P. 1
Laporan Lapangan Geologi Struktur Daerah Lumpue Kotamadya Pare-pare Sulsel Indoskripsi

Laporan Lapangan Geologi Struktur Daerah Lumpue Kotamadya Pare-pare Sulsel Indoskripsi

|Views: 1,026|Likes:
Published by Yusuf Rudyanto

More info:

Published by: Yusuf Rudyanto on May 23, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/23/2013

pdf

text

original

INDOSKRIPSI

Kumpulan Skripsi Online Full Content
• • • • • • •

Home Profil Terms and Conditions Contact Donate Tanya Jawab Report Abuse

Home

LAPORAN LAPANGAN GEOLOGI STRUKTUR DAERAH LUMPUE KOTAMADYA PARE-PARE SULSEL
• •

View clicks

Posted April 16th, 2008 by hendra sani

Tugas Kuliah Lainnya

BAB I PENDAHULUAN 1 . 1 Latar Belakang Geologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang bumi dan juga segala isinya serta aspekaspek yang berpengaruh di dalamnya. Pada dasarnya bumi ini bersifat dinamis dimana bumi ini selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan ini akan selalu terjadi alam skala lokal maupun regional. Oleh karena sifat bumi yang selalu bergerak, maka sangatlah perlu dlakukan penelitian yang khusus terhadap pergerakan bumi ini serta pengaruh terhadap kehidupan manusia. Dimana dapat kita hitung kecepatan dari pergerakan itu serta apa akibat yang ditimbulkan dari pergerakan itu. 1 . 2 Maksud dan Tujuan Adapun maksud dari diadakannya Field Trip Geologi Stuktur yang dilakukan di daerah Lumpue Kotamadya Pare-pare Propinsi Sulawesi Selatan , agar para paktikan dapat mengetahui gejala – gejala stuktur yang ada di lapangan dan selanjutnya dapat menginterpetasikan berdasarkan data struktur yang telah diperoleh.

Adapun maksud dari diadakannya Field Trip Geologi Stuktur yang dilakukan di daerah Lumpue Kotamadya Pare-pare Propinsi Sulawesi Selatan adalah agar: 1. Mahasiswa dapat mengetahui kondisi struktur geologi yang ada pada daerah Lumpue. 2. Mahasiswa dapat menganalisa struktur – struktur geologi yang ada pada daerah penelitian berdasarkan pengolahan data yang telah diambil datanya di pantai Lumpue Pare-pare. 3. Mahasiswa dapat mengetahui macam-macam struktur pada daerah penelitian berdasarkan analisis data – data diperoleh. 4. Mahasiswa dapat mengetahui mekanisme struktur geologi pada daerah pantai Lumpue 1 . 3 Lokasi, Waktu Dan Kesampaian Daerah Secara administratif, daerah penelitian berada pada daerah Lumpue Kota Madya Pare-Pare Provinsi Sulawesi Selatan. Field Trip ini dilaksanakan selama satu hari yaitu pada hari Sabtu, 6 Mei 2006 Daerah penelitian dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan beroda empat maupun beroda dua dengan jarak kurang lebih 215 kilometer dari kota Makasar dengan lama perjalanan kurang lebih 4 jam. Pemberangkatan dimulai dari kampus UNHAS pada hari Sabtu 6 Mei 2006 pada pukul 07.30 WITA, tiba di lokasi penelitian pukul 12.00 WITA. Pelaksanaan praktek lapangan Vulkanologi berlangsung selama satu hari, yaitu pada hari jum’at, tanggal 18 April 2003. 1 . 4 Metode dan Tahapan Penelitian Dalam melakukan penelitian di daerah Lumpue Kotamadya Pare-pare Propinsi Sulawesi Selatan dilakukan beberapa metode penelitian antara lain: METODE DAN TAHAPAN PENELITIAN Gambar 1.1. Diagram Alir Metode Penelitian ? Tahap Persiapan Pada tahap ini dilakukan persiapan administrasi berupa perizinan baik dari pihak Universitas Hasanuddin maupun Pemerintah daerah serta persiapan teknis menyangkut peralatan dan bahan yang digunakan selama penelitian seperti peta dengan skala 1 : 25.000, kompas geologi, dan alatalat lainnya yang diperlukan dalam kegiatan penelitian tersebut. Dalam tahap ini juga dilakukan studi literatur untuk memperoleh gambaran umum mengenai daerah penelitian yang selanjutnya digunakan sebagai pedoman dalam penyusunan laporan. ? Tahap Penelitian Lapangan Penelitian lapangan merupakan tahapan pengambilan data-data geologi pada lokasi penelitian melalui pencatatan data-data geologi permukaan berupa pencatatan data lapangan pada buku lapangan, pengambilan conto batuan. ? Tahap Pengolahan Data Pada tahap ini semua data yang telah diamati di lapangan diolah dalam bentuk pengukuran kekar, gambar profil kekar, pengukuran kedudukan batuan , sketsa kekar, Dibuat dalam laporan sementara yang selanjutnya untuk dianalisa dan diinterpretasikan. ? Tahap Penyusunan Laporan Setelah data-data terolah dan terinterpretasikan, maka hasil penelitian disusun dalam suatu laporan ilmiah. Laporan ini memuat semua data lapangan, hasil analisis dan interpretasi secara sistematik berupa uraian deskriptif.

1 . 5 Alat dan Bahan Adapaun alat dan bahan yang digunakan dalam Field Trip Struktur Geologi ini antara lain : 1. Peta lintasan Untuk membantu dalam mengetahui posisi dan sebagai penunjuk pada daerah penelitian. 2. Kompas geologi Kompas geologi digunakan untuk mengukur kedudukan batuan, mengukur arah ataupun slope. 3. Palu geologi Palu geologi digunakan untuk membantu mengambil sampel batuan 4. Betel Betel digunakan juga dalam pengambilan sampel yang lunak 5. Kantong sampel Kantong sampel merupakan tempat untuk menyimpan sampel dan memberi label sehingga mudah dikenali. 6. Spidol Permanen Digunakan dalam pemberian label dikantong sampel 7. Larutan HCl Digunakan sebagai uji sifat kimiawi pada batuan, apakah bersifat karbonatan atau silika. 8. Mistar dan busur derajat Digunakan sebagai alat untuk membantu pengeplotan data 9. Klip board Digunakan sebagai alas dalam pencatatan data lapangan serta alat bantu dalam pengambilan kedudukan batuan. 10. Klip Dan Hecter Digunakan untuk menghecter kantong sampel tempat sampel 11. Spidol Permanen Digunakan dalam pemberian label dikantong sampel 12. Kertas Kuarto Digunakan dalam pancatatan data diluar buku lapangan 13. Buku lapangan Digunakan untuk mencatat data – data lapangan tau merekam data 14. Roll meteran Digunakan untuk mengukur jarak lintasan 15. Lup Digunakan untuk melihat mineral pada batuan. 16. Komparator Merupakan alat kesebandingan dalam penamaan batuan. 17. Pita meter Untuk mengukur dimensi singkapan

18. Pensil warna Digunakan untuk memberi simbol warna terhadap data litologi yang diperoleh 19. Alat tulis menulis 1 . 6 Peneliti Terdahulu Peneliti yang telah melakukan penelitian geologi baik secara regional maupun secara lokal di Sulawesi Selatan secara khusus antara lain Sarasin (1901), Verbeek (1908), Ahlburg (1913) dan Stieger (1915), yang menekankan pada urut-urutan batuan tersier di daerah ini. Thoen dan Zieger (1917), membuat suatu sintesa geologi Sulawesi Selatan menghasilkan peta geologi dengan skala 1 : 200.000, juga melakukan penelitian stratigrafi pada lengan selatan Sulawesi Selatan. Penelitian ini dilanjutkan oleh Brouwer (1924) yang disimpulkan oleh Van Bemmelen dan kemudian oleh Rutten (1972). Penelitian yang terdahulu yang lebih khusus dilakukan oleh Egeler (1947) yang menganalisa secara detail petrologi batuan malihan di bagian barat Sulawesi dan oleh Sukamto (1974) yang mengemukakan pola-pola struktur Sulawesi yang dikelilingi dan dipengaruhi oleh lempeng tektonik yang mengelilingi pulau Sulawesi. Adapun peneliti terdahulu yang digunakan penulis sebagai acuan dan literatur atau referensi dalam pembuatan laporan lapangan ini, yaitu : ? Van Bemmelen (1975), meneliti secara umum potensi-potensi bahan galian di Sulawesi selatan. ? Rab Sukamto (1975), peneliti pulau Sulawesi dan pulau-pulau yang ada disekitarnya dan membagi kedalam tiga mandala geologi, dalam hal ini daerah penelitian termasuk Mandala Sulawesi Timur. ? Rab Sukamto (1975), penelitian perkembangan tektonik sulawesi dan sekitarnya yamg merupakan sintesis yang berdasarkan tektonik lempeng. ? Sartono Astadireja (1981), Mengadakan penelitian geologi Kuarter Sulawesi dan Tenggara. ? Rab Sukamto dan Simanjuntak (1983), penelitian terhadap hubungan tektonik ketiga Mandala Geologi Sulawesi yang ditinjau dari aspek sedimentologinya. Gbr I.2. Peta Tunjuk Lokasi BAB II SRUKTUR GEOLOGI REGIONAL DAERAH PENELITIAN Struktur Geologi di daerah penelitian terdiri atas : 1. Struktur Lipatan 2. Struktur Sesar Struktur tersebut di bagi lagi menjadi beberapa jenis, beriktu pembahasan dari masing-masing struktur. 2.1 Struktur Lipatan Struktur lipatan adalah suatu bentuk deformasi pada batuan sedimen, batuan vulkanik dan batuan metamorf yang memperlihatkan suatu bentuk yang bergelombang (MARLAND P. BILLINGS, 1979). 2.1.1 Struktur Sinklin Waruwae Struktur sinklin Waruwae sebagian besar terletak di bagian Selatan memanjang dari arah

Baratlaut ke Tenggara dengan sumbu lipatan sekitar 10 km dan mempunyai bentuk yang relatif melengkung dan merupakan suatu sinklin asimetris. Satuan batuan yang mengalami perlipatan adalah satuan batuan breksi vulkanik yang diperkirakan ikut pula terlipat adalah sauan napal dan satuan breksi batugamping. Umur dari sauan batuan tersebut adalah Eosen Awal – Miosen Akhir sehingga diperkirakan bahwa struktur sinklin Waruwae terbentuk setelah Miosen Akhir. 2.2 Struktur Sesar Sesar merupakan suatu rekahan pada batuan yang telah mengalami pergeseran sehingga terjadi perpindahan antara bagian-bagian yang berhadapan dan arahnya sejajar dengan bidang patahan (Sukendar azikin, 1979). Struktur sesar yang dijumpai pada daerah Barru Bagian Timur antara lain : 1. Sesar Normal Bale 2. Sesar Geser Aledjang 3. Sesar Geser Buludua 2.2.1 Sesar Normal Bale Sesar Normal Bale terletak di sebelah Utara dengan panjang sesar sekitar 250 meter. Sesar ini memanjang dari arah Barat ke Timur melalui dusun Bale, Galungsawae dan Buludua dan dipotong oleh sesar geser Buludua. Bentuk sesar normal Bale ini relatif melengkung dimana blok bagian Selatan relatif bergerak turun terhadap blok bagian Utara. Satuan batuan yang tersesarkan terdiri dari satuan napal dan breksi batugamping. Berdasarkan pada umur Batuan termuda yang dilalui yaitu satuan napal dengan umur Eosen Tengah, maka diperkirakan sesar normal Bale terbentuk setelah Eosen Tengah. 2.2.2 Sesar Geser Aledjang Sesar Geser Aledjang terdapat di sebelah Baratlaut dan merupakan sesar geser yang bersifat dextral. Sesar geser ini mempunyai arah pergeseran relatif ke Timur – Baratdaya dengan pergeseran sekitar 200 meter. Sesar geser ini dicirikan oleh zona-zona hancuran batuan pada satuan napal yang ditemukan pada lereng permukaan gawir di dusun Aledjang. Berdasarkan pada umur batuan termuda yang dilalui maka diperkirakan bahwa sesar geser Aledjang terbentuk setelah Miosen Akhir. 2.2.3 Sesar Geser Buludua Sesar geser Buludua di sebelah Baratlaut dan merupakan sesar geser bersifat dextral. Sesar geser ini arah pergeserannya relatif berarah Baratlaut – Tenggara dengan panjang pergerakkan sekitar 2 km. Satuan batuan yang dilaluinya terdiri atas napal dan satuan batugamping. Akibat dari adanya sesar ini banyak ditemukan mata air di sekitar daerah Buludua. Berdasarkan pada batuan termuda yang dilalui yaitu satuan breksi vulkanik, maka diperkirakan sesar ini terbentuk setelah Miosen Akhir. Van Leeuwen ( 1979 ), menerangkan bahwa pola struktur Lengan Selatan Pulau Sulawesi, yaitu struktur sesar Walanae, searah dengan sesar geser Palu Koro di Sulawesi Tengah. Sesar Walanae terbagi dua yaitu sesar Walanae Barat dan sesar Walanae Timur yang terbentuk pada Kala Plio – Plistosen. RAB SUKAMTO ( 1982 ), berpendapat bahwa kegiatan tektonik pada Kala Miosen Awal menyebabkan terjadinya permulaan terban Walanae yang memanjang dari utara ke selatan pada Lengan Sulawesi bagian barat. Struktur sesar berpengaruh terhadap struktur geologi sekitarnya.

Tekronik ini menyebabkan terjadinya cekungan tempat terbentuknya Formasi Walanae. Peristiwa ini kemungkinan besar berlangsung sejak awal Miosen Tengah, dan menurun perlahan selama sedimentasi sampai Kala Pliosen. Menurunnya Terban Walanae dibatasi dua sistem sesar normal, yaitu sesar Walanae yang seluruhnya nampak hingga sekarang di sebelah timur, dan sesar Soppeng yang hanya tersingkap tidak menerus di sebelah barat. Selama terbentuknya Terban Walanae, di Timur kegiatan gunungapi terjadi hanya di bagian selatan, sedangkan di barat terjadi kegiatan gunungapi yang merata dari selatan ke utara, berlangsung dari Miosen Tengah sampai Pliosen. Bentuk kerucut gunungapi masih dapat dia amati di daerah sebleh barat ini, suatu tebing melingkar mengelilingi G. Benrong, di utara G. Tondongkarambu, mungkin merupakan suatu sisa kaldera. Sesar utama yang berarah Utara – Baratlaut terjadi sejak Miosen Tengah, dan tumbuh sampai setelah Pliosen. Perlipatan yang berarah hampir sejajar dengan sesar utama diperkirakan terbentuk sehubungan dengan adanya tekanan mendatar berarah kira-kira Timur Barat pada waktu sebelum akhir Pliosen. Tekanan ini mengakibatkan pula adanya sesar sungkup lokal yang mengsesarkan batuan Pra-Kapur Akhir di daerah Bantimala ke atas batuan Tersier. Perlipatan dan pensesaran yang relatif lebih kecil di bagian Timur Lembah Walanae dan di bagian Barat pegunungan yang berarah Baratlaut – Tenggara, kemungkinan besar terjadi akibat adanya gerakan mendatar tekanan sepanjang sesar besar. Gambar 2.1. Peta Geologi Daerah Sulawesi Selatan (Rab, Sukamto 1992) Gambar 2.2. Peta Geologi Pulau Sulawesi dan sekitarnya (GRDC, 19**) Gambar 2.3. Peta Geologi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1 Lipatan 3.1.1 Pengertian Lipatan Lipatan adalah merupakan hasil perubahan bentuk dari suatu bahan yang ditunjukkan sebagai suatu lengkungan atau kumpulan lingkungan dari lengkungan pada unsur garis atau bidang dalam bahan tersebut. Pada umumnya unsur yang terlibat di dalam lipatan adalah bidang perlipatan, foliasi, dan liniasi. 3.1.2 Ciri – ciri Lipatan Lipatan pada lapisan permukaan bumi dapat diamati secara langsug dilapangan dimana suatu lapisan dikatakan telah mengalami perlipatan jika pada lapisan tersebut memperlihatkan suatu ciri tertentu. Adapun cirri dari lipatan tersebut yaitu : ? Ditemukannya suatu perubahan kedudukan pada suatu perlapisan batuan, dimana suatu perlapisan batuan tersebut yang pada awalnya diendapkan pada posisi yag mendatar, maka setelah mengalami perlipatan maka akan megalami perubahan kedudukan. ? Lipatan juga dapat dicirikan dengan adanya kedudukan yang berlawanan pada satu lapisan batuan yang sama dan pada suatu horizon yang sama pula. 3.1.3 Klasifikasi Lipatan Secara umum lipatan dapat diklasifikasikan atas;

1. Antiklin (Yuanani, anticline = ”miring berlawanan”) didefenisikan sebagai lipatan yang cekung keatas, atau suatu lipatan dimana batuan yang lebih tua berada dibagian dalam lipatan. Bentuk dari lipatan antiklin ini dapat dilihat pada gambar di bawah. symbol untuk lipatan antiklin Gambar 3.1. Model Perlipatan 2. Sinklin (Yunani, sincline = ”miring ke arah yang sama”) didefenisikan sebagai lipatan yang cekung kebawah, atau suatu lipatan dimana batuan yang lebih muda berada dibagian tengah. Bentuk-bentuknya dapat dapat dilihat pada gambar dibawah. Simbol strike dan dip untuk lipatan Sinklin 3. Lipatan simetris atau lipatan setangkup (symetrical fold) atau lipatan tegak (upright fold) adalah lipatan yang bidang sumbunya vertikal. 4. Lipatan asimetris atau lipatan tak setangkup (asymetricalo fold) adalah lipatan yang sumbu lipatannya miring. 5. Lipatan menggantung (overturned fold or overfold) adalah lipatan yang sumbu lipatannya miring dan kedua sayapnya mempunyai arah kemiringan yang sama. Biasanya sudut kemiringan kedua sayapnya berbeda. Sayap lipatan yang menggantung atau terbalik (overturned, inverted, or reversed limbs) adalah sayap lipatan yang telah mengalami rotasi lebih dari 90o dari posisi awalnya. Pada lipatan ini simbol jurus dan kemiringannya agak berbeda dari simbol yang biasa. Gbr 3.2 Beberapa varietas sinklin AP = bidang sumbu Gbr 3.3 Beberapa varietas lipatan I. (A) Lipatan simetris. (B) Lipatan Asimetris. (C) Lipatan menggantung. (D) Lipatan rebah 6. Lipatan rebah (recumbent fold) adalah lipatan yang bidang sumbunya horizontal. Lipatan ini dalam skala besar banyak ditemukan di Pegunungan Alpina (Eropa) sehingga peristilahan yang berhubungan dengan lipatan ini umumnya disusun oleh para ahli geologi Eropa. Lapisan-lapisan pada sayap yang terbalik biasanya jauh lebih tipis dibandingkan dengan pada sayap normalnya. Istilah arch – bend digunakan untuk menamakan bagian kurva lipatan yang terletak diantara sayap terbalik dan sayap normal. Istilah ini hampir sama pengertiannya dengan sendi. Banya lipatan rebah yang ditemukan di Pegunungan Alpina tersusun oleh batuan kristalin Paleozoikum di bagian pusatnya dan batuan sedimen Mesozoikum sebagai penutupnya, sehingga kemudian muncullah istilah inti (core) dan kulit (shell). Lipatan rebah sering menyebabkan munculnya lipatan-lipatan rebah sekunder yang terbentuk seperti jari tangan sehingga disebut penjarian (fingering). Jika singkapan lipatan ini cukup baik, kita akan dapat melihat akar (root) atau zona akar yang merupakan suatu tempat di permukaan bumi sdimana lipatan ini muncul. 7. .Lipatan isoklinal (isoclinal fold) adalah lipatan yang kedua sayapnya sejajar atau hampir sejajar. Lipatan ini dapat dibedakan lagi menjadi tiga jenis yaitu : • Lipatan isoklinal-tegak ; bidang sumbunya vertikal • Lipatan isoklinal-miring ; bidang sumbunya miring. • Lipatan isoklinal-rebah ; bidang sumbunya horizontal.

8. Lipatan kotak (box fold) adalah lipatan yang puncaknya rata dan datar, sendi lipatan ini ada dua buah dan terletak pada sisi-sisi bidang puncaknya. Gbr 3. 4. Beberapa varietas lipatan II. AP = bidang sumbu. (A) Lipatan chevron. (B) Lipatan kotak 9. Lipatan kipas (fan fold) adalah lipatan yang kedua sayapnya menggantung. Pada antiklin lipatan kipas arah kemiringan kedua sayapnya saling mendekat, sedang pada sinklinnya saling menjauh. 10. Kink band adalah pitasempit, dengan lebar biasanya beberapa inci atau beberapa kaki, dan dianggap sebagai lapisan yang lebih landai daripada lapisan disekitarnya. Batas kink band biasanya berupa rekahan . Gbr 3. 5 Beberapa varietas lipatan III. AP = bidang sumbu. (A) Lipatan kipas. (B) kink band. suatu rekahan dapat memisahkan kink band dari lapisannya. 11. Di dataran tinggi (plateau), dimana pada umumnya lapisan relatif datar. Suatu strata dapat mengalami perlipatan lokal dengan kemiringan yang landai, yang disebut monoklin. Kemiringan lapisan dalam suatu monoklin dapat berkisar dari beberapa hingga 90o dan ketinggian suatu lapisan yang sama, pada sisi yang berbeda, dapat mencapai ribuan kaki. 12. Istilah homoklin (Yunani, homocline = ”kemiringan tunggal”s) dipakai untuk menamakan suatu strata yang salah satu sisinya miring dengan kemiringan relatif seragam. Meski homoklin dalam suatu daerah luas biasanya merupakan sayap suatu lipatan, tapi istilah ini berguna untuk menunjukkan jenis struktur pada satu daerah yang relatif kecil. 3.1.4 Ganesa Lipatan Berdasarkan proses lipatannya dan jenis batuan yang terlipat, dibedakan menjadi 4 macam: • Flexure/competent folding termasuk didalamnya parallel fold. • Flow/Incompetent termasuk didalamnya similar fold • Shear folding • Flexure dan Flow Folding Lipatan dapat terbentuk dari berbagai pengaruh meliputi : • lipatan dipengaruhi oleh suhu, tekanan, zat cair dan sifat badan batuan (komposisi, tekstur dan sifat setiap lapisan). • Mekanisma perlipatan meliputi pemampatan atau pemendekan (buckling), pembengkokan (bending), aliran fleksur (flexural flow) dan aliran pasif (passive flow). Setiap mekanisme ini disertai oleh gelincir fleksur (flexural slip). • Untuk suatu perlapisan, akan mengalami pengekalan ketebalan semasa mendapatkan pengaruh gaya, dan akan terbentuk gelincir fleksur sepanjang perlapisan.. • Mekanisma pembengkokkan melibatkan arah gaya yang tegak terhadap suatu perlapisan dan biasanya menghasilkan lipatan yang terbuka, seperti kubah, lembangan dan gerbang. • Pembengkokkan terjadi jika terdapat objek tertentu (seperti intrusi batuan beku) yang berada di bawah sesuatu lapisan. • Pemampatan/Pemendekkan (buckling) melibatkan arah gaya yang searah dengan perlapisan. Pada suhu yang rendah, buckling biasanya disertai oleh gelincir fleksur.

• Sebelum buckling berlaku lapisan biasanya dipendekkan secara mendatar dan ditebalkan secara menegak. • Variasi daripada buckling adalah kinking. Kinking ini biasanya berasosiasi dengan batuan skis dan membentuk lipatan chevron. Ia terbentuk akibat daripada proses gelincir fleksur yang terkekang. • Mekanisma aliran fleksur (flexural flow) berlaku bila sebagian lapisan bersifat mulur dan sebahagian bersifat rapuh. Lapisan yang bersifat rapuh akan mempengaruhi bentuk lipatan yang dihasilkan. • Mekanisma aliran pasif (passive flow) melibatkan aliran pada keseluruhan batuan. Perlapisan, foliasi. Aliran pasif ini hanya berlaku pada batuan di mana tidak ada perbedaan kemuluran antara lapisan dan menghasilkan lipatan serupa. • Kombinasi antara beberapa mekanisma di atas sering berlaku atau bersaingan pada sekitar tekanan dan suhu yang berfariasi. • Dekat permukaan bumi, gelincir fleksur dan buckling biasa berlaku. Bila lipatan menjadi lebih ketat, geseran antara lapisan meningkat dan gelinciran sukar terbentuk. Unsur-unsur lipatan o Antiklin adalah unsure struktur lipatan dengan bentuk convex atas dengan urutan lapisan yang tua dibawah dan yang muda diatas. o Sinklin, adalah unsur struktur lipatan dengan bentuk concav keatas dengan urutan lapisan yang tua dibawah dan yang muda diatas. o Antiform adalah unsur struktur lipatan seperti antiklin dengan lapisan batuan yang tua diatas dan yang muda dibawah o Sinform, adalah unsur struktur lipatan seperti sinklin dengan lapisan batuan tua diatas dan yang muda dibawah o Hinge adalah pelengkungan maksimum dari lipatan o Trough adalah titik dasar terendah dari lipatan o Inflection, adalah pertengahan antara dua pelengkungan maksimum o Culmination, adalah titik tertinggi pada garis puncak o Depresion adalah titik terendah pada garis puncak o Axial line (hinge line) adalah garis khayal yang menghunbungkan titik-titik pelengkungan maksimum pada setiap permukaaan lapisan dari setiap struktur lipatan. o Axial surface (hinge surface) adalah bidang khayal dimana terdapat semua axial line dari suatu lipatan. Pada beberapa lipatan, bidang ini dapat merupakan suatu bidang planar dan dinamakan ”axial plane”. o Crestal line, adalah suatu garis khayal yang menghubungkan titik-titik tertinggi pada setiap permukaan lipatan suatu antiklin o Trough line adalah suatu garis khayal yang mengbungkan titik-titik terendah pada suatu sinklin. o Crestal surface, adalah suatu bidang khayal dimana terletak semua crestal line dari suatu antiklin. o Trough surface, adalah suatu lubang khayal dimana terletak semua trough line dari semua antiklin. o Plunge, adalah sudut penunjaman dari axial line terhadap bidang horizontal dan diukur pada bidang vertikal. o Bearing, adalah sudut horizontal yang dihitung terhadap arah tertentu dan ini merupakan arah dari penunjaman suatu axial line/hinge line.

o Rake, adalah sudut antara axial line/hinge line dengan bidang/garis horizontal yang diukur pada axial plane/surface. o Fold vergence, adalah arah kecenderungan lipatan asimetri, apabila pada bagian sayap yang curam terletak dibagian utara maka fold vergencenya ke utara. Pada daerah penelitian dijumpai adanya lipatan batuan pyroklastik. Hal ini ditunjukkan dengan adanya lapisan-lapisan batuan yang memberi kesan berupa perlapisan, dimana lipatan yang terjadi pada daerah penelitian telah mengalami abrasi oleh media berupa air laut, sehingga perlipatan yang tampak berupa perlipatan yang tampak seperti telah terpotong-potong. Dari pengamatan dapat diinterpretasikan bahwa perlipatan ini diakibatkan oleh adanya gaya endogen. Perlipatan tersebut cenderung membentuk perlipatan antiklin. Kemiringan setiap batuan hampir sama yang merupakan ciri dari perlipatan monoklin. 3.2 Kekar 3.2.1 Pengertian Kekar Kekar merupakan suatu rekahan yang relative tanpa mengalami pergeseran pada bidang rekahannya. Penyebab terjadinya kekar dapat disebabkan oleh gejala tektonik maupun non tektonik. Dalam analisa struktur geologi yang diperlukan adalah kekar yang disebabkan oleh gejala tektonik Pada umumnya kekar merupakan bidang datar, tetapi bebrapa diantaranya ada juga yang merupakan bidang kurvatur.Disepanjang bidang itu tidak terjadi pergerakan atau pergeseran. Hal itulah yang merupakan pembeda antara kekar dengan sesar. Jadi Kekar dapat diartikan sebagai rekahan batuan yang belum mengalami pergeseran atau pergerakan relatif. Istilah kekar pertama kali digunakan dilapangan batubara Inggris karena para ahli pertambangan melihat bahwa batuan-batuan bergabung disepanjang rekahan-rekahan, seperti halnya Batubara disusun untuk membentuk suatu dinding. 3.2.2 Ciri – ciri kekar Kanampakan kekar dapat dicirikan dengan kenampakan rekahan – rekahan pada suatu permukaan bumi / batuan , namun jarak antar rekahan – rekahan tersebut masih memiliki jarak yang masih dapat diabaikan ( belum mengalami pergeseran yang berarti ). 3.2.3 Klasifikasi Kekar Kekar dapat diklasifikasikan dalam beberapa dasar klasifikasi, yaitu : a. Berdasarkan bentuknya b. Berdasarkan Ukurannya c. Berdasarkan Kerapatannya d. Berdasarkan cara terjadinya Klasifikasi berdasarkan genesanya dibagi menjadi : a. Shear joint ( kekar gerus ) yang merupakan kekar yang etrbentuk akibat adanya tegasan compresi b. Tension joint , Kekar ini dibagi menjadi : - Extension joint yang merupakan kekar yang terbentuk akibat adanya pemekaran atau tarikan. - Release joint yang merupakan kekar yang terbentuk saat tekanan gaya yang bekleja telah berhenti. Klasifikasi berdasarkan bentuknya dibagi menjadi : a. Kekar yang sistematik dimana kekar ini selalu dalam bentuk sejajar dan selalu

berpasangan.namun pada kenampakan vertikalnya belum tentu seajajar. b. Kekar tak sistematik memiliki permukaan yang tidak rata dan saling bertemu namun tidak saling memotong antar kekar yang satu dengan yang lainnya. Klasifikasi berdasarkan Ukurannya : Penggolongan ini dilakukan secara sembarang atau relatif tergantung kepada yang mengguanakan dasar pengukuran dalam pengklasifkasian mengenai patokan atau pedoman tentang besar atau kecilnya kekar yang ditemukan atau yang terdapat dalam suatu daerah. Ukuran kekar beragam , Ada yang berkisar beberapa ratus meter hingga yang kecil dapat dilihat dibawah mikroskop.namun kadang ada penamaan kekar yang berhubungan dengan besarnya yaitu ; a. Master joint, biasanya memotong beberapa lapisan b. Major joint, Biasanya lebih kecil sdari master joint. c. Minor joint, Lebih kecil dari Major joint. d. Micro joint, paling kecil Klasifikasi berdasarkan kerapatannya biasa dikenal dengan kekar rapat dan kekar tak rapat. Foto 3.1 Kenampakan kekar tiang (a) dan endapan tufa (tufa), di daerah Bulu Allakuang, (difoto ke arah N 35 oE ) 3.2.4 Ganesa Kekar • Kekar terbentuk apabila tekanan yang bekerja pada batuan yang agak rapuh baik berupa tension maupun compresi. • Sekiranya akibat tarikan(tension), maka kekar terebut akan memiliki bukaan pada blok batuan yag terkekarkan. Apabila kekar tersebut merupakan kekar yang terbentuk akibat mampatan (compresi), maka akan membentuk kekar yang merupakan koyakan pada batuan. • Walau bagaimanapun ada yang berpendapat bahawa kebayakan kekar yang ada di permukaan bumi sekarang adalah akibat dari tegasan. • Retakan biasanya terbentuk semasa berlaku perlipatan pada batuan yang rapuh. yang mungkin terbentuk secara menegak, atau oblik dengan arah lipatan. • Kekar dapat juga terbentuk berdekatan dengan sesar rapuh. Pergerakan sepanjang sesar biasanya menghasilkan suatu kekar secara sistematik. • Kekar tektonik dan hidraulik terbentuk pada daerah lapisan kulit bumi yang dalam. Akibat tekanan benda cair yang abnormal. Kekar hidraulik terbentuk pada waktu pemampatan yang ber arah tegak pada batuan sediment, pada kedalaman lebih dari 5 km. • Kekar tektonik terbentuk pada keadaan yang sama, tetapi tegasannya datang dari mampatan yang berarah mendatar. Kekar tektonik dapat terbentuk pada kedalaman kurang dari 3 km. Contohnya, kekar pada batuan yang terlipat dan tersesar. • Kekar dapat juga terbentuk akibat pengurang beban pada lapisan yang dekat dengan permukaan. • Kekar pengurangan beban berlaku bila separuh daripada beban pada permukaan dikeluarkan dari batuan pada kedalam sekitar 200-500 meter. • Kekar pelepasan biasanya diikuti oleh fabrik asal batuan. yang terbentuk akibat pelepasan tegasan utama pada suatu batuan, dan biasanya berorientasi tegak dengan arah mampatan asal. Contohnya, kekar pada batuan yang terlipat. • Ada juga kekar yang terbentuk akibat pendinginan magma. Contonya Batuan plutonik yang membentuk kekar kolom, dimana kekar kolom ini dapat ditindih oleh batuan yang terbentuk kemudian.

Misalkan pada suatu kubus dikenakan tegasan tekanan dengan pola seperti gambar dibawah, maka pola kekar yang terbentuk adalah sebagai berikut (gambar dibawah). Dari gambar dibawah dapat diambil kesimpulan bahwa : - Tegasan utama terbesar akan membagi dua sama besar sudut lancip yang dibentuk oleh kedua shear joint. - Tegasan utama yang terkecil membagi dua sama besar sudut tumpul yang dibentuk oleh shear joint. Gbr 3.6. Pola kekar yang terbentuk akibat adanya tegasan 3.3 Sesar 3.3.1 Pengertian Sesar Sesar (fault) adalah suatu bidang rekahan atau zona rekahan (pada kulit bumi) yang telah mengalami pergeseran (Ragan, 1973). Ukuran sesar biasa dimulai dari beberapa cm sampai lebih dari ratusan kilometer. Sifat rekahannya dapat berupa bidang yang jelas dan licin , jalur mylonit (hancuran) atau breksi sesar. Sesar juga dapat didefenisikan sebagai suatu rekahan atau “jalur patahan” di alam dimana telah terjadi pergeseran yang arahnya sejajar dengan bidang rekahannya. Seringkali rekahan demikian tercerminkan secara morfologis sebagai gawir yang merupakan bidang atau sisa dari suatu bidang rekahan. Gawir tesebut dinamakan “gawair sesar:”, sedangkan bidang rekahannya dinamakan “bidang sesar” Dari beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Sesar merupakan suatu bidang rekahan atau zona rekahan yang telah mengalami pergeseran, sehingga terjadi gerakan diantara blok-blok batuan yang tersesarkan. 3.3.2 Ciri – ciri Sesar Beberapa indikasi dan gejala sebagai penciri adanya struktur sesar di suatu daerah, diantaranya yaitu : • Terdapatnya kelurusan (lineament) pada peta topopgrafi atau foto udara, adanya sumber air panas dan daerah berawa-rawa. • Kelurusann pada jalur mineralisasi, silisifikasi, dan ubahan. • Perubahan yang mendadak pada bidang ubahan, perlapisan batuan atau foliasi. • Hilangnya struktur secara mendadak, misalnya pada lipatan, retas, atau struktur lainnya. • Perubahan jurus pada kemiringan kekar atau foliasi • Pergeseran kontak antar batuan, hal ini terlihat pada pergeseran batas-batas pada satuan peta. • Terjadi perulangan atau hilangnya satuan batuan • Terdapat bongkah-bongkah asing terhadap batuan yang terdapat di bawahnya • Perubahan pada jalur Fascies metamorfosa • Jika dilihat berdasarkan data geofisik dilihat adanya pelurusan-pelurusan atau perubahan sifat anomaly dan geometri serta gradient-gradien curam pada peta gaya berat magnetic. 3.3.3 Klasifikasi Sesar Secara umum struktur sesar dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu sesar normal (normal fault), sesar mendatar, sesar Naik (reserve Fault). 1. Sesar Normal (normal fault) dikenal dengan nama sesar turun atau gravity fault (sesar gaya berat). Pada sesar ini hanging

wall, yaitu blok batuan yang berad di bawah bidang sesar bergerak relative turun terhadap foot wall, yaitu blok batuan yang berad di bawah bidang sesar. Beberapa sifat penting dari sesar normal diantaranya : - Kemiringan dip bidang sesar besar (>450) - jejak sesar peda peta hampir lurus - Mempunyai hgawir/dinding sesar - Goras garis pada bidang sesarnya seperti umum - Keterdsapatannya berjajar sep[erti anak tangga - Sering memp[erlihatkan reserve drag - Merupakan sesar antinetik Sesar normal terdapat di segala kedaan geologi seperti pada daerah pegunungan lipatan, bagian puncak kubah garam, daerah dengan gejala tarikan (tension) serta pada jalur luar orogen. Foto 3.2. Kenampakan Sesar Normal 2. Sesar Mendatar Jenis sesar ini memiliki beberapa nama lain dianaranya rifts, strike slip, transcurrent, teranserve fault, mega shear, dan sebagainya. Beberapa sifat penting dari sesar mendatar, diantaranya : - Kemiringan bidang sesar cuream-tegak - Ukuran panjang dan lurus, mudah dikenali pada foto udara. Sesar yang beruuran besar juga pergeserannya bebesar, contoh seasr san andreas (500 km) dan sesar Semangko (25-30 km). - Di permukaan merupakan jal;ur erosi yang kaut, terjadi penggerusan dan perubahan dengan lebar hingga ratusan kilometer. - Membentuik depresi-depresi yang berkaitan dengan penyinpangan secara merencong. - Diikuti struktur penyerta berupa rekahan dan lipatan. Gambar 3.7. Contoh Arah Gaya Sesar Geser Gambar 3.8. Strike Slift Fault 3. Sesar Naik (reserve Fault) Pada sesar naik hanging wall bergerak relatrif naik terhadap fott wal, dengan kemiringan bidangnya kecil yaitu <450. Sesar ini memiliki beberapa sifat yang tergantung pada batuannya, intenmsitas geseran serta arah kedudukan dari sesar, yaitu sejajar atau menyilang terrhadap perlapisan batuan. Beberapa sifat dari sesar ini adalah : - terdapat pada daerah tekan (kompresi), yaitu pegunungan lipatan (berusia muda). - Terdapat pada daerah dengan endapan sedimen yang tebal, yaitu daerah geosinklin. - Gerakan gesernya lebih cepat dibandingkan proses pengikisannya. Hasil rombakan dapat bercampur dengan breksi sesar. - Memiliki gejala struktur seretan (drag) dan pembentukan sesar sekunder. - Jalur sesar rumit atau memiliki bidang sesar yang licin yang sulit dikenali di lapangan (rumit dan peka terhadap erosi) serta struktur sesar sukar ditentukan. - Jalur sesarnya berupa melonit (zona hancuran) gauge breksi sesar tapi kadang-kadang bidang licin dengan gores-garis (slift and slide). Gambar 3.9. Mekanisme Sesar Naik

3.3.4 Ganesa Sesar Sesar merupakan gejala struktur yang pembentukannya melewati fase akhir dari tingkat plastisitas batuan. Jadi kekar dapat terbentuk sebelum, atau selama maupun setelah sesar terjadi sedang lipatan mungkin saja bersifat mengawali atau bersamaan terbentuknya sesar pada kondisi tertentu, dimana perkembangan gaya pembentuk sesar akan berlanjut terus sehingga lipatanpun dapat berkembang setelah terbentuknya sesar . Adapun mekanisme terjadinya sesar yaitu sebagai berikut: srike-slip fault normal fault thrust fault Gambar 3. 10. Mekanisme Terjadinya Sesar ? Thrust faults: &sigma1 dan &sigma2 berarah horizontal dan & sigma3 berarahvertikal. Normal faults: &sigma1 berarah vertical dan &sigma2 dan &sigma3 berarah horizontal.Strike-slip faults: &sigma1 dan &sigma3 berarah horizontal dan &sigma2 berarah vertikal. ? Sesar normal dikenali juga sebagai sesar gravitasi, karena graviti adalah sebagai gaya utama yang menyebabkan pembentukannya, sesar ini juga terbentuk karena adanya ekstensi atau gaya tarikan yang memanjangkan perlapisan, atau menipiskan kerak bumi. Sesar normal bukan saja terbentuk akibat gaya gravitasi, tetapi pembentukannya berkait erat dengan pergerakan sesar mendatar dan perlipatan. ? Sesar naik (thrust fault), merupakan sesar yang terjadi dimana gaya maksikumnya bersumber dari arah samping dimana foot wall mendesak naik ke hanging wall. ? Lateral fault (strike-slip fault), merupakan sesar yang terjadi dimana pergerakan sesarnya secara mendatar dengan bagian yang tersesarkan bergerak saling bersilangan dimana salah satu atau kedua sisinya bergerak. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV. 1 HASIL IV.1.1 Tabel Data Tabel 1. Data Pengukuran Kekar N…?E/…? N…?E/…? N…?E/…? N…?E/…? N…?E/…? 270/68 285/62 134/4 175/36 290/50 268/53 156/51 195/4 300/51 195/46 312/70 350/25 140/18 331/50 283/48 271/62 295/45 190/9 186/45 195/54 175/54 345/60 140/5 313/67 275/42 270/66 230/65 195/9 199/46 185/63 310/45 205/35 130/9 315/77 277/46 280/60 20/46 190/8 176/7 161/61 304/63 295/50 220/40 159/45 160/53 274/46 15/30 195/5 186/43 265/62

315/46 125/50 190/9 115/56 175/49 278/63 285/30 135/8 280/47 177/51 189/61 290/50 160/7 243/44 265/30 314/40 185/40 40/12 210/53 183/58 142/43 290/40 30/7 310/53 76/63 230/38 295/60 24/16 310/46 87/65 265/54 290/55 320/16 310/54 172/46 187/52 290/50 30/13 320/83 100/56 177/54 285/45 275/12 315/60 164/45 317/53 295/50 320/12 263/35 160/58 271/66 310/55 346/22 265/40 255/51 273/81 30/40 140/5 238/16 156/41 191/68 142/8 205/13 345/59 185/38 300/60 204/5 340/40 194/48 IV.1.2 Konstruksi Struktur Field trip Geologi Struktur di daerah Pantai Lumpue Kotamadya Pare-Pare Propinsi Sulawesi Selatan ini tidak memiliki konstruksi struktur secara jalas, karena struktur yang ada di daerah penelitian tersebut hanya menampakkan gejala struktur yang minor, seperti di daerah Dutungan, dijumpai adanya struktur sesar minor dan kemungkinan adanya lipatan minor, di Pantai Lumpue dijumpai adanya struktur kekar dan di B. Allukuang, Sidrap dijumpai adanya struktur kekar tiang. IV.2 Pembahasan Struktur geologi yang dijumpai di daerah penelitian meliputi struktur lipatan, kekar dan sesar, serta adanya endapan laharik, endapan tras dan adanya sumber air panas di Daerah Datae akibat pengaruh geothermal. Mekanisme pembentukan struktur geologi di daerah penelitian diakibatkan dari adanya gayagaya yang bekerja baik tenaga endogen maupun eksogen yang meliputi gaya tekanan, tarikan dan pergeseran, yang mengenai suatu perlapisan batuan, sehingga menyebabkan terjadinya deformasi/ perubahan pada perlapisan batuan tersebut. Apabila gaya tersebut bekerja belum mencapai batas keelastisitasan dari batuan, maka batuan itu hanya mengalami pelengkungan saja (lipatan), namun jika gaya yang bekerja melampaui batas kelastisitasan dari batuan, maka batuan tersebut akan mengalami kekar (bila rekahannya tanpa mengalami pergeseran) dan sesar (bila rekahannya mengalami pergeseran). Mekanisme struktur lipatan dijumpai pada Daerah Dutungan berupa lipatan minor (berdasarkan hasil pengamatan lapangan vulkano). Sedangkan struktur sesar dijumpai pada daerah Dutungan juga berupa sesar minor dan sesar geser (lihat foto 3). Selain itu ada juga struktur kekar yang dijumpai di daerah Dutungan yang berupa kekar gerus, di Pantai Lumpue dan di B.Allakuang, Sidrap yang berupa kekar tiang. Di daerah ini juga dijumpai banyak vein pada singkapan batuan, yang merupakan batas litologi antara batuan tufa dengan batuan breksi. Vein pada batuan muncul akibat ada gaya tekanan atau stress dari aktivitas magma yang tidak terkontrol, hingga vein ini terisi oleh mineral oksida yang kaya akan mineral besi dan berwarna coklat kemerahan hingga coklat kehitaman. Mineral oksida yang dimaksud berdasarkan deskripsi sample berupa mineral Hematite (Fe2O3), Ilmenite (FeTiO3), Magnetite (Fe2O4) dan Limonite.

Pada Daerah Kupa dijumpai adanya endapan laharik dan trace yang merupakan hasil dari aktivitas vulkanik dengan litologi batuan tufa. Daerah ini digunakan oleh warga setempat sebagai daearh tambang golongan C yakni mineral feldspar Foto 4.1. Kenampakan Endapan Laharik dan Trace pada Stasiun 2 Pada daerah Datae dijumpai adanya sumber air panas yang ? suhunya 32?C - 37?C, yang disebabkan karena adanya proses geothermal. Hal ini mengindikasikan adanya sesar sekunder, yakni sesar yang terbentuk setelah proses pembentukan batuan. Di daerah tersebut digunakan sebagai daerah tambang golongan C berupa usaha batubata yang dibuat dari litologi batulempung. Foto 4.2 Sumber Air Panas di Daerah Datae pada Stasiun 5 Berdasarkan bentuk kekar yang dijumpai di Daerah Lumpue, Pare-Pare, umumnya merupakan kekar sistematik, sedangkan berdasarkan genesa dan hasil pengolahan data kekar (hasil diagram Roset) yang diambil menunjukkan bahwa kekar tersebut terbentuk akibat proses tektonik yang berasal dari adanya tegasan utama, yakni tegasan utama maksimum (?1) N 295?E, arah tegasan utama menengah (?2) N 298?E dan arah tegasan utama minimum (?3¬) N 25?E adalah sebagai berikut : • Shear joint dengan kedudukan N 154?E/ 10? dan N 118?E/ 30? • Extension joint dengan kedudukan N 116?E/ 86? • Release joint dengan kedudukan N 124?E/ 27? • Kedudukan umum kekar di N 310?E dan N 270?E BAB V PENUTUP 4 . 1 Kesimpulan Dari hasil Field Trip dan pengolahan data yang diperoleh dari lapangan, maka dapat saya simpulkan: ? Pantai pada daerah Lumpue merupakan daerah pantai emergence dimana yang mempunyai kontur yang landai. ? Daerah Lumpue tersusun oleh litologi batuan pyroklastik, yang berasal dari gunung berapi daerah Pare-Pare. ? Pada Pulau Lumpue terdapat struktur geologi berupa lipatan, kekar dan sesar. 4 . 2 Saran Pada daerah sekitar pantai Pantai hendaknya lebih dikembangkan lagi untuk daerah pariwisata karena pemandangan yang bagus tetapi hanya saja pantai yang kotor. Hendaknya Pemerintah Kotamadya Pare-pare melakukan pembersihan pada daerah sekitar pantai . DAFTAR PUSTAKA Komisi Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996, Sandi Stratigrafi Indonesia, Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Bandung. Sukendar Asikin, 1979, Dasar-dasar Geologi Struktur, Institut Teknologi Bandung (tidak dipublikasi), Bandung.

Sukamto, RAB, 1982, Peta Lembar Pangkajene dan Walanae Bagian Barat Sulawesi Mulyo, Agung, 2004, Pengantar Ilmu Kebumian,Pustaka Setia , Bandung Hindartan, Agung Handayana, dkk, 1992, Pemetaan Geomorfologi Sistematis Untuk Studi Geologi, Proceeding ikatan Ahli Geologi Indonesia, Bandung.
• • •

click link 1042 clicks Login or register to post comments

Untuk dapat merequest file lengkap yang dilampirkan pada setiap judul, anda harus menjadi special member, klik Register untuk menjadi free member di Indoskripsi. Semua Special Member dapat mendownload data yang ada di website ini. NB: Ada kemungkinan beberapa data belum ada filenya, karena dikirim oleh member biasa dan masih menunggu konfirmasi dari member yang bersangkutan. Untuk memastikan data ada atau tidak silahkan login di download area. CARI CONTENT WEB :
þÿ
Telusuri

FREE JOURNAL UNTUK MELENGKAPI REFERENSI KARYA ILMIAH ANDA, FREE? KLIK DISINI HOT DOWNLOAD MAKALAH, FULL PAPER? KLIK DISINI PELUANG KERJA UNTUK FRESH GRADUATE, MAHASISWA TINGKAT AKHIR, BARU LULUS KULIAH? KLIK DISINI BUTUH BEASISWA STUDY, BEASISWA PENELITIAN, INFO BEASISWA TERBARU? KLIK DISINI

Jika tertarik untuk memasang iklan di website ini, silahkan klik menu contact Silahkan baca syarat dan ketentuannya

Main Menu
• • • • • •

Home Profil Contact Donate Terms and Conditions Report Abuse

Data Menu

• • •

Skripsi Tugas Kuliah Artikel

User login
Username: * Password: *
Log in

þÿ

• •

Create new account Request new password

Statistics User
Out of 231541 registered users there are currently 10 users and 163 guests online.

Online users
• • • • • • • • • •

viechy esa poernama poetra akhwan44 rizky_septian YAYUKDWIKARTIKA ari_chicago deathschyte ari himabu ropian arifiadi

Posting Rules
Member indoskripsi tidak boleh mengirim / mengupload skripsi milik orang lain tanpa izin. Laporkan pada kami! Jika karya anda dipublikasikan/dikirim tanpa izin di sini.

New Member
• • • • •

viechy esa poernama poetra ari_chicago YAYUKDWIKARTIKA ropian

New Upgrade Member
• • • • •

Nalover elis01 Nurmala_miko bagusdonk Alfredsianni

- Check user status - Login Download Area

Special Info
• • • •

Journal reference Makalah full paper Informasi Beasiswa Informasi Lowongan Kerja

Posting dan update terbaru
• • • • • • • • • •

dengan tugas kuliah2 yang berjudul [ keputusan lokasi toko] mata kuliah [manajemen pemasaran] KEPUTUSAN PERSONAL TOKO DAN MENGELOLA KELUHAN PELANGGAN KEPUTUSAN PELAYANAN DAN SUASANA INTERNAL TOKO defrisiansi retail DIFERENSIASI BISNIS RITEL defrisiansi retail DIFERENSIASI BISNIS RITEL defrisiansi retail DIFERENSIASI BISNIS RITEL DIFERENSIASI BISNIS RITEL

More...

Copyright @ indoskripsi.com 2009. Website hosting by IdeBagus. If you do not agree to terms and conditions from Indoskripsi, please do not use this service or you will face consequences Design by xactive -

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->