LINGKUNGAN HIDUP, PENATAAN RUANG, DAN PERTANAHAN

BAB XI LINGKUNGAN HIDUP, PENATAAN RUANG, DAN PERTANAHAN

A. PENDAHULUAN Undang-Undang 1945, pasal 33 ayat 3, mengamanatkan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dengan dasar itu, setiap upaya pengelolaan sumber alam perlu dilakukan secara terencana, terkoordinasi dan terpadu dengan sumber daya manusia serta sumber daya buatan dalam pola pembangunan yang berkelanjutan. Pembangunan lingkungan hidup, penataan ruang dan pertanahan adalah upaya kearah perwujudan amanah tersebut. Tujuannya adalah agar pengelolaan dan pendayagunaan sumber alam dilakukan secara terencana, rasional, optimal, bertanggung jawab serta sesuai dengan potensi dan kemampuan daya

XI/3

dukungnya. Pembangunan lingkungan hidup, penataan ruang, dan pertanahan sesuai dengan amanah GBHN 1993 diselenggarakan untuk meningkatkan penataan dan pelestarian fungsi lingkungan hidup sesuai daya dukung, potensi dan keseimbangan pemanfaatan sumber daya alam, serta pengendalian yang handal dan konsisten terhadap pemanfaatan ruang dan sumber daya alam. Dengan demikian pembangunan dapat diselenggarakan secara berkelanjutan, tertib, efisien, dan efektif. Pembangunan lingkungan hidup diarahkan pada terwujudnya kelestarian fungsi lingkungan hidup dalam keseimbangan dan keserasian yang dinamis dengan perkembangan kependudukan dan upaya pembangunan nasional untuk menjamin pembangunan yang berkelanjutan. Dalam Repelita VI pembangunan lingkungan hidup mengupayakan meningkatnya kemampuan kelembagaan dalam pengelolaan lingkungan hidup mulai dari. tingkat pusat hingga tingkat daerah, meluasnya kapasitas pengendalian dampak lingkungan dan kemampuan untuk melakukan rehabilitasi kawasan yang rusak, serta berkembangnya kesadaran lingkungan di masyarakat yang dimanifestasikan dalam perilaku sehari-hari yang bersahabat dengan lingkungan hidup. Dalam rangka memperoleh informasi tentang potensi sumber daya alam dan lingkungan telah dilaksanakan serangkaian inventarisasi dan evaluasi terhadap sumber daya alam penting. Dalam rangka itu telah dibuat penetapan tata batas kawasan hutan tetap sepanjang 62,4 ribu kilometer. Selanjutnya sampai dengan tahun 1997/98 telah diselesaikan peta rupa bumi sebanyak 2.926 nomor lembar peta (n1p) pada berbagai skala. Informasi potensi

XI/4

Surabaya. Dalam rangka pengendalian pencemaran lingkungan hidup berbagai program aksi telah ditingkatkan seperti Program Kali Bersih yang mencakup 17 propinsi dan 37 ruas sungai. serta Program Adipura yang meliputi kota-kota besar dan kecil. XI/5 . Bali dan Nusa Tenggara. Program Langit Biru di beberapa kota besar (Bandung.1 ribu hektare dan 6.5 juta hektare sebagai kawasan konservasi darat dan laut. Pada tahun keempat Repelita VI telah terbentuk Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Tingkat I (BAPEDALDA Tk. mutu dan potensi sumber daya alam dan lingkungan hidup nasional.sumberdaya alam yang terdapat dalam berbagai kawasan memperlihatkan jumlah. I) di 24 propinsi dan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Wilayah (BAPEDALWIL) di tiga wilayah (Sumatera. dan Indonesia Timur). kritis dan penghijauan mencakup lahan seluas masing-masing 156. penanaman kembali hutan mangrove. Dalam upaya pelestarian sumberdaya alam telah ditetapkan kawasan seluas 12. Untuk mempertahankan daya dukung dan aliran jasa fungsi lingkungan hidup dalam Repelita VI sampai dengan tahun keempat telah dilanjutkan rehabilitasi lahan .8 juta hektare. Jakarta dan Medan). Pelestarian fungsi kawasan pantai dan laut terus diupayakan antara lain melalui kegiatan rehabilitasi dan pengelolaan ekosistem terumbu karang yang melibatkan masyarakat pesisir di 10 propinsi. dan pengendalian pencemaran melalui Program Pantai Lestari.

norma dan kriteria pemanfaatan ruang. dan. Yang kedua adalah Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (PP RTRWN). Di dalam RTRWN ditetapkan 111 Kawasan Andalan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Program penataan pertanahan dititikberatkan pada upaya untuk meningkatkan dan menyempurnakan penyelenggaraan pelayanan masyarakat akan pertanahan. Sampai dengan tahun 1997/98. dilakukan kegiatan penatagunaan tanah untuk menyediakan informasi tata guna dan kemampuan tanah yang akurat dan cepat. Dalam rangka mendukung pembangunan di berbagai bidang yang membutuhkan tanah. seluruhnya juga telah memiliki rencana tata ruang wilayah dan 80% telah ditetapkan dengan Perda. terutama dalam kaitannya dengan pengurusan hak serta pemberian status hukum atas tanah dan penyediaan data dasar pertanahan yang konsisten. RTRWN berisi: penetapan kawasan lindung.Dalam rangka penataan ruang telah diselesaikan 2 (dua) Peraturan Pemerintah sebagai penjabaran dari Undang-Undang Nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Yang pertama adalah Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban. Upaya ini bersifat lintas sektoral dan memper- XI/6 . kawasan budidaya. dan kawasan tertentu. seluruh propinsi Daerah Tingkat I (Dati I) telah menyelesaikan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) dan menetapkannya menjadi Peraturan Daerah (Perda). Seluruh kabupaten Daerah Tingkat II (Dati II) telah memiliki rencana tata ruang wilayah namun baru sekitar 58% telah ditetapkan menjadi Perda. pedoman pengendalian pemanfaatan ruang. serta Tata Cara dan Bentuk Peran serta Masyarakat dalam Penataan Ruang. Untuk Daerah Tingkat II Kotamadya.

penggunaan. Dibandingkan dengan kapasitas tahun sebelumnya. peranserta masyarakat dan dunia usaha terus ditingkatkan sehingga pelaksanaan kegiatan redistribusi tersebut dapat dilakukan secara swadaya. Kebijaksanaan dan Program Repelita VI Sasaran pembangunan lingkungan hidup dalam Repelita VI adalah (a) meningkatnya pengenalan terhadap jumlah dan mutu sumber alam serta jasa lingkungan yang tersedia di alam. Dalam upaya ini. Dalam pengaturan penguasaan tanah. dan kemungkinan XI/7 . telah diselesaikan 510.000 sertifikat. Sampai dengan tahun keempat Repelita VI. Mekanisme ajudikasi ini dioperasionalisasikan secara penuh mulai tahun 1996/97. pengenalan tingkat kerusakan. titik berat kegiatan diletakkan pada pengaturan penguasaan dan penggunaan tanah melalui redistribusi tanah obyek landreform dan konsolidasi tanah yang mencakup penataan kembali penggunaan dan penguasaan tanah di wilayah perkotaan maupun di perdesaan. Dengan sistem ini dapat diwujudkan biaya pensertifikasian yang murah dan terjangkau oleh masyarakat serta waktu yang jauh lebih singkat. Sasaran. LINGKUNGAN HIDUP 1. B. Pada Repelita VI sampai dengan tahun keempat dikembangkan sistem pensertifikasian tanah secara sistematis (ajudikasi). terdapat peningkatan yang luar biasa.hatikan prioritas pengembangan kawasan berdasarkan rencana tata ruang masing-masing wilayah.

dan fungsi ekosistem khusus. (e) pengurangan produksi limbah. dan (f) terkendalinya kerusakan pantai dan terpeliharanya mutu dan fungsi kawasan pantai. dan hutan bakau. tanah dan air. (c) pengembangan kelembagaan. (3) pembinaan dan pengelolaan lingkungan hidup. Pelaksanaan dan Hasil Pembangunan Sampai Dengan Tahun Keempat Repelita VI Pembangunan lingkungan hidup dalam Repelita VI telah menghasilkan berbagai peningkatan kemampuan dalam sistem pengelolaan lingkungan hidup nasional untuk mempertahankan XI/8 . dan (f) pengelolaan limbah.pengembangannya. Berbagai kebijaksanaan tersebut diwujudkan dalam 6 (enam) program pokok Repelita VI. Memperhatikan sasaran tersebut telah dirumuskan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang meliputi : (a) pemilihan lokasi pembangunan. (b) terpeliharanya kawasan konservasi. yaitu : (1) inventarisasi dan evaluasi sumber daya alam dan lingkungan hidup. (e) pemulihan potensi produksi lahan kritis. dan (6) pembinaan daerah pantai. (2) penyelamatan hutan. seperti wilayah DAS. baik dalam lingkungan pemerintah. (d) penetapan baku mutu lingkungan. hutan lindung. (4) pengendalian pencemaran lingkungan hidup. 2. keanekaragaman hayati. (5) rehabilitasi lahan kritis. (b) rehabilitasi sumber daya alam dan lingkungan hidup. terumbu karang. (d) terkendalinya pencemaran perairan dan udara. peran serta masyarakat dan kemampuan sumber daya manusia. (c) terbentuknya sistem kelembagaan yang lebih efisien dan efektif mulai dari tingkat pusat sampai ke daerah. dunia usaha maupun organisasi masyarakat.

Melalui kegiatan pemetaan rupa bumi. perbaikan kualitas informasi yang berkaitan dengan inventarisasi jumlah dan mutu jasa lingkungan yang tersedia di alam. Dalam Repelita VI telah dihasilkan pertambahan jumlah peta rupa bumi sebanyak 905 n1p. dan perluasan wilayah pengendalian pencemaran. Kegiatan penting dalam program inventarisasi dan evaluasi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang menonjol adalah pemetaan rupa bumi yang merupakan informasi dasar bagi kegiatan pemetaan maupun kegiatan inventarisasi potensi sumber alam. yang disertai dengan meningkatnya kapasitas kelembagaan dalam pemantauan dan pengendalian dampak lingkungan.kelestarian fungsi lingkungan hidup. Selanjutnya secara khusus dalam Repelita VI telah dilakukan pengembangan kapasitas pengelolaan lingkungan hidup dari tingkat pusat hingga tingkat daerah. sampai dengan tahun 1997/98 telah diselesaikan produksi peta rupa bumi sebanyak 2. Peningkatan kemampuan tersebut diperoleh melalui perluasan cakupan lokasi pemulihan kualitas lingkungan kawasan-kawasan penting yang telah rusak struktur ekosistemnya. a.926 nomor lembar peta (nlp) pada berbagai Skala (Tabel XI-1 dan Tabel XI-1 A). Program Inventarisasi dan Evaluasi Sumber Alam dan Lingkungan Hidup Program ini bertujuan untuk meningkatkan pengenalan terhadap jumlah dan mutu sumber daya alam serta mengembangkan neraca dan tata guna sumber alam dan lingkungan hidup untuk mengetahui daya dukung dan menjamin ketersediaan sumber alam yang berkelanjutan. Selanjutnya untuk menunjang terlaksananya XI/9 . apabila dibandingkan dengan tahun 1993/94.

NTB. tata guna lahan pantai dan ekosistemnya.000 meliputi Jawa. telah dihasilkan Peta Lingkungan Pantai Indonesia sebanyak 161 nlp dalam skala 1:50. Dalam rangka pemetaan dasar kelautan telah dilaksanakan pemetaan lingkungan laut dan pantai nasional. Jawa Timur. yang sampai dengan tahun 1997/98 telah tersedia sebanyak 15 nlp.jaringan nasional sistem informasi geografi telah dilaksanakan pemetaan rupa bumi digital skala 1:25. telah dilaksanakan pemetaan tematik sumberdaya alam yang meliputi antara lain pemetaan liputan lahan skala 1:250. Bali. Bali. Sejak pelaksanaan tahun ketiga Repelita VI (1996/97) telah dilakukan pemetaan sumber daya alam pantai dan laut yang ditujukan untuk pengenalan terhadap jumlah dan mutu sumber daya perikanan. Sumatera Selatan.000 untuk berbagai perairan di Indonesia antara lain perairan Maluku.000 dan skala 1:50. Nusa Tenggara Timur dan Timor Timur.000 di seluruh wilayah Indonesia. Sulawesi Utara. XI/10 .580 nlp. struktur geologi pantai terutama di daerah padat pembangunan. Kalimantan Timur. Sampai dengan tahun keempat Repelita VI. dan pendeteksian awal perubahan iklim. yang sampai dengan tahun keempat Repelita VI telah menghasilkan peta-peta digital sebanyak 1. Disamping itu. Secara keseluruhan. Nusa Tenggara Barat. sampai dengan tahun keempat pelaksanaan Repelita VI telah dihasilkan 38 nlp dari berbagai skala yang merupakan dasar pembentukan sistem informasi pengelolaan lingkungan laut nasional. Secara keseluruhan hasil pemetaan rupa bumi wilayah darat telah meliputi 70 persen dari seluruh wilayah nasional. Bali. NTT.

dan penetapan tata batas luar kawasan hutan tetap sepanjang 46 ribu kilometer yang disertai dengan pengembangan dan penyempurnaan sistem informasi neraca sumber alam dan Iingkungan hidup. dan keanekaragaman hayati secara terpadu. Penyempurnaan ini berkembang terus hingga tahun 1997/98 sebanyak 10 propinsi telah mewajibkan daerah tingkat II di wilayahnya untuk menyusun NKLD. Kegiatan inventarisasi potensi laut dan hutan juga diikuti dengan penyempurnaan data dan statistik kualitas lingkungan hidup dengan titik berat pada penyempurnaan metoda analisis dan pemutakhiran statistik untuk penyusunan Neraca Kualitas Lingkungan Hidup Daerah (NKLD) Propinsi Daerah Tingkat I hingga Dati II. mineral. Tersedianya katalogisasi data kualitas lingkungan hidup dalam NKLD yang merupakan pembentukan awal pangkalan data lingkungan hidup diharapkan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan sistem informasi lingkungan hidup nasional yang sampai akhir Repelita VI masih dalam uji coba penerapan sistemnya. tanah. Kegiatan inventarisasi sumber daya alam dan lingkungan hidup akan dilanjutkan dalam pelaksanaan tahun akhir Repelita VI (1998/99) terutama yang berkaitan dengan penyelesaian peta dasar rupabumi nasional. telah dilakukan penetapan tata batas luar dan fungsi hutan yang mencapai 36. XI/11 . geologi.9 ribu kilometer. energi.Selain itu dalam rangka inventarisasi potensi hutan. pantai. pemetaan sumber daya alam hutan. Sampai dengan tahun 1997/98 inventarisasi hutan melalui penafsiran citra Landsat berikut penyempurnaan (up-dating) katalogisasi datanya. telah mencapai cakupan kawasan hutan seluas 326 juta hektare.

Dalam program ini. tanah dan air yang merupakan sumber alam dan sekaligus pula lingkungan hidup. dalam Repelita VI telah ditetapkan 11 taman nasional baru sehingga secara keseluruhannya jumlah taman nasional menjadi 36 unit dengan luas 14. Secara keseluruhan. Disamping itu. fauna dan keunikan alamnya.1 juta hektare pada tahun 1997/98 atau bertambah seluas 8. taman buru.5 juta hektare apabila dibandingkan dengan tahun 1993/94. Program Penyelamatan Hutan. Oleh karena itu pengelolaan secara terarah sumber-sumber alam ini akan sangat menentukan keseimbangan sistem pengendalian tata air. laju erosi. sampai dengan tahun 1997/98 jumlah kawasan konservasi sumber daya alam telah mencapai 337 unit dengan luas 12. kegiatan utamanya berkaitan dengan peningkatan kapasitas pengelolaan kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam baik daratan maupun lautan termasuk kegiatan pelestarian flora. luas dan lokasi kawasan konservasi terus meningkat. taman wisata. Dalam Repelita VI sampai tahun keempat penetapan jumlah. dan taman laut. daya dukung lahan dan besaran akumulasi sedimentasinya. Tanah dan Air Program ini bertujuan untuk melestarikan fungsi dan kemampuan sumber alam hayati dan non hayati serta lingkungan hidup melalui penyelamatan hutan.1 juta hektare. XI/12 . suaka margasatwa. Dalam kurun waktu tersebut telah dikembangkan kawasan konservasi darat dan laut sebanyak 20 unit yang terdiri atas cagar alam.b. untuk melindungi dan memelihara keanekaragaman hayati plasma nutfah beserta ekosistemnya.

100 orang atau telah mencapai 50% dari sasaran pengadaan tenaga Jagawana sebanyak 15. Sampai dengan bulan Oktober 1997 tercatat sekitar 330.000 orang selama Repelita VI.772 hektar hutan dan lahan yang terbakar dan berakibat pada terganggunya kehidupan bagi sekitar 20 juta orang.Dalam rangka pemantapan koordinasi pengelolaan taman nasional dan peningkatan keterpaduan pengelolaannya dengan pembangunan daerah. penyusunan prosedur tetap pengendalian kebakaran hutan dan lahan. juga dilaksanakan dengan mengadakan pelatihan tenaga Jagawana sebanyak 7. Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan taman nasional juga terus dilakukan antara lain dengan telah ditetapkannya 210 desa penyangga dari sasaran sebanyak 682 desa dan berbagai upaya untuk melibatkan kelompok masyarakat di sekitar taman nasional dalam penyusunan rencana pengelolaan taman nasional di 26 propinsi. penyusunan peta rawan kebakaran wilayah Sumatera dan Kalimantan. Kalimantan dan Sulawesi. Bencana kebakaran hutan dan lahan yang melanda sebagian wilayah Indonesia pada akhir tahun 1997 merupakan bencana lingkungan yang terburuk selama lima belas tahun terakhir. dan penyempurnaan sistem tanggap darurat untuk tiap unit pelaksana pembukaan lahan. Jawa. XI/13 . Dalam menghadapi bencana kebakaran lahan dan hutan yang sering menyebabkan permasalahan lingkungan antarnegara telah dilakukan berbagai usaha pengendalian baik di lokasi kejadian maupun penyempurnaan sistem pengendaliannya. Perlindungan ekosistem hutan selain dilakukan dengan melibatkan peran serta masyarakat di sekitar kawasan hutan. telah dibentuk berbagai forum komunikasi pengelolaan taman-taman nasional untuk wilayah Sumatera. antara lain melalui penyusunan perkiraan daerah rawan kebakaran di 26 propinsi dengan menetapkan nilai potensi terbakar secara kualitatif.

Pengelolaan sumber daya air juga dilaksanakan melalui kegiatan penatagunaan sungai. yang terkait dengan pengembangan wilayah dan upaya penanggulangan bencana alam. Tujuan utamanya adalah untuk mengendalikan daya rusak dari aliran air dalam suatu kawasan melalui berbagai upaya teknis dan sosial. pengendalian dan mitigasi kebakaran hutan bagi masyarakat yang diikuti oleh 5.3 juta hektare. Sampai dengan tahun keempat Repelita VI.Disamping itu telah dilakukan pelatihan pencegahan. atau situ dilakukan dengan pendekatan pengelolaan ekosistem wilayah aliran sungai yang melihat tata air secara menyeluruh mulai dari sumber air di pegunungan sampai ke muara sungai. Perlindungan dan pelestarian fungsi sumber alam lainnya yang penting terutama sumber daya air untuk menjamin keberlanjutan aliran manfaatnya diupayakan serasi dengan penyusunan penataan ruang. Pendekatan ini diharapkan dapat menjamin sediaan air secara berkelanjutan. Apabila dibandingkan dengan pelaksanaan pada tahun 1993/94 terdapat perluasan sebesar 288. pengaturan. kegiatan perbaikan. danau. dan pemeliharaan sungai yang telah dilaksanakan di seluruh wilayah tanah air telah mencapai areal seluas 2.840 orang (537 regu).3 ribu hektare (Tabel XI-2). Kemampuan dalam pemulihan kualitas lingkungan di tingkat XI/14 . Pengelolaan kawasan lindung yang dipadukan dengan pengembangan daerah khususnya kawasan lindung yang berfungsi sebagai daerah tangkapan hujan. daerah resapan air. Mulai tahun 1997/98 pengelolaan kawasan lindung nasional seluas 34 juta hektare diserahkan pelaksanaannya kepada Pemerintah Daerah Tingkat I melalui Bantuan Pengelolaan Kawasan Lindung yang dilaksanakan dengan mekanisme Inpres.

dan kawasan yang memiliki fungsi ekosistem khusus. Diharapkan sampai dengan tahun 1998/99 sebesar 10 persen dari ekosistem alam dapat disisihkan untuk keperluan pemeliharaan sumber alam dan lingkungan hidup yang disertai dengan terpeliharanya kawasan konservasi. serta peningkatan koordinasi dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera. Upaya konservasi untuk kawasan tertentu juga dilakukan melalui penggunaan lahan yang hemat terutama pada daerah resapan air. Kalimantan dan Sulawesi.A). Perluasan cakupan kegiatan-kegiatan dalam program penyelamatan hutan.5 juta hektare diikuti penunjukan 4 taman nasional baru. tanah dan air akan terus berlangsung hingga akhir Repelita VI. XI/ 15 . Dalam tahun 1998/99 diharapkan leas kawasan konservasi alam akan bertambah seluas 6. hutan lindung. sampai dengan tahun 1997/98 telah disusun rencana pengelolaan dan pengembangan Taman Hutan Raya yang merupakan kawasan yang memiliki potensi resapan air besar di 11 lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia.regional ini menunjukkan peningkatan 8 kali lipat dibandingkan dengan kondisi pada akhir Repelita I (Tabel XI-2. Untuk menjamin pengelolaan Taman Hutan Raya yang terkait dengan pengembangan wilayah. Penggunaan lahan yang tidak boros tersebut ditempuh antara lain dengan penetapan keseimbangan yang serasi antara koefisien dasar ruang terbuka hijau dan koefisien kerapatan dasar bangunan dan lingkungan. Dalam kaitan ini untuk meningkatkan mutu kawasan resapan air. maka mulai tahun 1997/98 pengelolaannya diserahkan kepada Pemerintah Daerah Tingkat I. Upaya pengaturan koefisien sebagai persyaratan kawasan resapan air ditempuh terutama untuk penataan ruang skala tapak.

dan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup. Dalam rangka pembinaan dan pengelolaan lingkungan hidup telah diluncurkan beberapa buku rujukan utama yang memuat informasi pengelolaan lingkungan hidup nasional yaitu Almanak Lingkungan Hidup Indonesia. Kegiatan pemasyarakatan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dilanjutkan disertai dengan Audit Lingkungan. dan penyusunan berbagai panduan AMDAL untuk berbagai kegiatan penting di wilayah pesisir dan perairan laut. Pelaksanaannya secara bertahap mulai dari penyempurnaan metodologi penyusunan AMDAL. Sampai dengan tahun keempat XI/16 . Program Pembinaan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Program Pembinaan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup bertujuan terutama untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Agenda 21 dan Atlas Keanekaragaman Hayati di Indonesia pada tahun 1997. Informasi yang terkandung dalam buku rujukan tersebut diharapkan dapat mendorong semua pihak untuk lebih memperhatikan kelestarian lingkungan hidup sekaligus memasyarakatkannya.c. pengkajian prosedur pelaksanaan dan penetapan lingkup kegiatan tertentu yang memerlukan AMDAL. metodologi penyusunan AMDAL bagi pengembangan kota baru dan kawasan lahan basah serta pengembangan pola/sistem manajemen lingkungan untuk pulau-pulau kecil. Dalam Repelita VI telah dilakukan penyempurnaan terhadap berbagai peraturan yang berkaitan dengan penyusunan AMDAL bagi kegiatan wajib-AMDAL. kemampuan organisasi Pemerintah. dunia usaha.

3.461 orang peserta Kursus Penyusunan AMDAL dan 3. evaluasi pemantauan pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan/Rencana Pemantauan Lingkungan (RKL/RPL) serta pelaksanaan Audit Lingkungan terutama bagi kegiatan-kegiatan yang memiliki dampak penting yang diperkirakan akan tuntas pada tahun 1998/99.814 orang apabila dibandingkan dengan pelaksanaan pada tahun 1993/94 (Tabel XI-3). atau bertambah sebesar 4.029 orang peserta Kursus Penilaian AMDAL. Dengan demikian dalam empat tahun pelaksanaan Repelita VI telah dihasilkan sebanyak 20.180 orang lulusan peserta kursus AMDAL dari berbagai kategori. sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 1993. Apabila dibandingkan dengan rencana pelatihan AMDAL dalam Repelita VI yaitu sebesar 20.037 kegiatan pembangunan utama yang telah memiliki dokumen AMDAL termasuk diantaranya 6 (enam) dokumen AMDAL Kegiatan Terpadu dan 7 (tujuh) dokumen AMDAL Regional yang sebagian besar berkaitan dengan pembangunan perkotaan baru. Kegiatan pelatihan AMDAL yang dimulai sejak awal Repelita III memperlihatkan kecenderungan yang semakin meningkat terutama dalam jumlah pesertanya (Tabel XI-3 A).Repelita VI telah disusun penerapan teknik penyusunan AMDAL untuk 86 jenis kegiatan wajib-AMDAL. yang sampai dengan tahun 1997/98 telah diikuti oleh 13. Upaya-upaya tersebut dilanjutkan dengan pengembangan tata laksana penyusunan AMDAL. sampai dengan tahun 1997/98 tercatat sebanyak 2.000 peserta maka realisasinya sampai pada tahun 1997/98 telah melebihi XI/17 . Peningkatan kemampuan sumber daya manusia dalam pengelolaan lingkungan hidup diupayakan antara lain melalui kursus-kursus AMDAL.690 orang peserta Kursus Dasar-dasar AMDAL. Selain itu.

Kursus Penilaian dan Pengawasan Konservasi Lahan Basah diikuti oleh 100 orang peserta. dunia usaha dan masyarakat setempat. pemulihan kerusakan lingkungan dan bantuan bimbingan teknis bagi pemerintah daerah. Kursus Manajemen Lingkungan bagi 37 orang peserta. penanggulangan pencemaran. XI/18 . Selain kursus AMDAL. Kehadiran Bapedalwil dan Bapedalda tersebut diharapkan akan meningkatkan kemampuan pemantauan kualitas lingkungan. Kursus Pengelolaan Limbah Rumah Sakit yang diikuti 60 orang peserta. Kursus Peningkatan Peran Aparat ABRI dalam Kepedulian terhadap Lingkungan Hidup sebanyak 25 orang peserta. Denpasar. Dalam rangka memantapkan organisasi dan tata kerja Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) serta untuk menanggulangi masalah pengendalian dampak lingkungan di berbagai wilayah. antara lain Kursus Penegakan Hukum Lingkungan Hidup yang diikuti 162 orang peserta.sasaran. Hal tersebut menunjukkan adanya perhatian masyarakat yang tinggi untuk ikut berperan serta dalam penerapan AMDAL. Kursus Pengendalian Pencemaran Pesisir dan Laut yang diikuti 40 orang peserta. Bapedalda Tingkat I telah terbentuk di 24 daerah propinsi. telah dilaksanakan berbagai kursus lain yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup. dan Kursus Patroli Jagawana yang diikuti oleh 200 orang peserta. Kursus Inspeksi Industri diikuti oleh 18 orang peserta. telah selesai disusun pokok-pokok rumusan pembentukan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) sebagai instansi Pemerintah Dati I dan Dati II dan berfungsi pendamping bagi Bapedal Wilayah (Bapedalwil) di 3 (tiga) wilayah yang berkedudukan di Pekanbaru. dan Ujungpandang.

Pada tahun 1998/99 diharapkan seluruh laboratorium tersebut telah dapat berfungsi sebagai laboratorium lingkungan melalui pengembangan jaringan kerjasama antar XI/19 . Melalui pembaharuan yang dilakukan dalam peraturan perundangan tersebut diharapkan dapat diperoleh kepastian hukum yang Lebih baik dalam penanganan berbagai permasalahan lingkungan hidup yang muncul di masa mendatang. Penetapan peraturanperaturan ini sangat penting dalam memberikan arah dalam perencanaan alokasi sumberdaya yang erat kaitannya dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup. peningkatan kapasitas sumberdaya manusia dan penyempurnaan metoda analisis laboratorium agar dapat berfungsi sebagai laboratorium lingkungan di 27 propinsi. pengadaan peralatan laboratorium. Untuk meningkatkan kegiatan pemantauan kualitas lingkungan. Perundangan ini menggantikan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Departemen Kesehatan dan Departemen Perindustrian dan Perdagangan) melalui pengembangan instalasi penunjang. Selain itu juga telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang serta Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. Dalam rangka itu telah diselesaikan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.Peningkatan kapasitas kelembagaan pengelolaan lingkungan hidup disertai dengan pembaharuan sistem hukum lingkungan. sejak tahun 1996/97 telah dilaksanakan rehabilitasi fisik 60 laboratorium milik instansi sektoral (Departemen Pekerjaan Umum.

dan masyarakat yang bersifat penggalangan misalnya Program Peringkat (Proper). dunia usaha. Peran serta masyarakat dalam pelestarian lingkungan juga dilakukan secara perorangan.laboratorium sektoral. Peningkatan peran serta masyarakat dan dunia usaha dalam upaya pengelolaan lingkungan hidup melalui pola kemitraan terus dikembangkan melalui berbagai kerjasama antara pemerintah. 8 kota raya. prosedur pengambilan contoh dan analisis parameter lingkungan. Sampai dengan pelaksanaan Repelita VI tahun keempat. peningkatan sistem pelatihan teknis dan pengembangan sistem akreditasinya. Program Kali Bersih (Prokasih) dan Adipura. dan untuk ini diberikan penghargaan Kalpataru. pengembangan jaringan informasi antar laboratorium. Sejak tahun 1994/95 sampai dengan tahun 1996/97 telah diberikan penghargaan Kalpataru kepada 5 orang Perintis Lingkungan. 5 kelompok Penyelamat Lingkungan. 68 kota sedang dan 162 kota kecil. Kegiatan penting lain dalam tahun 1998/99 adalah melanjutkan penyusunan berbagai pedoman antara lain pedoman analisis contoh dalam lingkup uji laboratorium. Peningkatan kesadaran masyarakat perkotaan terhadap pentingnya kelestarian fungsi lingkungan hidup didorong antara lain melalui upaya menjaga kebersihan dan keindahan kota dalam mencapai kualitas lingkungan yang baik serta dapat meningkatkan kesehatan warganya. yang terdiri dari 24 kota penerima Adipura Kencana. Penghargaan diwujudkan melalui pemberian Adipura untuk kota yang berprestasi baik. XI/20 . dan 2 orang Pembina Lingkungan. jumlah kota penerima sertifikat dan Adipura telah mencapai 264 kota. 5 orang Pengabdi Lingkungan. 2 kota besar.

Sebagai perwujudan kepedulian terhadap menurunnya kualitas lingkungan global telah diikuti berbagai kerjasama internasional dalam berbagai bentuk pengendalian bersama yang meliputi pengendalian kerusakan sistem atmosfer yang dapat menyebabkan perubahan iklim dan penipisan lapisan ozon. serta baku mutu limbah cair untuk kegiatan hotel dan rumah sakit. Selanjutnya dalam rangka pengembangan Sistem Pemantauan Lingkungan Hidup Nasional penetapan baku mutu lingkungan termasuk baku mutu limbah baik untuk tingkat nasional. Komite ini juga melakukan kegiatan pemasyarakatan kebijaksanaan penghapusan ODS (ozone depleting substances) secara bertahap serta membantu dunia usaha dalam XI/21 . besi baja. Baku mutu limbah ini berisi penetapan baku mutu limbah bagi 23 jenis industri yang memiliki dampak penting bagi kelestarian fungsi lingkungan hidup termasuk didalamnya baku mutu limbah cair untuk pengelolaan minyak dan gas serta panas bumi. Pengembangan baku mutu limbah udara juga semakin diperhatikan antara lain melalui penetapan Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak yang diikuti dengan penyusunan panduan teknis pemantauan kualitas emisi industri semen. Disamping itu. baku mutu tingkat getaran.Peningkatan kapasitas pengelolaan lingkungan hidup diikuti dengan penyusunan baku mutu limbah berbagai media pencemaran. sampai dengan tahun 1997/98 telah ditetapkan baku mutu untuk tingkat kebisingan. pelestarian keanekaragaman hayati dan pengendalian pencemaran laut lintas batas negara. wilayah atau propinsi diharapkan akan tuntas pada akhir Repelita VI (1998/99). pulp dan kertas. baku mutu tingkat kebauan. Untuk itu telah dibentuk beberapa forum antara lain Komite Nasional Perlindungan Lapisan Ozon yang bertugas untuk melaksanakan Program Nasional Perlindungan Lapisan Ozon.

Climate Change and Sea Level Rise di Indonesia yang sudah dirintis. Sebagai antisipasi terhadap dampak perubahan iklim akibat peningkatan volume gas rumah kaca. Dengan dihasilkannya Protokol Kyoto pada bulan Desember 1997. Salah satunya yang penting. maka penyusunan National Action Plan on Dealing with Global Warming. d. dan udara yang disebabkan oleh makin meningkatnya kegiatan pembangunan. menjadi makin penting untuk pengelolaan lingkungan yang memiliki dampak terhadap perubahan iklim global. serta penyusunan evaluasi dampaknya. Program Kali Bersih (Prokasih) yang pertama kali dicanangkan pada tahun 1989/1990 bertujuan untuk meningkatkan kualitas air sungai. Program Pengendalian Pencemaran Lingkungan Hidup Program ini bertujuan untuk mengurangi kemerosotan mutu dan fungsi lingkungan hidup perairan darat dan laut. tanah. melalui penurunan beban pencemaran.persiapan menghadapi penghapusan penggunaan metil bromida yang banyak dipergunakan dalam bidang pertanian. dan peningkatan kapasitas kelembagaan pengendaliannya hingga tingkat daerah. Sampai dengan tahun 1997/98 lingkup kegiatan Prokasih sebanyak 37 ruas sungai telah XI/22 . Dalam program ini terdapat bermacam-macam program aksi. Indonesia juga telah ikutserta dalam berbagai kerjasama internasional antara lain melalui Konperensi Antarpihak dalam Pengendalian Perubahan Iklim Akibat Gas Rumah Kaca di Jenewa pada tahun 1996 yang diikuti dengan kegiatan inventarisasi sumber dan jumlah emisi gas metan serta karbon dioksida.

Riau. Upaya-upaya tersebut telah meningkatkan kesadaran dunia usaha untuk melakukan pengelolaan limbah industrinya secara lebih baik terutama dalam memenuhi baku mutu limbah yang ditetapkan. yaitu dengan memasyarakatkan hasil penilaian kinerja pengolahan limbah di tiap unit industri sebagai informasi publik. Jawa Tengah. Kalimantan Barat. Jambi. Sumatera Selatan. Sumatera Utara. Kalimantan Timur. Kalimantan Selatan. DI Yogyakarta. juga membantu industri dalam meningkatkan daya saingnya di dunia internasional. Jawa Timur.melampaui sasaran Repelita VI sebanyak 35 ruas sungai di 17 propinsi yang meliputi Propinsi DI Aceh. Mulai tahun 1994/95 diterapkan strategi baru pengendalian pencemaran melalui pendekatan penaatan dan penegakan hukum dalam rangka meningkatkan kinerja pelaksanaan Prokasih. sentra pengolahan tapioka di Pati dan sentra produksi tempe di Sidoarjo. Penentuan peringkat kinerja tersebut selain bertujuan untuk memperbesar pengurangan limbah. DKI Jakarta. Sulawesi Selatan. Hasil terpenting dari pelaksanaan Prokasih ini adalah menurunnya beban pencemaran buangan limbah cair pada badan air sungai yang menunjukkan adanya peningkatan kesadaran masyarakat khususnya dunia usaha untuk ikut berperan serta dalam pengendalian pencemaran air sungai. Jawa Barat. Hal tersebut dilaksanakan dengan penyebarluasan informasi kinerja pengelolaan limbah dari 270 unit industri melalui Program Peringkat (Proper) pada tahun 1996/97. Sulawesi Utara dan Bali. Lampung. Atas XI/23 . Disamping itu dalam usaha minimisasi limbah dilanjutkan pembinaan terhadap pengelolaan limbah industri kecil. Sampai dengan tahun keempat pelaksanaan Repelita VI telah dibangun Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) Terpadu di 3 (tiga) lokasi yaitu sentra penyamakan kulit di Garut.

dan Yogyakarta. sejak tahun 1996/97 telah dilaksanakan Program Langit Biru. Bandung. Selain itu mulai tahun 1995/96 telah dilaksanakan kegiatan pemantauan terhadap penaatan pengelolaan limbah B3 melalui Program Kemitraan dalam Pengelolaan Limbah B3 (Kendali B3). sampai dengan tahun 1997/98.362 ton limbah B3. Upaya ini akan terus ditingkatkan utamanya pada kawasan perkotaan dan padat pembangunan. Selanjutnya dalam upaya untuk mengurangi perpindahan bahan XI/24 . dalam tahun 1996/97 Indonesia memperoleh penghargaan Leadership Award on Zero Emissions dari Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa. dan Jawa Timur telah menjadi peserta program tersebut. Sampai dengan tahun 1997/98 jumlah industri yang dipantau mencapai 54 industri. Pengendalian pencemaran lainnya terns ditingkatkan terutama untuk mengendalikan dampak merugikan dari limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) yang makin besar jumlahnya. Jawa Barat. Dalam empat tahun pelaksanaan Repelita VI sebanyak 199 industri di DKI Jaya. telah dilaksanakan pemantauan emisi gas buang kendaraan bermotor di empat kota besar yaitu Jakarta. Untuk pengendalian pencemaran udara dari sumber tidak bergerak telah ditetapkan baku mutu emisi bagi empat jenis industri yaitu industri baja. yang disertai upaya untuk mendorong pemakaian bahan bakar gas dan bahan bakar minyak tanpa timah hitam (Pb). Secara keseluruhannya. Pusat Pengolahan Limbah Industri-B3 (PPLI-B3) di Cileungsi Bogor telah mengolah sebanyak 68. Dalam rangka itu. terutama untuk kegiatan pengendalian pencemaran udara dari sumber bergerak.keberhasilan program ini. industri kertas dan pulp. serta pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar batubara. Dalam rangka pengendalian pencemaran udara. Semarang. industri semen.

pencemar B3 antar negara telah dikembangkan kerjasama internasional. Lokasi pendidikan dan pelatihan di Indonesia pengelolaannya dilaksanakan bersama dengan Cina untuk selanjutnya berfungsi sebagai Pusat Regional untuk Pelatihan dan Transfer Teknologi bagi kawasan Asia Pasifik. Tujuannya adalah untuk membantu negara-negara di kawasan ini agar dapat menerapkan Konvensi Basel tentang kegiatan minimisasi limbah dan pengawasan perpindahan limas batas limbah B3. Selain itu dikembangkan pula jaringan pemantauan aliran limbah B3 berikut pembangunan jaringan sistem tanggap daruratnya. Upaya lain dalam pengendalian pencemaran lingkungan yang bersifat tidak langsung adalah kampanye produksi bersih (Produksih) dengan tujuan mengurangi atau mencegah terjadinya pencemaran lingkungan langsung dari sumbernya. Dalam kaitan dengan pendekatan produksi bersih, mulai tahun 1996 telah dikembangkan pendekatan nir emisi bagi industri pulp dan kertas, tekstil, dan pengolahan bahan kimia. Pendekatan yang bersifat sukarela ini berupaya untuk mengubah model linier dalam proses produksi suatu industri menjadi model terpadu, dengan menitikberatkan bahwa secara keseluruhan sumberdaya dalam proses produksi dapat memberikan manfaat dan tidak menghasilkan limbah (produksi bersih). Sejalan dengan pengembangan produksi bersih juga dilaksanakan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan penerapan ekolabel. Pembentukan Lembaga Ekolabel Indonesia, penyusunan konsep standar dan kriteria ekolabel untuk produk kertas tisu dan kertas kemasan merupakan langkah awal dalam mendukung berkembangnya industri yang berwawasan lingkungan. Pada tahun 1996/97 telah dibentuk Komite Tenaga Ahli Ekolabel Indonesia

XI/25

yang bertugas merumuskan pokok-pokok kegiatan dan produk barang/ jasa yang diatur dalam program Ekolabel. Hal ini juga dilaksanakan sebagai antisipasi terhadap penerapan ISO seri 14000 oleh dunia usaha. Upaya lain dalam pengendalian pencemaran juga dilaksanakan melalui sistem insentif. Pengembangan sistem insentif ini dilakukan melalui pemberian pinjaman lunak untuk pembangunan infrastruktur pengolahan limbah khususnya bagi industri berskala besar. Sistem insentif tersebut diharapkan dapat mendorong dunia usaha untuk Lebih mentaati baku mutu limbah dan emisi yang telah ditetapkan. Dalam tahun 1998/99 upaya pengendalian pencemaran akan ditingkatkan dengan mengembangkan kapasitas pemerintah daerah dalam pengelolaan lingkungan hidup, pengembangan prasarana pendukung pengendalian pencemaran terutama pencemaran udara, serta peningkatan upaya pengendalian kerusakan lingkungan dalam kawasan hutan dan dalam pembukaan lahan-lahan baru untuk kepentingan perkebunan maupun transmigrasi. e. Program Rehabilitasi Lahan Kritis

Program ini bertujuan untuk memulihkan kemampuan hutan dan tanah yang rusak agar dapat berfungsi produktif kembali dan pada akhirnya meningkatkan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Hal yang penting dalam kegiatan rehabilitasi lahan kritis adalah meningkatnya pendapatan dan produktivitas masyarakat terutama yang berada dalam wilayah kegiatan rehabilitasi lahan kritis dari suatu Daerah Aliran Sungai (DAS).

XI/26

Kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan kritis yang dilakukan dalam kawasan lindung, meliputi berbagai kegiatan yang dilakukan di sempadan sungai, kawasan pantai berhutan bakau dan hutan lindung. Program ini bertujuan untuk meningkatkan daya dukung DAS yang telah rusak agar dapat berfungsi dalam sistem produksi dan terpeliharanya kelestarian jasa-jasa lingkungan hidup. Upaya tersebut mencakup kegiatan penghijauan, reboisasi, dan konservasi tanah dan air. Memperhatikan kepentingan tersebut, dalam kurun waktu Repelita VI telah dilaksanakan penghijauan lahan kritis seluas 1,98 juta hektare, sehingga secara keseluruhannya sampai dengan tahun 1997/98 telah dilaksanakan penghijauan tanah kritis di lahan kering seluas 6,8 juta hektare di 26 propinsi (Tabel XI-4). Kegiatan penghijauan tanah kritis yang dilakukan sejak awal PJP I merupakan upaya terpadu antara perbaikan teknologi pengolahan lahan dengan peningkatan pendapatan petani. Upaya tersebut yang terus ditingkatkan dalam setiap tahap pembangunan berlangsung yang bertujuan untuk memulihkan fungsi produksi lahan serta mempertahankan pertanian secara berkelanjutan (Tabel XI-4 A). Selain itu, dilakukan pula pengembangan pengelolaan 39 DAS dengan penyiapan data dasar dan penyusunan Rencana Teknik Lapangan RLKT (RTL-RLKT) pada 27 sub DAS seluas 4,8 juta hektare. Selain itu telah dilaksanakan pula pembinaan konservasi tanah terhadap 437 unit HPH (Hak Pengusahaan Hutan). Dalam kurun waktu empat tahun pelaksanaan Repelita VI, kegiatan penanaman hutan rakyat yang dilaksanakan di 26 propinsi telah menghasilkan hutan rakyat seluas 391,2 ribu hektare (Tabel XI-5). Pengembangan hutan rakyat yang dimulai sejak Repelita III terus ditingkatkan untuk melindungi ekosistem hutan dan manfaat

XI/27

pengusahaan hutan secara lestari. Secara keseluruhan sampai dengan tahun 1997/98 luas penanaman hutan rakyat telah mencapai 910,8 ribu hektare (Tabel XI-5 dan XI-5 A). Dibandingkan dengan pelaksanaan tahun 1993/94 terdapat peningkatan seluas 474,4 ribu hektare dui luas semula 436,4 ribu hektare. Kegiatan rehabilitasi lahan pada hutan rakyat merupakan usaha yang terpadu untuk mencegah meluasnya tanah kritis dan memperbaiki fungsi hidroorologis DAS. Fungsi hutan rakyat selanjutnya dikembangkan sebagai hutan serba guna yang dapat digunakan untuk percontohan pengawetan tanah. Kegiatan rehabilitasi lahan lainnya adalah pembuatan petak percontohan/demplot pengawetan tanah. Sampai dengan tahun keempat Repelita VI telah dilaksanakan pembuatan petak percontohan/demplot pengawetan tanah sebanyak 12.419 unit, atau meningkat sebesar 3.501 unit apabila dibandingkan dengan tahun 1993/94 (Tabel XI-6 dan Tabel XI-6 A). Petak-petak percontohan tersebut merupakan wahana penyuluhan yang bermuatan teknologi dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat untuk memperbaiki kesuburan tanah dan produktivitas lahan. Selain itu juga telah dilakukan pembuatan dam pengendali yang dimaksudkan untuk mengurangi limpasan erosi dan sedimentasi dari kawasan lahan kritis. Hingga pelaksanaan Repelita VI tahun 1997/98 telah dibangun sebanyak 7.396 buah dam pengendali, yang berarti telah terjadi pertambahan sebanyak 1.094 dam pengendali apabila dibandingkan dengan keadaan pada tahun 1993/94 (Tabel XI-7). Pembuatan dam pengendali yang dilaksanakan secara terpadu dengan rehabilitasi lahan kritis dimulai sejak Repelita II dan terus ditingkatkan untuk menekan laju erosi (Tabel XI-7 A).

XI/28

Sampai dengan tahun keempat Repelita VI (1997/98) apabila dibandingkan dengan tahun 1993/94 telah dilakukan kegiatan reboisasi pada kawasan hutan lindung yang meliputi pemulihan kualitas lahan kritis seluas 156. Untuk lebih meningkatkan pengendalian perladangan berpindah dan perambah hutan telah disusun Petunjuk Teknis Pengendalian Perladangan Berpindah dan Perambahan Hutan Melalui Pola Pembinaan In-situ dan Ex-situ. Pelaksanaan kegiatan rehabilitasi dan penghijauan akan dilanjutkan pada tahun akhir Repelita VI (1998/99) dengan titik XI/29 .248 orang Petugas Lapangan Penghijauan (PLP) dan 994 Petugas Lapangan Reboisasi (PLR) (Tabel XI-9 dan label XI-9 A). sejak tahun 1994/95 pelaksanaan tugasnya telah dialihkan kepada Dinas Perhutanan dan Konservasi Tanah/Dinas Kehutanan yang merupakan aparat Pemerintah Daerah.Selama Repelita VI telah dilaksanakan reboisasi pada kawasan hutan lindung seluas 128. Sampai dengan tahun keempat Repelita VI telah dipekerjakan sejumlah 7. Petugas Khusus Penghijauan. Disamping itu telah dilaksanakan pula pembinaan usaha tani menetap terhadap 55 ribu KK melalui kegiatan HPH Bina Desa. Upaya rehabilitasi lahan kritis juga dilakukan dengan melibatkan peladang berpindah sebanyak 123.071 KK di 21 propinsi melalui pembinaan tanpa memindahkan penduduk. Dalam pelaksanaan kegiatan penghijauan dan reboisasi diperlukan petugas-petugas lapangan yang berfungsi membantu pelaksanaan teknis di lapangan.6 ribu hektare (label Xl-8 dan Tabel XI-8 A). Kegiatan reboisasi yang dilakukan sejak awal PJP I bertujuan untuk mempertahankan mutu hutan lindung dan diharapkan dapat meningkatkan daya pulih fungsi ekosistem hutan lindung.4 ribu hektare.

yang telah diuji-cobakan di Kepulauan Seribu. Mekanisme P3LE laut. Teluk Bintuni. Pulau Batam dan Bintan. mengendalikan kerusakan lingkungan pesisir. disertai tersusunnya konsep desain kajian analisis resiko dampak Iingkungan pesisir dan laut di selat Makassar dan selat Lombok. Dalam tahun keempat Repelita VI telah dihasilkan prototipe sistem informasi geografis sumber daya pesisir dan laut di selat Makassar dan selat Lombok. Disamping itu untuk memantau XI/30 . Sampai dengan tahun keempat pelaksanaan Repelita VI telah dilaksanakan penyusunan pola tata ruang daerah pantai di 15 propinsi yang bermanfaat sebagai bahan pertimbangan untuk perencanaan pembangunan kawasan pesisir. telah meningkatkan peran serta semua pihak terutama Pemerintah Daerah Tingkat I dan II dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir dan laut. Program Pembinaan Daerah Pantai Pembinaan daerah pantai bertujuan untuk meningkatkan pelestarian fungsi ekosistem pantai dan laut. Pengendalian. Disamping itu untuk mendukung pelaksanaan pelestarian sumber daya pantai dan laut telah diupayakan peningkatan koordinasi melalui pengembangan Sistem Pengawasan. f. serta meningkatkan kemampuan masyarakat pantai dalam pengelolaan pantai dan laut. peta sensitivitas lingkungan pesisir dan laut di selat Makassar dan selat Lombok sebagai upaya pengendalian cegah-awal pencemaran.berat pada penataan kembali pengelolaan 49 Daerah Aliran Sungai (DAS) kritis sebagai prioritas utama. dan Kepulauan Takabonerate. kawasan Barelang. Pengamatan Lapangan dan Evaluasi (P3LE) pesisir dan perairan laut.

Dalam upaya pelestarian fungsi lingkungan pesisir telah dilakukan rehabilitasi ekosistem bakau seluas 105.kualitas fisik perairan laut Indonesia telah dikembangkan Sistem Informasi Potensi Kelautan. Mulai tahun ketiga Repelita VI daerah kerja Program Pantai Lestari diperluas meliputi 17 propinsi. Program ini dilaksanakan melalui 3 (tiga) kegiatan utama. pemantauan pencemaran laut. Selain itu.600 hektare. Jawa Timur. Program Pantai Lestari mencakup pengendalian pencemaran dan pemulihan kerusakan lingkungan pada daerah sempadan pantai. Termasuk dalam kegiatan Pa nt a i Le s t ar i i ni a dal a h pe m a nt a pa n 2. 7 jut a h e kt a r e a r ea l XI/31 . Bandar Indah dan Terumbu Karang/Mangrove Lestari (Teman Lestari). Bali. Hal ini merupakan persiapan bagi Indonesia untuk menjadi penyelenggara World Summit of the Sea dan International Coral Reef Symposium pada tahun 2000. Dalam upaya pelestarian dan rehabilitasi ekosistem terumbu karang dan pantai telah dicanangkan Gerakan Pembudidayaan Mangrove dan Pemasangan Rumpon (GPMPR) di 7 (tujuh) propinsi yaitu DKI Jakarta. dan Kalimantan Timur. Sistem ini berbasiskan prosedur pemantauan perairan laut Seawatch yang menghasilkan data real time yang dapat digunakan untuk pemantauan perubahan cuaca dan iklim bagi kegiatan lalu lintas pelayaran. Selanjutnya untuk meningkatkan kemampuan pengendalian dampak merugikan di lingkungan pesisir telah disusun konsep Program Pantai Lestari yang dipelopori oleh Pemerintah Daerah Tingkat I dan II Bali. dan dukungan analisis sebaran bahan pencemar. Jawa Barat. Jawa Tengah. Sumatera Utara. juga dilaksanakan pemasangan penambat kapal di Taman Nasional Bali Barat dan Taman Nasional Bunaken guna menghindari penggunaan jangkar yang dapat merusak kawasan terumbu karang. yaitu Pantai Wisata Bersih.

perluasan penanaman hutan bakau seluas 150. serta pengamanan daerah pantai dari kegiatan yang menimbulkan dampak merugikan. pola tata ruang udara. Kegiatan pengendalian kerusakan pantai pada tahun akhir Repelita VI (1998/99) akan melanjutkan upaya peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam pengelolaan wilayah pantai padat pembangunan. Berkaitan dengan hal tersebut maka telah dilakukan persiapan untuk pengelolaan terumbu karang nasional secara lebih terpadu (Coral Reef Rehabilitation and Management Program/COREMAP) yang dilakukan sejak tahun 1996/97 mencakup kawasan terumbu karang di 10 propinsi. terumbu karang. khususnya bagi kawasan yang cepat berkembang/ andalan/strategis. C. yang mencakup pola tata ruang daratan.000 hektare. serta perluasan cakupan wilayah dalam pencegahan. dan padang lamun. penanggulangan dan pengamanan pantai dan rehabilitasi ekosistem terumbu karang yang rusak. dan pola tata guna sumber daya alam lainnya secara terpadu. (2) makin mantapnya kegiatan pelaksanaan penataan ruang nasional dan daerah. pelestarian ekosistem pantai seperti hutan bakau.konservasi perairan. pola tata ruang lautan. 1. PENATAAN RUANG DAN PERTANAHAN Sasaran. Kegiatan Pantai Lestari juga meliputi pembinaan masyarakat wilayah pantai. sejak dari proses XI/32 . Kebijaksanaan dan Program Pembangunan dalam Repelita VI Sasaran khusus program penataan ruang dalam Repelita VI adalah (1) tersedianya strategi dan rencana tata ruang nasional dan daerah.

serta (5) terbentuknya sistem pemantauan dan evaluasi penataan ruang khususnya di kawasan yang cepat dan kawasan andalan/strategis. dan format pengelolaan tata ruang. (4) penyempurnaan kelembagaan dan peningkatan kemampuan aparatur penataan ruang. prosedur. evaluasi. dan sumber daya alam lainnya secara terpadu. air. (6) peningkatan penegakan hukum dalam penataan ruang. (2) terciptanya sistem administrasi pertanahan yang ditunjang oleh perangkat analisis dan perangkat informasi yang baik dalam proses pemberian perijinan. (3) tersedianya data/informasi pertanahan XI/33 . (2) pemantapan proses penyusunan tata guna lahan. (3) pengembangan pola pemanfaatan ruang laut dan ruang udara. (5) peningkatan peranserta masyarakat dan dunia usaha dalam penataan ruang. standar. pemilikan dan pengalihan hak atas tanah sesuai dengan kebutuhan pembangunan yang menjamin keadilan sosial dan kemakmuran bagi seluruh rakyat. dan pemantauan penataan pertanahan. dan. Dalam rangka mewujudkan sasaran-sasaran penataan ruang dalam Repelita VI. sasaran khusus program ini adalah (1) tertibnya sistem administrasi pertanahan yang meliputi penataan penguasaan. (3) terbentuknya mekanisme peranserta masyarakat dan dunia usaha yang efektif dalam pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang secara aktif dan bertanggung jawab. penataan penggunaan tanah. (4) mantapnya sistem pengelolaan tata ruang yang meliputi mekanisme. Dalam penataan pertanahan. kebijaksanaan pokok yang ditempuh meliputi upaya (I) pemantapan dan pengembangan pola tata ruang nasional dan daerah khususnya pada kawasan yang cepat berkembang/andalan/strategis. termasuk wilayah perbatasan dengan negara lain.perencanaan tata ruang yang ditunjang dengan penegakan hukum yang berwibawa.

untuk mendukung kegiatan pembangunan. serta (4) meningkatnya kemampuan kelembagaan pertanahan untuk mewujudkan sistem pengelolaan pertanahan yang terpadu. XI/34 . kebijaksanaan pokok yang ditempuh dalam Repelita VI meliputi upaya (1) pengembangan sistem penataan penguasaan. dan. serasi. dalam Repelita VI dilaksanakan program penataan ruang sebagai program pokok. ditetapkan beberapa program pokok dan program penunjang. (3) penyempurnaan kelembagaan penataan pertanahan. efektif. Dalam rangka mewujudkan sasaran penataan pertanahan. pemilikan dan pengalihan hak atas tanah. Di samping program pokok dilaksanakan beberapa program penunjang yang bertujuan untuk mendukung kelancaran pelaksanaan program pokok penataan ruang. efektif dan efisien. (d) program penerapan dan penegakan hukum. Dalam rangka pencapaian sasaran pengembangan sistem pengelolaan pertanahan yang terpadu. Program penunjang tersebut adalah: (a) program inventarisasi dan evaluasi sumber daya alam dan Iingkungan hidup. dan tata guna hutan. dan efisien. serasi. tata guna lahan. Untuk mencapai sasaran dan melaksanakan berbagai kebijaksanaan penataan ruang seperti tersebut di atas. (c) program penataan pertanahan. Program ini bertujuan untuk mengembangkan pola tata ruang dan mekanisme pengelolaan serta meningkatkan keterpaduan penyelenggaraan tata guna air. (2) sistem penataan penggunaan tanah secara berencana. (b) program pemanfaatan sumber daya kelautan dan kedirgantaraan. serta (e) program pendidikan. (4) pengembangan sistem administrasi pertanahan. (5) penataan tanah hutan sesuai dengan fungsinya serta pemanfaatannya bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. pelatihan dan penyuluhan tata ruang.

dan penyuluhan pertanahan. serta (d) Program penerapan dan pengembangan hukum. (4) RPP tentang ketelitian peta. (c) Program pengembangan informasi pertanahan. 1) Program Pokok a) Program Penataan Ruang Program penataan ruang bertujuan untuk menyempurnakan dan menjabarkan rencana tata ruang nasional. (b) Program penataan ruang. dan (5) RPP tentang VI dalam XI/35 . Sedangkan program penunjang meliputi: (a) Program pendidikan. 2. sejak awal Repelita VI sampai dengan tahun 1997/98 telah disusun beberapa Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) menyangkut penataan ruang. serta penyempurnaan kelembagaan dan pengembangan administrasi pertanahan. pelatihan. (3) RPP tentang penataan ruang kawasan tertentu. penataan penggunaan tanah. Pelaksanaan dan Hasil-Hasil Pembangunan Sampai Dengan Tahun Keempat Repelita VI a. daerah. (2) RPP tentang penataan ruang kawasan perdesaan. Dalam rangka melaksanakan amanat Undang-Undang Nomor 24 tahun 1992. Penataan Ruang Upaya-upaya pembangunan dalam Repelita program penataan ruang adalah sebagai berikut.Program pokok adalah penataan pertanahan yang terdiri atas kegiatan: penataan penguasaan tanah. dan kawasan serta pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruangnya. antara lain: (1) RPP tentang penataan ruang kawasan perkotaan.

Di dalam PP RTRWN tersebut juga ditetapkan 111 Kawasan Andalan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. kawasan budidaya. sejak tahun 1996/97 telah dilakukan penyusunan materi rencana tata ruang XI/36 . Materi PP RTRWN tersebut berisi: penetapan secara nasional kawasan lindung. (2) pedoman teknis penyusunan rencana rinci tata ruang kawasan. serta. Pada tahun 1996/97 telah ditetapkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 69 tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban. serta berbagai bentuk mekanisme penyelenggaraannya dalam setiap tahapan penataan ruang (perencanaan. serta Tatacara dan Bentuk Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang (PP Peran Serta). yaitu antara lain (1) pedoman teknis penyempurnaan dan peninjauan kembali evaluasi Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I (RTRWP) dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II (RTRWK). Untuk lebih meningkatkan keterkaitan pelaksanaan pembangunan antarpropinsi dalam satu wilayah regional dan untuk menjembatani strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang yang tertuang dalam RTRWN dan RTRWP. dan kawasan tertentu. pedoman umum pengendalian pemanfaatan ruang. pemanfaatan. Materi PP Peran Serta tersebut berisi: penetapan lingkup dan batasan dari hak dan kewajiban masyarakat dalam penataan ruang. Di samping itu. norma dan kriteria secara nasional dalam pemanfaatan ruang.penatagunaan tanah. dan pengendalian pemanfaatan ruang). telah pula dilakukan perumusan beberapa pedoman teknis. Pada tahun 1997/98 telah ditetapkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 47 tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (PP RTRWN). dan (3) pedoman perumusan indikasi program terpadu jangka menengah untuk wilayah kabupaten/kotamadya.

Sampai dengan akhir Repelita V (tahun 1993/94). Dalam periode empat tahun Repelita VI telah diupayakan inventarisasi. wilayah Kabupaten Bekasi dan Tangerang. Dalam rangka penataan ruang juga telah selesai disusun rencana tata ruang dan strategi pengembangan untuk kawasan reklamasi Pantai Mara Jakarta dan Kapuk Naga Tangerang yang pengelolaannya dipaduserasikan dengan strategi pengembangan wilayah Jabotabek secara keseluruhan. dan penyelesaian konflik penetapan kawasan dalam proses perencanaan. seperti yang terjadi di kawasan Puncak atau Bogor-Puncak-Cianjur (Bopunjur). kawasan Bandung Utara. dan penertiban pelanggaran terhadap pemanfaatan ruang. yaitu Pulau Sumatera. Kalimantan. pemantauan dan penyelesaian berbagai permasalahan dalam konflik penataan ruang. Di antara kegiatan penanganan konflik penataan ruang yang paling menonjol adalah penyelesaian konflik penggunaan lahan menyangkut sawah beririgasi teknis untuk kegiatan non-pertanian. oleh karena tingkat peralihan dan perkembangan pemanfaatan lahannya relatif cepat. Dalam XI/37 . Sebagian besar masalah tata ruang terjadi di Pulau Jawa. baru 10 propinsi yang materi Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsinya (RTRWP) telah ditetapkan menjadi Peraturan Daerah atau Perda (status D) dan hanya 6 propinsi yang Perda RTRWP-nya telah mendapat pengesahan dari Menteri Dalam Negeri (status E). dan pulau-pulau lain di Kawasan Timur Indonesia. serta di kawasan Gresik-Surabaya-MalangSitubondo. Sulawesi. Pada tahun 1997/98 telah diselesaikan materi pendahuluan Rencana Tata Ruang Pulau untuk lima wilayah besar di Indonesia.pulau untuk lima wilayah besar di Indonesia. penyelesaian konflik antara RTRWP dengan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK). Jawa.

Dari sejumlah itu. sampai dengan tahun 1997/98. seluruh 63 Kotamadya telah memiliki RTRWK. 1 RTRWK dalam tahap proses pengesahan Peraturan Daerah XI/38 . Status kemajuannya adalah 74 RTRWK masih dalam tahap penyempurnaan materi rencana tata ruangnya. 22 RTRWK dalam pengajuan konsep Perda-nya ke DPRD Tk. seluruh kabupaten telah memiliki RTRWK.II. Di antara 145 RTRWK yang telah ditetapkan sebagai Peraturan Daerah (Perda Tk. status kemajuan penyelesaian rencana tata ruang wilayah kabupaten seluruh Indonesia sejak dimulainya kegiatan ini pada awal Repelita V (tahun 1989/90) dapat dilihat dalam Tabel XI-11. sampai dengan akhir Repelita V.Repelita VI seluruh daerah tingkat I telah memiliki RTRWP yang telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah (Perda) dan mendapat pengesahan Menteri Dalam Negeri (status E). terdapat 77 RTRWK yang materinya telah mendapat pengesahan dari Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. Secara rinci. 8 RTRWK dalam tahap pembahasan materi Perda-nya di DPRD Tk. Status kemajuan pengesahan RTRWP dari sejak dimulainya kegiatan ini pada awal Repelita ke-V (tahun 1989/90) dapat dilihat dalam Tabel XI-10. dan 145 RTRWK telah ditetapkan sebagai Peraturan Daerah (Perda) Tk. II. II. Dalam Repelita VI. jumlah kabupaten yang memiliki Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten (RTRWK) adalah 229 kabupaten. Untuk kabupaten daerah tingkat II (dati II). sampai dengan tahun terakhir Repelita V (1993/94). Untuk wilayah kotamadya daerah tingkat II. jumlah kotamadya yang telah memiliki Rencana Tata Ruang Wilayah Kotamadya (RTRWK) adalah 55 kotamadya. 2 RTRWK sedang dalam proses penyempurnaan materi rencana tata ruangnya. sampai dengan tahun 1997/98.11). Dalam Repelita VI.

dan ibukota kecamatan) yang telah disusun sebelum diterbitkannya Undang-Undang Nomor 24 tentang Penataan Ruang. kemajuan dan status penyelesaian rencana tata ruang untuk kota-kota non-status sejak Repelita I dapat dilihat pada Tabel XI-13 dan Tabel XI-13A. Secara rinci. ibukota kabupaten. Dari 1. jumlah kota yang telah memiliki rencana tata ruang adalah 617 kota. terdapat tambahan sebanyak 615 kota yang telah memiliki rencana tata ruangnya. Dari sejumlah itu.729 kota non-status. dan 55 RTRWK telah mendapat pengesahan dari Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. Kawasan Batulicin (Kalimantan Selatan). 5 RTRWK dalam tahap telah ditetapkan sebagai Perda Tk. Selain dua produk rencana tata ruang seperti yang telah disebutkan di atas. Secara rinci. yaitu Kawasan Sanggau (Kalimantan Barat). Kawasan KapuasKa h a y a n. XI/39 .Ba r it o Sel a t a n a ta u Ka ka b ( Ka l im a n ta n Te n g a h) . pada tahun 1996/97 telah diselesaikan strategi pengembangan untuk 13 Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET). Dalam rangka percepatan pembangunan di Kawasan Timur Indonesia (KTI).II. sampai dengan 1997/98 telah ditetapkan 312 RTRW sebagai Perda Tk. Dalam Repelita VI. terdapat pula produk rencana tata ruang untuk kawasan-kawasan perkotaan non-status (seperti kota administratif. sampai dengan akhir Repelita V. Mengingat kebutuhannya yang mendesak.II. kemajuan dan status penyelesaian Rencana Tata Ruang Wilayah Kotamadya dari sejak Repelita I dapat dilihat dalam Tabel XI-12 dan Tabel XI-12A. rencana tata ruang untuk kota-kota tersebut masih diperlukan bagi acuan kegiatan pembangunan di kawasannya.(Perda) Tk.II di DPRD Tk.II dan sebanyak 303 RTRW yang telah di-Perda-kan telah mendapatkan pengesahan dari Gubernur Kepala Daerah Tingkat I.

Kawasan Pare-Pare (Sulawesi Selatan). Kawasan Seram (Maluku). Kalimantan Selatan. Di Kawasan Barat Indonesia. pengkajian kebutuhan investasi pembangunan prasarana kota jangka panjang. Kawasan Manado-Bitung (Sulawesi Utara). Dalam RTRWN. Nias di Sumatera Utara. Pantura Jawa Barat. dan Pantura Jawa Tengah). sebagai tindak lanjut penyusunan RTRWP atau RTRWK. Selain itu. Kawasan Bima (Nusa Tenggara Barat). Nusa Tenggara Timur.Kawasan Samarinda-Sangasanga-Balikpapan atau Sasamba (Kalimantan Timur). penentuan dan strategi pengembangan Desa Pusat Pertumbuhan (DPP) di beberapa propinsi (Jawa Timur. Turi Dumai Rupat di Riau. Kawasan Buton-KolakaKendari atau Bukari (Sulawesi Tenggara). Sulawesi Utara. dan XI/40 . Pola dan struktur tata ruang yang telah dikembangkan dalam dimensi spasial tertuang dalam Peta Prasarana Indonesia pada Lampiran Pidato Pertanggung Jawaban ini. telah diselesaikan strategi pengembangan untuk 10 Kawasan Andalan (yaitu Pidi Bireun dan Sabang di DI Aceh. dan Sula di Maluku). dan Kawasan Biak (Irian Jaya). telah diselesaikan pula strategi pengembangan untuk 5 Kawasan Andalan (yaitu di Sorong dan Merauke di Irian Jaya. Mentawai dan Kuala Enok di Sumatera Barat. Kawasan Batui (Sulawesi Tengah). Tenau Bolok di NTT. poly dan struktur tata ruang dikembangkan dalam hubungan dengan alokasi ruang dan infrastruktur beserta hierarkinya. Kawasan Mbay (Nusa Tenggara Timur). sampai dengan tahun 1997/98 telah diselenggarakan studi percontohan untuk penyusunan konsep tata ruang kawasan pantai. Kawasan BetanoNatarbora-Viqueque dan sekitarnya (Timor Timur). Mataram di NTB. Lampung Tengah. Di samping itu.

Dalam rangka peningkatan kualitas penyusunan dan evaluasi rencana tata ruang wilayah dan rencana rind tata ruang kawasan. Pemetaan digital seluruh XI/41 . telah disusun Pedoman Peninjauan Kembali RTRW Dati I dan Dati II yang merupakan implikasi dari perubahan-perubahan pemanfaatan ruang yang terjadi akibat adanya kebijaksanaan-kebijaksanaan baru seiring dengan pesatnya laju pembangunan. 24/1992 tentang Penataan Ruang khususnya pasal 13. Sesuai dengan amanat UU No.000 untuk seluruh wilayah Indonesia. Naskah Konsep Pedoman Peninjauan Kembali RTRW Dati I dan Dati II telah melalui proses ujicoba di 26 propinsi.000 dan 1 : 100. telah diselesaikan pemetaan digital dengan skala 1 : 250. Peninjauan kembali terhadap RTRWP dilakukan baik bagi RTRW yang sudah di-Perda-kan maupun yang belum. Sampai dengan tahun keempat Repelita VI kegiatan evaluasi sumber daya alam dan tanah di 18 propinsi (meliputi seluruh propinsi di luar propinsi-propinsi di Pulau Sumatera dan Bali) telah mendekati tahap penyelesaian.Sumatera Barat). 2) Program Penunjang a) Program Inventarisasi dan Evaluasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Program ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah dan kualitas informasi sumber daya alam serta mengembangkan neraca dan tata guna sumber alam dan Lingkungan hidup untuk mengetahui daya dukung dan menjamin ketersediaan sumber alam yang berkelanjutan.

000 telah dilakukan untuk kawasan yang diprioritaskan penyusunan rencana rincinya seperti sebagian kawasan Bandung Utara dan kawasan Puncak atau BogorPuncak-Cianjur (Bopunjur). NTT.000 telah diselesaikan sebagian wilayah di propinsi-propinsi Jawa dan Bali. Kalimantan dan sebagian perbatasan Indonesia-Papua New Guinea. Sulawesi. dan perbatasan RIMalaysia. Kegiatan ini telah membantu menyediakan data dan informasi yang dibutuhkan bagi perencanaan tata ruang nasional. Sementara itu untuk skala 1 : 25. Nusa Tenggara Barat dan Timur. Pemetaan dengan skala 1 : 5.000 telah meliput seluruh propinsi di Sumatera. Dalam Repelita VI. Upaya tersebut dilakukan melalui pemanfaatan evaluasi sumber daya laut yang telah dilakukan di 27 propinsi guna memperkaya informasi mengenai sumber daya laut dan pesisir pantai.wilayah Indonesia dengan skala 1 : 50. b)Program Pemanfaatan Sumber Daya Kelautan dan Kedirgantaraan Program ini bertujuan meningkatkan kemampuan dalam mendayagunakan dan memanfaatkan potensi kekayaan laut dan pemanfaatan dirgantara secara seimbang bagi sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat dan keperluan pertahanan keamanan. kegiatan program ini dititikberatkan untuk menunjang pemantapan penyusunan RTRWN dan RTR Pulau dalam kaitannya dengan penyediaan informasi matra laut dan matra udara. Timor Timur. Jawa dan Bali. Prioritas pemetaan dilakukan di dalam kawasan-kawasan yang diandalkan pengembangannya dalam masing-masing wilayah tersebut. NTB. XI/42 . khususnya yang menyangkut pemanfaatan dan pelestarian sumber daya alam.

berbagai upaya dalam program ini masih berkaitan dengan penyediaan data pendukung penyelesaian konflik penataan ruang. telah dilaksanakan serangkaian upaya untuk menyusun Rancangan Undang-Undang tentang Penataan Ruang Lautan dan Ruang Udara di Luar Wilayah Propinsi Dati I dan Wilayah Kabupaten/ Kotamadya Dati II. Pada saat ini. Kawasan Bopunjur. Kegiatan-kegiatannya antara lain meliputi pemetaan topografi untuk menunjang penyusunan rencana rinci tata ruang di kawasan yang bermasalah (Kabupaten/Kotamadya Bekasi dan Tangerang. Dengan demikian. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. serasi. Dalam Repelita VI. XI/43 . c) Program Penataan Pertanahan Program ini mengupayakan peningkatan dan pengembangan sistem pengelolaan pertanahan yang terpadu. Penyusunan konsep RPP tersebut dikoordinasikan oleh Departemen Pertahanan Keamanan. Permasalahan konflik penataan ruang yang terjadi saat ini banyak berkaitan dengan masalah pertanahan.Sampai dengan tahun 1997/98. Selain itu juga sedang disusun Rancangan Peraturan Pemerintah mengenai Pengelolaan Tata Guna Udara sebagai pelaksanaan dari pasal 16 ayat 2 UU No. tahap penyusunannya telah sampai pada pematangan materi akademis. kebutuhan akan adanya informasi yang lengkap menyangkut aspek penguasaan dan penggunaan di dalam areal-areal yang konflik menjadi sangat penting perannya. efektif dan efisien sehingga pemanfaatan ruang dapat terkendali. dan kawasan-kawasan lain) serta pengembangan sistem informasi pertanahan yang menunjang kegiatan penataan ruang di kawasan dan wilayah-wilayah yang disebutkan di atas.

Dalam rangka menindaklanjuti Undang-Undang No. serta Tata Cara dan Bentuk Peranserta Masyarakat dalam Penataan Ruang (PP Nomor 69 tahun 1996) dan PP tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (PP Nomor 47 tahun 1997). telah selesai disusun 2 (dua) Peraturan Pemerintah (PP). Upaya tersebut di atas termasuk pengendalian pengalihan sawah irigasi teknis menjadi lokasi-lokasi kegiatan industri atau permukiman dalam skala besar.d) Program Penerapan dan Penegakan Hukum Program ini bertujuan untuk meningkatkan ketertiban dan kepastian hukum dalam hubungannya dengan penataan ruang. Dalam rangka pengendalian pemanfaatan ruang di kawasankawasan yang cepat berkembang seperti kawasan Bogor-PuncakCianjur (Bopunjur). penegakan tertib prosedur pemanfaatan ruang sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. kawasan-kawasan pinggiran wilayah Jabotabek. Diantaranya adalah 2 Rancangan Undang-Undang (RUU) dan 12 Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP). Sampai dengan tahun 1997/98. diupayakan penyelesaian konflik penggunaan ruang melalui koordinasi penanganan atau pemaduserasian rencana tata ruang kawasan terkait. dan kawasan-kawasan lain sepanjang jalur-jalur ekonomis di Pulau Jawa. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang berbagai peraturan perundangan perlu ditetapkan. Mekanismenya adalah melalui mengendalikan secara dini proses perijinan lokasinya. atau koordinasi dalam memadu-serasikan proses evaluasi XI/44 . Hal tersebut sangat esensial bagi penggalangan peranserta masyarakat secara bertanggung-jawab dan juga agar masyarakat merasa mendapatkan perlindungan hukum akan hak-haknya. yaitu PP tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban.

telah dikeluarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 19 tahun 1996 tentang Pedoman Pembentukan Tim Koordinasi Penataan Ruang Daerah (TKPRD) Tingkat I dan Daerah Tingkat 11. (3) meningkatkan keterpaduan. (2) sebagai tim ad-hoc yang merumuskan berbagai kebijaksanaan penataan ruang dan memecahkan masalah-masalah yang terjadi. koordinasi. baik di tingkat pusat maupun daerah. Di tingkat daerah. Dalam mendukung upaya koordinasi di semua tingkatan pemerintahan. Tugas utama TKPRD meliputi (1) membantu kepala daerah Tk I (TKPRD TK I) dan TK II (TKPRD Tk II) dalam menyiapkan kebijaksanaan penataan ruang. Hingga saat ini 15 propinsi telah membentuk TKPRD Tingkat I dan 44 daerah tingkat II telah membentuk TKPRD Tingkat II. Berdasarkan ketentuan Inmendagri tersebut. keterkaitan antar instansi pusat dan daerah.perencanaan dan pembangunan diantara instansi-instansi terkait. di tingkat pusat telah dikeluarkan Keputusan Presiden Nomor 75 tahun 1993 tentang Koordinasi Pengelolaan Tata Ruang Nasional dan Keputusan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua BAPPENAS Nomor 176/KET/9/ 1994 tentang Kelompok Kerja Tata Ruang Nasional. XI/45 . secara fungsional ditetapkan bahwa Gubernur KDH Tingkat I merupakan Ketua TKPRD Tingkat I dan Bupati/Walikomadya KDH Tingkat II merupakan Ketua TKPRD Tingkat II.

serta peranserta aktif masyarakat dalam penataan ruang. (5) pengembangan sistem informasi kawasan cepat berkembang. Dalam periode 1993/94 sampai dengan 1997/98 telah dilaksanakan kegiatan-kegiatan sebagai berikut. Propinsi Sulawesi Selatan. (4) pemutahiran Data Dasar Perkotaan (Urban Data Base).e) Program Pendidikan. dan (8) pelatihan penataan ruang Dati II. dan Propinsi Bali. (3) pemantapan dan diseminasi materi training penataan ruang kabupaten Dati II. partisipasi masyarakat. Pelatihan. (7) kegiatan penasihatan (advisory) pemantauan dan pengendalian penataan ruang wilayah di 26 propinsi. dan Penyuluhan Tata Ruang Program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan tugas penataan ruang bagi aparat pemerintah dan dunia usaha serta pemahaman masyarakat mengenai tata ruang sehingga dapat berkembang kesadaran. Propinsi Jawa Barat. Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. tanggungjawab. dan penang- XI/46 . Penataan Pertanahan Pembangunan pertanahan dalam Repelita VI dititikberatkan pada upaya pemberian manfaat atas tanah yang sebesar-besarnya bagi pembangunan nasional dan kemakmuran rakyat serta peningkatan pemerataan. yaitu: (1) pelatihan penataan ruang daerah dan pembinaan pengaturan teknis penataan ruang bagi aparat pemerintah daerah di Propinsi Sumatera Utara. b. pelatihan penataan ruang untuk para konsultan. (6) penyiapan pedoman penyusunan rencana rinci tata ruang kabupaten Dati II. (2) pelatihan penataan ruang perdesaan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam kegiatan ini. pemberian hak atas tanah di areal permukiman transmigrasi. Kegiatan pengembangan pengaturan penguasaan tanah dimaksudkan untuk menyelenggarakan penataan aspek hukum/pemilikan tanah guna mewujudkan tertib hukum dan tertib administrasi pertanahan dalam rangka memberikan kepastian hukum hak atas tanah secara adil. penataan penggunaan tanah. dan efisien. Dalam empat tahun Repelita VI (sampai dengan tahun 1997/98). Kegiatan-kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka meningkatkan catur tertib pertanahan untuk meningkatkan dan mengembangkan sistem pengelolaan pertanahan yang terpadu. penertiban dan peningkatan pengurusan hak atas tanah. efektif. pada akhir Repelita V (tahun 1993/94) telah dilakukan penyiapan redistribusi tanah obyek landreform untuk 10. Upaya tersebut dilaksanakan melalui program pokok penataan pertanahan dan program-program penunjangnya. serta pensertifikatan tanah secara masal melalui PRONA atau Proyek Operasi Nasional Pertanahan (untuk masyarakat golongan ekonomi rendah) dan ajudikasi. 1) Program Pokok Program Penataan Pertanahan Program ini meliputi kegiatan penataan penguasaan tanah. pengukuran dan pendaftaran tanah. kegiatan landreform Lebih dititikberatkan pada penertiban administrasi landreform.943 hektare dan penertiban administrasi XI/47 .800 KK.264 hektare dan penertiban administrasi landreform untuk 5. serasi.gulangan kemiskinan. Selama kurun waktu tersebut telah diselesaikan redistribusi tanah obyek landreform seluas 2.

153 SK. penyusunan rencana persediaan tanah untuk 98 dati II. Dalam kurun waktu yang sama telah diselenggarakan pendataan pemilikan/penguasaan tanah kawasan pedesaan untuk 359 kecamatan dan kawasan perkotaan untuk 593 desa/kelurahan.840.343. dan konsolidasi tanah pertanian irigasi teknis (melalui kegiatan PIADP atau Provincial Irrigated Agriculture Development Program) untuk 20.940 hektare. Dalam rangka penertiban dan peningkatan pengurusan hak atas tanah. pengembangan sumber daya manusia di bidang pertanahan untuk 327 orang.030.000 hektare.700 bidang. Surat Keputusan Hak Atas Tanah (melalui PIADP) untuk 7. pembinaan konsolidasi tanah perkotaan untuk 18.580 bidang.000 hektare.000 bidang. dan Surat Keputusan XI/48 . pemetaan penggunaan tanah perkotaan (baik kota kabupaten maupun kota kecamatan) untuk 163 kota dan meliputi sekitar 250.landreform untuk 31. pemetaan tanah khusus untuk kawasan Puncak seluas 25.000 hektare.257 hektare. pengendalian penggunaan tanah untuk areal seluas 2. identifikasi penegasan tanah negara seluas 18. dan pemetaan wilayah pengembangan lahan gambut I juta hektare seluas 26. pemetaan kemampuan tanah untuk areal luas 22.880 KK. Dalam Repelita VI telah diselenggarakan kegiatan antara lain sebagai berikut: pemetaan dan revisi peta penggunaan tanah detail untuk 30.000 hektare.000 hektare.000 hektare. pada tahun 1993/94 telah diterbitkan Surat Keputusan Hak Atas Tanah sebanyak 20. Kegiatan penatagunaan tanah dimaksudkan untuk mengembangkan perencanaan penatagunaan tanah dan pengendalian penggunaan tanah dalam rangka mendukung upayaupaya penataan ruang dan pembangunan pada umumnya. dan penyiapan konsolidasi tanah perkotaan untuk 22.

490 sertipikat melalui PRONA. Pada tahun 1993/94 telah diterbitkan 83. Selain itu untuk masyarakat miskin dan golongan rendah. terus ditingkatkan pelaksanaan Proyek Operasi Nasional Pertanahan (PRONA). sistem ajudikasi tersebut menghasilkan peningkatan yang luar biasa. Surat Keputusan melalui PIADP sebanyak 185. Dengan mekanisme ini. Dibandingkan dengan kapasitas sampai dengan tahun 1995/96. XI/49 . Kegiatan lain dalam rangka program penataan pertanahan yang diselenggarakan dalam Repelita VI adalah pemetaan fotogrametri yang berupa pemotretan udara untuk 944. dan Surat Keputusan Hak Guna Usaha sebanyak 161 SK. dalam kegiatan yang sama telah diterbitkan Surat Keputusan Hak Atas Tanah sebanyak 99.Hak Guna Usaha sebanyak 51 SK.480 hektare. telah diselesaikan sejumlah 333. dalam periode 1993/94 sampai dengan 1997/98 telah diterbitkan sertifikat untuk 515.837 bidang tanah.607 SK atau bidang. Dalam kurun waktu empat tahun Repelita VI (tahun 1997/98). Uraian secara lengkap rincian kegiatan-kegiatan penataan pertanahan sejak Repelita I dapat dilihat dalam Tabel XI14 dan Tabel XI-14A. sejak tahun 1995/96 dikembangkan mekanisme pelaksanaan pendaftaran tanah secara sistematis dengan cara pembentukan tim ajudikasi yang bertugas dan langsung didatangkan ke lapangan untuk percepatan pelaksanaan pendaftaran tanah.000 hektare dan pembuatan peta dasar pendaftaran tanah untuk areal lebih dari 398. Dalam empat tahun Repelita VI (sampai dengan 1997/98). Ragam kegiatan pertanahan telah berkembang pesat sejak Repelita I.030 sertifikat. Mekanisme ini dapat dioperasikan secara penuh dalam tahun 1996/97. Melalui proyek peningkatan administrasi pertanahan.324 SK.

serta diterbitkan Surat Keputusan hak pakai/milik untuk 115.904 buah. penerbitan sertifikat Hak Pengelolaan atas tanah seluas 172. 2) Program Penunjang Dalam rangka mendukung program pokok dilaksanakan berbagai program penunjang sebagai berikut.807 ha. dan ralat Surat Keputusan untuk 54. Dalam kurun waktu yang sama juga telah dilakukan penerbitan sertifikat sebanyak 396.Di dalam areal permukiman transmigrasi. telah dilaksanakan pengukuran dan pemetaan kapling seluas 326. selama periode empat tahun Repelita VI (sampai dengan 1997/98) telah dilakukan renovasi 27 gedung kantor pertanahan dan pembangunan barn untuk 25 gedung kantor pertanahan yang prioritas utamanya adalah untuk bangunan kantor lingkup kabupaten Dati II.423 hektare. dan penyelesaian masalah perubahan status hak pakai menjadi hak milik untuk 138.524 Persil. baik yang ada di tingkat pusat maupun di daerah.866 persil. Dalam rangka penyempurnaan kelembagaan dan pengembangan administrasi pertanahan untuk menunjang peningkatan kemampuan kelembagaan pertanahan. XI/50 .15A. Uraian lebih rinci perkembangan kegiatan pertanahan dalam lingkungan permukiman transmigrasi sejak Repelita II dapat dilihat dalam Tabel XI-15 dan Tabel XI.752 persil.223 hektare. Dalam periode empat tahun Repelita VI (sampai dengan tahun 1997/98).185 persil. dalam tahun 1993/94 telah dilaksanakan dilaksanakan pengukuran dan pemetaan kapling seluas 93. penerbitan SK hak pakai/hak milik untuk 280.

dan Penyuluhan Pertanahan Program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan tugas penataan pertanahan bagi aparat pemerintah dan pemahaman masyarakat mengenai masalahmasalah pertanahan serta ketentuan-ketentuan yang berlaku di bidang pertanahan. Dalam kaitannya dengan program penataan ruang ini. tata guna lahan serta kehutanan yang akan mendukung penyelenggaraan kegiatan pertanahan. Sehubungan dengan itu program ini berupaya untuk menyusun dan mengembangkan mekanisme pengelolaan yang menyerasikan berbagai kegiatan pemanfaatan air. dan sumber daya alam lainnya serta untuk meningkatkan kerterpaduan penyelenggaraan tata guna air. telah pula dilakukan pembinaan terhadap 934 petugas penyuluh bidang hukum dan pembinaan terhadap 1220 juru penerang.a) Program Pendidikan. Dalam tahun 1996/97 sedang disusun Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Penatagunaan Tanah. Di samping itu. b) Program Penataan Ruang Penataan ruang merupakan dasar bagi penataan pertanahan. yang pada dasarnya merupakan tindak lanjut dari Undang-Undang Nomor 24 tentang Penataan Ruang pada tahun 1992. kegiatan penatagunaan tanah berupaya untuk meningkatkan XI/51 . Dalam Repelita VI telah dilaksanakan penyuluhan langsung di 142 kabupaten dan penyuluhan tidak langsung (melalui penerbitan tulisan-tulisan mengenai pertanahan) sebanyak 13 judul. Pelatihan. tanah. Rincian perkembangan kegiatannya dapat dilihat dalam Tabel XI-16.

pengembangan informasi pertanahan dilanjutkan untuk meningkatkan pelayanan di bidang pertanahan melalui pengembangan komputerisasi pendaftaran tanah di 10 kantor pertanahan. 3) peningkatan kapasitas perangkat keras dan lunak di pusat dan 27 propinsi. dan efektivitas pembangunan melalui pengembangan informasi pertanahan yang berkualitas dan andal. Dalam Repelita VI telah dilaksanakan kegiatan di bidang sistem informasi geografi yang meliputi: I) pembangunan sistem komputerisasi pendaftaran tanah di 30 kantor pertanahan. Kawasan Cekungan Bandung. Dalam tahun kelima Repelita VI. dan pengendalian pemanfaatan ruang. dan sebagainya. d) Program Penerapan dan Pengembangan Hukum Program ini bertujuan untuk meningkatkan ketertiban dan kepastian hukum pertanahan dalam masyarakat sehingga masyarakat mendapatkan pengayoman dan perlindungan akan hak- XI/52 . produktivitas. Kawasan-kawasan yang diprioritaskan pemetaannya adalah kawasan-kawasan andalan yang diprioritaskan di Kawasan Timur Indonesia (KTI).penyediaan informasi penggunaan tanah berupa data dan peta untuk berbagai kegiatan perencanaan. c) Program Pengembangan Informasi Pertanahan Program ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi. kawasan-kawasan yang cepat berkembang dan bermasalah di Pulau Jawa seperti Kawasan Bopunjur. dan mutakhir untuk penataan pertanahan. Pengembangan sistem informasi geografi di 62 lokasi. lengkap. Program tersebut menyediakan data dasar dan informasi pertanahan yang akurat. pemanfaatan.

Dalam Repelita VI telah diselesaikan berbagai penelitian hukum antara lain untuk perancangan dan penerapan sistem informasi bidang hukum pertanahan.haknya atas tanah. penelitian pelaksanaan Proyek Operasi Nasional Pertanahan (PRONA). telah diterbitkan Undang-Undang Nomor 4 tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitan Dengan Tanah. penelitian pelaksanaan landreform perdesaan. dan penelitian kerangka dasar ilmu pertanahan di Indonesia. tanah-tanah tidur (tanah yang telah memiliki ijin lokasi tetapi tidak dimanfaatkan). XI/53 . penelitian pelaksanaan pengawasan melekat (waskat) pada kantor pertanahan. Pada tahun 1996/97. penelitian yurisprudensi pertanahan. Program ini juga telah melaksanakan kegiatan penelitian dalam penegakan hukum pertanahan bagi tanah-tanah terlantar. tanah-tanah kritis dan tanah-tanah absente (tanah yang ditelantarkan karena pemiliknya berada di luar wilayah administrasi lokasi tanah tersebut) dalam rangka peningkatan efisiensi dan efektivitas pemanfaatan ruang untuk kepentingan nasional. penelitian mengenai hukum/hak adat pertanahan. serta inventarisasi dan dokumentasi berbagai peraturan di bidang pertanahan. Undang-Undang tersebut memberikan jaminan hukum atas mobilisasi dana masyarakat untuk kepentingan perekonomian yang menyangkut pertanahan khususnya menyangkut permodalan. Dalam program ini dilaksanakan pula pengembanan peraturan perundang-undangan di bidang pertanahan.

Kegiatan penataan ruang dalam Repelita VI. Hal tersebut diupayakan melalui peningkatan kemampuan kelembagaan di tingkat pusat serta pengembangan kelembagaan BAPEDALWIL di tingkat wilayah dan BAPEDALDA Tk. telah mencatat kemajuan cukup berarti. pemantauan dan evaluasi kegiatan-kegiatan dalam pembangunan lingkungan hidup. Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (PP RTRWN). I untuk tingkat daerah. telah menegaskan arah penataan XI/54 . Pembangunan lingkungan hidup dalam Repelita VI telah meningkatkan kemampuan kelembagaan dalam perencanaan. Dalam Repelita VI. termasuk dunia usaha. Dalam Repelita VI Indonesia telah turut berperan aktif pada berbagai fora internasional dalam upaya mengatasi permasalahan lingkungan hidup global. Aspek lingkungan hidup telah menjadi isu global yang penting. Di samping itu telah diupayakan pula pengembangan kelembagaan masyarakat. penataan ruang telah membangun landasan yang lebih kukuh untuk peningkatan kualitas dan koordinasi penataan ruang tahap selanjutnya. Indonesia memiliki potensi besar untuk menarik manfaat dari perkembangan yang terjadi secara global antara lain dalam fungsi menyerap gas-gas rumah kaca.D. dalam rangka meningkatkan peransertanya dalam pembangunan lingkungan hidup. PENUTUP Pembangunan lingkungan hidup dalam Repelita VI telah memperkukuh landasan bagi pembangunan yang berkelanjutan pada tahap-tahap selanjutnya. pengelolaan.

Konflik-konflik ruang terutama XI/55 . memberikan kepastian hukum dalam peranserta masyarakat pada tiap tahapan kegiatan penataan ruang yang juga menunjukkan upaya untuk menjamin transparansi dan demokratisasi dalam penataan ruang.ruang nasional sampai dengan akhir PJP II. oleh karena penggunaan yang makin intensif yang acap kali tidak disertai dengan kaidah-kaidah yang menjamin pembangunan yang berkelanjutan. dikembangkan data-data digital tata guna tanah dengan ketelitian cukup rinci sehingga meningkatkan ketersediaan dan kualitas informasi tata guna tanah. khususnya tanah. Pengembangan dalam sistem administrasi pertanahan menyangkut penyempurnaan proses pensertifikasian tanah dengan pendekatan sistematis (ajudikasi). Pembangunan pertanahan dalam Repelita VI telah mengembangkan sistem administrasi dan komputerisasi informasi pertanahan. Peningkatan koordinasi telah diupayakan melalui Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional (BKTRN) dan Kelompok Tata Ruang Nasional (Pokja TRN) di tingkat pusat serta Tim Koordinasi Tata Ruang Daerah di tingkat propinsi dan kabupaten/ kotamadya. mengingat bahwa sumber daya alam. Pembangunan lingkungan hidup. dan penataan ruang amat penting. pertanahan. Dalam kawasan-kawasan prioritas. Dengan sistem ini biaya pensertifikasian menjadi lebih murah dan terjangkau oleh masyarakat serta waktu penyelesaiannya jauh lebih singkat. air dan udara semakin langka ketersediaan maupun kualitasnya. Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban Serta Tata Cara dan Bentuk Peranserta Masyarakat Dalam Penataan Ruang (PP Peran Serta).

XI/56 .konflik-konflik pertanahan yang menyangkut rakyat kecil harus dapat diatasi secara tepat. Karena itu kegiatan penataan ruang. lingkungan hidup dan pertanahan harus mendapat perhatian dan penanganan yang arif. Selain memperhatikan kebutuhan sekarang segenap upaya pembangunan juga harus memperhatikan kebutuhan kehidupan manusia di masa depan.

TABEL XI – 1 PETA RUPA BUMI NASIONAL YANG SUDAH TERSEDIA 1) 1992/93. 1993/94. 1994/95 – 1997/98 (dalam nomor lembar peta) 1) 2) 3) Angka kumulatif Angka diperbaiki Angka sementara sampai dengan Desember 1997 XI/57 .

TABEL XI – 1.A PETA RUPA BUMI NASIONAL YANG SUDAH TERSEDIA 1) 1968. 1988/89 (dalam nomor lembar peta) 1) 2) Angka kumulatif Angka diperbaiki XI/58 . 1978/79. 1983/84. 1973/74.

1993/94. 1994/95 – 1997/98 (dalam ha) 1) 2) Angka kumulatif sejak tahun 1969/70 Angka sementara sampai dengan Desember 1997 XI/59 .TABEL XI – 2 HASIL PELAKSANAAN USAHA PENGENDALIAN SUNGAI PENGEMBANGAN WILAYAH DAN PENANGGULANGAN BENCANA ALAM MENURUT DAERAH TINGKAT I 1) 1992/93.

1983/84. 1978/79. 1988/89 (dalam ha) 1) Angka kumulatif sejak tahun 1969/70 XI/60 .TABEL XI – 2.A HASIL PELAKSANAAN USAHA PENGENDALIAN SUNGAI PENGEMBANGAN WILAYAH DAN PENANGGULANGAN BENCANA ALAM MENURUT DAERAH TINGKAT I 1) 1968. 1973/74.

1993/94.TABEL XI – 3 JUMLAH PENGIKUT KURSUS-KURSUS AMDAL 1) 1992/93. 1994/95 – 1997/98 (orang) 1) 2) 3) Angka kumulatif sejak tahun 1983/84 Angka diperbaiki Angka sementara sampai dengan Desember 1997 XI/61 .

1983/84. 1988/89 (orang) 1) Angka kumulatif sejak tahun 1983/84 XI/62 .A JUMLAH PENGIKUT KURSUS-KURSUS AMDAL 1) 1968. 1978/79. 1973/74.TABEL XI – 3.

TABEL XI – 4 HASIL PELAKSANAAN PENGHIJAUAN MENURUT DAERAH TINGKAT I 1) 1992/93. 1994/95 – 1997/98 (dalam ha) 1) 2) 3) Angka kumulatif sejak tahun 1969/70 Angka diperbaiki Angka sementara sampai dengan Desember 1997 XI/63 . 1993/94.

1983/84. 1988/89 (dalam ha) 1) Angka kumulatif sejak tahun 1969/70 XI/64 .A HASIL PELAKSANAAN PENGHIJAUAN MENURUT DAERAH TINGKAT I 1) 1968. 1978/79.TABEL XI – 4. 1973/74.

1993/94. 1994/95 – 1997/98 (dalam ha) 1) 2) 3) Angka kumulatif sejak tahun 1979/80 Angka diperbaiki Angka sementara sampai dengan Desember 1997 XI/65 .TABEL XI – 5 HASIL PENANAMAN HUTAN RAKYAT 1) 1992/93.

1988/89 (dalam ha) 1) Angka kumulatif sejak tahun 1979/80 XI/66 .TABEL XI – 5.A HASIL PENANAMAN HUTAN RAKYAT 1) 1968. 1978/79. 1983/84. 1973/74.

TABEL XI – 6 KEADAAN HASIL PEMBUATAN PETAK PERCONTOHAN/DEMPLOT PENGAWETAN TANAH 1) 1992/93. 1994/95 – 1997/98 (dalam buah) 1) 2) 3) Angka kumulatif sejak tahun 1979/80 Angka diperbaiki Angka sementara sampai dengan Desember 1997 XI/67 . 1993/94.

A KEADAAN HASIL PEMBUATAN PETAK PERCONTOHAN/DEMPLOT PENGAWETAN TANAH 1) 1968.TABEL XI – 6. 1973/74. 1978/79. 1983/84. 1988/89 (dalam buah) 1) Angka kumulatif sejak tahun 1979/80 XI/68 .

1993/94.TABEL XI – 7 PEMBUATAN DAN PENGENDALI MENURUT DAERAH TINGKAT I 1) 1992/93. 1994/95 – 1997/98 (dalam unit) 1) 2) 3) Angka kumulatif sejak tahun 1974/75 Angka diperbaiki Angka sementara sampai dengan Desember 1997 XI/69 .

1983/84. 1973/74. 1988/89 (dalam unit) 1) Angka kumulatif sejak tahun 1974/75 XI/70 . 1978/79.TABEL XI – 7.A PEMBUATAN DAN PENGENDALI MENURUT DAERAH TINGKAT I 1) 1968.

1993/94.TABEL XI – 8 KEADAAN HASIL REBOISASI 1) 1992/93. 1994/95 – 1997/98 (dalam ha) 1) 2) 3) Angka kumulatif sejak tahun 1969/70 Angka diperbaiki Angka sementara sampai dengan Desember 1997 XI/71 .

TABEL XI – 8. 1983/84.A KEADAAN HASIL REBOISASI 1) 1968. 1988/89 (dalam ha) 1) Angka kumulatif sejak tahun 1969/70 XI/72 . 1978/79. 1973/74.

TABEL XI – 9 JUMLAH PETUGAS LAPANGAN PENGHIJAUAN (PLP). PETUGAS KHUSUS PENGHIJAUAN (PKP) MENURUT DAERAH TINGKAT I 1) 1992/93. penugasannya telah dialihkan kepada Dinas Perhutanan dan Konversi Tanah/Dinas Kehutanan Dati II Angka sementara sampai dengan Desember 1997 XI/71 . 1993/94. PETUGAS LAPANGAN REBOISASI (PLR). 1994/95 – 1997/98 (dalam orang) 1) 2) 3) Angka kumulatif sejak tahun 1978/79 Sejak tahun 1994/95.

TABEL XI – 9. PETUGAS KHUSUS PENGHIJAUAN (PKP) MENURUT DAERAH TINGKAT I 1) 1968.A JUMLAH PETUGAS LAPANGAN PENGHIJAUAN (PLP). PETUGAS LAPANGAN REBOISASI (PLR). 1978/79. 1988/89 1) Angka kumulatif sejak tahun 1978/79 XI/74 . 1973/74. 1983/84.

TABEL XI – 10 PENYELESAIAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I SELURUH INDONESIA 1992/93. I C = Rancangan Perda sedang dibahas di DPRD Tk. I D = Telah ditetapkan sebagai Peraturan Daerah (Perda) E = Sudah disiapkan oleh Menteri Dalam Negeri XI/75 . Pada tahun 1989/90. disusun RSTRP untuk 2 propinsi. 1993/94. 1994/95 – 1997/98 1) Angka diperbaiki Keterangan: Kegiatan penyusunan rencana tata ruang propinsi (RSTRP = Rencana Struktur Tata Ruang Propinsi) baru Diselenggarakan sejak Repelita V (1989/90). tahun 1990/91 disusun RSTRP untuk 6 propinsi. A = Materi rencana tata ruang dalam penyempurnaan B = Rancangan Perda siap diajukan ke DPRD Tk. dan tahun 1991/92 disusun RSTRP untuk 17 propinsi.

Administratif di Irian Jaya 2. Jumlah kabupaten ini termasuk 1 Kab. II D = Telah ditetapkan sebagai Peraturan Daerah (Perda) E = Sudah disahkan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I XI/76 . Pada tahun 1989/90. A = Materi rencana tata ruang dalam penyempurnaan B = Rancangan Perda siap diajukan ke DPRD Tk. disusun RUTRD untuk 21 kabupaten. Administratif di DI Aceh dan 3 Kab. dan pada tahun 1991/92 disusun RUTRD untuk 112 kabupaten.TABEL XI – 11 PENYELESAIAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II SELURUH INDONESIA 1992/93. 1994/95 – 1997/98 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara sampai dengan Desember 1997 Keterangan: 1. II C = Rancangan Perda sedang dibahas di DPRD Tk. 1993/94. Pada tahun 1990/91 disusun RUTRD untuk 48 kabupaten. Kegiatan penyusunan rencana tata ruang kabupaten (RUTRD = Rencana Umum Tata Ruang Daerah) secara sistematis baru dimulai sejak Repelita V (1989/90).

Jumlah kotamadya ini termasuk 1 Kotamadya Administratif di Riau dan 5 Kotamadya Administratif di DKI Jakarta 2. II D = Telah ditetapkan sebagai Peraturan Daerah (Perda) E = Sudah disahkan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I XI/77 . 1993/94. II C = Rancangan Perda sedang dibahas di DPRD Tk. A = Materi rencana tata ruang dalam penyempurnaan B = Rancangan Perda siap diajukan ke DPRD Tk. Kegiatan penyusunan rencana tata ruang kotamadya (RUTRK = Rencana Umum Tata Ruang Kota) secara sistematis baru dimulai sejak Repelita III.TABEL XI – 12 PENYELESAIAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II SELURUH INDONESIA 1992/93. 1994/95 – 1997/98 1) Angka sementara sampai dengan Desember 1997 Keterangan: 1.

= Tidak ada data -. 1973/74.TABEL XI – 12.A PENYELESAIAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II SELURUH INDONESIA 1968.= Tidak ada kegiatan Keterangan: Jumlah kotamadya ini termasuk 1 Kotamadya Administratif di Riau dan 5 Kotamadya Administratif di DKI Jakarta XI/78 . 1988/89 1) Angka kumulatif . 1983/84. 1978/79..

II D = Telah ditetapkan sebagai Peraturan Daerah (Perda) E = Sudah disahkan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I XI/79 .TABEL XI – 13 PENYELESAIAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA NON-STATUS DAERAH TINGKAT II SELURUH INDONESIA 1992/93. 1994/95 – 1997/98 1) Angka diperbaiki 2) Angka kumulatif dari Repelita I 3) Angka sementara sampai dengan Desember 1997 Keterangan: A = Materi rencana tata ruang dalam penyempurnaan B = Rancangan Perda siap diajukan ke DPRD Tk. II C = Rancangan Perda sedang dibahas di DPRD Tk. 1993/94.

A PENYELESAIAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA NON-STATUS DAERAH TINGKAT II SELURUH INDONESIA 1968. 1983/84.TABEL XI – 12. 1978/79. 1973/74. 1988/89 1) Angka diperbaiki 2) Angka kumulatif dari Repelita I XI/80 .

1994/95 – 1997/98 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara sampai dengan Desember 1997 .TABEL XI – 14 REALISASI KEGIATAN PROGRAM PENATAAN PERTANAHAN 1992/93.= Tidak ada kegiatan XI/81 . = Tidak ada data -.. 1993/94.

1983/84.A REALISASI KEGIATAN PROGRAM PENATAAN PERTANAHAN 1968. 1988/89 XI/82 . 1978/79. 1973/74.TABEL XI – 14.

A) 1) Angka kumulatif dari Repelita I . = Tidak ada data -.(Lanjutan TABEL XI – 14..= Tidak ada kegiatan XI/83 .

1993/94.= Tidak ada kegiatan XI/84 . 1994/95 – 1997/98 1) Angka sementara sampai dengan Desember 1997 . = Tidak ada data -.TABEL XI – 15 REALISASI KEGIATAN PROGRAM PERMUKIMAN DAN LINGKUNGAN TRANSMIGRASI 1992/93..

1973/74. 1978/79. 1983/84.TABEL XI – 15.A REALISASI KEGIATAN PROGRAM PERMUKIMAN DAN LINGKUNGAN TRANSMIGRASI 1968. 1988/89 1) Angka kumulatif dari Repelita II XI/85 .

PENELITIAN. 1994/95 – 1997/98 1) Angka diperbaiki 2) Angka sementara sampai dengan Desember 1997 Keterangan: Kegiatan penyuluhan dan pengembangan hukum serta penelitian dan pendidikan pertanahan secara sistematis baru dimulai pada Repelita V. PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PERTANAHAN 1992/93. 1993/94. XI/86 .TABEL XI – 16 REALISASI KEGIATAN PROGRAM PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN HUKUM.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful