P. 1
Bantuan Luar Negeril

Bantuan Luar Negeril

|Views: 158|Likes:
Published by Jumahardi Bs

More info:

Published by: Jumahardi Bs on May 23, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/19/2014

pdf

text

original

Bab4

Bantuan Luar Negeri Negara Anggota Uni Eropa Kepada Indonesia: Belanda, Jerman, Inggris, Dan Perancis

Oleh : Agus R. Rahman

Pendahuluan

Sekitar pertengahan tahun 1997, Indonesia dihadapkan oleh krlsls yang sangat serius dalam perekonomiannya sebagai akibat dari penurunan secara drastis nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS). Dengan seketika, beban HLN (Hutang Luar Negeri) Indonesia meningkat beberapa kali lipat. Dengan kurs sebesar Rp 8.000 per Dolar AS saja, jumlah HLN Indonesia dimungkinkan sudah mencapai 100 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto). Pada hal, pada tahun 1998, nilai kurs Rupiah per Dolar AS pernah mencapai lebih dari Rp 12.000. Walaupun begitu, tanpa perubahan kurs pun sebenarnya porsi HLN Indonesia terhadap PDB (Produk Domerstik Bruto) memang sudah sangat mengkhawatirkan.

Dalam APBN 2000 dan APBN 2001, defrsit anggaran semakin meningkat untuk mengerem agar laju krisis tidak tambah buruk dan sekaligus memberikan landasan yang kuat untuk program perbaikan ekonomi. Dalam APBN 2000, pendapatan negara dan hibah mencapai Rp. 152,897 trilyun sedangkan belanja negara sebesar Rp. 197,03 trilyun, yang berarti defrsit anggaran senilai Rp. 44,1 trilyun. Sedangkan dalam APBN 2001, pendapatan negara dan hibah diproyeksikan sebesar Rp. 242,997 trilyun, tetapi belanja negara naik menjadi Rp. 295,113 trilyun, yang berarti defisit anggaran sebesar Rp. 52,1 trilyun.

Dalam kondisi itu, jumlah HLN Indonesia pun semakin meningkat. Pad a APBN 2000, HLN Indonesia

78

BANTUAN LUAI'I NEGERI UNI EROPA TERHAOAP INOONESIA

yang berupa penarikan Bantuan Luar Negeri (BLN), secara bruto, adalah sebesar Rp. 27,3 trilyun lebih. Besaran ini dikurangi clellan pokok hutang luar negeri sebesar Rp. 8,6 trilyun sehingga HLN Indonesia pada tahun anggaran 2000 sebesar Rp. 18,7 trilyun. Sedangkan pad a APBN 2001, HLN Indonesia yang bersumber dari penarikan BLN, secara bruto, diproyeksikan mencapai Rp. 35,99 trilyun. Besaran ini pun dikurangi cicilan pokok HLN yang jatuh tempo pada tahun yang sama sebesar Rp. 15,876 trilyun sehingga HLN Indonesia pad a tahun 2001 bertambah menjadi Rp. 20,1 trllyun.'

Berdasarkan fakta tersebut, pemerintah ternyata tetap semakin tergantung pada BLN untuk menutup defisit anggarannya. Hingga tahun 2001, Indonesia ternyata belum mampu ke luar dari harapannya untuk mengurangi porsi BLN dari para negara donor secara bilateral maupun secara multilateral, dan sekaligus untuk mengurangi HLN. Bahkan, ketergantungan ini semakin tertuju kepada dua lembaga keuangan internasional, yaitu Bank Dunia dan lMF, yang menempatkan Bank Dunia sebagai koordinator CGI.

Jelas, HLN Indonesia kepada pihak negara donor berasal dari bagian BLN yang merupakan pinjaman dengan kewajiban untuk membayar sejumlah pinjaman pokok dan bunganya yang telah ditentukan. Indonesia menerima SLN sebagai salah satu sumber pembiayaan pembangunan, di samping sumber dalam negeri. Hanya saja, karena BLN merupakan salah satu instrumen politik luar negeri dari negara-negara donor, maka pemberian BLN terkandung ~idalamnya tekanan-tekanan politik, baik secara tersurat rnaupun tersirat. Dengan demikian, masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah apakah Indonesia dapat keluar dari ketergantungan pad a BLN dan mengurangi HLN dalam jangka pendek atau panjang. Mengapa negara-negara donor dari UE begitu

1 Lihat APBN 2000, dan APBN 2001.

BANTU AN LUAR NEGERI NEGARA ANGGOTA UN~ ERCPA

kritis terhadap proses pembangunan ekonomi di Indonesia? Apakah Indonesia dapat menghindari tekanan-tekanan politik dari negara-negara donor?

Penelitian ini bertujuan untuk mengemukakan suatu anal isis yang besifat kualitatif tentang hubungan antara BLN dan tekanan politik terhadap Indonesia. Dalam sisi yang pertama, BLN diletakkan sebagai suatu instrumen politik luar negeri dari negara-negara donor, sebaliknya, BLN pun diasumsikan sebagai cara untuk menutup defisit anggaran dar] negara penerima BLN. Pada sis] yang lain yaitu tekanan politik terhadap Indonesia, indikatorindlkator yang relevan dalam hubungan Indonesia dengan negara-negara donor secara bilateral, maupun multilateral akan diperhitungkan. Oleh karena itu, penelitian ini menitikberatkan pad a konsep SLN, sumber pembiayaan dan tekanan politik.

Penelitian ini terdiri dari beberapa bagian. Bagian pendahuluan sebagai bagian pertama, diarahkan membahas kontekstual permasalahan BLN, sumber pembiayaan pembangunan, dan tekanan politik. Bagian pendahuluan ini akan mengemukan konsep tentang SLN sebagai instrumen politik luar negeri, sumber-sumber pembiayaan dalarn pembangunan dan tekanan politik. Bagian kedua akan membahas sejarah BLN untuk empat negara donor dari UE yang berpengaruh besar terhadap Indonesia. Bagian ketiga akan membahas BLN dari empat negara anggota UE ke Indonesia. Bagian keempat akan membicarakan tekanan politik terhadap Indonesia. Bagian kelima adalah penutup.

Khusus tentang BLN dari UE, penelitian ini lebih ditekankan pada BLN dari empat negara anggota UE y~itu Inggris, Jerman, Perancis dan Belanda. Hal ini perlu diperteqas bahwa UE memiliki dua sisi yang berbeda tetapi saling berkaitan. Sis] yang pertama adalah sisi institusional sebagai suatu organisasi internasional di kawasan Eropa Sarat yang sedang mencoba untuk menegakkan proses integrasi ekonomi dan politik. Pada sisi yang lain, sisi yang kedua, UE terdiri dari lima belas

Bo

BANTU AN LUAI'I NEGEI'I! UN! ERCPA TEI'IHAOAP INDCNES!A

negara anggota yang masih berdaulat dan bertekad untuk mengikatkan diri dalam proses integrasi tersebut. Oleh karena itu, pembahasan BLN dari UE ini juga akan memberikan porsi yang layak kepada BLN dari negaranegara anggotanya terutama empat negara anggota UE yang diperhitungkan terhadap Indonesia.

BLN sebagai Instrumen Politik Luar Neger;

Dalam pikiran, BLN sebagai suatu intrumen PLN (Politik Luar Negeri) menyatakan secara tersirat bahwa program bantuan itu diciptakan sesuai dengan kepentingan-kepentingan negara pemberi atau negara donor. Sementara itu, dalam realitasnya, hal ini adalah sah dan dapat diterima, tidak hanya bagi negara adikuas~ seperti AS, melainkan juga bagi program bantuan d~n negara-negara besar lainnya seperti Inggris, Perancls, dah bahkan bagi negara kecil seperti Belanda dan negara-negara Skandinavia.

Dalam meletakkan konsep BLN sebagai suatu

instrumen PLN itu, kita membedakannya ke dalam dua pandangan utama. Pandangan pertama menekankan pada BLN yang dimaksudkan sebagai suatu usaha perbantuan kepada negara-negara miskin untuk melancarkan pembangunan ekonomi. Pandangan kedua menggarisbawahi kontribusi BLN kepada keaman~n nasional dari negara donor. Dengan kata lain, kompleksitas BLN memperlihatkan pertimbanganpertimbangannya . baik sebagai suatu elemen keb~~akan keamanan bersama dan sebagai suatu elemen ksbljakan

bantuan ekonomi.;' ,

Sepanjang BtN dipandang sebagai bag ian dari

program keamanan: bersama, permasalahan lain bermunculan tentang negara mitra lainnya, besaran dan karakter kontribusi mereka, dan persepsi mereka terhadap keamanan. Pada tahun 1961, sekitar 86 persen dari semua BLN merupakan bantuan bilateral. Dari bantuan bilateral itu, sebesar 98 persennya berasal dari

BANTU AN I.UAR NEGE"!! NEGAI'IA ANGrilCTA UN! EI'IDPA

B1

negara-negara DAC (Development Assistance Committee) dari DECD (Organization of Economic and Development) ditambah Australia dan Selandia Baru. Sebagian besar dari negara-negara tersebut memang bergabung dengan AS dalam bermacam-macam pakta militer di seluruh dunia.

Dari sini, kita dapat membuat perbedaan apakah kita memperlakukan bantuan ekonomi secara terpisah atau terkait dengan keamanan bersama. Jika terkait, bantuan ekonomi kepada negara lain menjadi bag ian integral dari paket pengeluaran pertahanan domestik, bantuan minter dan bantuan pembangunan ekonomi. Kondisi ini menjadi aspek yang paling penting daJam hubungan AS dengan negara-negara sekutunya di Eropa Barat.

Sebaliknya, ketika BLN dipandang sebagai bantuan pembangunan ekonomi yang terpisah dari kontribusinya kepada keamanan negara donor, serangkaian permasalahan lain pun perlu dipertimbangkan segera. Seluruh bantuan yang disediakan kepada negara penerima merupakan bantuan dalam bentuk dukungan devisa. Dalam masalah ini, BLN dibedakan antara bantuan yang berbentuk bantuan proyek atau bantuan program, atau pinjaman untuk menutupi komponen lokal atau hanya komponen luar negeri.

Hal lain yang tidak kalah penting dalam bantuan pembangunan ekonomi adalah kenyataan bahwa semua bantuan meliputi pemberian akses impor yang meningkat. Akan tetapi, akses ini bukan satu-satunya cara. Sedangkan cara lainnya adalah tingkat bantuan yang diperlukan untuk mendukung tingkat pembangunan. Hal ini tergantung pada perolehan dari perdagangan dari negara-negara penerima, kebijakan komersial, masuknya investasi asing dan sejumlah hal lainnya.

Jelas, masaJah tekanan pada keamanan bersama atau bantuan pembangunan sebagai tujuan BLN sematamata merupakan suatu sine qua non dari suatu program bantuan seperti kemampuan negara penerima untuk

B2

BANTU AN l-UAR NEGERI UNI ERDPA TERHADAP INDONESIA

mengefektifkan penggunaannya apa pun bentuk bantuannya dan untuk tujuan-tujuan apa saja. Hal ini sebenarnya menutut suatu perangkat kebijakan, kapasitas administratif dan sikap negara-negara penerima yang tanpa ini semua BLN menjadi tidak relevan lagi. Dengan demikian, BLN tidak pernah lebih dari hanya sekedar suatu fraksi dari sumber dalam negeri yang tersedia untuk pertahanan atau pembangunan, dan biasanya dalam fraksi yang kecil.2

BLN lebih dipertegas lagi melalui fakta bahwa BLN lebih memperlihatkan motif-motif negara donor atau kreditor daripada negara penerima baik motif yang besifat politik maupun motif yang bersifat ekonomi. Akibatnya, kepentingan negara donor baik yang bersifat politik dan ekonomi dirasakan harus lebih terakomodasikan. Sementara motif-motif dari negara penerima tampaknya sudah dibuat sedemikian rupa hanya untuk melancarkan program pembangunan bagi pertumbuhan ekonominya. Program ini diharapkan mampu untuk meningkatkan pendapatan nasional negara penerima yang selanjutnya, pada akhinya, menjadi pendorong bagi permintaan produk-produk dari negara-negara kreditor atau donor."

Sumber Pembiayaan Pembangunan

Sejak dimulainya pelaksanaan pembangunan ekonomi pad a tahun 1969, anggaran pembangunan yang bersumber pada tabungan pemerintah, investasi serta netto ekspor selalu tidak mencukupi. Kondisi perekonomian tahun 1969 ternyata masih menerima beban berat dari warisari kondisi perekonomian Indonesia tahun 1966 yang, demikian parah. Gambaran perekonomian nasionalketika itu, 1966, memang sangat

2 Edward S. Mason, Foreign Aid and Foreign Policy (New York:

Council of Foreign Relations, 1964), him. 8-11.

3 Llhat Supriyanto dan Agung F. Sampurna, Utang Luar Negeri Indonesia: Argumentasi, Relevansi dan Implikasinya bagi Pembangunan (Jakarta: Djambatan, 1999), him. 1-46,

BANTUAN LUAR NEGERI NEGARA ANGGDTA UNI EROPA

83

serius seperti tingkat inflasi yang mencapai 650% pendapatan masyarakat rata-rata per kapita sebesar 70 dolar AS per tahun, dan HLN yang harus dibayar mencapai 2,2 miyar doJar AS.4

. Kendati ledakan pendapatan dari perolehan devisa

m~nyak pern~h dinikmati, apalagi ketika anjloknya harga mrnyak bumr pada tahun 1984, sumber-sumber dalam negeri selalu saja belum mencukupi kebutuhan dana pembanguanan ekonomi. Hal itu akan berdampak langsung bagi posisi anggaran pembangunan. Untuk memenuhi anggaran pembangunan tersebut, pemerintah Orde Baru selalu mengandalkan pada BLN, baik dalam bentuk bantuan keuangan, bantuan teknis (technical assistance), bantuan proyek, bantuan dalam bentuk hibah (grant), bantuan komersial (commercial loan) serta bentuk-bentuk bantuan luar negeri lainnya.

Hal ini membedakannya dengan kebijakan penolakan terhadap peranan pihak asing dalam perekonomian Indonesia yang dilakukan oJeh pemerintah model Demokrasi Terpimpin di bawah Presiden Soekarno. Ketika itu, Indonesia melanearkan tindakan nasionalisasi perusahaan asing, terutama milik Belanda pada tahun 1951. Kemudian hal ini dilanjutkan dengan pembe~lakuan Undang-Undang No. 78 tahun 1958. Pada masa rtu, bantuan BLN justru diasumsikan memiliki maksud~maks~d untuk menguasai perekonomian Ind~nesra daripada memberi bantuan yang nyata dari segr ekonomr.

. BLN yang diterima Indonesia itu meliputi grant

(hrbah) dan loan (pinjaman). BLN dalam bentuk hibah tidak dikembalikan tetapi BLN dalam bentuk pinjaman h.a~us dikembali~an kepada negara donor yang berupa crerlan pokok drtambah bunga pinjaman setelah suatu masa tenggang dalam kurun waktu yang telah ditentukan.

4 Zulka:nain. Djamin, Sumber Luar Negeri bagi Pembangunan Indone~/a: ~eJak. IGGI hingga CGI sene Permasalahannya (Jakarta: ~enerblt Universitas Indonesia, 1995), him. 1.

B4

I3ANTUAN L.UAR NEGERI UNI EROPA TERHADAP INDONESIA

Bagian yang kedua ini, pada akhirnya, merupakan HLN (Hutang Luar Negeri). Dalam hal inl, Indonesia secara terus menerus menerima BLN sehingga menjadi negara berkembang penerima BLN terkemuka di dunia yang juga dijuluki sebagai "good boy" oleh Bank Dunia.

Sayangnya, kondisi perekonomian Indonesia, termasuk sebagian besar negara-negara Dunia Ketiga, pada umumnya, memperlihatkan faktor dukungan dari pihak eksternal yang semakin besar baik besaran BLN yang diterima seperti terlihat pada Tabel 1 maupun HLN yang tercipta dari pinjaman-pinjaman dalam BLN itu sendiri sejak Pelita I hingga Pelita VI, selama pemerintah Penguasa Pembangunan Terpimpin. Yang lebih memprihatinkan adalah HLN pun ternyata telah menumpuk sangat besar sekali sehingga ia menjadi beban yang luar biasa bagi perekonomian nasional seperti ditampHkan pada Tabel 2.

Mengenai beban HLN yang semakin memberatkan, hal ini sudah disadari bahwa arus modal asing ke negaranegara berkembang dan terkebelakang tidak pernah memberikan nilai tambah yang positif. Akan tetapi, ia justru menciptakan masalah baru dalam hal pelunasan HLN yang semakin memberatkan. Lagipula, HLN itu mengakibatkan negara-negara penghutang terpaksa melakukan penggabungan kebijakan yang bertujuan secara sekaligus yaitu selain untuk mengurangi laju pembangunan ekonomi, mengganti impor, mengembangkan ekspor, memperbaiki term of trade atau merangsang arus HLN yang lebih besar lagi.5

Jumlah HLN. pemerintah Orde Baru sebelum krisis ekonomi pad a tahun .. 1997 mencapai sekitar 69 milyar dolar AS, sernentara jumlah hutang swasta mencapai sekitar 80 milyar' dolar AS. Penggabungan HLN pemerintah dan swasta inilah yang pada dasarnya menjadi salah satu pendorong sumber krisis ekonomi dan moneter sejak bulan Agustus 1997. Bagaimana berat

5 Lihat M.L. Jingan .• op.cit., him. 647.

BANTUAN LUAR NEG~RI NEGARA ANGGOTA UNL ERClPA

BS

kualitas krisis ekonomi moneter Indonesia tru terlihat den~an semakin menguatnya kurs dolar AS terhadap RU~lah yang mencapai tiga kali bahkan ernpat kali lipat dan kurs sebelum krlsls pad a dasawarsa 1980-an.

, Kondisi seperti ini mengarah kepada dampak janqka panjang dari HLN. Didik J. Rachbini mengemukakan dua hal. Pertama, Indonesia menerima resiko yang serius karena suka atau tidak suka bahwa perekonom~an Indonesia akan terintegrasi dengan sistem perek?nomlan global dengan segala dampak positif dan negatlfnya. Kedua, HLN akan menjadi perangkap bagi negara penqhutanq."

Perkembangan tersebut membuktikan bahwa I~donesia selam~ krisis ekonomi moneter ini menghadapi dilema yang sullt. Pada satu slsl, siapa pun pemerintah yang berkuasa tetap membutuhkan sumber dana dari luar negeri bukan saja bagi keberlangsungan pembiayaan pembangu~an, tetapi. juga bagi proses recovery perekonornian lndonesia. Pada sisi yang lain, jumlah HLN yang secara kuantitatif teJah melampaui batas amb~ng ke!entuan yang ditetapkan dalam DSR (Debt Se:Vlce Retia; sebesar 20 %, dan menjelang krisis bulan Juh 1997 yang lalu, DSR Indonesia sudah mencapai di atas angka 30 %.

. Beberapa studi tentang BLN mengarah kepada kesirnpulan bahwa BLN yang menciptakan HLN itu lebih banyak berdampak negatif daripada darnpak positifnya. Apalagi jika negara yang bersangkutan telah me~g~antungka.n sekah pad a dukungan eksternal. Dalam hal iru, Indonesia mungkin sudah dimasukkan ke dalam kategori ini.

Studi yang dilakukan oleh Sritua Arief dan Adi Sasono menyimpulkan bahwa arus bersih modal asing yang masuk ke Indonesia untuk kurun waktu 1970-1986 yang meliputi BLN yang didalamnya terkandung HLN dan

6 Lihat Didik J. Rachbini, Resiko Pembangunan yang Dibimbing Utang (Jakarta: Grasindo, 1995).

86

BANTUAN LUAR NEGERI UNI EROPA TERHADAP INDONESIA

investasi asing menunjukkan nilai kumulatif yang negatif. Kesirnpulan ini tentunya setelah menghitung pembayaran cicilan beserta bunganya dan keuntungan yang ditransfer pihak asing ke luar negeri. Hal ini ~erarti bahwa ~L~ selama ini menyebabkan Indonesia telah menJad~ pengekspor modal ke negara donor. Pembayara~ kemb~1I cicilan dan bunqa HLN telah menguras nabls beqitu banyak komponen pengeluaran agregat rUI di dalam

perekonomian naslonal.' .

Hal yang serupa juga terjadi bagi investa~i asmq ..

Bahwasanya darnpak positif asing terhadap tnvestasl domestik ternyata bernilai kecil. Akan tetapi, dampak modal asing terhadap pertumbuhan ekonomi jus.tru menghasil nilai negatif. Dengan demikian, arus asmq bersifat negatif terhadap perubahan tabungan dalarn negeri. Hal ini berarti bawha arus mo~al .asing yang masuk ke Indonesia telah rnansubstitusi tabungan domestik. Dengan kata lain, pengaruh BLN terhadap pertumbuhan ekonomi tidak mendorong pertumbuhan ekonomi secara nasionat."

Penelitian lain menunjukan bahwa HLN berdampak langsung dan berdampak secara total yang negatif bagi pertumbuhan ekonomi. Hasil ini ingin mengungkapkan ketidakefektifan penggunaan BLN terhadap tabung~~ domestik . Oengan kat a lain, HLN berperan secara positf terhadap substitusi tabungan dornestlk."

Adanya ketidakefektifan dalam penggunaan arus dana yang bersumber dari luar negeri di?uktikan oleh Mubarik Ahmad. la menyimpulkan bahwa dlantara faktorfa kto r peningkatan ,HLN, defisit dalam neraca pembayaran meny~ra~ dua pertiga pertambahan hutang.

7 Sritua Arief dan Adi Sasono, Modal Asing, Beban Hutang Luar Neg?ri dan Ekonomi Indonesia (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia,

1987).

8 Ibid.

9 Mudrajat Kuncoro, "Dampak Arus Modal Asing terhadap pertumbuhan Ekonomi dan Tabugnan Domestik," Prisma, Tahun

XVIII/9 (1989): 26.

BANTUAN L.UAR NEGER. NEGARA ANGGOTA UN. ERCIPA

8'7

Sedangkan sisanya lagi, sebesar sepertiga, itu disebabkan oleh fluktuasi nilai tukar."

Secara konseptual, persyaratan teknis yang dibebankan kepada negara penerima BLN tidaklah sedikit dan sangat memberatkan. Oi samping syarat utama yaitu bunga yang berkisar sekitar 2 % sampai 3,75 % tiap tahunnya, negara penerima BLN pun masih dibebani biaya-biaya administratif seperti commitment fee dan administration fee, termasuk biaya-biaya denda (fine) yang timbul karena kesalahan pemerintah yang tidak tepat waktu dalam penarikan dana (reimburstment) atau melakukan penundaan. Oi samping syarat tertulis seperti tersebut di atas, negara penerima BLN juga dibebani persyarakat politik yang tidak tertulis. UE misalnya, memberikan syarat-syarat pelaksanaan demokrasi, penegakan hukurn, HAM dan lingkungan hidup.

BLN memang memperlihatkan suatu program asistensi ekonomi yang memformulasikan transfer eksplisit dari sumber-sumber dana yang nyata kepada negara berkembang berdasarkan pad a term-term yang bersifat konsesional." Bantuan ekonomi Juar negeri ini dianggap sebagai suatu senjata dalam perang ideologis yang melibatkan AS. Jika negara miskin tidak dibantu maka mereka akan jatuh ke dalam pengaruh US (Uni Soviet). Oleh karena itu, kepentingan AS adalah membantu negara-negara miskin atau negara berkembang untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan ekonominya.

Sejalan dengan semakin meningkatnya BLN dan HLN, keempat negara donor dari UE ini memperlihatkan sikap kritisnya terhadap proses pembangunan ekonomi di Indonesia. Sikap kritis ini mencapai titik puncak ketika Indonesia menyatakan penghentian BLN dari Belanda

10 Mubariq Ahmad, "Ulang Luar Negeri Periode 1967-1988," Prism a , Tahun XXf9 (1991): 13.

11 Jagdish Bhaqwaf dan Richard S. Eckaus, "Introduction" dalam Jagdish Bhagwati dan Richard S. Eckaus, ed., Foreign Aid: Selected . Readings (Middlesex, England: Penguin, 1970), hlrn, 7.

aa

BANTUAN LUAR NEGERI UNI ERDPA TERHADAP INDDNESIA

pada tahun 1992. Bahkan, pada masa-masa selanjutnya kefika- CGI pun, krltik-kritik dari negara donor tersebut menyudutkan Indonesia. Kritik tersebut berubah menjadi tekanan-tekanan ekonomi dan politik.

Peningkatan tersebut jelas memperlihatkan kondisi Indonesia yang semakin sangat tergantung kepada BLN dan sekaligus juga kepada Bank Dunia dan IMF. Tingkat kesulitan ini secara jelas dikemukan oleh Deputi Senior Bank Indonesia. la menyatakan bahwa Indonesia sekarang ini mengalami kesulitan terbesar untuk melepaskan diri dari Dana Moneter Internasional (IMF) karena IMF selama ini merupakan acuan pokok bagi negara donor dan sektor swasta internasional dalam memberikan pinjaman atau berinvestasi dl lndonesla." Bahkan bukan hanya untuk melepaskan diri dart IMF, untuk mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah disepakaf bersama pun seperti yang tercantum dalam Letter af Intent, Indonesia selalu mengalami kesulitan yang juga tidak kecil. Pada hal, ketentuan-ketentuan tersebut sebenarnya merupakan rencana-rencana yang memang sudah diagendakan secara rasional oleh Indonesia sendiri.

Sementara itu, HLN Indonesia kepada negara donor telah menjadi monster yang menghancurkan seluruh klnerja proses pembangunan ekanomi selama hampir 30 tahun. Halini sejalan dengan catatan lapangan Brigitte Erler tentang peranan bantuan asing dalam program pembangunan ekonomi. la sampai kepada kesimpulan bahwa bantuan asing merupakan bantuan yang

rnernattkan." .

Dalam hubung;tm kekuasaan antar negara, para ilmuwan politik biasanya .rnernbedakan antara kekuasaan paksaan dan kekuasaan konsensus. Penelitian ini . menitikberatkan pada kekuasaan paksaan. Titik berat

12 Kompas, 7 Oktober 2000, him. 13.

13 Brigitte Erler, Bantuan Mematikan: Catatan Lapangan tentang Bantuan Asing (Jakarta: LP3ES, IUh'/).

BANTUAN LUAR NEGl':RI NEGARA ANGGDTA UNI ERDPA

a9

pad a kekuasaan paksaan terletak pada aspek-aspek pemaksaan dalam kerangka pergulatan, dominasi dan konflik. Dalam kaitan ini, para pihak donor mengejar tujuan-tujuan yang mung kin tidak diminati oleh negara penerlma sehingga satu pihak memperoleh keuntungan, dan di pihak lainnya akan merugi.

Kekuasaan paksaan muncul dari pengalaman untuk menerima sanksi atau penghargaan, baik yang potensial maupun aktual. Jika seorang aktor dari negara penerima BLN benar-benar mengalami hukuman atau khawatir untuk mendapatkan hukuman di masa mendatang maka

dia akan tanggap pada kekuasaan paksaan." '

Kekuasaan paksaan ini mendorang seorang aktor dari negara penerima BLN untuk bersikap patuh. Dalam hal kekuasaan paksaan, para pemimpin dari negaranegara donor mungkin memperoleh perilaku patuh dengan menjanjikan imbalan-imbalan di masa mendatang. Misalnya, hubungan kekuasaan di kalangan masyarakat internasional dalam program bantuan pembangunan banyak bertumpu pada tekanan-tekanan politik. Oengan mengancam tldak akan memberikan lagi progam bantuan baru atau menunda pencairan bantuan, pemimpin-pemimpin negara penerima BLN mencoba untuk meyakinkan negara donor agar tidak menarik mundur program bantuan pembangunannya.

Walaupun begitu, banyak kalangan menganggap bahwa penggunaan kekuasaan paksaan secara dini adalah cara yang paling efektif untuk memperoleh

kepatuhan. Akan tetapi, yang perlu diingat,

penggunaannya menimbulkan sejumlah kesulitan.

~ertama, dalam hal kekuasaan paksaan, seorang aktor itu dapat berbuat lain bila sarana-sarana paksaan tersebut tidak ada dibandingkan jika sarana-sarana itu ada. Oi samping itu, kepatuhan dapat juga muncul dari

14 Uhat Charles F. Andrain, Kehidupan Po/itik dan Perubahan Sosia/ (Yoqyakarta: Tiara Wacana, 1992), him. 137-143.

90

BANTUAN LUAR NEGERI UNI ERClPA TERHADAP INDClNESIA

perasaan kekhawatiran untuk mendapatkan sanksi atau denda."

Kekuasaan paksaan dalam program BLN dapat

menyentuh bidang politik maupun ekonomi. Bidang politik memperlihatkan sisi yang kritik dari pol a nubunqan internasional dua negara, tetapi bidang ekonorni memberikan jalan kompromi antara para pihak. Biasanya, paksaan dalam bidang ekonomi lebih mulus dan tak kentara serta tidak menimbulkan harga politik yang besar. Akan tetapi, konsep tekanan politik di sini dimaksudkan untuk meliputi kekuasaan paksaan dari negara donor terhadap negara penerima baik yang bersangkutan dengan bidang politik maupun bidang ekonomi.

Sejarah BLN dari Keempat Negara Anggota UE Program bantuan yang dilancarkan berdasarkan doktrin Truman pad a bulan Januari 1949, secara internasional, dianggap sebagai suatu titik awal dari BLN. Akan tetapi, upaya tersebut lebih dianggap sebagai suatu jawaban AS untuk membentengi sejumlah negara-negara Eropa Barat dari laju intervensi US (Uni Soviet}-ketika itu-dl kawasan Eropa Barat.

BLN dalarn bentuk transaksi atau arus masuknya modal dari negara-negara kaya ke negara-negara miskin sebagai upaya untuk membantu negara-negara miskin tersebut dalam rangka pembangunan ekonominya baru diakui sejak dasawarsa 1960-an. Sejak itu, bantuan luar negeri menjadi suatu gejala yang meluas dalam konteks ekonomi internasional maupun hubungan internasional. Bahkan, PBB msnyatakan bahwa dasawarsa 1960-an itu sebagai dasawarsa pembangunan.

BLN dari keernpat negara anggota UE ini berawal pada titik yang berbeda. Pada bag ian ini, pembahasan dimulai dari lnqqris, kemudian Perancis, Belanda dan Jerman. Keempat negara ini merupakan negara-negara

15 Ibid., hIm. 138-139.

BANTUAN LUAR NEGERI NE13ARA ANGiGO.A UN. i:::R[]PA

91

kolonial yang memberikan bantuan untuk pembangunan dalam kurun waktu yang panjang dibandingkan dengan negara-negara donor lainnya, tetapi bantuan mereka itu sebenarnya terbatas pada waktu yang cukup singkat bila dibandingkan dengan lamanya mereka menamcapkan ikatan kolonial mereka.

Sejarah BLN Inggris

lnggris memulai BLN pembangunannya pada dasawarsa 1920-an ketika ia menetapkan ketentuan yang memungkinkan Inggris membantu pemerintah kolonial untuk membangunan ekonomi di wiJayah koloninya melalui grant dan pinjaman bagi pembangunan infrastruktur, perbaikan transportasi, penelitian, listrik, dan penyediaan air bersih, survey tanah, dan lainnya. Ketentuan ini disebut Colonial Development Act (COA) tahun 1929 sehingga negara-negara penerima BLN dari Inggris ini merupakan negeri-negeri koloni Inggris.16

Dalam ketentuan CDA 1929 itu, sektor pendidikan tidak termasuk di dalamnya, dan tujuan pokok yang kuat dari CDA ini sebenarnya adalah untuk mempromosikan kesempatan kerja di Inggris melalui stumulasi perekonomian koloni-koloninya dan permintaan mereka terhadap ekspor Inggris. Dana-dana tersebut sejauh mungkin diarahkan untuk membeli produk-produk Inggris. Jumlah yang berhasil dialokasikan berdasarkan COA 1929 ini kurang dari 1 juta poundsterling per tahun dan selama sebelas tahun secara keseluruhan kurang dari 7 juta poundsterling.

CDA 1929 inl membatasi komitmen lnggris. Hal ini berarti bahwa hanya proyek-proyek modal akan dibiayai, ?an bahkan hal ini pun dilakukan jika pendapatan koloni ttu dapat mendukung peningkatan pengeluaran ekstra dari proyek yang bersangkutan. Sektor pendidikan yang

16 I?~vid Burch, Overseas Aid and the Transfer of Technology: the Political Economy of Agriculteral Mechanisation in the Third World . (Brookfield, Vernon:Gower Publishing Co., 1989), him. 38-43.

92

ElANTUAN LUAR NEGERI UNI EROPA TERHAOAP INDONESIA

tldak tercakup dalam CDA 1929 in; merupakan bukti bahwa pembangunan sumber daya manusia secara serius diabaikan. Akibatnya, ketergantungan sejumlah koloni Inggris pada semua tingkatan pemerintah memperlihatkan porsi yang besar sekali.

Pada tahun 1940, pemerintah Inggris meninjau CDA 1929 ini yang membawa Inggris menetapkan suatu aturan baru yang disebut dengan Colonial Development and Welfare Act (CDWA) tahun 1940. Dengan aturan baru ini, Inggris menyediakan dana sebesar 5 juta poundsterlin~ per tahun bagi pembangunan dan kesejahteraan di daerah-daerah koloninya. Pendidikan dimasukkan secara khusus sebagai salah satu tujuan aturan yang baru. Pad a tahun 1945, CDWA1940 ini direvisi sehingga memungkin Inggris menyediakan dana sebesar 120 juta poundsterling selama sepuluh tahun untuk membiayai proyek-proyek yang dikelola dalam kerangka suatu program pembangunan pada setiap koloni.

Tiga tahun kemudian, Inggris semakin intensif dalam program pembangunan di daerah koloninya dengan mengeluarkan Overseas Resources Development Act (ORDA) tahun 1948. Aturan baru inl menentukan pembentukan suatu korporasi pemerintah yang dinamakan Colonial Development Corporation (CDC). Korporasi ini memiliki kewenangan untuk meminjam dari Menteri Kuangan Inggris bagi investasi industri, pertanian, dan bidang-bidang yang menguntungkan di daerah kolonl lnggris.

Pada dasawarsa 1950-an, negara-negara penerima BLN dari Inggris.ini tetap merupakan negeri-negeri kolonl lnggris sendiri. Narnun, pad a akhir dasawarsa 1950-an, sejumlah neqerl-neqerl koloni ini mencapai kemerdekaan menjadi negara yarig berdaulat. Oleh karena itu, bantuan kepada negara-negara bekas koloninya yang baru merdeka ini merupakan masalah kebijakan yang utama. Kebijakan pemerintah Inggris mengenai bantuan pembangunan kepada negara-negara bekas koloninya terangkum dalam Buku Putih Inggris tahun 1957.

13ANTUAN LUAR NEGERI NEGARA ANGGOTA UNI EROPA

93

Melalui kebijakan ini, Inggris merubah strateginya pemberian BLN kepada negara-negara bekas koloninya. Pada tahun 1958, Inggris menjadi salah satu negara pendiri IBRD (International Bank for Reconstruction and Development) yang menyalurkan dananya sebesar 18 juta poundsterling per tahun sebagai kewajibannya. Dalam hal ini, Inggris menganggap bahwa IBRD sebagai sumber pembiayaan eksternal yang cukup layak untuk negara-negara bekas koloninya.

Selain itu, Inggris pun menyediakan BLN melaJui Commonwealth Assistance Loans (CAL). Mekanisme ini diperuntukan bagi kategori baranq, atau proyek yang diminta oleh negara pemohon seperti barang-barang kapital. Bantuan proyek ini masih dianggap sebagai bantuan multilateral daripada bantuan bilateral. Melalui CAL ini, Inggris menerapkan prinsip bahwa BLN kepada negara yang berdaulat harus terikat pada pembelian produk-produk Inggris, serta Inggris cenderung mengarah kepada pendekatan multilateral. Hal ini disebutkan pada Buku Putih tahun 1963 yang menyatakan bahwa sekarang ini negara-negara yang berdaulat dapat berharap pada penyelesaian finansial yang khusus dengan akses yang bebas pada pasar uang London, investasi dari CDC dan CAL yang dibuat melalui ECGO (Export Credit Guarantee Department). Selain itu, Inggris pun menyatakan bahwa pemerintah Inggris bekerja sama dengan negara donor lainnya memberikan pembiayaan pembangurian dan memberikan bantuan anggaran kepada suatu negara yang tergabung ke dalam Persemakmuran Inggris.17

BLN Inggris dalam bentuk lain adalah bantuan teknik yang diistilahkan sebagai TA (Technical Assistance). Oi bawah sistem kolonial, bantuan teknik ini diberikan dalam dua cara yaitu pemerintah Inggris merekrut orang-orang untuk jasa pelayanan kolonial dan pembayaran bagi penasehat, guru dan beasiswa. Akan

17 Ibid., him. 61-67.

94

BANTUAN LUAR NEGERI UNI EROPA TERHADAP INDONESIA

tetapi, setelah koloni-koloni ini merdeka, Inggris memberikan bantuan teknik melalui Colombo Plan dan pembentukan Department of Technical Co-peration

(OTC).

Pengadministrasian BLN dari lnggris melibatkan

banyak lembaga. Lembaga-lembaga seperti Foreign Office (Fa), Commonwealth Relations Office (CRO), dan Colonial Office (CO), bersama menteri keuangan bertanggung jawab kepada keputusan-keputu~a~ kebijakannya. Sementara itu, OTC sebelum rnenjadi bagian dari Overseas Development Ministry (OOM) merupakan subyek untuk menentukan arah kebijakan umumnya. Akan tetapi, ODM ini memiliki tanggung jawab yang penuh untuk administrasi bantuan teknik, d~~ menyusun dana-dananya atas keputusannya send In. Lembaga British Council juga memberikan suatu bantuan pendidikan yang cukup substansial bagi negara-negara yang merdeka. Kementrian lain seperti ment~ri pendidikan kemudian berpartisipasi datam bantuan teknlk dari waktu ke waktu, tetapi pengeluarannya dibayarkan oleh OTC. Akan tetapi, kompleksitas administratif ini disempurnakan ke dalam bentuk pembentukan Overseas Development Ministry.

Sejarah BLN Perancis

Berbeda dengan Inggris, Perancis memperlihatkan kebijakan kolonialnya yang didasarkan pada asimilasi da~ menyediakan dana yang cukup besar. Oalam menangam daerah-daerah jajahannya, Perancis melakukan proses integrasi daerah-da~rah' tersebut ke dalam metropolitasn Perancis. Pada tahun 1956, masa pra-kemerdekaan negara-negara di benua Afri~a,. Perancis memberi~an hibah dan pinjaman dengan nilai total sebesar 648 juta dolar AS dan investasi swasta Perancis di negara-negara berkembang juga mencapai nilai yang cukup besar. Perancis juga lebih mementingkan pemberian BLN kepada negara-negara yang termasuk ke lingkungan

BANTUAN LUAR NE:GEFl! NEGA~A ANGGD'TA UNI EROPA

9S

pengaruhnya, yaitu daerah-daerah seberang lautannya atau yang termasuk kedalam metropolitan Perancis.

Perancis memberikan perhatian yang hampir tidak berbeda terhadap daerah-daerah metropolitannya baik sebelum merdeka maupun sesudah merdeka. Perancis melanjutkan bantuan anggaran dan bantuan teknik dalam semua bentuknya dari pekerja administratif hingga guru, dan hibah untuk proyek dan program pembangunan, seperti sebelum kemerdekaan. Dengan kata lain, di sana tidak terdapat perubahan yang mendasar dalam kebijakan BLN Perancis bagi negari-negara sebelum kemerdekaan dan sesudah kemerdekaan mereka.

Seperti juga negara-negara donor lainnya, Perancis pun tidak mengesampingkan penggunaan kredit ekspor dan sejumlah kecil bantuan teknik sebagai senjata diplomatik dan komersial terhadap pihak-pihak di luar lingkungan pengaruhnya. Negara-negara yang tergabung ke dalam DBP (Daerah Berbahasa Perancis) menikmati ikatan-ikatan perdagangan yang erat dengan Perancis, dan pada umumnya mereka memiliki persetujuan dengannya.

Salah satu has it dari persetujuan perdagangan dan moneter antara Perancis dengan negara-negara DBP itu adalah biaya riil dari BLN Perancis yang dicairkan dalam DBP sungguh tidak dapat diperkirakan. Keseluruhan BLN Perancis yang mengalir ke DBP adalah sedemikian terikatnya pada pembelian barang-barang Perancis, dan monopoli perdagangan oleh perusahaan-perusahaan Perancis. Sebagian BLN· Perancis dipandang sebagai subsidi langsung kepada perusahaan-perusahaan Perancis dan sebagai bantuan terikat. Pandangan seperti ini dituangkan dalam Laporan Jeanneney.

Dalam bentuk bantuan teknik, bantuan teknik dari Perancis kepada negara-negara DBP terbilang cukup besar dan tidak mengalami pengurangan sejak negaranegara DBP itu mencapai kemerdekaannya. Pad a tahun 1963, Perancis mempekerjakan 51.000 personil yang bekerja di luar negeri dengan biaya 3.500 dolar AS untuk

96

f3ANTUAN LUAR NEGERI UN. ERCPA TERHADAP INP[lNESIA

setlap orang. Selain itu, negara penerima bantuan teknik bersikap sangat bersahabat terhadap orang-oran~ Perancis didalam admisnistrasi mereka. Bahkan, dan 51.000 personil yang bekerja di luar negeri itu, enam puluh tujuh persen bantuan teknik ini adalah guru.18

Perhatian Perancis terhadap negara-negara DBP terungkap dalam bentuk administrasi BLNnya. Le~baga pertama yang bertanggungjawab bagi bantuan teknlk da~ finansial kepada negara-negara Afrika dan Malagasl adalah Kementrian Kerjasama. Lembaga kedua ada~ah Overseas Department and Territories dan lembaga ketlga adalah lembaga untuk Aljazair. Sedangkan lembaga yang keempat adalah Kementrian Keuangan yang bertanggung jawab pada bantuan finansial untuk daerah-daerah

lainnya di dunia.

Tampaknya, keuntungan-keuntungan sejumlah

perusahaan Perancis berasal dari progr~m-progr~m BLN, tetapi BLN dianggap sebagai beban bagl Perancis secara keseluruhan. BLN untuk Aljazair dikaitkan dengan kepentingan Perancis dalarn eksplora~i miny~k. Sahara dan situs-situs pengujian nuklir Perancis, Selain I.tu, BLN untuk Maroko, Tunisia dan negara-negara Afrika dan Malagasi dikaitkan dengan perlakuan negara-negara tersebut terhadap para pengusaha Perancis dan warg~ Perancis yang tinggal di negara-negara itu. Akan tet~pl, sejak Perancis berpengaruh di n~gara-negara DBP, J~ka tidak mendikte politik luar negen negara-negara Afrika dan Malagasi yang dilakukannya melalui. persetuj~an. Dalam kerangka ini, Peraneis akan dlkonsultaslkan sebelum suatu perternuan internasional dilakukan, dan sebelum penqarnbilan suara di PBB dilakukan .. Hal yang juga penting adalah keinginan Perancls. untuk mengembangkan pengaruh budaya PeranC1S yang berhasil dilakukannya di negara-negara bekas

18 I.M.D. Little dan J.M. Clifford, International =. A disc~ssion of !he flow of public resources from rich to poor countnes (Chicago: Aldine

Publishing Co.), him. 37-42.

BANjUAN LUAR NEGERI NEGARA ANGGOTA UN. EROPA

97

metropolitannya. Jika Perancis ini mempertahankan ikatan ini maka ia perlu memberikan subsidi.

Sejarah BLN Belanda

Belanda memulai program BLN pada tahun 1960- an. Namun, sebelumnya, Belanda memperlihatkan reaksi yang positif terhadap perubahan penekanan arah kebijakannya dari politik kolonialnya kepada kebijakan pembangunan. Pada bulan Juli 1949, suatu kelompok kerja antar-departemen yang dikoordinasikan oleh Kementrian Seberang Lautan· dibentuk untuk mempertimbangkan apa kontribusi Belanda terhadap inisiatif program bantuan dari AS itu. Pada bulan Juli 1955, Ratu Juliana mengajukan suatu permohonan yang mendesak bagi ekspansi bantuan pembangunan. Menindaklanjuti permohonan tersebut, seorang anggota Parlemen Belanda dari Partai Buruh menekankan bantuan multilateral yang lebih banyak dan meminta suatu laporan dari Komisi Kerjasama Pembangunan.

BLN dari Belanda bercirikan pad a karakter multilateral daripada bilateral. Tekanannya pad a bantuan multilateral merupakan hasilperdebatan parlemen Belanda yang sekaJigus memperlihatkan idealisme, di samping tentunya kepentingan ekonominya dan kondlslkondisi perekonomian Balanda yang ketat. Dalam hal ini, Belanda memperlihatkan perhatiannya pad a koordinasi bantuan dalam konsorsium dan koordinasi kelompokkelompok bnatuan oleh Bank Dunia dan OEDC.19

Sejarah BLN Jerman Barat

Jerman Barat merupakan pendatang baru dalam pemberian BLN yang kehilangan koloni terakhirnya pada tahun 1918. la masih memperlihatkan kepentingannya di

19 Paul Hoeblnk, "The Humanitarianisation of the Foreign Aid Program in the Netherlands," European Journal of Development Research, Vol. .11/1 (June 1999): 182.

98

6ANTUAN \...UAR NE5ERI UNI ERCIPA TER .... ADAP INOCINESIA

negara seperti Tanganyika. Meskipun SLN Jerman Sarat hanya sekedarnya, Jerman Sarat memperlakukan koloninya dengan penuh perhatian.

Pada tahun 1960, Jerman memulai program bantuan kapitalnya yang didorong atas beberapa asumsinya. Pertama, Jerman Barat sekarang lni merupakan suatu negara baru yang sah dengan posisinya yang khusus di dunia dan juga memiliki tanggung jawab internasional. Kedua, pembagian Jerman ke dalam Jerman Sarat dan Jerman Timur memberikannya suatu kepentingan dalam politik Perang Dingin hanya untuk AS, US (Uni Soviet) dan RRC (Republik Rakyat Cina). Ketiga, rasa antusiasme untuk mempromosikan perusahaan swastanya di negaranegara berkembang memaksanya untuk mengambil suatu landasan ideologik yang sama seperti AS. Dalam suatu dunia yang menggunakan bantuan sebagai alat politik dan komersial yang penting, dan hal ini merupakan elemen yang terpenting dalam rangka Perang Dingin, Jerman Sarat menyatakan siap menjadi suatu negara donor dalam skala yang cukup mernadai,"

Kebijakan BLN Jerman Sarat didasarkan pada premis yang paling fundamental bahwa BLN akan mempromosikan perusahaan swasta negara penerima BLN. Dari titik ini, Jerman Barat menentukan bahwa bantuan yang berupa hibah cukup layak hanya untuk bantuan teknik, dan bantuan finansial akan diberikan sebagai proyek dan digunakan untuk proyek pendapatan pada tingkat bunga kornersial atau untuk investasi infrastruktur pada .tingkat suku bunga yang disubsidi.

Hal ini teatunya menjadi suatu konflik antara keinginan untuk prornosl perusahaan swasta dan investasi produktif yang langsung. Dengan alasan yang sama, SLN dimaksudkan untuk pembangunan bukan untuk promosi ekspor, dan sebagian BLN Jerman Barat

20 l.M.D. Little dan J.M. Clifford. op.cit. him. 42.

BANTUAN LUAR NE5ERI NE:tiARA ANti5C1TA UNI ERCIPA

99

tidak secara resmi terikat kepda ekspor dari Jerman Barat.21

Sayan~nya, . kelernahan administratif menjadi

~~ndala baqi efektivitas keberhasilan BLN Jerman Barat iru. Pada tahun 1961, Jerman Sarat membentuk kementrian. ker}asama yang bertanggung jawab untuk mengkoordlna.slkan BLN sebagai saluran yang sebelu~nya dilakukan melalui kementrian luar negeri dan kementr!an ~konomi. Di samping itu, rivalitas antar kedua keme~tnan ltu telah mencegah kementrian tersebut untuk b~kerjasama dalam menerapkan prinsip-prinsip yang dlkel.ol.a ol~h kementrian kerjasama. Dengan kata lain, administrasl BLN Jerman Barat tidak layak dibentuk di luar negeri.

BLN dari Jerman Barat menjadi demikian meluas ke ~eluruh duni~ sejak tahun 1960 karena ketiadaan ikatanlkatan kolomalnya. Akan tetapi, doktrin Hallstein justru mencegah Jerman Barat untuk memberikan BLN kepada suatu negara yang mengakui rejim Jerman Timur. Tampakn~a, doktrin ini membatasi kebijakan BLN Jerman Barat danpada menentukan distribusi BLN dengan suatu caya yang lebih tepat.

Sayangnya, BLN darl Jerman Barat ini tidak berdampak seperti yang diharapkan semula pada tahun 1960. Hal ini disebabkan bahwa Jerman Barat terlalu

berh.ar~p . banyak dengan BLN, di samping

admmsltraslnya masih berantakan sehingga

me~pengaruhj kinerja program dan melemahkan pertirnbanqan kornersiat."

BLN Empat Negara Anggota UE

Seja.k tahun 1968, empat negara anggota UE. masingrnasmq Belanda, Inggris, Jerman dan Perancis memberikan komitmen BLN kepada Indonesia. Dalam

21 Ibid.

22 Ibid., him. 44-45.

100

BANT";AN LUAR NEGERI UNI EROPA TERHACAP INCONESIA

kurun waktu 1968-1976, Belanda memberikan komitmen yang paling tinggi dibandingkan dengan ketlqa ne~ara anggota lainnya. Oalam hal ini, Belanda membenkan komitmen BLN sebesar 414,952 juta dolar AS. Sedangkan ketiga negara anggota UE lainnya meny~sul di belakang Belanda yaitu Jerman se~esar .3~7,12~ [uta dolar AS, kemudian Perancis membenkan nilal ~omltm.e~ sebesar 233,153 juta dolar AS, dan Ing~rls ~emlal 128431 juta dolar. Oengan demikian, total nilai kornltrnent BLN dari keempat negara donor anggota UE ini adalah mencapai nilai 1.173,664 juta dolar AS dalam kurun

waktu 1968-1976 (Lihat TabeI1). .,.

Sementara itu, BLN yang berhasll dlcalrk~n oleh

Indonesia dari keempat negara donor ini memper~lh~tkan besaran yang berbeda. BLN Belanda berhasll ~lc~lrkan sebesar 251,617 juta dolar AS yang merupakan nilal yang terbesar diantara keempat negara anggota donor ~n~gota UE itu, sedangkan BLN dari Jerman marnpu dlcalrk.a~ senilai 204,133 juta dolar AS yang merupakan nlla~ terbesar kedua setelah Belanda. Masing-masin.g sebaqai urutan ketiga dan keempat adalah BLN dan ~eranc~s sebesar 123,007 juta dolar AS, dan BLN dan Inggns sebesar 85,189 juta dolar AS. Jadi, t~tal nilai B~N yang berhasil dicairkan oleh pihak lndonesia sebaqal negara penerima BLN adalah sebesar 663,946 juta dolar AS selama kurun waktu 1968-1976 (Lihat tabel 2).

Oari data tersebut, kita mengetahui bahwa Bel~nd~ memang memberikan nilai komitmen yang paling tl~ggl dan nHai pencairannya pun paling tinggi secara nO~1nal, tetapi BLN dari Belanda ternyata hanya mampu dls~rap sebesar 77,86 %. J~rman, misalnya, juga. n:emben~an nilai kornitmen tertinggi yang kedua dan nllal pencalra~ pun tertinggi kedua secar~ n~mi~al, namun, BLN d:rI .. Jerman ini hanya berhasu dicairkan sebesar 60 Yo.

Sedangkan Perancis merupakan nega~a donor urutu.a~ ketiga dalam pemberian nilai kornitrnen dan mla1 pencairan secara nomi~al.. ~ayangnya, persentaseo day~ serap BLN dari Perancis uu hanya sebesar 75 Yo. 01

BANTUAN LUAR NEGERI NI!;I:iARA ANGGOTA UNI EROPA

101

samping itu, secara nominal, Inggris meruapakan negara donor anggota UE yang terkecil dari nilai komitmen dan nilai daya serap pencairannya. Akan tetapi, yang terpenting, daya serap pencairan BLN dari Inggris ini justru yang terbesar (Lihat Tabel 3).

BLN ini terurai dalam bentuk-bentuk seperti bantuan program (program aid), bantuan proyek (project aid), bantuan makanan (food aid), bantuan komoditi (commodity aid), dan kredit ekspor dan pinjaman komersial (export creoi: dan commercial loan). Tiga negara donor anggota UE ini memberikan komitmen BLN dalam semua bentuk kecuali bantuan komiditi. Khusus Belanda, ia juga melengkapinya dengan bantuan komoditi.

Berdasarkan Tabel 1, mereka memperlihatkan persamaan perhatian yang didasarkan pada bentukbentuk BLN. Semua negara, tanpa kecuali, memberikan bobot yang tinggi kepada bantuan proyek. Belanda, misalnya, memberikan komitmen BLN dalam bentuk Project Aid selama kurun waktu 1968-1976 sebesar 252,937 juta dolar AS atau ... % dari total BLN-nya. Akan tetapi, ia melengkapinya dengan bentuk bantuan komoditi sebesar 10,355 juta dolar AS atau ... % dari total BLNnya. Jerman memberikan nilai komitmen dalam bentuk bantuan proyek sebesar 252,362 juta dolar AS atau ... % dari total BLN-nya. Sedangkan Perancis juga menekankan pada bentuk bantuan proyek dengan nilai sebesar 166,544 juta dolar AS, dan Inggris bersedia memberikan nilai komitmen untuk bantuan proyek sebesar 81 ,805 juta dolar AS.

Pada sisi yang lain, Indonesia menerima komitmen BLN yang terbesar dalarn bentuk bantuan proyek dari keempat negara donor anggota UE ini dengan nilai 753,648 juta dolar AS. Nilai komitmen BLN terbesar kedua adalah BLN dalarn bentuk bantuan program yang mencapai nilai 371,164 juta dolar AS. Sisanya adalah nllai komitmen BLN dalam bentuk bantuan komersial sebesar

1[J2

BANTUAN I.-UAR NEGERI UNI EROPA TERHADAP INDONESIA

38,497 juta dolar AS dan bantuan komoditi sebesar 10,355 [uta dolar AS.

Besaran nilai BLN yang berhasil dicairkan oleh pihak Indonesia tidak cukup tinggi sehingga Indonesia terpaksa menutupnya dengan kreditekspor dan pinjaman komersial. Seperti telah disebutkan sebelumnya, total nilai pencairan BLN mencapai 663,946 juta dolar atau '" % dari nilai komitmennya. Nilai pencairan BLN in; dapat dirinci ke dalam bentuk-bentuk BLN-nya berdasarkan urutan besarannya. Bantuan proyek merupakan bentuk BLN terbesar yang berhasil dicairkan oleh Indonesia dengan nilai 249,157 juta dolar AS, sedangkan bentuk lainnya seperti bantuan proyek hanya mampu dicairkan senilai 370,696 juta dolar. Selain itu, bantuan makanan berhasil dicairkan sebesar 34,026 juta dolar AS dan bantuan kornoditi hanya mampu dicairkan senilai 10.067 juta dolar AS.

Karena nilai pencairan BLN masih sangat kecil, Tabel2 memberikan fakta lain bahwa Indonesia mencari dana dalam bentuk ekspor kredit dan pinjaman komersial. Ekspor kredit dan pinjaman komersial yang berhasil dicairkan oleh pihak Indonesia dalam kurun waktu 1968- 1976 adalah sebesar 1.031,400 juta dolar AS. Besaran itu meliputi kredit ekspor dan pinjaman komersial dari Belanda sebesar 325,600 juta dolar yang merupakan nilai terbesar. Tiga negara anggota UE lainnya memberikan nilai yang lebih kecil dari Belanda. Perancis memberikan kredit ekspor dan pinjaman komersialnya sebesar 347,700 juta dolar AS, Inggris menyerahkan kredit ekspor dan pinjaman komersjalnya senilai 244,500 juta dolar AS dan Jerman sebesar ~13,.600 juta AS.

Berdasar kriteria PAC (Development Assistance Committee) yang merupakan salah satu bagian dari

'OECD (Organization Economic dan Cooperation

Development), BLN dari keempat negara anggota UE in; termasuk ke dalam kategori ODA (Official Development Assistance) yang memiliki tiga karakter. Pertama, BLN dar; keempat negara anggota UE itu dikelola oleh badan

BANTUAN LUAR NEGERI NEGARA ANE:OGOTA UNI EROPA

1[J3

resmi pemerintah. Kedua, semua BLN tersebut dimaksudkan untuk mempromosikan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan sebagai tujuan utamanya. Ketiga, mereka harus pula meliputi unsur grant yang mencapai 25 % atau lebih dari total BLN.

Unsur grant ini mengukur tingkat konsesionalitas dari transfer BLN dibandingkan dalam batas-batas pasar yang secara normal diambil untuk memasukkan suatu tingkat suku bunga sebesar 10 %. Dengan demikian, suatu grant BLN yang bersifat ikhlas memiliki 100 % unsur grant, sedangkan suatu loan yang tingkat suku bunga 10 % akan memiliki suatu unsur grant yang zaro. Bahkan suatu loan yang bersifat soft akan terletak diantaranya.

Dengan demikian, pada kurun waktu 1968-1976, BLN yang berasal dari keempat negara anggota UE dengan nilai 663,946 juta dolar AS dapat dirinci ke dalam dua bentuk yaitu hibah dan pinjaman. Indonesia telah menerima hibah dari keempat negara terse but sebesar 166.048.670 dolar AS dan pinjaman sebesar 497.897.330 dolar AS selama kurun waktu 1968-1976. Pinjaman sebesar itu dalarn kerangka BLN ditambah dengan kredit ekspor dan pinjaman komersial sebesar 1.031,4 juta dolar AS menjadi total HLN sebesar 1.529.297.330 dolar AS dalam kurun waktu 1968-1976 (Lihat TabeI5).

Dari total HLN tersebut, HLN Indonesia kepada P.er~ncis sebesar 457.176.230 dolar AS yang merupakan nllal terbesar. Selain itu, HLN Indonesia kepada BeJanda mencapai nilai 438.827.650 dolar AS, Jerman sebesar 309.567.680 dolar AS, dan Inggris senilai 323.725.770 dolar AS.

Besarnya kredit ekspor dan pinjaman komersial ini disebabkan kegagalan pihak Indonesia untuk mencairkan bantuan proyek, Kegagalan ini mung kin menyebabkan Indonesia diharuskan membayar denda. Oleh karena itu, beban HLN menjadi lebih besar karena kredit ekspor dan pin~aman komersial memperlakukan syarat-syarat yang le~lh . keras dibandingkan dengan bantuan proyek,

I

I

.1·\

104

BANTUAN LUAR NEo;;"~;1I UNI EROPA TERHADAP INDONESIA

bantuan program, bantuan makanan atau bantuan komoditi.

Berdasarkan Tabel 5, Belanda memberikan hibah

yang paling besar dengan nilai 138.389 .. 350 dolar A~ ata~ 8334 % dari total nilai hibah yang ditenma tndonesra dan ke~mpat negara anggota UE yang mencapai nilai 166.048.670 dolar AS. Dengan demikian, Belanda seolah-olah menjadi punya kartu truf untuk bersikap kritis terhadap proses pembangunan di Indonesia. Sikap ~ritis Belanda ini dipahami sebagai protes kepada Presiden suharto. Sikap kritis Belanda ini mencapai titik puncak pad a tahun 1992 yang menyebabkan pembub~r~n IGGI.

Komitmen ketiga negara anggota UE uu ternyata cukup kuat terhadap Indonesia. Perancis memberikan total nilai komitmen BLN yang terbesar pad a kurun waktu 1992/1993-1995/1996 dengan nilai sebesar 579,77 juta dolar AS. Sedangkan kedua negara lainnya, Inggris dan Jerman nilai komitmennya lebih kecil dari nilai komitmen yang diberikan Perancis. Jerman rnernberikan komitmen BLN senilai 556,61 juta dolar AS dan lnggns sebesar 440 09 juta dolar AS (Lihat tabel 6).

, Kematangan dari suatu loan diukur dari jumlah

tahun atas mana loan tersebut dibayar kembali. Disamping itu, suatu loan pun dapat diukur dari masa grace-nya yaitu suatu interval sebelum pembayaran kembali. Kedua ukuran ini diperhitungkan sangat

t 23

berpengarauh terhadap unsur gran. .'

Darl sekian jumlah BLN yang diterlma oleh

Indonesia dari keempat negara anggota UE ltu sekurangkurangnya 75 .% a,dalah dalam bentuk pinjaman yang harus dikembaUkan dalam bentuk pembayaran hurang luar negeri. Deng?n demikian, bagian pi~jaman dalam BLN akan menjadi hutang luar negen yang harus dikembalikan pad a kurun waktu yang telah ditentukan

23 Robert Cassen & Associates, Does Aid Work? Report to a Intergovernmental Task Force (Oxfor: Clarendon Press, 1986), him. 2.

BANTU AN LUAR NEI3ERI NEo;;ARA ANI3o;;OTA UNI EROPA

lOS

setelah masa grace-nya berakhir pada tingkat suku bunga tertentu.

Sedangkan pada kurun waktu 1992/1993-1995- 1996, komitment BLN dart keempat negara anggota UE ini mengalaml perubahan. Perubahan itu bersangkutan dengan penghentian Belanda sebagai negara donor kepada Indonesia sehingga mekanisme BLN pun mengalami perubahan dari IGGI kepada CGI. Dengan demikian, sejak tahun 1992/1993, negara anggota UE yang. memberikan BLN menyisakan tlga negara yaitu lnggns, Jerman dan Perancis.

Taber Komitmen Bantuan Jnggris, Jerman dan Perancis melaJui CGJ, 1995-2001 (dalam juta Dolar AS)

Tahun Inggris Jerman Perancis Jumlah Total BLN
1992/1993 35,00 135,50 176,90 347,40 4.948,70
1993/1994 98,60 138,70 123,30 360,60 5.110,60
1994/1995 150,49 157,41 140,57 448,47 5.202,68
1995/1996 155,00 125,0 139,0 419,0 5.360,00
1996/1997 20,00 208,3 100,0 128,0 5.260,30
1997/1998 16,00 66,3 - 82,3 5.299,30
1998/1999 46,00 300,0 - 346,0 7.894,00
1999/2000 38,50 39,7 - 78,2 5.861,30
2000 33,00 102,0 - 135,0 4.194,40 Sumber. APBN, dan tahun-tahun yang bersangkutan.

. Dari tabel tersebut di atas, kita mengetahui bahwa ketlqa negara anggota UE ini memberikan BLN yang cukup besar sebelum krisis moneter pada tahun 1997. Akan tetapi, mereka bertiga mengurangi komitmen BLN seJama tahun-tahun krisis. Hal lnl jelas memberikan pertanda bah~a mereka sendirl sengaja mengurangi besaran komltmen BLN kepada Indonesia, kecuali Jerman yang memberikan nilai BLN yang besar pada tahun 1998/1999 dan tahun 2000.

Yang rnenarik adalah fakta bahwa Indonesia merupakan salah satu negara penerima dari lima negara penerima BLN dari Jerman. Sedangkan untuk Inggris dan Perancis, negara penerima kedua negara tersebut adalah

106

BANTU AN LUAR NEGERI UNI ERCPA TERHADAP INDONESIA

negara-negara kelompok Commonwealth dan DBP. Dalam kurun waktu 1980-1985, Indonesia menerima 107,42 juta dolar AS yang merupakan negara penerima terbesar ketiga BLN dari Jerman setelah Sudan dan Turkey. Namun selama kurun waktu 1986-1990 dan 1990-1995, Indonesia menempati urutan kelima dengan nilai 87,38 juta dolar AS setelah Mesir, Turkey, India dan RRC serta sebesar160,38 [uta dalar AS setelah Yugoslavia, RRC, Mesir dan India.24

Keempat BLN dari negara-negara anggota UE dalam bentuk-bentuknya tersebut tidak termasuk ke dalam kategori bad an swasta. Di samping itu, mereka tidak termasuk pula ke dalam kategori tujuan khusus seperti tujuan-tujuan militer. Yang lebih penting, BLN dari keempat negara anggota UE tersebut juga meliputi T? (Technical Assistance) yang mencakup bantuan (harnpir seluruhnya bersifat grant) untuk negara-negara berkembang secara individual dalam bentuk pendidikan atau latihan baik di dalam negeri maupun luar negeri yang diperuntuk guru-guru, administrator, tenaga ahli, dan pekerjaan di negara-negara berkembang. Hal lainnya adalah BLN itu selalu merujuk kepada bantuan pembangunan jangka panjang dan bukan berbentuk bantuan darurat atau pengampunan hutang, meskipun kontribusi resmi untuk tujuan terse but dimasukkan dalam angka-angka keseluruhan BLN.

HLN Indonesia yang berasal dari minimal 75 % pinjaman memperlihatkan kecenderungan yang terus meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah B~N secara terus menerus sejak tahun 1969. Bahkan sejak tahun 1987, Indonesia sudah mengalami defisit. Artinya, pembayaran ke luar negeri telah melebihi ni~ai pinjaman yang dicairkan. Keadaan ini berlangsung hlngga tahun 1998, kecuali tahun 1991 dan 1992. Kalau nilai nettonya

24 Sabine C. Zanger, "Good Governance and European Aid: The Impact of Political Conditionality," European Union Politics, Vol. 1/3 (October, 2000): 305.

BANTU AN LUAR NEGERI NI!!;I;OARA ANGGOTA UNI I!!;RCPA

107

dijumlahkan, rnaka netto negatifnya akan lebih besar dibandingkan dengan nilai netto positifnya. Dengan demikian, BLN yang didalamnya terdapat pinjaman luar negeri sudah menjadi beban perekonomian. la sudah tidak lagi dapat mengobati kedua jurang yaitu jurang tabungan dan jurang devisa.

Dengan kata lain, BLN mempertanyan tiga hal.

Pertama, BLN diasumsikan salah karena mungkin persyaratan terlalu ketat. Kedua, pembangunan ekonominya diasumsikan salah atau pengelolaan BLN diasumsikan salah. Pad a satu sisi, proses pembangunan ~ecara keselurahan dimungkinkan telah gagal karena ~I~gkat pe~umbuhan ekonomi yang telah dicapai selama rru pemennah Pembangunan Terpimpin bersifat semu. Dalam perekonomian nasional, kita masih menjumpai qolonqan ekonomi yang terperosok ke dalam kemiskinan struktural. Perekonomian Indonesia tidak berubah secara subs~ansia~. Besaran kuantitatifnya memang bertambah t~t~PI kual!t~s p~rekonomiannya menjadi negatif. Pada SISI yang lain, blsa jadi, pengelolaan BLN yang tidak benar. Yang jelas, memang pengelolaan BLN sangat tertutup, serta sulit untuk dilakukan evaluasi.

Tuntutan Terhadap Indonesia

Kondisi pereko.~omian Indonesia pad a tahun 1966, yang menandakan titlk awal periode pemerintah Orde Baru, sangat buruk." Upaya perbaikan ekonomi dititikberatkan pada empat langkah utama, yaitu: konsolidasi, rehabilitasi dan stabifisasi serta melakukan pendekatan ke luar negeri. Pendekatan ke luar negeri dimaksudkan untuk menjadwal ulang (rescheduling) hutang lama, mengusahakan bantuan keuangan yang baru dari luar

2.5 Buruk.nya ~ondisi ekonomi Indonesia pada tahun 1966 terlihat pada tinqkat inflasi yang mencapai 650%, pendapatan masyarakat per kapltas ra~a-rata hanya ~ebesar 70 Dolar AS per tahunnya. dan hutang luar negen yang harus dibayar berjumlah 2,2 milyar dolar AS.

lOB

BANTU AN LUAR NEGER! UN! ERDPA TERHACAP INCDNES!A

negeri untuk mendukung neraca pembayaran, dan menarik penanaman modal asing ke Indonesia.

Tindak lanjut dart upaya keempat berupa pelaksanaan tiga pertemuan antara pihak Indonesia dengan pihak luar negeri. Berdasarkan inisiatif dari pemerintah Jepang, pertemuan multilateral pertama berlangsung di Tokyo, Jepang, antara pihak Indonesia dengan pihak kreditor di luar negara Blok Timur, dengan topik masalah-masalah ekonomi dan keuangan serta hutang Indonesia kepada negara kreditor pada bulan September 1966. Pertemuan inl kemudian dikenal sebagai Tokyo Club. Pad a kesempatan ini, delegasi dari IMF memaparkan hasil surveynya terhadap ekonomi Indonesia bahwa pembahasan kedua masalah tersebut jangan hanya bersangkutan dengan penjadwalan ulang atau rearrangement pembayaran hutang lama, tetapi juga harus dikaitkan dengan bantuan modal baru pad a tahun 1967.26

Dari Pertemuan Tokyo, para pihak tersebut meneruskannya kepada Pertemuan Paris pada bulan Desember 1966 yang merupakan pertemuan multilateral kedua. Pertemuan Paris menegaskan kesepakatan untuk mengadakan rescheduling pembayaran hutang lama. Dalam proses penjadwalan ulang hutang lama itu, seorang bankir Jerman Dr. Herman J. Abs sangat berperan dalam perhitungan program rescheduling tersebut yang diselesaikannya pad a tahun 1969.27

Atas inisiatif Mr. B.J. Udink, selaku Minister in Charge of Development Aid Belanda, pertemuan multilateral ketiga d,ilangsungkan di Den Haag pada bulan Februari 1967i sebagaitindak lanjut Pertemuan Paris. Pertemuan ketigC!' ini membahas bantuan baru yang diperlukan Indonesia. Untuk mempedomani program

! ~

I

26 Zulkarnaen Djamin, Sumber Luar Negeri bag; Pembangunan Indonesia: Sejak IGGI hingga CGI serta Permasalahannya (Jakarta:

Penerbit Universitas Indonesia, 1995), him. 2. 27 Ibid., him. 2-3.

BANTUAN LUAR NEmER! NEGARA ANGGDTA UN! ERDPA

109

bantuan baru tersebut, pemerintah Orde Baru

menentukan kreteria sebagai berikut:

a. BLN tidak boleh dikaitkan dengan ikatan politlk,

b. Syarat pembayaran harus dalam batas-batas kemampuan untuk membayar kembali;

c. Penggunaan BLN untuk pembiayaan proyekproyek yang produktif dan bermanfaat.

. Pertemuaan di Den Haag nu kemudian

dlkemba,ngkan menjadi Intergovernmental Group on Indonesia (IGGI). Dengan demikian, Pertemuan Den Haag merupa~an p~rtemuan IGGI yang pertama dengan 6 negara kreditor yaltu AS, Belanda, Italia, Jerman Barat, Jepang dan Inggris. Pertemuan pertama IGGI ini kemudian. disusul d~ngan pertemuan kedua IGGI pada bulan ~uh 1967. 01 samping itu, untuk mempercepat p~rncalran dana bantuan baru, pertemuan ketiga dllangsungkan. pada bulan Nopember 1967. Sampai pertem~an ketiqa terse but, selain negara-negara yang ~elah dl~ebutkan tersebut, sejumlah lembaga keuangan Inte~naslonal pun turut menghadirinya seperti IMF, Bank Dunla, A,DB, UNDP, dan OECD sebagai peninjau.

Sejurnlah negara donor memberikan perhatian yang bes~r kep~da Indonesia mung kin dilandasi oleh beberapa motif. Motif pertama adalah motif perekrutan Indonesia dal~~ barisan negara-negara yang tidak menjadi negara sosiatis pa?a dasawa~sa 1960-an. BLN merupaan hadiah besar .bagl keberhasllan Indonesia menumpas gerakan komums. Tekanan ini tidak mutlak karena Indonesia menola~ untuk ikut bergabung dalam pakta pertahanan ya~g dlasuh oleh AS. Selebihnya, BLN ini memang sejalan dengan program dunia yang memasuki dasawarsa pembangunan bagi negara-negara be~kembang untuk membangun ekonominya agar lebih sejahtera.

Format IGGI sebagai forum bagi pembicaraan BLN untuk Indonesia selarna dua puluh lima tahun

1 10

ElANTUAN LUA~ NEIlERI UNI ERCPA TE~HADAP INDONESIA

memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk

melancarkan program-program pembangunan

nasionalnya. Bantuan dalam rangka IGGI ini

dimaksudkan sebaai dana pelengkap bagi dana pembangunan Indonesia. Berdasarkan hasil Pertemuan IGGI yang pertama, bantuan dana baru yan~ diterima Indonesia dari negara kreditor sebesar 200 juta dolar AS.28

BLN pada tahun 1967 itu merupakan bantuan dalam bentuk devisa kredit yang disepakati untuk direalisasikan melalui sistem bonus ekspor. Dengan demikian, Indonesia memiliki dua jensis bonus ekspor yaitu bonus ekspor kredit yang berasal BLN dan bon~s ekspor umum yang berasal devisa hasil ekspor Indonesia. Akan tetapi, bonus ekspor kredit ini dihentikan sejak tahun 1976/1977 karena volume ekspor Indonesia telah meningkat dengan hasil yang cukup memadai.

Sejak sidang lGGI yang pertama tahun 1967 hingga sidang IGGI yang ke-34 tahun 1991/1992, BLN y~ng diterima Indonesia dari para kreditor baik yang bersltat bilateral dan multilateral memperlihatkan kecenderungan meningkat, Lihat Tabel. Adapun mengenai jenisnya, BLN itu dapat dibedakan menjadi bantuan program, bantuan pangan, bantuan proyek, dan bantuan teknik.

Melalui mekanisme forum IGGI yang berlangsung kurang lebih 25 tahun, Indonesia menangkap indikas~ bahwa pemerintah Belanda, sebagai ketua IGGI, melalui Menteri Kerjasama Pembangunannya J.P. Pronk dan beberapa negara donor mengkaitka~ pinjaman/bantuannya, dengan politik dalam negen Indonesia. Bagi jlndonesia, hal ini bertentangan dengan garis politik luar ne.geri Indonesia di bawah pemerintah Orde Baru.

28 Besaran BLN in; sesuai dengan permintaan pihak Indonesia kepada para kreditor degnan persyarakat lunak (soft loan) yaitu rnasa pembayaran kembali adalah 25 tahun ter~asuk masa tenggang waktu selam 7 tahun dan tingkat bunga mencapat 3% per tahun.

SANTUAN L.UAR NEIlERI NEIlARA ANIlIlOTA UNI ERCPA

111

Menurut pemerintah Belanda dan beberapa negara donor anggota IGGI tersebut, program KB di Indonesia dipaksakan kepada penduduknya. Oalam hal InI, Indonesia terpaksa mengambil tindakan tegas untuk membubarkan forum IGGI pada tanggal 22 Maret 1992, serta menolak segala bentuk bantuan/pinjaman dari pemerintah Belanda. SeJanjutnya, Indonesia meminta Bank Dunia untuk membentuk badan lain sebagai penggantinya, yaitu CGJ (Consultative Group on Indonesia) yang sekaligus Bank Dunia sebagai ketuanya."

Akan tetapi, konteks sikap Indonesia tersebut merupakan reaksi balik terhadap sikap Belanda, Denmark dan Kanada yang membatalkan program bantuan baru. Ketiga negara tersebut memberikan reaksinya terhadap cara militer Indonesia menangani demonstrasi di kota Oili pad~ bulan Nopember 1991. Dalam kemelut itu, pihak otoritas Indonesia menyatakan 50 orang terbunuh, tetapi menurut kelompok gereja lokal angkanya mencapai 120 orang yang meninggal. 30

D~mikian tekanan politik pihak donor terhadap Indonesia pada masa koordinasi BLN yang ditangani oleh IGGI. Pasca IGGI, Indonesia sebenarnya hanya ~.engganti geJas lama dengan geJas baru tanpa merubah lSI gelasnya. Bahkan, gelas baru ini pun sebenarnya tidak berubah sama sekali. Yang berbeda adaJah Belanda seba~ai koordinator BLN kepada Indonesia sebelumnya, tetapr. pada masa CGI ini, Bank Dunia tampil sebagai koordrnator BLN kepada Indonesia.

. Di bawah CGI, tekanan poJitik terhadap Indonesia

dliakukan melalui IMF dalam bentuk penandatangani Letter of Intent. Melalui kesepakatan ltulah Indonesia menerima apa yang ditentukan dan diinginka'n oleh baik negara-ne~ara ?onor maupun lembaga-Iembaga keuangan tntemasional. Memang, tekanan poJitik melalui

: Zulkarnaen Djamin, op.cit., him. 40-41.

Paul Hoebink, op.cif., him. 195-196.

1 12

BANTUAN LUAR NEGERI UNI EROPA TER .... ACAP INCONESIA

LOI iru bertumpu pad a kepentigan ekonomi yang menjamin bahwa Indonesia diperkirakan akan mampu mencicil hutang luar negerinya.

Setelah tekanan politik itu diformalkan dalam bentuk LOI, IMF selanjutnya dapat menekan kembali kepada Indonesia untuk mengimplementasikan secara konsisten dan disiplin LOI yang telah ditandatangani oleh Indonesia. Kalau Indonesia memperlihatkan kecenderungan untuk lalai mengimplementasikan ketentuan-ketentuan LOI, maka tak segan-segan IMF menunda pencairan dana BLN. Bahkan, IMF menyarankan pemerintah untuk mulai menjual aset-aset yang dikuasai oleh BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional). Memang, kita tidak melihat ketiga negara anggota UE yaitu lnggris, Perancis dan Jerman melancarkan tekanan politik terhadap Indonesia pada mas a reformasi ini.

Penutup

Berdasarkan sejarah BLN dari keempat negara donor negara anggota UE, mereka memperlihatkan perbedaan titik awal dan konsepnya. Inggris menerapkan kebijakan kolonial tetapi Perancis memberlakukan sistem integrasi daerah-daerah jajahannya ke dalam bentuk metropolitan. Sedangkan Jerman tidak memperlihatkan karakter kolonial. BLN yang diberikan pun ternyata berkaitan dengan ikatan-ikatan kolonialisme. Dalam hal ini, Jerman lebih bebas dalam pemberian BLN.

Volume BLN semakin meningkat dan Indonesia semakin tergantung baik kepada negara-negara bilateral maupun lembaga-lembaga keuangan internasional. Peningkatan BLN berdampek pad a peningkatan HLN. Peningkatan HLN kemudian menjadi beban bag; pembangunan sehinqqa BLN bukan lagi memberikan

., arus yang positif dalam arus masuk modal ke Indonesia tetapi ia sudah memberikan arus yang neqatlf,

Selama masa pemberian BLN, negara-negara donor memperlihatkan tekanan poiltlk baik secara tersurat

BANTUAN L.UAR NEGERI NEGARA ANGGOTA UNI EROPA

1 13

maupun tersirat. Oi samping itu, tekanan politik pun dapat saja berkenaan dengan masalah ekonomi maupun masalah politik di dalam negeri. Tampaknya, Indonesia menolak tekanan politik untuk masalah-masalah politik dalam negeri, tetapi sebaliknya, Indonesia dapat menerima tekanan politik untuk masalah-masalah ekonomi nasional.

Belanda merupakan negara donor yang

memberikan banyak tekanan politik sehingga Indonesia terpaksa harus membubarkan IGGI dan menolak BLN dari Belanda. Sedangkan Inggris, Perancis, dan Jerman memperlihatkan sikap yang lebih moderat. Keengganan mereka melancarkan tekanan politik yang cukup keras tampaknya dipengaruhi oleh tiadanya ikatan historis. Artinya, Indonesia bukan merupakan negara anggota persemakmuran Inggris maupun anggota dari OBP. Apalagi, Indonesia bukan negara yang memiliki dengan kaitan dengan Jerman.

,Oengan demikain, BLN berdampak kepada penciptaan HLN. Akan tetapi, BLN disertai oleh tekanan politik plhak dono.r balk negara maupun lembaga keu~ngan Internaslonal. Tekanan politik cenderung berslfat leblh keras terhadap Indonesia ketika dunia mengarah kepada arus globalisasi dan penghormatan kepada HAM. Ketika itu, dunia memang tidak lagi dilihat dala~ kacam~ta dua blok yang saling bermusuhan, melainkan duma sudah menjadi satu visi setelah blok Timur dan US sendiri mengalami kehancuran.

. Tek~nan politik pasca Perang Dingin memasuki

wllayah-wll~yah ~kono~i yang memberikan biaya politik yang relabf lsbin kecil daripada wilayah politik yang pertaruhan . biaya pol!tiknya terlalu besar, Tampaknya tekanan pohtlk pada bidanq ekonomi lebih dapat diterima karena variabel-vartaba] ekonomi akan bergerak sesuai de~gan keseimbanqan pasar sebagai aturan main yang paling pokok.

1 14

BANTUAN LUAR NEGERI UNI ERCPA TERHADAP INDCNESIA

Tabel 1: Komitmen BLN ( iuta dolar AS )
Tahun Jumlah Komitmen Keterangan
1967 200.0
1968 325.0
1969/1970 500.0
1970/1971 600.0
1971/1972 640.0
1972/1973 723.0
1973/1974 876.0
197411975 870.0
197511976 920.0
1976/1977 1,120.0
1977/1978 2,000.0
1978/1979 2,500.0
1979/1980 2,775.0
1980/1981 2,100.0
1981/1982 2,700.0
198211983 1,925.0
1983/1984 2,240.2
1984/1985 2,506.4
1985/1986 2,473.9
1986/1987 3,856.2
1987/1988 3,294.3
1988/1989 4,631.3
1989/1990 4,699.3
1990/1991 4,762.0
1991/1992 4,755.0
1992/1993 4,948.7
1993/1994 5,110.6
1994/1995 5,202.7
1995/1996 5,360.0
1996/1997
1997/1998
1998/1999
1999/2000
2001 , I

Keterangan: Komitme~ ini iermasuk hibah dan pinjaman lunak, serta tidak termasuk kredit ekspor dan pinjaman komersial

Sumber: Zulkarnain Ojamin, Sumber Luar Negeri baql Pembangunan Indonesia. Jakarta. Penerbit Universitas Indonesia. 1995, him. 38.

BANTUAN LUAR NEGERI NEGARA ANGGCTA UNI ERCPA

1 1 5

Tabel2: Total Komitmen BLN 1968-1976 (dalam luta dolar AS)
8elanda Jerman Perancis lncorts Jumlah
8antuan Proorarn 139,47') 132,25C 56,686 42,75€ 371,164
Bantuan Provek 252,937 252,362 166,544 81,80" 753,648
Bantuan Makanan 12,188 12,51€ 9.923 3,870 38,497
8antuan Komoditi 10,355 0 0 0 10,355
"'otal 414,952 397,12~ 233,153 128.431 1,173,664 Sumber: diolah dan Sntua Anef. The Flow of Financial Resources to Indonesia A Report on International Financial Transactions.lUp/. Sritua Arief Association.ltth.!

T b I

a e 3: Total Pencairan BLN, 1968-1976 (dalarn iuta dolar AS)
Belanda Jerman Perancis Inoaris Jumlah
8antuan Proaram 139,42'i 132,250 56,338 42,683 370,696
8antuan Provek 90,131: 63,594 56,791 38,636 249,151
Bantuan Makanan 11,98£ 8,2aS 9,878 3,870 34,02e
Bantuan Komoditi 10,067 0 0 0 10,067
Jumlah 251,617 204133 123007 85189 663,946
KE & PK 325,600 113,600 347,700 244,500 1,031,400
Lotal Pencairan 577,217 317,733 470,707 329,689 1,695,346 Sumber. dlolah dan Sntua Anef. The Flow of Financial Resources to Indonesia:

A Report on International Financial Transactions. IUp.!. Sritua Arief Associates. Itth.l

Tabel4: Hibah, Pinjaman, Kredit Eks. & Pinj. Komersial, HLN, 1968-

1976 (dalam dolar AS)
Belanda Jerman Perancis fnggris Jumlah
Hibah 138,389,350 8,165,320 13,530,770 5,963,230 166,048,670
Pinjaman 113,227,650 195,967,680 109,476,230 79,225,770 497,897,330
Total Pencairan 251,617,000 204,133,000 123,007,000 85,189,000 663,946,000
KE&PK 325,600,000 113,600,000 347,700,000 244,500,000 1,031,400,000
Hutang Luar 438,827,650 309,567,680 457,176,230 323,725,770 1,529,297,330
Negeri c Sumber, dlolah dan Sntua Anef. The Flow of Financial Resources to Indonesia: A Report on International Financial Transactions./ttp.l. Sritua Arief Associates. IUh.l

1 16

I3ANTUAN LUAR NEtGe:RI UNI ERDPA Te:RHACAP INDDNe:SIA

Tabel5: Hutang Luar Negeri Indonesia, 1982/1993-1991/1992

Tahun Belanda Jerman Perancis Inggris Jumlah
1982/1983 60.7 42.0 63.0 0.0 165.7
1983/1984 56.1 0.0 51.0 0.( 107.1
1984/1985 53.2 37.5 51.2 0.0 141.9
1985/1986 48.~ 0.0 0.0 O.C 48.;':
1986/1987 71.( 0.0 0.0 0.( 71.0
1987/1988 112.~ 72.9 190.0 0.( 375.f
1988/1989 93.C 106.E 179.4 109.~ 488.~
1989/1990 80.~ 72.0 139.3 96:~ 387.S
1990/1991 95.E 88.6 166.8 30.7 381.7
1991/1992 91.3 76.~ 111.E 20.0 299.1 Sumber: diolah dari beberapa sumber.

.

,

r

BANTUAN LUAR Ne:Ge:RI NEtGARA ANGGOTA UNI e:RDPA

1 17

DAFTAR PUSTAKA

A. Munir Siregar, Tantangan Diplomasi R/ Da/am Kerjasama Pembangunan /nternasiona/, (Jakarta:

Seminar Deplu), 26 Oktober 2000.

Article 238 Perjanjian Maastricht mengubahnya dengan ", .. may conclude with one or more States or international organization establishing an association ... ".

Brigitte Erler, Bantuan Mematikan: Catatan Lapangan ten tang Bantuan Asing (Jakarta: LP3ES, Itth.l).

C.P.F. Luhulima, Eropa Sebagai Kekuatan Dunia Lintasan Sejarah dan Tantangan Masa Depan. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1992.

Charles F. Andrain, Kehidupan Politik dan Perubahan Sosial (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992).

Charlotte Benson & Edward J. Clay , "AdditionaHty or Diversion ? Food aid to Eastern Europe and the Former Soviet Republic and the Implications for Developing Countries", World Development, vo1.26, No. 1,1998.

Chee Peng Lim, "ASEAN's Policies Toward the European Union", dalam Chia Siow Vue, Joseph L.H.Tan, ASEAN & UE, Forging New Linhages and Strategic Alliances, ISEAS, 1997 .

Christiane Kesper, Hans-Joachim Lauth & Sven Schwersensky : European Development Policy After the Treaty of Maastricht, Aussen Politik (English ed.), IV/93.

1 1 B

BANTU AN LUAR NEGERI UNI ERCIPA TERHACIAP INDONESIA

Christopher Stevens, "EC Development Policy", dalam Rita Beuler & Panos Tsakaloyannis, Experiences in Regional Cooperation, EIPA, (Maastricht, 1987).

Commission of the EC, European Development Aid. How the European Community is Helping the Developing Countries, 1971.

Commission of the European Communities, Developing Closer Relation Between Indonesia and the European Union, (Brusels 2-2-2000).

Commission of the European Communities, Memorandum on the Community Development Policy, 5 Oktober 1982, COM (82).

Commission Report for the Reflection Group, IGC, 1996, European Commission, 1995.

David Burch, Overseas Aid and the Transfer of Technology: the Political Economy of Agriculteral Mechanisation in the Third World (Brookfield, Vernon:Gower Publishing Co., 1989), him. 38-43.

Didik J. Rachbini, Resiko Pembangunan yang Dibimbing utang (Jakarta: Grasindo, 1995).

Edward S. Mason, Foreign Aid and Foreign Policy (New York: Council of Foreign Relations, 1964), him. 8- 11.

Enzo Grilli, The European Community and the Developing Countries, (New York: Cambridge University Press, 1993).

Enzo R. Grilli, ... op.clt, hal. 309-311.Charlotte Benson & Edward J. Clay; Additionality or Diversion? Food aid to Eastern' Europe and the Former Soviet Republic and the Implications for Developing Countries, World Development, vo1.26, No.1, 1998.

BANTUAN LUAJ:t NEGERI NEGARA ANGGDTA UNI ERDPA

1 19

EU - ASEAN Relations: A Growing Partnership, Laporan yang dibuat atas kerjasama ASEAN dan Komisi tahun 1999.

Europe, 20-23 November 1989.

European Commission Assitance to Indonesia's recovery, Representation of the European Commission in Indonesia, January 1999.

Far Easterrn Economic Review, 21 September 2000.

Finn Laursen, Trade and Aid : The European Union in The Global System dalam Laura Cram et.al, Developments in The European Union, 1999, London, Mac Millan Press Ltd.

Finn Laursen, 'Trade and Aid: the European Union in the Global System", dalam Laura Cram(et. at. editors), Developments in the European Union, (London:

Macmillan Press, 1997).

George J~ffe : "Southern Attitudes Towards An Integrated Mediterranean Region" dalam Richard Gillespie the Euro - Mediterranean Partnership, Political and Economic Perspectives, (London: Frank Cass Publishers, 1997).

Hal Hill, Indonesian Economy Since 1966, (Cambiridge:

Cambridge University Press, 1996).

Heinrich Vogel, COMECON : objective, Structure and Achievements, dalam Rita Beuter and Panos Tsakal?yannis in Regional Cooperation, EIPA 1987 Maastricht, the Netherlands.

I.M.D. Little dan J.M. Clifford, International Aid: A discussion of the flow of public resources from rich to poor countries (Chicago: Aldine Publishing Co.).

Jack Donnelly, Human Rights: a new standard of civilization? dalam Internationa Affairs, Vol. 74 No.1 Januari 1998.

120

BANTU AN L.UA~ NEGE~I UNI EROPA TE~HADAP INDONESIA

Jacob Utama, REFLEKSI AGENDA REFORMASI - Membangun Masyarakat Madani, ( Jakarta:

Penerbit Kanisius, 1999).

Jagdish Bhagwati dan Richard S. Eckaus, "Introduction" dalam Jagdish Bhagwati dan Richard S. Eckaus, ed., Foreign Aid: Selected Readings (Middlesex, England: Penguin, 1970).

Jean-Pierre Derisbourg, the Euro-Mediterranean

Partnership Since Barcelona, dalam Richard Gillespie, The Euro-Mediterranean Partnership, Political and Economic Perspective, London, Frank Cass Publishers, 1997 hal. 9. Juga Claire Spencer, the Maghreb in the 1990, Adelphi Paper, 274, Februari 1993, IISS, London.

John Pinder, The European Community and Democracy in Centeral and Eastern Europe, dalam Geoffery Pridham et.al, Building Democracy ? the International Dimension of Democratisation in Eastern Europe, Leicester University Press, 1997.

Juergen Noetzold, the Eastern Post of Europe - Peripheral on Essential Component of Europe Integration, Aussen Politik. IV/93.

Laura Cram, the Commission dalam Laura Cram, Desmond Dinan, Developments in the European Union, New York, St.Martin Press, Inc, USA, 1997.

Lebih lanjut Stanley Henig, External Relations of the European Community, Associations and Trade Aqreements, PEP, European Series No.9, London Chatham Home 1971.

Leon T. Hadar, Meddling in The Middle East? Euro Challenges US Hegemony in The Region, Mediterranean Quartely, A journal of Global issue, Duke Univ. Press, vol, 7, No.4. Feb.1998.

M.L. Jingan., op.cit.

BANTUAN LUA~ NEGERI NEGARA ANGGOTA UNI EROPA

121

Michael Palmer & John Lambert, European Unity. A Survey of the European Organizations, London, George Allen & Unwin Ltd 1968.

Michael Shackleton, The Community Budget After Maastricht, di dalam Alan W. Cafrung & Glenda G. Rosenthal. The State of The European. The Maastricht Debates and Beyond, Boulder, Colorado, Lynne Rienner Publishers, 1993.

Mubariq Ahmad, "Utang Luar Negeri Periode 1967-1988," Prisma, Tahun XX/9 (1991): 13.

Mudrajat Kuncoro, "Dampak Arus Modal Asing terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Tabugnan Domestik," Prisma, Tahun XVI I 1/9 (1989): 26.

Negara assosiasi termaksud adalah Cameroon, Republik Afrika Tengah, Republik Chad, Congo, Dahomey, Gabon, Guinea, Pantai Gading, Madagascar, Mali, Mauritania, Niger, Senegal, Somalia, Togoland dan Upper Volta.

Neill Nugent, Decision - Making, '" juga Fiona HayesRenshaw r The European Council and the Council of Ministers, dalam Laura Cram, Desmond Dinan.

Paul Hoebink, "The Humanitarianisation of the Foreign Aid Program in the Netherlands," European Journal of Development Research, Vol. 11/1 (June 1999): 182.

Perjanjian Maastricht, Development Cooperation, Title XVII, Article 130u-130y.

Peter Mc Cawley, Development ASSistance in Asia the 1990s, Asia Pacific Economic Literature, Vo1.12.1. Mei 1998 : 42.

Peter van Ham, the EC, Eastern Europe and European Unity, Discord, Collaboration and Integration Since 1947, London, Pinter Publishers; 1995.

122

BANTUAN I..UAR NI!:GERI UNI EROPA TI!:RHAOAP INDONI!:SIA

Richard Gillespie, Spanish protagonis~e and E.uro-Med Partnership Initiative, dalam Richard Gillespie.

Robert Cassen & Associates, Does Aid Work? Report to a Intergovernmental Task Force (Oxfor: Clarendon Press, 1986).

Romano Prodi, President of The European Commission 2000-2005 : Shaping The New Europe, European Parleament, 15 Februari 2000.

Sabine C. Zanger, "Good Governance and European Aid:

The Impact of Political Conditionality," European Union Politics, Vol. 1/3 (October, 2000): 305.

SEMINAR HUBUNGAN EKONOMI INDONESIA-EROPA, INDONESIA-EUROPE ECONOMIC RELA TfONS IN A PERIOD OF CHANGE, (Jakarta: PUSAT KAJIAN EROPA UNIVERSITAS INDONESIA, 1997.

Seminar Hubungan Ekonomi Indonesia-Eropa, IndonesiaEuropeEconomic Relations in A .Peri?d Of Chang_e, (Jakarta: Pusat Kajian Eropa Universitas Indonesia, 1997).

Simon J. Nutall, European Political Cooperation, New York, Clarendon Press, Oxford, 1992.

Simon J.Nutall, European Political Co-operation, New York, Clarendon Press, Oxford, 1993.

Sritua Arief dan Adi Sasono, Modal Asing, Beban Hutang Luar Negeri dan Ekonomi Indonesia (Jakarta:

Penerbit Universitas Indonesia, 1987).

,

, Strobe Talbott, Odmocracy and the national Interest dalam Foreign.' Affairs, Volume 75 No.6, Novembe/Desember 1996.

Supriyanto dan Agung F. S~mpurna, U.tang Lua~ NefJeri Indonesia: Argumentasl, Retevens: dan Impltkasmya bagi Pembangunan (Jakarta: Djambatan, 1999).

BANTUAN LUAR NEGERI NEGARA ANGGOTA UNI EROPA

123

U.W. Kitzinger, The Politics and Economics of European Integration. Britain, Europe and the United States, Frederick A Praeger, Publishers, New York, 1965.

Walter Deffaa, The EC Budget dalam Stetios Stavridis, Elias Mossialos, Roger Morgan, Howard Machin (editors), New Challengers to the European Union:

Policies and Policy Making, London, Dartmouth 1997.

ZuJkarnaen Ojamin, Sumber Luar Negeri bagi

Pembangunan Indonesia: Sejak IGGI hingga CGI serta Permasalahannya (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1995).

Zulkarnain Djamin, Masa/ah Hutang Luar Negeri 8agi Negara-Negara Berkembang dan 8agaimana Indonesia Mengatasinya, (Jakarta: Lembaga Penerbit FakuJtas Ekonomi Universitas Indonesia, 1996).

Zulkarnain Djamin, Pinjaman Luar Negeri serta Prosedur Administratif da/am Pembiaaan Proyek Pembangunan di Indonesia, (Jakarta: UI Press, 1993).

Surat kabar :

Asia Week, 22 Setember 2000, Hal. 38. ASIA WEEK, 16 Juni, 2000, Hal. 24. ASIA WEEK, 21 Juli 2000, Hal. 16. ASIA WEEK, 21 Juni 2000.

Bulletin of the EU, 3, 1998 hal. 79.

Bulletin of the Europen Union, European Commission, 3, 1998, ha1.95.

Kompas, 12 Desember 1991.

1 24 BANTUAN LUAR NEBEl'll UNI E:ROF'A TERHACAP INCCNI::51A

Kompas, 7 Oktober 2000.

The Courier, no. 31, Maret 1975, special issue. The World Today, Maret 1997.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->