/indonesia/uu_keselamatan_k erja/uu_keselamatan_kerja_index. 8 Oktober 2010 Mohammad Sholeh.htm.com/2009/03/07 /kelamatan-dan-kesehatran-kerja-k3.com/2008/04/04/alat-pelindung-diri/.html#comments. (Oneline) http://mohammadsholeh. Metode K3 tidak hanya meningkatkan kesehatan maupun keselamatan karyawan/pekerja dalam melakukan pekerjaan di tempat kerjanya. hygiene dan sanitasi. psikososial. kualitas pencahayaan. 7 Oktober 2010 Balai K3 Bandung.blogspot.wordpress. Harapannya rekomendasi ini dapat dijadikan sebagai acuan ataupun perbandingan dalam rangka meningkatkan pelaksanaan K3. REFRENSI Arbel Prasetyo.asiatour. (Online) http://hiperkes.myblogrepublika.PENUTUP Dalam pelaksanaan K3 perlu memperhatikan konstruksi gedung beserta perlengkapannya dan operasionalisasinya serta kode pelaksanannya maupun terhadap jaringan elektrik dan komunikasi.com/2009/02/hukum-keselamatan-dankesehatan-kerja. 7 Oktober 2010 . display unit (tata ruang dan alat).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful